Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 18 April 2017

Cerita Silat Ke 20 Cersil Kwee Ceng Rajawali Sakti Sebelum Cersil Yoko

Cerita Silat Ke 20 Cersil Kwee Ceng Rajawali Sakti Sebelum Cersil Yoko
Cerita Silat Ke 20 Cersil Kwee Ceng Rajawali Sakti Sebelum Cersil Yoko Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf
-Kwee Ceng terkejut, ia melengak.
"Ini…ini kurang bagus…" katanya ragu-ragu.
"Baiklah!" seru si nona. "Kau mau jadi kuncu, nah
jadilah kuncu!"
Kwee Ceng bingung: "Mana lebih penting,
menolong Yong-jie atau jadi kuncu?" demikian otaknya
bekerja sulit. Justru itu, Oey Yong dengan susah
payah, sudah bertindak pergi. Cuma sedetik saja, ia
lantas mengambil keputusannya. Ia lari ke perahu, ia
angkat itu, ia melemparkannya ke air, ke atasan air
tumpah itu, kemudian ia pergi menyambar kedua
pengayuhnya. Tindakannya yang terakhir adalah
menolong Oey Yong untuk lari ke atas, hingga dilain
saat mereka sudah berada di atas di mana mereka
tampak perahu tadi.
"Ser!" demikian suara terdengar, suara dari senjata
rahasia.
Dengna mendak, Kwee Ceng membebaskan diri
dari senjata rahasia itu, yang jatuh ke dalam perahu
mana tepat datang ke dekatnya. Maka bersama-sama
Oey Yong, ia lompat naik ke perahu itu, untuk segera
dikuyah mudik…
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Si tukang pancing terdengar caciannya tapi tak
nyata apa katanya…
Kwee Ceng lantas mengayuh. Mulanya dengan
tangan kiri, sebab ia masih memegangi Oey Yong,
ketika perahu itu maju, ia melepaskan si nona, ia
mengayuh dengan tangan kanannya itu. Demikian
selanjutnya, setiap mengayuh, perahunya maju
beberapa kaki….
"Budak busuk! Perempuan hina!" demikian sang
angin membawa dampartan si tukang pancing,
mendengar mana, Oey Yong tertawa, "Lihat, dia masih
menganggapnya kau orang baik! Akulah yang dia
caci!" katanya.
Kwee Ceng lagi mengayuh, matanya mengawasi ke
depan, ia tidak mendengar guraunya si nona. Ia mesri
memakai tenaga dan pikirannya. Perahu itu besar
kepalanya dan enteng buntutnya, dia maju melawan
air, yang boleh dibilang deras juga. Beberapa kali ia
hampir terpukul mundur. Dengan menggunai tipu dari
"Sin Liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang
ekor" dengan cepat ia dapat menguasai kedua
pengayuhnya itu, kedua tangannya bergerak dengan
cepat dan kuat dan rapi.
Senang Oey Yong melihatnya, dengan gembira ia
kata: "Meski si tukang pancing tadi yang mengayuh,
tidak nanti dia dapat mengayuh selekas ini!"
Perahu itu maju terus, setelah lewat sekian lama, air
menikung, habis itu maka terlihatlah permukaan air
yang airnya tenang, di kedua tepinya ada tumbuh
pohon yangliu. Itulah kali kecil yang lebarnya setombak
lebih. Di situ pun ada banyak pohon tho. Kalau itu
waktu musim semi, pastilah indah pemandangan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
alamnnya. Sebagai gantinya bunga tho, di tepian ada
banyak bunga putih yang kecil-kecil, yang baunya
harum.
Dua-dua muda-mudi ini heran dan kagum. Tidak
dinyana, di atas gunung ini ada tempat sepermai itu.
Iseng-isng Kwee Ceng mengayuh dalam, hampir ia
membuatnya pengayuhnya terlepas. Di luar
dugaannya, kali itu dalam tak terjajakan oleh
pengayuhnya itu. Di bawahpun air menggolak.
Sekarang kenderaan air dapat dikayuh maju
perlahan-lahan, keduanya dapat menikmati
pemandangan alam yang indah, makin jauh
nampkanya makin menarik hati.
"Jikalau lukaku ini sukar diobati," kata Oey Yong
menghela napas. "Biarlah aku terkubur di sini, tak usah
aku turun lagi…"
Kwee Ceng berduka, hendak ia menghiburi si nona
itu atau ia melihatnya di sebelah depan mereka ada
sebuah terowongan, darimana ada terhembus bau
harum yang keras sekali. Perahunya telah lantas
masuk ke dalam gua itu yang airnya mengalir sedikit
keras.
Segera kuping mereka mendengar suara apa-apa.
"Suara apakah itu?" si pemuda tanya.
"Entahlah," sahut si nona menggeleng kepala.
Terowongan itu tidak panjang, sebentar kemudian
mereka telah keluar di ujung yang lain. Segala apa
menjadi terang seperti tadi. Bahkan sekarang mereka
bersorak. Di depan mereka terlihat air mancur yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
besar sekali, tingginya setombak lebih dan airnya
meluncur tinggi bagaikan tiang menjulang ke udara.
Itulah yang mangasih dengar suara tadi. Sampai di
situ, habislah kali di atas gunung itu dan sumbernya
kali ialah air mancur ini.
Kwee Ceng membantu Oey Yong naik ke darat,
kemudian ia menarik perahunya ke batu, setelah mana
bersama si nona ia memandangi air mancur itu. Di
antara sinarnya matahari, air itu mengasih lihat
bianglala yang intadh. Tak tahu mereka bagaimana
harus memuji keindahan itu, mereka duduk diam
sambil berpegangan tangan. Mereka masih
kesengsem ketika mereka mendengar suara nyanyian
yang seperti keluar dari arah belakang bianglala itu.
"Kota dan kalinya rusak semua! Mana si pencinta
negara?
Memikirkan kemakmuran dan keruntuhan, itulah
penderitaan.
Dinasti Tong bangun, itu artinya dinasti Swie roboh.
Jadi miriplah dengan naga yang berubah-ubah.
Cepat, langit dan bumi salah!
Lambat, langit dan bumi salah!"
Lantas juga terlihat si penyanyi, tangan kirinya
membawa sebatang kayu cemara, tangan kanannya
mencekal sebuah kampak. Maka teranglah, dia
seorang tukang kayu - ya seorang tukang mencari
kayu bakar.
Setelah melihat pakaian orang itu, Oey Yong ingat
tulisannya Eng Kouw, ialah: "…….Kalau orang bicara
dengannya dengan minta diobati, orang bakal terbikin
celaka lebih dulu oleh si tukang pancing, si tukang
kayu, si petani dan si pelajar….." Tadi mereka bertemu
sama tukang pancing. Dan ini, bukankah ini dia si
tukang kayu?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Apakah mereka bakal bertemu sama petani dan si
pelajar? Siapa empat orang ini? Murid atau
pelayankah dari Toan Hongya? Ia menjadi masgul.
Untuk melewati si tukang pancing demikian sukar,
maka entah ini tukang kayu. Bukankah nyanyian dia ini
bukan nyanyian sembarang? Entah bagaimana lagi
dengan si petani dan si pelajar?
Kembali terdengar orang itu bernyanyi:
"Dari atas jembatan, memandang jauh,
Hawa dari kerajaan, telah runtuh….
Di atas panggung tak terlihat kepala perang….
Semenjak dulu, hanya seputaran, semua musnah.
Pahala, tidak kekal!
Nama juga tidak kekal!"
Perlahan jalannya si tukang kayu itu, lalu ia
mengawasi si muda-mudi, acuh tak acuh lantas ia
bekerja, mengampak kayu di pinggiran gunung.
Oey Yong melihat tubuh orang yang kekar dan
roman gagah, gerak-geriknya seorang panglima
perang, maka coba dia itu bukan dandan sebagai
tukang kayu dan lagi berada di hutan ini, dia pasti
dapat menjadi seorang kepala perang. Ia lantas ingat
keterangan gurunya bahwa Lam Tee, si Kaisar dari
Selatan, ialah Toan Hongya, telah menjadi kaisai di
Taili, Inlam, maka apa mungkin tukang kayu ini
asalnya ialah panglima perangnya? Nyanyian orang,
pula suaranya, semuanya luar biasa.
Lagi sekali tukang kayu itu bernyanyi:
"Puncak gunung bagaikan bertumpuk,
Gelombang seperti berangkara murka,
Di jalanan kota Tongkwan sana,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Memandang ke barat, hati ragu-ragu,
Melihat istana, semua runtuh menjadi tanah…
Bangun, rakyat bersengsara!
Musnah, rakyat bersengsara!"
Mendengar kata-kata yang terakhir itu, Oey Yong
ingat ayahnya sering mengatakan: "Apa itu segala
kaisar dan panglima perang? Semua itu mahkluk jahat
tukang membikin rakyat celaka! Merubah kerajaan,
menukar she, semua itu menyusahkan rakyat saja!"
Maka tanpa merasa, gadis itu memuji: "Nyanyian yang
bagus!"
Tukang kayu itu berpaling, ia menancapkan
kampaknya di pinggangnya.
"Bagus? Apanya yang bagus?" dia menanya.
Oey Yong hendak menyahuti ketika mendadak ia
ingat: "Dia gemar bernyanyi, kenapa aku tidak mau
membalas dia dengan nyanyian juga?" Maka ia
bersenyum, lalu ia bernyanyi dengan suara perlahan:
"Gunung-gunung hijau saling menanti,
Mega-mega putih saling mencintai,
Tak bermimpikan jubah sulam dan sabuk emas,
Cukup dengan sebuah gubuk,
Dengan bunga hutannya mekar.
Siapakah yang memusingi:
Siapa bangun, siapa roboh,
Siapa berhasil, siapa gagal?
Cukup dengan gubuk dan satu sendok!
Melarat, semangat tak berubah!
Berhasil, cita-cita tak berubah!"
Nona ini lantas menyangka pasti si tukang kayu
ialah panglimanya Lam Tee, panglima yang sekarang
lagi hidup bersembunyi - yang dulunya pasti berkuasa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
besar atas bala tentara, maka itu ia memperdengarkan
nyanyiannya itu, untuk menimpali nyanyian orang.
Dugaannya memang tepat karena si tukang kayu
menjadi girang, sambil menunju ke samping gunung,
dia kata: "Naiklah!"
Di samping gunung itu ada sebuah batu yang besar
mirip dengan langan tangan, ketika Kwee Ceng dan
Oey Yong memandang ke atas, mereka hanya melihat
awan dan bangkonya rotan. Meski begitu, si anak
muda lari menghampirkan rotan itu, untuk disambar,
untuk dipakai melapai naik!
Kwee Ceng cuma mengerti separuh dari semua
nyanyian itu, di sebelah itu, yang ia paling khawatirkan
ialah si tukang kayu nanti mengubah pikirannya, maka
ia tidak mau membuang tempo lagi. Dengan kedua
tangannya bekerja cepat, dengan lekas ia telah naik
belasan tombak tingginya. Di situ, ia masih dengar
nyanyian si tukang kayu:
"….dulu hari itu orang berebutan,
Sekarang bagaimana?
Menang, semua menjadi tanah!
Kalah, semua menjadi tanah!"
Oey Yong di punggungnya si anak muda tertawa.
"Engko Ceng," katanya, "Kalau menurut dia itu, kita
tak usah datang ke mari untuk minta diobati!"
Kwee Ceng heran hingga ia melengak: "Apa!" dia
tanya.
"Semua orang toh bakal mati, bukan?" kata si nona
tertawa. "Orang sembuh, dia berubah menjadi tanah!
Orang tak sembuh, dia berubah menjadi tanah juga!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Fui!" si anak muda mengasih dengar suaranya.
"Sudah, jangan dengari ocehannya!"
Oey Yong itu benar lucu, ia tidak menghiraukan si
anak muda, dia bernyanyai perlahan: " Hidup, kau
menggendong aku! Mati kau menggendong aku juga!"
Kwee Ceng berdiam, ia kewalahan. Ia lebih
memerlukan menggunai terus kedua tangannya, untuk
naik ke atas, sampai mereka memasuki awan atau
kabut. Ketika itu musim panas tetapi hawa dingin.
"Di hadapan kita ini terdapat segala pemandangan
alam yang indah dan luar biasa," kata si nona kagum,
"Umpama kata aku tidak bakal dapat disembuhkan,
taklah kecewa perjalanan kita ini…"
"Yong-jie, ah…" berkata si anak muda, masgul:
"Jangan menyebut-nyebut tentang mati atau hidup,
bisakah?"
Si nona tertawa, dengan perlahan ia meniup pundak
orang.
"Eh, jangan main-main!" kata Kwee Ceng, yang
merasakan pundaknya panas dan gatal, "Awas, nanti
tanganku terlepas, nanti kita jatuh mati berdua…"
"Bagus!" berseru si nona. "Nah, kali ini bukanlah
aku yang menyebut-nyebut hidup atau mati!"
Saking kewalahan, pemuda itu cuma bisa tertawa.
Lewat sekian lama, setelah melapai terus dengan
tetap rajinnya, tibalah muda-mudi ini di bongkot rotan
itu, ialah puncak gunung, yang merupakan sebuah
tanah datar. Hanya belum sempat Kwee Ceng
menurunkan tubuhnya Oey Yong, keduanya terkejut
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
akan mendadak mendengar suara berisik seperti batu
besar jatuh di susuli jeritan kerbau berulang-ulang, di
susul lagi sama bentakan satu orang.
"Heran, mengapa di atas gunung begini ada
kerbau?" kata si anak muda, yang lantas lari ke arah
darimana suara datang. Ia tidak sempat menurunkan
Oey Yong, yang berkata: "Bukankah ada si tukang
pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar? Nah,
kalau ada si petani mesti ada kerbaunya!"
Segera mereka mendengar lagi suaranya kerbau,
dan sekarang mereka lantas melihat binatang itu, yang
tengah mengangkat kepalanya, keletakannya luar
biasa sekali, ialah tubuhnya terlentang di atas batu
karang besar, keempat kakinya meronta-ronta tanpa
dapat bangun, sedang batunya bergoyang-goyang. Di
bawah batu itu dengan memasang kuda-kuda, satu
orang mengangkat terbuka kedua tangannya, dipakai
menampah batu itu berikut kerbaunya. Yang lebih
hebat, orang itu berdiri di tempat di mana tidak ada
tempat mundur lagi. Kalau tangan orang itu tak kuat
menahan, kerbau dan batu itu mesti jatuh, atau orang
itu ketimpa atau jatuh bersama kerbau itu, atau
sedikitnya orang itu bakal patah tangan atau kakinya.
Rupanya kerbau itu lagi makan rumput, dia terpeleset
dan jatuh di batu itu, lalu orang itu mencoba menolongi
dengan kesudahannya mereka sama-sama terancam
bahaya.
Melihat keadaan manusia dan kerbau itu, Oey Yong
tertawa. Katanya: "Tadi orang baru menyanyikan lagu
San Po Yang, sekarang ini lagu San Po GU!"
Lagu yang dinyanyikan si tukang kayu tadi ialah
lagu "San Po Yang" atau "Kambing di atas lereng", dan
si nona menyebutnya "San Po Gu", ia menukar
"Kambing" dengan "kerbau" (Gu)
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di atas puncak itu ada sawah lebar belasan bauw
yang tengah ditanami. DI pinggir sawah ada sebuah
pacul. Orang yang menahan batu berikut kerbau itu
bertubuh telanjang dan kakinya melesak di lumpur
sebatas dengkul.
Sembari mengawasi, Oey Yong pikir kerbau itu
beratnya di atas dua ratus kati dan berat batunya tak
berjauhan, maka itu bisalah dimengerti kuatnya orang
itu, yang ia duga mestilah si petani yang dimaksudkan
dalam suratnya Eng Kouw.
Kwee Ceng sudah lantas mengasih turun si nona, ia
terus lari hendak membantui orang itu.
"Tahan, jangan kesusu!" si nona mencegah.
Tapi si anak muda itu murah hatinya, dia terus lari,
tiba di samping si petani, ia berjongkok, sambil
memasang kuda-kudanya, dia mengangkat kedua
tangannya guna membantu menahan batu seraya dia
berkata pada orang itu: "Aku nanti menahan batu ini,
kau tolong singkirkan dulu kerbau itu!"
Orang itu menurut, akan tetapi ia melepaskan dulu
sebelah tangannya, yang kanan, tangan kirinya
menahan terus, rupanya ia khawatir si pemuda tak
kuat. Tapi anak muda itu bukan cuma menahan, ia
mengangkat batu itu hingga terangkat sedikit, hingga
tangan si petani terlepas dari batu. Kapan ia melihat
orang cukup kuat, ia lantas molos keluar, untuk lompat
naik ke sebelah atas, darimana barulah ia mau
menarik kerbau itu, hanya lebih dulu daripada itu, ia
mengawasi si anak muda yang datangnya tiba-tiba
sekali. Segera ia menjadi heran. Ia melihat seorang
bocah umur tujuh atau delapanbelas tahun. Yang
aneh, orang itu menahan batu berikut kerbau tanpa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terlihat menggunai banyak tenaga. Ia menjadi heran
dan bercuriga, sebab ia merasa ia sendiri sangat kuat.
Ia melihat ke bawah, ia menampak Oey Yong, seorang
bocah yang lain, bahkan ia mendapatkan nona itu lesu,
sebagai seorang lagi sakit.
"Sahabat, untuk urusan apakah kau datang ke
mari?" ia tanya, herannya bertambah.
"Aku mao memohon bertemu sama gurumu, Tuan,"
Kwee Ceng menyahut terus-terang.
"Untuk urusan apakah?" orang itu menanya pula.
Kwee Ceng melengak, ia belum menyahut, atau
terdengarlah suaranya Oey Yong: "Kau singkirkan dulu
kerbau itu, sebentar kau menanya perlahan-lahan, tak
nanti kelambatan! Kalau dia keterlepasan tangan,
apakah bukan kerbau dan manusia akan jatuh
bersama?"
Dalam herannya, si petani berpkir: "Dua orang ini
datang untuk suhu mengobati mereka, maksud mereka
baik, hanya heran kenapa kedua suheng di sebelah
bawah tidak melepaskan panah nyaringnya? Kalau
mereka ini datang dengan membolos, terang mereka
mestinya lihay. Kalau dugaanku ini benar, baiklah aku
gunai ketika selagi dia tidak dapat meloloskan diri, aku
tanya dulu dia biar terang…" Maka ia menanya:
"Apakah kamu datang untuk minta diobati?"
Kwee Ceng mengangguk. Ia pikir, sudah terlanjur
omong sebenarnya, baiklah ia berterus-terang terus.
Melihat orang mengangguk, paras si petani
berubah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Nanti aku tanya dulu!" katanya. Dengan gerakan
yang nampaknya enteng sekali, ia berlompat turun.
"Eh!" Kwee Ceng memanggil, "Kau bantui aku
menurunkan dulu batu besar ini!"
"Sebentar saja aku kembali!" berkata si petani
tertawa.
Melihat kelakuan orang itu, Oey Yong sudah dapat
lantas menerka maksudnya. Dia mau membikin Kwee
Ceng lelah, setelah itu dengan gampang dia nanti
mengusir mereka berdua. Karena menduga begini, ia
menyesal yang ia lagi sakit hingga ia tidak dapat
membantu engko Ceng-nya itu. Tentu sekali ia
bingung, sebab tak tahu ia, berapa lama si petani
bakal pergi!
"Eh, paman, mari!" ia memanggil. Ia bingung
berbareng mendongkol pula.
Petani itu berhenti, ia tertawa dan berkata: "Dia
bertenaga besar, buat satu jam atau tiga perempat,
tidak apa, kau jangan takut!"
Ini jawaban membuat si nona gusar.
"Dengan baik hati engko Ceng menolongi padamu,
kau sebaliknya hendak menyiksa," pikirnya. "Apakah
kau kira sedikit waku satu jam atau seperempat itu?
Biaklah, kau perlu diberikan sedikit pengajaran…"
Demikian lantas ia mendapat pikiran, maka ia kata
pula pada petani itu. "Paman, bukankah kau hendak
menanyakan gurumu dulu? Itulah pantas. Tapi di sini
ada sepucuk surat, dari guruku, Ang Cit Kong, untuk
dihanturkan kepada gurumu itu, maka tolong kau bawa
sekalian."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar disebutnya nama Ang Cit Kong, petani
itu mengasih dengar suara terkejut. "Oh, kiranya nona
muridnya Kiu Cie Sin Kay?" katanya. Terus ia
menghampirkan, untuk mengambil surat yang
dimaksudkan itu.
Dengan ayal-ayalan Oey Yong membuka kantung di
punggungnya, ia beraksi mau mengeluarkan suratnya,
tetapi ia terlebih dahulu mengambil baju lapisnya,
sembari berbuat begitu, ia menoleh kepada Kwee
Ceng. Mendadak ia memperlihatkan roman kaget, ia
pun berteriak: "Oh, oh, celaka! Tangannya itu bakal
nowah! Paman, kau tolongilah dia!"
Petani itu tercengang sebentar, lalu ia tertawa.
"Tidak apa-apa," katanya. "Mana suratmu?"
"Kau tolongi," kata Oey Yong pula. "Kau tidak tahu,
sukoku itu lagi meyakinkan ilmu silat Pek-khong-ciang,
kemarin ini tangannya direndam dalam air obat, belum
habis latihannya itu, kalau dia menggunai tenaganya
terlalu lama, tangannya itu bisa terluka…"
Oey Yong tahu dari ayahnya tentang bagaimana
Pek-khong-ciang, Tangan Memukul Udara, harus
dipelajari, maka itu, ia hendak mengakali di petani ini.
Si petani tidak paham, ilmu Pek-khong-ciang itu
sebagai murid lihay, ia pernah mendengarnya dari
gurunya, maka itu, mendengar perkataan si nona, ia
jadi berpikir: "Kalau tanpa sebab aku mencelakakan
murid Kiu Cie Sin Kay, bukan saja suhu bakal menegur
aku, hatiku sendiri pun tidak enak. Sekarang ini dia
datang dengan maksud baik. Hanya aku
menyangsikan si nona kecil ini, dia omong benar atau
dia lagi menggunai akal liciknya untuk menipu aku
agar aku membebaskan kawannya itu…"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong melihat orang bersangsi, ia angkat baju
lapisnya dan berkata pula: "Ini baju lapis joan-wie-kah
dari Tho Hoa To, yang tak menpam senjata, tolong
paman mengerebongkannya di pundaknya, kalau
sudah dikerebongi, biarlah batu itu diletakkan pula di
pundaknya, dengan begitu, dia tidak nanti dapat pergi,
dia pun tak usah terluka. Bukankah itu bagus untuk
kedua belah pihak?"
Si petani juga pernah mendengar tentang baju lapis
itu, ia hanya tetap ragu-ragu ketika ia menyambuti baju
itu.
Oey Yong senantiasa mengawasi orang, ia melihat
orang tetap bersangsi, maka ia berkata pula: "Guruku
telah mengajari aku tidak boleh aku berdusta terhadap
lain orang, maka itu mana berani aku membohongi
kau, Paman? Jikalau paman tidak percaya, kau
cobalah bacok beberapa kali baju lapisku ini!"
Si petani mengawasi si nona, ia mau percaya orang
jujur. Ia berpikir pula: "Kiu Cie Sin Kay itu orang tua
dan terhormat, kata-katanya ada kata-kata bagaikan
emas atau kumala, guruku pun sangat menghargainya,
sedang nona ini tak macamnya tukang mendusta…"
Karena berpikir demikian, ia lantas mencabut golok
pnedek di pinggangnya, terus ia membacok baju lapis
itu, sampai beberapa kali. Benar ia mendapat
kepastian, abju itu tidak rusak. Sekarang ia baru
percaya benar.
"Baiklah!" katanya kemudian, "Nanti aku
mengerebongkannya!"
Petani itu tidak menyangka sama sekali, bahwa
walaupun roman Oey Yong sangat polos dan kekanakkanakan,
otaknya sangat tajam, dibatok kepalanya
banyak akalnya. Maka ia menghampirkan Kwee Ceng,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ia meletakkan baju itu di lengan si anak muda, siap
untuk dikerebongi, setelah mana ia memegang batu,
untuk diangkat. Sembari berbuat begitu, ia kata: "Kau
lepaskan tanganmu, kau pakai pundakmu untuk
menahan batu!"
Dengan menyender pada batu, Oey Yong
mengawasi petani itu tajam-tajam, begitu lekas ia
melihat orang mengangkat batu, mendadak ia
memanggil Kwee Ceng: "Engko Ceng, Hui liong cay
thian!"
Kwee Ceng mendengar itu, ia mengerti maksud si
nona itu. "Hui liong cay thian" itu ialah salah satu jurus
dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang berarti "aga
terbang di langit". Itu pun artinya, ia harus terbang.
Maka begitu ia merasai tindihan kendor, ia menarik
tangan kanannya, tangna kirinya ia loloskan di bawah
tangan kanannya itu, lalu kakinya menjejak, tubuhnya
melessat ke samping Oey Yong! Bukan main sebatnya
ia bergerak dengan jurus "Hui liong cay thian" itu.
"Kurang ajar" maki si petani begitu lekas ia ketahui
bahwa ia sudah kena ditipu mentah-mentah. Sebab
dalam sekejab itu, ialah yang sekarang mesti berdiri
diam menahan pula batu serta kerbaunya itu!
"Engko Ceng, mari kita pergi!" kata Oey Yong. Ia
memperlihatkan roman sangat puas, sembari menoleh
kepada si petani, ia berkata: "Paman, tenagamu
sangat besar, kau dapat menahan batu itu untuk satu
jam atau tiga perempat, tidak nanti terjadi bahaya apaapa,
kau jangan khawatir….!"
"Hai, budak cilik!" maki si petani. "Secara begini kau
akali si orang tua! Kau bilang Kiu Cie Sin Kay dapat
dipercaya, tapi dengan begitu kau meruntuhkan nama
baiknya, kau bocah cilik!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tidak gusar, ia bahkan tertawa.
"Apakah yang runtuh?" ia berkata. "Memang guruku
itu membilangi aku bahwa aku tidak boleh berdusta
akan tetapi ayahku mengatakannya memperdayakan
orang bukanlah suatu perkara hebat! Karena aku suka
mendengar perkataan ayahku, jadi guruku tidak dapat
berbuat apa-apa atas diriku!"
"Siapa ayahmu?" tanya si petani mendongkol
sekali.
"Eh, bukankah aku telah memberikan kau tetika
untuk menguji baju lapisku itu?" si nona membalikkan.
"Ah, biar mampus, biar mampus!" mengutuk petani
itu. "Hai, kiranya kau budak setan, kaulah anak setan
perempuan dari Oey Lao Shia! Ah, kenapa aku begini
tolol?!"
"Memang!" kata pula Oey Yong, tetapi tertawa.
"Kata-kata guruku memang berat bagaikan gunung,
dia belum pernah mendusta, adalah sukar untuk
mempelajari itu, sedang aku juga tidak berani
mempelajarinya! Menurut aku, peljaran ayahkulah
yang cepat!"
Lagi-lagi si nona tertawa, lalu ia menarik tangan
Kwee Ceng untuk diajak pergi. Mereka mengikuti
jalanan, untuk ke depan.
Kwee Ceng girang dan heran. Ia tidak mengerti
kenapa Oey Yong mengakali si petani, hingga petani
nitu sendiri yang memapah pula batu serta kerbaunya
itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tak lama sampailah mereka di ujung jalan itu. Di
depan mereka melintang sebuah jembatan bagaikan
penglari batu, lebarnya kira setengah kaki, kedua
ujungnya duduk di antara kedua puncak, karena ada
kabut atau awan, ujungnya yang lain tak nampak.
Kalau batu itu terletak di tanah, kecil pun tak berarti,
sekarang itulah sebuah jembatan, bawah itu ada
jurang yang dalam, sungguh berbahaya. Dengan
melihat saja ke bawah, hati sudah ngeri.
"Sungguh pandai sekali Toan Hongya
menyembunyikan diri," kata Oey Yong menghela
napas.
"Umpama ada seorang bermusuh hebat
dengannya, kalau musuh itu dapat mencari sampai di
sini, mungkin sakit hatinya akan berkurang separuh…."
"Kenapa si tukang pancing mengatakan bahwa
Toan Hongya sudah mati?" tanya Kwee Ceng.
"Perkataannya itu membuat hatiku tidak tentram…."
"Ya, memang mengherankan," sahut si nona.
"Melihat romannya, dia tidak berbohong. Dia juga
mengatakan guru kita melihat sendiri kematian Toan
Hongya itu…"
"Ah, sudahlah!" kata Kwee Ceng akhirnya. "Sudah
sampai di sini, tidak bisa lain, kita mesti jalan terus…!"
Ia lantas berjongkok, untuk Oey Yong menggemblok di
punggungnya, setelah mana ia berjalan cepat di
jembatan batu itu. Ia menggunakan ilmu ringan tubuh
"Keng-kang Tee-ciong-sut"
Sebenarnya jembatan batu itu tidak rata dan juga
licin sekali, siapa jalan dis itu, semakin perlahan,
semakin banyak ketikanya untuk terpeleset dan jatuh,
maka Kwee Ceng sebaliknya berjalan seperti berlari.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hanya ketika sudah melalui kira-kira delapan tombak,
Oey Yong lantas teriak: "Awas, di depan itu putus!"
Kwee Ceng pun telah melihat itu, ia tidak berpikir
untuk mencari tahu, kenapa bisa terjadi begitu, ia
hanya menjejak, untuk mengenjot tubuh, maka dilain
saat ia sudah berlompat ke seberang.
Oey Yong tidak menghiraukan lagi kematian, ia
cuma merasa perbuatan si anak muda sangat
berbahaya. Selewat dari situ, ia tertawa. Ia kata:
"Engko Ceng, terbangmu masih tetap kalah dengan si
rajawali!"
Nyatanya jalanan terputus itu, tetapi ada
sambungannya pula, bukan hanya ada satu itu,
sebaliknya bahkan ada tujuh rintasan, tetapi ketujuhtujuhnya
dapat dilewati Kwee Ceng, maka dilain saat
tibalah mereka di ujung jembatan yang terakhir, yang
terputusnya agak lebar. Habis itu barulah tampak
sebidang tanah datar. Di situ terdengar suara orang
membaca kitab.
Kwee Ceng menghentikan tindakannya. Ia
mengawasi bagian yang terputus itu, yang lebarnya
beberapa tombak lebih. Tepat di atas tanah itu, yang
ceglok, di situ ada seorang yang berdandan sebagai
pelajar duduk bersila, tangannya memegang buku,
mulutnya membaca. Surat bacaan tadi keluar dari
mulut dia ini. Di belakangnya ada sebuah lagi jalan
yang putus dan ceglok.
"Sukar…" si anak muda mengeluh. "Tidak sukar aku
melompat ceglokan ini hanya di situ bercokollah si
pelajar ini! Mana dapat aku melompati dia? Kalau
tidak, di sini tidak ada jalan lain… Di mana aku mesti
menaruh kakiku?" Terpaksa ia berkata: "Paman aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang muda mohon bertemu dengan gurumu, maka itu,
tolong paman memimpin aku menemuinya."
Pelajar itu tidak menyahut, mungkin dia tidak
mendengar, sebab dia lagi asyik sekali membaca
kitabnya, sambil kepalanya digoyang-goyangkan.
Lagi sekali Kwee Ceng mengajaknya bicara,
suaranya dikeraskan, tetapi masih si pelajar diam saja.
"Yong-jie, bagaimana?" akhirnya Kwee Ceng tanya
pada kawannya.
Oey Yong tidak lantas menjawab. Ia memperhatikan
tempat di mana di pelajar dudukl. Di situ mereka tidak
bisa bertempur, sebab salah satu atau dua-duanya
tentu akan celaka. Pula, taruh kata mereka menang,
kemenangan itu tidak ada artinya. Bukankah mereka
datang untuk memohon sesuatu? Mana dapat mereka
mencelakakan orang? Maka atas pertanyaan Kwee
Ceng itu, ia mengerutkan alisnya. Dari apa yang ia
dengar, si pelajar lagi membacakan kitab Loen Gie,
terang dan lancar suaranya.
"Untuk membikin dia membuka mulutnya, tidak ada
lain jalan daripada membuat hatinya panas." Kemudian
nona ini membuka berpikir. Maka berkatalah ia
mengejek: "Biarpun Loen Gie dibaca beribu kali putar
balik, kalau tak mengerti maksud Guru Besar Khong
Coe tentang peribudi besar toh percuma!"
Pelajar itu tampak terkejut, ia mengangkat
kepalanya.
"Apakah itu peribudi besar?" tanyanya. "Aku mohon
pengajaran."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong memandang pelajar itu, yang usianya
limapuluh lebih, yang kepalanya ditutup dengan kopiah
sabuk Siauw-yauw-kin, tangannya memegang kipas
dan jenggotnya panjang. Dia benar mirip seorang
pelajar.
"Apakah kau tahu ada berapa banyak murid Khong
Coe?" ia menanya, suaranya tetap dingin, tertawanya
mengejek.
"Apakah sukarnya?" jawab pelajar itu dengan
tertawa. "Murid Khong Coe ada tiga ribu orang dan
yang paling pandai tujuhpuluh dua!"
"Dari tujuhpuluh dua murid itu, orangnya ada yang
tua dan ada yang muda," kata si nona. "Tahukah kau,
berapa yang tua dan berapa yang muda?"
Pelajar itu tercengang. Di dalam kitab Loen Gie hal
itu tak dibicarakan, dan di kitab-kitab lain pun tidak
dicatat.
"Aku mengatakan kau tidak mengerti bunyinya
kitab, apakah aku salah?" tanya Oey Yong disengaja.
"Tadi aku mendengar kau membaca, yang dewasa lina
enam orang dan yang bocah enam tujuh orang.
Bukankah lima kali enam menjadi tigapuluh orang?
Bukankah enam kali tujuh menjadi empatpuluh dua?
Jadi yang muda itu empatpuluh dua orang? Bukankah
kalau kedua jumlah itu dijumlah lagi. semuanya jadi
berjumlah tujuhpuluh dua? Hm! Kau belajar tetapi
tanpa berpikir, hm, sungguh celaka!"
Pelajar itu tahu orang merebut alasan dengan
dipaksakan, tanpa merasa, ia tertawa. Meskipun
demikian, ia kagum akan kecerdikan si nona.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Nona kecil, kau sungguh pandai!" katanya. "Aku
kagum kepadamu! Kamu hendak mencari guruku,
untuk urusan apakah itu?"
Oey Yong berpikir dengan cepat: "Jikalau terang
terang aku memberitahukan, bahwa aku hendak minta
diobati, pasti dia menggunakan segala macam cara
untuk menghalang-halangi. Tapi pertanyaan ini juga
tidak dapat tidak dijawab. Baiklah, dia membaca kitab
Loen Gie, baik kejejal dia dengan ujar-ujar Khong Coe
juga!" Maka ia tertawa dan menyambut: "Nabi itu tidak
dapat aku menemuinya, maka dapat menemui kuncu
juga bolehlah! Jikalau ada sahabat yang datang dari
tempat yang jauh, bukankah itu menggirangkan?"
Pelajar itu dongak, ia tertawa lebar.
"Bagus, bagus!" katanya. "Sekarang aku hendak
mengajukan tiga pertanyaan padamu, jikalau kau
dapat menjawabnya, akan aku membawa kau kepada
guruku, jikalau ada satu saja yang kau tidak mampu
menjawabnya, maka persilahkan kamu berdua pulang
kembali!"
"Ah, hebat, hebat!" Oey Yong mengeluh. "Aku tidak
pernah membaca banyak kitab, jikalau pertanyaanmu
sulit, sungguh aku tidak dapat menjawabnya…"
"Tidak sukar, tidak sukar!" si pelajar tertawa. "Di sini
ada sebuah syair, yang melukiskan tentang diriku,
untukmu cukup kau menjawabnya dengan mempat
huruf. Kau coba saja!"
"Baik!" si nona menjawab. "Jadi inilah tebaktebakan!
Teka-teki itu menarik hati! Silahkan kau
menyebutnya!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Si pelajar mengurut kumisnya, ia membaca; "Enam
kitab telah lama penah di dada, satu pedang sepuluh
tahun digosok di tangan…"
"Aha!" memuji Oey Yong sambil mengulur lidah,
"Inilah namanya Bun Bu Coan Cay! Sungguh hebat!"
Ia memotong untuk memuji orang pandai dua-dua
dalam ilmu surat (bun) dan silat (bu)
Si pelajar tertawa, ia melanjuti: "Di atas bunga Heng
ada satu batang melintang, karena khawatir rahasia
langit nanti bocor janganlah membuka Mulut. Satu titik
bertumpuk-tumpuk besar bagaikan gantang, menutupi
Setengah pembaringan hingga tak nampak apa-apa.
Habis nama lalu menanti menggantung kopiah untuk
pulang. Tahukah tuan asal-usul diriku ini?"
Oey Yong segera berpikir. Ia lantas memegang
pokok pertanyaan itu: "Habis nama lalu menanti
menggantung kopiah untuk pulang. Tahukah tuan asalusul
diriku ini?"
"Kalau melihat romannya, dulunya ia mesti seorang
menteri di dalam pemerintahan Toan Hongya,"
demikian pikirnya. "Kemudian ia menggantung
kopiahnya, dia meninggalkan pemerintahan,
mengundurkan diri untuk tinggal menyembunyi di
gunung atau rimba. Apakah sukarnya teka-teki ini?"
Maka ia lantas menjawab: "Huruf Enam itu kalau di
bawahnya ditambah satu satu huruf Satu ditambah lagi
huruf Sepuluh, itu jadinya huruf Sin. Huruf Heng itu
kalau di atasnya ditambah Satu huruf yang melintang
dan dibuang huruf Mulut dibawahnya, maka jadilah
huruf Bie. Setengah Pembaringan itu kalau ditukar
dengan huruf Besar dengan huruf besar itu ditambah
Satu titik di atasnya, itulah huruf Cong. Kalau huruf
Habis itu di buang kopiahnya, ialah atasannya, maka
jadilah dia huruf Goan. Jadi semua itu bunyinya ialah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sin Bie Conggoan! Maaf, maaf, kiranya aku
berhadapan sama yang mulia Sin-bie Conggoan!"
Pelajar itu terbengong. Ia mengganggapnya tekatekinya
itu sulit. Atau taruh kata orang dapat
menjawabnya, mesti lewat dulu sekian lama, tidak
sedemikian cepat. Dua orang itu berada di jembatan
tunggal itu, meski si pemuda lihay, tidak nanti ia
sanggup menggendong orang berdiam lama-lama di
situ, ia menyangka mereka bakal tahu diri dan mundur
sendirinya. Siapa sangka, Oey Yong telah
menjawabnya cepat luar biasa, seperti tanpa mikir lagi.
Oleh karena ini, karena si nona cerdas luar biasa, ia
lalu memikir untuk mengajukan pertanyaan yang
sukar. Ia lantas memandang ke sekitarnya. Di
pinggiran gunung ia menampak sekumpulan semacam
pohon palem, yang daunnya bergoyang-goyang
mengikuti tiupan angin, bagaikan kebutan kipas.
Sebagai seorang conggoan- tamatan tertinggi dari
Hanlim Academy - ia lantas mendapat pikiran. Maka ia
menggoyang-goyangkan kipasnya, terus ia berkata:
"Aku ada mempunyai sebuah syair bagian atasnya,
aku minta nona suka tolong menyambungi bagian
bawahnya."
Oey Yong meleletkan lidahnya.
"Oh, inilah yang dinamakan twie dan twie ini tak
demikian menarik hati seperti teka-teki!" katanya. "Tapi
baiklah, silahkan kau menyebutkannya!"
Bab 62. It Teng Taysu
Pelajar itu menunjuk dengan kipasnya ke kumpulan
pohon palem itu, ia membacakan syairnya itu, atau
lian, yang dikatakan bagian atasnya: "Sang angin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
meniup-niup pohon palem, bagaikan seribu tangan
menggoyang-goyang sang kipas."
Syair itu di satu pihak menggambarkan
pemandangan alam - ialah yang pohon, di lain pihak
menunjuki juga hal dirinya si pelajar - ialah kipasnya,
maka Oey Yong lantas berpikir: "Tidak dapat aku
menjawab dia dengan hanya menunjuk serupa benda,
mesti juga ada arti yang merangkap di dalamnya." Ia
lantas memandang ke sekitarnya, hingga ia melihat di
depannya, di tanah datar, sebuah bangunan sebagai
kuil atau biara, di depan mana ada sebuah
pengempang teratai. Ketika itu bulan ke tujuh hampir
habis, daun teratai sudah kering kebih dari
separuhnya. Lalu ia tertawa dan berkata: "Jawabanku
itu untuk menyambungi sudah ada hanya aku khawatir
aku berbuat salah terhadap kau, paman, jadi tidak
leluasa untuk aku mengatakannya…."
"Tidak apa, kau sebut saja!" menyahut si pelajar.
"Jangan kau gusar, paman…"
"Tentu sekali tidak."
Oey Yong menunjuk kepada kopiah siauw-yauw-kin
di kepala pelajar itu.
"Baiköah!" katanya. "Sambunganku bagian bawah
dari syairmu itu ialah: 'Diantara daun teratai separuh
kering, satu memedi kaki tunggal memakai siauwyauw-
kin."
Mendengar itu, si pelajar tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus!" ia memuji. "Bukan saja jawabannya
sangat tepat juga itu dijawabnya cepat sekali."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng mengawasi ke daun-daun teratai di
pengempang itu, ia melihat ada selembar daun hampir
kering yang duduknya begitu rupa hingga mirip dengan
satu setan satu kaki yang memakai kopiah siauwyauw-
kin itu! Maka ia juga tertawa.
"Hus, hus, jangan tertawa!" kata si nona pada
kawannya. "Tungkulan kau tertawa, kakimu bisa
terpeleset, nanti kita berdualah yang bakal menjadi si
setan-setan yang tidak memakai kopiah siauw-yauwkin
itu!"
Si pelajar sendiri sementara itu tengah berpkir. "Dia
tidak dapat dirobohkan dengan twie yang umum saja,
dia mesti menyaksikan yang sangat sukar." Lalu ia
ingat halnya di masa bersekolah, gurunya pernah
memberikan ia twie yang sudah puluhan tahun belum
pernah ada lain orang yang dapat menimpalinya. Ia
hendak mencoba ini. Ia kata: "Sekarang aku
mempunyai satu lian lagi, aku minta nona kecil
menimpalinya. Inilah Kim Sek pie pee, delapan raja
besar semua serupa kepalanya."
Mendengar itu tanpa merasa Oey Yong tercengang.
Kim sek pie pee itu, ialah alat-alat tetabuhan semacam
gitar, memang semua empat-empat hurufnya
berkepala dengan huruf-huruf Ong = Raja di atasnya.
Inilah benar-benar syair atau lian yang sulit untuk
ditempeli (twie).
Si pelajar mengawasi orang, senang hatinya
menampak si nona menghadapi kesulitan. Ia lantas
berkata: "Lian bagian atas ini memangnya sukar, aku
sendiri tidak dapat menimpelinya dengan pasti, hanya
karena kita sudah omong terlebih dahulu, umpama
kata nona tidak dapat menempalinya, seperti janji kita,
silahkan kamu kembali saja!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Justru orang "mengusir" justru Oey Yong mendapat
pikiran. Ia tertawa.
"Untuk menimpali itu, tidaklah sukar!" katanya.
"Hanya aku merasa kurang enak di hati menyebutkan
itu. Tadi saja aku telah berbuat salah terhadap paman,
sedang sekarang aku bakal menyinggung berbareng
kamu berempat si tukang pancing, si tukang kayu, si
petani dan palajar."
Pelajar ini tidak mempercayai orang.
"Untuk menimpali saja sudah sukar sekali, apapula
dengan sekaligus mengenai empar orang," pikirnya.
"Benarkah itu?" Lalu ia membilang: "Asal kau dapat
menimpali dengan tepat, bergurau sedikit tidak apa!
Si nona tertawa.
"Kalau paman bilang begitu, baiklah, lebih dulu aku
minta maaf!" katanya. "Sambungannya lian paman itu
ialah: Ci Bie Bong Liang, ialah empat setan cilik
dengan masing-masing ususnya!"
Cie bie bong liang itu ialah setan hutan, setan
gunung, setan tukang makan batok kepala orang dan
peri, semua empat huruf berpokok dengan huruf Kwie
= Setan.
Mendengar itu, si pelajar terperanjat, lekas-lekas ia
berbangkit untuk untuk menjura dalam seraya
tangannya dikibaskan.
"Aku menyerah, Nona," katanya.
Oey Yong pun lekas-lekas memberi hormat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jikalau bukannya paman beramai sangat
bersungguh-sungguh menghalang-halangi kami
berdua mendaki gunung, sebenarnya juga lian paman
ini sangat sukar untuk dijawab!"
"Hm!" si pelajar bersuara seraya ia lantas minggir.
"Silahkan!" katanya. Ia memutar tubuh dan
berlompat dari tempat menghadangnya itu.
Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang dengan
perhatian, ia sebenarnya khawatir Oey Yong gagal,
maka bukan main girangnya ia mengetahui si nona
menang, segera ia berlompat, mulanya di tempat
bekas si pelajar, lalu terus ke rintangan lainnya yang
paling belakang.
Melihat orang menggendong tetapi gerakannya
demikian hebat, si pelajar menghela napas sendirinya
dan di dalam hatinya ia berkata: "Aku bangga atas
kepandaianku ilmu surat dan ilmu silat, sekarang
ternyata, dalam ilmu surat aku tak ada seperti si nona,
dalam ilmu silat tak ada seperti si pemuda, sungguh
aku mesti malu…" Ketika ia melirik kepada si nona,
nyata sekali nona itu sangat girang akan
kemenangannya, rupanya ia memikir ia telah
merobohkan satu conggoan. Maka ia pikir, "Baiklah
aku ganggu dia, supaya ia jangan terlalu girang." Maka
ia lantas berkata: "Nona, meskipun ilmu suratmu lihay,
tetapi di dalam halnya prilaku, kau ada cacadnya."
Oey Yong tertawa.
"Di dalam hal ini aku minta petunjukmu," ia bilang.
"Bukankah di dalam kitab Beng Coe ada bilang,
yang dibilang adat-istiadat ialah pria dan wanita tak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat saling bersentuh tangan?" katanya si pelajar.
"Sekarang lihat sendiri, Nona adalah seorang gadis
dan dengan engko kecil ini, kamu bukanlah suami-istri,
maka kenapa nona membiarkan ia menggendong
padamu? Beng Hoe-coe membilang, cuma kalau sang
ipar perempuan kelelap maka sang ipar lelaki dapat
menolongnya. Nona ini tidak kelelap, Nona pun bukan
iparnya engko kecil ini, kenapa dia menggendong
Nona? Itulah sangat besar melanggar adat-istiadat."
Mendengar sindiran atau ejekan ini Oey Yong
berpikir: "Hm! Engko Ceng toh sangat baik denganku.
Memang dialah bukan suamiku, suko Liok Seng Hong
membilang demikian, sekarang ini conggoan
membilang demikian juga…" Ia tidak suka mengalah,
maka sambil mainkan mulutnya, ia berkata: "Beng Hoe
Coe itu memang paling suka mengaco-belo! Dapatkah
kau percaya kau percaya kata-katanya itu?"
Mendengar demikian, si pelajar menjadi gusar. ia
tidak senang Beng Hoe Coe dikatakan mengaco-belo.
"Beng Hoe Coe ialah seorang nabi, seorang rasul,
mengapa kata-katanya tak dapat dipercaya?" dia tanya
keras.
Oey Yong kata tertawa, bagaikan bersenandung, ia
kata: "Seorang pengemis mana mempunyai dua istri?
Seorang tetangga mana mempunyai demikian banyak
ayam? Di jaman itu masih ada kaisar dari kerajaan
Ciu, kenapa orang mesti omong banyak dengan rajaraja
Gui dan Cee?"
Mendengar kata-kata si nona, pelajar itu berdiri
menjublak. Ia mengetahui baik sekali kata-kata nona
ini.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Apa yang disebutkan Oey Yong adalah syair karya
ayahnya sendiri. Oey Yok Su pintar akan tetapi
tabiatnya aneh, maka itu, sering ia membuat syair
dengan apa ia mengejek Khong Coe dan Beng Coe.
Kalau bukan begitu, dialah bukan Tong Shia di Sesat
dari Timur.
Beng Coe itu pernah bercerita dari halnya seorang
dari negeri Cee mempunyai seorang istri serta seorang
gunidk, toh untuk hidupnya, ia pergi mengemis sisa
sayur dan nasi dingin, dan halnya seorang yang setiap
hari mencuri seekor ayam tetangganya. Dua cerita itu
disyairkan dengan maksud akan dipakai menipu orang.
Tentang yang lainnya: jaman itu ialah jaman perang
antara negara (Cian Kok), itu masih ada raja dari
kerajaan Ciu, maka itu Tong Shia menanya, kenapa
Beng Cu bukannya menunjang raja Ciu, dia hanya
pergi kepada raja muda Liang Hui Hong dan Cee Soan
Ong kepada siapa Beng Cu meminta pangkat? Tong
Shia menganggapnya itu bertentangan sama
prilakunya seorang nabi atau rasul.
Pelajar ini berpikir: "Si orang negeri Cee dan si
tetangga itu cuma cerita, cuma cerita, perumpamaan
saja, hanya yang mengenai Beng Coe itu, mungkin
Beng Coe sendiri di alam baka sukar menjawab…" Ia
melirik pula si nona, ia berpikir lagi: "Dia masih begini
muda, kenapa dia begini cerdik?"
Meski apa yang ia pikir itu, si pelajar membungkam.
Ia hanya memimpin dua muda-mudi itu. Ketika
melewati pengempang, ia memandang kepada daun
teratai yang tadi disebutkan si nona itu, kemudian ia
melirik kepada si nona. Oey Yong tertawa dan
melengos!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tidak lama sampailah mereka di kuil, si pelajar
mengundang kedua tetamunya masuk ke kamar
sebelah timur, di mana lantas ada kacung pendeta
yang menyuguhkan the.
"Jiewi, harap tunggu sebentar, hendak aku
mengabarkan guruku," kata si pelajar.
"Eh, tunggu dulu," berkata Kwee Ceng. "Itu paman
petani, di lereng gunung di tengah menahan batu yang
ada kerbaunya, dia tidak dapat meloloskan dirinya,
baiklah paman pergi menolong dia."
Mendengar ini, si pelajar kaget. Hingga tanpa bilang
apa-apa lagi, dia lantas lari keluar.
"Nah, lekaslah buka itu kantung yang kuning!" kata
Oey Yong kepada kawannya.
"Ah," kata si pemuda, "Kalau kau tidak
menyebutnya, pasti aku lupa." Ia lantas mengeluarkan
kantung kuning itu, untuk memerika isinya. Itulah
kertas putih tanpa huruf, hanya ada gambar, yang
meggambarkan seorang India yang menjadi raja,
dengan pisau raja itu telah memotongi dagingnya
hingga tak ada tubuhnya yang utuh, sedang darahnya
berhamburan. Di depan raja ini ada sebuah dacin, alat
peranti menimbang: di ujung yang satu ada seekor
burung dara putih dan di sebelah yang lain ialah
dagingnya itu. Daging lebih banyak, burung dara lebih
kecil, tetapi buktinya, burung dara lebih berat. Di
samping dacin ada seekor burung elang, yang
romannya sangat bengis.
Sekian lama Oey Yong mengawasi gambar itu, ia
tidak mengerti maksudnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng pun tidak tahu apa artinya itu, karena si
nona diam saja, ia turut berdiam. Maka ia gulung
gambar itu, utuk dipegangi dengan digenggam.
Tidak lama terdengar tindakan kaki yang berat dan
berisik, lalu nampak si petani datang dengan dipegangi
si pelajar, romannya sangat gusar. Rupanya ia
mendongkol sebab kena diakali hingga ia seperti
tersiksa. Dia terus dibawa masuk ke dalam kuil.
Selang tak lama, muncullah satu kacung pendeta.
Dia memberi hormat dengan merangkpa kedua
tangannya. Ia menanya.
"Jiewi datang dari tempat yang jauh, entah ada
urusan apa?"
"Kami sengaja datang untuk mohon menghadap
Toan Hongya," Kwee Ceng menyahuti. "Kami minta
tolong agar kedatangan kami disampaikan."
Pendeta itu merangkap kedua tangannya.
"Toan Hongya sudah lama tak ada lagi di dalam
dunia ini, maka sayang sekali, jiewi telah bercapai
lelah tanpa ada hasilnya. Silahkan dahar dulu,
sebentar nanti siauw-ceng mengantarkannya turun
gunung."
Kwee Ceng berdiam, karena ia kecele sekali
mendapat jawaban itu. Tidak demikian dengan Oey
Yong, yang telah melihat kuil itu dan sekarang si
pendeta cilik ini. Ia menduga sesuatu. Ia mengambil
gambar dari tangannya Kwee Ceng, ia kata: "Aku telah
mendapat luka parah, sengaja aku datang ke mari
untuk minta gurumu suka menolongi, dari itu sehelai
kertas ini tolong kau menyampaikannya kepada
gurumu itu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kacung itu menerima, ia tidak berani membuka
gambar itu, hanya setelah memberi hormat, ia masuk
ke dalam. Tapi tidak lama ia keluar pula, sembari
menurunkan alisnya, sambil memberi hormat, ia
berkata: "Silahkan jiewi masuk."
Itulah undangan, maka Kwee Ceng menjadi girang
sekali. Ia lantas pegangi Oey Yong, untuk diajak
mengikuti kacung itu.
Kuil itu kecil tetapi dalam. Kwee Ceng berdua Oey
Yong jalan di satu jalanan batu hijau yang lecil
melewati sebuah tempat di mana ada ditanam banyak
pohon bambu, yang daunnya lebat, keadaannya sunyi
dan tenang, hingga siapa berada di situ, ia tentunya
terpengaruh suasana kesucian. Di dalam rimba bambu
itu terlihat sebuah rumah batu terdiri dari tiga ruang. Si
kacung pendeta lantas membuka pintu, untuk
mempersilahkan kedua tetamunya masuk ke dalam. Ia
berdiri di pinggaran dengan sikapnya yang sangat
menghormat.
Kwee Ceng girang. Ia bersenyum kepada pendeta
itu, sebagai tanda terima kasihnya. Bersama Oey
Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam.
Di atas meja kecil ada pedupaan dari kayu garu. Di
kedua samping itu ada berduduk masing-masing
seorang hweeshio atau pendeta. Yang satu mukanya
hitam, hidungnya mancung, matanya dalam. Dialah
seorang India. Yang lainnya, yang bajunya kasar,
mempunyai alis putih yang panjang, ujung alisnya
meroyot turun di ujung matanya. Wajah pendeta ini
menunjuk ia murah hati, benar sinar matanya rada
guram, mungkin tercampur kedukaan, tetapi umumnya
dia halus dan agung. Si pelajar dan si petani berdiri di
belakang pendeta alis panjang ini.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong bertindak tanpa sangsi lagi. Ia menarik
tangan Kwee Ceng, untuk menghampirkan pendeta itu,
sambil membungkuk ia berkata: "Teecu Kwee Ceng
bersama Oey Yong menghadap Supee."
Kwee Ceng terkejut mendengar nona itu memanggil
supee atau paman guru, meski begitu tanpa bersangsi
lagi dia menekuk kedua kainya untuk mengangguk
sampai empat kali.
Pendeta alis panjang itu bersenyum, ia bangun
untuk berdiri, tangannya diulur mengasih bangun pada
mereka itu. Ia pun tertawa dan berkata: "Saudara Cit
telah mendapatkan murid yang baik sekali dan
saudara Yok mendapatkan anak yang manis! Menurut
katanya mereka ini…" ia menunjuk kepada si petani
dan si pelajar, "Lihay ilmu surat dan ilmu silat kamu
berdua, jauh melebihkan murid-muridku yang bodoh
itu. Haha, sungguh kamu berdua harus diberi selamat!"
Mendengar suara itu, Kwee Ceng merasa pasti
orang adalah Toan Hongya, maka ia heran kenapa
seorang raja boleh berubah menjadi hweeshio dan
heran juga bahwa Toan Hongya dikatakan sudah mati,
toh orang masih hidup segar-bugar. Pula ia heran yang
Oey Yong lantas mengetahui pendeta itu adalah Toan
Hongya sendiri.
Lalu terdengar si pendeta menanya Oey Yong:
"Apakah ayahmu dan gurumu mu baik-baik semua?
Ketika dulu hari kita berapat di gunung Hoa San di
mana kita merundingkan ilmu pedang bersama
ayahmu, ayahmu itu masih sebatang kara, siapa
sangka baru berpisah dua puluh tahun, dia telah
mendapatkan satu anak perempuan yang cantik dan
pintar! Apakah kau ini mempunyai saudara tua dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
muda, enci atau adik? Dan kakek luarmu itu, dia orang
gagah yang manakah?"
Ditanya begitu, matanya Oey Yong menjadi merah.
"Ibuku cuma melahirkan aku seorang," sahutnya.
"Ibu pun telah meninggal semenjka siang-siang. Siapa
itu kakek luarku, aku tidak tahu…"
"Oh," kata pendeta itu, yang dengan perlahan
menepuk pundak orang, sebagai tanda menghibur.
"Aku telah bersemadhi tiga hari dan tiga malam, baru
saja aku pulang. Apakah kamu sudah lama menunggu
aku?"
Oey Yong berpikir: "Dilihat dari sikapnya ini, dia
sangat menyukai kami. Maka mungkin di sepanjang
jalan tadi, yang menyulitkan kami adalah bisanya
muridnya itu…" Karena itu, ia lekas menyahut: "Teecu
juga baru tiba. Syukur beberapa paman telah
mempersulit di tengah jalan, kalau tidak, tentulah kami
sudah tiba semenjak tadi-tadi, hingga dengan supee
tengah bersemadhi mungkin tibanya kami akan sia-sia
belaka."
Mendengar itu, si pendeta tertawa riang.
"Mereka itu sangat khawatir aku bertemu sama
orang luar," katanya. "Sebenarnya, bukankah kau
bukannya orang luar? Ah, anak, muridmu tajam sekali,
dasar turunan! Baiklah kamu ketahui, Toan Hongya
sudah tidak ada lagi dalam dunia ini, sekarang aku
dipanggil It Teng Hweesio. Gurumu ketahui ketika aku
mulai menganut agama, ia menyaksikannya, ayahmu
mungkin belum mengetahuinya."
Baru sekarang segala apa terang bagi Kwee Ceng.
Toan Hongya telah menjadi Hweeshio, dia memakai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
nama It Teng itu, pantas dia dikatakan sudah menutup
mata. Memang siapa menyucikan diri, dia bagaikan
menjelma pula. "Suhu mengetahui tentang supee ini,
kalau suhu menyuruh kita ke amri, tidak nanti ia
menyebut pula Toan Hongya, hanya It Teng Taysu."
Maka itu, benar-benar Oey Yong cerdik sekali, ia
lantas dapat menerka!
"Memang juga ayah tidak tahu," berkata Oey Yong.
"Benar," It Teng pun bilang sambil ia tertawa.
"Tentang gurumu itu, mulutnya itu lebih banyak yang
masuk, sedikit yang keluar, yang dimakan banyak,
yang dibicarakan sedikit, maka itu urusan aku si
pendeta tua tentulah dia tak suka bicarakan itu sama
lain orang. Kamu datang dari tempat jauh, kamu sudah
dahar atau belum? Ah…." Mendadak pendeta ini
terkejut, lalu ia menarik tangan Oey Yong ke depan
pintu di mana ia mengawasi dengan tajam, di sinar
matahari. Di sini dia nampak seperti kaget.
Kwee Ceng benar tak gelap pikirannya tetapi
tahulah ia bahwa It Teng Taysu tentu telah mendapat
lihat sakitnya Oey Yong, maka itu, hatinya jadi sangat
pedih, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan pendeta
itu, berulang-ulang ia mengangguk.
It Teng meluncurkan sebelah tangannya, akan
mengangkat bangun bocah itu.
Kwee Ceng merasakan satu tenaga besar
membentur tangannya, ia tidak berani menentang itu,
ia lantas mengikuti, maka ia berbangkit dengan
perlahan-lahan. Sembari bangun, ia berkata: "Teecu
mohon supee suka menolongi jiwanya sumoy ini…"
It Teng mengangkat si anak muda dengan
mengandung dua maksud, satu untuk mengasih
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bangun benar-benar, yang lain guna mencoba tenaga
dalam bocah itu. Umpama Kwee Ceng melawan, tidak
nanti ia membikin orang terluka atau terpelanting, di
dalam hal itu, ia pandai mengendalikan tenaganya.
Sebaliknya, meskipun Kwee Ceng mengikuti, ia
merasa bahwa anak muda ini juga pandai
mengendalikan tenaganya, maka itu ia menjadi kagum.
"Saudara Cit mendapat murid yang bagus sekali,"
pikirnya. "Pantas murid-muridku kalah…"
Sementara itu, habis orang berkata, Kwee Ceng
kaget sekali. Mendadak ia merasa tubuhnya kena
tertarik hingga ia maju satu tindak, ketika ia mencoba
menahan diri, mukanya menjadi merah tahu benar
lihaynya pendeta tua itu. Sebenarnya ia menduga It
Teng sudah berhenti menguji padanya, ia
mengendorkan diri seperti wajar, tidak tahunya, ia diuji
terus. Sekarang ia menginsyafi benar lihaynya Tong
Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay.
It Teng dapat melihat sinar mata anak muda itu, ia
heran dan kagum, ia menepuk perlahan pundak orang,
sembari tertawa ia kata: "Anak, kau telah mempunyai
kepandaianmu ini, sungguh inilah dukar didapat."
Dilan pihak, pendeta ini masih belum melepaskan
tangannya yang satu lagi yang memegangi tangan
Oey Yong, maka ia lantas menoleh kepada si nona.
Hanya kali ini ia tidak lagi tertawa hanya bersenyum,
cuma dengan sungguh-sungguh dengan perlahan
sekali, ia bilang: "Anak, jangan kau takut, kau tetapkan
hatimu."
Lalu ia menuntun nona itu, untuk dikasih duduk.
Oey Yong sangat bersyukur. Seumurnya belum
pernah ia merasa orang perlakukan ia begini manis
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dan halus, tidak juga ayahnya yang aneh itu. Ayahnya
itu menyayangi ia, tetapi sikap mereka berdua mirp
sahabat erat, tidak pernah si ayah menunjuk tegas
cinta kasihnya seorang ayah sebagaimana umumnya.
Maka itu, tanpa merasa, ia menangis.
"Jangan menangis, anak yang baik, jangan
menangis," It Teng menghibur. "Tubuhmu sakit,
bukan? Nanti supeemu mengobati kau hingga
sembuh."
Hanyalah semakin halus ia pendeta berbicara,
semakin sedih hatinya si nona, hingga ia menangis
tersedu-sedu tak hentinya.
Kwee Ceng girang mendengar It Teng memberi
janjinya itu, tetapi kebetulan ia mengangkat kepalanya
dan melihat si petani dan si pelajar, ia terkejut. Dua
orang itu memandang dia dengan wajah bermuram
durja tanda dari kemurkaan. Ia berpikir: "Kami bisa
masuk sampai di sini, semua itu mengandal kepada
kecerdikannya Oey Yong, yang pandai menggunai tipu
daya, tidak heran, selagi It Teng Taysu begini baik,
kenapa keempat muridnya menggunai segala jalan
untuk menghalang-halangi kami?"
Pemuda ini baru berhenti berpikir ketika ia
mendengar It Teng menanya Oey Yong. Katanya:
"Anak, bagaimana caranya kau terluka, dan
bagaimana jalannya hingga kau dapat masuk ke mari,
coba kau tuturkan pada supeemu."
Oey Yong memberikan keterangan bagaimana ia
terlukakan Khiu Cian Jin, yang mula ya ia tidak tahu
ada yang tulen dan ada yang palsu, karena
kesangsiannya itu, ia mandah saja kasih dirinya
dihajar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar disebutknya nama Khiu Cian Jin, It
Teng Taysu itu mengerutkan alis, hanya sejenak, lalu
ia dapat bersenyum pula, ia nampak tenang seperti
biasa.
Oey Yong si cerdik bicara sambil diam-diam
memperhatikan si pendeta itu, maka air muka orang itu
tidak lolos dari pandangan matanya yang tajam. Begitu
ketika ia menutur sampai di bagian mereka bertemu
Eng Kouw di rimba rahasia dan rawa lumpur hitam, ia
juga mendapatkan si pendeta itu berubah lagi
romannya, si pendeta seperti tengah mengenang
peristiwa lama. Karena ini, ia menunda penuturannya
itu.
"Kemudian bagaimana?" tanya It Teng, yang
menghela napas.
"Kemudian kami sampai di kaki gunung," melanjuti
Oey Yong yang terus menceritakan bagaimana
mereka dipersulit si tukang pancing, tukang kayu, yang
memberi mereka lewat dengan gampang, sebaliknya,
mengenai tiga yang lain, ia sengaja menambahnambahkan
hingga si petani dan pelajar mendongkol
bukan buatan.
"Yong-jie, jangan omong sembarangan," beberapa
kali Kwee Ceng campur bicara. "Paman-paman itu tak
ada sedemikian galak…."
Oey Yong berani bicara begitu rupa, karena ia tahu,
di depan gurunya, mereka itu tidak nanti berani
berbuat sesuatu atas dirinya. Ia memang sengaja
hendak mengocok isi perut mereka itu.
"Anak-anak itu benar perbuatannya kurang bagus
terhadap anak-anak kecil," kata It Teng kemudian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Biarlah sebentar aku menyuruh mereka
menghanturkan maaf kepada kamu."
Oey Yong melirik dua murid itu, selagi ia bercerita
terus sampai ia memasuki kuil ini, akhirnya ia
tambahkan. "Begitulah teecu lantas memberikan
gambar itu untuk supee periksa. Sedari itu waktu, baru
mereka tidak berani menghadang kami lagi."
It Teng nampaknya heran.
"Eh, gambar apakah itu?" ia tanya.
"Itulah gambarnya burung elang, burung dara dan
daging yang dipotong," menyahut si nona.
"Kau serahkan itu pada siapa?" It Teng tanya pula.
Belum lagi Oey Yong menyahuti, si pelajar telah
merogoh sakunya dan mengeluarkan gambar itu.
"Gambar itu ada pada teecu, suhu," ia berkata.
"Tadi suhu belum selesai bersemadhi, gambar itu
teecu tidak berani lantas menyerahkannya."
It Teng menyambuti gambar itu.
"Lihatlah!" katanya. "Jikalau kau tidak
menyebutkannya, mana aku bisa melihat ini?" Ia
membuka gambar itu perlahan-lahan, terus ia lihat.
Cuma sekelebatan, ia lantas tertawa dan kata:
"Kiranya orang khawatir aku tidak suka menolong kau,
maka ia menggunai gambar ini untuk membangkitkan
kemendongkolanku, agar hatiku menjadi panas.
Tidakkah dengan begitu ia jadi memandang enteng
sekali kepada aku si pendeta tua?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tidak menjawab, ia hanya melirik si petani
dan pelajar, hingga ia kembali melihat muka orang
suram, agaknya hati mereka cemas dan tetap
mendongkol. Ia menjadi heran sekali. Ia tanya dirinya
sendiri: "Kenapa mereka tak senang mendengar It
Teng Taysu berniat mengobati aku? Kenapa mereka
seperti menghendaki kematianku? Adakah itu
disebabkan obatnya ada obat dewa?" Ia mengawasi
pula si pendeta, yang lagi memperhatikan gambar itu,
yang bahkan dibawa ke terangnya matahari, untuk
ddiperiksa dengan teliti. Dia bukannya membaca
hanya memperhatikan kertasnya. Beberapa kali kertas
itu disentil-sentil, dan air mukanya di pendeta
menandakan ia ragu-ragu.
"Adakah lukisan ini lukisannya Eng Kouw sendiri?"
ia menanya.
"Benar."
Pendeta itu berdiam sejenak.
"Kau melihatnya dengan matamu sendiri?"
Pertanyaan ini heran, maka Oey Yong mengingatingat
kejadian hari itu. Ia menjawab: "Di waktu Eng
Kouw menulis, ia membelakangi kami berdua, aku
cuma melihat ia menggoyangi pit, entah dia menulis
surat atau melukis gambar."
"Kau membilang masih ada dua kantung surat
lainnya. Mana, kasih aku melihatnya."
Kwee Ceng menyerahkan dua lembar surat wasiat
itu.
It Teng mengawasi sekian lama, lalu air mukanya
berubah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Benarlah!" katanya kemudian. Ia menyerahkan
surat itu pada si nona seraya berkata: "Saudara Yok itu
seorang pelukis pandai, kau putrinya, kau tentu
mengerti segala apa. Kau lihat ketiga surat itu, ada
apakah yang berlainan?"
Oey Yong menyambuti dan memeriksa.
"Ini dua kerta giokpoan yang biasa," ia berkata.
"Dan gambar ini memakai kertas ciu-song."
It Teng mengangguk.
"Mengenai lukisan, akulah si orang diluar kalangan,"
katanya pula. "Coba kau bilangi aku pandanganmu
tentang gambar ini.
Oey Yong meneliti.
"Supee pura-pura menjadi orang di luar kalangan!"
katanya tertawa. "Sebenarnya supee telah melihatny,
ini bukan gambar lukisannya Eng Kouw sendiri!"
Kembali berubah air mukanya It Teng.
"Jadi benar ini bukannya lukisannya Eng Kouw
sendiri?" katanya. "Aku melihatnya dari jalan
pikirannya, bukannya dari gambarnya."
Oey Yong menarik tangan orang.
"Mari lihat huruf-hurufnya kedua surat ini," ia
berkata. "Bagaimana halus tekukannya dan indah.
Huruf-huruf di dalam gambar sebaliknya kaku! Ah,
inilah lukisannya seorang laki-laki! Memang, mestinya
dia seorang pria, hanya sayangnya dia tidak
mempunyai minat menggambar, lukisannya tak ada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
harganya. Tetapi tulisannya ini, karena ia menggunai
tenaganya, telah menembus ke belakang kertas… Air
bak ini juga mestinya telah lama sekali, jangan-jangan
lebih tua dari usianya…"
It Teng Taysu menghela napas. Ia menunjuk
kepada sebuah kitab di atas meja, ia menyuruh si
pelajar mengambilnya untuknya.
Oey Yong membaca judulnya kitab, maka ia kata di
dalam hatinya; "Dia mau bicara tentang kitab suci
dengan aku, mana aku mengerti…." Itulah sebuah
kitab suci dan pula cetakan tua.
It Teng membuka lembarannya kitab itu, lalu di
samping itu ia meletaki gambar dari Eng Kouw. "Kau
lihat!" katanya.
"Eh, kertasnya sama!" kata Oey Yong heran.
Pendeta itu mengangguk.
Kwee Ceng tidak mengerti, sambil berbisik ia tanya
si nona, kertas apanya yang sama.
"Kau lihat sendiri dan bandingkanlah," kata Oey
Yong. "Bukankah kertasnya gambar dan kitab ini sama
saja?"
Si anak muda mengawasi teliti dan memegang juga
kedua kertas, yang tebal dan licinnya sama saja.
"Benar sama. Habis bagaimana?" ia tanya.
Si nona tidak menjawab, ia hanya memandang It
Teng, untuk memperoleh jawaban.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kitab ini dibawa oleh adik seperguruanku dari
Wilayah Barat," berkata pendeta itu alias Toan
Hongya.
Semenjak semula, Kwee Ceng dan Oey Yong tidak
memperhatikan si pendeta bangsa India itu, baru
sekarang mereka menoleh dan mengawasi. Pendeta
itu tetap duduk bersila, tidak bergerak atau menoleh,
tidak memperdulikan orang bicara asyik di dekatnya.
"Kitab ini juga terbuat dari kertas buatan Wilayah
Barat, demikian juga kertas dari gambar ini," kemudian
It Teng berkata pula. "Pernahkah kau mendengar
namanya gunung Pek To San di Wilayah Barat itu?"
Pek To San ialah gunung Unta Putih.
"Gunungnya See Tok Auwyang Hong?" tanya Oey
Yong terkejut.
"Tidak salah," menyahut si pendeta perlahan.
"Gambar ini pun dilukis oleh Auwyang Hong.
Oey Yong dan Kwee Ceng kaget sampai mereka
bungkam.
It Teng Taysu bersenyum.
"Auwyang Kongcu itu seorang yang pandai berpikir
dan jauh pendengarannya," katanya.
"Supee, aku tidak tahu kalau gambar ini dilukis oleh
si bisa bangkotan itu!" kata Oey Yong. "Kalau begitu
dia bermaksud tidak baik tentu…."
It Teng bersenyum, tetapi kapan ia melihat
parasnya si nona, yang merah, suatu tanda nona ini
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lagi menahan sakit, ia mengulur tangannya memegang
pundak orang.
"Baiklah belakangan saja kita bicara lebih jauh.
Sekarang yang penting ialah mengobatimu," katanya.
Lalu ia mengajak si nona pergi ke kamar samping.
Belum lagi mereka memasuki kamar itu, si pelajar
dan si petani, yang saling melirik, sudah mendahului
lompat ke pintu kamar untuk menghalangi di situ.
Keduanya lantas berlutut dan berkata: "Suhu, biarlah
teecu saja yang mengobati nona ini."
It Tent menggeleng kepala.
"Apakah pelajaranmu telah cukup?" ia bertanya.
"Apakah kau sanggup mengobati hingga sembuh?"
"Teecu akan mencoba sebisa-bisanya," menyahut
kedua murid itu.
Si pendeta lantas mengasih lihat roman sungguhsungguh.
"Apakah nyawa manusia dapat dicoba-coba?" ia
kata nyaring.
"Dua orang ini datang ke mari atas petunjuk orang
jahat," kata si pelajar, "Mereka pasti tidak mengandung
maksud baik. Walaupun suhu bermaksud baik hendak
menolongi orang tetapi tidak dapat suhu kena
diperdayakan akal jahat!"
It Teng menghela napas.
"Apakah yang setiap hari aku mengajarkan kamu?"
ia tanya perlahan-lahan. "Baiklah kau bawa gambar ini
dan pergilah lihat-lihat."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Guru ini menyerahkan gambarnya Auwyang Hong
itu.
Si petani mengangguk dalam.
"Suhu, gambar ini dilukis See Tok," katanya. "Inilah
akal busuk dari Auwyang Hong…."
Kelihatannya murid ini bergelisah sekali, sampai air
matanya turun mengalir.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi dengan
bingung. Mereka tidak menyangka, kenapa
tindakannya It Teng Taysu untuk mengobati ada
demikian rupa sangkut pautnya. Apakah yang
menyebabkan sikapnya kedua murid itu?
"Bangun, bangun," kata It Teng perlahan. "Jangan
kamu menyebabkan hati tetamu kita menjadi tidak
tenang."
Suara itu sabar akan tetapi nadanya ialah nada dari
putusan mutlak. Kedua murid itu rupanya mengerti,
terpaksa mereka berdiam, mereka berbangkit untuk
berdiri di pinggaran, kepala mereka tunduk.
It Teng Taysu mengajak Oey Yong masuk.
"Kau juga masuk!" ia memanggil Kwee ceng, yang
berdiri diam.
Pemuda itu bertindak masuk.
Setelah itu, It Teng menarik turun sero bambu, terus
ia menyulut sebatang hio, untuk ditancap di tempat
abu di atas meja.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kamar itu berperabot kecuali sebuah meja bambu
itu cuma dengan tiga buah tempat duduk dari tikar.
Oey Yong diperintah duduk di tikar yang tengah.
Kepada Kwee Ceng ia memesan: "Kau jagai hio itu,
kalau sudah terbakar habis, kau beritahu aku."
Pemuda itu menyahuti, "Ya!"
Lantas It Teng duduk di tikar di samping si nona,
matanya memandang ke sero, segera ia memesan
pula kepada si anak muda; "Kau jagai pintu juga,
jangan ijinkan orang lain masuk ke mari - tidak peduli
adik seperguruanku atau murid-muridku, kau jangan
kasih masuk!"
Kwee ceng heran tetapi ia berikan janjinya.
Habis itu It Teng merapatkan kedua matanya. Tapi
tak lama, ia melek pula, ia berkata kepada si pemuda:
"Jikalau mereka itu sampai menggunai kekerasan, kau
lawan! Ingat, di sini ada bergantung jiwanya
sumoymu!"
Kwee Ceng mengangguk, ia jadi semakin heran,
hatinya pun tegang.
It Teng lalu berkata kepada Oey Yong: "Kau
kedorkan seluruh tubuhmu, tidak peduli ada rasa nyeri
atau gatal bagaimana hebat juga, jangan kau membuat
perlawanan atasnya!"
Si nona tertawa ketika ia menyahuti: "Aku
menganggap diriku sudah mati…!"
Mau tidak mau, It Teng pun tertawa.
"Anak yang baik, kau benar-benar pintar!" ia
memuji. Ia lantas menutup pula matanya untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memusatkan pikirannya. Ketika hio sudah terbakar kira
satu dim, mendadak ia berlompat bangun, tangan
kirinya diangkat, diletaki di dadanya, tangan kanannya,
dengan jari telunjuknya, diarahkan, ditotokan ke jalan
darah pek-hwee-hiat di embun-embunan Oey Yong.
Ketika ditotok itu, tanpa merasa, Oey Yong
berjingkrak sendirinya, terus ia merasa dari embunembunnya
itu keluar hawa panas.
Habis menotok, It Teng menarik pulang tangannya
itu, hanya belum lewat sejenak, kembali ia sudah
menotok, sekarang di jalan darah houw-teng-hiat di
belakang jalan darah pek-hwee-hiat itu, terpisahnya
cuma satu dim. Setelah itu, dengan saling susul ia
menotok terus pelbagai jalan darah lainnya, seperti
kiang-kian-hiat, laohu-hiat, honghu-hiat, ah-bun-hiat,
taytwie-hiat, totoo-hiat dan lainnya, maka ketika hio
terbakar baru setengah batang, dia sudah menotok
semua tigapuluh jalan darah.
Kwee Ceng telah maju jauh, maka itu ia bisa
menyaksikan cara menotok dari It Teng itu, hingga ia
melihat tegas kelihayan si pendeta. Sesuatu gerakan
beda satu dari lain. Ilmu totok semacam itu, ia belum
dapat dari Kanglam Liok Koay, bahkan di dalam kitab
bagian ilmu totok dari Kiu Im Cin-keng, tidak ada
dicatat juga. Menyaksikan itu, ia kagum hingga
mulutnya terbentang dan matanya hampir kabur.
Selama itu ia tidak ingat yang It Teng lagi menggunai
seluruh tenaga dalamnya guna menyalurkan semua
jalan darah dan nadi Oey Yong.
Habis menotok itu, It Teng duduk untuk beristirahat.
Sesudah itu, sesudah Kwee Ceng menyulut sebatang
hio yang lain, ia mulai bekerja pula. Kali ini dia
menotok duapuluh lima jalan darah yang disebut
bagian nadi dim-meh. Pula kali ini, totokan dilakukan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan kesebatan, gerakannya bagaikan sesapung
menyambar-nyambar air, ia seperti menahan napas.
Yang hebat, semua totokan itu tidak pernah gagal.
"Sungguh hebat, di kolong langit ini ada kepandaian
seperti ini," kata Kwee Ceng di dalam hatinya saking
kagum.
Kemudian It Teng Taysu menotok pula empatbelas
jalan darah yang disebut im-wie-meh. Juga totokan itu
dilakukan dengan lain cara, dengan gerak-gerik kaki
"jalan naga" dan "tindakannya harimau", hingga
sikapnya nampak sangat angker, hingga dimatanya
Kwee Ceng, dia bukan lagi seorang pendeta suci dan
alim, hanya seorang raja dari berlaksa rakyat negeri.
Sekali ini It Teng tidak beristirahat lagi, ia meneruskan
menotok tigapuluh dua jalan darah dari yang-wie-meh.
Totokan ini dari jarak sedikit jauh. Umpama ketika ia
menotok jalan darah hongtie-hiat di leher si nona, ia
berlompatan dari jarak setombak, habis itu terus ia
lompat mundur pula, demikian seterusnya.
Menampak cara menotok itu, Kwee Ceng kata di
dalam hatinya: "Kalau kita lagi bertempur sama musuh
yang tangguh, apabila bertempur dengan rapat
berbahaya, bolehlah kita pakai cara jauh ini. Dengan
begitu, sambil menyerang untuk merebut kemenangan,
kita juga dapat membela diri dengan sempurna."
Demikian, sembari menonton, anak muda ini
mengingati baik-baik setiap totokan itu, bagaimana
sikapnya, dari bersiap sampai menotok dan sampai
sesudahnya itu, untuk mulai dengan lain-lain totokan
lagi. Diam-diam ia juga mengutuk dirinya, yang
dikatakan bebal sekali, yang gampang lupa, hingga
ada yang baru dilihat lalu tak teringat lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Setelah menukar lagi dua batang hio, It Teng sudah
selesai menotok dua bagian jalan darah im-kiauw dan
yang-kiauw. Ketika Kwee Ceng melihat totokan pada
jalan darah kie-kut-hiat, mendadak ia ingat: "Ah,
totokan ini ada termuat di dalam Kiu Im Cin-keng!
Dasar aku yang tolol, aku tidak dapat menangkap
maksudnya!"
Sekarang ia melihat gerak-gerak It Teng sama
dengan petunjuk-petunjuk dalam kitab Kiu Im Cin-keng
itu. Hal ini menggampangi ia mengingat-ingat, hingga
ia mengingat baik tempo It Teng menotok jalan darah
ciong-meh.
Paling belakang It Teng Taysu hendak menotok
jalan darah tay-meh. Untuk itu, ia mesti jalan ke
belakang Oey Yong. Pertama kali ia menotok
ciangbun-hiat, sedang semuanya ada delapan jalan
darah. Sekarang nampak gerakannya si pendeta
sangat lambat, agaknya ia bergerak sukar sekali,
sedang napasnya sudah memburu dan tubuhnya
terhuyung, bagaikan ia tak kuat berdiri lebih lama pula.
Kwee Ceng melihat semua itu, ia terkejut apapula
kapan ia menampak peluh membasahi jidatnya
pendeta itu, mengucur di alisnya yang putih dan
panjang itu. Ia ingin maju menolongi tetapi ia khawatir
mengganggu. Tempo ia mengawasi Oey Yong, si nona
telah bermandikan keringat, pakaiannya basah. Dia
pun mengerutkan alis dan menutup mulut rapat-rapat,
rupanya ia melawan rasa nyeri yang hebat.
Selagi anak muda ini terbengong, mendadak ia
mendengar satu suara di sebelah belakang, ialah dari
tersingkapnya sero bambu, suara mana disusul sama
panggilan nyaring: "Suhu!" Disusul lagi sama
masuknya orang yang berseru itu. Belum ia ingat itu, ia
segera menyerang ke belakang, dengan salah satu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
totokannya It Teng barusan. Ia menyerang saling susul
dengan cepat sekali hingga empat kali. Sebagai
kesudahan dari itu, ia mendengar suara robohnya
beberapa orang. Sekarang barulah ia menoleh ke
belakang, tepat di saat satu orang, ialah si pelajar,
berlomnpat ke belakang, hingga ia bebas dari totokan.
Yang roboh ialah si tukang pancing, si tukang kayu
dan si petani bertiga, mereka terus rebah di lantai. Ia
bengong mengawasi mereka, sebab tak dipikirnya
untuk menyerang mereka itu. Ketika ia memandang si
pelajar itu, dia itu lagi mengawasi ia dengan bengis,
satu tanda orang ada sangat gusar.
"Habis sudah!" berseru si pelajar dalam murkanya.
"Apalagi yang hendak dicegah?"
Kwee Ceng menoleh, maka ia melihat It Teng
Taysu lagi duduk bersila di atas tempat duduknya,
mukanya pucat sekali, bajunya basah dengan
peluhnya, sedang Oey Yong telah roboh dengan tubuh
tak bergerak, entah dia sudah meninggal atau masih
hidup. Maka dalam kagetnya, ia lompat menubruk,
guna mengasih bangun. Paling dulu hidungnya
mendapat cium bau amis.
Muka nona itu pucat bercampur sinar biru, tak ada
cahaya dari darahnya, hanyalah sinar hitamnya yang
samar-samar sudah lenyap semua.
Kwee Ceng mendengari napas orang di hidung,
jalan napas itu berat sekali. Tapi dengan mendapat
dengar suara napas itu, ia merasa lega sedikit.
Ketika itu si pelajar sudah menolongi menotok
bebas si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani,
bersama-sama mereka merubungi guru mereka,
semua membungkam, roman mereka diliputi kedukaan
dan kegelisahan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng tidak memperhatikan mereka itu, ia
terus menungggui si nona, muka siapa ia awasi. Maka
hatinya menjadi bertambah lega kapan dengan
perlahan-lahan ia mendapatkan paras nona itu
berubah pula sedikit dadu. Hanya paras dadu itu,
lama-lama berubah terus, lalu merah, habis mana
kedua pipi nona itu terasa panas begitu pun dahinya,
panasnya seperti api ketika dahi itu diraba.
Lagi beberapa saat, butir-butir peluh yang besar
turun dari jidatnya di nona lalu kembali parasnya
berubah, dari merah menjadi putih pula. Kejadian ini
terulang sampai tiga kali, tiga kali juga peluh keluar
banyak sekali. Diakhirnya, Oey Yong mengeluarkan
suara kaget dan kedua matanya dibuka, terus ia
menanya: "Engko Ceng, mana dapur? Mana es?"
Bukan kepalang girangnya Kwee Ceng mendengar
orang dapat berbicara.
"Apa dapur? ia bertanya. "Apa es?"
Si nona melihat ke seputarnya, ia menggeleng
kepala. Akhirnya ia tertawa.
"Ah, aku bermimpi hebat sekali!" katanya. "Aku
bermimpikan Auwyang Hong, Auwyang Kongcu dan
Khiu Cian Jin. Mereka itu menjebloskan aku ke dalam
dapur, untuk dipanggang, lalu mereka mengambil es,
dengan apa aku dibikin dingin, setelah tubuhku dingin,
dia membakar pula…Ah, sungguh menakutkan! Eh,
bagaimana dengan It Teng Taysu?"
It Teng membuka matanya, ia tertawa.
"Lukamu sudah sembuh," katanya. "Sekarang kau
perlu beristirahat satu atau dua hari. Jangan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sembarang bergerak, supaya kau nanti sembuh
seluruhnya."
"Seluruh tubuhku rasanya tidak bertenaga sama
sekali," berkata si nona, "Sampai pun jari tangan malas
digeraki…"
Ketika itu si petani mendelik pada si nona, dia
agaknya sangat gusar. Oey Yong melihat itu, ia tidak
mengambil mumat. Ia hanya kata kepada paman
gurunya itu.
"Supee tentulah sangat lelah sebab untuk
mengobati aku, supee telah mengeluarkan banyak
tenaga. Aku mempunyai obat Kiu-hoa Giok-louw-wan
buatan ayahku, apa supee mau memakannya
beberapa biji?"
"Bagus!" kata It Teng gembira. "Aku tidak
menyangka kau membawa obat mujarab buatan
ayahmu itu. Itulah obat untuk menambah tenaga.
Ketika kita merundingkan ilmu pedang di Hoa San,
tempo semuanya sudah sangat letih, ayahmu
membaginya kepada kami beramai, habis makan itu,
kita semua menjadi segar sekali."
Oey Yong lantas mengeluarkan kantong obatnya,
untuk diserahkan pada si paman guru.
Si petani lari ke dapur, untuk mengambil
semangkok air, sedang si pelajar mengeluarkan obat
itu, semuanya dikeluarkannya obat itu, lalu semuanya
dikasihkan pada gurunya.
"Tidak begini banyak!" berkata It Teng tertawa.
"Obat ini sangat sukar dibuatnya. Cukup kita minta
separuhnya saja."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tetapi suhu!" berkata si pelajar, yang romannya
cemas, "Meski obat di dalam dunia digotong semua ke
mari, itu masih belum cukup!"
Pendeta itu tidak tega menampik, maka ia lantas
menelan beberapa puluh butir, yang ia bantu dengan
air beberapa ceglukan. Kemudian ia kata kepada
Kwee Ceng: "Kau pergi pimpin sumoymu ini untuk
beristirahat dua hari, setelah itu kamu pergi turun
gunung, tak usah kamu menemui aku lagi. Eh, ada
satu urusan yang aku hendak minta dari kamu….."
Kwee Ceng sudah lantas menjatuhkan dirinya
berlutut seraya mengangguk empat kali hingga
kepalanya membentur lantai. Oey Yong pun turut
menjura, sambil berkata perlahan: "Supee telah
menolongi jiwaku, budimu ini tidak nanti keponakanmu
berani melupakannya."
It Teng tertawa. "Lebih baik dilupakan, supaya tak
usah diingat-ingat lagi," katanya, seraya ia terus
menoleh kepada Kwee Ceng, untuk memberi
pesannya: "Kamu telah naik ke gunung ini, hal itu
segala kejadian di sini, jangan kamu omongkan
kepada orang lain, juga tak usah kau menyebutkannya
kepada gurmu."
Kwee Ceng tercengang. Ia justru lagi memikirkan
bagaimana harus membawa gurunya datang ke mari
guna minta pertolongan paman guru ini.
It Teng tertawa. Ia berkata pula: "Kamu juga lain kali
tak usah datang pula ke mari, kami sekaligus hendka
pindah."
"Pindah?" tanya si anak muda heran. "Pindah ke
mana, supee?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
It Teng tersenyum, ia tidak menjawab.
"Ah, engko tolol," kata Oey Yong tertawa. "Karena
tempat supee ini telah ketahuan oleh kita maka supee
mau pindah. Mana supee dapat memberi keterangan
padamu?"
Meski ia berkata begitu, nona ini sebenarnya
berduka sekali. Itulah gara-garanya dia maka si supee
mau pindah meninggalkan tempat kediamannya yang
bagus ini. Mana bisa ia melupakan budi yang sangat
besar itu? Mengingat begini, ia mengawasi empat
murid orang, yang telah berkumpul semua. Ia ingin
berkata-kata kepada mereka itu. Hanya belum lagi ia
membuka mulutnya, mendadak paras It Teng menjadi
pucat, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dari tempat
duduknya!
Bab 63 SAPU TANGAN BERSULAM
Keempat murid itu tersentak kaget begitu juga Kwee
Ceng. Bersama-sama mereka berlompat menubruk.
Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu
bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri
yang hebat. Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu
mereka bagaimana harus menolongnya. Semua lantas
berdiri diam di pinggiran.
Tidak lama, It Teng bersenyum.
"Anak, adakah obatmu ini buatan ayahmu sendiri?"
ia tanya Oey Yong.
"Bukan, supee. Inilah buatannya suko Liok Seng
Hong, tetapi ia membuatnya menurut surat obat ayah."
"Pernahkah kau mendengar dari ayahmu, kalau
obat ini dimakan terlalu banyak dapat berbalik menjadi
bahaya?" si pendeta menanya pula, suaranya sabar.
Oey Yong terkejut. "Mungkinkah ada yang tidak
benar pada obatku ini?" pikirnya. Ia lekas menyahuti:
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ayah pernah membilang, semakin banyak dimakan
semakin baik, hanya sebab pembuatannya sukar, ayah
sendiri tidak berani memakan banyak-banyak."
It Teng berdiam, agaknya ia berpikir. Kemudian ia
menggeleng kepala.
"Ayahmu itu sangat cerdik dan pandangannya
sangat jauh," katanya, "Ia sangat sukar diterka hatinya
hingga aku pun tidak dapat membilang apa-apa
tentangnya. Mungkinkah ia hendak menghukum Liok
Suhengmu maka dia diberikan surat obat yang
dipalsukan? Atau mungkinkah Liok Suhengmu itu
bermusuh dengan kau maka di dalam obatnya itu
dicampuri beberapa biji yang ada racunnya?"
Mendengar disebutnya racun, semua orang terkejut.
"Suhu, apakah suhu telah keracunan?" si pelajar
tanya.
"Syukur di sini ada paman gurumu, maka biarnya
racun yang lebih dahsyat lagi tidak akan membikin
orang mati," sahut sang guru.
Mukanya keempat murid itu lantas berubah, segera
mereka menoleh kepada Oey Yomg dan berkata
dengan bengis: "Guru kami bermaksud baik menolongi
kau, cara bagaimana kau begini besar hati berani
meracuninya?"
Segera mereka itu mengurung, agaknya mereka
mau lamtas menerjang.
Kwee Ceng menjadi bingung sekali. Ia tidak nyana
akan perkembangan semacam ini.
Oey Yong pun bingung tetapi segera ia berpikir
segala sesuatu memgenai obat itu, hingga ia
menduga, pada ini tentu ada hubungannya dengan
perbuatannya Eng Kouw di rumahnya di rawa lumpur
hitam itu. Bukan obat itu telah dibawa si nyonya ke lain
kamar, untuk diperiksa, dan sampai sekian lama baru
nyonya itu membawanya pula ke luar untuk diserahkan
kembali kepadanya?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Supee, aku mengerti sekarang!" katanya. Sebab
segera ia dapat menerka. "Inilah perbuatannya Eng
Kouw!"
"Benarkah Eng Kouw?" It Teng bertanya.
"Ya," sahut si nona, dan ia tuturkan apa yang terjadi
di rumah Eng Kouw, hingga sekarang ia menjadi
bercuriga. "Dia pun telah memesan wanti-wanti supaya
aku sendiri jangan makan obat ini. Tentu teranglah
sudah sebab ia mencampuri racun di dalamnya."
"Hm!" mengejek si petani. "Dia perlakukan kau baik
sekali dan maka itu ia khawatir membuatnya kau
mampus!"
Nona ini sangat berduka yang paman gurunya
terkena racun, maka itu ia tidak memikir untuk
mengadu lidah dengan murid orang, bahkan dengan
perlahan ia kata: "Sebenarnya dia bukannya
berkhawatir untuk membikin aku mati, hanya dia
khawatir, kalau aku memakannya, supee nanti tidak
kena dia racuni……"
"Dosa, dosa," berkata It Teng, yang menghela
napas. Lantas sikapnya menjadi sangat tenang. Ia kata
perlahan kepada muda mudi itu: "Inilah nasib dan
dengan kamu berdua tidak ada hubungannya. Juga
Eng Kouw sendiri, inilah telah terjadi karena karma.
Sekarang pergi kamu beristirahat beberapa hari, habis
itu baik-baik saja kamu turun gunung. Benar aku telah
terluka tetapi adik seperguruanku pandai sekali
mengobati racun, maka kamu tidak usah berkhawatir."
Pendeta ini lantas menutup rapat matanya, ia tidak
berkata-kata lagi.
Berdua muda mudi itu membungkuk, untuk pamitan.
Mereka melihat It Teng bersenyum, tangannya
dikibaskan, maka itu mereka tidak berani berdiam lebih
lama lagi di situ, dengan perlahan mereka memutar
tubuh dan mengundurkan diri. Si kacung menantikan
mereka di luar kamar, mereka lantas diajak ke sebuah
kamar di ruang belakang, kamar mana tidak ada
perabotannya kecuali dua pembaringan bambu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tidak lama, di situ muncul dua orang pendeta tua
dengan barang makanan sayur.
"Silahkan dahar," mereka mengundang.
"Apakah taysu baik?" tanya Oey Yong. Ia
senantiasa memikirkan paman guru itu.
"Siauwceng tidak tahu," sahut satu pendeta,
suaranya tajam. Ia lantas memberi hormat, untuk
segera mengundurkan diri.
"Mendengar suara mereka, aku mengira wanita,"
kata Kwee Ceng.
"Mereka thaykam," berkata Oey Yong. "Tentu
mereka itu telah merawati taysu semenjak taysu masih
menjadi raja."
Kwee Ceng heran.
Karena masing-masing berpikir, tidak ada nafsu
dahar mereka. Terus mereka berdiam di dalam kamar
yang sunyi itu, cuma kadang-kadang saja berkesiur
suara angin lewat, membuatnya daun-daun bambu
bersuara perlahan.
"Yong-jie, kepandaian taysu hebat sekali,"
kemudian si pemuda berkata.
"Begitu?" kata si pemudi perlahan dan singkat.
"Guru kita," kata pula Kwee Ceng, "Dan ayahmu
juga Ciu Toako, Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin,
walaupun mereka semua lihay tidak nanti mereka
dapat melawan It Teng Supee……"
"Coba bilang, di antara mereka berenam, siapa
yang pantas mendapat sebutan jago nomor satu di
kolong langit ini?"
Kwee Ceng berpikir.
"Sebenarnya sesuatunya dari mereka mempunyai
keistimewaannya sendiri-sendiri," sahutnya sesaat
kemudian, "Dari itu tidak dapat dibilang siapa di
antaranya yang paling lihay……"
"Di dalam halnya bun bu coan cay?" si nona
menanya pula, tentang kepandaian orang dua-dua di
dalam ilmu surat dan ilmu silat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Di dalam hal itu, tentulah ayahmu," menyahut si
anak muda.
Oey Yong girang, inilah kentara dari romannya.
Hanya sebentar, ia lalu menghela napas.
"Maka itu inilah anehnya!" katanya.
"Apakah yang aneh?" tanya Kwee Ceng cepat. Ia
heran.
"Taysu begini lihay, keempat muridnya lihay juga,"
kata Oey Yong, "Tetapi kenapa mereka hidup
bersembunyi di tempat sunyi begini? Kenapa asal
mendengar ada orang datang, mereka nampak takut
seperti juga bencana besar bakal mengancam
mereka? Di antara keenam jago, cuma See Tok dan
Khiu Cian Jin yang mungkin menjadi musuhnya, tetapi
mereka itu berdua berkenamaan, apa mungkin mereka
akan datang berdua untuk mengepung taysu?"
"Tetapi, Yong-jie," kata Kwee Ceng. "Biarnya See
Tok dan Khiu Cian Jin datang bersama, sekarang kita
tidak usah takuti mereka."
"Bagaimana itu?"
Kwee Ceng nampaknya likat, agaknya ia tak enak
hati untuk menjawab.
"Eh, kenapakah kau nampaknya sulit bicara?" si
nona menegur.
"Kepandaiannya It Teng Taysu pasti tidak ada di
bawahan See Tok," kata si anak muda kemudian,
"Atau sedikitnya, mereka berimbang. Menurut
penglihatanku, ilmu menotok jalan darah dari taysu
mungkin ada cara untuk meruntuhkan Kap Moa Kang
dari See Tok itu……"
"Bagaimana dengan Khiu Cian Jin?" Oey Yong
tanya pula, "Apakah si tukang pancing, si tukang kayu,
si petani dan si pelajar, bukannya tandingan dia
seorang?"
"Benar. Selama di puncak Tiat Ciang Hong, di
gunung Kun San, di telaga Tong Teng, pernah aku
melayani Khiu Cian Jin. Kalau kita bertempur seratus
jurus, mungkin aku dapat melawan seri padanya, tetapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lebih daripada seratus jurus, belum tentu aku dapat
bertahan lebih lama pula. Ketika tadi aku menyaksikan
Taysu menotok kau……"
Mendadak Oey Yong menjadi girang, ia memotong:
"Kalau begitu kau telah dapat mempelajari
kepandaiannya Taysu! Dengan begitu bukankah kau
bakal dapat mengalahkan Khiu Tiat Ciang?"
"Kau tahu sendiri otakku puntul," berkata si anak
muda, "Dan ilmu totok ini sangat dalam, mana bisa aku
lantas berhasil memahamkannya? Hanya benar aku
telah mendapatkan beberapa jurus. Aku pikir, untuk
segera mengalahkan Khiu Cian Jin, itulah sukar, tetapi
buat bertahan sampai satu jam atau tiga perempat,
mungkin aku sanggup……"
Oey Yong lantas menghela napas.
"Dan kau pun melupakan satu hal," katanya masgul.
"Apakah itu?"
"Sekarang ini Taysu terkena racun dan entah
sampai kapan ia bakal sembuh……"
Kwee Ceng berdiam, lantas ia menjadi sengit.
"Kenapa si nenek, Eng Kouw demikian kejam?"
katanya mengeluh. Ia baru berkata begitu, atau ia ingat
suatu apa, hingga ia berseru: "Ah, celaka!"
Oey Yong kaget.
"Apa?" dia menanya.
"Kau telah berjanji dengan Eng Kouw!" si pemuda
memberi ingat. "Setelah kau sembuh, kau mesti
menemani dia satu tahun, bukan? Nah, habis
bagaimana? Apakah janji itu mesti ditepati atau tidak?"
"Kau sendiri?"
"Jikalau kita tidak dapat petunjuknya, tidak dapat
kita mencari It Teng Taysu. Itu waktu pastilah
lukamu…… Ah, tak dapatlah dikatakan……"
"Kenapa tak dapat dikatakan? Bilang saja terusterang.
jiwaku tidak dapat ditotong lagi! Kaulah satu
laki-laki maka kau tentunya ingin menepati janji itu,
bukankah?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Si nona lantas menjadi berduka. Ia ingat Kwee
Ceng pun tidak suka melanggar janji perjodohannya
dengan putri Gochin Baki dari Mongolia. Air mukanya
menjadi guram.
Mengenai sifat wanita ini, Kwee Ceng asing, maka
itu selagi Oey Yong berduka dan hendak menangis, ia
tetapi tidak sadar. Maka ia kata; "Dia membilang
ayahmu lihay, memang seratus kali daripadanya,
umpama kata kau suka mengajari dia, dia bilang dia
tak bakal dapat menyamai kulit atau bulu ayahmu. Dia
telah mengetahui itu, habis apa perlunya dia masih
menghendaki kau menemani dia?"
Oey Yong menutup mukanya, ia tidak menyahuti.
Pemuda itu masih tidak sadar, ia mengulangi
pertanyaannya.
"Eh, tolol, benarkah kau tidak mengerti?" akhirnya
tanya si nona gusar.
Kwee Ceng heran orang gusar tidak karu-karuan.
"Ya, Yong-jie, aku memang dasarnya tolol," ia
mengaku. "Maka itu juga aku minta kau suka
memberikan keteranganmu."
Oey Yong menyesal yang ia telah mengeluarkan
perkataan keras itu, sekarang ia mendengar suara
orang yang lemah lembut, orang yang telah mengaku
ketololannya, ia menjadi sangat berduka, tak dapat
tertahan lagi, ia menangis di dalam rangkulan pemuda
itu.
Masih Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengusutngusut
punggung orang seraya menghibur.
Oey Yong menarik ujung baju orang, untuk
menyusut air matanya.
"Engko Ceng, aku yang salah," katanya. Mendadak
ia tertawa. "Lain kali aku tidak bakal memaki pula
kepadamu……"
"Memang aku tolol, apakah halangannya untuk kau
mengatakannya?" kata si tolol, tetap polos.
Nona itu menghela napas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ya, kau memang baik, akulah yang buruk," katanya
kemudian. "Mari aku menjelaskan padamu. Eng Kouw
itu bermusuh sama ayahku, dia mencari ilmu
kepandaian untuk dia pakai menyatroni Tho Hoa To,
guna menuntut balas http://kangzusi.com/ , tetapi dia
telah mendapat kenyataan, dalam ilmu silat dia kalah
dari kau, maka karena putus asa, dia mengubah
siasatnya. Dia sekarang hendak menjadikan aku
sebagai manusia tanggungan, supaya ayahku datang
menolongi aku. Dengan akal ini, dia jadi menang di
atas angin, dia menjadi dapat jalan untuk mencelakai
ayahku itu."
Baru sekarang si tolol mengerti, maka ia menepuk
pahanya.
"Oh, benar begitu! Kalau demikian adanya, janji itu
tidak dapat ditepati!" ia berkata.
"Kenapa tidak?" tanya Oey Yong, "Pasti mesti
ditepati."
"Eh?" si anak muda heran.
"Eng Kouw itu sangat lihay," berkata si nona,
menerangkan. "Lihat saja bagaimana ia telah
mencampuri racun di dalam obat Kiu-hoa Giok Louw
Wan dengan apa dia mencelakai It Teng Taysu. Maka
jikalau dia tidak disingkirkan, dia akhirnya bakal jadi
ancaman bencana untuk ayahku. Dia ingin aku
menemani dia, aku nanti menemaninya. Sekarang aku
telah bersiap sedia, tidak nanti aku kena diakali dia.
Aku percaya, tidak perduli dia bakal menggunai tipu
apa, aku merasa pasti bakal dapat memecahkannya!"
"Tetapi, itulah sama artinya kau menemani seekor
harimau betina……" kata si anak muda masgul.
Oey Yong hendak berkata pula ketika kupingnya
mendengar suara berisik dari sebelah depan, dari
kamar sucinya It Teng Taysu. Itulah beberapa kali
suara kaget atau seruan.
Kwee Ceng pun mendengar itu, maka keduanya
saling mengawasi. Selagi mereka memasang kuping,
suara berisik itu lantas lenyap.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Entah bagaimana dengan taysu?" kata si pemuda.
Si pemudi menggeleng kepala.
"Nah, kau daharlah lantas tidur," kata Kwee Ceng
kemudian. Oey Yong masih menggeleng kepala. Atau
mendadak: "Ada orang datang!" katanya.
Benar juga lantas terdengar tindakan kaki beberapa
orang, di antaranya ada yang berkata dengan suara
sengit: "Budak itu banyak akalnya, baik mampusi dulu
padanya!"
Itulah suara si petani. Maka Kwee Ceng berdua
terkejut.
"Jangan sembarang," terdengar suara si tukang
kayu. "Kita menanya jelas dulu."
"Apa yang mau ditanyakan lagi?" kata si petani.
"Sudah terang dua bangsat cilik itu disuruh musuh
suhu datang kemari! Kita bunuh yang satu, biarkan
yang satu lagi, untuk menanyakan keterangannya.
Cukup kita memeriksa si tolol!"
Selagi mereka bicara, mereka sudah sampai di
depan pintu kamar http://kangzusi.com/ di mana Kwee
Ceng dan Oey Yong berada. Nyata mereka tidak takut
yang suara mereka dapat didengar orang di dalam
kamar itu.
Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya, tanpa
bersangsi pula dengan pukulan "Hang liong yu hui", ia
menghajar tembok di belakangnya, hingga dengan
suara sangat berisik tembok itu gempur, membuat
sebuah liang. Setelah itu, dengan membungkuk, ia
menggendong si nona, terus ia lompat melewati liang
itu.
Di sana terlihat si petani, yang sangat gesit, sebelah
tangannya diulur, guna menyambar kaki kiri si anak
muda.
Oey Yong tidak berdiam saja, ia melihat sambaran
itu, maka dengan tangan kirinya ia mengibas ke
belakang, mengebut jalan darah yang tie-hiat dari si
petani. Itulah ilmu kebutan, atau totokan, warisan
ayahnya. Itulah yang disebut "Lan-hoa Hut-hiat Ciu",
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
atau Bunga Anggrek Mengebut Jalan Darah. Ilmu ini
tidak selihay ilmu totoknya It Teng tetapi toh berbahaya
untuk lawan.
Si petani kaget, lekas-lekas ia menarik pulang
sambaranmya, ia membaliki itu, untuk menangkis,
tetapi gerakan ini memperlambat gerakannya, maka
Kwee Ceng telah berhasil berlompat lewat, akan
berlari terus dengan melompati tembok belakang. Di
sini ia baru lari beberapa tindak, atau ia menjerit
sendirinya, berkeluh kesah. Di depannya itu ada
tumbuh pohon duri setinggi sependirian orang, lebat
dan banyak durinya, hingga tak dapat dilewati orang.
Ketika ia menoleh, ia menampak mendatanginya
empat orang ialah si tukang pancing, si tukang kayu, si
petani dan si pelajar. Mereka itu lantas berdiri
menghadang.
"Taysu menitahkan kami turun gunung, tuan-tuan
telah mendengarnya sendiri," berkata Kwee Ceng,
"Kenapa sekarang kamu menghalangi kami?"
Si pengail mendelik matanya.
"Guru kami sangat baik hatinya, dia pemurah,
dengan mengorbankan diri dia menolongi kamu,
kenapa sekarang kamu……" kata dia, suaranya
mengguntur.
Dua-dua muda mudi itu terkejut.
"Dia mengorbankan diri?" tanya mereka berbareng.
"Bagaimana itu…..?"
"Fui……!" berseru si pengail dan petani.
Si pelajar tertawa dingin, dia berkata: "Lukamu,
nona telah ditolong diobati oleh guruku dengan guruku
itu mengorbankan dirinya! Mustahil kau benar-benar
tidak ketahui itu?"
"Dengan sebenarnya, aku tidak tahu," menyahut
Oey Yong. "Tolong kau menjelaskannya."
Pelajar itu mengawasi. Ia melihat roman orang
benar seperti tidak lagi mendusta, maka ia berpaling
kepada si tukang kayu. Dia ini mengangguk. Lantas ia
berkata: "Nona, kau telah mendapat luka yang sangat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berbahaya, untuk menyembuhkannya kau mesti dapat
penyaluran pada pelbagai jalan darah dan nadimu.
Untuk itu dibutuhkan ilmu It Yang Cie Siang-thian
Kanghu. Ilmu itu, semenjak meninggalnya Ong Tiong
Yang Cinjin, kauwcu dari Coan Cin Pay, cuma guru
kami satu orang yang mengerti itu. Meski begitu, kalau
ilmu itu dipakai mengobati orang, dia sendiri mesti turut
mendapat penyakit sebagai akibatnya, sebab dia mesti
menggunai terlalu banyak tenaga terutama tenaga
dalamnya. Untuk lima tahun, habislah semua
kepandaian silatnya……"
Oey Yong kaget hingga ia mengeluarkan seruan
tertahan. Ia menyesal dan malu sekali.
"Selama itu tempo lima tahun, untuk memulihkan
diri, orang mesti berlatih dan bersemedhi setiap hari,
siang dan malam, kalau dia salah berlatih, maka dia
bakal nampak kegagalan dan kepandaiamnya itu tidak
akan pulih kembali. Orang yang menjadi korbam
begitu, entengnya dia bercacad seumur hidup,
hebatnya dia lantas mati. Guruku begitu murah hati
menolongi kau, kenapa kau begini jahat, kebaikan
dibalas dengan kejahatan?"
Mendadak Oey Yong melepaskan diri dari Kwee
Ceng, lantas ia berlutut ke arah kamarnya It Teng
Taysu, empat kali ia mengangguk, sembari menangis
ia berkata: "Supee, sungguh keponakanmu tidak
menyangka begini besar kau telah melepas budi
menolongi jiwaku……"
Menyaksikan kelakuan si nona, roman si pengail
berempat nampak sedikit sabar.
"Ayahmu menitahkan kau menjalankan akalnya ini
mencelakai guru kami, benar-benar kau sendiri tidak
tahu?" tanya si tukang pancing.
Ditanya begitu, Oey Yong menjadi gusar.
"Mana dapat ayahku mencelakai supee?" katanya
keras. "Ayahku itu orang macam apa? Mana dapat
ayahku berlaku demikian hina dina?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Si tukang pancing menjura.
"Jikalau ini bukan titah ayahmu, nona, harap kau
memberi maaf atas kelancanganku ini," ia berkata.
"Hm!" berkata si nona. "Jikalau perkataanmu
barusan dapat didengar ayahku, tidak perduli kau
muridnya supee, kau pasti bakal diberi rasa sedikit!"
"Hm," berkata si pengail, "Ayahmu digelarkan Tong
Shia, si Sesat dari Timur, maka itu kami pikir, apa yang
dapat diperbuat See Tok, si Bisa dari Barat, tentulah
dapat dilakukan juga ayahmu. Sekarang ini rupanya
soal adalah lain."
"Mana dapat ayahku dibanding dengan See Tok?"
berkata si nona. "Auwyang Hong si bangsat tua itu,
apa juga dapat dia lakukan! Apakah yang dia telah
perbuat?"
"Baik," si pelajar datang sama tengah. "Sekarang
segala apa sudah jelas, mari kita kembali ke dalam
untuk bicara lebih jauh."
Maka berenam mereka masuk ke kamar, untuk
terus berduduk, akan tetapi empat orang itu duduk
demikian rupa, hingga sendirinya mereka seperti
memegat jalan keluar kedua muda-mudi itu. Oey Yong
mengetahui itu, ia bersenyum, ia tidak mau membuka
rahasia orang.
"Apakah kamu ketahui tentang urusan Kiu Im Cinkeng?"
si pelajar mulai bicara.
"Aku ketahui itu. Apakah ada sangkutannya supee
dengan kitab itu?"
"Ketika diadakan pertemuan pertama di Hoa San
itu, soalnya ialah perebutan kitab Kiu Im Cin-keng itu,"
berkata si pelajar. "Ketika itu Coan Cin Kauwcu adalah
yang terlihay, kitab itu telah jatuh di tangannya. Bahwa
semua orang takluk kepada kauwcu itu, itulah bukan
soal lagi. Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu
Sian Thian Kang dari guru kami, maka juga di tahun
kedua bersama-sama adik seperguruannya dia datang
mengunjungi guru kami di Tali, ketika itu mereka
berbicara banyak tentang ilmu silat itu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Adik seperguruannya Tiong Yang Cinjin?" tanya
Oey Yong. "Itulah Loo Boan Tong Ciu Pek Thong!"
"Benar," sahut si pelajar. "Nona masih begini muda
tetapi banyak sekali orang yang nona kenal……"
"Ah, jangan kau memuji aku," berkata si nona.
"Paman Ciu itu seorang sangat jenaka, tetapi kami
tidak tahu bahwa dia dipanggil Loo Boan Tong si
bocah tua bangkotan yang nakal. Ketika itu guru kami
masih belum mensucikan diri."
"Oh, kalau begitu ketika supee masih menjadi
kaisar!" kata Oey Yong.
"Benar. Coan Cin Kauwcu (Dewi-KZ) itu bersama
adik seperguruannya tinggal di istana belasan hari,
selama itu kami berempat senantiasa
mendampinginya. Guru kami telah menjelaskan segala
apa mengenai Sian Thian Kang itu, hingga Tiong Yang
Cinjin menjadi sangat girang, maka ia pun lantas
mengajari ilmu silat It Yang Cie yang menjadi ilmu
silatnya yang paling istimewa. Kami mendengari
semua pembicaraan akan tetapi pelajaran kami masih
sangat rendah dan kami pun tumpul sekali, tak dapat
kami mengajari itu."
"Habis bagaimana dengan Loo Boan Tong?" Oey
Yong tanya. "Kepandaiannya Loo Boan Tong tidak
cetek."
"Paman Ciu itu seorang gemar bergerak, tak suka
dia berdiam, setiap hari dia berputaran saja di seluruh
istana. Dia pergi ke timur dan ke barat, ke segala
tempat sampai pun dia tidak pandang-pandang lagi
keraton di mana permaisuri dan selir-selir bertinggal.
Semua orang kebiri dan dayang mendapat tahu dialah
tetamu agung kami, tidak ada di antaranya yang berani
melarang."
Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang dan
bersenyum. Mereka tahu baik sifatnya itu engko atau
kakak angkat. Cuma di dalam hatinya, mereka kata:
"Itu dia sifatnya Loo Boan Tong!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ketika Tiong Yang meminta diri," si pelajar
melanjuti, "Dia berkata kepada guru kami: 'Selama
yang belakangan ini penyakitku yang lama kembali
kumat, maka mungkin aku tidak bakal berdiam lama
lagi di dalam dunia ini, karena sekarang sudah ada ahli
waris dari It Yang Cie, jadi di dalam dunia ada orang
yang dapat menindih padanya, bolehlah tak usah
dikhawatir yang dia nanti berani malang melintang
bermain gila.' Baru setelah itu guru kami mengetahui
maksud utama kenapa Tiong Yang Cinjin melakoni
perjalanan demikian jauh datang ke Tali mengunjungi
guru kami, maksudnya ialah untuk mewariskan
kepandaiannya itu, agar setelah ia menutup mata
nanti, ada orang yang dapat mengekang Auwyang
Hong. Lima-limanya Tong Shia, See Tok, Lam Tee,
Pak Kay dan Tiong Sin Thong adalah orang-orang
yang namanya sama termashurnya, kalau Tiong Yang
Cinjin membilang terus terang dia datang
http://kangzusi.com/ untuk memberi pelajaran, dia
khawatir guru kami merasa dirinya dipandang enteng,
dari itu lebih dulu dia minta pelajaran Sian Thian Kang,
kemudian baru dia membalas mengajari It Yang Cie.
Itulah artinya pertukaran. Guru kami mengetahui
maksud baik dari Tiong Yang Cinjin, ia menjadi
bersyukur, ia mengagumi kauwcu itu. Ia lantas
memahamkan itu dengan sungguh-sungguh.
Kemudian di negara Tali itu telah terjadi suatu hal yang
malang, hati guru kami menjadi tawar, maka itu ia
pergi mencukuri rambutnya dan masuk menjadi
hweeshio."
Mendengar itu, Oey Yong berpikir; "Toan Hongya
tidak mau menjadi kaisar, dia lebih suka menjadi
pendeta, mestinya kejadian malang itu sangat melukai
hatinya. Karena muridnya ini tidak mau menjelaskan,
tidak dapat aku minta keterangan atas kejadian
itu……" Ia memandang kepada kawannya. Ia melihat
Kwee Ceng seperti hendak membuka mulut, untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menanya, ia lekas mencegah dengan kedipan
matanya.
Kwee Ceng mengerti kedipan itu, ia menunda
membuka mulutnya.
Air muka si pelajar nampak guram. Rupanya ia
teringat akan peristiwa dulu itu. Ia berdiam beberapa
saat baru ia berbicara pula.
"Setahu bagaimana, kemudian hal guru kami
mempelajari It Yang Cie itu telah bocor," katanya.
"Pada suatu bari, ini suhengku……" ia menunjuk pada
si petani "…… telah menerima titah suhu, ialah guru
kami itu, untuk pergi mencari daun obat-obatan.
Suhengku telah pergi ke gunung Tay Soat San di barat
Inlam, di sana orang telah melukai ia dengan ilmu silat
Kap Moa Kang."
"Pastilah penyerang itu si Bisa bangkotan!" berkata
Oey Yong.
"Siapa lagi kalau bukannya dia?" berkata si petani
gusar. "Mulanya seorang muda yang tidak karu-karuan
yang telah mencari stori denganku, dia membilangnya
Tay Soat San itu miliknya dan dia melarang siapa juga
mencari daun obat di situ. Aku telah menerima
pengajaran suhu, aku berlaku sabar, tapi justru aku
mengalah, si anak muda semakin mendesak, dia
menyuruh aku mengangguk tigaratus kali kepadanya,
baru dia mau mengijinkan aku turun gunung. Karena
habis sabarku, aku menempur dia. Pemuda itu benar
lihay, sekian lama kita bertempur, kita tetap seri. Itu
waktu mendadak muncullah si tua berbisa itu, tanpa
banyak omong, dia menghajar aku hingga aku terluka
parah, setelah mana si anak muda menggendong aku,
mengantari aku pulang sampai di luar kuil Liong Coan
Sie di mana suhu berdiam."
"Kalau begitu sudah ada orang yang mewakilkan
kau membalas sakit hatimu," berkata si nona.
"Pemuda itu ialah Auwyang Kongcu sudah ada yang
membunuhnya."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ah, dia telah mati?" kata si petani gusar. "Siapakah
yang membunuh dia?"
"Eh, heran!" kata Oey Yong. "Ada orang lain
membunuh musuhmu, kau masih gusar?"
"Musuhku mesti aku yang membalas sendiri!" sahut
si petani.
"Sayang kau tidak dapat membalasnya……" kata si
nona menghela napas.
"Sebenarnya siapakah yang membunuhnya?"
"Dia juga seorang busuk. Kepandaian dia itu kalah
dari Auwyang Kongcu tetapi dia menggunai akal."
"Bagus!" berkata si pelajar. "Nona, tahukah kau
maksudnya Auwyang Hong melukai suhengku ini?"
"Tidak sukar untuk menerka itu," menyahut Oey
Yong. "Dengan kepandaiannya See Tok, dengan dua
kali turun tangan, dapat dia membinasakan suhengmu,
tetapi dia cuma melukai parah, lalu dia mengantarnya
pulang ke depan pintu rumah gurumu. Maksudnya itu
ialah agar gurumu menghabiskan tenaga dalamnya
untuk mengobati suhengmu itu. Barusan kau
membilangnya, supee mesti membuang tempo lima
tahun untuk memulihkan kepandaiannya, maka itu
berarti, kalau nanti diadakan rapat yang kedua di
gunung Hoa San, pasti gurumu tak keburu turut
mengambil bagian."
Pelajar itu menghela napas.
"Nona sungguh cerdik, tetapi kali nona cuma dapat
menerka separuhnya," ia berkata. "Kejahatan
Auwyang Hong itu sukar diterka dari bermula. Justru di
saat suhu mengobati suhengku ini, justru kesegaran
suhu belum kembali, dia datang melakukan
penyerangan, maksudnya untuk membikin mati pada
suhu……"
"It Teng Supee demikian murah hati, apakah benar
dia menyebabkan permusuhan dengan Auwyang
Hong?" Kwee Ceng menanya. Anak muda ini heran.
"Engko kecil, pertanyaanmu ini tidak tepat,"
menyahut si pelajar. "Pertama-tama, si orang murah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hati itu justrulah musuh daripada si orang jahat. Si
orang jahat tak suka hidup bersama di dalam dunia
dengan orang baik hati. Kedua, kalau Auwyang Hong
hendak mencelakai orang, dia tentu tidak sudi
memperhatikan orang itu bermusuhan dengannya.
Karena dia ketahui ilmu silat It Yang Cie dari suhu
adalah penumpas dari ilmu silatnya, maka itu dia dapat
menggunai seratus atau seribu akal keji untuk
membinasakan guru kami."
Kwee Ceng mengerti, ia mengangguk beberapa
kali.
"Habis, apakah supee telah kena dia bikin celaka?"
ia menanya pula.
"Setelah suhu melihat lukanya suheng, lantas suhu
dapat menerka maksudnya Auwyang Hong," si pelajar
menerangkan pula. "Malam itu juga suhu pindah
tempat, dan Auwyang Hong tidak berdaya mencari.
Karena tahu Auwyang Hong tidak bakal berhenti
sampai di situ, kami mencari tempat-tempat sampai
kami mendapatkan ini tempat suci. Setelah suhu pulih
kesehatannya, kami berempat mengusulkan suhu
pergi mencari See Tok di Pek To San, guna membuat
perhitungan dengannya, akan tetapi suhu
berpendirian, kalau dapat mengalah baiklah dia
mengalah terus dan kami dilarang pergi menerbitkan
gara-gara. Demikianlah untuk belasan tahun kami
tinggal dengan aman di tempat ini. Siapa tahu
sekarang kamu berdua datang kemari! Kami cuma
tahu kamu murid- muridnya Kiu Cie Sin Kay, kami
menduga kamu tidak bermaksud jahat, maka itu kami
merintanginya setengah hati, coba kami berbuat nekat,
tidak nanti kami membiarkan kamu masuk ke kuil kami.
Sungguh di luar dugaan, toh akhir-akhirnya guru kami
telah terkena juga tangan jahat kamu……"
Setelah berkata begitu, mendadak muka si pelajar
menjadi bengis pula, bahkan sambil berbangkit
bangun, ia menghunus pedangnya, yang berkilau
berkeredepan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Melihat demikian, si pengail, si tukang kayu dan si
petani, turut berbangkit juga sambil menghunus
senjata mereka, lantas mereka mengambil sikap
mengurung.
"Ketika aku datang mencari supee untuk minta
diobati, aku tidak tahu bahwa pengobatannya itu bakal
menghabiskan kepandaiannya selama lima tahun,"
berkata Oey Yong. "Bahwa obatku ada racunnya, itu
juga aku tidak tahu, sebab itu ada perbuatannya lain
orang. Supee telah melepas budi padaku, meskipun
kami tidak punya hati, tidak nanti kami membalas
kebaikannya dengan kejahatan."
"Kalau begitu," menegur si tukang pancing, "Kenapa
selagi kesehatan guru kami belum pulih dan dia pun
terkena racun, kamu mengajak musuh mendaki
gunung ini?"
Ditanya begitu, Oey Yong dan Kwee Ceng kaget
bukan alang kepalang.
"Tidak sama sekali!" mereka menyangkal.
"Masih menyangkal!" membentak si tukang pancing.
"Begitu suhu terkena racun, kita lantas menerima
gelang kumala dari pihak musuh. Kalau memangnya
kamu tidak bersekongkol mana bisa terjadi peristiwa
begini kebetulan?"
"Gelang kumala apa itu?" Oey Yong tanya. Ia benar
tidak mengerti.
"Hm, masih berlagak piton!" si tukang pancing
mengejek. Mendadak ia menggeraki dua tangannya,
maka kedua pengayuhnya lantas menghajar muda
mudi di depannya itu.
Kwee Ceng duduk berendeng sama Oey Yong,
begitu ia melihat datangnya pengayuh, ia berlompat
bangun, kedua tangannya bergerak, tangan kanan
menyambar satu pengayuh, untuk segera dirampas,
tangan yang lain menangkap pengayuh yang kedua,
yang terus ia gentak.
Si tukang pancing kaget dan tangannya kesakitan,
pengayuhnya itu terpaksa dilepaskan. Selagi begitu,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng meneruskan menangkis garunya si petani,
hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya
muncrat berhamburan. Setelah itu, lekas-lekas ia
mengangsurkan, menyerahkan pulang pengayuhnya si
tukang pancing, hingga dia ini heran dan tercengang,
tetapi cuma sebentar, setelah menyambuti itu,
berbareng bersama kampaknya si tukang kayu, dia
menyerang pula.
Kwee Ceng sementara itu berlaku sangat sebat,
begitu ia mundur, begitu ia menolak, menampak mana
si pelajar yang mengenali ilmu silat Hang Liong Sip-pat
Ciang, segera meneriaki kedua saudara
seperguruannya: "Lekas mundur!"
Si tukang pancing dan si tukang kayu adalah muridmuridnya
seorang guru yang lihay, mereka
menginsyafi bahaya dengan cepat mereka menarik
pulang senjata mereka sambil mengundurkan diri juga.
Tapi biar bagaimana mereka sebat, mereka masih
kalah gesit, mereka tidak dihajar hanya senjata mereka
disambar, untuk dirampas pula!
"Sambut ini!" berkata Kwee Ceng, yang kembali
mengembalikan senjata orang, sekarang pengayuh
dan garu!
"Bagus!" si pelajar memuji sambil ia menikam
dengan pedangnya ke iga kanan.
Melihat datangnya tikaman, Kwee Ceng terperanjat.
Sekarang terbukti, dari keempat murid orang itu,
adalah si pelajar ini, yang gerak-geriknya halus, justru
yang ilmu silatnya paling lihay. Maka ia tidak mau
berlaku alpa. Untuk dapat melindungi Oey Yong, yang
tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, ia membela
diri dengan gerakannya menuruti barisan Thian Kong
Pak-tauw-tin dari Coan Cin Cit Cu. Mula-mula ia hanya
mengurung diri, kemudian perlahan-lahan ia
memperlebar kurungannya, maka keempat lawan itu
terpaksa mundur sendirinya, sampai mereka terdesak
ke tembok. Disaat ini, asal ia mau turun tangan, dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
si anak muda melukai mereka itu, atau salah satu di
antaranya.
Selama itu, Kwee Ceng mempertahankan diri,
antaranya ia tidak menambah tenaganya. Dengan
begini ia membuatnya mereka dua pihak tidak kalah
dan tidak menang.
Si pelajar agaknya penasaran, mendadak ia
mengubah ilmu pedangnya. Kali ini pedangnya itu
mengasih dengar sambaran angin mengaung. Ia
menyerang ke empat penjuru, setiap kalinya dengan
enam tusukan atau sabetan beruntun. Itulah ilmu
pedang Ay Lao Kiam Hoat dari Ay Lao San di Inlam,
yang semuanya terdiri dari tigapuluh enam jurus. Tapi
terhadap si anak muda, ilmu pedang itu tidak mempan.
Tenang-tenang seperti biasa, dengan tangan kanan
pemuda ini melayani pedang, dengan tangan kirinya ia
menghalau setiap senjatanya si tukang pancing, si
tukang kayu dan si petani.
Disaat datangnya tusukan pedang yang ketigapuluh
enam, Kwee Ceng menyambut itu dengan sentilannya
jari tengah. Itulah dia ilmu silat Tan Cie Sin Thong dari
Oey Yok Su, ilmu silat yang tak ada keduanya,
sebagaimana terbukti ketika dengan Ciu Pek Thong ia
main-main menyentil batu, sedang selama di Kwie-inchung,
dia telah memberi petunjuknya kepada Bwee
Tiauw Hong, sementara Kwee Ceng telah melihatnya
di Gu-kee-cun, Lim-an, selama Tong Shia melayani
Coan Cin Cit Cu. Memang ia belum mencapai
kemahiran seperti Oey Yok Su tetapi ketika pedang si
pelajar kena tersentil, pedang itu berbunyi nyaring dan
mental. Si pelajar merasai tangannya sakit sampai
hampir terlepas cekalannya.
"Tahan!" pelajar itu berseru sambil ia lompat
mundur.
Si tukang pancing sudah lantas menurut, semuanya
mengundurkan diri, tetapi mereka sudah terdesak ke
tembok, tidak ada ruang lagi untuk mundur, maka itu,
si tukang pancing mundur ke pintu, si petani lompat di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
liang tembok yang gempur, sedang si tukang kayu,
yang terus menyelipkan kapaknya di pinggangnya,
bukan menyingkir hanya sambil tertawa dia kata: "Aku
telah membilangnya kedua tetamu kita ini tidak
mengandung maksud jahat tetapi kamu tidak percaya!"
Ia berbicara itu sama ketiga saudara seperguruannya.
Si pelajar menyimpan pedangnya, ia menjura
kepada Kwee Ceng.
"Kau baik hati, kau suka mengalah, engko kecil,"
katanya. "Terima kasih!"
Kwee Ceng lekas-lekas berbangkit untuk membalas
hormat. Hanya karena kata-kata si tukang kayu, ia
heran, ia kata di dalam hatinya: "Kami memang tidak
mengandung maksud buruk, mengapa mereka
berempat mulanya tidak mempercayainya? Kenapa
baru sekarang mereka percaya?"
Oey Yong melihat paras kawannya, ia tahu apa
yang orang pikir, maka ia membisik. "Jikalau kau
memikir buruk, kau tentunya telah melukai mereka.
Sekarang ini, sekalipun It Teng Supee bukanlah
tandinganmu."
Kwee Ceng pikir itu benar ia mengangguk.
Si pelajar berempat telah berkumpul pula di dalam
kamar.
"Sebenarnya siapa itu musuh dari It Teng Supee?"
Oey Yong tanya. "Apa itu yang disebut gelang
kumala?"
"Menyesal," menyahut si pelajar. "Bukannya kami
tidak suka menjelaskan hanya sebenarnya kami
sendiri tidak tahu duduknya hal. Apa yang kami tahu
ialah suhu dan orang itu ada mempunyai kepentingan."
Oey Yong masih mau menanya ketika si petani
berlompat bangun seraya berkata keras: "Ah, inilah
berbahaya!"
"Bahaya apa?" tanya si tukang pancing.
Si petani menunjuk si pelajar, ia menyahuti: "Suhu
sedang kehabisan tenaga, sekarang dia menutur
segala apa, kalau kedua tetamu kita ini bermaksud
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tidak baik, kita sendiri tidak sanggup mencegahnya,
apakah kau kira suhu masih dapat ditolongi?"
Mendengar kekhawatiran itu, si tukang kayu
berkata: "Paduka conggoan pandai berpikir, mustahil
hal ini dia tidak dapat memikirkannya? Kalau begitu,
mana bisa dia menjadi perdana menteri dari negara
Tali? Sebenarnya dia ketahui dari siang-siang bahwa
kita bukan tandingannya tetapi dia toh bertindak juga,
itulah ke satu untuk mencoba kepandaiannya kedua
tetamu kita ini dan kedua untuk membikinnya kau
percaya habis!"
Si pelajar bersenyum.
Si petani dan si tukang pancing mendelik kepada
saudaranya, mereka kagum, separuhnya lagi
menyesali.
Ketika itu terdengar tindakan kaki orang, lalu
muncul seorang kacung pendeta, yang lantas memberi
hormat seraya berkata: "Suhu menitahkan suheng
berempat mengantarkan tetamu pulang."
Atas itu semua orang berbangkit. Tapi Kwee Ceng
segera berkata: "Supee lagi menghadapi musuh, mana
dapat kita lantas berlalu dari sini? Bukankah siauwtee
tidak tahu diri tetapi ingin aku bekerja sama suheng
berempat untuk mengusir dulu musuh itu."
Si tukang pancing berempat saling melirik, mereka
memperlihatkan roman girang.
"Nanti aku pergi dulu menanyakan suhu," kata si
pelajar, yang lantas berlalu, diikuti ketiga saudaranya.
Tidak lama mereka kembali, kali ini lenyap roman
mereka yang gembira. Si pelajar lantas berkata: "Suhu
mengucap terima kasih atas kebaikan jiewi, tetapi suhu
membilang juga, segala apa biar terserah kepada
karma, biar orang berbuatnya sendiri-sendiri, dari itu
orang luar tidak dapat campur tangan."
Tapi Oey Yong memikir lain.
"Engko Ceng, mari kita bicara sendiri sama supee!"
katanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng menurut. Ketika mereka sampai di
kamar It Teng Taysu, pintu kamar dikunci, percuma
mereka mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil,
tidak ada suara jawaban. Sebenarnya pintu itu bisa
digempur tetapi mereka tidak berani berbuat demikian.
"Suhu tidak dapat menemui kamu pula, jiewi,"
berkata si tukang kayu, yang air mukanya guram.
"Karena gunung itu tinggi dan air panjang, baiklah lain
kali kita bertemu pula."
Oey Yong belum bilang apa-apa, atau Kwee Ceng
mendapat satu pikiran, maka ia lantas berkata dengan
nyaring: "Yongjie, mari kita pergi! Bukankah supee
tidak sudi menemui kita? Sebentar di bawah gunung,
supee mengasih ijin atau tidak, kalau kita ketemu
orang dan orang itu banyak rewel, kita hajar padanya!"
Si nona yang cerdik lantas dapat menerka maksud
engko Cengnya itu, ia pun menyahuti dengan nyaring:
"Kau benar, engko Ceng! Umpama kata musuhnya
supee sangat lihay dan kita mati di tangannya, kita
puas, hitung-hitung kita sudah membalas budi supee!"
Dua-dua suara itu keras, pasti suara itu terdengar
sampai di dalam, maka juga, ketika si muda mudi baru
jalan beberapa tindak, mendadak daun pintu
dipentang, lalu terdengar suara tajam dari seorang
pendeta tua: "Taysu mengundang jiewi!"
Kwee Ceng girang sekali, bersama Oey Yong, ia
jalan berendeng masuk ke dalam kamarnya It Teng
Taysu. Di sana si pendeta, bersama si pendeta dari
India, masih duduk bersila. Mereka lantas
menghampirkan, untuk memberi hormat sambil
berlutut. Ketika kemudian mereka mengangkat kepala,
mereka mendapatkan It Teng Taysu bermuka pucat
kuning, beda daripada waktu semula mereka
melihatnya. Mereka jadi bersyukur berbareng berduka,
hingga mereka tidak tahu mesti membilang apa.
It Teng Taysu bersenyum.
"Semua masuk!" ia kata kepada empat muridnya,
yang menanti di depan pintu. "Aku hendak bicara."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Si pelajar berempat menghampirkan, lebih dulu
mereka memberi hormat kepada guru mereka itu, juga
kepada si pendeta India. Dia ini cuma mengangguk,
lantas dia tunduk dan berdiam, kembali tidak
memperdulikan semua orang.
It Teng Taysu mengawasi asap yang bergulung
naik, tangannya membuat main sebuah gelang
kumala. Oey Yong melihat itu, katanya dalam hatinya;
"Terang itu ada gelang orang perempuan, entah apa
maksudnya musuh supee bolehnya mengirimkan ini?"
Untuk beberapa detik, semua orang berdiam,
kemudian baru terdengar It Teng Taysu menghela
napas dan mengatakan: "Setiap hari dahar nasi, tetapi
pernahkan memakannya sebutir beras?" Ia lantas
menoleh kepada si muda-mudi, untuk melanjuti: "Kamu
berdua mulia hati, aku si pendeta tua menerima itu
dengan baik, Mengenai urusan ini, jikalau aku tidak
menjelaskan, aku khawatir murid-murid atau sahabatsahabat
dari kedua pihak nanti menerbitkan
gelombang yang tak diingini. Itulah bukannya
kehendakku. Tahukah kamu siapa sebenarnya aku
ini?"
"Supee adalah kaisar dari Tali di Inlam," menyahut
Oey Yong. "Supee ada satu-satunya kaisar di Selatan
yang kesohor sekali, siapakah yang tidak tahu?"
It Teng bersenyum.
"Kaisar palsu, pendeta juga palsu," ia berkata. "Kau,
nona kecil, kau pun palsu……"
Oey Yong tidak menginsyafi filsafat si pendeta, ia
mengawasi saja.
It Teng berkata pula, dengan perlahan: "Negara Tali
kami, semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Bu Tee
Thaycouw membangun pemerintahan, ialah di tahun
Teng-yoe, itulah lebih dulu duapuluh tiga tahun dari
berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay-couw Tio
Kong In. Setelah tujuh turunan, kerajaan diturunkan
kepada Baginda Peng Gie. Setelah empat tahun
memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kerajaan dan masuk menjadi pendeta. Tahta
diserahkan pada keponakannya ialah Baginda Seng
Tek. Kemudian tahta diturunkan terus kepada
Baginda-bagina Hin Cong Hauw Tek, Poo Teng, Hian
Cong Soan Jin serta ayahku, Keng Cong Ceng Kong.
Semua Baginda itu telah menjadi pendeta juga. Dari
Thay-couw sampai pada aku, delapanbelas turunan,
ada tujuh raja yang mensucikan diri."
Si tukang pancing berempat adalah orang Tali,
mereka semua tahu hal ikhwalnya raja-raja mereka itu,
cuma Kwee Ceng berdua Oey Yong yang heran,
hingga mereka mau memikir, apa mungkin menjadi
pendeta lebih senang daripada menjadi raja……
It Teng Taysu melanjuti keterangannya: "Kamu
keluarga Toan kami, dengan berkah kebijaksanaan
leluhur kami, telah berhasil menjadi sebuah keluarga
kaisar di sebuah negara kecil di Selatan. Semua
mereka merasa tanggung jawab itu besar, maka juga
hati mereka tidak tenang, tidak berani mereka
melakukan apa-apa yang melewati batas. Biarnya
begitu, siapa menjadi raja, bukankah dia dapat dahar
tanpa meluku, dapat berpakai tanpa menenun?
Bukankah kalau keluar dia naik kereta, dan kalau
pulang memasuki istana? Bukankah semua itu asalnya
dari keringatnya rakyat? Oleh karena itu semua, disaat
usianya langsung, mereka menginsyafi capai lelah
rakyatnya itu, mereka merasa menyesal, maka
diakhirnya mereka telah menjadi pendeta……"
Selagi mengucap begitu, pendeta ini memandang
ke luar, mulutnya memperlihatkan senyuman, tetapi
pada alisnya, nampak roman kedukaannya. Maka itu,
entahlah dia bergirang atau berduka.
Enam orang itu mendengar dengan terus berdiam.
It Teng Taysu mengangkat gelang kumalanya, ia
masuki itu ke dalam jari telunjuk dari tangannya, ia
putar itu beberapa kali. Kemudian ia meneruskan: "Aku
sendiri, aku bukannya mengikuti kebiasaan leluhurku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu. Tentang aku, sebab-sebabnya ada sangkut
pautnya dengan urusan rapat ilmu pedang di gunung
Hoa San, ketika lima jago saling berebutan kitab.
Ketika tahun itu Tiong Yang Ong Cinjin dari Coan Cin
Kauw memperoleh kitab, di lain tahunnya dia datang
sendiri ke Tali, dia mewariskan ilmu silat It Yang Cie
padaku. Setengah tahun dia berdiam di dalam
istanaku, merundingkan tentang ilmu silat. Kita cocok
sekali satu dengan lain, adik seperguruannya, Ciu Pek
Thong. Dia ini ternyata tidak betah duduk diam saja,
dia lantas pergi putar kayun di seluruh istana. Diluar
dugaan, dia telah menerbitkan peristiwa."
Mendengar itu, Oey Yong kata di dalam hatinya:
"Kalau Loo Boan Tong tidak menerbitkan gara-gara itu
barunya namanya heran!"
It Teng Taysu menghela napas.
"Sebenarnya biang peristiwa adalah pada diriku
sendiri," ia berkata pula. "Aku adalah satu raja kecil,
kerajaanku tidak dapat disamakan dengan kerajaan
Song, meski begitu, aku mempunyai sedikit permaisuri
dan selir. Ya, inilah dosa. Aku gemar ilmu silat, jarang
aku mendekati orang perempuan, bahkan permaisuri,
aku menemuinya beberapa hari sekali, maka itu bisa
dimengerti, mana ada tempo akan menemui segala
selir?"
Berkata sampai di situ, It Teng memandang
keempat muridnya.
"Kamu tidak mengetahui tentang ini, sekarang
biarlah kamu mendapat tahu juga," ia menambahkan.
Mendengar ini, Oey Yong kata di dalam hatinya:
"Benar-benar mereka tidak tahu, mereka jadinya tidak
mendustakan aku."
"Sekalian selirku melihat aku setiap hari berlatih
silat, di antaranya ada yang ketarik hati dan minta
diajarkan." It Teng mulai pula. "Aku suka mengajari
mereka. Aku pikir, pelajaran itu ada baiknya, untuk
mereka menjadi bertambah sehat dan panjang umur.
Di antaranya adalah Lauw Kui-hui, yang bakatnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
paling baik. Selir ini, begitu diajari, begitu dia bisa. Dia
masih muda, dia rajin belajar, dia memperoleh
kemajuan pesat. Dasar mau terjadi urusan. Pada suatu
hari dia tengah berlatih di taman dia terlihat Ciu
Suheng. Ciu Suheng gemar silat, dia polos, dia tidak
menghiraukan perbedaan di antara pria dan wanita,
begitu melihat Lauw Kui-hui, dia mengajaknya mainmain.
Tentu sekali Lauw Kui-hui bukanlah
tandingannya……"
Oey Yong terkejut.
"Tentulah Loo Boan Tong tidak mengenal kira dan
dia melukai kui-hui……" katanya perlahan.
"Melukai, itulah tidak," It Teng memberitahu. "Baru
dua tiga jurus, dia telah menotok hingga kui-hui roboh,
lantas dia menanya, kui-hui takluk atau tidak. Pasti
sekali Lauw Kui-hui menyerah kalah. Ciu Suheng puas
sekali, setelah menotok bebas kepada kui-hui, ia
lantas bicara banyak tentang ilmu totok. Memangnya
kui-hui sangat ketarik sama kepandaian itu, padaku ia
telah minta diajari berulang-ulang. Coba kamu pikir,
ilmu kepandaian semacam itu mana dapat diturunkan
kepada kui-hui? Sekarang ada ketikanya, ia lantas
minta Ciu Suheng mengajarinya."
"Kalau begitu, niscaya Loo Boan Tong puas sekali,"
kata si nona.
"Apakah kau kenal Ciu Suheng?" It Teng tanya.
"Kamilah sahabat-sahabat erat!" si nona menyahuti
tertawa. "Dia pernah tinggal sepuluh tahun di Tho Hoa
To, belum pernah dia pergi satu tindak juga!"
"Dia dapat berdiam begitu lama sedang sifat dia tak
suka diam?"
"Sebab dia dipenjarakan ayah!" sahut si nona
tertawa. "Baru yang belakangan ini dia dimerdekakan!"
It Teng mengangguk.
"Begitu?" katanya. "Apa sekarang dia baik?"
"Dia baik hanya tabiatnya makin tua makin jadi!"
It Teng bersenyum. Kembali ia meneruskan:
"Sebenarnya ilmu totok itu tidak dapat diajari kecuali
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ayah dengan gadisnya, ibu dengan putranya dan
suami istri. Biasanya guru lelaki tidak menurunkan
kepada murid perempuannya dan guru perempuan
tidak kepada murid laki-lakinya……"
"Kenapa begitu supee?"
"Itulah sebab lam lie siu siu put cin," menjawab It
Teng.
"Pria dan wanita, tidak dapat bersentuh tangan.
Coba pikir tanpa meraba jalan darah di seluruh tubuh,
mana bisa ilmu itu diajari sempurna?"
"Bukankah supee telah menotok sekujur tubuhku?"
si nona tanya.
Si pengail dan petani sebal nona ini main potong
cerita, mereka mengawasi nona itu dengan mata
mendelik. Oey Yong melihat itu, ia balik mendeliki
mereka, bahkan dia menegur: "Kenapa? Tak dapatkah
aku bertanya?"
It Teng bersenyum.
"Dapat, dapat!" katanya lekas. "Kaulah satu bocah,
jiwamu pun sangat perlu ditolong, kau mesti dipandang
dari jurusan lain."
"Baiklah. Bagaimana selanjutnya?"
"Selanjutnya yang satu mengajari, yang lain
mempelajari," It Teng melanjuti ceritanya itu. "Ciu
Suheng sedang gagahnya, Lauw Kui-hui sedang
mudanya, tubuh mereka beradu tak hentinya, hari
ketemu hari, tanpa merasa, hati mereka berubah,
hingga akhirnya mereka mengacau sampai tidak dapat
diurus lagi……"
Oey Yong mau menanya atau mendadak ia
mendapat menahan hatinya. Ia pun segera mendengar
kelanjutannya cerita: "Lantas ada orang yang memberi
laporan padaku. Sebenarnya aku mendongkol, tetapi
aku masih memandang Ong Cinjin, aku berpura-pura
pilon. Adalah belakangan, hal itu dapat diketahui juga
oleh Ong Cinjin."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Urusan apakah sampai tak dapat diurus lagi?"
tanya Oey Yong akhirnya. Ia polos, ia tidak menyangka
jelek.
It Teng beragu-ragu sedikit. Rupanya sulit ia
mencari kata-kata.
"Mereka itu bukan suami istri tetapi kenyataannya
mereka mirip suami istri," sahutnya kemudian.
"Ah, aku tahu sekarang!" berkata si nona. "Loo
Boan Tong dan Lauw Kui-hui itu kemudian melahirkan
anak?"
"Itulah bukannya," berkata It Teng. "Mereka baru
berkenalan kira sepuluh hari lebih kurang, mana bias
mereka mendapat anak? Ketika Ong Cinjin mendapat
tahu itu, dia ringkus Ciu Suheng dan dihadapkan
kepadaku, dia menyerahkannya untuk aku memberi
hukuman. Kami kaum persilatan, kami menghargai
kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada
urusan orang perempuan, maka aku lantas
membebaskan Ciu Suheng, lantas aku memanggil
Lauw Kui-hui, di situ aku menitahkan mereka menjadi
suami istri. Ciu Suheng menampik, dia mengatakan dia
tidak tahu bahwa itulah perbuatan salah, bahwa kalau
ia tahu itu perbuatan tidak bagus, meski dibunuh juga
tidak nanti dia melakukannya. Dia keras menolak
menikah dengan Lauw Kui-bui. Ong Cinjin menjadi
masgul sekali. Dia kata kalau dia memang tidak tahu
Ciu Suheng itu manusia tolol dan tak tahu selatan,
tentulah dia sudah membunuhnya."
Oey Yong mengulur lidahnya keluar.
"Sungguh hebat Loo Boan Tong, dia menghadapi
bahaya!" katanya.
"Penampikannya itu membuat aku mendongkol,"
berkata It Teng, yang meneruskan ceritanya. "Dengan
tandas aku kata padanya: 'Ciu suheng, dengan ikhlas
aku menyerahkan kui-hui padamu! Apakah kau
menyangka aku mengandung maksud lain? Bukankah
semenjak dulu ada dibilang, saudara ialah tangan dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kaki dan istri itu pakaian? Apakah artinya seorang
perempuan?"
"Eh, eh, supee, kau memandang enteng wanita!"
Oey Yong memotong. "Kata-kata supee mirip sama
ngaco belo!"
Si petani menjadi gusar.
"Tak dapatkah kau tidak memotong?" dia tanya
bengis.
"Supee omong tidak tepat, itulah mesti dibantah!"
berkata si nona membelar.
Keempat murid itu melongo. Bagaimana mereka
menghormati guru mereka, maka bagaimana "kurang
ajarnya" bocah wanita ini.
It Teng sabar luar biasa, dia tidak menggusari si
nona. Dia meneruskan perkataannya: "Mendengar
perkataanku itu, Ciu Suheng menggeleng kepala.
Maka aku menjadi bertambah gusar. Aku kata
padanya: 'Jikalau kau mencintai dia, kenapa sekarang
kau menampik? Jikalau kau memang tidak mencintai,
kenapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku
memang negeri kecil, tetapi tidak nanti aku
mengijinkan kau menghina kami!' Mendengar itu, Ciu
Suheng menjublak sekian lama, akhirnya dia
menjatuhkan diri berlutut di depanku, mengangguk
beberapa kali lalu berkata; 'Toan Hongya, aku salah!
Aku pergi sekarang!' Aku tidak menyangka akan
putusannya ini, aku tercengang karenanya. Dia lantas
mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra dari sakunya,
dia berikan itu kepada Lauw Kui-hui seraya berkata:
'Ini aku pulangi padamu!' Kui-hui tahu orang bersusah
hati, ia tertawa sedih. Ia tidak menyambuti sapu tangan
itu, maka sapu tangan itu jatuh di dekat kakiku. Ciu
Suheng tidak membilang apa-apa lagi, dia terus
berlalu. Sejak itu sudah berselang sepuluh tahun lebih,
tentang dia aku tidak mendengar apa-apa lagi. Ong
Cinjin menghaturkan maaf berulang-ulang kepadaku,
habis itu ia pun berlalu, sampai kemudian aku
mendengarnya ia telah meninggal dunia. Ia berhati
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mulia tidak ada tandingannya, saying……"
"Di dalam ilmu silat, mungkin Ong Cinjin lebih lihay
daripada kau, supee," berkata si nona. "Tetapi bicara
tentang hati mulia, dia tidak bisa melawan supee
sendiri. Habis bagaimana dengan sapu tangan sulam
itu?"
Si pelajar berempat tidak puas si nona mengingat
selalu sapu tangan itu. Tapi guru mereka berbicara
terus: "Aku melihat Lauw Kui-hui menjublak saja,
seperti yang ditinggalkan arwahnya, aku jadi
mendongkol. Aku menjumput sapu tangan itu. Di situ
aku menampak sulaman sepasang burung wanyoh
memain di air. Hm, tidak salah lagi, itulah barang Lauw
Kui-hui untuk kekasihnya. Aku tertawa dingin. Lantas
aku membalik sapu tangan itu. Kiranya di situ ada
sebaris syairnya……"
Oey Yong sangat tertarik hingga ia lantas menanya:
"Apakah itu berbunyi…… 'Empat buah perkakas
tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal
terbang berpasangan……"
Si petani habis sabar, dia membentak: "Kami sendiri
tidak tahu, bagaimana kau ketahui itu? Ha, kau ngaco
saja, kau main potong tak hentinya!"
Tetapi It Teng sendiri tidak gusar, ia menghela
napas. "Benar begitu," sahutnya. "Kau juga ketahui
itu?"
Bab 64 ASMARA DI DALAM KERATON
Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu
tercengang.
Kwee Ceng berlompat seraya berseru: "Aku ingat
sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling,
Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku
mendengar dia membacakan syairnya itu. Ialah:
'Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan
burung wanyoh bakal terbang perpasangan……
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sayang, belum lagi tua, tetapi kepala sudah putih……
Gelombang musim semi, rumput hijau, dimusim dingin,
di dalam tempat tersembunyi, saling berhadapan baju
merah……" Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula:
"Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam
segala-gala, Ciu Toako lebih menang daripada aku
tetapi selagi aku tidak terganggu serulingnya Oey
Tocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat ia
mempertahankan diri, tidak tahunya dia dapat
mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan
pikirannya menjadi kacau. Pantaslah dia mencaci
orang perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai
menasihati aku untuk aku jangan baik dengan
kau……"
"Hm, Loo Boan Tong!" kata si nona mendongkol.
"Lihat kalau nanti aku bertemu padanya, akan aku
jewer kupingnya!" Mendadak ia tertawa dan
menambahkan: "Ketika di Lim-an aku telah menggodai
dia, aku telah mengatakan tidak ada wanita yang akan
sudi menikah padanya, agaknya dia mendongkol,
rupanya itu pun disebabkan peristiwa itu."
"Maka ketika aku mendengar Eng Kouw
membacakan itu, aku seperti telah pernah
mendengarnya," kata pula Kwee Ceng, "Hanya itu
waktu, biar bagaimana aku memikirkannya, tidak juga
aku ingat. Eh, Yong-jie, mengapa Eng Kouw pun
mengetahui syair itu?"
Ditanya begitu, si nona menghela napas.
"Karena Eng Kouw ialah Kui-hui," sahutnya.
Di antara si tukang pancing berempat, adalah si
pelajar yang sudah menduga lima atau enam bagian,
maka juga tiga yang lainnya menjadi heran, semua
mengawasi guru mereka.
"Kau sangat pintar, Nona," kata It Teng Taysu
dengan perlahan, "Tidak kecewa kau menjadi putrinya
saudara Yok. Lauw Kui-hui itu mempunyai nama kecil,
ialah Eng. Aku pun mulanya tidak mengetahui itu. Itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
waktu aku telah melemparkan sapu tangan
kepadanya, lantas aku tidak melihat pula padanya.
Karena aku berduka sekali, aku tidak memperdulikan
lagi urusan negara, aku menungkuli diri dengan setiap
hari melatih ilmu silat."
"Supee, itu waktu di dalam hatimu kau sangat
mencinta dia," kata Oey Yong. "Kau tapinya tidak
mengetahui. Kalau tidak, tidak nanti kau menjadi tidak
gembira……"
"Nona!" berkata si pelajar berempat. Mereka ini
tidak senang nona ini berani bicara demikian macam
terhadap guru mereka.
"Apa? Apakah aku salah omong?" Oey Yong balik
menanya. "Supee, salahkah aku?"
Air mukanya It Teng Taysu suram. Ia berkata:
"Selama itu lebih dari setengah tahun tidak pernah aku
panggil Lauw Kui-hui datang menghadap, akan tetapi
di dalam impian, sering aku bertemu dengannya.
Demikian pada suatu malam, habis memimpikan dia,
tidak dapat aku melawan niat hatiku, aku mengambil
putusan untuk melihat padanya. Aku tidak
memberitahukan niatku kepada thaykam atau dayang,
aku pergi sendirian dengan diam-diam. Aku ingin
menyaksikan apa yang dia kerjakan. Ketika aku tiba di
wuwungan kamarnya, aku mendengar suara anak kecil
menangis keluar dari kamarnya itu. Ah……! Malam itu
salju turun banyak dan angin pun dingin sekali, tetapi
di atas genting itu aku berdiri lama sekali, sampai fajar,
barulah aku turun dan kembali ke kamarku. Habis itu
aku mendapat sakit berat."
Oey Yong heran. Seorang raja, dan di tengah
malam buta rata, untuk selirnya, telah mesti menyiksa
diri secara begitu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekarang barulah keempat murid itu ketahui kenapa
guru mereka - ketika itu ialah junjungan mereka - yang
tubuhnya demikian tangguh, telah mendapat sakit
yang berat itu.
"Lauw Kui-hui telah mendapat anak, tidakkah itu
bagus?" Oey Yong tanya pula. "Supee, kenapa kau
tidak menjadi gembira?"
"Anak tolol, anak itu ialah anaknya Ciu Suheng."
"Ciu Suheng pun telah pergi sedari siang-siang,
apakah dia telah datang pula secara diam-diam
menemui kui-hui?"
"Tidak. Apakah kau belum pernah dengar orang
menyebutnya kandungan sepuluh bulan?"
Si nona itu agaknya sadar.
"Ah, aku mengerti sekarang!" katanya. "Pasti anak
itu terlahir mirip Loo Boan Tong, kupingnya lebar dan
hidungnya mancung, kalau tidak, mana kau ketahui
dialah anaknya Loo Boan Tong!"
"Itulah bukannya. Sudah satu tahun lebih aku tidak
mendekati kui-hui, maka itu anak itu pasti bukan
anakku."
Oey Yong berdiam, urusan itu gelap untuknya.
"Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih," kata
It Teng kemudian, "Setelah sembuh, aku tidak suka
memikirkan pula urusan itu. Kemudian lewat dua tahun
lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di
dalam kamarku, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia
menyingkap gorden dan nerobos masuk, Thaykam dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dua siewi yang menjaga di luar pintu mencegah, tetapi
mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat
kui-hui menggendong anaknya itu. Aku mendapatkan
dia bermuka pucat, dengan lantas dia bertekuk lutut di
depanku dan menangis menggerung-gerung, sambil
mengangguk-angguk, dia kata: 'Aku mohon belas
kasihan hongya, supaya anak ini dikasih ampun. '"
"Aku berbangkit, akan melihat anak itu. Dia
bermuka merah, napasnya memburu. Ketika aku
menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan
tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis,
ia kata: 'Hongya aku bersalah, aku harus mati, tetapi
aku mohon anak ini diberi ampun.' Aku tanya, anak itu
kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak
menjawab aku hanya tetap mohon aku mengampuni
anaknya itu. 'Mohon hongya mengampuni dia,' katanya
ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran
sekali. 'Kalau hongya menghendaki kematianku, aku
tidak penasaran hanya ini anak, ini anak……'"
"'Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?!'
Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?"
"Kui-hui mengangkat kepalanya, ia mengawasi aku.
'Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi untuk
menghajar mati anak ini?' Dia tanya. Aku menjadi
heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. 'Jadi dia
dilukai oleh siewi?' Aku tanya. 'Budak yang mana yang
begitu bernyali besar?' Dia terkejut. 'Oh, jadi bukannya
hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal
ketolongan……!' Habis berkata begitu dia pingsan."
"Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat
keadaannya kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun,
direbahkan di pembaringan. Selang sekian lama, baru
dia sadar. Dia lantas menangis, sembari dia
menuturkan duduknya kejadian. Katanya, dia lagi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menepuk-nepuk anaknya untuk ditiduri, mendadak dari
luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu
siewi yang mukanya bertopeng, anaknya lantas
dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui
kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak kui-hui, lagi
sekali dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa
dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, ke satu
siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu
diperintah olehku. Itulah sebabnya kui-hui lantas
membawa anaknya itu datang padaku, untuk minta
ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa
teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukakan
pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan ada otot
anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kamar kui-hui,
untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si
penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas
genteng aku melihat tapak kaki. Aku lantas kata pada
kui-hui: 'Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmunya
enteng tubuh. Di dalam negeri Tali ini, kecuali aku,
tidak ada orang yang kedua yang lihay sebagai dia.'
Kui-hui menjadi kaget, ia berkata; 'Mustahilkah dia?
Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?'
Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka
mayat."
Oey Yong terkejut.
"Tidak nanti Loo Boan Tong berbuat demikian……"
katanya perlahan.
"Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng,"
berkata It Teng Taysu, "Kecuali dia, tidak ada orang
yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia
berbuat begitu sebab dia tidak sudi mempunyai anak
itu, yang bakal membikin dia malu. Ketika kui-hui
mendengar dugaanku itu, ia malu dan cemas, ia kaget.
Mendadak ia kata: 'Tidak, pasti bukan dianya! Suara
tertawanya orang itu bukan suara tertawanya.' Aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkata: 'Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin
kau kurang jelas?' Tapi ia berkeras, ia kata: 'Suara
tertawanya orang itu aku akan ingat buat selamalamanya,
meski aku menjadi setan, tidak nanti aku
lupa! Bukan, bukannya dia!'"
Mendengar itu, semua orang menggigil sendirinya
tanpa merasa.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi
roman Eng Kouw ketika si nyonya mengertak gigi.
"Mendengar perkataannya kui-hui, aku jadi
percaya," It Teng bercerita pula. "Hanya aku tidak bisa
menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia
hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku
sampai menduga-duga kepada murid-muridnya Cinjin
umpama Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin
mereka hendak melindungi nama baik partai mereka
maka mereka melakukan perjalanan jauh guna
melakukan pembunuhan itu……"
Kwee Ceng hendak membuka mulutnya atau ia
mengurungkan itu. Ia tidak seberani Oey Yong, yang
tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.
"Kau hendak membilang apa?" It Teng Taysu
menanya kapan ia melihat orang batal bicara.
"Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah
orang-orang suci dan gagah, tidak nanti mereka
melakukan perbuatan serendah itu," Kwee Ceng
bilang.
"Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San,
dia memang seorang laki-laki," kata It Teng, "Tentang
yang lainnya, aku tidak tahu. Memang, kalau benar
mereka, dengan satu hajaran saja mereka dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membinasakan anak itu, maka kenapa mereka
menghajar hanya setengah mati?"
Sembari bicara, pendeta ini sembari berpikir. Sudah
belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan
keragu-raguannya itu. Ruang itu menjadi sunyi sekali.
"Baiklah, nanti aku menuturkan terus," katanya
kemudian.
Tiba-tiba Oey Yong berlompat.
"Tidak salah lagi, dia pastilah Auwyang Hong!"
katanya.
"Belakangan aku juga pernah menduga dia," kata It
Teng, "Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil dia
yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga
bertubuh tinggi dan besar. Menurut kui-hui, si orang
jahat ada terlebih kate dan kecil dari kebanyakan
orang."
"Benar-benar heran," kata si nona.
"Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu," It Teng
berkata pula. "Dia terlukakan tak lebih hebat daripada
lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya
sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti
mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi
sebab aku tahu, di dalam rapat yang kedua di gunung
Hoa San nanti, pasti aku tidak dapat turut mengambil
bagian. Beberapa kali aku hendak menampik, aku
gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat Kui-hui, yang
menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa
kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan
mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri,
karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari
biasanya. Lama aku berpikir, baru aku mengambil
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku
berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip
dengan binatang. Aku pun masih tidak dapat
mengubah kelakuanku meskipun aku sudah
mengambil keputusan itu, aku menganggapnya aku
menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan
sangat dari Lauw Kui-hui."
"Supee, aku membilang kau sangat mencinta dia,
sedikit pun kau tidak salah," berkata Oey Yong.
It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona,
dia berkata terus: "Ketika Kui-hui mendengar
jawabanku, dia girang sampai dia pingsan. Lehih dulu
aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku
menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu
dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya,
aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang
burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari
sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari
melemparkannya kepadanya. Selagi aku terbengong,
kui-hui rupanya melihat sikapku itu. Maka ia mengertak
gigi, ia mengeluarkan pisau belati, yang ia tujukan ke
dadanya. Ia kata, 'Hongya, aku tidak ingin hidup pula di
dunia, maka itu aku memohon belas kasihanmu, kau
tolongilah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku,
nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda
guna membalas budimu ini.' Lantas ia menikam
dadanya."
Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw
Kui-hui toh masih hidup. Itulah sebab hebatnya
suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu.
Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang ia seperti
berbicara seorang diri. Ia kata: "Segera aku mencegah
perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya
itu. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga
sedikit hingga dia mengucurkan darah. Karena aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku
totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia
tidak dapat bergerak. Habis membalut lukanya, aku
kasih di duduk di kursi, untuk beristirahat. Dia tidak
membilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku,
matanya menunjuki kedukaannya yang sangat. Aku
pun berdiam saja. Maka di situ Cuma terdengar suara
napasnya si anak kecil, napas yang mendesak.
Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat segala
kejadian yang telah berlalu. Aku ingat bagaimana
mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku
mengajari dia silat. Aku menyayangi padanya dan dia
selalu menghormati aku, dia agak jeri, dengan teliti dia
merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya
bahwa dia tidak pernah mencintai aku, inilah aku tidak
tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang itu hari
yang dia jatuh hati kepada CiuSuheng. Demikian
sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria.
Dia bengong mengawasi sapu tangannya itu, dia
bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk
selamanya. Sinar matanya itu membuat aku tidak
tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku
melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari
hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk
kekasihnya, hanya untuk anaknya."
It Teng berdiam sejenak.
"Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat
apapula aku seorang raja! Maka itu, mengingat
demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku
menendang bangku gadis di depanku hingga bangku
itu rusak. Ketika kemudian aku menoleh pada kui-hui,
aku terkejut, aku melengak. 'Eh, rambut…… rambutmu
itu kenapa?' Aku tanya dia. Dia seperti tidak
mendengar perkataanku, dia terus mengawasi
anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang
mempunyai sinar mata demikian itu, sekarang baru
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus
dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak
sudi menolongi anaknya itu, maka selama dia masih
hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama
makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu
kepadanya. 'Lihat rambutmu,' aku kata padanya.
Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti
menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia
sebenarnya baru berumur sembilan belas tahun.
Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal,
penasaran, putus harapan, mendadak ramhutnya itu
berubah menjadi uban!"
"Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau
rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk
menghalangi dia mengawasi anaknya itu. Dia kata
padaku, 'Angkat kaca itu.' Dia bicara tegas sekali, dia
seperti lupa akulah raja ialah junjungannya. Aku
menjadi heran. Aku tahu dia biasanya sangat
menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca,
maka terus dia mengawasi anaknya itu. Ah, kalau dia
ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu
kepada anaknya, asal anaknya itu hidup. Aku mengerti
bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk
anaknya itu."
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di
dalam hatinya, mereka saling mengatakan: "Kalau aku
pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga
dapat mengawasi aku demikian rupa?" Tanpa merasa
mereka saling menyodorkan tangan, untuk saling
memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh
mereka dirasai hangat.
"Sebenarnya aku merasa tidak tega," It Teng
kemudian melanjuti ceritanya, "Aku berniat menolongi
anak itu, apa mau, sapu tangan itu tetap berada di
dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang saling menyenderkan leher mereka. Kepalanya
burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama
hingga di hari tua. Maka kenapakah, sebelum tua
tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat
rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku
mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku
menjadi keras hati. Aku kata padanya: 'Baiklah, kamu
boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia
sendiri di istana sunyi ini tetap sebagai kaisar! Dialah
anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan
diri untuk menolong menghidupi dia?' Dia memandang
aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu
tertampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan.
Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi.
Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar mata itu.
Dia kata dengan dingin. 'Kau lepaskan aku, aku
hendak menggendong anakku!' Perkataannya itu mirip
firman, membuatnya orang susah membantahnya.
Maka aku membebaskan dia dari totokan. Dia
menggendong anaknya itu. Anak itu pasti terluka parah
hingga tidak dapat ia menangis, mukanya bersinar
gelap, matanya mengawasi ibunya, mungkin ia minta
ditolongi. Aku sendiri sejenak itu, aku tidak mempunyai
rasa kasihan sedikit juga. Aku hanya melihat, rambut
hitamnya berubah menjadi putih. Mungkin itulah
perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata
halus pada anaknya: 'Anak, ibumu tidak mempunyai
kepandaian untuk menolongi kau, ibumu tidak dapat
membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau
tidurlah biar nyenyak…… Tidur, anak tidur, untuk
selama-lamanya jangan kau mendusin pula!' Aku
mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu
mengeloni anak tidur. Sedap nyanyiannya itu…… Ya,
begini, nah kau dengarlah!"
Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian
tetapi di situ tidak ada terdengar suara nyanyian.
Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Suhu!" kata si pelajar. "Kau telah bicara terlalu
banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat."
It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula:
"Anak itu bersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya,
dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya
halus sekali: 'Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap
semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi……'
Sekonyong-konyong terdengar suara menumblas dan
pisau belati telah nancap di dadanya!"
Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua
tangannya memeluk lengannya Kwee Ceng.
Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka
mereka menjadi pucat.
Hebat penuturannya It Teng itu, yang sebaliknya
berbicara terus: "Aku kaget, aku terhuyung, terus aku
jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak
tahu memikir apa. Aku banya ingat dia berbangkit
dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia kata:
'Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau
belatiku ini, nanti menumblas ulu hatimu.' Dia
menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia kata
pula: 'Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana
kau memberikan kepadaku. Kau tunggu saja, di itu hari
yang gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka
itu hari juga pisau belati ini akan turut datang.'"
Sambil berkata begitu, It Teng putar gelang itu di jari
tangannya. Ia bersenyum.
"Inilah gelang kumala itu," katanya. "Aku telah
menantikan belasan tahun ini hari tibalah harinya itu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada apa
sangkutannya itu dengan kau?" Oey Yong tanya. "Pula
dia telah mencelakai kau dengan racun, maka
meskipun ada permusuhan dulu hari itu, bukankah itu
sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan
kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang
mengganggu pula……"
Tepat selagi si nona berkata itu, satu kacung
hweeshio datang masuk.
"Suhu," katanya, "Dari kaki gunung ada lagi yang
mengantarkan ini……"
Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan
sebuah bungkusan kecil.
It Teng menyambuti, untuk terus dibuka. Untuk
kagetnya semua orang, hingga mereka berseru, itulah
sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman
burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah
berubah kuning. Di antara kedua ekor burung itu ada
satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada
bagian yang hitam, sisa darah.
It Teng meletaki oto itu di lantai, ia bengong
mengawasi. Sekian lama ia berdiam, romannya
berduka, lalu dia berkata: "Inilah sulaman burung
wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau
terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian
belaka. Dia menggendong anaknya, dia berlompat
keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan
lama. Setibanya di luar, dia lompat naik ke atas
genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak
dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku
memikirkannya. Diakhirnya aku sadar, maka itu, aku
mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku
sendiri lantas masuk menjadi pendeta." Dia menunjuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
empat muridnya, akan menambahkan: "Mereka ini
lama telah mengikuti aku, mereka tidak suka
berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam
Barat, ke kuil Liong Coan Sie. Mulanya selama tiga
tahun pertama, mereka membantu putraku
memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran.
Kemudian, setelah putraku sudah mengerti tugasnya,
dan justru telah terjadi itu peristiwa di Tay Soat San di
mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas
pindah ke mari. Sejak itu kita tidak kembali ke Tali.
Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka
itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang
ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang.
Aku memikir untuk lebih banyak menolongi orang,
guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak
mengetahui kesengsaraan hatiku, mereka selalu
mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa
jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku
membayarnya dengan jiwaku sendiri, mana dosa itu
dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti
kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau
belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya
berkhawatir dia tak keburu datang, nanti aku mati
terlebih dulu, kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus,
sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal
terkabul. Ah, sebenarnya, buat apa dia menaruh racun
di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan? Kalau aku
tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteeku
menolongi aku menyingkirkan racun itu."
Oey Yong tapinya tidak senang.
"Perempuan itu jahat!" ia kata sengit. "Rupanya dia
telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena
khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan ketikanya
yang baik, maka kebetulan sekali aku terlukakan Khiu
Cian Jin, dia sambar ketika ini dia pakai aku sebagai
perkakas. Pantas dia menunjuki aku tempat supee. Dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
rupanya memikir untuk lebih dulu membikin habis
tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Aku
menyesal yang diriku kena dipermainkan dia! Supee,
kenapa gambarnya Auwyang Hong itu bisa berada di
tangannya? Ada apa hubungannya dia dengan gambar
itu?"
It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya
dan membalik lembarannya. Ia berkata. "Gambar ini
mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India
ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor
burung dara terbang kepadanya meminta
perlindungan. Burung dara itu dikejar seekor elang.
Burung ini meminta burung dara itu, katanya, kalau
tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu,
sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang
lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong
dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging
raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka
daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu
berat luar biasa, daging raja tidak cukup kendati ia
sudah memotong seluruh anggota tubuhnya. Ketika
raja menimbangkan tubuhnya juga, maka
bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadaribidadari
menyebar bunga, harumlah semua jalan,
maka juga naga langit dan setan-setan yang berada di
udara pada menghela napas dan berkata: 'Siancay,
siancay. Kegagahan sebagai ini, sungguh belum
pernah ada!'"
Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng
menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.
"Sekarang aku mengerti, supee," berkata Oey
Yong. "Dia khawatir supee tidak suka menolong
mengobati aku, dia sengaja menunjuki gambar itu
untuk membikin hati supee tertarik."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Benar begitu," kata It Teng bersenyum. "Ketika
dulu hari itu dia meninggalkan Tali, tentu hatinya gusar
dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah
bagaimana, dia bertemu sama Auwyang Hong. Pasti
Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia
menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di
Wilayah Barat dan Auwyang Hong adalah orang sana,
tentu dia mengetahuinya dengan baik."
"Sungguh jahat!" kata Oey Yong sengit. "Si bisa
bangkotan menggunai Eng Kouw dan Eng Kouw
menggunai aku, ini dia akal jahat meminjam golok
membunuh lain orang!"
"Jangan kau gusar," berkata It Teng menghela
napas. "Umpama kata dia tidak bertemu sama kau,
mesti dia akan melukakan orang, yang dia
menyuruhnya datang ke mari meminta aku
menolonginya. Cumalah, siapa tidak mempunyai
kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah
lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu
rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun
yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?"
"Benar, supee. Tapi ia masih mempunyai satu
maksud lain, yang lebih penting daripada urusannya
dengan supee ini."
It Teng heran. "Apakah itu?" ia tanya.
"Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa
To, dia hendak pergi menolongi," si nona
menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw
mencoba mempelajari Kie-bun-sut, supaya bisa
memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan;
"Kemudian Eng Kouw ketahui, ia belajar lagi seratus
tahun juga tidak nanti ia dapat melawan ayahku, maka
justru ia melihat aku terluka, lantas ia……"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu ia
berbangkit.
"Sudah, sudah!" katanya. "Segala apa terjadi secara
kebetulan, maka sekarang tentulah dia puas!" Ia
berpaling kepada empat muridnya, untuk memerintah:
"Pergi kamu menyambut dengan baik pada Lauw Kuihui!
Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak
dia datang kemari. Sedikit juga kamu tidak boleh
berlaku tidak hormat kepadanya."
Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut
mendekam akan menangis menggerung-gerung.
"Suhu!" kata mereka.
It Teng Taysu menghela napas. Ia kata: "Kamu
telah mengikuti aku untuk banyak tahun, mungkinkah
kamu masih belum tahu hati gurumu?" Ia menoleh
kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan;
"Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu."
"Titahkan saja, supee," menyahut si anak muda.
"Bagus!" kata pendeta itu, "Sekarang pergilah kamu
turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang
kepada Eng Kouw, maka itu kalau di belakang hari dia
menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan
memandang aku si pendeta tua, haraplah kamu
membantui dia secara sungguh-sungguh. Umpama
kata kamu dapat merangkap jodoh dia dengan jodoh
Ciu Suheng, aku akan lebih-lebih lagi bersyukur."
Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling
mengawasi. Bukankah Eng Kouw datang untuk
menuntut balas? Dengan perbuatannya ini, bukan saja
It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menuntut balas untuknya, dia pula mau membalas
kejahatan dengan kebaikan.
Menampak dua orang itu berdiam, It Teng bertanya;
"Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untuk
kamu menjawabnya?"
Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab:
"Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima
baik." Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, untuk
diajak sama-sama memberi hormat, guna meminta diri.
"Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw," It
Teng kata pula. "Maka pergilah kamu turun dari
gunung belakang."
Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk
diajak pergi.
Keempat murid itu melihat wajah si nona tenang
saja, diam-diam mereka mencaci nona itu tidak
berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak
memikirkan keselamatannya orang yang telah
menolongi dia.
Kwee Ceng mengikuti tanpa bicara. Ia tidak percaya
Oey Yong demikian tidak berbudi. Ia percaya si nona
ada punya maksud lain. Ketika mereka sampai di
mulut pintu, si nona lantas berbisik padanya, atas
mana ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak
kembali, tindakannya perlahan.
It Teng berkata pada pemuda itu; "Kau jujur dan
setia, di belakang hari kau pasti akan berhasil
melakukan sesuatu yang besar. Maka itu, urusan Eng
Kouw pun aku perserahkan padamu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng
dengan itu, dengan mendadak sekali, dengan
kesebatannya yang luar biasa, ia menyambar
lengannya si pendeta bangsa India di sisi It Teng
Taysu, menyusul mana tangan kiri menotok dua jalan
darah hoa-kay dan thian-cu dari pendeta itu, hingga si
pendeta tak dapat berkutik dalam detik itu juga.
Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi
sangat kaget dan heran.
"He, kau bikin apa?" mereka menegur.
Tindakannya Kwee Ceng belum selesai. Ia tidak
memberikan penyahutan kepada empat orang itu,
sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar ke
pundaknya It Teng Taysu.
Menampak sambaran itu, It Teng menggeraki
tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut
tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.
Kwee Ceng menjadi kaget dan heran. Ia tidak
menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri
dari sambarannya. Itulah kepandaian dahsyat, yang ia
baru pernah menyaksikannya. Hanya ia mendapat
kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur,
tenaganya si pendeta lemah sekali, maka ia lantas
memutar tangannya untuk membalas menangkap.
Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya,
Kwee Ceng menggunai jurus "Naga sakti menggoyang
ekor", guna memukul mundur si pengail dan si tukang
kayu, yang menyerang ia dari samping. Sebab kedua
murid pendeta itu, dalam kagetnya, sudah lantas
menerjang, untuk menolongi guru mereka. Mereka ini
cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin
tidak berdaya. Si anak muda meneruskan menotok
dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan.
Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani
sampai di muka pintu.
Si pelajar menjadi kelabakan.
"Berhenti, berhenti!" ia berseru berulang-ulang.
"Mari kita bicara dulu!"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil