Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 12 April 2017

Cersil Pendekar Ajaib : Kwee Ceng 12

Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar matahari cerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf Cersil Pendekar Ajaib : Kwee Ceng 12

Tidak antara lama, suara seruling dari Oey Yok Su pun
nyebur dalam bentrokan siulan dan tiat-ceng itu. Maka
selanjutnya, sering terdengar, siualan bentrok tiatceng,
siulan bentrok seruling, atau seruling bentrok
tiat-ceng. Atua lagi, kedtiganya bentrok berbareng.
Sekarang Kwee Ceng menduga apsti ada seseorang
yang lihay yang telah datang ke pulau Tho Hoa To ini.
Ia biasa main-main bertarung sempat tangan dengan
Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat menbedakan suara
bentrokannya ketiga lawan ini: seruling, tiat-ceng dan
siulan….
Setelah memperhatikan terlebih jauh. Kwee Ceng
merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di dalam
rimba di dekat itu. Ia mendengar lebih nyata siulan
orang itu, yang tinggi dan rendah bergantian, yang
selalu berlainan. Ketika ia merasa, bentrokan menjadi
demikian hebat, saking kagumnya, tanpa ia merasa ia
berseru: "Bagus!". Kemudian ia terkejut sendirinya.
Bukankah ia lagi bersembunyi? Ia lantas memikir untuk
menyingkir. Tapi sudah kasep. Satu bayangan lantas
berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.
"Anak yang baik, mari!" berkata Tocu dari Tho Hoa To
itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ketika itu semua tetabuhan sudah berhenti.
Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Tong Shia
pergi ke paseban.
Oey Yong tersumpal kupingnya, ia tidak mendengar
seruannya si anak muda, maka heran ia menampak
munculnya pemuda itu. Ia pun menjadi sangat girang,
maka ia lari memapaki, untuk menyambar kedua
tangan orang.
"Engko Ceng, akhirnya kau datang juga…!" serunya.
Tapi ia girang bercampur sedih, tanpa merasa air
matanya meleleh turun.
Melihat pemuda ini, panas hatinya Auwyang Kongcu.
Maka itu, menyaksikan kelakuannya si nona, ia panas
berbareng gusar sekali. Tidak dapat ia mengendalikan
diri, sambil berlompat ia menghajar kepalanya si anak
muda itu.
"He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!" ia
mendamprat.
Kwee Cneg melihat datangnya serangannya, dengan
sebat ia berkelit. Sekarang ini ilmu silatnya sudah maju
jauh, ia beda dengan waktu ia masih di rumah abu
Keluarga Lauw di Poo-eng, dimana ia menempur
pemuda she Auwyang itu. Ia tidak cuma berkelit, terus
ia membalas menyerang. Dengan tangan kiri
memainkan "Naga sakti menggoyang ekor", dengan
tangan kanan ia menggunai "Naga Menyesal", duaTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
duanya merupakan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat
Ciang yang lihay. Sejurus saja sudah hebat, apapula
dua jurus itu hampir berbareng.
Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang
tahu-tahu menekan iga kanannya. Ia mengerti lihaynya
Hang Liong Sip-pang Ciang, yang cuma dapat diegos,
tidak ditangkis, dari itu lekas-lekas ia menyingkir ke
kiri. Celaka untuknya, justru ia berkelit, justru tangan
yang lain dari lawannya tiba. Tidak ampun lagi, dada
kirinya kena terpukul, bahkan sebuah tulangnya patah
sekali.
Sebenarnya Auwyang Kongcu sudah cukup lihay dan
ia mengerti lihaynya lawan, ketika serangan sampai, ia
mencoba berkelit pula. Kali ini ia berkelit dengan
mengapungi diri, untuk berlompat tinggi naik ke atas
pohon bambu, habis itu baru ia lompat turun. Tapi ia
tidak bisa membebaskan diri. Ia turun dengan muka
merah bahna malu, dadanya juga dirasakan sakit. Ia
bertindak dengan perlahan.
Menyaksikan perlawannya Kwee Ceng itu, dua-duanya
Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran berbareng
murka. Oey Yong sebaliknya, nona ini bertepuk-tepuk
tangan saking girangnya.
Sebenarnya, Kwee Ceng sendiri kurang mengerti.
Inilah kemenangan di luar dugaannya. Ia bukan
menginsyafi bahwa ia sudah maju jauh, ia mau
menyangka si anak muda lawannya itu sudah beralpa
atau kurang sebat bergeraknya hingga kena terhajar.
Ia khawatir pemuda ini nanti menyerang pula secara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kejam, ia mundur setindak smabil memasang mata,
untuk bersiap-siap.
Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah
saking mendongkolnya. Kemudian ia dia berkata
dengan nyaring: "Pengemis she Ang, aku beri selamat
padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!"
Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia
mendengar suaranya Auwyang Hong itu, ia lantas
mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka itu, lupa
segala apa ia lari ke arah rimba sambil memanggilmanggil:
"Suhu! Suhu!" Ia kegirangan karena ia tahu
bintang penolong sudah datang.
Mendengar suara putrinya itu, Oey Yok Su melengak.
"Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si
pengemis tua?" pikirnya.
Itu waktu sudah lantas terlihat munculnya Ang Cit
Kong si ketua pengemis. Di punggungnya ia
menggondol cupu-cupunya merah, tangan kanannya
memegang tongkatnya, tangan kirinya menuntuk Oey
Yong. Ia berjalan sambil tertawa haha-hihi.
"Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?!" tanya
Oey Yok Su gusar.
Bukannya ia lantas menjawab ayahnya itu, Oey Yong
justu menuding Auwyang Kongcu dan berkata dengan
sengit, "Ini manusia busuk sudah menghina aku,
jikalau tidak ada lojinkee Ang Cit Kong ynag menolongi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
aku, sudah tentu sudah semenjak lama kau tidak
melihat Yong-jie, Ayah!"
"Jangan ngaco belo!" membentak Oey Yok Su,
walaupun sebenarnya ia heran. "Dia toh anak baikbaik,
cara bagaimana dia menghina padamu!"
"Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!"
berkata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she
Auwyang itu. Ia kata dengan keras; "Kau mesti lebih
dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu
kepada ayahku berdusta, kau nanti digigit mampus
ular-ular di ujung tombaknya pamanmu itu!"
Mendengar itu Auwyang Kongcu kaget hingga
mukanya pucat. Auwyang Hong tidak kurang kaget
dan herannya. Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab
ia ketahui dengan baik, dua ekor ular pada tongkatnya
itu adalah ular-ular piarannya selama sepuluh tahun,
yang ia piara sedari baru diteteskan hasil dari kawinan
beberapa macam ular yang paling berbisa. Kalau dia
menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang
yang paling ia benci, ia bisa menghukum dengan
menggunai kedua ularnya ini. Asal seorang digigit
ularnya, lantas ia kegatalan luar biasa, dalam waktu
yang pendek ia bakal mati, tidak ada pertolongan lagi
sekalipun seandainya Auwyang Hong sendiri berbalik
berkasihan dan hendak mengampunkannya. Oey Yong
menyebut ular itu karena ia menduga saja, sebab
kedua binatang itu lain daripada yang lain, tidak
tahunya, ia menyebut tepat pantangannya See Tok si
Racun dari Barat itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Terhadap pertanyaanya gakhu tayjin, mana aku
berani mendusta," Auwyang Kongcu menjawab. Ia
telah terdesak si nona, ia pun tidak berani menyangkal.
"Cis!" berseru Oey Yong. "Jikalau kau berani mengacu
belo, lebih dahulu aku akan gaplok kupingmu
beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita
pernah bertemu di istananya Chao Wang di Pak-khia,
benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk. Tidak berani ia
membuka suara. Hajarannya Kwee Ceng membikin ia
merasakan sangat nyeri. Kalau ia membuka mulutnya
untuk berbicara, rasa sakitnya itu menghebat. Ia pun
memangnya berkepala besar. Kalau ia merasa sakit,
kepalanya pusing dan mengeluarkan peluh. Dengan
tidak bersuara, ia dapat menahan napas, ia bisa
menguatkan diri.
Oey Yong menanya pula; "Ketika itu kau ada bersama
See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong dan
Leng Tie Siangjin, bersama-sama kau mengepung aku
satu orang. Benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu berniat menyangkal ia bekerja sama
dengan rombongannya See Thong Thian itu, bahwa
bukan sengaja ia mengepung si nona, tetapi ketika ia
paksa menyahut, lantas ia merasakan dadanya sakit,
maka ia cuma bisa bilang; "Aku…aku tidak bekerja
sama dengan mereka itu…"
"Baiklah, aku pun tidak memerlukan jawabanmu
dengan mulutmu!" berkata Oey Yong. "Jikalau aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menanya kau, cukup asal kau mengangguk atau
menggeleng kepala. Sekarang kau dengar
pertanyaanku: 'See Thong Thian bersama-sama
Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin
toh memusuhkan aku. Benar tidak?'"
Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti kata-kata
orang dan tidak berani membuka mulutnya.
"Mereka itu hendak membekuk aku tetapi mereka itu
tidak berhasil," berkata Oey Yong pula. "Kemudian kau
muncul. Benar tidak?"
Itulah hal yang sebenarnya, Auwyang Kongcu
mengangguk.
"Ketika itu aku berada di ruang besar dari istana Chao
Wang. Di situ aku bersendirian saja, tidak ada siapa
juga yang membantu aku, keadaanku sungguh
menyedihkan. Ayahku pun tidak ketahui bahaya yang
mengancam aku, ayah tidak dapat menolong aku.
Benar tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa. Ia
ketahui, pertanyaan kali ini dari si nona, yang
membawa-bawa nama ayahnya, cuma untuk
memancing kemurkaannya si ayahnya dia itu.
Setelah mendapat jawaban itu, Oey Yong tarik tangan
ayahnya. Timbullah kemanjaannya.
"Ayah, kau lihat," katanya. "Kau sedikit juga tidak
menyayangi anakmu….Kalau ibu masih hidup, tidak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
nanti ia perlakukan aku begini rupa…"
Mendengar orang menyebut istrinya, yang ia cintai itu,
pilu hatinya Oey Yok Su. Ia ulur tangan kirinya untuk
merangkul putrinya itu.
Auwyang Hong sangat cerdas dan licin, ia melihat
suasana buruk untuk pihaknya, maka belum lagi Oey
Yong menanya pula, ia sudah mendahului.
"Nona Oey," ia berkata, "Begitu banyak orang Rimba
Persilatan yang kenamaan hendak membekuk kau,
karena lihay ilmu silat keluargamu, mereka tidak dapat
berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah?"
Oey Yong tertawa, dia mengangguk.
Oey Yok Su pun tersenyum. Ia senang orang puji ilmu
silatnya.
Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, ia
berkata: "Saudara Yok, keponakanku telah melihat
putrimu demikian lihay, ia jadi sangat jatuh hati, inilah
sebabnya kenapa sekarang kami datang kemari
dengan tidak memperdulikan jalan jauh ribuan lie untuk
meminangnya.
Oey Yok Su tertawa.
"Ya, sudahlah!" katanya.
Auwyang Hong menolah kepada Ang Cit Kong, ia
berkata: "Saudara Cit, kami paman dan keponakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengagumi orang-orang Tho Hoa To, kenapa kau
sebaliknya lain pandanganmu? Kenapa kau berlaku
sungguh-sungguh sama segala bocah? Coba
bukannya keponakanku itu panjang umurnya, pastilah
siang-siang dia telah mati di bawah hujan jarum emas
yang menjadi kepandaianmu yang istimewa…."
Dengan kata-katanya ini Auwyang Hong hendak
menimbulkan urusan ketika dulu hari Ang Cit Kong
menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum
rahasia dari Oey Yong, hanya See Tok telah membalik
duduk perkaranya mungkin itu disebabkan Auwyang
Kongcu telah membaliknya waktu melaporkan hal ini
kepada pamannya. Tapi Cit Kong adalah seorang
polos dan sabar sekali, ia tidak mengambil mumat
perkataan orang, bahkan tertawa lebar, malah dengan
membuka tutup cupa-cupanya, ia menengak isinya.
Tidak demikian adanya Kwee Ceng yang jujur, yang
benci kedustaan. Anak muda ini lantas menyampur
bicara.
"Sebenarnya Cit Kong yang menolongi keponakanmu
itu, kenapa sekarang kau bicara begini rupa?!" ia
menegur.
Tapi Oey Yok Su membentak; "Kita lagi bicara,
bagaimana kau bocah berani campur mulut?!"
Kwee Ceng penasaran, dengan nyaring ia kata kepada
Oey Yong: "Yong-jie, kau beberlah urusannya
Auwyang Kongcu merampas Nona Thia supaya
ayahmu mendapat tahu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tidak meluluskan permintaan anak muda itu.
Ia kenal baik sifat ayahnya. Ayahnya itu dijuluki Tong
Shia si Sesat dari Timur, justru karena tabiatnya yang
aneh itu. Ada kalanya Tong Shia membenarkan apa
yang tidak benar dan sebaliknya. Maka ada
kemungkinan, perbuatan ceriwis dan busuk dari
Auwyang Kongcu dipandang sebagai perbuatan umum
pemuda-pemuda doyan pelesiran. Ia pun ketahui baik
ayahnya tak sukai pemuda pujiannya itu. Maka ia
menggunai siasat. Ia lantas berpaling pula kepada
Auwyang Kongcu.
"Bicaraku masih belum habis!" katanya. "Dulu hari itu
di dalam istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian
dengan aku. Dengan sengaja kau menelikung
kebelakang kedua tanganmu, kau bilang bahwa tanpa
menggunai tangan, kau bisa mengalahkan. Benar
bukan?"
Auwyang Kongcu mengangguk membenarkan
pertanyaan itu.
"Kemudian aku telah mengangkat lojinkee Ang Cit
Kong menjadi guruku," berkata Oey Yong. "Lalu di
Poo-eng kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Itu
waktu kau menyebutnya aku boleh menggunakan
kepandaian yang diwariskan ayahku atau Ang Cit
Kong, kau bilang aku boleh keluarkan berapa banyak
juga, sebaliknya kau sendiri, kau cuma akan
menggunakan semacam ilmu kepandaian warisan
pamanmu dengan apa kau sanggup mengalahkan aku.
Benar tidak?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Mendengar itu Auwyang Kongcu berkata di dalam
hatinya; "Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri,
bukan ditetapkan olehku…"
Menampak orang bersangsi, Oey Yong mendesak. Ia
kata: "Bukankah itu hari kita telah menetapkannya
demikian baru kita bertempur?"
Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ayah, lihatlah!" berkata Oey Yong kepada ayahnya.
"Dia tidak memandang mata kepada Cit Kong, dia juga
tidak menghormati padamu! Dia mau bilang, Cit Kong
dan ayah berdua kalah jauh dengan pamannya itu!
Bukankah itu berarti, meski Cit Kong dan ayah berdua
mengepung pamannya, pamannya itu masih tak dapat
dikalahkan. Tapi ini aku tidak percaya!"
"Ah, budak cilik, jangan kau mainkan lidahmu!" berkata
Oey Yok Su si ayah. "Diantara kaum persilatan di
kolong langit ini, siapakah yang tidak kenal baik ilmu
silatnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay?"
Di mulutnya Oey Yok Su berkata demikian, di dalam
hatinya ia mulai tidak puas terhadap Auwyang Kongcu,
karena itu ia ingin hal pemuda itu jangan dibicarkan
pula. Ia lantas menoleh kepada Ang Cit Kong.
"Saudara Cit, kau datang berkunjung ke Tho Hoa To,
ada urusan apakah?" ia menanya.
"Aku datang untuk memohon sesuatu dari kau," sahut
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Cit Kong singkat.
Cit Kong jenaka tetapi jujur dan polos dan benci sekali
kejahatan, inilah Tong Shia ketahui baik. Karena ini, ia
menghormati si raja pengemis ini. Ia pun ketahui,
biasanya, kalau ada urusan, Cit Kong tentu
mengerjakannya itu sendiri bersama-sama pengikutpengikutnya
dari Kay Pang, belum pernah ia memohon
bantuan dari orang. Sekarang orang datang untuk
memohon sesuatu, ia menjadi girang sekali. Lekaslekas
ia menjawab: "Persahabatan kita adalah
persahabatan dari beberapa puluh tahun, saudara Cit,
maka itu kalau ada titah dari kau, mana aku berani
tidak menurutinya?"
"Ah, janganlah kau begitu menerima baik
permohonanku itu," berkata Cit Kong. "Aku khawatir
permohonanku ini sulit untuk dilakukannya…."
Oey Yok Su tertawa, ia kata: "Kalau urusan gampang
tidak nanti saudara Cit sampai memikir untuk meminta
bantuanku!"
Cit Kong tertawa seraya menepuk-nepuk tangannya.
"Benar-benar!" katany. "Kau barulah saudara yang
sejati! Jadi kau pasti menerima baik?"
"Sepatah kata-kataku menjadi kepastian!" sahut Oey
Yok Su, kembali cepat dan singkat. "Lompat ke api,
terjun ke air, sama saja!"
Mendengar itu Auwyang Hong melinttangi tongkat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ularnya.
"Saudara Yok, tunggu dulu!" ia menyelak, "Perlu kita
menanya dulu saudara Cit, urusan itu sebenarnya
urusan apa?"
Ang Cit Kong tertawa. Ia berkata; "Racun tua bangka,
inilah urusan tidak ada sangkut pautnya dengan kau,
jangan kau ikut campur! Lebih baik kau sedia-sedia
dengan ususmu yang kosong untuk nanti kau
menenggak arak kegirangan!"
Auwyang Hong heran.
"Eh, minum arak kegirangan?" ia menanya.
"Tidak salah! Minum arak kegirangan!" memastikan Cit
Kong. Dengan tangan kanannya ia menunjuk kepada
Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. "Mereka berdua
adalah murid-muridku, aku telah berikan janji kepada
mereka untuk memohon kepada saudara Yok agar
mereka dibiarkan menikah satu pada lain! Dan
sekarang saudara Yok sudah menerima baik
permohonanku itu!"
Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat bahna girang,
keduanya lantas saling memandang. Sebaliknya
Auwyang Hong dan keponakan serta Oey Yok Su
menjadi terkejut sekali.
"Saudara Cit, kau keliru!" Auwyang Hong cepat
berkata. "Putrinya saudara Yok sudah dijodohkan
dengan keponakanku dan hari ini aku datang ke Tho
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hoa TO ini untuk mengambil ketetapannya."
"Saudara Yok, benarkah itu?" tanya Cit Kong.
"Benar," menjawab Oey Yok Su. "Aku minta, saudara
Cit jangan kau berkelakar denganku!"
Cit Kong memperlihatkan roman bersungguh-sungguh.
"Siapa yang main-main dengan kamu?" dia berkata.
"Kau menjodohkan seorang putrimu kepada dua
keluarga. Apakah artinya ini?" Ia lantas menoleh
kepada Auwyang Hong. Ia kata: "Akulah orang
perantaraan dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana
orang perantaanmu?"
Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu
rupa, dia tidak dapat menjawab, ia tercengang. Baru
kemudian ia berkata; "Suadara Yok sudah menerima
baik, aku pun sudah akur, maka itu, perlu apa lagi
orang perantaan?"
"Apakah kau ketahui masih ada satu orang yang tidak
menerima baik?" Cit Kong tanya.
"Siapakah dia?!" Auwyang Hong menegaskan.
Ang Cit Kong menyahuti: "Maafkan aku, itulah aku si
pengemis tua!"
Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti, tidak dapat ia
tidak menempur pengemis ini, maka itu ia lantas
memikirkan daya perlawanan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata pula: "Keponakanmu
itu tidak bagus kelakuannya, mana dia cocok untuk
dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari
saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua
memaksa mereka menikah, habis bagaimana kalau
mereka sendiri tidak akur, setiap hari mereka berkelahi
saja? Apakah artinya itu?"
Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan
pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya. Ia
mendapatkan Oey Yong, dengan sinar mata penuh
kecintaan, lagi mengawasi Kwee Ceng. Sebaliknya
melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya.
Oey Yok Su ini ada seorang yang terang otaknya,
pandai ilmu silat dan surat, pandai juga memainkan
khim, menulis huruf-huruf dan melukis gambar. Sedari
masih muda, semua sahabatnya ada orang-orang
cerdik pandai. Pun istrinya serta putrinya ini, orangorang
pintar juga. Maka, mengingat anaknya yang
cantik dan pintar itu mesti dipasangi dengan Kwee
Ceng yang tolol-tololan itu, sungguh ia tidak mufakat.
Dipadu dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah
berlipat ganda. Maka itu, ia lebih penuju keponakannya
See Tok itu. Tapi di situ ada Ang Cit Kong. Maka
akhirnya, ia memikir satu jalan.
"Saudara Hong," katanya kemudian, "Keponakanmu
terluka, baik kau obati dulu padanya, urusan nanti kita
damaikan pula."
Inilah apa yang Auwyang Hong harap-harapkan, maka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lantas ia menggapai pada keponakannya, lalu
bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu.
Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban.
Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum
emas dan menyambung pula tangan keponakannya
itu.
Oey Yok Su sudah lantas berbicara, katanya: "Anakku
bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit untuk dia
merawati seorang budiman, maka adalah diluar
dugaanku, saudara Cit dan saudara Hong telah
memandang mukaku dan sama-sama melamarnya.
Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya
anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang
tetapi sekarang ada titahnya saudara Cit, sukar aku
tolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku
pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua saudara lihat,
pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?"
"Lekas bilang, lekas bilang!" berkata Ang Cit Kong.
"Aku, si pengemis tua paling tidak suka omong pakai
segala aturan!"
Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula: "Sebenarnya
anakku tidak mengerti segala apa, akan tetapi
meskipun demikian, aku masih mengharap dia nanti
menikah dengan seorang suami yang baik-baik.
Auwyang Sieheng ada keponakannya saudara Hong
dan Kwee Sieheng ada murid pandai dari saudara Cit,
kedua-duanya baik, sukar untuk aku memilihnya, tidak
dapat aku membuang salah satunya, karena itu, aku
pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku ada
mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya siapa yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, tidak nanti
aku berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabatsahabatku?"
Auwyang Hong sudah lantas bertepuk tangan.
"Bagus, bagus!" serunya. "Cuma sekarang
keponakanku sedang terluka, kalau buat adu silat, aku
minta supaya itu ditunda sampai ia sudah sembuh."
Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir: "Kau, si Oey
tersesat, kau banyak akalnya, jikalau kau majukan ilmu
surat, syair atau nyanyi, tentulah muridku yang tolol
gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah,
sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada lain
jalan, baiklah aku ambil caraku!" Ia lantas tertawa
sambil berlenggak, terus ia berkata: "Kita semua
tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti
adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka,
kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang mainmain
lebih dulu!"
Begitu ia selesai bicara, tanpa menantikan jawaban,
Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu orang.
Auwyang Hong berkelit, ia mundur.
Ang Cit Kong meletaki tongkat bambunya di meja kecil
di sampingnya.
"Kau membalaslah!" ia menantang. Ia menantang
tetapi kembali ia menyerang, beruntun hingga tujuh
jurus.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke
kanan, habis tujuh serangan itu, dengan tangan
kanannya ia menancap tongkatnya, sedang dengan
tangan kirinya ia pun membalas tujuh kali.
Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji. Ia
tidak mau datang memisahkan, karena ingin ia melihat
kemajuan orang sesudah berselang duapuluh tahun
semejak mereka mengadu kepandaian.
Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong adalah
ketua-ketua partai, pada duapuluh tahun dulu mereka
sudah lihay, habis menguji kepandaian di Hoa San,
mereka masing-masing menyakinkan lebih jauh
kepandaian mereka, bisa di mengerti yang mereka
telah maju banyak. Maka sekarang, bertarung di Tho
Hoa To ini, mereka beda jauh daripada waktu di Hoa
San. Mereka saling serang dengan cepat sekali tetapi
semua itu adalah permulaan saja, untuk saling
menggertak.
Kwee Ceng menonton dengan perhatian sepenuhnya.
Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah. Untuk
kegirangannya, ia mengerti semua jurus itu. Ia telah
hapal kitab Kiu Im Cin-keng, sekarang ia mendapat
kenyataan, semua gerak-gerik mirip sama kitab itu.
Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak. Semua
yang ia lihat ini termuat dalam kitab bagian atas.
Semua itu ilmu silat yang lihay. Tanpa disadari, ia
menjadi gatal sendirinya.
Dengan cepat kedua jago itu sudah bertempur hingga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tigaratus jurus lebih.
Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong kagum
sendirinya, mereka saling memuji secara diam-diam.
Oey Yok Su yang menonton pun kagum, ia menghela
napas. Di dalam hatinya ia berkata: "Aku berdiam di
Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh,
aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia,
aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit
ini, siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini
dan si biang racun tua telah mengambil jalannya
masing-masing yang hebat sekali!"
Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang
hatinya, mereka mengahrapi kemenangan pihaknya
masing-masing. Mereka mengerti silat tetapi mereka
todak mengerti ilmu silatnya dua jago yang lagi
bertarung itu. Sama-sama mereka terus mengawasi
dengan perhatian penuh.
Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia
menjadi heran sendirinya. Ia melihat bayangan orang
di sampingnya itu, bayangan yang lagi bergerak-gerak,
terutama kaki tangannya, seperti orang menari. Ia
lantas menoleh, maka itu ia kenali, itulah bayangannya
Kwee Ceng. Wajah si pemuda tegang dan seperti
menjadi korban kegirangan luar biasa.
"Engko Ceng!" ia memanggil perlahan. Ia heran dan
menjadi berkhawatir karenanya, apapula panggilannya
itu tidak disahuti si anak muda, yang terus masih
bergerak tak hentinya. Nyata sekali lagi bersilat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
seoarng diri.
Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi. Lama juga ia
meminta tempo, baru ia mengerti. Terang sekarang,
Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-geriknya
kedua jago tua itu.
Perubahan terjadi dalam cara bertempurnya kedua
jago itu. Kalau tadinya mereka berperang sebat sekali,
sekarang mereka manjadi lambat, ada kalanya mereka
menyerang dulu dengan dipikirkan lebih dahulu.
Bahkan anehnya, ada kalanya, habis bergebark,
mereka sama-sama duduk bersila, untuk beristirahat,
kemudian berbangkit pula, akan mulai bertempur lagi.
Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga
bukan juga kedua saudara seperguruan lagi berlatih.
Toh wajah mereka menunjukkan ketegangan yang
bertambah-tambah.
Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapatkan
ayahnya itu bengong mengawasi kedua jago itu. Ayah
ini nampaknya tegang hatinya.
Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia
mendapat kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa,
kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.
Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua
orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia
bersorak dengan pujiannya.
"He, bocah tolol, kau mengerti apa?!" Auwyang
Kongcu menegur, murka. "Apa perlunya kau membikin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
banyak berisik?!"
"Apa perlunya kau banyak rewel?!" Oey Yong balas
menegur. "Kau pun mengerti apa?!"
Ditegur begitu, pemuda ini tertawa.
"Bocah ini bergerak secara tolol!" dia berkata. "Dia
masih sangat muda, mana dia ketahui kepandaian
istimewa dari pamanku ini?"
"Kau toh bukannya dia, mana kau ketahui dia mengerti
atau tidak?!" Oey Yong menegur pula.
Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su
tidak mengambil mumat, dia tetap mengawasi sepak
terjangnya dua sahabatnya itu. Kwee Ceng pun
memperhatikan dengan diam-diam saja.
Gerakkannya Ang Cit Kong dan Auwyang Hong
menjadi terlebih lambat pula. Yang mengangkat
tangan kirinya, dengan jari tengahnya dia menyentil
perlahan batok kepalanya. Yang lainnya lagi, dengan
kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan
romannya lagi berpikir keras. Hanya sejenak
kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus
mereka berlompat bangun untuk saling serang pula.
"Bagus! Bagus!" Kwee Ceng berseru-seru melihat
serangan itu.
Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula. Kembali
mereka berpikir. Terang sudah, masing-masing seperti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka itu, perlu
mereka memikirkan cara penyerangannya.
Duapuluh tahun sejak dua lawan ini berpisah sehabis
bertempur di Hoa San, mereka masing-masing satu
tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah
Barat. Sebegitu jauh tidak pernah mereka
berhubungan satu dengan lain, sama-sama mereka
menyakinkan lebih jauh ilmu silat mereka. Mereka pun
tidak ketahui kemajuannya masing-masing. Sekarang
ternyata, mereka sama gelapnya seperti duapuluh
tahun dulu itu. Mereka mempunyai kepandaiannya,
mereka pun sama-sama jeri. Dengan begitu, mereka
membuang-buang tempo, sampai matahari sudah
mulai menyingsing di arah Timur.
Yang beruntung adalah Kwee Ceng, yang dapat
memberi perhatian seluruhnya. Adakalanya ia memikir,
pihak sana tentu bakal menyerang begini, tetapi
buktinya, dugaannya penyerangan pihak lain dan ada
terlebih sempurna dari apa yang ia pikir. Karena ini, ia
menjadi mendapat tambahan kepandaian. Kejadian ini
terulang banyak kali. Ia dapat menyangkok ilmu
silatnya dua-dua jago tua itu.
Oey Yong mengawasi pemudanya itu, ia bertambah
heran.
"Baru belasan hari aku tidak lihat dia, mungkinkah dia
telah dapat pelajaran silat dari malaikat?" berpikir nona
ini. "Benarkah dia memperoleh kemajuan begini pesat?
Kenapa ia agaknya girang sekali?" Ia baru berpikir
begitu, atau ia menjadi berkhawatir. Katanya di dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
hatinya: "Apa mungkin engko Ceng ini mendadak
pikirannya terganggu?"
Karena ini, ingin ia mendekati si anak muda, untuk
menarik tangannya. Begitu berpikir, begitu ia bekerja.
Itu waktu, Kwee Ceng tengah meniru gerakkannya
Auwyang Hong, yang menyerang sambil memutar
tubuhnya. Kelihatannya serangan itu sangat umum
akan tetapi tenaga yang dikerahkan tak terkira-kirakan.
Maka itu tatkala tangannya si nona dapat memegang
tangan si pemuda, mendadak ia merasa kena tertolak
keras, dengan tiba-tiba saja ia mental tinggi seperti
terbang. Melihat itu, Kwee Ceng terkejut hingga ia
menjerit tetapi pun tubuhnya terus berlompat
menyusul. Pinggang langsing dari Oey Yong dapat
kena disambarnya, karena mana dapatlah ia menaruh
kaki di atas wuwungan paseban dengan tidak kurang
suatu apa, di situ terus ia berduduk.
Kwee Ceng sendiri, sebelum turut naik, telah menaruh
tangannya di payon di mana ia menekan keras, hingga
dilainnya saat dia jadi dapat duduk berendeng sama
nona itu. Hingga dari situ, dengan memandang ke
bawah, mereka dapat menonton pertaruhan.
Telah terjadi perubahan pula dalam caranya kedua
jago itu bertempur. Sekarang terlihat Auwyang Hong
bejongkok dengan kedua tangannya dikasih turun,
hingga ia memperlihatkan sikapnya seekor kodok,
sedang dari mulutnya kadang-kadang terdengar suara
seperti suaranya kerbau. Lucu sikap itu hingga Oey
Yong tertawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Engko Ceng, dia bikin apakah itu?" dia menanya
berbisik. Tertawanya pun perlahan sekali.
"Aku tidak tahu," Kwee Ceng menyahuti. Ia baru
menjadi demikian atau tiba-tiba ia ingat kata-katanya
Ciu Pek Thong tengan Ong Tiong Yang dengan
pukulan jeriji IT-yang-cie sudah memecahkan Kap-mokang
atau Ilmu Kodok dari Auwyang Hong. Maka ia
lekas menambahkan; "Inilah semacam ilmu silat yang
lihay sekali, namanya Ilmu Kodok!"
Oey Yong meresa lucu hingga ia bertepuk tangan.
"Ya, sungguh mirip kodok buduk!" serunya.
Sementara itu Auwyang Kongcu telah melihat orang
duduk berendeng dan bicara-bicara sambil tertawa
dengan asyik, bukan main ia mendongkolnya. Ia
menjadi sangat bercemburu. Menuruti hatinya, hendak
ia melompat naik ke atas, untuk menggusur Kwee
Ceng. Celaka untuknya, ia merasakan dadanya masih
sakit, hingga tidak dapat ia mengeluarkan tenaga. Ia
mendengar Oey Yong menyebut-nyebut kodok buduk,
hatinya bertambah panas, ia menyangka ialah yang
dikatakan si kodok buduk yang mengharap mencaplok
daging angsa kayangan. Sekarang ia tidak dapat
menguasai lagi dirinya, dengan tangan kanan
menggenggam tiga biji torak Hui-yang Gin-so, ia
bertindak perlahan-lahan mutar ke belakang paseban
itu, lalu dengan diam-diam juga ia menyerang ke atas
pesaben, kepada sepasang muda-mudi itu. Ia dapat
berbuat demikian dengan leluasa karena lain-lain
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
orang tengah menonton pertempuran yang nampaknya
lucu itu. Ia mengarah punggungnya Kwee Ceng.
Pemuda she Kwee ini tidak curiga suatu apa. Ia lagi
asyiknya mengawasi pertempuran yang justru tiba
disaatnya Ang Cit Kong, gurunya hendak
menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang akan
melayani terus kepada Auwyang Hong.
Oey Yong tidak ketahui Pak Kay dan See Tok ini, dua
orang paling kosen di jaman itu, tengah menghadapi
pertempuran yang memutuskan, yang membahayakan
salah satu diantaranya, karena itu ia masih dapat
tertawa haha-hihi dan dengan tangannya tunjuk sanasini.
Secara kebetulan saja, ia melihat satu tubuh di
luar paseban bambu. Dasar cerdik sekali, ia
menyangka kalau-kalau Auwyang Kongcu main gila.
Maka hendak ia memasang matanya. Justru itu waktu
ia mendengar desiran angin dari senjata rahasia, yang
melesat ke arah punggungnya Kwee Ceng, sedang
Kwee Ceng sendiri tidak mengetahui itu. Tidak sempat
lagi ia menangkis, segera ia bergerak menubruk diri ke
punggungnya si anak muda, dengan begitu tubuhnya
mewakilkan anak muda itu menyambuti serangan tiga
biji Hui-ya Gin-so yang tepat mengenai punggungnya
sendiri.
Nona ini mengenakan baju lapis joan-wie-kah, ia tidak
terluka, cuma saking kerasnya serangan, ia
merasakan nyeri juga. Dengan sebat ia memutar balik
tangannya, akan menyambar ketiga biji torak,
kemudian sembari tertawa ia berkata; "Kau
menggaruki gatal dipunggungku, bukankah? BanyakTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
banyak terima kasih! Nah, ini aku kembalikan
garukanmu!"
Auwyang Kongcu terperanjat, ia memasang matanya.
Ia khawatir si nona benar-benar nanti menyerang
padanya. Ia tidak mau mempercayai si nona itu sudi
dengan baik hati memulangi toraknya itu. Hanya ia
menanti dengan sia-sia. Si nona masih memegangi
senjata rahasianya itu, dia tidak mengayunkan
tangannya.
Menampak demikian, kongcu ini segera menjejak
tanah dengan kakinya yang kiri, untuk mengapungkan
diri berlompat ke atas pesaben bambu itu. Ia hendak
membanggakan ringannya tubuhnya. Disitu ia berdiri di
satu pojok, bajunya yang putih berkibaran di antara
sampokannya angin, hingga nampak sikapnya yang
bagus, baguskan seorang suci.
"Sungguh bagus ilmu ringan tubuhmu!" Oey Yong
berseru dengan pujiannya. Lalu dia maju setindak
untuk berlompat naik ke atas pesaben, untuk
menghampirkan, untuk membayar pulang torak orang.
Butek pikirannya Auwyang Kongcu menyaksikan
tangan si nona yang putih halus dan montok itu, putih
bagaikan salju. Ia lantas mengulurkan tangannya,
guna menyambuti senjata rahasianya, sekalian ingin ia
meraba tangan yang halus itu, tatkala tiba-tiba saja ia
mendapat lihat sinar kuning keemas-emasan
berkelebat di depan matanya. Dua kali sudah ia
merasakan tangannya si nona, maka tanpa bersangsi
pula, ia lompat berjumpalitan turun dari atas pesaben
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu. Sambil berkelit secara demikian, ia juga mengibasngibaskan
tangan bajunya, maka juga berhasil ia
meruntuhkan jarum emasnya si nona.
Oey Yong tertawa terkekeh walaupun serangannya itu
gagal. Ia tidak berhenti sampai di situ. Dengan
sekonyong-konyong saja, ia menyerang pula dengan
tiga biji toraknya si anak muda, untuk menghajar
embun-embunnya pemuda itu.
"Jangan!" berseru Kwee Ceng kaget, menampak
perbuatannya si nona itu, untuk dibawa lompat turun.
Belum lagi anak muda ini dapat menginjak tanah,
kupingnya dapat mendengar satu suara nyaring, yang
mana dengan suara cegahannya Oey Yok Su,
"Saudara Hong, berlakulah murah hati!"
Kwee Ceng segera merasakan dorongannya angin
yang keras, bagaikan gunung roboh menguruk lautan,
mengenakan dadanya. Berbareng dengan itu, ia
khawatir, Oey Yong nanti terluka, dari itu lekas-lekas ia
mengerahkan tenaganya, ia menggunai jurus "Melihat
naga di sawah" dari Hang Liong Sip-pat Ciang.
Dengan jurusnya itu ia menolak dorongan keras itu.
Dimana dua-dua pihak menggunai tenaga besar,
kedua tenaga itu bentrok keras sekali. Sebagai
kesudahannya, Kwee Ceng tertolak mundur tujuh atau
delapan tindak, karena pertahanannya tidak dapat
mengalahkan Ilmu Silat Kodok dari Auwyang Hong
yang lihay itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Lekas-lekas Kwee Ceng melepaskan tubuh Oey Yong
, lekas-lekas juga ia memasang kuda-kudanya, guna
melayani terlebih jauh See Tok si Bisa dari Barat itu,
yang sudah hendak menyerang pula padanya. Hanya
belum lagi mereka bentrok pula, Ang Cit Kong berdua
Oey Yok Su sudah berlompat maju menghalang di
antara mereka.
"Sungguh malu," berkata Auwyang Hong. "Tak keburu
aku menahan diri! Apakah si nona terluka?"
Sebenarnya Oey Yong kaget bukan main, tetapi
mendengar pertanyaan orang itu, ia memaksakan diri
tertawa.
"Ayahku berada disini, mana dapat kau melukakan
aku?" katanya.
Oey Yok Su pun berkhawatir. Ia lantas cekal tangan
anaknya itu. Ia menarik.
"Apakah kau merasakan sesuatu yang beda pada
tubuhmu?" tanyanya. "Lekas kau mainkan napasmu!"
Oey Yong menurut, ia lantas menarik dan
mengeluarkan napas dengan beraturan. Ia tidak
merasakan apa juga yang mengganggu
pernapasannya itu. Maka ia lantas tertawa seraya
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat itu, barulah hati Oey Yok Su lega.
"Kedua pamanmu lagi berlatih silat di sini, kenapa kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
main gila, budak?!" ayah ini menegur putrinya itu.
"Kee-mo-kang dari Auwyang pepe hebat luar biasa,
jikalau bukannya dia menaruh belas kasihan
kepadamu, apakah kau kira sekarang kau masih
mempunyai jiwamu? Coba kau lihat paseban itu!"
Oey Yong berpaling, akan melihat paseban seperti
kata ayahnya itu. Diam-diam ia terperanjat. Paseban
itu telah runtuh sebagiannya, tiang bambunya, yang
mendam ke dalam tanah, telah terbongkar tercabut
dan remuk bekas kena hajaran Silat Kodk. Tanpa
merasa, ia mengulur lidahnya.
Ilmu silat Kee-mo-kang dari Auwyang Hong itu dimulai
dari mendiamkan diri disusul sama gerakan tubuhnya,
ketika itu seluruh tenaganya telah dikerahkan, kalau ia
diserang, segera ia dapat menolak balik serangan itu.
Untuk menyerang pun ia mesti berdiam dulu,
memasang kuda-kudanya yang aneh bagaikan kodok
nongkrong. Barusan ia melayani Ang Cit Kong, ia
bersiap dengan kuda-kudanya yang aneh itu, disaat ia
hendak menyerang, mendadak Oey Yong pun
berlompat turun sebab dipondong Kwee Ceng, jadi
tepat di nona melintang di tengah.
Auwyanng Hong pun kaget melihat arah serangannya
adalah si nona, yang ia hendak ambil sebagai istri dari
keponakannya. Ia menginsyafi bahwa si nona
terancam bahaya maut, jiwanya tak bakal tertolong
lagi. Ia juga dapat mendengar cegahannya Oey Yok
Su. Begitulah ia mencoba menarik pulang pukulannya
tetapi gagal, paseban kena terhajar runtuh,
doronganya tenaga itu berlangsung terus. Lalu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mendadak ia merasakan ada satu tenaga lain yang
menahannya. Ketika ia sudah berhenti menyerang, ia
memasang mata tajam ke depannya. Terlihat olehnya,
penolong dari si nona adalah si pemuda Kwee Ceng.
Diam-diam ia mengagumi Ang Cit Kong, katanya
dalam hatinya: "Benar-benar lihay ini pengemis
bangkotan, dia berhasil mengajari muridnya ilmu yang
begini sempura!"
Oey Yok Su pun berpikir melihat sepak terjangnya
Kwee Ceng itu, yang selama di Kwie-in-chung pernah
ia saksikan ilmu kepandaiannya. Katanya dalam
hatinya: "Ini bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya
bumi, dia berani melayani Auwyang Hong, tidak
memandang aku, tidakkah urat-urat dan tulangtulangnya
bakal putus dan remuk?" Ia mengatakan
demikian karena tidak tahu, Kwee Ceng yang
sekarang bukan lagi Kwee Ceng yang sama di Kwiein-
chung itu. Ia ketahui, barusan adalah Kwee Ceng
yang sudah menolong putrinya, maka tanpa merasa
kesannya yang kurang baik untuk pemuda itu menjadi
berkurang tujuh atau delapan bagian. Bukankah bocah
itu sudah berani berkorban untuk Oey Yong?
Diakhirnya ia berpikir: "Bocah ini jujur dan baik hatinya,
walaupun tidak dapat aku nikahkan anakku
kepadanya, mesti menghadiahkan sesuatu
kepadanya."
Selagi Tong Shia berpikir demikian, ia mendapat
dengar suaranya Ang Cit Kong.
"Makhluk beracun bangkotan, sungguh kau hebat!"
demikian Pak Kay, si Pengemis dari Utara. "Kita
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berdua belum ada yang kalah dan menang, mari kita
bertempur pula!"
"Baik, bersedia aku melayani seorang budiman!"
menjawab See Tok, si racun dari Barat.
Ang Cit Kong tertawa.
"Aku bukannya seorang budiman, aku hanyalah
pengemis!"
Dengan hanya sekali berlompot, raja pengemis ini
sudah berada dalam gelanggang.
Auwyang Hong juga hendak masuk ke dalam
gelanggang itu tatkala Oey Yok Su mencegahnya
seraya Tong Shia melonjorkan tangannya yang kiri.
"Tunggu dulu, saudara Cit dan saudara Hong!"
katanya. "Kamu berdua sudah bertarung lebih
daripada seribu jurus, kamu tetap belum memutuskan
menang atau kalah, karena hari ini kamu berdua
adalah tetamu-tetamu terhormat dari Tho Hoa To, lebih
baik kamu berdua duduk minum beberapa cawan arak
pilihan yang aku nanti menyediakannya. Saatnya
merundingkan pedang di Hoa San akan tiba di depan
mata, maka itu wkatu bukan cuma kamu berdua yang
bakal mengadu kepandaian pula, juga aku dan Toan
Hong Ya akan bersama turun tangan! Bagaimana
jikalau pertempuran ini hari disudahi sampai disini?"
"Baiklah!" menyahut Auwyang Hong tertawa, "Kalau
kita bertempur pula, pastilah aku bakal kalah!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ang Cit Kong menarik pulang dirinya. Ia pun tertawa.
"Si makhluk berbisa bangkotan dari Wilayah Barat lain
mulutnya lain hatinya!" berkata dia. "Kau memang
sudah sangat tersohor! Kau membilang bakal kalah, itu
artinya kau bakal menang! Tidak, aku si pengemis tua
tidak dapat mempercayainya!"
"Jikalau begitu, hendak aku mencoba pula
kepandaianmu, saudara Cit!" Auwyang Hong
menantang.
"Tidak ada yang terlebih baik daripada itu!" Ang Cit
Kong menyambut. Dan ia pun bersiap pula.
"Sudahlah!" berkata Oey Yok Su tertawa, melihat
orang hendak bertempur lagi. "Nyatalah kamu berdua
hari ini datang ke Thoa Hoa To untuk
mempertunjukkan kepandaian kamu!"
Ang Cit Kong tertawa lebar.
"Pantas kau mengur aku, saudara Yok!" katanya.
"Sebenarnya kami datang kemari untuk mengajukan
lamaranku, bukannya untuk mengadu kepandaian."
"Bukankah aku telah mengatakan hendak aku
mengajukan tiga syarat untuk menguji kedua
sieheng?" berkata pula Oey Yok Su. "Siapa yang lulus,
dialah yang aku akan ambil sebagai menantuku, dan
siapa yang jatuh, dia pun tidak bakal aku membuatnya
pulang kecewa."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Cit Kong agaknya heran.
"Apa?! Apakah kau masih mempunyai lain putri lagi?"
tanyanya.
"Sekarang ini belum!" sahut Oey Yok Su tertawa.
"Umpama kata aku lekas-lekas menikah pula dan
mendapatkan satu anak perempuan, sekarang ini
sudah tidak keburu lagi! Aku ini mengerti juga kasarkasar
tentang ilmu pengobatan dan meramalkan, maka
itu sieheng yang mana yang tidak lulus, jikalau ia tidak
mencelanya dan sudi mempelajari dia boleh memilih
pelajaran yang mana ia penuju, nanti aku
mengajarinya dengan sungguh-sungguh."
Ang Cit Kong memang tahu Oey Yok Su banyak
pengetahuannya, ia anggap lumayan juga andaikata
orang tak dapat menjadi menantunya tetapi dapat
semacam kepandaian daripadanya untuk kepentingan
seumur hidupnya.
Bab 38. Memilih Baba Mantu.
Auwyang Hong melihat Cit Kong tidak segera
menjawab, ia mendahului: "Baiklah begini keputusan
kita! Sebenarnya saudara Yok sudah menerima naik
keponakanku tetapi karena memandang mukanya
saudara Cit, biarlah kedua bocah itu diuji pula! Aku
lihat cara ini tidak sampai merenggangkan kerukunan."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ia lantas berpaling kepada keponakannya, akan
membilang: "Sebentar, apabila kau tidak sanggup
melawan Kwee Sieheng, itu tandanya kau sendiri yang
tidak punya guna, kau tidak dapat menyesalkan lain
orang, kita semua mesti dengan gembira meminum
arak kegirangannya Kwee Sieheng itu! Jikalau kau
memikir lainnya, hingga timbul lain kesulitan, bukan
saja kedua locianpwee bakal tidak menerima kau, aku
sendiri pun tidak gampang-gampang memberi ampun
padamu!"
Ang Cit Kong tertawa berlenggak.
"Makhluk berbisa bangkotan, teranglah sudah kau
merasa sangat pasti untuk kemenangan pihakmu ini!"
ia berkata. "Kata-katamu ini sengaja kau perdengarkan
untuk kami mendengarnya, supaya kami tidak usah
mengadu kepandaian lagi dan lantas saja menyerah
kalah!"
Auwyang Hong tertawa pula.
"Jikalau kau ketahui itu, bagus! Saudara Yok, silahkan
kau menyebutkan syarat atau cara ujianmu itu!"
Oey Yok Su sudah berkeputusan akan menyerahkan
gadisnya kepada Auwyang Kongcu, ia telah
mengambil putusan akan mengajukan tiga soal yang
mesti dapat dimenangkan calon baba mantunya.
Tetapi, sedang ia memikir untuk membuka mulutnya,
Ang Cit Kong dului ia.
"Main ujian? Itu pun baik!" kata Pak Kay. "Kita ada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bangsa memainkan pukulan dan tendangan, maka itu
saudara Yok, jikalau kau mengajukan syarat, mestilah
itu mengenai ilmu silat. Umpama kata kau mengajukan
urusan syair dan nyanyian, atau soal mantera dan
melukis gambar dan lainnya, maka kami berdua
terang-terang akan mengaku kalah saja, kami akan
menepuk-nepuk kempolan kami dan mengangkat kaki,
tak usah lagi mempertontonkan keburukan kami di
depan kamu!"
"Itulah pasti!" Oey Yok Su memberikan kepastiannya.
"Yang pertama-tama ialah mengadu silat…"
"Itulah tak dapat!" Auwyang Hong menyelak.
"Sekarang ini keponakanku tengah terluka."
"Inilah aku ketahui," kata Oey Yok Su tertawa. "Aku
juga tidak nanti membiarkan kedua sieheng mengadu
kepandaian si Tho Hoa To ini, sebab itu dapat
merenggangkan kerukunan kedua pihak."
"Jadi bukannya mereka berdua mengadu silat?"
Auwyang Hong menegaskan.
"Tidak salah!" sahut Oey Yok Su.
Auwyang Hong girang, ia tertawa.
"Benar!" katanya. "Apakah kepala penguji hendak
memperlihatkan beberapa jurus untuk setiap orang
mencoba-coba jurus itu?"
"Itu juga bukan," Oey Yok Su menggeleng kepalanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Dengan cara itu sudah dipertanggungjawabkan yang
aku nanti tidak berlaku berat sebelah. Bukankah
diwaktu menggeraki tangan dapat orang membikin
enteng atau berat sesuka hati? Saudara Hong,
kepandaianmu dan sudara Cit sudah sampai
dipuncaknya kemahiran dan barusan pun, sampai
seribu jurus lebih, kamu masih sama tangguhnya.
Sekarang baiklah kau mencoba Kwee Sieheng dan
saudara Cit mencoba Auwyang Sieheng."
Mendengar itu Ang Cit Kong tertawa.
"Cara ini tidak jelek!" bilangnya. "Mari, mari kita cobacoba!"
sembari berkata, ia terus menggapaikan
Auwyang Kongcu.
"Tunggu dulu!" berkata Oey Yok Su cepat. "Kita harus
mengadakan aturannya. Pertama-tama; Auwyang
Sieheng lagi terluka, tidak dapat ia mengempos
semangatnya dan berkeras menggunkana tenaganya,
dari itu kita harus menguji kepandaiannya tetapi bukan
tenaganya. Kedua; kamu berempat harus bertempur di
atas bambu, siapa yang terlebih dulu jatuh ke tanah,
dialah yang kalah. Dan yang ketiga; Siapa yang
melukai pihak anak muda, dialah yang kalah."
Ang Cit Kong heran.
"Melukai anak muda dihitung kalah?" dia bertanya.
"Demikian selayaknya!" menjawab Oey Yok Su. "Kamu
berdua sangat lihay, jikalau tidak diadakan aturan
semacam ini, sekali kamu turun tangan, apakah kedua
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sieheng masih ada nyawanya? Saudara Cit, asal kau
membikin lecet saja kulitnya Auwyang Sieheng, kau
teranggap kalah! Demikian juga dengan saudara
Hong!"
Pak Kay menggaruk-garuk kepalanya. Tapi ia tertawa.
"Oey Lao Shia si Sesat bangkotan benar-benar sangat
ajaib bin aneh, bukan percuma namanya disohorkan!"
katanya. "Pikir saja, siapa yang melukai musuh dia
justru yang kalah! Aturan ini adalah aturan paling aneh
sejak jaman purbakala! Tapi baiklah, mari kita
bertindak menurut aturan ini!"
Oey Yok Su memberi tanda dengan kipasan
tangannya, keempat orang itu sudah lantas berlompat
naik ke atas pohon, merupakan dua rombongan; Ang
Cit Kong bersama Auwyang Kongcu di kanan, dan
Auwyang Hong bersama Kwee Ceng di kiri.
Oey Yok Su masgul. Ia ketahui baik, Auwyang Kongcu
terlebih llihay daripada Kwee Ceng, benar pemuda itu
terluka tetapi dengan mengadu ringan tubuh, dia masih
terlebih unggul.
Oey Yok Su sudha lantas berseru; "Asal aku
menghitung habis satu, dua dan tiga, kamu semua
boleh mulai bertempur! Auwyang Sieheng dan Kwee
Sieheng, siapa saja di antara kamu yang jatuh lebih
dulu, dialah yang kalah!"
Mendengar begitu, Oey Yong berpikir keras,
memikirkan daya untuk membantu Kwee Ceng. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bingung, Auwyang Hong sangat lihay, bagaimanaia
dapat menyelak di antara mereka itu?
Segera Oey Yok Su menghitung: "Satu! Dua…! Tiga!"
Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu
itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan.
Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia
memasang mata. Ia melihat, cepat sekali sudah lewat
belasan jurus. Ia menjadi heran, tidak kecuali Oey Yok
Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat
kemajuannya.
"Aneh, mengapa dia masih belum kalah?" pikir Tong
Sia si Sesat dari Timur.
Auwyang Hong sendiri berduka sangat, ia menjadi
bergelisah sendirinya, dengan sendirinya ia mulai
gunai tenaganya, untuk mendesak. Ia heran untuk
lihaynya si bocah. Dipihak lain, tidak dapat ia
melukakan si bocah itu. Tapi ia berpikir keras, maka
lekas juga ia mendapat jalan. Dengan tiba-tiba saja ia
menyapu dengan kedua kakinya untuk membikin
lawannya roboh, begitu lekas serangan pertama gagal,
ia mengulanginya saling susul, bertubi-tubi.
Diserang secara hebat berantai begitu, Kwee Ceng
membuat perlawanan dengan Hang Liong Sip-pat
Ciang jurus "Naga Terbang di Langit", tubuhnya
beruulang-ulang berlompat, membal ke atas, sedang
kedua tangannya, yang dibuka dan nampaknya tajam
seperti golok atau gunting, senantiasa dipakai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membabat ke arah kaki lawannya yang lihay itu. Ia jadi
selalu berkelit sambil menyerang.
Hatinya Oey Yong berdebaran menyaksikan
pertempuran dahsyat itu. Ketika ia melirik kepada Ang
Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapatkan cara
mereka bertempur pun beda.
Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian enteng
tubuhnya, ia berlari-lari ke Timur dan Barat, sama
sekali ia tidak sudi berhadapan sama Ang Cit Kong
untuk bertempur sekalipun satu jurus. Kalau Ang Cit
Kong merangsak, ia lekas-lekas menyingkir.
"Binatang ini main menyingkir saja, ia memperlambat
tempo," pikir Cit Kong. "Kwee Ceng sebaliknya tolol,
dia melayani Auwyang Hong emngadu tenaga dan
kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu…"
Pengemis dari Utara ini segera berpikir. "Hm!" ia
perdengarkan suara di hitungnya, lalu tiba-tiba saja ia
lompat mencela tinggi, menubruk kepada si anak
muda, kedua tangannya diulur dengan sembilan
jarinya dibuka merupakan cengkeraman ceker baja.
Menampak demikian, Auwyang Kongcu terkejut.
Segera ia menjejak dengan kaki kirinya, berkelit
berlompat ke kanan.
Ang Cit Kong menubruk tempat kosong tetapi ia sudah
dapat menduga orang bakal menyingkir ke kanan itu,
maka juga dengan menjumpalitkan tubuhnya, ia
mendahului lompat ke kanan, di sana segera ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bersiap dengan kedua tangan sambil ia berseru:
"Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!"
Auwyang Kongcu kaget bukan main, kaget karena
gerakan orang yang sebat, yang seperti memegat
jalannya, dan kaget untuk ancaman. Tidak berani ia
menangkis serangan itu untuk membela dirinya. Di luar
keinginannya, belum sempat ia memikirkan daya,
kakinya sudah menginjak tempat kosong, maka terus
saja ia jatuh. Ia telah memikir, kalahkah ia dalam
pertandingan ini? Hanya ketika itu, Kwee Ceng pun
jatuh di sampingnya!
Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah
sekian lama ia tidak dapat merobohkan bocah
lawannya. Kejadian ini membuatnya bergelisah. ia
telah berpikir: "Jikalau aku mesti melayani dia sampai
lebih daripada limapuluh jurus, ke mana perginya
pamornya See Tok?" Karena ini ia mendesak,
bagaikan kilat tangan kirinya menyambar ke belakang
lehernya Kwee Ceng. Ia pun berseru: "Kau turunlah!"
Pemuda itu berkelit sambil mendak, tangan kirinya
diulur, niatnya untuk menangkis, disaat mana,
mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Ia
menjadi kaget hingga ia menegur; "Kau…kau…." Ia
hendak menanya: "Kenapa kau tidak menaati
peraturan?" dan ia mengerahkan tenaganya. Atau
mendadak Auwyang Hong tertawa dan menanya: "Aku
kenapa?" Dengan mendadak juga ia membatalkan
pengerahan tenaganya itu.
Kwee Ceng mengatur tenaganya, untuk melawan. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkhawatir jago tua itu nanti menggunai kuntauw
kodoknya, ia takut nanti terluka di dalam. Siapa sangka
tengah ia berkuat-kuat, tiba-tiba saja penyerangnya itu
lenyap dari hadapannya. Di dalam latihan dan
pengalaman, sudha tentu ia kalah jauh dibandingkan
dengan See Tok, maka syukur untuknya, dari Ciu Pek
Thong ia telah memperoleh ilmu silat "Kong Beng Kun"
yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu, yang sifatnya
dalam "keras ada kelembekannya", kalau tidak pastilah
akan terjadi seperti di Kwie-in-chung tempo melayani
Oey Yok Su, tangannya salah urat. Meski demikian, ia
toh terjerumuk, kakinya limbung, tidak ampun lagi ia
jatuh kepala di bawah, kaki di atas!
Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, berdiri, Kwee
Ceng menjadi terbalik. Keduanya jatuh berbareng.
Tubuh mereka pun berada berdekatan. Auwyang
Kongcu melihat tegas saingannya itu, mendadak saja
timbul pikirannya yang sesat. Mendadak ia majukan
kedua tangannya, untuk menekan kedua kakinya
Kwee Ceng itu, berbareng dengan mana, meminjam
kaki orang, ia apungi tubuhnya naik. Dengan demikian,
selagi ia mumbul, Kwee Ceng sendiri turun semakin
cepat.
Oey Yong kaget tidak terkira. Itulah artinya Kwee Ceng
pemuda pujaannya bakal kalah. Tanpa merasa, ia
menjerit; "Ayo!"
Hampir berbareng dengan jeritan itu, terlebihlah tubuh
Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, di lain pihak,
tubuhnya Auwyang Kongcu turun pula, bahkan terus
jatuh ke tanah. Di lain pihak lagi, Kwee Ceng telah tiba
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan
meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!
Menyaksikan kejadian itu dari kaget bukan main, Oey
Yong menjadi girang bukan kepalang. Sungguhsungguh
ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian
rupa sedang pada Kwee Ceng ia tidak nampak
sesuatu aksi. Bukankah pemuda itu terpisah hanya lagi
beberapa kaki dari tanah?
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong pun sudah samasama
berlompat turun, Ang Cit Kong tertawa terbahakbahak,
berulang-ulang ia berseru: "Sungguh indah!
Bagus!"
Parasnya See Tok, sebaliknya muram.
"Saudara Cit, muridmu yang lihay ini campur aduk
sekali ilmu kepandaiannya!" ia berkata, "Dia pun
sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa
Mongolia!"
Ang Cit Kong tertawa.
"Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu!" katanya,
mengaku terus-terang. "Bukanlah aku yang
mengajarkan dia, maka itu janganlah kau main gila
denganku!"
Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali yang Auwyang
Kongcu sudah menekan kakinya itu berbareng si
kongcu sendiri mengapungkan diri. Dia mengerti,
hebat kalau dia jatuh, sedang si kongcu itu bakal
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berada di atasannya. Itulah artinya ia kalah dan
bercelaka. Disaat segenting itu, ia tidak menjadi
gugup. Ia melihat kaki orang di depan mukanya, hebat
luar biasa, ia menyambar dengan kedua tangannya,
menarik dengan keras seraya tubuhnya pun
diapungkan ke atas. Memang itulah ilmu gulat orang
Mongolia, supaya sesudah roboh dapat berlompat.
Itulah ilmu gulat yang tak ada bandingannya turun
temurun. Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir,
sebelum ia berguru dengan Kanglam Cit Koay, ia
sudah bergaul erat dengan Tuli dan lainnya bocah
bangsa Mongolia itu, dengan sendirinya sering mereka
adu gulat. Sekarang ia menghadapi bahaya, hampir
tanpa berpikir, ia menggunai ilmu kepandaiannya itu.
Ia pun meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang
Kongcu meminjam tenaganya. Dan ia memperoleh
kemenangan!
"Kali ini Kwee Sieheng yang menang!" Oey Yok Su
sudah lantas mengasih dengar putusannya. "Kau
jangan bersusah hati, saudara Hong, jangan panas.
Auwyang Sieheng lebih lihay, siapa tahu pertandingan
kedua dan ketiga dia nanti yang menang?"
"Kalau begitu, silahkan saudara Yok menyebutkan
acara pertandingan yang kedua itu," meminta
Auwyang Hong.
"Pertandingan yang nomor dua dan nomor tiga ini
adalah pertandingan sacara bun," berkata Oey Yok Su.
Cara "bun" ialah cara halus, tanpa kekerasan.
Mendengar ayahnya itu, Oey Yong menjerit.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ayah, terang-terangan kau berat sebelah!" katanya.
"Kenapa kau menggunai cara bun? Ah, engko Ceng,
sudahlah kau jangan mau bertanding pula!"
"Kau tahu apa?!" berkata sang ayah. "Dalam ilmu silat,
kalau telah dicapai puncaknya kemahiran, apa orang
akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang
kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua
sieheng mengenal sebuah lagu serulingku…."
Girang Auwyang Kongcu mendengar halnya acara itu.
Katanya dalam hatinya: "Si tolol ini, apakah tahunya
tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku ynag
bakal menang…"
Auwyang Hong tapinya berkata; "Anak-anak muda
masih lemah sekali latihannya bersemedhi
menenangkan hati, aku khawatir tidak dapat mereka
bertahan dari lagumu, saudara Yok."
"Laguku lagu biasa saja, saudara Hong, jangan kau
khawatir," Oey Yok Su menghibur. Lalu ia
menghadapai Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng,
untuk berkata: "Kedua sieheng, silahkan kau masingmasing
mematahkan secabang pohon, kapan nanti
kamu mendengar suara laguku, lantas kamu
menimpali dengan mengetok-ngetok batang pohon itu.
Siapa yang dapat menimpali paling tepat, paling
bagus, dialah yang menang."
Kwee Ceng maju menghampirkan tuan rumah, ia
menjura.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Oey tocu," katanya hormat. "Teecu ini sangat tolol,
tentang ilmu tetabuhan teecu tidak vtahu satu nol
puntul, maka itu dalam pertandingan yang kedua ini
teecu menyerah kalah saja…."
"Jangan kesusu, jangan kesusu!" Ang Cit Kong
mencegah. "Biar bakal kalah, apakah halangannya
untuk mencoba dulu? Apakah kau khawatir nanti
ditertawakan orang? Jangan takut!"
Mendengar perkataan gutu itu, pikiran Kwee Ceng
berubah. Ia pun melihat Auwyang Kongcu sudah
lantas mematahkan sebatang cabang, maka ia lantas
mencari secabang yang lain.
Oey Yok Su tertawa, ia berkata, "Saudara Cit berada
disini, sungguh siauwtee membuatnya kau nanti
menertawainya!"
Pemilik Tho Hoa To ini sudah lantas membawa
seruling ke bibirnya, maka sedetiknya kemudian, ia
sudah mulai meniup.
Auwyang Kongcu memasang kuping mendengar
irama, cuma sebentar, ia lantas menabuh cabang
pohonnya itu, memperdengarkan suara seperti
timpalan kecrek. Ia mengerti lagu, dapat ia menimpali
dengan baik.
Sebaliknya Kwee Ceng agaknya bingung, ia angkat
bambunya tetapi ia tidak mengetok itu, maka juga
ketika serulingnya Oey Yok Su sudah berbunyi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lamanya sehirupan teh, ia masih belum menimpali
sekali juga….
Melihat itu Auwyang Hong dan keponakannya menjadi
girang sekali. Mereka merasa pasti, kali ini mereka
bakal menang. Bukankah acara yang ketiga pun acara
bun? Mereka percaya, mereka pun bakal menangi
acara yang ketiga itu….
Oey Yong adalah sebaliknya dari itu paman dan
keponakan. Ia bergelisah sangat. Ia berkhawatir sekali
Kwee Ceng kalah. Maka dengan jari tangannya yang
kanan, ia menepuk-nepuk lengannya yang kiri. Ia
mengharap-harapi si anak muda melihatnya dan nanti
menelad caranya itu. Untuk kecelenya, ia mendapat
Kwee Ceng dongak mengawasi langit, berdiam saja,
tak ia melihat pertandaannya itu….
Oey Yok Su masih meniup terus lagunya.
Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk
batang bambunya itu. Ia menepuk di tengah-tengah
antara bagian dua tepukan.
Auwyang Kongcu tertawa terkekeh.
"Baru mengetok, dia sudah kalah!" pikirnya pemuda
ini.
Kwee Ceng kembali menepuk pula, kembali di bagian
tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai
empat kali, semuanya itu tidak tepat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong menggeleng-geleng kepala.
"Aku punya engko tolol ini tidak mengerti ilmu
tetabuhan, tidak selayaknya ayah justru menguji ia
dengan lagu!" katanya dalam hatinya. Sembari berpikir
begitu, ia menoleh kepada ayahnya. Untuk herannya,
ia menampak air muka ayahnya yang berubah. Ayah
itu agaknya merasa aneh.
Kwee Ceng masih memperdengarkan pula kecrek
bambunya itu, atas mana lau terdengar irama seruling
seperti rancu, hanya sebentar kemudian, irama itu
balik kembali dengan rapi menuruti lagunya.
Masih saja Kwee Ceng menepuk, tetap ia sama
caranya itu, di tengah-tengah di antara dua bagian
kecrekan, hanya caranya sebentar cepat sebentar
perlahan, sebentar mendahului, sebentar ketinggalan.
Cara ini hampir-hampir mengacaukan lagunya Oey
Yok Su.
Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik pulau
Tho Hoa To itu, yang perhatiannya menjadi tertarik
sekali, juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong tidak
mengerti. Mereka turut menjadi heran.
Tadi Kwee Ceng telah mendengarnya suara
pertempuran di antara seruling, ceng dan siulan, tanpa
merasa ia menginsyafinya irama pertempuran
istimewa itu, sekarang mendengar lagunya Oey Yok
Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo,
lalu akhirnya ia mengasih dengar suara bambunya
untuk mengacau itu. Ia mengetok dengan keras,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
suaranya "Bung! Bung! Bung!"
Tidak peduli telah mahir ilmu menetapkan atau
menenangkan hati dari Oey Yok Su, ia pun tergempur
suara bambu orang itu, beberapa kali hampir ia
membuatnya lagunya berbalik mengikuti ini suara
kecrek istimewa dari Kwee Ceng: "Bung! Bung!"
Lantas Oey Yok Su mengasih bangun semangatnya.
"Hebat kau, bocah!" pikirnya. Ia meniup pula
serulingnya, sekarang dengan irama perlahan tetapi
banyak perubahannya, selalu berganti tekukannya.
Auwyang Kongcu memasang kupingnya, untuk
menangkap lagu itu, baru sesaat, tanpa merasa ia
mengangkat bambunya, sendirinya terus ia bergerakgerak
menari!
Auwyang Hong terkejut, ia menghela napas. Segera ia
maju, untuk mencekal lengan keponakannya itu,
menekan nadinya. Menyusuli itu, ia mengelarkan sapu
tangan sutera, untuk menyumbat kuping orang, supaya
Auwyang Kongcu tidak dapat mendengar lagu itu.
Ketika kemudian si keponakan mulai tetap hatinya,
baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya itu.
Oey Yong sendiri tidak terganggu seruling ayahnya itu.
Seperti sang ayah, ia sudah biasa mendengar itu lagu
"Thia Mo Bu" atau "Tarian Hantu Langit". Ia hanya
berkhawatir untuk Kwee Ceng, takut si anak muda tak
dapat menenangi diri, menetapi hati, untuk
mempertahankan diri…………..
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng sudah lantas duduk bersila di tanah, ia
menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan
Cin Kauw, dengan begitu ia menentang rayuan atau
bujukannya irama seruling yang menggoncangkan hati
itu. Berbareng dengan itu, tak hentinya ia
memperdengarkan kecrek bambunya, untuk
mengacau lagu itu.
Tadi Oey Yok Su bertiga Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong, dengan lagu-lagu mereka telah mengadu irama,
mereka dapat saling menyerang, saling membela diri,
mereka tidak saja tak kena terbujuk atau terserang,
sebaliknya mereka dapat menyerang. Sekarang Kwee
Ceng kalah latihan tenaga dalam, ia tidak dapat
menyerang, ia cuma bisa membela diri, malah rapat
penjagaannya itu. Benar ia tidak bisa melakukan
penyerangan membalas tetapi juga benar oey Yok Su
tidak dapat menaklukinya.
Selang sesaat kemudian, suara seruling semakin lama
jadi makin perlahan dan halus, sampai sukar
terdengarnya. mendengar itu, Kwee Ceng berhenti
dengan ketokan bambunya, ia memasang kupingnya.
Justru inilah lihaynya Oek Yok Su. Makin perlahan
suara serulingnya, makin besar tenaga menariknya.
Begitu Kwee Ceng diam mendengari, bekerjalah
pengaruh menarik itu. Irama seruling dan irama bambu
bergabung menjadi satu, mestinya pemusatan pikiran
si anak muda kena terbetot.
Tetapi Kwee Ceng bukannya lain orang. Coba lain
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
orang, mestinya ia sudah runtuh, tak dapat ia
meloloskan diri. Ia pernah menyakinkan ilmu saling
serang dengan tangan sendiri, sebagimana ia telah
lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka itu, hatinya
satu tetapi ia dapat memecahnya menjadi dua. Maka
begitu ia mendengar suara aneh itu, yang membetot
keras hatinya, ia memecah hatinya menjadi dua. Ia
insyaf akan bahaya yang mengancam. Dengan
demikian, sambil menetapi hati, menenangi diri, ia
memperdengarkan pula suara sebatang bambunya
yang ia pegang dengan tangan kirinya, maka
mendengung pulalah suara bung-bung.
Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya.
"Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak
dapat ia dipandang enteng," pikirnya. Tapi ia
penasaran, ia mencoba pula. Tidak lagi ia berdiri diam,
dengan mengangkat kakinya, ia bertindak dalam
penjuru patkwa, delapan persegi, sembari jalan ia
meniup terus serulingnya.
Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya
mengasih dengar tepukan yang berbeda, dengan
begitu ia bagaikan dua orang yang menentang Oey
Yok Su satu orang. Tenaganya pun bertambha
sendirinya.
Oey Yocu bukan sembarang orang, makin ditentang ia
jadi makin gagah, lalu nada serulingnya menjadi tinggi
dan rendah, makin luar biasa terdengarnya iramanya
itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng terus melawan, tetap ia mempertahankan
diri, sampai mendadak ia dapat merasakan dari suara
seruling itu seperti ada hawa dingin yang menyambar
kepadanya, bagaikan hawa dingin dari es
membungkus dirinya. Tanpa merasa, ia mengigil.
Biasanya suara seruling halus dan lemah mengalun,
panjang kali ini perubahannya ialah menjadi keras,
bagaikan penyerangan dahsyat, maka itu Kwee Ceng
merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya.
lekas-lekas ia memusatkan pikirannya lagi, ia
memecah dua pula. Ia mengingat kepada matahari
panas terik tergnatung di udara, di waktu musim panas
memukul besi, atau dengan tangan memegang obor
besar memasuki dapur ynag apinya marong dan panas
sekali. Pemusatan perumpamaan ini berhasil
mengurangi serangannya hawa dingin itu.
Kembali Oey Yok Su menjadi heran. Ia melihatnya
ditubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada sifat dingin,
sebaliknya di tubuh sebelah kanan tertampak keringat
keluar tanda dari hawa panas. Ia lantas merubha pula
irama lagunya. Ia melenyapkan hawa dinginnya, ia
mengganti itu dengan hawa panas dari musim panas.
Kwee Ceng terkejut karena perubahan itu, disaat ia
hendak menentang lagi, suara batang bambunya
sudah menjadi kacau sendirinya.
Oey Yok Su menyaksikan itu, katanya dalam hatinya:
"Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan
sekian lama, hanya kalau ia tetap terserang terus
hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bakal dapat sakit berat." Karena memikir demikian, ia
berhenti meniup serulingnya, maka sedetik saja,
iramanya seperti lenyap di rimba. Maka berhentilah
lagu seruling itu.
Kwee Ceng segera mengerti orang telah mengalah
terhadapnya, ia lantas berlompat bangun, untuk
memberi hormat kepada Oey Yok Su seraya
menghanturkan terima kasih untuk kebaikan hati
orang, yang ia bahsakan "Oey Tocu."
Oey Yok Su heran hingga ia mau menduga; "Bocah ini
masih sangat muda usianya, siapa tahu ilmu dalamnya
begini bagus. Mustahilkah sengaja ia memperlihatkan
sikap ketolol-tololan sedang sebenarnya ia cerdas luar
biasa? Jikalau tapat dugaanku ini, anakku mesti
dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba pula!"
Begitulah ia tersenyum.
"Kau baik sekali!" katanya manis. "Kau masih
memanggil Oey Tocu kepadaku?"
Dengan pertanyaannya itu Oey Yok Su hendak
memberi tanda, "Dari tiga ujian, kau sudah lulus yang
dua, karenanya sudah boleh kau mengubah panggilan
menjadi gakhu tayjin."
Arti "gakhu tayjin" ialah ayah mertua yang terhormat.
Kwee Ceng ada seorang yang jujur dan polos, ia tidak
mengerti yang kata-kata orang mengandung dua
maksud, maka ia menjadi gugup.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku…aku…" katanya, lalu ia tak dapat
meneruskannya. Lalu matanya mengawasi kepada
Oey Yong, untuk memohon bantuan dari si nona…..
Oey Yong girang bukan main. Ia lantas menekuknekuk
jempol kanannya. Itu berarti anjuran untuk Kwee
Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.
Kebetulan Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa
bersangsi lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah
sambil mengangguk sampai empat kali. Meski ia
memberi hormat secara begitu, tetapi mulutnya tetap
bungkam.
"Kau memberi hormat kepadaku, kenapa?" tanya Oey
Yok Su tertawa.
"Yong-jie yang menyuruh aku," sahut si tolol.
"Ah, dasar tolol, tetap tolol!" pikir Oey Yok Su. Ia lantas
mengulur tangannya kepada Auwyang Kongcu, guna
menyingkirkan sumbatan di kuping anak muda itu
sembari ia berkata; "Bicara dari hal tenaga dalam,
Kwee Sieheng yang terlebih mahir, akan tetapi ketika
aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng,
ynag lebih mengerti….Begini saja, acara nomor dua ini
aku anggap seri. Sekarang hendak aku memulai
dengan acara yang ketiga, supaya dengan ini didapat
keputusan siapa di antara kedua sieheng, siapa yang
menang dan siapa yang kalah."
"Aku, akur!" Auwyang Hong cepat-cepat memberi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
persetujuannya. Ia tahu keponakannya sudah kalah, ia
tidak menyangka yang Oey Yok Su si juru pemisah
sudah berbuat berat sebelah.
Ang Cit Kong menyaksikan itu semua, ia cuma
tersenyum, tidak ia memperdengarkan suaranya.
Melainkan di dalam hatinya ia bilang: "Si Sesat
bangkotan, anak ialah anakmu, jikalau kau suka
menikahkan dia sama pemuda doyang berfoya-foya,
lain orang tidak dapat mencampur tahu! Tetapi aku si
pengemis tua, aku ingin sekali menempur padamu.
Sekarang aku berada bersendirian saja, dua tanganku
tidak nanti sanggup melayani empat buah tangan,
biarlah, nanti aku mencari dulu Toan Hongya, untuk ia
membantu aku. Sampai itu waktu nanti jelaslah segala
apa!"
Itu wkatu Oey Yok Su sudah merogoh sakunya untuk
mengeluarkan sejilid buku yang bagian mukanya
dilapisi cita merah, sembari berbuat begitu, ia berkata:
"Bersama istriku aku mempunyai cuma ini seorang
anak perempuan, tidak beruntung istriku itu, ia
menutup mata habis melahirkan anaknya ini, sekarang
aku merasa beruntung yang saudara Cit dan saudara
Hong memandang mata kepadaku, bersama-sama
kamu melamar gadisku ini. Jikalau istriku masih hidup,
tentu ia girang sekali……….."
Merah matanya Oey Yong mendengar ayahnya
menyebut-nyebut almarhum ibunya.
"Buku ini ialah buku yang ditulis sendiri oleh istriku
semasa hidupnya istriku itu," Oey Yok Su berkata pula.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jadi inilah warisan dari hati dan darahnya… Sekarang
aku minta kedua sieheng membaca buku ini, setelah
selesai kau mesti membaca pula di luar kepala, siapa
yang dapat menghapalnya lebih banyak kali dan tidak
bersalah, akan aku serahkan anakku ini kepadanya…"
Ia berhenti sebentar. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong,
ia mendapatkan Pak Kay tersenyum. Lalu ia
meneruskan; "Menurut aturan, Kwee Sieheng sudah
menang satu pertandingan, tetapi kitab ini ada sangkut
pautnya dengan kehidupanku, dan istriku pun
meninggal dunia karena kitab ini, maka itu sekarang
hendak aku memuji di dalam hatiku supaya ialah
sendiri yang nanti memilih baba mantunya, biar ia
memayungi salah satu sieheng ini."
Sampai di situ habis sudah sabarnya Ang Cit Kong.
Tadi ia masih dapat menguasai diri, dia hanya
bersenyum. Sekarang tidak.
"Oey si bangkotan sesat!" ia berkata nyaring. "Siapa
kesudian mendengari obrolan setanmu panjangpanjang?
Terang kau mengetahui muridku tolol, dia
tidak mengerti ilmu surat dan syair, sekarang kau
suruh ia membaca dan menghapalnya di luar kepala,
lalu kau menggertak dengan istrimu ynag sudha mati!
Sungguh kau tidak tahu malu!"
Habis berkata, si pengemis mengibas tangannya, terus
ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi.
Oey Yok Su tertawa dingin.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Saudara Cit!" ia berkata, "Jikalau kau datang ke Tho
hoa To ini untuk banyak tingkah, mestinya kau belajar
pula ilmu silatmu untuk lagi beberapa tahun!"
Ang Cit Kong membalik pula tubuhnya, sepasang
alisnya berbangkit.
"Apa?!" tanyanya bengis.
"Kau tidak mengerti ilmu Kie-bun Ngo-heng, jikalau kau
tidak dapat perkenan dari aku, jangan kau harap nanti
dapat keluar dari pulau ini!" menjawab si tuan rumah.
"Akan aku melepaskan api membakar ludas semua
bunga dan pohonmu ynag bau!" Cit Kong berkata
keras.
"Jikalau kau ada mempunyai kepandaianmu, cobalah
kau bakar!" Oey Yok Su menentang.
Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee
Ceng maju sama tengah.
"Oey Tocu! Ang Locianpwee!" ia berkata. "Biarlah nanti
teecu mencoba bersama Auwyang toako membaca
buku itu dan menghapalnya di luar kepala. Teecu
memang bebal, umpama teecu kalah, itulah sudah
selayaknya…"
Oey Yok Su mendelik kepada si anak muda.
"Kau memanggil apa kepada gurumu?!" ia menegur.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Teecu baru saja mengangkat guru, oleh karena teecu
masih belum memberitahukan itu kepada enam
guruku, sekarang ini belum berani teecu merubah
panggilan," Kwee Ceng memberi keterangan.
"Hah! Di mana sih ada sekian banyak kerewelan!"
katanya Tong Shia sebal.
Luas pengetahuannya Oey Yok Su tetapi sepak
terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan,
maka itu tidaklah ia puas mendapatkan pemuda itu
demikian menjunjung ada peradatan.
"Bagus!" berseru Ang Cit Kong. "Aku masih belum
terhitung gurumu! Kau sudi mendapat malu, terserah
padamu! Silahkan, silahkan!"
Oey Yok Su tidak membilang suatu apa, hanya
berpaling kepada anaknya.
"Kau duduklah baik-baik, jangan kau main gila!"
katanya. Ia memesan demikian, karena ia khawatir
anak itu membantu pula Kwee Ceng.
Oey Yong tersenyum, ia tidak menyahuti. Tapi ia
berdiam dengan hatinya bekerja. Ia tahu kali ini
pastilah Kwee Ceng bakal kalah, maka ia mengasah
otaknya mencari jalan keluar untuk nanti buron
bersama-sama pemuda itu….
Oey Yok Su lantas menitahkan Kwee Ceng dan
Auwyang Kongcu duduk berendeng di sebuah batu
besar, ia berdiri di depan mereka, ia memegangi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kitabnya, yang ia ansurkan untuk mereka itu
melihatnya, sebab mereka mesti membaca dengan
berbareng.
Judul kitab ada "Kiu Im Cin-keng" Bagian Bawah,
model hurufnya model Toan-jie. Begitu melihat itu,
Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia berkata dalam
hatinya: "Dengan segala macam akal aku memaksa
Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini, siapa tahu
sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik kepadaku,
ia membiarkan aku membaca kitab luar biasa ini!"
Kwee Ceng melihat enam huruf itu, tak sehuruf juga
yang ia kenal. Ia berpikir: "Dia sengaja hendak
membikin susah padaku! Surat yang berlugat-legot
bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku
menyerah kalah…"
Ketika itu Oey Yok Su sudah mulai membalik kulitnya
buku itu. Nyata huruf-huruf di dalamnya mermodel
huruf Kay-jie, ialah huruf biasa dan huruf-hurufnya
tertulis bagus sekali. Teranglah itu tulisannya seorang
wanita. Ketika ia sudah membaca baris pertama,
hatinya goncang. Baris itu berbunyi: "Aturan dari langit,
rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka itu
kosong lebih menang daripada luber, tak cukup
menang menang…. Semuanya itu sudah pernah ia
mendengarnya dari Ciu Pek Thong, yang pernah ia
sudah menghapalnya. Maka ia lantas melihat lebih
jauh. Untuk kegirangannya, semua itu adalah hurufhuruf
yang ia sudah hapal benar.
Oey Yok Su menunggu sampai ia merasa orang sudah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membaca habis, ia membalik pula halaman lainnya.
Hal ini dilakukan terus selang sesaat. Hanya hurufhuruf
itu makin lama makin tak lengkap susunannya, di
bagian belakang menjadi kacau, sedang tulisannya
sendiri makin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan
tenaga.
Terkesiap hati Kwee Ceng, karena sekarang ia ingat
keterangannya Ciu Pek Thong halnya Oey Hujin, yaitu
istrinya Oey Yok Su, yang sudah menuliskan isi kitab
secara dipaksakan, kerana tubuhnya menjadi lemah,
hingga diwaktu melahirkan Oey Yong, tenaganya habis
dan menjadi meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis
disaat-saat kematiannya nyonya itu.
"Mungkinkah yang Ciu Toako menitahkan aku
menghapalkannya adalah isi kitab ini?" Kwee Ceng
berpikir pula. "Adakah ini Kiu Im Cin-keng? Tidak, tidak
bisa jadi! Kitab itu bagian bawahnya sudah dibikin
lenyap oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang
bisa berada di tangannya Oey Yok Su ini?"
Oey Yok Su melihat orang bengong, ia menduga
mestinya kepala pemuda ini sudah pusing. Ia tidak
mengambil mumat, ia terus membalik-balik pelbagai
halaman setelah temponya, ia merasa, orang sudah
membaca habis.
Mulanya Auwyang Kongcu dapat membaca dengan
baik, kemudian toba kepada penjelasan cara
melatihnya ilmu silat itu, ia bingung karena katakatanya
seperti terputar balik. Kemudian lagi, hatinya
mencelos akan mendapatkan ada huruf-huruf yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berlompatan, hingga karangan tak lagi lancar. Di
dalam hatinya ia menghela napas dan berkata:
"Kiranya dia masih tidak hendak memperlihatkan kitab
yang tulen…" Tapi ia dapat memikir sebaliknya; "Benar
aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, tetapi
toh aku jauh lebih banyak dapat mengingatnya
daripada si tolol ini, mak adalam ujian ini pastilah aku
yang bakal menang. Oh, si nona yang sangat cantik
manis yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya toh
bakal menjadi orangku juga…!"
Kwee Ceng juga melihat dan membaca setiap
halaman yang dibalik terus oleh Oey Yok Su itu, ia
mendapat kenyataan semua isinya itu sama seperti
yang ia diajarkan Ciu Pek Thong, cuma bagian-bagian
yang lompat saja yang tak terbaca tetapi ia ketahui itu,
sebab ia masih hapal semua ajaran kakak angkatnya
si orang tua yang jenaka dan berandalan itu. Ia
mengangkat kepalanya, memandang ke arah pohon, ia
tidak dapat menduga apa hubungannya ajaran Ciu Pek
Thong itu dengan kitab ini.
Tidak lama, setelah membalik halaman terakhir, Oey
Yok Su emngawasi kedua pemuda itu.
"Nah, siapa yang hendak membaca terlebih dulu di
luar kepala?" dia menanya.
Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu sudah berpikir
untuk jawaban itu. Pikirnya: "Isi kitab kacau sekali,
sangat sukar untuk dihapalkannya, maka baiklah aku
menggunakan ketika aku baru saja habis membaca
akan menghapalnya, dengan begitu pastilah aku akan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat membaca lebih banyak…" Ia mau mengartikan,
kesalahannya apstilah lebih sedikit. Karenanya, segera
ia menyahuti: "Aku yang menghapal lebih dulu!"
Oey Yok Su mengangguk.
"Kau pergi ke ujung rimba ini, jangan kau mendengari
dia lagi menghapal," ia menitahkan Kwee Ceng
kepada siapa ia berpalinng.
Kwee Ceng menurut, ia pergi jauhnya beberapa puluh
tindak.
Oey Yong menjadi girang sekali. Ia pikir inilah
ketikanya yang paling baik. Bukankah dengan begitu ia
bisa mengajak si anak muda kabur bersama? Maka ia
lantas angkat kakinya, hendak ia bertindak perlahanlahan
menghampirkan pemuda itu. Atau mendadak:
"Yong-jie, mari!" memanggil Oey Yok Su. "Kau juga
mendengarinya mereka membaca diluar kepala,
supaya kau jangan nanti mengatakannya aku berat
sebelah!"
Mencelos hatinya si nona. Katanya ayah itu adil, tetapi
kenyataannya sangat berat sebelah untuknya.
Bukankah ia jadinya dicegah mendekati Kwee Ceng?
maka itu ia berkata: "Ayah yang berat sebelah, tak
usah ayah menyebutkannya orang lain!"
Oey Yok Su tidak gusar, bahkan ia tertawa.
"Tidak tahu aturan! Mari!" dia memanggil pula.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku tidak mau datang!" sahut si anak, membelar. Di
mulut ia mengucap demikian, tapi kakinya bertindak
menghampirkan. Ia cerdik sekali, ia pun tahu tabiat
ayahnya itu, kalau si ayah berjaga-jaga, sulit untuk ia
kabur pula. Maka juga ia hendak memikir perlahalahan,
untuk mencari akal. Ketika ia sudah datang
dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa
manis.
"Auwyang Toako, ada apakah sih bagusnya aku?" ia
bertanya. "Kenapa kau begini sangat menyukai aku?"
Bukan main girangnya Auwyang Kongcu. Manis sekali
si nona. Hingga hatinya berdenyutan. Inilah ia tidak
sangka.
"Adik, kau…." katanya kegirangan sangat, hingga ia
seperti lupa ingatan, hingga tak dapat ia meneruskan
kata-katanya.
"Toako, janganlah kau terburu-buru hendak pulang ke
See Hek," berkata pula Oey Yong, tetap dengan manis
budi. "Kau diamlah di Tho Hoa To ini untuk beberapa
hari lagi. Di See Hek itu sangat dingin, bukankah?"
"See Hek itu luas sekali wilayahnya," menyahut
Auwyang Kongcu. "Memang di sana ada banyak
daerahnya yang dingin tetapi pun ada yang hangat dan
nyaman seperri Kanglam."
"Ah, aku tidak percaya!" berkata lagi si nona, yang
membawa aksinya yang menggiurkan. Ia tertawa. "Kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
memang paling suka memperdayakan orang!"
Auwyang Kongcu masih hendak melayani bicara,
untuk membantah si nona itu, atau segera ia dihalangi
oleh Auwyang Hong. See Tok sudah lantas dapat
membade maksud Oey Yong si cerdik ini, bahwa sikap
manisnya itu adalah daya belaka untuk mengacau
otaknya Auwyang Kongcu, supaya pikirannya
disesatkan ke lain soal, si keponakan jadi lupa kepada
isinya kitab Kiu Im Cin-keng.
"Eh, anak!" demikian menegurnya. "Omongan yang tak
perlunya baiklah kau bicarakan perlahan-lahan nanti,
mari belum kasep. Sekarang lekas kau membaca di
luar kepala!"
Auwyang Kongcu terkejut. Memang, karena
perhatiannya ditarik Oey Yong, ia dapat melupakan
apa yang barusan dihapalnya. Dan benar-benar ada
yang ia lupa. Maka lekas-lekas ia memusatkan
pikirannya. Sesudah itu, barulah dengan perlahanlahan
ia mulai membaca. Ia berhasil membaca
permulaannya, ia lantas melanjuti. Tentu saja ia lupa di
bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit,
seperti Oey Hujin sendiri tidak ingat seanteronya.
Oey Yok Su tertawa kapan pemuda yang dipenujunya
itu selesai membaca.
"Kau telah mendapat membaca banyak, bagus!"
katanya. "Kwee sieheng, mari, sekarang giliranmu!"
Kwee Ceng bertindak menghampirkan. Ia melihat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Kongcu kegirangan, ia kagum, di dalam
hatinya ia kata:" Anak ini benar-benar lihay, sekali
membaca saja ia sudah dapat menghapal di luar
kepala sedang tulisan itu kacau balau. Benar-benar
aku tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku
emngahapal seperti yang Ciu Toako ajari aku."
Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu, ia tertawa.
"Anak tolol, mereka itu sengaja hendak membikin kita
bagus ditonton!" Ia berkata. "Baiklah kita mengaku
kalah saja!"
"Memang aku pun sebenarnya tak dapat melawan
Auwyang Toako," Kwee Ceng membilang.
Mendadak Oey Yong berlompat ke ke atas payon
paseban, yang telah roboh sebagian, di sana ia berdiri
seraya menghunus pisau belati, yang ia letaki di depan
dadanya. Ia berseru; "Ayah! Jikalau kau memaksa aku
ikut si manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini
anakmu akan binasa untuk kau lihat!"
Oey Yok Su kenal baik tabiat anaknya itu.
"Letaki senjatamu!" ia berkata, "Kita dapat berbicara
dengan perlahan-lahan."
Sementara Auwyang Hong telah bekerja. Mendadak ia
menekan tongkatnya ke tanah, segera terdengar satu
suara aneh, terus dari tongkat itu melesat serupa
senjata gelap yang luar biasa, menyambar ke arah
Oey Yong.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Hebat melesatnya senjata rahasia ini, belum Oey Yong
menginsyafinya, pisau belati di tangannya sudah kena
terhajar hingga terlepas dan jatuh ke tanah. Dilain
pihak tubuh Oey Yok Su pun berkelebat, sedetik saja
ia sudah sampai di atas pesaben, dimana ia mengulur
tangan merangkul pinggang putrinya.
"Benar-benarkah kau tidak sudi menikah?" katanya,
perlahan. "Baiklah! Mari kau berdiam di Tho Hoa To
menemani ayahmu seumur hidupmu!"
Oey Yong meronta-ronta, ia menangis.
"Ayah, kau tidak sayang Yong-jie, kau tidak sayang
Yong-jie…!" katanya.
Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa berkakak. Ia
tidak nyana Oey Yok Su, yang hatinya keras dan
telangas, kewalahan melayani putrinya itu.
Selagi Ang Cit Kong berkpikir begitu, Auwyang Hong
berpikir lain. Ia ini kata di dalam hatinya; "Baik aku
menanti hingga sudah ada keputusan ujian ini, setelah
itu hendak aku membikin habis pengemis tua serta si
bocah she Kwee ini. Urusan lainnya pasti gampang
diurus belakangan. Anak itu manja sekali, apa aku
peduli?"
Karena ini, ia berkata: "Kwee Sieheng lihay sekali, kau
sungguh satu pemuda gagah, maka itu di dalam ilmu
surat kau tentu pandai juga. Saudara Yok, silahkan
minta Kwee Sieheng mulai menghapal!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Itulah kata-kata baik tetapi itu sebenarnya adalah
desakan.
"Baiklah," menyahut Oey Yok Su. "Yong-jie, kalau kau
mengacau lagi, nanti kacau juga pikirannya Kwee
Sieheng."
Mendengar itu, benar-benar Oey Yong lantas menutup
mulutnya.
Auwyang Hong ingin sekali si anak muda mendapat
malu, ia mendesak; "Kwee Sieheng, silahkan mulai!
Kami ramai-ramai akan mendengar dengan perhatian
pembacaanmu di luar kepala."
Mukanya Kwee Ceng merah seluruhnya.
"Mana dapat aku menghapal?" pikirnya pula. "Baik aku
membaca ajarannya Ciu Toako…" Dan lantas ia
membaca. Sebenarnya sudah beratus kali ia
menghapal "Kiu Im Cin-keng", karena Ciu Pek Tong
tak bosannya mengajari ia, dari itu, ia masih ingat
dengan baik itu semua. Demikian kali ini, mulai dengan
perlahan, ia menghapal terus, makin lama makin
lancar, selama itu tak sepatah kata yang salah atau
berlompatan.
Orang semua tercengang. Bukankah bocah ini baru
melihat hanya satu kali kitab yang dijadikan ujian itu?
Maka kesannya ialah: "Bocah ini cerdas sekali tetapi ia
nampaknya tolol. Kiranya dia sebenarnya berotak
sangat terang!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yok Su heran, apa pula setelah Kwee ceng sudah
habis menghapal halaman keempat. Ia dapat
kenyataan, kata-katanya si anak muda lebih rapi
daripada kitabnya, seperti ditambahkan sepuluh lipat.
Dan itulah memang bunyinya atau isi aslinya "Kiu Im
Cin-keng" itu. Karena ini, tanpa merasa ia
mengeluarkan peluh dingin.
"Mustahilkah istriku yang telah menutup mata itu
demikian cerdas hingga di alam baka dia dapat
mengingat kitab yang asli dan dia telah mengajarinya
semuanya kepada pemuda ini?" ia bertanya dalam
hatinya. Selagi ia berpikir, kupingnya mendengar terus
suara yang lancar dan terang dari Kwee Ceng, yang
menghapal terus-terusan. Maka ia mau percaya benarbenar
istrinya sudah mewariskannya kepada si anak
muda. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak
ke langit, dari mulutnya terdengar suara tak tedas: "A
Heng, A Heng, sungguh kau sangat mencinta
kepadaku, hingga kau pinjam mulutnya pemuda ini
untuk mengajari aku Kiu Im Cin-keng…… Kenapa kau
membiarkan aku tak dapat melihat pula wajahmu
barang satu kali lagi? Setiap malam aku meniup
serulingku, kau dengarkah itu?"
"A Heng" itu ialah nama kecil dari Oey Hujin, istri yang
Oey Yok Su sangat mencintainya. Nama itu, sekalipun
Oey Yong gadisnya, tidak mendapat tahu.
Orang banyak heran melihat sikapnya tocu dari Tho
Hoa To ini, air mukanya berubah, air matanya
mengembang, dan entah apa yang diucapkannya itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Cuma sebentar Oey Yok Su berada dalam keadaan
yang luar biasa itu, mendadak ia kembali pada dirinya
sendiri. Sekarang ia seperti bermuram durja. Ia
mengibaskan tangannya, terus ia menanya Kwee
Ceng dengan suara keras, sikapnya bengis: "Apakah
kitab Kiu Im Cin-keng yang lenyap di tangannya Bwee
Taiuw Hong terjatuh ke dalam tanganmu?!"
Kwee Ceng terkejut, hatinya pun ciut.
"Tee…teecu tidak mengetahui kitabnya Bwee
Cianpwee itu terlenyap di mana…." sahutnya guup,
suaranya tak lancar. "Jikalau aku mendapat tahu, pasti
sekali aku suka membantu mencarinya, untuk dibayar
pulang kepada tocu…"
Oey Yok Su mengawasi wajah orang dengan tajam,
pada itu ia tidak nampak kepalsuan, maka itu maulah
ia percaya orang tidak berdusta. Karenanya ia jadi
mau percaya juga yang istrinya, dari dalam alam baka,
sudah mewariskannya kepada pemuda ini.
"Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya
kemudian, suaranya terang, "Inilah baba mantu
pilihannya istriku almarhum, maka itu sekarang aku
tidak dapat membilang apa-apa lagi. Anak, aku
menjodohkan Yong-jie kepadamu, kau haruslah
memperlakukan dia baik-baik. Yonng-jie telah
termanjakan olehku, dari itu haruslah kau suka
mengalah tiga bagian…."
Oey Yong girang bukan kepalang. Ia lantas saja
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tertawa. Sama sekali ia tidak menjadi likat karena
keputusan itu.
"Ayah, bukankah aku satu anak baik?" ia berkata.
"Siapa yang bilang aku telah termanjakan olehmu?"
Kwee Ceng benar tolol tetapi kali ini, tanpa menanti
tanda pengajaran dari Oey Yong, sudah lantas ia
menekuk lutut di hadapannya Oey Yok Su, untuk
paykui empat kali seraya ia memanggil: "Gakhu
Tayjin!" Tapi, belum sempat ia berbangkit, tiba-tiba
Auwyang Kongcu membentak: "Tahan dulu!"
Ang Cit Kong girang bukan main, ia sampai ternganga,
tetapi ketika ia mendengar suaranya Auwyang Kongcu,
ia dapat berbicara.
"Apa?!" dia tanya. "Apakah kau belum juga
menyerah?"
"Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh
terlebih banyak daripada isinya kitab ini," berkata
Auwyang Kongcu. Ia pun rupanya menginsyafi itu.
"Mestinya ia telah mendapatkan Kiu Im Cin-keng yang
asli! Aku yang muda hendak membesarkan nyali,
hendak aku menggeledah tubuhnya!"
"Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, perlu
apa kau menimbulkan kerewelan baru?!" Ang Cit Kong
menegur. "Kau dengar apa kata pamanmu barusan?"
Matanya Auwyang Hong terbalik.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku Auwyang Hong, mana dapat aku diakali orang?"
dia berkata dengan nyaring. Ia mau percaya tuduhan
keponakannya dan merasa pasti di tubuhnya Kwee
Ceng ada kitab "Kiu Im Cin-keng" yang asli, bahkan
sekejap itu ingin ia merampas kitab itu, hingga ia
melupakan yang Oey Yok Su sudah memutuskan
pilihan baba mantunya itu.
Kwee Ceng tidak takut digeledah, mana dia lantas
meloloskan ikat pinggangnya.
"Auwyang Cianpwee, silahkan kau periksa!" ia
menantang, ia berserah diri. Ia pun terus mengasih
keluar segala isi sakunya, yang mana ia letaki di atas
batu.
Auwyang Hong mellihat semua barang itu adalah uang
perak, sapu tangan, batu api dan lainnya, tidak ada
kitab, maka ia mengulurkan tangannya ke tubuh si
anak muda.
Oey Yok Su kenal baik si See Tok yang sangat licik
dan telangas, yang di dalam murkanya yang sangat
dapat menurunkan tangan jahat. Kalau si Bisa dari
Barat ini keburu menurunkan tangan, walaupun ia
lihay, tidak nanti ia dapat mengobati menantunya itu.
Maka hendak ia mencegah. Sambil batuk-batuk ia
lonjorkan tangannya yang kiri, diletaki di tulang
punggung Auwyang Kongcu. Itulah tulang paling
penting pada tubuh manusia, asal Tong Shia
menurunkan tangannya yang lihay, habis sudah tulang
itu, terbinasalah Auwyang Kongcu di situ juga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ang Cit Kong dapat melihat sepak terjangnya Oey Yok
Su, ia dapat menduga maksud orang, ia tertawa di
dalam hatinya. Pikirnya: "Oey Lao Shia benar-benar
sangat memihak! Sekarang ia menyayangi baba
mantunya, dia lantas melindungi muridku yang tolol
ini…."
Sebenarnya juga Auwyang Hong berniat menggunai
pukulan kodoknya akan menghajar dengan meraba
perutnya Kwee Ceng. Asal ia dapat menekan perut itu,
selang tiga tahun, Kwee Ceng bakal dapat sakit dan
akan mati karenanya. Tapi ia bermata awas, ia dapat
melihat penjagaannya Oey Yok Su itu, lantas ia
membatalkan niatnya itu. Ia menggeledah tubuh Kwee
Ceng, ia tidak mendapatkan lainnya barang. Ia
berdiam sesaat. Ia tidak mempercayai almarhum Oey
Hujin benar-benar mewariskan kitab itu dari alam baka,
untuk memilih menantunya. Setelah itu, ia dapat
memikir lainnya lagi.
"Anak ini tolol, memang tak mungkin ia mendusta.
Kalau aku menanya padany, mungkin sekali ia akan
memberikan keterangannya yang sebenarnya…"
Maka ia gerakilah tongkat ularnya, hingga gelang
emasnya berbunyi berkontrang, hingga dua ekor
ularnya melilit-lilit.
Menampak itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mundur
bersama.
"Kwee Sieheng," Auwyang Hong menanya, suaranya
tajam, "Dari manakah kau mempelajarinya isi kitab Kiu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Im Cin-keng ini?"
"Aku ketahui tentang sejilid kitab Kiu Im Cin-keng akan
tetapi belum pernah aku melihatnya," menyahut Kwee
Ceng, jujur. "Kitab bagian atas ada pada Toako Ciu
Pek Thong…"
Ang Cit Kong heran hingga ia menyelak.
"Eh, eh, mengapa kau panggil toako kepada Pek
Thong?" ia menanya.
"Ciu Toako telah mengangkat saudara dengan teecu,"
Kwee Ceng menyahut, kembali dengan sejujurnya.
"Yang satu tua bangka, yang lain muda belia, sungguh
edan!" tertawa Ang Cit Kong. "Kacaulah aturan
peradatan!"
"Kitab bagian bawah?" Auwyang Hong tanya pula.
"Kitab itu telah dibikin lenyap di telaga Thay Ouw, oleh
Suci Bwee Tiauw Hong," Kwee Ceng menyahut pula.
"Sekarang Bwee Suci sedang dititahkan gakhu untuk
mencari kitab itu. Aku telah memikir, setelah
memberitahukan kepada gakhu, ingin aku pergi untuk
membantu mencari."
Dengan keponakannya, Auwyang Hong saling
memandang.
"Kau belum pernah melihat Kiu Im Cin-keng, cara
bagaimana kau dapat membacanya di luar kepala?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tanya pula Auwyang Hong, kali ini dengan bengis.
"Apakah yang aku baca barusan itu Kiu Im Cin-keng?"
Kwee Ceng balik menanya. "Tidak, tidak bisa jadi!
Itulah Ciu Toako yang mengajari aku menghapalnya!"
Diam-diam Oey Yok Su menghela napas, kelihatannya
ia putus asa.
"Inilah seperti bicaranya hantu atau malaikat, sungguh
sangat samar," pikirnya. "Rupanya benar anakku
berjodoh dengan bocah ini, maka segala-galanya
terjadi secara kebetulan sekali."
Selagi Tong Shia heran, Auwyang Hong menlanjuti
pertanyaannya.
"Sekarang ini di mana adanya Ciu Pek Thong?"
demikian tanyanya.
Kwee Ceng hendak memberikan penyahutannya,
ketika mertuanya memotong: "Anak Ceng, tidak usah
kau banyak omong." Kemudian si Sesat dari Timur ini
berpaling kepada Auwyang Hong untuk mengatakan
"Inilah urusan tidak berarti, buat apa dibicarakan
panjang-panjang? Saudara Hong, saudara Cit, kita
sudah duapuluh tahun tidak bertemu, marilah di
pulauku ini kita minum puas-puas selama tiga hari!"
Oey Yong pun segera berkata: "Cit Kong-kong, nanti
aku memasaki kau beberapa rupa sayuran! Bunga
teratai di sini bagus sekali, jikalau lembaran bunga itu
dimasak ayam tim campur lengkak segar dan daun
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
teratai, pastilah rasanya lezat sekali! Dan kau tentulah
akan sangat menyukainya!"
Ang Cit Kong tertawa lebar.
"Sekarang telah tercapailah maksud hatimu!" katanya.
"Lihat, bagaimana girangmu!"
Digoda begitu, Oey Yong tertawa.
"Cit Kong-kong, Auwyang Pepe, dan kau Auwyang
Sieheng, silahkan!" ia lantas mengundang. Ia
membawa sikap manis terhadap mereka semua, tak
terkecuali Auwyang Kongcu.
Auwyang Hong menjura terhadap Oey Yok Su.
"Saudara Yok, aku menerima baik kebaikan hati kau
ini," ia berkata. "Saudara, di sini saja kita
berpisahan…."
"Saudara Hong," menyahut si tuan rumah, "Kau datang
dari tempat yang jauh dan aku belum lagi melakukan
kewajibanku sebagai sahabat, mana bisa enak
hatiku?"
Sama sekali tidak ada niatnya Auwyang Hong,
berdiam lebih lama lagi, karena ia telah putus asa.
Sebenarnya ia datang bukan melulu untuk jodoh
keponakannya itu, lebih daripada itu, hendak ia
sesudah pernikahannya sang keponakan, bekerja
sama Oey Yok Su mencari Kiu Im Cin-keng, kitab ajaib
itu. Tidak demikian, sebagai ketua suatu partai, mana
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sudi ia sembarang menaruh kaki di Tionggoan?
Pernikahan sudah gagal, ia pun lenyap harapannya, ia
menjadi sangat tawar hatinya. Tetapi Auwyang
Kongcu, si keponakan berpikir lain.
"Paman," katanya Auwyang Kongcu, "Keponakanmu
tidak punya guna, ia membikin kau malu, tetapi Oey
Peehu telah menjanjikannya hendak mengajari
keponakanmu semacam ilmu kepandaian…."
Auwyang Hong mengasih dengar suara "Hm!" Ia
ketahui dengan baik belumlah padam cintanya si
keponakan ini terhadap Oey Yong, maka juga si
keponakan masih hendak mencari ketika untuk bisa
terus berdekatan dengan nona itu. Alasan belajar ini
adalah alasan yang paling baik. Si keponakan menjadi
mungkin mendapat ketika akan merayu-rayu hati Oey
Yong hingga si nona akhirnya terjatuh juga ke dalam
pelukannya…."
Oey Yok Su dilain pihak jug atidak puas hatinya. Ia
telah memberikan janjinya itu karena ia percaya pasti
Auwyang Kongcu bakal lulus, maka hendak ia
menurunkan semacam pelajaran kepada Kwee Ceng,
siapa tahu kesudahannya adalah kebalikannya
dugaannya itu, ialah Auwyang Kongcu yang jatuh.
"Auwyang Sieheng," ia lantas berkata, "Kepandaian
pamanmu adalah yang terlihay di kolong langit ini,
tidak ada lain orang yang dapat menandanginya,
karena ini adalah warisan keluargamu sebenarnya tak
usah kau mencari dari lain kaum. Hanya apa yang
dinamakan Co-to Pang-bun, yaitu ilmu golongan kiri
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
atau sampingan, aku si tua masih juga
mempunyakannya sedikit, maka jikalau sieheng tidak
mencelanya, yang mana saja yang aku mengerti, suka
aku mengajarkannya padamu."
Auwyang Kongcu sudah lantas berpikir; "Hendak aku
memilih yang paling lama dipelajarinya, yang paling
meminta waktu. Tocu ini kabarnya mengerti ilmu Ngoheng
Ki-bun, baiklah aku minta ilmu itu yang tak
keduanya dikolong langit ini, yang tentunya tak habis
dipelajari dalam sehari semalam…." Maka ia lantas
menjura dan berkata: "Keponakanmu mengagumi ilmu
Ngo-heng Ki-bun dari peehu, maka itu aku mohon
kebaikan budi peehu untuk mengajari saja aku ilmu
itu."
Oey Yok Su berdiam, tidak lantas ia menjawab. Ia
merasa sulit. Ngo-heng Ki-bun itulah kepandaiannya
yang paling utama, sekalipun kepada putrinya belum ia
mewariskannya, maka itu cara bagaimana dapat ia
menurunkannya kepada orang luar? Tetapia ia sudah
mengeluarkan kata-katanya, tak dapat ia menyesal
atau menarik pulang. Maka kemudian menyahutlah ia:
"Ilmu Ki-bun itu menggenggam banyak sekali, kau
hendak mempelajari yang mana satu?"
Auwyang Kongcu cuma mengutamakan dapat tinggal
selama mungkin di pulau Tho Hoa To ini, maka itu ia
menjawab; "Keponakanmu melihat jalanan di Tho Hoa
To ini sangat berliku-liku, pepohonannya pun lebat
sekali, aku menjadi sangat menganguminya, maka itu
aku mohon peehu sukalah memperkenankan aku
tinggal di sini untuk beberapa bulan. Dengan begitu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
maka keponakanmu jadi dapat ketika untuk belajar
dengan sabar."
Mendengar itu, air mukanya Oey Yok Su berubah. Ia
segera melirik kepada Auwyang Hong. Di dalam
hatinya, ia berpikir; "Jadinya kau hendak menyelidiki
rahasianya pulauku ini! Sebenarnya, apakah maksud
kamu?"
Auwyang Hong sangat cerdik, mengertilah ia sudah
akan keragu-raguannya tuan rumah itu. Maka lantas ia
menegur keponakannya: "Kau sungguh tidak tahu
tingginya langit dan tebalnya bumi! Tho Hoa To ini
tercipta setelah peehumu menghabiskan hati dan
darahnya, pulau ini teratur begini sempurna, bahwa
orang luar tidak berani menyerbunya semua
mengandal kepada lihaynya ini, dari itu mana dapat
peehumu membebernya kepada kau?"
Oey Yok Su tahu orang menyindir, dengan dingin ia
berkata: "Walaupun Tho Hoa To ada hanya sebuah
bukit yang gundul, orang di kolong langit ini belum
tentu ada yang sanggup mendatanginya untuk
membikin celaka pada aku Oey Yok Su!"
Auwyang Hong tertawa.
"Aku kesalahan omong, saudara Yok, maaf!" ia
memohon.
"Hai, saudara Racun, saudara Racun!" Ang Cit Kong
tertawa dan turut berbicara. "Akalmu ini akal
memancing kemarahan orang, kau menggunainya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan caramu yang kurang jujur!"
Oey Yok Su seperti habis akal, ia selipkan seruling
kumalanya di leher bajunya.
"Tuan-tuan, silahkan turut aku!" ia mengundang.
Maka itu berhentulah pembicaraan mereka.
Auwyang Kongcu ketahui tuan rumah murka, ia melirik
kepada pamannya.
Auwyang Hong mengangguk, lalu ia bertindak
mengikuti tuan rumah. Yang lain-lainnya pun turut
mengikutinya.
Jalanan berliku-liku, sekeluarnya dari rimba bambu itu,
di depannya mereka terlihat sebuah pengempang
teratai yang besar, yang bunga teratainya sedang
mekar banyak, hingga di situ tersebarlah bau harum
semerbak yang halus dari bunga yang indah dan
bersih itu. Daun-daun teratai pun terampas luas dan
lebar. Di tengah-tengah pengempang ada sebuah
jalanan yang memotong untuk tiba di lain tepi, hingga
dengan begitu pengempang itu menjadi terbelah dua.
Oey Yok Su berjalan di jalanan di tengah pengempang
itu, ia memimpinnya orang banyak ke sebuah rumah
yang nampak terawat rapi sekali, yang tiang-tiangnya
terbuat dari batang-batang atau bongkol pohon cemara
yang tak dibuangi babakannya hingga nampak jadi
wajar. Di luar itu pun merambat pohon-pohon rotan
yang beroyot. ketika itu ada di musim panas tetapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berada di dalam rumah itu, semua orang mersakan
adem.
Oey Yok Su mempersilahkan lebih jauh keempat
tetamunya masuk ke dalam kamar tulis dimana
bujangnya yang gagu segera menyuguhkan the, yang
airnya berwarna hijau, tetapi setelah dihirup, teh itu
dingin bagaikan salju, meresap hingga ke ulu hati.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: "Orang bilang,
sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun
dia tak sudi, tetapi, saudara Yok, jikalau aku dapat
tinggal tiga tahun di dalam duniamu yang begini adem
nyaman, menjadi pengemis pun tak sudilah aku!"
"Saudara Cit," menyahut Oey Yok Su, "Jikalau benar
kau sudi tinggal untuk suatu waktu denganku di sini,
supaya kita kakak beradik dapat minum arak dan
mengobrol, itulah sungguh hal yang aku memintanya
pun tidak dapat."
Ketarik hatinya Ang Cit Kong mendengar suara orang
yang sungguh-sungguh itu.
Tetapi Auwyang Hong segera berkata; "Kamu kedua
tuan, jikalau kau sampai tidak berkelahi, tak usah
sampai dua bulan lamanya, pastilah kau berhasil
menciptakan semacam ilmu pedang yang luar biasa
gaib!"
"Ha, kau mengiri?" tanya Ang Cit Kong tertawa.
"Tapi aku bicara dari hal yang benar!" menyahut
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Hong.
Kembali Ang Cit Kong tertawa.
"Ini pun kata-katamu yang di hati lain di mulut lain!"
bilangnya.
Dua orang ini tidak bermusuh besar tetapi mereka
saling mendendam, di antaranya Auwyang Hong yang
memikir dalam dan licik serta licik. Ang Cit Kong yang
polos dan mulutnya terbuka, kalau Cit Kong tidak
memikir sesuatu, See Tok sebaliknya menyimpan
maksud, sebelum Ang Cit Kong mampus di tangannya,
tak mau ia sudah. Hanya ia, karena liciknya, wajahnya
ia tidak kentarakan sesuatu. Demikian kali ini, apapun
yang Cit Kong bilang, ia mengganda tertawa.
Oey Yok Su sudah menekan pada suatu bagian dari
mejanya itu, lalu terlihat di tembok sebelah barat ada
sebuah gambar san-sui atau panorama gunung dan air
yang bergerak naik sendirinya, setelah mana di situ
lalu tertampak sebuah pintu rahasia. Ia mengulurkan
tangannya ke dalam pintu itu, untuk menarik keluar
segulung kertas. Ia mengusap-usap itu beberapa kali,
kemudian ia memandang Auwyang Kongcu seraya
berkata: "Inilah peta lengkap dari Tho Hoa To. Di pulau
ini ada jalanan rahasia, jalan keder menuruti jurus
patkwa, dan semua itu tercatat di dalam peta ini,
sekarang kau ambillah ini, untuk kau mempelajarinya
dengan seksama."
Mendenagr itu, pemuda itu hilang harapannya. Yang ia
harap adalah dapat tinggal lebih lama di Tho Hoa To,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
siapa tahu ia hanya diberikan sehelai peta pular. Ia
merasa bahwa ia gagal, tetapi meski demikian, ia
menjura untuk menyambuti peta itu.
Oey Yok Su tidak segera menyerahkan petanya itu.
"Tunggu dulu!" katanya.
Auwyang Kongcu melengak, ia menarik pulang
tangannya yang sudah diulur itu.
"Setelah kau mendapatkan peta ini," berkata Oey Yok
Su, "Kau mesti pergi ke Lim-an, dimana kau mesti cari
sebuah rumah penginapan atau kelenteng dimana kau
dapat tinggal menumpang. Selang tiga bulan, aku nanti
perintah orang untuk mengambil pulang. Peta ini cuma
diingat dalam hati, aku larang kau membuat
salinannya!"
Mendengar itu, di dalam hatinya, si pemuda berkata:
"Kau tidak mengijinkan aku tinggal di pulaumu ini,
siapa sudi memperdulikan segala ilmu sesatmu itu?
Bagaimana dalam tempo tiga bulan aku dapat
menolongi kau menjagai kitabmu itu? Jikalau ada
kerusakan atau kehilangan, siapa yang dapat
bertanggungjawab. Lebih baik aku tidak
mengerjalannya!" Hampir ia menampik, ketika
mendadak sebuah pikiran lain masuk ke dalam
otaknya: "Dia kata hendak memerintah orang datang
mengambilnya nantin, tentulah ia bakal mengutus
gadisnya ini. Ini pun ada suatu ketika baik untuk
berada dekat si nona…." Maka ia lantas mengubah
pula pikirannya, terus ia mengulur pula tangannya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menyambuti peta itu, yang ia masuki ke dalam
sakunya.
Auwyang Hong segera mengangkat kedua tangannya,
untuk pamitan.
Oey Yok Su tidak menahan lagi, malah ia segera
mengantarkannya hingga di muka pintu.
"Saudara Berbisa," berkata Ang Cit Kong. "Lain tahun
di akhir tahun kembali tiba saatnya perundingan ilmu
pedang di gunung Hoa San, maka itu baik-baik saja
kau memelihara dirimu, supaya nanti kita dapat
bertempur secara hebat!"
Auwyang Hong menyahuti dengan tawar. Katanya:
"Menurut aku baiklah kita tidak usah saling berebut
lagi! Sekarang ini pun sudah ada ketentuannya siapa
yang bakal menjadi orang yang ilmu silatnya paling
lihay di kolong langit ini!"
Bab 39. Perahu yang indah
"Eh, sudah ada orangnya?" menanya Ang Cit Kong
heran. "Mungkinkah kau, saudara Beracun, sudah
berhasil menciptakan semacam ilmu silat baru yang
tak ada bandingannya lagi?"
Auwyang Hong tersenyum.
"Apa sih kebisaan dan kebijakasaannya Auwyang
Hong hingga dapat memperoleh gelaran orang yang
ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini?" ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkata, "Yang aku maksudkan ialah orang yang telah
memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng ini."
Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa.
"Adakah kau maksudkan aku si pengemis bangkotan?
Kalau benar, aku mesti memikir-mikirnya dulu!
Kepandaian saudara Yok bertambah sekian hari, kau
sendiri, saudara Berbisa, kau juga makin gagah dan
panjang umur, sedang Toan Hongya itu aku percaya
dia juga tidak akan mensia-siakan kepandaiannya,
maka aku rasa, tinggallah aku si pengemis yang
terbelakang."
"Tetapi, saudara Cit," berkata Auwyang Hong pula, "Di
antara orang-orang yang pernah memberi pelajaran
kepada Kwee Sieheng belum pasti kaulah yang
terlihay….."
"Apa?!" menegaskan Ang Cit Kong. Ia baru mengucap
sepatah itu, atau Oey Yok Su sudah memotong; "Ah,
apakah kau maksudkan Loo Boan Tong Ciu Pek
Thong si Bocah Bangkotan yang nakal?"
Pertanyaan ini diajukan kepada Auwyang Hong.
"Benar!" menyahut See Tok cepat. "Karena Loo Boan
Tong sudah pandai ilmu Kiu Im Cin-keng, maka kita si
Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kita
semua bukan lagi tandingan dia!"
"Hal itu belumlah pasti," berkata Tong Shia, "Kitab itu
mati, ilmu silat itu hidup!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Senang See Tok mendengar perkataan tuan rumah.
Mulanya ia tidak puas, ialah ketika Tong Shia mencoba
menyimpangi pertanyaannya kepada Kwee Ceng
tentang di mana adanya Ciu Pek Thong. Sekarang
muncullah pula soalnya Ciu Pek Thong itu. Karena ia
pandai bersandiwara, ia tidak menyatakan sesuatu
pada wajahnya, bahkan sengaja dengan tawar ia kata;
"Ilmu silat Coan Cin Pay lihay sekali, kita semua
pernah belajar kenal dengannya, maka kalau Loo oan
Tong ditambah dengan Kiu Im Cin-keng, umpama kata
Ong Tiong Yang hidup pula, belum tentu ia sanggup
menandingi adik seperguruannya ini, jangan kata pula
kita si segala tua bangka!"
"Mungkin Loo Boan Tong lihay melebihkan aku tetapi
tidak nanti melebihkan kau, saudara Hong," berkata
Oey Yok Su. Ia tidak mau menyebutnya "Saudara
Beracun" seperti Ang Cit Kkong. "Inilah aku tahu pasti."
"Jangan kau merendah, saudara Yok," berkata See
Tok. "Kita berdua adalah setengah kati sama dengan
delapan tail. Kalau kau membilang seperti katamu
barusan, maka teranglah ilmu silatnya Ciu Pek Thong
tak dapat melampaui kau! Ini, aku khawatir….."
Ia lantas berhenti, kepalanya digelengka berulangulang.
Oey Yok Su bersenyum.
"Lihat saja di Hoa San lain tahun!" katanya. "Di sana
saudara Hong akan mengetahuinya sendiri!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Auwyang Hong mengawasi, ia mengasih lihat roman
sungguh-sungguh.
"Saudara Yok, ilmu silatmu telah lama aku
mengaguminya," katanya, "Akan tetapi jikalau kau
bilang kau dapat mengalahkan Ciu Pek Thong,
sungguh aku sangsi. Jangan kau memandang enteng
kepada si tua bangka berandalan itu…"
Biar bagaimana, Oey Yok Su kena dipancing panas
hatinya oleh See Tok.
"Kau tahu, Loo Boan Tong berada di pulau Tho Hoa To
ini!" katanya nyaring. "Sudah lima belas tahun lamanya
aku mengurung dia!"
Mendengar itu, dua-dua Auwyang Hong dan Ang Cit
Kong terperanjat. Hanya si Bisa dari Barat sudah
lantas tertawa bergelak.
"Saudara Yok gemar sekali bergurau," katanya.
"Mari!" berkata Oey Yok Su yang tidak sudi berbicara
lebih banyak lagi, tangannya pun menunjuk, bahkan
dia berjalan di depan, dengan tindakan yang cepat,
hingga bagaikan terbang dia jalan molos di rimba
bambu.
Ang Cit Kong mengikuti, sebelah tangannya menuntun
Kwee ceng, sebelah yang lain Oey Yong.
Auwyang Hong pun menarik tangan keponakannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Semua mereka menggunai ilmu mereka meringankan
tubuh.
Hanya sebentar, mereka sudah sampai di muka gua di
mana Ciu Pek Thong dikurung, hanya setibanya dis
itu, Oey Yok Su menperdengarkan suara kaget. ia
telah mendapat lihat rusaknya kawat-kawat kurungan
di muka gua. Dengan satu enjotannya ia lompat, ke
muka gua sekali, yang segalanya sunyi dan tak
nampak sekalipun bayangannya si bocah bangkotan
yang lucu itu.
Dengan kaki kirinya, Tong Shia menginjak tanah, atau
tiba-tiba ia terperanjat. Ia merasakan kakinya itu
seperti menginjak barang lembek dan tanah kosong.
Tapi ia telah sempurna ilmunya enteng tubuh, maka
lekas menyusullah kaki kanannya, hingga ia dapat
berlompat, masuk ke dalam gua.
Sekarang ia melihat dengan tegas kosongnya gua itu.
Tapi yang hebat adalah kakinya kembali menginjak
tanah lembek dan kosong seperti tadi. Tentu sekali,
tidak dapat ia menaruh kakinya. Maka ia lantas
mengasih keluar serulingnya, menggunai itu untuk
menekan dan menolak tembok gua, dengan begitu
tubuhnya pun melesat keluar.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bersorak memuji
menyaksikan indahnya tubuh yang ringan dari si Sesat
dari Timur ini. Tapi ketika Oey Yok Su menaruh
kakinya di luar gua, kakinya itu memperdengarkan satu
suara, sebab kaki itu melesak masuk ke dalam sebuah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
liang.
Kaget Tong Shia. Ia merasakan kakinya basah atau
demak. Kembali ia mencelat naik. Diwaktu itu ia
melihat Cit Kong dan Auwyang Hong beramai telah
tiba di muka mulut gua di mana mereka itu menginjak
tanah tanpa kurang suatu apa, karena itu ia lantas
turun di samping putrinya. Hampir di itu waktu, ia
mendapat cium bau busuk. Ia menunduk untuk
melihat. Untuk mendongkolnya, ia mendapatkan kedua
kakinya penuh dengan kotoran manusia.
Semua orang menjadi heran, kenapa Oey Yok Su
kena orang akali.
Dalam murkanya Oey Yok Su menyambar sebatang
cabang pohon, dengan itu ia menyerang tanah ke
barat dan ke timur, akan mencari tahu tanah kosong
semua atau tidak. Habisnya kecuali tiga tempat yang ia
injak tadi, lainnya tanah berisi dan keras. Maka tahulah
ia sekarang, ketika Ciu pek Thong meloloskan diri, dia
sudah menginjak tanah dengan hebat, membuat tiga
liang itu, habis mana, semua ketiga liang dipakai
jongkok untuk membuang kotoran dari dalam
perutnya….
Dengan penasaran, Oey Yok Su bertindak masuk pula
ke dalam gua. Tidak ada barang lainnya di situ kecuali
beberapa botol dan mangkok. Hanya di tembok terlihat
huruf-huruf yang samar-samar.
Auwyang Hong tertawa di dalam hati menyaksikan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tong Shia "terjebak" itu, tetapi sekarang, melihat orang
memperhatikan tembok, ia heran, maka ia bertindak
mendekati hingga dekat sekali. Di tembok gua itu
tertampak ukiran huruf-huruf yang berbunyi:
"Oey Lao Shia!
Kau telah menghajar patah kedua kakiku, kau sudah
mengurung aku limabelas tahun di dalam gua ini,
sebenarnya aku pun mesti menghajar patah juga
kedua kakimu, baru aku puas, tetapi kemudian, setelah
aku memikir masak-masak, sukalah aku memberi
ampun padamu, dan urusan kita boleh disudahi saja.
Hanya dengan ini aku menyuguhkan kau tumpukantumpukan
besar dari kotoran serta beberapa botol air
kencing. Silahkan kau memakainya. Silahkan….!"
Di bawah itu ada diletaki daun, hingga empat huruf
ukiran itu menjadi ketutupan.
Oey Yok Su ingin tahu, ia pegang daun itu, untuk
diangkat. Dibawah daun itu ada sehelai benang,
karena daun diangkat, benang itu kena terpegang dan
ketarik. Mendadak saja terdengar suara di atasan
kepala mereka. Oey Yok Su sadar, segera ia
berlompat menyingkir ke kiri.
Auwyang Hong, si licik sudah lantas turut melompat,
ke kanan. Hanya berbareng dengan itu, terdengarlah
suara nyaring di atasan kepala mereka, dari sana jatuh
beberapa botol yang mengeluarkan air, maka juga
mereka lantas kena tersiram, hingga kepala mereka
basah dan bau air kencing.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Menyaksikan itu Ang Cit Kong tertawa berkakakan.
"Sungguh harum! Sungguh harum!" katanya.
Oey Yok Su murka dan mendongkol sekali sehingga ia
tidak dapat tidak mememtang mulutnya untuk mencaci.
See Tok juga sangat mendongkol tetapi ia pandai
bersandiwara, ia tidak mengutarakan kemurkaannya
pada parasnya, sebaliknya ia tertawa, seperti juga ia
pandang itulah lelucon.
Oey Yong sudah lantas lari pulang, untuk mengambil
pakaian untuk ayahnya menukar pakaiannya yang
basah dan bau itu. Ia pun membawa sepotong baju
lain, baju ayahnya juga, yang mana ia serahkan pada
Auwyang Hong.
Selesai dandan, kembali Oey Yok Su masuk ke dalam
gua. Ia memeriksa dengan teliti. Sekarang tidak ada
laigi lain jebakan. Ia periksa pula huruf-huruf tadi, di
bagian yang ditutupi daun, di situ ia melihat dua baris
huruf-huruf yang halus, bunyinya:
Daun ini jangan sekali-kali diangkat atau ditarik, sebab
di atas ini ada air kencing yang bau yang dapat
mengalir turun. Hati-hatilah, hati-hati, jangan
menganggap bahwa kau telah tidak diberi ingat
terlebih dulu!"
Oey Yok Su mendongkol berbareng geli di hati. Sebab
ia telah menjadi korban dari keteledorannya sendiri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tapi sekarang ini ia ingat suatu apa, ia seperti baru
sadar. Ia ingat, diwaktu ia kena kesiram, ia merasakan
air kencing itu masih rada hangat. Itu artinya orang
pergi belum lama. Maka ia lantas lari keluar seraya
berkata: "Loo Boan Tong pergi belum jauh, mari kita
susul padanya!"
Kwee Ceng terkejut. Ia ketahui dengan baik, apabila
mereka bertemu, pasti mereka bertempur. Hendak ia
mencegah mertuanya. Tapi sudah kasep, Oey Yok Su
sudah kabur ke timur.
Orang semua tahu jalanan di pulau ini luar biasa,
mereka menyusul dengan lari sekeras-kerasnya. Kalau
mereka ketinggalan jauh, mereka bisa mendapat
susah.
Mereka berlari-lari tidak lama atau mereka tampak Ciu
Pek Thong di sebelah depan mereka, jalannya
perlahan-lahan.
Oey Yok Su menjejak tanah, tubuhnya lantas mencelat
pesat dan jauh. Maka di lain saat ia sudah tiba di
belakangnya orang kurungannya itu, sebelah
tangannya dipakai untuk menyambar ke arah leher.
Ciu Pek Thong rupanya ketahui datangnya serangan,
ia berkelit ke kiri seraya membalik tubuhnya, sembari
memandang penyerangnya itu dan berkata: "Oh Oey
Lao Shia yang harum semerbak!"
Sambarannya Oey Yok Su ini adalah sambaran yang
ia telah latih selama beberapa puluh tahun, sebatnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
luar biasa, akan tetapi Ciu Pek Thong dapat
mengegosnya secara demikian sederhana, hatinya
menjadi terkesiap. Ia tidak menyerang terlebih jauh,
hanya ia mengawasi orang. Ia lantas menjadi heran.
Ternyata kedua tangannya Ciu pek Thong terikat di
depan dadanya, akan tetapi muka orang tersungging
senyuman, sikapnya menyatakan orang bergembira
sekali, saking puasnya hati.
Kwee Ceng sudah lantas maju setindak.
"Toako!" ia memanggil. "Sekarang ini tocu telah
menjadi mertuaku, maka kita pun menjadi orang
sendiri!"
Pek Thong menghela napas.
"Ah, mengapakah kau tidak dengar kataku?" katanya
menyesal. "Oey Loa Shia ini sangat licik dan aneh,
maka itu bisakah anak perempuannya satu anak yang
boleh dibuat sahabat olehmu? Nanti, seumur hidupmu,
akan kau merasakan kepahitan…."
Oey Yong maju mendekati, ia tertawa.
"Ciu Toako, lihat itu di belakangmu, siapa yang
datang?" ia berkata.
Pek Thong segera menoleh, ia tidak melihat siapa
juga.
Justru itu tangannya si nona melayang, menimpuk
dengan baju bau dari ayahnya yang ia telah gumpal,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengarah punggung orang.
Loo Boan Tong benar-benar lihay. Ia mendengar suara
angin, segera ia berkelit. Maka bungkusan itu jatuh ke
tanah.
Melihat itu Pek Thong tertawa berlenggak-lenggak.
"Oey Lao Shia," ia berkata, "Sudah kau kurung aku
lamanya limabelas tahun, sudah kau siksa aku
limabelas tahun juga, tetapi aku cuma membikin kau
menginjak kotoran dua kali dan membajur kepalamu
satu kali, kalau sekarang kita menyudahinya, apakah
itu tidak pantas?"
Oey Yok Su tidak menjawab, ia hanya menanya; "Kau
telah merusak kawat-kawat kurunganmu, kenapa
sekarang kau mengikat kedua tanganmu?"
Inilah hal yang membikin ia tidak mengerti.
Pek Thong tertawa pula.
"Dalam hal ini aku mempunyai alasanku sendiri,"
sahutnya singkat.
Ketika Ciu pek Thong baru-baru dikurung di dalam
gua, beberapa kali hendak ia menerjang keluar untuk
mengadu jiwa dengan Oey Yok Su, ia seperti sudah
tidak dapat menahan sabar, hanya kemudian, ia
mendapat satu pikiran baru. Ia pun sangsi akan dapat
mengalahkan tocu dari Tho Hoa To itu. Lantas ia
mencari kawat dengan apa ia membuat pagar di depan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
guanya, untuk dengan itu mengurung dirinya sendiri,
kawat itu rapat seperti sarang laba-laba. Ia pun
mengendalikan dirinya supaya ia jangan menuruti saja
hatinya yang panas. Ia anggap beradat berangasan
dapat merugikan diri sendiri. Sampai itu hari ia
bertemu dengan Kwee Ceng dena mendengar
perkataannya ini anak muda, yang ia angkat jadi
saudaranya, ia mendapat ilham. Maka ia lantas
menciptkan ilmu silatnya itu berkelahi seorang diri,
kemudian bersama Kwee Ceng, ia bertempur dengan
menggunai empat tangan mereka tetapi mereka
memecah hati, hingga mereka jadi seperti empat
orang… Maka juga sekarang, walaupun Oey Yok Su
sangat lihay, tidak dapat ia melawan Pek Thong, yang
bertubuh satu tetapi seperti terdiri dari dua Pek Thong.
Setelah itu, Pek Thong memikirkan daya untuk
membalas sakit hati pada Oey Lao Shia, yang sudah
menyiksa padanya. Seperginya Kwee Ceng, ia duduk
bersila di dalam guanya itu, dengan berdiam diri
secara begitu, ia lantas teringat pada pengalamannya
puluhan tahun, pengalaman senang dan susah, budi
dan permusuhan, cinta dan benci. Ia tengah
melayangkan pikirannya itu tatkala mendengar suara
seruling serta suara ceng dicampur sama siulan
panjang. Mendadak semangatnya menjadi terbangun
hampir tak dapat ia menguasai diri. Ia menjadi murangmaring.
Tapi pun ia lantas ingat pula sesuatu.
"Adik angkatku itu kalah ilmunya dengan aku tetapi
kenapa ia tidak dapat etrgoda bujukannya seruling Oey
Lao Shia?" demikian ia berpikir. Tadinya ia belum
mengetahuinya sifatnya Kwee Ceng, setelah
pergaulannya sekian lama, ia bagaikan sadar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ya,ya!" mengertilah ia. "Dia sangat jujur dan polos, dia
tidak punya pikiran sesat, tetapi aku, yang sudah
berusia tinggi, masih aku berkutat memikir daya upaya
untuk membalas dendaman! Kenapa aku menjadi
begini cupat pikiran? Sungguh lucu!"
Pek Thong bukan penganut Coan Cin Kauw tetapi ia
toh mengenal baik tujuan partai itu, yang bersikap
tenang dan "tak berbuat sesuatu" (bu-wi), maka itu ia
gampang sadar, pikirannya gampang terbuka.
Begitulah sambil tertawa lama, ia berbangkit bangun.
Ia melihat cuaca terang, mega putih memain di atas
langit, dengan begitu hatinya pun menjadi terabg.
Hanya sekejap itu, hilang ingatannya yang Oey Lao
Shia sudah menyiksa ia selama limabelas tahun, ia
pandang itu urusan tetek bengek. Tetapi dasar ia
berandalan dan jenaka, ia toh berpikir: "Kali ini aku
pergi, tidak nanti aku datang pula ke pulau Tho Hoa To
ini, jikalau aku tidak meninggalkan sesuatu untuk Oey
Lao Shia, si tua bnagka sesat itu, cara bagaimana
nanti dia dapat mengingat hari kemudiannya?"
Segera setelah itu ia mendapat pikiran untuk
mempermainkan pemilik Tho Hoa To itu. Dengan
gembira ia membuat liang, ia menyetor kotoran
perutnya di situ. Ia pun mengisikan beberapa botol
dengan air kencingnya, yang ia gantung dengan
sehelai benang, ia membuat pesawat rahasianya.
Dengan mengungkit batu, ia meninggalkan surat
peringatan itu. Habis itu baru ia pergi keluar dari gua.
Baru jalan beberapa tindak, kembali ia ingat apa-apa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Jalanan di Tho Hoa To ini sangat aneh," demikian
pikirannya, "Kalau nanti Oey Lao Shia ketahui siangsiang
buronku, dia dapat menyusul aku. Haha, Oey
Lao Shia, jikalau kau hendak berkelahi, tidak nanti kau
sanggup melawan aku….
Gembira orang tua ini, mendadak ia mengibas
tangannya ke arah sebuah pohon kecil di sampingnya,
lalu terdengar suara ambruk keras, ialah suara
robohnya pohon itu yang terpapas kutung. Ia menjadi
kaget sendirinya.
"Ah, bagaimana aku maju begini pesat?" ia tanya
dirinya sendiri. Ia menjadi berdiam. Tidak lama, ia
menyerang pula pohon di sampingnya, sampai
beberapa pohon dan semua itu tertebas kutung, tanpa
ia menggunai senjata tajam. Ia heran bukan main,
hingga ia berseru: "Bukankah ini ilmu Kiu Im Cin-keng?
Kapannkah aku melatihnya?"
Pek Thong menaati pesan Ong Tiong Yang, kakak
seperguruannya itu, ia tidak berani mempelajari
bunyinya kitab Kiu Im Cin-keng, akan tetapi untuk
mengajari Kwee Ceng, tanpa merasa ia seperti berlatih
sendirinya. Diluar dugaannya ia telah berhasil. Saking
kaget, ia berteriak-teriak seorang diri: "Celaka! Celaka!
Ini dia yang dibilang setan masuk ke dalam tubuh,
yang tak dapat di usir lagi!"
Maka ia lantas mengambil beberapa lembar babakan
pohon yang ulet, ia membuatnya itu menjadi tambang,
lalu dengan bantuan mulutnya, ia mengikat sendiri
kedua tangannya. Di dalam hatinya ia berjanji:
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Semenjak ini hari, jikalau aku tidak dapat melupakan
bunyinya kitab itu, seumurku tidak akan aku berkelahi
sama siapa juga! Biarnya Oey Lao Shia dapat
menyandak aku, aku tidak bakal membalas, supaya
aku tidak melanggar pesan suheng…!"
Sudah tentu Oey Yok Su tidak ketahui janjinya Pek
Thong kepada dirinya sendiri itu, ia menyangka si tua
bangka jenaka ini lagi bergurau. Maka itu ia berkata,
memperkenalkan: "Loo Boan Tong! Inilah saudara
Auwyang, yang kau telah kenal….dan ini…."
Belum lagi habis Oey Lao Shia berbicara, Ciu Pek
Thong sudah jalan mengitari mereka, ia mencium pada
tubuh setiap orang, kemudian ia berkata sambil
tertawa: "Inilah tentunya si pengemis tua Ang Cit Kong,
inilah aku dapat menerkanya! Sungguh Thian maha
adil, maka juga air kencing cuma membajur Tong Shia
serta See Tok berdua saja! Saudara Auwyang, tahun
dulu itu pernah kau menghajar aku dengan tanganmu,
sekarang aku membalasnya dengan banjuran air
kencingku, dengan begitu impaslah kita, tidak ada
salah satu yang rugi!"
Auwyang Hong tersenyum, ia tidak menjawab, hanya
ia berbisik kepada Oey Yok Su: "Saudara Yok, orang
ini sangat lincah, terang sudah kepandaiannya berada
di atasan kita, maka itu lebih baik kita jangan ganggu
dia."
Oey Yok Su tapinya berpikir; "Kita sudah tidak bertemu
lamanya duapuluh tahun, mana kau ketahui
kemajuanku tidak dapat melayani dia?" Maka terus ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
berkata kepada Ciu Pek Thong: "Pek Thong, telah aku
bilang padamu, asal kau mengajari aku Kiu Im Cinkeng,
habis aku menyembahyangi istriku almarhum,
akan aku merdekakan kau. Sekarang kau hendak
pergi ke mana?"
"Sudah bosan aku berdiam di pulau ini, hendak aku
pergi pesiar," menyahut Pek Thong.
Oey Yok Su mengulurkan tangannya.
"Mana kitab itu?" dia minta.
"Toh sudah dari siang-siang aku memberikannya pada
kau," sahut Pek Thong.
"Kau ngaco belo! Kapan kau memberikannya?"
Pek Thong tertawa.
"Kwee Ceng khan baba mantumu, bukan?" dia balik
menanya. "Apa yang menjadi kepunyaannya,
bukankah menjadi kepunyaanmu juga? Aku telah ajari
dia Kiu Im Cin-keng dari kepala sampai buntut, apa itu
bukan sama saja seperti aku mengajari sendiri?"
Kwee Ceng terkejut.
"Toako!" tanyanya. "Benarkah itu Kiu Im Cin-keng?"
Ciu Pek Thong tertawa berkakakan.
"Mustahilkah yang palsu?" ia membaliki.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yok Su tetap heran.
"Kitab bagian atas memang ada pada kau," ia berkata,
"Habis darimana kau dapatinya yang bagian bawah?"
Lagi-lagi Pek Thong tertawa.
"Bukankah itu telah diberikan kepadaku oleh
tangannya baba mantumu sendiri?" ia menanya pula.
Panas hatinya Tong Shia, ia lantas berpaling kepada
Kwee Ceng, matanya tajam. Ia telah kata dalam
hatinya: "Kwee Ceng bocah cilik, kau telah
mempermainkan aku! Bukankah Bwee Tiauw Hong, si
buta sampai sekarang masih berkutat mencari kitab
itu?" Tapi lekas ia menoleh pula pada Pek Thong
seraya berkata: "Aku menghendaki kitab yang tulen!"
Pek Thong tidak menyahuti, ia hanya menghadapi
Kwee Ceng.
"Saudara, coba kau keluarkan kitab di dalam sakuku
ini," ia berkata kepada adik angkatnya itu.
Kwee Ceng menuruti, ia merogoh ke sakunya kakak
angkat itu. Ia mengeluarkan sejilid buku tebal kira-kira
setengah dim.
Pek Thong mengulur tangannya menyambuti kitab itu.
Sekarang ia berpaling kepada Oey Yok Su.
"Inilah kitab Kiu Im Cin-keng yang tulen bagian atas,"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ia berkata. "Kitab bagian bawahnya pun terselip di
dalam ini. Jikalau kau ada mempunyai kepandaian,
nah kau ambillah!"
"Kepandaian apa aku harus gunai?" tanya Oey Yok
Su.
Pek Thong menjepit buku dengan kedua tangannya,
lalu ia memiringkan kepalanya.
"Nanti aku pikir dulu!" sahutnya. Ia terus berdiam
sekian lama. Kemudian ia tertawa dan berkata:
"Kepandaiannya si tukang tempel!"
"Apa?!" Oey Yok Su menegaskan, heran.
Pek Thong tidak menyahuti, ia hanya angkat kedua
tangannya ke atas kepalanya, atas mana maka
berterbanganlah banyak hancuran kertas, bagaikan
kupu-kupu berselibaran, mengikuti tiupan angin,
berhamburan ke empat penjuru, maka hanya sekejap
habis semuanya buyar, entah kemana parannya….
Oey Yok Su murka berbareng kaget. Ia tidak
menyangka begini hebat tenaga dalam dari Pek
Thong, yang sanggup menjepit hancur kitab itu secara
demikian hebat.
"Hai, bocah bangkotan yang nakal, kau
mempermainkan aku!" dia membentak. "Hari ini jangan
kau harap dapat berlalu dari pulauku ini!" Dan ia
berlompat maju dengan serangannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tubuhnya Pek Thong berkelit, lalu terhuyung ke kiri
dan kanan, dengan begitu lewatlah serangannya Oey
Yok Su di samping tubuhnya itu.
Tong Shia heran yang orang tidak melakukan
pembalasan. Ia pun heran untuk caranya orang
mengegos tubuh itu. Dilain pihak, ia pun sadar. Maka
bertanyalah ia kepada dirinya sendiri. "Aku Oey Yok
Su, apakah dapat aku melayani seorang yang kedua
tangannya diikat?" Maka segera ia berlompat mundur
tiga tindak.
"Loo Boan Tong, kakimu sudah sembuh atau belum?"
ia menanya nyaring. "Aku terpaksa mesti berbuat tak
pantas terhadapmu! Lekas kau putuskan ikatan pada
kedua tanganmu itu, hendak aku belajar kenal dengan
kau punya Kiu Im Cin-keng!"
Pek Thong berlaku sabar ketika ia menyahuti: "Tidak
hendak aku mendustai kau. Aku ada mempunyai
kesulitanku sendiri yang sukar untuk aku
memberitahukannya. Ikatan pada tanganku ini, biar
bagaimana juga, tidak dapat aku meloloskannya."
"Biarlah aku yang memutuskannya!" kata Oey Yok Su.
Dia maju, dia ulur tangannya.
Mendadak saja Pek Thong menjerit-jerit: "Tolong!
Tolong!" Tapi di mulut ia berkoakan, tubuhnya sendiri
lompat berjumpalitan, jatuh ke tanah, terus
menggelinding beberapa gulingan.
Kwee Ceng kaget.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Gakhu!" ia memanggil mertuanya. Ia pun maju,
niatnya untuk mencegah.
Ang Cit Kong menarik tangan pemuda itu.
"Jangan berlaku tolol!" katanya perlahan.
Kwee Ceng berdiam, matanya mengawasi Ciu Pek
Thong.
Si tua bangka jenaka dan berandalan itu bergulingan
terus, bukan main lincahnya gerakannya itu. Oey Yok
Su maju terus, dia memukul, dia menendang, tetapi
tidak pernah dia mengenai sasarannya.
"Perhatikan gerak-geriknya!" Ang Cit Kong berbisik
pula kepada muridnya.
Kwee Ceng terus memandang pula, segera ia
menginsyafi kepandaian bergulingan dari Ciu Pek
Thong itu. Itulah dia tipu silat yang di dalam kitab
disebutnya "Coa heng lie hoan" atau "Ular
menggeleser, rase jumpalitan". Maka ia memasang
matanya terus, ia memperhatikannya. Kapan ia
menyaksikan di bagian yang indah, tanpa merasa ia
berseru: "Bagus!"
Oey Yok Su menjadi penasaran sekali yang pelbagai
serangannya itu menemui kegagalan, hatinya semakin
panas, maka itu ia menyerang makin hebat. Dan
hebatlah kesudahannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tubuh Ciu Pek Thong tidak terkena pukulan tetapi
bajunya saban-saban robek sepotong dengan
sepotong, bahkan rambut dan kumisnya juga ada yang
terputuskan serangan dahsyat tocu dari Tho Hoa To.
Lama-lama ia pun menginsyafi bahaya yang
mengancamnya. Salah sedikit saja, ia bisa celaka,
tidak mati tentu terluka parah. Maka diakhirnya ia
mengerahkan tenaganya, ia membuat ikatannya puus,
habis mana dengan tangan kiri ia menangkis
serangan, dengan tangan kanan ia meraba ke
punggungnya, akan menangkap seekor tuma, yang ia
terus memasuki ke dalam mulutnya untuk digigit,
menyusul mana ia berteriak-teriak: "Aduh! Aduh! Gatal
sekali!"
Oey Yok Su terkejut juga disaat sangat terancam itu
Pek Thong masih sanggup menangkap tuma dan terus
bergurau, tetapi karena ia sangat penasaran, ia tidak
menghentikan penyerangan, bahkan tiga kali beruntun
ia menggunai pukulan-pukulan lawan.
Segera terdengarlah suara Ciu Pek Thong: "Dengan
sebelah tanganku tidak dapat aku menangkis, mesti
aku pakai dua-dua tanganku berbareng!" kata-kata ini
disusuli sama gerakan dari kedua tangannya; Tangan
kanan dipakai menangkis, tangan kiri menyambar
kopiah lawan!
Didalam halnya tenaga dalam, sebenarnya Ciu Pek
Thong kalah dari Oey Yok Su, maka juga tempo Tong
Shia menangkis tangan kanan itu, dia lantas saja
terhuyung, dia roboh setelah beberapa tindak. Tapi ia
pun sebat, tangan kirinya sudah berhasil menyambar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kopiahnya pemilik dari Tho Hoa To itu!
Oey Yok Su berlompat maju, dalam murkanya ia
menyerang dengan kedua tangannya.
"Gunai dua-dua tanganmu!" dia berseru. "Sebelah
tangan saja tak cukup!"
"Tidak bisa!" Pek Thong pun berseru. "Cukup dengan
satu tangan!"
Oey Yok Su bertambah gusar.
"Baiklah!" serunya sengit. "Kau coba saja!" Ia melanjuti
menyerang dengan dua tangannya itu, menghajar
sebelah tangan lawan, yang dipakai menangkis.
Begitu kedua tangan bentrok, ebgitu terdengar suara
keras. Begitu lekas juga Ciu Pek Thong jatuh terduduk,
kedua matanya ditutup rapat.
Melihat begitu, Oey Yok Su tidak menyerang pula.
Cuma lewat sedetik, Ciu Pek Thong mengasih dengar
satu suara, dari mulutnya muncrat darah hidup,
mukanya pun menjadi pucat paci.
Semua orang heran dan tercengang. Mungkin Pek
Thong tidak menang, tetapi belum tentu dia kalah.
Maka, kenapa dia tidak hendak menggunai dua-dua
tangannya?
Habis muntah darah, Pek Thong berbangkit dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perlahan-lahan.
"Aku mempelajari Kiu Im Cin-keng diluar tahuku, tetapi
meskipun demikian aku telah melanggar juga pesan
kakak seperguruanku. Jikalau aku menggunai keduadua
tanganku, Oey Lao Shia, pasti tidak nanti kau
sanggup melawan aku."
Oey Yok Su percaya kata-kata itu, ia membungkam. Ia
pun merasa tidak enak sendirinya. Bukankah tanpa
sebab ia sudah mengurung orang limabelas tahun
dipulaunya itu dan sekarang ia melukakannya? Maka
itu ia merogoh sakunya mengeluarkan satu kotak
kumala, dari dalam situ ia mengambil tiga butir obat
pulung warna merah, yang mana terus ia angsurkan
kepada lawannya itu. Ia berkata: "Pek Thong, obat luka
di kolong langit ini tidak ada yang melebihkan ini pil
Siauw-hun-tan dari Tho Hoa To. Kau makan ini setiap
tujuh hari sekali, lukamu bakal tidak mendatangkan
bahaya. Sekarang, mari aku antar kau keluar dari
pulauku ini."
Pek Thong mengangguk. Ia sambuti pil itu, satu di
antaranya ia lantas telan. Habis itu ia meluruskan
napasnya.
Kwee Ceng sudah lantas berjongkok di samping toako
ini, untuk menggendongnya, setelah mana ia berjalan
mengikuti mertuanya hingga di tepi laut. Di muara
tertampak enam atau tujuh buah perahu, besar dan
kecil.
Auwyang Hong, yang mengikuti berkata kepada Oey
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Yok Su: "Saudara Yok, tidak usah kau menggunai lain
perahu untuk mengantarkan Ciu Toako keluar dari
pulau ini, aku minta dia suka naik perahuku saja."
"Dengan begitu aku membikin kau berabe, saudara
Hong", menyahut Oey Yok Su menerima tawaran. Ia
lantas memberi tanda kepada bujang gagu, maka
bujang itu pergi masuk ke dalam sebuah perahu besar
darimana dia membawa keluar sebuah penampan
yang berisikan uang goanpo emas.
"Pek Thong, sedikit emas ini pergilah kau bawa untuk
kau pakai," berkata Oey Yok Su pada Loo Boan Tong.
"Kau benar terlebih lihay dari Oey Lao Shia, aku takluk
padamu!"
Pek Thong meram sejak tadi, perlahan-lahan ia
membuka matanya. Kembali ia perlihatkan
kenakalannya. Ia melihat ke perahunya Auwyang
Hong, di kepala perahu itu dipancar bendera putih di
mana ada di sulam dua ekor ular-ularan. Menyaksikan
itu ia tidak senang.
Auwyang Hong menepuk tangannya, terus ia
mengeluarkan seruling kayu yang ia tiup beberapa kali.
Tidak lama dari situ, dari dalam rimba terdengar suara
berisik sekali. Lalu terlihat dua bujang gagu memimpin
beberapa pria berpakaian putih keluar dari rimba,
mereka itu menggiring rombangan ularnya. Dengan
menggeleser di beberapa lembar papan, yang
dipasang di antara perahu dan pinggiran, semua
binatang berlegot itu naik ke dalam perahu, berkumpul
di dasarnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Aku tidak mau duduk di perahunya See Tok!" berkata
Pek Thong. "Aku takut ular!"
Oey Yok Su tersenyum.
"Kalau begitu, kau naiklah perahu itu!" ia kata,
menunjuk ke sebuah perahu kecil di samping.
Ciu Pek Thong menggeleng kepala.
"Aku tidak sudi duduk di perahu kecil, aku
menghendaki yang besar!" katanya sambil tangannya
menunjuk.
Oey Yok Su agaknya terkejut.
"Pek Thong, perahu itu sudah rusak, belum dibetulin!"
ia memberitahu. "Tidak dapat perahu itu dipakai."
Orang semua lihat perahu itu besar dan indah,
buntuntya tinggi, catnya yang kuning emas berkilauan.
Terang itu ada sebuah perahu baru, tidak ada tandatandanya
rusak.
Pek Thong sudah lantas membawa tingkahnya si
bocah cilik.
"Tidak, tidak dapat aku tidak menaiki perahu itu!"
katanya bersikeras. "Oey Lao Shia, mengapa kau
begini pelit?"
"Perahu itu perahu sialan," Oey Yok Su berkata,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Siapa menduduki itu, dia mesti celaka, kalau tidak
sakit tentu dapat halangah, maka itu sudah lama
dibiarkan saja tidak dipakai. Siapa bilang aku pelit?
Jikalau kau tidak percaya, sekarang aku nanti bakar
untuk kau lihat!"
Ia benar-benar memberi tanda kepada orangorangnya,
maka keempat bujang gagu lantas
menyalakan api bersiap membakar perahu yang indah
itu.
Mendadak Ciu Pek Thong menjatuhkan diri duduk di
tanah, sambil mencabuti kumisnya ia menangis
menggerung-gerung.
Melihat itu, orang semua terbengong. Cuma Kwee
Ceng yang kenal tabiat orang, di dalam hatinya ia
tertawa.
Habis menarik-narik kumisnya, Pek Thong terus
bergulingan. Masih ia menangis.
"Aku hendak duduk perahu baru itu! Aku hendak duduk
perahu baru itu!" teriaknya berulang-ulang.
Oey Yong lantas lari ke tepi laut, untuk mencegah si
gagu mebakar perahu.
Ang Cit Kong tertawa, dia berkata: "Saudara Yok, aku
si pengemis tua seumurnya sial dangkalan, biarlah aku
temani Loo Boan Tong menaik itu perahu yang angker.
Biarlah kita lawan jahat dengan jahat, biarlah kita coba
bergulat, lihat saja, aku si pengemis tua yang apes
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
atau perahumu yang angker itu yang benar-benar
keramat!"
"Saudara Cit," berkata Oey Yok Su. "Baiklah kau
berdiam lagi beberapa hari di sini. Kenapa mesti buruburu
pergi?"
"Pengemis-pengemis besar, yang sedang, yang cilik,
semuanya yang ada di kolong langit ini," menyahuti
Ang Cit Kong, "Tak berapa hari lagi bakal berapat di
Gakyang di Ouwlam, untuk mendengari putusanku si
pengemis tua yang hendak memilih ahli waris dari Kay
Pang. Coba pikir kalau ada aral melintang terhadap
aku si pengemis tua dan karenanya aku pulang ke
langit, apabila tidak siang-siang aku memilih gantiku,
bukankah semua pengemis menjadi tidak ada
pemimpinnya? Maka itu si pengemis tua perlu lekaslekas
berangkat."
Oey Yok Su menghela napas.
"Saudara Cit, kau sungguh baik!" ia berkata. "Seumur
hidupmu, kau senantiasa bekerja untuk lain orang, kau
bekerja tidak hentinya seperti kuda berlari-lari."
Ang Cit Kong tertawa.
"Aku si pengemis tua tidak menunggang kuda, kakiku
ini tidak terpisah dari tindakannya," katanya. "Kau
keliru! Nyata kau berputar-putar mendamprat orang!
Kalau kakiku adalah kaki kuda, bukankah aku menjadi
binatang?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tertawa, dia campur bicara.
"Suhu, itulah kau sendiri yang mengatakannya, bukan
ayahku!" bilangnya.
"Benar, guru tak sebagai ayah!" berkata Ang Cit Kong.
"Biarlah besok aku menikah dengan seorang pengemis
perempuan, agar lain tahun aku mendapat anak
perempuan untuk kau lihat!"
Oey Yong bertepuk tangan, bersorak.
"Tak ada yang terlebih baik daripada itu!" serunya.
Auwyang Kongcu melirik kepada nona itu, di antara
sinar matahari ia tampak satu paras yang cantik sekali,
kulit yang putih dadu bagaikan bunga dimusim semi,
atau sebagai sinar matahari indah diwaktu fajar. Mau
atau tidak ia menjadi berdiri menjublak.
Ang Cit Kong sudah lantas mempepayang pada Ciu
Pek Thong.
"Pek Thong," katany. "Mari aku menemani kau menaiki
itu perahu baru! Oey Lao Shia ada sangat aneh, maka
itu kita berdua jangan kita kasih diri kita
diiperdayakan!"
Ciu Pek Thong menjadi sangat girang.
"Pengemis tua, kau seorang baik!" katanya gembir.
"Baiklah kita mengangkat saudara!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Belum lagi Cit Kong menjawab, Kwee Ceng sudah
datang sama tengah.
"Ciu Toako!" katanya. "Kau sudah angkat saudara
denganku, bagaimana sekarang kau juga hendak
mengangkat saudara dengan guruku?"
"Ada apakah halangannya?" Pek Thong tertawa.
"Jikalau mertuamu mengijinkan aku naik perahunya
yang baru, hatiku akan menjadi girang sekali, dengan
dia pun suka aku mengangkat saudara!"
Sementara itu Cit Kong telah mencurigai Oey Yok Su.
Ia berlaku jenaka tetapi hatinya berpikir. Kenapa Tong
Shia menghalangi orang memakai perahunya yang
besar dan indah itu? Bukankah di situ mesti ada
terselip rahasia? Sebaliknya Ciu Pek Thong berkeras
hendak menaiki perahu itu, apabila ada bahaya,
seorang diri tidak nanti Pek Thong dapat membela
dirinya. Bukankah Pek Thong tengah terluka di dalam
badan? Maka itu ia anggap perlulah ia menemani
untuk membantu apabila perlu.
"Hm!" Oey Yok Su memperdengarkan suara di hidung.
"Kamu berdua lihay, aku pikir umpama kamu
menghadapi bahaya, kamu bisa menyelamatkan diri,
maka itu aku Oey Yok Su berkhawatir berlebih-lebihan.
Kwee Sieheng, kau pun boleh ikut pergi bersama!"
Kwee Ceng terkejut saking herannya. Bukankah aneh
mertua itu? Ia suka diakui sebagai mantu, ia sudah
panggil "Ceng-jie" anak Ceng, tetapi sekarang
panggilan itu diubah pula menjadi "sieheng" yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
asing. Ia memandang mertuanya itu.
"Gakhu…" katanya.
"Bocah cilik yang termaha!" membentak Oey Yok Su.
"Siapakah gakhumu?! Sejak hari ini, jikalau kau
menginjak pula Tho Hoa To setindak, jangan kau
sesalkan aku Oey Yok Su keterlaluan!"
Mendadak ia menyambar punggungnya satu bujang
gagu di sampingnya seraya ia menambahkan: "Inilah
contahnya!"
Bujang gagu itu sudah dipotong lidahnya, maka itu
waktu ia menjerit, suaranya tidak keruan. Sampokan
itu membuat tubuhnya terpelanting seperti terbang,
terlempar ke laut di dalam mana ia lantas hilang
tenggelam. Lebih dulu daripada itu semua anggota di
dalam tubuhnya itu sudah hancur luluh.
Semua bujang lainnya menjadi akget dan ketakutan,
mereka lantas pada berlutut.
Semua bujang yang ada di Tho Hoa To ini ada bangsa
jahat dan tidak mengenal budi, tentang mereka itu,
Oey Yok Su sudah mencari tahu jelas sekali, maka ia
tawan mereka dan dibawa ke pulau, lidah mereka
semua dikutungi dan kupingnya ditusuk hingga
menjadi tuli, setelah itu ia wajibkan mereka melayani
padanya. Ia sendiri pernah berkata: "Aku Oey Yok Su,
aku bukannya seorang kuncu. Kaum kangouw
menyebut aku Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka
dengan sendirinya tak dapat aku bergaul sama bangsa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
budiman. Bujang-bujang, semakin ia jahat, semakin
tepat untukku."
Orang menghela napas menyaksikan ketelengasan
tocu dari Tho Hoa To ini.
Kwee Ceng kaget dan heran, ia lantas menekuk lutut.
"Apakah dari dia yang tak mempuaskanmu?" Ang Cit
Kong tanya Tong Shia.
Oey Yok Su tidak menjawab, hanya ia memandang
Kwee Ceng dan menanya dengan bengis: "Bagian
bawah dari Kiu Im Cin-keng itu, bukankah kau yang
memberikannya kepada Ciu Pek Thong?!"
"Ada sehelai barang yang aku berikan pada Ciu Toako,
aku tidak tahu barang apa itu," menyahut Kwee Ceng.
"Jikalau aku tahu…."
Bagaikan orang yang tak tahu salatan, yang tak
mengenal berat dan entengnya urusan , Ciu Pek
Thong memotong kata-kata adik angkatnya itu. Hebat
kegemarannya bergurau.
"Kenapa kau membilangnya tak tahu?" demikian
selaknya. "Bukankah kau telah merampasnya itu dari
Bwee Tiauw Hong dengan tanganmu sendiri? Syukur
Oey Yok Su si tua bangka itu tidak mendapat tahu!
Mestinya kau pun telah membilangnya kau telah
paham kitab itu, bahwa selanjutnya di kolong langit ini
tidak ada tandinganmu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Kwee Ceng kaget bukan main.
"Toako!" serunya. "Aku…aku kapannya pernah
mengatakannya demikian?"
Ciu Pek Thong mendelik.
"Memangnya kau telah mengatakan demikian!" ia
memastikan.
Kwee Ceng membaca Kiu Im Cin-keng tanpa
mengetahui kitab itulah kitab ajaib itu, hal itu memang
membuatnya orang tak percaya, maka sekarang
dengan Ciu Pek Thong membebernya, Oey Yok Su
menjadi seperti kalap, hingga ia tak ingat lagi si tua
bangka berandalan itu lagi bergurau atau bukan, ia
sebaliknya menganggap orang telah lenyap sikap
kekanak-kanakannya dan tengah berbicara dengan
sebenar-benarnya. Ia lantas saja memberi hormat
kepada Pek Thong, Ang Cit Kong dan Auwyang Hong:
"Persilahkan!" katanya. Habis itu dengan menarik
tangan Oey Yong, ia memutar tubuh untuk mengeloyor
pergi.
Oey Yong hendak berbicara dengan Kwee Ceng, baru
ia memanggil: "Engko Ceng!" ia sudah ditarik ayahnya
beberapa tombak jauhnya, terus dengan cepat masuk
dibawa ke dalam rimba.
Ciu Pek Thong tertawa bergelak, tapi mendadak ia
merasakan dadanya sakit, ia berhenti dengan tiba-tiba.
Ia cuma berhenti sebentar, lantas ia tertawa pula. Ia
kata: "Oey Lao Shia telah kena aku jual! Aku bergurau,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dia kira itulah benar-benar!"
Cit Kong menjdai heran.
"Jadi benar tadinya Ceng-jie tidak ketahui halnya kitab
itu?" ia tegaskan.
"Memang ia tidak tahu!" Pek Thong tertawa. "Dia
hanya mengira itu latihan napas saja. Jikalau dia
mengetahuinya lebih dulu, mana dia sudi belajar
padaku? Adikku, kau sekarang telah ingat baik-baik isi
kitab, bukan? Bukankah kau bakal tidak akan
melupakannya pula?"
Setelah berkata demikian, Pek Thong tertawa pula,
tetapi segera ia berjengkit kesakitan, wajahnya
menyeringai. Lucunya sembari jalan ia tertawa dengan
saban-saban manahan sakitnya…!
"Ah, Loo Boan Tong!" Ang Cit Kong membanting
kakinya. "Bagaimana kau masih berguyon saja! Nanti
aku bicara sama saudara Yok!"
Ia lari ke dalam rimba ke arah tadi Oey Yok Su berlalu
dengan putrinya. Begitu ia memasuki, ia kehilangan itu
ayah dan anak daranya. ia pun melihat jalan melintang
tidak karuan, hingga tak tahu ia mesti mengambil
jurusan yang mana. Semua bujang gagu pun bubar
setelah berlalunya majikan mereka. Maka dengan
terpaksa Ang Cit Kong kembali. Mendadak ia ingat
Auwyang Kongcu ada mempunyakan peta Tho Hoa
To.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Auwyang Sieheng," katanya lantas. "Aku minta
sukalah kau memberi pinjam petamu sebentar."
Pemuda itu menggeleng kepala.
"Tanpa perkenan dari Oey Peehu, siauwtit tidak berani
meminjamkannya kepada lain orang," Auwyang
Kongcu menolak. "Harap Ang Peehu memaafkan aku."
"Hm!" Cit Kong perdengarkan suara dinginnya. Lalu ia
kata di dalam hatinya, "Benar-benar aku tolol!
Mengapa aku hendak meminjam peta dari bocah ini?
Dia justru menghendaki sangat supaya Oey Lao Shia
membenci muridku!"
Ketika itu dari dalam rimba terlihat munculnya
serombongan orang dengan seragam putih, yang
diantar oleh seorang bujang gagu. Itulah tigapuluh dua
nona-nona tukang menari dari Auwyang Hong dan
mereka segera memberi hormat seraya menekuk lutut
kepada Auwyang Hong itu sambil berkata: "Oey Laoya
menitahkan kami turut looya pulang."
Tanpa memandang lagi kepada mereka itu, Auwyang
Hong menggeraki tangannya memberi tanda supaya
mereka naik perahu, kemudian ia menoleh kepada
Ang Cit Kong dan Ciu Pek Thong seraya berkata:
"Perahunya saudara Yok itu mungkin benar ada
rahasianya, maka itu baiklah kamu legakan hatimu,
nanti perahuku mengikutinya dari belakang, jikalau ada
perlunya, akan aku memberikan bantuanku."
"Siapa kesudian kau berbuat baik kepadaku?" bentak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ciu Pek Thong gusar. "Aku justru hendak mencobacoba
ada apakah yang aneh pada perahunya Oey Lao
Shia ini! Jikalau kau mengikuti kita, habisnya tidak ada
bahaya, tidak ada bencana, bukankah itu tidak ada
artinya?"
Auwyang Hong tidak menjadi gusar, ia bahkan tertawa.
"Baiklah!" sahutnya gembira. "Sampai kita bertemu
pula!"
Ia memberi hormat, terus ia naik ke perahunya.
Kwee Ceng sendiri mengawasi dengan mendelong
jalanan yang diambil Oey Yong tadi.
"Adikku, mari kita naik perahu!" Ciu Pek Thong
mengajak sambil tertawa. "Hendak aku melihatnya,
apakah bisa perahu ini membikin mampus kita
bertiga?"
Lalu dengan sebelah tangan menarik Ang Cit Kong
dan sebelah tangan yang lain menarik adik angkatnya
itu, ia bertindak turun ke perahu yang besar dan indah
itu. Di situ ada delapan bujang gagu yang menanti
untuk melayani mereka. Semua mereka itu
membungkam.
Melihat mereka itu, Ciu Pek Thong tertawa pula.
"Mungkin kalau satu hari Oey Lao Shia kumat
tabiatnya, dia juga bakal mengutungi lidah putrinya!
Kalau itu sampai terjadi maka barulah aku percaya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
benar dia mempunyai kepandaian lihay….?"
Kwee Ceng mendengar itu, ia menggigil sendirinya.
Memang hebat kalau benar-benar Oey Yok Su karena
gusarnya memotong lidah anaknya.
"Apakah kau takut?" menanya Pek Thong tertawa
bergelak-gelak. Tanpa memanti jawaban, ia memberi
tanda kepada si orang-orang gagu itu untuk mulai
memberangkatkan perahu itu. Mereka berlayar
mengikuti angin Selatan.
"Sekarang mari kita periksa ke dasar perahu ada
apanya yang aneh!" Cit Kong mengajak.
Pek Thong dan Kwee Ceng menurut, maka itu mereka
lantas mulai bekerja. Mereka mulai dari depan, lalu ke
tengah, terus ke belakang. Semuanya dicat mengkilap.
Barang makanan pun lengkap: ada beras, ada daging,
dan sayuran. Sama sekali tidak ada bagian yang mana
juga yang mencurigakan.
Ciu Pek Thong menjadi sangat mendongkol.
"Oey Lao Shia menipu!" teriaknya, sengit. "Dia bilang
perahunya ini berbahaya, toh bahayanya tidak ada!
Sungguh menyebalkan!"
Cit Kong tapinya tetap curiga. Ia lompat naik ke atas
tiang layar, ia tidak dapatkan apa-apa yang luar biasa.
Maka lantas ia memandang jauh ke laut. Ia menampak
hanya burung-burung laut beterbangan, angin meniupniup
keras, membuatnya gelombang mendamparTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
dampar tanpa pangkalnya, seperti nempel langit.
Berdiam di atas kapal, ia justru merasa segar.
Ditiup angin, tiga batang layarnya membuatnya perahu
menuju ke Utara.
Ketika Ang Cit Kong berpaling ke belakang, ia
mendapatkan kenderaan airnya Auwyang Hong
mengikuti sejarak dua lie, terlihat nyata layarnya yang
putih sulaman dari ular-ularan yang berkepala dua
sedang mengulur lidahnya.
Cit Kong lompat turun, kepada anak-anak buah ia
memberi tanda agar perahu diarahkan ke barat laut,
ketika jurusan telah diubah, ia lantas melihat pula ke
belakang.
Juga perahunya Auwyang Hong turut berubah, tetap
mengikuti.
"Apa perlunya ia mengikuti terus?" Pek Kay menanya
dirinya sendiri. "Benar-benarkah ia bermaksud baik? Si
tua bangka berancu itu tidak biasanya bertabiat
demikian baik budi…!"
Apa yang dia pikirkan itu, Cit Kong tidak beritahukan
Pek Thong. Ia tahu tabiat aneh dan aseran dari kawan
ini, ia khawatir orang nanti kumat amarahnya atau
tabiat anehnya itu. Ia cuma menitahkan anak buah
kapal kembali mengubah tujuan ke timur lurus.
Karena tujuan diubah, perahu berputar, bersama layarlayarnya
kenderaan ini miring dan menjadi kendor
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jalannya.
Belum lama, lalu tertampak perahunya Auwyang Hong
pun menuju ke timur….
"Bagus juga jikalau kita mengadu ilmu di tengah laut,"
pikir Cit Kong kemudian. Ia masuk ke dalam gubuk
perahu. Ia tampak Kwee Ceng duduk menjublak saja,
suatu tanda pemuda itu kalut pikirannya.
"Muridku," menegur sang guru, "Mari aku ajarkan kau
semacam ilmu mengemis nasi, jikalau tuan rumah
tetap tidak sudi mengamal, kau libat dia selama tiga
hari tiga malam, supaya kau buktikan nanti, dia suka
mengamal atau tidak!"
Pek Thong tertawa mendengar perkataan orang itu.
"Jikalau tuan rumah memelihara anjing galak?"
tanyanya. "Jikalau kau tidak pergi, anjing jahat itu
bakal menggigitnya! Habis bagaimana?"
"Tuan rumah yang demikian tidak berperasaan
prikemanusiaan, kalau malamnya kau santroni dan
mencuri sepuasnya hartanya, itulah tidak melanggar
hukum Thian…" kata Cit Kong.
"Adikku," Pek Thong terus menanya Kwee Ceng,
"Mengertikah kau maksud gurumu? Itu berarti dia
menganjurkan kau menggerembengi mertuamu itu!
Umpama kata dia tetap tidak hendak menyerahkan
putrinya dan bahkan hendak menghajar kau, maka
pergilah kau diwaktu malam membawa lari gadisnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu!"
Mendengar demikian, mau tidak mau, Kwee Ceng
tertawa. Kemudian ia mengawasi orang jaqlan
mondar-mandar, sikapnya tak tenang. Ia mendadak
ingat suatu apa.
"Toako," ia menanya, "Sekarang kau hendak pergi ke
mana?"
"Tidak ada tujuannya, adikku," Pek Thong menyahut.
"Ke mana saja asal pesiar…"
"Aku hendak meminta sesuatu, toako…."
Pek Thong segera menggoyangi tangannya.
"Jikalau kau mau minta aku kembali ke Tho Hoa To
untuk membantui kau mencuri istri, itulah tidak nanti
aku lakukan!"! sahutnya.
Merah mukanya Kwee Ceng.
"Bukannya itu, toako!" ia menjelaskan. "Aku ingin toako
pergi ke Kwie-in Chung di telaga Thay Ouw."
Matanya si orang tua mencelik.
"Untuk apakah?" dia menanya.
"Chuncu dari Kwie-in-chung yaitu Liok Seng Hong ada
seorang kesatria," Kwee Ceng menerangkan. "Dia
sebenarnya murid dari mertuaku, karena kerembetTIRAIKASIH
WEBSITE http://kangzusi.com/
rembet urusannya Hek Hong Siang Sat, dia dihajar
mertuaku itu hingga kedua kakinya gempor, susah
untuk baik kembali. Aku lihat kaki toako dapat sembuh,
maka ingin aku agar toako mengajarkan ia ilmunya
supaya kakinya itu sembuh seperti sediakala!"
"Oh, itulah gampang!" sahut Pek Thong.
Kwee Ceng girang, hendak ia menghanturkan terima
kasih, tatkala muncul suara menjeblaknya pintu, lalu
muncul seorang anak buah dengan romannya pucat
saking ketakutan, tapi karena ia tidak dapat bicara, dia
cuma bisa menggerak-geraki tangannya.
Menduga mesti terjadi sesuatu, Cit Kong bertiga
berlompat keluar untuk melihat……
*
* *
Oey Yong telah diajak pulang, dia terus ditarik hingga
ke dalam rumah. Tentu saja, karena dipaksa ayahnya
itu, tidak dapat ia berbicara dengan Kwee Ceng. Ia
menjadi masgul dan dongkol sekali. Terus ia masuk ke
dalam kamarnya, ia menguncikan pintu. Ia menangis
dengan perlahan.
Oey Yok Su menyesal juga telah mengusir Kwee Ceng
karena ia menuruti hawa amarahnya, terutama karena
ia anggap si anak muda lagi menghadapi bahaya
maut. Hendak ia menghibur gadisnya tetapi Oey Yong
tidak memperdulikannya. Anak ini terus tidak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membuka pintu kamarnya, diwaktu santap malam, ia
tidak muncul untuk berdahar. Ketika sang ayah
menyuruh bujangnya perempuan membawa makanan
naik dan lauknya, ia lemparkan itu ke lantai hingga
tumpah beserakan dan piring mangkoknya pecah
hancur.
Keras Oey Yong berpkir.
"Ayah akan lakukan apa yang dia ucapkan. Kalau
engko Ceng datang pula ke mari, dia bakal di hajar
mati. Kalau aku buron, dilain hari aah pun tentu tidak
bakal mengasih ampun…. Pula, dengan membiarkan
dia tinggal seorang diri saja, tidakkah ia menjadi
kesepian?" Bukan main berdukanya nona ini. Ia tidak
dapat pikiran yang baik.
Ketika beberapa bulan yang lalu ia dimaki ayahnya, itu
waktu ia buron tanpa berpikir lagi, setelah bertemu
pula dengan ayahnya itu, ia mendapatkan rambut
ayahnya itu mulai ubanan, hingga baru selang
beberapa bulan, si ayah seperti bertambah puluhan
tahun. Melihat itu, ia masgul sekali, hingga ia
bersumpah tidak akan membikin ayah itu berduka
pula. Sekarang? Di luar sangkaannya, ia menghadapi
ini kesulitan. Tidak buron, ia pikirkan Kwee Ceng.
Kalau ia buron, ia berati ayahnya…. Maka ia menangis
sambil mendekam di pembaringan.
"Coba ibu masih hidup, tentulah ibu dapat mengambil
putusan untukku…. Tidak nanti ibu membiarkan aku
bersusah hati begini…" Begitu ia berpikir, mengingat
ibunya yang sudah lama meninggalkan dunia fana ini.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Ingat ibunya itu, ia menjadi terlebih sedih. Ia
berbangkit, ia membuka pintu, terus ia pergi ke thia,
ruang depan.
Pintu rumahnya Oey Yok Su di pulau Tho Hoa To ini
ada dipasang seperti untuk main-main saja. Pintu
besarnya siang atau malam dipentang lebar-lebar,
maka itu dengan tindakan perlahan, Oey Yong bisa
keluar terus. Di luar pintu ia melihat bintang-bintang di
langit. Kembali ia berpikir keras.
"Tentulah sekarang engko Ceng sudah terpisah
beberapa puluh lie dari sini," pikirnya. "Entah sampai di
kapan aku bakal dapat bertemu pula dengannya…."
Ia menghela napas, ia menepas air mata dengan ujung
bajunya. Lalu ia bertindak ke dalam pohon-pohon
bunga. Ia menyingkap cabang-cabang, ia mengebutnegbut
daun-daun, sampai ia berada di depan kuburan
ibunya.
Di depan kuburan itu tumbuh pelbagai macam pohon
bunga, yang di empat musim berbunga bergantian.
Semua itu ada bunga-bunga pilihan dan ditanam Oey
Yok Su sendiri. Kecuali harum bunga, dipandang
diantara sinar rembulan, bunganya sendiri pun permai
indah.
Oey Yong menolak batu nisan, ke kira tiga kali, ke
kanan tiga kali juga. Lalu ia menarik ke depan. Dengan
perlahan-lahan batu itu berkisar, memperlihatkan
sebuah liang atau lorong di dalam tanah. Ia bertindak
ke dalam lorong itu. Ia membelok tiga kali. Kembali ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
membuka pintu rahasia, yang terbuat dari batu. Maka
tibalah ia di dalam, di kuburan dari ibunya yang
pekarangannya lebar. Ia menyalakan api, untuk
memasang pelita di muka kuburan sekali.
Pintu kuburan semuanya tetlah tertutup sendirinya.
Maka Oey Yong berada seorang diri. Ia memandang
gambar ibunya, yang dilukis oleh ayahnya sendiri. Ia
berpikir keras.
"Seumurku belum pernah aku melihat ibuku," pikirnya.
"Kalau nanti aku sudah mati, bisakah aku bertemu
dengannya? Bisakah ibu masih begini muda seperti
gambar ini, begini cantik? Di mana sekarang adanya
ibu? Di atas langit atau di bawah langit? Apakah ibu
masih di dalam pekarangan yang luas ini? Baiklah aku
berdiam di sini untuk selama-lamanya, untuk
menemani ibu…."
Di tembok di dalam liang kubur ini ada sebuah meja, di
atas mana diletaki pelbagai macam batu permata yang
luar biasa, tidak ada satu juga yang tidak indah.
Semua itu dikumpulkan oleh Oey Yok Su dari pelbagai
tempat, ketika dulu hari ia malang melintang di kolong
langit ini. Baik istana atau keraton, baik gedung orangorang
berpangkat besar atau orang-orang hartawan,
atau pun sarang-sarang berandal, hampir tak ada
tempat yang ia tidak pergikan, dan asal ada barang
permata yang ia sukai, lantas ia ambil atau ia rampas.
Sebelum mendapatkannya, belum ia puas. Ia gagah
luar biasa, matanya sangat tajam, maka ia bisa
mendapatkan demikian banyak permata itu. Semua itu
sekarang dikumpulkannya di dalam kuburan istrinya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
itu, untuk dipakai menemani arwah istrinya.
Semua permata itu bergemerlapan tertimpa cahaya
api.
Oey Yong berpkiri pula: "Semua permata ini tidak
mempunyai perasaan tetapi mereka benda yang hitung
ribuan tahun tak akan rusak termusnah. Malam ini aku
melihatnya. Bagaimana kala nanti tubuhku sudah
berubah menjadi tanah? Bukankah permata ini tetap
berada di dalam dunia? Benarkah makhluk yang
berjiwa, makin dia cerdik makin pendek umurnya?
Oleh karena ibu cerdas luar biasa, dia cuma hidup
duapuluh tahun, lalu menutup mata…"
Ia menjublak mengawasi gambar ibunya itu. Kemudian
ia padamkan api. Ia pergi ke tepi peti kumala dari
ibunya. Ia mengusap-usap sekian lama, lalu ia
berduduk di tanah, tubuhnya disenderkan kepada peti.
Ia berduka sekali. Ia merasakan seperti menyender
pada tubuh ibunya. Lewat sekian lama, ia ketiduran
dan pulas.
Mimpi Oey Yong. Ia merasa ia telah berada di kota
raja, di dalam istana Chao Wang dimana seorang diri
ia melawan pelbagai jago. Lalu di tengah jalan di
perbatasan ia bertemu Kwee Ceng. Baru mereka
bicara beberapa patah kata, mendadak ia mendapat
lihat ibunya, tak dapat, tak terlihat tegas. Ibunya itu
terbang ke langit, ia memburunya di bumi. Ibu itu
tertampak terbang makin lama makin tinggi. Ia menjadi
sangat khawatir. Sekonyong-konyong ia mendengar
suara ayahnya, memanggil-manggil ibunya. Suara itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
makin lama terdengar makin nyata.
Sampai di situ, mendusinlah si nona. Ia masih
mendengar suara ayahnya. Ia lantas menetapi hatinya.
Sekarang ia mendapat kenyataan, ia bukan bermimpi
lagi. Ayahnya benar-benar telah berada di dalam
kuburan ibunya itu, berada bersama dia. Ia ingat,
ketika ia masih kecil, sering ayahnya bawa ia ke dalam
kuburan ini, berdiam sambil memasang omong. Baru
selama yang belakangan ini, jarang ia bersama
ayahnya memasukinya. Ia tidak menjadi heran yang
ayahnya datang. Ia berdiam. Diantara ia dan ayahnya
itu ada menghalang sehelai kain. Karena ia lagi
mendongkol, tidak sudi ia menemui ayahnya itu. Ia
mau keluar kalau nanti ayahnya sudah pergi.
Lalu ia mendengar suara ayahnya:
"Telah aku berjanji padamu hendak aku mencari Kiu
Im Cin-keng sampai dapat, hendak aku membakarnya
supaya kau melihatnya, supaya arwahmu di langit
mendapat ketahui. Kitab yang sangat kau pikirkan itu,
yang kau ingin ketahui apa bunyinya, aku telah
mencarinya sia-sia selama limabelas tahun. Barulah ini
hari dapat aku memenuhi keinginanmu itu…."
Oey Yong heran bukan main.
"Darimana ayah mendapatkan kitab itu?" ia menanya
dalam hatinya.
Ia mendengar ayahnya bicara terus: "Bukan maksudku
sengaja hendak membinasakan mantumu itu. Siapa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
suruh mereka sendiri ingin menaiki perahu itu..?"
Oey Yong terkejut sendiri.
"Mantu ibuku?" pikirnya. "Apakah ayah maksudkan
engko Ceng? Kalau engko Ceng duduk di dalam
perahu itu, kenapakah?"
Maka ia lantas memasang kupingnya pula.
Kali ini ayah itu bicara dari hal kesusahan hatinya dan
kesepiannya sendiri semenjak ia ditinggal pergi istrinya
itu, yang cantik dan baik hatinya, yang mencintainya.
Tergetar hati Oey Yong mendengari keluh kesah
ayahnya itu.
"Aku dan engko Ceng ada anak-anak baru belasan
tahun, maka mustahil di belakang hari kita tidak bakal
bertemun pula," pikirnya. "Sekarang ini tidak dapat aku
meninggalkan ayah…"
Belum sempat Oey Yong berpikir lebih jauh, ia sudah
dengar ayahnya berkata lebih jauh: "Loo Boan Tong
telah memusnahkan kitab bagian atas dan bagian
bawah dengan gencetan tangannya, ketika itu aku
mengira tidak dapat aku mewujudkan keinginanmu itu,
siapa tahu seperti disuruh hantu atau malaikat, dia
bersikeras hendak menaiki itu perahu terpajang yang
indah yang aku sengaja bikin untuk pertemuan kita
nanti…"
Kembali Oey Yong menjadi heran.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Sering aku minta naik perahu itu, ayah selalu
melarang dengan keras. Kenapa ayah membuatnya itu
untuk ia bertemu sama ibu?"
Anak ini ketahui tabiat ayahnya aneh tetapi ia masih
belum tahu keinginan terakhir dari ayahnya itu. Oey
Yok Su aneh tetapi terhadap istrinya ia sangat
mencinta, sedang istri itu menutup mata karena dia.
Maka ia telah memikir untuk mengorbankan diri untuk
istrinya itu. Ia tahu lihaynya kepandaiannya sendiri,
tidak nanti ia terbinasa dengan jalan menggantung diri
atau meminum racun, maka ia memikir satu cara lain.
Ia pergi dari pulaunya, ia menculik pembikin perahu
yang pandai, yang ia suruh membuatnya perahu
terpajang itu. Segala-galanya perahu itu sama dengan
perahu yang biasa, hanya papan dasarnya ia bukan
memasangnya kuat-kuat dengan paku, hanya ia ikat
dengan tali yang dipakaikan getah. Memang, berlabuh
di muara, perahu itu terpandang indah, akan tetapi
satu kali dia berlayar di laut dan terdampar-dampar
gelombang dahsyat, tidak sampai setengah harian, dia
bakal karam sendirinya. Sebab musnahlah itu "pakupakun
istimewa". Oey Yok Su telah memikir untuk
membawa jenazah istrinya ke dalam perahu itu, untuk
berlayar dan nanti mati bersama di dalam gelombang,
hanya setiap kali ia mau berangkat, lalu hatinya tidak
tega membawa pula anak daranya yang manis itu. Ia
juga tidak tega meninggalkan anak itu sebatang kara.
Maka diakhirnya, ia membuatnya pekuburan ini.
Karena itu, perahu berhias itu dibiarkan saja tak
terpakai, setiap tahun dicat baru, hingga nampaknya
terus baru dan bagus.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Oey Yong tidak ketahui pikiran ayahnya itu, maka
heranlah ia. Ia terus berdiam hingga ia mendengar
pula perkataan ayahnya: "Loo Boan Tong dapat
membaca kitab Kiu Im Cin-keng di luar kepalanya, dai
hapal sekali. begitu pun dengan si bocah she Kwee itu,
yang menghapalnya tak salah. Sekarang aku
mengirimkan jiwa mereka berdua, itu sama artinya
dengan membakar habis kitab tersebut. Maka arwah
kau di langit, aku percaya puas dan tenanglah kau.
Hanya sayang si pengemis tua she Ang itu, tidak karukaruan
turut mengantarkan nyawnya….. Di dalam satu
hari aku membinasakan tiga ahli silat kelas satu,
dengan begitu aku telah memenuhi janjiku kepadamu,
maka jikalau di belakang hari kita bertemu pula, pasti
kau akan membilangnya suamimu telah membuktikan
perkataannya!"
Oey Yong kaget hingga ia bergidik. Ia belum
mengetahui pasti tetapi ia dapat menduga perahu
berhias itu mestinya terpasangkan pesawat rahasia
yang luar bhiasa. Ia ketahui baik lihaynya ayahnya ini.
Maka itu mungkin Kwee Ceng bertiga sudah menjadi
korban. Ia jadi sangat berkhawatir dan berduka, hampir
ia berlompat kepada ayahnya itu untuk memohon
pertolongan untuk tiga orang itu. Tapi ia terpengaruh
kekhawatiran yang sangat, sampai kakinya menjadi
lemas, hingga tak kuat ia mengangkat kakinya unntuk
bertindak, dan mulutnya pun tak dapat mengeluarkan
perkataan. Ia cuma mendengar suara tertawa
ayahnya, yang terus pergi berlalu.
Sekian lama Oey Yong berdiam diri, ia mencoba
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menenangkan diri. Ia cuma berpikir satu: "Aku mesti
pergi menolongi engko Ceng! Jikalau aku tidak
berhasil, aku akan menemani dia mati…!"
Anak ini mengerti, percuma ia meminta bantuan
ayahnya. Ayah itu terlalu mencintai istrinya tidak akan
bisa mengubah keputusannya. Maka ia lari keluar dari
perkuburan, terus ia ke pinggir laut, terus juga ia
melompat naik ke sebuah perahu kecil. Ia mengasih
bangun seorang bujang gagu yang menjaga perahu
itu, menitahkan dia memasang layar dan mengayuh,
untuk berlayar ke tengah laut.
Sementara itu terdengar tindakan kaki kuda yang lari
keras dan berbareng pun terdengar juga suara seruling
dari Oey Yok Su, Oey Yong berpaling ke darat, maka
ia melihat kuda merah dari Kwee Ceng lagi lari
mendatangi. Rupanya binatang itu tak betah berdiam
di pulau, malam itu ia keluar berlari-lari…
Oey Yong lantas berpkir; "Di laut begini luas, ke mana
aku mesti cari engko Ceng? Kuda kecil itu memang
luar biasa tetapi begitu ia meninggalkan tanah, ia pun
tak dapat berbuat apa-apa lagi…."
Bab 40. Habis cucut, datang ular....
Begitu lekas Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong dan
Kwee Ceng tiba di luar gubuk perahu, mereka
merasakan kaki mereka basah. Nyata mereka telah
menginjak air, atau kaki mereka kena kerendam air.
Tentu sekali mereka menjadi sangat kaget. Tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka sadar, maka itu dengan menjejak tanah,
dengan mengenjot tubuh, mereka berlompat naik ke
tiang layar. Cit Kong bahkan sambil menenteng dua
bujang gagu. Ketika ia memandang ke sekitarnya,
yang nampak ialah laut yang luas, perahunya sudah
tergenang air.
"Pengemis tua, Oey Lao Shia benar hebat!" berteriak
Pek Thong. "Bagaimana perahu ini dibuatnya?"
"Aku juga tidak tahu!" menjawab Ang Cit Kong. "Eh,
anak Ceng, kau peluki tiang, jangan kau lepaskan….!"
Kwee Ceng belum menjawab ketika mendadak, di
antara suara keras, badan perahu terbelah menjadi
dua. Kedua anak buah kaget sekali, sampai
pelukannya kepada tiang layar terlepas dan tubuhnya
kecebur ke air.
"Loo Boan Tong, kau bisa berenang atau tidak?" Cit
Kong tanya.
"Coba-coba saja!" sahut Pek Thong tertawa. Suaranya
tersampok angin hingga tak terdengar nyata. Mereka
terpisah.
Perlahan perahu tenggelam, sebagaimana tiang layar
melesak perlahan ke dalam air. Hanya pasti, tidak
lama lagi, tiang itu bakal tenggelam juga.
Ang Cit Kong mendapat pikiran.
"Anak Ceng!" ia berkata, "Tiang ini menjadi satu
dengan tubuh perahu, mari kita patahkan! Mari!"
Kwee Ceng menurut, maka keduanya lantas
mengerahkan tenaga mereka. Dengan berbareng
mereka menebas dengan tangan mereka kepada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
batang tiang.
Tidak peduli tangguhnya tiang, serangannya dua orang
itu toh membuatnya patah. Maka dengan keduanya
memeluki terus hingga mereka jatuh ke air. Dengan
terus memegang tiang itu, mereka tidak kelelap.
Mereka pun bisa berenang.
Cit Kong mengeluh di dalam hati. Mereka sudah
terpisah jauh dari tepian, di sekitarnya tak nampak
daratan. Tanpa pertolongan, biar bagaimana kosen,
mereka toh akan mati haus dan kelaparan.
Di sebelah selatan, di tengah laut, terdengar suara
tertawa berkakakan. Itulah suaranya Ciu Pek Thong.
"Anak Ceng, marilah kita hampirkan dia!" Cit Kong
mengajak.
Kwee Ceng menurut, maka dengan berpegangan
tiang, sambil mengayuh, mereka berenang ke arah si
tua berandalan itu. Beberapa kali mereka terdampar
balik ombak yang keras. Angin keras, gelombang
berisik, suaranya Pek Thong toh masih terdengar
lapat-lapat. Maka mereka mencoba berenang terus.
Tidak lama, terdengar pula suaranya Pek Thong itu:
"Loo Boan Tong telah berubah menjadi anjing
kecemplung ke air! Inilah sup asin yang dipakai untuk
menggodok si anjing tua…!"
Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa. Masih saja kakak
itu bergurau, berguyon. Tidakkah mereka lagi
menghadapi bahaya maut? Sekarang terbukti benarbenar
artinya "Loo Boan Tong", si bocah bangkotan
yang nakal.
Mereka mencoba terus, akhirnya tidaklah sia-sia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
percobaan mereka itu. Tidak lama berselang, mereka
toh datang dekat satu pada lain. Sekarang terlihat
nyata, Pek Thong itu menolong diri dengan mengikat
kakinya kepada papan perahu, dengan begitu ia
menjadi bisa berdiri di atas air dan berjalan dengan
bantuan ilmunya ringan tubuh, sang gelombang tidak
menjadi rintangan. Pantas ia bisa berkelakar seperti
tidak menghiraukan bahaya kehausan dan kelaparan.
Kwee Ceng menoleh ke belakang. Perahunya sudah
lenyap dari muka laut. Dengan begitu paszi hilang
sudah semua anak buah perahu itu terkubur di dasar
laut.
Disaat itu, sekonyong-konyong terdengar teriakan Ciu
Pek Thhong: "Ayo! Hebat!"
Cit Kong dan Kwee Ceng menoleh dengan cepat,
mereka pun menanya ada apa. Pek Thong menuju ke
arah jauh: "Lihat di sana! Cucut! Sebarisan ikan cucut!"
Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, tak tahu ia
hebatnya ikan cucut atau hiu, maka heran ia
menampak gurunya berubah air mukanya. Kenapa
guru itu nampak jeri begitu pun Pek Thong, sedang
keduanya sangat lihay?
Cit Kong menhajar tiang layar, ia membikin patah, lalu
potongan yang satu ia pegangi sendiri, yang lain mau
ia menyerahkannya pada Kwee Ceng.
Hampir itu waktu, air laut di depan mereka menjublar,
lalu tertampak munculnya seekor ikan cucut yang
mulutnya dipentang, hingga nampak dua baris giginya
yang putih yang mirip gergaji, berkilau di bawah sinar
matahari. Hanya sebentar saja, dia sudah selam pula.
"Hajar kepalanya!" kata Cit Kong pada Kwee Ceng
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sambil menyerahkan potongan tiang layar itu, untuk
dijadikan pentungan.
Kwee Ceng tapinya merogoh ke sakunya.
"Teecu ada punya pisau belati!" sahutnya. Dan ia
lemparkan pentungan itu kepada Ciu Pek Thong, yang
menyambutinya.
Lalu datang empat atau lima ekor ikan, yang
mengurung mereka. Mungkin belum jelas, binatang
laut itu tidak segera menyerang.
Pek Thong membungkuk, tangannya terayun. Hanya
sekali kemplang, pecahlah kepalanya seekor ikan.
Begitu membaui darah, ikan-ikan itu menyambar tubuh
kawannya, kemudian mereka disusul sama yang
lainnya, mungkin puluhan atau ratusan ekor. Mereka
itu tak kenal kawan, mereka cuma tahu daging harus
dicaplok.
Kwee Ceng terkejut melihat keganasan binatangbinatang
itu! Selagi ia mengawasi, ia merasakan
kakinya ada yang bentur. Lekas-lekas ia tarik kakinya
itu. Dengan bergeraknya air, seekor cucut menyambar
kepadanya. Ia mendorong tiang layar dengan tangan
kirinya, untuk berkelit ke kanan, sebaliknya tangan
kanannya menyerang. Tepat serangan itu, pisau
belatinya pun pisau belati mustika, maka sekali tikam
saja, berlobanglah tubuh ikan, darahnya mengucur
keluar. Maka ia pun lantas diserbu kawankawannya…!
Demikian tiga orang itu bertempur dengan kawanan
ikan galak itu, mereka main berkelit, saban hajarannya
terus meminta korban. Bgausnya untuk mereka, asal
ada korban, korban itu dikepung ramai-ramai oleh ikan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang lainnya. Hanya menyaksikan keganasan ikanikan
itu, hati mereka terkesiap juga.
Yang hebat, ikan itu banyak sekali, tak dapat
semuanya dibunuh habis. Mungkin mereka sudah
membinasakan duaratus ikan ketika mereka
mendapatkan matahari mulai doyong ke barat….
"Pengemis tua bangka! Adik Kwee!" berseru Ciu Pek
Tong. "Kalau sebentar langit gelap, tubuh kita bertiga,
sepotong demi sepotong bakal masuk ke dalam perut
ikan! Sekarang mari kita bertaruh, siapakah yang bakal
paling dulu di gegares cucut…?"
Cit Kong nyata tak kurang jenakanya.
"Yang digegares cucut itu yang menang atau yang
kalah?" tanyanya.
"Tentu saja dia yang menang!" ia mendapat jawaban.
"Oh!" berteriak Cit Kong. "Kalau begitu, lebih suka aku
kalah!"
Kata-kata ini disusuli sebatan tangan dengan jurus
"Naga sakti menggoyang ekor", maka seekkor cucut,
yang mendadak menyambar kepadanya, kena terhajar
mampus, setelah dua kali meletik, ikan itu berdiam,
tubuhnya mengambang, kelihatan perutnya yang putih.
Besar sekali ikan itu.
"Tangan yang lihay!" Pek Thong memuji. "Hayo, kau
sebenarnya mau bertaruh atau tidak?!"
"Maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau!" Cit
Kong menolak, tetapi ia tertawa lebar.
Pek Thong pun tertawa terbahak-bahak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Eh, adik, kau takut atau tidak?" ia tanya adik
angkatnya.
"Mulanya takut, tapi sekarang tidak lagi," sahut Kwee
Ceng. Sebenarnya ia jeri tetapi menyaksikan
keberanian guru dan kakak angkatnya itu, yang
demikian gembira, ia pun jadi ketarik hatinya. Ia tengah
berkata begitu ketika seekor ikan menyambar ke
arahnya. Ia lantas berkelit, tangan kirinya diangsurkan.
Itulah pancingan. Ikan itu kena dijebak. Dia berlompat
ke muka air dan menuburuk!
Kwee Ceng menyingkirkan tangan kirinya, yang
hendak disambar itu, berbareng dengan itu, dengan
tangan kanannya ia menikam. Pada tangan kanan ini
ia mencekal pisau belatinya. Tepat pisau ini menancap
di tenggorokannya ikan. Tapi ikan lagi berlompat, piasu
itu nyempret ke bawah sampai di perutnya, hingga dia
seperti terbelek. Segera ia mati, perutnya udal-udalan,
darahnya mengalir ke luar.
Itu waktu Ang Cit Kong dan Ciu Pek Thong juga telah
dapat membinasakan masing-masing seekor lagi,
hanya kali ini, Pek Thong merasakan dadanya sakit.
Inilah sebab sakitnya belum pulih bekas dihajar Oey
Yok Su. Tapi ia tertawa ketika ia berkata: "Pengemis
tua, adik Kwee, maaf, tidak dapat aku menemani kau
lebih lama pula. Hendak aku berangkat lebih dulu ke
dalam perutnya si cucut!"
Habis berkata, Pek Thong berpaling, justru ia melihat
sebuah layar putih dan besar lagi mendatangi.
Cit Kong juga sudah lantas mendapat lihat layar itu,
bahkan segera ia mengenali kayar perahunya
Auwyang Hong.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Tiga orang ini mendapat harapan, maka semangat
mereka seperti terbangun. Kwee Ceng mendekati Pek
Thong, untuk membantu kakak angkatanya itu.
Lekas sekali, perahu besar telah tiba, dari situ lantas
dikasih turun dua perahu kecil, untk menolongi tiga
orang itu.
Pek Thong memuntahkan darah tetapi ia masih bicara
sambil tertawa, suatu tanda nyalinya sangat besar,
kematian dipandang sebagai berpulang…. Ia
menunjuk kepada kawanan hiu itu dan mencaci kalang
kabutan.
Auwyang Hong dan keponakannya menyambut di
kepala perahunya. Hati mereka gentar akan
menyaksikan di laut situ berkumpul demikian banyak
ikan hiu itu….
Tapi Auwyang Hong menjadi ketarik hatinya. Ia suruh
beberapa orangnya memancing, umpamnya daging,
maka lekas sekali mereka dapat mengail delapan ekor
ikan ganas itu.
"Bagus!" tertawa Ang Cit Kong sambil menuding ikan
itu. "Kau tidak dapat gegares kami, sekarang kamilah
yang bakal gegares dagingmu!"
Auwyang Kongcu tertawa.
"Keponakanmu ada mempunyai daya untuk peehu
membalas sakit hati!" katanya. Ia perintah orangnya
mengambil bambu, yang terus diraut lancip dan tajam,
kemudian sesudah dengan tombak mulut ikan
dipentang, tonggak bambu itu dikasih masuk ke dalam
mulut ikan itu, yang akhirnya dilepas pulang ke laut.
"Inilah cara untuk membikin mereka untuk selamanya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tidak dapat makan!" berkata si anak muda sambil
tertawa. "Berselang delapan atau sepuluh hari, mereka
bakal mampus sendirinya!"
"Inilah kekejaman!" pikir Kwee Ceng. "Cuma kau yang
dapat memikir akal ini. Ikan yang doyan gegares ini
bakal mati kelaparan, sungguh hebat!"
Ciu Pek Thong melihat sikap tak puas dari Kwee Ceng,
ia tertawa dan berkata: "Anak, kau tidak puas dengan
ini cara, kejam sekali, bukankah? Ini dia yang dibilang,
kalau pamannya yang jahat mesti ada keponakan yang
jahat juga."
Adalah biasa bagi See Tok Auwyang Hong, jikalau
orang mengatakan dia jahat, dia tidak menjadi kurang
senang, bahkan sebaliknya, dia girang sekali. Maka itu
mendengar perkatannnya Ciu Pek Thong, dia
tersenyum.
"Loo Boan Tong," dia berkata, "Permainan kecil
sebagai ini apabila dipadu sama kepandaiannya si
mahkluk berbisa bangkotan bedanya masih sangat
jauh. Kamu bertiga telah dikeroyok sekawanan cucut
cilik, tetapi kamu sudah lelah hingga tak dapat
bernapas. Untukku, itulah keroyokan tidak berarti."
"Oh, si mahluk berbisa bangkotan sedang mengepul!"
berkata Ciu Pek Thong. "Jikalau kau dapat
mengeluarkan ilmu kepandaianmu dan sanggup
membuatnya semua cucut ini terbasmi habis, maka
aku si bocah bangkotan yang bakal berlutut dan
mengangguk-angguk di hadapanmu dan tigaratus kali
dan aku akan memanggil engkong padamu!"
"Sampai begitu, itulah aku tidak berani terima," berkata
Auwyang Hong. "Jikalau kau tidak percaya, bolehlah
kita berdua bertaruh!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Bagus, bagus!" berseru Pek Thong. "Bertaruh kepala
pun aku berani!"
Ang Cit Kong sebaliknya bersangsi.
"Biarnya ia pandai mengukir langit, tidak nanti dia
dapat membunuh ikan ratusan itu semua," pikirnya.
"Aku khawatir dia mengandung maksud jahat
lainnya…"
Auwyang Hong tertawa.
"Bertaruh kepala orang, itulah tak usah!" katanya.
"Jikalau aku menang, cukup aku minta kau melakukan
satu apa yang kau tidak dapat tampik, dan jikalau aku
yang kalah, terserah kepadamu kau hendak
menitahkan apa padaku. Kau lihat, tidakkah ini
bagus?"
"Taruhan apa juga yang kau kehendaki, aku terima!"
menjawab Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong segera berpaling kepada Ang Cit
Kong.
"Aku minta saudara Cit menjadi saksi!" katanya.
"Baik!" Cit Kong menerima. "Hanya hendak aku
menanya, kalau seorang menang dan apa yang dia
kehendaki, orang yang kalah tidak dapat
melakukannya atau dia menolak untuk melakukannya,
bagaimana?"
"Dia harus terjun ke laut supaya dia digegares cucut!"
berkata Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong tersenyum, ia tidak membilang suatu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
apa, dia hanya menitah satu orangnya membawakan
dia sebuah cangkir kecil terisi arak, lalu dengan dua
jari kanannya ia menjepit lehernya ular di kepala
tongkatnya, untuk mementang mulutnya, maka dari
mulut itu terus mengalir keluar racunnya, masuk ke
dalam cawan itu, habis mana itu cawan ia sambuti. Di
situ terlihat bisa ular memenuhi separuh cangkir,
warnanya hitam. Kemudian ia meletaki ularnya, ia
ambil yang seekor pula, untuk dikeluarkan juga
racunnya seperti pertama tadi.
Habis dikuras bisanya, kedua ular itu melilit di ujung
tongkat, tubuhnya tak berkutik, rupanya keduanya
sangat letih dan tenaganya habis.
Auwyang Hong memerintah mengambil seekor cucut,
diletaki di lantai perahu. Dengan tangan kiri ia pegang
mulutnya ikan itu bagian atas, mulutnya bagian bawah
ia injak dengan kakinya, begitu ia mengerahkan
tenaganya, mulut ikan itu terus terpentang lebar. Tidak
tempo lagi, bisa ular di dalam cawan itu dituang ke
dalam mulut ikan. Setelah itu, mulut ikan itu dilepaskan
hingga menjadi tertutup pula. Akhirnya, See Tok
memperlihatkan kepandaiannya yang lihay. Ia geraki
tangan kirinya, ia menyolok menampak ke perut ikan
itu, lalu ia mengangkat dengan kaget, menyusul mana
tubuh ikan yang besar itu terlempar ke laut, suaranya
menjublar hebat, air lautnya muncrat tinggi.
"Ah, aku mengerti sekarang!" Pek Thong berseru
tertawa. "Inilah caranya si pendeta tua bangka
mematikan kutu busuk!"
"Toako, apakah artinya si pendeta tua bangka
mematikan kutu busuk?" Kwee Ceng tanya.
"Kau belum tahu?" menyahut sang toako. "Di waktu
dulu di kota Pianliang ada seorang pendeta yang jalan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mengitar di jalan-jalan besar sambil berteriak-teriak
menjual obat peranti membinasakan kutu busuk,
katanya obatnya sangat manjur, umpama kata obatnya
itu tidak dapat membinasakan kutu busuk hingga habis
bersih, ia suka mengganti kerugian pada si pembeli
dengan harganya obat sepuluh kali lipat. Dengan
caranya ini ia menjadi dapat banyak pembeli, obatnya
sangat laku. Tinggal si pembeli obat. Satu pembeli
pulang untuk menyebar obatnya di pembaringannya.
Malamnya? Haha! Kawanan kutu busuk tetap datang
bergumul-gumul, dia digigiti hingga setengah mampus!
Besoknya dia cari si pendeta, dia minta ganti kerugian.
'Tidak bisa jadi obatku todak mujarab!' kata si pendeta.
'Kalau benar gagal, tentulah kau salah memakainya….'
Si pembeli tanya, 'Habis bagaimana cara
memakainya?' Si pendeta menyahuti: ' Kau tangkap si
kutu busuk, kau pentang bacotnya, kau cekuki dia obat
ini. Jikalau kutu busuk itu tidak mampus, besok baru
kau datang pula padaku…' Pembeli itu jadi
mendongkol. Katanya, 'Kalau aku dapat tangkap kutu
busuk itu, asal aku pencet, masa dia tidak mampus?
Kalau begitu, untuk apa aku beli obatmu?' Lalu si
pendeta menyahuti secara enak saja, 'Memangnya aku
pun tidak larang kau memencetnya!'"
Mendengar itu Kwee Ceng, Ang Cit Kong dan
Auwyang Kongcu juga tertawa berkakak. Hanya See
Tok si Bisa dari Barat meneruskan berkata: "Obatku
tidak sama dengan obat peranti mematikan kutu busuk
dari pendeta itu."
"Coba kau menjelaskannya," minta Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong menunjuk ke laut.
"Nah, kau lihat di sana!" sahutnya.
Cucut tadi, setelah jatuh di air, dia timbul pula,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
perutnya lebih dulu. Dia mati dengan lantas. Segera
setelah itu, tujuh atau delapan ekor cucut lainnya
datang, untuk menyambar menggigit, menggerogoti
dagingnya, disusul oleh yang lainnya lagi. Sebentar
saja, cucut itu habis tinggal tulang-tulangnya yang
tenggelam ke dasar laut. Hanya aneh semua cucut
yang menggerogoti itu, hanya berselang beberapa
menit, pada timbul pula dengan perut di atas, tubuhnya
mengambang. Sebab semauanya telah mati. Lalu
mereka dikeroyok pula oleh yang lain-lainnya, yang
masih hidup. Kejadian ini terulang lagi. Setaip cucut
yang memakan daging kawannya lantas mati, dia
digegaresi kawan lainnya, kawan ini pun mati dan
menjadi makanan kawannya lagi. Demikian
seterusnya, matilah setiap cucut yang makan daging
kawannya sendiri. Maka juga selang sekian lama,
bukan puluhan melainkan ratusan mayat cucut pada
mati ngambang. Mungkin itu akan menjadi ribuan
korban….
Menyaksikan itu, Ang Cit Kong menghela napas.
"Tua bangka beracun, tua bangka beracun!" katanya.
"Dayamu sungguh-sungguh sangat jahat! Cuma
bisanya dua ekor ular, korbannya begini banyak…."
Auwyang Hong tidak menjawab hanya ia mengawasi
Ciu Pek Thong, dia tertawa girang sekali, tandanya
hatinya sangat puas.
Pek Thong membanting-banting kakinya, tangannya
mencabuti kumisnya.
Di muka air, di sana sini, terlihat hanya
mengambangnya bangkai-bangkai cucut.
"Saudara Hong," kata Cit Kong kemudian, "Ada satu
hal yang aku tidak mengerti, ingin aku kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menerangkannya."
"Apa itu saudara Cit?" tanya Auwyang Hong.
"Racunmu secangkir, kenapa lihaynya begitu rupa
dapat membinasakan cucut begini banyak?"
"Itulah sederhana saja!" Auwyang Hong tertawa. "Inilah
disebabkan bisa ularku berbisa luar biasa. Kalau bisa
ini dimakan seekor ikan, ikan itu keracunan, lantas
semua dagingnya menjadi beracun juga, kalau dia
dimakan oleh cucut yang lain, cucut itu pun mati
keracunan. Keracunan ini terjadi terus-menerus,
racunnya bahkan jadi semakin hebat, bukannya
menjadi berkurang. Dan bekerjanya racun tak habishabisnya."
Kata-katanya See Tok ini dibuktikan dengan cepat.
Kecuali bangkai cucut, di situ tidak ada cucut lainnya
lagi yang masih hidup. Mungkin ada yang telah kabur.
Ikan-ikan kecil pun menjadi korban cucut atau kabur
juga….
Laut lantas menjadi tenang seperti biasa.
"Lekas, lekas menyingkir!" berkata Cit Kong. "Hawa
racun di sini sangat hebat!"
Auwyang Hong memberikan titahnya maka tiga buah
layar perahunya dikerek naik, hingga di lain saat
perahunya itu sudah menggeleser menuruti sampokan
angin Selatan menuju ke barat laut.
"Tua bangka berbisa, benar-benar bisamu hebat,"
berkata Pek Thong kemudian. "Sekarang kau
menghendaki aku berbuat apa? Kau bilanglah!"
Auwyang Hong tertawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Silahkan tuan-tuan masuk ke dalam dulu untuk
menyalin pakaian," ia berkata. "Kita pun perlu dahar
dan beristirahat. Tentang pertaruhan, kita boleh
bicarakan perlahan-lahan."
"Tidak, tidak bisa!" berkata Pek Thong, yang tidak
sabaran. "Kau mesti menyebutkannya sekarang juga!"
Auwyang Hong tertawa.
"Kalau begitu, saudara Pek Thong, silahkan ikut aku!"
katanya.
Kwee Ceng dan Ang Cit Kong melihat Pek Thong
diajak Auwyang Hong dan keponakannya ke perahu
bagian belakang, mereka sendiri di minta datang ke
gubuk depan dimana empat nona berseragam putih
muncul untuk melayani.
Cit Kong tertawa, dia berkata; "Seumurku, aku si
pengemis tua, belum pernah begini beruntung….!"
Ia lantas dibukai pakaiannya, tubuhny digosoki dengan
sabun.
Mukany Kwee Ceng merah, ia tidak berani meloloskan
pakaiannya.
"Takut apa?" kata Ang Cit Kong tertawa. "Masa kau
nanti digegares?"
Dua nona menghampirkan, akan membukai sepatu
dan ikat pinggangnya. Pemuda ini lantas mendahului
membuka sepatunya, ia menutupi diri dengan seprai,
dengan cara itu ia menukar baju dalam.
Cit Kong tertawa lebar, begitu pun keempat nona
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
pelayan itu….
Baru habis mereka berdandan, dua nona datang
membawa masing-masing penampan berisikan arak,
sayur dan nasi putih. Katanya mereka, majikan mereka
mempersilahkan keduanya dahar seadanya saja,
Kwee Ceng sudah lapar, ia lantas menyeret kursi.
"Mari, suhu!" ia mengajak.
"Kamu pergi dulu," kata Cit Kong kepada kedua nona
itu, tangannya diangkat, "Aku si pengemis tua tidak
dapat dahar, apabila aku melihat nona-nona cantik
manis!"
Kedua nona itu tertawa, mereka berlalu seraya
menutup pintu perahu perlahan-lahan.
"Lebih baik jangan makan ini," ia bilang. "Si tua bangka
berbisa sangat licin dan licik. Kita makan nasi putih
saja."
Habis berkata, Cit Kong menurunkan cupu-cupu
araknya, ia membuka tutupnya dan menggelogoki dua
ceglukan, setelah itu, ia mulai dahar, nasi saja. Kwee
Ceng turut dahar. Mereka makan tiga mangkok.
Sayurannya mereka tuang ke bawah lantai perahu.
"Entah dia minta apa dari Ciu Toako," kata Kwee Ceng
kemudian.
"Entahlah, tetapi pasti sudah bukan urusan benar!"
sahut Cit Kong.
Ketika itu pintu dibuka perlahan-lahan, satu nona
berdiri di depan pintu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Ciu Loo-ya-cu mengundang tuan Kwee ke belakang,"
kata dia.
Kwee Ceng mengawasi gurunya, terus ia ikut budak
itu. Mereka jalan dari samping pergi ke belakang.
Angin mulai meniup keras, perahu terombang-ambing.
Si nona bertindak perlahan, tetapi terang ia mengerti
ilmu silat. Di belakang, ia mengetok pintu tiga kali,
perlahan-lahan, lalu ia menanti sebentar, untuk
kemudian membukanya pintu dengan perlahan juga. Ia
pun kata dengan perlahan: "Tuan Kwee sudah
datang!"
Kwee Ceng masuk ke dalam, lantas pintu di belakang
ditutup rapat. Ia lihat sebuah ruang kosong, tidak ada
orangnya. Ia heran. Tengah ia berpikir, pintu di
samping kiri ditolak, di situ muncul Auwyang Hong
serta keponakannya.
"Mana Ciu Toako?" tanya Kwee Ceng.
Auwyang Hong tidak lantas menyahuti, ia hanya
menutup dulu daun pintu, lalu ia maju satu tindak.
Mandadak saja ia mengulur sebelaha tangannya
menyambar tangan kiri Kwee Ceng. Pemuda ini tidak
menyangka jelek, orang pun sangat sebat, tak dapat ia
menghindarkan diri. Bahkan ia terus dipencet nadinya
hingga ia tak dapat berkutik lagi. Di lain pihak Auwyang
Kongcu dengan sangat gesit menyambar pedang di
dinding perahu, menghunus itu, ujungnya terus
diancamkan ke tenggorokan orang!
Kwee Ceng berdiri menjublak. Ia bingung hingga ia
merasakan kepalanya pusing. Ia tidak mengerti, apa
maksudnya itu paman dan keponakan.
Lalu terdengar Auwyang Hong tertawa tawar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Loo Boan Tong telah kalah bertaruh denganku,"
katanya, "Tetapi ketika aku titahkan ia melakukan
sesuatu, ia menolak!"
"Oh…!" Kwee Ceng berseru tertahan. Ia mulai
mengerti.
"Aku menyuruh ia menulis Kiu Im Cin-keng untuk aku
lihat," Auwyang Hong memberikan keterangan terus.
"Lalu ia membilangnya bahwa itulah tidak masuk
hitungan!"
Kwee Ceng pun berpikir, "Tentu sekali mana toako
sudi mengajarimu…?" Ia lalu menanya: "Mana Ciu
Toako?"
Auwyang Hong tertawa pula dengan dingin.
"Dia telah membilang, jikalau dia tidak bicara, ia nanti
terjun ke laut untuk tubuhnya dipakai memelihara ikan
cucut," ia menyahuti. "Kali ini dia tidak menyangkal."
Kwee Ceng kaget tidak terkira.
"Dia…dia…" serunya. Ia mengangkat kakinya, berniat
lari keluar. Tapi keras cekalannya See Tok, ia terus
ditarik kembali.
Auwyang Kongcu pun menggeraki tangannya maka
ujung pedangnya membuat baju orang pecah dan dan
membentur tubuh.
Auwyang Hong menuding ke meja di mana ada alatalat
tulis.
"Di jaman ini cuma kau satu orang yang mengetahui
seluruh isi kitab," ia berkata bengis, "Maka lekaslah
kau tulis semua ittu!"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Anak muda itu menggeleng kepala.
Auwyang Kongcu tertawa.
"Kau tahu," katanya, "Sayur dan arak yang tadi kau
gegares bersama si pengemis tua telah dicampuri
racun, jikalau kamu tidak makan obat pemunah
istimewa buatan kami, dalam tempo duabelas jam
diwaktu mana racunnya bekerja, kamu akan mampus
seperti itu ikan-ikan hiu di dalam laut! Asal kau sudah
menulis, jiwa kamu berdua bakal diberi ampun…."
Kwee Ceng kaget. "Baiknya suhu cerdik, kalau tidak,
tentulah kita celaka!" pikirnya.
Menampak orang berdiam saja, kemabali Auwyang
Hong tertawa dingin.
"Kau telah mengingat baik bunyinya kitab, kau tulislah,
untukmu tidak ada ruginya sedikit juga," ia membujuk.
"Apa lagi yang kau sangsikan?"
Mendadak kwee Ceng memberikan penyahutannya
yang berani: "Kau sudah membikin celaka kakak
angkatku, denganmu aku mendendam sakit hati
dalamnya seperti lautan! Jikalau kau hendak bunuh,
kau bunuhlah! Untuk memikir aku sudi menyerah,
itulah pikiran yang tidak-tidak!"
"Hm, bocah yang baik!" kata Auwyang Hong dingin.
"Kau benar bersemangat! kau tidak takut, baik, tetapi
apakah kau juga tidak hendak menolongi jiwa
gurumu?"
Belum lagi Kwee Ceng memberikan jawabannya, pintu
perahu bagian belakang itu bersuara sangat nyaring,
lalu daun pintunya ambruk dan pecah berantakan,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang mana disusul sama sambarannya air yang
mengarah ke mukanya Auwyang Hong.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil