Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 18 April 2017

Cersil Ke 18 Kwee Ceng

Cersil Ke 18 Kwee Ceng
Cersil Ke 18 Kwee Ceng Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf
-Empeh Cin masih hendak mencegah tetapi Kwee
Ceng sudah lantas pergi keluar, untuk menuntun
kudanya, maka dilain saat ia sudah kabur dengan kuda
merahnya. Dalam tempo sedaharan nasi, ia sudah
sampai di dalam kota. Tengah ia memikir untuk
menanya dimana letaknya kantor camat, mendadak ia
menampak api berkobar di depannya dan banyak
orang berlari-lari berteriak-teriak: "Kantor camat
kebakaran! Oh, Thian, ada matanya!"
"Begini kebetulan?" kata Kwee Ceng di dalam hatinya.
"Masa begini tepat kantor camat kebakaran?"
Ia lantas mengasih kudanya lari di depan kantor,
belum ia datang dekat, ia sudah diserang hawa panas
dari api itu hingga ia mesti mundur pula. Herannya tak
ada orang yang mau menolongi memadamkan api.
Orang banyak berdiri jauh-jauh, roman mereka bukan
kaget atau takut, sebaliknya semua bermuka terang,
tandanya riang hati mereka.
Kwee Ceng lompat turun dari kudanya. Ia sekarang
melihat di tanah ada rebah belasan orang polisi, ada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang sudah terbakar, ada yang masih hidup tetapi
romannya tidak karuan dimakan api, ada yang dapat
membuka matanya, tetapi mata itu tidak berkutik. Ia
heran, ia menghampirkan, terus ia mengangkat
seorang opas. Baru sekarang ia ketahui orang adalah
korban totokan. Ia lantas menotok pinggang dia itu.
"Mana camat?" ia tanya.
"Dia di dalam kantor, tuan," sahut opas itu, tangannya
menunjuk. "Kebanyakan dia sudah mati tertambus…."
"Kenapa terbit kebakaran?" tanya pula Kwee Ceng.
"Siapa yang merobohkan kau?"
"Maaf tua, aku tidak jelas," sahut pula si opas. "Tadi
pagi-pagi sebelum aku bangun tidur, aku dengar koanthayya
membikin banyak berisik, rupanya ia mencaci
orang dan berkelahi, lalu api berkorbar. Aku hendak
lari, tiba-tiba aku merasakan tubuhku kaku dan lemas,
tahu-tahu aku sudah roboh…."
"Koan-thayya kamu bertempur sama orang, apakah
dia pandai silat?"
Kwee Ceng heran. Ia tidak menyangka seorang camat
pandai silat dan menngerti juga Tok-see-ciang, tangan
Pasir Beracun. Lantas ia ingat camat ini gemar dengan
ular.
"Ah, tentulah ia pakai ular itu untuk melatih diri,"
terkanya. Ia lantas menanyakan itu kepada opas.
"Aku tidak tahu, tuan"
"Rupanya, ada orang kangouw yang mencari camat
itu," akhirnya Kwee Ceng pikir. "Ini ada baiknya, aku
jadi tak usah capai hati…"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oleh karena pikirannya sudah lega, Kwee Ceng tidak
menggubris lagi si opas atau camat, ia berniat pulang
ke rumah empeh Cin, untuk menyampaikan kabar
gembira, tetapi waktu ia berpaling kepada kudanya, ia
terkejut. Kudanya itu tak ada. Ia bersiul, memanggil.
Kuda itu tidak muncul. Ketika ia mengulangi beberapa
kali, tetap kuda merah itu tak nampak. Ia menjadi
heran sedang ia tahu betul kuda itu cerdik dan sangat
mengerti dan mengenali tuannya. Lantas ia pergi
mencari, ia seperti memutari seluruh kota, tetapi ia
tidak berhasil mencari kudanya.
"Benar heran!" pikirnya, bingung dan masgul. Akhirnya
ia berjalan balik ke rumah empeh Cin, hatinya berpikir:
"Nanti aku bawa burung wajawali untuk mencari,
mustahil tidak ketemu…"
Ia berjalan pulang sambil berlari-lari.
Empeh Cin dan cucunya heran mendengar gedung
camat kebakaran, mereka girang mendapat tahu
camat sendiri mati tertambus. Mereka bersyukur bukan
main.
Habis memberi keterangan, Kwee Ceng bersiul,
memanggil burungnya. Tapi aneh, burung itu juga tak
nampak dan tak muncul. Ia heran bukan main dan ia
jadi semakin bingung. Saking berduka, ia tak nafsu
dahar minum. Malam itu ia diam terus di rumah empeh
Cin. Ia mengambil keputusan, besok ia mau pergi
mencari kuda dan burung itu…….
Ketika itu musim panas, hawa udara sangat
mengendus. Empeh Cin menggotong bale-bale serta
dua buah kursi ke luar rumah, ditaruh di bawah parapara
pohon kacang. Ia pun masak air dan menyeduh
the. Di bawah pohon ia mengajak Kwee Ceng dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cucunya berangin. Ia melewatkan waktu dengan
bercerita tentang sifatnya pelbagai ular berbisa.
Hati Kwee Ceng terhibur juga. Cerita si empeh menarik
hati.
Mereka berangin sampai tengah malam, sampai
mereka merasa tubuh mereka adem. Empeh itu
beberapa kali mengajaki tetamu dan cucunya masuk
tidur, sang cucu menolak.
"Dasar bocah!" kata sang engkong tertawa. "Anak ini
hidup sendirian, setaip hari ia menemani aku si tua
bangka, di sini sulit mendapat tetamu, maka sekarang
dia jadi gembira luar biasa…."
"Kalau besok engko Kwee pergi, kita kembali tinggal
berdua…" kata Lam Kim. Ia nampak masgul, suaranya
pun tak gembira.
Kwee Ceng berdiam.
"Engko Kwee, pergilah tidur," kata si nona kemudian.
"Aku sendiri, aku masih hendak memandangi sang
bintang…."
"Anak tolol! Apakah bagusnya bintang !" kata sang
kakek.
"Tetapi aku suka memandanginya." kata si cucu.
Orang tua itu memandang ke langit, dimana ada mega
hitam.
"Lihat, langit bakal lekas berubah, bintang pun bakal
lenyap…" katanya.
Ketika itu mendadak Kwee Ceng mendengar suara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kuda berlari mendatangi.
"Kuda merahku!" ia berseru. Segera ia menoleh dan
mengawasi. Jauh di sana, seekor kuda merah lagi
mendatangi. Lekas juga ternyata, dialah si bulu merah
kudanya sendiri, seperti ia telah membilangnya. Di
atas kuda itu ada penunggangnya, yang bajunya
berkibaran, bahkan dialah Oey Yong.
"Yong-jie! Aku di sini!" Kwee Ceng berseru kegirangan.
Mendengar disebutkannya Yong-jie, hati Lam Kim
terkesiap.
Lekas sekali kuda merah itu telah tiba kepada tiga
orang itu. Bersama Oey Yong ada kedua burung
rajawali yang putih.
"Ah, sungguh aku tolol!" Kwee Ceng sesalkan dirinya
sendiri. "Memang kecuali Oey Yong, siapakah yang
dapat menguasai kuda dan burungku ini?"
Oey Yong lompat turun dari kudanya sedang Kwee
Ceng maju memburu padanya. Ia girang bukan
kepalang.
"Aku berlatih tetapi keliru, kedua tanganku tak dapat
digerak," berkata si nona.
"Ah!" Kwee Ceng berseru. "Mari lekas salurkan
napasmu!"
Keduanya lantas lompat naik ke bale-bale, untuk
duduk bersila. Kwee Ceng meletaki kedua tangannya
di punggung si nona, guna menyalurkan hawanya ke
tubuh si nona itu.
Justru itu langit benar-benar berubah. Perlahan-lahan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terdengar suara guntur, yang diikuti bergeraknya sang
awan, hingga langit menjadi gelap.
Kira setengah jam kemudian, pernapasannya Oey
Yong mulai lurus, hawa dari perutnya naik ke dadanya.
Karena itu, tubuhnya seperti terdorong ke kiri dan ke
kanan.
Selama itu Lam Kim mengawasi nona Oey, yang
duduk sambil menutup mata dan merapati mulutnya,
hanya mulutnya itu nampak tersenyum. Dia berkulit
putih bersih, pada itu nampak cahaya dadu, maka
terlihat tegaslah kecantikannya. Di lehernya ada
tergantung kalung mutiara, yang bersinar menambah
menterengnya kecantikannya itu.
"Dia mirip dewi, tak heran engko Kwee jatuh hati
kepadanya," Lam kIm berpikir. "Hanya, entahlah apa
yang mereka lagi lakukan sekarang…."
Dia tengah berpikir begitu ketika mendadak matanya
seperti gelap. Karena segumpal mega hitam lewat
menutupi sang putri malam. Dan menyusul itu, seluruh
langit mulai menjadi gelap juga.
"Kwee Toako," ia berkata kepada Kwee Ceng.
"Baiklah, kau masuk ke dalam bersama ini nona, lekas
akan turun hujan."
Boleh dibilang ia baru menutup mulutnya, ketika ia
merasai muka dan lehernya dingin, karena sang air
hujan sudah lantas mulai turun beberapa tetes!
Hujan di musim panas benar luar biasa. Begitu
dibilang, hujan lantas turun. Dan Lam Kim lantas juga
berkoak. Sebab dengan lantas hujan turun dalam
jumlah besar, seperti dituang-tuang!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng dan Oey Yong lagi menyalurkan napas
mereka, tidak menghiraukan hujan itu.
Nona Cin menjadi heran sekali, hingga ia mau
menduga orang kena pengaruh sesat. Ia
menghampirkan si anak muda, yang pundaknya ia
tolak. Ia tidak menggunai tenaga besar, ketika ia
menolak, ia tertolak mundur satu tindak. Ia menjadi
terlebih heran. Ia maju pula, ia menolak dengan
terlebih keras. Ia menanya: "Engko Kwee, kau
kenapa?" Atau mendadak, untuk kagetnya, ia terolak
mundur hingga ia terguling di tanah, jatuh duduk di air
hujan!
Empeh Cin sudah masuk tidur, ia mendengar suara
hujan diselengi guntur, maka ia memanggil Lam Kim.
Beberapa kali ia memanggil tanpa ada penyahutan, ia
lantas pergi ke luar, tepat ia menyaksikan cucunya itu
lagi merayap bangun dari lumpur, rambutnya kusut,
basah dengan air hujan, romannya bingung. Tengah ia
kaget, ia mendengar suara nyaring cucunya itu:
"Engkong, tuan penolong kita kena pengaruh jahat,
lekas tolongi dia!"
Empeh itu pun kaget. Ia pun sangat bersyukur kepada
anak muda itu. Maka tanpa pikir lagi, ia hampirkan
Kwee Ceng, yang ia pegang tangannya, untuk ditarik
masuk. Atau ia menjadi kaget. Tubuh si anak muda
tidak bergeming. Ketika ia menarik dengan kuat, ia
sendirinya yang terpental jatuh, maka ketika ia sudah
merayap bnagun, ia berdiri bengong seperti cucunya
itu.
Lam Kim lekas sadar, ia lari masuk untuk mengambil
payung, ia memegang itu untuk dipakai memayungi
Kwee Ceng berdua. Ia juga berkata: "Engkong, lekas
menyulut kertas kuning, kau asapi hidung mereka!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Empeh Cin lari masuk, tindakannya limbung. Apa mau,
ia kena membentur pelita hingga terbalik.
Lam Kim sendiri lantas nyata perubahan hatinya.
Biarnya ia mengagumi Oey Yong, hatinya ada pada
Kwee Ceng, maka payungnya itu mulai bergeser,
menutupi si anak muda sendiri, hingga si nona itu
lantas ketimpa hujan pula.
Tidak lama empeh Cin muncul dengan kertas
kuningnya, yang ia telah sulut. Dengan dijagai ujung
bajunya, kertas itu ia bawa kepada Kwee Ceng, yang
hidungnya lantas ia asapi.
Hebat kesudahannya ini untuk si anak muda, yang lagi
menyalurkan napasnya itu. Ia lantas merasa napasnya
sesak. Ia menjadi kaget sekali, dengan lantas ia
menahan napasnya itu. Tapi ia cuma bisa menahan
sebentar, atau asapnya si empeh masuk pula.
Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Celaka untuknya, di
dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat membuka
mulutnya.
Empeh Cin tetap bingung. Melihat asap tidak
menolong, ia menekan jintiong, ialah hidungnya si
anak muda. Siapa pingsan karena teriknya panas
matahari, kalau ia ditotok di jintiong itu, ia dapat sadar.
Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia bahkan jadi
semakin seperti disiksa. Sudah ia tidak dapat
membuka mulutnya, ia juga tidak dapat menolak
mundur si empeh yang mau menjadi penolong tetapi
sebaliknya menjadi seperti mencelakainya.
Sang hujan turun terus, guntur pun masih berbunyi.
Satu kali kilat menyambar, guntur berbunyi keras.
Nyata satu pohon kena ditimpa hingga menyala dan
terbakar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Lam Kim kaget dan ketakutan, tetapi ia tidak berkisar
dari tempatnya berdiri, masih ia memayungi tuan
penolongnya. Hanya matanya menjadi tidak karuan,
sebab ia melihat kilat, melihat api, dan melihat air
hujan juga. Kapan ia memandang Kwee Ceng, ia
mendapati pemuda itu duduk tenang seperti biasa,
begitu juga dengan si nona Oey, bahkan nona ini
nampak tersenyum manis, romannya sangat cantik.
Empeh Cin berdiri tercengang, ketika ia memandangi
cucunya, ia mendapati muka cucunya itu sangat pucat.
Dalam keadaan seperti itu, mendadak kilat berkelebat,
cahayanya terang sekali. lalu sauara geledek,
menyusul demikian hebat, sampai saking kagetnya,
dua-dua empeh Cin dan Lam Kim roboh karenanya.
Guntur berbunyi di samping Kwee Ceng, tidak heran
kalau itu kakek dan cucunya roboh dengan pingsan.
Hanya sehabisnya guntur, segera Kwee Ceng
merasakan pernapasannya berjalan dengan baik
seperti biasa. Maka sekarang ia dapat bergerak. Juga
Oey Yong dapat bergerak seperti dia.
Lagi-lagi guntur menggelegar dekat si nona, maka
Kwee Ceng lantas mendekam di tubuh si nona, untuk
melindungi.
Berselang sekian lama barulah guntur berkurang dan
hujan pun mulai berhenti. Dan setelah lewat pula
sekian waktu, maka langit menjadi bersih, si putri
malam muncul pula dengan segala kepermaiannya.
Oey Yong merasakan tubuhnya sehat sekali. Dengan
perlahan ia mengangkat tubuhnya.
"Engko Ceng," katanya berbisik. "Benar-benarkah kau
mencintai aku?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng merangkul, girangnya bukan buatan,
sampai ia tidak bisa membuka mulutnya.
"Lihat itu," kata Oey Yong kemudian, tangannya
menunjuk ke pohon yang tadi ditimpa geledek dan
terbakar.
Di sana, di antara api, si burung darah, hiat-niauw, lagi
bergulingan dan berlompatan, rupanya gembira sekali
ia memain api.
"Mari kita tangkap padanya," kata si nona berbisik.
Kwee Ceng mengangguk, ia lantas berbangkit. Ketika
itu ia melihat empeh Cin, yang sadar sendirinya lagi
menolongi cucunya, untuk dikasih duduk di kursi.
Oey Yong sendiri bertindak menghampirkan hiatniauw.
Burung itu telah mempunyai pengalaman, ia tidak
berani berkelahi, ia lantas terbang pergi, sia-sia si
nona berlompat menubruk padanya. Karena ini Oey
Yong bersiul, memanggil burung rajawalinya.
"Tangkap burung itu tetapi jangan lukai dia!" ia
memerintah.
Kedua burung rajawali itu mengerti, keduanya lantas
menyambar hiat-niauw. Mereka bertindak dengan
memegat jalan terbang orang.
Hiat-niuaw kecil sekali, seluruhnya ia cuma sebesar
kepala rajawali, tetapi ia sangat gesit, maka itu ia
dapat molos, lantas ia terbang cepat dan jauh, ketika
sudah beberapa lie, ia mendapatkan ia masih disusul,
lantas ia terbang balik, untuk mencoba melawan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hebat perlawanannya itu. Kalau ia kena dicengkeram
atau dipacuk, pastilah ia celaka, tetapi karena
gesitnya, ia selalu bisa membebaskan diri. Bahkan
dialah yang beberapa kali berhasil mematuk bulu
lawan hingga rontok. Coba si rajawali bukan berdua,
mungkin mereka kalah.
Selagi bertempur terlebih jauh, rajawali yang jantang
kena dipatuk lehernya, ia merasakan sakit, saking
sengit, ia menyampok dengan sayapnya. Hiat-niauw
berkelit, tapi justru ia kena disampok sayap burung
betina, sampai ia roboh. Tapi ketika ia ditubruk ia
sempat berkelit pula, terus ia terbang cepat dan jauh,
dari itu, tempo kedua rajawali terus menyusul terus,
mereka pergi jauh ke belakang gunung.
Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, untuk berkata
dengan perlahan: "Yong-jie, kau maju pesat sekali.
Guntur berbunyi di sampingmu, kau tidak tahu."
"Kau pun sama!" kata si nona tertawa.
Kwee Ceng lantas ingat perbuatannya empeh Cin tadi.
"Sungguh berbahaya," katanya dalam hatinya. "Kalau
aktu tidak dapat bertahan, aku mesti menyia-nyiakan
tempo lagi tujuh hari dan tujuh malam untuk
memulihkan diri.
Lantas ia ajar kenal Oey Yong dengan tuan rumah, itu
kakek dan cucu.
"Yong-jie, kau melepas api di kantor camat,
bukankah?" kamudian Kwee Ceng tanya si nona.
"Kalau bukan aku, siapa lagi?" si nona membaliki,
tertawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Empeh Cin dan cucunya terkejut. Tidak mereka
sangka, nona ini demikian besar nyalinya dan pandai
juga.
Kemudian Oey Yong melirik Lam Kim, ia bersenyum.
"Engko Ceng," katanya, "Kau selalu memuji aku, apa
kau tidak takut enci ini nanti menertawainya?"
"Oh!" katanya Kwee Ceng. "Kau telah bersembunyi di
dalam rimba?"
Kembali Oey Yong tertawa.
"Jikalau kau tidak membilang kau hendak menangkap
burung itu untukku, aku lebih suka tanganku bercacad,
tidak nanti aku kembali padamu!" katanya. "Kemudian
kau menangis! Apakah kau tidak malu?"
Kwee Ceng tunduk, ia menyahut perlahan: "Aku
merasa aku memperlakukan kau tidak bagus, dan aku
khawatir sekali untuk selamanya nanti tidak dapat
melihat padamu pula…."
Oey Yong mengulur tangannya, untuk membereskan
rambut orang.
"Sebenarnya aku berpikir untuk tidak menemui pula
padamu tetapi aku tidak dapat," ia berkata. "Tapi
sudahlah, sekarang kita jangan pikirkan hal-hal di
belakang hari, untuk kita, dapat satu hari selebih
banyak kita berkumpul, itu artinya kita dapat tambah
satu hari kegirangan!"
Lam Kim berdiri bengong melihat dan mendengar
orang berbicara demikian asyik.
Berempat mereka bagaikan baru sadar ketika kuping
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka mendengar suara burung rajawali di tengah
udara, kapan mereka mengangkat kepala, terlihat hiatniauw
masih dikepung-kepung kedua rajawali itu,
terbangnya sangat pesat.
Menampak demikian, Oey Yong lantas mendapat akal.
Ia bersiul satu kali. Atas itu rajawali yang betina
terbang turun, untuk menclok di pundaknya. Maka
tinggallah yang jantan, yang mengejar terus-terusan. Ia
menunggu sudah lewat lama juga, ia memanggil
burung jantannya seraya melepaskan yang betina
guna menggantikan mengejar hiat-niauw itu. Siasat ini
digunakan terus-menerus, maka akhirnya lelah juga
burung api itu, yang tak dapat mengaso sama sekali.
Setelah terbangnya menjadi perlahan dan
kegesitannya pun berkurang, satu kali ia kena
disampok sayap rajawali, lantas ia tidak dapat terbang
lebih jauh, maka ia kena disambar, dibawa kepada
Oey Yong.
Nona Oey menyambuti burung api itu, ia
memegangnya, hatinya sangat girang.
Hiat-niauw sangat letih, dia mengawasi si nona, sinar
matanya seperti minta dikasihani.
"Baik-baik kau turut aku, aku tidak bunuh padamu,"
berkata Oey Yong sambil tertawa.
Empeh Cin sangat girang sekali melihat burung itu
kena ditangkap.
"Bagus!" serunya. "Nona telah berhasil menangkap
burung ini, maka aku dan cucuku bakal dapat makan
pula! Nanti aku membuatnya kurungan buat
menempati dia."
Lam Kim tahu burung itu suka makan nyali ular, ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengambil arak nyali ular mengasih burung itu minum,
setelah habis setengah peles, hiat-niauw itu lantas
pulih kesegarannya. Ia benar-benar menjadi jinak
sekali.
"Aku hendak memelihara dia hingga dia mendengar
kata!" kata Oey Yong. "Aku mau mengajari dia
bagaimana harus mematuk mata orang!"
Tapi sementara itu, orang letih dan kantuk, maka
mereka lantas pergi mengasokan diri. Lam Kim
mengalah mengasihkan pembaringannya untuk Oey
Yong, siapa sebaliknya minta empeh Cin lekas
membikini ia kurungan untuk burungnya itu.
Besoknya pagi, ketika matahari merah menyorotkan
sinarnya masuk ke jendela, Oey Yong mendusin untuk
lantas menjadi kaget. Di meja, kurungannya rusak,
tetapi burungnya berdiri diam di meja, ia tidak lari
meski orang menghampirkan padanya.
Kaget dan girang, Oey Yong menggapai.
"Mari!" ia memanggil.
Hiat-niauw terbang, menclok di telapakan tangan si
nona.
"Dia takluk padaku, dia takluk padaku!" kata Oey Yong
kegirangan. Ketika ia melihat kurungan, kurungan itu
rusak dan patah. Ia pikir, tentulah itu burung mau
membilang: "Aku merdeka, kalau aku tidak mau pergi,
tidak apa, tetapi kalau aku mau, apa artinya kurungan
macam begini?"
Sedangkan si nona bergirang, kupingnya lantas
mendengar keluhan Kwee Ceng di lain kamar. Ia
heran, ia lari menghampirkan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Engko Ceng, kenapa?" ia menanya.
Kwee Ceng menyeringai, tangannya memegangi
gambar pemberian dari Oey Yok Su. Nyata karena
kehujanan, gambar itu terkena air.
"Ah, benar sayang!" si nona mengeluh. Ia menyambuti
gambar itu, yang telah pecah. Ia merasa, tidak ada
jalan untuk dapat memperbaiki itu. Ketika ia hendak
meletakinya di meja, mendadak ia melihat di pinggiran
syairnya Han See Tiong ada tambahan beberapa baris
huruf halus. Ia lantas mendekati, untuk melihat terlebih
tegas. Surat itu berlapis, kalau tidak karena basah,
tidak nanti dapat terlihat. Sekarang pun sangat sukar
untuk membacanya. Oey Yong mementang matanya,
ia mencoba membaca:
"…..Surat wasiat….Bok…Tiat
Ciang…tengah…puncak…….."
Huruf-huruf lainnya lagi tak dapat dibaca.
Kwee Ceng juga turut membaca, lantas berkata: "Inilah
diartikan surat Wasiat Gak Bu Bok…."
"Tidak salah," berkata Oey Yong. "Wanyen Lieh si
jahanam menyangka surat wasiat ini berada di dalam
peti batu di dalam istana, tetapi meskipun petinya telah
didapatkan, surat wasiatnya tidak ada. Sekarang kita
mendapatkan gambar ini. Bunyinya kata-kata ini
mungkinlah rahasia surat rahasia itu. Tiat Ciang,
tengah, puncak…" Ia lantas memikir keras. "Tiat
Ciang" itu ialah "Tangan Besi". Kemudian ia menanya
Kwee Ceng: "Engko Ceng, apakah keenam gurumu
pernah menyebut tentang Tiat Ciang Pang?"
"Tiat Ciang Pang?" kata Kwee Ceng berpikir. "Tidak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku hanya ketahui si tua bangka she Kiu, si penipu
besar itu, dipanggil Tiat Ciang Sui-siang-piauw."
"Tidak, tidak bisa jadi tua bangka celaka itu ada
hubungannya dengan ini!" berkata Oey Yong,
memandang enteng. "Hanya ada juga kemaren ketika
aku membakar kantor camat, di sana aku mendengar
si camat she Kiauw berbicara sama siapa, tahu
menyebut-nyebut entah bagaimana dengan 'Tiat Ciang
Pang kami'. Ia menyebut pula perlu lekas dicari banyak
ular untuk dipersembahkan kepa Toa Hiocu. Ketika
kemudian aku bertempur dengannya, ternyata ilmu
silatnya tidak rendah, dia mengerti juga Tiat-ciang,
yaitu Tangan Pasir Besi."
"Anggota dari suatu perkumpulan kaum kangouw
menjadi camat, inilah benar aneh!" kata Kwee Ceng.
Tiat Ciang Pang itu ialah Partai Tangan Besi.
Lantas keduanya memikir kata-kata di gambar itu,
masih mereka tidak dapat menangkap maksudnya,
maka Oey Yong lantas membenahkan gambar rusak
itu, disimpan di dalam sakunya.
"Biarlah perlahan-lahan kita memikirkannya pula."
katanya.
Sampai di sini, sepasang muda-mudi ini lantas pamitan
dari empeh Cin dan cucunya, dengan menaiki kuda
merah mereka, mereka berangkat pergi. Tuan rumah
dan cucunya merasa berat tetapi mereka tidak dapat
menahan.
Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng dan Oey Yong di
dalam wilayah kota Gakciu. Oey Yong mengingat-ingat
hari. Itulah hari Cit-gwee Capsie - tanggal empatbelas
bulan tujuh - jadi besok ialah hari rapatnya Kay Pang,
Partai Pengemis.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kita tidak mempunyai urusan sekarang, kita pesiar
perlahan-lahan saja," katanya Kwee Ceng.
"Baiklah," si nona menyahuti.
Mereka lompat turun dari kuda mereka, dengan
berpegangan tangan mereka bertindak, dengan
perlahan-lahan. Mata mereka memandang jauh ke
depan di mana tampak hanya air dan sawah-sawah di
mana pohon padi sudah tumbuh tinggi dan telah
berbuah, maka diduga tahun ini, panen bakal memberi
hasil baik.
Kata Oey Yong: "Dahulu ayah pernah membilangi aku,
kalau Ouw Kong matang, seluruh negara cukup, maka
itu kelihatannya tahun ini rakyat bakal bebas dari
bahaya kelaparan."
Ouw Kong ialah empar propinsi Ouwlam dan Ouwpak
serta Kwietang dan Kwiesay, sedang dengan "matang"
diartikan "masak" atau musim panen.
Kemudian si nona menunjuk ke sebuah pohon besar di
mana seekor tonggeret lagi berbunyi, ia kata pula:
"Binatang itu berbunyi tak hentinya, entah apa yang dia
katakan. Suaranya itu membuat aku ingat satu
orang…"
"Siapakah dia?" Kwee Ceng tanya.
"Dialah Kiu Looyacu yang pandai meniup kulit
kerbau…" sahut si nona tertawa.
"Oh!" seru Kwee Ceng. Ia juga tertawa.
Ketika itu matahari sedang teriknya, petani semua lagi
bermandikan peluh tapi mereka bekerja terus
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengompa air. Demikian di bawah sebuah pohon
yangliu, seorang nyonya lagi bekerja bersama satu
bocah berumur tujuh atau delapan tahun, berat
gerakan kaki mereka. Pakaian mereka telah basah
kuyup, sedang muka si bocah merah seluruhnya. Oey
Yong menghentikan tindakannya, ia mengawasi
mereka itu, ia merasa kasihan.
Si bocah melihat ada orang yang mengawasi mereka,
ia menoleh. I akgum menyaksikan keelokan si nona.
"Ibu," katanya, "Lihat, enci itu lagi mengawasi kita!"
Dari suaranya, ternyata ia bergembira meski dia
bekerja capai.
Si nyonya menoleh, ia tersenyum dan mengangguk
kepada pasangan muda-mudi itu.
Oey Yong merogoh ke dalam sakunya, berniat
mengambil sedikit uang utuk mengasih persen kepada
bocah itu untuk ia membelikan kembang gula tatkala
kupingnya mendengar suara samar-samar dari guruh
di kejauhan, lantas saja ia menjadi girang. Ia kata
kepada itu ibu dan anaknya: "Sudah, tak usah kamu
mengompa air lagi, hujan bakal turun!"
Si nyonya memasang kupingnya, mendadak romannya
menjadi pucat, suatu tanda dia takut.
Si bocah lompat turun dari pompa airnya sambil
berkata: "Ibu, raja kodok mau datang makan kodok
hijau lagi!"
Si nyonya mengangguk.
Oey Yong tidak mengerti, ia mau minta keterangan,
atau segera ia mendengar riuhnya gembereng yang
dipalu breng-breng keras sekali, yang memalunya
ialah seorang laki-laki yang mengenakan tudung
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rumput yang lebar serta tubuhnya tidak memakai baju.
Dia menabuh sambil berlari-lari ke barat.
Belum lama lantas datanglah sambutan gembreng riuh
dari segala penjuru, menyusul mana semua orang, pria
dan wanita, yang lagi mengompa air, pada lari
meninggalkan pompa mereka, semua lari ke arah
barat itu.
Oey Yong mendapat si bocah dan ibunya turut lari
juga.
"Engko Ceng, mari kita lihat, keramaian apa itu!"
katanya saking tertarik hatinya.
Kwee Ceng menurut, maka mereka lari menyusul
orang banyak itu. Ketika mereka sudah melewati
sebuah tikungan gunung, mereka lantas melihat
sawah-sawah yang luas yang penuh air, sedang
semua orang tani itu berkumpul di sebuah tanjakan
tinggi semacam bukit, dengan roman tegang, mata
mereka memandang ke depan. Di situ memalu seratus
lebib gembreng kuningan, hingga suaranya berisik
menulikan telinga. Dengan begitu tak terdengar lagi
suara orang bicara.
Di samping bukit kecil itu ada tumbuh sebuah pohon
yang besar dan tinggi, Kwee Ceng menarik tangan
Oey Yong, diajak ke sana, untuk mereka terus
melompat naik ke atasnya, dengan begitu mereka
berdua jadi dapat memandang jelas ke arah mana
semua mata ditujukan. Di sana terlihat langit biru
seperti luatan, di sana tidak apa-apa yang
mencurigakan mereka. Tapi mereka tetap mengawasi.
Tidak lama kemudian, kuping mereka dapat
menangkap samar-samar suatu suara yang keras,
yang tidak dapat dilawan berisiknya gembreng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mulanya Oey Yong menyangka kepada guruh, hanya
sebentar kemudian, ia melihat benda-benda kuning
yang membikin ia menjadi heran sekali. Semua benda
itu mendatangi dengan berlompatan.
"Hai, begitu banyak kodok!" akhirnya si nona berseru.
Memang di sana terlihat ribuan atau laksaan kodok,
yang lagi mendatangi itu, dan suara berisik tadi mirip
guruh ialah suara kerak-keroknya mereka!
Begitu melihat sang kodok, berhentilah semua petani
memalu gembreng mereka. Sekarang terlihat tegas air
muka mereka yang lesu dan masgul.
Kapan kawanan kodok itu tiba di tepi sawah di depan
bukit kecil itu, semua lekas berhenti, berbaris dengan
rapi. Di belakang mereka terlihat beberapa ratus kodok
yang besar-besar, yang mengerumuni seekor kodok
yang badannya besar istimewa - lebih besar enam
atau tujuh lipat dari kodok yang umum.
Itulah dia yang rupanya si bocah sebut sebagai raja
kodok. Dia lantas mengasih dengar suara berkerok
satu kali, lantas dia disambut rakyatnya hingga riuh
pulalah suara mereka yang mirip guruh itu. Ketika raja
kodok itu berbunyi pula, maka siraplah suara semua
rakyatnya.
"Nah, ini pun membikin aku ingat satu orang!" berkata
Oey Yong.
Kali ini Kwee Ceng tidak menanya siapa, ia hanya
tertawa dan berkata dengan cepat: "Auwyang Hong!"
"Jempol!" berseru Oey Yong sambil menunjuki
jempolnya. Ia menganggap pemuda itu cerdas dapat
menerka dengan jitu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kawanan kodok itu menaati titah rajanya. Setelah tiga
kali berbunyi, mereka berdiam pula, hingga suasana di
situ menjadi sangat sepi. Hanya sekarang lantas
terdengar gantinya, ialah suara perlahan tetapi terang
dari seekor kodok hijau yang kecil, yang berlompat
keluar dari belakangnya sebuah batu besar di arah
timur.
Kapan orang-orang tani ini melihat kodok hijau itu,
dengan serentak gembreng mereka dipalu pula, sambil
memalu, mereka berseru-seru keras sekali. Mereka
bersorai-sorai, tanda dari kegirangan. Terang mereka
membantu menggembirakan atau menganjurkan
kodok kecil itu.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran. Tak tahu mereka
apa akan dilakukan si kodok hijau yang kecil itu. Selagi
mereka mengawasi dengan perhatian, kuping mereka
mendengar tindakan kaki yang berisik, ketika mereka
berpaling, terlihat dari empat penjuru datang pula
beberapa ratus petani. Mata si nona sangat jeli, ia
mendapatkan di dalam rombongan itu ada sejumlah
orang yang pakaiannya berneda. Ia lantas menarik
tangan baju Kwee Ceng seraya mulutnya dimonyongi
ke arah orang-orang itu, yang jumlahnya empat atau
limapuluh orang. Mereka itu mengenakan baju hitam
dan tangan mereka memegangi korang bambu yang
besar. Terang sekali mereka pun menyembunyikan
alat senjata. Dilihat dari romannya, yang bengis,
mestinya mereka bukan sembarang petani. Di tepi
bukit, mereka itu berkumpul menjadi satu, terpisah
beberapa puluh tombak dari petani lainnya.
Kodok hijau yang kecil itu berlompatan hingga terpisah
lagi tiga kaki dari tepian sawah, di situ ia berhenti, lalu
berbunyi beberapa kali.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dari dalam rombongan kodok yang berjumlah besar
sekali itu muncul seekor kodok kuning yang besar, ia
meloncati galangan, sampai di depan si kodok hijau. Di
situ ia mementang mulutnya dan bersuara, suaranya
keras bagaikan suara kerbau. Si kodk kecil tak takut, ia
juga membuka suaranya, maka terjadilah mereka
saling sahut, makin lama makin cepat. Dari situ,
kelihatan si kodok kecil bernapas lurus dan rapi. Si
kodok besar agaknya kesusu, rupanya ia ingin lekaslekas
menang.
Sesaat berselang, suara kodok besar itu menjadi
serak, dan perutnya yang putih pun kembung makin
besar, setelah itu, suaranya berubah menjadi dalam,
sedang kedua matanya seperti mencelos keluar,
perutnya itu menjadi bundar bagaikan bola. Mendadak
saja, perut kembung itu meledak, nyaring suaranya,
lalu ia rebah binasa.
Petani semua bersorak riuh. Beda ada rombongan
orang baju hitam itu, kelihatannya mereka gusar. Maka
sekarang terlihat tegas, petani berpihak pada kodok
hijau, mereka ini kepada kodok yang banyak itu.
Kodk hijau itu menang, dia bersuara tiga kali, lantas
dia memutar tubuhnya, rupanya dia mau pergi, atau
mendadak terlihat enam kodok besar berlompat maju,
untuk mengejar.
"Tidak tahu malu!" membentak pihak orang petani
banyak. "Tidak punya guna! Apa ini? Malu! Baik mati
saja!"
Enam kodok besar itu berpecha menjadi dua, sikapnya
mengurung. Si kodok kecil berlompat, untuk
menyingkir. Dia lantas dikejar. Kira tiga tombak, maka
di sebelah belakang enam kodok itu terdengar
suaranya kodok lainnya. Lantas mereka berhenti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengejar, berniat kembali, tetapi mereka terlambat.
Mereka segera dipegat kira-kira tigapuluh kodok hijau
yang besar yang muncul dari gili-gili.
Kali ini kedua pihak tidak lagi mengadu suara, hanya
mereka lantas saling terjang, saling menggigit. Karena
kalah jumlah, enam kodok besar itu lantas saja mati.
Banyak kawannya, tetapi tidak ada yang maju
menolongi.
Oey Yong menjadi heran, ia berpaling kelilingan.
Ketika matanya terarahkan ke pinggir sawah di mana
ada sebuah kali kecil, maka di situ ia melihat segala
apa hijau, sebab di situ pun ada berkumpul ribuan atau
laksaan kodok hijau, hanya mereka ini semua tidak
bergerak. Mungkin ini yang menyebabkan kodok besar
itu tidak berani sembarangan melintasi tapal batas.
Si raja kodok berbunyi kerok dua kali, maka seratus di
pihaknya lantas maju melintasi batas. Mereka lantas
disambut sebarisan kodok hijau yang muncul dari
tempatnya mendekam. Maka bertempurlah mereka.
Belum lama, kodok besar itu lari ke arah selatan.
Kodok hijau mengubar setombak lebih, lantas berhenti.
Melihat demikian, kodok besar berbalik akan
menyerang pula.
Benar saja, di selatan itu, di mana ada batu besar,
terlihat munculnya barisan tersembunyi kodok besar itu
dan mereka lantas maju, membantui kawannya.
Karena ini, dari tepi kali pun datang bantuan kodok
hijau.
Kedua pihak lantas bertempur dengan berisik.
Dalam tempo dekat, puluhan ekor kodok roboh
sebagai bangkai. Kerugian terdapat dikedua pihak.
Mereka yang terluka merayap ke pinggiran, lalu ada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang kawannya yang menolongi mengajak kembali ke
dalam barisannya.
Kelihatan si raja kodok tidak puas melihat belum ada
keputusan, ia berbunyi lagi dua kali. Kali ini lantas ada
satu pasukan besar yang menyebrang, buat
membantui. Sekarang kodok hijau, yang tak sempat
mundur, terancam terkurung. Mereka mengatur
barisan bundar, ekor ke dalam, mulut keluar. Dengan
begitu, mereka tidak takut nanti diserang dari
belakang. Kodok besar berjumlah besar tetapi mereka
tidak dapat menyerbu semua.
Sejumlah petani berteriak-teriak mengajuri kodok hijau
mengirim bala bantuan, anjuran itu tak ada hasilnya.
Nampaknya kodok hijau bersikap tenang.
Dari barisan kodok besar itu ada beberapa yang
berlompat, hendak maju, tetapi saban kali ada satu
yang menerjang, segera dia dipapaki diterjang satu
kodok hijau, hingga keduanya sama-sama jatuh.
Dengan begitu, kodok besar tidak dapat menerjang ke
dalam barisan lawan.
"Celaka!" mendadak Oey Yong berseru. Ia melihat di
empat penjuru kurungan kodok besar itu, sejumlah
kodok besar itu mendekam, kawannya naik ke atasnya
dan mendekam pula, hingga mereka merupakan
gundukan tinggi tiga kaki, kemudian di paling atas,
sejumlah kodok berlompat ke arah kodok hijau. Hebat
serangan itu. Kodok hijau jadi terbokong, banyak yang
mati.
"Sayang…" kata Oey Yong.
"Lihat!" terdengar suara Kwee Ceng yang tangannya
terus menunjuk.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di arah timur laut sejumlah kodok besar hijau
bergerak, menuju ke belakang kodok besar, untuk
menyerang dari belakang.
Raja kodok mendapat tahu bokongan musuh, dia
mengirim barisannya, untuk memegat. tapi kodok hijau
itu tidak menghiraukan, di sebelah yang bertempur,
yang lain maju terus ke belakang pasukan musuh.
Kodok besar jadi kacau tetapi mereka tetap berkelahi.
Raja kodok melihat barisannya tak dapat maju, ia
berbunyi nyaring sekali, lantas ia sendiri maju, untuk
memegang pimpinan penyerbuan. Ia mengepalai
barisannya sendiri, yang semua besar-besar dan
romannya bengis. Kodok besar ini bisa dengan sekali
menggigit, menggigit mampus musuhnya. Sebentar
saja seekor kodok besar itu bisa mematikan belasan
musuhnya. Karena ini, kodok hijau terpaksa berkelahi
sambil mundur.
Kawanan kodok besar itu maju merangsak.
Raja kodok berlompat, sekali lompat jauhnya setengah
tombak, tapi segara ia dikepung kodok hijau. Tapi
hanya sejenak, dia lantas dibantui barisannya.
Karena bergesernya tempat bertempur, orang pun
menggeser, untuk melihatnya lebih tegas. Oey Yong
dan Kwee Ceng lompat turun, mereka nelusup di
antara orang-orang tani itu.
Kelihatan semua orang tani berduka, mereka pada
menghela napas.
Oey Yong heran, ia ingin mengetahui duduknya hal,
maka ia tanya seorang tua, kenapa kedua macam
kodok itu saling bertempur.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebelum menjawab, orang itu mengawasi dulu hingga
ia mengenali orang adalah asing untuk desanya itu.
"Katak itu ada yang piara," ia menerangkan, "Dan
dipelihara istimewa untuk menangkap kodok hijau."
Oey Yong heran. "Ah!" suaranya tertahan.
"Kami orang tani, kami mengharapkan bantuannya
kodok-kodok hijau itu untuk merawat tanaman padi
kami," orang itu berkata pula, "Sekarang nampaknya
kodok hijau bakal kalah, maka di tempat sekitar sini,
luasnya beberapa puluh lie, panen kami tahun ini bakal
gagal….."
"Kalau begitu, nanti aku bantu kamu," kata Oey Yong.
"Nanti aku hajar semua kodok itu."
Ia merogoh ke sakunya, meraup jarumnya.
"Jangan, nona," berkata si orang tua perlahan,
tanganya menarik ujung baju orang. "Telah aku bilang,
katak itu ada yang pelihara." Ia menunjuk kepada
rombongan orang pakaian hitam yang bengis-bengis
itu. "Merekalah si pemelihara katak itu. Kalau kau
ganggu katak mereka, buntutnya bakal hebat sekali.
Nona cantik bagaikan bunga, maka menurut aku,
baiklah nona jangan berdiam lama-lama di sini, baik
kau lekas pergi!"
Oey Yong tersenyum.
"Jumlah kita banyak, takut apa?" Kwee Ceng pun
berkata.
Orang tua itu menghela napas.
"Karena urusan kodok itu, tahun lalu kita pernah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bertempur sampai banyak yang terluka," katanya.
"Perkara telah jatuh ke tangan pembesar negeri.
Kesudahannya camat memutuskan, untuk selanjutnya
biarlah katak bertempur sama katak, di antara
binatang, kita dilarang campur tahu, siapa berani
melanggar putusan itu, dia bakal di hukum berat."
"Ah, pembesar anjing!" mendamprat Kwee Ceng.
"Bukankah itu terang-terang membantu kawanan
manusia jahat itu?"
"Memang. Tapi camat dan mereka adalah sekawan.
Camat cuma tahu menangkap kodok hijau untuk
dipakai memelihara ular, dia tidak menggubris rakyat
mati atau hidup!"
Mendengar itu keterangan hal menangkap kodok untuk
memelihara ular, Kwee Ceng dan Oey Yong heran
betul. Ketika mereka mau menanya lagi, justru kaum
petani itu lagi berseru-seru girang.
Nyata pertarungan katak itu membawa perubahan.
Kawanan katak besar mengumpul diri di empang
besar, mereka terdesak. Sejumlah kodok hijau terjun
ke air, mereka berenang ke belakang musuh,
membantu menyerang dari samping dan belakang.
Katak hijau itu pandai sekali berenang. Sedang katak
besar itu tidak pandai memain di permukaan air.
Mereka berdesakan, tak dapat mereka bergerak
dengan merdeka, banyak yang kecebur ke empang. Di
dalam air, mereka tidak bisa bertempur dengan hebat
seperti di darat. Maka mereka jatuh di bawah angin,
banyak yang mati, bangkainya mengambang dengan
perut putihnya di atas.
Barisan kodok besar itu menjadi kalut. Rajanya,
bersama barisan pengawalnya, menerjang kalang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kabutan tanpa ada hasilnya.
Maka orang-orang tani itu pada bersorak, ada yang
berseru: "Panen kita tahun ini ketolongan!"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi semua sambil
memperhatikan rombongan orang baju hitam itu. Muka
mereka menyatakan kegusaran mereka. Tiba-tiba di
antara mereka ada yang berseru, lalu belasan di
antaranya membuka tutupnya korang mereka.
Bab 56. Kejadian di lauwteng Gak Yang Lauw
Begitu lekas korang-korang dibuka tutupnya, maka
keluarlah ratusan ekor ular berbisa kecil dan besar,
semua merayap ke medan pertempuran katak itu,
maka di dalam tempo yang pendek, mereka telah
dapat menelan banyak kodok hijau. Kodok hijau itu
memanglah makanan mereka. Lantas kodok itu pada
lari atau merengkat saking takutnya.
Kawanan petani menjadi kaget dan gusar, mereka
mengasih dengar suara berisik.
Seorang, yang tubuhnya tinggi besar di antara orangorang
berpakaian hitam itu, maju ke depan orangorang
tani, dia mengasih dengar suara bentakannya:
"Camat telah memaklumkan, katak berkelahi di antara
bangsannya adalah adat kebiasaannya, maka itu,
selagi mereka tidak membikin hubungannya sama kita
manusia, perlu apa kamu membikin banyak berisik?!"
Orang-orang tani itu berteriak-teriak: "Kodok besar itu
serta ular berbisa ini adalah kamu yang pelihara!
Kodok hijau mana bisa melawan ular! Tidak tahu malu!
Kami melarat tahun ketemu tahun, panen kami bakal
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
gagal, daripada kami mati kelaparan, mari semua
mengadu jiwa!"
Orang tinggi besar itu mengangkat tangan kanannya,
maka di situ terlihat goloknya yang berkeredepan. Dia
lantas diturut kawan-kawannya, yang semua pada
mengeluarkan senjatanya masing-masing. Dengan
berbaris rapi, mereka maju mendekati.
"Kamu mau apa?" tanya si orang tinggi besar pada
kaum tani itu. "Apakah kamu tidak mau dengar
perintah camat? Apakah kamu mau berontak?!"
Orang banyak itu pada mencaci, ada juga yang
menimpuk dengan lumpur dan batu.
Orang tinggi besar itu mengibasi tangannya, lantas di
antara mereka muncul dua orang yang dandan
sebagai hamba polisi, yang satu memegang golok,
yang lainnya membawa rantai borgolan. Mereka ini
lantas memaklumkan, siapa yang cari gara-gara dan
berkelahi, dia akan dihukum sebagai pemberontak!
Orang-orang tani itu berdiam, mereka saling
mengawasi. Beberapa diantaranya kata: "Mereka inilah
masing-masing kepala polisi berkuda dan berjalan
kaki."
Oleh karena pihak sana dapat bantuan pembesar
negeri, maka celakalah kawanan kodok hijau itu, oleh
katak besar dan ular mereka digiring masuk ke dalam
korang.
"Yong-jie, apakah kita turun tangan sekarang?" Kwee
Ceng berbisik.
"Coba tunggu sebentar lagi," menyahut sang nona.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika itu tujuh atau delapan bocah maju sambil
berteriak-teriak, mereka menggunai batu menimpuki
rombangan ular itu, hingga ada beberapa ular yang
lantas mati.
Orang-orang berpakaian hitam itu menjadi murka,
beberapa diantaranya maju untuk menyerang nocahbocah
itu. Satu bocah kena dirobohkan, yang lainnya
lari kabur.
Bocah yang roboh itu kena dicekuk.
"Bagus, ya, kau berani membikin mati ular yang kita
rawat susah payah!" katanya bengis. "Kau mesti
dikasih rasa!"
Seorang tani wanita lantas lari menghampirkan.
"Tolong tuan, tolong," ia memohon, "Tolong lepaskan
anakku ini…"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengenali, itulah ibu dan
anak yang mereka ajak bicara.
Sambil dengan tangannya yang satu memegangi terus
si bocah, dengan tangan yang lain laki-laki itu
menyambar lehernya si nyonya, terus ia melemparnya
balik hingga tubuh si nyonya itu terpelanting ke dalam
rombongannya, di mana dia menimpa dua orang
hingga mereka roboh bersama. Lantas laki-laki bengis
itu mengibasi tangannya, atas mana kawan-kawannya
maju dengan senjata siap sedia.
Kawanan orang tani itu mundur. Mereka kebanyakan
ada orang tua dan wanita. Mereka lebii takut lagi ketika
orang mengayun goloknya untuk membacok, lekaslekas
mereka mundur pula. Nyata itulah ancaman
belaka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Adalah si bocah yang tertangkap yang malang. Dia
digaplok, bajunya disobek, setiap kali digaplok, setiap
kali disobek, hingga itu terulang belasan kali, hingga
dia menjadi bengkak matang biru mukanya dan
tubuhnya pun telanjang. Ibunya menangis menjeritjerit.
Lupa segala apa, nyonya itu merangsak maju
untuk menolongi anaknya. Segera dia dipegangi dua
orangn laki-laki.
Laki-laki kejam tadi mengsaih dengar siulan nyaring,
atas itu beberapa ratus ular berbisa itu mengangkat
kepalanya dan mengulur lidahnya, semua mengawasi
tubuh telanjang bulat dari si bocah. Maka kagetlah
semua orang tani, pucat muka mereka. Si bocah juga
ketakutan bukan main, matanya mendelong
mengawasi ibunya. "Ibu…!" kemudian ia menjerit.
"Bangsat cilik, kalau kau bisa, kau larilah!" kata si lakilaki
bengis. Ia menampar, maka robohlah si bocah.
Bocah itu lari kepada ibunya. Tapi di sini dia dipapaki
sabetan golok beberapa orang, maka ia lari balik ke
tempat kosong.
Si laki-laki bengis, yang rupanya menjadi kepala,
bersiul pula, maka sekarang semua ular tadi, yang
sudah sipa, lantas lari mengubar bocah itu.
Bukan main kaget dan takutnya si bocah ketika ia
menoleh karena mendengar suara sa-sus riuh dari
kawanan ular itu, yang semua mementang mulutnya,
mengsaih lihat ancaman lidahnya yang bergerakgerak,
dalam takutnya ia lari sekeras-kerasnya. Tapi
kawanan ular dapat lari lebih keras, ia lantas hampir
kena disusul.
"Anakku!" menjerit si nyonya, yang lantas pingsan dan
roboh.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kawanan tani itu menjadi kaget dan gusar, mereka
mau maju menyerang ular, tetapi mereka dihalanghalangi
kawanan orang yang berpakaian hitam itu,
yang membolang-balingkan goloknya dihadapan
mereka.
Menampak kejadian itu, Oey Yong sudah lantas
bersiap dengan seraup jarumnya, hendak ia segera
menyerang.
Sekonyang-konyang bocah itu tersandung, tubuhnya
terjatuh, maka itu ia lantas kena dicandak.
Oey Yong kaget hingga ia berseru, tubuhnya
berlompat. Tepat ia hendak mengayun tangannya atau
dari antara rombongan orang tani terlihat dua orang
melompat maju menghalang di depan si bocah, tangan
mereka diayunkan, menerbangkan empat bungkusan
bubuk warna kuning, yang terus menggaris di tanah,
sedang hidung orang lantas membaui bau belerang.
Segera setelah itu, semua ular pada mundur
sendirinya.
Kapan Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengenali
dua orang itu, ialah Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dari
Kay Pang, Partai Pengemis, yang pernah ditemui di
Poo-eng.
Melihat merintangnya dua orang itu, laki-laki baju hitam
itu lantas berkata: "Kami dari Tiat Ciang Pang dengan
pihak Kay Pang adalah seumpama air kali tidak
bertemu air sumur, oleh karena itu kenapa tuan-tuan
sekarang memaksa maju sendiri membelai lain
orang?"
Lee Seng memberi hormat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bocah ini belum tahu apa-apa, maka itu aku si
pengemis tua memohon muka, sudilah dia diberi
ampun," sahutnya.
Si hitam itu melihat Lee Seng menggondol delapan
kantung goni, ia tahu orang ada dari angkatan tinggi,
tetapi ia tertawa dingin dan lantas menanya: "Jikalau
kau tidak memberi ampun, habis tuan mau bikin apa?"
Ie Tiauw Hin masih muda, ia tidak sabaran. Dia
berseru: "Kamu berbuat jahat dan kejam, kami telah
mempergokinya, mana pula kami tidak campur tahu?!"
Si hitam tertawa menghina pula. Dia kata: "Aku
mendengar kabar kamu kaum Kay Pang, besok kamu
bakal mengadakan rapat besar di Gak Yang Lauw, di
mana akan hadir semua pemimpin dari partaimu dari
pelbagai penjuru, apakah kau pengemis cilik mau
menghina orang dengan mengandali jumlahmu yang
banyak? Hm! Aku khawatir tidak gampang-gampang
kamu dapat berbuat demikian! Kamu katanya
www.kangzusi.com kaum yang pandai menangkap
ular, coba aku lihat, apa kamu pandai menangkap ular
kami ini?"
Ie Tiauw Hin panas hatinya. Ia lantas berlompat maju,
kedua tangannya menyambar masing-masing seekor
ular. Ia memegang ekor ular, segera digentak kaget.
Tulang ular bersambung bagaikan rantai, karena
dihentak kaget, tulang-tulang itu jadi seperti terlepas,
maka itu, meski tidak segera mati, kedua ular itu lantas
tidak mampu menggeraki tubuh mereka. Itulah ilmu
kepandaian menangkap ular dari bangsa pengemis.
Si hitam menjadi murka luar biasa, lantas ia bersiul
keras, maka itu ribuan ularnya lantas melesat maju,
untuk menerjang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ie Tiauw Hin boleh pandai menangkap ular tetapi
menghadapi ular demikian banyak, ia kewalahan,
maka itu, ia lompat ke garisan bubuk belerangnya.
Lee Seng lantas berteriak, menanya she dan nama
besar si hitam. Dia ini sendiri tidak menyahutinya, dia
cuma tertawa dingin. Setelah ia melihat ularnya tidak
berani maju, lagi sekali ia bersiul.
Kali ini terjadilah pemandangan yang luar biasa.
Seekor ular menggigit ekor kawannya, kawan digigit
pula ekornya oleh kawannya yang lain, demikian
seterusnya, hingga mereka merupakan beberapa
puluh potong rantai yang panjang, habis itu, ketika si
hitam berteriak, mereka berlompat ke arah kedua
pengemis itu, yang mereka terus kurung, hingga si
bocah terkurung bersama.
"Pengemis busuk, tangkaplah ular itu!" kata si hitam
menantang. "Kenapa kau diam saja?!"
Semua ular itu dongak mengawasi, siap untuk
menerjang.
Muka Lee Seng dan Tiauw Hin pucat. Mereka rupanya
menginsyafi ancaman bahaya.
Si hitam lantas berkata dengan jumawa, "Kami kaum
Tiat Ciang Pang tidak suka mencelakai orang tanpa
sebab, maka itu asal kamu berjanji untuk selamalamanya
tidak akan menangkap ular kami pula, asal
kamu memberikan buktinya - hm! Kami tentu suka
memberi ampun!"
Lee Seng tahu bukti apa yang diminta Tiat Ciang
Pang. Ialah mereka harus merusak tangan mereka
sendiri. Tentu sekali, mereka tidak suka menyerah,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tidak peduli keadaan ada sangat berbahaya. Mereka
berdiri tegak dan gagah.
Si hitam mementang kedua tangannya. Ia kata: "Asal
aku merangkap kedua tanganku ini maka di tubuh
kamu masing-masing bakal tambah beberapa ratus
gigi yang beracun! Apa kamu masih tidak mau
bertekuk lutut untuk memohon ampun?"
"Susiok, jangan kita mendatangkan malu!" kata Tiauw
Hin.
Lee Seng tertawa. "Untuk apa mengatakan itu pula?"
sahutnya. Ia lantas perkeras suaranya, berbicara
kepada orang Tiat Ciang Pang itu: "Terima kasih
banyak saudara hendak mengantar kami pulang ke
Langit Barat, hanya aku masih belum mengetahui
nama saudara yang besar!"
"Benarlah kamu, sampai mati kamu tidak mau
memeramkan mata!" kata si hitam itu. "Aku murid
ketiga dari Kiu Tiat Ciang, yang orang menyebutnya
Hian-pwee-bong Kiauw Thay si Ular Naga Abu-abu!"
Belum berhenti suara jumawa si hitam ini, lantas
terdengar suara tertawa halus nyaring disusuli ini katakata
terang halus: "Aha! Aku mengira siapa, tak
tahunya segala murid dan cucu muridnya si tua
bangka she Kiu!"
Suara itu segera disusul oleh orangnya, maka semua
orang melihat seorang nona cantik manis yang
rambutnya dijepit dengan gelang emas. Dialah Oey
Yong kita. Maka heranlah Kiauw Thay.
Oey Yong tidak menanti orang sadar dari herannya, ia
kata pula: "Tiat Ciang Sui-siang-piauw she Kiu yang
tua itu memanggil aku kouw-nay-nay, maka itu kenapa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kau tidak segera memanggil aku couw kouw-nay-nay?"
Dia minta dirinya dipanggil bibi dan bibi tua.
"Hai, bocah kau ngaco belo!" membentak si hitam. Di
dalam hatinya, tapinya ia heran sekali kenapa bocah
ini mengetahui nama besar gurunya.
Oey Yong tertawa dan berkata pula: "Anak-anak
menerbitkan onar di luaran, inilah aku kouw-nay-nay
kamu paling tidak senang melihatnya! Bukankah kamu
pun ada kawannya itu anak yang memangku pangkat
camat di Bu-leng? Beberapa hari yang lalu, sambil
lewat di mana, kouw-nay-nay telah membereskan dia!
Nah, apa katamu?"
Camat she Kiauw di Bu-leng itu memang ada
saudaranya Kiauw Thay ini, dia menerima kabar
halnya kantor camat dibakar dan camatnya mati baru
tadi pagi, maka itu ia lantas melirik si nona dengan hati
sangat panas. Dia berduka berbareng gusar tetapi dia
bersangsi apa nona ini benar membunuh saudaranya
itu yang ia tahu gagah. Ia lantas memberi tanda, maka
ratusan ularnya mengurung si nona.
"Siapakah yang membinasakan camat Bu-leng?"
Kiauw Thay membentak, "Lekas bilang!"
Oey Yong tertawa manis.
"Dengan sebenarnya akulah yang membinasakan dia!"
dia menyahuti, berani. "Dia melawan aku dengan
menggunai Tok see-ciang, tangan beracunnya itu!
Siapakah tidak mengenalnya jurusnya, seperti jurus
'Jarum tawan' dan 'Mengangkat obor membakar
langit'" Ketika aku menotok jalan darahnya, jalan darah
kiok-tie-hiat, pecahlah kepandaiannya itu, maka
setelah aku menotok pula kedua jalan darahnya, kiebun
dan kin-ceng, aku menyuruh dia duduk di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kursinya, duduk tak bergeming lagi, mirip lagaknya
diwaktu hari-hari biasa dia dengan bengis memeriksa
rakyat negeri. Kemudian ketika aku membakar gedung
camat dan kantornya sampai ludas menjadi abu, entah
kena, dia tetap tidak keluar lagi dari kantornya itu!"
Kiauw Thay tetap heran. Kenapa orang begitu berani
bicara seperti lagi mendongeng saja, demikian tenang,
lancar dan rapi? Meski dia masih bersangsi, dia toh
memikir untuk membekuknya, guna mendengar
keterangan orang terlebih jauh. Maka ia lantas
berseru: "Loo Sam, Loo Su, bekuklah budak ini!"
Dua orang lantas maju, dengan goloknya mereka
menyingkirkan ular-ular yang mengurung itu, setelah
datang dekat dengan empat tangan, mereka
menjambret pundaknya si nona.
Oey Yong tertawa melihat lagak orang, "Loo Sam, Loo
Su, kau rebahlah!" ia kata. Sebat luar biasa, ia
mendak, lalu tubuhnya melesat ke belakang orang.
Belum dua orang itu tahu apa-apa, punggung mereka
sudah dicekal, lalu dtitolak keras satu sama lain, maka
di antara suara beradu keras, kepala mereka bentrok
hingga tubuh mereka terhuyung, lalu roboh di tanah!
Orang-orang tani itu sebenarnya lagi ketakutan akan
tetapi menyaksikan robohnya dua jago itu, mereka
heran dan kagum hingga mereka tertawa.
Kiauw Thay murka bukan main, ia lantas mengangkat
tangan kanannya dan memasuki dua jerijinya ke dalam
mulutnya. Ia hendak bersuit, guna mengasih perintah
kepada ularnya untuk menyerbu. Atau dia didahuli
dengan suara kuk-kuk-kuk tiga kali, lalu di tangannya
Oey Yong terlihat seekor burung merah, sebab burung
apinya itu ia telah masuki ke dalam tangan bajunya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan mengasih dengar suaranya, burung api itu pun
lantas mengasih keluar bau harumnya, yang segera
seperti memenuhi ladang itu, kapan semua ular dapat
mencium bau itu, semuanya menjadi bergerak dengan
kacau, akan akhirnya pada rebah diam saja, sejumlah
di antaranya lantas terlentang, mengasihkan perutnya
untuknya untuk di patuk!
Hiat-niauw pun tidak sungkan-sungkan, dia berlompat
maju, dia mematuk setiap perut, hingga sebentar saja
dia sudah makan nyalinya tujuh ekor ular. Dia sudah
kenyang tetapi dia masih mematuki perut ular lainnya!
Kiauw Thay kaget dan gusar, habislah sabarnya. Ia
mengeluarkan tiga batang kong-piauw, dua batang ia
timpuki kepada burung api itu dan satunya kepada si
nona!
Oey Yong memakai baju lapisnya, ia tidak
memperdulikan datangnya senjata rahasia itu ke
tubuhnya, sedang hiat-niauw, melihat datangnya
serangan itu, berlompat untuk menyampok hingga
kedua kong-paiuw jatuh di tanah, kemudian ia terbang
gesit menyampok jatuh piauw yang mengarah si nona.
Bukan main girangnya Oey Yong mendapatkan
burungnya itu mengerti dan dapat membela majikan. Ia
lantas menuding si hitam itu serta kawan-kawannya, ia
berkata: "Mereka itu orang-orang jahat, patuklah biji
mata mereka!"
Burung api itu terbang meleset, tubuhnya yang merah
berkelebat mirip api, atau segera satu orang menjerit
kesakitan, lantas diturut oleh beberapa orang yang
lain. Sebab seperti tanpa merasa lagi, mata mereka
telah kena dipatuk burung itu!
Saking takutnya, semua orang itu lari serabutan,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sedang yang matanya terpatuk pada menjatuhkan diri,
untuk merayap atau bergulingan, guna melarikan diri.
Hingga dilain saat, habislah mereka, tinggal kodok dan
ular mereka, maka kedua binatang itu lantas diserbu
ramai-ramai oleh kawanan orang tani itu. Ketika
kemudian mereka hendak menghanturkan terima kasih
kepada Oey Yong dan Kwee Ceng, muda-mudi itu
dengan tidak banyak omong telah pergi jauh.
Juga Lee Seng dan Ie Tiauw Hin hendak menemui
sepasang anak muda itu tetapi mereka telah ditinggal
kabur kuda merah yang larinya pesat.
Oey Yong girang bukan main atas kesudahannya
perbuatannya itu, maka itu malam, selagi singgah, ia
menyalakan api, ia membiarkan hiat-niauw mandi
dengan gembira.
Besoknya pagi, tibalah mereka di Gakciu. Mereka
berjalan kaki, kuda mereka dituntun. Langsung mereka
menuju ke lauwteng Gak Yang Lauw. Mereka
memandangi keindahan telaga Tong Teng Ouw di tepi
mana lauwteng itu dibnagun. Luas tenaga itu, jernih
airnya. Di sekitarnya adalah rentetan gunung,
keindahan dan keangkeran telaga itu beda lagi dengan
keindahan dan keangkeran telaga See Ouw. Masakan
Ouwlam kurang cocok bagi lidah mereka, sudah
rasanya pedas, juga mangkoknya lebih besar dan
sumpitnya lebih panjan.. Di empat penjuru tembok
mereka melihat banyak tulisan orang-orang pandai,
yang pernah naik di lauwteng ini untuk bersantap atau
minum. Di antaranya ada syairnya Hoan Tiong Am
tentang kedukaan dan kegirangan, yang datangnya
duluan dan belakangan.
Mereka lantas membicarakan Hoan Tiong Am itu, yang
pintar dan gagah, yang pernah menjagoi di See Hee,
tetapi semasa kecilnya dia miskin, ayahnya mati muda,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hingga ibunya menikah lagi pula, hidupnya sengsara,
maka setelah hidup berpangkat dan berbahagia, dia
tetap memperhatikan nasib rakyat jelata. Itu pula
sebabnya mengapa ia menulis syairnya itu lebih dulu
menderita, lalu bergembira.
"Demikian juga dengan bangsa orang gagah!" kata
Kwee Ceng kemudian seraya menenggak araknya.
"Dia memang orang baik," kata Oey Yong tertawa.
"Cumalah di dalam dunia ini, kedukaan lebih banyak,
daripada kegembiraan. Aku tidak mau hidup seperti
dia!"
Kwee Ceng tersenyum, dia diam saja.
"Engko Ceng, aku tidak pedulikan kedukaan atau
kesenangan itu!" kata si nona kemudian. "Hanya kalau
kau tidak gembira, hatiku pun tidak senang…" Katakata
ini dikeluarkan perlahan, alisnya pun mengkerut.
Kwee Ceng ingat nona itu tentulah mengingat
hubungan di antara mereka, maka dia pun masgul, dia
tidak dapat menghibur, dia tunduk dan berdiam saja.
Tiba-tiba si nona mengangkat kepalanya dan tertawa.
"Sudahlah, engko Ceng!" katanya. "Eh, ya, tahukah
kau syair Hoan Tiong Am yang berjudul 'Mencukil
lampu perak'?"
"Aku tidak tahu. Cobalah kau membacakannya untuk
aku dengar?"
Oey Yong membacakan bagian bawah syair itu:
"Orang hidup tidak seratus tahun, maka jangan tolol,
kalau tua, lantas layu. Hanya di bagian usia
pertengahan, itu sedikit tahun, harus dapat menahan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hati. Kedudukan tinggi, banyak uang dan rambut putih,
bagaimana itu dapat dihalaunya?"
"Kalau begitu," kata Kwee Ceng nyaring, "Itulah
nasehatnya supaya orang jangan menyia-nyiakan
waktu, jangan cuma mengejar nama besar, kenaikan
pangkat dan harta!"
Oey Yong pun berkata pula, perlahan: "Arak masuk ke
dalam usus berduka, berubah menjadi air mata
kenangan…."
"Apakah itu pun syair Hoan Tiong Am?" tanya Kwee
Ceng, mengawasi si nona.
"Ya. Orang besar dan orang gagah bukannya tidak
mempunyai perasaan," kata si nona, yang terus
tertawa. Ia menanya: "Engko Ceng, bagaimana kau
lihat caranya aku menghadapi murid-murid jahat dari
Tiat Ciang Pang itu? Tidakkah itu memuaskan?"
"Memang!" jawab Kwee Ceng bertepuk tangan.
Demikian mereka bersantap, minum dan bicara
dengan asyik dan merdeka, seperti di situ tidak ada
lainnya orang lagi. Kemudian Oey Yong menyapu
kelilingnya. Ia melihat di arah timur ada tiga orang tua
dengan dandanan sebagai pengemis, bajunya banyak
tambalannya tetapi berseih. Tentulah mereka orang
penting dari Kay Pang, yang hendak menghadari rapat
besar kaumnya. Yang lainnya ialah orang dagang atau
orang biasa saja.
"Sebenarnya Tiat Ciang Pang itu kumpulan apa?"
kemudian kata si nona perlahan. "Kenapa mereka itu
sama dengan See Tok paman dan keponakan, mereka
memelihara ular?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Entahlah," sahut Kwee Ceng. "Kalau mereka semua
sama dengan Kiu Cian Jin si tua bangka, mereka tentu
tidak bisa membangun apa-apa yang besar…"
Kata-kata itu belum habis dikeluarkan ketika si atasan
kepala mereka terdengar suara orang tertawa terbahak
sambil berkata dengan suara angker: "Sungguh mulut
besar! Sampai pun 'Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si
orang she Kiu tua', tidak dilihat mata!"
Oey Yong terkejut, ia lompat mundur beberapa tindak,
baru dia dongak.
Di atas penglari ada duduk nagkring seorang
pengemis tua yang kulitnya hitam legam, bajunya
sangat butut, tetapi dia mengaawasi dengan tertawa
haha-hihi.
Kwee Ceng telah menduga kepada orang Tiat Ciang
Pang, setelah melihat ia berhadapan sama pengemis,
hatinya menjadi sedikit lega, apapula orang
nampaknya tidak mengandung maksud jahat. Ia lantas
memberi hormat seraya berkata: "Locianpwee,
silahkan turun untuk minum barang tiga gelas arak?
Sudikah?"
"Baik!" menyahut pengemis itu, yang lantas
menjatuhkan diri, hingga ia mendeprok di papan
lauwteng yang debunya mengepul. Setelah menepuknepuk
kempolannya ia merayap bangun.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran bukan main. Orang
bisa ada di atas mereka tanpa bersuara, mereka
menduga orang berkepandaian tinggi, tetapi orang
jatuh terbanting begitu rupa, agaknya sangat berat
tubuh orang, itulah bukan tandanya orang lihay.
"Silahkan minum!" Oey Yong mengundang. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menyuruhnya pelayan menambahkan cangkir arak,
mangkok dan sumpit. Ia pun mengisikan cangkir.
"Pengemis tua tak tepat duduk di kursi," kata pengemis
itu, yang lantas duduk mendeprok di lantai, sedang
dari kantungnya ia mengeluarkan sebuah mangkok
jonges serta sepasang sumpit bambu. Ia pun kata:
"Sisa arak dan sayur yang kamu telah makan, kasihlah
itu padaku!"
"Itulah perbuatan tak hormat dari kami, locianpwee,"
berkata Kwee Ceng. "Apa yang locianpwee hendak
dahar, bilang saja, suruh pelayan menambahkan!"
"Pengemis ada macamnya si pengemis," kata orang
tua itu, "Kalau pengemis cuma nama tapi tak tepat
sama artinya, cuma berpura-pura saja, buat apa dia
menjadi pengemis? Jikalau kamu sudi mengamal, nah,
kasihlah, jikalau tidak, aku bisa pergi mengemis ke lain
tempat…"
Dua-dua muda-mudi itu heran tetapi Oey Yong melirik
kawannya, lalu ia berkata sambil tertawa: "Locianpwee
benar!" Maka ia lantas sisihkan sisa sayur mereka, ia
menuangnya ke mangkok butut itu.
Si pengemis merogoh ke dalam sakunya, untuk
mengeluarkan nasi dingin, yang mana ia campur sama
sisa sayur, terus ia dahar, nampaknya ia bernafsu
sekali.
Oey Yong yang cerdik diam-diam menghitung kantung
di punggug orang, semuanya susun tiga, setiap
susunnya terdiri dari tiga buah, maka itu ada sembilan
kantung. Ketika ia berpaling kepada ketiga pengemis
lain, mereka pun mempunyai masing-masing sembilan
kantung. Yang beda ialah mereka itu bertiga di
depannya tersajikan banyak macam sayur pilihan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka itu agaknya tidak memperdulikan pengemis
yang satu ini, mereka tidak sudi berpaling atau melirik,
cuma pada paras mereka tampak samar-samar roman
tak puas.
Tengah si pengemis bersantap dengan bernafsu, di
tangga lauwteng terdengar tindakan kaki. Kwee Ceng
lantas berpaling. Maka terlihat olehnya naiknya dua
pengemis, ialah pengemis kurus dan gemuk yang di
Gu-kee-cun, Lim-an menemani Yo Kang. Bahkan di
belakang mereka terlihat Yo Kang sendiri. Hanya dia
itu, begitu dia melihat si orang she Kwee, dia melongo,
lekas dia turun pula. Entah dia berbicara apa sama si
pengemis gemuk, maka di gemuk itu ikut dia turun. Si
pengemis kurus maju terus, ia menghampirkan
pengemis yang tiga itu yang makannya royal, dia
bicara berbisik-bisik. Atas itu, ketiga pengemis itu
berbangkit, mereka membayar uang makan, lantas
mereka berlalu bersama si kurus itu.
Si pengemis yang dahar sambil duduk mendeprok dan
makan sisa, terus tidak menghiraukan sepak terjang
beberapa rekannya itu.
Oey Yong berjalan ke jendela, untuk melongok ke
bawah. Ia melihat belasan pengemis mengikuti Yo
Kang ke barat. Jalan belum jauh, pemuda she Yo itu
menoleh ke belakang. Maka tepat sinar matanya
bentrok sama sinar matanya Oey Yong. Dia agaknya
terkejut, segera ia mempercepat tindakannya,
selanjutnya dia tidak berpaling lagi.
Pengemis tua itu lantas dahar habis. Ia menjilati
mangkoknya san sumpitnya disusuti kepada bajunya,
semua itu lantas dimasuki ke dalam kantungnya.
Diam-diam Oey Yong mengawasi. Ia melihat sinar
kedukaan pada kulit muka orang yang berkeriputan.
Aneh adalah tangannya, yang jauh lebih besar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
daripada tangan kebanyakan orang lain, sedang
belakang tangannya penuh dengan otot-otot besar,
suatu tanda dari penghidupan besart.
"Cianpwee, silahkan duduk!" berkata Kwee Ceng
seraya memberi hormat. "Dengan berduduk, leluasalah
kita berbicara."
Pengemis itu tertawa.
"Aku tidak biasa duduk di bangku!" katanya. "Kamu
berdua ada murid-muridnya Ang Pangcu, meskipun
usia kamu lebih muda, kita adalah sama derajatnya,
cuma aku lebih tua beberapa puluh tahun, kau
panggilah aku toako. Aku she Lou, namaku Yoe Kiak."
Oey Yong tertawa.
"Toako, namamu menarik hati!" katanya. Yoe Kiak itu
berarti "ada kaki"
Pengemis itu berkata: "Orang biasa membilang, orang
miskin hidup tanpa tongkat dia diperhina anjing, tetapi
aku tidak mempunyai pentung, aku mempunyai
sepasang kakiku yang bau ini, kalau anjing berani
menghina aku, akan aku mendupak dia pada
kepalanya, supaya dia terkuwing-kuwing dan kabur
sambil menggoyang-goyang ekornya."
Oey Yong bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya,
"Kalau anjing mengetahui namamu, tentulah siangsiang
dia sudah lari jauh-jauh!"
"Tadi pagi aku telah bertemu sama saudara Lee
Seng," berkata Yoe Kiak, yang lantas bicara secara
sungguh-sungguh, "Dari dia aku mendapat ketahui
perbuatan kamu di Poo-eng dan Gakciu. Maka
benarlah orang bilang, kalau ada semangat, bukan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cuma karena usia tinggi, siapa tanpa semangat,
percuma usianya lanjut!"
Kwee Ceng berbangkit untuk merendahkan diri untuk
mengucapkan terima kasih atas pujian itu.
"Barusan kamu bicara tentang Tiat Ciang Pang,"
berkata Lou Yoe Kiak, "Agaknya mengenai mereka itu,
kamu belum mengetahui jelas."
"Benar. Justru itu, aku mohon petunjuk," sahut Oey
Yong.
"Tiat Ciang Pang itu, untuk Ouwlam dan Ouwpak dan
Sucoan, pengaruhnya sangat besar," menerangkan si
pengemis tua, "Anggota-anggotanya suka membunuh
orang dan merampok, tak ada kejahatan yang tak
dilakukan mereka. Mulanya mereka cuma
bersekongkol sama pembesar negeri setempat,
kemudian mereka jadi semakin berani, kecuali
bersekongkol mereka pun menempel pembesar
berpangkat tinggi dan main sogok hingga ada
diantaranya yang memangku pangkat. Yang paling
menyebalkan ialah mereka bersekongkol sama negeri
Kim, mereka melakukan perbuatan hina sebagai
pengkhianat. Maka tepatlah hajaran kamu kepada
mereka itu."
"Kabarnya kepala Tiat Ciang Pang ialah Kiu Cian Jin,"
berkata Oey Yong. "Tua bangka itu paling pandai
memperdayakan orang. Kenapa dia jadi demikian
berpengaruh?"
"Kiu Cian Jin itu sangat lihay, nona," berkata Yoe Kiak,
"Aku harap kau tidak memandang enteng kepadanya."
Oey Yong tertawa. "Apakah kau pernah bertemu
dengannya?" dia menanya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bertemu, itulah belum. Aku mendapat kabar dia
tinggal bersembunyi di atas gunung, di mana dia
meyakinkan tangan beracun yang dinamakan Ngo-tok
Sin-ciang. Sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak
turun gunung…."
"Kau terpedayakan!" kata Oey Yong tertawa. "Aku
telah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan kita
pernah bertempur juga. Kau bilang ia meyakinkan
Ngo-tok Sin-ciang? Ha ha ha…!" Dan dia tertawa geli
mengingat ngacirnya Kiu Cian Jin, sambil tertawa ia
mengawasi Kwee Ceng.
"Apakah yang disandiwarakan itu Kiu Cian Jin itu,"
kata pula Yoe Kiak, tetap sungguh-sungguh, "Aku tidak
tahu, tetapi benar sekali selama beberapa tahun
kemarinkan Tiat Ciang pang maju sangat pesat, dia
tidak dapat dipandang enteng."
"Lou Toako benar," kata Kwee Ceng. Yang khawatir
pengemis itu menjadi tidak senang, "Memang Yong-jie
gemar bergurau…"
"Ah, kapannya aku bergurau?" berkata si nona
tertawa, "Aduh, aduh! Perutku sakit…!" dan dia beraksi
mirip dengan tingkah lakunya Kiu Cian Jin baru-baru
ini, ketika ia berpura-pura sakit perut untuk lari
membuang air besar tetapi akhirnya kabur dengan tipu
tonggeret meloloskan kulit.
Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa menyaksikan nona
itu menekan-nekan perutnya.
Melihat kawannya tertawa, Oey Yong berhenti tertawa.
Ia pun mengubah sikap.
"Loa Toako," tanyanya, "Apakah kau kenal ketiga tuan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tadi yang bersantap di meja itu?"
Ditanya begitu, Yoe Kiak menghela napas.
"Kamu bukan orang luar, hendak aku bicara dengan
sebenar-benarnya," sahutnya kemudian. "Pernahkah
kamu mendengar keterangan Ang Pangcu bahwa
partai kita terbagi dalam dua cabang, ialah cabang
Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil?"
"Belum, belum pernah kita mendengar keterangan itu,"
sahut kedua muda-mudi itu.
"Suatu partai terpecah dalam dua cabang, itulah
sebenarnya tidak bagus," kata pula Yoe Kiak.
"Mengenai itu, Pangcu tidak puas, akan tetapi dia telah
berdaya sekuatnya untuk mempersatukan, dia tidak
berhasil juga. Kay Pang dibawah Ang Pangcu
mempunyai empat tiangloo."
"Ya, tentang itu pernah aku mendengarnya. Suhu
pernah bercerita."
Meski masih muda, karena Ang Cit Kong masih hidup,
Oey Yong tidak segera menjelaskan bahwa ia telah
ditugaskan Pak Kay untuk menjadi pangcu.
Lou Yoe Kiak mengangguk perlahan.
"Akulah tiangloo yang kedua," dia berkata. "Tiga orang
tadi juga berkedudukan sebagai tiangloo."
"Aku mengerti," kata Oey Yong lekas, "Kau dari
cabang Pakaian Dekil, mereka dari Pakaian Bersih."
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"
"Lihat saja pakaianmu, Lou Toako! Pakaianmu kotor
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tetapi pakaian mereka bersih sekali. Lou Toako,
hendak aku omong terus terang, bajunya cabang
Pakaian Dekil itu hitam dan bau, pasti tidak
menyenangkan, maka kalau kau mencuci bersih
pakaianmu, bukankah kedua cabang lantas menjadi
satu?"
"Kaulah anaknya orang hartawan, pasti kau jemu
terhadap pengemis," kata Yoe Kiak sambil ia
berjingkrak bangun berdiri.
Kwee Ceng hendak menghanturkan maaf tetapi orang
lantas ngeloyor pergi, kelihatannya ia mendongkol
sekali.
Oey Yong mengulur lidahnya.
"Engko Ceng, jangan kau menegur aku," katanya.
Kwee Ceng tertawa.
"Sebenarnya aku berkhawatir," kata Oey Yong.
"Kenapa?" pemuda itu tanya.
"Aku berkhawatir Lou Yoe Kiak nanti mendupak
padamu."
"Tidak karu-karuan dia mendupak aku, kenapa?"
Si nona memainkan mulutnya, ia tertawa, ia tidak
menjawab.
Kwee Ceng menjadi berpikir. Ia benar tidak mengerti.
Oey Yong menghela napas.
"Ah, engko tolol," katanya. "Kenapa kau tidak hendak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memikirkan namanya itu?"
Sekarang Kwee Ceng sadar.
"Bagus ya!" katanya. "Dengan memutar kau memaki
aku bagaikan anjing!" Ia lantas berbangkit, tangannya
diulur, untuk mengitik, atas mana, Oey Yong tertawa
dan berkelit.
Tengah muda-mudi ini bergurau, di tangga lauwteng
terdengar pula suara tindakan kaki. Segera terlihat
munculnya ketiga tiangloo yang tadi pergi mengikuti Yo
Kang. Mereka menghampirkan untuk terus memberi
hormat. Tiangloo yang ditengah, yang mukanya putih
dan tubuhnya gemuk, yang kumisnya gompiok, sudah
lantas tertawa sebelum ia berbicara. Coba ia tidak
berpakaian banyak tambalannya, tentulah orang
menyangka dia itu seorang hartawan. Dengan manis ia
berkata: "Jiewi, si pengemis tua she Lou tadi telah
dengan diam-diam menurunkan tangan jahat. Kami
tidak senang melihat kelakuannya itu maka datang
untuk memberikan pertolongan kami."
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut.
"Bagaimana itu?" mereka tanya.
"Bukankah dia tidak sudi dahar bersama jiewi tadi?"
"Ya! Apakah dia telah meracuni kami?"
Pengemis itu menghela napas.
"Inilah gara-garanya partai kami lagi malang," ia
berkata, romannya berduka. "Di luar keinginan kami, di
antara kami boleh ada banyak orang buruk semacam
dia. Dia itu lihay, asal tangannya menyentil, racun yang
disimpan di kuku tangannya bisa tanpa diketahui lagi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
masuk nyampur ke dalam barang makanan atau arak.
Jiewi telah terkena racun itu dan hebat, tidak lewat
sampai setengah jam, maka jiewi sukar ditolongi
lagi……."
Oey Yong terkejut tetapi ia bersangsi. "Kami tidak
bermusuh dengannya, kenapa dia boleh menurunkan
tangan jahat?" tanyannya.
"Jiewi telah keracunan berbahaya sekali, baik jiewi
lekas makan obat ini, baru jiewi bisa dapat ditolong!"
kata si pengemis tanpa menyahuti dulu pertanyaan
orang. Ia lantas mengeluarkan satu bungkusan obat
bubuk warna kuning, obat itu ia masuki ke dalam dua
cangkir arak, "Lekas minum, jiewi!" katanya pula.
Oey Yong melihat tadi Yo Kang, ia curiga, maka itu,
mana mau ia minum arak itu. Maka ia berkata: "Tadi
tuan Yo itu kenal kami, tolong samwie ajak dia datang
menemui kami."
"Memang jiewi harus bertemu dengannya," berkata si
pengemis. "Tetapi racun jahanam itu berbahaya sekali,
baik jiewi minum dulu obat ini. Kalau ayal-ayalan, nanti
susah buat diobatinya."
"Samwie baik sekali, terima kasih," berkata Oey Yong.
"Nah, marilah duduk untuk kita minum bersama!
Sebenarnya kami kagum sekali kepada Kay Pang
sebab kami ingat tahun dulu itu pangcu dari genarai
yang kesebelas, di Pak Kouw San dia seorang diri
telah melayani banyak lawan yang gagah dengan
sepasang tongkatnya, dengan sepasang tangannya,
dia telah membinasakan lima jago dari Lok-yang!
Sungguh gagah!"
Tiga pengemis itu nampak heran sebab mendadak
mendengar orang bicara perihal partainya, maka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka lantas saling melirik. Heran mereka, kenapa
nona begini muda ketahui peristiwa dulu hari itu.
"Ang Pangcu itu lihay sekali ilmu silatnya yang
bernama Hang Liong Sip-pat Ciang," berkata pula Oey
Yong. "Kepandaiannya itu tak ada bandingannya di
kolong langit ini, maka entahlah samwie telah dapat
memperlajari beberapa jurus dari ilmu silat itu?"
Mendengar ini, tiga pengemis itu lantas menduga
tentulah orang curiga dan tak sudi minum arak campur
obat itu. Maka yang beroman mirip hartawan itu
berkata sambil tertawa: "Kalau nona bercuriga, tentu
sekali kami tidak berani memaksa, tetapi marilah nona
melihat suatu bukti nanti nona percaya. Sekarang jiewi
lihat dimataku ada apa yang luar biasa?"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi, mereka
mendapatkan mata orang bercahaya tajam sekali. Oey
Yong melihat tidak ada apa-apa yang aneh, maka ia
memikirnya itulah tak lebih tak kurang sepasang mata
babi………
Tetapi si pengemis itu sudah berkata pula: "Jiewi awasi
mataku, jangan sekali jiewi memecah perhatianmu.
Lihatlah, sekarang jiewi mulai merasa kulit matamu
berat dan kepala pusing, seluruh tubuh jiewi tidak ada
tenaganya. Nah, itulah alamat terkena racun. Lekas
jiewi menutup mata dan tidur!"
Kata-kata itu menarik dan berpengaruh. Kwee Ceng
dan Oey Yong benar-benar lantas merasa matanya
ingin dirapatkan dan lesu, benar-benar seluruh
tenaganya habis.
"Tempat ini menghadap telaga besar," berkata pula si
pengemis. "Hawanya pun adem sekali, maka itu jiewi
silahkan kamu berangin dan tidur di sini! Tidur,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tiudrlah!"
Makin lama kata-kata itu terdengar makin perlahan,
kata-kata itu sangat manis dan menarik hati, maka
tanpa merasa sepasang muda-mudi itu menguap, lalu
tidur pulas dengan mendekam di meja. Beberapa lama
sang tempo telah lewat, inilah mereka tak tahu, hanya
mereka merasa ada hawa sejuk yang menyampok
muka mereka, samar-samar pun kuping mereka
mendengar suara gelombang. Mereka lantas
membuka mata mereka. Maka tampaklah di antara
mega munculnya sang rembulan, yang baru mulai naik
di gunung timur. Mereka terkejut. Tadi toh mereka
tengah bersantap dan minum arak di Gak Yang Lauw,
kenapa sekarang sudah malam? Mereka mau
berbangkit, atau mereka merasakan kaki dan tangan
mereka telah diringkus. Mereka mau berseru, ataupun
mereka merasakan mulut mereka telah disumpal biji
bebuahan, hingga mereka merasakan mulut mereka
sakit.
Sebagai seorang cerdik Oey Yong lantas mengerti
bahwa ia telah kena dipermainkan di pengemis gemuk
itu, hanya ia belum bisa menerka, orang menggunai
ilmu apa membuat dia dan Kwee Ceng menjadi
mengantuk dan lemas dan akhirnya tidur lupa daratan.
Ia mengerti, maka ia tidak mau banyak berpikir. Ia
segera melihat ke sekitarnya. Ia nampak Kwee Ceng di
sisinya, kelihatannya kawan itu lagi mau meronta,
maka hatinya lega sebagian.
Kwee Ceng pun mendusin karena ia merasakan
sampokan hawa dingin. Ia kaget untuk belungguan
yang kuat sekali, hingga ia tidak mampu berontak
untuk memutuskannya. Kiranya itulah tambang yang
dipakai mengikatnya ialah tali kulit kerbau campur
kawat. Ketika ia hendak mencoba buat berontak lagi,
tiba-tiba ia merasa dingin di pipinya, dua kali pipinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
disampok pedang. Ketika ia mengawasi, ia dapatkan
empat pengemis muda menjagai dia dengan senjata di
tangan.
Oey Yong lantas berpikir terus. Satu hal yang
membuatnya kaget. Ia mendapat kenyataan mereka
berada di atas sebuah puncak, di sekitarnya telaga
dengan airnya yang jernih. Di antara sinar rembulan, ai
sekarang melihat tegas ke sekitarnya itu. Ia menjadi
heran sekali kenapa ia tidak merasa orang telah
mengangkutnya ke atas puncak itu, ialah puncak dari
gunung Kun San di tengah telaga Tong Teng itu.
Di depan ia terlihat sebuah panggung tinggi belasan
tombak. Di sekitarnya itu duduk beberapa ratus
pengemis. Semua duduk dengan diam. Itulah
sebabnya kepana mereka mulanya tak nampak, tak
ketahuan. Segera setelah ia ingat, hatinya girang.
Pikirnya: "Benarlah! Hari ini Cit gwee Capgouw, hari
Rapat Besar Kaum Kay Pang! Biarlah aku bersabar,
sebentar aku memperdengarkan titah suhu, mustahil
mereka tidak akan menaati…."
Lewat sekian lama, segala apa masih diam saja. Nona
ini mulai habis sabarnya. Karena tak dapat bergerak, ia
merasakan kaki tangannya baal. Sang waktu pun
berjalan terus. Kemudian sinar rembulan menjojoh
pinggiran panggung di mana ada tiga huruf besar:
"Hian Wan Tay", artinya panggung "Kaisar Hian Wan".
Maka ingatlah Oey Yong akan cerita dongeng, katanya
dulu hari Oey Tee, ialah Kaisar Hian Wan itu, telah
membuat perapian kaki tiga di sini, setelah perapian itu
rampung, dia menunggang naga naik ke langit. Jadi
inilah panggung yang berhikayat itu.
Lagi sekian lama, di waktu sinar rembulan telah
memenuhi seluruh panggung, maka terdengarlah
suara yang tiga-tiga kali, suara itu sebentar cepat dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sebentar perlahan, sebentar tinggi, sebentar rendah,
ada iramanya. Kemudian ternyata semua pengemis
memegang tongkat kecil, dengan itu mereka mengetuk
batu hingga berlagu.
Oey Yong menghitung, setelah terdengar sampai
delapanpuluh satu kali, suara itu berhenti serentak.
Lalu kelihatan berbangkitnya empat pengemis yang
usianya tinggi, ialah keempat tiangloo, Lou Yoe Kiak
serta tiga tiangloo lainnya yang Oey Yong
mengenalinya dengan baik. Mereka itu berdiri di empat
penjuru panggung. Semua pengemis pada berbangkit,
dengan membawa tongkat ke depan dadanya, mereka
memberi hormat sambil menjura.
Si tiangloo putih dan terokmok setelah menanti semua
pengemis berduduk pula, lantas berkata dengan
nyaring: "Saudara-saudara, Thian telah melimpahkan
bahaya untuk Kay Pang kita, ialah Ang Pangcu kami
telah berpulang ke langit di Lim-an!"
Mendengar warta itu, semua pengemis berdiam, hanya
seorang yang kemudian berteriak keras, terus ia roboh
ke tanah, setelah mana semua pengemis pada
menumbuki dadanya, semua menangis sedih, ada
yang menggerung-gerung, ada yang mambantingbanting
kaki. Tangisan mereka itu berkumandang jauh.
Kwee Ceng kaget sekali. "Aku tidak dapat mencari
suhu, kiranya ia telah menutup mata…" pikirnya. Ia
pun menangis, hanya tidak dapat bersuara sebab
mulutnya tersumbat.
Oey Yong bercuriga. Ia pikir: "Kami tidak dapat
mencari suhu, musathil mereka bisa! Mungkin
kawanan manusia jahat ini lagi mengelabui orang
banyak…"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tengah orang sangat bersedih itu, Lou Yoe Kiak
bertanya: "Pheng Tiangloo, ketika Pangcu berpulang
ke dunia baka, adakah tiangloo melihatnya sendiri?"
Si tiangloo putih dan gemuk itu menyahuti: "Lou
Tiangloo, jikalau Pangcu masih hidup, siapa yang
berani makan nyali macam tutul dan hati harimau
untuk menjumpai padanya? Orang yang melihat
sendiri Pangcu meninggal dunia berada di sini. Yo
Siangkong, silahkan kau memberi keterangan kepada
orang banyak!"
Seorang lantas muncul di antara orang banyak. Dialah
Yo Kang. Dengan memegang tongkat bambu, ia naik
ke panggung. Semua pengemis berdiam, untuk
memasang kuping.
Yo Kang berbatuk satu kali, baru ia mulai bicara. Ia
kata: "Kejadian ialah baru satu bulan yang lalu.
Kejadiannya di kota Lim-an. pangcu telah berkelahi
dan orang kesalahan memukul ia hingga ia mati."
Mendengar itu, suara orang banyak menjadi riuh.
"Siapakah musuh itu?!" tanya mereka. Nyata mereka
murka. "Lekas bilang, lekas! Pangcu demikian lihay,
mungkinkah dia jatuh? Pastilah Pangcu telah dikepung
ramai-ramai maka ia roboh!"
Kwee Ceng mendongkol mendengar keterangan Yo
Kang itu. "Pada satu bulan yang lalu, suhu ada
bersama aku! Ha, kiranya dia lagi main lagi!"
Yo Kang mengangkat kedua tangannya, ia menunggu
sampai suara orang reda, baru ia berkata pula: "Orang
yang mencelakai hingga Pangcu mati ialah Tong Shia
Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, bersama
tujuh imam bangsat dari Coan Cin Pay!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yok Su sudah lama tidak meninggalkan pulaunya,
antara kaum pengemis ini, dalam sepuluh, sembilan
tidak ada yang mengenal dia, hanya Coan Cin Cit Cu
sangat kesohor maka mereka mengenalnya. Mereka
mau percaya ketua mereka kalah karena dikeroyok,
maka itu mereka mencaci dan mengutuk, ada yang
mau lantas pergi untuk menuntut balas. Tentu sekali
mereka tidak tahu bahwa mereka lagi dipermainkan Yo
Kang, yang mau mengadu mereka dengan Tong Shia
dan Coan Cin Cit Cu. Tentang Kanlamg Liok Koay, ia
tidak takut. Yo Kang bertindak begini karena Ang Cit
Kong terluka parah hajaran Kuntauw Kodok dari
Auwyang Hong sedang Kwee Ceng, ia menyangka
telah mati tertikam olehnya di dalam istana, siapa tahu
kemarin ia menemui Kwee Ceng dan Oey Yong di Gak
Yang Lauw, karena itu sudah kepalang, ia minta
Pheng Tiangloo membekuk kedua orang itu dengan
tipu, dengan liap-sim-hoat, yang mirip dengan ilmu
sihir. Ia mengharap Tong Shia, Coan Cin Kauw dan
Kay Pang nanti ludas bersama kerana bentroknya
mereka bertiga…….
Bab 57. Tiat Ciang Sin-kang Kiu Cian Jin
Selagi suara orang berisik itu maka bangkitlah salah
satu dari tiga tiangloo itu, ialah Kan Tiangloo.
"Saudara-saudara, mari dengar perkataanku!" ia kata.
Ia telah putih kumis dan alisnya, tubuhnya tegar, di
dalam partainya dia disegani. Maka semua orang
lantas berdiam.
"Sekarang ini kita lagi menghadapi dua urusan
sangat penting," ia berkata. "Kesatu untuk menuruti
pesan Pangcu, yaitu untuk memilih pangcu generasi
kesembilanbelas. Kedua guna berdaya mencari balas
untuk pangcu kita itu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Benar!" menyahut semua pengemis.
"Tapi kita mesti bersembahyang dulu untuk
pangcu," berkata Lou Yoe Kiak. Ia menjumput lumpur,
yang ia lalu bikin menjadi patung, mirip dengan patung
Ang Cit Kong, ia meletaki itu di atas panggung, terus ia
mendekam di tanah dan menangis sedih. Semua
pengemis turut menangis pula.
Oey Yong sendiri berpikir: "Hm, kamu gila! Suhu toh
baik-baik saja, dia tidak mati, kenapa kamu tangisi?
Kamu gila sudah mengikat aku dan engko Ceng,
sampai kita tidak bisa bicara! Inilah kamu yang cari
penyakit sendiri, sia-sia belaka kamu bersedih….."
Setelah orang menangis sekian lama, Kan Tiangloo
menepuk tangannya tiga kali. Lantas semua orang
berhenti menangis. Tiangloo ini berkata: "Kita
sekarang berapat di sini, kita sebenarnya harus
mengangkat pangcu baru menurut petunjuk Ang
Pangcu, karena Ang Pangcu telah menutup nmata,
kita harus menuruti pesannya saja, dan kalau
pesannya tak ada, kita harus menaati pemilihan oleh
keempat tiangloo. Inilah aturan kita turun-temurun.
Benar begitu, saudara-saudara?"
Semua pengemis menyahuti membenarkan.
Kang Tiangloo lantas berkata pula: "Yo Siangkong,
silahkan kau menyampaikan pesan dari Ang Pangcu
itu!"
Dalam Kay Pang, pengangkatan pangcu baru
adalah urusan paling besar dan penting. Pada itu
tergantung makmur dan runtuhnya partai. Maka
pangcu adalah yang memegang peranan paling
penting. Pernah terjadi pangcu mereka yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ketujuhbelas, yaitu Cian Pangcu, meski dia gagah, dia
lemah, pimpinannya tidak tepat, maka terjadilah
bentrokan di antara kedua golongan Pakaian Bersih
dan Pakaian Dekil hingga partai menjadi lemah. Ang
Pangcu kemudian menguasai keadaan, dia melarang
bentrokan. Dengan begitu, Kay Pang maju pula. Maka
itu sekarang, selagi menaruh perhatian besar, orang
berdiam menanti perkembangan.
Yo Kang memegang Lek-tiok-thung dengan kedua
tangannya, ia angkat itu tinggi di atasan kepalanya,
lalu ia berkata: "Ang Pangcu kena dikeroyok oleh
orang jahat, dia mendapat luka parah hingga jiwanya
terancam bahaya. Kebetulan itu waktu aku yang
rendah lewat di tempat kejadian, cepat-cepat aku
menyembunyikan dia di rumahku, setelah dapat
menipu musuh-musuh itu pergi, aku lantas
mengundang tabib. Sayang, karena parahnya luka,
pangcu tidak dapat ditolongi lagi……."
Mendengar itu, terdengar banyak keluhan.
Yo Kang berhenti sebentar, baru ia melanjuti:
"Ketika Ang Pangcu hendak menghembuskan
napasnya yang terakhir, ia menyerahkan tongkat suci
ini kepadaku dan dia menugaskan aku yang rendah
untuk menerima tanggung jawab yang berat sebagai
pangcu yang kesembilanbelas…"
Orang banyak menjadi heran. Tidak disangka,
pangcu yang baru adalah ini pemuda yang mirip
seorang sastrawan.
Yo Kang itu cerdik sekali. Setelah mendapatkan
tongkat Lek-tiong-thung di rumahnya Sa Kouw di Gukee-
cun, ia mendapat kenyataan kedua pengemis
gemuk dan kurus itu sangat menghormat padanya,
segera ia mendapat pikiran. Lantas di sepanjang jalan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ia menanya ini dan itu kepada mereka tentang tongkat
itu. Kedua pengemis itu melihat orang memegang
tongkat partainya, mereka menjawab segala
pertanyaan. Dengan begitu tahulah Yo Kang tentang
tongkat itu serta pengaruhnya. Maka ia pikir, selagi
Kay Pang sangat besar dan berpengaruh, kenapa dia
tidak mau mengangkanginya? Bukankah Ang Pangcu
telah mati dan tentang kematiannya itu tidak ada
saksinya? Bagaimana besar faedahnya kalau ia yang
menggantikan memegang pimpinan? Ia lantas
mengambil keputusan, maka itu dengan
mempengaruhi ketiga tiangloo, hendak ia mewujudkan
cita-citanya menjadi pangcu dari Kay Pang.
Kan Tiangloo, Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo
percaya obrolannya Yo Kang itu. Ini pun kebetulan
sekali untuk mereka. Sebenarnya mereka ingin sekali
diangkat menjadi pangcu, cuma di dalam hal ini,
mereka malang sama Lou Tiangloo. Di bawah
pimpinan Ang Pangcu, mereka menerima keadaan.
Ang Pangcu dapat bertindak bijaksana, dia bisa
mengimbangi keadaan, dia bersedia mengenakan baju
bersih dan baju kotor bergantian. Hanya diantara
keempat tiangloo, dia sebenarnya menghargai Lou
Yoe Kiak, cuma Yoe Kiak ini, cacatnya ialah tabiatnya
keras dan terburu nafsu, beberapa kali pernah ia
hampir menerbitkan onar, kalau tidak, pasti siangsiang
ia sudah diangkat menjadi pangcu. Untuk rapat
besar di Gakciu ini, pihak Pakaian Bersih sebenarnya
berkhawatir Lou Yoe Kiak yang nanti kepilih, ketiga
tiangloo itu pernah memikir daya untuk mencegahnya,
tetapi karena takut kepada Ang Cit Kong, mereka tidak
berani bergerak. Maka mereka tidak sangka, sekarang
muncul Yo Kang dengan tongkat suci mereka dan
katanya Ang Pangcu telah terbinasa. Mereka berduka
tetapi mereka tak melupakan urusan besar mereka.
Mereka berlaku sangat hormat kepada Yo Kang.
Mereka heran Yo Kang tidak mau menerangkan pesan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pangcu mereka. Mereka tidak tahu pemuda ini sangat
licin. Baru tiba disaat rapat ini, Yo Kang menyebutkan
pesan itu - pesan karangan otaknya sendiri. Mereka
menyesal, yang mereka tidak terpilih, akan tetapi
mereka dapat menghiburkan diri, sebab Yoe Kiak tidak
terpilih juga. Maka, sambil memikir, mungkin di
belakang hari mereka dapat mempengaruhi Yo Kang
ini, mereka mengangguk tandanya mereka suka
menerima si anak muda sebagai ketua mereka yang
baru.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Tongkat yang di
pegang Yo Siangkong ialah tongkat sejati dari partai
kita, tetapi kalau ada saudara yang menyangsikan,
silahkan maju untuk memeriksa.
Lou Yoe Kiak melirik Yo Kang. Ia sangsi pemuda ini
dapat memimpin Kay Pang. Maka ia maju, akan
memeriksa tongkat suci itu. Ia mendapat kenyataan
kesejatian nya tongkat itu. Maka berpikirlah ia:
"Tentulah Pangcu mengingat budi maka pangcu
mewariskan tongkat suci ini kepadanya. Karena
pangcu telah memesannya, mana dapat aku
membantahnya?" Karena itu ia pun mempercayainya.
Ia angkat tongkat ke atas kepalanya, dengan hormat ia
menyerahkan kembali kepada Kan Tiangloo, yang tadi
menyambuti itu dari tangan Yo Kang. Ia kata: "Kami
menurut kepada pesan Ang Pangcu, kami menjunjung
Yo Siangkong sebagai pangcu kami yang
kesembilanbelas!"
Mendengar ini semua pengemis berseru
memperdengarkan persetujuan mereka.
Kwee Ceng dan Oey Yong tidak bisa bicara, juga
mereka tidak bisa bergerak, bukan main mendongkol
dan masgulnya mereka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Benar dugaannya Yong-jie, Yo Kang ini bernyali
besar, berani dia main gila seperti ini," pikir si anak
muda. "Dia tentunya bakal mendatangkan onar besar."
Oey Yong sebaliknya lagi memikirkan, tindakan apa
yang Yo Kang bakal mengambil terhadap mereka
berdua, sebab tentulah mereka tidak bakal dilepaskan
dengan begitu saja.
Yo Kang mengasih dengar suaranya: "Aku yang
rendah, muda usiaku dan cupat pengetahuanku, tidak
berani aku menerimanya ini tugas yang berat."
"Pesan Ang Pangcu demikian rupa, janganlah Yo
Siangkong merendahkan diri," kata Pheng Tiangloo.
"Benar!" berkata Lou Yoe Kiak, yang lantas batuk
satu kali, lalu ia berteriak dan meludah ke muka si
anak muda.
Yo Kang tidak menyangka, tidak dapat ia berkelit,
reak si pengemis tua nemplok di pipi kanannya. Ia
menjadi kaget. Baru ia mau menanyakan ketiga
tiangloo lainnya atau mereka itu pun bergantian telah
lantas meludah kepadanya, setelah mana keempat
tiangloo itu, dengan menyilang tangan, mereka lantas
memberi hormat sambil berlutut dan mendekam. Yo
Kang masih tidak mengerti, ia tetap berdiri tercengang.
Perbuatannya keempat tiangloo ini disusul oleh
semua pengemis lainnya, dengan mengikuti
runtunannya, mereka itu menghampirkan untuk
menludahkan, saban habis berludah, baru memberi
hormat.
"Adalah ini cara meludah tanda hormat kepadaku?"
Yo Kang tanya dirinya sendiri. Ia tidak tahu,
demikianlah aturan yang dihormati Kay Pang, setiap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pangcu baru mesti diperhina, sebab pengemis, mereka
mesti bersedia menerima penghinaan khalayak ramai.
Ia tidak tahu itulah semacam latihan kebathinan.
Selang sekian lama barulah semua pengemis
memberi hormatnya, lalu ramailah suara mereka: "Yo
Pangcu, silahkan naik ke panggung Hian Wan Tay!"
Yo Kang melihat panggung tidak terlalu tinggi,
hendak ia membanggakan kepandaiannya. Lantas ia
menjejak kedua kakinya, untuk mengapungi diri,
berlompat naik. Bagus caranya ia berlompat naik itu,
karena ia mempunyai ilmu ringan tubuh yang baik.
Hanya di matanya keempat tiangloo, terlihatlah
kepandaiannya itu masih rendah, tetapi mengingat
usianya yang muda, ia tidak dapat dicela. Keempat
tiangloo itu percaya ialah murid seorang yang pandai.
Begitu lekas berada di atas panggung, Yo Kang
mengasih dengar suaranya yang nyaring: " Penjahat
yang mencelakai Ang Pancu masih belum dapat
dibinasakan tetapi dua pembantunya telah aku berhasil
membekuknya!"
Mendengar itu, berisiklah semua pengemis itu,
segera terdengar teriakan mereka: "Di mana? Di
mana? Lekas cincang padanya! Jangan lantas
dihukum mati, hukum picis dulu padanya biar dia tahu
rasa!"
Kwee Ceng tidak menduga jelek, maka ia kata di
dalam hatinya: "Aku hendak lihat siapa pembantunya
pembunuh itu…."
Yo kang lantas berseru: "Bawa mereka ke depan
panggung!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pheng Tiangloo lantas bertindak cepat kepada
Kwee Ceng dan Oey Yong, dengan masing-masing
sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat
tubuh orang, buat dibawa ke depan panggung di mana
ia menggabruki dua muda-mudi itu.
Sekarang baru Kwee Ceng mendusin.
"Ha, binatang, kiranya kau maksudkan kami!" ia
mendamprat di dalam hatinya.
Lou Yoe Kiak terperanjat kapan ia melihat Kwee
Ceng dan Oey Yong, yang ia kenali, maka ia lantas
mengingat kepada keterangannya Lee Seng. Ia lantas
berkata: "Pangcu, dua orang ini ialah murid-muridnya
Ang Pangcu! Cara bagaimana mereka dapat
mencelakai guru mereka?"
"Justru itulah sebabnya, yang membuat orang
semakin gemas!" berkata Yo Kang.
Pheng Tiangloo pun berkata: "Pangcu melihatnya
sendiri, mana bisa salah?"
Lee Seng dan Ie Tiauw Hian hadir di dalam rapat
ini, keduanya lantas maju dan berkata: "Harap pangcu
ketahui, dua orang itu adalah orang-orang gagah,
untuk mereka, kami berdua bersedia menanggungnya
dengan jiwa kami. Pasti sekali kebinasaan Ang Pangcu
tidak ada hubungannya sama mereka ini!"
"Kalau bicara, biarlah tiangloo kamu yang bicara!"
Nio Tiangloo membentak. "Apa di sini dapat kamu
campur mulut?!"
Kedua pengemis ini ada dari golongan Pakaian
Kotor dan berada di bawah pimpinan Lou Yoe Kiak,
derajat mereka pun rendah, tidak berani mereka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berbicara lebih lanjut pula. Mereka mengundurkan diri
dengan sangat penasaran.
"Di dalam hal ini bukannya aku yang rendah tidak
mempercayai Pangcu," berkata Lou Yoe Kiak
kemudian, " Akan tetapi mengingat urusan membalas
sakit hati ialah urusan sangat besar, aku mohon
Pangcu nanti memeriksanya denagn seksama."
Yo Kang memang telah memikir, maka lantas ia
menyahuti: "Baiklah, nanti aku periksa." Kemudian ia
mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong serta berkata:
"Aku hendak menanya kamu, tidak usah kamu
membuka mulutmu. Jikalau apa yang aku katakan
benar, kamu mengangguk, kalau tidak, kamu
menggoyang kepala. Jikalau kamu mendusta, sedikit
saja, ingat golok dan pedang tidak mengenal kasihan!"
Pangcu ini mengibaskan tangannya, maka Pheng
Tiangloo dan Nio Tiangloo lantas menghunus senjata
mereka, dipasang di punggung Kwee Ceng dan Oey
Yong. Pheng Tiangloo memegang pedang, dan Nio
Tiangloo mencekal golok.
Oey Yong gusar sekali hingga mukanya menjadi
pucat. Ia lantas mengingat peristiwa di Gu-kee-cun,
tempo dari lain kamar ia mendengari Liok Koan Eng
berbicara sama Thia Yauw Kee, bicara hal lamaran
sambil main mengangguk-angguk. Ia tidak
menyangka, sekarang ia mesti mengalami kejadian itu.
Yo Kang tahu Kwee Ceng jujur dan polos dan dapat
dipermainkan, maka ia memegang tubuh orang, untuk
diangkat ke samping. Segera ia menanya dengan
suaranya yang bengis: "Bukankah anak perempuan ini
anak kandung dari Oey Yok Su?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng menutup matanya, ia tidak mengambil
mumat pertanyaan itu.
Nio Tiangloo menekan dengan ujung goloknya.
"Benar atau tidak!" dia menanya. "Mengangguk atau
menggoyang kepala?"
Kwee Ceng sebenarnya tidak niat membuka
mulutnya, ketika ia berpikir, biarnya ia tidak dapat
membuka, toh perkara akan menjadi terang juga.
Maka ia lantas mengangguk.
Begitu melihat orang mengangguk, banyak
pengemis lantas berteriak-teriak: "Buat apa ditanyakan
terlebih jauh! Lekas bunuh! Lekas bunuh padanya!"
Mereka itu mau percaya benarlah pangcu mereka
telah terbinasa di tangan Oey Yok Su. Ada pula yang
berteriak: "Lekas bunuh dia! Mari kita cari si tua
bangka pembunuh itu!"
"Saudara-saudara, jangan berisik!" Yo Kang
berkata. "Tunggu sampai aku sudah menanyakan dia
terlebih jauh!"
Mendengar begitu, rapat menjadi sunyi pula.
"Oey Yok Su telah tunangkan gadisnya kepada kau,
benarkah?" Yo Kang menanya pula. Ia telah memikir
matang runtun pertanyaannya itu.
Kwee Ceng anggap itu benar, ia mengangguk pula.
Yo Kang meraba pinggang orang, dari situ ia
menarik keluar pisau belati yang tajam sekali.
"Inilah pisau yang dikasihkan kepadamu oleh Khu
Cie Kee, salah seorang dari Coan Cin Pay, dan imam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tua she Khu itu mengukir namamu di sini, benar?" Yo
Kang tanya.
Kwee Ceng mengangguk.
"Ma Giok dan Coan Cin Cit Cu telah mengajari kau
ilmu silat dan Ong Cie It, salah satu anggota lain dari
Coan Cin Pay itu pernah menolongi jiwamu! Bukankah
kau tidak dapat menyangkal itu?"
"Perlu apa aku menyangkal?" pikir si anak pemuda
yang polos itu. Dan ia mengangguk.
"Pangcu Ang Cit Kong menganggap kamu berdua
orang baik-baik dan dia pernah mengajari ilmu silatnya
yang istimewa kepada kamu, benar tidak?"
Kwee Ceng mengangguk.
"Ang Cit Kong telah dibokong musuhnya hingga dia
terluka parah. Kamu berdua berada di samping orang
tua itu, benarkah?"
Untuk sekian kalinya, Kwee Ceng mengangguk.
Semua pengemis menyaksikan dan mendengari
pemeriksaan itu, selagi suaranya Yo Kang semakin
bengis, Kwee Ceng terus mengangguk saja, dari itu
mereka menyangka Kwee Ceng itu mengakui
kesalahannya, mereka tidak memikir bahwa semua
pertanyaan itu tidak ada hubungannya sama urusan
Ang Cit Kong. Yo Kang tengah memainkan
peranannya yang teratur. Mendengar itu, Lou Yoe Kiak
pun kena terpengaruhi hingga ia menjadi sangat
membenci Kwee Ceng dan Oey Yong itu. Ia bertindak
mendekati dan menendang Kwee Ceng beberapa kali.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yo Kang tidak mencegah, ia berkata pula:
"Saudara-saudara! Nyata dua bangsat ini berlaku terus
terang, maka itu baiklah mereka dibebaskan dari
siksaan terlebih jauh. Pheng Tiangloo, Nio Tiangloo,
silahkan kamu turun tangan!"
Mendengar begitu, Kwee Ceng dan Oey Yong
saling mengawasi sambil tersenyum sedih, hanya
kemudian Oey Yong mendadak tertawa. Sebab ia
ingat: "Aku yang mati bersama-sama engko Ceng,
bukannya putri Gochin Baki itu!"
Kwee Ceng lantas memandang ke langit, ia ingat
ibunya yang berada jauh di gurun pasir. Ia mengawasi
ke langit di mana tampak bintang-bintang bersinar.
Maka ingatlah ia akan pertempuran hebat di antara
Coan Cin Cit Cu dan Bwee Tiauw Hong dan Oey Yok
Su. Siapa bakal mati, pikirannya menjadi jernih,
demikian Kwee Ceng, ia menjadi ingat jelas barisan
Thian Kong Pak Tuaw Tin dari Coan Cin Cit Cu itu.
Sedang begitu, kedua tiangloo sudah siap untuk
bekerja, Kwee Ceng pun telah dihampirkan.
"Tunggu dulu!" mendadak terdengar cegahannya
Lou Yoe Kiak. Ia lantas mendekati Kwee Ceng, dari
mulut siapa ia keluarkan biji yang menyumpal mulut
anak muda itu. Ia lantas menanya: "Bagaimana
caranya pangcu kami telah orang bikin celaka, kau
tuturkanlah biar jelas!"
"Tak usah tanya, aku tahu semua!" berkata Yo
Kang yang terkejut untuk perbuatan Tiangloo itu.
"Pangcu," berkata Yoe Kiak, "Lebih jelas kita
menanya dia lebih baik. Di dalam hal yang mengenai
pangcu kita itu, siapa pun tidak dapat dilepaskan!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yo Kang berdiam. Permintaan Yoe Kiak ini pantas,
tidak dapat ia melarangnya.
Kwee Ceng telah dibebaskan dari sumbatannya, ia
masih tidak mau bicara, ia terus mengawasi langit di
utara itu. Ia menjublak, hingga beberapa kali Yoe Kiak
mengulangi pertanyaannya, ia seperti tidak
mendengarnya. Karena sekarang ia lagi memahamkan
keletakan bintang-bintang itu, tujuh bintang Pak-tauw,
yang tepat sama barisannya rahasianya Coan Cin Cit
Cu. Ia tengah memperoleh kemajuan, maka ia tidak
memperdulikan si tiangloo.
Oey Yong dan Yo Kang melihat orang tidak hendak
menggunakan kesempatan yang baik itu untuk
membela diri, yang satu berduka, yang lainnya
bergirang. Tapi Yo kang tidak sudi menyia-nyiakan
kesempatannya lagi, maka itu, ia mengibasi
tangannya, memberi tanda kepada kedua tiangloo
Pheng dan Nio untuk tidak menunda pula
dijalankannya hukuman mati itu.
Tepat ketika kedua tiangloo itu hendak
mengayunkan senjatanya masing-masing, di situ
terdengar satu suara yang diikuti berkelebatnya sinar
merah tua melintas di permukaan telaga. Kedua
tiangloo itu heran, mereka mengawasi. Lalu terlihat
pula dua sinar biru meluncur ke udara, berpisah dari
Kun San jauhnya beberapa lie. Terang sinar itu muncul
dari tengah telaga.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Pangcu, ada tetamu
agung!"
Yo Kang terperanjat. "Siapakah?" tanya dia.
"Pangcu dari Tiat Ciang Pang!" sahut Kan Tiangloo.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tiat Ciang Pang?" Yo Kang menegasi. Ia tidak tahu
halnya partai Tangan Besi itu.
"Itulah sebuah partai besar di sekitar Su-coan dan
Ouwlam," Kan Tiangloo menerangkan, "Pangcu
mereka telah datang, dia harus disambut dengan
hormat. Maka dua jahanam ini, baik sebentar kita
menghukumnya."
"Baiklah," sahut Yo Kang. "Silahkan tiangloo
menyambut tetamu terhormat itu."
Kan Tiangloo lantas memberikan titahnya. Maka di
atas sebuah gunung Kun San terlihat meluncurnya tiga
buah panah api, yang warnanya merah.
Tidak lama dari itu terlihatlah datangnya perahu,
yang terus mendekati tepian. Pihak Kay Pang
memasang obor, mereka menyambut.
Panggung Hian Wan Tay ada di atas puncak Kun
San, dari kaki gunung ke puncak, perjalanannya cukup
jauh, maka itu meski tetamu lihay ilmunya ringan
tubuh, masih diperlukan waktu untuk mendakinya.
Kwee Ceng dan Oey Yong telah dibawa ke dalam
rombongan orang banyak, mereka dijagai murid-murid
Pheng Tiangloo.
Oey Yong mengawasi Kwee Ceng, ia heran sekali.
Pemuda itu, seperti orang tolol, masih berdiam saja,
dari mulutnya terdengar suara sangat perlahan, entah
apa yang dikatakannya.
Tengah nona ini heran, ia melihatnya tetamu telah
tiba. Obor ada sangat terang, maka terlihatlah tegastegas
tetamu itu, yang diiringi beberapa puluh orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan pakaian hitam. Dia mengenakan baju kuning
yang pendek, tangannya membawa kipas.
Siapakah dia kalau bukannya Khiu Cian Jin?
Kan Tiangloo maju menyambut, ia bicara dengan
ramah tamah, sikapnya sangat menghormati. Setelah
itu ia memperkenalkannya kepada Yo Kang. Ia kata:
"Inilah Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Pangcu, yang
kepalan saktinya tak ada tandingan, yang namanya
menggetarkan dunia."
Yo Kang tidak memandang mata kepada tetamunya
ini. Selama di Kwie-in-chung, Thay Ouw, ia telah
menyaksikan orang turun merek. Ia tidak menyangka
orang adalah pangcu dari suatu partai besar. Tapi
karena orang telah datang berkunjung dan ia tuan
rumah, ia berpura-pura pilon.
"Sungguh aku girang dengan pertemuan kita ini!"
katanya, tertawa. Dengan mengulur tangannya untuk
berjabatan tangan. Ia lantas mengerahkan tenaganya
berniat membikin orang kesakitan dan menjerit
karenanya. Di dalam hatinya ia kata: "Semua orang
percaya kau lihay tetapi di sini hendak aku
merobohkanmu! Inilah ketika yang baik sekali! Tua
bangka, hendak aku meminjam kau untuk aku
memamerkan kepandaianku di antara semua
pengemis ini!"
Begitu lekas Yo Kang menggunakan tenaganya,
begitu lekas ia merasa telapakan tangannya panas,
seperti terkena bara, maka lekas-lekas ia menarik
pulang tangannya, akan tetapi tangannya itu seperti
kena kecantol, tak dapat dilepaskan, sedang hawa
panasnya jadi semakin hebat. Tanpa merasa ia
menjerit: "Aduh! Mati aku!" Mukanya lantas menjadi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pucat, air matanya mengucur, saking sakitnya,
pinggangnya menjadi lengkung, hampir dia pingsan.
Keempat tiangloo kaget, semua berlompat maju.
Kan Tiangloo sebagai tertua di antaranya, dengan
tongkat baja di tangannya menggetok batu gunung,
hingga terdengar suara nyaring dan lelatu apinya
muncrat, lalu ia menanya: "Khiu Pangcu, Yo Pangcu
kami masih sangat muda sekali, mengapa kau menguji
kepandaiannya?"
Pangcu she Khiu ini menyahuti dengan dingin: "Aku
berjabat tangan dengan baik-baik dengannya, adalah
pangcu kamu yang telah mencoba aku. Yo Pangcu
telah berminat meremas hancur beberapa tulangku
yang tua!"
Sambil mulut mengatakan demikian, Khiu Pangcu
tidak melepaskan tangannya, maka itu Yo Kang terus
berteriak teraduh-aduh, suaranya makin perlahan.
Rupanya ia tidak dapat bertahan lebih lama pula,
lantas dia pingsan.
Baru sekarang Khiu Cian Jin melepaskan
tangannya, dengan disemperkan, maka Yo Kang yang
sudah tak sadarkan diri, lantas terguling tubuhnya.
Syukur Lou Yoe Kiak keburu lompat untuk memegangi.
Kan Tiangloo menjadi gusar.
"Khiu Pangcu apakah artinya ini?" ia menegur.
"Hm!" ketua Tiat Ciang Pang itu mengasih dengar
suaranya sedang tangan kirinya menyambar kemuka
orang.
Kan Tiangloo mengangkat tongkatnya, untuk
menangkis atau - dengan kesebatannya yang luar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
biasa - Khiu Cian Jin telah dapat menangkap tongkat
orang, hanya belum sempat ia merampasnya, Kan
Tiangloo sudah menarik keras sekali. Karena itu ia
lantas mengayunkan tangan kanannya ke kiri, tepat
mengenai tongkat itu. Kali ini Kan Tiangloo merasakan
tangannya sakit, bahkan telapakan tangannya itu
pecah dan mengucurkan darah, hingga dia tidak dapat
memegang lebih lama pula dan senjatanya itu kena
juga dirampas. Bahkan dengan tongkatnya itu, tetamu
ini lantas berhasil menangkis golok dan pedang Pheng
Tiangloo dan Nio Tiangloo, yang telah segera
menyerang sebab mereka ini menyaksikan rekan
mereka sudah bertempur.
Khiu Pangcu lihay sekali hampir berbareng dengan
itu, ia juga menyikut mukanya Lou Yoe Kiak, hingga
dia ini mesti mundur juga.
Semua pengemis menjadi kaget, semua lantas
menghunus senjata mereka, bersiap untuk menyerbu
asal ada titah dari ketua mereka.
Khiu Cian Jin mencekal tongkat dengan tangan kiri
dan tangan kanannya, ia tertawa lebar dan panjang,
sambil berbuat begitu ia mengerahkan tenaganya,
sembari berteriak ia hendak membikin patah tongkat
itu, tetapi ia tidak berhasil, karena tongkat itu terbuat
dari baja pilihan, maka itu sesudah terus ia
mengerahkan tenaganya, ia cuma bisa menekuk
melengkung bundar beberapa lipat. Baru sekarang ia
mengendorkan tenaganya, ia melemparkan tongkat
dengan tangan kirinya, hingga tongkat terlempat
mengenai batu gunung, keras suaranya, batu gunung
itu pada meletik lelatunya, ujungnya tongkat nancap.
Menyaksikan semua itu, kaum Kay Pang jagi kaget
dan kagum.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yang lebih kaget dan heran adalah Oey Yong. Nona
ini kata dalam hatinya: "Tua bangka ini terang satu
penipu besar yang tidak mempunyai guna, sekarang
kenapa dia menjadi begini lihay? Sungguh aneh!"
Rembulan sedang bersinar terang sekali. Oey Yong
memandang tajam kepada orang tua itu. Tidak salah,
dialah Khiu Cian Jin si penipu yang dula kali ia
ketemukan di Kwie-in-chung dan Gu-kee-cun. Maka ia
jadi mau berpikir, apakah juga penipuan belaka ilmu
kepandaiannya orang ini?
Kemudian si nona menoleh pula kepada Kwee
Ceng, ia mendapat kenyataan pemuda itu masih saja
mengawasi bintang-bintang di langit, hingga ia menjadi
bingung. Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya lagi
dikerjakan kawannya itu.
Khiu Cian Jin dengan suaranya yang dingin,
terdengar berkata: "Tiat Ciang Pang serta partai tuantuan
tidak ada hubungannya satu dengan lain, karena
aku mendengar hari ini ada harian Rapat Besar kamu,
aku sengaja datang berkunjung, karena itu kenapakah
pangcu kamu dengan tidak karu-karuan hendak
merobohkan aku?"
Kan Tiangloo telah menjadi jeri, sekarang
mendengar suara orang bukannya suara bermusuh,
maka ia lantas memberikan penyahutannya. Ia kata:
"Khiu Pangcu salah paham! Pangcu kesohor di empat
penjuru negeri, kami biasa sangat menhargainya,
maka dengan kunjungan pangcu ini, bagi kami itulah
suatu kehormatan besar."
Khiu Cian Jin mengangkat kepalanya, ia tidak
menyahuti, sikapnya jumawa. Hanya sejenak
kemudian, baru ia membuka pula mulutnya. Ia kata:
"Aku mendengar kabar Ang Pangcu telah berpulang ke
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dunia baka, maka dengan begitu di kolong langit ini
berkurang pula satu orang gagah, sungguh sayang!
Sekarang partai kamu mengangkat satu pangcu yang
baru seperti ini, ini pun sayang, sayang!"
Ketika itu Yo Kang sudah mendusin, ia mendengar
suara yang sangat menghina itu, akan tetapi ia tidak
berani membuka mulutnya. Ia masih merasakan
tangannya sakit, tangan itu bengkak berikut lima
jejarinya.
Keempat tiangloo juga tidak tahu meski mengucap
apa, maka terdengarlah Khiu Cian Jin berkata pula:
"Aku yang rendah hari ini datang berkunjung, ada dua
maksudku untuk mana aku ingin memohon sesuatu.
Untuk itu aku pun hendak menghadiahkan apa-apa."
"Tolong Khiu Pangcu memberi petunjuk," kata Kan
Tiangloo yang belum tahu orang menghendaki apa.
Khiu Cian Jin tidak langsung menjawab, ia hanya
menyapu dengan matanya kepada semua hadirin di
seputarnya itu. Ketika ia telah melihat Kwee Ceng dan
Oey Yong, lantas sinar matanya menjadi tajam sekali.
Oey Yong tidak takut, ia membalas mengawasi
dengan tajam juga. Bahkan ia mengasih lihat
senyuman memandang enteng. Ia telah pikir: "Buat
kau beraksi bagaimana juga, aku tentu
menganggapmu satu penipu besar!"
Khiu Cian Jin berpaling kepada Kan Tiangloo.
"Nona kecil itu serta kawannya si bocah telah
mencelakai beberapa muridku," katanya. "Maka itu
dengan membesarkan nyali aku hendak minta mereka
untuk aku menghukumnya."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kan Tiangloo tidak berani mengambil keputusan.
"Yo Pangcu, bagaimana?" ia menanya ketuanya itu.
"Dua orang ini sebenarnya ada musuh-musuh besar
partai kami," berkata Yo Kang, "Maka aku tidak
menyangka, mereka juga telah berdosa terhadap Khiu
Pangcu. Kalau begitu mari kita menghukumnya
bersama-sama!"
Khiu Cian Jin mengangguk.
"Itu boleh!" katanya. "Sekarang permintaan yang
keduanya. Kemarin ini ada beberapa muridku yang lagi
bekerja atas titahku, entah kenapa mereka itu
menyebabkan kemurkaannya dua anggota dari partai
kamu, mata mereka telah dibikin buta!" Dia lantas
menuding Kwee Ceng berdua dan menambahkan:
"Kabarnya kedua bangsat itu telah membantui
menurunkan tangan. Orang-orangku itu tidak punya
guna, aku tidak bisa membilang suatu apa, hanya
kalau kejadian ini sampai tersebar, tentulah kami Tiat
Ciang Pang menjadi hilang mukanya, maka itu, aku si
orang tua menjadi tidak kenal gelagat, aku ingin sekali
belajar kenal dengan kepandaiannya kedua sahabat
itu!"
Yo Kang tidak mencintai orang-orang Kay Pang,
tidak ada niatnya untuk melindungi mereka, maka itu
mana ia mau berbuat salah lagi hanya untuk dua
orang? Maka ia lantas menanya: "Siapakah sudah
lancang menerbitkan onar, yang telah bentrok dengan
sahabat-sahabat dari Tiat Pangcu? Lekas kamu keluar
untuk memohon maaf dari Khiu Pangcu ini!"
Kay Pang itu semenjak dipimpin Ang Cit Kong
belum pernah hilang muka, maka itu bukan main
mendongkolnya semua anggotanya mendengar ini
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pangcu baru bersikap demikian lemah. Lee Seng dan
Ie Tiauw Hin lantas maju ke depan. Lee Seng kata
dengan nyaring: "Harap dimaklumi pangcu. Peraturan
partai kami yang nomor empat berbunyi menganjurkan
kami berlaku mulia, kami mesti bisa menolong
sesamanya yang berkesusahan. Kemarin ini kebetulan
saja kami menyaksikan sahabat-sahabat dari Tiat
Ciang Pang membikin celaka rakyat jelata dengan
mereka mengumbar ular mereka, sebab kami tidak
dapat menahan sabar lagi, kami lantas mencegah
perbuatan mereka itu. Kebetulan di situ ada ini dua
sahabat kecil, jikalau tidak ada mereka yang
membantu, pastilah kami berdua pun terbinasa oleh
ular-ular berbisa itu!"
"Tidak peduli bagaimana, kamu mesti
menghanturkan maaf kepada Khiu Pangcu!" berkata
Yo Kang bengis.
Lee Seng dan Ie Tiauw Hin saling mengawasi.
Mereka menghadapi kesukaran, hati mereka panas
sekali. Kalau mereka tidak menghanturkan maaf,
mereka menentang titah pangcu; kalau mereka
menurut, mereka sangat penasaran. Tapi tak lama Lee
Seng bersangsi, ia lantas berseru kepada semua
anggota partainya: "Saudara-saudara, jikalau Ang
Pangcu masih hidup, tidak nanti kami dibiarkan hilang
muka, maka itu sekarang, Siauwtee sekarang lebih
suka terbinasa, tidak nanti Siauwtee menerima
penghinaan!"
Sembari berkata begitu, Lee Seng mencabut pisau
belati dari betisnya, dengan itu ia lantas menikam
dadanya, ulu hatinya, maka di situ juga ia roboh
dengan jiwanya melayang.
Menampak demikian, Ie Tiauw Hin menubruk
saudaranya itu, untuk merampas pisau belatinya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan apa ia pun menikam dirinya, maka ia juga
roboh dengan jiwanya melayang.
Semua pengemis terbangun semangatnya.
Kejadian ini sangat hebat untuk mereka. Tapi mereka
masih berdiam, tanpa ada titah pangcu, mereka tidak
berani lancang.
Setelah menyaksikan semua itu, Khiu Cian Jin
tertawa tawar.
"Permintaanku yang kedua ini sudah beres,"
katanya. "Maka sekarang kami hendak menghanturkan
bingkisan kepada partai tuan-tuan!" Habis berkata, ia
memberi tanda dengan tangan kirinya. Maka beberapa
puluh orang bertubuh besar yang mengenakan
pakaian hitam lantas maju bersama kopor mereka
yang besar, yang lantas dibuka tutupnya, dari situ
mereka mengambil masing-masing sebuah tetampan
untuk diletaki di samping Yo Kang. Itulah uang emas
dan perak dan permata yang sinarnya berkeredepan!
Semua pengemis heran melihat orang
mengeluarkan harta sebesar itu.
"Tiat Ciang Pang kami," berkata Khiu Cian Jin,
"Meski kami masih dapat makan, tidak nanti kami
sanggup mengeluarkan bingkisan begini berharga,
maka itu baiklah tuan-tuan ketahui, ini adalah hadiah
dari Chao Wang dari negera Kim, yang meminta kami
tolong menyampaikannya."
Mendengar keterangan ini, Yo Kang heran dan
girang.
"Di mana adanya Chao Wang?" ia menanya lekas.
"Aku ingin bertemu dengannya!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Inilah kejadian pada beberapa bulan yang lalu,"
menyahut Khiu Cian Jin, menyahuti apa yang tidak
ditanya. Karena ia memberikan keterangannya. "Itu
waktu Chao Wang telah mengirimkan utusannya
kepadaku membawa bingkisannya ini dan dia minta
partaiku yang tolong menyampaikannya."
Mendengar itu, Yo Kang tahu bahwa hal itu terjadi
sebelum ayahnya - ilaga Chao Wang - berangkat ke
Selatan. Hanya ia belum tahu maksudnya mengapa
Kay Pang dikirimkan harta sebesar ini.
Khiu Cian Jin masih meneruskan keterangannya:
"Chao Wang mengagumi partai tuan-tuan, maka itu ia
memerintahkan istimewa untuk aku sendiri yang
menyampaikan bingkisan ini."
"Jikalau begitu kami membuat capai saja kepada
pangcu!" berkata Yo Kang girang.
Khiu Cian Jin tertawa.
"Yo Pangcu muda tetapi nyata kau luas
pandangannya, kamu menang jauh daripada Ang
Pangcu!" ia memuji.
Yo Kang masih belum tahu maksud ayahnya
berhubungan sama Kay Pang, maka ia menanya pula:
"Entah ada titah apakah dari Chao Wang untuk
perkumpulan kami? Tolong pangcu menitahkannya
saja!"
"Menitahkan, itulah tak dapat disebutkan," berkata
Khiu Cian Jin. "Hanya Chao Wang memesan untuk
memberitahukan bahwa wilayah utara ini tanahnya
miskin dan rakyatnya melarat, jadi sukar untuk….."
Yo Kang cerdas, segera ia dapat menduga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jadinya Chao Wang menghendaki kami pergi ke
Selatan?" katanya.
"Sungguh Yo Pangcu cerdas sekali!" berkata Khiu
Cian Jin, memuji. "Maaf untuk sikapku tadi. Chao
Wang membilang bahwa propinsi-propinsi Kwietang
dan Kwiesay serta Hokkien, tanahnya subur, rakyatnya
makmur, maka itu ia bertanya kenapa saudarasaudara
dari Kay Pang tidak mau pergi ke Selatan
untuk menaruh kaki di sana? Wilayah Selatan jauh
lebih menang daripada wilayah Utara ini."
"Terima kasih untuk petunjuk Chao Wang serta
pangcu sendiri," berkata Yo Kang tertawa.
"Percayalah, aku yang rendah pasti bakal
menurutinya."
Khiu Cian Jin heran orang dengan gampang saja
menerima hadiah itu, tetapi karena ia khawatir Kay
Pang nanti menyesal, ia lantas berkata: "Kata-katanya
seorang laki-laki cukup dengan sepatah kata! Dengan
semua saudara dari Kay Pang berangkat ke Selatan,
bukankah itu berarti bahwa kamu tidak bakal kembali
ke Utara ini?"
Yo Kang hendak memberikan jawabannya ketika
Lou Yoe Kiak memotong: "Harap pangcu
mengetahuinya! Kami semua hidup dari mengemis,
maka itu, apa perlunya kami dengan uang emas dan
barang permata? Laginya partai kita berada di seluruh
negeri, kami merdeka, maka kapannya kami pernah
dipengaruhi lain orang? Oleh karena itu aku memohon
pangcu memikirkan dengan seksama!"
Sekarang ini Yo Kang telah dapat menerka
maksudnya Wanyen Lieh. Di Kangpak ini, yaitu utara
Sungai Besar, Kay Pang menjadi musuh bangsa Kim,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sering terjadi, kalau pihak Kim jauh ke utara, Kay Pang
suka mengganggu mengacau bagian belakang, baik
dengan membunuh punggawa perangnya maupun
dengan membakar rangsum, maka kalau Kay Pang
dipindah ke Selatan, jadi gampanglah usaha bangsa
Kim itu. Maka itu atas cegahannya Lou Yoe Kiak, ia
berkata: "Ini adalah maksud baik dari Khiu Pangcu,
jikalau kita tidak menerima, itu tandanya kita berlaku
tidak hormat. Uang emas dan perak dan permata ini,
aku sendiri tidak membutuhkannya, maka itu Suwie
Tiangloo, sebentar sebubarnya rapat, silahkan kamu
membagi-bagikannya kepada semua saudara!"
Tapi Yoe Kiak tidak memperdulikan perkataannya
ini pangcu baru. Ia berkata pula: "Ang Pangcu kami
yang tua dikenal sebagai Pak Kay, maka itu usaha kita
di Utara ini mana dapat gampang-gampang
ditinggalkan secara begini? Laginya partai kita bercitacita
bersetia dan membela negera sedang dengan
bangsa Kim, kita adalah musuh turunan, dari itu tidak
dapat bingkisannya ini diterima! maka itu tidak dapat
kita pindah ke Kanglam!"
Yo Kang menjadi tidak senang, air mukanya
menunjuki itu. Tapi belum lagi ia membuka mulutnya,
Pheng Tiangloo sambil tertawa mendahului padanya.
Kata ini Tiangloo; "Lou Tiangloo, urusan besar dari
partai kita diputuskan oleh pangcu, bukan diputuskan
kau seorang diri, bukankah?"
Yoe Kiak tetapi tetap sama sikapnya. Ia kata keras:
"Jikalau mesti melupakan kesetiaan dan kejujuran,
biarnya mati, aku tidak suka menurut!"
"Ketiga tiangloo Kan, Pheng dan Nio, bagaimana
pikiran kalian?" Yo Kang tanya ketiga tetua itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kami bersedia untuk titah pangcu!" menyahut
ketiga tiangloo itu serentak.
"Bagus!" berseru Yo Kang. "Mulai tanggal satu
bulan delapan, kita pergi menyeberangi Sungai Besar!"
Atas perkataan itu, sebagian besar orang Kay Pang
menjadi gaduh.
Di dalam Kay Pang ini, perbedaan di antara
golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Kotor nyata
sekali. Golongan Pakaian Bersih, meski pakaian
mereka banyak tambalannya, tetapi pakaian itu bersih
seperti pakaian orang kebanyakan dan cara hidupnya
sama dengan khalayak ramai, tidak demikian dengan
golongan Pakaian Kotor yang teguh sama cita-citanya,
sudah pakaiannya butut dan dekil, mereka tidak
menggunakan uang untuk membeli barang, bahkan
mereka tidak duduk bersantap bersama-sama dengan
lain orang, mereka tidak nanti bertempur bersama
orang yang tidak mengerti ilmu silat. Benar di antara
empat Tiangloo, tiga ada dari golongan Pakaian
Bersih, walaupun demikian, jumlah pengemis Pakaian
Kotor terlebih banyak. Mereka inilah yang sekarang
memberi suara setuju kepada Lou Yoe Kiak.
Melihat sikapnya sebagaian pengemis itu, Yo Kang
menjadi bingung juga. Ketiga tiangloo she Kan, Pheng
dan Nio lantas mengasih dengar suara nyaring
mereka, untuk meminta orang jangan gaduh, suaranya
itu tidak diambil mumat. Kan Tiangloo menjadi habis
sabar, maka ia memandang Lou Yoe Kiak.
"Lou Tiangloo, adakah kau hendak memberontak
kepada pangcu?" dia tanya bengis.
"Biarnya aku dihukum picis, tidak nanti aku berani
melawan yang tua!" menyahut Yoe Kiak keren.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Apapula untuk memberontak terhadap pangcu, pasti
aku lebih-lebih tak berani. Akan tetapi anjing Kim itu
adalah musuh besar dari Kerajaan Song kita! Apakah
katanya Ang Pangcu kepada kita?"
Kan Tiangloo bertiga kena terdesak, mereka lantas
tunduk. Mereka mulai menyesal.
Khiu Cian Jin melihat suasana itu, maka ia pikir
usahanya bakal gagal kalau Lou Yoe Kiak tidak
dipengaruhi, maka itu dengan tertawa dingin, ia
berkata kepada Yo Kang: "Yo Pangcu, hebat Lou
Tiangloo ini!" Lalu menyusuli penutup perkataannya
itu, dengan kedua tangannya diulur ke arah pundak si
tiangloo.
Ketika mendengar orang tertawa dingin, Lou Yoe
Kiak sudah bercuriga, ia telah siap sedia, maka itu,
ketika ia diserang, dengan cepat ia berkelit sambil
menunduk untuk nelusup masuk ke selangkangan
orang. Sebab ia mengerti dengan baik, tidak bisa ia
melawan dengan kekerasan. Sembari nelusup itu,
tanpa menanti lempangnya pinggangnya, kakinya
sudah menendang ke kempolan pangcu dari Tiat
Ciang Pang. Dia bernama Lou Yoe Kiak, Lou si
Mempunyai Kaki, dari itu bisa dimengerti ilmu dupakan
itu.
Khiu Cian Jin heran untuk caranya orang berkelit
itu, Guna melindungi diri, ia lantas mengayun
tangannya ke belakang, guna menghajar kakinya si
pengemis.
Yoe Kiak tahu tangan lawan itu hebat, ia menarik
pulang dupakannya ketiga. Ia khawatir kakinya nanti
terluka. Sambil lompat ke samping, ia meludah kepada
lawannya itu!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Khiu Cian Jin boleh gagah dan luas
pengalamannya, akan tetapi serangan semacam itu ia
tidak menyangka sama sekali, maka itu, belum sempat
ia berkelit, mukanya sudah kena diludahi. Ludah itu
tidak mendatangkan rasa sakit atau gatal, toh itu
membuatnya tercengang.
"Lou Tiangloo, jangan kurang ajar kepada tetamu
agung!" Yo Kang membentak.
Yoe Kiak masih taat kepada ketuanya, tetapi justru
ia hendak merubah sikapnya, Khiu Cian Jin yang gusar
sudah lantas menyerang padanya, kedua tangannya
yang kuat seperti kepit sudah menyambar ke arah
tenggorakan. Ia kaget, maka ia berlompat jumpalitan
untuk menghindarkan diri dari bahaya. Tapi ia
terlambat, selagi kupingnya mendengar ejekan, "Hm!"
kedua tangannya kena disambar lawan itu. Dalam
kagetnya ia berontak, tetapi sia-sia saja. Ia sudah
banyak pengalamannya, ia tidak menjadi bingung atau
ketakutan, maka ia berdaya pula. Dengan tiba-tiba ia
menyeruduk dengan kepalanya!
Semenjak masih kecil, Yoe Kiak sudah melatih
kepalanya itu, maka itu, serudukannya dapat
menggempur tembok hingga bolong. Pernah ia
bertaruh sama saudara-saudara separtai dengan ia
melawan banteng, mengadu kepala, kepalanya sendiri
tidak kurang suatu apa, si kerbau sendiri roboh
kelenger. Hanya kali ini, ketika kepalanya mengenai
perut, ia merasa membentur benda lunak seperti
kapas. Ia kaget, ia mengerti bahaya, dengan lekas ia
menarik pulang kepalanya itu. Untuk kagetnya lagi,
perut orang itu mengikuti kepalanya itu. Ia lantas
mengerahkan tenaganya, untuk membebaskan
kepalanya itu. Sebagai kesudahan dari pergulatannya
itu, ia merasa kepalanya mulai panas sedang kedua
tangannya yang terus dicekal menjadi panas sekali,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
seperti tangan itu dimasuki ke dalam perapian
marong….
"Kau takluk atau tidak?!" tanya Khiu Cian Jin
membentak.
"Bangsat busuk, takluk apa!" menjawab Yoe Kiak
membentak juga.
Khiu Cian Jin mengerahkan tangan kirinya, maka
lima jari Lou Tiangloo mengasih dengar suara meretak,
kelima jarinya kena dipencet patah.
"Kau takluk atau tidak?!" tanya pula ketua Tiat
Ciang Pang itu.
"Bangsat busuk, takluk apa!" Yoe Kiak membandel.
Khiu Cian Jin memencet pula, maka sekarang
kelima jari kiri dari Lou Yoe Kiak yang pada patah. Ia
merasakan sakit bukan main, ia sampai menjadi waswas,
tetapi ia bernyali besar dan besar kepala, ia terus
masih mencaci.
"Jikalau aku menggeraki perutku, kepalamu pun
bakal remuk!" Khiu Cian in mengancam. "Aku mau
lihat, kau masih dapat mencaci atau tidak….."
Disaat Lou Yoe Kiak menghadapi waktu
kematiannya itu, dari antara rombongan pengemis
mendadak terlihat seorang berlompat maju - seorang
yang tubuhnya tinggi dan dadanya lebar. Dialah si
bocah Kwee Ceng!
Dengan tindakan lebar, Kwee Ceng ini segera
menghampirkan Lou Yoe Kiak, terus ia mengangkat
tangannya yang kanan, dengan itu tiga kali beruntun ia
menghajar kempolan si pengemis. Dia menghajar Yoe
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kiak akan tetapi tenaganya itu tersalur, dari kempolan
terus ke kepala, terus juga ke perutnya ketua Tiat
Ciang pang itu, hingga tiga kali Khiu Cian Jin
merasakan benturan yang kuat, hingga sekejap itu
juga, buyarlah kekuatannya menempel dan menyedot.
Begitu lekas ia merasakan kepalanya merdeka, Yoe
Kiak lantas mengangkat bangun tubuhnya, hanya
kedua tangannya, yang masih belum dilepaskan.
"Kau bukannya lawan dari Khiu Cianpwee, kau
minggir!" berkata Kwee Ceng, yang sembari berkata
telah menggenjot tubuhnya untuk berlompat, maka
juga sebelah kakinya bisa mendupak pundak si
pengemis.
Tendangan ini sama pengaruhnya seperti hajaran
pada kempolan tadi. Tenaga si anak muda tersalurkan
ke kedua tangannya Khiu Cian Jin, tidak peduli tadi
tangannya panas, ia ini merasakan sakit pada
telapakan tangannya itu, maka tanpa merasa,
cekalannya menajdi kendor dan terlepas sendirinya.
Loe You Kiak pun merasakan ia tak terpegang
keras lagi, ia lantas menggunakan tenaganya
membarengi berontak sambil berlompat mundur. Tapi
karena ia telah tercekal keras dan kepalanya masih
terasakan pusing, kedua kakinya seperti tidak
bertenaga, ia roboh sendirinya.
Khiu Cian Jin terperanjat menyaksikan kepandaian
Kwee Ceng itu. Ia mengetahui ilmu yang disebutkan
"Kek san ta gu", atau " Memukul kerbau diantara
gunung". Ilmu itu ia cuma mendapat dengar, sekarang
ia membuktikannya sendiri. Ia pun heran akan melihat
seorang bocah, yang ia tidak kenal. Karena ini ia
menyiapkan tenaga di kedua tangannya, ia mengawasi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pemuda itu. ia tidak berani sembarang menyerang
meski sebenarnya ia mendongkol.
Sementara itu kegaduhan terbit di antara kaum
pengemis. Mereka itu tidak tahu apa yang terjadi
dengan Lou Yoe Kiak, mereka menyangka Kwee Ceng
menyerang orang hingga roboh, pingsan atau
terbinasa, maka itu dengan suara riuh mereka maju
dengan niatan menyerang si anak muda. Mereka juga
heran yang anak muda itu yang teringkus sekian lama,
mendadak dapat membebaskan diri.
Semenjak ia melihat bintang Pak Tauw, Kwee Ceng
telah mengumpul semangatnya. Ia memperhatikan
gerak-geriknya rahasia dari Coan Cin Cit Cu, ia
gabung dengan sarinya Kiu Im Cin-keng, yang ia telah
paham betul, maka itu, ia tidak memperdulikan segala
apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mengambil
mumat Oey Yong, ia tidak menggubris segala
pembicaraan terutama diantara Loe Yoe Kiak dan Khiu
Cian Jin. Hebat ia memusatkan pikirannya itu. Selagi
Yoe Kiak terancam bahaya, ia sendiri lagi
memecahkan suatu ilmu dari Kitab Bawah dari Kiu Im
Cin-keng itu, bagian ilmu "Menyimpan otot dan
meringkaskan tulang". Siapa yang paham ini, ia bisa
membikin tubuhnya ciut menjadi kecil. Di dalam hal ini,
ia memperoleh banyak sekali bantuan dari ilmu yang
diwariskan Ang Cit Kong kepadanya, ialah "Ie Kin Toan
Kut Pian", atau ilmu "Menukar otot dan melatih tulang".
Dengan mempunyai dasar itu, ia berhasil dengan lekas
sekali. Demikian tanpa ia merasa, ia dapat pulang
tenaganya dan tubuhnya mengkerat kecil hingga ia
lolos dari belungguannya. Sebab Yoe Kiak terancam
bahaya, ia segera menghampirkan tiangloo itu, untuk
memberikan pertolongannya.
Pheng Tiangloo yang ditugaskan menjaga Kwee
Ceng pun heran dan kaget ketika mendadak ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mendapatkan bocah itu bebas. Ia menjambret, ia
gagal, ia cuma bisa menyambar tambang
ringkasannya itu. Ia sadar dengan lekas, hendak ia
menyusul si anak muda, tapi ia terlambat, Kwee Ceng
sudah mendahului melemahkan tenaga dalam dari
Khiu Cian Jin hingga Lou Yoe Kiak dapat ditolong. Tapi
ia licik. Begitu melihat suasana, ia berteriak: "Tangkap
penjahat licik itu!" Ia sendiri tidak bergerak dari
tempatnya berdiri, karena ia merasa, majunya toh
bakal sia-sia belaka.
Kwee Ceng menyesal menyaksikan aksinya kaum
pengemis itu, tetapi karena ia justru ingin mencoba
lebih jauh hasil latihannya barusan, ia kata dalam
hatinya: "Kalau hari ini aku tidak memberi ajaran adat
kepada kamu, kemendongkolanku tidak dapat
dilampiaskan...." Maka ia mementang kedua
tangannya sambil kakinya memasang kuda-kuda
"Thian Koan".
Bab 58. Nona manis menjadi raja pengemis
Tujuh pengemis maju paling dulu, dari depan dan
belakang, dari kedua samping. Kwee Ceng
membiarkan mereka maju, dengan kuda-kuda tidak
begeming, ia menyambut mereka dengan kedua
tangannya. Di belakang mereka itu, ada lagi beberapa
lagi pengemis yang merapatkan diri. Mereka pun
disambut serupa, dengan tangkisan atau sikut, kalau
perlu barulah dengan dupakan. Maka saling susul
mereka itu berteriak kesakitan, saling susul juga
mereka roboh terguling. Dengan cara ini Kwee Ceng
pun mengundurkan yang lainnya lagi. Kemudian ia
memikir untuk menerkam Yo Kang, atau ia melihat dua
pengemis berlompat ke arah Oey Yong. Jarak diantara
mereka cukup jauh, sulit untuk berlompat menolongi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
nona itu. Tidak ada jalan lain, ia lantas menarik copot
kedua sepatunya, dengan itu ia menimpuk ke arah
kedua penyerang itu.
Dua pengemis itu adalah orang-orang yang kukuh,
mereka hendak membunuh si nona, ke satu untuk
membikin si nona tidak keburu lolos, kedua untuk
membalaskan sakit hati ketua mereka. Nyata ilmu silat
mereka sudah cukup sempurna, mereka mendengar
ada angin menyambar di belakang mereka, hanya
ketika yang satu segeran menoleh untuk melihat dan
menangkis, tahu-tahu sepatu sudah menghajar
dadanya sedang yang lain kena terhajar punggungnya.
Sebenarnya sepatu itu barang lembek tetapi ditimpuki
Kwee Ceng, tenaganya besar luar biasa. Sambil
menjerit, mereka itu roboh terjengkang dan tengkurap,
dan untuk sementara mereka tak dapat merayap
bangun.
Pheng Tiangloo berada dekat dua pengemis itu, ia
kaget menyaksikan lihaynya Kwee Ceng itu.
Kwee Ceng sendiri, habis menimpuk, lantas
mementang sayapnya, menghalang beberapa
pengemis yang merangsak pula, terus ia berlompat
menghampirkan Oey Yong, untuk membuka belunggu
si nona.
Selama itu, kawanan pengemis menyerbu pula.
Mereka tidak menjadi takut melihat sejumlah
kawannya kena dirobohkan dengan gampang.
Sekarang Kwee Ceng tidak melayani seperti tadi.
Dengan lantas menjatuhkan diri, untuk duduk
mendeprok di tanah, lalu sambil berduduk, ia meniru
gerak-geriknya Khu Cie Kee dan Ong Cie It beramai
ketika Coan Cin Cit Cu menggeraki tangan kanannya,
sebab tangan kirinya dipakai membuka ikatannya Oey
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yong, sedang tubuh si nona ia pangku di atas kedua
pahanya. Ia dapat berbuat demikian karena sekarang
ia menggunakan tipu ajarannya Ciu Pek Thong. Ialah
ilmu memecah pemusatan perhatian, kedua tangan
bisa dipakai berkelahi satu sama lain.
Rombongan pengepung pengemis itu jadi semakin
banyak. Tetapi Kwee Ceng membela diri dengan
tangan kanannya, tetap tangan kirinya membuka
belungguan si nona. Ketika kemudian ia berhasil
membuka semua ikatan, ia lantas mengeluarkan biji
sumbatan dari mulut nona itu, sambil berbuat
demikian, ia tanya: "Yong-jie, apakah kau terluka?"
"Tidak, cuma aku merasa sekujur tubuhku
kesemutan," menyahut si nona, yang terus
merebahkan diri.
"Bagus!" berkata si anak muda. "Kau boleh
beristirahat, kau lihat bagaimana aku melampiaskan
kemendongkolan kita!"
Oey Yong menurut, ia beristirahat. Kuat sekali
kepercayaannya kepada Kwee Ceng. Ia cuma
memesan sambil tertawa: "Kau hajarlah mereka, asal
mereka jangan sampai terluka parah!"
"Aku mengerti," menyahut si anak muda. "Kau
lihat!"
Dengan tangan kirinya, Kwee Ceng mengusap-usap
rambut yang bagus dari si nona, dengan tangan
kanannya ia mengibas. Kontan tiga orang pengemis
kena dibikin terlempar, habis mana menyusul empat
pengemis lainnya, semuanya ialah yang merangsak
rapat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Pertempuran kacau itu menyebabkan terdengar
satu suara nyaring: "Saudara-saudara, lekas mundur!
Biarlah saudara dari generasi delapan yang melayani
dua bangsat cilik ini!"
Suara itu ialah suaranya Kan Tiangloo. Suara itu
ditaati, maka lekas juga semua pengemis itu
mengundurkan diri, hingga tinggal delapan pengemis,
yang masing-masing punggungnya menggendol
delapan buah kantung goni. Karena ada dari generasi
ke delapan, kedudukan mereka ini cuma ada di
sebawahan keempat tiangloo. Di antara mereka itu
ada si kurus dan si gemuk yang menyambut Yo Kang.
Sebenarnya jumlah mereka semua sembilan orang
akan tetapi dengan Lee Seng membunuh diri, mereka
tinggal delapan.
Kwee Ceng tahu ia bakal melayani delapan musuh
tangguh, sebenarnya ia hendak bangun berdiri tetapi
Oey Yong berbisik kepadanya: "Kau duduk saja!
Layani mereka dengan sabar!"
Kwee Ceng suka menurut, akan tetapi ia segera
berpikir: "Baiklah aku lantas merobohkan beberapa di
antaranya supaya hati mereka kecil!" Maka sambil
mata mengawasi delapan pengemis itu, tangannya
memegang tambang yang dipakai mengikat si nona, Ia
memperhatikan si gemuk dan si kurus itu, segera ia
menyerang mereka dengan tambangnya itu. Ia
menggunakan satu jurus dari Kim Liong Pian-hoat,
atau ilmu silat cambuk Naga Emas, pengajarannya Ma
Ong Sin Han Po Kie. Tambang itu lemas tetapi di
tangannya pemuda ini lantas menjadi kaku.
Melihat datangnya serangan, kedua pengemis itu
berlompat untuk berkelit, setelah itu mereka maju
merapatkan diri. Enam saudara mereka tapinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terpegat oleh ujung tambang, hingga mereka tak dapat
lantas maju karena tertahan.
"Jangan menyerang!" Kan Tiangloo mencegah,
tetapi sia-sia saja cegahannya ini, si kurus dan si
gemuk yang penasaran, sudah maju terus. Mereka
ingin sekali bisa merobohkan si bocah. Maka mereka
disambut Kwee Ceng. Sia-sia mereka menangkis,
pundak mereka kena dihajar bergantian. Saking
kerasnya hajaran itu, tubuh mereka terpental mundur,
hanya ada perbedaannya, ialah si gemuk terpendal
lebih dekat, si kurus terlebih jauh. Bagusnya untuk
mereka, tubuh mereka kena membentur orangorangnya
Khiu Cian Jin.
Mulanya ketua dari Tiat Ciang Pang tidak
memperdulikan orang terpental, hanya setelah terjadi
benturan, baru ia kaget, lagi-lagi Kwee Ceng
menggunakan tipu silatnya "Kek san ta gu" itu. Ia kaget
karena ia menginsyafi hebatnya hajaran semacam itu.
Untuk menolongi orangnya, Khiu Cian in lantas
berlompat, tetapi ia terlambat, kedua pengemis itu
sudah berlompat bangun tanpa mereka terluka. Adalah
dua orang Tiat Ciang Pang, yang dibentur mereka
yang menjadi korban, malah mereka ini pada putus
ototnya dan patah tulangnya, hingga mereka mesti
rebah terus di tanah. Ketika si ketua kaget, ia terkejut
pula karena kupingnya mendengar angin menyambar.
Segera ia menoleh, maka segera ia melihat
terlemparnya tubuh dua pengemis lain! Itulah hebat!
Lagi-lagi orangnya yang bakal menjadi korban. Tidak
ayal lagi, ia lompat maju. Pengemis yang satu ia
sampok, membikin ia terlempar ke tempat kosong, dan
pengemis yang kedua, ia hajar punggungnya. Syukur
untuk pengemis yang kedua ini, tenaga Khiu Cian Jin
berimbang sama tenaga Kwee Ceng, dai tidak terluka,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dia jatuh dengan perlahan, lantas ia lari pula ke arah si
anak muda.
Empat tiangloo dan Oey Yong heran. Keempat
pengemis ini tidak mengerti kenapa bocah itu demikian
lihay dapat bertahan terhadap ketua Tiat Ciang Pang
yang sangat lihay itu. Oey Yong heran, ia berpikir:
"Penipu besar ini biasa saja kepandaiannya, mengapa
ia dapat menandingi engko Ceng? Inilah aneh!"
Sampai di situ, Khiu Cian Jin mengipas tangannya,
memberi tanda untuk orang-orangnya jangan
bergerak. Ia menginsyafinya, kekuatannya berimbang
sama kekuatan si anak muda, jadi percuma orangorangnya
menerjang. Ia tahu mereka itu bergusar
karena robohnya dua saudaranya. Ia berdiri diam saja
menonton.
Empat pengemis generasi ke delapan itu heran
untuk ketangguhan si anak muda, tetapi mereka
melawan terus. Mereka dibantu oleh saudaranya, yang
tadi dihajar punggungnya oleh Khiun Cian Jin. Berlima
mereka mengepung, tapi hasilnya tak ada. Coba Kwee
Ceng tidak berlaku murah, siang-siang tentulah
mereka sudah mendapat hajaran. Kemudian Kwee
Ceng merobohkan lagi dua orang lawan. Baru
sekarang tiga yang lainnya jeri dan mau mundur, tetapi
mereka terlambat. Dengan menggunakan
tambangnya, Kwee Ceng menyambar dan melilit
kakinya dua pengemis, terus ia menariknya orang ke
sisinya, terus ia meringkus mereka.
Oey Yong gembira sekali menyaksikan
kemenangan dari engko Cengnya itu. Ia lantas ingat
kepada Pheng Tiangloo, si pengemis yang wajahnya
berseri-seri, yang menangkap dia berdua dengan
Kwee Ceng dengan caranya yang aneh itu. Ia
sekarang ingat akan halnya ayahnya pernah bicara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tentang Liam-sim-hoat, semacam ilmu sihir dengan
apa orang dapat dengan tiba-tiba dibikin tidur dan
dipermainkan tanpa berdaya. Maka ia lantas tanya
Kwee Ceng apa di dalam Kiu Im Cin-keng ada disebut
tentang itu macam ilmu gaib. Ia percaya betul Pheng
Tiangloo telah menggunakan ilmu itu.
"Tidak," Kwee Ceng menyahut.
Mendapat jawaban ini, si nona menyesal. Tapi
segera ia memberi peringatan: "Hati-hati dengan
pengemis jahat yang gemar berseri-seri itu, jangan
mengadu sinar mata dengannya!"
Kwee Ceng mengangguk. "Aku justru hendak
memberi hajaran kepadanya," katanya perlahan.
Karena sekarang pertempuran sudah berhenti, ia
memegang punggung si nona, untuk dikasih bangun,
ia sendiri berbareng berbangkit. Lalu dengan
mengawasi Yo Kang, ia bertindak kepada si anak
muda.
Yo Kang sendiri telah berdebaran hatinya semenjak
tadi. Ia jeri untuk lihaynya si anak muda, maka ia
mengharap-harapkan kemenangan pihaknya sendiri,
ialah pihak pengemis. Maka kesudahannya itu
membuatnya takut, lebih-lebih ia melihat anak muda itu
mendatangi ke arahnya dengan matanya tajam.
"Su-wie Tiangloo!" ia lantas berteriak. "Kita di sini
ada mempunyai banyak orang gagah, apakah dapat
bangsat kecil ini dibiarkan banyak bertingkah?!" Ia
berteriak tetapi ia mundur ke belakangnya Kan
Tiangloo.
"Tabahkan hati, Pangcu," kata Kan Tioangloo
dengan perlahan. "Biarnya bangsat kecil itu gagah, dia
tidak nanti sanggup melawan kita yang berjumlah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
besar. Mari kita lawan dia dengan bergantian!" Dan
lantas dia berteriak: "Murid-murid kantong delapan
aturlah Barisan Tembok!"
Titah itu ditaati, dengan lantas muncul seorang
pengemis dengan kantung delapan. Majunya dia ini
diturut oleh belasan pengemis lain, yang mengatur diri
dengan rapi, ialah mereka yang bergandengan tangan,
jumlah semua enam atau tujuhbelas orang. Mereka
lantas maju untuk menerjang Kwee Ceng, majunya
sambil berseru nyaring.
Oey Yong berseru heran, ia berkelit ke kiri, sedang
Kwee Ceng ke kanan. Segera di arah kiri dan kanan
itu, atau timur dan barat, muncul masing-masing satu
barisan seperti yang pertama itu, yang menyerang
dengan hebat.
Menampak cara penyerangan yang aneh dan
teratur itu, Kwee Ceng tidak berkelit lagi, ia mencoba
mengajukan kedua tangannya, guna menahan
mereka. Segera ternyata, barisan itu berat sekali,
mereka itu dapat ditolak mundur. Sebaliknya, selagi
mereka ditolak, dua barisan yang lain lantas maju pula.
Karena terlambat sedikit, si anak muda kena dibikin
terhuyung. Terpaksa ia berlompat tinggi, melewati
kepala mereka itu. Baru ia menaruh kaki di tanah atau
telah datang pula pasukan yang keempat. Lagi-lagi ia
berlompat pergi. Lagi-lagi ia diserang barisan yang
serupa. Maka, ke mana ia menyingkir, di sana ia
dipegat dan diserbu apa yang dinamakan Barisan
Tembok itu.
Juga Oey Yong mengalami serbuan yang serupa. Ia
lebih gesit daripada Kwee Ceng tetapi ia kewalahan.
Akhirnya ia lompat kepada si anak muda, untuk
mempersatukan diri. Karena ini, bersama-sama
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka kena didesak mundur. Mereka mundur terus
hingga di pojok batu gunung.
"Engko Ceng, mundur ke jurang!" Oey Yong
berkata.
Kwee Ceng belum bisa menerka maksud si nona
tetapi ia menurut, ia mundur ke arah jurang seperti si
nona. Ketika mereka akan sampai di tepian, lagi lima
atau enam kaki, mendadak pihak penyerang
menghentikan desakannya. Ia lantas berpaling ke
belakang. Baru sekarang ia mengerti. Ia kata dalam
hatinya: "Di sini ada jurang, kalau mereka mendesak
tanpa sanggup mempertahankan kakinya, tentu
mereka bakal terjerunuk ke dalam jurang!"
Pemuda ini lantas memandang ke Oey Yong,
hendak ia memuji ke cerdikan orang, atau ia tak jadi
memuji. Roma bergembira dari si nona lekas berubah
menjadi guram. Ia menoleh lagi ke arah musuh.
Sekarang ia mendapatkan musuh maju dengan
perlahan-lahan, musuh itu berlapis-lapis. Inilah benarbenar
berbahaya. Berdua mereka bisa dipaksa jatuh
sendiri ke dalam jurang, sedang untuk berlompat di
atasan kepala dari selapis dari seratus orang, itulah tak
dapat.
Selama di gurun pasir, Kwee Ceng pernah
mengikuti Ma Giok berlari-lari di tepian jurang, maka
itu, ia lantas memperhatikan jurang itu. Ia mendapat
kenyataan keadaan jurang kalah daripada jurang di
gurun pasir itu. Maka ia lantas mendapat pikiran.
"Yong-jie!" ia berkata. "Lekas kau naik ke
punggungku. Mari kita pergi!"
"Tidak dapat!" kata si nona menghela napas.
"Mereka bisa menyerang kita dengan batu…!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng pikir itulah benar juga. Ia menjadi
bingung. Tapi justru itu, ia ingat suatu bagian dari Kiu
Im Cin-keng.
"Yong-jie," ia berkata. "Aku ingat di dalam Kiu Im
Cin-keng, ada ilmu yang disebut Ilmu memindah
Arwah, mungkin itu sama dengan ilmu Liam-sim-hoat
yang kau tanyakan tadi. Baik, mari kita mencobacoba…."
Tetapi si nona masih berduka.
"Mereka semua ada murid yang dicintai suhu, apa
gunanya untuk membinasakan mereka apa pula di
dalam jumlah yang banyak?"
Tetapi Kwee Ceng tidak memperdulikan lagi si
nona. Mendadak ia memeluk tubuh orang sambil ia
berbisik: "Lekas lari!" Menyusul itu, ia mencium pipi si
nona yang nempel sama hidungnya itu selagi ia
berbisik, lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia
melemparkan nona itu ke atas panggung Hian Wan
Tay!"
Oey Yong telah membikin tubuhnya enteng, maka
tubuhnya itu melayang ke arah punggung. Ia mengerti
maksudnya Kwee Ceng itu, yang mau melawan sendiri
kepada semua lawannya, agar ia menyingkir terlebih
dahulu. Ketika ia sampai di panggung, dengan enteng
ia menaruh kakinya. Sesaat itu, ia menjadi tidak
karuan rasanya. Tapi ia segera melihat Yo Kang di
satu pojok panggung itu, dengan tangan memegang
Lek-tiok-thung, orang she Yo itu lagi memegang
pimpinan pada barisan pengemis itu. Ia lantas
mendapat pikiran. Terus ia menjejak lantai, akan
berlompat kepada anak muda itu, tangannya diulur
untuk menyambar tongkat suci kaum Kay Pang itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yo Kang terkejut melihat tahu-tahu si nona berada
di atas panggung itu, ketika tubuh orang hampir
sampai, ia hendak menghajarnya dengan tongkatnya,
atau tangan kanan si nona, dengan dua jari terbuka,
meluncur ke arah kedua matanya. Juga kaki kiri si
nona dipakai menjejak tongkatnya itu.
Dalam kagetnya, saking takutnya, Yo Kang
melepaskan tongkatnya dan ia sendiri lompat turun
dari panggung. Meski begitu, ia masih kalah sebat oleh
si nona, matanya toh kebentur juga jari si nona itu,
hingga ia merasakan sangat sakit, kedua matanya
menjadi gelap.
Oey Yong telah mengeluarkan jurus "Dari mulut
anjing galak merampas tongkat". Itulah salah satu
jurus terlihai dari ilmu tongkat "Ta Kauw Pang-hoat"
Jangan kata baru orang dengan ilmu silat seperti Yo
Kang itu, biar yang terlebih pandai, sukar untuk dia
meloloskan diri.
Oey Yong segera mengangkat tinggi tongkat
sucinya itu, ia berseru:" Saudara-saudara Kay Pang,
lekas kamu menghentikan pertempuran! Ketahuilah
oleh kamu, Ang Pangcu masih belum meninggal dunia!
Semua-semua adalah bisanya ini manusia jahat!"
Suara itu terang terdengar, semua pengemis
menjadi heran. Dengan serempak, mereka
menghentikan aksi mereka. Semua orang lantas
mengawasi ke arah panggung, hati mereka ragu-ragu.
Benarkah kabar girang itu - artinya pangcu mereka
yang she Ang itu belum menutup mata?
"Saudara-saudara, mari!" Oey Yong memanggil.
"Mari dengar aku bicara dari hal Ang Pangcu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yo Kang mendengar suara nona itu, tetapi ia tidak
dapat membuka matanya. Maka dari bawah panggung,
ia berteriak: "Akulah pangcu! Saudara-saudara dengar
perintahku! Lebih dulu dorong itu bangsat laki-laki jatuh
ke dalam jurang, baru bekuk ini bangsat perempuan
yang ngaco-belo!"
Titahnya Yo Kang ini besar pengaruhnya. Walaupun
di daam ragu-ragu, bangsa pengemis itu tetap taat
kepada ketuanya. Maka itu mereka maju sambil
berseru-seru.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil