Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 18 April 2017

Cersil Yoko 3 Condor Heroes

Cersil Yoko 3 Condor Heroes Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf
-Betul saja, sejenak kemudian suara mendesirnya angin
kembali kedengaran lagi dari jauh mendekat, begitu cepat
hingga sekejap saja sudah sampai di atas rumah hotel, lalu ia
dengar suatu diantaranya lagi berkata: "Yong-ji, kau kira
siapakah dia tadi ?" demikian sahut seorang lain.
Mendengar suara percakapan ini, Kwa Tin-ok tahu Kwe
Ceng dan Ui Yong suami isteri. Karena itulah ia merasa lega,
segera ia membuka pintu agar kedua orang itu masuk.
"Baik-baikkah disini, Suhu?" segera Ui Yong tanya Kwa
Tin-ok begitu melangkah masuk.
"Ya, tiada terjadi apa-apa," sahut Kwa Tin-ok.
"Aneh, apa mungkin kita telah salah lihat ?" kata Ui Yong
kepada sang suami.
"Tidak, tidak bisa, orang ini sembilan bagian pasti dia,"
sahut Kwe Ceng sambil menggeleng kepala.
"Dia ? Dia siapa ?" Tin-ok ikut bertanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Lekas Ui Yong menarik-narik lengan baju suaminya
dengan maksud agar jangan mengatakan Akan tetapi tidak
bisa menghormatnya Kwe Ceng terhadap gurunya yang
banyak menanam budi padanya, tidak berani ia berdusta
meski barang sedikit saja, maka. ia lantas menerangkan: "Dia
Auwyang Hong !"
Justru seumur hidupnya paling takut pada orang ini karuan
seketika air muka Kwa Tin-ok berubah hebat.
"Auwyang Hong?" ia menegas dengan suara tertahan.
"Betul! dia belum mampus ?"
"Tadi ketika kami kembali dari memetik obat-obat-an, di
pinggir rumah kami melihat berkelebatnya bayangan orang,
gerak tubuhnya sangat cepat lagi aneh, waktu kami
mengejarnya, sayang tak tertampak bayangannya lagi. Cuma
kelihatannya sangat mirip Auwyang Hong," demikian Kwe
Ceng ceritakan.
Kwa Tin-ok mengerti muridnya ini sangat jujur dan suka
terus terang, semakin menanjak umurnya semakin tulus, kalau
dia bilang Auwyang Hong, maka pasti bukan orang lain lagi.
Sementara itu karena kuatirkan diri Nyo Ko, Kwe Ceng
telah memeriksanya ke tempat tidurnya dengan membawa
lilin, ia lihat air muka pemuda ini merah segar, napasnya
teratur dengan haik, tidurnya nyenyak, ia menjadi girang
sekali oleh keadaan bocah ini.
"Dia sudah baik, Yong-ji !" saking girangnya ia teriaki
isteri.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Padahal waktu itu Nyo Ko hanya pura-pura tidur saja, ia
pejamkan matanya buat mencuri dengar percakapan ketiga
orang, Ketika lapat-lapat mendengar ayah angkatnya - orang
aneh itu - bernama Auw-yang Hong, sedang ketiga orang ini
sangat jeri padanya, tentu saja dalam hati kecilnya diam-diam
ia merasa bangga dan senang.
Dalam pada itu sesudah TJi Yong melihat kea.da-an Nyo
Ko, menjadi terheran-heran, Terang ia lihat hawa racun di
lengannya menjalar terus ke atas, sesudah lewat beberapa
jam ini, semestinya bertambah hitam bengkak dan merembes
lebih luas, siapa tahu hawa berbisa itu sebaliknya malah
menghjlang, sungguh kejadian yang sukar dimengerti.
Setelah keluar bersama sang suami sekian lama, namun
rumput obat-obatan yang dia cari tetap belum lengkap,
terpaksa seadanya ia gilasi dan racik beberapa macam bahan
obat, air perasannya lalu ia minum kan pada Nyo Ko.
Besok paginya, Kwa Tin-ok bersama Kwe Ceng dan Ui
Yong melanjutkan perjalanan bersama dua anak kecil, mereka
ambil keputusan buat pulang ke Tho-hoa-to dahulu untuk
menyembuhkan lukanya Nyo Ko.
Malamnya terpaksa mereka harus menginap lagi di hotel,
Kwa Tin-ok tinggal sekamar dengan Nyo Ko, sedang suami
isteri Kwe Ceng dan Ui Yong sekamar dengan puteri mereka.
Tengah malam sedang enak-enaknya mereka tidur,
mendadak terdengar suara "krak" yang keras di atas rumah,
menyusul mana terdengar pula suara teriakan di kamar
sebelah, rupanya ada orang merusak daun jendela dan
melompat keluar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Cepat Kwe Ceng dan Uj Yong melompat "bangun, melalui
jendela mereka lihat di atas rumah sudah ada dua orang yang
sedang bergebrak dengan sengit. Baru saja bisa lihat jelas
bentuk tubuh kedua orang itu, tiba-tiba terdengar suara
"plak", berbareng itu satu diantaranya telah menjerit terus
terbanting ke bawah itu sudah dalam keadaan lumpuh, kaki
tangannya kelihatan kaku dan menjulai ke bawah dengan
lurus.
Menurut kebiasaan, orang yang berilmu silat tinggi,
sekalipun tergelincir jatuh dari tempat tinggi secara tiba-tiba
pasti akan menekuk badan dan tarik kaki, dengan demikian
waktu sampai di tanah, tidak bakal terluka berat, akan tetapi
orang itu sudah lebih dulu dihantam semaput di atas rumah,
maka dengan tefbantingnya ini tulangnya pasti akan patah
dan mungkin kepalanya akan remuk,
Pada detik yang berbahaya itu, tiba-tiba dari jendela
kamar sebelah melayang keluar seorang wanita, orang ini
adalah Ui Yong, segera ia hendak menangkap tubuh orang,
Namun ia masih kalah cepat, sebab Kwe Ceng sudah
menyerobot di depannya dan dengan enteng sekali ia tarik
tengkuk orang pada waktu hampir membentur tanah, terus
diangkat ke atas dan kemudian dia turunkan pelahan, habis ini
sekali ia enjot kakinya, segera ia melompat ke atas rumah.
Tetapi sekali ini ia yang ketinggalan ia lihat sang isteri
sudah saling gebrak dengan serunya melawan satu orang,
Lawannya berperawakan jangkung dan berjenggot pendek,
kaki, hidungnya besar, matanya celong, siapa lagi kalau bukan
musuh kebuyutan mereka yang sudah tak bertemu selama
belasan tahan, Se-tok Auwyang Hong, Si racun dari Barat.
(Se-tok atau Si racun dari Barat adalah julukan Auwyang
Hong sebagai satu diantara lima tokoh silat kelas wahid pada
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
jamannya. Empat rekannya yang juga menjadi musuhnya -
masing-masing adalah: Tong-sia- Ui Yok-su, Si Latah dari
Timur (ia adalah ayah Ui Yong), Lam-te Toan Hong-ya, Si raja
dari Selatan, Pak-kay Ang Tjhit-kong, Si langit di Tengah.
Urut-urutan nama mereka berlima disebut: Tong-sia, Se-tok,
Lam-te, Pak-kay, Tiong-kian-khun).
Begitulah tadi, Ui Yong yang sudah banyak maju
kepandaiannya, dalam belasan jurus itu tipu-tipu pukulannya
ternyata sukar diraba, karena itu, sedikitpun Auwyang liong
tidak lebih unggul.
"Aha, Auwyang-sianseng, baik-baikkah selama berpisah ini
?" demikian Kwe Ceng menyapa setelah tancapkan kakinya di
atas wuwungan rumah.
"Apa kau bilang ? Kau panggil aku apa ?" tanya Auwyang
Hong tiba-tiba.
Begitulah wajahnya mengunjuk rasa bingung, maka
terhadap serangan Ui Yong ia hanya menangkis saja tanpa
batas menyerang, sedang dalam hati . ia sedang ingat-ingat
nama yang diucapkan Kwe Ceng tadi, lapat-lapat ia merasa
kata-kata "Auwyang" seperti punya hubungan erat dengan
dirinya.
Karena pertanyaan tadi, maka Kwe Ceng bermaksud akan
menjelaskan namun betapa pintarnya Ui Yong, ketika melihat
penyakit otak miring orang belum sembuh, lekas-lekas ia
mencegah, Malahan ia sengaja berseru:
"Kau bernama Tio-Tji-Sun-Li, TJiu-Go-Tan-Ong !"
Auwyang Hong tampak terkejut dan semakin bingung.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Apa ?" ia mengulangi "aku bernama Tio-Tji-Sun-Li dan
Tjiu-Go-Tan-Ong ?"
"Ya, betul, namamu Pang-The-Tju-Wi dan Tjio-Sim-Ham-
Yang," sahut Ui Yong mengacau.
Apa yang- diucapkan Ui Yong itu semuanya adalah She
atau nama keluarga umum. Dasar pikiran Auwyang Hong
memang belum waras, kini sekaligus Ui Yong melontarkan
balasan she yang dikatakan adalah namanya, keruan pikiran
Auwyang Hong menjadi semakin ruwet dan tambah butek
otaknya.
Berlainan sekali dengan sang isteri, Kwe Ceng adalah
orang yang baik budi dan jujur, ia menjadi kasihan melihat
keadaan Auwyang Hong- yang hilang ingatan dan linglung itu,
"Sudahlah, lekaslah kau pergi saja, selanjutnya paling"
baik kita jangan bertemu lagi untuk selama-nya," katanya
kemudian.
"He, siapa kau dan siapa aku ?" demikian Auwyang Hong
masih bertanya.
"Kau adalah Si Racun tua yang telah membinasakan lima
saudaraku !" mendadak suatu suara bentakan menjawabnya
dari belakang.
Belum lenyap suara bentakan itu atau sebuah tingkat besi
telah menyambar pula, itu adalah senjatanya Hui-thian-pianhok
Kwa Tin-ok.
Tetapi pada saat itu juga terdengar pula seruan Kwe Ceng:
"Awas, Suhu !"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Namun sudah terlambat, kemplangan tongkat Kwa Tin-ok
itu dengan tepat kena di punggung Auwyang Hong, tetapi
yang terdengar hanya "buk" se-kali, tahu-tahu tongkat malah
membal balik, saking keras tenaga menbalnya hingga Tin-ok
tak tahan memegangnya, maka baik tongkatnya maupun
orangnya sama terperosot jatuh dari wuwungan rumah.
Luar biasa kerasnya hantaman tadi, pula tongkat itu
mempunyai bobot beberapa puluh kati, ditambah lagi
goncangan membalik, maka tongkat itu telah menyusup
masuk ke bawah untuk kemudian dengan tepat menghantam
di atas ranjang tamu hotel,
Tamu itu sebenarnya lagi terombang-ambing di sorga
impiannya, siapa tahu ketiban malang mendadak, sial baginya,
tulang kakinya tertindih patah oleh tongkat yang tidak ringan
itu, saking sakitnya ia menjerit-jerit minta tolong !
Dalam pada itu Kwe Ceng tahu meski gurunya terbanting
jatuh ke bawah tentu tidak bakal berhalangan, ia hanya kuatir
kalau kesempatan itu digunakan Auwyang Hong untuk
menguber dan menghantam, maka kejadiannya pasti akan
luar biasa he-batnya, karenanya, tidak pikir lagi segera ia
berteriak: "Awas pukulan !"
Berbareng itu tangan kanan ia putar sekali terus didorong
lurus ke depan, ini adalah satu diantara tipu pukulan Hangliong-
sip-pat-ciang yang disebut "Kong-liong-yu-hwe" atau
Naga pembawa sesal, ilmu pukulan "Hang-liong-sip-pat-ciang"
(delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga) ini adalah
ajaran guru Kwe Ceng yang lain, yakni Pak-kay Ang Tjhitkong,
itu pemimpin besar dari Kay-pang atau persatuan kaum
jembel.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Selama ini tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe" ini dia latih
dengan giat, apalagi ditambah kegiatan latihan selama belasan
tahun ini, maka tekanan pukulan ini boleh dikata sudah
sampai di" puncak yang paling sempurna.
Pada mula-mula dia dorong ke depan tampaknya seperti
seenaknya saja dan enteng sekali, tetapi bila ketemukan
tenaga rintangan, maka dalam sekejap saja beruntun-runtun
bisa bertambah dengan tiga belas tenaga susulan yang satu
lebih kuat dari pada yang lain secara ber-tumpuk2, sungguh
tiada sesuatu yang tak bisa dihancurkan dan tiada lawan yang
tak bisa dirobohkan.
Puncak kesempurnaan tipu pukulannya ini dipelajari dan
diketemukan dia dari dalam kitab ilmu silat Kiu-im-cin-keng,
suatu kitab yang selamanya dibuat sasaran perebutan diantara
lima tokoh tersebut di atas, sekalipun Ang Tjhit-kong dahulu,
kalau cuma tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe" ini saja juga
tidak selihay seperti Kwe Ceng sekarang ini.
Dalam pada itu baru saja Auwyang Hong berhasil bikin
terpental Kwa Tin-ok, segera terasa olehnya ada samberan
angin yang datang dari muka, meski tenaga samberan angin
itu tak begitu kerns, tetapi pernapasannya toh sesak hingga
susah bernapas sebagai seorang jago kelas satu, ia tahu
keadaan berbahaya, maka lekas-lekas ia sedikit berjongkok,
menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan sambil
mulutnya mengeluarkan suara "kok", ini adalah ilmu "Ha-mokang",
ilmu weduk kodok yang menjadi kebanggaan seumur
hidupnya.
Oleh karena itu, saling beradunya tiga telapak tangan tak
bisa dihindarkan lagi, namun tubuh kedua orang hanya samasama
tergetar saja dan tidak sampai ada yang terguling.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi Kwe Ceng tidak berhenti sampai di situ saja,
dengan cepat ia tambahi tenaga pukulannya yang susu)-
menyusul dan satu lebih kuat dari pada yang lain seperti
gelombang ombak yang bergulung-gulung kepantai.
Sebaliknya dari mulut Auwyang Hong pun tiada hentinya
terdengar suara "kok-kok-kok" yang keras, tubuhnya kelihatan
bergoyang-goyang, agaknya setiap saat bisa terbanting roboh
oleh daya tekanan Kwe Ceng.
Tapi sungguh aneh, semakin kuat dan semakin bertambah
daya tekanan tenaga pukulan Kwe Ceng, maka tenaga
tangkisannya yang membalik dari Auwyang Hong juga ikut
bertambah menurut kebutuhan.
Sudah ada belasan tahun mereka berdua ini tidak ukur
tenaga, kini bertemu kembali didaerah Kanglam, dengan
sendirinya masing-masing ingin bisa menjajal sampai di mana
kemajuan pihak lain.
Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di
Hoa-san tatkala itu Kwe Ceng masih bukan tandingan
Auwyang Hong, tetapi sesudah sekian lama, berpisah dan
kemajuannya yang pesat, ilmu silat Kwe Ceng boleh dikatakan
telah sampai tarap yang paling masak, Namun demikian
Auwyang Hong yang berlatih ilmu dari kitab "Kiu-im-cin-keng"
secara terbalik (peristiwa diakali Ang Tjhit-kong hingga
Auwyang Hong tertipu dan mempelajari Kiu-im cin-keng
secara terbalik kelak akan diceritakan), dengan sendirinya juga
ada kemajuan tertentu, yang satu betul dan yang lain terbalik,
akhirnya tetap yang betul menangkan yang terbalik, maka
dengan saling labraknya sekarang, Kwe Ceng sudah bisa
melawan orang dengan sama kuat.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Supaya tahu bahwa atap rumah di daerah utara jauh
berlainan dengan daerah selatan, Oleh karena harus menahan
salju di musim dingin, maka atap rumah daerah utara dibuat
dengan sangat kuat dan kokoh, tetapi di daerah aliran sungai
Hoay karena genteng yang disusun secara tindih-menindih,
maka atap yang genteng tetapi praktis.
Auwyang Hong saling ukur tenaga, mereka harus salurkan
tenaga pada kedua kaki agar bisa berdiri dengan kokoh. Diluar
dugaan, selang beberapa lama terdengarlah suara "kreyatkreyot"
di bawah kaki mereka, menyusul mana terdengar pula
suara "kraaak" yang keras secara tiba-tiba, tahu-tahu
beberapa usuk rumah telah patah hingga anjlok ke bawah,
atap rumah itu berlubang hingga kedua orang yang saling adu
tenaga itu sama-sama kejeblos ke bawah.
Ui Yong kaget sekali oleh kejadian ini, lekas-lekas ia
menyusul turun melalui lubang atap rumah itu, namun segera
terlihat olehnya kedua orang itu masih tetap tangan beradu
tangan, sedang kaki mereka menginjak pada beberapa usuk
yang patah tadi, sebaliknya usuk-usuk itu justru menindih di
atas badan seorang tamu hotel penghuni kamar yang ketiban
malapetaka itu.
Mungkin saking kaget dan saking sakitnya oleh "rejeki
tiban" itu, tamu hotel yang sial itu telah jatuh pingsan.
Buat Kwe Ceng sebenarnya tidak sampai hati bikin celaka
orang lain yang tak berdosa, tetapi Auwyang Hong tidak
pusingkan mati hidup orang lain, Kekuatan mereka
sebenarnya seimbang, tetapi kini Kwe Ceng harus pikirkan
orang yang ketindih itu dan tak tega tambahi tenaga
injakannya sehingga tenaga yang saling adu itu tidak
mendapatkan tempat sandaran yang kuat, maka lambat laun
ia mulai terdesak di bawah angin.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat tubuh sang suami rada mendoyong ke belakang,
meski hanya mundur sedikit saja, Ui Yong sudah tahu Kwe
Ceng bakal kecundang.
"He, Thio-sam-Li-si, Tio-ngo-Ong-liok, awas pukulan!"
demikian ia lantas berteriak Menyusul tampaknya ia ayun
sebelah tangannya menabok ke pundak Auwyang Hong.
Meski tampaknya sangat enteng pukulannya ini, tetapi
justru adalah pukulan lihay dari ilmu pukulan "Lok-eng-ciohoat".
Bila sampai kena digebuk, maka tenaga pukulannya
akan terus meresap sampai kebagian dalam tubuh, sekalipun
jago silat kelas berat seperti Auwyang liong pasti juga akan
terluka parah.
Akan tetapi Auwyang Hong bukan Se-tok kalau dia
gampang dipukul. Semula ia memang terkejut sejenak ketika
mendengar orang menyebut namanya yang aneh dan tak
keruan itu, tetapi demi mendadak nampak pukulan orang tiba,
secepat kilat ia dorong tangannya sekuat tenaganva, ia desak
tenaga tangan Kwe Ceng dahulu, habis ini ia putar tangannya
dan berhasil mencengkeram pundak Ui Yong, ia kumpul
tenaga dalam pada ujung jarinya untuk merobek kulit daging
lawan.
Cengkeraman maut ini sekaligus telah bikin tiga orang
terkejut berbareng, Yakni Auwyang Hong, Kwe Ceng dan Ui
Yong.
Auwyang Hong segera merasakan ujung jarinya tidak
kepalang sakitnya, kiranya ia telah kena menjambret pada duri
lancip "kutang berduri landak" yang dipakai Ui Yong dibagian
dalam. Tetapi karena luar biasa kuat tenaga jarinya, dengan
sekali jambret tak kurang duri landak yang terbuat dari
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
anyaman benang emas dan tak mempan senjata itu kena
terobek sepotong.
Pada waktu itu juga tenaga pukulan Kwe Ceng sudah
mendatang lagi setelah didorong oleh Auwyang Hong tadi,
dengan sendirinya Auwyang Hong kembali menyambut
dengan telapak tangannya, maka terdengarlah suara "plak"
yang keras, kedua orang sama-sama mundur dengan cepat,
menyusul tertampaklah debu pasir berhamburan, dinding
roboh dan rumah ambruk.
Kiranya beradunya tangan kedua orang tadi benar-benar
keras lawan keras dengan sepenuh tenaga sehingga kedua
pihak sama-sama tersentak mundur, tetapi mundurnya
mereka telah membobol dinding tembok sampai keluar, sebab
itulah setengah dari atap rumah itu telah ambruk dan
menerbitkan suara gemuruh.
Ui Yong sendiri yang pundaknya kena dijambret meski
belum sampai terluka, namun tidak urung iapun terkejut
sekali, dalam seribu kerepotannya syukur ia masih sempat
melayang keluar dari rumah yang roboh separoh itu.
Setibanya di luar, terlihat olehnya jarak antara Auwyang
Hong dan Kwe Ceng tidak lebih hanya setengah tombak saja,
mereka sama-sama berdiri tegak tanpa bergerak, terang
mereka sudah terluka dalam semua.
Ui Yong tak pikirkan untuk menyerang musuh lagi lebih
dulu ia mendekati sang suami untuk melindunginya. Dalam
pada itu ia lihat kedua orang ini sama-sama pejamkan mata
sedang menjalankan pernapasan: lalu terdengar suara batuk
dua kali, tanpa berjanji kedua orang itu sama muntahkan
darah segar berbareng.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Haha, sungguh hebat, sungguh hebat!" teriak Auwyang
Hong tiba-tiba. Habis ini, disertai gelak-ketawa yang keras
memanjang, ia lantas bertindak pergi dan sekejap saja sudah
menghilang tanpa bekas.
Sementara itu berhubung terjadinya onar ini dan karena
tetamu yang ketimpa malang tadi, di dalam hotel menjadi
geger dan ribut.
Ui Yong tahu tempat ini tak bisa ditinggali terus, maka ia
lantas gendong Kwe Hu, lalu kepada Tin-ok ia berkata: "Suhu,
harap kau payang engkoh Ceng, marilah kita berangkat saja!"
Sesudah tak lama mereka berialan, tiba-tiba Ui Yong
teringat pada Nyo Ko, ia tidak tahu anak ini telah kabur
kemana, karena kuatirkan luka yang diderita suaminya,
urusan-urusan lain terpaka dikesampingkannya dahulu.
Pikiran Kwe Ceng pun cukup terang, lantaran
pernapasannya kena tekanan tenaga pukulan Auwyang Hong,
maka ia merasa sesak dan susah buat buka mulut, Setelah
atur napas dengan menggemblok di atas pundak Kwa Tin-ok,
sesudah jalan tujuh atau delapan li akhirnya semua urat
nadinya berjalan lancar kembali.
"Sudah baik, Suhu," katanya kemudian.
"Sudah tiada apa-apa?" tanya Kwa Tin-ok sambil
melepaskannya.
"Ya, tidak apa-apa," sahut Kwe Ceng, "Sungguh lihay
sekali!"
Dalam pada itu terlihat puterinya yang semalam suntuk
tak tidur, mungkin saking letihnya kini sedang tertidur
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
nyenyak di atas pundak sang ibu, hatinya menjadi terkesiap
dan ingat sesuatu.
"He, di manakah Ko-ji?" ia tanya cepat.
Meski Kwa Tin-ok mengerti adanya anak muda itu, tapi dia
belum tahu siapa namanya, maka pertanyaan Kwe Ceng ini
membuatnya bingung tak bisa menjawab.
"Jangan kuatir. kita cari suatu tempat dulu untuk
mengaso, habis itu baru kita pergi mencarinya lagi," sahut Ui
Yong.
Sementara itu fajar sudah menyingsing pemandangan
sekitar jalan remang-remang sudah kelihatan.
"Lukaku tak berhalangan, marilah kita pergi mencarinya,"
ujar Kwe Ceng.
"Anak ini luar biasa cerdiknya, tak perlu kau kuatir
baginya," jawab Ui Yong mengkerut kening.
Baru berkata sampai di sini, sekonyong-konyong
tertampak olehnya belakang tembok bobrok di tepi jalan sana
bayangan orang berkelebat dengan cepat, hanya melongok
terus mengkeret lagi.
Mana bisa Ui Yong dikelabui, gerak tubuhnya pun cepat
luar biasa, dengan gesit ia melompat ke sana terus
menjambret siapa lagi dia kalau bukan si Nyo Ko yang mereka
bicarakan itu.
Meski sudah konangan, bocah ini hanya tertawa haha-hihi
saja.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Kalian baru sampai, bibi? Sudah lama aku me...
menunggu di sini."
Nampak kelakuan anak muda ini, hati Ui Yong, merasa
curiga, maka sekenanya ia menjawab: "Ya,, marilah kau ikut
berangkat!"
Nyo Ko ketawa terus ikut di belakang mereka.
"Kemana kau telah pergi ?" tiba-tiba Kwe Hu bertanya.
"Aku pergi mencari jangkerik, wah, senang sekali," sahut
Nyo Ko.
"Apanya yang menyenangkan ?" ujar Kwe Hu.
"Hm, siapa bilang tidak menyenangkan ?" Nyo Ko
menjengek "Ada seekor jangkerik besar telah tarung melawan
tiga jengkerik kecil, kemudian datang pula dua jangkerik kecil
lain membantu kawannya, pertandingan menjadi lima
jangkerik kecil melawan satu jangkerik besar, Yang besar ini
melompat kian kemari, yang ini diselentik dengan kakinya,
yang sana digigit mulutnya."
Menutur sampai disini, tiba-tiba Nyo Ko berhenti, ia tidak
melanjutkan lagi.
Dilain pihak Kwe Hu rupanya menjadi ketarik oleh cerita
itu hingga ia ternganga, "Lalu, bagaimana ?" tanpa tertahan ia
tanya ketika orang tidak melanjutkan ceritanya.
"Tadi kau bilang tidak menyenangkan, kenapa sekarang
kau tanya?" sahut Nyo Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Jawaban ini membuat Kwe Hu menjadi marah, segera ia
berpaling ke jurusan lain dan tidak gubris Nyo Ko lagi.
Siapa tahu hati mudanya Ui Yong ternyata belum hilang
sama sekali, ketika mendengar cerita Nyo Ko itu, cukup
tegang dan menarik, pula Nyo Ko memang pandai bicara,
maka iapun tak tahan dan lantas tanya: "Coba terangkan pada
bibi, akhirnya mana yang menang?"
Nyo Ko ketawa oleh pertanyaan orang. Dengan gampang
dan secara diplomatis ia menjawab: "Pada saat yang sangat
menarik itu, kalian keburu datang hingga semua jangkerik itu
lari."
Melihat lagak anak ini, Ui Yong tahu ia sengaja jual mahal,
ia pikir anak ini memang pandai dan banyak akal, dari
kejadian kecil ini saja kelihatan hal ini.
Tengah bicara, sementara mereka sudah sampai di suatu
desa.
Meski Kwe Ceng terluka dalam, tapi ia masih gagah dan
bisa bergerak leluasa, maka ia telah mohon bertemu dengan
tuan rumah pada satu gedung besar.
Tuan rumah itu ternyata sangat simpatik dan suka terima
tamu, ketika mendengar ada orang luka dan sakit, lekas ia
perintahkan centingnya menyediakan kamar tamu.
Setelah makan, kemudian Kwe Ceng duduk bersila di
pembaringannya buat merawat lukanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat pernapasan sang suami teratur dan semangatnya
segar, Ui Yong tahu sudah tiada bahaya lagi. Waktu ia
lepaskan baju luar dan diperiksa, ia lihat kutang lemas berduri
landak yang dia pakai di lapis dalam itu terobek sebagian
persis di atas pundaknya, sungguh sayang sekali dan terasa
kaget pula, Kutang wasiat ini adalah pusaka Tho-hoa-to yang
menjadi pusaka ayahnya pula, benda ini sudah beberapa kali
telah menolong jiwanya dari ancaman maut, tak terduga hari
ini bisa terusak ditangan Auwyang Hong.
Sambil duduk menjaga disamping suaminya, Ui Yong
meng-ingat-ingat kelakuan Nyo Ko sejak bertemu, Entah
mengapa, ia selalu merasa meski anak ini masih kecil usianya,
tetapi banyak sekali terdapat hal-hal aneh pada diri anak itu
yang sukar dimengerti.
Teringat olehnya pada waktu Bu Sam-thong terjungkal ke
bawah oleh hantaman Auwyang Hong, kalau tidak salah ia
melihat Nyo Ko berdiri menonton di sebelah samping,
kemudian ketika dirinya suami isteri bergebrak melawan
Auwyang Hong, tertampak juga Nyo Ko masih berdiri di atas
atap rumah, begitu juga pada waktu Kwe Ceng dan Auwyang
liong terjeblos ke bawah, bocah itupun masih berdiri di
ttmpatnya. Kenapa anak ini punya nyali begitu be-s,ir?
Mengapa ia tidak takut ? Dan kenapa Auwyang Hong pun
tidak mencelakai dia?
Paling akhir sesudah Kwe Ceng dan Auwyang Hong
menderita luka, dalam keadaan ribut-ribut anak itu mendadak
menghilang untuk kemudian muncul l?gi ditengah jalan.
Ui Yong biasa berpikir secara teliti, ia pikir tidak perlu
tanya dia sekarang, asal seterusnya ge-rafc-geriknya diawasi
saja.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah, siang hari telah lalu, petangnya sesudah
bersantap mereka lantas pergi mengaso sendiri-sendiri.
Nyo Ko tidur sekamar dengan Kwa Tin-ok, sampai tengah
malam, diam-diam ia bangun, ia membuka pintu kamar dan
ngeluyur keluar. Waktu ia menoleh, ia lihat Kwa Tin-ok sedang
menggeros nyenyak.
Maka dengan berindap-indap ia mendekati pagar tembok,
ia panjat ke atas satu pohon, dari sini ia melompat ke atas
pagar tembok dan kemudian merosot turun keluar dengan
pelahan.
Mencium bau manusia, dua ekor anjing di luar pagar itu
menyalak, Tetapi Nyo Ko sudah siap sedia, dari bajunya
dikeluarkan dua tulang daging yang dia sengaja simpan pada
siang harinya, dia lemparkan pada anjing-anjing itu. Dapat
tulang daging, anjing-anjing itu lupa, akan manusianya dan
segera berhenti menyalahi untuk gerogoti tulang-tulang itu.
Setelah pilih jurusannya, kemudian Nyo Ko menuju ke arah
barat-daya, setelah beberapa li ia tempuh, akhirnya sampailah
dia pada sebuah kelenteng bobrok, ia dorong pintu kelenteng
itu dan masuk ke dalam.
"Ayah !" demikian ia lantas memanggil.
Maka terdengarlah suara sahutan yang berat dari dalam,
yang ia kenali adalah suara Auwyang Hong.
Girang sekali Nyo Ko, ia mendekatinya, ia lihat Auwyang
Hong rebah di atas beberapa kasuran bundar di depan patung
pemujaan, keadaannya loyo dan napasnya lemah.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya keadaan luka yang diderita Auwyang Hong serupa
dengan Kwe Ceng, cuma Kwe Ceng masih muda kuat,
sebaliknya ia sudah lanjut usianya, dengan sendirinya daya
tahannya jauh kalah daripada Kwe Ceng.
"Makanlah ini, ayah", sementara Nyo Ko berkata lagi
sambil mengeluarkan beberapa bakpau dan diserahkan pada
Auwyang Hong.
Memangnya Auwyang Hong sudah kelaparan sehari
suntuk, ia hendak keluar, tapi kuatir kepergok musuh, maka
sepanjang hari ia terus sembunyi di dalam kelenteng bobrok
ini dengan kelaparan, kini sesudah beberapa bakpau ia
jejalkan ke dalam perutnya, segera semangatnya terbangkit
kembali.
"Dimanakah mereka berada kini ?" ia tanya.
Maka berceritalah Nyo Ko apa yang diketahuinya.
Ketika Nyo Ko bermalam di hotel bersama Kwe Ceng,
tengah malam kembali Auwyang Hong datang menjenguk
padanya.
Tak terduga malam itu Bu Sam-thong yang terluka oleh
pukulan Li Bok chiu juga kebetulan menginap di hotel yang
sama. Oleh karena bekerjanya racun di tubuhnya akibat
pukulan Li Bok-chiu itu, semalam suntuk ia kelabakan tak bisa
tidur, ketika mendadak mendengar di atas rumah ada suara
keresekan, Bu Sam-thong menyangka Li Bok-chiu telah
menyusul datang lagi, maka tanpa menghiraukan luka yang
sudah dideritanya segera ia lompat ke atas rumah untuk
menghadapi musuh.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Di luar dugaan, musuh baru itu tidak datang, sebaliknya
yang dihadapi adalah musuh kawakan. Dahulu Auwyang Hong
hendak menghancurkan ilmu silat Toan Hong-ya untuk itu
pernah sengaja ia melukai Bu Sam-thong dengan pukulan
yang berbisa.
Kini demi berhadapan lagi, musuh yang sudah lama
ditunggu ini membikin mata Bu Sam-thong merah berapi,
tanpa pikir lagi segera ia labrak maju.
Dengan sendirinya sekali-kali Bu Sam-thong bukan
tandingan Auwyang Hong, baru bergebrak belasan jurus ia
sudah kena dihantam sekali hingga terjungkal ke bawah
rumah.
Waktu datangnya Auwyang Hong ke hoicl itu Nyo Ko
memang sudah mendusin, tatkala ayah angkatnya ini berturut-
urut bergebrak dengan Bu Sam-thong dan suami isteri
Kwe Ceng dan Ui Yong, selama itu Nyo Ko terus berdiri
menonton di samping.
Kemudian setelah Auwyang Hong dan Kwe Ceng samasama
terluka dan ada orang yang memperhatikan dirinya,
maka diam-diam ia telah menyusul Auwyang Hong.
jalannya Auwyang Hong mula-mula sangat cepat, sudah
tentu Nyo Ko tak mampu menyandaknya, tetapi sesudah
lukanya bekerja hingga melangkah saja terasa susah, maka
dapatlah Nyo Ko menyusul dan memayangnya ke kelenteng
bobrok.
Walaupun umur Nyo Ko masih kecil, tetapi segala hal
ternyata ia paham, ia tahu kalau dirinya tidak kembali tentu Ui
Yong dan Kwa Tin-ok cs. akan mencarinya, jika terjadi begini
tentu akan membahayakan jiwa Auwyang Hong yang terluka
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
parah itu, maka lebih dulu ia telah tunggu orang di tepi jalan
hingga akhirnya bertemu lagi dengan Kwe Ceng dan tengah
malam ia datang pula menjenguk ajah angkatnya lagi,
Begitulah sesudah dengar penuturan Njo Ko baru Auwyang
Hong merasa lega, Tetapi bila teringat olehnya Kwa Tin-ok
tidak berhasil dia binasakan pada siangnya, kembali ia menjadi
kuatir.
"Orang she Kwe itu telah merasakan pukulanku, dalam
tujuh hari terang dia tak akan bisa sembuh," demikian katanya
kemudian, "lsterinya harus melayani suaminya. tentu tak
berani sembarang tinggal pergi, maka kini kita hanya
kuatirkan si buta she
Kwa seorang saja. Kalau malam ini dia tidak datang, pasti
besok dia akan mencari kesini, sungguh sayang sedikitpun aku
tak bertenaga, Ai, aku sudah membunuh lima saudara
angkatnya, kalau kini aku mati di tangannya rasanya juga...
juga..."
Berkata sampai disini, ia lantas terbatuk-batuk.
Sementara itu Nyo Ko duduk di lantai dengan tangan
menunjang janggut, sekejap itu saja timbul macam-macam
pikirannya. ia lihat Auwyang Hong rebah dengan kedua tangan
digunakan sebagai bantah meski rebah dengan melintang,
tetapi kedua kaki orang tua ini masih tetap pasang kuda-kuda
seperti biasanya kalau berlatih ilmu Ha-mo-kang, jadi kudakudanya
mirip kodok saja.
"Ah, aku ada akal," tiba-tiba Nyo Ko berpikir, "biar aku
taruh beberapa macam benda tajam di atas lantai, kalau si
buta itu masuk begitu saja, biar dia merasakan sedikit luka
dahulu."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena pikiran ini, segera ia turunkan empat buah Cektay,
yakni tempat menancapkan lilin yang biasa dipakai di meja
sembahyang, ia buang sisa lilinnya, ia pasang cektay di mulut
pintu secara berjajar dengan bagian yang lancip tajam
menghadap ke atas, Habis ini ia tutup pintu kelenteng itu
dengan setengah rapat, lalu ia angkat sebuah Hio-lo (tempat
abu) yang terbuat dari besi, ia manjat ke atas dan pasang Hiolo
itu di atas daun pintu yang setengah rapat itu,
Kemudian ia memeriksa sekitarnya lagi, ia ingin
mendapatkan jebakan lain yang bisa dipasang untuk pedayai
orang, tetapi tiada yang terdapat lagi kecuali di atas ruangan
kelenteng bagian timur dan barat masing-masing tergantung
sebuah genta raksasa.
Begitu besar genta itu hingga sedikitnya lebih dua ribu kati
beratnya dan tidak cukup dirangkul tiga orang sejajar. Di atas
genta masing-masing terdapat satu gantolan besi yang sangat
besar pula dan terikat kencang di atas kerangka kayu yang
terbuat dari balok-balok besar.
Kelenteng ini rupanya sudah sangat tua dan bobrok, tetapi
kedua genta raksasa ini karena pembikinannya sangat kokoh
dan kuat maka masih dalam keadaan baik.
"Jika betul-betul si buta she Kwa itu masuk ke sini, aku
nanti manjat ke atas kerangka genta itu, tanggung dia tak
akan bisa ketemukan aku," demikian Nyo Ko berkata dalam
hati.
Waktu Nyo Ko hendak pergi ke bagian belakang untuk
mencari sesuatu alat senjata yang cocok baginya, tiba-tiba
terdengar dari jalan besar di luar berkumandang suara "taktek-
tak-tek" yang diterbitkan oleh ketokan tongkat "besi".
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Air muka Nyo Ko seketika berubah, ia tahu betul-betul Kwa
Tin-ok telah datang, maka cepat ia sirapkan api lilin. Tapi
segera ia ingat perbuatannya ini hanya berlebihan saja, ia
pikir: "Mata si buta itu tak bisa melihat sebenarnya tidak perlu
aku padamkan lilin."
Dalam pada itu suara "tak-tek" tadi sudah makin dekat,
mendadak Auwyang Hong bangkit berduduk, ia hendak
kumpulkan seluruh tenaga yang masih ada padanya itu di
tangan kanannya, ia hendak mendahului musuh dengan sekali
pukul membinasakannya.
Nyo Ko sendiri juga berdebar-debar, ia pegang Cek-tay itu
dengan bagian lancip menghadap keluar, ia jaga disamping
Auwyang Hong siap melawan musuh.
Memang tidak salah suara "tak-tek" tadi adalah suara
tongkat Kwa Tia-ok yang mengetok-ngetok tanah bila
berjalan.
Meski mata Tin-ok buta, tetapi orangnya luar biasa
cerdiknya, ia menduga sesudah Auwyang Hong terluka, pasti
akan sembunyi di sekitar tempat ini, maka sebelum bersantap
malam, di tempat pondok nya ia sudah mencari tahu dengan
jelas bahwa di sekitar sini hanya terdapat sebuah kelenteng
kuno yang bobrok, kecuali ini hanya rumah penduduk melulu,
maka ia sudah menaksir sembilan bagian pasti Auwyang Hong
sembunyi di dalam kelenteng ini.
Bila teringat olehnya kelima saudara angkatnya semua
dibinasakan Auwyang Hong secara keji di pulau Tho-hoa, kini
ada kesempatan bagus untuk menuntut balas, sudah tentu
tidak dia lewatkan begitu saja. Maka setelah tengah malam,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dengan pelahan kemudian ia memanggil-manggil: "Ko-ji, Ko-ji
!"
Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban, ia sangka tentu
anak ini sedang nyenyak tidur, maka ia tidak mendekatinya
lagi buat periksa melainkan terus keluar rumah pondok
dengan melompati pagar tembok. Kedua anjing tadi masih
menggerogoti tulang yang dilempar Nyo Ko itu, maka
munculnya Kwa, Tin-ok tidak di-gonggong mereka, hanya
terdengar suara geraman saja beberapa kali untuk kemudian
menggeragoti tulang lagi.
Perlahan-lahan, akhirnya sampai juga di depan kelenteng
itu, ketika Kwa Tin-ok pasang kuping, betul saja di ruangan
dalam terdengar ada suara bernapasnva orang.
"Hayo, Auwyang Hong, Si buta she Kwa sudah berada di
sini, kalau kau jantan, lekas keluar!" segera ia berteriak
menantang.
Sambil berkata, ia ketok tongkatnya ke tanah dengan
keras.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menyahut, ia kuatir
tenaga yang sudah dikumpulkan sejak tadi itu gembos, maka
tak berani ia buka suara.
Setelah berteriak-teriak beberapa kali lagi dan tetap tiada
jawaban, akhirnya Kwa Tin-ok menjadi tak sabar, begitu ia
angkat tongkatnya, segera ia dorong pintu kelenteng terus
melangkah masuk.
Tak tersangka, mendadak terasa olehnya ada samberan
angin yang berat, semacam benda antap tahu-tahu,
menghantam dari atas kepalanya, berbareng itu pula kaki
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kirinya yang melangkah masuk itu tepat menginjak pada
tancapan lilin yang tajam itu hingga sol sepatunya tembus,
telapak kakinya seketika kesakitan,
Karena matanya buta, sesaat itu Kwa Tin-ok tidak
mengerti apa yang terjadi, hanya lekas-lekas ia ayun
tongkatnya ke atas, maka terdengarlah suara "trang" yang
keras dan nyaring memekak telinga, Hio-lo yang jatuh dari
atas itu kena dia hantam hingga terpental, menyusul ini ia
jatuhkan diri pula agar kakinya tidak sampai tertancap tembus
oleh benda tajam tadi.
Tak ia duga bahwa disamping lain masih terdapat
beberapa Cektay pula yang sama tajamnya, keruan segera
pundaknya terasa sakit sebuah tancapan lilin itu telah
menusuk tubuhnya, Ketika ia pegang Cektay itu dan dicabut
keluar, maka mengucurlah darah membasahi pakaiannya.
Ia tak berani lagi cerohoh, ia pasang kuping pula dan
dapat mendengar suara bernapasnya Auwyang Kong, maka
setindak demi setindak ia maju pelahan, sekira tiga kaki
dihadapan orang, segera ia angkat tongkatnya ke atas.
"Ayo, Lo-ok but (Si binatang tua berbisa), sekarang apa
yang hendak kau katakan lagi?" bentak Tin-ok.
Sementara itu Auwyang Hong sudah kumpulkan seluruh
tenaga yang ada padanya dan dipusatkan pada telapak tangan
kanannya, ia tunggu bila tongkat Hui-thian-pian-hok benarbenar
mengemplang, maka sekaligus iapun akan
menghantamnya, dengan demikian supaya binasa ber-samasama.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitu!ah karena sama-sama tidak mau serang lebih dulu,
mereka berdua menjadi berdiri berhadapan saja dan samasama
tidak bergerak.
Kemudian dengan telinga Tin-ok yang tajam, akhirnya ia
dengar suara napas orang yang berat dan sesak, tiba-tiba
terkilas pula suara dan wajah kelima saudara angkatnya: Cu
Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin dan Han Siaueng, yang menjadi
korban Auwyang Hong, yang seolah-olah muncul dan beramairamai
sedang menganjurkan padanya agar lekas turun tangan,
Oleh karena itu, tidak bisa tahan lagi, dengan sekali geraman
yang keras, dengan gerak tipu "Cin-ong-pian-sek" (raja Cin
merangket batu), Tin-ok ayun tongkatnya menggepruk ke atas
kepala orang.
Namun Auwyang Hong masih keburu berkelit, dan selagi ia
hendak lontarkan hantaman balasan, tetapi apa daya?
Keinginan ada, tenaga kurang. Baru tangannya terangkat atau
napasnya sudah tak bisa menyambung lagi, keruan ia menjadi
lemas hingga ngusruk jatuh.
Maka terdengarlah suara "bang" yang keras dibarengi
dengan muncratnya lelatu api, ujung tongkat Kwa Tin-ok telah
menghancurkan beberapa ubin hingga hancur.
Kwa Tin-ok tidak memberi kelonggaran pada lawannya,
sekali serang tidak kena, serangan kedua segera menyusul
pula, kini tongkatnya menyerampang dari samping,
jika dalam keadaan biasa, serangan Kwa Tin-ok ini cukup
Auwyang Hong sambut dengan sedikit senggol saja pasti akan
bikin tongkat terpental dari cekalan atau paling tidak dapat
pula menghindar dengan melompat ke atas.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi kini seluruh badan Auwyang Hong lemas linu,
tenaga sedikitpun tak bisa dikeluarkan, terpaksa untuk kedua
kalinya ia harus robohkan diri dengan menggelinding
kesamping.
Dalam pada itu dengan cepat Kwa Tin-ok sudah mainkan
ilmu tongkat "Hang-mo-tiang-hoat" (ilmu tongkat penakluk
iblis), ia menyerang dengan hebat, satu serangan lebih cepat
dari serangan yang lain, sebaliknya gerak-gerik Auwyang liong
makin lama semakin lamban dan kaku, hingga akhirnya mautak-
mau ia kena digebuk sekali dipundak kirinya.
Menyaksikan pertarungan ini, hati Nyo Ko menjadi
berdebar-debar, maksud hatinya hendak maju membantu
sang ayah angkat, tetapi apa daya, ia mengerti ilmu silat
sendiri terlalu cetek dan tidak tahan sekali digebuk musuh,
kalau berani ikut-ikut maju, maka tiada bagian lain kecuali
antar nyawa belaka, Tetapi ia saksikan tongkat Kwa Tin-ok
susul menyusul kena menghantam di atas badan Auswyang
Hong, ia menjadi ngeri pula.
Agaknya memang sudah nasib Auwyang Hong yang harus
alami ajaran ini, untung dia bukan jago silat sembarangan ia
punya tenaga dalam yang terlatih tinggi sekali, meski dalam
keadaan tak mampu membalas, tetapi ia masih mampu
mematahkan serangan orang, tiap-tiap tenaga gebukan yang
Kwa Tin-ok lontarkan selalu dia singkirkan kesamping, meski
tubuhnya kena dihajar hingga babak-belur, tetapi jerohannya
tiada yang terluka.
Diam-diam Kwa Tin-ok menjadi heran, dalani hati ia pikir
"Lo-tok-but" atau Si-binatang tua berbisa (julukan Auwyang
Hoag) ini sungguh bukan main lihaynya, tiap-tiap hantaman
tongkatnya ternyata seperti mengenai kasur saja, hanya
mengeluarkan suara ""bluk" yang keras, tetapi Auwyang Hong
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
seperti tidak berasa saja, ia pikir kalau tidak hantam bagian
kepalanya, meski seribu kali gebuk lagi belum tentu bisa
mampuskan dia. Tidak ayal lagi Kwa Tin-ok lantas ayun
tongkatnya semakin cepat, kini yang dia incar hanya kepala
orang.
Bermula Auwyang Hong masih bisa mengkeret kepalanya
untuk menghindar beberapa kali serangan itu, tetapi sekejap
kemudian ia sudah terkurung rapat dibawah samberan angin
tongkat musuh yang selalu berkisar di tepi telinganya saja,
keruan ia me-ngeluh, ia mengerti kalau sampai kepalanya
kena di-kemplang, dapat dipastikan akan mati seketika.
Sementara itu ia lihat tongkat Kwa Tin-ok telah
mengemplang lagi, dalam keadaan kepepet terpaksa Auwyang
Hong harus ambil risiko dan adu untung bukannya hindarkan
diri lagi, sebaliknya mendadak ia menubruk maju, dengan
kencang ia berhasil jam-bret dada orang.
Tentu saja tidak kepalang kaget Kwa Tin-ok, dalam
gugupnya ia sempat gunakan gagang tongkatnya menyodok
ke punggung orang, Tentu saja hantaman ini tak bisa
dihindarkan Auwyang Hong.
Terdengar suara tertahan, Auwyang Hong terkena
hantaman itu mentah-mentah, luar biasa sakit punggungnya
hingga hampir-hampir ia kelengar.
Sebaliknya Kwa Tin-ok mengira hantamannya itu tak
berguna sama sekali dan tidak mampu melukai lawan lagi,
seketika ia menjadi habis akal, terpaksa dengan tangan kiri ia
jambret orang. Harus diketahui bahwa sebelah kaki Kwa Tinok
memang pincang, ia bisa menubruk dan menyerang karena
bantuan imbangan tongkatnya, kini karena tubuhnya kena
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dirangkul orang, maka setelah sekali dua kali gebrak, akhirnya
tak sanggup lagi ia berdiri tegak dan jatuh terguling.
Namun belum mau Auwyang Hong lepaskan jambretan di
dadanya, bahkan sebelah tangan yang lain ia hendak
merangkul pinggang Kwa Tin-ok, tetapi tiba-tiba ia merasa
tangannya menyentuh sesuatu benda keras, tidak ayal lagi ia
cabut dengan cepat, waktu dia tegasi, kiranya adalah sebilah
belati tajam.
Belati ini adalah senjata tinggalan Thio A Seng, salah satu
saudara angkat Kwa Tin-ok, namanya 'To-gu-to" atau belati
jagal sapi, meski namanya belati jagal, tetapi sebenarnya tidak
pernah dibuat sembelih sapi, Belati ini luar biasa tajamnya,
Karena Thio A Seng tewas di tangan Tan Lip-hong di daerah
monggol dahulu, belati ini lantas jatuh di tangan Kwa Tin-ok
dan selalu dibawanya seperti selalu berdampingan dengan
saudara angkatnya yang sudah tewas itu.
Mengetahui belati ini kena direbut Auwyang Hong dan
justru mereka dalam pergulatan secara mati-matian, keruan ia
terkejut, lekas-lekas ia ayun kepalan kiri menjotos sebelum
tikaman Auwyang sampai, karena jototan ini Auwyang Hong
terpelanting jatuh, menjusul mana tongkatnya Kwa Tjn-ok
segera menghantam pula.
Jotosan yang tepat kena pelipisnya itu membikin Auwyang
Hong merasa matanya berkunang-kunang, lekas-lekas ia ayun
tangannya, ia timpukan belati itu kepada musuh.
Kwa Tin-ok masih keburu berkelit, maka terdengarlah
suara "Trang" yang nyaring, kiranya belati itu dengan tepat
mengenai genta raksasa yang berada di tengah ruangan
kelenteng itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Meski sambitan Auwyang Hong itu tidak membawa tenaga
keras, tetapi saking tajamnya belati itu tingga menancap
masuk setengah senti di atas genta itu, gagang belatinya
sampai ter-goyang-goyang tiada hentinya.
Waktu itu kebetulan Nyo Ko berdiri di samping genta,
belati itu menyamber lewat hingga hampir-hampir pipinya
keserempet, dalam kagetnya lekas-lekas anak muda ini
memanjat ke atas kerangka genta dengan cepat.
Dipihak lain, tiba-tiba Auwyang Hong mendapat akal juga,
ia mertgitar ke belakang genta yang tergantung itu. Pada
waktu itu suara genta yang menggema masih belum lenyap,
Kwa Tin-ok hendak mendengarkan di mana Auwyang Hong
bernapas, maka dengan miring kepala dan pasang kuping ia
sedang mendengarkan secara teliti.
Di bawah sorotan sinar bulan, tertampaklah rambut orang
tua yang kusut ini sedang mendengarkan sambil menunjang
tongkat, sikapnya sangat menakutkan.
Nyo Ko memiliki otak sangat tajam, sesaat itu ia sudah
dapat mengetahui sebab musababnya, maka sekuatnya cabut
belati jagal sapi yang menancap tadi, lalu ia tabuh sekali lagi
genta itu dengan keras, maka terdengarlah suara "trang" yang
nyaring hingga suara pernapasan mereka berdua - Nyo Ko dan
Auwyang Hong - tertutup hilang.
Ketika mendadak mendengar suara genta lagi, dengan
cepat Kwa Tin-ok menubruk maju, namun Auwyang Hong
sudah memutar pergi lagi ke belakang genta, ketika Kwa Tinok
memukul dengan tongkatnya, tongkat itu mengenai genta
hingga kembali suara "trang" yang lebih keras menggema
sampai memekak telinga.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Suara keras yang susul-menyusul itu membikin anak
telinga Nyo Ko seakan-akan hendak pecah, maka sesaat itu
iapun tidak dengar suara lain, dalam pada itu Kwa Tin-ok telah
mengamuk, dengan ayun tongkatnya ia hantam genta terusmenerus
hingga suara genta semakin keras.
Melihat perbuatan orang, Auwyang Hong pikir tidak
menguntungkan dirinya, bila Kwa Tin-ok mengetok genta
terus, meski Kwe Ceng menderita luka, tetapi dikuatirkan Ui
Yong akan menyusul datang buat membantunya.
Oleh karenanya, pada saat suara genta berbunyi hebat itu,
secara berindap-indap pelahan ia bermaksud menggeluyur
pergi melalui pintu belakang.
Siapa duga telinga Kwa Tin-ok memang tajam sekali,
walaupun dalam menggemanya suara genta, masih bisa juga
ia membedakan suara yang lain, begitu ia dengar suara
menggeser tindakan Auwyang Hong, ia pura-pura tidak tahu,
ia masih ayun tongkatnya menabuh genta, ia menanti orang
sudah bertindak pergi beberapa tindak dan sudah agak jauh
meninggalkan genta, mendadak ia lantas melompat maju, ia
ajun tongkatnya terus mengemplang kepala orang",
Meski Auwyang Hong sudah kehilangan daya tahannya,
tetapi selama hidupnya entah sudah mengalami berapa
banyak badai dan tipumenipu diwaktu bertempur dengan
sendirinya ia sudah berjaga-jaga. Ma-ka begitu melihat tubuh
orang bergerak, segera ia tahu maksud Kwa Tin-ok, belum
sampai tongkat orang mengemplang atau lebih dulu ia sudah
sembunyi kembali ke belakang genta.
Keruan Kwa Tin-ok menjadi gusar, "Biarpun aku tak bisa
pukul mampus kau, pasti juga aku akan bikin kau mati letih !"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
demikian teriaknya murka, Habis ini dengan mengitar genta
segera ia mengudak.
Nampak kedua orang itu berkejaran mengitari genta, Nyo
Ko insaf apabila waktu berlarut-larut, pasti Auwyang Hong
akan kehabisan tenaga, sedang keadaan sudah sangat
berbahaya. Tiba-tiba ia mendapat satu akal, dari atas
kerangka genta ia geraki kedua tangannya memberi isyarat.
Waktu itu Auwyang Hong sedang curahkan seluruh
perhatiannya untuk menghindari udakan musuh, maka ia
belum lihat kode orang, setelah mengitar dua kalangan lagi
baru kemudian ia lihat bayangan Nyo Ko di lantai yang lagi
memberikan tanda supaya dia menyingkir semula ia tidak
mengerti apa maksud anak muda ini, tetapi ia pikir kalau Nyo
Ko berani suruh aku menyingkir tentu ada maksud tujuannya,
maka dengan menghadapi bahaya ia lantas bertindak keluar.
Sementara itu Kwa Tin-ok telah berhenti dan tidak
bergerak untuk membeda-bedakan ke jurusan mana perginya
musuh.
Saat itu juga diam-diam Nyo Ko copot sepatunya, lalu ia
lemparkan ke bagian belakang ruangan, maka terdengarlah
suara "blak-bluk" dua kali, suara jatuhnya benda di lantai.
Tentu saja Kwa Tin-ok terheran-heran dan menjadi
bingung pula, sudah terang ia dengar Auwyang Hong jalan
menuju ke pintu depan, tapi mengapa di bagian belakang ada
suara orang lagi. Dan justru pada saat yang meragukan itu,
Nyo Ko cepat angkat belatinya terus memotong tali gantolan
yang menggantung genta raksasa itu.
Gantolan genta itu sebenarnya cukup kuat, meski
belatinya sangat tajam toh sekali potong tidak nanti bisa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terputus, tetapi karena beratnya genta yang tergantung,
hanya setengah saja tali gantolan itu terpotong sudah tidak
tahan lagi bobot genta.
Tanpa ampun lagi, dengan membawa samberan angin
santer genta itu menutup ke atas kepala Kwa Tin-ok yang
tepat berdiri di bawahnya.
Hebat sekali daya menurunnya genta ini hingga sewaktu
Kwa Tin-ok mendengar suara angin sudah tak keburu buat
melompat pergi, dalam seribu kerepotannya tiba-tiba ia
tegakkan tongkatnya, maka terdengarlah suara "trang" pula,
dengan persis genta itu menindih di atas tongkat, karena
tangkisan ini, pada kesempatan mana Tin-ok berhasil
meloncat keluar dari bawah genta. Apabila lompatannya ini
sedikit kasip saja dapat dipastikan tubuhnya akan ter-tindih
genta hingga hancur.
Dalam pada itu lantas terdengar suara "dung...
gerubyak...klontang" secara susul - menyusul.
Tongkat tadi telah patah menjadi dua, genta pun
menggelinding ke samping hingga menyeruduk bokong Kwa
Tin-ok hingga orang cacat ini terlempar keluar dari pintu
kelenteng, bahkan masih terguling beberapa kali, darah
mengucur pula dari hidungnya dan batok kepalanya benjut.
Kasihan Kwa Tin-ok yang matanya tak bisa melihat, ia
tidak tahu mengapa dan sebab apa kejadian yang mendadak
itu, ia kuatir jangan-jangan dalam kelenteng itu terdapat pula
makhluk-makhluk aneh lain yang mengacau maka sesudah
merangkak bangun, dengan terpincang-pincang lekas ia
bertindak pergi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Menyaksikan kejadian ini, mau-tak-mau hati Auwyang
Hong terkesiap juga, berulang-ulang ia mengatakan: "Sayang
!"
"Baiklah, sekarang si buta ini tak berani datang lagi ayah,"
demikian kata Nyo Ko dengan senang sesudah merangkak
turun dai atas kerangka genta.
Di luar dugaan, Auwyang Hong masih geleng-geleng
kepala saja.
"Orang ini setinggi gunung dendamnya padaku, asal dia
masih bisa bernapas, pasti dia akan datang mencari aku lagi,"
katanya kemudian.
"Kalau begitu lekas kita berangkat pergi," ujar Nyo Ko.
"Percuma," sahut Auwyang Hong sambil geleng kepala
pula, "Lukaku terlalu parah, tidak bisa jauh kita lari."
"Lantas bagaimana baiknya ?" kata Nyo Ko menjadi kuatir.
"Ada satu akal," sahut Auwyang Hong sesudah berpikir
"Kau potong putus lagi gantolan genta yang lain itu, biar aku
tertutup di dalamnya."
"Dan cara bagaimana ayah akan keluar ?" tanya Nyo Ko.
"Aku akan sekap diriku selama tujuh hari di bawah genta,
sesudah pulih tenaga asliku, aku sendiri sanggup keluar
dengan membuka genta itu," kata Auwyang Hong, "Dalam
tujuh hari ini, sekali pun si buta itu datang mencari aku lagi,
kalau hanya dengan sedikit kepandaiannya saja tidak mungkin
mampu membuka genta sebesar ini."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko pikir baik juga akal itu, tetapi ia masih ragu-ragu,
ia tanya lagi apa betul Auwyang Hong sanggup membuka
genta buat keluar sendiri, sesudah yakin benar-benar barulah
ia panjat ke atas lagi buat melakukan apa yang diminta
Auwyang Hong.
"Kau holeh ikut pergi saja dengan manusia she Kwe itu,
kelak aku akan mencari kau ke sana," demikian Auwyang
Hong berpesan.
Nyo Ko mengiakan pesan itu. Dan sesudah Auwyang Hong
duduk tepat di bawah genta, lalu ia potong gantolan genta
pula hingga Auwyang Hong tertutup rapat di dalamnya.
Dari luar Nyo Ko memanggil beberapa kali, tetapi ia tidak
mendapat sahutan, ia tahu di dalam genta tidak dengar suara
dari luar, maka ia lantas berkemas-kemas buat pergi, Tetapi
sebelum itu, tiba-tiba lahir pula satu akalnya, ia pergi ke ruang
belakang dan mendapatkan sebuah mangkok rusak dan
sebuah sikat bobrok, ia isi penuh mangkok itu dengan air
jernih. Setelah mangkok ditaruk di lantai, kemudian ia sendiri
berjungkir sambil tangan kiri dimasukkan ke dalam mangkok
yang berisi air itu.
Kiranya ia telah lakukan ilmu menolak hawa berbisa dalam
tubuhnya menurut ajaran Auwyang Hong, ia desak keluar
beberapa tetes darah beracun dari tangannya.
Ilmu ini sangat makan tenaga, sedang Nyo Ko baru
mempelajari dasar-dasarnya saja, meski dapat juga ia desak
keluar beberapa tetes darah hitam, tidak urung ia sudah
mandi keringat.
Kemudian dengan sikat yang tersedia itu ia celup air itu
untuk semir sekitar genta, ia pikir kalau padri-padri kelenteng
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ini kembali atau si buta she Kwa itu berani datang lagi dan
bermaksud menyongkel genta ini, begitu tubuh mereka
menyentuh genta-pasti mereka akan merasakan jahatnya
racun ini.
Selesai ia atur tipu jebakannya, dengan langkah lebar Nyo
Ko lantas pulang kepondoknya, Pada waktu melintasi pagar
tembok untuk masuk kamar, dalam hati ia rada kuatir kalaukalau
kepergok Kwa Tin-ok. siapa tahu sesudah dia masuk
kamar, Kwa Tin-ok sendiri, malah belum kembali, ini sama
sekali di luar dugaannya.
Setelah rebah dipembaringannya, Nyo Ko hanya gulangguling
saja tak bisa tidur, keadaan ini berlangsung terus
sampai hari sudah terang, baru kemudian ia dengar ada suara
ketokan pintu kamar dengan pentung.
Dengan cepat Nyo Ko melompat bangun buat buka pintu,
maka tertampaklah olehnya dengan mencekal sebatang
pentung kayu muka Kwa Tin-ok pucat lesi, begitu orang buta
ini melangkah masuk segera terbanting jatuh di lantai.
Demi nampak kedua tangan Tin-ok berwarna hitam, Nyo
Ko tahu jebakan beracun yang dia pasang di genta itu telah
kena sasarannya, maka diam-diam ia merasa girang, tetapi ia
pura-pura kaget dan berteriak-teriak: "He, Kwa-kongkong,
kenapakah kau?"
Ketika mendengar suara teriakan Nyo Ko, Kwe Ceng dan
Ui Yong lantas datang memeriksanya dan setelah tahu Kwa
Tin-ok menggeletak di lantai, keruan mereka terkejut.
Waktu itu Kwe Ceng sudah bisa bebas bergerak, hanya
tenaganya yang masih kurang, maka Ui Yong yang dukung
Tin-ok ke tempat tidurnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Toa-suhu, Toa-suhu, kenapakah kau?" demikian
berulang-ulang ia tanya.
Tetapi Tin-ok hanya menggeleng kepala saja, ia tidak
menjawab juga tidak menerangkan.
Sesudah Ui Yong melihat bengkak hitam pada telapak
orang tua itu, tahulah dia apa yang telah terjadi "Kurangajar,
kembali perbuatan itu perempuan hina-dina she Li lagi Cengkoko,
biar aku pergi melabraknya," katanya dengan gemas, ia
menyangka itu adalah perbuatan Li Bok-chiu.
Habis berkata, setelah bikin ringkas pakaiannya, segera Ui
Yong melangkah keluar.
"Bukan perempuan itu!" tiba-tiba Tin-ok berseru.
Tentu saja Ui Yong heran, ia berhenti dan menoleh.
"Bukan dia? Lalu siapa lagi?" tanyanya tak mengerti.
Akan tetapi Kwa Tin-ok tidak menjelaskan lebih lanjut, ia
merasa malu karena tak mampu melayani seorang yang boleh
dikata sudah tak punya tenaga, bahkan dirinya sendiri kena
dikibuli sehingga pulang menderita luka, sungguh boleh
dikatakan terlalu tak becus. Karena itu, turuti wataknya yang
keras kepala, maka ia bungkam saja.
Di lain pihak Kwe Ceng dan Ui Yong cukup kenal tabiat
orang tua ini, kalau mau bilang, sejak tadi ia sendiri sudah
menutur, kalau dia sudah tak mau cerita, makin ditanya hanya
akan makin menambah kegusarannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Baiknya luka yang keracunan hanya kulit tangan saja dan
tidak lihay, meski orangnya kelengar sesaat, tetapi kelak tidak
menjadi halangan.
Sementara itu Ui Yong telah ambil keputusan di dalam
hati, Kwe Ceng dan Kwa Tin-ok sudah terluka, sedang
kekejian Li Bok-chiu susah diukur, terpaksa angkut kedua
orang luka dan antar pulang dahulu kedua bocah ini ke Thohoa-
to, kemudian ia sendiri akan mencari Li Bok-chiu lagi dan
melabraknya.
Sesudah mengaso setengah hari, sorenya mereka lantas
sewa sebuah perahu kecil buat berlayar ke muara laut, Dekat
magrib, perahu membuang sauh dan tukang perahunya
hendak menanak nasi,
Didalam perahu itu, karena Nyo Ko masih tetap tak gubris
padanya, Kwe Hu menjadi dongkol dan melengos pula, ia
bersandar di jendela perahu untuk memandang ke daratan,
tiba-tiba ia lihat di bawah pohon Lui yang rindang sana ada
dua anak kecil sedang menangis dengan sedih sekali,
tampaknya kedua anak ini justru Bu Tun-si dan Bu Siu-bun
berdua saudara.
Terhadap kedua bocah ini rupanya Kwe Hu lebih cocok,
maka segera ia berseru menegur: "Hai, apa yang kalian
lakukan di situ?"
"Kami sedang menangis, tidakkah kau melihat ?" sahut Bu
Siu-bun setelah berpaling dan mengenali Kwe Hu.
"Sebab apakah? Kalian telah di hajar ibumu bukan ?"
tanya Kwe Ha lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Tidak, ibu telah mati!" sahut Siu-bun dengan menangis
guguk.
Jawaban ini membikin Ui Yong ikut terkejut dengan cepat
ia melompat ke-gili-gili. Betul saja ia lihat kedua bocah itu
menangis dengan sedih sambil meratapi mayat ibu mereka.
Waktu Ui Yong memeriksanya, ia lihat muka Bu-sam-nio
hitam hangus, tampaknya sudah lama putus napasnya terang
mukanya yang kena ditowel Li Bok-chiu tempo hari dengan
Jik-lian-sin-ciang, meski bisa tahan beberapa hari, tetapi
akhirnya mati karena bekerjanya racun.
Kemudian Ui Yong bertanya di mana beradanya Bu Samthong.
"Entahlah, tak tahu kemana ayah pergi." sahut Bu Tun-si
dengan masih menangis.
"Melihat ibu rneninggal, pikiran ayah tiba-tiba ling-lung
lagi," demikian Bu Siu-bun menambahkan, "Meski kami
memanggil dia, namun sama sekali dia tidak menggubris
kami."
Hahis menutur, kembali bocah ini menangis terguguk pula.
"Kalian tentu sudah lapar bukan ?" tanya Ui Yong.
Kedua saudara Bu ini mengangguk. Maka Ui Yong lantas
perintahkan tukang perahu bawa kedua bocah ini ke dalam
perahu dan diberi makan, ia sendiri lantas pergi ke kota yang
terdekat buat membeli sebuah peti mati buat Bu-samnio.
Karena hari sudah petang, besok paginya baru dicarikan
sebidang tanah untuk menguburnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Meski masih bocah, tetapi kedua saudara she Bu itu
menangis sesambatan sambil menggabruk-gabruk peti mati
ibunya, sungguh rasanya mereka ingin ikut mangkat sekalian.
Saking harunya Kwe Ceng, Ui Yong dan Kwa Tin-ok ikut
mengucurkan air mata, Nyo Ko yang berperasaan halus dan
gampang tergoncang, meski sedikitpun dia tiada hubungan
dengan Bu-samnio, tetapi melihat orang-orang lain pada
mengalirkan air mata, tanpa tahan iapun ikut menangis
menggerung-gerung.
Hanya Kwe Hu seorang saja yang tidak ikut menangis,
Kesatu karena anak ini memang masih belum kenal adat
kehidupan, kedua dia memang mempunyai hati yang keras,
maka ia hanya duduk disamping memain sendiri dengan sapu
tangannya.
"Yong-ji," kata Kwe Ceng kemudian pada sang isteri
sesudah puas menangis, "marilah kita bawa serta kedua anak
ini ke Tho-hoa-to, cuma selanjutnya kau harus lebih banyak
perhatian buat merawatnya."
Ui Yong angguk-angguk tanda setuju, lalu mereka
menghibur kedua saudara Bu itu dan Nyo Ko agar berhenti
menangis, mereka lantas lanjutkan perahunya sampai di laut,
dari sini mereka ganti perahu yang besaran untuk berlayar ke
arah Timur, menuju ke Tho-hoa-to atau pulau bunga Tho.
Kalau sekarang Kwe Ceng dan Ui Yong mau pelihara anakanak
piatu ini adalah karena kemauan baik mereka, siapa tahu
berkumpulnya keempat bocah ini di suatu tempat, kelak
menimbulkan mala-petaka yang sukar diakhiri.
Begitulah rombongan mereka akhirnya sampai di Tho-hoato
dengan selamat.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Waktu masih di atas perahu Kwe Ceng telah
menyembuhkan sendiri dengan Lwekangnya yang tinggi,
maka lukanya sebagian besar sudah sembuh, kini dirawat pula
beberapa hari di atas pulau, maka keadaannya sudah pulih
kembali seperti sediakala.
Ketika mereka suami isteri percakapkan diri Auwyang
Hong yang sudah belasan tahun tak berjumpa, bukan saja
tidak nampak loyo dan mundur ilmu silatnya, bahkan melebihi
masa yang lalu, maka mereka menjadi heran dan berulangulang
menghela napas.
Berbicara tentang asal-usul diri Nyo Ko, segera Kwe Ceng
keluar melihat bocah itu, ia lihat anak muda ini sedang
bermain dengan puteri kesayangannya dan lagi mencari
jangkerik di semak-semak rumput, dia panggil anak muda itu
dan diajak ke dalam kamar, ia tanya semua kejadian yang lalu
padanya.
Kiranya selama itu Nyo Ko hidup berdampingan dengan
ibunya, Cin Lam-khim dan tinggal di kaki bukit Tiang-nia di
propinsi Kangsay, mereka hidup dari menangkap ular hingga
lewat belasan tahun.
Selama itu perlahan-lahan Nyo Ko tumbuh besar juga,
ibunya Cin Lam-khim, telah turunkan dasar-dasar Lwekang
yang dahulu diperolehnya dari Kwe Ceng kepada puteranya
ini.
Dasar Nyo Ko memang sangat pintar dan otaknya encer,
serta banyak pula tipu akalnya, ketika berumur tujuh atau
delapan tahun, kepandaiannya menangkap ular sudah
melampaui sang ibu. Pernah ia dengar cerita ibunya bahwa di
jagat ini ada orang yang bisa mengerahkan ular hingga
berwujut barisan, dalam hatinya diam-diam ia sangat kagum
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dan ketarik, maka diwaktu senggang ia suka tangkap
beberapa ekor ular hijau untuk memain dan dipelihara, lama
kelamaan, dia paham betul watak ular, bila ia bersuit sekali,
kawanan ular lantas menurut perintah dan berbaris sendiri.
Perlu diterangkan bahwa Auwyang Hong yang berjuluk Setok
diperoleh dari keahliannya memelihara segala macam
binatang berbisa terutama ular-ular yang berbisa jahat, ia
tinggal di gunung Pek-to-san (gunung Ohta putih) di daerah
barat, banyak dia pelihara lelaki tukang angon ular, tetapi cara
angon ular kaum Pek-to-san ini adalah turun temurun,
sedangkan Nyo Ko mendapatkan kepandaian ini dari bakatnya
sendiri, meski cara-nya berlainan, tetapi dasarnya sebenarnya
sama.
Belakangan karena kurang hati-hati ibu Nyo Ko telah
dipagut oleh semacam ular aneh, obat pemunah racun yang
selalu dibawanya ternyata tak mempan mengobati pagutan itu
hingga mengakibatkan kematiannya.
Habis itu Nyo Ko menjadi sebatang-kara, seorang diri ia
ter-lunta di Kangouw, kawan satu-satunya yang selalu
berdampingan dengan dia boleh dikatakan melulu burung
merah yang bercucuk panjang itu, siapa duga hari itu
kebentur Li Bok-chiu hingga burung merah itu terbinasa
ditangannya.
Hendaklah diketahui bahwa burung merah bercucuk
panjang itu dahulunya adalah piaraan Ui lcong, kini demi
mendengar burung itu terbinasa, berulang-ulang Kwe Ceng
menyatakan sayang, rasa gemasnya pada Li Bok-chiu menjadi
bertambah juga.
Kemudian ia tanya Nyo Ko pula di mana anak ini berada
ketika Bu Sam-thong bergebrak dengan Auwyang Hong, ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tanya pula apa Nyo Ko kenal dengan Auwyang Hong, Namun
Nyo Ko sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu tanda,
bahkan ia berbalik tanya siapakah Auwyang Hong? ini adalah
akalnya Nyo Ko yang sengaja mendahului tanya supaya
urusan ini bisa dia cuci bersih.
Tak terduga, Ui Yong adalah wanita terpandai dan cerdik
dijagat ini dengan usia Nyo Ko yang masih muda dan meski air
mukanya tidak unjuk sesuatu tanda, tetapi hendak mengelabui
Ui Yong, itulah tidak gampang baginya.
"Baiklah, boleh kau pergi bermain dengan kedua saudara
Bu," kata Ui Yong kemudian, ia tidak ingin tanya lebih lanjut.
Apakah Nyo Ko dapat bergaul akrab dengan Kwe Hu dan Bu
bersaudara ?
Bilakah Auwyang Hong akan susul Nyo Ko ke Tho-hoa-to ?
Apakah Kwe Ceng akan menerimanya juga menjadi murid? !"
- Bacalah jilid ke - 4-
Jilid 4
Jika di antara Ui Yong dan Nyo Ko diam-diam telah adu
kecerdasan maka Kwe Ceng yang berpembawaan sederhana
otaknya sama sekali tidak mengetahuinya, ia tunggu sesudah
Nyo Ko keluar, barulah ia berkata pada sang isteri.
"Yong-ji", demikian katanya, "Sudah lama aku punya satu
janji dalam hati, tentunya kau mengetahui, kini berkat
kemurahan Thian bisa bertemu dengan anak Ko, maka janji
hatiku dapatlah terlaksana."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hendaklah diketahui bahwa mendiang ayah Kwe Ceng,
Kwe Siau-thian, adalah saudara angkat Engkongnya Nyo Ko
yang bernama Nyo Thi-sim. Di waktu isteri kedua keluarga ini
sama-sama duduk perut, mereka berdua telah saling janji
bahwa bila kelak yang dilahirkan itu adalah laki-laki semua,
maka mereka harus menjadi saudara angkat lagi, begitu pula
kalau sama-sama perempuan. Tetapi kalau satu laki-laki dan
yang lain perempuan maka mereka harus menjadi suamiisteri.
Belakangan yang dilahirkan ternyata adalah laki-laki
semua, yakni Kwe Ceng dan Nyo Khong, ayah Nyo Ko, maka
mereka mentaati sumpah itu dan bersaudara angkat. Tetapi
karena Nyo Khong telah khianat dan mengaku musuh sebagai
bapak hingga nasibnya berakhir dengan mengenaskan ia
tewas secara menyedihkan di suatu kelenteng di kota Ka-hin.
Mengingat akan hubungan orang tua itulah, maka Kwe
Ceng tidak pernah melupakannya. Kini ia berkata, segera pula
Ui Yong tahu akan maksud suaminya.
"Tidak, aku tidak setuju," demikian ia menjawab dengan
menggeleng kepala.
Keruan Kwe Ceng menjadi heran.
"Kenapa ?" tanyanya.
"Mana boleh anak Hu dapatkan jodoh bocah seperti dia
ini," sahut Ui Yong.
"Meski kelakuan ayahnya tidak baik, tetapi mengingat
keluarga Kwe kita dengan keluarga Nyo yang turun temurun
berhubungan dengan baik, asal kita mengajar dia dengan
baik, menurut pendapatku, jika melihat tampangnya yang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
cakap dan tindak-tanduknya yang cerdik, kelak bukan tidak
mungkin akan di atas orang lain," ujar Kwe Ceng.
"Ya, justru aku kuatir dia terlalu pintar," kata Ui Yong lagi.
"He, aneh, bukankah kau sendiri sangat pintar, kenapa
kau malah cela orang pintar ?" sahut Kwe Ceng.
"Tetapi aku justru lebih menyukai Engkoh tolol seperti kau
ini," kata Ui Yong dengan tertawa.
"Tetapi kalau anak Hu sudah besar, belum tentu serupa
dengan kau," ujar Kwe Ceng ikut tertawa, "kukira dia tidak
menyukai seorang anak tolol. Lagi pula, orang tolol seperti aku
ini, di jagat ini agaknya sukar dicari keduanya lagi."
"Waduh, tidak malu!" demikian Ui Yong mengolok-olok.
Begitulah sesudah bersenda-gurau, lalu Kwe Ceng
mengulangi lagi pada maksudnya tadi.
"Ayahku pernah meninggalkan pesan, begitu pula sebelum
mangkat paman Nyo Thi-sun juga pernah pesan wanti-wanti
padaku, maka sekarang kalau aku tidak pandang anak Ko
seperti anak sendiri, mana bisa aku menghadapi ayah dan
paman Nyo dialam baka."
Habis berkata Kwe Ceng menghela napas panjang yang
penuh mengandung rasa haru dan menyesal "Baiknya kedua
bocah masih kecil, urusan inipun tidak perlu buru-buru
diselesaikan," ujar Ui Yong kemudian dengan suara lunak,
"Kelak apabila betul Ko-ji tidak jelek kelakuannya, bagaimana
kau suka boleh diputuskan sendiri."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mendengar jawaban ini, tiba-tiba Kwe Ceng berdiri dan
membungkuk memberi hormat pada sang isteri, "Terima kasih
Niocu (isteriku) telah setuju, sungguh tak terhingga rasa
syukurku," demikian ia berkata.
"Aku tidak bilang setuju," tiba-tiba Ui Yong menjawab
dengan sungguh-sungguh. "Tetapi aku bilang harus melihat
dahulu bagaimana kelakuan anak itu kelak."
Saat itu Kwe Ceng membungkuk dan belum tegak kembali,
ketika dengar jawaban isterinya ini, ia melongo. Tetapi
menyusul segera ia bilang lagi: "Ayahnya berubah menjadi
busuk karena sejak kecil ia dibesarkan dalam keraton negeri
Kim, tetapi sekarang Ko-ji tinggal dipulau kita, tak mungkin ia
berubah menjadi jelek, janganlah kau kuatir."
Maka tertawalah Ui Yong, segera ia alihkan pembicaraan
ke urusan lain.
Kembali pada diri Nyo Ko yang tadi sedang mencari
jangkerik bersama Kwe Hu.
Tatkala kedua bocah ini mulai berkenalan memang terjadi
perselisihan paham, tetapi dasar watak kanak-anak, lewat
beberapa hari saja perselisihan paham itu sudah terlupa
semua maka sesudah Nyo Ko dipanggil Kwe Ceng,
sekembalinya dia lantas mencari Kwe Hu lagi.
Tetapi pada waktu hampir sampai di-semak-semak tadi, ia
dengar suara tertawa ngikik yang ramai, kiranya kedua
saudara Bu sedang berjongkok dan lagi bongkar batu dan
singkap rumput untuk mencari jengkerik juga.
Setelah Nyo Ko mendekati, ia lihat tangan Bu Tun-si
memegangi sebuah bumbung bambu, sedang Kwe Hu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
membawa sebuah belanga, Bu Siu-bun sendiri lagi
membongkar dan membalik batu. Dalam pada itu, tiba-tiba
seekor jangkerik besar meloncat keluar dari tempat
sembunyinya, lekas-lekas Siu-bun menubruk dan
menangkapnya, maka bersoraklah dia kegirangan.
"Berikan padaku! Berikan padaku!" demikian Kwe Hu
berteriak-teriak.
"Baiklah, buat kau," kata Siu-bun sambil membuka tutup
belanga yang dipegang Kwe Hu dan memasukkannya ke
dalam.
Ia lihat jangkerik yang baru ditangkap itu kepalanya
bundar besar, kakinya panjang kuat, tubuhnya bulat dan
gagah sekali.
"Ha, jangkerik ini pasti jagoan yang tiada tandingannya."
demikian Bu Siu-bun berkata, "Nyo-koko, semua jangkerikmu
pasti tidak bisa menangkan dia."
Tentu saja Nyo Ko tidak mau menyerah, segera ia pilih
satu di antara jangkerik tangkapannya yang paling besar dan
paling berangasan untuk diadu.
Akan tetapi baru sekali gebrag saja, jangkerik Nyo Ko telah
kena digigit jangkrik besar tadi dibagian tengah pinggang
terus dilempar keluar dari belanga, atas kemenangan ini
jangkerik itu lantas berbunyi "krik-krik" dengan senang sekali.
"Hura, aku punya yang menang", demikian Kwe Hu
kegirangan sambil bertepuk tangan.
"Jangan senang-senang dulu, ini masih ada yang lain,"
kata Nyo Ko. Lalu ia ajukan jagonya yang lain lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Diluar dugaan, meski beruntun-runtun tiga kali ia tukar
jangkeriknya, tiap-tiap kali selalu dikalahkan jangkerik orang,
bahkan jagonya yang ketiga malahan kena digigit jangkerik
musuh yang besar itu hingga terkutung menjadi dua.
Dengan sendirinya Nyo Ko merasa kehilangan muka.
"Sudahlah, tidak mau lagi!" katanya terus bertindak pergi.
Pada saat itu juga, tiba-tiba diantara semak-semak rumput
di belakang sana terdengar ada suara "krok-krok" yang aneh.
"Ha, ada satu lagi," seru Bu Tun-si.
Habis ini ia lantas singkap rumput yang lebat itu, di luar
dugaan mendadak ia mencelat mundur sambil berteriak kaget:
"He ular, ada ular!"
Mendengar kata "ular", Nyo Ko yang sudah melangkah
pergi seketika berhenti, bahkan ia putar kembali buat
melihatnya, Betul saja ia lihat disitu ada seekor ular belangbonteng
yang jelas kelihatan jenis ular berbisa, sedang melelet
lidah dan tegak kepala sambil menyembur, hanya badannya
yang masih meringkuk diantara semak-semak rumput itu.
Sejak kecil Nyo Ko sudah tergolong ahli tangkap ular,
sudah tentu ia tidak pandang sebelah mata pada binatang ini,
segera ia maju dan begitu ulur tangannya, seketika leher ular
dia tangkap terus dibanting ke atas batu dengan kuat, tanpa
ampun lagi ular itu terbanting mati.
Diluar dugaan, tempat dimana ular tadi meringkuk
ternyata ada lagi seekor jangkrik hitam kecil, rupanya aneh
dan jelek, tapi sedang geraki sayapnya dan mengeluarkan
suara "krik-krik" yang nyaring.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Nah, tangkaplah setan hitam kecil itu saja, Nyo-koko",
dengan tertawa Kwe Hu mengejek Nyo Ko yang kalah
beberapa kali tadi. Watak Nyo Ko justru paling tidak senang
kalau dihina orang. "Baik, tangkap ya tangkap," sahutnya
ketus.
Segera jangkerik hitam kecil itu ditangkapnya terus di
lepaskan ke dalam belanga yang dipegang Kwe Hu.
Sungguh aneh bin ajaib, jangkrik yang besar tadi begitu
melihat jangkrik hitam kecil ini seketika mengunjuk rasa jeri,
bahkan terus mundur-mundur dan hendak lari.
Namun Kwe Hu dan kedua saudara Bu masih berteriakteriak
untuk membangkitkan semangat jagonya.
Sementara itu jangkrik hitam kecil itu telah melompat
maju dengan tegang leher, sebaliknya jangkrik yang besar
ternyata tak berani menyambut tantangan itu dan bermaksud
melompat keluar dari tempurung, tak terduga gerak-gerik
jangkrik hitam ternyata sebat dan aneh luar biasa, ia
melompat maju dan gigit ekor jangkrik besar tadi, dengan
kuat dia kunyah sekali, tahu-tahu jangkrik besar itu
berkelejetan beberapa kali terus terbalik dan mati.
Kiranya diantara jangkrik itu terdapat semacam jangkrik
yang suka tinggal bersama dengan binatang berbisa lain,
kalau tinggal bersama kelabang disebut "jangkrik kelabang",
kalau tinggal bersama ular disebut "jangkrik ular".
Oleh karenanya tubuh mereka terjalar hawa berbisa dari
binatang yang tinggal bersama dia itu, maka jenis biasa tidak
sanggup melawannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Jangkrik yang ditangkap Nyo ko tadi justru adalah seekor
jangkrik ular.
Dilain pihak, sesudah Kwe Hu melihat jangkrik besarnya
mati, ia menjadi kurang senang.
"Nyo-koko, kau punya setan hitam kecil ini berikan padaku
saja," katanya kemudian sesudah berpikir.
"Berikan padamu sebenarnya tidak menjadi soal, tapi
kenapa kau memaki dia sebagai setan hitam kecil ?" sahut Nyo
Ko.
Kwe Hu menjadi jengkel oleh jawaban ini.
"Tak mau beri ya sudah, siapa kepingin ?" katanya dengan
mulut menjengkit, Berbareng itu ia tuang belanganya dan
banting jangkrik hitam kecil itu ke tanah, bahkan ia injak pula
dengan kakinya hingga binatang kecil itu mecotot perutnya.
Nampak jangkriknya diinjak mati, Nyo Ko terkejut
tercampur gusar, perasaan halus pemuda ini paling gampang
tertusuk, seketika itu ia naik darah hingga mukanya merah
padam, tanpa pikir lagi ia baliki telapak tangannya terus
menampar pipi Kwe Hu.
Pukulan ini cukup keras hingga Kwe Hu merasa pipinya
panas pedas, ia terlongong sesaat dan belum mengambil
putusan apa harus menangis atau tidak, tiba-tiba ia dengar Bu
Siu-bun sudah mendamperat.
"Kau berani pukul orang !" bentak anak itu, Berbareng ia
lantas menjotos ke dada Nyo Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena terlahir dalam keluarga jago silat, pula sejak kecil
ia sudah peroleh ajaran dari ibunya sendiri, maka ilmu silat
Siu-bun sudah mempunyai dasar yang kuat, jotosannya tadi
dengan tepat kena sasarannya.
Dengan sendirinya Nyo Ko menjadi gusar, kontan ia balas
meninju, Tetapi Siu-bun sempat berkelit hingga pukulannya
luput
Nyo Ko masih penasaran, ia mengudak maju terus
menubruk dan menghantam pula. Diluar dugaannya,
sekonyong-konyong Bu Tun-si ulur kakinya men-jegal hingga
Nyo Ko mencium tanah, ia jatuh ngusruk ke depan.
Kesempatan ini segera digunakan kedua saudara Bu itu
dengan baik, dengan cepat Bu Siuhun menunggangi tubuh
Nyo Ko, Bu Tun-si pun ikut maju dan menahan bokongnya
dengan kencang, menyusul empat kepalan mereka terus
menghujani tubuh Nyo Ko dengan gebukan-gebukan.
Sungguhpun usia Nyo Ko lebih tua dari kedua saudara Bu
itu, tetapi karena satu lawan dua, pula Siu-hun dan Tun-si
sudah pernah berlatih silat sebaliknya Nyo Ko hanya belajar
sedikit dasar lwe-kang saja dari ibunya dan belum terlatih
sempurna, dengan sendirinya ia bukan tandingan kedua lawan
ciliknya. Namun demikian, ia tidak menyerah mentah-mentah,
ia kertak gigi menahan sakit pukulan orang, sedikitpun ia tidak
merintih.
"Lekas minta ampun, kami lantas lepaskan kau," kata Bu
Tun-si.
"Kentut !" sahut Nyo Ko dengan gusar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena itu, susul-menyusul Bu Siu-hun menggebuk lagi
dua kali di punggungnya.
Melihat kedua saudara Bu itu membela dirinya dan hajar
Nyo Ko, Kwe Hu merasa senang sekali.
Siu-bun dan Tun-si juga cukup cerdik, mereka tahu kalau
hantam orang di bagian kepala atau muka tentu akan
meninggalkan bekas babak-belur, nanti kalau dilihat Kwe Ceng
dan Ui Yong pasti akan didamperat, oleh karena itu kepalan
dan kaki mereka selalu mengarah di atas badan Nyo Ko.
Dalam pada itu melihat makin hebat gebukan yang
menghujani Nyo Ko itu, akhirnya Kwe Hu sendiri rada takut
dan meresa ngeri, tetapi bila ia meraba pipi sendiri yang masih
terasa sakit pedas, segera pula ia merasa belum puas hajaran
itu.
"Hantam dia, hantam yang keras !" demikian dia berteriakteriak
pula.
Mendengar seruan Kwe Hu, benar juga Tun-si dan Siu-bun
kerjakan kepalan mereka semakin cepat dan menjotos lebih
ganas lagi.
Sudah tentu seruan Kwe Hu tadi didengar juga oleh Nyo
Ko yang kena ditindih di atas tanah, "Kau si budak ini sungguh
kejam, kelak aku Nyo Ko pasti membalas "sakit hati ini,"
demikian katanya dalam hati.
Tetapi segera ia merasakan pinggang, punggung dan
bagian bokong tidak kepalang sakitnya, perlahan-lahan ia
mulai tidak tahan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Harus diketahui meski kecil, tapi kedua saudara Bu sudah
berlatih silat sejak kecil, kalau mereka menjotos, meski orang
tua sekalipun tak akan tahan, kalau bukan Nyo Ko yang sudah
mempunyai dasar-dasar wekang tentu sejak tadi ia sudah
semaput.
Dalam keadaan terpaksa Nyo Ko mengertak gigi menahan
sakit sekuatnya, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, kedua
tangannya meraba dan meraup-raup serakutan di atas tanah,
mendadak pula sebelah tangannya menyentuh sesuatu benda
yang licin dingin, seketika pikirannya tergerak, ia tahu itu
adalah bangkai ular "berbisa tadi yang dia banting mati itu,
tanpa ayal lagi segera ia cekal terus disabetkan ke belakang.
Nampak ular yang sudah mati dengan kulitnya yang
belang-bonteng, kedua saudara Bu menjadi kaget dan
menjerit ngeri.
Kesempatan mana segera digunakan Nyo Ko dengan baik,
sekali membalik ia telah berdiri kembali, menyusul ia putar
tinjunya terus manghantam, tepat sekali hidung Bu Tun-si
kena dia genjot hingga keluar kecapnya, Habis ini, segera Nyo
Ko angkat kaki dan lari ke belakang pulau sana.
Sudah tentu kedua saudara Bu menjadi gusar, segera
mereka mengudak.
Kwe Hu memang suka dengan keonaran, iapun ingin tahu
lanjutannya, maka ia menyusul dari belakang, bahkan tiada
hentinya ia berteriak-teriak : "Tangkap, tangkap dia !"
Sesudah berlari-lari, ketika ketika Nyo Ko menoleh, ia lihat
muka Tun-si penuh darah, baju bagian dada lebih-lebih nyata
lagi dengan bekas-bekas darah yang mengucur itu hingga
rupanya sangat beringas sekali kelihatannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko insaf bila sampai dirinya kena ditangkap kedua
saudara Bu lagi, maka pukulan-pukulan yang bakal ia terima
pasti akan jauh lebih lihay daripada tadi, oleh karenanya ia
berlari semakin cepat, ia lari menuju tebing gunung dan
memanjat ke atas.
Sesungguhnya meski hidung Bu Tun-si kena di-jotos,
tetapi tidak begitu sakit, cuma demi melihat darah mengucur,
ia menjadi panik dan gusar pula, maka ia menguber semakin
kencang.
Makin lama makin tinggi Nyo Ko panjat ke atas, tapi
sedikitpun kedua saudara Bu belum mau berhenti mengejar.
Sedang Kwe Hu sesudah sampai di tengah tebing gunung itu
lantas berhenti, dari sini ia mengikuti orang udak-udakan
dengan mendongak saja.
Dalanm pada itu Nyo Ko telah sampai di tempat buntu, di
depannya adalah tebing curam dan tiada jalan lalu lagi buat
lari terus, Pemuda ini mempunyai kecenderungan pikiran yang
nekat, dalam keadaan kepepet ia pikir : "Hm, sekalipun aku
harus mati terjun ke dalam jurang, tidak nanti aku rela
ditangkap kedua bocah itu untuk dihina mentah-mentah."
Karena pikiran itulah, maka ia lantas putar balik dan
membentak: "Hayo berhenti, jika berani mengejar setapak
lagi, segera aku terjun ke bawah !"
Gertakan ini bikin Bu Tun-si rada terkejut juga anak ini
tertegun sejenak, berlainan dengan adiknya, Bu Siu-bun,
bocah ini malah menantang akan!"
"Hm, kalau mau terjun lekas terjun saja, siapa kena kau
gertak ?" demikian ia mengejek, berkata ia mendesak maju
lagi beberapa tindak.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat ini, seketika Nyo Ko naik darah dan timbul pikiran
pemdek, mendadak ia berjongkok hendak terjun ke dalam
jurang, syukur sebelum itu sekilas terlihat olehnya di samping
terdapat sebuah batu besar dan letaknya miring.
Dalam keadaan gusar, Nyo Ko sudah tidak memikirkan
akibat-akibatnya lagi segera ia dorong batu besar itu yang
memang kelihatan miring, betul juga ia merasakan batu besar
ini bergoyang-goyang, segera ia melompat mundar ke
belakang batu, sekuatnya ia dorong, maka terdengarlah suara
gemuruh hebat memecah angkasa, batu besar itu
menggelinding ke bawah bukit dengan cepat luar biasa, batu,
kedua saudara Bu menyadari juga gelagat jelek.
Di lain pihak demi melihat Nyo Ko mendorong muka
mereka menjadi pucat, segera akan menyingkir namun sudah
kasip, dengan mata terbelalak mereka lihat pasir berhamburan
dari atas kepala, seketika mereka tidak tahu apa yang harus
diperbuat.
Dalam detik yang sangat berbahaya itu, mendadak mereka
merasa punggung mereka seakan-akan ditarik, tahu-tahu
tubuh mereka mumbul ke udara, menyusul mana terdengarlah
suara kaokan burung rajawali tubuh mereka sudah dibawa
terbang melintasi bukit.
Kiranya sepasang burung rajawali itu lagi terbang memain
di atas udara, menggelindingnya batu besar tadi telah dilihat
mereka, syukurlah dengan cepat kedua burung ini masih
sempat menolong jiwa Tun-si dan Siu-bun.
Sementara batu besar tadi dengan menerbitkan suara
gemuruh keras, tidak sedikit pepohonan telah diterjangnya
hingga akhirnya menggelinding masuk kelaut.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ui Yong mendengar juga suara kaokan rajawali yang
menandakan rasa kuatir tadi disusul pula suara gemuruh yang
aneh, maka lekas-lekas ia berlari keluar dari rumah, tertampak
olehnya debu pasir berhamburan puterinya kelihatan
bersembunyi di semak-semak pinggir gunung, dalam takutnya
sampai anak perempuan ini tak sanggup mengeluarkan suara
tangisan.
Dalam pada itu kedua burung rajawali yang
mencengkeram kedua saudara Bu dengan pelahan kemudian
turun kehadapan Ui Yong sambil tegang leher dan pentang
sayap, kedua burung ini seperti lagi unjuk jasa mereka
dihadapan sang majikan.
Dengan aleman Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam
pangkuan sang ibu, lalu menangis tersedu-sedu, sesudah
menangis sejenak, kemudian baru ia ceritakan cara
bagaimana ia telah dipukul Nyo Ko. ia ceritakan juga
bagaimana kedua saudara Bu telah membela dirinya dan Nyo
Ko telah mendorong batu besar itu hendak menggilas mati
kedua bocah itu.
Demikianlah ia tumplekkan semua kesalahan pada Nyo Ko,
tetapi ia sendiri menginjak mati jangkerik orang dan cara
bagaimana kedua saudara Bu memukul Nyo Ko, semua ini dia
tutup dan tidak dituturkan
Sehabis mendengar, Ui Yong kelihatan termangu-mangu,
ia tidak bersuara.
Dalam pada itu Kwe Ceng sudah menyusul datang juga,
waktu ia lihat muka dan baju Tun-si berlepotan darah, ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kaget ia tanya sebab-musababnya, dalam hati iapun merasa
marah.
Tetapi ia kuatir pula terjadi sesuatu atas diri Nyo Ko, maka
lekas-lekas ia lari ke atas bukit buat mencarinya.
Akan tetapi meski ia sudah mencari kian kemari, dari
depan sampai belakang bukit ternyata sama sekali tidak
nampak bayangan bocah itu.
"Ko-ji, Ko-ji!" ia berteriak, Namun tetap tidak ada suara
sahutan.
Teriakannya ini dia lakukan dengan keras dan di atas
bukit, dalam lingkaran seluas belasan li pasti dengar akan
suaranya, tetapi aneh, tetap Nyo Ko tidak kelihatan.
Sesudah menunggu lagi dan tetap masih belum berhasil,
Kwe Ceng menjadi makin kuatir, segera ia dayung sebuah
perahu kecil mengelilingi pulau buat mencari, tetapi sampai
petang masih belum juga diketemukan jejak Nyo Ko.
Kiranya sehabis dorong batu pegunungan yang besar itu
dan menyaksikan pula kedua rajawali berhasil menolong
kedua saudara Bu, dari jauh Nyo Ko melihat pula Ui Yong
keluar dari rumah, ia tahu sekali ini dirinya pasti akan
didamperat habis-habisan, oleh karena itu ia lantas sembunyi
di sela-sela batu cadas yang besar dan tak berani keluar, ia
dengar juga suara panggilan Kwe Ceng, namun ia tak berani
menyahut.
Begitulah dengan menahan lapar Nyo Ko sembunyi di
antara sela-sela batu cadas, ia tak berani sembarang
bergerak, ia lihat cuaca mulai remang-remang hingga akhirnya
menjadi gelap.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Selang tak lama, kerlipan bintang-bintang di langit diiringi
pula hembusan angin laut yang silir semilir, Nyo Ko merasakan
badannya rada menggigil.
Ia keluar dari tempat sembunyinya dan memandang ke
bawah, ia lihat rumah yang terbangun bagus dibawah sana
sudah ada sinar lampu, ia membayangkan saat itu tentunya
Kwe Ceng dan Ui Yong suami isteri, Kwe Hu dan kedua
saudara Bu sedang mengitari meja dan bersantap, terbayang
pula olehnya diatas nnya yang penuh dengan lauk-pauk,
daging ayam, itik dan lain-lain yang enak-enak, tanpa terasa ia
menelan liur beberapa kali.
Akan tetapi segera terpikir pula olehnya pasti mereka
sedang mencaci maki habis-habisan padanya, teringat akan
ini, tanpa tertahan Nyo Ko meluap juga amarahnya.
Bocah berusia sekecil dia ini, dalam malam gelap yang
diselingi tiupan angin laut berdiri di atas bukit karang, dalam
hatinya yang dipikir adalah nasibnya jing selalu dihina orang
saja, maka terasalah olehnya seakan-akan setiap manusia di
bumi ini semuanya memandang rendah padanya, perasaannya
seketika bergolak, ia merasakan getirnya seorang anak piatu
dan sesalkan akan nasib sendiri.
Padahal apa yang Nyo Ko bayangkan ini sebenarnya salah
sama sekali justru karena tidak ketemukan Nyo Ko, Kwe Ceng
tak bisa bersantap dengan hati tenteram ?
Nampak suaminya merasa kesal, Ui Yong tahu percuma
saja meski dia menghiburnya, maka iapun tidak jadi makan
sendirian melainkan terus kawani sang suami duduk terdiam
saja menghadap meja.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah suami-isteri itu tidak bisa tidur semalaman,
Besok paginya, belum terang tanah kedua orang sudah lantas
keluar buat mencari Nyo Ko lagi.
Dilain pihak sesudah Nyo Ko menderita lapar sehari
semalam, besoknya pagi-pagi sekali bocah ini sudah tak tahan
lagi, ia mengeluyur turun, ditepi sungai ia berhasil menangkap
beberapa ekor Swike atau kodok hijau, ia beset kulitnya dan
kumpulkan kayu kering, ia bermaksud akan makan kodok
panggang, ia sudah biasa bergelandangan maka cara makan
sedemikian ini sudah biasa dilakukannya.
Tetapi karena kuatir asap apinya dilihat Kwe Ceng, maka
ia membakar kayu kering itu di dalam sebuah gua, selesai
paha kodok yang dia panggang segera ia sirapkan api terus
menggerogoti kodok itu dengan lahap, mungkin saking
laparnya, ia merasakan lezat dan nikmat sekali Swike
panggang itu.
Selagi ia mengunyah daging kodoknya dengan penuh cita
rasa, tiba-tiba ia dengar ada suara kresekan di luar gua dan
disusul dengan suara yang mendesis, ia kenali itu adalah
suara merayap dan menyemburnya sebangsa ular.
Sambil masih menggerogoti paha kodoknya, segera Nyo
Ko jalan ke mulut gua, betul saja di sana ia lihat ada seekor
katak sedang menghadapi seekor ular kembang yang
panjangnya hampir tiga kaki, kedua binatang ini sedang saling
pandang tanpa bergerak, Selang tak lama, mendadak ular
kembang itu melonjak terus terjang katak itu.
Namun katak itu sudah siap sedia, tiba-tiba terdengar
suara "kok-kok" dua kali, katak ini mengap mulutnya dan
menyemburkan uap yang tipis, berbareng ini tubuhnya berkelit
sedikit untuk hindarkan tubrukan ular tadi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena kena uap berbisa yang disemburkan katak tadi,
ular kembang itu lantas berjumpalitan terus jatuh terjungkal
ke tanah, habis ini segera ular itu melingkar dan tegak kepala
menghadapi lawannya pula.
Nyo Ko jadi ketarik oleh pertarungan katak lawan ular ini,
ia pikir tubuh katak kasar dan berat, pula tidak punya gigi,
akan tetapi ternyata berani bertarung melawan seekor ular
yang tidak terbilang kecil itu, sungguh harus dibuat heran.
Ia lihat kedua binatang itu masih saling gebrak dengan
ramainya, tiap-tiap kali ular kembang itu menyerang dan
menubruk, pasti si katak ada jalan buat batas menyerang,
Kalau yang menyerang aneka macam gaya perubahannya,
maka yang bertahan pun banyak sekali tipu akalnya untuk
menjaga diri. Meski gigi ular kembang itu sangat tajam,
namun tetap tak dapat mengalahkan si katak.
Tak lama lagi, karena berulang-ulang kena disembur uap
berbisa si katak, gerak-gerik ular kembang itu mulai lamban
dan kaku, makin lama malah makin terdesak di bawah angin,
sampai akhirnya rupanya insaf bukan tandingan lawannya lagi,
mendadak ular itu putar tubuh terus menyelinap masuk ke
dalam semak.
Katak itu ternyata tidak membiarkan musuhnya lari begitu
saja, sambil mengeluarkan suara "kok-kok-kok", segera ia
menguber.
Melihat gerak-gerik katak itu dan mendengar suaranya,
hati Nyo Ko tergerak, ia merasa gerak-gerik katak ini meski
sangat aneh, tetapi tanpa terasa dirinya seperti lebih suka
padanya, apa sebabnya, inilah ia sendiri tidak mengerti.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Waktu duduk di dalam gua, iapun mendengar suara
panggilan Kwe Ceng, "Hm, kau panggil aku keluar untuk
kemudian menghajarku, kalau aku mau keluar kan tolol!"
demikian ia membatin.
Begitulah malamnya ia tidur dalam gua itu sambil
terduduk, dalam keadaan layap-layap tiba-tiba ia lihat
Auwyang Hong masuk ke dalam gua dan berkata padanya:
"Marilah anakku, biar aku ajar kau berlatih ilmu!"
Nyo Ko menjadi girang, ia ikut keluar gua, di sana ia lihat
Auwyang Hong lantas berjongkok sambil bersuara "kok-kok"
beberapa kali, lalu kedua telapak tangannya mendorong ke
depan.
Entah mengapa, Nyo Ko merasakan seluruh tubuhnya luar
biasa gesitnya, ia tiru cara-cara orang dan berlatih, terasa
olehnya tiap pukulan dan tendangannya tiada satupun yang
keIiru.
Hingga suatu saat tiba-tiba Auwyang Hong memukulnya,
karena tak keburu berkelit "plak", ubun-ubun kepalang kena
diketok hingga terasa sakit tidak kepalang, saking tak
tahannya sampai ia menjerit dan melonjak.
Akan tetapi kembali terdengar suara "plok", lagi kepalanya
kena diketok, dalam kagetnya Nyo Ko menjadi sadar dan...
busyet, hanya mimpi belaka.
Waktu ia raba-raba kepalanya, ternyata sudah benjol
benjut karena benturan pada dinding gua tadi. ia menghela
napas panjang dan keluar gua, ia lihat keadaan sunyi senyap,
cakrawala yang membentang lebat di atas itu seakan-akan
berlapiskan layar hitam, hanya beberapa bintik bintang yang
berkelap-kelip sekedar penghias alam.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko coba merenungkan apa yang diajarkan Auwyang
Hong dalam mimpi tadi, namun sedikitpun dia tidak ingat lagi,
tatkala ia coba berjongkok sambil mulutnya menirukan suara
"kok-kok" beberapa kali, ia bermaksud menggunakan Ha-mokang
yang diperolehnya dari Auwyang Hong didekat kota Lingoh-
tin tempo hari untuk dipraktekkan sekarang, tapi
bagaimanapun ia meng-ingat-ingatnya tetap tidak dapat
disalurkan melalui tangan atau kakinya.
Seorang diri ia berdiri dipuncak bukit sambil memandangi
lautan yang begitu luas, terasa kekosongan hatinya semakin
menjadi hampa.
Tiba-tiba dari arah lautan sana sayup-sayup terdengar
suara teriakan orang yang keras panjang sedang memanggilmanggilnya:
"Ko-ji, Ko-ji!"
Mendengar suara panggilan yang penuh daya tarik ini,
tanpa kuasa lagi Nyo Ko berlari-lari turun ke bawah gunung,
"Aku berada disini, aku berada disini." demikian ia berseru
menjawab.
Walaupun suara anak ini tidak begitu keras, tetapi Kwe
Ceng sudah dapat mendengarnya, maka lekas-lekas
perahunya didayung menuju ke tempat Nyo Ko berada,
sesudah berjarak beberapa tombak dari pesisir, dengan sekali
lompat segera Kwe Ceng meninggalkan perahunya, maka
tertampaklah di bawah cahaya bintang yang remang-remang
dua sosok bayangan orang perlahan-lahan makin mendekat,
dengan kencang kemudian Kwe Ceng telah berangkul Nyo Ko
ke dalam pangkuannya.
"Marilah lekas pulang bersantap," demikianlah kata-kata
yang tercetus dari mulut Kwe Ceng, Saking terharunya sampai
suaranya rada serak dan gemetar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah, setelah kedua orang berada kembali dalam
rumah, segera Ui Yong siapkan nasi hangat dan lauk-pauk
untuk Nyo Ko, terhadap kejadian yang telah lalu, sepatahkatapun
tidak diungkat-ungkatnya.
Besok paginya, keempat anak: Nyo Ko, Kwe Hu dan kedua
saudara Bu, Tun-si dan Siu-bun, oleh Kwe Ceng telah
dikumpulkan diruangan besar, lalu Kwa Tin-ok diundang hadir
pula, kemudian keempat anak itu disuruh menjura di hadapan
abu pemujaan Kanglam-lak-koay (enam orang kosen dari
Kanglam) yang sudah dialam baka itu.
"Toa-suhu," demikian Kwe Ceng berkata kepada Kwa Tinok,
"hari ini Tecu (anak murid) mohon idzin Suhu agar
diperbolehkan menerima empat cucu muridmu ini."
"Bagus, bagus sekali," sahut Kwa Tin-ok bergirang. "Nah,
terimalah ucapan selamatku ini!"
Nyo Ko bersama Tun-si dan Siu-bun lantas menjura pada
Kwa Tin-ok. habis ini baru memberi hormat pada Kwe Ceng
dan Ui Yong sebagai upacara pengangkatan guru.
"Apa akupun harus menjura, ibu?" dengan tertawa Kwe Hu
bertanya.
"Sudah tentu," sahut Ui Yong.
Karena itu, dengan tertawa haha-hihi anak nakal inipun
menyembah pada ketiga orang tua itu.
Mulai hari ini kalian berempat adalah saudara seperguruan
demikian Kwe Ceng memberi petuah dengan sungguhsungguh
dan keren, oIeh karena itu juga seterusnya kalian
harus hormat-menghormati daa cinta-mencintai, ada kesulitan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sama-sama dipikul. Kalau kalian berempat berani berkelahi
lagi, pasti tidak akan kuampuni."
Habis berkata ia pandang pula sekejap pada Nyo Ko.
"Tentu saja kau mengeloni anakmu sendiri," demikian Nyo
Ko membatin dalam hati, "Biarlah selanjutnya aku tidak akan
sentuh dia lagi."
MenyusuI sebagai kakek gurunya, Kwa Tin-ok ikut
menjelaskan juga peraturan perguruan yang sudah umum,
yakni tak boleh menganiaya orang yang lebih lemah, tak boleh
membantu yang jahat sehingga semakin jahat, tak boleh
mencelakai orang yang tak berdosa dan lain sebagainya.
"llmu silat yang kupelajari terlalu banyak macamnya,"
demikian Kwe Ceng berkata lagi, "kecuali dasar yang kudapat
dari Kanglam-chit-koay (tujuh orang aneh dari Kanglam, Lakkoay
tersebut di atas sudah wafat, ditambah Kwa Tin-ok), ilmu
Lwekang dari Coan-cin-pay dan ilmu silat ketiga aliran
persilatan terbesar dari Tang-Lam-Pak (Timur-Selatan-Utara,
maksudnya, dari Tang-sia, Lam-te dan Pak-kay), tentang ini
akan diceritakan tersendiri, kesemua meski hanya sedikit,
tetapi kacang jangan lupa akan kulitnya, sebagai orang jangan
lupa akan asalnya, biarlah hari ini aku ajarkan kalian
kepandaian asal dari Kwa-suco (kakek guru she Kwa,
maksudnya Kwa Tin-ok)."
Dan selagi ia hendak uraikan titik-titik pokok ajarannya,
tiba-tiba Ui Yong melihat Nyo Ko sedang menunduk dengan
terkesima, pada wajah anak ini ada semacam tanda aneh
yang sukar diucapkan, tanpa terasa ia jadi ingat pada berbagai
kejadian yang mencurigakan tempo hari itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Meski ayahnya bukan aku sendiri yang membunuhnya,
tapi boleh dikatakan juga mati di tangan-ku, jangan-jangan
piara macan mendatangkan bencana hingga menjadi bibit
malabetaka yang besar," demikian pikir Ui Yong.
Setelah putar otak sejenak, segera ia mendapatkan suatu
jalan.
"Seorang diri kau terlalu berat mengajar empat anak,
biarlah aku yang mengajar Ko-ji," katanya kemudian.
"Bagus, bagus sekali usulmu !" seru Kwa Tin-ok dengan
ketawa sebelum Kwe Ceng menjawab, "Dan kalian suami isteri
boleh berlomba, lihat saja murid siapa kelak yang terpandai."
Mendengar usul isterinya ini, dalam hati Kwe Ceng
bergirang juga, ia tahu kepintaran Ui Yong beratus kali di atas
dirinya, cara mengajarnya pasti jauh lebih baik daripadanya,
maka berulang-ulang ia pun menyatakan bagus dan akur.
"Tetapi kita harus menetapkan satu syarat," demikian Ui
Yong kemukakan pendapatnya lagi, "Sekali-kali tak boleh kau
mengajarkan Ko-ji, sebaliknya akupun tidak boleh mengajar
mereka bertiga. Pula diantara keempat anak inipun tak boleh
saling belajar, sebab kalau ilmu yang dilatihnya bercampur
aduk, hanya ada jeleknya dan tiada paedahnya."
"Ya, sudah tentu." sahut Kwe Ceng setuju lagi.
"Nah, Ko-ji, ikutlah padaku," kata Ui Yong.
Memang-nya Nyo Ko sedang benci pada Kwe Hu serta
kedua saudara Bu itu, kini mendengar keinginan Ui Yong
bahwa dirinya tidak akan berlatih setempat dengan mereka,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ini justru cocok dengan pikirannya, maka ia lantas ikut Ui Yong
masuk ke ruangan dalam.
Di luar dugaannya, bukannya Ui Yong membawanya ke
lapangan berlatih silat melainkan ia dibawa ke kamar baea,
disini Ui Yong- mengambil sebuah kitab dari rak buku dan
berkata padanya:
"Gurumu mempunyai tujuh orang Suhu yang dijuluki
Kanglam-chit-koay, Toasuhu ialah Kwa-kong-kong itu, Jisuhu
(guru kedua) bernama Cu Jong dan berjuluk Biau-jiu-su-seng
si sastrawan bertangan sakti), maka kini lebih dulu aku ingin
ajarkan kepandaian Cu-suco saja."
Sembari berkata ia lantas buka kitab yang dia ambil dari
rak tadi, dengan suara lantang segera ia membacanya.
Dalam hati Nya Ko menjadi heran, namun ia tak berani
banyak bertanya, terpaksa ia ikut membaca dan belajar
menulis,
Begitulah beruntun-runtun beberapa hari ia hanya di-ajar
membaca oleh Ui Yong dan selamanya tidak pernah
menyinggung tentang ilmu silat.
Suatu hari, sehabis berseko!ah, seorang diri Nyo Ko berjalan-
jalan iseng ke atas gunung, tiba-tiba ia teringat pada
nyali angkatnya yaitu Auyang Hong yang tidak diketahuinya
berada dimana kini, Teringat pada sang ayah angkat tak tahan
lagi ia lantas berjumpalitan dan menjungkir tubuh, ia
menirukan cara yang pernah dipelajarinya itu, tubuhnya yang
menjungkir itu segera berputar cepat
Setelah ber-putar-putar dengan menjungkir, kemudian ia
ikuti petunjuk yang pernah diterimanya dari Auw-yang Hong
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
untuk menjalankan jalan darah secara terbalik, terasa olehnya
semakin berputar semakin lancar. Kemudian waktu ia
melompat bangun, mendadak ia berseru "kok" sekali
berbareng kedua telapak tangannya dipukulkan ke depan,
habis ini ia merasa seluruh badan menjadi segar dan enak
sekali, segera pula mengeluarkan keringat hingga membasahi
sekujur badan. Nyata ia tidak tahu bahwa dengan latihannya
ini tenaga dalamnya sudah maju jauh sekali.
Hendaklah diketahui bahwa ilmu yang diciptakan Auwyan
Hong yang khas itu meski bukan tergolong ilmu yang baik,
tetapi justru merupakan semacam ilmu kepandaian yang luar
biasa lihaynya, pula pembawaan Nyo Ko memang berotak
encer dan mudah menerima, apa yang dia pelajari dalam
tempo yang singkat meski cuma sedikit, namun tanpa terasa
dan diluar tahu ia sudah menuju ke aliran ilmu silat Pak to-san
(gunung Onta putih).
Sejak itulah, maka tiap-tiap hari Nyo Ko lantas belajar
sekolah dengan Ui Yong, kalau pagi atau petang-nya ada
kesempatan segera ia pergi ke tempat sunyi di kaki bukit
untuk melatih diri, sebenarnya bukan maksudnya ingin melatih
diri agar bisa menjadikan seorang kosen yang disegani, tetapi
entah mengapa, tiap-tiap kali sehabis ia berlatih, selalu
dirasakannya luar biasa enak dan segar badannya.
Demikianlah secara diam-diam Nyo Ko melatih ilmu
sendiri, Kwe Ceng dan Ui Yong sedikitpun ternyata tidak tahu.
Maka tiada sebulan, kitab 'Lun-gi' (salah satu kitab ajaran
Nabi Khongcu) yang Ui Yong jadikan mata pelajaran untuk
Nyo Ko sudah selesai semua, Begitu apal isi kitab tsb, sampai
Nyo Ko sanggup membaca-di luar kepala, cuma isi dan arti
kitab yang diajarkan itu, sama sekali ia anti, tidak setuju,
maka seringkali ia sengaja kemukakan bantahan-bantahan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Padahal Ui Yong sendiripun seribu kali tidak sepaham
dengan segala isi kitab yang diajarkan Khong-hucu itu, ia
sendiri sesungguhnya juga jemu, hanya lapat-lapat
perasaannya seakan-akan punya firasat: "Kalau anak ini diberi
pelajaran ilmu silat, kelak pasti akan menjadi bibit bencana
saja, lebih baik kalau ajarkan dia ilmu sastra, biar dia kenyang
dengan teori-teori isi kitab saja, buat dia dan buat orang lain
mungkin malah ada baiknya."
Dengan ketetapan itulah, dengan maksud baik ia mengajar
Nyo Ko bersekolah, Maka sehabis kitab "Lun-gi" lantas disusul
dengan kitab "Beng-cu".
Karenanya, beberapa bulan sudah lewat, selama itu tidak
pernah Ui Yong berbicara sepatah-katapun tentang ilmu silat.
Nyo Ko cukup tahu diri juga, melihat orang tidak omong,
iapun tidak mau tanya, hanya hidup di pulau ini dirasakan
semakin hampa, ia tahu pula meski Kwe Ceng menerima
dirinya sebagai murid, tetapi ilmu silat pasti tidak akan
diajarkan padanya, Sedang kini saja ia bukan tandingan Bu
Tun-si dan Bu Siu-bun, apalagi setahun atau dua tahun lagi
jika mereka mendapat pelajaran silat dari Kwe Ceng, bila
mereka berkelahi lagi pasti ia akan mampus ditangan mereka.
Karena pikiran inilah, ia ambil keputusan, apabila ada
kesempatan segera ia akan berdaya-upaya buat meninggalkan
pulau,
Pada satu sore hari, sehabis Nyo Ko belajar membaca
pada Ui Yong, seorang diri ia ber-jalan-jalan iseng di tepi laut,
dengan memandangi ombak laut yang mendampar-dampar
berdeburan, dalam hati ia pikir entah kapan baru bisa
melepaskan diri dari kurungan ini, bila terlihat olehnya burung
laut yang terbang kian kemari, ia menjadi terharu dan kagum
akan kebebasan burung-burung yang tak terbatas itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tengah ia termenung-menung, tiba-tiba ia dengar di balik
hutan pohon Tho sana ada suara berkesiurnya angin, ia jadi
tertarik, diam-diam ia memutar ke sebelah sana dan
mengintip, maka tertampaklah olehnya, Kwe Ceng sedang
memberi pelajaran silat pada kedua saudara Bu disuatu tanah
lapang.
Ia lihat Kwe Ceng sedang memberi petunjuk3 sambil kakitangannya
memberi contoh dan menyuruh ketiga saudara Bu
itu menirukannya.
Bagi Nyo Ko yang cerdas, hanya sekali lihat saja ia sudah
tahu di mana letak intisari jurus tipu ini, tapi bagi Bu Tun-si
dan Bu Siu-bun, walau sudah belajar pergi datang, masih
belum juga mereka pahami.
Kwe Ceng sendiri memangnya juga berotak puntuI, pada
waktu kecilnya ia sendiri sudah merasakan pahit-getirnya
belajar, maka kini sedikitpun ia tidak merasa jemu dan masih
terus memberi dengan petunjuk dengan penuh sabar.
"Hm, jika Kwe-pepek mau ajarkan padaku, tidak nanti aku
begitu goblok seperti mereka," kata Nyo Ko di dalam hati
sambil menghela napas diam-diam. Oleh karena kesal hati, dia
lantas kembali ke kamarnya untuk tidur.
Petangnya sehabis bersantap dan setelah mengulangi
pelajaran kitabnya terasa olehnya luar biasa isengnya, maka ia
pergi ke tepi laut lagi, di sana ia menirukan gerak-gerik ilmu
silat yang dimainkan Kwe Ceng siang tadi. Namun tipu silat
yang cuma dua tiga gerakan ini, sesudah dimainkan pergi
datang, akhirnya ia merasa bosen juga.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tiba-tiba hatinya tergerak, "Mulai besok, diam-diam akan
mengintip dan mencuri belajar ilmu silatnya, siapa yang
melarang aku?" demikian ia pikir.
Oleh karenanya rasa mendongkolnya yang tertahan sekian
lamanya segera menjadi lapang, dengan berpeluk dengkul ia
duduk bersandar batu karang tepi laut, akhirnya iapun
tertidur.
Entah sudah berapa lama ia tenggelam dalam alam
impiannya ketika tiba-tiba ia dikagetkan bunyi suara rantai
besi yang gemerincing hingga ia terjaga dari tidurnya, waktu
ia mengintai dari belakang batu karang itu, kiranya di tepi laut
sana telah bertambah dengan sebuah perahu layar, suara
gemerincing rantai tadi kiranya disebabkan perahu layar itu
membuang sauh buat berlabuh.
Tak antara lama, dari perahu itu muncul dua orang terus
melompat ke daratan, gerak tubuh mereka ternyata cepat dan
sebat luar biasa.
Setelah berada di daratan, mula-mula kedua orang itu
mendekam dan melongak-longok dahulu ke sekeliling habis ini
perlahan-lahan mereka merayap maju ke tengah pulau.
Melihat kelakuan kedua orang ini terang tidak
mengandung maksud baik, Nyo Ko berpikir: "Jalanan di pulau
ini belak-belok dan lika-liku, kalian ini hanya antar kematian
belaka."
Oleh karena itu, ia mengkeret tubuhnya supaya tidak
dilihat kedua orang itu, ia tidak berani bergerak, dalam pada
itu kedua orang tadi sudah merayap semakin jauh.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ketika pandangannya mengikuti bayangan kedua orang
itu, mendadak ia lihat sesuatu di tempat jauh, tanpa tertahan
ia terkejut.
Kiranya dibawah satu pohon Liu ada sesosok bayangan
orang yang kecil berbaju putih dengan berjungkir sedang
memutar dengan cepat dengan cara sebagaimana biasanya
kalau dirinya berlatih ilmu ajaran Auwyang Hong itu, melihat
bentuk tubuh orang berjungkiran itu jelas bukan lain lagi dari
pada Kwe Hu adanya.
Tentu saja Nyo Ko terheran-heran melihat kelakuan dara
cilik itu, "Apa Kwe-pepek juga ajarkan ilmu kepandaian
semacam ini ?" demikian ia ber-tanya-tanya dalam hati. Tetapi
segera pula ia mengerti : "Aha, tentu pada waktu aku sedang
berlatih telah dapat dilihat dia dan sekarang dia menirukan
caraku itu untuk main-main."
Dalam pada itu, kedua sosok bayangan tadi sudah makin
dekat dengan Kwe Hu, Mungkin saking asyiknya berputar
kayun dengan tubuhnya itu, sama sekali Kwe Hu tidak berasa
kalau ada orang lain mendekatinya, sesaat kemudian,
mendadak kedua orang itu melompat maju, tubuh anak
perempuan ini terus dirangkul, seorang lagi dekap mulut yang
mungil itu dengan tangannya, sedang yang satu lagi,
keluarkan seutas tali terus meringkus seluruh badan Kwe Hu,
bahkan mulutnya disumbat dengan sepotong saputangan.
Perbuatan kedua orang itu ternyata cepat dan berhasil
dengan baik, hanya sekejap saja mereka sudah meletakkan
Kwe Hu yang tak bisa berkutiik itu ke dalam semak-semak,
habis ini mereka melanjutkan merayap ke depan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Menyakksikan kejadian aneh ini, mulut Nyo Ko sampai
ternganga, hatinya pun berdebar-debar dan kuatir pula, ia
tidak tahu apa maunya kedua pendatang itu.
Mata Nyo Ko cukup tajam, meski dalam keadaan gelap ia
masih bisa melihat jelas gerak-gerik kedua orang tadi, ia lihat
sesudah merangikak-rangkak maju lagi, setelah hampir
sampai di jalan masuk ke perkampungan, rupanya mereka
mengerti juga lihaynya Tho-hoa-to yang sudah diatur oleh Ui
Yok-sau, maka mereka tak berani maju lagi, mereka lantas
keluarkan sehelai kertas putih, seorang lantas menggambargambar
di atas kertas itu dengan menggunakan alat tulis,
melihat kelakuan mereka, rupanya mereka sedang mencuri
melukis peta keadaan pulau ini untuk digunakan kemudian
kalau melakukan penyerbuan ke sini.
"Jika sekarang juga aku bertariak, sebelum Kwe- pepek
sempat keluar tentu aku sudah dibunuh mereka lebih dulu,"
demikian diam-diam Nyo Ko membikin perhitungan dalam
hati. .
Mendadak pikirannya tergerak, tiba-tiba ia ambil suatu
keputusan yang luar biasa beraninya, "Ya, biar diam-diam aku
masuk ke dalam perahu mereka, jika beruntung tidak
konangan mereka, tentu aku akan berhasil melarikan diri dari
pulau ini," demikian ia berpikir.
Sesudah ambil keputusan ini, iapun tidak pusing apa
perbuatannya ini berbahaya tidak, segera ia merayap-rayap
mendekati perahu yang berlabuh itu.
Setelah dekat, selagi ia hendak merayap ke atas perahu,
tiba-tiba terdengar suara "krak" dari dalam perahu, menyusul
ini papan geladak perahu itu terbuka, dari dalamnya menongol
satu orang untuk kemudian melompat ke pesisir.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tidak kepalang kaget Nyo Ko oleh munculnya orang yang
sekonyong-konyong ini, lekas-lekas ia mendekam ke bawah
lagi.
Sementara kedua orang yang duluan tadi rupanya telah
mendengar juga, yang seorang memondong Kwe Hu, satunya
lagi lantas kembali ke perahu hendak memeriksa apa yang
terjadi.
Akan tetapi orang yang muncul belakangan ini telah
sembunyi di belakang gundukan pasir tepi laut, ia tidak
memapaki kedua orang yang duluan, nyata mereka bukan
kawan sendiri.
Waktu itu Nyo Ko berada di belakang orang yang muncul
belakangan itu, maka ia bisa menyakitkan semua dengan
terang, makin lihat ia semakin heran, ia lihat yang pondong
Kwe Hu itu telah kembali ke dalam perahu, sedang kawannya
menengok sekelilingnya dan mendekati gundukan pasir tadi,
namun orang yang sembunyi itu masih belum ber-gerak, ia
menunggu ketika orang sudah dekat, sekonyong-konyong ia
melompat keluar, diantara berkelebatnya sinar putih, sekali
serang saja ia telah tancapkan belatinya di atas dada orang.
Tidak ampun lagi tanpa bersuara sedikitpun, orang yang
diserang itu roboh terguling.
Mendengar suara gedebukan karena jatuhnya tubuh itu,
orang yang berada di atas perahu tadi rupanya menjadi
curiga. "Lo-toa, ada apa ?" ia coba tanya sang kawan.
Lekas-lekas penyerang tadi mencabut belatinya, ia
sembunyi pula ke belakang gundukan pasir dan menjawab
dengan suara yang ditahan dan dibikin-bikin:
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
""Aneh, aneh !"
Mendengar suara yang samar-samar, tetapi lama juga
tidak melihat kawannya kembali orang di dalam perahu
menjadi khawatir, dengan langkah lebar segera ia menuju
gundukan pasir tadi.
Melihat orang tinggalkan perahunya, Nyo Ko pikir jangan
sia-siakan kesempatan baik ini, maka dengan cepat ia
merayap ke tepi perahu, ia niat mengangkat sauh untuk
kemudian menjalankan perahunya.Pada saat itu juga
terdengar olehnya suara jeritan ngeri, nyata belati si
pembunuh tadi telah ambil korban lagi.
Sementara itu Nyo Ko lagi angkat rantai jangkar tapi
sebelum jangkar kena ditarik, rantai besi itu sudah
mengeluarkan suara gemerincing lebih dulu. Karenanya ia
tahu gelagat jelek, segera ia hendak melarikan diri, namun
sudah terlambat, ia lihat si pembunuh tadi dengan mulut
menggigit belati yang masih-teteskan darah telah melompat
ke atas perahu.
Di bawah sinar bulan Nyo Ko dapat melihat pakaian orang
yang compang-camping, mukanya penuh noda darah, rupanya
beringas menakutkan.
Keruan Nyo Ko menjadi kelabakan bingung, Dalam
keadaan demikian otomatis ia berjongkok, mulutnya bersuara
"kak-kok" dua kali, kedua telapak tangannya mendadak
didorong kedepan pula.
Tatkala itu kaki orang tadi belum sempat menancap di
atas perahu, karena serangan Ha-mo-kang ini dalam keadaan
masih terapung di udara orang itu mendadak jatuh
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terjengkang kebelakamg dan terbanting masuk laut habis ini
sedikitpun tidak berkutik lagi.
Karena serangan ini, Nyo Ko berbalik terkesima malah, ia
terpaku di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus
dilakukannya lebih lanjut.
"He, Ha-mo-kang ini kau dapat belajar dari mana ? Dan
Auwyang Hong mana dia ?" tiba-tiba terdengar suara teriakan
Ui Yong dari jauh.
Ketika Nyo Ko angkat kepalanya, terlihat bagaikan terbang
cepatnya Kwe Ceng dan Ui Yong sedang mendatangi. Agaknya
karena mendengar suara-suara yang mencurigakan dan
kehilangan Kwe Hu, maka mereka lekas-lekas datang
mencarinya.
Dalam pada itu saking ketakutan tadi, semangat Nyo Ko
masih belum pulih, lebih-lebih ia tidak mengerti Ha-mo-kang
yang biasa dilatihnya untuk main-main belaka ternyata bisa
begini lihay, oleh karena itulah ia masih termangu-mangu dan
tidak menjawab seruan Ui Yong tadi.
Waktu kemudian Kwe Ceng menarik dan memeriksa orang
yang kecemplung ke laut itu, tiba-tiba ia berseru kaget:
"Yong-ji, ini kawan dari Kay-pang" (kaum pengemis)."
Pada dada orang itu terdapat noda darah, napasnya sudah
lama putus.
Ui Yong menjadi gusar bercampur kaget, nampak keadaan
luka orang itu, dengan sekali cengkeram ia pegang lengan Nyo
Ko dan menanya dengan suara bengis : "Hayo, katakan !"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Cengkeraman Ui Yong ini dirasakan sakit sekali pada
lengan Nyo Ko, tetapi ia mengertak gigi dengan kencang, ia
menahan sakit dan tetap tutup mulut tanpa menjawab.
Ketika Kwe Ceng menoleh, tertampak olehnya di belakang
gundukan pasir sana menggeletak dua orang puIa, lekas ia
melompat ke sana buat memeriksanya, ia dapatkan pula peta
yang digambar kedua orang itu, "He, Yong-ji, lekas sini!"
serunya pada sang isteri.
Segera Ui Yong melepaskan Nyo Ko dan mendekati Kwe
Ceng, di belakang gundukan pasir itu mereka berembuk
dengan suara pelahan sampai lama.
Dalam pada itu kejadian ini telah diketahui Kwa Tin-ok
juga, orang inipun menyusul tiba, maka mereka lantas
berunding bertiga orang.
Sesudah bicara agak lama, kemudian Kwe Ceng
melepaskan puterinya dahulu dari ringkusan musuh tadi, habis
ini ia berkata pada Nyo Ko: "Ko-ji, kau kurang cocok tinggal di
pulau ini, biar aku antar kau ke Tiong-yang-kiong di Cong-lamsam,
di sana kau bisa belajar silat di bawah petunjuk Tiangjim-
cu Khu-cinjin dari Coan-cin-kau."
Keputusan yang diambil Kwe Ceng secara tiba-tiba ini,
seketika Nyo Ko menjadi bingung seakan-akan kehilangan
sesuatu, maka ia hanya mengangguk pelahan saja.
Maka besok paginya, setelah membekal perlengkapan
seperlunya berangkatlah Kwe Ceng bersama Nyo Ko sesudah
mohon diri pada Ui Yong serta Kwe Hu dan kedua saudara Bu,
mereka berlayar menuju pantai timur daerah Tjiatkang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah mendarat, Kwe Ceng beli dua ekor kuda dan
melanjutkan perjalanan ke utara bersama Nyo Ko.
Selamanya belum pernah Nyo Ko menunggang kuda,
tetapi karena Lwekang yang dia latih sudah ada dasarnya,
maka setelah berlari beberapa hari sudah cukup pandai dan
bisa menguasai binatang tunggangannya, Bahkan karena hatimudanya,
setiap hari ia malah melarikan kudanya didepan
Kwe Ceng.
Tidak seberapa hari, sesudah menyeberangi Hong-ho
(Huangho, sungai Kuning), mereka telah memasuki daerah
Siamsay.
Tatkala itu negeri Kim (Chin) sudah dibasmi oleh bangsa
Mongol (Jengis Khan beserta putera-puteranya), maka di utara
Hong-ho boleh dikatakan merupakan dunianya bangsa
Mongol.
Dimasa mudanya Kwe Ceng sendiri pernah menjabat
sebagai panglima dalam pasukan Mongol (ia pernah diangkat
menjadi menantu Tumujin yang kemudian terkenal sebagai
Jengis Khan), ia kuatir kalau kesamplok dengan bekas
bawahannya dan mungkin akan mendatangkan kesulitan,
maka dia lantas tukarkan kuda mereka dengan keledai yang
kurus dan jelek, ia ganti pakaian pula dengan baju yang
terbuat dari kain kasar, ia menyamar seperti orang desa atau
kaum petani saja.
Berlainan dengan Nyo Ko yang berhati muda,
sesungguhnya dalam hati ia seribu kali tidak sudi memakai
baju yang berbau kampungan seperti Kwe Ceng itu, tetapi
selamanya ia tak berani bantah kata-kata sang paman, maka
terpaksa dia mengenakan baju kasar, kepalanya dibelebat pula
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dengan ikat kain biru. dan menunggang keledai yang kurus
jelek.
Justru keledai yang dia tunggangi ini buruk pula wataknya,
jalannya sudah lambat, berulang kali masih ngambek lagi,
maka sepanjang jalan selalu Nyo Ko cekcok saja dengan
binatang tunggangannya ini.
Hari itu mereka telah sampai di daerah Hoanjoan, tempat
ini indah permai pemandangan alamnya. Melihat keindahan
alam semesta yang menarik ini, meski sejak meninggalkan
Tho-hoa-to dan karena mendongkol hatinya hingga selama ini
tidak pernah Nyo Ko menyebut lagi tentang pulau bunga Tho
itu, namun kini tanpa tertahan ia membuka suara.
"Kwe-pepek, tempat ini hampir mirip dengan Tho-hoa-to
kita," demikian ia bilang pada Kwe Ceng.
Hati Kwe Ceng memang luhur dan berbudi, mendengar
anak ini bilang "Tho-hoa-to kita", tanpa terasa ia jadi terharu.
"Ko-ji," sahutnya kemudian, "Cong-lam-san sudah tidak
jauh lagi dari sini, ilmu silat Coan-cin-kau adalah ilmu
kepandaian terkemuka di bumi ini, selanjutnya kau harus
belajar secara baik-baik. Beberapa tahun lagi tentu aku akan
datang lagi buat menjemput kau pulang ke Tho-hoa-to."
Mendengar kata-kata terachir ini, cepat Nyo Ko melengos.
"Tidak, selama hidupku ini tidak akan kembali lagi ke Thohoa-
to," katanya kemudian.
Sama sekali diluar dugaan Kwe Ceng bahwa anak semuda
Nyo Ko ini bisa mengucapkan kata-kata yang begitu ketus dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tegas, maka dia tertegun seketika tiada kata-kata lain yang
bisa dia ucapkan.
"Apa kau marah pada Kwe-pekbo (bibi)?" tanyanya
kemudian.
"Mana Titji (keponakan) berani ?" sahut Nyo Ko. "Malahan
Titji selalu membikin Kwe-pekbo marah." jawaban yang tajam
ini bikin Kwe Ceng bungkam, memangnya dia tidak pandai
bicara, maka ia tidak menyambung lagi.
Perjalanan selanjutnya mulai menanjak, diwaktu lohor
mereka sudah sampai di suatu kelenteng di atas bukit. Waktu
Kwe Ceng mendongak, ia lihat papan nama yang tergantung
di atas pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar 'Gu-tap-si"
atau kelenteng kepala kerbau.
Mereka tambat keledai pada satu pohon di luar kelenteng,
mereka masuk ke dalam untuk minta sedekah sekedar isi
perut.
Didalam kelenteng itu ternyata ada tujuh-delapan paderi,
nampak dandanan Kwe Ceng yang sederhana dan kotor,
mereka mengunjuk sikap dingin, maka sedekah yang diberikan
dua mangkok bubur dingin serta beberapa potong kue.
Namun Kwe Ceng menerima saja sedekah makanan
seperti itu, bersama Nyo Ko mereka lantas duduk di atas
bangku batu di bawah pohon cemara untuk makan. Pada saat
lain, ketika Kwe Ceng berpaling tiba-tiba ia lihat ada pilar batu
di belakang pohon yang sebagian besar tertutup oleh rumput
alang-alang yang lebat, lapat-lapat hanya nampak dua huruf
"Tiang-jun" pada pilar batu itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kwe Ceng tergerak hatinya oleh tulisan itu, ia mendekati
dan memeriksanya lebih jelas dengan menyingkap rumput
alang-alang yang menutupi batu itu, kemudian baru ia ketahui
di atas batu itu terukir sebuah syair gubahan Tiang-jun-cu Khu
Ju-ki, salah satu tokoh terkemuka angkatan kedua dari Coancin-
kau yang hendak didatanginya sekarang ini.
Syair itu menyesalkan kehancuran negara yang terjatuh di
tangan bangsa lain, Karenanya Kwe Ceng terbayang kembali
pada kejadian di gurun Mongol belasan tahun yang lalu, ia
terharu, sambil meraba pilar batu itu ia termangu-mangu saja.
Ketika teringat tidak lama lagi bisa bertemu dengan Khu Ju-ki
maka hatinya rada terhibur dan bergirang.
"Kwe-pepek, apakah maksud syair diatas batu ini ?"
demikian Nyo Ko tanya.
"lni adalah syair buah karya kau punya Khu-cosu (kakek
guru), Murid kesayangan Khu-cosu dahulu bukan lain adalah
mendiang ayahmu," sahut Kwe Ceng sambil menjelaskan
sekadarnya arti yang terkandung pada syair itu. "Mengingat
ayahmu, tentu Khu-cosu akan layani kau baik-baik, maka kau
harus belajar dengan giat pula agar kelak besar gunanya
untuk nusa dan bangsa."
"Kwe-pepek, maukah kau beritahukan satu hal padaku,"
tiba-tiba Nyo Ko berkata pula.
"Hal apa ?" tanya Kwe Ceng.
"Cara bagaimana meningggalnya ayahku ?" kata Nyo Ko.
Muka Kwe Ceng berubah seketika oleh pertanyaan ini,
teringat olehnya peristiwa di dalam kelenteng Thi-cio-bio di
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kahin di mana Nyo Khong - ayah Nyo Ko - telah tewas, maka
tubuhnya gemetar sedikit ia tidak menjawabnya.
"Siapakah sebenarnya yang menewaskan ayah ?" tanya
Nyo Ko pula.
Tetapi Kwe Ceng tetap tidak menjawab.
"Kau dan Kwe-pekbo yang menewaskan dia, ya bukan ?"
seru Nyo Ko tiba-tiba dengan bernapsu.
Kwe Ceng menjadi gusar, ia angkat tangannya dan
menggablok sekerasnya sambil membentak: "Tutup mulut,
siapa yang suruh kau sembarang omong ?"
Tenaga dalam Kwe Ceng sekarang entah sudah betapa
lihaynya, maka gablokan dalam keadaan gusar itu seketika
membikin pilar batu tadi yang kena digebuk itu berantakan,
batu krikil pun berhamburan.
Kelihatan sang paman naik darah, Nyo Ko jadi mengkeret.
"Ya, Titji mengaku salah, selanjutnya tidak berani
sembarangan omong lagi, harap paman jangan marah," lekaslekas
ia minta maaf dengan kepala menunduk.
Sesungguhnya Kwe Ceng sangat sayang pada anak ini,
kini demi mendengar ia mau mengaku salah, segera
amarahnya lenyap. Dan selagi ia hendak menghibur Nyo Ko
agar jangan takut, tiba-tiba terdengar di belakang ada suara
tindakan kaki yang pelahan, waktu ia menoleh, dilihatnya ada
dua To-su (imam penganut Tao-isme) setengah umur berdiri
di ambang pintu sedang memperhatikan gablokannya dipilar
batu tadi, tentu perbuatannya tadi telah dilihat oleh kedua
imam ini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah saling pandang sekejap, cepat kedua To-su itu
keluar meninggalkan kelenteng itu.
"Tindakan kedua imam yang cepat dan gesit itu dapat
dilihat Kwe Ceng dengan jelas, terang tidak lemah ilmu silat
kedua orang itu. Kwe Ceng pikir letak Tiong-yang-kiong dari
gunung Cong-lam-san itu tidak jauh dari kelenteng di mana
dia berada ini, maka ia menduga kedua imam ini pasti orang
dari Tiong-yang-kiong. Kalau melihat umur keduanya sudah
kira-kira empat puluhan, maka besar kemungkinan mereka
adalah anak murid Coan-cin-chit-cu (tujuh tokoh dari Coancin-
kau), itu aliran persilatan yang paling terkemuka dan
disegani di kalangan Bu-lim.
Memang sudah lama Kwe Ceng tinggal di Tho-hoa-to dan
tidak saling memberi kabar dengan Ma Giok bertujuh, (Ma
Giok adalah orang pertama dari Coan-cin-chit-cu), oleh
karenanya anak murid Coan-cin-kau itu hampir tidak dikenal
seluruhnya, ia hanya tahu bahwa paling belakang ini penganut
Coan-cin-kau semakin banyak dan maju dengan pesat, Ma
Giok, Khu Ju-ki dan Ju-it cu, banyak menerima anak murid
yang berbakat maka nama Coan-cin-kau di kalangan Bu-lim
makin lama semakin cemerlang, tiada satupun orang kalangan
Kangouw yang tidak menaruh hormat bila menyebut nama
Coan-cin-kau.
Begitulah, karena Kwe Ceng pikir dirinya toh akan naik ke
atas gunung untuk menemui Khu Ju-ki, Khu-cin-jin (cinjin
adalah sebutan pada imam Taoisme yang berilmu), maka ia
merasa kebetulan bisa jalan bersama dengan kedua imam
tadi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena itu, segera ia percepat langkahnya berlari keluar
kelenteng ia lihat kedua imam tadi dengan langkah secepat
terbang sudah berlari sejauh beberapa puluh tombak, sama
sekali mereka tidak menoleh lagi.
"Hai, kedua Toheng (saudara yang berilmu), yang di
depan itu berhentilah dahulu, ada sesuatu aku ingin tanya,"
demikian Kwe Ceng teriaki mereka.
Suara Kwe Ceng memangnya lantang, pula tenaga
dalamnya hebat, maka sekali menggembor suaranya seakanakan
menggetar lembah gunung.
Kedua imam itu rada terkejut mendengar suara tapi
bukannya berhenti, sebaliknya mereka berlari lebih cepat.
"Eh, apa kedua orang ini tuIi?" demikian pikir Kwe Ceng.
Sekali dia tutul kakinya, tiba-tiba ia melayang ke depan,
hanya beberapa kali naik-turun saja tahu-tahu ia sudah
mendahului di depan kedua imam itu.
"Baik-baikkah kedua To-heng," Kwe Ceng menyapa sambil
saja (memberi hormat dengan mengepal kedua tangan) dan
membungkuk pula.
Nampak gerak tubuh yang begini cepat, kedua imam itu
kaget, ketika melihat Kwe Ceng membungkuk memberi
hormat, mereka menyangka orang akan serang dengan
tenaga dalam, maka dengan cepat pula mereka berkelit ke
kanan dan kiri.
"Apa kau lakukan ?" demikian mereka membentak
berbareng.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Apa kalian adalah Toheng dari Tiong-yang-kiong di Conglam-
san?" tanya Kwe Ceng.
"Kalau ya mau apa?" sahut salah satu imam itu dengan
menarik muka.
"Cayhe (aku yang rendah) adalah kenalan lama Tiang-juncinjin
Khu-totiang, maksud kedatanganku justru ingin ke atas
gunung buat menemuinya, maka diharap Toheng suka
menunjukkan jalannya," kata Kwe Ceng pula.
"Kalau kau berani pergi sana sendiri! Hayo menyingkir!"
sahut imam satunya lagi yang pendek gemuk.
Habis ini mendadak sebelah tangannya menyapu dari
samping, serangan ini luar biasa cepatnya, terpaksa Kwe Ceng
harus berkelit ke kanan. Diluar dugaan, imam satunya yang
kurus itu segera menyerang pula berbareng ia memukul dari
sebelah kanan, dengan demikian Kwe Ceng jadi tergencet di
tengah.
Kedua serangan yang dilontarkan ini disebut "Tay-kwanbun-
sik" atau gerakan menutup pintu, adalah tipu serangan
yang lihay dari Coan-cin-pay, dengan sendirinya Kwe Ceng
dapat mengetahuinya, cuma yang dia tidak mengerti ialah
kenapa kedua imam ini mendadak menyerangnya dengan tipu
yang mematikan, inilah yang bikin dia bingung,
Oleh karena itu, dia tidak patahkan serangan orang-orang,
juga tidak menghindar maka terdengarlah suara "plak-plok"
yang keras, kedua telapak tangan imam itu kena menghantam
di bawah bahunya, tetapi rasanya, seperti kena menghantam
karung kosong saja.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dengan menerima gebukan ini, segera Kwe Ceng dapat
mengukur tinggi rendahnya ilmu silat lawan, ia pikir kalau
bicara tentang kepandaian, kedua imam ini memang betul
adalah anak murid Coan-cin-chit-cu dan masih terhitung
seangkatan dengan dirinya pula, Tadi ia sudah kumpulkan
tenaga untuk menahan pukulan kedua orang itu, ia bisa
gunakan tenaga dalamnya dengan tepat sekali, ia bikin diri
sendiri sedikitpun tindak terluka juga tidak sakit, sebaliknya ia
pentalkan kembali tenaga pukulan lawan hingga tangan kedua
imam itu terasa sakit dan bengkak.
Keruan tidak kepalang kejut kedua imam itu, sebab
dengan keuletan silat mereka yang sudah dilatihnya lebih dua
puluh tahun, ternyata pukulan mereka tadi hanya seperti kena
di tempat kosong saja. Maka mereka tidak berani ayal lagi,
sekali teriak, mereka menerjang bersama, dua pasang kaki
mereka segera menyamber mengarah dada Kwe Ceng.
Pembawaan Kwe Ceng memang sabar dan peramah, tidak
gampang dia naik darah atau menjadi gusar, nampak kedua
imam ini seruduk sini dan terjang sana tanpa sebab, diamdiam
ia menjadi heran, "Coan-cin-chit-cu semuanya adalah
imam berilmu, kenapa anak murid mereka bisa bersikap
kasar?" demikian ia membatin.
Dalam pada itu tendangan orang secara berantai dengan
lihay sudah dekat tubuhnya, namun Kwe Ceng masih tetap
tidak bergerak seperti tidak gubris, Maka terdengarlah segera
"plak-plok, plak-plok" berulang sampai belasan kali, dadanya
bertambah debu kotoran bekas kaki.
Kalau Kwe Ceng tetap anggap sepi saja, sebaliknya kedua
imam itu entah berlipat berapa kali ngerinya daripada tadi
demi nampak tendangan mereka tidak bikin orang tergoyah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sedikitpun, bahkan tendangan mereka sama saja seperti
mengenai karung pasir.
"Orang ini sebenarnya manusia atau setan ? Meski
tingkatan guru dan paman-paman guru kamipun tidak
mempunyai kepandaian setinggi ini?" demikian mereka
berpikir dengan jeri
Waktu mereka mengamat-amati orang, terlihat Kwe Ceng
bermata besar, alisnya tebal, mukanya kotor dengan debu,
pakaiannya terbikin dari kain kasar, serupa saja seperti orang
udik, sedikitpun tidiik nampak sifat-sifat istimewa, keruan
mereka menjadi kesima tanpa bisa bersuara,
Di lain pihak Nyo Ko yang menyaksikan pamannya digebuk
dan ditendang kedua imam itu, sedangkan Kwe Ceng sama
sekali tidak membalas, diam-diam ia menjadi gusar.
"Hai, kalian imam busuk ini kenapa memukuli pamanku?"
segera ia membentak.
"Ko-ji, tutup mulut," cepat Kwe Ceng mencegah anak ini
mencaci maki lebih ianjut, "Lekas kemari dan memberi hormat
kepada Totiang ini."
Mendengar kata-kata Kwe Ceng ini, Nyo Ko tercengang
dan penasaran. "Kwe-pepek sungguh aneh, masa takut pada
mereka ?" pikirnya.
Dalam padu itu, kedua imam tadi agaknya belum kapok,
sesudah saling pandang sekejap, mendadak mereka lolos
pedang, dengan cepat mereka menyerang, imam yang pendek
menusuk ke bagian bawah Kwe Ceng dengan tipu "tam-hai-toliong"
atau menjelajahi laut membunuh naga, sedang imam
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
yang kurus membacok kaki Nyo Ko dengan gerakan "Kinghong-
sau-yap" atau angin lesus menyapu daun.
Sebenarnya Kwe Ceng masih pandang enteng seranganserangan
orang ini, tetapi demi melihat Nyo Ko yang tak
berdosa ikut diserang juga dengan tipu yang cukup keji, mautak-
mau hatinya jadi dongkol juga, "Anak ini toh tiada
permusuhan dengan kalian, kenapa harus diserang dengan
tipu yang ganas ini? Dengan bacokanmu ini apa kakinya
takkan menjadi buntung ?" demikian ia pikir dengan gemas.
Karena itu segera ia tolong dulu Nyo Ko yang terancam
itu, ia mengegos tubuh sedikit ke samping, berbareng ini
dengan gerak tipu "sun-cui-tui-du" atau menurut arus air
menyurung perahu, dengan tangan kiri ia tempel batang
pedang imam pendek yang serang dia tadi, lalu dengan
pelahan ia dorong ke kiri, dengan demikian imam pendek itu
tidak mampu pegang kencang senjatanya higgga memutar
balik, pedang yang membalik ini saling beradu dengan
demikian terdengarlah suara "trang" yang nyaring, pedang
kawannya sendiri, si-imam kurus, hingga dengan demikian
tanpa ditangkis tipu serangan imam kurus itu kena digagalkan
temannya sendiri.
Tentu saja kedua imam itu merasakan tangan mereka
kaku kesemutan, kembali mereka pandang Kwe Ceng dengan
mata melotot, dalam hati mereka lagi-lagi tidak kepalang
terkejutnya, tapi juga kagum atas kepandaian orang yang
tinggi itu, Meski demikian, toh mereka masih penasaran,
dengan berteriak kembali mereka merangsak maju.
Nampak gerak serangan orang, diam-diam Kwe Ceng pikir:
"Kepandaian kalian ini sungguhpun terhitung Kiam-hoat yang
hebat, tetapi kalian hanya berdua, pula belum matang
latihanmu, apa gunanya kalian pamer dihadapanku?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tetapi karena kuatir Nyo Ko akan keserempet senjata
mereka, maka sambil hindarkan sabetan pedang lawan,
segera pula ia samber tubuhnya Nyo Ko.
"Cayhe adalah kenalan lama Khu-cinjIn, hendaklah kalian
jangan bergurau lagi," ia berteriak.
Akan tetapi kedua imam itu ternyata tidak kenal aturan.
"Kau bilang kenal Ma-cinjin juga percuma", kata imam
yang kurus.
"Ya, Ma-cinjin memang pernah juga mengajarkan
kepandaian pada Cayhe," sahut Kwe Ceng.
Imam yang kate tadi wataknya paling berangasan segera
ia mendamperat lagi.
"Bangsat, jangan kau asal ngoceh, jangan-jangan nanti
kau bilang Tiong-yang Cosu kami juga pernah ajarkan
kepandaian padamu ?" teriaknya murka, Menyusul ini, dengan
sekali tusuk, ujung pedangnya mengarah dada Kwe Ceng
puIa.
Kwe Ceng yang berpikiran sederhana, jadi tidak habis
mengerti, kedua imam ini sudah terang adalah anak murid
Coan-cin-kau, tapi mengapa dia dianggap sebagai musuh
besar saja?
Tetapi karena Kwe Ceng memang berbudi luhur, pula ia
pikir Nyo Ko bakal belajar silat di Tiong-yang-kiong, maka
sedapat mungkin jangan menyakiti hati imam-imam itu, oleh
karenanya, terus menerus ia hanya berkelit saja atas serangan
lawan dan tidak pernah balas menyerang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Oleh sebab tipu serangan mereka tetap tidak mampu
mengenai sasarannya, akhirnya kedua imam tadi menjadi
kewalahan sendiri, mereka menjadi gelisah, mereka insaf ilmu
silat Kwe Ceng jauh diatas mereka, kalau hendak melukainya
jelas tidak gampang, maka mereka lantas ganti siasat, tibatiba
mereka ubah Kiam-hoat yang dimainkan tadi, beruntunruntun
beberapa kali tusukan mereka dialihkan sasaran pada
diri Nyo Ko.
Melihat kekurangajaran orang, sungguhpun Kwe Ceng
orang sabar, akhirnya rada naik darah juga.
Sementara itu ia lihat imam yang kate sedang menusuk
dengan gerakan yang cukup ganas, mendadak Kwe Ceng ulur
tangan kanannya, dengan kedua jari- menjepit senjata orang,
habis ini ia sodok batang hidung lawan dengan sikutnya.
Ketika senjata dijepit jari orang, imam pendek itu menariknarik
sekuatnya, tetapi tidak berhasil, sebaliknya tahu-tahu
sikut orang telah menyodok tiba, ia insaf kalau sampai
mukanya dicium sikut orang, kalau tidak mampus sedikitnya
akan luka parah juga, oleh karena itu terpaksa ia lepaskan
senjatanya dan melompati mundur.
Kepandaian Kwe Ceng pada waktu ini boleh dikatakan
sudah ditarap yang tiada taranya, ia bisa berbuat apa maunya,
setiap kali tangannya bergerak atau kakinya melayang tentu
kena sasaran dengan tepat dan hebat, maka ketika dengan
pelahan ia menyentil dengan kedua jarinya, dengan
mengeluarkan suara "creng" yang nyaring, tiba-tiba pedang
yang dia rampas tadi menegak dan mental ke atas.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam pada itu imam yang kurus sedang ayun pedangnya
menusuk ke leher Nyo Ko, karena itu, ujung pedangnya telah
kena ditumbuk oleh pedang yang disentil oleh Kwe Ceng ini,
begitu keras benturan itu hingga si-imam kurus merasakan
tangannya panas pedas, tubuhnya pun ikut tergetar, maka
terpaksa iapun-melepaskan senjatanya terus melompat
mundur.
"Maling cabul ini memang lihay, lekas lari!" seru kedua
imam itu berbareng, Baru kini, mereka merasa kapok, Segera
mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu.
Mendengar cacian orang, semula Kwe Ceng tertegun
sejenak, tetapi segera ia menjadi gusar, Selama hidupnya
memang sering dia dimaki orang seperti "bangsat",
"jahanam", "tolol", "goblok" dan macam-macam lagi, tetapi
kata-kata "maling cabul" selamanya belum pernah orang
memaki padanya.
Dalam marahnya, iapun tidak turunkan Nyo Ko lagi, sambil
menggendong anak ini segera ia mengudak dengan langkah
cepat
Setelah menyusul sampai di belakang kedua imam itu,
begitu kakinya menutul, segera tubuhnya melayang lewat di
atas kepala kedua To-su atau imam itu dan dalam keadaan
masih terapung di udara segera ia membentak: "He, tadi
kalian memaki apa padaku ?" kedua imam itu luar biasa
terperanjatnya imam pendek itu oleh kelihayan orang,
walaupun jeri dalam hati, tapi mulutnya ternyata belum mau
kalah, ia masih berani balas membentak.
"Bukankah kau ingin memiliki itu perempuan hina she
Liong? Lalu untuk apa kau datang ke Ciong-lam-san?"
demikian damperatnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Meski keras di mulut, tapi kuatir kalau Kwe Ceng
menghajarnya, maka tanpa terasa ia malah mundur ke
belakang.
Mendengar damperatan orang yang tak keruan
juntrungnya ini, seketika Kwe Ceng hanya melongo, "Aku ingin
memiliki perempuan hina she Liong? siapakah perempuan she
Liong itu? Kenapa aku ingin memiliki dia?" demikian
serentetan pertanyaan timbul dalam hatinya hingga ia bingung
sendiri.
Melihat orang termangu-mangu seperti orang linglung,
kedua imam itu pikir kesempatan baik jangan disia-siakan,
maka sesudah saling memberi tanda, segera mereka
menyerobot lewat di samping Kwe Ceng dengan langkah cepat
terus lari pula ke atas gunung.
Melihat Kwe Ceng masih termangu-mangu, Nyo Ko lantas
meronta turun dengan pelahan dari gendongannya.
"Kwe-pepek, kedua imam busuk itu sudah lari," kata Nyo
Ko.
Karena itu, Kwe Ceng mengiakan sekali seperti orang baru
sadar dari mimpi.
"Tadi mereka bilang aku ingin memiliki itu perempuan she
Liong," siapakah dia itu?" kata Kwe Ceng kemudian dengan
masih bingung.
"Titji pun tidak tahu," sahut Nyo Ko. "Tetapi melihat kedua
imam itu tanpa membedakan merah atau putih lantas
menyerang kita, agaknya mereka telah salah wesel."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ya, ya, tentu begitu," ujar Kwe Ceng dengan ketawa geli
sendiri, "Kenapa aku tidak pikir sampai disitu, Marilah kita naik
ke atas gunung!"
Waktu Nyo Ko mengambil kedua pedang yang ditinggalkan
kedua imam tadi, Kwe Ceng melihat pada batang pedang
masing-masing terukir tiga huruf kecil "Tiong-jang-kiong"
Mereka lantas mendaki ke atas gunung. setelah lebih satu
jam, akhirnya mereka sampai di puncak "Bo-cu-giam" atau
puncak ibu gendong anak, sesuai dengan namanya, puncak ini
menonjol seperti seorang wanita yang membopong seorang
anak.
Di puncak ini mereka duduk mengaso.
"Apa kau letih, Ko-ji?" tanya Kwe Ceng.
Nyo Ko tersenyum "Tidak," sahutnya kemudian dengan
geleng kepala.
"Baiklah kalau begitu, mari kita naik ke atas lagi," kata
Kwe Ceng.
Maka mereka lantas melanjutkan lagi perjalanan. Tidak
antara lama, tertampak oleh mereka di depan ada sebuah
batu cadas yang sangat besar dengan corak yang seram, batu
cadas raksasa ini setengah menggelantung di udara bagai
seorang nenek yang sedang membungkuk melongok ke
bawah.
Saking seramnya hati Nyo Ko terasa agak takut.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar beberapa kali suitan
kecil, lalu dari belakang batu besar itu melompat keluar empat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tosu atau imam, di tangan mereka masing-masing
menghunus pedang dan menghadang di tengah jalan, tetapi
semuanya bungkam saja.
"Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke
atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin," demikian kata
Kwe Ceng sambil maju memberi hormat.
Untuk sementara tiada satupun dari empat imam itu
menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan
jangkung lantas melangkah maju.
"Hm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, dia
adalah menantu Ui-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia
begini tak kenal malu seperti kau ini, lekas-lekas kau enyah
turun gunung saja." demikian kata imam itu dengan tertawa
dingin.
"Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?" demikian
Kwe Ceng membatin, Akan tetapi ia coba sabarkan diri, lalu
berkata lagi: "Cayhe betul-betul Kwe Ceng ada-nya harap
kalian memberi jalan, soalnya tentu akan menjadi jelas kalau
sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin."
Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti,
bahkan ia membentak.
"Hm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke
Cong-lam-san sini mungkin kau sudah bosan hidup,"
damperatnya. "Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa,
mungkin kau mengira semua imam yang tinggal di Tiongyang-
kiong adalah manusia-sia tak berguna semua".
Ia mendamperat orang dengan kata-kata yang
menyinggung-juga kedua imam pendek dan kurus tadi,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
setelah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya
bergerak dengan tipu hun-hoa hud liu> atau memetik bunga
mengebut pohon Liu, tiba-tiba ia tusuk pinggang Kwe Ceng.
Nampak orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus
menyerang, diam-diam Kwe Ceng merasa aneh.
"Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan
Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah ?"
demikian ia heran. Berbareng pula ia menghindar tusukan
tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang
bicara secara baik-baik.
Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut
maju juga, mereka kepung Kwe Ceng dan Nyo Ko di-tengahtengah.
"Apa yang Si-wi (tuan berempat) inginkan, cara
bagaimana baru mau percaya Cayhe betul-betul adalah Kwe
Ceng?" seru Kwe Ceng sebelum balas serangan orang.
"Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku
ini," bentak imam jangkung tadi, Sambil berkata, kembali ia
menusuk pula, sekali ini ia arah dada Kwe Ceng, cara
menyerangnya seenaknya saja seakan-akan tidak pandang
sebelah mata pada lawannya.
Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga, "Untuk
merebut pedangmu, apa susahnya ?" demikian ia pikir.
Dalam pada itu, pedang orang sudah menusuk sampai di
depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh
dengan sekali jentikan jarinya, sungguh hebat sekali tenaga
jarinya ini, dengan mengeluarkan suara "creng" yang nyaring,
tiba-tiba imam jangkung itu merasakan genggamannya
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terguncang, tahu-tahu pedangnya mencelat ke udara. Dalam
kaget dan gugupnya lekas-lekas ia melompat keluar kalangan
pertempuran.
Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke
bawah, terdengar suara nyaring tiga kail lagi, susul-menyusul
Kwe Ceng taiah menjentik, maka pedang ketiga Imam yang
lain senasib pula dengan imam jangkung tadi, semuanya kena
disentil terbang ke angkasa.
"Bagus !" teriak Nyo Ko kegirangan oleh kepandaian sang
paman ini. "Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak ?"
demikian ia tegur para imam itu. . sebenarnya kalau Kwe Ceng
bergebrak dengan brang selalu memberi kelonggaran dan
berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah
pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang
sifatnya rendah, maka ia telah unjuk tenaga sentilan jari yang
lihay, ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sebenarnya
adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Ui
Yok-su, ayah Ui Yong, tetapi Kwe Ceng sudah tinggal
beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertua itu,
maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah
pula tenaga Kwe Ceng sudah terlatih sedemikian tingginya,
sudah tentu bukan main hebatnya temaga sentilannya tadi,
sebaliknya ke-empat imam tadi meski pedang sudah terpental
dari tangan mereka masih belum tahu pihak lawan
menggunakan ilmu silat apa.
"Maling cabul ini bisa main ilmu sihir, hayo lari," seru imam
jangkung ketika melihat gelagat jelek, habis ini ia mendahului
angkat kaki dan disusul oleh tiga kawannya, dalam sekejap
saja mereka sudah menghilang di balik batu cadas tadi.
Tadi Kwe Ceng dimaki orang dengan kata-kata "maling
cabul", kini ditambahi pula dituduh "bisa main ilmu sihir",
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
keruan ia merasa mendongkol dan terhina. Watak Kwe Ceng
memang jujur dan polos, semakin tidak mengerti tapi juga
semakin ingin jelas semua hal-ikhwalnya .
"Ko-ji, beberapa pedang ini letakkan di atas batu dengan
baik," katanya pada Nyo Ko.
Nyo Ko menurut, ia ambil keempat pedang yang ditinggal
lari oleh imam-imam itu, bersama dua pedang yang duluan
tadi ia taruh di atas batu. Dalam hati mudanya sungguh tidak
habis kagumnya terhadap ilmu kepandaian sang paman,
mulutnya sebenarnya sudah berulang-ulang tercetus katakata:
"Kwe-pepek, aku tidak ingin belajar silat pada imam
busuk itu, tetapi ingin belajar padamu saja."
Akan tetapi bila teringat pada kejadian di Tho-hoa-to yang
dialaminya, akhirnya ia telan kembali kata-kata yang
sebenarnya ingin dia ucapkan itu.
Begitulah sesudah mereka melanjutkan lagi, setelah
membelok dua kali, tiba-tiba tanah di depan kelihatan rada
lapang, tetapi segera terdengar pula suara nyaring beradunya
senjata sebagai isyarat, menyusul dari hutan disamping jalan
lantas keluar tujuh orang imam dengan pedang terhunus.
Melihat munculnya ketujuh imam ini dengan mengambil
kedudukan di kiri empat orang dan di kanan tiga orang,
segera Kwe Ceng kenal ini adalah "Thian-keng-pak-tau-tin"
atau barisan ilmu bintang-bintang yang sengaja dipasang,
dalam hati ia terperanjat.
"Kalau harus menggempur barisan ini, agaknya rada sulit
juga," demikian ia batin.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Oleh karena itu ia tak berani gegabah, dengan suara
pelahan ia pesan Nyo Ko: "Kau sembunyi ke belakang batu
besar sana, lebih jauh lebih baik, supaya perhatianku tidak
terbagi dalam pertempuran nanti."
Nyo Ko mengangguk, tetapi anak ini memang cerdik, tidak
sudi ia unjuk lemah di hadapan para imam itu, maka ia
berlagak lepas kolor celana sambil berkata: "Kwe-pepek, aku
pergi kencing dahulu !" sambil berkata ia putar tubuh dan lari
ke belakang satu batu besar.
Diam-diam dalam hati Kwe Ceng bersyukur melihat
kepintaran dan kecerdasan anak ini, ia mengharap hendaklah
anak ini bisa menuju jalan yang benar dan jangan tersesat lagi
seperti ayahnya.
Ketika ia menoleh, dibawah sinar bulan yang remangremang
ia lihat ketujuh imam itu, enam yang berada di depan,
seperti memelihara jenggot usia merekapun tidak muda lagi,
sedang orang ketujuh berperawakan kecil, agaknya seperti
seorang Tokoh atau imam wanita.
Nampak barisan ini segera Kwe Ceng paham bahwa
mereka telah menirukan cara Coan-cin-chit cu dahulu, di
antara Coan-cin-chit-cu itu terdapat seorang imam wanita,
yakni Jing-ceng Sanjin Sun Put-ji, kini kedudukan juga
dipegang oleh seorang imam wanita.
"Apa gunanya aku terlibat dalam pertempuran dengan
mereka, lebih baik lekas naik ke atas buat menemui Khu-cinjin
untuk menjelaskan kesalahan paham ini." tiba-tiba pikiran Kwe
Ceng tergerak.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karenanya, begitu bergerak, segera ia mendahului
menyerobot ke sebelah kiri, ia rebut kedudukan bintang "Pakkek"
(kutub utara).
Melihat orang mendadak berlari ke sebelah kiri, cepat
imam yang menduduki tempat bintang "Thian-koan"
(kekuasaan langit), berteriak dengan suara ter-tahan, ia
kerahkan barisan bintang-bintangnya terus memutar ke kiri
dengan tujuan hendak kepung Kwe Ceng di tengah.
Siapa duga, begitu ketujuh imam ini bergerak, Kwe Ceng
lantas ikut bergerak juga, selalu ia mendahului pihak lawan
untuk menduduki tempatnya. Dan begitulah seterusnya
sampai beberapa kali meski para imam itu berganti-ganti
dengan beberapa tipu gerakan, tetapi selalu didahului Kwe
Ceng, hingga mereka kewalahan dan serba salah.
Hendaklah diketahui bahwa "Thian-keng-pak-tau-tin" ini
adalah suatu ilmu kepandaian tertinggi dari kaum Coan-cinkau,
barisan yang teratur rapi dan dilakukan tujuh orang ini,
sekalipun lawannya beratus piau beribu orang dapat pula
ditahan.
Akan tetapi dihadapan Kwe Ceng, barisan bintang-bintang
yang hebat ini ternyata tiada gunanya, sebab Kwe Ceng sudah
paham akan ilmu barisan bintang-bintang ini, apalagi ketujuh
imam ini hanya anak murid Coan-cin-kau angkatan muda,"
kalau barisan ini dipasang dengan Coan-cin-chit-cu, mungkin
Kwe Ceng tidak gampang merebut tempat kedudukan
sesukanya. Oleh karenanya, meski sudah berubah-ubah
beberapa kali gerak tipu barisan para imam itu, sebenarnya
sekali pukul Kwe Ceng sudah bisa bikin kocar-kacir barisan
lawan, namun ia sengaja membodoh dan pura-pura tidak
mengerti, dengan ke-tolol-tololan sengaja ia berdiri menjublek
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
di tempatnya, hanya kalau barisan orang bergerak, maka
segera pula ia ikut menggeser.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil