Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 12 April 2017

Cersil Cerita Silat Kwee Ceng 13

-See Tok terkejut tetapi ia telah dapat menduga, itulah
mestinya perbuatannya Ang Cit Kong, kapan ia sudah
mengangkat kepalanya, ia nampak Pak Kay muncul di
ambang pintu dengan masing-masing tangannya
menentang setahang air. Ia menginsyafi lihaynya si
Pengemis dari Utara itu, bahwa tenaga banjuran air itu
hebat, bahwa kalau ia kena dibanjur, meski ia tidak
terluka parah, luka sedikit itulah mesti. Maka itu sebat
luar biasa ia menjejak dengan kedua kakinya,
berlompat ke kiri. Sambil berlompat, ia pun menenteng
tubuhnya si anak muda. Ia tidak mau melepaskan
cekalannya yang kuat itu.
Hebat banjuran itu, air muncrat ke segala penjuru.
Auwyang Konngcu tak sesebat pamannya, sedangnya
ia kaget, ia sudah kena dicekuk leher bajunya oelh Ang
Cit Kong, yang sambil memanjur sambil lompat maju,
hingga ia pun kena ditenteng tanpa berdaya.
Segera si pengemis tua mengasih dengar tertawanya
yang panjang.
"Makhluk beracun bangkotan!" katanya, "Dengan
segala daya kau hendak mencelakai aku, syukur Thian
tidak mengijinkannya!"
Benar-benar licik si Bisa dari Barat ini. Begitu ia
melihat keponakannya tertawan, ia lantas tertawa.
"Saudara Cit," katanya, "Apakah kau hendak menguji
juga kepandaianku? Kalau benar, nanti saja di darat
kita mengukur tenaga, temponya masih belum kasep."
Ang Cit Kong juga tertawa, sedikit pun ia tidak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menunjuki kegusarannya.
"Kau demikian baik sekali dengan muridku, hingga kau
mencekal erat-erat padanya dan tidak hendak
melepaskan tanganmu!" katanya.
Auwyang Hong tidak sudi mengadu bicara, ia merasa
keteter.
"Aku telah bertaruh dengan Loo Boan Tong, aku telah
menang, bukan?" ia menanya, menyingkir dari saling
ejek. "Bukankah kau saksiknya? Loo Boan Tong
menyalahi janji, maka sekarang terpaksa aku mesti
menanyakan kepadamu, bukankah?"
Cit Kong mengangguk berulang-ulang.
"Tidak salah," sahutnya. "Mana Loo Boan Tong?"
Kwee Ceng tidak dapat menahan diri.
"Ciu Toako dipaksa dia hingga terjun mati ke laut!" ia
memotong.
Cit Kong kaget, dengan menenteng Auwyang Kongcu
ia pergi ke luar. Ia melihat ke laut di sekitarnya. Ia tidak
lihat Pek Thong, di sana hanya tampak sang ombak.
Sambil menuntun Kwee Ceng, Auwyang Hong pun
turut keluar, sampai di luar, ia kendorkan cekalannya.
"Kwee Sieheng," katanya, "Kepandaianmu belum
terlatih mahir! Kau lihat, secara begini kau dituntun
orang, kau mengikuti saja. Pergi kau ikuti pula gurumu,
akan belajar lagi sepuluh tahun, sesudah itu baru kau
merantau."
Kwee Ceng sangat memikirkan Pek Thong, tidak sudi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ia melayani bicara. Ia terus merayap naik ke tiang
layar, untuk dari sana memandang ke sekelilingnya.
Cit Kong mencekuk belakang lehernya Auwyang
Kongcu, lalu ia melemparkan keponakan orang itu
kepada sang paman, sembari berbuat begitu, ia
berkata dengan membentak: "Makhluk beracun
bangkotan, kau memaksakan kematiannya Loo Boan
Tong, buat itu nanti ada orang-orang Coan Cin Kauw
yang membuat perhitungan denganmu! Kau harus
ketahui, biarnya kau sangat lihay, kau berdua dengan
keponakanmu tidak nanti sanggup melayani
pengurungannya Coan Cin Cit Cu!"
Auwyang Kongcu tidak menanti tubuhnya terlempar
jatuh atau membentur pamannya, ia mengulur
tangannya untuk menekan lantai, maka dilain saat ia
sudah bangun berdiri. Di dalam hatinya ia mencaci:
"Pengemis bau, tak uash sampai duabelas jam, kau
bakal bertekuk lutut di hadapanku untuk memohon
ampun….!"
Auwyang Hong pun tersenyum. Katanya, "Sampai itu
waktu, sebagai saksi kau bakal tidak dapat meloloskan
diri!"
Kembali Ang Cit Kong tertawa.
"Baiklah!" jawabnya. "Sampai itu waktu aku nanti
mencoba-coba lagi denganmu!"
Itu waktu Kwee Ceng sudah lompat turun. Sekian lama
ia memandangi laut tanpa ada hasilnya. Sekarang ia
tuturkan kepada gurunya bagaimana barusan
Auwyang Hong menawan dia dengan memencet
nadinya memaksa ia menulis bunyinya Kiu Im Cinkeng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ang Cit Kong mengangguk-angguk, ia tidak membilang
suatu apa. Ia malah masgul di dalam hati, karena
pikirnya: "Mahkluk berbisa bangkotan ini biasa tak
melepaskan kehendaknya sebelum itu terpenuhi, maka
juga sebelum ia memperoleh kitab, tidak nanti ia mau
sudah. Ini artinya muridku bakal dilibat terus
olehnya…"
"Mari," ia mengajak muridnya, untuk masuk ke dalam
perahu. Ia tahu kenderaan itu lagi menuju ke barat, tak
usah sampai dua hari, mereka bakal tiba di darat, dari
itu tak sudi ia memperdulikan Auwyang Hong. Ia pergi
ke belakang untuk mengambil nasi tanpa meminta lagi,
ia ajak Kwee Ceng berdahar dengan kenyang. Ia tidak
meminta sayur atau lauk pauk lainnya, yang ia
khawatir dicampuri racun. Habis menangsal perut, ia
ajak muridnya merebahkan diri untuk beristirahat.
Auwyang Hong dan keponakannya menanti sampai
besoknya lohor, itu artinya sudah lewat empat - atau
limabelas jam semenjak mereka meracuni Ang Cit
Kong dan Kwee Ceng, sampai itu waktu, si pengemis
dan muridnya masih tidak kurang suatu apa. Mereka
menjadi heran dan bercuriga. See Tok sendiri
berkhawatir, kalau mereka itu nanti mati keracunan, ia
jadi tidak dapat meminta atau memaksa Kwee Ceng
menulis kitab yang ia kehendaki itu….
Kemudian si Racun dari Barat itu pergi mengintai di
sela-sela bilik perahunya. Ia mendapat lihat Cit Kong
dan Kwee Ceng lagi duduk memasang omong. Ia
menjadi lebih heran lagi.
"Jikalau bukannya si pengemis licik hingga mereka
tidak kena makan racun, tentulah mereka mempunyai
obat pemunah racun," pikirnya. Karena ini ia jadi
memikir lain cara yang terlebih kejam pula….
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ang Cit Kong berbicara dengan muridnya dengan
menuturkan aturan Kay Pang, partainya dalam hal
memilih ahli waris atau pangcu yang baru andaikata
Pangcu yang lama sudah waktunya mengundurkan
diri.
"Sayang kau tidak suka menjadi pengemis," berkata
guru ini, "Kalau tidak, kau sungguh tepat. Di dalam
partai kita tidak ada orang yang berbakat lebih baik
daripadamu. Asal aku menyerahkan tongkatku ini
peranti mementung anjing, maka kecuali aku si
pengemis tua, cuma kamulah yang paling besar
kekuasaannya!"
Ang Cit Kong menyebutkan tongkatnya sebagai Pakauw-
pang, yaitu tongkat peranti pengemplang anjing.
Tepat mereka bicara sampai di situ, kuping mereka
mendadak mendengar suara dakdak-dukduk sebagai
orang tengah mengampak kayu.
Cit Kong kaget hingga ia lompat berjingkrak.
"Celaka!" serunya. "Si bangsat tua hendak
menenggelamkan perahu ini!" Ia berseru kepada Kwee
Ceng: "Lekas kau rampas perahu kecil di belakang!"
Belum berhenti suaranya pengemis ini, papan perahu
telah kena dibikin bobol dengan gempuran martil,
maka berbareng dengan itu, segera terdengar suara
sasss-sussssus, lalu tertampak, bukannya air yang
menerobos masuk hanya puluhan ekor ular.
Cit Kong tertawa tetapi dia berseru: " Si makhluk tua
yang berbisa menyerang dengan ularnya!" Sambil
berseru, tangannya pun bekerja, menimpuk dengan
puluhan batang jarumnya, hingga binatang-binatang
merayap itu pada tertancap perutnya dan mengasih
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengar suara kesakitan.
Menyaksikan ilmu menimpuk jarum gurunya itu, Kwee
Ceng kagum bukan main.
"Yong-jie sudah lihay tetapi ia masih kalah dengan
guruku ini," pikirnya.
Selagi anak muda ini berpikir, terlihat pula masuknya
puluhan ular lainnya, dan Ang Cit Kong segera
menyambutnya dengan jarumnya lagi, hingga semua
ular itu menjadi korban seperti rombongan yang
pertama, berisik suara kesakitannya. Hanya
celakanya, habis itu, muncul pula yang lainnya.
"Bagus betul!" berseru Ang Cit Kong. "Si tua bangka
beracun memberikan aku sasaran untuk melatih diri!"
Ia lantas merogoh sakunya. Tempo tanganya
mengenai isi sakunya itu, ia kaget sendirinya. Ia
mendapat kenyataan jarumnya itu tinggal hanya tujuh
atau delapan puluh batang. Inilah berbahaya sedang
ular itu seperti tidak ada habisnya. Tengah ia berdiam,
tiba-tiba terdengar suara menjeblak ke dalam disusul
sama sambaran angin yang keras ke punggung.
Kwee Ceng berada di belakang gurunya, ia merasakan
sambaran yang hebat itu, lekas-lekas ia bergerak
untuk menangkis. Ia merangkap kedua tangannya.
Masih ia merasakan tolakan yang hebat karena mana
ia mesti kerahkan semua tenaganya. Dengan begitu
baru ia dapat mempertahankan diri, mencegah
gurunya dibebokong.
Penyerang gelap itu Auwyang Hong adanya. Ia heran
hingga ia menyerukan suara "Ih!" perlahan, sebab
pemuda itu sanggu menahan serangannya yang
dahsyat itu. Dengan lantas ia maju satu tindak dengan
diputar balik, tangannya dipakai menyerang pula.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng melihat cara jago tua itu menyerang, ia
mengerti bahwa ia tak bakal sanggup menangkis
secara langsung, dari itu sambil menangkis dengan
tangan kirinya, dengan tangan kanan ia membalas
menyerang. Ia mengarah rusuk kanan dari See Tok. Di
dalam keadaan seperti itu, tak gentar ia menghadapi
musuh lihay ini.
Auwyang Hong tidak berani meneruskan serangannya
itu. Ia menarik pulang tangannya itu dengan cepat, lalu
dengan cepat juga ia pakai menyerang pula, dari atas
turun ke bawah, merupakan bacokan.
Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya bagi dia dan
gurunya. Kalau Auwyang Hong dapat menguasai pintu
itu, tentulah sang ular tak dapat dibendung lagi. Maka
itu dengan terpaksa ia membuat perlawanan terus.
Dengan tangan kiri ia menangkis serangan, dengan
tangan kanan ia menyerang, membalas. Terus
menerus ia menggunai siasatnya ini. Karena ia sangat
lincah, sedang ilmu silat semacam itu belum pernah
Auwyang Hong melihatnya, See Tok menjadi heran,
hingga ketika ia tercengang, ia berbalik kena terdesak.
Dalam keadaan wajar, biarnya ia bergerak dengan dua
tangan yang berlainan gerak-geriknya, hingga ia
menjadi dua melawan satu, Kwee Ceng bukannya
tandingan dari Auwyang Hong, hanya karena anehnya
ilmu silatnya ini, See Tok terdesak tanpa dia
menginsyafinya.
Walau bagaimana, si Bisa dari Barat adalah satu jago
kawakan. Cuma sebentar ia terdesak, segera ia bisa
memperbaiki diri. Ia lantas menyerang dengan dua
tangan berbareng. Tentu saja satu penyerangan yang
hebat. Tidak dapat Kwee Ceng menangkis serangan
itu dengan hanya sebelah tangan kirinya itu. Sudah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
begitu, disaat ia bakal terdesak, rombongan ular itu
menggeleser di arah belakangnya.
"Bagus, bagus sekali, mahkluk berbisa bangkotan!"
berseru Ang Cit Kong dengan ejekannya. "Sekalipun
muridku, kau tidak sanggup melayaninya, maka mana
dapat kau menyebut dirimu enghiong, seorang gagah
perkasa?"
Pak Kay bukan melainkan mengejek, berbareng ia
menggeraki tubuhnya. Ia mengenjot tubuhnya dengan
kedua kaki, lantas tubuh itu meleset tinggi, melewati
Kwee Ceng dan Auwyang Hong, akan tiba di lain
bagian di mana dengan satu tendangan ia terus
merobohkan Auwyang Kongcu, hingga orang jungkir
balik, setelah mana ia menyusuli dengan sikutnya,
hingga tubuh pemuda itu terpental terlebih jauh ke
arah pamannya.
Mau atau tidak mau, Auwyang Hong mesti berkelit,
supaya ia terhindar dari benturan dengan tubuh
keponakannya itu. Karena berkelit ini, dengan
sendirinya ia seperti menarik pulang serangannya,
dengan begitu Kwee Ceng jadi diperingan ancaman
bahaya untuknya itu.
Pemuda ini berkelahi dengan berbesar hati. Ia telah
memikirnya: "Dia ini seimbang dengan guruku,
sekarang keponakannya bukan lagi tandinganku,
bahkan si keponakan sedang terluka, dari itu dua
lawan dua, mestinya pihakku yang menang." Maka
dengan itu ia menyerang Auwyang Hong secara hebat
sekali. Tadi ia dibokong, dengan gampang ia tercekuk,
sekarang ia waspada.
Ang Cit Kong berkelahi dengan mata dipentang ke
empat penjuru, dari itu ia melihat belasan ular lagi
mendekati muridnya. Celakan kalau muridnya itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
diterjang binatang berbisa itu dan kena dipagut.
"Anak Ceng, lekas keluar!" ia berteriak dan sambil
berteriak ia merangsak Auwyang Hong, guna memberi
kebebasan kepada muridnya.
Auwyang Hong merasakan sulitnya diserang dari
depan dan belakang, atas rangsakannya itu Pak Kay,
terpaksa ia berkelit, dengan begitu, Kwee Ceng jadi
terlepas dan bisa lompat ke luar gubuk perahu. Ia
sekarang melayani Cit Kong seorang.
Sementara itu sang ular, jumlahnya ratusan lebih,
mulai mendekati.
"Sungguh tak punya muka!" mengejek Cit Kong. "Satu
laki-laki berkelahi mesti dibantui segala binatang!"
Di mulut pengemis ini menegur, di hati ia berkhawatir
juga. Ia mainkan tongkatnya hebat sekali, dengan
begitu selain melayani Auwyang Hong, dapat juga ie
mengemplang mampus belasan ular, setelah mana ia
berlompat untuk terus mengajak Kwee Ceng lari ke
tiang layar.
Auwyang Hong terkejut. Ia mengerti, kalau musuh
sampai dapat memanjat layar, untuk sementara tak
dapat ia berbuat sesuatu terhadap mereka itu. Maka
itu ia berlompat pesat sekali, dengan maksud untuk
menghalangi.
Ang Cit Kong dapat menerka maksud orang, ia
menyerang dengan kedua tangannya. Hebat
serangannya itu, hingga Auwyang Hong mesti
menyambuti.
Kwee Ceng hendak membantu gurunya ketika si guru
teriaki padanya: "Lekas naik ke atas tiang layar!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Hendak aku membikin mampus keponakannya untuk
membalaskan sakit hatinya Ciu Toako!" berkata Kwee
Ceng.
Tapi Cit Kong tidak memperdulikannya. "Ular! Ular!"
teriaknya memperingatkan.
Kwee Ceng pun melihat mendekatinya binatangbinatang
merayap yang berbisa itu, maka itu setelah ia
menanggapi sebatang Hui-yan ginso yang ditimpuki
Auwyang Kongcu kepadanya, ia berlompat ke tiang
layar yang terpisah darinya setombak lebih.
Ia menyambar tiang dengan tangan kirinya. Justru itu
ada sambaran angin dan senjata rahasia, ia menimpuk
dengan torak musuh yang berada di dalam
cekalannya, maka sebagai kesudahan dari itu kedua
torak bentrok keras mental ke kiri dan kanan
menyemplung ke laut.
Dengan kedua tangannya merdeka, Kwee Ceng terus
memanjat. Dengan cepat sekali ia telah sampai di
tengah-tengah tiang.
Ang Cit Kong sebaliknya tidak berhasil menyampaikan
tiang layar itu. Ia dirintangi sangat oleh Auwyang Hong
yang merangsak dengan serangan-serangan bertubitubi.
Kwee Ceng melihat tegas kesulitan gurunya, sedang
ular datang semakin dekat. Tiba-tiba saja ia berseru,
tubuhnya merosot turun, tangannya tetap memeluki
tiang. Berbareng dengan itu, Cit Kong menjejak
dengan kaki kirinya, untuk mengapungi tubuhnya,
sementara kaki kanannya sekalian dipakai menedang
musuhnya. Sambil berlompat menyerang itu,
tongkatnya diulur ke depan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Inilah yang Kwee Ceng harap. Pemuda ini mengulur
sebelah tangannya, menyambar tongkat gurunya,
setelah dapat mencekal, ia menarik dengan keras.
Justri Ang Cit Kong tengah mengapungkan tubuhnya,
tubuhnya itu terus tertarik terangkat naik oleh muridnya
itu.
Pak Kay lantas saja tertawa ponjang. Tengah
tubuhnya terangkat, tangan kirinya menyambar layar,
maka dilain saat, ia seperti sudah tergantung di tengah
udara, berada di sebelah atas dari muridnya.
Sampai itu waktu, guru dan murid itu telah berada di
atas tiang layar, di atasan dari kedua lawan mereka.
Dengan begitu mereka jadi menang di atas angin.
Auwyang Hong tidak berani lompat naik ke tiang layar,
guna menyusul. Ia tahu kedudukannya yang lebih tak
menguntungkan.
"Baiklah!" ia berseru, bersiasat. "Mari kita bersiap!
Putar haluan ke timur!"
Benar saja, hanya dalam tempo sedetik, arah perahu
telah berputar. Sementara itu di kaki tiang layar,
kawanan ular sudah berkumpul.
Ang Cit Kong duduk bercokol, agaknya ia gembira
sekali, karena ia sudah lantas menyanyikan lagu "Lian
Hoa Lok", atau "Bunga teratai rontok", nyanyian
istimewa untuk bangsa pengemis. Sebenarnya di
dalam hati, ia sangat masgul. Ia menginsyafi bahwa
mereka terus terancam bahaya.
"Berapa lama aku dapat berdiam di sini? Bagaimana
kalau si mahluk beracun menebang tiang ini?"
Demikian pikirnya. "Kalau ular itu tak mau bubar, mana
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bisa aku turun dari sini? Mereka itu boleh dahar dan
tidur enak, kita berdua mesti makan angin….."
Mendadak ia ingat suatu apa.
"Anak Ceng, kasih mereka minum air kencing!" tibatiba
ia serukan muridnya seraya ia sendiri lantas
mengendorkan ikat celananya.
Dasar masih kekanak-kanakan, Kwee Ceng turut itu
anjuran
"Nah, silahkan minum! Silahkan minum!" serunya.
Maka berdua mereka menyiram ke bawah!
"Lekas singkirkan ular!" teriak Auwyang Hong kaget. Ia
sendiri segera berlompat mundur beberapa tindak,
hingga ia tak usah kena tersiram air harum itu.
Auwyang Kongcu heran atas seruan pamannya, ia
tercengang. Justru itu, air kencing mengenai mukanya!
Ia menjadi sangat mendongkol dan gusar sekali. Ia
memangnya satu pemuda yang resik. Berbareng
dengan itu, ia pun ingat bahwa ularnya takut air
kencing.
Segera terdengar suaranya seruling kayu, atas mana
rombongan ular di kaki tiang lantas bergerak, untuk
merayap pergi, meski begitu, beberapa puluh ekor ular
itu basah kuyup basah, terus mereka bergulingan dan
mulut mereka dipentang, untuk menggigit satu pada
lain, hingga mereka jadi kacau sekali.
Ular itu semua ada ular yang Auwyang Hong kumpul
dari lembah ular di gunung Pek To San, gunung Unta
Putih, di See Hek, Wilayah Barat. Semua ular beracun,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tetapi ada pula kelemahannya yaitu jeri terhadap
kotoran atau kencingnya orang atau binatang kaki
empat. Inilah sebabnya mereka menjadi korban dan
kacau itu.
Ang Cit Kong dan Kwee Ceng menyaksikan sepak
terjang kawanan ular itu, mereka tertawa lebar.
"Jikalau Ciu Toako ada di sini, dia tentu sangat
bergembira," berpikir Kwee Ceng, yang ingat kakak
angkatnya. "Ah, sayang ia terjun ke laut yang luas ini,
ia tentulah menghadapi lebih banyak bencana
daripada keselamatan…."
Auwyang Hong pun pandai menguasai diri. Ia tidak
mengambil mumat lawannya kegirangan. Ia
membiarkan tempo lewat kira dua jam, selagi cuaca
mulai gelap, ia menitah orangnya menyiapkan barang
hidangan serta araknya, sengaja ia berdahar di tempat
terbuka, bukan di dalam gubuk perahu, dengan begitu,
ia menyebabkan harumnya arak dan wangi lezat dari
barang hidangan itu terbawa angin, melulahan hingga
ke atas tiang layar, menyampok hidungnya kedua
orang di atas tiang itu.
Cit Kong seorang yang gemar minum dan dahar,
napsu makannya segera kena juga dipancing, maka itu
ia sudah lantas mengambil cupu-cupunya, untuk
menenggak araknya hingga cupu-cupu menjadi kering
seketika.
Untuk menjaga diri, Pak Kay bergilir dengan Kwee
Ceng, akan tidur atau beristirahat bergantian. Akan
tetapi di bawah, beberapa orang memasang obor
terang-terang dan rombongan ular diatur mengurung
kaki tiang, hingga tak ada jalan untuk turun dari tiang
layar itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Hong menempatkan diri di dalam gubuknya,
ia tidak mengambil peduli Ang Cit Kong mencoba
membangkitkan hawa marahnya dengan mencaci ia
kalang kabutan, dengan mengangkat juga leluhurnya
beberapa turunan!
Ang Cit Kong mengoceh sampai ia letih sendirinya dan
mulutnya kering, lalu ia tertidur sendirinya.
Kapan sang malam telah lewat, Auwyang Hong
menitahkan orangnya berteriak-teriak di bawah tiang
layar: "Ang Pangcu! Kwee Siauwya! Auwyang Looya
sudah menyajikan hidangan yang terpilih serta arak
yang wangi, silahkan pangcu dan siauwya turun untuk
bersantap!"
"Kau suruh Auwyang Hong keluar, kami mengundang
ia minum air kencing!" Kwee Ceng menyahuti.
Jawaban ini tidak dipedulikan, hanya sebentar
kemudian di kaki tiang itu orang mengatur meja serta
barang-barang hidangannya, sayurnya masih
mengepul-ngepul asapnya, hingga wangi lezat sayur,
serta harumnya arak, menghembus naik tinggi. Kursi
disediakan hanya dua, diperuntukan khusus buat Ang
Cit Kong dan Kwee Ceng berdua saja…..
Dalam panasnya hati, Cit Kong mencaci pula dengan
menyebut-nyebut "biang bangsat" dan anjing.
Dihari ketiga Cit Kong dan murid merasakan kepala
mereka pusing saking mereka menahan lapar dan
dahaga.
"Coba murid wanitaku ada di sini," berkata Ang Cit
Kong, "Dia sangat cerdik, pasti dia dapat mencari akal
untuk menghadapi si racun tua ini. Kita berdua cuma
bisa membuka mata dan mengeluarkan ilar…."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng menghela napas, ia memandang ke
sekitarnya. Di tiga penjuru ia tak nampak apa juga
kecuali laut tetapi di barat, di sana terlihat dua titik
putih yang bergerak, mulanya samar seperti gumpalan
mega kecil, ketika ia mendapatkan dua titik itu makin
tegas, ia menjadi girang sekali. Itulah dua ekor rajawali
putih, yang lekas juga datang dekat hingga suaranya
terdengar.
Tanpa ayal sedetik jua, Kwee Ceng masuki jari tangan
kirinya ke dalam mulutnya, untuk memperdengarkan
satu suara nyaring dan panjang. Atas itu kedua burung
itu terbang berputaran, lalu menukik, menceklok di
pundak si anak muda.
Merekalah dua ekor rajawali, yang Kwee Ceng
pelihara dari kecil di gurun pasir.
"Suhu!" berseru Kwee Ceng girang. "Mungkin Yong-jie
mendatangi dengan naik perahu!".
"Itulah bagus!" seru Ang Cit Kong. "Kita terkurung dan
tidak berdaya, biar dia datang menolongi kita!"
Kwee Ceng mencabut pisau belatinya, ia memotong
dua helai kain layar, di atas itu ia mencoret dua huruf
"dalam bahaya", serta gambar cupu-cupu, terus ia ikat
itu di kakinya kedua burung itu, setelah mana ia
berkata: "Lekas kamu terbang pula, kamu ajak Nona
Yong ke mari!"
Dua ekor burung itu mengerti, keduanya berbunyi
nyaring, terus mereka terbang pergi, sesudah
berputaran di atasan kepala, mereka menuju ke barat,
dari arah mana mereka datang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bab 41. Pergulatan di tengah laut
Belum ada satu jam sejak berlalunya kedua ekor
rajawali, Auwyang Hong kembali mengatur meja
perjamuan makan di muka perahu di bawah tiang
layar. Untuk ke sekian kalinya ia memancing supaya
Ang Cit Kong dan Kwee Ceng tidak dapat menahan
lapar dan nanti terpaksa turun untuk dahar pula.
Menyaksikan layagk orang itu, Cit Kong tertawa.
"Di antara empat yaitu arak, paras elok, harta dan
napsu, aku si pengemis tua cuma menyukai satu ialah
arak!" ia berkata. "Dan kau justru menguji aku dengan
arak! Di dalam hal ini, latihanku menenangkan diri ada
sedikit kelemahannya…. Anak Ceng, mari kita turun
untuk menghajar mereka kalang kabutan. Setujukah
kau?"
"Baiklah sabar, suhu," Kwee Ceng menyahuti. "Burung
rajawali sudah membawa surat kita, sebentar mesti
ada kabarnya, sebentar pasti bakal terjadi suatu
perubahan."
Cit Kong tertawa. Ia nyata suka bersabar.
"Eh, anak Ceng!" ia berkata, "Di kolong langit ini ada
suatu barang yang sari atau rasanya paling tidak enak,
kau tahu apakah itu?"
"Aku tidak tahu, suhu. Apakah itu?" sahut sang murid
sambil balik menanya.
"Satu kali aku pergi ke Utara," berkata sang guru,
memberi keterangan, "Di sana di antara hujan salju
besar, aku kelaparan hingga delapan hari. Jangan kata
bajing, sekalipun babakan kayu, tak aku dapatkan di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sana. Dengan terpaksa aku menggali sana dan
menggali sini di dalam salju, akhirnya aku dapat
menggali juga lima makhluk berjiwa. Syukur aku si
pengemis tua berhasil mendapatkan makhluk itu,
dengan begitu jadi ketolongan untuk satu hari itu. Di
hari kedua, aku beruntung mendapatkan seekor
serigala hingga aku dapat gegares kenyang."
"Apakah lima makhluk bernyawa itu, suhu?"
"Itulah cianglong dan gemuk-gemuk pula!"
Mendengar disebutkannya nama binatang itu, Kwee
Ceng belenak sendirinya, hingga hendak ia muntahmuntah.
Cit Kong sebaliknya tertawa terbahak-bahak.
Karena sengaja ia menyebutkan binatang paling kotor
dan paling bau itu untuk melawan napsu dahar yang
merangsak-rangsak mereka yang disebabkan harum
wangi arak dan lezat yang tersajikan di kaki tiang layar
itu.
"Anak Ceng," berkata pula Cit Kong, "Kalau sekarang
ada cianglong di sini, hendak aku memakannya pula.
Cuma ada serupa barang yang paling kotor dan paling
bau hingga aku segan memakannya, aku si pengemis
tua lebih suka makan kaki sendiri daripada memakan
itu! Tahukah kau, barang apa itu?"
Kwee Ceng menggeleng-geleng kepalanya, atau
mendadak ia tertawa dan menyahuti: "aku tahu
sekarang! Itulah najis!"
Tetapi sang guru menggoyangkan kepalanya.
"Ada lagi yang terlebih bau!" katanya.
Kwee Ceng mengawasi. Ia menyebut beberapa rupa
barang, ia masih salah menerka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Akhirnya Ang Cit Kong tertawa.
"Nanti aku memberitahukan kepadamu!" katanya
keras-keras. "Barang yang paling kotor dan bau di
kolong langit ini ialah See Tok Auwyang Hong!"
Mengertilah Kwee Ceng maka ia pun tertawa
berkakakan.
"Akur! Akur!" serunya berulang-ulang.
Maka cocok benarlah guru dan murid itu, hingga
mereka membuatnya See Tok menjadi sangat
mengeluh.
Ketika itu hawa udara kebetulan memepatkan pikiran,
di empat penjuru angin meniup perlahan. Memangny
aperahu menggeleser perlahan, dengan berhentinya
sang angin, akhirnya kendaraan air itu menjadi
berhenti sendirinya. Semua orang di atas perahu pada
mengeluarkan peluh. Di muka air pun kadang-kadang
tertampak ikan meletik naik, suatu tanda air laut juga
panas. hawanya.
Cit Kong memandang ke sekelilingnya. Ia tidak
menampak awan, langit bagaikan kosong. Maka
heranlah ia. Ia menggeleng kepala.
"Suasana aneh sekali," katanya perlahan.
Berselang sekian lama, ketika Cit Kong tengah
memandang ke arah tenggara, ia menampak ada
mega hitam yang mendatangi dengan sangat cepat.
Melihat itu, ia menjadi keget hingga ia mengeluarkan
seruan tertahan.
"Ada apakah, suhu?" tanya Kwee Ceng terperanjat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ada angin aneh!" menyahut Cit Kong. "Tidak aman
kita berdiam di tiang ini… Di bawah ada demikian
banyak ular….Bagaimana sekarang?" Ia menjadi
seperti menggerutu ketika ia berkata lebih jauh
perlahan sekali: "Biar umpama kata kita bekerja sama
mati-matian, masih belum tentu kita bisa lolos dari
ancaman ini, apapula jikalau kita melanjuti
pertempuran…"
Ketika itu ada angin yang menyambar ke muka. Cit
Kong lantas merasa segar. Ia pun merasa dadung
layar bergerak sedikit.
"Anak Ceng," ia lalu berkata, "Kalau sebentar tiang
patah, kau merosotlah turun. Jaga supaya kau tidak
terjatuh ke laut…"
Kwee Ceng heran. Di matanya, cuaca sekarang
bagus, mustahil bencana bakal datang? Tetapi ia biasa
sangat mempercayai gurunya itu, ia mengangguk.
Belum lama, mendadak terlihat mega hitam bergumpal
bagaikan tembok tebal melayang menghamprkan,
datangnya dari arah tenggara itu, bergerak sangat
cepat. Sebab segera juga mereka terdampar, di antara
satu suara nyaring, tiang layar benar-benar patah
pinggang, karena mana, tubuh perahu bergerak
bagaikan terbalik.
Kwee Ceng memeluk erat-erat kepala tiang, ia
menahan napas. Tanpa berbuat begitu, angin dapat
membawa ia terbang entah ke mana. Ketika kemudian
ia membuka matanya, sekarang ia melihat air bergerak
bagaikan tembok, air muncrat tinggi sekali.
"Anak Ceng, merosot turun!" terdengar teriakannya Cit
Kong.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng menurut, dengan mengendorkan
pelukannya, tubuhnya lansung merosot turun. Ia
menahan diri setelah merosot kira-kira dua tombak. Ia
mendapat kenyataan, layar berikut tiangnya sebelah
atas, yang patah, setahu dibawa kemana oleh sang
gelombang. Di lantai tidak terlihat lagi ular, rupanya
semua binatang berbisa itu telah disapu sang badai
dan gelombang. Si tukang kemudi rebah dengan
kepala pecah, jiwanya sudah melayang pergi. Perahu
sendiri terputar-putar di tengah laut itu, miring ke kiri
dan ke kanan bergantian. Lainnya barang di muka
perahu pun tersapu habis ke laut.
"Anak Ceng, kendalikan perahu!" kembali terdengar
suaranya sang guru.
Memang kenderaan itu terancam untuk terbalik dan
karam.
Kwee Ceng lompat turun ke buntut perahu, untuk
memegang kemudi. Ia disambar sepotong kayu yang
terbawa angin, ia berkelit. Untuk mempertahankan diri,
ia lantas menyambar rantai. Ia orang Utara, belum
pernah ia mengemudikan perahu, tetapi karena ia
bertenaga besar, bisa juga ia menguasai perahu itu,
untuk mencegah bergoncang keras. Ia mendengar
suara angin dahsyat, ia melihat perahunya berlayar
pesat atas dorongan sang angin.
Tiang layar bagian atas telah patah, ada layar yang
diterbangkan angin dahsyat itu, tetapi di antaranya,
masih ada layar yang utuh. Cit Kong berdaya untuk
menurunkan layar itu. Sudah ada dadung yang ia
berhasil memutuskannya. Tengah ia berkutat, tiba-tiba
kupingnya mendengar suara menantang: "Saudara Cit,
mari Pak Kay dan See Tok sama-sama mengeluarkan
kepandaiannya!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Di sebelah sana Auwyang Hong mencekali keras ujung
ynag lain dari layar itu.
"Turun!" Cit Kong berseru sambil ia mengerahkan
tenaganya, ia menarik dengan keras.
Di pihak Auwyang Hong, See Tok pun menggunai
tenaganya.
Hebat tenaganya kedua jago itu, layar kena ditarik
roboh. Dengan begitu, sampokan angin menjadi
berkurang, tubuh perahu tidak lagi bergoncang keras
seperti tadi, hingga lenyaplah ancaman bahaya perahu
itu karam.
Sebagai ganti badai, sekarang turun hujan lebat, butirbutirnya
besar, menimpa muka, rasanya sakit. Hanya
syukur, mendekati cuaca gelap, angin dan hujan itu
mulai reda.
"Saudara Cit!" berkata pula Auwyang Hong tertawa.
"Jikalau tidak ada muridmu yang lihay itu, pastilah kita
sudah mati masuk ke dalam perut ikan! Maka itu
marilah kita sama-sama mengeringkan satu cawan,
guna melepaskan hawa dingin! Jangan kau takut,
jikalau aku hendak meracunimu, biarlah aku Auwyang
Hong menjadi buyutmu turunan ke delapanbelas!"
Ang Cit Kong turut tertawa. Kali ini mau percaya See
Tok sebab sebagai ketua sebuah partai besar di
jamannya nitu, satu kali dia mengeluarkan kata-kata,
dia mesti pegang itu.
"Mari!" ia berkata kepada Kwee Ceng, yang ia suruh
digantikan seorang anak buah guna mengendalikan
kemudi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan begitu mereka masuk ke dalam gubuk perahu
untuk dahar dan minum.
Pak Kay minum dan dahar sampai kenyang, habis itu
ia dan muridnya kembali ke kamar mereka untuk tidur.
Tapi tengah malam ia mendusin. Ia mendengar suara
ular sar-ser tak hentinya.
"Celaka!" ia berseu.
Kwee Ceng pun sudah lantas sadar. Maka keduanya
berlompat bangun, sama-sama mereka membuka
pintu untuk melihat ke luar. Sekarang perahu itu sudah
terjaga rapi oleh rombangan-rombongan ular, yang
memenuhi bagian depan dan belakang. Auwyang
Kongcu, dengan kipas di tangan, berdiri di tengahtengah
ularnya itu. Ia memperlihatkan wajah
tersungging senyuman.
"Paman Ang, saudara Kwee!" ia berkata. "Pamanku
cuma hendak meminjam lihat Kiu Im Cin-keng sekali
saja, ia tidak mengharap yang lainnya!"
"Dasar bangsat, dia tidak mengandung maksud baik!"
mendamprat Cit Kong, perlahan. Tiba-tiba ia mendapat
suatu pikiran, tetapi pada parasnya ia tidak kentarakan
sesuatu perasaan.
"Hai, bangsat cilik!" ia mengasih dengar suaranya,
"Nyata aku si tua kena diperdayakan akal busuk
paman anjingmu itu. Baiklah, sekarang aku mengaku
kalah. Lekas kau siapkan dulu barang hidangan dan
arak, untuk kami dahar dulu, urusan boleh dibicarakan
besok pagi!"
Nampaknya Auwyang Kongcu girang, ia tertawa,
sesudah mana ia benar-benar menyuruh orang
menyajikan barang hidangan, yang emsti dibawakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kepada kedua musuhnya itu.
Cit Kong mengunci pintu, ia terus dahar dan minum. Ia
menggerogoti paha ayam.
"Apakah kali ini pun tidak ada racunnya?" Kwee Ceng
menanya berbisik.
"Anak tolol!" sang guru menyahuti. "Jahanam itu
hendak menitahkan kau menulis kitab, mana bisa
mereka mencelakai jiwamu? Mari dahar sampai
kenyang, nanti kita memikirkan daya upaya pula!"
Kwee Ceng percaya gurunya benar, ia pun lantas
bersantap dengan bernapsu. Ia menghabiskan empat
mangkok nasi.
Ang Cit Kong menyusuti bibirnya yang minyakan, lalu
ia berbisik di kuping muridnya.
"Si bisa bangkotan menghendaki ynag tulen, kau tulis
yang palsu," demikian ajarannya.
"Yang palsu?" murid itu menegasi, heran.
"Ya, yang palsu! Di jaman ini melainkan kau seorang
yang ketahui kitab yang tulen, dari itu apa pun yang
kau kehendaki, kau boleh tulis! Siapa yang akan
ketahui itulah kitab yang tulen atau yang palsu? Kau
menulis jungkir balik bunyinya kitab, biar ia
mempelajarinya menurut bunyi kitab yang palsu itu,
dengan begitu kendati pun sampai seratus tahun, ia
tak akan berhasil menyakinkan sekalipun satu
jarus….!"
Girang Kwee Ceng mendengar ajaran itu.
"Kali ini benar-benar si bisa bangkotan kena batunya!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pikirnya. Tapi sesaat kemudian ia berkata: "Auwyang
Hong sangat mahir ilmu suratnya, kalau teecu menulis
sembarangan, lantas ia ketahui, bagimana nantinya?"
"Kau harus menggunai siasat halus," Cit Kong
mengajari. "Tulis tiga baris yang benar lalu selipkan
sebaris yang ngaco. Di bagian latihannya, kau boleh
tambahkan dan kurangi, umpama kitab menyebut
delapanbelas kali, kau tulis duabelas kali atau
duapuluh empat kali, biarnya si bisa bangkotan sangat
cerdik, tidak nanti ia dapat melihatnya. Biarnya aku
tidak gegares dan minum tujuh hari tujuh malam, suka
aku menonton si bisa bankotan itu mempelajari kitab
palsu itu!"
Habis berkata, Cit Kong tertawa sendirinya, hingga
muridnya turut tertawa juga.
"Jikalau ia menyakinkan kitab yang palsu," kata Kwee
Ceng kemudian, "Bukan saja dia akan menyia-nyiakan
ketika akan bercapai lelah tidak puasnya, ada
kemungkinan dia nanti mendapat celaka karenanya."
Cit Kong tertawa pula.
"Sekarang bersiaplah kau untuk memikirannya!" ia
menganjurkan. "Kalau sampai ia bercuriga, itulah gagal
artinya…."
Kwee Ceng menurut, ia lantas kerjakan otaknya. Ia
menghapal Kiu Im Cin-keng, ia pikirkan tambalannya
untuk menghambat dan mengacau. Ketika ia sudah
memikir puas, ia menghela napas sendirinya.
"Inilah cara mempermainkan orang, Yong-jie dan Ciu
Toako paling menggemarinya," pikirnya. "Sayang yang
satu berpisah hidup, yang lainnya berpisah mati….
Kapan aku bisa bertemu pula dengan mereka, supaya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
aku bisa menuturkan bagaimana aku mempermainkan
si bisa bangkotan ini…?"
Besoknya pagi-pagi, begitu ia mendusin Ang Cit Kong
pantang bacotnya kepada Auwyang Kongcu. Katanya:
"Aku si pengemis tua, ilmu silatku telah menjadi satu
partai tersendiri, maka juga tidak aku termahai Kiu Im
Cin-keng, umpama kata kitab itu dibeber di depan
mukaku, tak nanti aku meliriknya! Cuma mereka yang
tidak punya guna, yang ilmu silatnya sendiri tidak
karuan, dia ingin sekali mencurinya! Sekarang kau
kasih tahu paman anjingmu, Kiu Im Cin.keng bakal
ditulis untuknya, biar ia menutup pintu, mengeram diri,
untuk memahamlannya! Nanti, sepuluh tahun
kemudian, biar ia muncul pula untuk mencoba
menempur pula aku si pengemis tua! Kitab itu memang
kitab bagus tetapi aku si pengemis tidak
menghiraukannya! Lihat saja sesudah dia
mendapatkan kitab itu, apa dia bisa bikin terhadap aku
si pengemis tua!"
Auwyang Hong berdiri diam di samping pintu, ia
dengar semua ocehannya si pengemis. Ia menjadi
girang sekali. Pikirnya: "Kiranya si pengemis
bangkotan sangat jumawa, dia sangat mengandalkan
kepandaiannya, hingga ia suka menyerahkan kitab
padaku, kalau tidak, ia tidak dapat dipaksa…"
Akan tetapi Auwyang Kongcu menyangkal.
"Paman Ang, kata-katamu barusan keliru sekali!"
demikian bantahnya. "Ilmu kepandaian pamanku
sudah sampai dipuncaknya kemahiran! Paman boleh
pandai tetapi paman tidak nanti nempil dengannya!
Perlu apakah dia mempelajari Kiu Im Cin-keng? Sering
pamanku itu mengatakan kepadaku, ia percaya Kui Im
Cin-keng kitab kosong belaka, melulu untuk
mendustakan orang, maka hendak ia melihatnya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk ditunjuki bagian yang ngaco belo itu, supaya
semua ahli silat di kolong langit ini dapat mengetahui
kekosongannya! Tidakkah pembeberan itu ada
faedahnya untuk kaum Rimba Persilatan?"
Ang Cit Kong menyambutnya dengan tertawa
terbahak.
"Ha, kau tengah meniup kulit kerbau apa?"
senggapnya. "Anak Ceng, kau tulislah Kiu Im Cin-keng
dan kau serahkan pada mereka ini! Jikalau si bisa
bangkotan dapat menemui kekeliruan-kekeliruan dari
kitab itu, nanti aku si pengemis tua berlutut dan
mengangguk-angguk di depannya!"
Kwee Ceng menyahuti sambil ia muncul, maka
Auwyang Kongcu lantas ajak ia ke dalam gubuk besar,
kemudian ia mengeluarkan pit dan kertas, bahkan dia
sendiri yang menggosok bak, untuk membikin siap
sedia segala apa untuk penulisan kitab mujizat itu.
Kwee Ceng belajar surat tak banyak tahun, tulisannya
sangat jelek, sekarang pun ia mesti mengubah
bunyinya kitab asli, menulisnya jadi sangat perlahan.
Ada kalanya ia pun tidak dapat menulis sebuah huruf,
ia minta Auwyang Kongcu yang menuliskannya.
Sampai tengah hari, tempo bersantap, kitab bagian
atas baru tercatat separuhnya. Selama itu Auwyang
Hong sendiri tidak pernah muncul untuk menyaksikan
orang bekerja, hanya setaip lembar yang telah ditulis
rampung, Auwyang Kongcu lantas membawanya itu
kepadanya di lain ruang dari perahu mereka itu.
Saban ia menerima sehelai tulisan, Auwyang Hong
memeriksanya dengan seksama. Ia tidak dapat
membaca mengerti, tetapi memperhatikan bunyinya, ia
tidak bercuriga. Ia bahkan menduga, itulah huruf-huruf
yang dalam artinya. Maka ia telah berpikir, nanti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sekembalinya ke See Hek, handak ia
memahamkannya dengan ketekunan. Ia percaya akan
otaknya yang cerdas akan dapat menguasai isi kitab
itu, hingga akan terwujudlah cita-citanya beberapa
puluh tahun akan mendapatkan pelajaran Kiu Im Cinkeng
itu. Ia tidak mengambil mumat tulisan Kwee Ceng
yang tidak karuan macam itu, ia hanya menerka orang
tidak dapat menulis dengan bagus, sama sekali tidak
pernah ia menyangka, Kwee Ceng tengah
menjalankan ajaran gurunya untuk membikin kitab Kiu
Im Cin-keng jungkir balik….!
Kwee Ceng menulis terus dengan keuletannya, maka
ketika cuaca mulai gelap, ia berhasil menulis hingga
separuhnya lebih bagian bawah dari Kiu Im Cin-keng
itu.
Auwyang Hong tidak menghendaki anak muda itu balik
ke gubuk perahunya akan berkumpul sama Ang Cit
Kong, dia khawatir si pengemis merubah ingatannya
dan menyulitkan padanya. Masih ada kira separuh
kitab berarti ia masih dapat dipersukar. Maka ia lantas
perintah orangnya menyajikan barang hidangan untuk
si anak muda, agar ia berdiam terus tanpa bersantap
bersama gurunya.
Ang Cit Kong menanti sampai jam sepuluh, ia
mendapatkan muridnya belum kembali, ia merasakan
hatinya tak tentram. Ia pun berkhawatir muridnya itu
mendapat susah apabila Auwyang Hong bercuriga.
Maka diam-diam ia keluar dari gubuknya. Ia dapat
keluar karena sekarang tidak ada lagi penjagaan ular.
Hanya tak jauh dari pintu ada dua orang berpakaian
serba putih tengah berjaga sebagai penunggu pintu.
Tidak sulit baginya untuk melewati dua orang itu.
Dengan tangan kiri ia menyerang ke arah layar, layar
itu menerbitkan suara hingga mereka itu berpaling, di
waktu mana ia melompat ke arah kanan, maka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lewatlah dia.
Dari jendela perahu terlihat molosnya sinar terang, Cit
Kong menghampirkan jendela itu, untuk mengintai ke
dalam. Ia melihat Kwee Ceng asyik duduk menulis.
Dua nona dengan pakaian putih berdiri di sampingnya,
untuk melayani memasang dupa, menuangi air teh
serta menggosok bak. Jadi muridnya itu dilayani
dengan baik. Hal ini membuat hatinya lega.
Tiba-tiba pengemis ini merasakan hidungnya disampk
bau arak yang harum sekali. Ia lantas mengawasi. Ia
mendapatkan arak ditaruh di depan muridnya.
"Si bisa bangkotan sangat pandai menjilat!" pikirnya.
"Muridku menulis kitab untuknya, ia menyuguhkan arak
jempolan, tetapi untuk aku si pengemis tua, ia
menyediakan arak yang tawar seperti air!" Ia jadi ingin
mendapatkan arak itu. Ia berpikir pula: "Mestinya si
bisa bangkotan menyimpan araknya di dasar perahu,
baik aku meminumnya hingga puas, habis itu
tahangnya aku isi dengan air kencingku, biar nanti ia
mencicipinya!"
Pengemis tua ini tersenyum. Ia merasa puas. Untuk
pekerjaan mencuri arak, ia ada sangat pandai. Dulu
hari pun di Lim-an, di dalam dapur istana kaisar, ia
dapat menyekap diri hingga tiga bulan, semua arak
dan batang santapan untuk kaisar ia dapat
mencicipinya terlebih dahulu! Penjagaan di istana
rapat sekali tetapi ia dapat berdiam di situ dengan
leluasa, ia dapat datang dan pergi dengan merdeka.
Demikian denga berindap-indap ia pergi ke belakang.
Ia tidak melihat siapa juga di situ. Dengan hati-hati ia
membongkar papan lantai. Dengan menggunai
hidungnya yang tajam, tahulah ia di mana arak
disimpan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ruang perahu itu gelap petang tetapi tidak
menghalangi pengemis yang lihay ini. Hidungnya
dapat membaui barang masakan dan arak. Ia
bertindak dengan berhati-hati. Untuk melihat tegas, ia
menyalakan api tekesannya. Di pojok ia melihat tujuh
tahang arak, girangnya bukan kepalang. Segera ia
mencari sebuah mangkok sempoak. Ia padamkan
apinya, ia simpan itu di dalam sakunya, terus ia
menghampirkan tahang.
Dengan menggoyang tahang, ia mendapat tahu
tahang yang pertama kosong. Yang kedua ialah ada
isinya. Ketika ia mengulur tangan kirinya, untuk
membuka tutup tahang, mendadak ia mendengar
tindakan kaki dari dua orang. Enteng sekali tindakan
itu, hingga ia menduga kepada Auwyang Hong dan
keponakannya. Ia lantas menduga mungkin paman
dan keponakan itu hendak melalukan sesuatu yang
licik. Kalau tidak, perlu apa malam-malam mereka
pergi ke belakang? Maka ia lantas bersembunyi di
belakang tahang.
Kapan pintu gubuk telah dibuka, terlihatlah sinar api.
Dua orang tadi pun bertindak masuk, berdiri di depan
tahang. Cit Kong tidak dapat melihat akan tetapi
kupingnya dapat mendengar. Kembali ia mendugaduga:
"Mungkinkah mereka hendak minum arak? Tapi
kenapa mereka tidak menitahkan orangnya?"
Lalu terdengar suaranya Auwyang Hong; "Apakah
semua minyak dan belerang di semua ruang perahu ini
sudah siap sedia?"
Atas itu terdengar tertawanya Auwyang Kongcu, yang
terus menjawab: "Semua sudah siap! Asal api dipakai
menyulut, kapal besar ini akan segera menjadi abu,
hingga si pengemis tua bangka itu pun bakal mampus
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ketambus!"
Cit Kong kaget. "Ah, mereka hendak membakar
perahu?" katanya dalam hatinya.
Lalu terdengar pula suaranya Auwyang Hong: "Pergi
kau kumpuli semua gundik yang paling disayangi di
dalam ruang. Sebentar kalo si bocah Kwee sudah tidur
pulas, kau ajak semua ke perahu kecil, aku sendiri
yang nanti pergi kemari untuk menyalakan api."
"Ular kita dan mereka yang merawatnya bagaimana?"
Auwyang Kongcu menanya.
Auwyang Hong menjawab dengan dingin: "Si
pengemis busuk ada jago silat kenamaan, kepala dari
suatu partai, pantas ada orang-orang yang berkorban
untuknya…."
Habis itu keduanya bekerja membuka sumpalan
tahang, atas mana Ang Cit Kong dapat mencium bau
minyak. Dari dalam peti-peti kayu, paman dan
keponakan itu mengeluarkan banyak bungkusan terisi
belerang. Ketika minyak telah dituang melulahan, tatal
atau hancuran kayu disebar di atasnya. Di atas itu ada
palangan-palangan peranti meletaki bungkusan
belerang. Selesai kerja, keduanya pergi ke luar.
Masih Cit Kong mendengar suaranya Auwyang
Kongcu, yang berbicara sambil tertawa: "Paman, lagi
satu jam maka bocah she Kwee itu bakal dikubur di
dasar laut, setelah mana di dalam dunia ini tinggallah
kau seorang yang mengetahui isinya kitab Kiu Im Cinkeng!"
"Tidak, ada dua!" sahut sang paman. "Mustahilkah aku
tidak mewariskannya kepadamu?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Kongcu girang dan tangannya menutup
pintu.
Ang Cit Kong gusar berbareng kaget.
"Kalau tidak malaikat menyuruh aku mencuri arak,
mana aku ketahui aka keji dua orang ini?" pikirnya.
"Kalau api dilepas, bagaimana kami bisa menyingkir?"
Ia menanti sampai tindakan kaki kedua orang itu sudah
jauh, diam-diam ia keluar dari tempatnya bersembunyi.
Ia lantas kembali ke gubuk perahunya, di mana ia
mendapatkan Kwee Ceng sudah tidur pulas. Hendak ia
mengasih bangun muridnya itu tatkala ia mendengar
satu suara di luar pintu. Ia menduga Auwyang Hong
tengah mengawasi, lantas ia bersuara nyaring
berulang-ulang: "Arak yang wangi, arak yang wangi!
Mari lagi sepuluh poci!"
Auwyang Hong, orang di luar kamar itu, tercengang.
"Ah, dia masih saja minum!" pikirnya.
Lalu ia mendengar pula suaranya si pengemis; "Tua
bangka yang berbisa, mari kita bertempur pula sampai
seribu jurus, untuk memastikan siapa tinggi, siapa
rendah! Oh, oh, bocah yang baik, akur, akur!"
Mendengar sampai di situ, Auwyang Hong ketahui
orang sebenarnya lagi mengigau atau ngelindur di
dalam tidurnya.
"Lihat si pengemis bau, tinggal mampusnya saja masih
dia ngaco belo!" katanya.
Cit Kong pura-pura ngigau tetapi kupingnya dipasang.
Auwyang Hong boleh lihay ringan tubuhnya tetapi
tindakan kakinya yang sangat perlahan masih
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terdengar si raja pengemis, yang mengetahui orang
pergi ke kiri. Lekas-lekas ia menghampirkan muridnya,
akan pasang mulutnya di kuping orang, yang pun ia
bentur pundaknya dengan perlahan. Terus ia
memanggil: "Anak Ceng!"
Kwee Ceng mendusin seketika, agaknya ia terkejut.
"Kau bertindak menuruti aku!" Cit Kong berbisik
singkat. "Jangan menanyakan sebabnya! Jalan
dengan hati-hati, supaya jangan ada yang dapat
melihat!"
Kwee Ceng merayap bangun, sedangn gurunya
menolak pintu, lalu menarik tangan bajunya. Mereka
menuju ke kanan. Mereka pun berjalan sambil
melapai. Auwyang Hong lihay, mereka khawatir
mereka nanti terdengar si racun dari Barat itu.
Kwee Ceng heran tetapi ia mengikuti tanpa membuka
mulutnya. Lekas juga mereka berada di luar.
Ang Cit Kong menggunai kepandaiannya "Cecak
memain di tembok", untuk bergerak turun, matanya
mengwasi muridnya. Ia berkhawatir juga sebab papan
perahu licin. Kalau tangan mereka terlepas, pasti
mereka bakal tercebur ke laut dan mengasih dengar
suara berisik.
Ilmu "Cecak memain di tembok" itu mungkin tepat di
tembok kasar, tetapi dinding perahu ini dicat mengkilap
dan licin, basah pula, maka tak gampang untuk
merayap di situ, apapula perahu tengah dipermainkan
ombak. Syukur untuk Kwee Ceng, Ma Giok telah
melatih sempurna padanya selama mereka berada di
gurun di mana dia diwajibkan naik turun jurang.
Ang Cit Kong merayap terus, separuh tubuhnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berada di dalam air. Muridnya itu tetap mengikutinya.
Tiba di belakang, di tempat kemudi, Cit Kong melihat di
situ ada ditambah sebuah perahu kecil. Ia menjadi
girang sekali.
"Mari kita naiki perahu itu!" ia mengajak muridnya,
segera bertindak. Ia mengenjot tubuhnya, untuk
menyambar perahu kecil itu, ketika ia dapat
memegang pinggarannya, ia jumpalitan untuk naik ke
dalamnya. Ia tidak mengasih dengar suara apa juga.
Begitupun Kwee Ceng, yang menyusul gurunya.
"Lekas putuskan dadungnya!" Ang Cit Kong menitah.
Kwee Ceng menurut, dengan cepat ia menggunai
pisau belatinya. Maka dilain saat, perahu kecil itu
sudah terombang-ambing dipermainkan sang ombak.
Cit Kong menggunai pengayuhnya untuk membikin
perahu tak goncang hebat.
Dengan lewatnya sang tempo, perahu besar lenyap
dari pandangan mata. Hanya dilain saat, di sana
terlihat api lentera yang dicekal Auwyang Hong,
bahkan See Tok terus menjerit keras sebab ia
mendapatkan perahu kecilnya lenyap. Kemudian
jeritan itu disusuli dengan kutukan, tanda dari
kemurkaan hebat.
Ang Cit Kong mengumpulkan tenaga dalamnya, lalu ia
tertawa keras dan panjang.
Mendadak itu waktu, di arah kanan ada sebuah perahu
enteng menerjang gelombang, menuju cepat ke arah
perahu besar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Heran Ang Cit Kong, hingga ia menanya dirinya
sendiri: "Eh, perahu apakah itu?"
Hampir itu waktu terlihat berkelebatnya dua burung
rajawali putih, yang terbang berputaran di atasan layar
besar. Dari dalam perahu itu pun berlompat satu tubuh
dengan pakaian putih mulus, berlompat ke perahu
besar itu. Samar-samar terlihat berkilauannya gelang
rambut emas di kepala orang itu.
"Yong-jie!" Kwee Ceng berseru perlahan.
Memang orang itu Oey Yong adanya. Ketika ia melihat
kuda merah, ia ingat sepasang rajawali. Di laut kuda
tidak diperlukan, lain dengan burung. Maka ia lantas
bersuit keras memanggil dua burung piaran Kwee
Ceng itu. Bersama burung itu, ia layarkan perahunya.
Kalau burung itu, yang matanya tajam, sudah lantas
melihat perahu besar, maka keduanya lantas terbang
pergi. Dengan begitu bertemulah mereka dengan tuan
mereka, hingga Kwee Ceng bisa mengirim warta
kepada si nona, untuk mengabarkan mereka berada
dalam bahaya. Oey Yong lantas melayarkan
perahunya dengan cepat sekali. Akan tetapi ia masih
terlambat, Cit Kong dan Kwee Ceng keburu naik
perahu kecil kepunyaannya Auwyang Hong itu.
Keras Oey Yong mengingat keselamatan Kwee Ceng,
maka itu begitu lekas ia melihat burungnya terbang
berputaran di atas layar, ia lantas lompat dari
perahunya itu naik ke perahu besar. Ia telah
menyiapkan jarum dan tempulingnya ketika ia
berlompat itu.
Justru itu di perahunya, Auwyang Kongcu lagi
kelabakan seperti semut di atas kuali panas.
"Mana Kwee Sieheng?!" tanya si nona. "Aku bikin apa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terhadapnya?"
Auwyang ong sendiri tengah mengeluh. Dia telah
membawa api, menyulut minyak, tatkala ia mengetahui
lenyapnya perahu kecilnya, perahu yang hendak ia
pakai untuk menyingkirkan diri. Dalam keadaannya
seperti itu, kupingnya mendapat dengar tertawanya
Ang Cit Kong dari tengah laut. Maka mengertilah ia
bahwa dia telah gagal mencelakai orang dan berbalik
mencelakai diri sendiri. Tentu sekali ia menjadi sangat
menyesal dan bingung, mendongkol dan berkhawatir.
Tapi justru itu, dia melihat datangnya Oey Yong.
Sekejab itu juga timbul harapannya - di otaknya
muncul pikiran yang sesat. Dia berlompat sambil
berseru: "Lekas naik ke perahu itu!" Dia maksudkan
perahunya Oey Yong.
Akan tetapi perahu itu ada perahu yang dikemudikan
oleh anak buah yang gagu. Dia itu tidak dapat bicara
tetapi dapat berpikir. Pula dia memang ada bangsa
licik. Selama berada dengan Oey Yong, dia takut, dia
menurut saj atitah si nona. Begitu lekas nona itu
lompat ke perahu besar, ia memutar perahunya, untuk
dikayuh dengan segera, untuk dipasang layarnya.
Maka dilain saat, dia sudah terpisah jauh dari perahu
besar itu.
Cit Kong dan Kwee Ceng dapat melihat Oey Yong
berlompat ke perahu besar, diwaktu mana dari arah
belakang perahu terlihat asap mengepul naik disusul
sama berkobarnya api. Mereka kaget karena mereka
insyaf bahwa Auwyang Hong sudah bekerja.
"Api! Api!" berteriak-teriak anak muda ini dalam
kagetnya.
"Si bisa bangkotan sudah membakar perahunya!" Ang
Cit Kong pun berteriak. "Dengan caranya itu ia hendak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membakar kita!"
"Lekas tolongi Oey Yong!" Kwee Ceng berteriak pula.
"Dekati perahu!" Cit Kong menyuruh.
Kwee Ceng menggunai tenaganya, untuk mengayuh.
Perahu besar kecil itu pun bergerak menyusul perahu
besar, untuk mendekati. Di atas perahu besar sendiri
keadaan kacau disebabkan semua pengikutnya
Auwyang Hong - laki-laki dan perempuan lari
serabutan karena takut api, suara teriakan atau jeritan
mereka riuh sekali.
"Yong-jie!" terdengar teriakannya Cit Kong. "Bersama
Ceng-jie aku berada di sini! Mari lekas berenang!
Lekas berenang ke mari!"
Langit gelap, laut pun bergelombang, tetapi Cit Kong
perdengarkan teriakannya itu oleh karena ia ketahui
baik si nona pandai berenang. Pula di saat sepereti itu
tidak dapat mereka tidak berlaku nekat untuk
menolong diri.
Oey Yong dapat mendengar suara gurunya itu, ia
girang. Tentu saja tidak sudi ia memperdulikan pula
Auwyang ong dan keponakannya itu, bahkan tanpa
bersangsi lagi ia bertindak ke tepi perahu, untuk
segera mengenjot tubuhnya guna terjun ke laut!
Sekonyong-konyong nona Oey merasakan lengannya
ada yang cekal dengan keras sekali. Tubuhnya sudah
mencelat tapi karena cekalan itu, ia tidak dapat terjun
terus, ia kena ditarik kembali ke perahu. Ia terkejut
sekali ketika ia menoleh akan mendapatkan, orang
yang mencekal padanya adalah Auwyang Hong, si
Bisa dari Barat yang lihay dan ganas itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Lepas!" ia berteriak seraya dengan tangan kirinya ia
meninju.
Hebat sekali Auwyang Hong, tangannya bergerak
bagaikan kilat, maka tahu-tahu si nona telah tercekal
pula tangan kirinya.
Sementara itu See Tok melihat perahu kecil sudah
pergi jauh hingga tidak ada lagi harapan untuk
menyusulnya. Sebaliknya perahunya sendiri mulai
terbakar hebat. Api telah melulahan menyambar tiang
layar yang lantas patah karenanya. Di muka perahu,
kekacauan berjalan terus. Agaknya perahu bakal
segera karam, maka pertolongan untuk mereka
tinggallah perahu yang diduduki Kwee Ceng dan Cit
Kong itu.
"Pengemis busuk, Nona Oey ada di sini!" See Tok
berseru. "Kau lihat tidak?!"
Ia mengerahkan tenaganya, kedua tangannya di
angkat naik, dengan begitu tubuh Oey Yong pun turut
terangkat tinggi. Dengan begitu ia hendak mengasih
lihat tubuh nona itu.
Ketika itu api telah berkobar besar dan mendatangkan
sinar terang maka Ang Cit Kong dan Kwee Ceng dapat
melihat tegas Oey Yong berada di tangannya si Bisa
dari Barat yang jahat itu.
Ang Cit Kong menjadi gusar sekali.
"Dengan menggunai Oey Yong, dia hendak memaksa
kita!" katanya sengit. "Dia ingin naik ke perahu kita!
Nanti aku merampas Yong-jie!"
"Aku turut, suhu!" berkata Kwee Ceng, Ia berkhawatir
melihat api.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Tidak!" mencegah si guru. "Kau melindungi perahu ini
supaya tidak sampai kena dirampas si tua bangka
yang berbisa itu!"
"Baiklah," sahut Kwee Ceng, yang terus mengayuh
pula, untuk mendekati perahu besar itu, yang sekarang
sudah tidak bergerak lagi.
Lekas juga perahu kecil itu mendekati perahu besar,
begitu lekas Ang Cit Kong merasa ia dapat
melompatinya, ia lantas menggeraki tubuhnya untuk
berlompat sambil mengapungkan diri. Ia berlompat
seperti tengkurap, maka tempo ia tiba di perahu,
tangannya yang sampai terlebih dulu. Ia menggunai
tangan kiri dengan kelima jarinya yang kuat, untuk
dipakai mencengkeram tepian perahu, habis mana,
dengan mengerahkan tenaga di tangannya itu, ia
membuatnya tubuhnya tiba di atas perahu itu.
Auwyang Hong masih mencekali Oey Yong. Ia
menyeringai.
"Pengemis bangkotan busuk, kau hendak apa!" dia
menanya, menantang.
"Mari,mari!" Cit Kong juga menantang. "Mari kita
bertempur pula seribu jurus!"
Jawaban itu dibarengi sama serangan kedua tangan
saling susul.
Auwyang Hong berlaku licik, bukannya ia berkelit, ia
menangkis dengan mengajukan tubuh Oey Yong
sebagai tameng. mau tidak mau, Cit Kong mesti
batalkan penyerangannya itu.
Ketika itu dipakai oleh Auwyang Hong untuk segera
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menotok jalan darah si nona, maka sesaat itu juga,
lemaslah tubuh Oey Yong, tak dapat ia berkutik.
"Letaki dia di perahu!" Cit Kong menantang pula.
"Marilah kita bertempur untuk memastikan menang
atau kalah!"
Auwyang Hong ada terlalu licik untuk meletaki tubuh
nona itu. Ia pun melihat keponakannya lagi didesak
sambaran-sambaran api hingga ia mesti main mundur.
Tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia lemparkan
Oey Yong kepada keponakannya itu.
"Pergi kamu lebih dulu ke perahu kecil!"
memerintahnya.
Auwyang Kongcu menyambuti tubuh yang tak dapat
bergerak itu. Ia melihat Kwee Ceng di perahu kecil. Ia
mengerti, kalau ia melompat bersama si nona,
mungkin perahu kecil itu akan karam karenanya. Maka
ia menarik sehelai dadung, ia ikat itu di kaki tiang layar,
habis itu dengan tangann kiri memeluki Oey Yong,
dengan tangan kanan ia menarik dadung itu, untuk
meluncur ke perahu kecil itu. Maka terayunlah tubuh
mereka, turun menghampirkan perahu.
Kwee Ceng melihat Oey Yong tiba di perahunya, ia
girang bukan main. Tentu sekali ia tidak mengetahui
yang kekasihnya itu sudah kena orang totok hingga
menjadi tidak berdaya. Ia lebih memerlukan
mengawasi gurunya yang lagi bertempur sama
Auwyang Hong. Biar bagaimana, ia bergelisah untuk
gurunya itu.
Dengan api berkobar-kobar, tertampak nyata kedua
jago tua itu lagi mengadu jiwa.
Mendadak saja terdengar suara nyaring seperti guntur,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lalu tertampak perahu besar terbelah dua, sebab
tulang punggungnya dimakan api dan pecah
karenanya. Menyusul itu kelihatan bagian perahu yang
belakang mulai tenggelam, perlahan-lahan karam ke
dalam air.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bertempur terus.
Kadang-kadang mereka mesti berkelit dari
runtuhannya tulang layar atau dadungnya, yang jatuh
termakan api.
Dalam pertempuran sengit ini, Ang Cit Kong lebih
menang sedikit, dalam arti kata ia tidak merasakan
hawa panas seperti lawannya. Itulah sebab
pakaiannya basah bekas tadi merendam di air. Karena
ini juga, dapat ia mendesak See Tok, yang sebaliknya
mesti berkelahi sambil mundur perlahan-lahan.
Pernah Auwyang Hong memikir untuk terjun ke laut, ia
hanya menyesal, pikirannya itu tidak dapat ia segera
mewujudkannya. Ia didesak terlalu hebat, kalau ia
memaksa terjun, itu artinya ia tidak dapat membela
diri, mungkin nanti ia kena diserang lawannya yang
lihay itu. Ada kemungkinan juga ia nanti terluka parah.
Saking terpaksa, ia melayani terus dengan otaknya
dikasih bekerja tak hentrinya untuk mencari jalan
lolos….
Ang Cit Kong menyerang dengan hatinya terasakan
puas. Bukankah ia terus mendesak? Tengah ia
merangsak, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kalau aku desak dia hingga dia terbakar, kalau ia
sampai mengantar jiwanya, itu tak menarik hati,"
demikian pikirannya yang menyandinginya itu. "Dia
telah mendapatkan salinan kitab dari Ceng-jie, jikalau
dia tidak mendapat kesempatan untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mempelajarinya, bila nanti ia mampus, pastilah ia
mampus tak puas! Tidak dapat tidak, dia mestinya
dibikin kena batunya…!"
Karena ini Pak Kay lantas tertawa terbahak-bahak.
"Bisa bangkotan, hari ini aku memberi ampun
padamu!" ia berseru. "Kau naiklah ke perahu kecil itu!"
Kedua matanya Auwyang Hong mencelik, lantas ia
terjun ke laut. Cit Kong hendak menyusul tatkala ia
dengar teriakannya See Tok.
"Tahan dulu!" demikian si Bisa dari Barat itu berteriak.
"Sekarang tubuhku pun basah, maka marilah kita
berdua bertempur pula. Sekarang barulah adil, sama
rata sama rasa!"
Suara itu disusul sama berkelebatnya satu tubuh,
maka di lain detik, Auwyang Hong telah berdiri pula di
atas perahu besar, di depan lawannya.
Sekejap Ang Cit Kong melengak, lalu ia tertawa lebar.
"Bagus, bagus!" serunya. "Seumur hidupnya si
pengemis bangkotan, ini hari barulah ia bertempur
paling memuaskan!"
Kembali dua orang itu bertarung dengan hebat.
Dengan tubuh basah kuyup, agaknya See Tok menjadi
segar sekali.
"Yong-jie," berkata Kwee Ceng kepada kekasihnya.
"Kau lihat See Tok ganas sekali!"
Oey Yong tengah ditotok, ia tak dapat bersuara.
"Apakah tidak baik aku minta suhu turun ke mari?"
Kwee Ceng berkata pula menanyai si nona. "Perahu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
besar itu bakal lekas tenggelam…."
Oey Yong tetap tidak menyahuti.
Kwee Ceng heran, maka lekas ia berpaling. Semenjak
tadi ia terus mengawasi ke gelanggang pertarungan.
Maka gusarlah ia untuk menyaksikan Auwyang
Kongcu lagi meringkus kedua tangan orang.
"Lepas!" ia lantas berteriak.
Auwyang Kongcu tertawa.
"Jangan kau bergerak!" dia berseru. "Asal kau
bergerak, satu kali saja, akan aku hajar hancur
kepalanya!" Dan dia mengancam.
Kwee Ceng tidak menggubris ancaman itu, bahkan
seperti tanpa berpikir sejenak juga, ia menyerang.
Auwyang Kongcu berlaku sebat, ia berkelit sambil
mendak.
Kwee Ceng penasaran, ia menyerang pula ke muka
orang. Ia seperti merabu tanpa jurus tipu silat.
Auwyang Kongcu bingung juga. Perahu kecil, tidak
merdeka untuk ia terus main berkelit. Tapi ia mesti
melawan. Maka ia membalas menyerang.
Kwee Ceng menangkis, dengan begitu kedua tangan
bentrok. Auwyang Kongcu licik, sambil menyerang ia
terus memutar kepalannya, menyerang pula, maka
"Plak!" pipinya si anak muda kena terhajar.
Serangan itu keras, mata Kwee Ceng berkunangkunang.
Tapi ia mengerti bahaya, ia membuka
matanya. Justru itu datang serangan yang kedua kali.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kembali ia menangkis.
Auwyang Kongcu menggunai tipu silat seperti tadi. Ia
memutar balik kepalannya, untuk mengulangi
serangan susulan. Tapi kali ini Kwee Ceng melenggaki
kepalanya, tangan kanannya berbareng dipakai
menolak ke depan.
Menurut aturan, sambil berlenggak tidak dapat orang
pun menyerang. Tapi Kwee Ceng adalah lain daripada
yang lain. Ia sudah dapat mewariskan kepandaiannya
Ciu Pek Tong, ia bisa berkelahi dengan dua tangannya
seperti tangan dua orang, kedua tangannya dapat
digeraki menurut rasa hatinya. Maka itu celakalah
keponakannya Auwyang Hong, yang tidak mengetahui
kebiasaan orang itu. Tangan kanannya itu, yang
dipakai menyerang ke muka, kena ditangkis hebat,
sedetik itu juga tangan itu patah!
Dalam ilmu silat, Auwyang Kongcu tidak ada
dibawahan Ma Giok, Ong Cie It atau See Thong Thian
atau lainnya lagi, maka itu dibandingkan sama Kwee
Ceng, ia menang segala-galanya, hanya kali ini ia
kebentur sama ilmu silat yang istimewa, yang asing
untuknya, dari itu robohlah dia!
Selagi lawannya itu roboh, hingga Oey Yong terlepas
dari pelukan tangan kirinya, Kwee Ceng pun tidak
menggubris, pemuda ini lebih memerlukan berlompat
kepada pacarnya, yang rebah tak bergeming.
Sekarang ia mengerti si nona kena tertotok, lantas saja
ia menotok untuk membebaskannya.
Syukur Auwyang Kongcu menggunai totokan yang
umum, dengan begitu Kwee Ceng dapat menyadarkan
nona itu.
"Lekas bantu suhu!" berteriak Oey Yong yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sesadarnya dia.
Kwee Ceng sudah lantas berpaling kepada gurunya. Ia
melihat gurunya itu dan Auwyang Hong tengah
berkelahi mati-matian. Suara beletak-beletok dari
bekerjanya api seperti menambah serunya
pertarungan itu.
Yang hebat ialah terlihatnya badan perahu mulai
karam.
Maka itu juga Kwee Ceng menyambar pengayuh,
untuk memajukan perahunya datang dekat ke perahu
besar itu.
Di dalam pertempuran itu, suasana menjadi terbalik.
Sudah lama sejak Ang Cit Kong kerendam air,
sekarang pakaiannya sudah kering semua, pakaian itu
gampang tersambar api dan terbakar, hawa api pun
membikin tubuh panas. Di pihak lain, tubuhnya
Auwyang Hong basah kuyup, ia tidak takut api, bahkan
bekas nyebur, ia menjadi seperti mendapat tambahan
tenaga dan semangat. Tapi hebat si Pak Kay,
Pengemis dari Utara itu, walaupun ia terdesak, ia
memaksakan diri untuk bertahan.
Mendadak sebatang tiang layar jatuh dengan apinya
yang berkobar, jatuh di tengah-tengah kedua jago itu.
Mau atau tidak, mereka itu sama-sama berlompat
mundur, hingga selanjutnya mereka terpisahkan kayu
menyala-nyala itu.
Auwyang Hong penasaran, dengan tongkat ularularannya
dia menyerang pula.
Ang Cit Kong tidak diam saja, ia mencabut tongkatnya
dari pinggangnya, guna menangkis.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kalau tadi mereka bertarung dengan tangan kosong,
sekarang mereka menggunai genggaman. Tentu
sekali, sekarang ini mereka berkelahi semakin hebat.
Kwee Ceng terus mengayuh perahunya. Ia terus
bergelisah untuk gurunya. Hanya ketika ia
menyaksikan pertempuran dua orang itu, perhatiannya
jadi tertarik, ia menghela napas saking kagumnya.
Di dalam kalangan persilatan ada kata-kata, "Belajar
golok seratus hari, belajar tombak seratus hari, belajar
pedang selaksa hari". Itulah bukti yang ilmu silat
pedang paling sukar dipelajarinya. Demikian pada
duapuluh tahun yang lalu, dalam pertempuran di Hoa
San terlihat nyata sempurnanya tetapi pun sulitnya
ilmu pedang, maka juga dua-dua Ang Cit Kong dan
Auwyang Hong masih menukar senjata mereka. Ang
Cit Kong memakai tongkatnya yang ia senantiasa
bawa-bawa, ialah tongkat warisan Kay Pang atau
tanda tertua dari Partai Pengemis itu. Tongkat itu lebih
panjang satu kaki daripada pedang sebatang dan
sifatnya lemas, tetapi di tangan Cit Kong, satu ahli luar,
gwa kee, tongkat itu menjadi tegar sekali.
Tongkat ular-ularan dari Auwyang Hong pun suatu
senjata istimewa. Dan See Tok menggunainya itu
dengan campuran gerak-gerik toya dan tongkat. Di
ujung kepala tongkat ada ukiran kepala orang yang
mulutnya terbuka tertawa, yang kedua baris giginya
terpentang dengan semua giginya tajam serta gigi itu
dipakaikan racun ular, maka diwaktu dipakai bersilat,
kepala orang-orangan itu bergerak-gerak bagaikan
hantu mengangga. Pula, asal pesawat rahasianya
dikasih bergerak, dari dalam mulut itu bakal
tersemburkan senjata rahasia yang beracun juga.
Yang lebih lihay lagi ialah itu dua ekor ular yang melilit
di batang tongkat, yang bisa memagut orang secara
tiba-tiba….
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hebat pertempuran ini karena mereka sama-sama
lihaynya. Tongkat Auwyang Hong terlebih unggul,
tetapi Cit Kong adalah kepala Pengemis di seluruh
Tionggoan dan sebagai kepala pengemis, dialah
penakluk ular yang nomor satu. Demikian tongkatnya
bergerak-gerak, bukan cuma menyerang lawan tetapi
juga menghamtam kedua ular berbisa itu. Hanya
dengan kelicikannya, Auwyang Hong saban-saban
dapat menolongi ularnya itu. Ia menjadi sengit, diamdiam
ia mengutuk pangcu dari Kay Pang itu, yang
kelihayannya mesti ia akui.
Kwee Ceng menonton dengan pikirannya bingung.
Mau ia membantu gurunya tetapi ia tidak
mempunyakan kesanggupannya. Bukankah musuh itu
sangat lihay? Mana dapat ia menyelak di antara
mereka berdua.
Tapi juga Auwyang Hong insyaf untuk bahaya yang
mengancam. Perlahan-lahan ia merasakan tubuhnya
berhawa panas. Yang hebat hanya ia merasakan
badan perahu, yang tinggal sebelah itu, mulai
tenggelam. Penyerangan lawan dahsyat sekali, kalau
ia tidak keluarkan kepandaiannya, bisa-bia ia terbinasa
di tangan si pengemis tua ini. Maka ia lantas menukar
siasat. Tangan kanannya, yang memegang tongkat, ia
tarik, dann tangan kirinya dipakai menyapu.
Dengan tongkatnya Ang Cit Kong mengejar tongkat
lawan, dengan tangan kirinya ia menangkis sapuan
tangan kiri lawannya itu. Atau mendadak tangan kiri
Auwyang Hong dikelitkan, diputar, untuk secepat kilat
dipakai menyerang pula ke arah pelipis kanan dari
musuhnya!
See Tok menggunai tipu silat Kim Coa Kun atau
Kuntauw Ular Emas. Itulah siasat ilmu silatnya yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
istimewa. Bahkan ia hendak mengandalkan ini ilmu
pada pertemuan yang kedua kali nanti di Hoa San,
untuk menunduki semua lawannya. Keistimewaannya
ialah selagi dipakai menyerang, tangannya dapat
diputar balik, untuk dipakai menyerang pula secara
dahsyat diluar dugaan lawan. Begitulah, ia menggunai
tipu silatnya ini terhadap Pak Kay. Ia percaya si
pengemis tidak kenal ilmu silatnya itu.
Memang, mulanya Ang Cit Kong tidak kenal Kim Coa
Kun, ia pun melihatnya secara kebetulan, yaitu di Pooeng,
Auwyang Kongcu menggunai itu terhadap Kwee
Ceng. Sebabnya Cit Kong tidak menghadari pestanya
Lee Seng beramai itulah karena ia lagi memikir keras
tipu silat untuk memecahkan ilmu Kim Coa Kun itu.
Maka, kali ini, melihat Auwyang Hong menggunai tipu
ilmu silat ini lagi, Cit Kong sudah siap sedia. Dengan
menggunai tipu silat Kim-na-ciu, menangkap tangan, ia
mengulur tangannya untuk menjambret.
Inilah Auwyang Hong tidak sangka, ia terkejut sambil
berlompat mundur. Justru itu ada jatuh segumpal api,
yang menyambar kepadanya.
Cit Kong juga terkejut, dia terus melompat mundur.
Sekarang dia dapat melihat tegas, yang jatuh itu
adalah kain layar yang termakan api.
Di dalam keadaan biasa, tidak nanti Auwyang Hong
kena ketungkup, tetapi barusan ia sedang kaget dan
heran sebab ilmu silatnya kena dipecahkan lawan, ia
juga baru menaruh kaki, sedang jatuhnya layar secara
tiba-tiba, maka tidak berdayalah ia untuk menyingkir.
Dalam kagetnya itu, Auwyang Hong tidak menjadi
gugup atau bingung. Ia lantas menggunai tongkatnya,
akan menyingkap kain layar itu. Lacur untuknya,
tongkatnya itu terhalang tiang layar, tidak dapat ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
geraki. Baru setelah itu ia menghela napas dan
mengeluh: "Habis sudah, hari ini aku mesti pulang ke
langit…"
Sekonyong-konyong ia menampak sinar terang.
Tadinya ia berada dalam gelap gulita. Ketika ia awasi,
ia melihat Ang Cit Kong tengah menggunai tongkatbya
menyontek menyingkap layar.
Pak Kay adalah seorang yang berperangai halus dan
murah hati, walaupun ia sangat benci See Tok untuk
kelicikan dan keganasannya, ia masih tidak tega
menonton orang mampus terbakar. Maka tanpa
banyak pikir, ia memberikan pertolongan itu.
Auwyang Hong telah terbakar pakaiannya, rambutnya
dan alisnya. Ia berlompat, terus ia menjatuhkan diri,
bergulingan di lantai perahu. Dengan caranya ini ia
hendak membikin api padam. Selagi ia bergulingan itu,
mendadak perahu miring, lalu rantai jankar jatuh
menimpa ke arahnya.
Cit Kong kaget hingga ia menjerit, terus ia berlompat
akan menyambar jangkar itu. Celaka untuknya, jangkar
itu merah marong bekas terbakar, ketika kena
terpegang, kontan tangannya terbakar hangus dengan
mengeluarkan suara terbakarnya, tetapi ia masih
sempat melemparkannya ke laut. Hanya, selagi
menolong ini dan hendak lompat ke laut, mendadak ia
merasakan punggungnya berikut pundaknya menjadi
kaku. Untuk sesaat ia melengak, tak tahu ia apa
sebabnya itu. Atau tiba-tiba ia ingat suatu apa, yang
berkelebat di otaknya. Segera ia menoleh ke belakang.
Di dalam hatinya ia berkata: "Aku telah tolongi See
Tok, mustahilkah ia menggunai tongkat ularnya
mencelakai aku?" Ia berpaling, justru tongkat bambu
berkelebat di depan matanya, kedua mulutnya ular
penuh darah hidup, kepalanya sedang digoyangTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
goyang. Bukan main murkanya Ang Cit Kong, kedua
tangannya segera melayang ke arah Auwyang Hong.
See Tok dapat berkelit, maka itu, sebatang tiang layar
dibelakangnya terhajar keras, menjadi patah dan roboh
karenanya.
Cit Kong tidak berhenti sampai di situ, ia menyerang
terus.
Auwyang Hong melihat orang seperti kalap, ia tidak
mau melawan berkelahi, ia lebih banyak berkelit sambil
berlompatan.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak melihat
kelakuan gurunya itu. Ia pun merayap naik ke perahu
besar.
Adalah di saat itu, Ang Cit Kong terhuyung-huyung. Ia
merasakan kepalanya pusing, hingga ia tak ingat suatu
apa.
Auwyang Hong berlompat maju, dengan sebelah
tangannya ia menghajar punggung si raja pengemis.
Hebat serangannya ini.
Dalam keadaanya seperti itu, Ang Cit Kong tidak bisa
mempertahankan dirinya. Ia lantas saja roboh sambil
muntahkan darah hidup.
Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong sangat kesohor
kegagahannya, Auwyang Hong ketahui dengan baik,
hajarannya ini tidak dapat segera menghabiskan jiwa
orang, dan ia ketahui juga, kalau nanti Ang Cit Kong
sembuh dari lukanya ini, pembalasannya tak akan ada
habisnya, maka itu, sudah kepalang, ia mengambil
sikap: "Berkasihan tidak menurunkan tangan,
menurunkan tangan tidak berkasihan". Ia lantas
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berlompat maju, dengan kakinya ia menjejak
punggung orang!
Kwee Ceng baru saja naik dari perahunya ketika ia
menyaksikan keganasan See Tok terhadap gurunya
itu, tidak sempat ia maju lebih jauh untuk menolongi,
karena tidak ada jalan lain, ia menyerang dengan
kedua tangannya dengan pukulan "Sepasang naga
mengambil air". Ia menyerang ke punggung bagian
pinggang.
Auwyang Hong tahu si bocah lihay, ia tidak
memandang hebat. Ia geraki tangan kiri untuk
menangkis, dengan tangan kanannya ia membalas
menyerang. Di sebelah itu, kakinya terus menginjak
Ang Cit Kong!
Kwee Ceng kaget hingga ia melupakan segala apa, ia
berlompat menubruk Auwyang Hong, batang leher
siapa ia rangkul. Tapi justru ini, ia membuat dirinya
kosong, maka enak saja rusuknya kena dihajar si Bisa
dari Barat.
Dalam keadaan rapat seperti ini, tidak leluasa
Auwyang Hong menyerang, tetapi dasar ia lihay,
serangan itu hebat, hanya syukur untuk Kwee Ceng,
tenaga dalamnya telah mempunyakan dasar, maka ia
tidak segera roboh, dia cuma merasakan sakit sekali
dan separuh tubuhnya hampir kaku. Karena ini dia
menjadi nekat, ia perkeras rangkulannya, untuk
mencekik leher orang.
Oleh karena perlawannan Kwee Ceng ini, tendangan
Auwyang Hong kepada Ang Cit Kong menjadi batal,
sebab untuk membela diri, ia mesti segera menarik
pulang kakinya itu. Tapi ia tidak sanggup
menggunakan kuntauw Kodok atau Ular Emas, untuk
itu mereka ada terlalu rapat, maka ia cuma dapat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menyerang muka orang. Kwee Ceng berkelit setiap
kali ia dipukul. Untuk menangkis, ia tidak mampu,
lantaran kedua tangannya lagi digunakan dengan
sekuat tenaganya. Ia bisa berkelit di atas kepalanya -
tidak bisa ia dibawah - yaitu rusuknya. Maka lagi-lagi
See Tok menyikut.
Kwee Ceng mesti berkelit ke kanan, dengan begitu ia
terpaksa melepaskan tangan kirinya, tetapi ia tidak
berhenti berdaya, dengan lekas ia menggunai ilmu
gulat bangsa Mongolia. Tangannya itu ditelesupkan ke
antara iga dan lengan musuh, diulur untuk
membangkol batang leher.
Auwyang Hong lihay tetapi sekarang ia pun merasakan
sakit. Ia mengerti si anak muda menggunai tiou silat
apa, hanya celakanya untuk dia, ia tidak mengerti
caranya untuk menolongi diri, dari itu ia cuma bisa
menggunai kepalan tangannya meninju ke belakang.
Melihat ini Kwee Ceng menjadi sangat girang. Segera
ia melepaskan cekikannya, dengan tangan kanan itu,
tangan ditelesupkan seperti tangan kiri taidi - kalau tadi
di sebelah kiri, sekarang di sebelah kanan. Kembali ia
membangko leher orang, berbareng dengan mana ia
berseru mengerahkan tenaganya. Dengan menggunai
dua tangan berbareng, ia menjadi berbahaya sekali. Ini
dia yang dinamakan tipu "Menjirat mematahkan
gunung". Dalam halnya Auwyang Hong, dia terancam
patah leher….
Cerdik sekali Auwyang Hong. Ia pun bertindak dengan
sebat. Ia mengasih turun kepalanya, untuk nelusup ke
selangkangan si anak muda sembari berbuat begitu ia
juga meninju dengan kepalan kiri. Ia tidak mau
mengasih ketika orang sempat mengerahkan
tenaganya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebelum ia kena ditinju, Kwee Ceng telah menyambar
tangan kiri si jago yang berbisa itu. Ia tetap
merapatkan tubuhnya kepada tubuh musuh, ia
mencoba terus menggunai ilmu gulatnya. Ia
menginsyafi, satu kali mereka renggang, ia bisa susah.
Pula, dengan berkelahi rapat, ia dapat mencegah
musuh mencelaki gurunya.
Oey Yong bingung sekali. Di satu pihak ia tampak Ang
Cit Kong rebah di pinggir perahu, separuh tubuhnya
berada di luar perahu, di lain pihak terlihat Kwee Ceng
lagi bergulat mati-matian terhadap Auwyang Hong,
keduanya bergulingan, tubuh mereka sudah tererap
api. Karena ini dengan pengayuh ia mengahajar
Auwyang Kongcu.
Walaupun dia telah terluka tangan kirinya, pemuda she
Auwyang ini tetap kosen. Ia berkelit ke kiri, sambil
berkelit, tangannya menyambar lengan si nona.
Oey Yong berkelit sambil menekan perahu, hingga
perahu itu menjadi miring.
Auwyang Kongcu tidak bisa berenang, miringnya
perahu membikin tubuhnya terhuyung. Untuk
menetapkan diri, ia batal menyerang terus kepada si
nona.
Menggunai saat perahu miring itu, Oey Yong terjun ke
air. Ia pandai berenang, ia tidak takut. Hanya dengan
beberapa kali menggunakan tangannya, tubuhnya
sudah nyelosor ke perahu besar. Perahu itu tinggal
separuh, sekarang separuh tubuh itu sudah kelam
separuhnya lagi. Dengan gampang si nona naik ke
parhu besar itu. Di situ ada sebuah tempuling, ia
sambar itu hendak ia membantu Kwee Ceng.
Auwyang Hong dan si anak muda masih berkutat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bergulingan, bergantian di bawah dan di atas, akan
kemudian, karena ia terlebih hilay, Auwyang Hong
terus berada di sebelah atas. Dalam keadaan seperti
itu, Kwee Ceng terus mengendalikan kedua tangan
musuh, supaya musuh tidak dapat menyerang
kepadanya.
Adalah di saat itu, Oey Yong berlompat maju sambil
menikam.
Hebat Auwyang Hong. Ia mendapat tahu ada serangan
di belakangnya, ia berkelit seraya mengerahkan
tenaganya mengangkat tinggi tubuh Kwee Ceng,
memakai si anak muda sebagai tameng.
Oey Yong mengubah serangannya, kali ini kepala See
Tok.
Jago tua itu bisa berkelit, bahkan terus-terusan ia
mengegos ke kiri dan ke kanan, menyingkir dari ujung
tempuling.
Tiga kali oey Yong menikam dengan sia-sia, yang
keempat kalinya, tempulingnya nancap di lantai
perahu, hingga abunya mengepul naik mengenai
matanya, hingga ia kelilipan dan matanya
mengeluarkan air. Ia mengucak matanya itu. Justru itu
ia merasakan kakinya sakit, tubuhnya limbung, malah
terus ia roboh. Sebab Auwyang Hong telah sapu
kakinya selagi ia tidak melihat.
Si nona roboh untuk terus menggulingkan diri, buat
berlompat bangun. Karena robohnya itu, rambutnya
kena kesambar api. Ia maju pula, untuk mengulangi
serangannya. Atau mendadak Kwee Ceng berseruseru:
"Tolongi suhu dulu! Tolongi suhu dulu!"
Oey Yong mengerti tugasnya, ia lantas lari kepada Ang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Cit Kong, ia tubruk tubuh orang, untuk dipeluk, setelah
mana ia terjun ke air. Dengan menyeburkan diri, ia
lantas merasakan tubuhnya adem, tak sepanasnya lagi
seperti tadi. Ia berenang sambil menggendong
gurunya, ia menuju ke perahu kecil.
Auwyang Kongcu berdiri di atas perahu kecil itu,
sebelah tangannya mengangkat pengayuh.
"Lepaskan si pengemis tua! Cuma kau sendiri yang
boleh naik!" demikian teriaknya dengan mengancam.
Sebelah tangan Oey Yong masih memegangi
tempulingnya.
"Baiklah, mari kita bertempur di dalam air!" ia pun
berseru, menjawab ancaman itu. Ia menyambar
pinggiran perahu, ia menggoyangnya.
Auwyang Kongcu kaget dan ketakutan melihat perahu
tergoncang keras. Kalau perahu itu terbalik dan karam,
celakalah dia.
"Jangan, jangann goncang!" ia berteriak-teriak seraya
keras memegangi perahu. "Nanti perahu ini karam…"
Oey Yong tertawa.
"Lekas tarik guruku naik!" ia menitah. "Hati-hati! Jikalau
kau main gila, aku nanti lelapkan kau di dalam air
selama tiga jam!"
Auwyang Kongcu tidak berdaya, terpaksa ia
memegang bebokongnya Ang Cit Kong, untuk
mengangkatnya naik ke perahu.
"Nah, beginilah baru anak manis!" berkata Oey Yong
tertawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sebenarnya Oey Yong hendak kembali ke perahu
besar, untuk menolongi Kwee Ceng, atau mendadak ia
mendengar satu suara nyaring sekali, lalu melihat
gelombang besar dan tinggi medampar ke arahnya. Ia
lantas memutar tubuhnya, habis itu ia berbalik pula,
rambutnya di depan mukanya tersingkap ke belakang.
Ia berdiri tercengang kapan ia sudah memandang ke
depan.
Gelombang barusan berputar seperti usar-usaran air,
di situ tidak terlihat lgi perahu besar yang tinggal
separuh tadi, dengan begitu, lenyap juga Kwee Ceng
dan Auwyang Hong yang tengah bergulat itu.
Oey Yong baru sadar ketika air asin menyambar
masuk ke dalam mulutnya. Tadinya ia seperti lupa
akan dirinya sebab hatinya mencelos mendapatkan
pemuda pujaannya lenyap, lenyap dibawa air. Ia lantas
melihat ke sekelilingnya. Di situ ia tidak nampak apa
juga kecuali si perahu kecil. Rupanya semuanya sudah
ditelan sang laut………………….
Bab 42. Di pulau terpencil
Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar
itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air
itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang
keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, untuk mencari
Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak
nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah
ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa
perahu sampai di dasar laut............
Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum
putus asa, ia bahkan penasaran. Maka ia mencari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terus. Sangat ia mengharap-harapkan nanti dapat
menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharapi
bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia
belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka
air. Ia berenang ke perahu kecil. Di dalam hatinya ia
berjanji, sebentar ia akan selulup pula, untuk mencari
terlebih jauh.
Auwyang Kongcu melihat si nona menghampirkan, ia
mengulur tangannya untuk membantui dia naik ke
perahu. Ia pun sangat berkhawatir atas lenyapnya
pamannya itu.
"Apakah kau melihat pamanku? Apakah kau melihat
pamanku?" demikian pertanyaannya berulang-ulang.
Oey Yong tidak menyahuti, bahkan ia tak sadarkan diri
sebab begitu lekas juga ia merasai matanya gelap….
Beberapa lama si nona pingsan, inilah ia tidak ketahui.
Ketika ia mendusin, ia merasakan tubuhnya enteng,
bagaikan melayang-layang di antara mega, kupingnya
pun mendengar suara angin mendesir-desir. Lekaslekas
ia memusatkan pikirannya, kemudian ia
menggeraki tubuhnya, untuk berduduk. Maka sekarang
bisalah ia melihat ke sekitarnya.
Ia masih berada di atas perahu kecil, perahu itu hanyut
mengikuti lairan gelombang. Auwyang Kongcu tidak
mengerti urusan mengemudikan perahu, maka itu ia
membiarkan perahunya berlayar sendirinya….
Pula, entah berapa jauh sudah terpisahnya perahu
dengan tempat karamnya perahu besar itu.
Bukan main berduka dan sakitnya hati Oey Yong. Ia
percaya ia tidak bakal bertemu pula dengan Kwee
Ceng. Mendadak saja ia pingsan lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Kongcu duduk diam dengan sebelah
tangannya keras-keras memegangi perahu, yang
terombang-ambing itu.
Lewat sekian lama, Oey Yong sadar sendirinya. Ia
benar-benar putus asa, hingga tawar untuk hidup lebih
lama pula. Ketika ia menoleh kepada Auwyang Kongcu
timbullah rasa muak dan bencinya. Pemuda itu lagi
memperlihatkan roman ketakutan.
"Mana bisa aku mati bersama-sama binatang ini?" pikir
si nona sesaat kemudian. Maka ia segera berlompat
bangun.
"Lekas lompat ke laut!" ia membentak bengis.
Auwyang Kongcu kaget bukan main.
"Apa?!" dia menanya.
"Lompat ke laut!" sahut Oey Yong dengan
bentakannya. "Kau tidak mau lompat? Baik! Akan aku
terbaliki perahu ini!"
Lantas si nona lompat ke kanannya, maka kontan
perahu itu miring ke kanan, dari situ ia lompat pula ke
kiri, membuatnya perahu turut miring ke kiri itu, bahkan
miringnya terlebih hebat.
Auwyang Kongcu ketakutan, ia menjerit keras.
Senang Oey Yong mendengar teriakan itu, sengaja ia
menggoncang pula kenderaan itu lagi.
Dalam takutnya itu, Auwyang Kongcu masih dapat
berpikir. Biar bagaimana, ia pun seorang lihay.
Terpaksa ia mengambil tindakan. Setiap kali si nona
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lompat ke kanan, ia lompat ke kiri, demikian
sebaliknya. Ia senantiasa mengimbangi nona itu.
Oey Yong kewalahan, tidak dapat ia menggoda
terlebih jauh.
"Baik!" katanya kemudian. "Hendak aku membocorkan
perahu, ingin aku lihat, kau bisa bikin apa!" Ia
menghunus pisau belatinya, ia lompat ke tengahtengah
perahu itu.
Justru itu, Oey Yong melihat Ang Cit Kong lagi rebah
tengkurup tanpa bergerak. Ia menjadi kaget sekali.
Baru sekarang ia ingat pula akan gurunya itu. Segera
ia mendekati, akan memasang kupingnya. Ia
mendengar suara napas perlahan, hatinya menjadi
sedikit lega. Ia lantas mengangkat bangun tubuh
orang, untuk dibalik, hingga ia dapat melihat wajah
gurunya itu.
Mukanya Cit Kong sangat pucat, dadanya bergerak
turun naik perlahan-lahan, jantungnya berdenyutan
perlahan juga, tanda dari kelemahannya.
Keras keinginan si nona untuk menolongi gurunya, ia
tak pedulikan lagi Auwyang Kongcu. Ia lantas
membukai baju gurunya, untuk memeriksa lukanya.
Tiba-tiba saja perahu itu bergerak keras.
"Tepian! Tepian!" Auwyang Kongcu pun berseru-seru
kegirangan.
Oey Yong segera menoleh. Ia melihat pepohonan
yang lebat. Perahunya sudah berhenti bergerak.
Kenderaan air kandas di tepian pulau yang berpasir.
Masih jauh akan tiba di darat, tetapi air ke arah sana
dangkal sekali, dasarnya tampak. Mungkin dalamnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
air tak sebatas dada.
Dalam girangnya Auwyang Kongcu lompat turun dari
perahu. Ia lantas jalan beberapa tindak. Tiba-tiba ia
berpaling kepada Oey Yong, terus ia berjalan kembali.
Oey Yong melihat pada tulang belikat kanan dari
gurunya ada tapak tangan yang hitam, tapak itu dalam
membekas di daging, seperti bekas dibakar. Di sekitar
itu ada tanda hangus. Ia kaget sekali.
"Kenapa sehebat ini tangannya See Tok?" ia menanya
di dalam hatinya.
Ia melihat punggung sebelah kanan dan leher, di sana
ada dua lubang kecil sekali, hampir tak terlihat. Ia
meraba dengan jari tangannya, ia merasakan sakit
seperti terkena hawa panas, lekas-lekas ia menarik
pulang tangannya itu.
"Suhu, bagaimana?" ia menanya.
Ang Cit Kong bersuara, "Hm!" perlahan, ia tidak
menyahuti.
"Eh, mari keluarkan obat pemunahmu!" Oey Yong
tegur Auwyang Kongcu.
Pemuda itu menggeraki kedua tangannya, tanda putus
asa.
"Semua obat ada di tangan pamanku," sahutnya.
"Aku tidak percaya!" berkata si noa.
"Kau geledah saja!" Auwyang Kongcu menyerah. Ia
buka bajunya, ia keluarkan semua isi sakunya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong mengawasi dengan melongo.
"Nah, mari bantu aku mengangkat guruku ke darat!" ia
berkata kemudian.
Auwyang Kongcu menurut. Maka Ang Cit Kong lantas
dikasih bangun, untuk dapat didukung. Kedua mudamudi
itu memasang pundak masing-masing, untuk
menahan si orang tua. Kemudian Oey Yong
memegang tangan kirinya Auwyang Kongcu untuk
tangan mereka saling disilang, hingga si orang tua
dapat duduk di tangan mereka yang terpalang
melintang.
Hati Oey Yong cemas sekali. Ia merasakan tubuh
gurunya gemetar.
Auwyang Kongcu sebaliknya girang. Ia merasakan
tangan yang halus dan empuk memegang erat-erat
tangannya. Ini ada kejadian yang sekalipun di dalam
mimpinya ia tidak berani mengharapkannya. Maka ia
amat menyesal yang cepat sekali mereka sudah tiba di
darat.
Sambil berdongko dan membungkuk, Oey Yong
menurunkan gurunya.
"Lekas ambil papan perahu!" ia menitahkan Auwyang
Kongcu. "Jaga jangan basah!"
Habis menurunkan Ang Cit Kong, Auwyang Kongcu
membawa tangannya ke bibirnya, ia berdiri menjublak.
Itulah bagian tangan yang sejak tadi dipegang erat-erat
oleh tangan yang halus dan empuk dari si nona.
Karena itu, ia seperti tidak mendengar perkataan si
nona. Syukur untuknya, Oey Yong tidak menyangka
jelek terhadapnya, cuma sambil mendelik si nona
mengulangi perintahnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan cepat Auwyang Kongcu mengambil papan. Itu
waktu Oey Yong telah tengkurapkan tubuh gurunya di
rumput yang empuk, ia mencoba akan meringankan
sakitnya. Maka diam-diam pemuda ini dapat lari ke
tanjakan yang tinggi. Sembari lari ia menanya dirinya
sendiri: "Tempat apakah ini?" Ketika ia sudah melihat
ke sekelilingnya, ia kaget berbareng girang. Itulah
sebuah pulau kecil, yang lebat dengan pepohonan,
hingga ia tidak tahu, pulau itu ada penghuninya atau
tidak. Ia kaget kapan ia mengingat, kalau pulau itu
kosong, darimana mereka dapat makanan dan
pakaian, dimana mereka bisa bernaung? Ia girang
tempo ia ingat bahwa ia berada berduaan sama si
nona manis, sedang si pengemis tua, ia percaya sukar
dapat ditolongi lagi.
"Sama si cantik aku berdiam di sini, pulau kosong pun
bagaikan sorga!" pikirnya. "Kalau toh aku mesti mati
dalam sehari atau semalam, aku puas…"
Seking girangnya, ia berjingkrakan seperti orang
menari. Hanya ia kaget tatkala ia angkat tangan
kanannya. Baru sekarang ia ingat lengannya itu telah
patah. Karena ini lekas-lekas ia menggunai lengan
kirinya mematahkan dua cabang pohon, ia pun
merobek ujung bajunya. Maka dilain saat ia sudah
dapat menggantung tangannya itu.
Oey Yong sendiri telah memencet keluar darah hitam
dari luka gurunya. Itulah darah bercampur racun. Habis
itu, ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Di situ tidak
ada obat. Ia cuma bisa pindahkan gurunya ke tempat
di mana ada dua potong batu besar, untuk gurunya
beristirahat.
"Coba kau lihat tempat ini tempat apa!" kemudian si
nona teriaki Auwyang Kongcu. "Coba cari tahu kalauTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
kalau dekat sini ada rumah orang atau pondokan…"
"Inilah sebuah pulau," menyahut Auwyang Kongcu
sambil tertawa. "Terang sadah disini tidak ada
pondokan. Tentang rumah orang, lihat saja
peruntungan kita…"
Oey Yong terperanjat.
"Pergilah kau periksa!" ia menitah pula.
Senang si anak muda menerima titah si nona manis, ia
lantas pergi. Ia masih dapat menggunai ilmunya ringan
tubuh walaupun tangannya sakit. Mulanya ia lari ke
timur di mana temapt lebat dengan pepohonan dan
oyot berduri. Ia tidak mendapatkan apa-apa, maka ia
putar ke utara. Di sini pun ia tidak melihat rumah orang
atau gubuk, hanya dengan menggunai batu ia berhasil
menimpuk roboh dua ekor kelinci, yang ia lantas bawa
kembali.
"Benar-benar sebuah pulau kosong!" katanya.
Oey Yong melihat orang tersenyum, ia mendongkol.
"Pulau kosong? Habis, apanya yang lucu?!" ia
menegur.
Pemuda itu mengulur lidahnya, ia tidak berani banyak
omong, terus ia mengeset kulit kelinci, setelah mana,
ia menyerahkannya kepada si nona.
Oey Yong merogoh sakunya, mengeluarkan
terkesannya. Syukur ia menyimpannya dengan
dibungkus dengan kertas minyak, alat penyala api itu
tidak basah, maka dilain saat, ia sudah menyalakan
api dengan apa dua ekor kelinci itu dipanggang.
Sesudah matang, yang seekor ia lemparkan itu kepada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
si anak muda, yang seekor lagi ia beset sebelah
pahanya, untuk diberikan kepada gurunya.
Ang Cit Kong terluka parah, ia masih belum sadar
betul, tetapi begitu ia memcium bau daging, segera
terbangun napsu daharnya. Memangnya ia penggemar
gegares. Segera juga ia sudah mulai mengerogoti dan
mengunyah daging kelinci itu. Habis sepaha, ia
menunjuk sikap masih ingin pula, maka muridnya,
yang hatinya girang, memberikan pula ia sepaha yang
lain.
Setelah makan habis dua paha, Cit Kong menjadi
lemah, malah dilain saat ia terus tidur pulas.
Oey Yong melihat cuaca mulai remang-remang,
tandanya sang malam sudah tiba, dari itu lekas-lekas
ia pergi mencari lubang gua, untuk memernahkan
gurunya itu.
Auwyang Kongcu membantui tanpa diperintah atau
diminta. Ia mencari rumput kering guna diampar
sebagai kasur. Ia pun membantu memodong orang tua
itu. Kemudian ia mencari rumput lagi, guna
mengampar dua tempat, buat dia sendiri dan si nona.
Selama itu Oey Yong melainkan melirik saja, ia tidak
ambil peduli pemuda itu, hanya disaat orang telah
selesai bekerja dan lagi mengulet, untuk merebahkan
diri, mendadak ia menghunus pisau belatinya.
"Pergi keluar!" ia mengusir.
Pemuda itu tertawa.
"Aku tidur disini toh tidak mengganggumu?" katanya.
"Kenapa kau begini galak?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Kau pergi atau tidak?!" si nona menegaskan, alisnya
bangkit.
"Akan aku tidur baik-baik, kau jangan takut," berkata
pula si anak muda tersenyum.
Oey Yong habis sabar, ia berbangkit untuk mengambil
puntung api, ia bawa itu ke tempat si anak muda, ia
bakar orang punya rumput amparan, maka sebentar
saja habislah itu menjadi abu.
Auwyang Kongcu menyeringai, dengan terpaksa ia
mengeloyor keluar dari gua itu. Di pulau seperti itu ia
tidak takut ada binatang beracun atau buas, ia
berlompat naik ke atas sebuah pohon di mana ia
mencari cabang untuk memernahkan tubuhnya. Tapi
tak gampang untuk tidur pulas, ia bergelisah, maka
belasan kali ia naik turun, di pohon itu. Saban-saban ia
menoleh ke arah gua di mana ada cahaya tabunan. Ia
telah memikir untuk menyerbu ke dalam gua,
senantiasa ia gagal, hingga ia mengatakan dirinya,
kenapa ia demikian bernyali kecil. Biasanya pekerjaan
mencuri, atau memaksa kesenangan seperti itu, sudah
umum baginya, hanya terhadap nona ini, ia segansegan.
Sebenarnya, walaupun hanya dengan sebelah
tangan, dapat ia melawan nona itu. Bukankah tak ada
halangannya Ang Cit Kong berada bersama sebab si
raja pengemis sudah tidak berdaya? Entah
bagaimana, ia jerih sendirinya….
Dengan mata mendoleng, Auwyang Kongcu
mengawasi Oey Yong merebahkan diri. Cahaya
tabunan membuatnya ia dapat melihat. Ia cuma
memandang, lain tidak.
Oey Yong sendiri rebah dengan mata meram tetapi
tidak pernah ia pulas. Ia tidak mempercayai
keponakannya Auwyang Hong itu, yang ia khawatir
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
nanti menyerbu selagi ia tidur. Ia juga keras
memikirkan lukanya Ang Cit Kong, yang belum tentu
bisa diobati. Maka lega hatinya ketika sang pagi
muncul. Baru sekarang ia berani tidur hingga lamanya
satu jam. Ia mendusin ketika ia bermimpi gurunya itu
merintih.
"Suhu, bagaimana?" ia menanya seraya ia melompat
bangun, untuk berduduk.
Cit Kong mengangkat tangannya, menunjuki mulutnya,
yang pun berkelemak-kelemik.
Si nona mengerti gurunya lapar, ia lantas memberika
sisa daging semalam.
Habis dahar, agaknya Cit Kong memperoleh tenaga. Ia
bisa bergerak untuk duduk, maka itu terus ia
bersemadhi, akan membikin lurus jalan napasnya.
Oey Yong mengawasi. Ia tidak berani membuka mulut,
khawatir mengganggu pemusatan pikiran gurunya itu.
Beberapa kali ia melihat sinar dadu di muka yang
pucat dari sang guru, lalu itu terganti dengan pucat
pasi pula. Perubahan itu terjadi berulangkali. Itulah
tandanya bekerjanya pemusatan pikiran. kemudian
embun-embun si jago tua mengeluarkan hawa seperti
asap, disusul sama mengucurnya peluh dingin di
dahinya. Banyak peluh yang ekluar itu. Diakhirnya
tubuh orang tua ini bergemetaran seperti menggigil.
Disaat itu di mulut gua terlihat berkelebatnya satu
bayangan orang. Itulah Auwyang Kongcu, yang
melongok untuk masuk ke dalam.
Oey Yong mengerti saat penting dari gurunya, kalau ia
kena dibikin kaget, mungkin gagal pemusatan
pikirannya itu, maka ia lantas membentak perlahan:
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Lekas pergi!"
Pemuda itu tertawa.
"Aku ingin berdamai sama kau, bagaimana kita harus
melewati hari di pulau kosong ini," katanya. Ia tidak
lantas menyingkir, hanya bertindak maju.
Ang Cit Kong membuka matanya. Ia rupanya dapat
mendengar perkataan orang.
"Pulau kosong apa ini?" ia menanya.
"Kau berlatih terus, suhu!" Oey Yong memegat.
"Jangan pedulikan dia!" Ia berpaling kepada si anak
muda sambil ia berbangkit. "Mari turut aku, kita pergi
keluar!" katanya.
Auwyang Kongcu menjadi girang, ia turut pergi.
Pagi itu cuaca terang sekali. Oey Yong memandang ke
sekitarnya, ia mendapatkan laut biru, langit seperti
nempel dengan air itu. Ia melihat beberapa gumpal
awan putih bagaikan tergantung di udara. Sama sekali
tak nampak daratan lainnya.
Ia bertindak ke tempat di mana kemarin mereka
mendarat. Mendadak ia terjaga.
"Mana perahu kita?!" ia menanya sambil berseru.
"Ah ya, ke mana perginya, ya?" balik tanya si pemuda.
"Ah, tentu juga kena didampar air pasang………."
Oey Yong mengawasi muka orang, yang tak kaget dan
merasa aneh seperti dia, maka maulah ia menduga,
tentulah tadi malam pemuda ini yang emndorong
perahu itu untuk dibikin hanya terbawa gelombang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Dengan begitu si anak muda hendak membikin mereka
tidak dapat berlalu dari pulau kosong ini.
"Sungguh dia jahat!" katanya dalam hatinya. Ia
menjadi tidak takut. Ia memang sudah memikir sulit
untuk kembali dengan masih bernyawa. Laginya
perahu kecil itu tak mungkin dapat membawa orang ke
darat. Hanya sekarang ia memikirkan gurunya, yang
tentunya pun tak dapat pulang lagi ke Tionggoan…
Kembali si nona mengawasi Auwyang Kongcu dengan
bersikap tenang. Ia tidak mengentarakan sesuatu.
Pemuda itu tidak berani bentrok sama sinar mata si
nona, lekas-lekas ia tunduk.
Oey Yong lompat naik ke atas sebuah batu tinggi, di
situ ia bercokol sambil memeluk dengkul, matanya
memandang jauh ke depan.
Auwyang Kongcu mengawasi, hatinya bekerja.
"Kalau tidak sekarang aku mencoba membaiki dia,
hendak aku menanti sampai kapan lagi?" pikirnya.
Maka ia pun berlompat naik ke batu itu, untuk
berduduk dekat si nona.
Oey Yong berdiam saja, ia tidak gusar, ia pun tidak
menggeser tubuhnya.
Menampak demikian, si anak muda menjadi mendapat
hati. Diam-diam ia memindahkan tubuhnya, untuk
datang lebih dekat kepada si nona.
"Adikku," katanya, perlahan. "Kita berdua bakal hidup
bersama di sini hingga di hari tua, hidup sebagai dewadewi.
Aku tidak tahu, di penitisan yang sudah,
kebaikan apa itu yang telah aku lakukan…"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa geli.
"Di pulau ini, bersama guruku kita cuma bertiga.
Tidakkah itu sepi?"
Lega hatinya si anak muda melihat orang tertawa.
"Ada aku yang menemani kau, mana bisa sepi?"
katanya. "Laginya, kalau kemudian kita mendapat
anak, bukankah itu menjadi lebih-lebih tak sepi?"
"Siapa toh yang melahirkan anak?" si nona tanya,
tertawa. "Aku sendiri tak bisa…"
Auwyang Kongcu tertawa.
"Nanti aku ajari kau!" katanya. Ia lantas mengulur
tangannya yang kiri, untuk merangkul si nona.
Tiba-tiba ia merasakan hawa yang hangat di
tangannya. Sebab, tahu-tahu si nona sudah
menyodorkan tangannya sendiri, untuk mencekal
tangannya itu. Tanpa merasa, hatinya jadi
berlompatan. Inilah ia tak sangka, hingga ia lupa akan
dirinya.
Oey Yong menyenderkan tubuhnya di dada orang,
sembari berbuat begitu tangannya yang kiri berkisar ke
nada orang itu.
"Ada yang bilang," katanya perlahan, "Kehormatannya
enci Bok Liam Cu dirusak kau, benarkah itu?"
Pemuda itu tertawa lebar.
"Perempuan she Bok itu tak tahu diri!" sahutnya. "Dia
tidak sudi ikut padaku. Aku Auwyang Kongcu, kau tahu
aku orang macam apa? Mustahil aku sudi memaksa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dia?"
Si nona menghela napas.
"Kalau begitu, nyata orang keliru mempersalahkan
kau," katanya.
"Anak itu terlalu besar kepalanya, sayang, sayang!"
Auwyang Kongcu bilang.
Mendadak Oey Yong berpaling ke laut, tangannya
menunjuk.
"Eh, apakah itu?!" katanya, agak terperanjat.
Auwyang Kongcu memandang ke arah yang ditunjuk
itu, ia tidak melihat apa juga, maka ia berpaling lagi,
untuk menanya, atau mendadak ia rasakan tangannya
tercekal keras dan sakit, sampai ia tidak dapat
berkutik. Ia justru mengandalkan tangan kirinya itu.
Tangan Oey Yong yang sebelah lagi memegang
tempuling, ia ayunkan itu ke belakang, untuk menikam
perut si anak muda.
Mereka berada sangat dekat satu dengan lain, si anak
muda pun tercengang, sedang tangan kanannya mati,
tentu saja ia tidak dapat menangkis, bahkan untuk
berkelitpun susah. Tapi ialah murid seorang pandai,
tak percuma ia berlatih silat duapuluh tahun di Pek To
San, maka di saat seujung rambut itu, ia masih ingat
untuk membela diri. Bukan ia menangkis atua berkelit,
justru dengan dadanya ia membentur punggungnya si
nona.
Oey Yong tidak menyangka, maka begitu kena
dibentur, tubuhnya terpelanting jatuh dari atas batu.
Saking kagetnya, cekalan kepada tangan orang telah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terlepas. Tikamannya juga melesat, cuma tidak sampai
kosong. Sebagai ganti perutnya, tempuling nyempret di
paha kanan si anak muda.
Auwyang Kongcu sudah lantas lompat turun juga dari
batu itu, ketika menghadapi si nona, ia dapatkan nona
itu lagi berdiri mengawasi ia sambil tertawa haha-hihi,
tangannya tetap memegang tempulingnya. Ia pun
lantas merasakan sakit pada dadanya yang dipakai
membentur itu. Ia lantas mengerti, walaupun berusan
ia lolos dari bahaya maut, ia tidak bebas dari durinya
baju lapis joan-kwie-kah dari nona itu.
"Kau aneh!" nona itu menegur. "Selagi enak-enak kita
bicara, kenapa kau membentur aku? Sudah masa
bodoh!" Dan dia memutar tubuhnya untuk mengangkat
kaki.
Auwyang Kongcu berdiri bengong. Ia mendongkol
berbareng ketarik hatinya kepada si nona, ia kaget
berbareng girang. Ia tidak dapat menyelami hati non
aitu. Sampai sekian lama, masih ia menjublak saja.
Oey Yong balik ke gua, ia menyesal bukan main. Ia
menyesal yang ilmu silatnya belum sempurna.
Bukankah ia telah membikin hilang satu ketika yang
sangat baik? Ia tiba di dalam akan mendapatkan
gurunya lagi rebah dengan disampingnya melulahan
darah bekas muntah. Ia menjadi sangat kaget.
"Suhu!" ia memanggil seraya ia berdongko. "Kau
kenapa suhu? Apa kau merasa baikan?"
Guru itu menghela napas perlahan.
"Aku ingin minum arak…" sahutnya.
Sakit Oey Yong merasakan hatinya. Di mana bisa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mendapatkan arak di pulau kosong ini? Terpaksa ia
mesti menghibur gurunya itu. Maka ia menyahuti:
"Nanti aku dayakan suhu. Bagaimana kau rasakan
lukamu, apakah tidak ada halangannya?" Tanpa
merasa ia mengucurkan air mata.
Menghadapi kemalangan lebih besar, belum pernah
Oey Yong menangis, tetapi sekarang ia bersedih
bukan main. Ia mendekam di dada gurunya itu, ia
menangis menggerung-gerung.
Cit Kong mengusap-usap rambut orang serta
punggungnya juga, I apun bingung. Ia lah seorang tua,
sudah puluhan tahun ia malang melintang dalam dunia
kangouw, segala macam bahaya pernah ia
menempuhnya, tidak ia habis daya seperti sekarang
menghadapo murid disayanginya ini.
"Jangan menangis, anak yang baik," katanya. "Gurumu
sangat menyayangi kau. Anak yang baik tidak
menangis. Ya, gurumu tidak mau minum arak…"
Oey Yong tetap bersedih, ia menangis terus, tetap
selang sesaat, tangisannya itu membuat hatinya lega.
Ia angkat kepalanya. Ia lihat dada gurunya basah
dengan air matanya. Tiba-tiba ia tertawa. Ia
menyingkap rambut di mukanya.
"Tadi aku telah tikam itu jahanaman, sayang gagal,"
katanya. Terus ia menuturkan apa yang ia barusan
lakukan terhadap keponakannya Auwyang Hong itu.
Cit Kong tunduk, ia tidak membilang suatu apa.
"Gurumu sudah tidak berguna lagi," katanya. "Bangsat
jahat itu jauh lebih menang daripadaku. Untuk
melawan dia tak dapat kita menggunai tenaga tetapi
harus dengan kecerdikan…"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Suhu," berkata sang murid, yang hatinya cemas,
"Baiklah suhu beristirahat beberapa hari, untuk
memelihara dirimu. Kalau suhu sudah sehat, tidakkah
baik apabila suhu menghajar dia satu kali saja,
membikin dia habis?"
"Aku telah dipagut ular dua kali, aku juga terkena
pukulan kuntauw Kodok dari See Tok," katanya
berduka, "Dengan menghabiskan seluruh tenaga
dalamku, dapat aku mengusir racun itu, mana aku
masih bisa menyambung jiwaku beberapa tahun lagi,
hanya karena aku mesti mengerahkan semua
tenagaku, musnahlah ilmu silatku dari beberapa puluh
tahun, musnah dalam satu hari saja. Gurumu adalah
seorang yang bercacad, telah habis semua
kebisaannya…"
Oey Yong kaget dan bingung.
"Tidak, suhu, tidak!" serunya. "Itulah tidak bisa jadi!"
Cit Kong tertawa.
"Aku si pengemis tua benar bersemangat akan tetapi
sekarang, setelah sampai di akhirnya, tidak dapat aku
tidak melegakan hati," katanya. Ia berhenti sebentar,
lalu ia memperlihatkan roman sungguh-sungguh. Ia
menambahkan: "Anak, gurumu terpaksa meminta kau
melakukan sesuatu yang sulit sekali. Itulah permintaan
yang bertentangan dengan rasa hatimu. Dapatkah kau
melakukannya?"
"Dapat, dapat, Suhu!" si nona menjawab cepat.
"Silahkan suhu sebutkan!"
Cit Kong menghela napas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sayang berkumpulnya kita guru dan murid sangat
pendek harinya," berkata ia masgul. "Aku menyesal
ynag aku tidak dapat memberikan pelajaran apa-apa
kepadamu sedang sekarang aku hendak memaksakan
hal yang sulit untumu, suatu tanggung jawab yang
berat hendak aku bebankan di pundakmu. Sebenarnya
di dalam hal ini hati gurumu tak tentram…."
Oey Yong heran untuk sikap ragu-ragu guru ini,
sedang biasanya Pak Kay paling terbuka dan paling
cepat mengambil keputusan. Maka maula ia percaya,
tugas itu masti penting dan berat sekali. Tapi ia tidak
jeri.
"Silahkan bilang, Suhu!" ia mendesak. "sekarang Suhu
terluka pun disebabkan untukku karena kau
mendatangi pulau Tho Hoa To, untuk budimu itu,
meskipun tubuhku hancur lebur, belum dapat aku
membalasnya. Hanya muridmu khawatir sekali,
khawatir usianya yang masih muda, ia tidak sanggup
menjalankan pesanmu ini."
Mendengar begitu, Ang Cit Kong memperlihatkan
roman girang.
"Dengan begitu kau jadinya telah menerima baik?" ia
menegaskan.
Oey Yong mengangguk.
"Silahkan Suhu menitahkan," sahutnya.
Dengan tiba-tiba Ang Cit Kong berbangkit bangun,
untuk berdiri tegar. Ia rangkapkan kedua tangannya,
bersilang di depan dadanya, lalu ia menjura dalam ke
arah utara. Lantas ia berkata," Cauwsu-ya, kau telah
membangun Kay Pang hingga sekarang ini telah
diwariskan kepada muridmu ini, sayang sekali
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
muridmu tidak mempunyakan kemampuan hingga tak
dapat ia membuatnya Partai kita jadi semakin besar
dan bercahaya. Hari ini keadaan ada sangat
mendesak, mau tidak mau, muridmu mesti
melepaskan tanggungjawabnya, maka itu dengan
berkah pelindungan Cauwsu-ya, muridmu mohon
supaya anak ini dijagai hingga kalau toh ada bahaya
bisalah ia terbebas dan memperoleh keselamatan
karenanya, supaya selanjutnya ia dapat berbuat
kebaikan untuk orang-orang Partai kita yang
bersengsara." Habis mengucap begitu, kembali ia
menjura.
Selama mendengari, Oey Yong bengong saja,
kemudian barulah ia tercengang.
"Anak, kau berlutut," berkata Cit Kong kemudian.
Oey Yong menurut, ia menekuk lutut.
Ang Cit Kong mengambil tongkatnya, yang dinamakan
Lek-tiok-thung, atau Tongkat Bambu Hijau, ia angkat
itu tinggi melewati kepalanya, kedua tangannya
dirangkap, lalu ia menyerahkan itu ke dalam
tangannya si nona.
Oey Yong terbenam dalam keragu-raguan.
"Suhu, kau menyuruh aku menjadi…menjadi…"
tanyanya gugup.
"Benar!" Cit Kong menjawab. "Aku angkat kau sebagai
Pangcu, kepala dari Kay Pang, Partai Pengemis.
Akulah Pangcu yang kedelapan belas, mak aturun
kepada kau, kau menjadi Pangcu yang
kesembilanbelas. Sekarang mari kita menghanturkan
terima kasih kepada Couwsu-ya."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hati Oey Yong tidak tentram akan tetapi ia
menyilangkan kedua tangannya, ia menelad Cit Kong
untuk menjura ke arah utara.
Pak Kay menghela napas panjang, dari wajahnya
nampak ia letih sekali, tetapi ia bersemangat, tanda
dari riangnya hatinya.
Oey Yong mempepayang, untuk membantu gurunya
itu merebahkan diri.
"Sekarang kau menjadi Pangcu, dengan begitu aku
menjadi tianglo," kata Cit Kong. "Tianglo masih
dihormati oleh Pangcu tetapi di dalam urusan besar
dan penting, tianglo tunduk kepada titah pangcu. Inilah
aturan yang menjadi pesan Couwsu-ya, yang sekalisekali
tak dapat disangkal. Asal tongkat Lek-tiok-thung
ini berada di tanganmu, begitu kau memberikan
titahmu maka semua pengemis di dalam negeri kita ini
mesti menerima dan menurut segala titah itu."
Oey Yong masgul berbareng gugup, ia bingung. Apa
artinya gurunya ini dengan tiba-tiba mewariskan
kedudukan raja pengemis padanya? Mana ada
alasannya? Tapi gurunya tengah terluka parah, ia pun
sudah memberikan janjinya, tidak dapat ia menampik.
Penampikan berarti menambah susah hati gurunya itu.
Ia juga memikir: "Kita sekarang berada di pulau kosong
ini…di bulan dan tahun kapan kita dapat kembali ke
tanah Tionggoan? Laginya, engko Ceng sudah
meninggal dunia, aku tidak ingin hidup lebih
lama…Sekarang suhu menyuruh aku mengepalai
pengemis dari seluruh negeri…" Maka ia menjadi
berdiam saja.
Ang Cit Kong berkata pula; "Tahun ini tanggal
limabelas bulan tujuh ada tanggal rapat besar setahun
sekali yang bakal diadakan di kota Gakyang di tepinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
telaga Tong Teng Ouw, di sana akan berkumpul
semua kepala pengemis dari pelbagai tempat. Rapat
itu diutamakan untuk semua pemimpin mendengar aku
menunjuk bakal gnatiku sebagai Pangcu, siapa sangka
sekarang aku terbengkalai di sini. Kau telah menjadi
penggantiku, kau dapat pergi ke sana untuk
memegang pemimpin. Dengan kau mencekal dan
membawa tongkat ini, semua saudara akan segera
mengerti maksudku. Di dalam urusan Kay Pang,
keempat tianglo lainnya akan membantu padamu,
maka tak usahlah aku memesan banyak. Hanya aku
menyesal sekali, tanpa sebab dan secara begini
mendadak aku memaksakan kau, satu nona yang
manis, merendahkan diri masuk ke dalam kalangan
bangsa pengemis…."
Walaupun ia mengucap demikian, Pak Kay toh tertawa
girang. Tapi, karena tertawanya itu, ia merasakan
lukanya nyeri, setelah meringis, ia batuk-batuk tak
henti-hentinya.
Oey Yong mengusap-usap punggung gurunya itu.
"Aku si pengemis tua benar-benar sudah tak punya
gua," kata Cit Kong setelah berhenti batuk-batuk.
"Karena aku tidak tahu kapan aku bakal berpulang ke
alin dunia, mesti aku lekas-lekas menurunkan ilmu silat
Pa-kauw-pang kepadamu…!"
Sudah puluhan macam ilmu silat didapat Oey Yong
dari gurunya ini, belum pernah ia mendengar Pa-kauwpang,
yang berarti ilmu silat pentungan menghajar
anjing. Ia memikir-mikir, kenapa tak enak sekali
disebutnya nama ilmu silat itu - mementung anjing….
"Bagaimana galaknya seekor anjing, dia dapat dihajar
mampus dengan sebuah kepalan," ia berpikir pula,
"Maka itu, untuk apa mesti mempelajari pula ilmu silat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menemplang anjing? Tapi suhu bicara dengan sikap
begini sungguh-sungguh, baiklah aku menurut…"
Maka mengangguklah ia, bersedia menerima warisan
ilmu silat yang ia anggap aneh itu.
Ang Cit Kong mengawasi muridnya, ia tertawa.
"Meskipun kau menjadi Pangcu, kau tak usah
mengubah macam atau dandanmu, tak usah
mengubah tabiat atau sifatmu," berkata ia,
menjelaskan. "Kau doyan guyon bergurau, tetap kau
boleh berpesta pora dengan kenakalanmu itu! Kami
bangsa pengemis, kami justru paling kemaruk sama
kemerdekaan dan kebebasan, sebab tanpa
kebebasan, tak dapat kami menjadi pengemis. Kalau
tidak demikian, kenapa kita tidak menjadi saja
pembesar negeri atau seoarng hartawan? Nampaknya
kau tidak puas dengan Pa-kauw-pang, benarkah? Kau
bilanglah terus terang!"
Oey Yong tersenyum.
"Muridmu sebenarnya memikirkan berapa
ketangguhannya seekor anjning.." ia menyahut.
"Muridmu memikir untuk apa mesti diciptakan
semacam ilmu silat.."
"Sekerang kau telah menjadi kepala pengemis, kau
harus memikir sebagai pengemis juga!" katanya. "Tapi
pakaianmu indah, romanmu mentereng sebagai satu
nona hartawan, kalau ada anjing melihat padamu,
mestinya anjing itu mengangguk-angguk dan
menggoyang-goyang ekor terhadapmu. Dengan
begitu, apa perlunya menghajar anjing itu? Tetapi
kalau si pengemis tulen bertemu sama anjing, hebatlah
akibatnya, sungguh menyedihkan! Bukankah pepatah
kuno ada membilang, 'Seorang miskin melarat tanpa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pentungan dia diperhina oleh anjing'? Kau belum
pernah menjadi seorang miskin, kau tidak mengerti
kesengsaraannya si miskin."
Mendengar itu Oey Yong tertawa seraya bertepuk
tangan.
"Suhu, kali ini kau keliru!" katanya gembira.
Cit Kong heran, ia melengak.
"Kenapa keliru?" tanyanya.
"Ketika pada bulan ketiga yang baru lalu ini aku
minggat dari Tho Hoa To dan aku pergi ke Utara, di
sana aku telah menyamar sebagai pengemis!" sahut si
nona. "Disepanjang jalan ada saja anjing yang
menggonggong dan mengikuti aku, hendak menggigit,
selalu aku hajar dia dengan dupakan, lantas dia lari
sambil menggoyang-goyang ekornya!"
"Ya, itulah benar," berkata Ang Cit Kong. "Hanya kalau
anjing sangat galak hingga sukar ditendang, tidak
dapat tidak, tongkat harus dipakai untuk
mementungnya!"
Si nona menjadi berpikir.
"Di mana ada anjing demikian galak dan hebat?" Tapi
hanya sejenak, lantas ia insyaf. Maka ia
menambahkan: "Benar! Manusia jahat pun ada sama
dengan anjing galak!"
Cit Kong tersenyum.
"Kau sungguh cerdas!" pujinya. "Jikalau…."
Ia sebenarnya hendak menyebutnya Kwee Ceng pasti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tidak dapat menebak, tetapi ia berduka, ia batal
melanjutinya. Ia bahkan terus berdiam.
Oey Yong dapat menerka hati orang, ia berpura-pura
tidak tahu. ia pun sangat berduka.
"Pa-kauw-pang terdiri dari tigapuluh enam jurus,"
kemudian Cit Kong berkata pula, memberi penjelasan.
"Itulah ilmu silat yang diciptkan sendiri oleh Couwsaya.
Sampai sebegitu jauh, menurut aturan dan
kebiasaan, ilmu silat ini cuma diajari dan diwariskan
kepada Pangcu, tidak kepada orang yang kedua.
Katanya dulu Pangcu yang nomor sebelas, tempo ia
berada di gunung Pak Kouw San, ia telah dikepung
banyak orang kosen, dengan sepasang kepalannya, ia
telah menghajar mati lima di antaranya. Ketika itu, ia
menggunai ilmu silat Pa-kauw-pang."
Oey Yong tertarik, tetapi ia menghela napas.
"Suhu," tanyanya, "Ketika di perahu besar itu kau
menempur See Tok Auwyang Hong, kenapa kau tidak
menggunai ilmu silatmu itu?"
"Menggunai ilmu silat itu adalah urusan besar dari
Partai kita," menyahut sang guru. "Sekalipun aku tidak
menggunai, tidak nanti See Tok dapat mengalahkan
aku! Siapa sangka dia ada sangat hina dina, aku
sudha tolongi dia, dia justru membokong menyerang
punggungku…"
Diwaktu mengucap demikian, wajahnya Pak Kay
muram. Oey Yong dapat menduga kemendongkolan
dan kemasgulan gurunya itu, hendak ia menyimpang
pembicaraan.
"Suhu," ia berkata, "Sekarang kau ajarkanlah ilmu silat
tongkat itu kepada Yong-jie, sesudah Yong-jie bisa,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
nanti Yong-jie pakai untuk membunuh See Tok guna
membalaskan sakit hati suhu!"
Cit Kong tertawa secara tawar. Ia menumput sebatang
cabang kering, setelah mana mulutnya membaca,
tangannya digerak-geraki. Ia tetap rebah tetapi ia
dapat menjalankan tigapuluh enam jurus dari Pa-kauwpang
itu. Yang mana kurang jelas, ia menambahkan
dengan keterangannya. Dengan cara itu ia
menurunkan ilmu silat peranti mementung anjing itu. Ia
tahu Oey Yonng cerdas sekali, ia mengajari dengan
sungguh-sungguh. Dilain pihak ia khawatir yang
umurnya tidak panjang lagi…..
Nama ilmu silat pentungan itu tak sedap didengarnya,
tetapi ilmu silatnya sendiri lihay, banyak
perubahannya, kalau tidak, tidak nanti ilmu itu menjadi
ilmu istimewa dalam Kay Pang dan diwariskan secara
turun temurun. Maka itu, mesti Oey Yong cerdas luar
biasa dan ia dapat menjalankan, tak semuanya segera
ia dapat menangkap maksudnya.
Habis memberi pelajaran, Cit Kong menghela napas,
ia bermandikan keringat.
"Aku mengajari kau terlalu singkat," ia berkata, "Itulah
tidak bagus. Sebenarnya, tidak dapat aku mengajari
lebih jauh…" Mendadak ia menjerit, "Aduh!" dan
tubuhnya roboh rebah.
Oey Yong kaget, ia berlompat menubruk.
"Suhu!" ia memanggil. Ia pun mengasih bangun.
Tangan dan kaki Cit Kong dingin, napasnya jalan
sangat perlahan. Nampaknya ia tidak dapat ditolong
pula…
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Selama beberapa hari ini hebat penderitaannya si
nona, maka itu ia mendekam di tubuh gurunya itu, ia
menangis tanpa dapat mengeluarkan suara. Ia masih
dapat mendengar denyutan jantung dari gurunya itu.
Lantas ia menggunai kedua tangannya, ia memegang
kedua bagian rusuk, untuk membantu sang guru
bernapas. Adalah di itu saat genting untuk gurunya, ia
mendengar satu suara perlahan di belakangnya. lantas
sebuah tangan diangsurkan ke lengannya.
Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma
ingat menolongi gurunya, maka itu tahu ia kapannya
Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia
seperti lupa yang di belakangnya ada seekor anjing
yang galak.
"Berat sakitnya suhu, lekas kau pikirkan daya untuk
menolongi," ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling,
mengawasi dengan air mata berlinang-linang.
Melihat roman orang yang sangat menyedihakan itu,
Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk
melihat Ang Cit Kong, kulit muka siapa pucat dan
kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang itu, ia
justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si
noa, ia mendapat cium baru harum dari tubuh si nona
itu, sedang mukanya kena kebentur rambut orang.
Betapa menyenangkan itu?
Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri.
Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona,
sekarang ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul
pinggang orang.
Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju, tempo
si anak muda berkelit, ia berlompat bangun.
Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat,
hatinya menjadi besar sekali. Kalau tadinya ia takut
menggunai kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang
ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke
mulut gua, untuk menghalang. Ia tertawa.
"Adik yang baik," katanya manis, "Terhadap lain orang
aku tak biasanya menggunai kekerasan, tetapi kau
begini cantik manis, kau botoh sekali, tidak dapat aku
menguati hati lagi. Marilah, adik, kau mengasihkan aku
satu cium…"
Sembari mengucap demikian, pemuda itu mementang
tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.
Hatinya Oey Yong bergoncang keras.
"Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh
kali daripada ancamana bahaya semasa aku berada di
istana Chao Wang," berpikir si nona ini. "Kalau tidak
dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri.
Hanya, mana aku puas…?"
Hanya dengan satu kali menggeraki tangannya, Oey
Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya.
Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas
meloloskan bajunya, untuk dipakai sebagai cambuk
lemas. Kembali ia maju dua tindak.
Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia
menanti orang mengangkat kaki. Belum lagi kaki itu
diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri.
Menampak itu, Auwyang Kongcu meneruskan
berlompat ke kiri juga, untuk merintangi si nona itu.
Tapi justru itu Oey Yong mengayunkan tangannya.
Lihay si anak muda, dia menggeraki sabuk bajunya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk menangkis serangan jarum itu. Tapi si nona pun
lihay, ia memang menggunai siasat, maka tengah
pemuda itu membeli diri, ia berlompat, melesat ke luar
gua!
Auwyang Kongcu benar-benar lihay, walaupun dia
repot, dia toh dapat berlaku gesit luar biasa. Dia
berlompat untuk menyusul, maka itu tengah lari, Oey
Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itulah
desirannya pukulan ke arah punggung. Ia tidak takut,
sebaliknya, ia menjadi girang. Bukankah ia memakai
baju lapis berduri? Bukankah ia pun sudah nekat? Ia
tidak takut mati, asal ia dapat melukai musuh. Maka
itu, ia tidak mau menangkis, hanya ia memutar
tubuhnya untuk membarengi menyerang!
Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona,
kalau ia menyerang, ia melainkan mengancam, ia
hendak menggoda saja, maka ketika serangan itu
datang, ia batal menyerang terus, ia menangkis
serangan itu, lalu ia melompat lebih jauh, untuk
mendahului tiba di mulut gua.
Oey Yong berkelehai seperti kalap. Ia menyerang
tanpa mengingat pembelaan diri. Dengan begini,
kegagahannya seperti tambah satu kali lipat.
Adalah maksudnya Auwyang Kongcu membuat si
nona itu letih, tetapi sekarang ia mesti menghadapi
serangan bertubi-tubi, terpaksa ia mesti melayani juga.
Di dalam keadaan seperti itu, walaupun ia lebih kosen,
ia toh kewalahan juga, kesatu ia memang tidak berniat
mengambil nyawa si noa, kedua ia mesti berkelahi
dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain lagi
sakit.
Pertempuran telah berlangsung kira enampuluh jurus
ketika mendadak Oey Yong menubruk, sambil
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menubruk, ia menimpuk dengan jarumnya.
Auwyang Kongcu repot menangkis jarum itu, untuk itu
ia mesti mengebas dengan sabuk bajunya. Disamping
itu, hebat tubrukkannya Oey Yong, yang menikam ke
arah tangan kanannya yang sakit itu. Hendak ia
menangkis pula dengan tangan kirinya tetapi sudah
tidak keburu, ujung tempuling telah mengenai lukanya
itu.
Tapi juga Oey Yong tidak dapat bergirang karena hasil
tikamannya itu. Baru ia menikam atau ia merasakan
tangannya kesemutan, terus senjatanya terlepas jatuh
ke tanah. Sebab di luar sangkaannya, walaupun dia
kena ditikam, Auwyang Kongcu mengubah
tangkisannya menjadi totokan kepada lengan nona itu
dan tepat totokannya itu.
Si nona kaget, ia berlari terus. Ia lari sembari
membungkuk.
Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan bakal
mangsanya ini. Ia berlompat dengan pesat, ia juga
membungkuk, tangan kirinya dilonjorkan ke depan,
untuk menotok kaki orang, yang lagi diangkat untuk
berlari. Ia berhasil, dua kali ia dapat menotok jitu,
mulanya di jalan darah koanciong-hiat di kaki kiri si
nona, kemudian di jalan darah tiongtouw-hiat di kaki
kanan. Maka tak tempo lagi, baru bertindak dua kali,
nona itu sudah lantas terguling roboh!
Lagi sekali Auwyang Kongcu berlompat, bahkan dia
mendahului, untuk membeber bajunya, hingga si nona
terjatuh di atas hamparan baju itu. Pemuda itu pun
menggoda, sembari tertawa ia berkata: "Ah, jangan
sampai kau merasa nyeri!"
Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian pamannya,
yang menyayang ia sebagai anak sendiri, maka itu
mereka sama-sama mempunyai kepandaian yang
lihay. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang
Hong, bahkan mereka berdua ini berimbang. Dengan
demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya sama
kosennya juga. Tapi toh Oey Yong kalah! Kenapa?
Pada itu ada terselip selisih usia mereka dan
temponya latihan. Oey Yong baru berumur limabelas
tahun, Auwyang Kongcu sudah lebih dari tigapuluh
tahun, maka itu, perbedaan waktu belajar mereka ada
kira-kira duapuluh tahun. Benar Oey Yong mendapat
pelajaran juga dari Ang Cit Kong tetapi belum lama
dan latihannya belum sempurna. Karenanya, walaupun
si pemuda terluka tangannya, ia tetap lebih unggul.
Oey Yong kaget karena robohnya itu tetapi pikirannya
tidak kacau. Begitu ia jatuh, begitu ia berbalik sambil
menimpuk dengan jarumnya. Kemudian ia geraki
tubuhnya untuk berlompat bangun. Tidak beruntung
untuknya, kedua kakinya tidak mau menurut perintah,
maka juga tidak dapat ia berlompat bangun untuk
berlari. Ia baru bergerak sedikit atau ia terguling pula.
Ketika itu Auwyang Kongcu mengulur sebelah tangan
dengan maksud mengasih bangun. Dalam murkanya,
Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Tapi si anak
muda dapat melihat serangan itu, dengan leluasa ia
menyambuti dengan tangan kirinya, dengan totokan,
maka matilah tangan kiri si nona, seperti tangan
kanannya yang erus ditotok juga, hingga kaki
tangannya tak dapat bergerak semua. Ia mirip orang
yang dibelenggu kaki tangannya itu.
Bukan main panasnya hati nona ini, ia sangat
menyesal yang barusan ia tidak membunuh diri saja,
hingga sekarang ia jadi kena tertawan. Ia ada begitu
murka dan mendongkol. Mendadak ia merasai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
matanya gelap dan kepalanya pusing, seketika itu juga
ia rebah tak sadarkan dirinya.
"Jangan takut, jangan takut," berkata Auwyang Kongcu
sambil tertawa, suaranya halus. Ia bertindak seraya
mengulur tangan, berniat memondong nona itu. Atau
mendadak
"Kau mau hidup atau mati?!" demikian satu suara
keras dan kejam, suara dingin yang disusul sama
tertawa ejekan.
Pemuda itu terperanjat, dengan cepat ia menoleh.
Untuk kagetnya, ia melihat Ang Cit Kong berdiri di
mulut gua, tangannya memegang tongkat, matanya
melirik tajam. Disaat itu pada otaknya berkelebat
penuturannya pamannya dulu hari halnya Ong Tiong
Yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.
"Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura
mampus!" pikirnya. "Ah, habislah aku hari ini!" Ia
ketahui baik sekali kegagahannya Ang Cit Kong, ia
putus asa. Tanpa berpikir lagi, ia menekuk kedua
kakinya sambil berlutut ia berkata: "Aku cuma bermainmain
saja sama adik Oey ini, tidak ada niatku untuk
berbuat jahat terhadapnya…."
"Hm!" Pak Kay mengasih dengar suara bengis.
"Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas
jalan darahnya? Apakah aku si orang tua harus turun
tangan?"
Auwyang Kongcu jeri.
"Ya, ya," ia menyahuti seraya terus menotok kaki
tangannya si nonya.
"Lagi satu kali kau menginjak gua ini, jangan kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sesalkan aku!" Ang Cit Kong mengancam. "Lekas
pergi!"
Sembari berkata begitu, jago tua itu bertindak ke
samping.
Keponakan See Tok bagaikan menerima putusan
pengampunan, cepat-cepat ia ngeloyor pergi.
Oey Yong tak tahu apa yang sudah terjadi, ketika ia
sadar, ia sadar dengan perlahan-lahan. Ia membuka
kedua matanya seraya merasa bagaikan tengah
bermimpi.
Ang Cit kOng tidak dapat berdiri lama-lama, ia roboh
sendirinya.
Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Lupa ia pada
tangan atau kakinya bekas ditotok, ia menekan tanah
untuk berlompat bangun, guna menghampirkan
gurunya, yang segera ia pegangi untuk dikasih
bangun. Ia melihat mulut guru itu berlumuran darah,
sebab ternyata tiga buah giginya sudah copot bekas
kebentur tanah. Ia menjadi sangat berduka.
"Suhu!" ia memanggil.
Ang Cit Kong sadar, ia pegang ketiga buah giginya itu,
terus ia tertawa.
"Gigiku, gigiku!" katanya. "Kau tidak mensia-siakan
aku! Kau telah membuatnya aku si pengemis tua telah
dapat mencicip segala macam barang hidangan paling
lezat dan sedap di kolong langit ini! Sekarang aku si
pengemis sudah sampai pada usiaku, kau telah
mendahului meninggalkan aku…!"
Memang hebat sekali lukanya Pak Kay kali ini, cuma
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
saking kuatnya tubuhnya, ia tidak mati lantas di bawah
tangan jahat dari Auwyang Hong. Celaka untuk ia, ia
tidak dapat obat untuk mengobati luka-lukanya itu, luka
racun ular dan gempuran kuntauw Kodok yang
dahsyat.
Cit Kong melihat kedukaan muridnya.
"Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak nanti
berani datang pula mengganggu padamu," ia
menghibur si nona.
Tapi Oey Yong memikir lain.
"Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak
berani masuk ke mari," demikian pikirnya. "Tetapi
bagaimana dengan makan dan minum kita?"
Cit Kong pun sudah merasakan lapar. Ia melihat si
nona tunduk saja.
"Bukankah kau sedang memikirkan daya mencari
barang makanan?" ia menanya. Oey Yong tidak
menjawab, ia melainkan mengangguk.
"Mari kau pepayang aku ke pesisir untuk menjemur di
matahari," menyuruh orang tua itu.
Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat mengerti
maksud orang.
"Bagus!" serunya kegirangan. Ia pun tertawa. "Kita
menangkap ikan!"
Maka bukan lagi ia pepayang gurunya itu, ia hanya
menggendong, cuma jalannya dengan perlahan-lahan.
Hari ini cuaca terang berderang, angin meniup halus.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Begitu terjodoh sinar matahari, begitu Ang Cit Kong
merasa segar, hingga semangatnya jadi terbangun. Ia
pun melihat Auwyang Kongcu lagi berdiri di tempat
jauh dari mereka, ketika pemuda itu mendapatkan
mereka keluar dan mengawasi padanya, dia bertindak
pergi lebih jauh sedikit. Rupanya ia jeri. Dari tempat
jauh itu ia terus mengawasi.
Dua-dua Cit Kong dan Oey Yong berduka, hati mereka
berpikir: "Jahanam itu sangat cerdas, lama-lama pasti
dia dapat mengetahui keadaan kita yang tidak
berdaya…" Karena itu, mereka pun membawa sikap
tenang.
Auwyang Kongcu pun agaknya lega melihat ia tidak
dihampirkan.
Oey Yong sudah lantas bekerja. Lebih dulu ia
pernahkan Ang Cit Kong, supaya guru ini dapat duduk
sambil menyender pada sebuah batu besar, kemudian
ia mencari cabang pohon yang panjang untuk dijadikan
joran panjang. Untuk talinya, ia mencari babakan
pohon dan untuk panjangnya, ia menekuk sebatang
jarumnya hingga ujungnya bengkok. Sebagai umpan,
ia mencari udang di tepian. Maka tak lama kemudian,
ia sudah mulai memancing.
Satu jam tempo dipakai untuk memancing itu, akhirnya
si nona memperoleh tiga ekor ikan, yang mana
cukuplah untuk mereka berdua menangsal perut. Ikan
itu dipanggang seperti biasanya kaum pengemis
memanggang ayam.
Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mengajari Pakkauw-
pang. Ia memberi petunjuk sambil ia duduk
menyender terus cuma tangannya digerak-geraki. Tapi
ini pun menolong banyak untuk si nona yang otaknya
terang, hingga dia dapat mengerti lebih banyak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Demikian mendekati sore, Oey Yong telah dapat
menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, hingga
tinggal dia berlatih terus untuk memahirkan itu.
Sesudah hilang letihnya, Oey Yong membuka baju
luarnya, terus ia nyebur ke laut untuk membersihkan
tubuh. Ia berenang pergi datang hingga ia ingat suatu
cerita dongeng jaman Tong katanya di dalam laut ada
istana raja naga serta putrinya yang elok sekali.
"Mungkin engo Ceng telah pergi ke sana?" ia
ngelamun.
Karena ini ia lantas menyelam. Tiba-tiba ia merasakan
kakinya sakit, lekas-lekas ia menarik pulang. Ia
mendapat kenyataan kakinya itu dijepit sesuatu. Ia
tidak kaget, ia menduga kepada simpling atau kerang
besar. Ia lantas membungkuk, untuk melihat. Baru
sekarang ia terkejut juga. Kakinya dijempit simping
yang besar sekali, yang beratnya mungkin duaratus
kati. Sia-sia ia menarik akkinya, sia-sia ia mencoba
memengkang membuka kedua batok simping itu.
Bahkan kakinya dijepit semakin keras, sampai ia
merasakan sakit sekali. Saking kerasnya ia berkutatan,
dua kali ia kena menenggak air laut asin.
Tentu sekali nona ini menjadi sangat penasaran. Tidak
ikhlas ia mati di tangannya binatang laut itu, walaupun
sebenarnya ia bersedia mati-mati bersama gurunya
andaikata tetap mereka tak berdaya untuk berlalu dari
pulau kosong itu. Ia memikir akal. Ia mencoba
memungut batu dengan apa ia ketoki batok simping
itu. Ini pun tidak memberi hasil. Batoknya simping
telalu keras dan batunya terlalu kecil.
Lagi sekali ia menenggak air. Baru sekarang ia ingat
suatu akal. Maka ia lepaskan batunya, sebagai
gantinya ia meraup pasir, yang mana ia kasih masuk di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sela-sela mulut simping itu.
Nyata binatang laut itu takut sekali pasir, begitu dia
merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, dia
pentang mulutnya itu.
Begitu ia merasakan jepitan kendor, begitu lekas juga
Oey Yong menarik keras kakinya. Kali ini bebaslah ia,
maka terus saja ia berenang untuk muncul di muka air.
Paling dulu, ia membuang napas, untuk melegakan
diri.
Cit kong di darat berkhawatir melihat si nona
menyelam demikian lama, ia menduga muridnya itu
menghadapi bahaya. Ia menyesal yang ia sendiri tidak
dapat bergerak hingga tak bisa ia menolongi. Ia
melainkan bisa mengawasi ke laut dengan jantungnya
berdenyutan.
Akhir-akhirnya muncul juga si nona, maka legalah
hatinya guru ini, sampai ia bersorak.
Oey Yong tidak naik ke darat, sesudah mengulapkan
tangan kepada gurunya itu, ia selulup pula. Ia telah
mendapat satu pikiran. Ia pergi ke tempat tadi, tapi
sekarang dengan sudah bersiap. Ia turun di dekat
simping itu tanpa si simping dapat mencakop padanya.
Nyata binatang itu nempel batoknya dengan batu
karang, dia jadi tidak bisa berenang pergi. Si nona
mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia
memegang simping dari bawah, terus ia bawa naik ke
atas. Ia menampah seraya kakinya menjejak dasar
laut, terus ia berenang ke tempat yang dangkal. Di sini
simping itu tak berdaya lagi. Hanya saking beratnya
binatang laut itu, tidak kuat Oey Yong mengangkat
buat dibawa ke gua, maka ia mengambil saja batu
besar yang mana ia pakai mennghajar batoknya.
Hanya dengan beberapa kali hajaran, remuklah batok
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
simping itu.
Puas hatinya si nona, yang kakinya sakit bekas dijepit.
Bahkan malam itu bersama gurunya ia bisa menangsal
perut secara memuaskan karena adanya daging
simping itu yang lezat sekali.
Besok paginya, begitu mendusin, Ang Cit Kong
merasai sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba
memainkan napasnya, ia merasakan lega. Tanpa
merasa ia berseru bahna girangnya.
Oey Yong mendusin untuk segera bangun berduduk.
"Suhu, kenapa?" ia menanya, kaget.
"Setelah tidur semalaman, aku merasai lukaku
mendingan," sahut sang guru. "Sakitnya tidak sehebat
kemarin."
Oey Yong menjadi girang.
"Mungkin ini disebabkan guru makan daging simping!"
katanya. Maka berlari-larilah ia keluar guanya, ke tepi
laut, untuk memotong sisa daging simping itu. Saking
kegirangan, ia sampai melupai Auwyang Kongcu. Ia
baru memotong dua keping tatkala ia melihat
bayangan orang mendekati perlahan-lahan ke
arahnya. Ia kaget tetapi ia mengerti ancaman bahaya.
Baru sekarang ia ingat keponakannya See Tok itu.
Diam-diam ia memungut batok simping, lalu dengan
sekonyong-konyong ia menimpuk ke belakang,
tubuhnya sendiri terus berlompat setombak lebih
hingga ia berada di pinggiran air.
Auwyang Kongcu dapat berkelit. Dia tidak gusar,
sebaliknya ia tertawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh dari itu orang
tua dan nona, terutama ia memperhatikan gerakgeriknya
Ang Cit Kong, hingga timbullah
kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya,
tak dapat berjalan karena lukanya yang hebat. Meski
begitu, ia tidak mempunyai nyali yang cukup besar
untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus
memasang mata. Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar
sendirian, pergi ke pasir, ia mengikuti. Ia girang bukan
main, ia anggap ia dkaruniai ektika yang baik sekali
oleh Thian. Maka ia menghampirkan si nona sambil
berindap-indap. Hanya sayang, bayangannya telah
menggagalkan maksudnya.
"Adik yang baik, jangan pergi!" ia berkata dengan
manis. "Aku hendak bicara denganmu!"
"Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau
menggerembengi orang?" si nona menanya. "Apakah
kau tidak tahu malu?"
Melihat orang tidak gusar, senang hatinya Auwyang
Kongcu. Ia jadi semakin berani. Ia mendekati pula dua
tindak. Lagi-lagi ia tertawa.
"Semuanya dasar kau!" katanya. "Siapa suruh kau ada
begini cantik dan manis, hingga kau membikinnya hati
orang terbetot keras?"
Oey Yong tertawa.
"Aku bilang tidak menggubrismu, tetp aku tidak mau
memperdulikan!" kata ia. "Percuma saja kau
mengambil-ambil hatiku, membaiki padaku!"
Pemuda itu maju ppula satu tindak.
"Ah, aku tidak percaya!" katanya, tertawa. "Hendak aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mencobanya!"
Tiba-tiba si nona memperlihatkan roman keren.
"Lagi satu tindak kau maju, akan aku minta suhu
menghajar padamu!" ia mengancam.
"Sudahlah!" tertawa si anak muda, membelar. "Apakah
si pengemis tua masih dapat berjalan? Apakah tidak
baik jikalau aku menggendong dia?"
Oey Yong terkejut, hingga ia mundur dua tindak. Inilah
yang ia khawatirkan. Ia takut kalau pemuda ceriwis ini
mengetahui gurunya sudah tidak berdaya.
Auwyang Kongcu tertawa pula.
"Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah!"
katanya. "Akan aku menunggui kau di darat! Marilah
kita lihat, kau yang dapat berdiam lebih lama di dalam
air atau aku yang di daratan."
"Baiklah!" si nona berseru. "Kau menghina aku, untuk
selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!"
Nona ini lantas menutar tubuhnya, untuk lari, atau baru
tiga tindak, ia roboh terguling seraya menjerit "Aduh!"
karena kakinya kena menginjak batu dan terpeleset.
Keponakan Auwyang Hong ini benar-benar licin. Ia
khawatir si nona hanya menggunakan tipu untuk
menyerangnya dengan jarumnya tatkala ia berlompat
menubruk, maka juga sebelumnya maju ia membuka
dulu baju luarnya, untuk dipakai sebagai senjata
pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.
"Jangan datang mendekat!" membentak si nona. Ia
bangun, untuk bertindak pula, atau baru satu tindak, ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga
separuh tubuhnya rebah di air, ia bagaikan pingsan.
Tubuhnya itu tidak bergerak lagi.
"Budak, kau sangat licik tidak nanti aku kasih diriku
diperdayakan!" kata Auwyang Kongcu dalam hatinya.
Ia berdiri seraya mengawasi.
Ada seketika sehirupan the, masih si nona tidak
berkutik, tubuhnya dari kepala sampai di dada masuk
ke dalam air.
"Ah, dia benar-benar telah pingsan," pikir si kongcu
kemudian. "Jikalau aku tidak tolongi dia, mungkin dia
mati kelelap, sayang begini cantik dan manis…."
Ia lantas bertindak maju, ia memegang kaki orang. Ia
terperanjat ketika ia sudah menarik, sebab ia
merasakan nona itu dingin sekali seperti membeku. Ia
lekas-lekas membungkuk, untuk memeluk tubuh
orang, niatnya untuk diangkat ke darat. Baru saja ia
merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk
kedua kakinya seraya nona itu membentak, "Turunlah
kau!"
Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak
berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersamasama
si nona, yang berseru sambil membetot
membuang dirinya ke laut.
Bukan kepalang kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya
terkesiap. Biarpun ia ada terlebih kosen daripada si
nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal
yang walaupun ia sangat berhati-hati, masih ia kena
diperdayakan si nona yang cerdik itu. Maka pikirnya:
"Habislah aku kali ini…"
Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya itu,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan hati sangat bernafsu ia menarik orang ke
tengah, ke tempat yang terlebih dalam. Percuma si
anak muda mencoba berontak, ia kena teseret ke
tengah. Ia telah dijambak pada kepalanya, kepala itu
dibeleseki di dalam air.
Berulang-ulang pemuda itu menenggak air laut,
mulanya masih terdengar suara gelogokan di
tenggorokannya, habis itu ia mati daya, cuma tangan
dan kakinya yang menjambret-jambret dan
menendang-nendang, rupanya untuk menjambret atau
menendang si nona tetapi ia tidak berhasil. Sebab Oey
Yong tahu diri, dia sudah menjauhkan dirinya.
Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya
menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi ia
belum pingsan, ia masih ingat akan dirinya. Dasar ia
lihay, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di
tengah air, karena ia tidak bisa berenang ia tidak dapat
berbuat apa-apa, akan tetapi selekasnya merasa
menginjak dasar laut, mendadak ia membungkuk,
untuk memegang dasar laut itu, sambil berbuat mana,
ia menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga
dalamnya. Ia lantas menduga-duga yang maa arah
darat, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali
timur atau barat, selatan atau utara. Ia mencoba
berjalan juga, tangannya mencekal sebuah batu besar.
Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang tinggi, yang
menanjak.
Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang
kena dilelapkan dan kelabakan tidak karuan, ia muncul
di muka air, akan tetapi menanti sekian lama ia tidak
melihat orang timbul, ia menjadi heran. Lekas-lekas ia
selulup pula.
Ia dapat menentang matanya di dalam iar, dari itu ia
dapat melihat orang sedang bertindak ke arah darat. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terperanjat saking heran dan kagumnya. Tak ayal lagi
ia berenang, menyusul. Ia menggerakkan tangan dan
kakinya tanpa bersuara, setelah datang dekat, ia
menikam dengan tempulingnya.
Kebetulan Auwyang Kongcu lagi mempercepat
tindakannya, ia lolos dari tikaman itu. Sementara itu, ia
sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri
dengan kepalanya di luar air. Ia melepaskan
pegangannya, ia membuka kedua matanya, dan
menghela napas, melegakan hatinya.
Oey Yong pun menghela napas. Ia tidak bisa berbuat
apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia
selulup pergi.
Auwyang Kongcu merayap naik ke darat, ia
merasakan kupingnya pengang dan matanya kabur,
tetapi ia masih ingat untuk lekas rebah tengkurap di
tanah, untuk mengundal ke luar air dari dalam
perutnya. Habis itu ia merasakan lemah sekali, seperti
juga ia baru sembuh dari semacam penyakit yang
berat. Terus ia beristirahat. Tentu sekali, hatinya
menjadi mendongkol dan panas, hingga muncullah
niatnya yang kejam.
"Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!"
demikian keputusannya. "Hendak aku lihat, budak itu
nanti menurut padaku atau tidak!"
Bab 43. Melawan batu besar
Walaupun ia telah berkeputusan demikian,
Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk
mewujudkan itu. Ia masih sangat lelah maka ia
beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
meluruskan pernapasannya.
Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun,
akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia
patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk
menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak
dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri
terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua ia memasang
kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apa juga.
Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak
masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepetmepet
di pinggiran, majunya setindak demi setindak.
Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila
menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih
dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang
segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
"Baiklah aku mencoba dulu, untuk mengetahui dia
dapat berjalan atau tidak," berpikir si anak muda, yang
sangat berhati-hati. Setelah diperdayakan Oey Yong,
ia menjadi semakin cerdik.
"Paman Ang!" ia berseru. "Celaka! celaka…!"
Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu, ia sudah
lantas membuka matanya.
"Ada apa?" ia menanya.
"Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam
jurang…!" ia menyahut, suaranya dibikin tak lancar.
"Dia terluka parah, sampai ia tak dapat bangun!"
Nampaknya Ang Cit Kong kaget.
"Lekas tolongi dia!" dia berseru.
Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau bukannya
pengemis tua itu tidak dapat berjalan, mestinya ia
sendiri sudah berlompat bangun dan berlari pergi,
guna menolong nona itu. Maka ia bertindak maju di
mulut gua seraya sembari tertawa lebar ia berkata:
"Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk
mencelakai aku, mana sudi aku menolongi dia? Pergi
kau sendiri yang menolonginya?!"
Ang Cit Kong terperanjat. Kata-katanya si anak muda
dan sikapnya itu menandakan bahwa orang tak jeri lagi
kepadanya.
"Rupanya ia telah mendapat ketahui kepandaianku
sudah musnah," pikirnya. "Inilah tandanya telah habis
lelakon hidupku…!"
Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah dengan begitu
saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diamdiam
ia mencoba mengumpul tenaganya di tangan,
untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya
ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka si
punggungnya sakit, semua tulang-tulangnya seperti
hendak buyar belarakan. Sementara itu ia melihat
mendatangi sambil memperlihatkan muka
menyeringai. Tanpa merasa ia menghela napas
panjang, lantas ia meramkan kedua matanya untuk
menantikan kebinasaannya….
Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir,
menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani
Auwyang Kongcu, yang mestinya jadi semakin licin. Ia
selulup beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di
muka air. Ketika ia melihat daratan, itulah bukan
tempat dimana tadi ia telah bergulat sama Auwyang
Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat. Tiba-tiba
saja ia dapat ingat pulaunya sendiri, maka ia berpikir:
"Alangkah baiknya kalau aku dapat cari suatu tempat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bersembunyi, untuk aku berdiam bersama suhu sambil
merawati suhu, tentulah si bangsat tidak gampanggampang
dapat mencari kita…"
Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani lantas
jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian. Ia
khawatir nanti ketemu sama keponakannya Auwyang
Hong itu.
"Coba dulu aku tidak terlalu gemar memain dan aku
pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah
dapat aku melayani bangsat itu," pikirnya pula. Ia
seperti ngelamun. "Ah, sayang ayah telah
menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam
itu sangat cerdas, tentulah ia pun dapat memahamkan
peta itu…
Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang
memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia
keserimpat oyot rotan dan terhuyung karenanya.
Berbareng dengan itu di kepalanya terdengar bunyi
apa-apa yang disusul sama meluruk jatuhnya butirbutir
tanah keras seperti batu. Segera ia lompat
nyamping, terus ia angkat kepalanya, memandang ke
atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali,
hingga jantungnya berdenyutan.
Di atas itu, yang merupakan lamping, ada sebuah batu
besar. Batu itu seperti merongkong sebelah,
nampaknya seperti bergoyangan, hingga sembarang
waktu bisa jatuh ke bawah. Pelurukan batu barusan
datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun
ada melibat banyak pohon rotan, satu di antaranya
ialah yang meroyot ke bawah, yang barusan kena ia
injak sehingga ia keserimpat. Hancur remuk tubuhnya,
andaikata batu itu jatuh dan menimpa padanya….
Masih Oey Yong dongak mengawasi, sampai kagetnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lenyap. Ia heran atas keletakannya batu itu. Itulah
pengaruh sang alam. Hanya dengan disentil sekali
saja mungkin batu itu jatuh ambruk. Entah sudah
berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang itu.
Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang
berjalan kembali. Ingin ia melihat gurunya. Ia belum
berjalan jauh ketika mendadak ia mendapat satu
pikiran.
"Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam
itu maka juga telah diciptakan ini batu luar biasa,"
demikian pikirnya. "Kenapa aku jadi setolol ini?"
Girang luar biasa nona ini hingga ia berjingkrakan
jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat
batu tadi, ia memasang mata untuk memperhatikan
keletakannya. Di samping itu ada banyak pohon yang
besar dan tinggi. Kalau orang berlompat menyingkir,
paling jauh juga orang dapat berlompat empat atau
lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak
keburu terbang menyingkir….
Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya, yang
panjang empat dim kira-kira. Itulah pisau peranti
menyembelih ayam atau memotong daging. Ia cekal
itu di tangan kanan, lantas ia bertindak turun ke
lembah. Ia perdatakan tujuh atau delapan oyot rotan
yang melibat batu besar itu, ia tidak mengganggunya,
hanya ia memotong putus beberapa puluh oyot
lainnya. Ia bekerja cepat, saban-saban ia menahan
napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati, supaya
ia tidak usah membikin batu itu kena tertarik. Karena ia
mesti mengutungi puluhan oyot, ia menjadi mandi
keringat. Kemudian, setelah mengumpulkan semua
oyot itu, agak tak kentara sudah diputuskan, baru ia
bertindak pergi. Ia mencoba mengingati baik-baik
tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.
Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang
Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia
mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang
keluar dari dalam gua. Ia kenali suaranya si anak
muda, yang mana disusul sama kata-katanya yang
nyaring: "Kau sombongkan kepandaianmu yang lihay,
sekarang kau roboh di tangan kongcumu? Kau takluk
tidak? Baiklah, karena aku berkasihan untuk usiamu
yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau
menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?"
Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf bahaya
yang mengancam gurunya itu. Ia tapinya cerdik luar
biasa. Disaat berbahya seperti itu, ia mendapat akal.
"Ayah, ayah!" ia berteriak-teriak. "Kenapa kau datang
ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau
pun datang?"
Nyaring suaranya si nona, suara itu terdengar sampai
di dalam gua.
Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit
Kong, yang ia hendak membinasakannya, dia menjadi
kaget sekali mendengar suara si nona.
"Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey
Lao Shia?" pikirnya. Ia sangat bersangsi, hingga ia
memikir pula: "Jangan ini pun main gilanya si budak
cilik. Ia hendak menolongi pengemis bangkotan ini, dia
menipu aku supaya aku keluar…. Tapi tak apa, baik
aku melihat dulu, pengemis ini toh tak bakal lolos dari
tanganku!"
Maka ia bertindak keluar dari gua.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong berada di tepian, di pasir.
"Ayah! Ayah!" suaranya terdengar, tangannya di ulapulapkan.
Auwyang Kongcu memandang jauh, di sekitarnya juga.
Ia tidak melihat siapa juga di antara mereka apa pula
Oey Yok Su atau pamannya. Maka ia tertawa
terbahak-bahak.
"Adikku, kau memancing aku supaya aku menemani
kau?" katanya. "Kau lihat, bukankah aku sudah
keluar?"
Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun memain.
"Siapa kesudian mendustai kau?" katanya manis. Dan
ia lari di sepanjang pasir.
Auwyang Kongcu tertawa.
"Kali ini aku telah bersiaga," katanya. "Jikalau kau
memikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita
mencoba-coba!"
Sembari berkata, pemuda ini lari untuk mengejar.
Hebat ilmunya ringan tubuh, sebentar saja dia sudah
datang dekati si nona.
"Celaka…" mengeluh Oey Yong. "Kalau aku tidak
keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat
menawan aku…" Maka ia lari terus sekuatnya.
Lagi beberapa puluh tombak, Auwyang Kongcu telah
datang semakin dekat.
Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal lagi
beberapa kaki.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi cerdik,
tidak mau ia mendekati.
"Baiklah, mari kita main perak umpat!" katanya
tertawa. Ia maju pula, ia terus waspada.
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia juga tertawa.
"Di depan sana ada seekor harimau galak," katanya,
"Jikalau kau tetap menyusul aku, kau nanti diterkam
dan digegares olehnya!"
"Aku sendiri pun harimau!" tertawa si anak muda. Ia
tidak percaya perkataan orang. "Aku pun hendak
mencplok padamu!"
Oey Yong tertawa, tanpa menyahuti ia lari pula.
Demikian mereka main lari-larian atau kejar-kejaran
hingga mereka datang dekat ke batu separuh
tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin keras. Ia
harus menang tempo.
"Mari!" ia menantang. Dan ia berlompat pesat ke arah
depan batu.
Hanya sekelebatan, ia merasa melihat bayangan
orang di pesisir. Tapi ia lagi menghadapi saat tegang
itu, biar pun ia heran,ia tidak sempat mencari tahu. Ia
lari terus sampai di tempat oyot rotan tadi. Dengan tiga
kali lompatan, tibalah ia di lembah.
"Mana si harimau?" tanya Auwyang Kongcu mengejek.
Ia pun menambah pesatnya larinya, sehingga ia juga
tiba di depan lembah.
Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkeresek di atasan kepalanya, suaranya itu disusul
sama sambaran angin. Ia lantas menagangkat
kepalanya, dongak untuk melihat. Bukan main
kagetnya ia. Ia menampak sebuah batu besar justru
jatuh ke arahnya. Tidak ada jalan lain. Ia berlompat ke
samping. Ia lompat tanpa melihat lagi arahnya. Ia
terkejut ketika ia merasakan tubuhnya membentur
sebuah pohon, yang terus patah dan bagian
patahannya melukai punggungnya. Lupa ia pada rasa
sakit, ia cuma ingat menyingkir, menyingkir…. Ia
mencoba berlompat pula….
Disaat seperti itu, Auwyang Kongcu sudah seperti
pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan yang
kuat yang menyambar menjambak batang lehernya,
terus ia ditarik. Meski begitu, jatuhnya batu cepat luar
biasa, ia masih ketimpa juga, maka robohlah ia
dibarengi jeritannya yang hebat sekali, debu dan batu
pun muncrat! Debu itu mengepul bagaikan uap.
Oey Yong melihat jebakannya telah memberi hasil, ia
girang berbareng kaget. Ia tidak menyangka bahwa
jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke
tanah, untuk duduk menumprah seraya meletaki kedua
tangannya di atasan kepalanya. Ia baru mengangkat
kepala dan membuka matanya ketika ia mendengar
sirapnya suara nyaring dan berisik. Samar-samar ia
menampak dua tubuh orang berdiri di sisi batu besar
itu. Seperti orang lagi bermimpi, ia mengucak-ucak
kedua matanya. Lalu ia mengawasi pula, dengan
perhatian dipusatkan. Tidak salah, di situ ada dua
orang lain, bahkan orang itu ialah Auwyang Hong dan
Kwee Ceng! Si anak muda yang ia seperti tidak tak
dapat melupakannya….
"Engko Ceng!" akhirnya ia berseru seraya ia berlompat
bangun.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat
menemui kekasihnya itu, ia juga berlompat menubruk,
untuk merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya
lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar
mereka!
*
* *
Auwyang Hong dan Kwee Ceng tenggelam terbawa
perahu mereka yang masuk ke dasar laut terbawa oleh
usar-usaran air. Memangnya perahu itu, yang tinggal
sebelah, telah kemasukan banyak air. Segera juga
mulult dan hidung mereka menyedot air asin, hingga
keduanya menjadi kaget. Mereka menginsyafi bahaya.
Karena itu mereka tidak berkutat terlebih jauh, samasama
mereka melepaskan tangan mereka, untuk
sebaliknya dipakai menekap hidung dan kuping.
Mereka pun terbawa arus hingga jauh. Ketika Kwee
Ceng timbul di muka air, untuk bernapas, ia melihat
jagat gelap, perahu kecil entah pergi ke mana. Ia
menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun
sebenarnya Oey Yong tengah mencari-cari padanya.
Damparan gelombangan sangat berisik, angin juga tak
kurang ributnya.
Selagi Kwee Ceng berteriak-teriak pula, ia merasa ada
yang menarik kakinya yang kiri, atau dilain saat
muncullah Auwyang Hong di sisinya. Dia ini tidak
pandai berenang, maka itu, kecebur di laut, ia habis
daya. Syukur dia dapat mencekal kakinya si anak
muda, dia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia
memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng
meronta-ronta.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mereka berkutat pula, hingga mereka tenggelam
kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.
"Lepaskan tanganmu!" Kwee Ceng berseru. "Aku tidak
akan tinggalkan kau!"
Auwyang Hong tidak mau melepaskannya, baru sesaat
kemudian, ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya
ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati
bersama.
Kwee Ceng lantas berenang, sembari berenang ia
mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung untuk
mereka, tidak lama mereka membentur sepotong
balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu.
Dengan begitu tak usah ia memakai banyak tenaga
lagi.
"Lekas peluki balok ini!" ia berteriak. "Jangan lepas!"
Auwyang Hong menurut.
Bukan main girangnya pemuda ini.
Mereka terombang-ambing di laut sehingga sang fajar
datang. Sekarang ternyata balok itu ada patahan tiang
layar mereka. Hanya melihat kelilingan, mereka tak
nampak perahu.
Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun
sudah lenyap, hingga ia menjadi sangat berkhawatir.
"Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan
seperti Ciu Pek Thong…?" pikirnya. "Ketika itu ada aku
yang menolongi dia, tetapi sekarang, siapa yang
menolongi aku…?"
Mereka lapar dan berdahaga. Syukur, untuk dahar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan
yang lewat disampingnya, Kwee Ceng menikam
dengan piasu belatinya, dan Auwyang Hong menhajar
dengan tangannya. Hebat rasanya untuk menggerogoti
ikan mentah itu.
Sekarangb mereka tidak bergulat lagi. Maka itu hari,
sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong,
Oey Yong dan Auwyang Kongcu telah tiba. Mereka
mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka
mendengar suara orang berbicara sambil tertawatawa.
Keduanya heran, Auwyang Hong yang
berlompat paling dulu untuk melihat orangnya. Tepat ia
melihat batu lagi jatuh turun dan keponakannya lagi
terancam, maka ia melesat akan menyambar
keponakannya itu. Ia masih terlambat, sebab
kesudahannya kedua kaki Auwyang Kongcu kena
tertindih juga batu raksasa itu, anak muda itu menjerit
untuk terus pingsan.
Untuk sejenak Auwyang Hong memandang keliligan,
setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya
lainnya, ia menghampirkan keponakannya itu. Ia
mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan,
maka hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba
mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli
tenaganya besar luar biasa.
"Paman…" memanggil keponakan itu perlahan,
setelah ia sadar, sedang pamannya lagi membungkuk.
"Tahan sakit," menyahut paman itu. Ia lalu memeluk,
untuk menarik.
Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat
tarikan itu sedang kaki tidak bergeming.
Paman itu menjublak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Mana suhu?" tanya Kwee Ceng, yang menarik tangan
Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan
keponakannya.
"Di sana," sahut si nona, tangannya menunjuk.
Lega hatinya si anak muda. Selagi ia mau minta si
nona mengajak dia pergi kepada gurunya, justru ia
mendengar jeritannya Auwyang Kongcu itu. Dasar
hatinya mulia, ia menjadi tidak tega.
"Mari aku bantu padamu!" ia berkata kepada Auwyang
Hong.
Oey Yong menarik tangan pemuda itu.
"Mari kita lihat suhu!" ia mengajak. "Kita jangan
pedulikan manusia jahat!"
Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh
karena ulahnya si nona, meski begitu ia gusar
mendengar perkataan orang itu. Ia pun mengingat
suatu apa akan mendengar Ang Cit Kong masih hidup
serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi,
kepada keponakannya, ia berbisik. "Kau tahan sabar,
aku nanti cari akal untuk menolongmu." Ia berlompat
naik ke atas pohon, mengawasi ke arah mana mudamudi
itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang jalan
rapat asyik sekali.
"Jikalau aku tidak dapat menyiksa kamu berdua
bangsat cilik hingga kau mati tidak hiudp juga tidak,
percuma aku disebut See Tok!" katanya dalam hatinya
dengan sengit sekali. Habis itu ia lomat turun dari
pohon, untuk menguntit.
Kwee Ceng berdua bersama Oey Yong berjalan terus
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa mereka
ada yang membayangi.
"Suhu!" memanggil si anak muda memasuknya ia di
dalam gua.
Cit Kong kelihatan lagi menyender di batu, matanya
tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena di
ganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru
baikan kumat pula. Karena itu ia berdiam saja
mendengar panggilan muridnya.
Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong
menghampirkan, yang satunya membukai kancing
bajunya, yang lainnya menguruti tangan dan kakinya.
Akhirnya Ang Cit Kong membuka matanya. Melihat
Kwee Ceng, yang ia segera mengenalinya, ia girang.
Ia tersenyum.
"Anak Ceng, kau pun datang!" katanya lemah.
Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya itu tatkala ia
terkejut mendengar suara nyaring dibelakangnya:
"Pengemis tua, aku juga datang!"
Itulah suaranya Auwyang Hong, yang telah menguntit
sampai di luar gua.
Kwee Ceng bangun untuk memutar tubuh dan
berlompat maju, ia menghalang di pintu dengan
sikapnya "Sin liong pa bwee" atau "Naga sakti
menggoyang ekornya". Oey Yong sendiri menyambar
tongkat gurunya terus ia berlompat ke samping
pemudanya.
Auwyang Hong tertawa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Pengemis bangkotan, keluar!" katanya nyaring.
"Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke
dalam!"
Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipi
mata, maksudnya memberitahu, apa juga bakal terjadi,
hendak ia membela gurunya.
Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa
lalu ia mju. Atas itu tanpa bersangsi lagi, Kwee Ceng
menyerang. Inilah See Tok telah duga, malah ia
menerka juga orang akan menggunai Hang Liong Sippat
Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk itu. Ia
berkelit dengan berlompat ke kanan. Tapi di sini ia
dipapaki tongkat, kelihatannya tongkat menyontek ke
atas, tidak tahunya menyapu ke bawah berulangulang,
hingga ia tidak dapat menduga tepat arah
serangan orang. Diam-diam hatinya terkesiap. Ia
lantas melindungi dirinya, untuk mencegah serangan
apa juga.
Tapi hebat tongkat itu, ialah tongkatnya Oey Yong.
paling akhir ujung tongkat mencari jalan darah di
pinggang.
Saking kaget, Auwyang Hong berlompat mundur,
segera ia melirik. Ia tidak menyangka si nona menjadi
begini lihay.
Oey Yong mendapat hati melihat musuh mundur.. Ia
telah menggunai tipu-tipu dari Pa-kauw-pang, yang ia
belum dapat menguasai dengan mahir. Sebaliknya
See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.
"Hm!" berseru si Bisa dari Barat sambil ia berlompat
maju, tangannya diulur untuk merampas tongkat si
nona.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong dapat berkelit, ketika ia dirangsak, masih ia
bisa menyingkir dari pelbagai serangan.
Kwee Ceng girang berbareng heran menyaksikan ilmu
silat kawannya itu. Ia tidak menonton lebih lama, ia
lantas maju, untuk menyerang dari samping.
Auwyang Hong menjadi sangat gusar, ia berlompat
mundur, lalu ia berdongko, menyusul itu kedua
tangannya menyerang dengan berbareng hingga
anginnya berdesir.
Hebat serangan itu, ialah serangan menurut Kuntauw
Kodok. Debu pun sampai kena dibikin terbang.
Kwee Ceng melihat ancaman bahaya, dengan cepat ia
menolak pundaknya Oey Yong - orang yang diserang
itu - hingga si nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia
terhindar dari bahaya.
Auwyang Hong penasaran, ia maju dua tindak, kembali
ia menolak dengan sepasang tangannya.
Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini,
sebagaimana ternyata, Ang Cit Kong yang begitu lihay
cuma bisa bertarung seri dengannya.
Segera juga Kwee Ceng dan Oey Yong kena didesak
mundur, sebab mereka main berkelit saja. Auwyang
Hong dapat memasuki gua. Ketika ia menyerang gagal
ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan
tanahnya gugur. Setelah itu ia menyerang dengan
tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong.
Pak Kay sedang menutup mata ketika ia mendengar
desiran angin dari pukulan-pukulan yang dahsyat itu,
lantas ia membuka matanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ilmu silat yang bagus sekali!" pujinya. "Tangan yang
hebat!"
Mukanya Auwyang Hong menjadi merah, ia merasa
diejek. Bukankah ia sedang melayani segala bocah?
Maka tangannya itu tak dapat diteruskan.
"Guruku menolongi jiwamu, kau sekarang hendak
mencelakai guruku? Oey Yong berteriak. "Sungguh
kau tidak mempunyai muka?!"
Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan
perlahan tubuhnya si Pengemis dari Utara. Ia
merasakan dada dan daging yang lembek, hingga
dada itukentop. Biasanya, ditekan begitu, tubuh
seorang ahli silat mesti membal untuk melawan, tapi ini
sebaliknya, maka tahulah See Tok bahwa kepandaian
orang telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat
mengangkat tubuhnya si pengemis.
"Kamu membantui aku menolongi keponakanku, nanti
aku beri ampun jiwanya ini penegemis tua!" ia berkata
bengis. Ia mengancam si pemuda dan pemudi.
"Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau
melihatnya dengan matamu sendiri!" berkata Oey
Yong, menyahuti. "Siapa sanggup menolongi dia?
Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun
melemparkan batu besar itu untuk menindih padamu
sampai mampus!"
Auwyang Hong angkat tubuhnya Ang Cit Kong tinggitinggi,
ia mengancam hendak melemparkannya.
Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa
orang lagi menggertak.
"Lekas turunkan guruku!" ia berseru. "Nanti kita bantui
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kau!"
Sebenarnya Auwyang Hong ingin lekas-lekas
menolongi keponakannya itu, tetapi ia tidak sudi
kentarakan itu, ia justru membawa aksi. Kemudian ia
menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakinya dengan
baik.
"Untuk membantui kau menolongi dia tidaklah sukar!"
berkata Oey Yong. Ia masih penasaran, ia
menyebutnya Auwyang Kongcu dengan "dia". Tetapi
kita harus membuat dulu tiga perjanjian!"
"Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi kau hendak
mengajukannya?!" See Tok mendongkol.
"Sesudah kami membantu kau menolongi
keponakanmu itu, kita tinggal bersama-sama di pulau
ini," menjawab Oey Yong. "Selama itu kau tidak boleh
mengganggu pula kami guu dan murid bertiga!"
Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah
lantas ingat dia dan keponakannya tidak bisa
berenang, untuk dapat pulang ke daratan, mereka
mengandal bantuannya tiga orang itu.
"Baik!" ia memberikan janjinya. "Selama berada di
pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap
kamu, tetapi nanti di daratn, itulah sukar untuk atau
membilangnya…"
"Sampai itu waktu, biarnya kau tidak turun tangan,
kami yang bakal turun tangan terhadapmu!" kata Oey
Yong menantang. "Sekarang yang kedua. Ayahku
telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya
sendiri, kau mendengarnya sendiri juga, maka itu kalau
di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi
pula padaku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sekalipun dengan anjing babi!"
"Hm!" terdengar suara tawar dari See Tok. "Baiklah,
tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini,
seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!"
Oey Yong tersenyum.
"Sekarang syarat yang ketiga!" ia berkata pula. "Kami
akan membantu kau dengan sungguh-sungguh akan
tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa
keponakanmu itu pulang ke alam baka, itulah
bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya,
maka itu kau tidak boleh menimbulkan lain urusan
lagi!"
Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar.
"Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua
jangan harap dapat hidup lebih lama!" katanya bengis.
"Budak cilik, jangan kau ngaco belo lebih lama! lekas
kau tolongi keponakanku itu!"
Habis berkata, jago dari Barat ini lantas lompat keluar
dari gua, untuk berlari-lari keras ke arah lembah.
Kwee Ceng hendak lompat menyusul tetapi si nona
tarik tangannya.
"Engko Ceng," ia berkata, memesan, "Kalau sebentar
See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau
gunai ketikamu untuk membokong dia untuk membikin
habis jiwanya!"
"Cara membokong itu bukan cara terhormat," berkata
Kwee Ceng.
"Dia bikin celaka suhu, adalah itu caranya terhormat?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tanya si nona. Agaknya ia mendelu.
"Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita
pegang itu," Kwee Ceng mengasih mengerti.
"Sekarang kita tolongi dulu keponakannya itu, nanti di
belakang hari kita mencari jalan untuk membuat
pembalasan."
Mendengar itu, si nona tertawa.
"Baiklah," katanya. "Kau seorang nabi, suka aku
mendengar katamu!"
Setelah memesan gurunya untuk menanti, kedua
muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka
mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya
sangat mengenaskan, menandakan ia menderita
sangat.
"Lekas, lekas!" Auwyang Hong memanggil seraya
membentak.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu,
untuk memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri
sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda,
dengan berbareng enam buah tangan memegang batu
dan menolaknya. Auwyang Hong adalah yang berseru;
"Angkat!"
Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak,
tetapi cuma sebentar, sehabisnya tenaga orang, batu
itu jatuh pula, pulang ke tempat asalnya.
"Aduh!" menjerit Auwyang Kongcu yang tak sempat
menarik kedua kakinya. Ia ketimpa pula, lantas ia
pingsan kembali.
Auwyang Hong kaget, ia berdongkol melihat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keponakannya itu, napas siapa empas-empis
selekasnya dia sadar pula, dia menahan sakit hingga
ia menggigit keras bibirnya, sampai bibirnya
mengeluarkan darah.
See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah
tenaga mereka betiga tidak cukup kuat untuk
mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama
keponakannya bisa mati karena sakitnya itu. Ia
menjadi lebih bingung lagi ketika ia merasakan kakinya
dingin, apabila ia mengangkat sebelah kakinya, nyata
sepatunya sudah basah, tanah pasir yang ia injaknya
itu kerendam air. Itulah air laut pasang, yang naik
sampai ke lembah itu.
"He, budak cilik!" See Tok membentak Nona Oey.
"Jikalau kau hendak menolongi jiwa gurumu, lekas kau
tolongi keponakanku ini!"
Oey Yong lagi berpikir keras ketika ia ditegur itu. Batu
begitu berat, di pulau ini tidak ada orang lain, yang
dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas
teguran itu.
"Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat
membantu!" katanya. "Ilmu luar dari guruku lihay
sekali, tenaganya besar luar biasa, dengan kita
berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat
digeser. Sekarang…"
Ia angkat kedua tangannya, ia menggoyanggoyangkannya,
tandanya ia putus asa.
Auwyang Hong tidak senang mendengar itu tetapi
itulah kenyataan, ia tidak bisa bilang suatu apa. Ia
pikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka,
pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka
maulah ia memikir itu adalah takdir, kebetulan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka…
"Paman," terdengar suaranya Auwyang Kongcu
perlahan. "Kau hajar saja aku supaya aku lantas
mati…"
"Aku….aku tidak dapat bertahan lagi…."
Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau
belatinya.
"Kau tahan sakit sedikit," katanya seraya terus
menggigit gigi. "Tanpa sepasang kakimu, kau masih
dapat hidup…!"
Ia maju mendekati, hendak ia menguntungi kedua kaki
orang.
"Paman, paman!" berteriak-teriak si keponakan.
"Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan
membunuh aku saja…!"
Marah paman itu.
"Percuma aku mendidik kau banyak tahun, kenapa kau
tidak mempunyai semangat laki-laki?!" bentaknya.
Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua
tangannya ia mendekap dadanya. Dengan begitu ia
mencoba menahan sakitnya.
Menyaksikan itu, hatinya Oey Yong lemas juga. Ia
lantas berpikir pula, hingga ia ingat caranya ayahnya
bekerja di Tho Hoa To waktu ayahnya itu mengangkat
batu dan balok.
"Tunggu!" ia berkata kepada Auwyang Hong. "Kalau
kau kutungi kedua kakinya, apakah itu bukan berari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kau mengantarkan jiwanya? Aku ada mempunyai satu
daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu."
"Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?" See Tok lantas
mendesak. "Nona yang baik, kali ini tentulah kau
berhasil…"
"Hm," pikir Oey Yong. "Kau sangat ingin menolongi
keponakanmu, sekarang kau tidak mencaci dan
membentak-bentak aku pula, bahkan memanggil aku
nona yang baik." Ia lantas tersenyum, terus ia berkata:
"Baiklah! Sekarang kau mesti dengar titahku. Lekas
kau keset pohon itu, kau membuatnya dadung yang
panjang untuk menarik batu besar itu…"
"Siapakah yang menariknya?" Auwyang Hong
memotong. Ia heran. Bukankah mendorong dan
menarik sama saja sebab mereka tetap bertiga?
"Kita bekerja seperti dari atas perahu kita mengangkat
jangkar," Oey Yong bilang.
Auwyang Hong mengerti, tiba-tiba ia jadi mendapat
harapan.
"Cocok, cocok!" katanya. "Kita menarik sambil
berputaran!"
Kwee Ceng tidak tahu caranya Oey Yong akan
bekerja, begitu mendengar si nona minta babakan
pohon untuk diambil tali seratnya, ia lantas saja
mengeluarkan pisaunya, terus ia bekerja memotong
babakan pohon.
Auwyang Hong dan Oey Yong juga turut bekerja.
Tidak lama mereka sudah mendapatkan beberapa
puluh lembar babakan yang panjang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Hong bekerja sambil mengawasi
keponakannya, tiba-tiba ia menghela napas dan
berkata dengan putus asa: "Sudahlah, tak usah kita
memotong lebih jauh…."
"Kenapa?" tanya Oey Yong heran. "Kenapa tidak
jadi?"
See Tok menunjuk ke arah keponakannya.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi. Mereka
melihat air pasang telah naik hingga tubuh Auwyang
Kongcu sudah kerendam separuhnya. Maka jangan
kata untuk membikin tambang, memotong babakan
saja sudah tidak keburu….
Auwyang Kongcu sendiri berdiam, ia tidak bergerak,
tidak bersuara.
"Jangan putus asa!" kata nona Oey kemudian. "Lekas
potong terus!"
Auwyang Hong si iblis yang biasanya malangmelintang,
mendengar suaranya si nona, sudah lantas
bekerja pula. Ia bekerja dengan cepat sekali. Oey
Yong sendiri lompat dari atas pohon, ia lari kepada
Auwyang Kongcu. Ia angkat tubuh orang, ia
mengganjalnya dengan satu batu besar. Secara
begini, pemuda itu tidak kerendam mukanya, maka
dapatlah ia bernapas terus.
"Adik yang baik, terima kasih banyak-banyak untuk
pertolonganmu," berkata Auwyang Kongcu dengan
perlahan. "Aku tidak bakal hidup lebih lama pula, akan
tetapi melihat kau begini sungguh-sungguh menolongi
aku, kalau aku nanti mati, aku mati senang…."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jangan mengucap terima kasih padaku," kata Oey
Yong yang karena jujurnya merasa jengah sendirinya.
"Kau terjebak karena akulah yang mengaturnya, kau
tahu?"
"Hus, jangan omong keras-keras!" mencegah
Auwyang Kongcu. "Kalau pamanku mendapat dengar,
tidak nanti dia melepaskanmu! Sudah sedari siangsiang
aku dapat mengetahui perbuatanmu ini, tetapi
terbinasa di tanganmu, sedikit juga aku tidak
menyesal…."
Oey Yong menghela napas, hatinya berpikir; "Meski
orang ini menjemukan tetapi terhadapku dia tidak
buruk…" Ia lantas kembali ke bawah pohon, untuk
mulai bekerja. Ia melara, membuatnya sebuah dadung
kasar. Ini rupanya belum cukup kuat, maka empat
helai itu ia melaranya pula menjadi satu helai yang
besar.
Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak hentinya
memotong babakan pohon, untuk diambil seratnya,
dan si nona pun tak henti-hentinya melara. Semua
bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Mereka mesti
berlomba sama sair pasang. Air baru saja naik, tak
gampang-gampang lekas surut.
Belum Oey Yong dapat melara kira-kira setombak
panjangnya, air sudah naik hingga dipinggirnya
mulutnya Auwyang Kongcu, setelah ia dapat lagi
beberapa kaki, air itu sampai di pinggiran bibir, ya, ke
bibir, hingga dilain saat terlihat saja liang hidungnya si
anak muda.
Menampak itu Auwyang Hong lompat turun dari atas
pohon.
"Menyingkirlah kamu!" katanya pada Kwee Ceng dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong. "Aku hendak bicara sama keponakanku.
Kamu sudah berbuat apa yang kamu bisa, aku
mengerti kebaikanmu ini."
Kwee Ceng pun merasa bahwa harapan sudah lenyap,
ia lompat turun, dengan jalan berendeng sama si nona,
ia bertindak pergi jauhnya lebih dari sepuluh tombak.
"Mari kita pergi ke belakang batu besar itu, kita
mencuri dengar perkataannya," bisik Oey Yong si
cerdik.
"Urusan toh tidak mengenai kita?" berkata si anak
muda. "Laginya si tua bnagka yang lihay itu tentunya
mengetahuinya…."
"Semampusnya keponakannya itu, mungkin dia akan
mengganggu suhu," kata Oey Yong. "Kalau kita
ketahui niatnya, dapat kita bersiaga. Umpama kata si
tua bangka beracun itu memergoki kita, kita bilang saja
kita kembali untuk mengambil selamat berpisah dari
keponakannya itu…"
Kwee Ceng mengangguk. Ia anggap alasan itu tepat.
Bersama-sama mereka lantas jalan terus, untuk
memutar dengan diam-diam, selekasnya mereka tak
nampak lagi oleh Auwyang Hong, lekas-lekas mereka
menghampirkan ke arah batu. Tentu sekali mereka tak
sudi memperdengarkan tindakan kaki mereka.
Tepat mereka sampai, mereka dapat mendengar katakatanya
Auwyang Hong: "Kau pergilah dengan baik,
aku mengerti maksud hatimu. Kau berkeinginan mesti
nikahi putrinya Oey Lao Shia sebagai istrimu, pasti aku
akan membikin keinginanmu itu terkabul."
Kedua muda-mudi di belakang batu itu heran bukan
main.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Dia bakal segera mampus, cara bagaimana keinginan
itu dapat dikabulkan?" mereka berpikir. "Apakah
artinya kata-kata si tua bangka berbisa ini?"
Mereka memasang kuping terlebih jauh, setelah mana
mereka jadi kaget dan gusar, punggung mereka
dialirkan peluh dingin. Auwyang Hong itu berkata:
"Akan aku bunuh putrinya Oey Lao Shia ini, nanti aku
masuki tubuhnya dalam satu liang kubur bersamamu!
Bukankah semua orang mesti mati? Kau dan dia tak
dapat hidup bersama, tetapi mati dapat dikubur
menjadi satu, kau tentu merasa puas juga…"
Mulutnya Auwyang Kongcu telah kerendam air, tidak
dapat ia menjawab.
Oey Yong memencet tangannya Kwee Ceng, yang ia
tarik, dengan perlahan ia bertindak. Maka bersamasama
mereka menyingkir dari situ.
Auwyang Hong tengah berduka sangat, ia tidak
mendengar suara apa juga.
Tiba di tempat dimana mereka sudah berpisah cukup
jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit. "Yong-jie,
lebih baik kita hampirkan si bisa bangkotan itu untuk
mengadu jiwa dengannya!"
"Bertempur sama dia, kita melawan dengan
kecerdikan, tidak dengan tenaga," menyahut si nona
tenang.
"Bagaimana caranya itu?"
"Aku lagi memikirkannya."
Mereka jalan terus, sampai di tikungan. Di situ si nona
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
melihat gombolan pohon gelaga.
"Jikalau dia tidak jahat dan kejam, aku dapat jalan
untuk menolongi keponakannya itu," berkata Oey
Yong.
Kwee Ceng heran.
"Bagaimana itu?" dia tanya.
Oey Yong menghampirkan gombolan gelaga itu, ia
memotong sebatang, di antaranya lalu ia angkat itu,
dimasuki ke dalam mulutnya, untuk menyedot dan
bernapas.
"Bagus!" Kwee Ceng bertepuk tangan. "Oh, Yong-jie
yang baik bagaimana kau dapat memikirkan ini?
Bagaimana sekarang, kita menolongi atau jangan?"
Oey Yong memainkan bibirnya.
"Tentu aku tidak sudi menolongi dia!" sahutnya. "Si tua
bangka berbisa itu hendak membunuh aku, biarlah dia
coba membunuhnya! Aku tidak takut!"
Kwee Ceng heran, ia berdiam diri.
Si nona mengawasi, lalu ia tarik tangan orang.
"Engko Ceng," katanya halus, "Mustahilkah kau
menghendaki aku menolongi manusia jahat itu?
Adakah kau berkhawatir untuk keselamatanku? Jikalau
kita menolongi dia, belum tentu dua manusia jahat itu
dapat berbauta baik kepada kita…"
"Memang kau benar," berkata Kwee Ceng. "Memang
aku memikirkan kau dan suhu. Aku pikir si tua bangka
berbisa ada satu pemimpin partai, mestinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perkataannya dapat dipercaya juga…"
Oey Yong mengambil keputusan dengan cepat.
"Baik, marilah kita menolongi dia!" katanya. "Habis itu,
kita lihat saja nanti. Kita boleh jalan setindak demi
setindak."
Keduanya lantas jalan balik, mereka putarkan batu
raksasa itu.
Sekarang Auwyang Hong berdiri di dalam air, sebelah
tangannya memegangi keponakannya. Ia melihat dua
orang muda itu menghampirkan, matanya lantas
bersinar, sikapnya mengancam.
"Aku menyuruh kamu pergi, buat apa kamu kembali?!"
tanyanya bengis.
Oey Yong menghampirkan sepotong batu, di situ ia
berduduk.
"Aku datang untuk melihat dia sudah mampus atau
belum?" ia menyahut sembari tertawa geli.
"Habis kalau mati bagaimana, kalau hidup
bagaimana?!" tanya See Tok, tetap bengis, panas
hatinya.
Si nona menghela napas.
"Kalau ia sudah mati, sayang, tidak ada daya lagi…"
sahutnya.
Auwyang Hong heran, hingga ia berjingkrak.
"Oh, nona yang baik," serunya. "Dia…dia masih belum
mati! Benarkah kau ada punyai daya? Lekas bicara!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong menyodorkan batang gelaganya.
"Kau masuki ini ke dalam mulutnya, dia tentu tidak
mati," sahutnya enteng.
Auwyang Hong girang, ia menyambuti, ia lompat pula
kepada keponakannya. Dengan cepat ia masuki
batang gelaga itu ke dalam mulut keponakannya itu,
hingga batang itu merupakan semacam pipa.
Keadaannya Auwyang Kongcu sedang hebatnya,
tetapi ia masih dapat mendengar pembicaraan di
antara si nona dan pamannya itu, begitu pipa dimasuki
ke dalam mulutnya, ia telan air yang terakhir di
mulutnya itu, lalu ia dapat bernapas seperti biasa. Ia
girang hingga sesaat ia melupakan kakinya yang sakit.
"Lekas!" berseru Auwyang Hong. "Lekas kita melanjuti
membuat dadung itu!"
"Paman Auwyang," berkata si nona, sebelum ia
menyambut ajakan itu, bukankah kau memikir untuk
membunuh aku untuk dikorbankan untuk
keponakanmu itu?"
See Tok melengak. "Kenapa ia dengar pembicaraanku
barusan?" pikirnya.
Oey Yong masih tertawa, ia berkata pula: "Kau hendak
membunuh aku, kalau maksudmu kesampaian, habis
itu Thian sangat membenci kejahatanmu itu, kepada
kau diturunkan sesuatu malapetaka, siapakah nanti
yang menolongi kamu?"
Auwyang Hong sangat membutuhkan bantuan orang,
ia tidak mengambil peduli gangguan itu, dengan
berlagak tuli dengkak, ia lari ke darat, ke bawah pohon
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk mulai lagi memotongi babakan pohon.
Si nona tidak mengganggu terlebih jauh, ia pun
mengajak Kwee Ceng untuk bekerja pula. Mereka
sama-sama melara setelah babakan didapat cukup
banyak.
Masih kira-kira satu jam melara beberapa kali, ia
menghampirkan dadung, baru mereka berhasil
merampungkan sehelai dadung yang panjangnya tiga
puluh tombak lebih. Sementara itu kepalanya Auwyang
Kongcu sudah mulai kerendam air, hingga tampak
tinggal pipa gelaga itu.
Auwyang Hong berkhawatir, beberapa kali ia menyam
pirkan, untuk memeriksa nadi keponakannya itu. Untuk
kelegaan hatinya, nadi itu tetap berjalan baik. Ia pun
menjadi terlebih lega telah sesaat kemudian ternyata,
air pasang sudah tiba saatnya untuk surut pula, maka
dilain detik, kepalanya si anak muda mulai tertampak
pula.
"Cukuplah sudah!" terdengar suaranya Oey Yong
keras habis ia mengulur-ulur dadung buatannya itu.
"Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar
untuk dipakai sebagai alat putaran."
Auwyang Hong bersangsi. Mereka tidak mempunyai
kampak atau golok, bagaimana mereka bisa
mendapatkan potongan-potongan kayu yang
dibutuhkan itu?
"Bagaimana itu harus dibuatnya?" ia menanya.
"Kau tak usah ambil tahu caranya, kau cari kayunya
saja!" membentak si nona.
See Tok berkhawatir juga nona itu benar-benar murka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dan nantinya tidak sudi membantu terlebih jauh, lantas
ia pergi menghampirkan pepohonan. Ia pilih yang
batangnya tidak terlalu besar, ia berjongkok di situ, ia
pegang pohon dengan kedua tangannya, lalu sambil
mengerahkan tenaga dari Kuntauw Kodok, ia coba
mendorong pohon itu. Nyata ia berhasil! Maka ia lantas
bekerja terus, merobohkan semuanya tiga buah
pohon.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengulurkan lidahnya
menyaksikan tenaga orang yang besar itu.
Auwyang Hong masih bekerja. Ia mencari sebuah batu
besar dan lancip, ia menggunainya untuk membabat
berulang-ulang, memutuskan semua cabang kecil dari
ketiga batang pohon itu, setelah semuanya merupakan
sebagai potongan balok, terus ia menyerahkan itu
kepada si nona.
Oey Yong dan Kwee Ceng menyambuti.
"Begini," kata si nona kepada kawannya. Ia pun lantas
bekerja.
Kwee Ceng membantui tanpa banyak omong.
Oey Yong mengikat ketiga batang balok itu satu
kepada lain, ia mengikat erat-erat, ia meninggalkan
tiga ujung yang panjang. Kemudian selebihnya dadung
ia bawa ke batu besar itu, untuk melibatnya dibagian
tengahnya, lalu ujung itu diikat kepada balok-balok
yang sudah dipasang dan terikat rapi itu.
Ketiga potong balok itu diikat di seputarnya sebuah
pohon cemara tua yang besar sekali, yang tumbuh di
sebelah kanan batu raksasa itu. Besarnya pohon
mungkin tak terpeluk lima atau enam orang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bukankah pohon cemara tua ini dapat melayani batu
besar itu?" kemudian si nona tanya si Bisa dari Barat.
Auwyang Hong mengangguk. Sekarang ia mengerti
sudah maksudnya nona itu.
Tapi Oey Yong masih kurang puas, ia menyuruh si tua
bangka berbisa membuat lagi dadung yang terlebih
kecil, untuk dipakai itu mengikat lebih jauh ketiga
potongan balok itu, supaya kekuatannya bertambah.
"Nona yang baik, kau sungguh cerdik!" akhirnya See
Tok memuji. "Inilah yang dibilang keluarga pintar luar
biasa, - ada ayahnya, ada putrinya!"
"Tapi mana aku dapat menandingi keponakanmu itu?"
berkata Oey Yong tertawa. "ah, marilah kita mulai
menarik memutar!"
Auwyang Hong menurut, begitu juga dengan Kwee
Ceng, maka setelah memegang masing-masing
ujungnya ketiga balok itu, mereka lantas saja menolak
dengan mengeluarkan tenaga mereka. Perlahan tetapi
tentu, batu itu bergerak berkisar sedikit.
Sementara itu dengan lewatnya sang waktu - matahari
sudah doyong ke darat - air pun telah surut habis,
hingga sekarang Auwyang Kongcu terlihat duduk
mendeprok di tanah yang merupakan lumpur berpasir.
Ia mendelong mengawasi batu besar itu, yang
bergeraknya sangat ayal, nampaknya ia bergelisah
dan bergirang……
Bab 44. Ilmu yang sejati dan yang palsu
Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya
berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang
itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok
tak seberat semula.
Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau
iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya
mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu
raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua
kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal
batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa
diangkat untuk disingkirkan.
Tengah mereka mendorong mendadak terdengar satu
suara keras dan nyaring, hingga ketiganya kaget dan
lompat minggir. Nyata dadung di tengah terputus,
maka dengan sendirinya batu besar itu balik pada
kedudukannya yang lama. Mereka sendiri, apabila
mereka tidak berlompat pasti terkena balok-balok itu.
Auwyang Hong menjadi sangat lesu, air mukanya tak
enak dilihat.
Oey Yong pun masgul bukan main. Inilah ia tak
sangka.
"Marilah kita membikin lagi dadung yang terlebih
kasar," kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat lain
jalan. "Kita memakai dua rangkap."
Auwyang Hong menggeleng kepala.
"Sulit," katanya. "Kita bertiga tidak berdaya…."
"Kalau saja ada yang membantui…." Kwee Ceng
berkata sambil ngelamun.
Mendengar itu, Oey Yong melengak, lalu mendadak ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berjingkrak seraya menepuk-nepuk tangan.
"Akur! Akur!" serunya. "Ada orang yang membantu….!"
Kwee Ceng heran, ia girang.
"Yong-jie," katanya, "Benarkah ada orang yang
membantui?"
"Ah, sayang engko Auwyang mesti menderita lagi satu
hari…" berkata si nona. "Ia mesti menanti sampai
besok diwaktu air pasang barulah ia lolos dari
penderitaannya ini…."
Auwyang Hong heran begitu pun Kwee Ceng.
Keduanya mengawasi nona itu. Mereka berpikir hingga
di dalam hatinya mereka menanya: "Mustahilkah besok
di waktu air pasang ada orang yang datang
membantu?"
Oey Yong tidak memperdulikan mereka itu.
"Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!" katanya,
tertawa. "Mari kita mencari makanan dulu baru kita
bicara pula."
"Nona," akhirnya Auwyang Hong menanya, " Kau
bilang besok bakal ada orang datang membantu,
apakah artinya pembilanganmu itu?"
"Besok pada waktu begini, batu yang menindih tubuh
saudara Auwyang bakal disingkirkan," menyahut si
nona. "Inilah ada rahasia alam, tak dapat aku
membocorkannya…."
Melihat orang bicara secara demikian sungguhsungguh,
Auwyang Hong menjadi separuh percaya
dan separuh tidak. Pula, ia tidak mempercayai, ia pun
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tidak mempunyai daya lain. Maka terpaksa ia berdiam
saja menemani keponakannya itu.
Oey Yong bersama Kwee Ceng sudah lantas pergi
memburu beberapa ekor kelinci, yang seekor mereka
matangi, untuk dibagi kepada Auwyang Hong dan
keponakannya itu.
Mereka sendiri berdahar bertiga bersama Ang Cit
Kong di dalam gua. Sembari berdahar mereka dapat
ketika pasang omong tentang segala kejadian sejak
mereka berpisahan. Si pemuda girang sekali
mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu roboh
karena jebakan si nona.
Kemudian malam itu ketiganya tidur nyenyak. Mereka
percaya Auwyang Hong tidak bakal datang
mengganggu sebab See Tok mengharap-harapkan
sangat bantuan mereka guna menolongi
keponakannya itu. Mereka menyalakan api ungun di
mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.
Besoknya fajar, baru Kwee Ceng membuka matanya,
ia dapat melihat satu bayangan orang berkelebat di
muka gua. Ketika ia berlompat bangun, ia
mendapatkan Auwyang Hong.
"Apakah nona Oey sudah bangun?" menanya
Auwyang Hong perlahan.
Oey Yong mendusin, selagi Kwee Ceng berlompat
bangun, kapan ia dengar suaranya musuh ia pejamkan
pula matanya dan menperdengarkan gerosan
napasnya untuk berpura-pura tidur nyenyak.
"Belum," Kwee Ceng menyahut, perlahan. "Ada apa?"
"Kalau sebentar dia sudah bangun, minta dia datang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
untuk menolongi orang," menyahuti See tOk.
"Baik," menjawab Kwee Ceng.
Dari dalam, Cit Kong menyambar: "Aku telah kasih dia
minum arak yang wangi bernama Mabok Seratus Hari
di dalam tempo tiga bulan mungkin dia tak akan
mendusin…!"
Auwyang Hong melengak justru mana Pak Kay tertawa
terbahak-bahak, maka taulah bahwa ia tengah digoda.
Ia mendongkol bukan main tetapi ia ngeloyor pergi.
Oey Yong melompat bangun, ia pun tertawa.
"Kalau bukan sekarang kita goda dia, kita hendak
tunggu kapan lagi?" katanya.
Dengann ayal-ayalan nona itu menyisir rambutnya dan
merapikan pakaiannya, habis mana ia membawa joran
untuk pergi memancing ikan, untuk memburu kelinci,
yang semuanya dimatangi untuk mereka sarapan pagi.
Selama itu Auwyang Hong telah datang tujuh atau
depalan kali, ia bergelisah seperti semut di atas kuali
panas.
"Yong-jie," menanya Kwee Ceng, "Benarkah sebentar
diwaktu air pasang bakal datang orang membantui
kita?"
"Kau percayakah bakal datang pembantu?" si nona
balik menanya, tertawa.
"Aku tidak percaya." sahut si anak muda.
"Aku juga tidak percaya!" Dan si nona tertawan pula.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng tercengang.
"Jadinya kau sengaja mempermainkan si tua bangka
berbisa itu?"
Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil