Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cerita Silat Cinta Kho Ping Hoo 1 Tiga Naga Sakti

Cerita Silat Cinta Kho Ping Hoo 1 Tiga Naga Sakti Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Cinta Kho Ping Hoo 1 Tiga Naga Sakti
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Cinta Kho Ping Hoo 1 Tiga Naga Sakti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seri Lepas
Tiga Naga Sakti
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Sumber DJVU : Syaugy_ar
Editor : Jisokam & Budi S
Ebook oleh : Dewi KZ
TIRAIKASIH WEBSITE
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
Daftar Isi
Seri Lepas
Jilid I
Jilid II
Jilid III
Jilid IV
Jilid V
Jilid VI
Jilid VII
Jilid VIII
Jilid IX
Jilid X
Jilid XI
Jilid XII
Jilid XIII
Jilid XIV
Jilid XV
Jilid XVI
Jilid XVII
Jilid XVIII
Jilid XIX
Jilid XX
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid XXI
Jilid XXII
Jilid XXIII
Jilid XXIV
Jilid XXV
Jilid XXVI
Jilid XXVII
Jilid XXVIII
Jilid XXIX
Jilid XXX
Jilid XXXI
Jilid XXXII
Jilid XXXIII
Jilid XXXIV
Jilid I
“HUKK -- hukk -
hukk....... ! Gerrrr........
hukk-hukkk!!" Anjing kurus
kering penuh kudis itu
menyalak-nyalak, matanya
yang merah dan jalang
melotot, lidahnya terjulur
dan meneteskan air liur,
kelihatan marah sekali dan
siap menerkam dua orang
anak laki-laki yang berdiri
menghadang di depannya.
Dua orang anak laki-laki
yang juga kurus kering,
entah siapa yang lebih
kurus antara anjing itu dan
mereka. Karena tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagian atas kedua orang anak itu tidak berbaju, maka nampak
pula tulang-tulang iga menonjol dibungkus kulit, sekurus
anjing itu pula. Hanya bedanya, kalau anjing itu kelihatan liar
dan jalang, adalah dua orang bocah itu kelihatan marah
namun juga membayangkan perasaan takut.
Di belakang dua orang anak laki-laki itu nampak seorang
anak perempuan yang berusia paling banyak lima tahun,
hanya lebih muda satu dua tahun dibandingkan dengan dua
orang bocah laki-laki itu. Anak perempuan inipun kurus kering
dan pucat, pakaiannya kotor dan cabik-cabik, dia menangis
ketakutan sambil duduk di atas tanah memegang seekor ayam
yang telah mati. Bangkai ayam ini dipegangnya erat-erat
bagaikan seorang yang kikir memegang kantong uangnya,
bahkan lebih lagi, seperti seorang ibu melindungi anaknya dari
ancaman bahaya !.
Anjing itu menyalak-nyalak lagi dengan ganasnya. Suara
gerengannya menambah seram keadaan dan suasana di
sekeliling tempat itu. Mereka berada di sebuah jalan raya yang
sunyi, dan di kanan kiri jalan nampak puing rumah-rumah
yang telah hancur tidak nampak seorangpun manusia kecuali
tiga orang anak kecil dan seekor anjing yang agaknya saling
memperebutkan bangkai ayam yang dipegang oleh anak
perempuan itu.
"Hsssttt.......! Pergi kau, anjing gila!" bentak seorang di
antara dua bocah yang berdiri dengan tangan terkepal itu.
"Hieeeehhhh.......! Pergi kau, binatang jahat !" bentak anak
ke dua.
Anjing itu terkejut mendengar bentakan mereka, nampak
ragu-ragu, akan tetapi ketika matanya menatap kearah
bangkai ayam di dalam pelukan anak perempuan itu, dia
menggereng lagi dan tiba-tiba dia menyerbu, hendak
menerobos di antara dua orang anak kecil yang seolah-olah
merupakan "pengawal" atau "penjaga" itu dan merampas
bangkai ayam dari tangan anak perempuan tadi. Anak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perempuan itu menjerit ketakutan melihat anjing yang
menyalak-nyalak dan menggereng itu kini menyerbu. Dia
bangkit berdiri dan kedua kakinya menggigil.
Akan tetapi, dua orang anak laki-laki yang usianya paling
banyak tujuh tahun itu, menjadi marah dan mereka berdua
menyambut serbuan anjing dengan kaki tangan mereka yang
kurus dan kecil itu digerakkan, memukul, menyepak dan
membetot ekor binatang itu. Anjing itu meraung marah dan
membuka mulut hendak menggigit. Dengan gerakan ganas,
dia membuka moncongnya dan mengigit ke arah tangan yang
membetot ekornya.Pegangan pada ekor itu terlepas, anak
yang bertahi lalat di dahinya cepat menarik tangannya agar
jangan tergigit. Bocah
kedua menyepak perut
binatang itu.
"Bukk !
Kainggg............! ! "
Anjing itu marah
karena kesakitan, dia
menggigit ke arah kaki
yang menendangnya tadi
dan berhasil menggigit
celana yang sudah
compang-camping itu .
"Breeettt........'" Anak
itu tertolong oleh
keadaan celananya
sendiri yang sudah robek sebelumnya. Gigitan anjing itu hanya
mengenai celananya yang robek sehingga celana itu makin
lebar robeknya. Ketika anjing itu hendak menyerbu lagi,
sebelum giginya yang runcing kuat itu dapat dibenamkanya ke
dalam kulit pembungkus tulang kaki anak-anak itu, tiba-tiba
nampak sinar hitam berkelebat menyambar. Sinar kecil yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ternyata adalah sebutir batu kerikil dan yang menyambar
tepat mengenai kepala anjing kurus itu.
"Trakkk....... nguuukkk.......!" Anjing itu terguling,
mengeluarkan raung terakhir dan roboh dengan kepala pecah,
tewas seketika.
Dua orang anak laki-laki itu bersikap acuh tak acuh
terhadap seorang kakek tua yang tadi menyambit anjing itu.
Mereka kini menghampiri anak perempuan yang masih
memegang bangkai ayam dan yang didekapnya dengan ketat
di dadanya yang tipis. Sepasang matanya yang sayu
memandang terbelalak kepada mereka berdua dan tiba-tiba
terdengar suaranya yang nyaring, "Jangan ambil
ayamku.......... jangan ambil......., aku lapar........" Suara ini
setengah bermohon dan setengah menegur.
"Siapa yang hendak mengambil ayammu ? Kau makanlah,
aku tidak sudi merampas makanan milik anak perempuan !"
kata seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat kecil
di dahinya, di tengah-tengah.
"Kami telah menolongmu, sebaliknya kamu menuduh kami
hendak merampas ayammu. Memang anak perempuan tidak
tahu terima kasih!" kata anak laki-laki kedua yang berwajah
tampan sambil bersungut sungut.
Anak perempuan itu memandang dengan sepasang
matanya yang bening dan lebar, kelilihatan amat lebar besar
karena Wajahnya yang kurus sekali dan pucat itu sehingga
mukanya seolah-olah dipenuhi oleh kedua matanya itu.
Kemudian tiba-tiba dia tersenyum dan mengulurkan kedua
tangannya yang memegang bangkai ayam itu kepada mereka.
"Marilah, kita bagi bertiga !" katanya.
Dua orang anak laki-laki itu saling pandang dan merekapun
tersenyum. Anak yang bertahi lalat di dahinya itu lalu
menerima bangkai ayam dan mencabuti semua bulu bulunya,
dibantu oleh temannya yang tampan wajahnya dan oleh anak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perempuan itu pula. Mereka bertiga bekerja sambil tertawa
ha-ha-hi-hi penuh kegembiraan, dan terkekeh geli melihat
betapa kepala ayam itu bergerak-gerak mengangguk-angguk
seperti membenarkan semua perbuatan mereka. Setelah
semua bulu ayam dibersihkan, mereka lalu menggabung
tenaga mereka untuk menarik kedua kaki ayam, merobek kulit
daging bangkai ayam itu, membaginya tanpa berebutan lalu
mereka makan daging ayam itu mentah-mentah !.
Kakek yang tadi menyambit anjing, kini berdiri seperti
patung menyaksikan ini semua, mula-mula terbelalak,
wajahnya berobah pucat, kemudian dia memejamkan matanya
untuk beberapa saat lamanya. Jantungnya terasa seperti
ditusuk-tusuk ketika dia menyaksikan betapa lahapnya tiga
mulut manusia kecil itu mengunyah daging ayam mentah.
Sudah terlampau banyak yang disaksikannya selama
beberapa bulan ini. Peristiwa demi peristiwa yang makin
menekan perasaan hatinya. Korban-korban perang yang amat
mengerikan dan menyedihkan. Ketika dia memejamkan mata
dengan alis berkerut, dia melihat cahaya kemerahan
membayang di depan kedua matanya yang terpejam. Warna
merah, warna api, warna perang!.
Perang !! Kata ini, diucapkan dalam bahasa apapun,
merupakan kutukan hebat bagi setiap bangsa, merupakanbencana
yang paling mengerikan dan menyedihkan bagi setiap
orang manusia! Siapakah orangnya yang tidak ngeri melihat
perang, kengerian.yang menimbulkan kebencian dan
kemuakan terhadap perang? Siapakah yang suka akan perang,
kecuali mereka yang memang mempergunakan perang.
sebagai jembatan untuk mencapai idam-idaman hati mereka
yang penuh kekotoran ? Biarpun mungkin ada orang yang
tidak mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri dalam perang,
setidak-tidaknya dia akan merasa ngeri apabila dia mengingat
bahwa perang dapat membinasakan seluruh harta bendanya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seluruh keluarganya, isteri, anak, handai taulan dan orangorang
yang paling dia cinta di dalam dunia ini.
Perang menimbulkan bunuh-membunuh antara manusia,
kekacauan, pengkhianatan, kekejaman, perbuatan-perbuatan
yang tidak patut dilakukan oleh manusia yang berakal budi
dan yang menganggap dirinya sebagai mahluk semuliamulianya
di permukaan bumi ini. Perang diliputi oleh nafsu
merusak semata, nafsu membunuh dan membinasakan yang
hidup dan yang indah. Semua perbuatan keji tidak ada yang
diharamkan, semata-mata karena terdorong oleh nafsu ingin
menung ! Tidak ada seorang pun yang ingat bahwa
kemenangan adalah sesuatu yang hampa, bahwa
kemenangan menimbulkan dendam permusuhan, dan bahwa
kesenangan karena menang perang menimbulkan penyesalan,
penderitaan, dan kebosanan !
Memang, perang adalah kutukan dan bencana bagi setiap
orang manusia, dan pada umumnya perang dibenci oleh
rakyat, semenjak jaman dahulu sehingga sekarang.
Seperti juga semua negara di dunia ini, semenjak dahulu
Tiongkok selalu dilanda perang yang tiada lain menimbulkan
penderitaan dan kesengsaraan kepada rakyat. Pada sekitar
tahun 755, selama kurang lebih delapan tahun, di waktu
Kaisar Hian Tiong menjadi raja, rakyat telah menderita karena
timbulnya perang yang tiada hentinya. Kaisar mengangkat
seorang Suku Bangsa Tartar bernama An Lu San menjadi
seorang panglima besar yang diberi kekuasaan penuh di
Propinsi Ho-pei. Akan tetapi, panglima ini setelah memiliki
kekuasaan besar dan mengepalai banyak tentara, lalu
memberontak, memimpin limabelas laksa tentara memukul
dan menyerbu ke arahselatan. Kaisar Hian Tiong terpaksa lari
mengungsi ke Propinsi Se-cuan karena bala tentaranya tidak
dapat menahan serbuan yang dilakukan serentak dan tak
disangka-sangka ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semenjak peristiwa itu, perang terus berkobar. Akhirnya,
berkat perlawanan rakyat jugalah maka pemberontakpemberontak
itu dapat dipukul mundur, padahal ketika terjadi
perang, rakyat pula yang harus menderita paling hebat. Kaisar
sendiri dan para pembesar di waktu pernng dan biarpun
mereka harus mengungsi, tetap saja dalam keadaan aman
terjaga, dan tidak kekurangan! Bahkan di dalam pengungsian,
para pembesar itu masih menikmati hiburan-hiburan yang
disajikan oleb pembesar - pembesar setempat. Kesenangankesenangan
yang mereka nikmati di waktu darah rakyat masih
belum kering membasahi bumi!.
Sampai pada saat Kaisar Hian Tong diganti oleh Kaisar Su
Tiong, perang masih merajalela. Kini perang itu ditimbulkan
oleh pemberontak-pemberontak yang pimpinannya telah
diganti pula oleh pemberontak Sie Se Ming.
Di dalam peperangan yang ditimbulkan oleh
pemberontakan-pemberontakan ini, siapapun yang bersalah
dalam hal ini, baik fihak kaisar maupun fihak pemberontak,
yang sudah pasti adalah bahwa rakyatlah yang menderita
karenanya. Para tentara yang memberontak itu melakukan
segala macam kejahatan, seperti biasa dilakukan oleh bala
tentara fibak yang menang perang di bagian dunia manapun
juga. Perkampungan dibakar, dirampok, penduduk dibunuhi
karena setiap orang mereka curigai dan mereka tuduh sebagai
anggauta-anggauta barisan gerilya yang dilakukan oleh para
pemuda kampung setempat yang mereka anggap membantu
musuh. Laki - laki dibunuhi secara kejam, wanita-wanita
diganggu dan diperkosa, anak-anak kecil dibunuh pula dengan
cara yang amat kejam dan di luar, batas perikemanusiaan. Di
dalam perang, iblis dan setan berpesta-pora dan hasil
keindahan seni alam diinjak-injak hancur, sedikitpun tidak ada
harganya lagi. Begitu perang berkuasa, nafsu dendam dan
kebencian menguasai manusia sehingga manusia yang tadinya
merupakan mahluk yang setinggi-tingginya, berubah menjadi
mahluk yang serendah-rendahnya, tidak ada harganya lagi!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam perang, nyawa seekor ayam jauh lebih berharga dari
pada nyawa seorang manusia. Ayam dibunuh untuk
dimanfaatkan dagingnya, namun manusia yang dianggap
musuh dibunuh begitu saja ! ratusan, ribuan, laksaan, jutaan!.
Terutama sekali di dusun-dusun yang dilalui oleh
rombongan kaum pemberontak di bawah pimpinan An Lu San
ketika mereka menyerbu keselatan, segala macam kekejaman
yang sukar dibayangkan manusia normal, terjadilah. Dusundusun
yang dilalui itu dibakar habis dan entah berapa puluh
atau ratus ribu jiwa orang-orang kampung dibinasakan oleh
bala tentara pemberontak itu. Dan oleh karena yang dirampok
bukan hanya harta benda yang berada di dalam rumah,
melainkan juga hasil sawah ladang disikat habis untuk
dijadikan persediaan ransum bagi barisan pemberontak yang
berjumlah besar itu, maka keadaan dusun-dusun itu ludes
sama sekali. Bahkan sawah ladang yang tidak sempat mereka
rampok, mereka bakar habis dengan dalih agar merugikan
fihak musuh .
Hal ini membuat rakyat selain menderita karena kekejaman
mereka, juga menderita ancaman bahaya kelaparan karena
kehabisan makanan sebelum sawah ladang mereka yang
dibakar itu sempat menghasilkan panen baru. Belum lagi
wabah yang mengerikan timbul sebagai akibat dari mayatmayat
manusia yang membusuk karena tidak sempat dikubur
sebagaimana mestinya itu. Sisa orang-orang yang berhasil
menyelamatkan diri dari tangan maut yang menjangkau
nyawa mereka melalui pedang tombak dan golok para
pemberontak, kini diancam oleh tangan maut yang
mencengkeram perut mereka sendiri yang kosong, orangorang
yang mati kelaparan menggeletak di mana-mana.
Sementara itu, kaisar dan para pembesar masih sempat
berpesta pora merayakan "kemenangan" mereka atas fihak
pemberontak yang mengundurkan diri!.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek tua yang usianya tentu sudah mendekati tujuhpuluh
tahun, yang berjenggot panjang dan bertubuh tinggi kurus
namun masih nampak kuat itu, kini membuka mata mengelus
jenggotnya sambil memandang ke arah tiga orang anak kecil
yang sedangg melahap daging bangkai ayam mentah itu.
Tanpa disadarinya, kedua mata kakek ini menjadi basah.
Melihat mayat mayat manusia berserakan tidaklah begitu
menusuk perasaannya karena betapapun juga. mereka, itu
telah mati dan telah terbebas dari pada penderitaan jasmani.
Akan tetapi, melihat anak-anak keeil yang masih hidup
demikian menderita sungguh membuat hati terasa perih.
Anak-anak yang masih bersih dan murni, yang dalam usia
sekecil itu layaknya masih bermain-main dan membenamkan
diri dalam kebahagiaan dan keriangan, kini harus menderita
kelaparan, memperebutkan bangkai ayam dengan seekor
anjing kelaparan !.
Kakek tua itu membayangkan apa yang dilihatnya beberapa
hari yang lalu dan dia bergidik, kembali dia memejamkan
matanya. Namun, apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu
itu makin jelas, membayang ketika dia memejamkan matanya.
Ada seorang dusun yang menjadi gila! karena
penderitaannya dan karena rasa lapar yang mematahkan
jiwanya. Keluarga petani tua ini telah habis binasa menjadi
korban para memberontak,dan kini dia sendiri hampir binasa
karena kelaparan. Dia berlari ke sana ke mari menangis di
antara suara ketawanya yang mengerikan. Tubuhnya kurus
kering, kelihatan begitu ringan, akan tetapi kedua kakinya
seperti tidak bertenaga lagi sehingga tubuhnya terhuyung ke
sana-sini. Pakaiannya compang-camping setengah telanjang,
dan mulutnya menjerit-jerit di antara keluhan yang terdengar
setengah tertawa setengah menangis, "Lapar........
lapar..........!" .
Akan tetapi, siapakah yang dapat menolongnya ? Semua
orang berkeadaan sama, bahkan banyak pula yang lebih buruk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keadaanya dari pada kakek gila itu, karena mereka sudah
rebah di atas tanah atau di lantai gubuk bobroknya, rebah
tidak berdaya untuk bangkit kembali, tinggal menanti
datangnya maut menjemputnya dan membebaskan mereka
dari penderitaan itu.
Orang gila itu lari ke sawah yang masih kosong. Dia
menjatuhkan diri di atas tanah, menangis meraung-raung,
makin lama makin lemah, dan tiba-tiba matanya menjadi liar,
dicengkeramnya tanah lembek itu lalu dimakannya "Tanah......
tanah .... dari engkaulah segala makanan lezat terjadi.....ibu
tanah....... kalau anak-anakmu enak dimakan dan
mengenyangkan perut, mengapa engkau tidak....?"
Biarpun dia merasa betapa kasar dan tidak enak rasa tanah
itu di dalam mulutnya, namun dia memaksanya dan
menelannya memasuki perutnya. Akhirnya dia terkulai lemas
dan ketika kakek berjengeot panjang itu lari menghampiri, dia
mendapatkan kenyataan bahwa orang gila itu telah mati.
Kejadian seperti itu masih belum hebat. Bahkan ada orangorang
tua yang membunuh anak-anak mereka sendiri dengan
melemparkannya ke dalam sungai oleh karena sudah tidak
kuasa lagi memeliharanya. Hal seperti ini bukan dongeng
kosong belaka. Sayang, betapa baiknya kalau hanya dongeng.
Celakanya, hal seperti itu sungguh-sungguh terjadi! Dalam
kelaparan dan penderitaan itu, orang menjadi mata gelap dan
pertimbangan akal budinya sudah rusak. Tekanan penderitaan
menimbulkan kejahatan-kejahatan yang tidak segan-segan
dilakukan oleh seorang yang tadinya hidup secara baik-baik
dan terhormat. Rampok dan curi terjadi di mana-mana. Gadisgadis
dijual oleh ayah ibunya sendiri, ditukarkan dengan beras
yang dapat menghidupkan adik-adik para gadis itu.
Kejam, ganas, mengerikan! Demikianlah perang. Di
manapun dia merajalela, selalu mendatangkan kebinasaan dan
menimbulkan pelbagai kengerian yang tidak layak pula terjadi
di atas dunia yang telah dikuasai oleh manusia. Akan tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengapa kita masih saja mau dipermainkan oleh sekelompok
orang-orang di dunia ini, sekelompok orang-orang yang demi
mencapai ambisi mereka, tidak segan-segan membujuk rakyat
dengan pelbagai dalih agar rakyat suka berperang? Dalih
kebangsaan, dalih kehormatan, dan segala macam dalih
muluk-muluk lain yang pada hakekatnya-hanya menjadi
selubung dari ambisi, mereka, hanya menjadi slogan kosong
untuk membujuk rakyat agar mereka suka mempertaruhkan
nyawa dan keselamatan keluarga demi mencapai ambisi
sekelompok orang itu? Mengapa ?.Mengapa kita tidak mau
menyatakan dengan bulat-bulat: Terkutuklah perang !. Dan
terkutuk pula orang-orang yang dengan sengaja menyalakan
api peperangan ! Mampuslah orang-orang yang gila perang,
pergilah ke neraka jahanam ! Kami, manusia di seluruh dunia,
tidak membutuhkan kalian dan tidak membutuhkan perang, di
permukaan bumi yang kami kasihi ini ! ...
"Terkutuklah perang!!" Kakek yang berjenggot panjang itu
berseru keras sambil mengepal tinjunya.
Tiga orang anak itu terkejut mendengar seruan kakek itu.
Mereka serentak menengok dan melihat kakek itu kini
melangkah maju menghampiri mereka. Anak laki-laki berwajah
tampan itu cepat meloncat bangun dan mengepalkan kedua
tinjunya yang kecil sambil memandang kakek itu dan
membentak, "Jangan kau mencoba untuk merampok makanan
kami!" Dia berdiri dengan sikap gagah dan agaknya siap
hendak sungguh - sungguh melawan kakek itu apa bila dia
berani merampas daging ayam yang sedang mereka makan !.
Anak- laki-laki yang bertahi lalat di tengah dahinya segera
mencela kawannya, "Ah, jangan! Dia tidak akan mengganggu
kita. Dialah yang tadi membunuh anjing itu. Kakek yang baik,
kalau engkau juga merasa lapar, marilah kuberi sedikit dari
bagian daging ayamku." Dia lalu mengulurkan tangan yang
memegang daging mentah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aihhh.......anak-anak........aihh, kasihan sekali kalian.......!"
Kakek itu menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya
yang merasa amat terharu. "Aku tidak lapar dan tidak akan
mengganggu kalian. Akan tetapi, anak-anak yang baik, jangan
kalian makan daging mentah itu. Ayam ini telah mati karena
sakit, maka kalau dimakan mentah-mentah akan
membahayakan kesehatan. Kalian akan jatuh sakit."
Ketiga orang anak kecil itu memandang kepadanya dan
mulut mereka tersenyum, mata mereka memandang
terbelalak dan seolah-olah sinar mata mereka berkata, "Apa
artinya jatuh sakit? Tidak akan lebih menyakitkan dari pada
perut yang perih karena lapar!"
Kakek itu mengerti akan perasaan hati dan pikiran mereka,
maka dia lalu membuat api dan menyuruh mereka itu
memanggang daging ayam di atas api. Anak-anak itu segera
menurut dan memanggang daging ayam itu, karena memang
daging itu alot sekali dan lebih enak kalau dipanggang dan
dimakan matang .
Sementara itu, kakek tadi lalu menggali lubang, kemudian
menyeret bangkai anjing yang pecah kepalanya untuk dikubur.
"Kalau tidak dikubur, dia akan membusuk dan akan
menimbulkan penyakit," katanya.
Akan tetapi sebelum dia menimbun kembali lubang itu
dengan tanah, tiba - tika datang dua orang wanita tua yang
berteriak-teriak, "Jangan dikubur dia........, jangan........! !"
Mereka berlari menghampiri dan ketika kakek itu, memandang
dengan heran, dua orang wanita tua itu dengan girang sekali
lalu menubruk bangkai anjing itu dan membawanya lari sambil
berseru kegirangan, seolah-olah anak-anak kecil kelaparan
yang diberi makanan enak.
Kakek itu menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Ya Tuhan, semoga jangan terjadi lagi perang........"
doanya dengan lirih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah semua daging ayam yang terpanggang tanpa
bumbu itu habis dimakan oleh ketiga orang anak itu, kakek
berjenggot panjang itu lalu duduk mendekati mereka dan
bertanya, "Apakah kalian bertiga bersaudara ?"
Mereka bertiga memandang kepada kakek itu dengan mata
yang besar - besar karena wajah mereka kurus-kurus, lalu
mereka menggeleng kepala.
"Kami hanya sekampung ...... " kata anak laki - laki yang
bertahi lalat di tengah dahinya.Melihat tiga orang anak itu
membungkam selanjutnya dan kelihatan ber-curiga
kepadanya, kakek itu menarik napas panjang. Dia maklum
bahwa dalam keadaan seperti itu, tiga orang anak ini menjadi
orang-orang yang penuh curiga. Penderitaan yang bertubi-tubi
membuat mereka harus menjaga diri dan tidak percaya lagi
kepada orang lain, seperti seekor anjing yang selalu curiga
kepada orang asing.
"Anak-anak yang baik, ketahuilah bahwa aku bukanlah
seorang di antara mereka yang suka berperang. Aku seorang
pertapa dan aku merasa kasihan melihat kalian, aku berniat
untuk menolong kalian. Siapakah kalian ini dan di mana
keluarga kalian ?" Pertanyaan yang dikeluarkan dengan halus
ini melenyapkan kecurigaan mereka dan anak perempuan itu
setelah menatap wajah kakek itu beberapa saat lamanva, lalu
menukar pandang mata dengan dua orang anak laki-laki tadi
kemudian tersenyum.
"Kakek yang aneh..........."
"'Kenapa kaukatakan aku aneh ?" Kakek itu mengelus
jenggotnya.
"Engkau membantu kami membunuh anjing, engkau tidak
mau ikut makan, dan engkau hendak menguburkan anjing itu.
Bukankah itu aneh namanya?" kata anak perempuan itu dan si
kakek menghela napas. Betapa keadaan telah merobah
pendapat seseorang. Dalam keadaan akibat perang seperti itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sikapnya yang wajar dianggap aneh, dan mungkin dua orang
wanita tua yang melarikan bangkai anjing tadi tidak aneh lagi
bagi mereka bertiga ini!
"Hemm, mungkin kau benar. Nah, ceritakanlah siapa
kalian."
"Namaku Eng, she Kui. Aku........aku tidak tahu siapa
mereka ini, hanya mereka berdua ini kutemui di tempat
ini......."
"Di manakah rumahmu dan siapa orang tuamu, Kui Eng ? "
Ditanya demikian, Kui Eng tiba-tiba menangis. Dari kedua
matanya yang lebar itu mengalir beberapa butir air mata, akan
tetapi tidak banyak karena air matanya sudah dikuras habis
dalam waktu beberapa bulan ini.
"Ayah dan semua orang dalam rumah telah dibunuh......,
rumah kami dibakar....... dan ibuku dibawa lari penjahat........"
Kui Eng menjawab sambil megap-megap dan menangis makin
sedih. Kakek itu merangkulnya dengan hati terharu, mengelus
rambutnya karena dia tidak tahu bagaimana harus menghibur
anak yang kehilangan segala-galanya itu.
"Ayahnya dahulu adalah kepala kampung kami," tiba-tiba
anak yang tampan itu berkata.
Kakek itu memandang kepadanya. Wajah anak laki-laki itu
tampan sekali dan matanya bersinar penuh kecerdasan. "Dan
engkau sendiri siapakah, anak?"
"Aku bernama Bun Hong, ayahku adalah Tan-wangwe
(hartawan Tan) di dusun ini, keluargakupun telah habis binasa
oleh setan-setan itu!" Sambil berkata demikian, kedua tangan
anak ini dikepalkan dan matanya memancarkan cahaya penuh
dendam !.
"Dan dia ini, saudaramukah dia ?" kakek itu bertanya
sambil menuding ke arah anak laki-laki yang bertahi lalat di
dahinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bukan," jawab Bun Hong, "kami bertiga tidak saling
mengenal, akan tetapi dahulu aku pernah melihat anak
perempuan ini di gedung kepala kampung kami."
"Siapakah engkau, nak? Apakah engkau juga anak dari
dusun ini dan di mana pula keluargamu?" tanya kakek itu
kepada anak ke tiga.
Anak itu menggeleng-geleng kepalanya dan kedua matanya
menjadi basah ketika dia mendengar pertanyaan itu.
"Ayahku adalah seorang petani di dusun sebelah selatan
sana dan namaku adalah Gan Beng Han. Ayahku tewas dalam
pertempuran melawan barisan pemberontak, karena ayahku
ikut dalam gerakan gerilya membantu pasukan pemerintah.
Sedangkan ibukuu........ dan adik perempuanku ........ entah
pergi ke mana. Mungkin saja mengungsi dengan orang-orang
lain ketika setan-setan itu datang menyerbu. Rumah kami
sudah dibakar habis, aku hidup sebatangkara" Anak yang
bernama Beng Han itu menundukkan mukanya.
"Setan-setan itu kurang ajar sekali!, Bahkan semua padi
dan gandum kami dirampok habis. Yang tidak dapat mereka
bawa, mereka bakar!" kata Bun Hong dengan suara gemas.
"Aku ingin membunuh mereka itu, iblis-iblis keparat itu,
seorang demi seorang...!" Kui Eng berkata dan sepasang
matanya yang lebar bersinar-sinar, kedua tangannya yang
kecil kurus dikepal dan mukanya diarahkan ke angkasa.
"Aihh, anak-anak yang baik, kalian bertiga hanyalah
sebagian di antara ribuan orang anak-anak yang menjadi
korban perang. Secara kebetulan sekali kalian berjumpa
dengan aku dan membuat hatiku tertarik, maka kalau kalian
suka, marilah kalian ikut bersamaku ke gunung."
"Ke gunung? Mau apa?" Kui Eng bertanya, kini sepasang
mata yang jernih itu ditujukan ke arah wajah kakek itu dengan
pandang mata heran dan penuh selidik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mau apa ? Ha-ha-ha, pertanyaanmu memang tepat, mau
apa, ya ? Apa sih artinya hidup ini ? Mengapa hidup selalu
dipenuhi dengan penderitaan dan kesengsaraan, dengan suka
duka, senang susah, puas kecewa ? Ha-ha, anak baik, kalau
kalian suka, aku akan mengajarkan ilmu silat kepada kalian
karena aku yang tua bangka ini tidak mempunyai apa-apa lagi
untuk diberikan kepada kalian selain ilmu silat."
Tan Bun Hong memandang dengan wajah gembira sekali.
Dia melonjak kegirangan.
"Belajar silat? Ah, aku suka sekali! Kalau aku bisa silat,
tentu akan kuhajar semua setan yang dulu pernah menyerbu
ke sini !"
Akan tetapi Gan Beng Han memandang kepada kakek itu
dan dia lalu menggeleng kepalanya perlahan tanpa menjawab.
"Eh, mengapa, nak ? Apakah kau tidak suka belajar ilmu
silat ? "
"Bukan tidak suka, kakek yang baik. Tentu saja aku suka
belajar silat dan menjadi seorang yang berguna kelak. Akan
tetapi, kalau kami bertiga ikut dengan engkau orang tua, kami
harus makan."
"Tentu saja kalian harus makan !" kekek itu berseru heran.
"Itulah sukarnya, kakek yang baik ! Kami bertiga tidak
punya apa apa, hanya mempunyai tiga buah mulut dan tiga
buah perut yang setiap hari harus diisi. Melihat paknianmu
engkau adalah seorang kakek yang tidak kaya sedangkan
kalau kami ikut bersamamu, selain pelajaran silat, engkau pun
harus memberi sedikitnya tiga mangkok nasi setiap hari
kepada kami. Bagaimana engkau akan kuat memelihara
kami?"
"Ha-ha-ha-ha !" Kakek itu memegang jenggotnya dan
tertawa bergelak, wajahnya yang sudah keriputan itu nampak
berseri ketika dia memandang ke atas dan pundaknya serta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perutnya yang kempis itu terguncang-guncang dalam
tawanya. Diam-diam dia memuji anak laki laki yang
mempunyai tahi lalat kecil di tengah dahinya itu. Bocah ini
kelak akan menjadi seorang pemuda yang berpemandangan
luas, pikirnya.
"Beng Han, hal itu tidak perlu kau khawatirkan, karena aku
percaya bahwa kalian bertiga tentulah bukan anak-anak
pemalas yang hanya pandai makan, akan tetapi tidak mau
bekerja seperti watak babi! Kalian tidak mau dipersamakan
dengan babi-babi, bukan?"
Tiba-tiba Kui Eng bangkit berdiri dan memandang marah.
Tinjunya dikepal dan kaki kanannya dibanting. "Siapa berani
menyebutku babi ?"
"Aku bukan babi!" Bun Hong juga berseru dan memandang
marah .
"Kami tentu saja mau bekerja, kakek, akan tetapi engkau
yang juga miskin ini dapat memberi pekerjaan apakah kepada
kami?" Beng Han bertanya sambil menatap tajam wajah
keriputan itu.
Kembali kakek itu tertawa.Baru saat ini semenjak berbulanbulan
dia merasa gembira, karena dari sikap dan kata-kata
tiga orang anak ini, dia sudah dapat membayangkan watak
masing-masing. Selama berbulan ini, dia menyaksikan akibatakibat
perang yang menyayat hati dan menyedihkan dan kini,
berhadapan dengan tiga orang calon manusia yang masih
murni ini, dia menyaksikan keindahan yang amat
menggembirakan hatinya. Dia melihat betapa Kui Eng memiliki
kekerasan hati dan keangkuhan, sifat yang baik untuk
melindungi dirinya sebagai seorang wanita. Bun Hong memiliki
kegembiraan dan ke jenakaan, juga agak angkuh dan manja,
mungkin karena tadinya dia putera seorang hartawan
Sebaliknya, yang amat mengagumkan hati kakek itu adalah
sikap dan ucapan Beng Han karena dia dapat melihat bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anak petani miskin ini kelak tentu akan menjadi seorang yang
bijaksana, rendah hati, dan berpemandangan luas.
"Anak-anak. Tuhan adalah Maha Murah dan Maha Adil.
Tanah subur terbentang luas, menanti digarap.Kita telah
dikurniai tangan kaki dan akal budi, maka kalau kita
menggarap tanah itu, apakah tidak akan menghasilkan
makanan yang kita butuhkan? Betapapun besarnya kurnia
Tuhan, namun tanpa kita kerjakan dan kita usahakan,
bagaimana ada makanan dapat berloncatan sendiri memasuki
perut kita?"
Bun Hong tertawa. "Heh-heh, betapa lucunya!" Dia
terkekeh-kekeh membayangkan ada makanan dapat
berloncatan memasuki mulut mereka. "Hanya katak hidup saja
yang dapat meloncat masuk ke mulut yang selalu ternganga,
heh heh!"
"Ihh!" Kui Eng bergidik jijik dan ngeri.
"Segala macam pekerjaan kalau kita lakukan dengan tekun
dan rajin, pasti akan berhasil baik, anak-anak. Maka, hayolah
ikut bersamaku. Mari kita bekerja!"
Ajakan ini mengandung suara penuh harapan dan
kegembiraan yang mendorong hati tiga orang anak itu, maka
tanpa diperintah untuk kedua kalinya, mereka lalu bangkit dan
mengikuti kakek itu keluar dari dusun yang telah hancur itu,
berjalan menuju ke arah barat di mana nampak menjulang
tinggi puncak Pegunungan Kwi-hoa-san. Perjalanan yang
lambat dan berat, apa lagi karena setiap kali melihat ada
mayat manusia bekas korban perang, biarpun mayat itu sudah
nembusuk dan hampir tak tertahankan baunya oleh tiga orang
anak itu, tetap saja kakek itu berhenti dan menguburnya lebih
dulu, dibantu tiga orang anak yang kini telah menjadi
muridnya.
Perang memang merupakan malapetaka yang mengerikan
dan menyedihkan. Malapetaka yang telah terjadi semenjak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sejarah berkembang sampai pada jaman ini dan pasti akan
selalu terulang kembali di seluruh dunia selama manusia
belum menyadari bahwa perang adalah akibat dari keadaan
diri kita pribadi. Perang yang terjadi di sudut dunia yang lain,
biarpun amat jauh dari terapat kita tinggal, tidak terlepas dari
keadaan kita sebagai manusia karena sesungguhnya keadaan
kitalah yang menimbulkan perang, di manapun malapetaka itu
terjadi.
Apakah yang menimbulkan perang ? Perang adalah konflik,
perang adalah pertentangan antara dua kelompok atau lebih,
yaitu kelompok yang dapat saja merupakan bangsa, kelompok
suku, kelompok agama, kelompok alir an kepercayaan,
kelompok aliran politik, atau kelompok - kelompok yang
mengekor dan dipengaruhi oleh para pemimpin yang
mempergunakan kelompok itu untuk mencapai cita-cita atau
tujuannya.
Konflik terjadi karena masing-masing kelompok
mempertahankan kebenarannya. Dan kebenaran yang
dipertahankan sesungguhnya hanyalah pengejaran terhadap
sesuatu yang menyenangkan diri pribadi belaka. Konflik antara
kelompok ini mencerminkan konflik antar manusi?, dan konflik
antar manusia terjadi karena adanya konflik dalam batin setiap
manusia. Dan seperti telah kita ketahui tadi, konflik terjadi apa
bila kita mengejar sesuatu yang kita anggap menyenangkan,
yang kita selimuti dengan kata indah dan megah. Kebenaran !.
Apakah sesungguhnya sesuatu yang kita kejar-kejar itu ?
Sesuatu yang kita kejar tentu saja adalah sesuatu yang belum
ada, yang belum terjadi, yang belum berada di dalam tangan
kita. Kita selalu mengejar sesuatu yang lain dari pada yang
telah ada. Kita selalu ingin yang BEGITU, karena kita tidak
menghargai lagi yang BEGINI. Yang begitu adalah ambisi,
adalah tujuan. Sebaliknya yang begini adalah fakta hidup,
keadaan kita yang nyata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pengejaran akan yang begitu tentu saja membuat yang
begini menjadi hilang artinya, hilang keindahannya. Dan
PENGEJARAN itulah yang menimbulkan konflik antara yang
begini dan yang begitu. Pengejaran itulah,yang menimbulkan
konflik, tidak hanya konflik dalam batin sendiri, melainkan
mencuat ke luar menjadi konflik antar manusia dan membesar
lagi menjadi konflik antar kelompok, antar bangsa.
Pengejaran akan sesuatu yang .dianggap lebih
menyenangkan dari pada yang sudah ada. yang kita anggap
kebenaran, mengakibatkan bentrokan terjadi, masing-masing
fihak mempertahankan "kebenaran" sendiri-sendiri dan
terjadilah perang! Jadi, sumber dari segala bencana, termasuk
perang, berada di dalam diri sendiri! Kita dapat melihat ini
dengan jelas, seperti juga melihat bahwa sumber dari segala
keindahan dan kebahagiaan juga sudah berada di dalam diri
sendiri ! .
Apapun yang dikejarnya, baik berupa harta benda,
kedudukan, kemuliaan, nama besar, kehormatan, dan
sebagainya, sesungguhnya berdasarkan pada keinginan untuk
menyenangkan diri pribadi. Harta benda, kedudukan,
kemuliaan, nama besar dan sebagainya itu tidaklah buruk dan
keadaannya merupakan suatu kewajaran, akan tetapi
PENGEJARANNYA terhadap semua itulah yang berbahaya,
yang menimbulkan perang .
-0odwo0-
Kui Eng adalah puteri tunggal dari kepala kampung Hongyang
yaitu dusun di mana kakek itu menemukan tiga orang
anak itu. Kepala kampung itu bernama Kui Lok, Seperti
ratusan dusun dan kampung yang lain, yang dilalui oleh
barisan pemberontak yang menyerbu, kampung Hong-yang
tidak terlepas dari malapetaka. Barisan pemberontak
menyerbu seperti air bah mengamuk, dan selama semalam
suntuk terjadilah segala kengerian yang mungkin dilakukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh manusia-manusia yang berubah menjadi iblis karena
terdorong oleh hawa perang yang isinya hanya membunuh
atau dibunuh itu.
Pembunuhan keji, perampokan dan perkosaan. Jerit-jerit
menyayat hati membubung ke angkasa tanpa ada yang
memperdulikan agaknya. Hanya pohon-pohon di dalam
kampung dan yang tidak ikut terbakar itu yang menjadi saksi
mati akan terjadinya semua kemaksiatan dan kekejian itu.
Kui Lok tidak diampuni oleh para pemberontak. Dia diseret
dan digantung di luar rumahnya, sedangkan hartanya
dirampok habis, rumahnya dibakar dan isterinya, nyonya Kui
Lok yang masih muda, belum tigapuluh tahuh usianya dan
berwajah cantik dan bertubuh ramping, dilarikan oleh seorang
laki-laki bernama Bu Pok Seng yang menjadi seorang perwira
dalam barisan pemberontak itu.
Memang sukar dimengerti bagaimana puteri kepala
kampung itu, Kui Eng yang baru berusia lima tnhun, dapat
lolos dari maut. Memang belum tiba saatnya anak itu tewas
agaknya, karena di dalam keributan yang mengerikan itu, Kui
Eng yang ketakutan melarikan diri dan agaknya para penjahat
yang sedang "pesta-pora" itu kurang memperhatikan dan tidak
tertarik kepada seorang anak kecil yang, berlarian seorang
diri.
Bu Pok Seng adalah seorang penjahat dan tadinya dia
menjadi kepala perampok. Dia masih muda, usianya baru
tigapuluh tahun lebih dan ilmu silatnya cukup tinggi. Ketika
terjadi pemberontakan, Bu Pok Seng melihat kesempatan baik
untuk mengumpulkan harta dan mengejar kedudukan, maka
dia lalu membawa anak buahnya untuk menggabungkan diri
dengan barisan pemberontak di utara. Tentu saja
penggabungannya ini sama sekali bukan karena dia
mendukung gerakan pemberontakan itu,, rnelainkan hanya
untuk "membonceng" pemberontakan itu demi mencapai
pengejarannya sendiri Dan betapa banyaknya orang-orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti Bu Pok Seng ini bermunculan pada setiap kali terjadi
pergolakan, orang-orang yang pandai mempergunakan
kesempatan, baik mengejar harta, kedudukan atau yang lain
lain.
Selama beberapa bulan saja semenjak mengikuti gerakan
pemberontak, Bu Pok Seng telah berhasil mengumpulkan
barang-barang berharga terdiri dari emas permata yang
dirampoknya dari tempat-tempat yang diserbu oleh
pemberontak. Ketika dusun Hong-yang diserbu pada malam
hari itu. Bu Pok Seng juga ikut bersorak-sorak seperti kawankawannya
dan sebagai seorang yang cerdik, dia cepat
memasuki rumah kepala kampung bersama kawan-kawannya,
karena dia tahu bahwa kepala kampung merupakan orang
terkaya di dalam kampungnya dan memang pada jaman itu
adalah benar.
Mula-mula Bu Pok Seng juga tidak mau kalah oleh kawankawannya,
mengumpulkan harta yang paling ringan namun
paling berharga sebanyak-banyaknya, akan tetapi ketika dia
dan kawan-kawannya menyerbu kamar kepala kampung dan
kawan-kawannya menyeret kepala kampung itu ke luar untuk
digantung hidup-hidup di depan rumahnya, dan melihat
nyonya rumah menjerit-jerit dan pingsan, dia cepat
menyambar pinggang nyonya rumah yang muda dan cantik itu
jantung Bu Pok Seng berdebar keras ketika dia melihat nyonya
rumah ini. Sudah banyak dia melihat wanita, dan sudah
banyak pula dia seperti juga kawan-kawannya memperkosa
wanita-wanita cantik di sepanjang jalan yang mereka lalui,
akan tetapi baru sekarang dia terpesona melihat wanita
seperti isteri kepala kampung itu. Dia menendang roboh dua
orang kawannya yang hendak, ikut mempermainkan wanita
yang dipondongnya.
"Yang ini milikku!" hardiknya sehingga kawan - kawannya
terkejut lalu tertawa-tawa Bu Pok Seng tidak lagi
memperdulikan barang-barang berharga yang tadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dikumpulkannya. Dia memandang lagi wajah wanita yang
pingsan itu dan jantungnya makin berdebar. Melihat
kecantikan wanita ini, dia tidak menghendaki yang lain lagi.
Satu-satunya keinginannya adalah berdua bersama wanita ini!
Maka Bu Pok Seng lalu membawa lari tubuh wanita muda itu,
keluar dari dusun yang mulai terbakar. Tidak ada seorangpun
yang memperhatikan perbuatannya itu oleh karena memang
sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi apa bila
ada anggauta-anggauta pemberontak yang melarikan wanita
ke sudut yang sunyi ! ...
Akan tetapi, ketika Bu Pok Seng merebahkan tubuh itu di
atas tanah di belakang sebuah rumah, dan melihat wajah itu.
ditimpa sinar lampu di belakang rumah itu, terjadi hal aneh di
dalam hatinya. Semua niatnya untuk memperkosa wanita ini
seperti yang pernah dia lakukan pada waktu-waktu yang lalu,
lenyap seperti awan tipis ditiup angin. Timbul rasa kasihan
kepada wanita ini. Dia sudah meraba-raba pakaian nyonya
muda itu dan biasanya, dalam ketidak sabarannya, dia akan
merenggut dan merobek pakaian itu. Akan tetapi kini dia
menarik kembali tangannya dan ditatapnya wajah yang cantik
itu, lalu dengan hati hati dia mendekatkan mukanya dan
diciumnya dahi wanita cantik itu, ciuman mesra yang
dilakukan sepenuh hati, bukan ciuman penuh rangsangan
birahi seperti yang biasa dia lakukan terhadap wanita-wanita
tawanannya.
Akan tetapi ciuman itu cukup untuk membuat nyonya Kui
Lok sadar dari pingsannya. Dia terkejut dan bangkit duduk,
lalu teringat akan semuanya dan melihat Bu Pok Seng berlutut
di depannya, dia menjerit.
"Jangan takut, aku....... aku tidak akan mengganggumu,
aku .. . cinta padamu, sayang. Sungguh, aku sayang sekali
padamu. Mari kau ikut bersamaku."
"Tidak....., tidak......!" Nyonya itu menggeleng kepala,
matanya terbelalak lebar seperti mata seekor kelinci melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harimau. Mata itu memang indah sekali, merupakan bagian
tercantik dari nyonya itu.
"Hemm, apakah kau lebih senang terjatuh ke tangan
mereka dan diperkosa beramai-ramai sampai mati?" kata Bu
Pok Seng dan pada saat itu, tidak jauh dari situ terdengar jerit
ketakutan seorang wanita, disusul suara ketawa menyeramkan
dari beberapa orang laki-laki, dan tak lama kemudian
terdengar jerit wanita di lain tempat. Wajah nyonya itu
menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil.
"Nah, kau lebih senang terjatuh ke tangan mereka? "
"Tidak.... tidak.... ohhh.... ampunkan aku” Nyonya itu
berkata dengan suara gemetar.
"Kalau begitu, percayalah kepadaku. Aku Bu Pok Seng akan
melindungimu, sayang," kata bekas kepala perampok itu.
"Mari cepat kita pergi dari sini dan agar bisa cepat melarikan
diri, sebaiknya kau kupondong." Tanpa menanti jawaban, Bu
Pok Seng memondong tubuh itu dan lari secepatnya
menyelinap di dalam kegelapan malam, makin lama makin
jauh meninggalkan dusun Hong yang sehingga api yang
membakar dusun itu tidak nampak lagi dan jerit tangis di
antara gelak tawa itu pun tidak terdengar lagi.
Nyonya Kui Lok adalah seorang wanita yang lemah dan
melihat kenyataan betapa suami dan seluruh keluarganya
telah tewas, rumahnya telah habis dimakan api, hatinya
hancur dan semangatnya seakan - akan telah meninggalkan
tubuhnya. Dia merasa berat sekali untuk menerima bujukan
Bu Pok Seng dan sebetulnya dia ingin ikut mati saja bersama
suami dan anaknya. Akan tetapi dia tidak mempunyai cukup
keberanian untuk membunuh diri dan terutama sekali melihat
Bu Pok Seng amat sayang kepadanya, melindunginya dan
bersikap amat ramah dan baik, tidak pernah mengganggu dan
mencoba untuk memperkosanya pula karena laki-laki inipun
masih muda dan tidak buruk rupanya, akhirnya dia tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menolak lagi dan menyerahkan dirinya bukan karena-ancaman
atau paksaan.
Bu Pok Seng merasa girang sekali. Selama hidupnya,
biasanya dia hanya memperoleh wanita secara paksa saja.
Wanita - wanita yang pernah berada dalam pelukannya adalah
wanita-wanita yang terpaksa melayaninya karena diancam.
Dan baru sekaranglah Bu Pok Seng dilayani oleh seorang
wanita bukan karena dipaksa, padahal biasanya dia hanya
mungkin memperoleh pelayanan seperti itu dari seorang
wanita pelacur saja. Akan tetapi, nyonya Kui Lok bukan
pelacur, melainkan seorang wanita baik-baik, seorang wanita
terhormat, bekas isteri kepala kampung, yang cantik, lemah
lembut, halus dan terpelajar! Dan wanita itu kini menyerahkan
hati dan tubuhnya kepadanya dengan suka rela!.
Bu Pok Seng lalu menjual semua barang-barang berharga
hasil perampokan, mempergunakan uang itu sebagai modal
Dia membuka sebuah rumah penginapan di kota Kauw-ciu dan
hidup sebagai "orang baik" bersama isteri-nya yang cantik dan
yang amat dicintanya. Nyonya muda ini akhirnya terhibur juga
hatinya karena ternyata bahwa "suami" barunya ini amat
mencintanya, bahkan sama sekali tidak tampak lagi tandatanda
kekejaman dan kejahatan Bu Pok Seng yang kini telah
berubah sama sekali itu! Bu Pok Seng kini, berkat cintanya
terhadap isterinya, berubah menjadi seorang suami yang
bersikap halus dan apapun yang dikatakan oleh isterinya
diturutinya belaka sehingga lambat-laun wanita itu dapat
menuntun suaminya untuk hidup sebagai seorang terhormat
dan sopan.Berkat bantuan isterinya, rumah penginapan itu
memperoleh kemajuan dan bekas kepala rampok itu merasa
betapa hidupnya amat berbahagia !
Bagi nyonya Kui Lok sendiri, pada bulan-bulan pertama
memang dia seringkali termenung dan berduka, teringat
kepada puterinya yang dianggapnya tentu telah tewas pula
bersama suaminya, seperti yang dikatakan penuh keyakinan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh suami barunya. Akan tetapi, dua tahun kemudian, ketika
dia melahirkan seorang anak perempuan, keturunan suaminya
yang baru, hatinya terhibur dan terobatlah luka karena
kehilangan puterinya itu. Apa lagi ketika ternyata bahwa
wajah anaknya ini mirip benar dengan wajah Kui Eng, hatinya
makin terhibur dan mulailah nyonya muda ini menikmati
hidupnya, keadaan hidup yang sama sekali baru dan berbeda
dari pada ketika dia masih menjadi nyonya Kui Lok, nyonya
seorang kepala kampung Akan tetapi dia tidak lagi merasa
kurang berbahagia, apa lagi karena ternyata bahwa suami
barunya ini sungguh-sungguh amat mencintanya, jauh lebih
besar cinta kasih suaminya ini dari pada suaminya yang
dahulu. Suaminya yang dahulu masih mengambil beberapa
selir, sedangkan Bu Pok Seng sama sekali tidak mau
menengok kepada wanita lain. Di samping itu, dibandingkan
dengan Kui Lok, Bu Pok Seng ini lebih muda dan lebih kuat
tubuhnya, lebih jantan karena Bu Pok Seng adalah seorang
pria yang sejak kecilnya menghadapi kekerasan sehingga dia
merupakan-seorang pria yang memiliki kegagahan, tidak
seperti Kui Lok yang agak lemah.
0o-dwkz-234-o0
Demikian keadaan keluarga Kui Eng yang menjadi Korban
keganasan perang. Tentu saja seperti juga ibunya yang
menganggap dia tentu telah tewas, Kui Eng sendiri juga
menganggap bahwa ibunya yang dilarikan penjahat itu tentu
telah tewas pula seperti ayahnya.
Bagaimanakah keadaan keluarga dua orang anak yang
ditemukan oleh kakek itu? Keluarga Tan Bun Hong memang
sudak habis sama sekali. Ayah bundanya dibunuh
pemberontak, bahkan tidak ada pelayan yang lolos. Satusatunya
orang yang lolos adalah Bun Hong sendiri dan hal
itupun terjadi secara kebetulan karena ketika para
pemberontak menyerbu rumahnya, anak ini kebetulan sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berada di luar rumah. Baru saja oleh ayahnya Bun Hong
dibelikan beberapa belas ekor ikan emas dari utara, ikan emas
yang matanya melotot besar dan amat disukanya sehingga
malam-malampun anak ini diam-diam melihat ikan-ikannya
yang dilepas di dalam kolam ikan di taman bunga. Ketika
terjadi penyerbuan. anak ini menjadi ketakutan dan melarikan
diri dari taman itu ke dalam kegelapan malam sehingga dia
terbebas dari maut Akan tetapi seluruh keluarganya, sampai
semua pelayan, terbunuh dan seluruh rumah dan isinya habis
dan sisanya terbakar.
Lalu apa yang terjadi dengan keluarga anak yang bernama
Gan Beng Han ? Seperti yang diceritakan oleh anak itu kepada
kakek yang menjadi gurunya, ayah Gan Beng Han mati
terbunuh oleh pemberontak sebagai seorang anggauta
pasukan gerilya. Ketika hal itu terjadi dan dusun mereka
kacau-balau dan geger oleh serbuan para pemberontak, Beng
Han dan ibunya berpencar dan anak itu melarikan diri
memasuki hutan di luar dusun, sedangkan ibunya
menggendong Beng Lian, adik perempuan Beng Han,
melarikan diri ke selatan.
Dapat dibayangkan betapa hancur, duka dan bingungnya
hati wanita ini ketika dia melarikan diri, keluar masuk hutan
sambil menggendong Beng Lian. Dia sudah mendengar akan
kematian suaminya, dan kini dia kehilangan puteranya yang
lari entah ke mana. Tidak mungkin dia mencari puteranya,
karena kembali ke dusunnya berarti mencari kematian dan dia
harus menyelamatkan puterinya yang masih kecil. Sambil
menangis Ong Siok Nio, demikianlah nama ibu Beng Han.
menggendong puterinya dan terisak-isak dia ke selatan. Di
selatan, di sebuah dusun, tinggal seorang pamannya dan ke
sanalah dia bermaksud pergi mengungsi.
Perjalanan itu amat jauh, sedikitnya akan makan waktu tiga
empat hari, sedangkan dia tidak membawa bekal apa-apa.
maka dapat di bayangkan betapa sengsaranya keadaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyonya muda ini. Biarpun dia melakukan perjalanan jauh
seperti ini, perjalanan yang tidak pernah berhenti sehingga
kedua kakinya menjadi amat nyeri dan bengkak-bengkak. Dia
tidak berani berhenti seolah-olah ada setan mengejar di
belakang tubuhnya, setan kengerian yang selalu membayang
didepan matanya peristiwa yang terjadi itu, malapetaka
mengerikan yang menimpa dusunnya. Kadang-kadang dia
berjalan sambil menangis, akan tetapi kalau teringat bahwa
suara tangisnya mungkin terdengar orang jahat atau
pemberontak, dibung-kamnya mulutnya sendiri dan biarpun
air matanya bercucuran, namun tidak ada suara dari
mulutnya.
Tubuhnya sudah lemas sekali ketika pada keesokan harinya
dia berjalan di tengah hutan setelah semalam suntuk dia
berjalan tersaruk-saruk di tempat gelap tak pernah berhenti
sebentarpun. Beng Lian yang tadinya tertidur dalam
gendongannya, kini terbangun,
"Sssttt........... tidurlah, nak ........" bisik ibu itu ketika Beng
Lian mulai rewel karena tentu saja anak itu merasa lelah dan
juga lapar.
Tiba-tiba Siok Nio mengeluarkan jerit tertahan karena dari
belakang batang-batang pohon, dari atas pohon pula,
berloncatan keluar serombongan orang laki-laki berwajah
menyeramkan, bertubuh kokoh kuat dan bersikap kasar
menakutkan. Belasan orang itu mengepungnya sambil
menyeringai dan mata mereka melahap tubuh Siok Nio yang
memang masih muda, ramping dan padat.
"Ha-ha-ha, sungguh baik sekali nasib kita!" seorang
diantara mereka tertawa. "Sepagi ini ada yang mengantar
hidangan! Hemm......... sungguh merupakan sarapan pagi
yang sedap ! Heh-heh!"
"Hushh! Jangan bicara sembarangan, serahkan kepada
twako (kakak besar) untuk memutuskannya!" cela orang ke
dua.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di antara belasan orang itu muncullah seorang laki-laki
berusia empatpuluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar seperti
raksasa dan bercambang bauk, matanya lebar dan
kemerahan. Dia terkekeh dan menyeringai lebar,
memperlihatkan gigi yang besar-besar dan agak kotor dan
rusak, lalu dia melangkah maju memandang Siok Nio seperti
seorang pedagang sapi sedang menaksir seekor sapi yang
hendak dibelinya !.
"Hemm, mulus...... biarpun wanita dusun. Heh-heh! Manis,
kalau kau dapat menyenangkan hatiku dan mencocoki, kau
boleh kujadikan isteriku!"
Melihat wajah-wajah yang menyeramkan itu, Siok Nio
menjadi ketakutan. Seluruh tubuhnya menggigil, mukanya
menjadi pucat sekali dan dia hampir pingsan. Din tidak dapat
mengeluarkan suara lagi dia hanya bisa menangis. Akan tetapi
Beng Lian, biarpun baru berusia empat tahun, agaknya dapat
membedakan orang baik dan jahat, karena tiba-tiba saja anak
ini menjerit-jerit dalam gendongan ibunya.
Menyaksikan anak yang menjerit-jerit dan meronta-ronta
itu, para anggauta perampok kasar itu menjadi marah.
Seorang di antara mereka menghardik, "Bocah setan ini
sebaiknya dihancurkan kepalanya agar jangan banyak
membikin bising!" Tangannya yang besar dan berbulu diulur
untuk menangkap leher Beng Lian. Siok Nio mendekap
anaknya dan melangkah mundur, akan tetapi anggauta
perampok itu terkekeh dan mengejar maju. Tangannya
dengan cepat menyambar, akan tetapi sebelum tangan itu
menyentuh leher Beng Lian, tiba-tiba tubuhnya terpelanting,
kedua tangannya mencekik lehernya sendiri dan matanya
terbelalak, lalu ia roboh berdebuk. Kiranya sebatang jarum
telah menancap di lehernya, membuat perampok itu pingsan
dengan kedua tangan masih mencekik lehernya sendiri.
"Perampok-perampok jahat jangan mengganggu orang!"
terdengar bentakan halus dan tahu-tahu di situ telah muncul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang nikouw (pendeta wanita) yang berkepala gundul halus
dan berjubah putih bersih. Mengherankan sekali bagaimana
didalam hutan belukar itu nikouw ini dapat menjaga
pakaiannya dalam keadaan demikian putih bersih. Biarpun
sikap nikouw itu lemah lembut, namun dari pandang matanya
memancarkan sinar penuh wibawa.
Para perampok itu berjumlah belasan orang, rata-rata
bertubuh kuat dan bersikap ganas. Tentu saja mereka tidak
takut menghadapi seorang nikouw tua yang usianya tentu
sudah enampuluh tahunan, bertubuh kurus lemah itu.
Maka dengan marah sekali melihat seorang kawannya
roboh, mereka mencabut senjata mereka, yaitu golok dan
pedang, lalu mereka maju menerjang nikouw tua ini seolaholah
hendak berlumba membacok mati nikouw yang berani
merobohkan seorang kawan mereka itu. Siok Nio merasa ngeri
melihat kilatan senjata tajam dan dia memejamkan matanya,
tidak mau melihat nikouw tua itu koyak-koyak badannya oleh
belasan golok dan pedang itu.
Akan tetapi, dengan tenang saja nikouw tua itu
menggerakkan kedua tangannya dan dari setiap tangannya
menyambar keluar tiga sinar putih yang kecil. Enam orang
perampok menjerit kesakitan dan roboh pingsan karena jalan
darah mereka tertusuk jarum-jarum halus yang beterbangan
tadi. Sisa para perampok yang menyaksikan kelihaian nikouw
itu, maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang sakti.
Sekali gerakan saja nikouw itu mampu merobohkan enam
orang kawan mereka! Tentu saja mereka itu tahu diri dan
dengan muka pucat mereka lalu menyeret kawan-kawan
mereka yang terluka dan melarikan diri tunggang-langgang
dari tempat itu!
Penggunaan jarum halus sebagai senjata rahasia itu
memang amat hebat. Nikouw itu telah mewarisi ilmu
melempar jarum yang disebut Cai-li-toat-beng-ciam (Jarum
Pencabut Nyawa dari Wanita Pandai). Menurut dongeng, ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini asal mulanya dimiliki oleh seorang siu - li (dayang pelayan
kaisar) yang cantik ratusan tahun yang lalu. Pada suatu
malam, siu-li ini masih belum tidur dan sambil duduk
menyulam dia menjaga di depan kamar kaisar yang telah
tidur. Pada malam hari itu, muncullah belasan orang yang
berilmu tinggi, belasan orang yang diutus oleh musuh kaisar
untuk membunuh kaisar di dalam kamarnya. Belasan orang
yang berilmu tinggi itu berhasil melampaui penjagaan para
pengawal, bahkan telah berhasil membunuh beberapa orang
pengawal. Siu-li yang sedang menyulam itu tahu akan
kedatangan mereka dan tanpa bergerak pindah dari tempat
dia duduk, dia telah mempergunakan Ilmu Cai - li - toatbeng-
ciam itu, menyambit- nyambitkan jarum jarum halusnya
dan merobohkan belasan orang itu. Ketika para pengawal
mengumpulkan mayat-mayat para penjahat itu. siu-li cantik ini
masih tenang-tenang saja melanjutkan pekerjaannya
menyulam !
Maka, melihat betapa nikouw tua itu dalam sekejap mata
saja merobohkan tujuh orang teman mereka, para perampok
itu menjadi ketakutan dan melarikan diri. Nikouw itu tidak
mengejar, hanya tersenyum dan dia lalu menghampiri Siok Nio
yang masih duduk di atas tanah sambil menangis dan
mendekap anaknya.
"Toanio, siapakah engkau dan mengapa engkau berada di
dalam hutan liar ini berdua dengan anakmu ?"
Sambil menangis, Siok Nio lalu menceritakan
pengalamannya, tentang malapetaka yang menimpa
kampungnya dan yang mengakibatkan tewasnya suami dan
puteranya dan yang menghancurkan seluruh rumah
tangganya. Dia tentu saja menganggap bahwa puteranya juga
tewas seperti suaminya, karena apakah daya seorang anak
laki-laki berusia enam tujuh tahun seperti Beng Han?
Nikouvv itu menarik napas panjang, lalu berkata,
"Omitohud.......! Telah banyak pinni (saya)mendengar tentang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kerusakan ini. Semoga Tuhan segera membebaskan kita dari
keadaan yang amat buruk ini." Dia lalu menatap wajah wanita
muda yang masih menangis terisak-isak itu, dan ketika dia
bertemu pandang dengan sepasang mata kecil yang bening
dari Beng Lian, wajah nikouw itu bersinar.
"Toanio,tidak baik bagi seorang wanita muda engkau
melakukan perjalanan seorang diri dalam waktu sekacau ini.
Kalau engkau suka, lebih baik untuk sementara waktu engkau
tinggal bersama pinni di Kuil Kwan-im-bio. Orang yang baik
tentu akan mendapatkan perlindungan Tuhan dan
mendapatkan berkah dari Pouwsat (Dewi Kwan lm)."
Siok Nio berlutut dan menghaturkan terima kasihnya
dengan bercucuran air mata. Memang dia sudah meragukan
apakah pelariannya ke tempat tinggal pamannya itu akan
berhasil baik, karena dia sendiri belum tahu bagaimana nasib
pamannya karena bukan tidak boleh jadi kalau dusun di mana
pamannya tinggal itu juga mengalami nasib yang sama
dengan dusunnya.
Maka dia tidak merasa ragu-ragu lagi. Untuk
menyelamatkan puterinya sendiri, tidak ada tempat yang lebih
aman dari pada di samping nikouw tua yang sakti ini. Siok Nio
lalu pergi mengikuti nikouw itu menuju ke sebuah kuil yang
berada di luar tembok kota An-kian. Pandai sekali nikouw tua
itu menghibur hati Siok Nio dan sering menceritakan tentang
kebahagiaan hidup seorang beribadat, maka akhirnya Siok Nio
mengambil keputusan untuk menggunduli kepalanya dan
masuk menjadi seorang nikouw di Kuil Kwan-im-bio!.
Nikouw tua itu bernama Pek I Nikouw (Pendeta Wanita
Berjubah Putih) dan dia mengepalai sejumlah besar nikouw
yang berdiam di Kuil Kwan im-bio yang besar itu. Pek I
Nikouw adalah murid Thai-san-pai yang telah mencapai
tingkat ke dua, maka dia amat lihai. Tentu saja hampir tidak
pernah nikouw ini memperlihatkan kepandaian silatnya,
karena umum mengenalnya sebagai seorang pendeta wanita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang beribadat, saleh dan halus gerak-geriknya, lemah lembut
tutur sapanya dan sabar dalam mengajarkan Agama Buddha.
Setelah menjadi nikouw, Ong Siok Nio memperoleh nama
baru, yaitu Siok Thian Nikouw. Janda muda ini menjalani
penghidupan suci sambil merawat puterinya yang segera
menjadi kesayangan semua nikouw di dalam kuil itu. Pek I
Nikouw sendiri merasa amat suka kepada Beng Lian dan
mulailah dia memberi latihan-latihan ilmu silat kepada anak
perempuan itu, sedangkan para nikouw lain yang pandai
dalam ilmu sastera, memberikan pelajaran membaca dan
menulis kepadanya.
Sungguh beruntung sekali Beng Lian. Dahulu dia hanya
puteri seorang petani dan andaikata tidak terjadi malapetaka
itu, tentu dia akan tumbuh dewasa sebagai seorang gadis
petani. Akan tetapi kini, semenjak berusia empat tahun dia
hidup di dalam Kwan-im-bio, bergaul dengan orang-orang
yang menuntut penghidupan suci. Tentu saja keadaan
sekeliling dan suasana dalam bio itu membentuk wataknya
sehingga Beng Lian menjadi besar dengan perangai yang
halus dan sopan, lemah lembut sikapnya, pandai bergaul dan
pandai merendahkan diri, sehingga siapa saja yang melihatnya
akan merasa suka. Sedikitpun tidak akan ada orang
menyangka bahwa anak ini "berisi", karena dia telah mewarisi
ilmu silat tinggi yang diajarkan oleh Pek I Nikouw kepadanya.
Demikianlah perjalanan ibu dari Gan Beng Han. Seperti
juga bagi Kui Eng, Beng Han tentu saja sudah merasa putus
harapan untuk dapat bertemu dengan ibunya, karena anak
inipun menganggap bahwa tentu ibunya telah tewas dalam
keributan itu.
0o-=dwkz-234=-o0
Kakek tua yang menemukan tiga orang anak yang hampir
mati kelaparan di dusun yang telah menjadi puing itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukanlah orang sembarangan saja, melainkan seorang tokoh
yang amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai Lui Sian Lojin,
seorang pertapa yang mengasingkan diri di puncak
Pegunungan Kwi-hoa-san. Di masa mudanya, Lui Sian Lojin
adalah seorang hiap-kek (pendekar) yang hidup bertualang di
dunia kang-ouw dengan berkawan sebatang pedang. Tak
terhitung jasa kakek ini dalam menolong sesama manusia dan
menentang kejahatan-kejahatan, sehingga selain ribuan orang
mengenangkan namanya sebagai seorang penolong yang
budiman, juga banyak pula orang-orang jahat yang mengingat
namanya dengan gigi gemetar karena dendam dan sakit hati.
Di waktu mudanya, Lui Sian Lojin pernah jatuh cinta
kepada seorang gadis. Akan tetapi, gadis pujaan hatinya itu
tidak membalas cinta kasihnya, bahkan menikah dengan orang
lain. Hal ini membuat dia patah semangat dan bersumpah
tidak mau menikah, hanya hidup berdua dengan pedangnya
yang dalam banyak pertempuran telah menjadi kawan baik
dan pembelanya.
Akan tetapi, akhirnya dia merasa bosan merantau dan
menetap di satu di antara puncak-puncak Pegunungan Kwihoa
san. Puncak ini amat indah pemandangannya, amat sejuk
dan nyaman hawanya, memiliki tanah subur. Maka dipilihlah
puncak ini sebagai tempat pertapaannya. Selama belasan
tahun dia bertapa sambil dengan tekun memperdalam ilmu
batin dan ilmu silatnya. Bahkan dalam kesempatan ini dia
menciptakan serangkaian ilmu pedang yang dia namakan Kwihoa
Kiam hoat (Ilmu Pedang dari Kwi-hoa-san).
Di waktu dia masih bertualang dan merantau, tentu saja
dia tidak mau memberatkan dirinya dengan seorang murid.
Sekarang, setelah dia bertapa, mulailah dia teringat bahwa dia
telah makin tua dan akhirnya dia tidak akan mampu melawan
usia dan kematian. Apa artinya semua kepandaian silatnya,
apa artinya ilmu pedang yang diciptakannya kalau hanya akan
dibawa mati? Selama ini dia belum pernah mempunyai murid,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena tidak ada anak yang dianggapnya cocok dan cukup
berbakat untuk menerima warisan ilmu-ilmunya. Hatinya mulai
merasa gundah dan mulailah dia berpikir untuk mencari murid
yang berbakat.
Ketika didengarnya tentang pemberontakan yang dipimpin
oleh An Lu San, dia lalu turun gunung untuk melihat-lihat
keadaan. Bukan main sedih dan marah hatinya melihat bekas
kekejaman anak buah pemberontak itu. Hampir semua dusun
di kaki Pegunungan Kwi-hoa san yang kebetulan dilewati
pemberontak itu, rusak binasa. Dan di dalam perantauannya
inilah akhirnya secara kebetulan dia bertemu dengan Kui Eng,
Tan Bun Hong, dan Gan Beng Han. Keadaan yang amat
menyedihkan dari tiga orang anak inilah yang menarik hatinya
unluk membawa mereka keatas puncak gunung dan
mengangkat mereka menjadi murid - muridnya.
Lui Sian Lojin sengaja tidak mempergunakan ilmu
kepandaiannya yang tinggi untuk menggendong tiga orang
anak itu. Dia mengajak mereka berlari-larian menuju ke
puncak gunung karena dia hendak menguji keuletan tiga
orang calon muridnya ini.
Tiga orang anak itu telah menjadi lelah sekali. Tubuh
mereka terasa lemah karena mereka telah berbulan-bulan
menderita kurang makan. Perjalanan yang jauh dan sukar itu
amat melelahkan tubuh mereka, terutama sekali setelah jalan
itu mulai menanjak bukit. Namun, tiada seorangpun di antara
mereka pernah mengeluarkan suara keluhan.
Lui Sian Lojin berjalan di depan sebagai penunjuk jalan dan
kakek ini tidak pernah menengok ke belakang seakan-akan dia
tidak memperdulikan keadaan tiga orang anak itu akan tetapi
sesungguhnya diam-diam dia membuka telinga dan
pendengarannya yang amat tajam dan dapat menangkap
setiap gerak-gerik tiga orang anak-anak itu tanpa dia melihat
mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiga orang anak itu merasa sangat lelah, terutama sekali
Kui Eng dan Bun Hong. Kui Eng sebagai seorang anak
perempuan puteri kepala kampung pula, dan Bun Hong
sebagai putera hartawan yang jarang melakukan pekerjaan
berat, tentu saja merasa tersiksa dan perjalanan itu amat
melelahkan kedua kaki mereka. Apa lagi karena perut mereka
telah menjadi kosong lagi dan mulai lagi terasa perih. Tidak
demikian halnya dengan Gan Beng Han. Sebagai seorang
putera petani, Beng Han sudah biasa dengan pekerjaan berat,
membantu ayahnya bekerja di sawah ladang, mencangkui,
membajak dan mencari kayu di hutan-hutan sehingga
seringkali dia berjalan jauh dan makan terlambat. Maka,
biarpun sekarang dia juga merasa lelah, namun keadaannya
tidak sedemikian tersiksa seperti dua orang kawannya.
Biarpun tubuhnya merasa lelah sekali sehingga jalannya
terhuyung-huyung, namun Kui Eng yang memiliki kekerasan
hati itu tidak mau menunjukkan kelemahannya. Dia tidak mau
kalah oleh dua orang kawannya dan terus maju dengan
langkah lunglai. Dia merasa betapa kedua kakinya telah pegal
dan sakit-sakit, sedangkan rasa perih di dalam perutnya
membuat matanya berlinang-linang. Akan tetapi, sungguh
kuat dan keras hatinya karena tidak pernah mendengar keluhkesah
atau isak tangis keluar dari mulutnya.
Sebenarnya keadaan Bun Hong tidaklah lebih baik dari
pada Kui Eng, kalau tidak hendak dikatakan lebih payah.
Kedua kakinya telanjang dan selain tubuhnya terasa amat
lelah, juga telapak kedua kakinya menjadi pecah-pecah karena
menginjak batu tajam. Nyeri dan perih rasanya, juga perutnya
menggeliat-geliat saking laparnya. Namun pemuda cilik ini
tetap melangkah lebar dan tegap, dengan kedua tangan
terkepal, kepala ditegakkan, sepasang bibir dirapatkan seperti
sikap seorang jenderal perang! Dia telah mengambil
keputusan untuk bertahan dan berjalan sampai mati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beng Han lebih mending keadaannya. Biarpun dia juga
merasa lelah, namun masih dapat bertahan dengan baik.
Telapak kakinya berkulit tebal dan dia sudah biasa berjalan
sehingga langkahnya masih tetap, hanya peluhnya saja
membasahi bajunya yang compang-camping itu. Ketika dia
melihat keadaan Kui Eng yang terhuyung-huyung, dia lalu
mendekati dan mengulur tangan hendak menggandeng
tangan anak perempuan itu. Akan tetapi dengan sikap angkuh
Kui Eng mengibaskan tangannya. Beng Han merasa kagum
sekali melihat kekerasan hati Kui Eng, maka ketika
tawarannya untuk menggandengnya ditolak, dia berjalan di
belakang anak perempuan itu untuk menjaganya kalau kalau
Kui Eng terjatuh. Ternyata dugaannya itu tepat karena tak
lama kemudian, tiba-tiba kaki Kui Eng yang lemas itu
tersandung batu dan tubuhnya terhuyung ke depan hendak
jatuh.
Beng Han cepat memburu dan menangkap lengannya
sehingga Kui Eng tidak sampai terjatuh. Ketika Beng Han
melihat betapa tubuh anak perempuan itu menjadi lemas dan
matanya dipejamkan, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu
menggendongnya di belakang punggungnya. Kini Kui Eng
tidak menolak lagi dan dia menarik napas lega ketika merasa
betapa tubuhnya dapat beristirahat di atas punggung Beng
Han tanpa menunda perjalanan itu.
Melihat ini, Bun Hong berkata, "Han, biarlah nanti kalau kau
sudah lelah, aku menggantikanmu menggendongnya. Akan
tetapi kalau sudah berkurang lelahmu, kau jangan minta
digendong terus, Eng. Dalam waktu seperti ini, kau tidak boleh
menjadi anak manja!"
Beng Han hanya tersenyum saja sedangkan Kui Eng
membuka matanya lalu mencibirkan bibirnya kepada Bun
Hong. "Engkau tidak mau. menggendong sudahlah, jangan
mengatakan orang lain manja segala. Kalau aku kuat berjalan,
untuk apa aku minta digendong?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, biarpun dengan pendengarannya Lui Sian
Lojin dapat mengetahui semua hal itu, dia pura-pura tidak
tahu dan terus berjalan sambil diam-diam tersenyum. Hatinya
merasa puas sekali karena segala peristiwa itu, yang
kelihatannya menyiksa murid-muridnya,. merupakan ujian di
mana dia dapat menyaksikan kekerasan hati tiga orang bocah
yang dibawa ke pertapaannya. Mereka ini ternyata bukanlah
bocah-bocah yang cengeng, melainkan calon-calon pendekar
yang tabah dan tahan uji. Mereka bergerak maju lagi, mendaki
bukit yang makin terjal dan telah terdengar oleh kakek itu
bunyi napas dua orang anak laki-Jaki yang terengah-engah.
Akhirnya, dua orang anak laki-laki itu merasa kehabisan
tenaga dan tidak kuat maju melangkah lagi. Langkah mereka
makin berat dan berkatalah Beng Han, "Kakek yang baik,
harap engkau orang tua sudi menaruh kasihan kepada kami
dan membiarkan kami beristirahat sebentar!"
Lui Sian Lojin berhenti dan membalikkan tubuhnya dengan
pandang mata kagum. Dia melihat betapa kedua kaki Beng
Han menggigil, namun anak itu tetap masih menggendong
tubuh Kui Eng sedangkan Bun Hong menggandeng tangan
kawannya yang menggendong itu.
"Bagus, bagus! Kau bertiga tidak mengecewakan hatiku.
Jangan khawatir, hatiku tidak sekejam dugaanmu, Beng Han,"
katanya sambil tertawa dan Beng Han merasa terkejut karena
memang tadi dia memandang dengan hati mengandung rasa
penasaran dan kemarahan kepada kakek yang dianggapnya
terlampau kejam membiarkan mereka bertiga menjadi
kelelahan dan tersiksa seperti itu.
"Maaf, maaf, aku....... tidak sengaja..... " katanya dan
kakek itu tersenyum lagi. Dia tidak berkata-kata lagi dan
membiarkan tiga orang muridnya melepaskan lelah. Mereka
bertiga menjatuhkan diri di atas rumput tebal dan barulah
sekarang terasa oleh Kui Eng betapa kedua kakinya
berdenyut-denyut sakit sekali sehingga dia mengurut-urut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedua kakinya. Akan tetapi tetap saja dia tidak mengeluarkan
keluhan. Bun Hong sudah merebahkan dirinya terlentang di
atas permadani rumput, matanya dipejamkan karena dia
hendak mengusir ingatan yang membayang di depan matanya
ketika dia masih menjadi putera seorang hartawan dan rebah
di dalam kamarnya, di atas kasur yang lunak dan segala
macam masakan lezat telah siap menantinya.
Tak lama kemudian, kakek itu mematahkan sebatang
cabang kayu yang cukup besar dan panjang. "Beng Han,
dapatkah engkau membuat keranjang?" tiba-tiba dia bertanya
kepada anak itu.
"Tentu saja dapat, aku sering membuat keranjang untuk
memikul kayu atau rumput."
"Bagus! Nah, hayo kaubantu aku membuat keranjang dari
ranting-ranting kayu. Kita membuat dua buah keranjang dan
aku akan memikul kalian dalam keranjang."
Bun Hong dan Kui Eng tidak tahu caranya membuat
keranjang, maka mereka lalu membantu dengan
mengumpulkan ranting-ranting kayu yang cukup kuat. Beng
Han membantu Lui Sian Lojin menganyam ranting-ranting itu
menjadi dua buah keranjang yang cukup kuat. Kedua
keranjang itu lalu diikatkan di kedua ujung cabang yang
panjang itu, maka jadilah pikulan yang sederhana bentuknya
namun kuat.
Tiga orang anak itu menurut, sungguhpun hati mereka
merasa heran dan tidak percaya. Benarkah kakek yang tua
dan kelihatan lemah ini akan memikul dan menggendong
mereka sekaligus? Dan jalan itu kelihatan demikian menanjak,
penuh dengan batu-batu tajam yang amat sukar dilewati
secara mudah.
Betapapun juga, mereka tidak membantah. Kui Eng dan
Bun Hong memasuki dua buah keranjang itu, duduk
didalamnya dan berpegang pada tali keranjang baik-baik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian Beng Han naik ke punggung kakek itu dan memeluk
lehernya dengan kuat.
"Hati-hati, kalian berpeganglah erat-erat jangan sampai
terlepas dan jatuh," kata Lui Sian Lojin dan dia lalu memikul
cabang kayu itu di atas pundaknya Setelah melihat betapa tiga
orang bocah itu berpegang kuat-kuat, kakek ini lalu
mengerahkan ilmu kepandaiannya berlari cepat dan larilah dia
menanjak bukit dengan kecepatan yang membuat tiga orang
bocah itu hampir menjerit saking kagetnya ! Makin lama makin
cepat juga tubuh mereka melayang ke depan, angin
menyambar-nyambar muka mereka dari depan dan membuat
tubuh mereka terasa dingin. Kui Eng dan Bun Hong yang
merasa tubuh mereka terayun-ayun seperti terbang itu merasa
ngeri sekali dan muka mereka menjadi pucat. Akan tetapi,
dasar mereka adalah dua orang anak yang keras hati dan
bandel, mereka tetap saja tidak membiarkan diri hanyut oleh
kengerian dan membuka mata lebar-lebar.
Tanpa mereka sadari dan ketahui sebelumnya, dua orang
anak ini telah menemukan rahasianya menghadapi rasa takut!
Biasanya, apabila kita menghadapi rasa takut dalam bentuk
apapun juga, kita tidak berani menghadapinya secara
langsung. Kita selalu mencari jalan keluar, kita selalu ingin
melarikan diri dari perasaan takut ini, ingin mencari hiburan
untuk menyelimuti rasa takut itu, untuk menjauhinya.
Kita lupa bahwa rasa takut itu berada dalam batin kita,
tidak mungkin kita jauhi, dan tidak mungkin kita lari dari
depannya. Memang bisa kita lari menjauhi, namun hal itu
hanya nampaknya saja, dan hanya untuk sementara saja kita
terhibur dan seolah-olah kehilangan rasa takut. Padahal, rasa
takut itu masih menyelinap di lubuk hati dan setiap saat akan
muncul kembali apa bila hiburannya lenyap. Misalnya orang
yang takut sendirian di malam hari, takut bayangan setan dan
sebagainya. Kita selalu hendak lari dari rasa takut ini, dengan
jalan mendengarkan bunyi-bunyian, mencari teman, atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bernyanyi-nyanyi sendiri, dengan maksud untuk "mengusir"
rasa takut. Namun, semua itu percuma saja karena biarpun
kelihatannya dapat menolong, sesungguhnya rasa takut itu
seperti api hanya disekap atau ditutup saja, seperti api dalam
sekam. Kalau penutupnya sudah tidak ada, api itu, yalah rasa
takut, akan berkobar lagi, karena rasa takut itu MASIH ADA.
Rasa takut adalah fakta, dan mana mungkin kita
menghilangkan fakta itu dengan hiburan-hiburan hampa itu ?
Faktanya itu yang harus lenyap dulu, karena rasa takut
sebagai fakta (kenyataan) keadaan kita itu sebenarnya timbul
karena angan-angan kosong belaka, karena pikiran kita sendiri
yang membayangkan hal-hal yang belum terjadi. Orang yang
takut bersendirian dalam gelap di malam hari, tentu
membayangkan setan-setan dan iblis iblis dan lain kengerian
lagi, membayangkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada pada
saat itu !
Orang yang takut sakit tentulah orang yang belum sakit,
yang membayangkan penyakit itu. Bagaimana kalau dia sudah
sakit ? Sudah pasti dia tidak takut akan sakit lagi yang sudah
menjadi fakta, melainkan takut akan mati yang dibayangkan
oleh si sakit. Demikian selanjutnya.
Dua orang anak di dalam keranjang itu tanpa belajar, tanpa
disadarinya sendiri, telah menemukan kunci dan rahasia
menghadapi rasa takut. Mereka tidak lari! Kalau mereka
memejamkan mata, itulah pelarian dari rasa takut! Dan kalau
sudah begitu, rasa takut itu terus ada, menghantui mereka.
Sebaliknya mereka itu membuka mata lebar-lebar ! Dengan
membuka mata, maka akan tampaklah segala-galanya oleh
kita, akan tampaklah bahwa rasa takut itu timbul karena
angan-angan, karena pikiran membayangkan atau mengingatingat
hal-hal yang belum terjadi. Melihat kenyataan inilah yang
menghilangkan rasa takut.
Bukan DIHILANGKAN, bukan DITUTUPI, melainkan hilang
sendiri karena kita melihat kenyataan tentang rasa takut itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri. Karena itu, setiap saat kita dihinggapi rasa takut
dalam bentuk apapun juga, apa bila kita membuka mata
mengamati rasa takut itu sendiri dengan penuh perhatian,
maka kita akan dapat melihat kenyataan dari sebab-sebab
timbulnya rasa takut, melihat kenyataan bahwa rasa takut
adalah hampa dan abstrak, dan penglihatan ini yang akan
dengan sendirinya meniadakan rasa takut.
"Kalau kalian merasa ngeri, pejamkan matamu !" kata Lui
Sian Lojin sambil mempercepat larinya.
Kakek ini, seperti kita pada umumnya, juga telah hanyut
dalam kebiasaan bahwa apabila kita takut, kita harus
melarikan diri dari kenyataan itu ! Tentu saja maksudnya
adalah agar anak itu tidak lagi dicekam rasa takut dan
kengerian. Betapa kita semua telah hanyut dalam cara-cara
pendidikan yang salah, yang telah menjadi kebiasaan
semenjak dahulu.
0o-dwkz-234-o0
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid II
KAKEK yang
amat lihai itu kini
berlari cepat seperti
terbang, kadangkadang
melompat
jurang-jurang yang
curam dan lebar
dengan gerakan
ringan sekali seperti
seekor burung
sedang terbang
saja!. Beberapa kali
dia memandang ke
arah muridmuridnya
karena
khawatir kalaukalau
mereka
merasa ngeri dan
takut, akan tetapi
alangkah heran dan kagumnya ketika dia melihat bahwa baik
Kui Eng maupun Bun Hong, keduanya sama sekali tidak
pernah memejamkan mata, bahkan kini mereka membuka
mata selebar-lebarnya dengan penuh rasa kagum dan gembira
! Kiranya, dengan membuka mata dan melihat segalanya
dengan penuh perhatian, dua orang anak ini telah berubah
menjadi gembira dan rasa takut tidak membayang lagi pada
wajah mereka. Mereka seolah-olah naik seekor burung besar
yang terbang melayang di angkasa. Mereka memandang ke
kanan kiri dengan gembira dan kadang-kadang kalau kakek
sakti itu melompati jurang, mereka berseru dengan gembira
sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lihat, jurang ini curam sekali !" seru Bun Hong sambil
menjenguk keluar dari keranjang di mana dia duduk.
"Dasarnya sampai tidak
kelihatan ! "
"Heii, lihat! Pohonpohon
berlari-larian di
depan kita ! Alangkah
cepatnya kita meluncur ke
depan. Sungguh enak dan
senang!" kata Kui Eng
dan sepasang matanya
yang jeli dan tebar itu
mulai ditinggalkan awan
kemuraman dan kesayuan
yang selama ini
mengganggu
keindahannya.
"Hushh! Kalian jangan banyak bergerak!" tiba-tiba Beng
Han yang digendong di punggung kakek itu menegur mereka.
Dari tempatnya di atas, anak ini melihat betapa dua orang
kawannya itu menunjuk sana-sini sambil memutar-mutar
tubuh sehingga pikulan itupun bergerak-gerak maka dia
khawatir kalau-kalau mereka mengganggu kakek itu. Kini Kui
Eng mengangkat mukanya memandang kepada Beng Han diri
tempat duduknya di dalam keranjang sambil mencibirkan
bibirnya.
"Kui Eng, jangan nakal kau! Kalau kalian banyak bergerak
sehingga terpelanting keluar dari dalam keranjang, akan
celakalah!"
Ucapan Beng Han ini tentu saja menimbulkan bayanganbayangan
dalam pikiran dua orang anak itu maka otomatis
mereka merasa ngeri !
Mereka membayangkan betapa akan hebat dan ngerinya
kalau tubuh mereka terpelanting keluar dan melayang ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam jurang itu! Mereka kini duduk diam dalam keranjang
masing-masing sambil berpegang erat-erat pada tali
keranjang.
Setelah melalui bukit-bukit berhutan lebat dan jurangjurang
yang curam, akhirnya tibalah mereka di sebuah
puncak. Lui Sian Lojin menghentikan larinya dan tiga orang
anak itu turun dari tempat duduk masing-masing. Ternyata
mereka berada di sebidang tanah datar yang penuh dengan
rumput hijau dan di bawah beberapa batang pohon besar
terdapat sebuah pondok kayu sederhana.
"Nah, kita sudah sampai di rumah kita!" kata Lui Sian Lojin
sambil tersenyum dengan perasaan seorang ayah yang baru
saja pulang melancong bersama tiga orang anaknya.
Kehadiran tiga orang anak itu mendatangkan kebahagiaan
baru di dalam hati Lui Sian Lojin, kakek yang selama hidupnya
tidak pernah kawin dan belum pernah merasakan menjadi
ayah itu! .
Tiga orang anak itu memandang ke kanan kiri dengan
girang karena pemandangan di situ memang amatlah
indahnya. Dari banyaknya tumbuh-tumbuhan yang hidup
subur di atas bukit, dapat diduga bahwa di tempat itu tentu
subur dan baik.
Tiba-tiba Beng Han menjatuhkan diri berlutut di depan
kakek itu sambil berkata, "Setelah menjadi murid, seharusnya
teecu (murid) bertiga lebih dulu mengangkat engkau orang
tua sebagai suhu (guru)."
Melihat perbuatan Beng Han ini, Bun Hong dan Kui Eng
juga segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lui Sian Lojin.
Kakek ini tertawa bergelak, mengangkat muka ke angkasa dan
mengelus jenggotnya. Kemudian dia memandang kepada tiga
orang anak itu, diam-diam menggunakan ujung lengan
bajunya untuk mengeringkan kedua matanya yang tiba-tiba
menjadi basah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Karena kalian sendiri telah mendahuluiku, maka biarlah
sekarang dilakukan upacara pengangkatan guru. Ketahuilah,
murid-muridku, aku adalah seorang pertapa di tempat ini dan
namaku Lui Sian Lojin. Kalian bertiga tidak akan menyesal
menjadi murid-muridku, dan untuk menjaga segala
kemungkinan buruk yang kuharapkan tidak akan terjadi
selamanya, kalian harus bersumpah."
Kemudian Lui Sian Lojin menyuruh tiga orang muridnya itu
bersumpah untuk mentaati perintah-perintah dan pantanganpantangan
seperti berikut:
1. Mereka harus mempergunakan ilmu kepandaian yangg
mereka pelajari untuk menolong sesama hidup, membela
kebenaran, menjurjung tinggi keadilan dan membasmi
kejahatan berdasarkan perikemanusian.
2. Mereka harus bersikap sabar, berani mengalah dan
menghindarkan permusuhan dan perkelahian yang timbul
karena hal-hal yang remeh.
5. Mereka tidak boleh sembarangan membunuh seorang
lawan apabila hal itu tidak sangat perlu dan lawan itu bukan
seorang yang memang benar-benar jahat dan berbahaya bagi
umum sehingga perlu dibinasakan.
4. Mereka tidak boleh menyombongkan kepandaian sendiri
dan sekali-kali tidak boleh mepergunakan kepandaian untuk
menindas orang lain yang lemah.
Tiga orang anak kecil itu berlutut sambil mengucapkan
sumpah untuk mentaati semua perintah itu dan mengucapkan
janji-janji menurut apa yang dikatakan oleh guru mereka, Lui
Sian Lojin. Biarpun mereka masih kecil dan belum dapat
mengerti dengan baik apa yang mereka ucapkan, namun
mereka telah bersikap sungguh-sungguh, bahkan Kui Eng dan
Bun Hong yang berwatak gembira jenaka itu pada waktu
berlutut dan bersumpah, nampak sungguh-sungguh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengucapkan sumpah dengan penuh semangat sehingga guru
mereka menjadi puas.
"Nah, sekarang kita makan dulu. Aku mempunyai
persediaan ubi di dapur. Setelah makan barulah kita
beristirahat dan mulai besok pagi-pagi kalian harus bekerja di
ladang, membantu aku mencangkul ladang di timur itu untuk
ditanami padi. Kui Eng, kau memasak air ! Bun Hong dan
Beng Han, kalian pilih ubi-ubi di dapur itu dan bersihkan
lumpurnya, juga isi gentong dengan air dari sumber di selatan
itu!" Lui Sian Lojin membagi-bagi tugas sambil tertawa dan
wajah kakek ini berseri penuh kegembiraan.
Demikianlah, semenjak hari itu, tiga orang anak itu hidup di
atas puncak Pegunungan Kwi-hoa-san, mempelajari ilmu silat
sambil melakukan pekerjaan bertani, di bawah pimpinan Lui
Sian Lojin yang amat menyayangi mereka seperti kepada
anak-anaknya sendiri. Selain mendidik mereka dengan ilmu
silat tinggi, juga kakek itu memberi pelajaran ilmu sastera
kepada mereka. Kakek ini maklum bahwa ilmu pengetahuan
bu (silat) harus dibarengi dengan bun (sastera), karena hanya
ahli dalam bu saja tanpa mengenal bun, akan membentuk
orang menjadi tukang pukul yang kasar dan kejam, sebaliknya
hanya ahli dalam bun saja tanpa mengenal bu, akan membuat
orang menjadi seorang kutu buku yang lemah dan tidak dapat
menjaga diri sendiri dan orang lain .
Biarpun Lui Sian Lojin bukan seorang ahli sastera yang
pandai, namun berkat kerajinan dan ketekunannya mendidik
tiga orang anak itu, mereka tidak menjadi buta huruf dan
dapat membaca dan menulis dengan baik. Di samping
pelajaran bu dan bun ini, juga Lui Sian Lojin memberi dasardasar
pengertian ilmu kebatinan dan pelajaran budi pekerti
sehingga tiga orang anak-anak itu mengerti dan terbuka mata
batin mereka bahwa di antara segala ilmu pengetahuan, yang
terpenting adalah perilaku yang baik agar jalan hidup mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak sampai menyeleweng ke lembah kejahatan dan
kesengsaraan.
-0odwkz-234o0-
Betapa anehnya sang waktu! Betapa hidup ini dicengkeram
sepenuhnya oleh sang waktu! Akan tetapi, benarkah sang
waktu yang menguasai kita? Bukankah waktu diadakan oleh
pikiran kita sendiri ? Waktu adalah ukuran, dan yang
mengukur adalah pikiran kita. Dapatkah kita hidup di luar
pengaruh sang waktu, di luar pengaruh sang pikiran karena
waktu adalah pikiran pula? Kalau sudah begitu, yang lalu, dari
detik yang lalu sampai ribuan tahun yang lalu, sudah mati dan
tidak menyangkut dalam ingatan lagi, sedangkan yang akan
datang, dari detik berikutnya sampai kelak, tidak terbayang
dalam pikiran lagi. Kalau sudah begitu, hidup adalah saat ini,
detik demi detik. Pencurahan perhatian pada setiap detik yang
dilalui tanpa mengenangkan yang lalu dan membayangkan
yang mendatang, akan membebaskan kita dari cengkeraman
waktu.
Memang waktu amatlah aneh. Apabila kita mengikuti dan
memperhatikan majunya waktu detik demi detik, apabila kita
menanti sesuatu, mengharapkan sesuatu, maka akan terasa
amat lamalah jalannya sang waktu. Akan tetapi sebaliknya
sebentar saja perhatian kita beralih, maka sang waktu akan
meluncur cepat laksana anak panah terlepas dari busurnya.
Demikianlah, duabelas tahun telah lewat tak terasa
semenjak tiga orang anak kecil yang menjadi korban bencana
perang itu ikut ke puncak Kwi-hoa-san dan menjadi muridmurid
Lui Sian Lojin. Kui Eng. Tan Bun Hong, dan Gan Beng
Han telah duabelas tahun tinggal di puncak gunung itu dan
kini telah menjadi orang-orang muda menjelang dewasa. Lui
Sian Lojin telah menurunkan seluruh ilmu kepandaian silatnya
kepada mereka secara adil dan tidak berat sebelah. Bahkan
ilmu pedang ciptaannya, yaitu Kwi - hoa Kiam-hoat, telah dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ajarkan kepada mereka bertiga sampai mereka dapat
menguasainya dengan sempurna. Mereka telah menerima pula
gemblengan-gemblengan untuk menghimpun tenaga sakti dan
ilmu meringankan tubuh sehingga kini mereka telah menjadi
ahli-ahli sinkang dan ginkang yang lihai.
Biarpun menerima gemblengan secara berbareng dan
mempelajari ilmu silat yang sama dari guru yang sama pula,
namun terdapat perbedaan besar dalam gerakan mereka. ilmu
silat adalah suatu ilmu yang dapat bercabang-ranting dan
berkembang secara tanpa batas, oleh karena ilmu silat
termasuk suatu kesenian. Seperti juga kesenian yang lain,
ilmu silat mempunyai variasi dan keindahan serta kegunaan
yang kesemuanya tergantung sepenuhnya kepada yang
menguasainya. Guru hanya memberi pelajaran dasar-dasar
gerakan kaki tangan belaka serta memberi contoh-contoh
tentang gerakan atau gaya permainan menurut garis-garis
dasar cabang persilatan yang dianutnya. Akan tetapi
selanjutnya, untuk mematangkannya, tergantung kepada si
murid sendirilah yang memberi tambahan variasi-variasi atau
kembangan-kembangan dan gaya menurut bakat dan
pribadinya masing-masing.
Demikian pula dengan tiga orang murid Lui Sian Lojin.
Biarpun mereka mempelajari ilmu silat yang sama,namun
persamaan ini lunya terletak pada dasar gerakan kaki dan
tangan mereka, sedangkan kelihaian masing-masing amat
berbeda sifatnya. Kui Eng memiliki gaya ilmu silat yang indah
dipandang, bagaikan seorang bidadari sedang menari, lemah
lembut gayanya. Akan tetapi di dalam kelemahannya itu
tersembunyi tenaga sinkang yang cukup hebat dan dia
memiliki atau menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh)
yang lebih tinggi tingkatnya kalau dibandingkan dengan
tingkat kedua orang suhengnya (kakak seperguruannya). Hal
ini disebabkan oleh bakat dan pembawaannya yang memang
cekatan dan gesit sekali, seperti pembawaan seekor burung
walet yang lebih gesit dari pada burung-burung lainnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Bun Hong memiliki gerakan yang cepat dan dia pandai
sekali membuat gerak-erak tipu yang ditambahkannya sendiri
pada gerak-gerak yang sesungguhnya seperti yang diajarkan
oleh gurunya. Gerakan-gerakan palsu ini, baik yang dilakukan
dalam ilmu silat jangan kosong maupun ilmu silat pedang,
amat berbahaya karena dapat membingungkan fihak lawan
yang belum mengenal betul inti ilmu pedangnya.
Kecepatannya menggerakkan kaki tangan amat luar biasa
sehingga kalau dia sedang berlatih pedang, pedang di
tangannya berubah menjadi segulung sinar yang ganas
bagaikan seekor naga menyerbu dari angkasa .
Sebaliknya, Gan Beng Han memiliki tenaga sinkang yang
paling kuat oleh karena dia amat tekun dan kuat sekali
berlatih dan bersamadhi dengan latihan pernapasan sehingga
sinkangnya menjadi amat kuat. Gerakan kaki tangannya
lambat dan tidak mengandung banyak variasi, namun gerakan
itu tetap, teguh dan mantap, membuat pedang di tangannya
kalau dia mainkan menjadi seperti dinding baja yang tidak
mungkin ditembus.
Gaya dan variasi dalam ilmu silat memang amat
dipengaruhi oleh sifat dan perangai pemainnya karena semua
gerakan itu dikendalikan oleh rasa, sedangkan perasaan
seseorang mempunyai hubungan erat dengan sifat-sifat
pribadinya. Lui Sian Lojin maklum sepenuhnya akan hal ini,
maka dia membantu perkembangan ilmu silat tiga orang
muridnya itu dengan menyesuaikan gerakan-gerakan silat itu
dengan sifat masing-masing. Dia memberikan petunjuk dan
nasihat yang amat berharga dan yang ditaati sepenuhnya oleh
tiga orang muridnya. Tiga orang itu menganggap guru mereka
sebagai pengganti orang tua sendiri. Di dalami hati mereka
tumbuh kasih sayang dan bakti seperti perasaan seorang anak
terhadap ayahnya sendiri. Semua ini didorong oleh rasa terima
kasih dan oleh rasa kasih sayang yang teramat besar dari
kakek itu terhadap diri mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selain mempelajari ilmu silat, ilmu sastera dan kebatinan, di
samping waktu-waktu yang mereka penuhi dengan latihanlatihan
yang tekun, mereka juga membantu kakek itu dalam
pekerjaan di sawah ladang. Dalam pekerjaan ini merekapun
rajin sekali sehingga hasil tanaman mereka amat berkelebihan
dan kelebihannya dapat mereka, bawa turun gunung, ke
dusun-dusun dan mereka tukarkan dengan kebutuhan lain
seperti bumbu-bumbu, perabot-perabot dan pakaian. Oleh
karena itu, biarpun mereka hidup di puncak gunung, biarpun
pakaian mereka selalu sederhana seperti juga pakaian guru
mereka, namun mereka tidak kekurangan pakaian. Bentuk
pakaian merekapun sudah membuktikan keadaan batin
mereka yang sungguh berbeda. Kui Eng, seperti biasanya
seorang dara remaja, tentu saja agak pesolek dan bahan
pakaiannya lebih indah dari pada kedua orang suhengnya,
biarpun amat sederhana dibandingkan dengan gadis-gadis
kota misalnya. Bun Hong membuat pakaiannya bercorak
seperti pakaian sasterawan dusun yang sederhana, sedangkan
Beng Han agaknya tidak mau meninggalkan asalnya,
pakaiannya seperti pakaian seorang petani!
Pada suatu hari, Lui Sian Lojin memanggil tiga orang
muridnya berkumpul dan setelah mereka datang menghadap
dan berlutut di depannya, kakek ini berkata, "Eng Eng, kau
mendekatlah."
Kakek itu biasa menyebut Kui Eng dengan nama Eng Eng,
dan memang tak dapat disembunyikan bahwa kakek ini amat
sayang kepadanya dan agak memanjakan, dibandingkan
dengan sikapnya terhadap dua orang muridnya yang lain. Kui
Eng atau Eng Eng mendekati suhunya dan kakek itu mengelus
kepala Kui Eng yang diperlakukan seperti masih anak-anak
saja.
"Murid muridku, duabelas tahun lamanya kalian bertiga
telah belajar ilmu di tempat ini dan kini kalian telah memiliki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu kepandaian yang lumayan. Masih ingatkah kalian kepada
sumpah kalian dahulu itu ?"
Tentu saja mereka masih ingat karena sering kali suhu
mereka memberi peringatan agar isi sumpah itu berakar di
dalam hati sanubari mereka, maka mereka bertiga
mengangguk dan saling pandang karena mereka heran akan
sikap suhu mereka dan menduga bahwa tentu ada apa-apa
yang penting dan yang hendak disampaikan oleh guru itu
kepada mereka.
"Syukurlah kalau kalian masih ingat," kata kakek itu melihat
tiga orang muridnya mengangguk. "Sekarang tibalah saatnya
bagi kalian untuk memberi isi kepada sumpahmu itu,
mempergunakan ilmu kepandaian pada saat dan di tempat
yang benar agar kalian menjadi manusia-manusia yang
berguna, bagi orang lain. Kalian harus turun gunung dan mulai
melakukan tugas kewajiban sebagai pendekar-pendekar muda
yang gagah perkasa dan mencari pengalaman hihup."
Tiga orang muda itu merasa terkejut sekali karena belum
pernah terpikir oleh mereka untuk pergi meninggalkan tempat
yang mereka anggap sebagai satu-satunya tempat tinggal
mereka itu dan untuk terjun ke dalam dunia ramai yang kini
terasa asing bagi mereka. Terutama sekali Kui Eng merasa
kaget dan dia cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat kaki
suhunya dan berkata dengan suara mengandung keharuan.
"Turun gunung, suhu? Turun gunung dan pergi
meninggalkan suhu? Suhu sudah tua dan kalau kami pergi,
siapakah yang akan merawat suhu ? Teecu tidak sampai hati
meninggalkan suhu dan biarlah dua orang suheng ini turun
gunung memperluas pengalaman mereka. Akan tetapi biarkan
teecu tinggal di sini bersama suhu. Teecu tidak ingin
meninggalkan suhu."
Bun Hong tidak mengeluarkan kata sepatahpun, pandang
matanya merenung jauh dan diam-diam dia merasa amat
gembira. Biarpun dia tidak pernah menyatakan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulutnya, akan tetapi setiap kali dia berdiri di atas batu besar
yang berada di puncak bukit dan memandang ke tempat jauh,
hatinya berdebar tegang dan timbul keinginan hatinya untuk
melihat bagaimana pemandangan dan keadaan di dunia ramai
yang jauh itu. Akan tetapi setelah kini dengan tiba-tiba
suhunya bicara tentang turun gunung, diapun menjadi raguragu,
tiada ubahnya seekor burung yang dilepas dari kurungan
dan tidak tahu kemana harus terbang pergi.
Sementara itu, Beng Han berkata kepada suhunya dengan
suaranya yang dalam dan tenang, "Suhu, sungguhpun teecu
ingin sekali mentaati perintah suhu untuk turun gunung, akan
tetapi menurut pendapat teecu, ucapan sumoi tadi benar juga.
Kalau teecu bertiga pergi dari sini, suhu lentu akan merasa
kesepian dan siapakah yang akan mengerjakan sawah ladang,
siapakah yang akan merawat suhu yang sudah tua? Lebih baik
teecu bertiga turun gunung secara bergiliran, apa bila seorang
sudah kembali, barulah orang ke dua pergi sehingga dengan
demikian, suhu tidak akan pernah ditinggalkan seorang diri di
sini "
Lui Sian Lojin tersenyum menutupi keharuan hatinya.
"Anak-anakku, kalian anggap orang macam apakah aku ini?
Aku adalah seorang yang sudah biasa hidup menyendiri, dan
untuk merawat tubuhku yang sudah tua ini kiranya tidaklah
sukar, karena badan dan batinku sudah tidak mempunyai
banyak keinginan lagi. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri
dan bagiku, tidak ada kesenangan lain kecuali membayangkan
kalian sedang berjuang demi membela kebenaran dan orangorang
tertindas yang banyak terjadi di dunia ramai.
Ketahuilah, murid-muridku, bahwa pohon buah yang
bagaimana lezat sekalipun tidak ada gunanya apabila tumbuh
di dalam tempat yang terasing sehingga buah-buahnya tidak
dapat dinikmati orang. Ibarat pohon-pohon buah, kalian
bertiga adalah tiga batang pohon kecil yang baru tumbuh
ketika bertemu dengan aku. Kemudian aku membawa kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke puncak ini, merawat dan menyirami tiga batang pohon kecil
itu sehingga sekarang telah tumbuh menjadi besar dan
berkembang. Apa bila kalian tidak turun gunung sekarang
untuk membiarkan kembang-kembang itu berbuah dan
dinikmati orang yang membutuhkannya, bukankah kembangkembang
itu akan sia-sia belaka dan buah-buahnyapun akan
jatuh satu demi satu dan membusuk di atas tanah? Dan kalau
terjadi seperti itu, bukankah berarti bahwa susah-payahku
selama merawat dan menyirami pohon-pohon kecil itu menjadi
sia-sia belaka?".
Tiga orang muda itu tertunduk mendengar ucapan suhu
mereka yang amat berkesan di hati masing-masing, dan
mereka mengerti dengan baik akan maksud suhu mereka.
"Oleh karena itu, anak-anakku kalian turunlah dari tempat
ini dan merantau di dunia ramai. Aku akan menunggu kalian di
tempat ini dan kuberi waktu tiga tahun kepada kalian untuk
meluaskan pengalaman. Tiga tahun kemudian, pulanglah
kalian ke sini untuk membuat laporan kepadaku. Kurasa
tubuhku yang sudah tua ini masih akan kuat menanti sampai
tiga tahun, lagi."
Mendengar kalimat terakhir ini, Kui Eng mengangkat
mukanya dan memandang wajah Lui Sian Lojin. Kakek itu
sekarang telah nampak tua benar, rambut dan jenggotnya
telah putih bagaikan benang-benang perak dan kulit mukanya
telah penuh keriput. Bahkan alisnya telah berwarna putih pula,
menandakan bahwa usianya sudah sangat lanjut. Tiba-tiba
timbul rasa kasihan di dalam hati Kui Eng dan gadis itu
berlutut sambil berkata, "Akan tetapi, suhu. Suhu sudah
sangat tua dan hati teecu tidak akan membenarkan kalau
teecu neninggalkan suhu. Di perantauan, hati teecu akan
selalu teringat kepada suhu dan selalu akan merasa khawatir."
Sepasang mata gadis itu menjadi basah.
Melihat dara remaja itu hampir menangis karena berat
meninggalkannya, diam-diam Lui Sian Lojin merasa amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terharu dan juga girang. Dia merasa amat bangga dan
berbahagia oleh karena tiga orang muridnya yang telah
dianggapnya sebagai anak sendiri itu ternyata amat
mengasihinya. Tidak sia-sialah dia merawat mereka semenjak
mereka masih kecil. Akan tetapi, kakek ini bukanlah seorang
manusia lemah yang suka mementingkan diri sendiri. Maka
dikuatkannya batinnya dan dengan suara tetap dan nyaring
dia berkata, "Eng Eng! Tidak selayaknya seorang dara perkasa
seperti engkau ini mengobral air mata ! Dan tidak seharusnya
seorang muridku yang gagah seperti engkau menjadi lemah
hati. Angkat mukamu dan keringkan air matamu, lalu
tersenyumlah!"
Perlahan-lahan Kui Eng mengangkat mukanya. Kalau dia
melihat wajah suhunya muram dan berduka, tentu dia tidak
akan dapat menahan kesedihannya. Akan tetapi dia melihat
wajah suhunya yang kerut-merut oleh keriput itu tersenyum
kepadanya"dan sepasang mata orang tua itu bersinar-sinar
penuh kegembiraan, maka seketika lenyaplah kelemahan
hatinya dan diapun lalu tersenyum ! Memang pada dasarnya
Kui Eng bukanlah seorang dara yang mudah hanyut oleh
keharuan dan kedukaan,sebaliknya malah, dia seorang dara
yang lincahi jenaka dan selalu riang gembira seperti se-l ekor
burung murai di pagi hari.
"Nah, begitulah seharusnya, anakku yang baik. Eng Eng,
dahulu kau bercerita kepadaku bahwa ibumu dilarikan
penjahat, masih ingatkah engkau kepada ibumu ?"
Kui Eng terkejut sekali mendengar ini. Telah lama dia
mencoba untuk melupakan bayangan peristiwa di masa dia
masih kecil, bayangan peristiwa yang amat mengerikan,
namun usahanya untuk melupakan semua itu sia-sia belaka.
Bayangan itu kadang-kadang, dan sering kali di waktu dia
tidur, membayanginya sebagai mimpi buruk. Dan sekarang,
suhunya! bahkan mengingatkannya akan hal itu!.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebetulnya Lui Sian Lojin tidak ingin membangkitbangkitkan
hal itu dalam hati tiga orang muridnya. Dia
mengerti akan kesia-siaan dan bahaya dari racun dendam
sakit hati yang akan mencengkeram dan menguasai kehidupan
seseorang. Akan tetapi melihat keraguan hati Kui Eng untuk
turun gunung, terpaksa dia mengemukakan dan
mengingatkan hal itu untuk mendorong hati Kui Eng agar dara
ini lebih bersemangat turun gunung dan mencari ibunya.
Kui Eng yang terkejut kini memandang gurunya dan tibatiba
saja terbayanglah semua malapetaka yang menimpa
keluarganya, teringatlah dia betapa dia hidup sebatangkara
tanpa keluarga dan menangislah Kui Eng terisak-isak di depan
kaki gurunya. Kakek itu terkejut dan menyesal mengapa dia
mengingatkan hal itu, akan tetapi sudah terlanjur dan dia
menarik napas panjang.
"Suhu, sekarang juga teecu hendak mencari orang yang
menculik ibu........ dan teecu akan menghancurkan kepalanya,
merobek dadanya........!" katanya dengan nada gemas dan
penuh kemarahan.
"Aihhhh......., tenang dan sabarlah, Eng Eng. Jangan
demikian mudah hanyut oleh gelombang nafsu, anakku.
Mudah saja engkau mengeluarkan kata-kata ancaman seperti
itu, seolah-olah yang hendak kaurobek dadanya hanya seekor
ayam saja! Anakku, engkau harus tenang, pikirlah baik-baik,
bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa orang yang
melarikan ibumu itu bahkan menjadi penolong yang
menyelamatkan nyawanya?"
Kui Eng menjadi terkejut sekali, mukanya berubah pucat
dan dia menjadi bingung. "Kalau begitu....... eh, tentu
saja....... eh, teecu minta petunjuk, suhu, karena teecu tidak
mengerti harus berbuat apa......" katanya gagap.
Lui Sian Lojin tersenyum dan menahan kegelisah hatinya.
"Dengarkanlah baik-baik, Eng Eng, dan kalian juga, Beng Han
dan Bun Hong. Kalian bertiga telah bersumpah di hadapanku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan di antara sumpah itu terdapat pernyataan bahwa kalian
tidak akan membunuh orang secara serampangan saja. Harus
diingat bahwa pembunuhan adalah suatu perbuatan yang
amat jahat dan kejam, yang akan menimbulkan penderitaan
kepada diri sendiri. Kita tidak berkuasa mencipta manusia,
mengapa pula kita harus mengakhiri hidup seorang manusia
yang di-ciptakan Tuhan? Hanya Tuhan yang berkuasa
mencabut nyawa manusia. Ingatlah baik baik, kalau tidak
sangat terpaksa, dan dengan alasan-alasan yang kuat, jika
masih ada jalan lain jangan sekali-kali kalian menurunkan
tangan kejam dan membunuh orang. Lihatlah ini! "
Sambil berkata demikian kakek itu mencabut pedangnya,
sebatang pedang pusaka yang bercahaya kekuningan dan
yang tajamnya luar biasa sekali karena tiga orang murid itu
pernah melihat suhu mereka mendemonstrasikan kehebatan
pedang itu dengan membacok batu-batu besar seperti orang
membacok tahu saja.
"Selama aku masih hidup dan pedang ini masih berada di
tanganku, kalau kalian melanggar sumpah dan melakukan
kejahatan dengan mengandalkan kepandaianmu yang kalian
pelajari di sini, biarpun hatiku amat mencintai kalian, maka
siapa yang berbuat dosa dan jahat akan kuserang dengan
pedang ini!" Ketika kakek itu mengucapkan kata kata ini,
wajahnya nampak gagah dan suaranya kedengaran sungguhsungguh
sehingga tiga orung muridnya menjadi gentar.
"Dan sekarang, berkemaslah untuk turun gunung pada hari
ini juga. Terserah kepada kalian untuk merantau bersama atau
hendak berpisah, akan tetapi aku menghendaki agar supaya
kalian saling membantu dan agar kalian bertiga datang ke
tempat ini pada tiga tahun kemudian."
Setelah menerima banyak petunjuk-petunjuk tentang dunia
kang ouw dan tentang nama beberapa tokoh kang-ouw yang
terkenal dua-belas tahun yang lalu seperti yang diketahui oleh
Lui Sian Lojin, dan memberi nasihat-nasihat berharga yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
amat penting diketahui oleh tiga orang muda yang masih hijau
ini, mereka bertiga dengan hati berat lalu berkemas Selama
berada di situ, suhu mereka amat mencinta mereka dan
biarpun mereka tinggal di atas puncak gunung, namun berkat
kelebihan hasil tanaman mereka, tiga orang muda itu
mempunyai persediaan pakaian yang cukup banyak, dan
masing-masing telah memiliki sebatang pedang yang biarpun
bukan merupakan pedang pusaka namun cukup baik.
Kemudian, lewat tengah hari, mereka berlutut lagi di depan
suhu mereka, memberi hormat dan mohon diri, lalu
berangkatlah mereka turun gunung meninggalkan tempat itu.
Lui Sian Lojin berdiri di atas batu besar yang berada di puncak
dan memandang ke arah tiga orang muridnya, mengikuti
bayangan mereka itu lenyap di antara pohon-pohon.Kemudian
turunlah dia dari batu besar itu dan berjalan perlahan
memasuki pondoknya. Pondok yang kosong itu betapapun
juga mempengaruhi hatinya yang tiba-tiba saja terasa kosong.
Hidupnya seakan-akan mati dan semangatnya seperti terbawa
pergi oleh tiga orang muda itu. Dadanya terasa sesak dan
kerongkongannya bagaikan disumbat sesuatu dari dalam,
akan tetapi kakek yang gagah perkasa ini lalu menggunakan
kekuatan batinnya untuk menekan rasa duka dan kesepian itu,
dan dia duduk bersila di atas pembaringannya sambil
bersamadhi dan mengatur pernapasan.
Pengikatan diri terhadap apapun juga di dunia ini tentu
akan menimbulkan duka. Cinta kita terhadap manusia lain
atau terhadap benda sebenarnya hanyalah kesenangan yang
kita nikmati dari manusia atau benda yang kita cinta itu. Cinta
macam ini bersifat memiliki dan mengandung pengikatan.
Oleh karena itu, apa bila kita mengikatkan diri kepada sesuatu
baik manusia atau benda, yang kita sukai, seolah-olah ikatan
itu menumbuhkan akar di dalam batin, maka setiap kali kita
dipisahkan dari apa yang kita cintai itu, terjebollah akarnya
dan hal ini tentu saja menyakitkan batin dan menimbulkan
duka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pengikatan diri menimbulkan rasa iba diri apabila
perpisahan datang, sedangkan perpisahan tidak mungkin
dapat dielakkan lagi di dunia ini karena segala sesuatu adalah
tidak kekal adanya. Dan betapa banyaknya kita "mengikatkan
diri" dengan keduniawian, dengan keluarga, sahabat, harta
benda, kedudukan, nama besar, dan seribu satu macam halhal
yang mendatangkan kenangan bagi kita sehingga hidup
kita penuh dengan hal-hal yang menimbulkan duka karena
sewaktu-waktu kita tentu akan berpisah dengan semua itu.
Pengikatan diri inipun menimbulkan rasa takut akan
kematian, perpisahan yang mutlak karena saat kita mati kita
akan berpisah dari semua yang kita sayang iju. Karena itu
yang terutama dan terpenting adalah: Dapatkah kita hidup
tanpa pengikatan dengan apapun juga, tanpa bersandar
kepada apapun juga, secara batiniah ?
-0odwkz-234o0-
Bukan sembarangan orang-orang muda yang turun dari
puncak Kwi-hoa-san pada hari itu. Kui Eng telah menjadi
seorang dara remaja berusia tujuhbelas tahun yang cantik
jelita dan manis. Rambutnya yang hitam panjang dan halus
itu dikepang menjadi dua dan diikat dengan pita sutera
merah, dan di atas kepalanya sebelah kiri dihias dengan
hiasan rambut berupa setangkai bunga bwee terbuat dari
pada batu-batu merah pemberian suhunya.
Wajahnya yang berbentuk bulat telur itu bertambah manis
karena senyumnya selalu menghias bibir yang merah dan
tipis. Sepasang matanva yang agak lebar selalu bersinar-sinar
laksana bintang pagi, membuat wajahnya nampak cerah dan
selalu berseri. Tubuhnya ramping padat, membayangkan
bahwa dia sehat dan memiliki tenaga halus yang amat kuat,
sedangkan kulitnya yang halus putih kekuningan itu
menyembunyikan keadaannya sebagai seorang pendekar
wanita yang lihai. Sukar untuk percaya bahwa kedua tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berkulit halus itu mampu memecahkan batu dengan satu
kali pukul ! Warna hijau menjadi kesukaannya dan pakaian
yang menutupi tubuhnya terbuat dari sutera berwarna hijau,
dengan potongan yang sederhana, namun warna itu membuat
kulitnya nampak lebih putih dan gemilang.
Pinggangnya yang ramping terikat dengan sabuk sutera
merah, kedua ujung sabuk melambai-lambai tertiup angin
gunung ketika dia berjalan menuruni gunung bersama kedua
orang suhengnya. Kedua sepatunya yang kecil dan masih baru
itu berwarna hitam.
Gagang pedang yang tersembul di pinggangnya membuat
dia nampak gayah. Cantik jelita dan gagah perkasa,
demikianlah kesan yang didatangkan oleh pribadi Kui Eng,
bagaikan setangkai bunga yang semerbak mengharum dan
indah, akan tetapi dia bukanlah bunga sembarang bunga.
Bukanlah bunga harum indah yang mudah dijangkau tangan
dan mudah pula dipetik. Ibarat bunga, dia berada di tempat
tinggi dan kegagahannya yang melingdungi kecantikannya
bagaikan duri-duri tajam yang melindungi bunga harum itu.
Mudah dipandang akan tetapi sukar untuk dicapai tangan !.
Tan Bun Hong yang berjalan di sebelah kiri Kui Eng juga
merupakan seorang pemuda yang patut dikagumi. Semenjak
kecilnya memang sudah dapat diduga bahwa dia akan menjadi
seorang pemuda yang tampan. Rambutnya hitam dan
digelung ke atas, diikat dengan sutera biru dengan erat-erat
sehingga dahinya yang tinggi dan lebar itu menambah
ketampanannya. Kulit mukanya halus dan putih sehingga
bibirnya nampak merah bagaikan bibir wanita, akan tetapi
bentuk mulutnya gagah dan tidak sekecil mulut wanita.
Sepasang matanya kocak dan Jenaka, selalu bergerak ke
sana-sini, kerlingnya menyambar nyambar, menunjukkan
bahwa dia memiliki otak yang cerdik, sedangkan senyum
manis yang tak pernah meninggalkan bibirnya membuat orang
merasa suka kepadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tubuhnya agak kurus akan tetapi bahunya lebar dan tegak.
Langkah kakinya tegap membayangkan adanya kekuatan
besar di dalam tubuhnya. Pakaiannya berwarna kuning gading
dengan ikat pinggang berwarna biru seperti ikat rambutnya.
Pakaiannya rapi dan bersih sampai kesepatunya, rambutnya
tersisir halus dan terawat, menandakan bahwa dia seorang
yang pesolek dan suka akan kebersihan. Juga pedangnya
tergantung di pinggang kiri membuat dia nampak tampan dan
gagah. Di sepanjang jalan dia bercakap-cakap tiada hentinya
dan pandai sekali menghibur hati kedua orang saudara
seperguruan itu dengan kelakar dan kejenakaan, sehingga
terhiburlah hati Kui Eng dan Beng Han.
Di sebelah kanan Kui Eng berjalanlah Gan Beng Han.
Tubuhnya tinggi, lebih tinggi dari Bun Hong, dan juga lebih
tegap. Rambutnya yang subur dan hitam juga diikat keatas
dengan sehelai pita berwarna hitam sehingga dari jauh tidak
kelihatan karena warnanya sama dengan rambutnya. Mukanya
lebar dan berbentuk bagus. Wajah seperti inilah yang biasa
disebut wajah "toapan" dan menurut pendapat umum, wajah
yang toapan itu adalah wajah seorang yang berwatak baik dan
dapat dipercaya. Alisnya tebal dan berbentuk seperti golok,
membayangkan kegagahan.
Kedua matanya tenang dan bersinar lembut, membayang
kan keiujuran. Dagunya berlekuk pada tengah-tengahnya
menambah sifat kejantanannya, akan tetapi bibirnya
membayang kesabaran yang besar.
Pakaiannya terbuat dari pada kain tebal berwarna abu-abu,
sederhana sekali seperti pakaian petani, jauh bedanya dengan
pakaian Bun Hong, sungguhpun guru mereka tidak pernah
membeda bedakan antara mereka. Hal ini menunjukkan
bahwa memang Beng Han memiliki watak sederhana. Kulit
mukanya tidak seputih Bun Hong, akan tetapi wajah Beng Han
tidak dapat dikatakan buruk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sungguhpun tidak setampan wajah Bun Hong, namun
tanpa dapat diragukan dia memiliki sifat gagah yang amat
menonjol. Langkah kakinya tidak seringan kaki Kui Eng yang
berjalan di sebelah kirinya, juga tidak secepat langkah kaki
Bun Hong, akan tetapi lebih tegap dan kuat, dengan langkah
yang lebar dan lenggang yang jelas membayangkan
kehebatan tenaganya, seperti lenggang seenaknya seekor
harimau muda.
Tiga orang muda yang pada waktu itu menuruni Gunung
Kwi-hoa-san, dapat disebut sebagai lambang dari kecantikan,
ketampanan, dan kegagahan. Dan apa bila orang mengetahui
akan kehebatan ilmu kepandaian silat mereka, maka orang itu
tentu akan menyatakan bahwa yang menuruni puncak gunung
itu bukanlah tiga orang muda sembarangan, melainkan tiga
naga sakti yang melayang turun dari angkasa ke dunia ramai
untuk melaksanakan tugas suci!.
Pada masa itu, Kerajaan Tang baru saja terlepas dari
gangguan pemberontakan. Bekas-bekas perang memang
sudah tidak nampak jelas, akan tetapi akibat-akibat perang
maasih terasa oleh rakyat karena kini yang menjadi kaisar
adalah seorang yang lemah dan tidak pandai menguasai
keadaan, tidak pandai mengatur pemerintahan.
Para pembesar kerajaaan, terutama sekali para thaikam
(orang kebiri) yang selalu menjadi sekelompok orang-oraang
yang paling dekat dengan kaisar, memegang peranan penting
dalam tampuk kerajaan. Para pembesar ini bukanlah
pemimpin sejati. Yang dinamakan pemimpin adalah orangorang
yang memegang kedudukan tinggi dan yang memimpin
rakyat ke arah kemakmuran bersama.
Akan tetapi pembesar adalah orang-orang yang,
memperebutkan kedudukan tinggi hanya unntuk memperbesar
perut sendiri, memperbesar kekuasaan dan memperbesar
kekayaan pribadi saja. Mereka ini selalu mementingkan diri
sendiri, mengejar kesenangan sebanyak-banyaknya .
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kesenangan dalam bentuk apapun, baik itu kedudukan,
harta benda dan sebagainya, bukan merupakan hal buruk dan
jahat.Akan tetapi, kalau sudah dikejar-kejar,maka dalam
PENGEJARANNYA inilah timbul kejahatan-kejahatan, karena
demi untuk mencapai yang dikejar-kejarnya, manusia tidak
segan-segan untuk melakukan perbuatan busuk macam
apapun juga. Pengejaran akan kedudukan menimbulkan
kejahatan dan kecurangan terhadap lawan yang
memperebutkan kedudukan, pengejaran terhadap kekayaan
antara lain menimbulkan korupsi yang kian merajalela.
Dan keadaan seperti ini tiada bedanya dengan keadaan di
waktu berkecamuk perang, kembali rakyat jelatalah yang
celaka dan menderita akibat tekanan para pembesar itu. Pajak
penghasilan sawah ladang dan segala macam pekerjaan
diperhebat dan diperberat. Celakanya, bukan hanya satu fihak
saja yang merupa kan lintah yang menghisap darah rakyat,
melainkan berantai, dari yang paling tinggi sampai paling
rendah. Dari kaisar sampai para pemungut pajak, maka
jumlah yang dikenakan pada rakyat juga menjadi berlipat
ganda. Tentu saja pendapatan pajak itu hanya sebagian kecil
saja yang disetorkan kepada kerajaan dan yang terbesar
kandas atau menyangkut di saku-saku para pembesar besar
kecil. Rakyat nembanting tulang memeras keringat sematamata
hanya untuk menambah gemuk para pembesar dan
juga. mereka yang memiliki tanah yang disewakan kepada
para petani.
Oleh karena adanya tekanan yang amat berat sehingga
membuat kehidupan rakyat penuh derita dan kekurangan ini,
tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang memiliki
ilmu kepandaian dan kekuatan lalu melarikan diri ke dalam
hutan dan menjadi perampok ! Tentu saja hal ini bukan
merupakan jalan keluar yang baik, akan tetapi penderitaan
hidup yang serba kekurangan, menimbulkan kekacauan dan
mata gelap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiga orang muda murid Lui Sian Lojin yang
mempergunakan ilmu berlari cepat ketika menuruni gunung
itu tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Kwi Hoa San. Hari
telah menjelang senja dan mereka merencanakan untuk
mencapai dusun Siong-hwa-chung di luar hutan sebelum
malam tiba dan melewatkan malam di dusun itu untuk
melanjutkan perjalanan esok harinya. Akan tetapi ketika
mereka tiba di tengah hutan itu, tiba-tiba terdengar suara
suitan-suitan dari kanan kiri dan depan. Mereka bertiga
merasa heran sekali, otomatis menghentikan langkah mereka
dan memandang dengan penuh kewaspadaan ke depan Tak
lama kemudian bermunculan orang-orang diri balik pohon
pohon dan semak-semak, orang orang kasar dan bersikap
bengis, dengan pakaian tambal tambalan, memegang golok
dan tubuh mereka kurus-kurus akan tetapi sikap mereka
ganas.
Kecewalah hati tiga orang muda itu. Manusia-manusia
pertama yang mereka temui dalam perjalanan turun gunung
ini ternyata adalah segerombolan perampok ! Seorang laki-laki
setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan kelihatan kokoh
kaat. berdiri menghadang mereka dengan golok di tangan
kanan. Tangan kirinya bertolak pingeang dan kedua kakinya
dipentang lebar, sikapnya ganas dan gagah. Jelas bahwa tentu
dia kepala perampok itu .
"Hai, tiga orang muda yang sedang lewat!. Berhenti dulu
dan tinggalkan bungkusan dan pedang kalian, baru boleh
lewat terus!" kata nya dengan sikap menakutkan.
Tiga orang muda itu saling pandang sambil tersenyum.
Biarpun mereka belum berpengalaman dan selamanya belum
pernah bertemu dengan orang-orang kasar seperti itu, akan
tetapi berkat penuturan suhu mereka, tiga orang muda ini
sudah dapat menduga orang-orang macam apa adanya
mereka yang kini menghadang perjalanan itu .
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suheng, mereka adalah orang-orang jahat yang perlu
dibasmi!" kata Bun Hong dengan tenang sambil meraba
gagang pedangnya. Juga Kui Eng sudah meraba gagang
pedangnya, hatinya tegang dan jantungnya berdebar karena
agaknya baru sekali ini dia akan mengalami pertempuran dan
mempraktekkan semua ilmu silat yang selama ini
dipelajarinya. Akan tetapi Beng Han tetap bersikap tenang.
Sebagai saudara seperguruan yang tertua, dialah yang berhak
memimpin seperti yang juga dipesan oleh suhu mereka. Lui
Sian Lojin yang mengenal baik watak tiga orang muridnya,
maklum bahwa di antara mereka bertiga, hanya Beng Han
yang boleh diandalkan untuk menjadi pemimpin karena
pemuda ini tenang dan bijaksana, tidak sembrono seperti dua
orang adik seperguruannya.
"Sahabat," kata Beng Han sambil melangkah maju,
suaranya tenang dan halus ramah. "Kita tidak saling
mengenal, tidak pernah saling bermusuhan, mengapa engkau
minta yang bukan-bukan ? Aku pernah mendengar bahwa
orang yang minta barang-barang orang lain secara paksa,
disebut perampok. Apakah kalian ini hendak merampok kami?"
Mendengar pertanyaan yang jujur ini, tiba-tiba kepala
perampok itu tertawa bergelak dan semua anak buahnya ikut
pula tertawa geli, seolah-olah suara ketawa kepala perampok
tadi merupakan komando kepada mereka supaya tertawa.
"Orang muda, engkau boleh menamakan kami perampok
atau apa saja. Pendeknya, kami yang berkuasa di rimba ini
dan setiap orang yang berjumpa dengan kami, harus
meninggalkan barang-barangnya. Kalau kalian bertiga
membangkang, jangan katakan kami berlaku keterlaluan
apabila golok-golok kami yang mewakili kami bicara!'
''Perampok kurang ajar! Kalian kira kami ini orang apakah?"
Bun Hong membentak marah dan melangkah maju sambil
mengangkat dada dan mengepal tinju.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sergap mereka!" teriak kepala perampok dan belasan
batang golok berkilauan ketika para perampok itu mulai
bergerak dan mengurung mereka bertiga.
'Jangan gunakan pedang!" Beng Han memperingatkan dua
orang adik seperguruannya. Teriakan ini mengingatkan Bun
Hong dan Kui Eng akan pesan guru mereka bahwa mereka
tidak boleh sembarangan membunuh, maka tangan mereka
yang meraba gagang pedang dilepas dan dengan tangan
kosong mereka menghadapi serbuan belasan batang golok itu.
Jumlah perampok itu ada duapuluh dua orang termasuk
kepala perampoknya. Kini, mereka yang sudah mengurung itu
lalu mulai menerjang dengan golok mereka, sinar golok
berkilauan menyambar-nyambar ganas.
"Haaaiiiiittt !!" Kui Eng membentak.
"Hiaaaaahhh !" Bun Hong berseru.
"Heeeeehhh !" Beng Han juga membentak dan mereka
bertiga sudah menggerakkan tubuh mereka.
Dalam keadaan dikeroyok oleh banyak senjata tajam itu
tanpa diberi tahu lagi ketiga orang muda perkasa ini telah
tahu dengan ilmu apa mereka harus menandingi para
pengeroyok dan gerakan mereka memiliki dasar yang sama,
yaitu ilmu silat tangan kosong yang disebut Kong-jiu-jip-pek to
(Tangan Kosong Serbu Ratusan Golok) dan Sin-liong-haon-sin
(Naga Sakti Berjungkir Balik) untuk menangkis merampas
golok dan mengelak.
Bayangan mereka bergerak cepat, berkelebatan seperti tiga
ekor naga sakti mengamuk. Terdengar pekik kesakitan susulmenyusul
dan golok beterbangan ke empat penjuru. termasuk
si kepala perampok sendiri, telah rebah semua perampok itu di
atas tanah dalam keadaan tertotok terpukul dan tertendang
yang membuat mereka tidak dapat bangkit kembali !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para perampok itu merasa amat terkejut dan terheran.
Lebih heran hati mereka daripada rasa sakit yang mereka
tahan, sehingga keheranan itu seperti melupakan rasa takut
dan sakit. Mereka hanya rebah dan mcmandang dengan mata
terbelalak dan mulut ternganga. Belum pernah selama
menjadi perampok mereka mengalami hal seperti ini,
dirobohkan! dalam beberapa gebrakan saja oleh tiga orang
muda yang bertangan kosong secara demikian mudahnya!
Karena terkejut, heran dan juga kagum sekali, kepala
perampok yang roboh oleh sentilan jari tangan Bun Hong pada
iganya itu lalu merangkak bangun dan berlutut di depan tiga
orang pendekar muda itu.
"Ampunkan kami, sam wi enghiong ( tiga orang gagah),
mata kami telah buta dan lidak mengenal tiga orang pendekar
besar yang sedang melakukan perjalanan. Kami memang
pantas dihajar.........!"
Bun Hong dan Kui Eng memandang dengan mulut
tersenyum mengejek, akan tetapi Beng Han segera
membangunkan kepala perampok itu dan berkata, "Sahabat,
kulihat kalian masih muda dan gagah, mengapa kalian tidak
mau bekerja yang benar dan melakukan pekerjaan rendah
menjadi perampok ?"
Kepala perampok itu memang sejak masih muda telah
menjadi perampok, maka dia tidak dapat menjawab dan tidak
berani menjawab, hanya menundukkan kepala saja. Akan
tetapi bcberapa orang anak buahnya yang berasal diri
penduduk dusun, para petani yang tidak dapat mengandalkan
kaki tangan untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan rumah
tangganya, dengan suara sedih lalu berkata,"Ho-han (orang
budiman), kami menjadi perampok oleh karena terpaksa. Anak
isteri di rumah harus diberi makan dan pekerjaan halal apakah
yang dapat kami kerjakan pada waktu yang begini sukarnya ?
Kemampuan kami hanyalah bertani dan pekerjaan itu sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali tidak mencukupi kebutuhan perut seanak-bini kami.
Harap ho-han sudi mengampuni kami yang sengsara ini."
"Alasan kosong belaka !" Bun Hong membentak dan
memandang tajam. "Kalian harus sadar dan tidak melanjutkan
pekerjaan jahat ini. Awas, kalau lain kali aku lewat di sini dan
melihat kalian masih menjadi perampok, aku tidak akan
mempergunakan tangan dan kaki saja, akan tetapi aku tentu
akan menggunakan pedangku untuk menamatkan riwayat
kalian!"
Para perampok itu hanya mengangguk-angguk dengan
muka pucat.
"Kebutuhan perut saja tidak mungkin memaksa kalian
menjadi perampok," kata Beng Han dengan suara tenang.
"Berapa sih banyaknya kebutuhan perut ? Yang banyak adalah
kebutuhan mulut. Bukalah mata kalian bahwa yang
mendorong kalian melakukan perbuatan sesat ini adalah
angkara murka, bukan kebutuhan perut. Sekali ini kami
melepaskan kalian, akan tetapi harap jangan ulangi lagi
perbuatan sesat ini."
Para perampok kembali mengangguk-angguk. Diam-diam di
antara mereka ada yang maui membuka mata melihat
kenyataan dan menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh
pendekar yang bertubuh tinggi tegap itu memang benar
adanya. Kebutuhan perut memang sesungguhnya tidak
seberapa, karena sesungguhnya bumi penuh dengan
tetumbuhan yang dapat dimakan untuk memenuhi kebutuhan
perut. Akan tetapi, yang sesungguhnya selalu membuat
mereka merasa kekurangan adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan lain yang pada hakekat-nya adalah
pengejaran kesenangan belaka. Kebutuhan mulut adalah
pengejaran kesenangan, bukan kebutuhan mutlak dari tubuh.
Segala bentuk penyelewengan yang dilakukan manusia di
dunia ini sesungguhnya terdorong oleh keinginan memperoleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apa yang dikejar-kejarnya dan yang dikejarnya itu tiada lain
hanyalah kesenangan belaka.
Namun, pikiran memang amat cerdik untuk membela diri
sehingga apa yang sesungguhnya hanya pengejaran
kesenangan lalu dinamakan sebagai kebutuhan hiaup! Pikiran
inilah yang menutupi kesadaran, yang mencegah terbukanya
mata untuk menyadari kenyataan yang ada, padahal tanpa
adanya kesadaran akan penyelewengan sendiri tidak akan
mungkin terdapat perubahan dalam kehidupan.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil