Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Agustus 2017

Cersil Suling Naga Emas Siluman 9 Kho Ping Hoo

Cersil Suling Naga Emas Siluman 9 Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Suling Naga Emas Siluman 9 Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
-
Dan wanita itu pun menanggalkan jubah hwesionya yang besar dan nampaklah bahwa di bawah jubah itu
dia memakai pakaian dalam wanita yang tipis sehingga nampak bentuk tubuhnya yang padat dan
menggairahkan. Pangeran Kian Liong bukan seorang yang mata keranjang, akan tetapi dia pun seorang
jujur, maka dia tidak membuang muka melainkan memandang dengan sinar mata memancarkan
kekaguman yang jujur tanpa ada kekurang ajaran, membuat wanita itu menjadi merah kedua pipinya.
Dengan cepat wanita itu lalu membantu temannya menanggalkan pakaian luar Pangeran itu, dan ia pun
memakai pakaian Pangeran itu, juga topinya dan dari saku baju dalamnya dikeluarkanlah sebuah kantong
terisi bermacam-macam perabot untuk menyamar.
Di depan cermin yang terdapat di dalam kamar itu, dengan cekatan sekali wanita itu melakukan sesuatu
dengan mukanya, rambutnya dan.... ketika ia lalu menghadapi Sang Pangeran, Pangeran Kian Liong
hampir berseru saking kagetnya melihat wajahnya pada wanita itu. Begitu serupa! Kini mereka berdua
memakaikan jubah hwesio itu pada Sang Pangeran dan kini mereka bertukar sepatu dan lengkaplah sudah
pertukaran itu!
“Cepat, ada suara di luar....!” tiba-tiba Pangeran palsu itu berbisik. Temannya, hwesio yang tinggi besar
bermuka hitam itu mengangguk.
“Jangan mengeluarkan suara, Pangeran,” kata Si Tinggi Besar dan tiba-tiba dia sudah mengempit tubuh
Pangeran yang sudah berubah menjadi hwesio itu, dibawa melayang naik melalui genteng dan di lain saat
mereka telah tiba di atas wuwungan, mendekam di balik wuwungan.
Memang terdengar suara orang di bagian depan, dan semua hwesio mendengar suara orang bicara itu,
tapi mereka, tanpa adanya perintah, tidak ada yang berani keluar, melainkan menanti dengan hati penuh
ketegangan.
“Ehh, ada suara ribut apa di luar?” terdengar suara ‘pangeran’ itu dari dalam kamar.
Semua orang terkejut, tidak ada yang menjawabnya dan tiba-tiba lilin di dalam kamar itu dipadamkan.
Mereka semua berlega hati. Agaknya Sang Pangeran merasa lelah dan hendak tidur, pikir mereka.
Suara orang bicara itu datang dari ruangan tengah kuil. Terdengar suara seorang pria tertawa mengejek,
suaranya lantang sekali. Itulah suara Bu Seng Kin, atau Bu-taihiap yang memang telah berjaga-jaga dan
begitu muncul bayangan lima orang yang berkelebat cepat, dia pun meloncat keluar dari tempat
persembunyiannya bersama seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu,
seorang di antara isteri-isterinya yang terlihai. Memang pendekar yang maklum akan kehebatan lima orang
Ngo-ok ini, telah mengajak isterinya yang paling dapat diandalkan ini untuk membantunya.
“Ha-ha-ha, sekarang lengkaplah sudah! Kelima orang Ngo-ok sudah berkumpul di sini!” katanya sambil
tertawa.
Memang Bu-taihiap ini merupakan musuh lama dari Ngo-ok. Dahulu, saat dia merantau bersama mendiang
Sim Loan Ci, yaitu isterinya atau ibu kandung dari Ci Sian, dia pernah bentrok dan dikeroyok oleh tiga
orang di antara Ngo-ok, yaitu Twa-ok, Ji-ok dan Sam-ok. Tiga orang pertama dari Ngo-ok itu memang lihai
dunia-kangouw.blogspot.com
bukan main sehingga dalam pertempuran itu, Sim Loan Ci yang sedang tidak sehat badannya terluka dan
terpaksa Bu-taihiap membawa lari isterinya, dikejar-kejar oleh tiga orang dari Ngo-ok itu.
Dan kemudian, baru-baru ini ketika Pangeran Kian Liong hendak dilarikan Su-ok dan Ngo-ok, dua orang
terakhir dari Im-kan Ngo-ok, Bu-taihiap mempermainkan mereka berdua yang baru di jumpainya pada saat
itu. Memang dahulu, ketika pertama kalinya Bu-taihiap bertanding melawan tiga orang pertama dari Im-kan
Ngo-ok, dua orang terakhir ini tidak ada sehingga baru pertama kali itulah mereka saling bertemu, walau
pun tentu saja mereka sudah saling mengenal nama.
“Hemm, kiranya orang she Bu masih hidup dan ikut menjaga di sini! Bagus, dengan demikian kami dapat
sekali tepuk....”
“He, orang she Bu mata keranjang, engkau berganti isteri lagi?” Su-ok mengejek, “Ini isteri barumu, ya? Eh,
engkau memang pandai pilih perempuan, hemm, cantik juga isteri barumu ini....”
“Tutup mulutmu yang busuk!” wanita itu membentak dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke depan dan
tangannya menampar ke arah muka Su-ok. Si Gendut Pendek ini tertawa dan menangkis, memandang
rendah.
“Duk! Plakk....!“ Tubuhnya terpelanting dan mukanya bengkak terkena tamparan itu. Si Gendut mengaduhaduh
dan merasa terkejut bukan main.
“Hi-hi-hik, matamu sudah buta barangkali, Sute? Lihatlah baik-baik siapa wanita itu! Lupakah kau kepada
Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu dari Lembah Suling Emas?” Ji-ok mengejek adik angkatnya yang ke empat.
Tadinya Su-ok merasa penasaran dan malu sekali bahwa sekali gebrakan saja dia telah kena ditampar
oleh isteri baru Bu-taihiap itu. Kini dia memandang lebih jelas dan dia pun mengenal wanita ini yang pernah
dijumpainya, maka rasa penasaran di hatinya agak berkurang, terganti oleh perasaan marah. Kalau tadi dia
sampai kena ditampar adalah karena dia tidak mengenal wanita itu dalam cahaya penerangan yang tidak
begitu terang dalam ruangan itu sehingga dia memandang rendah dan tidak menjaga diri baik-baik. Dia
tahu bahwa ilmu kepandaian Bu-taihiap memang hebat dan dia bukan lawan pendekar itu, akan tetapi
kalau hanya melawan Cui-beng Sian-li ini, kiranya dia tidak akan kalah atau selisih antara tingkat mareka
tidak jauh.
“Su-ko, mari kubantu engkau menangkap perempuan ini!” kata Ngo-ok dan Si Jangkung ini secara tiba-tiba
saja sudah berkelebat di depan wanita itu. Gerakannya demikian cepat sehingga wanita dari Lembah
Suling Emas itu merasa terkejut juga.
“Heh-heh, Ngo-te, kau membantuku ataukah aku yang harus membantu engkau menangkap wanita ini
untuk kemudian kau perkosa? Ha-ha-ha!” kata Su-ok.
Mendengar ucapan ini, Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu menjadi marah bukan main. Sambil mengeluarkan
teriakan nyaring ia sudah menerjang ke depan dan menyerang Su-ok dengan pukulan tangan yang
mengandung sinkang kuat sekali sehingga tangan itu mengeluarkan suara bercuitan dan menjadi kuat
tidak kalah dengan senjata baja.
Su-ok maklum akan kelihaian nyonya ini maka dia pun segera mengelak dan balas menyerang. Ngo-ok
yang merasa yakin bahwa sekali ini dia akan memperoleh korban baru yang istimewa karena nyonya ini
bukan wanita sembarangan, sudah membantu temannya. Tang Cun Ciu tidak menjadi gentar dan wanita
ini sudah memainkan ilmu silat yang amat diandalkannya yaitu Pat-hong Sin-kun.
Melihat betapa dua orang adik angkat mereka menyerang wanita itu, Sam-ok tertawa dan berkata dengan
nada suara mengejek, “Bu Seng Kin, sekali ini engkau tidak akan dapat lolos lagi dari tangan kami!”
“Begitukah? Boleh coba!” jawab Bu Seng Kin sambil tersenyum.
Dia sudah sering berhadapan dengan tiga orang datuk sesat ini dan dia tahu benar betapa lihainya
mereka. Bahkan belasan tahun yang lalu, dia selalu terdesak oleh mereka bertiga ini. Akan tetapi selama
belasan tahun itu dia telah meningkatkan kepandaiannya dan kini dia ingin memperlihatkan kepada mereka
bahwa sekarang dia tidak akan kalah lagi. Hanya keadaan isterinya yang membuat dia khawatir. Dia tahu
bahwa kalau hanya menghadapi seorang lawan, isterinya masih cukup kuat, akan tetapi dikeroyok dua,
berbahaya sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Twa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok memang amat membenci Bu Seng Kin yang merupakan musuh lama. Sekarang
melihat bahwa pendekar ini menghalangi niat mereka untuk membunuh pangeran mahkota, yang kepada
mereka telah diperintahkan oleh seorang pembesar bekas kaki tangan Sam-thai-houw, mereka menjadi
marah sekali. Mereka sudah mengambil keputusan untuk sekali ini membunuh Bu Seng Kin dan mereka
merasa yakin akan sanggup melakukannya, biar pun tingkat kepandaian pendekar ini sejak dahulu sudah
lebih tinggi dari pada seorang di antara mereka. Hal ini sudah sering kali terjadi belasan tahun yang lalu
ketika mereka bertiga mengejar-ngejar pendekar ini.
Tentu pendekar yang mereka benci ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka bertiga pun sudah
meningkatkan ilmu kepandaian mereka, bahkan sekarang jauh lebih hebat dibandingkan dengan belasan
tahun yang lalu.
Ji-ok yang bertopeng tengkorak itu membuka serangan. Mata di balik tengkorak itu yang seperti mata
setan, berkilat-kilat menakutkan, dan tiba-tiba dari balik tengkorak itu terdengar suara yang nyaring sekali,
suara yang aneh karena lengking ini seperti suara orang tertawa akan tetapi juga seperti suara orang
menangis. Dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan, kedua tangannya yang bergerak dengan aneh
karena kedua jari telunjuknya menuding sedangkan jari-jari lainnya digenggam. Akan tetapi dari gerakan
jari-jari telunjuk ini menyambar hawa dingin yang kuat dan mengandung ketajaman seperti pedang.
“Srattt....! Srattt....!”
Bu-taihiap terkejut bukan main dan dia mengenal serangan maut, maka cepat dia mengelak dan balas
menendang untuk menahan desakan wanita itu. Dia tidak tahu bahwa orang ke dua dari Im-kan Ngo-ok itu
ternyata telah memperoleh ilmu yang dahsyat, yang baru saja dipergunakan untuk menyerangnya, yaitu
ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang mengeluarkan hawa dingin dan amat berbahaya itu. Akan tetapi, karena
tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi dari pada wanita itu, dia tidak merasa gentar dan balas
menyerang dengan sangat hebatnya, dengan pukulan-pukulan berat yang mengandung sinkang kuat
sekali sehingga ketika berusaha menangkis pukulan ini, Ji-ok terdorong mundur dan terhuyung.
Sam-ok, orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok akan tetapi yang paling cerdik itu, sudah cepat maju membantu
temannya. Karena maklum akan kehebatan ilmu kepandaian lawan, begitu maju dia pun sudah
mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Thian-te Hong-i (Hujan Angin Bumi Langit), semacam
ilmu silat yang dilakukan dengan tubuh berpusing. Bu Seng Kin cepat meloncat untuk menghindar dan
balas menyerang dengan cepat melayani dua orang pengeroyoknya.
Akan tetapi kini Toa-ok sudah terjun ke dalam arena perkelahian pula, kedua tangannya bergerak
sembarangan, akan tetapi lengannya dapat mulur panjang dan cengkeraman-cengkeramannya yang
dilakukan seperti serangan gorila itu amat berbahaya karena lengan itu mengandung tenaga yang dahsyat.
Maka Bu-taihiap sudah dikeroyok tiga dan terjadilah perkelahian yang amat seru di ruangan itu.
Sementara itu, Su-ok dan Ngo-ok merasa penasaran sekali ketika sampai belasan jurus mereka berdua
masih belum juga mampu menangkap wanita itu, maka Su-ok lantas mengeluarkan ilmunya yang
diandalkan yaitu ilmu pukulan Katak Buduk. Dengan tubuh merendah sampai hampir berjongkok, dia
mendorongkan kedua tangannya dan dari tenggorokannya keluar suara berkokok yang aneh.
Hawa dahsyat dan amis menyambar, membuat Tang Cun Ciu terkejut dan meloncat ke belakang, namun
tetap saja ia masih terhuyung. Untuk menyelamatkan diri, wanita ini sudah mencabut pedangnya dan
begitu pedang diputar dan tubuhnya menerjang ke depan, nampak gulungan sinar yang amat menyilaukan
mata mengurung tubuh Su-ok. Melihat ini, Ngo-ok menjadi marah dan dia pun sudah berjungkir-balik, lalu
menyerang dengan kedua kakinya yang panjang, menendang-nendang ke arah lengan kanan lawan untuk
merampas pedang. Dihadapi oleh dua orang yang mengeluarkan ilmu-ilmu aneh ini, kembali Tang Cun Ciu
terdesak hebat.
Keadaan Bun Seng Kin sendiri tidak lebih baik dari pada wanita itu. Dia pun terdesak setelah tiga orang
pengeroyoknya mengeluarkan ilmu-ilmu aneh yang sangat hebat itu. Teringatlah dia akan tugasnya
memancing para lawan ini menjauhi kuil dan memberi kesempatan kepada teman-temannya melakukan
siasat mereka, yaitu menggunakan kesempatan ribut-ribut itu untuk bisa menculik Pangeran sehingga
kelak akan mudah menimpakan kesalahan kepada para penyerbu ini.
“Ciu-moi, mari ke tempat yang lebih luas!” teriaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan tiba-tiba Bu-taihiap mengeluarkan seruan nyaring, kedua tangannya menyambar-nyambar dan dia
mengeluarkan ilmu pukulan aneh yang hebat. Tiga orang lawannya terkejut dan untuk menjaga diri,
mereka mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh pendekar itu untuk menerjang ke arah Su-ok dan Ngook
yang juga mundur untuk menghindarkan serangan dahsyat itu. Dan mereka berdua, Bu-taihiap dan
isterinya lalu meloncat, cepat keluar dari ruangan itu.
“Im-kan Ngo-ok, mari kita lanjutkan pertandingan di luar yang lebih luas, di mana sekali ini aku akan
membasmi kalian!” teriak Bu Seng Kin.
Im-kan Ngo-ok yang merasa sudah hampir memperoleh kemenangan itu, tentu saja menjadi penasaran.
Kalau orang she Bu ini tidak ditewaskan lebih dulu, tentu akan sukar bagi mereka untuk melaksanakan
perintah untuk membunuh Pangeran. Maka dengan marah mereka pun mengejar ke depan, yaitu ke
pekarangan kuil yang cukup luas, di tempat terbuka dan cuacanya remang-remang karena penerangan
yang ada hanya sinar bulan ditambah lampu gantung yang berada di depan kuil itu. Namun cukuplah bagi
ahli-ahli silat itu yang dalam perkelahian tidak hanya mengandalkan pada mata melainkan juga kepada
ketajaman pendengaran mereka.
Setelah Im-kan Ngo-ok tiba di pekarangan luar dari kuil itu, ternyata Bu Seng Kin sudah berdiri saling
membelakangi dengan isterinya. Hal ini berarti bahwa mereka bermaksud untuk bekerja sama menghadapi
lima orang lawan itu, karena dengan kedudukan saling membelakangi, berarti mereka akan dapat saling
melindungi dan menghindarkan diri dikepung lawan. Dan selain itu, juga tempat itu sudah dikurung oleh
tujuh orang hwesio yang dipimpin oleh Ciong-hwesio ketua kuil itu sendiri, dan mereka bertujuh itu sudah
memegang senjata masing-masing berupa toya atau tongkat panjang.
Melihat ini, Im-kan Ngo-ok serentak tertawa semua. Bagi mereka, lebih banyak lawan yang maju berarti
dapat lebih puas membabat dan membunuh lawan. Dan tentu saja, selain Bu-taihiap, mereka memandang
rendah kepada yang lain-lain, apalagi hwesio-hwesio itu.
“Heh-heh-heh, bairlah aku yang membasmi kerbau-kerbau gundul itu!” Su-ok terkekeh dan meloncat maju.
“Ihh, lupakah engkau bahwa kepalamu sendiri pun gundul dan engkau pun seorang hwesio gagal?” Ji-ok
mengejek orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok itu.
Akan tetapi Su-ok tak peduli dan dia sudah bergerak mengamuk kalang-kabut, memukul sana-sini ke arah
para hwesio itu. Ciong-hwesio yang tahu diri, tahu bahwa dia dan teman-temannya, sungguh pun telah
memiliki ilmu silat yang lumayan, namun sama sekali bukanlah lawan Im-kan Ngo-ok, segera memberi
isyarat dan mereka bertujuh sudah mengeroyok Su-ok. Lumayan kalau dapat menahan seorang di antara
mereka sehingga Bu-taihiap tidak terlalu berat, pikirnya.
Memang ada benarnya pendapat Ciong Hwesio itu. Akan tetapi, biar pun kini mereka dapat saling bantu,
dikeroyok empat orang dari Im-kan Ngo-ok merupakan hal yang amat berat dan berbahaya. Bu-taihiap dan
Tang Cun Ciu tetap saja sibuk sekali menghadapi serangan mereka yang bertubi-tubi dan setiap serangan
amat berbahaya itu. Cun Ciu sudah berusaha agar ia menghadapi Ngo-ok saja, dan ia selalu memutar
tubuh menghadapi lawan ini yang merupakan lawan yang paling ringan di antara tiga orang yang lain. Dan
Bu-taihiap juga diam-diam harus mengakui bahwa kalau dia selama ini meningkatkan kepandaiannya,
ternyata musuh-musuhnya juga demikian, bahkan kini mereka memiliki ilmu-ilmu yang aneh sekali.
Cara Ngo-ok bersilat dengan jungkir balik itu membingungkan Cun Ciu sehingga ketika dia mengelak, lalu
membabat dengan pedangnya ke arah kedua kaki lawan, hampir saja sebelah kaki lawan yang bergerak
aneh itu dapat menendang pergelangan tangan. Memang pergelangan tangannya sudah kena tendang,
akan tetapi pedang itu sudah dipindahkannya ke tangan kiri dan pedangnya membacok ke arah kaki. Dan
pada saat itu, tiba-tiba saja serangan jari tangan Kiam-ci dari Ji-ok sengaja diselewengkan ke arahnya.
Cun Ciu yang sedang sibuk menghadapi kedua kaki Ngo-ok yang lihai itu, terkejut dan mengelak, lehernya
dapat diselamatkan dari sambaran tajam tangan pedang itu, akan tetapi pundaknya kena diserempet hawa
yang dingin dan tajam. Dicobanya untuk menangkis dengan tangan kanan yang tidak memegang pedang,
akan tetapi ia kalah cepat dan ia mengeluarkan seruan kaget, pundaknya terasa perih dan berdarah seperti
terkena sambaran pedang tajam!
Selagi ia terhuyung, tiba-tiba saja tangan Ngo-ok dari bawah menyambar dan hendak mencengkeram
kakinya. Serangan yang amat berbahaya! Akan tetapi, Cun Ciu adalah seorang wanita yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, bahkan ia pernah melakukan kegemparan besar di dunia kang-ouw dengan mencuri
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang dari istana. Maka, biar pun pundaknya terluka dan kini tiba-tiba saja tangan Ngo-ok yang berada di
bawah itu menyambar untuk menangkap pergelangan kakinya, ia masih dapat menyelamatkan dirinya
dengan menarik kakinya itu, lalu langsung kakinya menendang ke arah muka Ngo-ok yang berjungkir balik
itu!
Ngo-ok terkejut bukan main, dengan lengannya dia menangkis, akan tetapi dari atas pedang di tangan kiri
Cun Ciu menyambar dan membabat ke arah kakinya! Ngo-ok mengeluarkan teriakan keras dan tiba-tiba
tubuhnya mencelat ke belakang, sedangkan mukanya berubah agak pucat karena nyaris kakinya terbacok!
Dia maju lagi dengan lebih hati-hati, sedangkan Bu-taihiap sendiri lega hatinya melihat isterinya, akan
tetapi dari kanan kiri, Toa-ok dan Sam-ok menyambutnya.
Sementara itu, Su-ok yang dikeroyok tujuh orang hwesio mempermainkan tujuh orang hwesio itu sambil
tertawa-tawa. “Heh-heh-heh, Amithaba.... bagaimana kalian berani melawan sucouw kalian? Hayo berlutut
dan minta ampun, ha-ha-ha!”
Dan memang orang cebol ini telah membagi-bagi pukulan kepada tujuh orang itu tanpa mereka dapat
membalas, sungguh pun mereka telah menyerang dengan toya mereka. Semua pukulan toya luput, dan
kalau pun ada yang mengenal tubuh Si Cebol, toya-toya itu membalik dan setiap kali Si Cebol berhasil
menampar, tentu hwesio-hwesio itu terpelanting dan babak bundas. Tentu saja Su-ok sengaja
mempermainkan mereka, karena kalau dia mempergunakan tenaga sinkang-nya ketika menampar atau
memukul, tentu mereka telah tewas sejak tadi.
“Sute, kau ini sudah tua bangka seperti kanak-kanak saja. Hayo cepat bereskan mereka dan bantu kami!”
Ji-ok menegurnya ketika melihat sikap Su-ok, oleh karena mereka berempat memang belum juga mampu
merobohkan Bu-taihiap dan Cun Ciu walau pun mereka berempat sudah dapat mendesak. Pertahanan
kedua orang itu cukup kuat dan sukar ditembus.
“Heh-heh-heh, bukankah katamu sendiri tadi bahwa mereka ini adalah rekan-rekanku? Bagaimana aku
dapat membunuh mereka? Aku takut dosa dan tidak dapat masuk Nirwana.... ha-ha-ha!”
“Sute, cepat bantu kami!” Terdengar Toa-ok membentak dan barulah Su-ok tidak berani main-main lagi,
maklum bahwa kalau toako-nya sudah bicara, maka tentu serius dan tentu akan marah kalau dia
berkelakar terus.
“Baik, Toako!” katanya dan tiba-tiba dia berjongkok, mengeluarkan pukulan Katak Buduknya, memukul ke
arah Ciong-hwesio.
“Wuuuuttt.... dessss....!”
Dan tubuh Su-ok terpental dan terguling-guling seperti sebuah bola ditendang! Apa yang terjadi? Su-ok
meloncat bangun dan matanya terbelalak memandang kepada seorang hwesio tinggi besar bermuka hitam
yang barusan tadi telah menangkisnya. Bukan main! Tangkisan itu tidak hanya mampu membuyarkan
tenaga ilmu pukulan Katak Buduk, bahkan membuat dia terdorong dan terpelanting keras!
Hwesio muka hitam itu lalu berkata kepada Ciong-hwesio dan yang lain-lain, “Harap Ciong-suhu dan
saudara-saudara lainnya mundur.”
Ciong-hwesio girang sekali dengan munculnya Lim Kun Hosiang, Hwesio tinggi besar muka hitam yang
mengaku murid Siauw-lim-pai dan yang datang bersama Tan Tek Hosiang yang bertubuh kecil itu. Tak
disangkanya bahwa hwesio ini sedemikian lihainya sehingga mampu menandingi Su-ok. Maka dia pun
mundur bersama teman-temannya.
Su-ok yang merasa penasaran sekali menjadi marah. Sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau
kelaparan, Si Pendek ini lalu menjatuhkan dirinya dan menggelundung ke arah hwesio muka hitam itu dan
tiba-tiba dia menyerang dengan pukulan yang ampuh. Akan tetapi, hwesio muka hitam itu tidak mengelak,
melainkan menangkis dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangannya mendorong ke arah lawan yang
memukulnya dengan ilmu pukulan Katak Buduk itu.
“Dessss....!”
Akibatnya hebat sekali. Su-ok kembali terpental dan bergulingan, dan pada saat dia mencoba bangun, dia
roboh kembali dan dari mulutnya mengalir darah segar. Si Pendek ini cepat duduk bersila dan mengatur
dunia-kangouw.blogspot.com
pernapasan karena dia telah terluka dalam! Dan hwesio muka hitam itu kini cepat melangkah ke medan
pertempuran. Sejenak dia memandang kepada Bu-taihiap dan mengeluarkan suara dengusan dari
hidungnya, akan tetapi ketika dia melihat Cun Ciu yang didesak oleh Ngo-ok dan kadang-kadang
menerima serangan Ji-ok dengan Kiam-ci yang berbahaya itu, Si Hwesio Muka Hitam ini maju dan ketika
Ji-ok menyerang lagi ke arah Cun Ciu, dia pun maju dan menangkis.
“Plakkk!”
Dan Ji-ok terpental dengan kaget sekali. Tangkisan itu kuat bukan main, bahkan jauh lebih kuat dari pada
tangkisan Cun Ciu dan setingkat dengan tenaga Bu-taihiap! Pada saat itu Si Hwesio Muka Hitam sudah
menendang ke arah muka Ngo-ok yang masih berjungkir balik. Ngo-ok cepat menangkis dengan
lengannya dan kakinya menendang ke arah tengkuk lawan baru ini. Akan tetapi, hwesio muka hitam itu
tidak mempedulikan tengkuknya ditendang. Ketika tendangannya ditangkis, Ngo-ok terkejut karena merasa
lengannya nyeri dan ketika tendangannya tiba mengenai tengkuk lawan, kakinya terasa terpental seperti
membentur besi. Pada saat itu tangan hwesio tinggi besar muka hitam itu sudah menonjok ke depan, ke
arah perutnya.
Tentu saja Ngo-ok menjadi terkejut dan tak tahu bagaimana harus menyelamatkan diri. Untunglah pada
saat yang amat berbahaya ini Toa-ok sudah menggerakkan kakinya menendang dan tepat mengenai
punggung adiknya yang ke lima ini.
“Desss....!”
Tubuh Ngo-ok terlempar dan terbanting, akan tetapi, dia terbebas dari ancaman maut pukulan hwesio
muka hitam itu.
Toa-ok maklum bahwa lawan yang baru datang ini lihai sekali, maka dia pun cepat menggunakan tangan
kanannya untuk memukul dengan tangan terbuka. Di antara suadara-saudaranya, Toa-ok ini memiliki
kepandaian yang paling hebat, atau setidaknya setingkat dengan kepandaian Ji-ok. Meski gerakangerakannya
sederhana saja, namun dia memiliki tenaga dahsyat yang sukar untuk dapat ditandingi lawan.
Maka pukulannya dengan tangan terbuka ke arah hwesio muka hitam itu pun dahsyat bukan main, sampai
mengeluarkan angin bercuitan suaranya.
Akan tetapi, diserang seperti itu, Si Muka Hitam tidak mengelak, melainkan menangkis dengan tangan
terbuka pula. Jelasnya, Si Muka Hitam ini tidak takut untuk mengadu tenaga dengan orang pertama dari
Im-kan Ngo-ok itu.
“Plakkk!”
Dua telapak tangan bertemu dengan sangat dahsyatnya, dan akibatnya, keduanya terdorong mundur dan
agak terhuyung. Terkejutlah Toa-ok. Hwesio yang tak terkenal ini memiliki tenaga yang seimbang dengan
dia! Berarti setingkat pula dengan Bu-taihiap.
Sementara itu, setelah mendapat bantuan hwesio yang kosen itu, bangkitlah semangat Bu-taihiap dan dia
sudah mendesak Sam-ok dan Ji-ok dengan pukulan-pukulan sakti. Kedua orang itu menghindarkan diri
mundur.
Pada saat itu, nampak gulungan sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berdesing-desing dan ternyata
hwesio muka hitam itu telah memutar sebatang cambuk baja yang tadinya menjadi ikat pinggangnya di
balik jubah hwesio. Bukan main hebatnya senjata ini dan amat berbahaya, maka Toa-ok yang melihat
bahwa dengan bantuan setangguh ini maka pihaknya akan mengalami banyak kerugian, lalu berteriak
memberi tanda kepada adik-adiknya untuk melarikan diri. Mereka berlima pun berloncatan dan Ji-ok sudah
menyambar lengan Su-ok yang terluka tadi, dibawanya lari dengan cepat sekali.`
Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu tadinya tidak tahu siapa adanya hwesio tinggi besar muka hitam yang amat
lihai ini, akan tetapi begitu melihat gerakan silatnya dan melihat cambuk baja itu, ia berseru kaget, “Samte....!”
Hwesio muka hitam itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata.
Mendengar seruan ini, Bu-taihiap yang tadinya merasa ragu-ragu siapa adanya orang tinggi besar yang
amat lihai itu terkejut pula, “Ahh, kiranya Ban-kin-sian Cu Kang Bu....“
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang tinggi besar itu membuang muka tidak mau melayani Bu Seng Kin, bahkan lalu meloncat dan lari
dari tempat itu, menghilang ke dalam gelap, meninggalkan Bu Seng Kin dan Tang Cun Ciu yang
memandang bengong ke arah lenyapnya pendekar itu. Juga Ciong-hwesio menjadi terkejut dan terheranheran,
apalagi pada saat mendengar betapa Bu-taihiap dan isterinya sudah mengenal hwesio tinggi besar
itu.
“Apa yang terjadi? Siapakah dia itu sebenarnya? Pinceng mengira benar-benar hwesio Siauw-lim-pai....
dan mana Tan Tek Hosiang, yang seorang lagi?”
Oleh karena khawatir akan kegagalan siasat yang sudah mereka rencanakan, maka Ciong-hwesio lalu lari
ke dalam, diikuti oleh Bu-taihiap dan Tang Cun Ciu. Akan tetapi hati mereka lega ketika mendengar betapa
Sang Pangeran telah berhasil dilarikan oleh para hwesio anak buah Ciong-hwesio, melalui pintu belakang
dan menunggang kuda, sesuai dengan rencana, dengan dalih menyelamatkan Pangeran itu.
“Bagus....!” kata Ciong-hwesio, “Kalau begitu sekarang harus cepat-cepat menyiarkan berita bahwa
Pangeran yang bermalam di kuil ini telah diculik penjahat-penjahat yang datang bersama Im-kan Ngo-ok!”
Akan tetapi, Bu Seng Kin dan Tang Cun Ciu merasa tak enak sekali melihat munculnya Cu Kang Bu yang
menyamar sebagai hwesio, “Ciong-suhu, biar kami berdua mengejar mereka dan ikut mengawal Pangeran,
sedangkan urusan penyebaran berita tentang penculikan Pangeran oleh orang-orang golongan hitam
terserah kepada Ciong-suhu.”
Pendekar bersama isterinya ini cepat meloncat dan lenyap di dalam kegelapan malam, sedangkan Cionghwesio
bersama para hwesio yang menjadi penghuni kuil itu segera menyiarkan bahwa pemuda yang
menjadi tamu kuil itu telah diculik penjahat yang datang menyerbu kuil pada malam itu.
Dan dugaan Ciong-hwesio memang tepat sekali. Begitu berita itu disiarkan, malam itu juga, menjelang
pagi, sudah banyak bayangan berkelebat memasuki kuilnya. Bayangan beberapa orang yang jelas
merupakan orang-orang kang-ouw, yang bertanya tentang peristiwa terculiknya pemuda itu. Mereka ini
adalah para pendekar yang diam-diam melindungi Pangeran Kian Liong.
Oleh karena Pangeran itu bermalam di dalam kuil dan mereka semua mengira bahwa keadaan Pangeran
itu aman, maka mereka menjadi lengah. Apalagi karena mereka tidak mungkin ikut-ikutan bermalam di
dalam kuil. Justeru pada malam itulah, di waktu mereka lengah, penjahat datang dan Pangeran itu diculik
orang!
Ciong-hwesio menyambut mereka semua dengan hormat dan seolah memperlihatkan keheranannya,
“Memang, tamu muda pinceng itu dilarikan penjahat yang malam tadi menyerbu ke kuil kami. Akan tetapi....
mengapa Cu-wi-enghiong kelihatan begini gugup? Siapakah Kongcu itu....? Pinceng hanya tahu bahwa dia
menyumbang besar sekali dan dia sangat pandai membaca sajak....“
Seorang di antara para pendekar itu memandang tajam lalu berkata, suaranya penuh peringatan, “Losuhu,
ingatlah baik-baik, pemuda itu adalah Sang Pangeran Mahkota sendiri yang menyamar!”
“Amithaba....!” Ciong-hwesio merangkapkan kedua tangan di depan dada dan tidak bicara lagi. Dia tentu
saja hanya berpura-pura, akan tetapi sebagai seorang pendeta dia tidak mau banyak membohong, maka
merasa lebih baik kalau tutup mulut saja.
“Oleh karena itu, lenyapnya Sang Pangeran di kuil ini tentu merupakan bahaya juga bagi kuil ini,” demikian
pendekar itu melanjutkan, “Katakan, siapakah yang melakukan penculikan ini?”
“Bagaimana pinceng tahu? Yang pinceng ketahui hanyalah ada lima orang penjahat yang lihai sekali
menyerbu kuil. Kami berusaha untuk menghalaunya karena mengira mereka itu perampok-perarnpok
biasa. Dan ketika kami sedang sibuk melawannya, pemuda itu tahu-tahu lenyap dilarikan orang. Siapa lagi
kalau bukan teman-teman para penjahat itu yang melakukannya?”
“Seperti apa macamnya penjahat-penjahat yang menyerbu itu?”
“Yang lima orang itu? Wah, mereka itu lihai bukan main. Kami semua bukanlah tandingannya, akan tetapi
agaknya mereka tidak ingin membunuh kami. Mereka adalah lima orang yang amat menakutkan.... seperti
iblis-iblis....“
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciong-hwesio kemudian menceritakan keadaan lima orang itu, yang tentu saja sudah diketahuinya bahwa
mereka adalah Im-kan Ngo-ok. Mendengar cerita kakek pendeta itu, orang-orang kang-ouw yang
mendengarkan menjadi pucat wajahnya.
“Im-kan Ngo-ok....!” bisik beberapa orang di antara mereka dengan nada suara gentar.
“Celaka....! Kalau mereka yang menculik....”
Dan para pendekar itu dengan cepat kemudian meninggalkan kuil untuk melakukan pengejaran dengan
hati penuh kebimbangan serta ketakutan. Ciong-suhu menahan senyumnya. Siasatnya berhasil baik sekali.
Teman-temannya tentu kini telah berhasil mengamankan Pangeran itu untuk keperluan mereka, keperluan
rakyat, dan keperluan perjuangan! Kaisar tentu akan dapat dibikin tidak berdaya kalau puteranya menjadi
tawanan kaum patriot. Setidaknya, nasib mereka akan menjadi lebih baik, dan Kaisar harus memenuhi
tuntutan mereka!
Akan tetapi ketika kakek ini dengan hati gembira memasuki kamar semedhinya, dia terkejut bukan main
melihat ada sesosok bayangan orang berdiri tegak di dalam kamar itu! Bulu tengkuknya meremang. Dia
adalah seorang ahli silat yang tak dapat dibilang bertingkat rendah, penglihatan dan pendengarannya
masih kuat berkat latihan bertahun-tahun. Tetapi, bagaimana ada orang memasuki kamarnya tanpa dia
mengetahuinya, tanpa dia dapat mendengar atau melihatnya? Setankah bayangan ini. Ibliskah?
“Amithaba....!” Dia berbisik beberapa kali, memandang dengan tajam ke arah bayangan itu.
Bayangan itu yang tadinya di sudut gelap, melangkah maju dan nampaklah seorang pria muda yang sama
sekali tidak menyerupai iblis atau setan. Sebaliknya malah, pria muda itu adalah seorang laki-laki berusia
tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun yang tampan dan gagah, berpakaian sederhana namun bersih
dan rapi, pakaiannya tertutup jubah besar lebar. Sepasang matanya itu saja yang tidak lumrah manusia,
seperti mata beberapa orang tertentu, mata Bu-taihiap misalnya, yaitu mengandung sinar mencorong dan
tajam sekali. Sikap orang ini pendiam dan agak dingin, akan tetapi senyum bibir dan pandang matanya
membayangkan kehalusan budi.
“Siapa.... siapakah engkau....?” Ciong-hwesio bertanya.
“Maaf, Losuhu, tidak perlu benar diketahui siapa saya, akan tetapi saya datang untuk bertanya, benarkah
Im-kan Ngo-ok menyerbu kuil ini dan menculik Pangeran Mahkota dari sini?”
Pertanyaan yang langsung ini berbeda dengan pertanyaan para orang kang-ouw tadi, dan pemuda ini
agaknya tidak takut untuk langsung bertanya tentang Im-kan Ngo-ok. Penglihatan Ciong-hwesio yang
sudah banyak pengalaman itu segera dapat menduga bahwa orang muda ini lain dari pada yang lain, dan
tentu merupakan seorang pendekar tak terkenal yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
“Benar, Sicu. Mereka menyerbu dan ketika kami sibuk menghadapi mereka yang kami sangka hanyalah
pengacau dan perampok biasa, tahu-tahu pemuda yang baru pinceng ketahui ternyata adalah Sang
Pangeran itu lenyap diculik orang. Tentu kawan-kawan Im-kan Ngo-ok yang melakukannya.”
Orang muda itu mengangguk dan memandang tajam sekali, seolah-olah sinar matanya mampu menembus
dada kakek itu, membuat Ciong-hwesio merasa seram.
“Kalau Losuhu dan para hwesio kuil ini dapat menentang Im-kan Ngo-ok dan keluar dengan selamat dari
pertempuran, sungguh itu hanya menandakan bahwa Losuhu dan para suhu di kuil ini memiliki kepandaian
yang tak dapat diukur tingginya!”
Ciong-hwesio terkejut sekali dan merasa tersudut, maka sebagai seorang yang banyak pengalaman dan
cerdik, dia cepat menggoyang tangan dan menarik napas panjang.
“Amithaba....! Orang seperti pinceng dan para teman yang lemah ini, mana mungkin dapat menandingi
mereka? Untung ada Bu-taihiap dan isterinya yang membantu sehingga kami semua dapat keluar dengan
selamat dari pertempuran itu.”
Orang muda itu mengangguk-angguk. “Ahhh, jadi Bu-taihiap dan isterinya yang tadi menghadapi mereka?
Akan tetapi, Sang Pangeran tetap saja hilang?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciong Hwesio menjadi waspada. Orang muda ini tidak boleh dipandang ringan, dan memiliki kecerdikan
dan ketenangan yang luar biasa. Maka dia pun menjawab dengan merangkapkan tangan di depan
dadanya, “Amithaba, begitulah yang terjadi, Sicu. Pinceng sendiri tidak tahu siapa yang menculiknya,
hanya menduga siapa lagi kalau bukan teman-teman Im-kan Ngo-ok yang sengaja menyerbu dan
memancing kami semua keluar dari kuil menghadapi mereka sehingga Sang Pangeran yang tadinya kami
kira tamu biasa, dapat diculik orang dengan mudahnya.”
“Jadi tidak ada seorang pun suhu di kuil ini yang sempat melihat siapa penculiknya?”
Ciong-hwesio menggeleng kepalanya dan orang muda itu lalu menjura, “Terima kasih atas semua
keterangan Losuhu.” Orang muda itu berkelebat dan lenyap seperti pandai menghilang saja.
Setelah orang muda itu menghilang, Ciong-hwesio menjadi gelisah. Dia tidak mengenal siapa adanya
pendekar muda ini, akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini lihai sekali. Celakanya, dia tidak dapat
menduga di golongan mana pendekar ini berpihak. Di golongan musuh Pangeran seperti Im-kan Ngo-ok
yang hendak membunuh Pangeran? Ataukah di golongan kaum patriot? Agaknya tidak mungkin kalau
pemuda itu memihak kaum patriot, karena kalau demikian halnya tentu dia telah mengenalnya, dan
sikapnya tidak seperti itu, seolah-olah mencurigai dan menyelidikinya. Ataukah di golongan pelindung
Pangeran seperti banyak terdapat pada golongan pendekar? Mungkin sekali.
Belum lama ini pun, Siauw-lim-pai telah menganjurkan murid-muridnya untuk melindungi Pangeran yang
dianggapnya bijaksana, tidak seperti ayahnya yang kini menjadi kaisar. Akan tetapi, semenjak Kaisar
memusuhi Siauw-lim-pai, ada perintah baru dari pihak Siauw-lim-pai, dan siasat yang sekarang ini pun
disetujui Siauw-lim-pai, yaitu hendak mempergunakan Pangeran sebagai sandera untuk mengekang
kelaliman Kaisar.
Karena sangsi dan khawatir, Ciong-hwesio lalu mengumpulkan anak buahnya dan dia sendiri lalu naik
kuda dan diam-diam pada pagi hari sekali itu sudah membalapkan kudanya untuk segera menyusul
rombongan pembantu-pembantunya yang melarikan Sang Pangeran.
Sementara itu, ‘Sang Pangeran’ yang dilarikan oleh lima orang hwesio itu membalapkan kudanya
memasuki hutan yang gelap. Setelah tiba di tempat gelap, terpaksa kuda mereka tidak dapat dibalapkan
lagi dan seorang di antara para hwesio itu menangkap kendali kuda dan menuntun kuda yang ditunggangi
Sang Pangeran ini supaya berjalan perlahan-lahan menyusup ke dalam hutan.
Setelah munculnya hwesio tinggi besar muka hitam yang ternyata telah dikenal oleh Tang Cun Ciu sebagai
Cu Kang Bu, tokoh ke tiga dari penghuni Lembah Suling Emas, maka tentu mudah diduga oleh para
pembaca siapa adanya hwesio bertubuh kecil ramping yang ternyata seorang wanita dan yang kini
menggantikan kedudukan Sang Pangeran dengan penyamarannya yang persis itu. Tentu saja, siapa lagi
kalau bukan Ang-siocia atau Yu Hwi yang pandai melakukan penyamaran seperti itu? isteri Cu Kang Bu ini,
bekas murid Hek-sin Touw-ong, selain pandai ilmu silat yang tinggi, juga pandai sekali dalam ilmu
mencopet atau mencuri dan di samping ini pandai sekali dalam ilmu menyamar. Tentu saja nenek tua yang
berjubel di antara mereka yang bersembahyang di kuil Hok-te-kong siang hari sebelumnya adalah Yu Hwi
juga, yang datang sebagai nenek untuk melakukan penyelidikan dan ia telah melihat Bu-taihiap di dalam
kuil.
Yu Hwi dan suaminya, Cu Kang Bu, pergi meninggalkan Lembah Naga Siluman, yaitu nama sebutan baru
dari Lembah Suling Emas setelah keluarga Cu dikalahkan oleh Kam Hong sebagai ahli waris Suling Emas,
karena mereka berdua merasa khawatir akan keselamatan Cu Pek In, keponakan mereka. Tadinya mereka
mengira bahwa Cu Pek In hanya akan pergi sebentar saja. Akan tetapi setelah ditunggu-tunggu sampai
sebulan tidak juga gadis itu pulang, Cu Kang Bu merasa tidak enak sekali terhadap twako-nya yang kini
bersama Ji-konya bertapa di tempat yang terasing. Dia merasa bertanggung jawab akan keselamatan dara
itu, maka dia pun lalu meninggalkan lembah bersama isterinya untuk mencari Cu Pek In yang minggat itu
dan membujuknya agar pulang ke lembah.
Karena jejak dara itu menuju ke timur, maka mereka pun melakukan pengejaran dan akhirnya mereka tiba
di kota Pao-ci di mana mereka secara kebetulan mendengar percakapan para pendekar yang melindungi
Pangeran bahwa Sang Pangeran yang menyamar sebagai seorang pemuda biasa itu kini menginap di
dalam kuil Hok-te-kong. Cu Kang Bu merasa tertarik, demikian pula isterinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah lama mereka berdua mendengar di dalam perjalanan itu tentang keributan di istana, tentang
kematian Sam-thaihouw, tentang kelaliman Kaisar yang memusuhi Siauw-lim-pai. Juga tentang Pangeran
Kian Liong yang kabarnya amat bijaksana dan mencintai rakyat. Timbul perasaan suka dan kagum dalam
hati suami isteri perkasa ini. Akan tetapi ketika secara kebetulan pula mereka melihat Im-kan Ngo-ok
berada di kota itu, hati mereka terkejut bukan main dan penuh kekhawatiran.
Mereka bukanlah orang-orang yang semata-mata membela Pangeran karena politik, bukan pula
menentang kaum patriot. Mereka ini adalah suami isteri yang tidak ingin melibatkan diri dengan semua
urusan perebutan kekuasaan itu, akan tetapi mereka berpihak kepada Pangeran hanya dengan dasar
bahwa menurut yang mereka dengar, Pangeran adalah seorang pemuda yang bijaksana dan mencinta
rakyat. Seorang yang baik, dan kini orang yang mereka kagumi itu agaknya terancam bahaya besar
dengan adanya Im-kan Ngo-ok berkeliaran di kota yang sama.
Itulah sebabnya mengapa Yu Hwi menyamar sebagai seorang nenek tua yang ingin bertemu dengan
Ciong-hwesio untuk minta diberi nama pada cucu buyutnya. Kehadiran Bu-taihiap di tempat itu membuat
mereka maklum bahwa urusan ini bukan urusan kecil, tetapi urusan yang mengandung politik di mana
orang-orang yang memiliki kesaktian ikut pula terlibat. Maka mereka bersikap hati-hati. Bagi mereka yang
terpenting adalah menyelamatkan Sang Pangeran Mahkota, baik dari tangan orang-orang yang hendak
membunuhnya, mau pun dari tangan siapa pun yang mempunyai itikad buruk terhadap Pangeran itu.
Demikianlah, dengan kepandaiannya dalam ilmu penyamaran, Yu Hwi lalu berdandan dan mendandani
suaminya. Dengan topeng-topeng yang memang selalu siap di dalam buntalannya, dia dan suaminya
berubah menjadi hwesio-hwesio. Dengan berani mereka menemui Ciong-hwesio, berhasil mengelabuhi
semua hwesio dan diterima sebagai rekan-rekan yang boleh dipercaya. Ketika mereka berdua diuji oleh
Ciong-hwesio, tentu saja mereka mampu mainkan beberapa jurus ilmu silat Siauw-lim-pai yang umum.
Tentu saja ‘Pangeran’ yang dikawal oleh lima orang anak buah Ciong-hwesio itu adalah Yu Hwi yang
menyamar. Tadinya, Cu Kang Bu bersama Pangeran Kian Liong yang menyamar sebagai dua orang
hwesio itu, turut pula mengawal. Akan tetapi tidak lama kemudian, sesuai dengan rencana suami isteri itu,
Cu Kang Bu lalu mengajak Sang Pangeran itu untuk kembali ke kuil dan menyuruh lima orang hwesio
untuk melanjutkan pengawalan mereka.
“Pinceng berdua mesti menolong Ciong-suhu menghadapi orang-orang jahat,” demikian Cu Kang Bu yang
menyamar sebagai hwesio tinggi besar muka hitam itu memberi alasan kepada para hwesio anak buah
Ciong-hwesio itu.
Tentu saja mereka merasa setuju, mengingat bahwa yang menyerbu kuil adalah tokoh-tokoh sakti seperti
Im-kan Ngo-ok itu. Dan demikianlah, Cu Kang Bu menggendong Pangeran dan dengan cepat lari kembali
ke kuil tanpa dilihat oleh para hwesio yang mengawal ‘Pangeran’ itu. Cu Kang Bu kemudian menyuruh
Pangeran Kian Liong yang menyamar sebagai hwesio itu menanti agak jauh dari kuil, bersembunyi di
dalam bagian yang gelap, sedangkan dia sendiri dengan gerakan cepat sekali lari ke kuil dan seperti telah
kita ketahui, dia berhasil membantu Bu Seng Kin dan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu memukul mundur Imkan
Ngo-ok.
Oleh karena suaminya pergi bersama Sang Pangeran sesuai dengan rencana, yaitu suaminya akan
membawa pergi Pangeran Kian Liong dan mengamankannya dari pengejaran semua orang yang beritikad
buruk terhadap Sang Pangeran, maka Yu Hwi yang sekarang menggantikan kedudukan Pangeran itu
berada sendirian saja dengan lima orang hwesio yang mengawalnya. Ia tidak segera mau bergerak,
menanti sampai lama untuk memberi kesempatan kepada suaminya agar suaminya dapat membawa Sang
Pangeran ke tempat yang jauh dan aman betul.
Ia tidak tahu bahwa ada sedikit perubahan, yaitu bahwa suaminya tidak langsung membawa pergi
Pangeran Kian Liong, melainkan kembali ke kuil untuk membantu menghadapi Im-kan Ngo-ok. Hal ini di
luar perhitungannya, menyimpang dari siasat mereka. Yu Hwi tidak tahu bahwa melihat bekas Toaso itu
harus berhadapan dengan Im-kan Ngo-ok yang lihai, hati suaminya tidak dapat membiarkan begitu saja
tanpa membantu.
Kini hati wanita yang cerdik ini menjadi tenang setelah Sang Pangeran berhasil diajak pergi oleh suaminya.
Kalau ia mau, tentu pada saat itu juga dengan mudah ia akan dapat meloloskan diri dari ‘pengawalan’ lima
orang hwesio itu. Akan tetapi Yu Hwi tidak mau menimbulkan keributan dan membuka rahasia pada malam
itu juga karena dengan demikian tentu suaminya yang membawa pergi Sang Pangeran itu belum tiba di
tempat seperti yang mereka rencanakan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menurut rencana mereka, malam itu juga Cu Kang Bu akan membawa Sang Pangeran menuju ke kota
besar Sian melalui jalan sungai dan baru pada keesokan harinya, Yu Hwi akan menyusulnya dengan jalan
darat. Mereka akan saling bertemu di Sian. Dan Yu Hwi akan meninggalkan para pengawalnya, kalau
mungkin tanpa mereka ketahui sehingga para pengawal itu hanya akan kehilangan ‘pangeran’ dan
menduga bahwa Pangeran itu tentu diculik orang tanpa setahu mereka. Dan hal ini tidak mungkin
dilakukan oleh Yu Hwi selama mereka berenam masih menunggang kuda di dalam hutan itu.
Dan ternyata enam orang hwesio itu membawanya berkuda terus sampai mereka keluar dari hutan itu dan
tiba di luar hutan, di sebuah lereng sunyi di tepi sungai, setelah hampir pagi! Di tempat sunyi itu telah
disediakan sebuah pondok kayu sederhana dan para hwesio itu mempersilakan Sang Pangeran untuk
beristirahat di dalam kamar kayu di pondok itu. Mereka sendiri lalu membuat api unggun karena hawa
udara amat dinginnya, dan ada yang memasak air. Ada pula seorang di antara mereka yang bersiap siaga
di luar jendela kamar itu dengan toya di tangan.
Yu Hwi merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu yang berada dalam kamar itu. Ia merasa lelah dan
mengantuk sekali. Tentu saja dia merasa lelah karena dia harus menunggang kuda hampir semalam
suntuk, terutama karena kedua kakinya diganjal agar ia menjadi sejangkung Pangeran.
Akan tetapi, tiba-tiba pendengarannya yang terlatih itu menangkap suara yang tidak wajar, di luar jendela
kamarnya. Cepat, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, dia meloncat turun dan mengintai dari lubang
celah-celah jendela. Dan matanya terbelalak melihat sosok bayangan yang gerakannya cepat sekali,
berkelebat tiba di belakang hwesio penjaga yang memegang toya itu dan sekali bayangan itu
menggerakkan tangan menepuk pundak maka hwesio itu tanpa mengeluh menjadi lemas dan pingsan!
Bayangan itu kemudian menarik hwesio penjaga, merebahkannya dengan posisi duduk bersandar dinding
pondok, toyanya bersandar dinding pula, dan nampaknya seperti penjaga itu masih berjaga namun sambil
duduk karena lelah dan kantuknya! Kemudian, bayangan itu mendorong daun jendela terbuka dan
meloncat masuk. Yu Hwi sudah bersiap-siap, tetapi ia menjadi bengong dan begitu besar keheranan dan
kekejutannya sampai ia tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara apa pun.
Tentu saja ia mengenal bayangan ini setelah memasuki kamar pondok, oleh karena bayangan ini bukan
lain adalah Kam Hong!
“Sssttt.... harap jangan bersuara, Pangeran,” bisik Kam Hong. ”Paduka berada dalam bahaya. Hwesiohwesio
itu ialah anggota kaum patriot yang menentang Kaisar. Hamba datang untuk menyelamatkan
Paduka.”
Dan sebelum Yu Hwi hilang kagetnya, tiba-tiba saja Kam Hong sudah memondongnya dan membawanya
meloncat keluar dari jendela itu, terus berloncatan dengan kecepatan kilat menghilang di antara pohonpohon
dalam cuaca yang masih remang-remang itu!
Tentu saja Yu Hwi menjadi terkejut, terheran, marah, malu dan entah perasaan macam apa lagi yang
mengaduk hatinya ketika ia dipondong dengan tangan Kam Hong seperti itu dan dibawa lari ke dalam
hutan! Kalau menurut perasaannya, ingin dia meronta, bahkan mungkin sambil memukul pria muda yang
pernah menjadi calon suaminya, menjadi tunangannya yang syah!
Akan tetapi ia tidak mau membikin gaduh karena kalau terjadi demikian, tentu para hwesio akan
mendengar dan rahasianya bahwa ia bukanlah Pangeran Kian Liong akan terbuka. Oleh karena itu,
terpaksa ia menahan dirinya, diam saja membiarkan dirinya dipondong dan dilarikan oleh Kam Hong. Akan
tetapi setelah mereka lari jauh ke dalam hutan dan sinar matahari pagi mulai menerobos masuk hutan
melalui celah-celah daun pohon, tiba-tiba Yu Hwi tak dapat menahan rasa malunya lagi dan ia segera
menjerit, “Lepaskan aku! Lepaskan!”
Kam Hong terkejut bukan main mendengar jeritan ini. Mengapa suara Pangeran Kian Liong berubah
menjadi suara perempuan? Dia cepat melepaskan pondongannya dan memandang dengan kedua mata
terbelalak. Orang ini masih Pangeran yang dibawanya lari tadi! Akan tetapi suara itu....!
“Pangeran....,” katanya bingung. “Ada apakah maka Paduka....”
“Pangeran! Pangeran! Apakah matamu sudah buta? Tak tahu malu!” Dan Yu Hwi sudah melangkah maju
dan kedua tangannya menyambar untuk menampar muka Kam Hong!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja pendekar ini terkejut dan menjadi semakin heran. Tamparan Pangeran itu bukanlah tamparan
orang biasa, melainkan tamparan yang dilakukan oleh orang yang memiliki tenaga sinkang yang amat kuat!
Maka tentu saja dia mengelak mundur, masih bingung karena kembali dia mendengar betapa suara
pangeran ini mirip suara seorang wanita.
Teringatlah Kam Hong kini betapa ketika dia memondong dan melarikan Pangeran tadi, dia mencium bau
harum yang lembut dan juga dia merasa betapa tubuh Pangeran itu mempunyai kehangatan dan
kelembutan yang membuat dia tadi diam-diam merasa heran. Ia tadi mengira bahwa memang seorang
pangeran, seorang pemuda bangsawan tertinggi dan kehidupannya serba mulia dan mewah memang
sudah sepatutnya memiliki kelembutan seperti wanita, maka semua itu tidak dipedulikannya.
Sekarang barulah dia mengerti. Kiranya Pangeran Kian Liong ini seorang wanita! Dan terkejutlah dia.
Pangeran itu sudah terkenal sekali dan jelas bukan wanita. Kalau begitu, ini tentu seorang wanita yang
menyamar sebagai Pangeran Kian Liong! Dan sepanjang pengetahuannya, wanita yang pandai melakukan
penyamaran sehebat itu di dunia ini hanya seorang saja!
“Kau.... kau siapa? Dan apa artinya ini....?” Dia memandang terbelalak sambil terus mengelak mundur.
“Apa artinya....? Artinya.... engkau buta atau memang kurang ajar, mempergunakan kesempatan....!” Yu
Hwi terus mendesak dan sekarang bukan hanya ingin menampar, melainkan melakukan seranganserangan
pukulan yang dahsyat!
Kam Hong mengelak dan kadang-kadang menangkis. Sekarang dia yakin benar bahwa ‘pangeran’ ini tentu
penyamaran Yu Hwi, bekas tunangannya itu! Dan dia disangka telah tahu akan penyamaran itu dan
dengan dalih menolong pangeran ia dikira menggunakan kesempatan itu untuk memondong dan
memeluknya!
“Ah kau salah duga.... dengarlah dulu....,” Kam Hong berkata. Akan tetapi wanita yang berwatak keras itu
menyerangnya terus.
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring, “Hwi-moi, apa artinya ini?”
Mendengar suara ini, Yu Hwi menghentikan serangan-serangannya, menoleh, lalu lari menubruk dan
merangkul suaminya sambil menangis! Sedangkan Kam Hong berdiri memandang dengan muka merah,
merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa.
“Yu Hwi, ada apakah....?” Cu Kang Bu merangkul isterinya, kemudian mengangkat muka memandang
kepada Kam Hong dengan sinar mata berkilat, alisnya berkerut mengandung keraguan dan juga
kecurigaan.
Melihat isterinya masih menangis sesenggukan, kembali Cu Kang Bu bertanya, “Apa artinya ini? Hwi-moi,
kenapa engkau menangis? Apa yang telah terjadi?”
“Dia.... dia memondongku.... hu-huuh....!” Yu Hwi akhirnya berkata sambil menangis.
Mendengar ini, Cu Kang Bu terkejut bukan main. Dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa. Andai
kata dia tidak mengenal Kam Hong, tentu ucapan isterinya itu akan diselidiki lebih dulu sebab-sebabnya
mengapa isterinya dipondong orang. Akan tetapi dia mengenal Kam Hong sebagai bekas tunangan
isterinya, maka ucapan isterinya itu tentu saja membuat mukanya seketika menjadi merah dan sinar
matanya mengandung kemarahan besar. Dia melepaskan rangkulannya dan melangkah maju menghadapi
Kam Hong.
“Orang she Kam....,” suaranya terdengar kaku. “Aku mengenal siapa engkau, tahu bahwa engkau adalah
seorang yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan kami pernah dikalahkan olehmu, akan tetapi jangan
mengira bahwa aku takut menghadapi kematian di tanganmu untuk membela kehormatan isteriku! Majulah,
kita hanya dapat mencuci penghinaan ini dengan darah!”
Kam Hong menarik napas panjang dan mukanya yang tadinya pucat itu kini menjadi merah. Dia
menggeleng kepalanya beberapa kali. Menarik napas panjang lagi, lalu memandang kepada pria tinggi
besar itu dengan sinar mata penuh penyesalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Maafkanlah kalau tanpa kusengaja aku telah membuatmu marah, Saudara Cu Kang Bu. Akan tetapi
dengar dulu penjelasanku sebelum engkau mengambil kesimpulan dan pendapat yang mungkin keliru dan
kelak hanya akan membuatmu menyesal. Kebetulan aku mendengar tentang bahaya yang mengancam
Pangeran Kian Liong di kota Pao-ci dan kebetulan pula aku melihat Im-kan Ngo-ok. Maka aku lalu
melakukan penyelidikan pagi lewat tengah malam tadi di kuil di mana Pangeran itu mondok. Aku
mendengar dari para hwesio bahwa kuil diserbu Im-kan Ngo-ok dan bahwa Pangeran diculik teman-teman
Im-kan Ngo-ok. Maka aku lalu melakukan pengejaran dan pencarian. Akhirnya aku melihat Sang Pangeran
di dalam pondok yang dijaga oleh beberapa orang hwesio. Aku lalu memasuki pondok dan aku cepat
memondong dan melarikan Pangeran dari pondok itu, khawatir kalau-kalau sampai ada Im-kan Ngo-ok
yang mengejar. Aku khawatir jika harus menghadapi lima orang tangguh itu, tentu aku tak dapat melindungi
Pangeran dengan baik. Sungguh mati aku tidak tahu bahwa yang kupondong adalah seorang pangeran
palsu. Sungguh sukar membedakan karena.... karena memang cuaca masih agak gelap dan aku sama
sekali tidak menyangka....“
Wajah yang tadinya merah itu kini berseri dan Cu Kang Bu merasa lapang dadanya. Dia menoleh kepada
isterinya. “Hwi-moi, benarkah itu....?”
Yu Hwi mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.
“Kalau benar, mengapa engkau menangis dan marah-marah?” suaminya bertanya.
Yu Hwi mengangkat mukanya. “Habis, apakah aku harus merasa senang dan tertawa? Dia memondongku,
mengertikah engkau? Aku merasa terhina!”
“Ahhh, Hwi-moi, mengapa pandanganmu begitu dangkal? Kam-taihiap melakukannya karena tak sengaja,
karena tidak tahu bahwa yang dipondongnya bukan Pangeran asli! Ha-ha-ha-ha!” Cu Kang Bu tertawa
karena merasa betapa lucunya peristiwa itu. Yu Hwi masih menunduk dengan muka merah dan mulut
cemberut.
“Aku mohon maaf, baik kepada Adik Yu Hwi mau pun kepadamu, Saudara Cu,” kata Kam Hong.
“Ahhh, kami yang harus minta maaf kepadamu, Kam-taihiap. Isteriku telah bersikap kekanak-kanakan dan
tidak adil padamu, sedangkan aku....,“ pria tinggi besar itu menghela napas panjang. “Agaknya aku masih
harus banyak belajar darimu, Taihiap. Aku masih belum dapat menguasai diri, mudah terseret oleh
perasaan dan cemburu. Sungguh memalukan sekali.”
Mendengar percakapan dua orang gagah itu, Yu Hwi kini baru sadar bahwa memang sikapnya tadi amat
keterlaluan. Ia pun dapat mengerti bahwa bekas tunangannya itu tentu saja tidak dapat mengenal
penyamarannya. Dan ia pun tadi marah-marah karena dorongan emosi yang timbul karena merasa
canggung dan malu.
Maka untuk membelokkan percakapan mengenai urusan itu, ia cepat-cepat bertanya kepada suaminya, “Di
mana beliau? Kenapa tak kelihatan bersamamu?”
Dan memang membelokkan percakapan ini tepat sekali. Suaminya menghela napas panjang dan kelihatan
kecewa dan gelisah sekali setelah teringat akan Pangeran itu.
“Sungguh aku merasa menyesal bukan main. Beliau telah lenyap....”
“Lenyap?” Penegasan ini dikeluarkan oleh dua mulut, yaitu mulut Kam Hong dan Yu Hwi.
Kembali Cu Kang Bu menarik napas panjang. “Salahku....! Pada waktu aku membawa Pangeran keluar,
aku melihat pertempuran antara Im-kan Ngo-ok melawan Bu Seng Kin dan Toaso-ku....”
“Ahh, Subo juga ikut....?” Yu Hwi berseru kaget dan heran.
Suaminya mengangguk. “Subo-mu kini agaknya telah bersatu dengan Bu Seng Kin....,” di dalam suaranya
terkandung kepahitan, mengingatkan dia akan kematian twako-nya karena perbuatan Toaso-nya yang
berjinah dengan Bu Seng Kin. ”.... melihat kelihaian Im-kan Ngo-ok, dan mengingat akan hubungan antara
Toaso dengan keluarga kita, terutama mengingat bahwa betapa pun juga ia adalah gurumu, maka aku lalu
menyuruh Pangeran bersembunyi dan aku lalu membantu mereka mengusir Im-kan Ngo-ok. Akan tetapi
setelah berhasil, dan aku kembali ke tempat di mana kutinggalkan Pangeran, beliau telah lenyap tanpa
dunia-kangouw.blogspot.com
meninggalkan jejak. Aku mencarinya sampai berputar-putar dan akhirnya aku hendak menyusulmu untuk
kuajak mencari bersama-sama. Nah, aku jumpai kalian di sini....”
“Saudara Cu, Adik Yu Hwi, selamat berpisah, aku harus mencari Pangeran!” Setelah berkata, dengan tibatiba
saja Kam Hong meloncat dan lenyap.
Suami isteri itu merasa kagum dan mereka pun pergi dari situ karena tidak ingin diketahui orang bahwa
mereka yang telah melarikan Pangeran. Yu Hwi cepat berganti pakaian dan kini suami isteri ini tidak
menyamar lagi…..
********************
Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong? Ketika Pangeran itu bersama hwesio tinggi besar
meninggalkan kuil dan Pangeran itu menyamar sebagai seorang hwesio pula, Pangeran Kian Liong
merasa amat gembira dan juga tegang hatinya. Baru sekarang dia mengalami peristiwa yang amat
mendebarkan, lucu dan menggelikan. Dia menyamar sebagai hwesio! Hal ini merupakan semacam
pengalaman atau permainan baru bagi Pangeran muda yang tabah ini. Dia pernah menyamar sebagai
seorang pelajar biasa, seorang pelancong, bahkan pernah dia menyamar sebagai seorang jembel muda
ketika dia melakukan perjalanan mengembara untuk memperdalam pengalamannya dan untuk dapat
mengenal kehidupan rakyatnya secara lebih dekat lagi. Tetapi menjadi hwesio? Baru sekarang inilah! Dia
menjadi seorang hwesio gundul tanpa kehilangan rambutnya yang panjang tebal.
Pangeran Kian Liong bersembunyi di dalam bayangan yang gelap ketika hwesio tinggi besar itu
meninggalkannya dan memesan agar dia tinggal dulu di situ karena hwesio tinggi besar itu akan melihat
keadaan dan membantu para hwesio menghalau pengacau yang datang menyerbu dan yang mempunyai
maksud buruk dan jahat terhadap Sang Pangeran.
Tetapi, tidak lama kemudian setelah hwesio tinggi besar itu meloncat pergi, Pangeran itu merasa tidak
betah tinggal menyembunyikan dirinya di balik bayangan gelap itu. Dia kan sudah menyamar sebagai
hwesio? Siapa yang akan tahu bahwa hwesio ini adalah Pangeran Mahkota? Terdorong oleh sifatnya yang
pemberani, juga oleh kesenangannya menonton pertempuran adu silat, dan tertarik oleh suara-suara
perkelahian di dalam kuil itu, Pangeran Kian Liong akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan
melangkah menuju ke kuil kembali untuk melihat perkelahian!
Dan pada saat dia tiba di dinding pagar kuil, tiba-tiba terdengar seruan perlahan memanggilnya, “Paduka di
sini, Pangeran?”
Otomatis lupa akan penyamarannya, Pangeran itu menjawab, “Benar, siapakah Anda?”
Pemuda tampan gagah itu tidak menjawab, langsung menyambar dan memanggulnya, dan melarikan diri
di tempat gelap. Sebelum Pangeran itu sempat mengeluarkan suara, dua buah jari tengah telah menekan
tengkuknya, membuat Pangeran itu tidak mampu mengeluarkan suara lagi. Dan pemuda itu berlari dengan
kecepatan yang luar biasa, membuat Sang Pangeran terpaksa harus memejamkan mata karena ngeri juga.
Menjelang pagi, barulah pemuda itu berhenti dan mereka sudah berada jauh di sebelah utara kota Pao-ci,
sudah mendekati kota Thian-sui yang berada di luar perbatasan Propinsi Shan-si dan sudah termasuk
dalam Propinsi Kan-su. Dan ternyata di sebuah tempat yang sunyi dalam sebuah dusun, di situ telah
menanti sebuah kereta dan Pangeran Kian Liong kemudian dibawa masuk ke dalam kereta oleh pemuda
yang melarikannya itu.
Di dalam kereta telah menanti tiga orang wanita cantik, dan kini, setelah ‘pemuda’ itu tidak lari lagi dan
dapat dilihat wajahnya, Sang Pangeran baru maklum dan merasa terheran-heran mendapat kenyataan
bahwa pemuda itu pun ternyata adalah seorang wanita! Bahkan kini dia pun teringat bahwa dia pernah
melihat empat orang wanita cantik ini sebagai pembantu dan pengawal mendiang Sam-thaihouw!
Dia tidak mengenal nama mereka, tidak tahu siapakah adanya empat orang wanita cantik ini, akan tetapi
dia pernah melihat mereka ini mengawal Ibu Suri Ke Tiga itu. Maka Sang Pangeran pun mengertilah
bahwa dia terjatuh ke tangan orang-orang yang sangat boleh jadi memusuhinya, atau setidaknya mereka
ini adalah bekas tangan kanan atau pembantu-pembantu Sam-thaihouw yang selalu menganggapnya
sebagai musuh.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagus sekali, A-ciu, engkau berjasa besar sekali ini. Memang aku tahu, hanya engkau di antara kita yang
paling pandai menyamar,” A-hui, orang pertama dari Su-bi Mo-li (Empat Iblis Betina Cantik) itu berkata
memuji adiknya yang paling muda.
“Wah, tetapi aku merasa tegang dan ngeri, Twa-ci (Kakak Perempuan Tertua), kalau mengingat betapa
orang-orang sakti berada di sana, sedang bertempur menghadapi suhu-suhu kita,” jawab A-Ciu sambil
bergidik. “Untung sekali orang sakti, hwesio tinggi besar itu meninggalkan Pangeran seorang diri, kalau
tidak, mana aku berani turun tangan?”
“Betapa pun juga, kita telah berhasil. Mari kita cepat membawanya pergi dari sini,” kata pula A-hui.
Mereka itu bercakap-cakap di depan Pangeran, seolah-olah Sang Pangeran itu tidak ada saja, sama sekali
tak peduli bahwa Sang Pangeran mendengar semua percakapan mereka. A-ciu yang masih menyamar
sebagai pria itu kini duduk di tempat kusir dan mencambuk dua ekor kuda yang segera lari menarik kereta
itu. Sedangkan tiga orang cici-nya duduk di dalam kereta bersama Sang Pangeran.
Para pembaca tentu masih ingat akan Su-bi- Mo-li, empat orang wanita cantik yang menjadi murid-murld
terkasih itu. Sampai sekarang pun, semuanya belum juga menikah dan masih hidup berempat sebagai
petualang-petualang wanita yang namanya ditakuti oleh banyak orang kang-ouw, karena selain mereka ini
amat lihai, juga mereka ini kejam dan ganas sekali.
Yang tertua bernama A-hui, kini berusia tiga puluh lima tahun dan seperti juga dahulu, ia selalu memakai
baju berwarna kuning. Ada tahi lalat di dagunya dan tahi lalat ini di samping mendatangkan kemanisan
pada wajahnya, juga mendatangkan bayangan kekerasan hati yang mengerikan. Orang ke dua bernama Akiauw,
berusia tiga puluh dua tahun, selalu memakai baju merah. Orang ke tiga, yang memakai baju biru
bernama A-bwee, berusia tiga puluh satu tahun, sedangkan A-ciu, yang termuda berusia tiga puluh tahun,
jika berpakaian biasa sebagai wanita selalu memakai baju hijau dan A-Ciu ini wajahnya manis sekali,
gerak-geriknya lincah dan sedikit lebih genit dari pada kakak-kakaknya. Mereka semua merupakan ahli-ahli
pedang yang lihai dan jarang mereka itu bergerak sendiri-sendiri, tentu selalu berempat.
Di dalam kereta Sang Pangeran menghadapi tiga orang wanita itu. Beberapa saat lamanya dia
memandang tajam kepada mereka tanpa kata-kata. Dan tiga orang wanita itu, yang oleh orang-orang
kang-ouw dinamakan iblis-iblis betina, orang-orang yang sudah terbiasa dengan segala perbuatan kejam,
yang dapat membunuh orang tanpa berkedip mata, kini lebih banyak menundukkan muka, tidak dapat
bertahan lama menentang pandang mata Pangeran muda itu.
Sikap Pangeran ini sungguh amat mengagumkan dan menimbulkan rasa segan dan takut. Sikap yang
sedikit pun tidak membayangkan rasa takut atau khawatir, bahkan dari sepasang mata yang tajam dan
jernih itu terdapat pandangan seperti orang dewasa melihat tingkah laku anak-anak nakal, bibirnya
mengandung senyum bertoleransi besar, seolah-olah dia maklum sudah mengapa anak-anak di depannya
itu berbuat nakal seperti itu dan sudah siap untuk memaafkan!
Akhirnya, menghadapi tiga orang wanita yang duduk bersila di depannya, yang hampir tak berani lagi
mengangkat muka memandangnya karena tanpa setahunya ada wibawa keluar dari dirinya, Sang
Pangeran berkata, suaranya halus namun mengandung nada teguran.
“Bukahkah kalian berempat ini dulu pernah menjadi pengawal-pengawal dari mendiang Sam-thaihouw?”
Tiga orang wanita itu mengangkat kepala untuk saling pandang dan mereka itu nampak bingung dan
gugup, akan tetapi terpaksa A-hui, sebagai seorang pertama yang memimpin, memberanikan hatinya yang
berdebar untuk mengangkat muka memandang wajah Pangeran itu. “Benar, Pangeran....,“ jawabnya,
suaranya lirih. Akan tetapi setelah ia memandang mata yang tajam dan peramah itu, keberaniannya mulai
timbul kembali dan ia mulai tersenyum manis.
Pangeran Kian Liong yang tahu bahwa tiada gunanya lagi baginya untuk menyamar, karena empat orang
wanita ini sudah mengenalnya, lalu melepaskan topengnya, yaitu topeng penutup muka dan kepalanya.
Kepala gundul itu pun berubahlah menjadi kepala yang berambut hitam tebal, dan nampaklah wajahnya
yang asli, wajah seorang pemuda tampan.
Dan kini A-hui dan dua orang adiknya memandang kagum. Sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke
dalam kereta melalui celah-celah jendela kereta, dan melihat pemuda yang tampan dan berwibawa, yang
sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut itu, diam-diam mereka kagum dan tunduk sekali. Pangeran
dunia-kangouw.blogspot.com
Kian Liong menanggalkan pula jubah pendeta dan kini sepenuhnya dia telah menjadi pangeran kembali,
sungguh pun dia masih mengenakan sepatu pendeta karena sepatunya sendiri telah dipakai oleh Yu Hwi.
“Nah, katakan, apa maksud kalian melarikan aku ini? Apa yang kalian kehendaki dariku?”
Pertanyaan yang diajukan dengan kata-kata yang jelas, dengan suara yang tenang dan pandang mata
yang tajam itu membuat A-hui nampak gugup.
“Kami.... kami....“ dan ia tak mampu melanjutkan kata-katanya, mukanya sebentar pucat sebentar merah.
Hal ini tidaklah mengherankan. Orang yang baginya penuh keinginan, penuh dengan ambisi, adalah orang
yang tidak bebas sehingga gerak-geriknya tidak lagi dapat tenang dan wajar, melainkan setiap gerakgeriknya
dipengaruhi oleh keadaan batinnya yang penuh keinginan itu. Orang yang demikian inilah yang
selalu menjilat-jilat di depan orang yang lebih tinggi atau yang dianggap lebih tinggi, dan selalu bersikap
kejam dan menghina terhadap orang yang dianggap lebih rendah.
“Kalian disuruh oleh orang-orangnya mendiang Sam-thaihouw untuk menculikku dan kemudian
membunuhku?” Pangeran Kian Liong membentaknya, suaranya masih tenang, sedikit pun tidak nampak
rasa takut pada wajahnya.
“Ahh, tidak! Tidak sama sekali, Pangeran,” jawab A-hui. “Sesungguhnya.... kami.... ehh, menyelamatkan
Paduka dari cengkeraman beberapa golongan yang memperebutkan Paduka. Guru-guru kami sendiri tidak
tahu bahwa kami sudah berhasil.... berhasil menyelamatkan Paduka.”
Pangeran Kian Liong mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mau percaya begitu saja kepada mereka
ini. Dari kerling dan senyum mereka, dia tahu orang-orang macam apa adanya wanita-wanita ini. Ada
kecabulan dan kegenitan membayang di dalam sinar mata dan senyum mulut mereka. Ada ketamakan
besar terbayang dalam sinar mata itu.
“Hemm, begitukah? Ceritakan apa yang terjadi, dan mengapa kalian menyelamatkan aku, dan
menyelamatkan dari apa?”
Setelah menarik napas panjang dan batuk-batuk kecil beberapa kali, menenangkan hatinya, akhirnya A-hui
dapat bercerita dengan lancar, dengan sikap yang manis sekali. “Pangeran, setelah mendiang Samthaihouw
meninggal, kami keluar dari istana. Para suhu kami, yaitu Im-kan Ngo-ok, masih terus
berhubungan dengan para kaki tangan Sam-thaihouw, akan tetapi kami tidak lagi. Memang benar bahwa
guru-guru kami menghendaki kami mengamat-amati Paduka dan membantu mereka untuk memberi
laporan dan menanti saat baik agar mereka dapat menangkap Paduka. Dan memang kami yang
melaporkan kepada mereka bahwa Paduka berada di Pao-ci, menyamar sebagai pemuda biasa dan
bermalam di Kuil Hok-te-kong. Akan tetapi ketika kami melihat guru-guru kami berniat buruk terhadap
Paduka, dan ketika guru-guru kami sedang berhadapan dengan orang-orang sakti yang sedang
memperebutkan Paduka, yaitu di antara mereka adalah kaum patriot yang membenci Paduka karena
kebangsaan Paduka, dan juga orang-orang kang-ouw yang sakit hati terhadap Sri Baginda Kaisar, maka
kami mengambil jalan sendiri. Kami melihat Paduka dilarikan seorang hwesio tinggi besar yang amat lihai.
Kami dapat menduga bahwa hwesio yang dipanggul itu tentulah Paduka, karena tadinya, hwesio yang
mirip penyamaran Paduka adalah seorang hwesio Siauw-lim-pai yang pandai. Maka ketika Paduka
ditinggal seorang diri, adik kami A-Ciu lalu melarikan Paduka, sedangkan kami bertiga bersiap di sini
dengan kereta.”
Sang Pangeran mengangguk-angguk. Tentu saja dia maklum sekali bahwa di balik semua itu terkandung
keinginan pribadi dari empat orang ini, karena sungguh sangat tidak boleh jadi kalau perbuatan mereka itu
semata-mata hendak ‘menolong’ dirinya, melainkan hanya merupakan suatu cara untuk mencapai apa
yang mereka lnginkan darinya, tentu saja!
“Sekarang, setelah kalian dapat membawaku, lalu apa yang hendak kalian lakukan? Ke mana kalian
hendak membawaku pergi?”
“Paduka masih terancam, karena orang-orang sakti dari beberapa golongan itu tentu masih akan terus
mencari Paduka dan kalau mereka itu menemukan kami, tentu saja kami tidak mungkin akan dapat
melawan mereka. Di antara mereka itu terdapat golongan guru-guru kami pula! Maka, harap Paduka suka
ikut bersama kami dan akan kami sembunyikan di suatu tempat. Setelah keadaan mereda dan aman,
barulah kami akan mengantar Paduka kembali ke kota raja dengan selamat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum memasuki kota Thian-sui, kereta itu membelok ke kanan dan di lembah Sungai Cing-ho mereka
menuju ke sebuah pondok tua yang terpencil dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi sekali. Namun ketika
Pangeran dipersilakan masuk, ternyata pondok itu di sebelah dalamnya bersih dan baru saja dicat, dengan
perabot sederhana tapi serba baru dan bersih. Agaknya, empat orang wanita ini memang sudah
mempersiapkan tempat itu kalau-kalau mereka berhasil menguasai Pangeran dan secara cerdik mereka
yang pura-pura membantu guru-guru mereka itu ternyata mempunyai rencana sendiri.
Ternyata bukan hanya isi pondok itu saja yang sudah mereka persiapkan, bahkan di situ terdapat bahanbahan
masakan sehingga ketika mereka semua sudah memasuki pondok dan kereta disembunyikan di
belakang pondok, empat orang wanita itu sibuk masak-masak sambil bernyanyi dan bersendau-gurau,
membiarkan Sang Pangeran beristirahat di dalam sebuah kamar yang cukup bersih pula.
Akhirnya mereka berkumpul lagi di tengah pondok, di mana telah diatur meja makan bundar dan masakanmasakan
yang masih mengepul panas memenuhi meja.
“Silakan makan dahulu, Pangeran!” kata mereka sambil tersenyum manis. Ada yang menuangkan air teh
panas, ada yang mengambilkan masakan dan lain-lain.
Pendeknya, Sang Pangeran dilayani dengan manis budi oleh mereka. Pangeran Kian Liong juga menerima
pelayanan itu tanpa banyak komentar, karena dia merasa lapar dan Pangeran ini makan dan minum tanpa
sungkan lagi.
Setelah selesai makan dan meja dibersihkan, barulah Pangeran Kian Liong bertanya kepada empat orang
wanita itu, yang kini telah membersihkan diri dan bertukar pakaian baru, bahkan A-ciu yang tadinya
menyamar sebagai seorang pemuda itu kini ternyata merupakan wanita yang tercantik di antara mereka.
“Nah, sekarang katakanlah kepadaku. Mengapa kalian mau bersusah-payah hendak menolongku?
Bukankah kalian ini bekas kaki tangan Sam-thaihouw yang selalu memusuhiku? Apa pamrih kalian yang
bersembunyi di balik kebaikan kalian ini? Kalian menghendaki hadiah dariku?”
Keempat orang wanita itu saling pandang, kemudian A-hui, sebagai yang tertua dan pemimpin mereka,
dengan sikap manis berkata, “Terus terang saja, Pangeran, memang kami berempat mengharapkan
anugerah Paduka, maka kami mati-matian menentang orang-orang sakti dan berani merebut dan
menyelamatkan Paduka dari ancaman mereka.”
“Hemm, anugerah apa yang kalian kehendaki dariku?” Pangeran itu bertanya, tidak merasa heran karena
memang sudah diduganya bahwa mereka ini tidak mungkin menolongnya tanpa pamrih. “Uang?”
“Tidak, Pangeran. Kami tidak membutuhkan uang. Kami hanya menghendaki agar.... Pangeran mengambil
kami sebagai selir-selir Paduka.”
“Ahhh....?” Wajah Pangeran itu berubah merah, karena malu dan juga marah. “Apa.... apa alasannya maka
kalian ingin menjadi selir-selirku?”
“Sejak lama kami berempat merasa amat kagum kepada Paduka, dan mencinta.... dan kami baru akan
merasa berbahagia kalau dapat menjadi selir-selir Paduka yang selalu melayani Paduka dengan penuh
kasih sayang....,“ kata pula A-hui dengan sikap manis.
Hampir-hampir saja Pangeran Kian Liong tertawa bergelak mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan
suara halus ini. Tentu saja isi hati wanita-wanita itu sudah jelas nampak olehnya.
“Hemm, kalian tidak menghendaki uang karena kalian akan mudah saja memperoleh uang kalau kalian
kehendaki, maka kalian menginginkan agar memperoleh kedudukan tinggi, dan kelak mungkin akan
menjadi seperti Sam-thaihouw, mempunyai kekuasaan besar di istana, Begitukah?”
“Terserah penilaian Paduka. Tapi itulah kehendak kami, yaitu menjadi selir-selir Paduka sebagai imbalan
atas pertolongan kami hari ini kepada Paduka, telah menyelamatkan Paduka dari ancaman maut di tangan
musuh-musuh Paduka.”
“Kalau aku tidak mau memenuhi kehendakmu menjadi selir-selirku itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mau tidak mau Paduka harus memenuhi keinginan kami,” kata A-hui sambil tersenyum. “Ingat, Paduka
berada di tangan kami, dan betapa mudahnya bagi kami untuk membunuh Paduka sekarang juga kalau
kami kehendaki!” kata A-Ciu, wanita termuda yang tadi menyamar sebagai pria.
Sang Pangeran tersenyum. “Mengancam lagi. Hehh, perempuan-perempuan bodoh, apakah kalian kira
aku takut mati? Kalau aku takut mati, tak mungkin aku berada di sini. Entah sudah berapa puluh kali
kematian mengancamku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memaksaku melakukan
sesuatu yang tidak kusukai.”
Empat orang wanita itu saling pandang dan mereka merasa gelisah juga melihat sikap yang tenang sekali
dari Pangeran muda itu. Mereka seperti dapat merasakan bahwa seorang pangeran seperti ini tidak
mungkin diancam dan dipaksa, maka jalan satu-satunya adalah bersikap manis dan membujuknya sampai
berhasil.
“Harap Paduka maafkan kami, Pangeran,” tiba-tiba A-bwe, orang ke tiga yang berbaju biru berkata halus.
“Tentu saja kami tidak akan berani mengganggu seujung rambut pun dari Paduka. Akan tetapi, sementara
ini Paduka hanya tinggal bersama kami di sini, karena musuh-musuh Paduka masih berkeliaran mencaricari
Paduka.”
Pangeran Kian Liong maklum bahwa orang-orang seperti mereka ini tidak akan segan-segan untuk
melakukan kekerasan, bahkan mungkin saja membunuhnya. Dia pun bukan orang bodoh yang nekat dan
membiarkan mereka membunuhnya begitu saja. Dia harus mencari kesempatan untuk membebaskan diri
atau menanti sampai ada orang gagah yang membebaskannya dari tangan empat wanita ini. Sementara
itu, dia harus bersabar, walau pun ini bukan berarti bahwa dia akan merendahkan diri dan menuruti
kemauan mereka.
“Boleh saja aku tinggal di sini asal kalian menyediakan kebutuhanku.”
“Apa kebutuhan Paduka?”
“Buku bacaan yang baik, sejarah-sejarah kuno dan kitab-kitab syair. Makan minum tiap hari yang cukup
pantas, kemudian, jangan kalian menggangguku dan membiarkan aku sendirian membaca kitab.”
“Baiklah, Pangeran,” kata A-hui sambil berkedip kepada tiga orang adiknya, karena ia tahu bahwa terhadap
seorang pangeran muda yang luar biasa ini mereka harus pandai bersiasat dan tidak bersikap kasar.
Biarlah Sang Pangeran merasa tenang dulu, hilang marahnya terhadap mereka dan perlahan-lahan
mereka berempat akan dapat membujuk dan merayunya. Seorang pria muda seperti itu, mustahil tidak
akan jatuh menghadapi rayuan maut mereka berempat, apa lagi kalau dibantu dengan obat-obat
perangsang yang dapat dengan mudah mereka campurkan di dalam makanan untuk Sang Pangeran.
Demikianlah, Sang Pangeran Mahkota disembunyikan oleh empat orang wanita itu tanpa ada yang
mengetahuinya dan semua pencarian yang dilakukan oleh orang-orang berilmu tinggi itu, baik golongan
yang memusuhi Pangeran dan hendak membunuhnya, golongan patriot yang hendak menawannya, mau
pun golongan pendekar yang hendak melindunginya, menjadi sia-sia belaka. Dan tersiarlah berita bahwa
Pangeran Mahkota telah lenyap dari kota Pao-ci tanpa meninggalkan jejak dan berita ini yang pernah
dibicarakan oleh para pimpinan Kun-lunpai kepada Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Bu Ci Sian.
Berita ini pula yang membuat para pimpinan Kun-lun-pai mengutus murid Kun-lun-pai yang pada waktu itu
dianggap paling boleh diandalkan, yaitu seorang pemuda bernama Cia Han Beng, untuk mewakili Kun-lunpai
dan ikut mencari Sang Pangeran. Tentu saja pencarian dari pihak Kun-lun-pai ini mengandung maksud
lain lagi.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang
patriotik, maka kalau mereka mencari Pangeran Mahkota, tentu dasarnya lain dan untuk kepentingan
usaha mereka yang selalu ingin membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah. Dan wakil mereka,
yaitu pemuda Cia Han Beng, adalah seorang pemuda yang disakitkan hatinya oleh Kaisar Yung Ceng.
Ayahnya dibunuh dan ibunya dijadikan selir Kaisar! Biar pun dendam telah dienyahkan dari batinnya, yaitu
dendam pribadi, diisi dengan cita-cita patriotik untuk bangsanya, namun setidaknya peristiwa itu
mempertebal sikapnya memusuhi pihak penjajah yang pada waktu itu dipimpin oleh Kaisar yang telah
menghancurkan kelurga orang tuanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan berita tentang hilangnya Pangeran Kian Liong, maka bermunculanlah tokoh-tokoh kang-ouw yang
sakti dan mereka ini dapat dibagi menjadi empat golongan.
Golongan pertama adalah golongan yang hendak menangkap dan bahkan membunuh Sang Pangeran,
yaitu mereka yang dulunya menjadi anak buah Sam-thaihouw seperti Im-kan Ngo-ok dan yang lain-lain.
Golongan ke dua adalah para patriot yang selain hendak menyelamatkan Pangeran yang dianggapnya
baik dan menguntungkan rakyat jikalau menjadi kaisar kelak, juga hendak mereka jadikan semacam
sandera untuk memaksa Kaisar memenuhi tuntutan-tuntutan mereka.
Golongan ke tiga adalah golongan para pembela Pangeran, yaitu selain para pembela resmi, tokoh-tokoh
pembesar dan pengawal kerajaan, juga para rendekar yang tulus mencinta Pangeran itu dan hendak
menyelamatkannya dari ancaman bahaya musuh-musuhnya tentu saja, sedangkan golongan ke empat
adalah golongan orang-orang seperti Cu Kang Bu dan Yu Hwi, yaitu yang membela Pangeran sebagai
pendekar-pendekar yang tidak ingin melihat perbuatan jahat dilakukan di depan mereka tanpa mereka
menentangnya.
Su-bi Mo-li, empat orang wanita cantik itu, telah melakukan penyelewengan besar dan berbahaya sekali.
Mereka berempat telah berani mengkhianati atau menyeleweng dari perintah lima orang Im-kan Ngo-ok,
guru-guru mereka. Mereka telah membelakangi lima orang tokoh datuk besar itu dan tidak peduli lagi akan
bahaya besar yang mengancam mereka kalau sampai perbuatannya ketahuan.
Semua penyelewengan bentuk apa pun juga didasari karena pengejaran akan sesuatu yang
menyenangkan. Itulah yang membuat kita kadang-kadang menjadi buta, tidak mengenal bahaya, seperti
sekelompok laron yang tertarlk oleh sinar api sehingga tidak tahu akan bahaya dan akhirnya mati terbakar
api itu sendiri.
Mengapa setiap kesibukan kita, setiap tindakan kita, selalu menyembunyikan sesuatu pamrih untuk
mencapai sesuatu yang kita anggap membahagiakan? Mengapa kita selalu membayangkan telah melihat
kebahagiaan tersembunyi di balik sesuatu sehingga kita mengejar-ngejar sesuatu itu dan berani
mempertaruhkan segala-galanya untuk mengejar ini?
Kita bisa saja memberi nama yang muluk-muluk kepada pengejaran ini. Namakanlah ia cita-cita, ambisi
dan sebagainya. Berilah alasan muluk-muluk pula bahwa pengejaran ini, cita-cita ini yang akan
mengatakan kemajuan sukses, dan sebagainya. Namun dari manakah timbulnya pengejaran ini?
Pengejaran ini timbul karena adanya suatu tujuan, suatu titik di ‘sana’ yang kita anggap sebagai sesuatu
yang akan mendatangkan kesenangan. Keinginan mencapai tujuan yang dianggap menjadi sumber
kesenangan tertentu inilah yang melahirkan pengejaran. Ada yang mengejar-ngejar harta benda. Ada yang
mengejar-ngejar kedudukan. Tentu saja dengan anggapan bahwa harta benda atau kedudukan itu akan
mendatangkan kesenangan yang kadang-kadang dipandang sebagai kebahagiaan.
Benarkah kita akan bahagia jika sudah memperoleh apa yang kita kejar itu? Kepuasan karena
terpenuhinya keinginan sesaat itu memang mungkin akan kita rasakan, akan tetapi kepuasan seperti itu
sama sekali bukanlah kebahagiaan. Kesenangan itu hanya bertahan sebentar saja. Segera akan terganti
oleh kebosanan, dan kita akan melihat kenyataan bahwa yang tadinya dikejar-kejar dan kini sudah terdapat
itu ternyata tidaklah seindah seperti yang kita gambarkan semula ketika kita masih mengejarnya! Dan kita
sudah dicengkeram oleh pengejaran akan sesuatu yang lain lagi, yang lebih indah lagi menurut pandangan
kita, dan mulailah kita terseret dan hanyut ke dalam arus keinginan yang tidak akan pernah berhenti
sebelum kita mati. Dan kekecewaan-kekecewaan, kebosanan-kebosanan silih berganti menjadi ekor dari
berhasilnya setiap pengejaran.
Ada pula pengejaran yang tujuannya bukan hal-hal lahiriah, melainkan hal-hal batiniah. Akan tetapi, pada
hakekatnya, mengejar sorga dan mengejar uang sama saja. Mengejar sorga pun bagaikan mengejar uang,
disebabkan oleh keinginan memperoleh sesuatu yang kita anggap menyenangkan. Semua yang dikejar itu
hanyalah kesenangan, tentu saja dapat ‘dibungkus’ dengan pakaian yang bersih-bersih dan muluk-muluk.
Dan setiap pengejaran tentu mendatangkan konflik, karena pengejaran itu sendiri sudah merupakan hasil
dari konflik, yaitu tidak puas dengan apa adanya dan menginginkan sesuatu yang belum ada. Pengejaran
pasti menimbulkan kekerasan, karena dalam pengejaran kita akan menghalau segala sesuatu yang kita
anggap sebagai perintang. Juga akan mendatangkan penyelewengan, karena kita ingin secepatnya
memperoleh yang kita kejar, dengan cara apa pun juga. Dari sini timbullah penghalalan segala macam
cara untuk mencapai tujuan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kita selalu haus akan kebahagiaan, karena kita merasa tidak bahagia! Kita selalu jauh memandang ke
depan, dengan anggapan bahwa di-SANA-lah terdapat kebahagiaan! Semua ini membuat kita menjadi
lengah. Kenapa kita tidak mau membuka mata dan menghadapi saat ini, sekarang ini, menyelidiki yang di
SINI, dan tidak terbuai oleh khayal dari keinginan akan hal-hal yang belum ada? Mengapa menujukan
pandang mata ke seberang sana dan tidak pernah mau mengamati seberang sini?
Memang lucu dan menyedihkan sekali hal ini. Kita dapat melihat hal ini tergambarkan jelas oleh keadaan
orang-orang yang suka memancing ikan. Mereka yang duduk di seberang sana melempar kail mereka
sejauh mungkin mendekati seberang sini dengan anggapan bahwa di seberang sinilah terdapat ikan
terbanyak. Sebaliknya yang duduk di seberang sini berusaha melemparkan kailnya sejauh mungkin
mendekati seberang sana dengan pendapat yang sama, yaitu di seberang sanalah terdapat ikan
terbanyak! Perangai seperti inilah yang membuat mata kita selalu melihat bunga di kebun orang lebih indah
dari pada bunga di kebun sendiri!
Padahal, kebahagiaan hanya terdapat dalam saat demi saat sekarang, bukan terdapat dalam masa depan.
Namun, kita tidak pernah mau menyelidiki kenyataan ini. Pikiran kita selalu penuh dengan kenangan masa
lalu dan bayangan-bayangan masa depan, membuat kita buta terhadap saat itu!
Su-bi Mo-li sudah mempersiapkan segala-galanya demi berhasilnya usaha mereka. Mereka bercita-cita
untuk menjadi selir Pangeran, agar kelak dapat menjadi selir-selir Kaisar! Dan mereka sudah merasa yakin
akan hasil usaha mereka ini. Maka mereka memperlakukan Pangeran dengan manis budi, setiap hari
berusaha membujuk dan merayu Pangeran Kian Liong. Mereka bahkan secara diam-diam memberi obatobat
ke dalam makanan Pangeran itu. Dan semua ini tentu saja berhasil.
Sang Pangeran mulai merasakan adanya rangsangan birahi yang hebat, yang setiap hari semakin
memuncak. Hal ini menyiksanya dengan hebat. Namun, Pangeran ini adalah seorang pemuda yang luar
biasa, seorang laki-laki sejati yang tidak lemah, dan betapa pun hebat tubuhnya terpengaruh obat
perangsang itu, namun batinnya masih kuat dan ia tak pernah mau tunduk! Obat perangsang itu hanya
mampu mempengaruhi tubuhnya namun tidak dapat menodai batinnya, sehingga betapa pun empat orang
wanita itu merayunya, dia tetap dapat mempertahankan diri dan menolak kehendak mereka yang
bermaksud menjerumuskannya ke dalam perjinahan dengan mereka!
Melihat kekerasan hati Pangeran yang sukar diluluhkan ini, Su-bi Mo-li menjadi kecewa sekali. Akan tetapi
mereka tidak berani menambah obat-obat perangsang itu karena obat-obat itu kalau terlalu banyak dapat
menjadi racun yang akan membunuh Sang Pangeran. Maka, oleh kegagalan bujuk rayu ini mereka
mengatur rencana lain.
“Pangeran yang keras kepala itu sukar ditundukkan,” kata A-hui pada saat berunding dengan adik-adiknya.
“Kita sudah terlanjur bertindak sendiri. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempergunakannya sebagai
jalan untuk memperoleh pengampunan dan memperoleh kedudukan dari Kaisar!”
“Ahh, apa yang kau maksudkan, Toaci?” tanya A-ciu terkejut.
“Maksudku? Tiada lain jalan, kita harus menghadap Kaisar, menceritakan bahwa kita telah berhasil
menyelamatkan Pangeran dari cengkeraman maut dan untuk itu kita selain minta diampuni sebagai bekas
orang-orang Sam-thaihouw, juga minta diberi kedudukan, kalau mungkin sebagai orang dalam istana!”
“Aihh, ngeri aku kalau harus menghadap Kaisar!” kata A-ciu yang tahu bahwa Kaisar bukan orang
sembarangan. Betapa dengan gerakan jarinya saja Kaisar bisa menyuruh tangkap dan membunuh mereka
seketika tanpa ada setan yang akan menyelamatkan mereka.
“Kita akan ditangkap dan dibunuh!” kata pula A-bwee, orang ke tiga dengan wajah berubah pucat.
“Tapi, Toaci berkata benar,” kata A-kiauw, orang ke dua. “Apakah kalian lebih senang kalau bertemu
dengan para suhu dan tewas di tangan mereka?”
Dua orang adiknya bergidik. Mati di tangan guru mereka, apalagi di tangan Ngo-ok, sungguh mengerikan
sekali.
“Tiada pilihan lain bagi kita,” kata A-hui, “Bertemu para suhu, kita akan celaka. Akan tetapi kalau
menghadap Kaisar dengan membawa Pangeran, masih ada harapan bahwa permohonan kita akan
dunia-kangouw.blogspot.com
terkabul. Betapa pun juga, Sang Pangeran tentu akan menolong dan melindungi kita, bukankah kita selalu
bersikap baik kepadanya?”
Para sumoi-nya setuju mendengar ucapan A-hui ini, dan pula memang mereka tidak mempunyai pilihan
lagi yang lebih baik. Maka beramai-ramai mereka lalu menghadap Pangeran Kian Liong.
Sang Pangeran yang sedang asyik membaca kitab itu memandang kepada mereka dan mengerutkan
alisnya.
“Hemm, Su-bi Mo-li, kalian hendak melakukan apa lagi terhadap diriku?”
Seperti telah disetujui bersama, A-hui dan para sumoi-nya lalu menjatuhkan dirinya berlutut menghadap
Sang Pangeran. Pangeran Kian Liong terheran. Memang biasanya, empat orang wanita ini selalu bersikap
baik, manis, bahkan kadang-kadang terlalu manis dan genit, bersikap membujuk dan merayunya. Akan
tetapi belum pernah mereka memperlihatkan sikap begitu menghormat, apa lagi sampai berlutut seperti
sekarang. Tahulah Sang Pangeran yang cerdas ini bahwa tentu ada sesuatu yang tersembunyi di balik
sikap ini, maka dia pun bersikap waspada sungguh pun dia masih tetap nampak tenang-tenang saja.
“Hamba berempat memohon ampun kepada Thaicu (Pangeran Mahkota) kalau ada kesalahan hamba
sekalian selama hamba menyembunyikan dan melindungi Paduka di tempat ini,” kata A-hui mewakili adikadiknya.
Pangeran Kian Liong tersenyum. Sikap dan ucapan ini menunjukkan bahwa mereka ini agaknya sudah
kehilangan akal kehabisan daya untuk merayunya, maka dengan cerdik mereka sebelumnya telah
memohon ampun dan menonjolkan jasa mereka yang telah ‘melindunginya’. Akan tetapi hal itu saja sudah
membuat hatinya merasa lega. Agaknya dia tidak akan terganggu lagi oleh rayuan-rayuan mereka,
pikirnya.
“Kalau memang kalian merasa telah melakukan sesuatu kesalahan, sadar akan kesalahan itu dan tidak
melakukan lagi, maka itulah yang terutama. Bertobat jauh lebih penting dari pada minta maaf.” Lalu dia
memandang tajam dan bertanya, “Sekarang, apakah selanjutnya yang akan kalian lakukan terhadap
diriku?”
“Hamba bermaksud untuk mengantar Paduka kembali ke istana Paduka di kota raja dengan naik kereta.
Akan tetapi, mengingat bahwa hamba berempat pernah membantu mendiang Sam-thaihouw, maka hamba
merasa takut kepada Sri Baginda Kaisar. Siapakah yang akan dapat melindungi hamba sekalian di kota
raja kecuali Paduka Thaicu yang bijaksana dan budiman? Oleh karena itu, hamba sekalian menyerahkan
mati hidup hamba di tangan Paduka dan mohon Paduka sudi melindungi kami atas kemarahan Sri Baginda
Kaisar kepada hamba berempat nanti.”
Pangeran Kian Liong mengangguk-angguk. “Permintaan kalian cukup pantas, akan kupertimbangkan kalau
kita sudah tiba di kota raja dengan selamat.”
Biar pun jawaban Sang Pangeran itu belum meyakinkan, namun empat orang wanita itu sudah merasa
lega. Mereka sudah tahu akan kebijaksanaan dan kemurahan hati Pangeran ini, maka Pangeran Mahkota
yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang pangeran yang budiman ini tentu tidak akan menarik
kembali janjinya. Dan memang sikap mereka kini menjadi baik sekali, penuh hormat dan kegenitan mereka
pun lenyap.
Malam itu mereka menjamu Pangeran dengan masakan-masakan bersih dan lezat, dan pada keesokan
harinya, pagi-pagi sekali mereka telah mempersiapkan kereta dan mempersilakan Sang Pangeran naik ke
dalam kereta, ditemani oleh tiga orang di antara mereka, sedangkan A-ciu yang sudah menyamar sebagai
seorang pria, duduk di tempat kusir.
Maka berangkatlah mereka meninggalkan hutan itu untuk mengawal Sang Pangeran kembali ke kota raja.
Tentu saja sebelumnya mereka telah melakukan penyelidikan dan melihat bahwa keadaan telah menjadi
tenang dan dingin kembali, dan tidak nampak ada orang-orang sakti yang berkeliaran di sekitar daerah itu.
Perjalanan ini dilakukan melalui lembah Sungai Huang-ho yang subur. Di sepanjang perjalanan, Sang
Pangeran sempat mengagumi keindahan dan kesuburan tanah di sepanjang lembah sungai ini dan merasa
gembira sekali melihat hasil sawah ladang para petani di sepanjang perjalanan itu. Su-bi mo-li juga merasa
girang dan lega karena selama melakukan perjalanan sampai selama tiga hari, tidak pernah ada gangguan
dunia-kangouw.blogspot.com
terhadap mereka dan tidak pernah mereka melihat bayangan orang-orang sakti yang dulu pernah mencoba
untuk memperebutkan Sang Pangeran di kota Pao-ci. Namun, perjalanan menuju ke kota raja masih jauh
dan mereka baru akan merasa aman benar kalau sudah tiba di istana dan kalau Kaisar sudah benar-benar
suka mengampuni mereka.
Pada hari ke empat, mereka menyeberangi Sungai Huang-ho. Dengan dua buah perahu besar, mereka
membawa kereta menyeberang, dan setelah tiba di seberang, mereka melanjutkan perjalanan memasuki
daerah Propinsi Shan-si, dengan maksud menuju ke kota besar Tai-goan. Matahari telah naik tinggi ketika
mereka tiba di jalan yang di kanan kirinya diapit oleh padang rumput yang luas.
Daerah ini merupakan daerah rawa sehingga tidak mudah ditanami oleh para petani. Karena agak rendah
maka sering digenangi air sungai kalau sedang naik. Maka yang tumbuh di situ hanya rumput yang
membentuk daerah itu menjadi padang rumput yang luas. Akan tetapi jalan itu menuju ke sebuah bukit
yang menjanjikan suasana lebih menyenangkan, dengan kehijauan pohon-pohon yang telah nampak dari
padang rumput itu.
“Kita berhenti mengaso di bukit itu,” kata Pangeran Kian Liong setelah dia menyingkap tirai depan. “Aku
sudah merasa lelah dan lapar.”
“Baik, Pangeran,” jawab A-hui cepat dan ia menyuruh adiknya, A-ciu yang menjadi kusir itu untuk
mempercepat jalannya kereta sampai ke bukit di depan.
Pagi tadi mereka sudah menukar kuda mereka dengan kuda-kuda baru yang segar dan kuat, maka
perjalanan itu dapat dilanjutkan dengan cepat. Kalau tadi di tepi sungai masih nampak banyak orang, kini
makin lama jalan yang mereka lalui menjadi semakin sepi dan akhirnya setelah kereta tiba di bukit dan
memasuki daerah berhutan, tak nampak ada seorang pun manusia kecuali mereka berlima.
Pada saat melihat ada sebatang pohon besar yang daunnya amat rindang di tepi jalan, A-ciu menghentikan
keretanya dan mereka lalu mempersilakan Pangeran Kian Liong untuk beristirahat dan menyuguhkan
makan minum kepadanya. Semua ini dilakukan di dalam kereta saja, karena demi menjaga keamanan
Sang Pangeran sendiri, Pangeran itu diminta agar tetap tinggal di dalam kereta dan tidak memperlihatkan
dirinya. Bahkan tiga orang wanita itu pun hanya berani keluar kalau tidak ada orang lain. Mereka ini juga
menyembunyikan diri di dalam kereta, dan hanya A-ciu seorang, yang telah menyamar sebagai seorang
pemuda, yang berani memperlihatkan diri di atas tempat duduk kusir.
Mereka makan bersama. Tiga orang wanita bersama Pangeran Kian Liong di dalam kereta sedangkan Aciu
yang berpakaian pria itu di atas kereta, di tempat duduk kusir. Dengan ramah dan sopan, penuh
hormat, tiga orang wanita itu melayani Pangeran Kian Liong makan minum, dan Pangeran yang sudah
merasa lelah dan lapar itu pun tidak malu-malu lagi, makan dengan enaknya.
Tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan dan kereta itu berguncang. Pangeran Kian Liong hendak
menyingkap tirai, akan tetapi lengannya di pegang oleh A-bwee, sedangkan A-hui sendiri lalu mengintai
dari balik tirai. Wanita itu hampir menjerit dan menutup mulut dengan tangannya ketika ia melihat bahwa Aciu
telah tewas dalam keadaan masih duduk di tempat kusir. Darah menetes-netes turun dari sebuah
lubang di pelipis kepalanya!
Tentu saja A-hui terkejut, juga kedua orang adiknya yang sudah ikut mengintai. Mereka bertiga berloncatan
keluar dengan marah bukan main melihat betapa adik seperguruan mereka yang paling muda itu telah
dibunuh orang! Begitu melompat keluar, mereka bertiga sudah mencabut pedang masing-masing. Namun,
ketika nampak berkelebatnya beberapa bayangan orang, tiga orang wanita ini menjadi pucat sekali, mata
mereka terbelalak, mulut ternganga tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya memandang bengong kepada
lima orang yang bermunculan di depan mereka itu. Im-kan Ngo-ok!
Tentu saja tubuh tiga orang wanita ini menggigil dan mereka merasa ketakutan saat berhadapan dengan
lima orang guru mereka yang datang dengan lengkap itu. Mereka memang sudah saling berunding dan
mengambil keputusan bahwa kalau hanya satu atau dua di antara guru-guru mereka muncul, mereka
berempat akan melakukan perlawanan dengan nekad. Akan tetapi kini mereka berlima muncul semua! Dan
di pihak mereka, bahkan A-ciu telah di tewaskan! Apa daya mereka? Melawan? Sama dengan membunuh
diri! Maka, dengan hati penuh rasa ngeri dan takut, tiga orang wanita itu yang merasa betapa lutut kaki
menggigil dan lemas, segera menjatuhkan diri berlutut.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu sekalian.... harap ampunkan bahwa teecu telah terlambat.... tapi.... tetapi teecu sudah menawan
Pangeran dan hendak menyerahkannya kepada Suhu....,“ kata A-hui, mewakili dua orang adiknya yang
sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi itu.
“Hemm, kalian kira kami tidak tahu bahwa kamu ingin menguasai Pangeran sendiri, kemudian hendak
membawa Pangeran ke istana di kota raja, juga demi memenuhi keinginan kalian sendiri? Murid-murid
murtad!” bentak Sam-ok.
Mendengar ini, tiga orang wanita itu menjadi semakin ketakutan dan kini mengertilah mereka mengapa Aciu
telah dibunuh oleh para guru mereka ini. Kiranya rahasia mereka telah diketahui oleh lima orang sakti
itu! A-bwee yang mengingat betapa Ngo-ok amat mencintanya sebagai seorang kekasih, cepat maju ke
depan kaki orang termuda dari Im-kan Ngo-ok itu.
“Ngo-suhu.... ampunkan teecu....!” ratapnya.
Ngo-ok tersenyum, lantas mengulurkan tangannya. Melihat ini, giranglah hati A-bwee. Kalau guru ke lima
ini melindunginya, agaknya masih ada harapan baginya untuk dapat terbebas dari kematian di tangan
guru-guru mereka ini. Maka ia pun dengan manja mempergunakan kecantikannya sebagai seorang wanita,
bangkit dan menyerahkan diri ke dalam pelukan Ngo-ok, merangkul dan membelainya.
Jari-jari tangan itu merayap ke mana-mana, sampai ke kukunya dan tiba-tiba A-bwee mengeluarkan jeritan
yang menyayat hati, tubuhnya terjengkang dan tangannya, kanan dan kiri, berlepotan darah oleh karena
kedua kuku ibu jari tangannya telah dicabut oleh Ngo-ok! Rasa nyeri menyelinap dan menusuk-nusuk
jantungnya, membuat wanita itu merintih-rintih memelas.
Akan tetapi lima orang datuk kaum sesat itu sama sekali tidak tergerak hatinya, sama sekali tidak menaruh
kasihan kepada bekas murid-murid mereka sendiri. Ngo-ok sudah memasangkan kuku-kuku tadi pada
tasbehnya yang aneh, tasbeh yang terbuat dari pada ratusan kuku-kuku ibu jari para wanita yang pernah
menjadi korbannya!
A-hui dan A-kiauw yang menyaksikan peristiwa itu menjadi putus asa dan maklum bahwa mereka tidak
mungkin dapat diampuni, maka keduanya lalu meloncat dan hendak melarikan diri dari tempat itu. Akan
tetapi, Su-ok tertawa dan bersama dengan Sam-ok dia sudah meloncat ke depan, dan sebelum dua orang
wanita itu dapat melihatnya, mereka sudah menghadang di depan. Dua orang wanita itu menjadi nekad,
menggerakkan pedangnya untuk menyerang. Akan tetapi, beberapa jurus saja mereka sudah roboh
terguling dengan kepala pecah dan tewas seketika! Sedangkan A-bwee yang masih belum tewas itu lalu
diseret oleh Ngo-ok ke balik semak-semak di mana Ngo-ok mempermainkan sampai akhirnya A-bwee juga
tewas.
Ketika Ngo-ok sedang melampiaskan nafsu iblisnya di balik semak-semak, empat orang datuk lainnya
menghampiri kereta. Sang Pangeran sejak tadi menonton peristiwa di luar kereta itu dengan hati ngeri dan
marah. Mengingat betapa di negerinya terdapat orang-orang yang demikian kejamnya! Mengapa
pemerintah tidak turun tangan membasmi orang-orang yang begini jahat?
Dia mengambil keputusan bahwa kelak, jikalau dia sudah menjadi kaisar, dia akan mengerahkan orangorang
pandai untuk menangkapi, menghukum atau membunuh penjahat-penjahat seperti Im-kan Ngo-ok
ini, karena kalau orang-orang jahat dan kejam seperti ini dibiarkan berkeliaran di dunia, tentu hanya akan
menimbulkan kejahatan-kejahatan yang mengerikan seperti yang ditontonnya sekarang ini.
Dalam keadaan seperti itu, Sang Pangeran sama sekali tidak memikirkan dirinya yang terancam bahaya
maut maka dia pun sama sekali tidak merasa takut. Baru setelah empat orang kakek itu menghampiri ke
arah kereta, Sang Pangeran merasa ngeri dan teringat bahwa Im-kan Ngo-ok itu muncul untuk menangkap
dirinya!
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara berdesing nyaring sekali dan disusul oleh teriakan Ngo-ok.
Empat orang kakek itu terkejut dan cepat-cepat memutar tubuhnya memandang ke arah semak-semak di
mana tadi Ngo-ok menyeret tubuh A-bwee yang masih merintih-rintih itu. Dan mata mereka terbelalak
melihat tubuh Ngo-ok keluar dari semak-semak dalam keadaan masih setengah telanjang dan kakek tosu
yang bertubuh jangkung ini mendekap dadanya yang mengucurkan darah, terus mundur terhuyung. Dari
semak-semak itu keluar seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap, bersikap gagah sekali, memegang
sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya kemerahan, dan memiliki sepasang mata yang mencorong
dunia-kangouw.blogspot.com
menandakan bahwa pemuda itu adalah orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Pemuda ini bukan lain
adalah Cia Han Seng!
Seperti kita ketahui, pemuda ini adalah murid Kun-lun-pai yang menerima pendidikan langsung dari Ketua
Kun-lun-pai Thian Heng Tosu dan merupakan satu-satunya murid Kun-lun-pai yang mewarisi ilmu-ilmu
tinggi dari tosu pertapa Ketua Kun-lun-pai itu. Thian Heng Tosu memang sengaja memilih pemuda ini
mewakili Kun-lun-pai melaksanakan cita-cita Kun-lun-pai yang berjiwa patriot, yaitu menentang pemerintah
penjajah dan membantu para pendekar Siauw-lim-pai yang telah dimusuhi oleh Kaisar itu. Dan tugas
pertama dari Cia Han Beng adalah ikut menyelidiki dan mencari Pangeran Kian Liong yang dikabarkan
hilang di kota Pao-ci itu.
Ketika Cia Han Beng tiba di tempat itu dan melihat Su-bi Mo-li dibunuh oleh guru-guru mereka sendiri, dia
tidak mau mencampurinya. Dia hanya ingin melindungi Pangeran yang diduganya tentu berada di dalam
kereta itu setelah dia mendengar percakapan antara Im-kan Ngo-ok dan Su-bi Mo-li. Akan tetapi, ketika dia
melihat Ngo-ok di belakang semak-semak sedang mempermainkan seorang di antara Su-bi Mo-li, pemuda
ini tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Bagaimana pun jahatnya, Su-bi Mo-li adalah wanita-wanita
dan melihat A-bwee yang sudah setengah mati itu dipermainkan secara biadab oleh Ngo-ok sampai mati di
belakang semak-semak, Han Beng segera menerjang dan menyerang dengan pedangnya!
Serangan Han Beng itu hebat bukan main, dengan jurus rahasia dari Kun-lun-pai. Dan Ngo-ok, seperti
biasa, memandang rendah kepada pemuda yang tak pernah dikenalnya ini, maka dia pun menghadapi
serangan itu dengan seenaknya saja. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu
pedang itu menerobos dan menusuk dadanya! Dia mengerahkan sinkang-nya, namun ternyata tenaga
yang dipakai untuk menusuk itu pun kuat bukan main sehingga dia baru dapat melepaskan diri setelah
pedang itu menusuk cukup dalam, membuat dia terhuyung-huyung ke belakang dan mengeluarkan
teriakan kesakitan.
Melihat betapa Ngo-ok agaknya terluka parah oleh pemuda yang tak terkenal itu, empat orang datuk
menjadi marah bukan main. Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda ini merupakan seorang di antara
pendekar yang melindungi Pangeran, maka Su-ok dan Sam-ok sudah menerjang maju dengan dahsyat.
Karena mereka berdua maklum bahwa orang yang telah melukai Ngo-ok dalam waktu sesingkat itu tentu
memiliki kepandaian tinggi, maka keduanya sudah menerjang dengan pengerahan sinkang sekuatnya dan
begitu menerjang mereka pun sudah mengeluarkan ilmu mereka yang paling hebat. Sam-ok sudah
mengeluarkan Ilmu Thian-te Hong-i, yaitu menyerang sambil memutar-mutar tubuhnya seperti gasing itu,
sedangkan Su-ok juga sudah mempergunakan pukulan Katak Buduknya yang ampuh.
Akan tetapi pendekar muda dari Kun-lun-pai ini adalah seorang murid yang selama bertahun-tahun
digembleng sendiri oleh Thian Heng Tosu, seorang pertapa sakti yang memiliki ilmu pengetahuan yang
luas sekali dalam ilmu silat. Han Beng mempunyai pengertian yang mendalam dari pelbagai ilmu silat
tinggi, dan dari suhu-nya dia pernah pula mendengar keistimewaan dari ilmu-ilmu seperti yang kini
dihadapinya. Gurunya pernah bicara tentang ilmu silat yang dilakukan dengan badan berputaran itu, juga
pernah bicara tentang ilmu pukulan yang dilakukan sambil berjongkok itu.
Maka dia pun tidak bersikap ceroboh, maklum akan kelihaian lawan dan dia memutar pedangnya dengan
cepat. Ia tak mau menangkis pukulan Su-ok, dan juga dia menahan bahaya yang datang dari Sam-ok
dengan sinar pedangnya yang bercahaya kemerahan. Pedang di tangan pemuda ini bukan pedang
sembarangan, melainkan sebuah pusaka dari Kun-lun-pai yang diterima dari suhu-nya. Pedang itu
berpamor daun-daun merah maka mempunyai sinar merah dan bernama Ang-hio-kiam (Pedang Daun
Merah).
Sinar merah yang bergulung-gulung itu mengeluarkan suara berdesing nyaring dan segera nampak bahwa
pemuda dengan pedang pusakanya itu ternyata memiliki ilmu pedang yang amat hebat sehingga tokoh ke
tiga dan ke empat dari Im-kan Ngo-ok itu pun sampai terdesak oleh gulungan sinar pedang! Tentu saja
mereka menjadi terkejut sekali.
Kalau mereka berlima kewalahan menghadapi Bu-taihiap dan isterinya yang dibantu oleh Ban-kin-sian Cu
Kang Bu, hal itu tidak membuat mereka penasaran. Bu-taihiap adalah seorang pendekar sakti yang telah
amat terkenal namanya sedangkan satu di antara isterinya yang tempo hari membantunya bukan lain
adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, wanita sakti yang sudah menggegerkan dunia persilatan dengan
perbuatannya yang amat berani, yaitu mencuri pedang Koai-liong-pokiam dari dalam istana.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian yang membantu mereka, Ban-kin-sian Cu Kang Bu, biar pun jarang keluar dari Lembah Suling
Emas dan tidak terkenal di dunia kang-ouw, namun merupakan tokoh penghuni lembah itu, maka
kekalahan Im-kan Ngo-ok dari mereka bukanlah merupakan hal yang perlu dibuat penasaran. Akan tetapi
kalau sekarang ini, dalam beberapa gebrakan saja Ngo-ok telah terluka, dan kini Su-ok bernama Sam-ok
yang mengeroyok pemuda tak bernama itu malah terdesak, sungguh membuat orang merasa penasaran
bukan main.
“Tahan!” teriakan Toa-ok ini amat berpengaruh dan dua orang temannya sudah mundur, juga Cia Han
Beng menghentikan gerakan pedangnya, memandang tajam kepada lima orang datuk itu.
Ngo-ok masih mendekap dada dengan tangan kiri, akan tetapi tidak mengeluh lagi. Tadi dia telah
mengobati lukanya dan biar pun luka itu cukup parah, namun tidak membuat dia roboh. Sekarang dia pun
berdiri sambil memandang dengan muka merah penuh kebencian dan kemarahan kepada pemuda itu.
“Orang muda, siapakah engkau dan juga mengapa engkau menyerang kami? Mengapa pula engkau
mencampuri urusan kami?” Toa-ok bertanya karena menyaksikan kelihaian pemuda itu, dia harus lebih
dulu mengenal siapa adanya orang ini sebelum turun tangan.
Pemuda itu melintangkan pedangnya di depan dada, memandang jijik kepada Ngo-ok, kemudian
menjawab, suaranya lantang namun tenang, “Aku bernama Cia Han Beng dari Kun-lun-pai.”
“Ahh, kiranya seorang pendekar Kun-lun!” kata Toa-ok dengan sikapnya yang lemah lembut dan halus itu,
sungguh tidak sesuai dengan keadaan muka dan badannya yang mirip gorila, “Kalau benar engkau dari
Kun-lun-pai, orang muda, sungguh ada dua hal yang amat mengherankan hati kami.”
“Katakanlah, apa yang mengherankan hati kalian Im-kan Ngo-ok?”
“Hem, bagus, kiranya engkau malah sudah mengenal kami. Di antara Kun-lun-pai dan kami sejak dahulu
tidak pernah ada permusuhan. Engkau sebagai seorang muda dari Kun-lun-pai telah mengenal kami, tentu
telah mengenal pula Su-bi Mo-li, murid-murid kami yang tadi kami hukum mati karena berkhianat dan
murtad, mengapa engkau hendak mencampuri urusan antara kami dan murid-murid kami? Itulah soal
pertama yang mengherankan kami”
“Mudah saja aku menjawabnya,” kata Han Beng. “Walau pun di antara Kun-lun-pai dan Im-kan Ngo-ok
tidak pernah ada permusuhan pribadi, tetapi hal itu tidak menghalangi aku untuk turun tangan apabila
menyaksikan perbuatan yang jahat dan kejam. Aku tidak mencampuri urusan antara guru dan murid, sama
sekali tidak. Aku tidak peduli apa yang terjadi antara kalian dan empat orang murid kalian yang sama
sesatnya itu.”
“Ehh, omongan ngacau!” Ngo-ok membentak. “Kalau tidak mencampuri, kenapa engkau menyerangku?”
“Mudah saja jawabnya. Aku melihat seorang laki-laki yang berwatak binatang atau iblis sedang
menganiaya dan memperkosa seorang wanita, maka tidak peduli siapa laki-laki itu dan siapa pula wanita
itu, aku tidak dapat tinggal diam saja. Aku tidak berpihak, melainkan menentang perbuatan yang amat keji
itu, oleh siapa dan terhadap siapa pun dilakukannya!”
“Hemm, hal itu dapat kami mengerti. Akan tetapi urusan ke dua yang kami heran. Di dalam kereta itu
terdapat Pangeran Kian Liong, Pangeran Mahkota. Kami hendak menangkap dan membawanya pergi.
Apakah engkau juga hendak menghalangi kami?”
“Tentu saja!” jawab Han Beng.
“Dan apa pula alasannya?” tanya Toa-ok. “Bukankah Kun-lun-pai terkenal sebagai tempat para pendekar
yang selalu menentang pemerintah penjajah? Apakah sekarang Kun-lun-pai sudah berbalik hati, menjadi
anjing penjilat pemerintah penjajah?”
“Tutup mulut kalian yang busuk!” Han Beng membentak marah sekali. “Siapa tidak tahu bahwa Im-kan
Ngo-ok yang menjadi anjing penjilat penjajah, dan kini membalik karena keadaan yang tak
menguntungkan? Ketahuilah, Im-kan Ngo-ok, kami Kun-lun-pai tetap berjiwa patriot, apa pun yang terjadi.
Oleh karena itulah maka aku harus melindungi Pangeran Kian Liong dan sama sekali bukan berarti bahwa
kami hendak menjadi penjilat penjajah!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bocah sombong!” Terdengar Ji-ok menjerit marah.
Wanita ini sudah menerjang ke depan, jari telunjuknya menyerang dengan ilmu yang dinamakan Kiam-ci
(Jari Pedang) dan sinar yang tajam mengeluarkan suara mencicit menyambar ke arah leher Han Beng.
“Cringgg....!”
Han Beng menggerakkan pedang menangkis dan balas menyerang. Sinar pedangnya meluncur ke arah
dada wanita itu yang cepat meloncat ke belakang untuk mengelak, diam-diam harus mengakui bahwa
gerakan pedang pemuda itu sungguh berbahaya sekali. Toa-ok juga tidak tinggal diam, sudah menubruk
maju dengan kedua lengannya yang berbulu itu bergerak aneh, akan tetapi dari gerakan itu timbul angin
yang keras menyambar ke arah Han Beng. Pemuda itu pun mengelak dan balas menyerang. Dan majulah
orang kelima Im-kan Ngo-ok mengeroyok, berjungkir balik dan mempergunakan kedua kakinya yang
panjang untuk menyerang.
Cia Han Beng bukan tidak tahu bahwa lima orang lawannya adalah orang-orang sakti yang memiliki
kepandaian tinggi sekali, maka dia sama sekali tidak memandang rendah, bahkan bersikap amat hati-hati.
Pedangnya diputar cepat menutupi dan melindungi seluruh tubuhnya dan dia tidak berani sembarangan
menyerang setelah kini dikeroyok lima. Mengurangi sedikit saja daya tahannya berarti akan mendatangkan
bahaya, dan menyerang berarti mengurangi pertahanannya. Padahal, menghadapi lima orang itu, dia
harus benar-benar melakukan pertahanan yang amat kuat.
Memang harus diakui bahwa Cia Han Beng telah mewarisi hampir semua kepandaian Ketua Kun-lun-pai
yang menaruh harapan besar terhadap dirinya. Akan tetapi betapa pun juga, pemuda ini masih kurang
pengalaman berkelahi menghadapi lawan-lawan tangguh dan kini, begitu keluar dari pertapaan, dia harus
menghadapi lima orang Im-kan Ngo-ok sekaligus. Tentu saja hal ini merupakan beban yang terlampau
berat baginya.
Biar pun dia telah mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang amat terkenal itu, yang telah dikuasainya
sampai di bagian paling rahasia, namun menghadapi pengeroyokan lima orang datuk kaum sesat ini,
perlahan-lahan Han Beng mulai terdesak hebat. Tetapi dia masih terus melakukan perlawanan dengan
memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga angin pukulan-pukulan aneh dari mereka itu bahkan tidak
mampu menembus gulungan sinar yang bertahan itu.
Betapa pun juga, pemuda itu bukan tidak tahu bahwa kalau dilanjutkan lambat-laun dia akan kehilangan
tenaga dan akhirnya akan menjadi semakin lemah. Tidak demikian dengan pengeroyoknya karena dia
harus mengeluarkan tenaga lima kali lipat untuk menghadapi lima orang pengeroyok ini. Akhirnya dia akan
kehabisan tenaga dan tentu akhirnya akan kalah. Pemuda ini mulai merasa bingung. Dia tidak pernah
memikirkan bahaya untuk dirinya sendiri, melainkan bingung memikirkan bagaimana dia akan dapat
melaksanakan tugas sebaik-baiknya, bagaimana dia akan mampu menyelamatkan Sang Pangeran yang
masih berada di dalam kereta.
Dari dalam keretanya, Pangeran Kian Liong yang menyaksikan itu semua dan hatinya menjadi semakin tak
senang, Sepak terjang Im-kan Ngo-ok sungguh membuat hatinya tidak senang. Dia melihat kecurangan
dan kekejaman yang luar biasa pada diri lima orang datuk sesat itu. Melihat pemuda gagah perkasa itu
dikeroyok lima orang kakek yang sudah menjadi datuk kaum sesat, Sang Pangeran merasa penasaran
sekali.
Macam itukah watak datuk-datuk yang biasanya membanggakan dirinya? Ternyata merupakan pembunuhpembunuh
dan tukang-tukang pukul tak tahu malu yang suka mengandalkan kepandaian sendiri dan
mengandalkan jumlah besar saja!
“Hei!, Im-kan Ngo-ok, apakah kalian berlima tidak malu? Bukankah kalian adalah orang-orang tua yang
sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw? Bahkan Sam-ok adalah bekas Koksu Nepal, bukan?
Mengapa kalian tidak malu melakukan pengeroyokan? Kalian telah membunuh murid-murid kalian sendiri,
hayo bebaskan pemuda gagah itu dan aku akan menyerah kepada kalian!”
Teriakan lantang dari Pangeran Kian Liong yang membuka tirai kereta itu sangat mengherankan hati Han
Beng. Pemuda ini memang sudah banyak mendengar tentang kegagahan dan kebijaksanaan Pangeran
Mahkota ini dan meski dia selalu ingat bahwa Pangeran itu adalah seorang Pangeran Mancu, seorang
keluarga Kaisar penjajah, tetapi tetap saja dia merasa amat kagum mendengar ucapan yang mengandung
kegagahan luar biasa itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, mendengar ucapan Sang Pangeran, Im-kan Ngo-ok merasa malu dan menjadi makin
penasaran dan marah. Su-ok yang telah mengalami banyak kekecewaan karena Pangeran ini, lalu
meninggalkan Han Beng.
“Amithaba, Pangeran itu sungguh telah mendatangkan banyak kepusingan. Biarlah kini kuhabiskan saja
riwayatnya.” Si Gundul Pendek ini kemudian menggelinding menuju ke kereta.
Melihat ini, Cia Han Beng menjadi khawatir sekali akan keselamatan Sang Pangeran, maka ia memutar
pedangnya untuk mencari kesempatan meloncat dan menyelamatkan Sang Pangeran. Namun, empat
orang pengeroyoknya yang maklum akan kehendaknya itu mengepung dan menyerang semakin ketat
sehingga terpaksa Han Beng harus menjaga dirinya.
Su-ok telah berdiri di dekat kereta dan melihat Sang Pangeran duduk di dalam kereta, memandang
kepadanya melalui jendela kereta yang sudah dibuka tirainya itu.
“Heh-heh-heh, Pangeran Kian Liong, engkau telah banyak merugikan kami, dan telah menghancurkan
harapan kami untuk memperoleh kedudukan di istana. Oleh karena itu, aku akan membunuhmu sekarang
juga.”
“Kakek yang munafik, mati merupakan hal yang jauh lebih bersih dari pada hidup akan tetapi seperti
engkau ini, berlagak menjadi hwesio akan tetapi hidup sebagai datuk sesat yang jahat. Engkau
mencemarkan agama, maka hidupmu tentu akan terkutuk!”
“Heh-heh-heh, mengocehlah selagi engkau bisa, Pangeran. Sekarang bersiaplah untuk mampus!” Berkata
demikian, Su-ok lalu merendahkan tubuhnya dan mengerahkan tenaga dari ilmu Katak Buduk, bermaksud
menghantam ke arah kereta agar Sang Pangeran tewas bersama hancurnya kereta itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara melengking nyaring dan ada sinar keemasan barkelebat,
langsung sinar emas ini menyambar ke arah kepala gundul Su-ok! Su-ok terkejut, karena dia sudah
mengerahkan tenaga, maka dia pun lalu memukul dengan ilmu pukulan Katak Buduk ke arah sinar kuning
emas yang menyambar itu.
“Dessss....!”
Bukan main hebatnya pertemuan antara tenaga Katak Buduk dan sinar kuning emas itu dan akibatnya....
tubuh Su-ok terguling-guling seperti sebuah bal ditendang! Tentu saja Su-ok terkejut bukan main, dadanya
terasa panas dan nyeri. Ketika dia bangkit berdiri, ternyata di situ telah berdiri seorang dara cantik yang
gagah, yang memegang sebatang suling Emas!
Bukan main rasa heran dan penasaran di dalam hatinya. Melihat pemuda Kun-lun-pai itu saja sudah
mendatangkan penasaran, sekarang muncul seorang dara yang memiliki tenaga sedemikian dahsyatnya,
sehingga mampu menyambut pukulan saktinya, bahkan membuatnya terpelanting dan terguling-guling
sampai jauh dengan dada terasa panas dan nyeri.
Dara itu bukan lain adalah Ci Sian! Ketika melihat Han Beng dikeroyok, tentu saja Ci Sian segera
menghampiri dan hendak turun tangan membantu. Akan tetapi saat melihat Su-ok mendekati kereta dan
mengancam Sang Pangeran, dia cepat menyambar dan menyelamatkan Sang Pangeran dengan
menyambut serangan Su-ok yang dahsyat itu. Oleh karena dia sudah tahu bahwa Im-kan Ngo-ok adalah
datuk-datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, maka begitu terjun ia telah mengerahkan khikang-nya ketika
menyambut pukulan sakti dari Su-ok yang mengakibatkan Si Gundul itu terlempar.
Su-ok yang sudah bangkit kembali itu memandang bengong. Sekarang Ci Sian sudah menerjang dan
membantu Han Beng, memutar sulingnya dan tanpa mengeluarkan sepatah pun kata ia sudah menyerang
Ji-ok yang bertopeng tengkorak itu. Ji-ok juga terkejut ketika ada sinar emas menyambarnya, dan ketika ia
menangkis menggunakan Kiam-ci, hampir saja ia terguling seperti yang telah dialami oleh Su-ok.
Terkejutlah Im-kan Ngo-ok melihat ini dan mereka teringat akan Kam Hong yang juga amat lihai dalam
mempergunakan suling emas sebagai senjata. Dan melihat kehebatan dara ini, mengertilah mereka bahwa
pihak lawan bertambah dengan seorang yang lihai, biar pun hanya merupakan seorang gadis remaja saja.
Maka Su-ok juga cepat terjun ke medan perkelahian dan membantu teman-temannya. Biarlah, Pangeran
dunia-kangouw.blogspot.com
itu ditinggalkan sebentar. Paling perlu merobohkan dua orang muda ini. Pangeran itu pun tentu tidak akan
mampu melarikan diri sampai jauh.
Cia Han Beng merasa girang bukan main melihat munculnya Ci Sian. Bukan hanya gembira karena dia
memperoleh seorang kawan yang amat lihai dan boleh diandalkan, akan tetapi juga gembira karena
keselamatan Sang Pangeran dapat lebih terjamin sekarang, dan terutama sekali dia merasa gembira
memperoleh kesempatan bertemu kembali dengan dara ini! Meski pada lahirnya pemuda ini tidak
memperlihatkan sesuatu, akan tetapi sesungguhnya dia telah jatuh hati kepada Ci Sian Sian pada
pertemuan pertama mereka di Kun-lun-san, terutama setelah keduanya saling menguji kepandaian dalam
sebuah pibu persahabatan.
“Nona, terima kasih atas bantuanmu!” serunya dan kini pedangnya makin hebat gerakannya, menjadi
gulungan sinar merah yang menyambar-nyambar dahsyat.
Ci Sian tidak menjawab, melainkan memutar sulingnya dengan tidak kalah dahsyatnya. Kalau dulu mereka
berpibu, sekarang mereka seolah-olah bersaing mendemonstrasikan kepandaian mereka. Tentu saja yang
mengalami kerugian dalam hal ini adalah Im-kan Ngo-ok! Menghadapi seorang Han Beng saja mereka tadi
sudah merasa sukar sekali untuk merobohkannya, apalagi kini ditambah dengan nona yang memiliki
kepandaian tidak berada di sebelah bawah tingkat pemuda Kun-lun-pai itu.
Setelah dibantu oleh Ci Sian, kini Han Beng mendesak lima orang datuk itu. Sampai kurang lebih tiga puluh
jurus, tiba-tiba Han Beng mengeluarkan bentakan nyaring.
“Haiiiitttt....!”
Pedangnya menyambar ganas, tahu-tahu nampak darah muncrat dan robohlah Ngo-ok yang memang
sudah terluka dan paling lemah dan lambat gerakannya itu. Kini ujung pedang pemuda itu menembus
lehernya, maka setelah berkelojotan di atas tanah, matilah Ngo-ok, orang termuda dari Im-kan Ngo-ok!
Hal ini membuat empat orang kakek dan nenek itu terkejut, marah dan berduka sekali. Tidak pernah
mereka sangka bahwa seorang di antara mereka berlima akan dapat terbunuh orang! Dan pembunuhnya
seorang yang masih amat muda lagi. Su-ok yang paling sering cekcok dengan Ngo-ok akan tetapi
sesungguhnya paling mencintanya, menjadi marah sekali dan dengan teriakan setengah terisak dan
menerjang kepada Han Beng. Namun Ci Sian yang tidak mau kalah oleh kawannya itu telah
menyambutnya. Sulingnya mengeluarkan getaran yang melengking-lengking, dan nampak sinar emas itu
terpecah menjadi banyak dan tahu-tahu ujung suling sudah menotok dan mengenai pelipis Su-ok!
“Prokkk....!”
Tubuh Su-ok terjengkang dan berkelojotan karena pelipis kepalanya retak. Sama seperti Ngo-ok, tidak
lama dia berkelojotan lalu tewas. Kini tiga orang kakek dan nenek itu baru tahu bahwa pihak lawan mereka
memang hebat bukan main dan merupakan lawan yang amat berbahaya. Dan mereka tinggal bertiga,
kalau dilanjutkan perkelahian itu, bukan tidak mungkin mereka bertiga akan mengalami nasib yang sama
dengan Su-ok dan Ngo-ok.
Maka Toa-ok mengeluarkan suara bersuit nyaring dan dua orang adiknya maklum akan isyarat ini. Mereka
lalu menyerang dengan sehebatnya, membuat dua orang muda itu terpaksa mundur. Kesempatan itu
mereka pergunakan untuk menyambar tubuh Su-ok dan Ngo-ok yang sudah tidak bernyawa. Toa-ok
menyambar tubuh Ngo-ok sedangkan Sam-ok menyambar tubuh Su-ok, lalu ketiganya meloncat jauh dan
melarikan diri.
Ci Sian yang merasa penasaran itu hendak mengejar, tetapi Han Beng menahannya.
“Harap jangan kejar, Nona. Lebih penting melindungi Pangeran.”
Teringatlah Ci Sian bahwa Sang Pangeran masih berada di situ dan kalau mereka berdua melakukan
pengejaran, memang Pangeran menjadi tak terlindung dan hal ini berbahaya sekali.
“Biar lain kali kubasmi sisa dari Im-kan Ngo-ok,” katanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sepak terjang dua orang muda-mudi itu, Pangeran Kian Liong merasa kagum bukan main. Dia
keluar dari keretanya, lalu menghampiri dua orang pendekar itu dan menjura dengan senyum kagum.
“Ah, sudah banyak aku bertemu dan melihat kepandaian tokoh-tokoh persilatan yang gagah perkasa. Akan
tetapi baru sekarang aku bertemu dengan dua orang pemuda dan pemudi yang selain gagah perkasa,
tampan dan cantik, juga memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya! Sungguh aku merasa kagum
bukan main. Bolehkah aku mengenai siapa Taihiap dan Lihiap, agar aku dapat mengucapkan terima
kasihku?”
Melihat sikap yang demikian merendah dan lembut dari Sang Pangeran, Ci Sian juga merasa heran dan
kagum. Memang Pangeran ini amat hebat, seperti berita tentang dirinya yang sering didengarnya. Seorang
Pangeran yang sama sekali tidak tinggi hati, bersikap ramah dan rendah hati.
Akan tetapi, biar pun diam-diam Han Beng juga kagum melihat sikap Sang Pangeran, dia tidak dapat
melupakan bahwa Pangeran itu adalah seorang pemuda bangsawan Mancu, keluarga Kaisar penjajah,
bahkan menjadi calon pengganti Kaisar penjajah pula. Bahkan, di balik semua itu, masih ada satu hal yang
amat mengganjal hatinya, yaitu mengingat bahwa ayahnya tewas oleh ayah Pangeran ini, dan bahwa
ibunya telah dirampas pula oleh ayah Pangeran ini! Hanya kebijaksanaannya berkat pendidikan batin
gurunya sajalah yang membuat dia tidak merasa mendendam kepada Pangeran ini.
“Kalian tentu telah mengenalku sebagai Pangeran Kian Liong,” kembali Sang Pangeran berkata dengan
ramah. “Maka, sudah sepatutnya kalau aku pun dapat mengenal nama kalian.”
Ci Sian sudah membalas penghormatan itu dengan menekuk sebelah kakinya dan merangkapkan kedua
tangan di depan dadanya. “Pangeran, nama saya adalah Bu Ci Sian.”
“Ah, Nona Bu, sungguh sangat kagum hatiku menyaksikan sepak terjang Nona tadi, dan terimalah ucapan
terima kasihku. Tanpa ada pertolonganmu, tentu aku sudah terjatuh ke tangan Im-kan Ngo-ok.”
“Belum tentu, Pangeran. Bukankah di sini ada seorang pendekar yang telah melindungi Pangeran?” kata Ci
Sian sambil memandang kepada Cia Han Beng, merasa heran mengapa pemuda itu nampak dingin saja
terhadap Sang Pangeran, bahkan tidak membalas ucapan Sang Pangeran.
“Taihiap, bolehkah aku mengetahui namamu?”
Han Beng mengerutkan alisnya dan membuang muka, tidak menjawab. Ci Sian hendak menegurnya, akan
tetapi ia segera teringat siapa adanya pemuda ini! Ayah pemuda ini tewas di tangan para pembantu Kaisar!
Dan ibunya kabarnya dirampas pula. Dan pemuda ini adalah tokoh Kun-lun-pai yang berjiwa patriot! Tentu
saja lain pandangan pemuda ini sebagai seorang patriot terhadap Pangeran Kian Liong, seorang pangeran
penjajah, seorang berbangsa Mancu!
“Pangeran, seorang seperti Paduka tidak layak mengenal nama seorang rakyat biasa seperti saya.”
“Ahh....!” Pangeran Kian Liong tertegun.
Dan dari sikap itu saja maklumlah Sang Pangeran orang macam apa yang berada di depannya. Tentu
seorang patriot yang anti penjajahan, pikirnya sambil menarik napas panjang penuh hati sesal.
Melihat sikap Pangeran yang tetap halus akan tetapi jelas merasa kesal dan berduka itu, Ci Sian merasa
betapa sikap pemuda Kun-lun-pai itu tidak sepatutnya. Ia sendiri tidak peduli akan soal patriot atau bukan
patriot. Ia tidak mengerti akan semua itu, dan ia bertindak hanya menurut naluri kemanusiaannya.
“Cia-enghiong,” kata Ci Sian, suaranya agak dingin. “Mengapa engkau bersikap seperti orang tidak suka
kepada Pangeran? Bukankah beliau telah bersikap manis dan ramah kepada kita?”
“Maaf, bagaimana pun juga, aku tidak mampu melupakan kenyataan bahwa dia adalah seorang Pangeran
Mancu, penjajah tanah air kita,” jawab Han Beng tanpa peduli bahwa Sang Pangeran sendiri berada di
tempat itu mendengarkan kata-katanya.
“Tapi, kalau engkau beranggapan demikian, mengapa tadi engkau melindunginya dari ancaman Im-kan
Ngo-ok? Mengapa tidak kau biarkan saja Pangeran penjajah ini tewas di tangan mereka?” Ci Sian
dunia-kangouw.blogspot.com
bertanya, suaranya mulai merasa penasaran. Memang sikap dara ini amat terbuka, dan ia selalu siap untuk
menentang segala sesuatu yang dianggapnya tidak benar.
“Nona, engkau tahu bahwa kami para patriot tak pernah membenci pribadi-pribadi atau perorangan. Kami
menentang penjajahan, bukan membenci seseorang. Dan kalau aku melindunginya, bukan berarti aku
melindungi pribadi Pangeran, namun sesuai dengan rencana dan garis perjuangan para patriot. Untuk
perjuangan ini, aku rela walau pun harus mengorbankan nyawaku.”
“Lalu apa yang hendak kau lakukan terhadap Sang Pangeran sekarang?” Ci Sian bertanya, suaranya
lantang.
“Sesuai dengan tugas yang kuterima, aku harus membawa Pangeran pergi dari sini, menyelamatkannya
dari orang-orang yang hendak membunuhnya.”
“Membawanya kembali ke istana di kota raja?”
Pemuda itu menggeleng kepala, “Tugasku bukan demikian, melainkan membawanya ke suatu tempat.”
“Sebagai tawanan para patriot?”
Pemuda itu mengangguk.
“Aku yang akan menentangmu!” tiba-tiba dara itu berseru dan mengeluarkan sulingnya, melintangkan
sulingnya di depan dada.
Pemuda itu tercengang dan memandang dengan mata terbelalak. “Apa maksudmu, Nona? Nona seorang
pendekar yang berilmu tinggi, mana mungkin Nona hendak melindungi Pangeran penjajah dan hendak
menentang kami....?”
“Aku tidak peduli akan segala patriot, segala penjajah, segala tetek-bengek! Pendeknya, aku hendak
mengantar Pangeran kembali ke tempat tinggalnya, ke istananya di kota raja. Dan siapa pun yang hendak
mencelakainya, baik orang-orang jahat macam Im-kan Ngo-ok, mau pun orang-orang macam kau yang
menamakan dirinya patriot, akan kutentang dan kulawan!”
Han Beng memandang bingung, lalu menarik napas panjang, nampak berduka. “Ahh, tidak kusangka sama
sekali bahwa kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini....“
Pangeran Kian Liong sudah mendengar cukup. Dia melangkah maju sambil tersenyum. “Aku dapat
memaklumi keadaan Ji-wi yang gagah perkasa. Akan tetapi sebelum kalian berdua ribut-ribut, marilah kita
berbincang-bincang tentang diriku yang hendak dijadikan rebutan. Banyak orang menilai diriku begini,
begitu, hanya dengan memandang diriku sebagai Pangeran Mahkota Kerajaan Mancu! Apa sih salahnya
seorang manusia yang dilahirkan sebagai seorang putera Kaisar penjajah Mancu? Seperti juga apa
salahnya kalau orang dilahirkan sebagai putera patriot, sebagai anak seorang penjahat, seorang jembel,
dan sebagainya lagi? Kita ini masing-masing dilahirkan tanpa kita minta menjadi anak siapa pun! Mengapa
setelah terlahir, kita lupa akan hal ini, dan kita memecah-mecah manusia sebagai penjajah, sebagai
pejuang, sebagai ini dan itu? Bukankah ketika kita terlahir, kita ini sama? Sebagai seorang orok yang
begitu terlahir, telanjang dan menangis? Salahkah kalau aku menjadi putera Kaisar Mancu? Bagiku, yang
penting adalah manusianya, bukan embel-embel berupa bangsanya atau keturunannya, hartanya,
kedudukannya, atau kepandaiannya, atau agamanya dan sebagainya. Manusia tetap manusia, diberi
embel-embel apa pun juga, dan yang menentukan apakah dia patut disebut manusia atau tidak bukanlah
embel-embelnya itu, melainkan si manusianya sendiri. Aku menjadi Pangeran Mahkota adalah karena
keadaanku, dan aku tidak pernah menganggapnya buruk, karena aku pun tak pernah menyalah gunakan
kedudukan. Dan aku berjanji kelak kalau menjadi kaisar, akan menjadi kaisar yang baik, untuk manusia,
bukan untuk bangsa ini atau itu, melainkan untuk rakyatku.”
“Mudah memang bagi Paduka untuk bicara demikian, Pangeran,” Han Beng segera membantah. “Karena
Paduka tidak pernah menderita karena penjajahan itu, Paduka tidak pernah merasakan bagaimana rakyat
ditindas, tidak merasa betapa ayah Paduka dibunuh, ibu Paduka diperkosa orang, harta Paduka dirampas
orang! Bangsa Mancu telah menjajah dan menindas bangsa Han, apakah kami para patriot yang mencinta
rakyat dan tanah air tidak seharusnya dan sepatutnya bangkit dan kemudian berusaha mengenyahkan
penjajah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran itu tersenyum. “Sudah kukatakan, semua itu telah terjadi dan aku tidak bertanggung jawab.
Tanggung jawabku adalah sekarang ini, kalau menjadi pangeran ya jadilah pangeran yang baik, kalau
menjadi kaisar jadilah kaisar yang baik dan demikian seterusnya menurut kedudukan masing-masing.
Seperti kulihat, bangsa Mancu yang menjajah itu kini malah melebur dirinya menjadi bangsa Han! Mana
ada kebudayaan Mancu dipelihara? Mana ada kesusastraan Mancu atau kesenian Mancu? Bahkan
bahasa Mancu pun tidak selancar kupergunakan seperti bahasa Han. Bukan aku membela bangsa Mancu,
melainkan kenyataannya demikian. Bagiku, semua manusia itu sama saja, bangsa apa pun juga adanya.
Baik buruk ditentukan oleh manusianya, bukan oleh bangsanya. Membeda-bedakan bangsa hanya
menimbulkan kebencian dan permusuhan belaka.”
“Hem, Paduka akan bicara lain kalau ayah Paduka dibunuh kaisar, kalau ibu Paduka dipaksa kaisar
menjadi selirnya!” kata Han Beng dengan suara penuh kepahitan.
Sang Pangeran terkejut juga mendengar ini dan memandang tajam.
Pada saat itu Ci Sian sudah melangkah maju menghadapi Han Beng dan berkata dengan suara
menantang, “Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi, Cia Han Beng! Sekarang terserah kepadamu! Aku
akan mengawal Pangeran pulang ke kota raja dan siapa pun juga yang akan mengganggunya, biar engkau
sekali pun, terpaksa akan kuhadapi sebagai lawan! Ingat, aku tidak berpihak kepada kerajaan, juga tidak
berpihak kepada kaum patriot. Aku tidak mengerti soal itu dan tidak mau tahu. Aku hanya bertindak
sebagai seorang yang ingin menjadi seorang pendekar, membela yang lemah terancam, menentang yang
kuat sewenang-wenang. Nah, terserah kepadamu!”
Sejenak Han Beng meragu. Kalau bukan Ci Sian yang berdiri menghalangi, tentu akan diterjangnya dan
dilawannya, betapa pun lihainya pelindung Pangeran itu. Akan tetapi Ci Sian yang berdiri di depan dan
menantangnya. Dia bukan takut melawan dara ini, sama sekali tidak, karena biar pelindung Pangeran lebih
lihai dari pada Ci Sian sekali pun akan dilawannya. Akan tetapi dia enggan melawan Ci Sian sebagai
musuh. Dia telah jatuh cinta pada dara ini. Akhirnya dia menarik napas panjang dan menyarungkan pedang
Ang-hio-kiam yang sejak tadi masih dipegangnya.
“Sudahlah, aku tak ingin menghadapimu sebagai musuh, Nona. Sampai jumpa!” Berkata demikian,
pemuda itu lalu meloncat dan sebentar saja lenyaplah pemuda itu dari dalam hutan itu.
Pangeran Kian Liong menarik napas panjang. “Sayang.... sayang hatinya dipenuhi oleh dendam....”
“Akan tetapi dia seorang murid Kun-lun-pai yang baik sekali, Pangeran, dan memang keadaannya.... ehhh,
patut dikasihani.”
Sang Pangeran memandang tajam kepada dara yang mendatangkan rasa kagum di hatinya itu. “Ahhh,
benarkah bahwa ayahnya terbunuh Kaisar dan Ibunya dirampas....”
Dara itu mengangguk.
Sang Pangeran mengingat-ingat, lalu mengangguk-angguk. “Sekarang aku tahu.... selir ayah ada yang
katanya bekas isteri seorang pendekar Kun-lun-pai. Hemm, luar biasa sekali, dan pemuda itu, yang
sesungguhnya masih saudara tiriku, yang telah diracuni dendam, bahkan telah menyelamatkan aku dari
ancaman Im-kan Ngo-ok.”
“Tidak luar biasa, Pangeran. Ingat, dia seorang pendekar dan seorang patriot.”
“Dan engkau, Nona Bu?”
“Saya? Saya seorang biasa, bukan patriot.”
“Tapi kenapa engkau menolongku, Nona?”
“Karena saya sudah banyak mendengar tentang Paduka sebagai seorang pangeran yang bijaksana,
bahkan orang-orang gagah mengharapkan kelak kalau Paduka menjadi kaisar, Paduka akan menghapus
segala kelaliman, membasmi segala kejahatan yang terjadi. Karena itu, sudah sepatutnyalah kalau saya
melindungi Paduka dari ancaman mala petaka.”
“Hemm, sungguh hebat. Dan sekarang apa yang hendak kau lakukan dengan diriku, Nona?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mengantar Paduka menuju ke kota raja.”
Pangeran itu teringat kepada Su-bi Mo-li dan memandang kepada empat mayat mereka dengan mata
ngeri.
“Dan kalau kita sudah tiba di kota raja?” Ingin dia mengetahui, pamrih apa yang tersembunyi di balik
keinginan dara ini untuk mengawal dan melindunginya.
“Sesudah kita di kota raja? Tentu saja Paduka kembali ke istana Paduka dengan aman.”
“Dan engkau?”
“Saya? Saya akan melanjutkan perjalanan saya.”
“Ke manakah, Nona?”
“Ke mana saya sendiri belum tahu. Saya sedang mencari Suheng saya, Pangeran.”
“Dan kau.... setelah berhasil mengantarku ke istana, engkau tidak menghendaki imbalan jasa apa-apa?”
Ci Sian memandang wajah yang halus itu dengan tajam, tidak mengerti. “Imbalan jasa apa? Saya tidak
menghendaki apa-apa, hanya menghendaki Paduka selamat sampai di istana, cukuplah. Imbalan apa?
Jasa apa?”
Melihat keterbukaan hati dara ini yang polos dan jujur sekali, Sang Pangeran menjadi kagum bukan main.
Seorang dara yang masih murni dan telah memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya!
“Kalau begitu, mari kita pergi, Nona. Tidak tahan aku untuk berdiam di sini lebih lama lagi.”
“Baik, Pangeran. Mari kita pergunakan dua ekor kuda itu, jangan mempergunakan kereta karena hal itu
akan menarik perhatian orang.”
Pangeran itu tak membantah dan karena memang dia tidak memakai pakaian pangeran, hanya pakaian
pemuda biasa, maka ketika mereka berdua berdampingan menunggang kuda, tidak akan ada yang
menyangka bahwa yang pria itu adalah Pangeran Mahkota. Orang tentu akan mengira bahwa mereka
hanya sepasang muda-mudi yang melakukan perjalanan belaka, atau sepasang suami isteri yang masih
amat muda, atau juga sepasang pendekar.
Melihat sikap Ci Sian yang amat lincah gembira, gagah perkasa dan amat tabah, hati Pangeran itu menjadi
makin suka dan kagum. Sebaliknya melihat sikap Pangeran yang amat ramah, lemah-lembut, sama sekali
tidak ceriwis, dan setelah bercakap-cakap ia mendapatkan kenyataan bahwa Sang Pangeran memiliki
pengetahuan yang amat luas, Ci Sian juga merasa kagum. Hatinya terhibur juga melakukan perjalanan
bersama seorang pemuda yang begini pandai, tahu akan segala hal, bahkan tahu akan keadaan di dunia
kang-ouw!
“Nona Bu, engkau memiliki ilmu silat yang amat tinggi sekali, maka kukira engkau tentu masih mempunyai
hubungan dengan Bu-taihiap, Bu Seng Kin. Bukankah demikian?”
Ci Sian terkejut dan menoleh kepada pemuda yang menunggang kuda di sampingnya itu. Akan tetapi ia
tidak mungkin dapat membohong kepada sepasang mata yang jernih tajam itu. Maka ia pun mengangguk
tanpa menjawab karena hatinya kesal mendengar disebutnya nama ayahnya.
“Masih ada hubungan apakah, kalau aku boleh bertanya?”
Terpaksa Ci Sian menjawab singkat, “Dia.... dia itu ayah kandung saya.”
“Ah....! Maaf, maaf, kiranya Nona adalah puteri Bu-taihiap? Sungguh luar biasa! Kalian ini keluarga Bu
agaknya hendak melimpahi diriku dengan budi-budi yang amat besar. Bukan hanya ayahmu yang pernah
menyelamatkan diriku, juga dari tangan penjahat-penjahat Im-kan Ngo-ok, sekarang puterinya juga!”
“Dia.... ayah saya pernah menolong Paduka?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar, malah dia menolongku disertai tiga orang isterinya dan seorang puterinya. Yang manakah di antara
tiga orang isterinya itu yang menjadi ibumu, Nona?”
Ci Sian maklum siapa yang dimaksud dengan puteri ayahnya itu. Tentu Bu Siok Lan, puteri ayahnya dan
Panglima Nepal Nandini itu, siapa lagi? Dan tiga orang isterinya itu ia pun sudah dapat menduganya. Siapa
lagi kalau bukan Nandini, Nikouw Gu Cui Bi, dan wanita dari Lembah Suling Emas, Cui-beng Sian-li Tang
Cun Ciu itu? Ia cemberut, hatinya kesal sekali. Akan tetapi ia harus menjawab pertanyaan Sang Pangeran.
“Ibu saya telah meninggal dunia. Saya tidak mengenal mereka itu!” Dan ia pun cemberut lalu mencambuk
kudanya sehingga kudanya lari congklang.
Sang Pangeran juga mencambuk kudanya untuk mengejar. Pangeran ini biar pun masih amat muda, akan
tetapi sudah berpengetahuan luas. Dia tahu bahwa dara itu marah. Agaknya dara itu telah tak beribu dan
tidak setuju ayahnya yang mempunyai banyak isteri itu. Dan diam-diam dia pun tersenyum. Dia tahu bahwa
Bu-taihiap adalah seorang pria yang suka akan wanita, tampan gagah dan banyak pula wanita yang tergilagila
kepadanya.
Seorang pria pengejar wanita, hidung belang akan tetapi bertanggung-jawab. Dia pun menarik napas
panjang. Ada perbedaan antara pria seperti Bu-taihiap dengan Kaisar atau pembesar-pembesar yang
mengumpulkan banyak selir. Selir-selir itu tidak ada ubahnya binatang-binatang peliharaan yang dibeli
dengan kemuliaan atau harta. Akan tetapi, wanita-wanita yang menjadi isteri Bu-taihiap adalah karena
tertarik, dan karena saling mencinta. Keduanya tentu ada baiknya dan ada buruknya.
Para selir yang tertarik oleh kemuliaan dan harta memang dapat hidup rukun akan tetapi mereka melayani
suami mereka hanya dengan kemesraan palsu belaka. Sebaliknya, para isteri pria seperti Bu-taihiap itu
semua mencintanya, akan tetapi tentu saja tidak dapat hidup rukun satu sama lain, dan akibatnya sang
suami yang selalu menghadapi isteri-isteri yang penuh cemburu dan keluarganya menjadi retak.
Contohnya adalah keluarga pendekar Bu ini. Puteri kandungnya sendiri, dara yang lincah jenaka dan
gagah perkasa, yang sebenarnya tentu dapat menjadi seorang puteri yang mencinta ayah kandungnya, kini
agaknya membenci keluarga ayahnya.
Dan di dalam perjalanan mereka itu tidak terjadi gangguan. Agaknya setelah Im-kan Ngo-ok kalah, bahkan
dua orang di antara mereka tewas, tidak ada lagi yang berani mencari dan mencoba untuk mengganggu
Sang Pangeran. Agaknya para tokoh golongan sesat sudah mendengar akan tewasnya dua orang dari Imkan
Ngo-ok. Hal ini amat mengejutkan hati mereka dan mereka menjadi gentar, maklum bahwa Sang
Pangeran dilindungi oleh orang-orang yang benar-benar amat sakti.
Pada suatu hari, selagi Sang Pangeran dan Ci Sian berkuda dengan perlahan-lahan seenaknya sambil
menikmati pemandangan indah dari lereng sebuah bukit, tiba-tiba Pangeran Kian Liong melihat jauh di
bawah sana ada debu mengebul tinggi dan kemudian nampak pasukan besar tentara kerajaan berbaris.
Dia merasa heran sekali.
“Hemm, itu adalah pasukan kerajaan yang cukup besar jumlahnya!” katanya kepada Ci Sian.
“Pemimpinnya bahkan seorang pangeran, dapat kulihat dari corak benderanya.”
“Ada terjadi apakah, Pangeran?” tanya Ci Sian. “Apakah sudah terjadi perang? Dengan siapa?” Ci Sian
teringat akan perang antara tentara kerajaan melawan tentara Nepal di daerah Tibet.
“Entahlah. Menurut pendengaranku, tidak ada perang, bahkan tak ada pemberontakan yang perlu
dipadamkan setelah Jenderal Kao berhasil memadamkan pemberontakan di barat.”
“Jenderal Kao Cin Liong?” Ci Sian bertanya.
“Benar! Ehhh, apakah engkau sudah mengenalnya, Nona?”
Ci Sian tersenyum. “Saya mengenalnya dengan baik, Pangeran. Bahkan saya bertemu dengan dia ketika
dia sedang menyamar dan menyusup ke dalam benteng musuh, yaitu benteng pasukan Nepal.”
“Ahhh? Lain kali harap kau ceritakan tentang hal itu, Nona Bu. Sekarang, kita harus mengikuti pasukan itu.
Ingin kuketahui apa yang hendak mereka lakukan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bagaimana kalau kita mengejar dan menyusulnya, kemudian Paduka dapat bertanya kepada
komandannya?”
“Tidak, aku tidak ingin mencampuri urusan mereka, apalagi mereka itu tentu bergerak atas perintah atasan.
Aku hanya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan.”
Dan mereka berdua pun melarikan kuda untuk mengikuti pasukan besar itu. Dan di sepanjang jalan,
dengan hati penuh kemarahan dan kedukaan, Sang Pangeran melihat bekas tangan para anak buah
pasukan itu. Perampasan-perampasan, pemukulan-pemukulan, perbuatan-perbuatan kurang ajar terhadap
wanita-wanita.
Biar pun belum sampai terjadi perkosaan atau pembunuhan, namun sikap pasukan itu sungguh
memalukan, bukan merupakan sikap pasukan yang berdisiplin dan baik, dan sikap seperti itu hanya
memancing kebencian rakyat terhadap pemerintah! Diam-diam Sang Pangeran mencatat semua bekas
tangan pasukan itu untuk kelak dia laporkan dan dia tuntut agar komandan pasukan yang lengah dan tidak
berdisiplin itu menerima hukuman atau setidaknya menerima teguran dan penurunan pangkat, sedangkan
para anak buah pasukannya menerima hukuman yang cukup keras.
Ci Sian sibuk mengumpulkan data-data dan bukti-bukti tentang keburukan sikap serta sepak terjang para
pasukan itu dengan bertanya-tanya kepada para penghuni dusun-dusun di sepanjang jalan yang dilalui
pasukan.
Ternyata pasukan itu berjumlah seribu orang dan bersenjata lengkap. Dipimpin oleh seorang pangeran dan
dua orang jenderal yang berkepandaian tinggi! Mendengarkan ciri-ciri dari Pangeran dan jenderal itu,
tahulah Sang Pangeran, siapa mereka.
Pangeran yang memimpin itu adalah seorang keponakan ayahnya, seorang pangeran yang usianya sudah
tiga puluh lima tahun dan terkenal memiliki ilmu silat cukup tinggi, bernama Pangeran Seng Goan Ong,
sedangkan dua orang jenderal itu pun terkenal memiliki kepandaian yang hebat.
Yang seorang adalah Jenderal Tang Sen Hoat, yang berusia empat puluh tahun dan bertubuh tinggi besar
bertenaga gajah, sedangkan jenderal ke dua adalah Jenderal Boan Ciong, seorang jenderal berusia hampir
lima puluh tahun yang selain ahli dalam ilmu siasat perang, juga memiliki ilmu silat tinggi pula.
Diam-diam Sang Pangeran merasa heran. Kalau menghadapi pemberontakan, kenapa yang dikirim hanya
seribu orang pasukan, akan tetapi pemimpinnya sampai seorang pangeran dan dua orang jenderal? Dan
dua orang jenderal itu pun bukan ahli-ahli perang, melainkan pelatih-pelatih. Jenderal Tang ialah seorang
pelatih silat, sedangkan Jenderal Boan pelatih ilmu perang. Pangeran Seng Goan Ong juga terkenal
sebagai seorang penasehat dalam hal latihan-latihan ketangkasan bagi para pasukan pengawal istana.
Karena ingin sekali tahu, maka Pangeran Kian Liong mengajak Ci Sian untuk terus mengikuti barisan itu
sehingga mereka membuat perjalanan menyimpang, bahkan kini makin meninggalkan kota raja. Akan
tetapi Ci Sian juga merasa gembira saja karena Pangeran ini merupakan teman seperjalanan yang
mengasyikkan, pandai bicara, dan sikapnya amat baik dan menyenangkan. Dia seolah-olah merasa sejak
lama telah mengenal Pangeran itu dan mereka bagaikan dua orang sahabat baik, atau seperti saudara
saja.
Hubungan antar manusia memang akan menjadi sesuatu yang amat indah dan akrab kalau yang
berhubungan itu adalah dua orang manusianya tanpa mengikut sertakan segala macam embel-embelnya.
Namun sungguh sayang sekali. Kita selalu melupakan segi kemanusiaannya pada seseorang dan kita lebih
mementingkan embel-embelnya itu ialah kedudukannya, harta bendanya, kemampuannya, pendidikannya,
agamanya, dan sebagainya.
Kita selalu menilai manusia dari embel-embelnya itulah, maka tidaklah mengherankan apabila hubungan
antara manusia merupakan hubungan yang palsu, hubungan antara dua orang munafik. Yang
berhubungan hanyalah gambaran-gambaran yang kita bentuk berdasarkan embel-embel itu, bukan
hubungan antara dua manusia yang sebenarnya. Hubungan antara dua gambaran manusia ini selalu
mendatangkan konflik.
Kalau kita masing-masing menelanjangi diri dari pada segala embel-embel itu, kalau kita memandang
orang lain tanpa disertai gambaran embel-embel itu, maka yang tinggal hanyalah manusianya, tanpa
perbedaan, dan dalam hubungan antara manusia seperti ini, tanpa embel-embel lagi, barulah tercipta
dunia-kangouw.blogspot.com
sesuatu yang disinari cinta kasih, karena lenyapnya gambaran-gambaran itu melenyapkan pula pamrih
yang bersembunyi di balik hubungan itu. Dan sekali timbul pamrih, apa pun yang kita lakukan adalah palsu!
********************
Biara Siauw-lim-si amat terkenal sejak dahulu. Dari biara inilah keluarnya bukan saja ajaran-ajaran Agama
Buddha, akan tetapi juga di situ pula dicetak pendekar-pendekar silat kenamaan yang gagah perkasa.
Partai persilatan Siauw-lim-pai merupakan sebuah di antara partai-partai yang besar, bahkan tidak dapat
disangsikan lagi bahwa ilmu silat banyak bersumber pada Siauw-lim-pai.
Di jaman dahulu, yang diperbolehkan belajar ilmu silat Siauw-lim-pai hanyalah para hwesio dan orang yang
ingin mempelajari ilmu silat Siauw-lim-pai haruslah lebih dulu menjadi hwesio, mencukur gundul rambut
kepalanya dan mengenakan jubah hwesio. Peraturan ini dahulunya dijaga keras, oleh karena menurut
pendapat para pimpinan Siauw-lim-pai sejak turun-temurun, hanya seorang hwesio saja yang patut
mempelajari ilmu silat.
Seorang hwesio adalah seorang pendeta, maka dianggap sebagai manusia yang sudah dapat
mengendalikan hawa nafsunya dan sudah dapat menjadi seorang manusia baik-baik. Oleh karena itu,
apabila ilmu silat dipelajari oleh seorang hwesio, maka ilmu itu tentu akan menjadi ilmu yang baik, tidak
akan dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan jahat. Sebaliknya, kalau seorang manusia biasa
mempelajarinya, maka manusia itu akan mudah melakukan kejahatan dengan mengandalkan ilmu silatnya.
Para hwesio Siauw-lim-pai maklum bahwa manusia amatlah lemah terhadap kekuasaan. Sekali
mempunyai kekuasaan, seorang manusia mudah menjadi mabok dan mempergunakan kekuasaan untuk
bertindak sewenang-wenang. Dan ilmu silat dapat merupakan sejenis kekuasaan pula.
Memang ada beberapa kali terjadi kekecualian dan Ketua Siauw-lim-pai kadang-kadang menerima murid
bukan pendeta. Tetapi tentu saja pilihan para pimpinan Siauw-lim-pai itu dilakukan dengan amat teliti,
terhadap seorang bukan hwesio yang benar-benar memiliki bakat baik dan juga watak yang bersih.
Namun, sejak Siauw-lim-pai dimusuhi oleh Kaisar, sejak sebuah cabang Siauw-lim-pai dibasmi oleh Kaisar
Yung Ceng, berubahlah peraturan di biara Siauw-lim-pai sebagai pusat Siauw-lim-pai. Melihat bayangan
mengancam dirinya, Siauw-lim-pai merasa perlu untuk memperkuat diri, yaitu tentu saja dengan jalan
memperbanyak murid-muridnya. Pula, sikap bermusuh yang diambil oleh Kaisar itu akhirnya mendorong
Siauw-lim-pai untuk berpihak kepada patriot.
Ketika mendengar bahwa biara Siauw-lim-si membuka pintunya untuk menerima orang-orang luar, bukan
hwesio, menjadi muridnya, berbondong-bondong datanglah pemuda-pemuda dari berbagai kota dan dusun
membanjiri kuil atau biara itu. Tetapi, ternyata pintu biara yang tebal itu tertutup. Kiranya, biar pun telah
merubah peraturannya, para pimpinan Siauw-lim-pai tidak mau menerima sembarangan orang saja
sebagai murid-murid Siauw-lim. Dan juga tidak mau menerima terlalu banyak.
Oleh karena itu, mereka kemudian mengadakan penyaringan, dan cara pertama adalah membiarkan
mereka itu di luar pintu gerbang yang tertutup. Ini merupakan ujian pertama untuk melihat ketekunan,
ketekadan dan daya tahan mereka. Puluhan orang muda yang berlutut di depan pintu gerbang itu mereka
diamkan saja, tidak diterima masuk dan setelah lewat sehari semalam, banyak sudah di antara mereka
yang pergi meninggalkan tempat itu dengan hati kesal. Masih ada sisanya yang tetap berlutut di situ.
Pimpinan Siauw-lim-pai juga mengadakan ujian diam-diam dengan cara mengeluarkan dan menyediakan
makanan dan minuman di depan pintu gerbang. Para muda yang memang sudah kelaparan dan kehausan,
setelah berlutut di luar pintu gerbang selama dua hari dua malam, banyak yang tidak tahan melihat adanya
makanan dan minuman itu. Mereka menyerbu, makan minum dan muncullah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai
yang menyatakan bahwa mereka yang makan atau minum itu dianggap tidak lulus dan dipersilakan pulang
saja.
Banyaklah yang gugur dalam ujian pertama ini. Kalau tadinya yang ada seratus orang lebih, setelah lewat
empat hari empat malam, hanya tinggal tujuh orang saja yang tinggal di depan pintu gerbang. Mereka itu
kepanasan dan kehujanan, kelaparan dan kehausan dan akhirnya, setelah mereka hampir roboh pingsan,
barulah seorang hwesio pimpinan keluar dari pintu gerbang dan menyuruh anak-anak murid Siauw-lim-pai
untuk menggotong mereka ke dalam biara.
Jangan dikira bahwa ujian itu saja yang dialami oleh para calon murid Siauw-lim-pai ini. Mereka masih diuji
lagi, yaitu bakat mereka, ketangkasan mereka, dan juga ketekunan atau kesabaran mereka. Setelah diuji
dunia-kangouw.blogspot.com
untuk dilihat bakat masing-masing, mereka bukan secara langsung diberi pelajaran ilmu silat. Ada yang
disuruh bekerja di dapur di mana tiap hari dilakukan pekerjaan memasak bubur dan sayur banyak sekali
untuk makanan para anggota Siauw-lim-pai yang hampir dua ratus orang banyaknya. Ada yang diberi
pekerjaan memikul air, memikul kayu bakar, membelah kayu, membersihkan kuil dan sebagainya.
Bagi yang tidak sabar, tentu saja pekerjaan-pekerjaan itu menyiksa rasanya. Mereka memasuki Siauw-limpai
dengan keinginan diajar ilmu silat, akan tetapi setelah diterima, mereka itu hanya disuruh bekerja
seperti budak belian! Mereka itu pada mulanya tidak tahu bahwa pekerjaan sehari-hari itu adalah pelajaran
pokok atau dasar bagi mereka!
Para hwesio yang mengepalai bagian masing-masing itu membuat ketentuan dan mengharuskan mereka
melakukan pekerjaan dengan cara-cara tertentu pula. Misalnya yang bekerja memikul air harus
menggunakan pikulan dari batang-batang penjalin yang diikat menjadi satu dan setelah pemikulnya mulai
dapat memikul sambil berlari dan tidak merasa berat lagi, maka batang penjalin itu dikurangi satu.
Pengurangan itu terus dilakukan sampai tinggal beberapa batang saja sebagai pikulan itu. Dengan
demikian, tanpa disadari, tanpa dirasakan oleh si murid, dia telah mulai berlatih sinkang dan tahu-tahu dia
akan memperoleh tenaga sinkang yang amat kuat.
Ada yang pula memanggul-manggul kayu bakar. Setiap kali, panggulannya itu ditambah sebatang kayu.
Penambahan ia terus dilakukan, sebatang demi sebatang tanpa ia rasakan sampai tahu-tahu dia dapat
memanggul sejumlah kayu bakar yang hanya akan dapat dipanggul oleh empat lima orang. Dengan
demikian dia telah menghimpun tenaga gwa-kang yang hebat.
Yang pekerjaannya membelah kayu juga diberi golok tajam, akan tetapi dia tidak boleh mengasah
goloknya yang makin lama menjadi semakin tumpul dan lambat-laun dia telah memupuk tenaga yang
demikian kuat sehingga dengan tangan telanjang saja dia akan mampu membelah kayu.
Yang bekerja memasak bubur harus mengaduk bubur beberapa buah kuali besar. Kalau terlambat
mengaduk, buburnya akan gosong. Untuk pekerjaan ini, dia mempergunakan adukan yang bentuknya
seperti toya, dan setiap hari mengaduk di tempat panas itu, tanpa disadarainya dia telah memperoleh
dasar-dasar gerakan bermain toya, kedua tangan dan lengannya telah memperoleh kekuatan dasar yang
luar biasa besarnya.
Demikian pula yang bekerja menyapu pekarangan, dia diharuskan menyapu dengan gerakan tertentu,
sampai akhirnya dia memperoleh kecakapan untuk menggerakkan daun-daun itu tanpa menyentuhnya,
hanya dengan sambaran angin dari sapunya saja. Dan mereka yang diberi pekerjaan menyirami bunga
dan sayur-sayuran di kebun belakang, karena sepanjang kebun itu diberi patok-patok, dia harus menyiram
sambil berjalan di atas patok-patok itu dan kebiasaan ini ternyata telah memberinya dasar-dasar ilmu
ginkang (meringankan tubuh) yang luar biasa.
Bermacam-macam cara latihan diberikan oleh para pimpinan hwesio di Siauw-lim-si. Latihan-latihan itu
selain melatih jasmani, juga melatih batin para murid agar tahan uji, kuat daya tahannya, tekun, dan latihan
seperti itu disebut ‘mengasah pedang bermata dua’ karena hasilnya ada dua macam. Pertama, tanpa
sadar si murid telah memperoleh kemajuan hebat dan menguasai dasar ilmu yang tinggi. Ke dua, tenaga
mereka itu dikerahkan bukan sia-sia karena telah menghasilkan pekerjaan yang bermanfaat bagi mereka
semua di dalam biara.
Dengan saringan-saringan yang ketat itu, yang berhasil diterima sebagai murid di pusat biara Siauw-lim-si
hanya kurang lebih lima puluh orang pemuda. Mereka ini, setelah melewati saringan, tentu saja merupakan
pemuda-pemuda gemblengan yang berbakat, berminat dan memiliki batin yang kuat.
Setelah mereka menguasai tenaga-tenaga dasar, barulah para pimpinan Siauw-lim-pai melatih ilmu silat
dasar kepada mereka. Pelajaran bhesi (kuda-kuda) saja memakan waktu lama sekali. Sehari penuh
disuruh memasang bhesi, selagi mengipasi api dapur, selagi melakukan pekerjaan apa saja, diharuskan
dalam kedudukan memasang kuda-kuda sehingga untuk hari-hari pertama, kedua kaki mereka terasa kaku
dan kejang sehingga untuk buang air saja mereka tidak mampu berjongkok dan terpaksa dilakukan sambil
kedua kaki memasang kuda-kuda!
Setelah mereka kokoh kuat benar dalam memasang kuda-kuda sehingga jika ditendang atau didorong,
kedua kaki tidak ada yang terangkat melainkan bergeser keduanya, seolah-olah tidak dapat dipisahkan
dengan bumi, barulah mereka diajarkan ilmu pukulan dan ilmu langkah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bermacam ilmu silat yang diajarkan di Siauw-lim-pai itu. Dari ilmu silat yang paling kasar sampai yang
paling halus. Ada Kauw-kun (Silat Monyet), Houw-kun (Silat Harimau), Coa-kun (Silat Ular), Ho-kun (Silat
Bangau), Liong-kun (Silat Naga) dan masih banyak lagi ilmu silat yang didasarkan pada gerakan-gerakan
binatang. Para cerdik pandai dari biara Siauw-lim-si selama ratusan tahun memperhatikan semua gerakan
binatang buas dengan tekun sekali.
Mereka melihat bahwa setiap binatang liar memiliki gerakan membela diri yang timbul secara naluri, akan
tetapi justru karena naluri membela diri ini, di dalamnya tersembunyi gerakan-gerakan yang amat hebat,
yang sesuai dengan kekuasaan alam yang telah memberi kepada masing-masing itu kemampuan untuk
membela diri. Hal ini amat menarik hati para cerdik pandai itu dan mereka pun mencatat, mempelajari dan
meniru gerakan-gerakan itu, bukan hanya gerakannya, melainkan cara bernapas saat bergerak, cara
mengumpulkan tenaga ketika bergerak, maka terciptalah ilmu silat-ilmu silat yang berdasarkan gerakangerakan
binatang liar itu. Dan karena para pendeta itu adalah orang-orang yang suka akan sastra dan seni,
maka mereka pun tidak melupakan segi-segi keindahan dan kegagahan dari gerakan binatang-binatang
itu, maka gerakan ilmu silat yang pada dasarnya mencontoh gerakan binatang itu memiliki sifat-sifat gagah
yang indah sekali.
Demikianlah keadaan Siauw-lim-si pada waktu itu. Para pimpinan Siauw-lim-pai tak tahu sama sekali
bahwa di antara pemuda yang diterima sebagai murid, terdapat beberapa orang kaki tangan pemerintah
Mancu yang sengaja menyelundup dan menyusup dan diterima menjadi murid pula! Mereka ini ditugaskan
untuk memata-matai semua gerakan Siauw-lim-pai dan dengan masuk menjadi murid, tentu saja mereka
dapat mengetahui semua rahasia perkumpulan ini.
Pada suatu hari, ketika dua orang mata-mata ini, yang sebelum masuk menjadi murid Siauw-lim-pai tentu
saja sudah memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, sedang memasuki gudang perpustakaan
untuk melihat-lihat kitab-kitab Siauw-lim-pai, mereka kepergok oleh Hui San Hwesio, seorang di antara
para pimpinan Siauw-lim-pai di waktu itu. Hui Sian Hwesio adalah seorang hwesio yang usianya empat
puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, bersikap angker dan galak.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” bentak hwesio tinggi besar itu.
Dua orang pemuda itu amat terkejut. Seorang di antara mereka cepat menyembunyikan sebuah kitab kecil
yang sedang dipegang dan diperiksanya. Akan tetapi, Hui Sian Hwesio dapat melihat itu dan cepat dia
menghampiri, tangannya menyambar untuk merampas kitab.
“Dukkkk!”
Murid itu menangkis dan ketika kedua tangan itu bertemu, Hui Sian Hwesio terkejut bukan main. Lengan
murid itu memiliki tenaga Iweekang yang amat kuat! Dia menjadi penasaran dan kembali tangan kirinya
menyambar, sekali ini untuk menotok pundak sedangkan tangan kanannya kembali menyambar ke arah
kitab yang dipegang oleh murid itu.
“Dukkk.... plakkk!”
Kembali murid itu menangkis dan sekali ini Hui Sian Hwesio yang tadi mengerahkan tenaga sepenuhnya
maklum bahwa kekuatan murid ini tak kalah olehnya! Dia terheran-heran dan memandang dengan alis
berkerut, lalu membentak marah.
“Siapa kalian sebenarnya? Apa yang kalian lakukan di sini?!”
Dua orang muda itu saling pandang dan saling memberi isyarat. Kemudian seorang di antara mereka, yang
tidak membawa kitab, mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya. Benda itu adalah sebuah tanda
bahwa dia, atau mereka berdua, adalah seorang yang memegang kekuasaan sebagai utusan Kaisar! Hui
Sian Hwesio mengenal tanda ini dan dia terkejut bukan main.
“Kalian pengkhianat....!” bentaknya dan dengan kuat sekali dia menyerang.
Akan tetapi, orang yang memegang tanda kekuasaan itu menangkis dan dengan lihai sekali dua orang
pemuda itu telah mengepungnya dari depan belakang, dengan gaya silat dari utara.
“Hui Sian Hwesio!” kata pemegang tanda kekuasaan itu, suaranya mengejek, “Mungkin engkau mati di
tangan kami, atau kami berdua mati di sini, akan tetapi ingat, kami adalah utusan Kaisar dan gerak-gerik
dunia-kangouw.blogspot.com
kami diikuti dari atas. Kalau kami tidak keluar lagi dari sini, kalau kami mati di sini, bagi kami adalah mati
dalam melaksanakan tugas. Akan tetapi biara ini akan dibasmi oleh bala tentara Kaisar, dan kalian semua
termasuk engkau, akan mati konyol!”
“Hui Sian Hwesio, kami tahu mengapa engkau menjadi hwesio,” sambung orang ke dua yang memeriksa
kitab tadi. “Engkau masuk di sini karena patah hati. Engkau masih muda dan kami kira tidak sebodoh tua
bangka-tua bangka yang keras hati itu, hendak melawan pemerintah. Kalau engkau suka membantu, Sri
Baginda tentu akan suka mengangkatmu menjadi perwira tinggi.”
“Mungkin juga menjadi jenderal, mengingat akan kemampuanmu.”
Hui Sian Hwesio berdiri bengong. Memang tidak keliru, ia masuk menjadi hwesio karena wanita, karena
patah hati. Kekasihnya menikah dengan orang lain dan karena duka, dia masuk menjadi hwesio Siauw-limsi.
Akan tetapi, ternyata kedudukan itu hanya berumur pendek saja dan sudah lama sekali dia menyesali
dirinya mengapa dia masuk menjadi hwesio dan menyia-nyiakan diri sendiri. Kini, terbuka kesempatan
baginya!
Dan memang dia pun tahu bahwa melawan pemerintah sama dengan membunuh diri. Dia sudah tidak
setuju dan sering menentang keputusan suhu-nya, Ketua Siauw-lim-pai yang menerima murid-murid luar
dan yang bergabung dengan kaum patriot penentang Kaisar itu. Kini, kesempatan baik terbuka. Mereka
lalu berbisik-bisik dan mulai saat itulah Hui Sian Hwesio, seorang di antara kepercayaan-kepercayaan dan
murid-murid terlihai dari Ketua Siauw-lim-pai, diam-diam menjadi pengkhianat dan menjadi kaki tangan
Kaisar!
Hui Sian Hwesio mulai dengan usahanya membujuk murid-murid Siauw-lim-si untuk mengikuti jejaknya dan
memang dia berhasil membujuk beberapa orang yang siap membantunya dan membantu pasukan
pemerintah kalau saatnya tiba, yaitu membantu pasukan untuk membasmi Siauw-lim-si!
Sayang sekali bahwa kebanyakan para pendeta Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi, yaitu Sang Ketua dan
tokoh-tokoh lain di bawahnya, selain memiliki kepandaian silat tinggi, juga merupakan orang-orang yang
terlalu sabar dan mengalah. Ada beberapa orang di antara mereka yang menaruh curiga terhadap Hui Sian
Hwesio, namun mereka ini tidak mau bertindak lebih jauh lagi.
Mereka hanya diam-diam menurunkan ilmu-ilmu simpanan mereka kepada beberapa orang murid Siauwlim-
pai yang mereka pilih dan sukai, menurunkannya secara diam-diam untuk dapat melawan orang-orang
seperti Hui Sian Hwesio kelak, dan untuk dipakai membela Siauw-lim-pai. Ada pun mereka sendiri, mereka
adalah orang-orang yang telah bersumpah untuk selamanya tidak akan mempergunakan kekerasan. Yang
bersumpah seperti ini adalah sebagian besar, hampir semua tokoh-tokoh tingkat atas Siauw-lim-pai,
termasuk ketuanya sendiri.
Demikianlah keadaan di Siauw-lim-si yang di sebelah dalamnya telah dihuni musuh-musuh dalam selimut.
Dan dalam keadaan seperti itulah, pada suatu hari, seperti yang telah direncanakan oleh Hui Sian Hwesio
dan kawan-kawannya, setelah pendeta ini keluar dari kuil pada suatu malam untuk mengadakan
pertemuan rahasia dengan para pimpinan pemerintah, pasukan pemerintah yang terdiri dari seribu orang
itu datang untuk menyerbu Siauw-lim-pai! Dan pasukan inilah yang dilihat dan diam-diam diikuti oleh
Pangeran Kian Liong dan Ci Sian.
Kali ini pasukan Kerajaan Mancu itu datang menyerbu dengan alasan bahwa pendeta Siauw-lim-pai telah
menculik Pangeran Mahkota! Hal ini tentu saja merupakan fitnah, akan tetapi bukan fitnah yang tidak
berdasar. Bukankah lenyapnya Pangeran Mahkota terjadi ketika beliau menjadi tamu kuil Hok-te-kong di
Pao-ci? Dan bukankah kuil itu dipimpin oleh seorang hwesio murid Siauw-lim-pai? Tentu saja, kuil itu
sendiri telah dibasmi, para hwesionya ditangkap dan dihukum mati sebagai pemberontak sebelum pasukan
besar itu berangkat menyerbu Siauw-lim-pai pusat, dipimpin oleh seorang pangeran dan dua orang
jenderal.
Ketika pasukan menyerbu, Hui Sian Hwesio sendiri yang membuka-bukakan pintu-pintu berlapis itu.
Beberapa orang hwesio murid Siauw-lim-pai yang melihat ini terkejut dan tentu saja hendak menghalangi,
akan tetapi dengan senjata tombak kapaknya, Hui Sian Hwesio membunuh empat orang murid itu! Mulailah
Hui Sian Hwesio memperlihatkan mukanya yang sesungguhnya!
Seorang pendekar, yaitu murid Siauw-lim-pai bukan hwesio yang telah menerima latihan-latihan ilmu dari
para pimpinan yang telah mempersiapkan mereka untuk membela Siauw-lim-pai, melihat ini cepat
dunia-kangouw.blogspot.com
mengejar dan menyerang Hui Sian Hwesio, namun terlambat sudah. Pintu gerbang telah terbuka dan
pasukan pemerintah, dikepalai Pangeran dan dua orang jenderal yang perkasa, telah menyerbu bagaikan
gelombang samudera.
Terjadilah pertempuran yang amat hebat! Kurang lebih lima puluh orang murid-murid Siauw-lim-pai yang
baru, terdiri dari pemuda-pemuda penuh semangat dan bagaikan harimau-harimau muda, ditambah lagi
kurang lebih seratus orang murid Siauw-lim-pai yang menjadi hwesio, melakukan perlawanan mati-matian.
Terjadilah pertempuran di semua bagian biara yang besar itu. Di depan, di ruangan tengah, di pekarang, di
taman bunga, di ruangan dalam dan belakang.
Banjir darah terjadi di biara yang biasanya hanya menjadi tempat pemujaan bagi para biarawan itu. Darah
para pendekar Siauw-lim-pai, para hwesio Siauw-lim-pai, dan juga sebagian besar darah pasukan
pemerintah. Para murid Siauw-lim-pai itu sungguh hebat. Biar pun jumlah mereka hanya kurang lebih
seratus lima puluh orang yang menghadapi penyerbuan seribu orang tentara, namun mereka melakukan
perlawanan gigih dan setiap murid Siauw-lim-pai baru roboh setelah menjatuhkan sedikitnya dua orang
lawan! Hui Sian Hwesio sendiri juga mengamuk, dikeroyok oleh tiga orang murid baru dari Siauw-lim-pai.
Juga Sang Pangeran yang memimpin penyerbuan, bersama dua orang jenderal, mengamuk bagaikan
binatang-binatang buas.
Para murid Siauw-lim-pai itu melakukan perlawanan dengan cara berlari ke sana-sini, saling bantu dan
main kucing-kucingan. Akan tetapi mereka merasa menyesal sekali dan gelisah melihat betapa Ketua
Siauw-lim-pai bersama para pucuk pimpinan, sama sekali tidak mau ikut bertempur membela Siauw-limpai,
melainkan berkumpul di ruang sembahyang, duduk bersila dan bersemedhi, menerima kematian
dengan sikap tenang penuh damai! Kalau saja belasan orang pucuk pimpinan itu mau turun tangan, biar
pun akhirnya kalah juga karena kalah jumlah, kiranya akan lebih banyak musuh dapat dihancurkan dan
ditewaskan.
Pertempuran hebat itu terjadi dengan serunya, dan makan waktu hampir setengah hari. Melihat betapa
murid-murid Siauw-lim-pai lebih banyak merobohkan anggota pasukan dengan cara kucing-kucingan di
tempat yang tentu saja lebih mereka kenal itu, Sang Pangeran lalu memerintahkan pasukan panah untuk
menghujankan panah api ke biara! Biara mulai terbakar! Karena setiap murid Siauw-lim-pai terlibat dalam
perkelahian mati-matian, dan tidak ada seorang pun yang dapat melawan api, maka sebentar saja biara itu
menjadi lautan api!
Melihat ini, para pendekar Siauw-lim-pai mengamuk nekad. Mereka itu memang hebat bukan main,
merupakan pemuda-pemuda yang sudah berubah seperti menjadi naga-naga muda yang tidak takut mati
dan pantang mundur. Akan tetapi, api yang membakar biara itu membuat mereka tidak dapat main kucingkucingan
lagi dan terpaksa mereka itu memusatkan tenaga di pekarangan depan di mana terjadi
pertempuran terakhir yang amat dahsyat. Sang Pangeran dan dua orang jenderal yang memimpin
pasukan, tewas pula di tangan para murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa. Bahkan Hui Sian Hwesio
sendiri akhirnya tewas setelah hwesio ini merobohkan sedikitnya lima orang murid gemblengan dari Siauwlim-
pai.
Akhirnya, melalui pertempuran yang merupakan pembantaian terhadap murid-murid Siauw-lim-pai, semua
murid Siauw-lim-pai, kecuali delapan orang murid baru, telah tewas. Darah membanjir di mana-mana dan
mungkin hanya api itu saja yang akan dapat mencuci bersih noda-noda darah sampai tak berbekas lagi.
Andai kata tidak terjadi pembasmian dan kebakaran, tentu tempat itu tidak mungkin lagi dijadikan biara,
setelah darah ratusan orang membanjiri tempat itu, setelah ratusan tubuh kehilangan nyawa di tempat itu.
Sungguh mengerikan sekali dan juga menyedihkan betapa sebuah biara kini berubah menjadi seperti
gambaran neraka!
Melihat penyerbuan itu, Pangeran Kian Liong yang berada di belakang pasukan, beberapa kali berusaha
mencegahnya. Akan tetapi hal itu tidak mungkin karena para pimpinan pasukan telah menyerbu ke dalam.
Para pasukan mana mungkin berhenti bergerak tanpa perintah dari atasan mereka. Dan Ci Sian
memegangi lengan Pangeran itu dan mencegahnya untuk lari ke dalam karena hal itu tentu saja
merupakan bahaya besar bagi keselamatan Sang Pangeran.
Di dalam terjadi perkelahian antara orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi. Untuk dia sendiri,
tentu saja Ci Sian dapat melindungi dirinya dari senjata-senjata dan pukulan-pukulan yang menyasar, akan
tetapi bagaimana Sang Pangeran akan dapat menyelamatkan diri? Untuk melindungi Pangeran di antara
pertempuran yang telah menjadi semacam peperangan kecil itu pun kiranya amat berbahaya dan sukar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka Ci Sian mencegah Sang Pangeran untuk lari masuk sehingga Pangeran itu hanya dapat menonton
sambil membanting-bantingkan kaki dan beberapa titik air mata mengalir turun di atas sepasang pipinya
yang pucat. Ci Sian sendiri merasa ngeri sekali menyaksikan pembantaian itu. Makin terbuka matanya
betapa buruk akibat dari pada kekerasan, dari pihak mana pun datangnya. Dara ini pun dapat memandang
semua penderitaan itu dengan mata yang tidak berat sebelah. Ia melihat betapa tentara yang tewas secara
menyedihkan itu pun adalah manusia-manusia biasa saja, sesungguhnya tiada bedanya antara mereka
dan para pendekar Siauw-lim-pai.
Manusianya sama, penderitaan mereka pun sama. Dan dasar yang mendorong mereka sampai berbunuhbunuhan
itu pun sama, walau pun namanya saja mungkin berbeda. Para tentara itu pun menganggap
kematian mereka sebagai pengorbanan perjuangan, atau setidaknya mereka mengabdi kepada pemerintah
dan mereka itu merasa bahwa kematian di pihak mereka adalah kematian yang gagah perkasa, kematian
seorang pahlawan, seorang tentara yang jantan!
Di lain pihak, para pendekar Siauw-lim pun memiliki dasar yang sama pula. Mereka itu menganggap diri
mereka berkorban demi perjuangan, dan mereka mengabdi kepada suatu cita-cita, mengabdi kepada
gambaran bahwa mereka berjuang untuk rakyat, untuk tanah air, menentang penjajah. Mereka
menganggap bahwa pihak mereka mati sebagai pendekar-pendekar perkasa, seorang patriot sejati! Dan
kedua pihak dengan dasar yang sama ini, sama-sama merasa benar, telah berbunuh-bunuhan dengan
ganas dan garangnya! Betapa menyedihkan ini!
Dan yang lebih menyedihkan lagi, segerombolan manusia yang menjadi penggerak semua bunuhmembunuh
ini, semua peperangan ini, mereka itu menggerakkan rakyat yang diperalat itu dari tempat yang
paling aman, jauh sekali di belakang sana. Baik gerombolan manusia yang menjadi penggerak pihak
penjajah mau pun yang dijajah, yang diserang atau yang menyerang, pendeknya pihak-pihak yang saling
bermusuhan, mereka itu selalu mengatur pergerakan dari tempat aman.
Dengan berbagai cara rakyat telah dapat ditarik untuk menjadi prajurit, untuk menjadi pejuang, untuk
menjadi patriot, untuk menjadi pahlawan dan banyak sebutan muluk lagi. Yang jelas, untuk menjadi alat
atau senjata kelompok atau gerombolan itu. Dan kalau pergerakan itu menang, kelompok penggerak yang
tadinya mengatur dari tempat aman dan jauh di belakang itu lalu muncul paling depan, dan menepuk dada
dan mereka inilah yang akan menikmati buah dan hasil dari pada kemenangan itu, lupa lagi kepada rakyat
yang menjadi alat mereka, yang biar pun keluar sebagai pemenang namun tetap saja mengalami luka-luka.
Rakyat ini lalu dilupakan, atau hanya diberi sekedar pujian-pujian kosong.
Dan bagaimana kalau kalah? Gerombolan pengatur dari belakang itu akan lari lebih dulu menyelamatkan
diri, membawa apa saja yang berharga untuk dibawa, meninggalkan rakyat yang mereka peralat itu
menjadi sasaran pembantaian lawan! Hal ini terjadi sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang, di
bagian mana pun di dunia ini. Akan tetapi sungguh menyedihkan, sampai sekarang pun manusia masih
belum mau membuka mata melihat kenyataan ini, karena mabok akan pujian, mabok akan kedudukan,
mabok akan kekuasaan yang memang terdapat dalam semua itu. Apalagi selalu didengang-dengungkan
sebutan-sebutan muluk dalam slogan-slogan kosong.
Tidak ada rakyat di dunia ini yang mau atau suka perang. Hanya orang gila dan tidak waras otaknya
sajalah yang mau perang. Tidak pernah ada rakyat yang menganjurkan perang. Rakyat di seluruh dunia
ingin hidup tenteram dan penuh damai. Akan tetapi, ada saja kelompok manusia yang haus akan
kekuasaan, menyalah gunakan kesetiaan rakyat, membakar-bakar hati mereka, untuk mencapai ambisiambisi
pribadi dalam batin mereka yang menamakan dirinya pemimpin-pemimpin rakyat, di seluruh dunia
ini. Kapankah rakyat di seluruh dunia ini tidak ada kecualinya, membuka mata dan melihat kenyataan ini,
tidak mau lagi dibodohi dengan segala slogan kosong, menolak perang? Betapa kita rindu akan keadaan
dunia seperti itu.
Ketika pertempuran sudah mendekati akhirnya, ketika delapan orang pendekar yang menjadi sisa dari
kurang lebih seratus lima puluh orang murid Siauw-lim-pai yang melawan itu masih melawan, sedangkan
para pendeta yang bersemedhi di dalam menjadi makanan api yang berkobar, barulah Ci Sian membiarkan
Pangeran dengan pengawalannya menerobos masuk ke dalam pekarangan luar itu. Delapan orang
pendekar itu telah terkurung rapat dan agaknya betapa pun lihai mereka, namun mereka sudah amat lelah,
dan tak lama lagi mereka ini pun tentu akan roboh mandi darah dan tewas.
“Berhenti! Hentikan pertempuran gila ini! Di sini Pangeran Mahkota Kian Liong yang bicara!” Pangeran itu
berteriak sambil berdiri di tempat tinggi setelah dibawa oleh Ci Sian ke tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Para prajurit dan perwira yang mengepung delapan orang pendekar itu berhenti menyerang dan melompat
mundur, lalu menoleh. Mereka mengenal pemuda yang sederhana itu, lalu mereka memberi hormat.
“Hidup Sang Pangeran!” mereka berseru.
Delapan orang pendekar itu pun berdiri memandang. Mereka semua tidak memakai baju, hanya bercelana
panjang saja. Tubuh mereka berkilat oleh keringat dan darah, dan tubuh-tubuh itu membayangkan
kekuatan luar biasa. Tubuh pemuda-pemuda yang tidak begitu besar, namun jelas membayangkan
kekuatan yang membaja. Celana mereka pun penuh percikan darah dan lengan tangan serta senjata
mereka berlepotan darah pula.
Sejenak Sang Pangeran memejamkan kedua matanya, penuh kengerian. Bahkan Ci Sian sendiri, seorang
pendekar yang memiliki kesaktian, merasa ngeri. Belum pernah selamanya dia melihat pemandangan
seperti ini, walau pun ia pernah menyaksikan peperangan di lereng Himalaya dahulu. Yang mendatangkan
kengerian adalah melihat mayat para pendekar yang tewas dalam pengeroyokan yang berat sebelah ini.
Dan suasana di situ panas sekali, panas oleh keadaan perkelahian dan panas oleh api yang bernyalanyala
membakar biara. Panas luar dalam.
“Aku, Pangeran Mahkota Kian Liong, memerintahkan agar semua pasukan berkumpul dan mengundurkan
diri dari kuil ini, dan membiarkan sisa orang Siauw-lim-pai untuk pergi dari sini tanpa diganggu!”
Mendengar perintah ini, para sisa pasukan itu tidak ada yang berani membantah. Apalagi mereka sendiri
pun sudah merasa lelah, dan gentar melihat banyaknya teman mereka yang tewas, gentar menghadapi
delapan orang pendekar Siauw-lim-pai yang amat tangguh itu, turun semangat mereka melihat betapa dua
orang jenderal dan pangeran yang memimpin pasukan telah roboh dan tewas pula. Maka, mendengar
perintah ini, mereka lalu mundur dan para perwira lalu mulai meneriakkan perintah-perintah, ada yang
menolong teman yang terluka, ada yang merawat luka masing-masing.
Delapan orang pendekar Siauw-lim-pai itu sejenak memandang kepada Sang Pangeran dan dara yang
menemaninya itu, pandang mata mereka tajam penuh kebencian, penuh permusuhan, penuh dendam,
akan tetapi juga penuh pengertian bahwa Pangeran ini lain dari pada yang lain, dan mereka lalu pergi
meninggalkan tempat itu dengan langkah gagah, sedikit pun tidak menengok lagi kepada Sang Pangeran,
apa pula menghaturkan terima kasih, biar mereka tahu benar bahwa Sang Pangeran baru saja
menyelamatkan nyawa mereka.
“Uh, manusia tak tahu diri! Tidak mengenal budi!” Ci Sian marah-marah, mengepal tinju memandang
kepada delapan orang pemuda gagah perkasa yang pergi itu.
Sang Pangeran tersenyum. “Hemm, tenanglah, Nona Bu. Apakah engkau tidak dapat membayangkan
keadaan hati mereka? Baru saja terjadi pembantaian besar-besaran. Saudara-saudara mereka, ratusan
jumlahnya, dibunuh, dibakar hidup-hidup dan juga Siauw-lim-pai yang merupakan perguruan mereka
dibasmi, dibakar. Lalu, setelah tinggal delapan orang, aku menyelamatkan mereka. Apa artinya itu bagi
mereka?”
“Tapi, bukan Paduka yang menyuruh dilakukannya pembantaian ini!”
“Apa bedanya bagi mereka? Yang melakukan pembantaian ialah pasukan pemerintah, dan aku adalah
Pangeran Mahkota, calon kaisar, jadi pemerintah juga. Tentu saja mereka tidak berterima kasih, bahkan
mungkin menganggap bahwa pengampunan atau penyelamatan ini sebagai suatu pukulan dan penghinaan
bagi kehormatan mereka.”
“Aihh....!” Ci Sian terkejut sekali. “Dan Paduka sengaja menyelamatkan mereka, padahal Paduka tahu
bahwa akan makin mendendam kepada Paduka?”
Pangeran itu menarik napas panjang. “Terserah. Yang penting, aku tidak bermaksud menghina mereka.
Engkau tentu masih ingat ketika kukatakan kepada pemuda perkasa Kun-lun-pai itu bahwa aku tidak
berdaya. Bukan kehendakku aku dilahirkan sebagai putera Kaisar dan kini menjadi pangeran mahkota.
Hanya yang kutahu, aku akan berdaya sekuat tenagaku lahir batin untuk menjadi seorang manusia yang
benar. Kalau toh tindakanku dinilai salah, terserah, akan tetapi yang penting, aku tahu bahwa apa yang
kulakukan adalah benar dan bukan demi kepentinganku sendiri.”
Ci Sian mendengarkan dengan penuh takjub, lalu menarik napas panjang. “Pangeran, mendengar semua
kata-kata Paduka tadi, saya menjadi semakin bingung dan makin merindukan Suheng, karena kiranya
dunia-kangouw.blogspot.com
kalau Suheng berada di sini, Suheng akan dapat menerangkan dengan jelas tentang semua ini kepada
saya.”
“Sudahlah, mari kita melanjutkan perjalanan,” kata Sang Pangeran yang lalu menemui para perwira yang
kini bertugas memimpin sisa pasukan itu untuk selain mengubur jenazah-jenazah para anggota pasukan,
juga mengubur jenazah orang-orang Siauw-lim-pai sepantasnya.
“Ini merupakan perintah kami, kalau tidak dipenuhi sebagaimana mestinya akan kami hukum!” Demikian
Sang Pageran menutup kata-katanya, diterima oleh para perwira itu dengan taat akan tetapi juga dengan
terheran-heran.
Ci Sian melanjutkan perjalanannya bersama Pangeran Kian Liong, menuju ke kota raja. Kini pandangan Ci
Sian terhadap Sang Pangeran semakin berubah. Ia seakan-akan melihat seorang yang sudah matang
dalam segala hal, sudah jauh lebih matang dan lebih tua dari pada Kam Hong sekali pun. Padahal
Pangeran ini masih amat muda! Dan hubungan antara mereka menjadi makin akrab.
Ketika mereka berhenti dan bermalam di sebuah dusun, sebelum memasuki kamar masing-masing,
mereka bercakap-cakap di pekarangan belakang rumah penginapan kecil yang sepi tamu itu. Bulan
sedang purnama dan enak sekali duduk di ruangan belakang itu, di mana terdapat banyak pohon bunga
mawar yang semerbak harum.
Melihat bunga-bunga, pohon-pohon yang bermandikan cahaya bulan purnama, Sang Pangeran terpesona.
Kemudian, setelah menarik napas panjang berulang kali, dia berkata, suaranya halus, “Nona Bu,
pernahkah engkau melihat keindahan seperti ini selama hidupmu?”
Ci Sian terheran mendengar ini. Ia memandang kepada pohon-pohon dan bunga-bunga di bawah cahaya
bulan purnama yang mengandung sinar kuning dan biru itu, lalu mengangguk, melihat pula ke atas, ke
arah bulan purnama yang nampaknya melayang-layang di antara awan-awan tipis bagaikan wajah puteri
jelita yang kadang-kadang bersembunyi di balik tirai sutera putih.
“Tentu saja, Pangeran. Sudah sering sekali!”
“Benarkah itu? Ataukah engkau hanya memandang gambaran saja tentang bulan purnama dan segala
keindahannya? Coba pandanglah lagi, Nona, dan pandang tanpa adanya gambaran tentang bulan
purnama yang menjadi tirai penghalang bagi kedua matamu. Pandanglah tanpa kenangan pengalaman
lalu.”
Ci Sian tersenyum dan merasa heran, akan tetapi ia mentaati permintaan ini dan ia mulai memandang
bulan, awan, pohon-pohon dan bunga-bunga, memandang semua itu dengan mata terbuka, seperti
memandang sesuatu yang baru, tanpa membanding-bandingkan dengan keadaan bulan purnama yang
lalu dan sudah pernah dilihatnya. Pandangannya tanpa menilai, tanpa membandingkan dan.... sejenak
terjadi keharuan yang luar biasa, sukar dia mengatakan apakah itu. Ada SESUATU yang ajaib.... yang
membawanya bagaikan hanyut dan tertelan ke dalam keindahan itu, keindahan baru, keadaan baru....
bahkan keheningan itu menghanyutkan, menelannya.... akhirnya ia sadar dan semua itu pun lenyap lagi,
mendatangkan rasa aneh seperti rasa ngeri yang membuat bulu tengkuknya meremang.
“Aihhh.... Pangeran....,” keluhnya.
“Ehhh? Apa yang kau lihat? Apa yang kau rasakan?”
“Saya.... saya.... merasa seolah-olah dijatuhkan dari tempat yang amat tinggi, seolah-olah saya melayang
jatuh dari bulan itu.... melalui sinar-sinarnya.... ihh, mentakjubkan, indah dan mengerikan!”
Sang Pangeran tersenyum, “Mengapa harus takut menghadapi semua kebesaran dan keindahan ini,
Nona? Mengapa takut menghadapi kesendirian dan persatuan dengan segala sesuatu? Tanpa
melepaskan diri, tanpa berkeadaan sendirian mana mungkin dapat bersatu dengan segala-galanya?”
Ucapan Pangeran itu makin membingungkan, sama sekali tidak dimengerti oleh Ci Sian. Dan dalam
kesempatan ini, timbullah ingatan Ci Sian untuk bertanya tentang hal-hal yang selama ini membuatnya
ragu-ragu dan bingung mencari jawabnya.
“Pangeran, maukah Paduka menerangkan kepada saya tentang apa artinya bahagia itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sang Pangeran nampak terkejut dan memandang kepada dara itu dengan sinar mata tajam. Lalu dia
tersenyum. “Bahagia? Apakah bahagia itu? Ha-ha, engkau menanyakan sesuatu yang ribuan tahun
menjadi bahan penyelidikan kaum cendekiawan dan yang hingga kini hanya ada pendapat-pendapat yang
bersimpang-siur dan kadang-kadang berlawanan, Nona.”
Kemudian Pangeran itu menengadah, memandang bulan purnama yang tersenyum di balik tirai sutera
putih, mengembangkan kedua lengannya dan bernyanyi lirih.
Kebahagiaan....
semua manusia merindukan!
siapakah gerangan Anda?
di mana gerangan Anda?
Seakan tampak dalam cahaya bulan
tersenyum di antara kelopak mawar
rupawan menyelinap di antara bayang-bayang
beterbangan di antara hembusan angin.
Kuraih dan kupeluk mesra hanya untuk sadar
kecewa bahwa semua itu
hanya bayangan hampa
dan sama sekali bukan Anda!
Seperti nampak Anda menggapai
menunggang cahaya matahari pagi
seperti nampak Anda mengintai
di balik senyum kekasih jelita
di antara gelak tawa sahabat
di dalam sorak-sorai kanak-kanak!
Sunyi sekali setelah Sang Pangeran menyanyikan sajak itu. Sunyi di luar, dan sunyi di dalam batin Ci Sian.
Nyanyian Pangeran itu terasa menyentuh hatinya, dan ia melihat kebenaran di dalamnya. Memang
demikianlah. Semua manusia, juga ia sendiri, rindu akan kebahagiaan, tetapi, tidak pernah mau
menyelidiki, apakah gerangan kebahagiaan itu? Dan di manakah adanya? Manusia mencari-cari
kebahagiaan, melalui segala hal yang disangkanya menyembunyikan bahagia. Mencari ke dalam harta,
kedudukan dan segala hal. Namun, tidak pernah ada yang menemukan bahagia pada akhir pencarian itu!
“Ah, Pangeran. Sajak Paduka memang indah, akan tetapi itu belum dapat menjawab pertanyaan saya. Itu
hanya menggambarkan keadaan kita yang mencari-cari tanpa tahu siapa dan di mana yang kita cari,” kata
Ci Sian.
“Nah, itulah jawabannya, Nona. Tidak mengertikah, Nona? Itulah justru jawabannya yang tepat! Kita
mencari-cari sesuatu tanpa kita ketahui siapa dan di mana yang kita cari-cari itu! Mungkinkah ini? Siapakah
yang pernah mengenal bahagia? Yang kita kenal bukan kebahagiaan melainkan kesenangan. Dan
kesenangan itu hanya selewat saja, seperti angin lalu. Kita tidak mengenal kebahagiaan, bagaimana
mungkin kita hendak mencarinya?”
“Habis, bagaimana orang yang berbahagia itu, Pangeran?”
“Berbahagialah orang yang sudah tidak mencari kebahagiaan lagi! Berbahagialah orang yang sudah tidak
membutuhkan kebahagiaan lagi!”
“Mana mungkin? Karena hidup ini banyak sengsara maka kita rindu dan mencari kebahagiaan!”
“Nona Bu, dalam keadaan batin sengsara, mana mungkin berbahagia? Dalam keadaan tidak berbahagia,
maka kita butuh kebahagiaan. Kita mengejar-ngejar bahagia seperti mengejar bayangan sendiri. Mana
mungkin memisahkan bayangan dari diri kita? Mana mungkin mengejar dan mencari sesuatu yang tidak
kita kenal? Yang penting adalah menyelidiki. MENGAPA batin kita sengara, MENGAPA kita tidak
berbahagia! Itulah penyakitnya yang harus disembuhkan! Kalau sudah sembuh, yaitu kalau kita TIDAK
sengsara lagi, perlukah kita mencari kebahagiaan lagi? Camkan ini baik-baik, Nona. Kebahagiaan tidak
ada karena kita kecewa, karena kita sengsara, karena kita marah, benci, dendam, iri, takut. Kalau semua
itu sudah lenyap, nah, barulah kita bisa bicara tentang kebahagiaan. Mengertikah engkau, Nona Bu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ci Sian mengangguk akan tetapi ia belum mengerti! “Jadi, apakah kebahagiaan itu sesungguhnya?”
Sang Pangeran menarik napas panjang, maklum bahwa nona itu belum mengerti. Akan tetapi dia pun tidak
mendesak lagi. Tidak mungkin memaksakan pengertian kepada seseorang. “Apakah kebahagiaan itu
sesungguhnya? Sayang, saya sendiri pun tidak tahu, Nona Bu.”
“Kalau begitu, harap Paduka terangkan kepada saya, apa yang dimaksudkan dengan cinta itu, Pangeran.”
Pangeran muda itu tiba-tiba tertawa dan wajah Ci Sian berubah merah sekali. Kemudian Sang Pangeran
menarik napas panjang. “Memang, suasana malam ini demikian indah dan romantis, maka tidak
mengherankan kalau dalam hatimu timbul pertanyaan-pertanyaan tentang kebahagiaan dan cinta kasih.
Pertanyaanmu tentang cinta kasih itu menyentuh suatu rahasia yang hampir tiada bedanya dengan
kebahagiaan, Nona. Ngomong-ngomong, apakah engkau pernah mengenal apa yang dinamakan cinta
kasih itu, Nona?”
“Mana aku tahu, Pangeran? Arti dari kata itu sendiri pun aku belum tahu, lalu bagai mana aku bisa tahu
bahwa itu adalah cinta kasih jika sekali waktu aku merasakannya?”
“Itu adalah jawaban yang jujur dari orang yang masih polos batinnya, mengagumkan sekali! Kata cinta
kasih telah banyak diartikan orang sehingga merupakan sebuah kata yang sarat dengan arti yang
bermacam-macam. Seperti juga dengan kebahagiaan, kalau aku ditanya apa artinya cinta kasih, maka
jawabku adalah tidak tahu. Akan tetapi, mengenai arti seperti yang dianggap orang melalui bermacam
pendapat, tentu saja aku mengetahuinya. Nah, sekarang dengarkanlah nyanyian ini, Nona Bu.” Seperti
juga tadi, Sang Pangeran memandang ke arah bulan purnama dan mulailah dia bernyanyi.
Cinta,
kata keramat penuh rahasia
bahan renungan para seniman dan pujangga.
Antara anak dan orang tua ada kebaktian
antara warga dan negara ada kesetiaan
antara pria dan wanita ada kemesraan
antara manusia dan Tuhannya ada penyembahan.
Itukah cinta?
Namun,
semua itu mengandung keinginan
menguasai, memiliki, menikmati,
keselamatan, kebahagiaan, kepuasan,
sekali gagal yang diinginkan
timbullah kedurhakaan, pengkhianatan, kebencian dan kemuraman!
Itukah cinta?
Seperti juga tadi, hening sekali setelah Sang Pangeran menghentikan nyanyiannya. Suara belalang dan
jengkerik tidak mengganggu keheningan karena suara itu tercakup ke dalam keheningan yang menyeluruh
itu. Keheningan ini timbul dalam batin yang tidak menemukan jawaban, karena tidak dapat memikirkan
apa-apa lagi, maka untuk beberapa saat lamanya batin menjadi kosong dan hening.
“Wah, jika begitu, apakah yang dimaksudkan dengan cinta kasih, Pangeran?” Akhirnya Ci Sian bertanya.
Akan tetapi Sang Pangeran hanya menggeleng kepala saja sambil tersenyum. “Aku pun tidak tahu, Nona
Bu.”
Nyanyian Pangeran Kian Liong itu memberi bahan kepada kita untuk merenungkan dan menyelidiki apakah
yang dimaksudkan dengan cinta kasih. Kita sudah terlalu mengobral arti pada kata itu, akan tetapi
benarkah apa yang kita artikan terhadap cinta kasih itu?
Begitu mudahnya mulut kita mengobral kata cinta. Sebagai anak kita mengaku cinta kepada orang tua.
Sebagai orang tua kita mengaku cinta kepada anak. Cintakah kita kepada orang tua kita kalau kita hanya
ingin disenangkan saja, dituruti kehendak kita saja oleh orang tua, kemudian sekali waktu orang tua tidak
bisa atau tidak mau menuruti, kita lalu berbalik marah dan membencinya? Cintakah kita kepada anak kita
kalau kita ingin anak menyenangkan hati kita saja, menurut dan patuh, mendatangkan kebanggaan,
dunia-kangouw.blogspot.com
kemudian jika sekali waktu si anak tidak menurut dan tak menyenangkan hati kita, lalu kita marah dan
membencinya? Begitukah yang dinamakan cinta?
Sebagai seorang suami dan isteri kita mengaku dengan mulut saling mencinta. Akan tetapi, suami dan
isteri ingin saling menguasai, saling mengikat, dan saling dilayani, disenangkan, yang kita sebut cinta
antara suami isteri sungguh mengandung syarat dan ikatan sekotak banyaknya. Sekali saja syarat dan
ikatan itu dilanggar, sekali saja suami atau isteri tidak mau melayani, tidak menyenangkan, mengerling dan
senyum kepada orang lain, maka yang kita sebut-sebut cinta dengan mulut itu pun akan berubah bentuk
menjadi cemburu dan marah dan kebencian! Begitukah yang dinamakan cinta kasih?
Kita dengan mudah saja, dengan mulut mau pun dengan pikiran, mengatakan dan mengaku bahwa kita
mencinta tanah air, bahwa kita mencinta sahabat, bahwa kita mencinta Tuhan! Akan tetapi, kalau kita mau
jujur, mau membuka mata dan menjenguk isi hati kita, akan nampaklah dengan jelas bahwa cinta kita itu
semua berpamrih! Kita mencinta karena kita INGIN MEMPEROLEH SESUATU, kita mencinta karena kita
ingin senang, baik kesenangan itu kita dapat dari tanah air, dari sahabat, ataukah dari Tuhan. Dan kalau
keinginan itu tidak kita peroleh, maka cinta kita itu pun lenyap tak berbekas lagi. Begitukah yang
dinamakan cinta?”
Kalau kita mau menyelidiki lalu mengerti benar, bukan mengerti setelah membaca ini melainkan mengerti
setelah menyelidiki sendiri, mengerti dengan penuh kewaspadaan bahwa yang begitu itu semua bukanlah
cinta, maka kita harus berani menanggalkan semua cinta palsu itu! Setelah kita bersih dari pada semua
yang bukan cinta itu, nah, barulah kita boleh bertindak lebih jauh lagi, yaitu menyelidiki apakah
sesungguhnya cinta kasih itu!
Bumi terbentang luas. Betapa indahnya! Sinar matahari di pagi hari, kabut dan embun, kesegaran,
tanaman-tanaman, pohon-pohon, bunga-bunga, buah-buah, gunung dan jurang, sawah ladang, lembah,
sungai, awan, matahari tenggelam, bintang selangit, bulan cemerlang.... takkan ada habisnya kalau disebut
satu demi satu. Semua begitu indah...., keindahan untuk siapa saja yang mau menerima, bukan pemberian
yang minta imbalan.... tanpa pamrih.... sinar matahari yang menghidupkan, untuk siapa saja dari jembel
sampai raja.... keharuman bunga yang semerbak untuk siapa saja yang mau menciumnya, dari si bodoh
sampai si cendekiawan, air, hawa udara.... semua.... semua ini.... ah, tidak dapatkah kita membuka mata
dengan waspada? Begitu terangnya sinar cinta kasih....! Bukan dari siapa untuk siapa. Bukan dari aku
untuk kamu, bukan dari dia untuk dia. Di mana ada ‘aku’, cinta kasih pun tiada!
Pada keesokan harinya, setelah mengalami malam bulan purnama indah penuh rahasia itu, setelah
bersama Pangeran Mahkota menelusuri ikan-ikan hidup dan menyentuh dengan hati-hati tentang
kebahagiaan dan cinta kasih, Ci Sian dan Pangeran Kian Liong melanjutkan perjalanan menuju ke kota
raja.
Ketika mereka menuruni sebuah bukit di pagi hari, menghadap matahari yang muncul karena jalan itu
menuju ke timur sehingga nampak pemandangan yang amat indah, bukan hanya di bumi melainkan juga di
langit yang penuh dengan warna jingga, biru, kuning dan bermacam warna lagi, tiba-tiba mereka dikejutkan
dengan munculnya tiga orang.
Ci Sian mengerutkan alisnya dan cepat mengeluarkan sulingnya. Jantungnya berdebar tegang karena ia
mengenal tiga orang itu yang bukan lain adalah Toa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok! Tiga orang yang terlihai dari
Im-kan Ngo-ok, dan dari sinar mata mereka, tiga orang ini mengandung dendam kebencian yang hebat
kepada Ci Sian karena dara inilah yang telah membunuh Su-ok dan Ngo-ok bersama pemuda Kun-lun-pai
itu.
Biar pun tiga orang datuk sesat itu telah melarikan diri, akan tetapi dendam membuat mereka tak jauh
meninggalkan Ci Sian dan Sang Pangeran. Setelah mengubur jenazah kedua orang adik mereka dengan
hati penuh dendam, diam-diam mereka kemudian membayangi Sang Pangeran. Mereka tidak berani
sembarangan turun tangan karena Pangeran dilindungi oleh dara perkasa itu. Akan tetapi mereka menanti
saat baik.
Setelah melihat Ci Sian dan Sang Pangeran tiba di tempat sunyi ini, mereka lalu keluar menghadang.
Mereka bertiga maklum bahwa dara itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, tetapi mereka tidak takut
dan merasa yakin akan dapat mengalahkannya dengan pengeroyokan, dan terutama sekali, Sang
Pangeran berada di situ. Maka apa sukarnya bagi mereka untuk menundukkan wanita itu? Tangkap saja
Sang Pangeran terlebih dulu, maka akan mudah membuat wanita itu tidak berdaya, pikir mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tetapi, ketiga manusia iblis itu terlalu memandang rendah kepada Ci Sian. Dara yang masih muda ini
memiliki ketahanan hebat dan juga kecerdasan yang mengagumkan. Ia pun maklum bahwa melawan tiga
orang datuk itu bukanlah hal yang ringan, apalagi jika di sana terdapat Sang Pangeran yang harus
dilindunginya. Maka, cepat dia mengajak Sang Pangeran turun dari atas punggung kuda mereka, lalu
tanpa mempedulikan dua ekor kuda itu, Ci Sian sudah menggandeng tangan Sang Pangeran dan
mengajaknya lari ke sebuah dinding bukit yang merupakan dinding tinggi.
“Paduka cepat berlindung di balik dinding itu!” kata Ci Sian.
Pangeran Kian Liong makin kagum kepada Ci Sian dan tanpa banyak cakap dia pun menurut. Dia cepat
lari ke dinding itu dan Ci Sian lalu berdiri menghadang di depannya, melindungi Pangeran sambil
melintangkan suling emasnya di depan dada. Dengan adanya dinding bukit itu di belakang Pangeran, ia
dapat lebih mudah melindungi Sang Pangeran terhadap serangan dari depan, tidak perlu khawatir kalaukalau
Pangeran itu dilarikan orang dari belakang.
Tiga orang datuk itu kini sudah berdiri di depannya. “Iblis cilik, sekarang tiba saatnya engkau akan mampus
di tangan kami dan menebus dosa yang kau lakukan ketika kau membunuh Su-ok dan Ngo-ok,” kata Ji-ok
dengan suara mengandung kemarahan.
“Hemm, mereka berdua tewas karena kejahatan mereka, dan agaknya kalian bertiga pun tak lama lagi
akan menyusul mereka. Iblis-iblis tua macam kalian ini kalau tidak cepat disingkirkan ke neraka, di dunia
hanya akan mendatangkan mala petaka bagi manusia lain saja!” kata Ci Sian sambil menggerakkan
sulingnya.
Ia sengaja mengerahkan khikang-nya dan suling itu mengeluarkan suara melengking seperti ditiup saja.
Pada saat itu, tingkat khikang Ci Sian sudah mencapai tempat tinggi sekali karena ia memperoleh latihan
Swat-im Sinkang dan Hwi-yang Sinkang dari Pendekar Siluman Kecil. Maka, biar pun sesungguhnya ia
belum mencapai tingkat untuk dapat membunyikan sulingnya tanpa ditiup seperti yang dapat dilakukan
suheng-nya, Kam Hong, ketika bersama suheng-nya mempelajari Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu
Pedang Suling Emas), namun berkat latihan tenaga sinkang yang luar biasa dari Pulau Es, ia dapat
memperoleh kemajuan sedemikian pesatnya sehingga kini ia mampu juga melakukan hal luar biasa itu.
Tiga orang datuk itu kagum bukan main. Mereka tahu bahwa untuk bisa menggerakkan suling sampai
mengeluarkan suara seperti ditiup, dengan nada naik turun, sungguh bukan hal mudah. Tanpa khikang dan
sinkang tingkat tinggi jangan harap akan dapat melakukan hal itu. Toa-ok Su Lo Ti sekali ini tidak mau
kepalang tanggung. Mereka bertiga harus mampu merobohkan gadis ini kemudian merampas Putera
Mahkota untuk menebus kekalahan-kekalahan mereka yang berturut-turut terhadap para pendekar sakti.
“Ji-moi dan kau Sam-te, kalian tahan gadis ini dan aku akan menangkap Pangeran!” kata orang pertama
dari Im-kan Ngo-ok.
Ucapan itu saja sudah meyakinkan hati Ci Sian bahwa munculnya tiga orang datuk sesat ini bukan sematamata
untuk membalas kematian Su-ok dan Ngo-ok, melainkan juga untuk menangkap Sang Pangeran.
Mungkin ini merupakan tujuan utama mereka dan ia pun merasa agak lapang dadanya. Betapa pun juga,
kalau tiga orang datuk sesat ini ingin menangkap Sang Pangeran, hal itu berarti bahwa Sang Pangeran tak
akan dibunuh, tetapi ditangkap untuk kepentingan lain yang tentu saja akan menguntungkan tiga orang
datuk sesat itu.
Hal ini menguntungkan dirinya, karena kalau tiga orang itu berusaha membunuh Sang Pangeran, tentu
saja amat sukar baginya untuk melindunginya. Serangan jarak jauh saja tentu akan mampu membinasakan
Pangeran itu. Akan tetapi ia membentak sambil memutar sulingnya lebih keras lagi sehingga suara
lengkingan nyaring terdengar makin meninggi.
“Hemm, maut sudah menanti kalian, masih banyak lagak!” Dara itu menerjang ke depan dan langsung ia
menyerang Toa-ok.
Sulingnya berubah menjadi gulungan sinar emas yang mengeluarkan bunyi melengking-lengking nyaring.
Toa-ok tentu saja maklum akan kedahsyatan serangan ini, maka dia pun cepat mengelak. Namun,
sebelum dia sempat membalas, atau sempat menjauhkan diri untuk menangkap Sang Pangeran, dara itu
sudah memburu dan mendesaknya terus sehingga tubuh kakek ini telah terkurung oleh gulungan sinar
emas!
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang Ci Sian seorang dara yang cerdas. Ia tahu bahwa kalau ia sudah terkurung oleh Ji-ok dan Samok,
akan sukarlah baginya untuk menghalangi datuk pertama ini yang hendak menangkap Pangeran.
Karena itu, begitu menyerang ia sudah mendesak Toa-ok!
Melihat betapa Toa-ok sudah terkurung gulungan sinar yang menyilaukan mata dan mengeluarkan suara
yang melengking-lengking itu, Ji-ok dan Sam-ok segera menerjang maju dan mengeroyok. Akan tetapi Ci
Sian tidak menjadi gentar. Sinar sulingnya makin panjang dan tebal, membuat gulungan besar yang
menyambar-nyambar dan seolah-olah membelit tiga orang lawannya. Akan tetapi tetap saja yang menjadi
sasaran utama serangan sulingnya adalah Toa-ok.
Siasat Ci Sian ini memang berhasil baik. Toa-ok menjadi bingung karena dia sama sekali tidak mampu
keluar dari kurungan sinar emas itu, betapa pun dicobanya. Selalu jalan keluarnya tertutup oleh serangan
yang amat hebat dan biar pun Toa-ok telah memiliki sinkang amat kuat yang dapat membuat tubuhnya
kebal, namun menghadapi serangan suling ini dia sama sekali tidak berani mengandalkan kekebalannya.
Dia telah cukup mengenal keampuhan suling itu dalam pertempuran pertama menghadapi dara yang lihai
ini. Sedangkan Ji-ok dan Sam-ok yang telah diberi tugas untuk mengeroyok Ci Sian, kini mengerahkan
seluruh tenaga dan kepandaian untuk mengeroyok dara itu tanpa sedikit pun peduli kepada Sang
Pangeran. Dengan demikian, untuk sementara waktu, Ci Sian tidak perlu khawatir bahwa Pangeran akan
dilarikan musuh.
Betapa pun juga, tiga orang lawan yang mengeroyoknya adalah datuk-datuk kaum sesat yang berilmu
tinggi sekali. Mereka bertiga itu masing-masing memiliki ilmu yang luar biasa. Toa-ok yang merupakan
tokoh pertama itu memiliki kedua lengan yang selain penuh dengan tenaga sinkang amat kuatnya, juga
dapat mulur memanjang sampai dua meter, dan gerak-geriknya juga amat aneh. Bahkan kedua lengan
kakek yang seperti lengan gorila penuh bulu ini berani menangkis melawan suling emas tanpa terluka.
Kalau saja senjata di tangan Ci Sian itu tidak sehebat itu, mengeluarkan sinar gemilang dan mengandung
getaran suara dahsyat, agaknya akan sukarlah bagi dara itu untuk melindungi dirinya dari ancaman kedua
tangan Toa-ok.
Ada pun Ji-ok, wanita bertopeng tengkorak itu, memlliki Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang). Jari jarinya yang
berkuku panjang itu mengeluarkan hawa pukulan yang tajam dan berhawa dingin. Jangankan sampai jari
tangan itu mengenai kulit lawan, baru hawa pukulannya saja sudah dapat melukai tubuh lawan. Untung
bahwa Ci Sian telah digembleng oleh Suma Kian Bu, mempelajari sinkang dari Pulau Es sehingga sama
sekali ia tidak repot menghadapi Kiam-ci yang berhawa dingin itu.
Sedangkan orang ke tiga yang mengeroyoknya, Sam-ok biar pun tingkat kepandaiannya tidak melebihi Jiok,
namun kakek ini amat licik, cerdik dan banyak akal. Juga ilmu silatnya Thian-te Hong-i (Angin Hujan
Bumi Langit) amat luar biasa, membuat tubuhnya seperti gasing berputaran dan dari putaran itu kadangkadang
mencuat pukulan-pukulan maut.
Ci Sian harus menghadapi serangan tiga orang yang sifatnya berbeda-beda ini, namun kesemuanya amat
berbahaya. Memang harus diakui bahwa dara itu telah mewarisi suatu ilmu yang dalam jenisnya tiada
keduanya di dunia. Ilmu Pedang Suling Emas asli yang mengandung semua segi kekuatan ilmu silat yang
dahsyat, juga dibantu dengan tenaga khikang yang dilatihnya bersama Kam Hong. Semua ini ditambah lagi
dengan ilmu sinkang yang diterimanya dari Suma Kian Bu membuat ia menjadi seorang ahli silat yang
sukar dicari tandingannya.
Akan tetapi, betapa pun juga, Ci Sian hanyalah seorang dara yang baru berusia delapan belas tahun lebih,
masih muda remaja dan pengalamannya dalam hal mengadu ilmu silat, dibandingkan dengan tiga orang
lawannya, tentu saja kalah jauh sekali. Maka, ketika tiga orang pengeroyoknya itu mulai memperlebar
jarak, Ci Sian menjadi repot sekali. Ia harus pontang-panting ke sana-sini, melalui jarak yang agak lebar itu,
untuk mencegah mereka agar jangan sampai salah seorang di antara mereka menggunakan kesempatan
untuk menculik Sang Pangeran.
Dan karena itu, mulailah Ci Sian merasa kewalahan. Ia tak mungkin dapat mengerahkan semua tenaga
dan kepandaian untuk dipusatkan menyerang kepada seorang lawan saja karena dua orang lawan lainnya
selalu akan mencegahnya dan terpaksa ia harus membagi-bagi serangannya itu. Hal ini tentu saja
membuat serangannya menjadi kurang kuat dan tidak cukup kuat untuk merobohkan lawan. Kalau hanya
bertanding satu lawan satu, ia merasa yakin akan dapat merobohkan lawan dalam waktu yang tidak lama.
Sayang keadaan tidak menguntungkan dan ia mulai terhimpit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara lengkingan tinggi dari jauh. Suara itu makin lama makin keras dan nadanya naik
turun seperti mengimbangi lengkingan suara yang keluar dari suling di tangan Ci Sian.
“Suheng....” Seruan ini hanya keluar dari hati Ci Sian, akan tetapi hampir saja ia celaka.
Mendengar lengking suara suling itu, hatinya dipenuhi perasaan yang mengguncangkan batinnya. Ada
rasa gembira, girang, terharu bercampur-aduk menjadi satu, membuat gerakan sulingnya menjadi kacau
dan ketika itu, pukulan Kiam-ci yang dilakukan Ji-ok menuju ke arah lehernya! Untunglah pada detik
terakhir Ci Sian dapat mencurahkan perhatiannya lagi, menjadi waspada dan cepat ia miringkan tubuhnya.
“Bretttt!” Ujung leher bajunya terobek.
Ci Sian terkejut dan maklum bahwa menghadapi pengeroyokan tiga orang ini ia sama sekali tidak boleh
lengah, maka ia pun kembali mencurahkan perhatiannya. Sementara itu, suara melengking dari jauh itu
makin lama semakin nyaring dan akhirnya tiga orang pengeroyok Ci Sian itu menjadi kacau gerakangerakannya.
Kiranya suara melengking-lengking itu merupakan suara yang nengandung daya serang luar
biasa terhadap batin mereka! Tiga orang itu merasa seolah-olah telinga mereka ditusuk-tusuk oleh suara
itu, jantung mereka ditarik-tarik dan sukar sekali bagi mereka untuk dapat mengumpulkan perhatian.
Ci Sian maklum siapa yang telah membantunya. Suara suling itu tidak meragukan lagi. Maka timbullah
semangatnya dan membayangkan betapa ia kini dapat bertemu dengan suheng-nya, mendatangkan
kegembiraan demikian besarnya bercampur keharuan yang mendalam sehingga ketika dia menggerakkan
sulingnya dengan kekuatan yang lebih besar karena timbul semangatnya, kedua matanya basah dan di
atas kedua pipinya nampak air mata, akan tetapi gerakan sulingnya semakin hebat sehingga berturut-turut
ia dapat menotok pundak Sam-ok dan paha Ji-ok!
Dua orang datuk itu terkejut dan juga terheran-heran bagaimana kini dara ini bertambah lihai. Juga mereka
bingung oleh suara melengking itu yang tanpa mereka sadari telah banyak mengurangi kelihaian gerakan
mereka yang menjadi kacau.
Toa-ok maklum bahwa dara itu dibantu oleh orang pandai, apalagi kakek ini melihat betapa ada bayangan
beberapa orang berkelebatan disusul dengan lenyapnya Sang Pangeran, maka dia pun lalu mengeluarkan
suara bersuit nyaring dan tiga orang datuk itu kemudian melompat jauh dan melarikan diri. Ci Sian tidak
mengejar, bahkan tidak mempedulikan mereka lagi. Ia menyimpan sulingnya, lalu menoleh ke kiri.
“Suheng....!” serunya memanggil karena tadi datangnya suara suling melengking itu dari kiri. Dan
muncullah Kam Hong!
Mereka berdiri saling berhadapan, dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Sejenak mereka hanya saling
pandang saja dan air mata menetes turun membasahi pipi Ci Sian semakin deras.
“Sumoi....!”
“Suheng....!”
Ci Sian lari dan Kam Hong juga melangkah maju, kedua lengan mereka berkembang.
“Suheng.... ahhh, Suheng....!”
Mereka saling tubruk dan saling peluk. Ci Sian menangis terisak-isak ketika didekap oleh kedua lengan itu.
Terasa benar oleh mereka berdua betapa amat rindu hati mereka terhadap diri masing-masing. Terasa
benar oleh mereka betapa pertemuan ini seperti tetesan air jernih kepada tanah kering merekah yang
kehausan akan cinta kasih, yang penuh kerinduan. Terasa benar oleh mereka bahwa mereka itu
sesungguhnya saling mencinta. Terasa dalam dekapan itu.
“Suheng...., Suheng...., kenapa kau tinggalkan aku begini lama....?” Ci Sian mengeluh dengan suara
diselingi isak tangisnya.
“Sumoi, kau maafkan aku....”
Keduanya tak bicara lagi. Apa perlunya bicara? Getaran yang keluar dari seluruh tubuh mereka sudah
mengucapkan beribu-ribu kata yang dapat dimengerti dengan jelas oleh masing-masing. Mereka saling
dunia-kangouw.blogspot.com
mencinta. Mereka merasa sengsara jika saling berpisah. Mereka berbahagia kalau saling berdekatan.
Cukuplah ini.
“Suheng...., berjanjilah, engkau takkan meninggalkan aku lagi.... selamanya....,” Ci Sian berbisik, merasa
betapa tangan suheng-nya mengelus rambut kepalanya sehingga ia memperketat dekapannya, seolaholah
ia ingin menyatukan dirinya dengan suheng-nya agar tidak sampai saling terpisah lagi.
“Tidak, Sumoi, tidak lagi....”
Ci Sian mengangkat muka. Mereka saling berpandangan, penuh rindu. Kasih sayang terbayang jelas di
mata mereka. Melihat muka yang basah itu, ingin sekali Kam Hong menunduk untuk mencium, untuk
menghisap air mata yang membasahi muka itu. Akan tetapi pendekar ini menahan hasrat hatinya dan
hanya menggunakan jari-jari tangan untuk mengusap air mata itu, jari-jari tangannya gemetar dan hatinya
terharu sekali.
Sudah lama ia sengaja menjauhkan diri dari sumoi-nya ini, karena kesadarannya tidak mau menerima
kalau dia telah jatuh cinta kepada sumoi-nya yang sepatutnya menjadi keponakannya ini. Akan tetapi,
sekarang dia tahu benar bahwa dia sungguh sangat mencinta dara ini! Padahal, Ci Sian baru berusia
delapan belas tahun, dan dia.... sudah tiga puluh satu tahun! Ahhh, ini tidak boleh terjadi, pikirnya dan
dengan halus dia lalu melepaskan rangkulannya.
“Sumoi, bagaimanakah engkau bisa berada di sini dan dikeroyok oleh tiga orang Im-kan Ngo-ok itu?”
“Karena mereka itu hendak membalas dendam atas kematian Su-ok dan Ngo-ok.”
“Ahhh, engkau telah membunuh dua orang manusia iblis itu?”
“Ya, bersama dengan seorang pendekar dari Kun-lun-pai. Dan selain itu, mereka juga hendak menangkap
Pangeran.... ehhh, mana dia....?” Ci Sian baru sekarang teringat kepada Pangeran itu dan menengok,
melepaskan dekapannya dan kelihatan bingung melihat betapa tempat itu sunyi dan tidak nampak Sang
Pangeran di situ.
“Siapa yang kau cari?”
“Pangeran Mahkota! Dia tadi di sana, di dekat dinding gunung itu.... ah, ke mana dia?” Ci Sian lalu
berteriak memanggil Pangeran Kian Liong. Akan tetapi tidak terdengar jawaban.
“Ketika aku tiba di sini sudah tidak ada Pangeran di situ, Sumoi.”
“Ahhh, celaka…. celaka! Tentu ada yang telah melarikannya! Begitu banyak orang sakti memperebutkan
Sang Pangeran. Kita harus mengejar si penculik!” Ci Sian berloncatan ke atas tebing dan memandang ke
kanan kiri, namun sunyi saja tidak nampak bayangan Pangeran atau penculiknya.
“Sumoi, orang yang sudah mampu melarikan Pangeran dari depanmu dan depan para datuk Im-kan Ngook
tanpa kau ketahui dan juga tanpa mereka ketahui, tentulah bukan orang sembarangan dan sukar untuk
dikejar begitu saja tanpa kita ketahui ke mana larinya. Sekarang lebih baik kau ceritakan dahulu semuanya,
Sumoi. Nanti kita akan mencarinya bersama.”
Ci Sian yang masih terlalu girang oleh pertemuan ini segera melupakan Sang Pangeran dan mereka lalu
duduk di atas rumput yang tebal di bawah pohon yang rindang. Dan mulailah Ci Sian menceritakan semua
pengalamannya semenjak Kam Hong pergi meninggalkannya. Tidak ada yang dilewatinya dan memang
pengalamannya aneh-aneh dan amat menarik sehingga Kam Hong mendengarkan dengan kagum dan
tertarik sekali. Tentang pertemuannya dengan Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu dan isterinya dan
pengalaman mereka bersama yang aneh-aneh ketika berlomba kuda dan ketika menghadapi ular hijau
raksasa.
Mendengar penuturan tentang Suma Kian Bu, Kam Hong lalu menarik napas panjang. “Semenjak dahulu,
aku kagum sekali kepada Suma-taihiap dan beruntung engkau dapat bertemu dengannya, bahkan
kemudian menerima latihan sinkang dari Pulau Es. Engkau sungguh beruntung, Sumoi. Pantas tadi kulihat
engkau demikian hebat dan memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu Kiam-sut, terutama sekali
penggunaan sinkang-nya. Tidak tahunya engkau telah mewarisi ilmu sinkang dari Pulau Es. Hebat,
hebat.... dan aku kagum sekali.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ci Sian melanjutkan ceritanya. Tentang pengalamannya di Kun-lun-pai, tentang jago muda Kun-lun-pai Cia
Han Beng yang berjiwa patriot. Kemudian betapa ia bertemu dan melindungi Pangeran Kian Liong sampai
di tempat itu, juga tentang pembakaran kuil Siauw-lim-pai dan lain-lain.
Kam Hong menarik napas panjang. “Aku girang sekali mendengar betapa engkau telah memperoleh
banyak pengalaman berharga, Sumoi. Aku pun sudah mendengar tentang pembakaran Kuil Siaw-lim-pai
itu, sungguh hal yang amat patut disesalkan.”
“Memang tindakan kaisar itu amat sewenang-wenang, akan tetapi Pangeran Mahkota lain lagi dengan
Kaisar, Suheng. Dia benar-benar seorang pangeran yang bijaksana sekali.”
Lalu Ci Sian menceritakan tentang tindakan Pangeran yang menentang Kaisar, bahkan sudah
membebaskan delapan orang pendekar Siauw-lim-pai yang telah terkurung dan terancam maut.
Mendengar kisah ini, Kam Hong mengangguk-angguk dan memandang pada sumoi-nya dengan sinar
mata penuh kagum. Sumoi-nya itu kini bukan seperti sebelum mereka berpisah. Dia teringat betapa sumoinya
ditinggalkannya sebagai seorang dara yang lebih pantas disebut seorang anak-anak, masih amat
kekanak-kanakan. Akan tetapi sekarang, yang duduk di depannya adalah seorang wanita dewasa, sudah
matang, dan dari sepasang mata yang jeli dan indah itu mengandung sinar yang cerdas dan tabah,
membuatnya terpesona dan memandang penuh kagum.
Melihat keadaan suheng-nya ini, hati Ci Sian berdebar dan mukanya berubah merah, naluri kewanitaannya
merasa betapa mata suheng-nya itu memandang dengan penuh kekaguman.
“Aih, Suheng, apa sih yang kau pandang?” tanyanya manja, ingin mengembalikan sifat kekanakkanakannya
yang selalu manja kepada Kam Hong untuk menutupi rasa malunya.
Dan Kam Hong pun tersadar. Dia menunduk, mukanya sama merahnya dengan wajah Ci Sian, dan dia
menarik napas berulang kali, lalu mengangkat mukanya memandang. Dengan jujur dia berkata, “Aku
sungguh terpesona olehmu, Sumoi. Sungguh kagum, betapa dalam waktu tidak terlalu lama saja engkau
kini telah menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, yang bersemangat dan berani membela
kebenaran, dan yang telah dewasa, telah masak sebagai seorang wanita yang.... ehhh, cantiknya luar
biasa!”
Dapat dibayangkan betapa jantung Ci Sian terasa seperti melompat-lompat saking gembiranya, akan tetapi
juga ia tenggelam dalam perasaan jengah, malu. Senyumnya dikulum dan pandang matanya hanya melalui
kerling.
“Ihhh, Suheng.... jangan memperolokku....!”
“Tidak, Sumoi, sungguh aku kagum kepadamu dan aku girang sekali. Tidak percuma engkau juga ikut
mewarisi Ilmu Kim-siauw Kiam-sut.”
“Sudahlah, Suheng, jangan terlalu memuji. Semua pengalamanku telah kuceritakan, sekarang aku ingin
mendengar ceritamu semenjak kita saling berpisah. Kemana saja engkau pergi, Suheng, dan kenapa
engkau meninggalkan aku sendirian?”
“Aku merantau dan menjaga guruku, Sai-cu Kai-ong yang sakit sampai beliau meninggal di puncak Bukit
Nelayan.”
Lalu dia bercerita betapa ketika dia mengunjungi kakek yang hidup sendirian itu, Sai-cu Kai-ong menderita
sakit. Tentu saja penyakitnya disebabkan karena kekecewaannya melihat cucunya, Yu Hwi telah menikah
dengan orang lain, bukan dengan keturunan Kam. Kekecewaannya membuat kakek ini bosan hidup dan
ketika dia sakit, dia tidak mau minum obat. Padahal, dia adalah seorang ahli pengobatan yang lihai. Maka,
ketika Kam Hong menjaganya sampai berbulan-bulan, kakek itu kemudian menyerahkan kitab ilmu
pengobatan peninggalan dari mendiang Yok-Sian-jin (Manusia Dewa Obat) kepada pendekar ini. Sampai
tiba saat dia meninggal dunia.
Kam Hong tidak pernah meninggalkannya dan dengan bantuan penduduk dusun di pegunungan itu, Kam
Hong lalu mengubur jenazah kakek yang menjadi gurunya yang pertama kali itu. Diam-diam dia merasa
dunia-kangouw.blogspot.com
menyesal mengapa Yu Hwi, cucu tunggal kakek ini, tidak pernah datang sehingga tidak tahu akan sakit
dan matinya kakek itu.
“Setelah guruku meninggal, baru aku turun gunung dan kebetulan sekali aku berjumpa dengan Yu Hwi dan
suaminya.”
Lalu ia menceritakan tentang peristiwa lucu itu, di mana ia mendengar bahwa Pangeran dijadikan
perebutan dan dia ingin menyelamatkan Pangeran, tanpa mengetahui bahwa Pangeran yang
diselamatkannya itu adalah Yu Hwi yang menyamar. Betapa kemudian Yu Hwi marah-marah, dan
suaminya malah sempat digoda cemburu, tetapi akhirnya mereka berdua itu insyaf dan minta maaf.
Ci Sian tertawa geli mendengar penuturan itu. “Dan engkau ceritakan tentang kematian kakeknya,
Suheng?”
Kam Hong menggeleng kepala. “Tidak, aku tidak menceritakan hal itu. Aku tidak ingin menegurnya dan
biarlah kelak ia akan mengerti dan menyesali kelalaiannya sendiri. Apalagi ketika itu aku mendengar
bahwa Sang Pangeran telah lenyap lagi, maka aku meninggalkan mereka untuk mencari Pangeran. Dan
hari ini, tanpa kusangka-sangka, aku bertemu dengan engkau di sini. Kalau tidak mendengar suara
sulingmu, belum tentu kita dapat saling bertemu, Sumoi.”
“Aku girang sekali kita dapat bertemu di sini, Suheng. Aku sangat rindu padamu.”
“Aku pun girang dapat bertemu denganmu, Sumoi.”
“Juga rindu....?”
“Juga rindu....“
Girang sekali rasa hati Ci Sian, dan kembali jantungnya berdebar aneh, mukanya terasa panas.
“Akan tetapi, Suheng.... kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Dulu itu.... setelah kita berhasil membasmi Hek-i-mo...., kenapa Suheng lalu tiba-tiba saja meninggalkan
aku sendiri?” Sepasang mata yang jeli itu memandang tajam penuh selidik, juga penuh dengan teguran
dan penyesalan.
Mendengar pertanyaan ini, berubah wajah Kam Hong dan dia merasa jantungnya amat terguncang. Dia
bangkit berdiri, lalu berjalan perlahan agak menjauh, berdiri termangu-mangu membelakangi batu di mana
Ci Sian duduk memandangnya.
Dara ini mengerutkan alisnya, penuh kekhawatiran, lalu ia pun turun dari atas batu, menghampiri suhengnya
itu dan bertanya dengan suara lirih, akan tetapi dengan hati penuh ingin tahu, “Suheng, mengapakah?”
Ketika Kam Hong membalik dan memandang sumoi-nya, wajahnya berubah agak pucat sehingga
mengejutkan hati Ci Sian. Kam Hong lalu memegang kedua tangan sumoi-nya itu dan sejenak mereka
berdiri berhadapan, dengan kedua tangan saling pegang, kedua mata saling pandang, tanpa berkata-kata.
Dan akhirnya Kam Hong berkata, suaranya mengandung getaran aneh.
“Sumoi, lihat baik-baik, pria macam apakah suheng-mu ini?”
Dan Ci Sian memandang. Seorang pria yang gagah perkasa dan ganteng menurut penglihatannya, tenang
dan berwibawa, dengan sepasang mata yang mencorong tajam namun mengandung kelembutan.
“Suheng-ku seorang pendekar yang gagah perkasa! Kenapa?”
“Ingatkah engkau bahwa dulu, sebelum engkau menjadi sumoi-ku, engkau menyebutku paman?”
“Habis, mengapa?”
“Tahukah engkau berapa usiamu sekarang, Sumoi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Usiaku?” Ci Sian tersenyum, merasa bahwa suheng-nya ini menanyakan hal yang aneh-aneh saja. “Kalau
tidak salah, tahun ini usiaku hampir sembilan belas tahun. Mengapa?”
“Dan aku sudah hampir tiga puluh dua tahun!” kata Kam Hong, suaranya mengandung kesedihan.
“Habis, mengapa?”
“Usia kita selisih tiga belas tahun!”
“Lalu, mengapa?”
Kam Hong meremas-remas jari tangan itu tanpa disadarinya karena hatinya terguncang, “Sumoi, Sumoi....
tidak sadarkah engkau bahwa aku adalah seorang pria yang sudah tua?”
Dan Ci Sian tertawa, tertawa geli sambil menutupi mulut dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya
masih dipegang suheng-nya. “Wah, dengarlah ini, kakek tua renta mengeluh tentang usianya! Aduh
kasihan....!”
“Harap jangan memperolokku, Sumoi.”
“Siapa mengolokmu? Engkau sendiri yang aneh-aneh, Suheng. Siapa bilang engkau sudah tua? Aku sama
sekali tidak melihat engkau sebagai seorang pria yang tua.”
“Dan engkau baru sembilan belas tahun, masih anak-anak!”
“Suheng!” Ci Sian kini menarik semua tangannya dan memandang dengan alis berkerut. “Sekarang engkau
yang memperolokku! Aku seorang kanak-kanak? Siapa bilang aku masih kanak-kanak? Aku sudah berani
melindungi Pangeran dari bahaya, aku berani menghadapi Im-kan Ngo-ok dengan taruhan nyawa, dan
engkau mengatakan aku masih kanak-kanak? Suheng, apakah engkau hendak menghinaku?”
“Maaf, Sumoi....!” Kam Hong berkata sambil menundukkan mukanya. “Bukan begitu maksudku, akan tetapi
aku hendak mengatakan bahwa melihat perbedaan usia antara kita, aku.... terlalu tua untukmu, dan karena
itulah.... tempo hari itu.... melihat bahwa engkau lebih tepat kalau berdekatan dengan Sim Hong Bu, dia
sebaya denganmu, maka aku tidak mau menjadi batu penghalang, aku lalu menjauhkan diri....“
Ci Sian memandang bengong. “Tapi.... tapi.... ah, sungguh aku tak mengerti, Suheng.... Mengapa
demikian? Mengapa engkau lalu meninggalkan aku dan apa artinya engkau mengatakan bahwa aku lebih
tepat berdekatan dengan Sim Hong Bu? Memang dia mencintaku, dia menyatakan bahwa dia jatuh cinta
padaku, akan tetapi apakah hal itu mengharuskan aku mendekatkan diri dengannya? Aku tidak
mencintanya Suheng. Aku.... lebih senang berada di sampingmu dari pada di samping siapa pun juga di
dunia ini! Karena itu, jangan engkau bertega hati, jangan engkau menyiksaku, jangan lagi tinggalkan aku
seorang diri.”
“Ci Sian, tidak ada pertemuan yang tidak berakhir dengan perpisahan.”
“Aku tidak ingin berpisah darimu, Suheng. Untuk selamanya!”
“Tidak mungkin, pada suatu waktu engkau harus menikah dan saat itu kita harus saling berpisah.”
“Aku tidak akan menikah dengan siapa pun juga! Dan engkau jangan menikah, Suheng, kita takkan pernah
berpisah lagi....“
Kam Hong memegang kedua tangan itu lagi dan sampai lama keduanya hanya berdiri saling pandang,
dengan hati yang tergetar aneh. Kam Hong lalu menggandeng tangan itu dan berkata, “Mari kita cari Sang
Pangeran, jangan sampai beliau tertimpa mala petaka....”
“Tapi kau berjanji dulu tidak akan meninggalkan aku, Suheng.”
“Aku berjanji.”
“Sumpah?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sumpah!”
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan dengan menunggang dua ekor kuda yang tadi ditunggangi
oleh Ci Sian dan Pangeran Mahkota. Suara derap kaki kuda mereka memecahkan kesunyian lereng bukit
itu…..
Betapa anehnya asmara! Membuat dua orang manusia, seorang wanita dan seorang pria, merasa saling
tertarik dan saling terikat oleh sesuatu yang tidak mereka ketahui apa. Yang terasa hanyalah bahwa
mereka itu ingin selalu saling berdekatan, saling bermesraan, dan merasa sengsara kalau berpisah. Cinta
asmara antara pria dan wanita adalah sesuatu yang penuh rahasia, dan di dalam cinta asmara ini, mereka
berdua hanyalah manusia-manusia, pria dan wanita, yang saling tertarik dan saling mengasihi.
Cinta tidak mengenal perbedaan usia, tidak mengenal perbedaan suku atau kedudukan, tidak mengenal
agama atau paham kepercayaan yang berbeda. Pendeknya, cinta itu meniadakan semua perbedaan di
antara mereka, yang paling penting bagi cinta adalah manusianya. Sedangkan semua yang lain hanyalah
embel-embel saja.
Kebijaksanaanlah yang membuat Kam Hong meragu, melihat perbedaan usia di antara mereka. Namun,
mampukah kebijaksanaan menandingi cinta? Cinta membuat segala hal mungkin saja terjadi. Bukan usia,
bukan harta, bukan agama yang menentukan, melainkan manusianya. Dan dua insan yang saling mencinta
itu pun tertarik oleh manusianya, bukan embel-embelnya karena kalau tertarik oleh embel-embelnya, maka
itu bukan cinta namanya! Bukan…..
********************
Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong? Tadi Toa-ok telah melihat berkelebatnya beberapa orang
yang disusul dengan lenyapnya Sang Pangeran. Dan memang benar demikianlah. Selagi tiga orang datuk
kaum sesat itu mengeroyok Ci Sian, muncullah tiga orang yang bergerak cepat, kemudian mereka itu
menyambar tubuh Sang Pangeran, menotoknya dan melarikannya dengan cepat sekali.
Mereka bertiga ternyata menggunakan ilmu berlari cepat, membuat Pangeran Kian Liong merasa seperti
diterbangkan saja. Pangeran ini tahu bahwa kembali dia telah ditawan dan dilarikan orang, entah dari
golongan mana. Akan tetapi Pangeran ini tidak merasa takut.
Kiranya yang menculik Pangeran itu adalah tiga di antara para pendekar Siauw-lim-pai yang delapan orang
banyaknya itu, yang telah diselamatkan oleh Sang Pangeran dari kepungan pasukan pada waktu Siauwlim-
si dibakar. Mereka membawa Sang Pangeran kepada sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh
kawan-kawan mereka, kemudian melarikan Pangeran menuju ke timur.
“Harap Paduka tidak khawatir. Kami memang menawan Paduka, akan tetapi hal ini kami lakukan bukan
karena kebencian pribadi. Kami adalah patriot-patriot bangsa Han, harap Paduka memaklumi keadaan
kami,” kata seorang di antara mereka dengan sikap hormat.
Pangeran Kian Liong hanya tersenyum dan mengangguk. “Ke manakah kalian hendak membawaku?”
tanyanya.
“Kepada pimpinan kami di kota Cin-an,” jawaban singkat ini diterima Sang Pangeran tanpa banyak cakap
lagi.
Malah kebetulan, pikirnya. Dia kelak akan menjadi kaisar, maka dia pun harus tahu benar tentang selukbeluk
mereka yang menganggap diri mereka sebagai para patrtiot ini. Kelak, mau tidak mau, dialah yang
akan berhadapan dengan mereka ini. Dan dia pun perlu melakukan pendekatan, agar selain mengetahui
keadaan mereka lahir batin, juga dia akan dapat bicara dengan mereka, terutama sekali para
pemimpinnya. Jadi Cin-an, di Propinsi Shantung itu sarang mereka?
Perjalanan ke Cin-an itu bukan dekat, akan tetapi di sepanjang perjalanan, tiga orang pendekar Siauw-limpai
itu bersikap sopan dan amat baik. Diam-diam Sang Pangeran memperhatikan. Dia memperoleh
kenyataan bahwa gerakan mereka yang menamakan dirinya para patriot Han itu belum meluas, yaitu
belum memperoleh banyak dukungan rakyat. Buktinya, di sepanjang perjalanan mereka itu merahasiakan
perjalanan itu dan tidak pernah mereka menghubungi rakyat yang membantu mereka. Namun, harus
diketahui bahwa mereka itu bersikap hati-hati sekali dan agaknya banyaknya teman-teman mereka yang
dunia-kangouw.blogspot.com
diam-diam menjadi penyelidik dan pelindung sehingga perjalanan kereta itu tidak pernah mendapat
gangguan.
Setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, akhirnya kereta memasuki kota Cin-an di Propinsi
Shantung, langsung memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar dan kuno. Kereta itu terus
bergerak masuk ke belakang, melalui jalan samping sehingga tidak nampak lagi dari depan. Sang
Pangeran dipersilakan turun, lalu diiringkan memasuki rumah besar melalui pintu belakang.
Ruangan di dalam rumah besar kuno itu luas sekali. Ketika Pangeran Kian Liong memasuki ruangan itu,
dia memandang ke kanan kiri dengan penuh perhatian. Ruangan itu nampak sunyi karena tidak ada suara,
akan tetapi ternyata di situ duduk banyak orang. Laki-laki dan wanita-wanita yang kelihatan penuh
semangat dan gagah perkasa.
Lima orang pendekar Siauw-lim-pai yang lain hadir pula di situ, jadi lengkap delapan orang dengan yang
membawanya ke situ. Nampak pula beberapa orang hwesio, bahkan ada pula yang berpakaian seperti
tosu. Akan tetapi yang terbanyak adalah pria-pria berpakaian seperti pendekar. Mereka duduk di atas
bangku-bangku tidak teratur, akan tetapi semua menghadap kepada seorang laki-laki setengah tua yang
usianya kira-kira lima puluh tahun namun masih nampak tampan dan gagah. Ada beberapa orang duduk di
dekat pria ini, termasuk tiga orang wanita cantik setengah tua.
Pangeran Kian Liong segera mengenal pria gagah ini, dan dia pun dipersilakan untuk duduk berhadapan
dengan pria gagah yang agaknya menjadi pimpinan para patriot di tempat itu. Di antara orang-orang yang
duduk di dekat pria gagah itu, nampak pula seorang pemuda yang kelihatan lebih gagah lagi, bersama
dengan seorang dara yang menggunakan pakaian pria sehingga nampaknya sebagai seorang pemuda
yang amat tampan. Akan tetapi sekali pandang saja tahulah Sang Pangeran bahwa pemuda yang amat
tampan itu adalah seorang gadis.
“Ahh, selamat datang, Pangeran!” kata pria tua yang gagah itu sambil bangkit berdiri memberi hormat,
suaranya halus dan ramah, juga sikapnya menghormat. “Maafkan kalau kami membuat Paduka banyak
kaget dan lelah, akan tetapi kami girang bahwa Paduka tiba di sini dalam keadaan sehat dan selamat.”
Pangeran Kian Liong tersenyum, seperti biasa sikapnya tenang sekali dan yang amat mengagumkan para
patriot adalah bahwa Pangeran ini biar pun masih amat muda, namun sikapnya seperti seorang dewasa
yang menghadapi sekelompok anak nakal saja.
“Silakan duduk, Pangeran,” kata pula pria tua gagah itu.
“Terima kasih, Bu-taihiap,” jawab Sang Pangeran sambil duduk dan memandang ke sekeliling.
Sedikitnya ada dua puluh lima orang di dalam ruangan yang luas itu, kesemuanya adalah orang-orang
yang bersikap gagah. Diam-diam dia merasa amat sayang bahwa orang-orang gagah seperti ini sekarang
berdiri berhadapan dengan dia sebagai orang-orang yang memusuhinya, atau setidaknya memusuhi
kerajaan ayahnya.
“Kalau boleh aku bertanya, mengapa dalam waktu singkat saja terjadi perubahan besar dan sikap Butaihiap
menjadi berlawanan? Ketika aku hendak ditangkap Im-kan Ngo-ok, Bu-taihiap melindungiku, dan
sekarang Bu-taihiap menawanku sebagai musuh. Apa artinya semua ini?”
Bu Seng Kin atau Bu-taihiap tersenyum lebar dan kelihatan semakin ganteng biar pun usianya sudah
setengah abad.
“Tak perlu diherankan, Pangeran, karena semua itu hanya menjadi akibat dari keadaan Pangeran dan
Kaisar yang juga berlawanan. Kalau tempo hari kami menyelamatkan Paduka, hanyalah karena kami
hendak menolong seorang pangeran yang bijaksana dari ancaman penjahat-penjahat macam Im-kan Ngook.
Dan kalau sekarang ini kami terpaksa menawan Paduka adalah karena kami adalah patriot-patriot dan
Paduka adalah putera mahkota.”
Pangeran muda itu mengangguk-angguk. “Aku dapat mengerti, Bu-taihiap. Lalu, setelah aku ditawan dan
dibawa sini, apakah yang hendak kalian lakukan terhadap diriku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu Paduka tidak mau menerima kalau kami mengatakan bahwa ayah Paduka, Sri Baginda Kaisar Yung
Ceng, telah melakukan banyak sekali kejahatan dan kelaliman, bertindak sewenang-wenang terhadap para
orang gagah?”
“Aku maklum apa yang kau maksudkan, akan tetapi bagaimana pun juga, pada waktu ini, aku hanya
seorang Pangeran Mahkota dan seluruh kekuasaan mutlak berada di tangan Kaisar.”
“Kaisar telah melakukan banyak tindakan sewenang-wenang, bahkan baru-baru ini telah membasmi dan
membakar biara Siauw-lim-si. Tentu Paduka mengetahuinya, bahkan juga Paduka menyaksikannya dan
Paduka pula yang menyelamatkan delapan orang pendekar Siauw-lim-pai.”
“Aku sudah tahu akan semua itu. Lalu apa kehendakmu?”
“Kaisar bukan seorang penguasa yang baik, dan menambah dendam dan sakit hati para pendekar yang
sejak dahulu tidak rela membiarkan tanah air dan bangsa dicengkeram penjajah Mancu. Harap Paduka
maafkan kalau kami bicara sejujurnya, karena Paduka adalah seorang yang juga memiliki kegagahan dan
kebijaksanaan.”
Pangeran Kian Liong kembali tersenyum, bukan tersenyum pahit, sama sekali tidak membayangkan
perasaan sakit mendengar ucapan itu, melainkan tersenyum maklum akan ‘kenakalan’ anak-anak di
sekelilingnya.
“Nanti dulu, Bu-taihiap. Yang dinamakan penjajah itu adalah kalau satu negara menjajah negara lain, satu
bangsa menjajah bangsa lain. Akan tetapi kurasa bangsa Mancu tidak mempunyai negara lain kecuali di
sini, dan bangsa Mancu sekarang pun sudah tidak ada dan menjadi satu dengan bangsa Han! Aku sendiri,
sebagai Pangeran, sama sekali tidak merasa sebagai bangsa Mancu, tanah airku di sini dan negaraku juga
di sini. Memang pada mulanya, bangsa Mancu yang merupakan bangsa Nomad itu menyerbu ke selatan
dan karena kelemahan dan kesalahan bangsa Han sendirilah, yang tidak ada persatuan, sering berkelahi
sendiri, dan Kaisar amat lemah, para pembesarnya tidak ada yang jujur dan setia, semua tukang korup,
maka akhirnya bangsa Mancu dapat menjatuhkan Kaisar yang berkuasa dan untuk selanjutnya sampai
sekarang memimpin bangsa Han membangun negara. Akan tetapi aku bukan membela kerajaan Ayahku,
sama sekali tidak, hanya bicara menurut kenyataan saja. Memang, Ayahku telah menyeleweng, menyerbu
Siauw-lim-si dan semua itu dilakukan hanya karena urusan-urusan pribadi. Ayah telah menjadi lemah pula
dan hal ini amat kusesalkan. Kalau aku menjadi kaisar, semua hal yang bengkok pasti akan kubikin lurus,
dan niatku hanya ingin memajukan bangsa, membangun negara dan mendatangkan kemakmuran bagi
rakyat jelata.”
Semua patriot mendengarkan dengan alis berkerut. Mereka semua sudah tahu bahwa Pangeran ini
memang amat bijaksana dan andai kata Pangeran ini yang menjadi kaisar, agaknya keadaan pun akan
berubah. Akan tetapi kenyataannya sekarang, Kaisar Yung Ceng telah menimbulkan dendam di hati para
pendekar dan patriot.
“Kami dapat percaya apa yang Paduka katakan, akan tetapi kenyataan sekarang ini amat pahit bagi kami,
dan Paduka masih belum menjadi kaisar. Oleh karena itu, kami harus bertindak, dan tidak mungkin kami
diam saja membiarkan Kaisar terus melakukan kelaliman sambil menanti Paduka menggantikannya.”
“Hemm, Bu-taihiap, langsung katakan saja. Apa yang hendak kalian lakukan kepadaku? Membunuhku?
Aku tidak takut mati. Akan tetapi jangan harap dapat memaksaku untuk memberontak terhadap Ayah dan
pemerintahku sendiri.”
Bu Seng Kin tertawa. “Kami pun tidak begitu bodoh, Pangeran. Mana mungkin kami mengharapkan
Paduka, seorang Pangeran Mancu, memberontak terhadap Kerajaan Mancu sendiri? Tidak, kami pun
cukup menghargai sikap Paduka yang baik dan kami percaya bahwa Paduka akan menjadi kalsar yang
paling bijaksana di antara semua Kaisar Mancu yang pernah ada.”
“Lalu apa kehendak kalian sekarang?”
“Kami tidak akan mengganggu Paduka, hanya untuk sementara ini terpaksa Paduka kami tahan dulu
sebagai sandera. Dengan Paduka sebagai sandera, kami hendak mengajukan tuntutan kepada Sri
Baginda Kaisar, dan sebelum tuntutan kami dipenuhi, Paduka tidak akan kami bebaskan.”
Pangeran itu tetap saja bersikap tenang. “Apakah adanya tuntutan-tuntutan kalian, kalau boleh aku tahu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tuntutan pertama, agar biara Siauw-lim-si yang telah dibakar itu dibangun kembali. Ke dua, agar semua
pendekar Siauw-lim-pai dan para pendekar lain, patriot-patriot bangsa, tidak dikejar-kejar dan dibebaskan
dari tuduhan memberontak. Ke tiga, agar bangsa Han diperlakukan sama rata dengan orang-orang Mancu
dan ke empat, agar para pendekar diberi kebebasan untuk membawa senjata guna bekal dan perlindungan
diri di waktu mengadakan perjalanan jauh.”
Pangeran Kian Liong mengangguk-angguk. “Tuntutan yang cukup patut, hanya yang nomor dua itu harus
ada pelaksanaan timbal-balik. Jika para patriot tak ingin dikejar dan dianggap memberontak tentu saja
mereka jangan melakukan gerakan memberontak. Aku akan ikut membujuk Kaisar untuk melaksanakan
tuntutan-tuntutan kalian itu.”
Semua patriot yang berkumpul di situ merasa lega dan girang. Kalau tuntutan-tuntutan mereka dipenuhi,
tentu saja tidak ada alasan bagi mereka untuk memberontak. Pemberontakan bukanlah soal yang mudah.
Untuk memberontak terhadap kerajaan yang demikian kuatnya, harus mempunyai sedikitnya ratusan ribu
orang pasukan dan perlengkapan yang besar. Kalau hanya sekelompok pendekar saja, mana mungkin
dapat melakukan pemberontakan?
Demikianlah, mulai hari itu, Sang Pangeran diperlakukan sebagai seorang agung walau pun dia tidak
mempunyai kebebasan dan menjadi tawanan. Siang malam dikawal dan dijaga. Bu-taihiap lalu mengirim
utusan dan surat kepada Kaisar untuk menyampaikan tuntutannya. Tentu saja tempat di mana Pangeran
ditahan itu sangat dirahasiakan.
Pemuda gagah perkasa dan gadis berpakaian pria yang duduk di dekat Bu-taihiap ketika Pangeran
Mahkota dihadapkan itu adalah Sim Hong Bu dan Cu Pek In! Bagai manakah kedua orang dari Lembah
Suling Emas yang kini berubah nama menjadi Lembah Naga Siluman itu dapat tiba di tempat itu dan
bergabung dengan para patriot? Untuk mengetahui hal ini, mari kita ikuti perjalanan pemuda Sim Hong Bu,
pewaris dari ilmu mukjijat keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Pemuda inilah satu-satunya orang yang
mewarisi Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang hebat, bahkan pedang pusaka itu pun kini berada di
tangannya, selalu disembunyikan di balik bajunya yang panjang.
Seperti telah kita ketahui, Sim Hong Bu secara kebetulan bertemu dengan Ci Sian ketika dia muncul
membantu dara itu menghadapi Hek-i Mo-ong yang amat lihai itu. Kemudian, karena diam-diam Kam Hong
pergi, maka Ci Sian melakukan perjalanan bersama Sim Hong Bu.
Akan tetapi, sebentar saja terjadi percekcokan ketika Ci Sian mendengar bahwa Sim Hong Bu yang
mewakili Lembah Naga Siluman dan keluarga Cu, kalau bertemu dengan Kam Hong hendak menantang
Kam Hong mengadu ilmu, yaitu mengadu Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut melawan ilmunya, Koai-liong
Kiam-sut, Mendengar ini, Ci Sian marah-marah dan menantang Hong Bu, bahkan lalu menyerangnya
sehingga terjadi pertandingan seru di mana Hong Bu mengalah.
Ci Sian meninggalkannya dan pemuda ini berduka sekali. Dia telah jatuh cinta kepada Ci Sian semenjak
perjumpaannya dahulu, beberapa tahun yang lalu ketika Ci Sian masih seorang dara kecil di pegunungan
yang tertutup salju. Semenjak itu dia tidak pernah dapat melupakan Ci Sian, dan pertemuan terakhir ini
menimbulkan kekaguman hebat melihat betapa dara itu telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat
lihai. Kekaguman yang mempertebal cintanya dan yang membuatnya tanpa ragu-ragu lagi menyatakan
cintanya kepada dara itu. Akan tetapi, dara itu agaknya membencinya! Karena dia adalah pewaris Koailiong
Po-kiam dan dia dianggap musuh besar dari Kam Hong, suheng dara itu, Hong Bu merasa sedih
sekali.
Perasaan duka dalam hati seorang pemuda yang merasa ditolak cintanya memang amat menyiksa. Segala
sesuatu tampak hampa dan hidup rasanya menjadi hambar. Kegembiraan lenyap dan yang ada hanya
perasaan iba duka yang semakin besar.
Dalam keadaan seperti ini, Hong Bu melanjutkan perjalanannya. Dia merasa seperti sebuah boneka hidup
yang hidupnya hanya untuk melaksanakan tugas-tugas belaka. Tugasnya adalah pertama-tama,
menyelamatkan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam agar jangan sampai terampas oleh utusan Kaisar yang
mencari dan mengejarnya sebagai buronan. Ke dua, dia harus mencari Kam Hong untuk mempertahankan
nama keluarga Cu dan untuk menyatakan bahwa Ilmu Koai-liong Kiam-sut tidak kalah oleh Ilmu Kim-siauw
Kiam-sut. Dan juga, dia harus menebus kekalahan para gurunya itu dari tangan Pendekar Naga Sakti
Gurun Pasir!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada suatu hari yang amat panas, lewat tengah hari, Hong Bu duduk beristirahat di bawah sebatang pohon
yang rindang. Keteduhan di bawah sebatang pohon terasa nikmat sekali setelah dia tadi terpanggang di
dalam terik matahari, membuatnya mengantuk. Akan tetapi dia tidak tidur, melainkan melamun.
Terbayanglah di pelupuk matanya tentang perubahan dirinya dan keadaannya. Dahulu, ketika dia masih
menjadi seorang pemburu biasa, tanpa ilmu yang tinggi, hanya seorang pemburu kasar biasa,
kehidupannya selalu penuh dengan kegembiraan. Menyusuri jejak binatang saja sudah mendatangkan
kegembiraan tersendiri. Dalam keadaan berburu sudah mendatangkan ketegangan dan kegembiraan yang
penuh harapan. Apalagi kalau ternyata dia berhasil merobohkan binatang buruannya, girangnya bukan
main. Dilanjutkan dengan penjualan hasil buruan, juga mendatangkan kegembiraan tertentu. Dan
sekarang?
Sekarang jauh berbeda dari pada dahulu. Dia kini bukan seorang pemburu kasar biasa lagi. Dia seorang
ahli waris ilmu silat tinggi yang tiada duanya di dunia. Dia telah menjadi seorang berilmu, seorang
pendekar! Katakanlah dia telah maju! Akan tetapi bagaimana jadinya? Lenyaplah kegembiraan hidup
seperti yang dirasakannya ketika dia masih menjadi seorang pemburu kasar dan bodoh.
Kini dia menjadi seorang yang mempunyai banyak musuh! Lenyap semua kebahagiaan, lenyaplah semua
ketenteraman. Dia dikejar-kejar dan dibebani tugas berat. Dan lebih dari itu malah, dia berjumpa dengan Ci
Sian hanya untuk patah hati! Sedih hatinya, dan orang yang berduka biasanya memang selalu mudah
mengantuk. Dalam kedukaan, orang membuang dan menghamburkan banyak sekali kekuatan batin, maka
mudah membuatnya mengantuk. Tanpa disadarinya, sambil bersandar batang pohon, Hong Bu pun
tertidur.
Kebanyakan dari kita saling berlomba untuk mengejar yang kita namakan KEMAJUAN. Semenjak masih
kecil sekali, sejak duduk di kelas nol, kita didorong dan dibentuk oleh orang-orang tua kita dan oleh guruguru
kita untuk mencari kemajuan. Angka-angka di buku laporan sekolah menunjukkan apakah kita maju
ataukah tidak, dan kemajuan selalu dianggap sebagai sesuatu yang sangat baik, menjadi tujuan kita sejak
kecil sehingga setelah kita dewasa, tak mungkin lagi kita terlepas dari kehausan akan apa yang kita
namakan kemajuan itu.
Apakah yang sesungguhnya yang kita namakan kemajuan? Dalam buku laporan sekolah, angka-angka kita
menunjukkan bahwa kemajuan adalah apabila angka-angka kita lebih baik dari pada yang sudah. Jadi
kemajuan tampak setelah ada perbandingan. Sekarang kelas satu, lain tahun kelas dua, itu namanya maju.
Sekarang berpenghasilan sepuluh ribu rupiah sebulan, lain waktu dua puluh ribu rupiah, itu namanya
kemajuan! Si A lebih maju dari pada si B dan si C lebih maju lagi. Semua orang berlari, berlomba untuk
mencapai apa yang kita namakan kemajuan. Jadi kemajuan adalah suatu keadaan yang kita anggap lebih
baik dari pada keadaan lain yang sudah ada. Bukankah demikian? Lebih dari itu. Kemajuan kita anggap
sebagai sesuatu yang jauh lebih baik, lebih menyenangkan, lebih enak, pendeknya lebih mendatangkan
kesenangan dalam hati kita. Oleh karena itulah maka kita berlomba untuk mengejar kemajuan.
Akan tetapi, benarkah demikian keadaannya? Benarkah kemajuan akan mendatangkan kesenangan dan
kepuasan? Memang, tujuan yang tercapai mendatangkan kepuasan dan kesenangan, akan tetapi hanya
sejenak saja. Penyakit yang sudah mendarah daging pada diri kita, yaitu mencari kemajuan, akan timbul
pada saat kita telah mencapai sesuatu yang kita kejar-kejar itu, yaitu mencari kemajuan lain yang lebih
menyenangkan dari pada apa yang kita capai. Diberi sejengkal ingin sehasta, ingin sedepa, ingin yang
lebih panjang lagi. Dan kita terseret ke dalam saluran keinginan untuk maju ini sampai kita masuk lubang
kubur.
Ini pun tidak menjadi soal kalau saja kita tidak melihat bahwa dalam pelaksanaan pengejaran suatu citacita,
pengejaran ambisi, pengejaran sesuatu atau suatu keadaan yang kita inginkan, menimbulkan
tindakan-tindakan yang kadang-kadang merupakan penyelewengan. Untuk dapat maju, kadang-kadang
kita tidak segan untuk mendorong orang lain, untuk melangkahi orang lain, mendahului orang lain. Bahkan
tidak jarang, untuk mencapai apa yang kita cita-citakan, apa yang menjadi tujuan kita, maka kita
mempergunakan segala daya upaya, tidak peduli lagi apakah daya upaya itu benar ataukah tidak.
Maka, dapatlah kita lihat keadaan di sekeliling kita. Mengejar ‘kemajuan dalam harta’ menimbulkan korupsi,
penyelundupan, perdagangan gelap, perdagangan morphin dan sejenisnya, pencopetan dan banyak lagi
pekerjaan kotor lain. Pengejaran ‘kemajuan dalam kedudukan’ menimbulkan perebutan kekuasaan yang
menyeret orang banyak ke dalam permusuhan, jegal-menjegal, bahkan dapat memuncak sampai pada
berbunuh-bunuhan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengapa kita harus mengejar kemajuan? Sampai di manakah batas kemajuan itu? Kalau kita mempelajari
sesuatu, kalau kita mengerjakan sesuatu, mengapa harus ada dorongan untuk memperoleh kemajuan?
Apakah untuk memperoleh hasil baik dalam sesuatu yang kita kerjakan itu harus didasari hasrat untuk
maju? Ke manakah minat dan rasa cinta kita kepada apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan?
Dengan minat dan rasa cinta, maka pikiran untuk memperoleh kemajuan tidak dipedulikan lagi!
Si A dan si B berdagang kue yang mereka buat sendiri. Usaha mereka serupa, dengan modal yang sama.
Si A membuat kue dengan penuh minat dan penuh rasa cinta kepada pekerjaannya. Si B membuat kue
dengan penuh keinginan untuk mendapat ‘kemajuan’ yang dalam hal ini tentu saja agar banyak laku dan
banyak untung, terutama sekali banyak untung dan lekas memperoleh hasil besar. Siapakah di antara
mereka yang akan menghasilkan kue yang baik?
Si A tentu saja. Minatnya dan rasa cintanya terhadap pekerjaannya akan membuat dia melakukan
pekerjaannya, yaitu membuat kue, dengan tekun, sebaik mungkin, selezat mungkin atau dalam istilah
dagangannya, menjaga mutu yang utama, sedangkan soal keuntungan tidak membuat dia buta.
Sebaliknya si B yang ingin lekas mendapatkan hasil banyak, mungkin saja mengurangi gulanya,
mengurangi mutu bahannya, agar kalkulasi lebih rendah, agar untung lebih banyak, dan tentu saja dia akan
membuat secepat dan sebanyak mungkin. Nah, jelas nampak perbedaan antara perbuatannya yang
didorong oleh keinginan maju dan pekerjaan atau perbuatan yang didorong oleh minat dan cinta terhadap
apa yang dilakukannya.
Mengapa kita tidak menanamkan cinta ini kepada anak-anak, agar mereka itu mencintai apa pun yang
mereka lakukan atau kerjakan? Mengapa selalu mengiming-imingi mereka dengan pujian, kemajuan, lebih
pintar dari pada anak lain, lebih menang dari pada anak lain? Mengapa menanamkan benih persaingan
dan ingin selalu paling tinggi dalam batin mereka yang masih bersih dan murni itu?
Hong Bu yang tertidur pulas di bawah pohon menjadi terkejut, seolah-olah ada yang menggugahnya. Dia
terkejut oleh kenyataan bahwa dia tertidur tanpa disadarinya, itu suatu hal yang amat tidak baik bagi
seorang ahli silat, apalagi kalau di mana-mana terdapat musuh dan bahaya. Dia pun meloncat dan
memandang ke kanan kiri. Tiba-tiba telinganya mendengar suara beradunya senjata. Ada orang-orang
sedang berkelahi, pikirnya. Cepat dia pun menyambar bungkusan pakaiannya dan larilah dia ke arah suara
itu, suara orang-orang berkelahi, di dalam hutan.
Ketika dia tiba di tempat itu, dia semakin terkejut mengenal seorang pemuda yang amat tampan sedang
dikeroyok oleh belasan orang yang dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang daun telinga sebelah
kirinya buntung. Tentu saja dia mengenal pemuda tampan itu yang bukan lain adalah Cu Pek In! Dia
terheran mengapa Cu Pek In dapat berada di tempat itu, padahal jaraknya dari lembah di mana dara itu
tinggal terpisah ribuan lie jauhnya.
Nampak Cu Pek In menggunakan sebatang pedang untuk melawan. Semenjak lembah itu meninggalkan
nama Lembah Suling Emas dan berganti nama menjadi Lembah Naga Siluman, Cu Pek In juga tidak lagi
mau mempergunakan suling emas untuk senjata. Ia sudah mengganti suling emasnya dengan sebatang
pedang yang baik karena memang di lembah itu banyak terdapat senjata yang baik, dan ia tidak kaku
memainkan pedang karena selain semenjak kecil Cu Pek In menerima gemblengan ayahnya sendiri
dengan berbagai macam ilmu silat dengan senjata apa pun, juga sesungguhnya gerakan suling itu
merupakan gerakan pedang pula.
Akan tetapi, belasan laki-laki yang mengeroyok Pek In itu adalah orang-orang kasar yang semua memiliki
kepandaian lumayan dan tenaga besar. Terutama sekali pemimpin mereka yang buntung daun telinga
kirinya itu, sungguh merupakan lawan yang tangguh. Dara yang berpakaian pria itu mulai terdesak dan
terkurung rapat dan karena Si Telinga Buntung itu memainkan sepasang goloknya dengan hebat, maka
Pek In tidak diberi kesempatan lagi untuk merobohkan anak buahnya, tetapi terpaksa memutar pedang
hanya untuk melindungi tubuh dari hujan serangan senjata para pengeroyoknya itu.
Melihat sumoi-nya terdesak dan terancam bahaya, apalagi melihat Si Telinga Buntung itu lihai sekali, Hong
Bu menjadi marah. Cepat dia mencabut Koai-liong-kiam yang tersembunyi di balik jubahnya dan sekali dia
meloncat dan menggerakkan senjata pusakanya, nampak sinar biru yang menyilaukan mata, dan biar pun
kepala perampok telinga buntung itu berusaha memapakinya dengan sepasang goloknya, seketika
goloknya itu terbabat putus dan sinar biru yang menyambar itu menembus lehernya.
Sinar itu terus menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat saja, robohnya kepala rampok yang lehernya
tertembus sinar pedang itu disusul oleh enam orang anak buahnya. Melihat ini, sisa para perampok
dunia-kangouw.blogspot.com
menjatuhkan diri berlutut dan minta-minta ampun. Akan tetapi Pek In mengamuk dan merobohkan mereka
semua. Hong Bu cepat mencegahnya, akan tetapi dalam amukannya, dara itu telah membunuh lima orang,
dan hanya ada empat orang lagi saja yang sempat diselamatkan Hong Bu dan mereka hanya mengalami
luka-luka oleh pedang Pek In!
Setelah semua perampok roboh, barulah Pek In membalik dan menghadapi Hong Bu. Mereka berdiri saling
berpandangan, dan kemudian terdengar Pek In terisak menangis. “Suheng, kau.... kau kejam sekali.... uhuhu-
huuuuh....“
Hong Bu memandang heran. Baru saja dia hendak menegur dan mengatakan betapa kejamnya sumoi-nya
hendak membunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan minta ampun, malah didahului oleh dara itu
yang menangis dan mengatakannya kejam sekali!
“Sumoi, apa maksudmu mengatakan aku kejam?”
Mendengar pertanyaan ini, Pek In menangis semakin terisak-isak. Hong Bu yang melihat betapa empat
orang anggota perampok yang belum tewas, hanya terluka itu, mengerang kesakitan akan tetapi juga
dapat mendengar percakapan mereka, kemudian menggandeng tangan Pek In dan dara itu ditariknya pergi
dari situ.
“Mari kita bicara di tempat lain, Sumoi....,” katanya.
Pek In masih menangis dan membiarkan dirinya digandeng dan dibawa ke tempat lain, agak jauh dari
tempat para perampok menggeletak itu.
“Nah, katakanlah, mengapa aku kejam?”
“Suheng.... kau.... pergi begitu saja meninggalkan aku.... hu-huuuuh, aku telah mencari-carimu setengah
mati, berbulan-bulan lamanya.... sampai aku hampir putus harapan.... hu-hu-hu.... kenapa engkau begitu
kejam meninggalkan aku....?”
Melihat dara yang biasanya amat tabah dan belum pernah dilihatnya menangis itu kini sesenggukan, Hong
Bu merasa kasihan juga. Dara ini sudah ditinggal ayahnya yang mengasingkan diri sebagai pertapa, dan
dia tahu bahwa dara ini amat dekat dengan dia, maka setelah dia pergi, memang seolah-olah Pek In hidup
sendirian saja di lembah yang sunyi itu. Karena merasa kasihan, maka dia lalu merangkul gadis itu dan
mengelus rambutnya.
Merasa betapa pemuda itu merangkul dan mengelus-elus rambutnya, Pek In menangis semakin keras dan
dia pun balas merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu.
“Suheng.... aku cinta padamu, Suheng.... aku tidak mau terpisah darimu lagi.... lebih baik aku mati saja dari
pada harus berjauhan darimu....“
Bukan main kagetnya hati Hong Bu mendengar ini. Memang dia tahu bahwa gadis ini mencintanya, akan
tetapi kalau gadis ini akan terus bersamanya, tidak mungkin pula, sebab dia mencinta Ci Sian, bukan gadis
ini. Akan tetapi dengan halus dia melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak gadis itu,
mendorongnya perlahan dan sambil memegang kedua pundak itu dengan lengan diluruskan, dia
memandang wajah yang manis dan basah air mata itu. Gadis ini masih terisak, sesenggukan.
“Sumoi, dengarlah baik-baik. Bukan aku tidak suka kalau engkau ikut denganku, akan tetapi engkau tentu
tahu bahwa aku mempunyai tugas yang luar biasa beratnya dan berbahayanya. Pertama, aku menjadi
orang buruan dan dikejar-kejar oleh utusan Kaisar yang amat sakti. Engkau sendiri tahu betapa ayahmu
dan Susiok Cu Seng Bu yang demikian saktinya, tidak mampu menandingi Pendekar Sakti Gurun Pasir.
Dan aku dicari oleh pendekar itu dan isterinya dan puteranya, jenderal muda yang juga amat lihai. Ke dua,
aku harus menebus kekalahan para guru dari Naga Sakti Gurun Pasir, tugas yang amat berat dan
berbahaya. Ke tiga, aku harus menebus kekalahan Suhu dari Suling Emas Kam Hong. Nah, bagaimana
engkau dapat ikut denganku? Membela diri sendiri saja sudah amat berat bagiku, apalagi harus melindungi
engkau?”
“Aku tidak akan mengganggumu, Suheng. Engkau tidak perlu melindungi aku, karena aku dapat membela
diri sendiri. Kalau perlu, jangan lagi kau cari mereka, pendeknya, terserah apa saja yang hendak kau
lakukan, tapi aku tidak mau kau tinggal lagi, tidak mau aku berpisah darimu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi, Sumoi, Suhu akan marah kepadaku. Engkau harus kembali ke lembah, Sumoi. Aku berjanji, kalau
sudah selesai semua urusan dan tugasku, aku pasti akan kembali ke sana....”
“Tidak, aku tidak mau kembali ke tempat yang sunyi itu. Aku bisa mati kesepian di sana, tanpa engkau. Aku
ingin mati hidup bersamamu, Suheng.”
“Ahh....!” Hong Bu menjadi bingung sekali.
Dia tahu bahwa Pek In adalah seorang gadis yang keras hati dan yang sejak kecil terlalu dimanja oleh
ayahnya sehingga apa pun yang diinginkannya, harus terlaksana! Kalau dia menolak, tentu Pek In akan
marah dan sukar dibayangkan apa yang akan dilakukan oleh gadis yang keras hati ini. Dia lalu berjalan
pergi dari situ dengan muka tunduk, maklum bahwa gadis itu mengikutinya dari belakang.
Sampai lama mereka berjalan tanpa berkata-kata. Dan akhirnya Pek In mempercepat langkahnya berjalan
di samping suheng-nya, lalu menyentuh lengan suheng-nya itu. “Suheng, apakah engkau marah
kepadaku?” tanyanya sambil memandang wajah yang tampan itu.
“Hemm....? Tidak marah, aku hanya bingung, Sumoi.”
“Suheng, kau maafkanlah diriku kalau aku menyusahkan dan membingungkan hatimu. Akan tetapi
sungguh mati, aku tidak dapat berpisah darimu, Suheng. Aku.... aku cinta padamu dan lebih baik aku mati
saja dari pada harus kau tinggalkan....”
Hong Bu menarik napas panjang. Sejenak ia menatap wajah itu. Wajah yang manis. Seorang gadis yang
baik dan gagah perkasa keturunan pendekar. Alangkah mudahnya baginya untuk jatuh cinta kepada
seorang gadis seperti ini, kalau saja dia tidak lebih dulu tergila-gila kepada Ci Sian. Bagi seorang pemburu
sederhana seperti dia, Pek In merupakan dara yang sudah terlampau baik. Akan tetapi, apa hendak dikata,
dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Ci Sian, dan tidak mungkin agaknya untuk melupakan Ci Sian dan
menengok kepada gadis lain, walau pun dia masih merasa perih hatinya melihat Ci Sian tidak membalas
cintanya, bahkan memusuhinya!
“Ah, betapa hidup ini penuh derita,” pikirnya, “Dara yang dicintanya justru memusuhinya, dan dara yang
mencintanya tak mungkin dibalasnya.”
Demikianlah, dengan terpaksa sekali Hong Bu melakukan perjalanan bersama Pek In. Dia masih bingung,
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian dia teringat bahwa mereka berada dekat dengan kota Cinan
di mana menurut berita yang didengarnya terdapat sarang pendekar patriot. Memang sejak lama Hong
Bu telah merasa setia kawan dengan para pendekar patriot, terutama sekali setelah terjadi pembakaran
biara Siauw-lim-si.
Memang tadinya dia sudah memiliki keinginan untuk singgah di Cin-an dan mengunjungi pusat
perkumpulannya para pendekar patriot itu. Kini, setelah Pek In ikut bersamanya, timbul pikirannya bahwa
sebaiknya jika dia mengajak gadis itu ke pusat para pendekar. Siapa tahu Pek In yang berwatak pendekar
itu akan tertarik hatinya dan kalau saja dia bisa menitipkan Pek In untuk sementara di tempat itu, bersama
dengan para pendekar patriot, maka selain dia sendiri tidak dibebani berat untuk melindunginya, juga
mungkin gadis itu mau ditinggalkannya. Orang yang seperti Pek In harus diberi kesibukan yang
mengasyikkan dan menyenangkan hatinya.
Demikianlah, Hong Bu lalu mengajak sumoi-nya melanjutkan perjalanan menuju ke kota Cin-an. Akan
tetapi karena mereka memasuki kota Cin-an setelah lewat senja, maka Hong Bu merasa tidak enak untuk
langsung mencari dan mengunjungi para pendekar. Maka dia lalu mencari penginapan dan menyewa dua
buah kamar yang berdampingan untuk melewatkan malam itu.
“Suheng, engkau sengaja menuju ke kota ini, hendak mencari siapakah?” Pek In bertanya setelah mereka
makan malam dan duduk di ruangan dalam, tidak jauh dari kamar mereka.
Melihat di kanan kiri tidak ada orang, Hong Bu lalu menjawab sambil berbisik, “Sumoi, selama engkau
meninggalkan lembah, di dalam perantauanmu, apakah engkau pernah mendengar mengenai para
pendekar patriot yang mulai bergerak karena penekanan Kaisar?”
Pek In mengangguk. “Aku pernah mendengar tentang dibakarnya biara Siauw-lim-si, Suheng. Mereka
itukah yang kau maksudkan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Bu mengangguk. “Mereka dan banyak orang lagi yang merasa tidak suka melihat kelaliman Kaisar
dan tidak suka melihat penjajahan bangsa Mancu atas bangsa kita. Apakah engkau tidak tertarik?”
Pek In mengangguk. “Memang mereka itu hebat dan gagah sekali, Suheng. Akan tetapi apa hubungannya
dengan kita?”
“Memang tidak ada hubungannya secara langsung, Sumoi. Akan tetapi apakah kita juga harus diam saja
menyaksikan kelaliman Kaisar itu? Bayangkan saja. Para pendeta di Siauw-lim-si, para pendekar Siauwlim-
pai yang terkenal gagah perkasa itu, yang selalu membela kaum lemah tertindas dan menentang
mereka yang jahat sewenang-wenang, dibasmi dan biaranya dibakar. Entah berapa banyaknya pendekar
gagah perkasa yang tidak berdosa dibunuh, dibantai oleh pasukan besar. Bukankah kita ini juga merasa
sebagai pendekar, Sumoi?”
“Lalu apa yang hendak kau lakukan, Suheng?”
“Aku ingin menemui mereka, ingin berkenalan dengan orang-orang gagah itu.”
“Baik sekali! Di mana? Di sini?”
Hong Bu mengangguk. “Ya, aku mendengar bahwa mereka berkumpul di Cin-an ini, dan kini aku ingin
sekali bertemu dengan mereka. Kabarnya, aku mendengar dari seorang pendekar yang hidup sebagai
nelayan sungai yang kulalui, mereka itu berkumpul di sebuah rumah kuno yang disebut Gedung Mawar
Kuning. Kiraku tidak sukar mencari rumah dengan nama seperti itu.”
“Baik, aku ikut, Suheng. Aku pun senang sekali kalau dapat berkenalan dengan mereka, dan....“
Tiba-tiba Hong Bu mengeluarkan bunyi, “Ssttt....!” dan memberi tanda agar Sumoi-nya tidak bicara lagi.
Seorang pelayan rumah penginapan membawa lentera mengantar masuk tiga orang tamu baru yang
agaknya baru tiba di malam itu. Karena mereka diberi kamar agak ke belakang, maka mereka itu melewati
kamar-kamar Hong Bu dan Pek In ketika diantar oleh pelayan ke kamar mereka di belakang. Diam-diam
Hong Bu memperhatikan mereka, juga Pek In dan wajah Pek In berubah pucat sekali, lalu gadis ini
menundukkan mukanya, atau lebih tepat menyembunyikan muka dan memutar tubuh membelakangi tamutamu
itu.
Hong Bu memandang dengan penuh perhatian dan jantungnya berdebar tegang. Dia tidak mengenal
mereka itu, akan tetapi mereka segera dapat menduga siapa adanya pria setengah tua gagah perkasa
yang buntung sebelah lengannya itu! Ciri khas dari Pendekar Sakti Gurun Pasir!
Kalau saja orang ini tidak datang bersama seorang wanita setengah tua yang cantik jelita dan gagah dan
seorang pemuda yang ganteng sekali, juga amat gagah, tentu dia dapat menduga bahwa mungkin saja
orang itu bukan Si Pendekar Buntung Lengan. Akan tetapi, melihat dua orang teman Si Buntung itu,
hatinya tidak ragu-ragu lagi. Siapa lagi kalau bukan Naga Sakti Gurun Pasir dan anak isterinya yang lihai
itu? Akan tetapi tiga orang itu agaknya tidak mempedulikan dia, juga tidak melihat kepada Pek In yang
sudah membuang muka.
Setelah mereka itu lewat dan memasuki tikungan, barulah Pek In memegang lengan Hong Bu dan berbisik,
“Itu mereka....”
Hong Bu mengangguk dan memberi isyarat kepada sumoi-nya untuk memasuki kamar sumoi-nya.
Setibanya di dalam kamar, Hong Bu berkata, “Aku mengenal mereka. Tentu inilah Naga Sakti Gurun Pasir
dan anak isterinya, bukan?”
“Benar! Apakah mereka melihatku, Suheng? Mereka tentu mengenalku.”
“Agaknya mereka tidak menoleh kepadamu, akan tetapi siapa tahu? Mereka adalah orang-orang sakti, dan
kedatangannya di rumah penginapan ini sungguh suatu hal yang terlalu kebetulan. Mereka mencari-cariku,
kenapa kebetulan mereka datang ke rumah penginapan di mana aku berada? Sumoi, kita harus pergi
sekarang juga!”
“Tidak, aku tidak takut!” Pek In berseru dan mengepal tinju. “Aku tidak sudi melarikan diri!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukan melarikan diri karena takut, Sumoi, melainkan....”
“Apa....?”
“Sudahlah,” Hong Bu tidak mau mengatakan bahwa dia terpaksa melarikan diri karena dia berada bersama
Pek In.
Betapa pun lihainya Pek In, gadis ini sama sekali bukan tandingan para pendekar sakti itu dan kalau harus
melindungi gadis itu, tentu dia tidak akan dapat bergerak leluasa. “Sumoi, bukankah engkau ingin ikut
denganku?”
“Benar....,” dan wajah yang manis itu kembali nampak khawatir. “Jangan.... tinggalkan aku, Suheng!”
“Nah, aku mau pergi sekarang. Engkau ikut ataukah tidak?” Setelah berkata demikian, Hong Bu pergi
meninggalkan gadis itu, memasuki kamarnya dan mengambil buntalan pakaiannya.
Pek In tidak menjawab, akan tetapi tahu-tahu ia telah mengikuti pemuda itu dan sudah membawa pula
buntalan pakaiannya. Wajahnya cemberut, akan tetapi masih manis.
Setelah mereka berdua meninggalkan rumah penginapan itu melalui jalan jendela dan melakukan
perjalanan cepat, Pek In mengomel, “Sungguh memalukan sekali kalau kita harus melarikan diri dari
mereka.”
“Sumoi, seorang pendekar bukan saja harus berani dan gagah perkasa, akan tetapi juga harus cerdik. Aku
bukan takut kepada mereka, akan tetapi kita harus cerdik. Mereka bertiga itu adalah orang-orang yang
berkepandaian tinggi sekali. Sebaiknya kalau kita lebih dulu menemui para pendekar patriot yang tentu
tidak bersahabat dengan mereka, mengingat mereka itu adalah kaki tangan Kaisar.”
“Huh, jadi engkau hendak mencari teman?”
“Bukan, hanya hendak mengimbangi mereka kalau-kalau mereka maju mengeroyok.”
Pek In memandang dengan tajam. “Aih, bagaimana engkau dapat menduga serendah itu kepada Pendekar
Naga Sakti Gurun Pasir? Dia dan anak isterinya mendatangi lembah bertiga saja, sama sekali tidak takut
akan dikeroyok, karena mereka percaya bahwa seorang pendekar tidak nanti akan berlaku curang! Dan
aku pun percaya bahwa Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bukanlah orang yang curang!”
Hong Bu hanya tersenyum. Tetap saja dia tidak mau mengatakan bahwa tindakannya itu bukan sekali-kali
karena takut, melainkan karena dia harus menyelamatkan pedang, jangan sampai terampas utusan Kaisar.
Pula, dia pun harus melindungi Pek In. Bagai mana mungkin dia sekaligus melindungi pedang dan Pek In?
Kecuali kalau Pek In sudah berada di tempat aman, misalnya di antara para pendekar patriot itu barulah
dia akan merasa lega dan mungkin saja dia malah akan menantang siapa yang berhak memiliki pedang
pusaka, juga menebus kekalahan gurunya.
Tidak sukar bagi mereka untuk mencari Gedung Mawar Kuning itu. Setiap orang tahu di mana adanya
gedung tua itu yang kini menjadi sebuah perkumpulan silat yang bernama perguruan silat Kim-jiauw-eng
(Garuda Kuku Emas). Memang gedung ini pernah menjadi pusat perguruan silat yang masih merupakan
cabang dari Siauw-lim-pai itu. Gurunya adalah seorang she Ciong yang pernah menjadi murid Siauw-limpai
dan memang Ilmu Silat Kim-jiauw-eng yang diajarkannya itu masih bersumber pada ilmu silat Siauwlim-
pai. Karena itulah, maka ketika ada pergerakan para pendekar patriot, gedung tua yang besar ini dipilih
menjadi pusat tempat pertemuan mereka.
Gedung itu dikurung pagar tembok yang tingginya hampir tiga meter. Akan tetapi bukan merupakan
penghalang yang sulit bagi Hong Bu dan Pek In. Mereka meloncat ke atas pagar tembok itu dan melayang
ke sebelah dalam. Akan tetapi begitu kedua kaki mereka turun ke atas tanah, terlihat berkelebatnya
bayangan banyak orang dan tahu-tahu mereka telah dikepung oleh belasan orang yang rata-rata memiliki
ilmu silat yang tinggi! Kiranya gerak-gerik mereka sejak mendekati gedung sampai ketika mereka berdua
melompat ke atas pagar tembok telah diketahui oleh para penjaga dan hal ini saja menunjukkan betapa
kuatnya penjagaan para pendekar di ternpat itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kami bukan musuh!” Hong Bu cepat berkata sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Kami
adalah sahabat-sahabat yang ingin bertemu dengan pimpinan para Enghiong di sini!”
Tentu saja ucapan itu tidak bisa diterima begitu saja. Dua orang ini masuk secara gelap bukan melalui
pintu sebagai tamu, mana bisa mereka mempercayai keterangan itu? Pula, keadaan para pendekar patriot
di situ merupakan rahasia, tidak ada yang tahu bahwa tempat itu menjadi sarang mereka. Maka, orang
yang datang dan tahu akan hal itu sungguh merupakan orang yang patut dicurigai.
“Siapa engkau?” bentak seorang di antara mereka.
“Namaku Sim Hong Bu, dan ini adalah Cu Pek In....”
“Aihhh, kiranya benar Pek In....!” Tiba-tiba terdengar seruan suara wanita dan seorang wanita berkelebat
datang dan berdiri di depan Pek In.
Tempat itu mendapat penerangan dari obor yang dibawa datang seorang pendekar sehingga mereka dapat
saling memandang. Kini Hong Bu dan Pek In segera mengenal wajah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu.
Melihat bibinya, Pek In cepat memberi hormat, diturut pula oleh Hong Bu.
“Dan ini Hong Bu malah! Ahh, masuklah. Kawan-kawan, mereka ini adalah keponakan-keponakanku
sendiri!”
Hong Bu dan Pek In merasa terheran-heran melihat bahwa bibi mereka berada di tempat itu, akan tetapi
keheranan mereka lenyap ketika mereka dihadapkan dengan pimpinan para pendekar itu yang ternyata
adalah Bu Seng Kin atau Bu-taihiap! Biar pun di dalam hatinya ada rasa tidak senang, namun Pek In dapat
mengerti mengapa bibinya berada di situ. Kiranya bibinya ini telah menyusul bekas kekasihnya, si
pendekar perayu wanita itu yang sekarang telah menjadi pimpinan para pendekar patriot!
Bu-taihiap girang bukan main menerima Hong Bu dan Pek In. Dia sudah mendengar dari isterinya, yaitu
Tang Cun Ciu tentang diri pemuda ini yang katanya merupakan pewaris pedang Koai-liong Po-kiam berikut
Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut yang tiada tandingannya di dunia ini! Maka pemuda itu merupakan
tenaga yang sangat boleh diandalkan, dan juga dia sudah mendengar tentang Cu Pek In, puteri tunggal
dari penghuni Lembah Suling Emas yang kini menjadi Lembah Naga Siluman itu.
“Selamat datang, Sim Hong Bu! Aku sudah banyak mendengar tentang kelihaianmu dari bibi gurumu. Dan
engkau, Cu Pek In. Ayahmu adalah seorang sahabatku yang amat baik!”
Cu Pek In dan Sim Hong Bu memberi hormat, biar pun di dalam hatinya Cu Pek In memaki laki-laki
ganteng ini, karena laki-laki inilah yang merayu hati Tang Cun Ciu, isteri dari toapek-nya sehingga toapeknya
itu meninggal dunia karena duka! Dan sekarang, dengan tak tahu malu sekali isteri toapek-nya itu
malah menyusul kekasihnya! Biar pun mereka itu sekarang menjadi pimpinan pendekar patriot, tetap saja
baginya mereka memiliki perbuatan-perbuatan yang serba busuk! Itulah sebabnya mengapa Pangeran
Kian Liong yang menjadi tawanan itu melihat adanya pemuda perkasa dan gadis berpakaian pria yang
bukan lain adalah Sim Hong Bu dan Cu Pek In di antara para pendekar patriot, duduk di dekat Bu-taihiap
dan tiga orang isterinya yang merupakan puncak pimpinan para patriot itu.
Tentu saja Cu Pek In tidak salah mengenal orang, dan juga dugaan Sim Hong Bu adalah benar bahwa tiga
orang yang memasuki rumah penginapan itu adalah keluarga Kao. Pria gagah perkasa yang lengannya
buntung itu memang adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu bersama isterinya, Wan Ceng, dan
putera mereka, Jenderal Muda Kao Cin Liong.
Seperti telah kita ketahui, Jenderal Muda Kao Cin Liong diperintah oleh Kaisar sendiri untuk mencari dan
merampas kembali sampai berhasil pedang pusaka Koai-liong Pokiam yang lenyap dari istana. Untuk
menghadapi tugas yang amat sukar dan berat ini, Kao Kok Cu dan isterinya yang kebetulan sedang
mengunjungi putera mereka, segera turun tangan dan membantu putera mereka. Bertiga, keluarga sakti ini
telah mendatangi Lembah Suling Emas atau yang telah berganti nama baru Lembah Naga Siluman.
Dengan gagah perkasa tiga orang ini menyerbu lembah itu, mengalahkan keluarga Cu yang sakti sehingga
mengakibatkan dua orang sakti, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, terpaksa mengundurkan diri. Akan tetapi,
kemenangan atas diri kedua orang tokoh keluarga Cu yang sakti ini, bukan berarti pedang pusaka itu dapat
mereka rebut kembali. Pedang itu menurut keterangan pihak keluarga Cu yang kalah itu, berada di tangan
murid mereka yang merupakan ahli waris pedang dan ilmu itu, adalah Sim Hong Bu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, keluarga Kao yang gagah perkasa itu melanjutkan usaha atau tugas mereka, yaitu mencari
pedang pusaka yang dibawa pergi pemuda yang bernama Sim Hong Bu. Kemudian, dalam perjalanan
mereka, keluarga Kao ini mendengar tentang geger yang dihebohkan oleh tindakan Kaisar terhadap
Siauw-lim-si, yaitu pembakaran biara atau Kuil Siauw-lim-si dan menewaskan banyak sekali murid-murid
Siauw-lim-pai.
Tentu saja, seperti para pendekar di dunia kang-ouw, berita ini amat mengejutkan hati mereka dan
menimbulkan perasaan tidak senang dan tidak puas. Semenjak dahulu, keluarga ini memandang tinggi
nama Siauw-lim-pai dan tahu bahwa partai persilatan ini adalah partai yang bersih dan terhormat, yang
mempunyai banyak pendekar sakti yang gagah perkasa. Dan kini Kaisar telah bertindak dengan kejam,
menggunakan pasukan besar untuk membunuh banyak murid Siauw-lim-pai, berusaha membasmi partai
ini bahkan telah membakar habis biara Siauw-lim-si.
Kao Cin Liong sendiri marah-marah mendengar berita itu. “Sungguh terlalu!” katanya ketika mereka
mendengar berita itu. “Kalau sikap Sri Baginda Kaisar seperti ini dan kelaliman ini dilanjutkan, alangkah
rendahnya kalau aku menghambakan diri kepada seorang lalim! Lebih baik aku meletakkan jabatanku dan
bersahabat dengan para pendekar Siauw-lim-pai yang tertimpa mala petaka!”
“Memang amat menggemaskan! Apalagi kalau diingat bahwa Sri Baginda Kaisar sendiri pernah menjadi
murid Siauw-lim-pai! Perbuatan seorang murid yang sungguh keji dan murtad!” kata pula ibunya yang
memang sejak muda memiliki watak keras akan tetapi jujur dan adil.
Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir menarik napas panjang. Dia adalah seorang pendekar yang sudah
matang, tidak mudah dipengaruhi oleh segala macam keadaan, dan tidak lagi membiarkan diri diseret
nafsu perasaan. “Apa pun juga alasannya, perbuatan Kaisar memang tidak patut, dan juga bukan
merupakan perbuatan yang baik dan menguntungkan pemerintah. Akan tetapi, Cin Liong, kau harus selalu
ingat bahwa kau adalah seorang pendekar. Kau harus selalu dapat menjaga nama dan memenuhi tugasmu
dengan baik. Tugasmu saat ini adalah mencari dan merebut kembali pedang pusaka kerajaan, dan bukan
watak seorang pendekar untuk meninggalkan tugas yang belum dilaksanakan sampai berhasil.”
Cin Liong mengangguk-angguk. “Saya mengerti, Ayah. Saya akan terus mencari Sim Hong Bu dan apa
pun hasilnya, saya harus dapat mencari dia. Setelah bertemu dan bicara dengan dia tentang pedang itu,
baru saya akan kembali dan melapor kepada Sri Baginda Kaisar tentang pelaksanaan tugas ini. Setelah
itu, baru saya mengundurkan diri meletakkan jabatan. Pangeran Mahkota Kian Liong adalah orang yang
bijaksana sekali. Menurut berita yang kita dengar, beliau malah membebaskan dan menyelamatkan sisa
murid-murid Siauw-lim-pai sebanyak delapan orang, Pangeran ini tahu mana yang benar dan mana yang
salah. Karena itu, biarlah saya menanti sampai kelak Pangeran Kian Liong yang menjadi kaisar, barulah
saya akan menawarkan kembali tenaga saya untuk mengabdikan diri.”
Ayah dan ibunya menyatakan persetujuan mereka dan ketiga orang gagah ini pun melanjutkan perjalanan
mereka. Akan tetapi, mereka terkejut bukan main ketika mendengar lagi berita angin dari para pendekar di
kang-ouw bahwa Sang Pangeran Mahkota telah lenyap dan sedang dicari oleh orang-orang gagah
berbagai golongan. Tentu saja mereka, terutama sekali Cin Liong yang masih bertugas sebagai seorang
jenderal, apalagi yang menjadi sahabat baik Pangeran Kian Liong, merasa gelisah bukan main.
“Ahh, biar pun ini merupakan tugas yang tidak langsung menjadi perintah Kaisar, akan tetapi mencari dan
menyelamatkan Sang Pangeran tidak kalah pentingnya dari pada mencari dan merebut kembali pedang
itu,” kata Cin Liong.
“Memang, kita harus ikut mencari Sang Pangeran. Jangan sampai beliau dikuasai oleh orang-orang jahat,”
kata ayahnya.
“Sungguh Pangeran Mahkota merupakan seorang pemuda yang luar biasa,” kata Wan Ceng setengah
mengomel. “Beliau adalah seorang pemuda yang lemah, akan tetapi mengapa selalu suka melakukan
perjalanan merantau sendirian saja tanpa pengawal? Padahal, sebagai seorang pangeran mahkota tentu
saja bahaya selalu mengancam beliau.”
“Beliau akan menjadi kaisar yang baik,” suaminya mengangguk-angguk. “Seorang yang semenjak muda
sudah melenyapkan rasa takut dengan rasa kasih sayang terhadap rakyatnya. Beliau ingin melihat sendiri
dan mendengar sendiri keadaan dan kehidupan rakyat serta keluh-kesah mereka. Hanya seorang kaisar
dunia-kangouw.blogspot.com
yang memerintah rakyatnya dengan kasih sayang sajalah, seperti seorang ayah yang benar-benar
mencinta anak-anaknya, maka sebuah negara akan benar-benar menjadi makmur dan kuat.”
Keluarga yang gagah perkasa ini melanjutkan perjalanannya sambil menyelidiki dan mendengar-dengarkan
dan akhirnya, pada suatu siang ketika melewati sebuah hutan tidak jauh dari kota Cin-an, mereka melihat
belasan orang laki-laki rebah malang-melintang. Sebagian besar telah tewas, akan tetapi ada beberapa
orang yang masih hidup, walau pun luka-luka mereka amat parah dan mereka ini pun sukar untuk dapat
diselamatkan lagi. Agaknya, baru beberapa jam mereka itu telah dirobohkan oleh musuh yang amat kuat.
Tiga orang muda ini cepat menghampiri mereka yang masih hidup, memeriksa, namun mereka
memperoleh kenyataan bahwa mereka tidak akan mampu menolong lagi.
“Siapakah yang melakukan ini dan mengapa?” Kao Cin Liong bertanya kepada seorang di antara mereka
yang agaknya masih lebih kuat dari pada yang lain. Ayah bundanya hanya ikut mendengarkan saja,
membiarkan putera mereka menangani urusan ini.
Setelah diberi beberapa teguk minuman arak, meski lemah orang itu dapat juga bicara, “Kami....
menghadang seorang pemuda yang bersenjata suling emas.... kami hampir berhasil.... lalu muncul pemuda
yang berpedang.... pedang sinar biru.... aahhh....” Dan orang itu pun tak dapat melanjutkan kata-katanya
karena kepalanya sudah terkulai.
Yang lain-lainnya terlampau parah luka-luka mereka sehingga sama sekali tidak mampu bicara lagi.
Bahkan sebelum tiga orang pendekar itu dapat berbuat sesuatu, mereka yang terluka parah itu pun tewas
pula.
Setelah memeriksa semua perampok itu dan mendapat kenyataan bahwa mereka telah benar-benar
tewas, Cin Liong bersama ayah ibunya lalu menggali lubang besar dan mengubur semua jenazah itu
dengan sederhana. Mereka, keluarga gagah perkasa yang berjiwa pendekar ini tidak mungkin dapat
membiarkan saja jenazah belasan orang itu tanpa dikubur, walau pun mereka dapat menduga bahwa
mereka itu semua adalah anggota perampok.
“Hemm, pedang bersinar biru? Dan pemuda bersenjata suling emas?” Cin Liong berkata ketika mereka
melanjutkan perjalanan.
Ayahnya memandang kepadanya. “Engkau dapat menduga siapa mereka?”
Puteranya mengangguk, juga ibunya berkata, “Aku pun sudah tahu siapa mereka itu.”
“Bagus, kalau begitu mari kita cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Daerah ini termasuk daerah kota Cinan,
ke mana lagi mereka kalau tidak ke kota itu? Dan kabarnya, di kota Cin-an itu pula berkumpulnya para
pendekar patriot,” kata Si Naga Sakti Gurun Pasir.
Tanpa menyebut nama, tiga orang pendekar yang cerdas ini sudah dapat menduga bahwa pemuda
bersenjata suling emas itu tentulah Cu Pek In dan pedang bersinar biru itu, apa lagi kalau bukan Koai-liong
Po-kiam?
Demikianlah, keluarga sakti ini akhirnya dapat mengikuti jejak Cu Pek In dan Sim Hong Bu, dan seperti
telah diceritakan pada bagian depan, Cu Pek In dan Sim Hong Bu terkejut bukan main ketika melihat tiga
orang ini. Dan biar pun Pek In cepat membuang muka, dan tiga orang sakti itu seolah-olah tidak melihat
adanya dua orang muda itu, namun sesungguhnya Cin Liong dan ayah bundanya sudah melihat mereka
dan mereka yakin kini bahwa dugaan mereka adalah benar.
Biar pun mereka tidak melihat adanya senjata pedang pusaka yang mereka cari-cari itu pada diri pemuda
yang nampak sederhana itu, mereka dapat menduga bahwa pedang itu tentu disembunyikan dan hal ini
bahkan lebih meyakinkan hati mereka. Kalau bukan Koai-liong Po-kiam yang dibawa pemuda ini, perlu apa
disembunyikan? Dan kalau pedang itu tentu saja disembunyikan, karena pedang itu adalah pedang pusaka
yang hilang dari istana.
Dan ketika pada malam hari itu Hong Bu dan Pek In melarikan diri dari losmen, hal ini pun sama sekali
tidak terlewat dari pengamatan keluarga itu. Diam-diam mereka bertiga cepat membayangi dari jauh.
Mereka melihat betapa bayangan dua orang muda itu melompati pagar tembok sebuah rumah tua dan
mereka tidak berani ceroboh memasuki rumah orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau berjagalah di sini bersama Ibumu, aku akan menyelidiki rumah siapa ini,” kata Kao Kok Cu.
Cin Liong dan ibunya mengangguk dan bersembunyi sambil mengintai untuk melihat kalau-kalau dua orang
yang mereka bayangi tadi keluar dari situ lagi. Si Naga Sakti Gurun Pasir tak lama pergi. Dia sudah muncul
kembali dan berbisik kepada puteranya dan isterinya, “Wah, kiranya rumah inilah yang menjadi sarang
patriot! Mereka sedang berkumpul di sini!”
Berita ini benar-benar amat mengejutkan hati Cin Liong dan ibunya. Baiknya mereka tadi tidak ceroboh
memasuki sarang yang amat berbahaya, yang penuh dengan orang-orang sakti itu. Kedua orang yang
mereka bayangi telah masuk ke situ, berarti bahwa itu pun tentu mempunyai hubungan yang erat dengan
penghuni rumah itu!
“Bagaimana baiknya sekarang?” tanya Kao Kok Cu untuk mencoba puteranya. Betapa pun juga yang
mempunyai tugas itu adalah puteranya, dan pendekar ini sudah percaya penuh kepada kecerdasan dan
kewaspadaan puteranya sehingga dia menyerahkan keputusan kepada puteranya itu.
“Ayah, tidak baik kalau kita menyerbu sekarang. Mereka adalah pendekar-pendekar, bukan penjahatpenjahat.
Sebaiknya kita besok pagi datang sebagai tamu dan dengan terus terang akan saya sampaikan
kepada pimpinan para patriot agar menyerahkan Sim Hong Bu kepada saya dengan alasan urusan pribadi.
Kita harus menjaga agar jangan sampai terjadi bentrokan antara kita dengan para patriot.”
Ayahnya mengangguk lalu berkata, “Memang bijaksana dengan cara demikian. Namun aku meragukan
apakah patriot-patriot itu akan menerimamu dengan sikap bersahabat karena mereka tahu bahwa engkau
adalah seorang perwira tinggi istana.”
“Terserah kepada mereka. Yang jelas, kedatangan kita bukanlah untuk urusan antara Kaisar dan mereka,
melainkan urusan pedang.”
Mereka lalu kembali ke rumah penginapan. Mereka merasa yakin bahwa kedua orang muda yang mereka
bayangi tadi tidak tahu bahwa mereka tadi membayangi mereka, dan juga mereka dapat menduga bahwa
tentu Sim Hong Bu berbesar hati setelah berada di markas para pendekar patriot itu dan tidak akan pergi
untuk sementara waktu. Dengan adanya pengejaran dari keluarga Kao, tentu pemuda itu menganggap
bahwa markas itu merupakan tempat persembunyian yang paling aman. Dan memanglah, semua
pendapat ini tepat sekali.
Akan tetapi, Jenderal Kao Cin Liong dan ayah bundanya sama sekali tidak tahu bahwa pada malam hari itu
juga, pangeran mahkota tiba pula di Cin-an dan ditahan di dalam rumah yang menjadi markas para patriot,
itu! Andai kata mereka terus mengamati di tempat itu, tentu mereka akan melihat hal ini dan mungkin akan
terjadi bentrokan yang sukar dapat dicegah lagi…..
********************
Hati Cia Han Beng merasa bingung dan gelisah sekali. Dia merasa menyesal bahwa dara yang
membuatnya jatuh cinta, ternyata tidak sepaham dengan dia mengenai perjuangan para patriot. Bahkan
dara itu dengan kekerasan telah membawa pergi Sang Pangeran, dan dia sama sekali tidak ada
keberanian hati, atau lebih tepat lagi tidak tega, untuk menentang dengan kekerasan. Dia merasa betapa
tiba-tiba dia menjadi seorang yang lemah sekali, dan dia tahu bahwa selama Ci Sian melindungi Sang
Pangeran, dia tidak akan tega untuk merebut Pangeran itu.
Dia pun tahu bahwa Ci Sian hanya bertindak sebagai seorang pendekar, sama sekali tidak memihak
pemerintah dan menentang para patriot, tapi hanya ingin melindungi yang lemah dari ancaman bahaya
seperti selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar. Hal inilah yang membuatnya bingung dan putus asa.
Andai kata Ci Sian itu seorang penjilat pemerintah penjajah tentu cintanya akan dapat dilawannya sendiri
dan dia tentu akan mau menentang dara itu. Akan tetapi, dara itu adalah seorang pendekar yang
mengagumkan hatinya.
Tak mungkin aku berhasil sebagai seorang patriot kalau begini, keluhnya dengan hati kesal sekali setelah
dia berpisah dari Ci Sian. Tidak, dia akan mengambil cara lain. Dia tahu bahwa Pangeran Kian Liong
memang seorang pemuda yang hebat dan bijaksana, maka dia pun tidak terlalu menyesal akan sikap Ci
Sian. Dia sendiri, andai kata dia tidak mempunyai jiwa pemberontak terhadap kekuasaan penjajah, tentu
dia pun tidak akan segan untuk mempertaruhkan nyawanya guna membela seorang pangeran mahkota
yang bijaksana seperti Pangeran Kian Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang jahat, yang menjadi biang keladi semua peluapan kemarahan hati para patriot adalah kelaliman
Kaisar! Kaisarlah yang harus dibasmi! Peristiwa pembakaran biara Siauw-lim-si, perlakuan sewenangwenang
terhadap orang-orang Han, semua adalah perbuatan Kaisar yang membenci orang Han. Dan
kalau dia telah gagal menangkap Pangeran, masih ada jalan lain baginya yang lebih langsung dan tepat,
yaitu menyerbu ke istana dan mencoba untuk membunuh Kaisar. Dia tahu bahwa perbuatan ini amat
berbahaya, karena istana merupakan tempat yang amat kuat dengan penjagaan ketat, di mana berkumpul
perwira-perwira berkepandaian tinggi dan pengawal-pengawal yang gemblengan. Akan tetapi, dia
mempunyai harapan. Bukankah ibu kandungnya berada di sana sebagai selir Kaisar?
Demikianlah, dengan hati yang telah mengambil keputusan tetap, Cia Han Beng pergi ke kota raja. Biar
pun para pengawal dan pembesar yang mengurus dalam istana, para thaikam (orang kebiri)
menyambutnya dengan pandang mata penuh kecurigaan, namun mereka itu melapor juga kepada ibu
pemuda itu yang menjadi selir Kaisar bahwa ada seorang pemuda bernama Cia Han Beng dan mengaku
sebagai keluarga dekat mohon menghadap.
Tentu saja ibu pemuda itu terkejut sekali mendengar disebutnya nama ini dan cepat-cepat memerintah
thaikam untuk mempersilakan pemuda itu menghadapnya di dalam taman. Selir Kaisar ini memilih taman
sebagai tempat pertemuannya dengan puteranya agar mereka dapat bicara dengan leluasa di tempat
terbuka sehingga tidak akan ada yang dapat mencuri dengar percakapan antara mereka.
Dengan pengawal dua orang pengawal dalam yang juga terdiri dari laki-laki yang sudah dikebiri, Han Beng
dipersilakan memasuki taman. Ketika tiba di pondok indah dekat kolam ikan, Han Beng melihat seorang
wanita cantik dengan pakaian yang mewah berdiri menantinya dengan kedua mata basah dengan air mata.
Melihat ibunya, Han Beng tak dapat menahan keharuan hatinya dan dia pun cepat maju berlutut di depan
kaki ibu kandungnya sambil menundukkan mukanya. Selir itu memejamkan mata dan menggunakan sapu
tangan menyusuti air matanya, kemudian memberi isyarat kepada dua orang pengawal kebiri itu untuk
meninggalkannya bersama puteranya.
Setelah dua orang pengawal itu mengundurkan, wanita itu lalu membungkuk dan merangkul puteranya,
disuruhnya Han Beng berdiri dan sejenak mereka berdua saling berpandangan dengan hati yang tidak
keruan rasanya.
“Han Beng....!” Akhirnya wanita itu berbisik yang merupakan jerit yang keluar langsung dari dalam hatinya.
“Ibu....!” Han Beng menahan agar air matanya tidak jatuh bertitik, sungguh pun dia sudah merasa betapa
hatinya tergetar dan kedua matanya terasa panas.
Kalau ibunya merasa berduka dan terharu sekali melihat puteranya, sebaliknya pemuda ini selain terharu,
juga merasa panas hatinya melihat ibunya hidup sebagai seorang selir kaisar yang berpakaian begini indah
dan mewah, sedangkan ayahnya telah terbunuh oleh Kaisar yang kini menjadi suami ibunya!
“Han Beng, mari kita duduk di bangku itu.... kita bicara di luar saja agar jangan ada orang lain
mendengarkan dengan sembunyi,” Ibunya berbisik dan menggandeng tangan puteranya, diajaknya
puteranya itu duduk di bangku panjang di tengah taman, jauh dari pondok.
Wanita setengah tua itu, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, masih nampak cantik sekali,
apalagi karena dia kini mengenakan pakaian yang demikian indah dan rambutnya disanggul secara
istimewa seperti biasa dandanan para selir Kaisar. Kini, melihat puteranya, seketika hancur berantakan
segala kemuliaan yang dirasakannya setiap hari dan terbayanglah di pelupuk matanya segala peristiwa
yang terjadi beberapa tahun yang lalu!
Ia hidup saling mencinta bersama suaminya yang merupakan seorang pendekar gagah perkasa, dengan
seorang putera mereka, yaitu Han Beng. Kemudian, datanglah mala petaka itu! Suaminya adalah seorang
pendekar yang pernah menjadi sahabat Ai Seng Kiauw murid Siauw-lim-pai yang suka bersahabat dengan
para pendekar itu, yang kini telah menjadi Kaisar Yung Ceng! Dan ketika mereka mengadakan perjalanan
sampai ke kota raja, suaminya teringat akan sahabat itu dan biar pun telah dicegahnya, suaminya tetap
nekad berkunjung dan menghadap bekas sahabat yang kini menjadi kaisar itu.
Dan memang, Kaisar menyambutnya dengan ramah dan manis budi. Tetapi terjadilah mala petaka ketika
Kaisar memandang kepadanya! Memandang kepadanya dengan sinar mata yang demikian mesra dan
penuh nafsu birahi!
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka terjadilah kesemuanya itu, peristiwa yang mengubah hidupnya! Suaminya telah terbunuh, dan ia pun
diambil selir oleh Kaisar! Dan ia.... ia tidak melawan.... ia seorang wanita yang lemah melihat kemuliaan
membayang di depan mata! Ia pun menyerahkan diri, bukan dengan terlalu terpaksa, bahkan dengan
harapan baru. Kalau dulunya ia hidup sebagai seorang isteri pendekar yang bertualang, yang kadangkadang
menderita lapar dan tidur di kuil-kuil tua atau di hutan-hutan, sekarang ia menjadi seorang yang
dihormati dan dimuliakan!
Dan Kaisar pun sayang kepadanya. Bahkan Pangeran Mahkota sendiri memandangnya sebagai seorang
ibu! Mau apa lagi? Puteranya, lari entah ke mana. Dan kini, puteranya itu muncul di depannya! Maka
terjadilah perang di dalam hati wanita ini, perang antara kemewahan dan kemuliaan di istana, melawan
kasih sayang seorang ibu kandung terhadap anaknya. Dan kemuliaan itu pun kini menipis.
Segala macam kesenangan di dunia ini, apa pun juga bentuknya, tidak akan abadi. Kesenangan selalu
disusul oleh kebosanan, atau juga oleh keinginan memperoleh yang lebih besar lagi sehingga kesenangan
yang ada itu tidak begitu berarti lagi.
Demikian pula dengan wanita ini. Kemuliaan dan kemewahan itu memang dirasakan dan dinikmatinya
betul pada mulanya, dalam waktu beberapa bulan, beberapa tahun. Tetapi kemewahan dan kemuliaan
yang dilimpahkan kepadanya setiap hari itu mulai menimbulkan kebosanan dan kemuakan. Apalagi dengan
munculnya puteranya ini yang mendatangkan lagi kenang-kenangan lama, membuat batin ibu ini merasa
terguncang.
“Han Beng.... Anakku.... Puteraku sayang.... akhirnya engkau mau juga menjenguk ibumu....” Ia berkata
sambil mengusap air matanya yang terus bercucuran.
Han Beng memandang wajah ibunya. Ada juga rasa iba, rasa haru dan rasa mesra yang timbul dari kasih
sayangnya terhadap wanita yang menjadi ibunya ini. Akan tetapi yang lebih lagi adalah rasa marah. Ibunya
sampai hati benar berenang di dalam kemewahan di samping laki-laki yang telah membunuh suaminya!
“Ibu....,” katanya, suaranya agak gemetar. “Aku datang ini bukan untuk menjenguk Ibu, melainkan
untuk....,” dia berhenti sebentar, memandang ke kanan kiri yang sunyi. Dua orang tadi berdiri di luar taman,
biar pun memandang ke arahnya akan tetapi tidak dapat mendengar percakapan itu.
“Untuk apa, Anakku? Engkau membutuhkan apa....? Ibumu akan dapat menolongmu, Nak....”
“Nah, terima kasih, Ibu. Itulah yang kubutuhkan, yaitu pertolonganmu. Kuharap Ibu suka membantuku dan
suka memberi jalan kepadaku agar niat hatiku tercapai.”
“Niat hatimu? Apa niat itu? Apakah engkau ingin.... menikah?” Dengan air mata masih berlinang, wanita itu
mencoba untuk tersenyum dan memandang wajah puteranya yang tampan.
“Bukan. Niat hatiku adalah untuk membunuh Kaisar!”
“Eiihhh....!” Wanita itu menahan jeritnya dengan menutupkan tangan kiri di depan mulut, matanya
terbelalak dan tangan kanannya mencengkeram lengan puteranya. “Kau.... kau sudah.... gila....!”
Pemuda itu melangkah mundur, melepaskan diri dari pegangan tangan ibunya sambil memandang tajam
penuh kemarahan dan rasa penasaran. Akan tetapi suaranya masih perlahan karena dia pun tidak ingin
suaranya terdengar oleh orang lain, “Ibu, selain Ayah telah dibunuh oleh Kaisar, juga seluruh pendekar
bangsa Han ditindasnya, kuil Siauw-lim-si dibakarnya, dan rakyat ditindasnya. Sekarang Ibu justru
bersenang-senang menjadi selir kaisar lalim itu. Ibu, katakanlah sekarang, siapakah di antara kita yang
pantas disebut gila?”
“Han Beng! Engkau hanya terdorong oleh dendam atas kematian ayahmu....”
“Tidak, Ibu. Urusan pribadi hanya urusan kecil saja kalau dibandingkan dengan urusan seluruh bangsa!
Tentu saja aku merasa sakit hati atas kematian Ayah, akan tetapi aku hendak membunuh Kaisar bukan
karena itu, melainkan untuk membebaskan rakyat dari penindasan Kaisar penjajah yang lalim. Dan Ibu,
kalau memang Ibu masih mempunyai sedikit jiwa kependekaran seperti mendiang Ayah, Ibu harus
membantuku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi.... tapi.... berbahaya sekali, Anakku! Kaisar sendiri memiliki kepandaian yang lihai, belum lagi kalau
diingat bahwa beliau selalu dilindungi oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi! Engkau akan
tertangkap dan terbunuh sebelum engkau mampu mendekatinya!”
“Akan tetapi, aku yakin bahwa sewaktu-waktu Kaisar tentu berdua saja dengan Ibu, di mana tidak ada
seorang pun pengawal yang mendekat. Kalau aku tidak mungkin mendekatinya, maka Ibu mudah sekali.
Apa sukarnya bagi Ibu untuk menyerang dan membunuhnya sewaktu dia mendekati Ibu?”
“Apa kau gila? Aku.... aku adalah selirnya! Isterinya!”
“Bagiku bukan! Ibu adalah isteri Ayah yang telah dibunuh Kaisar, Ibu adalah isteri Ayah yang dirampas oleh
Kaisar! Ibu adalah wanita Han yang tidak ingin melihat rakyat ditindas oleh Kaisar penjajah lalim!”
“Ohhhh.... Anakku...., aku.... aku memang bersalah.... tapi.... tapi tidak tahukah engkau bahwa Ibumu ini
hanya seorang wanita? Aku.... cinta padanya, Han Beng.”
Pemuda itu merasa betapa jantungnya seperti ditusuk. “Hemm, kalau begitu, Ibu sudah lupa kepada Ayah,
Ibu tidak cinta kepadaku, dan Ibu juga tidak peduli dengan bangsa sendiri?”
“Bukan.... ah, aku cinta padamu, Anakku. Engkau anakku satu-satunya.... akan tetapi ini lain lagi, Han
Beng.”
“Sudahlah, Ibu, tak perlu banyak ribut lagi. Kalau ketahuan orang, maka semua usahaku gagal dan kita
berdua akan celaka. Ibu tinggal pilih saja sekarang, Ibu lakukan sendiri bunuh Kaisar lalim itu, atau Ibu
mencarikan jalan agar aku dapat mendekatinya dan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Jika
Ibu menolak, aku akan mengamuk dan menyerbu ke dalam istana! Mati bukan apa-apa bagiku. Mati
sebagai orang gagah jauh lebih berharga dari pada hidup sebagai pengkhianat bangsa dan pengecut!”
Wajah wanita itu berubah pucat. Pengkhianat dan pengecut! Itulah lontaran dan makian puteranya sendiri
kepadanya, walau pun bukan merupakan makian langsung. Dan kalau ia menolak, berarti ia membiarkan
puteranya itu mati. Menyerbu istana seorang diri saja tiada bedanya dengan bunuh diri. Dengan muka
pucat sekali dan bibir gemetar, pandang mata sayu dan wajah layu, akhirnya wanita ini mengangguk dan
berkata lirih, “Baiklah, Han Beng. Akan kulakukan itu!”
“Ibu....!” Han Beng berlutut dan menubruk kedua kaki ibunya, dua titik air mata keluar dari sepasang
matanya.
Dia yakin benar-benar, bahwa perbuatan ibunya itu selain akan membunuh Kaisar, juga bunuh diri. Akan
tetapi, dia akan merasa bangga melihat ibunya mati seperti itu dari pada melihat ibunya hidup menjadi selir
Kaisar laknat yang lalim itu!
“Ibu ternyata seorang patriot wanita yang gagah perkasa. Ibu berani mengorbankan nyawa demi bangsa,
aku bangga dan terharu sekali, Ibu. Engkau memang Ibuku yang patut dipuja sepanjang masa!”
“Kau keliru, Han Beng. Aku melakukannya sama sekali bukan demi bangsa, bukan demi Ayahmu, bukan
demi diriku sendiri, melainkan demi engkau, Anakku. Nah, pergilah.”
Ucapan ibunya itu menyadarkan Han Beng dan dia pun bangkit lalu mundur, menatap wajah ibunya yang
pucat, menatapnya untuk yang terakhir kali. Memang ada sedikit kekecewaan dalam hatinya bahwa ibunya
hendak melakukan pengeroyokan itu bukan demi bangsa, melainkan demi dia. Betapa pun juga, yang
penting adalah terbunuhnya Kaisar lalim, pikirnya.
“Terima kasih, Ibu. Selamat tinggal, selamat berpisah dan ampunkan anakmu….”
Wanita itu hanya mengangguk dan Han Beng lalu keluar, disambut oleh dua orang pengawal itu dan
diantarkan sampai ke pintu tembusan di mana kembali dia diterima oleh pengawal lain yang mengantarnya
sampai ke pintu yang lebih luar. Demikianlah, akhirnya pemuda ini, setelah melalui penjagaan yang amat
ketat, tiba di pintu gerbang istana paling luar dan akhirnya keluarlah dia dari lingkaran istana.
Sementara itu, wanita itu berdiri seperti patung lilin. Mukanya pucat dan matanya berlinang air mata. Demi
cintanya kepada anaknya, bisik hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cinta memang sudah menjadi hal yang amat janggal dalam pengertian kita. Demikian banyaknya kata ini
telah kita pecah-pecah artinya, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sehingga cinta bahkan
menimbulkan banyak kesengsaraan dan mala petaka.
Han Beng ingin melihat ibunya menjadi seorang patriot, seorang pahlawan. Pemuda ini lupa bahwa ibunya
seorang manusia pula, bahwa ibunya memiliki selera dan cara hidup sendiri, yang mungkin saja berbeda
dengan orang lain, berbeda dengan dia. Akan tetapi dia ingin membentuk ibunya menjadi seperti yang
diidamkannya, seperti yang dianggap patut menjadi ibunya, yaitu wanita pahlawan!
Dia menganggap ini benar, tentu saja. Akan tetapi sebenarnya, di dasar dari hatinya, dia hanya mengejar
keinginan hatinya sendiri saja. Dialah yang akan bangga kalau ibunya menjadi pahlawan bangsa! Dialah
yang akan merasa bahagia. Apakah ibunya menyukai hal ini? Bukan urusannya! Apakah ibunya
berbahagia jika tewas sebagai pahlawan bangsa? Juga sama sekali hal ini dilupakannya. Dianggapnya
bahwa secara otomatis ibunya tentu berbahagia pula, seperti dia!
Demikian pula wanita itu. Ia mau saja membiarkan dirinya berkorban. Dianggapnya pengorbanannya ini
demi cinta kasihnya kepada puteranya. Akan tetapi benarkah demikian? Agaknya hal ini masih harus
diselidiki dengan teliti. Kalau dia mencintai puteranya, belum tentu dia membiarkan dirinya diperkosa
kemudian menjadi selir dari Kaisar yang telah membunuh suaminya dan hampir juga membunuh puteranya
kalau pemuda itu tidak dapat meloloskan diri.
Memang, cinta telah menjadi sesuatu yang amat aneh, bahkan kadang-kadang menjadi pendorong
perbuatan-perbuatan yang luar biasa kejamnya. Padahal, yang mereka namakan sebagai cinta itu
sesungguhnya hanyalah nafsu belaka, nafsu menyenangkan diri sendiri, perasaan sendiri melalui orang
lain. Jadi, orang yang katanya dicinta setengah mati itu hanya dijadikan semacam jembatan saja untuk
dapat menyeberang dan memetik kesenangan untuk diri sendiri.
Han Beng bersembunyi di kota raja setelah dia keluar dari istana. Dia hendak menanti saat yang amat
menegangkan itu. Saat di mana akan diumumkan tentang kematian Kaisar! Mati di tangan ibu kandungnya!
Dan saat yang dinanti-nantikan Han Beng itu ternyata tidak terlalu lama. Bahkan pada malam itu juga
Kaisar menjatuhkan pilihan kepada ibu Han Beng untuk melayaninya! Memang Kaisar cukup mencinta
wanita ini, seorang wanita bekas pendekar yang kuat tubuhnya, tidak seperti para selir lain yang lemah.
Kaisar sendiri adalah seorang ahli silat, maka dia merasa memiliki persamaan dengan selirnya ini, dan
Kaisar suka sekali mengajak selir ini bercakap-cakap tentang ilmu silat di waktu selir ini diberi giliran untuk
melayaninya dalam kamar selama semalam.
Dan malam itu, ibu Han Beng berdandan secara istimewa, menambah wangi-wangian pada tubuhnya, dan
memasuki kamar Kaisar dengan senyum cerah dan penuh daya pikat sehingga Kaisar semakin terpikat
dan menyambutnya dengan pelukan dan ciuman mesra.
Mereka bercakap-cakap, bercumbu dan bermain cinta. Lewat tengah malam, ketika Kaisar sedang tidur
pulas kelelahan, ibu Han Beng dengan air mata bercucuran lalu menghujamkan sebatang pisau belati ke
dada Kaisar. Namun, karena tangan yang memegang pisau itu gemetar dan karena wanita itu menutup
matanya karena tidak tega menyaksikan tangannya membunuh pria yang sesungguhnya dicintanya, maka
ujung pisau mengenai tulang iga dan meleset. Kaisar Yung Ceng yang memiliki tubuh kuat dan kepandaian
tinggi seketika telah terbangun dan otomatis tangannya menghantam dengan sekuatnya.
“Dessss....!”
Pukulan Kaisar itu amat kuatnya, dan tak dapat dielakkan oleh wanita itu yang memang masih
memejamkan kedua matanya sehingga tubuh wanita itu terlempar ke bawah dari pembaringan dan
terbanting dalam keadaan kepala retak dan tidak bernyawa lagi! Kaisar cepat memanggil pengawal,
mencabut pisau itu dan roboh pingsan.
Pisau belati itu tidak menembus jantung atau bagian lain yang penting, akan tetapi ternyata bahwa pisau itu
mengandung racun sehingga keadaan Kaisar cukup parah. Luka di dadanya itu membengkak dan para
tabib yang merawatnya merasa khawatir sekali. Kaisar sendiri yang sudah sadar sepenuhnya, maklum
akan keadaan dirinya, maka mulailah dia mencari-cari dan menanyakan Pangeran Mahkota Kian Liong.
Diam-diam Kaisar menyesali semua perbuatannya dan dia tahu benar bahwa mala petaka yang
menimpanya malam itu adalah karena perbuatannya sendiri. Dia telah lengah, tidak mengira bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
ternyata masih ada tersembunyi dendam yang demikian mendalam di balik senyum manis dan pelayanan
yang amat menyenangkan hatinya dari wanita bekas isteri sahabatnya itu.
Saat dia mendengar laporan bahwa sehari sebelumnya wanita itu menerima kunjungan seorang pemuda
yang mengaku sebagai anak selir itu, maklumlah Kaisar bahwa itulah pendorongnya mengapa selirnya
yang biasanya sangat mencintanya itu tega untuk mencoba membunuhnya. Dan sebagai seorang ahli silat,
dia pun yakin bahwa kalau selirnya itu tidak memejamkan mata, tentu tusukan itu akan menewaskannya,
dan dia tidak akan berhasil membunuh selirnya dengan sekali pukul saja.
Selagi para panglima, menteri dan hulubalang bingung karena tidak ada yang tahu di mana adanya Sang
Pangeran, datanglah utusan para patriot yang telah menawan Sang Pangeran! Kaisar Yung Ceng
menerima dan mendengarkan surat tuntutan itu dibacakan pembantunya kepadanya. Wajahnya berubah
merah, akan tetapi dia menarik napas panjang. Pada saat itu dia tidak dapat banyak bergerak serta tidak
bisa turun dari pembaringan, dia tidak dapat berbuat banyak.
“Kirim jawaban kepada mereka bahwa aku berjanji akan memenuhi semua tuntutan mereka itu, akan tetapi
minta agar Pangeran Kian Liong cepat dibebaskan dan diantar kembali ke istana, karena keadaanku,”
perintahnya kepada para petugas.
Tentu saja utusan para patriot itu girang bukan main, bukan hanya bahwa mereka tidak dihukum atau
dibunuh seperti yang sudah mereka khawatirkan, akan tetapi bahkan menerima janji dari Kaisar yang akan
memenuhi semua tuntutan itu. Juga mereka mendengar bahwa Kaisar telah diserang oleh selirnya sendiri
dan nyaris tewas! Maka, mereka cepat kembali ke Cin-an untuk membawa balasan dan janji Kaisar…..
********************
Entah siapa di antara mereka yang lebih terkejut dan heran ketika pihak tamu dan pihak tuan rumah itu
bertemu di ruangan tamu yang luas itu. Kao Cin Liong dan ayah bundanya sama sekali tidak mengira
bahwa yang menjadi pemimpin para pendekar patriot di Cin-an itu ternyata adalah Bu Seng Kin
sekeluarga, sebaliknya Bu-taihiap juga tidak menyangka bahwa tamu-tamunya yang datang adalah
Jenderal Kao Cin Liong dan Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya! Sejenak mereka hanya berdiri
bengong saling pandang, lupa untuk saling memberi hormat sebagaimana layaknya tamu dan tuan rumah!
Akhirnya, Bu-taihiap yang memang berwatak lincah dan gembira itu tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, memang tidak salah dikatakan orang bahwa dunia ini tidaklah sebesar yang disangka orang!
Tak kami sangka akan dapat berjumpa di tempat ini dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama
isteri dan puteranya yang gagah perkasa!”
Kecuali keluarga Bu yang sudah mengenal keluarga Kao ini, para pendekar patriot terkejut setengah mati
seperti mendengar suara guntur di hari terang ketika mereka mendengar bahwa tamu itu adalah Pendekar
Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya bagi mereka seperti nama tokoh dongeng saja dan yang
selamanya belum pernah mereka lihat orangnya. Kini semua mata ditujukan kepada pria setengah tua
berlengan satu itu bersama isteri dan puteranya, penuh kagum dan juga gentar karena mereka itu belum
tahu apa yang diinginkan oleh pendekar sakti sekeluarga ini dengan munculnya di tempat itu dalam
keadaan yang amat gawat, yaitu selagi Pangeran Mahkota menjadi tamu agung, juga tawanan mereka.
“Kami pun tidak mengira bahwa di sini akan dapat bertemu dengan Bu-taihiap yang ternyata kini
mengumpulkan banyak orang-orang gagah!” kata Kao Kok Cu sambil memberi hormat yang dibalas
dengan gembira oleh tuan rumah.
“Silakan duduk, silakan duduk dan selamat datang…!” Setelah mereka semua duduk, Bu-taihiap bertanya,
“Keperluan apakah kiranya yang dibawa oleh keluarga Kao yang mulia sehingga mau mendatangi tempat
ini?”
“Yang punya kepentingan adalah putera kami, maka biarlah dia yang menjelaskan,” kata pula pendekar itu
dengan suara tenang.
Cin Liong lalu berkata sambil memandang ke kanan kiri karena dia tidak melihat adanya Hong Bu dan Pek
In di situ.
“Bu-locianpwe,” katanya hormat. “Saya adalah utusan Kaisar yang sedang mencari seorang bernama Sim
Hong Bu, dan karena semalam saya melihat dia memasuki rumah ini, maka saya minta dengan hormat
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada Locianpwe untuk memberitahukan kepada saya di mana adanya dia. Kalau masih berada di sini,
hendaknya disuruh keluar menemui kami. Kalau sudah pergi, harap beri tahu ke mana perginya.”
Kembali Bu-taihiap tertawa bergelak. Di dalam hatinya, pendekar ini terkejut sekali melihat bahwa jenderal
muda ini mencari Sim Hong Bu, dan isterinya, Tang Cun Ciu, yang duduk pula di situ tentu saja mengerti
mengapa keluarga Kao mencari Hong Bu, akan tetapi dia diam saja hanya memandang tajam. Bu-taihiap
yang masih merasa penasaran karena lamarannya ditolak tempo hari, kini memperoleh kesempatan untuk
mengejek.
“Ahh, sampai hampir lupa aku bahwa aku berhadapan dengan seorang jenderal kaki tangan Kaisar Mancu,
juga aku lupa bahwa yang terhormat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir adalah ayah dari jenderal besar
antek Kaisar penjajah!”
Mendengar ejekan ini, Kao Kok Cu tersenyum saja dengan tenang. Namun isterinya, Wan Ceng, sudah
bangkit berdiri dengan muka merah. “Orang she Bu! Kenapa engkau menjadi tuan rumah yang begini kasar
dan kurang ajar? Kalau mau menghina orang dan membawa-bawa keluarga, apakah lupa bahwa engkau
yang pura-pura menjadi pimpinan pendekar patriot, akan tetapi di sini mempunyai seorang isteri yang
pernah menjadi Panglima Nepal? Bukankah itu berarti bahwa engkau telah berkhianat dan bersekongkol
dengan bangsa Nepal pula?”
Hebat sekali serangan kata-kata Wan Ceng ini. Wajah Bu Seng Kin menjadi merah sekali dan Nandini,
Puteri Nepal itu sudah bangkit berdiri dengan marah. “Sudah sepatutnya kalau pihak tamu yang bersopan
diri!” bentak wanita ini. “Tamu yang menyerang tuan rumah dengan kata-kata adalah tamu-tamu yang tak
tahu diri!” Akan tetapi suaminya sudah memberi isyarat agar ia duduk kembali, dan wanita Nepal itu duduk
dengan marah.
“Kao-taihiap datang bertiga dan agaknya sudah tahu bahwa kami di sini adalah pendekar-pendekar patriot
yang menentang Kaisar Mancu yang lalim. Karena Sam-wi (Kalian Bertiga) merupakan utusan Kaisar,
maka kami dapat saja nenganggap Sam-wi sebagai musuh-musuh kita, sebagai antek kaki tangan Kaisar.
Kalau kami mengerahkan teman-teman untuk mengeroyok Sam-wi, apakah kalian tidak akan celaka?”
“Boleh coba! Siapa takut keroyokan?” tantang Wan Ceng dengan marah sambil bertolak pinggang.
Suaminya lalu memegang tangannya dan dengan halus membujuknya untuk duduk kembali. Cin Liong
juga membujuk ibunya sehingga akhirnya nyonya yang keras hati ini mau duduk kembali dengan kedua
pipi merah dan mulut cemberut, sepasang matanya mencorong penuh kemarahan.
“Harap saja Bu-locianpwe tidak berkata seperti itu. Kalau memang saya bermaksud buruk terhadap Bulocianpwe
dan semua teman, apa sukarnya bagi saya untuk datang bersama pasukan besar untuk
menumpas kalian?”
“Seperti yang telah dilakukan terhadap Siauw-lim-si?” Bu-taihiap mengejek. “Lihat, di antara ratusan orang
murid Siauw-lim-pai, hanya delapan saudara inilah yang dapat lolos,” katanya sambil menunjuk kepada
delapan orang laki-laki gagah perkasa yang berdiri di sudut ruangan itu dengan sikap kereng.
Cin Liong memandang kepada mereka dan berkata, “Saya tidak tahu-menahu akan hal itu dan merasa ikut
menyesal dengan terjadinya hal itu. Akan tetapi, kedatangan kami tanpa pasukan hanya untuk
menunjukkan bahwa kami tidak bermaksud buruk terhadap Locianpwe dan teman-teman.”
“Ha-ha-ha, boleh saja kalau Kao-goanswe (Jenderal Kao) hendak membawa pasukan besar. Hendak
kulihat apa yang dapat mereka lakukan kalau kuberi tahu bahwa Pangeran Kian Liong telah berada dalam
tahanan kami!”
Bukan main kagetnya Kao Cin Liong dan ayah bundanya mendengar ini. Mereka merasa terkejut dan juga
khawatir. Dan Cin Liong menghadapi dua hal yang amat penting, yaitu soal merampas kembali pedang
Koai-liong Po-kiam dan menyelamatkan Pangeran Mahkota. Tentu saja menyelamatkan Pangeran lebih
penting. Hal ini juga diketahui oleh Kao Kok Cu. Maka pendekar ini lalu berkata dengan suaranya yang
tenang sekali.
“Bu-taihiap, urusan putera kami berkenaan dengan perintah Kaisar memang adalah urusannya sendiri,
akan tetapi kalau sudah menyangkut diri Pangeran Mahkota, mau tidak mau aku pun terpaksa harus
melibatkan diri. Siapa pun orangnya yang hendak mengganggu pribadi Pangeran Kian Liong, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
kuhadapi sebagai lawan! Nah, kami bertiga sudah berada di sini, dan kami bertiga siap mempertaruhkan
nyawa kami demi melindungi keselamatan Sang Pangeran! Kalau kalian semua yang mengaku orangorang
gagah dan pendekar-pendekar hendak mengganggu Pangeran yang tidak punya sangkut-pautnya
dengan kelaliman Kaisar, maka kalian adalah orang-orang licik dan curang. Maka, kami bertiga menantang
untuk mengadu ilmu, guna memperebutkan Pangeran!”
Bu-taihiap menjadi marah mendengar ini. Memang dia pun ingin membalas penghinaan tempo hari karena
lamarannya ditolak. Akan tetapi, sebagai seorang pendekar besar dia pun tidak sudi untuk melakukan
pengeroyokan. Nandini, Puteri Nepal yang merasa sakit hati karena penolakan lamaran tempo hari, kini
mendengar pula penghinaan yang ditujukan kepada dirinya, sudah tidak dapat menahan kemarahannya
lagi. Dalam hal kekerasan hati, wanita ini tidak kalah oleh Wan Ceng, maka ia pun sudah bangkit berdiri
lagi.
“Bagus! Ada tamu menantang tuan rumah, sungguh merupakan kekurang ajaran yang memuncak. Akulah
yang akan maju lebih dulu melawan keluarga Kao yang sombong dan tinggi hati!” Berkata demikian, wanita
Nepal ini telah mencabut pedang dan berdiri tegak, sinar matanya tertuju kepada Wan Ceng maka jelaslah
oleh siapa pun juga bahwa wanita ini menantang isteri Naga Sakti Gurun Pasir!
Tentu saja Wan Ceng merasa bahwa dirinya ditantang, maka ia pun meloncat bangun dan membentak,
“Siapa sih takut melawan perempuan Nepal, panglima yang sudah jatuh dan kini menjadi selir orang?”
Semua orang yang berada di situ maklum bahwa pertempuran tidak mungkin dapat dihindarkan lagi, maka
mereka mundur sambil menarik bangku masing-masing, memberi tempat yang luas bagi mereka yang
hendak berlaga. Kao Kok Cu dan Bu Seng Kin tidak dapat melarang isteri masing-masing. Pula, mereka
yang akan berlaga adalah wanita lawan wanita dan masing-masing percaya akan kelihaian isteri mereka,
dan perkelahian dilakukan dengan satu lawan satu, maka sebagai orang-orang gagah mereka merasa
malu untuk melarang.
Wan Ceng tersenyum dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat, mulutnya tersenyum mengejek
ketika ia pun mencabut pedangnya yang begitu dicabut, membuat semua orang merasa seram. Pedang itu
adalah pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) yang hawanya saja sudah terasa oleh semua
orang, hawa yang mengerikan.
“Hemm, engkau menantang sambil mencabut pedang, berarti engkau sudah bosan hidup!” kata Wan Ceng
sambil melintangkan pedang di depan dada. “Mulailah!”
“Isteriku, jangan sampai membunuh orang!” tiba-tiba terdengar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir berkata
dengan halus kepada isterinya.
Wan Ceng menoleh pada suaminya, melihat sepasang mata suaminya memandangnya penuh teguran. Ia
pun tersenyum, mengangguk dan menoleh lagi kepada Nandini sambil berkata, “Untung bagimu, suamiku
melarangku membunuhmu.”
Ucapan terakhir merupakan kata-kata yang oleh Nandini diterima sebagai kesombongan yang melampaui
batas dan amat menghina. Ia adalah seorang bekas panglima yang tentu saja menganggap kematian
dalam pertempuran sebagai hal yang sudah wajar dan tidak perlu ditakuti, akan tetapi calon lawannya
begitu memandang ringan kepadanya, seolah sudah memastikan bahwa ia akan kalah!
“Tak perlu banyak cerewet, bersiaplah untuk mampus!” pedangnya menyambar ganas dan wanita Nepal ini
sudah menerjang dengan dahsyat. Wanita ini jauh lebih tinggi dari pada Wan Ceng dan memiliki tenaga
besar, dan karena hatinya marah sekali, maka begitu menerjang ia telah melakukan serangkaian serangan
yang bertubi-tubi.
Wan Ceng memutar Ban-tok-kiam dan menangkis atau mengelak dari semua serangan itu, diam-diam
memperhatikan gaya ilmu pedang lawan yang ternyata tidaklah lemah. Dan memang Nandini selama ini
memperoleh petunjuk dari suaminya sehingga ilmu pedangnya memperoleh kemajuan pesat. Betapa pun
juga, yang dilawannya adalah Wan Ceng, seorang wanita yang selain memiliki tenaga sinkang yang hebat
berkat anak ular naga yang pernah dimakannya, juga ia mempelajari banyak macam ilmu dan akhirnya
menerima petunjuk dari suaminya yang sakti. (baca cerita Sepasang Rajawali)
Maka, menghadapi Wan Ceng, Nandini masih kalah setingkat, lebih dari itu, pedang di tangan Wan Ceng
adalah pedang Ban-tok-kiam yang menggiriskan. Baru hawa pedang saja saat menyambar mendatangkan
dunia-kangouw.blogspot.com
rasa dingin dan perih, dan kalau sampai mengenai kulit lawan, amatlah berbahaya karena tanpa adanya
obat penawar dari Wan Ceng, nyawa lawan sukar tertolong lagi! Agaknya Nandini mengenal pedang
ampuh dan berbahaya, maka ia pun memutar pedangnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya agar
jangan sampai terluka pedang lawan.
Kao Kok Cu yang melihat betapa isterinya masih lebih tinggi ilmunya, merasa khawatir kalau-kalau pihak
lawan akan terluka oleh Ban-tok-kiam, maka dia meneriaki isterinya, “Isteriku, jangan menggunakan Bantok-
kiam!”
Mendengar kata-kata ini, Wan Ceng tertawa lalu menyimpan kembali pedangnya. Melihat ini, Nandini juga
menghentikan serangan pedangnya. Ia tidak mau menyerang lawan yang sudah menyimpan senjatanya.
Hal ini saja sudah membuat berkurang kebencian dari hati Wan Ceng. Kiranya wanita Nepal ini memiliki
watak yang gagah pula, pikirnya kagum.
Ia tadi mentaati suaminya bukan karena ia takut kepada suaminya. Sama sekali tidak, bahkan terlalu sering
ia membantah sampai membuat suaminya kadang-kadang pusing. Akan tetapi ia kini menurut karena
dengan perbuatan itu seolah-olah ia telah menang angin dan ‘mengampuni’ lawan. Kini ia tersenyum dan
mengeluarkan dua buah pisau belati dari pinggangnya. Inilah sepasang senjatanya yang amat diandalkan
ketika ia masih gadis dahulu. Sepasang belati ini sama sekali tidak beracun, dan memang inilah yang
dikehendaki oleh suaminya.
Kalau hanya menghadapi Nandini dengan kedua tangan kosong, amatlah berbahaya bagi Wan Ceng, akan
tetapi dengan senjata sepasang belati ini, Kao Kok Cu dapat menilai bahwa isterinya tidak akan kalah, dan
kalau sampai isterinya melukai lawan sekali pun, maka luka dengan belati jauh lebih ringan kalau
dibandingkan dengan luka karena Ban-tok-kiam.
Melihat Wan Ceng telah memegang sepasang pisau belati, Nandini mengeluarkan teriakan nyaring dan
sudah menyerang lebih ganas dari pada tadi. Wanita ini semakin penasaran dan marah karena pergantian
senjata dari lawan itu jelas merupakan penghinaan dan pandangan yang merendahkan dirinya.
Sementara itu, diam-diam Bu-taihiap mengeluh oleh karena dia tahu bahwa isterinya ini masih kalah
dibandingkan dengan nyonya pendekar Gurun Pasir itu. Akan tetapi dia pun merasa kagum dan lega
bahwa Naga Sakti Gurun Pasir itu menyuruh isterinya berganti senjata. Dia mengenali pedang yang amat
menggiriskan itu dan tadi diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan isterinya.
Betapa pun juga, dia merasa menyesal akan watak keras Nandini yang telah berani maju, tidak
memperhitungkan kepandaian sendiri. Memang, isterinya itu telah memiliki kepandaian yang cukup hebat
dan di atas kepandaian kebanyakan orang, namun dibandingkan dengan dua isterinya yang lain, yaitu Gu
Cui Bi dan Tang Cun Ciu, Nandini masih kalah jauh. Andai kata yang maju tadi Gu Cui Bi agaknya baru
ramai melawan nyonya galak itu, dan kalau Tang Cun Ciu yang maju, dia yakin pihaknya akan menang.
Akan tetapi dia pun tahu bahwa tentu saja Nandini yang maju karena isterinya itu tentu saja merasa sakit
hatinya oleh penolakan ikatan jodoh antara puterinya dan putera keluarga Kao, maka tadi pun dia tidak
melarang.
Kekhawatiran pendekar ini memang terbukti. Meski kini ia telah berganti senjata dengan sepasang belati,
namun ternyata memang tingkat kepandaian Wan Ceng masih menang dibandingkan dengan lawannya,
maka setelah lima puluh jurus, Wan Ceng ‘mengunci’ pedang lawan dengan putaran pisau belatinya yang
kiri, dan cepat sekali pisau belatinya yang kanan bergerak ke depan. Mestinya pisau belati itu menusuk
lambung, akan tetapi sengaja ia menurunkan sasarannya sehingga pisau belatinya menusuk dan merobek
paha kiri lawan.
Nandini mengeluarkan teriakan kaget dan meloncat ke belakang, terhuyung karena pahanya terobek dan
berdarah cukup banyak. Melihat ini, Siok Lan berteriak marah dan meloncat ke depan untuk menyerang
Wan Ceng, akan tetapi Bu-taihiap membentak.
“Siok Lan, mundur kau!”
Gadis itu memandang marah, akan tetapi tidak melanjutkan serangannya lalu memapah ibunya dan
merawat luka di paha dengan obat dan membalutnya.
Gu Cui Bi, isteri Bu-taihiap yang lain, tetap duduk diam saja tidak mau mencampuri urusan itu. Keluarga
Kao ribut dengan suaminya dan Nandini, ia tahu karena lamaran ditolak dan hal ini tidak ada sangkutdunia-
kangouw.blogspot.com
pautnya dengan dirinya. Bahkan adanya Siok Lan sebagai puteri suaminya dan Nandini itu kadang-kadang
mendatangkan rasa iri dalam hatinya. Maka kali ini ia pun diam saja.
Berbeda dengan Tang Cun Ciu. Mendengar bahwa keluarga itu datang untuk mengejar Sim Hong Bu juga
dan tentu saja untuk merampas kembali Koai-liong Po-kiam, sebagai pencuri pedang itu dari istana dia
merasa ikut bertanggung jawab. Melihat kekalahan Nandini dan melihat ilmu silat isteri Pendekar Naga
Sakti Gurun Pasir itu, ia merasa sanggup untuk menandinginya, maka dengan sekali meloncat ia telah
berada di tengah ruangan itu menghadapi Wan Ceng.
“Biarlah aku yang melawan pengacau!” teriaknya.
Wan Ceng mengenal wanita ini, maka ia tersenyum mengejek. “Tidak usah isteri orang she Bu maju satu
demi satu, biarlah maju semua sekaligus, biar ada seratus orang sekali pun, siapa takut?”
Tentu saja ejekan ini amat menyakitkan, tetapi Bu-taihiap yang memang merupakan seorang pria yang
paling tebal muka terhadap urusan wanita, tertawa, “Wah, kalau ada seratus, betapa senangnya, akan
tetapi aku tentu repot sekali! Ha-ha-ha!”
Diam-diam Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir mengerutkan alis, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa,
hanya hatinya yang berbisik betapa pria itu benar-benar merupakan seorang perayu wanita, seorang
bandot yang luar biasa akan tetapi juga jujur!
“Ibu, harap suka mundur, biarkan aku menghadapi nyonya ini!” tiba-tiba Cin Liong sudah meloncat maju ke
dekat ibunya.
Wan Ceng sebenarnya tidak takut menghadapi Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, hanya ia agak lelah
menghadapi Nandini yang cukup tangguh tadi, maka ia mengangguk lalu mundur, duduk di dekat
suaminya.
Sejenak mereka saling berhadapan dan saling berpandangan. Keduanya sama-sama maklum bahwa
lawan yang dihadapi amatlah tangguhnya. Cin Liong sudah tahu bahwa wanita yang bernama Tang Cun
Ciu ini berjuluk Cui-beng Sian-li (Dewi Pengejar Arwah), seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi sekali, seorang tokoh dari keluarga Lembah Suling Emas yang terkenal lihai itu. Bahkan wanita inilah
yang telah mencuri pedang pusaka Koai-liong-pokiam dari gudang istana!
Sementara itu, Tang Cun Ciu juga tidak berani memandang rendah lawannya. Biar pun pemuda ini masih
muda, akan tetapi pemuda ini adalah putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan sedemikian mudanya telah
diangkat menjadi jenderal yang berarti bahwa tentu dia memiliki ilmu kepandaian yang hebat.
Dengan gerakan halus Tang Cun Ciu mencabut sebatang pedang dari punggungnya. Wanita ini memiliki
banyak macam ilmu silat, akan tetapi kelihaiannya memang dalam bersilat pedang, dan untuk ilmu ini ia
pernah menerima ilmu dari mendiang suaminya, yaitu Cu San Bu, yaitu yang disebut Pat-hong Sin-kiam
(Pedang Sakti Delapan Penjuru Angin). Ilmu ini telah dipecah menjadi dua, yaitu ilmu silat tangan kosong
dan ilmu silat pedang. Dan gerakan ilmu pedangnya juga berdasar dari ilmu keluarga Cu yang amat
tangguh.
“Jenderal Muda, keluarkanlah senjatamu!” tantangnya dengan suara lantang namun sikapnya tenang
seolah-olah wanita setengah tua yang masih cantik ini sudah yakin akan kemenangannya.
Cin Liong sebetulnya lebih suka menghadapi lawan dengan mengandalkan kaki tangan saja, akan tetapi
dia menghadapi isteri seorang locianpwe, maka dia tak ingin dianggap memandang rendah kalau
bertangan kosong saja. Maka dia pun mencabut sebatang pedang, yaitu pedang pemberian Kaisar sendiri
sebagai tanda pangkatnya. Karena dia sedang menjalankan tugas sebagai utusan Kaisar, maka biar pun
dia mengenakan pakaian biasa, namun pedang pangkatnya itu tidak pernah ditinggalkannya.
Melihat Cin Liong sudah mencabut senjatanya pula, Tang Cun Ciu lalu membentak, “Lihat senjata!” Dan
pedangnya yang sudah berkelebat, berubah menjadi sinar yang amat menyilaukan mata karena cepatnya.
“Tranggg....!”
Cin Liong sengaja menangkis karena dia hendak menguji sampai di mana kuatnya tenaga lawan. Kedua
pihak merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang itu tergetar hebat, tanda bahwa pertemuan
dunia-kangouw.blogspot.com
kedua pedang itu amatlah kuatnya, dan tahulah mereka bahwa pihak lawan memang memiliki sinkang
yang kuat. Mereka sejenak memandang ke arah pedang masing-masing dan merasa lega bahwa pedang
mereka tidak rusak oleh pertemuan yang amat keras tadi. Tang Cun Ciu sudah menyerang lagi, lebih hebat
dari pada tadi, dan kini ia tidak mengandalkan tenaga, tetapi kecepatannya. Bentuk pedang itu lenyap,
berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menghujankan serangan dari berbagai jurusan ke arah Cin
Liong.
Pemuda ini sebaliknya bergerak dengan amat cepatnya, namun gerakannya mantap dan setiap serangan
lawan dapat dihalaunya dengan tepat, baik dengan tangkisan mau pun dengan pengelakan. Dan walau
pun setiap tiga kali serangan lawan baru dapat dibalasnya dengan satu kali saja serangan, akan tetapi
serangannya amat kuat dan berbahaya sehingga setiap kali dibalas, nyonya itu terpaksa menarik gulungan
sinar pedangnya untuk membentuk benteng kuat dan biar pun demikian tetap saja ia harus melangkah dua
tiga tindak ke belakang.
Semua orang yang hadir memandang dengan mata penuh ketegangan, dan para pendekar patriot
memandang dengan mata hampir tak pernah berkedip. Para murid Siauw-lim-pai yang berada di situ
adalah ahli-ahli silat yang lihai, tetapi menyaksikan perkelahian antara Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu
melawan jenderal muda itu mereka merasa kagum dan takjub bukan main. Barulah mereka tahu bahwa
tingkat kepandaian mereka sungguh masih jauh dibandingkan dengan dua orang yang sedang bertanding
ini. Mereka mengagumi isteri dari pimpinan mereka, akan tetapi mereka pun tercengang menyaksikan
gerakan Cin Liong.
Hanya pandang mata Bu-taihiap dan Kao Kok Cu saja yang dapat menilai dan tahu apa yang terjadi dalam
perkelahian yang nampaknya seolah-olah nyonya itu di pihak yang lebih kuat karena lebih banyak
menyerang. Tapi mereka berdua ini tahu benar bahwa sesungguhnya nyonya itu kewalahan menghadapi
Cin Liong! Dalam mengadu tenaga, jelas kalah kuat, dan mengandalkan ginkang atau keringanan tubuh
untuk bergerak cepatnya tidak menolong karena pemuda itu pun ternyata memiliki ginkang yang tidak
kalah hebatnya. Biar pun ilmu pedang nyonya itu istimewa dan merupakan ilmu pedang pilihan, namun
sebaliknya pemuda itu juga telah memiliki ilmu pedang yang luar biasa sekali.
Perkelahian ini jauh lebih menegangkan dari pada perkelahian pertama antara Nandini dan Wan Ceng.
Para penonton saja merasakan getaran-getaran dari gerakan mereka yang amat kuat, dan angin
menyambar-nyambar ke segala penjuru. Kadang-kadang, mereka yang kurang tinggi tingkat
kepandaiannya tidak mampu lagi mengikuti gerakan kedua orang ini yang lenyap terbungkus gulungan
sinar pedang mereka. Bagi mereka ini, yang nampak hanya kaki dan tangan kedua orang itu saja yang
kadang-kadang lenyap di antara gulungan sinar pedang, kadang-kadang nampak bergerak ke sana-sini,
bahkan tangan dan kaki itu bukan hanya dua pasang, melainkan banyak sekali saking cepatnya kaki dan
tangan itu bergerak!
Akan tetapi Bu-taihiap mengerutkan alisnya. Isterinya itu, betapa pun lihainya, agaknya tidak akan mampu
menanggulangi pemuda yang amat lihai itu. Diam-diam dia menarik napas panjang. Tingkat kepandaian
isterinya sudah tinggi sekali, dia sendiri pun hanya menang tidak banyak dibandingkan dengan isterinya itu.
Kalau sekarang isterinya kalah oleh pemuda ini, maka tinggal dia seoranglah. Mungkin dia akan dapat
menandingi pemuda itu, akan tetapi mampukah dia menandingi Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir? Diamdiam
dia bergidik. Baru puteranya saja sudah memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya, apalagi
pendekar sakti itu sendiri!
Hal ini bukan timbul karena dia merasa takut atau gentar, sama sekali tidak. Melainkan dia khawatir kalaukalau
memang keluarga pendekar Kao ini hendak menggunakan kekerasan untuk merampas Sang
Pangeran, dia pun terpaksa akan menggunakan kekerasan mengancam Pangeran untuk sandera. Ini
bukan urusan pribadi, melainkan urusan perjuangan, dan untuk perjuangan, maka segala kehormatan
pribadi boleh ditinggalkan lebih dahulu! Untuk perjuangan, demi kemenangan perjuangan, tidak ada yang
dinamakan curang. Segala jalan demi kemenangan perjuangan adalah benar, demikianlah pendapat para
cendekiawan di jaman dahulu!
Kita tidak dapat menyalahkan jalan pikiran pendekar Bu Seng Kin ini. Sebab memang kenyataannya pun
demikianlah.
Sejak jaman dahulu, kekuasaan membuat manusia mampu melakukan segala macam kekejian dan
kelicikan. Sejak jaman dulu, ada saja sekelompok orang yang memegang kekuasaan atas orang
terbanyak, disebut penguasa, pemimpin, atau pemerintah, yang dengan segala daya upaya hendak
mempertahankan kekuasaannya, bahkan hendak memperkuat dan memperbesar kekuasaannya. Untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
mempengaruhi orang terbanyak, untuk dapat mempergunakan tenaga mereka semua itu, muncullah
slogan-slogan dan anjuran-anjuran yang muluk-muluk. Tentang kepahlawanan, tentang sucinya
perjuangan dan banyak lagi pujuan-pujian bagi mereka yang mau berjuang alias menghadapi musuh
dengan taruhan nyawa, tentu saja didengungkan bahwa taruhan nyawa itu adalah untuk tanah air, untuk
bangsa, dan sebagainya lagi. Bahwa apa pun yang dilakukan manusia demi kemenangan perjuangan
adalah suci dan agung!
Betapa anehnya, betapa munafiknya dan betapa kejamnya. Di dalam perang, yang diperhalus dengan
sebutan perjuangan dan sebagainya, yang pada hakekatnya hanyalah kebencian yang memuncak dan
bunuh membunuh antara manusia, timbullah kejanggalan-kejanggalan yang mengerikan. Segala macam
perbuatan manusia yang dalam keadaan wajar dianggap sebagai perbuatan jahat dan haram, di dalam
perjuangan itu pun dihalalkan.
Membunuh seorang manusia saja dalam keadaan atau waktu yang wajar akan dianggap kejahatan yang
amat besar dan si pembunuh akan dituntut, dihukum seberat-beratnya. Namun, di dalam perjuangan atau
perang, membunuh sebanyak-banyaknya manusia, yang kebetulan berada di pihak musuh, dianggap
sebagai perbuatan yang mulia, gagah berani, dan si pembunuh akan dipuji-puji, bahkan diberi hadiahhadiah
dan dinamakan pahlawan, menerima bintang dan sebagainya lagi. Demikian pula, segala macam
perbuatan yang biasanya dianggap jahat dan haram dan si pelakunya dihukum, dalam masa perang yang
dinamakan perjuangan itu si pelakunya dianggap baik, halal, berjasa dan diberi hadiah dan pujian. Di sini
berlaku istilah tujuan menghalalkan segala cara!
Apakah benar bahwa suatu tujuan, apa pun juga itu namanya, yang dijangkau dengan jalan kekerasan,
kekejaman, pembunuhan, kepalsuan seperti itu, adalah tujuan yang suci murni? Dapatkah tujuan terlepas
dari sifat pelaksanaan atau caranya mencapai tujuan itu? Bukankah di dalam tujuan itu terkandung si cara,
sebaliknya di dalam cara itu terkandung pula si tujuan? Benarkah bahwa jalan penipuan, kebencian,
pembunuhan, kekerasan dan kepalsuan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang luhur dan suci?
Pertanyaan-pertanyaan ini amatlah penting bagi kita semua dan kiranya perlu kita selidiki bersama dengan
membuka mata, membuang semua teori-teori lapuk karena teori-teori itu hanya kita pergunakan untuk
mengecat dan memperhalus kesemuanya itu belaka, untuk kita gunakan sebagai bahan-bahan pembelaan
diri untuk membenarkan segala cara yang jelas kotor dan keji itu. Kalau sudah begitu, barulah kita dapat
memandang dengan sempurna, melihat keadaannya seperti apa adanya, dan dapat menyelidik sampai
sedalam-dalamnya tanpa terpengaruh oleh segala macam pendapat-pendapat yang pada hakekatnya
hanyalah untuk membenarkan diri sendiri belaka.
Kekhawatiran Bu-taihiap memang terbukti. Setelah perkelahian itu lewat kurang lebih seratus jurus,
mendadak Tang Cun Ciu mengeluarkan pekik melengking yang sangat mengejutkan semua orang. Pekik
ini bukan seperti suara manusia, tetapi seperti suara suling ditiup dengan nada tinggi sekali! Melengking
nyaring dan langsung menyerang jantung lawan melalui pendengarannya!
Mendengar ini, Cin Liong terkejut sekali dan cepat dia pun mengerahkan sinkang-nya untuk melawan dan
menahan serangan melalui khikang istimewa ini. Dan memang itu adalah inti dari ilmu para penghuni
Lembah Suling Emas, yaitu khikang yang dapat dikerahkan melalui suara dan suara itu sendiri dapat
menyerang lawan yang dihadapinya. Lawan yang kurang kuat, baru mendengar suara ini saja sudah
tergetar jantungnya dan dapat membuat menjadi lumpuh atau gugup, atau setidaknya menjadi kacau.
Kekuatan suara seperti ini dimiliki pula oleh binatang-binatang buas seperti harimau, singa dan lain-lain,
yang dengan suaranya saja sudah mampu membuat calon korban menjadi lumpuh!
Dan menyusul serangan suaranya itu, secepat kilat, Tang Cun Ciu menyambitkan pedangnya yang
meluncur seperti anak panah ke arah tubuh lawan, sedangkan kedua tangannya sendiri lalu bergerak
mendorong ke depan dalam penyerangan yang lebih hebat pula! Bukan main memang serangan wanita
perkasa yang berjuluk Dewi Pengejar Arwah ini. Sekaligus ia telah melancarkan tiga macam serangan
yang amat hebat! Hal ini membuktikan bahwa wanita ini pun telah melihat kenyataan bahwa ia takkan
menang melawan pemuda tangguh ini, maka ia telah mengeluarkan ‘simpanan’ terakhir, yaitu dengan
penyerangan maut yang luar biasa ini!
Cin Liong juga maklum bahwa lawannya telah menjadi nekad dan bahwa lawannya hendak mengadu
nyawa. Maka dia pun cepat beraksi, melepaskan pedang dari tangan kanan dengan melontarkannya ke
depan, menyambut pedang lawan yang meluncur ke arah lehernya itu, dan dia pun menggerakkan kedua
lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut lawan dengan jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciangdunia-
kangouw.blogspot.com
hoat, yaitu ilmu simpanan dari ayahnya yang membuat nama ayahnya terkenal sebagai Naga Sakti Gurun
Pasir.
“Cringgg.... desss....!”
Dua batang pedang itu bertemu di udara dan keduanya meluncur ke bawah menancap di atas tanah
sampai separuhnya lebih! Pada saat kedua pasang tangan itu bertemu, tubuh Tang Cun Ciu terhuyung ke
belakang dan hampir saja jatuh kalau ia tidak cepat-cepat berjungkir balik membuat pok-sai (salto) sampai
tiga kali, sedangkan tubuh Cin Liong hanya terdorong mundur dua langkah saja.
Marahlah Tang Cun Ciu, karena benturan terakhir itu sudah membuktikan bahwa ia telah kalah. Wanita ini
memang memiliki kekerasan hati yang istimewa, dan keberanian yang luar biasa sekali sehingga tidak
heran kalau ialah yang telah menggegerkan kota raja dan dunia kang-ouw dengan mencuri pedang pusaka
dari istana! Biar pun ia tahu bahwa pemuda itu terlampau kuat baginya, namun begitu ia sudah turun ke
atas tanah, langsung saja tubuhnya meluncur lagi ke depan dengan loncatan seperti terbang cepatnya, dan
kakinya telah melakukan tendangan terbang dan bertubi-tubi tiga kali, pertama tendangan ke arah kepala,
ke dua ke arah ulu hati dan ke tiga ke arah pusar!
Cin Liong memandang kagum. Wanita ini benar-benar tangguh sekali. Cepat-cepat dia berloncatan
mengelak dan setelah menghindarkan diri dari tiga tendangan itu, Cin Liong lalu membalas serangan
dengan mengeluarkan jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat! Dan mulailah Cun Ciu terdesak terus, main mundur
dan tidak tahan menghadapi serangan-serangan yang aneh ini, yang dilakukan dengan tubuh lurus,
kadang-kadang bahkan hampir mendekam ke atas tanah.
Setelah mencoba untuk menghindarkan diri sampai belasan jurus, akhirnya sebuah tendangan dari kaki kiri
Cin Liong tepat mengenai pinggir lututnya dan nyonya itu pun terpelanting roboh! Ia mencoba untuk
meloncat bangun, akan tetapi roboh lagi karena lututnya terasa nyeri dan ternyata tulang lututnya telah
terlepas sambungannya!
Bu Seng Kin cepat meloncat mendekati isterinya, dan dengan beberapa kali mengurut lutut itu maka
tulangnya dapat tersambung kembali dan dengan berloncatan di atas sebelah kakinya, Tang Cun Ciu
terpaksa mundur setelah mencabut pedangnya dari dalam tanah, duduk kembali dengan muka marah dan
mulut cemberut. Ia tidak pedulikan Cin Liong yang sudah menjura kepadanya sambil berkata,
“Harap maafkan saya....”
Akan tetapi sikap pemuda ini sungguh membuat Bu-taihiap merasa kagum bukan main dan dia pun
menarik napas panjang penuh penyesalan. Sayang, sungguh sayang sekali bahwa pemuda seperti ini tidak
bisa menjadi mantunya. Betapa akan bangga hatinya mempunyai seorang mantu seperti pemuda ini yang
selain pandai sehingga semuda itu sudah menjadi jenderal kepercayaan Kaisar, juga amat gagah dan
rendah hati. Seorang pendekar komplit!
“Kedua orang isteriku yang bodoh telah kalah, maka sekarang biarlah aku si tua bangka yang tidak tahu diri
ini mohon pelajaran dari keluarga Kao!” Dia sengaja menyebut keluarga Kao, oleh karena untuk
menantang Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir secara langsung dia masih merasa segan!
Cin Liong yang masih berdiri di tengah ruangan itu dan kini melihat pendekar Bu sudah berdiri di depannya,
kemudian menjura dengan hormat. “Bu-locianpwe, sesungguhnya kedatangan kami di sini sama sekali
tidak mempunyai niat untuk bertanding dengan siapa pun juga, apalagi bermusuhan dengan para pendekar
yang kami hormati. Akan tetapi, sebagai seorang utusan Kaisar tentu saja saya harus melaksanakan tugas,
dan setelah mendengar bahwa Sang Pangeran berada di sini, sudah menjadi tugas saya untuk
membebaskannya. Dan untuk itu, kami tidak segan-segan untuk mengorbankan nyawa. Hal ini tentu saja
dapat dimaklumi oleh Locianpwe, dan saya harap saja Locianpwe tidak akan memejamkan mata melihat
kenyataan bahwa segala yang dilakukan Kaisar sama sekali tidak dapat ditimpakan kesalahannya kepada
Pangeran. Maka sekali lagi, saya harap Locianpwe suka mempertimbangkan dan menghabiskan segala
macam perkelahian yang tiada gunanya sampai di sini saja dan membiarkan kami untuk mengawal Sang
Pangeran pulang ke kota raja.”
Ucapan itu sungguh penuh kegagahan dan juga tidak dapat dibantah kebenarannya. Semua pendekar
yang berada di situ juga diam-diam merasa malu dan menganggukkan kepala mereka. Akan tetapi, di balik
kebenaran yang nyata ini ada kebenaran lain, yaitu kebenaran yang teramat khas dan mutlak bagi mereka,
kebenaran perjuangan! Demi perjuangan, maka kebenaran yang lain boleh disingkirkan dahulu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kao-goanswe, bukan kami tidak meihat kenyataan itu, tetapi kami juga mengharapkan pengertian dari
keluarga Kao yang terhormat bahwa kami memperjuangkan tuntutan rakyat. Kami sendiri menghormati dan
mengagumi Pangeran, bahkan juga menyayangi beliau sebagai seorang pangeran yang bijaksana dan
baik. Akan tetapi kami tak melihat cara lain untuk memaksakan tuntutan kami agar dipenuhi oleh Kaisar
kecuali melalui penahanan diri Pangeran. Oleh karena itu, kami pun rela untuk mengorbankan nyawa demi
perjuangan. Kami, biar pun bodoh, tidak dapat membenarkan sikap keluarga Kao yang kami hormati
sebagai keluarga gagah perkasa itu, ialah untuk menjadi anjing penjilat Kaisar!”
“Bu-locianpwe!” Kao Cin Liong memandang dengan mata terbelalak marah mendengar makian itu.
“Cin Liong, mundurlah dan biarkan aku menghadapi Bu-taihiap, biar tua sama tua!”
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, cepat bukan main dan tahu-tahu pria setengah tua berlengan
buntung sebelah itu telah berdiri di dekat puteranya! Cin Liong menjura kepada Bu Seng Kin, dan tanpa
berkata apa-apa lagi dia pun mundur dan duduk di dekat ibunya.
Kini puncak pertemuan itu pun terjadilah dan semua orang merasakan ketegangan ini, tahu pula bahwa kini
berdiri dua orang setengah tua yang sama-sama sakti dan memiliki nama yang amat terkenal di dunia
kang-ouw, walau pun keduanya jarang terjun ke dalam urusan dunia. Mereka itu sama-sama tenang dan
berhadapan, saling pandang sambil tersenyum simpul, seolah-olah dua orang itu adalah sahabat-sahabat
lama saling jumpa dan berhadapan, sama sekali tidak nampak kemarahan membayang di wajah mereka,
sama sekali bukan seperti dua orang calon lawan yang saling berhadapan!
Hanya pada wajah kedua orang pria gagah inilah nampak perbedaannya. Kalau wajah Bu-taihiap selalu
tersenyum ramah, wajah seorang pria tampan yang menarik hati, sebaliknya pada wajah Pendekar Naga
Sakti Gurun Pasir itu, biar pun juga tampan dan terang, namun wajah ini nampak amat berwibawa,
terutama sekali sepasang matanya yang mencorong seperti mata naga itu! Wajah Si Lengan Buntung ini
mendatangkan rasa segan dan jeri bagi mereka yang berhadapan dengannya dan yang mempunyai niat
buruk. Pada saat itu, Kao Kok Cu memandang wajah lawan dengan penuh perhatian dan terdengar
suaranya yang tenang dan tegas.
“Bu-taihiap, sayang sekali bahwa seorang pendekar seperti engkau masih mampu mengeluarkan kata-kata
seperti itu. Perlu diketahui bahwa kami keluarga Kao, sejak dahulu, di jaman sebelum Pemerintah Ceng
berdiri, nenek moyang kami telah hidup sebagai panglima-panglima perang. Jika sekarang puteraku
sebagai keturunan mereka, menjadi seorang Panglima pula, hal itu sama sekali bukan berarti bahwa
keluarga Kao adalah anjing-anjing penjilat Kaisar! Keluarga kami belum pernah ada yang menjadi
pemberontak!”
Bu-taihiap memperlebar senyumnya, akan tetapi senyumnya ini mengandung ejekan. “Memang kami
adalah pemberontak! Akan tetapi pemberontak terhadap kaisar lalim, terhadap kaisar penjajah! Kami
memberontak karena itu merupakan perjuangan yang agung dan suci!”
“Dan dengan beberapa gelintir orang ini, kalian bermaksud untuk mengalahkan sebuah kerajaan?”
“Memang tidak mungkin, akan tetapi setidaknya kami dapat mengganggu pemerintah Kaisar lalim,
mengacaukan di sana-sini, menawan Pangeran untuk memaksa Kaisar memperlakukan kami dengan
baik!”
“Dan akibatnya Kaisar lalu membalas dendam kepada rakyat yang dianggap pengikut-pengikut kalian?
Itukah hasilnya? Seperti yang baru-baru ini dilakukan Kaisar membakar biara Siauw-lim-si? Apakah itu
yang kalian kehendaki?”
“Apa?! Kao-taihiap menyalahkan kami dengan terjadinya peristiwa pembakaran kuil?” Seorang di antara
para pendekar Siauw-lim-pai berteriak penasaran.
Kao Kok Cu menjawab tenang, “Ada akibat tentu ada sebabnya! Akibat kekerasan tentu disebabkan oleh
kekerasan pula! Bukankah terjadi penyerangan-penyerangan pribadi oleh jagoan-jagoan Siauw-lim-pai
terhadap Kaisar? Bukankah itu juga merupakan sebab utama pembakaran kuil sebagai balas dendam?”
“Tapi, kalau kami menyerang Kaisar, hal itu ada sebabnya pula....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku tahu,” kata Kao Kok Cu. “Akibat dan sebab memang merupakan mata rantai yang tak terpisahkan.
Satu sebab menimbulkan akibat dan si akibat itu menjadi sebab baru dari akibat lain yang baru pula, dan
demikian seterusnya. Kalau perbuatan kalian ada sebabnya, maka harus diketahui pula bahwa perbuatan
Kaisar pun ada sebabnya! Bukan aku membenarkan sikap Kaisar, sama sekali tidak. Akan tetapi kita harus
dapat membuka mata melihat kenyataan, dan bertindak sebagai seorang pendekar sejati, bukan seperti
orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, menuruti dendam dan tanpa mempedulikan bahaya
yang kita akibatkan dari perbuatan kita, yang nantinya akan menimpa orang-orang tidak berdosa, seperti
yang terjadi pada para pendekar Siauw-lim-pai!”
Kao Kok Cu bicara dengan penuh perasaan karena memang sesungguhnya pendekar ini merasa berduka
sekali mendengar akan semua peristiwa itu. Dia tahu bahwa Kaisar Yung Ceng telah menyeleweng dari
pada kebenaran, menyalah gunakan wewenang dan kekuasaan untuk mengejar nafsu dan dendamnya
sendiri. Tetapi, dia menganggap bahwa semua usaha para pendekar yang mengaku diri sebagai patriotpatriot
itu pun tidak memperbaiki keadaan dan hanya terdorong oleh nafsu dendam belaka, jadi tidak ada
bedanya dengan tindakan Kaisar pula.
Hening sejenak setelah pendekar berlengan satu itu bicara, karena kata-katanya tadi, yang dikeluarkan
dengan suara mantap dan mengandung getaran kuat, meninggalkan kesan mendalam di hati para
pendekar. Mereka dapat merasakan bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang tidak biasa menjilatjilat
ke atas dan menekan ke bawah, seorang yang bertindak dengan bijaksana dan tahu betul bahwa
tindakannya itu tidak menyimpang dari kebenaran.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil