Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Agustus 2017

Cerita Silat Full Tamat Suling Emas Naga Siluman 10

Cerita Silat Full Tamat Suling Emas Naga Siluman 10 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Full Tamat Suling Emas Naga Siluman 10
kumpulan cerita silat cersil online
-
Bu Seng Kin juga tahu akan hal ini, akan tetapi tentu dia tidak biasa mengalah begitu saja untuk
menyerahkan Pangeran yang telah berada dalam kekuasaan mereka. Bagai mana pun juga, Pangeran
merupakan kunci keberhasilan usahanya untuk memaksa Kaisar memperbaiki semua kesalahan yang
telah dilakukan Kaisar. Membangun biara Siauw-lim kembali, membebaskan semua pendekar patriot dari
pada pengejaran dan lain-lain. Bukankah itu amat penting bagi perjuangan mereka?
“Kao-taihiap, terserah apa pun yang menjadi pendapatmu, akan tetapi terus terang saja, kami tidak dapat
membebaskan Pangeran sebelum ada jawaban datang dari Kaisar tentang tuntutan kami.”
“Bagus, kalau begitu marilah kita pertaruhkan Pangeran dalam pertandingan antara kita. Kalau aku kalah
olehmu, kami akan pergi dari sini tanpa banyak bicara lagi, sebaliknya kalau engkau suka mengalah,
engkau harus serahkan Pangeran kepada kami.”
“Terserah apa yang hendak kau lakukan, kami tetap mempertaruhkan Pangeran. Dan kalau engkau
menantangku, Kao-taihiap, biar pun aku sadar akan kebodohanku sendiri dan akan kesaktianmu, maka
aku pun tidak akan mundur selangkah pun!”
“Baik Bu Seng Kin, hari ini Kao Kok Cu minta pelajaran darimu!” kata Kao Kok Cu sambil melangkah maju
mendekat.
“Akulah yang minta pelajaran darimu!” jawab Bu Seng Kin sambil memasang kuda-kuda.
Semua orang memandang penuh perhatian, dengan hati yang berdebar karena tegang. Mereka
memandang kagum melihat bhesi (kuda-kuda) yang dipasang oleh Bu-taihiap. Pendekar ini nampak gagah
sekali, mula-mula berdiri di atas jari-jari kaki, kemudian menggerakkan kaki kanan ke depan membentuk
kuda-kuda dengan kaki kanan di depan, lalu tubuhnya membalik ke arah lawan dan kuda-kudanya telah
berubah menjadi kedua kaki terpentang dan ditekuk menjadi siku, tubuhnya lurus tegak, tangan kiri terbuka
di depan dada kiri, membentuk cakar harimau, dengan telapak ke depan dan tangan kanan, juga seperti
cakar harimau, telentang di pinggang kanan, sepasang matanya memandang lurus ke depan, ke arah
lawan dan mulutnya yang khas, senyum yang mudah sekali meruntuhkan hati wanita itu.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Kao Kok Cu yang mempelajari kedudukan kuda-kuda lawan, lalu
membuat gerakan pula, kaki kanannya disepakkan ke samping lalu meluncur ke depan, terpentang jauh
sehingga tubuhnya hampir menelungkup dengan kaki kanan jauh di depan dengan jari-jari membentuk
cakar naga, lengan baju kiri yang kosong itu dikibaskan ke belakang dan menjadi kaku seperti diisi besi
lurus ke belakang dan mukanya yang menunduk dalam itu nampak menjadi semakin pucat kehijauan, dan
sepasang matanya mencorong dari bawah ke arah lawan!
Bu-taihiap terkejut dan bergidik. Dia dapat menduga bahwa inilah ilmu dari orang gagah ini yang membuat
dia disebut Naga Sakti. Kuda-kuda itu seperti kedudukan seekor naga saja! Dan mata itu! Bu-taihiap
dunia-kangouw.blogspot.com
maklum bahwa melawan orang seperti ini tidak boleh coba-coba, melainkan harus langsung mengeluarkan
ilmu simpanan yang paling ampuh, karena melawan seorang yang amat lihai hanya ada dua pilihan, yaitu
menang seketika atau terancam kekalahan. Tidak bisa dibuat berkepanjangan mengeluarkan jurus-jurus
tidak berarti.
Maka dia pun lalu membuat gerakan lagi, kuda-kudanya berubah dan kini kedua kakinya merapat,
berjingkat di atas ujung kedua sepatunya, kedua lengan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, membentuk
paruh burung yang siap untuk mematuk lawan bebuyutan, yaitu ular atau naga. Itulah kuda-kuda Ilmu Silat
Kim-sin Ho-kun (Ilmu Silat Burung Bangau Emas) yang sebenarnya bersumber dari Ilmu Silat Ho-kun yang
aslinya adalah dari Siauw-lim-pai akan tetapi yang telah dikombinasikan dengan ilmu aliran lain dan oleh
Bu-taihiap dikembangkan dan diciptakan menjadi Kim-sin Ho-kun yang amat hebat.
Demikian hebatnya ilmu ini sehingga tiada seorang pun di antara isterinya yang mampu menguasainya
dengan baik, tidak ada seperempat bagian saja. Akan tetapi, Bu-taihiap sendiri sebagai penciptanya telah
menguasai dengan sempurna. Ujung jari-jari tangan yang dibentuk seperti paruh burung itu, dapat menotok
semua bagian tubuh dengan amat kuatnya, juga dapat sekali patuk menghancurkan batu, dan di dalam
lengan itu, dari siku sampai ke ujung semua jari, dipenuhi sinkang yang membuat lengan itu kebal dan
berani dipakai menangkis senjata tajam lawan. Selain itu, paruh burung itu pun dapat membuat gerakan
‘menggigit’, yaitu dengan membuka kumpulan jari untuk mencengkeram dengan kekuatan yang dahsyat!
Saking kuatnya tenaga sinkang yang terkandung dalam kedua lengan itu, maka gerakannya didahului oleh
angin yang kuat dan bercuitan bunyinya.
Melihat gerakan lawan, Kao Kok Cu juga menggerakkan tubuhnya, kedua kakinya seperti didorong ke
depan, tidak melangkah, melainkan bergeser maju dan ujung lengan baju kiri yang kosong dan tadi lurus
menuding ke belakang itu sekarang terangkat melengkung ke belakang seperti ekor kalajengking.
Melihat lawannya tidak mengubah kuda-kuda, maklumlah Bu-taihiap bahwa memang lawannya telah
mengeluarkan ilmu yang paling diandalkan, maka dia pun tidak mau sungkan-sungkan lagi dan membentak
nyaring, “Kao-taihiap, lihat serangan!”
Bu-taihiap menubruk ke depan, kedua tangan yang membentuk paruh burung itu menyerang ke arah
kepala dan dada. Terdengar angin menyambar saat dua tangan itu menyambar dan tidak nampak oleh
mata saking cepatnya. Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir juga menggerakkan tangan kanan dan lengan
baju kosong yang melengkung ke atas itu, dengan menyeret kaki belakang ke depan, menyambut
serangan lawan.
“Plak! Dessss....!”
Paruh kanan Bu-taihiap tertangkis oleh lengan baju kosong, sedangkan paruh kirinya disambut oleh
telapak tangan Kao Kok Cu. Pertemuan dua tenaga sakti yang amat kuat itu hebat bukan main dan
keduanya terdorong ke belakang! Semua yang hadir merasakan getaran hebat dari benturan tenaga itu,
membuat rambut kepala mereka bersama pakaian mereka berkibar seperti mendadak ada angin keras
melanda tempat itu!
“Bu-taihiap, awas seranganku!” Tiba-tiba Kao Kok Cu membentak.
Tubuhnya meluncur ke depan, dan sampai di depan lawan tubuhnya tiba-tiba membalik dengan putaran
kakinya. Lengan baju kosong itu menyambar seperti pecut atau seperti seekor naga yang memukul, disusul
lengan kanannya yang menotok lambung lawan. Bukan main hebatnya serangan ini, oleh karena ini adalah
serangan dari Ilmu Sin-liong Hok-te (Naga Mendekam di Bumi). Terdengar suara angin mendesir keras dan
semua penonton yang berada terlalu dekat cepat mundur karena angin itu mengandung hawa panas!
Bu Seng Kin terkejut bukan main. Seperti lawannya tadi, dia pun tidak mau mengelak, melainkan cepat
menggunakan kedua lengan untuk menangkis disertai pengerahan tenaga sekuatnya.
“Dukk! Dessss....!”
Kembali keduanya terdorong ke belakang, tapi jika Kao Kok Cu hanya terdorong dua langkah tanpa
mengubah kedudukan kakinya karena hanya tergeser, maka lawannya terdorong dan melangkah mundur
terhuyung sampai tiga langkah lebarnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah cukup bagi mereka untuk mengadu tenaga keras lawan keras dan biar pun tidak banyak selisihnya,
akan tetapi Bu-taihiap harus mengakui bahwa dia memang kalah kuat dalam hal kekuatan sinkang. Kalau
dia terus mengandalkan sinkang-nya mengadu kekuatan, akhirnya dia akan terancam luka dalam yang
amat berbahaya. Kekuatan lawan itu tak sewajarnya, dan mungkin karena sebelah lengannya buntung
itulah maka lawan dapat menghimpun kekuatan yang demikian dahsyatnya.
Maka ia pun lalu menerjang ke depan, kali ini mengerahkan tenaga pada kecepatannya dan bagaikan
seekor burung bangau beterbangan, dia sudah menyerang dengan lebih mengutamakan serangan dari
arah atas tubuh lawan di sekitar kepala, leher dan dada.
Akan tetapi, Kao Kok Cu bersikap tenang sekali. Seperti seekor ular atau naga yang melingkar di atas
tanah menanti serbuan burung dari atas. Ular atau naga itu bersikap tenang dan hanya sekali-kali
menggerakkan kepala atau ekornya untuk mematuk atau menyabet pada saat burung yang menjadi
lawannya menyambar turun!
Kao Kok Cu tidak menyerang lebih dahulu, hanya menanti sampai lawan melakukan serangan, barulah dia
bergerak, kadang-kadang mendahului sehingga serangan lawan gagal dan berbalik menjadi terserang,
atau juga dia menangkis atau mengelak sambil langsung saja membalas. Dengan cara demikian, biar pun
Bu-taihiap nampaknya lebih sibuk dengan serangan-serangannya, tetapi sesungguhnya dialah yang
terdesak karena setiap kali lawan membalas dia terpaksa harus menghindar cepat-cepat, seperti seekor
burung yang selalu mengelak dari serangan ular atau naga di bawah.
“Wut-wut-wut-wuttt....!”
Tiba-tiba Bu-taihiap merubah gerakannya, menyerang tidak hanya dari atas, melainkan dari bawah dan
gerakannya berubah menjadi gerakan harimau, akan tetapi masih ada dasar gerakan burung bangau.
Kiranya dia telah berhasil mengkombinasikan kedua ilmu silat ini dan serangannya amat cepat,
mendatangkan angin besar.
“Wir.... syuuut-syuutttt....!”
Kao Kok Cu mengelak dan membalas pula dengan lecutan lengan bajunya disusul hantaman tangan
kanannya. Mereka saling serang dengan serunya. Pukulan dibalas pukulan secara langsung, dan dalam
waktu singkat saja mereka telah saling serang dengan cepat dan mantap, pukul-memukul dan tangkismenangkis,
akan tetapi lebih banyak mereka itu saling mengelak dan saking cepatnya, sukar dilihat
gerakan tangan mereka, bahkan tubuh mereka pun kini berputaran seperti benang ruwet menjadi satu!
“Plakkk! Dukkk!”
Mereka terdorong ke belakang lagi, akan tetapi kini muka Bu-taihiap agak pucat dan mulutnya menahan
rasa nyeri karena ternyata telah ‘tersentuh’ ujung lengan baju yang tak berisi lengan tangan itu! Dia merasa
penasaran dan menyerang lagi. Kemudian terjadi pukul-memukul dan elak-mengelak, gerakan mereka itu
seperti telah diatur saja, seperti dua orang seperguruan yang sedang berlatih silat, setiap pukulan
mengenai tempat kosong dan selalu dibalas, ditangkis, membalas lagi, dielakkan dan menerima balasan.
Begitu cepat dan hebat, angin menyambar-nyambar dan kini mereka berdua agaknya menggunakan
tenaga lain karena lantai ruangan itu tergetar seperti ada gempa bumi! Tetapi, kini mulai tampak betapa
Bu-taihiap terdesak mundur. Wajahnya penuh keringat, dari kepalanya mengepul uap putih tebal
sedangkan Kao Kok Cu hanya berkeringat sedikit saja dan belum ada uap mengepul dari kepalanya! Para
ahli di situ maklum bahwa kekalahan Bu-taihiap agaknya tinggal menunggu waktu saja.
Perkelahian itu demikian menegangkan dan menarik perhatian semua orang yang hadir sehingga mereka
tidak tahu sama sekali bahwa sejak tadi ada bayangan berkelebat di dekat ruangan itu, dan barulah
mereka terkejut ketika bayangan seorang gadis yang memegang sebatang suling emas telah menyerbu
medan pertempuran dan gadis itu membentak, “Jangan bunuh ayahku!”
Kao Kok Cu kaget bukan main mendengar suara melengking tinggi dengan getaran yang luar biasa
kuatnya dan melihat sinar kuning emas menyambar dengan totokan itu disambung dengan amat cepatnya
ke arah tujuh bagian tubuhnya yang berbahaya!
Bukan main cepatnya gerakan itu, dan bukan main kuatnya getaran tenaga khikang yang terkandung
dalam setiap totokan. Hebatnya, kalau suling itu mengeluarkan hawa dingin, yang makin membahayakan
dunia-kangouw.blogspot.com
totokan, tangan kiri gadis itu pun masih menampar ke bagian yang berlawanan dan tamparan itu
mengandung hawa panas! Gadis ini selain memiliki ilmu pedang yang dimainkan dengan suling, kemudian
akhir serangan pedang itu menjadi tusukan yang berubah menjadi totokan, juga memiliki sinkang yang
telah demikian kuat sehingga mampu mengerahkan dua macam hawa yang berlawanan dalam satu
serangan!
Belum pernah pendekar ini mengalami hal seperti ini, belum pernah menghadapi lawan sehebat ini, maka
dia sampai mengeluarkan seruan “Bagus sekali....!” dan cepat-cepat dia menghindarkan dirinya dengan
putaran lengan baju kosong itu untuk menangkis setiap totokan dan berusaha melibat suling emas itu
dengan lengan baju.
Sementara itu, Cin Liong yang sedang nonton pertempuran seru antara ayahnya dan Bu-taihiap dengan
keuntungan di pihak ayahnya, maklum bahwa sebentar lagi ayahnya tentu akan keluar sebagai pemenang.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan marahnya ketika tiba-tiba ada wanita yang menyerang
ayahnya dengan demikian hebatnya. Dan betapa kagetnya melihat bahwa dara itu adalah Ci Sian yang
telah dikenalnya! Maka cepat dia pun meloncat ke medan pertempuran itu dan berseru keras, “Ci Sian,
Jangan serang ayahku!”
Karena Cin Liong menyerbu ke medan pertempuran sambil menggunakan kedua tangannya untuk
merampas suling, dengan maksud menghentikan serangan dara itu, Ci Sian mengira bahwa pemuda itu
menyerangnya. Maka dengan marah ia pun sudah meninggalkan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan
kini ia menyerang Cin Liong!
Tentu saja Cin Liong menjadi kelabakan diserang kalang-kabut oleh suling emas itu. Dia terkejut sekali.
Dahulu, ketika dia bertemu dengan gadis ini, Ci Sian belum memiliki ilmu yang sehebat ini. Akan tetapi
sekarang, benar-benar dia terkejut bukan main karena serangan-serangan dara ini benar-benar luar biasa
dahsyatnya, sedangkan tenaga yang terkandung di dalam serangan-serangan itu juga amat kuat!
“Plakkk! Dukkk!”
Karena tidak mungkin mengelak lagi dan dia tidak mau kepalanya remuk oleh pukulan suling, terpaksa dia
menggunakan kedua tangannya, yang satu menangkis suling sedangkan yang kanan menangkis
hantaman tangan kiri gadis itu, dan akibatnya dia terdorong ke belakang dengan dada terasa sesak karena
kedua tangannya bertemu dengan dua kekuatan yang saling bertentangan, yang satu panas seperti api
dan yang lain dingin seperti es!
Dan hebatnya, dara itu terus menyerang dengan hebat, tetap menggunakan sulingnya sehingga karena
kewalahan dan tahu bahwa serangan-serangan itu sungguh sangat berbahaya, maka Cin Liong terpaksa di
samping mengelak dan menangkis, juga harus balas menyerang untuk menahan gelombang serangan
dara itu.
Sedangkan Bu-taihiap yang tiba-tiba wajahnya menjadi berseri melihat betapa dara itu yang dikenalnya
sebagai yang diyakininya adalah puterinya sendiri, bangkit kembali semangatnya dan menyerang Kao Kok
Cu! Tentu saja peristiwa ini mengejutkan semua orang. Terutama sekali melihat betapa dara yang
memegang suling itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya dan suling yang dipakainya sebagai senjata
itu selain menjadi sinar kuning emas yang bergulung-gulung, juga mengeluarkan bunyi seperti dimainkan
dan ditiup oleh mulut yang pandai saja!
Selagi semua orang kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara halus namun
amat berwibawa, “Harap Cu-wi hentikan semua pertempuran bodoh ini!”
Suara itu mengandung teguran dan penyesalan dan semua orang memang terkejut sekali karena yang
bersuara itu bukan lain adalah Pangeran Kian Liong sendiri! Akan tetapi Pangeran itu tidak sendirian,
karena di belakangnya berdiri seorang pemuda yang gagah perkasa dan bersikap tenang, dan pemuda itu
berkata pula,
“Sumoi, harap mundur dan jangan berkelahi!”
Melihat munculnya Sang Pangeran, Kao Kok Cu dan Kao Cin Liong cepat melompat mundur dan
menghampiri Pangeran itu. Pangeran Kian Liong adalah sahabat baik Cin Liong dan memang sejak dahulu
Pangeran ini amat suka kepada pemuda itu, maka dia lalu mendekat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Cin Liong hendak memberi hormat, Sang Pangeran memegang lengannya dan berkata, “Jenderal
Muda yang gagah! Kiranya engkau telah datang pula, apakah engkau sengaja mencariku?”
“Tldak, Pangeran, hamba mendengar Paduka di sini hanya kebetulan saja. Hamba sedang mencari Sim
Hong Bu untuk minta kembali pedang pusaka kerajaan yang dicuri orang, dan hamba dibantu oleh ayah
dan ibu hamba.”
“Ahh, kalau Naga Sakti Gurun Pasir yang turun tangan, segalanya tentu beres!” kata Sang Pangeran
dengan gembira. Kemudian Pangeran itu menghadapi Bu-taihiap yang masih bingung melihat munculnya
Pangeran itu secara tiba-tiba dan dia merasa ragu-ragu untuk memerintahkan teman-temannya
mempergunakan kekerasan.
“Bu-taihiap, harap jangan heran kalau aku telah dibebaskan oleh pendekar sakti ini,” katanya sambil
menunjuk kepada Kam Hong. “Para pendekar yang menjagaku sama sekali bukan lawannya, dan dalam
segebrakan saja mereka semua telah roboh dan pingsan. Apalagi dia datang bersama sumoi-nya, Nona Bu
Ci Sian yang selalu melindungiku, dan meski Nona ini puterimu, namun kurasa tidak sependapat
denganmu dalam hal perjuangan dan pemberontakan. Dan di sini kulihat ada Jenderal Kao Cin Liong yang
gagah perkasa, dengan ayah bundanya yang lebih perkasa lagi, maka kiranya kalian para pendekar tidak
akan mampu menahanku lagi.”
Bu Seng Kin memandang kepada Kam Hong. Jadi pemuda ini suheng dari puterinya? Dia tadi sudah
terheran-heran karena biar pun hanya beberapa gebrakan saja, dia sempat menyaksikan puterinya yang
menyerang Naga Sakti Gurun Pasir, kemudian menyerang jenderal muda itu! Dia melihat bahwa puterinya
itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.
“Bu-locianpwe,” kata Cin Liong yang merasa tidak enak melihat keadaan pemimpin para patriot itu, apalagi
tadi dia melihat betapa Ci Sian membantu pendekar itu. Kalau sampai terjadi pertempuran lagi, sungguh
dia tidak sanggup untuk melawan Ci Sian, bukan jeri oleh keahlian dara itu, melainkan tidak sampai hati
untuk berkelahi melawan gadis ini.
Setelah dia bertanding beberapa gebrakan saja, tiba-tiba Cin Liong melihat kenyataan yang membuatnya
terkejut setengah mati, yaitu bahwa selama ini dia tidak pernah dapat melupakan dara ini, dan baru
sekarang terasa olehnya bahwa sebetulnya sejak dahulu, sejak pertemuan di antara mereka dalam
benteng pasukan Nepal, dia telah jatuh hati kepada Ci Sian!
“Seperti telah saya katakan tadi, kedatangan kami bertiga adalah untuk mencari Sim Hong Bu yang kami
tahu berada di sini. Kami membawa perintah Sri Baginda Kaisar untuk minta kembali pedang pusaka
kerajaan yang telah dicuri dan sekarang berada di tangannya. Kami bukan datang untuk memusuhi para
pendekar. Hanya kebetulan saja kami tahu tentang Pangeran dan setelah beliau sekarang bebas, maka
saya ingin mengulang permintaan saya, yaitu agar orang yang bernama Sim Hong Bu suka keluar dan
berhadapan dengan saya.”
Bu-taihiap tersenyum pahit. Dia dan kawan-kawannya telah gagal. Mereka, para patriot itu, tentu saja
hanya dapat melakukan penahanan terhadap diri Sang Pangeran dengan rahasia saja, dan setelah
sekarang Pangeran itu lolos, tak mungkin mempergunakan kekerasan, karena tentu mereka akan dihadapi
pasukan besar yang akan membasmi mereka dalam waktu singkat.
“Jenderal Kao, kau carilah sendiri pemuda yang bernama Sim Hong Bu itu.”
Dari dalam terdengar suara wanita, “Suheng, jangan....!”
Lalu muncullah seorang pemuda yang gagah, diikuti oleh seorang dara berpakaian wanita yang kelihatan
gelisah sekali. Pemuda itu bukan lain adalah Sim Hong Bu! Dia dan Pek In memang disuruh
menyembunyikan diri dan jangan memperlihatkan diri ketika keluarga Kao datang berkunjung. Akan tetapi
ketika mendengar percakapan tentang dirinya, Sim Hong Bu tidak dapat menahan hatinya lagi dan biar pun
dicegah oleh Pek In yang merasa khawatir, dia tetap saja nekad keluar.
Semua orang memandang kepadanya. Dengan sikap tenang Sim Hong Bu menghadap Bu-taihiap dan
menjura, lalu berkata dengan suara penuh penyesalan, “Bu-locianpwe, sungguh saya menyesal sekali
karena kedatangan saya di sini hanya menimbulkan kegagalan dan kerugian saja bagi para saudara yang
perkasa. Kalau saya tidak datang ke sini, tentu tidak akan terjadi keluarga Kao menyusul ke sini. Oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
karena itu, biarlah saya menghadapi mereka, karena mereka itu adalah musuh-musuh pribadi saya!”
Setelah berkata demikian, Sim Hong Bu menghadapi Kao Cin Liong dan juga Kam Hong.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kao Cin Liong, tidak kupungkiri bahwa akulah pewaris Koai-liong Pokiam
dan pedang pusaka ini adalah hak milik nenek moyang guruku. Kalau engkau menjadi utusan Kaisar
untuk merampas kembali pedang ini, majulah! Pedang ini hanya dapat diambil orang lain melalui mayatku
saja!”
Dan sebelum Kao Cin Liong menjawab, Sim Hong Bu juga berkata kepada Kam Hong dengan lebih dulu
menjura, “Kam-taihiap, aku menyesal sekali untuk menyatakan ini, akan tetapi karena Taihiap juga sudah
berada di sini, biarlah sekalian kusampaikan bahwa aku melaksanakan pesan guruku bahwa kalau aku
bertemu denganmu, aku harus menantangmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara Suling
Emas dengan Kim-siauw Kiam-sut-nya melawan Lembah Naga Siluman dengan Koai-liong Kiam-sut-nya.
Karena urusan antara kita hanyalah urusan siapa yang lebih unggul dan pertandingan dapat dilakukan
secara persahabatan, maka biarlah aku akan menandingi dulu suling emasmu sebelum aku harus
mempertaruhkan pedang pusaka ini dengan nyawaku.”
Setelah berkata demikian, nampak sinar berkelebat dibarengi suara melengking nyaring sekali seperti
suling ditiup dan tahu-tahu pemuda itu telah memegang sebatang pedang yang sinarnya berkilauan
mengerikan dan sinar kebiruan masih terbayang di dalam pandangan mata semua orang, padahal sinar
yang tadi berkelebat itu telah lenyap karena pedang itu kini tidak digerakkan, melainkan melintang di depan
dada Sim Hong Bu.
Seperti juga Cin Liong, Kam Hong tertegun dan kagum melihat sikap Sim Hong Bu. Sejak pertemuan
pertama dia memang suka dan kagum kepada Sim Hong Bu dan dia pun sudah menyaksikan kehebatan
ilmu pedang pemuda ini ketika bersama dengan Ci Sian, Hong Bu mengalahkan Hek-i Mo-ong. Diam-diam,
dia tadinya mengharapkan perjodohan antara Sim Hong Bu dan Ci Sian, yang dianggapnya sebagai
pasangan yang cocok sekali. Akan tetapi, pemuda itu kini berhadapan dengan dia sebagai wakil keluarga
Cu yang hendak menuntut balas atas kekalahan mereka!
Cin Liong sendiri juga meragu. Dia pun sejak mendengar akan riwayat pedang pusaka itu, merasa betapa
beratnya tugas yang dipikulnya. Bukan berat karena berhadapan dengan lawan yang tangguh, melainkan
merasa berat karena sebetulnya hatinya condong untuk mengembalikan pedang itu kepada pemiliknya
yang syah, yaitu keluarga Cu. Akan tetapi, bagaimana pun juga, pedang itu telah dicuri dari istana dan
sudah sepantasnya kalau dikembalikan ke tempatnya.
Selagi Cin Liong dan Kam Hong tertegun dan merasa ragu-ragu dan menyesal bahwa mereka harus
menghadapi pemuda gagah perkasa itu sebagai lawan tanpa ada urusan pribadi, kesemuanya hanya
karena ikatan tugas belaka, tiba-tiba terdengar bentakan Ci Sian dan nampak sinar kuning emas
menyambar dan langsung menyerang ke arah Sim Hong Bu.
“Tring-trang-cringggg....!”
Tiga kali suling emas itu bertemu dengan pedang Naga Siluman dan nampak bunga api berpijar. Hong Bu
terkejut bukan main dan cepat meloncat ke belakang.
“Nanti dulu...., Ci Sian.... aku.... aku tidak ingin berkelahi denganmu!”
“Tidak, ya? Engkau adalah jagoan yang mewakili Pedang Naga Siluman, dan akulah yang mewakili
suheng-ku, mewakili Suling Emas! Hayoh, tidak usah banyak cerewet. Selagi di sini berkumpul banyak
Locianpwe, banyak pendekar yang gagah perkasa, mari kita buktikan, siapa yang lebih unggul antara
Suling Emas dan Pedang Naga Siluman!”
Ci Sian sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya. Kam Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia
memandang sambil tersenyum ketika melihat tarikan muka pemuda itu yang menjadi kebingungan sekali!
Kembali amat jelas nampak oleh pendekar ini bahwa pemuda yang gagah perkasa itu sungguh mencinta
sumoi-nya! Menghadapi serangan dara yang dicintanya itu agaknya merupakan hal yang paling
membingungkan dan menggelisahkan hati Sim Hong Bu. Beberapa kali pedangnya menangkis dan berkalikali
dia minta kepada Ci Sian untuk menghentikan serangannya. Akan tetapi Ci Sian nekat terus dan
mendesak terus, suling emasnya mengeluarkan suara menjerit-jerit seperti ditiup oleh orang yang sedang
marah!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ci Sian.... dengar.... jangan....!” Hong Bu berkali-kali berteriak untuk mencegah dara itu.
Akan tetapi Ci Sian sungguh terlampau marah untuk dapat ditahan lagi. Sulingnya menyerang semakin
ganas dan bunyi lengking sulingnya makin hebat. Semua orang yang menyaksikan gerakan suling ini
bergidik ngeri dan para Locianpwe yang berada di situ juga menjadi bengong dan kagum sekali. Bahkan
Pendekar Sakti Gurun Pasir sendiri mengamati semua gerakan itu dengan sinar mata berkilat saking
gembiranya karena baru sekali ini pendekar sakti itu melihat suatu ilmu yang benar-benar hebat luar biasa.
Kalau sampai seorang pendekar sakti seperti Naga Sakti Gurun Pasir ini tercengang kekaguman, maka
apalagi para pendekar lain yang hadir di situ. Bu-taihiap sendiri memandang dengan wajah berseri-seri
walau pun tadinya dia terkejut dan terheran-heran, juga bingung melihat watak puterinya yang membolakbalik
seperti angin itu, tadinya membantunya dan kini malah menyerang Sim Hong Bu! Akan tetapi semua
keheranannya itu ditelan oleh rasa kagum menyaksikan ilmu silat dengan suling yang demikian hebatnya.
Dia malah terpengaruh juga oleh getaran tenaga khikang yang terbawa oleh suara suling!
Yang bingung adalah Hong Bu sendiri. Tentu saja, biar pun dia tahu bahwa dara itu amat lihai, dia tidak
takut dan dapat menandinginya. Akan tetapi, mana mungkin dia menghadapi dara ini sebagai lawan? Dia
mencinta Ci Sian! Dia rela mati untuk dara ini! Bagaimana dia dapat mengangkat pedang untuk
melawannya, melukainya atau bahkan membunuhnya? Lebih baik dia yang mati. Dengan hati yang perih
seperti ditusuk-tusuk rasanya, dan bingung sekali, setelah beberapa kali menangkis dan mengelak, Sim
Hong Bu tiba-tiba meloncat dan melarikan diri secepatnya dari tempat itu!
“Ke mana engkau hendak lari?” bentak Ci Sian yang hendak mengejarnya, akan tetapi suara Kam Hong
lebih cepat lagi.
“Sumoi, jangan kejar dia!”
Suara Kam Hong merupakan satu-satunya suara di dunia ini yang mempunyai pengaruh besar bagi Ci
Sian. Biar pun belum tentu ia selalu taat, akan tetapi setidaknya, suara Kam Hong selalu diperhatikannya
dan sekali ini ia pun berhenti dan tidak melanjutkan pengejarannya.
Melihat larinya Sim Hong Bu, Cin Liong khawatir kalau-kalau pemuda itu lenyap dan pedang pusaka itu
tidak berhasil dirampasnya kembali. “Ayah, harap suka lindungi Sang Pangeran, aku hendak
mengejarnya!” katanya dan tanpa menanti jawaban ayahnya, pemuda ini sudah berkelebat lenyap untuk
mengejar Sim Hong Bu.
Keadaan menjadi agak tegang dan suasana menjadi sunyi sekali di tempat itu setelah apa yang terjadi tadi.
“Ah, betapa sayangnya melihat para pendekar yang gagah perkasa kini bersikap seperti anak-anak kecil
yang memperebutkan mainan, saling serang untuk saling membunuh. Betapa menyedihkan!” Pangeran
Kian Liong berkata sambil menggeleng-geleng kepala.
Mendengar ucapan ini, Bu Seng Kin cepat-cepat menjawab dengan suara mengandung penasaran.
“Pangeran, kami adalah pejuang-pejuang rakyat yang tertindas sebagai akibat kesewenang-wenangan
Kaisar. Juga kami membela rekan-rekan kami para pendekar yang dikejar, dibunuh dan hendak dibasmi
oleh Kaisar, seperti halnya sahabat-sahabat dari Siauw-lim-pai. Kami sama sekali tidak hendak
memperebutkan sesuatu, melainkan minta agar kami diperlakukan dengan baik sebagai manusia, sebagai
rakyat yang memiliki tanah air ini!”
Jawaban yang bersemangat itu membuat para pendekar yang berada di situ merasa tergugah. Mereka
mengangkat dada dan sinar mata mereka pun menjadi berapi penuh semangat.
“Tapi, siapa pun yang hendak mengganggu Pangeran yang tidak mempunyai dosa apa pun dalam urusan
Kaisar itu, pasti akan kuhadapi dengan sulingku!” Ci Sian berkata, suaranya juga tegas dan nyaring, dan
suling emas itu dilintangkan di depan dadanya.
Bu-taihiap memandang kepada gadis ini dengan alis berkerut. “Ci Sian, sungguh mati kami bingung sekali
melihat sikapmu. Siapakah yang engkau bela? Tadi, aku melihat engkau sebagai seorang puteriku yang
gagah perkasa dan berbakti, yang membantuku ketika aku terdesak oleh Pendekar Naga Sakti Gurun
Pasir. Akan tetapi, kemudian engkau bahkan melawan dan menyerang Sim Hong Bu yang berdiri di pihak
kami sebagai seorang pendekar patriot! Dan sekarang pula, engkau hendak membantu dan membela Sang
Pangeran. Bagaimanakah ini dan sesungguhnya di pihak siapa engkau berdiri?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku tidak memihak siapa pun juga. Aku bebas dan hanya berpihak kepada kebenaran. Kalau tadi aku
membantumu adalah karena mengingat bahwa engkau adalah ayah kandungku, biar pun aku sama sekali
tidak menyukai kenyataan itu! Dan aku melawan Sim Hong Bu karena dia menantang Ilmu Suling Emas!
Sekarang aku membela Sang Pangeran karena beliau adalah orang yang bijaksana dan sama sekali tidak
bersalah!”
“Hemm, Ci Sian, sesungguhnya di manakah engkau berdiri? Apakah engkau seorang pendekar yang
berjiwa patriot dan membela tanah air dan bangsa dari penindasan, ataukah engkau hendak menjadi
seorang pengkhianat bangsa dan menjadi antek dari Kaisar penjajah?”
Kini wajah Ci Sian menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi!
“Biar pun engkau ayah kandungku, jangan harap untuk dapat memberi kuliah kepadaku! Tengoklah diri
sendiri! Seorang di antara isterimu adalah bekas panglima Nepal! Apakah dia pun seorang pecinta rakyat
dan tanah air kita? Aku tidak peduli tentang urusan perebutan kedudukan. Aku bukan pengkhianat siapasiapa,
juga bukan pemberontak.”
Pangeran Kian Liong melangkah maju. “Ah, cukuplah kiranya percekcokan ini. Nona Bu, aku telah
mengenalmu sebagai seorang dara gagah perkasa dan berjiwa pendekar. Apa pun juga pandanganmu
terhadap ayah kandungmu, tidak baiklah kalau membenci orang tua sendiri. Sekarang, Bu-taihiap,
dengarlah baik-baik. Tidak perlu diributkan lagi mengenai diriku, dan hentikan semua pertikaian yang tiada
artinya ini. Aku berjanji, kalian semua yang hadir di sini menjadi saksi, bahwa aku akan memperjuangkan
semua tuntutan kalian itu kepada ayahku, Sri Baginda Kaisar. Biar pun aku tidak menjadi tawanan di sini,
biar pun aku tidak menjadi sandera, akan tetapi aku berjanji bahwa aku akan mengajukan tuntutan-tuntutan
itu kepada Kaisar dan aku kira semua tuntutan itu akan dikabulkan.”
Bu-taihiap mengerutkan alisnya. Biar pun mereka semua masih berada di dalam sarang para pendekar
patriot, akan tetapi keadaan sungguh tidak menguntungkan dirinya. Kini Pangeran telah mempunyai
banyak pelindung yang amat tinggi ilmu kepandaiannya. Dia sendiri tadi sudah merasakan kelihaian Naga
Sakti Gurun Pasir. Dan biar pun kini Jenderal Kao Cin Liong sudah tidak berada di situ melainkan mengejar
Sim Hong Bu, akan tetapi sebagai penggantinya di situ terdapat puterinya, Bu Ci Sian yang dia tahu telah
memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Apa lagi suheng-nya yang membebaskan Pangeran itu, dapat
diduga tentu memiliki ilmu yang lebih hebat lagi.
Menggunakan kekerasan dan pengeroyokan berarti hanya akan menggagalkan usaha perjuangan itu
sendiri, karena pemerintah tentu akan segera mengirim pasukan dan menghancurkan mereka. Akan tetapi
mengalah begitu saja juga amat memalukan dan dapat menimbulkan penafsiran bahwa para pendekar
patriot merasa takut!
Selagi Bu-taihiap kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba saja terdengar teriakan
dari para penjaga di luar, “Utusan ke kota raja telah tiba kembali!”
Wajah Bu-taihiap menjadi cerah kembali dan dia cepat berkata kepada Sang Pangeran, “Harap Paduka
ketahui bahwa orang yang kami utus ke kota raja menyampaikan tuntutan kepada Sri Baginda Kaisar telah
pulang. Kita dengarkan saja bersama apa yang dihasilkan oleh tuntutan itu.”
Ketika dua orang utusan itu memasuki ruangan yang penuh orang itu, apalagi melihat pula Pangeran Kian
Liong di situ, mereka menjadi ragu-ragu dan memandang kepada Bu-taihiap dengan sikap bingung.
“Laporkanlah saja apa yang menjadi hasil tuntutan kita kepada Kaisar, biar didengar oleh semua yang
berada di sini,” kata Bu-taihiap kepada dua orang utusan itu. “Jangan kalian ragu-ragu lagi.”
“Kami telah menyampaikan surat tuntutan itu kepada kepala pengawal. Setelah disuruh menanti dan di
jaga ketat, seolah-olah kami hendak ditangkap dengan kekerasan, tak lama kemudian muncul seorang
pembesar istana dan kami menerima jawaban tertulis yang harus kami segera sampaikan kepada Taihiap.”
Dua orang utusan itu mengeluarkan sepucuk surat bersampul yang ada cap istana, menyerahkannya
kepada Bu-taihiap.
Pendekar ini menerima dengan hati bangga dan juga wajah berseri. Jawaban dari istana berarti bahwa
tuntutan mereka itu dihargai dan disambut. Kalau sebaliknya, tentu dua orang utusan itu sudah ditangkap
dunia-kangouw.blogspot.com
atau dibunuh! Sambil tersenyum dia membuka sampul dan berkata kepada Sang Pangeran, “Harap
Paduka ikut pula mendengarkan jawaban dari istana, juga semua saudara harap mendengarkan.”
Setelah berkata demikian, Bu-taihiap lalu membuka surat itu dan membaca dengan suara keras. Di dalam
surat itu tertulis bahwa Kaisar menerima semua tuntutan itu dan berjanji akan mengabulkannya, namun
diminta agar Sang Pangeran segera dipersilakan pulang ke istana karena kaisar menderita sakit.
Mendengar ini, semua orang terkejut, juga Sang Pangeran sendiri.
“Ah, kiranya Sri Baginda Kaisar sedang sakit!” katanya. Lalu dia menoleh kepada Kao Kok Cu, “Kaotaihiap,
aku harus segera kembali ke kota raja!”
“Kami akan mengantar Paduka pulang,” kata pendekar berlengan satu itu.
Bu-taihiap juga girang sekali melihat isi jawaban yang menyatakan bahwa tuntutan mereka akan
dikabulkan, maka dia pun segera menyediakan sebuah kereta dan kuda yang segar untuk dipakai oleh
Sang Pangeran ke kota raja. Kao Kok Cu dan isterinya lalu cepat mengawal Pangeran untuk naik kereta
menuju ke kota raja, dikusiri sendiri oleh Wan Ceng dan suaminya. Sedangkan Kam Hong segera
meninggalkan ternpat itu untuk mengejar Sim Hong Bu pula, bersama sumoi-nya. Bu Seng Kin berusaha
untuk menahan puterinya, agar mau tinggal di situ bersamanya, namun dengan sikap angkuh dan keras Ci
Sian menolak.
“Biar pun engkau adalah ayah kandungku, akan tetapi sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih
sayangmu. Oleh karena itu, bagiku engkau sama saja seperti orang lain, Ayah. Maka aku tidak mungkin
dapat tinggal bersamamu, kecuali.... kecuali....”
“Kecuali apa?”
“Kalau engkau hidup sendirian saja!”
Tang Cun Ciu yang pernah bermusuhan dengan Ci Sian, bahkan pernah mereka berdua itu berkelahi,
berkata dengan suara dingin, “Bu Ci Sian, engkau harus dapat melihat kenyataan! Hidup tidaklah semanis
yang engkau kira. Ayahmu telah mempunyai isteri-isteri lain, dan ini adalah kenyataan, biar pun hati tidak
setuju akan tetapi mana bisa mengubah kenyataan? Betapa pun juga kami adalah isteri-isterinya, mana
mungkin dipisahkan begitu saja?”
Ci Sian cemberut. “Aku pun tidak mau merampas Ayah. Boleh kalian semua miliki selamanya, aku tidak
membutuhkan dia. Suheng, mari kita pergi! Tidak tahan aku berlama-lama di tempat ini!” katanya sambil
melompat keluar, diikuti oleh Kam Hong.
Biar pun Bu-taihiap agak terpukul batinnya oleh sikap puterinya itu, namun kegembiraan karena tuntutan
para patriot diterima dan hendak dikabulkan oleh Kaisar merupakan hiburan besar. Bu-taihiap lalu
menyebar orang-orangnya untuk menyampaikan berita baik itu kepada seluruh pendekar patriot yang
tersebar di banyak kota, dan mereka sekarang tinggal menanti pelaksanaan dari pada janji Kaisar yang
hendak mengabulkan permintaan mereka itu…..
********************
Akan tetapi, sementara itu, Kaisar yang menjanjikan pemenuhan tuntutan itu sendiri sedang menderita
sakit yang parah karena luka oleh pisau beracun itu menjadi makin membengkak dan mulai meracuni
darah dalam tubuhnya!
Ketika Pangeran Kian Liong tiba di istana dan langsung mengunjungi Kaisar, Pangeran ini terkejut bukan
main melihat keadaan Kaisar yang amat payah. Dia mendengar akan peristiwa penyerangan selir itu dan
Sang Pangeran menghela napas panjang. Ketika mendengar bahwa selir itu sehari sebelum melakukan
penyerangan dikunjungi seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai puteranya, tahulah Kian Liong
siapa yang dimaksudkan oleh mereka. Pemuda itu pernah dijumpai sebagai seorang pendekar patriot yang
bersemangat. Kembali akibat dari pada penyelewengan ayahnya, pikir Pangeran ini. Ayahnya kini memetik
buah dari pada pohon yang ditanamnya sendiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun keadaan penyakitnya amat parah, ketika Kaisar mendengar akan kedatangan puteranya, dia
membuka matanya dan memberi isyarat kepada Pangeran Kian Liong untuk duduk. Pangeran itu lalu
duduk di tepi pembaringan.
“Bagus, engkau sudah dibebaskan?” kata Kaisar itu bersemangat meski suaranya lirih dan lemah dan
napasnya agak memburu. “Bagus, sekarang juga akan kuperintahkan agar dikirim pasukan besar untuk
membasmi seluruh pemberontak-pemberontak laknat itu!”
“Harap Paduka tenang dan tidak membiarkan kemarahan meracuni diri Paduka yang sedang sakit,” kata
Sang Pangeran. “Agaknya Paduka lupa bahwa Paduka telah menjanjikan untuk mengabulkan permohonan
mereka....”
“Permohonan? Mereka menuntut! Tidak ada janji dengan para pemberontak! Akan kubasmi sampai ke
akar-akarnya!”
Pangeran Kian Liong dengan halus membantah, bahwa yang disebut pemberontak oleh Kaisar itu adalah
pendekar-pendekar patriot-patriot sejati yang menjadi sakit hati karena penekanan terhadap mereka oleh
pemerintah.
“Terutama sekali pembakaran biara Siauw-lim-si membuat mereka itu menjadi semakin mendendam. Kalau
kita bersikap baik kepada mereka, maka kita dapat menggunakan tenaga mereka itu dengan baik dan demi
kemakmuran negara. Kalau ditekan, mereka akan melawan dan kita harus ingat bahwa jumlah mereka
cukup besar dan gerakan mereka itu didukung oleh hampir seluruh kaum kang-ouw.”
“Kalau perlu akan kubasmi seluruh kaum kang-ouw!” Kaisar membentak marah.
Akan tetapi dengan suara halus, Pangeran Mahkota itu mencoba untuk mengingatkan Kaisar. Kaisar
menjadi marah dan jengkel sekali dan hal ini sebetulnya amat tidak baik bagi kesehatannya sehingga
Kaisar jatuh pingsan lagi dan penyakitnya menjadi makin berat!
Melihat keadaan Kaisar yang penyakitnya semakin payah itu, para pembesar lalu mengadakan
musyawarah, dipimpin oleh Pangeran Kian Liong dan atas persetujuan dari Kaisar yang kadang-kadang
siuman itu, maka diangkatlah Pangeran Kian Liong sebagai pelaksana dan penguasa menggantikan Kaisar
yang memang menjadi haknya sebagai Pangeran Mahkota. Dan begitu Pangeran muda ini duduk sebagai
penguasa tertinggi, maka keluarlah keputusan-keputusan yang amat bijaksana dan melegakan hati para
pembesar yang setia, juga melegakan hati rakyat dan para pendekar.
Di antara keputusan-keputusan itu adalah pembangunan biara Siauw-lim, dihentikan pengejaran terhadap
para pendekar patriot, peringanan pajak bagi rakyat, terutama di dusun-dusun, pembangunan untuk
kesejahteraan rakyat dan sebagainya. Tentu saja keputusan-keputusan baru ini, selain di satu pihak
disambut dengan gembira, namun di lain pihak ada orang-orang yang menyambutnya dengan tidak
senang.
Dan mereka itu adalah orang-orang yang memang pada dasarnya membenci bangsa Han yang mereka
anggap sebagai bangsa yang lebih rendah dari pada mereka. Mereka ini adalah pembesar-pembesar
Mancu yang berkuasa di istana, yang merasa sebagai bangsa yang berkuasa di Tiongkok. Selain beberapa
orang di antara para pembesar Mancu, hanya beberapa orang saja karena tidak semua pembesar bangsa
Mancu berwatak seperti itu bahkan sebagian besar telah melebur diri menjadi bangsa Han pula dengan
menerima semua kebudayaan, ada pula pihak lain yang tidak puas dan bahkan marah-marah dengan
adanya kebijaksanaan-ke-bijaksanaan baru dari Pangeran Kian Liong ini. Mereka itu adalah pembesarpembesar,
terutama di daerah-daerah, tidak peduli apakah mereka itu berbangsa Mancu atau Han, yang
merasa amat dirugikan dengan adanya peraturan-peraturan baru seperti meringankan pajak dan
sebagainya itu. Dengan adanya kebijaksanaan baru ini, tertutuplah banyak sumber penghasilan mereka
melalui korupsi!
Betapa pun juga, karena Pangeran Kian Liong melaksanakan semua keputusan itu dengan bijaksana, dan
tidak ragu-ragu untuk menghukum mereka yang melanggar, maka setuju atau tidak setuju, keputusankeputusan
itu dijalankan juga oleh para pembesar. Dan rakyat bersorak gembira dengan hati agak lega
karena mereka merasa agak terangkat dari jurang kesukaran dan terlepas dari himpitan-himpitan yang
amat berat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Penyakit Kaisar semakin payah dan akhirnya Kaisar Yung Ceng meninggal dunia pada tahun 1735. Kaisar
ini meninggal dalam keadaan sengsara, oleh karena penyakitnya membuat dia menderita dan rebah
tersiksa selama berbulan-bulan, hampir setahun.
Tidak ada kesulitan timbul dalam penobatan Pangeran Kian Liong menjadi kaisar. Sejak tahun 1735 dia
memang telah menjadi penguasa penuh, dan pada tahun 1736, hanya beberapa bulan setelah
meninggalnya Kaisar Yung Ceng, maka Pangeran Kian Liong dinobatkan sebagai kaisar penuh.
Setelah menjadi kaisar, maka Pangeran Kian Liong makin berani dalam tindakan kebijaksanaannya.
Berbagai peraturan yang dianggapnya hanya bersumber kepada keinginan pembesar-pembesar yang
bersangkutan untuk menumpuk harta kekayaan dan memperkuat kekuasaan belaka dihapus dan dirubah
secara radikal. Pembesar-pembesar digantinya dengan orang-orang yang cakap.
Kaisar muda ini pun mengulurkan tangan kepada para pendekar, siapa saja yang ingin menyumbangkan
tenaga demi kemakmuran negara dan rakyat, diterimanya tanpa pilih bulu, dan diberi kedudukan yang
sesuai dengan kepandaian masing-masing. Selain ini, juga Kaisar Kian Liong menggunakan tangan besi
terhadap para penjahat dan koruptor. Keadaan berubah sama sekali, baik di dalam pemerintahan mau pun
keadaan dalam kehidupan rakyat jelata. Kaisar ini berusaha sedapat mungkin untuk menarik simpati
rakyat, untuk menghapus kesan bahwa mereka itu terpimpin oleh kaum penjajah. Di dalam istana sendiri,
Kaisar mengadakan pembersihan dan mengenyahkan para penjilat dan pembesar-pembesar korup.
Tentu saja semua ini disambut oleh para pendekar dengan hati lega. Memang, perasaan tidak senang
bahwa negara dipimpin oleh bangsa Mancu masih ada dalam lubuk hati mereka. Namun, yang terpenting
pada waktu itu adalah melihat rakyat hidup sejahtera dan makmur, tidak tertindas. Yang penting adalah
kemakmuran lahiriah lebih dulu dan mereka melihat dalam diri kaisar baru ini seorang pemimpin yang adil,
yang bahkan lebih baik dari pada kaisar-kaisar bangsa sendiri ratusan tahun yang lalu.
Kaisar Kian Liong selain menghargai tenaga para pendekar, juga tak mengabaikan para ahli sastra. Dia
pun mengulurkan tangan kepada kaum sastrawan untuk menyumbang tenaga dan pikiran, tentu dengan
imbalan-imbalan yang memadai, dengan kedudukan-kedudukan yang sesuai, sehingga pada masa
pemerintahan Kaisar ini, kesusastraan berkembang biak dengan baiknya.
Dan memang tercatat dalam sejarah bahwa Pangeran Kian Liong merupakan satu-satunya kaisar yang
berhasil di dalam pemerintahan Mancu, bahkan jarang ada kaisar yang demikian gemilang pada dinastidinasti
sebelumnya. Kaisar Kian Liong sendiri adalah seorang yang amat mengagumi Kaisar Tang Thai
Cung, yaitu kaisar di dalam Dinasti Tang yang dianggapnya sebagai seorang kaisar yang bijaksana dan
patut dicontoh.
Maka dalam banyak hal, dia mencontoh Kaisar Dinasti Tang itu yang memerintah selama dua puluh tahun
dan telah mencapai banyak sekali kemajuan untuk rakyat dan negaranya. Dan Kaisar Kian Liong ini malah
menjadi Kaisar sampai selama enam puluh tahun! Sungguh merupakan masa pemerintahan yang amat
lama dan jarang ada kaisar yang seperti dia. Hal ini membuktikan kebijaksanaannya ketika memerintah
sehingga tidak banyak terjadi pemberontakan terhadap pimpinannya!
Memang tidak dapat disangkal bahwa jiwa patriot masih belum padam di dalam hati para pendekar. Namun
api pemberontakan di dalam hati itu mengecil bahkan hampir padam selama pemerintahan Kaisar Kian
Liong karena para pendekar itu segan dan tunduk kepada Kaisar yang bijaksana itu. Semua propinsi dalam
keadaan tenteram, bahkan negara-negara yang tadinya suka menyeberang perbatasan dan mengadakan
pengacauan, kini menarik pasukan mereka tidak berani mengganggu. Mereka pun maklum bahwa dalam
sebuah negara yang tenteram dan makmur, terhimpun kekuatan yang hebat, bukan hanya kekuatan
pasukannya, melainkan terutama sekali karena setiap orang rakyat siap sedia untuk mempertahankan
ketenteraman hidupnya dan akan bangkit melawan pengacau dari luar.
Pada jaman Kaisar Yung Ceng, telah terjadi kontak-kontak dengan bangsa Rusia dan bangsa ini malah
diperbolehkan membuka perwakilan di kota raja. Juga telah lama diadakan hubungan perdagangan
dengan bangsa Portugal sebagai bangsa asing yang paling dulu mengadakan hubungan dagang dengan
Tiongkok. Kemudian berturut-turut datang pula bangsa Belanda, Inggris dan Perancis. Akan tetapi, Kaisar
Kian Liong membatasi gerakan mereka dan menjaga benar-benar agar mereka itu tidak mempengaruhi
rakyat di mana mereka tinggal dengan kebudayaan mereka. Setiap gerak-gerik mereka diawasi dan
perdagangan pun dibatasi agar rakyat tidak sampai tertipu dan dirugikan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah keadaan pada waktu pemerintah Kaisar Kian Liong, dan kalau pun ada terjadi
pemberontakan, maka pemberontakan itu hanya terjadi di daerah pinggiran yang berbatasan dengan
negara tetangga, pemberontakan suku bangsa yang masih liar dan yang selalu tidak mau menerima
peraturan-peraturan dari pusat. Akan tetapi semua pemberontakan itu pun dengan mudah dapat
ditundukkan dan diatasi.
Melihat keadaan ini, kaum pendekar juga bangkit kembali semangat mereka. Kalau dulu, di waktu para
pendekar itu kecewa menyaksikan kelaliman Kaisar Yung Ceng sehingga mereka tidak acuh terhadap
keamanan rakyat, kini mereka bangkit dan menentang para penjahat yang hendak mengacaukan
ketenteraman. Dengan adanya para pendekar ini, makin tenteramlah kehidupan rakyat jelata, berkat
kebijaksanaan Kaisar Kian Liong yang pandai mengambil hati kaum cerdik pandai dan gagah perkasa di
seluruh negeri.
********************
Diam-diam Kao Cin Liong merasa kagum sekali terhadap Sim Hong Bu yang dalam pertemuannya dengan
para pendekar patriot itu telah muncul dengan gagah perkasa, menantang dia dan bahkan menantang
suheng dari Ci Sian yang bernama Kam Hong itu. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya kalau teringat
betapa pemuda itu menjadi demikian bingungnya ketika dihadapi dan diserang oleh Ci Sian, bahkan dia
pun melihat dengan jelas betapa Hong Bu terus mengalah, bahkan kemudian melarikan diri, bukan karena
takut kepadanya atau kepada Ci Sian, melainkan karena jelas bahwa pemuda itu sama sekali tidak mau
menghadapi Ci Sian sebagai musuh.
“Dia mencinta Ci Sian!” demikianlah berkali-kali hatinya berkata dengan perasaan tidak nyaman. Dia
sendiri juga jatuh cinta kepada Ci Sian dan agaknya kini dia menemui seorang saingan berat dalam diri
Sim Hong Bu, pemuda gagah perkasa ahli waris keluarga Cu yang telah mewarisi pula pedang pusaka
Koai-liong Po-kiam itu.
Cin Liong menjadi semakin kagum pada waktu dia melakukan pengejaran dan sampai berpekan-pekan,
bahkan lebih dari sebulan, belum juga dia mampu menyusul Hong Bu. Memang dia telah menemukan jejak
pemuda itu dengan penyelidikan dan bertanya-tanya, tetapi Hong Bu selalu lenyap dengan cepatnya.
Bahkan setelah dia mengejar ke barat, tiba-tiba saja jejak pemuda itu menuju ke utara, ke kota raja! Di
dalam perjalanan mencari dan mengikuti jejak Hong Bu ini, Cin Liong mendengar tentang Kaisar yang
tengah jatuh sakit berat dan betapa kini Pangeran Kian Liong yang menjadi pejabat dan pelaksana yang
tertinggi.
Dia merasa amat gembira dan percaya sepenuhnya bahwa Pangeran itu tentu akan mengadakan
perubahan-perubahan bijaksana seperti yang sering kali dikatakan dan dijanjikan oleh Pangeran itu.
Keyakinan ini membuatnya menjadi lega dan dengan hati tenang dia melanjutkan pengejarannya.
Dan ketika dia tiba di kota Pao-ting di sebelah selatan kota raja, dia mendengar bahwa pemuda yang
dikejarnya itu menuju ke hutan di sebelah barat kota itu, di Pegunungan Thian-hong-san. Keterangan ini
didapatnya dari para penjaga kota yang mengenal jenderal muda ini, karena Pao-ting tidak jauh dari kota
raja dan nama Kao Cin Liong amat dikenal karena kegagahannya. Dia cepat melakukan pengejaran ke
daerah hutan di kaki pegunungan itu dan pada keesokan harinya pagi-pagi dengan hati berdebar dan juga
girang dia melihat orang yang diburunya itu berada di bawah pohon bersama seorang laki-laki berusia
kurang lebih empat puluh tahun yang berpakaian seperti seorang pemburu.
Siapakah pria berpakaian pemburu itu? Dan mengapa Hong Bu pergi ke tempat itu, di dalam hutan sunyi?
Seperti kita ketahui, Hong Bu bingung bukan main ketika melihat Ci Sian menyerangnya kalang-kabut dan
bahkan semakin nekat. Dia tidak takut kepada dara ini, akan tetapi melihat betapa dara itu menyerangnya
dengan demikian mati-matian seperti seorang musuh besar dan berniat membunuhnya, hatinya terasa
seperti ditusuk dan kedukaan membuat dia melupakan semua urusannya. Maka dia pun tidak kuat
bertahan dan melarikan diri secepatnya karena dia khawatir kalau-kalau Ci Sian mengejarnya. Setelah
melihat dara yang amat dicintanya itu menganggapnya sebagai musuh, Hong Bu menjadi lemas dan
lenyap semua semangatnya untuk menghadapi orang-orang yang memusuhinya.
Dia lalu melakukan perjalanan cepat, tidak mau kalau sampai tersusul orang. Dia bahkan tidak bernafsu
untuk berkelahi dengan siapa pun, yang teringat hanya Ci Sian, dan hatinya menjadi semakin kacau
membayangkan betapa dara itu menyerangnya mati-matian! Hal seperti ini tidak mungkin dibiarkan saja,
pikirnya. Dia jatuh cinta kepada Ci Sian dan satu-satunya jalan hanya meminangnya untuk menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
isterinya! Dan dia mempunyai harapan baik karena agaknya Bu Seng Kin, pemimpin para patriot itu, suka
kepadanya dan agaknya tidak akan menolak kalau dia meminang Ci Sian yang ternyata adalah puterinya!
Apa pun hasilnya nanti, berhasil mau pun gagal hal ini akan membuat hatinya lega dan tidak bimbang
seperti sekarang ini. Biarlah dia ditolak kalau dara itu memang tidak dapat membalas cintanya. Akan tetapi
harus ada ketentuan, ada kepastian, tidak seperti sekarang ini. Dia tahu bahwa sebenarnya dara itu tidak
membencinya, bahkan melihat sinar mata dara itu kepadanya, dahulu sebelum terjadi pertikaian tentang
permusuhan dan persaingan antara Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan Koai-liong Kiam-sut, dia pernah melihat
sinar mata dara itu bersinar-sinar mesra kepadanya. Mungkin dara itu juga ada hati kepadanya, hanya
karena urusan permusuhan itu, maka kini menjadi marah dan membencinya.
Demikianlah, Hong Bu lalu mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya, yaitu Sim
Hok An, juga bekerja sebagai pemburu. Akan tetapi Sim Hok An ini bukanlah paman asli, bukan adik
mendiang ayahnya seperti halnya pamannya Sim Tek yang sudah tewas di tangan Su-ok dahulu itu,
melainkan adik sepupu yang masih bernama keluarga sama, yaitu she (nama keluarga) Sim. Sim Hok An
inilah satu-satunya keluarganya yang dapat menjadi walinya untuk mengajukan pinangan kepada Bu Seng
Kin, meminang Ci Sian! Untuk keperluan itulah maka Hong Bu mencari-cari pamannya itu.
Tentu saja tadinya dia mencari ke tempat tinggalnya yang lama, akan tetapi dia mendengar bahwa
pamannya telah pindah ke Pao-ting bersama keluarganya, yaitu seorang isteri dan dua orang anak dan
cepat dia menyusul ke Pao-ting. Di tempat ini dia mendengar bahwa pamannya sedang bekerja, yaitu
seperti biasa, pekerjaan memburu ke dalam hutan. Pekerjaan ini kadang-kadang sampai makan waktu
seminggu. Setelah memperoleh banyak hasil buruan barulah pulang untuk menjual hasil buruan ke kota.
Maka dia pun segera menyusul ke hutan itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang yang selalu
membayanginya atau mengejarnya, ke mana pun dia pergi.
Demikianlah, akhirnya Cin Liong berhadapan dengan Hong Bu dalam hutan yang sunyi, ketika Hong Bu
sedang bercakap-cakap dengan Sim Hok An, pada pagi hari itu.
“Sim Hong Bu, akhirnya aku dapat menemukan engkau!” Cin Liong berseru dengan lantang, hatinya girang
sekali karena akhirnya pengejarannya berhasil.
Hong Bu yang tidak menyangka sama sekali akan dapat disusul oleh utusan Kaisar yang hendak
merampas pedangnya ini terkejut, akan tetapi mukanya segera menjadi merah karena marah. Dia
meloncat bangun, berdiri dengan tegak, dan menoleh kepada pamannya.
“Maaf, Paman. Aku mempunyai urusan pribadi dengan orang ini, biarlah kuselesaikan dulu urusanku
dengan dia, baru kita sambung percakapan kita tadi.” Sikapnya tenang sekali.
Akan tetapi, melihat sikap dua orang muda yang sama gagahnya itu, Sim Hok An yang juga sudah bangkit
berdiri segera menegur, “Hong Bu, apakah yang terjadi? Siapakah dia itu dan ada urusan apakah?”
Tentu saja pamannya dapat melihat sikap yang serius dari keduanya, maka Hong Bu lalu berkata dengan
terus terang, “Paman, aku mempunyai sebatang pedang dan orang ini hendak merampasnya, maka hal ini
harus kami putuskan dengan perkelahian. Harap Paman jangan mencampuri dan berdiri agak menjauh
karena orang ini adalah Jenderal Kao Cin Liong, seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!”
Terkejutlah orang setengah tua itu dan dia pun segera melangkah mundur dan duduk di bawah sebatang
pohon agak jauh dari situ. Dia belum tahu bahwa keponakannya yang semenjak kecil telah menghilang,
dan kabarnya bersama dengan Sim Tek melakukan perburuan di utara dan baru sekarang pulang itu, telah
menjadi seorang yang amat lihai. Setelah pamannya itu mundur, barulah Hong Bu menghadapi Cin Liong.
“Nah, Kao Cin Liong, kita telah berdiri berhadapan sekarang. Di sini tiada orang lain dan Pamanku itu tentu
tidak akan mencampuri. Kita adalah sama-sama laki-laki, katakanlah, apa yang kau hendaki maka engkau
menyusulku ke tempat ini?”
“Sim Hong Bu, engkau tahu apa yang kukehendaki. Sayang bahwa ketika kita bertemu di rumah para
pendekar itu, engkau melarikan diri....”
“Aku sama sekali tidak lari darimu, atau dari Kam-taihiap, atau dari siapa pun!”
“Kalau begitu, kenapa engkau melarikan diri?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukan urusanmu!” bentak Hong Bu dan mukanya berubah merah sekali.
Hatinya sedih karena harus bicara tentang urusan yang mendatangkan duka di hatinya itu, mengingatkan
dia bahwa dia sudah dimusuhi oleh Ci Sian dengan mati-matian.
“Engkau tetap menghendaki pedang Koai-liong Po-kiam yang sebenarnya menjadi hak milikku sebagai ahli
waris keluarga Cu di Lembah Naga Siluman?”
“Hemm, maksudmu Lembah Suling Emas?”
“Bukan, sekarang namanya telah menjadi Lembah Naga Siluman! Nah, jawablah.”
“Tidak salah, memang aku mencari untuk minta dikembalikannya pedang pusaka itu. Betapa pun juga,
pedang itu tadinya adalah pusaka istana dan dicuri orang, maka harus dikembalikan ke sana.”
“Bagus! Dan jawabanku tetap seperti dahulu, yaitu engkau baru dapat merampas dan membawa pergi
pedang itu melalui mayatku!”
“Baiklah, akan kucoba untuk merampasnya darimu, Hong Bu. Sesungguhnya, terus terang saja aku tidak
mempunyai permusuhan pribadi denganmu, dan bahkan aku tidak benci sama sekali kepadamu. Akan
tetapi, engkau tahu bahwa aku adalah seorang petugas yang menerima perintah untuk merampas kembali
pedang pusaka istana, dan karena engkau kebetulan orangnya yang membawa pedang itu, dan kalau
engkau tidak mau menyerahkannya kepadaku dengan damai, terpaksa aku harus menggunakan
kekerasan.”
“Bagus, kata-kata jantan! Aku pun ingin sekali mencoba sampai di mana lihainya putera Pendekar Naga
Sakti Gurun Pasir yang telah mengalahkan keluarga Cu!”
Mendengar disebutnya Naga Sakti Gurun Pasir, Sim Hok An menggigil dan mukanya pucat. Biar pun dia
hanya seorang pemburu, akan tetapi keluarga Sim adalah pemburu yang berpengalaman dan banyak
sekali kenalan di antara orang-orang kang-ouw, maka nama besar itu tentu saja pernah didengarnya. Juga
dia mendengar tentang pedang Koai-liong Po-kiam yang lenyap dari istana itu. Siapa kira, ternyata pedang
itu berada di tangan keponakannya, dan kini keponakannya itu akan bertanding melawan putera Naga
Sakti Gurun Pasir. Hampir dia tidak percaya akan semua itu dan merasa seperti dalam mimpi.
Melihat betapa jenderal muda itu masih tidak mengeluarkan senjata, Hong Bu yang keistimewaannya
hanyalah ilmu pedangnya yang memang luar biasa itu, perlahan-lahan mencabut Koai-liong Po-kiam dan
nampaklah sinar kebiruan yang menyilaukan mata. Sim Hok An terkejut dan tidak terasa lagi dia
menggeser duduknya di belakang pohon dan mengintai dari balik batang pohon itu!
“Ahhh, memang pedang pusaka yang hebat. Pantas saja dijadikan rebutan!” kata Cin Liong.
Tadinya dia hendak mengadu kepandaian tanpa senjata karena memang di antara mereka tidak ada
permusuhan atau kebencian pribadi, tetapi melihat betapa pemuda lawannya itu telah mengeluarkan
pedang yang hendak dijadikan rebutan, dia tidak berani menghadapi pedang yang mengeluarkan sinar
kebiruan seperti itu, maka Cin Liong juga mencabut pedangnya, pedang tanda pangkatnya, sebatang
pedang yang terbuat dari bahan yang baik pula, yang tidak takut menghadapi keampuhan senjata pusaka.
Pedangnya itu mengkilap dan kalau digerakkan mengeluarkan sinar putih seperti pedang biasa yang tajam.
Sejenak mereka berdiri berhadapan, pedang di tangan dan hati ragu-ragu. Seperti juga lawannya, Hong Bu
merasa betapa janggalnya keadaan mereka berdua. Tidak saling mengenal, bahkan tidak pernah ada
urusan apa pun di antara mereka, tahu-tahu kini berdiri berhadapan sebagai musuh yang mungkin akan
saling bunuh! Teringat pula dia kepada Ci Sian yang juga secara tiba-tiba saja berdiri menghadapinya
sebagai musuh.
Dan dia pun menarik napas panjang. Sebelum menjadi murid keluarga Cu, dia sama sekali tidak pernah
punya musuh! Kalau dia membenci Im-kan Ngo-ok misalnya adalah karena mereka itu jahat dan pula
pamannya, Sim Tek, tewas di tangan Su-ok. Akan tetapi apa salahnya orang-orang seperti Ci Sian, Kam
Hong, Kao Cin Liong dan ayahnya, Kao Kok Cu? Terutama sekali Ci Sian dan Kam Hong, sama sekali dia
tidak ingin memusuhi mereka. Juga Cin Liong ini demikian gagah perkasa. Tapi kini harus berhadapan
dengannya sebagai musuh!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kao Cin Liong, seperti juga kata-katamu tadi, aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, juga
tidak membencimu. Akan tetapi kita berdua, oleh tugas masing-masing, terpaksa kini berhadapan sebagai
lawan. Kalau aku sampai kesalahan tangan dan engkau terluka atau tewas di tanganku, harap kau suka
maafkan!”
Cin Liong tersenyum dan merasa semakin tertarik. Dia akan lebih suka menjadikan pemuda ini teman dari
pada lawan. “Demikian pula aku, Sim Hong Bu. Nah, mari kita mulai saja!”
Entah siapa di antara mereka yang menyerang terlebih dahulu. Serangan yang dilakukan setengah hati
dan yang mudah ditangkis lawan, kemudian menanti sampai sang lawan melakukan serangan balasan.
Akan tetapi begitu mereka mengadu tenaga dan teringat bahwa lawan yang dihadapi adalah seorang yang
amat lihai, mereka menambah kecepatan dan tenaga, dan belasan jurus kemudian keduanya sudah saling
mengerahkan kecepatan dan tenaga sinkang mereka sehingga tubuh mereka tidak nampak lagi oleh Sim
Hok An yang makin lama semakin bengong dan takjub.
Apalagi ketika terdengar suara mengaung-ngaung mengerikan dari pedang di tangan Hong Bu, orang
setengah tua itu semakin menjauhi tempat itu dan memandang dengan hati penuh ketakjuban, ketegangan
dan juga kengerian. Dia melihat daun-daun pohon rontok seperti tersambar pisau tajam, dan dua gulungan
sinar biru dan putih itu sungguh indah dipandang, tetapi kalau teringat bahwa sinar-sinar itu merupakan
cengkeraman-cengkeraman maut, dia menjadi ngeri.
Sementara itu, dua orang pemuda itu sendiri makin kagum terhadap lawannya masing-masing. Rasa
kagum yang bercampur rasa penasaran. Serangan-serangan lawan sungguh amat berbahaya, akan tetapi
juga pertahanan lawan demikian kokoh kuatnya sehingga sukar ditembus oleh pedang mereka. Hanya ada
perbedaan sedikit antara mereka!
Koai-liong Kiam-sut sungguh merupakan ilmu pedang yang amat tangguh dan ampuh. Pedang yang
diputar sampai mengeluarkan suara menggeram dan menggereng, mengaum seperti seekor binatang buas
itu saja sudah menunjukkan betapa anehnya gerakan-gerakan itu. Dan dalam hal ilmu pedang ini, harus
diakui bahwa Cin Liong masih kalah kuat setingkat.
Ilmu Pedang Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) adalah perombakan dari Ilmu Sin-liong-cianghoat,
bukan ilmu pedang asli, dalam arti kata diciptakan sengaja dengan pedang. Biar pun hebat, namun
gerakannya tidaklah sehebat dan seaneh Koai-liong Kiam-sut yang memang diciptakan untuk pedang yang
khusus pula.
Akan tetapi, dalam hal sinkang dan ginkang, ternyata Hong Bu masih kalah setingkat pula. Hal ini adalah
karena dasar latihan Hong Bu kalah oleh Cin Liong yang semenjak kecil sudah digembleng oleh ayahnya
sendiri, yaitu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Dan karena masing-masing mempunyai kelebihan ini,
maka keadaan mereka menjadi seimbang! Dengan ilmu pedangnya yang ampuh, Hong Bu berusaha
mendesak lawannya, akan tetapi Cin Liong dapat menghalau semua itu dengan kelebihan tenaga sinkang
dan juga kelebihan kecepatan gerakannya, dan yang dapat membalas dengan serangan-serangan yang
tidak kalah dahsyatnya.
Rasa kagum telah tidak terasa lagi kini, yang terasa hanyalah rasa penasaran dalam hati masing-masing!
Memang, pementingan diri selalu paling menonjol dalam batin manusia, dan sinar kasih yang menyinar
keluar itu tak tampak lagi karena tertutup oleh debu-debu, antara lain yang paling gelap adalah debu
pementingan diri ini. Seperti sebuah lampu yang kacanya penuh debu sehingga sinarnya dari dalam tidak
dapat menyorot keluar.
Karena penasaran itulah, maka biar pun dalam hati masing-masing tidak ada kebencian, dua orang
pemuda itu mengerahkan seluruh daya keampuhan mereka untuk saling mengalahkan, merobohkan,
melukai, bahkan membunuh. Dan perkelahian adu pedang itu sudah berlangsung lebih seratus jurus.
Mereka sama kuat, sama ulet, dan biar pun sudah sekian lamanya, mereka terus bergerak dengan
kekuatan dikerahkan seluruhnya, namun mereka tidak nampak lelah. Saling serang, saling desak, hebat
bukan kepalang sehingga Sim Hok An yang menonton sambil bersembunyi di balik batang pohon menjadi
pucat sekali wajahnya dan tubuhnya agak gemetar.
Kembali lima puluh jurus telah lewat. Tiba-tiba Hong Bu yang sudah merasa penasaran bukan main,
mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedangnya berkelebat seperti halilintar. Sungguh serangan
yang luar biasa dahsyatnya, jauh lebih dahsyat dari pada yang sudah-sudah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Liong terkejut, tidak mengira bahwa lawan masih dapat mengeluarkan jurus yang demikian
dahsyatnya, yang agaknya merupakan jurus simpanan. Dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dan
menangkis, berusaha untuk membikin pedang lawan terpental dengan mempergunakan kelebihan
tenaganya.
“Cringgg....!”
Dua pedang bertemu, tetapi agaknya hal ini sudah diperhitungkan oleh Hong Bu karena pedangnya
terpental, bukan ke belakang, melainkan menyeleweng dan meluncur ke arah leher Cin Liong dari samping
dengan kecepatan kilat!
Cin Liong tidak dapat menangkis lagi karena datangnya serangan itu amat mendadak dan tidak
disangkanya semula, maka cepat dia menjatuhkan diri ke depan miring ke kanan dan tangannya memukul
ke depan karena dia menjatuhkan diri bukan hanya untuk mengelak, melainkan juga untuk balas
menyerang.
“Hiaaattt....!” Bentakan keras dari Cin Liong ini berbareng dengan guratan ujung pedang yang mengenai
pundak kanannya, akan tetapi pukulannya tadi yang juga dielakkan oleh Hong Bu masih menyerempet
paha kaki lawan.
Keduanya meloncat mundur ke belakang, menahan rasa nyeri. Pundak kanan Cin Liong berdarah, kulitnya
terobek berikut bajunya, sedangkan Hong Bu merasa betapa kaki kanannya, di atas lutut, nyeri bukan
main, membuatnya agak terpincang! Ternyata dalam gebrakan hebat tadi, keduanya telah sama-sama
menderita luka, biar pun tidak berat akan tetapi cukup mengejutkan dan membuat keduanya waspada.
“Engkau hebat, Hong Bu!” Cin Liong memuji.
“Dan engkau pun telah berhasil melukaiku, bukan main!” Hong Bu menjawab.
Tanpa berkata apa-apa kecuali itu, keduanya sudah maju lagi, kini bergerak dengan hati-hati, dan
keduanya kembali saling serang dengan ganas. Akan tetapi, sebelum pedang mereka berubah menjadi
sinar bergulung-gulung seperti tadi, tiba-tiba terdengar suara halus namun penuh wibawa, “Tahan senjata!”
Cin Liong segera mengenal suara ayahnya, maka dia meloncat ke belakang menjauhi lawan sambil
melintangkan pedangnya. Sedangkan Sim Hong Bu yang juga segera mengenal pendekar sakti lengan
buntung itu, menarik napas panjang.
“Ahhh, melawan puteramu saja aku tidak mampu menang, apalagi melawan ayahnya, Pendekar Naga
Sakti Gurun Pasir! Betapa pun juga, jangan dikira aku takut. Majulah, Taihiap, dan aku tidak akan
penasaran kalau tewas di tanganmu untuk membela nama keluarga Cu yang telah melepas budi
kepadaku!” Dia pun melintangkan pedangnya dan memasang kuda-kuda menghadapi Pendekar Sakti
Gurun Pasir.
Pendekar berlengan satu ini tersenyum dan juga melangkah maju mendekat “Orang muda, ketika kami
datang ke lembah itu, adalah dalam rangka utusan Kaisar untuk mencari kembali pedang yang hilang.
Maka bentrokan yang terjadi antara kami dan keluarga Cu hanyalah karena urusan tugas, bukan urusan
pribadi. Sampai saat ini kami tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan keluarga Cu. Maka, kalau
urusan tugas lalu dijadikan urusan pribadi, jika mereka itu mengalah terhadap kami lalu mendendam dan
menyuruh murid mereka membalas kekalahan itu, apakah engkau anggap hal itu benar?”
Dengan jujur Sim Hong Bu menjawab, “Terus terang saja, Taihiap, hal itu memang tidak benar. Akan tetapi
kalau seorang murid tidak memenuhi pesan dan permintaan gurunya, apakah hal itu juga benar?” Dia
membalas bertanya.
Kao Kok Cu tersenyum, memuji kecerdikan pemuda ini yang menangkis pertanyaannya dengan sebuah
pertanyaan yang tepat pula. “Memang, tentu saja tidak memenuhi permintaan guru pun merupakan hal
yang tidak benar, akan tetapi harus ditinjau dulu apa macam permintaan itu! Ada dua macam permintaan,
baik yang diajukan dari guru sendiri sekali pun, yaitu permintaan yang pantas dan tidak pantas. Kalau
Suhu-mu minta agar supaya engkau melakukan hal yang tidak benar dan tidak pantas dan engkau
memenuhinya, bukankah hal itu berarti satu hal yang sama sekali tidak berbakti, malah durhaka sifatnya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ehhh....?” Sim Hong Bu memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang ini dia mendengar ada orang
berfilsafat bahwa memenuhi permintaan seorang guru malah merupakan hal yang durhaka dan tidak
berbakti! “Apa maksudmu, Lo-taihiap?”
“Sim Hong Bu, kalau seorang murid melihat tindakan gurunya tidak benar, bukankah murid yang bijaksana
akan mengingatkannya dan mencegah supaya gurunya jangan sampai melakukan tindakan itu. Kalau si
murid malah membantu melakukan hal yang tidak benar itu, apakah dia dapat dinamakan murid yang baik,
berbakti dan benar? Nah, tindakan gurumu mendendam kepada kami adalah tidak benar, hal ini telah kau
katakan sendiri tadi. Akan tetapi mengapa engkau bersikeras untuk melaksanakan perintah gurumu yang
tidak benar itu?”
Sim Hong Bu menjadi bingung.
Memang, urusan hauw atau ‘berbakti’ merupakah hal yang banyak membingungkan orang. Sejak jaman
dahulu, berbakti terhadap guru atau orang tua dianggap sebagai ketaatan si anak terhadap guru atau
orang tua. Dan melihat bahwa di sini terdapat suatu hal yang amat menguntungkan maka kata ‘berbakti’ itu
dipergunakan oleh guru atau orang tua untuk membuat murid atau anak menjadi tidak berdaya!
Setiap kali seorang anak tidak menurut kata-kata orang tua, maka anak itu akan dicap sebagai anak ‘puthauw’
(tidak berbakti) sehingga si anak terbiasa untuk mentaati segala perintah orang tua agar menjadi
anak berbakti. Dan biar pun pada lahirnya si anak mentaati karena ingin disebut berbakti, di dalam hatinya
si anak mengeluh dan memberi cap kepada orang tuanya sebagai ‘tidak mencintanya’. Maka timbullah
celah yang besar antara orang tua dan anak.
Si orang tua ingin anaknya mentaatinya, dengan dalih bahwa semua perintahnya itu demi kebahagiaan dan
kebaikan si anak, sikap seperti ini sesungguhnya bukan lain hanyalah sikap mementingkan diri sendiri,
mencari enaknya sendiri, karena kalau anaknya taat, dialah yang akan merasakan senang dan berbahagia.
Si orang tua sudah memastikan bahwa apa yang dianggapnya baik itu MESTI baik pula bagi si anak dan
apa yang dianggapnya membahagiakan itu mesti pula membahagiakan si anak! Sikap seperti ini yang
sampai sekarang masih dipraktekkan oleh orang-orang tua yang sesungguhnya timbul karena kekurang
pengertian, menciptakan apa yang dinamakan ‘gap’ atau celah antara orang tua dan anak.
Adanya celah yang merenggangkan orang tua dan anaknya adalah karena tidak adanya kasih sayang,
tidak adanya cinta kasih dalam batin masing-masing. Kalau ada cinta kasih, maka tidak ada lagi istilah
berbakti atau durhaka, yang ada hanyalah kerja sama, saling membantu dalam hidup secara wajar, tanpa
ingin disebut baik karena bantuan-bantuan masing-masing itu, yang ada hanyalah kasih sayang dan tidak
ada sedikit pun keinginan untuk senang sendiri, menang sendiri, atau benar sendiri!
Betapa bahagianya sebuah rumah tangga jika terdapat kasih sayang ini di antara suami, isteri, dan anakanak
mereka! Peraturan-peraturan yang kaku dan dipaksakan hanya menimbulkan kemanisan lahir saja
namun di dalam batin masing-masing merasa sakit hati dan menaruh dendam, kebencian terselubung
senyum dan sikap ramah tamah palsu. Dan suasana seperti itu hanya dapat tercipta apabila dimulai dari
diri sendiri! Bukan ingin mengatur orang lain.
Cinta kasih harus timbul dari batin sendiri, tanpa paksaan, dan cinta kasih sama sekali tidak mengharapkan
balas dari orang lain. Akan tetapi cinta kasih mengandung daya mukjijat yang dapat membersihkan dan
menerangkan orang lain pula!
Dalam kebingungan mendengarkan kata-kata yang baru sekali ini didengarnya namun yang dapat
menusuk perasaannya karena dia merasa betapa semua ucapan itu tak dapat dibantah karena memang
benar dan memang keadaannya pun demikian, maka Hong Bu mencari akal bagaimana untuk menjawab.
Mendengar ucapan itu, matanya seperti terbuka betapa selama ini, semenjak dia melepaskan pakaian
sebagai pemburu dan menjadi murid orang sakti dan memperoleh ilmu-ilmu yang membuat dia menjadi
pendekar, dia merasa kehilangan sesuatu, dia merasa hidupnya tidak bahagia lagi, tidak seperti ketika dia
masih menjadi seorang pemburu muda yang kasar dan bodoh.
Kini terbukalah matanya. Kiranya dia telah kehilangan kebebasan dan kewajaran! Dia telah terikat, dan dia
terpaksa oleh ikatan itu untuk melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan suara hatinya, sehingga semua
tindakannya ialah palsu dan menimbulkan konflik dalam batinnya sendiri! Dia harus melakukan hal-hal
yang berlawanan dengan kehendak hatinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi, Taihiap.... bukankah semua hal ini dimulai dari pihakmu? Kalau keluarga Kao tidak datang
menyerbu ke lembah untuk merampas pedang, tidak mungkin akan terjadi pertandingan itu yang
mengakibatkan guru-guruku kalah dan lalu mendendam!” Bantahannya ini lemah, namun setidaknya
merupakan bantahan pula yang bukan tidak benar.
“Semua akibat tentu ada sebabnya, orang muda, dan kalau kita menelusuri sebabnya, maka tidak akan
ada habisnya. Kami datang ke lembah karena kami diutus Kaisar, dan kami diutus Kaisar karena pedang
dicuri oleh seorang penghuni lembah, dan tentu kalian mempunyai pula sebab-sebabnya atas perbuatan
itu. Tidak akan ada habisnya. Maka yang penting sekarang adalah saat ini, apakah kita akan terus
menimbulkan sebab-sebab baru dan akibat-akibat baru. Tergantung sepenuhnya di tangan kita.”
“Akan tetapi kalau Taihiap sekeluarga masih terus mengejar-ngejarku, untuk merampas pedang, mana
mungkin aku....”
“Tidak lagi! Untung bahwa kedatanganku belum terlambat. Aku ingin memberitahukan kalian berdua bahwa
mulai sekarang, pedang Koai-liong Po-kiam itu adalah sah menjadi milikmu, Sim Hong Bu.”
“Ayah....!” Cin Liong berseru heran.
Ayahnya tersenyum. “Tidak tahukah engkau bahwa Pangeran Mahkota telah merubah banyak sekali
peraturan dan menyudahi segala macam pertikaian dengan tindakan-tindakan bijaksana? Di antaranya
adalah pembangunan kembali biara Siauw-lim dan juga pengakuan bahwa Koai-liong Po-kiam adalah
berasal dari keluarga Cu, maka pemerintah tidak menuntut kembalinya lagi.”
“Bagus....!” Cin Liong bersorak gembira dan setelah menyimpan kembali pedangnya dia lantas
menghampiri Hong Bu. Pemuda ini pun tersenyum dan menyimpan Koai-liong Pokiam, kemudian
melangkah ke depan sambil agak terpincang. Mereka saling berjabat tangan dengan gembira.
“Hong Bu, aku girang sekali bahwa kini kita dapat menjadi sahabat!”
“Aku pun girang sekali, Kao-goanswe.”
“Ehhh, apa-apaan menyebut jenderal di antara teman! Aku kagum sekali melihat ilmu kepandaianmu, Hong
Bu.”
“Dan aku takluk kepadamu, Cin Liong. Kalau dilanjutkan aku tentu kalah.”
“Ahh, engkau terlalu merendah. Belum tentu!”
Suasana menjadi gembira sekali. Juga Kao Kok Cu ikut gembira karena kedatangannya tidak terlambat
untuk memisahkan dua orang pemuda yang seperti dua ekor naga sakti sedang berlaga itu. Kalau
dilanjutkan, tentu salah seorang di antara mereka akan tewas dan yang seorang lagi juga tentu tak luput
dari pada luka-luka hebat.
Begitu mendengar keputusan Pangeran tentang pedang itu, cepat-cepat Kao Kok Cu meninggalkan kota
raja, menyuruh isterinya menanti di kota raja dan dia sendiri cepat-cepat pergi menyusul dan mencari Cin
Liong yang sedang melakukan pengejaran terhadap Sim Hong Bu. Dan untung dia datang tepat pada
waktunya. Di Pao-ting dia mendengar dari penjaga kota tentang puteranya itu, maka dia cepat
menyusulnya.
“Sim Hong Bu, kulihat pedangmu itu luar biasa sekali. Itulah yang dinamakan Koai-liong Kiam-sut?”
“Benar, Locianpwe,” jawabnya, kini menyebut Locianpwe kepada Pendekar sakti itu, “Saya diangkat
sebagai ahli waris oleh mendiang suhu Ouwyang Kwan yang menyamar sebagai Yeti, dan sayalah satusatunya
orang yang berhak memiliki Koai-liong Po-kiam ini bersama ilmunya yang khas diciptakan untuk
itu, yaitu Koai-liong Kiam-sut.” Dengan singkat Sim Hong Bu lalu menceritakan riwayat pertemuannya
dengan Yeti sampai dia diangkat menjadi ahli waris.
Kao Kok Cu mengelus jenggotnya yang masih pendek itu, menarik napas panjang. “Di dunia persilatan
muncul Koai-liong Kiam-sut dan juga Kim-siauw Kiam-sut, sungguh amat mengagumkan sekali!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sayang sekali bahwa Suling Emas dan Pedang Naga Siluman terpaksa harus berdiri bertentangan....,”
Hong Bu mengeluh.
“Ehh, kenapakah begitu, Hong Bu? Aku melihat bahwa engkau juga menantang pewaris Kim-siauw Kiamsut,
mengapa?” tanya Cin Liong.
Hong Bu menarik napas panjang. Memang hal ini amat menyusahkan hatinya, tidak hanya karena dia amat
kagum kepada Kam Hong dan tidak ingin memusuhinya, terutama sekali karena Ci Sian juga merupakan
pewaris Kim-siauw Kiam-sut. “Kembali karena ikatan dengan keluarga Cu....” dan dia pun menceritakan
betapa keluarga Cu kalah oleh Kam Hong maka memesan kepadanya untuk mengadu ilmu dengan
pewaris Kim-siauw Kiam-sut.
“Ah, sayang sekali....” kata Kao Kok Cu. “Agaknya masih ada kaitan dekat sekali dengan kedua ilmu itu,
setidaknya bersumber sama.”
Setelah bercakap-cakap seperti sahabat-sahabat baik, akhirnya mereka berpisah. Cin Liong bersama
ayahnya diperkenalkan kepada Sim Hok An yang bersembunyi sejak tadi. Hong Bu memperkenalkan dia
sebagai satu-satunya keluarga yang masih ada, dan Sim Hok An memberi hormat kepada pendekar sakti
dan puteranya. Kemudian Kao Kok Cu dan puteranya pamit dan mereka kembali ke kota raja di mana Wan
Ceng menanti-nanti mereka.
Di dalam perjalanan, ayah dan anak ini tiada hentinya membicarakan Sim Hong Bu sebagai seorang
pemuda yang sederhana, gagah perkasa dan berbudi baik. Seorang pendekar sejati! Dan dalam
kesempatan berdua itu, Cin Liong lalu mengaku terus terang kepada ayahnya tentang cintanya kepada Ci
Sian.
Kao Kok Cu terkejut dan heran. “Apa? Dara pewaris Kim-siauw Kiam-sut yang.... ehh, galak sekali itu?”
“Di antara ribuan orang gadis yang kujumpai, hanya dialah yang menjatuhkan hatiku, Ayah. Memang ia
keras hati, kekerasan hati yang terbuka dan jujur.... ehh, bukankah Ayah juga menyukai keterbukaan dan
kejujuran?” Pemuda yang cerdik ini mengingatkan ayahnya secara halus bahwa ibunya juga seorang
wanita yang keras hati.
Ayahnya tertawa dan mengerti isyarat itu. “Ceritakanlah perkenalan antara kalian,” katanya.
Cin Liong lalu menceritakan pertemuannya yang pertama kali dengan Ci Sian, ketika dia menyamar dan
menyusup ke dalam benteng tentara Nepal yang ketika itu dipimpin oleh Nandini, ibu Siok Lan yang kini
ikut Bu-taihiap sebagai satu di antara isteri-isterinya.
“Pada waktu itu pun, sebetulnya aku sudah tertarik kepadanya, maka ketika Siok Lan memperlihatkan
kasih sayangnya, aku tidak dapat menerimanya, Ayah. Aku mencinta Ci Sian, dan hal ini baru terasa benar
di hatiku ketika ia menyerangku, yaitu ketika ia membela ayah kandungnya yang sedang bertanding
denganmu itu.”
Kao Kok Cu mengangguk-angguk. “Lika-liku cinta memang aneh, dan aku tidak heran bahwa engkau jatuh
cinta kepadanya. Ia memang seorang dara yang penuh semangat, yang gagah perkasa dan memiliki
keberanian istimewa, juga kulihat ilmu silatnya hebat sekali, agaknya tidak di sebelah bawah tingkatmu
atau tingkat Hong Bu.”
“Itulah yang amat mengherankan hatiku, Ayah. Saat aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu di
Himalaya itu, ilmu silatnya biasa saja. Akan tetapi sungguh heran, ketika kami mengadu senjata, ia memiliki
tenaga sinkang yang luar biasa hebat, malah ada dua macam hawa yang bertentangan dalam tenaganya,
amat panas dan dingin.”
“Ehhh....? Tenaga sinkang seperti yang dimiliki keluarga Pulau Es?”
“Agaknya begitulah, Ayah. Akan tetapi lepas dari semua itu, bagaimana pendapat Ayah tentang cintaku
kepadanya?”
“Bagaimana pendapatku? Ehh, apakah ia juga mencintaimu? Itu yang penting.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin Liong menarik napas panjang. “Sayang, aku tidak tahu dengan pasti, Ayah. Melihat sikap dan sinar
matanya, agaknya.... aku boleh berharap demikian. Akan tetapi sungguh sayang, aku sendiri belum pernah
menyatakan cinta dan bertanya, karena memang ketika kami bertanding di sarang para pendekar itulah
aku sadar bahwa sesungguhnya aku cinta padanya.”
“Ahh, sungguh luar biasa kalau diingat bahwa ia itu kebetulan anak Bu Seng Kin lagi!”
“Mengapa, Ayah?”
“Lupakan engkau? Keluarga Bu marah-marah dan mendendam kepada kita karena usul mereka denganmu
kita tolak. Dan sekarang agaknya.... kita yang akan berbalik melamar anak perempuan mereka yang lain.
Betapa janggalnya ini!”
“Ayah khawatir kalau lamaran kita ditolak? Kukira tidak perlu takut, Ayah. Kita harus mengajukan pinangan
kepada Bu-locianpwe, itu adalah menurut kepantasan dan peraturan belaka, karena dia adalah ayah
kandung Ci Sian. Akan tetapi, melihat sikap Ci Sian terhadap ayahnya, andai kata keluarga Bu menolak
pinangan itu sekali pun, aku masih belum putus asa selama belum mendengar keputusan Ci Sian sendiri.
Lagi pula kalau Bu-locianpwe menolak, aku masih dapat meminang kepada Ci Sian sendiri, atau kepada
suheng-nya yang agaknya malah lebih dekat dengan Ci Sian dari pada ayah kandungnya sendiri.”
Pendekar sakti itu menarik napas panjang. “Mari kita bicarakan persoalan ini dengan Ibumu, Cin Liong.
Baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan dalam urusan ini.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja dengan cepat. Betapa pun juga, mereka merasa
bergembira bahwa tugas-tugas Cin Liong telah dapat diselesaikan dengan baik. Pertama, Pangeran Kian
Liong telah dapat diselamatkan dan ke dua, urusan pedang pun telah selesai dengan baik, sungguh pun
kedua hal itu tidak dapat dikatakan bahwa tenaga keluarga Kao saja yang membereskannya…..
********************
Bermacam perasaan teraduk dalam hati Cia Han Beng saat diam-diam meninggalkan kota raja. Ibunya
telah tewas! Biar pun hal itu tidak diumumkan, namun dia dapat menduganya dengan jelas. Dia mendengar
bahwa Kaisar tiba-tiba menderita sakit, dan menurut desas-desus yang didengarnya, penyakit Kaisar
adalah luka yang keracunan. Bagaimana Kaisar tiba-tiba menderita luka yang membuatnya menjadi sakit
payah kalau bukan dilakukan oleh ibunya? Tentu ibunya telah menyerang Kaisar, nyaris berhasil, akan
tetapi tentu telah menebus dengan nyawa sendiri. Hal ini dia yakin benar karena siapakah yang akan
mampu lolos dengan selamat setelah percobaannya membunuh Kaisar?
Dia merasa berduka. Tentu saja! Ibu kandungnya sudah tewas dan dia tidak dapat membayangkan
bagaimana kematian ibunya itu. Ditangkap dan disiksa lebih dulu? Kiranya, tidak demikian. Ibunya bukan
seorang bodoh, bahkan Ibunya memiliki ilmu silat yang lumayan. Kalau usahanya gagal, tentu ibunya tidak
membiarkan dirinya ditangkap dan disiksa, melainkan membunuh diri. Kiranya hanya ada dua
kemungkinan. Ibunya mati bunuh diri setelah gagal, atau tewas di tangan Kaisar yang dia tahu memang
memiliki kepandaian silat lebih tinggi dari pada ibunya. Betapa pun juga, Kaisar telah menderita luka parah
sekali.
Dia mendengar pula tentang diangkatnya Pangeran Kian Liong sebagai penggantinya dan mendengar
tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Pangeran yang bijaksana itu. Hal ini mengurangi
kedukaannya dan kedukaan karena kematian ibunya itu terhibur oleh kebanggaan akan jasa ibunya! Ya,
ibunya berjasa besar. Ibunya telah berhasil, jauh lebih berhasil dari pada usaha ratusan bahkan mungkin
ribuan orang pendekar patriot! Ibunya telah menyerang Kaisar dengan cara langsung, dan telah
memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan yang amat baik bagi para patriot! Ibunya seorang patriot
sejati! Mengorbankan diri dan menghembuskan nyawa akan tetapi menolong nasib rakyat dan para
pendekar! Patut dibanggakan!
Akan tetapi, di samping semua perasaan itu ketika dia meninggalkan kota raja, ada suatu perasaan duka
yang masih menyelinap di dalam hatinya kalau dia teringat kepada Ci Sian. Dia mencinta dara itu. Akan
tetapi dia melihat kenyataan bahwa dara itu tidak membalas cintanya, bahwa dara itu tidak mencintanya,
dan pertentangan paham di antara mereka tentu akan merupakan jurang yang amat lebar yang akan
memisahkan mereka. Dengan adanya perbedaan paham tentang perjuangan itu kiranya tidaklah mungkin
dapat terjalin pertalian kasih sayang di antara mereka. Dia bukan seorang pemuda yang berpikiran sempit,
dunia-kangouw.blogspot.com
melainkan orang yang sejak kecil telah digembleng oleh berbagai kepahitan hidup sehingga tidak
menurutkan perasaan belaka.
Akhirnya dia berkunjung ke Cin-an, diterima dengan amat ramah-tamah oleh keluarga Bu Seng Kin.
Apalagi ketika keluarga Bu mendengar bahwa pemuda itu adalah putera dari selir Kaisar yang telah
menyerang Kaisar dan mengakibatkan Kaisar terluka parah kemudian Kaisar tewas oleh lukanya itu, maka
pandangan para patriot terhadap Cia Han Beng menjadi naik dan pemuda itu dianggap sebagai putera
seorang patriot sejati.
Di dalam pertemuan antara Cia Han Beng dengan para patriot dan terutama dengan keluarga Bu di Cin-an
itu, terjadilah kontak antara dua hati melalui sinar mata mereka, yaitu antara pemuda Kun-lun-pai ini dan
Bu Siok Lan.
Kontak ini dimulai ketika pemuda itu untuk pertama kalinya datang memperkenalkan diri sebagai seorang
sepaham, yaitu golongan patriot yang menentang penjajahan bangsa Mancu. Karena ingin sekali
mengukur kelihaian pemuda ini, maka Bu Seng Kin lalu mengajaknya ke lian-bu-thia dan di ruangan ini Butaihiap
lalu minta kepada Han Beng untuk memperlihatkan ilmu silatnya dan sebagai pasangannya adalah
Siok Lan. Tentu saja tadinya kedua pihak ini saling memandang rendah.
Siok Lan memang mempunyai watak keras dan agak tinggi hati. Hal ini mungkin timbul karena ibunya
adalah bekas panglima, dan ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang amat terkenal. Maka,
mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu adalah murid Kun-lun-pai, dia memandang rendah. Akan
tetapi begitu mereka bergebrak dan saling serang, keduanya terkejut.
Han Beng tidak menyangka bahwa Bu Siok Lan ternyata memiliki kepandaian yang cukup hebat dan tidak
mengecewakan menjadi puteri Bu-taihiap, pemimpin para patriot di Cin-an itu. Sebaliknya Siok Lan terkejut
bukan main karena hanya dalam beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki
kepandaian yang tinggi, dan bahkan tenaga sinkang-nya jauh lebih kuat dari pada tenaganya sendiri. Dan
timbullah kekaguman dalam hatinya, apalagi ketika Han Beng tidak mendesaknya melainkan banyak
bersikap mengalah.
Hal ini tidak luput pula dari pandangan Bu-taihiap yang tajam. Seorang pemuda yang lihai sekali, pikir
pendekar ini. Dan memiliki watak yang halus dan baik sehingga mau pula mengalah terhadap puteri tuan
rumah dalam pibu persahabatan itu.
Setelah lewat seratus jurus, Siok Lan mencabut pedangnya dan minta untuk bertanding ilmu pedang.
“Harap Cia-enghiong suka memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku,” demikian kata Siok Lan sambil
mencabut pedangnya. Napasnya agak memburu dan lehernya penuh keringat setelah ia harus melayani
lawan sampai seratus jurus tadi.
Cia Han Beng tersenyum. “Ah, Nona Bu sungguh terlalu merendahkan diri,” katanya. “Sebagai puteri Bulocianpwe,
tentu ilmu pedangmu hebat bukan main. Mana berani aku main-main dengan ilmu pedangmu?
Biarlah aku mengaku kalah saja.”
Bu-taihiap senang akan sikap ini, dan diam-diam timbul harapan dalam dirinya untuk dapat menjodohkan
puterinya itu dengan pemuda ini. Pemuda ini, dibandingkan dengan Jenderal Muda Kao Cin Liong yang
pernah menolak perjodohan yang diusulkannya itu, tidaklah kalah terlalu banyak! Dia tahu bahwa pemuda
ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang tertinggi dari para pimpinan Kun-lun-pai agaknya.
“Cia-enghiong, harap jangan bersikap sungkan. Anakku yang bodoh ini sudah mohon petunjukmu, dan
kami sendiri pun sudah lama tidak pernah melihat Kun-lun Kiam-sut. Maka, harap Cia-enghiong tidak
terlalu pelit untuk memperlihatkan sampai di mana kemajuan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat terkenal
itu.”
Karena desakan pendekar itu, terpaksa Cia Han Beng menjura kepada Siok Lan sambil berkata, “Maafkan,
Nona.”
Dan tangannya sudah mencabut sebatang pedang yang begitu dicabut tampak sinar merah yang seperti
warna darah. Itulah pedang Ang-hio-kiam (Pedang Daun Merah) pemberian suhu-nya, sebuah di antara
pedang-pedang pusaka dari Kun-lun-pai. Melihat pedang bersinar merah ini, keluarga Bu memandang
kagum karena mereka semua sebagai ahli-ahli silat mengenal sebatang pedang pusaka yang baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siok Lan, engkau pakailah pedangku ini!” Tiba-tiba Nandini berkata sambil mencabut pedangnya dan
menyerahkannya kepada Siok Lan.
Karena dara ini mengenal pedang ibunya sebagai pedang hadiah dari Raja Nepal dan merupakan
sebatang pedang yang baik pula, maka ia pun cepat menukar pedangnya. Tentu saja di samping ingin
meminjamkan pedangnya kepada puterinya agar dapat menandingi pedang merah lawan, juga Puteri
Nandini memperkenalkan diri secara tidak langsung bahwa ia adalah ibu Siok Lan.
Dan memang Han Beng memandang dengan rasa heran dalam hatinya. Dari suaranya, dia dapat
menduga bahwa wanita itu bukanlah seorang wanita Han, akan tetapi wanita setengah tua itu selain cantik,
juga memiliki sikap yang gagah sekali. Dia hanya dapat menduga bahwa tentu ibu Siok Lan itu adalah
seorang wanita dari suku bangsa yang jauh di barat atau di utara, tapi sepatutnya dekat daerah Tibet.
“Cia-enghiong, mulailah!” Siok Lan melintangkan pedang ibunya di depan dada sambil tersenyum. Hatinya
telah terpikat melihat betapa tadi dengan tangan kosong ia sama sekali tidak berdaya menghadapi pemuda
perkasa ini.
“Silakan, Nona, aku sudah siap,” kata Cia Han Beng yang tentu saja sebagai seorang tamu, apalagi
sebagai seorang pria yang menghadapi seorang wanita, merasa segan untuk memulai dengan serangan
lebih dulu. Hal ini menyenangkan hati Siok Lan dan setelah mengeluarkan seruan panjang yang nyaring
akan tetapi juga merdu, ia sudah menggerakkan pedang di tangannya itu membuka serangan.
Han Beng menangkis dan pemuda ini dengan hati-hati sekali menjaga agar jangan sampai pedangnya
merusak pedang gadis itu. Terjadilah pertandingan ilmu pedang yang amat indah. Semua orang
memandang kagum karena permainan pedang pemuda Kun-lun-pai itu terkandung kekuatan yang dahsyat
sekali.
Setelah lewat lima puluh jurus, Siok Lan sudah tak dapat melakukan serangan balasan lagi. Semua
gerakannya tertutup, dan walau pun pemuda itu menyerangnya dengan perlahan, dan lambat saja bagi
pemuda itu, namun bagi Siok Lan sudah membuatnya repot bukan main. Akhirnya, oleh karena napasnya
memburu dan lengannya yang memegang pedang terasa sangat lelah dan kehabisan tenaga karena setiap
tangkisan pedangnya mendatangkan getaran hebat yang membuat seluruh buku tulangnya nyeri, Siok Lan
meloncat ke belakang.
“Cia-enghiong, aku menerima petunjukmu. Terima kasih!” dan gadis ini lalu menjura dan tanpa banyak
cakap lagi lalu melarikan diri ke ruangan belakang. Jangan dikira bahwa gadis ini merasa malu karena
kalah, melainkan malu karena melihat perasaannya sendiri terhadap pemuda itu.
Pemuda itu sendiri pun tergerak hatinya. Dia melihat seorang dara yang selain cantik manis akan tetapi
juga penuh semangat perjuangan, puteri seorang pemimpin pejuang. Tentu saja dia tidak mungkin dapat
membandingkan gadis yang mana pun juga dengan Ci Sian yang telah merebut hatinya untuk pertama
kalinya, juga dia tidak dapat membandingkan kepandaian Siok Lan dengan Ci Sian yang benar-benar
membuatnya kagum sekali. Dia sendiri belum tentu akan mampu mengalahkan Ci Sian seandainya dia
mengeluarkan seluruh kepandaiannya sekali pun. Akan tetapi, dia tertarik kepada Siok Lan yang sepaham
dengan dia, yaitu berjiwa patriot menentang penjajahan.
Dan oleh karena itulah, setelah beberapa hari kemudian Bu Seng Kin dan keluarganya mengundangnya
untuk bicara tentang perjodohan, dan ketika keluarga itu mengusulkan pertalian jodoh antara dia dan Bu
Siok Lan, Han Beng menerimanya dengan girang.
“Karena saya kini telah yatim piatu dan tidak mempunyai anggota keluarga lagi, maka untuk urusan ini
sebaiknya kalau saya meminta doa restu dari Suhu di Kun-lun-pai,” demikian saja dia menjawab.
“Tentu saja, hal itu baik sekali!” kata Bu Seng Kin. “Biarlah kita mencari hari baik dan kami akan mengirim
utusan menghadap ke Kun-lun-pai dan membicarakan urusan perjodohan ini kepada mereka dengan
resmi. Sementara ini, kita anggap bahwa engkau telah bertunangan dengan Siok Lan.”
Tentu saja sebelum membicarakan urusan perjodohan itu dengan Han Beng, lebih dulu Bu Seng Kin dan
Nandini telah bicara dengan Siok Lan dan melihat gadis itu agaknya tak menolak, bahkan nampak malumalu
sebagai tanda kalau seorang perawan dilamar orang dan tidak menolak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan untuk pertunangan atau tali perjodohan yang disetujui kedua pihak ini, walau pun belum diresmikan
oleh karena mereka belum menghadap pimpinan Kun-lun-pai yang sebetulnya hanya merupakan wakilwakil
atau wali yang tidak langsung saja dari Han Beng dan tidak mungkin akan menolaknya, maka
pertunangan itu lalu dirayakan secara sederhana oleh keluarga Bu. Hadir dalam perayaan sederhana itu
para patriot pejuang yang menganggap Han Beng sebagai orang yang berjasa besar dalam perjuangan
mereka.
Karena pesta berlangsung di antara golongan sendiri, maka biar pun diadakan dengan sederhana tapi
amat meriah. Tak ada golongan luar yang diundang, maka percakapan yang terjadi dalam pesta kecil pun
itu berjalan dengan lancar dan terbuka. Akan tetapi, betapa heran dan terkejut hati semua orang ketika
penjaga di luar dengan suara lantang mengumumkan datangnya keluarga Kao dari kota raja! Semua
percakapan terhenti dan pihak tuan rumah, diikuti keluarganya, bangkit dan berjalan ke pintu untuk
menyambut.
Keheranan yang tadinya menyelinap di dalam hati Bu Seng Kin berubah menjadi kejutan besar sekali.
Alisnya berkerut dan sepasang matanya memandang tajam ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah
tiga orang yang pernah datang di tempat ini dan menggegerkan semua sahabatnya para patriot. Mereka ini
bukan lain adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, isterinya yang berwatak keras dan juga
lihai itu, dan puteranya, Jenderal Kao Cin Liong! Tentu saja jantungnya berdebar tegang dan biar pun dia
pernah kalah oleh pendekar sakti dengan satu lengan itu dan isteri-isterinya juga kalah oleh keluarga Kao,
namun dia tidak merasa gentar, bahkan memandang marah.
Bu Seng Kin cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menghormat kepada tiga orang tamu itu.
“Ah, kiranya keluarga Kao yang gagah perkasa yang telah datang. Harap banyak maaf karena tidak
mengetahui terlebih dahulu akan kunjungan Sam-wi, maka kami tidak dapat melakukan penyambutan
secara selayaknya.”
Kao Kok Cu tersenyum dan mengangkat tangannya ke depan dada. “Maaf, maaf...., kamilah yang
seharusnya minta maaf karena datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu sehingga agaknya kami amat
mengganggu Bu-enghiong dan para sahabat yang gagah perkasa, yang agaknya sedang mengadakan
pesta.”
“Ahh, sama sekali tidak mengganggu. Malah kebetulan, silakan Sam-wi masuk dan duduk sebagai tamu
kehormatan kami. Hendaknya Sam-wi ketahui bahwa malam ini kami sedang merayakan pertunangan
puteri kami.”
Mendengar ini, tiga orang itu menjadi girang sekali, meski ada pula perasaan tidak enak dalam hati
mereka. Pihak keluarga Bu pernah mengusulkan tali perjodohan dengan keluarga mereka, dan mereka
telah menolaknya. Dan kini, setelah gadis yang pernah ditolak itu bertunangan dengan orang lain, mereka
datang sebagai tamu yang tidak diundang!
“Maaf, kalau begitu kami tidak berani mengganggu kegembiraan keluarga Bu-enghiong. Biarlah kami
datang besok pagi saja,” kata Kao Kok Cu.
“Ahh, kenapa sungkan-sungkan? Silakan, kami tahu bahwa Sam-wi merasa sungkan dan canggung karena
kami tidak mengundang. Akan tetapi, biarlah sekarang kami mengundang Sam-wi untuk hadir dan duduk
sebagai tamu kami yang terhormat.”
Kao Kok Cu memandang kepada isterinya. Wan Ceng adalah orang yang berhati keras dan terbuka. Kini
melihat sikap tuan rumah, ia pun mengangguk kepada suaminya dan wanita gagah ini melepaskan
kalungnya yang dihias mainan seekor naga emas mata mutiara biru yang amat indah.
Setelah mereka masuk ke dalam ruangan itu, diikuti pandang mata seluruh tamu, juga pandang mata Bu
Siok Lan yang mukanya sebentar berubah pucat dan sebentar berubah merah, Wan Ceng melopori
keluarganya, menghampiri Siok Lan dan berkata, “Kami merasa gembira sekali memperoleh kesempatan
untuk mengucapkan selamat atas pertunanganmu, Nona Bu Siok Lan. Dan sebagai tanda bahwa kami
sekeluarga ikut merasa turut gembira, terimalah sebuah tanda mata dari kami ini!” Wan Ceng menyerahkan
kalungnya yang amat indah itu.
Siok Lan girang sekali melihat sikap wanita gagah perkasa ini. Setelah ia memandang kepada ayah
bundanya dan melihat isyarat yang menyetujui, dia pun lalu memakai kalung itu dibantu oleh Wan Ceng,
lalu menghaturkan terima kasih. Peristiwa ini seolah-olah memecahkan semua dinding pemisah di antara
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka dan tiga orang tamu agung ini segera memberi selamat kepada Bu Seng Kin, kepada Nandini,
bahkan mereka bertiga lalu diperkenalkan dengan calon suami Siok Lan, yaitu Cia Han Beng.
Ketika mendengar siapa adanya tamu-tamu agung itu, tentu saja Han Beng terkejut setengah mati dan
memandang kepada pria berlengan buntung itu dengan penuh kagum. Nama besar Pendekar Naga Sakti
Gurun Pasir tentu saja sudah sering kali didengarnya dan tidak disangkanya bahwa kini dia akan
berhadapan dengan pendekar itu, bahkan menerima ucapan selamat atas pertunangannya. Di lain pihak,
ketika mendengar bahwa tunangan Siok Lan adalah murid utama dari Kun-lun-pai, keluarga Kao juga
merasa kagum.
Mereka bertiga kemudian dijamu sebagai tamu-tamu kehormatan dan semua orang bergembira ria pada
pesta sederhana itu. Di dalam percakapan mereka selanjutnya, kedua pihak adalah orang-orang yang
berjiwa pendekar, hanya persoalan politik saja yang memisahkan mereka menjadi golongan patriot yang
anti pemerintah dan golongan yang membantu pemerintah. Akan tetapi, keluarga Bu ini maklum bahwa
belum tentu pembantu-pembantu pemerintah merupakan penjilat-penjilat yang hanya haus akan
kekuasaan dan harta belaka. Mereka melihat kenyataan betapa orang seperti Kao Cin Liong itu biar pun
menjadi seorang panglima, namun dia menjadi panglima karena ingin menenteramkan kehidupan rakyat,
dan dia pun berani menentang ketidak adilan di kalangan atas.
Dalam kesempatan itu pula, pada saat menjelang bubar pesta, Kao Kok Cu mendapat kesempatan baik
untuk menyatakan isi hatinya kepada pihak tuan rumah. “Bu-enghiong, sesungguhnya amat janggallah apa
yang akan kami kemukakan ini, dan kalau tidak mengingat bahwa keluarga Bu adalah keluarga gagah
perkasa, yang seperti juga kami tentu akan lebih dapat menerima keterbukaan dan kejujuran, agaknya
kami tidak akan berani mengemukakan maksud hati kami ini.”
Bu Seng Kin memandang tajam penuh selidik, juga penuh keheranan hati. “Ah, urusan apakah gerangan
yang dikandung dalam hati Kao-taihiap? Memang lebih baik segala urusan dikeluarkan melalui mulut dan
diperbincangkan sampai beres, daripada disimpan di dalam hati dan dapat menimbulkan penyakit.”
Kao Kok Cu menarik napas panjang, lalu memandang kepada Cin Liong yang bersikap tenang saja.
Kemudian memandang kepada isterinya. Melihat sikap suaminya yang kelihatan amat sungkan itu, Wan
Ceng merasa kasihan dan ia pun berkata dengan terus terang kepada Bu Seng Kin, “Beginilah, Buenghiong.
Terus terang saja kami datang mengunjungi keluargamu adalah untuk melakukan lamaran
terhadap puterimu....”
“Ehhh....!” Puteri Nandini bangkit berdiri dan mukanya menjadi pucat.
Wan Ceng tersenyum. “Maaf, tentu saja kami tidak gila untuk meminang puterimu yang telah mengikat
jodoh dengan orang lain. Maksud kami adalah melamar Bu Ci Sian.”
Nandini duduk kembali dan mukanya menjadi merah lagi. Bu Seng Kin terbelalak, lalu pandang matanya
nampak muram.
“Untuk putera tunggal Ji-wi?” tanya Bu Seng Kin kepada suami isteri itu sambil memandang kepada Kao
Cin Liong.
Kini Kao Kok Cu yang menjawab karena pertanyaan itu terasa amat tidak menyedapkan hatinya, “Buenghiong,
sekali lagi kami mohon maaf. Tentu engkau sendiri mengerti bahwa soal perjodohan adalah soal
hati dari orang yang bersangkutan. Kami orang tua sekali pun tidak berhak mencampuri dan kami sebagai
orang tua hanya melaksanakan saja hasrat hati anak yang bersangkutan. Jadi, tentu engkau maklum pula
bahwa putera kami telah jatuh cinta kepada puterimu, yaitu Bu Ci Sian, karena inilah kami mengajukan
pinangan.”
Ucapan pendekar sakti berlengan satu itu sudah cukup jelas. Di situ terkandung penyesalan bahwa
keluarga Kao pernah menolak usul ikatan jodoh dan kini malah mengajukan pinangan untuk puteri keluarga
Bu yang lain. Semua itu dilakukan karena permintaan anak, dan juga dia mengingatkan bahwa jodoh
adalah urusan hati, urusan cinta kasih antara kedua orang muda, oleh karena itu dapat saja terjadi seperti
keadaan mereka, yaitu menolak Siok Lan dan meminang Ci Sian.
Bu Seng Kin mengangguk-angguk, tersenyum dan mengelus jenggotnya. Kemudian dia menarik napas
panjang dan berkata, “Kao-taihiap tentu percaya kalau saya katakan bahwa kami sekeluarga merasa
terhormat sekali dengan pinangan ini, dan sekiranya anakku Ci Sian itu setuju, tentu dengan hati dan
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan terbuka akan kami terima pinangan ini. Akan tetapi, hendaknya Sam-wi mengerti keadaan kami dan
anak kami itu. Pernah Sam-wi saksikan sendiri sikap anak itu terhadap saya, dan ibunya sudah tiada.
Agaknya, dalam urusan perjodohannya, saya pun tidak dapat memutuskannya sama sekali. Anakku itu
agaknya.... ahhh, lebih dekat dengan suheng-nya dari pada dengan kami, dan ini.... saya tidak dapat
menyalahkannya. Sudahlah, tentu Sam-wi mengerti, yang jelas, saya akan merasa berbangga sekali kalau
dapat mempunyai mantu seperti Jenderal Muda Kao Cin Liong. Akan tetapi, saya tidak berkuasa atas diri
Ci Sian. Sebaiknya jika Sam-wi menghubungi Ci Sian secara langsung saja. Kalau ia menerima, kami akan
berbahagia sekali. Akan tetapi kalau dia menolak, saya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Nah, hanya inilah
yang dapat saya katakan sebagai jawaban atas pinangan Sam-wi.”
Keluarga Kao merasa puas dan gembira dengan jawaban itu. Memang mereka pun mengerti bahwa antara
Ci Sian dan ayah kandungnya ini tidak ada hubungan yang baik. Dan tentang perjodohan gadis itu tentu
berada di tangan gadis itu sendiri. Hal ini dimengerti benar oleh Cin Liong yang sudah mengenal watak Ci
Sian. Akan tetapi, Bu Seng Kin adalah ayah kandung Ci Sian, dan melewatinya dalam urusan perjodohan
Ci Sian sungguh dapat diartikan sebagai penghinaan. Kini, mereka telah menyampaikan pinangan kepada
pendekar itu dan biar pun pendekar itu tidak dapat memutuskan, namun pada dasarnya pendekar Bu telah
menyetujui kalau puterinya berjodoh dengan Cin Liong dan ini sudah cukup bagi pemuda itu.
Ketika pesta bubar, mereka berpamit dan menghaturkan terima kasih. Setelah keluar dari kota Cin-an, Cin
Liong tidak ikut dengan ayah bundanya yang hendak pulang kembali ke utara, ke tempat tinggal mereka,
yaitu di Istana Gurun Pasir.
“Aku akan pergi ke kota raja lebih dahulu,” kata pemuda itu, “Setelah melapor kepada Pangeran yang kini
telah menjadi Kaisar, aku akan minta cuti dan akan pergi mencari Ci Sian sampai dapat. Setelah bertemu
dan memperoleh keputusan, barulah aku akan menyusul Ayah dan Ibu pulang ke utara.”
Ayah dan ibu itu memberi banyak nasehat sebelum mereka berpisah, atau lebih banyak ibunya yang
menghujaninya dengan nasehat-nasehat agar berhati-hati dan sebagainya. Ayahnya, Kao Kok Cu, tidak
banyak bicara, dan dengan suara yang berwibawa hanya berkata, “Cin Liong, satu hal harus kau ingat
baik-baik bahwa perjodohan hanya dapat dilaksanakan apabila keinginan itu terdapat dari kedua belah
pihak! Kalau keinginan itu hanya terdapat di satu pihak saja, kelak akan mendatangkan banyak masalah
dalam rumah tangga. Dan ingat, cinta kasih bukan berarti harus menikah! Tapi kalau keduanya ada cinta
kasih, menikah merupakan jalan yang paling tepat. Syukurlah andai kata gadis itu juga menghendaki
perjodohan denganmu. Kalau ia tidak setuju, hal itu wajar saja dan tidak sepatutnya menyengsarakan
perasaan hatimu.”
Pesan ayahnya ini meninggalkan kesan mendalam di hati Cin Liong. Dia tahu bahwa kalau sampai Ci Sian
menolak cintanya, menolak menjadi isterinya, dia akan menderita pukulan batin, hatinya akan terasa sakit.
Akan tetapi dia melihat pula kebenaran ucapan ayahnya, maka dia pun sudah bersiap-siap untuk
menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekali pun…..
********************
Ketika Sim Hong Bu melarikan diri dari Cin-an, dari sarang para patriot karena dia panik dan berduka
melihat betapa Ci Sian menyerangnya kalang-kabut, diam-diam Cu Pek In juga melakukan pengejaran.
Akan tetapi kalau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cin Liong saja tidak mudah dapat
menyusul Sim Hong Bu, apalagi Pek In yang ilmunya kalah jauh dibandingkan dengan suheng-nya yang
dicintanya itu. Akan tetapi, ia tidak pernah berhenti mencari jejak Hong Bu dan telah mengambil keputusan
bahwa baginya hanya ada dua pilihan, yaitu mencari sampai jumpa atau mati dalam usahanya itu!
Berpekan-pekan lamanya Cu Pek In mencari dan mengikuti jejak suheng-nya itu. Tetapi ia pun dibikin
bingung ketika ia melihat jejak suheng-nya itu setelah menuju ke timur lalu kembali lagi ke barat, ke kota
Cin-an dan menurut penyelidikannya, suheng-nya itu pergi ke Cin-an bersama seorang laki-laki setengah
tua. Dan setelah pergi mengejar dan mencari Hong Bu selama hampir dua bulan, akhirnya Pek In kembali
ke Cin-an dan bertemu dengan keluarga Bu. Dari Bu-taihiap ia mendengar banyak.
Bu Seng Kin yang mempunyai banyak sekali pengalaman itu dapat memaklumi bahwa gadis ini amat
mencinta Hong Bu akan tetapi dia tahu pula bahwa Pek In bertepuk sebelah tangan dalam hal ini. Karena,
baru beberapa hari yang lalu, Sim Hong Bu datang bersama seorang pamannya dan mengajukan pinangan
atas diri Ci Sian! Dan hal ini terjadi baru beberapa hari setelah dia dan keluarganya menerima kunjungan
dan pinangan dari keluarga Kao!
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu-taihiap dan keluarganya menceritakan bahwa kini keadaan telah banyak berubah setelah Kaisar tua
meninggal dan setelah Pangeran Kian Liong memegang kendali pemerintahan. Dia bercerita banyak
tentang keadaan para pendekar patriot sekarang, yang sudah tidak dikejar sebagai musuh dan bagaimana
pun juga harus mengakui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan oleh kaisar baru.
Semua itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Cu Pek In, tetapi sesungguhnya di dalam hatinya,
gadis ini tidak begitu tertarik. Kalau ia tadinya ikut pula dalam kelompok para pendekar patriot, hal itu
hanya dilakukan karena ia mengikuti Hong Bu dan karena suheng-nya itu dianggap buronan dan di dalam
pengejaran orang-orangnya Kaisar.
“Bu-locianpwe, saya mencari Sim-suheng sampai jauh, akan tetapi jejaknya malah menuju kembali ke Cinan.
Apakah dia datang ke sini?” akhirnya dia bertanya dan Bu Seng Kin yang memberi isyarat kepada
isteri-isterinya itu segera menjawab.
“Dia memang pernah datang ke sini bersama seorang pamannya, tetapi tidak bermalam dan hari itu juga
telah pergi lagi. Kurang lebih seminggu yang lalu dia datang. Ada hal yang amat menggembirakan, yaitu
bahwa katanya, kaisar baru juga membebaskan dia, dan ia menyatakan bahwa pedang Koai-liong-kiam
oleh Kaisar telah dinyatakan sebagai pedang milik keluargamu. Jadi sekarang dia tidak lagi dikejar-kejar.”
Berita ini memang menggembirakan hati Cu Pek In. “Akan tetapi, Locianpwe, setelah meninggalkan Cinan,
dia pergi ke manakah?”
Pendekar itu menarik napas panjang. Tentu saja dia tak tega untuk menceritakan bahwa Hong Bu telah
datang melamar Ci Sian. Namun dia dapat menduga ke mana perginya Hong Bu. Ke mana lagi kalau tidak
mencari Ci Sian? Untuk mengatakan bahwa Hong Bu kini mencari-cari Ci Sian, apalagi kalau dijelaskan
bahwa pemuda itu mencarinya untuk melamarnya, berarti tentu menghancurkan perasaan gadis ini. Maka
dia pun lalu berkata, “Setelah dia dibebaskan oleh Kaisar, tentu dia akan memenuhi tugas yang
dibebankan kepadanya oleh gurunya. Apakah engkau tidak dapat menduganya?”
“Tugas itu adalah mengalahkan Kim-Siauw Kiam-sut.”
Bu Seng Kin mengangguk. “Tentu saja. Dia tentu mencari Pendekar Suling Emas Kam Hong untuk
melaksanakan tugas yang dipikulnya, yaitu mengadu ilmu dengan pendekar itu atau.... sumoi-nya.”
Cu Pek In mengepal tinju. “Aku harus membantunya!” Lalu dipandangnya pendekar itu dan ia bertanya, “Ke
manakah dia mencari mereka?”
“Kami tidak tahu, Nona, hanya kami mendengar bahwa pamannya itu masih mempunyai keluarga di Lokyang.
Mungkin saja mereka itu pergi ke Lok-yang.”
Keterangan ini memang benar, dan lagi pula, menurut beberapa orang pendekar patriot yang melihatnya,
memang paman dan keponakan itu meninggalkan Cin-an menuju ke barat.
“Kalau begitu, saya akan segera menyusul dan mencarinya, Locianpwe.” Cu Pek In berpamit.
Setelah gadis yang selalu berpakaian pria itu pergi, Bu Seng Kin menarik napas panjang dan berkata
kepada tiga orang isterinya yang masih duduk di situ bersamanya. “Ahh, betapa cinta telah mengombangambingkan
kehidupan para muda seperti gelombang samudera mempermainkan perahu-perahu kecil!
Betapa cinta menciptakan sorga atau neraka di dunia ini.”
“Cinta memang selalu mendatangkan sorga dan sekaligus juga neraka dalam hidup!” tiba-tiba Nandini
berkata. Dan anehnya, dua orang madunya lalu mengangguk-angguk membenarkan. Melihat ini, Bu Seng
Kin membelalakkan matanya.
“Ehhh, agaknya kalian bertiga sudah sepakat begitu. Apa maksud kalian?”
“Lihat saja kehidupan kami! Kami mencari sorga bersamamu akan tetapi yang kami dapat neraka!” kata
pula Nandini cemberut, dan dua orang madunya juga cemberut.
Mau tidak mau Bu-taihiap tertawa. “Akan tetapi mengakulah, bukankah di samping neraka kalian juga
mendapatkan sorga? Bukankah kalau satu di antara kita saling berpisah kita merasa rindu dan menderita?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang isterinya diam saja karena memang mereka harus mengakui bahwa mereka baru merasa
berbahagia kalau di samping suami ini, walau pun kadang-kadang mereka harus menahan panas hati
karena cemburu.
“Memang demikianlah hidup,” pendekar itu menyambung. “Di mana ada senang tentu ada susah, kalau
ada sorga tentu ada neraka. Akan tetapi, jangan dikira bahwa yang pahit-pahit dalam hidup itu tidak perlu.
Coba saja bayangkan, tanpa kita merasakan pahit, bagaimana mungkin kita dapat menikmati manis?
Tanpa kita merasakan bagai mana yang dinamakan susah itu, bagaimana kita dapat mengenal senang?
Demikian pula, kalau kita tidak pernah mengenal neraka, mana mungkin kita dapat menikmati sorga? Haha,
selama kita berada dalam cengkeraman Im Yang, tentu saja keduanya itu saling kait-mengait dan tidak
mungkin kita dapat terbebas dari kekuasaan dan roda perputarannya.”
Apa yang diucapkan oleh Bu Seng Kin itu memang merupakan kenyataan. Sayang dia tidak menyelami
lebih mendalam lagi sehingga dia hanya menerima hal itu sebagai sesuatu yang seharusnya demikian,
sehingga dia sendiri masih terseret ke dalam lingkaran setan dari baik dan buruk, senang dan susah dan
sebagainya itu.
Senang dan susah adalah dua permukaan dari sesuatu yang sama. Keduanya tak dapat dipisahkan karena
memang keduanya itu merupakan dua saudara kembar yang tak terpisahkan. Ada yang satu pasti ada
yang lain. Karena itu, setiap pengejaran akan kesenangan sudah pasti akan bertemu pula dengan
kesusahan karena kesenangan dan kesusahan itu berbadan satu tapi bermuka dua. Apa yang nampak
pada muka itu, baik nampak sebagai senang mau pun sebagai susah, hanya merupakan akibat dari pada
pilihan pikiran sendiri belaka. Apa yang hari ini dianggap sebagai menyenangkan, mungkin saja pada hari
esok akan dianggap sebagai menyusahkan, dan demikian sebaliknya.
Senang dan susah muncul sebagai akibat dari pada penilaian. Dan penilaian ini selalu bersumber kepada
kepentingan si aku. Si aku adalah pikiran, si aku adalah nafsu. Wajarlah bagi seorang manusia untuk
dimasuki perasaan-perasaan itu. Senang, susah, takut, malu, marah, dan sebagainya. Namun, dengan
pengamatan terhadap diri sendiri secara penuh kewaspadaan dan perhatian, di waktu perasaan-perasaan
itu memasuki hati dan pikiran, maka kita tidak akan terseret. Mengamati semua itu, menghadapi semua itu,
tanpa menilai-nilai sebagai baik atau buruk. Mengamati saja penuh kewaspadaan tanpa ada si aku yang
mengamati. Jadi hanya pengamatan saja yang ada, kewaspadaan saja yang ada.
Menerima semua itu sebagai suatu hal yang sudah semestinya begitu, seperti yang dilakukan oleh Bu
Seng Kin, maka tidak akan timbul perubahan dan untuk selama hidup, kita akan selalu terombang-ambing
antara suka dan duka, dan biasanya, lebih banyak dukanya dari pada sukanya. Dan selama kita menjadi
permainan si kembar ini, kita takkan pernah bahagia. Yang kita anggap kebahagiaan bukan lain hanyalah
kesenangan belaka yang pada lain saat sudah akan berubah lagi menjadi kesusahan.
Cu Pek In melakukan perjalanan ke barat dalam usahanya mencari Sim Hong Bu. Dia pergi menuju ke
Lok-yang, sebuah kota yang besar dan ramai dan juga kuno di Propinsi Ho-nan. Gadis yang bagi yang
tidak tahu dianggap sebagai seorang pemuda remaja yang amat tampan ini, melakukan perjalanan sambil
bertanya-tanya dan menyelidik kalau-kalau ada yang melihat Sim Hong Bu lewat di situ. Akan tetapi,
agaknya sampai di Lok-yang, tidak ada seorang pun yang dapat memberi keterangan tentang suheng-nya
itu. Tidak ada yang melihat adanya seorang pemuda seperti Sim Hong Bu lewat di jalan yang dilaluinya.
Dengan hati yang gelisah dan berduka, kedua kakinya yang lemas karena melakukan perjalanan jauh dan
tubuhnya lelah sekali. Hari telah menjelang senja ketika terpaksa untuk hari itu ia menunda dulu
pencariannya dan mencari kamar di sebuah losmen. Karena ia merasa amat lelah dan ingin beristirahat
sebaiknya, maka dipilihlah hotel yang paling besar di kota itu. Hotel itu nampak besar dan cukup megah,
dengan huruf-huruf besar dengan tinta emas di depannya berbunyi ‘Thian Hok Li Koan’.
Ketika Pek In memasuki ruangan depan hotel itu dan menuju ke kantor di sudut, ia melihat enam orang
laki-laki duduk menghadapi meja bercakap-cakap di ruangan itu. Seorang pelayan segera menyambutnya
dan sesaat alis pelayan ini berkerut melihat pakaian dan sepatu Pek In yang kotor dan berdebu, akan tetapi
ketika dia memandang wajah yang tampan itu, dia segera bertanya dengan suara yang cukup ramah,
“Selamat sore, Tuan Muda. Kalau anda mencari kamar, sungguh sayang sekali karena semua kamar telah
penuh.”
Cu Pek In memandang pelayan itu dan hatinya menjadi kesal sekali. Ia sudah lelah dan juga jengkel dan
berduka karena kehilangan jejak suheng-nya. Dan begitu tiba di hotel, di mana ia ingin cepat-cepat
merebahkan diri, pelayan itu mengatakan bahwa semua kamar telah penuh! Ia merasa curiga, karena
dunia-kangouw.blogspot.com
pelayan itu tadi memandang pakaian dan sepatunya yang berdebu. Karena sedang duka dan jengkel,
maka Pek In menjadi mudah berprasangka dan marah-marah. Ia menyangka bahwa tentu pelayan ini tidak
percaya kepadanya, pakaiannya berdebu, jangan-jangan ia dianggap tidak punya uang untuk membayar
kamar! Hotel ini begitu besar, tentu mempunyai banyak kamar, masa sudah penuh?
“Benarkah tidak ada kamar kosong sama sekali? Aku sanggup membayar sewanya, berapa pun juga!”
tanyanya dengan suara yang mengandung kejengkelan.
Ia tidak tahu bahwa enam orang pria yang tadi bercakap-cakap kini berhenti bicara dan semua melirik ke
arahnya. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam, seorang pria yang
usianya kurang lebih empat puluh tahun, memandang kepada Pek In dengan sepasang matanya melotot
lebar dan mulutnya mengandung senyum penuh arti. Tangannya meraba-raba kumisnya yang melintang
ketika sepasang matanya itu menatap ke arah wajah dan tubuh Pek In dari pinggir.
“Sungguh, Kongcu, semua kamar telah penuh. Hari ini memang ramai sekali sehingga tidak ada lagi kamar
di hotel kami yang kosong. Harap Anda memaafkan kami,” kata pengurus hotel yang sudah menjenguk
keluar dari dalam kantornya.
Cu Pek In menarik napas panjang. Memang dia sedang sial, pikirnya, segala-galanya tidak pernah
berhasil. Ingin ia menangis.
“Bung pengurus, biarlah kami mengosongkan sebuah di antara kamar-kamar yang kami sewa dan
berikanlah kepada Tuan Muda ini!” Mendadak terdengar suara parau dan kasar, suara dari pria tinggi besar
berkulit hitam itu.
“Tapi.... tapi Koa-kauwsu telah membayar semua kamar itu,” Si Pengurus berkata.
“Tidak mengapa, seorang temanku dapat tidur bersama temannya dan mengosongkan kamar itu untuk
Kongcu ini. Atau kalau Kongcu ini mau, tempat tidurku cukup lebar dan boleh saja aku membagi tempat
tidur dengan dia.”
Wajah Cu Pek In menjadi merah. Kalau didengarnya kata-kata itu sebagai seorang wanita, tentu saja katakata
itu amat kurang ajar. Hampir saja ia marah sekali kalau tidak diingatnya bahwa ia kini sedang
menyamar sebagai seorang pria. Maka ia pun berkata kepada pengurus hotel itu, “Kalau memang sudah
penuh, sudahlah, aku bisa mencari kamar di hotel lain.”
Cu Pek In membalikkan tubuh tanpa menoleh kepada enam orang pria itu. Dia hendak meninggalkan
ruangan hotel.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara parau itu, “Nanti dulu, Siauwte, aku hendak bicara denganmu!”
Cu Pek In menoleh dan melihat laki-laki tinggi besar itu sudah berdiri dan menjura kepadanya, demi
kesopanan ia pun lalu balas menjura.
“Ada urusan apakah yang hendak dibicarakan?” Ia bertanya sambil memandang tajam.
Laki-laki itu bersikap cukup sopan dan ramah, dan sepasang matanya yang lebar memandangnya dengan
kekaguman yang tak disembunyikannya. Bukan pandang mata orang jahat, pikirnya, melainkan pandang
mata seorang yang mata keranjang. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia berpakaian pria dan biasanya
jarang ada orang yang dapat mengetahui penyamarannya, maka ia membantah penilaiannya sendiri,
karena tidak mungkin pria tinggi besar itu tertarik kepada seorang pemuda!
“Siauwte, maafkan kalau aku mencampuri urusanmu. Akan tetapi melihat bahwa engkau nampak lelah,
pakaian dan sepatumu penuh debu menunjukkan bahwa engkau telah melakukan perjalanan jauh, dan
agaknya tidak akan mudah bagimu untuk mencari kamar di hotel-hotel lain yang tentu juga penuh, maka
aku menawarkan sebuah kamar kami kepadamu. Kami berenam menyewa lima kamar, kalau dikurangi
satu kamar kami masih dapat tidur. Sebuah kamar untuk berdua pun tidak mengapa.”
Cu Pek In tersenyum dan tak tahu betapa senyumnya yang membuat wajahnya nampak semakin tampan
itu membuat Si Tinggi Besar semakin kagum. “Ahhh, aku tidak ingin merepotkan Paman yang belum
kukenal.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sama sekali tidak merepotkan. Atau Adik boleh pilih, memakai sebuah kamar sendirian atau berdua
denganku. Tempat tidur di kamar kami cukup besar....”
“Tidak, terima kasih! Aku tak biasa tidur berdua....,” jawab Pek In cepat-cepat memotong perkataan orang.
“Kalau begitu, pakailah sebuah kamar sendirian saja. Temanku dapat mengalah,” kata pula Si Tinggi
Besar.
Melihat kebaikan orang, Cu Pek In merasa ragu-ragu untuk menolak.
Dan pengurus hotel itu pun cepat berkata kepadanya, “Kongcu, apa yang dikatakan oleh Koa-kauwsu ini
memang benar. Sekarang sedang ramainya orang berdagang hasil bumi. Banyak tamu pedagang dari luar
kota ini dan setiap hari semua hotel di kota ini penuh. Agaknya akan sukar bagi Kongcu untuk memperoleh
kamar di hotel yang baik, kecuali di hotel-hotel kecil yang kotor.”
Ucapan pengurus hotel ini menghilangkan keraguan Cu Pek In dan ia pun kemudian menghaturkan terima
kasih kepada Si Tinggi Besar.
“Ah, tidak perlu sungkan, Adik yang baik. Kita manusia di mana-mana memang harus saling bantu, bukan?
Dengan begini, kita menjadi kenalan baru. Aku senang sekali berkenalan denganmu, Siauwte.
Perkenalkanlah, aku Koa Cin Gu dari Lo-couw sebelah selatan kota ini.”
“Koa-kauwsu adalah guru silat yang terkenal di Lo-couw, bahkan di kota Lok-yang ini, Tuan Muda,” kata Si
Pelayan memuji.
“Koa-kauwsu,” kata Pek In sambil menjura, “Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sudah lelah sekali dan
ingin beristirahat.” Sambil berkata demikian, Pek In lalu meninggalkan orang tinggi besar itu dan mengikuti
pelayan dan seorang teman Si Tinggi Besar yang hendak mengambil barang-barangnya dari kamar yang
diberikan kepada Pek In.
Setelah kamar itu bersih, Cu Pek In membersihkan tubuhnya, berganti pakaian dan memesan makan
minum dalam kamarnya. Ia sudah lelah dan agak turun semangat, maka ia tidak keluar lagi dan memesan
makan di kamarnya saja. Setelah makan dan istirahat sebentar, duduk termenung memikirkan nasibnya,
dia pun merebahkan dirinya dan tidur.
Ia sendiri tidak tahu berapa lama ia tertidur, akan tetapi tiba-tiba ia terbangun oleh ketukan di pintu. Cu Pek
In membuka matanya dan tanpa turun dari pembaringan ia bertanya, “Siapa di luar?”
Suara parau di luar segera dikenalnya sebagai suara Koa-kauwsu. “Aku Koa Cin Gu, Cu-siauwte!”
“Koa-kauwsu, ada keperluan apakah mengetuk pintu kamarku?” tanya Pek In sambil duduk di tepi
pembaringan. Saking lelahnya, tadi dia sudah tertidur dengan pakaian lengkap, hanya sepatunya saja yang
dilepaskan.
“Harap buka pintunya, Adik Cu! Aku memiliki hal yang amat penting untuk dibicarakan denganmu.”
Cu Pek In adalah seorang gadis gagah yang tidak pernah mengenal takut, akan tetapi setelah banyak
merantau seorang diri meninggalkan lembah, ia sudah mempunyai banyak pengalaman dan bersikap hatihati.
Betapa pun juga, ia harus mencurigai orang yang telah bersikap terlalu baik kepadanya itu.
Dipakainya sepatunya dan diselipkan sulingnya di pinggang, tertutup baju, lalu ia pun melangkah ke pintu
dan membukanya.
Koa Cin Gu masuk sambil tersenyum ramah. “Sudah tidurkah, Siauwte? Maafkan kalau aku mengganggu,
ya?” Ketika dia bicara itu, Pek In mencium bau arak dan biar pun sikap guru silat itu masih biasa saja,
namun melihat muka hitam itu kemerahan, juga matanya, ia dapat menduga bahwa orang ini tentu terlalu
banyak minum arak dan agak mabok.
Tanpa mempersilakan duduk, ia pun bertanya, “Koa-kauwsu, ada keperluan apakah yang hendak kau
bicarakan?”
“Banyak, banyak sekali. Cu-siauwte,” kata guru silat Koa itu dan dia pun menutupkan kembali daun pintu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena mengira bahwa orang itu menutupkan pintu karena memang mempunyai urusan yang penting,
maka Pek In juga diam saja, hanya memandang dengan penuh perhatian. Akan tetapi, orang she Koa itu
tanpa dipersilakan lagi kini sudah duduk, bukan duduk di atas kursi, melainkan di tepi pembaringan!
Si Muka Hitam itu kini tersenyum menyeringai sambil berkata, “Aku ingin berkenalan lebih baik denganmu,
Adik Cu Pek In. Sini duduklah di dekatku sini, agar kita lebih enak bicara. Sejak melihatmu tadi, aku sudah
suka sekali kepadamu, Adik yang baik.”
Muka Pek In menjadi merah sekali. Akan tetapi ia masih teringat bahwa orang itu bicara kepadanya
sebagai seorang pemuda, bukan seorang gadis!
“Ah, Paman Koa, mengapa begitu? Katakanlah apa yang perlu kau bicarakan sehingga malam-malam
engkau datang ke sini. Aku mengantuk sekali.”
“Ha-ha, mengantuk? Tidurlah, tidurlah biar kita bicara sambil merebahkan diri. Ataukah engkau lelah dan
perlu kupijati? Ke sinilah, sayang.”
Pek In mulai mengerutkan alisnya. Apakah orang ini sudah tahu akan penyamarannya dan bersikap kurang
ajar karena tahu bahwa ia adalah seorang wanita?
Tetapi hatinya belum yakin benar dan ia masih berpura-pura menegur, “Koa-kauwsu, apa artinya sikapmu
ini? Lupakah engkau bahwa aku adalah seorang pria?”
“Ha-ha-ha, lupa? Tentu saja tidak, Adik tampan! Kalau engkau seorang wanita, apa kau kira aku sudi
mendekatimu? Aku membenci wanita, dan aku sayang kepada pemuda-pemuda tampan seperti engkau
ini. Ke sinilah, Adik tampan, akan kupijiti engkau agar lelahmu lenyap dan engkau temani aku tidur.
Marilah....!” Dan guru silat bermuka hitam itu sudah mengembangkan kedua lengannya ke arah Pek In!
Pek In memandang dengan mata terbelalak. Betapa pun banyaknya pengalaman yang dihadapinya selama
ini, baru sekarang melihat keganjilan ini. Seorang pria yang hendak mencumbu pria lain! Inikah yang
dinamakan orang banci? Tubuh guru silat itu demikian tinggi besar, kulitnya kasar hitam dan kumisnya
melintang, tubuhnya jelas menunjukkan laki-laki seratus prosen. Akan tetapi mengapa dia menyukai pria
muda tampan?
Teringat akan hal ini, Pek In bisa menduga betapa banyaknya pemuda-pemuda tampan yang menjadi
korban orang aneh ini. Tentu di antara murid-muridnya yang belajar ilmu silat banyak terdapat pemudapemuda
remaja yang tampan. Entah dipermainkan secara bagaimana. Tak dapat ia membayangkannya
dan ia sudah merasa jijik dan geli, seperti melihat seekor ular.
“Manusia keparat! Keluarlah engkau dari sini!” Pek In membentak marah sekali dan menudingkan
telunjuknya ke arah pintu.
Koa-kauwsu memandang bengis, lalu bangkit berdiri dan bertolak pinggang. “Ahhh.... kiranya engkau
hanya seorang pemuda yang tak mengenal budi. Beginikah balasannya ditolong orang?”
“Hemm, kalau memberikan kamar kosong kepadaku kau anggap sebagai budi besar yang harus dibalas
dengan kemesuman dan kecabulanmu, engkau mimpi, orang berhati binatang. Sudahlah, kau cepat keluar
dari sini sebelum kuhancurkan kepalamu!” Pek In sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Guru silat itu membelalakkan kedua matanya, dan dia tersenyum. Barulah kini nampak oleh Pek In betapa
senyum pria ini mengandung sifat kegenit-genitan seperti wanita!
Koa Cin Gu sebetulnya bukanlah seorang penjahat, melainkan seorang guru silat yang cukup kenamaan.
Akan tetapi, dia mempunyai kelainan dengan orang-orang biasa, yaitu, dia suka bermain cinta dengan priapria
muda yang tampan. Dia sungguh tidak suka menyukai wanita, karena walau tubuhnya tinggi besar dan
kasar seperti pria tulen, adalah hatinya seperti seorang wanita, terutama mengenai selera dan birahi. Dia
tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap pria-pria muda, karena dengan pengaruhnya sebagai guru
silat, banyaklah murid-murldnya sendiri yang mau melayaninya dengan harapan memperoleh pelajaran
silat yang lebih tinggi dari pada murid-murid lain. Maka, terhadap Pek In yang dianggapnya sebagai
seorang pemuda yang tampan sekali ini pun Koa-kauwsu tidak bermaksud menggunakan kekerasan. Akan
tetapi dia telah dihina dan dimaki, maka bangkitlah kemarahannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bocah kurang ajar! Engkau ditolong baik-baik, diperlakukan dengan sikap ramah dan manis, dan engkau
malah menghina orang. Bocah sombong, benarkah engkau hendak menghancurkan kepalaku? Coba saja
kalau engkau mampu!”
“Mampu? Apa sukarnya? Tetapi aku tidak ingin membikin kacau dengan pembunuhan, maka bukan
kepalamu yang akan kuhancurkan, melainkan lengan tanganmu saja!” Berkata demikian, Pek In sudah
menerjang ke depan dengan pukulan tangan kirinya.
Pukulannya mantap dan cepat sekali, sehingga guru silat itu yang mengenal serangan berbahaya,
mengeluarkan seruan dan cepat menangkis dengan lengan kanannya, dan berbareng dengan itu langsung
membalas dengan sodokan tangan kirinya ke arah dada Pek In. Walau pun hal ini bukan dimaksudkan
untuk kurang ajar, akan tetapi sebagai seorang gadis, Pek In menganggapnya demikian, maka dia pun
sudah mengerahkan tenaga sinkang pada lengan kanannya dan dia menghantam ke bawah, ke arah
lengan kiri lawan.
“Krakkk....!”
Tulang lengan kiri Koa-kauwsu, dekat pergelangan, patah-patah dan di lain saat Pek In telah menendang
tubuhnya sehingga guru silat terpelanting. Pek In cepat membuka pintu dan sekali lagi menendang. Tubuh
guru silat itu terlempar keluar pintu kamar!
Tentu saja ia mengaduh-aduh karena bukan hanya lengan kirinya yang patah-patah tulangnya, akan tetapi
juga dua kali tendangan itu membuat dadanya sesak dan perutnya mulas. Ribut-ribut ini mendatangkan
lima orang temannya dan melihat betapa guru silat itu mengaduh-aduh, memegangi lengan kiri dengan
tangan kanan, lima orang itu lalu menyerbu ke dalam kamar Pek In. Akan tetapi Cu Pek In sudah muncul di
pintu dan membentak marah.
“Masih ada lagi yang hendak kurang ajar kepadaku?”
“Dia memukulku, dia mematahkan lenganku, pukul dia!” Koa-kauwsu yang merasa kesakitan itu sudah
bangkit berdiri dan dengan meringis dia menuding ke arah Pek In dengan telunjuk kanannya.
Lima orang temannya terkejut bukan main, tidak disangkanya bahwa pemuda remaja yang halus tampan
itu mampu merobohkan guru silat Koa yang lihai! Mereka berlima dapat menduga bahwa tentu pemuda itu
memiliki kepandaian tinggi, maka mereka sudah mencabut senjata golok mereka dan menyerbu ke dalam
kamar!
Akan tetapi Cu Pek In sudah marah sekali. Ketika tangannya bergerak, nampak sinar emas berkelebatan,
dan terdengar bunyi nyaring ketika sinar emas itu bertemu dengan golok-golok di tangan lima orang yang
mengaduh-aduh, ada yang kepalanya benjol, ada yang lengannya patah, dan ada pula yang mendekap
perutnya yang kena ditendang! Keadaan menjadi geger karena semua tamu kini terbangun dan
berdatangan ke tempat itu. Tiba-tiba, di antara para tamu itu, muncullah sepasang suami isteri yang gagah
perkasa.
“Pek In....!” Mereka menegur.
Cu Pek In yang masih bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan suling di tangan, cepat
menengok dan melihat bahwa yang menegurnya itu adalah seorang laki-laki tinggi besar bersama seorang
wanita cantik, segera mengenalnya. Pria itu adalah pamannya sendiri, Cu Kang Bu dan wanita itu adalah
isteri pamannya, Yu Hwi.
“Paman....!” teriaknya ketika mengenal pamannya.
“Pek In, mari kita pergi saja dari sini!” kata Kang Bu.
Pek In begitu girang bertemu dengan pamannya sehingga ia tidak membantah, cepat mengambil
pakaiannya dan keluar dari dalam kamarnya bersama paman dan bibinya. Setelah mereka mengambil
pakaian dari kamar suami isteri itu, Kang Bu lalu mengajak mereka keluar, berhenti di kantor pengurus,
membayar untuk dua kamar mereka dan segera mengajak keponakannya pergi meninggalkan hotel.
Hal ini dilakukan oleh Kang Bu yang tidak mau menghadapi keributan setelah terjadi perkelahian antara
keponakannya dan beberapa orang laki-laki tamu hotel itu. Mereka lalu mencari kamar di rumah
dunia-kangouw.blogspot.com
penginapan kecil di pinggir kota. Di sini mereka lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing. Cu
Pek In dengan hati sedih menceritakan betapa ia sudah bertemu dengan Hong Bu, bersama-sama pergi ke
Cin-an di mana mereka berdua tinggal di sarang para patriot.
“Aku bertemu dengan Bibi Tang Cun Ciu di sana, Paman. Engkau tahu, yang menjadi pemimpin para
pendekar patriot adalah Bu Seng Kin Locianpwe?”
“Hemm, pantas kalau begitu!” Hanya demikian Kang Bu berkata karena dia tidak mau mencampuri
kehidupan pribadi bekas kakak iparnya itu.
Pek In lalu melanjutkan ceritanya, betapa Hong Bu bertemu dengan dua orang yang harus dilawannya,
yaitu keluarga Kao dan juga Pendekar Suling Emas Kam Hong. Betapa kemudian karena diserang oleh Ci
Sian, Hong Bu melarikan diri dan dikejar oleh Jenderal Muda Kao Cin Liong.
“Aku pun mengejarnya, Paman, namun aku tertinggal jauh dan aku terus mencarinya sampai berbulanbulan.
Jejaknya membawaku kembali ke Cin-an. Menurut keterangan Bu-locianpwe mungkin Sim-suheng
pergi ke Lok-yang ini.” Kemudian ia menceritakan pengalamannya di hotel itu dan sikap guru silat she Koa
yang aneh dan kurang ajar terhadap dirinya.
“Sungguh aneh, Paman. Dia sudah mengatakan bahwa dia menganggap aku pria, akan tetapi mengapa
dia hendak merayuku? Apakah dia itu orang-orang gila, Paman?”
Pamannya tertawa, demikian pula Yu Hwi. Yu Hwi yang menjawab. “Pek In, ketahuilah bahwa di dunia ini
memang terdapat orang-orang yang sejak lahir telah mempunyai kelainan-kelainan yang mungkin saja
diperkuat oleh keadaan sekeliling di waktu dia masih kanak-kanak. Atau mungkin ada sesuatu yang salah
dalam tubuhnya sehingga ada orang yang tubuhnya pria akan tetapi perasaan hatinya wanita, seperti
orang yang mengganggumu tadi. Akan tetapi ada orang yang tubuhnya wanita akan tetapi perasaan
hatinya pria, dan orang begitu hanya suka berdekatan dengan sesama wanita, dan membenci pria.”
“Demikianlah yang dinamakan banci, Bibi?”
“Biasanya, sebutan banci ditujukan kepada seorang pria yang berhati wanita seperti pengganggumu tadi.
Pria-pria seperti itu condong untuk menjadi wanita, merasa dirinya sebagai wanita, bahkan yang sudah
terlalu berat kecondongannya itu, tidak ragu-ragu lagi untuk berpakaian sebagai wanita dan bersikap
sebagai wanita pula. Sebaliknya, wanita yang berhati pria itu pun condong untuk menjadi pria dan
berpakaian sebagai pria....”
Tiba-tiba Yu Hwi berhenti dan memandang kepada Pek In dengan muka berubah dan sikap sungkan.
Melihat sikap isterinya ini, Kang Bu tertawa.
“Jangan khawatir, Pek In adalah seorang wanita asli, buktinya ia jatuh cinta kepada Hong Bu. Kalau ia suka
berpakaian pria adalah karena mendiang orang tuanya memberi pakaian pria kepada Pek In.”
Wajah Cu Pek In menjadi merah sekali. “Ah, jadi ada wanita yang hatinya seperti pria dan lebih suka
menjadi pria? Aku tidak mempunyai perasaan seperti itu, Bibi. Akan tetapi setelah mendengar penuturan
itu, aku jadi muak untuk memakai pakaian pria, jangan-jangan aku disangka orang banci lagi! Biarlah, mulai
sekarang aku akan mengenakan pakaian wanita. Harap Bibi membantuku!”
Demikianlah pada keesokan harinya, kedua orang wanita itu berbelanja dan mulailah Cu Pek In
mengenakan pakaian wanita. Dan sungguh harus diakui bahwa setelah ia mengenakan pakaian wanita,
mau berbedak dan berhias, ia nampak sebagai seorang dara yang cantik jelita! Bahkan Cu Kang Bu sendiri
memuji keponakannya itu dan menyatakan sayangnya, mengapa sejak dahulu keponakannya tidak mau
berpakaian sebagai seorang wanita. Kemudian mereka bertiga melanjutkan usaha Pek In untuk mencari
Sim Hong Bu…..
********************
Dan ke manakah perginya Sim Hong Bu? Seperti telah kita ketahui, Hong Bu lari dan mencari pamannya
untuk mengajak pamannya itu melakukan peminangan atas diri Ci Sian. Dan dia sudah berhasil bertemu
dengan pamannya itu. Akan tetapi Kao Cin Liong juga berhasil mengejarnya dan menyusulnya sehingga
tidak dapat dihindarkan lagi terjadilah perkelahian di antara mereka. Perkelahian yang amat seru dan matidunia-
kangouw.blogspot.com
matian dan tentu akhirnya akan menimbulkan akibat hebat, dan mungkin tewasnya seorang di antara
mereka kalau saja tidak muncul Kao Kok Cu yang melerai.
Setelah kaisar yang baru ternyata telah menyatakan bahwa pedang Koai-liong-kiam itu adalah hak milik
keluarga Cu, maka tentu saja antara Hong Bu dan keluarga Kao tidak ada permusuhan lagi. Mereka
bahkan menjadi sahabat dan berpisah sebagai sahabat.
Setelah berpisah dari Kao Cin Liong dan ayahnya, Sim Hong Bu kemudian mengajak pamannya pergi ke
Cin-an untuk mengajukan lamaran atas diri Ci Sian kepada keluarga Bu. Dan Bu Seng Kin, seperti
jawabannya terhadap lamaran keluarga Kao, juga menyuruh Hong Bu untuk langsung saja melamar
kepada Ci Sian atau kepada suheng gadis itu karena dia sendiri tidak berkuasa atas diri puterinya itu.
Mendapatkan jawaban ini, Hong Bu lalu pergi mencari Ci Sian dan memang dia pergi ke Lok-yang karena
pamannya hendak pergi mencari keluarga yang jauh di dekat Lok-yang. Setelah tiba di Lok-yang keduanya
saling berpisah, Hong Bu melanjutkan perjalanannya seorang diri mencari Ci Sian.
Ketika Cu Pek In tiba di Lok-yang, selain Cu Kang Bu dan Yu Hwi yang juga berada di kota itu,
sesungguhnya Hong Bu juga berada di situ. Hanya pemuda ini tidak bermalam di kota, melainkan di luar
kota, di dalam sebuah kuil tua karena pemuda ini telah dapat mengikuti jejak Ci Sian dan Kam Hong!
Pada pagi hari itu, Kam Hong dan Ci Sian sedang mengamati pemandangan yang amat indah di lembah
Sungai Huang-ho di utara kota Lok-yang. Lembah itu sunyi karena memang mereka menghindari tempat
ramai. Sambil memandang di atas air yang tenang karena baru saja arusnya terpatahkan di selokan, Ci
Sian melamun dan akhirnya berkata.
“Suheng, sudahlah kita tidak perlu mengejar dan mencari orang she Sim itu. Kalau memang dia yang
menghendaki untuk melanjutkan adu ilmu antara Koai-liong Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut, biar dia
yang mencari kita. Melihat sungai yang amat lebar dan tenang ini, timbul niatku untuk melakukan
perjalanan melalui air. Kalau kita naik perahu mengikuti aliran sungai ini, kita akan sampai ke manakah,
Suheng?”
“Air sungai Huang-ho ini akan membawa kita kembali ke Cin-an lagi, kemudian masuk Laut Po-hai,” jawab
Kam Hong.
“Dan dari sana ke kota raja apakah masih jauh?”
“Tentu lebih dekat dibandingkan dari sini.”
“Kalau begitu, mari kita menyewa perahu, Suheng.”
“Ahh, mana mungkin ada orang mau menyewakan perahu untuk dipakai melalui jarak sejauh itu? Pemilik
perahu tentu mengalami kesukaran untuk kembali ke sini menentang arus. Sewanya akan mahal sekali,
mungkin sewanya itu sudah cukup untuk membeli sebuah perahu kecil.”
“Wah, kalau begitu kita beli saja. Kita dayung sendiri, kan terbawa arus air, jadi tak perlu membuang
banyak tenaga. Kita mancing setiap hari, makan daging ikan setiap hari. Wah, senangnya!”
Kam Hong tertawa dan memandang kepada sumoi-nya. Betapa sumoi-nya ini kadang-kadang masih
seperti anak kecil saja. Dan dia pun menarik napas panjang. Memang, dibandingkan dengan dia, sumoinya
masih seperti anak kecil. Dia sendiri sudah berusia hampir tiga puluh lima tahun sedangkan sumoi-nya
ini hanya seorang dara remaja berusia paling banyak sembilan belas tahun! Dia merasa sudah tua dan
tidak pantas berdekatan dengan sumoi-nya.
“Kenapa kau tertawa lalu menarik napas, Suheng? Heran, habis tertawa kok menarik napas, engkau ini
bergembira atau berduka?”
“Suka dan duka hanya seperti siang dan malam, muncul silih berganti, Sumoi, demikian pula dengan
senang dan susah. Membayangkan melakukan perjalanan melalui air, tentu saja yang terbayangkan hanya
senangnya saja, tetapi kalau sudah dilaksanakan, barulah muncul susah-susahnya. Di dunia ini tiada
kesenangan kekal atau kesusahan abadi, selalu silih berganti menguasai kehidupan manusia.”
“Wah, wah, sepagi ini sudah berfilsafat, Suheng! Apakah engkau mencari sesuatu yang kekal?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak, Sumoi, karena aku tahu bahwa tidak ada yang kekal dalam hidup ini. Mencari-carinya sama saja
dengan mimpi di siang hari! Aku siap menerima segala sesuatu dalam hidup ini, Sumoi, menghadapi apa
adanya tanpa keluhan. Kalau memang diri sudah tua dan buruk, apa perlunya mengeluh?”
Ci Sian memandang wajah suheng-nya. Tertawanya bebas karena gadis ini tak pernah berpura-pura di
depan suheng-nya, tidak pernah menyembunyikan keburukannya, maka di depan suheng-nya ia dapat
tertawa bebas tanpa berusaha untuk bersikap seperti orang yang hendak bersopan-sopan. “Wah, lihat
kakek-kakek ini yang berfilsafat dan merasa sudah tua dan pikun! Wahai Suheng, siapa bilang engkau tua
dan pikun dan jelek? Aku kadang-kadang merasa jauh lebih tua dari pada Suheng!”
“Kadang-kadang? Kalau sedang bagaimana kau merasa lebih tua?”
“Kalau sedang begini ini. Kalau Suheng sedang menyesali nasib dan usia tua seperti itu. Sudah, mari kita
mencari perahu untuk kita beli Suheng.”
Akan tetapi tiba-tiba Kam Hong menyentuh lengannya. “Ssttt, ada orang datang....,” bisiknya.
Mereka berdua menanti karena memang nampak ada bayangan orang berlari cepat sekali menuju ke
tempat itu dan setelah orang itu tiba di depan mereka, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati
mereka melihat bahwa yang muncul di depan mereka itu adalah Sim Hong Bu!
Melihat pemuda ini, Kam Hong tersenyum. “Ah, ternyata benar kata orang jaman dahulu bahwa dunia ini
sesungguhnya tidak begitu luas seperti disangka orang. Kami mencari-carimu setengah mati tanpa hasil,
dan sekarang engkau muncul di sini, Adik Sim Hong Bu!”
Hong Bu sudah dapat menenangkan hatinya yang berdebar kencang ketika melihat Ci Sian. Hatinya girang
bukan main bahwa akhirnya dia dapat menemukan gadis ini, dan dalam pandangannya, Ci Sian semakin
cantik menarik, lincah dan gagah saja.
“Engkau mencariku, Kam-taihiap? Sungguh, aku pun sudah lama mencari-carimu dan.... ehhh…., Nona Ci
Sian.”
“Hemm, mau apa engkau mencariku, Hong Bu?” tiba-tiba Ci Sian berkata. “Apakah hendak menantangku
lagi?” Di dalam pertanyaannya terkandung tantangan.
“Ada dua hal yang mendorong untuk mencari kalian,” kata Hong Bu dan dia berusaha sekuat tenaga untuk
menekan debar jantungnya.
Hampir saja dia tidak berani mengeluarkan kata-kata berikutnya, akan tetapi dia menjadi nekad. Kalau
tidak sekarang dikeluarkan isi hatinya, mau tunggu kapan lagi? Maka dia pun menarik napas panjang,
mengumpulkan kekuatan, lalu berkatalah dia dengan sikap gagah dan suara lantang.
“Kam-taihiap dan Nona Bu Ci Sian, dengarlah baik-baik. Aku bersama salah seorang pamanku telah pergi
menemui dan menghadap Bu-locianpwe di Cin-an dan kami telah mengajukan pinangan kepadanya, untuk
meminangmu, Nona. Akan tetapi Bu-locianpwe mengatakan bahwa aku harus mencarimu dan menyatakan
ini kepadamu dan kepada Kam-taihiap. Nah, sekarang aku sudah menemukan kalian dan di sini aku
menyatakan bahwa aku meminang Nona Bu Ci Sian untuk menjadi jodohku, Kam-taihiap.”
Ucapan ini sungguh amat di luar dugaan Ci Sian dan Kam Hong. Kam Hong menahan senyumnya dan
memandang wajah pemuda itu dengan kagum dan dengan hati senang. Betapa gagahnya pemuda ini,
begitu jujur dan terbuka. Sungguh merupakan pemuda yang memang tepat kalau menjadi jodoh sumoinya!
Akan tetapi setelah sejenak melongo dengan muka agak pucat mendengar pinangan itu, Ci Sian lalu
meledak karena marahnya!
“Tidak! Aku tidak mau! Engkau manusia lancang, enak saja melamar orang seperti hendak membeli
bakpao saja! Aku tidak mau, aku tidak suka, aku.... aku benci padamu!”
“Ci Sian, jangan tergesa-gesa menjawab dan tidak boleh engkau menghadapi pinangan orang seperti itu,”
Kam Hong menegur, terkejut melihat sikap itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak, tidak adil! Suheng, biar pun engkau suheng-ku, jika engkau menerima pinangan orang terhadap
diriku, nah, engkau boleh kawin dengan orang itu! Aku tidak sudi!” Ci Sian berteriak-teriak marah dan
matanya mulai basah dengan air mata.
Baik Kam Hong, terutama sekali Sim Hong Bu, sama sekali tidak pernah menduga bahwa tanggapan Ci
Sian akan seperti itu terhadap pinangan yang diajukan oleh Hong Bu. Wajah Hong Bu menjadi pucat sekali
dan sinar matanya sayu, membayangkan perihnya hati mendengar jawaban Ci Sian yang sudah amat jelas
itu. Ci Sian sama sekali tidak membalas cintanya, bahkan membencinya!
“Maaf.... maaf.... bukan maksudku untuk menyusahkan orang lain....,” kata Hong Bu, mukanya pucat dan ia
menundukkan mukanya. “Aku telah mengatakan urusan pertama yang hendak kusampaikan, yaitu
pinangan dan aku telah ditolak, bukan salah siapa-siapa melainkan salahku sendiri yang tidak tahu diri....”
“Sim Hong Bu, setiap pinangan tentu mempunyai dua macam jawaban, diterima atau ditolak, hal itu wajar
saja kukira. Dan urusan jodoh adalah urusan hati dua orang yang bersangkutan, maka engkau agak
terburu-buru kukira, sebelum melihat lebih dulu bagai mana keadaan hati orang lain dalam urusan ini.
Betapa pun, semua sudah terlanjur dan aku kagum akan kejujuranmu, juga aku ikut menyesal atas
kegagalanmu. Lalu ada sebuah soal lagi yang hendak kau bicarakan, apakah itu, Saudara Sim?”
“Maafkan, Kam-taihiap. Engkau selalu amat bijaksana dan gagah, sejak dahulu aku kagum sekali, dan
terima kasih atas hiburanmu tadi. Memang salahku sendiri maka urusan pertama aku tidak berhasil. Maka
biarlah sekarang kusampaikan urusan ke dua kepadamu, Taihiap. Bukan lain aku mencarimu untuk
memenuhi tugas yang diberikan oleh guru-guruku, yaitu untuk menentukan mana yang lebih unggul antara
Ilmu Pedang Naga Siluman dan Ilmu Pedang Suling Emas. Kuharap sekali ini engkau tidak berlaku
kepalang tanggung, Kam-taihiap. Aku mohon petunjukmu!” Setelah berkata demikian, Sim Hong Bu yang
wajahnya masih pucat dan sepasang matanya masih suram itu mencabut pedang Koai-liong Po-kiam dan
nampaklah sinar pedang biru menyilaukan mata.
“Kau menantang....?” Ci Sian berseru.
Akan tetapi Kam Hong sudah memegang lengannya dan berkata dengan suara yang lembut akan tetapi
mengandung wibawa. “Sumoi, serahkan urusan ini kepadaku. Akulah yang dahulu mengalahkan keluarga
Cu dan menimbulkan rasa penasaran ini.”
Kemudian pendekar ini melangkah maju menghadapi Sim Hong Bu sambil berkata, “Baiklah, Sim Hong Bu.
Kalau engkau berkeras hendak memenuhi pesan gurumu yang hanya terdorong oleh rasa penasaran di
dalam hatinya, aku tidak akan mengecewakan hatinya. Akan tetapi, apakah engkau menyadari bahwa
permusuhan yang ditanam oleh pihak keluarga Cu ini sungguh tidak bijaksana? Di antara kita
sesungguhnya tidak ada permusuhan apa pun juga. Dahulu, nenek moyangku secara kebetulan
memperoleh pusaka Suling Emas. Dan kemudian aku sebagai keturunannya yang terakhir, secara
kebetulan pula mewarisi Ilmu Suling Emas. Bukankah itu sudah jodoh namanya? Biar pun penciptanya
adalah nenek moyang keluarga Cu, apa salahnya kalau terjatuh kepada orang lain? Bukankah kini Ilmu
Pedang Naga Siluman yang berasal dari keluarga Cu juga diwarisi oleh seorang she Sim? Saudara Sim
Hong Bu, hendaknya engkau menyadari hal itu.”
Tentu saja Hong Bu tahu akan hal itu dan memang tadinya dia sudah lemah semangat untuk menantang
Kam Hong mengadu ilmu, apalagi semenjak dia bertemu dan mendengar nasehat dari Pendekar Naga
Sakti Gurun Pasir. Akan tetapi, setelah dia gagal dalam urusan cintanya terhadap Ci Sian, setelah dia
patah hati, dia tidak peduli lagi dan biarlah kalau urusan kebaktian yang keliru terhadap gurunya ini gagal
pula, dia rela mati di tangan seorang pendekar seperti Kam Hong.
“Kam-taihiap, aku memang telah keliru segala-galanya, maka biarlah kekeliruan berbakti kepada guruku ini
merupakan kekeliruan yang terakhir. Keluarkanlah senjatamu dan mari kita segera laksanakan pesan
guruku. Hendak kulihat, sesungguhnya sampai di mana kehebatan Ilmu Suling Emas itu dan kuharap
engkau tidak berlaku kepalang tanggung sekali ini. Marilah!”
Meski pun agak ragu-ragu dan setengah hati, Kam Hong mengeluarkan juga suling emasnya. Pendekar ini
dapat menduga, melihat sikap dan mendengar suara pemuda itu bahwa memang Hong Bu agaknya
sengaja, terdorong kepedihan hati oleh penolakan Ci Sian yang kasar tadi. Dia menarik napas panjang
dengan penuh penyesalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku dapat membayangkan betapa para nenek moyang keluarga Cu yang menjadi pencipta Ilmu Pedang
Suling Emas dan Naga Siluman akan mengeluh dan menyesal bahwa ciptaannya hanya akan saling
berlawanan, padahal sudah sepatutnya kalau saling bekerja sama untuk menghadapi kejahatan di dunia
ini. Silakan, Saudara Sim!”
Maklum bahwa lawannya juga sungkan, maka Sim Hong Bu yang merasa sebagai penantang lalu
menggerakkan pedangnya melakukan serangan pembukaan. Kam Hong juga menggerakkan sulingnya
dan mulailah mereka saling serang. Mula-mula memang ada keraguan dan rasa kesungkanan dalam hati
mereka sehingga serangan-serangan mereka itu tidak dilakukan dengan tenaga sepenuhnya. Akan tetapi
sebagai ahli-ahli silat di mana ilmu silat itu telah mendarah daging kepada tubuh mereka, makin lama
mereka menjadi semakin bersemangat karena menghadapi lawan yang amat tangguh.
Maka gerakan senjata mereka menjadi makin cepat dan berat dan tak lama kemudian, lenyaplah kedua
orang itu terselimut gulungan sinar emas dan sinar biru yang terang menyilaukan mata. Terdengar pula
suara pedang seperti suara mengaum-aum dan suara suling yang melengking-lengking, dan angin yang
sangat keras menyambar, membuat daun-daun pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan kadangkadang
seperti dilanda angin berpusing.
Ci Sian sendiri bengong, kagum sekali menyaksikan pertandingan yang amat hebat ini. Diam-diam harus
diakuinya bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh Sim Hong Bu memang hebat bukan main, dan agaknya
sama sekali tidak kalah dibandingkan dengan Kim-siauw Kiam-sut yang dimainkan dengan suling emas itu.
Sebagai seorang ahli, ia pun dapat mengikuti gerakan mereka, walau pun kadang-kadang gerakan kedua
orang itu terlalu cepat untuk dapat diikuti dengan mata. Ia melihat betapa suheng-nya bersilat dengan baik
sekali, hampir dapat dikata sempurna malah, memainkan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut, akan tetapi
tetap saja ia masih melihat keraguan dalam gerakan suheng-nya itu, seolah-olah dia tak menghendaki
perkelahian itu dan bertanding karena terpaksa sekali.
Setelah lewat seratus jurus, keduanya sudah benar-benar bebas dari keraguan dan keduanya kini sudah
lupa diri. Yang ada hanyalah kegembiraan bertanding karena baru sekarang mereka benar-benar bertemu
lawan yang setanding, dan baru sekali ini mereka bertanding tanpa ada sedikit pun perasaan benci atau
marah. Kini mereka bertanding demi ilmu itu sendiri, seperti orang berlatih saja, akan tetapi jauh lebih
hebat dan sungguh-sungguh karena keduanya tidak mau sampai kalah.
Maka, kini hanya jurus-jurus yang paling ampuh sajalah yang mereka keluarkan dan di dalam hati mereka
penuh kekaguman terhadap lawan. Sukar dilihat siapa yang terdesak dan siapa yang mendesak di antara
keduanya, karena betapa pun juga, setelah kini mereka melihat intinya, ada unsur-unsur yang sama dalam
dasar ilmu pedang mereka. Hanya dalam hal tenaga dalam, Sim Hong Bu harus mengakui bahwa dia
masih kalah setingkat! Akan tetapi, Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut demikian hebatnya sehingga
kekalahan tenaga ini dapat ditutupnya dengan gerakan cepat dan aneh sehingga dia tidak harus mengadu
tenaga secara langsung.
Serang menyerang terjadi, tikaman dan totokan ditukar, bacokan dan pukulan silih berganti, dan bukan
hanya senjata mereka yang saling menyambar, melainkan juga tangan kiri mereka sering kali melakukan
totokan dan pukulan maut yang amat hebat, yang kalau ditangkis menimbulkan getaran yang bahkan
terasa pula oleh Ci Sian yang berdiri di pinggir.
Setelah lewat dua ratus jurus, Ci Sian memandang dengan alis berkerut. Sebagai seorang ahli, maklumlah
dara ini bahwa perkelahian sehebat ini kalau dilanjutkan tentu hanya berakibat robohnya seorang di antara
mereka, mungkin roboh untuk tidak dapat bangkit kembali atau tewas. Setiap serangan yang dilakukan
mereka adalah serangan maut yang amat hebat, yang kalau mengenai lawan sudah pasti akan merenggut
nyawa lawan!
Memang benarlah apa yang dipikirkan oleh Ci Sian ini. Setelah lewat dua ratus jurus Kam Hong yang lebih
matang dalam hal latihan, dan juga memang lebih sempurna menguasai ilmunya, dapat melihat
kelemahan-kelemahan yang walau pun sedikit dalam gerakan Hong Bu, namun cukuplah untuk
dimasukinya dengan serangan kilat yang akan membuat lawan roboh. Akan tetapi pendekar ini tidak tega
merobohkan Hong Bu dengan serangan maut. Dia sama sekali tidak ingin melukainya dengan berat.
Timbul keraguan dalam hatinya. Apa gunanya kalau dia menang? Sebaliknya, andai kata dia mengalah
sekali pun, hal itu pasti akan diketahui oleh Sim Hong Bu dan juga oleh Bu Ci Sian dan tidak akan ada
manfaatnya lagi, bahkan mungkin Hong Bu akan merasa tersinggung kalau dia sengaja mengalah. Maka,
dunia-kangouw.blogspot.com
sebaiknya kalau dia memberi isyarat kepada pemuda itu bahwa dia tidak ingin bermusuhan dan bahwa dia
bersedia menghentikan pertandingan itu dan bersedia pula mengalah.
Oleh karena itu, ketika dia kembali melihat lowongan yang merupakan kekosongan atau kelemahan dari
lawan, secepat kilat sulingnya meluncur ke arah kiri dada Hong Bu dan sebelum pemuda ini dapat
menghindarkan diri karena memang posisinya telah terdesak dan terkurung, tahu-tahu ujung suling sudah
mengenai dada kirinya.
“Dukkk!”
Sim Hong Bu terkejut bukan main karena biar pun ujung suling itu dengan tepat sekali mengenai dada,
namun tidak terasa apa-apa dan totokan tadi sama sekali tidak mengandung kekuatan sinkang sehingga
ketika mengenai kulit dadanya lalu membalik! Dari heran, Hong Bu menjadi merah mukanya karena dia
pun maklum bahwa lawannya sengaja tidak mengisi tenaga pada totokan tadi, dan hal ini hanya dapat
diartikan bahwa lawan memang tidak menghendaki berkelahi dengannya. Padahal, dia pun mengerti benar
bahwa kalau tadi Kam Hong mengisi totokannya dengan tenaga sinkang, dia tentu sudah roboh, kalau
tidak mati seketika, sedikitnya tentu terluka parah atau roboh tertotok dan kalah.
Jelaslah bahwa pendekar yang dikagumi dan dihormatinya itu memang sengaja tidak mau
mengalahkannya, hal ini benar-benar membuat dia merasa berterima kasih tetapi juga membuka matanya
bahwa dia kalah jauh dalam hal pengalaman dibandingkan dengan pendekar sakti ini. Maka, kalau dia
melanjutkan pertandingan itu, sama saja dengan mengaku bahwa dia tidak tahu diri.
“Trang....!” Pedang bertemu dengan suling dan pedang itu terlepas dari tangan Hong Bu.
Pemuda ini melangkah mundur dan menjura. “Kam-taihiap, saya Sim Hong Bu yang mewakili keluarga Cu
mengaku bahwa di tanganku, Koai-liong Kiam-sut telah kalah melawan Kim-siauw Kiam-sut!” Lalu dia
menjura lagi dan mengambil pedangnya dari atas tanah.
“Saudara Sim Hong Bu, engkau terlalu merendah. Koai-liong Kiam-sut hebat bukan main dan kalau toh aku
dapat mengunggulimu sedikit, hal itu bukan karena ilmunya, melainkan karena engkau kalah matang dalam
latihan dan pengalaman. Ilmu pedangmu hebat bukan main!”
“Apa ini? Saling mengalah dan saling merendah! Sim Hong Bu, kakak seperguruanku memang lemah.
Biarlah aku yang mewakili Kim-siauw Kiam-sut, ingin kucoba sampai di mana hebatnya Koai-liong Kiamsut,
dan antara kita tidak perlu ada sungkan-sungkanan dan mengalah segala macam!”
Berkata demikian, Ci Sian sudah menyerang dengan suling emasnya, serangan maut yang hebat sekali
sehingga terpaksa Hong Bu menangkis.
“Cringggg....!” Bunga api berpijar saking kerasnya pertemuan senjata itu.
“Sumoi, jangan....!” teriak Kam Hong.
“Ci Sian, aku sudah mengaku kalah,” kata Hong Bu, suaranya mengandung kegetiran hati. Dia telah patah
hati dan dia tadi menghendaki tewas di tangan pendekar sakti Kam Hong, siapa kira pendekar itu
mengalah dan dia kalah tanpa terluka sedikit pun. Hal ini membuatnya merasa perih sekali karena
dibiarkan hidup menderita patah hati!
“Tidak, tadi Suheng telah banyak mengalah dan engkau sendiri sengaja membiarkan pedangmu lepas. Kau
kira siapa aku ini? Anak kecil yang mudah saja dibodohi? Hayo, lawan aku, kalau engkau tidak berani dan
kalau engkau takut, selanjutnya engkau harus mengaku sebagai seorang pengecut!”
“Ci Sian....!” Hong Bu berseru, jantungnya seperti ditusuk rasanya.
“Sumoi, engkau terlalu....!”
“Engkau berpihak kepadanya, Suheng? Boleh, kalian berdua keroyoklah aku!” Berkata demikian, Ci Sian
sudah menyerang lagi kepada Hong Bu.
Hong Bu terpaksa harus menggerakkan pedang dan melindungi dirinya kalau tidak mau mati konyol.
Hatinya berduka bukan main. Tentu saja pantang baginya untuk hidup sebagai pengecut! Maka terpaksa
dunia-kangouw.blogspot.com
dia pun menangkis dan balas menyerang sehingga seaat kemudian mereka berdua telah bertanding
dengan seru dan hebat.
Kam Hong berdiri bingung sekali, tidak mengerti mengapa sumoi-nya demikian marah dan membenci Hong
Bu.
Pada saat itu muncul tiga orang yang bukan lain adalah Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Cu Pek In! Mereka
bertiga itu akhirnya dapat menemukan jejak Sim Hong Bu dan tiba di tempat itu pada saat Hong Bu sedang
bertanding dengan hebatnya melawan Ci Sian.
Melihat ini Cu Pek In sudah hendak meloncat untuk membantu suheng-nya, akan tetapi Cu Kang Bu
memegang lengannya. Pendekar ini melihat betapa Kam Hong berdiri di situ sejak mereka datang dan
sama sekali tidak membantu Ci Sian. Oleh karena itu, kalau sekarang dia serombongan datang-datang lalu
membantu Sim Hong Bu, sungguh hal ini merupakan suatu kecurangan yang membikin malu. Inilah
sebabnya maka dia mencegah keponakannya untuk membantu Hong Bu.
Dan pendekar tinggi besar ini sudah memandang penuh dengan kekaguman karena pertandingan antara
mereka itu sungguh hebat luar biasa. Baru sekaranglah dia dapat mengagumi Ilmu Pedang Koai-liong
Kiam-sut yang diwarisi oleh Hong Bu, akan tetapi dia juga berkesempatan menyaksikan kehebatan suling
emas di tangan dara itu. Hebat sekali! Kedua ilmu itu sungguh-sungguh merupakan ilmu yang jarang dapat
ditemukan tandingannya di dunia ini.
Akan tetapi hanya Kam Hong seorang yang sudah dapat mengenal kedua ilmu itu dan dapat mengikuti
pertandingan itu dengan amat jelas yang melihat kenyataan betapa Sim Hong Bu kini selalu mengalah
terhadap Ci Sian! Jika tadi dia sendiri mengalah terhadap Sim Hong Bu, mengalah sedikit saja, sekarang
Hong Bu mengalah secara keterlaluan! Pemuda itu tidak pernah melakukan serangan yang sungguhsungguh,
sebaliknya, Ci Sian malah telah melakukan serangan dengan jurus-jurus terampuh dari Ilmu Kimsiauw
Kiam-sut.
Sementara itu, pada saat Hong Bu melihat datangnya susiok-nya dan dua orang wanita yang tidak
dilihatnya jelas karena dia didesak hebat oleh lawan, hatinya terguncang dan kedukaannya memuncak,
maka ketika itu gerakannya menangkis kurang tepat dan kurang kuat.
“Tukkk!”
Ujung suling itu mengenai lehernya, dan biar pun dia sudah miringkan kepalanya, masih saja ujung suling
itu mengenai pangkal lehernya. Serangan ini hebat sekali dan Hong Bu terjungkal dan terbanting, tak
mampu bergerak lagi!
“Suheng....!” Cu Pek In menjerit dan menubruk tubuh itu.
Sedangkan Kam Hong sudah menarik tangan Ci Sian yang juga terbelalak memandang ke arah Hong Bu.
Wajahnya agak pucat karena ia tidak bermaksud membunuh Hong Bu dan kini melihat pemuda itu
terjungkal, hatinya merasa ngeri karena ia khawatir kalau-kalau ia telah kelepasan tangan membunuh
orang yang sebenarnya amat disukainya itu!
Pek In sudah menangis sambil memeluk tubuh Hong Bu yang tidak bergerak seperti mayat itu. Mata
pemuda itu mendelik dan mukanya pucat, napasnya berhenti! Cu Kang Bu cepat memeriksa dan mengurut
beberapa jalan darah di dada, punggung dan leher, maka nampaklah Hong Bu mengeluh lirih dan
napasnya pun berjalan kembali.
“Dia akan sembuh....,” kata Cu Kang Bu dan melihat ini, Kam Hong dan Ci Sian merasa lega bukan main.
“Maafkan kami!” kata Kam Hong sambil menjura ke arah Cu Kang Bu, kemudian dia memegang tangan
sumoi-nya dan menariknya pergi meninggalkan tempat itu.
Kam Hong maklum bahwa jika dibiarkan sumoi-nya berada di situ lebih lama lagi, bukan tak mungkin timbul
kesalah pahaman baru dengan keluarga Cu. Dia tidak menghendaki hal ini, apa lagi di situ terdapat pula
Yu Hwi, bekas tunangannya dan hal ini pun membuat dia merasa tidak enak sekali. Dan agaknya Cu Kang
Bu juga tidak ingin mencari urusan. Dia sudah melihat betapa jago dari keluarga Cu telah kalah dan dia
tahu bahwa melawan Pendekar Suling Emas dan sumoi-nya yang amat lihai itu dia dan isterinya tidak akan
menang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu Pek In sudah memondong tubuh Hong Bu. “Mari kita mencari tempat yang baik untuk merawatnya,”
kata gadis itu kepada pamannya.
“Baik, akan tetapi biarkan aku memondongnya, Pek In,” kata pamannya.
“Biarlah, Paman, biarlah aku memondongnya,” Pek In berkata dan mendekap tubuh pemuda itu seperti
orang memondong anak kecil saja. Bagi seorang gadis seperti Pek In yang memiliki kepandaian cukup
tinggi, memondong tubuh seorang dewasa bukan hal yang sukar.
Akhirnya mereka menemukan sebuah pondok kecil terpencil di luar dusun. Mereka menyewa pondok ini
dari kakek petani yang memilikinya dan Pek In lalu merebahkan Hong Bu di atas dipan bambu sederhana
yang berada di dalam kamar. Cu Kang Bu dan Yu Hwi segera memeriksa kembali keadaan pemuda itu.
Mereka adalah suami isteri yang berilmu tinggi, bahkan Yu Hwi mengerti pula tentang ilmu pengobatan.
Totokan suling tadi memang hebat, akan tetapi untung meleset dari urat penting yang dapat membawa
maut. Totokan itu menggetarkan jantung, akan tetapi karena tubuh Hong Bu memang amat kuat, maka
tidak sampai membahayakan dirinya, walau pun membuatnya roboh pingsan dan sekitar pundak dan
pangkal leher menjadi kebiruan karena ada otot yang pecah.
Cu Kang Bu dan isterinya lalu mencari obat ke Lok-yang, sedangkan Pek In menjaga pemuda itu dengan
penuh perhatian. Pek In yang terus menjaga dan meminumkan obat sedikit demi sedikit, menjaga siang
dan malam dan merawatnya penuh kasih sayang sehingga melihat ini, Cu Kang Bu dan Yu Hwi merasa
terharu bukan main. Baru pada keesokan harinya, pernapasan Hong Bu berjalan seperti biasa dan
mukanya yang tadinya pucat itu menjadi agak kemerahan kembali.
Hari telah larut ketika Hong Bu mengeluh lirih. Pek In cepat mendekatinya, duduk di tepi dipan dan meraba
dahi pemuda itu, lalu mempergunakan sapu tangan untuk mengusap keringat yang membasahi dahi dan
leher. Pemuda itu telah berkeringat dan menurut paman dan bibinya, kalau pemuda itu sudah
mengeluarkan keringat berarti akan segera sembuh. Bukan main girang hati Pek In dan ia menatap wajah
yang tampan itu dengan penuh kemesraan.
Kedua mata itu terbuka perlahan, lalu berkedip-kedip karena agak silau oleh sinar matahari yang
memasuki kamar lewat jendela. Kemudian, setelah mata itu agak terbiasa, Hong Bu memandang kepada
Pek In, lalu berkata lirih, “Siapa Nona....?”
Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek In tertawa geli, akan tetapi ia segera teringat bahwa semenjak
menjadi suheng-nya, barulah sekali ini Hong Bu melihat ia berpakaian sebagai seorang wanita dengan
rambut digelung ke atas.
Pek In tersenyum manis. “Coba kau terka, siapa aku ini?” Suaranya terdengar merdu sekali karena hatinya
riang melihat pemuda itu telah siuman dan tampak sehat.
“Seperti.... seperti tak asing bagiku....” Hong Bu mengerutkan alisnya. Memang gadis ini telah dikenalnya!
Akan tetapi dalam detik-detik pertama dia lupa lagi siapa ia. Akan tetapi dia segera menepuk dahinya.
“Sumoi....! Ahhh, benar, engkau Sumoi Cu Pek In....!”
Pek In tertawa dan menutupi mulutnya. “Aku sudah khawatir kalau engkau tidak akan mengenalku,”
katanya tertawa.
Hong Bu juga tertawa. “Siapa dapat mengenalmu? Engkau telah menjadi seorang gadis yang.... manis
sekali!”
Cu Pek In cemberut. “Apa kau kira biasanya aku bukan seorang gadis?”
Hong Bu baru sadar bahwa ia telah kesalahan bicara. “Maaf, bukan begitu maksudku.... eh, maksudku....”
memang baru sekarang inilah dia menyadari bahwa sumoi-nya adalah seorang gadis, seorang gadis yang
cantik manis. Mungkin biasanya dia hampir tidak memperhatikan Pek In karena gadis itu baginya seperti
adik seperguruan biasa saja, hampir seorang saudara atau kawan baik laki-laki karena gadis itu selalu
berpakaian pria.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Maksudmu bagaimana?” Pek In menggodanya.
“Maksudku.... ehhh, di mana aku ini? Apa yang telah terjadi? Ahhh....”
Dan Hong Bu bangkit duduk dengan wajah muram. Teringatlah dia akan semua itu, akan pertandingannya
melawan Ci Sian dan betapa karena mengalah maka ia terkena totokan suling emas.
“Sekarang engkau sudah ingat, Suheng?” tanya Pek In halus, suaranya mengandung kekhawatiran.
Pemuda itu mengangguk dan menatap wajah sumoi-nya. “Kiranya aku belum mati....”
“Engkau nyaris tewas, Suheng. Kata Paman, kalau sedikit saja ke atas, mengenai urat penting, engkau
takkan tertolong lagi. Menurut Paman dan Bibi, agaknya gadis itu memang sengaja tidak membunuhmu....”
“Hemm...., mana Susiok Cu Kang Bu?”
“Dia dan Bibi sedang berada di luar tadi....”
Akan tetapi pada saat itu, Cu Kang Bu dan Yu Hwi memasuki kamar dan mereka berdua merasa girang
melihat betapa Hong Bu telah siuman dan nampak sehat kembali. Hong Bu cepat memberi hormat kepada
suami isteri itu dan berkata dengan suara penuh penyesalan,
“Susiok, harap maafkan bahwa teecu tidak berhasil memenuhi pesan Suhu sehingga teecu kalah ketika
melawan pewaris Kim-siauw Kiam-sut.”
Cu Kang Bu menarik napas panjang. “Aku sudah menyaksikan pertandingan itu dan aku tidak
menyalahkanmu, Hong Bu. Memang hebat sekali Ilmu Suling Emas itu, tiada keduanya di dunia ini.
Bagaimana pun juga, kita harus bijaksana dan dapat melihat kelemahan sendiri. Aku tidak setuju dengan
pendapat kakakku yang berkeras hendak membalas kekalahan. Biar pun kedua ilmu itu bersumber dari
keluarga kita, akan tetapi jelaslah bahwa Ilmu Suling Emas ini jauh lebih tua dan tidak mengherankan kalau
lebih kuat dari pada Koai-liong Kiam-sut yang tercipta ratusan tahun kemudian. Sudahlah, Hong Bu, tidak
perlu hal itu dibuat menjadi beban batin dan rasa penasaran. Bagaimana pun juga, harus kita akui bahwa
mereka berdua itu adalah pendekar-pendekar yang hebat.”
Atas bujukan Cu Kang Bu, akhirnya Sim Hong Bu mau untuk ikut kembali ke lembah. Bahkan Cu Kang Bu
yang berwatak jujur itu menambahkan pula secara blak-blakan, di depan Pek In.
“Engkau tentu masih ingat akan pesan Twako bahwa dia menghendaki agar engkau dan Pek In berjodoh,
Hong Bu. Kurasa hal itu sangat baik, dan kalau memang engkau menyetujui, marilah kita segera
langsungkan saja pernikahan itu di sana. Usia Pek In sudah cukup untuk segera membentuk rumah tangga
denganmu.”
Mendengar ucapan itu otomatis Hong Bu menoleh dan memandang kepada Pek In. Sejenak mereka saling
pandang, akan tetapi Pek In lalu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Dan Hong Bu
mempunyai perasaan yang aneh. Mengapa baru sekarang dia seolah-olah baru melihat Pek In? Seorang
gadis yang amat manis, dan dia mendengar betapa gadis ini merawatnya sehari semalam tanpa pernah
beranjak dari sampingnya, tidak makan tidak tidur.
Dia tahu benar betapa besar rasa cinta kasih sumoi-nya ini terhadap dirinya dan dia selama ini tidak
memperhatikan karena keadaan Pek In yang selalu berpakaian seperti pria itu seolah-olah memiliki daya
tolak yang besar. Akan tetapi sekarang lain sekali keadaannya. Gadis itu ternyata memiliki daya tarik yang
cukup kuat dan terus terang saja, dia suka melihat wajah yang manis itu, bentuk tubuh yang padat, indah
dan menggairahkan sebagai wanita itu. Dan dia pun kini sudah tidak mempunyai harapan lagi terhadap diri
Ci Sian. Mengapa tidak? Kalau dia menolak, apa pula alasannya? Dan penolakannya tentu akan membuat
Pek In merasa sengsara, di samping membuat hubungannya dengan keluarga Cu menjadi hambar.
“Baiklah, Susiok. Akan tetapi usul Susiok itu mengingatkan kepada teecu bahwa untuk memperoleh doa
restu dari arwah ayah teecu, selagi teecu berada di Propinsi Ho-nan ini, sebaiknya kalau teecu
mengunjungi makam ayah dan bersembahyang di sana.”
“Tentu saja, itu baik sekali! Di manakah makam ayahmu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di dekat kota Sin-yang, di selatan Sungai Huai.”
“Baik, kalau begitu mari kita pergi beramai ke sana, aku pun ingin memberi hormat kepada makam
ayahmu,” kata Cu Kang Bu yang tidak ingin kehilangan lagi murid keponakannya itu kalau mereka harus
berpisah lagi.
Maka berangkatlah mereka meninggalkan dusun itu menuju ke selatan. Tubuh Hong Bu yang kuat itu
membuat dia sembuh kembali dalam waktu singkat dan beberapa hari kemudian dia sudah pulih kembali
seperti biasa…..
********************
“Ci Sian, sungguh aku menyesal sekali mengapa engkau sampai melukai Hong Bu seperti itu, nyaris saja
dia tewas di tanganmu,” kata Kam Hong ketika mereka berjalan meninggalkan lembah itu.
Ci Sian merasa ngeri mendengar ini dan ia pun bersungut-sungut, “Habis hatiku mengkal sekali sih!”
“Kenapa? Bukankah dia hanya memenuhi tugas yang diperintahkan gurunya untuk mengadu ilmu
denganku? Dan bukankah dia sudah mengaku kalah? Kenapa engkau mendesaknya sehingga
melukainya, Ci Sian? Padahal, engkau sendiri tentu sudah tahu benar betapa selama dalam perkelahian
melawanmu itu dia terus mengalah. Ahhh, kenapa engkau begitu kejam kepadanya, Ci Sian? Engkau pasti
tahu bahwa dia amat mencintamu....”
“Suheng!” Ci Sian berkata dengan suara membentak sehingga mengejutkan hati Kam Hong. “Justru itulah
yang membikin hatiku jengkel!”
Kam Hong memandang dengan terheran-heran. “Apa katamu? Kau jengkel karena dia mencintamu?”
“Bukan!”
“Habis apa? Apakah engkau jengkel karena dia mentaati perintah gurunya dan lalu menantangku?”
“Juga tidak!”
“Habis, apa yang membuatmu jengkel?”
“Karena dia berani melamarku!”
“Ah, lebih aneh lagi itu. Dia melamarmu adalah sudah wajar, karena dia mencintamu, dan kulihat dia
memang seorang pemuda pilihan yang hebat. Aku pun masih merasa heran serta penasaran mengapa
engkau tidak menerima pinangannya dan malah marah-marah, padahal pinangan itu wajar saja?”
Tiba-tiba Ci Sian memandang kepada suheng-nya dengan sinar mata muram. “Suheng, mengapa engkau
begitu membenciku?”
“Ehhh?” Kam Hong memandang bengong dan terheran.
“Engkau sedemikian membenciku sehingga engkau ingin agar aku meninggalkanmu. Begitukah? Engkau
seperti mendorongku untuk menerima pinangan Hong Bu. Itulah yang membuatku jengkel!”
Kam Hong memandang dengan jantung berdebar. Tak salah lagi, Ci Sian mencintanya! Dia berusaha
untuk menyangkal kenyataan ini, untuk membantah hatinya sendiri, untuk mendorong sumoi-nya agar
berjodoh dengan pemuda yang lebih patut menjadi sisihan Ci Sian, yang sama mudanya. Akan tetapi
ternyata itu malah mendatangkan kemarahan di dalam hati Ci Sian!
“Kalau begitu maafkanlah aku, Sumoi. Maksudku baik....”
“Sudahlah, Suheng, harap jangan bicarakan itu lagi. Aku pun menyesal sekali telah merobohkan Hong Bu.
Sebenarnya aku suka kepadanya. Masih untung bahwa dia tidak tewas olehku tadi. Aku menyesal.”
Kam Hong percaya. Dari suaranya saja jelas terbukti bahwa sumoi-nya benar-benar menyesal dan
sebetulnya sumoi-nya sama sekali tidak membenci Hong Bu. Hanya karena Hong Bu sudah meminangnya,
dunia-kangouw.blogspot.com
dan karena dia sendiri seperti menyetujui dan mendorong, maka hal itu mendatangkan kemarahan di hati
sumoi-nya.
“Baiklah, Sumoi. Apakah kita jadi membeli perahu?”
“Tidak, sudah hilang seleraku untuk melakukan perjalanan melalui air. Kita berpesiar saja di Pegunungan
Fu-niu-san ini, aku mendengar bahwa pemandangan di situ amat indahnya.”
“Benar, Sumoi. Dan bambu-bambu dari Fu-niu-san amat terkenal. Banyak terdapat bambu-bambu yang
indah dan aneh-aneh bentuknya di pegunungan ini.”
Mereka pun lalu melakukan perjalanan seenaknya di pegunungan itu, dan kalau malam mereka bermalam
di hutan-hutan. Mereka tidak kekurangan makanan karena terdapat dusun-dusun berpencaran di
pegunungan itu di mana mereka dapat membeli buah-buah dan juga daging yang mereka masak di rumah
para penduduk dusun.
Pada suatu pagi, ketika mereka keluar dari sebuah dusun di lereng timur setelah malam tadi mereka
bermalam di dusun itu, tiba-tiba Ci Sian menuding ke depan. “Suheng, bukankah itu ada orang datang?”
Kam Hong juga sudah melihatnya. Pagi itu kabut tebal memenuhi lereng sehingga yang nampak hanya
bayangan berlari dari depan, kadang-kadang nampak kadang-kadang tidak, tergantung tebal tipisnya kabut
yang lewat dengan cepat seolah-olah kabut-kabut itu ketakutan oleh munculnya sinar matahari di balik
puncak.
Akhirnya bayangan itu tiba di depan mereka dan terkejut ketika saling mengenal. Yang datang itu bukan
lain adalah Jenderal Muda Kao Cin Liong! Kalau Kam Hong dan sumoi-nya terkejut, sebaliknya Cin Liong
tersenyum gembira sekali melihat mereka. Cepat jenderal yang berpakaian preman itu menjura dengan
hormat sambil berseru, “Ahhh, akhirnya saya dapat juga bertemu dengan Ji-wi setelah dengan susah
payah mencari jejak Ji-wi! Akan tetapi, tidak saya sangka akan bertemu dalam kabut ini sehingga agak
mengejutkan juga.”
“Kiranya Kao-goanswe yang datang!” kata Kam Hong dan tersenyum kagum.
Pemuda ini adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Hati siapa takkan kagum
memandangnya? Seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, memiliki ilmu kepandaian yang
jarang ditemukan tandingannya, dan semuda itu telah menjadi seorang panglima, seorang jenderal!
“Ah, selamat datang, Kao-goanswe, dan ada kepentingan besar apakah maka engkau bersusah payah
mencari kami?”
“Harap Kam-taihiap jangan menyebut saya goanswe, biar pun saya seorang jenderal akan tetapi pada saat
ini saya tidak bertugas dan lihat saja pakaianku adalah orang biasa, bukan? Dan keperluanku adalah
keperluan pribadi, bukan sebagai seorang berpangkat.”
Kam Hong tersenyum. “Baiklah, Saudara Kao Cin Liong. Nah, keperluan apakah yang kau bawa?”
Cin Liong memandang kepada Ci Sian dan tersenyum. Gadis itu juga tersenyum karena sudah lama ia
mengenal Cin Liong. “Bagaimana kabarnya, Nona Bu? Kuharap engkau sehat-sehat saja.”
“Terima kasih, aku baik-baik saja, Saudara Cin Liong. Ada keperluan apakah engkau datang mencari
kami?”
Mereka saling berpandangan dan teringatlah mereka akan pengalaman mereka berdua ketika bersamasama
beraksi di dalam benteng pasukan Nepal yang dipimpin oleh Nandini, ibu Siok Lan. Kalau
mengenangkan masa lalu, di dalam hati keduanya ada suatu kehangatan karena pada saat itu mereka
berjuang sehidup semati menghadapi lawan-lawan tangguh.
Betapa pun juga, kini, menghadapi pengakuan cintanya, dan peminangannya, Cin Liong si jenderal yang
tidak gentar menghadapi ribuan orang pasukan musuh itu tiba-tiba merasa badannya panas dingin dan
jantung berdebar tegang! Sampai lama dia tidak mampu menjawab, hanya memandang kepada Ci Sian
dengan bingung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam Hong yang bepandangan tajam itu agaknya dapat menduga bahwa jenderal muda itu ingin
menyampaikan sesuatu kepada Ci Sian, maka dia pun lalu berkata dengan suara halus, “Kalau engkau
hendak bicara berdua dengan Sumoi, silakan, Saudara Cin Liong, aku akan menyingkir lebih dulu....”
“Ahhh, tidak.... saya.... saya hendak bicara denganmu, Kam-taihiap!” kata Cin Liong dengan gugup.
“Kalau begitu, biarlah aku saja yang menyingkir!” kata Ci Sian dan sebelum ada yang menjawab, ia sudah
pergi dari tempat itu, agak menjauh dan melihat-lihat pemandangan alam yang indah.
“Nah, sekarang bicaralah Saudara Kao Cin Liong,” kata Kam Hong sambil tersenyum untuk memberanikan
hati pemuda itu.
“Kam-taihiap, terus terang saja.... kedatangan saya mencari Taihiap berdua adalah untuk melamar Nona
Bu Ci Sian!”
Hampir saja Kam Hong tertawa mendengar ini. Memang tadi, melihat sikap Cin Liong, dia sudah setengah
menduga bahwa jangan-jangan pemuda ini hendak menyatakan cintanya kepada Ci Sian, maka tadi dia
mengusulkan untuk menyingkir kalau pemuda itu hendak bicara berdua dengan sumoi-nya. Akan tetapi dia
tidak percaya akan dugaannya sendiri. Dan ternyata memang benar! Bahkan jenderal muda ini
mengajukan lamaran. Hampir sukar untuk dapat dipercaya bagaimana bisa begini kebetulan! Dalam waktu
beberapa hari saja, Ci Sian sudah dilamar oleh dua orang pemuda! Sumoi-nya itu sungguh ‘laris’, dihujani
lamaran dan yang melamarnya adalah pemuda-pemuda pilihan.
Cin Liong ini dalam segala-galanya bahkan tidak kalah dibandingkan dengan Hong Bu, maka timbullah
harapan di dalam hatinya. Siapa tahu kalau-kalau sumoi-nya akan suka menjadi jodoh pemuda ini. Dia
sendiri akan ikut merasa bangga!
Menjadi mantu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Dan pemuda ini pun jujur, seperti Hong Bu. Hanya
bedanya, karena pemuda ini terdidik di kota raja, dan hidup sebagai seorang berkedudukan tinggi, tentu
saja pemuda ini masih terikat oleh kesusilaan sehingga merasa malu dan sungkan menyatakan isi hatinya.
Berbeda dengan Hong Bu yang sejak kecil hidup setengah liar, maka kejujurannya lebih terbuka tanpa
halangan sesuatu lagi.
“Ahh, Saudara Kao! Bagaimana ini? Aku hanyalah suheng dari Sumoi Bu Ci Sian, bagai mana engkau
melamarnya kepadaku? Bukankah seharusnya kepada ayahnya....?”
“Tentu saja saya tidak berani melampaui Bu-locianpwe, Taihiap. Sebelum saya mencari Taihiap berdua,
saya bersama orang tua saya pernah datang mengajukan lamaran kepada Bu-locianpwe dan beliau sendiri
yang menganjurkan agar saya mencari Ji-wi dan langsung saja meminang kepada Nona Bu atau kepada
Kam-taihiap sebagai walinya.”
“Hemm...., Bu-locianpwe sungguh menaruh kepercayaan besar kepadaku. Saudara Kao Cin Liong, kalau
tidak salah, menurut penuturan Sumoi, kalian berdua telah lama sekali saling berkenalan, bahkan telah
menjadi sahabat baik dan pernah berjuang bahu-membahu, bukan? Aku yakin bahwa yang mendorongmu
mengajukan pinangan ini tentu berdasarkan hatimu yang mencinta, bukan?”
Wajah Cin Liong menjadi agak merah, akan tetapi dengan tenang dia menatap wajah pendekar itu dan
menjawab, “Benar demikian, Taihiap.”
“Dan engkau tentu tahu bahwa aku atau siapa pun juga tidak akan dapat memaksa Sumoi, dan hal itu
tergantung sepenuhnya kepadanya. Akan tetapi, aku tidak tahu bagai mana dengan isi hatinya. Apakah ia
mencintamu, Saudara Kao? Maafkan pertanyaanku ini.”
Cin Liong menggeleng kepala. “Aku tidak tahu dengan pasti....,” katanya lirih seperti kepada dirinya sendiri,
kemudian dia memandang kembali kepada pendekar itu. “Terus terang saja, kami tidak pernah bicara
tentang cinta, Taihiap, akan tetapi kalau saya melihat sinar matanya, saya kira.... yah, mudah-mudahan ia
pun mencinta saya seperti saya mencintanya selama ini.”
“Hemm.... kalau begitu, kiranya sebaiknya kalau engkau mengatakannya kepadanya sendiri, karena
keputusannya terserah kepadanya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Cin Liong nampak gugup. “Ahhh, sukar sekali saya dapat bicara kalau di depannya, Taihiap. Ia
seorang berwatak keras, saya sudah mengenalnya baik-baik, dan sikap keras itu justru merupakan satu di
antara sifatnya yang menarikku. Saya.... saya mohon bantuan, Taihiap, sukalah menjadi perantara
membuka percakapan tentang itu. Kalau sudah dimulai, agaknya saya akan berani mengemukakan
kepadanya.”
Kam Hong mengerutkan alisnya. Sungguh tugas yang berat. Dia sendiri, walau pun dilawannya sendiri
dengan melihat kenyataan bahwa dia tidak pantas menjadi jodoh sumoi-nya, dia telah jatuh cinta kepada
dara itu. Dan kini dia diminta tolong untuk menjadi perantara perjodohan dara itu dengan orang lain! Akan
tetapi, bukankah ini yang dia kehendaki? Bukankah dia akan merasa girang kalau Ci Sian menjadi jodoh
Cin Liong, bahkan lebih baik malah dari pada menjadi jodoh Hong Bu?
Ci Sian mungkin akan marah kepadanya. Akan tetapi biarlah. Ia harus dapat mengambil keputusan yang
tepat dan melihat kenyataannya bagaimana. Dia masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa sumoi-nya
hanya mencinta dia seorang. Agaknya tidak mungkin, kalau di samping dia masih terdapat pemudapemuda
seperti Hong Bu dan Cin Liong yang mencintanya, bahkan mengajukan pinangan kepadanya!
“Sumoi....!” dia memanggil, suaranya terdengar agak gemetar.
Gadis itu menoleh. Melihat suheng-nya menggapai, ia kemudian menghampiri setengah berlari. Nampak
masih kekanak-kanakan ketika ia berlari-lari itu, akan tetapi juga manis sekali. Ci Sian tersenyum
memandang kepada Cin Liong.
“Nah, sudah selesaikah urusan besar yang teramat penting itu?”
“Belum, Sumoi, bahkan baru dimulai.”
“Ehhh, kalau begitu mengapa memanggil aku?”
“Karena urusan ini memang mengenai dirimu. Duduklah, Sumoi, dan dengarlah baik-baik,” kata Kam Hong.
Ci Sian mengerutkan alisnya, sejenak memandang kepada Cin Liong dengan sinar mata tajam penuh
selidik, akan tetapi ia duduk juga di atas batu besar yang banyak terdapat di situ.
“Ada apa sih, begini penuh rahasia?”
“Begini, Sumoi. Saudara Kao Cin Liong ini pernah pergi berkunjung kepada Ayahmu di Cin-an bersama
ayah bundanya, lalu sekarang ia mencari kita. Ada pun keperluannya adalah untuk meminangmu, Sumoi,
engkau dilamar untuk menjadi isteri Saudara Kao Cin Liong....”
“Suheng! Lagi....? Engkau.... engkau....,” dan Ci Sian lalu menangis!
Tentu saja Cin Liong terkejut bukan main sedangkan Kam Hong hanya termenung saja, maklum bahwa
kembali dia telah menyakiti hati sumoi-nya.
“Nona Bu Ci Sian, maafkanlah aku....” kata Cin Liong. “Sungguh mati, aku meminangmu dengan hormat,
sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaanmu....”
“Kau tahu apa tentang menyinggung hati? Kalian laki-laki sungguh memandang rendah kaum wanita!
Kenapa laki-laki tidak mau tahu tentang perasaan hati wanita? Kenapa tanpa meneliti perasaan wanita,
mudah saja datang melamar seolah-olah wanita itu barang dagangan yang boleh saja ditawar orang
seenak perutnya? Kam-suheng, kalau memang engkau begitu benci kepadaku, bilang saja terus terang
dan aku pasti akan pergi dari sampingmu, meski apa jadinya denganku! Tidak perlu engkau mendorongku
untuk menjadi isteri orang lain! Tak kusangka kau.... sekejam ini....”
“Sumoi, sama sekali tidak begitu....”
“Nona Bu, sekali lagi maafkanlah aku....”
Tapi Ci Sian sudah mencabut sulingnya dan menghadapi Cin Liong sambil menantang. “Jenderal Kao Cin
Liong! Engkau telah meminangku melalui ayah kandungku, juga engkau telah meminangku kepada Kamsuheng
yang agaknya tidak peduli kepadaku dan ingin melihat aku menjadi isteri siapa pun juga dan mau
dunia-kangouw.blogspot.com
memberikan aku kepada pria pertama yang mau datang meminangku. Sekarang engkau dengarlah
syaratku. Aku mau menjadi isterimu asal engkau dapat mengalahkan aku dan dapat menewaskan aku di
sini. Majulah!”
Wajah Cin Liong menjadi pucat seketika dan dia merasa jantungnya seperti ditusuk. Dia telah salah
sangka! Dara ini tidak mencintanya, melainkan mencinta Kam Hong! Akan tetapi agaknya Kam Hong tidak
tahu akan hal ini, maka pendekar itu seperti mendorong sumoi-nya untuk menerima pinangan orang lain.
Tapi dia sendiri dapat melihat dengan jelas dan tahulah dia mengapa Ci Sian marah-marah, yaitu karena
sikap Kam Hong itulah. Dia menarik napas panjang dan menundukkan mukanya.
“Sumoi, harap engkau jangan bersikap begini!” Kam Hong menegur. Dia jadi terkejut sekali mendengar
tantangan Ci Sian terhadap Cin Liong.
Akan tetapi tegurannya ini bagaikan minyak yang menyiram api, membuat kedukaan dan kemarahan
dalam hati Ci Sian menjadi semakin berkobar. Dengan kedua mata yang agak kemerahan oleh karena
menangis tadi, ia menoleh dan memandang wajah suheng-nya.
“Suheng, dari pada engkau mendorong-dorongku untuk menjadi isterinya, lebih baik engkau membelanya
sekalian dan biarlah aku mati di tangan kalian. Majulah dan keroyoklah aku!”
“Sumoi....!”
Cin Liong sudah maju mendekati Ci Sian dan menjura, mukanya masih pucat akan tetapi dengan
gagahnya pemuda ini menekan perasaan nyeri dan mencoba untuk tersenyum.
“Nona Bu Ci Sian, ternyata aku telah buta. Telah begitu lama aku mengenalmu, akan tetapi ternyata aku
salah menafsirkan sikapmu kepadaku. Engkau baik kepadaku bukan karena cinta, dan cintaku bertepuk
tangan sebelah. Aku tahu bahwa engkau telah mencinta orang lain, Nona, dan memang orang itu patut
menerima cinta kasihmu karena dia adalah seorang yang hebat, cintanya kepadamu tanpa pamrih untuk
dirinya sendiri dan dia hanya mendambakan kebahagiaanmu. Kam-taihiap, Nona Bu, selamat tinggal,
maafkanlah aku sebanyaknya dan semoga kalian berdua berbahagia.” Tanpa menanti jawaban, Cin Liong
lalu meloncat pergi dari situ meninggalkan mereka berdua.
Keadaan menjadi sunyi sekali setelah Cin Liong pergi dan Ci Sian sudah menyimpan sulingnya dan
membalikkan tubuhnya. Kini ia berhadapan dengan Kam Hong, saling berpandangan sampai beberapa
lama dan akhirnya Kam Hong menarik napas panjang dan berkata,
“Sumoi, sungguh kasihan sekali pemuda itu. Dia tidak boleh sekali-kali dipersalahkan karena dia jatuh cinta
kepadamu dan meminangmu, ahhh, dapat kubayangkan betapa hancur rasa hatinya....”
Akan tetapi ucapan ini sama sekali tidak dipedulikan oleh Ci Sian, bahkan seperti tidak didengarnya,
matanya masih menatap wajah suheng-nya dan akhirnya ia pun berkata, “Suheng, benarkah apa yang
dikatakan oleh Cin Liong tadi....?”
“Apa? Kata-kata yang mana maksudmu?”
“Tentang orang yang mencintaku tanpa pamrih untuk dirinya sendiri dan dia hanya mendambakan
kebahagiaanku. Benarkah itu, Suheng?” Di dalam suara ini terkandung nada permohonan dan
pengharapan yang menggetar melalui suaranya.
Sejenak Kam Hong memandang tajam, mereka saling pandang dan akhirnya Kam Hong hanya menarik
napas panjang lalu mengangguk.
“Kam-suheng....!” Ci Sian berseru dan menangis sambil menubruk suheng-nya yang lalu memeluknya.
Dara itu menangis di dada Kam Hong yang menggunakan tangannya untuk mengelus rambut yang hitam
halus itu. Air mata membasahi bajunya dan menembus membasahi kulit dadanya, bahkan terasa seolaholah
menembus kulit dan menyiram perasaan, menimbulkan kesejukan seperti bunga kekeringan
menerima curahan air hujan.
“Suheng....!” akhirnya Ci Sian dapat meredakan tangisnya dan bertanya, suaranya lirih tanpa mengangkat
mukanya dari dada pendekar itu, “Kalau benar engkau mencintaku seperti cintaku kepadamu.... ya, tak
dunia-kangouw.blogspot.com
perlu aku mengaku, aku memujamu sejak dahulu, Suheng.... kalau benar engkau cinta padaku, kenapa
sikapmu begitu? Kenapa engkau seperti mendorongku untuk menerima pinangan orang lain?”
Kam Hong mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu, dekapannya menjadi kuat untuk
beberapa lama, kemudian mengendur lagi dan dia pun berkata, “Sumoi, sejak aku merasakan bahwa
hubungan antara kita berubah.... semenjak aku melihat gejala bahwa engkau jatuh cinta kepadaku seperti
cinta seorang wanita terhadap pria, dan aku pun dapat melihat kenyataan bahwa perasaan hatiku pun
condong seperti itu, mencintamu bukan sebagai seorang suheng terhadap sumoi-nya melainkan sebagai
seorang pria terhadap seorang wanita, maka aku menjadi khawatir sekali. Karena itulah maka aku dahulu
sengaja meninggalkanmu bersama Sim Hong Bu....”
Pendekar itu berhenti bicara dan Ci Sian yang tadi mendengarkan penuh perhatian, lalu bertanya, “Akan
tetapi, mengapa, Suheng? Mengapa? Apa salahnya kalau kita saling mencinta sebagai wanita dan pria,
bukan hanya sebagai suheng dan sumoi? Apa salahnya?”
“Ingatkah engkau akan ucapan Cin Liong tadi? Dia bermata tajam dan berotak cerdas, sekilas pandang
saja dia telah dapat menyelami sampai mendalam. Aku mencinta padamu, Sumoi, dan cintaku bukan
hanya untuk menyenangkan diriku sendiri. Aku ingin melihat engkau berbahagia. Aku melihat kenyataan
bahwa aku adalah seorang yang sudah berusia jauh lebih tua dari padamu. Selisih antara kita belasan
tahun! Aku khawatir bahwa kelak engkau akan menyesal dan tidak berbahagia di sampingku. Aku melihat
betapa engkau jauh lebih tepat menjadi sisihan pendekar-pendekar muda seperti Hong Bu atau Cin Liong.
Karena itulah maka aku seperti mendorongmu, aku hanya ingin melihat engkau berbahagia, Sumoi. Nah,
sudah kukeluarkan semua isi hatiku....” Pendekar itu menarik napas panjang, kini hatinya terasa lapang
setelah dia mengeluarkan semua itu.
Ci Sian melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur selangkah, kemudian memandang suhengnya
dengan sinar mata penasaran. “Suheng, kalau aku mencinta hanya karena melihat usia muda, wajah
tampan, kedudukan, harta benda, kepandaian dan semacamnya lagi, berarti aku hanya mencinta semua
keadaan dan sifat itu, bukan mencinta orangnya. Akan tetapi aku mencintamu karena dirimu, karena
engkau adalah engkau, Suheng.... mengapa bicara tentang perbedaan usia segala? Kenapa engkau yang
katanya mencintaku dan ingin melihat aku berbahagia, malah tega meninggalkan aku sendirian,
membiarkan aku merana dan sengsara dan menderita rindu, kemudian malah tega hendak mendorongku
menjadi isteri orang lain? Suheng ingin melihat aku berbahagia, atau ingin melihat aku sengsara?
Kebahagiaan hanyalah apabila aku berada di sampingmu, Suheng!”
“Sumoi, kau maafkan aku....” Dengan penuh keharuan hati Kam Hong lalu merangkul dara itu.
Ci Sian mengangkat mukanya, berdekatan dengan muka suheng-nya dan seperti ada daya tarik sembrani
yang kuat, entah siapa yang bergerak lebih dulu, tahu-tahu mereka telah berciuman dengan mesra.
Cinta asmara bukan sekedar terdorong oleh daya tarik masing-masing antara pria dan wanita, walau pun
tentu saja dimulai oleh suatu daya tarik. Daya tarik itu bisa saja berupa wajah rupawan, kedudukan tinggi,
harta benda, kepandaian, atau keturunan keluarga orang besar. Akan tetapi juga dapat berupa sikap yang
menyenangkan hati yang tertarik, tentu saja sikap ini pun bermacam-macam sesuai dengan selera masingmasing
yang tertarik. Akan tetapi, hubungan kasih sayang barulah mendalam dan juga membahagiakan
orang yang dicintanya apabila ada keinginan dan tindakan-tindakan nyata untuk membahagiakan orang
yang dicinta.
Sebaliknya, cinta asmara yang didorong oleh keinginan menyenangkan diri sendiri sudah tentu akan
bertumbuk kepada banyak hal yang mendatangkan derita. Derita ini timbul karena sekali waktu tentu orang
yang dicintanya itu akan melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak menyenangkan hatinya lagi! Tiada
sesuatu yang kekal di dalam kehidupan ini kecuali cinta kasih!
Seperti kita ketahui, Sim Hong Bu meninggalkan daerah Lok-yang dan pergi menuju ke Sin-yang bersama
Cu Pek In, Cu Kang Bu dan Yu Hwi. Mereka tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka itu telah diawasi sejak
lama dari jauh oleh banyak pasang mata yang bersembunyi-sembunyi. Baru setelah mereka tiba di sebuah
hutan kecil di lereng gunung, mereka berempat merasa heran melihat munculnya belasan orang yang
sudah mengepung mereka.
Empat orang itu bersikap tenang, bahkan Hong Bu tersenyum mengejek dengan hati terasa geli. Orangorang
ini mencari penyakit, pikirnya. Akan tetapi sedikit pun hatinya tidak menjadi marah. Kemarahan jauh
dari hati Hong Bu pada saat itu. Dia telah menemukan kesejukan hati yang baru, setelah dia ‘mengenal’
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek In sebagai seorang gadis yang wajar, sebagai kekasihnya, bahkan lebih dari itu, sebagai tunangannya,
calon isterinya! Dan di dalam perjalanan itu, Cu Kang Bu dan isterinya yang bijaksana memang sengaja
memberi banyak kesempatan kepada mereka untuk berduaan. Hong Bu selalu merasa gembira dan
bahagia. Terlupakanlah sudah kegetiran yang terasa oleh penolakan Ci Sian!
Memang, segala macam perasaan hanya timbul oleh karena permainan pikiran yang mengingat-ingat
belaka. Seperti juga kepuasan yang hanya sebentar, kekecewaan pun lewat bagai angin lalu saja. Suka
dan duka silih berganti seperti awan-awan bergerak di angkasa.
Ketika Hong Bu merasa kecewa dan berduka karena penolakan Ci Sian, hal itu timbul karena pikirannya
mengenang semua itu dan menimbulkan rasa iba diri dan kecewa. Akan tetapi sekarang, begitu pikirnya
penuh dengan kegembiraan karena hasil baru yang amat menyenangkan dan baik dalam hubungannya
dengan Pek In, maka semua kedukaan yang lalu pun lenyap tanpa bekas.
Kita ini, biar pun sudah dewasa, namun masih tiada bedanya dengan anak-anak, hanya badan kita saja
yang tumbuh menjadi besar. Kita masih mudah tertawa dan menangis, seperti kanak-kanak yang mudah
tertawa memperoleh permainan baru dan mudah menangis ketika kehilangan sesuatu yang disenanginya.
Tetapi setiap muncul pengganti yang baru, yang lama, baik yang menyenangkan mau pun yang
menyusahkan, akan terlupa dan hilang tak berbekas. Yang berbeda hanyalah macam permainan itu saja.
Biasanya, kita manusia, di ujung dunia yang mana pun juga, selalu mengejar-ngejar pengulangan
kesenangan atau mencari keadaan yang lebih menyenangkan atau dianggap lebih menyenangkan lagi,
selalu mencoba untuk menjauhi atau menghindari apa saja yang dianggap menyusahkan. Kita ingin hidup
ini penuh dengan yang manis-manis saja. Kita lupa bahwa selama kita mendambakan yang manis, maka
akan bermunculanlah yang pahit, yang getir, yang masam dan sebagainya karena semua itu muncul
apabila yang manis dan kita dambakan itu tidak tercapai.
Itulah romantika hidup. Ya manis, ya pahit, ya getir. Semua itu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan,
yang menjadi isi dari pada kehidupan kita sekarang ini. Mengapa kita tidak menerima semua itu secara
wajar saja? Mengapa mesti bersenang kalau mendapatkan yang manis akan tetapi mengeluh kalau
memperoleh yang pahit? Kalau kita menghadapinya dengan pengamatan mendalam, tanpa penilaian si
pikiran yang selalu mencari manis, mungkin kita akan melihat sesuatu yang ajaib. Benar pahitkah yang kita
anggap pahit itu dan benar maniskah yang kita anggap manis? Apakah akan terasa nikmatnya manis kalau
kita tidak merasakan tidak enaknya pahit? Apakah kita dapat mengenal terang kalau kita tidak mengenal
gelap?
Melihat munculnya belasan orang yang memegang senjata golok dan pedang lalu mengepung tempat itu,
Yu Hwi juga tersenyum lebar seperti melihat sesuatu yang lucu sekali. Akan tetapi tidak demikian dengan
Cu Pek In. Gadis ini mengenal seorang di antara mereka, yaitu orang yang bertubuh tinggi besar berkulit
hitam, usianya sekitar empat puluh tahun, berkumis tebal melintang dan lengan kiri orang itu masih dibalut.
Orang itu bukan lain adalah Koa Cin Gu, guru silat dari Lo-couw yang lebih suka pria tampan dari pada
wanita cantik itu! Maka, melihat orang ini, marahlah Pek In.
“Orang she Koa yang tidak tahu malu! Sudah kupatahkan lengan kirimu engkau masih berani datang
berlagak, apakah harus kupatahkan tulang lehermu?” Sambil berkata demikian, Cu Pek In melangkah maju
ke arah laki-laki tinggi besar itu.
Si Tinggi Besar itu terbelalak. Tentu saja dia tidak mengenal Pek In sebelum dara ini membuka suara dan
sekarang dia memandang, dengan mata terbelalak, “Ahh, kiranya seorang perempuan....?” katanya
perlahan.
Sebelum Pek In dapat turun tangan atau bicara lagi, tiba-tiba Si Tinggi Besar itu dan beberapa orang
kawannya membuat gerakan minggir dan terdengar suara yang tenang dan halus, “Ahhh, kiranya keluarga
Lembah Suling Emas yang berada di sini!”
Pek In tidak jadi menyerang Si Tinggi Besar dan cepat mundur kembali mendekati paman dan bibinya dan
Hong Bu ketika mengenal siapa yang mengeluarkan suara itu. Nampak empat orang berjalan perlahan
memasuki kepungan itu dan ternyata mereka itu adalah Toa-ok Su Lo Ti, Ji-ok Kui-bin Nio-nio, Sam-ok
Ban-hwa Sengjin, dan orang ke empat adalah seorang kakek raksasa yang rambutnya sudah putih semua
dan pakaiannya serba hitam, membawa sebuah kipas merah dan mengipasi lehernya tanpa bicara, akan
tetapi jelas memiliki sikap yang amat berwibawa.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu Kang Bu, isterinya, dan Pek In tidak mengenal kakek ini, akan tetapi Sim Hong Bu terkejut bukan main
ketika mengenal bahwa kakek berpakaian hitam itu bukan lain adalah Hek-i Mo-ong, yaitu manusia iblis
yang pernah menjadi ketua perkumpulan iblis Hek-i-mo itu!
Sementara itu, pada saat Hek-i Mo-ong melihat Hong Bu, wajahnya langsung berubah. Tadinya kakek ini
sama sekali tidak tertarik dan amat memandang rendah kepada orang-orang yang hendak dihukum oleh
Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok. Akan tetapi begitu melihat Hong Bu, tentu saja dia mengenal musuh besar yang
pernah menghancurkan perkumpulannya bersama seorang gadis bersuling emas dengan suheng-nya yang
lihai bukan main itu. Dia merasa girang bukan main, merasa bahwa secara kebetulan dia dapat membalas
dendam atas kekalahannya dikeroyok tempo hari.
“Ha-ha-ha, kiranya engkau bocah setan datang mengantar nyawa!” katanya sambil menudingkan kipasnya,
ke arah muka Sim Hong Bu.
Melihat lagak ini, Pek In yang tidak mengenal lagak Hek-i Mo-ong, menjadi marah. Tunangan atau
kekasihnya dimaki orang bocah setan, tentu saja ia marah.
“Iblis tua bermulut busuk!” katanya dan dia pun sudah mencabut sulingnya dan bersiap menyerang.
“Sumoi, jangan....!” teriak Hong Bu dan cepat dia melompat ke depan.
Akan tetapi, suling itu telah mengeluarkan suara melengking ketika menyambar ke arah kakek itu, berubah
menjadi sinar kuning emas. Melihat gadis ini menggunakan senjata suling emas, kakek itu terkejut dan
mengira bahwa tentu gadis ini mempunyai hubungan dengan gadis yang pernah mengalahkannya
bersama pemuda berpedang biru itu. Maka dia pun menggunakan lengan menangkis sambil mengerahkan
tenaga karena kalau gadis ini selihai gadis yang dulu pernah mengeroyoknya, serangan itu cukup
berbahaya.
“Dukkk....!”
Dan akibatnya, tubuh Pek In terlempar dan tentu ia akan terbanting keras kalau saja pamannya, Cu Kang
Bu, tidak cepat-cepat mengulurkan tangan dan menangkap tangan keponakannya itu, terus dilontarkan ke
atas sehingga Pek In dapat turun dengan enak, tidak sampai terbanting. Pek In terkejut bukan main, dan
kakek itu tertawa. Kiranya gadis itu masih amat lemah, sebaliknya laki-laki tinggi besar yang amat gagah
perkasa itu cukup lihai. Hal ini dapat dilihatnya dengan mudah ketika laki-laki itu menahan jatuhnya gadis
yang terlempar.
Bagaimanakah tiga orang sisa dari Im-kan Ngo-ok itu tahu-tahu telah bisa bersekutu dengan Hek-i Mo-ong
dan agaknya membantu guru silat She Koa itu? Persekutuan antara mereka tidaklah aneh karena Hek-i
Mo-ong sebetulnya masih terhitung susiok (paman guru) dari Toa-ok Su Lo Ti, orang pertama Im-kan Ngook.
Karena keduanya telah mengalami musibah, yaitu Im-kan Ngo-ok selain kehilangan pekerjaan atau
kedudukan sebagai pendukung Sam-thaihouw juga telah kehilangan dua orang anggota termuda yaitu Suok
dan Ngo-ok, sedangkan Hek-i Mo-ong juga telah menderita kekalahan dari sepasang orang muda yang
mewakili pewaris Suling Emas dan Naga Siluman, sedangkan perkumpulannya juga diobrak-abrik, maka
mereka saling membutuhkan dan saling membantu.
Setelah mengadakan pertemuan, maka mereka bersepakat untuk bekerja sama agar nama mereka dapat
diangkat kembali ke dunia kang-ouw. Persekutuan mereka itu tentu saja membuat mereka merasa lebih
kuat dari pada sebelumnya. Ketiga orang anggota Im-kan Ngo-ok itu bagi Hek-i Mo-ong merupakan
pembantu yang amat kuat dan boleh diandalkan, lebih kuat dari pada semua anak buahnya yang telah
diobrak-abrik oleh Sim Hong Bu, Ci Sian dan Kam Hong. Sebaliknya, tentu saja bagi sisa Im-kan Ngo-ok
lebih terasa lagi karena keadaan mereka berempat jauh lebih kuat dari pada ketika mereka masih berlima!
Akan tetapi, urutan tingkat kepandaian mereka sekarang tentu saja mengalami perubahan, yaitu Hek-i Moong
berada paling atas dan Toa-ok menjadi orang ke dua!
Biar pun merasa diri mereka kuat, akan tetapi melihat betapa Pangeran Kian Liong yang bijaksana dan
didukung oleh semua pendekar perkasa itu telah menjadi kaisar dan mengambil sikap tangan besi
terhadap orang-orang dari golongan sesat, maka untuk sementara empat orang datuk ini tidak berani
menonjolkan diri mereka. Dan mereka telah menemukan tempat persembunyian sementara yang amat
baik, yaitu di tempat perguruan Koa Cin Gu, yang baru beberapa tahun bekerja membuka perguruan
dunia-kangouw.blogspot.com
sebagai seorang guru silat. Koa Cin Gu yang tinggal di Lok-yang ini adalah seorang kenalan baik dari Samok
Ban-hwa Sengjin dan merupakan orang yang sudah amat dipercaya.
Demikianlah keadaan para datuk itu mengapa mereka dapat bersekutu dan mengapa mereka membantu
Koa-kauwsu. Guru silat ini dan anak buahnya atau murid-muridnya merupakan pembantu-pembantu untuk
menyelidiki keadaan di kota raja dan kota-kota besar bagi para datuk ini. Oleh karena itu, ketika pada suatu
hari Koa Cin Gu pulang dengan lengan kiri patah, mereka terkejut sekali.
Koa-kauwsu lalu menyuruh para kaki tangannya membayangi dan menyelidiki keadaan ‘pemuda’ itu. Samok
sendiri melakukan penyelidikan dan ketika melihat bahwa yang disebut pemuda oleh Koa Cin Gu itu
adalah Cu Pek In puteri majikan Lembah Suling Emas, bersama Cu Kang Bu yang dikenalnya sebagai
pendekar dan penghuni Lembah Suling Emas, dan juga isteri pendekar itu, Sam-ok terkejut bukan main
dan itulah sebabnya mengapa Koa Cin Gu muncul bersama empat orang datuk itu!
“Lembah Suling Emas merupakan tempat rahasia di Pegunungan Himalaya,” berkata Sam-Ok, terutama
kepada Hek-i Mo-ong, “Dan di sana terkumpul banyak pusaka-pusaka yang tidak ternilai harganya. Bahkan
pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang dihebohkan itu pun dicuri oleh penghuni lembah itu. Mereka
memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan kalau kita dapat menahan tiga orang ini sebagai sandera, tentu kita
akan dapat memaksa mereka untuk menyerahkan pusaka-pusaka itu, terutama Koai-liong Po-kiam kepada
kita.”
Ji-ok dan Toa-ok tentu saja merasa setuju sekali. Mereka berbesar hati dan timbul keberanian mereka
untuk memusuhi para penghuni Lembah Suling Emas setelah kini Hek-i Mo-ong menjadi sekutu mereka.
Hek-i Mo-ong hanya mengangguk-angguk. Orang yang setua dia sebetulnya sudah tak ingin lagi untuk
memperoleh pusaka-pusaka, dan dia sudah terlalu mengagulkan diri sendiri sehingga dia menganggap
bahwa tanpa merampas pusaka orang lain sekali pun dia tidak mempunyai tandingan lagi di dunia ini. Akan
tetapi untuk menyenangkan hati tiga orang pembantu barunya itu, yang dianggapnya sebagai keponakankeponakan
muridnya juga, ia menyetujui untuk bersama mereka menghadang perjalanan tiga orang itu.
Dan dapat dibayangkan betapa kaget dan juga girangnya ketika dia melihat bahwa musuh besarnya
pemuda yang pernah mengeroyoknya bersama dara bersenjata suling emas, ternyata berada pula dalam
rombongan keluarga Lembah Suling Emas itu!
Demikianlah, empat orang datuk itu kini berhadapan dengan empat orang pendekar dari Lembah Suling
Emas yang telah berubah sebutannya menjadi Lembah Naga Siluman itu.
“Hek-i Mo-ong, bagus bahwa engkau masih hidup! Kini aku dapat menyempurnakan usahaku untuk
membunuhmu!” kata Sim Hong Bu, ucapan yang sengaja dikeluarkan untuk memberi tahu kepada Cu
Kang Bu dan Yu Hwi bahwa kakek itu adalah Ketua Hek-i-mo yang terkenal itu.
Dan memang suami isteri ini terkejut bukan main mendengar bahwa kakek yang berpakaian serba hitam ini
adalah kakek iblis yang namanya pernah menjulang tinggi dan menggetarkan dunia Kang-ouw itu.
“Ha-ha, sekali ini engkaulah yang akan mampus di tanganku, bocah setan!” kata kakek itu yang segera
menerjang maju sambil mencabut keluar senjatanya yang sangat menyeramkan, yaitu tombak Long-gepang
(Gigi Srigala). Dia memegang tombak itu di tangan kanan dan dibantu kipas merah di tangan kirinya,
menyerang sambil tertawa nyaring, suara ketawa yang mengandung khikang amat kuatnya.
“Trang-trang-trang....!”
“Wuuuuttt.... cringggg....!”
Dalam segebrakan saja mereka telah saling serang dengan hebat, dan sinar kebiruan dari Koai-liong Pokiam
menyilaukan mata. Melihat bahwa pemuda itu mempergunakan pedang pusaka yang membuat
mereka dahulu ikut pula memperebutkannya, tiga orang dari Im-kan Ngo-ok menjadi girang sekali dan
mereka pun sudah bergerak maju. Tentu saja Cu Kang Bu dan Yu Hwi segera menyambut mereka, juga
Cu Pek In sudah mempergunakan sulingnya untuk membantu paman dan bibinya.
Toa-ok disambut oleh Cu Kang Bu, hingga Yu Hwi terpaksa melawan Ji-ok sedangkan Sam-ok dilawan
oleh Pek In. Tentu saja Hong Bu dan Kang Bu merasa khawatir sekali, karena mereka tahu bahwa
kepandaian kedua orang wanita itu masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan lawan mereka yang
merupakan datuk-datuk yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, mereka tidak berdaya untuk melindungi Yu Hwi dan Pek In. Sim Hong Bu yang ingin
melindungi Pek In, tidak mungkin dapat keluar dari kurungan sinar senjata lawannya yang amat hebat itu,
dan tanpa melindungi gadis itu pun dia sudah harus mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya dan
mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengimbangi Hek-i Mo-ong. Diputarnya pedangnya sehingga
nampak gulungan sinar biru yang bukan hanya melindungi tubuhnya melainkan juga membalas serangan
lawan dengan dahsyat.
Hek-i Mo-ong mengenal kelihaian pemuda ini, maka dia pun tidak berani memandang ringan dan sudah
menggerakkan senjata tombak Long-ge-pang itu dengan gerakan aneh, cepat dan kuat sekali, dibantu oleh
gerakan kipas merahnya yang menotok jalan darah lawan bagaikan patuk burung garuda.
Ban-kin-sian Cu Kang Bu merupakan lawan yang setanding dari Toa-ok Su Lo Ti. Pendekar tinggi besar
yang gagah perkasa ini sudah mencabut senjata cambuknya, yaitu sehelai cambuk baja yang tadinya
menjadi ikat pinggangnya. Walau pun Toa-ok merupakan orang pertama dari Im-kan Ngo-ok dan
merupakan datuk yang amat lihai, akan tetapi menghadapi Cu Kang Bu dia tidak dapat main-main dan
terpaksa harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya kalau dia tidak ingin menjadi korban sambaran
cambuk baja yang berkelebatan membentuk sinar bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk itu.
Julukan Cu Kang Bu adalah Ban-kin-sian (Dewa Bertenaga Selaksa Kati), maka tentu saja tenaganya
hebat luar biasa sehingga sabuk yang diputarnya itu lenyap bentuknya dan menimbulkan angin yang
dahsyat sekali. Namun lawannya adalah Toa-ok, Si Jahat Nomor Satu yang selain memiliki ilmu silat yang
tinggi, juga mempunyai pengalaman yang amat luas. Kedua lengannya yang tidak bersenjata itu penuh
dengan tenaga sinkang sehingga menjadi kebal, akan tetapi dia juga cukup cerdik untuk tidak mengadu
lengannya secara langsung dengan cambuk baja yang digerakkan amat kuatnya. Dia lebih banyak
mengelak dan kalau menangkis, selalu menangkis dari arah samping, juga membalas dengan dorongandorongan
telapak tangannya yang mendatangkan hawa pukulan kuat sekali.
Seperti pertandingan antara Hong Bu dan Hek-i Mo-ong, maka perkelahian antara Cu Kang Bu melawan
Toa-ok ini pun berjalan dengan seru sekali.
Akan tetapi tidak demikianlah pertempuran, antara dua orang wanita itu melawan Ji-ok dan Sam-ok.
Semenjak dari permulaan Yu Hwi sudah terdesak hebat oleh Ji-ok, juga terutama sekali Cu Pek In terdesak
hebat oleh Sam-ok. Tingkat kepandaian mereka kalah jauh dibandingkan dengan Jahat Nomor Dua dan
Jahat Nomor Tiga itu. Cu Kang Bu dan Sim Hong Bu yang melihat ini merasa gelisah sekali namun mereka
berdua tidak berdaya membantu kedua orang wanita itu.
Betapa pun juga, dua orang wanita itu dengan semangat bernyala-nyala melakukan terus perlawanan
dengan gigih. Namun, belum lewat lima puluh jurus, suling di tangan Pek In telah dirampas oleh Sam-ok
dan sebelum dara itu dapat menghindarkan diri, ia sudah roboh tertotok oleh Sam-ok.
“Sumoi....!” Hong Bu berseru dan hendak menolongnya.
Akan tetapi tombak Long-ge-pang di tangan Hek-i Mo-ong berkelebat. Hong Bu terkejut sekali. Gerakannya
untuk menolong Pek In tadi membuatnya lengah dan posisinya lemah, maka biar pun dia sudah menangkis
dengan pedang Koai-liong-kiam, tetap saja ujung tombak Gigi Serigala itu menyerempet pundaknya,
merobek pundak sehingga darah mengucur membasahi bajunya yang robek. Terpaksa Hong Bu membalas
dengan serangan-serangan dahsyat dan dia tak memiliki kesempatan lagi untuk memperhatikan Pek In
karena lawannya benar-benar amat lihai sekali.
Sementara itu, Ji-ok juga sudah mendesak Yu Hwi. Biar pun Yu Hwi telah memutar pedangnya dan
mempergunakan Ilmu Kiam-to Sin-ciang yang membuat tangan kirinya dapat memukul seperti tajamnya
pedang dan golok, namun karena tingkatnya kalah jauh oleh Ji-ok, nenek yang bertopeng tengkorak itu,
maka ia pun didesak terus. Apalagi Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) nenek itu mirip dengan ilmu yang pernah
dipelajarinya dari gurunya yang pertama, yaitu Hek-sin Touw-ong Si Raja Maling.
Akan tetapi, ilmu dari gurunya itu, ialah Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), tidaklah
seganas dan sedahsyat Kiam-ci (Jari Pedang) dari Jahat Nomor Dua ini. Jari tangan nenek itu menyambar
dan seolah-olah mengeluarkan sinar maut yang amat hebat. Dan setelah Pek In itu roboh tertotok, hati Yu
Hwi menjadi gentar dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ji-ok untuk menendang lututnya. Yu Hwi
terpelanting roboh dan Ji-ok mengeluarkan suara ketawa terkekeh, lalu menubruk maju.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sam-ok mengenal temannya ini. Jika Ji-ok sudah mengeluarkan suara ketawa terkekeh lalu menubruk,
berarti nenek itu hendak menurunkan tangan maut membunuh orang. Maka dia pun cepat menubruk dan
menangkis tangan Ji-ok yang sudah menyerang ke arah Yu Hwi yang masih rebah miring itu.
“Dukkk....!” Keduanya terpental ke belakang.
“Ji-ci, jangan bunuh, kita tawan saja!”
Akan tetapi Ji-ok telah menjadi marah bukan main. Baginya, menghalangi kehendaknya berarti
memusuhinya. Apalagi yang menghalanginya itu adalah Sam-ok yang terhitung ‘adik’ dalam urutan tingkat
mereka, maka kemarahannya meluap.
“Sam-te, berani engkau menghalangiku?” Dan nenek itu pun sudah cepat menerjang dan menyerang Samok
dengan tusukan-tusukan jari mautnya!
“Eh, apakah engkau sudah gila?” Sam-ok membentak dan mengelak sambil membalas.
Keduanya sudah berkelahi dengan hebatnya! Dan melihat ini, Toa-ok dan Hek-i Mo-ong menjadi marah.
“Sam-te, jangan berkelahi dengan teman sendiri!” kata Toa-ok.
“Ji-ok, tidak boleh membunuh lawan!” Hek-i Mo-ong juga membentak Ji-ok.
Mendengar bentakan mereka itu, Ji-ok dan Sam-ok masing-masing lalu meloncat ke belakang. Kemudian
Sam-ok melihat betapa Yu Hwi telah meloncar bangun dan meski terpincang-pincang, nyonya ini sudah
siap lagi dengan pedang di tangan. Dia menubruk ke depan, ketika Yu Hwi menggerakkan pedang
menusuk, Sam-ok memukulnya dari samping.
“Plakk!” Pedang terpental dan terlepas dari tangan Yu Hwi dan di lain saat, Sam-ok juga sudah berhasil
merobohkan Yu Hwi.
“Ji-ci, kau tawan dan jaga yang ini, aku yang itu!” kata Sam-ok.
Sementara itu, Cu Kang Bu dan Sim Hong Bu tentu saja sudah melihat betapa Yu Hwi dan Pek In telah
ditawan musuh, maka mereka berdua mengamuk dan memutar senjata dengan sekuat tenaga.
Tiba-tiba kedua pendekar itu mendengar suara Sam-ok yang nyaring, “Ban-kin-sian dan pemuda yang
memegang Koai-liong-kiam! Tahan senjata dan menyerahlah, kalau tidak, aku akan membunuh lebih dulu
dua orang wanita ini!”
Sim Hong Bu dan Cu Kang Bu meloncat ke belakang dan menoleh. Mereka melihat betapa Yu Hwi dan
Pek In telah dibelenggu oleh anak buah Koa-kauwsu, dan sekarang Sam-ok dan Ji-ok mengancam kedua
orang wanita itu dengan tangan di atas kepala. Mereka berdua maklum bahwa sekali saja menggerakkan
tangan, maka nyawa dua orang wanita itu tidak akan dapat tertolong lagi. Melihat isterinya dan
keponakannya diancam, lemaslah rasa tubuh Cu Kang Bu dan dia pun melepaskan senjata sabuk baja.
“Aku menyerah....,” katanya dengan suara lemah.
“Susiok, jangan menyerah!” kata Sim Hong Bu, akan tetapi Kang Bu hanya menggeleng kepala dan mudah
saja ketika dia didekati oleh Sam-ok yang kemudian menotoknya dan pendekar ini pun dibelenggu seperti
Yu Hwi dan Pek In.
“Keparat engkau Hek-i Mo-ong dan iblis-iblis Im-kan Ngo-ok! Sampai mati aku tidak akan menyerah!” kata
Hong Bu dan dia pun sudah menubruk maju dan menyerang Sam-ok yang menotok roboh Kang Bu tadi.
“Orang muda! Kalau engkau tidak menyerah, mereka bertiga ini akan kami bunuh!” teriak Sam-ok sambil
meloncat mundur.
“Bunuhlah! Akan tetapi kalian pun akan mampus semua di tanganku!” bentak Sim Hong Bu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda ini mengerti bahwa terhadap orang-orang macam mereka itu, tidak mungkin mengharapkan
pengampunan. Kalau dia dan Kang Bu menyerah, akhirnya toh mereka itu, juga dia, akan dibunuh. Maka,
dari pada mati dalam keadaan tidak berdaya, mati konyol, lebih mati dalam perlawanan!
Melihat betapa Sim Hong Bu nekad melakukan perlawanan, Cu Pek In dan Yu Hwi memandang dengan
alis berkerut. Mereka merasa penasaran mengapa pemuda itu nekad melawan. Terutama sekali Pek In
memandang dengan mata basah air mata. Salahkah dugaannya selama ini bahwa Hong Bu juga
mencintanya? Setelah kini ia terancam maut, mengapa pemuda itu tak mempedulikan ancaman musuh
yang hendak membunuhnya dan nekad melawan?
Hanya Cu Kang Bu yang memandang dengan sikap tenang. Dia sendiri menyerah karena dia tahu bahwa
kalau dia dan Hong Bu tetap melawan, bukan ancaman kosong belaka kalau pihak musuh hendak
membunuh dua orang wanita itu. Akan tetapi setelah dia sendiri menyerah, dia dapat mengerti mengapa
Hong Bu tetap melawan dan dia pun dapat membenarkan tindakan pemuda itu.
Memang, jika Hong Bu juga menyerah, apakah dapat dijamin bahwa orang-orang jahat ini mau
membebaskan mereka berempat? Setidaknya, setelah dia sendiri menyerah, tentu isterinya dan
keponakannya takkan diganggu, dan Hong Bu masih dapat berdaya melawan musuh kalau tidak ikut
menyerah. Jadi, masih ada harapan. Maka dia pun hanya mengikuti jalannya pertandingan itu dengan hati
tegang walau pun dia nampak tenang saja.
Hong Bu memang nekad. Dia akan melawan sampai mati. Kini, ketiga orang Im-kan Ngo-ok sudah
mengepungnya. Toa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok mengeroyoknya dari tiga penjuru. Akan tetapi Hong Bu sekali
ini benar-benar memperlihatkan kemampuannya. Tubuhnya lenyap diselimuti sinar biru yang bergulunggulung
dan dari gulungan sinar ini kadang-kadang nampak kilatan biru menyambar ke arah musuhmusuhnya.
Biar pun dikeroyok oleh tiga orang datuk yang sakti itu, Hong Bu tidak menjadi gentar dan permainan Ilmu
Pedang Koai-liong Kiam-sut yang dimainkan dengan pengerahan seluruh tenaga itu memang dahsyat luar
biasa, mengeluarkan suara mengaum-aum seperti seekor naga mengamuk dan juga membawa angin
berpusing yang sangat kuatnya. Betapa pun lihainya ketiga orang dari Im-kan Ngo-ok itu, menghadapi ilmu
pedang yang demikian hebatnya, mereka tidak dapat mendekati pemuda itu.
Melihat ini, Hek-i Mo-ong merasa penasaran sekali. Dia sendiri pernah dikalahkan oleh pemuda ini yang
bekerja sama dengan seorang gadis bersenjata suling. Kini, melihat betapa tiga orang murid
keponakannya yang telah memiliki tingkat ilmu yang tidak begitu jauh selisihnya dengan ilmunya sendiri
tidak dapat mengalahkan pemuda itu, dia pun kemudian mengeluarkan suara menggereng keras dan
tombak Long-ge-pang di tangannya sudah digerakkan dan kakek ini pun menerjang maju ikut mengeroyok
Hong Bu!
Sungguh merupakan kejadian yang luar biasa sekali kalau sampai tiga orang pertama dari Im-kan Ngo-ok
mengeroyok seorang pemuda, dan lebih lagi tidak mungkin dapat dipercaya orang kang-ouw kalau
mendengar bahwa mereka itu bahkan dibantu pula oleh Hek-i Mo-ong mengeroyok seorang pemuda. Akan
tetapi kenyataannya demikian dan mereka pun agaknya sudah tidak lagi mempedulikan rasa malu dan
harga diri. Mereka hanya ingin menundukkan pemuda yang amat lihai ini.
Cu Kang Bu menonton dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri, penuh dengan kebanggaan akan
tetapi juga kekhawatiran. Dia melihat kehebatan Koai-liong Kiam-sut dan merasa bangga bahwa ilmu itu
adalah ilmu keturunan nenek moyangnya, dan bahwa pemuda itu adalah murid keponakannya, pewaris
dari pusaka neneknya. Dia kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir karena maklum betapa lihainya
empat orang yang mengeroyok Hong Bu itu. Kekhawatirannya terbukti ketika dia melihat ujung tombak
Long-ge-pang di tangan Hek-i Mo-ong menyambar dan menyerempet bahu kiri Hong Bu sehingga bahu itu
berdarah dan terluka. Namun Hong Bu masih mengamuk seperti seekor naga.
“Hong Bu larilah engkau!” teriaknya kepada murid keponakan itu.
Hong Bu memang sudah mengerti bahwa kalau dilanjutkan, betapa pun juga dia tidak mungkin dapat
menandingi pengeroyokan empat orang itu. Kalau dia melawan terus, dia akan roboh mati dan
kematiannya tidak akan ada gunanya bagi tiga orang yang tertawan itu. Kalau dia meloloskan diri dan
masih hidup, setidaknya dia masih dapat berdaya-upaya untuk menolong tiga orang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka, dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring. Pedangnya bergerak dengan hebatnya, mengeluarkan
jurus Naga Siluman Menyemburkan Api. Pedangnya menimbulkan sinar berkeredepan ke arah empat
orang lawannya sehingga mereka terkejut dan meloncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh
Hong Bu untuk meloncat jauh sekali dari tempat itu.
Empat orang itu berloncatan mengejar, akan tetapi Hong Bu telah berlari cepat sekali dan mereka tidak
berani untuk mengejar satu-satu, kalau tidak berbarengan karena pemuda itu memang berbahaya sekali.
Melihat kekasihnya lari meninggalkan ia dalam tangan musuh, Pek In merasa sedemikian kecewa dan
menyesalnya sehingga gadis ini roboh pingsan! Akan tetapi Kang Bu diam-diam bersyukur bahwa murid
keponakannya itu tidak sampai tewas di tangan orang-orang yang lihai itu. Bagaimana pun juga, dia akan
merasa menyesal kalau sampai murid keponakan itu, pewaris nenek moyangnya, sampai mati konyol.
Empat orang datuk itu tidak mengejar terus. Betapa pun juga, tiga orang anggota keluarga Lembah Suling
Emas telah berada di tangan mereka dan melalui tiga orang tawanan ini, mereka dapat menguasai pusakapusaka
dari lembah itu. Maka, tanpa banyak cakap Hek-i Mo-ong lalu memberi perintah kepada kawankawan
guru silat Koa untuk mengangkat tiga orang yang sudah tertotok itu dan membawa mereka ke
tempat persembunyian mereka, di rumah guru silat Koa Cin Gu.
Hong Bu berlari terus secepatnya, mengerahkan seluruh ilmu ginkang-nya. Dia sudah terluka dan banyak
darah mengalir dari pundaknya, tetapi dia harus dapat melarikan diri. Kalau dia sampai tertawan pula,
maka habislah harapannya untuk dapat menolong tiga orang itu. Maka, dia memaksa tenaganya yang
mulai lemah dan barulah setelah dia melihat bahwa dirinya tidak dikejar musuh, dan dia tiba di lereng
sebuah bukit, tubuhnya terguling di bawah sebuah bukit, tubuhnya terguling di bawah pohon besar di mana
dia duduk terengah-engah lalu dia bersila dan mengatur pernapasan untuk mengembalikan tenaganya
yang hampir habis. Melawan empat orang tadi sungguh terasa amat berat dan dia tadi telah mengerahkan
seluruh sinkang-nya sehingga setelah berlari secepat itu, dia merasa tenaganya hampir habis dan
napasnya hampir putus.
Setelah bersemedhi kurang lebih satu jam lamanya, barulah pernapasannya menjadi tenang kembali dan
perlahan-lahan dia berhasil menghimpun tenaga murni di lereng gunung yang sejuk bersih itu. Tenaganya
pun berangsur-angsur pulih kembali dan dia sudah mempergunakan kekuatan dalam untuk menghentikan
darahnya yang mengucur keluar. Dalam kedaan hening itu, Hong Bu melupakan segala-galanya,
melupakan keadaan tiga orang yang tertawan, karena kalau pikirannya terganggu, tentu dia tidak mungkin
dapat mengosongkan dan mengheningkan batinnya.
“Hong Bu....!”
Pemuda itu terkejut. Dalam keadaannya seperti tadi, kalau tiba-tiba yang datang itu musuh dan
menyerangnya, dia pasti celaka. Dia cepat membuka mata dan ketika dia melihat siapa orangnya yang
datang, hatinya merasa girang sekali dan dia pun segera bangkit.
“Cin Liong....! Ahhh, hanya Tuhan yang membimbingmu datang kepadaku pada saat seperti ini, Cin Liong!”
Dia pun memegang tangan bekas lawan yang telah menjadi sahabat baik yang dikaguminya itu.
Sejak dia berlawan tangan dengan jenderal muda ini dan merasakan betapa lihainya jenderal muda ini, ia
merasa kagum sekali. Apa lagi setelah ia mendapatkan kenyataan bahwa pertentangan di antara mereka
sebagai buronan dan pengejar telah habis dengan adanya pengumuman kaisar baru bahwa pedang
pusaka Koai-liong Po-kiam dinyatakan sebagai miliknya yang syah.
Seperti kita ketahui, Cin Liong lari meninggalkan Ci Sian setelah mendapat kenyataan bahwa dara yang
dicintanya dan dipinangnya itu ternyata telah jatuh cinta kepada pria lain, bahkan kepada suheng-nya
sendiri, Kam Hong, pendekar yang dikaguminya itu. Hal ini dapat dilihatnya dengan jelas ketika gadis itu
marah-marah karena lamarannya, marah kepada suheng-nya.
Dia segera dapat menduga apa yang terjadi antara kedua orang suheng dan sumoi itu. Dia tahu bahwa Ci
Sian mencinta Kam Hong, dan dia dapat menduga pula dengan hati kagum bahwa Kam Hong juga
mencinta sumoi-nya, akan tetapi dengan cinta yang demikian suci murninya, sehingga Kam Hong rela
menyampaikan pinangan pria lain kepada sumoi-nya itu. Sikap Kam Hong ini membuat Cin Liong merasa
terpukul dan malu kepada diri sendiri, maka dia pun lalu minta maaf dan melarikan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika dia melihat seorang pemuda duduk bersila, dia merasa terheran-heran, lalu didekatinya pemuda itu.
Giranglah hatinya ketika dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Sim Hong Bu, sahabat barunya,
bekas lawan yang dikaguminya karena kelihaiannya dan juga kejujurannya itu.
“Apakah yang terjadi, Hong Bu? Wajahmu agak pucat dan engkau gelisah.... dan pundakmu luka! Apa
yang telah terjadi?” tanya Cin Liong sambil membalas pegangan tangan sahabat barunya itu.
Hong Bu lalu menceritakan tentang Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Pek In yang tertawan oleh empat orang
datuk sesat itu. “Aku mohon bantuanmu, Cin Liong. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu bagaimana caranya
aku dapat menyelamatkan mereka.” Hong Bu mengakhiri ceritanya.
Cin Liong terkejut bukan main. Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok muncul lagi! Dan malah ditambah seorang
datuk yang telah lama dikenalnya sebagai seorang penjahat yang sakti, yaitu Hek-i Mo-ong yang pernah
menguasai daerah Sin-kiang di barat dengan gerombolannya, yaitu gerombolan Hek-i-mo yang amat
terkenal itu.
“Jangan khawatir, Hong Bu. Aku tentu membantumu. Akan tetapi di manakah mereka berada? Dan....
keluarga Cu itu, apakah tidak berbahaya sekali tertawan oleh mereka? Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok itu
adalah manusia-manusia busuk yang amat kejam.”
“Aku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan mereka,” kata Hong Bu. “Aku tahu bahwa mereka sengaja
menawan keluarga Cu karena mereka menghendaki pusaka-pusaka Lembah Naga Siluman. Tentu mereka
tidak akan mengganggu keluarga Cu untuk sementara waktu ini. Dan menurut penuturan Sumoi Cu Pek In,
agaknya kita akan bisa menemukan tempat persembunyian mereka melalui seorang guru silat bernama
Koa Cin Gu yang tinggal di Lo-couw. Mari kita menyelidiki ke sana.”
“Baik, mari kita cepat pergi. Aku khawatir sekali akan keadaan keluarga Cu,” jawab Cin Liong.
Dua orang pemuda perkasa itu, lalu berangkat menuju ke kota Lo-couw yang tidak jauh dari situ letaknya.
Dalam perjalanan itu Cin Liong selalu menghibur hati Hong Bu dan mengatakan bahwa dia pasti akan
dapat menghancurkan persekutuan penjahat itu dan dia akan minta bantuan pasukan keamanan di kota
Lo-couw untuk membantunya mengepung sarang penjahat.
“Tiga orang Im-kan Ngo-ok itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan aku dapat menduga bahwa Hek-i Moong
tentu juga lihai sekali.”
“Kakek itu lebih lihai dari pada mereka bertiga,” kata Hong Bu.
“Hemm, mungkin bagi kita berdua tidak akan mudah mengalahkan mereka berempat, akan tetapi dengan
bantuan pengepungan pasukan, tentu setidaknya keluarga Cu akan dapat diselamatkan dan dibebaskan.”
“Kalau saja kita dapat lebih dulu membebaskan Cu Kang Bu Susiok, kita bertiga dengan dia tentu akan
mampu menandingi mereka berempat.”
“Sebaiknya kita menggunakan siasat memancing harimau-harimau keluar dari sarang, Hong Bu. Biar
kukerahkan pasukan untuk menyerbu. Ketika mereka sibuk menghadapi pasukan, kita menyelinap masuk
untuk lebih dahulu membebaskan keluarga Cu,” kata Cin Liong.
“Terserah kepadamu, dalam keadaan seperti ini aku hanya dapat mengharapkan bantuanmu.”
Ketika mereka tiba di Lo-couw, Cin Liong langsung mencari markas pasukan keamanan dan menemui
komandannya. Ketika komandan mengenal Cin Liong sebagai Jenderal Muda Kao yang terkenal, tentu
saja dia terkejut dan menyambut dengan sikap amat hormat. Cin Liong lalu mencari keterangan tentang
guru silat Koa Cin Gu dan dengan mudah mendapat keterangan di mana guru silat itu tinggal. Kiranya
kehadiran para datuk itu merupakan rahasia dan tidak diketahui orang di Lo-couw.
Cin Liong memerintahkan kepada komandan itu untuk menyiapkan sepasukan prajurit dan mengepung
rumah guru silat itu dari jarak agak jauh, menanti tanda darinya, sedangkan dia sendiri berdua dengan
Hong Bu lalu melakukan penyelidikan ke rumah guru silat yang cukup besar dan dikelilingi pagar tembok
yang tinggi itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Senja telah mendatang dan cuaca mulai menjadi gelap ketika mereka tiba di luar pagar tembok, di mana
pintu gerbangnya telah tertutup dan tidak nampak seorang pun di luar pintu. Hanya dapat terdengar suara
orang-orang di dalam pintu, mungkin suara para anak buah guru silat yang melakukan penjagaan.
Dua orang muda perkasa itu tidak mau lancang turun tangan, karena mereka harus yakin dulu bahwa
empat orang datuk itu benar-benar berada di situ, dan terutama sekali bahwa keluarga Cu juga tertawan di
tempat itu. Kalau tidak demikian, mereka akan menangkap guru silat Koa dan memaksanya mengaku di
mana tawanan disembunyikan dan di mana pula adanya para datuk kaum sesat itu! Dan untuk ini tentu
saja tidak perlu dikerahkan pasukan yang telah dipersiapkan itu.
Mereka menanti sampai cuaca menjadi gelap betul dan ketika mereka sedang menyelinap di luar tembok,
tiba-tiba mereka melihat berkelebatnya bayangan dua orang di depan. Tentu saja keduanya terkejut
melihat betapa cepat dan ringannya gerakan dua orang di depan itu. Karena menduga bahwa tentu dua
orang itu adalah dua di antara para datuk yang sedang mereka cari, mereka cepat menyelinap ke depan
untuk mengejar. Akan tetapi bayangan dua orang di depan itu telah lenyap, padahal jelas bahwa dua orang
itu tadi belum meloncat ke sebelah dalam pagar tembok.
“Aneh,” bisik Hong Bu. “Kalau mereka itu orang dalam, mengapa mereka bergerak di luar pagar tembok,
dan bukan langsung masuk melalui pintu gerbang?”
“Siapa pun adanya mereka, kita harus mengetahui dengan jelas sebelum turun tangan,” bisik Cin Liong.
Karena dua orang itu lenyap, Hong Bu dan Cin Liong melanjutkan perjalanan mereka untuk memeriksa
keadaan sekeliling pagar tembok itu, untuk mencari jalan masuk yang baik dan tepat sambil menanti cuaca
sampai gelap benar. Akan tetapi, ketika mereka melalui semak-semak tiba-tiba ada dua sosok tubuh orang
menerjang mereka dari balik semak-semak itu. Gerakan dua orang itu demikian cepatnya sehingga Hong
Bu dan Cin Liong terpaksa bergerak cepat pula. Sambil mengerahkan tenaga mereka menangkis lengan
dua orang itu yang bergerak untuk menotok.
“Dukkk!”
“Desss....!”
Empat orang itu terdorong mundur dan semua merasa kaget bukan main saat mendapat kenyataan betapa
kuatnya tenaga pihak lawan. Akan tetapi, mereka menjadi semakin kaget, heran dan juga gembira setelah
saling mengenal. Kiranya dua orang itu bukan lain adalah Kam Hong dan Ci Sian! Melihat mereka seketika
wajah Cin Liong menjadi kemerahan karena merasa malu, akan tetapi sebaliknya Hong Bu menjadi girang
bukan main.
Di lain pihak, Kam Hong dan Ci Sian juga terkejut melihat dua orang pemuda itu yang baru mereka kenal
setelah mereka bertanding tangan tadi karena cuaca sudah mulai gelap.
“Saudara Sim Hong Bu dan Kao Cin Liong!” seru Kam Hong dengan mata terbelalak lebar. “Kiranya kalian
berdua! Kami sangka peronda!”
Sementara itu, Ci Sian hanya memandang kepada dua orang pemuda itu dengan wajah kemerahan. Dua
orang pemuda yang baru saja mengajukan pinangan kepadanya!
“Mari kita bicara agak jauh dari sini,” bisik Hong Bu sambil meloncat pergi dan yang lain mengikutinya.
Setelah tiba di tempat agak jauh dari pagar tembok, Hong Bu lalu menjura kepada Kam Hong dan Ci Sian,
lalu berkata, “Sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dengan Ji-wi di sini, seolah-olah Ji-wi dituntun
oleh Tuhan untuk membantuku, setelah Jenderal Kao Cin Liong juga datang membantuku.” Lalu dengan
singkat namun jelas Hong Bu menceritakan tentang rombongannya yang berjumpa dengan tiga orang
datuk Im-kan Ngo-ok dan Hek-i Mo-ong dan betapa keluarga Cu telah ditawan oleh empat orang datuk
sesat itu.
“Aku seorang diri tidak mampu melawan mereka dan terpaksa melarikan diri,” Hong Bu mengakhiri
ceritanya, “Dan kebetulan sekali aku berjumpa dengan Cin Liong. Malam ini kami melakukan penyelidikan
untuk melihat apakah benar empat orang datuk itu berada di sini dan apakah keluarga Cu ditawan di
tempat ini. Pada saat melihat bayangan Ji-wi, kami mengira Ji-wi adalah dua orang di antara mereka.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dan bagaimanakah Kam-taihiap dan Nona Bu juga dapat berada di sini?” Cin Liong bertanya.
Melihat sikap kedua orang pemuda itu biasa saja, seolah-olah tidak ada kandungan penyesalan hati sedikit
pun tentang peristiwa penolakan pinangan mereka terhadap Ci Sian, hati Kam Hong merasa girang dan
juga kagum sekali. Mereka sungguh patut menjadi pendekar-pendekar muda yang gemblengan, tidak
mudah menaruh dendam pribadi. Juga Ci Sian merasa lega melihat sikap mereka.
“Kebetulan sekali ketika kami lewat di sini, kami melihat berkelebatnya bayangan Hek-i Mo-ong memasuki
rumah ini. Kami merasa curiga dan terheran-heran bagaimana datuk itu tiba-tiba muncul di tempat ini,
maka kami lalu mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan, kalau perlu membasmi kakek iblis itu.
Dan baru saja kami melakukan penyelidikan, kami melihat kalian berdua dan mengira bahwa kalian adalah
peronda atau anak buah Koa-kauwsu,” Kam Hong menjelaskan.
“Janganlah khawatir, Hong Bu. Aku akan membantumu menghadapi iblis-iblis itu dan membebaskan
keluarga Cu!” kata Ci Sian dan suaranya kini biasa kembali terhadap Hong Bu, mengingatkan pemuda ini
ketika mereka berdua dahulu pernah bekerja sama menghadapi Hek-i Mo-ong yang lihai. Maka gembiralah
hatinya.
“Terima kasih, terima kasih!” katanya gembira dan kini dia tidak merasa ragu lagi bahwa dia akan dapat
menyelamatkan keluarga Cu, terutama Pek In yang dicintanya. Tanpa ragu-ragu lagi dia pun berkata
melanjutkan, “Kini aku yakin bahwa tunanganku akan dapat diselamatkan!”
Kam Hong dan Ci Sian memandang dengan mata terbelalak, dan Cin Liong sendiri pun bertanya,
“Tunanganmu....? Ahh, kiranya engkau telah bertunangan dengan Nona Cu Pek In? Bagus! Selamat, Hong
Bu!”
Kam Hong dan Ci Sian juga memberi selamat yang diterima dengan gembira oleh Hong Bu. “Sekarang
belum waktunya kita bergembira,” tiba-tiba Cin Liong mengingatkan, “Yang penting sekarang adalah
rencana penyerbuan untuk menyelamatkan keluarga Cu. Setelah Kam-taihiap dan Nona Bu hadir, hatiku
tidak khawatir lagi. Kami berempat kiranya akan sanggup menghadapi mereka berempat. Betapa pun juga,
yang paling perlu adalah membebaskan keluarga Cu yang tertawan. Maka, menurut pendapatku, harus
digunakan siasat untuk memberi kesempatan kepada Hong Bu untuk menyelinap ke dalam dan
membebaskan mereka.”
Jenderal muda ini kemudian menjelaskan siasatnya dan tiga orang pendekar yang mendengarkan dengan
penuh perhatian hanya mengangguk menyetujui karena mereka tahu bahwa Kao Cin Liong, selain memiliki
ilmu silat yang tinggi, juga adalah seorang ahli siasat perang sehingga tentu saja lebih ahli dalam
melakukan penyerbuan seperti itu.
Tak lama kemudian, sesuai dengan rencana yang diatur oleh Kao Cin Liong, sepasukan prajurit penjaga
keamanan kota Lo-couw telah mengepung rumah perguruan silat itu, dipimpin oleh Jenderal Kao Cin Liong
sendiri yang ditemani oleh Kam Hong dan Ci Sian. Pintu gerbang digedor dari luar dan dengan suara
lantang seorang prajurit pelapor meneriakkan kepada guru silat Kao Cin Gu untuk membuka pintu gerbang
karena komandan pasukan keamanan kota Lo-couw hendak bicara.
Tentu saja para penghuni perguruan itu menjadi panik ketika mereka mengintai dari balik pintu gerbang
dan melihat bahwa tempat mereka sedang dikepung pasukan pemerintah yang bersenjata lengkap!
Dengan wajah pucat terpaksa Koa Cin Gu keluar setelah pintu gerbang dibuka. Dia mengenal komandan
Thio yang mengepalai pasukan keamanan kota itu, maka segera dia menghadap Thio-ciangkun yang
berdiri di sebelah kiri Cin Liong yang tidak dikenalnya karena pemuda ini mengenakan pakaian biasa.
“Thio-ciangkun, ada terjadi apakah maka malam-malam Ciangkun datang bersama para pasukan?” Koa
Cin Gu bertanya, sedapat mungkin mengambil sikap tenang.
“Koa Cin Gu, tak perlu engkau menutup-nutupi dosamu!” berkata Thio-ciangkun dengan suara galak. “Kami
memperoleh keterangan bahwa engkau menyembunyikan tokoh-tokoh penjahat besar yang terkenal
dengan nama Hek-i Mo-ong, Toa-ok, Ji-ok dan Sam-ok. Suruh mereka segera keluar. Kalau tidak, engkau
akan kami anggap sebagai pemberontak dan sekalian penghuni rumah ini akan kami tangkap sebagai
anggota-anggota pemberontak!”
Bukan main kagetnya hati Koa-kauwsu mendengar ucapan ini. Akan tetapi sebelumnya tadi dia memang
sudah berunding dengan empat orang tamunya itu, maka kini sesuai dengan rencana mereka tadi, Koadunia-
kangouw.blogspot.com
kauwsu berkata, “Ah, Thio-ciangkun.... bagaimana Ciangkun dapat mempercayai fitnah seperti itu?
Ciangkun sudah mengenal baik siapa saya. Saya tanggung bahwa tidak ada penjahat di sini. Harap
Ciangkun suka menarik kembali pasukan dan besok saya akan menghadap Ciangkun untuk bicara soal
ini.” Di balik kata-katanya itu seperti biasa tersembunyi maksud, yaitu bahwa dia hendak membereskan
persoalan ini dengan hadiah atau sogokan!
Akan tetapi biar pun komandan itu bukan seorang pejabat yang tidak biasa menerima sogokan macam itu,
kini di depan seorang jenderal yang terkenal dari kota raja, tentu saja dia menjadi marah sekali. “Koa Cin
Gu, jangan engkau main-main! Hayo cepat suruh empat orang itu keluar, kalau tidak, terpaksa kami akan
mengerahkan pasukan untuk menangkap semua orang dan menggeledah ke dalam!”
Melihat bujukannya tidak berhasil, orang she Koa itu lalu berkata, “Ciangkun, memang benar saya
mempunyai empat orang tamu, akan tetapi mereka adalah para Locianpwe yang datang memberi petunjukpetunjuk
ilmu silat, sama sekali bukan penjahat. Semua itu adalah fitnah belaka.”
“Tidak peduli mereka itu pendekar atau penjahat, suruh mereka keluar supaya dapat menemui dan bicara
dengan kami!” kata pula Thio-ciangkun.
Karena tidak melihat jalan lain, sesuai dengan rencana mereka, Koa Cin Gu terpaksa lalu menghadap ke
dalam rumah dan berseru, “Harap Cu-wi Locianpwe suka keluar menemui Thio-ciangkun!”
“Ciangkun, kami adalah orang baik-baik, mengapa….?”
Akan tetapi ucapan Sam-ok yang menjadi juru bicara mereka itu tertahan dan matanya terbelalak ketika dia
mengenal Kam Hong, Ci Sian, dan Jenderal Muda Kao Cin Liong. Juga Hek-i Mo-ong mengenal Kam Hong
dan Ci Sian, maka kakek ini pun tahu bahwa dia telah berhadapan dengan musuh yang pandai, maka
tangannya bergerak dan senjata Long-ge-pang telah berada di tangannya.
“Ah, kiranya kalian bocah-bocah setan yang datang mengacau!” katanya dan langsung saja Hek-i Mo-ong
menerjang maju.
Kam Hong menyambutnya, dengan suling emas yang sudah dicabutnya, sebab maklum betapa
dahsyatnya serangan kakek raksasa berambut putih dan berpakaian serba hitam itu.
Tiga orang dari Im-kan Ngo-ok yang juga mengenal tiga orang muda perkasa itu maklum bahwa tidak ada
gunanya lagi berpura-pura dan bahwa untuk menyelamatkan diri mereka harus mempergunakan
kekerasan. Maka mereka bertiga pun segera menerjang ke depan, disambut oleh Kao Cin Liong dan Ci
Sian. Melihat ini, guru silat Koa Cin Gu juga mengerti bahwa rahasianya telah terbongkar, maka dia pun
menjadi nekat. Dengan teriakan nyaring dia pun memimpin anak buahnya untuk mencegah pasukan
memasuki rumahnya. Terjadilah pertempuran hebat di pekarangan depan rumah itu.
Sementara itu, Cu Kang Bu, Yu Hwi, Cu Pek In ditahan dalam kamar-kamar terpisah-pisah. Mereka dalam
keadaan tertotok dan dibelenggu tangan mereka, rebah di atas dipan dalam kamar tahanan masingmasing,
dan setiap orang dijaga oleh dua orang anak buah Koa-kauwsu.
Para anak buah Koa-kauwsu bukanlah orang-orang baik. Koa-kauwsu sendiri biar pun seorang guru silat,
akan tetapi dia adalah orang yang berkecimpung dalam dunia hitam sehingga para muridnya tentu saja
terdiri dari tukang-tukang pukul dan penjahat-penjahat yang ingin memperkuat dirinya. Ketika semua orang
menyerbu keluar untuk menyambut musuh, enam orang yang bertugas jaga itu ditinggal berdua saja
dengan masing-masing tawanan mereka. Kesempatan ini menimbulkan niat yang keji dalam benak mereka
yang menjaga Yu Hwi dan Pek In.
Dua orang wanita ini adalah wanita-wanita yang tergolong cantik, maka melihat di situ tidak ada orangorang
lain, para penjaga dua orang tawanan wanita ini timbul niat yang kotor untuk mengganggu dua orang
tawanan mereka. Mereka mulai mendekati tawanan masing-masing yang rebah terbelenggu dan tertotok di
atas dipan, memandang dengan mulut menyeringai dan berliur.
Dua orang yang menjaga Cu Pek In sudah mendekati gadis itu. Cu Pek In merasa bulu romanya
meremang ketika melihat sikap mereka berdua itu. Akan tetapi ia tidak mampu bergerak karena telah
tertotok jalan darahnya. Andai kata tidak tertotok, biar pun kaki tangannya terbelenggu, tentu ia dapat
bergerak dan berdaya untuk melawan. Akan tetapi, kini ia hanya dapat memandang dengan mata
terbelalak ketika dua orang itu mendekatinya dan terkekeh-kekeh.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heh-heh, kita tidak bisa maju berbareng, harus antri. Siapa yang lebih dulu?” kata yang bertubuh tinggi
besar dan bermuka hitam.
“Kita undi saja!” kata kawannya yang bermata juling.
“Kita main bertanding jari saja, siapa menang boleh maju lebih dulu dan yang lain menjaga di luar kamar
menanti giliran!” kata Si Tinggi Besar.
Dua orang itu tertawa-tawa dan bermain jari. Ternyata Si Tinggi Besar yang menang dan dengan muka
kecewa Si Mata Juling lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan kawannya dan berjalan di luar. Daun pintu
ditutupkan, akan tetapi Si Mata Juling itu mengintai dari celah-celah daun pintu.
Cu Pek In memandang dengan mata terbelalak, melihat betapa sambil terkekeh dan menyeringai
menyeramkan, Si Muka Hitam yang tinggi besar itu mulai menanggalkan pakaiannya sendiri. Wajah Pek In
menjadi pucat dan mulutnya berbisik, “Jangan.... ah, jangan....!”
“Ha-ha-ha diamlah, manis,” kata Si Tinggi Besar yang kini melangkah mendekati dipan, membuat Pek In
merasa ngeri dan takut sehingga hampir ia roboh pingsan.
Akan tetapi pada saat jari tangan Si Tinggi Besar menyentuh pakaian Pek In, tiba-tiba terdengar suara
gaduh di luar pintu. Daun pintu terbuka. Si Tinggi Besar menoleh dan seketika mukanya menjadi pucat
ketika dia melihat temannya, Si Mata Juling itu sudah roboh mandi darah di depan pintu. Sebelum dia
sempat menguasai hatinya, sesosok bayangan berkelebat dan Hong Bu telah menghantamnya dengan
telapak tangan kanan.
Si Tinggi Besar tak sempat lagi berteriak karena terdengar suara keras ketika kepalanya kena ditampar.
Tubuhnya terpelanting dan kepalanya retak, mengeluarkan darah dan otaknya. Dia tewas seketika tanpa
sekarat lagi.
Hong Bu cepat membebaskan totokan Pek In, kemudian mematahkan belenggu kaki tangannya.
“Engkau tidak apa-apa, In-moi....?” tanyanya.
“Ahh.... Bu-ko....!” Pek In merangkul dan menangis di dalam pelukan pemuda itu. Pek In melirik ke arah
tubuh telanjang yang kepalanya retak itu dan menggigil. “Untung engkau segera datang, Buko....,” katanya
dan hatinya lega sekali karena rasa penasaran dan duka karena ditinggal lari oleh Hong Bu itu kini terobati
dengan munculnya kekasihnya yang telah menyelamatkannya.
Sebelum menolong Pek In, Hong Bu tadi telah memasuki kamar tahanan Cu Kang Bu, merobohkan dua
orang penjaganya dan membebaskan Cu Kang Bu. Dan begitu bebas, Kang Bu segera minta kepada Hong
Bu untuk menolong Pek In di kamar sebelah kanan sedangkan dia sendiri cepat lari ke kamar sebelah kiri
di mana dia tahu isterinya ditawan. Dia memandang daun pintu itu dan dapat dibayangkan betapa
marahnya saat dia melihat ada dua orang penjaga sedang menggerayangi tubuh isterinya dalam usaha
mereka untuk melepaskan pakaian isterinya yang tertotok dan terbelenggu tak mampu melawan itu.
“Keparat!” bentak Cu Kang Bu dan sekali loncat dia sudah tiba di belakang dua orang penjaga yang kurang
ajar itu.
Mereka membalikkan tubuh, akan tetapi tahu-tahu rambut kepala mereka telah dijambak oleh Cu Kang Bu
dan sekali menggerakkan kedua tangannya, pendekar tinggi besar dari Lembah Naga Siluman itu sudah
membenturkan dua buah kepala itu.
“Prokk!” terdengar suara, dan dua buah kepala itu pecah berhamburan!
Ketika Kang Bu membebaskan isterinya dan mereka berdua keluar dari dalam kamar itu, mereka bertemu
dengan Hong Bu yang juga sudah berhasil membebaskan Pek In.
“Di luar sana aku dibutuhkan, harap Susiok bertiga suka membantu pasukan dari dalam. Aku sendiri harus
membantu mereka menghadapi empat iblis itu!” Setelah berkata demikian, Hong Bu meloncat keluar
dengan cepat sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kang Bu tadi telah diberi tahu oleh Hong Bu bahwa yang dimaksudkan dengan ‘mereka’ itu adalah
Jenderal Muda Kao Cin Liong dan Pendekar Suling Emas Kam Hong beserta sumoi-nya, Bu Ci Sian.
Dengan singkat dia pun memberi tahu kepada isterinya dan keponakannya, lalu mereka bertiga juga
menyerbu keluar dan mengamuk, menyerang para anak buah guru silat Koa dari sebelah dalam. Tentu
saja anak buah Koa-kouwsu menjadi terkejut dan semakin panik karena mereka pun sudah terdesak oleh
pasukan keamanan yang menyerbu dari luar.
Perkelahian antara Kam Hong melawan Hek-i Mo-ong masih berlangsung dengan amat serunya, tetapi Cin
Liong dan Ci Sian yang bekerja sama menghadapi pengeroyokan tiga orang Im-kan Ngo-ok terdesak
hebat. Mereka berdua itu hanya mampu memutar senjata untuk melindungi diri belaka, tanpa mempunyai
banyak kesempatan untuk membalas. Tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Hong Bu sudah
menerjang dan membantu mereka berdua.
Melihat betapa Koa-kauwsu dan anak buahnya sudah roboh semua karena amukan Cu Kang Bu bertiga,
dan melihat betapa mereka berempat sudah terkurung oleh pasukan dan di situ terdapat orang-orang
muda yang amat lihai itu, Hek-i Mo-ong maklum bahwa kalau terjadi pertempuran keroyokan tentu
pihaknya akan mengalami kerugian karena kalah banyak, maka tiba-tiba dia meloncat ke belakang dan
berseru dengan lantang, “Tahan senjata! Kami hendak bicara!”
Empat orang pendekar muda itu menahan senjata mereka dan Kam Hong mewakili teman-temannya,
sambil melintangkan suling emas di depan dada dia pun menegur, “Hek-i Mo-ong, engkau hendak bicara
dan menggunakan kecurangan apa lagi?”
Wajah kakek itu berubah merah. Teringat dia bahwa dia pernah melukai pemuda luar biasa ini, akan tetapi
hal itu dilakukannya karena dia main curang, yaitu pada saat Kam Hong melawan delapan orang muridnya,
ialah Hek-i Pat-mo dan ketika pendekar ini terdesak delapan orang itu, dia turun tangan membantu muridmuridnya
sehingga Kam Hong menderita luka dalam yang cukup parah.
“Bocah she Kam! Kalau memang kalian adalah orang-orang muda yang gagah perkasa dan mengaku
sebagai pendekar-pendekar sakti, mari kita melakukan pertandingan satu lawan satu tanpa pengeroyokan
dan tanpa mengandalkan bantuan. Kita masing-masing mengadakan pertandingan satu lawan satu sampai
mati dan tidak boleh ada orang lain yang membantu. Nah, bagaimana? Apa kalian berempat berani
menyambut tantangan kami berempat?”
Kam Hong mengerutkan alis dan memandang kepada tiga orang kawannya. Dia melihat betapa Ci Sian,
Hong Bu, dan Cin Liong mengangguk kepadanya, dan dia sendiri pun percaya sepenuhnya bahwa ketiga
orang muda itu cukup tangguh dan kuat untuk melawan tiga orang datuk dari Im-kan Ngo-ok, maka ia pun
menjawab dengan lantang,
“Baik, Hek-i Mo-ong. Kami berempat menerima tantangan kalian!”
Thio-ciangkun lalu membuat lingkaran dengan pasukannya, lingkaran yang cukup luas di pekarangan
rumah itu, dan memasang obor yang cukup banyak sehingga tempat itu menjadi terang dan merupakan
gelanggang pertandingan yang dipagari pasukan. Cu Kang Bu dan Yu Hwi yang sudah selesai membasmi
Koa-kauwsu dan anak buahnya itu pun kini berdiri menonton dengan penuh kepercayaan terhadap empat
orang muda yang sakti itu, hanya Cu Pek In yang mengerutkan alisnya dan merasa khawatir.
“Bagus! Kami akan mengajukan jago pertama kali. Sam-ok, kau majulah!” berkata Hek-i Mo-ong.
Sam-ok Ban-hwa Sengjin, bekas Koksu Nepal yang nama aslinya Lakshapadma itu segera melangkah
maju ke tengah lapangan. Dia pun maklum bahwa jalan keluar tidak ada, maka tindakan Hek-i Mo-ong itu
dianggapnya tepat. Hanya melalui pertandingan perorangan maka mereka mendapat kesempatan untuk
lolos, asal dapat memenangkan lawan. Dan bagaimana pun lihainya, empat orang lawan itu hanyalah
orang-orang muda yang tentu masih jauh kurang pengalamannya dibandingkan deagan mereka berempat.
Dia maju dengan tenang. Kakek raksasa yang kepalanya botak ini nampak gagah dengan mantelnya yang
merah, dan kini dia menanggalkan mantel merahnya dan melemparkan mantel itu kepada Ji-ok. Dia sendiri
dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua lututnya agak ditekuk dan kedua lengannya membuat silang di
depan dada, yang kanan miring di depan dahi, yang kiri miring di depan dada, sikapnya seperti seorang
pendeta sedang melakukan sembahyang dengan sikap aneh.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Biar aku yang menghadapi tua bangka Nepal ini!” kata Kao Cin Liong dan majunya Cin Liong melegakan
hati Kam Hong.
Dibandingkan dengan Cin Liong, mungkin sumoi-nya masih kalah, dan biar pun di pihak musuh Sam-ok
merupakan orang terakhir, namun dia tahu bahwa bekas Koksu Nepal ini mempunyai banyak tipu muslihat
sehingga kalau Ci Sian yang melayani dia, hal itu amat berbahaya. Berbeda kalau Cin Liong yang
menyambut kakek itu, karena biar pun masih muda, namun Cin Liong juga seorang yang memiliki banyak
pengalaman dan mengenal banyak siasat-siasat licik pihak musuh.
“Baiklah, Saudara Kao Cin Liong. Kau lawan Sam-ok dan hati-hatilah terhadap akal busuk!” kata Kam
Hong.
Cin Liong melangkah maju dengan tenang. Di bawah sinar obor yang banyak dinyalakan itu, pemuda ini
nampak tegap dan gagah perkasa sekali. Wajahnya yang bundar itu nampak halus dan tampan, sepasang
matanya yang lebar bersinar-sinar dan tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya itu menambah
kewibawaannya. Ketenangan pemuda ini nampak pada senyumnya, seolah-olah dia sama sekali tidak
merasa jeri menghadapi lawan yang sudah amat tersohor karena kelihaiannya ini. Masih begitu muda
sudah memperoleh kepercayaan Kaisar, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya pemuda ini.
Sam-ok juga merasa agak terkejut ketika melihat bahwa jenderal muda itu yang maju. Dia tahu akan
kelihaian pemuda ini. Baru mengingat bahwa pemuda ini adalah putera tunggal dari Pendekar Naga Sakti
Gurun Pasir saja sudah membuat dia menjadi agak ngeri. Akan tetapi, dia segera dapat mengusir
perasaan ini dengan keyakinan akan kepandaian sendiri. Betapa pun juga, pemuda ini bukanlah Pendekar
Naga Sakti Gurun Pasir, pikirnya, melainkan seorang yang masih muda dan tentu masih hijau pula dalam
pengalaman.
“Ha-ha-ha!” Sam-ok tertawa bergelak untuk membesarkan hati. “Inikah Jenderal Muda Kao Cin Liong yang
terkenal itu? Ha-ha-ha, orang muda, sudah rela benarkah engkau untuk mati konyol maka engkau berani
melawanku?”
“Ban-hwa Sengjin! Engkau telah berdosa terhadap pemerintah dan negara ketika engkau menjadi Koksu
Nepal, dan engkau berdosa terhadap rakyat ketika engkau menjadi Sam-ok. Dosamu sudah terlampau
bertumpuk, terlampau banyak maka sudah sewajarnyalah kalau kini engkau menerima hukuman dari
tanganku sendiri! Majulah!”
Sebelum maju tadi Cin Liong telah menitipkan pedangnya kepada Hong Bu dan kini dia menghadapi lawan
dengan tangan kosong. Dia tahu bahwa Sam-ok adalah seorang yang memiliki ilmu silat yang sudah agak
tinggi tingkatnya, maka datuk ini tidak lagi mengandalkan senjata. Dan karena dia sendiri pun murid ayah
kandungnya yang memiliki ilmu silat tangan kosong pula, maka dia menghadapi lawan dengan tangan
kosong.
Dia berdiri tegak lurus, mula-mula kedua lengannya tergantung lurus di kanan kiri, lalu diangkatnya sampai
ke pinggang dengan jari-jari terbuka dan ibu jari ditekuk ke telapakan. Perlahan-lahan lengannya diangkat
ke atas, lalu setelah sampai di atas kepala ditarik ke bawah sambil mengerahkan tenaga sinkang. Kedua
lengannya itu nampak tergetar halus, dan kini tubuhnya penuh dengan saluran sinkang yang dahsyat!
Sam-ok mengeluarkan suara menggereng dan oleh karena gerengan ini mengandung getaran tenaga
khikang yang amat kuat, maka para prajurit yang mengepung tempat itu untuk nonton perkelahian itu
menjadi terkejut dan tubuh mereka menggigil. Sam-ok menyusul gerengannya ini dengan terjangan
dahsyat, kedua lengannya yang panjang dan besar itu bergerak cepat. Tahu-tahu dia telah mengirim
serangan beruntun sampai empat kali, memukul dengan kedua tangan dari atas ke bawah disusul
cengkeraman dari kanan kiri.
Cin Liong juga bergerak cepat. Dua lengannya sudah menangkis dua pukulan pertama dan menghadapi
cengkeraman dari kanan kiri itu dia meloncat ke belakang sambil membalik dan tiba-tiba saja tubuhnya
berputar dan dia pun sudah membalas dengan sebuah tendangan kilat yang mengarah dagu lawan.
Ketika Sam-ok menggerakkan tangan hendak menangkap kaki yang menendangnya, Cin Liong menarik
kembali kakinya dan tubuhnya meluncur ke depan, tangan kanan menotok ke arah pusar dan tangan kiri
mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala botak itu! Dia telah mulai menggunakan jurus-jurus dari Ilmu
Silat Sin-liong Ciang-hoat yang hebat. Karena dia tahu bahwa lawannya adalah seorang yang lihai, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
pemuda ini tidak mau membuang waktu dengan mengeluarkan ilmu silat lain, melainkan langsung
mengeluarkan ilmu ciptaan kakek gurunya, yaitu Si Dewa Bongkok itu.
Sesungguhnya Ilmu Sin-liong Ciang-hoat asalnya adalah ilmu ciptaan Dewa Bongkok yang khas, yaitu
untuk seorang yang berlengan tunggal. Akan tetapi Kao Kok Cu, Si Naga Sakti Gurun Pasir telah
menyempurnakan ilmu tangan kosong ini untuk puteranya, sehingga kini yang dikuasai oleh Kao Cin Liong
adalah ilmu silat tangan kosong yang cocok untuk di mainkan oleh seorang yang berlengan utuh, walau
pun dasarnya masih ilmu asli. Justru karena dasarnya adalah ilmu silat yang tadinya diperuntukkan
seorang yang berlengan buntung, maka sekarang setelah dimainkan oleh Cin Liong, gerakan-gerakannya
amat aneh dan tak dapat diduga-duga oleh musuh.
Kadang-kadang pemuda itu hanya menggerakkan tangan kanannya saja, dan tangan kirinya bergantung
mati, akan tetapi pada detik-detik yang sama sekali tidak disangka oleh lawan, tiba-tiba saja tangan kirinya
bergerak mengirim serangan susulan, serangan maut yang amat dahsyat, lebih dahsyat dari pada
serangan-serangan tangan kanannya!
Biar pun Sam-ok seorang yang tinggi ilmunya, namun menghadapi ilmu silat ini dia merasa bingung juga
sehingga setelah lewat lima puluh jurus, ia kurang cepat mengelak dan tamparan tangan kiri yang tadinya
tergantung mati itu sempat mengenai pundak kanannya, dan membuat tubuh yang tinggi besar itu
terhuyung ke belakang. Sam-ok meloncat untuk mengatur keseimbangan badannya dan mulutnya
menyeringai menahan rasa nyeri yang membuat separuh tubuhnya sebelah kanan seperti lumpuh sejenak.
“Haiiiikkk!” Tiba-tiba Sam-ok menubruk ke depan.
Cin Liong mengelak dengan loncatan ke kiri, akan tetapi tiba-tiba dari lengan baju yang lebar itu meluncur
sinar-sinar hitam yang lembut menuju ke seluruh tubuh Cin Liong dari atas ke bawah! Itulah jarum-jarum
rahasia beracun yang dilepas dari jarak dekat sekali! Dan ini merupakan satu di antara kecurangankecurangan
Sam-ok. Akan tetapi, sejak tadi Cin Liong memang sudah waspada terhadap serangan gelap,
maka begitu melihat sinar hitam menyambar dia sudah meloncat tinggi sehingga semua jarum lewat di
bawah kakinya. Cin Liong bukan sembarangan meloncat, melainkan meloncat ke depan dan kini dari atas
dia terjun menyerang ke arah kepala lawan dengan menggunakan kedua kakinya!
Sam-ok terkejut bukan main. Tak disangka-sangkanya bahwa pemuda itu selain dapat menghindarkan
semua jarumnya, juga memiliki ginkang sedemikian hebatnya sehingga sambil mengelak kini bahkan
langsung balas menyerang. Cepat dia secara terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah sehingga
serangan dari atas itu pun tidak mengenai sasaran dan begitu dia meloncat bangkit lagi, Sam-ok sudah
mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan karena aneh dan tangguhnya.
Tubuhnya tiba-tiba berpusing bagaikan sebuah gasing dan terus berpusing sehingga tubuh itu tidak
nampak lagi. Dan dari gerakan berpusing ini dengan cepat bagaikan kilat menyambar, ada seranganserangan
mencuat yang menuju ke arah lawan. Cin Liong menggerakkan kaki tangan menangkis, akan
tetapi karena pusingan tubuh lawan itu mendatangkan angin dahsyat, dan oleh karena serangan yang
mencuat dari tubuh yang berputar cepat itu sukar diikuti dengan pandangan mata, maka Cin Liong terkena
sambaran pukulan yang mengarah lambungnya.
Tangkisannya menyeleweng dan biar pun dia tidak terkena pukulan langsung, namun tetap saja dia
terdorong sampai hampir terjengkang dan merasa betapa paha kanannya panas oleh hawa pukulan lawan.
Hanya dengan melempar diri ke belakang dan berjungkir balik saja pemuda itu dapat menyelamatkan diri
dan tidak sampai roboh terjengkang.
Melihat hebatnya lawan, Cin Liong tiba-tiba mendekam di atas tanah dan ketika lawan yang berpusing itu
mendekatinya, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking dahsyat dan tubuhnya meluncur dari
bawah dengan pukulan kedua tangan didorongkan ke depan. Itulah pukulan dari Ilmu Sin-liong Hok-te yang
amat hebat dari Istana Gurun Pasir!
“Desssss....!”
Oleh karena hebatnya pukulan itu, Sam-ok mana mampu mengelak? Terpaksa dia menangkis dengan
pengerahan seluruh tenaganya dan akibatnya, tubuhnya terlempar dan terbanting keras sekali! Itulah
hebatnya pukulan Ilmu Sin-liong Hok-te (Naga Sakti Mendekam di Bumi). Kalau saja tadi Sam-ok
mempergunakan tenaga lembut, tidak mempergunakan tangkisan tenaga kasar, dia pun akan celaka kalau
Cin Liong juga mempergunakan tenaga Im.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuh yang tinggi besar itu terguling-guling dan akhirnya dapat meloncat bangkit kembali, berdiri agak
bergoyang-goyang dan di ujung bibir kakek itu nampak darah segar yang keluar dari mulutnya! Dengan
bajunya, Sam-ok menghapus darah itu dan mukanya berubah merah sekali. Dia menggereng nyaring,
gerengan yang keluar dari dalam perutnya saking marahnya dan tiba-tiba dia merenggut ke arah lehernya.
Nampak sinar berkilauan ketika tangannya sudah memegang seuntai rantai hitam yang tadinya dipakai
sebagai kalung lehernya. Rantai ini adalah untaian batu-batu hitam dari Nepal yang diuntai dengan tali baja
yang amat kuat!
Jarang sekali Sam-ok mempergunakan senjata dalam perkelahian menghadapi lawan yang betapa pandai
sekali pun. Ilmu silatnya sudah sangat tinggi, tenaga sinkang-nya amat kuatnya sehingga tanpa bantuan
senjata pun dia sudah merupakan seorang yang sukar dikalahkan. Akan tetapi, sekali ini dia bertemu
tanding, bahkan dia telah menderita guncangan dalam tubuh yang membuatnya terluka, maka tanpa malumalu
lagi dia mengeluarkan senjata simpanannya yang tadinya dipakainya sebagai sebuah kalung jimat!
Menurut kepercayaan tahyul di Nepal, batu-batu hitam yang dipakainya sebagai kalung itu mempunyai
daya kekuatan untuk menolak penyakit dan mala petaka. Selain itu, juga batu-batu hitam itu keras sekali
dan kuat, dapat menahan senjata pusaka lawan yang bagaimana ampuh sekali pun.
“Trrrik.... wirr.... wirr!”
Senjata aneh itu mengeluarkan bunyi berketrik ketika digerakkan dan angin dahsyat menyambar ganas ke
arah Cin Liong. Pemuda ini terkejut sekali dan mengelak, akan tetapi sinar hitam itu mengejarnya terus. Cin
Liong terpaksa mengebutkan ujung lengan bajunya untuk menangkis, tidak berani langsung menangkis
dengan lengannya karena dia belum mengenal sifat senjata lawan. Akan tetapi, biar pun lengan bajunya itu
hanya merupakan kain saja, di dalam tangan pemuda ini berubah menjadi senjata penangkis yang ampuh
dan kuat sekali.
“Prattttt!”
Tangkisan ujung lengan baju dari Cin Liong itu membuat serangan Sam-ok gagal dan sinar hitam senjata
rantainya itu menyeleweng, akan tetapi pemuda itu terkejut bukan main ketika melihat betapa ujung lengan
bajunya pecah-pecah! Dan kini sinar hitam itu telah menyambar lagi bertubi-tubi, mengarah kepalanya dan
ujung sinar hitam itu dapat melakukan serangan totokan ke arah jalan darah yang mematikan. Maka Cin
Liong segera mengelak dan berloncatan ke sana-sini, dan terdesak hebat oleh sinar hitam yang
mengeluarkan bunyi berketrikan itu.
“Cin Liong, nih terima pedangmu!”
Tiba-tiba terdengar Hong Bu berseru dan nampak sinar terang ketika pedang Cin Liong yang tadi dititipkan
kepada pemuda itu telah dicabut oleh Hong Bu dan dilemparkannya kepada jenderal muda itu. Cin Liong
cepat menyambut pedangnya dengan tangan kanan.
“Terima kasih, Hong Bu!” katanya gembira dan seketika pedang itu diputar-putarnya di tangannya, berubah
menjadi sinar bergulung-gulung menyilaukan mata ketika tertimpa sinar obor.
Pedang itu adalah sebuah pedang yang baik karena pedang itu merupakan pedang pemberian Kaisar
sebagai tanda pangkatnya. Seperti juga Sam-ok, putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini sebetulnya
tak lagi memerlukan senjata untuk membantunya dalam perkelahian. Akan tetapi karena lawannya yang
tangguh itu mempergunakan senjata yang aneh dan yang mungkin saja dapat melukai lengannya, maka
tentu saja dia merasa gembira untuk mempergunakan pedangnya menghadapi senjata lawan.
Sam-ok masih terus mendesak dengan senjatanya yang diputar-putar dan menghujani lawannya dengan
serangan-serangan maut. Cin Liong juga memutar pedangnya dan menyambut serangan itu dengan
pedangnya sambil mengerahkan tenaganya.
“Tranggg.... cringggg....!”
Keduanya melompat ke belakang ketika merasa betapa telapak tangan mereka panas dan nyeri, seolaholah
kulitnya terkupas. Mereka masing-masing memeriksa senjata sendiri, akan tetapi hati mereka lega
melihat bahwa senjata mereka tidak rusak oleh benturan yang hebat tadi. Mereka gembira karena
senjatanya dapat menahan senjata lawan, keduanya lalu saling terjang lagi dengan dahsyatnya. Tubuh
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka lenyap terbungkus gulungan sinar hitam dan sinar terang dari pedang Cin Liong, dan kedua sinar
yang bergulung-gulung itu saling belit, saling tekan dalam sebuah pertempuran yang amat seru.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan ini, diam-diam merasa tegang bukan main karena memang
jaranglah terdapat perkelahian antara dua orang yang demikian lihainya. Yang menegangkan adalah
karena kedua pihak tidak mau turun tangan membantu teman. Pihak Hek-i Mo-ong tentu saja tidak berani
melakukan ini sebagai pihak yang lebih lemah atau yang lebih sedikit jumlah temannya, sebaliknya pihak
Kam Hong dan kawan-kawannya tentu tidak mau melanggar perjanjian sebagai pendekar-pendekar yang
menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Maka semua orang tahu bahwa pertandingan antara Samok
dan Cin Liong ini, seperti juga pertandingan lain yang akan terjadi antara kedua pihak, merupakan
perkelahian mati-matian tanpa dapat mengharapkan bantuan orang lain.
Kembali puluhan jurus lewat dengan cepat dan kedua pihak belum juga mampu saling melukai, apalagi
merobohkan. Cin Liong maklum akan kelihaian lawan, dia gerakkan tubuh dan pedangnya dengan tenang
dan hati-hati, sebaliknya Sam-ok yang memang merasa gelisah oleh karena maklum bahwa pihaknya
kalah kuat dan telah terkepung, menyerang dengan penuh nafsu. Melihat betapa pertahanan pemuda itu
tangguh sekali, dia menjadi penasaran.
Tiba-tiba, pada saat kedua senjata itu saling bertemu di udara, Sam-ok menggerakkan pergelangan
tangannya, dan senjata rantai batu hitam itu segera bergerak membelit-belit pedang di tangan Cin Liong,
seperti seekor ular. Kedua senjata itu tidak dapat terlepas kembali dan mereka kini saling tarik-menarik dan
tiba-tiba kaki kanan Cin Liong terpeleset karena dia menginjak batu yang basah dan licin. Pemuda itu
terjatuh miring di atas tanah. Tentu saja semua temannya menahan teriakan kaget melihat hal ini.
Melihat kesempatan yang amat baik baginya ini, Sam-ok menjadi girang sekali dan dia pun lalu menubruk
ke bawah, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah kepala pemuda itu! Hebat bukan main
serangan ini dan semua orang tahu bahwa sekali kepala itu terkena cengkeraman jari-jari tangan yang kuat
itu, tentu pemuda itu akan tewas seketika!
Melihat hal ini, Ci Sian tentu sudah meloncat kalau saja suheng-nya tidak memegang lengannya. Hong Bu
juga mengepal tinju dan matanya melotot memandang ke arah sahabatnya yang rebah miring itu
sedangkan kepalanya terancam cengkeraman yang mengandung ancaman maut itu.
Sam-ok tidak tahu, juga para ahli silat di situ tidak ada yang tahu bahwa ketika terjatuh tadi, otomatis Cin
Liong mengatur gerakan jurus dari ilmu silat sakti Sin-liong Hok-te. Ilmu silat ini memang meminjam
kekuatan bumi dan dilakukan dengan lebih banyak mendekam di atas tanah. Maka ketika Sam-ok
menyerangnya dengan cengkeraman tangan ke arah kepalanya, sebenarnya Cin Liong sudah siap siaga
dengan jurus ilmu silatnya yang ampuh. Dia cepat-cepat menggerakkan kepalanya menyingkir, dan tangan
Sam-ok itu kini mencengkeram pundaknya dan pada saat itu juga, tiba-tiba dari bawah, tangan kiri pemuda
ini meluncur dengan dahsyat mengirim serangan-serangan pukulan mendadak.
“Dessss....!”
Terdengar gerengan serak dari mulut Sam-ok ketika tubuh raksasa itu terlempar sampai tiga meter lebih,
terbanting jatuh ke atas tanah! Sam-ok merangkak bangun, berdiri dan terhuyung-huyung, memandang
dengan mata melotot ke arah Cin Liong, tangan kiri mencengkeram dadanya yang terpukul, tangan kanan
mengangkat rantainya tinggi-tinggi, sikapnya seperti hendak menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba mulutnya
terbuka dan menyemburkan darah segar, kedua kakinya terkulai dan dia pun roboh menelungkup dan
nyawanya melayang meninggalkan tubuhnya!
Cin Liong bangkit dan menyeringai, tangan kirinya memegangi pundak kanannya yang tadi kena
dicengkeram lawan. Cu Kang Bu yang pandai dalam hal pengobatan cepat meloncat mendekatinya dan
memeriksa pundaknya. Untung hanya luka daging saja, dan tenaga sinkang telah melindungi tulang
pundak itu sehingga tidak remuk. Cu Kang Bu cepat memberi sebuah pel merah untuk ditelan oleh jenderal
muda itu dan luka di pundaknya ditempeli koyok hitam.
Kemenangan jenderal muda ini disambut sorak-sorai oleh para pasukan, akan tetapi Toa-ok, Ji-ok, dan
Hek-i Mo-ong mengerutkan alis dan muka mereka sebentar pucat sebentar merah.
Tiba-tiba Ji-ok mengeluarkan pekik melengking nyaring dan ia sudah meloncat ke depan, lalu ia menoleh
kepada Hek-i Mo-ong sambil berkata, “Biarkan aku menebus nyawa Sam-te!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Nenek bertopeng tengkorak ini adalah seorang datuk kaum sesat yang kejam sekali sehingga ia mampu
memperoleh julukan Si Jahat ke Dua. Akan tetapi kini melihat betapa Sam-ok tewas di depan matanya,
hatinya terasa seperti disayat dan ia merasa sakit hati sekali. Kini, Ji-ok Kui-bin Nio-nio sudah berdiri tegak,
tubuhnya yang kecil ramping seperti tubuh orang muda itu bergoyang-goyang, dadanya turun naik terbawa
tarikan napas panjang karena kemarahannya, sepasang mata di balik topeng tengkorak itu bagai dua titik
api yang mencorong. Rambutnya yang sudah putih semua riap-riapan, sebagian menutupi muka
tengkorak, kedua tangannya yang berkuku runcing bertolak pinggang, sikapnya menantang sekali.
“Bocah-bocah sombong, lekas majulah dan terimalah kematian di tanganku!” bentaknya menantang.
Ci Sian melangkah maju dan berkata kepada suheng-nya, “Suheng, ia adalah satu-satunya wanita di pihak
lawan seperti juga aku di pihak kita. Biarkan aku menghadapi iblis betina ini!”
Kam Hong mengerutkan alisnya. Tentu saja diam-diam dia merasa khawatir sekali akan keselamatan gadis
yang amat dicintanya ini, dan dia pun tahu akan kelihaian Ji-ok. Akan tetapi, di antara lawan yang masih
tinggal tiga orang, kiranya Ji-ok masih terhitung yang paling lemah dibandingkan dengan Toa-ok, dan Hek-i
Mo-ong, dan selain itu, dia pun maklum bahwa sumoi-nya sekarang sama sekali tidak boleh disamakan
dengan sumoi-nya setahun yang lalu. Sumoi-nya telah mewarisi ilmu sinkang dari Pulau Es saat
digembleng oleh pendekar sakti Suma Kian Bu, dan dibandingkan dengan dirinya, sumoi-nya hanya kalah
setingkat saja. Maka dia pun merasa yakin bahwa sumoi-nya akan mampu menandingi Ji-ok Kui-bin Nionio.
Maka dia pun mengangguk.
“Hati-hati, Sumoi. Hadapi ia dengan tenang saja, karena engkau tidak akan kalah!” katanya
memperingatkan sumoi-nya bahwa menghadapi seorang datuk kaum sesat yang tentu saja memiliki
banyak pengalaman bertanding dan juga mempunyai banyak tipu muslihat, harus dilakukan dengan penuh
ketenangan dan kepercayaan kepada diri sendiri. Terburu nafsu menghadapi orang seperti Ji-ok ini bisa
celaka sendiri. Ci Sian mengangguk dan tersenyum.
“Suheng, aku tidak akan membikin malu dan kecewa padamu,” katanya dan janji ini mengelus hati Kam
Hong yang merasa terharu dan juga berbahagia sekali.
Ci Sian kini menghadapi Ji-ok dan ia telah mencabut suling emasnya. Dara ini sekarang telah menjadi
seorang gadis dewasa. Wajahnya yang berbentuk bulat manis itu masih membayangkan kelincahan dan
kejenakaan. Sinar matanya penuh keberanian sedang senyum di mulutnya masih membayangkan
kenakalan remajanya walau pun sikapnya kini nampak tenang dan membayangkan kematangan
pengalaman-pengalaman yang selama ini dihadapinya. Mukanya yang bulat itu nampak amat manis ketika
diangkatnya suling melintang di depan dada dan matanya memandang kepada lawan dengan tajam, kedua
kakinya agak terpentang dan jari telunjuk dan tengah tangan kiri menyentuh ujung sulingnya yang
melintang.
Melihat bahwa yang maju dan hendak melawannya hanya seorang gadis yang nampak masih remaja itu,
Ji-ok mengeluarkan suara tertawa mengejek, lalu ia mendengus dengan suara memandang rendah sekali,
sikap yang disengaja untuk menjatuhkan nyali lawan. “Hi-hik, bocah ini yang hendak menandingiku?
Apakah tidak sayang kalau gadis secantik dan semuda ini harus mampus di tanganku? Bocah manis, lebih
baik kalau lekas berlutut minta ampun dan nenekmu mungkin akan menaruh kasihan kepadamu!”
Ucapan ini selain hendak merendahkan dan mengecilkan nyali lawan, juga disengaja dikeluarkan untuk
membakar hati lawan, agar marah. Kemarahan yang mengawali pertandingan berarti merugikan sekali dan
hal ini diketahui dengan baik oleh Ci Sian yang selain menerima gemblengan Kam Hong, juga pernah
digembleng oleh seorang pendekar sakti seperti Suma Kian Bu. Maka, mendengar ucapan dan melihat
sikap nenek itu, ia tetap tersenyum, bahkan mengambil sikap seperti seorang dewasa melihat tingkah laku
seorang anak kecil yang nakal.
“Ji-ok Kui-bin Nio-nio,” katanya lantang, “Sudah lama aku mendengar bahwa engkau adalah seorang
nenek yang amat kejam seperti siluman, banyak membunuh anak-anak kecil untuk kau hisap darah dan
otaknya. Kejahatanmu sudah melampaui takaran dan engkau telah layak untuk mati sampai seratus kali.
Maka sekarang tiba saatnya engkau menebus dosa-dosamu di dasar neraka menyusul Sam-ok yang
sudah mendahuluimu dan sedang menantimu di ambang pintu neraka. Bersiaplah engkau, wahai nenek
iblis!”
Kini terjadilah senjata makan tuan. Senjata yang dipergunakan oleh Ji-ok, yaitu kata-kata untuk memancing
kemarahan lawan, ternyata dipergunakan pula oleh Ci Sian yang cerdik. Dara ini maklum akan kelemahan
dunia-kangouw.blogspot.com
lawan pada saat itu, maka Ci Sian sengaja mengingatkannya tentang kematian Sam-ok. Di luar
kesadarannya sendiri, mendengar ucapan ini, Ji-ok teringat akan kematian Sam-ok dan ia menjadi marah
bukan main. Sambil mengeluarkan suara mendengus karena tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata
saking marahnya, nenek ini sudah menggerakkan tubuhnya dan tangan kirinya yang berkuku panjang itu
telah melakukan penyerangan dahsyat, mencengkeram ke arah muka Ci Sian!
Ci Sian tersenyum mengejek dan cepat mengelak sambil menggerakkan sulingnya menotok ke arah
sambungan siku lengan nenek yang menyerangnya itu dari samping, memaksa Ji-ok untuk cepat menarik
kembali lengannya yang melakukan penyerangan tadi. Mereka segera mulai serang-menyerang dengan
sengit dan terjadilah perkelahian yang tidak kalah serunya dibandingkan dengan pertandingan pertama
antara Cin Liong dan Sam-ok tadi.
Pelampiasan kemarahan merupakan pembuangan kekuatan batin yang amat besar, merupakan
penghamburan energi yang sungguh sia-sia. Orang yang melampiaskan kemarahan melalui kata-kata
keras atau tindakan-tindakan kekerasan, tentu akan merasa betapa sesudahnya dia akan kehabisan
tenaga, lemas lahir batin. Oleh karena itu, orang yang mampu menghadapi nafsu-nafsu yang muncul
seperti nafsu amarah, tanpa menghamburkan kekuatan dahsyat itu melalui pelampiasan, berarti akan
menyimpan kekuatan batin yang kuat. Bukan mengendalikan kemarahan, melainkan menghadapinya dan
memandangnya dengan wajar dan waspada dan sadar, tidak dikuasai olehnya. Pengendalian kemarahan
hanya akan meredakan nafsu itu untuk sementara waktu saja.
Ji-ok telah dikuasai nafsu kemarahan sendiri, dan kemarahannya ini semakin melonjak saja ketika ia
mendapatkan kenyataan betapa ia tidak mampu mengalahkan lawan yang dianggapnya masih bocah
ingusan ini, betapa pun ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan memeras seluruh kepandaiannya.
Bahkan sebaliknya, serangan-serangan balasan dari suling emas itu sungguh membuat ia kadang-kadang
terkejut dan beberapa kali nyaris terkena totokan ujung suling emas.
Lebih dari itu pula, setelah lewat puluhan jurus, suling emas itu selain mengeluarkan serangan yang sangat
berbahaya, juga mengeluarkan suara melengking tinggi rendah bagaikan ditiup mulut yang tidak nampak,
dan di dalam suara ini terkandung tenaga khikang yang teramat kuat, membuat kepalanya pening dan
pengumpulan tenaganya kadang-kadang membuyar!
Ji-ok yang biasanya amat yakin akan kemampuan sendiri, yang biasanya memandang rendah kepada
pihak lawan, sekali ini merasa penasaran bukan main dan hal ini lalu mendorong kemarahannya menjadi
semakin memuncak sampai napasnya terengah-engah dan dari atas kepala yang penuh rambut putih itu
mengepul uap putih yang tebal!
“Mampuslah engkau! Haiiittt....!”
Tiba-tiba nenek itu merendahkan dirinya untuk membiarkan suling itu meluncur lewat, kemudian kakinya
mengirim tendangan kilat ke arah dada Ci Sian. Bukan sembarang tendangan karena tendangan itu
dilakukan sambil meloncat dan merupakan tendangan berantai, dilakukan oleh kaki bersepatu yang dilapisi
besi meruncing itu. Bertubi-tubi kedua kaki itu menendang, dan setiap kaki dapat melakukan tendangan
berantai sampai tiga empat kali mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh lawan!
“Tak-tuk-tak-tuk!”
Terdengar suara pada saat Ci Sian mengelak dan menangkis dengan sulingnya sampai akhirnya nenek itu
terpaksa menghentikan serangan tendangan berantai yang selain tak berhasil, juga membuat kedua kaki
yang terbungkus sepatu itu terasa nyeri bertemu dengan suling emas. Akan tetapi masih dua kali lagi ia
menendang dan sekali ini, dari pinggiran ujung sepatunya menyambar sinar kecil-kecil merah ke arah
tubuh Ci Sian!
“Tring-tring-tring....!”
Paku-paku berwarna merah yang mengandung racun itu runtuh semua ketika tertangkis suling dan dengan
marah Ci Sian memutar sulingnya, menggunakan jurus yang ampuh dari Kim-siauw Kiam-sut untuk balas
menyerang. Gulungan sinar keemasan dari suling itu menghimpit dan nenek itu terpaksa berloncatan
mundur karena terdesak oleh serangan suling berubi-tubi yang mengeluarkan bunyi melengking tinggi itu.
Untuk menghindarkan diri dari serangan suling bertubi-tubi yang sinarnya menggulung dirinya itu, terpaksa
Ji-ok harus melempar tubuhnya ke belakang, ke atas tanah lalu ia bergulingan sampai jauh. Ketika Ci Sian
dunia-kangouw.blogspot.com
yang melihat lawan bergulingan menjauhi ini mengejar dengan serangan sulingnya, dengan hati girang
karena lawan memperlihatkan kelemahannya, tiba-tiba saja Ji-ok melakukan penyerangan dari bawah,
menggunakan ilmunya yang ampuh, yaitu Kiam-ci (Jari Pedang). Telunjuknya menusuk atau menotok,
mengeluarkan suara bercicitan seperti tikus terjepit dan dari telunjuk tangannya itu keluarlah sinar berkilat
yang mengandung hawa dingin sekali!
Melihat telunjuk lawan menuju ke arah tenggorokannya, dan merasakan hawa dingin yang menyambar, Ci
Sian kemudian menggerakkan tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan Hwi-yang Sinkang atau
sinkang yang mengandung hawa panas yang pernah dilatihnya dari Pendekar Pulau Es Suma Kian Bu.
“Tasssss....!”
Pertemuan dua tenaga yang saling bertentangan itu merupakan benturan keras lawan keras hingga
akibatnya keduanya terdorong ke belakang. Ji-ok merasa betapa seluruh lengannya tergetar dan panas
sekali, sebaliknya Ci Sian cepat mengerahkan sinkang untuk melawan hawa dingin yang menyusup ke
tubuh melalui tangan yang menangkis tadi.
Betapa pun, girang juga hati Ji-ok melihat betapa ilmunya yang hebat itu sempat membuat lawan tangguh
ini terhuyung, maka ia pun sudah meloncat ke depan lagi sambil menyerang dengan ilmu Kiam-ci secara
dahsyat dan bertubi-tubi.
Menghadapi serangan aneh dan amat berbahaya ini, Ci Sian cepat menggerakkan dan memutar sulingnya
dengan tangan kanan, dan tangan kirinya membantu, bukan hanya untuk menangkis, melainkan juga untuk
menyerang dengan pukulan-pukulan jarak jauh untuk mengimbangi serangan lawan. Tentu saja ia sudah
mempergunakan tenaga gabungan Im dan Yang dari Pulau Es yang pernah diajarkan Suma Kian Bu
kepadanya.
Kini pertandingan itu berjalan lebih seru, tetapi juga aneh karena jarak antara mereka agak jauh dan
agaknya kedua tangan mereka tidak pernah saling menyentuh, namun di antara dua orang wanita ini
menyambar-nyambar hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bercicitan dan juga terasa betapa angin
pukulan yang kadang-kadang dingin bukan main, kadang-kadang panas, menyambar-nyambar ke semua
jurusan. Hebat memang perkelahian itu dan semua orang yang menonton menjadi kagum luar biasa.
Terutama Kam Hong, pendekar ini bangga bukan main. Sumoi-nya itu, setelah memiliki sinkang gabungan
dari Pulau Es, benar-benar menjadi seorang wanita yang sangat hebat!
Adu pukulan jarak jauh itu berlangsung sampai seratus jurus, dan keduanya mulai lelah karena perkelahian
macam ini membutuhkan pengerahan sinkang yang terus menerus dan siapa lengah tentu akan celaka.
Dan hal ini pun menguntungkan Ci Sian. Dara ini masih muda sekali, tentu saja memiliki daya tahan yang
jauh lebih kuat dibandingkan lawannya yang mulai terengah-engah dan uap yang mengepul dari kepala itu
kini makin tebal saja, dan nampak keringat menetes-netes dari balik kedok tengkorak, juga di leher nenek
itu nampak keringat membasahi kulit dan baju.
Memang tidak dapat disangkal pula bahwa Ci Sian juga sudah merasa lelah, dadanya bergelombang,
pernapasannya mulai terdengar, dan dahi serta lehernya nampak basah. Namun, dibandingkan dengan
lawannya, ia masih lebih segar.
Tentu saja Ji-ok menjadi semakin penasaran dan marah, sungguh pun kemarahannya itu mulai bercampur
dengan kekhawatiran. Sungguh tidak disangkanya, lawannya yang masih amat muda ini ternyata benarbenar
lihai bukan main, bukan saja memiliki ilmu silat yang amat tinggi dengan suling emasnya, juga
ternyata memiliki tenaga sinkang yang hebat sekali di samping tenaga khikang yang membuat sulingnya
dapat bersuara melengking tinggi menggetarkan jantung.
Maka nenek ini pun mengambil keputusan bulat untuk mengeluarkan ilmunya yang paling ampuh, yang
merupakan senjata rahasianya yang selama ini bahkan belum pernah dikeluarkannya menghadapi lawanlawan
tangguh. Pada waktu itu, Ci Sian yang melihat betapa lawannya sudah nampak lelah sekali,
memutar sulingnya dan melakukan desakan hebat sehingga Ji-ok terpaksa hanya main mundur dan
mengelak ke sana sini. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya seperti orang hendak lari.
Tentu saja Ci Sian tidak membiarkan lawannya melarikan diri dan ia pun cepat meloncat mengejar. Dan
pada saat itu pula, tiba-tiba Ji-ok membalikkan tubuh lagi dan kedua tangannya menyerang dengan jurus
Kiam-ci yang mengeluarkan suara bercuitan. Dan bukan hanya tusukan-tusukan jari yang dahsyat ini saja
dunia-kangouw.blogspot.com
yang menyambar ke arah Ci Sian, akan tetapi juga didahului oleh dua sinar hitam yang menyambar dan
tahu-tahu dua sinar itu telah mengenai leher dan juga pinggang Ci Sian.
Semua orang terkejut sekali melihat dua sinar ini adalah dua ekor ular yang sangat berbahaya. Semacam
ular cobra yang jahat dan beracun sekali! Ular-ular cobra itu sudah melingkari leher dan pinggang Ci Sian
dan semua orang tahu bahwa sekali saja terkena gigitan ular seperti ini, maka tidak ada obat di dunia ini
yang akan dapat menyelamatkan nyawa orang yang digigitnya. Hanya Kam Hong yang masih nampak
tenang-tenang saja, padahal Cin Liong dan Hong Bu sudah menahan seruan dan wajah kedua orang muda
ini sudah menjadi pucat sekali. Juga Cu Kang Bu, Yu Hwi, dan Cu Pek In memandang dengan mata
terbelalak, walau pun Yu Hwi juga segera tersenyum karena ia teringat bahwa Ci Sian akan mampu
menghadapi ular-ular itu.
Dugaannya memang benar dan hal ini pun diketahui oleh Kam Hong maka pendekar ini nampak tenang
saja. Ci Sian adalah murid terkasih dari See-thian Coa-ong, raja ular yang memiliki ilmu pawang ular yang
lihai bukan main. Gadis ini selain telah menguasai Sin-coa Thian-te-ciang, ilmu silat ular yang lihai, juga
telah menguasai ilmu pawang ular.
Maka begitu ia tadi melihat bahwa senjata rahasia lawannya adalah dua ekor ular cobra, diam-diam ia
tertawa dan segera mengerahkan ilmu menundukkan ular itu. Hebatnya, begitu ular-ular itu mengenai leher
dan pinggangnya, dua ekor ular yang segera mengenal ilmu itu dan tahu bahwa manusia ini adalah ‘ratu’
mereka, sama sekali tidak menggigit malah lalu melingkar dengan manja!
Yu Hwi maklum bahwa Ci Sian pernah menjadi murid See-thian Coa-ong, dan Kam Hong juga tahu akan
hal ini, maka mereka berdua tidak merasa khawatir. Akan tetapi, tiba-tiba Ci Sian mengeluarkan teriakan
nyaring dan roboh terjengkang! Kam Hong sendiri sampai terkejut setengah mati melihat hal yang tidak
diduga-duganya ini.
Ji-ok terkekeh girang, lalu menubruk untuk memberi pukulan maut terakhir. Akan tetapi, mendadak kedua
tangan Ci Sian bergerak dan dua ekor ular itu kini meluncur ke arah tubuh Ji-ok yang sedang menubruk,
dengan mulut mendesis penuh kemarahan! Ji-ok terkejut, namun tidak mampu mengelak lagi dan dua ekor
ular itu telah mengenai pundak kanan dan paha kirinya, terus saja dua ekor ular cobra itu mematuk dan
menggigit! Ji-ok menjerit ngeri, lalu terpelanting.
Ci Sian juga sudah melompat bangun, sulingnya menotok ke arah tenggorokan wanita itu. Ji-ok mengelak
dan suling itu mengenai topengnya. Terdengar suara keras dan topeng itu terlepas dari muka Ji-ok. Dan
semua orang pun menahan seruan kaget dan ngeri ketika melihat muka nenek itu.
Muka yang cantik sesungguhnya, biar pun sudah tua akan tetapi kulit muka itu masih halus dan putih.
Bentuk mulutnya, hidungnya, matanya, semua jelas menunjukkan bahwa muka itu dahulu adalah wajah
seorang wanita yang amat cantik. Akan tetapi, sungguh mengerikan sekali, wajah yang demikian eloknya
itu ternoda oleh goresan bersilang dari atas kiri ke bawah kanan dan dari atas kanan ke bawah kiri
sehingga membuat muka itu nampak mengerikan sekali! Sekarang semua orang baru tahu bahwa di balik
topeng tengkorak itu tersembunyi wajah cantik yang sudah cacad.
Tentu saja Ji-ok yang mempunyai senjata rahasia ular cobra yang amat berbahaya telah menggunakan
obat sehingga tubuhnya kebal terhadap gigitan ular-ular itu, dan biar pun tadi dua ekor ular yang telah
dikuasai oleh ilmu Ci Sian itu membalik dan menggigit majikan sendiri, namun Ji-ok tidak terancam bahaya
maut oleh gigitan itu. Yang membuatnya terkejut bukan main adalah terlepasnya kedok. Ia marah sekali
dan menubruk ke arah Ci Sian tanpa mempedulikan lagi keselamatan dirinya, sama sekali tidak lagi
memperhatikan daya tahan untuk melindungi dirinya. Ia seperti orang nekad yang hendak mengadu nyawa
dengan lawannya.
Dan memang sesungguhnya demikianlah. Wanita ini ketika mula-mula memakai kedok tengkorak, telah
bersumpah bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat wajahnya dan kalau sampai wajahnya nampak
oleh orang lain berarti ia akan mati! Maka, begitu kedoknya terlepas oleh pukulan suling lawan, ia pun
menjadi marah dan melakukan serangan nekad, menubruk dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar
garuda, dengan kuku panjang yang mengandung tenaga dahsyat dari Kiam-ci itu.
Tentu saja Ci Sian dapat melihat kenekadan lawan, maka ia pun cepat meloncat ke samping dan melihat
betapa tubuh orang terbuka tanpa perlindungan, sulingnya sudah menyambar, merupakan sinar kuning
emas yang meluncur cepat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Takkk....! Aihhhh....!”
Ji-ok mengeluarkan jeritan satu kali lalu tubuhnya terguling dan jatuh menelungkup di atas tanah, tewas
seketika karena dua kali tubuhnya tertotok ujung suling, pertama kali pada lambungnya lalu disusul totokan
pada leher bawah telinganya.
Bukan main sedihnya hati Toa-ok melihat tewasnya Ji-ok dan Sam-ok di depan matanya tanpa ia mampu
melindungi mereka itu. Kini tinggal dia seorang diri di dunia. Im-kan Ngo-ok yang terdiri dari lima orang itu
kini tinggal dia seorang saja. Su-ok dan Ngo-ok telah tewas lebih dulu dan kini menyusul Sam-ok dan Ji-ok.
Biar pun Toa-ok merupakan seorang datuk kaum sesat yang biasa berhati kejam sekali, akan tetapi sekali
ini dia merasa betapa hatinya perih dan nyeri.
Dengan muka berubah merah dia sudah melompat ke depan. Ketika dia menggerakkan tangannya, lengan
bajunya berkibar dan dari situ menyambar angin dahsyat ke depan, membuat debu mengebul dan daundaun
kering beterbangan. Akan tetapi Ci Sian yang merasa lelah dan juga girang karena telah berhasil
keluar sebagai pemenang, kini telah meloncat ke belakang dan tidak mau melayani Toa-ok yang
memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan bersinar-sinar penuh kemarahan dan dendam.
Tanpa membuang waktu lagi, Sim Hong Bu melangkah maju sambil berkata kepada Kam Hong, “Biar aku
yang melayaninya.”
Kam Hong mengangguk. “Hati-hatilah, Saudara Hong Bu, lawanmu itu cukup tangguh.”
Melihat majunya pemuda tegap sederhana yang sikapnya gagah ini, Toa-ok segera menghadapinya dan
sepasang matanya yang masih terbelalak penuh kemarahan itu seperti hendak menelan Hong Bu bulatbulat.
Dia mengenal pemuda ini, bahkan dia tahu pula bahwa pemuda inilah yang dahulu bersahabat
dengan Yeti. Mengingat bahwa pemuda ini baru beberapa tahun saja mempelajari ilmu silat, tentu saja
Toa-ok yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan pemuda ini, walau pun dia sama sekali tidak mau
bersikap sembrono dan memandang rendah.
Tadi sudah disaksikannya betapa orang-orang muda seperti Kao Cin Liong dan Bu Ci Sian telah mampu
merobohkan dan menewaskan Sam-ok dan Ji-ok. Dia sekarang harus dapat membalas kematian dua
orang adik-adiknya itu. Akan tetapi ketika Hong Bu mencabut pedang Koai-liong Po-kiam dan nampak sinar
biru berkelebat, Toa-ok merasa gentar juga. Bagaimana pun juga, pemuda ini sudah pernah membuktikan
kelihaiannya ketika dikeroyok dan dapat juga melarikan diri. Pedang di tangan pemuda itu adalah sebatang
pedang yang amat ampuh, dan juga ilmu pedang yang dimiliki pemuda ini luar biasa aneh dan lihainya,
maka Toa-ok bersikap hati-hati.
Di antara kelima orang Im-kan Ngo-ok, hanya Toa-ok sajalah yang tidak pernah mau mempergunakan
senjata. Tentu saja, sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, dia pandai memainkan segala macam senjata
yang dipergunakan orang di dunia persilatan. Tetapi, tokoh ini memiliki tingkat yang tinggi dan tenaga
sinkang yang kuat sekali sehingga dia tidak lagi membutuhkan bantuan senjata. Kedua lengannya yang
panjang dan besar itu telah dilindungi oleh kekuatan sinkang dan dapat menahan senjata tajam yang bagai
mana pun kuatnya. Setiap serangan tangan atau kakinya juga lebih berbahaya dari pada senjata tajam.
Setelah melihat pemuda pewaris Koai-liong Po-kiam itu mencabut pedangnya, Toa-ok juga tidak mau
banyak cakap lagi. Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor monyet raksasa, kakek ini pun
lalu mulai membuka serangannya.
Gerakannya biasa saja, seperti bukan gerakan silat, juga nampak kaku dan dia hanya mengembangkan
kedua lengannya ke depan dan kedua tangannya itu menyambar dari atas, kanan dan kiri, akan tetapi, biar
pun nampak kaku dan lamban, namun dari kedua tangannya itu menyambar angin pukulan yang dahsyat
sekali, yang mengeluarkan suara angin keras. Dan baru saja kakek itu mulai dengan serangannya, Hong
Bu sudah merasakan sambaran hawa pukulan yang amat panas. Maka pemuda ini pun lalu memutar
pedangnya dan selain mengelak serta melindungi diri dengan gulungan sinar pedang kebiruan, juga dia
membalas secara kontan dengan tusukan pedangnya ke arah perut lawan yang agak gendut itu.
“Trakkk!”
Toa-ok menangkis dengan lengannya, sengaja menangkis sambil mengerahkan tenaga, mencoba
membuat pedang lawan terpental, bahkan tangkisan itu disambung dengan cengkeraman untuk merampas
pedang. Ketika lengan bertemu pedang, Hong Bu merasa betapa pedangnya tergetar hebat, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
dia pun cepat menarik pedangnya itu dan gulungan sinar pedang kembali berkelebat dan sudah membabat
ke arah leher lawan. Ketika Toa-ok mengelak, pedang itu sudah menyambar lagi dengan dahsyatnya,
seolah-olah mempunyai nyawa dan setiap serangan yang tidak mengenai sasaran disambung dengan
serangan berikutnya.
Terjadilah perkelahian yang sama serunya dengan dua pertandingan yang terdahulu. Bahkan lebih
menegangkan lagi karena para pendekar itu maklum bahwa kepandaian Toa-ok ini masih lebih lihai
dibandingkan dengan Ji-ok atau Sam-ok. Sekali ini, yang paling khawatir adalah Cu Pek In. Dara ini biar
pun merupakan puteri dari pendekar sakti keluarga Cu, namun tingkat kepandaiannya belumlah setinggi
Hong Bu, maka ia hanya dapat menonton dengan hati gelisah. Ia pun tahu betapa lihainya kakek yang
seperti gorila itu dan biar pun gerakan kakek itu kaku dan aneh seperti gerakan seekor monyet raksasa,
namun ia mengerti bahwa kalau tidak lihai bukan main, tidak nanti kakek yang mukanya menyerupai
monyet ini dapat menjadi orang pertama dari Im-kan Ngo-ok!
Sim Hong Bu maklum akan hal ini, maka dia pun tidak berani memandang rendah dan kini pemuda itu
mulai memainkan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang amat hebat itu. Perlahan-lahan nampak sinar
pedang berwarna biru begulung-gulung, makin lama makin cepat dan makin lebar. Mula-mula hanya
terdengar bunyi berdesing, lalu bunyi itu makin meninggi menjadi lengking yang aneh, seperti auman singa,
makin lama makin nyaring sampai menggetarkan anak telinga. Pedang itu lenyap membentuk gulungan
sinar biru yang agaknya memenuhi tempat itu, membungkus tubuh Sim Hong Bu sehingga yang nampak
pada diri pendekar muda perkasa ini hanya kedua kakinya yang kadang-kadang turun ke atas tanah, akan
tetapi sebentar saja sudah lenyap lagi.
“Hyaaaattt....!”
Tiba-tiba terdengar teriakan Hong Bu di antara lengking suara pedangnya, dan dengan gerakan kilat sinar
biru menyambar ke arah leher Toa-ok. Jurus ini amat hebatnya, tusukan pedang itu bergetar, membuat
ujung sinar pedang itu menjadi banyak dan membingungkan lawan karena sukar untuk menduga ke arah
mana pedang itu akan menyerang.
Akan tetapi, Toa-ok yang juga berkelahi dengan amat hati-hati itu tahu bahwa lehernya yang menjadi
sasaran utama, maka dia pun sudah miringkan tubuh menarik kepalanya ke belakang dan kedua
lengannya membuat gerakan menggunting dalam usahanya menangkap pedang lawan. Tapi Hong Bu
menarik sedikit pedangnya dan menggunakan ujung pedang untuk menusuk ke arah sambungan siku
kanan Toa-ok.
“Hemmm!” Toa-ok mendengus, menarik sikunya turun dan tangan kirinya menangkis pedang sedangkan
tangan kanan sudah mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Sim Hong Bu.
Pemuda ini tentu saja tahu akan datangnya bahaya maut, maka sambil menarik pedangnya dia melompat
ke belakang. Akan tetapi, alangkah terkejut hati pemuda itu ketika melihat betapa tangan yang besar
berbulu seperti tangan monyet itu masih terus saja mengejar kepalanya dan mengancam dengan
cengkeraman yang mengerikan. Kiranya orang pertama dari Im-kan Ngo-ok ini mempunyai ilmu
memanjangkan lengan tangan sehingga biar pun Hong Bu sudah mundur sampai dua meter, lengan itu
masih dapat menjangkaunya dan tangan itu masih meneruskan serangannya.
“Plakkk!”
Terpaksa Hong Bu menangkis dengan lengan kirinya yang kebetulan berada dalam posisi yang baik untuk
menangkis sedangkan pedangnya tidak sempat melindungi dirinya. Dan tangkisan ini membuat Hong Bu
terhuyung. Diam-diam pemuda ini merasa kagum dan juga kaget. Nyaris dia menjadi korban ilmu aneh
memanjangkan lengan itu! Maka dia pun cepat menyusuli tangkisannya dengan babatan pedangnya ke
arah sambungan siku lengan yang memanjang itu.
“Wwuuuuttt....!”
Tiba-tiba saja lengan yang panjangnya lebih dari dua meter itu menjadi pendek kembali seolah-olah ditarik
dengan amat cepatnya dan kini kakek raksasa seperti monyet itu sudah memutar tubuhnya dan kedua
kakinya sudah melakukan serangan Im-yang Soan-hong-twi (Ilmu Tendangan Angin Puyuh Im dan Yang).
Kedua kaki yang besar dan panjang itu dengan amat cepatnya berputar-putar silih berganti melakukan
tendangan berantai dan ketika Hong Bu mengelak dan beberapa kali menangkis, dia memperoleh
kenyataan bahwa tendangan itu selang-seling dengan dua macam tenaga lemas dan kasar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menghadapi tendangan berantai yang ganas ini, Hong Bu lantas memutar pedangnya dengan jurus Naga
Sakti Bercanda Dengan Mustika. Pedang itu berputar membentuk lingkaran sinar biru di depannya,
merupakan benteng yang berbahaya bagi kedua kaki Toa-ok yang terpaksa menghentikan tendangan
berantai itu karena terdapat bahaya kakinya akan menjadi buntung kalau berani memasuki lingkaran sinar
biru itu.
Setelah kini Hong Bu mainkan Koai-liong Kiam-sut, mengeluarkan jurus-jurus pilihan saja sehingga
pedangnya mengeluarkan suara mengaum-aum nyaring, perlahan-lahan Toa-ok nampak repot juga,
terdesak karena memang ilmu pedang ini luar biasa sekali dan dia belum dapat mengenal dasar-dasarnya.
“Arrrghhh....!” Bentakan yang keluar dari kerongkongan Toa-ok ini mirip benar dengan gerengan seekor
monyet yang sedang marah, dan tiba-tiba saja tangan kiri kakek itu dapat menangkap pedang Koai-liong
Po-kiam!
Dapat dibayangkan betapa lihainya kakek ini yang telah dapat menangkap pedang telanjang dengan
tangan kosong, padahal pedang itu tadi berubah menjadi sinar berkelebatan. Hong Bu terkejut, merasa
betapa pedangnya seperti terjepit pada sebuah jepitan baja yang amat kuat! Dia menarik dan membetot,
tidak dapat ditarik kembali.
Dan pada saat itu, Toa-ok telah menghantamkan tangan kanannya yang terbuka lebar itu ke arah dada
Hong Bu dengan dorongan tenaga sinkang yang amat kuatnya! Karena pedangnya masih terjepit di tangan
lawan, tentu saja Hong Bu tidak mau mengelak dan melepaskan pedang. Dia tahu bahwa kalau dia
kehilangan pedang pusaka itu, maka dia akan menjadi bagaikan harimau yang dicabuti giginya, dan jalan
satu-satunya untuk menghadapi pukulan telapak tangan lawan itu hanya dengan keras melawan keras.
Maka dia pun cepat menggerakkan tangan kirinya, menerima hantaman itu dengan memapaki tangan
dengan tangan pula.
“Dessss....!”
Dua telapak tangan bertemu, dan telapak tangan kakek itu dua kali lebih lebar dari pada telapak tangan
Hong Bu. Akan tetapi pendekar muda ini pun tadi sudah menggunakan sinkang sekuatnya sehingga ketika
dua telapak tangan bertemu, kedua tangan itu seperti saling melekat, tidak dapat ditarlk kembali karena
siapa yang menarik lebih dulu, akan menghadapi bahaya maut karena lawan tentu langsung
menyerangnya. Maka kini keduanya berkutetan, sebelah tangan saling menarik pedang untuk
merampasnya, sebelah tangan yang lain saling dorong mengadu kekuatan sinkang! Keadaan amat
menegangkan, bahkan Cin Liong sudah mengepal-ngepal tinjunya, ragu-ragu apakah pemuda itu akan
mampu menandingi Toa-ok dalam adu tenaga ini.
Memang Hong Bu mulai terdesak dalam adu tenaga ini. Bagaimana pun juga inti ilmu yang diwarisinya
adalah ilmu pedang dan kini setelah pedangnya tertangkap dan dia tidak lagi mampu mempergunakan ilmu
pedangnya, maka tentu saja kelihaian Hong Bu seperti mati langkah, dan dalam hal tenaga sinkang, dia
masih kalah oleh orang pertama dari Im-kan Ngo-ok itu! Kalau dilanjutkan adu tenaga itu, tentu Hong Bu
akan kalah dan Kam Hong sudah bersiap-siap untuk menyelamatkan sahabatnya itu, bukan untuk
mengeroyok namun untuk menyelamatkan sahabatnya dan tentu saja mengaku kalah. Kekalahan di
pihaknya berarti harus membiarkan yang menang untuk pergi dengan aman! Sedangkan orang seperti
Toa-ok itu amatlah berbahaya kalau dibiarkan berkeliaran di dunia ini.
Akan tetapi, mendadak saja Toa-ok yang seperti juga Hong Bu tidak mampu lagi mempergunakan kedua
tangan itu, menggerakkan kepalanya dan mulut yang agak lonjong ke depan seperti monyong monyet itu,
dengan giginya yang besar-besar dan bersiung, dibuka dan hendak menggigit ke arah tenggorokan Hong
Bu!
Semua orang terkejut sekali melihat ini, bahkan Hong Bu sendiri juga kaget. Tidak disangkanya bahwa
seorang tokoh persilatan yang begitu tinggi kedudukannya, seorang datuk seperti Toa-ok, mau
mempergunakan cara yang hanya dilakukan binatang buas dalam perkelahian, yaitu menggigit! Betapa
pun aneh dan lucunya hal ini, namun harus diakui bahwa serangan menggunakan mulut untuk menggigit
tenggorokan ini amat berbahaya.
Tentu saja Hong Bu tak lagi bisa mengelak. Tangan kanannya masih mempertahankan pedang pusaka
yang hendak dirampas, dan tangan kirinya masih menahan telapak tangan Toa-ok. Dua tangannya tak
dapat dipakai untuk menangkis, dan untuk mengelak ke belakang pun tidak mungkin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, pemuda ini teringat bahwa dahulu, sebelum dia menjadi murid pendekar sakti keluarga Cu, dia
pernah mempelajari ilmu silat tingkat rendahan dari ayahnya dan para pamannya. Dan di dalam latihanlatihan
ketangkasan dan latihan tenaga ini ada semacam latihan yang pernah dilatihnya, bahkan telah
dikuasainya dengan baik, yaitu melatih kepalanya, terutama bagian dahi untuk menyerang! Dengan latihan
yang tekun, di waktu dia masih kecil saja dia sudah mempunyai batok kepala yang kuat dan dengan dahi
kepalanya dia sudah mampu menghancurkan batu bata yang keras.
Kini, kepandaian ini timbul dalam benaknya ketika dia menghadapi bahaya. Kekuatan kepalanya yang
hanya berkat latihan dan dilandasi kekuatan otot dan kekerasan tulang kepala yang dilatih itu tentu saja
tidak akan berguna, bahkan berbahaya kalau dilawan oleh tenaga sinkang lawan, maka dia pun tidak
pernah mau menggunakan kepalanya dalam pertempuran. Akan tetapi sekali ini dia menghadapi gigi! Dan
tidak terdapat jalan lain untuk menyelamatkan tenggorokanhya dari ancaman gigi yang besar-besar dan
runcing itu. Maka, dengan cepat Hong Bu juga menggerakkan kepalanya, menyambut mulut lawan yang
dimoncongkan untuk menggigitnya itu dengan benturan yang dilakukan dengan sekuat tenaga.
“Bresss....!”
Bukan main hebatnya pertemuan antara mulut dengan dahi itu dan terdengar Toa-ok berteriak keras
sambil meloncat ke belakang. Mulutnya berdarah dan ternyata giginya rontok dan bibirnya pecah-pecah
berdarah. Gigi orang yang sudah tua ini, yang hanya tinggal beberapa potong dan itu pun sudah kurang
kuat, tidak dapat bertahan ketika bertemu dengan dahi yang terlatih dan kuat itu!
Toa-ok menjadi marah sekali. Bukan hanya dia telah dibikin rugi, kehilangan semua sisa giginya dan
bibirnya berdarah, tetapi juga dia telah mendapat malu karena keadaannya itu sama saja artinya dengan
dia menderita kekalahan. Sambil menggereng, dia pun lalu menerjang maju dan angin yang keras
mendahului terjangannya ini. Kedua lengannya dipentang lebar-lebar ke atas, seperti seekor orang hutan
raksasa sedang marah dan menyerang, dari tenggorokannya keluar gerengan yang menggetarkan jantung.
Akan tetapi, Hong Bu sudah siap menanti kemarahan lawan ini, pedangnya berkelebat ke depan dan pada
saat kedua tangan dari atas itu menerkam, Hong Bu menyelinap di bawah ketiak kanan lawan sambil
membalik dan pedangnya menusuk lambung.
“Crotttt!”
Biar pun pedang itu tidak dapat memasuki lambung yang penuh dengan hawa sinkang yang kuat itu,
namun tetap saja baju kakek itu di bagian lambung terobek, berikut kulit lambung dan sedikit dagingnya,
cukup untuk membuat darahnya mengucur dari tempat itu. Sedangkan Hong Bu sudah meloncat menjauh.
Kembali kakek yang semakin marah itu menerjang, dan sekali lagi Hong Bu mengelak sambil menyerang,
sekali ini pedangnya berhasil menggores pipi dan leher lawan yang menjadi robek kulitnya dan berdarah.
Dan ketika kakek itu membalik, lawannya yang lincah itu sudah menjauh pula. Hong Bu kini memperoleh
akal, mempergunakan siasat seperti seekor lebah menyengat lalu terbang menjauh, menyengat lagi dan
menjauh lagi. Dan dia pun tahu di mana letak kelemahan lawannya atau di mana dia dapat mengungguli
lawan, yaitu pada kecepatan gerakan.
Mengandalkan kecepatannya ini, dan mengandalkan pedang Koai-liong Po-kiam yang amat tajam, maka
mulailah Hong Bu dapat mengacau lawan, bahkan kini sengatan pedangnya semakin cepat dan semakin
sering sehingga lewat tiga puluh jurus saja, baju yang menutupi tubuh Toa-ok sudah robek-robek di sanasini
dan pada setiap tempat yang terobek itu tentu ternoda darah. Toa-ok merasa penasaran sekali, dia pun
sudah mengerahkan tenaga dan kecepatannya, namun pemuda itu terlalu lincah baginya, dan ilmu pedang
pemuda itu masih belum juga dapat dia pecahkan rahasia dasarnya sehingga dia selalu dibuat bingung,
tidak dapat mengikuti ke mana arah perkembangan sinar pedang yang cepat itu.
Toa-ok benar-benar merasa kewalahan sekarang. Kalau tadinya, dengan sinkang-nya dia masih dapat
melindungi seluruh tubuh sehingga sengatan-sengatan ujung pedang itu hanya mendatangkan luka kulit
daging yang kecil dan dangkal saja, makin lama sengatan-sengatan itu makin dalam karena tenaga
pemuda itu semakin bertambah sedangkan tenaganya sendiri sudah menjadi makin lemah. Tubuh yang
mulai tua dan kurangnya latihan membuat dia terpaksa mengakui keunggulan lawan yang masih muda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Betapa pun juga setelah lewat seratus jurus lebih, ketika untuk kesekian kalinya ujung pedang pemuda itu
menyengat dan mengenai paha kirinya, tiba-tiba dia membarengi dengan hantaman kedua tangannya,
dengan pengerahan tenaga yang masih bersisa, tanpa mempedulikan sengatan pedang pada pahanya.
“Crott! Desss....!”
Tubuh Hong Bu terlempar dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya, akan tetapi celana di paha Toaok
terobek dan darah muncrat dari lukanya yang cukup dalam karena pedang itu menusuk sampai
mengenai tulangnya! Rasa nyeri membuat Toa-ok menggereng dan melihat pemuda itu bergulingan, dia
pun menubruk ke depan tanpa memberi kesempatan pemuda itu untuk bangun kembali. Serangan ini
hebat bukan main dan Pek In sudah menjerit, akan tetapi Cu Kang Bu, juga Kam Hong dan Ci Sian dapat
melihat gerakan pemuda itu ketika menerima hantaman dengan bahunya dan mereka bertiga menduga
dengan penuh harapan bahwa Hong Bu setengah sengaja membiarkan dirinya dihantam tadi.
“Wuuuttt....!” Toa-ok menubruk seperti seekor singa kelaparan menubruk seekor domba saja.
“Crottt....!” Pedang Koai-liong Po-kiam menembus lambung.
Hong Bu cepat meloncat menyingkir dan terpaksa meninggalkan pedang yang terbenam di lambung lawan
itu karena kalau tidak, tentu dia terpaksa menerima cengkeraman yang dahsyat sekali itu.
“Bressss....!”
Biar pun Toa-ok sudah terluka hebat, pedang itu pun menembus lambung sampai ke belakang tubuh,
namun batu besar yang kena ditubruknya dan dicengkeramnya itu pecah berhamburan. Debu mengepul
tinggi dan bumi rasanya terguncang! Dia masih bangkit, menggereng-gereng dan dengan kedua
tangannya, dia memegang gagang pedang pusaka itu dan mencabutnya.
Begitu dicabut, darah muncrat-muncrat dan Toa-ok memutar-mutar pedang Koai-liong Po-kiam yang
berlepotan darah itu, menyerbu ke arah Hong Bu! Pemuda ini terpaksa mengelak ke sana-sini dengan hati
penuh kagum dan juga gentar melihat lawan yang lambungnya sudah ditembusi pedang itu masih dapat
mengamuk seperti itu. Akan tetapi tiba-tiba serangan Toa-ok terhenti. Kakek itu berdiri kejang, matanya
terbelalak, lalu terpelanting dan roboh miring.
Dia masih bangkit, menggereng-gereng dan dengan kedua tangannya, dia memegang gagang pedang
pusaka itu dan mencabutnya dengan pedang masih di tangan! Dia tewas dalam keadaan penasaran dan
pedang lawan masih digenggamnya, mukanya masih memperlihatkan kebengisan. Dengan hati-hati Hong
Bu menghampiri, khawatir kalau-kalau orang jahat itu menjebaknya dan pura-pura pingsan atau mati. Akan
tetapi ternyata ketika dia merampas pedangnya, pedang itu dengan mudah berpindah tangan dan dengan
kakek itu terkulai lemas dan ketika diperiksa, ternyata lawannya itu telah tewas.
Melihat ini, para pasukan, seperti juga ketika tadi ketika menyambut kemenangan Cin Liong dan kemudian
Ci Sian, bersorak dan memuji. Tetapi sebaliknya Hek-i Mo-ong memandang kepada mayat Toa-ok dengan
mata pucat dan mata terbelalak. Tiga orang pembantunya atau sekutunya telah tewas semua dan kini
hanya tinggal dia seorang diri! Kam Hong sudah melangkah maju dan memandangnya sambil tersenyum,
akan tetapi sinar matanya penuh tantangan.
“Hek-i Mo-ong, kini tiba giliran kita untuk menentukan siapa di antara kita berdua yang berhak untuk hidup!”
Akan tetapi tiba-tiba kakek raksasa yang rambutnya sudah putih dan pakaiannya serba hitam itu
mengeluarkan suara menggeram parau yang aneh, akan tetapi suara ini mengandung pengaruh yang amat
berwibawa dan semua orang yang ada di situ tergetar hatinya dan memandang dengan kaget dan gentar.
Nampak sinar merah ketika kakek itu sudah mengeluarkan sebatang kipas merah yang sudah
dikembangkan, matanya berapi-api memandang kepada Kam Hong, kemudian terdengar suaranya yang
parau menggetar.
“Orang she Kam! Kau kira akan dapat melawanku? Ha-ha-ha-ha, lihat baik-baik, kalian semua, ha-ha-haha!”
Kam Hong maklum bahwa kakek ini mempunyai kekuatan sihir, maka dia pun sudah siap dan
mengerahkan kekuatan batin untuk melawannya. Akan tetapi, tetap saja dia terbelalak, seperti semua
orang lain yang berada di situ, melihat betapa kakek raksasa berjubah hitam itu tiba-tiba saja, perlahandunia-
kangouw.blogspot.com
lahan, berubah menjadi besar dan tinggi, sampai tiga meter tingginya dan suara ketawanya makin lama
makin nyaring bergema! Jenderal Muda Kao Cin Liong juga terkejut dan pemuda perkasa ini maklum
bahwa kakek yang pandai ilmu silat itu berbahaya sekali, maka dia pun cepat memberi aba-aba kepada
pasukan.
“Kepung tempat ini, jangan biarkan iblis itu melarikan diri!”
Dengan panik karena mereka merasa ketakutan, para penjaga keamanan itu segera melakukan
pengepungan. Sementara itu, Kam Hong sudah mencabut sulingnya dan terdengar suara melengking
lembut sekali ketika pemuda perkasa ini menyerang raksasa itu dengan suling emasnya.
“Blarrrr....!” Raksasa yang dihantamnya dengan suling itu seperti meledak dan lenyap dalam asap hitam
tebal.
“Ha-ha-ha-ha!” Suara ketawa Hek-i Mo-ong kini terdengar di sebelah belakang Kam Hong.
Ci Sian juga sudah mencabut sulingnya dan kembali terdengar suling melengking ketika gadis ini pun
menerjang maju, menyerang kakek itu yang berada di belakang Kam Hong. Baru mereka tahu bahwa
raksasa tinggi besar tadi hanyalah jadi-jadian saja, hasil ilmu hitam kakek itu. Akan tetapi, terpaksa Ci Sian
mundur lagi ketika dari tempat dia berdiri, kakek itu sudah menggerakkan tangan ke arahnya dan tiba-tiba
saja terdengar ledakan di depan Ci Sian dan asap hitam menggelapkan segalanya.
“Sian-moi, hati-hati....!” Kam Hong berseru saat melihat dara itu terhuyung ke belakang.
Dia cepat meloncat mendekati dan menyambar tangan dara itu. Akan tetapi Ci Sian tidak terluka, hanya
terkejut saja dan terhuyung karena terkejut oleh ledakan dan asap. Suara ketawa itu masih terdengar terus,
disusul dengan ledakan-ledakan yang mengeluarkan asap hitam.
“Cegah dia lari!” Kam Hong berseru.
Juga Hong Bu bersama Ci Sian yang pernah melawan kakek ini dan melihat betapa kakek ini dapat
melarikan diri dengan bantuan asap-asap hitam, sudah cepat meloncat ke sana-sini untuk mencari kakek
itu dan mencegahnya melarikan diri.
Akan tetapi ledakan-ledakan masih terus berbunyi dan asap semakin tebal. Di antara gumpalan asap hitam
itu, terdengar suara ketawa Hek-i Mo-ong, disusul suaranya yang parau, “Biarlah sekali ini aku mengaku
kalah. Tetapi tunggu saja kalau Hek-i Mo-ong sudah mengumpulkan kembali kekuatannya. Ha-ha-ha!”
Suara ketawa itu semakin jauh dan biar pun para pendekar, termasuk Cu Kang Bu dan Yu Hwi, mencari
dan mengejar, usaha mereka tidak berhasil dan setelah asap hitam bergumpal-gumpal itu membuyar,
kakek iblis itu pun sudah tidak nampak lagi dan tidak meninggalkan jejak. Untuk kedua kalinya, dalam
keadaan terdesak, kakek yang memiliki ilmu iblis itu telah dapat meloloskan diri.
Kam Hong menarik napas panjang. “Ahh, sukar memang menghadapi ilmu hitamnya. Dan selama Hek-i
Mo-ong masih berkeliaran dengan bebas dipermukaan bumi ini, tentu dia hanya akan menyebar kejahatan
belaka.”
“Betapa pun juga, Kam-taihiap telah berhasil membasmi sisa dari Im-kan Ngo-ok dan ini merupakan hasil
gemilang,” kata Cin Liong.
“Kenapa aku? Yang membasmi adalah termasuk engkau pula, Saudara Kao. Memang, kalau para
pendekar muda mau bersatu, kiranya orang-orang jahat akan menerima hajaran keras dan mereka tidak
akan berani merajalela secara semena-mena.”
Thio-ciangkun, komandan pasukan itu, lalu mengerahkan pasukannya untuk membuat pembersihan,
mengangkut mayat-mayat dan menangkapi sebagian dari anak buah guru silat Koa Cin Gu yang tadi
melempar senjata dan menyerahkan diri.
Para pendekar muda itu bercakap-cakap dan saling mengagumi kepandaian masing-masing. Hati Kam
Hong merasa girang dan juga kagum sekali kepada Sim Hong Bu dan Kao Cin Liong. Biar pun dua orang
pemuda itu belum lama berselang telah menderita pukulan batin dengan penolakan Ci Sian atas pinangan
mereka, namun kini sikap mereka sama sekali tidak berubah, tidak memperlihatkan penyesalan atau
dunia-kangouw.blogspot.com
kekecewaan hati, seperti sikap seorang sahabat karib yang tidak pernah terjadi sesuatu yang tidak baik di
antara mereka.
Juga Cu Kang Bu merasa kagum sekali pada mereka. Semenjak muda dia banyak bersembunyi di lembah
dan kini baru dia mengenal para pendekar yang benar-benar amat mengagumkan hatinya dan diam-diam
dia pun merasa betapa keluarganya, keluarga Cu, selama ini merasa bahwa merekalah yang paling pandai
sehingga mereka itu menjadi agak angkuh dan memandang rendah orang lain. Kini, semua perasaan
penasaran terhadap Kao Cin Liong dan Kam Hong yang pernah dianggap musuh oleh keluarganya itu,
lenyap dari dalam hatinya.
Yu Hwi juga girang sekali. Kini dengan terjadinya peristiwa itu, di mana mereka semua berkumpul sebagai
sahabat-sahabat baik yang saling bantu, ia dapat memandang wajah Kam Hong, bekas tunangannya itu,
dengan sinar mata terbuka, memandangnya sebagai seorang sahabat baik yang berilmu tinggi dan tidak
ada perasaan lain yang tidak baik tersisa di dalam hatinya terhadap bekas tunangannya ini. Bahkan Cu
Pek In sendiri pun berubah, dan dara ini pun mengagumi Cin Liong, Kam Hong, dan Ci Sian, yang
bagaimana pun juga telah menyelamatkan keluarganya, bahkan dengan cara yang mati-matian, mengadu
ilmu dengan tokoh-tokoh sesat yang amat lihai.
Kini, mendengar akan pertunangan antara Sim Hong Bu dan Cu Pek In, Ci Sian adalah orang pertama
yang memberi hormat. “Kionghi (Selamat), kionghi atas pertalian jodoh antara kalian Pek In dan Hong Bu!”
Cu Pek In menjadi merah mukanya. Ia mengucapkan terima kasih sambil menundukkan mukanya. Juga
wajah Hong Bu menjadi merah sekali, tapi dia membalas penghormatan Ci Sian dan berkata sambil
tersenyum, “Terima kasih, Ci Sian. Kami pun mengharapkan agar segera menerima undangan kartu
merahmu!”
“Ha, tidak perlu menanti lama. Tentu sebentar lagi Kam-taihiap akan mengirim kartu merahnya!”
Mendengar ini, Ci Sian mengerling kepada jenderal muda itu dan Kam Hong hanya tersenyum, sedangkan
Hong Bu diam-diam merasa kaget sekali, lalu dia mendekati Kam Hong dan memegang tangan pendekar
itu. “Ahhh, betapa buta mataku.... ehh, selamat, Kam-taihiap, sungguh mati, berita ini merupakan berita
yang sungguh amat mengejutkan dan menggembirakan hatiku!”
Kam Hong merasa tidak enak terhadap Cin Liong. Bekas tunangannya, Yu Hwi, telah mendapatkan
seorang suami yang gagah perkasa seperti Cu Kang Bu itu, dan Hong Bu juga sudah memperoleh jodoh,
yaitu Nona Cu Pek In yang cukup jelita dan gagah, sedangkan dia sendiri saling mencinta dengan Ci Sian.
Akan tetapi, hanya Kao Cin Liong seoranglah yang masih belum memperoleh ganti setelah dia tidak
berhasil berjodoh dengan Ci Sian. Agaknya semua orang juga merasakan hal ini, maka Kam Hong lalu
berkata, “Dan bagaimana denganmu sendiri, Jenderal? Kapan kiranya kami semua akan dapat
diperkenalkan kepada calon nyonya Jenderal?”
Ucapan Kam Hong ini, kalau orang lain yang mengucapkan, tentu merupakan kata-kata yang mengandung
bahaya, dapat disangkanya sebagai ejekan. Akan tetapi, cara Kam Hong mengucapkannya, dan pandang
matanya, sama sekali tidak mengandung ejekan, melainkan merupakan kelakar yang mengandung
kesungguhan. Wajah Cin Liong menjadi merah, akan tetapi jenderal muda itu pun tertawa gembira.
“Ha-ha-ha, kalian tunggu saja! Masa aku kalah oleh kalian? Lihat saja nanti, masa di dunia ini tidak ada
gadis yang mau menjadi sisihanku? Kalian semua pasti akan menerima undanganku, dan mudah-mudahan
tidak akan terlalu lama lagi.”
Setelah bercakap-cakap dengan hati tulus dan dalam suasana gembira, akhirnya mereka semua saling
berpisah. Sim Hong Bu bersama Cu Pek In, Cu Kang Bu dan Yu Hwi kembali ke barat, ke Lembah Naga
Siluman di daerah Himalaya di mana mereka segera pergi menghadap kepada Cu Han Bu dan Cu Seng
Bu yang kini bertapa mengasingkan diri, untuk membuat semua laporan. Juga Sim Hong Bu melaporkan
tentang tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh gurunya.
Mendengar semua penuturan itu, Cu Han Bu menarik napas panjang.
“Kalau pedang pusaka kita itu oleh Kaisar yang baru sudah direlakan kepada kita, tentu saja hal itu baik
sekali dan kita harus berterima kasih kepada Sri Baginda Kaisar yang bijaksana. Dan bagaimana pun juga,
engkau telah mengadu ilmu melawan putera Naga Sakti Gurun Pasir, juga dengan pewaris Suling Emas,
sehingga dunia tidak akan memandang rendah kepada Pedang Pusaka Naga Siluman.” Kemudian kakek
dunia-kangouw.blogspot.com
ini lalu merundingkan tentang perjodohan puterinya dengan Hong Bu yang akan dilakukan secepat
mungkin dengan mengundang sahabat-sahabat baik saja ke lembah.
Ada pun Kam Hong dan Ci Sian, dua pewaris Ilmu Pedang Suling Emas, meninggalkan tempat itu dan
pergi menuju ke Puncak Bukit Nelayan, yaitu tempat yang indah di lereng Tai-hang-san di tepi sungai itu, di
mana mereka tinggal berdua dan untuk mengesahkan pernikahan mereka, dua orang ini, atas bujukan
Kam Hong, lalu pergi menghadap keluarga Bu Seng Kin yang kini menetap di Cin-an.
Tentu Bu Seng Kin merasa girang sekali melihat betapa puterinya mau menganggapnya sebagai ayah dan
dengan terharu dia pun memberi doa restunya, bahkan keluarga Bu ini pula yang merayakan pernikahan
ganda antara puterinya Bu Ci Sian dengan Kam Hong, dan antara Siok Lan dengan Cia Han Beng.
Perayaan itu meriah sekali, dikunjungi oleh para tokoh besar dunia kang-ouw, terutama sekali para
pendekar patriot. Kemudian, sebagai suami isteri, Kam Hong bersama Ci Sian tinggal di puncak Bukit
Nelayan, di istana kuno bekas tempat tinggal Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek.
Bagaimana dengan Kao Cin Liong, jenderal muda yang gagal dalam bercinta itu? Dia tidak patah hati,
bahkan dia merasa bergembira sekali melihat dara yang dicintanya itu berjodoh dengan Kam Hong,
seorang pendekar yang amat dikagumi. Pendekar muda putera tunggal Naga Sakti Gurun Pasir ini terlalu
gagah untuk mudah begitu saja patah hati seperti seorang yang cengeng…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil