Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 09 Agustus 2017

Kho Ping Hoo Kisah Sepasang Rajawali 2

Kho Ping Hoo Kisah Sepasang Rajawali 2 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo Kisah Sepasang Rajawali 2
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Pedang itu...!” Kong To Tek menuding ke arah pedang Cui-beng kiam yang berada di punggung Tek Hoat.
“Kembalikan! Pedang itu milikku, dan juga kitab-kitab pusaka... di mana kitab-kitab itu? Kau sudah
mengambilnya pula? Keparat, hayo kembalikan!” Dia menubruk maju hendak merampas pedang, tetapi
sebuah tendangan kaki dari samping membuat dia terjengkang.
“Aihhhh...! Engkau melawan? Engkau berani kepada Kong To Tek tokoh Pulau Neraka? Bocah, kau sudah
bosan hidup!”
Tek Hoat menjadi terheran-heran dan bingung. Mengapa terjadi perubahan yang hebat pada diri kakek itu?
Akhirnya dia dapat menduga sebabnya. Mungkin karena racun perampas ingatan itu. Setelah minum obat
penawarnya, agaknya pikiran atau ingatan kakek itu malah sembuh sama sekali, pulih seperti dahulu ketika
belum gila sehingga kakek itu teringat akan segala-galanya! Celaka, pikir Tek Hoat, kalau begini berbahaya
sekali. Orang ini harus dibunuhnya!
“Bocah keparat, pencuri pusaka! Kau harus mampus!” Dan kakek gundul itu sudah menerjang dengan
terkaman seperti seekor singa kelaparan.
“Engkaulah yang akan mampus, Kong To Tek!” Tek Hoat miringkan tubuh ke kiri dan dari kiri tangan
kanannya menampar ke depan.
“Wuuuuttt... dessss...!”
“Aihhhh...!” Kong To Tek berteriak, karena sakit dan kaget melihat betapa pemuda yang dipandangnya
rendah itu ternyata lihai sekali sehingga dua kali dia terjengkang. Tenaga sinkang yang menyambar dari
tangan pemuda itu membuka kedua matanya sehingga dia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu
kepandaian hebat.
“Bagus! Kiranya engkau seorang penjahat cilik!” Dia memaki dan kini Kong To Tek mulai mengerahkan
tenaga dari pusarnya. Kepandaian kakek ini memang hebat.
Dahulu dia merupakan tokoh kedua sesudah ketua di Pulau Neraka, dan ilmunya yang paling diandalkan
adalah sinkang dari perut yang membuat perutnya mengeluarkan bunyi seperti katak tertimpa hujan, dan
kalau dia sudah mengerahkan tenaga sinkang-nya ini, dari mulutnya menyambar uap beracun pula! Apa
lagi setelah dia mempelajari kitab-kitab Cui-beng Koai-ong dari gambar-gambarnya, latihan itu membuat
dia makin kuat dan lihai!
“Wuuusssshh...!” Mulutnya menyemburkan uap putih ke arah muka Tek Hoat, tubuhnya merendah seperti
berjongkok dan kedua kakinya lalu bergerak aneh ke depan sambil berjongkok, kemudian mendadak
kedua lengannya bergerak melakukan serangan dari bawah dengan hebat dan hawa pukulan menyambarnyambar
dengan dahsyatnya ke arah Tek Hoat.
Kalau Tek Hoat belum melatih diri dengan ilmu-ilmu dari dalam kedua kitab peninggalan dua orang datuk
Pulau Neraka itu selama hampir dua tahun ini, kiranya dengan ilmu yang dipelajarinya dari Sai-cu Lo-mo
saja dia tidak akan mampu menandingi tokoh gundul dari Pulau Neraka ini. Akan tetapi selama hampir dua
tahun ini, di dalam goa itu Tek Hoat telah tekun mempelajari ilmu-ilmu kesaktian yang amat hebat sehingga
ilmu kepandaiannya menjadi hebat sekali, sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan dua tahun yang
lalu. Namun, karena dia belum pernah mencoba ilmu-ilmu barunya, melihat serangan kakek gundul itu, dia
terkejut bukan main dan cepat dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Haiiiiittt...!”
Kong To Tek meloncat dari kedudukannya berjongkok tadi, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua
lengannya bergerak-gerak, yang kanan menonjok ke arah ulu hati Tek Hoat sedangkan yang kiri
mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala!
Akan tetapi kini Tek Hoat sudah siap sedia. Melihat datangnya serangan yang amat dahsyat itu, dia berlaku
cepat, mengangkat tangan kanan menangkis ke atas sambil mengerahkan tenaga sinkang, sedangkan
tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, menerima pukulan tangan kanan lawan.
“Plak! Dessss...!”
Untuk ketiga kalinya tubuh Kong To Tek terdorong dan kemudian terjengkang! Kakek itu mendengus keras
dan meloncat bangun lagi. Ternyata ujung mulutnya mengucurkan darah, tanda bahwa benturan tenaga
dalam tadi sedemikian hebatnya sehingga dia mengalami luka di dalam tubuhnya!
Melihat hasil tangkisannya, besarlah hati Tek Hoat. Kini dia menghadapi terjangan lawan dengan pandang
mata mengejek dan sama sekali tidak merasa jeri lagi karena dia telah memperoleh kepercayaan tebal
kepada kepandaian sendiri. Ketika kakek itu menerjang dan menyerangnya bertubi-tubi, sambil tersenyum
mengejek dia mengelak dan menangkis, kadang-kadang balas memukul. Tiap kali dia membalas, kakek
gundul itu pasti terdorong oleh pukulannya yang biar pun tidak mengenai tubuh lawan, namun hawa
pukulannya amatlah hebatnya, tidak kuat kakek itu menahannya.
“Kong To Tek, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” bentak Tek Hoat dan tiba-tiba tampak sinar
berkilauan ketika dia telah mencabut Cui-beng-kiam!
Melihat pedang ini, Kong To Tek kelihatan gentar, tetapi juga marah. Sambil menerjang maju, dia
membentak, “Kembalikan Cui-beng-kiam kepadaku!”
Terjangannya dahsyat sekali karena dia menggunakan jurus-jurus dari Ilmu Silat Liong-jiauw-pok-cu (Cakar
Naga Menyambar Manusia). Kedua tangannya membentuk cakar dan bergerak-gerak mencengkeram
untuk merampas pedang sedangkan dari perutnya terdengar bunyi berkokokan tanda bahwa dia
mengerahkan sinkang-nya yang amat kuat, mulutnya mengeluarkan uap putih.
Melihat terjangan ini, Tek Hoat bergerak ke kanan kiri cepat sekali sehingga tubuhnya seolah-olah berubah
menjadi banyak, dan dari kanan kiri menyambarlah gulungan sinar pedang Cui-beng-kiam yang ampuh.
“Singgggg...! Crak! Crokk!”
Terdengar suara pekik melengking dan Kong To Tek roboh terguling, kedua lengannya buntung sebatas
siku terbabat pedang Cui-beng-kim yang ampuh!
Melihat tubuh itu berkelojotan dan bergulingan di atas tanah, Tek Hoat tersenyum untuk menekan
perasaan hatinya yang menyesal. Bagaimana pun, kakek itu telah melakukan banyak kebaikan kepadanya!
“Hemmm, terpaksa aku membunuhmu, Kong-lopek. Hidupmu berbahaya bagiku setelah pulih kembali
ingatanmu!”
Sambil meringis menahan rasa nyeri yang amat hebat, Kong To Tek bertanya, “Orang muda... siapakah
engkau...?”
“Namaku Ang Tek Hoat. Secara kebetulan saja aku bertemu denganmu, lopek. Kau menyangka aku
bernama Wan Keng In dan engkau menyerahkan pusaka para datuk Pulau Neraka kepadaku. Tentu saja
aku tak dapat menolak datangnya keuntungan ini, dan sekarang pulih pula ingatanmu, maka kau
berbahaya bagiku.”
“Aughhh... kau... kau... memang mirip sekali dengan Wan-kongcu... Ahhh, agaknya roh Wan Keng In
memasuki dirimu... dan agaknya Wan-kongcu muncul kembali untuk bisa membalas musuh-musuhnya...”
“Siapa sih orang yang bernama Wan Keng In itu?” Tek Hoat bertanya, ingin juga dia mengetahui siapa
orang yang katanya mirip dengan dia itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia... dia bekas majikanku... dia adalah kongcu dari Pulau Neraka, putera ketua Pulau Neraka...”
Tek Hoat mengangguk-angguk kagum. “Dan siapa itu musuh-musuhnya?”
“Musuhnya adalah... Gak Bun Beng... dan... dan Tocu Pulau Es...”
Tek Hoat merasa terkejut bukan main mendengar disebutnya dua nama itu! Gak Bun Beng juga musuh
besarnya! Dan... Tocu Pulau Es!
“Apakah kau maksudkan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?”
“Benar... dia... dia lihai...”
“Dan Gak Bun Beng, penjahat itu sudah dibunuh mati oleh ibuku!” kata pula Tek Hoat.
Kong To Tek membelalakkan mata. Darah bercucuran dari kedua lengan yang buntung itu. Mukanya pucat
karena banyak kehilangan darah. Keadaannya sungguh mengerikan dan tubuhnya sudah mulai lemah.
Namun agaknya dia terkejut mendengar pengakuan Tek Hoat itu dan dia bertanya. “Siapa... siapa
ibumu...?”
Biar pun Tek Hoat tidak suka menceritakan keadaan keluarganya, akan tetapi melihat bahwa kakek ini
tidak akan hidup lebih lama lagi, dia mengaku, “Ibuku... hemmm, ibuku seorang pendekar wanita puteri dari
ketua Bu-tong-pai. Ayahku bernama Ang Thian Pa dan ibuku bernama Siok Bi...” Tek Hoat langsung
menghentikan kata-katanya ketika melihat Kong To Tek bangkit duduk dan matanya terbelalak
memandangnya.
Lengan tangan yang hanya tinggal sepotong itu bergerak ke atas, dan seolah-olah menuding sehingga Tek
Hoat merasa ngeri juga. “Jadi kau... kau... kau anak Siok Bi...? Ahhh... ah, tidak salah lagi... kau... kau
puteranya... auhhh!” Tubuh itu terguling.
“Apa katamu? Kong-lopek, apa maksudmu?” Tek Hoat mengguncang-guncang tubuh itu, akan tetapi Kong
To Tek telah menjadi mayat.
Tek Hoat bangkit berdiri, lalu termenung. Apa yang dimaksudkan oleh kakek ini tadi? Agaknya kakek ini
mengenal ibunya! Dan dia puteranya? Putera siapa? Sayang kakek itu sudah mati. Ah, mengapa dia
memusingkan hal itu? Mungkin hanya igauan orang dalam sekarat. Jelas dari penuturan ibunya bahwa
ayahnya bernama Ang Thian Pa dan bahwa ayahnya terbunuh oleh Gak Bun Beng, tetapi musuh besar itu
telah dibunuh ibunya pula.
Pada hari itu juga, Tek Hoat meninggalkan mayat Kong To Tek dan goa di mana selama dua tahun dia
melatih diri. Dia membawa Cui-beng-kiam dan dua buah kitab yang isinya telah dipelajarinya akan tetapi
belum semua sempat dilatihnya karena memang amatlah sukar melatih ilmu-ilmu yang terdapat dalam
kitab itu.
Dia akan pulang ke Lembah Huang-ho, ke Bukit Angsa di mana tinggal ibunya yang tentu sudah
merindukannya. Dia akan menuturkan pertemuannya dengan Kong To Tek itu kepada ibunya dan
barangkali ibunya akan dapat mengerti tentang sikap aneh kakek gundul itu sebelum mati.....
********************
Karena adanya halangan yang hampir merupakan mala petaka dan yang menimpa diri Raja Bhutan, maka
dengan alasan bahwa negaranya masih terancam bahaya dan puterinya masih terlalu muda, Raja Bhutan
menyuruh rombongan kaisar pulang dengan surat permohonan kepada kaisar agar pernikahan puterinya
itu diundur sampai dua tahun lagi!
Hal ini dilakukan Raja Bhutan yang mendengarkan kata-kata penasehatnya di istana. Pada waktu itu,
ketahyulan masih amat kuatnya menguasai hati semua orang, bahkan keluarga kerajaan sendiri tidak
terlolos dari pengaruh tahyul dan tradisi. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan ‘perhitungan’ bulan
bintang, dan segala peristiwa dianggap sebagai ‘tanda-tanda’ untuk menentukan sesuatu di masa depan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena itu, pernikahan puteri raja tentu saja dilakukan atas dasar ‘perhitungan’ para ‘ahli nujum’ pula. Maka
peristiwa yang hampir mencelakakan raja diperhitungkan dengan pernikahan puteri, dihitung pula hari
kelahiran Puteri Syanti Dewi, kemudian diputuskan bahwa selama dua tahun mendatang merupakan harihari
buruk bagi Raja Bhutan, maka tidak dibenarkan kalau mengawinkan puteri itu sebelum lewat dua
tahun!
Kaisar menerima surat permohonan itu dan kemudian dapat menyetujuinya setelah dia mendengar akan
peristiwa yang terjadi di Bhutan. Kaisar sendiri tidak terluput dari kepercayaan itu, apa lagi setelah para ahli
nujumnya sendiri juga memperhitungkan bahwa memang kedatangan Puteri Bhutan dalam waktu dekat
akan menimbulkan bahaya bagi kerajaan sendiri! Demikianlah, maka acara memboyong Puteri Syanti Dewi
dari Bhutan itu diundur sampai dua tahun!
Terjadi perubahan besar dalam kehidupan Lu Ceng, atau Ceng Ceng. Semenjak pertemuannya dengan
Puteri Syanti Dewi, dia diminta tinggal di dalam istana dan tentu saja dia dihormat pula oleh semua
penghuni istana karena dia sekarang telah menjadi seorang puteri! Dia adalah adik angkat Puteri Syanti
Dewi, maka dengan sendirinya diapun menjadi seorang puteri istana! Bahkan Raja Bhutan telah
menganugerahinya dengan nama baru, nama seorang puteri, yaitu Candra Dewi!
Biar pun dia telah dianggap seorang puteri istana, sikap Ceng Ceng masih biasa saja, bahkan dia pun
hanya mau mengenakan pakaian puteri kalau ada upacara resmi saja. Untuk sehari-hari, dia tetap
mengenakan pakaian yang ringkas seperti biasa, dan rambutnya yang panjang, dikuncir seperti kebiasaan
gadis-gadis dusun! Setiap hari dia menemani Sang Puteri Syanti Dewi yang suka sekali mempelajari ilmu
silat sehingga mereka berdua berlatih bersama. Dari adik angkatnya ini sang puteri memperoleh banyak
petunjuk karena memang tingkat kepandaian Ceng Ceng jauh lebih tinggi dari pada dia.
Waktu berjalan dengan amat cepatnya. Apa lagi bagi Ceng Ceng yang selalu hidup gembira bersama
Puteri Syanti Dewi dan para puteri lain di istana. Setiap hari, kalau tidak berlatih silat tentu berlatih taritarian,
bernyanyi, bersenang-senang atau membaca kitab-kitab kuno berisi dongeng-dongeng indah. Dua
tahun tak terasa telah lewat dan pada suatu hari, datanglah rombongan utusan kaisar yang sekali ini benarbenar
hendak memboyong Sang Puteri Syanti Dewi!
Tidak ada lagi alasan bagi Raja Bhutan untuk menolak. Selama dua tahun ini, kaisar telah mengirim
banyak bantuan, baik berupa pasukan mau pun perlengkapan untuk mengusir para gerombolan
pemberontak sehingga Kerajaan Bhutan tidak begitu dirongrong lagi oleh mereka.
Pesta besar diadakan untuk menyambut rombongan ini dan kali ini, kembali rombongan itu dipimpin oleh
Tan-ciangkun (Perwira Tan), yaitu Tan Siong Khi yang gagah perkasa dan memiliki jenggot panjang yang
indah bentuknya!
Untuk menghormati para utusan kaisar, juga sekaligus merayakan hari diboyongnya Puteri Syanti Dewi
yang sudah berusia delapan belas tahun, dan juga pesta perpisahan dengan sang puteri, maka malam hari
itu selain diadakan pesta makan minum, juga diadakan pesta tari-tarian tradisionil dari para penari Bhutan.
Dalam pesta ini, Sang Puteri Syanti Dewi keluar pula, duduk di atas sebuah kursi yang khusus disediakan
untuk keluarga raja. Tentu saja Ceng Ceng tidak mau ketinggalan dan dia menemani puteri yang telah
menjadi kakak angkatnya itu. Akan tetapi, karena sekali ini dia akan bertemu dengan orang-orang dari
kerajaan suku bangsanya sendiri, dia tidak mau mengenakan pakaian puteri Bhutan, dan hanya
mengenakan pakaian biasa biar pun masih baru. Ceng Ceng atau Candra Dewi itu berdiri di dekat kursi
Puteri Syanti Dewi sambil menonton pertunjukan tari-tarian.
Melihat wajah para utusan yang gagah perkasa, terutama sekali si jenggot panjang yang kini tampak makin
gagah biar pun sudah makin tua, Ceng Ceng ingin sekali menyaksikan kepandaian mereka. Dia masih
teringat betapa dahulu, dua tahun yang lalu, dia pernah mengadu kuncirnya dengan jenggot panjang itu
dan merasa betapa rambutnya terjambak seperti akan copot rasanya!
Dan dia mendengar dari kakeknya bahwa si jenggot itu ternyata adalah seorang pengawal pribadi kaisar
yang amat lihai! Kini, melihat mereka dan terutama sekali si jenggot panjang, timbul keinginan di hati Ceng
Ceng.
“Kak Syanti...,” dia berbisik.
Syanti Dewi menengok. “Ada apakah, Candra?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan suara berbisik-bisik Ceng Ceng lalu mengajukan usulnya, yaitu agar sang puteri minta kepada
ayahnya untuk membujuk para utusan yang gagah perkasa itu agar menghibur dan meramaikan pesta
dengan pertunjukan ilmu silat mereka yang terkenal tinggi! Syanti Dewi memang suka sekali akan ilmu
silat, maka mendengar usul adik angkatnya ini, dia cepat mengajukan permintaannya kepada raja.
Sebetulnya raja merasa agak enggan juga mengajukan permintaan agar para tamu memperlihatkan
kelihaian mereka, akan tetapi karena tidak tega menolak keinginan puterinya yang akan pergi
meninggalkannya itu, terpaksa dia menyuruh pengawalnya menghubungi Tan-ciangkun untuk
menyampaikan permintaannya.
Tan Siong Khi bermata tajam. Dia melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada Syanti Dewi. Pengawal
kaisar ini tentu saja masih ingat kepada nona yang disangkanya pengacau itu dan yang kini dia dengar
telah menjadi adik angkat puteri yang akan diboyongnya ke Tiongkok. Maka diam-diam dia agak
memperhatikan dan melihat ketika Ceng Ceng tadi berbisik kepada sang puteri kemudian sang puteri
bicara dengan Raja Bhutan. Setelah Raja Bhutan mengutus pengawal menghubunginya dan
menyampaikan permintaan raja, tahulah Tan-ciangkun bahwa permintaan itu adalah gara-gara si gadis
yang lihai dan bengal itu. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu berunding dengan para temannya,
yaitu para perwira yang memiliki kepandaian tinggi.
Tidak lama kemudian suasana pesta menjadi makin meriah. Seorang demi seorang, majulah para Perwira
Mancu Kerajaan Ceng untuk memperlihatkan kepandaian mereka bermain silat. Bermacam-macam senjata
telah mereka pergunakan, dan rata-rata ilmu kepandaian mereka memang amat tinggi bagi para Perwira
Bhutan sehingga tepuk tangan penuh kagum menyambut setiap permainan silat dari rombongan utusan itu.
Kemudian, sebagai orang terakhir, tiba giliran Tan-ciangkun sendiri. Pengawal kaisar yang lihai dan biar
pun berpakaian biasa namun sesungguhnya dialah yang memimpin rombongan utusan itu, maju dengan
kedua tangan kosong. Setelah dia memberi hormat dengan bertekuk lutut ke arah Raja Bhutan dan
keluarganya, dia meloncat bangun, menggulung kedua lengan bajunya sehingga naik ke bawah siku.
Kemudian dia mengangkat kedua tangan memberi hormat berkeliling, dan berkata dengan suara lantang.
“Maafkan kami yang telah berani memperlihatkan kepandaian yang dangkal, karena kami hanya memenuhi
perintah sri baginda untuk ikut meramaikan pesta ini. Kami tahu bahwa di Bhutan terdapat banyak sekali
orang pandai yang jauh melampaui tingkat kami. Saya sendiri tidak memiliki kepandaian apa-apa dan saya
merasa agak sayang juga terpaksa harus menghentikan minum anggur Bhutan yang demikian lezatnya!
Karena itu, saya harap cu-wi maafkan kalau saya hendak melanjutkan minum anggur yang lezat itu.”
Setelah berkata demikian, kakek berjenggot panjang ini menggerakkan kepalanya.
“Wirrrr...!” Jenggotnya yang panjang itu menyambar ke depan, ke arah guci anggur yang tadi dihadapinya
dan tiba-tiba anggur itu melayang ke atas, dilibat ujung jenggot yang panjang!
Guci itu diputar-putar di udara dan dipermainkan oleh jenggot panjang itu, kemudian, ujung jenggot melibat
guci dan membawa guci itu menukik ke bawah sehingga anggur yang berada di dalam guci dan masih
tinggal seperempat itu tertumpah ke bawah.
Kakek ini membuka mulutnya dan anggur itu persis memasuki mulutnya sehingga kelihatannya dia minum
anggur dari guci dengan dilayani oleh jenggotnya! Bukan main hebatnya demonstrasi ini dan semua orang
bertepuk tangan memuji! Ceng Ceng sendiri diam-diam juga merasa kagum karena biar pun memainkan
guci dengan ujung rambut merupakan hal yang tidak begitu sukar, namun jenggot yang dapat tegak
‘memegang’ guci yang cukup berat itu membuktikan sinkang yang amat kuat!
Kini guci anggur itu sudah habis isinya, hanya tinggal menetes-netes memasuki mulut Tan-ciangkun,
sedangkan lengan kanan yang tangannya terkepal itu menggigil, menandakan bahwa kakek itu
mengerahkan tenaga sinkang yang kuat untuk membuat jenggotnya tegak kaku menahan guci, kemudian
di bawah tepuk sorak memuji, kakek ini memainkan guci kosong dengan jenggotnya. Guci dilontarkan ke
atas, tinggi sampai hampir menyentuh langit-langit, kemudian ketika meluncur turun diterimanya lagi
dengan ujung jenggot dan diputar-putar sampai kelihatannya menjadi banyak saking cepatnya.
Setelah Tan Siong Khi mengakhiri permainannya, semua orang lantas bertepuk tangan memuji. Baru
jenggotnya saja sudah demikian kuat dan ampuh, apa lagi dengan kaki tangannya! Tan-ciangkun menjura
ke sekeliling, kemudian memberi hormat kepada Raja Bhutan dan terdengar suaranya lantang, “Terima
kasih hamba haturkan atas pujian sri baginda, padahal permainan hamba tidak ada artinya, apa lagi kalau
dunia-kangouw.blogspot.com
dibandingkan dengan kepandaian tokoh-tokoh Bhutan yang lihai. Sekarang hamba mohon agar paduka
sudi memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh Bhutan untuk memperlihatkan kepandaian untuk
memeriahkan pesta ini.”
Raja Bhutan mengangguk-angguk dan menoleh ke kanan kiri. Dia tahu bahwa para pengawalnya juga ratarata
memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi tiba-tiba Tan-ciangkun berkata lagi, “Hamba tahu
bahwa nona yang menjadi adik angkat sang puteri memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!”
Memang sengaja Tan-ciangkun berkata demikian untuk menyatakan kemendongkolan hatinya. Kalau tidak
gara-gara nona muda itu yang mengusulkan, tentu dia dan kawan-kawannya tidak harus memamerkan
kepandaian seperti serombongan tukang jual obat atau penari silat di pasar-pasar!
Mendengar ini, Raja Bhutan cepat menengok ke arah Ceng Ceng sambil tersenyum lebar dan berkata,
“Aih, sampai lupa aku! Candra Dewi, kau majulah dan perlihatkan kepandaianmu!”
Ceng Ceng terkejut sekali, tidak mengira bahwa dia diperintah raja untuk bersilat! Tentu saja dia tidak
berani membantah. Dia sudah berlutut menyembah sambil mengeluarkan kata-kata kesanggupan dengan
lirih, matanya melirik gemas kepada Tan-ciangkun yang hanya tersenyum. Kemudian dara itu melompat ke
tengah ruangan, mencabut keluar sepasang pisau belati yang sebelumnya merupakan hui-to (golok
terbang), yaitu senjata rahasia yang disabitkan, dan mulailah dia bersilat dengan sepasang belati itu.
Gerakannya indah sekali, cepat dan bertenaga sehingga para penonton menjadi kagum karena
kelihatannya dara itu sedang menari-nari dengan indahnya, namun gulungan-gulungan kecil dari sinar
putih yang seperti selendang kecil digerak-gerakkan itu mengandung cakar maut yang dapat membunuh
lawan!
Tepuk sorak bergemuruh menyambut dengan kagum ketika Ceng Ceng sudah merubah permainannya,
tepuk sorak yang disertai suara ketawa di sana-sini karena selain lucu juga luar biasa sekali permainan
yang kini dilakukan oleh Ceng Ceng. Apa yang terjadi? Dara ini telah menggunakan kuncirnya yang sudah
dibagi dua untuk bermain silat! Sepasang kuncirnya itu seolah-olah telah berubah menjadi dua ekor ular
hitam yang hidup dan ujung kedua kuncir membelit hui-to kemudian dia bergerak-gerak dengan cepat,
menggoyang kepalanya sehingga sepasang kuncir itu memainkan sepasang hui-to itu seperti tadi Tanciangkun
memainkan jenggotnya. Tentu saja Ceng Ceng berbuat demikian untuk mengejeknya!
Setelah Ceng Ceng mengakhiri permainannya, tentu saja dia disambut dengan tepuk sorak gemuruh, juga
Tan-ciangkun ikut bertepuk tangan sambil tersenyum karena dia pun ikut bangga. Betapa pun juga, dia
tahu bahwa dara itu bukanlah Bangsa Bhutan, melainkan bangsanya sendiri dan ilmu silat yang dimainkan
oleh Ceng Ceng itu adalah ilmu silat dari pedalaman. Dia sudah mendengar bahwa dara yang cantik jelita
itu adalah cucu dari kakek Lu Kiong yang dahulu pernah memegang pekerjaan seperti dia, yaitu pernah
menjadi pengawal kaisar puluhan tahun yang lalu.
Setelah beberapa orang perwira dan pengawal Raja Bhutan juga memperlihatkan ilmu kepandaian masingmasing,
pesta itu berakhir sampai jauh malam, bahkan sudah lewat tengah malam. Semua orang pergi ke
kamar masing-masing untuk beristirahat. Ceng Ceng mengawal kakak angkatnya masuk ke kamar pula.
Semenjak menjadi adik angkat Syanti Dewi, Ceng Ceng tidur sekamar dengan puteri itu.
Menjelang pagi, Ceng Ceng terbangun oleh suara tangis. Bergegas dia bangkit duduk, menggosok-gosok
matanya dan mencoba untuk melihat di dalam kamar yang telah digelapkan itu. Kiranya yang menangis
adalah Syanti Dewi!
“Eh, enci Syanti... kau... kenapakah?” Ceng Ceng cepat meloncat turun dan menyalakan lilin di atas meja.
Dilihatnya puteri itu menelungkup sambil menangis terisak-isak.
“Enci Syanti, mengapa kau menangis?” Kembali Ceng Ceng bertanya sambil duduk di pembaringan puteri
itu dan mengusap pundaknya.
Puteri itu menengok, lalu bangkit berdiri merangkul Ceng Ceng sambil menangis makin sedih. “Adikku...
aihhh... adikku Candra...!”
Ceng Ceng membiarkan puteri itu menangis di pundaknya sampai agak mereda, lalu dia berkata, “Kakakku
yang baik, beginikah sikap seorang gagah? Biar pun kita wanita, namun kita menjunjung kegagahan dan
tangis merupakan hal yang dipantang, kecuali kalau ada persoalan yang tak terpecahkan dan amat hebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Apakah yang telah terjadi? Kalau ada persoalan, bicarakanlah denganku, dan marilah kita pecahkan
bersama. Tidak ada di dunia ini persoalan yang tidak akan dapat kita pecahkan berdua, bukan?”
Putri itu menghapus air matanya dan memandang adik angkatnya. Tangisnya sudah reda dan melihat
wajah adiknya menimbulkan kepercayaan dan hiburan besar baginya. Dia menghela nafas panjang berkalikali
sebelum bicara, kemudian sambil memegang tangan adik angkatnya dia berkata, “Candra, hati siapa
yang tak akan menjadi kecewa, penasaran dan duka? Tadi aku mendengar dari seorang pelayan yang
memang kusuruh melakukan penyelidikan di antara rombongan utusan, dan aku mendengar berita yang
sangat mengecewakan sebelum tidur tadi.”
“Berita apakah?”
“Berita keterangan tentang Pangeran Liong Khi Ong...”
“Aihhh, tentang calon suamimu?” Ceng Ceng menahan ketawanya. “Bukankah berita itu
menggembirakan?”
“Siapa bilang menggembirakan? Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang usianya telah lima puluh tahun...
hu-huuukkk...” Putri itu menangis lagi.
Ceng Ceng merangkul dan menghiburnya. “Lima puluh tahun belum tua bagi seorang laki-laki, apa lagi
kalau dia seorang pangeran,” dara ini mencoba menghibur sebisanya.
“Tapi... tapi... dia mempunyai banyak selir...,” kembali puteri itu terisak.
“Aihh, enci Syanti, apa anehnya tentang itu? Dia seorang pangeran, tentu saja banyak selirnya. Akan tetapi
engkau akan menjadi isterinya, mengepalai semua selirnya.”
“Tapi... tapi... aku tidak suka, Candra. Aku merasa seolah-olah berangkat mati saja... kehilangan
kebebasanku... menjadi budak belian!”
“Ihhhh...! Mengapa kau berkata begitu, enci Syanti?” Ceng Ceng berseru kaget.
“Mengapa tidak? Apa bedanya aku dengan budak belian? Aku dibeli, dibeli dengan kedudukan dan nama,
aku kehilangan kebebasan, harus menurut menjadi isteri siapa saja! Aku... aku ingin menjadi isteri orang
yang kupilih sendiri, adik Candra...!” Kembali puteri itu menjatuhkan diri menelungkup, memeluk bantal dan
menangis.
Ceng Ceng duduk termenung. Dia dapat menyelami perasaan kakak angkatnya dan tak dapat membantah
kebenaran kata-katanya. Memang kaum wanita sama dengan budak belian. Diharuskan menjadi isteri
siapa saja, menjadi isteri seorang pria yang belum pernah dilihatnya. Apa bedanya dengan budak belian?
Hanya diberi pakaian indah dan penghormatan, namun pada hakekatnya, nasib mereka dalam hal
perjodohan tiada bedanya dengan budah belian! Diam-dian hatinya memberontak pula.
“Enci Syanti, kalau begitu, mengapa tidak engkau tolak saja?”
Puteri itu terkejut sekali, lalu bangkit duduk. Dia memandang adiknya, menarik napas panjang dan
menggelengkan kepalanya. “Dahulu, dua tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah memikirkan ini.
Kuterima saja perintah ayah karena memang biasanya demikian, seorang puteri dikawinkan dan aku boleh
disebut beruntung menjadi calon isteri seorang pangeran putera kaisar yang besar! Tetapi, setelah
pernikahan diundur dua tahun, selama ini timbul penasaran di dalam hatiku mengapa aku harus menikah,
mengikatkan hidupku selamanya dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat? Aku masih
menghibur diri dengan anggapan bahwa seorang pangeran putera kaisar tentulah seorang pria yang gagah
perkasa, tampan, muda dan pendeknya memenuhi impianku tentang seorang kekasih. Siapa tahu... berita
itu... dia sudah tua dan banyak selirnya... hu-hu-huuukkk...”
Ceng Ceng menggaruk-garuk belakang telinganya, bingung. “Kalau begitu, bagaimana baiknya, enci
Syanti? Kau tolak saja sekarang, bagaimana?”
“Ahhh, kau tidak tahu, adikku. Kalau aku menolak, tentu ayah akan memaksaku karena hal itu selain akan
mencemarkan nama keluarga Kerajaan Bhutan, juga berbahaya sekali, dapat menyeret negara ke dalam
perang.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ohhhh...!” Ceng Ceng terkejut sekali. “Habis, bagaimana baiknya? Kalau begitu, mari kita... melarikan diri
saja. Malam ini juga, biar aku menemanimu, enci...”
Mau tidak mau puteri itu tersenyum masam mendengar ajakan ini. Ajakan yang ugal-ugalan. Mana
mungkin puteri raja minggat? Selain percuma karena tentu akan dapat ditangkap, juga amat memalukan.
“Tidak bisa, adikku, tidak mungkin itu.”
“Habis bagaimana? Apakah kau akan menerima nasib begitu saja?”
“Apa boleh buat. Aku harus menerima nasib, akan tetapi hatiku tentu akan terhibur sekali kalau kau suka
menemaniku ke Kerajaan Ceng di timur sana.”
“Tentu saja aku mau! Aku malah ingin sekali ke sana! Baik, aku akan menemanimu.”
“Akan tetapi, apakah kakekmu akan memperkenankan?”
“Dia harus menyetujui!” Ceng Ceng berkata cemberut. “Aku berasal dari timur sana, sudah sepatutnya
kalau dia mengajakku kembali ke sana. Sekarang ada kesempatan baik. Aku ikut denganmu, enci Syanti!”
Demikianlah, keputusan diambil malam itu juga dan pada keesokan harinya, sang puteri memberi tahukan
ayahandanya bahwa Candra Dewi akan ikut bersamanya ke timur. Raja Bhutan tak dapat menolak dan
kakek Lu Kiong segera diberitahu tentang hal itu.
Kakek ini terkejut, akan tetapi dia pun tidak berani menghalangi kehendak sang puteri, bahkan diam-diam
dia harus mengakui bahwa sudah sepatutnya kalau dia membiarkan cucunya itu kembali ke timur. Akan
tetapi karena dia mengkhawatirkan keselamatan cucunya, dia lalu menyatakan hendak ikut mengawal
rombongan sang puteri.
Tentu saja keputusan kakeknya ini menggirangkan hati Ceng Ceng, karena betapa pun juga dia merasa
kasihan dan tidak tega kalau harus meninggalkan kakeknya yang sudah tua itu sendirian di Negara Bhutan.
Persiapan untuk keberangkatan Puteri Syanti Dewi dilakukan dan keadaan di istana sibuk sekali. Besok
pagi-pagi rombongan yang memboyong puteri itu akan berangkat, pasukan istimewa yang khusus
sebanyak lima ratus orang akan mengawal rombongan sampai perbatasan, di mana pasukan Kerajaan
Ceng akan menyambut dan mengambil alih tugas pengawalan.
Barang-barang berharga milik sang puteri dikumpulkan sampai berpeti-peti banyaknya. Ceng Ceng sendiri
memperoleh kesempatan untuk pulang ke rumah kakek, membantu kakeknya yang juga berkemas dan
dibantu oleh murid-murid kakeknya. Wajah para murid itu kelihatan murung karena mereka tahu bahwa
sekali ini gurunya pergi untuk tidak kembali lagi ke Bhutan, karena gurunya sudah amat tua.
Sementara itu, tanpa disangka-sangka, di pintu penjagaan benteng, yaitu di pintu gerbang besar, terjadi
keributan. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berpakaian sederhana dan berkuncir panjang,
bertangan kosong, sedang ribut mulut dengan para penjaga. Dari pakaiannya mudah dikenal bahwa orang
ini datang dari timur, seorang bangsa Han. Karena di kota raja Bhutan sedang ada kesibukan, maka tentu
saja para penjaga itu menghadang orang yang tidak dikenal ini sambil menghardik, “Siapakah engkau dan
ada keperluan apa hendak memasuki kota raja?”
Laki-laki itu mengerutkan alisnya. “Hemm, begitukah sikap para penjaga kota raja di Bhutan? Seorang
penduduk sini pun tidak akan mengalami gangguan, apa lagi seorang pendatang dari luar yang dapat
disebut seorang tamu! Aku datang sebagai tamu, sebagai utusan dan aku ingin menghadap sri baginda!”
Namun kepala penjaga tertawa mengejek. Orang itu pakaiannya biasa saja, sama sekali bukan pakaian
seorang berpangkat atau perwira, tentu saja dianggap menggelikan dan membohong ketika mengaku
sebagai tamu dan utusan, dan bahkan menimbulkan kecurigaan. Orang begini hendak menghadap raja!
Tentu berniat tidak baik, pikir kepala penjaga itu.
“Jangan main gila kau!” bentaknya. “Kau kira mudah saja menghadap sri baginda! Hayo cepat pergi, keluar
dari tempat ini atau terpaksa akan kami tangkap sebagai mata-mata musuh!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang itu memandang tajam dan tersenyum. “Kepala penjaga, jangan membuka mulut besar dan
sembarangan. Lebih baik kau laporkan kepada atasanmu, kepada Panglima Jayin bahwa ada seorang
tamu datang hendak bertemu! Kalau masih belum cukup meyakinkan, katakan bahwa yang datang
membawa bunga suci!”
Ucapan ini, apa lagi kalimat terakhir, membuat kepala penjaga menjadi makin marah. Dia melangkah maju
dan mendorong dada orang itu sambil berkata, “Engkau masih banyak membantah? Pergilah!”
Akan tetapi, kepala penjaga itu kaget sekali karena dia seperti mendorong sebuah gunung karang saja!
Orang itu sama sekali tidak bergerak, maka dengan marah dia lalu memukul dada laki-laki berbaju hitam
itu.
“Dukkk!” Bukan tubuh orang itu yang roboh terkena pukulan keras, sebaliknya kepala penjaga itu berteriak
dan roboh terpelanting seperti dibanting saja!
“Kau berani melawan?” Dua orang penjaga menyerang dengan tombak mereka dari depan dan belakang.
Akan tetapi, dengan gerakan gesit sekali laki-laki berbaju hitam itu mengelak. Kedua tangannya bergerak
menyambar tombak, tangan kiri menangkap tombak dari depan, tangan kanan menangkap tombak dari
belakang dan sekali dia mengangkat, dua orang penjaga itu terangkat ke atas seolah-olah hanya seperti
daun saja ringannya! Tentu saja mereka terkejut dan berteriak, akan tetapi tubuh mereka segera melayang
ke depan dan jatuh terbanting cukup keras, membuat mereka hanya dapat bangkit duduk dengan kepala
pening dan mata berkunang!
Para penjaga yang lain datang dan segera menyerang laki-laki yang lihai itu sehingga terjadilah
pertandingan keroyokan di depan pintu gerbang. Laki-laki itu menghadapi mereka dengan tenang, hanya
menggunakan kaki tangannya untuk menangkis dan merobohkan para pengeroyok tanpa melakukan
pembunuhan. Beberapa orang penjaga sudah lari untuk melapor kepada Panglima Jayin.
“Tahan senjata, mundur semua!” Tiba-tiba terdengar suara Panglima Jayin yang sudah cepat datang ke
tempat itu. Para penjaga mundur dan saling membantu karena mereka sudah menderita cidera tangan.
Panglima Jayin melangkah maju, berhadapan dengan laki-laki itu. Orang itu segera menjura dan
merangkapkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka dan saling jalin di depan dada, dengan ibu jari
saling tindih. Melihat bentuk jari-jari tangan di depan dada ini, Panglima Jayin mengerutkan alisnya dan
berkata, nadanya menegur, “Apakah Pek-lian-kauw telah mengalihkan permusuhannya kepada Negara
Bhutan?” Pertanyaan ini mengandung teguran dan juga tantangan.
“Ah, ahhh... tidak sama sekali, harap tai-ciangkun suka maafkan. Saya hanya seorang utusan yang
bertugas menyampaikan surat dari Raja Muda Tambolon untuk sri baginda di Bhutan.”
“Hemmm... apa lagi sekali ini? Setelah dua tahun yang lalu kalian mencoba hendak menawan raja kami?”
“Saya sendiri tidak tahu, hanya ditugaskan menyampaikan surat. Harap tai-ciangkun suka menghadapkan
saya kepada sri baginda.”
“Tidak mungkin! Sri baginda sedang sibuk...”
“Ha-ha, dengan keberangkatan pengantin? Sayang sekali, puteri cantik harus diberikan sebagai hadiah
kepada...”
“Tutup mulutmu! Apa hubungannya denganmu? Ayo lekas serahkan surat itu kepadaku, atau kau boleh
pergi lagi!” Panglima Jayin membentak marah.
Orang itu tersenyum tenang saja. “Begitu pun baik. Pokoknya surat ini harus terbaca oleh sri baginda di
Bhutan.”
Dia mengeluarkan sebuah sampul panjang dan sekali dia menggerakkan tangannya, surat itu melayang ke
arah Panglima Jayin. Perwira tinggi besar ini menyambut dan terkejutlah dia ketika merasa betapa
tangannya tergetar hebat pada saat menerima surat yang disambitkan itu. Dari ini saja dia sudah tahu
bahwa orang ini memiliki sinkang yang amat kuat dan dia bukanlah tandingan orang ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, tai-ciangkun aku mohon diri!”
“Haii, tunggu sebentar, sobat! Tidak kusangka bahwa Pek-lian-kauw berkeliaran sampai di tempat sejauh
ini!” Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah muncul Tan Siong Khi yang telah
meloncat ke depan dan menghadang orang berbaju hitam itu. Orang itu memandang tajam, kemudian
mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya seperti orang mengejek.
Sedangkan Panglima Jayin cepat berkata. “Tan-ciangkun, harap jangan ganggu dia. Dia hanya seorang
utusan yang menyampaikan surat!” Panglima ini tentu saja memegang peraturan umum bahwa seorang
utusan sama sekali tidak boleh diganggu, maka dia menghalangi Tan Siong Khi melarang orang itu pergi.
“Sayang sekali...!” Tan Siong Khi berkata.
“Huhhh!” Laki-laki berjubah hitam itu mendengus lagi dan sekali meloncat, tubuhnya melayang tinggi.
“Enak saja kau pergi...!” Tan Siong Khi menggerakkan kakinya dan tubuhnya mencelat ke atas, agaknya
hendak menghadang tubuh orang itu yang sedang melayang.
Akan tetapi, tiba-tiba orang itu berseru keras dan tubuhnya yang sedang meloncat itu berjungkir balik tiga
kali dan dapat meloncat lebih tinggi melampaui kepala Tan Siong Khi! Hebat dan indah sekali gerakan ini,
membuktikan kemahiran ginkang yang luar biasa.
“Bukan main...!” Jayin berkata kepada Tan Siong Khi setelah orang itu pergi jauh. “Dia lihai sekali, kuat
sinkang-nya dan lihai ginkang-nya, merupakan lawan yang lihai.”
Tan-ciangkun tertawa. “Akan tetapi dia pun tidak akan menganggap kita orang lemah!”
“Apa maksudmu, Tan-ciangkun?” tanya Jayin.
Tetapi Tan Siong Khi hanya tersenyum. Tadi ketika tubuh pesuruh Raja Muda Tambolon itu sedang
melayang di atasnya, dia menggerakkan kepalanya dan jenggot panjangnya melayang dan menyambar ke
atas, merobek celana di selangkangan kaki orang itu. Kalau dia mau, tentu saja bukan celana yang robek,
melainkan bagian tubuh yang lebih penting lagi dan yang mematikan!
“Raja Muda Tambolon ini makin menggila saja,” katanya sambil berjalan memasuki pintu gerbang bersama
Tan-ciangkun. “Dia telah menghimpun semua kekuatan mereka yang bermaksud memberontak kepada
Kerajaan Ceng, yaitu orang-orang dari Tibet, Turki dan Mongol. Dia sendiri adalah peranakan Tibet dan
Mongol, dan khabarnya memiliki ilmu kepandaian yang mukjijat. Entah apa maksudnya kali ini, dan
anehnya mengapa yang menjadi utusan adalah orang Pek-lian-kauw.”
“Agaknya perkumpulan agama yang tersesat dan menjadi tukang berontak itu kena pula dibujukkan dan
menjadi sekutunya,” kata Tan Siong Khi dan Jayin menganggukkan kepalanya.
Memang dugaan ini tidak meleset. Di perbatasan antara wilayah Kerajaan Ceng, yaitu di luar Sin-kiang,
gerombolan ini berkumpul dan makin lama menjadi kekuatan yang cukup besar. Pada waktu itu, baik Tibet,
Turki, Mongol dan semua raja muda yang menguasai wilayah-wilayah kecil masing-masing telah
ditundukkan dan dihancurkan oleh Kerajaan Ceng. Namun, ada beberapa tokoh-tokoh mereka yang belum
mau tunduk dan akhirnya mereka ini dapat dihimpun oleh Raja Muda Tambolon untuk bersekutu dan
bersama-sama memperkuat diri dalam persiapan mereka menyerang Kerajaan Ceng dan merampas
wilayah-wilayah mereka kembali.
Ketika Raja Bhutan membaca surat yang dibawa oleh Jayin, dia berkerut dan kelihatan gelisah. Akhirnya
dia mengundang semua pembantu dan orang kepercayaannya untuk membicarakan hal itu. Bahkan Tanciangkun
juga disuruh hadir karena Raja Bhutan tentu saja mengharapkan bantuan dan perlindungan dari
Pemerintah Ceng yang akan menjadi besannya.
“Isi surat dari Tambolon ini membujuk agar Bhutan tidak melanjutkan hubungan kekeluargaan dengan
Pemerintah Mancu, dan mereka mengajak kami untuk bersekutu. Kami memanggil kalian bukan untuk
minta pendapat mengenai permintaan mereka itu, karena sudah jelas bahwa kami tidak akan
menghentikan hubungan kekeluargaan kami dengan Kerajaan Ceng dan kami tidak sudi diajak bersekutu
oleh kaum pemberontak bekas orang-orang pecundang dan pelarian itu. Akan tetapi perlu kita bicarakan
dunia-kangouw.blogspot.com
tentang penjagaan dan pembelaan diri yang perlu kita adakan karena mereka tentu tidak akan tinggal diam
setelah kami tidak menghiraukan permintaan mereka.”
Suasana menjadi hening, dan akhirnya terdengar Tan Siong Khi berkata, “Harap paduka bertenang hati.
Hamba mengerti bahwa pemboyongan puteri paduka pasti akan mengalami gangguan dan halangan di
jalan, mungkin akan dihadang oleh mereka, akan tetapi hamba dan para pengawal akan melindungi sang
puteri dengan taruhan nyawa hamba sekalian!”
“Kami mengerti, Tan-ciangkun. Hanya perlu diadakan perubahan, karena bukan hanya rombongan itu yang
mungkin akan diganggu, akan tetapi juga Bhutan mungkin akan diserang. Karena itu, kami rasa tidak baik
kalau Panglima Jayin sendiri yang mengawal. Dia perlu untuk memperkuat pertahanan di sini. Namun,
pengawalan harus diperkuat. Inilah yang membingungkan hati kami.”
“Harap paduka tidak gelisah,” akhirnya Panglima Jayin berkata. “Sudah dipersiapkan pasukan istimewa,
lima ratus orang banyaknya dan hamba tidak perlu ikut karena sudah ada suhu Lu Kiong yang memperkuat
pengawalan. Apa lagi ada Tan-ciangkun dan para pengawal dari rombongan pemboyong. Kiranya
rombongan itu sudah terkawal cukup kuat, dan kalau mereka itu berani menyerang ke sini, kita pun telah
siap untuk memukul hancur mereka! Para pemberontak itu tidak memiliki pasukan besar, kabarnya paling
banyak dua ribu saja. Terlalu banyak pasukan merupakan bunuh diri bagi mereka karena tentu tidak akan
kuat memberi ransum. Biarkan saja mereka datang, hamba bersumpah akan membasmi mereka sampai
habis!”
Kata-kata penuh semangat dari Panglima Jayin ini melegakan hati sri baginda, dan mereka lalu
merundingkan tentang keberangkatan sang puteri, dan tentu saja juga penjagaan-penjagaan yang perlu
diadakan.
Sementara itu, Ceng Ceng yang sudah mendengar tentang kedatangan utusan pemberontak, berkata
kepada Syanti Dewi, “Enci Syanti, betapa pun juga, kurasa jauh lebih baik menjadi isteri seorang Pangeran
Kerajaan Ceng dari pada jatuh ke tangan pemberontak yang liar dan ganas itu. Bayangkan saja kalau kau
dijodohkan dengan seorang raja pemberontak! Selalu akan hidup di medan perang, bahkan selalu menjadi
orang pelarian, dan mereka itu tentu merupakan orang-orang ganas dan liar yang amat menyeramkan.”
Syanti Dewi mengangguk. “Aku akan menyesuaikan diri, adikku. Kurasa, apa pun yang akan terjadi atas
diriku, aku masih akan terhibur oleh kehadiranmu di sampingku.”
Bunyi musik paduan suara terompet, tambur dan canang riuh gembira diseling ledakan-ledakan mercon
mengantar dan mengiringkan keberangkatan rombongan Puteri Syanti Dewi sampai di luar pintu gerbang.
Ketika rombongan sudah mulai meninggalkan kota raja, dari jauh masih terdengar suara riuh gembira ini di
belakang mereka. Dari dalam jolinya, Syanti Dewi mengusap air matanya yang bercucuran. Betapa takkan
pilu hatinya meninggalkan orang tua, keluarga dan tempat kelahirannya itu untuk selamanya? Sedikit sekali
kemungkinan dia akan dapat berkunjung ke Bhutan setelah dia menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong!
Ceng Ceng yang berada sejoli dengan puteri itu menghiburnya. Berbeda dengan sang puteri, dara ini
kelihatan gembira sekali, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. Tentu saja dia girang karena
memperoleh kesempatan untuk kembali ke negeri di mana dia dilahirkan, dan kepergiannya ini juga
bersama kongkong-nya yang berada di luar bersama para pengawal.
Joli itu tidak dipikul, melainkan merupakan kereta kecil ditarik oleh empat ekor kuda. Beberapa orang
pelayan wanita pribadi naik sebuah kereta kedua, kemudian di sebelah belakang masih ada pula sebuah
kereta besar penuh dengan peti-peti bawaan sang puteri. Para pengawal mengapit tiga buah kereta itu di
depan, belakang, kanan dan kiri sehingga sang puteri terkurung rapat dan aman.
Pasukan itu megah dan gagah, dikepalai oleh panglima wakil Jayin dan ditemani oleh kakek Lu Kiong yang
gagah perkasa, diiringkan pula oleh Tan Siong Khi dan teman-temannya. Mereka semua berkuda, dan di
sepanjang perjalanan, rombongan ini menjadi tontonan yang mengagumkan dan mengherankan para
penduduk dusun.
Dan untuk menenteramkan hati sang puteri, atas perintah panglima komandan pasukan, di sepanjang jalan
para prajurit itu bersama-sama menyanyikan lagu-lagu ketentaraan yang terdengar megah dan gagah.
Memang megah sekali menyaksikan rombongan ini. Bendera kebesaran berkibar-kibar tertiup angin, suara
nyanyian lima ratus mulut itu menggegap gempita, diseling ringkik kuda.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perjalanan selama berhari-hari dilakukan dengan aman dan selamat. Tidak tampak ada penghalang sedikit
pun sampai mereka tiba di dekat perbatasan antara wilayah Bhutan dan Propinsi Tibet. Lima hari telah
lewat dan memang perjalanan itu agak lambat sebab melalui Pegunungan Himalaya, dan pasukan Bhutan
itu agaknya ogah-ogahan melepas puteri junjungan mereka sehingga memperlambat perjalanan. Betapa
pun juga ada perasaan berat untuk melepas puteri itu ke daerah Ceng, karena setelah nanti bertemu
dengan pasukan penjemput di daerah Tibet, pasukan Bhutan akan kembali ke Bhutan dan menyerahkan
pengawalan itu kepada pasukan Ceng.
Pada hari kelima rombongan tiba di kaki gunung. Tampaklah padang pasir membentang luas di depan.
Diduga bahwa pasukan penjemput sudah berada dekat, di balik gunung pasir di depan. Karena itu
rombongan berhenti di hutan terakhir, sebab lebih baik menanti datangnya pasukan penjemput di daerah
yang masih sejuk ini karena perjalanan selanjutnya akan melalui daerah pegunungan yang sukar dan
berbatu-batu sampai lembah Sungai Brahmaputera di sebelah utara perbatasan Bhutan.
Pasukan dihentikan dan semua turun dari kuda masing-masing. Di hutan itu terdapat mata air yang jernih,
airnya mengalir menjadi sebatang anak sungai kecil menuju ke utara dan agaknya anak sungai ini akan
memuntahkan airnya di Sungai Brahmaputera. Tentu saja setibanya di sungai besar itu, airnya tidak
sejernih ketika keluar dari mata airnya di hutan itu.
Mendengar dendang anak sungai itu, Sang Puteri Syanti Dewi turun dari jolinya dan ingin sekali membasuh
mukanya dengan air yang jernih. Maka berjalanlah Syanti Dewi ditemani Ceng Ceng dan dikawal sendiri
oleh panglima pasukan dan kakek Lu Kiong, menuju ke tengah hutan dari mana terdengar suara riak air
sungai itu.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di tengah hutan yang subur itu, mereka tertegun melihat seorang laki-laki
sedang tidur di atas rumput, berbantal batu, kedua lengan bersilang depan dada dan mukanya tertutup
oleh sebuah caping besar bundar. Seekor kuda yang kelihatan lelah sekali sedang makan rumput tak jauh
dari laki-laki itu.
Panglima pasukan dan kakek Lu Kiong yang memang di sepanjang perjalanan sudah menduga akan
datangnya penyerbuan pihak musuh, tentu saja menjadi curiga ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi
karena merasa terlalu tinggi untuk menegur, panglima itu memanggil lima orang prajurit yang sedang
duduk tak jauh dari situ dengan lambaian tangannya.
“Usir dia pergi! Sang puteri berkenan hendak mandi di mata air ini,” katanya.
Lima orang prajurit itu dengan sikap gagah, galak dan langkah lebar menghampiri orang yang sedang tidur.
“Heiii! Bangun! Sang puteri hendak mempergunakan tempat ini, kau pergi dan pindahlah tidur di lain
tempat!” bentak seorang di antara para prajurit itu.
Akan tetapi orang itu tetap tidur, sama sekali tidak bergerak.
“Haiiii! Tulikah engkau?” bentak prajurit kedua.
“Apakah kau sudah mati barangkali?” bentak prajurit ketiga.
“Tak mungkin mati, lihat lututnya bergerak-gerak!”
Memang, orang yang tertidur itu lutut kanannya terangkat dan kini bergerak, akan tetapi terhenti lagi karena
dibicarakan orang.
“Haiii, petani...! Lekaslah bangun dan pergi. Apakah kau ingin diseret?” bentak pula seorang prajurit.
Tetap saja orang itu tidak mau bergerak.
Melihat ini, seorang prajurit yang berkumis tebal memegang sebelah kaki orang itu, lalu menarik sekuat
tenaga. Akan tetapi, betapa herannya semua orang melihat bahwa si kuat ini sama sekali tidak mampu
membuat orang itu bergerak, bahkan menggerakkan kaki itu pun dia tidak mampu! Seolah-olah bukan
orang yang ditarik-tariknya, melainkan patung batu yang luar biasa beratnya. Teman-temannya menjadi
heran, dan penasaran, kemudian maju bersama dan lima orang itu membetot-betot tubuh orang yang tidur
itu. Terdengar mereka mengeluarkan suara ah-ih-uh ketika mengerahkan tenaga, namun tetap saja orang
yang dikeroyok lima ini tidak dapat digerakkan sedikit pun juga!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eh-eh, apakah engkau minta dipukul?” Seorang prajurit membentak dan kuda orang itu menjadi ketakutan
melihat dan mendengar ribut-ribut sehingga binatang ini melarikan diri agak jauh dari tempat itu.
Karena orang itu tetap tidur dengan muka ditutup caping, lima orang prajurit itu menjadi hilang sabar, malu
dan penasaran. Mereka berlima tidak mampu menggerakkan orang yang tidur ini. Jelas bahwa orang itu
tidak tidur, maka mereka merasa dianggap ringan dan hina. Kini mereka berlima turun tangan menyerang
dengan pukulan kalang kabut!
“Plak-plak-plak-duk-dukkk...!”
Aneh bukan main. Tanpa menurunkan topi yang menutupi seluruh mukanya, orang itu dapat
menggerakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan. Bukan saja pukulan-pukulan itu tertangkis,
bahkan lima orang prajurit itu akhirnya mundur sambil meringis, memegangi lengan mereka yang menjadi
bengkak-bengkak terkena tangkisan orang yang masih tertutup mukanya oleh caping itu!
“Hemmm...!” Panglima sudah memegang gagang pedangnya, akan tetapi dia didahului oleh Ceng Ceng
yang sekali melompat telah berada di dekat orang itu sambil berkata, suaranya lantang penuh teguran,
“Kalau kau seorang gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan hanya milikmu seorang, dan tentu kau
mempunyai kesopanan untuk menyingkir karena ada wanita hendak mandi di sini!”
“Adik Candra... jangan...!” Tiba-tiba sang puteri berseru dan sudah lari mendatangi dan berkata dengan
halus kepada orang yang mukanya masih ditutupi topi itu. “Harap kau suka pergi dari sini dan setelah kami
selesai mempergunakan mata air ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi.”
Tubuh itu bergerak-gerak sedikit, kemudian tangan kanannya meraba tanah, menepuk dengan pengerahan
tenaga dan tubuhnya mencelat ke atas punggung kudanya yang berada agak jauh dari situ, kemudian kuda
itu membalap pergi meninggalkan suara derap kaki dan sedikit debu mengepul. Semua itu dilakukan tanpa
membuat capingnya terbuka!
“Hebat...!” Kakek Lu Kiong memuji dengan kagum.
“Mungkin dia mata-mata musuh...” bisik panglima komandan pasukan yang segera pergi dan
memerintahkan para penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan di sekitar hutan itu.
Kakek Lu Kiong mengerutkan alisnya, termenung dan meraba-raba jenggotnya, lalu berkata kepada
panglima itu, “Dia adalah seorang Han, dan melihat gerak-geriknya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi
sekali. Sayang bahwa kita belum dapat melihat wajahnya sebelum dia pergi. Kurasa dia bukanlah matamata
musuh, karena kalau dia mata-mata musuh, tentu tidak demikian perbuatannya, melainkan
menyelidiki kita dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Betapa pun juga, dia lihai sekali dan kita
harus berhati-hati.”
Juga Tan-ciangkun yang diberitahu tentang orang asing bercaping itu jadi termenung. “Saya mengenal
banyak tokoh kang-ouw, dan tentu saja banyak yang bercaping dan berilmu tinggi. Mungkin saya dapat
mengenalnya kalau melihat wajahnya. Akan tetapi karena jelas tidak mengganggu, bahkan dalam
bentrokan itu dia tidak menewaskan seorang pun prajurit, kurasa dia tidak mempunyai niat buruk terhadap
rombongan kita.”
Sementara itu, Ceng Ceng dan sang puteri mandi di mata air. Mereka membicarakan juga laki-laki yang
aneh tadi.
“Dia tentu orang jahat. Kalau tadi dia tidak lekas menyingkir, tentu aku akan menghajar dia!” kata Ceng
Ceng yang merasa mendongkol juga karena orang asing itu dipuji-puji dan orang itu mendapat kesempatan
untuk memamerkan kepandaiannya. Memang dara ini memiliki watak yang kadang-kadang keras tidak
mau kalah, dan dia paling tidak senang melihat orang memamerkan kepandaiannya.
“Ahhh, belum tentu, adik Candra. Kurasa, melihat gerak-geriknya, dia bukanlah seorang jahat. Buktinya,
dikeroyok demikian banyaknya prajurit, dia tidak membunuh seorang pun di antara mereka, padahal kalau
melihat kepandaiannya, tentu dengan mudah dia mampu melakukan hal itu.”
“Hemm, dia memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya!” bantah Ceng Ceng masih tak puas.
“Kalau saja diberi kesempatan, akan kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Maklum akan watak adik angkatnya, puteri itu hanya tersenyum dan tidak menyebut lagi perihal orang
aneh itu. Juga para tokoh dalam rombongan itu tidak bicara lagi tentang orang aneh, dan orang itu hanya
disebut-sebut dengan bisik-bisik di antara para prajurit. Namun, peristiwa itu mempertinggi kewaspadaan
rombongan dan penjagaan dilakukan ketat malam itu. Karena para penjemput belum juga muncul, maka
terpaksa mereka bermalam di hutan itu dengan membangun tenda-tenda darurat. Sang puteri dan Ceng
Ceng, juga para pelayan wanita, tidur di dalam kereta joli.
Malam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besar prajurit yang tidak bertugas jaga, tidur
nyenyak karena mereka memang sudah lelah sekali. Akan tetapi mereka yang bertugas jaga, tetap berjaga
dengan penuh kewaspadaan di tempat masing-masing. Perondaan dilakukan terus-menerus dari tempat
penjaga yang satu kepada tempat penjaga yang lain. Juga kakek Lu Kiong, komandan pasukan, dan Tanciangkun
tidak dapat tidur dan mereka bercakap-cakap di dalam tenda melewatkan waktu malam yang
merupakan bahaya bagi mereka itu.
Di dalam kereta joli, Ceng Ceng dan Syanti Dewi juga tidak dapat tidur. Mereka sudah terbiasa dengan
kamar yang serba lengkap, dengan pembaringan yang lunak sehingga tidur setengah duduk di kereta joli
merupakan hal yang sukar dilakukan. Maka keduanya juga setengah berbaring sambil bercakap-cakap.
Diam-diam keduanya merasakan sesuatu yang aneh dan seolah-olah ada tanda-tanda rahasia akan
datangnya hal yang tidak mereka kehendaki. Setelah munculnya orang aneh siang tadi, segala sesuatu
kelihatan penuh rahasia. Suara angin berdesir mempermainkan daun-daun pohon saja terdengar seperti
bisikan-bisikan iblis dan siluman. Bayang-bayang pohon yang dibuat oleh sinar lentera penjagaan tampak
seperti bayangan raksasa! Keadaan serba menyeramkan dan menegangkan.
“Kulik! Kulik! Kulik!”
Suara burung malam itu terdengar jelas sekali karena suasana yang amat sunyi. Suara itu memecah
kesunyian dan Puteri Syanti Dewi menggerakkan kedua pundaknya. Tengkuknya terasa dingin meremang.
“Ihhhh... menyeramkan sekali...!” Bisiknya. “Adik Candra, hatiku terasa tidak enak sekali. Bagaimana kalau
sampai terjadi sesuatu dengan kita?”
Ceng Ceng juga merasa seram, namun dia menghibur hati kakak angkatnya dengan senyum lebar. “Apa
yang dapat terjadi kepada kita? Engkau dikawal oleh lima ratus prajurit pilihan, enci Syanti.”
“Lima ratus orang prajurit di tempat seperti ini tidaklah meyakinkan sekali, adik Candra. Aku mendengar
bahwa di daerah perbatasan ini sering kali muncul gerombolan yang dipimpin oleh Raja Muda Tambolon
yang biadab itu.”
“Siapakah Raja Muda Tambolon yang terkenal itu, enci?”.
Syanti Dewi bergidik. “Aku sendiri belum pernah melihat orangnya. Akan tetapi menurut kabar, dia adalah
seorang peranakan Tibet dan Mongol, seorang laki-laki bertubuh raksasa yang amat sakti dan juga amat
kejam, terutama sekali terhadap wanita.”
“Hemmm, kejam terhadap wanita? Bagaimanakah?”
“Hihh, aku merasa ngeri baru mengingat cerita yang kudengar itu saja. Bayangkan, kalau Tambolon sudah
menyerang sebuah dusun, dia akan membunuh semua laki-laki yang tidak mau menyerah, dan tidak ada
seorang pun wanita yang dilepaskannya. Semua kanak-kanak dibunuh, dan wanita dari usia empat belas
tahun ke atas, semua menjadi korban kebiadabannya. Kabarnya, dia sendiri akan memilih sedikitnya lima
orang wanita tercantik untuk dia permainkan sampai bosan. Ada pun sisanya, semua diberikan begitu saja
kepada para anak buahnya dan terjadilah peristiwa yang lebih mengerikan dari pada penyembelihan
terhadap kaum pria dan anak-anak. Para wanita itu diperkosa di dalam rumah, di jalan-jalan, di sawah, di
mana saja mereka ditemukan, bahkan di antara mayat-mayat suami dan atau saudara-saudara mereka.”
“Keparat jahanam!” Ceng Ceng mendesiskan kata-kata ini penuh kebencian.
“Dan beberapa hari kemudian, wanita-wanita tua dibunuh, yang muda digiring sebagai orang tawanan atau
lebih tepat lagi, sebagai alat hiburan mereka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh diri. Anak-anak yang
lahir dari perbuatan laknat ini kelak menjadi anak buah gerombolan. Kabarnya Tambolon sendiri
merupakan hasil kelahiran dari perbuatan biadab seperti itulah.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm, kalau begitu biarlah mereka muncul. Ingin aku memenggal leher manusia iblis itu dengan
pedangku sendiri!” Ceng Ceng berkata lagi.
Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata-kata Ceng Ceng, terdengar suara melengking tinggi berulang-ulang.
Mula-mula suara itu datangnya dari arah barat, kemudian disusul dari selatan, timur dan utara. Suara
melengking yang agaknya bukan keluar dari leher manusia, melainkan dari semacam alat tiup yang aneh.
Segera terdengar teriakan-teriakan dan kegaduhan hebat di luar kereta joli.
“Apa itu...?” Syanti Dewi bertanya kaget dan mukanya pucat.
“Jangan keluar dulu, biar aku yang memeriksa!” Ceng Ceng sudah meloncat keluar dan dapat dibayangkan
betapa kaget hatinya melihat ratusan anak panah berapi datang bagaikan hujan menyerang tempat itu!
Di sana-sini sudah terjadi kebakaran pada tenda-tenda dan keadaan menjadi kacau. Para prajurit yang
baru saja terbangun dari tidur dan dalam keadaan panik, lari ke sana ke mari sampai akhirnya teriakanteriakan
kakek Lu Kiong, komandan pasukan, Tan-ciangkun dan beberapa orang perwira lain dapat
meredakan kepanikan. Pasukan-pasukan disusun dan dibagi empat, siap menghadapi serangan dari
empat penjuru itu.
Tak lama kemudian, muncullah pihak musuh yang menyerang dari empat penjuru, dan terjadi pertempuran
yang amat hebat. Perang yang terjadi di dalam gelap itu amat kejam dan dahsyat, namun sungguh tidak
menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Mereka sebagian besar baru saja bangun tidur, masih nanar dan
agaknya pihak penyerang lebih tangkas dan lebih biasa dengan pertempuran di dalam hutan yang gelap.
Selain itu, segera didapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa jumlah musuh luar biasa banyaknya,
jauh lebih banyak dari pada jumlah pasukan Bhutan yang lima ratus orang itu. Juga di pihak musuh banyak
terdapat orang-orang pandai dari bermacam suku bangsa. Ada pendeta Lama dari Tibet, ada orang Turki
yang bersorban, orang Mongol dan juga orang Han!
Perang tanding mati-matian itu terjadi sampai hampir pagi. Ceng Ceng yang siap dengan pedang di tangan
melindungi Syanti Dewi yang juga memegang pedang. Ada beberapa orang musuh dapat menyelundup
masuk dan Ceng Ceng sudah merobohkan empat orang musuh, sedangkan Syanti Dewi sendiri yang
selama hidupnya belum pernah bertempur, apa lagi membunuh orang, terpaksa membunuh seorang lakilaki
tinggi besar yang hendak menangkapnya. Kini dengan muka pucat dan tubuh menggigil puteri itu
memandang korbannya. Pedangnya tertinggal di dalam perut korban itu karena merasa terlalu ngeri untuk
mencabut pedangnya!
Tiba-tiba kakek Lu Kiong datang dengan muka agak pucat. Seluruh pakaian kakek itu berlumur darah, dan
mukanya penuh keringat. Pedang di tangan kakek ini pun penuh berlepotan darah dan kelihatannya dia
lelah sekali. Seperti juga para prajurit dan para pimpinan, kakek ini telah ikut berperang dan mengamuk
seperti seekor harimau.
“Ceng Ceng... cepatlah persiapkan diri dan tuan puteri! Kita harus melarikan diri, pihak musuh terlalu kuat!”
“Apa? Melarikan diri? Tidak, kongkong!” Ceng Ceng membantah marah. “Biarlah kita melawan sampai titik
darah terakhir!”
“Hushhhhh! Kau kira kakekmu ini pengecut? Kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kita harus
menyelamatkan sang puteri!”
Barulah Ceng Ceng teringat. Dia menoleh dan melihat Syanti Dewi berdiri pucat memandang orang yang
telah ditusuk perutnya dengan pedangnya itu. Orang itu masih berkelojotan di depan kakinya!
“Bagaimana kita bisa melarikan sang puteri, kongkong? Tempat ini sudah terkurung.”
“Cepat, kalian berdua pakai pakaian ini dan mari ikut dengan aku!” Kakek Lu Kiong memberikan dua stel
pakaian petani kepada Ceng Ceng dengan nada memerintah. “Sekarang yang terpenting adalah
menyelamatkan tuan puteri. Ini sudah diatur oleh kami, komandan pasukan, Tan-ciangkun, dan aku sendiri.
Kita berdua harus dapat mengawal dan menyelamatkan puteri keluar dari tempat ini!”
Dua orang gadis itu tidak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakaian petani yang agak kebesaran
itu, menutupi pakaian mereka sendiri, menguncir rambut seperti model laki-laki, kemudian tergesa-gesa
dunia-kangouw.blogspot.com
mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segenggam
perhiasan berharga kepada Ceng Ceng untuk membantu membawanya sebagai bekal. Dengan perhiasan
di kantung baju yang lebar, dan pedang disembunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohonpohon.
Syanti Dewi telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi
dan dibersihkan darahnya pada pakaian korban.
Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan pihak musuh dan beberapa kali terpaksa mereka
terpaksa membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melarikan
diri. Namun, kakek Lu Kiong sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertempuran, memilih lowonganlowongan
untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.
Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos
dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu. Suara pertempuran
masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos,
dan memasuki sebuah hutan kecil di antara gurun pasir yang hanya kadang-kadang saja menyelingi
gundukan perbukitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka
dengan golok terhunus di tangan!
“Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini
anggota rombongan puteri... ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan... heiiii, bukankah
kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar
menunjuk dengan goloknya ke arah muka Ceng Ceng dan Syanti Dewi.
“Ahhhh, dia puteri Bhutan! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri Bhutan!” tiba-tiba terdengar
teriakan seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.
“Ha-ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Haha-
ha, raja muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita. Tangkap dia!” teriak si muka
hitam, dialah yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan lima orang kasar ini.
Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek Lu Kiong,
sedangkan tiga orang teman mereka menubruk Ceng Ceng dan Syanti Dewi.
“Plak-plak, dess!”
Tiga orang itu tersungkur karena Ceng Ceng sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan
Syanti Dewi sendiri merobohkan seorang dengan sebuah tendangan kilat.
“Tranggg...! Cringgg...!”
Kakek Lu Kiong berhasil menangkis dua batang golok lawan, biar pun dia terkejut sekali karena ketika dia
menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka
kuning itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali!
Melihat tiga orang temannya tersungkur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya
memiliki kepandaian juga si puteri dan pelayannya...!”
“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak Ceng Ceng yang marah sekali dan dia sudah menghunus
pedangnya, demikian pula Syanti Dewi.
“Ha-ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk Raja Muda, akan
tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”
“Keparat!” Lu Kiong sudah menggerakkan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam.
Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara kakek Lu Kiong dikeroyok dua orang yang ternyata
memiliki ilmu silat yang tangguh juga.
Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menyerang Ceng Ceng dan Syanti Dewi.
Akan tetapi karena mereka tidak berani melukai, sedangkan dua orang dara itu melawan mati-matian, tentu
saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapa pun lihai ilmu silat mereka. Ceng Ceng mulai mendesak
dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan
bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar teriakan keras. Ceng Ceng melihat kakeknya juga telah berhasil merobohkan si muka kuning
yang terbabat hampir putus pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa kakeknya
juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.
“Kongkong...!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menyerangnya.
“Ceng Ceng, jaga sang puteri...!” kakek itu berteriak.
“Wuuuutttt... singgg...!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah
kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia
mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.
“Tringggg... augghhh...!” Tubuh kakek Lu Kiong tersungkur dan dia bergulingan.
Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terluka sehingga dia kehilangan tenaga
dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok. Si muka hitam mengejar
dan menghujankan bacokan. Namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang
beberapa kali menangkis, lalu dengan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi
pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.
“Kakekmu terluka... bantulah dia, adik Candra!” Syanti Dewi berkata sambil pedangnya membacok ke arah
lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.
“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” Ceng Ceng berseru.
Dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, maka ia cepat memutar
pedangnya. Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini. Dengan putaran pedang
secepat kitiran, akhirnya ia berhasil menendang roboh seorang lawan. Tendangan dengan ujung sepatu
yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.
“Singggg...!” Pedang di tangan Syanti Dewi menyambar.
“Tranggg...!”
Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik,
tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.
“Wuuttt...! Crottt!” pedang Ceng Ceng sudah menyambar dan merobek tenggorokannya.
Orang itu mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-muncrat dari
lehernya yang coba ditutupinya dengan telapak tangan. Melihat ini, Syanti Dewi loncat mundur dan
membuang muka dengan penuh kengerian. Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang
mengerikan hatinya ini.
Ceng Ceng mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu. Orang itu kini menjadi panik
karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar
sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.
“Robohlah...!” Teriak Ceng Ceng. Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan. Pedang itu
meluncur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada. Dengan
teriakan keras orang itu roboh terguling.
“Kongkong...!” Ceng Ceng menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung, lalu kakek itu roboh di atas mayat si
muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan.
Ternyata kakek yang kosen ini biar pun berhasil membunuh si muka hitam yang lihai, menderita luka pula
karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!
“Kongkong...!” Ceng Ceng berlutut dan memangku kepala kakeknya. Wajahnya pucat dan matanya
terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakeknya yang telah terluka hebat dan seluruh
pakaiannya berlepotan darah itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek Lu Kiong membuka matanya, memandang kepada Ceng Ceng lalu kepada Syanti Dewi yang juga
sudah datang berlutut di dekat Ceng Ceng. “Ceng Ceng, kau... kau selamatkan puteri... harus. Sekarang
juga... pergilah kau ke kota raja... jumpai di sana Puteri Milana, dia sahabat mendiang ibumu. Lindungi
puteri dengan nyawamu sebagai... sebagai keturunan seorang bekas pengawal setia...” Kakek itu
menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.
“Kongkong...!”
Ceng Ceng memeluk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya. Dia tidak menangis, walau
pun ada dua butir air mata di pipinya yang pucat. “Engkau benar, kongkong! Kita adalah pengawalpengawal
setia sampai mati. Engkau gugur sebagai orang gagah, kongkong! Dan aku akan melanjutkan
kegagahanmu.” Dia melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di
antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.
“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!”
“Tapi... tapi jenazah kakekmu...”
“Tidak apa! Kongkong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya. Biarlah semua orang melihat
bahwa kongkong tewas di antara musuh-musuhnya dalam tugas sebagai seorang pengawal perkasa!
Marilah...!” Sekuatnya Ceng Ceng berusaha menahan tangis karena sesungguhnya hatinya perih sekali
harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu. Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan
datang dan dia akan sukar sekali menyelamatkan sang puteri.
Puteri Syanti Dewi menahan isak, mengeluarkan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalungkan benda
itu di leher kakek Lu Kiong. “Ini adalah kalungku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku...” Dia terisak
dan lengannya disambar oleh Ceng Ceng lalu diajaknya puteri itu melarikan diri. Hampir saja Ceng Ceng
tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakak
angkatnya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keadaan mereka bisa
berbahaya sekali.
Demikianlah, dengan menyamar sebagai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Ceng
Ceng dan Syanti Dewi melewati gurun pasir, pegunungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur. Tentu
saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di
tengah lautan. Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja
Kerajaan Ceng berada jauh sekali di timur!
Mereka membawa bekal banyak perhiasan berharga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama
belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain? Mereka terpaksa harus makan binatang buruan dan
daun-daun, minum dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspada dan gelisah karena mereka
maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena pihak musuh, yaitu
orang-orang bawahan Raja Muda Tambolon tentu melakukan pengejaran.
********************
“Lee-ko, mari kita turun dari sini. Lihat itu sepasang rajawali kita beterbangan di atas permukaan laut,
agaknya tentu ada sesuatu terjadi. Mungkin ada ikan besar terdampar ke pulau seperti dahulu!” kata Kian
Bu sambil menudingkan telunjuknya ke bawah puncak di mana tampak sepasang rajawali itu terbang
rendah di permukaan laut.
“Ahh, Bu-te, sekarang bukan waktunya bermain-main. Ingat, hari ini kita harus melatih sinkang untuk
menghimpun Hui-yang-sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) yang amat sukar.”
“Memang sukar, Lee-ko. Tidak semudah ketika kita melatih Swat-im-sinkang.”
“Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) kita dibantu oleh hawa dingin
dan salju, sedang Hui-yang-sinkang adalah sebaliknya, menyalurkan sinkang menjadi berhawa panas.
Karena sukarnya, maka kita harus giat berlatih, jangan terlalu banyak main-main. Marilah kita berlatih lagi,
kurasa di dalam goa itu sudah cukup panas, apinya sudah sejak pagi tadi menyala.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tidak berani membantah kakaknya dan mereka memasuki
sebuah goa di puncak itu. Kalau orang lain yang belum terlatih, baru memasuki goa itu saja tentu tidak
akan kuat bertahan. Di situ dinyalakan api arang yang amat besar sehingga hawa menjadi panas luar
biasa, baru masuk saja terasa kulit seperti dibakar. Namun kedua orang pemuda yang sudah terlatih itu
seolah-olah mereka tidak merasakan hal ini. Mereka berjalan masuk dan duduk bersila, mulai berlatih Huiyang-
sinkang.
Kedua orang muda putera majikan Pulau Es ini memang selalu tekun berlatih silat semenjak mereka
dahulu tersesat ke Pulau Neraka dan terancam bahaya maut. Biar pun mereka dapat terhindar dari mala
petaka, bahkan pulang ke Pulau Es membawa sepasang rajawali, namun keduanya maklum bahwa ilmu
kepandaian mereka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluar merantau hampir celaka, maka di
bawah gemblengan dan bimbingan yang amat keras dari ayah mereka, keduanya berlatih setiap hari
sehingga memperoleh kemajuan yang pesat sekali.
Akan tetapi belum lama mereka melakukan siulian (semedhi) untuk berlatih sinkang, tiba-tiba telinga Kian
Bu menangkap suara rajawali yang melengking panjang. Dia membuka mata memandang keluar goa.
Tentu saja dari dalam goa itu dia tidak melihat sepasang rajawali, akan tetapi kembali telinganya
menangkap suara lengking panjang dari sepasang rajawali itu.
“Lee-ko...!”
Kian Lee membuka matanya memandang dengan cemberut. “Bu-te, mengapa kau belum juga berlatih?
Apa kau ingin mendapat marah dari ayah?”
“Lee-ko dengarkan! Sepasang rajawali kita marah-marah, tentu ada sesuatu!”
Terpaksa Kian Lee mencurahkan perhatiannya pada pendengarannya dan tak lama kemudian dia
mendengar lengking panjang dari sepasang rajawali mereka. Tak salah lagi, memang sepasang rajawali itu
sedang marah-marah. Hal ini amat mengherankan karena kalau tidak terjadi sesuatu di Pulau Es, mengapa
sepasang rajawali itu marah-marah?
“Hemm, mereka marah sekali. Entah apa yang sedang terjadi...,” kata pemuda yang bersikap tenang ini.
“Mendengar suara mereka, kalau tidak melihat dulu, mana bisa aku menyatukan tenaga untuk berlatih?
Aku mau melihatnya dulu, Lee-ko!” Berkata demikian, Kian Bu sudah menggerakkan kakinya dan tahu-tahu
tubuhnya sudah melesat keluar dari goa itu. Gerakannya memang hebat sekali karena pemuda ini sudah
memperoleh kemajuan yang amat pesat.
“Tunggu, Bu-te...!” Kian Lee juga meloncat dengan kecepatan yang sama.
Kedua orang kakak beradik itu berlari cepat menuruni puncak dan ketika mereka tiba di pantai tampaklah
oleh mereka apa penyebab sepasang rajawali itu beterbangan rendah dan mengeluarkan suara pekik
kemarahan. Kiranya Pulau Es kedatangan tamu! Hal yang luar biasa sekali karena selama mereka hidup di
Pulau Es, baru satu kali ini ada orang-orang asing yang datang di Pulau Es, menggunakan sebuah perahu
besar yang berlabuh di tepi pantai.
Kakak beradik itu merasa heran sekali, apa lagi ketika melihat bahwa yang datang adalah orang banyak.
Ada dua puluh orang yang kini sudah mendarat dan mereka itu berdiri di pantai, berhadapan dengan Suma
Han dan kedua orang isterinya! Karena ayah dan ibu mereka telah hadir, kakak beradik ini tidak berani
bersuara, hanya melangkah maju dan mendengarkan percakapan.yang baru berlangsung. Agaknya orang
tua mereka juga baru saja datang ke tempat itu menyambut para pendatang ini. Dua puluh orang itu ratarata
telah berusia lanjut, paling muda empat puluh lima tahun sampai ada yang sudah tua sekali. Akan
tetapi yang paling menarik adalah dua orang kakek yang berdiri di depan, karena mereka ini adalah yang
paling aneh di antara mereka semua.
Dua orang kakek ini menarik karena wajah mereka serupa benar. Sukar membedakan dua wajah itu yang
bentuk dan garis-garisnya sama, bahkan rambut mereka yang panjang terurai sampai ke leher juga sama.
Akan tetapi, ada perbedaan yang amat menyolok pada pakaian mereka dan warna muka mereka. Yang
seorang bermuka putih, bukan pucat melainkan putih seperti dicat! Kakek ini memakai baju tebal dari bulu,
akan tetapi masih kelihatan seperti orang kedinginan, bahkan mukanya yang lebar bulat itu, yang berwarna
putih, agak kebiruan seperti orang menderita dingin hampir beku.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ada pun kakek kedua merupakan kebalikan dari kakek pertama. Kakek kedua bermuka merah, muka yang
seperti orang kepanasan. Orang kedua ini hanya memakai celana sebatas lutut dan sepatu, sama sekali
tidak memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kurus dengan tulang iga menonjol itu kelihatan.
Anehnya, biar pun berada di Pulau Es yang dingin sekali, kakek ini masih kelihatan seperti orang
kegerahan, mengipas-ngipas tubuh atasnya yang telanjang itu dengan sehelai sapu tangan yang sudah
basah oleh keringatnya. Dan ini bukan hanya aksi belaka karena memang lehernya selalu basah oleh
keringat!
Delapan belas orang yang lainnya terdiri dari empat belas orang kakek yang rata-rata kelihatan aneh dan
membayangkan ilmu kepandaian tinggi, dan empat orang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun
yang masing-masing membawa pedang di punggung mereka. Empat orang wanita ini kepalanya dibalut
dengan kain putih seperti orang berkabung dan wajah mereka angker, penuh kebencian ketika mereka
memandang kepada Pendekar Super Sakti dan kedua isterinya. Melihat dari bentuk pakaian mereka, jelas
bahwa empat orang wanita ini bukanlah wanita Han, sungguh pun wajah mereka seperti wanita Han biasa,
akan tetapi pakaian mereka agak lain. Dan memang mereka itu adalah wanita-wanita dari Korea, dan
tergolong tokoh-tokoh orang gagah di negeri itu.
Siapakah kedua orang kakek kembar yang agaknya menjadi pimpinan rombongan yang secara tidak
terduga-duga datang mendarat di Pulau Es ini? Nama mereka tidak begitu dikenal di dunia kang-ouw,
karena memang kedua kakek kembar ini selama puluhan tahun pergi meninggalkan dunia kang-ouw dan
merantau di luar negeri. Mereka adalah kakak beradik kembar, berasal dari Taiwan (Formosa) dan pernah
mereka menjelajah ke daratan besar dan membuat nama dengan ilmu kepandaian mereka.
Akan tetapi, mereka berbeda haluan dengan suheng mereka yang mencari kedudukan dengan
menghambakan diri kepada Bangsa Mancu yang menduduki Tiongkok. Suheng mereka kemudian terkenal
sebagai Koksu (Guru Negara), yaitu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun (baca SEPASANG PEDANG IBLIS).
Mereka berdua merasa kecewa melihat kakak seperguruan yang mereka anggap sebagai pengganti suhu
itu menghambakan diri kepada musuh, maka keduanya lalu pergi meninggalkan daratan besar dan mereka
berpencar untuk meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu mereka. Yang tua pergi ke utara dan
selama puluhan tahun bermukim di daerah Kutub Utara yang amat dingin. Ada pun yang muda merantau
ke selatan, ke daerah panas di mana matahari lewat tepat di atas kepala.
Beberapa tahun yang lalu, kedua orang ini kembali ke daratan besar sebagai dua orang lihai bukan main.
Setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kutub Utara, kakek tertua menjadi putih mukanya dan selalu
berpakaian tebal seperti yang biasa dipakai orang-orang Eskimo di daerah Kutub Utara. Kakek ini
kemudian terkenal dengan sebutan Pak-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Utara). Ada pun adik kembarnya,
sekembalinya dari daerah panas, menjadi merah mukanya dan selalu merasa kegerahan dan tidak pernah
berbaju. Dia kini dijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Dari Selatan).
Biar pun baru datang beberapa tahun saja, kelihaian mereka membuat nama Siang Lo-mo (Sepasang Iblis)
ini terkenal sekali, terutama pada golongan yang menentang Pemerintah Mancu karena kedua orang ini
pun terkenal anti kepada Kerajaan Mancu. Memang aneh sekali keadaan kedua orang itu. Lajimnya, orang
yang selamanya tinggal di daerah dingin seperti Kutub Utara, kalau datang ke tempat yang lebih panas
tentu akan kegerahan, akan tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, terus-menerus kedinginan! Demikian
pula dengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun dia tinggal di daerah panas, semestinya kini dia akan merasa
kedinginan, akan tetapi biar pun berada di Pulau Es, dia masih terus merasa panas!
Sebetulnya mereka tidak pura-pura dan yang menyebabkannya demikian adalah sinkang mereka. Di Kutub
Utara, Pak-thian Lo-mo melatih diri secara liar sehingga dia dapat menghimpun inti tenaga yang
mengandung hawa dingin. Memang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya karena dilatih secara liar, dia
selalu merasa kedinginan dan harus memakai jubah tebal berbulu dan sering kali minum arak tanpa
takaran untuk menghangatkan tubuhnya, demikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih dan
menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu terasa terlalu panas!
Ketika kakek kembar ini mendengar betapa suheng mereka telah digagalkan semua usahanya
memberontak oleh Pendekar Super Sakti, bahkan kabarnya suheng mereka itu tewas di Pulau Es, tentu
saja menjadi marah sekali dan menaruh hati dendam kepada Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es.
Apa lagi ketika mendengar pendekar yang menjadi musuh besar mendiang suheng mereka itu adalah
mantu Kaisar Mancu, kebencian mereka makin meluap-luap.
Mereka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu mereka yang menentang Pemerintah Mancu. Di
antaranya adalah keempat wanita dari Korea itu. Mereka itu adalah kakak beradik dari Jepang yang telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menikah dengan perwira-perwira Korea. Ketika suami mereka semua gugur dalam perang melawan
pasukan Mancu, mereka bersumpah untuk membalas dendam dan menggabung dengan mereka yang anti
Pemerintah Mancu sehingga akhirnya mereka dapat bekerja sama dengan Siang Lo-mo. Mendengar
bahwa Siang Lo-mo hendak mencari Pulau Es dan menyerang Majikan Pulau Es yang menjadi mantu
Kaisar Mancu, tentu saja mereka berempat menjadi girang dan segera menyatakan hendak ikut
membantu.
Empat belas kakek yang lainnya sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat yang merasa dirugikan
oleh Pemerintah Mancu, ada pula yang ikut menyerbu Pulau Es semata-mata untuk membalas dendam
kepada Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti karena sahabat atau saudara seperguruan mereka
pernah roboh di tangan pendekar ini.
Suma Han dan dua orang isterinya yang juga mendengar pekik sepasang rajawali dan melihat sebuah
perahu besar mendarat, sudah cepat menyambut dan kini mereka bertiga menanti keluarnya dua puluh
orang itu dari perahu. Sikap Suma Han dan dua orang isterinya tenang-tenang saja sungguh pun mereka
juga merasa heran sekali melihat rombongan orang asing datang ke pulau mereka dan mereka bertiga
sudah dapat menduga bahwa rombongan itu tentulah bukan datang dengan iktikad baik.
Namun, sesuai dengan wataknya yang tenang dan sopan, Suma Han mengangkat kedua tangannya di
depan dadanya sebagai tanda penghormatan, lalu bertanya dengan suara halus, “Siapakah cu-wi (anda
sekalian) yang telah mendarat di Pulau Es dan apa gerangan keperluan cu-wi?”
Sejenak kedua orang kakek kembar itu tak dapat menjawab, hanya mata mereka memandang Suma Han
penuh perhatian dan penuh selidik, memandang pendekar itu dari rambutnya yang putih semua dan
panjang sampai ke pundak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhirnya Pak-thian Lo-mo menghela
napas panjang. Dia merasa heran sekali dan hampir tidak percaya bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun
lebih yang kelihatannya lemah, tubuhnya sedang, kakinya tinggal yang kanan dan rambutnya sudah putih
semua, bersikap halus dan lemah lembut ini adalah Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman yang
demikian tersohor!
Dia tersenyum dan dengan sikap tak acuh tanpa membalas penghormatan tuan rumah, dia bertanya,
“Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Super Sakti, Tocu dari Pulau Es?”
“Kalau benar demikian, kau mau apakah?” Lulu tidak dapat menahan kemarahannya melihat sikap orang
yang sama sekali tidak menghormat suaminya, padahal suaminya telah bersikap sopan dan ramah.
Pak-thian Lo-mo memandang pada Lulu dan mengangguk-angguk. “Hebat, aku sudah mendengar bahwa
Pendekar Super Sakti mempunyai dua orang isteri yang kabarnya lihai bukan main dan bahwa yang
seorang adalah puteri dari Kaisar Mancu sendiri! Apakah engkau puteri kaisar itu?”
“Kakek tua bangka yang tidak mengenal orang!” Nirahai membentak. “Akulah puteri kaisar yang kau
tanyakan. Engkau siapakah dan mau apa berlagak di tempat ini dengan membawa banyak anak buah?”
Pak-thian Lo-mo saling pandang dengan adik kembarnya, kemudian mereka berdua tertawa bergelak. Kini
Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaranya kering tetapi nyaring sekali, “Eh, Pendekar Siluman! Kami
hendak bertanya, apakah benar suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tewas di Pulau Es ini?”
Suma Han dan kedua orang isterinya terkejut. Kiranya dua orang kakek kembar yang aneh itu adalah sutesute
dari mendiang Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun! Jelaslah bahwa kedatangan mereka ini mengandung niat
yang tidak baik.
Namun suara Suma Han masih tetap tenang ketika dia menjawab, “Benar, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun
tewas di tempat ini karena perbuatannya sendiri yang menyalahi kebenaran.
“Kaukah yang membunuhnya?” Pak-thian Lo-mo bertanya, suaranya penuh ancaman.
Sebetulnya, Im-kan Sen-jin Bhong Ji Kun terjungkal dari tebing yang amat curam ketika bertanding dengan
Gak Bun Beng. Namun bukan watak Suma Han untuk menyebutkan kesalahan orang lain hanya untuk
melindungi dirinya sendiri, maka jawabnya, “Yang membunuhnya adalah tingkah lakunya sendiri yang tidak
benar.” (seperti diceritakan dalam cerita SEPASANG PEDANG IBLIS)
dunia-kangouw.blogspot.com
Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali.
“Pendekar Siluman, dengarlah baik-baik! Kami berdua adalah Siang Lo-mo, aku disebut Pak-thian Lo-mo
dan dia ini adikku Lam-thian Lo-mo. Kami datang untuk menuntut kematian suheng kami! Bukan itu saja,
karena engkau adalah mantu kaisar penjajah dan isterimu itu puteri kaisar, maka kami para patriot
bergabung untuk membasmi kalian dan mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah markas baru!”
“Iblis tua bangka bosan hidup!” Nirahai sudah membentak marah sekali dan hampir berbareng dengan Lulu
yang juga marah, kedua orang wanita sakti ini sudah melompat ke depan. Terjangan mereka disambut oleh
Pak-thian Lomo dan Lam-thian Lo-mo yang tertawa-tawa menghina dan memandang rendah kedua wanita
itu.
“Dessss! Desssss!”
Empat pasang lengan saling bertemu dengan hebatnya, dan akibatnya, Nirahai dan Lulu terlempar ke
belakang sedangkan kedua kakek ini pun terhuyung! Melihat ketangguhan kedua orang kakek Siang Lo-mo
itu, Suma Han berkata kepada kedua orang isterinya yang sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh
mereka, “Biarlah aku menghadapi mereka.”
“Pendekar Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!” Lam-thian Lo-mo berteriak keras.
Bersama saudara kembarnya dia lalu menubruk ke depan dan dari kedua tangannya menyambar hawa
yang panas seperti api menyala, sedangkan dari kedua tangan Pak-thian Lo-mo menyambar hawa yang
dingin sekali. Namun Suma Han dengan gerakan tenang sudah menggerakkan tongkatnya ke depan,
dengan gerakan aneh tongkatnya berputar seperti mencoret-coret huruf di udara.
“Plak-plak...!”
Secara aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat mengenai punggung dua kakek itu yang
cepat melompat ke belakang, saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka kaget bukan main! Sama
sekali mereka tidak mengerti bagaimana tongkat di tangan si kaki buntung itu dapat memukul punggung
mereka! Namun mereka tidak menjadi jeri dan cepat tangan mereka meraba pinggang dan mereka melolos
sabuk mereka, yang ternyata merupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!
Suma Han merasa khawatir sekali di dalam hatinya. Kalau kedua orang kakek itu menggunakan senjata
yang dia dapat menduga tentu ampuh dan lihai sekali, maka pertandingan akan menjadi sungguh-sungguh
dan ada kemungkinan dia kesalahan tangan dan terpaksa membunuh mereka untuk menyelamatkan diri.
Biar pun dia tidak merasa takut, namun betapa pun juga dia tidak menghendaki dia sekeluarga terpaksa
membunuh orang dan mengotori Pulau Es yang sudah beberapa kali dikotori darah manusia yang terbunuh
di situ akibat kejahatan-kejahatan mereka. Selama puluhan tahun dia hidup damai, tenteram, dan aman
bersama dua orang isterinya dan kedua orang puteranya. Kini dia tidak ingin terjadi pembunuhan.
“Jiwi harap bersabar. Apakah urusan ini tidak dapat diselesaikan dengan damai?” tanyanya tenang.
“Pendekar Siluman, jangan kau kira bahwa kami gentar menghadapi tongkatmu! Kami datang untuk
menantang engkau berkelahi!” bentak Pak-thian Lo-mo.
Suma Han menahan napas. “Andaikata terpaksa berkelahi juga, apakah tidak sebaiknya kita hanya
menggunakan tangan untuk mengukur siapa yang lebih kuat, dan tidak perlu menggunakan senjata?”
Sambil berkata demikian, dia menancapkan tongkatnya di depan kaki, tanda bahwa ia tidak akan
menggunakan tongkat itu sebagai senjata.
Dua orang kakek itu saling pandang, dan sebagai sepasang saudara kembar, tentu saja hubungan batin
mereka lebih erat dari pada orang lain sehingga dengan saling pandang saja mereka sudah dapat
mengetahui isi hati masing-masing. Keduanya mengangguk, menyelipkan cambuk di ikat pinggang,
kemudian keduanya lalu berpencar, menghampiri Suma Han dari kanan kiri.
“Engkau hendak mengadu tenaga sinkang, ya?” Lam-thian Lo-mo berseru. “Baiklah! Nah, kau terima
pukulan kami ini!”
Kedua orang kakek itu mengeluarkan suara menggereng hebat dari dalam perut mereka, kemudian
mereka menggerakkan kedua lengan yang menggetar hebat dan tak lama kemudian, kedua lengan Lamthian
Lo-mo berubah menjadi merah kehitaman dan mengeluarkan uap panas, sedangkan kedua lengan
dunia-kangouw.blogspot.com
Pak-thian Lo-mo berubah putih pucat seperti lengan mayat dan dari kedua lengan ini juga keluar uap
dingin!
Kiranya mereka sudah mengumpulkan dan mengerahkan sinkang istimewa masing-masing,
menyalurkannya ke dalam lengan dan tiba-tiba mereka berseru keras, memukul dengan telapak tangan
kanan terbuka ke arah Suma Han dari kanan kiri agak ke depan pendekar berkaki tunggal itu.
Suma Han maklum bahwa kalau dia tidak memperlihatkan kekuatannya tentu tidak akan membuat lawan
mundur dan dia tidak ingin kalau harus bertanding mati-matian, maka diam-diam dia pun telah
mengerahkan tenaga sinkang-nya yang istimewa. Pendekar Super Sakti ini memang terkenal sekali
dengan sinkang-nya, karena ia telah menguasai dengan sempurna dua macam tenaga sinkang yang
berlawanan, yaitu Swat-im-sinkang (Tenaga Inti Salju) dan Hwi-yang-sinkang (Tenaga Inti Api).
Kini, menghadapi dua serangan yang datang mengandalkan sinkang yang berlawanan, tentu saja dia
sudah siap. Bagi orang lain, betapa kuat sinkang-nya, tentu akan sukar menyelamatkan diri menghadapi
serangan dari dua tenaga sinkang yang berlawanan itu, tetapi Pendekar Super Sakti dapat menyalurkan
dua tenaga bertentangan itu dalam satu saat, lengan kiri penuh dengan tenaga Hwi-yang-sinkang
menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas, sedangkan telapak tangan kanan juga
mendorong dan menyambut telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang dingin.
“Dess! Dess...!”
Pertemuan tenaga mukjijat itu hebat luar biasa. Seolah-olah bumi bergetar dan semua orang yang ada di
situ dapat merasakan getaran hawa panas dan dingin berselang-seling sehingga beberapa orang anak
buah sepasang kakek kembar itu menggigil penuh kengerian. Selama hidup mereka yang puluhan tahun
berkecimpung di dunia kang-ouw, baru pertama kali itu mereka menyaksikan beradunya tenaga mukjijat
sehebat itu.
Dan akibatnya juga luar biasa sekali! Tubuh kedua kakek kembar itu terlempar sampai empat meter lebih.
Mereka seperti daun kering tertiup angin, terhuyung dan terguling-guling dan ketika mereka berdua dapat
meloncat berdiri, tampak darah merah menghias ujung bibir mereka! Benturan tenaga dahsyat tadi telah
membuat mereka terluka di sebelah dalam, sungguh pun tidak terlalu berat karena mereka telah
membiarkan diri mereka terdorong oleh tenaga lawan yang luar biasa kuatnya.
Akan tetapi, di lain pihak, biar pun Pendekar Super Sakti masih berada di tempatnya tadi, tidak bergeser
selangkah pun, namun tubuhnya menjadi kurang tingginya dan kalau orang melihat ke arah kakinya yang
tinggal sebelah itu ternyata telah melesak ke dalam tanah sampai hampir selutut! Ternyata bahwa
kekuatan kedua orang kakek kembar itu kuat sekali sehingga dalam menahan pukulan mereka, tubuh
Suma Han tertekan sedemikian rupa dan biar pun pendekar ini dapat mempertahankan, namun tanah di
bawah kakinya tidak dapat menahan sehingga kaki itu masuk ke dalam tanah!
Tadinya kedua kakek kakak beradik itu terkejut bukan main, akan tetapi mereka melihat keadaan lawan,
hati mereka menjadi besar. Kiranya keadaan lawan juga tidak lebih baik dari pada keadaan mereka.
Melihat betapa Pendekar Super Sakti masih berdiri dengan kaki tunggal menancap ke dalam tanah, kedua
orang itu sudah mencabut cambuk masing-masing dan dengan bentakan-bentakan nyaring mereka
menerjang maju.
“Tar-tar-tar-tar...!” Cambuk hitam mereka meledak-ledak di udara kemudian menyambar ke arah kepala
Suma Han.
“Trak-trak-trak-trakkk!”
Tiba-tiba tampak sinar bergulung-gulung dan kiranya tongkat yang tadi tertancap di atas tanah di depan
kakek Pendekar Siluman, sekarang telah tercabut dan berada di tangan kanannya. Biar pun kaki
tunggalnya masih menancap di atas tanah, namun pendekar itu dengan tenangnya dapat menangkis
semua sambaran sinar berwarna hitam dari kedua cambuk lawan. Ke mana pun ujung cambuk
menyambar, tentu akan terbendung oleh gulungan sinar tongkat dan membalik seperti seekor ular bertemu
api!
Di antara delapan belas orang teman sepasang kakek kembar, empat orang wanita Korea itu merupakan
tokoh-tokoh terpandai. Melihat keadaan musuh mereka yang seolah-olah sudah terjebak, mereka
mengeluarkan bentakan-bentakan pendek yang nyaring dan ketika tangan mereka bergerak, tampak
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang-pedang panjang melengkung, yaitu pedang samurai model Jepang, berada di kedua tangan
mereka. Pedang itu terlalu panjang dan berat bagi mereka, maka mereka menggunakan kedua tangan
untuk memegang gagang pedang, seperti orang memegang toya dan kini mereka memekik sambil berlari
ke arah Suma Han dengan samurai diangkat tinggi-tinggi di atas kepala mereka.
“Haaaiiiiikkkk...!”
“Trang-cring-cring-cring...!”
Empat orang wanita itu terhuyung-huyung ke belakang dan mereka memandang dengan mata terbelalak
kepada Lulu dan Nirahai yang ternyata telah menghadang mereka dan menangkis samurai-samurai itu
dengan pedang mereka. Lulu memegang pedang Pek-kong-kiam yang bersinar putih, sedangkan Nirahai
telah menggunakan senjatanya yang luar biasa, yaitu pedang payung. Merasakan tangkisan yang
membuat tangan mereka tergetar dan tubuh mereka terhuyung, empat orang wanita Korea itu maklum
akan kelihaian dua orang wanita isteri Pendekar Siluman itu, maka mereka lalu serentak maju menyerang
sambil mengeluarkan pekik-pekik dahsyat. Empat belas orang lain juga bergerak maju, hendak
mengeroyok Suma Han dan dua orang isterinya.
“Lee-ko, mari...!”
Kian Bu sudah berlari ke medan pertempuran, diikuti oleh kakaknya.
“Manusia-manusia jahat, berani kalian mengacau Pulau Es?” Kian Bu berteriak dan segera dia menyerbu
ke depan.
“Haiiiitt!”
“Hyaaaahhh!”
Kedua orang pemuda itu mengamuk dan mereka ternyata hebat sekali. Biar pun mereka hanya bertangan
kosong, namun setiap pukulan mereka tentu mengenai seorang lawan yang terjengkang atau terhuyung ke
belakang. Biar pun mereka itu dapat bangun kembali, namun amukan kedua orang pemuda ini membuat
mereka menjadi kaget dan panik. Apa lagi ketika terdengar lengking memanjang dari atas dan dua ekor
rajawali yang menyambar-nyambar dan mengamuk pula membantu dua orang majikan mereka! Keadaan
makin menjadi panik dan para pengeroyok itu kini sebaliknya malah menjadi sibuk dan terdesak hebat!
Pertandingan antara Suma Han dan dua orang kakek kembar juga makin seru, namun diam-diam kedua
orang kakek itu harus mengakui bahwa lawan mereka yang berjuluk Pendekar Super Sakti itu memang
benar-benar amat sakti! Sering kali kedua orang kakek ini menjadi bingung karena secara aneh dan tibatiba
sekali lawan mereka yang hanya berkaki satu itu lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu lawan itu
telah menyerangnya dari atas kepala! Ketika mereka menyambarkan cambuk ke atas, kembali tubuh itu
lenyap dan tahu-tahu sudah menerjang dari belakang! Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Super Sakti
mengeluarkan ilmu silatnya yang mukjijat, yaitu Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Gerak Kilat dan Badai) yang
merupakan ilmu kesaktian paling cepat gerakannya di dunia ini!
Diam-diam Suma Han juga harus mengakui bahwa ilmu kepandaian dua orang kakek kembar itu hebat
sekali, sinkang mereka kuat dan tubuh mereka kebal, juga mereka merupakan ahli-ahli silat yang sudah
berhasil mengumpulkan inti sari segala gerakan ilmu silat, diringkas dan dimainkan dasarnya saja sehingga
mereka berdua merupakan lawan yang amat ulet dan kuat.
Namun, andai kata dia menghendaki, dengan Soan-hong-lui-kun yang membingungkan mereka, tentu saja
dia dapat merobohkan mereka dengan tongkatnya, membunuh atau sedikitnya melukai mereka. Dia tidak
menghendaki hal ini. Dia maklum bahwa jalan kekerasan hanya akan berakhir dengan kekerasan pula,
dengan dendam dan kebencian yang tak kunjung henti. Maka dia bersikap sabar dan mengalah.
Ketika Suma Han mendengar bentakan kedua orang isterinya beserta kedua orang puteranya, dia
menengok dan terkejutlah hati Pendekar Super Sakti ini. Kedua orang isterinya dan dua orang pemuda itu
mengamuk seperti naga-naga marah. Dua orang wanita Korea telah roboh dan tak dapat bertanding lagi
karena terluka parah, sedangkan di antara empat belas orang itu, sudah ada delapan orang yang roboh,
entah tewas atau pingsan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Celaka, dia sendiri tidak mau turun tangan keras, isteri-isteri dan anak-anaknya malah mengamuk seperti
itu!
“Heiii, tahan dan mundur kalian semua!” Teriaknya sambil mencelat ke arah kedua isteri dan anaknya.
“Kian Bu, Kian Lee, hayo panggil burung-burung setan itu!” teriaknya pula melihat betapa kedua ekor
rajawali itu pun turut mengamuk hebat, membuat para lawan menjadi panik dan sibuk mempertahankan diri
dari paruh dan cakar yang kuat.
Kedua isterinya mengerutkan alis, namun mereka mengenal suami mereka dan tidak mau membantah.
Mereka maklum bahwa suami mereka akan berduka sekali kalau sampai keluarganya menggunakan
kekerasan. Juga Kian Lee dan Kian Bu meloncat mundur dan berusaha memanggil sepasang rajawali yang
sedang marah dan mengamuk itu. Akan tetapi, pekerjaan itu tidaklah mudah karena sepasang rajawali itu
agaknya telah datang kembali sifat liar mereka dan sekali mencium darah, mereka menjadi buas!
Akan tetapi, sama sekali tidak disangka-sangka oleh Suma Han. Dia sendiri mundur dan menyuruh anak
isterinya untuk berhenti bertanding, akan tetapi sepasang kakek itu, dua orang wanita Korea, dan enam
orang teman mereka yang masih belum roboh, sudah datang lagi menerjang dengan kemarahan meluap.
Suma Han menghela napas panjang. Sedih dia melihat betapa begitu banyak orang ternyata amat
membencinya sehingga mereka itu siap mempertaruhkan nyawa untuk membunuh dia!
“Siang Lo-mo dan cu-wi sekalian! Apakah kalian sudah bosan hidup? Lihat..., bukit itu longsor ke sini...!”
mendadak Suma Han berteriak keras, suaranya disertai khikang dan mengandung tenaga sakti mukjijat
yang bergema di seluruh tempat itu, tongkatnya menuding ke tengah pulau di mana tampak bagian yang
menjulang tinggi seperti bukit es yang putih.
Sepasang kakek kembar dan para temannya menengok ke arah yang ditunjuk itu dan tiba-tiba mata
mereka terbelalak dan muka mereka pucat sekali. Mereka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu dan
es yang besar-besar sedang bergulingan dari atas menuju ke tempat itu disertai suara gemuruh dan tanah
yang mereka injak bergoyang-goyang seperti ada gempa bumi yang hebat.
“Celaka...! Cepat lari...!” Pak-thian Lo-mo berteriak sambil menyambar tubuh dua orang pembantu yang
terluka.
“Lari..., bawa teman-teman...!” berteriak pula Lam-thian Lo-mo yang juga menjadi pucat wajahnya.
Tentu saja tidak perlu dikomando dua kali, karena mereka yang belum roboh menjadi pucat ketakutan
menyaksikan mala petaka itu, bencana alam yang amat hebat dan yang tentu akan menggulung dan
membasmi mereka semua kalau mereka terlambat lari dari tempat yang agaknya sudah dikutuk dan akan
musnah itu. Mereka cepat menyambar teman yang terluka, lalu bersicepat lari ke arah perahu mereka,
berloncatan ke dalam perahu dan sekuat tenaga mendayung perahu ke tengah laut. Angin segera
mendorong layar dan perahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.
Suma Han menghela napas lega. Dua orang pemuda yang tadinya berlutut merangkul kedua kaki ibu
masing-masing dengan muka pucat, sekarang menengadah melihat ibu mereka tersenyum. Keduanya
bangkit berdiri, menoleh ke arah bukit dan ternyata tidak ada terjadi apa-apa di sana! Padahal tadi, mereka
ikut menengok dan melihat betapa bukit itu pecah dan mengeluarkan suara bergemuruh, mengancam
tempat itu dengan gumpalan batu dan es sebesar rumah!
“Untung mereka dapat dikelabui...“ Suma Han berkata perlahan.
“Hemmm, kalau mereka tidak lari, tentu sebentar lagi mereka tak sempat berlari lagi!” kata Lulu.
“Mereka itu tidak seberapa kuat, mengapa harus dipergunakan hoat-sut (ilmu sihir)?” kata Nirahai, tidak
puas karena tadi sedang ‘enak-enaknya’ membabati musuh.
Sudah belasan tahun puteri kaisar yang gagah perkasa ini tak memperoleh kesempatan untuk
mempergunakan ilmunya untuk bertempur, padahal dahulu puteri ini mempunyai kesukaan untuk
bertanding ilmu silat. Peristiwa tadi sebetulnya amat menggembirakan hatinya, siapa yang tidak mengkal
hatinya kalau sedang enak-enak membabat musuh lalu dihentikan?
“Aihhhh... jadi ayah tadi mempergunakan ilmu sihir?” Kian Lee berkata, memandang ayahnya dengan
kagum dan heran. “Akan tetapi... aku melihat sendiri, bukit itu seperti pecah...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Karena kau ikut menengok, maka kau menjadi korban kekuasaan ilmu sihir ayahmu pula,” kata Lulu. Dia
dan Nirahai yang sudah tahu bagaimana caranya melawan ilmu sihir itu, tadi tidak menengok dan
karenanya tidak terseret.
“Wah, hebat sekali, ayah! Harap ajarkan ilmu itu kepadaku!” Kian Bu bersorak.
Ayahnya diam saja, hanya memandang sepasang rajawali yang masih berputaran terbang di angkasa.
Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan kedua ekor burung rajawali itu terkejut, lalu
menukik turun dan tidak lama kemudian hinggap di atas tanah, di depan pendekar itu.
“Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang berada di paruh mereka itu!” bentak Suma Han.
Kian Lee dan Kian Bu menghampiri sepasang rajawali dan mengambil sesuatu dari paruh mereka. Kiranya
burung rajawali kesayangan Kian Lee membawa sebatang jari tangan di paruhnya, sedangkan burung
rajawali kesayangan Kian Bu membawa sebuah daun telinga manusia!
“Ihhh...! Ini jari tangan orang!” Kian Lee bergidik dan membuang jari tangan itu ke atas tanah.
“Haiiii! Ini daun telinga orang...!” Kian Bu juga membuang benda menjijikkan itu.
Suma Han menghela napas, menggunakan tongkatnya membuat lobang di atas tanah, kemudian
menjemput jari tangan dan daun telinga itu, kemudian sambil menarik napas panjang dan menggelenggeleng
kepala dia berjalan ke tengah pulau.
“Ayah, ajarkan aku ilmu sihir itu...!” Kian Bu berseru dan hendak mengejar ayahnya.
Akan tetapi tangannya dipegang ibunya. “Ilmu itu tak mungkin diajarkan ayahmu kepada siapapun juga,”
puteri kaisar itu berkata.
“Mengapa tidak mungkin, ibu?”
“Ilmu yang kelihatan seperti ilmu sihir itu dimiliki oleh ayahmu tanpa dipelajarinya karena ayahmu memiliki
kekuatan mukjijat. Pula, dengan kepandaian silat yang kau miliki saat ini, tidak perlu lagi menginginkan
kekuatan sihir karena kau akan mampu menghadapi lawan yang bagaimana kuat pun.”
“Kian Lee, apa yang diucapkan oleh ibumu Nirahai itu benar sekali,” Lulu juga berkata, ditujukan kepada
puteranya sendiri. “Tingkat kepandaian kalian berdua sudah cukup tinggi, dan melihat gerakan kalian ketika
menghadapi musuh tadi, kiranya tingkat kalian tidak berada di sebelah bawah kami berdua. Ketika dahulu
aku masih menjadi ketua Pulau Neraka, dan ibumu Nirahai menjadi ketua Thian-liong-pang yang terkenal
di seluruh dunia, tingkat kami berdua kiranya masih belum setinggi tingkat kalian sekarang ini.”
Nirahai mengangguk-angguk dan menyambung ucapan madunya itu, “Memang benar, apa lagi kalau
diingat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang sedang kuat-kuatnya, sedangkan kami makin
tua dan makin lemah. Maka jangan kalian berdua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian yang tidak
mungkin dipelajari itu.”
Tentu saja hati sepasang pemuda ini menjadi gembira dan girang mendengar pujian Nirahai itu.
Kegirangan itu bertambah besar ketika pada malam harinya, setelah keluarga itu makan malam, Suma Han
berkata dengan suaranya yang selalu tenang dan halus, “Lee-ji dan Bu-ji, sekarang telah tiba saatnya bagi
kalian berdua untuk keluar dari pulau, merantau meluaskan pengetahuan kalian.”
Kedua orang pemuda itu hampir bersorak saking girangnya mendengar ini, dan mereka berdua saling
pandang dengan muka berseri dan mata bersinar-sinar. Demikian gembira mereka sampai tidak melihat
betapa sebaliknya wajah ibu mereka menyuram.
“Akan tetapi ingat, kalian jangan mengira bahwa kalian boleh berbuat sesuka hati setelah bebas.
Kebebasan yang benar adalah kebebasan yang dapat mengatur diri sendiri, bukan kebebasan liar (sesuka
hati!) yang tentu akan menyeret kalian ke dalam perbuatan sesat. Memang, tingkat ilmu silat kalian sudah
cukup tinggi sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan dicelakakan oleh musuh, namun kalian masih kurang
sekali dalam pengalaman. Karena itu, dalam meluaskan pengalaman, kalian pergilah ke kota raja dan
dunia-kangouw.blogspot.com
jumpai enci kalian, Milana. Dari enci kalian itu kalian akan mendapat banyak petunjuk. Dan ingat, kalian
jangan sekali-kali menyombongkan diri dengan menyebut nama Pulau Es. Mengerti?”
Kedua orang pemuda itu mengangguk dan menyembunyikan rasa girang mereka di dalam hati. “Ayah,
bolehkah kami membawa sepasang rajawali?”
Suma Han menahan senyumnya. Puteranya yang kedua ini selalu berwatak riang gembira dan biar pun
usianya sudah hampir delapan belas tahun, tetapi masih kekanak-kanakan sehingga merantau pun ingin
membawa rajawali kesayangannya!
“Rajawali jangan dibawa. Sekali ini kalian merantau, berarti akan memasuki tempat-tempat ramai, apa lagi
akan memasuki kota raja. Kalau kalian membawa sepasang rajawali, tentu akan menimbulkan ribut dan
kekacauan. Ingat kalian harus menganggap bahwa kalian adalah seperti sepasang rajawali yang terbang
bebas di angkasa, tidak menggantungkan nasib dan keselamatan kalian pada perlindungan siapa pun juga.
Seperti sepasang rajawali, kalian harus selalu waspada, jangan lengah karena segala kemungkinan dapat
saja terjadi, segala bahaya dapat saja datang dari segala penjuru.”
Setelah banyak-banyak memberi nasehat kepada kedua orang puteranya sehingga semalam itu mereka
hampir tidak tidur, pada keesokan harinya berangkatlah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu meninggalkan
Pulau Es. Mereka hanya membekal beberapa potong emas dan sejumlah uang perak untuk biaya di jalan,
tetapi mereka berdua tidak diberi bekal senjata.
Perahu layar yang membawa mereka pergi meninggalkan Pulau Es, menuju ke arah yang telah ditunjuk
dan digambarkan dalam peta oleh ayah mereka, diikuti pandangan mata kedua ibu mereka yang basah
oleh air mata.
Setelah perahu itu lenyap dari pandangan mata, kedua orang wanita itu tidak dapat menahan tangis
mereka. Betapa hati mereka tidak akan berkhawatir dan berduka ditinggalkan putera tercinta yang
semenjak lahir berada di pulau itu bersama mereka? Suma Han mendiamkan saja kedua isterinya berduka,
karena dia dapat menyelami perasaan mereka. Dia hanya berdiri dibantu tongkatnya, memandang jauh
lepas ke arah lautan, mencoba untuk mempelajari dan mengerti akan hidup dari permukaan laut yang tak
bertepi.
Andai kata ada yang bertanya kepada kedua orang ibu itu mengapa mereka menangis dan mengapa
mereka berduka karena berpisahan dengan putera mereka, tentu mereka akan menjawab langsung bahwa
mereka berduka karena mereka mencinta putera mereka yang sekarang pergi meninggalkan mereka. Jelas
bahwa mereka menangis bukan demi putera mereka, karena sepasang pemuda itu bergembira dan tidak
perlu ditangisi. Akan tetapi mereka menangis karena mereka ditinggalkan! Mereka menangis demi dirinya
sendiri, menangis karena iba diri yang ditinggalkan pergi orang-orang yang dicinta!
‘Cinta’ yang bersifat pengikatan diri kepada sesuatu yang dicinta, seperti kedua ibu ini, hanya akan
membawa kedukaan. Pengikatan diri kepada keluarga, pada harta benda, pada kemuliaan duniawi, kepada
kesenangan, sebenarnya bukanlah cinta kasih sejati, melainkan nafsu mementingkan dan menyenangkan
diri sendiri belaka. Segala sesuatu, baik benda hidup atau pun mati, yang dipunyai seseorang secara
lahiriah, kalau sampai dimiliki pula secara batiniah, hanya akan menimbulkan kesengsaraan.
Segala sesuatu tidak kekal di dunia ini, sekali waktu tentu terjadi perpisahan. Kalau kita mengikatkan diri
kepada sesuatu, berarti kita memiliki secara batiniah dan seolah-olah yang kita miliki itu telah berakar di
dalam hati. Maka jika tiba saatnya kita harus berpisah dari sesuatu yang kita miliki secara batiniah itu,
sama saja dengan dicabutnya sesuatu itu dari hati sehingga merobek dan menyakitkan hati!
Mengikatkan diri kepada apa pun juga, kepada suami, isteri, anak, keluarga, harta dan apa saja berarti
menghambakan diri dan ikatan-ikatan ini yang membuat orang menjadi takut dan khawatir. Takut kalaukalau
dipaksa berpisah, karena kehilangan, karena kematian dan lain-lain. Rasa takut akan perpisahan
dengan yang telah mengikat dirinya, membuat orang menjaga dan melindungi mati-matian, dan untuk ini
tidak segan-segan orang menggunakan kekerasan. Maka timbullah pertentangan, dan dari pertentangan ini
lahirlah kesengsaraan hidup.....
********************
Kita tinggalkan dulu Pulau Es dan suami isteri yang termenung ditinggalkan putera-puteranya itu, dan kita
biarkan sepasang pemuda itu mulai dengan perantauan mereka seperti sepasang rajawali, dan mari kita
menengok kembali keadaan Syanti Dewi dan Ceng Ceng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti telah diceriterakan di bagian depan, dua orang dara jelita ini melarikan diri dan terpaksa
meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh pengeroyokan para tokoh pemberontak yang memusuhi
Kerajaan Bhutan. Dengan berpakaian seperti dua orang petani sederhana, dua orang gadis itu terus
melarikan diri. Mereka melumuri pipi yang halus putih itu dengan lumpur untuk menyembunyikan wajah
cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamaran itu dapat diketahui oleh para
penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.
Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri karena daerah perbatasan itu termasuk daerah
kekuasaan pasukan-pasukan Raja Muda Tambolon. Dusun-dusun di sekitar daerah itu telah berada di
bawah kekuasaannya. Puteri Syanti Dewi yang pernah mendengar tentang ini mengerti akan bahaya yang
mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada Ceng Ceng untuk berhati-hati.
Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun. Mereka menanti di luar dusun
sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu. Bau
masakan dan bumbu terbawa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri. Telah
beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu.
Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka mencium bau yang amat gurih dan sedap itu,
dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup
besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh
orang ini semua membawa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.
Ketika Syanti Dewi dan Ceng Ceng memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk,
mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah dua orang petani
muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu
melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras
begitu melihat keadaan aman.
Syanti Dewi memesan makanan dan makan bersama Ceng Ceng tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua
tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang itu.
“Kabarnya sang puteri lenyap...”
Kata-kata ini yang membuat mereka terkejut dan memaksa mereka mendengarkan dengan penuh
perhatian.
“Ahhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”
“Entahlah, kabarnya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Ceng lalu tiba dan
musuh dapat dihalau pergi. Hanya celakanya, sang puteri tidak ada lagi...”
“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh”
“Mungkin sekali...”
“Aduh kasihan!”
“Kalau saja kita dapat menolongnya...”
“Wahh, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolongnya? Untuk memasuki kota
Tai-cou saja kita tentu harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh
masuk.”
“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”
Syanti Dewi dan Ceng Ceng saling pandang dan sinar mata mereka berseri. Mereka juga harus melalui
kota Tai-cou dan setelah dapat melewati kota terakhir dari kekuasaan Raja Muda Tambolon itulah mereka
dapat dikatakan telah lolos dari cengkeraman musuh. Dan mendengarkan percakapan antara pedagang
garam itu, agaknya mereka itu tak dapat disangsikan lagi adalah orang-orang yang berpihak kepada
Kerajaan Bhutan dan Kerajaan Ceng, orang-orang yang anti kepada Raja Muda Tambolon. Hal ini berarti
orang-orang itu adalah sahabat!
dunia-kangouw.blogspot.com
Alangkah kaget dan herannya hati ketujuh orang pedagang garam itu ketika mereka meninggalkan warung
dan sedang berjalan sambil bercakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi, tiba-tiba berkelebat
bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang ‘pemuda’ yang tadi makan di warung telah berdiri di depan
mereka.
“Para paman harap berhenti sebentar!” Ceng Ceng berkata.
Mendengar suara wanita, karena Ceng Ceng menggunakan suara aslinya, tujuh orang itu tertegun dan
mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.
“Kami sudah mendengar percakapan paman bertujuh dan kami percaya bahwa paman sekalian akan suka
membantu kami untuk melewati kota Tai-cou,” kata pula Ceng Ceng.
“Apa... apa maksudmu... tuan... eh, nona...?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal bertanya
bingung karena dia masih ragu-ragu. Melihat pakaiannya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya
seperti wanita!
“Paman, lihatlah baik-baik. Aku adalah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Syanti Dewi
dari Kerajaan Bhutan yang kalian bicarakan tadi.”
Tujuh orang itu terkejut bukan main. Cepat mereka memandang ke arah Syanti Dewi, membuka caping
dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!
“Maafkan kami... hamba tidak mengetahui...”
Syanti Dewi cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri. Jika sampai kelihatan orang tentu
dicurigai.”
Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri. Mereka adalah pedagang-pedagang garam yang berhutang
budi kepada Pemerintah Bhutan karena mereka diijinkan untuk mengangkut garam dari Bhutan yang
mereka jual di daerah pedalaman.
Dari Pemerintah Bhutan mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa
terlindung dan di dalam hati mereka bersimpati kepada kerajaan ini dan sebaliknya, mereka sering kali
mengalami gangguan dari para anak buah Raja Muda Tambolon, maka tentu saja mereka membenci
mereka.
“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Tai-cou. Kami hendak melarikan diri ke ibukota Kerajaan
Ceng,” kata Syanti Dewi.
“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka. Marilah paduka berdua ikut bersama
hamba ke tempat peristirahatan rombongan pedagang garam di kuil tua.”
Syanti Dewi dan Ceng Ceng mengikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi
dengan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada
tujuh belas orang! Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bahwa Sang Puteri
Bhutan yang mereka dengar diboyong ke Tiong-goan dan di tengah jalan rombongan puteri itu diserbu
gerombolan pemberontak, mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka
ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati Tai-cou dengan selamat.
“Kota terakhir di bawah kekuasaan Raja Muda Tambolon ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal. “Jalan
satu-satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang
di antara kita, menyamar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam
memasuki kota.”
Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam
untuk dipakai Syanti Dewi dan Ceng Ceng, juga mereka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar
itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali
rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak
tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!
dunia-kangouw.blogspot.com
Perjalanan dari dusun itu menuju ke kota Tai-cou memakan waktu sehari. Di sepanjang perjalanan, para
pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apa bila
mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.
Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Tai-cou. Semua orang menjadi tegang
hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan
pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi
besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan
belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang
jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.
“Haiiii!” Sang komandan yang melompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang,
lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan
diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami
dapat menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”
Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perlahan sambil menyerahkan
sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombongan
pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih
untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah menjual habis garam kami, tentu akan ditambah lagi...“
Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata kereng, “Hemm... kalian akan kuperbolehkan
lewat lebih dahulu, tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”
Si kumis tebal telah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang
di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apa lagi kalau sampai sang puteri dikenal!
Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu.
Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan
mencak-mencak, “Hayaaa... celaka... siapa yang menaruh ular-ular ini di keranjangku...? Tentu pedagang
garam dari barat, keparat...!”
Terjadilah gaduh dan ribut karena memang mendadak muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat
itu! Ceng Ceng yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu
telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keranjang dan agaknya ular-ular itu keluar dari
bungkusan itulah! Dan selagi Ceng Ceng termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng
menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan... mengenai dada komandan yang berdiri di
atas meja. Tidak ada orang yang melihat gerakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komandan berteriak-teriak dan
mengebut-ngebutkan pakaiannya.
“Basmi semua ular...!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi
tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.
Menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau itu, Ceng Ceng dan Syanti Dewi sudah
memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul
keranjang garam memasuki pintu gerbang.
“Haiii, diperiksa dulu... eihhh, celaka...!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor
ular hijau yang melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!
Ceng Ceng dan Syanti Dewi dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua
orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-gesa berjalan memasuki kota Tai-cou. Karena dia tidak
memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa,
dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada
penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah
anggota rombongan pedagang garam. Apa lagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu
sehingga perhatian mereka terpecah.
Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bahwa kalau mereka tidak cepatcepat
meninggalkan kota Tai-cou, keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguh pun sampai
saat itu tidak ada yang mencurigai mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan mudah mereka telah lolos dari Tai-cou, keluar dari pintu sebelah utara dan menempuh perjalanan
di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan
diri sejauh mungkin dari Tai-cou yang merupakan benteng terakhir dari kekuasaan Tambolon. Dan mereka
hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat
mengarahkan kaki menuju ke timur.
Pada kesokan harinya, mereka beristirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa
sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu,
lalu berbaring di atas rumput melepaskan lelah.
“Aihhhhh... bukan main nyamannya rebah begini...,” Sang Puteri Syanti Dewi mengeluh nikmat. “Dan roti
kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku
dapat menlkmati makan-minum dan tiduran seperti ini!”
Mendengar ini, Ceng Ceng tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak
ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Syanti Dewi memandang heran. ”Eh, kau
kenapa, adik Candra? Mengapa tertawa segembira itu?”
“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, enci Syanti, dan mungkin aku tertawa karena merasa lega dan
gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang
tidak suka makan dan tidak dapat tidur....”
“Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani
mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk
mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya
terdiri dari air jernih. Setelah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah
bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya
selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Engkau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan
hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar
indah dan berlandaskan kasur tebal melainkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat
sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”
Syanti Dewi tertawa juga. “Kau samakan aku dengan raja di dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih
pemalas, kalau aku kan tidak! Tetapi aku pun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua.
Pengalaman ini telah membuka mataku, adik Chandra, bahwa yang dikatakan enak atau tidak enak,
menyenangkan atau tidak menyenangkan, sama sekali bukanlah bergantung kepada keadaan di luar,
melainkan kepada hati sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri
sendiri....”
“Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan
di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan perut
lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat ditiduri
dari pada segala macam kasur bulu karena sekarang tubuhku sedang lelah sekali. Jadi kalau begitu...
pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan
pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.”
“Hemm... lalu bagaimana?” Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang berbentuk bagus, matanya memandang
dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak
angkatnya itu.
“Kalau begitu... sejatinya tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan...
ahh, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu dipermainkan oleh
pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”
Ceng Ceng sudah tidak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya
mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak
lama kemudian, kedua orang dara itu telah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang
lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.
Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat
bahwa hari telah siang. Mula-mula Syanti Dewi yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang
kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhhh, kiranya hanya mimpi...,”
dunia-kangouw.blogspot.com
bisiknya karena dia telah mimpi tertangkap dan dihadapkan kepada Raja Muda Tambolon! Ketika
mendapat kenyataan bahwa matahari telah naik tinggi, dia menoleh kepada Ceng Ceng.
“Haiii, adik Candra! Bangun! Sudah siang...!” Dia mengguncang pundak adik angkatnya itu.
Ceng Ceng terbangun dan bangkit duduk, menahan kuapnya dengan punggung tangan kiri. “Wah,
keenakan tidur, enci Syanti. Rasanya malas untuk bangun!”
“Hushhh, jangan malas! Matahari telah naik tinggi dan kita masih enak-enak tidur di sini. Perjalanan masih
amat jauh, mari kita lanjutkan, adikku.”
Ceng Ceng sudah bangun berdiri dan kini teringatlah dia akan keadaan mereka. “Aihhh, hampir aku lupa
bahwa kita adalah pelarian yang dikejar musuh! Mari, enci Syanti Dewi!”
Ketika dua orang dara itu melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Ceng Ceng memegang lengan puteri dan
berbisik sambil menuding ke kanan, “Lihat itu...!”
Syanti Dewi menengok, dan sang puteri menutupkan tangan ke depan mulut menahan jeritnya. Tidak jauh
dari situ tampak tubuh seorang laki-laki setengah tua rebah di atas tanah, telah menjadi mayat dan
mukanya yang terlentang itu memperlihatkan sepasang mata yang terbelalak lebar tanpa sinar. Di
tenggorokan orang itu tampak luka berlubang dan darah masih menetes dari luka itu, tanda bahwa orang
ini belum lama terbunuh.
“Dan di sana itu... lihat, enci!” Kembali Ceng Ceng berbisik.
Kakak angkatnya menengok dan makin terkejut karena di sebelah kiri, hanya terpisah belasan meter dari
situ, juga tampak sebuah mayat yang lehernya berlubang! Mereka berdua saling pandang, kemudian Ceng
Ceng menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ke atas pohon besar dan dari tempat tinggi ini
Ceng Ceng memandang ke sekeliling, memeriksa.
Namun tidak tampak bayangan seorang pun manusia dan dari tempat tinggi itu dia melihat bahwa bukan
hanya ada dua orang mayat di situ, melainkan ada delapan orang! Delapan orang telah mengurung tempat
dia dan kakak angkatnya tidur tadi dan kini delapan orang itu telah mati semua dengan leher berlubang,
mungkin terkena senjata rahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tidak ada orang lain di sekitar tempat
itu, dia turun lagi dan menceritakan kepada kakak angkatnya apa yang telah dilihatnya dari tempat tinggi
tadi.
“Ahhh, kalau begitu, tentu mereka itu musuh yang tadinya mengepung kita, dan ada sahabat yang telah
menolong kita,” kata sang puteri.
Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia juga dapat menduga demikian, akan
tetapi hatinya tidak senang kepada penolongnya yang bersikap rahasia itu! Kalau memang orang
bersahabat, mengapa tidak menolong secara berterang? Pula, dia pun belum dapat yakin benar bahwa
delapan mayat itu adalah pihak musuh.
“Lebih baik kita cepat pergi dari sini, enci,” katanya. Syanti Dewi hanya mengangguk, dan berangkatlah
mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan itu.
Sore hari mereka tiba di sebuah dusun yang terpencil, sebuah dusun yang cukup besar di kaki gunung.
Karena letaknya yang terpencil ini, maka dusun itu agaknya menjadi pos peristirahatan mereka yang
melakukan perjalanan di daerah itu, dan di situ terdapat pula sebuah rumah penginapan sederhana dan
sebuah warung nasi. Karena merasa ngeri dengan pengalaman mereka tadi, dua orang gadis itu
mengambil keputusan untuk bermalam di rumah penginapan.
Para pelayan rumah penginapan hanya sebentar memandang dengan heran karena dalam keadaan kacau
seperti itu, daerah yang sering kali terjadi perang antara pasukan Raja Muda Tambolon melawan pasukan
Ceng atau pasukan Bhutan, tak terlalu mengherankan melihat dua orang gadis yang berpakaian seperti
petani biasa dan memakai caping lebar, melakukan perjalanan berdua saja.
Banyak sudah wanita-wanita muda yang ketakutan akan perang melarikan diri ke timur karena sudah
terkenal betapa pasukan anak buah Raja Muda Tambolon amat kejam terhadap tawanan wanita, apa lagi
dunia-kangouw.blogspot.com
yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebutan dan akan dipermainkan oleh
banyak orang sampai mati dalam keadaan menyedihkan dan mengerikan sekali.
“Ji-wi kouwnio hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.
Ceng Ceng merogoh saku dan mengeluarkan potongan perak. Dia memperlihatkan perak itu sambil
berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang bersih.”
Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Ia maklum bahwa yang membawa uang
perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan ‘atas’, kalau bukan puteri-puteri hartawan
tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar
dia lalu menjawab, “Harap ji-wi jangan khawatir. Mari, silakan masuk!”
Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Syanti Dewi
karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor dari pada kamar dapur di istananya!
Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu lalu duduk di atas pembaringan di dalam
kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perlahan setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa
peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada
yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sini pun
kini sedang diawasi orang.”
Syanti Dewi mengangguk. “Aku pun mempunyai perasaan demikian, Candra. Namun, kurasa orang yang
membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika
kita tertidur di hutan!”
“Perjalanan kita masih amat jauh dan biar pun kita sudah melewati kota Tai-cou, namun kita akan melewati
daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kongkong... eh, mendiang kongkong...” Sampai di
sini, Ceng Ceng tak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat
kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai
terkubur!
Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kongkongmu
telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagai mana aku akan dapat membalas budi
kongkong-mu itu ...”
Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”
Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata, “Engkau adalah seorang dara
perkasa, di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa!
Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku...! Sejak kecil aku hidup
mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tidak mengherankan
kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kongkongmu
tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang
mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang..., adikku yang
tercinta, engkau pun harus menderita karena mengawalku!”
Ceng Ceng tertawa. “Kata siapa aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”
“Apa? Tidak usah berpura-pura. Pakaian kita pun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat
berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh
bahwa tentu ada kutu di pakaian kita.”
Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. “Aihhh, jangan bicara
tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah
seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku?
Aku pun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja,
enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan
hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi
dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu. Aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang
kongkong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita dapat minta bantuan Puteri Milana
seperti yang dipesankan kongkong.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia
mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dulu tekun mempelajari ilmu silat, apa lagi
memperoleh petunjuk-petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, tetapi seorang dara
kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apa pun juga! Kalau ada bahaya mengancam,
hemmm... haiittttt...!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk
dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan
merangkul kakak angkatnya itu.
“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan
kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba,
kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang
begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”
Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa
siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas
sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan kedua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur,
mereka lebih besar hati dan aman!
Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh
di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun
dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terbangun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu...?”
Ceng Ceng sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja,
menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, kemudian menyerahkan topi caping yang
sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sssttttt, ada orang bertempur di atas genteng...“
Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di
atas dan menurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang
bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena
biar pun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang
terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar
suara nyaring beradunya senjata tajam.
Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar
suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang
gadis itu pantun yang dinyanyikan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan
mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!
Sepasang merpati terkurung
tiada jalan terbang lari,
dihadang depan belakang
maut mengintai dari utara
di sepanjang lembah sungai!
“Enci Syanti, mari kita cepat lari...!”
Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada
bahaya baru kita membela diri.”
“Sssttt... kau turutlah aku, enci. Cepat!” Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya
keluar dari kamar dan terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan
itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap,
melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.
“Kita lari ke mana, Candra?” puteri itu bertanya, heran kenapa adik angkatnya ini tanpa ragu-ragu
melarikan diri ke arah tertentu.
“Enci, ingatlah kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-laribelakang-
utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang
menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke
utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu
siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.
“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.
“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti... heiiii!” Mendadak Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia
kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”
“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”
“Penolong kita itu, yang berpantun tadi... suaranya seperti si muka bopeng yang bikin ribut dengan ular-ular
di Tai-cou itu dan... dan... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”
Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya,
menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat
bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.
“Prakkkk!”
Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan
main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sinkang-nya
sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat
merobohkan orang.
Namun bayangan itu menangkis dengan lengannya. Akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, akan
tetapi dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan
kongkong-nya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi
bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah
dalam bajunya.
“Hyaaatttt...!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang
pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan
yang dahsyat dan lihai sekali, apa lagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!
“Plak-plak... wuuuutttt...!”
Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap,
menangkis lengan kanan kiri, bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubunubun
kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh
tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan
kecepatan yang mengerikan.
Akan tetapi Ceng Ceng tidak menjadi gentar. Dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau,
melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar
seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!
“Sing, sing...! Plakkk!”
Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga
kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat
dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya,
bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi
tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali
orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!
“Jahanam, lepaskan dia!” Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah
bukan main dan sedikit pun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan
adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk
menyerang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak
dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa
gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan
beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.
“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Ceng Ceng tentu saja mengejar secepatnya.
Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan
keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh
dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi
itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling! Tubuh Syanti Dewi
yang masih lemas tertotok juga ikut terguling, akan tetapi tiba-tiba ada tangan menyambarnya dan tubuh itu
seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung
dan berpegang kepada sebatang pohon.
Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain
yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata
saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.
“Engkau tidak apa-apa, enci?”
Syanti Dewi menggeleng kepalanya.
Ceng Ceng merasa gembira. Cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara,
seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah
yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itu pun sama orangnya dengan yang tadi berpantun di
atas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di
pintu gerbang Tai-cou?
Ceng Ceng merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main.
Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki ginkang yang amat
tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadi pun dia mendapat kenyataan
yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih
tinggi dari pada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!
Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa pihak musuh sudah mengenal
penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang
adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus
diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!
“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya.
Namun, betapa pun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apa lagi ketika
mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya
meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka
terjerat akar pohon atau semak-semak.
Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh, “Aduuhhhh... kita berhenti dulu... ahhh, lelah
sekali...”
“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai... mereka sudah mengenal engkau!”
Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be... benarkah mereka telah mengenaliku?
Celaka... hayo... hayo lari cepat...”
Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai
tertawan dan dibawa kepada Raja Muda Tambolon... ahh, tidak berani dia membayangkan nasib seperti
itu, maka dia lari secepatnya.
“Enci... hati-hati... !” Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa
melihat-lihat ke depan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Oughhh...!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!
“Enci Syanti...!” Ceng Ceng menjerit.
Cepat dia menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan
menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam
jurang yang gelap!
“Enci Syanti...!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai
lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi,
terdengar suara lemah dari bawah.
“Adik Candra...!”
Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam
jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil
dirinya tadi adalah... arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang
meremang, lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Syanti... di mana
engkau...?”
“Aku di sini... aku selamat, Candra. Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku
dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali, tak
perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah... aku dapat memanjat ke atas melalui tali...”
Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Sekarang dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh
di bawah. Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”
“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, jika dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap,
bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali...”
Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apa lagi di dalam hutan?
Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia
mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah. Ditanggalkannya bajunya, celananya,
baju dalam dan celana dalam.
Seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Lalu, sambil merabaraba,
dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya hingga merupakan gulungan kain
yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang,
menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak, “Enci Syanti... ini talinya...!”
“Ke sini, Candra. Di sebelah sini...!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah
suara itu.
Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi.
“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini...?”
“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati...“
Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai memanjat naik. Tak lama
kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling
berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya
maut yang mengerikan itu.
“Heiiiii...! Kau... kau... telanjang bulat...!” Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil merabaraba
tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.
”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”
Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi
pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa
dunia-kangouw.blogspot.com
tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan
kebetulan ada orang yang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!
“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya
sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melindungimu ketika kau
terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”
“Ahhh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu jauh lebih baik dari pada jatuh ke tangan Tambolon.”
“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “
Mereka melanjutkan perjalanan, dan sekarang dengan sangat hati-hati. Setelah mereka mendapatkan
sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah satu pohon yang diapit oleh batu-batu
gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu
gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.
“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga di sini.”
“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”
“Ahhh, berbahaya, enci. Api unggun itu akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat
jauh.”
Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga
menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya
bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam.
Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apa lagi setelah mengalami hal-hal yang
mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit
bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga
mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata.
Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika
sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang
memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang
puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa lagi malammalam
berkeliaran di dalam hutan gelap!
Ada pun Ceng Ceng, biar pun ia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya,
namun perjalanan seperti ini pun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.
Mereka makin berhimpitan, dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam
kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka
mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang
bernyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang
terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!
Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang
dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa
sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian
meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang
menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi,
tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali.
Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita
tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat
mereka lewatkan dengan selamat.
“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”
“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu
saja tidak tampak.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Syanti Dewi segera bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan
perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan
mengantuk, tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.
“Haii... banyak bangkai anjing di sini...!” Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran saat mereka keluar dari tempat
itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada
yang lehernya hampir putus, ada pula yang kepalanya pecah. Darah masih belum kering betul,
menunjukkan bahwa gerombolan serigala ini dibunuh orang semalam!
“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti
Dewi sambil menengok ke kanan kiri.
Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali,
siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi...”
“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena
merasa ngeri.
“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang...”
“Benar, aku pun mendengarnya.”
“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”
“Siapa dia gerangan?”
“Tidak peduli siapa, aku sama sekali tidak takut!” Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut
sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii,
orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk,
mari kita bertanding sampai seribu jurus!”
Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir yang
mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali
mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun
ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga.
Seperti juga gerombolan serigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng
memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati
dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang
membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jeri
juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan serigala tadi, tetapi cepat
mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara.
Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata nasehat
penolong yang berpantun itu ternyata cocok! Mereka tidak mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai
apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus
menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai
itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan.
Sungai itu adalah Sungai Nu-kiang (Salween) yang bermata air di Gunung Thangla, mengalir ke selatan
memasuki Negara Birma. Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan Hengtoan-
san. Tentu saja lembah Sungai Nu-kiang di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi
mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan
nelayan.
Akan tetapi, setelah mereka menyusuri sungai sampai jauh, dari jauh nampak sebuah perahu kecil di
pinggir sungai, sebuah perahu kosong! “Di sana ada perahu, adik Candra!” Syanti Dewi berkata girang
sambil menuding ke depan.
Ceng Ceng juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak angkatnya sambil berkata, “Enci
Syanti, karena kita, terutama engkau, adalah orang-orang pelarian yang sedang dikejar-kejar musuh, maka
dunia-kangouw.blogspot.com
kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Dewi sebelum kita selamat di
kota raja Kerajaan Ceng.”
Syanti Dewi mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya
kupergunakan?”
“Bagaimana jika namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai she-ku, yaitu she Lu.”
“Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!” Syanti Dewi atau Sian Cu berkata girang.
“Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Syanti, biarlah disangka
menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu Ceng. Kita berdua kini
mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur.”
“Baiklah, adik... Ceng. Ah, hampir aku menyebutmu Candra yang bagiku terdengar lebih manis.”
“Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, ke mana tukang perahunya?” Mereka melangkah lagi
mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat di mana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak
seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya. Laki-laki itu
tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras.
Ceng Ceng dan Syanti Dewi atau kini lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang
perahu yang sedang tertidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian. Dia seorang laki-laki bertubuh
sedang, cukup tegap dan tampak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi
telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan,
semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu. Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya,
dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak
terpelihara membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan bodoh yang sederhana dan
biasa hidup keras dan sukar!
Ceng Ceng menggunakan ujung bajunya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya.
Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak memakai caping lagi, benda itu telah hancur ketika
dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, mukanya yang putih halus dan cerah itu
agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.
“Hei, tukang perahu...!” Ceng Ceng berseru memanggil laki-laki yang sedang tertidur nyenyak itu.
Si tukang perahu tetap tidur mendengkur, sedikit pun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda
bahwa teriakan Ceng Ceng itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.
“Paman tukang perahu...!” Ceng Ceng berteriak lebih nyaring lagi.
Sekarang suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak
lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Ceng Ceng yang
berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.
“Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah...!” Dia berteriak nyaring dan mengomel, “Wah celaka,
bertemu seorang pemalas seperti kerbau!”
Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya
komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara dengan suara ngelindur.
“...aduhh... siluman rase... ahhh... siluman ular...”
Dan dia lalu membalikkan tubuh, membelakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras.
Ceng Ceng membanting kaki kanannya, mukanya merah dan matanya terbelalak marah.
“Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!”
“Sabarlah, Ceng-moi. Dia tidak memaki, dia sedang tidur dan tentu mimpi.”
“Biar pun sedang mimpi, jelas ia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu
dunia-kangouw.blogspot.com
memaki namanya? Di dongeng mana pun juga, siluman rase dan siluman ular selalu menjadi seorang
wanita!”
“Tapi jelas dia tidak sengaja, dia sedang tidur.”
“Kalau dia sengaja, tentu sudah kupatahkan semua giginya!” Ceng Ceng berkata lagi, mendongkol sekali.
Kakinya mencongkel tanah pasir di depannya dan beterbanganlah pasir dan tanah mengenai kepala dan
leher tukang perahu itu.
Tukang perahu itu terdengar mengeluh, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah terlentang lagi seperti
tadi, kedua tangan ditaruh di bawah kepalanya dan dia sudah tidur lagi mendengkur, hanya bedanya, kalau
tadi mulutnya tertutup, kini bibirnya terbuka sehingga tampak di bawah kumis liar itu deretan giginya yang
putih dan kuat, seolah-olah tukang perahu itu menantang dan memperlihatkan giginya untuk dipatahkan
oleh Ceng Ceng! Ceng Ceng yang sedang marah itu makin gemas.
“Tukang perahu yang malas seperti kerbau dan babi!” teriaknya lagi. “Hayo bangun, atau... kulemparkan
kau ke dalam sungai!”
Tukang perahu itu tetap tidur.
“Enci, mari kita pakai saja perahu itu!”
“Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuri barang orang lain,” kata Sian Cu.
“Kalau begitu, biar kulempar mukanya dengan batu supaya si pemalas itu bangun!”
“Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Kasihan dia, lihat tidurnya begitu nyenyak, siapa tahu semalam dia tidak
tidur! Orang yang terlalu lelah, orang yang terlalu sedih, tentu dapat tidur seperti pingsan saja. Pula, kita
berdua tidak pandai mengemudikan perahu, tanpa dia, bagaimana kita bisa menyeberang? Siapa tahu, dia
bisa mengantarkan kita sampai ke kota yang berdekatan. Tentu dia lebih mengenal daerah ini.”
Ceng Ceng menahan kemarahannya dan kembali dia berteriak, “Tukang perahu malas dan tolol! Lekas
bangun, kita hendak menyewa perahumu!”
Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya, sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak
matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, tetapi
tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.
“Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!” kata Sian Cu sambil menuding ke arah perahu.
Suaranya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus dari pada Ceng
Ceng yang keras hati dan jujur.
Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan
kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-tiba dia melompat berdiri dengan mata terbelalak,
tubuhnya menggigil dan dia menudingkan telunjuknya kepada Ceng Ceng dan Sian Cu sambil berteriak
ketakutan. “Siluman... ehhh, siluman... jangan ganggu aku...!”
“Monyet tua...!” Ceng Ceng sudah bergerak hendak memukul, akan tetapi lengannya dipegang oleh Sian
Cu yang tersenyum melihat kemarahan Ceng Ceng. Dengan sabar dia menghadapi tukang perahu yang
masih ketakutan itu.
“Paman, engkau tenanglah. Kami bukan siluman, melainkan dua orang gadis yang ingin menyewa
perahumu.”
Tukang perahu itu mengangkat kedua tangannya di depan dada dan mulutnya masih komat-kamit,
terdengar suaranya. “Aduh... selamat... selamat... selamat..., Tuhan masih melindungi aku...! Maafkan, ji-wi
kouwnio (kedua nona), tadinya aku mengira bahwa ji-wi adalah siluman-siluman yang semalam kudengar
suaranya yang amat mengerikan! Hiihhh...!” Tukang perahu itu menggerakkan kedua pundaknya dan
otomatis Ceng Ceng dan Sian Cu juga bergidik, teringat akan pengalamannya semalam.
“Engkau mendengar apakah, paman?” Sian Cu bertanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Semalam... hiihhh, aku tidak dapat tidur sama sekali. Tadinya aku mengira bahwa aku akan mati
dicekiknya, suara aneh-aneh terdengar dari hutan itu, seolah-olah semua penghuninya, siluman dan iblis,
sedang berpesta pora. Huh, untung aku masih hidup, aku ingin tidur sampai kenyang. Harap nona berdua
jangan menggangguku.” Tukang perahu itu kembali merebahkan diri, siap untuk melanjutkan tidurnya.
“Eh-ehhh... jangan tidur lagi, engkau!” Ceng Ceng membentak. “Kami ingin menyewa perahumu!”
Tukang perahu itu bangkit, akan tetapi tidak berdiri, hanya duduk sambil memandang kepada Ceng Ceng.
“Nona, melihat pakaianmu, engkau tentu seorang gadis dusun biasa, akan tetapi sikapmu seperti seorang
puteri pembesar tinggi saja!”
“Cerewet kau! Siapa aku, tak perlu kau pedulikan! Kami ingin menyewa perahumu, berapa pun akan kami
bayar!” Dia mengeluarkan dua potong uang perak dari saku bajunya dan memperlihatkannya kepada si
tukang perahu, dengan keyakinan bahwa sinar perak yang berkilauan itu tentu akan melenyapkan kantuk
tukang perahu itu.
Akan tetapi, betapa menjengkelkan sikap tukang perahu itu yang memandang tak acuh, lalu berkata, “Aku
tidak menyewakan perahuku.” Dan dia sudah hendak merebahkan dirinya lagi.
“Paman, tolonglah kami. Kami ingin menyeberang, tolong seberangkan kami dan kami akan membayar
secukupnya kepadamu.”
Tukang perahu itu memandang Sian Cu, lalu melirik kepada Ceng Ceng yang masih mendelik marah. “Aku
tidak menyewakan perahuku, juga aku tidak butuh uang.”
“Kau manusia sombong...!” Ceng Ceng berteriak.
Akan tetapi Sian Cu sudah memegang tangan dara itu dan berkatalah dia dengan suara halus kepada si
tukang perahu, “Paman tukang perahu, kalau begitu, anggaplah kami tidak menyewa perahumu, hanya
minta tolong kepadamu. Aku percaya bahwa paman tentu akan suka menolong dua orang gadis yang tidak
berdaya. Kami melarikan diri mengungsi dari daerah perang dan kami ingin melanjutkan perjalanan
menyeberang sungai.”
Suara yang halus dan sopan dari Sian Cu membuat tukang perahu itu kelihatan jadi sungkan juga. Dengan
ogah-ogahan dia bangkit berdiri, menggaruk-garuk kepalanya dan menguap beberapa kali, lalu
memandang ke arah seberang sungai. “Kalian hendak menyeberang? Mau ke mana menyeberang?”
“Kami hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi terhalang sungai ini, maka kami hendak menyeberang,”
kata pula Sian Cu mendahului Ceng Ceng yang kelihatannya sudah tidak sabar menyaksikan sikap si
tukang perahu.
“Menyeberang ke sana dan melanjutkan perjalanan? Aihhh, apakah kalian mencari mati?”
“Apa katamu?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.
“Hemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyeberang ke sana dan melanjutkan
perjalanan mengungsi, berarti kalian mencari mati. Di seberang sana hanya terdapat hutan-hutan yang liar
dan tak terbatas luasnya, gurun-gurun pasir yang tak bertepi, dan pegunungan yang sukar sekali dilalui
manusia selain penuh dengan binatang-binatang buas dan siluman-siluman jahat! Dan kalian hendak
menyeberang ke sana? Eh-ehh...!” Dia lalu memandang tajam kepada dua orang gadis itu, pandang mata
penuh selidik. “Benar-benarkah... eh... kalian ini manusia, bukan siluman-siluman?”
“Mulut busuk!” Ceng Ceng membentak marah, tidak membiarkan Sian Cu mencegahnya lagi karena dia
sudah marah bukan main. “Kalau kami berdua siluman, maka engkau adalah siluman babi Ti Pat Kai!”
Tukang perahu itu melongo, kemudian tertawa. “Ha-ha-ha, kau pandai juga membadut, nona! Masa yang
begini dikatakan Ti Pat Kai!” Ti Pat Kai adalah tokoh dalam cerita See-yu-ki, seorang siluman babi yang
terkenal, pelahap, dan mata keranjang!
“Paman, harap jangan main-main. Kami berdua sudah melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan,
bahkan semalam kami tidak tidur sebentar pun. Sekarang kami ingin melanjutkan perjalanan. Terus terang
saja, kami berniat pergi ke Kota Raja Kerajaan Ceng“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wahhhh...? Mimpikah aku? Ataukah benar-benar kalian dua orang gadis dusun ini hendak pergi ke kota
raja? Tahukah kalian berapa jauhnya kota raja itu? Kalian harus melalui sedikitnya enam propinsi dan
ratusan kota! Mengapa kalian dua orang gadis dusun di perbatasan hendak pergi ke tempat sejauh itu?”
“Kami berdua hanya ingin menyeberang, dan engkau begini cerewet! Tukang perahu macam apa sih
engkau ini?” Ceng Ceng sudah membentak lagi.
Namun Sian Cu segera berkata, tidak memberi kesempatan kepada si tukang perahu untuk menanggapi
kegalakan Ceng Ceng, “Kami mempunyai seorang bibi di sana. Paman, kalau benar di seberang
merupakan daerah yang amat berbahaya dan sukar dilalui maka kami harap kau suka menolong kami dan
memberi tahu jalan mana yang harus kami tempuh agar kami dapat sampai ke kota raja dengan selamat.”
Tukang perahu itu menggaruk-garuk belakang telinganya. “Terus terang saja, aku sendiri belum pernah
pergi ke kota raja. Akan tetapi menurut keterangan yang kuperoleh, jalan satu-satunya ke kota raja hanya
menggunakan jalan air, menurutkan aliran Sungai Besar Yang-ce-kiang sampai ke kota besar Wu-han,
kemudian melalui jalan darat ke utara sampai Sungai Huang-ho dan mengambil jalan air lagi menurutkan
aliran Sungai Huang-ho ke timur sampai ke kota besar Cin-an, baru menggunakan jalan darat ke utara
menuju ke kota raja. Akan tetapi letaknya amat jauh dan kiranya akan menggunakan waktu berbulan!”
Ceng Ceng sudah mengerutkan alisnya. Turun semangatnya mendengar keterangan yang
membentangkan kesukaran perjalan itu, akan tetapi Sian Cu berkata, “Terima kasih, paman. Engkau baik
sekali dan kami akan menggunakan petunjuk itu untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana kita dapat
mencapai Sungai Yang-ce-kiang?”
“Dari tempat ini dapat berperahu mengikuti aliran sungai sampai ke dusun Kiu-teng, dari sana terdapat
jalan menuju ke Sungai Lan-cang (Mekong), menyeberangi Sungai Lan-cang dan melalui jalan darat ke
timur akan mencapai Sungai Yang-ce-kiang.”
“Ah, terima kasih. Kuharap paman sudi membawa kami ke dusun Kiu-teng.”
“Hemmm...”
“Kami akan membayar sewanya, berapa saja yang kau minta, paman.”
“Sikapmu halus dan baik sekali, nona. Siapakah namamu?”
“Namaku Lu Sian Cu, paman,” jawab Sian Cu sambil menunduk supaya tidak tampak perubahan air
mukanya.
“Baiklah, Sian Cu. Aku suka mengantarkan engkau ke Kiu-teng yang jaraknya cukup jauh dari sini, makan
waktu hampir sehari semalam. Akan tetapi dia itu siapa namanya?” Dia menuding kepada Ceng Ceng.
Tentu saja Ceng Ceng sudah marah memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia didahului oleh
Sian Cu.
“Dia adalah adikku, namanya Lu Ceng.”
“Aku hanya mau menyeberangkanmu ke Kiu-teng, nona Sian Cu, bahkan tanpa dibayar apa pun. Tetapi
dia itu, hemm... Lu Ceng terlalu galak dan sikapnya tak menyenangkan, maka...”
“Cerewet! Kalau engkau tidak mau aku pun tidak membutuhkan bantuanmu, manusia sombong! Kalau aku
melemparmu ke dalam sungai dan membawa perahumu, kau mau bisa apa?”
“Ceng-moi, jangan begitu...!” Sian Cu membujuk adik angkatnya, lalu berkata kepada si tukang perahu.
“Paman, kau maafkan adikku yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku pergi, dia pun harus ada di
sampingku. Harap kau suka memaafkan dan membawa kami berdua ke Kiu-teng.”
Tukang perahu itu bersungut-sungut. “Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu janji.”
“Janji apa?” Sian Cu bertanya dan Ceng Ceng sudah siap, kalau si tukang perahu minta janji yang kurang
ajar, tentu akan dihantamnya dan dilemparkannya ke sungai!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagimu engkau tidak usah melakukan sesuatu, tidak usah membayar sesuatu. Akan tetapi nona Ceng ini,
dia harus menurut perintahku, dia harus membantuku kalau aku perlu bantuannya mendayung perahu atau
mengatur layar, dan dia pun harus menanak nasi, air, atau memanggang ikan untukku setiap kali
kukehendaki.”
“Setan... kau kira aku siapa...?”
“Adik Ceng, mengapa ribut-ribut? Bukankah permintaannya itu sudah semestinya? Dia mau menolong kita,
apakah sebaliknya kita tidak mau menolong dia hanya dengan pekerjaan ringan seperti itu?”
Dengan menggigit bibir saking gemasnya, Ceng Ceng berkata singkat. “Baiklah!”
Tukang perahu itu tertawa. “Nah, silakan naik ke perahu. Perahu ini kecil dan tentu saja kurang enak,
jangan nanti kalian menyalahkan aku.” Sambil berkata demikian, tukang perahu mengambil buntalannya
dan menaruhnya di kepala perahu agar ruangan tengah yang terlindung anyaman bambu itu dapat dipakai
oleh kedua orang gadis itu.
Mereka memasuki perahu dan meluncurlah perahu itu ke tengah sungai didayung oleh si tukang perahu
yang mulai dengan gayanya yang terang-terangan hendak menghukum Ceng Ceng yang dianggapnya
galak itu. “Ehhh, nona Ceng, kau masaklah air, itu cereknya, itu batu api, teh di sana... dan beras ada di
ujung sana, masak nasi untuk kita bertiga. Aku akan memancing ikan untuk lauknya.”
Ceng Ceng mendelik, akan tetapi jawilan jari tangan Syanti Dewi membuat dia tidak membantah dan
dengan bersungut-sungut dia mengerjakan perintah tukang perahu itu. Awas saja kau, pikirnya geram.
Nanti kalau kami tidak membutuhkan lagi perahumu, akan kutampar mukamu dan kucabuti kumis dan
jenggotmu. Biarlah sekarang dia mengalah. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan seorang tukang
perahu miskin yang kurang ajar. Sialan!
Akan tetapi tukang perahu itu ternyata pandai sekali mengail. Sebentar saja dia telah mendapatkan dua
ekor ikan yang sebesar betis. Dia melontarkan ikan-ikan itu kepada Ceng Ceng sambil berkata, “Bersihkan
ikan-ikan itu, beri bumbu. Garam dan lain-lain bumbu ada di poci sebelah kiri itu, dekat kakimu, lalu
panggang di atas arang membara. Awas, jangan sampai api menyala, nanti hangus dan tidak enak!”
Lagakmu, Ceng Ceng memaki di dalam hatinya. Kau kira aku tidak tahu caranya masak dan memanggang
ikan? Akan tetapi karena dia dan enci-nya membutuhkan perahu itu, bukan hanya perahu itu akan tetapi
tukang perahunya karena mereka berdua tidak tahu bagaimana caranya mengemudikan perahu, dia
menahan kemarahannya dan mulai melakukan pekerjaan tanpa banyak mengeluarkan suara.
Ceng Ceng adalah seorang dara yang sejak kecil digembleng ilmu silat oleh kakeknya. Wataknya keras,
pemberani dan di samping ini, juga harus diakui bahwa dia terlalu dimanja oleh kongkong-nya. Selama
tinggal bersama kongkong-nya yang merupakan seorang guru terhormat, dia diperlakukan dengan hormat
oleh semua orang. Terutama sekali setelah dia menjadi adik angkat Puteri Syanti Dewi, derajatnya naik
dan dia makin dihormati. Tidak pernah ada orang yang berani memandang rendah kepadanya, karena
kedudukannya dan juga karena orang maklum akan kelihaiannya. Akan tetapi sekarang, dia bukan saja
dipandang rendah, bahkan diperintah oleh si tukang perahu seperti seorang pelayan saja layaknya!
Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan mengkal rasa hatinya sehingga ketika mereka bertiga makan,
hanya si tukang perahu dan Sian Cu yang dapat menikmatinya sedangkan Ceng Ceng tidak dapat
menikmati makanan itu karena hatinya mendongkol sekali. Sikap tukang perahu itu benar-benar
menggemaskan hatinya. Setiap gerak-geriknya seolah mengejeknya, setiap kata-katanya seakan
menyindirnya! Mulut yang cengar-cengir itu, dengan kumis yang bergerak-gerak, seperti selalu
mentertawakan padanya! Bedebah benar!
Akan tetapi, melihat sikap Sian Cu yang selalu bersabar, Ceng Ceng dapat menahan kemarahannya dan
ditambah oleh kelelahan tubuhnya karena malam tadi sama sekali tidak tidur, malam hari itu dia dapat tidur
nyenyak bersama Sian Cu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suara tukang perahu itu sudah
berteriak-teriak membangunkan mereka.
“Nona Ceng, bangun! Sudah siang!” teriaknya. Suaranya nyaring dan bukan hanya Ceng Ceng yang
bangun, juga Sian Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapa bilang sudah siang?” Ceng Ceng bersungut-sungut ketika melihat bahwa hari masih pagi sekali,
sungguh pun malam memang telah lewat dan sinar matahari mulai mengusir kegelapan.
“Hanya seorang pemalas saja yang mengatakan bahwa sekarang belum siang!” kata tukang perahu. “Aku
jelas bukan pemalas karena biasanya pada waktu seperti ini aku sudah bangun tidur dan memasak air dan
bubur untuk sarapan pagi.”
Ceng Ceng hendak membantah, akan tetapi Sian Cu berbisik, “Kemarin kau memaki dia malas.” Teringat
akan kejadian itu, Ceng Ceng diam saja dan mengerjakan apa yang diperintahkan tukang perahu itu.
Tiba-tiba tukang perahu berkata, “Harap kalian tenang, ada kesukaran di depan!”
Dengan kaget Ceng Ceng dan Sian Cu melihat bahwa di sebelah depan tampak dua buah perahu hitam
yang ditumpangi masing-masing oleh lima orang, di antara mereka tampak dua orang tosu tua yang
bersikap kereng!
“Siapa mereka? Mau apa?” Ceng Ceng bertanya lirih.
“Sstttt... harap kalian diam dan serahkan saja kepadaku menghadapi mereka.” Tukang perahu menjawab
dan ketenangan sikapnya membuat dua orang dara itu menjadi heran.
Andai kata mereka itu adalah bajak-bajak sungai yang banyak mereka dengar, sungguh pun hal itu
menyangsikan karena di antara mereka terdapat dua orang tosu, maka sikap tukang perahu itu terlampau
tenang! Sepantasnya, tukang perahu itu tentu akan menjadi panik dan ketakutan, tidak seperti saat ini,
bersikap seolah-olah penuh keyakinan dia akan dapat mengatasi keadaan.
Ceng Ceng memberi tanda dengan kedipan mata kepada Sian Cu, dan puteri ini yang mengerti bahwa
dialah yang mungkin menjadi incaran musuh, segera menyembunyikan diri di dalam perahu. Sedangkan
dia melirik penuh perhatian dan kewaspadaan. Hatinya berdebar tegang melihat betapa dua buah perahu
itu dipalangkan di tengah sungai, agaknya sengaja menghadang perahu yang ditungganginya.
“Haii, tukang perahu!” Terdengar suara bentakan dari dua buah perahu itu. “Hendak ke mana?”
“Kami hendak ke Kiu-teng!” Terdengar jawaban tukang perahu yang ramah dan tetap gembira.
“Bersama siapa? Membawa apa?” Kembali terdengar pertanyaan yang kereng dan berwibawa itu, dan
ternyata yang bertanya adalah seorang di antara dua orang tosu yang duduk di dalam perahu pertama.
Tukang perahu itu menoleh ke arah Ceng Ceng yang sedang memasak bubur, lalu berkata, “Bersama
isteriku! Kami tidak membawa apa-apa, hendak mencari ikan dan menjualnya ke Kiu-teng!”
Hampir saja Ceng Ceng meloncat dan memaki-maki! Dia diaku sebagai isteri si tukang perahu jahanam itu!
Akan tetapi ketika dia menoleh dan sudah siap untuk meloncat, dia melihat Sian Cu memberi isyarat
kepadanya dengan jari tangan di depan mulut yang menyuruhnya diam, bahkan Sian Cu lalu menyelimuti
dirinya dengan tikar yang berada di dalam perahu. Tentu kakak angkatnya itu hendak menolong si tukang
perahu yang sudah menyatakan bahwa tukang perahu itu hanya bersama dengan isterinya!
Ketika Ceng Ceng menengok lagi, tentu saja wajahnya nampak oleh orang-orang di dalam kedua perahu
itu, dan terdengarlah suara ketawa lalu seorang di antara mereka yang bermata lebar berseru sambil
tertawa, “Haiiii, isterimu cantik sekali, tukang perahu! Boleh aku menyewanya?”
“Perahuku tidak disewakan!”
“Heh, tolol! Bukan perahumu, tetapi isterimu yang kusewa! Berapa sewanya semalam?” Terdengar suara
ketawa dari kedua perahu itu.
Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan di hati Ceng Ceng. Namun melihat bahwa kakak angkatnya
sudah bersembunyi, dia tidak tega mengganggu, lagi pula ia pun ingin sekali mendengar apa yang menjadi
jawaban tukang perahu gila itu.
“Hemm, berapa kau berani bayar, kawan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Benar gila! Ceng Ceng mengepal tinju dan sudah siap untuk menghajar mereka semua. Kedua telinganya
mengeluarkan bunyi mengiang-ngiang saking marahnya.
“Ha-ha-ha-ha! Nah, kau terimalah uang panjarnya dahulu, dan kalau kau menolak, ini tambahnya!” Dari
dalam sebuah di antara dua perahu itu melayang benda ke dalam perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan
ternyata sekantung kecil uang tembaga dan sebatang toya baja yang dilontarkan ke depan kaki tukang
perahu itu.
Ceng Ceng melirik dengan sudut matanya. Jelas bahwa orang-orang kasar itu memberi uang dan disertai
ancaman karena toya itu berarti ancaman kalau permintaan itu ditolak.
Si tukang perahu mengambil kantung, membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga dia
memegang toya dan melihat-lihat benda itu seperti lagi menimbang-nimbang. Kemudian dia berkata, “Wah,
penawarannya masih jauh berkurang, sobat! Bagaimana kalau ditambah nyawamu?” Dia lalu melontarkan
kembali kantung uang dan toya.
Ceng Ceng terkejut. Betapa beraninya si tukang perahu! Dan dia melihat betapa semua orang di kedua
perahu itu merubung dan melihat toya dan kantung uang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua
benda itu. Terdengar teriakan lirih dari rombongan itu, “Si Jari Maut!”
Makin heran lagi hati Ceng Ceng ketika dia melihat dua orang tosu itu bangkit berdiri di perahu mereka dan
seorang di antara keduanya menjura dengan membentuk tanda jari-jari tangan depan dada sambil berkata.
“Harap sudi memaafkan kelakar anak buah kami dan persilakan lewat disertai salam persahabatan kami!”
Si tukang perahu hanya tersenyum, lalu menggunakan dayungnya untuk meluncurkan perahunya lewat di
antara kedua perahu yang telah minggir itu, melempar senyum mengejek ke arah mereka, dan kemudian
berkata ke dalam perahu, “Nona Sian Cu, keluarlah, tidak ada bahaya lagi sekarang.”
Ceng Ceng langsung membanting panci terisi bubur panas. Dia meloncat bangun dan menudingkan
telunjuknya kepada si tukang perahu. “Keparat, mulutmu busuk sekali! Berani kau mengatakan aku
sebagai isterimu? Phuahh, tidak tahu diri, tukang perahu jembel busuk!”
Si tukang perahu mengangkat hidungnya. “Hemm, gadis dusun yang galak! Andai kata benar kau adalah
isteriku, maka engkaulah yang untung dan aku yang rugi besar!”
“Jahanam...!” Ceng Ceng tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia telah menerjang untuk menampar
pipi orang itu. Biar kurontokkan giginya, pikirnya dengan marah.
“Wuuuttttt...!”
Tamparan yang dilakukan dengan cepat sekali dan disertai tenaga sinkang yang kuat itu hanya mengenai
angin. Terkejutlah Ceng Ceng karena tidak disangkanya sama sekali bahwa tukang perahu itu memiliki
gerakan sedemikian cepatnya, dapat mengelak dari tamparannya. Padahal tamparan itu dilakukan secara
tidak terduga dan cepat sekali sehingga jaranglah ada yang dapat mengelakkan begitu mudah! Dia menjadi
penasaran sekali dan menerjang lagi, kini tidak lagi menampar, melainkan memukul secara bertubi-tubi
dengan kedua tangannya!
“Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt...!”
Semua pukulannya adalah jurus-jurus pilihan dan disertai tenaga sinkang yang amat kuat, namun
semuanya dapat dielakkan secara mudah oleh si tukang perahu!
“Ceng-moi, jangan...!” Sian Cu berseru.
“Biar!” Ceng Ceng membantah dengan marah. “Dia kurang ajar, harus kupukul manusia jahanam ini!”
“Eh-eh-ehhh, beginikah engkau membalas budi orang?” Tukang perahu itu tersenyum sambil mengejek.
“Ditolong balasnya memukul? Ini namanya diberi air susu dibalas dengan air tuba! Benar-benar gadis galak
yang tidak mengenal budi!”
“Setan sungai kau!” Sekarang Ceng Ceng menubruk maju, kakinya menendang dan tangannya menyusul
dengan tusukan jari tangannya ke arah perut tukang perahu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wuuutttttt... dukkk!” Tubuh Ceng Ceng terhuyung ketika orang itu terpaksa menangkis tusukan tangannya.
Akan tetapi hal itu justru membuat Ceng Ceng makin marah dan dia menerjang lagi.
“Adik Ceng, jangan...!”
“Biarlah, enci. Dia kurang ajar sekali. Dia tentunya manusia busuk!” Dia meloncat dan mengirim pukulan
yang amat berbahaya karena dia telah menggunakan jurus pilihan dari ilmu silat kongkong-nya.
Pukulan itu bersiut datang ke arah lambung tukang perahu, akan tetapi tiba-tiba tubuh tukang perahu
bergerak dan ternyata dia telah meloncati lewat bilik perahu ke bagian belakang perahu!
“Mau lari ke mana kau!” Ceng Ceng mengejar, juga meloncati bilik itu dan dari atas dia sudah
mencengkeram dengan kedua tangannya.
Tapi si tukang perahu itu dengan tersenyum-senyum menyelinap ke bawah, menerobos melalui bilik
perahu, dikejar dan memutari tiang layar sambil tertawa-tawa. Sementara itu, semua pukulan dan
tendangan yang dilakukan oleh Ceng Ceng dengan kemarahan meluap-luap itu sama sekali tidak ada
hasilnya!
“Ceng-moi... tahan dulu...!” Sian Cu sibuk memegang tangan Ceng Ceng dan berusaha menahan gadis
yang marah itu mengamuk.
“Enci, apakah kau tadi tidak mendengar omongan busuknya? Kalau aku tidak dapat memukul pecah
mulutnya, aku tidak akan puas!” Dia menarik lengannya secara tiba-tiba sehingga pegangan Sian Cu
terlepas dan kembali dia menendang sambil meloncat. Tendangan terbang yang berbahaya sekali,
mengarah tenggorokan si tukang perahu.
“Heiiittt... tendangan hebat!” Si tukang perahu mengelak sambil memuji dengan suara mengejek.
“Mampuslah...!” Ceng Ceng membalikkan tubuhnya saat tendangannya tidak mengenai sasaran, sambil
membalik, tubuhnya maju dan tangannya yang dikepal menghantam dada.
“Eiiiiihhhh... hebat, wahhh luput! Sayang sekali...!” Kembali si tukang perahu mengejek dan berhasil
mengelak.
Dapat dibayangkan betapa jengkel hati Ceng Ceng. Perahu bergerak-gerak miring dan dia sudah
menyerang bertubi-tubi, namun tidak berhasil sama sekali. Biar pun kini dia maklum bahwa tukang perahu
itu ternyata lihai, namun kemarahannya membuat dia tidak mengenal takut. Hatinya tidak akan terasa puas
sebelum dia berhasil merobohkan orang yang dibencinya itu.
“Adik Ceng... ahhh, jangan! Lihat, perahu sudah miring... kita bisa celaka...!”
Memang benar teriakan Sian Cu ini. Gerakan-gerakan dua orang yang berkejar-kejaran seperti tikus
dengan kucing ini membuat perahu kehilangan arah dan miring-miring.
“Ha-ha-ha, biarkanlah, nona Sian Cu. Kalau perahu terbalik, baru nona galak itu tahu rasa. Kau jangan
khawatir, tentu akan kutolong, tapi dia... biar kembung perutnya terisi penuh air, ha-ha-ha!”
“Jahanam busuk...!” Ceng Ceng hampir menangis dan kini dia mengeluarkan sepasang belatinya. “Engkau
harus mampus di tanganku!”
“Adik Ceng...!”
Ceng Ceng yang sudah ‘mata gelap’ saking marahnya itu menyerang dengan dahsyat sekali, tidak peduli
akan perahu yang miring. Melihat datangnya dua sinar terang yang menyambarnya, tukang perahu secara
tiba-tiba merendahkan tubuh berjongkok dan tiba-tiba Ceng Ceng merasa kedua tangannya lemas karena
secara lihai dan tak tersangka sama sekali, dari bawah menyambar jari-jari tangan tukang perahu itu
memapaki gerakan tangannya dan pergelangan tangannya telah ditotok sehingga tangannya yang lumpuh
tak mampu lagi memegang sepasang belatinya dan dengan gerakan kilat, sepasang senjatanya itu telah
dibuang ke dalam sungai oleh si tukang perahu. Sambil tertawa tukang perahu itu meloncat lagi melewati
bilik dan berada di ujung perahu yang lain sambil menyeringai lebar.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heh-heh, kau boleh terjun keluar mengejar pisau-pisau dapur itu!”
Kemarahan yang memuncak membuat Ceng Ceng tidak sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang
yang memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri. Akan
tetapi dia jengkel sekali, merasa terhina dan ingin dia menangis dan menjerit-jerit! Dia telah dibikin malu,
dihina, dibuat tidak berdaya dan sepasang senjatanya dibuang begitu saja ke dalam sungai!
Tiba-tiba timbul akalnya untuk membalas dendam! Ia menubruk ke depan, disambarnya dayung, dua
batang dayung dari perahu itu, bukan dipergunakan untuk senjata, tetapi dayung yang dua buah itu
dilemparnya jauh-jauh keluar dari perahu, ke tengah sungai! Kemudian disambarnya tali layar,
direnggutnya sampai putus dan dibuangnya pula, lalu dirobeknya layar.
“Heiiiii... jangan...! Wah-wah, celaka... kau benar-benar liar!” Tukang perahu berteriak-teriak, mengangkat
kedua tangannya untuk mencegah dan kelihatan bingung sekali.
Melihat ini, terobatlah hati Ceng Ceng yang panas dan sakit, akan tetapi dia belum juga puas. Dia melihat
buntalan si tukang perahu, maka cepat buntalan itu disambarnya pula.
“Jangan itu...!” Tukang perahu berteriak dan meloncat dengan kecepatan seperti burung terbang, melewati
bilik dan tangannya diulur untuk merampas buntalan. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek Ceng Ceng
sudah melemparkan buntalan itu sampai jauh ke tengah sungai.
“Byuurrr...!”
“Wah, celaka...!” Tukang perahu berteriak dan dia pun meloncat ke dalam air mengejar buntalannya yang
dibuang.
“Byuurr...!” Air muncrat ke atas dan tukang perahu lenyap, menyelam untuk mengejar buntalan yang sudah
tenggelam. Tubuh tukang perahu terseret air yang mengalir cepat.
Ceng Ceng melongo, mukanya agak pucat. Melihat tukang perahu itu lenyap ditelan air, dia kaget dan
merasa khawatir sekali. Kekhawatiran yang menimbulkan penyesalan. Jangan-jangan tukang perahu itu
akan mati terseret arus yang kencang, pikirnya. Buntalan itu tentu amat penting baginya. Mungkin segala
harta milik tukang perahu yang miskin itu berada di dalam buntalan, maka tentu saja dia mati-matian
mempertahankan miliknya dan jangan-jangan dia mengorbankan nyawa dalam mengejar buntalan.
“Ceng-moi... celaka... perahunya hanyut dan miring...!” Terdengar jerit Sian Cu.
Ceng Ceng baru tersadar dan dia mendekati enci-nya. Segera dia pun menjadi bingung. Perahu terseret
dan terbawa arus yang kuat sekali dan karena perahu itu kehilangan kemudi, maka dipermainkan air oleng
ke kanan kiri. Ditambah lagi kepanikan mereka yang berdiri di perahu, menjaga keseimbangan badan
ketika perahu oleng, malah menambah miring perahu. Kedua orang dara itu menjadi makin bingung!
“Bagaimana, Ceng-moi? Bagaimana kita harus menahan perahu? Mana dayungnya?” Sian Cu menjeritjerit
ngeri karena dia tidak pandai renang.
“Dayungnya...?” Ceng Ceng terkejut.
Dayung, tali layar, semua telah dibuangnya, bahkan layarnya telah dirobek-robeknya! Dia tidak mampu
menjawab, dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan perahu dan mereka berdua. Karena
tidak dapat melakukan sesuatu, Ceng Ceng hanya merangkul dan melindungi Sian Cu dengan lengannya
sambil berpegang erat-erat pada tiang layar yang terbuat dari bambu itu.
“Jangan bergerak-gerak, enci. Tenang saja agar perahu hanyut dengan tenang!”
Kedua orang dara itu tak bergerak dan benar saja, perahu itu tidak lagi miring-miring, akan tetapi
setengahnya telah terendam air dan kini hanyut dengan kecepatan yang mengerikan. Untung bahwa
bagian sungai itu tidak dalam dan tidak ada batu-batu menonjol sehingga perahu mereka dapat hanyut
terus, tidak menabrak batu yang tentu akan membuat perahu tenggelam. Karena menghadapi bahaya
maut yang mengerikan ini, kedua orang dara itu sudah lupa lagi kepada tukang perahu yang tadi meloncat
ke air.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perahu hanyut dengan cepat dan memasuki sebuah dusun yang besar dan ramai. Di tempat ini banyak
sekali perahu berada di sungai dan begitu perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian Cu datang
dengan cepatnya, gegerlah para nelayan di situ. Perahu-perahu yang berada di tengah dan sedang
didayung seenaknya cepat-cepat didayung minggir.
“Minggir...! Perahu hanyut...!”
“Celaka...! Krakkkk...!”
“Braaakkkk! Krakkkk...!”
Terdengar teriakan-teriakan dan dua buah perahu yang tidak keburu minggir telah ditabrak oleh perahu
yang hanyut itu sehingga terguling dan tenggelam, berikut perahu yang ditumpangi Ceng Ceng dan Sian
Cu!
“Ceng-moi...!” Terdengar Sian Cu menjerit sebelum tubuhnya tenggelam.
“Enci Syanti!” Ceng Ceng juga menjerit.
Biar pun belum pernah belajar berenang, namun dara itu telah mendengar bagaimana caranya berenang.
Dia lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya sambil menendang-nendangkan kakinya sehingga
tubuhnya tidak tenggelam, namun karena gerakannya ngawur, tubuhnya segera terseret oleh arus deras.
Orang-orang di situ masih panik dan bingung karena peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba dan tidak terdugaduga,
maka tidak ada yang melihat gadis yang hanyut terbawa air yang kencang itu. Mereka yang tadinya
duduk di dalam perahu yang pertama tertabrak, sebanyak lima orang, sudah berenang dan berusaha
membalikkan perahu mereka. Ada pun perahu kedua yang tenggelam, tidak tampak timbul kembali, juga
penumpangnya, seorang laki-Iaki setengah tua, tidak kelihatan muncul di permukaan air.
Tiba-tiba terdengar banyak orang berteriak-teriak keheranan. Siapa tidak akan menjadi keheranan dan
kagum sekali ketika melihat perahu kedua yang tenggelam tadi, tiba-tiba saja muncul. Seperti bersayap,
perahu itu tahu-tahu telah ‘terbang’ di atas permukaan air dan terus mendarat! Di atas perahu itu tampak
seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian basah kuyup memegang dayung panjang di tangan kanan
dan mengempit tubuh Syanti Dewi di tangan kiri, berdiri dan mengatur keseimbangan perahu yang
meluncur itu dengan tubuhnya. Setelah perahu itu mendarat di atas pasir, setelah tadi ‘terbang’ melalui
beberapa buah perahu lainnya, laki-laki itu meloncat dari perahu, terus berjalan pergi dengan cepat sambil
memondong Syanti Dewi atau Sian Cu yang masih pingsan!
Tentu saja semua orang terheran-heran, apa lagi setelah mereka berusaha mengejar. Laki-laki itu telah
lenyap tanpa meninggalkan bekas! Ramailah orang membicarakan orang yang aneh itu. Dari keterangan
beberapa orang yang mengenal laki-laki aneh itu, ternyata bahwa laki-laki yang usianya sekitar empat
puluh tahun itu baru dua bulan lebih tiba di Kiu-teng, yaitu dusun di mana terjadi peristiwa hebat dan aneh
itu tadi. Laki-laki itu sering kali duduk di dalam perahu, termenung, kadang-kadang mengangkut barang
dagangan menyeberang atau ke tempat lain yang tidak begitu jauh.
Orang itu pendiam, jarang sekali bicara akan tetapi karena pandang matanya dan tutur bahasanya yang
jarang itu selalu manis budi, semua orang suka kepadanya. Dalam menerima biaya pengangkutan, orang
itu pun tidak cerewet sehingga mulai memperoleh banyak langganan. Anehnya, mereka yang mengenal
orang itu, mereka sering kali melihat orang itu mengajak anak-anak kecil untuk bermain-main, mengajar
mereka berenang, bernyanyi dan bermain-main. Lebih mengherankan lagi, orang itu hampir selalu
menghabiskan uang hasil pekerjaannya untuk menyenangkan hati anak kecil itu, bahkan beberapa kali dia
membelikan pakaian untuk anak-anak yang miskin.
“Siapa namanya?” tanya seorang.
“Dia tentu seorang pendekar sakti yang menyamar!”
“Mungkin dia seorang dewa! Kalau manusia, mana mampu menerbangkan perahu?”
Orang yang mengenal laki-laki aneh itu menggelengkan kepalanya. “Itulah anehnya. Dia tidak pernah mau
mengaku siapa namanya, hanya mengatakan bahwa dia she Gak, sehingga aku pun hanya menyebutnya
dunia-kangouw.blogspot.com
Gak-twako (kakak Gak). Anehnya, sikapnya biasa dan sederhana saja. Siapa tahu ternyata dia adalah
seorang yang memiliki kesaktian sehebat itu!” Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya penuh takjub.
Bagi yang mengenal laki-laki setengah tua itu tentu tidak akan heran menyaksikan kesaktiannya, karena
orang itu bukan lain adalah Gak Bun Beng. Para pembaca cerita Sepasang Pedang Iblis tentu tidak akan
pernah melupakan nama ini! Pada waktu itu, di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis, Gak Bun Beng masih
muda, seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa karena pemuda ini telah banyak mewarisi ilmu
silat yang tinggi sekali. Selain ketika masih kanak-kanak dia menjadi murid seorang tokoh sakti Siauw-limpai,
ketika menjelang dewasa dia secara kebetulan mewarisi ilmu kesaktian peninggalan seorang manusia
dewa yang bernama Koai Lojin. Bukan itu saja, bahkan pernah dia menerima warisan ilmu dari kakek sakti
Bu-tek Siauw-jin datuk Pulau Neraka, dan pernah pula menerima pendidikan sinkang dari Pendekar Super
Sakti!
Di waktu dia masih muda saja dia telah memiliki kesaktian-kesaktian luar biasa itu, di antaranya adalah
ilmu Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit), Tenaga Sakti Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin,
gabungan tenaga sinkang Swat-im-sinkang dan Hui-yang-sinkang dari Pendekar Super Sakti, di samping
ilmu silat-ilmu silat lainnya yang kesemuanya bertingkat tinggi!
Hanya sayang, pemuda tampan dan gagah perkasa itu malang nasibnya hingga banyak mengalami
kesengsaraan, bahkan pertalian cinta kasihnya dengan Milana, puteri sulung Pendekar Super Sakti, telah
gagal dan putus! Pada akhir cerita Sepasang Pedang Iblis, pemuda Gak Bun Beng yang mengunjungi
Pulau Es berpamit kepada Pendekar Super Sakti, berpisah dari bekas kekasihnya, Milana, dan lalu pergi
tanpa meninggalkan jejak. Semenjak itu, sampai belasan tahun, namanya tidak pernah lagi terdengar di
dunia kang-ouw.
Gak Bun Beng menganggap bahwa nasib hidupnya itu sudah sewajarnya. Kalau dia melihat keadaan
riwayatnya, dia bahkan menganggap dirinya masih beruntung karena tidak sampai terjerumus menjadi
seorang penjahat. Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, yang bernama Gak Liat dan dia
sendiri dilahirkan di dunia karena kejahatan ayahnya yang memperkosa seorang pendekar wanita Siauwlim-
pai!
Dia seorang anak haram, keturunan seorang ayah yang jahat seperti iblis! Mengingat itu semua, Gak Bun
Beng tak pernah menyesali nasibnya dan dia malah menyembunyikan diri, hidup di antara rakyat miskin
sederhana, merantau ke pelbagai tempat dan diam-diam tentu saja memperdalam ilmu-ilmunya.
Akhirnya, kurang lebih dua bulan yang lalu, dia tiba di dusun Kiu-teng itu dan hidup sebagai seorang
tukang perahu yang sederhana. Di tempat ini pun, seperti di lain-lain tempat, dia tidak pernah
memperkenalkan namanya kecuali hanya she-nya, sehingga oleh tukang perahu lain yang mengenalnya,
dia hanya dikenal sebagai Gak-twako, seorang tukang perahu yang hidup sederhana dan pendiam,
penyayang kanak-kanak.
Ketika pada hari itu Gak Bun Beng sedang melamun sambil duduk menanti pesanan orang yang akan
menyewa perahunya, tiba-tiba perahunya menjadi korban tabrakan perahu yang hanyut itu hingga terguling
dan tenggelam. Bun Beng tidak mempedulikan dirinya sendiri, pertama-tama yang menarik perhatiannya
adalah teriakan-teriakan dua orang gadis yang ikut tenggelam bersama perahu yang hanyut itu.
Ketika dia mendengar seorang di antara dua orang gadis itu menyebut nama ‘enci Syanti’, dia menjadi
heran sekali. Nama itu terang bukan nama gadis Han! Tentu saja Bun Beng bermaksud menolong mereka,
akan tetapi dia bukanlah seorang yang amat ahli dalam ilmu renang, maka dia hanya dapat menolong
gadis terdekat. Setelah dia dapat meraih gadis yang pingsan itu dan mulai tenggelam lagi, Bun Beng
menggunakan kepandaiannya menyelamatkan perahunya.
Dengan kekuatan yang dahsyat dia menggunakan dayungnya sebagai alat menekan sehingga perahunya
meluncur ke atas sedemikian kuatnya sehingga melampaui perahu lain dan dapat mendarat di atas pasir.
Karena keadaan yang memaksanya itu, tanpa sengaja dia mengeluarkan kepandaiannya dan barulah dia
teringat akan hal ini setelah perahunya mendarat.
Dia menyesali kelengahannya dan terpaksa dia harus meninggalkan perahunya dari tempat itu karena
kalau tidak, berarti dia membuka rahasianya yang selama belasan tahun ini disimpannya rapat-rapat.
Hanya satu hal membuat dia kecewa, yaitu dia tidak dapat menolong gadis kedua yang telah hanyut
terbawa arus air yang amat kuat. Dia tahu bahwa mengejarnya tidak akan ada gunanya dan gadis itu tentu
tewas, kecuali kalau ada pertolongan yang tak tersangka-sangka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bun Beng membawa Syanti Dewi ke dalam kuil tua yang kosong di tengah hutan, di sebelah timur dusun
Kiu-teng dan di lembah Sungai Nu-kiang, merebahkan tubuh yang pingsan itu di atas lantai, kemudian
mengeluarkan air dalam perut dara itu, mengurut beberapa jalan darah sampai dara itu mengeluh dan
siuman.
“Ahhhhh...!” Syanti Dewi mengeluh dan bergerak, lalu membuka kedua matanya.
Bun Beng memandang wajah itu dan di sudut hatinya terharu. Dia merasa yakin bahwa gadis ini tentulah
gadis asing yang memiliki kecantikan khas agak mirip dengan Milana, bekas kekasihnya yang memiliki
darah Mancu bangsawan, karena Milana adalah cucu Kaisar Mancu!
Ketika Syanti Dewi mendapat kenyataan bahwa dia rebah dalam kamar tua dari tembok yang sudah retakretak,
di atas lantai yang kotor, kemudian melihat seorang laki-laki berusia kurang dari empat puluh tahun
berjongkok tidak jauh darinya, dia terkejut dan cepat bangkit duduk. Kenyataan pertama adalah bahwa
pakaiannya basah kuyup, maka teringatlah dia akan peristiwa yang mengerikan itu, ketika perahu yang
hanyut itu tenggelam membawa dia dan Ceng Ceng tenggelam pula.
“Di... di mana aku? Siapakah paman...?”
Biar pun ucapannya itu dikeluarkan dalam keadaan bingung dan terkejut, namun jelas terdengar kehalusan
budi bahasa gadis itu.
“Tenanglah, nona. Engkau telah dapat terbebas dari bahaya tenggelam di sungai dan aku adalah seorang
tukang perahu yang kebetulan melihat engkau tenggelam bersama perahu hanyut itu,” kata Bun Beng
dengan suara halus menghibur.
Tiba-tiba sepasang mata dara itu terbelalak dan dia bertanya, “Bagaimana dengan Ceng-moi? Di mana
Ceng-moi...?”
“Engkau maksudkan gadis kedua yang turut terguling dan tenggelam dengan perahu hanyut itu?” Bun
Beng bertanya.
“Benar... kami berdua di perahu itu... bagaimana dengan Ceng-moi? Di manakah dia...? Ceng-moi...!”
Syanti Dewi menjerit, memanggil nama adik angkatnya penuh khawatir.
Bun Beng menggelengkan kepalanya dan menghela napas. “Menyesal sekali bahwa tenagaku terbatas,
aku hanya berhasil menyelamatkanmu, nona. Ada pun nona kedua itu... aku melihat sendiri dia terseret
dan hanyut oleh arus sungai yang amat deras dan kuat...”
Makin terbelalak sepasang mata itu, dan wajah Syanti Dewi langsung menjadi pucat sekali. “Paman...!
Kau... maksudkan... dia... Ceng-moi...?”
Bun Beng mengangguk. “Kalau tidak terjadi hal yang luar biasa, aku khawatir sekali bahwa dia akan tewas.
Air itu deras sekali dan amat dalam.”
“Ceng-moi...!” Syanti Dewi menjerit lalu menangis sesenggukan, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Bun Beng memandang dengan alis berkerut, akan tetapi dia diam saja karena maklum bahwa pada saat
seperti itu, hanya tangis yang merupakan obat terbaik bagi dara ini.
“Ceng-moi... aihhh... Candra adikku, bagaimana aku bisa hidup tanpa kau? Bagaimana aku berani
melanjutkan perjalanan tanpa engkau...? Adik Candra... tega benar engkau meninggalkan aku... hu-huhuhhhh,
lalu aku bagaimana...?”
Mendengar wanita muda itu menyebut gadis kedua dengan nama Ceng-moi dan juga adik Candra, Bun
Beng merasa heran. Akan tetapi kerut di alisnya mendalam dan tiba-tiba dia berkata, suaranya penuh nada
teguran, “Nona, tidak kusangka bahwa hatimu kejam dan engkau mementingkan dirimu sendiri saja!”
Mendengar teguran aneh ini, tentu saja Syanti Dewi terkejut dan merasa amat heran sehingga sejenak dia
lupa akan tangisnya, mengangkat muka yang pucat dan basah dengan mata merah, memandang tukang
dunia-kangouw.blogspot.com
perahu itu sambil bertanya dengan suara tergagap, “Paman... apa... apa maksudnya...? Aku kejam...,
terhadap siapa...?”
“Terhadap siapa lagi kalau bukan terhadap adikmu itu?”
“Paman!” Syanti Dewi bertanya dengan suara keras karena penasaran. “Apa maksudmu dengan kata-kata
itu? Aku kejam terhadap adik Ceng Ceng?”
Bun Beng menarik napas panjang. “Ahhh, aku sampai lupa bahwa engkau pun hanya seorang gadis yang
tentu saja takkan berbeda dengan seluruh manusia di dusun ini, hidupnya penuh dengan keakuan yang
selalu mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, coba engkau sadarilah, nona. Engkau menangis dan
berduka ini, terus terang saja, yang engkau tangisi dan dukakan ini karena adikmu itu mungkin mati,
ataukah engkau menangis dan berduka karena engkau ditinggalkan oleh dia yang kau sandari? Engkau
menangisi dia ataukah engkau menangisi dirimu sendiri?”
Syanti Dewi terkejut bukan main! Ucapan itu terdengar seperti halilintar menyambar di tengah hari terik,
dan memasuki hatinya seperti setetes air dingin sekali di waktu panas. Sejenak dia melongo dan
tercengang, hanya dapat memandang orang itu tanpa mampu berkata-kata, dan otomatis tangisnya pun
berhenti!
Bun Beng lalu membuat api unggun tanpa berkata-kata, lalu keluar dari dalam kamar kuil tua dan berkata
dari luar kamar, “Sekarang yang terpenting menjaga jangan sampai engkau jatuh sakit. Tanggalkanlah
semua pakaianmu dan lemparkan keluar agar dapat kujemur sampai kering. Sementara menanti pakaian
kering, kau duduklah di dekat api unggun. Dan engkau tidak perlu khawatir, nona. Di tempat ini tidak orang
lain kecuali kita berdua, dan aku akan menjaga di luar kuil.”
Teguran atas tangisnya tadi masih menghujam di ulu hatinya, masih berkesan dalam sekali di hatinya,
maka seperti dalam mimpi, dengan mata masih tertuju ke arah pintu dari mana laki-laki itu tadi keluar,
tanpa ragu-ragu Syanti Dewi menanggalkan semua pakaiannya satu demi satu, lalu menggulung semua
pakaian itu dan melempar keluar pintu.
Hanya tampak sebagian lengan tangan menyambar gulungan pakaian itu, lalu lenyap. Syanti Dewi duduk
mendekati api unggun, menutupi dadanya dengan rambutnya yang dilepas kuncirnya. Dia duduk
termenung, terheran-heran memikirkan laki-laki aneh yang ucapannya menusuk hatinya dengan tepat
sekali, membuat tangisnya terhenti seketika karena dia kini malu sendiri kalau harus menangis, karena tak
dapat dibantahnya bahwa tangisnya tadi terutama sekali karena merasa khawatir dan iba kepada dirinya
sendiri, bukan kepada Ceng Ceng! Dia menangis karena ditinggalkan.
Karena DIA yang ditinggalkan, karena DIA kehilangan kawan baik, karena DIA kini menghadapi masa
depan di istana kerajaan asing seorang diri saja! Kini dia termenung dan merasa heran tiada habisnya
karena sedikit ucapan itu menggugah kesadarannya, membuat dia melihat kepalsuan dalam liku-liku
kehidupan manusia. Apakah semua tangis yang dikucurkan, semua perkabungan jika ada kematian
kesemuanya itu seperti tangisnya tadi juga, semua itu palsu, belaka dan yang menangis itu sesungguhnya
hanya menangisi dirinya sendiri saja, bukan menangis demi yang mati?
Bun Beng memeras pakaian gadis itu sampai hampir kering sehingga dijemur sebentar saja pakaian itu
sudah kering betul. Pakaian itu digulungnya dan dari luar kamar kuil itu dia berkata, “Nona, pakaianmu
sudah kering semua. Terimalah dan segera pakai kembali pakaianmu!” Gulungan pakaian itu dia
lemparkan ke dalam dan kembali hanya sebagian lengannya saja yang tampak.
Syanti Dewi merasa bersyukur dan berterima kasih sekali. Cepat dia mengenakan kembali pakaiannya. Di
dalam hatinya dia bersyukur kepada Thian bahwa setelah kehilangan Ceng Ceng, kini dia bertemu dengan
orang yang demikian baik budinya, seorang laki-laki yang bukan hanya telah menyelamatkan nyawanya,
akan tetapi juga yang secara aneh telah menyadarkan batinnya dan kini bersikap demikian sopan
kepadanya!
“Aku sudah berpakaian, paman. Harap suka masuk agar kita dapat bicara,” katanya.
Bun Beng melangkah masuk, dan kembali mereka duduk saling berhadapan di atas lantai. Tanpa malumalu
Syanti Dewi kini menatap laki-laki itu dan terkejutlah dia karena baru sekarang tampak olehnya
bahwa orang yang berada di depannya jelas bukanlah seorang tukang perahu biasa! Sinar mata laki-laki itu
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian tajam dan berwibawa, namun mengandung kehalusan pandang mata yang penuh kasih sayang
dan iba hati.
Wajah itu sangat tampan dan kulitnya halus, kumis dan jenggotnya terpelihara. Seluruh tubuhnya
membayangkan perawatan dan kebersihan, bahkan kuku-kuku jari tangannya pun terawat seperti tangan
seorang sastrawan, pakaiannya sederhana namun bersih pula. Bukan seorang tukang perahu biasa,
agaknya seorang sastrawan yang menyamar sebagai rakyat jelata! Di lain pihak, Bun Beng yang
memperhatikan wajah gadis itu juga dapat menduga bahwa gadis ini selain asing karena nama dan bentuk
mukanya, juga tentu seorang gadis terpelajar tinggi.
“Nona siapakah?” Bun Beng bertanya singkat.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil