Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 02 Agustus 2017

Cersil Terbaru Bingit : Pendekar Super Sakti 7

Cersil Terbaru Bingit : Pendekar Super Sakti 7 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Terbaru Bingit : Pendekar Super Sakti 7
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Heh, jawablah! Aku tidak takut mati! Ibuku sudah tiada, kini Ayahku mati, aku tidak takut mati, kau tahu?”
Han Han memandang gadis itu dan ia terharu, merasa kasihan kepada gadis ini yang biar pun bersikap galak
seperti itu, sesungguhnya gadis ini menderita duka yang hebat. Ia mengangguk.
“Jadi engkau tidak mengejek aku?”
Han Han menggeleng kepala.
“Dan engkau mengapa kembali lagi? Matamu tidak kurang ajar lagi. Engkau tidak akan kurang ajar dan
mengejekku, bukan?”
Han Han menggeleng kepala.
“Kalau begitu, mengapa engkau menolongku? Engkau membenci Ouwyang Seng dan pemuda lihai yang
membantunya tadi?”
Han Han mengangguk.
Gadis itu bertolak pinggang dan kembali pakaian luarnya terbuka. Han Han meramkan mata dan menunduk.
“Eh, pemuda buntung yang memiliki kepandaian seperti iblis! Mengapa engkau? Tadi kau pandai bicara, katakatamu
memanaskan perut, sekarang kenapa tiba-tiba menjadi gagu?”
Han Han menarik napas panjang. Baru sekarang ia bertemu dengan gadis yang membuat dia bingung dan
bohwat (kehabisan akal). Banyak bicara tidak benar, kalau didiamkan saja tentu akan marah pula. Sepasang
mata yang bening dan tajam itu kini pun sudah mulai menyala. Ia tahu bahwa mata seperti ini kalau sudah
berkobar karena marah, bisa repot dia!
“Nona, aku tidak gagu. Aku tidak berani bicara, karena tiap kali aku bicara, engkau salah terima dan mengira
aku mengejek dan menghina.”
Gadis itu memandang wajah Han Han dengan penuh perhatian, sepasang matanya tidak pernah berkedip,
menjelajahi wajah Han Han terus ke bawah sampai ke kakinya yang buntung, naik lagi ke atas dan berhenti
pada matanya sehingga pandang mata mereka bertaut dan melekat. Han Han merasa seolah-olah dia menjadi
seekor kuda yang sedang diteliti, diperiksa dan ditaksir-taksir oleh seorang calon pembeli!
Tiba-tiba sikap kaku gadis itu berubah dan dia berkata lirih, “Maafkan aku... maafkan bahwa aku telah salah
duga... ah, tentu In-kong menganggap aku sebagai seorang yang bocengli dan tak kenal budi. Akan tetapi
tadi... mata In-kong... sungguh... mengerikan hatiku...” Gadis itu kembali berlutut di dekat jenazah ayahnya dan
menangis.
Biar pun hatinya amat terharu, namun ada rasa geli juga. Bocah ini benar-benar amat menarik, mengingatkan
ia akan Lulu. Adiknya itu, Lulu, kadang-kadang kalau sudah kumat penyakitnya juga sifatnya aneh sekali.
Gadis ini pun aneh, sekejap marah-marah seperti seekor harimau betina diganggu anaknya, di lain detik sudah
menjadi lembut dan lunak seperti seekor domba! Ia pun lalu berlutut dan berkata hati-hati.
“Nona Tan, marilah kita mengubur jenazah-jenazah ini, tidak baik dibiarkan begini saja.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tan Hian Ceng, nona itu, menoleh kepadanya dengan mata merah dan muka basah air mata, lalu
mengangguk. “In-kong benar. Kita harus cepat menguburnya, kalau tidak, ada bahayanya datang pasukan
Mancu... sudikah In-kong membantuku mengubur Ayah dan Paman-pamanku ini?”
Han Han sebenarnya merasa geli. Dia yang mengusulkan untuk mengubur jenazah tiga orang itu, eh, kini dia
dimintai tolong membantu. Akan tetapi dengan wajah serius ia menjawab, “Tentu saja. Marilah, Nona.”
Gadis itu kembali bengong terheran-heran ketika melihat betapa dengan tongkatnya, pemuda buntung itu
menggali tanah dengan kecepatan yang luar biasa sehingga dalam waktu singkat tiga buah lubang yang cukup
dalam telah digali berjajar di bawah pohon. Apa yang dilakukan pemuda buntung itu seperti main sulap saja
dan diam-diam ia menjadi kagum bukan main. Selama hidupnya baru sekarang dia bertemu dengan seorang
pemuda yang memiliki ilmu kepandaian sehebat ini. Seperti bukan manusia!
Tiga jenazah itu lalu dimasukkan lubang. Setelah tiga jenazah dimasukkan lubang, dengan suara penuh duka
Hian Ceng berkata sambil menunjuk jenazah-jenazah itu satu demi satu.
“Ini adalah ayahku, seorang pejuang kenamaan yang telah berjuang puluhan tahun membela nusa bangsa,
bernama Tan Sun dan terkenal di dunia kang-ouw sebagai It-ci Sin-mo (Iblis Sakti Satu Jari).”
Han Han mengangguk-angguk. Nama ini pernah ia dengar dan kini mengertilah ia mengapa gadis ini amat
pandai menggunakan satu jari untuk menotok jalan darah di tubuh lawan.
“Dia itu adalah Paman Giam Ki, seorang pejuang gagah sahabat baik Ayah, terkenal pula dengan julukan Bankin
Hek-gu (Kerbau Hitam Bertenaga Selaksa Kati).”
Han Han juga pernah mendengar nama ini dan diam-diam ia mengagumi kakek yang bertubuh tinggi besar itu.
Tentu dahulu menjadi seorang ahli gwa-kang (tenaga kasar).
“Dan yang itu adalah seorang sahabat Ayah pula, bernama Thio Kai, seorang ahli dalam menyelundup
perbatasan. Atas petunjuk dia inilah maka kami dapat melakukan tugas dengan sebaiknya, dapat mematamatai
gerakan tentara Mancu dan mengumpulkan segala perlengkapan yang dibutuhkan oleh teman-teman
pejuang di Se-cuan.”
Han Han kagum dan terharu. Tiga orang ini adalah orang-orang gagah yang biar pun sudah tua namun masih
bersemangat tinggi untuk melaksanakan tugas perjuangan sehingga kini tewas mengorbankan nyawa untuk
bangsa! Ah, betapa mulia mereka ini, jauh lebih mulia dan lebih berguna dari pada dia! Akan tetapi, betapa
mungkin dia memusuhi bangsa Mancu sedangkan Lulu adiknya yang tercinta itu pun seorang gadis Mancu
pula?
Dan keluarga Lulu telah habis dibunuh Lauw-pangcu dan para pejuang, namun Lulu adiknya yang berhati
mulia itu sama sekali tidak membenci bangsa Han, bahkan tidak membenci Lauw-pangcu. Sebaliknya malah!
Adiknya itu menghapus dendam dan kebencian, menggantinya dengan kasih sayang sehingga ia rela menjadi
anak angkat Lauw-pangcu, musuh besarnya!
Betapa mulia mereka itu, tiga orang pejuang yang kini menjadi mayat ini, dan Lulu adiknya! Saking terharu dan
merasa betapa dia sendiri adalah seorang yang tidak berharga, Han Han menjatuhkan diri berlutut, memberi
hormat kepada tiga jenazah itu dan dua titik air mata mengalir turun dari kedua matanya!
Hian Ceng melongo memandang Han Han, air matanya mengucur turun mengalir di kedua pipinya. “In-kong...
engkau... engkau mengucurkan air mata untuk Ayahku? Ah, maafkan aku, In-kong... betapa kurang ajar
sikapku terhadapmu tadi... kiranya In-kong adalah seorang pendekar sakti yang budiman...”
Han Han bangkit perlahan-lahan, bersandar pada tongkatnya. “Nona Tan, aku hanya seorang yang rendah,
seorang tak berharga. Karena kagum kepada Ayah dan kedua sahabatnya ini aku merasa betapa aku lebih
rendah lagi. Marilah kita kubur mereka baik-baik.”
Hian Ceng kini sudah berubah sikapnya. Amat taat dan amat menghormat. Ia pun berdiri. “Baiklah, In-kong...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hian Ceng lalu mengambil tanah segenggam dan menaburkan tanah itu ke dalam kuburan ayahnya dan kedua
orang pamannya. Han Han lalu menggunakan sinkang-nya, mendorong ke arah tanah galian dan angin yang
amat kuat menyambar, membuat tanah itu beterbangan. Hian Ceng terpaksa meloncat mundur dan ia hanya
melihat tanah berputaran seperti ada angin puyuh. Matanya berkunang menyaksikan ini dan ketika putaran
tanah berdebu lenyap, ternyata lubang galian itu telah teruruk tanah yang menggunduk, merupakan tiga buah
kuburan yang rapi!
Hian Ceng menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan ayahnya yang berada di tengah, menangis
sesenggukan. Han Han membiarkan gadis yang sedang berkabung dan berduka itu menangis. Dia lalu
meloncat ke dekat batu besar yang rata permukaannya, dan berdiri di depan batu yang tingginya sama dengan
dia, tongkatnya diangkat dan dengan kening berkerut tongkatnya menggurat-gurat pada permukaan batu.
Dengan pengerahan tenaga sinkang, ia telah mengukir huruf-huruf di permukaan batu itu.
Sepanjang usia dicurahkan membela bangsa
tak kunjung padam sampai nyawa meninggalkan raga
Tan Sun, Giam Ki, dan Thio Kai
tiga pahlawan patut dijadikan sari tauladan!
Wi-bin-wi-kok, hiap-ci-tai-cia!
“Indah sekali... ah, In-kong hebat luar biasa...!” Suara itu membuat Han Han menengok. Kiranya Hian Ceng
telah berdiri di dekatnya, membaca ukiran huruf-huruf itu dengan air mata bercucuran.
“Ah, tidak ada artinya, Nona. Hanya sekedar untuk peringatan di depan kuburan Ayahmu.”
“Akan tetapi... batu ini begini besar, tentu berat sekali. Betapa mungkin kita berdua menggesernya ke depan
kuburan yang begitu jauh, In-kong?” Hian Ceng terbelalak.
Ayahnya adalah seorang ahli lweekeh, memiliki tenaga lweekang (tenaga dalam) yang kuat, dan dia pun telah
mewarisi tenaga lweekang yang cukup lumayan, sudah mengimbangi ayahnya. Akan tetapi dia dan ayahnya
takkan mungkin menggeser batu sebesar ini.
“Biarlah aku yang menggesernya, Nona. Harap kau suka minggir.”
Hian Ceng melompat menjauhi dan memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar. Han Han lalu
menggunakan tongkatnya, menusuk bawah batu besar itu, kemudian ia mengerahkan sinkang, tongkat
dipantulkan dan... batu besar ini melayang dan jatuh menimpanya!
“Ahhh... awas! In-kong...!” Hian Ceng menjerit, akan tetapi ia segera menutup mulutnya dengan tangannya,
matanya terbelalak kagum kaget dan heran melihat betapa pemuda berkaki buntung itu menerima batu dengan
tangan kanannya, kemudian berloncatan dua kali membawa batu itu sampai ke depan kuburan ayahnya, lalu
menurunkan batu itu perlahan-lahan ke depan ketiga buah kuburan!
“Bukan main...!” Hian Ceng berbisik, lalu melangkah perlahan menghampiri Han Han. “In-kong... kiranya Inkong
adalah seorang taihiap yang sakti. Ah, dengan bantuan taihiap di Se-cuan, jangan harap penjajah Mancu
akan dapat menaklukkan Se-cuan. Tentu In-kong akan ke sana, bukan?”
Akan tetapi betapa kecewa hati Hian Ceng ketika melihat pemuda itu menggeleng kepada. Han Han yang
memandang wajah gadis itu melihat kekecewaan membayang di wajah yang cantik dan yang ia duga tentu
biasanya cerah itu. Cepat ia berkata.
“Tidak, Nona. Aku... aku bukanlah seorang pejuang gagah perkasa dan mulia seperti Ayahmu dan engkau.
Aku... aku hendak mencari adikku.”
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sukar dapat dipercaya! Seorang gagah perkasa seperti In-kong,
seorang yang memiliki kesaktian hebat... yang budiman, tidak membantu perjuangan? Ah, betapa mungkin...
dan siapakah adikmu kalau aku boleh bertanya, In-kong?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Adikku bernama Lulu, sudah hampir dua tahun dia lenyap... Sampai sekarang aku mencarinya tanpa hasil...”
Mendengar suara Han Han yang penuh duka, Hian Ceng menjadi kasihan. “Yang terakhir kalinya engkau
mendengar adikmu itu berada di mana, In-kong?”
“Di lembah Huang-ho, bersama Lauw-pangcu...”
“Eh? Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang?” Gadis itu bertanya kaget dan heran.
“Benar, dia diambil anak angkat oleh Lauw-pangcu...”
“Ah...! Kalau adikmu itu anak angkat Lauw-pangcu, tentu mudah dicari. Aku yakin bahwa kalau dia lenyap tak
dapat kau temukan jejaknya, dia pasti berada di daerah Se-cuan! Semua pejuang akhirnya pergi ke sana, Inkong.
Marilah kita ke Se-cuan dan aku tanggung engkau akan dapat menemuinya di sana.”
“Memang tadinya aku hendak mencari di sana, menyusul sahabat baikku Wan Sin Kiat...”
“Wah, In-kong sahabat baik Hoa-san Gi-hiap?”
Han Han mengangguk. “Kami, yaitu aku, dia dan Nona Lauw Sin Lian...”
“Puteri Lauw-pangcu, murid Siauw-lim Chit-kiam yang lihai?” Gadis itu memotong lagi.
Han Han mengangguk, girang bahwa nona pejuang ini ternyata mengenal semua tokoh pejuang. “Kami berjanji
akan bertemu di Se-cuan. Sin Kiat lebih dulu, Nona Sin Lian hendak mengumpulkan sisa-sisa anggota Pek-lian
Kai-pang yang habis dibasmi oleh tentara Mancu di lembah Huang-ho...”
“Aaahhhhh...!”
“Lauw-pangcu juga gugur dalam penyerbuan itu.”
“Ahhhhh...!”
Tiba-tiba terdengar derap banyak kuda dari jauh. Gadis itu cepat berkata, “Mereka datang, In-kong, mari kita
lari. Cepat...!”
Gadis itu dalam ketegangannya agaknya lupa bahwa Han Han memiliki kepandaian hebat. Dia menyambar
tangan Han Han dan diajaknya pemuda itu melarikan diri. Han Han maklum bahwa kalau pasukan Mancu yang
besar jumlahnya tiba, tentu mereka berdua tidak akan mampu melawan. Dia sendiri akan dapat melarikan diri
dengan mudah, akan tetapi belum tentu akan mudah bagi Hian Ceng untuk menyelamatkan diri. Maka ia tidak
melepaskan tangan gadis itu yang menggandengnya, bahkan ia balas memegang dan tubuhnya lalu
berloncatan cepat sekali, membawa tubuh Hian Ceng yang terbawa meloncat-loncat dan melayang-layang.
“Heiii... eeeiiitttt... eh, kita terbang...!” Hian Ceng menjerit kaget dan ngeri, akan tetapi tak lama kemudian ia
tertawa-tawa gembira.
“Waduhhhh... hebat sekali... eiiihh, ngeri... terlalu tinggi kita meloncat... aihhhhh!” Saking ngerinya melihat
betapa tubuh mereka mencelat ke atas pohon, kemudian dengan mengenjotkan kaki satu ke ranting lalu
melambung lagi, Hian Ceng memejamkan mata dan merangkul Han Han!
Han Han mendiamkannya saja, bahkan berloncatan makin cepat sehingga tidak terdengar lagi suara kaki kuda.
Mereka telah berada jauh di balik sebuah bukit, dan Han Han menurunkan tubuh Hian Ceng. “Kita sudah aman,
Nona.”
Hian Ceng turun dan membuka matanya. Kedua pipinya merah sekali dan ia memandang Han Han dengan
sinar mata penuh kagum. “In-kong, aku kagum sekali... ah, betapa senangku dapat berkenalan denganmu, Inkong.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memandang wajah Hian Ceng yang kedua pipinya kemerahan. Gadis ini amat cantik dan memiliki
kelincahan yang sama dengan Lulu. Juga wajahnya cerah, tadi baru saja menyedihkan kematian ayahnya kini
sudah dapat tersenyum amat manis.
“Nona, engkau mengingatkan aku akan adikku, Lulu.”
“Ah, adikmu tentu cantik jelita sekali, In-kong!” kata Hian Ceng saat mereka melanjutkan perjalanan.
“Memang cantik jelita dan manis sekali, Nona.”
“Dan dia tentu amat lihai.”
“Memang dia amat lihai!”
“Dan dia tentu amat menyenangkan hati, In-kong.”
“Memang sesungguhnyalah dia amat menyenangkan hatiku, aku amat sayang Nona.”
Hian Ceng tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh memandang Han Han, alisnya yang hitam kecil
menjelirit itu mengerut, suaranya terdengar agak marah, “Kalau begitu, In-kong telah tega hati untuk
membohongiku dan mempermainkan aku!”
Nah-nah-nah, sudah kumat lagi, pikir Han Han. “Mengapa, Nona? Aku tidak bohong! Masa aku bohong kalau
mengatakan bahwa adikku Lulu cantik jelita, manis, lihai dan menyenangkan hatiku?” Dia benar-benar tidak
mengerti karena biar pun Lulu kadang-kadang juga merajuk dan mengambek, akan tetapi ada sebabnya,
bukan seperti nona ini yang tiada hujan tiada angin lalu menyambar-nyambar seperti kilat di siang hari!
“In-kong bohong! Kalau begitu, mana bisa aku mengingatkan In-kong kepada adik In-kong itu?”
Han Han mengangkat alis membelalakkan mata dan di dalam hatinya ia tertawa bergelak, akan tetapi
mulutnya menahan ketawa itu sehingga ia menyeringai seperti orang sakit gigi. “Oh... mengapa tidak? Engkau
hampir sama dengan dia, juga watakmu hampir sama dengan wataknya.”
“Akan tetapi dia cantik manis...”
“Engkau juga... ehhhh!” Han Han menutup mulutnya, khawatir disangka mengejek lagi. Akan tetapi melihat kini
gadis itu menahan senyum dan kelihatan gembira karena wajahnya berseri, ia melanjutkan, “Dan engkau pun
lihai dan menarik, menyenangkan hati...”
Dengan muka berseri girang Hian Ceng berkata, suaranya penuh semangat, “Aku akan mencari adikmu
sampai dapat, In-kong! Percayalah, kalau memang benar dia berada di daerah Se-cuan, aku pasti akan dapat
menemukannya! Setelah Paman Thio Kai meninggal dunia, akulah satu-satunya orang yang paling mengenal
keadaan daerah Se-cuan. Sudah kujelajahi semua daerah karena hal ini amat penting bagi tugasku sebagai
penyelidik. Sssttttt... kita sekarang harus berhati-hati, In-kong. Lembah di depan itu disebut Lembah Neraka
oleh kaum pejuang karena di situ musuh melakukan penjagaan keras.”
Dari tempat yang agak tinggi itu Han Han memandang tajam ke depan. “Akan tetapi kelihatannya sunyi saja.”
Gadis itu mengangguk. “Itulah bahayanya. Kaum pejuang yang menyeberang dan belum mengenal keadaan
akan terjebak, mengira bahwa jalan itu aman. Padahal tentara penjajah yang tidak kurang dari seribu orang
jumlahnya bersembunyi di kanan kiri lembah itu, ada yang mendirikan perkemahan di dalam jurang-jurang di
kedua sampingnya, dan ada yang memasang barisan di atas tebing, siap dengan anak panah mereka. Karena
jalan di bagian lereng sebelah kiri itu merupakan jalan satu-satunya dan di sana terapit dinding batu gunung
maka jalan itu sempit dan sekali orang lewat di situ, sukar untuk menyelamatkan diri jika diserang dari kanan
kiri, atas dan kedua jalan itu ditutup oleh mereka dari depan belakang. Dahulu, setahun yang lalu, tidak kurang
dari dua ratus orang pengungsi dari timur yang hendak melarikan diri ke Se-cuan dan lewat di lorong itu,
disembelih habis semua oleh mereka, laki-laki wanita dan kanak-kanak!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han bergidik. Dia teringat akan keganasan bala tentara Mancu yang melakukan pembunuhan terhadap
para pengungsi. Kalau kaum pejuang yang mereka bunuh, hal itu memang sewajarnya, sebagai musuh dalam
perang. Akan tetapi tentara Mancu yang ganas itu banyak pula membunuhi rakyat yang tidak tahu apa-apa, hal
ini benar-benar merupakan perbuatan kejam yang harus ditentang.
“Kalau jalan itu demikian berbahaya, bagaimana kita akan dapat lewat? Mengapa Nona tidak mengambil jalan
lain yang lebih aman?”
“Jalan depan itu yang terdekat dan bagiku, yang paling aman.”
“Eh, bagaimana bisa begitu? Bukankah kau katakan tadi bahwa...”
“Bagi yang tidak mengerti bagaimana mengakalinya memang berbahaya, juga bagi rombongan yang terdiri
dari banyak orang. Akan tetapi biasanya kami berempat...,” dia berhenti sebentar, teringat akan ayahnya dan
dua orang pamannya yang tewas, “kami selalu menggunakan jalan ini. In-kong lihat, pegunungan yang
menjulang di sebelah kanan itu adalah Pegunungan Min-san. Dan yang menjulang tinggi di sebelah kiri itu
adalah Pegunungan Ta-pa-san. Kita sekarang ini berada di Pegunungan Cin-ling-san. Dan lihatlah baik-baik di
balik jurang di bawah itu.”
Han Han memandang daerah yang dikelilingi pegunungan ini dan ketika ia melihat ke arah yang ditunjuk, ia
melihat garis kebiruan yang panjang berliku-liku seperti tubuh seekor naga biru.
“Kau maksudkan sungai itu, Nona?”
“Benar, sungai yang mengalir ke selatan itu adalah Sungai Cia-ling dan kita akan memasuki daerah Se-cuan
melalui sungai itu.”
“Naik perahu?”
“Tidak mungkin naik perahu, In-kong. Di kedua tepi sungai itu penuh dengan perkemahan musuh dan barisan
tentara sudah siap menghujani setiap perahu yang lewat dari luar perbatasan dengan panah api...!”
“Habis, bagaimana?” Han Han memandang heran. Gadis itu tersenyum manis, agaknya merasa bangga sekali
bahwa dalam hal ini dia dapat mengatasi Han Han, dan dialah yang memimpin. Menghadapi pemuda buntung
ini ia merasa kecil tak berarti, merasa bukan apa-apa karena kepandaian pemuda itu luar biasa sekali, akan
tetapi kini dialah yang menjadi ‘pemimpin’!
“Marilah, In-kong. Aku akan menunjukkan jalan dan caranya nanti!” Hian Ceng memegang tangan Han Han
dan menariknya ke kanan, menuruni jalan menurun yang curam.
Melihat jurang yang dituruni ini dan cara gadis itu menuruni dengan merayap seperti itu, sebetulnya Han Han
tidak sabar. Kalau dia mau, dengan menggendong Hian Ceng ia dapat saja turun dengan gerak kilatnya
sehingga dapat cepat tiba di Sungai Cia-ling. Akan tetapi ia merasa betapa telapak tangan gadis yang
menggandeng tangannya itu hangat sekali, tanda bahwa gadis itu gembira dan bersemangat. Ia dapat
menyelami perasaan Hian Ceng yang kini merasa menjadi orang yang lebih pandai, menjadi pemimpin, maka
dia tidak tega untuk menghancurkan kegembiraan dan kebanggaannya. Maka ia pun ikut merayap turun.
Akhirnya mereka tiba di tepi Sungai Cia-ling. Hian Ceng mengajak Han Han bersembunyi di balik semaksemak
di tepi sungai, lalu menuding ke arah selatan. Han Han memandang dan melihat sebuah perahu
dengan lima orang tentara Mancu berada di pinggir. Perahu ditambatkan pada pohon dan lima orang itu
mengobrol sambil makan minum perbekalan mereka.
“Kita bunuh mereka dan rampas perahunya?” bisik Han Han.
Hian Ceng menggeleng kepala dan mendekatkan mulutnya di telinga pemuda itu, berbisik, “Jangan, kalau kita
bunuh dan akhirnya diketahui, penyeberangan perbatasan menjadi sulit. Dan perahu itu pun tidak ada gunanya
bagi kita.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Han Han hampir tidak dapat menangkap arti ucapan gadis itu karena merasa betapa bibir itu
bergerak-gerak menyentuh daun telinga, hawa yang hangat dari mulut meniup-niup telinga, hidung itu
menyentuh-nyentuh pipi dan pelipis. Jantungnya berdebar keras. Selama hidupnya Han Han belum pernah
berdekatan dengan wanita seperti sekarang ini.
Dahulu pernah dia mengalami hal luar biasa dengan Lulu ketika berada di Pulau Es, hal yang sampai sekarang
kalau ia ingat membuat ia menjadi merah mukanya, akan tetapi ketika itu ia dan Lulu berada dalam keadaan
tidak sadar dan diamuk gairah nafsu birahi yang dibangkitkan oleh racun ular merah. Mereka dulu keracunan
dan masih dapat melawan sehingga mereka berdua terhindar dari perbuatan yang akan membuatnya
menyesal selama hidupnya.
Dan selain peristiwa itu, memang sering kali Lulu dengan sikapnya yang manis memeluknya, mengambung
pipinya, akan tetapi Lulu adalah adiknya dan perbuatan itu tidak menimbulkan sesuatu dalam batinnya.
Kemudian, pernah pula berdekapan dengan Kim Cu, akan tetapi, hal itu pun dia lakukan ketika ia diamuk
kedukaan karena kakinya buntung dan diamuk keharuan melihat cinta kasih Kim Cu yang demikian mendalam
kepada dirinya. Berbeda dengan sekarang ini. Sekarang dia berada dalam keadaan sadar dan gadis ini baru
saja dia kenal!
“Lalu... bagaimana...?” bisiknya.
“Kau pandai renang... ah, maafkan, In-kong. Tentu kau tidak bisa...” Gadis itu melirik ke arah kaki yang tinggal
satu itu.
Han Han menghela napas, bukan karena menyesal melihat kakinya buntung. Kebuntungan kakinya bukan
apa-apa lagi baginya, akan tetapi ia menyesal bahwa kebuntungan ini selalu mendatangkan rasa kasihan dan
tidak enak, canggung bagi orang lain.
“Akan tetapi memang tidak perlu berenang,” gadis itu cepat menyambung dengan kata-kata lirih. “Aku
memerlukan selonjor batang pohon itu ke tengah sungai dan kita bersembunyi di bawahnya, berpegang dan
bergantung kepada cabangnya. Dengan demikian, tanpa susah payah kita akan dapat melewati barisan musuh
dengan aman.”
Han Han mengangguk-angguk. Jadi beginikah akalnya gadis cerdik ini? Cerdik dan penuh keberanian karena
kalau sampai akal ini diketahui musuh, tentu dia akan menjadi seperti tikus terjebak!
“Baik sekali, Nona. Akan tetapi bagaimana kita akan bernapas dalam air?”
Gadis itu tersenyum, senyum kemenangan penuh bangga karena kembali dialah yang akan dapat mengatasi
kesulitan itu. Tangan kirinya meraih ke kiri dan jari-jari tangannya yang kecil dan kuat itu telah mematahkan
sebatang alang-alang, mematahkan batang itu ke mulutnya. “Dengan dua tiga batang alang-alang di mulut,
dapat kita menyedot hawa dari permukaan air.”
Han Han memandang kagum. Memang cerdik sekali. Dengan pipa batang alang-alang itu memang mereka
akan dapat tinggal di bawah permukaan air sampai berapa lamanya pun! Permainan yang cerdik, akan tetapi
amat berbahaya. Dengan tubuh di dalam air, berarti sama sekali tidak dapat melindungi tubuh terhadap
bahaya dari luar, seolah-olah hanya menggantungkan nyawa kepada berhasilnya akal itu.
Menggantungkan nyawa kepada batang alang-alang! Betapa bahayanya! Akan tetapi, ia tidak mau
mengecewakan orang dan mengangguk-angguk, bahkan ia lalu berkata, “Aku akan mencari batang pohon itu
di sana.” Sebelum Hian Ceng menjawab, tubuhnya sudah melesat dan lenyap.
Gadis itu tertegun dan mengintai ke arah para tentara yang berada di perahu, akan tetapi tentu saja mereka itu
tidak melihat gerakan Han Han. Sedangkan dia sendiri yang biasanya membanggakan matanya, dan yang
berada dekat sekali dengan Han Han, tidak dapat melihat bagaimana pemuda buntung itu lenyap begitu saja
dari depan hidungnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena percaya penuh akan kelihaian Han Han, maka Hian Ceng tidak mau tinggal diam dan ia lalu mulai
mencari dan mengumpulkan batang alang-alang yang cukup besar dan tua sehingga batangnya kuat, tidak
mudah patah. Ia mengumpulkan sampai sepuluh batang dan tak lama kemudian Han Han kembali dan berbisik.
“Batang pohon sudah siap di sana, dekat tikungan.” Ia menuding.
“Bagus, mari kita ke sana, In-kong. Ini batang jerami alang-alang, kau pakai sebagian.”
Berindap-indap mereka lalu maju ke tepi sungai di tikungan sehingga tidak tampak oleh lima orang tentara di
perahu. Melihat sebatang pohon besar yang jebol bersama akar-akarnya, Hian Ceng terbelalak. Kalau
keadaan tidak demikian genting, tentu ia ingin sekali tahu bagaimana caranya pemuda buntung itu
menumbangkan pohon ini berikut akarnya!
Tanpa banyak cakap lagi, kedua orang muda itu lalu menyeret batang pohon ke sungai, menghanyutkan
batang pohon itu sampai ke tengah sungai dan mereka bergantung pada dahan di bawah batang. Dan batang
alang-alang menyambung mulut mereka dengan hawa di permukaan air, bersembunyi di antara daun-daun
pohon sehingga mudah bagi mereka untuk bernapas. Batang pohon itu hanyut dengan cepat karena arus air di
bagian itu kuat juga.
Han Han bergantung pada dahan pohon dengan jantung berdebar tegang. Bagaimana ia tidak akan merasa
tegang kalau berada dalam keadaan seperti itu, sama sekali tidak dapat menjaga diri, tak dapat menggunakan
kepandaiannya, tidak dapat melihat musuh dan menggantungkan keselamatan dirinya pada dua batang alangalang?
Tiba-tiba tangan Hian Ceng mencengkeram lengan Han Han. Han Han membuka matanya memandang ke
arah atas yang ditunjuk gadis itu. Mula-mula hanya tampak bayangan hitam, akan tetapi lalu tampak kayu
lonjong bergerak. Perahu! Han Han khawatir sekali, jelas ada perahu mendekati batang pohon. Ia lalu
menyembulkan kepalanya, bersembunyi di antara daun-daun pohon itu. Benar saja, perahu dengan lima orang
tentara Mancu berada dekat sekali, dan mereka semua sudah berdiri di perahu dengan tombak di tangan.
Seorang di antara mereka berteriak.
“Awas kawan! Di hawah pohon ini tentu ada ikan-ikan pemberontak, kita panggang mereka, ha-ha-ha!”
Han Han terkejut sekali. Untung dia menyembulkan kepalanya, kalau tidak tentu mereka benar-benar akan
disate oleh tombak-tombak itu. Mereka yang berada di perahu akan dapat melihat Han Han dan Hian Ceng,
sebaliknya mereka yang berada di dalam air sukar untuk dapat melihat gerakan mereka yang di perahu!
Cepat Han Han menyelam lagi dan ketika perahu sudah cukup dekat bagian depannya. Han Han
menggerakkan tongkatnya, mendorong perahu dengan gerakan tiba-tiba sehingga perahu itu terbalik dan lima
orang tentara Mancu itu terlempar ke air! Han Han kagum sekali melihat betapa dengan gerakan yang cepat,
Hian Ceng sudah mengerjakan jari-jari tangannya yang lihai sehingga tanpa mendapat kesempatan sama
sekali, dua orang telah ditotok dan tewas seketika, rambut kepala mereka dicengkeram oleh tangan Hian Ceng.
Han Han juga mengerjakan tongkatnya dan tiga orang tentara yang lain tewas tanpa dapat mengerti mengapa
mereka mati dan oleh siapa. Han Han menahan mayat-mayat mereka dengan tongkat. Mereka berdua
terpaksa menyembulkan kepala ke permukaan air. Untung kedua tepi sungai sunyi di saat itu sehingga
peristiwa itu tidak teriihat oleh tentara lain.
“Kita harus membawa mayat mereka ke tepi. Kalau terhanyut, kita celaka...,” kata Hian Ceng yang hendak
berenang minggir sambil menyeret dua mayat korbannya.
“Biarkan aku melempar mereka ke darat!” Han Han mencegah dan tongkatnya bergerak dan... tubuh seorang
tentara terlempar dan terbanting di tepi sungai. Lima kali Han Han menggerakkan tongkatnya dan lima mayat
itu kini semua sudah menggeletak di pantai sungai. Perahunya yang tersangkut pada pohon itu, oleh Han Han
didorong. Kekuatan mendorongnya luar biasa sekali sehingga perahu itu terdorong bagaikan anak panah
cepatnya sehingga setibanya di tepi, ujung perahu itu menancap pada tanah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka cepat menyelam lagi. Tiba-tiba tangan gadis itu sekali lagi mencengkeram lengannya, Han Han
membuka mata memandang gadis itu yang kelihatan lucu dan aneh sekali karena gerakan air membuat wajah
gadis itu peletat-peletot dan bengkak-bengkok. Hian Ceng mengangkat tangan kanan yang dikepal jari-jarinya
kecuali ibu jari yang diangkat ke atas, di depan hidung Han Han. Ah, kiranya gadis itu hanya ingin menyatakan
kagumnya, hanya ingin memujinya dan karena di dalam air itu tak mungkin mengeluarkan suara, maka gadis
itu mengacungkan jempolnya di depan hidung untuk memuji.
“Kita sudah masuk perbatasan daerah Se-cuan, di sini aman. Pakaian kita basah, kalau tidak dijemur dulu,
bisa masuk angin!”
Han Han hanya mengangguk-angguk kemudian ia membalikkan tubuhnya membiarkan gadis itu membuka dan
menjemur pakaian. Ia mendengar gadis itu mandi di anak sungai yang memuntahkan airnya di Sungai Cia-ling.
Benar-benar mengherankan sekali. Setengah hari lamanya sudah merendam tubuh di air, sekarang masih
mandi lagi! Benar-benar wanita merupakan makhluk yang paling aneh, merupakan manusia yang wataknya
kadang-kadang mengherankan sekali. Bahkan watak adiknya sendiri pun kadang-kadang membuat dia
bengong dan menggeleng-geleng kepala, menggaruk-garuk belakang telinga. Kini ia pun menggeleng kepala
dan menggaruk telinga tanpa disadarinya.
“Heiiiiii...! In-kong, kenapa kau menggeleng kepala dan menggaruk belakang telinga?” terdengar teriakan gadis
itu dari belakangnya. Bukan main! Sudah mandi, kiranya masih mencurahkan perhatian kepadanya sehingga
semua gerak-geriknya diketahuinya belaka!
“Aku heran mendengar engkau mandi, Nona,” kata Han Han sambil membuka bajunya, memeras air dari
bajunya dan menggantungkannya di tempat panas bersama pakaiannya yang hanya satu stel. Celananya
tetap ia pakai dan dia pun duduk di tempat panas untuk mengeringkan celana yang dipakainya.
“Mengapa heran mendengar orang mandi? Apakah engkau belum pernah mendengar orang mandi?”
“Bukan begitu maksudku. Baru saja kita keluar dari dalam sungai di mana kita berendam sampai setengah hari.
Mengapa engkau mandi lagi, Nona?”
“Mengapa tidak? Air Sungai Cia-ling kotor, dan air sungai kecil ini amat jernih.” Kini suara gadis itu terdengar
dekat, agaknya sudah selesai mandi. “Dan engkau tidak perlu lagi membelakangiku, In-kong. Aku sudah
bersembunyi di balik semak-semak.”
Han Han membalikkan tubuhnya, duduk menghadapi semak-semak dan sungai. Namun ia masih dapat
melihat bayangan tubuh gadis yang telanjang itu di antara celah-celah daun semak-semak itu. Terpaksa ia
menundukkan mukanya agar matanya jangan sampai melihat bayangan itu.
Sunyi sejenak. Gadis itu memeras pakaiannya yang basah dan yang baru saja dicucinya, kemudian dari
bayangan yang dikerlingnya sebentar untuk mengetahui apa yang dilakukan Hian Ceng, Han Han dapat
menduga bahwa gadis itu sedang menyambung bagian kain yang robek dengan benang-benang yang ia cabut
dari kain pengikat kepalanya.
“Mengapa diam saja, In-kong? Apa yang kau pikirkan?” Tiba-tiba pertanyaan ini mengejutkan Han Han dan
menyadarkannya dari lamunan.
“Eh, tidak apa-apa. Akalmu tadi baik sekali, Nona.”
“Uh, baik apa? Buruk sekali! Hampir saja celaka. Akal itu sudah kuno, tidak memenuhi syarat lagi. Musuh
sudah tahu, perlu diganti dengan akal yang lebih tepat.” Hian Ceng lalu bercerita panjang lebar tentang semua
pengalamannya sambil menanti keringnya pakaian.
Dari cerita ini tahulah Han Han bahwa gadis ini memang seorang gadis pejuang, gadis yang semenjak berusia
tujuh tahun sudah ditinggal mati ibunya, kemudian ikut dengan ayahnya ke mana pun It-ci Sin-mo Tan Sun
yang sudah tua itu pergi. Dia diajak berjuang oleh ayahnya, tak tentu tempat tinggalnya, sebagian besar hidup
di dalam hutan-hutan di atas gunung-gunung dan di tempat-tempat liar!
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengertilah Han Han mengapa sikap gadis ini terbuka, lincah liar dan polos. Agaknya, hidupnya selama ini di
tempat-tempat terbuka, bersama-sama dengan para pejuang, hidup penuh kekerasan, menghadapi banyak
bahaya maut bersama pejuang yang sudah mengeras wataknya dan menjadi kasar, membuat gadis ini
menjadi gadis alam. Pantas saja tidak pemalu seperti gadis-gadis kota, dan tidak merasa canggung biar pun
kini ia bercakap-cakap dengan Han Han dalam keadaan telanjang, biar pun tertutup semak-semak.
Setelah pakaian mereka kering dan tubuh mereka yang tadinya dingin menjadi hangat oleh sinar matahari,
Hian Ceng berpakaian dan muncul dari balik semak-semak. Wajahnya segar dan bersih, rambutnya terurai
lepas, pakaiannya sudah tertutup rapat dan dia memandang Han Han yang sudah sejak tadi berpakaian
dengan wajah berseri.
“In-kong, marilah kuperlihatkan padamu daerah Se-cuan yang indah, kuperkenalkan daerah pejuang!” Ia lalu
berlari-lari cepat.
Han Han segera berloncatan mengejar gadis yang mendaki pundak itu. Kegembiraan gadis itu menular
kepadanya sehingga dengan kaget dan heran akan tetapi juga senang ia sadar dan teringat betapa kini hatinya
tidak begitu tertekan lagi, semangatnya tidak lemah lagi seperti sebelum ia bertemu dengan Hian Ceng. Ah,
melihat gadis itu yang demikian lincah gembira, melihat dia hidup seperti tidak mengenal susah padahal baru
saja ditinggal mati ayahnya, benar-benar menyadarkannya bahwa hidup ini sebetulnya tidaklah begitu buruk!
Tak lama kemudian kedua orang ini tiba di sebuah puncak di Pegunungan Cin-ling-san dan Hian Ceng
berhenti. Han Han kagum sekali. Memang pemandangan di situ amat indahnya, sungguh pun dia harus
mengakui bahwa ia lebih tertarik dan merasa lebih indah ketika memandang sepasang mata yang bersinarsinar
gembira, bibir yang tersenyum dan agak terbuka karena terengah-engah, pipi yang kemerahan dan segar,
rambut yang sudah kering betul dan melambai-lambai tertiup angin seperti benang-benang sutera.
“Lihatlah, In-kong. Puncak-puncak Pegunungan Ta-pa-san di timur dan puncak-puncak Pegunungan Min-san
di barat tampak semua dari sini. Seperti juga di lembah Cin-ling-san ini, di lembah kedua gunung itu pun
terjaga oleh barisan Mancu. Berkali-kali pihak Mancu menyerang dari tiga daerah pegunungan ini, akan tetapi
kami selalu dapat memukul mundur mereka. Daerah Se-cuan memang amat tepat menjadi pusat perjuangan
melawan Mancu. Daerah yang dikurung gunung-gunung. Puncak yang amat tinggi dan jauh di barat itu, di balik
Pegunungan Min-san, adalah Pegunungan Bayangkara. Di sebelah selatan Min-san disambung dengan
Pegunungan Ciung-lai-san, dan di tapal batas sebelah selatan masih disambung lagi oleh Pegunungan Taliang-
san. Daerah timur ditutup oleh Sungai Yang-ce-kiang dan bala tentara Bu-ongya dikerahkan untuk
menjaga tapal batas di timur sepanjang Sungai Yang-ce-kiang, dan di utara di lembah-lembah Gunung Ta-pasan
dan Min-san.”
Sambil memandang ke sekeliling dari tempat tinggi ini, Han Han kagum akan pengetahuan gadis itu tentang
keadaan dan daerah itu.
“Pusat pemerintah di mana Bu-ongya tinggal berada di kota raja Cung-king, dan semua benteng pertahanan
yang dijadikan pusat para pejuang yang membantu Bu-ongya tersebar di tiga tempat, yaitu Cung-king, Kwangyang
dan Wan-sian. Engkau sendiri harus ke Cung-king, In-kong, selain untuk bertemu dengan Bu-ongya, juga
di sana tentu engkau akan bertemu dengan para pejuang lain yang sudah In-kong kenal. Mari kita turun dan
melanjutkan perjalanan. Biar pun sekarang telah memasuki daerah sendiri yang aman, akan tetapi perjalanan
masih harus ditempuh dua hari dua malam dan amat sukar perjalanannya, baru kita akan bertemu dengan
penjaga-penjaga. Nanti aku akan menyuruh mereka mengantar In-kong ke Cung-king.”
“Dan kau sendiri, Nona?”
“Aku akan pergi mencari adikmu, kumulai dengan mencarinya di Kwang-yang.”
“Aku pun hendak mencari adikku. Memang untuk keperluan itulah aku memasuki Se-cuan.”
“Benar, akan tetapi sebagai seorang yang baru saja memasuki Se-cuan, In-kong adalah seorang asing. Kalau
tidak menghadap dulu ke Cung-king, tentu akan banyak menimbulkan kesulitan bagi In-kong sendiri yang akan
dicurigai di mana-mana. Selain itu, sudah sepatutnyalah kalau orang memasuki daerah yang sedang bergolak,
terlebih dahulu menghadap Bu-ongya yang dapat dikatakan sebagai tuan rumahnya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu pandai sekali berdebat dan Han Han terpaksa membenarkannya. Mereka lalu menuruni puncak itu
dan setelah hari menjadi gelap, Hian Ceng mengajak Han Han beristirahat di sebuah lereng gunung di mana
terdapat sebuah gubuk kecil di pinggir hutan, gubuk yang menurut kata Hian Ceng sengaja dibuat oleh para
pejuang untuk tempat istirahat.
Hian Ceng benar-benar mengenal daerah itu. Dia pergi sebentar dan datang lagi membawa buah-buahan dan
seekor ayam hutan yang gemuk. Sambil bernyanyi-nyanyi Hian Ceng membersihkan dan memanggang daging
ayam itu, kemudian mereka makan dan minum air jernih.
Malamnya, Hian Ceng yang sudah lelah sekali tidur di dalam gubuk, di atas dipan bambu, rebah miring. Dingin
sekali malam itu. Han Han duduk tidak jauh dari tempat Hian Ceng rebah karena gubuk itu hanya sempit saja,
dan biasanya, para pejuang yang kemalaman di tempat ini tidur saja di atas dipan yang memenuhi gubuk,
berderet-deret seperti ikan bandeng. Hal ini juga sudah dikatakan oleh Hian Ceng tadi ketika gadis yang sudah
biasa hidup di alam liar ini hendak tidur dan merebahkan tubuhnya miring.
“In-kong, mari kita tidur. Kita harus mengaso karena perjalanan besok masih jauh!”
Wajah Han Han merah sekali mendengar ajakan itu, untung bahwa sinar api unggun yang merah
menyembunyikan warna mukanya. “Tidurlah, Nona.”
“Eh, masa engkau duduk saja? Tidurlah, tempat ini cukup lebar. Biasanya kami juga tidur di sini, bersama
Ayah dan para Paman. Mengapa malu? Nih, di belakangku masih lega, rebahlah di sini.”
Akan tetapi tentu saja Han Han hanya dapat menggeleng kepala dan pura-pura tidak memperhatikan gadis itu
dengan menambah kayu pada api unggun. Ia mengerti bahwa gadis yang biasa hidup di alam terbuka, biasa
mengalami kesukaran hidup bersama para pejuang lainnya, menganggap tidur bersama seperti itu biasa saja!
Bahkan bertelanjang di depannya pun tadinya dianggap bukan apa-apa. Ia baru marah karena pandang mata
Han Han yang terpesona! Benar-benar gadis yang jujur, polos dan murni.
Akan tetapi dia yang sudah kenyang membaca kitab-kitab, tahu akan segala peradaban, segala kesusilaan
dan kesopanan, bagaimana mungkin dapat rebah di samping seorang gadis? Kalau rebah dan tidur
sepembaringan dengan Lulu, hal itu sih tidak terlalu menyiksa perasaan. Akan tetapi dengan gadis yang baru
dikenalnya ini? Tak mungkin!
Perut yang kenyang membuat Han Han mengantuk juga. Memang tubuhnya amat lelah dan sudah beberapa
malam ia tidak tidur. Sambil duduk bersandar tiang bambu gubuk itu, Han Han melenggut.
“Huhhhhh... dinginnnnn...!” Suara Hian Ceng membangunkannya.
Han Han melihat api unggun hampir padam. Hawa malam itu memang dingin sekali. Bagi Han Han tentu saja
tidak terasa dingin. Dibandingkan dengan hawa di Pulau Es, hawa dingin malam ini di puncak gunung bukan
apa-apa!
Akan tetapi ia melihat tubuh gadis yang rebah miring itu agak menggigil. Hian Ceng masih tidur dan mungkin
saking dinginnya tadi sampai terucapkan mulutnya. Kedua kakinya ditekuk, kedua lengan memeluk tubuh
sendiri, kepala ditundukkan sedalam mungkin sehingga tubuh itu seperti hendak melingkar macam tubuh ular!
Han Han merasa kasihan, lalu menambah kayu pada api unggun. Setelah api unggun membesar, ia lalu
mengeluarkan satu stel pakaiannya yang tadi sudah dikeringkan, duduknya digeser mendekati Hian Ceng dan
diselimutkanlah pakaiannya itu ke atas tubuh Hian Ceng.
Hian Ceng menghela napas senang, tangannya meraih ‘selimut’ ini dan tanpa disengaja jari-jari tangannya
mencengkeram pula tangan Han Han. Ia menarik ‘selimut’ itu makin ke atas dan memeluk pula tangan Han
Han. Pemuda ini berdebar jantungnya, akan tetapi tidak berani bergerak, khawatir kalau membangunkan gadis
itu sehingga Hian Ceng tentu akan menjadi malu sekali. Maka ia membiarkan saja tangannya dipeluk dan
didekap ke atas dada Hian Ceng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terasa oleh telapak tangannya betapa jantung gadis itu berdetak halus, betapa dada itu turun naik dengan
halus pula, tanda bahwa gadis itu sudah pulas. Namun tangannya didekap dengan kedua tangan oleh gadis itu
dan Han Han terpaksa menyandarkan lagi tubuhnya ke dinding, menekan perasaannya, ‘mematikan’ perasaan
tangannya yang menumpang dada, lalu ia pun tertidur.
Paginya, kokok ayam hutan dan bau sedap menyengat hidung membuat Han Han terbangun. Ia membuka
mata dan cepat menengok ke arah tangannya yang masih terulur ke kanan. Kiranya tangannya itu kini bukan
terletak di atas dada Hian Ceng, melainkan di atas tumpukan pakaiannya yang semalam ia selimutkan ke
tubuh gadis itu. Ia menengok ke arah kiri dan melihat Hian Ceng dengan wajah segar, agaknya sudah mandi
sepagi itu, sedang memanggang daging, agaknya daging kelinci. Mendengar Han Han terbangun, gadis itu
menengok dan berkata mencela.
“In-kong, engkau sungguh terlalu. Semalam suntuk tidur sambil duduk saja!”
Han Han menjadi merah mukanya, teringat betapa semalam ia meletakkan tangan di atas dada orang,
perbuatan yang sungguh tidak patut sungguh pun tidak ia sengaja.
“Nona, sepagi ini sudah memanggang daging?”
Nona itu tertawa. “Lekaslah mencuci muka, daging sudah hampir matang!”
Han Han tersenyum dan menyambar tongkatnya, berloncatan ke anak sungai yang mengalir dekat gubuk itu.
Setelah mencuci muka dan mulut, ia kembali ke gubuk. Hian Ceng sudah menyiapkan panggang daging dan
dua cawan besar berisi air panas. Kiranya di sudut gubuk itu memang tersedia ceret untuk memasak air dan
beberapa buah cawan, tersedia ceret untuk memasak air dan beberapa buah cawan.
Setelah selesai makan daging yang sedap, mereka menghirup air panas. Han Han berkata, “Nona, mulai
sekarang harap kau hilangkan saja sebutan In-kong itu. Andai kata benar aku pernah menolongmu, namun
sudah terbalas impas oleh pertolonganmu yang berkali-kali terhadap aku.”
“Habis, disuruh menyebut apa? Kongcu?”
“Ihhh, orang macam aku mana patut disebut Tuan Muda?”
“Ah, ya! Semestinya aku menyebutmu taihiap!”
“Jangan, sebut saja namaku, atau sebut saja twako karena aku lebih tua dari padamu, Nona.”
“Ah, mana pantas? Aku menjadi tidak sopan kalau begitu!”
“Nona, setelah apa yang kita bersama alami selama ini, menghadapi bahaya maut dan kita sudah seperti
sahabat lama, bahkan lebih dari itu, seperti saudara, perlu lagikah kita bersopan-sopan?”
“Hemmm, kalau engkau juga begitu sopan terhadap aku, In-kong, bagaimana aku tidak seharusnya bersikap
sopan pula kepadamu? Engkau menyebutku Nona, bukankah itu bersopan-sopan namanya? Kalau engkau
menyebutku adik, tentu aku juga akan ikut menyebutmu kakak.”
Han Han tersenyum. Memang harus ia akui kalau berhadapan dengan seorang gadis yang masih asing, dia
merasa likat dan janggal, malu-malu dan gugup. “Baiklah, Moi-moi. Baiklah, Ceng-moi (Adik Ceng), dan kau
sebut saja Twako kepadaku.”
“Twako siapa? Engkau sudah mengetahui namaku, tetapi aku belum tahu siapakah sebetulnya penolong
besarku ini!”
Kembali Han Han tersenyum. Berdekatan dengan Hian Ceng ini benar-benar dapat mendatangkan
kegembiraan sekaligus mengusir mendung kedukaan yang selama ini menyelimuti pikirannya, sejak ia
kehilangan Lulu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Adikku yang baik, namaku Sie Han. Tetapi Lulu dan kawan-kawan baikku menyebutku Han Han.”
“Han-twako!” Dengan sikap manja dan genit dibuat-buat sehingga tampak lucu sekali Hian Ceng lalu menjura
dan bersoja kepada Han Han.
Mereka melanjutkan lagi perjalanan itu, naik turun gunung dan pada keesokan harinya, setelah malam tiba,
kembali mereka bermalam di puncak terakhir.
“Sekali ini terpaksa kita harus bermalam di bawah pohon, Twako.”
Han Han merobohkan seekor kijang dengan batu dan malam itu perut mereka kenyang dengan daging kijang
yang sedap dan gurih, akan tetapi yang dimakan setelah dipanggang tanpa bumbu. Mereka duduk berdekatan
melepaskan lelah di bawah pohon, bersandar batang pohon yang amat besar itu. Setelah kini berganti sebutan,
Han Han merasa biasa dan tidak begitu likat lagi terhadap Hian Ceng, dan makin sukalah hatinya kepada
gadis ini yang dapat mengobati sakit di hatinya karena rindu kepada adiknya.
“Lima tahun yang lalu, kalau tidak ada Paman Thio Kai, aku dan Ayah telah mati di sini,” kata Hian Ceng
sambil termenung, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan dengan ayahnya dan lewat
serta bermalam di tempat itu.
“Mengapa? Apa yang terjadi?” Han Han menoleh, melihat betapa rambut gadis itu menjadi kekuningan
tertimpa sinar bulan yang telah muncul tinggi.
“Kami diserang halimun beracun...”
“Halimun beracun? Apa itu?”
“Aku sendiri tidak tahu, Twako, akan tetapi menurut keterangan Paman Thio kemudian, halimun beracun itu
mengandung inti hawa yang tak mungkin tertahan oleh manusia sehingga manusia yang bertemu dengan
halimun beracun di atas gunung tentu akan mati membeku kalau tidak mempunyai pengalaman dan dapat
cepat menyelamatkan diri seperti yang dilakukan Paman Thio.”
“Apa penolaknya?” Han Han tertarik sekali. “Kan bisa membuat api unggun?”
“Api akan padam karena kayu bakarnya tiba-tiba menjadi dingin membasah. Untung Paman Thio yang sudah
biasa menjelajahi gunung-gunung tinggi bahkan pernah mendaki Gunung Himalaya, sudah cepat menuangkan
minyak di atas kayu dan membakarnya. Dengan terus menambah minyak, api unggun itu tidak menjadi padam,
dan Paman Thio menyuruh kita menggali lubang secepatnya di tanah dekat api unggun. Kami semua
berlindung di dalam lubang dan dihangatkan oleh api minyak. Kami selamat, akan tetapi pada keesokan
paginya kami mendapatkan sebelas orang teman yang juga diserang halimun beracun itu telah mati dalam
keadaan mengerikan. Mereka itu ada yang masih duduk bersila, ada yang memeluk batang pohon, akan tetapi
kesemuanya sudah mati kaku dan semua darah di tubuh mereka membeku!”
Han Han tertarik sekali. Ia membayangkan betapa panik dan menderitanya orang-orang yang terserang hawa
dingin yang melebihi kekuatan daya tahan tubuh manusia. Orang-orang yang menjadi teman-teman
seperjuangan ayah gadis ini tentulah bukan orang sembarangan dan sudah memiliki sinkang yang kuat,
namun tetap saja tidak dapat bertahan terhadap serangan hawa dingin dari halimun beracun itu.
“Twako, celaka...!” Tiba-tiba Hian Ceng berteriak kaget.
Han Han cepat menoleh dan baru ia melihat betapa api unggun yang tadi bernyala besar tiba-tiba padam dan
tempat itu menjadi gelap. Rambut Hian Ceng tidak bersinar kuning lagi, bahkan makin lama makin tak tampak,
sedangkan hawa menjadi luar biasa dinginnya!
“Han-twako... halim... mun... beracun... kita lari saja..., akan tetapi ke mana... yang tidak ada halimunnya...?”
Suara Hian Ceng sudah menggigil, agaknya gadis itu takkan dapat bertahan lama. Memang Han Han dapat
merasakan betapa dinginnya kabut hitam yang disebut halimun beracun ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Han-twako...!”
“Ceng-moi, tenanglah. Ada aku di sini, jangan khawatir.”
“Di... dinginnn... tak tertahankan...”
“Menggeserlah ke sini, jangan tempelkan punggungmu ke pohon. Biar kubantu engkau melawan dingin.”
Hian Ceng tadi sudah mengerahkan sinkang-nya, akan tetapi rasanya percuma saja, hawa dingin makin
menusuk-nusuk dan telinganya mendengar suara menderu aneh seperti banyak iblis tertawa-tawa. Ia masih
dapat mendengar perintah Han Han, maka ia menggeser duduknya ke kiri, mendekati pemuda itu. Tiba-tiba ia
merasa betapa sebuah telapak tangan meraba kemudian menempel di punggungnya, tepat di tulang punggung.
Belum lama telapak tangan pemuda itu menempel di punggungnya, tiba-tiba ia merasa ada serangkum hawa
panas menyengat punggung.
Ia terkejut dan merintih lirih, akan tetapi kemudian hawa panas membakar itu perlahan-lahan membuyar dan
tergantilah hawa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan terus hawa hangat itu berputaran dari ujung
kaki sampai ke ubun-ubun! Serangan hawa yang tadinya amat dingin itu kini terasa hangat dan nyaman sekali
sehingga Hian Ceng menjadi mengantuk bukan main! Tanpa disengaja ia menyandarkan tubuhnya ke
belakang dan kepalanya berbantal dada Han Han, matanya sukar dibuka lagi saking mengantuknya! Akan
tetapi ada bisikan di dekat telinganya.
“Ceng-moi, jangan tidur... kerahkan sinkang-mu, terima bantuan Yang-kang dariku dan salurkan ke seluruh
tubuh, kalau kau tidur, berbahaya...!”
Hian Ceng teringat dan menjadi terkejut. Biar pun ia masih menyandarkan kepalanya, kini ia mengerahkan
sinkang-nya dan benar saja, hawa hangat itu yang tadinya berhenti kini mengalir kembali.
Kurang lebih sejam kemudian, Han Han berkata, “Sudah aman... kabut dingin sudah lewat!”
Akan tetapi begitu ia menghentikan pengerahan sinkang-nya, Hian Ceng tak dapat menahan kantuknya dan ia
sudah tidur nyenyak berbantal pundak Han Han dan karena kepalanya miring maka dahinya menempel dagu
Han Han!
Pemuda ini menghela napas panjang, berbahaya, pikirnya. Benar-benar kekuasaan alam amat dahsyat. Kalau
saja ia dahulu tidak tekun berlatih di Pulau Es, agaknya sinkang-nya tidak akan mampu melawan halimun
beracun itu. Suara aneh seperti banyak iblis tertawa tadi adalah suara daun-daun yang membeku dan rontok!
Kini sinar bulan tampak lagi dan ia menunduk. Wajah Hian Ceng tertimpa sinar bulan, bukan main cantiknya.
Jantung pemuda ini berdebar keras dan ia merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi panas.
“Alangkah cantiknya... bibir itu... begitu dekat, mata tertutup dihias bulu-bulu mata yang bersatu, kelihatan
panjang melentik, kedua pipi yang merah, segar bagaikan buah apel... hawa yang hangat berhembus dari
hidung dan mulut yang setengah terbuka. Kalau aku menciumnya, siapa yang tahu?” Demikian terdengar
bisikan hatinya dengan suara merayu dan membujuk.
“Gila engkau!” hardik suara lain di dasar hatinya. “Buang jauh-jauh niat busuk, kotor dan cabul itu!”
“Aaahhhhh, siapa bilang kotor dan cabul? Dia begini cantik manis, seperti setangkai bunga atau sebutir buah
masak. Betapa sayangnya bunga harum tidak dicium dan buah manis tidak digigit. Hayolah, hanya sekali
ciuman di bibir yang menggairahkan itu, apa salahnya? Dia tidak akan marah, karena dia tidak tahu dan...,”
suara itu makin lembut, “Andai kata dia tahu sekali pun, dia tidak akan marah. Sinar matanya padamu begitu
lembut, membayangkan kagum dan sayang...”
“Tidak!” Suara ke dua membentak. “Seorang gagah menggunakan kesempatan begini, untuk mencuri ciuman!”
“Bukan mencuri...,” bantah suara ke dua halus. “Baru saja engkau menyelamatkan nyawanya dari bahaya
maut, dibalas sekali ciuman mesra apa salahnya? Dan ingat, dia sendiri yang menyandarkan kepalanya di
bahumu, dia begitu mesra... kau seorang laki-laki muda, masa begitu bodoh...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han memandang wajah itu, bibirnya menggigil, matanya menjadi sayu. Bukan main! Wajah itu demikian
cantiknya, cantik jelita melebihi segala keindahan yang pernah dilihatnya! Tak dapat menahan lagi dia! Dia
harus mencium wajah Hian Ceng, biar pun hanya satu kali, biar pun dengan mencuri. Mulut itu begitu dekat,
dia tinggal menunduk sedikit saja dan bibir mereka akan bertemu. Mesra!
Han Han sudah menunduk, tiba-tiba bagaikan kilat berkelebat memasuki otak dan ingatannya, ia terbayang
akan peristiwa di Istana Pulau Es ketika dia terpengaruh racun dan dengan penuh gairah dan birahi memuncak,
dia dan Lulu juga saling mencumbu, dan saling memeluk cium dan betapa kemudian dia merasa amat
menyesal dan untung masih belum terlanjur!
Ketika bibirnya menyentuh bibir Hian Ceng, Han Han teringat dan dengan kaget sekali ia mendapat kenyataan
bahwa saat itu ia hendak mengulangi lagi adegan yang dulu ia lakukan bersama Lulu di bawah pengaruh
racun! Dan sekarang, tidak ada racun yang mempengaruhi dirinya, namun mengapa ada dorongan yang
mukjizat mendesaknya sehingga ia ingin sekali melumat bibir itu penuh nafsu, mencengkeram dan membelai
tubuh di depannya ini? Mengapa?
Tiba-tiba Han Han merenggutkan mukanya dari muka gadis itu, membalikkan tubuhnya dan membentak,
“Bedebah Suma Hoat...!”
Tangannya yang mengerahkan tenaga sinkang telah menghantam pohon itu sehingga terdengar suara keras,
tangannya menerobos masuk ke dalam batang pohon besar sampai sesiku dan pohon itu bergoyang keras,
daun-daunnya banyak yang rontok berguguran!
“Aihhhhh...! Ada... ada apa...?” Hian Ceng meloncat kaget dan mundur-mundur melihat Han Han berdiri tegak
dengan muka tersinar cahaya bulan, amat menyeramkan. Tiba-tiba gadis ini menjerit lagi ketika Han Han
melompat dan menghantam sebatang pohon di sebelah kirinya, kini menggunakan dorongan dengan tenaga
sinkang sehingga pohon itu roboh, lalu meloncat ke kanan mendorong roboh pohon lain, mulutnya memakimaki.
“Si keparat engkau, Suma Hoat...!”
Sudah ada sepuluh batang pohon roboh oleh amukan Han Han.
“Han-koko...!” Seruan yang merupakan jerit melengking ini memasuki telinga Han Han seperti suara Lulu,
seketika lemaslah tubuhnya, otot-ototnya seperti dilolos dan ia menoleh dan berbisik.
“Lulu...!” bisiknya mengandung isak.
Hian Ceng menubruk dan merangkulnya, berkata dengan suara penuh kekhawatiran.
“Han-koko...! Kau kenapakah...?”
Han Han mengangkat tangannya, mengelus kepala gadis itu dan hatinya lega. Kini telah minggat nafsu birahi
yang tadi membakarnya, telah lenyap dorongan hati yang ia anggap sebagai warisan watak dan darah
kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat. Kini ia dapat membelai rambut gadis itu tanpa nafsu birahi, sewajarnya
timbul dari kasih seperti kalau dia membelai rambut Lulu.
“Tidak apa-apa, Ceng-moi. Tadi aku mengusir setan...”
Tubuh gadis itu menggigil. “Aihhh... betul-betulkah ada iblis yang menggerakkan halimun beracun tadi?”
Han Han mengangguk. Pada saat seperti itu lebih baik dia membohong. Tidak mungkin ia menceritakan
keadaan yang sebenarnya. “Agaknya begitulah, Moi-moi. Akan tetapi iblis-iblis itu telah pergi dan kabut dingin
telah lenyap. Mari kita membuat api unggun.”
Setelah api unggun menyala dan hawa menjadi hangat, keduanya bersandar pada pohon dan berusaha untuk
tidur. Namun Han Han tak dapat memejamkan mata sekejap pun, hatinya masih ngeri kalau ia membayangkan
dunia-kangouw.blogspot.com
gelora nafsu yang menguasainya tadi. Juga gadis itu tidak tidur lagi, hatinya masih ngeri kalau mengingat
halimun beracun.
“Twako, besok kita berpisah, Twako akan ke Cung-king bersama para penjaga yang akan kita temui di kaki
gunung besok pagi, dan aku akan mulai mencari adikmu ke Kwang-yang.”
“Hemmm, baiklah, Ceng-moi.”
“Twako, dua kali kau sudah menyelamatkan aku. Pertama menyelamatkan aku dari pada bahaya yang
mengerikan sekali, kedua menyelamatkan aku dari pada maut di cengkeraman iblis halimun beracun. Twako,
kau sungguh baik sekali...”
“Sudahlah, Moi-moi. Tidak perlu menyebut-nyebut hal itu lagi...” Han Han mendekati api unggun dan
menambah kayu sehingga api menyala lebih besar. “Tidurlah...”
“Twako, aku akan mencari adikmu sampai dapat! Sungguh, akan kukerahkan segala kemampuanku untuk
mencarinya. Kalau sudah dapat kubawa kepadamu... Twako, kau berjanjilah... kau perbolehkan aku ikut
denganmu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan di dekatmu aku merasa aman, merasa tenteram dan
senang.”
“Ceng-moi, hal itu belum perlu dibicarakan sekarang. Kau tidurlah...” Suara Han Han terdengar terharu penuh
duka, dan kembali pemuda ini menambah kayu pada api unggun sehingga nyalanya makin membesar.
Tiba-tiba Hian Ceng sudah berjongkok di sebelahnya, memegangi kedua lengannya dan berkata, “Han-koko,
mengapa engkau berduka lagi? Engkau agaknya menderita sekali... ahhh, percayalah, Koko, aku pasti akan
berusaha dengan seluruh jiwa ragaku untuk membahagiakanmu...”
Han Han memandang dan betapa kaget hatinya ketika melihat pandang mata gadis ini persis pula pandang
mata Kim Cu, juga pandang mata Sin Lian dan pandang mata mendiang Lu Soan Li! Pandang mata penuh
cinta kasih! Cepat ia membuang muka dan merenggut lengannya dengan halus.
“Ceng-moi... maafkan aku, biarkanlah aku sendiri... tidurlah dan besok pagi dapat kita bicarakan lagi...!” Di
dalam suaranya terbayang penuh permintaan sehingga gadis itu menjadi kasihan, menarik napas panjang dan
kembali ke pohon, bersandar mencoba tidur. Akan tetapi, berkali-kali ia menengok dan memandang Han Han
yang duduk menghadapi api unggun, membelakanginya. Baru setelah menjelang pagi gadis itu dapat tidur
pulas.
Akan tetapi, ketika sinar matahari yang menembus celah-celah daun mencium pipinya dan membangunkannya,
Hian Ceng tidak melihat lagi Han Han berada di situ. Pemuda itu sudah pergi dan di atas tanah dekat api
unggun yang sudah padam, Hian Ceng melihat tulisan yang cukup jelas.
Aku ke Cung-king, tak pertu dikawal. Sampai jumpa.
Hian Ceng menghela napas panjang. Dunia terasa sunyi setelah pemuda buntung itu meninggalkannya. Akan
tetapi ia tidak merasa khawatir bahwa Han Han pergi ke Cung-king tanpa pengawal. Pemuda buntung itu
bukan manusia biasa, kepandaiannya hebat dan agaknya akan mampu mengatasi segala perkara yang
dihadapinya. Hian Ceng kembali menghela napas, teringat akan semua pengalamannya dengan Han Han
yang biar pun hanya berkumpul beberapa hari namun amat mengesankan dan menegangkan hatinya.
Ah, ia merasa yakin bahwa Han-koko-nya akan mampu mengatasi segala perkara yang menimpa dirinya, akan
tetapi ia ragu-ragu apakah pemuda itu akan dapat mengatasi dirinya sendiri. Pemuda itu kelihatan selalu
berduka, dan peristiwa malam itu sungguh mengerikan, ketika pemuda itu berperang dengan ‘iblis’ yang ia
dapat menduga tentu berada dalam dirinya sendiri. Pemuda itu sering kali menderita hebat karena di dalam
tubuhnya terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan!
Dia harus mencari Lulu sampai dapat, membawanya kepada Han Han kemudian dia tidak akan mau berpisah
lagi! Setelah mengambil keputusan ini dalam hatinya, Hian Ceng pergi dari situ ke Kwang-yang.....
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Seperti ketika dia memasuki kota raja Peking, ketika Han Han memasuki Cung-king buntungnya sebelah
kakinya tidak menarik perhatian orang karena di Se-cuan pun banyak terdapat penderita cacat akibat perang.
Hanya rambutnya yang panjang dan sinar matanya yang tajam luar biasa itulah yang menarik perhatian orang.
Sebaliknya, Han Han menjadi kagum ketika ia memasuki kota besar ini karena ia merasa seolah-olah
memasuki sebuah dunia yang lain.
Amat jauh bedanya keadaan di kota ini dengan kota-kota lain di luar perbatasan. Bukan hanya cara berpakaian
dan rambut, di mana tidak tampak rambut dikuncir seperti di kota-kota jajahan, juga cara mereka itu bicara,
pandang mata dan sikap penduduk ini semua bersemangat dan gagah. Belum lama ia memasuki kota Cungking
dan sedang mencari-cari di mana gerangan istana tempat tinggal Bu Sam Kwi, raja muda yang
menguasai daerah Se-cuan dan yang namanya terkenal sekali, atau di mana kiranya ia akan dapat bertemu
Sin Kiat, tiba-tiba ada orang memegang lengannya dan berkata.
“Sahabat muda, marilah singgah di rumahku. Tentu engkau baru datang dari garis depan, bukan?”
Han Han menengok dan melihat seorang laki-laki setengah tua yang sikapnya ramah sekali. Hatinya terharu
ketika melihat bahwa orang ini pun buntung sebelah kakinya, terpincang-pincang dan membawa tongkat
seperti dia. Tubuhnya tinggi besar dan kuat, dan seluruh sikapnya jelas membayangkan bahwa orang ini tentu
seorang pejuang.
“Terima kasih, Paman. Aku ada perlu penting, tidak mempunyai banyak waktu,” jawab Han Han ramah.
“Kalau begitu, mari kita minum teh hangat di warung itu. Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang
perang. Tentu menarik sekali. Nasib kita sama, sebelah kakiku pun hilang dalam perang. Akan tetapi aku tidak
menyesal. Jangankan hanya satu kaki, biar nyawaku sekali pun kurelakan demi membela bangsa dari
cengkeraman penjajah!”
Han Han merasa jantungnya tertikam. Dia terharu sekali. Orang ini benar-benar bahagia. Biar kehilangan kaki,
tetapi orang ini kehilangan dengan hati rela karena kakinya hilang tidak percuma, namun untuk perjuangan
membela bangsa. Kehilangan kakinya bahkan merupakan pupuk bagi suburnya semangat perjuangan. Kalau
dia? Kakinya buntung dengan sia-sia. Konyol! Hatinya terharu dan ia tidak dapat menolak lagi. Keduanya
terpincang-pincang memasuki warung makan. Penjaga warung menyambut mereka dengan wajah ramah.
Mereka makan bubur ayam dan minum teh panas yang dipesan laki-laki besar buntung itu. Bermacam-macam
pertanyaannya yang dijawab dengan singkat saja oleh Han Han. Untuk menyenangkan hati orang itu dan
menghindarkan kecurigaan, dia membenarkan bahwa dia kehilangan kaki ketika dia membantu pihak pejuang
dalam perang melawan penjajah. Akhirnya Han Han menutup kata-katanya dengan ucapan sungguh-sungguh.
“Paman yang gagah, terima kasih atas keramahanmu. Memang sebetulnya aku bukan anggota pasukan
pejuang, akan tetapi kedatanganku ini membawa berita penting sekali yang harus kusampaikan sendiri kepada
Bu-ongya. Di manakah istananya?”
Tiba-tiba laki-laki buntung itu bangkit berdiri, bersandar pada tongkatnya dan bertanya dengan suara yang
kaku, tidak seramah tadi, “Orang muda, di pihak siapakah kau berdiri? Pangeran Kiu ataukah Raja Muda Bu?”
Han Han menjadi bingung dan menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu, aku tidak di pihak siapa-siapa.”
“Bagus! Mari kita keluar dari sini dan bicara di luar.” Orang itu membayar harga bubur dan teh, menggandeng
tangan Han Han dan terpincang-pincang keluar. Karena kini ada dua orang buntung jalan bersama dan
bercakap-cakap, hal ini menarik perhatian orang juga, tetapi yang ditujukan kepada mereka adalah mata yang
mengandung kasihan.
“Hiante, engkau orang yang baru datang, akan tetapi jasamu sudah jelas karena engkau telah mengorbankan
sebelah kaki untuk perjuangan. Kesetiaan dan kebaktianmu terhadap tanah air dan bangsa sudah terbukti. Aku
tidak tahu apa yang akan kau sampaikan kepada Bu-ongya, akan tetapi kiranya perlu kuberitahukan kepadamu
bahwa di sini terjadi perbedaan paham sehingga timbul tiga macam paham. Pertama adalah paham Bu-ongya
dunia-kangouw.blogspot.com
yang bertekad untuk berjuang mati-matian sampai titik darah terakhir mempertahankan kerajaannya.
Mempertahankan kerajaannya! Mengertikah engkau, Hiante? Dan kedua adalah paham Pangeran Kiu yang
menganjurkan agar berdamai, bukan takluk, berdamai dengan penjajah Mancu dengan syarat-syarat yang
menguntungkan pihak Se-cuan. Nah, yang ketiga adalah paham yang paling murni, tidak mementingkan diri
pribadi, yaitu paham para pejuang yang datang dari luar Se-cuan, yang berjuang demi tanah air dan bangsa,
sama sekali tidak ingin menjadi raja atau mendapat kemuliaan. Seperti... seperti engkau dan aku. Nah, selamat
berpisah, kalau engkau masih hendak mengunjungi Bu-ongya, hal yang tentu saja tidak mungkin atau akan
sulit sekali, nah, itu di sana istananya, yang atapnya menjulang tinggi!” Laki-laki buntung itu lalu meninggalkan
Han Han. Pemuda ini berdiri termangu-mangu dan heran mendengarkan keterangan yang diucapkan dalam
bisikan-bisikan itu.
Ah, dia tidak peduli akan urusan itu. Yang penting, dia harus menyampaikan rencana penyerbuan tentara
Mancu untuk menyelamatkan Se-cuan. Perebutan kekuasaan telah terjadi di mana-mana dan dia tak akan
melibatkan diri. Tugasnya hanya menyampaikan rencana Mancu yang merupakan ancaman bagi rakyat Secuan,
kemudian ia akan mencari Lulu.
Han Han yang telah melangkah, berhenti lagi. Teringat ia akan ucapan laki-laki gagah yang buntung tadi. Lakilaki
itu kehilangan kakinya untuk berdarma bakti kepada tanah air dan bangsa. Kalau dia? Kakinya buntung
dengan sia-sia! Tidak, dia harus pula menyumbangkan tenaga untuk membantu rakyat dan bangsanya yang
terancam penyerbuan Se-cuan. Bala tentara Mancu dibantu orang-orang pandai seperti Setan Botak, Iblis
Muka Kuda, Toat-beng Ciu-sian-li dan masih banyak lagi tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.
Mereka itu bukan hanya membantu penjajah, akan tetapi juga terkenal sebagai tokoh-tokoh kaum sesat yang
sudah sepatutnya kalau dia tentang. Dia akan membantu Se-cuan, bukan semata-mata untuk ikut melibatkan
diri dalam perang yang dibencinya, namun terutama sekali untuk membela rakyat yang akan menderita karena
penyerbuan bala tentara Mancu, untuk menentang tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat itu. Bukankah adiknya
Lulu juga telah membantu perjuangan Pek-lian Kai-pang? Adiknya benar. Bukan memusuhi bangsa Mancu
atau bangsa apa pun juga, melainkan menentang kelaliman dan kejahatan, dari mana pun juga datangnya!
Dengan langkah lebar Han Han menuju ke pintu gerbang besar di depan istana yang cukup megah itu.
Beberapa orang penjaga segera menghadangnya, tak lama kemudian ia sudah berhadapan dengan tujuh
orang penjaga dengan seorang komandan jaga.
“Ho-han (Orang Gagah) hendak mencari siapakah? Apakah hendak mengunjungi Ho-han Bu-koan?” tanya
komandan jaga dengan sikap hormat.
Kalau saja Han Han menjawab dengan anggukan kepala, tentu ia akan diberi jalan karena memang para
penjaga sudah biasa melihat orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh memasuki istana untuk pergi ke Ho-han
Bu-koan, yaitu sebuah gedung besar yang khusus disediakan oleh Bu Sam Kwi untuk menampung orangorang
gagah dari luar Se-cuan yang melarikan diri ke Se-cuan untuk menggabungkan diri menghadapi
penjajah.
Akan tetapi Han Han menggeleng kepala! Bahkan ia lalu menjawab, “Tidak, aku mohon menghadap Bu-ongya.”
Para penjaga itu terkejut dan memandang Han Han penuh perhatian dan kecurigaan. “Ada keperluan apakah
hendak menghadap Ongya?”
“Urusan penting yang hanya akan saya sampaikan kepada Bu-ongya sendiri.”
“Tidak begitu mudah, orang muda. Kalau engkau membawa surat penting, katakan dari siapa. Kalau engkau
membawa pesan, katakan engkau utusan siapa agar kami dapat melaporkan ke dalam.”
Han Han menggeleng kepala. “Laporkan saja bahwa aku mohon menghadap Bu-ongya untuk keperluan yang
amat penting, aku membawa berita yang amat penting bagi keselamatan Se-cuan.”
Ada yang terbelalak mendengar ini, ada pula yang tertawa. Agaknya pemuda ini seorang yang miring otaknya,
pikir mereka. Berita apakah yang dapat menyelamatkan Se-cuan? Seolah-olah Se-cuan dapat diancam begitu
saja!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi komandan jaga yang dapat menduga bahwa pemuda buntung itu tentu bukan orang sembarangan,
melihat sikapnya yang dingin dan sinar mata yang tajam mengerikan itu, lalu berkata.
“Kalau Ho-han hendak menghadap Ongya, harus lebih dulu menghadap ke Ho-han Bu-koan. Mari, silakan, Hohan!”
Han Han tidak tahu apa itu yang disebut Ho-han Bu-koan (Rumah Silat Kaum Ho-han), tetapi ia pun tidak
peduli asal dia diperbolehkan bertemu dengan Bu Sam Kwi untuk melaporkan rencana penyerbuan oleh
tentara Mancu seperti yang ia dengarkan dari rapat yang dipimpin Setan Botak. Ia mengangguk dan
terpincang-pincang mengikuti komandan jaga itu.
Mereka memasuki pekarangan istana yang lebar dan karena dikawal oleh komandan jaga, maka para penjaga
dan pengawal hanya memandang Han Han penuh perhatian. Agaknya mereka merasa heran mengapa ada
pemuda pincang hendak pergi ke Ho-han Bu-koan. Selihai-lihainya orang pincang bisa apa sih? Kakinya pun
tinggal satu!
Komandan jaga itu membawa Han Han memasuki sebuah gedung yang besar, juga di samping kanan istana.
Di depan gedung ini terdapat papan nama dengan huruf-huruf besar dan gagah, tulisan tangan yang indah
sekali, hanya empat huruf: HO HAN BU KOAN. Berbeda dengan istana yang bagian depannya penuh dengan
penjaga dan pengawal, gedung ini tidak dijaga dan pintunya yang lebar pun terbuka. Komandan jaga mengajak
Han Han memasuki pintu. Ruangan depan kosong saja dan komandan itu berkata kepada Han Han.
“Para Ho-han tentu sedang berkumpul di dalam. Mari kita masuk saja, Ho-han!”
Han Han mengangguk dan bersikap waspada, tetapi ia hanya mengikuti komandan jaga itu memasuki ruangan
dalam sambil terpincang-pincang dibantu tongkatnya. Begitu melewati pintu tembusan, tampaklah sebuah
ruangan yang amat luas dan di situ tampak berkumpul banyak sekali orang. Ada empat puluh orang lebih
dengan sikap seenaknya, ada yang duduk di atas meja, ada pula yang duduk bersila di atas tanah dan rebahrebahan
di lantai. Sikap orang-orang kang-ouw yang tidak acuh!
“Apa pun yang terjadi di atasan, apa pun yang mereka perebutkan, kita tidak peduli, yang penting, hancurkan
penjajah Mancu!” Terdengar seorang laki-laki tinggi kurus berkata sambil menggunakan sepasang sumpit yang
istimewa panjang dan besarnya, sumpit gading, menjemput sepotong daging dari mangkok di atas meja dan
melempar daging itu ke mulutnya. Ya, melemparnya karena ia hanya menggerakkan sumpit itu dan dagingnya
terlempar memasuki mulutnya yang ternganga, lalu dikunyahnya mengeluarkan suara seperti babi sedang
makan! Orang ini yang menarik adalah matanya, karena matanya buta sebelah, hanya sukar dikatakan yang
mana yang buta, karena yang kiri hanya tampak putih saja sedangkan yang kanan hanya tampak guratan
hitam!
Agaknya mereka sedang membicarakan tentang pertentangan paham antara Bu-ongya dan Pangeran Kiu
seperti yang ia dengar dari laki-laki buntung tadi. Munculnya Han Han bersama komandan jaga membuat
semua orang menghentikan percakapan dan mereka menengok, memandang ke arah Han Han penuh
perhatian dan penyelidikan, agak curiga karena mereka tidak mengenal pemuda buntung ini.
“Harap cu-wi Ho-han (Orang-orang Gagah Sekalian) suka memaafkan. Ho-han muda ini datang dan
mengatakan mohon menghadap Ongya karena membawa berita yang penting bagi keselamaian Se-cuan
tanpa mau memberi tahu kepada saya. Karena meragukan keterangannya maka saya antar ke sini agar cu-wi
dapat menyelidik dan memberi keputusan. Terserah!” Komandan jaga itu lalu keluar dari situ setelah sekali lagi
memandang Han Han penuh kecurigaan.
Sejenak sunyi di ruangan itu ketika semua mata ditujukan kepada Han Han. Pemuda ini memandang ke
sekeliling, memperhatikan ruangan yang bersih dan indah itu. Di tengah ruangan terdapat permadani berwarna
biru tua yang bersih dan indah, dan di dekat pintu terdapat jendela besar yang tidak berdaun, terbuka
memperlihatkan sebuah kebun yang indah pula sehingga ruangan ini mendapat hawa dari luar yang amat
sejuk. Karena ruangan itu amat bersih, tidak heran orang-orang kang-ouw itu duduk atau rebah di atas lantai
begitu saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena tidak ada orang yang menegurnya, Han Han menjadi tidak sabar dan ia bergerak maju terpincangpincang
ke tengah ruangan, di atas permadani biru tua dan berkata.
“Maafkan saya. Sesungguhnya komandan jaga itu keliru mengantar saya ke sini karena saya tidak mempunyai
urusan dengan cu-wi Enghiong sekalian. Saya hanya ingin bertemu dengan Raja Muda Bu Sam Kwi untuk
menyampaikan urusan yang amat penting.”
Akan tetapi alangkah heran hati Han Han ketika melihat betapa semua orang memandangnya dengan mata
marah, bahkan seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun yang bertubuh kurus dan bermuka pucat sudah
meloncat maju menghadapinya di atas permadani biru dan membentak.
“Sahabat yang gagah, perkenalkan namamu!”
Han Han menjadi makin heran. Laki-laki ini bersikap gagah, kata-katanya pun tanpa nada permusuhan sebab
menyebutnya sahabat yang gagah, akan tetapi nada suaranya marah! Ia menjura dan menjawab, “Namaku
Han Han.”
“Siapa gurumu? Dari golongan mana? Selama berjuang ikut rombongan yang dipimpin siapakah?”
Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi seperti seorang hakim memeriksa pesakitan ini, berkerutlah alis Han Han,
akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan sopan dan semua orang agaknya memperhatikan, ia
menganggap bahwa memang sikap orang-orang kang-ouw ini aneh, maka ia pun menjawab singkat.
“Nama guruku tidak boleh kuperkenalkan orang lain, aku bukan dari golongan mana pun dan aku tidak pernah
ikut berjuang!”
“Aaahhhhhh...!” Seruan ini terdengar dari banyak mulut dan semua orang memandang dengan penuh
kecurigaan, bahkan ada bisikan dari sudut, “Jangan-jangan mata-mata anjing Mancu...!”
Mendengar ini, Han Han mengangkat muka memandang mereka dan berkata lagi, “Aku bukan pejuang, bukan
pula mata-mata Mancu, tetapi aku datang untuk menyampaikan berita yang amat penting bagi Raja Muda Bu
Sam Kwi!”
“Manusia sombong!” laki-laki kurus yang berdiri di depannya membentak lagi. “Tidak perlu banyak bicara yang
tidak-tidak lagi, aku Sin-jiauw-eng (Garuda Cakar Sakti) Lo Hwat menyambut tantanganmu. Lihat serangan!”
Han Han terkejut sekali karena mendadak orang kurus itu mencengkeram ke arah dadanya. Ia pikir tidak perlu
membantah lagi, biarlah kalau dia dianggap sombong dan menantang. Dia pun tidak menangkis atau
mengelak, hanya mengerahkan sinkang pada dadanya yang dicengkeram.
Melihat betapa pemuda buntung ini sama sekali tidak mengelak mau pun menangkis, Sin-jiauw-eng Lo Hwat
kaget dan cepat mengubah serangan mencengkeram menjadi dorongan telapak tangan. Dia adalah seorang
gagah, tentu saja tidak mau membunuh orang yang tidak mau mempertahankan diri, sungguh pun orang ini
telah berani berdiri di atas permadani biru! Han Han sama sekali tidak tahu bahwa sudah menjadi ‘hukum’ di
Ho-han Bu-koan itu bahwa siapa yang berdiri di atas permadani biru itu berarti menantang yang hadir untuk
pibu (mengadu ilmu silat)!
“Bukkk!”
Tubuh Han Han sedikit pun tidak bergoyang akan tetapi sebaliknya Lo Hwat yang memukulnya dengan
dorongan keras malah terjengkang! Semua orang yang hadir mengeluarkan seruan kagum. Lo Hwat terkenal
sebagai seorang yang memiliki tenaga lweekang kuat sekali di samping keahliannya mempergunakan jari
tangan sebagai cakar garuda. Kini, Si Garuda Cakar Sakti itu memukul dada pemuda buntung ltu dan roboh
terjengkang sendiri!
“Aku tidak ingin berkelahi,” kata Han Han.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Lo Hwat sudah mencelat bangun lagi, matanya menjadi merah saking malu, marah dan penasaran.
Dia tadi menaruh kasihan, siapa akan mengira bahwa dia malah dibikin malu oleh bocah buntung ini. Sambil
berseru keras ia lalu meloncat ke atas, kemudian dari atas tubuhnya menyambar bagaikan seekor burung
garuda, kedua tangannya membentuk cakar, yang kanan mencakar ke arah kepala Han Han sedangkan yang
kiri mencengkeram ke arah pundak.
Han Han menjadi penasaran. Serangan lawan sekali ini amat berbahaya dan kalau dia diam saja, hanya
menggunakan sinkang melindungi tubuh, dia tentu akan dianggap menghina atau juga takut. Dengan kaki satu
masih berdiri tegak, ia mengelebatkan tongkatnya ke atas. Gerakan tongkatnya cepat bukan main, tahu-tahu
sudah menempel kedua lengan lawan dan sekali ia membanting, tubuh Lo Hwat sudah terguling ke atas lantai
dan terbanting, sedangkan Lo Hwat ini sama sekali tidak tahu mengapa tubuhnya tiba-tiba jatuh.
Ketika ia memandang, pemuda buntung itu masih berdiri tegak di atas satu kaki, tongkatnya dikempit di bawah
ketiak kiri dan kedua lengannya bersedakap! Kemarahan Lo Hwat memuncak. Dia terjatuh di depan pemuda
itu dan ketika ia merangkak bangun dan berlutut, tampak seolah-olah ia berlutut di depan pemuda buntung itu!
Kemarahan membuat orang menjadi mata getap. Demikian pula dengan Lo Hwat. Dia terkenal sebagai orang
yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dua kali ia dirobohkan oleh pemuda buntung ini yang kelihatannya
sama sekali tidak bergerak, dijatuhkan di depan sekian banyaknya orang gagah. Inilah yang membuat dia malu
dan merasa terhina sehingga kemarahannya membakar hati dan kepala.
Tiba-tiba ia menggereng dan tangan kanannya yang sudah ia kepal dengan pengerahan lweekang sekuatnya,
ia pukulkan ke arah pusar Han Han dengan tubuh masih berlutut atau setengah berjongkok. Hebat bukan main
pukulan maut ini dan terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut beberapa orang gagah di situ yang
menganggap perbuatan Lo Hwat ini melewati batas dan juga amat keji dan curang.
“Desssss!”
Pukulan itu memang hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam yang keluar dari pusar,
sedangkan yang dipukul juga bagian yang lemah, yaitu pusar. Tentu saja bagian lemah bagi orang biasa, akan
tetapi pemuda buntung itu sama sekali ia tidak mengelak bahkan mengambil keputusan untuk memberi
hajaran kepada orang yang gagah akan tetapi berangasan ini. Ia mengerahkan sinkang, menerima pukulan
dan mengembalikan hawa yang mendorong pukulan itu kepada penyerangnya. Tenaga dalam itu membalik
dan menyerang Lo Hwat sendiri sehingga dia memekik keras dan roboh terlentang di atas permadani dalam
keadaan pingsan karena dadanya terluka oleh pukulannya sendiri!
“Omitohud...! Bukan main bocah buntung ini, ilmunya boleh juga!” Dua orang yang berpakaian seperti hwesio,
berkepala gundul dan mereka berkalung sarung berwarna kuning, bangkit berdiri dan melangkah maju, yang
tinggi besar dan gemuk di depan sedangkan yang kecil pendek kurus di belakangnya.
Akan tetapi, pada saat itu terdengar bentakan keras, “Bocah buntung yang sombong, engkau berani menghina
muridku? Biarlah aku mencoba kelihaianmu. Perkenalkan aku, Tok-gan-siucai (Pelajar Bermata Tunggal) Gu
Cai Ek!”
Kiranya kakek berusia lima puluhan tahun yang matanya putih satu hitam satu dan yang memegang sumpit
gading tadi sudah berdiri di atas permadani menghadapi Han Han. Pemuda ini masih berdiri dengan kaki satu,
tongkatnya dikempit dan kedua lengannya bersedakap, dengan suara menyesal berkata.
“Lo-enghiong, aku tidak ingin berkelahi dengan siapa pun juga!”
“Omong kosong! Lihat seranganku!”
Kakek ini sudah menyerang Han Han dengan sepasang sumpit gadingnya yang kini dipegang di kedua tangan.
Caranya memegang seperti orang memegang alat tulis dan begitu menyerang ia menotok jalan darah
sehingga maklumlah Han Han bahwa orang ini adalah seorang yang ahli mainkan senjata siang-pit (sepasang
pensil) dan ahli totok, hanya dia tidak menggunakan pensil melainkan sepasang sumpit gading yang dapat ia
pergunakan untuk makan! Mengertilah ia mengapa orang ini memakai julukan Siucai (Pelajar). Karena
serangan itu memang hebat, tentu saja jauh lebih lihai dari pada ilmu kepandaian muridnya tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han cepat mengelak. Dia masih bersedakap dan mengempit tongkatnya, hanya kakinya yang tinggal satu
itu tiba-tiba mengenjot dan tubuhnya mencelat ke atas.
“Haliiittttt! Eh...?” Si Mata Satu terkejut sekali karena orang yang diserangnya itu tiba-tiba lenyap dan tahu-tahu
sudah pindah ke tempat lain.
Ia cepat mengejar dan kedua senjatanya meluncur cepat, menotok secara bertubi-tubi, memilih jalan darah
yang berbahaya. Namun Han Han hanya melawannya dengan berloncatan, mengerahkan sedikit saja dari
ilmunya gerak kilat dan semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong, bahkan Si Mata Satu itu berkalikali
mengeluarkan seruan bingung dan kaget karena sering kali lawannya lenyap. Dan kasihan sekali dia yang
bermata tinggal satu itu kadang-kadang harus menengok ke kanan kiri mencari lawannya!
“Lo-enghiong, aku tidak ingin berkelahi denganmu!” Sudah tiga kali Han Han berkata sabar, akan tetapi makin
lama kakek bermata satu ini menjadi makin penasaran dan marah karena semua totokannya luput. Benarbenarkah
pemuda buntung ini pandai menghilang seperti setan, ataukah matanya yang tinggal satu ini
agaknya sudah tidak awas lagi?
“Cuit-cuit-cuit... sing-singgg...!”
Han Han terkejut karena kini kakek bermata satu itu menggerakkan sepasang gading kecil berbentuk sumpit
itu bergerak secara hebat dan aneh, cepat dan juga bertenaga, merupakan dua sinar kecil yang gemerlapan
dan membentuk lingkaran-lingkaran yang menutup semua ‘pintu’ di delapan penjuru. Ia kaget dan kagum.
Kiranya kakek ini hebat juga ilmu kepandaiannya. Kalau ia mengerahkan seluruh ilmunya gerak kilat, tentu
akan menarik perhatian, maka ia pun cepat menggerakkan tongkatnya menangkis.
“Trak-tringgg...!”
“Ayaaaaa...!” Kakek mata satu itu terkejut dan cepat membuat tubuhnya sendiri berputar setengah lingkaran
untuk mematahkan tenaga tangkisan lawan yang hampir membuat kedua senjatanya terlempar dari tangan.
“Lo-enghiong hebat, aku kagum dan terima kalah!” Han Han berkata, dan memang ia benar-benar merasa
kagum ketika menangkis tadi dan mendapat kenyataan bahwa kepandaian Tok-gan-siucai ini benar-benar
tinggi, tidak di sebelah bawah tingkat Lauw-pangcu!
“Cuat-cuat-cuatt...!”
Kembali sepasang sumpit itu melakukan totokan bertubi-tubi dan kini dari jauh saja Han Han sudah dapat
merasakan sambaran angin yang kuat, tanda bahwa kakek itu telah menggunakan sinkang dan melawan matimatian.
Ia merasa menyesal sekali. Mengapakah dia selalu dimusuhi oang? Mengapa kehadirannya selalu
menimbulkan keributan? Apakah kesalahannya? Memang ia bernasib buruk, selalu sial. Maksud baiknya
selalu ditanggapi keliru oleh orang lain sehingga dia selalu dimusuhi orang. Dan kini kakek bermata satu yang
lihai ini menyerangnya dengan hebat, melakukan serangan totokan-totokan yang amat berbahaya.
“Mengapa engkau mendesakku?” teriaknya dengan suara berduka, tongkatnya bergerak ke bawah dari bawah
ketiaknya ketika tubuhnya meloncat ke atas.
Pada saat itu sumpit gading di tangan kiri Tok-gan-siucai menyambar, disusul sumpit kanannya. Cepat
bagaikan kilat menyambar, sebelum tubuhnya turun, Han Han sudah menggerakkan tongkatnya, mengerahkan
ginkang yang sudah sempurna sehingga tubuhnya seolah-olah dapat tertahan di udara. Sinkang di tangan
yang memegang tongkat amat kuat ketika tongkat berturut-turut menangkis sepasang sumpit, melekatnya dan
sekali renggut, Tok-gan-siucai berseru kaget, kedua batang sumpitnya tak dapat ia tahan lagi, terbang lepas
dari kedua tangannya dan terus terbang mencelat ke atas, menancap pada langit-langit ruangan itu yang
tinggi!
“Omitohud... benar mengagumkan...!”
Kini seruan kagum ini terdengar dari mulut hwesio kurus dan tiba-tiba hwesio itu menggerakkan tangannya ke
atas. Angin yang keras menyambar ke langit-langit ketika jubahnya yang lebar pada lengannya itu berkelebat
dunia-kangouw.blogspot.com
dan... dua batang sumpit yang tadinya menancap ke langit-langit itu tiba-tiba menyambar ke bawah, ke arah
Han Han!
Han Han terkejut sekali. Itulah demonstrasi tenaga sinkang yang amat tinggi, dan cepat ia mengulur tangan
kanannya menyambut dua batang sumpit itu dengan gerakan seenaknya, kemudian melemparkan sepasang
sumpit itu kepada Tok-gan-siucai sambil berkata, “Maaf, Lo-enghiong. Saya tidak ingin berkelahi!”
Tok-gan-siucai sebagai seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman maklum bahwa dia bukanlah lawan
pemuda buntung itu, maka ia menyambut sepasang sumpitnya, kemudian menyambar tubuh muridnya yang
masih pingsan, membawanya loncat ke pinggir, keluar dari permadani biru. Ia merasa lega ketika memeriksa
bahwa muridnya itu hanya pingsan karena tenaga sendiri yang membalik. Ia menotok beberapa jalan darah
dan Sin-jiauw-eng Lo Hwat siuman sambil mengeluh perlahan.
“Omitohud, seorang muda yang luar biasa! Biarlah pinceng mencobanya!” Hwesio tinggi besar gendut yang
mukanya seperti anak kecil itu menggerakkan kakinya. Tidak kelihatan ia membuat gerakan meloncat, namun
tubuhnya seperti terbang ke depan dan sudah berdiri di atas permadani menghadapi Han Han.
“Maaf, Losuhu. Saya benar-benar tidak ingin berkelahi,” kata pula Han Han, kembali terkejut menyaksikan
gerakan ini.
“Ha-ha-ha, jangan terlalu merendahkan diri, orang muda. Memang engkau memiliki kepandaian yang patut
diperlihatkan dan diuji! Bersiaplah, pinceng menyerang!”
Ucapan ini ditutup dengan gerakan tangan kirinya. Seperti juga gerakan hwesio kecil kurus itu, hwesio gemuk
ini juga seperti menggerakkan tangan sembarangan saja, akan tetapi dari balik lengan bajunya yang lebar itu
menyambar angin yang kuat luar biasa, mendorong ke arah dada Han Han.
Han Han maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai. Tingkat kekuatan sinkang kedua hwesio aneh
ini kiranya tidak di bawah kepandaian Gak Liat, Ma-bin Lo-mo atau bahkan Toat-beng Ciu-sian-li sendiri! Ia
heran menyaksikan orang-orang pandai yang berkumpul di tempat ini, maka ia tidak ingin melawan. Cepat
tubuhnya mencelat dan pukulan itu lewat di bawah kakinya.
“Bagus! Sinkang-mu hebat, juga ginkangmu amat luar biasa. Belum pernah pinceng menyaksikan gerakan
seperti kilat cepatnya itu!” Hwesio gendut itu mulutnya memuji, akan tetapi tangan kirinya kembali menampar
dan angin pukulan yang lebih kuat lagi menyambar ke arah tubuh Han Han yang masih di udara.
Akan tetapi dia membelalakkan matanya lebar-lebar ketika melihat betapa tubuh pemuda buntung itu kembali
mencelat ke samping, padahal kakinya belum menginjak lantai! Bagaimana mungkin dapat bergerak seperti itu
sehingga kembali tamparannya luput? Ia mulai penasaran dan beberapa kali tangan kirinya menampar-nampar
dan angin berbunyi bercuitan ketika tamparan itu menyambar dari kanan kiri dan mengejar bayangan Han Han
yang terus berpindah-pindah secara aneh.
Semua orang yang berada di situ menjadi silau matanya. Mereka hanya melihat pendeta gendut itu
menggerak-gerakkan tangan kirinya seperti orang mengebut-ngebutkan kipas dan mereka tidak dapat melihat
lagi tubuh pemuda pincang, atau melihat tubuh pemuda itu berubah menjadi banyak karena mencelat ke sana
ke mari dengan amat cepetnya!
Han Han sambil meloncat ke sana-sini memperhatikan pendeta gendut itu dan melihat bahwa sejak tadi
hwesio itu hanya menggunakan tangan kirinya untuk mengirim angin pukulan, sedangkan tangan kanannya
selalu disembunyikan di bawah jubahnya, menekan pinggang. Bukan main, pikirnya, baru maju tangan kirinya
saja sudah begini hebat, apa lagi kalau tangan kanannya yang bergerak.
Dia menaksir bahwa tangan kanan itu tentulah hebat sekali dan agaknya kini masih belum dipergunakan si
hwesio sebagai ilmu simpanan atau cadangan yang hanya akan dipergunakan kalau perlu saja. Semenjak ia
keluar dari tempat persembunyian gurunya, nenek berkaki buntung, belum pernah ia bertemu lawan yang
sepandai ini, maka diam-diam Han Han menjadi gembira dan ingin menguji kemampuannya sendiri, ingin pula
melihat bagaimana hebatnya tangan kanan hwesio gendut itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah timbul keinginan ini, ketika kakinya turun menotol lantai, ia membuat gerakan untuk mengurangi
tenaga pantulan kakinya dengan berjungkir-balik sehingga tubuhnya berjungkir-balik berputaran sampai
belasan kali seperti kitiran, barulah kakinya turun ke lantai dan ketika pada saat itu hwesio gendut itu kembali
memukul ke arahnya dengan tangan kiri, kini pukulan jarak dekat karena memang Han Han turun di depan
hwesio itu yang agaknya ingin pula menguji kekuatan Han Han. Pemuda ini pun menerima pukulan yang
merupakan tamparan dengan telapak tangan terbuka itu dengan dorongan telapak tangan kanannya.
“Bresssssi!”
“Omitohud... luar biasa...!”
Tubuh hwesio itu bergoyang-goyang, mukanya menjadi merah seperti udang direbus dan ia merasa betapa
seluruh tubuhnya panas sekali karena ketika menyambut pukulan tadi, Han Han sengaja mengerahkan tenaga
inti Hwi-yang Sin-ciang!
Han Han kagum bukan main karena melihat betapa hwesio itu dapat menerima tenaga sakti ini dengan hanya
tubuh tergoyang dan merah mukanya. Benar persangkaannya bahwa hwesio itu memiliki kesaktian yang tidak
kalah oleh Si Setan Botak Gak Liat!
“Orang muda, engkau menarik sekali. Coba terima ini!”
Hwesio gendut itu tiba-tiba mengeluarkan tangan kanannya dari balik jubah dan alangkah kagetnya hati Han
Han melihat tangan itu berwarna biru sekali, biru kehitaman akan tetapi seperti bercahaya! Dan dengan tangan
kanan itu kini hwiesio itu menyerangnya! Serangkum tenaga dahsyat memecah hawa udara menyambar ke
arah Han Han dengan menimbulkan uap hitam yang panas sekali!
Han Han cepat menggerakkan kakinya menotol lantai dan tubuhnya mencelat dengan kecepatan yang luar
biasa sehingga uap hitam itu lewat di bawah kakinya. Akan tetapi kini ia sudah mengenal pukulan itu, yang ia
dapat menduga tentulah pukulan itu berdasarkan hawa Yang-kang seperti Hwi-yang Sin-ciang, akan tetapi
jauh lebih berbahaya karena uap hitam itu tentu mengandung pengaruh yang luar biasa. Timbul pula
keinginannya mencoba.
Tadi ia sengaja menggunakan Hwi-yang Sin-ciang, karena ia masih belum berani mempergunakan tenaga inti
es yang ia latih di Pulau Es, maklum bahwa tenaganya itu luar biasa sekali kuatnya sehingga membahayakan
nyawa lawan. Akan tetapi kini, melihat pukulan tangan kanan hwesio itu yang ia duga tentu amat kuat, setelah
ia turun, ia menanti hwesio itu memukul lagi.
Hwesio gemuk itu menjadi penasaran sekali. Jarang memang ia mengeluarkan tangan kanannya. Ia merasa
malu kalau tangan kanannya yang hitam itu kelihatan orang, maka kalau tidak terpaksa sekali, biar pun dalam
pertandingan, ia tidak mengeluarkan tangan kanannya. Kalau sekali ia mengeluarkan tangan kanannya, sekali
pukul saja ia harus dapat mencapai kemenangan. Akan tetapi sekali ini, pukulannya yang amat dahsyat itu
tidak mengenai sasaran, padahal biasanya, baru terkena tiupan sedikit hawanya saja, tubuh lawan sudah
menjadi hangus!
Hwesio gemuk ini bersama temannya yang kurus adalah dua orang tokoh besar di Tibet, pada waktu itu
menjadi pembantu yang terpercaya dari Dalai Lama sebagai pendeta besar dan ketua di Tibet. Hwesio gendut
itu bernama Thian Kok Lama, terkenal sekali dengan ilmu kepandaiannya yang hebat sinkang-nya yang jarang
bertemu tanding, dan tangan kanannya yang mengerikan karena tangan kanannya inilah ia dijuluki Hek-in Hwihong-
ciang (Tangan Awan Hitam Angin Berapi)!
Ada pun hwesio kurus itu pun bukan orang sembarangan, karena dibandingkan dengan hwesio gemuk, sukar
dikatakan, mana yang lebih lihai karena mereka memiliki keahlian sendiri-sendiri. Hwesio kurus ini selain hebat
sinkang-nya, juga terkenal sebagai ahli ilmu sihir yang disebut I-hun-to-hoat (semacam hypnotism) yang dapat
menguasai se-mangat lawan, dan ilmu pukulan Sin-kun-hoat-lek (Sihir Tangan Sakti)!
Ketika Thian Tok Lama yang sudah terlanjur mengeluarkan tangan kanannya itu tidak mampu mengalahkan
Han Han dengan sekali pukul, kini melihat pemuda itu sudah turun lagi, ia cepat mengerahkan tenaga, dari
perutnya yang besar langsung dari pusar keluar suara berkokok tiga kali dan tangan kanannya yang hitam itu
dunia-kangouw.blogspot.com
mendorong ke arah Han Han. Bukan main hebatnya pukulan ini. Warna biru kehitaman itu makin mencorong
dan uap hitam yang keluar dari telapak tangan itu seolah-olah mengandung api menyala dan terasa amat
panasnya sehingga ruangan itu ikut terasa hangat. Pukulan hebat ini sepenuhnya meluncur ke arah dada Han
Han.
Timbul kegembiraan Han Han melihat ilmu yang dahsyat ini. Cepat dia mengerahkan sinkang-nya,
menggunakan tenaga inti es yang ia latih di Pulau Es, disalurkan lewat tangan kirinya yang mendorong maju
menyambut telapak tangan hitam itu. Dengan pukulan macam ini, yang merupakan inti dari Swat-im Sin-ciang
yang paling hebat, Han Han mampu memukul air menjadi beku, menjadi bongkah-bongkah es sebesar anak
kerbau! Kini dua pukulan sakti yang amat dahsyat itu saling menerjang untuk bertemu!
Hwesio gendut itu, Thian Tok Lama menjadi kaget dan menyesal. Ia merasa sayang kepada pemuda kaki
buntung yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa itu, dan hanya karena penasaran, bukan karena marah atau
benci, ia menggunakan tangan kanannya. Tadinya ia mengira bahwa pemuda itu tentu akan menggunakan
ilmunya mencelat yang luar biasa itu untuk menghindar. Siapa kira pemuda itu malah menerima pukulannya
dengan langsung, menggunakan telapak tangan kirinya! Namun, ia sudah terlanjur memukul dan kalau
ditariknya kembali tentu akan membahayakan isi dadanya sendiri, maka terpaksa dia melanjutkan pukulannya
dengan hati menyesal karena ia merasa yakin bahwa pemuda itu tentu akan roboh dan tewas, tak mungkin
dapat ditolong lagi.
“Desssss... cessshhhhh!”
Semua orang memandang dengan mata terbelalak! Dua telapak tangan bertemu dan berbareng dengan bunyi
keras seperti besi panas membara dimasukkan air, tampak asap hitam mengepul dan menggelapkan tempat
itu!
“Ihhhh...!” Han Han berseru keras ketika merasa seolah-olah seluruh lengannya menjadi lumpuh dan ia cepat
menarik kembali lengannya itu.
“Omitohud...!” Thian Tok Lama juga berseru dan ia pun menarik kembali tangan kanannya, berdiri agak
terengah dan kini mukanya menjadi pucat kebiruan dan kedua pundaknya agak menggigil seperti orang
terserang dingin yang hebat.
“Ibliskah engkau...?” Thian Tok Lama sekarang mencelat maju dan mengirim tendangan dengan kakinya yang
sebesar kaki gajah.
“Wuuuuttt!”
Han Han meloncat, akan tetapi kedua kaki itu biar pun amat besar, telah mengirim tendangan berantai
sehingga angin bersiuran. Terpaksa Han Han yang sudah merasa cukup menguji kepandaiannya, mencelat ke
pinggir ruangan itu sambil berseru, “Aku tidak ingin berkelahi, kalau cu-wi tidak suka menerimaku biarlah aku
pergi dari sini...”
“Tahan...! Jangan berkelahi...! Dia kawan kita sendiri! Eh, Han Han, mengapa ribut-ribut dengan para
locianpwe?”
Sesosok bayangan berkelebat dan Wan Sin Kiat telah berada di situ. Han Han menjadi girang sekali, berlari
hendak menghampiri Sin Kiat dan melewati permadani biru sambil berpincangan.
“Han Han, jangan menginjak permadani itu!” Sin Kiat berteriak.
Han Han terkejut dan cepat ia mencelat lagi mundur, lalu memandang Sin Kiat yang lari kepadanya sambil
mengitari permadani, tidak berani menginjaknya.
“Ah, agaknya ada salah pengertian di sini. Han Han, agaknya engkau tadi menginjak ini.” Sin Kiat tertawa
sambil menudingkan telunjuknya ke arah permadani biru.
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Han mengangguk. Ia teringat bahwa ketika masuk tadi, untuk menghampiri para ho-han yang berada di
situ, ia memang telah berdiri di situ. “Ya, aku tadi berdiri di situ, mengapa?”
“Ha-ha-ha, pantas! Ketahuilah bahwa ada peraturan di sini bahwa siapa yang berdiri menginjak permadani ini,
berarti dia itu menantang pibu kepada para locianpwe yang hadir di sini.”
“Ohhhhh... maaf...!”
Sin Kiat lalu menjura kepada dua orang pendeta Tibet dan para ho-han sambil berkata, “Mohon cu-wi
locianpwe dan para Ho-han suka memaafkan Han Han. Karena dia tidak tahu maka seolah-olah menantang
pibu. Dia merupakan sahabat saya yang paling baik dan beberapa kali dia telah membantu para pejuang
menghadapi tokoh-tokoh anjing Mancu.”
“Hoa-san Gi-hiap Wan-sicu!” kata Thai Li Lama hwesio Tibet yang bertubuh kurus kering itu. “Kalau dia itu
sahabatmu, mengapa dia datang seperti ini? Dia menimbulkan kecurigaan besar!”
“Ah tidak, locianpwe. Dia datang untuk mencari adiknya, dan untuk membantu kita menghadapi tokoh-tokoh
penjajah.”
“Hemmm, kalau mencari adiknya dan hendak membantu, mengapa dia berkeras hendak bertemu dengan Buongya?”
tiba-tiba Tok-gan-siucai Gu Cai Ek menegur.
Wan Sin Kiat mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Han Han. “Apakah artinya ini, Han Han? Benarkah
kau hendak bertemu dengan Ongya?”
“Benar sekali dan memang aku membawa berita yang amat penting!”
“Kalau begitu, ceritakan saja kepada para locianpwe di sini, karena mengenai urusan perjuangan, tidak ada hal
yang dirahasiakan untuk para Ho-han di sini.”
Han Han mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku telah mendengar rapat rahasia yang diadakan oleh para perwira
Mancu di perbatasan, yang dipimpin oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat, dihadiri pula oleh wakil-wakil dari Ma-bin
Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Mereka membicarakan tentang penyerbuan ke
Se-cuan secara besar-besaran dalam waktu dekat...”
“Ahhhhh...! Mana mungkin?” teriak Tok-gan-siucai Gu Cai Ek. “Pemerintah Mancu sedang merayakan ulang
tahun ke sepuluh dari kaisar mereka!”
“Karena inilah maka mereka hendak menyerbu! Menggunakan kesempatan selagi di Se-cuan orang
mempunyai pendapat seperti pendapat Lo-enghlong tadi sehingga tidak ada persiapan yang baik. Dan kalau
saya tidak sudah dibikin kacau oleh serangan-serangan maut di ruangan ini, saya mendengar pula beberapa
tempat-tempat yang akan mereka jadikan sasaran penyerbuan!”
“Wah, ini penting sekali! Mari Han Han, kuantar engkau menghadap Ongya!”
Semua orang di ruangan itu menjadi terkejut juga dan Thian Tok Lama malah menjura ke arah Han Han sambil
berkata, “Pinceng mengharap taihiap sudi memaafkan kecurigaan kami. Sungguh taihiap merupakan seorang
bekas lawan yang paling hebat yang pernah pinceng temukan!”
“Ah, sayalah yang seharusnya minta maaf, locianpwe,” kata Han Han sambil balas menghormat, akan tetapi
tangannya lalu ditarik oleh Sin Kiat dan keduanya bergegas keluar dari situ menuju ke istana.
Para ho-han ribut membicarakan pemuda yang buntung itu, dan Thian Tok Lama secara terang-terangan dan
jujur mengakui bahwa sukar mencari tandingan pemuda berkaki buntung itu. Dia masih terheran-heran dan
diam-diam ia memberi isyarat mata kepada kawannya, lalu mereka berdua meninggalkan tempat itu.
“Kau hebat, Han Han. Thian Tok Lama sendiri sampai memujimu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, kau maksudkan hwesio yang gemuk itu? Dialah yang hebat, agaknya lebih lihai dari pada Toat-beng Ciusian-
li!” kata Han Han, benar-benar dia kagum sekali.
“Dan dia menyebutmu taihiap!”
Merah wajah Han Han. “Sudahlah. Eh, Sin Kiat, apakah kau sudah mendengar tentang adikku?”
Wajah Sin Kiat yang tampan itu menjadi muram dan dia kelihatan berduka ketika menggeleng kepalanya.
“Sungguh menyesal sekali, aku belum berhasil, Han Han.”
Han Han menarik napas panjang. “Ada seorang nona yang sedang mencoba untuk membantu mencarinya,
namanya Tan Hian Ceng...”
“Ah, puteri It-ci Sin-mo Tan Sun? Bagus sekali! Dia adalah seorang yang terkenal ahli yang mengenal semua
daerah ini. Kalau dia membantu... eh, kenapa?” Sin Kiat heran melihat wajah Han Man menjadi muram.
“Kasihan dia. Ayahnya gugur...”
“Apa? Bagaimana?”
“Nanti saja kuceritakan. Lebih baik sekarang kita menghadap Bu-ongya.”
Sin Kiat menemui kepala pengawal dan karena dia sudah dikenal, maka mereka berdua lalu dikawal
menghadap Bu-ongya, yaitu Raja Muda Bu Sam Kwi yang amat terkenal itu. Bu-ongya menerima mereka
berdua di dalam ruangan yang besar dan raja muda yang amat terkenal sebagai bekas jenderal yang paling
gigih mengadakan perlawanan kepada pemerintah Mancu ini duduk di atas kursi emas dijaga oleh para
pengawal pribadinya. Ia sudah mendapat laporan tentang Han Han, tentang sepak terjang pemuda buntung ini
di Ho-han Bu-koan, maka ketika Han Han datang terpincang-pincang bersama Sin Kiat, dari jauh ia sudah
memandang penuh perhatian dengan wajah berseri.
Sin Kiat memberi hormat dengan menekuk sebelah lututnya dan bersoja, diturut oleh Han Han yang biar pun
hanya berkaki satu, namun ia dapat berlutut dengan gerakan wajar sehingga seolah-olah dia tidak buntung.
“Duduklah, ji-wi Ho-han!” kata Bu Sam Kwi dan dua buah kursi disodorkan oleh seorang pengawal. Sin Kiat
dan Han Han lalu duduk di atas kursi menghadapi Bu Sam Kwi.
Han Han memandang wajah raja muda itu sejenak, melihat bahwa raja muda itu usianya sudah tua, tentu
sudah enam puluh tahunan, akan tetapi masih kelihatan gagah dan tegap, dengan sinar mata yang tajam
bersinar-sinar penuh semangat dan keberanian. Di lain pihak, begitu bertemu pandang dengan Han Han dan
melihat sinar mata pemuda buntung itu tajam luar biasa, membuat kedua matanya sendiri serasa ditusuk
pedang, di dalam hatinya Bu Sam Kwi menjadi kagum sekali, dan lenyaplah keraguan dan ketidak
percayaannya ketika tadi mendengar laporan bahwa pemuda ini sanggup menandingi tangan kanan Thian Tok
Lama!
“Wan-sicu, siapakah temanmu yang gagah ini?” Bu Sam Kwi bertanya penuh wibawa, akan tetapi juga
terdengar halus dan ramah.
Suara seperti ini pandai membujuk dan mengambil hati orang, pikir Han Han, teringat betapa banyaknya tokoh
kang-ouw membantu perjuangan raja muda ini dan betapa banyaknya yang telah mengorbankan nyawa,
termasuk Lu Soan Li dan baru-baru ini Lauw-pangcu, kemudian ayah dan kedua orang paman Hian Ceng!
“Sahabat baik hamba ini datang dari luar perbatasan dan membawa berita yang amat penting untuk
disampaikan Ongya!” kata Sin Kiat.
Memang Bu Sam Kwi amat pandai mengambil hati orang-orang kang-ouw, bahkan bersikap seperti sahabat
dengan mereka sehingga ia tidak ragu-ragu untuk bersikap ramah dan merendah, memperlakukan mereka
sebagai ‘kawan seperjuangan’.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, siapakah engkau, sicu? Dan berita apakah itu?”
Karena Han Han tidak bermaksud menghambakan diri, maka ia pun tidak suka untuk terlalu merendahkan diri,
apa lagi raja muda ini begini manis budi, begini ramah, maka dengan hati lega dan suara biasa ia lalu
menjawab.
“Saya bernama Han, she Suma.”
Han Han tidak peduli kepada Sin Kiat yang menoleh memandangnya heran. Memang dia she Suma, mengapa
harus disembunyikan? Dia benci she Suma, karena she ini mengingatkan ia akan kakeknya yang menurunkan
dia, teringat akan Jai-hwa-sian Suma Hoat. Akan tetapi sebenci-bencinya ia kepada she keluarganya sendiri, ia
lebih benci akan sifat pengecut. Dan ia menganggap bahwa menyembunyikan she-nya sendiri dan
menggantinya dengan she Sie adalah perbuatan yang pengecut dan memalukan. Karena itulah, di depan raja
muda itu ia mengakui she aslinya dan mulai saat itu ia mengambil keputusan untuk mempergunakan she
aslinya!
Raja Muda Bu Sam Kwi tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Sungguh tepat sekali. Di jaman seperti ini di mana
negara dan bangsa membutuhkan putera-putera Han sejati yang patriotik, yang berjiwa pahlawan, muncul
seorang gagah perkasa yang namanya Han! Suma-hohan (Orang Gagah she Suma), berita apakah yang
hendak kau laporkan kepadaku?”
Dengan singkat namun jelas Han Han lalu melaporkan, menceritakan semua yang ia dengar dalam rapat yang
diadakan oleh para perwira di bawah pimpinan Setan Botak Cak Liat dan menceritakan pula bahwa gerakan
penyerbuan yang direncanakan itu siasatnya diatur oleh Puteri Nirahai.
Mendengar ini, berubah wajah Bu Sam Kwi. Tadinya berubah agak pucat akan tetapi segera berobah merah
sekali, matanya menjadi beringas, dagunya ditarik kuat dan seluruh sikapnya membayangkan perlawanan. “Si
keparat! Memang sudah kudengar nama Nirahai anak selir Khitan dari Raja Mancu itu, kabarnya amat cerdik
pandai! Menggunakan selagi mereka berpesta ulang tahun untuk menyergap karena kita tentu sedeng tidak
menduganya! Bagus! Kita akan menghadapi dan menghancurkan mereka! Pengawal! Undang para Ho-han
dan para panglima untuk berkumpul. Sekarang juga! Wan-sicu, mulai sekarang engkau kuangkat menjadi
panglima muda! Suma-sicu, engkau kuangkat menjadi panglima pelopor!”
Han Han hendak membantah akan tetapi lengannya dijawil Sin Kiat yang menatap wajahnya dengan sinar
mata penuh semangat, kemudian malah menariknya ke pinggir untuk memberi tempat kepada para panglima
dan para tokoh orang gagah yang kini sudah berdatangan memenuhi panggilan Bu Sam Kwi.
Berbeda dengan Wan Sin Kiat yang mendengarkan perundingan dan rencana siasat yang dibicarakan untuk
menyambut serbuan tentara Mancu seperti yang dikabarkan oleh Han Han tadi, pemuda buntung ini hanya
mendengarkan dengan setengah hati, tidak begitu mengacuhkan karena memang dia tidak tertarik akan hal itu.
Dia datang ke Se-cuan dengan tujuan utama mencari adiknya, dan kalau dia membocorkan rahasia para
panglima Mancu hanyalah karena dia melihat banyak tokoh-tokoh hitam di pihak Mancu, sedangkan di pihak
pejuang banyak terdapat sahabat-sahabatnya, di antaranya yang sudah jelas adalah Wan Sin Kiat, mendiang
Lu Soan Li dan Lauw-pangcu, Lauw Sin Lian dan gadis jenaka yang menarik hatinya pula, yaitu Tan Hian
Ceng. Karena mengingat akan mereka inilah maka hatinya tentu saja condong membantu Se-cuan dan
menentang pemerintah Mancu.....
********************
Penyerbuan besar-besaran bala tentara Mancu tiba tepat pada saat dan di tempat-tempat seperti yang
dilaporkan Han Han kepada Raja Muda Bu Sam Kwi, dan karena sebelumnya pihak Se-cuan telah membuat
persiapan, maka melalui perang mati-matian bala tentara Mancu akhirnya dapat dipukul mundur. Pemerintah
Mancu, dalam hal ini diwakili oleh Puteri Nirahai sendiri yang memimpin sebagai ahli siasat, menjadi kecelik.
Bukan saja tiap pasukan yang sudah diatur untuk menyerbu Se-cuan dari beberapa jurusan dalam waktu yang
tak tersangka-sangka mengalami perlawanan sengit, juga tokoh-tokoh pandai seperti Kang-thouw-kwi yang
memimpin kawan-kawannya, yang diharapkan untuk dapat mengacaukan pertahanan musuh dengan
kepandaian mereka, ternyata ‘membentur karang’ karena di Se-cuan terdapat banyak pula orang sakti! Segala
dunia-kangouw.blogspot.com
usaha Setan Botak Gak Liat gagal total oleh perlawanan tokoh pejuang yang membantu Raja Muda Bu Sam
Kwi. Dan yang membuat Setan Botak menjadi kaget, penasaran dan marah adalah sepak terjang pemuda kaki
buntung, bekas muridnya, Han Han.
Setelah serbuannya yang berkali-kali dalam beberapa bulan selalu gagal dan ia kehilangan banyak perwira
dan prajurit, akhirnya Gak Liat mengirim berita ke kota raja minta bantuan, selain bantuan pasukan yang besar,
juga bantuan orang-orang pandai untuk menghadapi pihak musuh yang memiliki banyak jagoan lihai.
Tak lama kemudian, utusannya datang kembali dari kota raja membawa perintah Puteri Nirahai agar
penyerangan dihentikan dulu dan pasukan Mancu diharuskan mengurung Se-cuan dengan menjaga tapal
batas di timur, selatan dan utara dengan ketat sampai bala bantuan datang.
Karena perintah ini, perang yang biasanya hampir setiap hari terjadi menjadi berhenti dan kedua pihak hanya
berjaga-jaga di daerah kekuasaan masing-masing, terhalang deretan pegunungan yang memagari Propinsi
Se-cuan. Pihak Se-cuan yang dalam perang ini menjadi pihak yang mempertahankan diri, bernapas lega
menyaksikan terhentinya serangan-serangan musuh dan mereka dapat beristirahat sambil menyusun kekuatan
baru.
Secara terpaksa sekali Han Han kini ikut berperang menentang pasukan Mancu. Sebagai seorang panglima
pelopor, di samping tokoh-tokoh besar lainnya, terutama sekali kedua orang pendeta Lama dari Tibet yang
amat sakti, Han Han memimpin pasukan yang terdiri dari ahli-ahli silat dan sebagian besar adalah kaum
pejuang golongan patriot yang berjuang semata-mata membela nusa bangsa tanpa pamrih.
Sesuai pula dengan siasat Bu Sam Kwi, pasukan-pasukan orang gagah ini memang dibentuk untuk
menghadapi pasukan-pasukan kuat dan istimewa dari pemerintah Mancu, maka tentu saja Han Han menjadi
lega hatinya ketika dalam pertempuran-pertempuran itu ia selalu menghadapi tokoh-tokoh hitam yang
memimpin pasukan-pasukan istimewa musuh. Bahkan pernah dalam sebuah pertempuran besar-besaran, ia
bertanding melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat, Setan Botak yang lihai dan yang menjadi musuh lamanya itu!
Kenyataan bahwa dia melawan tokoh-tokoh sesat inilah yang menghibur hatinya yang selalu merasa tidak
enak kalau ia teringat bahwa dia berperang melawan bangsa adiknya!
Setelah perang dihentikan oleh pihak Mancu setelah berbulan-bulan terjadi bentrokan-bentrokan di sepanjang
perbatasan, keadaan menjadi sunyi dan para pejuang di Se-cuan menjadi menganggur. Han Han menjadi
kesal hatinya. Usahanya mencari Lulu sama sekali tidak berhasil. Bahkan selama terjadi keributan perang, dia
tidak pernah bertemu dengan Hian Ceng yang berjanji menyelidiki dan mencari Lulu. Juga Lauw Sin Lian
belum masuk ke Se-cuan, ataukah sudah masuk dan melawan musuh di daerah lain? Ataukah tidak sempat
memasuki daerah Se-cuan karena perang telah pecah?
Pagi hari itu, selagi Han Han termenung seorang diri dalam hutan, tak jauh dari benteng penjagaan, Wan Sin
Kiat datang mengunjunginya. Mendengar panggilan Sin Kiat, Han Han menoleh dan dia memandang kagum.
Sahabatnya ini benar-benar amat tampan dan gagah dalam pakaianya sebagai seorang panglima muda!
Tubuh Sin Kiat tinggi besar, dadanya bidang, mukanya tampan dan berwibawa dengan alis tebal hitam dan
mata yang bersinar penuh semangat. Jalannya seperti lenggang seekor harimau! Seorang muda yang hebat
dan dia akan merasa senang sekali kalau Lulu dapat atau lebih tepat lagi mau menjadi isteri pemuda ini! Dia
tahu bahwa Sin Kiat amat mencinta Lulu, akan tetapi bagaimana dengan Lulu?
Dia mengharap mudah-mudahan Lulu dapat menerima cinta kasih Sin Kiat. Kalau adiknya itu mendapatkan
pelindung seperti Sin Kiat ini, hatinya akan merasa tenang dan tenteram, tidak seperti sekarang ini. Ah, perlu
apa memikirkan tentang perjodohan Lulu kalau bocah itu sendiri sampai sekarang belum dapat ditemukan,
bahkan tidak ia ketahui di mana tempatnya, masih hidup ataukah sudah mati? Cepat Han Han mengusir
pikiran ini dan ia menyambut Sin Kiat dengan senyum lebar karena ia teringat akan bocah pengemis yang ia
beri roti dahulu itu.
“Wah, engkau gagah sekali, Sin Kiat! Sekarang telah terbukti dan tercapai cita-citamu ketika masih kecil.”
“Cita-cita masih kecil? Apa maksudmu?” Sin Kiat duduk di atas batu gunung di depan Han Han yang duduk di
atas akar pohon.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lupa lagikah engkau dahulu? Pernah engkau mengatakan bahwa engkau bercita-cita menjadi seorang
perwira! Dan sekarang engkau telah menjadi panglima!”
Sin Kiat tidak menyambut godaan ini dengan wajah berseri, bahkan keningnya berkerut. Ia menghela napas
dan berkata, “Aku teringat akan pengalaman-pengalamanku selama masih kanak-kanak dan ternyata bahwa
cita-cita itu tiada bedanya dengan sebuah sarang burung di puncak pohon yang amat diinginkan oleh seorang
kanak-kanak. Hati amat gembira dan penuh bayangan indah-indah dan muluk-muluk, penuh ketegangan ketika
berusaha untuk memanjat pohon tinggi penuh bahaya, untuk meraih sarang dan mendapatkan anak burung di
dalamnya. Dan setelah akhirnya didapatkan, setelah seekor burung tergenggam di tangan? Hanya
kegembiraan sebentar saja karena segera disusul oleh kewajiban-kewajiban memelihara agar si anak burung
tidak mati. Demikian pula dengan cita-cita, Han Han.”
Han Han membelalakkan mata, kemudian tertawa memandang wajah tampan gagah yang mengerutkan alis
tebal itu. “Ha-ha-ha, pengalaman merupakan guru terpandai. Engkau kini pandai menyelami hidup, pandai
berfilsafat, Sin Kiat. Memang demikianlah, rangkaian mencari, mendapatkan, memiliki dan memelihara
merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Kalau orang sudah memiliki sesuatu, berarti dia dibebani
sesuatu karena dia harus menjaga dan memelihara! Makin banyak orang memiliki benda atau apa saja yang
disukanya, makin banyak pula beban menindih pundaknya dan membuatnya selalu harus menjaga dan
memelihara semua miliknya. Hanya orang yang tidak punya apa-apalah, yang akan enak tidur di waktu malam.
Orang yang tidak punya tidak akan khawatir kehilangan! Orang yang punya sekali waktu pasti akan
kehilangan!”
Sin Kiat menggaruk-garuk kepalanya. “Hemmm, kalau begitu apakah lebih enak menjadi orang yang tidak
mempunyai apa-apa yang disenanginya agar tidak sampai kehilangan?”
Han Han tertawa dan menggeleng kepala. “Manusia menjadi korban dari pada nafsunya sendiri, Sin Kiat.
Karena itu, dalam keadaan bagaimana pun juga ia akan selalu menderita. Yang tidak punya akan menderita
oleh nafsunya sendiri yang menimbulkan perasaan iri hati. Yang punya akan menderita oleh nafsunya sendiri
yang tidak ingin kehilangan miliknya. Hanyalah orang yang telah mampu mengendalikan nafsunya sendiri,
yang tidak dikuasai oleh nafsu pribadinya, baik di situ punya atau tidak punya, akan tetap tenang dan bahagia.
Dalam keadaan tidak punya, dia tidak kepingin, dalam keadaan punya dia tidak terikat oleh miliknya.”
Wan Sin Kiat mengangguk-angguk, kemudian memandang sahabatnya. Ia bisa melihat kemuraman wajah Han
Han. Dia mengerti apa yang menyebabkan sahabatnya ini murung, bukan lain tentulah hal yang juga membuat
hatinya selalu berduka, yaitu hal lenyapnya Lulu!
“Han Han, tadi aku mendengar engkau dipuji-puji oleh para ho-han yang melaporkan sepak terjangmu selama
musuh menyerbu. Jasamu besar sekali dalam menghadapi musuh, Han Han,” katanya untuk membelokkan
perhatian sahabatnya ini agar terhibur.
Akan tetapi Han Han menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Aku tidak peduli akan itu, Sin Kiat.
Engkau tahu bahwa kehadiranku di sini bukan untuk perang. Hanya kebetulan saja aku membantu, melihat
betapa bala tentara Mancu menggunakan orang-orang golongan sesat. Akan tetapi engkau tahu bahwa
sesungguhnya aku ingin mencari adikku yang sampai kini belum ada beritanya. Hemmm, aku sudah bosan
menanti dan karena sekarang barisan Mancu tidak menyerang lagi, aku bermaksud meninggalkan Se-cuan
dan mencari Lulu di lain tempat. Aku yakin dia tidak berada di sini, karena kalau dia berjuang, tentu dia sudah
dapat kutemukan di sini.”
“Ahh..., kau jangan pergi dulu, Han Han. Tenagamu masih amat dibutuhkan di sini. Para penyelidik melaporkan,
kabarnya Puteri Nirahai sendiri akan memimpin penyerbuan ke Se-cuan! Mengingat betapa lihainya puteri itu,
dan masih banyak pula pembantunya yang lihai, kuharap engkau akan lebih lama membantu perjuangan
melawan penjajah!”
“Di sini pun banyak orang gagah. Dua orang pendeta Lama itu lihai sekali, perlu apa takut? Aku tidak suka
perang, apa lagi aku tidak suka menjadi panglima karena memang bukan kehendakku menghambakan diri di
sini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dua orang pendeta itu? Ah, mereka sama sekali tidak boleh diandalkan! Memang mereka itu memiliki
kepandaian tinggi, akan tetapi mereka adalah sekutu-sekutu dari Pangeran Kiu!”
Han Han teringat akan cerita pejuang yang buntung kakinya, maka ia memandang kepada sahabatnya itu dan
bertanya. “Apakah salahnya? Kulihat Pangeran Kiu juga berjuang bahu-membahu dengan Bu-ongya.”
Sin Kiat menggeleng kepala. “Memang sekarang kita semua bersatu dalam menghadapi serbuan barisan
Mancu. Akan tetapi sesungguhnya di sebelah dalam timbul keretakan di antara mereka yang memegang
pimpinan! Bu-ongya bertekad untuk menentang pemerintah Mancu sampai tenaga terakhir! Sebaliknya,
Pangeran Kiu berkali-kali mendesaknya agar suka berdamai saja dengan pihak Mancu.”
Han Han sudah tahu akan hal ini. “Kalau menurut pendapatmu, siapa di antara mereka yang benar?”
“Entahlah, kedua-duanya benar. Bu-ongya hendak melawan terus karena tidak mau melihat tanah air dijajah,
ada pun Pangeran Kiu ingin berdamai dengan penjajah karena tidak mau melihat rakyat makin menderita
akibat perang.”
“Dan kau sendiri?”
Sin Kiat menggerakkan pundaknya. “Aku adalah seorang pejuang tanpa pamrih, hanya didorong oleh
kesadaran akan kewajibanku sebagai searang warga negara untuk membela negaranya!”
“Tapi kau menjadi panglima muda Bu-ongya.”
Wajah Sin Kiat berubah merah dan ia menggeleng-geleng kepala. “Dorongan cita-cita bocah yang terlalu
kenyang menderita. Sesungguhnya, seperti kukatakan tadi, setelah kini menjadi panglima aku bosan dan baru
aku sadar bahwa sesungguhnya bukan untuk pangkat inilah aku berjuang. Andai kata saat ini juga pangkatku
dicabut, aku tetap akan berjuang melawan penjajah.”
“Aku sudah bosan akan semua urusan politik, sudah bosan akan perang, Sin Kiat! Kehadiranku di Se-cuan dan
bantuan-bantuanku amatlah bertentangan dengan hatiku sendiri. Mungkin rasa tidak senangku akan perang ini
ditimbulkan oleh sepak terjang para pimpinan sendiri. Seperti Raja Muda Bu Sam Kwi sendiri, tak dapat
disangkal bahwa dia pernah berkhianat terhadap pemerintah dengan bersekongkol bersama bangsa Mancu
menyerbu ke selatan. Akan tetapi karena keadaannya berubah, kini ia melawan bangsa Mancu, bahkan
dianggap sebagai pusat pertahanan oleh kaum pejuang! Kemudian aku mendengar pertentangan diam-diam di
sini yang tidak lain disebabkan oleh ambisi pribadi masing-masing. Semua ini menjemukan hatiku, Sin Kiat.
Aku mulai curiga terhadap orang-orang yang menggunakan kedok yang indah-indah untuk menutupi nafsu
pribadi, bersembunyi di balik kata-kata indah seperti perjuangan dan lain-lain sebagai alasan. Kalau saja dalam
mengejar cita-cita pribadi orang melakukannya sendiri dengan resiko-resiko ditanggung sendiri, hal itu sudah
sewajarnya dan sepatutnya. Akan tetapi dalam perang sungguh merupakan dosa besar sekali karena
menyeret laksaan manusia lain yang seolah-olah dipermainkan nyawanya. Aku muak, Sin Kiat, karena itu aku
hendak pergi dari sini mencari Lulu.”
Sin Kiat menarik napas panjang. “Bersabarlah, Han Han. Bukankah engkau masih menanti hasil penyelidikan
Nona Tan Hian Ceng? Pula, sekarang belum waktunya untuk keluar perbatasan, amat berbahaya. Di Se-cuan
sendiri, semua orang adalah pejuang. Di sini orang tidak mengenal arti bebas perang, yang ada hanyalah
kawan atau lawan! Dan kalau engkau keluar perbatasan yang kini dikepung ketat oleh barisan Mancu, engkau
tentu akan dianggap mata-mata dan akan dikeroyok ribuan orang tentara. Bersabarlah menanti sampai
keadaan perang mereda dan sementara itu, harap engkau berhati-hati.”
“Mengapa engkau memperingatkan aku demikian?”
Sin Kiat memandang ke kanan kiri, kemudian berkata lirih, “Agaknya pertentangan paham antara Pangeran Kiu
dan Bu-ongya timbul lagi dan makin menghebat dengan adanya pengurungan barisan Mancu. Dan aku tahu
bahwa kedua pihak ingin memperebutkan orang-orang pandai kedua pihak masing-masing, maka tentu saja
engkau menjadi calon yang amat penting dan menarik untuk mereka perebutkan.”
“Hemmm, aku...? Diperebutkan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tenagamu yang amat mereka butuhkan, Han Han.”
Pemuda buntung itu menggeleng-geleng kepala. “Aku makin muak. Akan tetapi baiklah, alasan-alasan yang
kau kemukakan tadi memang tepat. Aku akan bersabar menanti sampai keadaan mereda.”
“Aku akan pergi mencari Nona Tan Hian Ceng, mungkin dia berada di Wan-sian dan membantu perang di
bagian itu. Siapa tahu dia sudah mendengar tentang Nona Lulu.”
Demikianlah, mendengar bujukan dan nasehat Sin Kiat, Han Han kemudian menunda kepergiannya
meninggalkan Se-cuan. Akan tetapi dia sudah menjadi makin bosan dan gelisah memikirkan Lulu. Apa lagi
pada waktu itu pihak Mancu dan pihak pejuang hanya saling menjaga tapal batas daerah kekuasaan masingmasing,
mereka hanya mengirim mata-mata dan para penyelundup untuk saling menyelidiki keadaan masingmasing.
Se-cuan dikurung dari timur, utara dan selatan. Satu-satunya daerah luar yang masih dapat dihubungi
hanyalah Sin-kiang dan Tibet.
Tepat seperti yang dikhawatirkan Sin Kiat, beberapa hari kemudian Han Han mengalami usaha
memperebutkan dirinya ketika pada suatu malam dia diundang oleh Pangeran Kiu ke dalam gedungnya. Han
Han yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan pangeran itu merasa heran, akan tetapi tentu saja tidak
berani menolak dan pada saat yang ditentukan pergilah ia menghadap Pangeran Kiu di gedungnya.
Berbeda dengan Wan Sin Kiat yang memakai pakaian panglima muda yang indah dan gagah, Han Han tidak
pernah mau memakai pakaian kebesaran, sungguh pun dia telah diangkat sendiri oleh Raja Muda Bu Sam Kwi
sebagai panglima pasukan pelopor. Kini ia menghadap Pangeran Kiu juga dengan pakaian sederhana, dan
terpincang-pincang dibantu tongkat bututnya memasuki istana yang megah itu.
Han Han merasa kaget, heran dan juga malu hati ketika melihat betapa Pangeran Kiu sendiri yang
menyambutnya, bersama Thian Tok Lama yang gendut bermuka kekanak-kanakan dan Thai Li Lama yang
kurus dan bersinar mata hitam aneh. Ia cepat menjura dengan hormat, dan ia makin heran melihat Pangeran
Kiu mendekatinya, memegang tangannya dan berkata.
“Suma-taihiap, tidak perlu melakukan banyak peradatan, marilah kita masuk ke dalam. Aku hendak
membicarakan hal yang amat penting dengan taihiap.”
Mereka memasuki ruangan dalam yang indah dan di situ telah tersedia makanan yang serba lengkap dan
mewah di atas meja. Pangeran Kiu mempersilahkan Han Han duduk dan beberapa orang pelayan wanita yang
muda-muda dan cantik-cantik cepat melayani mereka menuangkan arak, kemudian atas isyarat pangeran itu,
mereka mundur dan berdiri di sudut kamar menanti perintah.
Setelah menerima suguhan arak beberapa cawan, Han Han lalu bertanya, tanpa menyembunyikan
keheranannya dalam suaranya, “Maaf, Pangeran. Sungguh saya merasa amat heran atas undangan Pangeran.
Ada urusan penting apakah?”
Pangeran Kiu tertawa bergelak, dan dua orang pendeta Lama itu pun tersenyum.
“Suma-taihiap, ketahuilah bahwa sebetulnya antara engkau dan aku sebenarnya masih ada hubungan
keluarga.”
“Ahhh, harap Pangeran tidak berkelakar!” Han Han berkata, tidak percaya sama sekali.
“Aku tidak main-main, taihiap. Dan aku pun baru saja mengetahui akan hal ini dari keterangan Thian Tok
Lama,” jawab Pangeran Kiu sambil tersenyum.
Han Han teringat akan peringatan Sin Kiat agar dia berhati-hati. Siapa tahu ada maksud tersembunyi dalam
sikap pangeran yang aneh ini, maka ia kemudian menoleh dan memandang wajah pendeta Lama gendut yang
ia tahu amat lihai kepandaiannya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Saya mohon penjelasan,” kata Han Han singkat, ditujukan kepada Pangeran Kiu akan tetapi dia menatap
wajah Thian Tok Lama.
Hwesio Lama gendut ini tersenyum, mengangkat cawan dan minum araknya. Sekali teguk arak keras dalam
cawan itu pindah ke perutnya, dan sambil meletakkan cawan kosong di atas meja ia berkata, “Maaf, Sumataihiap.
Dalam perang pinceng terpaksa untuk sementara membuang pantangan minum arak dan makan
daging. Tentu saja engkau merasa heran sekali mendengar keterangan Pangeran Kiu, bukan? Akan tetapi
sesungguhnya begitulah. Engkau masih terhitung keluarga dari Pangeran, dan hal ini dapat dibuktikan kalau
saja taihiap tidak menyembunyikan sesuatu dan suka mengaku secara jujur.”
Han Han masih merasa heran dan kini ia memandang tajam, mengerutkan alisnya. “Thian Tok Losuhu, saya
tidak menyembunyikan sesuatu.”
Pendeta gendut itu tertawa dan matanya bersinar penuh kagum. “Taihiap pandai sekali menyembunyikan
kesaktian dari pandai pula menyembunyikan nama besar. Suma-taihiap, bukankah taihiap ini cucu dari
pendekar sakti Suma Hoat?”
Pertanyaan ini diajukan secara tiba-tiba, membuat Han Han terkejut bukan main. Dia memang tidak
menyembunyikan nama keturunannya ketika memperkenalkan diri kepada Raja Muda Bu Sam Kwi, mengaku
she Suma, akan tetapi untuk mengakui tokoh sesat yang menjadi kakeknya dan terkenal dengan julukan Jaihwa-
sian, yang amat dibencinya itu, benar-benar ia masih merasa berat. Akan tetapi, kini ia berhadapan
dengan orang-orang pandai seperti Thian Tok Lama, juga dengan seorang pangeran yang memiliki kekuasaan
besar, bagaimana akan dapat menyangkal? Selain itu, apa pula perlunya menyangkal?
“Losuhu, bagaimana Losuhu bisa tahu?” Ia balas bertanya, suaranya tenang saja akan tetapi pandang
matanya penuh selidik.
Kembali kakek gundul itu tertawa. “Pinceng mengenal baik Kakekmu itu, taihiap, seorang yang gagah perkasa,
tampan dan sakti. Melihat wajah taihiap sama dengan melihat wajah Suma Hoat di waktu muda, tentu saja
dengan mudah pinceng dapat menduganya. Melihat usiamu, melihat persamaan wajahmu dengan dia,
pantasnya taihiap adalah cucunya.”
Diam-diam Han Han merasa betapa hatinya menjadi kecut dan tidak senang. Celaka tiga belas dan sialan,
pikirnya. Siapa kira bahwa wajahnya sama benar dengan kakeknya yang amat dibencinya! Akan tetapi dia
tidak dapat berbohong, juga tidak mau membohong. Dia tidak senang diketahui orang sebagai cucu Jai-hwasian
Suma Hoat, akan tetapi dia juga tidak takut orang mengetahuinya! Memang benar kakeknya seorang
penjahat, akan tetapi kakeknya dan dia adalah dua orang lain!
“Memang benar, saya adalah cucunya. Akan tetapi saya masih tidak mengerti apa hubungannya ini dengan
Pangeran.”
Pangeran Kiu tertawa bangga. “Ah, Suma-taihiap, atau mulai sekarang lebih baik saya menyebutmu Sumahiante.
Nama besar keluarga Suma sudah menjulang tinggi sampai ke langit selama puluhan tahun...”
“Amat terkenal saking kotor dan jahatnya,” pikir Han Han penuh sesal.
“...sebagai keluarga yang berkuasa, kaya raya, memiliki ilmu kesaktian yang jarang bandingannya, dan yang
lebih dari pada itu semua, merupakan keluarga yang setia kepada kerajaan!”
“Hemmm, pujian kosong,” pikir Han Han sungguh pun ia sendiri tidak pernah tahu akan riwayat keluarganya
yang terkenal.
“Bahkan pendekar sakti Suling Emas pun masih terhitung anggota Suma ini. Suma Han-hiante, ketahuilah
bahwa antara keluarga Suma dan keluarga Kiu terdapat ikatan kekeluargaan pula, yaitu karena seorang di
antara selir mendiang Suma Kiat adalah puteri keluarga Kiu. Sedangkan Pangeran Suma Kiat itu adalah ayah
dari Kakekmu Suma Hoat. Bukankah dengan demikian, di antara nenek moyang kita masih terdapat hubungan
keluarga, Suma-hiante?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepala Han Han menjadi puyeng mendengar keterangan tentang keluarga Suma yang sering kali
menimbulkan benci dan penyesalan di hatinya itu. Ia tidak peduii apakah keluarga Suma itu dahulu keluarga
bangsawan ataukah keluarga kaya raya, pendeknya nama kakeknya yang berjuluk Jai-hwa-sian telah
menghapus semua perasaan mesra di hatinya sebagai anggota keluarga Suma. Kalau dia disuruh memilih,
tentu ia akan jauh lebih suka memakai nama keluarga Sie, namun karena dia tidak sudi menyembunyikan
nama yang dianggapnya sebagai sifat pengecut, terpaksa ia menggunakan she Suma yang dibencinya itu.
“Apakah hubungannya hal itu dengan panggilan ini, Pangeran? Saya tidak percaya bahwa saya dipanggil
hanya untuk mendengar keterangan tentang keluarga nenek moyang ini.”
“Ha-ha-ha! Engkau terlalu kurang sabar, Hiante! Bukankah hal yang menggirangkan ini perlu dirayakan lebih
dulu? Marilah kita makan minum, baru nanti kita bicara lagi!”
Karena sikap pangeran itu yang ramah-tamah, ditambah lagi sikap dua orang pendeta Lama yang
menghormatnya, Han Han tak dapat mengelak dan mulailah mereka makan minum. Han Han tidak tahu
betapa Pangeran Kiu dan kedua orang pendeta Lama itu sering kali bertukar pandang dan isyarat, dan tidak
tahu betapa pangeran itu sengaja mendatangkan dua orang pelayan wanita yang baru, yang muda-muda dan
amat cantik. Tidak tahu bahwa dua orang pelayan ini sengaja diperintah untuk melayaninya, untuk merayunya
dengan gerakan-gerakan lemah gemulai, dengan suara merdu ketika menawarkan arak, dengan sentuhansentuhan
mesra secara sambil lalu ketika melayaninya.
Han Han merasa kikuk dan canggung, diam-diam mendongkol kepada kedua orang pelayan itu yang
dianggapnya genit dan terlalu berani. Akan tetapi dia diam saja, melirik pun tidak kepada dua orang wanita
muda yang menyiarkan keharuman dari tubuh mereka, suara-suara merdu memikat dari mulut mereka, dan
rangsangan-rangsangan dari sentuhan jari tangan mereka. Han Han tidak tahu bahwa Pangeran Kiu sudah
mengatur semua ini, juga ketika serombongan penari yang cantik-cantik datang, menari dan meliak-liukkan
tubuh mereka yang ramping dan seperti menantang minta dipeluk, Han Han sama sekali tidak mengira betapa
pangeran itu dan dua orang hwesio Lama memandangi setiap gerak-geriknya.
Memang Pangeran Kiu bersama dua orang hwesio Tibet itu kecelik. Mereka tadinya menyangka bahwa
sebagai cucu Jai-hwa-sian, pemuda yang buntung kakinya namun memiliki kelihaian melebihi Jai-hwa-sian
sendiri ini tentu mewarisi watak kakeknya, suka akan wanita. Karena itu Pangeran Kiu berusaha memikat Han
Han dan menyenangkan hatinya dengan wanita-wanita cantik agar pemuda lihai ini dapat terjatuh ke dalam
kekuasaannya dan menjadi pembantunya. Siapa kira pemuda itu sama sekali tidak tertarik dan hal ini dapat
pula dilihat dari sikap dua orang wanita perayu yang makin lama makin lemas kehabisan semangat.
Pangeran Kiu memberi isyarat sehingga semua penari dan pelayan mundur. Han Han baru bernapas lega,
karena tadi, sungguh pun ia menekan perasaan dan tetap tenang, hatinya sudah berdebar tidak karuan.
Menghadapi rayuan-rayuan wanita cantik itu baginya lebih menegangkan dari pengeroyokan musuh yang
bersenjata tajam.
“Suma Han-hiante, kini tiba saatnya bagi kita. Kita sama mengetahui bahwa di antara kita terdapat hubungan
keluarga, maka aku tidak ragu-ragu lagi untuk mengajakmu bicara. Terus terang saja aku mengharapkan
bantuanmu, Hiante.”
“Bantuan? Bantuan apakah, Pangeran?”
“Bantuan kepadaku untuk menghadapi musuh-musuhku.”
Han Han memandang pangeran itu, pura-pura heran sungguh pun ia sudah dapat menduganya, mengingat
akan penuturan Sin Kiat.
“Pangeran, musuh kita semua bukankah barisan Mancu? Dan saya rasa selama ini saya pun sudah membantu,
walau pun hanya sedikit menghadapi tokoh-tokoh pandai di barisan musuh.”
“Bukan hanya itu, Hiante. Musuh yang terbesar bahkan yang kini menjadi sekutu kami. Kumaksudkan, Buongya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hehhh? Bu-ongya...? Bagaimana ini? Saya tidak mengerti, Pangeran.”
“Thian Tok Lama, harap sukalah memberi penjelasan kepada Suma-hiante,” perintah Pangeran Kiu.
Pendeta Tibet yang gemuk dan bermuka lunak kekanak-kanakan itu kemudian berkata dengan sikap lunak,
“Suma-taihiap, biar pun ilmu kepandaianmu amat hebat dan tinggi, akan tetapi karena usiamu yang masih
amat muda, tentu engkau belum tahu akan hal yang terjadi puluhan tahun yang lalu dan tidak mengenal
siapakah sebetulnya Bu Sam Kwi. Siapakah yang menjadi biang keladi penjajahan? Yang memungkinkan
bangsa Mancu datang menyerbu dan menaklukkan seluruh pedalaman? Bukan lain adalah Bu Sam Kwi!”
Kalimat terakhir ini diucapkan dengan tekanan untuk mendatangkan kesan. Akan tetapi mereka semua melihat
bahwa pemuda buntung itu tidak tampak kaget dan mendengarkan dengan tenang-tenang saja. Hal ini
memang tidak aneh bagi Han Han yang sudah mendengar akan cerita itu.
Akan tetapi dua orang pendeta Tibet yang sakti itu mengira bahwa sikap tenang Han Han ini hanya karena
pemuda ini sudah pandai menguasai hati dan pikirannya, pandai menguasai perasaannya, maka Thian Tok
Lama melanjutkan.
“Pada waktu Kerajaan Beng diserbu bangsa Mancu, kalau semua panglima seperti Bu Sam Kwi dan lain-lain
mengerahkan bala tentara mempertahankan, tentu bangsa Mancu dapat dipukul hancur. Akan tetapi sayang,
kaisar terakhir Kerajaan Beng amat lemah sehingga para panglima memberontak. Bahkan Bu Sam Kwi yang
merupakan pengkhianat terbesar telah bersekutu dengan bangsa Mancu dan menyerbu ke selatan. Berkat
bantuan Bu Sam Kwi itulah maka bangsa Mancu berhasil menguasai seluruh pedalaman. Dan sekarang,
setelah terlambat, setelah melawan pun tiada gunanya lagi, Bu Sam Kwi menentang bangsa Mancu matimatian
dan semua ini hanyalah untuk mempertahankan kedudukannya sebagai raja muda di Se-cuan!”
Han Han juga sudah mendengar akan hal itu, bahkan dia sudah tahu lebih banyak lagi, misalnya tentang
keinginan Pangeran Kiu untuk mengadakan perdamaian dengan pihak Mancu yang tentu saja didasari
keinginan mendapatkan kedudukan tinggi yang akan diberikan pemerintah Mancu kepadanya! Akan tetapi
karena Han Han tidak peduli akan urusan itu yang dianggapnya bukan urusannya, kini mendengar penuturan
Thian Tok Lama lalu bertanya.
“Apakah hubungannya semua itu dengan saya? Dan mengapa diceritakan kepada saya?”
Kini Pangeran Kiu yang melanjutkan. “Suma-hiante, setelah kau mendengar penuturan Thian Tok Lama, tentu
engkau sadar bahwa tidak semestinya engkau mengabdi kepada Bu Sam Kwi! Dia seorang yang palsu
hatinya! Karena itu, saya mengulurkan tangan kepadamu, sebagai anggota keluarga, untuk membantuku.”
Pangeran Kiu memandang tajam penuh selidik.
“Akan tetapi, apakah bedanya? Andai kata saya membantu Pangeran, tentu untuk melawan barisan Mancu.”
Han Han pura-pura bertanya.
“Omitohud...! Sungguh mengagumkan. Taihiap yang lihai masih terlalu muda, polos dan bersih!” Thai Li Lama
yang kurus berkata.
“Bukan, Hiante. Kuminta agar engkau suka berpihak kepadaku karena sekarang terjadi pertentangan antara
pihakku dan pihak Bu Sam Kwi. Engkau tahu bahwa jelek-jelek aku masih keluarga Kerajaan Beng, seorang
pangeran dari kerajaan itu, sedangkan Bu Sam Kwi hanyalah seorang panglima yang sudah memberontak dan
berkhianat! Kami tidak akan memerangi Kerajaan Mancu lagi, bahkan akan berdamai.”
Han Han pura-pura terheran. “Hemmm, tadi Bu-ongya dipersalahkan ketika bersekutu dengan bangsa Mancu,
kenapa sekarang Pangeran hendak bersekutu dengan bangsa Mancu? Bagaimana ini?”
“Jauh bedanya, Hiante! Dahulu tidak semestinya Bu Sam Kwi bersekutu dengan bangsa Mancu, karena
Kerajaan Beng masih kuat. Dalam keadaan masih kuat melawan dia bersekutu, itulah pengkhianatan
namanya! Sekarang Kerajaan Mancu amat kuat, sudah menguasai seluruh Tiongkok. Kalau kita berdamai, itu
adalah menggunakan kecerdikan namanya. Rakyat tidak tersiksa dan menderita oleh perang yang berlarutlarut,
dan setelah kita memperoleh kedudukan, mudah bagi kita untuk berusaha menguasai mereka, menanti
dunia-kangouw.blogspot.com
kesempatan baik untuk menggulingkan musuh. Ini adalah sebuah siasat yang cerdik, tidak melawan secara
membuta seperti yang kita lakukan selama ini.”
Melawan secara membuta seperti yang kita lakukan selama ini.”
Han Han mengerutkan keningnya, hatinya muak. Kalau dipikir mendalam, semua itu sama saja. Permainan
orang-orang besar yang bercita-cita mencapai kedudukan setinggi-tingginya bagi mereka sendiri. Tiba-tiba ia
mengangkat muka, memandang wajah tiga orang itu berganti-ganti dengan pandang mata tajam sehingga
Pangeran Kiu dan dua orang pendeta itu terkejut. Sinar mata Han Han seperti menembus jantung mereka.
Thai Li Lama, seorang yang ahli dalam ilmu sihir, melihat sinar mata ini menjadi kagum dan terkejut sekali,
mulutnya berbisik, “Omitohud...!”
“Pangeran, maafkan kata-kata saya. Akan tetapi, sesungguhnya aku muak akan perang, muak akan urusan
orang-orang besar yang saling memperebutkan kursi dan kedudukan. Saya datang ke Se-cuan sesungguhnya
bukan untuk berperang, melainkan untuk mencari adik saya yang bernama Lulu, yang saya kira tadinya berada
di Se-cuan. Kalau saya ikut membantu peperangan adalah semata-mata ingin membantu para orang gagah
dan melawan pasukan Mancu yang datang menyerbu. Kini perang berhenti, adik saya tidak berhasil saya
temukan, maka saya pun hendak meninggalkan Se-cuan. Mengenai urusan Pangeran dengan Bu-ongya, saya
tidak suka mencampurinya. Perang amat jahat, akan tetapi lebih kotor lagi adalah permainan orang-orang
besar yang menggerakkan perang. Demi mencapai cita-cita mereka memperebutkan kedudukan, mereka
mengobarkan perang, menciptakan dalih yang muluk-muluk untuk membakar hati rakyat atau menggunakan
harta benda untuk menukarnya dengan nyawa rakyat! Perang terjadi, siapakah yang menderita, siapa yang
menjadi korban dan siapa yang mati bergelimpangan dalam jumlah puluhan laksa? Bukan lain rakyatlah! Kalau
menang? Bukan rakyat yang mengecap nikmat kemenangannya, melainkan orang-orang besar pengejar citacita
pribadi berkedok demi rakyat itulah yang berpesta-pora, mabuk kemenangan! Kalau kalah? Rakyat yang
mati tetap mati, akan tetapi orang-orang besar itu dapat melarikan diri jauh dari tempat perang membawa harta
bendanya, atau kalau ditawan pun dapat menjadi sekutu dari yang menang dan memperoleh kedudukan pula,
biar pun tidak setinggi seperti kalau menang! Sungguh menyedihkan, namun menjadi kenyataan selama
sejarah berkembang. Perang adalah permainan orang-orang besar yang mempermainkan rakyat demi
tercapainya cita-cita mereka. Kalau kalah, orang-orang besar itu lebih dulu melarikan diri karena memang
tempatnya selalu di belakang, sebaliknya kalau menang mereka pulalah yang lebih dulu lari ke depan saling
memperebutkan pahala dan jasa!”
Han Han bicara penuh semangat dan memang di dalam hatinya ia merasa prihatin sekali setelah mengalami
bermacam hal sebagai akibat perang. Dia telah melihat rakyat yang melarikan diri mengungsi akibat perang,
kehilangan semua miliknya yang tidak seberapa, bahkan banyak yang kehilangan nyawa keluarga dan nyawa
sendiri, dikejar-kejar tentara Mancu, diperkosa, disiksa, dibunuh!
Dan orang-orang besar seperti Pangeran Kiu ini dan banyak lagi, enak-enak di Se-cuan, di gedung besar sama
sekali aman dari pada penderitaan rakyat kecil, namun masih bicara tentang perjuangan! Bahkan mengatur
siasat untuk bersekutu dan berdamai dengan bangsa Mancu! Dan semua itu masih pakai dalih yang mulukmuluk
dan baik-baik. Kecerdikan! Agar rakyat tidak tersiksa! Phuhh! Katakan saja demi untuk keselamatannya
sendiri, demi untuk kedudukan dan keuntungan diri pribadi! Rakyat pula yang dibawa-bawa. Siapa tidak akan
muak?
Wajah kedua orang pendeta Tibet menjadi pucat, dan wajah Pangeran Kiu menjadi merah sekali saking
marahnya. Tak mereka sangka pemuda buntung yang mereka harapkan berpihak kepada mereka itu
mengeluarkan ucapan seperti itu! Ucapan seorang pengkhianat pula! Bagi mereka, tentu saja segala
perbuatan mereka yang sudah-sudah, yang sedang berjalan, mau pun yang akan datang kesemuanya adalah
baik dan benar belaka!
“Suma Han! Berani engkau bicara seperti ini?” Pangeran Kiu hampir tak dapat menahan kemarahannya, akan
tetapi Thian Tok Lama cepat berkata.
“Pangeran, harap suka memaafkan ucapan Suma-taihiap. Dia masih muda, darahnya masih panas, tentu saja
pandangannya pun dangkal. Betapa pun juga, harus diingat bahwa dia telah berjasa. Biarlah penawaran
Pangeran tadi dia pikirkan masak-masak, dan setelah pikirannya tenang, tentu dia akan berpendapat lain.”
Kemudian pendeta gendut ini berdiri menjura kepada Han Han sambil berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suma-taihiap, pinceng harap taihiap suka pulang dulu dan kami berharap dalam waktu tiga hari taihiap suka
mempertimbangkan apa yang kita bicarakan di sini sekarang ini. Di samping itu, pinceng pun akan membantu
taihiap mencari dan menyelidiki tentang adik taihiap yang bernama Nona Lulu itu.”
Han Han sadar bahwa ucapannya yang terdorong hati penasaran tadi membikin marah Pangeran Kiu. Dia
bangkit berdiri, memberi hormat sambil berkata, “Mohon Pangeran sudi memaafkan saya yang lancang mulut.”
Ia lalu mengundurkan diri dan pergi meninggalkan gedung Pangeran Kiu.
********************
Dua hari kemudian ketika sedang termenung menyendiri, telinga Han Han menangkap gerakan orang di
sebelah belakang. Dia tahu bahwa yang datang adalah orang yang memiliki ginkang tinggi, akan tetapi dia
diam saja, menoleh pun tidak.
“Suma-taihiap...!”
Han Han baru menoleh dan melihat Thian Tok Lama telah berdiri di belakangnya. Cepat ia memberi hormat
dan berkata, “Sepagi ini Losuhu sudah datang menemui saya, ada keperluan apakah?”
Thian Tok Lama tertawa. “Kabar baik, taihiap. Kabar baik sekali. Pinceng sudah dapat menemukan adik
taihiap.”
Seketika wajah Han Han berseri, dadanya berdebar tegang. “Losuhu! Di mana dia? Benarkah Losuhu bertemu
dengan Lulu? Ahhh, terima kasih kepada Thian Yang Maha Kasih. Adikku masih hidup! Losuhu, di mana dia?”
Thian Tok Lama memperlebar senyumnya, diam-diam ia kasihan kepada pemuda ini, kemudian ia menggerakgerakkan
telunjuknya seperti menegur kepada Han Han, “Taihiap, setelah pinceng mengetahui keadaanmu,
mendengar siapa adanya adikmu, sungguh pinceng merasa makin kagum dan terharu. Mengertilah pinceng,
mengapa taihiap demikian membenci perang, akan tetapi pinceng kagum bahwa pendirian taihiap tetap teguh
tak terpengaruh keadaan. Kiranya adik taihiap adalah seorang puteri Mancu! Hemmm...!”
Kalau tadinya Han Han masih curiga dan ragu-ragu apakah benar-benar pendeta Tibet ini tahu di mana
adanya Lulu, kini keraguannya menghilang dan ia bertanya dengan suara mendesak, “Losuhu, setelah Losuhu
datang menjumpaiku dan mengabarkan tentang Lulu, harap jangan menyiksa perasaanku dan katakanlah, di
mana dia?”
“Dia belum lama datang bersama pasukan yang dipimpin oleh Puteri Nirahai. Dia adalah seorang Panglima
Mancu, taihiap.”
Han Han membelalakkan matanya. “Aaaahhhhh? Tidak mungkin! Tidak mungkin!”
Pendeta itu memandang tajam. “Mengapa, taihiap? Bukankah Nona Lulu seorang gadis bangsa Mancu?”
“Di mana dia, Losuhu, aku segera menyusulnya!” Han Han berkata penuh gairah.
“Di perbatasan sebelah barat Min-san, di lereng-lereng gunung itulah dia bertugas melakukan penyelidikan.”
“Terima kasih, Losuhu! Terima kasih! Sekarang juga aku hendak berpamit dan pergi!” Setelah berkata
demikian, Han Han berkelebat pergi untuk minta diri dari Bu Sam Kwi. Pemuda itu tidak tahu betapa Thian Tok
Lama memandangnya sambil menggeleng kepala dah berkata lirih.
“Sayang... dia pemuda yang lihai sekali... sayang...!”
Bu Sam Kwi tidak dapat menahan ketika Han Han berpamit dan menyatakan meletakkan jabatan dengan
alasan ingin keluar dari Se-cuan dan mencari adiknya. Tentu saja dia tidak mengatakan bahwa adiknya kini
telah menjadi seorang Panglima Mancu! Ketika ia mendapat perkenan dan keluar dari istana, dia bertemu
dengan Wan Sin Kiat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sin Kiat, aku pergi sekarang juga, sudah mendapat perkenan Bu-ongya. Selamat tinggal.”
Sin Kiat memegang lengan sahabatnya itu. “Eh, nanti dulu. Engkau hendak ke manakah, Han Han?”
“Ke mana lagi? Tentu saja mencari Lulu. Kalau lebih lama menanti di sini saja, sampai kapan aku dapat
menemukannya?”
Sin Kiat menarik napas panjang. Hatinya pun menyesal sekali mengapa dia tidak mendapat kesempatan untuk
pergi sendiri mencari gadis yang telah merobohkan hatinya itu. “Aku pun akan minta ijin dari Ongya untuk
membantumu mencarinya.”
“Jangan!” Cepat-cepat Han Han menarik lengannya. “Engkau masih dibutuhkan di sini, biar aku sendiri yang
mencarinya.” Setelah berkata demikian, Han Han melesat pergi cepat sekali.
Sin Kiat menarik napas panjang. “Ah, Lulu...!”
Ia lalu mengambil keputusan untuk minta ijin dari atasannya. Perang sedang berhenti, musuh tidak menyerbu.
Kesempatan dalam menganggur ini akan ia pergunakan membantu Han Han mencari jejak gadis itu.
Han Han berlari, atau lebih tepat berloncatan cepat sekali menuju ke Pegunungan Min-san yang terletak di
perbatasan utara Propinsi Se-cuan. Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, barulah ia tiba di daerah
Pegunungan Min-san itu. Daerah yang sunyi dan di daerah ini pun perang tidak tampak, suasana sepi dan
agaknya para penjaga di pihak Se-cuan juga melakukan penjagaan sembunyi-sembunyi di dalam hutan-hutan.
Dengan kepandaiannya, Han Han dapat melalui tempat penjagaan dan memasuki hutan-hutan di seberang
perbatasan, memasuki daerah musuh di Propinsi Kan-su, di sebelah barat puncak Min-san.
Pada hari ke lima, pagi-pagi ia memasuki sebuah hutan dan hatinya agak bingung mengapa sampai sekian
jauhnya belum juga ia menemukan pasukan Mancu. Mulailah ia meragu. Jangan-jangan ia ditipu oleh pendeta
Tibet itu! Han Han mengusap peluh di dahinya dengan ujung lengan baju, beristirahat dan berdiri sambil
bersandar pada tongkatnya karena ia menjadi bingung, tidak tahu harus mencari ke mana di hutan besar yang
sunyi itu.
Tiba-tiba Han Han menghentikan usapannya pada dahi dan leher. Matanya melirik ke kanan kiri, tongkatnya
siap di tangan. Ia mendengar gerakan banyak orang makin mendekat, agaknya mengurung tempat itu.
“Wir-wir-sing-sing-singgg!”
Dari arah belakang dan kiri meluncur banyak anak panah ke arah tubuhnya. Han Han menggerakkan
tongkatnya dan semua anak panah runtuh. Kemudian bermunculan dari balik-balik pohon di sekelilingnya
pasukan yang terdiri dari kurang lebih lima puluh orang! Mereka bersenjata lengkap dan terdengar aba-aba
dalam bahasa Mancu disusul serbuan pasukan itu!
“Aku tidak ingin berkelahi! Aku mencari adikku Lulu!” Han Han cepat berseru dan karena ia menggunakan
tenaga khikang, maka suaranya nyaring sekali membuat prajurit Mancu terkejut dan langkah kaki mereka
tertahan.
“Dia panglima pemberontak Bu! Tangkap! Bunuh saja!” Tiba-tiba terdengar suara yang amat dikenal Han Han,
suara Thian Tok Lama!
Mulailah Han Han mengerti bahwa dia memang ditipu! Teringat ia sekarang bahwa Thian Tok Lama termasuk
sekutu Pangeran Kiu yang ingin berdamai dengan bangsa Mancu. Kiranya pendeta itu sengaja menjebaknya di
sini untuk membunuhnya, dan tentu saja untuk memperlihatkan iktikad baiknya terhadap bangsa Mancu! Han
Han menjadi marah, apa lagi ketika dugaannya itu terbukti dengan munculnya Thian Tok Lama, agak jauh dari
tempat itu.
Ia melihat pula Thai Li Lama si pendeta Tibet yang kurus, dan yang lebih memarahkan hatinya lagi adalah
ketika ia melihat banyak orang-orang sakti yang pernah ia lihat di kota raja ketika ia mengejar Giam Kok Ma,
yaitu sepasang saudara Tikus Kuburan dan Si Burung Hantu yang menyeramkan, ditambah lagi dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
beberapa orang tokoh Mancu. Lawan yang berat, pikirnya, apa lagi di situ terdapat dua orang pendeta Tibet
yang sudah ia ketahui kelihaiannya!
Betapa pun marahnya, Han Han masih tidak ingin untuk bertempur. Sekali-kali bukan karena takut, melainkan
karena dia tidak mau membuang-buang waktu, ingin segera pergi untuk mencari adiknya yang ia yakin tidak
berada di tempat ini dan keterangan Thian Tok Lama kepadanya itu palsu, hanya untuk menjebaknya di
tempat itu. Maka ia lalu membalik dan meloncat ke belakang. Akan tetapi di belakangnya sudah menjaga pula
prajurit-prajurit Mancu. Tiba-tiba bayangan orang tinggi besar menerjangnya dari samping dengan pukulan
tangan yang mendatangkan hawa panas dan angin keras!
“Wuuuttttttt!”
Han Han meloncat ke belakang dan pukulan itu menyambar lewat. Akan tetapi pada detik berikutnya, kembali
pukulan yang sama hebatnya menyambar dari belakangnya, dan cepat ia kembali mengelak.
“Hemmmm, kiranya Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Masih ada lagikah?” Han Han berkata marah.
“Singgggggg...!”
Sinar merah menyambarnya dan Han Han kembali mengelak dengan mudah. Ternyata di situ telah berdiri pula
Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio. Dengan demikian lengkaplah tiga orang murid yang terkenal dari Setan Botak
yang sudah mengurungnya bersama puluhan orang prajurit Mancu!
“Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-li, aku tidak mencampuri lagi urusan perang, aku hendak mencari
adikku dan tidak ingin bertempur. Berilah aku jalan agar aku pergi saja dari sini!” kata Han Han.
Hek-giam-ong yang seperti dua orang saudara seperguruannya tadi memandang Han Han penuh perhatian,
terutama sekali ke arah kakinya yang tinggal sebelah, kini berkata dengan suaranya yang parau, sesuai
dengan mukanya yang hitam dan tubuhnya yang tinggi besar.
“Han Han, engkau bocah setan sudah buntung kakimu masih menjual lagak. Lebih baik engkau lekas berlutut
menyerah menjadi tawanan kami dari pada kami turun tangan membuntungi kakimu yang sebelah lagi!”
Diejek demikian Han Han masih tetap sabar, akan tetapi ia tahu bahwa pertempuran tak mungkin dihindarkan
melihat betapa pasukan Mancu itu kini mengepungnya makin ketat dalam jarak dekat, sedangkan tokoh-tokoh
sakti yang menyertai penjebakan ini pun menjaga dari empat penjuru.
“Han Han, setelah kakimu buntung, apa sih dayamu menghadapi pasukan kami? Aku sendiri menjadi malu
harus bertanding melawan seorang buntung!” kata Pek-giam-ong memandang rendah.
“Minggiriah, biar aku pergi!” Han Han masih bersikap sabar.
“Siuuuttttt... plakkk!”
Tubuh Ma Su Nio terhuyung ke belakang ketika pukulannya tadi ditangkis Han Han seenaknya tanpa menoleh,
hanya mengangkat tangan kiri menangkis datangnya pukulan itu dari kiri.
“Sudahlah, aku pergi saja!” Han Han berkata kemudian tubuhnya mencelat ke kanan, menjauhi tiga orang
murid Kang-thouw-kwi itu. Ia hendak mendobrak penjagaan para prajurit Mancu yang mengurungnya untuk
meloloskan diri.
Melihat ini, enam orang prajurit Mancu bergerak menubruk dan menyerangnya dari segala jurusan, sedangkan
jalan keluar telah ditutup oleh penjagaan para prajurit. Han Han tidak melihat jalan keluar, terpaksa ia
menggerakkan tangan kanannya mendorong dan enam orang itu terpelanting ke kanan kiri seperti
dihempaskan oleh tenaga angin badai yang amat kuat.
Akan tetapi, sebelum Han Han sempat meloncat lagi, terdengar pukulan sakti menyambar dari belakang dan
kanan kiri. Hawanya panas bukan main. Kiranya tiga orang murid Setan Botak itu telah menerjangnya dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
marah. Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong menghantamnya dengan pengerahan ilmu pukulan mereka Toatbeng
Hwi-ciang sedangkan Ma Su Nio menggunakan ilmu pukulannya yang lebih hebat lagi, yaitu pukulan
Hiat-ciang yang mengeluarkan bunyi bercicitan sangat tinggi sehingga membikin anak telinga tergetar.
Ilmu pukulan Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dari Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong
adalah cabang dari ilmu pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang biar pun kehebatannya tak dapat disamakan
dengan Hwi-yang Sin-ciang namun sudah amat dahsyat karena tubuh lawan yang terpukul selain nyawanya
melayang juga akan menjadi hangus seperti terbakar kulitnya.
Akan tetapi Hiat-ciang (Tangan Merah) dari Ma Su Nio masih setingkat lebih tinggi lagi dari pada Toat-beng
Hwi-ciang. Jika ia menggunakan ilmu ini, sepasang tangan Ma Su Nio menjadi merah darah dan setiap
pukulannya selain mengandung hawa panas melebihi pukulan kedua orang kakek, juga membawa bau amis
dan mengeluarkan bunyi mencicit tinggi. Berbeda dengan Toat-beng Hwi-ciang yang menghanguskan kulit
lawan, pukulan Hiat-ciang ini mengandung racun jahat sekali yang akan meracuni darah lawan hanya oleh
hawa pukulan saja, apa lagi kalau sampai bersentuhan atau terkena pukulan tangan merah itu!
Namun, betapa pun lihai dan mengerikan ilmu pukulan dari ketiga orang murid Setan Botak ini, bagi Han Han
mereka itu bukan apa-apa. Dia tidak ingin berkelahi, akan tetapi setelah diserang seperti itu, tentu saja dia
tidak sabar lagi. Melihat datangnya pukulan dari belakang, kanan dan kiri ini dia mengempit tongkatnya,
kakinya yang tinggal sebuah itu berputar sehingga tubuhnya membalik. Tangan kirinya didorongkan ke arah
pukulan Ma Su Nio yang berbunyi seperti tikus terjepit sedangkan tangan kanannya membuat gerakan
dorongan memutar, sekaligus menghadapi kedua pukulan Hekgiam-ong dan Pek-giam-ong dari depan dan
kanan.
“Desssss...!!”
Hawa pukulan yang panas bertumbuk di udara. Terdengar pekik nyaring dan tubuh tiga orang murid Setan
Botak itu terbanting dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya. Han Han tidak menyia-nyiakan
kesempatan selagi tiga orang lawannya itu bergulingan untuk meloncat dan hendak menerobos kepungan,
akan tetapi para prajurit Mancu yang sudah menghadangnya telah menubruknya dengan tombak dan golok
mereka.
Menghadapi hujan senjata ini, Han Han cepat memutar tongkatnya. Terdengar suara nyaring berkerontangan
ketika belasan batang tombak dan golok beterbangan terlepas dari tangan para pemegangnya, bahkan banyak
di antara senjata-senjata itu yang patah-patah.
“Setan-setan ganas! Minggirlah, beri jalan! Aku tidak mau berkelahi!” bentak Han Han, akan tetapi tentu saja
suaranya tidak dihiraukan orang dan dari depan menyambar belasan batang anak panah sebagai jawaban
bentakannya itu.
“Hemmm, benar-benar keparat orang-orang Mancu!” Han Han mulai panas perutnya.
Sekali putar saja, tongkatnya telah meruntuhkan semua anak panah. Para prajurit sudah menyerbu lagi. Ada
yang menyerang dengan tombak, pedang, atau golok, akan tetapi banyak pula yang nekat menyerang dengan
tangan kosong karena senjatanya telah patah. Mereka menyerang sambil berteriak-teriak, membuat Han Han
makin marah.
Empat orang prajurit yang menerjang dari kiri memandang rendah dan merasa girang ketika pemuda buntung
itu menyambut terjangan golok mereka dengan tangan kiri yang kosong. Mereka merasa yakin bahwa tentu
serbuan mereka sekali ini akan merobohkan atau setidaknya melukai Han Han. Akan tetapi, tiba-tiba ketika
tangan kiri pemuda buntung itu digerakkan seperti orang menampar, hawa yang amat dingin menyambar.
Tubuh mereka terpelanting ke atas tanah seperti dibanting dan senjata mereka masih tergenggam, akan tetapi
empat orang prajurit ini telah menjadi mayat yang darahnya membeku!
Enam orang lain yang datang menerjang dari depan dan kiri disambut dengan tongkat. Demikian cepat
gerakan tongkat ini sedangkan tubuh Han Han tetap tidak berpindah tempat, hanya berdiri di atas sebelah kaki,
tongkat digerakkan ke arah para pengeroyok. Dalam waktu beberapa detik saja enam orang inipun roboh dan
tewas!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Swinggggg...!”
Han Han cepat merendahkan tubuh, membiarkan sinar pedang yang menusuk ke arah tengkuknya itu lewat di
atas kepalanya. Tanpa membalikkan tubuh, tongkatnya lantas menyambar ke belakang, ke arah penyerangnya.
“Trang-tranggg...!”
Tampak api berpijar ketika tongkatnya tertangkis oleh dua batang golok yang digerakkan tenaga kuat. Han Han
memutar kaki tunggalnya dan melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio,
sedangkan yang menangkis tongkatnya adalah Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Kiranya ketiga orang murid
Setan Botak ini sudah bangkit kembali dan kini telah mempergunakan senjata.
Hal ini sebetulnya jarang sekali dilakukan tiga orang itu. Mereka telah menerima gemblengan Kang-thouw-kwi
Gak Liat dan telah memiliki ilmu silat tinggi, bahkan kedua orang kakek yang mukanya hitam dan putih itu telah
memiliki ilmu pukulan Toat-beng Hwi-ciang, sedangkan Ma Su Nio memiliki Hiat-ciang. Dengan kedua macam
ilmu pukulan yang didasari tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang ini, mereka amat percaya akan kemampuan
sendiri menghadapi lawan sehingga mereka tidak pernah membutuhkan senjata tajam. Kedua tangan mereka
lebih ampuh dari pada senjata tajam yang mana pun juga.
Akan tetapi sekali ini, menghadapi Han Han yang ternyata memiliki tenaga sinkang yang amat luar biasa, jauh
lebih kuat dari pada tenaga mereka sehingga mereka itu sama sekali tidak dapat mengandalkan pukulan
tangan kosong berdasarkan sinkang, maka setelah mereka bergulingan dan lenyap kepeningan kepala mereka,
tiga orang tokoh kaum sesat itu telah menyambar senjata dan menyerang lagi.
Begitu Han Han membalikkan tubuhnya, ketiga orang sakti itu menyerangnya. Gerakan pedang di tangan Ma
Su Nio cepat bukan main sehingga pedangnya merupakan sekelebatan sinar menyilaukan mata. Juga gerakan
golok di tangan kedua orang Hek-pek Giam-ong mendatangkan angin berdesir, tanda bahwa tenaga mereka
kuat sekali. Tiga orang ini menyerang dari depan, kanan dan kiri Han Han dan begitu senjata mereka meluncur
dengan tangan kanan, tangan kiri mereka menyusul dengan pukulan Toat-beng Hwi-ciang dan Hiat-ciang!
Han Han yang baru saja membalikkan tubuh melihat berkelebatnya tiga batang senjata tajam itu, cepat
menangkis dengan putaran tongkatnya, tidak menyangka bahwa tiga orang lawannya itu menyusulkan
pukulan-pukulan tangan kiri yang amat kuat, maka ia hanya menangkis pedang dan golok.
“Cring-trang-tranggg...!”
Tiga batang senjata lawan ini terpental dan hampir terlepas dari pegangan, akan tetapi pukulan tiga tangan
yang mengandung hawa sakti kuat, menyambar ke tubuh Han Han. Pemuda ini mengerahkan sinkang dan
menerima pukulan itu. Tubuhnya bergoyang-goyang.
Melihat betapa tubuh Han Han bergoyang-goyang akibat sambaran tiga buah pukulan jarak jauh, Ma Su Nio
menjadi girang dan mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah terluka. Ia mengeluarkan pekik
melengking kemudian menubruk maju, pedangnya menusuk ke arah lambung kiri Han Han dan tangan kirinya
dengan tenaga Hiat-ciang sepenuhnya mencengkeram ke arah leher.
Hebat bukan main serangan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio ini, dan entah mana yang lebih berbahaya antara
pedang di tangan kanan ataukah pukulan Hiat-ciang tangan kirinya. Terjangan ganas yang merupakan
serangan maut dari Ma Su Nio ini masih disusul oleh serbuan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang siap-siap
mendekati dan mencari kesempatan baik sebagai perkembangan serangan Ma Su Nio.
Han Han melihat betapa para prajurit Mancu sudah mengepung rapat tempat itu, melihat pula sikap para tokoh
kaum sesat yang siap hendak membunuhnya. Ia maklum bahwa makin lama akan makin berbahayalah
keadaannya. Kini menghadapi terjangan Ma Su Nio, ia mengeluarkan seruan keras, tongkatnya bergerak ke
pinggir menangkis dan terus menggunakan sinkang menempel pedang wanita itu. Pukulan Hiat-ciang yang
mengeluarkan bau amis itu tidak ia elakkan, melainkan ia papaki dengan tangan kanannya yang terbuka
telapak tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dukkk! Plakkk!”
Pedang dan tongkat bertemu dan melekat, kedua tangan pun bertemu dan melekat. Ma Su Nio kembali
mengeluarkan suara melengking nyaring ketika merasa betapa pedangnya melekat pada tongkat dan betapa
tangan kirinya yang menempel tangan kanan pemuda itu, pertama-tama terasa menggigil kemudian terasa
betapa hawa yang amat dingin menjalar masuk ke tubuh melalui lengan kirinya.
“Aiiihhhhh!” Ia berseru, melepaskan pedangnya yang masih menempel tongkat lawan, menggunakan tangan
kanannya untuk menghantamkan lagi pukulan Hiat-ciang yang lebih hebat ke arah dada Han Han.
“Bukkkkk!”
Han Han sengaja menerima pukulan tangan kanan wanita itu dan... telapak tangan Ma Su Nio menempel pada
dadanya, langsung hawa dingin menjalar memasuki lengan kanan wanita itu. Ma Su Nio mengerahkan sinkang
dan berusaha menarik kembali kedua lengannya, namun terlambat. Hawa dingin yang tersalur keluar dari
tubuh Han Han adalah inti dari Im-kang yang dihimpunnya di Pulau Es, maka hawa dingin yang amat luar
biasa itu telah melukai jantung Ma Su Nio yang seketika menjadi seperti kaku dan membeku!
“Setan buntung!” Bentakan ini keluar dari mulut Pek-giam-ong.
Iblis yang berjuluk Raja Maut Putih ini mencelat maju hendak menolong sumoi-nya. Goloknya menyambar ke
tengkuk Han Han dengan kecepatan seperti kilat menyambar, sedangkan Hek-giam-ong juga sudah
menusukkan goloknya untuk mendodet perut pemuda itu dari kanan.
Han Han melepaskan Ma Su Nio sambil meloncat mundur. Tubuh wanita itu roboh tak bernyawa lagi, roboh
seperti patung kayu yang kaku. Sambil meloncat mundur Han Han merendahkan tubuh, tongkatnya
menyelinap dari bawah, tangan kanannya didorongkan ke atas menggunakan hawa pukulan menangkis
bacokan golok Pek-giam-ong.
Pek-giam-ong menjerit ngeri ketika tahu-tahu orang yang dibacok tengkuknya itu sekali mengangkat tangan
membuat goloknya tertahan dan tanpa dapat ia elakkan lagi, tongkat Han Han yang tadi bergerak dari bawah,
melemparkan pedang Ma Su Nio yang tadi menempel di ujung tongkat.
Pedang itu meluncur seperti anak panah dari jarak dekat, menembus perut Pek-giam-ong sampai ke punggung.
Pek-giam-ong membelalakkan mata melihat ke perutnya, kemudian dengan kedua tangannya ia mencabut
pedang itu dan... berbareng dengan menyemburnya darah dari perut dan punggungnya, iblis muka putih ini
menubruk maju!
Han Han menangkis pedang itu, sekaligus ia mengirim tendangan yang membuat tubuh lawan itu tergelimpang
dan tewas. Cara Han Han menendang amatlah mengherankan, tubuhnya mencelat ke atas, di udara kakinya
bergerak dan tendangannya seperti tendangan ayam jago bertanding. Sambil menendang, ia telah menyambar
pedang Ma Su Nio dengan tangan kanan, pedang yang oleh Pek-giam-ong dipergunakan untuk menyerangnya
dalam keadaan sudah sekarat tadi.
Hek-giam-ong sudah menubruk dengan kemarahan meluap-luap. Melihat kematian dua orang saudara
seperguruannya, ia menjadi marah sekali. Tanpa mempedulikan sesuatu, maklum bahwa dengan pukulan dan
senjata akan percuma terhadap pemuda buntung itu, ia telah membuang goloknya dan menubruk maju
memeluk pinggang Han Han dari belakang.
Sebelum pemuda buntung ini sempat menghindarkan diri karena baru menghadapi Pek-giam-ong yang
ditendangnya, tahu-tahu tubuhnya telah dipeluk oleh sepasang lengan yang panjang hitam dan amat kuat dari
Hek-giam-ong! Raksasa hitam ini bukan hanya memeluk, bahkan kedua tangannya dengan jari-jari tangan
mengandung Toat-beng Hwi-ciang itu telah mencengkeram, yang kanan mencengkeram perut, dan yang kiri
mencengkeram tenggorokan Han Han.
Sedetik pemuda buntung ini bingung juga menghadapi serangan tidak lumrah ini. Namun tentu saja dia tidak
kehilangan akal. Mula-mula tubuhnya secara otomatis telah menggerakkan sinkang untuk melindungi perut
dunia-kangouw.blogspot.com
dan tenggorokannya, kemudian kakinya dan tongkatnya menekan tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas
tinggi sekali.
Semua prajurit Mancu dan para tokoh yang menyaksikan pertandingan ini menahan napas. Mereka melihat
betapa tubuh Hek-giam-ong ikut terbawa mencelat ke atas dan tampaklah betapa pemuda buntung itu berkalikali
melakukan gerakan jungkir-balik seperti kitiran di atas udara sehingga sukar diikuti pandang mata. Tibatiba
bayangan yang berputaran itu pecah dua dan melayanglah tubuh Hek-giam-ong yang terbanting jatuh ke
atas tanah dengan suara berdebuk dan dalam keadaan tak bernyawa lagi, kepalanya pecah oleh pukulan
ujung tongkat Han Han.
Han Han melesat ke depan melampaui kepala pasukan Mancu. Akan tetapi ketika ia melayang lagi ke atas
pohon, tiba-tiba ada desir angin yang amat hebat dari pohon itu. Kiranya di atas pohon itu telah berdiri seorang
pendeta gendut yang bukan lain adalah Thian Tok Lama dan yang mengirim pukulan ke arahnya. Pendeta
Lama itu berdiri setengah berjongkok di atas dahan pohon yang besar, perutnya mengeluarkan bunyi berkokok
seperti suara ayam biang dan kedua lengannya didorongkan ke arah tubuh Han Han yang sedang mencelat ke
atas. Itulah pukulan jarak jauh Hek-in-hwi-hong-ciang yang amat dahsyat. Agaknya kakek ini sudah mengenal
gerakan-gerakan Han Han yang cepat seperti kilat, maka ia sengaja menghadangnya dari atas pohon. Angin
yang keras dan panas dengan uap hitam menyambar ke arah tubuh Han Han.
Han Han terkejut sekali, maklum bahwa lawan tangguh ini melancarkan pukulan yang dahsyat dan berbahaya
selagi tubuhnya masih di udara. Namun tidak percuma dia digembleng oleh wanita sakti buntung Khu Siauw
Bwee dan telah mewarisi ilmu gerak kilat Soan-hong-lui-kun. Sambaran angin pukulan yang dahsyat itu dapat
ia pergunakan sebagai tenaga landasan, dan sambil mengerahkan sinkang di tangan kanan yang didorongkan
ke depan menangkis, ia dapat ‘meminjam’ hawa pukulan lawan membuat tubuhnya mencelat ke kiri dan
pukulan yang dahsyat itu luput.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara kagum, “Omitohud...!”
Dari pohon sebelah kiri menyambar pula angin pukulan yang biar pun tidak sehebat Hek-in-hwi-hong-ciang tadi,
namun dibarengi bentakan, “Robohlah!”
Luar biasa sekali bentakan ini karena Han Han merasa seolah-olah ia terpaksa harus roboh! Biar pun ia sudah
menggerakkan lengan menangkis dan mendapat kenyataan bahwa serangan dari pendeta kurus Thai Li Lama
ini tidaklah sekuat serangan Thian Tok Lama tadi, namun di dalam bentakan itu terkandung wibawa dan
kekuatan yang lebih berbahaya dari pada pukulan itu! Seperti mimpi Han Han terpelanting, seolah-olah lebih
parah terkena ‘pukulan’ bentakan itu pada lubuk hatinya.
Masih untung bahwa Han Han memiliki kekuatan batin yang aneh. Andai kata tidak demikian, tentu serangan
tadi benar-benar akan membuat ia roboh terbanting karena pendeta kurus ini telah menggunakan ilmunya
yang hebat, yaitu Sin-kun-hoat-lek, semacam ilmu pukulan yang disertai ilmu sihir yang terkandung dalam
bentakannya tadi. Dalam waktu dua detik saja setelah ia merasa tubuhnya melayang turun, Han Han sudah
dapat menguasai dirinya dan cepat ia berjungkir-balik sehingga ketika turun ke tanah, ia berdiri tegak dengan
kaki tunggalnya.
Akan tetapi, baru saja ia turun, kembali Thian Tok Lama dan Thai Li Lama sudah menyerangnya. Sekarang
kedua orang pendeta Tibet itu menyerangnya dari atas tanah, dari kanan kiri. Thian Tok Lama masih
menggunakan pukulan maut Hek-in-hwi-hong-ciang yang menyambar dari kanan, sedangkan pendeta kurus
Thai Li Lama mengirim hantaman dari kiri sambil membentak lagi, “Robohlah!”
Han Han merasa tubuhnya tergetar, bukan hanya oleh bentakan, melainkan juga oleh hawa pukulan. Ia
mengerahkan semua sinkang-nya, maklum betapa lihainya dua orang lawan itu dan secepat kilat ia
menancapkan pedang rampasan dan tongkat di atas tanah kemudian mengembangkan kedua lengan ke
kanan kiri mendorong kembali serangan lawan. Secara otomatis, tangan kiri Han Han mengerahkan tenaga inti
es, sedangkan tangan kanan mengerahkan tenaga inti api. Memang pemuda ini memiliki sinkang yang sudah
mencapai tingkat amat tinggi sehingga dia dapat memecah sinkang-nya menjadi dua, yaitu menggunakan
tangan kiri dengan Im-kang dan tangan kanan dengan Yang-kang.
“Wuuut... wuuuttttt... desssssss!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertemuan tenaga sakti yang amat dahsyat ini membuat tubuh Han Han tergetar, akan tetapi kedua orang
pendeta Tibet juga terkejut dan mundur selangkah. Tubuh Thai Li Lama agak menggigil kedinginan,
sedangkan wajah Thian Tok Lama menjadi merah sekali. Dalam detik berikutnya, mereka berdua sudah
menambah tenaga dan memukul lagi, sambil melangkah dekat.
Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan berkelebat dan tubuh Han Han berikut pedang dan tongkatnya
telah lenyap karena pemuda itu sudah mencelat ke atas. Hampir saja kedua orang pendeta sakti ini saling
mengadu pukulan sendiri dan hanya karena tingkat mereka yang sudah amat tinggi membuat mereka dapat
mengubah sasaran sehingga menyeleweng dan masing-masing hanya merasakan sambaran angin pukulan
teman.
Han Han mencelat ke atas dengan niat hendak melepaskan diri dari kepungan, akan tetapi tiba-tiba puluhan
batang anak panah menyambar dari atas pohon-pohon yang mengelilinginya. Ia makin terkejut, maklum bahwa
pihak musuh telah melakukan persiapan sehingga barisan panah telah menutup jalan keluarnya melalui
puncak-puncak pohon. Terpaksa ia memutar tongkatnya turun lagi, agak jauh dari situ.
Begitu ia turun, ia sudah dikepung lagi oleh puluhan orang prajurit Mancu. Senjata pasukan ini datang
menyerangnya bagaikan hujan. Han Han makin marah. Ia memang tidak suka berkelahi dengan mereka, akan
tetapi kalau dipaksa seperti itu, tentu saja ia harus membela diri mati-matian. Ia mengeluarkan seruan keras,
tongkat dan pedang rampasannya ia gerakkan seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam waktu
singkat enam orang pengeroyok roboh dan tewas.
“Minggir...!” Bentakan ini keluar dari mulut Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Dua orang pendeta sakti dari
Tibet ini maklum bahwa pemuda ini bukan lawan para prajurit itu dan hanya mereka berdua dan para tokoh
sakti saja yang akan mampu menandinginya.
Han Han berdiri tegak, bersandar pada tongkat di tangan kirinya, sedangkan pedang rampasan yang sudah
merah oleh darah itu ia pegang dengan tangan kanan. Kedua alisnya yang tebal dikerutkan, sepasang
matanya tajam melirik ke arah lima orang sakti yang bergerak melangkah perlahan-lahan mengepungnya.
Mereka itu bukan lain adalah Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Bhong Lek si Muka Tikus dan Bhong Poa Sik
yang kepalanya ada ‘telurnya’, yaitu sepasang saudara kakak beradik yang terkenal dengan julukan Tikus
Kuburan, seorang kakek kurus kecil berjenggot panjang yang ia tidak kenal siapa, dan di bawah sebatang
pohon, dengan cara berdirinya yang aneh, tampak Sin-tiauw-kwi Ciam Tek si Burung Hantu yang tidak ikut
mengepungnya, hanya menonton dengan mata tak pernah berkedip seperti mata seekor burung bangau
mengintai katak!
Han Han bersikap waspada. Ia dapat menduga bahwa di antara enam orang lawannya yang sakti ini, kedua
orang pendeta Tibet dan Si Burung Hantu itulah yang agaknya paling lihai. Kedua Tikus Kuburan itu biar pun
berkepandaian tinggi, namun bukan merupakan lawan tangguh, hal ini tampak bukan hanya dalam sikap
mereka yang kelihatan gentar, juga terbukti bahwa mereka berdua memegang senjata.
Bhong Lek si Muka Tikus itu memegang senjata siang-kek (sepasang tombak bercabang) bergagang pendek,
sedangkan adiknya Bhong Poa Sik yang kepalanya benjol sebesar telur itu memegang sebatang pedang.
Orang ke tiga yang memegang senjata adalah kakek kurus kecil berjenggot panjang yang bertelanjang kaki,
memegang sebatang rantai panjang yang ia putar-putar dengan kedua tangannya.
Aku harus dapat lebih dulu merobohkan tiga orang yang paling berbahaya itu, pikir Han Han. Musuh terlampau
banyak. Kalau dia melawan mereka yang lebih lemah namun banyak jumlahnya sehingga nanti tenaganya
akan habis untuk menghadapi tiga orang sakti itu, tentu dia akan celaka. Kalau dia berhasil merobohkan tiga
orang lawan tangguh itu, dia akan selamat, yang lain-lain tidaklah berat untuk dihadapi dan dia akan dapat
menyelamatkan diri.
Setelah berpikir demikian, Han Han mengeluarkan seruan melengking dari dalam pusar menembus dada dan
tenggorokan, kemudian tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir-balik dan berputaran membingungkan para
pengurungnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke arah Ciam Tek si Burung Hantu yang kelihatannya
melenggut di bawah pohon, bersandar pada gagang sabitnya yang amat tajam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gerakan Han Han amatlah cepatnya karena memang dia mempergunakan gerak kilat dari Soan-hong-lui-kun
sehingga Si Burung Hantu yang lihai itu pun kini menjadi amat terkejut. Dahulu, ketika ikut membantu Giam
Kok Ma menjebak Han Han, Ciam Tek si Burung Hantu ini pernah mendapat kesempatan bergebrak sejurus
menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li, dan ternyata kepandaiannya berimbang dengan nenek itu!
Karena itu, biar pun terkejut sekali, ia tidak kehilangan akal melihat tubuh pemuda buntung itu meluncur dan
menusuknya dengan pedang rampasan. Ciam Tek si Burung Hantu tahu-tahu sudah meloncat naik pula.
Senjatanya yang hebat berbentuk sabit itu berubah menjadi sinar menyilaukan, menyambar ke atas menangkis
pedang rampasan yang dipergunakan Han Han untuk menyerangnya.
“Tranggggg...!”
Pedang rampasan di tangan Han Han patah menjadi dua, akan tetapi senjata sabit itu pun patah, bahkan Ciam
Tek masih terhuyung-huyung ke belakang. Ia terkejut bukan main. Cepat ia menjatuhkan diri bergulingan dan
setelah meloncat bangun, Ciam Tek sudah siap menghadapi lawannya yang buntung namun memiliki tenaga
sinkang yang amat luar biasa itu.
Akan tetapi ketika Si Burung Hantu ini meloncat bangun, ia melihat Han Han telah dikeroyok dua oleh Thian
Tok Lama dan Thai Li Lama! Kembali Ciam Tek tertegun dan memandang kagum. Dua orang pendeta Tibet
yang terhitung suheng-suheng-nya karena dia pernah belajar di bawah satu guru dengan mereka itu, sudah ia
ketahui kelihaian mereka. Namun kini mereka berdua maju berbareng, mengeroyok si pemuda buntung Han
Han! Benar-benar hal yang amat aneh dan mulai menipislah rasa penasaran di hatinya mengapa dalam
segebrakan saja senjatanya yang ampuh menjadi patah dan dia terhuyung ke belakang.
Dengan tongkat bututnya Han Han menghadapi pengeroyokan dua orang pendeta Tibet. Pemuda ini mengerti
bahwa dua orang lawannya memiliki pukulan-pukulan ampuh sekali, maka ia menghadapi mereka dengan hatihati,
akan tetapi juga ingin mengakhiri pertandingan itu secepatnya agar dia dapat membebaskan diri sebelum
terlambat dan kehabisan tenaga.
Oleh karena ini Han Han mainkan tongkat di tangan kirinya dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang
amat dahsyat, hanya bedanya, kalau Siang-mo Kiam-sut lebih hebat dimainkan dengan sepasang senjata
pedang, kini dia hanya menggunakan sebatang tongkat di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia
pergunakan untuk menangkis pukulan-pukulan lawan atau membalas dengan pukulannya sendiri yang
mengandung tenaga dahsyat.
Dua buah kitab yang dahulu diberikan kepadanya oleh Sepasang Pedang Iblis Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa
adalah dua kitab yang mengandung pelajaran ilmu pedang iblis, yaitu Iblis Jantan dan Iblis Betina yang kalau
digabungkan menjadi Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat ampuh. Kini, karena dia
hanya memegang sebatang tongkat di tangan kiri, Han Han hanya bisa mainkan semacam saja, yaitu bagian
Ilmu Pedang Iblis Jantan dari kitab peninggalan Can Ji Kun.
Melihat gerakan tongkat yang amat hebat, apa lagi didasari ginkang yang sukar dicari lawannya dan tenaga
sinkang yang amat kuat, dua orang pendeta Tibet itu diam-diam merasa heran sekali, juga kagum. Belum
pernah selamanya mereka bertemu tanding selihai ini dan diam-diam mereka mengerti bahwa kalau mereka
harus melawan satu-satu, mereka tentu akan sukar sekali menandingi kehebatan pemuda buntung ini!
Selama tiga empat puluh jurus kedua orang pendeta itu berusaha merobohkan Han Han dengan serangan
bertubi-tubi. Namun akhirnya mereka tahu bahwa kalau mereka mempergunakan jurus-jurus silat, tak mungkin
mereka akan dapat merobohkan pemuda buntung yang ternyata dapat bergerak secepat kilat secara aneh ini,
bahkan membahayakan mereka sendiri karena gerakan loncatan Han Han amat sukar diikuti pandangan mata
dan sukar diduga ke mana tubuh yang hanya berkaki satu itu mencelat.
Tiba-tiba Thian Tok Lama mengeluarkan gerengan keras yang agaknya menjadi isyarat bagi sute-nya.
Keduanya sudah meloncat dua langkah ke belakang, menghadapi Han Han dari barat dan timur, kemudian
mereka melancarkan pukulan dahsyat yang berdasarkan sinkang mereka yang kuat!
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian Tok Lama sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang, tubuhnya merendah seperti jongkok, perutnya
mengeluarkan bunyi berkokok dan dari kedua tangannya menyambar angin pukulan yang amat panas
hawanya, bahkan dari lengan kanannya yang membiru itu keluar suara bercuitan, dibarengi mengebulnya uap
hitam yang menerjang ke arah Han Han. Thai Li Lama juga berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, kedua
lengannya bergerak, yang kanan melakukan gerakan mendorong ke arah Han Han, yang kiri dengan telunjuk
mengacung membuat gerakan berputar dan mencoret-coret seperti sedang menggambar atau menulis huruf di
udara.
Han Han juga maklum bahwa kalau ia mengandalkan ilmu silatnya saja, akan sukarlah ia mengalahkan kedua
orang pendeta Tibet itu, maka begitu melihat mereka mulai mengandalkan pukulan sakti, ia pun cepat
menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian cepat ia mengerahkan tenaga di kedua lengannya dan dia
menggerakkan kedua lengannya ke kanan kiri, dilonjorkan untuk menahan pukulan-pukulan lawan dengan
sinkang yang menggetar keluar dari telapak kedua tangannya yang terbuka.
Han Han merasa betapa kedua tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja yang panas. Maklumlah
ia bahwa kedua orang kakek itu telah mengeluarkan tenaga Yang-kang, maka ia pun mengerahkan inti tenaga
Hwi-yang Sin-ciang disalurkan ke arah kedua lengannya. Bukan main hebatnya pertemuan tenaga di udara ini.
Biar pun kedua tangan Han Han masih terpisah dari tangan lawan, masih sejauh setengah meter, namun
sudah terasa panasnya dan uap hitam yang mengebul dari kedua tangan Thian Tok Lama makin menebal!
Han Han berdiri tegak, tidak bergeming, kedua lengannya tampak kokoh kuat menahan ke kanan kiri. Pemuda
ini merasa betapa tenaga kedua orang lawannya tidak seimbang. Tenaga Thian Tok Lama lebih kuat. Melihat
kedua orang itu makin mendekat, Han Han sengaja membiarkan hal ini karena ia maklum bahwa kalau dia
tidak berani membiarkan mereka mendekat, akan makin sukar baginya mencapai kemenangan. Dalam hal
sinkang, ia percaya kepada tenaganya sendiri, dan kalau mereka sudah dekat, tentu akan lebih mudah
baginya mempergunakan ginkang dari Soan-hong-lui-kun untuk mendahului mereka mengirim serangan maut.
Para prajurit Mancu dan para tokoh yang menonton pertandingan itu menjadi tegang hatinya. Pertandingan
yang aneh bagi para prajurit, akan tetapi bagi tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan, mereka paham
betapa bahayanya mencampuri pertandingan seperti itu yang seolah-olah mengeluarkan sinar-sinar kilat yang
akan mematikan orang yang berani mendekat. Dari jauh saja mereka sudah dapat merasakan getaran-getaran
hebat yang keluar dari benturan tenaga sakti tiga orang itu.
Tubuh kedua orang hwesio Tibet itu makin dekat dan telapak tangan mereka hampir menyentuh kedua telapak
tangan Han Han. Tiba-tiba Han Han menjadi terkejut bukan main. Dari sebelah kirinya di mana Thai Li Lama
menyerang dengan hawa pukulan, timbul semacam gelombang yang amat aneh. Gelombang yang
menggetarkan seluruh tubuhnya, yang kemudian menyelimuti pikirannya dan terdengar suara pendeta itu,
amat dekat di telinganya atau seperti di dalam kepalanya, suara perlahan namun mempunyai daya tarik yang
sukar dilawan.
“Menyerahlah... engkau tidak kuat lagi... menyerahlah... berlututlah...!”
Suaranya sendirikah itu? Tiba-tiba Han Han merasa betapa beratnya mempertahankan diri, betapa kedua
lengannya yang tadi masih kuat menahan himpitan tenaga sakti dari kanan kiri itu terasa lelah sekali, hampir
tidak kuat dia.
“Menyerahlah, berlutut...!”
Suaranyakah itu? Ah, bukan! Itu suara Thai Li Lama yang entah bagaimana memasuki otaknya. Ketika Han
Han di dalam hatinya menggoyang kepala mengusir keadaan seperti mimpi itu, seketika pandang matanya
terang kembali, bisikan lenyap akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa dia sudah benar-benar
menekuk lutut kaki tunggalnya! Dan terdengarlah olehnya sorakan-sorakan para prajurit Mancu yang melihat
dia berlutut, mementangkan kedua lengannya ke kanan kiri dengan tubuh gemetar.
“Setan!” Han Han mengerahkan seluruh kekuatan batin dan sinkang-nya, lalu perlahan-lahan ia bangkit berdiri.
Kiranya telapak tangannya sudah menempel kepada telapak tangan kedua lawan di kanan kiri dan ia merasa
betapa hawa panas yang keluar dari tangan mereka itu masih dapat ia tahan. Ia melirik ke arah Thai Li Lama
dunia-kangouw.blogspot.com
dan melihat pendeta kurus ini mulutnya berkemak-kemik. Tangan kanan pendeta ini menempel di tangan
kirinya dan tangan kiri pendeta itu membuat gerakan-gerakan aneh. Kini mengertilah Han Han bahwa tentu
pendeta ini menggunakan ilmu hitam.
Teringat ia akan kekuatan mukjizat yang terkandung dalam tubuhnya sendiri, maka ia pun membalas pandang
mata hwesio Tibet itu, mengerahkan kekuatan kemauannya dan di dalam hatinya ia membentak, “Thai Li Lama,
mengapa kau menyuruh orang lain? Engkaulah yang ingin menyerah dan berlutut. Berlututlah!”
Tiba-tiba pendeta Tibet yang kurus itu mengeluarkan seruan aneh dari dadanya dan... kedua kakinya bertekuk
lutut!
“Ji-suheng...!” terdengar suara parau Burung Hantu.
Agaknya teriakan inilah yang menyadarkan Thai Li Lama. Pendeta kurus ini terkejut sekali dan cepat bangkit
berdiri, akan tetapi terlambat. Saat yang hanya sejenak itu telah dimanfaatkan oleh Han Han yang tiba-tiba,
dengan kemampuannya yang luar biasa dalam tubuhnya, telah mengubah inti hawa panas Hwi-yang Sin-ciang
menjadi Swat-im Sin-ciang yang dingin sekali. Seketika tubuh Thai Li Lama menggigil sedangkan Thian Tok
Lama berseru keras, mengerahkan seluruh tenaganya melawan hawa dingin.
“Aihhhhhh...!” Han Han mengeluarkan seruan keras sekali, berkali-kali, ia mengubah-ubah sinkang-nya, dari
dingin ke panas, dari panas ke dingin sehingga kedua orang lawannya menjadi bingung dan tersiksa. Lebihlebih
lagi Thai Li Lama yang memang sudah terluka sebagai akibat kelengahannya jatuh di bawah pengaruh
kekuatan mukjizat Han Han. Perubahan-perubahan hawa sakti itu membuat keringat dingin bercucuran dan
mukanya pucat sekali.
Akan tetapi, pertandingan hebat ini bukan tidak merugikan Han Han sendiri karena melawan dua orang tokoh
yang begitu kuat membutuhkan pengerahan seluruh tenaganya. Biar pun dia dapat menguasai keadaan,
namun sesungguhnya dia terhimpit oleh tenaga raksasa, dan tadi hampir saja ia celaka ketika sejenak ia
tertekan hebat.
Maklum bahwa tidak boleh ia berlama-lama karena keadaannya sendiri berbahaya, Han Han mengumpulkan
seluruh tenaganya, tubuhnya direndahkan sedikit kemudian ia mendorong ke kanan kiri dengan keras sambil
berteriak.
“Hyyyaaaaattttt!”
Inti tenaga sinkang Han Han memang bukan didapat dengan latihan biasa. Tenaga saktinya sudah timbul
ketika ia mengalami hal yang mengguncang jiwanya, kemudian ia menggunakan kekuatan kemauan untuk
melatih sinkang yang tinggi tingkatnya seperti Hwi-yang Sin-ciang. Lebih-lebih lagi setelah ia melatih diri di
Pulau Es, dia sudah memiliki sinkang yang sukar dicari bandingnya. Kemudian sekali, dia digembleng oleh Khu
Siauw Bwee, seorang di antara pemilik Pulau Es, tentu saja tingkatnya menjadi amat tinggi.
Biar pun kedua orang pendeta Tibet itu merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan sukar dicari tandingannya,
namun setelah mereka dibingungkan dengan hawa sinkang yang berubah-ubah tadi, kini serangan terakhir
Han Han tak dapat mereka tahan dan tubuh mereka terlempar ke belakang sampai sebelasan meter jauhnya.
Begitu terbanting roboh, kedua orang pendeta Tibet ini cepat bersila dan meramkan mata, cepat-cepat
mengatur pernapasan dan menggunakan sinkang untuk menolong nyawa mereka dari luka dalam yang cukup
berbahaya.
Akan tetapi, Han Han sendiri pun harus menggunakan tenaga terakhir tadi untuk dapat melontarkan dua orang
lawannya yang kuat, maka kini biar pun dia berhasil, dia sendiri pun tidak keluar tanpa luka, biar pun lukanya
tidak seberat kedua orang lawan. Begitu kedua orang lawannya terlempar, pemuda buntung ini terhuyunghuyung,
tubuhnya bergoyang-goyang dan ia muntahkan sedikit darah segar. Ia pejamkan kedua matanya dan
tangan kirinya meraba-raba gagang tongkat yang tadi ia tancapkan di atas tanah.
“Aku hanya ingin mencari adikku... kenapa kalian mendesakku...?” Mulutnya berbisik penuh penyesalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba dari belakangnya menyambar angin pukulan yang amat hebat. Han Han terkejut, cepat ia memutar
tubuh. Akan tetapi karena kepalanya masih pening, gerakannya kurang cepat. Terpaksa ia hanya
menggerakkan tangan kanan menangkis, dan berhasil menangkis tangan kiri Ciam Tek. Akan tetapi tangan
kanan Si Burung Hantu masih tepat memukul dadanya dengan pukulan Hek-in-sin-ciang yang beracun.
“Desssss...!”
Tubuh Han Han terpelanting ke kanan dan kembali ia muntahkan darah segar. Pemuda ini masih sadar dan
maklum bahwa kalau tidak cepat bergerak, akan celakalah dia. Kaki tunggalnya menjejak tanah, tangan dan
tongkat juga bergerak dan tubuhnya sudah mencelat ke atas. Benar saja dugaannya, pukulan Si Burung Hantu
tiba dan mengenai tanah tempat ia tadi rebah.
Melihat pukulannya gagal, Ciam Tek Si Burung Hantu yang sudah kegirangan karena serangan pertamanya
tadi berhasil, cepat meloncat naik mengejar dan mengirim pukulan pula.
“Pengecut curang...!” Han Han memapaki, terpaksa ia berjungkir-balik untuk mengelak dan terpaksa ia
meloncat turun lagi ke atas tanah. Si Burung Hantu juga melayang turun. Han Han membelalakkan matanya
penuh amarah, bibirnya masih berdarah, dadanya terasa sakit sekali. Ia marah oleh kecurangan lawan yang
memukul dari belakang selagi ia pening.
“Ha-ha-ha, mampuslah!” Ciam Tek tertawa mengejek.
Kembali ia melakukan pukulan Hek-in-sin-ciang dengan gerakan yang aneh. Pukulan ini sebetulnya sama
sumbernya dengan pukulan kedua orang pendeta Tibet dan memang dahulu ketika merantau sampai ke Tibet,
Si Burung Hantu belajar ilmu pukulan ini dari guru kedua orang pendeta Lama ini, maka mereka itu terhitung
suheng-suheng-nya.
Pukulannya yang disebut Hek-in-sin-ciang (Pukulan Sakti Awan Hitam) ini pun mengeluarkan uap hitam dan
beracun. Sungguh pun tidak sedahsyat Hek-in-hwi-hong-ciang dari Thian Tok Lama akan tetapi juga cukup
hebat dan jarang ada orang mampu menahan pukulan maut ini. Manusia bermuka seperti burung ini amat licik
dan juga bermata tajam. Ia dapat mengerti bahwa sedikit banyak pemuda luar biasa ini sudah terluka dalam
pertandingan melawan kedua orang pendeta Tibet, maka ia mempergunakan kesempatan untuk menghantam
Han Han dari belakang. Ketika pukulannya mengenai dada, ia menjadi girang sekali dan terus mendesak Han
Han.
Akan tetapi Han Han kini sudah marah bukan main. Orang telah mendesak dia yang tidak ingin berkelahi. Apa
lagi Si Burung Hantu yang curang ini. Baik, ia menggigit bibir. Mari kita bertanding mati-matian! Dengan
kemarahan meluap, melihat Ciam Tek memukul, Han Han tidak mau mengelak, melainkan menerima pukulan
Hek-in-sin-ciang ini dengan pukulan pula sambil mengerahkan Im-kang.
“Desssss!”
Si Burung Hantu jatuh terduduk, tubuhnya menggigil kedinginan dan matanya terbelalak. Akan tetapi tiba-tiba
tubuhnya mencelat ke arah Han Han, dari kerongkongannya keluar suara mencicit seperti burung, tangan
kanannya menghantam didahului uap hitam ke arah ulu hati Han Han.
Pemuda ini miringkan tubuh mengelak sambil berputar. Tiba-tiba tangan kiri Si Burung Hantu dengan jari
terbuka dan digerakkan miring membabat ke arah lehernya seperti sebatang golok. Han Han kembali
mengelak, akan tetapi rambutnya yang panjang itu terbabat sedikit dan... putus! Han Han terkejut. Kiranya
tangan kiri manusia aneh bermuka burung ini dapat dipergunakan sebagai senjata yang tajamnya tidak kalah
oleh pedang, dapat membabat putus gumpalan rambut. Bukan main!
“Heh-heh-heh!” Ciam Tek mengejek.
Kembali kedua lengannya yang panjang-panjang itu sudah bergerak ke depan. Yang kiri membacok kepala,
yang kanan menonjok perut. Pada saat itu tiga orang perwira Mancu ikut pula menerjang maju dengan senjata
tombak mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pergi, jangan bantu...!” Si Burung Hantu membentak.
Tetapi tiga orang perwira Mancu itu terus saja menyerang Han Han, pura-pura tidak mengerti. Dan memang
mereka tentu saja mengerti bahwa mereka tidak semestinya menyerang terus. Namun karena penasaran
maka mereka pura-pura tidak mendengar dan menerjang Han Han menggunakan tombak, seolah-olah
berlomba memperebutkan jasa.
Diam-diam Han Han menjadi girang. Dia sudah agak lemah dan terluka. Biar pun dia masih sanggup
menandingi Ciam Tek, namun kalau manusia burung itu dibantu oleh tokoh-tokoh lain yang lihai, tentu
keadaannya akan berbahaya sekali. Untung baginya bahwa tokoh-tokoh seperti Sepasang Tikus Kuburan dan
yang lain-lain agak jauh dari situ, sehingga yang datang membantu Ciam Tek adalah perwira yang tidak
memiliki kepandaian tinggi.
Hal ini menguntungkan dia dan merugikan Ciam Tek. Bagi ahli silat tinggi, bantuan dari orang-orang yang
tingkat kepandaiannya tidak seimbang bukan merupakan bantuan, bahkan menjadi pengganggu! Karena itulah
maka tadi Ciam Tek berteriak mencegah mereka sungguh pun ia belum yakin benar akan dapat mengalahkan
Han Han sendiri saja.
Han Han membiarkan dua tombak datang meluncur. Setelah dekat sekali, kemudian ia menangkap kedua
tombak dengan kedua tangan sedangkan kakinya menendang roboh perwira ketiga. Sekali ia mengerahkan
tenaga, tubuh dua orang perwira itu terbawa oleh tombaknya sendiri ke atas dan melayang ke arah tubuh Ciam
Tek!
“Tolol kamu!” Ciam Tek mendengus marah.
Kedua tangannya bergerak mendorong dan tubuh dua orang perwira itu terbanting ke atas tanah, bergulingan
dan pingsan. Kesempatan itulah yang dinanti-nantikan Han Han. Melihat betapa manusia burung itu
menangkis dan melontarkan kedua orang perwira Mancu, ia sudah loncat ke depan dan mengirim pukulan
dahsyat dengan kedua tangan, tangan kanan menonjok dada, tangan kiri menggunakan ujung tongkat
menotok.
Si Burung Hantu atau Sin-tiauw-kwi Ciam Tek memang amat lihai. Biar pun serangan Han Han ini amat cepat
dan terjadi hanya beberapa detik setelah ia menangkis tubuh dua orang perwira, namun ia masih dapat
menghadapinya. Dengan tangan kirinya ia menangkis pukulan Han Han, kemudian tangan kanannya
mencengkeram ke arah tongkat yang menotok lehernya. Tetapi karena ia tergesa-gesa dan sebaliknya Han
Han sudah mengatur siasat lebih dulu, tiba-tiba tongkat itu bergerak melejit dan sebaliknya malah
menggempur lengannya dengan pukulan yang menggetar karena mengandung tenaga sinkang.
“Krakkk! Auuuggghhh!”
Si manusia burung itu mencelat ke belakang, menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya retak!
Saking marahnya, ia tidak terlalu merasakan keretakan tulang tangan kanannya, malah maju menubruk ke
depan seperti gerakan seekor burung.
Han Han terkejut, tidak menyangka bahwa lawan yang sudah terluka masih begitu nekat, padahal saat itu ia
melihat berkelebatnya bayangan Sepasang Tikus Kuburan. Maka ia sengaja menerima hantaman tangan
kanan Ciam Tek yang ia tahu telah terluka, sedangkan cengkeraman tangan kiri lawan ke arah ubun-ubunnya
ia tangkis dengan tangan kanan, kemudian ujung tongkatnya meluncur ke arah dada lawan.
“Krakkk...! Crotttt...!”
Terdengar jerit melengking dari mulut Ciam Tek, tubuhnya berkelojotan di ujung tongkat yang menembus
dadanya, tulang lengannya patah bertemu dengan dada Han Han karena memang tadinya tulang itu telah
retak.
Han Han menyeringai kesakitan. Biar pun lengan kanan Ciam Tek telah retak tulangnya, namun pukulan yang
mengenai dadanya itu masih hebat sekali, membuat napasnya sesak dan matanya berkunang. Pemuda ini
maklum bahwa dirinya terancam bahaya, maka cepat ia mencabut tongkatnya dan tubuhnya mencelat ke atas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pandang matanya masih berkunang dan kepalanya berat sekali. Ia perlu cepat-cepat membebaskan diri agar
dapat mengobati luka di dalam dadanya.
Akan tetapi, selagi tubuhnya meloncat tiba-tiba kaki tunggalnya terbelit ujung rantai baja yang panjang dan
kuat. Kiranya dia telah dikejar dan dikurung Sepasang Tikus Kuburan dan kakek kecil bertelanjang kaki yang
telah menggerakkan rantai bajanya secara istimewa. Rantai baja itu meluncur cepat dan berhasil melibat
pergelangan kaki Han Han selagi pemuda ini meloncat.
Han Han terkejut bukan main. Ia menendangkan kakinya namun tak dapat terlepas dari libatan rantai baja
sehingga tubuhnya tertarik turun dan terbanting ke bawah! Cepat ia menggunakan lengan kiri merangkul
batang pohon agar tubuhnya tidak terbanting. Pada saat itu tampak sinar berkelebat dan pedang di tangan
Bhong Poa Sik telah menyambar ke arah lehernya!
Han Han menjadi amat marah. Teriakan dahsyat keluar dari kerongkongannya, teriakan yang mengandung
hawa khikang sehingga si manusia berkepala benjol itu terkejut. Gerakannya tertahan sedetik, namun cukup
bagi Han Han yang masih bergantung dengan lengan kiri pada batang pohon sedangkan kaki tunggalnya
masih terlibat rantai itu. Han Han gerakkan tangan kanannya, mencengkeram ujung pedang, mengerahkan
sinkang dan sekali betot pedang itu telah dirampasnya. Pergelangan tangannya bergerak, pedang membalik
dan kini ia telah memegang gagang pedang, langsung ia tusukkan ke lambung Bhong Phoa Sik.
Pengerahan sinkang tadi membuat dadanya makin sesak dan matanya menjadi gelap, namun Han Han masih
dapat menusuk lambung lawannya dengan tepat sehingga pedang rampasannya menembus dari lambung kiri
Bhong Poa Sik. Bukan itu saja, juga berbareng ia mengerahkan tenaga pada kakinya, menarik kaki itu ke
belakang. Bersamaan dengan jerit kematian yang keluar dari mulut Bhong Poa Sik bersama semburan
darahnya, terdengar pekik kaget kakek yang memegang ujung rantai karena tubuhnya terbawa oleh tarikan
kaki Han Han. Betapa pun ia mempertahankan, tetap saja tubuhnya terbawa melayang ke arah Han Han.
“Cappppp!”
Han Han terkejut bukan main. Karena pandang matanya gelap, ia kurang waspada sehingga pada saat ia
menusukkan pedang ke lambung Bhong Poa Sik dan membetot tubuh kekek yang memegang rantai, sebuah
tusukan tombak pendek di tangan kiri Bhong Lek si Muka Tikus menancap di paha kaki tunggalnya!
Rasa sakit membuat Han Han makin marah. Tubuh kakek yang memegang rantai itu telah melayang dekat dan
sekali Han Han menendang ke belakang, tumit kakinya menendang perut kakek itu yang seketika putus
napasnya karena isi perutnya remuk! Dan Bhong Lek yang tadinya girang dapat melukai paha Han Hang tibatiba
melihat sinar bergulungan di depan matanya dan... arwahnya melayang tanpa disadarinya karena tahutahu
leher Si Muka Tikus ini telah putus oleh sinar pedang yang digerakkan Han Han.
Pemuda buntung ini berdiri dengan kaki tunggalnya yang terluka dan bercucuran darah. Pedang di tangan
kanan, tongkat di tangan kiri, tubuhnya agak bergoyang, rambutnya riap-riapan, mukanya beringas penuh
keringat, pakaiannya berlepotan darahnya sendiri dan darah para korban yang tewas di tangannya. Dia siap
menghadapi maut, akan tetapi kematiannya akan ditebus mahal sekali oleh musuh-musuhnya karena dia siap
untuk membela diri mati-matian sampai tetesan darah terakhir!
Para perwira dan prajurit Mancu gentar menghadapi pemuda kaki buntung yang luar biasa itu. Kakak beradik
Tikus Kuburan tewas, kakek Mongol yang terkenal lihai dengan rantai bajanya juga tewas, tiga orang murid
Setan Botak yang amat lihai tewas pula, belum lagi banyak prajurit dan perwira yang roboh. Bahkan kedua
orang pendeta Tibet masih duduk bersila memejamkan mata memulihkan tenaga! Namun, para prajurit yang
mengurung itu pun maklum bahwa pemuda buntung yang sakti itu sudah terluka hebat.
“Tangkap... Bunuh...!” terdengar teriakan-teriakan.
“Jangan dekati!” teriak seorang perwira. “Serang dengan anak panah...!”
Sibuklah para prajurit, seperti serombongan orang yang ketakutan mengurung seekor harimau yang ganas dan
kuat. Han Han menggigit bibirnya. Tak mungkin dia menerjang maju karena kakinya, satu-satunya anggota
badan yang ia andalkan untuk menahan tubuh, telah terluka cukup parah. Tidak, kalau ia menggerakkan
dunia-kangouw.blogspot.com
kakinya berarti ia memperlemah pertahanannya sendiri. Dia akan tetap berdiri di situ dan menghadapi semua
terjangan musuh sampai mati!
“Serrr... serrr-serrrrr...!” Puluhan batang anak panah menyambar.
Han Han memutar pedang rampasan di tangannya sehingga terdengar suara nyaring berkali-kali. Tampak
bunga api berpijar dan disusul pekik beberapa orang prajurit yang termakan anak panah mereka sendiri yang
membalik oleh tangkisan Han Han.
Sebagian besar anak panah runtuh, ada sebatang menancap di antara rambut yang awut-awutan itu seperti
hiasan rambut, dan sebatang lagi menancap di bajunya setelah melukai kulit pinggul, tidak dapat menembus
kulit karena Han Han memutar pedang sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh!
“Hentikan serangan...!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan ternyata di tempat itu telah datang pasukan
yang terdiri dari seratus orang lebih yang merupakan pasukan pilihan Mancu, dikepalai oleh seorang wanita
yang cantik sekali, cantik dan gagah serta bermata seperti bintang kembar.
“Han-koko...! Aihh... kalian orang-orang gila! Berani menyerang kakakku? Pergi semua! Pergi...! Dia itu Hankoko,
kakakku...! Han-koko...!”
Gadis jelita yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Lulu! Gadis ini, seperti kita ketahui, telah menjadi sumoi
dari Puteri Nirahai di bawah gemblengan Puteri Maya, yaitu nenek bangsa Khitan yang sakti itu. Kemudian,
karena pelaporan dari barisan yang menyerbu Se-cuan selalu terpukul mundur, Puteri Nirahai menjadi
penasaran dan datang sendiri ke garis depan di perbatasan Se-cuan, mengajak Lulu.
Ketika itu Lulu sedang bertugas meronda tapal batas memimpin sebuah pasukan. Tentu saja ia segera
mengenal Han Han dan kedatangannya pada saat yang amat tepat itu menyelamatkan kakaknya. Akan tetapi,
dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika melihat bahwa kakaknya itu berdiri hanya dengan sebuah
kaki!
“Han-ko...!” Ia menjerit lagi, meloncat turun dari kudanya dan melesat cepat seperti terbang, langsung
menubruk dan berlutut merangkul kaki Han Han yang tinggal sebuah sambil menangis sesenggukan.
“Lulu...!” Han Han juga memanggil nama adiknya dengan hati yang amat tidak karuan rasanya.
Mula-mula semangatnya seperti terbang saking girangnya mendengar suara dan melihat betapa adiknya
masih sehat dan selamat, akan tetapi hatinya menjadi perih melihat kedatangan adiknya itu bersama pasukan
Mancu. Karena itu, panggilannya keluar dengan suara seperti orang merintih. Betapa pun juga, keharuan
hatinya lebih besar dan dia pun menjatuhkan tubuhnya yang sudah lemas itu, berlutut dan merangkul adiknya
dengan kedua lengannya. Sejenak mereka berangkulan dan bertangisan.
“Lulu... kau... bocah nakal... ke mana saja kau pergi?” Han Han menegur, tangan kirinya diletakkan di atas
pundak dara itu, tangan kanannya menghapus air mata yang bercucuran di atas pipi Lulu.
Akan tetapi Lulu tidak menjawab, melainkan meraba-raba paha kiri Han Han yang buntung. Matanya yang
basah air mata itu terbelalak memandang, lalu ia meloncat bangun. Matanya yang lebar indah itu liar
memandang ke arah para prajurit Mancu yang sibuk mengurus teman-teman yang tewas dan merawat yang
luka, wajahnya yang manis dan jelita itu menjadi beringas, kulit mukanya merah sekali.
“Siapa yang membuntungi kakimu, Han-ko? Siapa? Hayo katakan kepadaku agar dapat kubalas dia! Han-ko,
katakan siapa yang membuntungi kakimu? Katakan...!”
Para perwira dan prajurit Mancu menjadi ketakutan dan saling pandang. Mereka tentu saja amat takut kepada
adik seperguruan Puteri Nirahai ini, bukan hanya takut akan kepandaiannya yang kabarnya amat lihai seperti
sang puteri, akan tetapi terutama takut akan kekuasaan dan kedudukan Puteri Nirahai sendiri.
“Lulu, bukan mereka... kakiku sudah sangat lama buntung...” Han Han berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aihhhhh, Koko...!” Lulu menubruk lagi dan menangis, meraba-raba kaki yang buntung, lalu meraba-raba muka
Han Han, menyibakkan rambut kakaknya yang awut-awutan menutupi muka yang tampan itu. “Kau... kau
terluka hebat... ahhh... Koko, mengapa kau berada di sini?” Kembali Lulu meloncat bangun dengan sigapnya,
membalikkan tubuh dan membentak kepada para prajurit.
“Pergi kalian semua! Pergi dari sini! Kalau tidak, kubunuh semua! Pergi!”
Para perwira Mancu dan para prajurit terkejut. Cepat-cepat mereka membawa mayat dan teman-teman yang
terluka meninggalkan tempat itu. Dua orang pendeta Lama sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu. Mereka
berdua maklum bahwa setelah Lulu datang secara tidak terduga-duga, rencana mereka membunuh Han Han
yang dianggap seorang lawan berbahaya itu menjadi gagal.
Setelah tempat itu bersih ditinggalkan semua pasukan, Lulu kembali menubruk Han Han. “Han-ko, apakah
yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kakimu buntung? Siapa yang dapat melakukan perbuatan keji ini
kepadamu, Han-koko?” Kembali kedua mata gadis itu bercucuran air mata begitu ia melihat ke arah kaki
buntung kakaknya.
Akan tetapi Han Han tidak menjawab. Lulu masih menangis sambil membenamkan mukanya di dada kakaknya,
kedua lengannya merangkul leher.
“Han-koko... setengah mati aku mencarimu... bertahun-tahun hingga amat lama rasanya, hampir aku putus
harapan. Aku sampai di tempat sejauh ini juga mencarimu... tetapi... siapa menduga bahwa kau... ah, kakimu...
aduh, Koko...! Katakanlah, siapa orangnya yang begitu kejam membuntungi kakimu? Aku bersumpah untuk
menuntut balas!”
Akan tetapi Han Han tetap diam tak menjawab.
Lulu yang sedang diamuk keharuan, kegirangan, juga kemarahan melihat kaki Han Han buntung, tidak merasa
betapa semua pertanyaannya tak terjawab. Kini ia mengangkat mukanya dan berkata penuh semangat.
“Jangan khawatir, Han-ko. Kalau musuh itu terlalu lihai, aku dapat membantumu. Aku, adikmu ini, sekarang
bukanlah Lulu yang dahulu! Aku sudah memiliki kepandaian tinggi dan....” Tiba-tiba Lulu menghentikan katakatanya
ketika ia melihat wajah Han Han. Kiranya semenjak tadi kakaknya itu memandangnya dengan
sepasang mata mendelik penuh amarah!
Wajah Han Han pucat, matanya mendelik seolah-olah mengeluarkan api, akan tetapi dari pelupuk matanya
menetes-netes air mata! Pemuda yang terluka ini tidak hanya terluka pahanya yang robek oleh tusukan
tombak Bhong Lek, melainkan yang lebih berbahaya lagi adalah luka di dalam dadanya akibat pukulan Ciam
Tek si Burung Hantu. Napasnya makin sesak dan seluruh dada terasa panas. Setengah mati ia mencari Lulu,
bertahun-tahun lamanya dengan hati rindu dan penuh kekhawatiran. Sekarang setelah bertemu, kegirangan
hatinya ternoda oleh kenyataan bahwa adiknya telah memimpin pasukan Mancu!
“Koko... Han-ko... kau... kau menangis...? Kenapakah...?” Dengan jari tangan gemetar Lulu mengusap air mata
yang mengalir di atas pipi yang pucat itu.
Gerakan Lulu yang penuh kasih sayang ini memancing naiknya sedu-sedan dari dada Han Han. Tangan
kirinya merangkul dan mengelus-elus rambut di kepala Lulu, akan tetapi tangan kanannya mengepal keras
sekali. Mulutnya tidak mampu menjawab, dua macam perasaan bertanding dalam hatinya sendiri.
“Koko..., Koko... bicaralah... kau kenapakah? Kakimu...” Lulu masih terisak, “siapa yang membuntungi
kakimu...?”
“Buk! Buk! Bukkk!”
Tiga kali kepalan tangan kanan Han Han menghantam tanah sehingga Lulu merasa betapa tanah yang diinjak
tergetar. Ia kaget sekali dan memandang wajah kakaknya dengan kedua mata terbelalak lebar.
“Han-ko! Kenapa...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lulu! Buntungnya kakiku bukan hal penting!” Akhirnya ia dapat mengeluarkan kata-kata dengan napas
terengah. “Urusan diriku tidak perlu dibicarakan! Akan tetapi engkau...! Engkau...!”
Lulu mengerutkan keningnya, memandang wajah kakaknya penuh selidik, kemudian memegang kedua pundak
kakaknya. “Han-ko, apa maksudmu? Ada apa denganku...?”
Tiba-tiba Han Han menggunakan kedua tangan mendorong sepasang lengan adiknya sehingga Lulu
terjengkang ke belakang. “Ada apa dengan engkau? Masih hendak bertanya lagi? Engkau... menjadi pemimpin
pasukan Mancu terkutuk!”
Seketika pucat wajah Lulu. Air mata yang tadi telah berhenti mengalir kini bercucuran dari sepasang mata yang
tak pernah berkedip menatap wajah kakaknya. Perlahan ia bangkit kembali, merangkak menghampiri Han Han
dan menubruk kakaknya sambil menangis sesenggukan.
“Han-koko... lupakah engkau bahwa aku adalah seorang gadis Mancu? Anehkah kalau aku membantu
bangsaku menghadapi para pemberontak...?”
“Plak! Plak!” Kedua tangan Han Han menyambar dan sepasang pipi yang pucat itu ditamparnya.
Lulu terpekik dan mundur ke belakang sambil meloncat bangun berdiri, memegangi kedua pipinya yang terasa
panas dan sedikit berdarah keluar dari ujung bibir kiri yang pecah. Matanya terbelalak, mukanya pucat sekali.
Rasa sakit di kedua pipinya bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan rasa nyeri yang menusuk masuk di
hatinya. Ia ditampar kakaknya! Selamanya Han Han belum pernah memperlakukan dia seperti ini. Jangankan
menampar, bersikap kasar sedikit pun belum!
Han Han ikut pula berdiri, bersandar pada tongkatnya. Wajahnya lebih pucat lagi dan matanya juga terbelalak
ketika ia melihat darah di ujung bibir Lulu. Rambutnya terurai menutupi muka, ia sibakkan dengan gerakan
kepala, akan tetapi rambut itu terurai kembali menutupi sebelah mukanya.
“Lulu...! Adikku...! Ahh... apa yang telah kulakukan...?” Suaranya gemetar, mengandung isak, penuh
penyesalan seolah-olah ia baru sadar dari sebuah mimpi buruk.
Namun wajah adiknya yang biasanya berseri-seri, yang biasanya jenaka, yang biasarya selalu cerah seperti
sinar matanari di siang hari, kini berubah, dingin dan seperti muka mayat, amat pucat, matanya tidak bersinar,
bahkan suaranya berubah ketika bibir itu bergerak bicara.
“Han-koko...!” Ia berhenti dan terisak, susah payah menahan isak agar dapat bicara. “Kau tidak adil...! Memang
aku membantu bangsaku karena aku memang bangsa Mancu. Memang aku telah bersalah, akan tetapi karena
engkau tidak berada di sampingku, aku menjadi bimbang dan akhirnya terseret ke dalam perang. Akan tetapi
engkau sendiri? Bukankah engkau menjadi seorang panglima Bu Sam Kwi yang mempertahankan Se-cuan?
Sudah lama kami mendengar akan adanya panglima kaki buntung dari pihak musuh yang lihai. Tak kusangka
engkaulah orangnya! Engkau seorang berbangsa Han membela bangsamu menghadapi Mancu, sebaliknya
aku seorang berbangsa Mancu membela bangsaku menghadapi musuh. Siapakah yang benar di antara kita?
Siapa yang bersalah? Engkau... telah menamparku, bukan hanya menampar pipi, tetapi menampar dan
menghancurkan hatiku. Ahhh, Han-koko, engkau tidak adil...!” Lulu mendekap muka dengan kedua tangan dan
air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.
“Lulu..., Moi-moi adikku... kau ampunkan aku....”
Han Han melangkah maju hendak memegang lengan adiknya. Akan tetapi sentuhan jari tangannya seperti
ujung api menyengat tangan Lulu yang cepat menarik tangannya, memandang dengan mata basah penuh
penyesalan, kemudian terisak dan gadis ini membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu.
“Lulu...!”
“...engkau tidak adil...! Engkau kejam... tidak adil...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suara Lulu yang bercampur tangis itu terdengar oleh Han Han seperti tusukan pedang menembus jantungnya.
Ia meloncat dan mengejar sambil berteriak-teriak seperti orang gila, “Lulu...! Lulu adikku...!” Akan tetapi ia
terguling roboh.
Pertemuan dengan adiknya yang mengakibatkan pukulan batin hebat itu membuat luka di dadanya makin
parah. Ia masih memanggil-manggil nama Lulu sambil merangkak, kemudian bangkit perlahan-lahan dan
berjalan terhuyung-huyung menyeret tongkat, berloncatan tanpa mempedulikan pahanya yang mengucurkan
darah. Namun Lulu telah jauh, telah lenyap dari situ. Biar pun bayangan gadis itu tidak tampak lagi, namun
masih terngiang di telinga Han Han, merupakan tusukan-tusukan yang membikin hatinya perih, jeritan adiknya
tadi, “Engkau tidak adil...! Tidak adil... tidak adil...!”
Han Han hampir tak kuat menahan. Ia merangkul sebatang pohon dan menangis, mengguguk seperti anak
kecil. Ia sadar akan kesalahannya terhadap Lulu tadi. Memang dia tidak adil terhadap Lulu. Akan tetapi,
bukankah dia mendengar bahwa Lulu telah menjadi adik angkat Sin Lian dan bahkan ikut pula membantu
gerakan para pejuang? Mengapa kini Lulu menjadi pemimpin pasukan Mancu? Benarkah dia tidak adil? Siapa
yang tidak adil? Siapa yang salah? Siapa yang benar?
Han Han menggeleng kepala dan berbisik, “Tidak ada yang salah kecuali perang! Yang tidak adil adalah
perang! Terkutuklah perang!”
Dan pemuda ini lalu terpincang-pincang meninggalkan tempat itu, terus memasuki hutan tanpa tujuan. Hatinya
kosong, lenyap sudah gairah hidup. Pikirannya pun kosong, dan ia hanya mengikuti gerak kaki berloncatan
secara otomatis. Akhirnya, di dalam jantung hutan yang lebat, ia terguling pingsan.....
********************
“...engkau tidak adil...! Hu-huu-huuuu... tidak adil... tidak adil...! Hi-hiii-hiiiii... hu-huuuuu!” Lulu berlari cepat
sekali sambil menangis dan merintih-rintih di sepanjang jalan, kedua tangannya menggosok-gosok kedua mata
seperti anak kecil menangis, beberapa kali ia terhuyung karena kakinya tersandung batu atau akar pohon.
“Sumoi...!”
Lulu terkejut, seperti sadar dari mimpi. Dia menahan kakinya dan berdiri memandang melalui air matanya.
Nirahai sudah berdiri di depannya. Wajah yang cantik jelita dan biasanya bersikap ramah penuh kasih
kepadanya itu kini kelihatan marah, kedua tangan bertolak pinggang.
Akan tetapi dalam kesedihannya, Lulu tidak melihat perubahan ini. Begitu bertemu suci-nya, ia lalu menubruk,
merangkul dan menangis di pundak Nirahai.
“Aduh, suci... hu-huuuuu...!”
“Hemmm, tenanglah dan jangan seperti bocah cengeng! Bicaralah!” kata Nirahai yang masih bersikap marah.
“Suci... dia... dia...” Lulu menangis lagi, terlampau sakit hatinya oleh sikap kakaknya tadi sehingga sukar untuk
bicara.
Nirahai memegang kedua pundak Lulu dan mendorongnya mundur. “Sumoi, hentikan tangismu! Apa yang
telah kudengar dari laporan pasukanmu? Engkau telah melindungi musuh!”
Lulu mengusap air matanya, kemudian mengangkat muka memandang Nirahai. “Suci, dia... dia adalah Hankoko
yang kucari-cari!”
Nirahai mengangguk. “Aku sudah mendengar. Jadi panglima pemberontak berkaki buntung itulah Han Han
yang selama ini kau cari-cari? Di mana dia sekarang?”
“Kaki... kau... mau apakan dia...?”
“Mau apakan dia? Dia adalah panglima musuh! Harus ditawan atau dibunuh!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suci...!”
“Sumoi, tidak tahukah engkau bahwa tadi engkau telah melakukan perbuatan yang khianat? Engkau
membantu musuh!”
“Tapi dia kakakku!” Lulu membantah penasaran.
“Tapi dia panglima musuh!” Nirahai membentak, lebih penasaran lagi.
Lulu menjadi lemah kembali dan meratap, “Suci... suci... ingatlah, dia kakakku! Bagai mana aku dapat
memusuhinya?”
Nirahai menarik napas panjang. “Hemmm, sudahlah! Biar pun kakak, tapi hanya kakak angkat. Andai kata
kakak kandung sekali pun, kalau membantu musuh harus ditentang. Lulu, dalam masa perang, urusan pribadi
harus dikeduakan, yang diutamakan adalah urusan negara! Aku tidak membenci kakakmu yang belum pernah
kujumpai, bahkan aku tidak pernah membenci para pemberontak secara pribadi, akan tetapi aku akan
membunuh mereka sebagai musuh negara. Sudah, biarlah untuk sekali ini, aku tidak akan mengejar panglima
buntung dari Se-cuan itu. Mari kita kembali ke pesanggrahan kita.”
Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. Setelah aku melihat kenyataan bahwa Han-koko berada di pihak musuh,
aku tidak mau perang lagi. Aku akan pergi.”
“Ke mana?” Nirahai menyembunyikan kemarahannya. “Pergi menyeberang ke Se-cuan membantu
pemberontak?”
Lulu menggeleng kepala dengan sedih. “Tidak, aku mau pergi menjauhi semua ini, mau menjauhi perang yang
menghancurkan hidupku. Aku tidak sudi lagi terlibat...”
“Sumoi! Engkau harus kembali bersama aku! Ini merupakan perintah!”
Baru sekali ini selama menjadi sumoi Nirahai, suci-nya itu mengeluarkan suara keras dan memperlihatkan
sikap marah. Hal ini mengingatkan Lulu akan sikap Han Han tadi dan sakitlah hatinya. Ia pun memandang
suci-nya dengan sinar mata penuh penasaran dan tentangan, lalu bertanya dengan suara tegas.
“Perintah siapa kepada siapa?”
“Perintah seorang pemimpin kepada bawahannya! Perintah seorang wakil kaisar kepada warga negaranya!
Perintah seorang suci kepada sumoi-nya!”
Lulu menggeleng kepala. “Tidak, suci. apa pun yang terjadi, aku tidak mau kembali ke markas, tidak mau ikut
perang. Aku hendak pergi ke mana aku suka!”
“Lulu! Membangkang berarti memberontak dan kau bisa dihukum!”
“Terserah!”
“Sumoi, engkau hendak melawan suci-mu? Engkau berani melawan aku?”
“Suci, ketika aku ikut bersamamu, tidak ada perjanjian jual beli kebebasanku. Kalau sekarang engkau hendak
memaksa, hendak mengganggu kebebasanku, terpaksa aku melawanmu. Melawan engkau sebagai orang
yang hendak memaksaku, bukan sekali-kali melawan bangsa atau negara! Aku tidak peduli akan urusan
bangsa dan negara, tidak peduli akan perang, aku muak! Biarkan mereka yang suka perang itu maju sendiri
mempertaruhkan nyawa. Bagiku, terima kasih! Aku tidak mau kembali dan kalau suci hendak memaksa, apa
boleh buat, aku melawan sebisaku!”
Nirahai menghela napas, wajahnya terlihat penuh kecewa dan sesal. Dia amat mencinta Lulu yang
dianggapnya sebagai adik sendiri, tidak ingin menggunakan kekerasan. Akan tetapi dia pun sudah mengenal
dunia-kangouw.blogspot.com
watak Lulu yang sekali menentukan sikap akan dibela sampai mati. Betapa pun juga tak mungkin ia
melepaskan sumoi-nya ini. Kalau sampai sumoi-nya ini kemudian membantu pemberontak, hal itu merupakan
mala petaka yang lebih hebat lagi. Bayangkan saja. Sumoi-nya, seorang gadis Mancu pula, membantu
pemberontak melawan bangsa sendiri! Tidak, ia harus mencegah hal yang terkutuk itu. Lebih baik melihat
sumoi-nya mati di depan kakinya untuk kemudian ia tangisi dan kabungi dari pada melihat sumoi-nya menjadi
pengkhianat!
“Sumoi, sekali lagi, marilah kau ikut aku kembali dan kita bicarakan semua urusan dengan baik. Jangan
menuruti perasaan yang sedang terganggu. Perlukah urusan begini saja sampai mematahkan ikatan
persaudaraan dan kasih di antara kita?” Suara Nirahai yang lemah lembut ini membuat Lulu kembali terisak.
“Suci... suci... kau kasihanilah aku, biarkan aku pergi...,” ia meratap.
“Sumoi!” Nirahai membentak lagi. “Engkau seorang gadis yang perkasa! Engkau adalah sumoi-ku! Engkau
adalah murid Subo Maya! Mengapa sikapmu begini lemah? Hayo ikut aku kembali!”
Lulu menggeleng kepala, “Tidak mau, suci.”
“Hemmm, baik. Kita lihat saja siapa di antara kita yang lebih kuat. Akan tetapi ingat, sekali ini kita bukan
sedang berlatih!” Nirahai berkata mengejek dan menubruk ke depan mengirim totokan ke arah leher Lulu
disusul cengkeraman ke arah pundak.
Lulu cepat mengelak dari totokan dan menangkis cengkeraman, bahkan langsung ia membalas dengan
pukulan dari ilmu silatnya yang ampuh dan yang ia latih dari Puteri atau Nenek Maya, yaitu Toat-beng Sian-kun.
Pukulan yang mengarah dada dan perut Nirahai dengan kedua tangan terbuka ini kelihatannya ringan saja.
Akan tetapi tentu saja Nirahai mengenal pukulan sakti. Cepat ia mengelak dan balas menyerang. Makin lama
makin cepat gerakan mereka sehingga yang tampak hanya dua bayangan berkelebat, kadang-kadang menjadi
satu!
Betapa pun lihainya Lulu, tentu saja dia tidak dapat menandingi kehebatan Nirahai yang memiliki banyak ilmu
silat tinggi yang luar biasa. Sebentar saja, tidak sampai tiga puluh jurus, Lulu mulai terdesak hebat dan hanya
mengandalkan kelincahan gerakannya yang ia dapat dari latihan di Pulau Es saja yang membuat ia dapat
bertahan dari serangan Nirahai yang bertubi-tubi. Lulu mulai berloncatan ke sana-sini dan terus mundur.
“Lu-moi, jangan takut! Aku datang membantumu!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah Sin Kiat
yang langsung menyerang Nirahai dengan pedangnya. Gerakan murid Im-yang Seng-cu yang berjuluk Hoasan
Gi-hap ini cepat dan dahsyat sekali, pedangnya mengeluarkan suara berdesing dan berubah menjadi sinar
terang bergulung-gulung.
“Hemmm... pemberontak cilik bosan hidup!” Nirahai berseru dan tiba-tiba mata Sin Kiat menjadi gelap ketika
ada sinar hitam lebar menutupi tubuh lawannya kemudian dari tengah bayangan hitam itu meluncur sinar putih
yang menusuk ke arah lambungnya.
“Cringggg...!”
Sin Kiat terkejut sekali. Ternyata bayangan hitam itu adalah sebatang payung yang tiba-tiba sudah berada di
tangan Nirahai dan payung itu berkembang, kemudian ujung payung yang runcing seperti pedang menusuknya.
Tangkisannya membuat tangannya tergetar, tanda bahwa puteri Mancu itu memiliki sinkang amat kuat.
Sin Kiat memutar pedangnya dan bergerak cepat, namun semua serangannya kena dihalau oleh tangkisan
kuat, dan dalam beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak oleh serangan balasan ujung payung yang
menyembunyikan gerakan lengan dan pundak lawan.
“Plak... cring...! Aaaihhh!”
Sin Kiat terpaksa loncat ke belakang. Hampir saja lututnya kena disambar ujung payung yang gerakannya
amat lihai itu. Sin Kiat memandang tajam, kemudian ia berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm... kalau tidak salah dugaanku, tentu engkaulah Puteri Nirahai yang terkenal licik itu, pengadu domba
antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!” katanya sambil melintangkan pedang di depan dada. Kemudian ia
menoleh ke arah Lulu dengan wajah berseri, “Lu-moi, engkau pergilah. Han Han mencarimu. Biar aku yang
menghadapi iblis betina ini!”
“Wah, melihat gerakan pedangmu, engkau tentu Hoa-san Gi-hiap seperti yang pernah diceritakan Lulu
kepadaku. Ah, tidak kecewa engkau menjadi murid Im-yang Seng-cu, akan tetapi engkau harus belajar seratus
tahun lagi untuk dapat melawanku!” Nirahai berseru dan kembali payung pedangnya mengirim serangan hebat.
Sin Kiat tidak berani berlaku lengah. Cepat ia menangkis sambil meloncat ke samping, kemudian mengirim
serangan balasan yang dapat dielakkan secara mudah oleh Nirahai dengan sikap mengejek.
“Wan-twako, jangan...! Jangan campuri, biar aku sendiri hadapi suci!”
Wan Sin Kiat terkejut bukan main dan untuk kedua kalinya ia meloncat mundur. “Apa?! Suci-mu...?”
Nirahai tersenyum dan memandang wajah tampan itu dengan tajam. Diam-diam ia kagum kepada pemuda
yang tampan dan gagah ini, akan tetapi karena ia tahu bahwa pemuda ini pun salah seorang panglima Secuan,
maka dia menganggap pemuda ini musuhnya.
“Benar, Wan Sin Kiat, ataukah Wan-ciangkun? Engkau seorang panglima pemberontak, bukan? Lulu adalah
sumoi-ku, akan tetapi mencampuri urusan kami atau tidak, setelah engkau berada di daerah ini, engkau harus
menyerah menjadi tawananku atau terpaksa aku akan membunuhmu sebagai tokoh pemberontak!”
“Lu-moi...! Eh, bagaimana ini...?”
Sin Kiat bingung sekali, akan tetapi Nirahai telah menyerangnya kembali dengan hebat.
“Tranggg... cringgggg...!”
Dua kali Sin Kiat menangkis dan ia terhuyung ke belakang. Nirahai terus menerjang maju dan mendesak
pemuda yang terhuyung itu dengan ujung payungnya.
“Trikkkkk!”
Nirahai mencelat mundur. Lulu telah mencabut pedang dan menangkis gagang payung itu untuk menolong Sin
Kiat.
“Suci, tidak boleh kau bunuh dia. Mari kita lanjutkan pertandingan kita.”
“Sumoi, kau makin tersesat! Sekarang kau membantu pemberontak di depanku, ya?”
Nirahai menyerang dengan hebat dan kembali kedua orang gadis yang sama cantik jelita dan sama lincah itu
saling serang, kini menggunakan senjata. Melihat ini, serta merta Sin Kiat membantu dan mengeroyok Nirahai.
Pertempuran hebat berlangsung di dalam hutan yang sunyi itu. Kelebatan sinar pedang menyliaukan mata dan
gerakan mereka amat cepatnya.
Diam-diam Sin Kiat menjadi amat heran, heran dan kagum. Kini ia mendapat kenyataan betapa Lulu telah
memperoleh kemajuan pesat, bahkan dari gerakan-gerakan gadis yang dicintanya itu ia mendapat kenyataan
bahwa kepandaian Lulu kini telah jauh melampaui tingkatnya sendiri!
Akan tetapi, dengan kaget ia pun mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Puteri Nirahai yang terkenal ini
lebih hebat lagi, dikeroyok dua sama sekali tidak terdesak, bahkan beberapa kali dia dan Lulu terancam oleh
ujung gagang payung yang luar biasa aneh dan lihainya itu. Pantas saja tokoh-tokoh besar seperti orang ke
enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tewas di tangan gadis puteri Kaisar Mancu ini!
Oleh karena dibantu Sin Kiat, kini tidaklah begitu mudah lagi bagi Nirahai untuk dapat mengalahkan Lulu,
sungguh pun ia masih terus mendesak karena memang tingkat kepandaiannya jauh di atas kedua orang
dunia-kangouw.blogspot.com
pengeroyoknya. Setelah lewat seratus jurus, Nirahai mulai penasaran dan marah. Kalau tadinya ia ingin
merobohkan Lulu tanpa membunuhnya, bahkan kalau mungkin tidak melukainya, kini ia tidak peduli lagi dan
kalau perlu hendak membunuh mereka berdua. Ia mengeluarkan lengking nyaring sekali dan tampaklah sinar
emas berkilau.
Lulu dan Sin Kiat terkejut sekali. Mata mereka menjadi silau dan mendadak permainan pedang mereka kacaubalau
oleh suara yang keluar dari sebatang suling emas yang kini dimainkan oleh Nirahai. Itulah senjata
pusaka Suling Emas yang ampuhnya menggila!
“Trang-cringgg...!” Lulu dan Sin Kiat terhuyung, kedua tangan mereka tergetar hebat.
“Lu-moi, pergilah... Cepat pergi... selamatkan dirimu...!” Sin Kiat berkata sambil memutar pedangnya dengan
cepat, membentuk gulungan sinar pedang seperti perisai baja.
“Tidak, Wan-twako! Engkau saja pergilah, jangan menyia-nyiakan nyawa untuk aku. Biar kuhadapi urusanku
sendiri!” Lulu berkata sambil memutar pedangnya.
“Trang-tranggg...!”
Kini kedua orang muda itu tidak hanya terhuyung, bahkan terlempar ke belakang dan bergulingan. Nirahai
tertawa dan terus menerjang maju.
“Moi-moi... pergilah selamatkan dirimu...!” Sin Kiat mendesak.
“Twako, kenapa sih engkau hendak mengorbankan diri untukku?” Lulu bertanya dengan rasa penasaran.
“Moi-moi, kau tahu. Aku cinta padamu, aku rela berkorban untukmu. Pergilah dan temui Han Han... di Secuan...!”
kata Sin Kiat sambil menangkis.
“Trakkk!” Pedangnya patah menjadi dua bertemu dengan suling emas! Tendangan kaki Nirahai menyerempet
pahanya dan pemuda itu terguling.
“Wan-twako...!” Lulu berteriak dan ia memutar pedangnya menghalangi Nirahai yang mengirim serangan
terakhir kepada pemuda itu.
“Cringgg...!”
“Sumoi, dia mencintamu, apakah engkau juga mencintanya?”
Lulu tak menjawab, mukanya merah dan ia menyerang dengan tusukan kilat yang dapat ditangkis oleh Nirahai.
Sin Kiat sudah meloncat bangun lagi. Ia terkejut melihat betapa Puteri Nirahai kini menangkis pedang dan
memutar-mutar suling emas sehingga Lulu ikut pula terputar-putar, kemudian pedang itu tak dapat
dipertahankan lagi, terlepas dari tangan Lulu!
“Hi-hik, kau menyerahlah, sumoi!” Nirahai berkata.
Lulu makin marah. Ia menubruk maju, tetapi sebuah dorongan membuat ia terjengkang.
“Moi-moi...!” Sin Kiat menghampiri Lulu lega hatinya mendapat kenyataan bahwa Lulu tidak terluka. “Cepat kau
lari... biar aku saja yang mati...!”
Tanpa menanti jawaban Lulu, Sin Kiat mengeluarkan bentakan keras dan ia sudah menubruk dengan nekat ke
arah Nirahai! Melihat kenekatan pemuda ini, Nirahai terkejut sekali dan hampir saja pundaknya kena
dicengkeram Sin Kiat. Terpaksa puteri yang lihai ini melempar diri ke belakang dan bergulingan, lalu ia
meloncat dan memandang pemuda itu dengan mata marah.
“Hemmm, kau mau bunuh diri, ya? Nah, mampuslah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sinar kuning emas menyambar dan Sin Kiat terpelanting. Hanya kena dorongan hawa pukulan senjata ampuh
itu saja ia sudah jatuh terpelanting. Nirahai melangkah maju, mengayun payungnya.
“Biarlah aku mati bersamamu, twako!” Lulu menubruk maju dari belakang, menyerang Nirahai.
“Hemmm... kau mencintanya juga, bukan?”
Nirahai membalikkan tubuh tanpa menghentikan tusukannya pada Sin Kiat, akan tetapi ujung gagang
payungnya hanya menusuk pundak, sedangkan sulingnya menotok ke arah jalan darah di leher Lulu. Hebat
bukan main gerakan Nirahai, terlalu cepat bagi dua orang muda yang nekat itu.
“Krekkk!” Tubuh Sin Kiat terkulai, tulang pundaknya patah.
“Cusss!” Tubuh Lulu lemas karena jalan darahnya terkena totokan suling emas secara tepat sekali.
Nirahai tersenyum. Gadis ini menyimpan suling dan payung, menyambar tubuh Lulu dan dipanggulnya,
kemudian memandang Sin Kiat yang duduk sambil memegangi pundak kirinya yang patah.
“Wan Sin Kiat, karena melihat kau dan Lulu saling mencinta, aku mengampuni dan tak akan membunuhmu.
Akan tetapi pada pertemuan kedua, jikalau engkau masih menjadi pemberontak, tentu mengakibatkan
kematianmu di tanganku.” Sambil berkata demikian, Nirahai membalikkan tubuh, tidak mempedulikan pemuda
yang memandangnya dengan mata mendelik itu.
“Nirahai! Aku bersumpah, kalau engkau mengganggu Lulu, kelak aku akan mencarimu dan akan
membunuhmu!”
Nirahai menoleh, tersenyum mengejek lalu tubuhnya berkelebat pergi dari tempat itu bersama Lulu yang
terkulai lemas di atas pundaknya. Sin Kiat mengerutkan keningnya, masih terheran-heran mengapa Lulu
menjadi sumoi puteri itu, dan heran pula mengapa keduanya saling serang mati-matian. Ia menggeleng-geleng
kepala, menghela napas panjang penuh sesal mengapa dia tidak mampu melindungi Lulu dari tangan puteri
yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi diam-diam masih terngiang di telinganya suara Lulu ketika
membantunya tadi. “Biar aku mati bersamamu, twako!”
Betapa merdunya suara ini. Bukankah kata-kata itu merupakan pencerminan hati yang mencinta? Secara
kebetulan saja ia bertemu dengan Lulu di tempat ini. Susah payah ia mencari dan mengikuti jejak Han Han
semenjak pemuda buntung itu meninggalkannya. Dan di tempat sunyi ini, bukan Han Han yang ia temukan,
melainkan Lulu! Ke manakah perginya Han Han? Tentu tidak jauh dari tempat ini karena jejaknya menuju ke
tempat ini. Dia harus mencari Han Han! Kiranya hanya Han Han seorang yang akan mampu menandingi
Nirahai yang begitu lihai!
Setelah tiga hari tiga malam berkeliaran di dalam hutan-hutan sambil mengobati sendiri pundaknya yang patah
tulangnya, akhirnya pada suatu pagi Sin Kiat melihat sesosok tubuh yang duduk bagaikan arca di bawah
pohon, di tengah hutan yang amat sunyi dan liar. Dan orang itu bukan lain adalah Han Han!
“Han Han...!” Sin Kiat berteriak girang.
Akan tetapi Han Han tidak menjawab, tetap duduk bersila dalam keadaan siulian dan matanya terpejam.
Tongkat butut melintang di depan lututnya. Luka di pahanya sudah mengering, dan luka di dalam dadanya pun
sudah sembuh, akan tetapi pemuda ini terus saja bersemedhi, seolah-olah sudah berubah menjadi arca dan
tidak ada nafsu untuk sadar kembali.
Han Han mengalami pukulan batin yang amat hebat secara bertubi-tubi sehingga membuat dia seolah-olah
sudah bosan hidup. Pertama-tama urusan dengan Kim Cu sudah merupakan tekanan batin yang berat, disusul
lagi dengan kematian Lu Soan Li yang juga menjadi korban cinta kasihnya kepadanya. Pertemuannya dengan
Tan Hian Ceng yang mencintanya membuat hatinya makin terhimpit dan satu-satunya harapan hatinya untuk
dapat keluar dari himpitan dan mendapatkan hiburan batin adalah pertemuannya kembali dengan Lulu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, begitu berjumpa dengan adiknya yang tercinta itu, ia malah menerima hantaman batin yang lebih
berat lagi, yaitu dengan kenyataan bahwa Lulu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Mancu! Lebih celaka
lagi, dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya yang timbul karena baru saja ia dikeroyok dan hampir
celaka di tangan para pemimpin Mancu sehingga dia menampar adiknya itu, membuat Lulu sakit hati dan gadis
itu melarikan diri dengan kebencian terkandung di hati adiknya yang merupakan satu-satunya manusia yang ia
harapkan akan dapat menghibur hatinya yang sakit!
“Han Han, mengapa engkau menjadi begini? Apa yang sudah terjadi denganmu? Sadarlah, aku telah berjumpa
dengan Lulu!”
Han Han membuka matanya, memandang Sin Kiat dan bertanya dengan suara lesu, “Di manakah dia? Mana
Lulu?”
“Han Han, celaka sekali! Aku bertemu dengan Lulu, akan tetapi dia dan aku tidak dapat melawan Puteri Nirahai.
Aku dirobohkan dan terluka, sedangkan Lulu, dia dilarikan Nirahai. Anehnya Lulu menyebutnya suci, dan...”
Akan tetapi Sin Kiat melongo ketika tiba-tiba tubuh Han Han mencelat dan lenyap dari tempat itu!
“Han Han...!” Sin Kiat berteriak, akan tetapi tubuh Han Han sudah berloncatan jauh sekali. Sin Kiat
menggeleng-geleng kepala mengerti bahwa tidak mungkin ia dapat mengejar pemuda buntung itu, terpaksa ia
pun meninggalkan tempat itu. Dengan hati berat Sin Kiat lalu kembali ke Se-cuan, minta diri dari Raja Muda Bu
Sam Kwi dan meletakkan jabatan untuk pergi mencari Han Han dan terutama sekali Lulu.
********************
Begitu mendengar dari Sin Kiat bahwa adiknya ditawan Puteri Nirahai, kemarahan Han Han memuncak. Tanpa
pamit ia meninggalkan Sin Kiat, menggunakan kepandaiannya pergi menuju ke kota raja untuk mengejar dan
menolong adiknya.
Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda berkaki buntung yang berjalan terpincang-pincang
memasuki kota raja itu mengandung perasaan marah dan sakit hati yang akan menggegerkan kota raja! Han
Han berjalan perlahan memasuki kota raja....
“Tak-tok-tak-tok...!” tongkat yang membantunya terpincang-pincang itu mengeluarkan bunyi ketika mengetuk
jalan berbatu yang keras.
Beberapa orang menoleh dan memandangnya dengan perasaan kasihan. Juga banyak yang menjadi heran
melihat pemuda tampan yang wajahnya menyinarkan sesuatu yang aneh menyeramkan, yang pakaiannya
amat sederhana dan rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di atas kedua pundak dan punggungnya,
rambut yang kusut.
Han Han tidak tahu ke mana adiknya dibawa oleh Puteri Nirahai, akan tetapi ia teringat betapa dahulu adiknya
itu diculik oleh Ouwyang Seng, maka ia dapat menduga bahwa antara Puteri Nirahai dan keluarga Pangeran
Ouwyang tentu ada hubungan erat. Karena itu dengan perasaan marah memenuhi dada, dengan hati panas
oleh dendam, ia lalu menujukan langkahnya yang terpincang-pincang itu ke arah gedung Pangeran Ouwyang
Cin Kok!
Lima orang penjaga pintu gerbang di luar pekarangan gedung besar Pangeran Ouwyang Cin Kok cepat
menghadang dan memandang heran ketika melihat pemuda buntung itu seenaknya saja memasuki pintu
gerbang.
“Haiii! Berhenti! Tidak boleh mengemis di sini!” Seorang di antara mereka membentak, kemudian
menodongkan tombaknya ke depan dada Han Han. “Pergi!”
Han Han tidak marah mendengar makian ini. Baginya, dikatakan pengemis bukan merupakan makian atau
penghinaan. “Minggirlah, aku hendak mencari Ouwyang Seng!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lima orang penjaga itu tercengang. Mendengar seorang pemuda kaki buntung yang mereka anggap pengemis
itu menyebut nama Ouwyang-kongcu begitu saja, timbul dugaan bahwa tentu pengemis buntung ini miring
otaknya.
“Eh, orang gila. Pergilah kalau tidak mau kami pukul!” bentak penjaga ke dua.
“Kalian minggirlah, jangan halangi aku!” Han Han berkata dengan suara dingin. Tanpa mempedulikan mereka,
dia berjalan terus memasuki pekarangan gedung besar.
Lima orang penjaga itu menjadi marah dan berkelebatlah tombak-tombak mereka ke arah Han Han.
“Trang-trang-krek-krek-krekkk!”
Lima batang tombak patah-patah dan beterbangan disusul tubuh lima orang penjaga itu yang terlempar ke
kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin! Han Han tidak mempedulikan mereka lagi dan terus dia
berloncatan menuju gedung.
Teriakan-teriakan para penjaga ini menarik perhatian para penjaga di gedung dan mereka ini, dua belas orang
banyaknya, datang berlari-lari. Mereka terkejut melihat para penjaga pintu gerbang roboh semua dan melihat
pemuda buntung itu berloncatan ke ruangan depan. Cepat mereka mengurung, akan tetapi Han Han yang
tidak sabar telah meloncat tinggi ke atas kepala mereka, kedua tangan didorong ke bawah dan dua belas
orang itu roboh terbanting tunggang-langgang.
“Ouwyang Seng! Keluarlah! Kalau tidak, kuhancurkan tempat ini!” Han Han berteriak-teriak dan sekali sambar
ia mengangkat singa-singaan batu yang belum tentu dapat terangkat oleh sepuluh orang biasa,
mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan melontarkan singa-singaan batu itu ke dalam.
“Braaaaakkkkk!” pecahlah pintu ruangan depan itu.
Han Han meloncat ke dalam ruangan itu, suaranya lantang ketika berteriak, “Ouwyang Seng! Puteri Nirahai!
Keluarlah dan serahkan kembali adikku Lulu! Kalau tidak, akan kuhancurkan kota raja!”
Tiba-tiba dari sebelah dalam menyambar senjata rahasia yang berupa gelang-gelang kecil. Cepat dan kuat
sekali sambaran ini, akan tetapi dengan tenang Han Han menggerakkan tubuh meloncat tinggi sehingga
sambaran senjata-senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Di udara, tubuh Han Han berjungkir balik dan ia
sudah meloncat keluar karena kalau ada lawan tangguh menghadapinya, lebih baik ia berada di luar gedung.
Benar saja dugaannya, dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda
yang memegang sebatang golok telah berdiri di depannya. Pemuda itu bukan lain adalah Gu Lai Kwan! Ketika
Lai Kwan melihat Han Han, ia pun terkejut dan marah.
“Keparat! Kiranya engkau setan buntung!” Lai Kwan memaki dan goloknya sudah menyambar, menjadi sinar
putih yang menyilaukan dan mengeluarkan suara berdesing ketika golok itu membelah angin.
“Singggg...!”
Lai Kwan terkejut karena tiba-tiba lawannya lenyap. Cepat ia memutar tubuh dan mengelebatkan goloknya ke
belakang, akan tetapi Han Han yang sudah berada di sebelah belakangnya mudah saja mengelak sambil
berkata.
“Gu Lai Kwan, aku menjadi setan buntung karena engkau! Sekarang bukan maksudku datang untuk membalas
dendam, sebab aku tidak mendendam kepadamu. Akan tetapi suruhlah Nirahai dan Ouwyang Seng keluar
membawa adikku Lulu, kalau tidak... hemmm... siapa pun yang menghalangiku akan kubunuh, termasuk
engkau!”
“Buntung sombong!” Lai Kwan malah menyerang lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa pemuda bekas suheng-nya ini nekat, Han Han yang memang sedang berduka dan marah
sekali menjadi gemas, akan tetapi ia masih tidak bergerak, hanya mengelebatkan tongkat bututnya menangkis
sambil mengerahkan tenaga memutar tongkat itu.
“Trakkk! Aihhhhhh...!”
Lai Kwan terkejut bukan main. Betapa pun ia mempertahankan diri sambil mengerahkan tenaga, tetap saja ia
terpelanting dan cepat ia bergulingan karena takut kalau-kalau Han Han menyerangnya. Akan tetapi Han Han
masih berdiri tegak dan tenang. Melihat ini, sambil meloncat bangun Lai Kwan berteriak keras.
“Suhu...! Sian-kouw...! Harap bantu...!”
Setelah berteriak demikian Lai Kwan sudah menerjang lagi sambil mengerahkan semua tenaganya. Akan
tetapi sekali ini ia berhati-hati, maklum bahwa lawannya yang buntung ini biar pun dahulu hanyalah seorang
sute-nya, namun sekarang sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa.
“Syuuuttt... syuuuuttttt... singggggg!” Sinar berkilauan dari golok Lai Kwan menyambar ganas bertubi-tubi.
“Wuuuttttt!”
Tubuh Han Han sudah melayang lagi keluar dari ruangan depan menuju ke pekarangan. Lai Kwan mengejar
dan Han Han berhenti di atas anak tangga depan ruangan. Lai Kwan yang memang memiliki ilmu kepandaian
tinggi tidak memberi kesempatan kepadanya, sudah membacok lagi dengan goloknya mengarah kepala Han
Han. Pemuda buntung ini tidak begitu mempedulikan Lai Kwan, hanya menundukkan muka mengelak sambil
siap menghadapi lawan yang lebih tangguh, yang ia duga tentu akan muncul mendengar teriakan Lai Kwan.
Dan pada saat itu, terdengar suara lengkingan dahsyat dibarengi suara ringkik kuda dan muncullah Ma-bin Lomo
Siangkoan Lee dari pintu samping, langsung ia memukul ke arah Han Han dengan ilmu pukulan dahsyat
Swat-im Sin-ciang! Juga tampak berkelebatnya bayangan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat. Nenek lihai itu
melayang turun dari atas dengan jari tangan mencengkeram ke arah kepala Han Han menggunakan ilmu sakti
Toat-beng Tok-ciang! Dan berbareng di saat itu juga, Lai Kwan sudah membabat ke arah kaki Han Han!
“Desss!”
Pukulan Ma-bin Lo-mo telah ditangkis oleh Han Han dengan telapak tangan kanannya. Sambaran golok Lai
Kwan didiamkannya saja karena dalam gugupnya Lai Kwan menyerang ke bawah untuk membabat kaki Han
Han, lupa bahwa kaki kiri Han Han telah tidak ada lagi sehingga goloknya menyerang angin kosong!
Han Han lebih memperhatikan cengkeraman si nenek ke arah kepalanya. Ia tidak mengelak, melainkan
memapaki tubuh nenek yang menyerang dari atas itu dengan tongkatnya. Gerakan pertamanya menotok
telapak tangan kiri nenek itu dan ketika Toat-beng Ciu-sian-li terkejut menarik kembali tangannya, Han Han
melanjutkan serangan tongkatnya dengan totokan pada pinggang nenek itu.
“Aiiihhhhh!” Toat-beng Ciu-sian-li memutar tubuh di udara, berjungkir balik dan dari kedua tangannya
menyambar dua buah gelang, yaitu senjata rahasia yang amat ampuh!
Han Han telah memutar tongkat menangkis bacokan susulan Lai Kwan dari belakang, dan kembali tangan
kanannya menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo. Melihat datangnya sambaran dua buah senjata rahasia ini,
teringatlah ia akan Kim Cu yang dahulu hampir tewas akibat senjata rahasia ini, maka ia menjadi gemas sekali.
Kepalanya bergerak, rambutnya yang panjang menyambar ke depan dan... dua gumpal ujung rambutnya
berhasil melibat dua buah gelang yang menyambar, kemudian secara kontan dan keras gelang-gelang itu ia
kembalikan ke arah pemiliknya, menyambar dahi dan tenggorokan Ciu-sian-li yang menjadi terkejut.
Dewi Mabuk ini cepat mengelak sambil terus menubruk maju mengirim pukulan sakti dengan tangan kanan
sedangkan tangan kirinya kembali mengarah ubun-ubun kepala Han Han dengan cengkeraman maut. Juga
Ma-bin Lo-mo yang menjadi kagum dan terkejut menyaksikan gerakan Han Han yang mendapat kemajuan
secara aneh dan hebat, kini telah membarengi menyerang dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang
sekuatnya. Bukan main hebatnya serangan yang dilakukan secara berbareng oleh Ciu-sian-li dan Ma-bin Lodunia-
kangouw.blogspot.com
mo ini, dahsyat dan mengingat bahwa keduanya merupakan datuk-datuk golongan hitam yang sudah
mencapai tingkat di puncak, tentu saja amat sukar bagi lawan yang dikeroyok dua orang ini untuk dapat
menyelamatkan diri dari serangan mereka yang dilakukan berbareng.
Namun betapa kaget dan heran hati kedua orang tokoh hitam ini ketika secara tiba-tiba tubuh Han Han lenyap
dari tengah-tengah antara mereka, telah menghindarkan diri dengan sebuah loncatan yang luar biasa sekali,
secepat kilat menyambar sehingga mereka berdua hampir tak dapat mengikuti dengan pandang mata mereka!
Akan tetapi, Lai Kwan yang berada di luar gelanggang dapat melihat gerakan Han Han yang menggunakan
ilmunya Soan-hong-lui-kun, gerakan kilat yang membuat tubuhnya seperti mencelat dan keluar dari kepungan
dua orang datuk hitam itu.
Gu Lai Kwan adalah murid Toat-beng Ciu-sian-li yang paling setia dan paling disayang oleh nenek itu dan oleh
Ma-bin Lo-mo. Pemuda ini amat benci kepada Han Han karena sesungguhnya pemuda ini mencinta Kim Cu.
Peristiwa yang menimpa diri Kim Cu sebagai akibat gadis itu membela Han Han, membuat Gu Lai Kwan
menaruh dendam kebencian kepada Han Han. Maka kini melihat Han Han meloncat keluar dari kepungan
kedua orang gurunya, Lai Kwan mengeluarkan bentakan nyaring dan menggunakan goloknya menyambut
tubuh Han Han yang masih melayang di udara.
“Mampuslah engkau, manusia buntung keparat!” bentaknya, goloknya menyambar seperti naga mengamuk.
Han Han dapat melihat sinar maut terpancar dari pandang mata Gu Lai Kwan, maka ia pun membentak,
“Begitu kejamkah hatimu?”
Biar pun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, namun
loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mukjizat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw
Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok. Han Han lalu menggerakkan tongkatnya,
dengan tenaga sinkang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengandung
daya melekat! Betapa pun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah
melekat pada tongkat seperti berakar di situ!
Pada saat Lai Kwan menarik golok, tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong. Tak dapat ditahan
lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri. Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia
berusaha menggulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok
lehernya. Teriakan mengerikan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi
bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah
lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah. Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir
putus!
Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara. Kini
Han Han mencelat ke depan, tidak mempedulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan
‘bunuh diri’ dengan golok sendiri itu.
“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah! Aku tidak ingin bermusuhan denganmu atau dengan
siapa pun juga!” bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua
orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mereka itu memandang Han Han dengan mata
terbelalak.
Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki. “Bocah setan, murid murtad! Begini sikapmu terhadap bekas guru?”
Han Han mengerutkan keningnya. “Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk
mencari adikku, dan siapa pun dia yang menghalangi aku mencari adikku, akan kuhancurkan!”
Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. “Di mana Puteri
Nirahai?! Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku!”
Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh. Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik.
Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang
dunia-kangouw.blogspot.com
luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakangerakannya
seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri!
Betapa pun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar
tantangan Han Han terhadap Puteri Nirahai, mereka marah dan cepat menerjang lagi dengan hebatnya. Nenek
itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga
menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya sebagai senjata yang ampuh dan aneh.
Tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan seorang kuntilanak dalam dongeng
dunia setan. Ada pun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biar pun buntung dan masih amat
muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia, juga telah menerjang maju dengan
pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga.
Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka. Akan tetapi karena mereka
berdua menghalangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silatnya yang
membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main.
Kepala Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda
buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong. Dengan penasaran kedua orang itu
menubruk dengan pukulan-pukulan sakti.
“Wuuuttt!” Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri.
“Singgg... syuuttt!” Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di
telinganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya.
Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah.
Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya,
mengatasi kecepatan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan
tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya.
“Hayaaa...!” Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah
sambil berteriak.
“Aiiihhhhh...!” Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir
balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang
yang tergantung di kedua telinganya.
Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han. Jumlah mereka lebih
tiga puluh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat. Pada
waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li
dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan, ada pun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Secuan.
Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan.
Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri bersembunyi sambil mengintai. Ia menjadi gelisah bukan main. Betapa
pun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di
lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sianli
serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal.
Akan tetapi Han Han sudah marah sekali. Pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati. Tubuhnya
berkelebat, lebih banyak di udara dari pada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki
tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas,
seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali
tubuhnya menukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, menjadi korban ujung
tongkat atau kedua tangannya!
Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li menjadi marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa
malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang
pengawal. Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda
itu turun ke atas tanah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Wuuusssss!” Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar.
Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan
tubuh pengawal itu terbanting kaku, darahnya membeku, mukanya biru! Dan seorang pengawal lain roboh pula
karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh yang
menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang!
Ketika para pengawal menubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat
sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke
arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat.
Dua orang kakek dan nenek itu terkejut. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu
menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras sehingga dua orang pengawal itu
terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk. Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han
menyambar seperti seekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat. Dua
orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan
Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Mabin
Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li.
“Hyaaaaahhhhh...!”
“Haiiikkkkk...!”
Ma-bin Lo-mo terjengkang dan bergulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas
seperti dibakar. Ada pun nenek sakti itu juga terbanting ke belakang, cepat duduk bersila untuk
menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat. Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa
kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biar pun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang
menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu. Akan
tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya menggerakkan tangan dan tongkatnya,
melempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja.
Gegerlah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan. Pemuda buntung itu terlalu
kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk melawan api saja. Melanjutkan pengeroyokan sama artinya
dengan membunuh diri bagi mereka. Ada pun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah menderita
luka tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah
lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari
jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apa bila Han Han mengejar. Namun pemuda itu tidak mengejar,
hanya berdiri tegak, bersandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan
telinga.
“Puteri Nirahai! Kembalikan adikku...!”
Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran
Ouwyang Cin Kok. Melihat ini, biar pun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal
tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung. Han Han
mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan
kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin dapat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan
cepat melesat ke dalam gedung. Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam.
Han Han sudah marah sekali. Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari
Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Setiap orang pengawal yang berusaha menerjangnya
dirobohkan dengan sekali gebrakan saja. Namun hasil penggeledahannya sia-sia. Tidak tampak batang hidung
Ouwyang Seng yang dicarinya. Ketika ada lima orang perwira pengawal dengan nekat menerjangnya, ia
melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang
lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan. Dengan ujung tongkat ditodongkan di leher perwira itu
ia membentak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab!”
Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal
ia menjawab, “Ham... hamba... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini...”
“Mana Ouwyang Cin Kok?”
“Tadi... ketika ribut-ribut... beliau lari... mungkin ke istana...”
“Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?”
“Lari... mereka lari... ke istana...”
Han Han menjadi sebal dan marah, tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut. Tubuh
perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya. Han Han meloncat
keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah
diobrak-abriknya itu, menuju ke istana!
Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan bahaya dan demikian pula dengan
Han Han. Dia sedang marah sekali. Penderitaan batin yang ia alami bertubi-tubi ditambah kemarahannya
mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han menjadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi,
lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapa pun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana
kaisar!
Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung
Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan
di situ pun banyak terdapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang merupakan
semacam benteng yang amat kuat! Maka, begitu Han Han tiba di depan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh
puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat!
“Tangkap pemberontak!”
“Bunuh pemberontak!”
Para pengawal berteriak-teriak biar pun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh
orang pengeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat
melindungi dirinya sambil berteriak.
“Aku bukan pemberontak! Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku
dibebaskan!”
Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini
mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok. Kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar,
ditambah pula Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciusian-
li sudah lari mengungsi ke istana, karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat.
Biar pun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya
digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mukjizat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han
dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana. Betapa pun juga, dia tidak pernah dapat
membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat. Setelah dia memasuki pekarangan istana
yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pengawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar!
“Bebaskan Lulu...! Lepaskan adikku!” Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak.
Betapa pun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara
para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana. Oleh karena itu
dia hanya merobohkan mereka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena
pasukan pengawal itu bukan tandingannya. Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan
dunia-kangouw.blogspot.com
tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat kocar-kacir seperti serombongan semut mengeroyok
seekor jengkerik.
Kalau hanya pasukan pengawal yang mengepungnya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan
mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan
keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah
jauh. Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan
tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orang sakti yang sekarang menghadapinya. Mereka itu bukan lain
adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat!
Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang
hwesio Tibet yang merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para
orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu! Ia tersenyum dingin dan
berkata.
“Ji-wi Losuhu, aku tidak mau mencampuri urusan kalian, tidak mau melibatkan diri dengan segala kepalsuan
orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku
datang hanya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai
sendiri keluar menemuiku! Aku datang bukan untuk mengacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan
semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku bersama adikku akan mengangkat kaki dari
sini dan selamanya tidak akan mencampuri urusan perang yang terkutuk!”
“Murid murtad! Engkau masih harus menerima hukuman dariku!” Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh
kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu
Lai Kwan.
“Han Han, engkau bekas murid yang selain menyeleweng juga telah banyak melakukan penghinaan kepadaku,
sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu!” kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluarkan kata-kata besar untuk
menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu.
“Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang
menyembunyikan she Suma menjadi she Sie! Ha-ha-ha, mengingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu
Suma Hoat, biarlah aku akan mengampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han!” kata
Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Sepasang mata Han Han mendelik. Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi
disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi
keburukan nasibnya itu membuat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam.
“Omitohud...! Suma-taihiap biar pun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar
mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah,
Suma-taihiap!” kata Thian Tok Lama.
“Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu
menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan
menganugerahkan kedudukan kepadamu.” Thai Li Lama membujuk.
Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali tidak mendatangkan kemarahan
di hati Han Han. Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di tangan kiri dan
menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata.
“Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah mau pun dengan Ngo-wi Locianpwe yang
merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku!”
“Hiye-heh-heh! Bocah sombong! Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?”
“Akan kurebut dengan paksa dan kuusahakan sampai aku mati.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Pemuda buntung sombong!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya
sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pengawal yang mengurung
tempat itu sambil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu.
“Omitohud, betapa tabahnya!” Thian Tok Lama yang gendut itu berseru memuji karena benar-benar pendeta
dari Tibet ini merasa kagum sekali. “Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung
oleh ribuan orang pengawal?”
Han Han menoleh ke sekelilingnya. Ia melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua
tiga ribu orang banyaknya. Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana dengan pandang matanya
yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah
bayangan manusia ataukah bukan.
“Thian Tok Lama, bagiku persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku
berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang
terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekali pun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar
menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini
benar, maka aku tidak takut. Terserah kepada Ngo-wi, apakah akan menonjolkan kegagahan dengan cara
mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal!” Ucapan terakhir Han Han ini
mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah.
Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan peristiwa yang ajaib dan amat
memalukan. Biasanya setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah
atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka bersikap angkuh dan menganggap diri sendiri sebagai
tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apa lagi hendak mengeroyok lawan.
Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pemuda yang selain masih amat muda dan patut menjadi
cucu mereka, juga yang hanya memegang sebatang tongkat butut dan kakinya tinggal satu! Menghadapi
seorang lawan muda penderita cacat dengan masih mengandalkan pengurungan ribuan orang pengawal!
Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar
mereka!
“Omitohud, orang muda yang sombong. Kau kira pinceng tidak berani menghadapimu seorang diri?” Thai Li
Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han.
Empat orang tokoh yang lain juga merasa jengah dan tersinggung, maka mereka ini hanya menonton, ingin
melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pemuda buntung yang benarbenar
merupakan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah
setengah abad lebih.
Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga
memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat
dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak
tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sinkang di tubuhnya, yang berputaran dan
siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini.
Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerang, melainkan berdiri tegak dan kaku,
kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti
membujuk.
“Suma-taihiap, kau turutilah permintaanku, tundukkan kepalamu...”
Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya,
mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk menolak permintaan itu. Akan tetapi kesadarannya
membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka sebaliknya dari menundukkan kepala, ia
malah menengadah, memandang ke angkasa! Benar-benar merupakan gerakan kebalikan dari pada apa yang
diminta hwesio Tibet itu! Merupakan tantangan!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kau pandang mataku kalau
berani!”
Andai kata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwibawa ini tidak diembel-embeli
‘kalau berani’, tentu Han Han tidak sudi menurut, sungguh pun di dalam suara itu terkandung wibawa dan
tenaga mukjizat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya. Akan tetapi kata
‘kalau berani’ membuat Han Han penasaran. Mengapa tidak berani? Ia segera memandang ke depan,
menentang pandang mata hwesio itu. Dua pasang sinar mata bertemu!
Semua orang menahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu.
Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari
sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api!
Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan
pikiran Han Han melalui pandang matanya, menyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot
semangat (hypnotism). Tetapi Han Han yang merasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya,
cepat membulatkan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api.
Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mukjizat dalam diri pemuda buntung ini. Suatu
kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak mala petaka menimpa keluarganya dan daya kemauannya menjadi
luar biasa sekali. Kemauan yang mukjizat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat ditembusi oleh ilmu
hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar ke luar dan
masih cukup kuat untuk menguasai orang lain!
Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan
menolak getaran halus yang keluar dari sinar mata Thai Li Lama. Ketika ia disuruh memandang, dia memang
melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasarkan tunduk akan perintah itu, melainkan karena
memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak ‘mengadu kekuatan pandang mata’ dengan hwesio Tibet itu.
Maka terjadilah ‘pertandingan’ yang luar biasa, lebih hebat dari pada pertandingan adu kekuatan sinkang
karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getarannya bergelombang, terasa oleh semua orang yang
hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mukjizat.
Kedua pandang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk
menundukkan lawan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang. Keduanya tak
pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api. Diam-diam Thai
Li Lama terkejut bukan main. Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu
silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang
memiliki kekuatan batin luar biasa sekali!
Biasanya, betapa pun pandai silat lawannya, sekali ia menggunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya
tentu akan mudah ia tundukkan. Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran melihat kenyataan betapa sama
sekali ia tidak mampu menundukkan pemuda buntung ini, bahkan seolah-olah sinar matanya melekat pada
sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan ia
menggunakan seluruh kepandaian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng
Pegunungan Himalaya. Tiba-tiba ia mengeluarkan gerengan seperti suara seekor beruang dan membentak.
“Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan!
Lekas kau berlutut dan menyerah!”
Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu
berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan
muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar. Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan
takut?
Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu
kini telah berubah menjadi makhluk yang luar biasa. Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya
berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru. Kepala naga yang mengerikan itu
dunia-kangouw.blogspot.com
bukan hanya sebuah, melainkan ada tiga buah! Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam
buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya berjumlah delapan!
Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri
Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja. Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya.
Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan
batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan
dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang. Kini ia mengerti bahwa lawannya
menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan
berkata.
“Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, kenapa bersikap seperti anak kecil?
Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang
biasa, berkepala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segansegan
melakukan perbuatan jahat!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil