Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 30 Januari 2018

Suling Pusaka Kemala Tamat Full Online

Suling Pusaka Kemala Tamat Full Online---
baca juga

soal karena dia menghadapi
hukuman mati yang dijatuhkan oleh ayah kandungnya sendiri,
melainkan sedih melihat betapa Sian Eng dan terutama Kiok
Hwa juga menjadi korban karena dia. Akan tetapi ketika
mengerling ke arah dua orang disayang berjalan di kanan
kirinya itu, Dia terheran-heran melihat Sian eng berwajah
tenang, sama sekali tidak tampak sedih atau takut, dan
terutama kali Kiok Hwa. Gadis ini bahkan tersenyum-senyum,
seolah bukan digiring ke arah maut melainkan digiring ke
ruang pengantin!
"Eng-moi, engkau tidak takut?" bisiknya ke kiri di mana
Sian Eng berjalan di sisinya.
"Takut? Tidak, aku bahkan merasa beruntung dapat
menghadapi maut bersamamu, Lin-ko."
"Dan engkau, Hwa-moi?"
"Aku merasa bangga dan bahagia dapat mati bersama
kalian!" kata gadis itu sambil tersenyum manis dan Han Lin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat menangkap sinar mata gadis itu yang penuh dengan
cinta kasih!
"Diam kalian!" bentak suara kasar dan parau di belakang
mereka. Yang membentak ini adalah seorang laki-laki tinggi
besar seperti raksasa yang memanggul sebatang golok besar,
berat dan mengkilap saking tajamnya. Semua orang
memandang kepada algojo ini dan goloknya dengan perasaan
ngeri. Bagaimana mereka tega melihat algojo raksasa itu
mengayun goloknya memenggal leher tiga orang muda yang
tampan dan cantik itu!
Tiga orang hukuman itu dengan dikawal algojo raksasa,
dengan langkah tebing menghampiri pangung tempat
pelaksanaan hukuman dan menaiki tangga. Kini mereka tiba di
atas panggung, menghadap Kaisar Cheng Tung yang duduk di
kursi dan memandang kepada mereka bertiga. Timbul sedikit
keraguan dalam hati Kaisar Cheng Tung melihat tiga orang
muda itu. Benarkah mereka ini pembunuh? Pertanyaan ini
timbul dalam hati sanubarinya karena melihat pemuda dan
dua orang gadis itu, dia menjadi ragu. Akan tetapi bukti dan
saksi semua jelas dan diapun sudah menjatuhkan keputusan
hukuman mati.
Melihat ayah kandungnya duduk di atas kursi di panggung
yang agak tertinggi dari panggung di mana dia berada, Han
Lin tak dapat menahan keharuan hatinya dan diapun
menjatuhkan dirinya berlutut dan memberi hormat kepada
Kaisar Cheng Tung. Sian Eng yang tahu bahwa Han Lin adalah
Pangeran Cheng Lin, putera dari kaisar itu, merasa penasaran
dan tidak senang kepada kaisar yang menjatuhkan hukuman
mati kepada puteranya sendiri yang tidak berdosa, maka ia
tetap berdiri tegak bahkan memandang ke arah kaisar dengan
mata bersinar penuh rasa penasaran. Akan tetapi, Kiok Hwa
yang melihat Han Lin berlutut, dengan patuh berlutut pula dan
gadis ini menarik tangan Sian Eng sehingga akhirnya, melihat
mereka berdua berlutut, Sian Eng juga ikut berlutut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat mereka yang dia jatuhi hukuman mati itu berlutut
menghadap padanya, Kaisar Cheng Tung merasa iba dan dia
khawatir kalau-kalau dia akan mengubah keputusannya, maka
dia cepat mengangkat tangan kanan ke atas sebagai isarat
kepada algojo untuk melaksanakan tugasnya dengan cepat.
Sang algojo yang bertubuh raksasa itu mengangkat golok
yang besar dan mengkilat itu. Sebagian besar penonton tidak
tahan melihatnya. Ada yang membalikkan tubuhnya, ada yang
membuang muka, dan ada pula yang memejamkan kedua
mata dan menutupi kedua telinganya. Sang algojo
mengerahkan tenaganya dan siap mengayun golok yang
sudah berada di atas kepalanya itu ke bawah, ke arah leher
Han Lin.
"Omitohud.....Tahan......!!" Tiba-tiba saja berkelebat
bayangan kuning dan tahu-tahu di atas panggung tempat
pelaksanaan hukuman itu telah berdiri seorang hwesio berusia
hampir tujuh puluh tahun. Tangan kanannya memegang
sebatang tongkat bambu.
Melihat ini, algojo itu lalu mengayunkan goloknya, bukan
kepada leher Han Lin, melainkan ke arah kepala hwesio itu.
Algojo ini telah menerima uang sogokan dari Pangeran Cheng
Boan dan dipesan agar melaksanakan hukuman itu dengan
baik dan membunuh siapa saja yang berusaha untuk
menghalangi pelaksanaan hukuman. Akan tetapi hwesio tua
itu menggerakkan tangan kirinya. Serangan itu tertahan di
udara seolah tubuh algojo itu berubah menjadi arca, kemudian
sekali hwesio itu mendorongkan tangannya, tubuh algojo yang
tinggi besar itu terjengkang dan terjatuh ke bawah panggung.
Dia jatuh seperti sebongkah batu dan diam diatas tanah
karena tidak mampu bergerak lagi. Algojo itu telah terkena
totokan It-yang ci yang amat dahsyat.
Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan terbelalak
melihat kejadian itu. Para perwira pasukan pengawal sudah
siap untuk mengerahkan pasukan mereka untuk mengepung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan menyerbu hwesio yang mereka anggap membikin kacau
itu.
Akan tetapi pada saat itu, tiga orang pejabat tinggi yang
sudah tua melangkah maju mendekati panggung di mana
hwesio itu berdiri, lalu ketiganya menjatuhkan diri berlutut.
"Hamba menghaturkan hormat kepada Yang Mulia Sri
Baginda Kaisar Hui Ti!" seru mereka bertiga dengan suara
lantang sehingga mengejutkan semua orang. Orang-orang
yang usianya lima puluhan tahun ke atas dapat mengenal
hwesio itu setelah tiga orang pejabat tinggi itu memberi
hormat. Kiranya hwesio itu adalah Kaisar Hui Ti yang pada
empat puluh tahun yang lalu terpaksa melarikan diri karena
istananya diserbu oleh pasukan Pangeran Yen, pamannya
sendiri yang memberontak. Selama empat puluh tahun Kaisar
Hui Ti disangka orang sudah mati, akan tetapi tidak pernah
ditemukan jenazahnya. Karena selama empat puluh tahun
tidak pernah muncul, dia dianggap sudah hilang. Maka,
kemunculannya sebagai seorang hwesio tentu saja amat
mengejutkan.
Kaisar Cheng Tung juga menjadi amat terkejut ketika
mendengar bahwa hwesio tua itu adalah bekas Kaisar Hui Ti.
Peristiwa terbuang dan larinya Kaisar Hu Ti dari istana terjadi
ketika dia masih kecil, akan tetapi sejak kecil dia sudah
mendengar cerita keluarga tentang Kaisar Hui Ti itu. Ketika
itu. Kaisar Hui ti yang baru berusia delapan belas tahun,
diserbu oleh pamannya sendiri. Pangeran Yen yang membawa
pasukan dari Peking menyerbu istana Kaisar Hui Ti di Nan
king. Setelah Kaisar Hui Ti melarikan diri.
Pangeran Yen menjadi kaisar baru yang berjuluk Kaisar
Yung Lo. Ketika Kaisar Yung Lo meninggal dunia dalam tahun
1425, penggantinya adalah puteranya Kaisar Hung Hsi. Akan
tetapi kaisar ini sudah berpenyakitan dan meninggal dunia
dalam tahun itu juga. Tahta kerajaan lalu diwariskan kepada
cucu mendiang Kaisar Yung Lo, yaitu Kaisar Hsuan Tek yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi kaisar hanya selama sebelas tahun. Kaisar Hsuan Tek
adalah ayah Kaisar Cheng Tung. Ketika ayahanda meninggal
dunia, Kaisar Cheng Tung memegang tahta dalam usia
delapan tahun.
Kalau diingat bahwa mendiang Kaisar Yung Lo adalah
kakek buyutnya, dan Kaisar Hui Ti adalah keponakan Kaisar
Yung Lo, maka Kaisar Hui Ti masih terhitung paman kakeknya.
Kaisar Cheng Tung adalah seorang Ahli sastra, seorang
yang memegang peraturan dan kebudayaan, seorang yang
bijaksana. Biarpun Kaisar Hui Ti adalah orang pelarian, akan
tetapi sekarang telah menjadi hwesio dan sudah tua, maka
diapun lalu turun dari kursinya, berdiri menghadap ke arah
hwesio itu dan merangkap kedua tangan depan dada lalu
memungkuk dengan hormat,
"Saya Cheng Tung memberi hormat kepada paman kakek
Hui Ti!" Suaranya lembut namun lantang dan mendengar ini,
semua pejabat yang hadir di situ lalu menjatuhkan diri berlutut
menghadap Hwesio itu dan memberi hormat.
"Omitohud....! Sribaginda Kaisar Cheng Tung yang
bijaksana dan semua pembesar kerajaan. Harap jangan
memberi penghormatan secara berlebihan. Pinceng (aku)
bukan lagi Kaisar Hui Ti, melainkan seorang hwesio tua
pengembara bernama Cheng Hian Hwesio."
"Paman Kakek yang budiman, petunjuk apakah yang
hendak kakek berikan kepada kami? Mengapa kakek
menghalangi pelaksanaan hukuman terhadap orang-orang
yang membunuh dua orang putera kami?"
"Omitohud! Sri Baginda Kaisar, pinceng tahu bahwa paduka
adalah seorang yang amat bijaksana dan baik hati, yang
kadang dapat mendatangkan kelemahan ini hingga paduka
mudah diperdaya orang jahat. Ketahuilah bahwa pemuda yang
memakai nama Han Lin ini adalah murid yang amat baik.
Pinceng berani menjamin, berani menanggung bahwa dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak mungkin membunuh kedua orang pangeran putera
paduka itu."
"Akan tetapi, paman kakek yang budiman, ketahuilah
bahwa ada bukti dan saksi dalam tuduhan itu dan sudah
terbukti bahwa Han Lin ini yang membunuh pangeran Cheng
Bhok. Tanpa bukti dan saksi, tidak mungkin kami mau
menjatuhkan hukuman dengan semena-mena terhadap orang
yang tidak berdosa." kata Kaisar Cheng Tung.
"Bukti dan saksi itu bohong semua!" kata Sian Eng dan
begitu ia mengerahkan tenaga sin-kang, tali yang
membelenggu kedua tangannya sudah putus dan kedua
tangannya itu kini bebas. Ia lalu membebaskan pula belenggu
kedua tangan Kiok Hwa dan melihat suhunya di situ, Han Lin
juga membebaskan kedua tangannya yang terbelenggu.
Para perwira yang memimpin pasukan pengawal adalah
orang-orang yang sudah tepengaruhi Pangeran Cheng Boan,
maka ketika Pangeran Cheng Boan berseru,
"Tangkap mereka!" para perwira itu meemberi isarat
kepada anak buahnya untuk bergerak.
"Semua diam dan tidak boleh bergerak!" tiba-tiba Kaisar
Cheng Tung membentak dan semua pengawal itu tentu saja
tidak berani bergerak. Bagaimanapun juaga, mereka tentu
saja lebih tunduk kepada Kaisar Cheng Tung daripada kepada
pangeran Cheng Boan.
"Nona, katakan mengapa engkau bilang bahwa bukti dan
saksi itu bohong semua."
"Yang Mulia, lo-cian-pwe ini benar kalau mengatakan
bahwa paduka terlalu lemah sehingga mudah diperdaya
orang. Paduka tidak tahu bahwa ada komplotan besar yang
bergerak di belakang paduka yang merencanakan semua
pembunuhan atas diri para pangeran itu. Paduka tidak tahu
bahwa Pangeran Cheng Lin yang berdiri di belakang paduka
itu adalah seorang manusia berhati iblis yang menyamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai Pangeran Cheng Lin, dan bahwa Pangeran Cheng Lin
yang aseli bukan lain adalah saudara Han Lin inilah"
Tentu saja ucapan yang lantang sekali ini seperti
menyambarnya halilintar dalam cuaca terang. Semua orang
terkejut dan pada saat itu, sesosok bayangan meluncur dari
atas panggung Kaisar dan melayang ke atas panggung di
mana Sian Eng berdiri.
"Bohong! Fitnah! Perempuan busuk engkau patut mati!" Ki
Seng sudah menerjang bagaikan seekor burung elang
menyambar, kedua tangannya sudah memukul dan
mendorong dengan pengerahan tenaga sakti ke arah Sian
Eng.
Han Lin melihat serangan yang amat berbahaya itu. Diapun
melompat ke depan Sian Eng menyambut serangan itu
dengan kedua telapak tangannya pula.
"Blaarrr.....!" Dua tenaga sakti yang amat dahsyat dan kuat
itu saling bertumbukan dan akibatnya, tubuh Ki Seng terpental
keluar panggung dan tubuh Han Lin juga terdorong mundur.
Dua orang pemuda itu sudah siap lagi untuk saling serang,
akan tetapi pada saat itu terdengar suara Kaisar Cheng Tung.
"Semua berhenti! Yang berani bergerak menyerang berarti
menentang perintah kami dan akan dihukum berat!"
Mendengar perintah ini, Ki Seng tidak berani bergerak,
akan tetapi dia menoleh ke arah panggung tempat kaisar
berada dan dia berseru dengan lantang. "Akan tetapi,
ayahanda Kaisar yang mulia! Mereka ini berani melempar
fitnah dan menghina hamba, berarti mereka berani menghina
paduka pula!"
"Diamlah dulu, Pangeran Cheng Lin. kami akan menyelidiki
semua ini dan kalau mereka bersalah, pasti kami jatuhi
hukuman. Tidak perduli siapa, kalau dia bersalah pasti tidak
akan terlepas dari hukuman. Sekarang kami perintahkan
engkau Cheng Lin dan juga semua pangeran, dan kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertiga yang didakwa sebagai pembunuh, agar menghadap
kami dalam persidangan. Paman Kakek Cheng Hian Hwesio
juga kami persilakan hadir dalam persidangan, demikian pula
semua menteri agar hadir dan ikut menyaksikan!" Setelah
berkata demikian, Kaisar Cheng Tung membungkuk terhadap
Cheng Hian Hwesio dan meninggalkan panggung kembali ke
dalam istana.
Dapat dibayangkan betapa panik rasa hati Pangeran Cheng
Boan melihat betapa keadaan menjadi berbalik dan
mengancam dirinya. Akan tetapi, hadirnya Cheng Hian Hwesio
bekas kaisar Hui Ti sungguh membuat dia tidak mampu
berkutik. Diapun tidak berani mengerahkan para pembantunya
untuk menyerang Han Lin dan dua orang gadis itu. Han Lin
saja sudah demikian lihainya, apalagi Cheng Hian Hwesio yang
menjadi gurunya. Juga para pejabat tinggi kini menggiringkan
Cheng Hian Hwesio dan tiga orang muda itu. Dia tidak
berdaya, tidak berani bergerak dan terpaksa mengikuti mereka
masuk ke istana, menuju ke ruangan persidangan di mana
Kaisar Cheng Tung sudah duduk dijaga ketat oleh para
perwira pengawal yang berdiri di belakang tempat duduk
kaisar.
Mereka semua menghadap Kaisar. Dalam ruangan
persidangan ini, para penghadap tidak berlutut seperti biasa,
melainkan disediakan kursi-kursi untuk mereka, di bagian yang
lebih rendah daripada tempat duduk kaisar. Kaisar Cheng
Tung nenghendaki demikian karena terasa tidak enak dan
tidak leluasa baginya kalau harus bersidang dengan orangorang
yang berlutut. Hui Sian Hwesio mendapatkan kursi
kehormatan di sebelah kiri kaisar Cheng Tung yang
menghormatinya sebagai sesepuh. Para menteri duduk di kiri
kanan. Empat orang pangeran, yaitu Pangeran Cheng Hwa,
Cheng Ki, Cheng Tek dan Cheng Lin palsu duduk menghadap
di depan kaisar. Tak jauh dari situ, menghadap Kaisar pula,
Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa berlutut di atas lantai.
Sebagai pesakitan tentu saja mereka tidak duduk di atas kursi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melainkan berlutut. Suasana dalam ruang-persidangan itu
hening dan angker, dengan penjagaan yang ketat sehingga
Sian Eng yang biasanya rewel itupun tidak banyak ulah,
melainkan menurut saja ketika disuruh berlutut di sebelah kiri
Han Lin, sedangkan Kiok Hwa berlutut di sebelah kanan
pemuda itu.
Suasana hening itu membuat suara Kaisar Cheng Tung
terdengar lantang dan jelas ketika dia berkata sambil
memandang Cheng Hian Hwesio yang duduk di sebelah
kirinya.
"Paman Kakek Cheng Hian Hwesio, kami harap kakek suka
lebih dulu menceritakan tentang diri Han Lin sebagai murid
paman kakek."
"Omitohud, pinceng hanya dapat menegaskan bahwa murid
pinceng Han Lin adalah seorang pemuda yang baik dan
pinceng berani menanggung bahwa dia tidak mungkin
melakukan pembunuhan terhadap para pangeran. Adapun
yang mengaku sebagai Pangeran Cheng Lin juga pinceng
kenal dengan baik. karena dia dahulu menjadi murid pinceng
dengan nama A-seng. Pinceng telah melatih A-seng selama
bertahun-tahun, akan tapi ternyata kemudian bahwa dia
adalah seorang yang berwatak jahat sekali, dia bahkan pernah
berusaha untuk membunuh pinceng, dan dia telah membunuh
dua orang pengikut pinceng. Karena itu, pinceng harap
paduka agar berhati-hati dengan orang muda yang sesat itu."
kata Theng Hian Hwesio sambil memandang ada Ki Seng.
"Ayahanda Kaisar, hwesio tua ini sejak dulu pilih kasih,
tidak heran kalau dia kini membela Han Lin dan melemparkan
fitnah kepada hamba." kata Ki Seng, mengambil keputusan
untuk menyangkal semua tuduhan dan membela diri
sekuatnya.
"Diamlah, Cheng Lin dan jangan bicara kalau tidak ditanya.
Ini merupakan persidangan dan harus dipatuhi oleh siapapun
juga." Kaisar Cheng Tung menegur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sekarang giliranmu, nona. Siapa namamu?" Kaisar
memandang kepada Sian Eng dan gadis ini mengangkat muka
dan menatap wajah kaisar dengan berani. Kaisar Cheng Tung
tertegun. Jarang ada wanita muda berani menentang pandang
matanya setabah itu.
"Nama hamba Lo Sian Eng, Sribaginda yang mulia." jawab
Sian Eng.
"Coba jelaskan apa maksudmu ketika mengatakan tadi
bahwa ada komplotan yang merencanakan pembunuhan
terhadap para pangeran."
"Kebetulan sekali hamba tinggal di rumah Pangeran Cheng
Boan karena hamba dianggap sebagai puteri dari Suma Kiang,
seorang jagoan yang menjadi pembantu Pangeran Cheng
Boan. Kesempatan itulah hamba pergunakan untuk
mendengar percakapan tentang rahasia mereka Pangeran
Cheng Boan bersekongkol dengan Pangeran Cheng Lin palsu
untuk membunuh semua pangeran agar kelak Pangeran
Cheng Lin palsu dapat menjadi kaisar."
"Bohong besar! Harap paduka tidak mempercayai
kebohongan besar gadis setan itu, yang mulia!" Pangeran
Cheng boan berseru.
Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya memandang
kepada Pangeran Cheng boan. "Adinda, apakah engkau tidak
tahu akan peraturan dalam persidangan? Adinda tidak boleh
bicara sebelum ditanya dan apakah engkau mengira kami
akan mudah percaya omongan orang begitu saja? Kami akan
menyelidiki dengan tuntas sehingga akan terbukti dan terlihat
papa yang salah dan siapa yang benar, karena itu, jangan
mengganggu kalau ada yang sedang memberi keterangan dan
jangan bicara kalau tidak ditanya!"
Pangeran Cheng Boan memberi hormat dan berkata lirih,
"Ampunkan hamba kakanda yang mulia."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Cheng Tung memandang kepada Sian Eng dan
berkata. "Nona Lo Sian Eng, sekarang ceritakan sebenarnya
apa yang telah terjadi dan bagaimana engkau dapat berada
dalam pondok di hutan bersama Han Lin dan nona berpakaian
putih ini. Ceritakan sejujurnya dan jangan takut akan ancaman
siapapun juga."
"Baik, Sri. Baginda Yang Mulia. Hamba tidak takut terhadap
ancaman siapapun juga karena hamba menceritakan yang
sebenarnya. Kemarin dulu, hamba melihat kakak Han Lin dan
enci Tan Kiok Hwa ini sedang diserang dan hendak dibunuh
oleh dua orang datuk persilatan yang sesat, yaitu Suma Kiang
dan Toa Ok. Mereka berdua adalah kaki tangan Pangeran
Cheng Boan. Kakak Han Lin sedang menderita luka-luka
karena hukuman cambuk yang pelaksanaannya selama 2 kali
dilakukan oleh dia yang menamakan dirinya Pangeran Cheng
Lin itu. Hamba lalu membantu kakak Han Lin dan enci Tan
Kiok Hwa sehingga dua orang pembunuh itu melarikan diri.
Hamba bertiga lalu tinggal di pondok dalam hutan untuk
mengobati luka-luka. Pengobatan dilakukan oleh enci Tan Kiok
Hwa yang bagi rakyat tidak asing lagi dengan sebutan PeK I
Yok Sian-li karena ia sudah banyak menolong rakyat yang
diserang wabah penyakit. Tiba-tiba malam tadi pondok kami
diserbu pasukan dan kami dituduh telah membunuh seorang
pangeran. kami ditangkap dan dihadapkan paduka. Karena
pandainya mereka mengatur siasat, paduka juga tertipu dan
paduka menjatuhkan hukuman kepada kami bertiga. Hamba
yakin bahwa kematian pangeran itu tentu lakukan mereka lalu
menjatuhkan fitnah kepada kami bertiga. Hamba mohon
keadilan paduka yang bijaksana, yang mulia."
Pangeran Cheng Hwa mengerutkan alisnya. Mendengar
keterangan Sian Eng itu, dia merasa bahwa dia yang dijadikan
sasaran penipuan itu sehingga dia tadinya yakin bahwa Han
Lin yang melakukan pembunuhan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar Cheng Tung memandang kepada Kiok Hwa. "Nona
Tan Kiok Hwa. Kami telah mendengar tentang PeK I Yok Sianli,
kiranya engkau orangnya, Engkau terkenal sebagai seorang
ahli pengobatan yang sudah banyak memberi pertolongan
kepada rakyat tanpa minta imbalan. Orang seperti engkau
tentu tidak suka melakukan kejahatan dan berbohong. Nah,
ceritakanlah bagaimana engkau sampai terlibat dalam urusan
pembunuhan terhadap Pangeran Cheng shi sehingga ikut
ditawan?"
"Sri Baginda Yang Mulia, kiranya hamba tidak dapat banyak
memberi keterangan lagi karena semua sudah diceritakan oleh
adik Lo Sian Eng. Semua yang diceritakannya tadi benar
belaka. Hamba baru pulang dari dusun yang dilanda musibah
wabah. Di tengah perjalanan menuju kota raja, hamba melihat
kakak Han Lin yang sudah hamba kenal dalam keadaan lukaluka
yang cukup parah. Hamba lalu mengobatinya dan pada
saat itu muncul Suma Kiang dan Toa Ok yang menyerang
kakanda Han Lin dan hamba. Tentu hamba berdua sudah
tewas di tangan mereka karena kakak Han Lin sedang terluka
parah kalau saja tidak muncul adik Lo Sian Eng yang
membantu sehingga dua orang itu dapat diusir. Hamba
bertiga lalu pergi ke pondok dalam hutan untuk mengobati
luka-luka hamba. Kemudian tiba-tiba malam itu pasukan
datang menyerbu dan menangkap hamba bertiga dengan
tuduhan membunuh seorang pangeran. Demikianlah keadaan
yang sesungguhnya, Yang Mulia."
Kaisar Cheng Tung mengangguk-angguk sambil mengerling
ke arah Pangeran Cheng Boan dan Ki Seng. Kedua orang ini
tampak menundukkan muka dan mengerutkan alis. Kaisar
Cheng Tung lalu berkata kepada Han Lin, suaranya lantang
berwibawa terdengar oleh semua yang yang hadir dalam
persidangan itu.
"Han Lin sekarang katakan dengan tegas, jujur dan terus
terang. Siapakah sesungguhnya dirimu? Benarkah apa yang di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
katakan Nona Lo Sian Eng tadi bahwa engkau sebenarnya
adalah Pangeran Cheng Lin?"
Han Lin segera memberi hormat dan menjawab dengan
tenang dan tegas.
"Ampunkan hamba, Yang mulia. sesungguhnyalah, hamba
bernama Cheng Lin dan menurut keterangan mendiang ibu
hamba, ayah hamba adalah paduka sri Baginda Kaisar Cheng
Tung."
Suasana menjadi hening di ruangan itu. pangeran Cheng
Boan dan Ki Seng bersungut-sungut memprotes, namun tidak
berani mengeluarkan suara. Kaisar menatap wajah Han Lin
dan dia membayangkan wajah Chai Li. Ada keharuan
menyelinap dalam hatinya. Akan tetapi dia masih belum yakin
dan akan menyelidiki sampai jelas benar yang mana
sebetulnya putera kandungnya yang terlahir dari Puteri Chai
Li.
"Han Lin, kalau benar engkau Pangeran Cheng Lin seperti
yang kau katakan, lalu kenapa engkau tidak mengaku
demikian kepada kami, sebaliknya menggunakan nama Han
Lin?"
"Hamba tidak berani, Yang Mulia, karena bukti diri hamba,
yaitu Suling Pusaka Kemala yang hamba terima dari mendiang
ibu hamba, telah dicuri oleh A-seng yang kini telah mengaku
sebagai Pangeran Cheng Lin,"
Ki Seng menjadi gelisah duduknya, mukanya berubah
sebentar merah sebentar pucat. Ingin rasanya dia menyerang
Han Lin, akan tetapi dia tidak berani dan hanya memandang
kepada Han Lin dengan mata melotot penuh kebencian.
"Hemm, Han Lin, tahulah engkau bahwa sedikit saja
engkau bercerita bohong, kami akan menjatuhkan hukuman
seberat-beratnya kepadamu? Apakah benar semua
keteranganmu tadi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hamba berani bersumpah dan berani mempertanggungjawabkan
semua keterangan hamba, kalau hamba berbohong
hamba siap untuk menerima hukuman apapun juga yang
paduka jatuhkan kepada hamba."
"Kalau begitu, ceritakanlah riwayatmu, sejak kecil sampai
sekarang. Ceritakan yang penting dan garis besarnya saja
untuk membuktikan kebenaran keteranganmu tadi." kata
Kaisar Cheng Tung dengan suara memerintah.
"Hamba dilahirkan di perkampungan Mongol. Ibu hamba
adalah Puteri Chai Li, keponakan dari kakek Kapokai Khan.
Ketika hamba terlahir, ayah kandung hamba tidak ada di sana.
Ketika hamba berusia tiga tahun, datang Suma Kiang yang
kemudian dengan ancaman menculik ibu Chai Li dan hamba,
membawanya pergi dari perkampungan ibu hamba. Di tengah
perjalanan, ibu dan hamba ditolong dan dibebaskan dari
tangan Suma Kiang yang amat jahat. Suma Kiang yang
hendak mengganggu ibu membuat ibu nekat menggigit
lidahnya sendiri sampai putus. Untung ada Gobi Sam-sian, tiga
orang pendekar budiman yang menolong kami....."
Wajah Kaisar Cheng Tung menjadi agak pucat. "Ia.....
ibumu.... putus lidahnya? Menjadi gagu.....?" tanyanya lirih.
"Benar. Yang Mulia. Ibu masih dapat bicara, akan tetapi
tidak jelas dan ia lebih banyak menggunakan tulisan kalau
hendak menyatakan sesuatu. Ketika hamba berusia enam
tahun, Gobi Sam-sian menggembleng hamba ilmu silat. Ketika
hamba berusia sepuluh tahun, mendiang ibu hamba baru
menceritakan tentang asal-usul hamba, siapa ayah kandung
hamba yang belum pernah hamba lihat karena beliau telah
meninggalkan ibu hamba sewaktu hamba berada dalam
kandungan dan sejak itu tidak pernah ada kabar beritanya
lagi!" Dalam ucapan Han Lin ini terkandung nada teguran
yang membuat wajah Kaisar Cheng Tung menjadi kemerahan.
Dia menghela napas panjang lalu berkata lirih.
"Lanjutkan ceritamu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mendiang Ibu Chai Li menyerahkan sebatang suling, yaitu
Suling Pusaka Kemala setelah ia meniup suling itu dan
memainkan sebuah lagu. Pada saat itu, Gobi sam-sian
mengajak hamba berdua dengan ibu melarikan diri dari
pengejaran Suma Kiang dan Sam Ok yang hendak membunuh
hamba dan ibu. Akan tetapi Suma Kiang dapat menyusul. Gobi
Sam-sian roboh oleh Suma Kiang dan Sam Ok. Ibu melompat
ke dalam jurang ketika hendak ditangkap Suma Kiang. Hamba
lalu diperebutkan oleh Sam Ok dan Toa Ok. Kemudian muncul
Suhu Bu Beng Lojin yang menolong hamba dan kemudian
hamba menjadi murid beliau."
"Jadi ibumu melompat ke dalam jurang dan tewas?" Kaisar
Cheng Tung bertanya, suaranya terkandung keharuan yang
mendalam.
"Tadinya hamba mengira demikian, Yang Mulia. Akan tetapi
ternyata kemudian bahwa ibu Chai Li selamat karena tertolong
oleh Ji Ok. Kemudian suhu Bu Beng Lojin membawa hamba
pergi menghadap Suhu Cheng Hian Hwesio dan hamba
digembleng ilmu oleh Suhu Cheng Hian Hwesio. Pada saat
itulah muncul A-seng yang mengaku orang tuanya dibunuh
penjahat. Dia diterima oleh Suhu Cheng Hian Hwesio dan
menjadi murid beliau, jadi boleh dibilang dia itu masih saudara
seperguruan hamba. Karena hubungan kami baik dan dia
hamba anggap sebagal saudara seperguruan, maka hamba
ceritakan asal usul hamba kepadanya. Hamba memperlihatkan
Suling Pusaka Kemala kepada A-seng. Lima tahun kemudian
pada suatu hari A-seng datang dan bermalam dalam kamar
hamba. Ketika hamba terbangun, ternyata A-seng sudah tidak
ada dan Suling Pusaka Kemala hamba hilang, dicuri oleh Aseng.
Hamba mengejar ke pondok Suhu Cheng Hian Hwesio.
Ternyata A-seng telah minggat bahkan telah membunuh dua
orang pembantu Suhu Cheng Hian Hwesio dan membakar
pondok, bahkan menyerang Suhu Cheng Hian Hwesio,
kemudian karena tidak berhasil lalu melarikan diri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jahat sekali!" kata Kaisar Cheng Tung sambil melirik ke
arah Ki Seng yang mengerutkan alis, cemberut dan
menggeleng-geleng kepala seolah membantah semua cerita
Han Lin. "Lalu bagaimana? Lanjutkan!"
"Hamba lalu turun gunung hendak mencari A-seng dan
merampas kembali suling pusaka, juga hamba ingin pergi ke
kota raja menghadap Sri Baginda Kaisar Cheng Tung untuk
mengingatkan beliau bahwa ibu Chai Li hidup sengsara sampai
matinya dengan selalu mengharap-harap berita yang tak
kunjung tiba....."
"Berani engkau bicara seperti itu terhadap ayahanda kaisar
yang mulia!" bentak Ki Seng.
"Diam kau!" Kaisar Cheng Tung membentak pula dan dia
memejamkan kedua matanya dan memegang kepalanya yang
tiba-tiba pening. Dia merasa menyesal sekali mendengar
bujukan orang-orang seperti Pangeran Cheng Boan sehingga
dia melupakan Puteri Chai Li yang pernah dicintanya.
"Bagaimana dengan nasib ibumu?" tanyanya dengan lirih
kepada Han Lin.
"Ibu Chai Li tewas ketika hendak melindungi hamba dari
serangan Ji Ok dengan pisau terbang. Ibu yang terkena pisau
dan tewas. Akan tetapi hamba telah berhasil membalaskan
kematian ibu dan hamba telah membunuh Ji Ok."
"Kemudian bagaimana engkau terlibat dengan urusan
pembunuhan Pangeran Cheng Bhok di hutan dekat pondok di
mana engkau berada?"
"Paduka telah mengetahui. Hamba tanpa sengaja dapat
menyelamatkan Pangeran Cheng Hwa dari usaha pembunuhan
orang bertopeng. Hamba diterima masuk istana sebagai
pengawal. Lalu hamba difitnah hendak menyerang para
pangeran, padahal yang hamba serang adalah A-seng yang
telah mencuri Suling Pusaka Kemala milik hamba. Hamba
dijatuhi hukuman cambuk dan A-seng menggunakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesempatan ini untuk mencambuk hamba dua kali dengan
pengerahan dengan tenaga saktinya sehingga hamba
menderita luka parah. Bahkan ketika adik Tan Kiok Hwa
mengobati hamba yang terluka, muncul Suma Kiang dan Toa
Ok Untuk membunuh hamba, untung muncul adik Lo Sian Eng
yang menolong hamba. Hamba bertiga mengaso dan berobat
dalam pondok, akan tetapi kembali kami difitnah, dituduh
membunuh Pangeran Cheng Bhok. Hamba yakin bahwa ini
tentu perbuatan A-seng atau yang kini nenyamar sebagai
Pangeran Cheng Lin palsu."
"Akan tetapi kenapa Pangeran Cheng Bhok tewas oleh
sebatang pedang dan engkau mengakui pedang itu sebagai
milikmu?" tanya Kaisar Cheng Tung.
"Memang benar itu pedang hamba, yang Mulia. Akan tetapi
pedang hamba Im Yang Pokiam itu telah diambil oleh A-seng
ketika hamba dijatuhi hukuman cambuk dan belum pernah
kembali ke tangan hamba."
Kaisar Cheng Tung hampir tidak dapat menahan
kemarahan lagi. Dia hampir yakin akan kebenaran keterangan
Han lin dan diapun memandang kepada Ki Seng dengan sinar
mata penuh kemarahan. Akan tetapi dia adalah seorang yang
bijaksana dan tidak mau dipengaruhi nafsu amarah. Dia harus
mendapatkan bukti yang lebih meyakinkan lagi.
"Pangeran Cheng Lin, engkau sudah mendengar semua
keterangan tadi. bagaimana jawaban dan pembelaan dirimu,
Kami ingin mendengar." kata Kaisar Cheng Tung.
Ki Seng memandang ke arah Han Lin dengan mata melotot
dan muka marah. kemudian dia memberi hormat kepada
Kaisar Cheng Tung. "Ayahanada Kaisar yang mulia. Semua itu
hanya fitnah belaka. Mereka memang bersekongkol untuk
menjatuhkan hamba, agar penjahat pembunuh Han Lin ini
dapat mengambil alih kedudukan hamba. Dia berbohong dan
palsu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pangeran Cheng Lin, apakah engkau masih ingat suling
ini?" Kaisar Cheng Tung mengeluarkan Suling Pusaka Kemala
yang sejak tadi memang sudah dipersiapkan dalam
persidangan itu. Dia mengangkat suling itu untuk diperlihatkan
kepada semua yang hadir.
"Tentu saja hamba ingat, Ayahanda kaisar Yang Mulia. Itu
adalah Suling Pusaka Kemala yang dulu hamba terima dari
mendiang Ibu Chai Li."
"Bagus kalau masih ingat. Nah, terimalah suling ini dan
coba tiup dan mainkan lagu yang biasa dimainkan Puteri Chai
Li dengan suling ini." Kaisar Cheng Tung menyerahkan suling.
Ki Seng menerimanya dan dia menjadi bingung. Dia pernah
mendengar Han Lin meniup suling itu dan dia hanya ingat
sedikit-sedikit lagu itu. Dia sendiripun sudah mempelajari
untuk meniup suling itu sebelumnya, untuk menjaga segala
kemungkinan. Dia dapat memainkan banyak lagu dengan
tiupan suling itu, akan tetapi, lagu yang di maksudkan Kaisar
Cheng Tung itu dia tidak tahu, hanya pernah mendengar Han
Lin memainkannya satu kali.
"Hayo cepat mainkan lagu itu, kami ingin sekali
mendengarnya."
Terpaksa Ki Seng menempelkan suling pada bibirnya dan
meniup suling itu, memainkan lagu yang pernah didengarnya
dari Han Lin, akan tetapi karena dia hanya tahu dan ingat
sepotong-sepotong saja, maka lagu itu dia campur dengan
lagu lain sehingga terdengar tidak karuan dan kacau balau!
Sian Eng yang sedikit banyak juga mengerti akan seni suara,
tidak dapat menahan geli hatinya dan tertawa, akan tetapi
cepat mendekap mulutnya dengan kedua tangan sehingga
suara tawanya yang merdu hanya sempat membocor sedikit.
Semua mata yang hadir kini ditujukan kepada Ki Seng yang
menjadi semakin gugup sehingga dia menyudahi tiupan
sulingnya.
-00d00w00-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid XXIX
"TAHUKAH engkau, apa nama lagu yang biasa dimainkan
dengan tiupan suling oleh Puteri Chai Li?" tanya Kaisar Cheng
Tung kepada Ki Seng.
Ki Seng diam saja, tidak mampu menjawab dan tampak
bingung, wajahnya berubah agak pucat.
"Hayo jawab!" bentak Kaisar Cheng Tung.
"Hamba....hamba tidak ingat lagi..... sudah terlalu lama...."
Kaisar menoleh kepada seorang perwira pengawal. "Ambil
suling itu dan serahkan kepada Han Lin."
Kepala pengawal itu menghampiri Ki Seng. Tanpa berkata
apapun Ki Seng menyerahkan suling itu dan kepala pengawal
membawanya kepada Han Lin dan menyerahkan suling itu.
Han Lin menerima dan menempelkan suling itu pada dada dan
bibirnya dengan rasa haru yang mendalam karena dia teringat
kepada ibunya.
"Han Lin, tahukah engkau lagu apa yang sering dimainkan
ibu kandungmu dengan suling ini?" tanya Kaisar Cheng Tung.
"Hamba tahu, Yang Mulia. Lagu itu adalah sebuah lagu
Mongol yang berjudul Suara Hati Seorang Gadis."
Kaisar Cheng Tung tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Dan engkau dapat memainkan lagunya dengan Suling Pusaka
Kemala itu?"
"Akan hamba coba, Yang Mulia."
"Mainkanlah dan buktikan kepada semua orang bahwa
sebenarnya engkaulah Pangeran Cheng Lin yang aseli."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keadaan menjadi hening sekali karena semua orang ingin
sekali mendengar apakah Han Lin benar-benar akan dapat
mainkan suling itu dengan benar. Yang tahu akan
kebenarannya tentu saja hanya Kaisar Cheng Tung karena dia
seoranglah yang mengenal lagu yang biasa dimainkan Puteri
Chai Li itu.
Dari dalam keheningan itu mencuat keluar suara suling
yang mengalun merdu dan Kaisar Cheng Tung memejamkan
kedua matanya. Lagu Suara Hati Seorang Gadis itu
membawanya melayang ke masa lalu dan terbayanglah dalam
benak-nya gadis Mongol jelita yang menjadi kekasihnya, Puteri
Chai Li duduk dengan agungnya dan meniup suling itu.
Ketika suara suling itu berhenti, Kaisar Cheng Tung
membuka kedua matanya dan ternyata sepasang bola mata
itu ber-linang air mata. "Han Lin, engkaulah Pangeran Cheng
Lin yang aseli, engkau-lah puteraku, putera Chai Li......, kesinilah,
Cheng Lin, biarkan aku memeluk-mu!"
Han Lin merangkak maju menghampiri dan Kaisar Cheng
Tung lalu merangkul-nya. Sepasang mata Han Lin atau
Pangeran Cheng Lin bercucuran air mata. Dia terharu, bahagia
dan juga sedih teringat akan ibunya.
Terdengar tepuk tangan dan semua orang tercengang dan
memandang. Ternyata yang bertepuk tangan itu adalah sian
Eng. Saking girangnya ia lupa diri, Ia sedang berada dalam
istana, di ruangan persidangan lagi. Akan tetapi sungguh
aneh, ketika semua orang memandangnya, para menteri dan
pejabat itu serentak ikut bertepuk tangan karena merekapun
merasa gembira.
Akan tetapi suara tepukan gemuruh itu masih kalah oleh
nyaringnya teriakan yang keluar dari mulut Ki Seng, "Keparat
Han Lin! Engkau atau aku yang akan mati di sini!"
Semua orang terkejut dan menengok, Ki Seng sudah
bangkit dengan marah sekali. Wajahnya menjadi merah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyeramkan, matanya mencorong seperti mata harimau
dalam kegelapan. Melihat ini, Kaisar Cheng Tung berseru
kepada para pengawal, "Tangkap pangeran palsu yang jahat
ini!"
Pasukan pengawal segera dipimpin dua orang perwira
pengawal, siap untuk mengepung.
"Yang Mulia..... ayahanda Kaisar, perkenankanlah hamba
yang akan menandinginya." kata Han Lin atau Pangeran
Cheng Lin kepada ayah kandungnya.
"Jangan, Cheng Lin, biar pasukan yang menangkapnya. Dia
berbahaya sekali." kata Kaisar Cheng Tung yang
mengkhawatirkan keselamatan putera yang baru ditemukan
itu.
"Omitohud.....! Sri Baginda, biarkan saja mereka berdua itu
membuktikan apa yang benar dan siapa salah di antara
mereka. Yang benar akhirnya tentu menang dan yang salah
kalah!" kata Cheng Hian Hwesio. Mendengar ucapan paman
kakeknya yang juga menjadi guru dari kedua orang muda itu,
Kaisar Cheng Tung percaya dan merasa tenang. Dia memberi
isarat kepada para pengawal dengan tangannya. Para
pengawal itu disuruh mundur oleh dua orang perwira dan
mereka hanya berjaga-jaga di pinggiran. Sementara itu, Han
Lin atau Pangeran Cheng Lin melangkah maju menghampiri Ki
Seng yang sudah siap dan bertekad untuk mengamuk dan
terutama sekali membunuh Han Lin yang telah membuka
rahasianya. Dia tahu bahwa kiranya tidak mungkin baginya
untuk dapat lolos keluar dari istana yang terjaga ketat itu.
Tidak mungkin baginya untuk melawan pasukan kota raja
yang berjumlah ribuan. Akan tetapi dia tidak mau mati begitu
saja menerima hukuman. Dia harus dapat membunuh Han Lin,
Sian Eng dan Kiok Hwa dan kalau mungkin, dia hendak
membunuh pula kaisar! Akan tetapi pertama-tama dia harus
membunuh Han Lin yang dianggap musuh besarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini dua orang muda itu berdiri saling berhadapan dalam
jarak tiga meter. Han Lin berdiri dengan sikap tenang sekali,
kedua bola matanya masih basah. Sebaliknya Ki Seng berdiri
agak membungkuk seperti seekor biruang hendak menerkani
mangsanya.
"Han Lin, engkau merusak kebahagiaan hidupku. Engkau
harus mati di tangan ku!" bentak Ki Seng dan suaranya sudah
tidak seperti biasa lagi, tidak lembut ramah melainkan parau
dan mengandung ancaman yang mengerikan.
"A-seng, kalau ada orang tersesat dan melakukan
kejahatan, hal itu masih wajar. Akan tetapi engkau selalu
membalas kebaikan orang dengan kejahatan, hal itu sungguh
keterlaluan sekali. Suhu Cheng Hian Hwesio menampung dan
menerima-mu sebagai murid yang disayangi, namun apa
balasmu? Engkau membunuh Paman Nelayan Gu dan Paman
Petani Lai dua orang pembantu setia Suhu Cheng Hian
Hwesio, engkau membakar pondok suhu dan bahkan berani
menyerang dan hendak membunuh Suhu Cheng Hian Hwesio.
Kemudian, sebagai saudara seperguruan-mu, aku besikap
jujur dan baik kepada-mu, menceritakan riwayatku yang
kurahasiakan kepada orang lain. Akan tetapi apa yang
kaulakukan terhadap aku? Engkau mencuri Suling Pusaka
Kumala, bukan itu saja, bahkan engkau mengatur siasat untuk
melempar fitnah keji kepadaku sehingga nyaris aku dihukum
mati. Kemudian, yang sungguh amat jahat sekali, engkau
diterima dan diperlakukan dengan penuh kebijaksanaan dan
baik sekali oleh Sri Baginda Kaisar, engkau dijadikan seorang
pangeran yang mulia dan dihormati, akan tetapi apa balasmu?
Engkau bersekongkol dengan Pangeran Cheng Boan untuk
membunuhi semua pangeran agar kelak engkau yang akan
menggantikan kedudukan Kaisar. Sungguh dosamu tak
mungkin dapat diampuni, A-seng!"
Pada saat itu terdengar suara gaduh di sebelah kiri. "Heii,
kau kira akan dapat melarikan diri dariku?" Tampak bayangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merah muda berkelebat. Tahu-tahu Sian Eng sudah
mencengkeram leher baju Pangeran Cheng Boan yang hendak
melarikan diri secara diam-diam dan sekali banting, tubuh
Pangeran Cheng Boan yang gendut itupun terpelanting keras
dan roboh menelungkup, Punggungnya diinjak kaki kanan Sian
Eng sehingga dia tidak mampu berkutik.
"Yang Mulia, apa yang harus hamba lakukan dengan
pengkhianat ini?" tanya Sian Eng sambil memandang ke arah
Kaisar Cheng Tung. Perbuatan dan sikap gadis ini sungguh
lancang sekali dan bisa dianggap kurang sopan di hadapan
Kaisar. Akan tetapi Kaisar Cheng Tung menganggap gadis
pemberani itu tangkas dan lucu. Dia tersenyum dan memberi
perintah kepada kepala pengawal.
"Tangkap Pangeran Cheng Boan yang berkhianat itu dan
jebloskan dulu dalam penjara menanti keputusan hukuman!"
"Ampun, ampunkan hamba, kakanda kaisar....!" Pangeran
Cheng Boan meratap. Akan tetapi para pengawal sudah
menangkap, membelenggu dan menyeretnya keluar dari
ruangan itu.
"A-seng, sekutumu sudah ditangkap. Lebih baik engkau
menyerah untuk ditangkap dan diadili sebagaimana mestinya."
kata Han Lin.
"Mampuslah engkau!" bentak Ki Seng yang menjadi
semakin marah melihat. Pangeran Cheng Boan sudah
ditangkap. Habislah semua harapannya. Selain Pangeran
Cheng Boan, tidak ada lagi yang akan dapat membela dan
mendukungnya. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia
menggunakan jurus Sin-liong-to-sim (Naga Sakti Menyambar
Hati), sebuah jurus dari ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu
Silat Naga Sakti) yang ampuh dan yang dia pelajari dari Cheng
Hian Hwesio. Kedua tangannya membentuk cakar naga dan
mencengkeram ke arah dada Han Lin. Jari-jari kedua tangan
Ki Seng itu seakan telah berubah menjadi baja dan kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cakarannya mengenai dada lawan, dada itu akan terkoyak dan
hatinya akan dapat dirogoh dan disambar keluar!
Han Lin mengenai jurus ini karena diapun telah
mempelajari Sin-liong Ciang hoat dari Cheng Hian Hwesio. Dia
tahu betapa dahsyat dan berbahaya serangan Ki Seng itu,
Dengan tenang namun cepat dia menggeser kakinya ke
belakang lalu tubuhnya condong ke kiri, merendah dan kelagi
kedua tangan Ki Seng lewat dia menghantam dari bawah
dengan tangan kanannya ke arah lambung kanan lawan.
Serangan balik ini dilakukan cepat sekali. Gerakan Han Lin ini
mengelak dan seka-ligus menyerang maka tentu saja
berbahaya bagi lawan karena tidak tersangka-sangka. Namun
Ki Seng sudah memutar lengan kanan yang luput
mencengkeram tadi ke kanan bawah menangkis pukulan
tangan kanan Han Lin.
"Dukkk!" Dua buah lengan bertemu dan keduanya
terdorong ke belakang oleh kekuatan yang dahsyat. Kiranya
keduanya tadi telah mempergunakan sin-kang yang amat
kuat. Mereka bersiap lagi dan segera terjadi pertandingan
yang amat seru. Ouw Ki Seng bersilat dengan Sin liong Cianghoat
dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling dahsyat.
Walaupun Han Lin juga pernah mempelajari ilmu silat ini,
namun dibandingkan Ki Seng, dia kalah matang dalam latihan.
Karena itu, dia menandingi ilmu silat Ki Seng Itu dengan ilmu
silat Ngo-heng Sin-kun yang dia pelajari dari Bu-beng Lo-jin.
Cheng Hian Hwesio ketika menurunkan ilmu ilmunya kepada
Han Lin untuk dapat menandingi Ki Seng, telah melihat bahwa
Ngo-heng Sin-kun yang dikuasai Han Lin cukup tangguh dapat
mengatasi Sin-liong Ciang-hoat. Dan ternyata perhitungan
hwesio tua itu benar. Pertandingan tangan kosong itu
berlangsung seru dan tampaknya seimbang. Namun perlahanlahan
Han Lin mulai mendesak Ki Seng. Mereka saling terjang
dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat sehingga
gerakan kedua tangan mereka mendatangkan angin pukulan
yang bersuitan, bahkan angin pukulan itu terasa oleh mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berada dalam ruangan persidangan yang luas itu. Ki
Seng mencoba menggunakan gin-kang (ilmu meringankan
tubuh) untuk mengungguli lawannya, namun Han Lin
mengimbanginya dengan gin-kang yang tidak kalah ringannya.
Tubuh kedua orang muda itu berkelebat dan kadang lenyap.
Bagi yang ilmu silatnya tidak berapa tinggi, sukar sekali untuk
dapat mengikuti gerakan kedua orang itu. Yang tampak hanya
dua bayangan orang berkelebat ke sana - sini, berputaran dan
sukar mengenal mana Han Lin dan mana Ki Seng. Akan tetapi
Cheng Hian Hwesio dapat mengikuti pertandingan itu dan dia
melihat betapa perlahan tetapi pasti, Han Lin mulai mendesak
Ki Seng.
"Haiiiiittt....!!" Tiba-tiba Ki Seng membentak nyaring. Dia
mengerahkan tenaga sin-kang dan menggunakan jurus Sinliong-
hoan-sin (Naga Sakti Memutar Tubuh). Tubuhnya yang
tadinya mengelak atas pukulan Han Lin dan membalik, kini
berputar cepat sekali dan tahu-tahu kedua tangan membentuk
cakar dan menyerang. Yang kiri mencakar ke arah kepala Han
Lin, sedangkan yang kanan mencengkeram ke arah perut.
Serangan ini hebat bukan main, Han Lin mengenal jurus ini
dan tahu bahwa cakaran tangan kiri ke arah muka Han Lin itu
hanya gertakan atau untuk mengalihkan perhatian saja
sedangkan inti penyerangan terletak pada cengkeraman
tangan kanan ke arah perutnya. Karena itu, cepat dia
mengelak ke kanan sehingga cengkeraman tangan kiri lawan
itu luput. Ketika cengkeraman tangan kanan Ki Seng mengejar
dan menyambar ke arah perutnya, Han Lin yang sudah
memperhitungkan itu cepat menangkis dengan tangan kirinya
dan pada saat itu juga kaki kanannya mencuat dan
menendang ke arah perut Ki Seng. Ki Seng yang tidak
mengenal Ngo-heng Sin-kun terkejut sekali. Tidak sempat lagi
dia mengelak atau menangkis, maka dia mengerahkan sinkang
untuk melindungi perutnya dengan kekebalan.
"Wuuuttt..... dukkk!" Tubuh Ki Seng terpental sampai
empat meter jauhnya. Akan tetapi dia turun berdiri dan sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali tidak menderita luka dalam, hanya terasa agak nyeri
pada kulit perut yang tertendang.
Melihat barisan pengawal bersenjata tombak panjang
berjajar di sebelah kiri, tiba-tiba Ki Seng menubruk ke kiri dan
dengan gerakan cepat sekali dia telah menotok lemas seorang
perajurit pengawal dan merampas tombaknya. Tanpa
mengeluarkan kata-kata dia menerjang ke depan dan
menyerang Han Lin yang bertangan kosong itu dengan
tombaknya. Dia memainkan tombaknya seperti senjata
tongkat atau tombak itu kini membentuk sinar panjang
bergulung-gulung dan menyerbu ke arah Han Lin bagaikan
seekor naga mengamuk. Inilah In-liong-tung-hoat (Ilmu
Tongkat Naga Awan), ilmu tongkat ampuh gemblengan Cheng
Hian Hwesio. Tongkat atau tombak di tangan Ki Seng itu
menyambar-nyambar secara bergelombang dengan dahsyat
sekali, suaranya mengiuk-ngiuk dan ke manapun tubuh Han
Lin berkelebatan mengelak, sinar tombak itu terus
mengejarnya bagaikan tangan maut. Menghadapi tongkat
yang menyambar-nyambar ganas itu, Han Lin terdesak hebat
dan dia hanya mampu mengelak dan kadang menangkis
dengan lengannya.
"Han Lin, sambutlah tongkat pinceng ini!" tiba-tiba
terdengar seruan Cheng Hian Hwesio dan dia sudah
melemparkan tongkat bambunya kepada Han Lin yang
melompat ke belakang. Pemuda itu girang sekali dan cepat
menyambar tongkat bambu milik Hwesio tua itu.
"Terima kasih, suhu!" katanya dan kini Han Lin bagaikan
seekor harimau tumbuh sayap. Dia memiliki ilmu tongkat yang
amat hebat, juga amat aneh gerakannya, yang disebut Sintek-
tung (Tongkat Bambu Sakti) dan kebetulan sekali tongkat
bambu milik Cheng Hian Hwesio itupun merupakan sebatang
tongkat bambu. Maka begitu dia memutar tongkat-nya,
terdengarlah suara menderu-deru yang menyambut gulungan
sinar tombak yang dimainkan Ki Seng. Terjadilah pertandingan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat tongkat yang amat dahsyat. Bayangan dua orang yang
kadang tampak kadang tidak itu terselimuti dua gulungan
sinar yang saling menghimpit dan saling mendesak, diseling
bunyi nyaring beradunya batang tombak dan tongkat,,
Melihat kemahiran Ki Seng yang dapat mengimbangi
permainan tongkat Han Lin, Cheng Hian Hwesio menghela
napas panjang dan berkata seorang diri lirih. "Omitohud,
bakat yang demikian hebat mengapa terdapat pada orang
yang berwatak demikian rendah? Pinceng telah salah lihat,
pinceng memang bodoh sekali. Omitohud......"
Sian Eng yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Cheng
Hian Hwesio berkata lirih untuk menghibur. "Banyak sekali
orang yang kita kira sebaik-baiknya orang akan tetapi ternyata
sejahat-jahat-nya orang, lo-cian-pwe, Saya sendiri juga
terkecoh oleh Suma Kiang yang teramat jahat, padahal dahulu
saya kira dia sebaik-baiknya orang di dunia ini."
Pertandingan itu berlangsung seru dan mati-matian.
beberapa kali Kaisar Cheng Tung merasa khawatir dan hendak
memberi perintah kepada para pengawal untuk mengeroyok Ki
Seng, akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Cheng Hian
Hwesio dia melihat kakek itu menggelengkan kepala
kepadanya sehingga hatinya tenang kembali karena dia
mengerti bahwa kakeknya yang menjadi guru kedua orang
muda yang sedang berkelahi itu agaknya yakin bahwa Cheng
Lin akan keluar sebagai pemenang.
Memang demikianlah. Cheng Hian Hwesio yang dapat
mengikuti jalannya pertandingan dengan baik melihat bahwa
seperti yang dahulu pernah diperhitungkannya, melihat
dengan jelas bahwa Han Lin atau Cheng Lin masih lebih
tangguh. Kini tongkat bambu itu mulai mengurung dan
mendesak tombak di tangan Ki Seng. Pada saat pertandingan
sudah berlangsung hampir lima puluh jurus, tiba-tiba Ki Seng
mengeluarkan bentakan nyaring dan tombaknya menusuk ke
arah dada Han Lin. Pemuda ini melihat datangnya tombak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang amat cepat dan kuat itu, mencondongkan tubuhnya ke
kanan dan ketika tombak meluncur di bawah lengan kirinya
yang dia kembangkan dia cepat menggunakan lengak kirinya
untuk menjepit tombak dan tangan kirinya menangkap batang
tombak. Pada saat yang sama, tangan kanannya yang
memegang tongkat bambu sudah menggerakkan tongkat
bambu yang menotok ke arah pergelangan tangan kanan Ki
Seng.
Tentu saja Ki Seng terkejut dan terpaksa melepaskan
tombaknya dari pegangan tangan kanan. Akan tetapi tongkat
bambu itu dengan cepatnya menyambar ke arah pergelangan
tangan kiri sehingga kembali Ki Seng terpaksa melepaskan
pegangan tangan kirinya. Dengan sendirinya tombak itu
berpindah ke tangan kiri Han Lin.
Ki Seng melompat mundur, wajahnya berubah pucat. Kalau
dinilai sebagai sebuah pertandingan, jelas bahwa dia sudah
kalah dua kali. Pertama kali dia kalah dalam mengadu ilmu
silat tangan kosong tadi, kemudian untuk kedua kali-nya dia
kalah dalam bertanding menggunakan senjata. Melihat
lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin melepaskan
tombak rampasan dan tongkat bambu kepada Sian Eng.
"Eng-moi, kembalikan tongkat kepada suhu!" katanya. Sian
Eng dengan cekatan menyambar dua batang senjata yang di
lemparkan kepadanya itu. Kemudian dia menyerahkan kembali
tongkat bambu kepada Cheng Hian Hwesio dan tombak
kepada pengawal sebagai pemiliknya.
Ki Seng kini sudah berhadapan dengan Han Lin, keduanya
bertangan kosong. "A-seng, lebih baik engkau menyerahkan
diri untuk diadili." kata Han Lin.
"Persetan dengan kamu!" Ki Seng membentak dan dia
sudah menerjang lagl dengan tangan kosong. Dia
mengerahkan tenaga dalamnya dan ketika dia menyerang,
dari kedua telapak tangannya keluar uap putih yang
mendahului pukulannya menyambar ke arah Han Lin. Han Lin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenal ilmu vang dahsyat itu. Itulah Pek in Hoat-sut (ilmu
Sihir Awan Putih). Baru uap putih itu saja sudah dapat
melumpuhkan semangat lawan karena mengandung kekuatan
sihir yang amat ampuh! Akan tetapi dia sudah tahu bagaimana
untuk menghadapi ilmu ini, atas petunjuk Cheng Hian Hwesio
dahulu ketika menggemblengnya. Ketika awan putih itu
menjadi semakin tebal dan seperti hidup menyerbu ke
arahnya, dia lalu mengeluarkan teriakan yang melengking dan
menggetarkan seluruh ruangan itu. Itulah Imu Sai-cu Ho -
kang (Auman Singa) yang dapat membuyarkan segala macam
kekuatan sihir dan kedua tangannya didorongkan ke depan
dengan pengerahan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang (Tenaga
Sakti Matahari Bulan).
"Wirrrr...!" Uap putih yang tebal itu ketika dilanda getaran
suara seperti auman singa seolah ditiup angin keras dan
membalik! Ki Seng yang menjadi marah nekat menerjang
maju sambil memukul dengan kedua tangan terbuka
didorongkan ke arah dada Han Lin. Han Lin menyambutnya
dengan kedua tangannya pula. Kini kedua orang itu sudah
mengambil keputusan untuk mengadu tenaga
mempertahankan nyawa.
"Blarrrr....!" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di
udara dan dua tenaga raksasa yang dahsyat bertumbukan.
Bahkan sebelum telapak tangan mereka bersentuhan, mereka
berdua sudah terdorong oleh tenaga kuat sekali sehingga
keduanya terpental ke belakang! Han Lin ter-huyung dan
wajahnya pucat sekali, napasnya agak terengah. Dia
mengalami pukulan hebat di dalam dadanya, akan tetapi
masih dapat dia tahan dengan tenaga saktinya. Sebaliknya, Ki
Seng terlempar ke belakang dan hampir saja terbanting roboh.
Biarpun dia dapat menahan sehingga tidak sampai roboh,
namun dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah segar, tanda
bahwa dia sudah menderita luka dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat keadaan Ki Seng, kembali Han tin berkata, "A-seng,
lebih baik menyerah agar dapat diadili."
"A-seng, engkau manusia tolol!" Sian Eng berseru dan
tanpa ragu kini ia menyebut orang yang tadinya dianggap
sebagai Pangeran Cheng Lin dengan nama A-seng, menirukan
Han Lin. "Engkau hanya diperalat oleh Pangeran Cheng Boan
untuk membunuhi semua pangeran Kalau sudah berhasil,
engkau sendiri akan disingkirkan dan dibunuh olehnya! Lebih
baik engkau menyerah. Engkau tidak akan mampu menang
melawan Lin-ko!"
Mendengar ini, Ki Seng mengerutkan alisnya. Kini
terbukalah matanya bahwa dia telah dipermainkan dan
diperalat Pangeran Cheng Boan. Baru dia menyadari dan
sekarang baru dia mengerti mengapa begitu mudahnya dia
menggauli dan berjina dengan para selir pangeran itu. Kiranya
para selir itu memang diumpankan untuk memancingnya.
Kesadaran ini membuat dia menjadi semakin marah dan
karena yang dihadapi hanya Han Lin maka semua
kemarahannya dia tumpah-kan kepada pemuda itu.
"Mampuslah kau!" bentaknya dan kini dia menerjang
dengan menggunakan kedua jari telunjuknya. Terdengar
suara bercuitan ketika dua buah jari telunjuk itu menyerang ke
arah tubuh Han Lin. Itulah It-yang-ci, ilmu menotok jalan
darah yang amat hebat itu. Untung bagi Han Lin bahwa
digembleng Cheng Hian Hwesio dan mempelajari It-yang-ci.
Kalau tidak, tentu dia berada dalam bahaya ketika Ki Seng
menyerangnya dengan ilmu yang ampuh itu. Melihat serangan
ini, Han Lin juga memainkan It-yang-ci untuk
mengimbanginya. Terkejutlah hati Ki Seng melihat ini dan
mengertilah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi
untuk dapat mengalahkan Han Lin dan bahwa gurunya, Cheng
Hian Hwesio yang mengajari Han Lin dengan ilmu itu. Tibatiba
dia menjadi bingung dan mencari akal. Bagaimanapun
juga, dia tidak boleh tertangkap dan tidak boleh mati sebelum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia membuat perhitungan dengan Pangeran Cheng Boan yang
telah mempermainkannya, dengan para anak buah Pangeran
Cheng Boan yang diam-diam membuat persekongkolan untuk
memperalat dia dan kemudian dia akan dibunuh kalau sudah
berhasil.
Dalam adu ilmu It-yang-ci, kembali Ki Seng terdesak. Hal
ini terjadi bukan karena dia kalah matang dalam latihan,
bahkan sesungguhnya dia lebih matang J daripada Han Lin
karena dia telah lebih lama menguasai It-yang-ci. Akan tetapi
pada saat itu hatinya gelisah dan sebagian perhatiannya
tercurah pada usaha untuk mencari akal dan mencari jalan
agar dia terlepas dan lolos dari tempat itu.
Tiba-tiba Ki Seng mengeluarkan teriakan melengking yang
mengejutkan semua orang dan tubuhnya mencelat ke
belakang. Tanpa dapat disangka-sangka sebelumnya, dia telah
berada di dekat Pangeran Cheng Hwa dan memegang lengan
kiri Pangeran Mahkota itu dengan tangan kirinya sedangkan
jari telunjuk kanannya sudah menempel pada pelipis pangeran
itu.
"Semua diam dan menjauh! Sedikit saja ada gerakan
Pangeran Cheng Hwa ikan kubunuh lebih dulu. Aku hanya
ingin keluar dari istana tanpa gangguan. Aku tidak akan
membunuhnya kalau aku dapat keluar dari sini tanpa
dihalangi!" Setelah berkata demikian, dia mendorong
Pangeran Cheng Hwa untuk berjalan menuju pintu besar
ruangan itu. Semua orang terkejut bukan main sehingga
mereka hanya berdiri dan dengan muka pucat seperti telah
berubah menjadi patung. Kemudian, para perwira pasukan
pengawal membuat gerakan maksudnya hendak mengerahkan
pasukan untuk menyerang Ki Seng dan menolong Pangeran
Cheng Hwa.
Akan tetapi Kaisar Cheng Tung segera berseru, "Jangan
ada yang bergerak! Biarkan dia keluar dari istana asal dia tidak
mengganggu Pangeran Cheng Hwa. Akan tetapi kalau dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani membunuh Pangeran Cheng Hwa, biar dia larl ke ujung
dunia sekalipun, dia harus ditangkap dan kami akan
menjatuhkan hukuman yang paling berat yang pernah
diterima seorang manusia!"
"Jangan khawatir, Sribaginda! Hamba tidak akan
mengganggu Pangeran Cheng Hwa! Akan tetapi seluruh
penghuni rumah Pangeran Cheng Boan akan hamba basmi!"
Setelah berkata demikian, Ki Seng mendorong Pangeran
Cheng Hwa keluar dari ruangan itu dan terus keluar dari
dalam istana. Para pengawal tidak ada yang berani bergerak.
"Hamba akan membayanginya dan menjaga keselamatan
Kakanda Pangeran Cheng Hwa!" kata Han Lin dan diapun
melangkah keluar. Sian Eng dan Kiok Hwa juga segera kekiar
mengikuti Han Lin. Para perwira menggerakkan pasukan
pengawal bergerak keluar pula. Mereka tidak berani
menyerang Ki Seng, akan tetapi hanya membayangi dari
belakang.
Ki Seng tahu bahwa dia dibayangi banyak orang, akan
tetapi dia tidak perduli karena yakin bahwa selama Pangeran
Cheng Hwa berada di bawah ancamannya, tak seorangpun
akan berani menyerangnya. Dan mereka yang membayangi,
juga Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa, tidak berani mengikuti
terlalu dekat.
Setelah tiba di depan istana Pangeran Cheng Boan,
beberapa orang perajurit pengawal yang mengenai baik Ki
Seng dan Pangeran Cheng Hwa, memberi hormat. Ki Seng
mencabut sebatang pedang vang tergantung di pinggang
kepala jaga, kemudian dia berkata kepada Pangeran Cheng
Hwa. "Pangeran, aku membebaskanmu di sini!" Setelah
berkata demikian, Ki Seng melompat dan berlari cepat
memasuki istana Pangeran Cheng Boan.
Begitu dia masuk ke dalam gedung besar dan mewah
seperti istana itu mulailah pembantaian yang mengerikan itu
terjadi. Beberapa orang pelayan yang menyambut keluar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
roboh seketika terbacok pedang. Darah mulai membanjir. Ki
Seng terus memasuki bagian tempat tinggal para selir. Tujuh
orang selir Pangeran Cheng Boan yang menjadi kekasihnya itu
menyambut dengan heran, akan tetapi mereka itu satu demi
satu roboh dan te-was dibantai Ki Seng.
Mendengar suara ribut-ribut, muncullah Suma Kiang, Toa
Ok dan Sian Hwa Sian-li. Mereka terbelalak kaget dan heran
melihat ke tujuh orang selir Pangeran Cheng Boan telah rebah
malang melintang mandi darah dan melihat Ki Seng yang
berdiri di ruangan itu memegang sebatang pedang yang
berlumuran dara dan sikap pemuda itu ketika memandang
kepada mereka menyeramkan. Tiga orang pembantu
Pangeran Cheng Boan ini tadi-pun ikut menonton ke lapangan
di depan istana ketika Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa hendak
dijatuhi hukuman penggal kepala. Mereka melihat kekacauan
ketika muncul Cheng Hian Hwesio menggagalkan pelaksanaan
hukuman mati itu. Mereka tidak berani berbuat sesuatu,
apalagi karena Pangeran Cheng Boan juga tidak berbuat
sesuatu. Ketika Kaisar memerintahkan agar membawa tiga
orang hukuman itu ke ruangan sidang dalam istana, dan
memerintahkan semua menteri dan pangeran untuk ikut pula
menyaksikan persidangan, mereka bertiga tentu saja tidak
dapat ikut masuk. Mereka segera kembali ke istana Pangeran
Cheng Boan untuk menanti perkembangan selanjutnya.
Mereka tidak tahu dan tidak dapat menduga apa yang telah
terjadi di dalam istana. Maka kemunculan Ki Seng yang
membantai para selir dan pembantu rumah tangga Pangeran
Cheng Boan sungguh mengejutkan hati mereka.
Sian Hwa Sian-li Kim Goat yang merasa akrab dengan Ki
Seng, bahkan menjadi kekasih pemuda itu, menghampiri dan
menyentuh lengan Ki Seng sambil bertanya, "Pangeran,
apakah yang telah terjadi? Engkau membunuh mereka ini?
Apa artinya semua ini....?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi melihat wanita cantik ini dan sikapnya yang
manis, Ki Seng teringat bahwa wanita inipun ikut bersekutu
memperalat dia, maka sebagai jawaban pertanyaannya itu
tiba-tiba saja tangan kirinya menyerang dengan totokan Ityang-
ci ke arah dada Sian Hwa Sian-li. Serangan itu dilakukan
secara mendadak dan tidak terduga-duga oleh wanita yang
berdiri amat dekat itu. Serangan It-yang-ci memang dahsyat
sekali, apalagi dalam jari tangan Ki Seng sudah mengandung
racun Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa). Sian Hwa Sian-li
terkejut dan mencoba untuk melempar tubuh ke samping.
"Siuutt... tukkk!" Jari telunjuk kiri Ki Seng masih mengenai
pundak wanita itu, Sian Hwa Sian-li menjerit karena merasa
pundaknya seperti tertusuk besi panas membara. Ia
terhuyung-huyung dan pada saat itu, pedang di tangan Ki
Seng menyambar ke arah lehernya. Darah muncrat dan Sian
Hwa Sian-li roboh dan tewas seketika.
Akan tetapi Suma Kiang dan Toa Ok sudah dapat
mengatasi rasa kaget mereka. Melihat Ki Seng menyerang
Sian Hwa Sian-li mereka cepat mencabut pedang masingmasing.
Toa Ok mencabut Kim-liong-kiam (Pedang Naga
Emas) dan Suma Kiang mencabut siang-kiam (sepasang
pedang) dan mereka berdua langsung saja menyerang Ki
Seng dari kanan kiri, pada saat Ki Seng membabatkan
pedang-nya ke leher Sian Hwa Sian-li tadi.
Pada saat Sian Hwa Sian-li roboh, pedang Toa Ok
menyambar dari kanan dan sepasang pedang Suma Kiang
menyambar dari kiri. Ki Seng mendengar sambaran tiga
batang pedang dari kanan kiri itu. Dia cepat memutar
pedangnya yang sudah merobohkan Sian Hwa Sian-li tadi
untuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi sekali ini
penyerangnya adalah datuk-datuk persilatan yang amat lihai.
Bukan saja mereka berdua itu memiliki tenaga sin-kang yang
amat kuat, akan tetapi juga pedang-pedang yang mereka
pegang adalah pedang ampuh yang terbuat dari baja pilihan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tran-trang-trakk....!" Pedang di tangan Ki Seng yang tadi
dirampasnya dari kepala jaga, patah-patah dan pedang Toa
Ok masih menyambar ke arah lehernya. Ki Seng miringkan
kepalanya dan menarik ieher ke belakang, akan tetapi tetar
saja ujung pedang itu menyentuh kulit pundaknya. Baju robek
berikut kulitnya. Pada saat itu, pedang kiri Suma Kiang juga
sudah merobek celana dan melukai paha kanannya. Darah
mengucur dari pundak dan paha. Akan tetapi Ki Seng terus
mengamuk, biarpun dia hanya menggunakan kaki tangannya
karena pedangnya telah patah-patah. Akan tetapi kedua orang
lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama sekali Toa
Ok yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih sedikit saja
dibandingkan tingkat Ki Seng. Kedua lengan Ki Seng yang
kadang terpaksa dia pergunakan untuk menangkis pedang,
sudah penuh luka dan berlumuran darah. Juga dadanya
terkena pukulan tangan kiri Toa Ok yang mengandung racun.
Dia masih berusaha untuk melawan mati-matian, akan tetapi
dia menjadi bulan-bulanan tiga batang pedang itu sehingga
tubuhnya penuh luka. Dia seperti bermandi darahnya sendiri
dan akhirnya, sebuah tusukan pedang di tangan Toa OkA
menembus dadanya. Robohnya Ki Seng dalam keadaan
mengerikan karena tubuh-nya penuh luka. Dia tewas seketika.
Pada saat itu, Han Lin dan Sian Eng berlompatan masuk.
Tadi mereka menonton perkelahian itu dari luar dan tempat
itu sudah dikepung para perajurit. Para perajurit pengawal
Pangeran Cheng Boan sudah dilucuti.
Toa Ok dan Suma Kiang adalah datuk persilatan yang
selain berkepandaian tinggi juga sudah mempunyai banyak
pengalaman. Akan tetapi ketika mereka melihat munculnya
Han Lin dan Sian Eng, wajah mereka berubah pucat dan
timbul rasa takut dalam hati mereka. Mereka memandang ke
luar, akan tetapi semakin kecut rasa hati mereka melihat
betapa gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan itu telah
dikepung ketat oleh banyak sekali pasukan kerajaan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Eng sudah menghampiri Suma Kiang yang masih
memegang sepasang pedangnya. Gadis inipun sudah
memegang Ceng-liong-kiam. Pedangnya ini tadinya dirampas
ketika ia ditangkap, akan tetapi pedang yang dijadikan satu di
antara barang bukti itu tadi diserahkan kepadanya oleh
seorang perwira yang menerima tugas dari kaisar untuk
menyerahkan pedang Ceng-liong-kiam kepadanya dan pedang
Im-yang-kiam kepada Han Lin. Karena itu kini ia menghampiri
bekas ayah dan juga gurunya itu dengan Ceng-liong-kiam di
tangan. Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kebencian
melihat orang yang pernah merawat dan membimbingnya,
orang yang pernah bersikap amat baik dan penuh kasih
sayang kepadanya, akan tetapi juga orang yang telah|
menyebabkan kematian ayah dan lbu kandungnya, yang telah
memperkosa ibui kandungnya.
Melihat sinar mata penuh kebencian dan kemarahan dari
gadis itu ditujukan kepadanya, Suma Kiang merasa ngeri dan
juga sedih. Kasih sayangnya terhadap gadis ini masih
terkandung dalam hati-nya. Dia selalu menganggap gadis ini
sebagai anak kandungnya sendiri yang tidak pernah dia miliki.
"Eng-ji, engkau..... mau apakah?" tanyanya dan suaranya
menggetar.
"Mau membunuhmu, membalaskan kematian ayah dan ibu
kandungku!" kata Sian Eng. suaranya lirih namun penuh
ancaman.
"Akan tetapi..... aku tidak membunuh mereka...."
"Engkau yang menyebabkan kematian mereka! Engkau
harus mati di tanganku!"
"Eng-ji, ingat, aku ayahmu, aku men-didik dan merawatmu,
aku selalu menyayangmu.....!"
"Cukup! Tak perlu banyak merengek, lihat pedangku dan
bersiaplah untuk mati!" bentak Sian Eng yang segera
menyerang dengan pedangnya. Biarpun hatinya sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa sedih sekali karena dalam keadaan terjepit dan
terancam seperti itu, orang yang dianggapnya sebagai anak
sendiri dan yang disayanginya tidak membela bahkan hendak
membunuhnya, terpaksa Suma Kiang menggerakkan sepasang
pedangnya untuk menangkis. Akan tetapi Sian Eng
melancarkan serangan bertubi-tubi sehingga Suma Kiang
harus mengerahkan tenaga dan mainkan siang-Kiamnya untuk
melindungi dirinya.
Sementara itu, begitu melihat Han Lin di hadapannya, Toa
Ok maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara karena sejak
pemuda itu masih kecil mereka sudah saling berhadapan
sebagai musuh. Maka, dia tidak berkata apapun dan langsung
saja menggerakkan pedangnya untuk menyerang dengan
dahsyat. Sinar emas bergulung-gulung ketika dia mema-inkan
Kim-liong-kiam. Namun, dengan tenang Han Lin
menggerakkan Im-yang Po-kiam yang telah berada di tangan
kembali ketika perwira pengawal menyerahkan pedang itu
kepadanya.
Seperti juga Suma Kiang, Toa Ok maklum sepenuhnya
bahwa dia sudah terkepung dan agaknya tidak mungkin
melepaskan diri. Bagaimanapun juga dia pasti akan tertangkap
dan kalau sampai tertangkap, dia pasti akan dijatuhi hukuman
mati. Melawan mati, tidak melawanpun mati. Dia seorang
gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan.
Pantang baginya untuk mati sebagai seekor babi disembelih.
Lebih baik mati sebagai seekor harimau yang membela diri
dan melawan sampai titik darah terakhir!
"Hyiaaatt....!!" Toa Ok menyerang dengan pengerahan
tenaga sekuatnya. Pedangnya berubah menjadi sinar emas
menyambar ke arah leher Han Lin. Han Lin bersikap tenang
namun waspada. Ketika sinar emas itu menyambar ke
lehernya, dia cepat melangkah mundur sambil merendahkan
tubuhnya sehingga sinar emas itu menyambar di atas
kepalanya. Namun sinar emas itu membalik dan terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengejarnya dengan serangan bertubi-tubi berupa bacokan
atau tusukan. Dahsyat sekali desakan serangan pedang dari
Toa Ok itu. Han Lin mengerahkan gin-kang sehingga tubuhnya
menjadi ringan sekali dan dapat bergerak dengan cepat bukan
main sehingga semua sambaran pedang itu dapat dia elakkan.
Akan tetapi dia tidak dapat mengelak terus, Toa Ok adalah
seorang yang amat lihai dan kalau dia hanya mengelak terus,
berarti dia terancam bahaya maut. Han Lin mulai membalas
dan sambaran pedang pusaka Im-yang Pokiam itu dahsyat
bukan main. Toa Ok tak mungkin dapat mengelak terhadap
sambaran pedang itu, maka diapun mengerahkan tenaganya
dan menangkis dengan Kim-liong-pang. Sepasang pedang
bertemu di udara, kuat bukan main karena kedua pihak telah
mempergunakan seluruh sin-kang mereka,
"Singgg..... trang....trakkk!" Pada pertemuan pedang yang
ketiga kalinya, Toa Ok melompat ke belakang dengan muka
pucat karena pedangnya telah patah menjadi dua potong!
Pedang Naga Emas yang telah menemaninya berkelana di
dunia persilatah selama sepuluh tahun. kini patah. Ini
merupakan firasat buruk sekali baginya. Pedang yang telah
membunuh entah berapa ratus orang itu, yang belum pernah
rusak menghadapi senjata lawan yang bagaimanapun juga,
kini bertemu dengan Im-yang Pokiam yang berada di tangan
Han Lin. Sebetulnya bukan karena keampuhan Im-yang
Pokiam saja yang membuat pedang Kim-liong-kiam di tangan
Toa Ok itu patah, melainkan terutama sekali karena Han Lin
mengerahkan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang ketika
menggerakkan pedang itu.
"Keparat!" Toa Ok memaki dan dia melontarkan pedang
yang tinggal sepotong itu ke arah Han Lin. Jangan dipandang
ringan lontaran pedang buntung ini. Lontaran yang
mengandung tenaga sakti itu membuat pedang buntung itu
meluncur seperti anak panah cepatnya dan pedang buntung
itu masih dapat menembus apa saja yang menjadi sasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin sama sekali tidak memandang ringan serangan ini.
Dia lalu menggerakkan pedangnya, menangkis ke arah atas.
"Cringgg.... cepp!" Pedang buntung itu melenceng ke atas dan
menancap ke langit-langit ruangan itu sampai ke gagangnya.
Melihat lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin
juga menyarungkan pedang ke punggungnya lagi.
"Toa Ok, menyerahlah saja agar engkau dapat diadili." kata
Han Lin membujuk. Betapapun sakit hatinya kalau dia teringat
akan semua perbuatan Toa Ok kepadanya, namun pemuda ini
masih selalu ingat dan menjunjung tinggi semua ajaran yang
pernah diterimanya dari Bu Beng Lojin dan Cheng Hian
Hwesio. Dia tidak mau sembarangan membunuh kalau hal itu
masih dapat dicegahnya.
Akan tetapi Toa Ok menjadi semakin marah melihat
pedangnya patah. Sebetulnya kalau saja dia tidak dikuasai
nafsu amarahnya, melihat Han Lin menyarungkan pedangnya
itu saja dia sudah harus menginsyafi betapa pemuda itu telah
mengalah kepadanya. Namun, kemarahan membutakan mata
hati dan mengenyahkan semua pertimbangan akal budi.
Sambil mengeluarkan suara gerengan seekor binatang terluka,
dia sudah menerjang ke depan. Serangannya aneh sekali.
Tubuhnya berpusing dan kedua tangan dan kakinya
menyerang bertubi-tubi dengan pukulan yang mengeluarkan
uap hitam ber-bau amis. Itulah ilmu silat Pat-hong Hong-ci
(Delapan Penjuru Angin Hujan) dan pukulan itu mengandung
ilmu Ban tok-ciang (Tangan Selaksa Racun)!
Maklum akan kelihaian lawan dengan ilmu silatnya yang
dahsyat itu, Han Lin atau Pangeran Cheng Lin segera mainkan
ilmu andalannya, yaitu Ngo-heng Sin-kun (Silat Sakti Lima
Unsur) dan untuk mengimbangi pukulan lawan yang
mengandung Ban-tok-ciang, dia mengerahkan Jit-goat Sinkang
(Tenaga Sakti Matahari dan Bulan). Terjadilah
perkelahian tangan kosong yang hebat sekali. Yang tampak
hanya bayangan tubuh Han Lin berkelebatan di sekitar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bayangan tubuh Toa Ok yang berpusing seperti gasing.
Kadang-kadang dua buah lengan bertemu dan ruangan itu
seolah tergetar. Mereka saling serang dan sekali ini, karena
tidak melihat kemungkinan melarikan diri, Toa Ok
mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan
seluruh tenaganya. Han Lin melawannya dengan hati-hati
sehingga pertandingan itu berlangsung seru.
Sementara itu, Suma Kiang sudah terdesak hebat oleh Sian
Eng. Setelah Sian Eng menerima bimbingan dan gemblengan
ilmu silat selama lima tahun dari Hwa Hwa Cin-jin, tingkat ilmu
silatnya memang sudah lebih tinggi dibandingkan tingkat
Suma Kiang. Akan tetapi ini bukan satu-satunya sebab
mengapa ia dapat mendesak Suma Kiang dengan mudah.
Sebetulnya kalau Suma Kiang menghendaki, dengan
kematangan pengalamannya, tidak akan begitu mudah bagi
Sian Eng untuk mengalahkannya.
Yang membuat Suma Kiang lemah melawan Sian Eng
karena saat itu seluruh kasih sayangnya terhadap Sian Eng
bangkit. Teringat dia ketika gadis itu masih kecil, sering
digendong dan ditimangnya dengan penuh kasih sayang
seorang ayah. Bagaimana sekarang dia akan tega untuk
membunuh atau bahkan melukai anak yang tersayang itu?
Gejolak hati dan pikirannya ini membuatnya lemah dan
permainan pedangnya menjadi kacau. Namun, karena
pengalaman yang matang membuat gerakan pedangnya
seperti otomatis, seolah sepasang pedang itu telah menyatu
dan menyambut kedua tangannya, maka dia masih terus
dapat menghindarkan diri dari semua serangan Sian Eng
dengan elakan atau tangkisan.
Akan tetapi, setelah puluhan jurus lewat, Suma Kiang
menjadi semakin terdesak dan akhirnya, ketika sepasang
pedang Suma Kiang menggunting pedang Sian Eng yang
membacok ke arah kepalanya, menahan pedang itu sehingga
terjepit sepasang pedang, tiba-tiba saja tangan kiri Sian Eng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memukul dengan dorongan telapak tangan ke arah dada
Suma Kiang.
"Wuuuttt.....dessss....!!" Itulah pukulan Toat-beng Tokciang
(Tanga Beracun Mencabut Nyawa) yang amat ampuh,
tepat mengenai dada Suma Kiang. Biar-pun Suma Kiang telah
mengerahkan sin-kang untuk melindungi dadanya, tetap saja
tubuhnya terjengkang, sepasang pedangnya terlepas dan
tubuhnya terbanting keras ke belakang. Dia telah menderita
luka dalam dadanya. Sian Eng melompat maju mengejar dan
ujung pedangnya telah menempel di leher Suma Kiang!
Suma Kiang yang sudah telentang tak berdaya itu
memandang kepada Sian Eng. "Eng-ji, di tempat ini juga aku
menyelamatkanmu ketika engkau tertangkap, dan di tempat
ini juga engkau akan membunuhku? Bunuhlah, anakku, kalau
itu yang kau inginkan, bunuhlah...." kata Suma Kiang yang
sudah putus asa.
Sian Eng tertegun. Terbayang ia ketika ia malam-malam
datang ke gedung ini, kemudian ia dikeroyok dan dijatuhkan
oleh Pangeran Cheng Lin palsu. Ia tentu sudah mati kalau saja
Suma Kiang tidak menahan Toa Ok kemudian mengakuinya
sebagai puterinya sehingga ia tidak sampai dibunuh.
Terbayang pula olehnya akan semua kebaikan yang pernah
dilimpahkan orang yang kini ditodongnya itu kepadanya dan
diapun menarik napas panjang dan menarik kembali
pedangnya. Para perwira memimpin anak buah mereka untuk
menangkap Suma Kiang yang lalu diborgol dan dibawz pergi
dari situ sebagai tawanan.
Pada saat itu, perkelahian antara Han Lin dan Toa ok sudah
mencapai puncaknya Ketika dengan marah dan penasaran Toa
Ok memukul lagi dengan penggunaar Ban-tok-ciang
sekuatnya, Han Lin menyambutnya dengan totokan satu jari It
yang-ci.
"Ciuuuuuttt.... tukkk!" Toa Ok mengeluarkan teriakan aneh
ketika telapak tangannya bertemu dengan totokan jari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telunjuk Han Lin. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan
diapun roboh terpelanting muntah darah. Han Lin memberi
isarat kepada perwira pengawal yang cepat mengerahkan
anak buahnya untuk menangkap dan membelenggu Toa Ok.
Kakek tinggi besar yang usianya sudah tujuh puluh tahun ini
sudah tidak berdaya dan menurut saja ketika ditangkap.
Seluruh penghuni gedung itu ditangkap dan dimasukkan
penjara, menunggu jatuhnya hukuman yang diberikan oleh
pengadilan. Beberapa hari kemudian sidang pengadilan dibuka
dan Pangeran Cheng Boan. Suma Kiang. dan Toa Ok dijatuhi
hukuman mati karena mereka di-anggap orang-orang yang
bersekongkol untuk memberontak dan mengatur pembunuhan
terhadap para pangeran. Adapun anggauta keluarga Pangeran
Cheng Boan dan para pelayan yang bekerja padanya juga
mendapat hukuman buang karena mereka dianggap orangorang
yang dapat membahayakan keluarga istana.
Cheng Hian Hwesio diterima oleh Kaisar Cheng Tung dan
diangkat menjadi kepala kuil istana di mana kakek yang udah
amat tua itu dapat melewatkan sisa hidupnya dengan
tenteram dan tenang.
Han Lin diterima sebagai anak kandung Kaisar Cheng Tung
dan dinobatkan menjadi seorang pangeran. Pengangkatan
sebagai Pangeran Cheng Lin itu dirayakan dengan pesta yang
dikunjungi oleh seluruh keluarga istana dan para menteri dan
pejabat tinggi.
Lo Sian Eng dan Tan Kiok Hwa yang sejak peristiwa itu
untuk sementara diminta tinggal di istana keputrian, hadir pula
dalam perayaan pesta itu. Kedua orang gadis ini merasa
gembira dan berbahagia sekali melihat pria yang mereka cinta
itu duduk dengan anggun dan gagah dalam pakaian pangeran
yang indah dan mewah, membuat dia tampak semakin
tampan dan gagah. Akan tetapi, diam-diam ada perasaan
pedih di hati mereka. Mereka melihat seolah-olah Han Lin kini
berada jauh tinggi di antara bintang-bintang sedangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka berada di atas tanah yang demikian rendah. Akan
tetapi Kiok Hwa tampak tenang saja sedangkan Sian Eng
dapat menutupi kepedihan hatinya dengan wataknya yang
gembira dan wajahnya yang cerah. Ia tersenyum-senyum
manis seperti biasa. Akan tetapi dari pandang mata mereka,
dua orang gadis ini dapat saling menjenguk dan melihat
keadaan hati masing-masing. Semenjak Sian Eng mengetahui
betapa Kiok Hwa yang dia tahu saling mencinta dengan Han
Lin mengalah dan sengaja pergi meninggalkan ia dan Han Lin
berdua, perasaan hati Sian Eng terhadap Kiok Hwa sudah
berubah sama sekali. Kalau dulu ia merasa cemburu dan
benci, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Apalagi
setelah Kiok Hwa menolongnya dan menyembuhkannya ketika
ia terluka di dalam pondok hutan itu bersama Han Lin, ia
merasa suka dan kagum sekali kepada Kiok Hwa. Ia merasa
benar akan perbedaan antara ia dan Kiok Hwa. Kiok Hwa
seorang gadis budiman, cantik jelita dan lemah lembut budi
pekertinya, ramah dan tulus sikapnya. Sebaliknya ia sendiri
adalah seorang gadis yang keras dan kasar, mudah marah.
Kini ia melihat bahwa Han Lin sudah benar dan tepat kalau
memilih Kiok Hwa.
Dua orang gadis itu sudah berhenti makan minum dan
keduanya duduk termenung. Tiba-tiba Pangeran Cheng Lin
atau Han Lin menghampiri meja mereka. Dua orang gadis itu
memandang dan segera berdiri. Yang mereka hadapi sekarang
bukanlah Han Lin pemuda biasa lagi, melainkan Pangeran
Cheng Lin yang harus mereka hormati.
Pangeran Cheng Lin tersenyum melihat dua orang gadis itu
bangkit berdiri. "Mari kalian berdua ikut aku ke taman, aku
hendak bicara dengan kalian. Di sini terlalu banyak orang dan
terlalu berisik, tidak leluasa kita bicara." katanya dan dua
orang gadis itu hanya mengangguk dan mengikutinya keluar
dari ruangan itu melalui pintu samping dan mereka memasuki
taman istana yang luas dan indah. Pangeran Cheng Lin
berjalan dengan tenang, tanpa berkata-kata, menuju ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah pondok merah mungil yang berdiri di dekat kolam
ikan. Hari sudah siang dan matahari bersinar cerah. Akan
tetapi duduk di pondok itu sungguh nyaman dan sejuk. Selain
pondok itu memberi keteduhan, juga di sekitar pondok
tumbuh banyak pohon cemara dan di kolam itu terdapat air
mancur yang mengeluarkan bunyi gemercik.
Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja bundar
kecil. Dua orang gadis itu duduk dengan kepala tunduk.
Mereka merasakan suasana yang sejuk nyaman, akan tetapi
juga merasa canggung dan salah tingkah. Dua orang gadis Itu
menundukkan muka dan menanti dengan jantung berdebar
penuh ketegangan tanpa mengetahui apa yang menyebabkan
hati mereka merasa tegang. Kehadiran pemuda itu sebagai
seorang pangeran tulen sungguh membuat mereka menjadi
bingung, tidak tahu bagaimana harus bersikap, tidak tahu
harus mengeluarkan suara bagaimana. Bahkan Sian Eng yang
biasanya tabah dan tidak pernah merasa rikuh itu, kini kedua
pipinya menjadi kemerahan dan rasanya ingin menangis
karena bingung dan salah tingkah.
Akhirnya Kiok Hwa yang dapat lebih dulu menenangkan
hatinya. Gadis ini memang biasanya bersikap tenang
menghadapi apapun juga dan dapat menguasai perasaannya
sepenuhnya.
"Pangeran, apakah yang hendak paduka bicarakan dengan
kami berdua?"
Pangeran Cheng Lin tersenyum mendengar sebutan
pangeran dan paduka yang dipergunakan Kiok Hwa itu. "Ain,
Hwa-moi, aku masih tetap Lin-ko seperti dulu. Apa salahnya
engkau memanggilku dengan sebutan tetap Lin-ko? Namaku
Han Lin atau Cheng Lin sama saja, dapat kau sebut Lin-ko."
Setelah Kiok Hwa bicara, timbul keberanian dalam hati Sian
Eng dan iapun menatap wajah pemuda itu dan berkata tegas.
"Enci Kiok Hwa benar. Paduka adalah seorang pangeran,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagaimana kami berani mempergunakan sebutan akrab
seperti dulu lagi?"
"Wah, Eng-moi, engkau juga ikut-ikutan. Bukankah
hubungan antara kita masih akrab seperti dahulu? Justeru aku
mengajak kalian berdua ke sini untuk membicarakan tentang
hubungan antara kita bertiga."
Dengan lembut Kiok Hwa bangkit berdiri. "Pangeran Cheng
Lin, biarlah saya mohon pamit.... saya akan pergi, saya tidak
berhak mengganggu paduka berdua adik Sian Eng. Paduka
cocok sekali untuk berjodoh dengan adik Sian Eng yang amat
mencintai paduka. Selamat tinggal, pangeran. Selamat tinggal
dan berbahagialah, adik Sian Eng....." Kiok Hwa membalikkan
tubuhnya dan hendak melangkah pergi meninggalkan taman.
"Nanti dulu, Hwa-moi!" Pangeran Cheng Lin melompat
dekat gadis itu dan memegang lengannya. "Engkau tidak
boleh pergi meninggalkan aku begitu saja!"
Melihat pemuda itu menahan kepergian Kiok Hwa dan
memegangi lengannya. Sian Eng juga bangkit berdiri dan ia
berkata dengan tegas. "Tidak, enci Kiok Hwa! Engkau tidak
boleh pergi meninggalkan Pangeran Cheng Lin. Bukan engkau
yang harus pergi, melainkan aku! Pangeran Cheng Lin, saya
mohon diri, saya tidak boleh mengganggu ikatan cinta antara
paduka dan enci Kiok Hwa. Paduka sepantasnya berjodoh
dengan enci Kiok Hwa karena saya tahu bahwa paduka dan ia
saling mencinta. Saya tidak tahu diri. Selamat tinggal,
pangeran, selamat tinggal, enci Kiok Hwa!" Sian Eng menahan
isaknya dan berlari dari dalam pondok.
"Eng-moi..... tunggu!" Pangeran Cheng Lin berlari cepat
mengejar dan dia menyambar dan memegang lengan Sian
Eng. "Tidak, engkau juga tidak boleh pergi. Mari, dengarlah
dulu kata-kataku, kita bertiga bicara dulu. Setelah itu baru
kalian boleh mengambil keputusan!" Dia menarik lengan Sian
Eng dan gadis itu terpaksa menurut dan berjalan kembali ke
dalam pondok. Setelah tiba di dekat Kiok Hwa, Sian Eng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melepaskan diri dan merangkul Kiok Hwa sambil mengusap air
matanya.
"Aku ingin melihat engkau berbahagia! enci." katanya lirih.
"Aku juga tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu, adik
Eng." kata Kiok Hwa sambil balas merangkul.
"Kalian duduklah, Hwa-moi dan Eng moi. Hatiku terharu
dan kagum sekali melihat kalian. Kalian adalah orang-orang
yang berjiwa besar dan berhati mulia, memiliki cinta kasih
sejati. Cinta kasih sejati tidak membuat orang tidak
mementingkan kesenangan dan kepentingan diri pribadi,
melainkan mementingkan kebahagiaan orang yang
dikasihinya. Akupun sayang kepada kalian, tidak perlu aku
berdusta. Aku mencintamu, Hwa-moi. Akan tetapi akupun
amat sayang padamu, Eng-moi. Aku tidak ingin melihat kalian
menderita. Aku ingin melihat kalian berbahagia. Karena itu,
tidak mungkin aku hidup berbahagia berdua saja dengan adik
Tan Kiok Hwa kalau hal itu akan membuat adik Lo Sian Eng
kesepian dan menderita, sebaliknya akupun tidak mungkin
dapat hidup berbahagia berdua saja dengan Eng-moi kalau hal
itu akan membuat Hwa-moi kesepian dan merana." Pangeran
Cheng Lin berhenti sebentar dan menghela napas panjang.
Kesempatan itu dipergunakan Kiok Hwa untuk berkata dengan
nada penuh pertanyaan.
"Pangeran, lalu apa maksud paduka? Ucapan paduka itu
sungguh membingungkan."
"Benar sekali pertanyaan enci Kiok Hwa? Apa sih maumu,
Pangeran? Paduka bicara seperti teka-teki, begini tak benar
dan begitu salah. Lalu bagaimana baik-nya?" tanya Sian Eng.
Wajah Pangeran Cheng Lin berubah kemerahan. "Aku....
eh, aku tidak bermaksud ingin mencari senang sendiri....
maksudku...... begini saja: Hanya ada dua pilihan, yaitu kita
bertiga hidup bersama dan menikmati kebahagiaan hidup
bersama. atau kalau hal itu tidak mungkin kalian lakukan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
biarlah kita bertiga berpisah dan mengambil jalan hidup
masing-masing. Aku sungguh tidak ingin mendapatkan yang
satu dan kehilangan yang lain."
Kiok Hwa bangkit berdiri, juga Sian Eng dan mereka berdua
saling pandang dengan mata terbelalak.
"Maksudmu.....?" Kiok Hwa memandang pemuda itu
dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"..... paduka ingin menikah dengan kami berdua?" sambung
Sian Eng.
Pangeran Cheng Lin menghela napas panjang lalu
mengangguk, menahan perasaan rikuhnya. "Kalau kalian
setuju. Itulah jalan terbaik bagiku. Aku akan berusaha untuk
bersikap adil dan akan membahagiakan kalian berdua."
Pada saat itu terdengar tepuk tangan dari luar pondok dan
Pangeran Cheng Lin cepat bangkit berdiri. Kiranya Pangeran
Cheng Hwa yang melangkah masuk sambil tertawa dan
bertepuk tangan.
"Bagus, bagus sekali! Kionghi (selamat), adinda Cheng Lin!
Tentu saja engkau boleh menikah dengan mereka, karena
sebagai pangeran, engkau diperkenankan memiliki sampai
lima orang isteri."
Pangeran Cheng Lin sudah maju menyambut Pangeran
Cheng Hwa dan otomatis Sian Eng dan Kiok Hwa juga maju
memberi hormat. Tanpa disengaja Kiok Hwa berdiri di sebelah
kanan Pangeran Cheng Lin dan Sian Eng berdiri di sebelah
kirinya. Mendengar ucapan Pangeran Cheng Hwa itu, kedua
orang gadis itu terbelalak dan serentak mereka menoleh dan
memandang kepada Pangeran Cheng Lin dengan alis berkerut.
"Lima orang......? Wah..... tak mungkin itu....." kata Kiok
Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lima orang isteri? Tidak sudi aku. Aku dan enci Kiok Hwa
berdua saja sudah cukup. Kalau ada yang lain lagi, seorang
lagi saja, aku akan minggat!" teriak Sian Eng cemberut.
"Ha-ha-ha-ha!" Pangeran Cheng Hwa terbahak. "Kionghi,
adinda, kionghi....!" Dan sambil terus tertawa dia
meninggalkan pondok itu.
Pangeran Cheng Lin menggerakkan kedua tangannya.
Tangan kirinya merangkul pundak Sian Eng dan tangan
kanannya merangkul pundak Kiok Hwa. "Jangan khawatir, aku
akan hidup selamanya dengan kalian berdua calon-calon
isteriku yang tercinta, tidak akan ada yang lain."
"Paduka berani bersumpah, pangeran?" Seperti diatur saja,
ucapan ini keluar dan bibir kedua orang gadis itu.
"Aku bersumpah kepada Tuhan, langit bumi menjadi saksi
bahwa aku, Pangeran Cheng Lin, tidak akan memiliki isteri lain
kecuali Tan Kiok Hwa dan Lo Sian Eng. Nah, akan tetapi
sekarang kalian harus memenuhi satu permintaanku."
"Apa itu?" tanya mereka berdua dari kanan kiri.
"Sebut aku Lin-ko, bukan pangeran!"
"Lin-ko.....!" Kiok Hwa berkata lirih dan merdu.
"Lin-koko......!" Sian Eng mendesah manja.
Pangeran Cheng Lin merangkul kedua orang calon isterinya
itu dan mereka berdua bersandar ke dada yang bidang itu dari
kanan kiri sambil memejamkan mata.
Berbahagialah tiga orang manusia yang selalu menjunjung
tinggi dan membela kebenaran dan keadilan itu, tiga orang
muda yang telah menemukan cinta kasih yang sejati, bukan
sekedar cinta nafsu belaka. Cinta kasih sejati baru akan dapat
bernyala di dalam hati manusia bila mana hati itu sudah bebas
daripada kebencian, dan kebencian baru akan dapat lenyap
apabila hati penuh dengan maaf dan pengampunan terhadap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesama yang bersalah kepada kita. Akan tetapi, karena hati
akal pikiran kita sudah dikuasai nafsu, maka amat sukarlah
untuk dapat mengampuni dan tidak mendendam kepada
orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Hanya kalau
Kekuasan Tuhan bekerja dalam hati sanubari kita, memberi
bimbingan kepada kita, barulah hal itu dapat terlaksana.
Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu menundukkan
nafsu-nafsu yang selalu mempermainkan dan memperhamba
hati akal pikiran kita. Dan Kekuasaan Tuhan hanya akan
bekerja sepenuhnya apabila kita menyerah dengan penuh
kepasrahan, penuh keikhlasan, dengan sepenuh keimanan
kita.
Pangeran Cheng Lin menjadi tangan kanan Pangeran
Cheng Hwa. Bahkan beberapa tahun kemudian, ketika
Pangeran Mahkota Cheng Hwa menggantikan ayahnya
menjadi kaisar, Pangeran Cheng Lin menjadi pembantu utama
dan penasihatnya yang amat dipercaya dan dapat diandalkan.
Sampai di sini pengarang mengakhiri kisah Suling Pusaka
Kemala ini dengan harapan semoga dapat menghibur para
pembaca dan sedikit banyak mengandung manfaat bagi kita
semua.
Amin.
T A M A T
Lereng Lawu, akhir Juli 1989.
PENERBIT CV GEMA
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:

Cersil Keren

Pecinta Cersil