Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 19 April 2017

Cersil Ke 8 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti Cerita silat Keren

Cersil Ke 8 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti Cerita silat Keren Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
-"Macam apakah kepandaianmu itu ? Siapa pingin
mendengarkan ?" sahut Siao-liong-Ii dengan sikap dingin saja.
Sejenak Auwyang Hong tertegun oleh jawaban orang.
"Baik, kalau begitu kau menyingkir yang jauh," katanya
kemudian,
Tetapi sama sekali siao-liong-li tidak gubris padanya, ia
masih bersandar pada batang pohon besar itu. "Hm, kenapa
aku harus turut perintahmu ? jika aku suka pergi segera aku
akan pergi, kalau tidak suka, tak nanti aku pergi," demikian
sahutnya ketus.
Keruan Auwyang Hong gusar hingga rambut alisnya
seakan-akan berdiri, ia ulur tangan hendak mencakar muka
Siao-liong-li. Tetapi Siao-liong-li masih tidak gubris padanya,
bahkan dia pura-pura tidak tahu atas serangan orang.
Tentu saja dengan cepat jari tangan Auwyang Hong
menyelonong ke mukanya, tetapi sesudah dekat, tiba-tiba
Auwyang Hong mendapatkan pikiran lain. "Ah, dia kan Suhu
anakku, tidak baik kalau aku melukai dia, Tetapi seketika
akupun tak bisa berbuat apa-apa jika dia tak mau menyingkir
pergi," demikian ia membatin
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena itu, segera tangan yang dia ulur itu ditarik lagi
kembali.
"Baiklah, kalau begitu kami saja yang menyingkir tetapi
kau jangan mengintip, ya ?" kata-nya.
Siao-Iiong-li pikir meski orang ini sangat tinggi ilmu
silatnya, tetapi orangnya dogol, maka iapun malas buat
meladeninya, ia malah berpaling ke jurusan lain dan tak
menjawab.
Siapa tahu begitu dia melengos, mendadak punggungnya
terasa kesemutan. Kiranya Auwyang Hong tiba-tiba telah ulur
tangan dan menutuk sekali pada Hiat-to di punggungnya, Oleh
karena gerak tangannya terlalu cepat dan aneh, pula sama
sekali Siao-liong-li tidak me-nyangka-nyangka, ketika dia kaget
dan bermaksud tutup jalan darahnya buat menolak tutukan
orang, namun sudah terlambat, seketika setengah badannya
bagian atas terasa tak bebas lagi. Bahkan menyusul Auwyang
Hong menambahi pula sekali tutukan di pinggangnya.
"Nah, budak cilik, jangan kau kuatir, sebentar saja
sesudah selesai aku ajarkan ilmu pada anakku, segera aku
datang melepaskan kau," demikian terdengar Auwyang Hong
berkata dengan tertawa sambil berjalan pergi.
Tatkala itu Nyo Ko sedang mengingat-ingat Ha-mo-kang
dan Kiu-im-cm-keng yang diajarkan oleh ayah angkatnya tadi,
ia merasa apa yang diajarkan dari Cin-keng atau kitab asli itu,
bukan saja berlainan dengan apa yang terukir di kamar batu
oleh Ong Tiong-yang, bahkan seluruhnya berlawanan dan
terbalik, maka ia sedang peras otaknya untuk menyelaminya
lebih mendalam hingga sedikitpun dia tak mengetahui sang
guru kena diserang Auwyang Hong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Marilah kita menyingkir kesana, jangan sampai didengar
oleh Suhu-mu." demikian kata Auwyang Hong sambil tarik
tangan Nyo Ko.
Tetapi Nyo Ko cukup kenal tabiatnya Siao-liong-li yang
aneh dan menyendiri jangan kata tidak nanti si gadis ini sudi
mencuri dengar, sekali pun dipertontonkan di hadapannya,
belum tentu dia mau lihat dan pasti dia akan menyingkir juga.
Tetapi karena pikiran ayah angkatnya dalam keadaan
kurang waras, iapun merasa tidak perlu banyak berdebat,
segera ia ikut pergi.
Sementara itu karena kena ditutuk jalan darahnya, dengan
lemas Siao-liong-li telah terkulai di tanah, sungguh tidak
kepalang rasa mengkalnya pula geli, ia pikir ilmu silatnya
sendiri meski sudah terlatih masak dan bagus, namun apapun
juga masih kekurangan pengalaman menghadapi musuh,
sehingga sudah kena dibokong oleh Li Bok-chiu, kini
mengalami pembokongan lagi oleh makhluk aneh si berewok
ini.
Maka diam-diam ia kumpulkan tenaga sakti dari apa yang
dia pelajari dalam Kiu-im-cin-keng, yakni "Kay-hiat-pi-koat",
rahasia caranya melepaskan tutukan, ia sedot napasnya
dalam-dalam terus menggem-pur aliran jalan darahnya.
Tetapi aneh, susudah dua kali dia ulangi, bukan saja Hiatto
yang tertutuk itu tidak menjadi lancar dan terbuka, bahkan
bertambah pegal dan linu, Keruan saja tidak kepalang
terkejutnya oleh kejadian yang tak dimengerti ini.
Kiranya cara tutukan Auwyang Hong itu justru berlawanan
dengan jalan darah biasa, sebab memang dia melatih Kiu-imcin-
keng secara terbalik kini Siao-liong-li pakai cara biasa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
untuk melepaskan diri, dengan sendirinya bukan menjadi
kendor, sebaliknya bertambah kencang dan makin rapat. Dan
karena sudah coba dan dicoba lagi masih belum berhasil,
bahkan bertambah sakit, akhirnya Siao-liong-li tak berani
coba-coba lagi.
Terpikir pula olehnya nanti sehabis si gila ini selesai
mengajarkan ilmu pada Nyo Ko. dengan sendirinya dia akan
kembali buat menolongnya, biasanya Siao-liong-li memang
tidak suka banyak pikiran, maka kini iapun tidak menjadi
kuatir atau gugup, ia malah termangu-mangu sambil
menengadah untuk memandang bintang-bintang yang tinggi
di langit, hingga lapat-lapat akhirnya ia tertidur.
Entah sudah berapa lama ia terpulas, ketika terasa kelopak
matanya perlahan-lahan seperti tergosok sesuatu, ia terjaga
dari tidurnya, ia coba buka matanya, Biasanya dalam
kegelapan Siao-liong-li bisa pandang sesuatu seperti di siang
hari, tetapi kini sedikitpun ternyata tak dilihatnya, kiranya
kedua matanya telah kena ditutup orang dengan selapis kain.
Luar biasa kaget Siao-liong-li sekali ini, malah menyusul ini
segera terasa pula ada orang memeluk dirinya, Diwaktu
memeluk, mula-mula orang ini agaknya rada-rada takut, tetapi
belakangan lambat laun menjadi tabah dan perlahan-lahan
menjadi berani
Dalam kagetnya itu niat Siao-Iiong-Ii hendak berteriak,
Tetapi percuma sebab mulutnya susah dipentang karena
tutukannya Auwyang Hong tadi. Segera pula, ia merasa orang
itu berani mencium pipinya.
SemuIa Siao-iiong-ii menyangka Auwyang Hong yang
mendadak telah pakai kekerasan hendak perkosa dirinya,
tetapi ketika muka orang itu menyentuh pipinya, ia merasa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
muka orang halus licin saja tanpa berewok seperti Auwyang
Hong, Hatinya terguncang juga, rasa terkejutnya tadi
perlahan-lahan pun hilang, maklum Siao-liong-li sendiri pun
muda, dalam hati iai pikir tentu ini perbuatan si Nyo Ko.
Dalam pada itu ia merasa kelakuan orang itu mulai tidak
sopan, tangan meraba sini dan menarik sana,
"Kurangajar, si Nyo Ko ini !" demikian diam-diam Siao-liong-li
mengelak
Tetapi karena tubuhnya sedikitpun tak bisa berkutik, maka
tiada jalan lain ia serahkan diri apa yang hendak diperbuat
orang, Hanya tidak karuan rasa dalam hatinya, ia terkejut
girang, malu dan rada-rada sakit.
Sementara itu di sebelah sana Auwyang Hong sedang
asyik memberi pelajaran ilmu silatnya pada Nyo Ko. ia menjadi
senang demi nampak bakat Nyo Ko sangat pintar, sedikit
diberitahu saja, lanjutannya dengan sendirinya dipahami Oleh
karena itulah, makin mengajar Auwyang Hong semakin
bersemangat hingga fajar menyingsing barulah selesai pokokpokok
kedua ilmu mujijat itu diajarkan
"Ayah, pernah juga kupelajari Kiu-im-cin-keng, tetapi
kenapa berlainan sekali dengan apa yang kau uraikan ini ?"
tanya Nyo Ko kemudian sesudah diulangi dan diapalkan pula
pelajaran yang baru diperolehnya.
"Apa ? Pernah kau pelajari ? Ah, bohong, kecuali ajaranku
ini, mana ada lagi Kiu-im-cin-keng lain ?" sahut Auwyang Hong
membentak.
"Tetapi betul, seperti cara melatih melemaskan otot dan
kuatkan tulang, menurut kau, langkah ketiga harus sedot
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
napas dan jalankan darah ke arah atas. Tetapi Suhu
sebaliknya bilang napas harus dipusatkan di perut dan darah
dilancarkan ke bawah," kata Nyo Ko.
"Mana bisa begitu, salah, salah..." teriak Auwyang Hong
sambil geleng kepala, tetapi baru sampai di sini tiba-tiba ia
berhenti ia memikir sejenak, lalu disambungnya lagi: "He,
ehm, nanti dulu..."
Habis ini ia coba melakukan apa yang dikatakan Nyo Ko
tadi, betul saja seluruh badannya dirasakan sangat nyaman
dan segar, ternyata sangat berbeda dengan caranya sendiri.
Sudah tentu tak pernah dia pikir bahwa dahulu dia telah
dipermainkan Kwe Cing atas suruhan Ang Chit-kong (salah
satu gurunya Kwe Cing) telah menuliskan kitab palsu Kiu-imcin-
keng yang telah diubah sana sini dan diputar-balik tak
keruan untuk kemudian baru diserahkan padanya, dengan
sendirinya hasil dari apa yang dilatihnya menjadi terjungkirbalik
juga dan berlawanan dengan intisari Kiu-im-cin-keng
yang asIi.
BegituIah, maka Auwyang Hong menjadi bingung,
pikirannya kacau lagi.
"He, kenapa bisa begini ? Ah, mana bisa ? sebenarnya aku
yang salah atau dia yang keliru ? Ah, mana bisa, mana bisa
jadi begini ?" demikianlah Auwyang Hong mengomel sendiri
tiada hentinya.
Nyo Ko menjadi kaget melihat kelakuan orang yang tak
beres ini. "Ayah, ayah !" ia coba memanggil beberapa kali,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tetapi tiada sahutan yang dia peroleh, Nyo Ko menjadi kuatir
penyakit ayah angkatnya ini kumat lagi.
Sedang ia terkejut itu, tiba-tiba terdengar olehnya suara
gemerisik diantara semak-semak rumput sana, berbareng itu
dilihatnya berkelebatnya bayangan orang, lapat-lapat diantara
semak-semak itu tertampak pula sebagian dari ujung jubah
imam yang kekuning-kuning-an.
Tempat ini sebenarnya sunyi senyap dan terpencil kenapa
sekarang bisa didatangi orang luar ? pula kelakuan orang itu
celingukan tidak beres, terang tidak mengandung maksud baik
Demikianlah Nyo Ko menjadi curiga, maka dengan langkah
cepat segera ia memburu ke sana.
Namun dengan cepat orang itu sudah kabur ke jurusan
sana, kalau melihat bagian belakangnya, nyata seorang Tojin
atau imam.
"Hai, siapa kau ?" segera Nyo Ko membentak. "Hayo,
berhenti ! Apa kerjamu disini ?"
Sambil berteriak, dengan Ginkang yang tinggi segera Nyo
Ko mengudak.
Dilain pihak demi mendengar suara bentakan Nyo Ko,
imam itu semakin percepat larinya, Tetapi mana sanggup dia
balapan lari dengan Nyo Ko, hanya sedikit "tancap gas" saja
tahu-tahu Nyo Ko sudah melompat sampai di belakangnya,
begitu pundaknya dia cekal dan diputar balik, seketika Nyo Ko
menjadi heran, sebab imam ini dapat dikenalnya bukan dari
pada In Ci-peng, itu murid Khu Ju-ki dari Coan-cin-kau.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko semakin tak mengerti ketika dilihatnya pakaian In
Ci-peng kusut tak teratur, mukanya sebentar merah dan
sebentar pucat.
"He, katakan, kerja apa kau di sini ?" Nyo Ko menegur
lagi.
In Ci-peng terhitung salah satu jago utama dari anak
murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, ilmu silatnya tinggi,
tindak tanduknya biasanya juga cukup gagah, tetapi entah
mengapa, kini sama sekali berubah lain, kena dibentak-bentak
Nyo Ko tadi, kelihatan dia menjadi gugup hingga tak sanggup
bicara.
Melihat orang tetap tak menjawab meski beberapa kali ia
mengulangi pertanyaannya, keruan Nyo Ko tambah tidak
mengerti Tetapi segera teringat olehnya dahulu In Ci-peng
pernah menanam budi atas dirinya ketika dia melarikan diri
dari Tiong-yang-kiong. Oleh karenanya ia tak tega untuk
membentak lebih lanjut lagi.
"Baiklah, kalau tiada apa-apa, bolehlah kau pergi !"
demikian katanya kemudian sambil melepaskan In Ci-peng.
Keruan saja In Ci-peng seperti terlepas dari genggaman
elmaut, sambil menoleh beberapa kali memandang Nyo Ko,
segera ia lari pergi dengan langkah cepat dan ketakutan
seperti orang berdosa.
"Sungguh menggelikan kelakuan imam ini." demikian
diam-diam Nyo Ko tertawai orang.
Lalu ia menuju ke gubuk mereka, tetapi diantara semaksemak
di depan gubuk sana tiba-tiba dilihatnya kedua kaki
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siao-liong-Ii melonjor keluar tanpa bergerak sedikitpun,
agaknya seperti tertidur nyenyak.
"Kokoh, Kokoh !" Nyo Ko coba memanggil.
Akan tetapi tiada jawaban. ia berjongkok dan menyingkap
semak-semak yang lebat itu, maka terlihat Siao-liong-li rebah
terlentang di tanah, sedang kedua matanya tertutup oleh
selapis kain biru.
Rada kaget juga Nyo Ko melihat keadaan sang guru lekaslekas
ia melepaskan ikatan kain biru dari muka orang,
dilihatnya wajah dan sorot mata berlainan sekali dengan
biasanya, kedua pipinya pun bersemu merah seperti ke-malumaluan.
"Kokoh, siapakah yang ikat kain ini atas dirimu ?" tanya
Nyo Ko kemudian.
Namun Siao-liong-li tak menjawab, hanya sorot matanya
tertampak mengandung maksud mengomelinya.
Melihat tubuh orang seperti lemas lunglai, agaknya seperti
tertutuk jalan darahnya oleh orang, Nyo Ko coba menariknya,
betul juga sama sekali Siao-liong-li tak bisa bergerak.
Nyo Ko memang pintar, melihat keadaan orang, segera
dapat diterka apa sebab-musababnya, "Tentu dia ditutuk ayah
angkatku dengan Tiam-hiat-hoat yang terbalik, kalau tidak,
dengan kepandaian Kokoh, Tiam-hiat-hoat yang lebih lihay
sekalipun dapat dibukanya sendiri," demikian pikirnya.
Maka dengan cara yang telah dipelajarinya dari Auwyang
Hong tadi, lantas Nyo Ko membukakan Hiat-to Siao-liong-li
yang tertutuk itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siapa tahu, waktu tertutuk tubuh Siao-liong-li oleh Nyo Ko,
toh Siao-liong-li tetap lemah lunglai dan meringkuk di dalam
pangkuan Nyo Ko seperti seluruh tubuhnya tidak bertulang
lagi.
"Kokoh," kata Nyo Ko dengan suara halus sambil pegang
lengan orang, "kelakuan ayah angkatku memang tak genah,
maka jangan kau sesalkan dia."
"Kau sendiri yang tak genah, Tak malu, masih kau bilang
orang Iain!" sahut Siao-liong-li tiba-tiba secara samar-samar
dan menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan pemuda
itu.
Melihat kelakuan sang guru semakin aneh dan berbeda
sekali dengan sehari-harinya, Nyo Ko mulai bingung.
"Kokoh, ak... aku..." demikian kata-kata-nya menjadi tak
lancar.
"Masih kau panggil aku Kokoh ?" omel Siao-liong-li tibatiba
sambil mendongak.
Keruan saja Nyo Ko semakin bingung dan gugup.
"He, tidak panggil kau Kokoh, lalu panggil apa ? Apa
panggil Suhu saja ?" sahutnya heran.
"Kau perlakukan aku cara begitu, mana bisa lagi aku
menjadi gurumu ?" kata Siao-liong-li dengan senyum malumalu.
"Aku ? Aku kenapa ?" Nyo Ko tambah tak mengerti.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi Siao-liong-li tak menjawab lagi, ia gulung lengan
bajunya, maka tertampaklah tangannya yang berkulit putih
"bersih seperti salju.
"Lihat!" katanya dengan wajah ke-malu-maluan sambil
menunjuk lengannya yang putih mulus itu. Ternyata andengandeng
merah "Siu-kiong-seh" yang dahulu terdapat di
lengannya itu kini sudah hilang tanpa bekas.
Tetapi Nyo Ko masih bingung, ia cakar-cakar kuping dan
garuk-garuk kepala.
"Kokoh, apakah artinya ini ?" demikian katanya.
"Dengarkan, tidak boleh lagi kau panggil aku Kokoh," ujar
Siao-liong-li setengah mengomel Dan demi dilihatnya wajah
Nyo Ko penuh mengunjuk bingung, entah mengapa hati gadis
ini tiba-tiba timbul rasa cinta mesra yang tak terkatakan.
"Ahliwaris Ko-bong-pay kita selamanya turun-temurun
adalah gadis yang suci bersih," kemudian dengan suara
pelahan Siao-liong-li berkata pula.
"Oleh sebab itu Suhu telah menisik setitik andeng-andeng
merah itu di tanganku, Tetapi semalam... semalam kau
perlakukan aku begitu, mana bisa lagi andeng-andeng merah
itu tinggal di atas tanganku ?"
"Aku perlakukan kau apa semalam ?" tanya Hyo Ko rapat
dan bingung.
Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah.
"Sudahlah, tak perlu dibicarakan lagi," sahutnya kemudian,
dan sesudah sejenak pula, dengan pelahan ia berkata lagi:
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Dahulu aku takut-takut untuk turun gunung, tetapi kini sudah
lain, tidak perduli ke mana kau pergi, dengan rela aku akan
mengikuti kau."
"Bagus sekali, Kokoh, kalau begitu!" seru Nyo Ko girang
"He, kenapa kau masih memanggil aku Ko-koh ?" tegur
Siao-liong-li dengan wajah sungguh-sungguh, "Apa kau tidak
dengan hati murni terhadap diriku ?"
Karena Nyo Ko tidak menjawab, akhirnya Siao-liong-Ii
menjadi tak sabar lagi "Sebenarnya kau anggap diriku ini
apamu ?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Kau adalah guruku, kau sayang padaku, aku sudah
bersumpah bahwa selama hidupku ini pasti menghormati kau
dan suka padamu," demikian dengan sungguh-sungguh dan
tulus Nyo Ko menjawab.
"Apa kau tidak anggap aku sebagai isterimu?" teriak Siaoliong-
li tak tahan.
Sungguh hal ini belum pernah terlintas dalam pikiran Nyo
Ko, kini mendadak ditanya orang, keruan ia kelabakan dan tak
mengerti cara bagaimana harus menjawabnya.
"Ti... tidak, tak mungkin kau adalah isteriku, mana aku
cakap ?" demikian sahutnya kemudian dengan tak lancar,
"Tetapi kau adalah Suhu, adalah Kokoh-ku".
Tidak kepalang gusarnya Siao-liong-li mendengar jawaban
ini hingga seluruh tubuhnya gemetar, mendadak darah segar
menyembur keluar dari mulutnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Kokoh, Kokoh !" Nyo Ko berteriak-teriak bingung melihat
keadaan orang.
Mendengar orang terus-menerus masih panggil demikian
padanya, dengan sorot mata yang gemas tiba-tiba Siao-liong-li
angkat telapak tangannya terus hendak digablokkan ke kepala
Nyo Ko. Tetapi, perlahan-lahan, sorot matanya dari gemas dan
menyesal tadi berubah menjadi benci dan dendam, lalu dari
benci dan dendam berganti lagi menjadi sayang dan kasihan.
"Baiklah kalau begitu, selanjutnya jangan kau bertemu
dengan aku lagi," dengan menghela napas panjang akhirnya
ia berkata dengan lirih dan lemah.
Habis berkata, ia kebas lengan bajunya yang panjang
terus putar tubuh dan lari pergi dengan cepat turun ke bawah
gunung.
"Kokoh, Kokoh! Ke mana kau ? Akut ikut bersama kau !"
Nyo Ko berteriak-teriak.
"Jika kau ketemu lagi dengan aku, mungkin sulit ku
ampuni jiwamu," sahut Siao-liong-li tiba-tiba sambil menoleh.
Dalam bingungnya Nyo Ko semakin tak tahu apa yang
harus dilakukannya. Karena tertegunnya ini, sementara
bayangan Siao-liong-li sudah menghilang diantara jalan
pegunungan yang menurun itu. Sungguh tidak kepalang
berdukanya Nyo Ko hingga dia menangis tergerung-gerung.
Sungguh tidak dimengerti olehnya sebab apakah dia
membikin gurunya begitu marah hingga kelakuannya begitu
aneh. Kenapa sang guru bilang mau jadi isterinya, pula
melarang dia memanggil Kokoh lagi padanya ? Semua ini
membuatnya bingung.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ya, tentu urusan ini ada hubungannya dengan ayah
angkatku, pasti dia yang bikin marah Suhu." demikian
akhirnya Nyo Ko menarik kesimpulan sesudah berpikir lama.
Lalu ia pergi ke dekat Auwyang Hong lagi, di sana ia lihat
orang tua ini sedang berdiri tegak dengan kedua matanya
terbelalak tanpa berkedip.
"Ayah, sebab apakah kau membikin marah guruku ?"
segera Nyo Ko bertanya.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menjawab, hanya
terdengar mulutnya menggumam sendiri: "Kiu-im-cin-keng,
Kiu-im-cin-keng !"
"He, kenapa kau tutuk jalan darah guruku hingga bikin dia
begitu marah ?" kembali Nyo Ko tanya lagi.
Namun Auwyang Hong tetap tak menjawab, ia berkata
seorang diri pula: "Sebenarnya harus dijalankan ke atas atau
ditekan ke bawah ?"
"He, ayah," teriak Nyo Ko akhirnya, ia menjadi tak sabar,
"aku tanya kau tentang Suhu, katakanlah, apa yang telah kau
lakukan terhadap dia?"
"Siapa gurumu ? Siapa aku ? siapakah Auwyang Hong ?"
tiba-tiba Auwyang Hong berteriak-teriak sendiri.
Melihat penyakit gila orang kumat lagi, Nyo Ko jadi kuatir
tercampur kasihan.
"Ayah, tentu kau sudah letih, marilah mengaso ke dalam
gubuk," ajaknya kemudian.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi mendadak Auwyang Hong berjumpalitan dan tahutahu
tubuhnya sudah menjungkir sambil berteriak-teriak :
"Siapakah aku ini ? siapakah aku ini ? Dimanakah Auwyang
Hong ?"
Berbareng itu kedua tangannya bergerak tak keruan,
tubuhnya yang menjungkir pun berputar cepat, dengan kepala
di bawah secepat angin Auwyang Hong berlari-lari ke bawah
gunung.
"Ayah, ayah!" dalam bingungnya Nyo Ko coba menarik
orang.
Siapa duga mendadak Auwyang Hong memancal dengan
sebelah kakinya dan dengan tepat mengenai rahang Nyo Ko,
Depakan ini sedikitpun ternyata tak kenal ampun hingga Nyo
Ko tak tahan berdiri tegak lagi, ia jatuh terjengkang.
Ketika dia berdiri lagi, sementara itu Auwyang Hong sudah
pergi jauh dan sekejap saja lantas menghilang dari
pandangan.
Dengan terkesima Nyo Ko terpaku di tempatnya, entah
perasaan apa waktu itu yang dia rasakan. Suasana
sekelilingnya seakan-akan sunyi senyap, sayup-sayup hanya
diselingi oleh suara berkicaunya burung.
"Kokoh ! Ayah ! Kokoh ! Ayah !" akhirnya Nyo Ko
berteriak-teriak seorang diri.
Sudah tentu tiada sesuatu sahutan dari kedua orang yang
dipanggil itu, yang ada hanya suaranya sendiri yang
berkumandang balik dari lembah pegunungan yang luas itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam keadaan demikian Nyo Ko menjadi putus asa,
perasaannya seakan-akan hancur. Maklumlah, selama
beberapa tahun ini boleh dikatakan tak pernah dia berpisah
dengan Siao-liong-li, hubungan mereka begitu rapat bagai ibu
dan anak, kini mendadak tanpa diketahui apa sebabnya orang
pergi begitu saja, sudah tentu tidak keruan rasa hatinya.
Dalam putus asanya itu dan memang perasaan halus Nyo
Ko lain dari pada orang biasa, maka hampiri saja dia mau
bunuh diri. Syukur dia masih bisa berpikir panjang, lapat-lapat
timbul semacam harapan bahwa gurunya yang pergi
mendadak itu mungkin akan kembali juga secara mendadak.
Meski Kokoh dibikin marah ayah angkatnya, namun dirinya
toh tiada berbuat sesuatu kesalahan, tentu sang guru akan
kembali lagi mencari padanya, begitulah dia pikir.
Tentu saja malam itu ia lewatkan sendirian dengan tak
bisa tidur, beberapa kali, asal terdengar sesuatu suara
gemerisik, segera ia melompat bangun menyangka Siao-liongli
yang kembali, ia berteriak dan memanggil-manggil dan
berlari keluar, namun setiap kali selalu ia kecewa dan cemas.
Begitulah dia sibuk semalam suntuk merindukan Siaoliong-
li sampai fajar menyingsing.
"Jika Suhu tidak mau kembali, biarlah aku yang pergi
mencari dia," tiba-tiba terpikir olehnya, "Asal bisa ketemukan
dia, tidak peduli bagaimana dia akan menghajar atau
mendamperat aku, yang pasti aku tak akan berpisah lagi
dengan dia."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ketabahannya banyak
bertambah. Segera ia bebenah seperlunya, ia bugkus pakaian
sendiri dan milik Siao-liong-li kedalam sepotong kain, ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
gendong di punggungnya lalu dengan langkah lebar ia turun
ke bawah gunung.
Sepanjang jalan ia coba menanya penduduk di tepi jalan
apakah ada melihat seorang nona putih yang cantik lewat di
situ, Tetapi beruntun ia tanya beberapa orang, semuanya
hanya goyang kepala menyatakan tak tahu.
Karena itu, akhirnya Nyo Ko menjadi gopoh, dengan
sendirinya cara bertanya kemudian menjadi kurang sopan,
Dan para penduduk yang ditanya itu sebaliknya mendongkol
juga melihat pemuda seperti Nyo Ko ini selalu mencari tahu
tentang nona cantik segala, dengan sendirinya lalu ada orang
yang ingin tahu untuk apa dia cari dan siapa nona ayu itu,
pernah apakah dengan dia.
Sebaliknya Nyo Ko jadi marah-marah oleh pertanyaan
kembali itu. "ltu kau tak perlu urus, aku hanya ingin tahu kau
melihat dia lewat di sini tidak ?" demikian dalam gusarnya Nyo
Ko tak sadar kata-katanya ini halus atau tidak."
Sedang orang yang ditanya tentu saja marah juga melihat
sikap Nyo Ko ini, syukur setelah terjadi ribut-ribut, dari
samping seorang tua telah memisah, lalu orang tua ini
menunjuk ke satu jalanan kecil di jurusan timur dan berkata
pada Nyo Ko:
"Semalam aku melihat satu gadis secantik bidadari menuju
ke arah timur, tadinya aku menyangka dia itu Koan-im-po-sat
(Budha Satwa) yang menjelma, siapa tahu dia kenalan baik
saudara..."
Mendengar kabar ini, tidak menanti orang selesai bicara,
Lekas-lekas Nyo Ko menghaturkan terimakasih terus memburu
ke jalan kecil menurut arah yang ditunjuk itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi begitu ia mungkur, orang banyak tertawa ramai,
Kiranya karena kelakuan Nyo Ko yang tak punya sopan
santun, maka orang tua tadi sengaja mempermainkan dia.
Namun Nyo Ko sama sekali tak tahu kalau dirinya telah
didustai orang, ia masih memburu ke jurusan itu dengan
cepat, Lewat tak lama, tiba-tiba didepan terdapat simpang
jalan tiga jurusan, ia menjadi bingung ke arah mana harus dia
tempuh.
"Biasanya Kokoh tak suka tempat ramai, tentu dia pilih
jalanan kecil yang sepi," demikian Nyo Ko pikir sendiri, Habis
ini lantas dipilihnya jalanan kecil yang membelok ke kiri.
Siapa duga jalanan kecil ini makin Iama makin lebar dan
sesudah menikung beberapa kali, akhirnya malah menembus
satu jalan raya.
Waktu itu hari sudah magrib, Nyo Ko sendiri sudah sehari
semalam tak makan tak minum, perutnya sudah keruyukan,
dilihatnya di depan sana rumah berderet-deret dan gedung
berjajar-jajar, nyata ada satu kota yang cukup ramai.
Cepat Nyo Ko menuju ke kota dan masuk sebuah hotel
(pada umumnya hotel merangkap restoran), lalu ia
menggembor minta disediakan daharan.
Tak lama pelayan sudah antar santapan sederhana ke
hadapan Nyo Ko, tetapi baru beberapa kali sumpitan saja anak
muda ini tak punya napsu maka lagi, karena merasa kesal,
tenggorokannya penjadi seret dan tak bisa menelan.
"Meski hari sudah mulai gelap, tapi lebih baik lekas aku
pergi mencari Kokoh saja, bila malam ini dibiarkan lewat,
untuk selanjutnya mungkin sukar bertemu lagi," demikian pikir
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko. Oleh karenanya segera ia taruh mangkok nasinya dan
memanggil pelayan."
"Aku ingin tanya kau, pelayan," kata anak muda ini
sesudah petugas itu datang.
"Boleh saja, tuan, katakanlah ! Apakah karena santapan ini
tidak cocok dengan lidah tuan, biarlah hamba membuatkan
yang lain, tuan suka masakan apakah ?" demikian sahut si
pelayan mencerocos.
"Tidak, aku tidak maksudkan makanan," kata Nyo Ko
sambil goyang-goyang tangannya "Tetapi aku ingin tanya,
apakah kau melihat seorang gadis jelita berbaju putih lewat di
sini ?"
"Baju putih ?" si pelayan menggumam sendiri "He, apakah
nona itu sedang berkabung ? Ada keluarganya yang
meninggal bukan ?"
Begitulah si pelayan mencerocos tak keruan dari
menyimpang dari pertanyaan orang, Keruan Nyo Ko sangat
mendongkol.
"Aku hanya tanya kau, lihat atau tidak ?" mengulanginya
lagi.
"Wanita sih memang ada, juga orang pakai baju putih"
"Dan menuju ke arah mana ?" tanya Nyo Ko cepat dan
girang.
"Tetapi sudah hampir setengah hari dia lewat tadi!" sahut
pelayan itu. Habis ini tiba-tiba ia pelahankan suaranya seperti
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kuatir didengar orang, lalu menyambung lagi: "Adalah lebih
baik jangan pergi mencari dia !"
Merasa mendapatkan jejak Kokoh yang dicari, dalam
girangnya Nyo Ko terkejut pula mendengar perkataan orang
itu, "Se... sebab apa ?" tanyanya dengan suara rada gemetar
"Coba aku tanya dahulu, tuan tahu bahwa wanita itu
pandai silat ?" tiba-tiba pelayan itu menanya.
"Kenapa aku tak tahu ?" demikian Nyo Ko membatin, Maka
dengan cepat ia menjawab : "Su-dah tentu tahu, dia memang
pandai silat."
"Nah, kalau begitu untuk apa kau mencari dia ? Bukankah
sangat berbahaya ?" kata si pelayan pula.
"Sebab apakah sebenarnya ?" Nyo Ko menjadi bingung.
"Coba terangkan dulu, pernah apakah gadis baju putih itu
dengan tuan ?" tanya si pelayan.
Nyo Ko mengerti kalau tidak sekadar menerangkan,
agaknya orang tak mau ceritakan ke mana perginya Siaoliong-
li, maka terpaksa ia menjawab: "Dia adalah Enci-ku, aku
sedang cari dia."
Mendengar jawaban ini, seketika pelayan itu berubah
sangat hormat pada Nyo Ko, Tetapi hanya sekejap saja, sebab
segera si pelayan geleng-geleng kepala "Tidak, tidak sama !"
katanya tiba-tiba.
Bukan main mendongkolnya Nyo Ko oleh kelakuan si
pelayan, saking gopohnya sekali jamberet dia cengkeram baju
orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sebenarnya kau mau katakan tidak ?" bentaknya gusar.
Melihat Nyo Ko naik darah, mendadak si pelayan meleletlelet
Iidahnya.
"Persis, persis ! Kalau begini baru sama !" demikian
katanya.
"Kurangajar, apa-apaan ini sebentar sama sebentar tidak
sama, apa maksudmu ?" damperat Nyo Ko.
"Le lepaskan dahulu, siauya (tuan muda), leherku
tercekik.,.he he... aku tak bisa buka suara," sahut si pelayan
dengan suara terputus-putus.
Melihat rupa orang dasarnya memang ceriwis, percuma
saja meski pakai kekerasan, maka Nyo Ko lantas lepaskan
tangannya.
"Siauya," tutur si pelayan kemudian sesudah berdehem
beberapa kali, "aku bilang tidak sama, soalnya karena
perempuan... eh, Enci-mu itu, tampaknya lebih cakap dan
lebih muda daripada kau, pantasnya dia mirip adikmu dan
bukan kakak. Aku bilang sama, sebab kalian berdua samasama
berwatak keras, sama-sama bertabiat suka angkat
senjata dan main kepalan."
Nyo Ko tertawa oleh cerita itu.
"Apakah Enci-ku telah berkelahi dengan orang ?" tanyanya
kemudian.
"Betapa tidak ?" sahut pelayan itu, "Tidak hanya berkelahi,
bahkan telah melukai orang. Coba lihat itu !" - Berbareng ia
menunjuk beberapa bekas bacokan senjata tajam di bawah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
meja, lalu dengan muka berseri-seri ia sambung pula : "Walau
kejadian tadi itu sunguh berbahaya, memang kepandaian
Enci-mu sangat hebat, hanya sekali ta-bas saja sebelah kuping
Toya (tuan imam) itu lantas kena di-irisnya."
"Apa katamu ? Toya apa ?" tanya Nyo Ko terkejut.
"Ya, dia itu..." baru berkata sampai disini, sekonyongkonyong
muka si pelayan berubah hebat, seketika ia
mengkeret terus mengeluyur pergi.
Nyo Ko memang luar biasa cerdiknya, melihat kelakuan si
pelayan tadi, ia tak menegur juga tak menyusulnya,
sebaliknya ia angkat mangkok nasi-nya tadi terus menyumpit
daharannya lagi, Pada saat lain, terlihatlah olehnya ada dua
Tojin muda masuk ke dalam hotel.
Usia kedua imam ini kira 26-27 tahun saja, jubah
pertapaan mereka bersih dan rajin sekali, mereka ambil
tempat duduk pada meja disamping Nyo Ko. Lalu imam yang
beralis tebal panjang tiada hentinya berteriak-teriak mendesak
diantari arak dan daharan.
Dengan muka ber-seri si pelayan lekas-lekas meladeni
kedua tetamunya itu, pada suatu kesempatan ia mengedipi
matanya pada Nyo Ko sambil mulutnya merot-merot ke
jurusan kedua imam itu.
Nyo Ko pura-pura tidak tahu, ia masih terus menyumpit
santapannya dengan asyik, Kini dia betul-betul merasa lapar,
apalagi kabar Siao-liong-Ii sudah diperoleh, hatinya menjadi
lega dan gembira, maka tanpa terasa beberapa kali isi
mangkoknya telah ditambah dan dilangsir ke dalam perutnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Baiknya pakaian Nyo Ko memang sederhana, apalagi
sudah sehari semalam ia susul Siao-liong-li hingga seluruh
badannya penuh debu dan mukanya kotor, oleh sebab itu
kedua imam tadi sama sekali tidak perhatikan padanya
melainkan asyik bercakap-cakap sendiri dengan suara
pelahan.
Sebaliknya Nyo Ko semakin pura-pura, ia kecap-cap
mulutnya dan mainkan lidahnya, dia sengaja makan begitu
rupa hingga mengeluarkan suara keras, habis itu ia angkat
semangkok wedang panas dan diseruput dengan bernapsu,
akan tetapi telinganya justru dia pasang, untuk mendengarkan
apa yang sedang dipercakapkan kedua Tojin atau imam itu.
"Bi-sute, menurut pendapatmu, malam ini Han-cecu dan
Tan-lokunsu bakal datang tidak ?" demikian ia dengar imam
yang beralis tebal tadi sedang berkata.
Imam satunya lagi bermulut Iebar, suaranya kasar serak
dan terdengar dia menjawab: "Kedua orang ini adalah laki-laki
gagah perkasa yang bersahabat kental dengan Thio-susiok,
kalau Thio-susiok sudah mengundangnya, tidak boleh tidak
mereka pasti akan datang."
Nyo Ko terkesiap hatinya demi mendengar orang
menyinggung nama "Thio-susiok". pikirnya dalam hati:
"Jangan-jangan Thio-susiok yang mereka maksudkan adalah
guruku yang dahulu, Thio Ci-keng ?"
Ia jadi curiga kenapa kedua imam ini belum pernah
dilihatnya di Tiong-yang-kiong, ketika ia melirik dan
mengamat-amati orang, ternyata tiada yang dia kenal.
"Boleh jadi karena jauhnya perjalanan, dia tak keburu
datang" demikian imam alis tebal tadi berkata lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"He, Ki-suheng, kau ini memang suka takut ini dan kuatir
itu," demikian sahut imam she Bi tadi, "Hanya seorang
perempuan saja, berapa besarkah kemampuannya."
"Ya, sudahlah, marilah minum, jangan dibicarakan lagi,"
begitulah imam she Ki memotong.
Kemudian ia memanggil pelayan hotel dan minta
disediakan satu kamar kelas satu, nyata mereka juga
bermalam disini.
Sementara itu Nyo Ko sedang memikirkan isi percakapan
kedua imam tadi, ia dapat meraba tentu orang bermaksud cari
setori pada Suhu-nya, mungkin disebabkan ada kawan
kecundang, maka "Thio-susiok" tampil kemuka untuk
mengundang seseorang she Han dan seorang she Tan sebagai
bala bantuan, kalau terus kintil kedua imam ini, tentunya akan
bisa bertemu dengan Suhu.
Berpikir akan ini, hati Nyo Ko menjadi gembira sekali,
Sudah jelas kedua imam ini adalah musuh gurunya, tapi
dengan petunjuk mereka nanti akan ketemukan sang guru,
maka terhadap mereka ternyata tiada timbul perasaan benci,
ia tunggu sesudah kedua imam itu masuk kamar mereka,
kemudian ia sendiripun minta disediakan sebuah kamar di
sebelah kamar imam-imam itu.
"Siauya, baiklah kau hati-hati sedikit, Enci-mu telah iris
kuping seorang Toya, tentu mereka akan menuntut balas,"
demikian si pelayan membisiki Nyo Ko ketika datang ke
kamarnya membawakan lampu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sungguh aku tidak mengerti, Enci-ku biasanya sangat
sabar, kenapa mendadak dia bisa me-ngiris kuping orang ?"
kata Nyo Ko dengan suara lirih.
"Terhadap kau tentu saja baik, tetapi terhadap orang lain
mungkin tidak menjadi baik," kata si pelayan pula dengan
suara yang dibikin-bikin "Enci-mu tadi sedang bersantap disini
dan Toya yang sial itu duduk di sebelahnya, hanya disebabkan
Toya itu melirik beberapa kali pada kaki Enci-mu, siapa tahu
Enci-mu lantas naik darah terus lolos senjata dan melabrak
orang."
BegituIah si pelayan mencerocos terus, dan masih hendak
dilanjutkannya, namun Nyo Ko sudah mendengar lampu di
kamar sebelah telah disirapkan, maka cepat ia memberi tanda
agar si pelayan tak perlu cerita lagi.
"Kurangajar, tentu imam busuk itu terus-menerus
mengincar Kokoh karena kecantikannya hingga akhirnya
Kokoh menjadi marah," demikian Nyo Ko menggerutu sendiri
setelah pelayan itu pergi.
Habis ini segera iapun padamkan lampunya, malam ini ia
memang tidak ingin tidur lagi, ia hanya duduk sambil pasang
kuping untuk mengikuti sesuatu gerak-gerik di kamar sebelah.
BegituIah Nyo Ko berjaga sampai tengah malam, tiba-tiba
didengarnya pelataran luar bersuara keresek dua kali,
menyusul seperti ada orang melompat masuk ke bagian dalam
melintasi pagar tembok. Habis itu jendela kamar sebelah
terdengar dibuka dan imam yang she Ki itu membuka suara :
"Apakah Han dan Tan berdua ?"
"Ya," terdengar suara sahutan seorang yang berada di
pelataran sana.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Silakan masuklah!" demikian kata imam she Ki lagi.
Menyusul itu pintu kamar pelahan dibuka, lampu telah
dinyalakan juga.
Tentu saja Nyo Ko sangat tertarik, ia kumpulkan seluruh
perhatiannya untuk mendengarkan percakapan mereka
berempat itu.
"Tecu Ki Jing-hi dan Bi Jing-hian memberi hormat pada
Han-cecu dan Tan-lokunso," terdengar imam she Ki bersuara
pula.
Mendengar nama kedua imam itu, diam-diam Nyo Ko
membatin: "Ternyata mereka bukan orang dari Tiong-yangkiong,
tetapi nama mereka memakai urut-urutan Jing, mereka
terhitung juga orang dari Coan-cin-pay."
"Begitu kami terima undangan Thio-susiok kalian, segera
kami memburu kesini," terdengar suara sahutan yang tajam
"Apakah betul perempuan hina itu sangat sulit dilawan ?"
"Sungguh memalukan untuk diceritakan," demikian kata Ki
Jing-si lagi, "Dari golongan kami sudah ada dua anak murid
yang ber-turut-urut dilukai perempuan hina-dina itu."
"Sebenarnya dari aliran manakah ilmu silat perempuan itu
?" tanya orang yang bersuara tajam tadi.
"Thio-susiok bilang dia adalah ahli waris dari Ko-bong-pay,
oleh sebab itu, meski usianya masih muda, namun
kepandaiannya sesungguhnya sangat hebat," sahut Ki Jing-si.
Diam-diam Nyo Ko menjengek demi mendengar orang
sebut "Ko-bong-pay."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ko-bong-pay apakah ?" rupanya orang yang bersuara
tajam itu tak mengerti.
"Menurut Thio-susiok, orang dari golongan mereka itu
selamanya jarang sekali berkecimpung di kalangan Kangouw,
sebab itu nama mereka tidak terkenal dalam Bu-lim, pantas
kalau Han-cecu tidak kenal," demikian sahut Ki Jing-si.
"O, kalau begitu, agaknya tiada perlu dipandang berat,"
kata orang yang dipanggil Han-cecu itu. "Dan di mana besok
harus bertemu ? Pihak lawan mendatangkan berapa orang ?"
"Thio-susiok telah janji dengan wanita itu untuk bertemu
besok lohor di lembah Cay-long-kok yang 40 li jauhnya dari
sini ke jurusan barat, di sana kedua pihak akan menentukan
siapa yang unggul dan siapa yang asor," Ki Jing-si
menjelaskan.
"Soal pihak lawan ada berapa orang, itulah aku tidak tahu.
Tetapi kalau sudah ada Han-cecu dan Tan-lokunsu yang
membantu kami, tak perlu lagi kita takut meski mereka
berkawan banyak."
Lalu terdengar suara seorang tua berkata : "Baiklah kalau
begitu, kami pasti datang tepat besok lohor, Marilah, Hanlaute,
kita pergi."
Lalu Ki Jing-si mengantar tetamunya keluar kamar, sampai
di depan pintu, dengan suara bisik-bisik terdengar ia pesan
orang: "Tidak jauh ke Tiong-yang-kiong, urusan kita akan
bertanding dengan orang sekali-kali jangan sampai diketahui
Ma, Khu dan Ong (maksudnya Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Juit),
kalau sampai konangan, pasti kita akan didamperat habishabisan."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Han-cecu bergelak ketawa oleh pesan itu. "Kalian takut
pada Ma Giok dan Khu Ju-ki imam-imam tua itu, kami
sebaliknya tidak berada dibawah perintahnya," demikian
katanya.
"Sudahlah, jangan kau kuatir," demikian Tan-lokunsu
menjelak, "pasti kami tidak membocorkan rahasia ini."
Mendengar percakapan terakhir mereka ini, diam-diam
Nyo Ko membatin, kiranya mereka hendak keroyok Kokoh dan
para imam tua sebangsa Ma Giok itu tiada yang mengetahui.
Meski Nyo Ko tidak berkesan baik pada Coan-cin-kau, tetapi
bila mengingat Ma Giok dan Khu Ju-ki toh tidak jelek juga
terhadap dirinya, karenanya terhadap kedua imam tua itu dia
tidak dendam, hanya kepada Hek Tay-thong yang
membinasakan Sun-popoh itulah dia telah ambil keputusan
kelak pasti akan menuntut balas.
Dalam pada itu keempat orang yang diluar itu sesudah
berunding dengan suara pelahan lagi, kemudian Han-cecu dan
Tan-lokunsu pergi dengan melompati pagar tembok lagi, Ki
Jing-si dan Bi Jing-hian mengantar juga keluar, keadaan
menjadi sepi.
Tiba-tiba pikiran Nyo Ko tergerak, segera ia buka pintu
pelahan, dengan cepat ia menyelinap masuk kamar kedua
imam di sebelah itu,
Ia lihat di atas pembaringan kamar itu terletak dua
buntalan, ia ambil satu bungkusan itu dan merogoh isinya,
kiranya di dalam ada uang perak sekira 20 tahil.
"Ha, kebetulan, memangnya aku lagi kekurangan duit,"
demikian pikir Nyo Ko, Lalu ia pin-dahkan uang perak itu
kedalam sakunya sendiri.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ia lihat lain bungkusan rada panjang, kiranya berisi dua
batang pedang, sengaja Nyo Ko lolos pedang itu satu per satu
dan dengan tekanan tenaga berat ia patahkan garan pedang
lalu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dan dibungkus
lagi dengan rapi.
Selagi ia hendak keluar kembali, tiba-tiba pikirannya
tergerak pula, ia lepas kolor dan buka celana terus kencingi
kasur di kolong selimut kedua imam itu hingga basah kuyup.
Sementara itu ia dengar di luar ada suara orang melompati
pagar, ia tahu tentu kedua imam itu telah kembali, dapat
diketahuinya pula bahwa ilmu entengkan tubuh kedua imam
itu ternyata biasa saja, sebab tak mampu sekali lompat
melintasi pagar tembok, melainkan harus tancapkan kaki
dahulu di atas pagar untuk kemudian baru loncat turun.
Lekas-lekas Nyo Ko menyelusup kembali ke kamarnya
sendiri, ia tutup pintu kamarnya dengan pelahan, nyata sama
sekali kedua imam itu tak merasa bahwa mereka sedang
diincar orang, sesudah di kamarnya sendiri, Nyo Ko pasang
kuping ke dinding kamar untuk mendengarkan gerak-gerik
dan suara-suara apa yang bakal terjadi di kamar sebelah.
Ia dengar kedua imam itu masih berembuk dengan suara
rendah, agaknya mereka cukup yakin bakal menang akan
pertarungan besok, maka sembari bicara merekapun buka
baju dan naik pembaringan untuk tidur.
Tetapi baru saja Bi Jing-hian memasukkan kakinya ke
dalam selimut, mendadak ia berteriak: "He, apa ini basahbasah
becek di dalam selimut ? Ai, baunya! He, Ki-suheng,
sudah tua, kenapa kau masih ngompol ?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Apa? Ngompol?" sahut Ki Jing-si bingung, Tetapi segera
pula ia sendiri ikut berteriak: "He, ya, darimanakah kucing
keparat yang kencing di sini ?"
"Kencing kucing mana bisa begini banyak," ujar Bi Jinghian.
"Ya, memang aneh," kata Ki Jing-sin habis ini tibal ia
berteriak pula : "He, dimanakah uang perak kita ?"
BegituIah seluruh kamar menjadi geger dan kacau-balau,
kedua imam ini sibuk mencari uang perak mereka, Sudah
tentu mereka tidak bakal menemukannya.
Diam-diam Nyo Ko sangat senang dan merasa geli,
sementara itu ia dengar Bi Jing-hian sedang berteriak-teriak
lagi. "He, pelayan, pelayan ! Apakah hotelmu ini hotel
perampok, mengapa tengah malam buta mencuri uang tamu
?"
Karena suara ribut-ribut ini, pelayan hotel datang
menanyakan sambil masih kucek-kucek matanya yang sepat.
Tak terduga segera Bi Jing-hian pegang baju dada si
pelayan dan menuduh hotel ini adalah hotel perampok,
kenapa malam-malam gasak uang tetamu.
Tentu saja si pelayan tak mau terima tuduhan itu,
terdengar dia berteriak penasaran, dengan sendirinya pegawai
hotel lainnya dimulai dari tukang api sampai pada kuasa hotel
lantas terjaga semua dari tidur mereka dan merubung datang,
menyusul pula para tetamu lainpun beruntun-runtun ikut
terbangun dan beramai-ramai datang menonton keributan itu.
Dan diantara mereka terdapat pula si nakal, Nyo Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah dengan menahan perasaan geli Nyo Ko melihat
pelayan hotel itu sedang "main pidato", dasar pelayan ini
memang ceriwis pula pandai bicara, maka Bi Jing-hian dan Ki
Jing-si berdua telah terdesak oleh debatannya hingga tak
sanggup berkata lagi.
Kemamakah perginya Siao-liong-li? Dapatkah Nyo Ko
menemukannya serta mengawininya ?
Siapakah wanita galak yang ditantang duel oleh imam-imam
Coan-cin-pay sampai mengundang bala bantuan ? Apakah
Siao-liong-li?
- Bacalah jilid ke- 12 -
Jilid 12
Dari malu Bi Jing-hian menjadi gusar, begitu ayun
tangannya, kontan ia persen si pelayan dengan sekali
tamparan. Keruan pelayan itu menjadi kalap tanpa pikir lagi ia
menubruk maju hendak adu jiwa. Namun sebelum dia datang
dekat, menyusul kaki Bi Jing-hian sudah melayang, ia tambahi
si pelayan dengan sekali tendangan hingga pelayan itu
terjungkal.
Melihat imam ini tanpa sebab memukul orang, keruan
pegawai-pegawai hotel lainnya sama solider, mereka berteriak
dan beramai-ramai merangsang maju hendak mengeroyok.
Sudah tentu beberapa orang yang tak masuk hitungan ini
sekali-kali bukan tandingan kedua imam itu, hanya sekejap
saja, baik kuasa hotel, tukang api dan Lain-lainnya telah
mendapat hajaran malah.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Senang sekali Nyo Ko menyaksikan peristiwa hasil
perbuatannya itu, dengan geli ia kembali ke kamarnya sendiri
untuk tidur lagi, ia tidak pusingkan apa yang terjadi lebih
lanjut dari lelakon di luar itu.
Besoknya, selagi Nyo Ko sarapan pagi, dilihatnya si
pelayan yang ceriwis itu sedang mendatangi dan menyapa
padanya, mukanya tampak babak-belur dan hidung bengkak,
meski demikian toh pelayan ini masih tiada hentinya mencaci
maki tentang kejadian semalam.
"Mana kedua imam bangsat itu ?" dengan tertawa Nyo Ko
coba bertanya.
"Hm, memang imam bangsat keparat, sudah pukul orang,
masih gegares percuma dan tinggal gratis, habis itu lantas
angkat kaki," demikian kata si pelayan dengan marah-marah.
"Hm, hari ini pasti akan kulaporkan ke Tiong-yang-kiong,
biasanya imam-imam di Cong-lam-san ini semuanya sopansantun,
entah darimana mendadak bisa muncul imam bangsat
liar seperti mereka ini."
Nyo Ko tidak ketarik lagi oleh obrolan orang, segera ia
bereskan rekening hotel dan menanya jalan yang menuju ke
Cay-long-kok atau lembah srigala, kesanalah dia lantas pergi.
Tidak antara lama Nyo Ko sudah menempuh perjalanan
sejauh dua puluhan li, Cay-long-kok atau "lembah srigala" itu
sudah tidak jauh lagi di depan, cuaca waktu itu agaknya masih
pagi, maka keadaan sepi-sepi saja.
"Biarlah aku sembunyi dahulu dan menyaksikan cara
bagaimana Kokoh bereskan kawanan pengganas itu, paling
baik kalau Kokoh seketika tak bisa mengenali aku," demikian
diam-diam Nyo Ko berpikir.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Segera pula teringat olehnya tempo hari pernah
menyamar sebagai anak gunung dan telah berhasil
mengingusi Ang Ling-po, teringat akan ini hati Nyo Ko menjadi
geli, ia ambil keputusan hendak meniru cara itu sekali lagi,
segera dia mendatangi satu rumah petani, ia longak-longok ke
sana ke sini, tiada seorang pun yang dia lihat, di kandang
hewan di belakang rumah itu ia lihat ada seekor sapi jantan
yang besar yang rupanya sedang mengamuk, binatang ini
sedang tunduk kepala dan gunakan tanduknya untuk
menyongkel dan menumbuk pagar kayu yang melingkarinya,
begitu keras tumbukannya hingga terdengar suara
gedubrakan yang tiada henti-hentinya.
Nampak adanya sapi jantan besar ini, tiba-tiba Nyo Ko
mendapatkan satu pikiran. "He, kenapa aku tidak menyamar
sebagai penggembala sapi saja, biar Kokoh melihat diriku juga
pasti tak kenal aku lagi." demikian keputusannya.
Begitulah diam-diam Nyo Ko lantas melompat masuk ke
dalam rumah, ia cari barang lain yang sekiranya cocok
baginya, akhirnya dapatlah dia ambil sepasang baju petani
yang sudah robek, ia ganti pakai sepatu rumput pula dan
poles mukanya dengan lumpur agar kelihatan kotor dan lebih
mirip bocah angon, habis ini ia mendekati kandang sapi tadi.
Di dinding kandang dapat dilihatnya pula tergantung
sebuah caping dan sebatang suling, kedua ini memang barang
yang biasa suka dipakai oleh anak gembala. Keruan Nyo Ko
sangat girang, ia pikir penyamarannya sekali ini pasti akan
menjadi mirip sangat Karena itu tanpa pikir lagi ia pakai
caping yang diketemukannya itu, ia ambil seutas tali rumput
pula dan dipakai sebagai ikat pinggang, lalu suling bambu itu
ia selipkan di pinggangnya dan kemudian dia membuka pintu
kandang sapi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu sapi jantan raksasa itu sedang mengamuk,
binatang ini jadi lebih beringas lagi ketika melihat ada orang
membuka pintu kandang, tanpa ayal lagi segera ia pentang
kaki terus menerjang keluar hendak menyeruduk Nyo Ko.
Namun Nyo Ko sudah siap sedia, dengan telapak tangan
kiri ia tahan kepala sapi jantan (atau banteng) itu, di lain saat
ia sudah meloncat ke atas punggung binatang itu.
Sapi ini ternyata sangat tinggi dan besar, bulunya panjang
dan tanduknya lancip tajam, tampaknya sangat perkasa sekali,
maka dengan sekali terjang sekejap saja sudah menyelonong
sampai di jalan besar dengan Nyo Ko masih menunggang di
atas punggungnya.
Rupanya sapi jantan ini sedang birahi, maka wataknya
menjadi beringas luar biasa, tiada hentinya ia meloncat-loncat
dan berjingkrak-jingkrak dengan maksud hendak banting Nyo
Ko ke bawah. Akan tetapi mana begitu gampang Nyo Ko bisa
dibikin terperosot dari tempatnya, bahkan ia menjadi senang
oleh kelakuan si binatang.
"Ha, rupanya kau minta digebuk," dengan tertawa Nyo Ko
membentak. Habis ini ia angkat telapak tangan dan dengan
pinggiran telapak tangan ia hantam pundak sapi itu dengan
pelahan.
Kalaupun pukulan ini hanya memakan sedikit tenaga saja,
namun bagi sapi itu sudah tak tertahan rasa sakitnya,
keempat kakinya seketika lemas dan hampiri mendoprok tekuk
lutut, tentu saja binatang ini tak mau menyerah begitu saja,
masih melompat dan hendak mengamuk lagi, tak terduga
kembali Nyo Ko beri persen sekali potong lagi dengan telapak
tangan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dan begitulah seterusnya, sesudah merasakan belasan kali
gebukan seperti itu, akhirnya sapi jantan itu menjadi kapok
dan tak berani ngotot lagi.
Kemudian Nyo Ko mencoba jojoh kiri leher binatang itu
dengan jari tangannya, segera sapi itu membelok ke kanan
dan bila menjojoh sebelah kanan lantas dia menikung ke kiri,
kalau diketok pantatnya, segera ia lari ke depan, dan jika
digebuk depan pundaknya, sapi ini lantas mundur ke
belakang, nyata binatang yang tadinya liar itu kini sudah
menjadi jinak dan dapat dikendalikan menurut keinginannya.
Bukan maki girang Nyo Ko, dengan keras ia tepuk pantat
sapi itu, maka larilah binatang itu ke depan seperti kesetanan,
begitu cepat larinya hingga boleh dikatakan tidak kalah
dengan kuda pacuan yang paling bagus. Maka sebentar saja
sesudah menyusuri sebuah rimba lebat, sampailah Nyo Ko di
suatu lembah gunung yang sekitarnya dilingkungi oleh bukitbukit
yang menghijau permai.
Melihat keindahan alam tempat ini, diami Nyo Ko heran
kenapa lembah sebagus ini diberi nama "lembah srigala" yang
sama sekali tidak tepat dengan keadaannya. Kemudiari iapun
giring sapi jantan tadi ke lereng bukit yang terdekat biar
makan rumput sendiri Nyo Ko sengaja pura-pura tidur dengan
merebah di tanah rumput dengan hati berdebar-debar ia
menantikan ketika sang surya sudah menggeser sampai di
tengah langit, tetapi keadaan masih tenang dan sepi nyenyak,
hanya kadang-kadang terdengar suara menguaknya sapi
jantan itu.
Tengah Nyo Ko bertambah gelisah mendadak didengarnya
di mulut lembah sana sayup-sayup berkumandang beberapa
kali suara tepukan tangan, menyusul di belakang bukit sebelah
selatan pun membalas beberapa kali. Maka tahulah Nyo Ko
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sudah tiba waktunya, ia tetap rebah di tanah rumput yang
miring itu, sebelah kakinya sengaja dia tumpangkan keatas
kaki yang lain, capingnya untuk tutupi kaki yang menumpang
dan sebagian mukanya, maka yang kelihatan hanya kaki
kanan saja yang menjulur lurus.
Selang tak lama, tertampaklah dari mulut lembah sana
mendatangi tiga orang Tojin, Dua diantaranya ternyata sudah
Nyo Ko kenal di hotel semalam, yakni Ki Jing-si dan Bi Jinghian,
sedang seorang lagi berumur sekira setengah abad,
perawakannya pendek buntek, agaknya ialah apa yang
mereka sebut sebagai "Thio-susiok" itu.
Melihat "Thio-susiok" yang dimaksudkan orang bukan Thio
Ci-keng yang diduga semula, dalam hatinya timbul semacam
perasaan aneh, entah rasa kecewa atau rasa syukur karena
orang itu lain guru silat tua she Tan.
Habis ketiga imam ini, lalu dari lereng bukit sana muncul
lagi dua orang, yang satu berperawakan kekar, agaknya dia
inilah Han-cecu, Dan yang lain bersilat tua she Tan.
Meski kelima orang ini sudah datang dekat dan sudah
berhadapan pula, namun mereka hanyasaling kiongchiu
(merangkap kedua tangan saling memberi hormat), tiada
satupun yang buka suara, hanya terus berbaris sejajar dan
menghadap ke barat.
Ketika selintas Thio-susiok mendongak memandang
matahari hingga sinar terang menyorot mukanya, dari
samping Nyo Ko dapat melihatnya lebih jelas, ternyata imam
tua ini bermuka kuning, sikapnya tenang sekali dan berTiraikasih
Website http://cerita-silat.com/cc
sungguh-sungguh, sedikitpun tidak punya perasaan
memandang enteng bakal lawannya nanti.
Pada saat itulah, dari mulut lembah sana pula sayup-sayup
terdengar suara menderapnya kaki binatang yang makin
mendekat, ketika kemudian sesosok bayangan putih
berkelebat maka tertampaklah seekor keledai hitam dengan
membawa seorang gadis berbaju putih sedang mendatangi
dengan cepat.
"Ah, dia bukan Kokoh !" hati Nyo Ko seketika lemas demi
melihat siapa yang mendatangi ini. "Apakah dia ini juga bala
bantuan mereka ?" demikian ia pikir dan berharap demikian
pula.
Sementara gadis berbaju putih tadi dengan cepat sudah
makin mendekat, sesudah berjarak antara 78 tombak dari
kelima orang yang duluan tadi, tiba-tiba ia tahan keledainya,
dengan sorot mata yang dingin tetapi tajam ia pandang
sekejap pada mereka, dari muka si gadis nyata tertampak
sikap yang memandang hina dan seperti hakikat-nya tiada
harganya mengajak bicara mereka.
Rupanya Ki Jing-si sudah tak sabar, segera ia berteriak :
"Orang she Liok, nyata kau cukup tabah untuk memenuhi janji
ini, maka boleh sekalian kau suruh keluar saja semua
pembantumu !"
Namun gadis itu tidak menjawab, ia hanya menjengek
sekali dengan tertawa dingin, Berbareng itu, "sret", entah
darimana datangnya, tahu-tahu ia telah lolos keluar sebilah
golok melengkung yang kecil dan tipis laksana bulan sabit
dengan memancarkan sinar putih kehijau-hijauan dan
menyilaukan mata.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"lni, kami seluruhnya ada lima orang, dan pembantumu
ada berapa dan kapan datangnya, kami tak sabar lagi buat
tunggu lebih lama," demikian kata Ki Jing-sj pula memandang.
"lnilah pembantuku yang utama !" sahut gadis itu tiba-tiba
sambil mengayun golok tipisnya tadi.
Begitu tipis dan agaknya saking tajamnya hingga begitu
golok diputar, seketika udara di atas kepala gadis itu seperti
digenangi oleh lingkaran sinar putih dan mengeluarkan suara
mendenging yang nyaring tajam.
Karena jawaban tadi, enam orang termasuk Nyo Ko - yang
lain semuanya menjadi terperanjat.
Kelima orang di sana terkejut oleh sebab seorang gadis
seperti dia ini ternyata begitu besar nyalinya, tanpa mengajak
barang seorang pembantupun berani mengadakan
pertandingan silat dengan lima jago tinggi. Sedang Nyo Ko
sebaliknya terperanjat bercampur kecewa, mula-mula dia
yakin bahwa Siao-liong-Ii pasti akan diketemukannya di sini,
siapa tahu apa yang disebut "si gadis cantik berbaju putih" itu
ternyata adalah seorang nona lain.
Saking masgulnya, seketika dada Nyo Ko seakan-akan
menjadi sesak, perasaannya yang mudah terguncang itu tak
terkendalikan lagi, tiba-tiba ia menggerung-gerung menangis
keras.
Mendengar suara tangisan Nyo Ko yang mendadak ini,
keenam orang itupun terkejut, tapi sesudah mereka tahu yang
menangis adalah seorang bocah gembala yang mungkin
karena ketakutan melihat ada orang hendak berkelahi, maka
mereka pun tidak mengambil perhatian kepadanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu terdengar Ki Jing-si telah buka suara sambil
menunjuk Han-cecu: "lni Wi-cin-lam-pak Han-cecu, yang ini
adalah Tan-lokunsu, tertua dari Ho-siok-sam-hiong, dan ini
adalah Liong-kim-kiam Tio Put-hoan, Tio-totiang !"
Demikian Ki Jing-si memperkenalkan ketiga jagonya
kepada gadis itu, ia mengira sesudah orang mendengar nama
ketiga kawannya itu, tentu akan menjadi jeri dan mundur
teratur. Siapa tahu gadis itu anggap saja seperti tidak
mendengar dan tidak menggubris, ia hanya mengerling orang
dengan sorot mata yang tajam dingin, ia anggap kelima orang
di hadapannya seperti barang-barang sepele belaka
"Karena kau hanya datang seorang diri, kami pun tak mau
bergebrak dengan kau," terdengar Tio Put-hoan angkat bicara,
"Maka kami beri kau tempo sepuluh hari, sepuluh hari
kemudian kau boleh ajak empat orang pembantu dan datang
lagi bertemu kesini."
"Aku sudah bilang ada pembantuku," sahut gadis itu
sambil ayun-ayun golok-sabitnya lagi. "untuk melayani kalian
sebangsa gentong nasi dan guci arak ini masakah perlu pakai
bantuan orang ?" . Keruan Tio Put-hoan menjadi gusar.
"Kau anak dara ini sungguh keterlaluan..."
Sebenarnya ia hendak mendamperat orang, syukur
sebelum diucapkan ia masih bisa menahan api amarahnya dan
menanya pula: "Kau sebenarnya orang Ko-bong-pay atau
bukan ?"
"Kalau betul mau apa dan kalau bukan ada apa ?" sahut
gadis itu ketus. "Hayo, imam tua hidung kerbau, katakan
lekas, kau berani tidak bergebrak dengan nonamu ?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tio Put-hoan sudah rada berumur, maka orangnya cukup
bisa kendalikan diri, ia lihat orang meski seorang diri, tetapi
bukannya jeri, bahkan menantang, maka ia kuatir kalau-kalau
sebelumnya si gadis telah atur perangkap dengan
menyembunyikan bala bantuan.
Oleh sebab itulah lantas dijawabnya: "Nona, aku ingin
tanya kau dahulu. Tanpa alasan kau telah lukai anak murid
golongan kami, sebenarnya disebabkan urusan apakah ? jika
kesalahannya terletak pada pihak kami, tanpa segan-segan
pasti aku akan minta maaf pada gurumu. Tetapi kalau nona
tak bisa mengatakan sesuatu alasannya, hm, jangan kau
sesalkan kami kurang sopan."
"Sudah tentu disebabkan kedua hidung kerbau
golonganmu itu yang kurang ajar, maka kuberi sedikit hajaran
pada mereka," sahut gadis itu dengan tertawa mengejek,
"Kalau tidak, di jagat ini tidak sedikit terdapat sebangsa kutu
busuk, kenapa harus hidung mereka yang ku-iris ?"
Mendengar jawaban yang semakin ketus dan bersifat
menantang ini, Tio Put-hoan menjadi lebih ragu-ragu terhadap
kemampuan lawannya,
Dalam pada itu meski usia Tan-lokunsu sudah lanjut,
namun tabiatnya ternyata berangasan.
"Eeeh, bicara dengan kaum Cianpwe, kenana tidak turun
dari keledaimu ?" demikian segera ia menyerobot maju dan
cari-cari persoalan. Menyusul itu tahu-tahu ia sudah berada di
depan binatang tunggangan orang dan ulur tangannya buat
menarik lengan kanan si gadis.
Karena gerak tangannya itu sangat cepat hingga gadis itu
tak sempat menghindarkan diri, seketika lengannya kena
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dicekal, dan karena lengan kanannya dipakai untuk
memegang golok-sabitnya, maka goloknya tak bisa dipakai
menangkis.
Tak tersangka sekonyong-konyong sinar tajam berkelebat
sedikit gadis itu tekuk sikutnya, golok-sabitnya tahu-tahu
memotong dari samping, dari jurusan yang sama sekali tak
terduga.
Tentu saja tidak kepalang kagetnya Tan-lokunsu, lekaslekas
ia lepaskan cekalannya bila ia tidak mau merasakan
tajamnya golok itu. sungguhpun begitu, tidak urung dua jari
tangannya sudah terluka.
Dengan cepat segera ia melompat mundur terus cabut
goloknya sendiri, dalam gusarnya ia berteriak-teriak
mendamperat: "Perempan bangsat, agaknya kau sudah bosen
hidup !"
Melihat kawannya dilukai, mau-tak-mau yang lain-lain ikut
mengangkat senjata, Han-cecu pakai sepasang ganden
berantaai, sedang Tio Put-hoan lolos pedangnya, begitu pula
Ki Jing-si dan Bing-hiam juga lantas tarik pedang mereka.
Akan tetapi mereka menjadi kaget ketika merasa senjata
yang mereka genggam itu bobotnya sangat enteng, ketika
mereka tegasi, celaka tiga-belas, kiranya yang terpegang di
tangan mereka melainkan garan pedang belaka, sedang
bagian yang tajam ketinggalan di dalam sarungnya.
Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa itu adalah
perbuatan Nyo Ko semalam di mana pedang mereka diamdiam
dipatahkan dan selimut mereka dikencingi juga, sedang
kini musuh tangguh sudah berhadapan senjata saja mereka
tak punya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Rupanya melihat kelakuan kedua imam yang kikuk dan
serba salah itu, si gadis tadi tertawa ngikik geli.
Waktu itu Nyo Ko sendiri lagi berduka, tetapi demi
mendengar suara tertawa gadis itu dan melihat kelakuan
kedua imam yang lucu itu, tak tertahan iapun tertawa maski
sebenarnya ia masih tersenggak-sengguk.
Sementara itu terlihat si gadis telah membuka serangan,
sekonyong-konyong ia ayun goloknya terus memotong ke
telinga Bi Jing-hian.
Dengan sendirinya lekas-lekas Bi Jing-hian tarik badan dan
mengkerut kepala buat hindarkan elmaut, siapa tahu gaya
serangan golok itu ternyata sangat hebat, ketika tangan si
gadis sedikit memutar senjatanya yang aneh itu tiba-tiba
membelok di tengah jalan terus mengiris ke bawah lagi karena
tidak terduga-duga akan perubahan serangan ini, tidak urung
sebelah kuping Bi Jing-hian tetap menjadi korban.
Keruan saja keempat kawannya terkejut, sama sekali tak
mereka duga bahwa To-hoat atau ilmu permainan golok orang
bisa begitu bagus dan aneh. Keadaan sudah memaksa, kini
mereka tak pikirkan lagi keroyokan atau tidak, segera mereka
mengerubut maju terus kepung si gadis bersama keledainya di
tengah-tengah.
Cuma yang mengeroyok hanya tiga orang saja, Bi Jinghian
dan Ki Jing-si terpaksa mundur ke belakang karena
mereka tak bersenjata, yang mereka pegang hanya garan
pedang, hendak dibuang sayang, tidak dibuang toh tidak
terpakai mereka menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus
di-buatnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar gadis itu bersiul nyaring
sekali, ia tarik tali kendali keledainya terus melompat pergi
sejauh beberapa tombak dengan maksud memboboIkan garis
kepungan orang. Namun dengan cepat Tan-lokusu bertiga
lantas mengerubut maju lagi. Bahkan sebelum tiba orangnya,
lebih dulu Han-cecu timpukkan ganden besinya yang berantai
itu.
Melihat senjata orang cukup berat, pula tipu serangannya
cukup ganas, diam-diam gadis itu merasa heran juga, maka
tak berani lagi ia memandang enteng, ketika tubuhnya
mengegos, timpukkan ganden tadi telah dia hindari.
Memang senjata "Lian-cu-tui" (ganden berantai) Han-cecu
itu bukan senjata ringan dan mempunyai daya tekanan yang
sukar ditahan. Sebaliknya ilmu pukulan Tan-lokunsu
sebenarnya lebih tinggi dari pada permainan goloknya, pula
jarinya sudah terluka, maka serangan goloknya boleh
dikatakan tak seberapa, hanya Kiam-hoat Tio Put-hoan
sebaliknya tidak bisa dipandang rendah, serangannya jitu lagi
keji, setiap tipu serangannya selalu mengincar tempat-tempat
yang berbahaya.
Tatkala itu hati Nyo Ko rada tenang, kini baru dia amatamati
wajah gadis itu, ia lihat raut muka orang potongan daun
sirih dan sanggat cantik, usianya agaknya setahun dua tahun
lebih muda dari pada dirinya, pantas kalau si pelayan hotel
tidak percaya bahwa itu "gadis cantik berbaju putih" adalah
kakak perempuannya.
Di samping muka orang yang cantik itu, kulit badannya
sebaliknya rada hitam-hitam manis, sama sekali berlainan
dengan kulit Siao-Iiong-li yang putih bersih.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Senjata yang dipakai gadis inipun sangat aneh dan lain
dari pada yang Iain, ilmu permainan goloknya sangat gesit,
meski dikatakan golok, tetapi yang dipakai adalah gerak tipu
permainan pedang, lebih banyak menusuk dan memotong dari
pada membacok dan membabat.
Hanya menyaksikan beberapa jurus permainan golok
orang, segera Nyo Ko tahu orang memang menggunakan ilmu
silat dari golongan yang sama dengan dirinya, yakni Ko-bongpay.
Apakah dia ini juga muridnya Li Bok-chiu ? demikian Nyo
Ko menjadi heran.
Semula sebenarnya Nyo Ko sangat penasaran karena lima
orang lelaki mengeroyok seorang gadis cilik, tetapi kemudian
sesudah mengetahui dari mana asal-usul ilmu silat orang,
karena menduga orang pasti muridnya Li Bok-chiu, seketika
timbul rasa antipatinya Nyo Ko, ia pikir biarkan saja pihak
mana yang bakal menang, semuanya tidak kugubris.
Begitulah dia lantas berbaring lagi dengan sikunya sebagai
bantal, hanya kadang-kadang saja ia melirik pertarungan yang
sedang berlangsung dengan sengit itu.
Untuk belasan jurus permulaan, karena gadis itu berada
lebih tinggi di atas keledainya, maka kelima lawannya dipaksa
harus melompat kian ke mari untuk menghindari sabetan
golok-sabit yang diayun pergi datang.
Sesudah belasan jurus lagi, karena senjata yang
dipegangnya hanya gagang pedang yang sudah patah dan tak
sanggup membantu kawannya, tiba-tiba hati Ki Jing-si
tergerak "Mari Bi-sute, ikut padaku !" ia teriaki Bi Jing-hian.
Habis itu ia berlari menuju ke tempat yang banyak tumbuh
pohon, di sana ia pilih satu pohon muda dan sekuat tenaganya
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ia patahkan bongkot-nya, ia hilangkan tangkai dan daunnya,
maka ber-wujutlah kini sebatang pentung yang dapat
dipakainya sebagai gaman.
Tentu saja Bi Jing-hian sangat girang, iapun tiru-tiru sang
Suheng dan patahkan satu pohon yang lain untuk digunakan
sebagai senjata.
"Hantam keledainya dan tidak orangnya!" demikian Ki
Jing-si beri petunjuk lagi, Habis ini, dua pentung kayu mereka
lantas menyerampang dari kanan dan kiri dengan cepat
mereka arah kaki keledai tunggangan gadis tadi.
"Hm, tak punya malu !" dengan pelahan gadis itu
menjengek berbareng ia ayun goloknya buat tangkis pentung
orang.
Karena sedikit melengnya ini, dari samping lain ganden
berantai Han-cecu sudah menyerang juga bersama dengan
pedang Tio Put-hoan. Dalam keadaan terancam, lekas-lekas
gadis itu keluarkan gerak tipu yang berbahaya, ia tunduk
kepala dan luputkan ganden yang menyamber, saat lain
terdengar pula suara "trang" yang nyaring, goloknya telah
ditangkiskan pedang lawan yang lain.
Tetapi pada waktu itu juga keledainya telah melengking
kesakitan terus menegak dengan kaki belakang, kiranya
binatang ini telah kena ditoyor sekali oleh pentungnya Ki Jingsi.
Melihat ada kesempatan, segera Tan-lokunsu menjatuhkan
diri terus menggelundung mendekati musuhnya, ia keluarkan
ilmu golok dan berhasil menghantam sekali paha keledai hitam
dengan punggung goloknya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dengan demikian tak mungkin lagi bagi si gadis
mengandalkan keledainya, dalam pada itu senjata lawan baik
pedang maupun ganden berbareng telah menyamber datang
pula, terpaksa ia meloncat ke atas, sedang tangan kiri
menyamber dan pentung Bi Jing-hian berhasil dicekalnya,
ketika ia gunakan tenaga dalamnya, tahu-tahu pentung itu
telah patah menjadi dua potong. Dan begitu kedua kakinya
tancap kembali di atas tanah, sekalian pula goloknya dia babat
ke samping untuk patahkan bacokan Tan-lokunsu yang
sementara itu telah menyerang.
"He, kenapa ? Dia sudah terluka ?" tiba-tiba Nyo Ko kaget
demi nampak gaya berjalan si nona.
Kiranya kaki kiri si gadis rada pincang, dengan sendirinya
untuk berjalan, apa lagi buat melompat menjadi tidak leluasa.
Dan dengan sendiri-nya, sebab inilah maka sejak tadi dia tidak
mau turun dari keledainya.
Tahu akan ciri gadis ini, seketika rasa keadilan Nyo Ko
tergugah, ia niat turun tangan buat membantunya, Tetapi
ketika dia pikir dan ingat pengacauan Li Bok-chiu hingga
dirinya yang tinggal aman tenteram bersama Siao-liong-li di
dalam kuburan itu berakibat seperti keadaan sekarang ini,
kembali hatinya menjadi panas Iagi, ia berpaling ke jurusan
lain dan tak mau menyaksikan lebih lanjut
Namun telinga toh mendengar suara "crang-creng", suara
beradunya senjata tajam yang nyaring dan tiada hentinya,
rasa ingin tahunya tak bisa ditahan, kembali ia berpaling buat
menonton lagi, Hanya sejenak tadi ternyata keadaan
pertarungan itu sudah banyak berubah, gadis itu telah
terdesak lari kian kemari, sudah lebih banyak menangkisnya
daripada balas menyerang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam pada itu mendadak Han-cecu telah tim-puk sebelah
gandennya, terpaksa gadis itu miringkan kepalanya, tetapi
pada saat yang sama juga pedang Tio Put-hoan sudah
menusuk pula, terdengarlah suara "cring" yang nyaring
pelahan, ternyata gelang perak pengikal rambut gadis itu telah
kena ditabas kutung hingga sebagian rambutnya yang
panjang terurai.
Maka tertampaklah alis si gadis yang lentik itu menjengkit,
bibirnya pun sedikit bergerak dan digigit, mukanya seketika
seperti tertutup oleh selapis awan hitam, kontan goloknya
membabat, ia balas sekali serangan orang.
Melihat tarikan alis dan gerakan bibir si gadis, seketika hati
Nyo Ko terguncang keras, "Di waktu Kokoh marah padaku,
persis mimik wajahnyapun begitu," demikian pikirnya.
Oleh karena melihat rasa gusar yang diunjuk gadis itu,
tanpa pikir lagi Nyo Ko ambil keputusan pasti akan membantu
padanya.
Sementara itu ia lihat keadaan gadis itu semakin terdesak,
gerak-geriknya tak teratur lagi.
"Hayo, lekas katakan, sebutan apa sebenarnya antara kau
dengan Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu ?" demikian terdengar Tio
Put-hoan memperingatkan lawannya, "Jika masih tetap tidak
menjelaskan jangan kau sesalkan senjata kami tak bermata."
Di luar dugaannya, bukan saja gadis itu tidak menjawab,
bahkan goloknya tahu-tahu menabas dari belakang kepala
karena senjata ini memang me-lengkung, Terkejut sekali Tio
Put-hoan oleh serangan yang aneh itu, syukur dengan cepat
Tan-lo-kunsu keburu wakilkan dia menangkis hingga dengan
demikian jiwa Tio Put-hoan dapat diselamatkan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat tipu serangan si gadis begitu keji, ketiga lawannya
kinipun tidak pakai murah hati lagi, Maka dalam sekejap saja,
gadis itu sudah berulang-ulang menghadapi serangan
berbahaya, Tio Put-hoan pikir gadis ini pasti ada hubungan
rapat dengan Li Bok-chiu, kalau kelak diketahui oleh Li Bokchiu,
tentu dikemudian hari akan menjadikan bibit bencana
saja, oleh sebab itu serangan-serangannya kini selalu
mengincar tempat-tempat yang berbahaya.
Melihat keadaan si gadis sudah dalam detik yang sangat
genting, segera Nyo Ko melompat ke atas punggung sapi
jantan tadi, ia jojoh sekali pantat binatang itu dengan jerijinya,
karena kesakitan dengan sekali menguak sapi jantan itu
pentang kaki dan menerjang ke jurusan enam orang yang
sedang saling labrak itu.
"Haya, celaka ! Sapiku kesetanan, tolong, tolong !"
demikian Nyo Ko sengaja berteriak-teriak. Baru saja selesai ia
berteriak, orangnya berikut sapinya sudah menyerbu sampai
di kalangan pertempuran sana.
Tatkala itu keenam orang itu asyik bertempur mati-matian,
ketika mendadak melihat seekor banteng menyeruduk tiba
dengan kalap, niat mereka hendak melompat ke samping buat
hindarkan diri, namun secepat kilat banteng itu sudah
menerjang sampai di belakang Ki Jing-si dan Bi Jing-hian.
Nyo Ko sendiri tengkurap di atas sapinya, tangan dan
kakinya bergerak naik turun seperti orang kebingungan dan
ketakutan setengah mati, sesudah dekat dengan kedua orang
tadi, dengan cepat "hong-gan-hiat" di punggung kedua orang
dicengkeramnya.
"Hong-gan-hiat" adalah salah satu jalan darah penting di
tubuh manusia, karena kena dicekal, seketika Ki Jing-si dan Bi
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Jing-hian menjadi lemas kesemutan dan tak bisa berkutik,
Dengan pelahan Nyo Ko angkat tangannya, kedua orang itu
dia tarik keatas terus digantung pada kedua tanduk sapi
jantan itu, sedang mulutnya masih tiada hentinya berteriak
"Tolong ! Tolong!"
Kemudian dengan ujung kaki ia tendang pantat sapi itu,
maka berlari kesetanan lagi binatang itu ke lereng bukit
dengan membawa tiga orang, satu tengkurap di punggungnya
dan yang dua ter-cantol pada tanduknya.
Melihat perubahan yang mendadak dan aneh ini, baik si
gadis tadi maupun Tio Put-hoan seketika berhenti dari
pertempuran mereka.
Nyata ilmu silat Nyo Ko masih jauh lebih tinggi daripada
keenam orang itu, apa yang dilakukannya ternyata tiada
seorangpun yang mengetahuinya.
Ketika sampai di tanah rumput dimana dia angon sapi tadi,
Nyo Ko buang kedua imam itu ke tanah terus giring sapi itu
menerjang ke bawah puIa, sekali ini yang dia incar adalah
Han-cecu dan Tan-Iokunsu.
Rupanya Han-cecu pikir tenaganya cukup besar untuk
menundukkan binatang yang mengganas ini, maka gandennya
yang berantai dia libat di pinggangnya, lalu dengan pasang
kuda-kuda kuat ia tunggu sapi itu mendekat, sekonyongkonyong
ia melangkah maju setindak terus tanduk binatang
itu dia pegang erat-erat dengan kedua tangannya, dengan
demikian ia hendak taklukkan banteng ngamuk itu.
Dilain pihak Nyo Ko masih bertingkah serabutan sambil
berteriak-teriak, namun pada saat yang jitu sekali, "cian-tayhiat"
di pinggang Tan-lokunsu dia tutuk pula dengan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tendangan. Dan sebelum kedua sasarannya ini roboh atau
mereka sudah dia samber terus digantung lagi di atas tanduk
sapi dan diangkut pula ke tanah rumput tadi.
Melihat banteng ngamuk ini begitu aneh, mau tak mau si
gadis dan Tio Put-hoan saling pandang dengan tak mengarti,
jika tadi mereka saling labrak dengan adu jiwa, maka kini
sebaliknya ada persamaan perasaan diantara mereka, yakni
"senasib."
Dalam pada itu dilihatnya banteng ngamuk tadi sudah
balik kembali, suara teriakan bocah angon yang tengkurap di
atas binatang itu kedengarannya sudah serak, terang sekali
keadaan sangat genting.
Segera Tio Put-hoan bersiap-siap, ia menunggu banteng
itu menyeruduk tiba kira-kira setengah tombak sebelum
tubuhnya, sekonyong-konyong pedangnya berputar, ia hindari
serudukan banteng itu dari depan, dengan cepat tubuhnya
melangkah ke samping sambil pedangnya menusuk, begitu
cepat dan tepat saat yang digunakan, dengan segera banteng
ngamuk itu bakal tembus tertusuk perutnya.
Siapa tahu, baru saja ujung pedangnya hampir menyentuh
kulit sapi itu, sekonyong-konyong bocah angon itu tangannya
bergerak pontang-panting sambil pegang sulingnya dan
dengan persis batang suling membentur ujung pedang, karena
itu, arah pedang menjadi menceng,
Karena luput serangannya, Tio Put-hoan terkejut untuk
menghindar agar tidak diserempet banteng itu, lekas-lekas ia
melompat ke atas dengan maksud melewati binatang itu,
siapa duga selagi orangnya terapung di udara, sekonyongkonyong
mata kakinya terasa kaku kesemutan, ketika
tubuhnya jatuh ke bawah, dengan tepat menyangkol di ujung
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tanduk banteng hingga kena dibawa binatang yang berlari itu
ke tanah lapang tadi untuk kemudian dilemparkan di sana.
Habis itu, Nyo Ko putar haluan sapi itu, kembali menerjang
cepat pula ke arah si gadis yang masih tersisa itu.
Di lain pihak sesudah menyaksikan kelima jago seperti Tio
Put-hoan kena diseruduk jatuh semua oleh banteng ngamuk
itu, meski gadis itu merasa curiga juga, tetapi ia pikir hanya
seekor sapi jantan saja, kena apa harus ditakuti ? Segera dia
bersiap-siap.
Dilihatnya dengan mulut berbusa binatang itu telah
memyeruduk tiba pula, Pada saat yang tepat mendadak ia
meloncat ke atas, berbareng itu goloknya terus membacok
leher banteng itu.
"Haya, celaka, jangan bunuh sapiku !" jerit Nyo Ko
mendadak Berbareng itu diam-diam ia jojoh pundak sapi itu
dengan jarinya, karena sakit, dengan sendirinya kepala sapi
itu meleng ke samping dan dengan persis bacokan orang
dapat dihindarinya.
Sedangkan Nyo Ko sendiri pura-pura jatuhkan diri
tergelincir ke bawah sambil berteriak-teriak : "Tolong ! tolong
!"
Sebaliknya sapi jantan itu rupanya sudah terlalu letih,
sesudah beberapa tindak berlari lagi dia lantas berhenti
dengan napas empas-empis.
Melihat binatang itu tidak main gila lagi, setelah tenangkan
diri mendadak gadis itu jinjing goloknya terus berlari ke tanah
datar sana.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Celaka, kelima orang itu pasti akan teraniaya," pikir Nyo
Ko diam-diam.
Karena itu, sebelum gadis itu sampai di tem-patnya, lebih
dulu Nyo Ko sudah jemput beberapa batu kecil, sekali ayun
batu-batu itu ditimpukkan ke badan kelima orang yang rebah
tak berkutik itu.
Meski umur Nyo Ko masih kecil, tetapi ilmu silatnya sudah
terlatih sampai tingkatan yang tiada taranya, walaupun
jaraknya dengan kelima orang itu sangat jauh, namun tiaptiap
batu yang ditimpukkan itu dengan tepat mengenai Hiat-to
di tubuh masing-masing.
Ketika Tio Put-hoan cs. mendadak merasakan tubuh
kesakitan, tetapi rasa kesemutan juga segera hilang, mereka
menyangka gadis itu diami sembunyikan bala bantuan yang
sangat lihay, cara mereka kena ditutuk dan mendadak terlepas
pula jalan darahnya tentu perbuatan jagoan yang tersembunyi
itu, kini orang suka memberi jalan hidup, mana berani lagi
mereka terlibat dalam pertarungan pula ? Maka begitu mereka
merangkak bangun, tanpa pikir lagi segera mereka angkat
langkah seribu alias kabur.
Dalam gugupnya karena ketakutan itu, rupanya Bi Jinghian
menjadi bingung hingga tak bisa bedakan arah timur dan
barat, bukannya dia lari ke jurusan yang selamat, sebaliknya
ia malah lari ke arah si gadis yang sedang memarani mereka
itu.
"Bi-sute, lekas kembali !" seru Ki Jing-si kuatir.
Ketika Bi Jing-hian sadar keliru jalan dan berniat putar
kemudi, namun sudah terlambat, si gadis sudah datang dekat,
goloknya sudah diangkat dan dibacokkan padanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sungguh luar biasa kaget Bi Jing-hian, ia sendiri sudah tak
bersenjata, Lekas-lekas ia mengegos buat luputkan diri dari
ancaman maut, tak terduga arah serangan yang dilontarkan
gadis itu ternyata susah dipastikan, mula-mula seperti
mengarah ke kiri, tahu-tahu telah sampai di kanan, disertai
berkelebat-nya sinar dingin, tahu-tahu golok-sabit telah
berada di depan mukanya.
Dalam keadaan kepepet dan tiada jalan lain, terpaksa Bi
Jing-hian angkat sebelah tangannya buat menangkis, maka
tidak ampun lagi terdengar sekali suara "cret", telapak
tangannya tertabas putus oleh golok-sabit si nona.
Walaupun demikian Jing-hian masih belum merasakan
sakit, ia masih sempat putar tubuh terus lari terbirit-birit lagi,
Waktu itu Tio Put-hoan sudah berpaling juga, dengan pedang
melintang di dada ia berusaha melindungi kawannya.
Rupanya gadis itu telah kenal juga lihaynya orang, maka
tak berani ia mendekati, ia menyaksikan Bi Jing-hian dipayang
pergi oleh Ki Jing-si untuk kemudian menghilang di balik
gunung sana.
Nampak musuh sudah pergi, gadis itu masih ketawaketawa
dingin, sedang dalam hati penuh curiga, ia pikir
apakah mungkin ada orang luar yang bersembunyi di sekitar
sini ? Dengan cepat ia mengelilingi sekitar sana, tetapi
keadaan sunyi senyap tanpa satu bayangan pun, Dia kembali
lagi ke lembah sana, ia lihat Nyo Ko masih duduk di tanah
dengan muka mewek-mewek seperti mau menangis.
"Hai, bocah angon, apa yang kau keluh-kesahkan ?" tegur
gadis itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sapi ini tadi telah gila hingga tubuhnya babak belur, kalau
pulang nanti pasti aku akan dihajar setengah mati oleh
majikan." sahut Nyo Ko.
Tetapi waktu si gadis periksa keadaan sapi jantan, ia lihat
kulit tubuh binatang itu halus bersih, tiada kelihatan sesuatu
luka.
"Baiklah, hitung-hitung sapimu ini telah menolong aku
tadi, ini, aku beri serenceng uang perak," kata si gadis pula.
Habis itu ia keluarkan serenceng uang perak yang
berbobot sekira lima tahil terus dilemparkan ke tanah, ia
menduga "bocah angon" itu pasti akan girang tidak kepalang
dan mnghaturkan terima ka-sih, siapa tahu orang masih
bermuka muram durja, sambil geleng-geleng kepala, tetapi
tidak mengambil uang perak itu.
"Kenapakah kau ?" tanya gadis itu tak sabar, "lni uang
perak, tahu tidak kau, tolol ?"
"Hanya serenceng tidak cukup !" sahut Nyo Ko kemudian
Waktu gadis itu merogoh sakunya, kembali ia keluarkan
serenceng uang perak lain yang masih ada dan dilemparkan
ke tanah lagi.
Tapi Nyo Ko sengaja goda padanya, dia masih tetap
goyang kepala.
Akhirnya gadis itu menjadi marah, alisnya tertarik tegak
dan mukanya merengut.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sudah habis, tolol!" damperatnya, Habis ini ia putar tubuh
dan berjalan pergi.
Melihat sikap orang sewaktu marah, seketika hati Nyo Ko
terguncang, teringat tiba-tiba olehnya sikap Siao-liong-li waktu
mendamperat dirinya, karenanya ia telah ambil suatu
keputusan: "Jika seketika tak bisa ketemukan Kokoh, biarlah
aku senantiasa menyaksikan wajah nona ini saja yang suka
marah-marah."
Maka sebelum orang melangkah pergi, tiba-tiba Nyo Ko
merangkul kaki kanan si gadis sambil ber teriak-teriak :
"Tidak, kau jangan pergi!"
Dengan kuat gadis itu coba meronta kakinya, tetapi saking
kencangnya Nyo Ko merangkul, ia tak berhasil melepaskan
diri, keruan ia bertambah gusar.
"Lepas, ada apa kau merangkul kakiku ?" dengan suara
garang gadis itu membentak.
Melihat air muka orang yang sedang marah-marah,
bukannya Nyo Ko melepaskan, sebaliknya ia malah senang.
"Tidak, aku tak bisa pulang rumah lagi, kau harus tolong
aku," demikian sahutnya.
Sudah gusar gadis itu menjadi geli pula melihat kelakuan
Nyo Ko.
"Jika kau tak lepaskan, segera aku bacok mati kau,"
dengan angkat golok-sabitnya si gadis coba menakut-nakuti.
Tetapi rangkulan Nyo Ko berbalik tambah kencang, ia
malah pura-pura menangis sekalian.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Baiklah, boleh kau bacok mati aku saja, toh kalau pulang
akupun tak bakal hidup lagi," serunya sambil menggerunggerung.
"Lalu apa yang kau kehendaki ?" tanya si gadis kewalahan.
"Entahlah, aku ikut kau saja." sahut Nyo Ko.
Rupanya gadis itu menjadi sebal karena di-ganduli orang,
"Kenapa harus berurusan dengan si tolol semacam ini,"
demikian pikirnya, Habis ini ia angkat goloknya terus
membacok sungguh-sungguh.
Semula Nyo Ko menduga orang tidak nanti bacok padanya
secara sungguh-sungguh, maka ia masih pegang kaki orang
erat-erat, siapa duga hati gadis itu ternyata keji, bacokannya
ini betul-betul diarahkan ke atas kepalanya, meski tiada
niatnya untuk menewaskan jiwa orang, tetapi ia bermaksud
memberi bacokan di batok kepala agar "si tolol" ini tahu rasa
dan tak berani main gila lagi.
Syukur Nyo Ko sangat cekatan, begitu golok orang tinggal
beberapa senti lagi bakal berkenalan dengan batok kepalanya,
mendadak ia jatuhkan diri terus menggelinding pergi, " "Haya,
tolong, tolong !" demikian ia menjerit-jerit pula.
Karena bacokannya tadi luput, si gadis menjadi tambah
sengit, ia melangkah maju, kembali sekali bacokan diberikan
pada Nyo Ko.
Nyo Ko telentang di atas tanah, kedua kakinya mancalmancal
serabutan.
"Mati aku ! Mati aku !" demikian ia berteriak-teriak, sedang
kedua kakinya terus memancal dan mendepak tak keruan,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tampaknya seperti tak teratur tetapi pergelangan tangan gadis
itu ternyata beberapa kali hampir kena ditendang, meski
berulang kali ia hendak bacok pula, namun tidak sekalipun
bisa mengenai sasarannya, sudah tentu ia bertambah gusar.
Melihat muka orang penuh mengunjuk marah, Nyo Ko
justru ingin menikmati wajah orang semacam ini, karena itu,
tanpa terasa ia terkesima dan memandangi orang.
Gadis itu juga seorang yang pintar luar biasa, ketika
melihat kelakuan Nyo Ko yang aneh, tiba-tiba ia membentak :
"Hayo, bangun !"
"Tetapi kau bunuh aku tidak ?" tanya Nyo Ko ke-tololtololan.
"Baiklah, aku tak bunuh kau," sahut si gadis.
Karena janji ini, dengan pelahan Nyo Ko merangkak
bangun, napasnya sengaja dia bikin terengah-engah, diamdiam
ia kumpul tenaga dalam dan bendung aliran darahnya,
maka mukanya seketika berubah menjadi putih lesi, begitu
pucat hingga tiada warna darah sedikitpun, seperti orang yang
ketakutan.
Melihat rupa orang, diam-diam si gadis sangat senang.
"Hm, berani lagi tidak kau main gila ?" demikian ejeknya
sambil angkat golok-sabitnya terus menuding pada telapak
tangan Bi Jing-hian yang terkutung dan masih ketinggalan di
tanah datar itu, lalu ia mengancam: "Coba, orang begitu galak
dan bengis, toh cakarnya kena ditabas oleh golokku tadi."
Sambil bicara, goloknya yang melengkung itu diulurkan,
tiba-tiba ia kesut senjatanya di atas baju Nyo Ko yang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
memang dekil, kiranya ia gunakan baju Nyo Ko sebagai lap
untuk menghilangkan noda darah goloknya.
Diam-diam Nyo Ko geli oleh lagak si gadis. "Hm, kau
anggap aku ini orang macam apa, berani kau begini
kurangajar padaku ?" demikian ia membatin.
Walaupun begitu, pada mukanya tetap ia pura-pura
mengunjuk rasa keder, ia sengaja mengkeret mundur seperti
takut pada senjata orang yang mengkilap itu.
Gadis itu masukkan goloknya ke sarungnya, lalu dengan
sebelah kakinya ia cukit renceng uang perak tadi ke arah Nyo
Ko.
"Nih, sambuti!" serunya dengan tertawa, dengan
membawa sinar putih yang gemerdep, serenceng uang perak
itu menyamber ke arah muka Nyo Ko.
Menyambernya perak itu sebenarnya tidak keras, orang
biasa saja pasti sanggup menangkapnya. Tetapi Nyo Ko justru
pura-pura bodoh, ia melangkah mundur dan menubruk maju
secara gugup, sedang tangannya diulur ke atas buat
menangkap, tiba-tiba terdengar suara "plok" sekali, uang
perak itu kena menimpuk dia punya batok kepala.
"Aduh !" jerit Nyo Ko sambil mendekap batok kepalanya.
Sementara itu jatuhnya uang perak itu kena menindih pula
di atas kakinya, Maka dengan sebelah tangan pegang batok
kepala dan lain tangan tarik sebelah kaki, Nyo Ko berjingkrakjingkrak
dengan kaki tunggal sambil berteriak-teriak: "Auuuh,
kau pukul aku, kau pukul aku !"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah Nyo Ko pura-pura menggerung-gerung
menangis.
Nampak ketololan orang sudah begitu rupa hingga tiada
obatnya, dengan suara pelahan gadis itu mencemoohnya
sekali: "Tolol !" - Habis ini ia putar tubuh dan pergi mencari
keledai hitam-nya.
Akan tetapi binatang itu sejak tadi entah sudah kabur
kemana sewaktu dia bergebrak dengan Tio Put-hoan, terpaksa
ia pergi dengan jalan kaki.
Nyo Ko jemput uang perak tadi dan masukkan ke sakunya,
lalu dengan menuntun sapinya ia ikut di belakang si gadis.
"Bawa serta aku, nona !" demikian ia berseru.
Namun gadis itu tak gubris padanya, sebaliknya ia
percepat langkahnya, hanya sekejap saja Nyo Ko sudah
ketinggalan hingga tak kelihatan.
Tak terduga, baru saja ia berhenti sebentar, tiba-tiba Nyo
Ko sudah muncul lagi dari jauh dan masih tetap menuntun
sapinya.
"Bawalah aku, bawalah aku !" demikian Nyo Ko masih
terus berteriak-teriak.
Mendongkol sekali gadis itu karena orang mengintil terus,
sambil kerut kening, segera ia keluarkan Ginkang, sekaligus ia
berlari sejauh beberapa li, dengan demikian ia yakin "si tolol"
itu pasti tak sanggup menyusulnya.
Diluar dugaan, tidak antara lama, sayup-sayup kembali
terdengar pula suara teriakan: "Bawalah aku !" - Luar biasa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
rasa gemasnya gadis itu, sekali ini ia tidak lari menyingkir
sebaliknya ia putar balik mendatangi Nyo Ko, "sret", goloksabit-
nya dia loIos.
"Haya, celaka !" teriak Nyo Ko pura-pura ketakutan,
berbareng ia putar tubuh dan angkat langkah seribu.
Maksud si gadis asal orang tidak selalu mengintip sudah
cukup, Oleh karena itu, ia masukkan kembali golok ke
sarungnya, ia putar kembali dan melanjutkan pula
perjalanannya.
Tetapi belum seberapa jauh ia berjalan, tiba-tiba
didengarnya di belakang ada suara menguaknya sapi, waktu ia
menoleh, ia lihat Lagi-lagi Nyo Ko mengintil di belakang sambil
masih tuntun binatang angonnya itu, jarak dengan dirinya
kira-kira beberapa puluh tindak saja.
Sungguh tak terbilang mengkal si gadis, sekali ini ia
sengaja berhenti di tempatnya untuk menunggu datangnya
Nyo Ko.
Akan tetapi, demi nampak orang tak berjalan, segera pula
Nyo Ko berhenti kalau si nona melangkah Nyo Ko lantas
menyusul lagi apabila dia putar balik dan hendak hajar
padanya, segera Nyo Ko kabur pula.
Begitulah terjadi kucing-kucingan diantara Nyo Ko dan
gadis itu, sebentar mereka kejar mengejar dan sebentar lagi
berhenti sementara itu hari sudah magrib dan gadis itu masih
tetap tak bisa melepaskan diri dari godaan Nyo Ko.
Keruan tidak kepalang gemasnya gadis itu, ia lihat meski
bocah angon ini tolol-tolol goblok, tetapi gerak kakinya
ternyata cepat luar biasa, mungkin sudah terlalu bisa berlarian
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
di tanah pegunungan beberapa kali ia kejar orang hendak
menutuk jalan darahnya atau melukai kedua kakinya, tetapi
setiap kali selalu Nyo Ko bisa meloloskan diri dengan
menggelinding dan merangkak pergi dengan cepat.
Sebenarnya ilmu silat Nyo Ko jauh di atas gadis itu, cuma
dia sengaja lari kalau sudah dalam keadaa yang paling
berbahaya, dengan demikian ia gadis itu tidak menjadi curiga.
Begitulah maka sesudah beberapa kali digoda lagi, karena
kaki kiri gadis itu memang pincang, sesudah jalan lama ia
menjadi payah, Tiba-tiba ia mendapat satu akal, dengan suara
keras dia teriaki Nyo Ko: "Baiklah, kubawa serta kau, tetapi
kau harus turut segala perkataanku,"
"Apa betul kau mau membawa aku ?" dengan girang Nyo
Ko menegas.
"Ya, siapa dustai kau ?" sahut si gadis. "Aku sudah letih,
kau menunggang sapimu dan biar aku ikut membonceng."
Betul saja Nyo Ko lantas tuntun sapinya mendekati dengan
cepat, dibawah cuaca senja yang remang-remang Nyo Ko
dapat melihat mata si gadis menyorot tajam, ia tahu pasti
orang tak bermaksud baik, maka diam-diam ia berlaku
waspada, dengan cara yang susah pajah ia merambat ke atas
punggung sapinya.
Sebaliknya gadis itu hanya sedikit menutul kakinya,
dengan enteng sekali ia telah melompat ke atas dan
menunggang di depan Nyo Ko.
"Keledaiku sudah hilang, tidak jelek juga menunggang sapi
jantan ini saja," pikir gadis itu, kemudian dengan ujung
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kakinya ia tendang iga banteng itu, karena kesakitan, maka
sapi itu membedal ke depan seperti kesetanan.
Melihat tibanya kesempatan baik, diam-diam gadis itu
tersenyum dingin, mendadak sikutnya dengan kuat menyodok
ke belakang, dengan tepat sekali kena sodok "ki-bun-hiat" di
dada Nyo Ko.
"Aduuh !" jerit Nyo Ko, menyusul mana ia pun terjungkal
dari punggung sapinya.
Gadis itu sangat senang karena serangannya berhasil
"Betapapun kau berlaku bambungan, sekarang kau kena juga
kuingusi," demikian katanya dalam hati Lalu ia sogok pula iga
sapi itu dengan jari tangannya, karena merasa sakit, sapi
jantan itu kabur terlebih cepat lagi.
Sekali jari si gadis menjojoh punuk kerbau itu, lari si
kerbau semakin kencang, tiba-tiba didengarnya Nyo Ko masih
berkaok-kaok di belakangnya, waktu ia berpaling, tampak
dengan kedua tangannya Nyo Ko ganduli ekor kerbau ikut lari
berlompatan naik turun, lucu sekali tingkah lakunya.
Diluar dugaan, tiba-tiba terdengar Nyo Ko menjerit-jerit
dan berteriak-teriak, suaranya terdengar berada di belakang
saja, waktu gadis itu menoleh, ia lihat Nyo Ko sedang
menggendoli ekor sapi dengan kedua tangannya, saking
cepatnya dibawa kabur sapi itu hingga kedua kakinya
sedikitpun tidak menempel tanah, jadi seperti terbang saja
Nyo Ko inL hanya keadaannya sangat mengenaskan, mukanya
penuh debu pasir, ingus dan air mata membasahi mata
hidungnya.
Karena merasa tak ada jalan lain lagi, tiba-tiba gadis itu
kertak gigi, ia tegakan hati, golok dia angkat terus hendak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
membacok tangan Nyo Ko yang menggendoli ekor sapi
dengan kencang, Tetapi sebelum serangannya dilontarkan
tiba-tiba didengarnya suasana sekitarnya riuh ramai, kiranya
sapi itu telah berlari sampai disuatu pasar.
Oleh karena pasar itu penuh berjubel dengan orang hingga
tiada jalan lewat, akhirnya sapi itu berhenti sendiri dengan
Nyo Ko masih tetap "melengket" di belakangnya.
Karena sengaja hendak goda si gadis untuk menikmati
wajah orang diwaktu marah-marah, maka Nyo Ko lantas
rebahkan diri di tanah sambil berteriak-teriak : "Aduh, dadaku
sakit, kenapa kau pukul aku ?"
Karena suara teriakannya ini, orang-orang di pasar itu
lantas berkerumun untuk mencari tahu sebab-musababnya
dan apa yang terjadi.
Karena dirubung orang banyak, dengan sekali menyelusup
segera gadis itu bermaksud mengeluyur pergi.
Tak terduga Nyo Ko lebih cerdik dari dia, mendadak Nyo
Ko merangkak maju, sebelah kaki si gadis dia pegang dengan
erat-erat.
"Jangan pergi, jangan pergi!" demikian ia ber-teriak-teriak
pula.
"He, ada apakah ? Apa yang kalian ribut-kan ?" beramairamai
orang yang merubung itu bertanya.
"Dia adalah biniku, biniku ini tak suka pada-ku, bahkan dia
pukul aku pula," teriak Nyo Ko dengan lagak lagu yang toloI.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mendengar orang berani mengaku bini atas dirinya,
sungguh tidak kepalang gusar gadis itu hingga kedua alisnya
seakan-akan menegak, tanpa segan-segan lagi sebelah
kakinya melayang, segera ia hendak tendang Nyo Ko.
Akan tetapi Nyo Ko tidak kurang akal, mendadak lelaki
yang berdiri di sebelahnya didorong nya ke depan, karena itu,
tendangan si gadis dengan tepat mengenai pinggang lelaki itu.
Keruan saja lelaki itu sangat gusar.
"Perempuan keparat, berani kau tendang aku ?"
damperatnya kontan, Menyusul kepelannya sebesar mangkok
lantas menjotos.
Namun gadis itu tak gampang dihantam, tiba-tiba tangan
orang dipegangnya, sebelah tangannya menyusul mengangkat
lelaki itu terus dilempar pergi dengan meminjam tenaga
pukulan orang tadi, Dengan sekali sengkelit ini, tubuh lelaki
yang gede itu sekonyong-konyong melayang ke atas udara
sambil tiada hentinya berteriak-teriak dan kemudian pun
jatuhlah dia di antara orang banyak yang berkerumun itu
hingga keadaan menjadi tuggang langgang karena ada
beberapa orang pula yang ke-tindih oleh tubuh lelaki itu.
Dengan sekuat tenaga sebenarnya si gadis tadi ingin
melepaskan diri dari Nyo Ko, tetapi karena digendoli Nyo Ko
dengan mati-matian seketika ia menjadi kewalahan Dalam
pada itu dilihat-nya ada lima-enam orang lagi yang maju dan
rupanya akan bikin perhitungan padanya karena disengkelitnya
si lelaki tadi, dalam keadaan demiki-an, mau-takmau
ia berkuatir juga.
"Tolol, baiklah aku bawa serta kau, lekas kau lepaskan
kakiku !" terpaksa dengan kata halus ia mengalah pada Nyo
Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Dan kau masih akan hantam aku tidak ?" Nyo Ko sengaja
tanya lagi.
"Baiklah, tak pukul lagi," sahut si gadis.
Sehabis itu barulah Nyo Ko melepaskan kaki orang yang
dia pegang erat-erat tadi, kemudian iapun merangkak bangun,
Lalu dengan cepat mereka ber dua menerobos keluar diantara
orang banyak dan tinggalkan pasar itu, dari belakang mereka
mendengar ramai suara teriakan-teriakan orang yang
penasaran tadi.
"Lihatlah, sekarang sapiku telah hilang pula, tak bisa tidak
lagi aku harus ikut kau," kata Nyo Ko kemudian sesudah di
tempat sepi.
"Hm, sekal, lagi kau ngaco-belo bilang aku adalah binimu
segala, awas, kalau aku tidak penggal kepalamu," dengan
sengit gadis itu mengancam. Berbareng goloknya diayun pula
ke arah kepala Nyo Ko.
"Haya, jangan," teriak Nyo Ko sambil melompat pergi dan
kepalanya dipegang dengan kedua tangannya, "Baiklah, nona
manis, tak berani lagi aku bilang begitu."
"Hm, melihat macammu yang kotor ini, siluman yang
paling jelek juga tak sudi menjadi bini-mu," demikian cemooh
si gadis.
Nyo Ko tak menjawab, ia hanya menyengir-nyengir tolol
saja.
Tatkala itu hari sudah mulai gelap, dengan berdiri di
ladang yang luas, dari jauh tertampak mengepulnya asap
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dapur di rumah-rumah penduduk karena itu barulah mereka
merasa perut sudah lapar.
"Aku sudah lapar, pergilah kau ke pasar tadi membelikan
barang makanan," kata si gadis kemudian
"Tidak, tak mau aku pergi," sahut Nyo Ko meng-gelenggeleng
kepala,
"Kenapa tak mau ?" damperat gadis itu dengan tarik
muka.
"Masak aku tolol, kau tipu aku pergi beli makanan, lalu kau
sendiri mengeluyur kabur," sahut Nyo Ko.
"Aku bilang tak kabur, tentu tak kabur," ujar si gadis.
Tetapi Nyo Ko masih geleng kepala saja.
Karena merasa jengkel, gadis itu ajun bogemnya hendak
meninju, tetapi dengan cepat Nyo Ko bisa menyingkir pula.
Sebelah kaki gadis itu pincang, dengan sendirinya jalannya
tidak begitu leluasa, percuma saja dia memiliki Ginkang, tetapi
selalu tak bisa me nyandak orang, Tentu saja ia sangat
mendongkol ia pikir sia-sia saja memiliki ilmu silat yang tinggi
dan percuma mengaku dirinya cerdik dan banyak akal,
nyatanya kini digoda seorang anak tolol yang kotor dan
berbau busuk tanpa bisa berbuat apa-apa.
Begitulah dengan pelahan ia meneruskan perjalanan
dengan mengikuti jalan besar, dalam hati ia pikir cara
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bagaimana nanti secara mendadak beri sekali bacokan dan
bunuh si tolol ini.
Selang tak lama, cuaca menjadi gelap seluruhnya, tiba-tiba
dilihatnya di pinggir jalan ada sebuah rumah batu yang
bobrok, agaknya sudah tiada penghuninya, mendadak ia dapat
satu akal "Biarlah malam ini aku menginap di sini, tengah
malam nanti kalau si tolol sudah pulas, sekali bacok saja
kubunuh dia," demikian pikirnya.
Setelah ambil keputusan, segera ia menuju ke rumah batu
itu, waktu pintu didorong, tiba-tiba tercium bau apek yang
menyenggerok hidung, terang sekali rumah ini sudah terlalu
lama ditinggalkan penghuninya.
Kemudian gadis itu pergi mencari segenggam rumput
kering dan lap bersih sebuah meja, di atas meja inilah dia
berbaring, ia pejamkan mata untuk mengumpul tenaganya.
"Tolol, tolol !" panggilnya ketika dilihatnya Nyo Ko tidak
ikut masuk ke dalam.
Akan tetapi tiada sahutan yang dia peroleh, "Janganjangan
si tolol ini mengetahui aku hendak membunuh dia,
maka telah kabur lebih dulu ?" demikian ia pikir.
Sesudah agak lama, ketika layap-layap hendak pulas,
mendadak tercium olehnya bau sedap yang sangat menusuk
hidung, Dalam terkejutnya segera pula ia melompat bangun,
waktu dia lari keluar, dilihatnya di bawah sinar bulan yang
terang Nyo Ko sedang berduduk sambil mencekal sepotong
entah paha binatang apa dan sedang pentang mulut
menggerogoti dengan lahap, di samping sana menyala
segunduk api unggun dan di pinggir gundukan api itu terletak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bahan makanan itu dan sedang dipanggang, dari situlah bau
sedap tadi menguar.
"Mau tidak ?" tanya Nyo Ko dengan tertawa demi nampak
gadis itu keluar, Habis itu ia ambil sepotong daging paha yang
telah dipanggang hingga berbau sedap itu terus dilemparkan
kepadanya.
Waktu gadis itu menyambutinya, ia lihat daging paha itu
seperti paha kijang, memangnya perut sudah lapar, maka
tanpa sungkan-sungkan lagi ia sebret daging itu dan dimakan
sepotong demi sepotong, meski kurang asin karena tidak
digarami, tetapi dalam keadaan lapar rasanya sangat lezat
juga. Maka dengan duduk di tepi api unggun itu ikutlah dia
makan dengan bernapsu.
Tetapi dasar anak gadis, maka cara makannya tidak main
lalap seperti Nyo Ko, lebih dulu ia sobek-sobek daging paha itu
dalam potongan kecil-kecil, kemudian dengan pelahan baru
dia memakannya, Tetapi bila dilihatnya cara makan Nyo Ko
yang lahap hingga air liurnya ikut mencerocos, ia menjadi
mual dan jijik, kalau tak jadi makan, perutnya terasa lapar,
karena itu, terpaksa ia berpaling ke jurusan lain dan tidak
pandang Nyo Ko lagi.
Sesudah sepotong daging itu habis, kembali Nyo Ko
lemparkan sepotong lagi kepadanya.
"He, tolol, kau bernama siapa ?" tiba-tiba gadis itu
menanya.
"Eh, apa kau ini dewa ? Kenapa kau tahu bahwa aku
bernama Tolol ?" dengan lagak bebal yang dibikin-bikin
berbalik Nyo Ko menanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Haha, jadi kau memang bernama si tolol ?" gadis itu
tertawa demi mendengar jawaban orang, rupanya ia menjadi
gembira, "Dan dimanakah Bapa dan Mak-mu ?"
"Sudah mati semua," sahut Nyo Ko. "Dan kau sendiri
bernama siapa ?"
"Tak tahu, Buat apa kau tanya ?" kata si gadis.
"Dia tak mau katakan, biarlah aku pancing dia," demikian
pikir Nyo Ko karena orang tak mau memberitahukan namanya.
Lalu dengan berlagak berseri-seri ia berkata pula : "Hahaa,
aku tahu, kaupun bernama si tolol, maka kau tak mau
mengatakan namamu."
Tentu saja gadis itu menjadi gusar, segera ia melompat
maju, ia angkat kepalan terus menggetok dengan keras ke
atas kepala Nyo Ko.
"Siapa bilang aku bernama si tolol, kau sendiri yang tolol,"
demikian damperatnya pula.
Karena kepala digetok orang, Nyo Ko pura-pura kesakitan
sambil menutup kepala dengan tangan-nya.
"Ya, sebab kalau orang tanya nama ku, bila aku katakan
tak tahu, lantas orang panggil aku si tolol, sekarang kaupun
bilang tak tahu, dengan sendirinya kaupun bernama si tolol,"
kata Nyo Ko dengan mewek-mewek bikinan.
"Siapa bilang aku tak tahu ?" bentak si gadis sengit "Hanya
aku tak suka katakan padamu, Aku she Liok, mengarti tidak ?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya gadis ini adalah Liok Bu-siang, itu gadis cilik
pemetik ubi teratai yang sudah kita kenal pada permulaan
cerita ini.
Sebagaimana masih ingat, dahulu waktu dia main panjat
pohon bersama Piaoci-nya, yaitu Thia Eng, dan kedua saudara
Bu, ia telah jatuh dari atas pohon hingga tulang kakinya
patah, Syukur secara kebetulan Bu-samnio numpang
menginap dirumahnya dan telah menyambungkan tulang
kakinya yang patah itu.
Tetapi karena ayah Bu-siang, jakni Liok Lip-ting
mencurigai Bu-samnio, akhirnya mereka saling gebrak
sehingga sambungan tulang kaki Bu-siang rada terganggu dan
sedikit meleset sesudah sembuh, kaki kirinya yang patah itu
telah mengker sekira satu senti, maka bila berjalan menjadi
sedikit pincang pula.
Walaupun kulit badan Liok Bu-siang tidak begitu putih,
tetapi dasar pembawaannya cantik raut mukanya, setelah
besar ia bertambah manis pula, tapi karena pincang kakinya,
inilah yang menjadi penyesalan selama hidupnya.
Sesudah seluruh keluarganya dibunuh habis oleh Li Bokchiu,
sebenarnya Bu-siang pun tidak terluput dari kematian,
tetapi setiap kali bila melihat saputangan sulaman yang
menggubet di leher Bu-siang, lantas Li Bok-chiu teringat pada
cinta Liok Tian-goan dahulu hingga selalu ia tak tega
menghabisi jiwa anak dara itu.
Liok Bu-siang sendiri meski usianya masih kecil, tetapi ia
sudah pandai berpikir, ia mengerti dirinya terjeblos di dalam
cengkeraman iblis perempuan ini, jiwanya boleh dikatakan
seperti telur di ujung tanduk yang setiap saat terancam
bahaya, oleh sebab itu ia berlaku sangat hati-hati dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
berusaha sedapat mungkin menarik-narik hati orang, dan
karena pintarnya Bu-siang membawa diri dan rajin melayani
sehingga Jik-lian-sian-cu yang biasanya bunuh orang tanpa
berkedip itu lambat laun menjadi reda juga maksud
membunuhnya pada Liok Bu-siang.
Kadang-kadang Li Bok-chiu terkenang pada peristiwa di
masa mudanya yang sangat menyesatkan itu, segera Bu-siang
dipanggil ke hadapannya, lalu nona kecil itu disiksa dan dihina
untuk melampiaskan dendamnya.
Namun Bu-siang pintar pura-pura, ia sengaja bikin
mukanya kotor dan rambutnya serawutan sambil berjalan
pincang sebagaimana seorang gadis yang harus dikasihani
maka bila melihat macamnya ini, mestinya Li Bok-chiu hendak
umbar dendamnya lantas tak sampai hati dilontarkan lagi.
Begitulah caranya Liok Bu-siang mencari selamat bagi
dirinya sendiri, beruntung juga seorang gadis cilik seperti dia
itu ternyata bisa hidup terus berdampingan dengan Li Bokchiu
yang kejam itu. sungguhpun demikian, dalam hati Busiang
tidak pernah melupakan sakit hati ayah-bundanya yang
dibunuh Li Bok-chiu secara kejam, sebaliknya apabila Li Bokchiu
coba menanyakan tentang ayah-ibunya, selalu Bu-siang
berlagak linglung dan pura-pura tidak mengingatnya lagi.
Bila Li Bok-chiu sedang mengajarkan ilmu silat pada Ang
Ling-po, ia lantas menunggunya di samping untuk melayani
bila orang perlu diambilkan handuk atau Lain-lain, atau dia
pura-pura menyapu dan bersihkan meja kursi. Memangnya
ilmu silat Bu-siang sudah ada dasarnya, maka diam-diam ia
mengingatnya dengan baik apa yang dilatih kedua orang tadi,
lalu di waktu malam diam-diam ia sendiri lantas melatihnya
kembali.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ditambah lagi di waktu biasa ia sengaja membaiki Ang
Ling-po hingga belakangan ketika sang guru sedang gembira,
Ang Ling-po lantas memohon bagi Liok Bu-siang untuk
diterima sekalian sebagai murid Li Bok-chiu.
Dengan begitulah beberapa tahun telah lalu, ilmu silat Busiang
sudah banyak maju pula, hanya perasaan Li Bok-chiu
betapapun masih terdapat sisa-sisa rasa benci padanya,
jangankan ilmu silat yang paling tinggi, meski ilmu kepandaian
kelas dua saja tak sudi diajarkan padanya, baiknya ada Ang
Ling-po yang merasa kasihan padanya dan diam-diam suka
memberi petunjuk-petunjuk, maka ilmu silatnya walau tak bisa
dikatakan tinggi, namun dibilang rendah pun tidak rendah.
Hari itu, ber-turut-urut Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah
berangkat ke Hoat-su-jin-bong untuk mencuri "Giok-li-simkeng",
karena sampai lama belum nampak kedua orang itu
kembali, maka Bu-siang telah ambil keputusan untuk pulang
ke daerah Kanglam buat mencari tahu mati-hidup ayahbundanya
yang sebenarnya, sebab waktu kecil ia hanya
melihat ayah-ibunya dipukul Li Bok-chiu hingga luka parah,
tentunya banyak celaka daripada selamatnya, tetapi karena
belum melihat meninggalnya kedua orang tua dengan mata
kepala sendiri, bagaimanapun dalam hatinya masih selalu
menaruh sedikit sinar harapan semoga ayah-bundanya masih
hidup, maka ingin sekali dia mencari tahu keadaan yang
sebenarnya.
Oleh karena kaki kirinya cacat, yakni pincang, ciri-ciri ini
telah merubah sifatnya hingga rada rendah diri, dia paling
benci apabila ada orang memandang kakinya pincang itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hari itu di tengah jalan justru kedua imam telah
memandang beberapa kali pada kakinya yang cacat itu hingga
menimbulkan amarahnya, kontan Bu-siang melontarkan katakata
yang menghina, dasar kedua imam itu juga bertabiat
buruk, maka dari perang mulut akhirnya berubah menjadi
perang senjata, dalam pertarungan itu, dengan golok-sabitnya
yang melengkung itu Bu-siang telah tabas daun kuping dan
batang hidung kedua imam itu, sebagai ekornya kemudian
terjadi pertarungan sengit di Cay-long-kok itu.
Dulu tatkala Bu-siang digondol pergi oleh Li Bok-chiu, di
gua pegunungan dekat Oh-chiu sebenarnya dia sudah pernah
berjumpa sekali dengan Nyo Ko, tetapi waktu itu sama-sama
masih kecil, sekarang keadaan mereka berdua pun sudah
banyak berubah, dengan sendirinya perkenalan kilat dahulu itu
sudah tidak mereka ingat lagi.
BegituIah setelah Bu-siang menghabiskan dua potong
daging paha kijang panggang, iapun merasa kenyang.
Di lain pihak sebaliknya Nyo Ko sedang memandangi
wajah si nona yang manis, "Saat ini Kokoh, entah berada di
mana ? Gadis di depanku ini kalau Kokoh adanya, lalu kuberi
dia paha kijang panggang, bukankah akan sangat
menyenangkan ?" demikian pikirnya diam-diam. Karena
hatinya memikir, maka matapun menatap orang terlebih
kesima.
Melihat begitu rupa orang pandang padanya, Bu-siang
menjengek sekali, habis ini ia berdiri hendak menyingkir
Mendadak dari jauh terdengar seorang sedang mendatangi
dengan menyeret sandalnya yang menerbitkan suara "sratsret,
srat-sret", sambil mendekat orang itu sembari gunakan
hidungnya untuk mengendus sekeras-kerasnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ehm, wangi, sedap !" demikian ia berseru.
Dan sesudah dekat, maka jelas kelihatanlah baju yang
dipakai orang itu penuh tambal-sulam di sana-sini, kiranya
seorang kere, seorang pengemis.
Walaupun kere, tetapi dia mendekati orang dengan lagak
tuan besar, lalu dia duduk di samping Nyo Ko, tanpa disuruh
pun tanpa permisi segera dia samber sepotong daging kijang
panggang yang masih digarang di atas api unggun tadi terus
digeragoti dengan lahap seperti orang yang sudah tujuh hari
tujuh malam tidak makan.
Nyo Ko sih tidak menggubris diri orang, tetapi Bu-siang
yang mencium bau busuk tubuh orang yang kotor,
memangnya dia sudah mendongkol, kini melihat kelakuannya
yang tak kenal aturan, rasa mendongkolnya bertambah lipat,
mendadak dia berdiri lantas tinggalkan orang hendak masuk
kedalam rumah untuk tidur.
Rupanya sikap Bu-siang ini dapat diketahui si jembel tadi,
tiba-tiba ia mendongak dan memandang sekejap pada si gadis
sambil tersenyum, habis ini ia menunduk kembali untuk
makan daging panggangnya.
Bu-siang menjadi gusar melihat kelakuan orang.
"Apa yang kau tertawakan ?" damperatnya segera.
"Aku tertawa sendiri, sangkut-paut apa dengan kau ?"
sahut pengemis itu dengan dingin.
Dalam gusarnya Bu-siang sudah pegang goloknya dan
berniat bunuh orang, syukur dia memikir pula: "Jangan dulu,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kalau aku bunuh dia si tolol itu tentu akan ketakutan dan
melarikan diri, biarlah aku bersabar sementara."
Maka dengan menahan rasa gusarnya, tanpa berpaling lagi
ia lantas masuk ke rumah batu itu.
Di luar dugaan, baru saja dia melangkahi am-bang pintu,
tiba-tiba terdengar si pengemis membuka suara pula dan
sedang bertanya pada Nyo Ko : "Siapakah dia tadi, apa dia
binimu ? Kenapa kakinya pincang ? Tidak laku dijual ?"
Sungguh tidak kepalang rasa gusar Liok Bu-siang oleh
serentetan kata-kata yang semuanya sangat menusuk hatinya,
pertama-tama orang bilang dia adalah bini si tolol yang kotor
dan berbau busuk itu, kedua, kakinya yang cacat diolok-olok
dan ketiga dia dianggap seperti khewan saja, bukan saja
harus dijual, bahkan dikatakan tidak laku.
Sejak kecil Bu-siang sudah kenyang oleh segala siksaderita
yang diperoleh dari Li Bok-chiu, oleh sebab itu, dalam
pandangannya setiap orang di jagat ini dianggap sebagai
musuh semua dan setiap orang pasti akan membikin susah
padanya, ditambah kakinya pincang sehingga tabiatnya
berubah aneh, yakni merasa rendah harga diri, maka bila
siapa saja berani coba-coba memandang sekejap pada
kakinya yang cacat itu, tentu akan menimbulkan amarahnya,
apa lagi si pengemis tadi telah mengeluarkan kata-kata yang
sangat menghina itu, keruan dia tak tahan lagi, dengan cepat
golok-sabitnya dilolos, begitu memutar, secepat angin
dilabraknya si jembel itu.
Si pengemis itu terhitung anak murid Kay-pang (Persatuan
Pengemis) angkatan keenam, di kalangan pengemis mereka
ilmu silatnya tergoIong tengahan, maka kepandaiannya pun
tidak terlalu rendah.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Persatuan Pengemis itu sejak Ang Chit-kong menjabat
ketua, anggotanya banyak terpengaruh-oleh sifat ketua
mereka, yakni menganggap di mana-mana adalah kediaman
mereka, berpikiran jujur dan suka terus terang, suka
bersahabat dengan siapapun juga yang dijumpai.
Oleh sebab itulah demi bertemu dengan Nyo Ko yang lagi
panggang daging di tempat sepi, pula melihat pakaian Nyo Ko
compang-camping, maka pengemis tadi pikir meski orang
bukan sesama anggota, sedikitnya masih terhitung
segolongan, golongan kere.
Karena itu iapun tidak sungkan-sungkan lagi, begitu
datang ia lantas duduk terus ikut makan, siapa tahu Bu-siang
telah mengunjuk muka jemu dan kurang senang, bahkan terus
berdiri dan menyingkir pergi karena tak tahan ia telah tertawai
orang beberapa kata, tak terduga si gadis ternyata sangat
pemarah, begitu putar kembali lantas main senjata.
BegituIah, maka atas serangan Bu-siang tadi pengemis itu
telah berteriak sambil melompat bangun: "Haya, jangan
ngamuk, jangan ngamuk, aku telah makan panggang daging
lakimu. biarlah aku muntahkan kembali saja!"
Justru Bu-siang paling benci kalau orang berkelakar atas
dirinya, keruan ia bertambah murka, tanpa berhenti lagi
goloknya membabat dari kiri dan memotong pula dari kanan,
beruntun-runtun dua kali mengarah tempat lawan yang
berbahaya.
Namun dengan cepat pengemis itu dapat menghindarkan
diri, ketika serangan ketiga menyamber lagi, karena arah yang
dituju tidak tetap, sedikit meleset saja dugaan pengemis itu,
maka terdengarlah suara merobeknya kain, ternyata bajunya
yang memang rombeng telah tertabas robek.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Keruan pengemis itu terkejut, "Eh, tidak nyana ilmu silat
anak dara ini ternyata sangat lihay," demikian katanya dalam
hati.
Dalam pada itu untuk keempat kalinya Bu-siang telah
menyerang lagi, maka tak berani pula si pengemis pandang
enteng lawannya, segera tongkat yang terselip di pinggangnya
dia cabut terus ditangkiskan.
Tetapi setelah saling gebrak belasan jurus, rangsakan Busiang
semakin lama semakin ganas, diam-diam pengemis itu
mengelak.
"Anak dara ini entah dari golongan dan aliran mana
datangnya, perlu apa aku terlibat permusuhan dengan dia
tanpa sebab ? Asal aku tancap gas sekencang-kencangnya
terus mengeluyur pergi, masakan gadis pincang ini sanggup
mengejar padaku ?" demikian pikirnya, Demi ingat kaki orang
pincang, tanpa terasa ia memandang sekejap lagi ke arah
anggota badan orang yang cacat itu.
Sebenarnya kalau dia sudah ambil keputusan buat angkat
kaki, asal dia putar tubuh terus kabur mungkin segala
persoalan akan menjadi selesai, tetapi celaka baginya, justru
karena pandangannya tanpa sengaja itu kepada kaki orang
yang pincang, habis ini baru dia melarikan diri, kelakuannya ini
telah menyinggung perasaan Liok Bu-siang yang paling benci
kalau kakinya yang cacat itu dipandang orang, sebab inilah
dikemudian hari telah banyak menimbulkan ekor panjang.
Ketika Bu-siang mengetahui orang menatap kakinya yang
pincang sambil mengunjuk rasa senang, habis ini tongkat
ditarik terus kabur, keruan rasa gusarnya me-Luap-luap tak
bisa ditahan lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Pengemis maling, apa kau kira aku tak bisa berjalan
leluasa dan tak sanggup mengejar kau ?" damperatnya sengit.
Habis ini segera dia mengudak.
Melihat pengemis itu lari ke arah utara, segera Bu-siang
putar goloknya yang melengkung itu, setelah diayun beberapa
kali, sekonyong-konyong ia lepaskan sekeras-kerasnya ke arah
tenggara hingga membawa samberan angin yang santer.
Tatkala itu dengan se-enaknya Nyo Ko sedang makan
daging panggang dan menyaksikan perkelahian orang sambil
duduk, ia menjadi sangat senang melihat si pengemis sengaja
bikin Bu-siang marah-marah. Tetapi ia menjadi heran ketika
mendadak melihat Bu-siang menimpukkan goloknya ke arah
tenggara, namun baru saja ia tercengang atau tiba-tiba
terlihat golok-sabit itu memutar sendiri di udara seperti
dikemudikan saja.
Golok-sabit yang melengkung ini bentuknya sangat aneh,
mata goloknya begitu tipis seperti kertas, diwaktu Liok Busiang
menimpuk, tenaga yang digunakan sangat tepat pula,
maka tertampaklah golok itu membawa suara ngaungan terus
menyamber ke tubuh si pengemis tadi.
Saat itu si jembel sedang berlari dengan cepat, siapa duga
golok ini seperti punya mata saja, sekonyong-konyong
menyamber tiba terus menancap di atas punggungnya.
Saking sakitnya oleh tusukan golok itu, tanpa ampun lagi
pengemis itu jatuh terjungkal.
Tentu saja Bu-siang tidak sia-siakan kesempatan itu,
dengan gunakan ilmu entengkan tubuh ia memburu maju
dengan niat cabut goloknya yang menancap di punggung
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
orang untuk kemudian menambahi orang dengan sekali
bacokan lagi.
Namun pengemis itu tidak menyerah mentah-mentah,
belum sampai orang datang dekat, sekuat tenaganya ia telah
merangkak bangun terus berlari pula ke depan seperti
kesetanan, sekejap kemudian orangnya sudah menghilang
tanpa bekas di kegelapan.
Sesudah dicoba dan merasa tidak bisa menyandak larinya
orang, akhirnya Liok Bu-siang tidak mengudak lebih jauh, ia
kembali ke tempatnya tadi.
"Lekas pergi mengambil kembali golokku itu." bentaknya
tiba-tiba sesudah berhadapan dengan Nyo Ko.
"Golok apa ? Aku tak tahu !" sahut Nyo Ko acuh tak acuh.
"Bukankah kau melihat golokku menancap di
punggungnya ?" kata Bu-siang pula, "Lekas pergi mengambil
!"
"Tak bisa mengambilnya lagi," ujar Nyo Ko sambil goyanggoyang
tangannya.
Bu-siang tahu percuma saja meski banyak bicara, karena
itu, ia putar tubuh terus masuk rumah batu tadi untuk tidur
sendiri, Baiknya padanya masih terdapat sebilah belati, maka
katanya dalam hati: "Walaupun golok-sabit sudah tak ada,
dengan belati inipun cukup untuk bikin beberapa lubang di
badanmu."
Tengah malam, diam-diam Bu-siang bangun, dengan
berindap-indap ia keluar rumah, ia lihat Nyo Ko sedang
menggeros di tepi gundukan api itu tanpa bergerak sedikitpun.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Gundukan api itu sudah lama padam, rembulan pun mulai
doyong ke barat, hanya remang-remang masih kelihatan
bayangannya.
Segera Bu-siang cabut belatinya, dengan pelahan ia
mendekati orang, begitu sudah dekat, tanpa pikir lagi belati
diangkat terus ditusukkan sekeras-kerasnya ke punggung
orang, tapi mendadak tangannya kesemutan, tangannya
terguncang sakit, karena itu tak kuat lagi ia genggam lebih
kencang, dengan menerbitkan suara nyaring, belatinya
terlepas dari cekalan, terasa olehnya tempat yang kena
tusukan belatinya itu seperti mengenai besi atau batu yang
keras.
Keruan saja bukan buatan terkejutnya Bu-siang, tanpa
pikir lagi ia putar tubuh terus lari menyingkir dalam hati ia
pikir: "Jangan-jangan Si tolol ini telah melatih diri begitu rupa
sehingga tubuhnya kebal tak mempan senjata ?"
Sesudah berlari pergi beberapa tombak jauhnya, karena
tak mendengar suara kejaran Nyo Ko, kemudian Bu-siang
menoleh, dilihatnya masih meringkik di samping gundukan api
yang sudah padam itu tanpa bergerak sedikitpun.
Dengan sendirinya Bu-siang menjadi curiga, "Tolol, he,
Tolol !" ia berteriak-teriak memanggil
Tetapi meski sudah berulang kali ia memanggil toh orang
masih tetap tidak menyahut Waktu Bu-siang menegasi, ia lihat
tubuh Nyo Ko dalam keadaan meringkuk, bentuknya sangat
aneh dan mencurigakan. Maka dengan tabahkan hati ia
mendekati. Setelah dekat, nyatanya barang yang meringkuk
itu tidak mirip bentuk manusia, ketika ia coba meraba, rasanya
sangat keras, barang yang berada di bawah baju itu laksana
batu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tanpa ayal lagi segera Bu-siang singkap baju itu, betul
saja di dalamnya berisi sebuah batu padas yang panjang
besar, jadi hanya baju membungkus batu, tetapi bayangan
Nyo Ko sudah tak kelihatan.
Seketika Bu-siang terkesima oleh kejadian di luar dugaan
itu, kembali ia memanggil pula : "He, Tolol."
Namun tetap tiada jawaban, Ketika ia coba pasang kuping
mendengarkan tiba-tiba terdengar dalam rumah batu itu
sayup-sayup seperti ada suara orang mengorek. Keruan saja
Bu-siang terheran-heran, segera ditujunya tempat datangnya
suara itu, betul saja ia lihat Nyo Ko sedang tidur pulas di atas
meja yang tadi digunakan dirinya.
Karena serangannya tadi tidak mengenai sasarannya,
dalam gusarnya Bu-siang tidak berpikir pula secara teliti
kenapa orang bisa mendadak tidur di atas mejanya, mendadak
ia melompat maju, belati diangkat dengan sekali tusuk
kembali ia tikam pula punggung orang.
Bu-siang menjadi senang karena sekali ini ia telah tepat
menikam orang yang sesungguhnya ia lihat Nyo Ko tidak
melompat bangun pula tidak menjerit kesakitan, maka tanpa
ayal ia cabut belatinya dan tambahi pula sekali, tempat
dimana melatinya menusuk terang sekali adalah daging tubuh
orang, sedikitpun tiada perbedaan lain, cuma aneh, sama
sekali tidak tertampak mengalirnya darah.
Karena itu, kembali Bu-siang terkejut tetapi gusar pula,
susul menyusul ia menusuk lagi beberapa kali, tetapi yang
terdengar malah suara meng-gerosnya Nyo Ko yang semakin
keras.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ai, siapakah yang mengitik-ngitik punggungku ? Hihi,
jangan guyon ! Haha jangan main-main, aku tak tahan geli!"
demikian terdengar Nyo Ko malah menginggau.
Saking terperanjatnya Bu-siang sampai mukanya pucat
lesi, akhirnya kedua tangannya pun menjadi gemetar sendiri
"Jangan-jangan orang ini adalah setan atau siluman ?"
katanya dalam hati.
Oleh karena pikiran itu, segera ia putar tubuh hendak
melarikan diri, akan tetapi, entah saking takutnya atau
mengapa, seketika kedua kakinya seperti tak mau turut
perintahnya, dia masih terpaku di tempatnya.
"Ai, pungungku kenapa begini geli, tentu ada tikus yang
hendak colong daging kijangku," demikian kembali terdengar
Nyo Ko menempati lagi.
Habis itu ia malah ulur tangan ke punggung, dari dalam
bajunya ditarik keluar sepotong dagang kijang panggang terus
dibanting ke lantai.
Melihat ini barulah Bu-siang menarik napas Iega, kini baru
dia mengerti duduknya perkara, "Kiranya si tolol ini simpan
daging kijang dekat punggungnya, pantas belasan kali
tikamanku tidak membikin jiwanya melayang sebab semuanya
mengenai daging kijang, sebaliknya aku sendiri malah dibikin
takut!" begitulah ia pikir.
Karena dua kali menikam dan dua kali tidak berhasil
tewaskan orang, rasa benci Bu-siang terhadap Nyo Ko menjadi
tambah pula, "Si tolol busuk, lihat sekali ini jiwamu melayang
tidak ?" dengan geregeten Bu-siang berkata dengan suara
pelahan, menyusul ini tiba-tiba ia menubruk maju, lagi-lagi
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dengan belatinya ia menikam punggung Nyo Ko, ia menduga
sekali ini pasti Nyo Ko tak terluput dari kematian.
Siapa tahu pada waktu belatinya hampir mengenai tubuh
Nyo Ko, mendadak dalam keadaan masih mengorek pemuda
itu telah membaliki tubuhnya, keruan tusukannya menjadi
luput hingga mengenai meja sampai ambles sebatas gagang
belati
Selagi Bu-siang sekuatnya hendak cabut kembali belatinya,
di lain pihak Nyo Ko seperti mimpi saja, tiba-tiba berteriak :
"Tolong, Mak ! Tolong, ada tikus busuk hendak gigit aku !"
Menyusul itu kedua kakinya yang kotor dan bau itu bahkan
menjulur ke depan, tahu-tahu kaki kiri tepat ditaruh di atas
siku Bu-siang tempat kiok-ci -hiat" dan kaki kanan sebaliknya
menggeletak di atas pundak si gadis tepat mengenai tempat
"ko-cing-hiat".
Kedua tempat yang disebut itu adalah kedua Hiat-to yang
berbahaya di tubuh manusia, ketika Nyo Ko ulur kedua
kakinya, entah sengaja atau secara kebetulan, secara persis
telah membentur kedua tempat jalan darah itu. Keruan
seketika Bu-siang merasakan tubuhnya menjadi kesemutan
lalu tak bisa berkutik lagi ia hanya berdiri membisu saja di
tempatnya dan dijadikan penyanggah kaki Nyo Ko.
Sungguh bukan buatan murka Liok Bu-siang oleh kejadian
ini, meski tubuhnya tak bisa bergerak, tetapi mulutnya masih
bisa buka suara, Karena itu segera ia membentak
mendamperat: "Hai, ToloI, lekas singkirkan kakimu yang bau
ini!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi jawaban yang dia peroleh hanya suara
mengoroknya Nyo Ko yang semakin keras.
Tidak kepalang gemasnya Bu-siang hingga dia kehabisan
akal, dalam keadaan murka, tiba-tiba ia pentang mulut terus
meludahi tubuh Nyo Ko.
Tak kira lagi-lagi Nyo Ko membaliki tubuhnya, sedang
ujung kaki kanannya seperti tak disengaja saja tiba-tiba
melayang dan dengan tepat membentur pelahan "pi-su-hiat"
di bawah dagu Liok Bu-siang.
Karena benturan itu, seketika seluruh tubuh Bu-siang
menjadi kaku semua, kini mulut saja tak bisa dipentang lagi,
hanya hidungnya yang kenyang mencium bau kaki Nyo Ko
yang bacin.
Bcgitulah gadis itu telah dibuat tempat penyanggah kaki
Nyo Ko hingga sekian lama, saking dongkolnya sampai Busiang
hampir semaput, Dalam hati tiada hentinya ia mengutuk
dan menyumpahi Nyo Ko: "Jahannam kau si Tolol ini, besok
kalau aku sudah bisa bergerak bebas, pasti kucincang kau
hingga menjadi baso."
Tidak lama, rasanya Nyo Ko sudah cukup puas
mempermainkan orang, tiba-tiba ia membaliki tubuh lagi
berbareng melepaskan kedua kakinya dari atas tubuh orang,
kini ia membalik menghadap keluar, karena itu, meski dalam
keadaan gelap Nyo Ko masih bisa melihat cukup jelas air muka
si nona yang penuh gusar dan mangkel itu.
Tetapi semakin Bu-siang mengunjuk gusar, rupanya
semakin mirip Siao-liong-li hingga dengan termangu-mangu
Nyo Ko menikmati wajahnya seperti orang yang kehilangan
semangat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Di lain pihak, karena waktu itu rembulan mendoyong ke
barat hingga sinar sang dewi malam menyorot masuk melalui
pintu, maka muka Nyo Ko dapat dilihat dengan jelas oleh Liok
Bu-siang, ia lihat pemuda ini sedang pentang kedua matanya
lebar-lebar dan lagi memandang padanya dengan tersenyumsimpul.
Keruan hati Bu-siang terkesiap, "Jangan-jangan si Tolol ini
sengaja berlagak bodoh dan pura-pura bebal ? Memang tak
disengaja tadi ia menutuk jalan darahku ?" demikian ia bertanya-
tanya pada diri sendiri.
Oleh karena pikiran itu, tanpa tertahan keringat dingin
membasahi sekujur tubuhnya.
Justru pada saat itu juga, tiba-tiba dilihatnya Nyo Ko
sedang melirik ke lantai, waktu Bu-siang ikut melirik ke arah
yang diincar Nyo Ko itu, maka tertampaklah olehnya di atas
lantai itu terdapat tiga bayangan hitam yang sejajar, kiranya
ada tiga orang telah berdiri di ambang pintu sana.
Waktu ia menegasi lagi, ternyata ketiga orang itu
semuanya bersenjata.
"Celaka, celaka, ada musuh lagi menunggu, tetapi justru
Hiat-to kena ditutuk si Tolol ini," diam-diam Bu-siang
mengeluh.
Nyata, meski tadi dia sudah curiga, namun apapun juga
sukar dipercaya bahwa seorang bocah angon yang bodoh dan
kotor seperti dia ini memiliki ilmu silat yang tinggi
Dalam pada itu demi dilihatnya bayangan orang-orang itu,
segera Nyo Ko pejamkan mata lagi dan pura-pura tidur.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Hayo, budak hina, lekas keluar, apa dengan berdiri tegak
begitu saja lantas dikira Toya (tuan imam) bisa mengampuni
kau ?" demikian terdengar salah seorang di luar itu berteriak.
"Ah, kiranya kaum imam lagi," kata Nyo Ko di dalam hati
demi mendengar tantangan orang itu.
"Kamipun tidak inginkan jiwamu, asal iris juga batang
hidungmu, potong sebelah daun kuping dan sebelah telapak
tangan saja sudah cukup," terdengar seorang Iain berkata
lagi.
"Kami sudah menunggu di sini, lekas keluar kau untuk
turun tangan saja," demikian kata orang ketiga.
Habis itu, ketiga orang itu lantas melompat pergi, mereka
kepung pintu keluar itu dengan rapat.
"He, suara teriakan apakah di luar itu, di manakah kau
nona Liok ?" demikian kemudian Nyo Ko bangun terduduk
dengan mengulet kemalas-malasan. "Eh, nona Liok, kenapa
kau berdiri saja di situ ?"
Habis berkata, seperti tidak sengaja ia tarik-tarik lengan
baju si gadis dan digoyangkan beberapa kali, Maka terasalah
tiba-tiba oleh Liok Bu Siang ada suatu kekuatan yang besar
sekali telah mengguncang-guncangkan seluruh tubuhnya
hingga ketiga tempat Hiat-to yang tertutuk tadi seketika lancar
kembali dan dapat bergerak bebas lagi.
Bu-siang pun tidak sempat berpikir secara teliti, segera ia
jemput belatmya dari lantai terus melompat keluar rumah, di
bawah sinar rembulan itu terlihatlah olehnya tiga orang lelaki
sudah menantikan di situ, iapun tidak bicara lagi, begitu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tangannya bergerak belatinya segera menusuk pada orang
yang berdiri di sebelah kiri.
Orang itu bersenjatakan ruyung besi, karena serangan Busiang
itu, ia incar-incar dengan baik ruyungnya terus
disebetkan ke bawah.
Ruyungnya ini memang cukup berat, ditambah lagi
tenaganya juga besar, sabetannya itupun diincar dengan tepat
sekaii, maka terdengarlah suara "trang" yang keras, belati Busiang
seketika terlepas dari tangan.
Waktu itu Nyo Ko masih merebah miring di atas mejanya,
ia lihat Bu-siang melompat ke samping, sedang tangan kirinya
diangkat miring ke depan, segerapun Nyo Ko menduga imam
yang diarah itu pasti tak mampu pertahankan goloknya.
Memang betul, ketika Bu-siang membaliki tangannya lagi,
dengan ilmu silat Ko-bong-pay yang sangat hebat itu, tahutahu
golok salah satu imam itu sudah kena disebutnya dan
bahkan dibarengi pula sekali membacok, tidak ampun lagi
pundak imam itu telah merasakan tajam goloknya sendiri.
Dengan disertai caci maki, lekas-lekas imam itu melompat
ke samping untuk merobek kain bajunya buat membalut
lukanya itu.
Sesudah mendapatkan goIok, seketika semangat Bu-siang
bertambah, tanpa ayal lagi ia tempur lelaki yang memakai
ruyung besi itu dengan sengit, Sedang seorang lainnya adalah
lelaki pendek kecil dan memakai senjata tumbak, iapun tidak
berpeluk tangan ia ikut terjun ke dalam pertempuran,
tumbaknya bekerja cepat menusuk ke sini sana untuk bantu
kawannya, cuma dia tak berani terlalu mendekati Bu-siang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ilmu silat lelaki yang pakai ruyung itu ternyata sangat
tinggi, setelah belasan jurus, lambat laun Liok Bu-siang
merasa kewalahan Agaknya lelaki itu mempunyai tingkat yang
tidak rendah di kalangan Bu-lim, hal ini terbukti gerakgeriknya
ternyata sangat beraturan, meski beberapa kali Busiang
berbuat kesalahan dalam serangannya, namun orang itu
ternyata tidak mau terlalu mendesak dan gunakan
kesempatan itu untuk melukai Liok Bu-siang.
Sementara itu imam tadi sudah selesai membalut lukanya,
dengan tangan kosong ia menerjang maju lagi.
"Darimana datangnya perempuan keparat seperti kau ini,
kenapa cara turun tanganmu begitu keji ?" demikian dengan
tangan menuding Bu-siang mencaci-maki, Habis ini, begitu
kepalanya menunduk, segera ia menyeruduk Liok Bu-siang
dengan cepat.
"Celaka !" diam-diam Nyo Ko berteriak demi dilihat
keadaan pertarungan keempat orang diluar itu.
Betul saja dibawah berkelebatnya sinar senjata, punggung
imam itu kembali merasakan sekali bacokan lagi, bersamaan
dengan itu tumbak si lelaki pendek itupun menusuk sampai di
belakang Liok- Bu-siang, sedang telapak tangan si lelaki kuat
tadipun sudah menghantam ke dada si gadis.
Karena keadaan berbahaya itu, dengan cepat dua batu
kecil disamber Nyo Ko terus ditumpukkan sekaligus,
sambitannya ini ternyata sangat jitu, yang sebuat tepat
mengenai tumbak musuh hingga senjata ini terguncang pergi,
sedang batu yang lain kena pula pergelangan tangan lelaki
kuat tadi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Lelaki itu ternyata sangat tinggi ilmu silatnya, meski
tangan kanan kena sambitan batu dan seketika lemas tak
bertenaga, tapi telapak tangan yang lain masih bisa bergerak
secepat kilat dan mendadak dipukulkan lagi, maka
terdengarlah suara "plak", dada Bu-siang kena digenjot
dengan keras.
Keruan Nyo Ko terkejut Ya, bagaimanapun usia Nyo Ko
masih muda dan pengalamannya cetek, sama sekali tak
diduganya bahwa lelaki itu memiliki kepandaian lihay "Liangoan-
siang-ciang" atau pukulan berganda secara susulmenyusul.
Ketika pukulan kedua orang itu dilontarkan lekas-lekas Nyo
Ko melayang maju buat menolong Liok Bu-siang, dengan
sekali tarik saja ia dapat jambret baju leher lelaki itu, lalu
dengan tenaga raksasa nya terus dilempar pergi sejauhjauhnya.
Tubuh lelaki itu beratnya sedikitnya lebih dua ratus kati,
tetapi oleh lemparan Nyo Ko ini, seketika ia terapung-apung di
udara untuk kemudian jatuh terbanting sejauh beberapa
tombak
Melihat Nyo Ko begini lihay, imam tadi dan si lelaki pendek
menjadi jeri, Lekas-lekas mereka membangunkan kawannya
terus pergi tanpa berpaling lagi.
Kemudian Nyo Ko memeriksa keadaan Bu-siang, ia lihat
muka si gadis pucat kuning, napasnya sangat lemah, nyata
lukanya tidak ringan. ia ulur sebelah tangan ke bahu orang
dengan maksud memayang Bu-siang supaya duduk kembali,
siapa tahun tiba-tiba terdengar suara "gemerutuk" dua kali,
suara saling gosoknya tl!ang, kiranya dua tulang iga Bu-siang
telah patah oleh hantaman lelaki tangkas tadi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sebenarnya Bu-siang sudah jatuh pingsan, tapi karena
terguncangnya tulang iga yang patah hingga menimbulkan
sakit hebat, saking sakitnya berbalik ia sadar dari pingsannya
itu, lalu ia merintih-rintih dengan kepala tunduk.
Suka-duka apa pula yang dialami Nyo Ko dalam
pengembaraannya mencari Siao-liong-li bersama Liok Bu-siang
?
Apakah Li Bok-chiu si tokoh jahat ini berhasil membekuk Liok
Bu-siang yang mencuri buku ilmu silatnya ?
(Bacalah jilid ke-13)
Jilid 13
"Kenapa ? Apa sangat sakit ?" lekas-lekas Nyo Ko
bertanya.
Dalam sakitnya sampai jidatnya Bu-siang penuh
berkeringat kini mendengar pertanyaan Nyo Ko, keruan ia
mendongkol.
"Masih tanya, sudah tentu sangat sakit! demikian dengan
mengertak gigi menahan sakit dia mendamperat, "Hayo
pondong aku ke dalam rumah !"
Nyo Ko tak membantah Iagi, ia pondong tubuh si nona,
tapi tidak urung terjadi juga guncangan hingga tulang iga
yang patah itu kembali saling gosok hingga Bu-siang kesakitan
Iagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Bagus ya kau si Tolol setan alas, kau sengaja siksa aku,
ya ?" demikian ia memaki-maki. "Dan, dimanakah ketiga orang
tadi ?"
Nyata pada waktu Nyo Ko turun tangan menolongnya,
waktu itu ia kebetulan jatuh semaput oleh hantaman musuh,
sebab itu tak diketahuinya "si Tolol" inilah yang telah
menolong jiwanya.
"Mereka mengira kau sudah mati, maka mereka lantas
pergi," dengan tertawa Nyo Ko menjawab.
Mendengar keterangan ini hati Bu-siang merasa lega.
"Apa yang kau tertawa ?" damperatmya pula demi
dilihatnya Nyo Ko menyengir-nyengir. "Kau kesenangan ya
melihat aku kesakitan ?"
Mendengar orang mendamperat dan memaki terusmenerus
padanya, setiap kali orang memaki, Nyo Ko lantas
teringat pada kejadian dahulu ketika dirinya didamperat Siaoliong-
li.
Selama beberapa tahun ia hidup berdampingan dengan
Siao-liong-Ii di dalam kuburan Hoat-su-jin-bong, hari yang
dilewatkannya itu dianggap masa yang paling menyenangkan
selama hidupnya, sungguhpun Siao-liong-Ii selalu
mendamperatnya dengan bengis, tapi karena, diketahuinya
sang guru mengajarnya dengan sesungguh hati, meski
mendapat damperatan, toh tetap dirasakannya sangat senang.
Kini karena tidak bisa ketemukan Siao-liong-li yang dia
cari, tetapi kebetulan ada seorang gadis lagi yang
mendamperatnya dengan kata-kata yang bengis, tanpa terasa
hati kecilnya lantas anggap orang sebagai duplikatnya SiaoTiraikasih
Website http://cerita-silat.com/cc
liong-li sekedar pelipur hati yang kosong, dengan demikian
rasa deritanya menjadi sedikit berkurang.
Begitulah, maka terhadap cacimaki Liok Bu-siang tadi, Nyo
Ko hanya tertawa saja tanpa di-gubrisnya.
Melihat wajah orang mengunjuk ketawa, Bu-siang teringat
pada dirinya sendiri yang sudah cacat, kini menderita luka
parah pula, sebaliknya bocah angon ini meski kotor namun
seluruh anggota badannya dalam keadaan baik.
Memangnya tabiat Bu-siang sudah ada kelainan, kini
dalam keadaan luka ia menjadi iri terhadap Nyo Ko, ia gemas
sekali bisa-bisa dengan sekali bacok hendak dibunuhnya Nyo
Ko.
Nyo Ko pondong Bu-siang dan direbahkan di atas meja
tadi, Karena gerakan merebahkan itu, kembali tulang iganya
yang patah itu berbunyi lagi saling gosok, saking sakitnya Busiang
menjerit-jerit tak tahan. Dan justru waktu menjerit itu
pernapasannya menjadi tambah keras hingga menarik uraturat
iganya, maka rasa sakitnya menjadi lebih hebat lagi.
"Maukah kusambungkan tulangmu yang patah ini ?" tanya
Nyo Ko kemudian.
"Anak angon bau busuk, kau mampu sambung tulang apa
?" damperat Bu-siang.
"Pernah anjing piaraanku yang borokan berkelahi dengan
anjing tetangga dan tulang kakinya patah tergigit, maka
akulah yang sambungkan tuIangnya," kata Nyo Ko. "Dan ada
lagi, babi betina kepunyaan tetanggaku terbanting patah
tulang iganya, itupun aku yang menyambungkan tulangnya."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Bu-siang menjadi gusar karena dirinya disamakan dengan
khewan, tetapi ia tak berani berteriak sebab akan
mengakibatkan rasa sakit, terpaksa dengan suara tertahan ia
mendamperat lagi: "Kurangajar, kau memaki aku sebagai
anjing borokan dan maki aku pula sebagai babi betina, Kau
sendirilah yang anjing borokan dan babi betina."
"Tidak, salah, seumpamanya babi, aku kan babi jantan,"
sahut Nyo Ko dengan tertawa, "Lagipula, anjing borokan
itupun betina, anjing jantan tak bisa borokan kulitnya."
Biasanya Bu-siang sangat pintar bicara dan pandai adu
mulut, tetapi karena rasa sakitnya tidak kepalang setiap ia
buka mulut, maka maksudnya balas makian orang itu ia
urungkan, terpaksa ia pejamkan mata dan menahan rasa
sakit, ia tak gubris lagi keceriwisan Nyo Ko.
"Tahukah kau, tulang anjing totokan itu lantas sembuh
dalam beberapa hari saja sesudah ku sambung, ketika
berkelahi lagi dengan anjing tetangga, keadaannya seperti
tulangnya tak pernah patah," demikian Nyo Ko sengaja
menerocos terus. "Eh, nona Liok, bagaimana dengan kau, mau
tidak akupun sambung tulangmu ?"
Dalam keadaan kepepet, dalam hati Bu-siang berpikir
juga: "Boleh jadi bocah angon kotor ini betul-betul bisa
menyambung tulang, apa lagi disinipun tiada tabib, kalau tiada
yang mengobati aku, tentu aku akan mati konyol kesakitan."
Tetapi lantas terpikir lagi olehnya: "Tulang igaku yang
putus, kalau dia menyambungkan tulangku ini tentu tubuhku
akan kelihatan, bukankah ini sangat memalukan ? Hm, kalau
dia tak bisa menyembuhkan Luka-lukaku, biar kuhabiskan
jiwaku bersama dia. Dan kalau bisa sembuh, akupun tidak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
membiarkan seorang yang pernah melihat tubuhku tetap
hidup di jagat ini,"
Dasar sifat Bu-siang memang sudah menyendiri karena
penderitaannya sejak kecil pula begitu lama ikut Li Bok-chiu
hingga terpengaruh juga oleh sifat-sifat Jik-lian-sian-cu yang
kejam dan enteng tangan, walaupun umurnya masih sedikit,
tapi dalam pikirannya penuh dengan angan-angan yang keji.
Begitulah, maka dengan suara rendah lalu ia berkata :
"Baiklah, boleh coba kau menyambungkan tulangku,
sebenarnya kau bisa atau tidak ? jangan kau coba
membohongi aku, bocah angon busuk, awas kau !"
Nyo Ko menjadi senang melihat orang akhirnya menyerah
Katanya dalam hati: "Jika dalam keadaan begini aku tidak
goda dia, mungkin selanjutnya tiada kesempatan baik lagi."
Oleh karena itu, dengan lagak dingin saja dia berkata lagi:
"Sewaktu babi betinanya wak Ong tetanggaku itu patah tulang
iganya, beribu kali anak gadisnya memohon padaku dan
beruntun memanggil aku seratus kali "engkoh yang baik" baru
aku mau menyambungkan tulangnya."
"Cis, cis, bocah angon busuk, cis... auuh..." damperat Busiang
berulang-ulang, tetapi mendadak ia menjerit karena
dadanya terasa sakit pula.
"Kau tak mau panggil aku, tak mengapalah," kata Nyo Ko
dengan tertawa. "Nah, aku akan pulang sajalah, nona Liok,
selamat tinggal, sampai ketemu lagi."
Sambil bicara, betul saja Nyo Ko lantas melangkah keluar
pintu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Celaka, dengan kepergiannya ini, pasti aku akan mampus
kesakitan di sini," demikian pikir Bu-siang. Karena itu, terpaksa
ia tanya dengan menahan amarahnya : "Lalu apa yang kau
kehendaki ?"
"Sebenarnya kaupun harus panggil aku seratus kali
"engkoh yang baik", tetapi sepanjang jalan aku sudah
kenyang dicaci maki olehmu, maka kau harus panggil aku
seribu kali baru jadi," sahut Nyo Ko.
Betul-betul Bu-siang mati kutu, "BIarlah kusanggupi
semuanya, nanti kalau aku sudah sembuh, satu persatu baru
kubikin perhitungan padanya,"
Demikian pikirnya diam-diam. Karena itu, segera ia
menurut: "Baiklah, Engkoh yang baik, engkoh yang baik,
engkoh yang baik... auuh..."
"Sudahlah, masih ada 997 kali, sementara ku catat saja
sebagai utangmu, nanti kalau kau sudah baik barulah
dilunaskan lagi," kata Nyo Ko.
Habis berkata, ia lantas mendekati Bu-siang terus hendak
membuka bajunya.
Karena kelakuan Nyo Ko ini, tanpa terasa Bu-siang sedikit
mengkeret dan membentak: "Pergi, apa yang hendak kau
lakukan ?"
Karena bentakan itu, Nyo Ko menyurut mundur. "Untuk
menyambung tulangmu, kenapa bajumu tak boleh dibuka ?
Aku pernah dengar orang bilang ada ilmu "ke-san-pak-gu"
(memukul kerbau dari balik gunung), tetapi tak pernah
mendengar ada ilmu "ke-ih-ti-gu" (mengobati kerbau dari balik
baju)," demikian katanya dengan tertawa.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mendengar kata-kata ini, Bu-siang merasa lucu juga akan
kelakuannya tadi, tetapi kalau dibiarkan orang membuka
bajunya, sesungguhnya rada malu juga. Karena itu ia menjadi
ragu-ragu.
"Baiklah, tak bisa kutolak kau," katanya kemudian dengan
kepala menunduk dan berpikir lama.
"Kalau kau tak mau disembuhkan boleh tak usah saja,
akupun tidak kepingin..."
Baru saja Nyo Ko berkata sampai disini, mendadak
didengarnya di luar sana ada suara orang sedang berbicara :
"Budak hina ini pasti berada di sekitar sini, kita harus lekas
menemukannya."
Bu-siang menjadi pucat lesi mendengar suara orang itu,
dalam keadaan demikian rasa sakit dadanya tak terpikir lagi
olehnya, dengan cepat ia mendekap mulut Nyo Ko yang
sedang berkata tadi
Kiranya yang bicara di luar itu tidak lain dari pada Jik-liansian-
cu Li Bok-chiu, gurunya yang sangat ditakutinya itu.
Nyo Ko sendiripun sangat terkejut setelah dikenalnya
suara siapa orang itu.
"Yang menancap di punggung pengemis itu terang adalah
"Gin-ko-to" milik Sumoay, cuma sayang tak keburu kita
mencabutnya buat mengenalinya lebih pasti," demikian
terdengar suara seorang wanita lain. Orang ini dengan
sendirinya Ang Ling-po adanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya sejak mereka guru dan murid terlolos dari
kematian di Hoat-su-jin-bong, kemudian mereka telah pulang
ke Jik-keh-ceng yang menjadi kediamannya, di sana diketahui
bahwa Liok Bu-siang meninggalkan perkampungan mereka itu
tanpa pamit, bahkan sebuah kitab Li Bok-chiu, yaitu "Ngo-tokpit-
toan" (kitab rahasia "Panca-bisa") telah ikut dicuri juga.
Sebabnya Li Bok-chiu disegani di seluruh jagat hingga
tokoh-tokoh Bu-lim pada jeri bila mendengar namanya, titik
pokoknya bukan karena ilmu silat-nya, tetapi pada bisa jahat
"Ngo-tok-sin-ciang" "pukulan sakti panca-bisa, yakni lima
macam racun) dan senjata "Peng-pek-gin-ciam" (jarum perak
batu es).
Justru kitab "Ngo-tok-pit-toan" itu memuat resep obat
racun pembuatan jarum perak dan pukulan saktinya yang
berbisa itu dengan obat pemunahnya pula, kalau kitab itu
teruar di kalangan umum, lalu ditaruh kemana lagi nama baik
dan wibawa Jik-Iian-sian-cu yang disegani itu?
Li Bok-chiu sendiri sudah apal di luar kepala semua isi
kitab pusakanya itu, dengan sendirinya tak perlu kitab itu
selalu dibawa, pula penyimpanannya di Jik-he-ceng sangat
dirahasiakan siapa tahu Liok Bu-siang yang pintar dan cerdik,
segala apa selalu diperhatikannya hingga tempat penyimpanan
benda-benda rahasia gurunya telah diketahui olehnya, dan
karena sudah ada niatannya hendak melarikan diri, maka
jarum perak berbisa dan obat pemunah sang guru, bahkan
kitab "Panca-bisa" itupun dicuri dan dibawa lari sekalian
Keruan amarah Li Bok-chiu bukan buatan oleh perbuatan
Liok Bu-siang itu, dengan membawa Ang Ling-po, siang
malam segera diubemya, Terapi sudah lama Bu-siang kabur,
pula yang ditempuh adalah jalanan kecil yang sepi, meski Li
Bok-chiu berdua sudah menguber dari utara sampai selatan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dan dari selatan kembali ke utara untuk mencegatnya, namun
tetap tak kelihatan bayangan si gadis yang dicari itu.
Kebetulan juga malam hari itu, waktu mereka berdua
sampai di sekitar kota Cingkoan, mereka mendengar berita
dari anak murid Kay-pang yang mengatakan bahwa ada
pertemuan golongan mereka di sesuatu tempat.
Li Bok-chiu pikir anggota persatuan kaum pengemis itu
tersebar di mana-mana, kabar berita merekapun sangat cepat
dan tajam, tentu diantara mereka ada yang pernah melihat
Liok Bu-siang. Oleh karena itu mereka berdua lantas pergi ke
tempat pertemuan itu dengan maksud mencari kabar.
Tetapi di tengah jalan mereka telah ketemukan satu anak
murid Kay-pang dari angkatan ke-enam yang digendong lari
oleh seorang kawannya dalam keadaan luka-luka, selain itu
ada belasan pengemis yang mengawalnya.
Dengan kejelian mata Li Bok-chiu, sekilas dapat dilihatnya
di punggung pengemis yang di gendong itu menancap sebilah
golok yang melengkung dan dapat dikenalinya adalah "Gin-koto"
atau golok perak melengkung milik Liok Bu-siang.
Oleh karena tak ingin bikin onar dengan kaum pengemis
yang berpengaruh besar itu, maka diam-diam Li Bok-chiu
mengintil dari belakang untuk mengintai kebetulan lapat-lapat
dapat didengar percakapan kawanan pengemis itu dalam
keadaan marah-marah, katanya yang melukai kawan mereka
itu adalah seorang gadis pincang yang menimpukkan golok
melengkung itu.
Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, ia pikir kalau
pengemis itu baru saja dilukai, tentu Liok Bu-siang masih
berada juga di sekitar sini, Karena itu dengan langkah cepat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
segera ia menguber lagi hingga sampai di depan rumah batu
bobrok itu.
Disini tertampak olehnya ada segundukan abu bekas api
unggun, hidungnya pun mengendus bau darah yang anyir,
lekas-lekas ia nyalakan api dan coba periksa sekitarnya, betul
saja di atas tanah diketemukannya lagi bekas-bekas noda
darah yang masih baru, terang sekali terjadinya pertarungan
sengit itu belum lama berselang.
Dari itu segera Li Bok-chiu tarik-tarik ujung baju sang
murid sambil menuding ke arah rumah bobrok itu.
Ang Ling-po mengerti maksud sang guru, ia mengangguk
habis itu pintu ramah yang setengah tertutup itu ia dorong,
dengan putar pedang untuk melindungi tubuhnya segera ia
terjang ke dalam.
Di Iain pihak, demi mendengar, suara percakapan antara
Suhu dan Sucinya, Bu-siang insaf sekali ini tak luput lagi dari
kematian, karena itu, ia malah kuatkan hatinya dan berlaku
tenang saja merebah untuk menantikan ajalnya.
Begitulah ketika terdengar suara pintu didorong, menyusul
satu bayangan orang menyelinap masuk yang bukan lain
adalah sang Suci - Ang Ling-po.
Sejak kecil Bu-siang pandai ambil hatinya, maka terhadap
sang Sumoay tidak jelek juga kasih sayang Ang Ling-po. Sekali
ini sang Sumoay telah melanggar peraturan besar
perguruannya, pasti gurunya akan siksa habis-habisan dengan
macam-macam cara yang keji terhadap Bu-siang, habis itu
sedikit demi sedikit baru dihukum mati, kini nampak si gadis
masih rebah di atas meja, segera Ang Ling-po angkat
pedangnya terus menusuk ke ulu hati sang sumoay, dengan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
demikian ia pikir anak dara ini boleh terbebas dari segala
siksaan guru mereka.
Siapa duga, baru saja ujung pedangnya hampir menempel
ulu hari Liok Bu-siang, tiba-tiba Li Bok-chiu telah tepuk
pelahan pundaknya, karena ini, seketika Ling-Po merasakan
tangannya menjadi lemas tak bertenaga, segera pula
tangannya melambai ke bawah.
"Hm, apa aku sendiri tak bisa membinasakan dia ? Perlu
apa kau kesusu ?" kata Li Bok-chiu dengan tertawa dingin.
Habis ini ia berpaling dan ditujukan pada Liok Bu-siang. "Hm,
apa di hadapan Suhu kau tak melakukan penghormatan lagi?"
Tetapi Bu-siang sudah teguhkan hatinya. "Hari ini aku
sudah jatuh ke tangannya, baik minta ampun atau
membangkang pasti juga akan merasakan siksaan yang
kejam," demikian pikirnya, Karena itu, dengan dingin saja ia
jawab: "Keluarga kami dengan kau sudah menanam dendam
sedalam lautan, tidak perlu lagi kau banyak bicara."
Tetapi Li Bok-chiu hanya pandang anak dara itu dengan
diam, entah rasa suka atau duka yang terkandung pada sorot
matanya itu. sebaliknya Ang Ling-po memandangi sang
Sumoay dengan wajah yang penuh rasa duka dan kasihan,
namun Bu-siang ternyata tidak gentar sedikitpun oleh sikap
sang guru itu, bibirnya sedikit terjibir, tampaknya malah
mengunjuk sikap yang angkuh dan menantang Dengan
begitulah mereka bertiga telah saling pandang.
"Mana kitab itu, serahkan !" kata Li Bok-chiu kemudian
sesudah terdiam agak lama.
"Sudah direbut seorang Tosu (imam) dan seorang
pengemis !" sahut Bu-siang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Terkejut sekali Li Bok-chiu oleh jawaban itu.
Dengan kaum pengemis itu meski tak pernah Li Bok-chiu
bermusuhan, tetapi dengan "Coan-cin-kau" tidak sedikit
dendamnya, iapun tahu antara Kay-pang dan Coan-cin-kau
mempunyai hubungan yang sangat rapat, kalau kitab "Ngotok-
pit-toan" itu sampai jatuh di tangan mereka, itulah
sungguh celaka !
Sayup-sayup Bu-siang dapat mendengar suara tertawa
dingin sang guru, ia tahu pasti orang sedang memikirkan akal
keji untuk siksa dirinya. jika waktu melarikan diri sepanjang
jalan selalu ketakutan ditangkap oleh gurunya, kini setelah
betul-betul tertangkap, ia malah tidak begitu takut lagi seperti
semuIa.
"Eh, kemanakah si tolol itu telah pergi ?" demikian tibatiba
ia jadi teringat pada Nyo Ko.
Dalam keadaan jiwanya terancam maut ini, tanpa terasa
timbul semacam perasaan hangat terhadap bocah angon yang
tolol dan kotor itu.
Pada saat itu juga, mendadak ada berkelebatnya sinar api,
menyusul mana dengan membawa suara gedebukan tiba-tiba
seekor banteng ngamuk menerjang masuk dari luar.
Waktu Li Bok-chiu dan Ang Ling-po menoleh, maka
tertampaklah seekor sapi jantan yang tinggi besar telah
menyerobot masuk, pada ujung tanduk kanan binatang itu
terikat sebilah belati dan sebelah tanduk yang lain terikat pula
seikat kayu dengan api yang menyala-nyala.
Terjangan binatang itu ternyata hebat sekali, walaupun
ilmu silat Li Bok-chiu sangat tinggi, tetapi tak berani juga ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
menghadapi serudukan sapi jantan itu dari depan, segera ia
berkelit ke samping, ia lihat binatang itu mengitar sekali di
ruangan rumah itu, habis ini lantas berputar keluar lagi.
Tatkala menerjang masuk sapi itu main seruduk
seenaknya, waktu keluarpun berlari secepat keranjingan
setan, karenanya hanya sekejap saja sapi itu sudah lari pergi
sejauh belasan tombak.
Dengan memandangi bayangan binatang itu mula-mula Li
Bok-chiu rada heran, tetapi segera terpikir olehnya: "He,
siapakah yang mengikat pisau dan kayu berapi itu di
tanduknya ?"
Waktu mereka berpaling kembali, tanpa berjanji mereka -
guru dan murid - menjerit berbareng, ternyata Liok Bu-siang
yang tadi masih rebah di atas meja itu, kini sudah lenyap
tanpa bekas.
Lekas Ling-po menggeledah seluruh rumah bobrok itu,
habis ini ia melompat lagi ke atas atap rumah. sebaliknya Li
Bok-chiu menduga pasti sapi tadi yang bikin gara-gara, maka
dengan sekali melayang, dengan enteng dan gesit segera
diuber-nya binatang itu.
Dalam keadaan gelap itu, sinar api yang menyala pada
tanduk sapi itu cukup jelas kelihatan nyata binatang itu sudah
menerobos masuk ke sebuah hutan, Dari sorot api terlibat
juga oleh Li Bok-chiu bahwa di atas punggung sapi itu tiada
penunggangnya, tampaknya Liok Bu-siang toh bukan kabur
dengan menunggang sapi Tetapi segera tergerak pikirannya:
"Ah, tentu tadi ada orang yang sembunyi di luar, sapi aneh itu
digunakan untuk mengalihkan perhatianku dan dalam keadaan
kacau budak hina itu lantas ditolongnya pergi."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Namun seketika ia menjadi bingung karena tak tahu ke
jurusan mana harus mengejar, hanya langkahnya dia percepat
hingga sebentar saja sapi jantan itu sudah dapat disusulnya,
Waktu ia melompat ke atas punggung binatang itu dan
diperiksanya teliti namun tiada menemukan sesuatu tanda
yang mencurigakan.
Kemudian ia lompat turun dan tendang sekali bokong
binatang itu, lalu dengan tekap bibir ia bersuit memberi tanda
pada Ang Ling-po, mereka lantas menguber lagi dari dua
jurusan, yang satu dari utara ke selatan dan yang lain dari
barat ke timur.
Munculnya sapi jantan itu dengan sendirinya adalah
perbuatan si Nyo Ko.
Tadi begitu mendengar suara Li Bok-chiu berdua, diamdiam
ia mengeluyur keluar melalui pintu belakang dan
mengintip dari luar, mendengar satu kata saja segera ia tahu
Li Bok-chiu mau membunuh Liok Bu-siang.
Meski Li Bok-chiu masih terhitung Supek atau "paman"
guru Nyo Ko sendiri namun bencinya terhadap perempuan
kejam itu sudah terlalu mendalam. Semula ia bingung cara
bagaimana harus menolong jiwa Liok Bu-siang, mendadak
dilihatnya "dari jauh sapi jantan yang kemarin itu sedang
menguak tak bertuan, keruan saja ia bergirang, ia berlari-lari
memarani binatang itu, ia ikat belatinya Bu-siang dan seikat
kayu yang dinyatakan dulu tanduk sapi, ia sendiri terlentang
menggempit di bawah perut binatang itu, ia giring sapi itu
menerjang ke dalam rumah.
Waktu sapi itu berlari mengitari ruangan, tubuh Bu-siang
telah disambernya dengan masih tetap menggemblok
sembunyi di bawah perut sapi. Dasar ilmu silat Nyo Ko sudah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terlalu hebat, gerak-geriknya pun dilakukan dengan cepat
sekali, ditambah lagi rupa sapi jantan itupun aneh, maka
sekalipun Li Bok-chiu luar biasa lihaynya, sesaat itu ia kena
dikelabui juga oleh Nyo Ko.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil