Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 01 Mei 2017

Cerita Silat Kho Ping Hoo 2 Darah Pendekar

Cerita Silat Kho Ping Hoo 2 Darah Pendekar Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Kho Ping Hoo 2 Darah Pendekar
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Kho Ping Hoo 2 Darah Pendekar
Dua orang muda itu saling pandang, ragu -ra-gu, lalu mengerutkan alisnya merenung bingung, tak
mampu menjawab ! Penggambaran kakek itu terlalu mengerikan, namun bukan merupakan hal yang
tidak mungkin terjadi! Bahkan sejarah sudah mencatat berulang kali terjadinya peristiwa seperti itu!
Pemerintah yang dipimpin pembesar-pembesar yang dianggap lalim, ditumbangkan oleh sekelompok
orang yang pada waktu itu memang berjiwa pahlawan, mengerahkan rakyat untuk mem-. bantu
perjuangan mereka menumbangkan kekuasaan lalim. Kemudian, mereka menang dan menjadi
penguasa. Akan tetapi, setelah menjadi pembesar-pembesar mereka seperti lupa akan suara hati
nurani perjuangan, lelap dalam kesenangan, mabok kemuliaan dan berobah menjadi orang -orang
yang tidak kalah lalim dan korupnya dibandingkan de ngan pembesar -pembesar terdahulu yang
mereka tumbangkan. Muncul pula pahlawan -pahlawan yang mempergunakan kekuatan rakyat
menumbangkan pemerintah baru itu, dan demikianlah, susul -menyusul terjadi pemberontakan -
pemberontakan dan perang saudara. Rakyat terus -menerus menjadi korban. Kalau ada perjuangan,
rakyatlah yang dijadikan perisai dan tombak, kalau perjuangan berhasil, hanya sekelompok manusia
sajalah yang menikmati hasil kemenangan itu dan melu-pakan rakyat sampai ada kelompok pejuang
atau pahlawan lain yang muncul, yang kembali memper-gunakan rakyat sebagai mata tombak dan
perisai-Betapa menyedihkan keadaan di seluruh dunia ini ! "Anak -anak yang baik," kata pula kakek
itu melihat mereka termenung. "Sebuah pemerintahan terdiri dari ratusan, dan ribuan pejabat. Tak
mung-kin mengharapkan bahwa seluruh pejabat itu be-kerja dengan jujur dan baik. Tentu ada saja
yang salah jalan, sesat dan curang. Adalah kewajiban semua orang yang mencintai tanah air dan
bangsanya untuk mengamati hal ini dan memprotes kebu-rukan -keburukan seorang pejabat,
menuntut agar pejabat itu diganti dengan orang yang lebih jujur. Bukan lalu memberontak dengan
kekerasan. Kekerasan ini mencerminkan adanya keinginan untuk mengejar sesuatu dan biasanya,
pengejar -pengejar kesenangan akan mabok kesenangan. Kemenangan dalam kekerasan membuat
orang mabok akan kemenangan itu dan menjadi lupa diri dan buta, sebaliknya kekalahan dalam
kekerasan menimbulkan sakit hati dan dendam."
Dua orang itu saling pandang dan menundukkan muka. Mereka tidak dapat membantah lagi.
Keterangan kakek itu mengejutkan hati mereka, membuat mereka seolah -olah dipaksa membuka
mata melihat kenyataan yang amat kotor dan pahit. Membuat mereka merasa ngeri. Mereka sendiri
adalah orang -orang muda yang berhati bersih dan jujur. Sedikitpun mereka tidak memiliki keinginan
untuk menang dan berpesta dalam kemenangan itu. Mereka hanya melihat ketidakadilan, menjadi
penasaran dan hendak membela mereka yang tertindas. Keterangan-keterangan yang baru saja
diucapkan oleh kakek itu membuat Pek Lian dan Tiong Li diam-diam membayangkan keadaan guru
masing -masing. Pemimpin rakyat Liu Pang guru Pek Lian yang terkenal dengan sebutan Liu-toako,
pendekar dan pahlawan sejati itu, apakah benar dia memiliki keinginan kotor untuk kesenangan diri
pribadi yang tersembunyi di balik cita -cita perjuangan demi rakyat itu ? Dan Tiong Li juga meragukan
apakah gurunya, pendekar dan pejuang Chu Siang Yu, juga memiliki keinginan demi kesenangan
pribadi seperti yang digambarkan oleh kakek ini, atau setidaknya kelak kalau menang akan berobah
menjadi penindas dan pengejar kemuliaan sendiri saja ? Dia tidak mampu membayangkan dan
merasa ngeri.
"Locianpwe, semua keterangan locianpwe terlalu mengerikan dan terlalu mendalam bagi saya.
Sekarang, bagaimana baiknya ? Saya mohon nasihat locianpwe," katanya.
"Aku tetap hendak melihat keadaan ayahku dan
selanjutnya... entahlah. Kata -kata locianpwe sudah memadamkan sebagian besar api dendamku..."
kata Pek Lian meragu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek Kam tersenyum. "Anak-anak muda berdarah panas dan bersemangat, memang sudah sepa
tutnya demikian, asal saja darah panas dan sema-ngat itu disertai kebijaksanaan dan jangan sampai
dipergunakan orang -orang demi keuntungan me-reka sendiri. Kwee Tiong Li, engkau adalah seorang
pemuda yang hebat! Semuda ini sudah memi-liki ilmu silat tinggi dan tenaga sinkang yang amat
kuat, juga memiliki batin yang bersih penuh de-ngan semangat kegagahan. Kalau engkau memiliki
sedikit ginkang yang baik, kiranya kelak engkau akan menjadi seorang pendekar pilihan. Maukah
engkau ikut denganku untuk belajar ginkang dari-ku ? Dan engkau, nona ? Engkaupun memiliki ba-kat
yang amat baik, aku ingin mewariskan bebera-pa ilmuku kepada kalian berdua."
"Teima kasih, locianpwe. Saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan hati locianpwe, karena saya
harus pergi melihat keadaan ayah, kemudian kembali ke Puncak Awan Biru," kata Pek Lian.
Akan tetapi Tiong Li menerima penawaran ka-kek itu dengan girang. Pendekar muda ini maklum
betapa dengan kepandaiannya yang sekarang, dia tidak dapat berbuat banyak terhadap para kaum
sesat yang amat lihai itu, maka kalau kakek sakti ini mau mendidiknya, tentu saja dia merasa gembira
sekali.
"Kita tidak boleh terlalu lama berada di sini,"" kata kakek Kam. "Biarpun jejak kaki kuda sudah
kuhapus, akan tetapi mereka tentu akan terus mencari dan tentu akan sampai di sini pula."
"Kalau begitu, biarlah saya akan pergi lebih dulu," kata Pek Lian. Ia bangkit berdiri lalu memberi
hormat kepada kakek itu. "Kam -locianpwe, sekali lagi saya menghaturkan terima kasih atas semua
budi kebaikan locianpwe kepada saya. Kwee -toako, terima kasih dan selamat tinggal."
Kakek itu hanya mengangguk -angguk dan Tiong Li cepat membalas penghormatan gadis itu. Hatinya
merasa terharu sekali. Karena bertemu dengan dia dan kemudian membelanya, maka gadis itu
kehilangan kedua orang gurunya.
"Nona, akulah yang harus berterima kasih. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu
kembali"
Pek Lian mengangguk, tak kuasa menjawab karena ia khawatir kalau -kalau suaranya akan terdengar
parau pada saat hatinya amat berduka itu. Ia lalu menghampiri kuda rampasannya, lalu meloncat ke
atas punggung sela kudanya. Ia menoleh dan mengangguk, akan tetapi sebelum ia membe-dal
kudanya, tiba -tiba Tiong Li meloncat mendekat sambil berseru, "Tahan dulu. nona!"
Pek Lian menahan kendali kudanya dan menoleh. Matanya basah, akan tetapi kini ia dapat
menguasai hatinya karena merasa heran. "Ada apa kah, Kwee -toako ?" tanyanya.
Tiong Li tidak menjawab, melainkan cepat dia membuang semua tanda-tanda pada kendali dan
pelana kuda itu sehingga yang tertinggal hanya sela kasar dan kulit kendali sederhana tanpa hiasan.
Kemudian dia mencari sebatang ranting pohon penuh daun dan mengikatkan ranting ini dengan
pelana kuda sehingga ranting itu akan ter-seret kalau kudanya lari. Setelah selesai melakukan semua
itu yang diikuti oleh pandang mata kehe-ranan Pek Lian, dia berkata, "Dengan begini, orang tidak
akan mengenal kuda tentara kerajaan dan ranting itu akan menghapus jeiak kudamu, nona Ho."
Barulah Pek Lian mengerti dan merasa gembi-ra. "Terima kasih, toako. Engkau baik sekali. Sam-pai
jumpa ! Selamat tinggal, Kam -locianpwe !" Dan Pek Lian lalu menjalankan kudanya. Kuda itu berlari
cepat, menyeret ranting yang mengha-pus jejak Liki kuda, mengeluarkan debu yang me-ngepul tinggi.
Tiong Li memandang sampai bayangan gadis dan kudanya itu lenyap, baru dia membalikkan
tubuhnya menghadap kakek Kam dan menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, teecu mohon petunjuk
selanjutnya."
Kakek itu tersenyum. "Bagus, mulai saat ini engkau mei'jadi muridku. Tiong Li, kalau engkau kelak
berjodoh dengan nona itu, sungguh akupun merasa gembira sekali. Ia seorang gadis yang luar biasa!"
Mendengar ini, wajah pemuda yang biasanya tenang itu berobah merah sekali, akan tetapi hatinya
terasa perih. Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis itu, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat
membayangkan dirinya berjodoh dengan seorang puteri menteri kebudayaan ? Dia hanya seorang
yatim piatu yang miskin, bahkan rumahpun tidak punya, hidup sebagai seorang pelarian pula. Ah,
terlampau jauhlah khayal itu. Dia masih seperti berada dalam lamunan ketika gurunya mengajaknya
dunia-kangouw.blogspot.com
pergi dari situ, meninggalkan kuda rampasan karena kakek itu tidak mau menunggang kuda dan
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja.
*
***
Ho Pek Lian melakukan perjalanan seorang diri dengan kudanya. Tadinya, ketika meninggalkan Tiong
Li dan kakek Kam, ia membalapkan kudanya karena ingin cepat -cepat pergi agar mereka tidak
melihat kesedihan dan tidak mendengar tangisnya. Setelah ia pergi jauh, ia membuang ranting di
belakang kudanya dan menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil termenung. Kedukaan
menghimpit hatinya, membuat wajahnya pucat kehilangan cahaya, matanya sayu dan kadangkadang,
kalau pikirannya meremas perasaan hatinya dengan kenang-kenangan dan bayanganbayangan,
air matanya meluap keluar dari pelupuk kedua matanya
Selama ini ia melakukan perjalanan dengan dua orang gurunya, menemui hal-hal hebat dan semua ini
seolah-olah merupakan hiburan, atau setidaknya membuatnya seperti lupa akan keadaan dirinya
sendiri, keadaan keluarganya yang berantakan itu. Akan tetapi sekarang, pada saat ia menunggang
kuda seorang diri, melalui pegunungan yang sepi itu, tanpa adanya seorangpun manusia
menyertainya, ia merasa amat kehilangan kedua orang gurunya dan perasaan kesepian ini menjalar
ke dalam hatinya, membuatnya termenung dan berdu-ka. Dalam keadaan kesepian itu, pikirannya
melayang -layang, mengingat-ingat akan keluarga ayahnya yang menjadi tawanan, dan hatinya terasa
semakin terhimpit oleh kesepian yang membuat air matanya mengalir keluar, penuh dengan rasa
duka dan sengsara.
Semakin diingat, semakin gundah hatinya, makin besar rasa iba diri menyerangnya dan membuat ia
beranggapan bahwa di dunia ini, hanya ia seoranglah yang paling sengsara hidupnya. Kedukaan
membuat tubuhnya terasa lemas dan Pek Lian lalu menghentikan kudanya, turun dari atas punggung
kuda dan membiarkan kudanya makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon,
bersandar batang pohon dan menerawang ke langit yang penuh awan putih berarak. Akan tetapi
sekali ini tidak nampak keindahan di angkasa itu bagi Pek Lian. Bahkan membuat rasa dukanya
menjadi semakin menyesak di dada. Ia merasa seperti menjadi segumpal awan putih kecil yang
melayang-layang jauh dari kelompok awan lain, terpencil di sana, sendirian, kesepian. Semilirnya
angin membuat hatinya perih oleh rasa rindu kepada orang tuanya. Kenangan akan tewasnya Kim -
suipoa Tan Sun dan Pek -bin -houw Liem Tat, dua di antara guru -gurunya yang amat sayang
kepadanya seperti orang tua sendiri, membuat air matanya mengalir lagi. Bencana yang menimpa
keluarga ayahnya masih belum dapat diatasi, kedua orang gurunya telah tewas pula.
Usianya baru delapanbelas tahun dan ia sudah harus mengalami demikian banyak kepahitan hidup.
Ia bukanlah seorang dara yang cengeng, sama sekali bukan! Biarpun sejak kecil, sebagai puteri
seorang menteri yang berkedudukan tinggi ia hidup di dalam kemuliaan, kehormatan dan kaya raya,
namun Pek Lian bukanlah seorang dara yang manja dan cengeng. Sejak kecil pula ia digembleng
oleh guru -gurunya sebagai seorang wanita yang berjiwa pendekar, yang tidak mudah mengeluh
menghadapi kesukaran. Namun, kepahitan yang dihadapinya sekarang ini terlampau hebat, luka di
hatinya terlampau parah, membuatnya menangis seorang diri di tempat sunyi itu. Ia harus bertemu
dengan ayahnya sekali lagi sebelum ayahnya dihukum ! Di dunia ini, ia hanya mempunyai seorang
keluarga terdekat, yaitu ayahnya. Ibunya sudah tiada, dan ia tidak mempunyai saudara kandung. Ia
harus bertemu dengan ayahnya, apapun yang akan terjadi ! Bisikan hati ini menggugah semangat
Pek Lian dan iapun bangkit lagi, menaiki punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan.
Matahari telah condong ke barat ketika kuda yang ditunggangi Pek Lian menuruni sebuah lereng
bukit. Ia menghentikan kudanya dan memandang ke sekeliling, hendak mencari sebuah dusun untuk
melewatkan malam ketika tiba -tiba ia melihat munculnya lima orang wanita. Begitu bertemu, Pek Lian
terkejut karena ia mengenal mereka itu sebagai rombongan wanita bertusuk konde batu giok yang
pernah ia jumpai ketika ia masih bersama-sama dua orang gurunya. Lima orang wanita itu muncul
dari jalan simpangan dan bertemu dengannya tepat di perempatan jalan kecil itu. Dan mereka berlima
itupun agaknya terkejut melihatnya, dan mengenalnya pula. Mereka berhenti dan seorang di antara
mereka yang bertahi lalat di bawah telinga kiri berkata, suaranya lantang,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ah, engkaukah ini ? Di mana adanya kokcu (ketua lembah) yang muda itu bersama tiga orang sam -
lo -nya ? Kenapa engkau hanya sendirian saja ?" Pertanyaan ini lantang dan diajukan dengan nada
suara yang meremehkan, tanpa sikap hormat sama sekali seperti sikap orang dewasa yang bertanya
kepada anak kecil saja. Pada saat itu, batin Pek Lian sedang mengalami tekanan dan dalam keadaan
seperti itu, tentu saja ia mudah sekali tersinggung. Hatinya terasa mengkal dan ia sama sekali tidak
memperdulikan pertanyaan orang, melainkan dengan gemas ia menarik kendali kudanya, membuat
kuda itu terlonjak dan lari. Dengan dagu terangkat Pek Lian lewat menanggalkan mereka.
"Haii, bocah sombong, tunggu !" Terdengar bentakan di belakangnya, disusul berkelebatnya
bayangan lima orang itu yang sudah melakukan pengejaran.
"Tar -tar -tarrr !"
Pek Lian terkejut sekali melihat sinar biru menyambar-nyambar di dekat kepalanya dan meledak
ketika ia mengelak. Kiranya ia telah diserang oleh seorang di antara mereka dengan sehelai sabuk
berwarna biru yang tadi melakukan totokan tiga kali berturut-turut ke arah leher dan pundaknya.
"Orang -orang jahat!" bentaknya dan terpaksa ia meloncat turun dari atas kudanya sambil mencabut
pedangnya. "Kalian kira aku takut mela-wan ?" Iapun sudah memutar pedangnya dan menyerang
wanita yang tadi menggerakkan sabuk. Karena dalam keadaan marah dan menganggap bahwa
wanita itu tentulah bukan golongan baik-baik dan yang agaknya sengaja hendak memusuhinya, Pek
Lian sudah menyerang dengan dahsyat sehingga gerakan pedangnya melahirkan tusukan-tusukan
maut ke arah wanita itu. Wanita itu meng-elak beberapa kali, nampaknya terkejut juga me-nyaksikan
kehebatan gerakan pedang di tangan Pek Lian.
"Cring ! Tarang -tranggg ! !"
Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kem-bali wanita itu terkejut ketika memperoleh kenya-taan
betapa tenaga dara muda itu cukup kuat un-tuk menandingi tenaganya. Pek Lian terus menye-rang,
akan tetapi wanita yang bertahi lalat, yang menjadi pemimpin di antara mereka, segera ber-teriak dan
teman -temannya sudah maju menge-pung Pek Lian.
Pek Lian terus memutar pedangnya, melawan mati -matian dan penuh kemarahan. Akan tetapi
tingkat kepandaiannya hanya seimbang dengan se-orang di antara mereka, maka setelah mereka
ber-lima maju bersama, tentu saja ia segera terdesak hebat. Untung baginya bahwa lima orang
wanita, bertusuk konde batu giok itu agaknya tidak berni-at membunuhnya. Kalau demikian halnya,
tentu ia tidak akan dapat bertahan lama. Beberapa belas jurus kemudian, lima orang itu
mempergunakan sabuk biru yang menyambar -nyambar dan. akhir-nya Pek Lian terpaksa menyerah
ketika sabuk-sabuk biru itu telah melibat tubuhnya, membuat ia tidak dapat lagi menggerakkan kaki
tangannya. Ia tertawan dan dibelenggu kedua lengannya ke belakang.
"Manusia-manusia hina, pengecut besar. Beraninya hanya main keroyokan ! Kalau mau bunuh lekas
bunuh, jangan dikira aku takut mati!" teriak Pek Lian marah.
"Pemberontak hina!" Si tahi lalat itu memaki dan makian ini membuat Pek Lian membungkam.
Siapakah mereka ini, pikirnya, dan apakah mereka ini tahu bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang
dianggap pemberontak? Ia mulai merasa khawatir. Kalau sampai ia ditangkap sebagai pemberontak,
ditawan seperti ayahnya, tentu ayahnya akan marah dan semua usahanya sia -sia belaka. Ia harus
mencari akal dan kesempatan untuk meloloskan diri dari orang -orang ini. Ia harus mencari ayahnya.
Akan tetapi, gerak -gerik lima orang wanita ini demikian teliti dan teratur, jelas menunjukkan bahwa
mereka adalah rombongan orang-orang terlatih, seperti pasukan kecil yang dikemudikan oleh
pemimpinnya, yaitu wanita yang bertahi lalat. Tak pernah mereka itu lengah menjaganya dan ketika
malam tiba, mereka berhenti di bagian yang tinggi dan agaknya mereka itu menanti sesuatu. Pek Lian
tidak pernah membuka mulut dan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka yang juga tidak banyak
mengeluarkan kata -kata itu. Mereka berlima itu bersikap seperti menantikan orang, sering kali
memandang ke empat penjuru dari tempat tinggi itu dan saling pandang seperti orang -orang yang
mulai merasa gelisah. Pek Lian menduga -duga siapa gerangan yang mereka nan-tikan. Ia teringat
bahwa ketika ia bersama kedua orang gurunya dan juga orang -orang Lembah Yang -ce melakukan
perjalanan dan berjumpa de-ngan mereka ini, terdapat delapan orang di antara wanita bertusuk konde
batu giok ini. Akan tetapi sekarang hanya tinggal lima orang. Ke manakah perginya tiga orang lagi ?
Apakah mereka ini me-nanti munculnya tiga orang kawan mereka itu ?
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian diajak makan dan dara ini tidak me-nolak. "Kalau engkau tidak melawan, kamipnn ti-dak
akan mengganggumu, hanya engkau harus menurut saja sebagai tawanan yang baik," kata si tahi
lalat sambil melepaskan belenggu kedua tangan Pek Lian.
Pek Lian hanya mengangguk. Ia tidak takut, hanya ia tahu bahwa kalau ia bersikap keras, ia tidak
berdaya untuk lolos, ia harus mempergunakan kecerdikan dan tidak menuruti hati yang panas.
Setelah makan, mereka berlima itu duduk bersila, seperti orang bersamadhi, membentuk lingkaran
dan Pek Lian berada di tengah -tengah. Pek Lian maklum bahwa lima orang wanita itu beristirahat,
namun mereka itupun tidak pernah lengah dan ia seperti dikurung. Maka iapun mencontoh perbuatan
mereka, duduk bersila mengumpulkan tenaga. Api unggun yang dibuat oleh mereka itu bernyala
tak jauh dari mereka, mengusir nyamuk dan dingin.
Hanya satu kali si tahi lalat itu mengeluarkan suara yang mengandung kegelisahan, "Mengapa sampai
sekarang mereka belum juga datang ?"
Ucapan ini meyakinkan hati Pek Lian bahwa mereka tentu menanti datangnya tiga orang kawan
mereka, dan memang dugaannya ini tepat. Lima orang wanita yang memiliki ciri khas, yaitu tusuk
konde batu giok itu, memang sedang menantikan datangnya tiga orang kawan mereka.
Menjelang tengah malam, suasana. sunyi bukan main di tempat itu. Hutan di dekat puncak bukit
nampak hitam menyeramkan dan suara binatang-binatang hutan kadang -kadang membuat Pek Lian
terkejut dan membayangkan yang bukan -bukan. Biarpun ia masih duduk bersamadhi seperti lima
orang yang menawannya, namun diam -diam Pek Lian selalu waspada. Sedikit saja kesempatan
untuk meloloskan diri, sudah pasti tidak akan dilewatkannya. Akan tetapi, lima orang itu agaknya tidak
pernah lengah, karena mereka itu masih tetap menantikan munculnya tiga orang kawan mereka.
Tiba -tiba terdengar bunyi desing di sebelah selatan. Mereka semua terkejut, termasuk Pek Lian dan
semua orang menengok ke arah selatan. Nampak oleh mereka meluncurnya anak panah berapi
kuning yang meluncur ke angkasa. Anak panah tanda bahaya! Si tahi lalat sudah meloncat bangun
dan berkata, "Tanda bahaya mereka ! Tentu terjadi sesuatu yang gawat ! Mari kita bantu mereka. Abwee,
engkau di sini menjaga tawanan!"
Wanita yang disebut A -bwee mengangguk dan tanpa diduga oleh Pek Lian, wanita ini sudah meringkus
dan membelenggu kedua lengannya. Pek Lian terkejut dan hendak melawan, namun maksud
hati ini diurungkannya, karena apa dayanya menghadapi mereka berlima ? Kedua lengannya diikat di
belakang tubuhnya dan setelah melihat betapa tawanan itu tidak berdaya, empat orang di antara
mereka lalu berloncatan pergi sedangkan yang seorang itu duduk menjaga tawanan yang sudah terbelenggu
kedua lengannya itu. Ketika empat orang wanita gagah itu dengan tangkasnya berloncatan
ke arah anak panah tanda bahaya tadi, tiba-tiba mereka melihat anak panah ke dua dan mengertilah
mereka bahwa teman -teman mereka terancam bahaya besar.
"Mari cepat!" kata yang bertahi lalat dan me-rekapun mengerahkan seluruh kepandaian mereka berlari
cepat menuruni bukit itu dan ketika mereka tiba di lereng, mereka melihat betapa pemimpin mereka
sedang berkelahi dengan amat serunya menghadapi seorang nenek yang bertubuh gendut dan lihai
bukan main. Jelaslah bahwa pemimpin mereka itu terdesak hebat. Tak jauh dari situ nampak seorang
kakek kurus kecil sedang berjongkok, nongkrong di atas sebuah pedati. Dekat pedati itu tergeletak
dua orang tubuh wanita, dua di antara tiga kawan kelompok wanita bertusuk konde batu giok itu.
Melihat betapa muka mereka nampak kebiruan, mudah diduga bahwa mereka itu tentu terluka hebat
dan keracunan. Begitu melihat nenek gendut dan kakek kurus ini, empat orang wanita yang baru
datang terkejut bukan main.
"Iblis-iblis dari Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Iblis) !" teriak mereka dan merekapun sudah cepat
mencabut pedang untuk membantu pemimpin mereka.
"Awas ......!" Pemimpin mereka berseru sambil memutar pedang melindungi dirinya dari desakan
lawan. "Lindungi hidung dengan saputangan! Tempat ini telah penuh disebari racun oleh iblis-iblis ini!"
Mendengar seruan itu, empat orang wanita bertusuk konde giok segera mengikatkan saputangan
melindungi hidung dan mulut mereka, kemudian merekapun maju mengeroyok wanita gendut yang
amat lihai itu. Hebat bukan main wanita gendut itu. Biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi ia dapat
bergerak dengan amat gesitnya dan ia menghadapi pengeroyokan lima orang wanita lihai yang
berpedang itu dengan kedua tangan kosong saja! Akan tetapi, yang terancam maut malah lima orang
dunia-kangouw.blogspot.com
pengeroyoknya karena setiap gerakan wanita gendut ini selalu mengandung bahaya. Jarum-jarum
halus menyambar-nyambar dari jarak dekat kepada mereka sehingga mereka itu harus lebih banyak
mempergunakan pedang mereka untuk melindungi tubuh. Setiap tamparan tangan wanita itupun mengandung
hawa beracun yang selain membawa bau amis, juga mengandung hawa yang kadangkadang
amat panas dan kadang-kadang amat di-ngin. Untunglah bahwa lima orang wanita itu
memang pada dasarnya memiliki ilmu pedang yang tangguh, dan setelah kini mereka maju berlima,
nenek gendut itu tidak mudah merobohkan seorang di antara mereka.
"He-he..., ha-ha-ha, rasakan sekarang ! Kau sekarang dikeroyok banyak orang lihai, sebentar lagi
tentu kau akan dicincang pedang mereka menjadi bakso ! Ha-ha-ha ! Mereka akan menggorok
lehermu yang buntek, menusuk hidungmu yang pesek dan merobek perutmu yang gendut, lalu kau
boleh pelesir ke neraka! Dan aku akan bebas, heh -heh! Jadi ini namanya kita sehidup semati, aku
yang hidup, kau yang mati dan aku akan kawin lagi, aku akan mencari yang muda, yang cantik,
yang... heiiiittt!" Kakek kecil kurus itu cepat mencelat dan mengelak karena tiba-tiba saja isterinya, si
nenek gendut itu telah me-ninggalkan lima orang pengeroyoknya dan menye-rang ke arah suaminya
dengan terkaman dahsyat. Melihat suaminya mengelak, nenek itu menyerang lagi dengan hebatnya
dan sekarang suaminya menangkisnya.
"Desss !!" Nenek gendut itu terdorong sampai tiga langkah akan tetapi suaminya terdorong
sampai lima langkah. Ini saja membuktikan bahwa si nenek itu ternyata lebih lihai dari pada suaminya.
Perkelahian antara suami isteri iblis ini demikian hebatnya, membuat lima orang wanita bertusuk
konde giok itu melongo. Ketika suami isteri itu mulai mempergunakan racun, si suami menyebar pasir
beracun, sedangkan isterinya yang tidak mau kalah itu menyebar jarum -jarum dan asap beracun,
lima orang wanita itu cepat menyingkir sambil menyeret dua orang kawan mereka yang terluka.
Sepasang iblis tua itu benar-benar gila. Agaknya mereka sudah melupakan sama sekali tentang
musuh -musuh mereka dan kini mereka itu berkelahi mati -matian. Si nenek lebih ganas lagi
menyerang, baik dengan kaki tangan maupun dengan mulutnya yang memaki -maki, dan akhirnya
kakek itu kewalahan lalu melarikan diri terbirit -birit, dikejar oleh isterinya yang makin keras memakimaki
penuh kemarahan. Melihat kesempatan ini, lima orang wanita bertusuk konde giok itu cepat
membawa dua orang teman mereka yang terluka untuk menjauhkan diri dari tempat berbahaya itu.
Yang terpenting bagi mereka adalah mencoba untuk menolong dua orang teman yang terluka. Cepat
mereka membawa dua orang itu ke dalam hutan dan setelah merebahkan kedua teman itu di atas
rumput, mereka berusaha mengobati dengan pe-ngerahan sinkang dan dengan obat -obat penawar
racun yang selalu mereka bawa di antara obat -obat luka luar atau dalam. Akan tetapi, luka -luka
beracun yang diderita oleh dua orang itu sungguh berbeda dengan luka-luka beracun biasa. Luka
gigitan ular berbisa saja masih akan dapat disembuhkan oleh mereka, akan tetapi luka-luka yang
diakibatkan serangan tokoh Ban-kwi-to itu sungguh luar biasa sekali dan semua usaha pengobatan
mereka sia-sia. Nyawa kedua orang itu tidak dapat diselamatkan dan akhirnya merekapun tewas
tanpa dapat meninggalkan kata-kata pesanan lagi.
Lima orang wanita yang kelihatan gagah perkasa itu, kini menangisi mayat dua orang teman-nya.
Kemudian pemimpin mereka, yang tadi dengan gagahnya melawan nenek iblis, menghentikan tangis
mereka dan dengan wajah muram berduka mereka lalu mengubur jenazah kedua orang teman
mereka di tempat itu juga.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berlima meninggalkan dua gundukan tanah itu dan
bergegas kembali ke tempat di mana mereka meninggalkan seorang teman mereka menjaga
tawanan. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan ke-tika mereka tiba di tempat itu membuat mereka
terkejut bukan main. Tawanan telah lenyap dan teman mereka yang bernama A-bwee itu telah
menggeletak tanpa nyawa, dengan muka kebiruan tanda keracunan pula! Setelah mereka berlima
memeriksanya, ternyata luka keracunan yang diderita mayat ini sama dengan yang diderita oleh
kedua orang teman mereka yang tewas.
"Keparat busuk! !" Pimpinan mereka, wanita berusia empatpuluh tahun yang sepasang matanya
berkilat -kilat tajam itu, berseru marah sambil menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah,
wajahnya penuh geram dan kedukaan. "Sepasang iblis itu sungguh jahat dan kejam! Sayang kita
bukan tandingan mereka. Kita harus cepat pulang dan melapor, biarlah siocia yang akan
membalaskan sakit hati ini!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan berduka merekapun mengubur jenazah teman ke tiga ini. Tentu saja mereka merasa
berduka dan terpukul sekali. Mereka terkenal sebagai Delapan Singa Betina yang terkenal, dan
sekarang, sungguh tak terduga sama sekali, dalam waktu-semalam saja, jumlah delapan itu tinggal
lima dan yang tiga tewas dalam keadaan yang amat me-nyedihkan. Dan penderitaan ini, korban tiga
nyawa ini sungguh merupakan, korban yang sia -sia dan mati konyol, karena mereka bentrok dengan
sepasang iblis itu tanpa sebab -sebab tertentu yang kuat, hanya merupakan percekcokan di antara
dua kelompok yang berpapasan di jalan ! Setelah selesai mengubur jenazah teman ke tiga itu. lima
orang wanita bertusuk konde batu giok itu lalu cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah muram.
Sudah sejak tadi Pek Lian; merasa betapa jalan darahnya telah pulih kembali. Akan tetapi ia tidak
berani bergerak, dan pura -pura masih lumpuh tertotok atau setengah pingsan. Tubuhnya bergoyang -
goyang dalam keadaan rebah miring di bagian belakang gerobak yang berjalan lambat -lambat itu,
berjalan di atas jalan yang tidak rata sehingga bergoyang -goyang keras. Hanya sepasang mata dara
itu saja yang bergerak melirik ke bagian depan gerobak, di mana nampak dua orang suami isteri gila
itu sedang duduk berdampingan dan bercanda, tertawa-tawa, kadang-kadang mereka itu bercumbu
dengan kasar, tanpa mengenal malu seolah -olah tidak ada Pek Lian di dekat mereka yang dapat
melihat semua adegan ini. Begitulah kalau suami isteri itu sedang dalam keadaan rukun.
Pek Lian memejamkan kedua matanya. Wajah-nya yang bulat telur itu agak pucat dan kurus.
Memang selama ayahnya ditawan ia mengalami banyak hal -hal yang pahit, ditambah lagi dengan
kematian dua orang gurunya, membuat dara ini menderita tekanan batin yang membuatnya kurus dan
pucat. Namun wajah yang kini nampak pucat itu masih tidak kehilangan kecantikannya. Biarpun
rambutnya awut-awutan, kulit mukanya agak kotor dan pakaiannya kusut, dara ini masih nampak
gagah dan cantik manis. Dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati dan keberanian
yang luar biasa. Mulutnya tidak pernah membayangkan rasa takut, sedangkan sepasang matanya
yang memang agak lebar itu, setelah wajahnya menjadi kurus nampak lebih lebar lagi, sepasang
mata tajam yang mengeluarkan sinar berkilat. Memang pantaslah puteri Menteri Ho ini menjadi
pimpinan para pendekar di Puncak Awan Biru, membantu suhunya. Sebutan "nona Ho" oleh para
pendekar dengan sikap menghormat, tidaklah mengecewakan karena selama ini sepak teriang Ho
Pek Lian memang gagah perkasa dan nenuh semangat. Akan tetapi pada saat itu, Ho Pek Lian atau
nona Ho yang dikagumi para patriot itu, berada dalam keadaan yang menyedihkan dan sama sekali
tidak berdaya. Dalam keadaan lumpuh tertotok ia menjadi tawanan sepasang suami isteri iblis itu, dan
ia tahu bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi seorang saja di antara mereka,
apa lagi kalau harus menghadapi mereka berdua. Dalam keadaan lumpuh tertotok, ia dilempar begitu
saia seperti karung kosong di atas gerobak dan selanjutnya suami isteri-itu tidak memperdulikannya
dan membawanya melalui dusun -dusun yang terpencil menuju ke utara.
Biarpun ia tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi menghadapi kemungkinan apa yang akan
dilakukan oleh sepasang iblis itu kepadanya, membuat Pek Lian merasa ngeri juga. Ada hal-hal yang
lebih mengerikan dari pada kematian. Siang tadi saja ia telah mengalami hal yang mengerikan, masih
meremang bulu tengkuknya kalau ingat. Si kakek kecil kurus yang seperti tulang bungkus kulit itu
mendekatinya. Kemudian jari-jari tangan yang kecil dan keras dingin itu mera-ba dan membelai
lehernya. Pek Lian merasa ngeri dan bulu -bulu di seluruh tubuhnya bangkit ber-diri. Ia menutupkan
kedua matanya dan menahan bau apek yang keluar dari tubuh kakek itu.
"Heh-heh-heh, halus kulitnya. hemm, lunak halus. Cantik sekali gadis ini !" Jari – jari tangan itu
meraba dan membelai. Pek Lian mena-han jeritnya ketika jari-jari tangan itu makin menurun ke
dadanya. Akan tetapi, tiba-tiba ka-kek itu menarik tangannya ketika isterinya menghardik.
"Hem, bagus, ya ? Dahulu engkau merayu dan mengatakan bahwa di dunia ini akulah wanita paling
cantik! Dan sekarang, di depan hidungku engkau memuji kecantikan lain orang! Bagus, ya ? Engkau
menantangku, ya ?"
"Uhh, tidak, tidak ! Jangan salah sangka, isteriku
yang manis. Sampai sekarangpun, engkaulah wanita paling cantik di dunia. Gadis ini memang cantik,
akan tetapi engkaulah yang paling cantik. Heh-heh!"
"Betulkah itu, kakanda ?" Si isteri merayu manja.
"Heh-heh, siapa bohong padamu?" jawab ka-kek itu dan merekapun lalu bercanda, bergelut di dalam
gerobak, saling berciuman, saling cubit dan saling cakar sampai gerobak itu bergoyang -goyang dan
dunia-kangouw.blogspot.com
berguncang keras! Melihat semua ini, Pek Lian memejamkan matanya akan tetapi tidak mampu
menutup telinganya yang terpaksa mendengar semua cumbu rayu mereka yang kasar itu.
Setelah permainan cinta mereka itu mereda, si isteri berkata, "Awas engkau, ya ? Sekali lagi engkau
berani menyentuhnya, akan kurobek kulit yang kausentuh dan akan kupatahkan tanganmu yang
menyentuh!"
Tentu saja Pek Lian bergidik ngeri, akan tetapi hatinya merasa lega juga. Kakek itu sangat takut
kepada bininya yang besar cemburu itu dan hal ini telah menolongnya karena ia melihat pandang
mata penuh nafsu dari kakek itu kepadanya. Akan tetapi suami isteri itu sungguh menyeramkan dan
againya keduanya memang tidak normal otaknya. Mereka itu kadang -kadang bermain cinta di
depannya saja, dan kadang -kadang bercekcok sampai berkelahi mati-matian.
Pek Lian merasa tersiksa bukan main. Ia tidak tahu hendak dibawa ke mana dan mau diapakan oleh
suami isteri itu. Belum setengah hari ia berada di dalam gerobak tubuhnya sudah terasa gatal-gatal,
kulitnya timbul bintik-bintik merah seperti digigiti nyamuk. Ia tahu bahwa hal itu disebabkan oleh hawa
beracun yang memenuhi gerobak itu.
Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat sehingga ia dapat melawan hawa
beracun ini. Yang amat menyiksanya hanyalah to-, tokan yang membuat kaki tangannya seperti lumpuh
itu.
Pek Lian memulihkan tenaganya. Totokan itu telah mulai kehilangan kekuatannya dan jalan da^,
rahnya pulih kembali. Ia diam saia, pura -pura masih lumpuh. Sampai lama ia membiarkan darahnya
berjalan lancar sampai akhirnya ia merasa betapa tubuhnya telah segar dan sehat kembali.
Pek Lian menanti sampai malam tiba. Gerobak itu dihentikan oleh dua orang penawannya di tepi
jalan dan seperti biasa, suami isteri itu meninggalkan gerobak untuk mencari bahan makan malam.
Indah kesempatan terbaik, pikir Pek Lian dan setelah melihat mereka pergi, iapun cepat meloncat
turun. Senia telah tiba dan cuaca mulai remang-remang. Akan tetapi, tiba -tiba dara ini meloncat
kembali memasuki gerobak ketika ia mendengar suara kakek nenek itu tertawa -tawa dari jauh. 'Aduh,
dingin sekali airnya ....... !" Terdengar
kakek itu berseru dan tahulah Pek Lian bahwa mereka itu sedang mandi. Agaknya terdanat sumber
air, anak sungai atau telaga di dekat tempat itu. Iapun mengintai dari balik tirai gerobak, melihat
apakah keadaannya cukup aman baginya untuk melarikan diri. Ia harus berhati-hati sekali karena
kakek dan nenek itu lihai luar biasa dan kalau sampai larinya ketahuan sebelum ia pergi jauh se kali,
besar bahayanya ia akan tertawan kembali.
Tiba -tiba ada angin menyambar yang membuat pintu gerobak itu bergerak dan hampir saja Pek Lian
menjerit saking kagetnya ketika mendadak ada tubuh meloncat masuk dan tahu -tahu kakek kurus itu
telah berdiri di pintu gerobak dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Badannya yang kurus itu
masih basah kuyup, air masih menetes-netes dari seluruh tubuhnya. Pek Lian menutupi mulut dengan
tangan menahan jeritnya dan cepat membuang muka agar tidak usah melihat tubuh telanjang itu
walaupun cuaca mulai remang -remang dan ia tidak dapat melihat jelas.
"Heh -heh -heh, engkau sudah dapat bangun, manis ? Bagus, mari temani aku bersenang -senang
sebentar !" Dan kakek itu lalu menubruk dan meraih tubuh Pek Lian.
"Tidak ! Jangan... !" teriaknya dan ia memapaki tubuh itu dengan pukulan tangannya.
"Plakk !" Pergelangan tangannya ditangkap dan sebelum tangan ke dua bergerak, juga pergelangan
tangan ke dua ini ditangkap oleh kakek itu yang terkekeh dan ada air liur menetes dari mulutnya
ketika dia mencoba untuk mencium muka nona itu. Pek Lian. meronta-ronta sekuat tenaga, melawan
mati -matian dan tiba -tiba kakinya yang tertindih, tanpa disengaja, menendang sebuah benda di
dalam gerobak itu.
"Prakk!" Guci kecil itu pecah dan dari dalam guci itu keluarlah berpuluh -puluh kelabang me-rah. Bau
amis memenuhi ruangan gerobak itu dan Pek Lian menggigil ketakutan melihat kelabang-kelabang
dunia-kangouw.blogspot.com
besar merah itu merayap cepat dan ad. yang merayap ke pakaiannya, bahkan memasuki lubang
celana dan bajunya. Ia berteriak -teriak dan mencoba untuk mengusir binatang -binatang itu.
"Heh -heh -heh, ha -ha -ha !" Kakek itu mera-sa girang bukan main dan agaknya dia seperti seo-rang
anak kecil yang menemukan permainan baru. Sejenak dia lupa akan rangsangan nafsu berahinya dan
dia merasa gembira sekali melihat gadis itu tersiksa seperti itu. Sambil berjongkok di dekat Pek Lian,
dia terkekeh -kekeh melihat gadis itu meng-geliat-geliat kengerian dikeroyok puluhan ekor ke-labang
itu ! Dan Pek Lian sekali ini baru dapat mengalami apa artinya rasa takut dan jijik. Dari takutnya ia
sampai jatuh pingsan ! Melihat gadis ini pingsan, kakek itu seperti kehilangan kegembi-raannya dan
teringat lagi akan nafsu berahinya maka diapun mulai meraba -raba hendak menang-galkan pakaian
gadis itu. Akan tetapi, baru dua buah kancing baju dibukanya, tiba -tiba dia menarik kembali
tangannya mendengar isterinya berteriak-teriak dari kejauhan.
"Bangsat penipu pembohong ! Laki -laki pena-kut dan pengecut! Di mana kau ? Akan kurobek
mulutmu yang membohongiku. Di mana ada buaya di sungai itu ? Sampai kehabisan napas aku
menye-lam dan mencari -cari tanpa hasil. Kau pembo-hong ! Di mana kau ? Jangan lari !"
Mendengar teriakan isterinya ini, kakek itu men-jadi ketakutan dan cepat diapun meloncat keluar dari
dalam gerobak dan melarikan diri dalam kea-daan masih telanjang bulat, meninggalkan Pek Lian
yang masih rebah pingsan di dalam gerobak.
Nenek itu meloncat masuk ke dalam gerobak. Matanya terbelalak melihat binatang -binatang itu
terlepas dan berkeliaran di situ. "Wah, celaka, sia-pa berani melepaskan peliharaan kesayanganku,
hah ?" Cepat ia mengambil sebuah botol kecil dan menuangkan isinya yang berupa cairan ke dalam
mangkok. Bau yang amis busuk memenuhi tempat itu dan sungguh mengherankan sekali, semua
kela-bang itu cepat -cepat merayap datang dan mema-suki mangkok itu. Nenek itu menangkapi
dengan jari -jari tangan yang cekatan sekali dan tak lama kemudian semua kelabang sudah
disimpannya kem-bali ke dalam sebuah guci kosong.
Kemudian ia memperhatikan keadaan Pek Lian dan alisnya yang tebal itu berkerut. Apa lagi keti-ka ia
melihat genangan air di dalam gerobak. Ia lalu meloncat turun dan kembali terdengar suaranya
memaki-maki.
"Bangsat cabul tak tahu diri! Di mana kau ?"
Tak lama kemudian, nenek itu mendapatkan suaminya sedang enak -enak memancing ikan di tepi
sungai sambil bersiul -siul, seolah -olah tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi,
agaknya isterinya tidak dapat dikibuli begitu saja dan segera telinga sang suami dijewer dan dia diseret
oleh isterinya yang galak itu kembali ke peda-ti, yang segera diberangkatkan oleh nenek yang
marah -marah itu.
Dengan terjadinya peristiwa itu, pengawasan si nenek menjadi lebih ketat sehingga kakek itu tidak
mempunyai kesempatan sama sekali untuk menco-ba -coba mendekati Pek Lian. Hal ini tentu saja
amat menguntungkan Pek Lian, akan tetapi di sam-ping itu, juga ia mengalami penyiksaan lain
sebagai akibat dari rasa cemburu dan benci dari nenek iblis. Karena cemburu, kini sikap nenek iblis itu
terhadap Pek Lian menjadi sadis. Pada hari ke tiga, Pek Lian tidak dibelenggu kedua lengannya lagi,
melainkan diharuskan duduk di bagian depan, di atas tempat duduk kusir dan kaki kanannya di-rantai
dengan tiang gerobak. Ia diharuskan men-jadi kusir, mengamati dan mengendalikan kuda penarik
gerobak. Lebih celaka lagi, nenek itu telah menotok urat gagunya sehingga ia tidak mampu
mengeluarkan suara, hanya duduk dengan anteng-nya di bangku kusir sementara itu suami isteri iblis
itu bersenang -senang di dalam gerobak. Pek Lian masih selalu menanti saat baik. Bagaimanapun
juga keadaannya, gadis perkasa ini tidak pernah putus asa. Selama hayat dikandung badan, ia tidak
akan pernah putus harapan. Pada suatu ketika, ia pasti akan dapat meloloskan diri. Ia tidak mau mati
konyol dengan melakukan perlawanan yang sia -sia belaka terhadap suami isteri iblis yang amat lihai
itu. Bagaimanapun juga, ia kini terlindung oleh rasa cemburu isteri itu terhadap suaminya. Bahaya
yang terbesar telah tersingkir dan iapun tidak bodoh untuk dapat menduga bahwa suami isteri itu tidak
menghendaki kematiannya, karena kalau demikian halnya, tidak mungkin ia dibiarkan hidup sampai
tiga hari lamanya.
Hari itu, sejak pagi telah turun hujan. Akan te-tapi suami isteri iblis itu membiarkan Pek Lian tetap
duduk di luar dan kehujanan sampai pakaian-nya basah kuyup. Juga nenek itu tidak memperbolehkannya
menghentikan gerobak untuk berte-duh. Tentu saja keadaan Pek Lian ini membuat
dunia-kangouw.blogspot.com
orang -orang yang melihatnya menjadi terheran-heran. Sementara itu, di dalam gerobak terjadi pu-la
perdebatan antara suami dan isterinya yang galak itu.
"Eh, isteriku yang manis, yang denok, di luar hujan deras sekali. Apakah akan kaubiarkan saja anak
ayam itu kehujanan di luar ? Ia bisa masuk angin dan sakit"
"Huh ! kau perduli apa sih ? Kau kasihan ya ? Kau cinta padanya ya ?"
"Eh, eh... jangan marah dulu dong! Aku hanya bilang kalau ia sakit dan tidak dapat mengendalikan
kuda, kita akan kehilangan seorang kusir yang can... eh,yang cakap."
"Sudah, jangan cerewet! Biarkan saja. Hayo kita bersenang-senang, di dalam sini kan hangat, mari
kita main adu kelabang !"
"Isteriku yang manis, mengapa tidak dibunuh saja biar lekas beres dan tidak mengganggu ?"
"Manusia tolol engkau! Lupakah engkau bah-wa kita pernah dipesan oleh Sam -suci ? Aku akan diberi
hadiah ramuan awet muda yang diciptakan-nya, apa bila kita dapat mencarikan seorang gadis muda
cantik keturunan bangsawan yang bertulang bagus dan berdarah murni, juga mempunyai ke-pandaian
tinggi. Nah, inilah gadis itu!"
"Alaaaa, awet muda. Mana bisa orang tetap awet muda kalau usianya sudah tua ?" kakek itu
menggerutu. Mereka tidak
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
mak dapat mematahkan rantai yang mem-belenggu kakinya, maka jalan satu -satunya adalah
membelokkan kuda menuju ke kota agar kalau ada orang melihat keadaannya, ia akan menarik
perha-tian orang dan siapa tahu kalau di antara mereka itu terdapat pendekar-pendekar yang sakti
dan dapat membebaskannya dari cengkeraman suami isteri iblis itu. Kini ia sudah tahu mengapa ia
dita-wan dan tidak dibunuh. Kiranya iblis betina itu mempunyai niat untuk "menjualnya" kepada seorang
iblis lain yang disebut Sam -suci oleh iblis betina itu, untuk ditukar ramuan obat awet muda.
Hujan masih deras ketika gerobak itu memasuki pintu gerbang sebuah kota. Agaknya karena hujan
yang mendatangkan hawa dingin, suami isteri iblis itu masih enak -enak tidur mendengkur, tidak tahu
bahwa gerobak mereka telah disesatkan memasuki kota besar, padahal mereka selalu ingin menjauhi
tempat ramai selama ini. Orang -orang yang ber-teduh di tepi jalan memandang dengan heran kepada
gadis yang menjalankan gerobaknya dan membiarkan dirinya ditimpa air hujan sampai ram-but
dan pakaiannya basah kuyup itu.
Kota yang dimasuki gerobak itu adalah Lok-yang, yang merupakan kota kedua setelah Tiang-an yang
menjadi kota raja. Tentu saja Pek Lian yang menjadi puteri seorang menteri, mengenal ko-ta besar ini
dan diam -diam ia mengharapkan un-tuk dapat bertemu dengan orang -orang gagah yang akan dapat
membantunya membebaskan diri dari kedua orang iblis itu. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi
ia merasa lega mendengar betapa kedua orang iblis itu masih enak-enak tidur mendengkur. Mereka
itu sungguh seperti bukan manusia lagi, pikir Pek Lian. Bermain cinta dengan kasar tanpa mengenal
malu, bercekcok dan berkelahi, selalu bersaing, bahkan dalam mendeng-kur saja mereka seperti
bersaing keras !
Jilid VII
BIARPUN waktu itu sudah tengah hari, akan tetapi cuacanya agak dingin dan agak gelap karena
sejak pagi hujan. Kota yang besar, penuh dongan toko -toko, rumah-rumah makan dan juga rumah -
rumah penginapan itu nampak sunyi karena yang berani berlalu -lalang hanya mereka yang
membawa payung dan yang naik kereta. Sebagian besar orang berteduh di emper -emper toko dan
jalan raya yang cukup lebar itu telah digenangi air.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika gerobak yang dikendarai Pek Lian me-masuki pintu gerbang, tak lama kemudian masuk pula
sebuah kereta indah yang dihias tanda -tanda kebesaran. Kereta itu dikawal oleh belasan orang
perajurit yang berpakaian serba mewah dan indah gemerlapan. Di sebelah kanan kiri kereta itu
nampak dua orang gadis cantik yang berpakaian indah se-perti puteri -puteri bangsawan istana atau
penga-wal-pengawal wanita istana yang berkedudukan tinggi. Di belakang masing -masing gadis ini
ter-dapat seorang perajurit yang melindungi mereka dari air hujan dengan sebuah payung bergagang
panjang. Perlakuan ini saja membuktikan bahwa dua orang gadis itu bukanlah sembarang pengawal,
setidaknya tentu pengawal-pengawal seorang puteri istana yang dipercaya. Melihat pedang panjang
tergantung di punggung dua orang gadis itu, makin mudah diduga bahwa mereka itu tentulah
pengawal-pengawai istana yang penting.
Karena kereta indah itu mendahuluinya, Pek Lian dapat memperhatikan kereta di depannya itu. Ia
melihat betapa orang-orang yang berteduh di tepi jalan, membungkuk dengan hormat ketika ke-reta
lewat. Ini hanya menunjukkan bahwa penum-pang kereta itu tentulah seorang pejabat tinggi. Dan
melihat dua orang pengawalnya, mudah di-duga bahwa penumpang itu tentulah seorang wanita
bangsawan. Pek Lian menduga-duga. Siapa-kah wanita bangsawan tinggi di dalam kereta itu ?
Pek Lian memandang kepada dua orang penga-wal wanita itu dengan penuh perhatian. Sejak
melihatnya tadi, ia merasa seperti telah menge-nal atau setidaknya pernah melihat mereka ini, akan
tetapi ia lupa lagi entah kapan dan di mana. Kini ia memandang lagi penuh perhatian dan karena kini
ia memandang dari belakang, sege-ra ia tertarik oleh sesuatu pada rambut mereka itu. Tentu saja!
Tusuk konde batu giok! Sama benar bentuknya dengan tusuk konde yang dipakai oleh delapan orang
wanita berpakaian sutera hitam itu, yang pernah menawannya. Hanya bedanya, dua orang gadis ini
masih muda, cantik dan pakaian-nya indah. Karena ia sendiri tidak tahu harus me-nujukan
gerobaknya ke mana, maka kuda yang di-diamkannya itu otomatis mengikuti jalannya kereta di
sebelah depan.
Kereta mewah itu berhenti di pintu gerbang se-buah gedung besar dengan pekarangan yang luas dan
indah. Pek Lian juga menghentikan gerobak-nya di belakang kereta itu sambil memandang dengan
penuh perhatian. Pintu kereta terbuka dan turunlah seorang wanita tua yang berwibawa, ber-pakaian
indah dan bersikap tenang sekali. Wanita tua ini menengok satu kali ke arah gerobak, lalu melangkah
ke depan, disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang agaknya menjadi tuan ru-mah penghuni
gedung itu. Pek Lian melihat nenek ini dan juga pria itu, hatinya berdebar tegang. Ia mengenal
dengan baik siapa adanya mereka, walau-pun ia tidak pernah berkenalan dekat dengan mere-ka. Pria
setengah tua yang kelihatan gagah itu, yang us;anya antara limapuluh lima tahun, adalah Wakil
Perdana Menteri Kang yang amat terkenal karena selain wakil perdana menteri ini amat cerdik
pandai, juga dia terkenal sebagai seorang pembesar atau pejabat yang adil, jujur dan set;a. Semua
pe-jabat di kota raja segan kepadanya, bahkan kaisar sendiripun menaruh hormat kepada wakil
perdana menteri ini. Sedangkan nenek itupun pernah dilihat oleh Pek Lian, bahkan nama nenek ini
sudah lama dikenalnya. Nenek ini dikenal sebagai Siang Houw Nio -nio, bukan nenek sembarangan
karena ia adalah bibi dari kaisar sendiri ! Bahkan, biarpun tidak secara resmi, terdengar desas -desus
bahwa nenek inilah yang bertanggung jawab atas keaman-an keluarga kaisar di istana karena nenek
ini me-mang memiliki ilmu kepandaian yang amat-lihai.
Pek Lian hanya dapat memandang dengan me-longo ketika nenek itu disambut dengan penuh
kehormatan oleh pihak tuan rumah, kemudian ne-nek itu diiringkan masuk ke dalam gedung, dika-wal
oleh dua orang gadis cantik yang berjalan gagah di belakangnya. Setelah mereka itu lenyap, ke dalam
gedung, barulah Pek Lian sadar bahwa ia sejak tadi telah duduk bengong di atas gerobak yang
dihentikannya di belakang kereta. Dan baru ia tahu bahwa para pengawal yang jumlahnya empatbelas
orang tadi mulai memperhatikan gerobak-nya. Bahkan empat orang segera melangkah lebar
menghampirinya.
"Heii, nona ! Sejak tadi engkau mengikuti kami, ada urusan apakah ?" tegur seorang di antara mereka.
Mereka tadi ketika mengawal kereta, meli-hat gerobak ini, akan tetapi mereka tidak berani
membikin ribut karena takut kepada Siang Houw Nio -nio yang mereka kawal, juga karena dua orang
nona pengawal pribadi nenek itu diam saja, mere-kapun tidak berani banyak bertingkah. Sekarang,
setelah nenek penghuni kereta bersama para pe-ngawal pribadinya telah diterima oleh pihak tuan
rumah dengan selamat, barulah mereka berani ri-but -ribut untuk menyatakan rasa penasaran dan
mereka menghampiri gerobak yang masih berhenti tak jauh dari pintu gerbang itu.
"Jangan-jangan ia menyelidiki perjalanan kita !" kata seorang di antara mereka sambil. mendekat.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Eh, kenapa kakimu dirantai, nona ?" tanya orang ke tiga dan kini ada enam orang pengawal ramairamai
mendekat karena tertarik oleh seru-an terakhir ini.
Pek Lian tidak dapat banyak mengharapkan orang-orang seperti para pengawal ini. Ia sudah tahu
sampai di mana kepandaian perajurit -perajurit pengawal ini. Kalau dua orang gadis tadi, barulah
boleh diharapkan dapat menolongnya. Akan tetapi, betapapun juga, ia melihat kesempatan untuk menimbulkan
keributan dan menarik perhatian, maka mendengar pertanyaan itu, ia lalu menoleh dan
me-nudingkan jari telunjuknya ke dalam gerobak.
Isyarat ini cukup bagi para perajurit pengawal. Bagaikan pendekar -pendekar atau pahlawan -pahlawan
yang hendak menolong seorang gadis manis yang tersiksa, mereka itu lalu mendobrak pintu
dengan gedoran -gedoran keras.
"Penjahat-penjahat keji yang berada di dalam gerobak ! Hayo keluar menerima hukuman !" teriak
mereka sambil beramai-ramai mendorong pintu gerobak yang terkunci dari dalam itu. Tiba-tiba
terdengar teriakan melengking dari dalam, me-ngejutkan para perajurit pengawal karena teriakan
seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh mulut bi-natang-binatang buas. Dan tiba-tiba saja pintu
gerobak itu terbuka lebar dari dalam, disusul ber-i kelebatnya dua bayangan orang dan empat orang
perajurit berteriak dan roboh, menggigil kedinginan terkena pukulan beracun ! Tentu saja hal ini amat
mengejutkan sepuluh orang perajurit pengawal la-innya dan mereka sudah cepat mencabut senjata
lalu mengeroyok kakek dan nenek yang telah me-robohkan empat orang kawan mereka itu. Terjadilah
perkelahian yang ramai, di mana sepuluh orang pengawal dihadapi oleh dua orang kakek dan
nenek yang amat lihai. Kakek itu berkelahi sambil terkekeh -kekeh dan seperti biasa, dia mempermainkan
para pengeroyoknya, membuat mereka jatuh bangun hanya dengan menjegal, mendorong dan
tidak menjatuhkan pukulan maut karena memang dia ingin puas mempermainkan dulu para pengeroyoknya
sebelum membunuh mereka. Sebaliknya, nenek itu menggerakkan kaki tangannya dengan
buas sambil memaki -maki dan dalam waktu sing-kat, sudah ada dua orang lagi perajurit pengawal
yang dirobohkan oleh pukulannya yang mengan-dung hawa beracn. Suasana menjadi ribut karena
para penjaga gedung itupun sudah berlari -lari mendatangi sambil memegang senjata.
Kembali sudah jatuh dua orang perajurit penga-wal sehingga kini sudah ada delapan orang menggeletak
keracunan oleh pukulan suami isteri yang lihai itu. Keributan ini tentu saja segera diketahui
oleh para pengawal -pengawal dalam gedung dan merekapun cepat berlari keluar. Kini kakek dan
nenek itu dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pengawal dan penjaga. Akan tetapi, para perajurit itu
sama saja dengan menyerahkan nyawa mencari kematian. Makin banyak kini yang roboh sehingga
mayat mereka malang melintang memenuhi ha-laman yang luas itu. Melihat ini semua, diam -diam
Pek Lian bergidik. Kakek dan nenek itu benar-benar amat keji dan juga amat lihai.
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan nampak berkelebat bayangan merah dan putih
meluncur keluar dari dalam gedung. Pek Lian melihat bahwa yang bergerak cepat sekali itu ternyata
adalah dua orang gadis pengawal tadi. Tahu -tahu mereka telah berada di situ dan mereka sudah mengenal
keadaan dengan pandang mata mereka yang tajam dan berpengalaman.
"Pek -cici, tentu mereka inilah yang telah mem-bunuh orang -orang kita ! Manusia -manusia iblis dari
Ban -kwi -to !"
"Benar, Ang -siauwmoi! Kau bantu para pengawal, biar aku bebaskan gadis tawanan itu !" kata
wanita baju putih, sedangkan wanita yang bajunya merah telah mencabut pedang panjangnya dan
dengan gerakan yang amat cepat dan dahsyat, ia sudah menerjang kakek nenek iblis dengan
serangan maut. Pedangnya membuat gulungan sinar dan mengeluarkan suara bercicit, tanda bahwa
ilmu pedang gadis baju merah ini amat lihai dan digerakkan oleh tenaga sinkang yang amat kuat.
Sementara itu, gadis baju putih sekali meloncat telah tiba di dekat Pek Lian. Dengan cekatan ia
mematahkan rantai kaki Pek Lian dengan pedangnya yang ternyata terbuat dari pada baja yang amat
kuat itu, dan melihat keadaan Pek Lian, iapun lalu menotok dan mengurut leher Pek Lian sehingga
Pek Lian dapat mengeluarkan suara lagi. "Terima kasih," kata Pek Lian. "Tidak perlu, kalau engkau
ada kepandaian, lebih baik bantu kami menghadapi sepasang iblis itu!" jawab si wanita baju putih
yang kini segera meloncat turun dan membantu gadis baju merah dengan putaran pedangnya yang
ternyata tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan si baju merah.
Dua orang gadis itu memang benar amat lihai. Terutama sekali ilmu pedang mereka sedemikian
hebatnya sehingga sepasang iblis itupun berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan nyaris menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
korban pedang kalau mereka tidak cepat -cepat menghindarkan diri dengan cekatan sambil membalas
dengan mengawut -awut jarum, pasir dan asap beracun. Para pengawal yang mengeroyok
hanya berani menggunakan senjata -senjata panjang seperti tombak untuk menyerang kakek daii
nenek itu dari jarak jauh setelah melihat betapa pe-rajurit pengawal yang berani mehyerang terlalu
dekat tentu roboh dalam keadaan mengerikan, men-jadi korban pukulan beracun. Melihat betapa sepasang
iblis itu terdesak, akan tetapi masih amat sukar bagi dua orang gadis dan para pengawal untuk
merobohkannya, Pek Lian yang merasa sakit hati terhadap mereka lalu meloncat turun dari atas
gerobak, dan menyambar sebatang pedang yang berserakan di halaman. Banyak senjata para
penga-wal yang sudah roboh itu berserakan di tempat itu dan pedangnya sendiri entah dibuang ke
mana oleh suami isteri iblis itu. Dengan pedang di ta-ngan, Pek Lian menyerbu dan ikut mengeroyok.
Tentu saja serangan Pek Lian dengan ilmu pedang yang tidak boleh dipandang ringan ini membuat
suami isteri dari Ban-kwi-to menjadi semakin terdesak.
Bagaimanapun juga, ilmu silat pedang Pek Lian adalah ilmu pedang yang masih aseli dan bersih,
mengandung dasar yang kuat. Dan selama ini ia telah memperoleh banyak pengalaman dalam
pertempuran-pertempuran melawan musuh-musuh yang tangguh sehingga ia memperoleh banyak
kema-juan pesat. Maka, pengeroyokannya juga terasa berat oleh suami isteri iblis itu sehingga
mereka semakin terdesak. Karena khawatir kalau-kalau sampai terluka dan roboh, tiba-tiba nenek itu
mengeluarkan sebuah tabung bambu kuning dari saku jubahnya yang kedodoran, dan membuka
tutupnya. Melihat ini, Pek Lian yang selama tiga hari berkum-pul dengan mereka dan sudah tahu akan
isi tabung bambu itu, berteriak kaget, "Awas binatang berbisa !!"
Teriakannya itu ternyata benar karena dari ta-bung bambu itu keluar beterbangan beratus -ratus lebah
yang warnanya putih yang mengamuk dan menyerang para pengeroyok. Hebatnya, di antara para
perajurit yang terkena sengatan lebah itu, se-ketika roboh berkelojotan, tubuhnya kejang -kejang !
Bukan main hebatnya bisa dari sengatan lebah pu-tih ini. Yang belum menjadi korban sengatan lebah,
segera melarikan diri ke dalam gedung, termasuk Pek Lian dan dua orang wanita tokoh tusuk konde
batu giok itu, dikejar oleh lebah -lebah yang marah.
Sementara itu, melihat jatuhnya beberapa orang korban sengatan lebahnya, kakek dan nenek itu seperti
kumat gilanya. Mereka tertawa -tawa, ber-tepuk -tepuk tangan dan bersorak, lalu berjongkok dan
menonton orang-orang yang berkelojotan dan kejang-kejang sebagai akibat sengatan lebah, kelihatan
gembira bukan main seperti anak-anak ke-cil menikmati cacing -cacing yang berkelojotan terkena
abu panas. Mereka agaknya seperti telah me-lupakan keadaan sekeliling mereka, karena asyik
dengan permainan baru ini. Memang nampaknya dua orang ini seperti iblis yang amat kejam. Akan
tetapi, bukankah kesadisan, yaitu rasa gembira me-lihat orang atau mahluk lain tersiksa ini telah ada
pada diri setiap orang manusia sejak kanak -kanak ? Hanya agaknya pada suami isteri ini kesadisan
itu menonjol sekali sehingga kelihatannya luar biasa dan keterlaluan.
Sementara itu, nenek Siang Houw Nio -nio yang berada di dalam gedung, sedang bercakap -cakap
dengan Wakil Perdana Menteri Kang. Mereka bica-ra dengan serius sekali dan wajah keduanya agak
muram dan nampak bersemangat. Agaknya mereka saling berbantah dan kini terdengar suara nenek
yang berwibawa itu, yang bicara sambil menatap tajam wajah wakil perdana menteri itu, suaranya
terdengar lantang dan berpengaruh.
"Menteri Kang! Aku pribadi dapat mengerti akan perasaan hatimu. Aku mengerti, apa yang men-jadi
sebab sesungguhnya dari permintaanmu untuk pensiun itu. Alasan yang kauajukan bahwa engkau
sudah merasa terlalu tua dan tidak sanggup bekerja lagi adalah alasan yang dicari -cari saja. Aku tahu
bahwa sebab yang sesungguhnya adalah karena se-mua nasihatmu tidak pernah digubris oleh kaisar,
bukankah demikian? Di dalam batinmu, engkau selalu berselisih pendapat dengan Sri baginda dan
hal itu amat mengesalkan hatimu. Bukankah demi-kian ? Apa lagi setelah sahabat eratmu, yaitu Menteri
Ho, ditangkap karena dianggap menentang kebijaksanaan pemerintah. Dan karena engkau setia,
muka dari pada engkau harus mengalami tekanan batin, lebih baik engkau mengundurkan diri saja.
Bukankah demikian, Wakil Perdana Menteri Kang !'" Ucapan nenek itu begitu terus terang dan
ditujukan langsung tanpa pura-pura lagi sehingga bagi men-teri setia itu terasa seolah-olah ada
todongan pedang langsung ke ulu hatinya.
Mendengar ucapan itu, pembesar ini agak pucat mukanya dan sampai lama dia menundukkan mukanya.
Dia maklum bahwa akan percuma saja untuk menyangkal terhadap puteri yang amat cerdas ini.
Akhirnya, setelah menarik napas panjang, diapun berkata, suaranya terdengar berat membayangkan
keadaan hatinya yang terhimpit,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tuan puteri, hamba mengerti bahwa sebagai bibi dan pelindung sri baginda kaisar, paduka memiliki
pandangan yang luas, waspada dan bijaksana. Oleh karena itu, tentu paduka juga maklum bahwa
hamba sama sekali tidak mempunyai niat yang kurang baik terhadap sri baginda. Di dalam lubuk hati
hamba, yang ada hanyalah kesetiaan, sifat yang dijunjung oleh nenek moyang hamba. Selama ini,
selagi mendampingi sri baginda, hamba selalu berbuat baik dan bijaksana agar dapat meraih rasa
hormat dan cinta dari rakyat. Kekuatan negara terletak kepada kekuatan kaisarnya dan kekuatan
kaisar timbul dari kesetiaan rakyat yang mencintanya. Akan tetapi... ah, bagaimana hamba harus
mengatakannya ?"
"Lanjutkanlah, Menteri Kang. Jangan khawatir, engkau bicara dengan orang yang mempergunakan
hati nuraninya, bukan hanya mempergunakan perasaannya."
"Bagaimana hati hamba tidak akan berduka me-lihat betapa sri baginda agaknya hanya selalu menuruti
keinginan beberapa orang kepercayaan saja. Mengejar kesenangan dan kurang
mempertimbang-kan usul -usul mereka yang dipercaya sehingga sering kali muncul keputusan dan
perintah yang amat berlawanan dengan kehendak rakyat jelata. Hal itu membuat negara kita menjadi
tegang dan kacau seperti sekarang ini. Hamba adalah wakil perdana menteri, tentu ikut bertanggung
jawab atas keadaan negara. Akan tetapi apa yang dapat hamba lakukan kalau semua usul hamba
tidak di-perhatikan ? Kalau semua nasihat hamba dikalah-kan oleh bujuk rayu para penjilat ? Lebih
baik hamba mengundurkan diri saja. Bukan karena ham-ba ingin melarikan diri atau karena kecewa,
mela-inkan karena kehadiran hamba di dekat sri baginda sama sekali tidak ada artinya lagi." "Aku
dapat mengerti perasaan hatimu, akan te-tapi jalan pikiranmu yang demikian itu sesungguh-nya keliru
sama sekali, menteri yang baik. Kalau engkau mundur, apakah keadaan akan menjadi le-bih baik ?
Tentu akan semakin parah. Aku sendiri tidak berhak mencampuri urusan pemerintahan, akan tetapi
aku tahu bahwa kalau engkau mundur, berarti makin berkurang pula menteri yang berani memberi
ingat dan menegur sri baginda kalau be-liau melakukan kesalahan dalam tindakannya. Be-tapapun
juga, usia sri baginda masih terlalu muda sehingga beliau perlu dibimbing dan dinasihati oleh orangorang
yang bijaksana dan berpengalaman seperti engkau. Sayang bahwa aku hanya mahir dalam
urusan ilmu silat, sedikitpun aku tidak tahu akan seluk-beluk pemerintahan, maka aku minta dengan
sangat kepadamu, Menteri Kang, secara pribadi dan demi persahabatan kita, agar engkau suka
mempertahankan kedudukanmu, mendampingi sri baginda. Biarlah kita bekerja sama. Aku yang
mendampingi dan menjaga keselamatan sri bagin-da, sedangkan engkau yang menjaga
kebijaksanaan-nya." Setelah bicara dengan panjang lebar, nenek itu menghapus sedikit peluh dari
dahi dan leher-nya.
"Akan tetapi, tuan puteri... paduka tentu mengenal kekerasan hati sri baginda. Mungkin saja
peringatan hamba akan membuat hamba dijebloskan pula ke dalam penjara seperti Menteri Ho yang
baik dan jujur itu"
"Hemm, kalau begitu engkau merasa takut dan ngeri ? Engkau lebih suka melihat keadaan menjadi
semakin buruk dari pada kehilangan nyawamu un-tuk negara ? Inikah ucapan Wakil Perdana Men-teri
Kang yang terkenal setia dan berbudi itu ?"
"Bukan begitu, tuan puteri..."
Akan tetapi pembesar ini tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara hirukpikuk
dari para pengawal dan penjaga yang berlarian ke dalam gedung, dikejar oleh lebah-le-bah
berbisa. Bahkan di ruangan depan gedung itu, terdapat beberapa orang pengawal yang jatuh bergelimpangan
dan sekarat.
Dua orang gadis bertusuk konde batu giok su-dah meloncat ke dalam dan dengan singkat menceritakan
kepada nenek itu tentang pengamukan suami isteri dari Ban -kwi -to yang memperguna-kan
lebah -lebah berbisa untuk merobohkan banyak sekali pengawal. Mendengar keterangan dua orang
pengawal pribadi yang juga menjadi murid -murid kesayangannya itu, Siang Houw Nio-nio menjadi
marah sekali. Dikibaskannya lengan bajunya.
"Pek-ji! Ang-ji! Apakah menghadapi iblis Ban-kwi-to saja kalian tidak mampu mengatasi-nya dan perlu
menggangguku ?" bentaknya pena-saran. Biasanya, kedua orang muridnya ini sudah dapat
mengatasi segala persoalan yang timbul, karena itu ia sudah menaruh kepercayaan besar dan
bahkan mengangkat mereka menjadi pengawal-pengawal pribadinya agar ia tidak usah turun ta-ngan
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri kalau timbul persoalan. Tentu saja ia merasa penasaran dan marah melihat kedua orang murid
yang diandalkannya ini sekarang menjadi kacau hanya oleh amukan dua orang iblis Ban-kwi-to saja.
"Maaf, subo, sebetulnya teecu berdua tidak akan kalah kalau saja mereka itu mempergunakan ilmu
silat biasa. Akan tetapi mereka melepaskan lebah yang ratusan ekor banyaknya, lebah berbisa yang
mengerikan sehingga sudah banyak perajurit yang roboh dan keracunan. Teecu berdua kewalahan
untuk mengusirnya."
Mendengar laporan muridnya yang berbaju putih yang diberi nama panggilan Pek In (Awan Putih)
sedangkan yang berbaju merah disebut Ang In (Awan Merah), Siang Houw Nio -nio mengerutkan
alisnya.
"Lebah berbisa ...... ? Apakah berwarna putih dan yang kena sengatannya terus kejang -kejang
karena panas yang hebat dan berkelojotan, lalu kulit para korban juga menjadi putih ?"
"Benar, subo," kata Ang In.
"Hemm, tentu lebah beracun dari pohon -pohon arak di Sin -kiang yang amat berbahaya. Dalam
waktu tiga jam kalau tidak diberi obat penawarnya, luka sengatan itu akan menjadi busuk dan sukar
ditolong lagi. Menteri Kang, apakah engkau mempunyai arak yang tua, keras dan wangi ? Cepat
keluarkan dan bawa ke sini. Suruh semua orang membawa obor, karena hanya dengan api sajalah
lebah-lebah itu dapat diusir dan mereka sangat suka kepada arak wangi dan keras. Cepat!"
Wakil Perdana Menteri Kang lalu memberi pe-rintah kepada pengawal pribadinya dan tak lama
kemudian nenek bangsawan itu telah menuangkan arak wangi ke dalam guci arak yang indah
buatannya, kuno dan nyeni. la membawa keluar guci arak itu dan meletakkannya di ruangan depan.
Dan terjadilah keanehan. Bau arak yang harum itu agaknya menarik lebah -lebah putih itu yang
beterbangan dengan cepatnya menuju ke guci arak itu dan sebentar saja semua lebah mengerumuni
guci dan mengeroyok arak harum itu seperti semut -semut mengerumuni gula. Setelah semua lebah
berkumpul di situ, Siang Houw Nio -nio lalu menyingsingkan lengan bajunya dan dengan kedua
tangannya ia meraup lebah -lebah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah botol besar, kemudian
iapun keluar membawa botol terisi lebah -lebah putih itu.
Di halaman depan, suami isteri iblis itu masih seperti orang gila, berjongkok dan tertawa terpingkalpingkal
melihat para korban yang berkelojotan di atas tanah. Memang ada lucunya melihat muka yang
tertarik-tarik itu dan kaki tangan yang kejang-kejang, akan tetapi bagi orang biasa, tentu rasa ngeri
dan kasihan akan mengusir semua bagian yang lucu.
"Heh-heh-heh, lihat hidungnya ! Heh-heh, hidungnya jadi bengkok!" kata nenek itu sambil terpingkalpingkal.
"Dan yang sana itu, kakinya menendang-nendang, ha-ha, agaknya dia mimpi belajar ilmu tendangan
baru yang sakti, ha-ha-ha!" suaminya juga tertawa bergelak melihat tingkah laku seorang korban lain.
"Hemm, kiranya tak salah dugaanku. Im-kan Siang-mo yang datang mengacau, sungguh berani mati
sekali!" nenek bangsawan itu berkata.
Suami isteri itu terkejut dan cepat melompat berdiri, berdampingan menghadapi nenek itu, memandang
heran bahwa ada seorang yang mengenal julukan mereka di tempat ini. Akan tetapi ketika
mereka melihat nenek yang berpakaian indah dan bersikap penuh wibawa itu, mereka berdua saling
pandang dan nampak terkejut, lalu dengan sikap canggung keduanya menjura ke arah nenek itu.
"Bagaimana toanio dapat mengenal Im -kan Siang -mo ?" tanya nenek itu dengan suara parau. Siang
Houw Nio -nio tersenyum. "Memang baru sekarang aku dengan sial bertemu dengan kalian, akan
tetapi siapakah yang tidak pernah mendengar nama kalian sebagai tokoh -tokoh Ban -kwi -to ? Kalian
mempunyai ciri -ciri badan yang mudah di-kenal. Im -kan Siang -mo, Sepasang Iblis dari A-khirat, juga
suami isteri Bouw Mo -ko dan Hoan Mo -li."
"Engkau mengenal kami, lalu mau apa ?" tiba-tiba nenek iblis itu menantang.
Siang Houw Nio -nio tetap tersenyum dengan tenang. "Lihat, tidak kenalkah kalian kepada lebahlebah
ini lagi ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa lebah -lebah putih itu berada di dalam botol yang dipegang oleh si nenek sakti, suami
isteri itu menjadi marah sekali. "Kembali-kan lebah -lebahku !" bentak Hoan Mo -li, nenek gendut itu
sambil menyerang, diturut pula oleh suaminya. Lebah -lebah itu adalah binatang -bi-natang peliharaan
mereka yang menjadi sahabat-sahabat baik dan bahkan merupakan senjata mere-ka yang terampuh
dalam menghadapi lawan tang-guh, dan mereka memperoleh lebah -lebah itu de-ngan amat sukar,
bahkan dengan taruhan nyawa. Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk men-jinakkan mereka
yang membutuhkan ketelitian, ke-sabaran dan juga mengandung bahaya. Oleh kare-na itu, melihat
betapa lebah -lebah itu berada di tangan nenek bangsawan itu, tentu saja mereka menjadi marah dan
menyerang dengan dahsyat dan mati -matian.
Akan tetapi, suami isteri yang mempunyai pukulan-pukulan beracun itu sekarang seolah-olah ketemu
gurunya. Pada hakekatnya, dasar ilmu si-lat dari tokoh -tokoh Ban -kwi -to ini tidaklah ter-lalu tinggi.
Yang membuat mereka berbahaya bu-kanlah kelihaian ilmu silat mereka, melainkan ra-cun -racun
yang mereka pergunakan itulah. Kini, berhadapan dengan Siang Houw Nio -nio yang memiliki tingkat
ilmu silat tinggi, mereka itu mati kutu. Puteri tua yang menjadi bibi dan juga pe-lindung kaisar ini
ternyata amat lihai. Ia menghadapi pengeroyokan dua orang itu hanya dengan tangan kanan saja,
sedangkan tangan kirinya dipa-kai untuk memegang botol terisi lebah -lebah putih. Biarpun demikian,
dengan langkah-langkah ajaib, ia selalu dapat menghindarkan diri dan kedua orang suami isteri iblis
itu tidak pernah mampu menyen-tuhnya.
Sampai tigapuluh jurus lebih suami isteri itu mendesak tanpa ada gunanya sama sekali. Tiba-tiba,
Siang Houw Nio -nio yang tadi hanya ingin melihat dasar -dasar gerakan mereka dan mengu-kur
tingkat mereka, meloncat ke pinggir sambil berseru, "Berhenti!!"
Seruannya mengandung tenaga khikang yang demikian kuatnya sehingga dua orang lawannya itu,
mau atau tidak, otomatis berhenti bergerak dan memandang kepadanya dengan bengong.
"Kita tukar lebah -lebah peliharaan kalian ini dengan obat pemunahnya untuk menyembuhkan para
korban. Hayo cepat, kalau tidak, kuhancurkan lebah -lebah ini kemudian kepala kalian juga !"
Ucapan nenek itu penuh wibawa dan sekali ini suami isteri itu tidak ragu -ragu lagi. Mereka telah
memperoleh bukti bahwa nenek ini tidak hanya mengeluarkan gertak sambal belaka, karena selama
tigapuluh jurus lebih tadi mereka berdua memang sama sekali tidak berdaya dan kalau nenek itu benar-
benar hendak membunuh mereka, agaknya hal itu bukan tidak mungkin.
"Baik..., baik... ini obat pemunahnya, obat luar dan obat minum. Berikan kembali lebah-lebahku,"
kata Hoan Mo-li si nenek gendut.
Penukaran terjadilah dan Siang Houw Nio-nio lalu memerintahkan dua orang muridnya untuk
mengobati para korban. Dan benar saja, setelah diolesi obat luar dan diberi minum obat minum-nya,
para korban itu berhenti berkelojotan dan tak lama kemudian merekapun sembuh kembali.
Sementara itu, kakek kecil kurus, Bouw Mo -ko, setelah sejak tadi memandang kepada nenek bangsawan
itu, lalu berkata, "Benarkah kami berhadap-an dengan yang mulia Siang Houw Nio-nio?"
Mendengar ucapan suaminya itu, Hoan Mo -li juga kelihatan terkejut. Nenek bangsawan itu
mengangguk dan berkata, "Nah, kalian boleh pergi dari sini dan jangan mencoba untuk membikin kacau
di kota ini !"
Bouw Mo -ko yang maklum bahwa tinggal le-bih lama di tempat itu tidak menguntungkan mere-ka, lalu
menggandeng tangan isterinya. "Isteriku, mari kita pergi dari sini!"
"Nanti dulu !" Hoan Mo -li mengibaskan ta-ngannya yang digandeng suaminya. "Siang Houw Nio-nio,
perjanjian antara kita hanya mengenai tukar -menukar lebah dan obat penawarnya. Akan tetapi gadis
itu adalah tawanan kami, maka kami akan membawanya kembali!"
Nenek bangsawan itu menoleh kepada Pek Lian yang ditudingi oleh nenek iblis itu, lalu ia mengangkat
pundaknya. "Tidak ada hubungannya de-nganku," katanya. Mendengar ini, Hoan Mo -li lalu
menghampiri Pek Lian.
"Anak manis, mari kau ikut dengan kami!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak sudi! Biar mati aku tidak akan mau menyerah !" bentak Pek Lian sambil melintangkan
pedangnya, pedang yang dipungutnya dari atas tanah di halaman itu.
"Eh, eh, kau berani melawanku, ya ?" Hoan Mo -li membentak dan menubruk maju. Pek Lian
mengelak dan balas menyerang. Akan tetapi, Bouw Mo -ko kini juga sudah maju menubruk dan Pek
Lian menjadi repot sekali. Melawan seorang di an-tara kedua iblis itu saja ia takkan mampu menang,
apa lagi kalau dikeroyok dua. Akan tetapi pada saat itu, Pek In dan Ang In sudah menerjang maju
membantunya.
"Eh, eh, bukankah gadis tawananku ini tidak termasuk perjanjian tukar -menukar lebah ?" Hoan Mo -li
mencela.
"Kalian berjanji dengan subo, bukan dengan ka-mi. Kami tidak terikat perjanjian!" jawab Pek In yang
terus menggerakkan pedangnya, dibantu oleh Ang In dan Pek Lian. Kini dua orang suami isteri iblis itu
yang menjadi kewalahan. Untuk mempergunakan racun, mereka segan dan jerih terhadap Siang
Houw Nio-nio, maka akhirnya sambil mengeluarkan seruan -seruan marah dan kecewa, keduanya
meloncat ke atas gerobak dan melarikan gerobak mereka itu dengan cepat meninggalkan tempat itu,
langsung keluar dari pintu gerbang ko-ta besar Lok -yang.
Setelah dua orang iblis itu melarikan diri, Siang Houw Nio -nio memandang kepada Pek Lian de-ngan
sinar mata penuh selidik, kemudian bertanya, "Nona, siapakah engkau ?"
Pek Lian merasa ragu -ragu untuk menjawab. Ia tahu siapa adanya nenek ini yang masih keluarga
dekat kaisar. Tentu saja ia tidak berani mengaku bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang kini menjadi
musuh dan tawanan pemerintah. Sebagai bibi kaisar, tentu saja nenek inipun memusuhi keluarga
Ho yang dianggap pemberontak. Melihat keraguan Pek Lian, gadis baju merah lalu berkata sebagai
keterangan kepada subonya,
"Gadis ini tentu merupakan kawan dari orang-orang Lembah Yang -ce yang memberontak. Anak buah
teecu pernah menawannya. Bukankah begi-tu ?" tanyanya kepada Pek Lian.
Pek Lian tak dapat menyangkal akan hal ini dan iapun tahu bahwa tentu wanita -wanita bertusuk
konde batu giok itu telah melapor kepada pimpinan mereka ini. Maka iapun menjawab dengan suara
mengejek, "Hemm... kiranya wanita – wanita bertusuk konde batu giok itu adalah anak buah-mu ?"
Pek Lian memandang ke arah tusuk konde pada rambut nona baju merah itu. "Anak buahmu itu
sungguh kurang ajar sekali. Aku hanya pernah berjalan bersama -sama ketua lembah itu saja, dan
aku lalu ditangkap ! Aturan mana itu ?"
"Adik yang baik, kaumaafkanlah anak buah ka-mi. Akan tetapi orang -orang lembah itu adalah
buronan pemerintah, maka karena engkau menge-nal mereka, sudah selayaknya kalau engkau dicurigai,"
kata Pek In si baju putih.
"Akan tetapi, apa hubungannya dengan wanita-wanita baju sutera hitam bertusuk konde batu giok itu
? Ada hak apakah mereka mencurigai orang ?"
Pek Lian bertanya penasaran.
Gadis baju putih itu tersenyum dan kalau biasa-nya ia nampak gagah, kini baru terlihat jelas bahwa
wajahnya manis sekali kalau tersenyum. "Adik, tahukah engkau siapa pembesar pemilik gedung ini ?
Beliau adalah Wakil Perdana Menteri Kang, dan guru kami ini, beliau adalah bibi dari sri ba-ginda
kaisar. Nah, kini engkau mengerti mengapa anak buah kami mencurigai orang -orang yang menjadi
teman para pemberontak, bukan ?"
Tentu saja Pek Lian sama sekali tidak terkejut mendengar siapa adanya pembesar dan nenek bangsawan
itu karena memang ia sudah pernah menge-nal dan mendengar tentang mereka. Hanya tadi ia
merasa kagum bukan main menyaksikan kelihaian nenek itu ketika menghadapi Im -kan Siang -mo,
suami isteri iblis yang lihai itu. Dan baru sekarang ia tahu bahwa pasukan wanita berpakaian sutera
hitam dengan tusuk konde batu giok itu adalah anak buah murid -murid dari Siang Houw Nio -nio jadi
orang-orangnya pemerintah! Atau setidak-nya adalah golongan yang membela kaisar.
Ia sendiri tidak ingin dikenal sebagai puteri Menteri Ho karena hal ini akan berbahaya sekali baginya.
Maka, ketika melihat Wakil Perdana Men-teri Kang keluar dan memandang kepadanya de-ngan sinar
dunia-kangouw.blogspot.com
mata tajam, Pek Lian menundukkan mukanya. Menteri Kang itu mengerutkan alisnya dan merasa
seperti pernah mengenal gadis ini. akan tetapi dia lupa lagi.
Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Bagaimana kalau sampai ia dikenal ? Tidak
ragu lagi, ia tentu akan ditangkap sebagai anggauta keluarga pemberontak. Ia harus berhati -hati dalam
memberi jawaban, pikirnya dan ia tidak boleh terlalu banyak bicara.
"Nona, siapakah engkau ? Benarkah orang-orang Lembah Yang -ce itu adalah kawan -kawan mu ?
Ataukah engkau barangkali juga anggauta pemberontak ?" kembali wanita tua itu bertanya dengan
halus, namun sinar matanya seperti hendak menembus jantung Pek Lian.
"Saya adalah seorang perantau dan kebetulan bertemu di jalan dan berkenalan dengan ketua lembah
itu. Karena saya pernah ditolongnya, maka kami menjadi sahabat, akan tetapi saya bukan
anggauta mereka."
"Di manakah sekarang sahabatmu, ketua lembah itu ?"
Ho Pek Lian memang tidak tahu ke mana pergi-nya Kwee Tiong Li yang ikut bersama gurunya yang
baru, yaitu kakek Kam Song Ki yang lihai. Maka iapun menggeleng kepalanya dan berkata, "Saya
tidak tahu. Kami saling berpisah tiga hari yang lalu dan saya ditawan oleh pasukan tusuk konde batu
giok lalu dirampas oleh sepasang iblis itu."
Wakil Perdana Menteri Kang mempersilahkan nyonya bangsawan itu untuk duduk kembali di ruangan
tamu melanjutkan percakapan mereka. Siang Houw Nio -nio memberi isyarat kepada dua orang
muridnya, "Bawa ia masuk dan awasi baik-baik."
Pek In dan Ang In lalu memegang kedua ta-ngan Pek Lian dengan halus dan mengajaknya ma-suk
pida ke ruang tamu di mana kedua orang gadis itu duduk agak jauh di belakang nenek yang kini
melanjutkan percakapan dengan Menteri Kang. Dua orang muridnya adalah orang-orang kepercayaan
maka diperbolehkan untuk hadir. Dan ne-nek ini biarpun seorang bangsawan, akan tetapi
sikapnya seperti orang kang -ouw, tidak begitu perduli akan segala peraturan. Bahkan ia seperti
sengaja membiarkan Pek Lian ikut pula mendengar-kan, agaknya memang nenek ini ingin
memancing agar Pek Lian dapat memberi keterangan lebih banyak tentang para pemberontak. Pek
Lian duduk diapit-apit dua orang gadis lihai yang biarpun bersikap halus akan tetapi tetap saja
merupakan pengawal -pengawal yang takkan membiarkan ia lolos. Diam -diam Pek Lian memasang
telinga men-dengarkan percakapan tingkat tinggi itu.
"Menteri Kang, sekali lagi kuharapkan engkau suka memegang lagi jabatanmu dan mengurungkan
niatmu untuk mengundurkan diri. Hal ini telah diputuskan oleh para penasihat istana dalam rapat
terakhir dengan sri baginda kaisar sendiri. Akulah yang ditugaskan datang ke sini untuk menyampaikannya
kepadamu."
Wakil Perdana Menteri Kang mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. "Kalau hamba
menolak, tentu paduka telah mendapat wewenang dari sri baginda untuk memenggal kepala hamba
sekeluarga, bukan ? Begini, tuan puteri. Hamba siap untuk kembali, akan tetapi hamba juga siap
untuk membiarkan kepalaku dipenggal sekarang juga oleh paduka."
Nenek itu mengerutkan alisnya dan sinar mata-nya mencorong menatap wajah pembesar itu. "Hem,
apa maksudmu, Menteri Kang ?"
"Hamba siap untuk bertugas kembali, apa bila syaratnya dipenuhi. Hamba mohon agar para menteri
jujur dan setia yang dipecat dan dipensiunkan agar diampuni dan ditarik kembali karena tenaga
mereka amat dibutuhkan negara, termasuk sahabat hamba Menteri Ho. Menteri Ho hendaknya diampuni
dari hukuman mati, keluarganya dibebaskan dan agar dia menduduki lagi jabatannya.
Demikianlah, tuan puteri. Kalau permohonan hamba itu tidak dipenuhi, maka lebih baik hamba
menerima untuk di..."
"Nanti dulu, Menteri Kang!" nenek itu menyela. "Mana mungkin aku dapat memutuskan hal itu
sekarang! Bukan wewenangku. Akan tetapi aku akan berusaha untuk menyampaikan permohonanmu
kepada sri baginda dan akan berusaha agar beliau mengabulkannya. Aku mendengar bahwa sri
baginda telah menghentikan empat orang menteri, bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada
seorang di antaranya yang kini sedang hendak menjalankan pelaksanaan hukuman matinya. Menteri
dunia-kangouw.blogspot.com
itu adalah sahabat karibmu" Nenek itu menghela napas. Ia tidak tahu betapa jantung Pek Lian
berdebar penuh ketegangan dan keharuan. Betapa tidak akan tergetar rasa hati gadis ini mendengar
orang membicarakan ayahnya. Akan tetapi ia
menguasai hatinya dan hanya menundukkan muka sambil terus mendengarkan dengan penuh
perhatian.
"Maaf, tuan puteri. Soalnya bukan semata-mata karena Menteri Ho adalah sahabat karib hamba.
Andaikata hamba tidak mengenal dia sekalipun, tetap dia akan hamba bela karena hamba tahu
bahwa dia adalah satu di antara para pembantu sri baginda yang terbaik, paling jujur dan setia sampai
ke tulang -tulang sumsumnya."
"Tapi dia berani menentang kebijaksanaan sri baginda !" kata nenek itu penasaran.
"Tidak, tuan puteri. Bukan menentang sri ba-ginda, melainkan mengingatkan beliau bahwa keputusan
yang diambil beliau itu kurang tepat dan pada akbarnya hanya akan merugikan negara sendiri.
Hanya menteri-menteri-jujur sajalah yang berani mengeritik, sebagai tanda bahwa dia benarbenar
setia, bukan sebangsa pejabat yang pandai-nya hanya menjilat -jilat, menyenangkan hati sri
baginda karena pamrih untuk mencari kedudukan dan pengaruh, pejabat macam ini sesungguhnya
adalah pengkhianat, musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Kenapa justeru menteri yang ju-jur
dan setia yang harus ditangkap dan dihukum ?"
"Sudahlah, aku mengerti apa yang kaumaksud-kan. Aku akan menghadap sri baginda dan tunggu-lah
selama satu minggu. Aku akan datang lagi, Pek-ji, Ang-ji, mari kita pulang. Bawa nona itu sebagai
kawan."
Biarpun nenek itu menyebut "kawan" namun dua orang muridnya tentu saja maklum bahwa guru
mereka mencurigai nona ini yang harus dibawa sebagai seorang tawanan. Pek Lian tidak membantah.
Ia dan dua orang murid Siang Houw Nio -nio itu diberi pinjaman pakaian oleh keluarga Wakil
Perdana Menteri Kang untuk mengganti pakaian mereka yang tadi basah ketika mereka berkelahi
melawan Im -kan Siang -nio. Setelah berpamit, rombongan puteri tua itu meninggalkan Lak-yang
untuk kembali ke kota raja. Pengawal yang tadi-nya berjumlah empatbelas orang itu masih utuh
biarpun mereka telah menderita luka -luka berat yang kemudian dapat disembuhkan kembali. Ten-tu
saja mereka masih nampak loyo. Akan tetapi, sesungguhnya tugas mereka itu lebih banyak se-bagai
tanda kebesaran saja dari pada benar -benar mengawal puteri tua yang amat lihai dan yang ten-tu
saja sama sekali tidak membutuhkan pengawal-an orang -orang seperti mereka. Pek Lian menunggang
kuda di belakang kereta, diapit oleh Pek In dan Ang In. Dua orang gadis ini bersikap manis
kepadanya, sama sekali tidak bersikap seperti orang yang menawannya. Pek Lian mengakui
namanya, hanya she Ho itu digantinya dengan she palsu, yaitu she Sie.
***
Hujan telah berhenti sama sekali sehingga para pengawal, juga Pek In, Ang In dan Pek Lian yang
berada di luar kereta tidak lagi basah oleh air hujan. Nenek bangsawan itu sengaja membuka tirai
kereta sehingga dari belakang, sambil naik kuda yang disediakan oleh keluarga Menteri Kang, Pek
Lian dapat melihat wajah nenek itu yang duduk termenung seperti patung. Diam -diam, seperti tidak
sengaja, Pek Lian memperhatikan wajah itu. Seorang wanita yang sudah tua, usianya tentu ada
enampuluh lima tahun, akan tetapi masih jelas membayang bekas kecantikannya. Wajah itu masih
putih lembut biarpun di sana -sini, terutama di kanan kiri mulut dan di antara kedua mata, terda-pat
keriput. Alisnya diperindah dengan hiasan hi-tam seperti sudah lajimnya dilakukan oleh para wanita
bangsawan. Mulut itu dahulu tentu indah dan penuh gairah, masih nampak jelas garis -garis
lengkungnya, akan tetapi kini membayangkan se-suatu yang menyeramkan, menimbulkan sifat dingin
dan juga keras. Pek Lian teringat akan cerita ayahnya tentang wanita ini, seorang bibi dalam dari
kaisar dan juga menjadi pelindung kaisar. Bia-sanya wanita ini selalu berada di dalam istana, menjadi
semacam pelindung tersembunyi dari kaisar, di samping adanya pengawal -pengawal pribadi kaisar
yang dipimpin oleh Pek-lui-kong Tong Ciak si pendek cebol tokoh Soa-hu-pai itu. Karena nenek ini
tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, maka perkenalannya dengan Menteri Ho juga hanya
sepintas lalu saja, bahkan Pek Lian sendiri hanya baru mendengar namanya saja dan belum pernah
berkenalan secara langsung, hanya melihatnya dari jauh. Tidak demikian dengan Wa-kil Perdana
Menteri Kang yang menjadi sahabat baik ayahnya. Ia pernah bertemu, bahkan berke-nalan dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
pembesar ini, walaupun hanya meru-pakan pertemuan sambil lalu. Karena itulah maka pembesar itu
meragu dan tidak mengenalnya tadi.
Kereta itu dengan tenangnya meluncur keluar dari pintu gerbang benteng sebelah utara. Para penjaga
yang mengenal kereta dengan tanda -tan-da pangkatnya ini, cepat berdiri tegak memberi hormat dan
kereta itu lewat dengan cepatnya, Pada saat itu, Ang In mendekati jendela kereta dan berkata kepada
nenek Siang Houw Nio -nio.
"Subo, di depan terdapat empat orang dari per-kumpulan Thian -kiam -pang. Mereka juga keluar dari
pintu gerbang dan juga membawa sebuah kereta."
Nenek itu mengerutkan alisnya yang kecil panjang dan hitam karena alis itu buatan dengan alat
penghitam. "Biarkan saja, kenapa ribut-ribut ? Jangan perdulikan bocah-bocah ingusan itu. Pura-pura
tidak melihat saja!" Jelas bahwa dalam kata-kata nenek itu terdapat kemarahan atau ke-mengkalan
hati yang tidak senang.
"Tapi tapi, subo di sana terdapat Yap-suko ! Teecu... teecu..." gadis baju merah itu tergagap.
Juga nona Pek In nampak gugup seperti adik seperguruannya. Melihat semua ini, Pek Lian
memandang heran. Ada apakah ? Ia juga melihat kereta di depan dengan beberapa orang pemuda
perkasa yang mirip dengan rom-bongan pria yang pernah dilihatnya ketika ia masih bersama kedua
orang suhunya. Orang -orang Thian-kiam-pang ! Pria gagah perkasa, berbaju putih-putih membawa
pedang pasangan yang panjang, sikap merekapun gagah dan jelas menunjukkan bahwa mereka
adalah golongan pendekar-pendekar perkasa.
"Huh, kalau ada bocah itu, kenapa sih ? Apa-kah kalian takut padanya?" nenek itu bertanya dan
nampaknya semakin penasaran. "Lihat, apa yang dapat mereka lakukan kalau ada aku di sini !"
Ho Pek Lian menjadi semakin heran. Ada apa-kah antara nenek dan dua orang muridnya itu de-ngan
orang-orang dari Thian -kiam -pang, sehing-ga dua orang gadis lihai itu nampak seperti gentar dan
kehilangan keberanian mereka ? Apakah orang-orang Thian -kiam -pang itu musuh-musuh mere-ka
dan apakah mereka itu demikan lihainya se-hingga dua orang gadis itu kelihatan gentar? Ka-rena
tertarik, Pek Lian agak menjauhkan kudanya dari kereta untuk dapat melihat lebih jelas ke arah orang
-orang Thian -kiam -pang yang berada di depan itu.
Kereta di depan itu agaknya berjalan lambat-lambat sehingga hampir tersusul oleh kereta yang
ditumpangi Siang Houw Nio-nio. Kini Pek Lian dapat melihat lebih jelas. Orang -orang dari Perkumpulan
Pedang Langit itu rata -rata berusia antara tigapuluh lima sampai empatpuluh tahun,
kelihatan tegap dan gesit, rata -rata bersikap ga-gah dan membayangkan kepandaian silat yang
tinggi. Setelah kereta yang berada di belakang itu menyusul dekat, pria -pria gagah perkasa yang
rata -rata berpakaian serba putih itu serentak me-nengok ke belakang dan kesemuanya nampak terkejut
sekali dan kikuk, persis seperti sikap Pek In dan Ang In ketika melihat mereka ! Jadi ada semacam
rasa tidak enak, segan dan takut antara kedua rombongan itu. Kini Pek Lian teringat betapa
wanita-wanita berpakaian sutera hitam yang me-makai tusuk konde batu giok itupun nampaknya kikuk
ketika pria -pria gagah itu bertemu dengan pimpinan wanita bertusuk konde batu giok. Empat orang
pria itu meringis, senyum yang masam dan kikuk, dan mereka hampir berbareng menegur ke-pada
dua orang gadis itu. "Adik Pek! Adik Ang!"
Teguran yang dilakukan dalam keadaan cang-gung itu membuat dua orang gadis itu kelihatan makin
serba salah, keduanya hanya tersenyum masam sambil sedikit mengangguk ketika mende-ngar
sebutan itu. Padahal, melihat nada suara se-butan itu, mudah diduga bahwa hubungan antara mereka
itu sesungguhnya amat dekat. Kini dua orang gadis itu hanya mengerling tajam dengan sikap takuttakut
ke arah jendela kereta. Mereka merasa lebih gugup ketika melihat betapa kereta itu, kereta para
pria itu, berhenti dan pemuda yang tadi duduk di bangku kusir kini meloncat turun dan menghampiri
mereka ! Pemuda ini nampaknya paling muda di antara mereka berempat, akan te-tapi melihat
caranya memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti dan yang lain mengangguk ta-at, dapat
diduga pula bahwa kedudukannya adalah yang paling tinggi.
Tentu saja Pek In dan Ang In tahu siapa pe-muda ini. Namanya Yap Kiong Lee dan biarpun usianya
termuda di antara yang lain, yaitu baru ti-gapuluh satu atau dua tahun, akan tetapi dia ada-lah murid
tertua atau paling lama sehingga meru-pakan toa -suheng dari yang lain dan tingkat ilmu silatnya juga
dunia-kangouw.blogspot.com
paling tinggi. Melihat dua orang ga-dis itu, murid Thian -kiam -pang yang paling lihai ini tersenyum
girang dan dengan langkah lebar menghampiri sambil menegur.
"Hei, kiranya Pek-siauwmoi dan Ang-siauwmoi ! Apa kabar, adik-adik yang manja ? Dari manakah"
tiba-tiba dia terdiam ketika dua orang gadis itu kelihatan ketakutan dan kebingung-an, memandang ke
arah jendela kereta di belakang itu. Cepat dia menghentikan langkahnya dan me-mandang ke arah
jendela kereta pula, wajahnya agak berobah dan sikapnya menjadi gugup pula,
Tiba -tiba terdengar suara nenek bangsawan dari dalam kereta, suaranya agak ketus, "Hayo, Pek-ji
dan Ang-ji! Jangan layani bocah -bocah itu!"
Pek In dan Ang In menjadi semakin ketakutan.
"Yap-suheng... aku... aku..." Pek In tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menjalankan kudanya
maju menjauhi pemuda itu, disusul oleh Ang In.
Yap Kiong Lee juga kelihatan jerih, sambil mennura ke arah kereta, diapun berkata, "Subo...!"
Dan saudara-saudara seperguruannya juga menjura dengan hormatnya. Akan tetapi, nenek di dalam
kereta itu sama sekali tidak menjawab dan kereta-nya lewat dengan cepat mendahului kereta Thiankiam
-pang itu dan Pek Lian juga mengikuti kereta sambil melirik dengan penuh keheranan.
Betapa anehnya semua orang ini, pikirnya. Je-laslah bahwa mereka itu saling mengenal dengan amat
baiknya, apa lagi pemuda she Yap itu sudah jelas memiliki hubungan yang amat akrab dengan dua
orang gadis itu. Akan tetapi mengapa mereka itu bersikap seolah -olah mereka bermusuhan atau
merasa takut untuk memperlihatkan keakraban ? Pek Lian melirik ke belakang ketika mereka me-lalui
kereta orang-orang Thian -kiam -pang itu, dan ia melihat kereta itupun bergerak dengan ce-patnya,
melalui jalan kecil di sebelah kiri dan agak-nya memang hendak mengambil jalan lain agar tidak
sejalan dengan nenek bangsawan. Sebentar saja kereta mereka itu lenyap, meninggalkan debu
mengepul tinggi. Sementara itu, kereta nenek bang-sawan jalan seenaknya seperti yang
diperintahkan oleh nenek itu kepada kusirnya.
Ketika kereta Siang Houw Nio -nio memasuki kota kecil di sebelah timur kota raja, hari telah senja.
Jarak antara kota kecil Bin -an dengan Kota Raja Tiang -an tinggal perjalanan setengah hari saja.
Akan tetapi karena nenek bangsawan itu tidak ingin melakukan perjalanan di malam hari, ia memerintahkan
agar mereka bermalam di kota kecil Bin -an. Dan biarpun ia seorang yang berkedudukan
tinggi di istana, namun karena ia tidak terma-suk orang pemerintahan dan tidak begitu menge-nal
para pejabat, iapun tidak mau merepotkan pe-jabat kota itu dan memerintahkan dua orang mu-: ridnya
untuk mencari penginapan, tentu saja hotel yang paling baik dan besar di kota itu. Hotel itu selain
besar dan mempunyai banyak kamar, juga menyediakan sebuah rumah makan yang mewah.
Nenek Siang Houw Nio-nio segera memasuki kamar yang disediakan untuknya dan memesan kepada
Pek In dan Ang In agar untuk makan malamnya, diantar saja ke dalam kamar karena ia enggan
keluar.
"Kalian boleh makan di luar dan jalan-jalan, akan tetapi jaga jangan sampai gadis itu lolos," katanya.
Dua orang gadis itu menyanggupi lalu mereka mengajak Pek Lian keluar dan memasuki rumah
makan itu. Sikap keduanya gembira dan terhadap Pek Lian mereka menganggap seperti se-mang
sahabat sendiri.
"Adik Pek Lian, engkau tahu bahwa demi tugas, kami harus mengawasimu karena engkau dicurigai,
akan tetapi percayalah bahwa kami suka kepadamu dan sedikitpun kami tidak mempunyai hati benci
atau memusuhimu," demikian mereka pernah ber-kata sehingga di dalam hatinya, Pek Lian juga su-ka
kepada dua orang gadis yang berilmu tinggi ini.
Ketika mereka memasuki rumah makan, tempat itu penuh dengan tamu -tamu yang makan minum.
Ada sebuah meja kosong di sudut dan tiga orang gadis itu duduk menghadapi meja ini, tidak jauh dari
meja di mana terdapat empat orang laki -laki yang menarik perhatian mereka. Di pinggang me-reka ini
terselip golok. Padahal, waktu itu sudah ada larangan membawa senjata. Jelaslah bahwa empat
orang ini termasuk jagoan -jagoan dan dua orang di antara mereka mempunyai lengan yang dibalut,
tanda bahwa mereka telah mengalami luka. Sikap mereka kasar -kasar dan diam -diam Pek Lian
melirik penuh perhatian karena ia merasa seperti pernah melihat wajah -wajah kasar ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Empat orang kasar itu kini menjadi semakin kasar karena mereka telah agak kebanyakan minum arak
keras. Ketika mereka minta tambah arak dan pelayan datang agak terlambat, seorang di antara
mereka bangkit berdiri dan menampar pelayan itu. Pelayan yang sial itu roboh terguling dengan pipi
bengkak dan pingsan. Tentu saja keadaan menjadi gempar. Banyak di antara para tamu merasa tidak
enak dengan adanya peristiwa ini dan mereka su-dah bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan tempat
itu. Akan tetapi, empat orang kasar itu bangkit berdiri, mencabut golok mereka dan mengacungacungkannya
ke atas.
"Jangan ribut! Teruskan kalian makan, siapa berani pergi akan kami bunuh !"
Tentu saja para tamu menjadi semakin ketakut-an. Mereka tidak jadi pergi, akan tetapi tentu saja
napsu makan sudah lama terbang meninggalkan hati mereka. Para pelayan lain dengan ketakutan
segera menggotong pelayan sial yang pingsan itu.
"Harap nona suka hati-hati," bisik seorang di antara para pelayan ketika mereka lewat dekat me-ja tiga
orang gadis itu.
Ketika ada beberapa orang petugas keamanan kota memasuki rumah makan, para tamu memandang
dengan penuh harapan. Tentu mereka akan menangkap empat orang yang jelas merupakan
penjahat-penjahat kasar itu. Akan tetapi, empat orang itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan
seorang di antara meieka mengangkat kakinya ke atas meja secara menantang sekali. Dan anehnya,
para petugas keamanan itu nampak ragu -ragu!
Hal ini tentu saja amat mengherankan hati Pek Lian. Kota kecil ini tidak terlalu jauh dari kota raja,
akan tetapi mengapa para penjahat ini begitu beraninya, seolah -olah menantang petugas keaman-an
? Melihat sikap mereka, Ang In hampir tidak dapat menahan hatinya, akan tetapi sucinya berkedip
kepadanya dan mencegahnya turun tangan karena Pek In ingin melihat perkembangannya.
Empat orang yang mabok -mabokan itu agak-nya tidak memperdulikan kanan kiri dan kesem-patan ini
dipergunakan oleh Pek Lian untuk meng-gapai pelayan yang tadi membisikkan peringatan kepada
mereka bertiga. Pelayan itu datang ke me-ja mereka dan sambil berpura -pura memesan ma-kanan,
Pek Lian berbisik dan bertanya kepada pelayan itu tentang empat orang kasar tadi. Sam-bil berbisik
pula, dengan singkat pelayan itu lalu bercerita.
Kiranya memang sudah kurang lebih sepekan ini kota kecil itu didatangi oleh penjahat -penjahat yang
beraksi di sekitar kota raja, termasuk di kota kecil itu. Ketika para petugas keamanan turun tangan
bertindak, para penjahat melawan dan be-berapa orang petugas tewas dalam perkelahian. Hal ini
membuat para komandan marah dan diada-kanlah pembersihan terhadap para penjahat. Akan tetapi,
ketika diadakan pembersihan pada siang harinya, maka pada malam harinya, terjadilah pembunuhanpembunuhan
gelap terhadap para komandan yang memimpin pembersihan. Dan di setiap tempat di
mana perwira itu dibunuh, terda-pat sebuah bendera kecil berdasar hitam dengan gambar harimau
berwarna kuning. Di pinggang harimau itu melilit sebuah rantai yang kedua ujung nya bermata
tombak.
Mendengar penuturan itu, Pek Lian menahan kagetnya. Bukankah gambar yang dilukiskan itu
merupakan tanda dari San -hek -houw (Harimau Gunung Hitam), raja kaum perampok dan begal,
copet dan maling, yang merupakan seorang di an-tara Sam -ok (Tiga Jahat) ?
"Hemm, mengherankan sekali," kata Ang In. "Apakah tidak ada pasukan penjaga keamanan dari kota
raja ?" tanyanya kemudian.
Pelayan itu sambil berbisik melanjutkan cerita-nya. Agaknya dia termasuk orang yang suka de-ngan
kabar angin, dan suka bercerita pula, agak-nya bangga karena dia dapat menceritakan semua itu.
Menurut kabar, oleh penguasa kota telah dila-porkan ke kota raja, akan tetapi sampai hari itu belum
ada hasilnya. Para penjahat itu nampaknya semakin berani. Beberapa kali terjadi perkelahian antara
para penjahat dan para penjaga yang diban-tu oleh pendekar -pendekar yang kebetulan lewat di situ
dan yang membela rakyat dari ancaman para penjahat. Hampir setiap hari. terjadi pembu-nuhan.
Baru, kemarin terjadi pertempuran sengit antara para penjahat dengan beberapa orang pen-dekar dari
Kun -lun -pai. Para penjahat melari-kan diri sambil membawa teman -teman mereka yang terluka
karena lima orang pendekar Kun -lun-pai itu lihai sekali. Akan tetapi, kemudian muncul seorang laki -
laki tinggi besar yang berjubah kulit harimau. Laki -laki tinggi besar ini selalu diikuti oleh dua ekor
harimau kumbang dan lima orang pendekar Kun -lun -pai itu tewas semua di tangan raja penjahat ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dan mereka itu..." kata si pelayan sambil melirik ke arah empat orang yang duduk di meja sambil
tertawa-tawa itu. " adalah sebagian dari penjahat-penjahat yang melarikan diri karena kalah oleh
pendekar-pendekar Kun-lun-pai"
Mendengar penuturan itu, Pek Lian mengepal tangannya di bawah meja dan tanpa disadarinya lagi
iapun berkata gemas, "Hemm, orang-orang si Raja Kelelawar sudah mulai merajalela !" Setelah
mengeluarkan kata-kata itu dan melihat betapa dua orang gadis itu memandangnya dengan aneh,
barulah Pek Lian terkejut sendiri.
"Adik Pek Lian sudah mengenal Raja Kelelawar dan pengikut -pengikutnya ?" tanya Pek In sambil
memandang tajam.
"Ah, tidak..." kata Pek Lian yang sudah menyadari bahwa ia tadi terdorong oleh perasaan-nya dan
kelepasan bicara. "Aku hanya mendengar berita angin saja bahwa kini kaum hitam telah bersatu dan
dipimpin oleh seorang raja penjahat besar yang bernama Raja Kelelawar. Raja ini ka-barnya dibantu
oleh dua orang pimpinan penjahat yang berjuluk Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti."
Gadis baju merah mengangguk-angguk. "Me-mang berita itu benar. Anak buah yang kami kirim ke
tempat pertemuan itu juga melaporkan demikian. Kiranya engkaupun sudah mendengar akan berita
menghebohkan itu." Ang In tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara
berisik derap kaki kuda di luar restoran.
Pelayan yang datang mengantar hidangan ke
meja tiga orang gadis itu, menjadi pucat ketika
menaruh mangkok-mangkok di atas meja. "Celaka... mereka... mereka datang lagi ......!"
Dan setelah menaruh masakan-masakan panas di atas meja, pelayan itu bergegas pergi
meninggalkan ruangan dan bersembunyi di bagian belakang res-toran bersama teman-temannya.
Empat orang kasar itu kini semakin mabok dan semakin ugal-ugalan. Kata-kata mereka kasar dan
juga jorok dan cabul, apa lagi setelah kini me-reka melihat adanya tiga orang wanita cantik tidak jauh
dari meja mereka. Kata-kata mereka mulai menyindir dan mengenai tiga orang wanita itu se-hingga
wajah ketiga orang gadis itu menjadi merah karena marahnya.
"Ha -ha -ha, A -tung, gadis -gadis di sini me-mang berani -berani. Lihat saja, banyaknya gadis yang
datang mendekati kita ke manapun kita ber-ada. Ha -ha -ha 1"
"Memang rejeki kita sedang besar. Tapi, kita berempat sedangkan yang ada hanya tiga, harus diundi
!"
"Aku ingin yang paling muda!"
"Kalau aku yang lebih tua, karena tentu lebih berpengalaman dan lebih menyenangkan."
Ang In sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh oleh sucinya yang melarangnya
untuk menanggapi orang -orang kasar itu. Pek In lebih hati -hati dari pada sumoinya, ia selalu
ingat bahwa mereka berada dalam tugas dan me-reka tidak sepatutnya kalau melibatkan diri
dengan urusan pribadi. Mereka hanya akan bergerak kalau ada perintah dari subo yang juga menjadi
majikan mereka. Kalau mereka menimbulkan keributan karena urusan pribadi, tentu mereka akan
meneri-ma teguran dari subo mereka.
Akan tetapi, empat orang kasar itu agaknya tidak tahu gelagat dan mereka itu makin menjadi-jadi
kurang ajarnya. Apa lagi ketika Pek Lian yang merasa marah karena dirinya dibicarakan secara jorok
itu, melirik dengan sinar mata berapi. Seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, bangkit dan
dengan langkah sempoyongan menghampiri meja tiga orang gadis yang sedang mulai makan itu.
"Ha-ha-ha, nona manis, jangan jual mahal. Mari makan bersama kami" Dan diapun mengulurkan
tangannya hendak meraba dada Pek Lian. Gadis itu tidak dapat lagi mengendalikan, kemarahan
hatinya. Disambarnya mangkok kuah bakso panas dan "sekali ia menggerakkan tangan "byuurrr"
kuah panas itu menyiram muka yang berkumis tebal itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aduuhhh... auphh... panas, panas... !"
Dia menjerit -jerit, kulit mukanya terbakar, matanya kemasukan kuah yang banyak mericanya, terasa
pedas dan perih. Tiga orang kawannya terkejut dan marah sekali, meloncat sambil, mencabut golok
me-reka. Suasana menjadi panik karena para tamu sudah menjadi ketakutan.
Akan tetapi, sebelum empat orang kasar itu sempat turun tangan, terdengar bentakan yang amat
nyaring, "Tahan ! Jangan mengganggu wanita !!"
Kiranya yang membentak dan yang kini telah berdiri di situ adalah Yap Kiong Lee, murid kepala dari
ketua Thian -kiam -pang itu. Tiga orang su-tenya dengan sikap tenang berdiri di belakangnya. Kiranya
derap kaki kuda tadi adalah kuda dan kereta mereka.
Empat orang kasar itu adalah penjahat -penja-hat yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Apa
lagi sekarang, sepeiti diceritakan oleh pelayan tadi dan diketahui pula oleh tiga orang gadis, me-reka
sedang berbesar hati karena banyak kawan mereka merajalela di situ, dan mereka merasa di-lindungi
oleh raja mereka, Si Harimau Gunung ! Mengandalkan semua ini, tentu saja mereka tidak merasa
gentar menghadapi empat orang pria muda ini.
"Keparat jahanam ! Berani engkau hendak men-campuri urusan kami ?" bentak pimpinan gerom-bolan
empat orang penjahat itu yang kepalanya botak kelimis sambil menudingkan goloknya ke arah muka
Yap Kiong Lee. Pemuda ini tersenyum tenang saja.
"Mengganggu wanita di tempat umum bukan-lah urusan pribadi, melainkan urusan umum karena
kalian telah mengacaukan orang lain di tempat umum, Sebaliknya kalian berempat pergi saja dari sini
dan jangan membuat gaduh."
"Keparat!" Si botak itu dengan marahnya mem-bacok dengan goloknya ke arah leher pemuda she
Yap. Namun, dengan amat mudahnya, pemuda she Yap ini miringkan kepala dan golok itu lewat di
dekat lehernya tanpa menyentuhnya sedikitpun ju-ga. Hanya seorang ahli silat tinggi sajalah yang dapat
mengelak seperti itu, sedikit saja dan membiar-kan senjata lawan lewat dekat. Karena gerakan
yang sedikit inilah yang memungkinkan dia dapat cepat pula melakukan serangan balasan. Akan
tetapi agaknya pemuda itu sabar sekali dan tahu bahwa -dia hanya menghadapi orang -orang kasar.
Dia tidak membalas dan pada saat itu, dua orang sute-nya sudah maju.
"Toa -suheng, biarkan kami yang maju meng-hajar bajingan -bajingan kecil ini!" Dua orang sutenya itu
lebih tua beberapa tahun dari pada Kiong Lee, akan tetapi mereka menyebut suheng, bahkan toa -
suheng atau kakak seperguruan terbe-sar karena memang pemuda inilah yang pertama kali menjadi
murid ketua Thian -kiam -pang. Yap Kiong Lee segera mundur dan dua orang sutenya maju. Empat
orang kasar itu tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan golok mereka. Akan tetapi, dua
orang murid Thian -kiam -pang yang maju ini adalah murid-murid kepala, murid-murid pilihan yang
sudah mempunyai ilmu kepan-daian tinggi. Dengan kedua tangan kosong saja mereka menghadapi
empat orang bergolok itu dan membagi -bagi pukulan dengan enaknya, membuat empat orang kasar
itu jatuh bangun dan akhirnya mereka memperlihatkan warna aselinya, yaitu pe-ngecut -pengecut
yang beraninya hanya main keroyok, menindas yang lemah dan kalau bertemu tanding yang lebih
kuat, mereka itu berlumba me-larikan diri!
Yap Kiong Lee melirik ke kanan kiri untuk me-lihat apakah guru dari dua orang gadis yang dikenalnya
itu berada di situ. Setelah merasa yakin bahwa nenek yang ditakutinya itu tidak berada di situ,
wajahnya menjadi cerah dan diapun bersama tiga orang sutenya cepat menghampiri meja Pek In dan
Ang In.
"Suheng, apa kabar ? Subo berada di kamarnya. Marilah!" Pek In mempersilahkan pemuda itu dan
mereka berempat lalu mengambil tempat duduk dan bercakap-cakap dengan amat akrabnya dengan
Pek In dan Ang In.
"Sebetulnya, Yap-suheng dari manakah ? Kelihatan tergesa-gesa sekali. Dan bagaimana kabarnya
dengan Kim-suheng ? Kenapa dia tidak kelihatan bersamamu ? Biasanya, Kim-suheng yang bandel
itu tidak pernah berpisah denganmu," kata Pek In dan ketika ia menyebutkan "Kim-suheng", ia melirik
kepada sumoinya, Ang In.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar pertanyaan Pek In ini, mendadak sikap empat orang gagali itu berobah dan mereka
kelihatan berduka dan menundukkan mukanya. Terutama sekali Yap Kiong Lee, pemuda ini menundukkan
muka dan matanya menjadi basah.
Teringatlah pemuda itu akan semua keadaan-nya yang membuatnya berduka sekali pada saat itu,
setelah mendengar pertanyaan Pek In tentang adiknya. Ya, Yap Kim adalah adiknya. Dia sendiri
adalah seorang anak yatim piatu yang sejak kecil telah diambil murid, kemudian bahkan diangkat
anak oleh gurunya sendiri, yaitu seorang pendekar terkenal yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan
kemudian menjadi ketua Thian -kiam -pang. Gu-runya itu she Yap dan biasanya orang hanya mengenal
sebagai Yap -taihiap saja, dan setelah tua dikenal sebagai Yap -lojin yang disegani orang.
Nama lengkapnya adalah Yap Cu Kiat. Karena su-hunya itu tadinya tidak mempunyai keturunan maka
diapun diangkat anak oleh Yap Cu Kiat. Dua tahun kemudian, ketika dia berusia delapan tahun,
isteri suhunya melahirkan seorang anak laki -laki yang diberi nama Yap Kim karena ketika isterinya
mengandung, suhunya pernah bermimpi isterinya melahirkan sebuah boneka emas ! Yap Kiong Lee
sendiri amat sayang kepada adiknya ini. Dialah yang menggendongnya, dialah yang mengajaknya
bermain-main sejak Yap Kim kecil dan setelah adiknya itu dewasa, mereka menjadi akrab dan ru-kun
sekali, saling menyayang. Takkan ada orang yang menyangka bahwa mereka itu sesungguhnya
hanyalah saudara angkat saja. Kiong Lee sangat menyayang adiknya itu dan memang Kim -ji, demikian
sebutannya, amat dimanjakan oleh semua orang sehingga sejak kecil anak itu menjadi ban-del
dan nakal bukan main. Dan kini, diingatkan oleh pertanyaan Pek In, hati Kiong Lee seperti di-tusuk
karena dia teringat kepada adiknya.
"Ahh... dia... Kim-te terluka parah"
Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh kegelisahan.
"Terluka parah...... ??" Ang In bertanya dan mukanya berobah pucat. "Apa yang terjadi dengan dia ?"
"Dia dilukai oleh Si Raja Kelelawar! Lukanya parah sekali... entah bisa sembuh atau tidak..."
Suara Kiong Lee gemetar penuh kegelisahan.
"Apanya yang terluka ? Dan... di manakah dia sekarang ?" Kembali nona Ang In bertanya, hampir
menangis. Melihat semua ini, Pek Lian dapat menduga bahwa nona Ang yang gagah ini agaknya ada
hati terhadap pemuda bernama Yap Kim yang terluka parah itu.
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
oleh kaum sesat itu. Akan tetapi karena ada larangan dari suhu, maka akupun tidak mau, Tidak
kusangka sama sekali bahwa dengan nekat adik Kim pergi sendiri ! Mendengar bahwa Kim-te pergi
seorang diri, suhu lalu memanggilku dan me-nyuruhku mencari dan mengajaknya pulang. Aku
mengajak beberapa orang suteku untuk menyusul Kim -te, akan tetapi setibanya di tempat pertemuan
itu, ternyata sudah terlambat. Orang -orang sudah bubaran dan pertemuan itu telah lewat. Kami berpencar
untuk mencari Kim -te. Kalian tentu sudah tahu bahwa biarpun Kim -te sangat berbakat
dalam ilmu silat, namun watak nakalnya sukar untuk di- robah. Apa lagi setelah subo pergi
meninggalkan suhu, anak itu makin sukar diurus." Yap Kiong Lee menarik napas panjang, nampak
berduka seka-li.
"Akan tetapi bukankah dia amat penurut kepa-damu, Yap-suheng ?"
"Memang dia amat patuh kepadaku karena se-jak kecil akulah yang mengasuhnya, melindungi dan
mengajarnya ilmu silat yang diberikan oleh suhu dan subo."
"Yap -suheng memang sangat berbudi, aku dan adik Ang juga sejak kecil selalu menyusahkanmu,"
kata Pek In lirih.
"Hemm, adik Pek, engkau tahu apa ? Sejak ke-cil aku sudah yatim piatu. Suhu memungut dan
memeliharaku, bahkan mengangkatku sebagai anak. Setelah aku berusia delapan tahun, baru adik
Kim terlahir. Budi suhu dan subo yang dilimpahkan kepadaku, sampai matipun takkan dapat kubalas,
maka apa artinya membimbing kalian yang menjadi murid-murid tersayang dari subo ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
'U
"Lalu bagaimana dengan Kim-suheng ?" tanya Ang In.
"Baiklah, kulanjutkan ceritaku. Dari seorang pengunjung pertemuan itu, kami mendengar bah-wa ada
seorang pemuda yang berpakaian putih dan bersenjata siang -kiam (pedang pasangan) tam-pak
bersama seorang gemuk pendek berkelahi me-lawan kelompok orang berjubah naga di lereng bu-kit
sebelah selatan. Kami segera mengejar ke sana. Akan tetapi terlambat. Perkelahian telah selesai dan
kedua pihak sama -sama terluka dan kedua pihak telah pergi. Yang membuat kami khawatir adalah
ketika kami melihat dari bekas-bekas pertempuran bahwa kawan Kim-sute yang pendek itu adalah
seorang tokoh pulau terlarang atau Pulau Ban-kwi-to. Kalau benar seperti kata orang yang
menyaksikan itu, orang yang gemuk pendek itu tentulah Ceng-ya-kang (Kelabang Hijau) to-koh
penting dari Ban-kwi-to."
"Lalu bagaimana ?" Ang In mendesak, khawatir sekali.
"Kami mengikuti jejaknya. Di sebuah dusun kami menemukan Kim-sute terluka parah di rumah
seorang petani, dirawat oleh seorang pendekar tua yang tidak mau menyebutkan namanya. Menurut
pengakuannya, adik Kim telah berkelahi melawan penjahat-penjahat yang dipimpin oleh raja bajak,
kemudian datanglah Raja Kelelawar dan Kim-sute dilukainya. Untung ada pendekar tua itu yang lewat
dan menolongnya."
"Lalu ke mana perginya si Kelabang Hijau itu ?" tanya Pek In.
"Entahlah, Kim-sute sendiripun tidak tahu karena setelah terpukul, dia pingsan."
"Di mana adanya Kim-suheng sekarang?" Ang In bertanya, wajahnya membayangkan kekhawatiran
hebat.
"Di dalam kereta, dijaga oleh Ngo-sute."
"Aku ingin menengok Kim-suheng !" Ang In cepat bangkit berdiri dan semua orangpun bangkit hendak
mengikutinya. Akan tetapi, sebelum mereka meninggalkan meja itu, tiba-tiba terdengar suara halus.
"Hemm kalian mau ke mana ?"
Semua orang terkejut karena mengenal suara ini dan ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata
Siang Houw Nio -nio telah berdiri di situ !
Yap Kiong Lee terkejut dan jerih, cepat -cepat
dia dan ketiga orang sutenya menjatuhkan diri
berlutut sambil berkata takut -takut, "Subo... !"
Akan tetapi wanita bangsawan itu tidak mengacuhkan mereka melainkan memandang kepada kedua
orang muridnya yang nampak ketakutan, dan wanita tua itu nampak marah.
"Kenapa kalian tetap bergaul dengan murid-murid tua bangka itu ? Apakah engkau ingin mengikuti
mereka dan memusuhi aku ?" Di dalam ucapan ini terkandung kepahitan yang amat mendalam
sehingga dua orang gadis itu menjadi bingung dan tidak mampu menjawab.
Melihat ini, Yap Kiong Lee mengangkat muka dan berkata, "Subo... teeculah yang..."
"Diam kau !" bentak wanita bangsawan itu dengan suara keras, membuat Pek In menjadi semakin
pucat.
Peristiwa ini diam -diam sejak tadi diikuti oleh Ho Pek Lian. Jiwa pendekarnya bergolak. Ia me-lihat
ketidakadilan dan merasa tidak senang dengan sikap nenek bangsawan itu yang dianggapnya ter-lalu
menekan kepada orang -orang muda yang di-kaguminya itu. Tanpa dapat menahan gelora hati-nya,
Pek Lian sudah melangkah ke depan dan de-ngan jari telunjuk menuding kepada nenek bangsa-wan
itu, ia berkata marah, "Haii, apa -apaan ini ? Main gertak main kasar! Lihat dulu masalahnya baru
marah -marah, itu baru adil namanya !"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Anak kecil, engkau tahu apa !" bentak nenek itu dan tangannya melayang, menampar ke arah pipi
Pek Lian. Tentu saja nona ini tidak membiar-kan pipinya ditampar dan iapun sudah cepat me-loncat
ke belakang dan baiknya nenek itu agaknya-pun bukan menyerang dengan sungguh -sungguh hanya
untuk melampiaskan kemengkalan hatinya saja sehingga tidak melanjutkan serangannya. Dan pada
saat itu, terdengarlah suara ribut -ribut di luar. Yap Kiong Lee melihat empat orang laki-laki jahat yang
tadi dihajar oleh dua orang sutenya, maka diapun cepat meloncat keluar. Hampir saja dia bertabrakan
dengan seorang tinggi besar ber-mantel kulit harimau yang melangkah masuk. Laki-laki tinggi besar
ini tidak menghindar atau mihggir, akan tetapi malah memasang kuda-kuda dan menggerakkan
sikunya ke depan, menyerang ke arah tulang rusuk pemuda baju putih itu. Mereka sudah berada
dalam jarak dekat sekali dan serangan itu dilakukan secara tiba -tiba dan tidak terduga-duga, akan
tetapi ternyata pemuda she Yap ini amat lihai, tenang dan tidak kehilangan akal. Dia maklum bahwa
kalau dia mengadu tena-ga, dia akan kalah posisi dan kalau orang itu ber-tenaga besar seperti
nampaknya, dia akan menderita rugi. Dan pintu itu terlalu sempit untuk dapat me-nerobos keluar, apa
lagi karena lubang pintu telah dijaga oleh sepasang lengan yang panjang dan kuat dari orang itu, di
samping adanya dua ekor harimau hitam yang berdiri di kanan kiri orang itu, dengan rantai leher yang
ujungnya dipegang oleh dua orang di. antara empat penjahat yang tadi meng-ganggu Pek Lian.
Dalam beberapa detik saja, Yap Kiong Lee telah memperoleh akal yang amat cerdik. Kakinya yang
sedang melangkah tadi dilanjutkan dengan tendangan ke arah selangkang si tinggi be-sar dan dia
bersikap seolah -olah dia memang hendak mengadu tenaga. Melihat ini, orang tinggi besar itu
menyeringai dan tubuhnya sedikit membungkuk untuk menangkis tendangan dengan tangan kiri
sedangkan tangan kanannya tetap melakukan serangan dengan siku. Akan tetapi tiba-tiba Kiong Lee
menarik kembali kakinya dan mengenjot badan dengan menekankan kaki pada lantai,
tangannya menampar siku yang menyerang rusuknya, meminjam tenaga lawan untuk mengayun
tubuhnya meluncur ke atas di antara kepala lawan dan daun pintu seperti seekor burung lolos dari
pintu kurungan yang terbuka sedikit saja. Kemudian, tubuhnya yang meluncur keluar itu membuat
salto yang amat manisnya sehingga dia dapat
turun di luar pintu dengan lunak. Semua orang melongo dan memandang kagum. Bahkan nenek
Siang Houw Nio-nio sendiri merasa kagum dan memuji ketangkasan dan kecerdikan pemuda itu.
"Berani... bagus sekali... anak ini sungguh semakin lihai saja !"
Kalau semua orang memandang kagum sekali, tiga orang gadis itupun bersorak karena gembira-nya.
Pek In dan Ang In sampai lupa kepada subo-nya yang marah -marah. Mereka terbawa oleh sikap Pek
Lian yang bersorak memuji sehingga merekapun ikut pula bersorak. Baru setelah mere-ka melihat
subo mereka memandang kepada mereka dengan mata melotot, mereka sadar dan tangan yang
sedang bertepuk itupun terhenti di tengah jalan.
Sementara itu, orang tinggi besar itu menjadi marah sekali. Dia adalah orang ke tiga dari Sam-ok,
yaitu tiga raja penjahat. Dia adalah San-hek-houw atau Si Harimau Gunung yang sebelum munculnya
Raja Kelelawar telah merajai semua penjahat di daratan, rajanya para. perampok, maling dan copet.
Kini dia telah menjadi pembantu utama dari Raja Kelelawar di samping dua orang rekannya yang
terkenal dengan julukan Sam-ok atau Si Tiga Jahat. Melihat betapa dalam gebrakan pertama dia tidak
mampu menghadang pemuda baju putih itu dan sebaliknya malah memberi ke-sempatan kepada
pemuda itu mendemonstrasikan kepandaiannya sehingga memperoleh pujian, Sam-hek-houw
menjadi marah sekali. Cepat dia mem-balikkan tubuhnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah
menerjang ke depan dan menyerang Kiong Lee yang baru saja turun ke atas tanah. Serangan San -
hek -houw ini ganas dan dahsyat sekali, tiada bedanya dengan ulah seekor harimau yang sedang
kelaparan. Dua ekor harimau hitam yang menjadi binatang peliharaannya itu mengaum-ngaum
melihat majikan mereka berkelahi, seolah-olah memberi semangat. Tentu saja para tamu restoran
menjadi panik ketakutan. Berdiam di restoran merasa ngeri, mau lari keluar terhadang oleh
perkelahian di luar pintu, juga mereka takut kepada dua ekor harimau itu yang rantainya dipegang
oleh empat orang penjahat yang kini tertawa-tawa karena mereka merasa yakin bahwa muculnya raja
mereka ini akan dapat membalaskan kekalahan mereka tadi.
Akan tetapi sekali ini mereka kecelik. Baru sekarang mereka memperoleh kenyataan bahwa raja
mereka itu bukanlah jaminan untuk selalu menang. Biarpun Si Harimau Gunung menyerang dengan
ganas dan dahsyat, namun pemuda baju putih itu dengan sikap tenang sekali dapat menan-dinginya
dan sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang tidak
kalah ampuhnya. Mereka ternyata seimbang, baik kecepatan maupun tenaga mereka. Perkelahian itu
amat seru dan menegangkan, terutama sekali bagi mereka yang mempunyai keahlian dalam ilmu silat
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga dapat mengikutinya. Yang merasa marah dan penasaran adalah San-hek-houw sendiri.
Biasanya, selama ini setiap kali dia turun tangan, dan hal ini jarang terjadi karena dia cukup
mewakilkan kepada anak buahnya saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia akan berhasil baik. Akan
tetapi ternyata pemuda baju putih ini sedemikian lihainya sehingga semua serangannya gagal dan dia
malah harus menjaga diri karena pemuda itu membalas dengan serangan yang amat berbahaya pula.
Karena penasaran, maka raja penjahat ini lalu mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu
rantai yang kedua ujungnya bermata tombak. Begitu diputar, rantai itu lenyap berobah menjadi
gulungan sinar yang menyambar-nyambar. Meli-hat ini, Yap Kiong Lee cepat mencabut sepasang
pedangnya yang tergantung di punggung. Nampak dua sinar putih berkelebatan menghadapi senjata
rantai dan kembali terjadi perkelahian yang lebih seru dan juga ternyata dalam adu kepandaian
senjata, mereka memiliki tingkat yang seimbang.
Jilid VIII
LIMAPULUH jurus telah lewat dan keduanya
sudah saling desak samibil mengerahkan tenaga sekuatnya. "Tring – trang... trakkk...!"
Tanpa dapat dicegah lagi, rantai itu melibat kedua pedang dan senjata -senjata itu saling berbelit dengan
amat kuatnya. Karena tidak ada jalan lain untuk melepaskan senjata yang terlibat itu, kedua-nya
lalu mengerahkan tenaga sinkang. Mereka membentak nyaring dan saling tarik. Akibatnya, kedua
pedang Kiong Lee terlepas dari pegangan, akan tetapi juga tangan kanan Harimau Gunung itu
terpaksa melepaskan senjata rantainya yang ki-ni hanya dipegang oleh tangan kiri. Inipun tidak lama
karena secepat kilat kaki Kiong Lee menen-dang ke arah pergelangan tangan kiri lawan. Ka-kek tinggi
besar itu berusaha mengelak, akan te-tapi tetap saja ujung sepatu menyerempet perge-langan tangan
kirinya sehingga tangan inipun terpaksa melepaskan rantainya. Kini senjata-senjata itu terlepas di
atas tanah dan keduanya melanjutkan lagi dengan tangan kosong !
San-hek-houw mengeluarkan suara auman seperti harimau yang disambut oleh dua ekor harimau
peliharaannya, kemudian diapun mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong
Houw-jiauw-kang. (Ilmu Cakar Harimau). Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan
gerakannya juga seperti gerakan kaki depan hari-mau kalau mencakar -cakar dengan dahsyatnya.
Hanya cakar harimau yang dibentuk oleh jari -jari tangan manusia ini bahkan jauh lebih berbahaya
dari pada cakar harimau aseli karena setiap gerak-an mengeluarkan desiran angin tajam. Kedua kakinya
berloncatan persis seperti gerakan harimau kumbang dan selama belasan jurus Kiong Lee nampak
terkurung dan terdesak oleh ilmu silat yang berbeda dengan Ilmu Silat Houw -kun (Silat Ha-rimau)
biasanya ini. Ilmu Silat Houw -jiauw -kang milik Si Harimau Gunung ini benar -benar luar biasa sekali.
Agaknya telah dipelajari dengan sem-purna sehingga biarpun jari -jari tangan yang mem-bentuk cakar
harimau itu tidak sampai menyentuh lawan, namun sambaran angin pukulannya saja te-lah mampu
mencabik -cabik benda. Baju pemu-da yang putih itu, terutama di bagian lengan baju, robek -robek
terlanggar angin pukulan itu, seperti dicakari oleh kuku -kuku tajam. Tentu saja semua orang terkejut
dan memandang khawatir karena pemuda itu nampak terdesak, terutama sekali tiga orang gadis yang
selalu berpihak kepada pemuda itu. Ilmu silat raja perampok itu sungguh lihai bukan main.
Tiba -tiba Kiong Lee mengeluarkan teriakan yang mengejutkan semua orang dan pemuda ini sudah
merobah gerakan silatnya. Dia menggerak-gerakkan kaki tangannya perlahan -lahan namun
mengandung penuh tenaga sehingga setiap kali ka-kinya dihentakkan, bumi seperti tergetar rasanya.
Telapak tangannya terbuka dan otot -otot lengan-nya tersembul keluar. Buku -buku tulangnya se-perti
saling bergeser mengeluarkan bunyi berke-rotokan dan uap putih nampak membayang tipis di setiap
permukaan lengannya. Dan ketika lengan yang bergerak perlahan itu menangkis cakaran Si Harimau
Gunung, semua orang menjadi terkejut. Gerakan itu, yang dilakukan perlahan, tahu -tahu meluncur
cepat bukan main seperti kepala ular yang mematuk mangsa yang sudah lama diintai-nya. Suara
mencicit bagaikan bunyi burung malam terdengar ketika lengan bergerak dan cepatnya membuat
semua serangan cakaran Si Harimau Gu-nung itu terhenti setengah jalan karena setiap kali tangan
yang berbentuk cakar itu bergerak, baru se-tengah jalan sudah terpukul ke samping dan sebe-lum
cakar dapat ditarik kembali, tangan pemuda baju putih yang bergerak seperti ular mematuk itu telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerang bagian -bagian tubuh yang ber-bahaya. Si Harimau Gunung terkejut bukan main dan
dalam beberapa gebrakan saja nyaris kepalanya kena dipatuk oleh tangan kiri Yap Kiong Lee. Cepat
dia membuat gerakan seperti ha-rimau mendekam untuk menghindarkan kepa-lanya. Akibatnya,
sebuah arca singa yang berada tepat di belakangnya kena hantaman tangan Kiong Lee. Nampak cap
lima jari tangan di tubuh arca batu itu dan kemudian arca itu menjadi retak -re-tak dan akhirnya hancur
berantakan menjadi ke-pingan -kepingan kecil berserakan. Tentu saja se-mua orang melongo dan
ada yang menjulurkan lidah saking kagum dan ngerinya, bahkan Si Ha-rimau Gunung sendiri
terbelalak dan air
mukanya berobah. Hatinya mulai menjadi ragu dan gentar dan timbul pertanyaan dalam hatinya siapa
gerang-an pemuda yang amat lihai ini sebenarnya ? Ca-karan tangannya itu biasanya mampu
menghancur-kan batu karang yang keras sekalipun, akan tetapi sekarang ternyata hanya dapat
membuat kulit le-ngan pemuda itu lecet -lecet sedikit saja, semen-tara dia sendiri tidak berani
menangkis pukulan pukulan pemuda yang demikian kuat dan ampuh-nya. Ilmu apakah itu ?
Nenek Siang Houw Nio-nio juga menggeleng-geleng kepala saking kagumnya. "Hemm, tua bang-ka
itu kiranya telah menurunkan ilmu rahasia ke-turunannya kepada murid kesayangannya ini,"
gumamnya. Pek In dan Ang In tentu saja menjadi kagum bukan main. Mereka memang sudah lama
mengetahui bahwa suheng mereka itu amat lihai, akan tetapi mereka tidak menyangka sehebat ini.
Diam -diam mereka, dan juga Pek Lian, merasa gembira sekali karena-sekarang Harimau Gunung itu
mulai terdesak. Pek In tadi telah mengambil dan menyimpan sepasang pedang milik Kiong Lee yang
terlepas, seperti juga seorang di antara pen-jahat -penjahat itu telah (menyimpan senjata rantai dari Si
Harimau Gunung.
Selagi Kiong Lee mendesak Si Harimau Gu-nung, tiba -tiba dia terkejut bukan main mende-ngar
teriakan seorang di antara para sutenya, "Su-heng ! Kim -sute lenyap dan Ngo -suheng yang menjaga
kereta tertotok pingsan !"
Mendengar teriakan ini, wajah Yap Kiong Lee menjadi pucat seketika dan diapun meloncat meninggalkan
lawannya yang sudah terdesak untuk berlari menghampiri kereta yang ditinggalkan di tepi
jalan tak jauh dari rumah makan itu. Dengan wajah pucat dia memeriksa dan memang benar, sutenya
yang luka parah dan tidak mampu berge-rak itu lenyap. Ngo -sutenya pingsan dengan leher berwarna
kehijauan, mukanyapun mengandung warna kehijauan. Maka mengertilah dia bahwa sutenya ini tentu
terkena totokan Ceng -ya -kang, Si Kelabang Hijau tokoh Ban-kwi-to itu. Yap Kiong Lee menjadi
bengong, wajahnya pucat se-kali dan hatinya dicekam rasa khawatir yang hebat akan keselamatan
sutenya yang tersayang.
Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali dari tahu -tahu nenek Siang Houw Nio -nio telah ber-ada
di dekat kereta dan suaranya terdengar keren ketika ia menghardik, "Apa katamu ? Ada apa dengan
Kim -ji (anak Kim) ? Hayo jawab !"
Yap Kiong Lee menjawab dengan suara penuh duka dan kepala ditundukkan, "Subo, adik Kim telah
dilukai orang karena dia bergaul dengan orang jahat. Hari ini sebenarnya teecu hendak membawanya
kepada suhu, tidak teecu sangka bahwa orang yang menjadi sahabatnya itu telah menculiknya,
selagi teecu berkelahi di restoran tadi."
Nenek itu menjadi semakin marah, sepasang matanya memancarkan sinar berapi. "Kenapa eng-kau
dan suhumu membiarkan anak itu berkeliaran? Sungguh orang tua yang tidak tahu mengurusi anak!
Berteman dengan segala macam manusia jahat dibiarkan saja. Hemm, aku akan minta pertanggungan
jawab kepada suhumu. Akan kulabrak dia kalau tidak bisa mendapatkan anakku dalam
keadaan sehat selamat !" Wajah nenek itu menjadi merah padam dan hampir saja ia menangis. Ia lalu
cepat memasuki keretanya dan berkata dengan suara berteriak kepada murid -muridnya, "Kita tidak
jadi bermalam di sini! Bayar semuanya lalu susul aku. Malam ini juga aku harus melabrak si tua
bangka itu atas keteledorannya mengasuh Kim-ji!" Setelah berkata demikian, kereta dilarikan de-ngan
kencang menuju ke barat, ke arah kota raja.
Para murid itu tertegun dan bengong saja. Yap Kiong Lee menjadi serba salah. Sejak suhu dan
subonya hidup berpisah, hatinya merasa bingung dan prihatin sekali, bahkan dia sampai tidak mau
dunia-kangouw.blogspot.com
menikah sampai sekarang. Dia sangat takut dan hormat kepada subonya karena di waktu dia masih
kecil, subonya itulah yang mengasuhnya dan dia tahu bahwa subonya itu sebenarnya amat sayang
padanya. Kemudian suhu dan subonya saling ber-pisah, subonya meninggalkan suhunya yang sudah
tua itu dan mengabdi kepada kaisar di istana yang masih keponakannya sendiri. Suhunya tidak mau
ikut dan dia sendiri kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan suhunya yang sudah tua dan sendirian
itu. Karena dia tidak mau ikut subonya dan memilih untuk tinggal di situ merawat suhunya, maka
subonya tidak mau lagi menggubrisnya. Kini subonya marah -marah, tentu akan terjadi keribut-an dan
dia merasa prihatin sekali.
Yap Kiong Lee lalu memerintahkan para sute-nya untuk berpencar dan menyelidiki ke mana Yap Kim
dilarikan orang. Pada saat itu, Si Harimau Gunung bersama empat orang penjahat kasar tadi telah
lenyap dari situ, agaknya jerih dan tidak ber-napsu lagi untuk melanjutkan perkelahian.
Pek In dan Ang In membayar sewa kamar yang belum dipakai itu dan membayar harga makanan,
kemudian mereka yang juga nampak tegang dan khawatir itu menghampiri Kiong Lee. "Bagaimana
baiknya sekarang, Yap -suheng ?" tanya Pek In. Tidak ada jalan lain, kalian harus mentaati perintah
subo, menyusulnya ke tempat suhu. Dan nona ini siapakah nona ini dan bagaimana bisa
bersama kalian ?"
"Nona Sie Pek Lian ini adalah seorang yang dicurigai subo sebagai teman ketua Lembah Yang-ce,
maka subo memerintahkan kami untuk mena-wannya dan mengajaknya pulang."
"Hemm, kalau begitu, mari kita susul subo. Pasti akan menjadi ramai di sana." Merekapun berangkat,
mempergunakan kereta Kiong Lee un-tuk mengikuti jejak kereta nenek Siang Houw Nio-nio yang
marah itu. Kiong Lee benar-benar me-rasa prihatin sekali.
"Adik Pek dan Ang, aku khawatir akan terjadi salah paham antara subo dan suhu. Padahal, saat ini
suhu sedang mengasingkan diri di tempat sa-madhinya, sudah belasan hari suhu tidak keluar dari
situ."
Dua orang gadis itupun merasa khawatir sekali. Sebaliknya, Pek Lian menjadi ingin tahu sekali dan
merasa amat tertarik. Makin lama, makin banyak ia mengalami hal yang aneh -aneh, bertemu dengan
orang -orang yang aneh dan berilmu tinggi Betapa di dunia ini penuh dengan orang -orang
pandai, pikirnya, akan tetapi herannya, semakin pandai orang, semakin banyak masalah yang mereka
hadapi, keruwetan -keruwetan hidup yang membuat kehidupan mereka itu menjadi tidak te-nang,
bahkan menderita. Biarpun ia belum tahu benar, akan tetapi iapun dapat menduga bahwa tentu ada
rahasia besar antara nenek Siang Houw Nio -nio dan ketua Thian -kiam -pang itu, raha-sia yang
membuat mereka terpisah dan agaknya menderita dan saling bermusuhan. Benar juga kata-kata yang
pernah didengarnya dahulu bahwa kelandaian itu, seperti juga harta dan kedudukan, lebih banyak
mendatangkan malapetaka dari pada bahagia. Tadinya ia sendiri tidak begitu mengerti akan arti kata -
kata ini yang dianggapnya tak masuk akal karena bukankah semua itu bahkan merupakan sarana
untuk dapat merasakan keba-hagiaan ? Akan tetapi, sekarang ia mulai melihat betapa orang -orang
yang berkepandaian tinggi, justeru menjadi sengsara hidupnya karena kepan-daian itu sendiri.
Persaingan, permusuhan, perke-lahian terjadi di mana -mana dan saling bunuh terjadi di antara
orang-orang yang pandai ilmu silat. Apakah hal buruk ini akan terjadi pada orang-orang yang tidak
tahu ilmu silat ? Agaknya ke-mungkinannya jauh karena mereka tentu tidak condong mempergunakan
kekerasan. Dan kedu-dukan ? Ayahnya sendiri sekeluarga tertimpa malapetaka karena kedudukan.
Andaikata ayahnya bukan seorang menteri, melainkan seorang petani miskin, apakah kaisar akan
melihatnya? Tentu keluarga ayahnya kini masih aman sentausa, walaupun sebagai keluarga petani
miskin !
Untung bagi mereka bahwa malam itu terang bulan sehingga dengan mudah mereka dapat mengikuti
jalan yang berlika -liku mengikuti arus su-ngai itu. Belasan li sebelum memasuki daerah Ko-ta
Raja Tiang -an, mereka membelok ke kanan, meninggalkan jalan besar memasuki jalan kecil, akan
tetapi tetap mengikuti aliran sungai. Mereka memasuki sebuah hutan kecil yang banyak menyembunyikan
cahaya bulan. Akan tetapi karena Yap Kiong Lee sudah hapal akan jalan di tempat itu,
dia dapat menjalankan keretanya dengan lan-car. Kemudian nampak sebuah telaga kecil di te-ngah
hutan dan di pinggir telaga itu terdapat sebu-ah bangunan megah yang dilingkari tembok merah yang
kokoh kuat seperti benteng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hari telah larut malam dan tempat itu nampak sunyi sekali. Akan tetapi mereka tahu bahwa tem-pat itu
tentu terjaga ketat oleh para murid perkum-pulan Thian -kiam -pang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In
longak -longok dan merasa heran karena tidak melihat adanya kereta subo mereka yang ta-di
dilarikan kencang lebih dahulu.
"Berhenti! Siapa di sana ?" Bentakan nyaring ini segera dikenal oleh Kiong Lee sebagai suara jisutenya,
yaitu orang ke dua setelah dia di antara murid -murid Thian -kiam -pang. Tentu ji -sute-nya
itu sedang bergilir meronda.
Pek Lian yang mendengar bentakan itu, merasa jantungnya tergetar karena suara itu dikeluarkan
dengan pengerahan khikang yang cukup kuat un-tuk membuat orang yang datang dengan niat buruk
menjadi gentar.
Akan tetapi Kiong Lee tidak jadi menjawab karena dia mendengar suara kaki berlari -lari disu-sul
suara beradunya senjata! Agaknya yang dite-gur oleh ji-sutenya tadi bukanlah rombongannya,
melainkan orang lain. Yap Kiong Lee mengerahkan ilmu ginkangnya dan sekali tubuhnya meluncur ke
depan, dia telah meninggalkan tiga orang wanita muda itu. Tubuhnya lalu mencelat ke atas, berputaran
dan tahu -tahu dia telah hinggap di atas pa-gar tembok yang kokoh kuat dan tinggi itu. Akan
tetapi baru saja kakinya menginjak pagar tembok, dari sebelah dalam menyambar sebatang piauw ke
arah lehernya. Dia cepat mengelak, akan tetapi penyerangnya itu sudah berada di dekatnya dan
menyerangnya dengan tusukan pedang. Kembali Kiong Lee mengelak dan biarpun cuaca remangremang,
agaknya penyerangnya itu mengenal ge-rakan mengelak ini, sedangkan Kiong Lee juga
mengenal gerakan serangan pedang.
"Toa-suheng... !" penyerang itu berseru.
"Sam-sute ! Ada apakah ini ?"
"Entahlah, suheng. Aku baru saja keluar karena mendengar teriakan ji-suheng tadi. Agaknya tempat
ini kedatangan orang-orang jahat. Lihat, di sana ji-suheng sedang melayani seorang musuh agaknya!"
"Benar ! Cepat kau pergi ke belakang, di sana terdengar banyak orang bertempur. Aku akan
membangunkan semua saudara kita !" Sute ke tiga dari Kiong Lee itu meloncat lenyap dan Kiong Lee
lalu mengerahkan ilmunya yang hebat, membung-kuk dan mencengkeram ke arah tembok pagar itu
sehingga tembok itu hancur di dalam genggaman tangannya, kemudian dia menggunakan tenaga-nya
untuk menyambit ke arah genta besar di atas menara yang berada tinggi dan agak jauh di sudut
pekarangan. Biarpun jaraknya jauh dan yang di-pakai menyambit hanyalah hancuran tembok, akan
tetapi segera terdengar suara genta nyaring berbu-nyi berkali-kali seperti ditabuh bertalu-talu oleh
tangan yang kuat. Tentu saja suara itu mengejutkan semua penghuni rumah perkumpulan atau
perguruan Thian-kiam-pang itu dan semua terbangun dari tidur dan bergegas keluar. Keadaan
menjadi gempar akan tetapi kini semua murid te-lah berlarian keluar dengan pedang di tangan. Akan
tetapi mereka itu hanyalah murid-murid tingkat rendahan yang juga menjadi anak buah Thian-kiampang,
sedangkan di antara tujuh orang murid utamanya, kini yang berada di situ hanya Yap Kiong
Lee, ji-sutenya dan sam -sutenya saja, sedangkan yang lain-lain masih ketinggalan karena sedang
berpencar dan mencari-cari ke mana perginya orang yang menculik Yap Kim.
Kiong Lee sudah cepat meloncat ke arah sam-ping bangunan di mana dia melihat ji-sutenya sedang
bertanding melawan seorang wanita cantik. Melihat betapa Kwan Tek, yaitu adik seperguruan-nya
yang ke dua itu tidak bersepatu, tahulah Kiong Lee bahwa Kwan Tek tentu terbangun dari tidur dan
tidak sempat mengenakan sepatu. Kiong Lee berdiri memperhatikan perkelahian itu. Dengan
sepasang pedangnya, Kwan Tek sebetulnya dapat mendesak lawannya, karena selain serangannya
le-bih mantap, juga ia memiliki tenaga yang lebih besar sehingga lawannya kewalahan menghadapi
serangan -serangan sepasang pedangnya. Akan te-tapi wanita baju hitam itu memiliki kegesitan yang
luar biasa dan jelaslah bahwa ginkangnya memang hebat sehingga sebegitu jauh ji-sutenya itu belum
juga dapat mengalahkannya. Kiong Lee segera mengenal wanita cantik itu yang bukan lain ada-lah
Pek -pi Siauw -kwi (Iblis Cantik Tangan Seratus) atau juga terkenal dengan sebutan Si Maling Cantik
yang amat terkenal namanya sebagai maling tunggal di daerah selatan. Maling Cantik itu juga
memegang sepasang senjata, yang kiri se-batang pedang pendek dan yang kanan sehelai sa-buk
sutera. Kiong Lee maklum bahwa sutenya itu tidak perlu dibantu, maka diapun cepat meloncat ke
belakang dan terkejutlah dia melihat betapa tempat itu telah didatangi oleh banyak penjahat yang rata
-rata memiliki kepandaian tinggi. Ba-ngunan sebelah kiri sudah terbakar dan dia meli-hat adik
dunia-kangouw.blogspot.com
seperguruannya yang ke tiga sibuk meng-hadapi serbuan para penjahat, dibantu oleh para anggauta
Thian-kiam-pang. Dia teringat akan suhunya yang masih berada di dalam tempat per-tapaannya, yaitu
di sebuah bangunan yang berada di atas pulau kecil di tengah telaga kecil. Cepat dia berlari ke
tempat itu dan di depan bangunan itupun terdapat orang bertempur. Ketika Kiong Lee melihat bahwa
yang berkelahi itu adalah nenek Siang Houw Nio -nio, dia terkejut bukan main. Lawan subonya itu
adalah seorang laki -laki tinggi bermantel hitam, memiliki gerakan yang luar bia-sa sekali, cepat dan
aneh sehingga subonya sendiri nampak terdesak !
Sejenak Kiong Lee berdiri tertegun. Subonya bukanlah tokoh silat sembarangan. Ia merupakan
pengawal pribadi kaisar yang berilmu tinggi. Dia tahu betul betapa saktinya subonya itu, mungkin tidak
banyak selisihnya dengan kesaktian gurunya. Akan tetapi sekarang, menghadapi lawan berjubah
hitam ini, subonya jelas terdesak. Orang berpakaian hitam itu bergerak luar biasa cepatnya, seperti
setan saja. Jantungnya berdebar tegang. Dia sudah mendengar laporan tentang Raja Kelelawar.
Inikah orangnya ? Kiong Lee mengamati gerakan orang itu dengan penuh perhatian. Memang luar
biasa sekali gerakan orang itu. Kiranya mantel hitam itu-lah yang menjadi semacam perisai, atau
tempat berlindung, juga tempat di mana dia bersembunyi dan dari situ melakukan serangan -serangan
dah-syat. Mantel hitam itu kadang -kadang kaku ka-dang-kadang lemas dan dapat menyembunyikan
ge-rakan -gerakannya dari mata lawan karena pihak lawan hanya dapat melihat ujung kepala, kaki
dan tangan saja. Semua serangan lawan banyak diga-galkan oleh adanya mantel yang menjadi
perisai itu dan setiap kali ada lowongan, tentu iblis itu me-nyerang dari balik mantel dengan dahsyat.
Bebe-rapa kali dilihatnya betapa subonya kewalahan dan nyaris terpukul. Melihat ilmu silat aneh ini,
Kiong Lee teringat akan cerita gurunya tentang ilmu andalan Si Raja Kelelawar yang amat hebat, yaitu
yang disebut Ilmu Silat Gerhana Bulan. Man-tel itu seolah -olah menjadi awan tebal yang me-nyelimuti
atau menyembunyikan bulan. Inikah il-mu aneh itu ? Kiong Lee tidak tega melihat subo nya terdesak
dan terancam bahaya, maka diapun cepat terjun ke dalam medan perkelahian dan membantu,
subonya.
Begitu terjun, Kiong Lee menyerangnya dari belakang. Dia berpendapat bahwa kalau orang itu
dikeroyok dari depan dan belakang, tentu tidak akan mampu berlindung di balik mantelnya lagi. Akan
tetapi ternyata pendapatnya ini tidak benar. Secara aneh sekali, mantel yang hitam lebar itu dapat
bergerak aneh dan cepat, menggulung dan berkibaran mengelilingi tubuh Si Raja Kelelawar sehingga
menyembunyikannya dari semua jurusan, juga dari belakang ! Seperti juga subonya, Kiong Lee tidak
dapat melihat tubuh lawan dengan jelas dan tidak melihat pula gerakan lawan di balik mantel hitam
itu. Dan semua hantamannya selalu bertemu dengan mantel yang seperti perisai. Kalau dia
mempergunakan tenaga sinkang, maka pukul-annya tiba di permukaan mantel yang lunak dan yang
menyerap semua tenaga pukulannya, dan kadang-kadang mantel itupun menjadi keras seperti perisai
baja yang kuat. Sungguh merupakan ilmu yang aneh dan, berbahaya. Mantel itu bisa sa-ja tiba-tiba
terbuka untuk memberi jalan keluar serangan dahsyat dari Raja Kelelawar itu ! Dan gerakan orang
itu cepat bukan main, berkelebatan.-seolah -olah dia mempergunakan ilmu terbang sa-ja. Kiong Lee
sudah mencabut sepasang pedang-nya dan menyerang dengan sungguh -sungguh, na-mun semua
serangannya gagal dan dia sendiripun kini terdesak. Mengeroyok dua bersama subonya yang sakti
masih terdesak, padahal tingkat kepan-daiannya di saat itu sudah maju pesat, tidak ber-selisih banyak
dengan tingkat subonya. Sungguh membuat mereka berdua merasa penasaran sekali.
Tiba -tiba subonya mengeluh karena paha kiri-nya kena tendangan iblis itu yang mencuat dari balik
mantel hitamnya. Tendangan itu datangnya sama sekali tidak tersangka-sangka dan sedemikian
cepatnya karena gerakan iblis itu memang luar bi-asa cepatnya, dilakukan ketika tubuh iblis itu baru
saja meloncat dan mengelak dari sambaran pedang Kiong Lee sehingga datangnya tidak tersangkasangka
dan tendangan itu luar biasa kerasnya sam-pai tubuh Siang Houw Nio -nio terlempar dan menabrak
pintu bangunan sampai jebol! Tentu saja Kiong Lee terkejut sekali dan cepat menolong
subonya yang bangkit lagi. Sepasang pedangnya diputar dengan pengerahan sinkang sekuatnya sehingga
membentuk gulungan sinar yang lebar dan tidak memungkinkan Raja Kelelawar untuk mendesak
nenek yang sudah terkena tendangannya itu dan terpaksa harus menghadapi pemuda perkasa
itu. Akan tetapi setelah kini dia harus menghadapi iblis itu sendirian saja sedangkan subonya agaknya
belum pulih kembali dan belum terjun membantu-nya, Kiong Lee merasakan betapa hebatnya kepandaian
iblis itu. Setelah kini dia harus meng-hadapinya sendirian, baru terasa olehnya kehebatannya.
Terutama sekali kecepatan gerakan itulah yang membuatnya benar -benar bingung dan kewalahan
karena dia merasa seperti menghadapi banyak lawan. Iblis itu bergerak sedemikian cepatnya
sehingga sukar untuk dapat diikutinya dengan pandang mata, sebentar di depan, tahu-tahu sudah
menyerang dari kanan, dari kiri, bahkan tahu -tahu menerjang dari belakangnya ! Dia sudah
mengerahkan kepandaiannya, memainkan langkah -langkah ajaib, akan tetapi semua itu sia -sia saja
dunia-kangouw.blogspot.com
karena ke-cepatan gerak Si Raja Kelelawar itu sungguh tak dapat dipecahkan oleh langkah -langkah
ajaib. Iblis itu seolah -olah dapat terbang atau menghilang, dan juga dalam hal tenaga sinkang, Kiong
Lee ha-rus mengakui keunggulan lawan. Dia memang kalah segala -galanya, pendeknya tingkatnya
masih kalah jauh. Maka, setelah terdesak hebat, akhir-nya pundak kirinya terkena sambaran jari
tangan lawan. Kelihatan perlahan saja, akan tetapi cukup membuat lengannya terasa ngilu dan
seperti sete-ngah lumpuh, lengan kirinya tergantung lemas dan terpaksa dia melompat mundur.
Pada saat itu nampak bayangan di luar pintu. Nenek Siang Houw Nio -nio yang maklum bahwa
pemuda itu terluka pula, khawatir melihat bayang-an ini. Kalau ada musuh lagi datang, tentu mereka
berdua takkan berdaya lagi. "Lee -ji, cepat buka pintu rahasia bawah tanah! Cepat!"
Kiong Lee tercengang dan meragu. "Tapi... tapi suhu sedang bertapa di dalam... teecu takut
mengganggu, tanpa ijin beliau tak seorangpun boleh membukanya... aughh... !" Sebuah tendangan
iblis itu mengenai punggungnya dan Kiong Lee terlempar, muntah darah !
"Persetan dengan tua bangka itu ! Cepat sebe-lum kita mati penasaran ! Lihat, lawan kita ber-tambah
!" Sambil berkata demikian, nenek itu menyebar jarum-jarum halus ke arah iblis itu, Ba-gaimanapun
juga, nenek itu adalah seorang yang berilmu tinggi dan hal ini diketahui oleh si iblis yang tidak berani
sembarangan dan cepat melin-dungi tubuhnya dari jarum -jarum halus itu dengan mantelnya. Juga dia
maklum bahwa pemuda itu-pun amat lihai, maka biarpun keduanya telah ter-luka, dia tidak berani
sembarangan mendekat dan menanti kesempatan baik untuk menurunkan tangan mautnya. Dan kini,
khawatir kalau mereka lolos, iblis itu bergerak cepat mengelilingi mereka, tidak membiarkan mereka
melarikan diri melalui pintu rahasia yang belum diketahuinya di mana letaknya. Siang Houw Nio -nio
dan Kiong Lee berdiri beradu punggung melindungi diri yang sudah terluka.
Tiba -tiba berkelebat bayangan orang memasuki ruangan bangunan kecil itu. Semua orang melirik
dan kiranya yang masuk adalah Ho Pek Lian, no-na tawanan itu. Di belakangnya nampak Pek Lian
dan Ang In. Ketika Pek Lian melihat Raja Kelela-war yang pernah menawannya, dan melihat betapa
pemuda perkasa itu luka, ia menjadi marah sekali dan langsung saja, dengan nekat iapun menerjang
maju dan menyerangnya dengan pukulan tangan kanan. Akan tetapi, Raja Kelelawar itu menangkis
dan akibatnya, tubuh Pek Lian terlempar mena-brak sebuah pot bunga yang berada di sudut ruangan.
Pot bunga kuningan itu tidak roboh ter-langgar tubuh Pek Lian, melainkan tergeser ke
samping. Terdengar bunyi berkerotokan dan tiba -tiba saja separuh lantai ruangan itu terbuka dan
tanpa dapat dicegah lagi, tubuh nenek Siang Houw Nio -nio dan Kiong Lee, juga tubuh Pek Lian
terjerumus ke dalam lubang. Melihat ini, Pek In dan Ang In berteriak khawatir, akan tetapi me-rekapun
meloncat menyusul ke dalam lubang itu karena mereka maklum bahwa lubang itu tentulah merupakan
rahasia yang baru dibuat oleh Thian-kiam-pang.
Melihat ini, Raja Kelelawar menjadi marah, hen-dak mengejar, akan tetapi dia meragu, takut kalaukalau
dia akan terjebak. Kembali terdengar suara berkerotokan dan tahu -tahu lantai telah menutup
kembali. Barulah Raja Kelelawar sadar bahwa me-reka itu telah meloloskan diri melalui pintu rahasia,
yaitu lubang tadi. Dia menjadi geram. Dihampiri-nya pot bunga kuningan itu dan digeser -gesernya ke
kanan kiri untuk membuka lantai. Namun dia tidak berhasil. Agaknya lubang itu telah tertutup dan
dikunci dari bawah. Dia memukul -mukul pot bunga sampai hancur dan memukul -mukul lantai,
menendang -nendang. Akhirnya dia mengerahkan anak buahnya untuk membakar bangunan di
tengah pulau kecil itu, lalu diapun keluar dan bersama anak buahnya dia melakukan pembantaian
besar-besaran di gedung induk Perguruan Pedang Langit (Thian -kiam -pang). Semua anggauta dan
murid dibunuhnya dengan kejam, dan seluruh bangunannya dibakar sampai habis. Agaknya, Raja
Kelela-war ini amat membenci Thian -kiam -pang, seperti orang melampiaskan dendam yang hebat!
********************
Mereka yang terjeblos ke dalam lubang itu ter-jatuh ke dalam ruangan bawah tanah dan biarpun lantai
di atas telah menutup kembali, namun kea-daan di situ cukup terang dengan adanya lampu-lampu
yang menempel di dinding batu. Nenek Siang Houw Nio -nio yang terluka pahanya itu, terpincang -
pincang menuruni lorong kecil. Di be-lakangnya, Pek In dan Ang In memapah Kiong Lee yang terluka
parah di pundak dan punggung. Pa-ling belakang adalah Ho Pek Lian. Lorong itu panjang sekali,
berbelak -belok naik turun dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu tertu-tup yang bertuliskan
RUANGAN SAMADHI.
dunia-kangouw.blogspot.com
Agaknya langkah kaki mereka sudah diketahui orang karena dari balik pintu terdengar suara te-guran
halus, "Siapa di luar itu ? Lee-jikah itu ?"
Sebelum Kiong Lee dapat menjawab, nenek itu mendahuluinya menjawab lantang, "Akulah yang
datang!"
Terdengar seruan tertahan dari dalam dan tiba-tiba daun pintu terbuka. Di balik pintu itu berdiri
seorang kakek berambut panjang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In cepat menjatuhkan diri berlutut dan
berkata, "Suhu !"
Untuk beberapa lamanya, nenek dan kakek itu berdiri saling pandang penuh selidik dan ada keharuan
menyelinap dalam pandang mata mereka. Mereka adalah suami isteri yang telah saling berpisah
selama limabelas tahun walaupun keduanya sama -sama tinggal di daerah kota raja.
"Sumoi... !" Kakek itu akhirnya menegur dengan suara lirih. Semenjak berpisah, nenek itu tidak mau
lagi diakui sebagai isteri, maka terpaksa kakek itupun menyebutnya dengan sebutan semula sebelum
mereka menjadi suami isteri, yaitu sumoi karena memang isterinya ini adalah sumoinya sendiri.
Akan tetapi, panggilan yang mengandung keha-ruan dan kelembutan ini tidak diacuhkan oleh si nenek
yang marah. Ia bahkan tidak memperdu-likan pahanya yang amat nyeri rasanya, akan tetapi langsung
saja ia menyerang kakek itu dengan kata-kata ketus.
"Di mana anakku, Kim -ji ? Hayo katakan di mana dia ? Engkau membiarkan dia dihina orang, ya ?
Engkau membiarkan dia bergaul dengan se-gala macam manusia sesat, ya ? Hayo kaukembali-kan
anakku kepadaku, kalau tidak ...... !" Nenek itu terengah -engah dan kedua matanya tiba-tiba menjadi
basah !
Kakek itu menjadi bengong. Matanya meman-dang berganti-ganti kepada isterinya dan murid-murid
itu, karena dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh isterinya yang marah-marah. Juga
dia merasa heran melihat mereka masuk seperti itu, bahkan isterinya dan juga murid utamanya
menderita luka yang cukup parah. Melihat keadaan suhunya, Kiong Lee merasa kasihan dan
diapun berkata, "Suhu... adik Kim... dia telah dilukai orang... lalu diculik "
Sejenak kakek itu terbelalak, akan tetapi seben-tar saja dia sudah mampu menguasai hatinya lagi dan
dengan sikap tenang diapun berkata, "Marilah kita semua masuk ke dalam, jangan ribut-ribut di sini.
Aku mempunyai seorang tamu di sebelah dalam. Mari, sumoi, silahkan masuk dan kalian samua,
anak -anak, masuklah."
Biarpun masih cemberut, nenek Siang Houw Nio -nio melangkah masuk terpincang -pincang, diikuti
semua murid dan juga Pek Lian tidak ke-tinggalan memasuki ruangan itu dengan hati te-gang dan
heran. Ternyata ruangan itu sangat luas dan nyaman sejuk. Pada dinding -dindingnya ber-gantungan
lukisan -lukisan orang dalam posisi ber-silat. Di dalam kamar itu telah berdiri seorang kakek tua yang
nampaknya masih sehat dan berse-mangat, menyambut sambil tersenyum membung-kuk terhadap
Siang Houw Nio-nio. Melihat pa-kaian kakek itu, diam -diam Pek Lian menjadi ter-kejut bukan main.
Kakek tamu ini berjubah hitam yang ada lukisannya seekor naga di bagian dada-nya, menutupi
tabuhnya yang tinggi besar. Pek Lian teringat akan orang -orang dari Liong-i-pang, yaitu Perkumpulan
Jubah Naga yang berambut riap -riapan dan yang pernah menyerang keluarga Bu itu. Inikah ketua
dari Liong -i -pang yang mempunyai anak buah yang kasar dan kejam itu ? Akan tetapi karena
maklum bahwa ia berada di antara orang -orang sakti, maka Pek Lian berlagak tidak tahu dan
bersikap tenang saja walaupun ha-tinya terguncang hebat.
"Isteriku, inilah dia saudara Ouwyang Kwan Ek" Kakek itu memperkenalkan.
Nenek itu memandang dan nampaknya tertarik. "Ah, murid ke dua dari mendiang Sin -yok -ong ?"
tanyanya.
Kakek tinggi besar berkulit hitam itu tersenyum dan menjura. "Sudah lama mendengar nama besar
Siang Houw Nio -nio, sungguh beruntung hari ini dapat bertemu. Toanio, kakimu terluka dan mengandung
racun, kalau boleh saya berlancang, si-lahkan toanio menelan obat ini, tentu segera sembuh
kembali," kata si tinggi besar sambil menye-rahkan sebutir pel merah. Nenek itu maklum bah-wa
ia berhadapan dengan murid seorang tokoh besar raja obat, maka iapun tidak mau sungkan lagi,
dunia-kangouw.blogspot.com
menerima pel itu dan menelannya. Rasa pa-nas menjalar dari perutnya dan dengan sinkangnya ia
menekan hawa panas itu ke arah pahanya yang terluka dan sungguh ajaib, ia merasa betapa rasa
nyeri di pahanya perlahan -lahan lenyap. Cepat ia menghaturkan terima kasih.
"Ouwyang -toyu, jangan pelit, sekalian berilah obat kepada muridku yang terluka," kata kakek itu. "Lee
-ji, majulah agar diobati oleh Ouwyang-locianpwe."
Kiong Lee maju dan berlutut di depan kakek itu. Ouwyang Kwan Ek adalah murid ke dua dari Si Raja
Tabib dan sebenarnya dia tidak mewarisi ilmu pengobatan karena yang mewarisi adalah mendiang Bu
Cian murid pertama Si Raja Tabib. Akan tetapi sebagai murid Raja Tabib, tentu saja dia tidak buta
dengan ilmu pengobatan dan kalau tidak terlalu hebat saja, dia mempunyai obat -obat untuk
bermacam luka parah. Setelah meraba punggung dan pundak Kiong Lee, kakek itu me-narik napas
panjang.
"Siancai... ! Luka -luka ini diakibatkan pukulan-pukulan sakti yang hebat. Untung muridmu ini telah
memiliki sinkang yang amat kuat, kalau tidak, tentu aku akan sukar mengobatinya, Yap-lojin !" katanya
kepada tuan rumah. Kakek ketua Thian -kiam -pang itu bernama Yap Cu Kiat atau di antara kenalan -
kenalannya lebih terkenal disebut Yap -lojin (orang tua Yap). Setelah menotok pundak dan punggung
Kiong Lee, kakek itu lalu
memberi obat bubuk berwarna kuning untuk diminum dengan air. Dan memang obat itu mustajab
sekali karena Kiong Lee merasa betapa luka-luka di dalam tubuhnya tidak terasa nyeri lagi dan hanya
membutuhkan pengobatan dengan pengerahan sinkang sendiri. Diapun cepat menghaturkan terima
kasih.
"Kiong Lee, apakah yang terjadi ? Kenapa engkau sampai terluka dan juga subomu..."
"Hemm, enak -enak saja bersenang sendiri di sini, tidak tahu di luar dibanjiri musuh yang dipim-pin
oleh Raja Kelelawar. Anak sendiri dilarikan orangpun tidak tahu!" Nenek itu masih marah.
Mendengar ini, terkejutlah Yap-lojin. "Raja Kelelawar menyerbu ke sini ? Ah, aku harus keluar
melihatnya !"
"Aku akan menemanimu, lojin !" kata Ouwyang Kwan Ek yang segera mengikuti tuan rumah. Me-reka
cepat keluar dari terowongan itu dan mencari keluar. Akan tetapi, setelah mereka tiba di luar,
pertempuran telah berhenti dan pihak musuh telah tidak nampak lagi bayangannya. Yang ada hanya
mayat-mayat para anggauta Thian -kiam -pang, termasuk murid-muridnya yang ke dua, yaitu Kwan
Tek, dan murid ke tiga, di antara bangunan yang terbakar habis! Tentu saja Ouwyang Kwan Ek
merasa terkejut dan kasihan kepada sahabatnya yang berdiri bengong dengan muka pucat. Dia la-lu
membantu tuan ramah untuk mengangkut ma-yat -mayat itu melalui terowongan.
Melihat kedua adik seperguruannya tewas, Kiong Lee memekikinya sambil menangis. Juga Pek In
dan Ang In ikut menangis sedih. Bahkan nenek Siang Houw Nio -nio sendiri tak dapat menahan
runtuhnya beberapa butir air matanya dan nenek ini mengepal tinju. "Raja Kelelawar, aku akan
menghadapimu kelak untuk membuat perhitungan !"
Pek Lian yang melihat semua ini menjadi ikut terharu dan ikut menangis. Tak disangkanya bahwa
keluarga yang sakti ini tertimpa malapetaka de-mikian hebat dan kembali matanya seperti dibuka oleh
kenyataan bahwa semakin tinggi kepandaian orang, semakin besar pula bahayanya karena tentu
orang itu mempunyai musuh-musuh yang lihai pula. Dengan penuh duka cita mereda semua lalu
mengubur mayat-mayat dengan upacara se-derhana saja. Mayat-mayat itu dikubur di belakang
bangunan yang sudah menjadi abu dan malam hari itu terpaksa mereka kembali memasuki
terowongan karena semua tempat telah terbakar sehingga sisa tempat yang ada hanyalah ruangan di
bawah tanah.
Mereka duduk berkumpul dalam suasana duka dan masing-masing merasakan suatu keakraban.
Bahkan Pek Lian sendiri yang tadinya adalah seorang tawanan, pada saat itu merasa seolah-olah ia
menjadi anggauta keluarga itu. Juga Ouwyang Kwan Ek memperlihatkan simpatinya. Suami isteri
yang tadinya seperti mengambil sikap bertentangan itupun kini seperti melupakan perselisihan mereka
yang sudah berlangsung belasan tahun itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ilmu silat Raja Kelelawar dengan jubahnya itu memang hebat luar biasa. Semua setanganku kandas,
bahkan jarum -jarumku tidak ada gunanya. Mengeroyoknya bersama Kiong Leepun masih terdesak
dan terluka."
Suaminya menarik napas panjang. "Itu baru Il-mu Gerhana Bulan, belum yang lain -lain. Ah, sungguh
tidak kusangka setelah berpuluh tahun ti-dak ada jago silat yang menonjol dan berbakat, kini muncul
keturunan raja kaum hitam yang penuh bakat dan menyamai kesaktian leluhurnya, Si Raja Kelelawar
yang sakti."
"Memang kenyataan yang pahit sekali!" kata Ouwyang Kwan Ek, kakek tinggi besar hitam berju-bah
naga itu. "Padahal, di pihak kaum bersih, sam-pai kini tidak ada seorangpun jago berbakat yang
muncul. Dari perguruan kamdpun tidak ada seo-rang yang berbakat seperti mendiang suhu Raja
Tabib Sakti. Aku sendiri cuma mewarisi sebagian saja dari ilmu -ilmunya, seperti halnya saudara
seperguruanku yang lain."
"Demikian pula pada perguruan kami," Yap-lojin berkata penuh sesal. "Sebenarnya Kiong Lee ini
sangat berbakat, akan tetapi akulah yang bodoh tak mampu membimbingnya. Sayang, guruku, Sinkun
Bu-tek, telah tiada. Kalau masih ada, tentu beliau akan dapat membimbing Lee-ji ini dan akan ada
seorang penggantinya yang boleh diandalkan !"
Mendengar percakapan mereka, diam -diam Pek Lian mengalami kejutan lain. Tahulah ia se-karang
bahwa ketua Perguruan Pedang Langit ini adalah keturunan dari Sin-kun Bu -tek, datuk da-ri utara,
pendekar sakti terbesar seabad yang lalu, yang pernah didengarnya ketika ia masih bersama dua
orang gurunya. Sin-kun Bu-tek yang sejajar namanya dengan si datuk selatan, yaitu Raja Tabib Sakti.
Keduanya merupakan datuk-datuk kaum bersih yang merupakan saingan terbesar dari da-tuk -datuk
kaum sesat seperti pendiri Tai -bong-pai, pendiri Soa -hu -pai, dan juga tentu saja men-jadi musuh
yang ditakuti dari Bit -bo -ong Si Raja Kelelawar. Mengertilah ia kini mengapa Raja Ke-lelawar
memusuhi Thian -kiam -pang. Kiranya iblis itu ingin membalas dendam leluhurnya yang kabarnya
tewas di tangan Sin -kun Bu -tek. Pan-tas saja sarang Thian -kiam -pang itu dibasminya, semua
penghuninya yang ada ditewaskan dan ba-ngunan -bangunannya dibakar habis.
Nenek Siang Houw Nio-nio juga hanyut dalam percakapan itu dan ia menarik napas panjang lalu
berkata, "Yahh... padahal asal salah seorang dari murid-murid kita bisa mendalami pelajaran
perguruan masing-masing secara sempurna seperti halnya iblis itu mempelajari ilmu leluhurnya yaitu
Raja Kelelawar, aku berani bertaruh bahwa iblis itu pasti akan bisa ditaklukkan. Seperti juga di jaman
dahulu Si Raja Kelelawar tidak berkutik ketika melawan guru-guru kita, baik melawan guru kami Raja
Tabib Sakti maupun melawan Sin-kun Bu-tek."
Ouwyang Kwan Ek mengangguk-angguk mem-benarkan ucapan ini. Memang patut disayangkan
bahwa tidak ada murid dari para datuk itu yang dapat mewarisi seluruh ilmu gurunya sampai mencapai
tingkat setinggi mereka. Akan tetapi dia ti-ba -tiba teringat akan sesuatu, lalu diapun ber-kata,
"Kim -mo Sai -ong pendiri Soa -hu-pai yang bersama dengan iblis pendiri Tai -bong-pai merupakan
juga datuk -datuk persilatan yang setingkat dengan guru -guru kita seabad yang lalu? Nah, aku
mendengar bahwa ada cucu murid dari Kim -mou Sai -ong ini yang sangat berbakat, dan kabarnya
kini telah mencapai tingkat ke tigabelas ilmu -ilmu Soa -hu -pai, yaitu tingkat terakhir dari Soa-hu-pai
yang hebat itu. Dan kabarnya orang itu kini mengabdi kepada kaisar." Berkata demiki-an, Ouwyang
Kwan Ek memandang kepada nenek Siang Houw Nio -nio yang juga mengabdikan diri-nya kepada
kaisar karena masih terhitung keluar-ga dekat kaisar.
Nenek itu mengangguk -angguk. "Memang be-nar, akan tetapi orang itu menjadi komandan pengawal
istana dan kurasa diapun masih belum se-tinggi Raja Kelelawar tingkatnya. Dan seperti juga
dahulu, alirannya tidak mau berurusan dengan iblis itu. Seperti, juga guru -gurunya tidak pernah acuh
terhadap Raja Kelelawar."
"Selama ini aku tidak pernah mendengar ten-tang orang-orang Tai -bong -pai. Setelah ketu-runan
Raja Kelelawar keluar, apakah keturunan-nya juga tidak memperlihatkan diri ? Ataukah Tai -bong -pai
sudah mati dan tidak mempunyai keturunan?" Yap-lojin bertanya karena percakap-an itu membongkar
hal -hal lama, mengingatkan mereka akan golongan -golongan jaman dahulu yang pernah
menggemparkan dunia persilatan.
Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek Lian membuka mulut menjawab. Ia teringat akan orang -
orang yang membawa gadis cantik dalam keranjang yang terluka parah dan lumpuh itu. Untung
dunia-kangouw.blogspot.com
bahwa ia masih dapat menahan hatinya, karena kalau ia membuka mulut, akhirnya tentu ia akan
terpaksa membuka rahasianya bahwa ia ada-lah puteri Menteri Ho dan hal ini dapat berbahaya bagi
dirinya. Maka iapun diam saja dan menun-dukkan muka, hanya memasang telinga mende-ngarkan
percakapan yang amat menarik hatinya itu.
"Entahlah, tidak ada berita tentang mereka ...." kata kakek berjubah naga.
Tiba -tiba Yap-lojin berseru, "Ahh... !
Pek Lian terkejut dan mengangkat muka meman-dang kepada kakek itu yang agaknya teringat akan
sesuatu. "Lupakah kalian akan sasterawan itu ? Dia yang yang mengalahkan keempat datuk sakti
dahulu, leluhur kita itu ?"
Kakek berjubah naga terkejut. "Maksudmu ?"
"Mari kita memasuki ruang samadhiku." Kakek itu mendahului mereka semua memasuki pintu rahasia
dan berkumpul di ruangan bawah tanah yang luas. Yap -lojin membawa mereka semua kepada
beberapa buah gambar. Gambar -gambar yang melukiskan bermacam gerakan menyerang, gambar
searang sasterawan terhadap lawan -lawannya. Dalam tiap gambar, sasterawan tua itu mengha-dapi
seorang lawan berbeda.
"Lihat gambar-gambar ini dilukis untuk mengabadikan pengalaman yang amat langka itu, yaitu
kalahnya para datuk sakti terhadap si sasterawan tua dan lukisan-lukisan ini adalah jurus-jurus
terampuh yang dipergunakan para datuk, akan tetapi selalu si sasterawan yang menang," kata Yaplojin.
"Ah, betapa hebat dan menariknya. Harap suhu sudi menceritakan karena teecu amat tertarik
mendengarnya."
Kakek ita menarik napas panjang. "Hal ini sebenarnya merupakan rahasia para datuk yang di-anggap
amat memalukan, bahkan subomu sendiri-pun tidak tahu akan cerita ini. Akan tetapi setelah kini Raja
Kelelawar seperti menjelma lagi dan me-ngacaukan dunia, kita memang boleh mengharapkan
munculnya tokoh keturunan sasterawan ini yang akan menundukkannya. Nah, kalian dengar-lah
ceritaku." Kakek itupun lalu menceriterakan peristiwa hebat yang terjadi puluhan tahun yang lalu.
Seabad yang lalu, dunia persilatan mengenal nama empat orang datuk yang dianggap sebagai tokoh
-tokoh yang memiliki kepandaian silat paling tinggi di dunia persilatan. Mereka itu adalah dua orang
tokoh golongan putih, yaitu Bu-eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan) yang merupakan
datuk putih daerah selatan, dan Sin-kun Bu -tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk
putih di utara. Kemudian dua orang datuk golongan hitam, yaitu Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar
Arwah) pendiri dari Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai-ong (Raja Singa Berbulu E-mas) pendiri dari Soahu-
pai. Empat orang tokoh inilah yang dianggap amat sakti dan paling tinggi ilmunya sehingga
seorang seperti Bit-bo-ong (Raja Kelelawar) yang dianggap rajanya kaum penjahat sekalipun tidak
pernah berani bertingkah terhadap mereka dan dianggap masih lebih rendah dari pada mereka
berempat.
Biarpun di antara dua golongan itu ada go-longan putih dan golongan hitam, akan tetapi me-reka itu
dapat mengikat persahabatan dan tidak pernah saling bermusuhan. Memang aneh, akan tetapi
memang kehidupan para datuk ini tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Cui-beng Kui-ong dan Kim-mo
Sai-ong itu merupakan dua orang datuk hitam, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan
kejahatan, hanya dianggap datuk dan didewa-dewakan oleh kaum sesat. Mereka itu balikan memiliki
kegagahan yang mengagum-kan, walaupun pandangan mereka kadang-kadang sesat dan tidak
mengenal arti kesopanan atau hukum-hukum yang ada. Mungkin karena saling segan oleh ilmu
masing-masing yang amat tinggi, dan saling menyayang kepandaian masing -masing kawan, maka
mereka itu dapat bersahabat.
Anehnya, setiap empat tahun sekali, empat orang datuk itu selalu mengadakan pertemuan untuk
membicarakan ilmu silat, bahkan mereka itu masing-masing memperlihatkan kemajuan -kemajuan
yang mereka peroleh selama empat tahun terakhir, untuk dikagumi oleh yang lain, juga diakui! Akan
tetapi baiknya, belum pernah di antara mereka itu terjadi persaingan atau cekcok, apa lagi lalu saling
serang sampai bunuh -membunuh. Mereka agak-nya maklum bahwa sekali bentrok, berarti mereka
akan membiarkan dirinya terancam maut, karena sekali berkelahi, tentu kematian mengancam
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka. Bukan tidak mungkin, mengingat bahwa tingkat mereka seimbang, mereka akan sampyuh
dan mati semua. Kadang-kadang mereka mengadakan pertemuan di tepi pantai, kadang-kadang di
puncak gunung atau di tempat-tempat yang sunyi dan yang tak pernah didatangi orang lain.
Pada suatu hari, kembali mereka mengadakan pertemuan setelah selama empat tahun mereka tidak
pernah saling bertemu. Sekali ini, mereka memilih tempat di lembah Gunung Hoa-san yang indah dan
amat sunyi. Dan di lembah itu terdapat sebuah telaga yang indah sekali, dengan airnya yang dalam
dan kehijauan, bening seperti kaca. Sunyi sekali di situ sehingga ketika empat orang datuk itu datang
secara beruntun, mereka merasa suka sekali dan memuji tempat itu sebagai tempat pertemuan yang
amat menyenangkan.
"Ha -ha -ha, kamu tukang obat memang pandai memilih tempat yang bagus !" Cui -beng Kui -ong
pendiri Tai-bong-pai memuji karena memang tempat itu adalah pilihan Bu-eng Sin-yok-ong. Mereka
lalu duduk mengelilingi sebuah perapian sambil bercakap-cakap, membicarakan tentang ilmu silat dan
tentang hasil -hasil mereka selama empat tahun ini. Bu -eng Sin -yok -ong mengatakan bahwa diapun
hanya mendengar saja tentang keindahan telaga ini dan baru sekarang dia datang ke tempat itu.
"Yok-ong, selama empat tahun ini ilmu apa sajakah yang berhasil kauciptakan ?" Kita -mo Sai -ong
bertanya. Di antara mereka berempat, memang boleh dibilang tingkat Bu-eng Sin-yok-ong yang paling
tinggi sehingga tiga orang yang lain menganggap dia seperti saudara tua. Menurut tingkat mereka,
walaupun mereka tidak pernah saling gempur, orang pertama adalah Bu -eng Sin-yok -ong, ke dua
adalah Sin -kun Bu -tek dan Cui-,beng Kui -ong yang (memiliki tingkat seimbang, dan yang sedikit
lebih "rendah adalah Kim -mo Sai -ong. Akan tetapi, perbedaan tingkat ini tidak pernah mereka,
nyatakan dengan mulut, hanya masing-masing mencatatnya di dalam hati, mengukur dari kepandaian
mereka ketika saling mendemonstrasikan ilrnu masing -masing.
Ditanya oleh Kim -mo Sai -ong secara terbuka itu, Bu -eng Sin -yok -ong tersenyum sambil mengelus
jenggotnya. "Ah, sudah tua seperti aku ini, perlu apa memperdalam ilmu membunuh orang lain ?
Tidak, :elama ini aku tidak mau menambah ciptaan ilmu (membunuh. Sudah terlalu banyak ilmu
membunuh diciptakan orang-orang pandai seperti kalian bertiga ini, maka aku lalu tekun di dalam
guha untuk mencfcri rahasia ilmu menghidupkan yang menjadi kebalikan dari ilmu membu-nuh."
"Lo -heng, engkau adalah seorang Raja Tabib yang merupakan dewa pengobatan di dunia ini, apakah
engkau maksudkan selama ini engkau memperdalam ilmu pengobatan yang sudah hebat itu ? Hampir
tidak ada penyakit yang tak dapat kausembuhkan dengan ilmumu," tanya Sin-kun Bu-tek yang merasa
seperti saudara sendiri dengan datuk selatan itu sehingga menyebutnya lo-heng.
"Bukan hanya ilmu pengobatan, lo-te, melainkan ilmu menghidupkan," jawab yang ditanya.
"Ha-ha-ha, tukang obat !" Cui-beng Kui-ong yang suka ugal-ugalan dan tidak pernah mau memakai
peraturan, juga dalam hal memanggil nama itu, tertawa. "Yang dihidupkan itu hanyalah orang mati,
apakah kau mau katakan bahwa engkau dapat menghidupkan orang mati ?" Pertanyaan ini seperti
kelakar, akan tetapi diam-diam yang bertanya merasa tegang dan juga dua orang lainnya
memandang wajah Bu-eng Sin-yok-ong dengan mata terbelalak penuh perhatian.
Sin -yok -ong menarik napas panjang. "Siancai... aku hanya manusia biasa, mana mungkin dapat
membuka rahasia antara mati dan hidup ? Akan tetapi, sebagai ahli pengobatan, aku tertarik untuk
menyelidiki sebab-sebab mengapa ada kematian dalam hidup ini. Manusia ini hidup karena adanya
tenaga yang menggerakkan segala sesuati dalam tubuh kita, baik selagi terjaga maupun sedang
tertidur, menggerakkan jantung, pernapasan dan seluruh urat syaraf dalam tubuh, sampai yang terhalus
sekalipun. Kematian disebabkan karena tenaga penggerak ini tidak dapat menembus bag;an
tubuh yang rusak, baik oleh kuman maurmn oleh kekeras-an dari luar. Nah, aku melakukan
penyelidikan bagaimana untuk menembus bagian tertutup itu sehingga tenaga penggerak itu mampu
menembus ke bagian-bagian yang terpenting sehingga semua anggauta tubuh dapat bekerja dengan
baik walau-pun ada bagian yang cacat dan hidup dapat diper-tahankan."
Tiga orang datuk lainnya mendengarkan de-ngan mata terbelalak. "Wah, wah, bukan main hebatnya!
Kalau benar engkau telah berhasil mengatasi kematian, maka segala ilmu di dunia ini tidak ada
artinya lagi. Selamat, Yok-ong!" kata Kim-mo Sai-ong akan tetapi Sin-yok-ong mengangkat
tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan tergesa -gesa memberi selamat, Sai-ong. Aku baru dalam taraf penyelidikan dan per-cobaan
saja dan ternyata di balik itu tersembunyi rahasia -rahasia yang amat pelik dan gawat. Sudah-lah,
lebih baik kalian menceritakan dan memperli-hatkan ilmu -ilmu baru yang kalian berhasil cipta-kan
selama ini."
Kim -mo Sai -ong lalu mendemonstrasikan ilmu-nya yang paling hebat, yaitu ilmu tenaga sakti Rawa
Pasir. Ketika dia mainkan ilmu ini yang diberi nama Pukulan Pusaran Pasir Maut, di sekitar tu-buhnya
terasa ada tenaga hebat yang berdaya tolak luar biasa kuatnya, mengandung hawa dingin yang
menggigilkan, terasa oleh tiga orang datuk lainnya yang dapat mengerti bahwa lawan yang kurang
kuat tidak akan dapat bertahan mengha-dapi datuk ini dalam jarak tiga langkah saja. Dan kaki tangan
Kim -mo Sai -ong mainkan ilmu silat yang dinamakannya Soa-hu-lian (Teratai Danau Pasir). Tiga
orang datuk itu memuji ilmu-ilmu baru ini.
Tiba giliran Cui-beng Kui-ong yang mendemonstrasikan ilmunya yang mutakhir, yaitu Ilmu Pukulan
Penghisap Darah! Bukan main hebatnya pukulan ini. Terasa oleh tiga orang datuk lainnya betapa
dalam angin pukulan itu terkandung hawa beracun yang menyedot ke arah lawan dan se-tiap
pertemuan anggauta badan dengan lawan, seperti kalau lawan menangkis dan sebagainya, lawan
yang kalah kuat sedikit saja tenaganya tentu akan terkena akibat hawa pukulan ini yang akan
menyedot keluar darah dari balik kulit mereka sehingga lawan seolah-olah akan berkeringat da-rah !
Sebelum ilmu yang mengerikan ini, Cui -beng Kui -ong sudah pula memiliki Ilmu Tenaga Sakti Asap
Hio yang membuat keringatnya berbau seper-ti hio (dupa biting) yang harum -harum aneh.
Diam-diam Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek merasa khawatir dan ngeri. Kalau ilmu kedua orang datuk
kaum sesat itu dipergunakan oleh mu-rid-murid mereka yang berahlak bobrok, tentu akan
mendatangkan malapetaka di dunia ini. Akan tetapi mereka berdua merasa yakin bahwa biarpun dua
orang datuk sakti itu dianggap sebagai datuk sesat, namun mereka amat keras terhadap muridmurid
mereka dan tidak sembarangan menurunkan ilmu mereka kepada murid mereka.
Tiba giliran Sin-kun Bu-tek yang memperli-hatkan ilmu pukulan terbarunya. Ilmu itu dina-makan Ilmu
Silat Angin Puyuh dan dimainkan dengan pengerahan tenaga sakti yang dinamakan-nya tenaga Thian
-hui -gong -ciang (Tangan Ko-song Halilintar). Ketika orang sakti ini memainkan ilmunya, maka terasa
oleh tiga orang datuk lain-nya betapa ada hawa menyambar -nyambar panas dan disertai angin puyuh
yang mengamuk hebat. Debu mengepul tinggi dan berpusing seperti ter-bawa angin puyuh dan
pohon-pohon di sekeliling tempat-itu bergoyang -goyang, daun -daun rontok beterbangan terbawa
berpusing pula.
"Hebat, hebat... , lo-te. Ilmu pukulan ini hebat sekali" Bu-eng Sin-yok-ong memuji, demikian pula dua
orang datuk sesat juga merasa kagum dan merasa bahwa bagaimanapun juga, ke-majuan ilmu
mereka masih kalah dibandingkan dengan Sin -kun Bu -tek ini.
"Nah, sekarang tiba giliranmu, lo-heng. Biar-pun engkau mengaku belum berhasil, akan tetapi selama
empat tahun ini tentu telah ada kemajuan. Siapa tahu engkau telah dapat menghidupkan orang mati !
Wah, kalau benar demikian, kami bertiga akan berlutut dan takluk!" kata Sin -kun Bu -tek yang
dibenarkan oleh dua orang datuk lainnya. Kalau benar Tabib Sakti itu dapat menghidupkan orang
mati, apa artinya semua kemajuan yang mereka peroleh ? Kecil sekali dibandingkan dengan ilmu
yang dapat menghidupkan orang mati !
Bu -eng Sin -yok -ong tersenyum dan mengge-leng kepala. "Jangan kalian melebih -lebihkan. Sudah
kukatakan, aku baru membuat penyelidikan dan percobaan, dan di balik kehidupan ini terdapat hal -
hal yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan otak belaka. Akan tetapi, memang selama empat tahun
ini aku sudah membuat percobaan -percoba-an. Nah, Sai -ong, engkau yang paling gesit, coba-lah
engkau mencari seekor kelinci."
"Baik!" Begitu menjawab, tubuhnya sudah melesat lenyap dan sebentar saja iblis pendiri Soa-bu -pai
ini telah datang kembali membawa seekor kelinci.
"Bunuhlah tanpa merusak kepalanya !" kata pula Bu-eng Sin-yok-ong.
Kim -mo Sai -ong tertawa dan sekali tangan kirinya bergerak, jari telunjuknya telah memukul
punggung kelinci itu. "Ngekk!" dan kelinci itupun tewaslah, hanya berkelojotan sekali dua kali saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Periksalah oleh kalian apa benar -benar bina-tang, ini sudah mati," kata pula Bu -eng Sin -yok-ong
dengan tenang. Tiga orang datuk itu dengan bergantian memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa
kelinci itu memang sudah mati, darahnya sudah terhenti sama sekali dan napasnya tidak ja-lan
walaupun tubuhnya masih hangat.
Bu -eng Sin -yok -ong sudah mengeluarkan se-rangkaian jarum -jarum emas dan perak. Lalu dia
mengambil bangkai kelinci itu dan mulai menggu-nakan jarum -jarumnya untuk menusuk sana -sini.
Belum sampai duabelas kali dia menusuk... eh, binatang itu dapat bergerak kembali dan ketika jarum -
jarum itu diambil dan kelinci dilepaskan, binatang itu berlari cepat memasuki semak-semak!
Tiga orang datuk itu terbelalak dan seperti telah mereka janjikan tadi, mereka menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi Bu -eng Sin -yok -ong juga ber-lutut membalas mereka dan berkata, "Sudah, su-dah,
jangan main -main. Mari kita duduk kembali. Aku hanya menghidupkan seekor kelinci yang mati-nya
dalam keadaan utuh. Kalau manusia yang mati dan rusak alat tubuhnya yang penting, sung-guh aku
tidak berani memastikan apakah aku akan dapat menghidupkannya."
Biarpun kakek itu merendah, namun tiga orang datuk itu semakin kagum dan hormat kepadanya.
Mereka lalu beroakap -cakap dan mula -mula yang membangkitkan kebanggaan di hati mereka
adalah Kim -mo Sai -ong yang berkata, "Setelah kita ber-empat mencapai tingkat seperti sekarang ini,
siapa-kah di dunia ini yang sanggup mengatasi kita ?"
"Ha-ha-ha, omonganmu sungguh aneh, Sai-ong !" Cui-
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
Sin -kun Bu -tek batuk -batuk untuk menekan rasa bangga ini, kemudian dia berkata, "Uhh, tua
bangka -tua bang-ka seperti kita ini menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menciptakan ilmu -ilmu
silat yang tinggi. Kalau sudah mencapai tingkat tertinggi, lalu untuk apa ?" Biarpun demikian, dalam
ucap-annya ini mengakui bahwa mereka telah mencapai tingkat tertinggi!
"Siancai... , sungguh beruntung bahwa kita berempat dapat bersahabat seperti ini. Kalau ilmu-ilmu kita
ini dipergunakan untuk saling hantam, bukankah dunia akan menjadi kacau dan kiamat ?" Bu-eng Sinyok-
ong juga berkata dan dalam kata-katanya juga terbayang rasa bangga akan kepandaian mereka
berempat yang mereka anggap sudah tidak ada bandingnya lagi di seluruh dunia ini.
Tiba -tiba mereka dikejutkan oleh suara nyanyian halus yang datangnya dari seberang telaga! Suara
itu halus sekali seperti berbisik, akan tetapi mereka dapat mendengar dengan jelas, seperti suara
anak -anak yang dibawa angin lalu.
"Langit biru tinggi nian
apa gerangan yang berada di atasmu ?
Telaga biru betapa dalam
apa gerangan yang berada di bawahmu ?
Adakah yang tertinggi?
Adakah yang paling dalam ?
Aku tak tahu... !"
Empat orang tua itu saling pandang dan dalam pandang mata itu mereka tahu babwa nyanyian itu
seolah -olah mengejek dan menusuk jantung mere-ka, seolah -olah mencela rasa bangga dan angkuh
yang tadi mencekam hati mereka. Di samping rasa penasaran, juga mereka merasa malu bahwa
mere-ka yang telah berada di tempat itu selama hampir setengah hari, tidak tahu bahwa di dekat
telaga itu ada orangnya!
Orang itu adalah seorang sasterawan, atau seorang kakek yang memakai pakaian sederhana seperti
sasterawan, sudah tua sekali, dengan kumis dan jenggot panjang berwarna putih, tubuhnya kurus
kering seperti orang kurang makan, namun wajah-nya membayangkan kelembutan yang mengharudunia-
kangouw.blogspot.com
kan. Kakek ini sejak pagi buta telah duduk di tepi telaga, terlindung oleh semak-semak dan pohonpohon,
dan karena dia sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun, seperti gerakan bayangan
pohon saja, maka empat orang datuk sakti itu sama sekali tidak tahu akan kehadirannya. Sasterawan
itupun tidak memperdulikan mereka berempat, tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Dia sedang
melukis keindahan telaga dengan gunung-gunung yang mengelilinginya. Di dekatnya terda-pat
tangkai pancing yang ditancapkan, ada bebera-pa buah berderet -deret di tepi telaga. Akan teta-pi
sasterawan itupun tidak memperdulikan pan-cing -pancing ini, melainkan asyik melukis. Hanya
setelah empat orang datuk itu berbincang-bincang dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan
tentang kepandaian mereka, kakek tua ini secara langsung menyanyikan sajak tadi, sama sekali
bukan bermak-sud untuk mengejek atau menyindir, melainkan karena ucapan -ucapan empat orang
yang mengan-dung keangkuhan itu membuat dia termenung dan bertanya-tanya dalam hati tentang
apakah ada yang tertinggi dan terdalam. Pertanyaan ini tim-bul karena dia melukis langit dan danau,
dan ter-dorong oleh percakapan yang mengandung nada angkuh dan bangga akan diri sendiri itu.
Empat orang datuk itu dengan kepandaian me-reka yang hebat, dalam beberapa detik saja sudah
berada di tepi telaga, berhadapan dengan kakek sasterawan yang asyik melukis itu. Kakek itu hanya
menengok dan memandang dengan sinar mata lembut dan mulutnya yang kempot tak bergigi itu
tersenyum tenang.
Akan tetapi Cui -beng Kui -ong, si iblis peng-isap darah dari Tai -bong -pai yang berangasan itu
sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia melangkah maju dan memandang kepada ka-kek
sasterawan itu dengan sinar mata berapi dari sepasang matanya yang lebar terbelalak, lalu dia
menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu. "Heh, orang tua yang sombong ! Engkau telah lancang
mengintai kami, ya ? Sungguh kurang ajar sekali perbuatan itu, melanggar peraturan dan kebiasaan
orang -orang gagah ! Bukan jantan kalau suka mengintai orang lain!"
Sasterawan tua itu nampak terkejut dengan se-rangan kata -kata yang kasar ini. Dia bangkit ber-diri
dengan gerakan lemah, meninggalkan lukisan-nya yang terbentang di atas tanah, akan tetapi dia tidak
melepaskan tempat tinta bak yang dipegang dengan tangan kiri dan pena bulu yang dipegang dengan
tangan kanan, yaitu alat -alatnya untuk me-lukis tadi.
"Maaf, maaf harap cu -wi yang gagah perkasa tidak salah sangka dan menuduh aku melakukan
hal yang bukan -bukan. Sejak pagi buta aku telah berada di sini seperti yang kulakukan setiap hari,
memancing dan melukis atau menulis sajak. Rumahkupun tidak jauh dari sini, itu di lereng sebelah
sana, nampak dari sini. Siapa yang mengintai ? Salahkah aku kalau aku sudah berada di sini ketika
cu-wi datang ?"
Ucapan itu halus dan cukup beralasan, akan tetapi karena Cui -beng Kul -ong merasa penasar-an
dan menduga bahwa orang ini tentu telah me-nyaksikan ilmu-ilmu baru yang mereka keluarkan, tadi,
dia menjadi naik darah. Apa lagi, sejak tadi dia memang merasa kurang puas, karena dia mera-sa
bahwa ilmu barunya tadi masih kalah hebat di-bandingkan dengan ilmu bara dari Sin-kun Bu-tek, dan
hal ini berarti bahwa dalam empat tahun ini kemajuan ilmunya masih kurang dibandingkan dengan
kemajuan tiga orang datuk lainnya.
"Mancing ? Alasan ! Beginikah caranya orang mancing?" Dan diapun menggunakan. tangannya
bergerak ke depan dan batang-batang pancing itu tercabut semuanya dan ternyata di mata kail-nya
tidak ada seekorpun cacing !" Inikah namanya mancing ?" Dia melempar -lemparkan semua ba-tang
pancing ke atas tanah.
Akan tetapi, kakek sasterawan itu ternyata sa-bar sekali. Dia sama sekali tidak marah, bahkan dia lalu
mengangkat muka memandang ke atas dan bersajak lagi.
"Memancing tanpa umpan
karena tidak butuh ikan
hanya memancing ketenangan
untuk menikmati kebahagiaan.
Apa artinya pintar
dunia-kangouw.blogspot.com
kalau hanya untuk menipu ?
Apa artinya kuat
kalau hanya untuk menindas ?
Lebih baik bodoh
lebih baik lemah!"
Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah karena dia merasa diejek dan disindir. "Keparat, berani
engkau memaki orang ?" katanya dan dia-pun merenggut lukisan dari atas tanah dan mero-bek -robek
lukisan itu ! Datuk yang bertubuh ting-gi besar dengan kumis dan jenggot kasar pendek ini kelihatan
menyeramkan sekali. Lukisan itu hancur lebur ketika dirobeknya. Padahal, sastera-wan tua itu
bersusah payah dengan lukisan itu selama berhari-hari dan lukisan itu telah menda-patkan bentuknya.
Sebuah lukisan yang amat in-dahnya. Matahari pagi dilukisan itu seolah-olah menyinarkan cahaya
begitu hidup, cahaya keemas-an yang gilang -gemilang dan yang membentuk cahaya panjang di
permukaan danau. Padahal, lukisan itu hanya hitam putih saja, namun orang yang menatap lukisan
itu seolah-olah melihat ke indahan warna-warna aselinya.
Bu-eng Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek mengerutkan alisnya dan merasa bahwa tindakan Cui -beng
Kui -ong itu agak keterlaluan walaupunmereka berduapun merasa tidak senang kalau mengingat
bahwa kakek sasterawan ini tadi telah mendengarkan semua percakapan mereka berem-pat, bahkan
mungkin sekali telah melihat demons-trasi kepandaian mereka yang amat dirahasiakan itu.
Sasterawan tua itu ternyata tidak marah, hanya dengan muka sedih sekali dia melihat betapa lu-kisan
kesayangannya dirobek -robek orang. Ke-dua lengan yang memegang mouw -pit dan tem-pat bak itu
tergantung lemas dan wajahnya yang tua keriputan nampak amat berduka. Lalu dia berlutut di dekat
robekan -robekan lukisan, me-naruh pena bulu dan tempat tinta di atas tanah, memunguti robekan
lukisan, melihatnya dengan air mata berlinang, kemudian dia berkata dengan lirih, nadanya penuh
keprihatinan,
"Kuharap dengan sangat agar tuan -tuan suka cepat berlalu dari tempat ini sebelum anak angkatku
yang pemarah itu datang ke sini dan melihat malapetakka ini."
Tentu saja ucapan yang mengandung peringat-an ini membuat empat orang datuk itu mau tidak mau
tertawa, bahkan Bu -eng Sin -yok -ong sen-diripun sempat tersenyum dan mengelus jenggot-nya.
Mereka adalah empat orang datuk terbesar di seluruh dunia persilatan, merasa tanpa tandingan dan
tentu saja menghadapi siapapun mereka tidak merasa takut, apa lagi harus berhadapan dengari anak
angkat kakek itu yang berangasan saja, bahkan dengan kaisar dan bala tentaranya sekalipun mere-ka
tidak akan gentar menghadapinya. Bahkan Sin-kun Bu -tek yang berjiwa pendekar juga merasa
tersinggung diperingatkan seperti itu, seolah -olah mereka berempat akan merasa takut terhadap ancaman
seorang bocah, karena betapapun juga, anak angkat kakek itu tentu masih muda. Maka
diapun bertanya dengan suara mengandung kemarahan.
"Sobat yang pandai melukis dan bersajak, tahukah engkau siapa adanya kami berempat ?"
Dengan sikap tenang sasterawan itu menjawab, "Sejak cu-wi datang, sebenarnya aku tidak tahu
sama sekali siapa cu-wi dan akupun tidak perduli. Akan tetapi aku tahu bahwa cu-wi saling bersahabat
dan ingin menguji ilmu masing-masing, Baru setelah cu-wi selesai saling menguji ilmu dan
bercakap-cakap serta saling memanggil nama ma-sing -masing, aku tahu bahwa cu-wi adalah empat
orang datuk dunia persilatan yang tersohor itu. Benarkah demikian ? Menilik dari kesaktian-kesaktian
yang telah cu-wi perlihatkan tadi, tentu perkiraanku benar."
Jawaban ini tentu saja mengejutkan dan mencengangkan. Kalau sasterawan ini sudah dapat
mengenal ilmu kesaktian mereka, berarti kakek ini tidak asing dengan ilmu silat tinggi. Kim-mo Saiong
yang sejak tadi diam saja kini berkata dengan suara mengejek,
"Meskipun telah dapat menduga siapa kami, engkau masih berani menakut-nakuti kami dengan anak
angkatmu itu ? Apakah anak angkatmu itu bisa mengalahkan kami ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Justeru itulah yang kutakutkan. Biarpun berangasan, aku sangat mengasihinya, dan aku tidak ingin
melihat orang menyakitinya. Kalau dia da-tang dan melihat lukisanku dirobek -robek orang, tentu dia
akan marah dan mengamuk. Padahal, pada waktu ini, ilmunya belum mencapai tingkat setinggi
tingkat cu-wi. Akibatnya tentu dia akan dihajar habis-habisan. Bukankah aku akan merasa sedih sekali
kalau begitu ?"
"Sudahlah mari kita pergi saja!" Bu-eng Sin-yok-ong membujuk tiga orang temannya karena dia
merasa kasihan terhadap sasterawan tua itu. Tiga orang datuk lainnya juga merasa enggan untuk
mengganggu seorang kakek lemah seperti itu. Tidak pantaslah kalau datuk-datuk sakti seperti mereka
harus melayani seorang sasterawan tua lemah. Merendahkan martabat saja dan mem-buang-buang
tenaga sia-sia. Mereka bertiga mengangguk dan sudah hendak pergi bersama Bu-eng Sin-yok-ong.
Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan muncullah seorang pemuda tinggi tegap dari balik
tebing gunung. Begitu datang, pemuda ini melihat lukisan yang robek -robek dan ayah ang-katnya
yang berdiri dengan muka berduka, berha-dapan dengan empat orang kakek yang agaknya hendak
meninggalkan tempat itu.
"Tahan !!" Pemuda itu berteriak dan karena teriakannya mengandung tenaga khikang yang
cukup dahsyat, maka empat orang datuk itu terkejut dan tertarik, lalu tidak jadi pergi dan memandang
kepada pemuda itu. Inikah anak angkat kakek sasterawan yang berangasan itu ?
"Siapakah yang berani merobek-robek lukisan ayahku ? Hayo, siapa berani melakukan perbuatan
biadab ini ? iblis sekalipun tidak akan tega mengganggu ayah, apa lagi merobek lukisannya yang
dibuatnya dengan penuh kecintaan dan ketekunan selama berhari-hari. Hayo kalian mengaku, siapa
di antara kalian yang merobek-robeknya ?"
"Anakku ....... sudahlah !" Sasterawan tua itu membujuk, suaranya gemetar.
"Biar, ayah. Aku tidak akan mau sudah sebelum yang merobeknya berlutut minta-minta ampun
kepadamu dan bersumpah lain kali tidak akan berani berbuat sewenang-wenang lagi!"
Tentu saja sejak tadi Cui-beng Kui-ong sudah marah bukan main. "Heh, bocah gila, akulah yang telah
merobek-robek gambar busuk itu! Habis, kau mau apa ?" Sambil berkata demikian, datuk ini
melangkah maju dan membusungkan dadanya yang bidang dan kokoh kuat.
Pemuda itu memandang kepada datuk tinggi besar itu dengan mata berapi-api. "Engkau, ya ?
Siapakah engkau begitu berani menghina ayahku ?"
Cui-beng Kui-ong masih merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda seperti ini, maka dia
menahan kemarahannya dan tertawa. "Ha-ha-ha, ketahuilah, pemuda tolol. Aku adalah Cui-beng Kuiong!"
Dikiranya bahwa pemuda itu tentu akan ketakutan setengah mati mendengar namanya. Di
seluruh dunia ini, baik pendekar maupun pen-jahat, gemetar ketakutan mendengar namanya, apa-lagi
seorang pemuda tak terkenal seperti ini. Akan tetapi sikap pemuda itu sungguh mengejutkan empat
orang datuk itu.
"Hernm, engkau baru seorang Kui-ong (Raja Iblis) sudah berani mengganggu ayahku. Sedangkan
seorang Sian-ong (Raja Dewa) sekalipun tidak akan berani. Iblis seperti ini memang patut dihajar !"
Dan pemuda itu langsung saja memukul dengan kepalan lurus ke arah dada Cui-beng Kui-ong!
Hampir saja raja iblis ini tertawa bergelak melihat pemuda itu berani menyerangnya dengan kepalan
biasa seperti itu. Tentu saja dengan mudah dia akan dapat mengelak, akan tetapi karena dia ingin
segebrakan saja membuat pemuda itu "tahu rasa", maka diapun tidak mengelak, melainkan
menangkis sambil mengerahkan sinkang biasa yang cukup kuat untuk mematahkan tulang lengan
pemuda itu dan sekaligus membuatnya terlempar.
"Dukkk!!" Akibat benturan kedua lengan itu membuat Cui-beng Kui-ong terbelalak, bah-kan tiga orang
datuk lainnya juga menjadi bengong. Mereka bertiga itu maklum akan maksud Cui-beng Kui-ong
dengan tangkisan itu. Akan tetapi akibatnya, pemuda itu sama sekali tidak terlempar, apa lagi patah
tulang lengannya, bahkan Cui-beng Kui-ong merasa betapa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang
amat kuat, setidaknya mampu menandingi tenaganya tadi! Tentu saja dia merasa kecelik, terkejut dan
juga penasaran dan cepat datuk ini membalas serangan dengan dahsyat dan bertubi-tubi. Akan tetapi
kembali dia terkejut setengah mati karena dengan gerakan-gerakan aneh akan tetapi teratur dan
dunia-kangouw.blogspot.com
cepat sekali, pemuda itu dapat menghindarkan semua serangannya dengan baik, bahkan membalas
setiap serangan secara kontan dan berantai ! Karena Cui-beng Kui-ong memandang rendah, hal yang
tidak aneh karena memang selama ini dia tidak pernah menemukan tanding, nyaris dalam serangan
jurus ke tigabelas kepalan tangan pemuda itu mengenai lehernya. Untung dia masih dapat melempar
tubuh ke belakang sehingga terhindar dari pada malu terkena pukulan lawan. Akan tetapi pemuda itu
terus mendesaknya dengan pukulan -pukulan yang mantap sekali.
"Anakku, sudahlah sudahlah, Cong Bu .... jangan berkelahi!" Sasterawan tua itu meratap-ratap.
Akan tetapi anak angkatnya yang berangas-an dan yang sudah marah dan sakit hati sekali itu mana
mau mendengarkan permintaannya ? Pemuda itu menerjang terus dan terjadilah perkelahian yang
seru dan yang amat mengherankan hati tiga orang datuk lainnya, juga membuat semakin pe-nasaran
hati Cui-beng Kui-ong. Dia merasa malu sekali karena tadi memandang rendah dan ternyata pemuda
ini sedemikian lihainya se-hingga dapat melayaninya sampai hampir ti-apuluh jurus. Marahlah Cuibeng
Kui-ong an diapun mulai memainkan ilmunya yang paling baru, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap
Darah! Bu kan main hebatnya pukulan ini dan sekali ini pe-muda itu terdesak hebat. Memang harus
diakui bahwa bagaimanapun juga, tingkat kepandaian pe-muda ini walaupun memiliki bakat yang
amat kuat, namun masih belum matang dan masih kalah se-tingkat dibandingkan dengan Cui -beng
Kui -ong. Dia terdesak mundur, akan tetapi dasar wataknya keras dan berangasan, dia masih nekat
terus mela-kukan perlawanan.
Akhirnya, sebuah pukulan dahsyat dengan Tenaga Sakti Asap Hio mengenai dada sebelah kanan
pemuda itu yang roboh terjengkang dan tak sadarkan diri!
"Cong Bu ah, Cong Bu, mengapa engkau tidak mentaati kata-kataku tadi ?" Sasterawan tua itu
menubruk dan menangisi anak angkatnya, mengeluh panjang pendek. Diambilnya sehelai koyo (obat
tempel) dan ditempelkan pada dada anaknya yang terluka parah itu. Baju bagian dada itu berlu-bang
seperti terbakar dan kulitnya juga matang ha-ngus terkena pukulan itu dan masih mengepulkan uap!
Melihat ini Raja Tabib Sakti lalu mendekat dan sekali lihat saja tahulah dia bahwa pemuda itu terkena
pukulan Tenaga Sakti Uap Hio, maka dia-pun cepat -cepat mengeluarkan obat cair dalam botol. Dia
percaya bahwa pemuda itu tidak teran-cam nyawanya karena tadi sudah dilihatnya bahwa pemuda itu
memiliki sinkang yang cukup kuat, akan tetapi kalau tidak cepat diberi obat yang tepat, ha-wa beracun
dari pukulan itu bisa merusak jalan darah.
"Sobat, tuangkan obat ini pada luka di dadanya dan paksa dia minum sebagian sisanya," katanya
halus. Tanpa berkata apa-apa, sasterawan itu menerima botol dan membukanya, lalu menyiram luka
itu dengan sebagian dari obat cair itu. Kemu-dian, dia membuka mulut anaknya dan menuang-kan
sisa obat ke dalam mulutnya. Kalau dia tidak memiliki kepercayaan sepenuhnya kepada datuk
yang berjuluk Raja Tabib Sakti itu, tentu dia me-ragu mendengar bahwa obat luar bisa diperguna-kan
untuk obat dalam itu. Dan memang hebat se-kali obat dari Raja Tabib Sakti itu. Begitu diobati,
pemuda itu siuman kembali dan mengeluh lirih.
"Nah, apa kataku tadi, Cong Bu, janganlah kau-lanjutkan sifatmu yang berangasan itu, hanya mendatangkan
malapetaka saja bagimu. Untung engkau tidak mati dan menerima pertolongan dari Bueng
Sin-yok-ong !" kakek sasterawan itu menegur anaknya.
"Akan tetapi... akan tetapi mereka menghina ayah! Hemm, kelak aku akan membalas penghina-an
ini, setelah aku menyempurnakan pelajaran ilmu yang ayah berikan. Sungguh kurang ajar sekali!
Aduhh... huh-huh... kepandaiannya cuma seperti itu sudah berani menyombongkan di depan ayah!
Huh, lihat saja dua tahun lagi, aku tentu akan menghajar raja iblis itu !"
Sasterawan tua itu cepat membungkam mulut anaknya yang marah-marah dan penasaran itu, sambil
dengan muka was -was melirik kepada em-pat orang datuk yang sudah hendak pergi itu.
Dan memang sesungguhnyalah apa yang dikhawatirkannya. Cui-beng Kui-ong marah bukan main
mendengar ocehan pemuda yang telah dirobohkannya itu. Sambil menggeram dia melangkah ke
depan, sekali mengulur tangan dia telah mencengkeram leher sasterawan tua itu dan melemparkannya
ke tengah telaga. Tubuh yang kurus kecil itu terlempar bagaikan layang-layang putus talinya.
Cui -beng Kui -ong yang marah -marah itu me-lanjutkan gerakannya, menjambak rambut pemuda itu
untuk dijotos. Melihat ini, Bu -eng Sin -yok-ong hendak mencegah akan tetapi tiba -tiba me-reka
semua dikejutkan oleh hal yang sama sekali tidak pernah mereka duga !
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuh sasterawan tua itu tadi terlempar ke arah telaga seperti layang-layang putus talinya, dan tak
dapat diragukan lagi bahwa tubuhnya yang ringan itu tentu akan terjatuh ke air telaga. Akan tetapi,
ketika sasterawan tua itu melihat be-tapa anaknya dijambak rambutnya dan terancam nyawanya, tibatiba
dia mengeluarkan suara me-lengking tinggi halus sekali seperti suara nyamuk terdengar di dekat
telinga dan tubuhnya yang tadi-nya meluncur itu, mendadak menggeliat di udara dan dapat menukik
kembali ke darat dengan kece-patan seperti seekor burung walet terbang saja. Bu -eng Sin -yok -ong
adalah seorang ahli gin-kang yang tiada keduanya di dunia persilatan, akan tetapi menyaksikan
ginkang yang diperlihat-kan oleh kakek sasterawan itu, dia sampai melongo dan bengong keheranan.
Kemudian, sekali kedua tangan kakek sasterawan itu bergerak, tahu-tahu pemuda yang tadinya
dijambak rambutnya oleh Cui -beng Kui -ong itu telah berpindah tangan dan dipondong oleh kakek
sasterawan kecil kurus itu !
Sasterawan itu memangku anaknya di atas ta-nah dan sambil mengelus -elus kepala puteranya, dia
berkata dengan suara gemetar, "Agaknya cu-wi memiliki hati yang demikian angkuhnya sehingga
selalu mau menang sendiri. Agaknya untuk memo-hon agar cu -wi suka pergi, haruslah lebih dulu
menundukkan keangkuhan itu. Nah, sekali lagi, ha-rap cu -wi suka meninggalkan tempat ini sebelum
cu -wi kehilangan keangkuhan itu."
Sebelum yang lain menjawab, Cui-beng Kui-ong sudah menjadi marah sekali dan dia maju
menghampiri kakek sasterawan itu. "Tua bangka sombong ! Inilah aku, Cui -beng Kui ong yang telah
memukul anakmu karena anakmu lancang mulut. Kau hendak menundukkan keangkuhan ka-mi ?
Hemmu, majulah, siapa takut kepadamu ? A-kan tetapi ingat, kalau engkau mampus di tangan-ku,
anakmu inipun akan kubunuh agar engkau tidak mati sendiri !" Ucapan datuk ini bukan sekali -kali
karena kekejamannya, melainkan karena kecerdikan-nya. Kalau kakek itu tewas, tentu kelak anaknya
yang berangasan itu hanya akan mendatangkan ke-sulitan saja baginya, maka harus dibunuh sekali
untuk menghilangkan balas dendam.
Dengan perlahan kakek sasterawan itu bangkit berdiri dan mengangguk. "Sesukamulah, akan tetapi
dengan kepandaianmu yang jauh dari pada bersih itu, dengan banyak kelemahan dan kekurangannya
di sana-sini, bagaimana engkau akan dapat memastikan kemenanganmu? Pertama-tama, engkau
harus merobah watakmu yang bukan saja kejam, akan tetapi juga sombong dan. tekebur itu, ini
merupakan pelajaran pertama bagimu, Cui-beng Kui-ong !" Kini ucapan sasterawan itu tidak lemah
seperti tadi, melainkan penuh wibawa dan mengandung kekuatan yang menggetarkan jantung.
Jilid IX
TENTU saja Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah. Sambil menghardik, diapun sudah menerjang
maju. Karena dia tahu bahwa sebagai ayah pemuda itu, tentu kakek ini memiliki ilmu ke-pandaian
tinggi, maka begitu menerjang, dia sudah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu dia memukul dengan
Tenaga Sakti Asap Hio yang mengeluarkan bau harum aneh itu. Biasanya, ilmu ini akan mengeluarkan
bau yang membuat lawan menjadi pu-sing dan bisa roboh sendiri tanpa dipukul. Dan dari
kedua tangannya keluar asap tipis putih ber-bau, harum yang melengkung ke ayah lawannya. Akan
tetapi, dengan tenang saja kakek sasterawan ini menghadapi semua pukulannya sambil menerangkan
kelemahan -kelemahan jurus yang di-mainkan Cui-beng Kui-ong.
"Lihat, bukankah lambung kirimu terbuka ? Ka-lau kumasukkan kakiku ke situ, engkau sudah roboh !
Nah, penutupan lambung itu membuka lehermu sebelah kiri, dan pukulanku dengan tangan miring
pada leher itu tentu sukar kauhindarkan lagi !" Dan setiap gerakan Cui-beng Kui-ong di-sambutnya
dengan uraian tentang kelemahan-kelemahannya. Lebih hebat lagi, asap tipis putih berbau hio yang
tadinya melengkung ke arah kakek sasterawan itu, kini membalik dan dari kedua le-ngan Cui-beng
Kui-ong bukan melengkung ke depan, melainkan membalik ke belakang!
Cui-beng Kui-ong merasa terkejut bukan main. Memang semua yang dinyatakan kakek itu tentang
kelemahan semua jurusnya itu tepat dan bahkan baru sekarang dia melihatnya! Dia merasa
penasaran sekali dan cepat diapun mainkan pukulan Pehisap Darah yang amat hebat itu. Akan tetapi,
kembali pukulan keji ini sama sekali tidak mempengaruhi si kakek sasterawan. Tidak ada setetespun
darah sasterawan itu terpecik keluar seperti yang biasa terjadi pada lawan-lawan iblis itu kalau
mempergunakan Ilmu Penghisap Darah, pa-dahal berkali-kali sasterawan itu mengadu lengan dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
si raja iblis. Bahkan dalam jurus-jurus ilmu inipun si sasterawan menunjukkan kelemahan -
kelemahannya.
"Yang paling berbahaya adalah ilmu-ilmu hitam seperti ini, Kui-ong. Kalau engkau tidak merobah sifat
dan watakmu, maka ilmu-ilmu seperti ini bahkan akan menjadi kutukan bagimu. Lihat, kalau kulawan
begini, bukankah engkau yang akan celaka sendiri ?" Kakek itu menggerakkan kedua lengannya yang
kecil dan angin yang menyambar amat dahsyatnya, kemudian Cui-beng Kui-ong terpekik kaget
melihat betapa ada darah keluar dari pori-pori kedua lengannya, tanda bahwa dia sendiri telah
menjadi korban ilmunya sendiri, seperti senjata makan tuan! Maka tahulah dia bahwa kakek
sasterawan ini benar-benar maha sakti dan diapun bukan orang bodoh, melainkan seorang datuk
sehingga dia tahu saat kekalahan-nya. Diapun meloncat ke belakang.
"Hari ini Cui-beng Kui-ong mengaku kalah!" katanya dengan menahan geram lalu mengatur
pernapasannya untuk mengobati luka-lukanya sendiri akibat ilmu yang membalik tadi.
Tentu saja tiga orang datuk lainnya hampir tidak percaya akan apa yang mereka saksikan tadi. Di
samping keheranan dan kekagetan, juga mereka merasa penasaran. Mungkinkah kepandaian mereka
yang menggemparkan dunia persilatan itu harus kalah oleh seorang sasterawan tua renta yang sa-ma
sekali tidak terkenal! Kim -mo Sai -ong me-loncat maju dan menjura kepada kakek itu. Dia tahu bahwa
kakek itu seorang sakti, maka diapun tidak sembrono.
"Sobat, aku mohon petunjukmu !" Dan tanpa menanti jawaban, Kim-mo Sai-ong sudah menerjang
dengan dahsyatnya dan begitu turun tangan diapun sudah mempergunakan ilmunya yang paling
hebat, yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut dan dimainkannya ilmu silatnya yang, dinamakan Soa -hu -
lian (Teratai Danau Pasir). Hawa dingin yang menggigilkan terpancar dengan daya tolak hebat dari
tubuhnya. Kuda-kudanya kokoh kuat, lengannya yang panjang itu mencuat ke sana ke mari mencari
lowongan, dengan jari -jari tangan terkembang siap untuk mencengkeram lawan. Se-luruh tubuhnya
melambangkan setangkai bunga teratai, nampak sangat indah dipandang. Kalau kedua kakinya yang
kokoh kuat itu bergerak lam-ban dan kuat seperti menjadi akar -akar teratai, maka kedua tangannya
bergerak cepat dari atas, melambai-lambai seperti tangkai-tangkai bunga teratai tertiup angin.
"Bagus, Kim -mo Sai -ong, akan tetapi ilmumu ini terlalu mengandalkan kekuatan kaki belaka, dan
ingat, orang bisa roboh karena kelemahan bagian atasnya, walaupun kakinya tidak roboh akan tetapi
kalau bagian atas terluka, apa artinya ? Lihat, aku membuat tangkai-tangkai terataimu tidak berda-ya
!" Dan benar saja, dengan totokan -totokan satu jari yang mengeluarkan hawa panas, kakek sasterawan
itu membuat kedua lengan Kim-mo Sai-ong tidak berdaya karena sebelum mendekati tu-buh
lawan telah bertemu dengan hawa -hawa yang menotok ke arah jalan darah di seluruh kedua lengannya.
Kim -mo Sai -ong yang telah mencapai tingkat ke tigabelas, tingkat terakhir dari Soa -hu -pai ini
mengerahkan seluruh tenaganya sampai daya tolak nya membuat batu -batu besar bergoyang -
goyang dan pohon-pohon di sekitar tempat itu seperti tertolak angin badai. Akan tetapi kakek sasterawan
itu tenang saja menghadapi daya tolak Tenaga Sakti Pusaran Pasir Maut, seolah-olah tonggak
besi kecil namun kokoh kuat yang tidak goyang sedikitpun juga dilanda angin. Karena kedua lengannya
selalu menjadi sasaran totokan yang me-nyambut semua serangannya, akhirnya Kim -mo
Sai -ong kewalahan dan mati kutu. Ilmu yang di-andalkannya itu seperti api bertemu air, tidak berdaya
sama sekali dan akhirnya, karena terlalu ba-nyak mengeluarkan tenaga sia -sia, dengan terengah-
engah diapun meloncat ke belakang. "Teri-ma kasih, aku Kim-mo Sai-ong mengaku kalah !"
Giliran Sin-kun Bu-tek yang maju. Datuk ini terkenal memiliki ilmu silat yang luar biasa am-puhnya
sehingga dijuluki Sin-kun Bu-tek (Tangan Sakti Tanpa Tanding). Sebagai seorang datuk golongan
bersih, walaupun wataknya lebih keras di-bandingkan dengan Bu-eng Sin-yok-ong, namun datuk ini
tidaklah sekasar dua orang datuk pertama. Dia menjura dengan hormat dan berkata, "Kiranya mata
kami seperti buta tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang di depan mata ! Sahabat yang sakti,
saya Sin-kun Bu-tek mohon petunjuk !"
Kakek sasterawan iba telah mengalahkan dua orang datuk, akan tetapi dia kelihatan masih tenang
saja, seolah-olah dia mengalahkan mereka tadi tanpa pengerahan tenaga sama sekali. Sikapnya
masih biasa, tenang dan merendah. "Sin-kun Bu-tek, julukanmu saja menandakan bahwa ilmu silatmu
adalah ilmu pilihan. Belum tentu aku akan dapat mengalahkanmu, akan tetapi aku ingin engkau
mengalahkan dan menundukkan keangkuhanmu sendiri. Nah, majulah !"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin-kun Bu-tek menerjang dengan ilmu silat andalannya, yaitu Ilmu Silat Angin Puyuh dengan tenaga
sakti Thian-hui-gong-ciang (Tangan Kosong Halilintar). Hebat bukan main datuk ini me-mang dan
tingkatnya hanya kalah sedikit saja di-bandingkan dengan Bu -eng Sin -yok -ong. Gerakan kaki
tangannya amat cepat sehingga tubuhnya lenyap berobah bentuknya menjadi bayangan yang
berkelebatan dan gerakan ini mendatangkan angin yang berputar -putar membuat semua pohon bergoyang-
goyang di sekeliling tempat itu. Dan yang hebat sekali adalah kedua tangan yang
melancarkan pukulan Thian-hui-gong-ciang itu. Kadang-kadang terdengar ledakan dan nampak asap
mengepul ketika kedua tangan itu memukul dan saling bersentuhan, seolah-olah kedua tangan itu
me-ngandung aliran listrik atau aliran kilat yang dapat menghanguskan tubuh lawan yang terkena
pukulannya.
Namun, kakek sasterawan itu bersikap tenang saja dan seperti juga tadi, kini diapun memberi
petunjuk kepada Sin-kun Bu-tek tentang kele-mahan -kelemahan dari ilmu silatnya, mengeritik dengan
petunjuk dan bukti-bukti sehingga kalau dia mau, tentu dia akan dapat merobohkan Sin -kun Bu -tek
dengan ilmunya yang dipakai untuk meng-hadapi ilmu datuk utara itu. Sebelum lewat lima-puluh jurus,
Sin-kun Bu-tek yang selalu ditunjuk kelemahan -kelemahan ilmunya, merasa takluk dan diapun
meloncat ke belakang dan mengaku kalah!
Kini tinggallah Bu -eng Sin -yok -ong seorang. Datuk ini berbeda dari yang lain. Dia sudah mencapai
tingkat tinggi dalam ilmu silat, ilmu pengobatan dan ilmu kebatinan sehingga dia tidak bersikap kasar
dan tidak pula penasaran. Kini dia-pun tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang maha sakti yang
sengaja menyembunyikan diri dan diam -diam dia merasa malu bahwa dia menerima sebutan datuk,
padahal ada orang yang lebih lihai tidak dikenal sama sekali! Betapapun juga, setelah tiga orang
sahabatnya diberi petunjuk, kalau dia tidak maju, berarti dia akan membikin malu tiga orang
sahabatnya itu. Di samping itu, sebagai se-orang ahli silat tinggi, diapun suka sekali akan ilmu silat
dan tiada salahnya kalau kini setelah mendapat kesempatan bertemu orang sesakti ini, diapun
mencoba -coba ilmunya.
"Seorang locianpwe tinggal di sini tanpa nama, sungguh membuat kami merasa malu kepada diri
sendiri. Harap sahabat yang mulia sudi memberi petunjuk kepadaku," katanya sambil mengibaskan
lengan bajunya yang lebar.
Kakek sasterawan itu tersenyum pahit. "Siancai... nama besar Bu-eng Sin-yok-ong bukan
sembarangan. Aku jauh lebih kagum akan ilmu pengobatanmu dari pada ilmu silat. Ilmu pengobatanmu
itulah ilmu yang amat berguna dan baik, tidak seperti ilmu silat yang selalu disalahgunakan
untuk menindas katun lemah. Marilah, Yok-ong, mari kita main-main sebentar, siapa tahu ada
gunanya bagi kita berdua."
"Maafkan kelancanganku !" Sin -yok -ong berseru dan setelah memberi hormat diapun langsung
mengeluarkan ilmu simpanannya yang merupakan gabungan dari Ilmu Silat Kim -hong -kun (Silat
Burung Hong Emas) digerakkan dengan ginkang Pek -in (Awan Putih) dan dengan tenaga sakti Paihud-
ciang (Tangan Sakti Penyembah Buddha). Sukar diceritakan betapa hebatnya gerakan kakek
yang berjuluk Bu-eng (Tanpa Bayangan) ini. Gin-angnya memang hebat luar biasa sehingga tubuhnya
kadang -kadang lenyap menghilang, dan ilmu silatnya juga amat indah dan halus, menyambarnyambar
dari atas dan bawah sedangkan tenaganya adalah tenaga sinkang yang sudah mencapai
ting-kat tertinggi, begitu halus dan mengandung getar-an yang hampir tidak terasa, akan tetapi tenaga
ge-taran ini manipu menghancurkan batu karang dari jarak jauh!
"Siancai bukan main hebatnya !" kata kakek sasterawan itu sambil menandingi lawannya.
Dan biarpun agak lama, akhirnya dia dapat juga menemukan beberapa kekurangan dan kelemahan
dalam ilmu silat Bu-eng Sin-yok-ong sehingga kalau dia menghendaki, dalam waktu kurang dari
seratus jurus dia tentu akan dapat mengalahkan Raja Tabib Sakti itu! Akhirnya, kakek sakti inipun
meloncat ke belakang, terlongong sejenak kemudian menjura sambil berkata dengan hati penuh rasa
kagum.
"Kami sungguh tak tahu diri..., dan benarlah bahwa kami amat angkuh dan terlalu membanggakan diri
sendiri. Mulai sekarang, aku tabib tua yang bodoh tidak berani lagi menjual lagak di dunia luar !"
Setelah berkata demikian, Sin -yok -ong lalu pergi dari situ, diikuti oleh tiga orang datuk lainnya. Dan
memang benar, sejak saat itu, empat orang datuk itu tidak pernah lagi muncul, lebih banyak
mengasingkan diri dan diam -diam mem-perdalam ilmu masing-masing.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah cerita yang amat menarik, yang diceritakan oleh Yap -lojin ketua Thian-kiam-pang
kepada para pendengarnya,, yaitu nenek Siang Houw Nio -nio, Ouwyang Kwan Ek, Yap Kiong Lee,
Pek In, Ang In, dan juga Ho Pek Lian. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan hati
tertarik sekali. Siang Houw Nio-nio yang juga menjadi murid dari Sin-kun Bu-tek, belum pernah
mendengar cerita ini dari suhunya, bahkan Ouw-yang Kwan Ek, murid ke dua dari Si Raja Tabib
Saktipun tidak pernah diceritakan oleh gurunya. Agaknya, empat orang datuk itu sungguh merasa
terpukul dan tidak pernah bercerita kepada mere-ka, kecuali Sin -kun Bu -tek yang menceritakan-nya
kepada muridnya yang tersayang, yaitu Yap Cu Kiat atau Yap -lojin, sambil menyerahkan gam-bar -
gambar itu.
Yap -lojin melanjutkan ceritanya. "Lihat, gambar-gambar ini adalah petunjuk -petunjuk dari
sasterawan tua itu. Di sini diperlihatkan betapa dengan mudahnya beliau memunahkan setiap ilmu
khas dari empat orang datuk. Empat gambar ini memperlihatkan jelas, dan dilukis oleh mendiang
suhu sebagai peringatan dan juga untuk memper-dalam ilmunya dengan meneliti kelemahan -kelemahan
seperti yang ditunjukkan oleh sasterawan itu. Dan memang, semenjak kekalahan yang mutlak
itu, empat orang datuk tekun memperbaiki ilmu masing-masing dan karena mereka sudah tidak
tekebur lagi, mereka dapat menciptakan ilmu yang jauh lebih baik dan matang."
Kakek berjubah naga mengangguk-angguk. "Sejak dahulu aku menduga bahwa ada rahasia se-suatu
yang membuat suhu selalu marah kalau ada muridnya yang tekebur. Mungkin saja rahasia itu
diceritakannya kepada twa-suheng Bu Cian yang sayang agaknya juga menyimpan rahasia itu sampai
matinya."
Yap -lojin berkata, "Berdasarkan cerita itu ma-ka aku percaya bahwa biarpun kita orang -orang tua
tidak mampu menghadapi Raja Kelelawar yang amat hebat itu, nanti pasti akan muncul seseorang
yang akan mampu menundukkannya."
"Mudah-mudahan begitulah," kata isterinya. "Menurut pengamatanku, biarpun si pendek Pek-lui-kong
Tok Ciak cucu murid Kim-mo Sai-ong itupun agaknya masih jauh untuk dapat menan-dingi Raja
Kelelawar."
Setelah menceritakan rahasia itu dan memperlihatkan gambar -gambar, kakek Yap mengajak mereka
semua untuk keluar lagi dari terowongan di bawah tanah. Dalam perjalanan ini. Yap Kiong Lee
merasa penasaran bukan main mendengar dongeng gurunya itu. Selama ini, gurunya tidak pernah
bercerita tentang rahasia itu. Dia merasa penasar-an karena selama ini, dia merasa bahwa ilmu rahasia
perguruan mereka yang hanya diturunkan kepa-danya oleh gurunya dianggap sebagai tidak ada
cacat celanya.
Mereka tiba di luar terowongan, di tepi telaga yang kini sunyi melengang dan menyeramkan itu karena
semua bangunannya telah runtuh. "Suhu, setelah peristiwa itu, lalu apa saja yang dikerjakan oleh
kakek guru dan para locianpwe yang lain ?" Kiong Lee tidak dapat menahan diri dan mengaju-kan
pertanyaan itu kepada suhunya.
Yap-lojin menoleh dan tersenyum melihat keinginan tahu murid kesayangannya ini. "Kakek gurumu
lalu menyepi di dalam kamar rahasia itu dan berusaha menyempurnakan ilmunya. Gambar-gambar
tadi adalah peninggalan beliau. Selama bertahun-tahun empat orang datuk mengasingkan diri, tidak
pernah keluar, dan masing-masing me-nyempurnakan ilmu -ilmu mereka. Dan pada wak-tu itu, hanya
Kim -mo Sai -ong saja yang telah menerima murid."
"Apakah para locianpwe itu tidak lagi berkun-jung ke telaga Hoa -san, setelah mereka memper-baiki
ilmu masing-masing untuk mencari saste-rawan itu ?" Kiong Lee mendesak.
"Baru sepuluh tahun kemudian, setelah kakek gurumu merasa bahwa ilmunya sudah maju, be-liau
berkunjung ke sana. Akan tetapi sasterawan tua dan anaknya itu sudah tidak lagi berada di sana.
Kakek gurumu lalu berkelana mencarinya, akan tetapi usahanya gagal, tidak pernah ketemu. Akhirnya
suhu menjadi bosan, pulang ke sini dan menerima murid, yaitu aku dan subomu ini," katanya sambil
melirik kepada isterinya, yaitu nenek Siang Houw Nio -nio.
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Sekarang aku tahu mengapa guruku, menurut ce-rita
twa -suheng, pernah pula mengasingkan diri untuk menyempurnakan ilmu. Belasan tahun kemu-dian
baru suhu keluar dan merantau dan barulah beliau menerima murid-muridnya."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiong Lee merasa penasaran. "Jadi kalau begi-tu, agaknya sampai para locianpwe itu meninggal
dunia, mereka tidak pernah dapat menemukan sas-terawan tua yang maha sakti itu, suhu ?"
Yap-lojin mengangguk. "Agaknya begitulah. Dan selama mereka berempat itu mengembara un-tuk
mencari si sasterawan, mereka telah membuat nama besar sehingga tersohor di seluruh dunia
persilatan. Mereka berempat dipuja-puja sebagai tokoh sakti yang tak terkalahkan, tokoh-tokoh yang
memiliki ilmu silat sempurna. Tak ada yang mengetahui bahwa empat datuk yang mereka puja-puja
itu di dalam hatinya masih merasa gentar ter-hadap seseorang."
"Ahh, siapakah gerangan sasterawan itu dan di mana beliau sekarang, atau keturunannya ?" tiba -tiba
Ho Pek Liari tidak dapat menahan hati-nya untuk bertanya. Sebetulnya hatinya yang ber-suara dan
tanpa disadarinya mulutnya ikut pula bicara. Akan tetapi tidak ada yang merasa heran karena
pertanyaan itu memang berkecamuk di da-lam hati mereka semua.
"Sebetulnya dari perguruan -perguruan kita sendiri saja, kalau ilmu dari perguruan kita terpu-sat dan
terkumpul, tidak terpecah-pecah antara para murid, kiranya kita masih mampu mengha-dapi dan
mengatasi Raja Kelelawar !" kata kakek berjubah naga Ouwyang Kwan Ek dengan suara menyesal.
Mendengar ini, diam -diam Pek Lian memandang tajam kepada kakek ini. Bukankah kakek ini telah
mengirim murid -murid dan anak buahnya untuk merampas kitab -kitab pusaka per-guruannya sendiri
dan bahkan telah dengan kejam membasmi semua keluarga Bu ? Hemm, pikirnya dengan penasaran.
Kalau caramu mengumpulkan ilmu perguruan sendiri secara demikian kejam, membunuh saudara
seperguruan sendiri, maka eng-kau tidaklah lebih baik dari pada Si Raja Kelelawar! Akan tetapi, tentu
saja ia tidak berani mengeluarkan bisikan hatinya ini.
Tiba-tiba semua orang menoleh ke arah ba-yangan empat orang yang berlari mendatangi tem-pat itu.
Setelah dekat, mereka itu ternyata adalah murid-murid Thian -kiam -pang, yaitu para sute dari Yap
Kiong Lee yang diperintahkan oleh pemu-da ini untuk mencari jejak penculik yang melarikan Yap Kim.
Tentu saja mereka berempat terkejut bukan main melihat betapa bangunan perguruan mereka sudah
rusak binasa habis terbakar, dan mereka tak dapat menahan tangis mereka ketika mendengar
malapetaka yang menimpa perguruan mereka dan tewasnya dua orang suheng dan para anak buah
Thian -kiam -pang.
"Sudah, jangan menangis seperti anak-anak cengeng!" Akhirnya Siang Houw Nio-nio membentak
mereka. "Lekas ceritakan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian!"
Empat orang murid itu sambil berlutut lalu bercerita. Mereka dapat menemukan jejak orang yang
melarikan Yap Kian dan ternyata bahwa yang melarikan itu memang seorang gemuk pendek yang
kemungkinan besar adalah Ceng-ya-kang (Si Kelabang Hijau), seorang tokoh dari Ban-kwi-to.
"Kim-sute dibawa dengan perahu yang berlayar di Sungai Huang-ho. Kami tidak berani melakukan
pengejaran karena selain kami tidak mem-punyai perahu, juga kami ingin cepat melapor ke-pada
suhu, subo dan suheng."
"Celaka ! Kalau Kim -ji berada di tangan ka-wanan iblis dari Ban -kwi -to, tentu akan celaka ! Semua
ini adalah kesalahanmu, orang tua yang ti-dak becus mengurus anak sendiri! Engkau mem-biarkan
anak tunggalmu sendiri untuk bergaul dengan segala macam iblis dari Ban -kwi -to. Huh, di mana
pertanggungan jawabmu ? Bagaimana caramu mendidik anak?"
Yap -lojin yang dimaki -maki di depan orang banyak, terutama di depan Ouwyang Kwan Ek yang
menjadi tamunya, memandang dengan muka merah, dan mata mengeluarkan sinar marah. Kakek
inipun pada hakekatnya mempunyai watak yang keras, tidak kalah kerasnya dengan watak isterinya.
"Hemm, kalau orang tuanya retak, mana mung-kin anaknya dapat memperoleh pendidikan yang baik
? Keretakan orang tuanya sudah merupakan contoh, yang amat buruk, yang dapat menghancur-kan
perasaan anak. Dan kalau seorang isteri me-ninggalkan suami dan anaknya sehingga kehidupan
suami dan anak itu menjadi hancur, si anak tidak memperoleh pendidikan yang baik, salah siapakah
itu?"
Diserang oleh ucapan begini, nenek Siang Houw Nio-nio menjadi marah bukan main. Mukanya
berobah merah sekali dan matanya berkilat -kilat. Ia membanting kakinya ke atas tanah dan membentak
marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Yap Cu Kiat !" Telunjuk kanannya menuding ke arah Indung suaminya itu yang biasanya disebut-nya
suheng. "Enak saja engkau bicara ! Sudah ber-ulang kali aku membujuk, menyembah-nyembahmu,
agar keluarga kita pindah ke kota raja. Aku adalah keluarga kaisar, dan sudah sepatutnya kalau aku
menyumbangkan tenagaku pada saat terakhir hidupku untuk kerajaan keluargaku ! Akan tetapi,
engkau berkeras kepala dan tidak sudi, bahkan engkau berkukuh untuk tidak membolehkan Kim-ji
kubawa ke istana! Dan engkau mendidiknya sendiri, sekarang apa jadinya ?"
"Wah, kaukira kalau kaubawa dia menjadi orang istana dia akan menjadi lebih baik, ya ? Paling-paling
dia akan menjadi seorang pemuda bangsa-wan yang sombong, angkuh dan manja !"
"Jelas tidak serusak sekarang ini !"
"Siapa bilang rusak? Harus diselidiki dulu mengapa dia sampai berdekatan dengan orang Ban-kwi-to
dan mengapa pula dia sampai dicu-lik." Kakek itu mencoba untuk menahan kemarah-annya. "Jangan
sembarangan menuduh yang bukan-bukan!"'
"Tidak perduli ! Pokoknya, kalau engkau tidak bisa mencarinya dan menemukannya, membawanya
kembali kepada aku ibunya dalam keadaan utuh, aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu !*
Melihat keadaan yang meruncing antara suheng dan sumoi yang telah menjadi suami isteri akan
tetapi kemudian saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian sendiri itu, Ouwyang
Kwan Ek yang menjadi tamu merasa tidak enak sekali. Dia lalu maju dan menjura kepada dua
orang itu.
"Lojin ! Nio-nio ! Harap maafkan aku, bukan maksudku mencampuri, akan tetapi sebagai sahabat,
kiranya aku berkewajiban untuk mengingatkan kalian bahwa dalam keadaan seperti ini, cekcok saja
tidak akan dapat mengembalikan putera kalian. Aku akan suka membantu mencarinya."
Suami dan isteri yang sudah tua itu saling pandang dengan sinar mata berkilat, kemudian mereka lalu
membuang muka dengan muka masih merah. Memang mereka saling berpisah karena masingmasing
mempertahankan pendirian dengan hati keras. Siang Houw Nio -nio ingin untuk menyumbangkan
tenaganya kepada kerajaan, dan iapun sudah minta kepada suaminya untuk membantunya
dan hidup di kota raja, untuk mengangkat derajat putera tunggal dan putera angkat mereka, yaitu
Kiong Lee yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Akan tetapi, Yap Cu Kiat merasa tidak
suka akan sepak terjang kaisar dan diapun berkeras tidak mau sehingga timbullah percekcokkan
anta-ra mereka yang mengakibatkan Siang Houw Nio-nio meninggalkan suami dan puteranya, dan
pergi sendirian ke kota raja di mana ia lalu menjadi pengawal pribadi dari kaisar.
Pendidikan anak merupakan kewajiban mutlak dan utama bagi orang tua, di samping tentu saja
memelihara dan membesarkannya.. Dan pendidik an yang tepat adalah pencurahan kasih sayang
yang murni, bukan sekedar pendidikan melalui nasihat-nasihat dari mulut. Seorang anak
membutuhkan pencurahan cinta kasih dari ayah bundanya. Ge-taran cinta kasih akan terasa oleh
anak itu dan orang tua yang benar-benar mencinta anaknya, sudah pasti akan selalu mendidik diri
sendiri terlebih da-hulu agar si anak dapat melihat dan mengerti, tan-pa dibujuk melalui mulut. Apa
artinya orang tua melarang anaknya agar jangan berjudi kalau si orang tua sendiri tukang judi ? Apa
artinya orang tua melarang anaknya agar jangan memaki kalau si orang tua sendiri tukang maki ?
Kerukunan ayah dan ibu merupakan pendidikan yang paling baik bagi anak mereka. Sebaliknya
percekcokan antara ayah dan ibu merupakan racun -racun dan benih-benih buruk pertama yang
merusak watak si anak. Pujian -pujian tidak akan menjadikan anak baik, karena hal itu bahkan akan
membuat si anak men-jadi seorang yang selalu haus akan pujian dan ke-baikannya itupun hanya
palsu karena dilakukan ha-nya untuk memancing agar memperoleh pujian be-laka. Memanjakannya
secara berlebihan akan mem-buat si anak menjadi seorang yang lemah tergan-tung kepada orang
tua, tidak berani dan lemah menghadapi halangan dan kesukaran hidup. Akan tetapi, mendidik
dengan kekerasan akan membuat si anak berwatak keras, juga dapat membuatnya men-jadi rendah
diri. Anak yang menurut kepada orang tuanya karena pendidikan keras, hanya menurut karena takut
saja, akan tetapi di dalam hatinya dia memberontak dan kalau sekali waktu dia me-rasa kuat, dia akan
memberontak secara berterang, bahkan mungkin akan sengaja memberontak untuk membalas
dendam yang sudah lama disimpan di dalam hatinya.
Ucapan Ouwyang Kwan Ek menyadarkan suami isteri itu bahwa mereka telah dikuasai perasaan
sehingga melupakan nasib putera mereka yang ber-ada di tangan orang Ban -kwi -to dan masih
belum diketahui bagaimana keadaannya itu. Akan tetapi, Siang Houw Nio nio masih bersungut -
dunia-kangouw.blogspot.com
sungut ketika berkata, "Pendeknya engkau harus cepat mencari dan menemukan kembali anakku !"
Ucapan ini ditujukan kepada suaminya.
"Baliklah, sumoi baiklah, aku akan turun gunung mencarinya," jawab Yap-lojin dengan suara duka.
Siang Houw Nio -nio lalu mendengus, memba-likkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada dua orang
muridnya untuk pergi bersamanya, kemudian, hanya dengan anggukan kecil pada Ouwyang Kwan
Ek, iapun lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Pek In dan Ang In berlutut kepada Yap -lojin untuk berpamit. Kakek itu menggerakkan tangan kanan
menyuruh mereka bangkit. "Pergilah dan jaga baik-baik subo kalian." Dua orang gadis itu
mengangguk dan menahan air mata mereka. Mere-ka masih diliputi kedukaan melihat apa yang menimpa
Thian -kiam -pang dan Pek In mengerling ke arah Yap Kiong Lee dengan pandang mata sa-yu.
Kemudian merekapun pergi sambil mengajak Pek Lian.
Setelah isterinya dan tiga orang gadis itu pergi, Yap -lojin menghela napas panjang. "Sungguh aku
tidak mengerti, apa maksudnya orang Ban -kwi -to menculik puteraku. Aku harus menyusul ke pulau
itu Sekarang juga."
"Memang sebaiknya begitu, suhu, dan aku akan menemani suhu untuk mendapatkan kembali Kimsute,"
kata Kiong Lee. Pemuda ini memang diang-kat anak oleh keluarga Yap, bahkan dia sendiripun
memakai she Yap, akan tetapi terhadap ayah dan ibu angkatnya itu, dia selalu menyebut mereka suhu
dan subo, seperti murid -murid yang lain. Dan agaknya Yap -lojin dan isterinya itupun tidak menaruh
keberatan, apa lagi setelah mereka sendiri juga mempunyai anak, yaitu Yap Kim.
"Jangan khawatir, lojin, biar akupun akan mem-bantumu menghadapi orang -orang Ban -kwi -to," tibatiba
Ouwyang Kwan Ek juga berkata.
"Ah, mana aku berani merepotkanmu, sahabat Ouwyang ?"
"Aku kebetulan berada di sini ketika tempatmu diserbu orang dan aku mendengar akan musibah yang
menimpa keluargamu. Hal ini berarti aku berjodoh untuk terlibat dalam urusanmu. Selain itu, akupun
ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan nama besar Pulau Selaksa Setan itu."
Yap Cu Kiat tidak dapat menolak lagi dan dia-pun lalu memerintahkan empat orang muridnya untuk
mencari tenaga bantuan dan membangun kembali sedapatnya rumah mereka yang terbakar itu.
Kemudian, bersama Ouwyang Kwan Ek dan Kiong Lee, diapun meninggalkan sarang Thian-kiam -
pang yang telah rusak terbakar itu.
********************
"Seharusnya kita membantu Yap-locianpwe untuk menyusul dan mencari puteranya itu ke sarang
Ban-kwi-to !"
Ucapan Pek Lian ini mengejutkan Pek In dan Ang In. Dua orang ini sendiri tidak akan berani
mengeluarkan ucapan itu di depan subo mereka, apa lagi ucapan itu dikeluarkan dengan nada su-ara
kaku dan mencela!
Benar saja kekhawatiran dua orang gadis ini. Tiba-tiba kereta dihentikan dan kepala nenek itu keluar
dari tirai jendela kereta, sepasang matanya mencorong menatap wajah Pek Lian yang juga
menghentikan kudanya di dekat kereta.
"Mengapa kau berkata demikian ?" bentak ne-nek itu, matanya agak terpejam dan mulutnya cemberut.
"Melihat orang lain tertimpa bencana, sudah sepatutnya kalau kita turun tangan membantu. Ka-lau
tidak demikian, apa perlunya kita belajar ilmu sejak kecil ? Apa lagi kalau yang tertimpa malape-taka
itu masih keluarga sendiri, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu. Pula, harus dii-ngat
bahwa Ban-kwi-to kabarnya merupakan tempat yang berbahaya, dihuni oleh tokoh-tokoh sesat yang
lihai, maka sudah selayaknyalah kalau kita ikut membantu Yap -locianpwe menghadapi mereka." Pek
Lian melihat betapa dua orang gadis murid-murid Siang Houw Nio-nio itu berkedip kedip memberi
isyarat kepadanya agar ia menghen-tikan ucapannya, akan tetapi ia tidak perduli O-rang -orang lain
dunia-kangouw.blogspot.com
boleh takut setengah mati kepada nenek bangsawan ini, akan tetapi ia tidak! Ia menganggap bahwa
nenek ini terlalu angkuh, ter-lalu tinggi hati dan kejam sehingga mendengar putera kandungnya diculik
orang dan terluka pa-rah., agaknya bersikap tidak perduli saja. Hal ini sudah membuat hati Pek Lian
memberontak dan marah.
"Bocah lancang mulut! Berani engkau mencam-puri urusan kami ?"
Akan tetapi, dengan pandang mata yang bera-ni dan jujur Pek Lian menghadapi nenek itu. "Bi-arpun
saya menjadi tawanan dan orang yang dicu-rigai, akan tetapi selama ini locianpwe dan teruta-ma
kedua orang cici bersikap baik kepada saya sehingga saya sama sekali tidak merasa menjadi tawanan.
Sebaliknya, saya merasa sebagai sahabat atau tamu yang diperlakukan dengan baik. Setelah
mengalami suka-duka, bahkan sudah sama-sama menghadapi lawan tangguh, bagaimana mungkin
saya bersikap tidak perduli dengan malapetaka yang menimpa keluarga locianpwe ? Sedapat
mungkin, saya tentu akan menyumbangkan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk membantu."
Sejenak dua orang wanita itu saling berpandangan. Akhirnya nenek itu menarik kembali kepalanya ke
dalam kereta dan terdengar ia menarik napas panjang, lalu terdengar suaranya, "Hemm, engkaupun
seorang yang keras hati dan keras kepala. Akan tetapi engkau memiliki keberanian dan kejujuran."
Dan tiba-tiba kereta itupun bergerak lagi.
Pek In menyentuh lengan Pek Lian. "Adik Lian, engkau sungguh membuat kami menahan napas.
Kami tidak mengira engkau masih dapat hidup setelah berani bersikap seperti itu."
Pek Lian tersenyum. "Kenapa, eici Pek? Aku merasa benar, dan matipun bukan apa -apa kalau
berada dalam kebenaran."
Biarpun ia dapat mengerti akan kata -kata ini, namun di dalam hatinya Pek In harus mengakui bahwa
ia tidak mempunyai keberanian yang sede-mikian besarnya seperti gadis ini.
Kereta nenek itu berhenti di depan pintu ger-bang kota raja. Para penjaga pintu gerbang ber-baris rapi
di kanan kiri, dengan tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Pakaian seragam mereka
mengkilap tertimpa sinar matahari dan mata tombak mereka juga berkilauan karena setiap hari
digosok. Seorang komandan jaga yang pakaiannya lebih mentereng lagi, nampak berlutut dengan
kaki kiri di tengah jalan dan inilah yang membuat nenek itu menghentikan kereta. Sambil membawa
tong-katnya nenek Siang Houw Nio -nio turun dari atas keretanya. Pek In dan Ang In juga meloncat
turun dari atas kuda mereka dan menyerahkan kendali kuda kepada Pek Lian. Dua orang gadis ini
cepat mendampingi subo mereka memasuki pintu gerbang.
Para penjaga bersikap hormat melihat nenek ini. Siang Houw Nio -nio sendiri melangkah de-ngan
tenang, tangan larinya membawa tongkat ke-pala naga dan dua orang muridnya berjalan di kanan
kirinya.
Komandan jaga yang setengah berlutut itu mem-beri hormat. "Hamba menerima perintah dari istana
untuk melapor kepada paduka tuan puteri."
"Perintah apa yang datang dari istana ? Lekas laporkan kepadaku," jawab Siang Houw Nio -nio.
Komandan itu adalah perwira penjaga yang ber-tugas di luar istana, dan hal ini dikenalnya dari
pakaian seragamnya.
"Sri baginda kaisar menanyakan apakah padu-ka sudah tiba kembali. Dan baru saja beliau mengutus
Hek-tai-ciangkun untuk menyusul paduka ke istana Wakil Perdana Menteri Kang."
Nenek itu mengerutkan dahinya dan mengang-kat tangan kanan ke depan. "Baiklah, kau pergi
danlaporkan ke dalam istana bahwa aku akan segera menghadap sri baginda."
Komandan jaga itu memberi hormat, lalu bang-kit dan dengan sigapnya meninggalkan pintu ger-bang
untuk membuat laporan ke istana. Derap kaki kuda terdengar lantang dan gagah.
Siang Houw Nio-nio diikuti oleh dua orang muridnya kembali ke kereta. "Pek -ji dan Ang -ji, kita terus
saja ke istana. Ajak sekalian nona itu dan beri pinjam pakaianmu. Agaknya ada perkem-bangan baru
di istana. Mari !"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian diberi pinjam pakaian dan mereka ber-tiga lalu berganti pakaian sebagai dayang atau pelayan
puteri bangsawan itu. Nenek itu sendiripun berganti pakaian, karena biarpun ia masih bibi dari
kaisar sendiri, kalau menghadap kaisar, ia tidak dapat meninggalkan peraturan -peraturan yang sudah
ditentukan. Setelah selesai berdandan, mereka berempat lalu menuju ke istana.
Ho Pek Lian merasa girang sekali dan jantung-nya berdebar keras. Ia merasa girang karena tahu
bahwa nenek bangsawan itu agaknya sudah mulai menaruh kepercayaan kepadanya, bahkan merasa
suka seperti juga kedua orang muridnya itu. Kalau tidak demikian tak mungkin ia diajak, masuk ke
istana sebagai dayang sang puteri tua. Tidak akan sukar bagi nenek itu untuk menyerahkannya kepada
pasukan untuk dijebloskan ke dalam tahanan !
Suasana menegangkan yang membayangkan bahwa ada apa -apa di istana nampak dari pintu
gerbang istana yang paling depan. Penjagaan amat ketat dan ada belasan orang perajurit jaga di situ,
padahal biasanya hanya ada enam orang saja. Dan di balai perajurit yang luas itu, nampak banyak
sekali pengawal-pengawal resmi para menteri sedang duduk beristirahat. Hal ini menandakan bahwa
para menteri sedang berada di istana, menghadap sri baginda kaisar. Siang Houw Nio -nio tahu akan
hal ini dan diam -diam iapun menduga-duga apa gerangan yang terjadi maka kaisar me-ngumpulkan
semua menteri negara.
Setelah tiba di serambi istana, nampak bahwa penjagaan dilakukan oleh para pengawal yang disebut
pasukan pengawal Gin -i -wi (Pengawal Pa-kaian Perak). Mereka itu rata -rata bersikap gagah,
bertubuh kuat dan pakaian mereka yang berlapis pe-rak itu nampak gemerlapan. Komandan mereka
juga berpakaian serba mengkilap berlapis perak, dan nampaknya keren berwibawa sekali. Ketika dia
melihat datangnya Siang Houw Nio -nio yang dii-kuti oleh tiga orang dayang cantik, segera maju
memberi hormat.
"Paduka tuan puteri telah dinanti -nanti oleh yang mulia sri baginda kaisar. Silahkan !" Koman-dan itu
dengan sikap hormat lalu mengantar nenek bangsawan dan tiga orang dayangnya itu sampai ke pintu
induk. Di sini, tugasnya diambil alih oleh komandan pasukan Kim-i-wi (Pengawal Pakaian Emas).
Pasukan Kim-i-wi nampak tidak kalah gagahnya dibandingkan pasukan Gin-i-wi, bah-kan pakaiannya
yang berlapis emas itu amat me-gah dan mewah. Pasukan Kim-i-wi ini bertugas menjaga di bagian
dalam istana, sedangkan pasukan Gin-i-wi bertugas di bagian luar istana. Akan tetapi keduanya
adalah pasukan-pasukan pengawal istana yang terkenal dan mereka dipim-pin oleh komandan
masing -masing yang merupa-kan pembantu-pembantu dari Pek-lui-kong Tong Ciak, itu jagoan
terkenal yang bertubuh pendek dari istana!
Di dekat pinta gerbang induk ini, terdapat ba-ngunan samping di mana nampak beberapa belas orang
-orang yang sikapnya aneh-aneh dan membayangkan kepandaian tinggi. Mereka ini adalah
pengawal-pengawal pribadi para menteri yang tentu saja hanya diperbolehkan mengawal sampai di
situ dan tidak diperkenankan ikut masuk menghadap kaisar. Di sekitar tempat itu nampak pengawalpengawal
Kim-i-wi berjalan hilir-mudik dengan tombak di tangan, sedangkan di bagian luar pintu
gerbang nampak pengawal-pengawal Gin-i-wi yang juga berjaga-jaga. Nampak angker dan gagah.
Juga nampak pengawal-pengawal dari kedua pasukan ini berjaga-jaga di gardu-gardu ronda, di atas
dinding dan di menara-menara. Mereka semua sjap siaga dengan ketat.
Siang Houw Nio-nio dengan sikap tenang dan agung, diiringkan oleh tiga orang gadis dan dida-hului
oleh komandan pasukan Kim-i-wi sebagai penunjuk jalan atau penjemput, berjalan di sepanjang
ruangan-ruangan yang amat luas itu. Ho Pek Lian berjalan di belakangnya bersama Pek In den Ang
In. Pek Lian adalah puteri seorang bekas menteri. Gedung ayahnya sendiri sangat indah dan gadis ini
sejak kecil sudah terbiasa dengan keme-wahan dan keindahan. Akan tetapi baru pertama kali ini ia
memperoleh kesempatan memasuki istana dan melihat segala kemewahan yang terham-par di
depannya, ia merasa dirinya kecil dan merasa seperti seorang miskin yang baru pertama kali me-lihat
kekayaan berlimpah. Ia merasa seolah -olah keindahan yang luas itu amat besar, seperti hendak
menelan dirinya.
Setelah mereka tiba di depan sebuah pintu be-sar yang berkilauan dan dilapis emas, komandan Kim -i
-wi itu berhenti. Agaknya kedatangan me-reka sudah nampak dari dalam karena tirai sutera merah
yang menutupi pintu itu terbuka dan mun-cullah dua orang yang nampak gagah perkasa. Yang
seorang bertubuh tinggi tegap, mukanya brewok dan dia memakai pakaian panglima yang berlapis
perak. Orang ke dua bertubuh tinggi kurus dan dia ini memakai pakaian panglima yang berlapis emas.
Melihat mereka, komandan Kim -i -wi sege-ra memberi hormat, lalu membalikkan tubuh medunia-
kangouw.blogspot.com
ninggalkan tempat itu. Agaknya tugasnya mengawal Siang Houw Nio -nio telah selesai dan kini kedua
orang panglima itulah yang menggantikan-nya, menyambut kedatangan nenek bangsawan itu. Dua
orang panglima itu memberi hormat lalu mem-persalahkan nenek bangsawan itu melanjutkan perjalanan
melalui pintu emas.
Ang In yang berjalan di samping Pek Lian, ber-bisik di dekat telinga nona ini,
"Mereka itu berilmu tinggi, memiliki tenaga berlawanan. Kim -i -ciangkun (Panglima Baju E-mas) itu
memiliki pukulan telapak tangan panas yang dapat membakar pakaian lawan dan Gin -i-ciangkun
(Panglima Baju Perak) itu memiliki pukul-an tangan dingin yang membuat darah lawan mem-beku."
Pek Lian memandang ke depan dan mengang-guk. Ia tidak merasa heran mendengar ini karena ia
sudah sering mendengar bahwa di istana kaisar terkumpul jagoan -jagoan yang amat lihai.
"Akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan atasan mereka, yaitu Tong-tai -
ciangkun yang berjuluk Pek -lui -kong," bisik Pek In.
Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kedua kakinya agak gemetar. Kira-nya
dua orang panglima, ini adalah tangan kanan si pendek itu. Bagaimana kalau si pendek itu ber-ada di
situ pula dan mengenalnya ? Akan tetapi Pek Lian meneliti pakaiannya dan hatinya lega.
Tidak mungkin si cebol yang lihai itu akan menge-nalnya. Mereka baru saling berjumpa satu kali saja,
yaitu ketika ia menghadang bersama empat orang suhunya untuk membebaskan ayahnya. Ketika itu,
ia berpakaian sebagai seorang gadis kang -ouw, tidak seperti pakaian puteri atau dayang istana seperti
sekarang ini. Pula, kalau ia datang sebagai dayang nenek bangsawan yang menjadi bibi kaisar
ini, siapa yang berani mencurigai dan mengganggunya ?
Memang kedudukan Siang Houw Nio -nio di istana amat tinggi. Orang lain, betapapun tinggi
kedudukannya, tidak boleh menghadap kaisar mem-bawa pengawal atau pengikut. Akan tetapi nenek
ini masuk diiringkan tiga orang dayangnya dan tidak ada orang berani menentangnya. Bagaikan
bayangan saja, Pek Lian mengikuti gerak -gerik dua orang gadis itu dan ketika mereka semua memasuki
ruangan pertemuan di mana duduk kaisar dihadap oleh para menterinya, Pek Lian juga ikut
pula menjatahkan diri berlutut di belakang Ang In. Ketika ia mengerling, jantungnya berdebar tegang
melihat ada dua orang berdiri di belakang kaisar. Dua orang itu bukan lain adalah Pek-lui-kong Tong
Ciak si cebol yang lihai itu dan yang ke dua adalah Jenderal Beng Tian yang tidak kalah lihai-nya !
Tentu saja Pek Lian diam-diam mengeluarkan keringat dingin ketika melihat "singa dan harimau", dua
jagoan pengawal kaisar yang amat terkenal itu. Pernah ia bertemu, bahkan bentrok de-ngan mereka
berdua! Kini, mereka berdua itu berdiri di belakang kaisar, berdampingan dan mata mereka itu
menyapu ruangan dengan sinar mata yang mencorong tajam dan menyeramkan. Pek Lian cepat -
cepat menundukkan mukanya dan ini tidak menarik perhatian karena memang sikap pa-ra dayang
harus begitu, takut -takut dan malu-malu ! Penyamaran ini menguntungkan Pek Lian karena selain ia
diperbolehkan selalu menyembu-nyikan muka tanpa dicurigai, juga siapakah yang akan
memperhatikan seorang dayang ? Dua orang lihai itupun tentu tidak akan memandang sebelah mata
kepada seorang dayang!
Di kanan kiri, berderet -deret duduk para men-teri menghadapi meja masing-masing. Nenek Siang
Houw Nio-nio yang memasuki ruangan itu, dengan sikap angkuh dan kesadaran bahwa kedudukannya
lebih tinggi dari pada para menteri itu, mengangguk ke kanan kiri membalas penghormat-an
para menteri yang hadir. Wanita tua ini sadar akan harga dirinya. Ia adalah pengawal pribadi, juga
kepercayaan, juga bibi sendiri dari kaisar! Ke-mudian, dengan sikap tenang nenek itu berlutut
menghormati kaisar yang masih keponakannya sendiri itu.
"Selamat datang, bibi!" kata kaisar dengan ra-mah dan dengan tangannya mempersilahkan ne-nek itu
untuk bangkit dan mengambil tempat duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Bi-arpun para
dayang pengikut nenek ini diperboleh-kan ikut masuk, akan tetapi tentu saja mereka ti-dak boleh
mengganggu persidangan dan Pek In lalu mengajak adiknya dan Pek Lian untuk ber-kumpul di
pinggir, bersama dengan para dayang istana, di mana mereka duduk berkelompok dan tidak berani
mengeluarkan suara, seperti sekelom-pok bunga di taman yang ringkih dan takut terlanda angin.
Setelah Siang Houw Nio-nio tiba, maka per-sidangan dilanjutkan dan nenek itu kini mengerti bahwa
sri baginda memang mengadakan sidang darurat, memanggil semua menteri untuk mem-bicarakan
dunia-kangouw.blogspot.com
keadaan yang membuat sri baginda kaisar merasa khawatir. Kaisar Cin Si Hong-te mengerti bahwa
beberapa tindakannya telah menimbulkan heboh dan kegemparan di seluruh ne-geri.
Kaisar merasa marah sekali. Menurut hemat-nya, semua tindakan yang dilakukannya ada-lah benar
dan tepat, dan demi kebaikan pemerin-tahnya. Pembakaran kitab-kitab Guru Besar Khong Cu
dianggap amat tepat karena pelajaran dalam kitab-kitab itu dianggap menghasut rakyat untuk tidak
tunduk dan setia kepada rajanya. Banyak isi pelajaran yang dianggap memburuk-burukkan kaisar,
merendahkan kaisar merendahkan martabat kaisar sebagai Wakil atau Utusan Tuhan !
Dan tindakan ini ditentang oleh para sasterawan lemah itu, bahkan beberapa orang menteri ikut
menentangnya. Tentu saja mereka yang menentang itu harus dibasmi habis ! Kalau tidak demikian,
ke-wibawaan kaisar akan merosot, demikian pendapat orang -orang kepercayaan kaisar seperti
kepala thaikam Chao Kao dan Perdana Menteri Li Su, yang dibenarkan oleh kaisar.
Selain itu, juga pembangunan tembok besar di utara banyak ditentang oleh menteri dan orang-orang
yang menamakan dirinya pendekar. Katanya usaha itu menyiksa rakyat! Padahal, pembangunan itu
adalah untuk keselamatan negara, untuk kesela-matan rakyat pula, untuk membendung datangnya
orang-orang dari utara yang akan menyerbu ke selatan. Soal pembangunan tembok besar inipun
menimbulkan geger dan pemberontakan.
Untuk melihat reaksi yang sesungguhnya dari rakyat jelata, kaisar sudah mengutus dua orang jagoan
istana itu, Pek -lui -kong Tong Ciak dan Jenderal Beng Tian, sekalian untuk menumpas pi-hak
pemberontak yang menentang kekuasaan pe-merintah. Ketika kedua orang utusan itu tiba kem-bali
dan membuat laporan mereka, kaisar menjadi terkejut, marah dan segera mengumpulkan para
menteri untuk diajak bermusyawarah. Menurut pelaporan dua orang jagoan itu, rakyat memang
sedang bergolak dan nampak tanda-tanda bahwa rakyat akan bergerak menentang pemerintah,
dipanaskan oleh gerakan para pendekar. Pelopor utama adalah seorang jago pedang yang terkenal
bernama Liu Pang yang oleh rakyat jelata diangkat menjadi semacam bengcu (pemimpin rakyat) dan
yang bermarkas di Puncak Awan Biru di Pegunungan Fu-niu-san. Selain Liu Pang ini, juga masih ada
seo-rang lagi keturunan Jenderal Chu yang pernah menjadi musuh besar kaisar ketika masih menjadi
Raja Chin, yaitu yang bernama Chu Siang Yu yang bermarkas di sepanjang Lembah Yang-ce. Anak
buah Chu Siang Yu telah banyak dihancurkan oleh dua orang jagoan istana ini di sepanjang Sungai
Yang-ce, akan tetapi itu hanya merupakan sebagian saja dari pada kekuatan para pemberontak yang
ma-sih berkeliaran. Menurut penyelidikan dua orang jagoan istana itu, Liu -twako, demikian sebutan
umum untuk Liu Pang, memiliki pengaruh yang amat besar di kalangan rakyat dan para pendekar.
Anak buahnya banyak sekali. Juga dia memiliki hubungan yang amat luas di dunia kang-ouw.
Bukan ini saja yang dilaporkan oleh dua orang jagoan itu. Juga mereka melaporkan bahwa kaum ses
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
anggi. Di atas istana-istana mereka kadang-kadang nampak bayangan dua orang yang berkeliaran
dan yang berilmu amat tinggi. Para pengawal tidak ada yang mampu mengejar mereka sehingga
mereka itu tidak diketahui benar bagaimana macamnya. Bahkan dua bayangan orang itu pernah
muncul di atas istana kaisar ! Peristiwa ini terjadi ketika dua orang jagoan itu sedang melaksanakan
perintah kaisar sehingga tidak berada di istana. Juga Siang Houw Nio -nio tidak berada di istana
karena diutus membujuk Wakil Perdana Menteri Kang yang ikut-ikut menentang pemerintah dan
hendak mengun-durkan diri itu.
Demikianlah, para menteri, juga Siang Houw Nio-nio, mendengarkan penuturan ini dengan hati ikut
gelisah melihat perkembangan keadaan yang tidak menguntungkan itu. Bagaimanapun juga, tentu
saja kaisar dan juga mereka tidak ingin melihat rakyat memberontak.
"Semua ini adalah kesalahan para menteri yang tidak setia !" Tiba -tiba terdengar Perdana Menteri Li
Su berkata setelah memberi hormat kepada kai-sar. "Para menteri dan pejabat yang menentang
kebijaksanaan sri baginda, itulah yang menyebar-kan hasutan kepada rakyat, memberi contoh ketidaksetiaan
yang besar. Dosa mereka itu amat hebat dan mereka sepatutnya dihukum berat beserta
seluruh keluarga mereka. Kalau tidak demikian, ka-lau pemerintah hanya menghukum orangnya saja,
tentu sanak keluarganya akan mendendam dan menghasut rakyat untuk memberontak!"
Ucapan Perdana Menteri Li Su ini memancing datangnya pendapat-pendapat yang berbeda anta-ra
para menteri dan pejabat tinggi yang hadir se-hingga keadaan menjadi ramai dengan suara mere-ka,
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti sarang tawon yang diganggu. Melihat ini kaisar mengerutkan alisnya dan memberi isya-rat
kepada Pek -lui -kong Tong Ciak. Si cebol ini mengangkat kedua tangan ke atas dan terdengar
suaranya yang bergema dan melengking nyaring, mengandung getaran kuat karena dikeluarkan dengan
dorongan tenaga khikang.
"Cu-wi harap tenang dan dengarkan amanat sri baginda !"
Mendengar suara yang amat berpengaruh ini, suasana menjadi sunyi sekali dan semua orang memandang
ke arah kaisar, walaupun mereka segera menundukkan muka kembali karena menentang
wajah kaisar lama -lama merupakan dosa besar !
Kaisar menarik napas panjang. Dalam keadaan seperti itu, terasa benar olehnya betapa para pembantunya
itu hanya merupakan sekelompok orang-orang tolol yang pandainya hanya menjilat -jilat
saja. Maka diapun lalu memandang kepada Siang Houw Nio-nio dan berkata, "Bibi yang baik, bagaimanakah
hasil pertemuan bibi dengan Menteri Kang ? Maukah dia kembali dan memangku
jabatannya sebagai wakil perdana menteri ?"
Pertanyaan ini menimbulkan ketegangan dan semua mata memandang kepada nenek itu. Memang
harus mereka akui bahwa di antara semua menteri, maka Wakil Perdana Menteri Kang adalah orang
yang paling berani bertindak tegas, bahkan paling berani menentang kebijaksanaan kaisar. Menteri
Kang adalah seorang yang memiliki wiba-wa besar sekali, dan juga amat bijaksana dan cer-dik
pandai. Setelah menteri itu meletakkan jabat-annya, keadaan menjadi semakin kacau dan ba-nyak
pejabat tinggi seperti kehilangan pegangan. Andaikata menteri itu masih ada, tentu dia akan dapat
bertindak dengan tegas dan cepat mengha-dapi pergolakan yang sedang terjadi. Semua orang tahu
bahwa seperti juga Menteri Kebudayaan Ho, maka wakil perdana menteri itupun seorang yang amat
disegani, bahkan dihormat dan dikagumi oleh para pendekar di dunia kang -ouw.
Dengan suara tenang dan sikap hormat, nenek Siang Houw Nio -nio lalu menceritakan hasil pertemuannya
dengan Menteri Kang. Diceritakannya betapa bekas wakil perdana menteri itu mau menjabat
lagi kedudukannya sebagai wakil perdana menteri asal dipenuhi syarat yang dimintanya, yai-tu
dibebaskannya bekas Menteri Ho dan juga para menteri yang ditahan atau dihentikan agar diam-puni,
dibebaskan dan dipekerjakan kembali.
"Menurut pendapat bekas Wakil Perdana Men-teri Kang, penangkapan dan pemecatan para men-teri
yang setia itulah yang menyebabkan terjadinya pergolakan dan ketidakpuasan di kalangan rakyat.
Oleh karena itu, dia sanggup bekerja lagi kalau sya-rat itu dipenuhi." Demikianlah Siang Houw Nio-nio
mengakhiri pelaporannya. "Kalau tidak, maka dia menyerahkan jiwa raganya kepada paduka sri
baginda."
Pelaporan nenek ini mengejutkan semua orang dan menimbulkan perdebatan sengit di antara mereka
yang hadir. Ada yang setuju agar kaisar me-menuhi tuntutan atau syarat itu, akan tetapi ada pula
yang tidak setuju.
"Bagaimana pendapatmu, Perdana Menteri Li Su ?" Akhirnya kaisar mengangkat tangan memberi
isyarat agar semua orang diam dan dia bertanya kepada perdana menterinya. Selama ini, perdana
menterinya itulah yang menjadi penasihat utama-nya, yaitu di kalangan para menterinya, sebagai
orang yang amat dipercayanya. Di dalam istana, sebagai penasihat pribadi, terdapat Chao Kao kepala
thaikam yang amat dipercayanya. Di antara kedua orang pembesar ini memang terdapat suatu
persekongkolan untuk mempertahankan keduduk-an, kekuasaan dan kepentingan-kepentingan pribadi
mereka.
"Hamba sangat khawatir kalau syarat yang di-ajukan oleh Menteri Kang itu dipenuhi, sri baginda
Pertama, Menteri Kang telah mengajukah permin-taan berhenti sendiri, berarti dia telah kehilangan
kesetiaan. Oleh karena itu, pengangkatannya kem-bali dengan memenuhi syarat yang dimintanya,
akan membuat dia merasa dimanja dan dipakai dan hal ini pasti akan menimbulkan watak angkuh,
sombong dan selanjutnya segala buah pikiran dan keinginannya tentu harus dipenuhi. Ke dua, membebaskan
para menteri dan pejabat yang berkhia-nat dan berani menentang kebijaksanaan paduka,
apa lagi memakai mereka kembali sebagai pejabat, sama saja dengan mengumpulkan pengkhianatpengkhianat
yang kelak akan membahayakan kedu-dukan paduka. Dan ke tiga, Menteri Ho adalah
orang yang paling besar dosanya, yang terang -te-rangan menentang kebijaksanaan paduka dan
meng-hasut orang -orang kang -ouw untuk memberontak. Pergaulannya dengan orang -orang kang -
dunia-kangouw.blogspot.com
ouw amat luas, maka kalau dia dibebaskan, tentu akan me-nambali berani kepada para
pemberontak."
"Akan tetapi, justeru Menteri Ho itulah yang menjadi tuntutan utama dari Menteri Kang, karena menteri
kebudayaan itu adalah sahabat baiknya, juga merupakan penasihat utamanya," nenek Siang Houw
Nio -nio memotong.
Mendengar ini, kaisar lalu mempersilahkan pa-ra menteri dan ponggawa yang hadir untuk mengajukan
pendapat -pendapat mereka masing -masing. Dan terjadilah perdebatan sengit, Tentu saja
banyak menteri dan pejabat yang diam -diam telah menjadi kaki tangan Perdana Menteri Li Su dan
mereka ini dengan sendirinya mendukung pendapat perdana menteri itu. Akan tetapi ada beberapa
orang menteri yang menjadi sahabat bekas wakil perdana menteri, mencoba untuk mendebat mereka.
Perdebatan itu dibiarkan saja oleh kaisar yang men-dengarkan dengan penuh perhatian,
mendengarkan setiap pejabat yang mempertahankan kebenaran pendapatnya sendiri. Tentu saja, di
samping kai-sar yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu, terdapat seorang lain yang juga
mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan dengan jantung berdebar tegang dan badan terasa
panas dingin. Orang ini bukan lain adalah Ho Pek Lian! Siapa orangnya yang tidak akan menjadi
tegang hatinya kalau mendengarkan betapa ayahnya dijadikan pokok pembicaraan, bahkan
persidangan itu seo-lah -olah merupakan pengadilan terhadap nasib ayahnya ? Mati hidup ayahnya
tergantung dalam keputusan persidangan itu dan ia menghadiri dan menyaksikannya tanpa ada
seorangpun di antara mereka yang tahu bahwa anak tunggal dari Mente-ri Ho berada di situ !
Siang Houw Nio -nio mengerutkan alisnya men-dengar dalih -dalih yang dikemukakan oleh kelom-pok
pendukung Perdana Menteri Li Su. Nenek ini memang sudah mempunyai perasaan tidak suka
terhadap perdana menteri itu yang ia tahu adalah seorang yang pandai sekali mengambil hati kaisar,
dan pandai pula merebut kepercayaan kaisar, men-jilat -jilat dan bermuka -muka. Akan tetapi ia sendiri
tidak mau berpihak dalam urusan ini. Melihat betapa kaisar nampak bingung mendengar pendapat
-pendapat para menterinya yang seolah -olah terpecah menjadi dua itu, nenek Siang Houw Nionio
lalu mengemukakan pendapatnya dengan suara lantang.
"Cu-wi telah memperbincangkan keadaan se-karang, maka sekarang tinggal melakukan pilihan
antara dua kemungkinan. Pertama, menuruti per-mintaan Wakil Perdana Menteri Kang dan dialah
orangnya yang akan sanggup untuk menyelesaikan segala pergolakan dan keruwetan yang
mengancam negara ini dengan jalan damai. Atau, cu -wi meno-lak pemintaannya dan kita semua
menghadapi pemberontakan-pemberontakan dunia kang-ouw dan juga menghadapi pengacauan
kaum sesat. Ha-rap cu -wi suka mempertimbangkan baik -baik. Memilih yang pertama berarti keadaan
akan tetap tenang dan damai baik di kalangan pemerintah maupun di kalangan rakyat, atau memilih
yang ke dua dan berarti akan terjadi kerusuhan dan pem-bunuhan di mana -mana. Harap cu -wi ingat!
Orang -orang kang -ouw itu dengan ilmu mereka yang tinggi sanggup berkeliaran di wuwungan rumah
-rumah, baik rumah rakyat, rumah cu -wi sendiri maupun di istana -istana."
Tentu saja peringatan ini membuat semua orang merasa ngeri. Akan tetapi Perdana Menteri Li Su
sudah memandang kepada nenek itu dengan sinar mata penuh selidik dan penasaran.
"Apakah Nio -nio hendak berpihak kepada para menteri jahat yang tidak setia dan berami membangkang
terhadap sri baginda itu ? Dosa mereka terlalu besar. Mereka sepatutnya dihukum mati
bersama seluruh keluarga mereka untuk menjadi contoh bagi rakyat agar tidak ada yang berani menentang
kekuasaan sri baginda, bukannya diangkat kembali yang akan membuat mereka menjadi
kepa-la besar !"
"Harap paduka tidak menuduh yang bukan-bukan. Saya sama sekali tidak mau memihak sia-papun
juga dalam soal ketidakcocokan pendapat antara kalian! Akan tetapi, betapa bodohnya un-tuk
bertengkar antara rekan sendiri selagi negara berada dalam bahaya pergolakan dan pembe-rontakan.
Dalam keadaan seperti ini, seorang peja-bat yang setia akan memikirkan keselamatan nega-ra, sama
sekali tidak akan memperdulikan perasa-an -perasaan pribadi. Saya bicara bukan karena berpihak,
melainkan mengingat akan keselamatan negara!"
Mendengar semua perdebatan itu, Kaisar Cm Si Hong-te menjadi semakin bingung. Memang pendapat
yang saling bertentangan itu ada benarnya. Dan para menteri yang menunjang pendapat
Perdana Menteri Li Su adalah menteri -menteri yang pandai menyenangkan hatinya, selalu setia dan
ta-at, tidak pernah membantah atau menentang kebi-jaksanaannya, bahkan mendukung semua
dunia-kangouw.blogspot.com
kebijak-sanaan yang diambilnya sepenuhnya. Mereka itu selalu berusaha untuk menyenangkan diri,
sedang-kan para menteri yang bertentangan dan yang men-dukung pihak Menteri Kang adalah
mereka yang suka cerewet, banyak membantah dan banyak me-nentang kebijaksanaannya,
membuat dia kadang-kadang merasa penasaran dan marah. Tentu saja di dalam hatinya dia condong
membenarkan Per-dana Mentei Li Su dan para menteri pendukungnya. Akan tetapi, kaisar juga bukan
seorang bodoh yang tidak dapat melihat keadaan. Keadaan negara benar-benar terancam. Kalau api
pemberontakan yang baru mulai bernyala ini tidak segera dipadamkan, maka keadaan akan benar -
benar berbahaya dan api pemberontakan itu akan dapat membakar selu-ruh negeri. Dan agaknya,
satu -satunya jalan untuk mencegah api itu berkobar, adalah kembalinya Wa-kil Perdana Menteri
Kang. Akan tetapi, dia tahu bahwa kembalinya menteri yang keras hati ini tidak menyenangkan hati
Perdana Menteri Li dan teman-temannya. Lalu bagaimana baiknya ?
Akhirnya, dengan pandang mata penuh harap kaisar itu menoleh ke arah Siang Houw Nio-nio dan
bertanya, "Bibi yang baik, bagaimanakah menurut pendapatmu ?"
"Harap paduka mengampuni hamba kalau hamba katakan bahwa hak itu sepenuhnya terserah
kepada kebijaksanaan paduka sendiri. Bagi hamba, yang terpenting adalah keselamatan sri baginda
dan kerajaan, hal-hal lainnya hamba tidak perduli. Bagi hamba, siapa saja yang membahayakan keselamatan
sri baginda maupun tahta paduka, baik itu datang dari orang-orang yang memberontak maupun
dari orang -orang kita sendiri yang tidak becus mengatur negara sehingga membikin bahaya
kedu-dukan paduka, akan hamba sikat dan basmi sampai habis !" Suara nenek itu berapi -api penuh
sema-ngat ketika ia mengucapkan kata-kata ini dan Perdana Menteri Li Su bersama teman -temannya
mengerutkan alis karena mereka merasa seolah-olah sebagian dari pada ancaman nenek itu ditujukan
kepada mereka.
Sri baginda kaisar mengangguk-angguk men-dengar ini. Kemudian dia menoleh ke arah dua orang
jagoannya yang berdiri di belakangnya, dan berkata kepada jenderal tinggi besar yang gagah perkasa
itu, "Jenderal Beng Tian, bagaimana pen-dapatmu ?"
Jenderal itu terkejut, tidak menyangka bahwa pendapatnya ditanya oleh junjungannya. Biarpun dia
merupakan seorang yang amat dipercaya oleh kaisar, akan tetapi dia hanyalah petugas pelaksana,
melaksanakan semua perintah kaisar dan tidak per-nah mencampuri urusan politik, walaupun di sudut
hatinya dia merasa kagum dan suka sekali kepada Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong dan juga Wakil
Perdana Menteri Kang.
"Hamba ? Pendirian hamba tiada bedanya dengan pendirian yang mulia Siang Houw Nio-nio tadi.
Hamba bukanlah seorang ahli pikir yang pandai. Yang hamba ketahui hanyalah perang dan berkelahi
dengan setia untuk menjunjung paduka dan negara yang akan hamba bela sampai titik da-ah terakhir.
Siapapun yang berani merongrong ke-kuasaan paduka dan kerajaan akan hamba mus-nahkan !"
Kembali kaisar mengangguk -angguk dan kini dia memandang kepada si cebol Pek-lui-kong Tong
Ciak. "Dan bagaimana dengan pendapatmu ?"
Tong Ciak menjatuhkan diri berlutut. "Hamba adalah seorang pengawal istana yang bertanggung
jawab atas keselamatan sri baginda dan keluarga, oleh karena itu, segalanya terserah kepada keputusan
paduka. Hanya satu hal yang hamba keta-hui, yaitu menyerahkan nyawa bagi keselamatan
paduka sri baginda dan sekeluarga kerajaan. Persoalan lain-lainnya hamba tidak bisa memikirkannya.
Pada hakekatnya, pendapat tiga orang pelin-dungnya itu sama saja. Kaisar menjadi semakin
bingung. Pikirannya bercabang dua dan dia mera-sa sulit untuk dapat mengambil keputusan, memilih
mana yang tepat, baik dan menguntungkan. Tiba -tiba seorang kakek berpakaian seperti pende-ta
yang sejak tadi diam saja dan duduk dengan antengnya di sebelah kanan kaisar, bangkit berdiri dari
tempat duduknya, menghampiri ke arah kaisar dan mengebut -ngebutkan ujung lengan bajunya
sebagai tanda penghormatan lalu menjura dengan dalam. Semua orang memandang dan ingin tahu
apa yang akan dikatakan oleh pendeta ini. Kakek ini adalah Bu Hong Sengjin, berusia hampir tujuhpuluh
tahun, berwajah lembut. Bu Hong Sengjin adalah seorang tosu (pendeta Agama To) yang
menjadi kepala paderi dari kuil agung yang ber-ada di dalam lingkungan istana. Kuil Thian -to-tang itu
adalah kuil bagi kaisar dan para bangsawan, dan mereka yang menjadi tosu dalam kuil itu ada-lah
para bangsawan kerajaan sendiri. Bu Hong Sengjin sendiripun seorang bangsawan karena dia masih
terhitung paman dari kaisar sendiri. Pada waktu itu, banyak sekali bangsawan -bangsawan yang
dunia-kangouw.blogspot.com
setelah tua lalu menjadi paderi dengan mak-sud untuk menyucikan diri atau untuk mempersiap-kan
diri menghadapi kematian agar jiwanya bersih !
Betapa palsunya kita manusia ini! Kita selalu ingin senang, ingin enak sendiri. Sewaktu muda, kita
mengumbar nafsu angkara sesuka hati, tanpa memperdulikan apakah tindakan -tindakan kita itu
merugikan orang lain ataukah tidak. Hidup kita dipenuhi dengan tindakan -tindakan yang merugikan
orang lain dan bergelimang dengan dosa. Se-telah kita menjelang tua, barulah kita ingin mero-bah
jalan hidup, bukan karena penyesalan dan karena kesadaran bahwa jalan hidup kita yang lalu itu
kotor dan tidak benar, melainkan terdorong rasa takut akan akibat perbuatan -perbuatan itu, takut
kalau -kalau setelah mati kita akan tersiksa dan terhukum, akan tidak kebagian tempat yang baik dan
menyenangkan. Betapa palsunya ini. Di wak-tu muda mengejar kesenangan sampai lupa diri, di waktu
tua masih saja mengejar kesenangan yang diharapkannya akan didapatkan di "sana" kelak. Apa
bedanya ini ?
Yang terpenting sekali adalah sekarang ini ! Saat ini! Setiap saat kita harus sadar dan mawas diri.
Perbuatan tidak dapat dinilai dan dibanding-bandingkan. Manusia hidup berhak untuk menge-cap dan
menikmati kesenangan hidup. Bukan ber-arti kita harus sejak muda hidup sebagai pertapa dan
pantang akan segala kesenangan, menjauhi se-gala kesenangan ! Sama sekali tidak, karena inipun
pada hakekatnya hanyalah mengejar kesenangan yang lain lagi, yang kita namakan kebahagiaan
batin dan sebagainya. Akan tetapi, yang penting kita harus selalu mengamati semua gerak -gerik
badan dan batin kita penuh kewaspadaan. Hanya perbuatan yang didasari cinta kasih sajalah yang
murni dan tidak dapat dinilai baik atau buruk. Dan perbuatan yang didasari cinta kasih sudah pasti
tidak akan merugikan orang lain baik lahir maupun batinnya. Karena cinta kasih itu berarti bebas dari
kebencian, iri hati, cemburu, pementingan diri pribadi.
Baik hanya sebuah kata sebutan, hanya sebuah pendapat. Maka kalau kita INGIN baik, berarti kita
ingin disebut baik, dan di balik "keadaan baik" ini tentu mengandung pamrih untuk mendapatkan
sesuatu, pahala anugerah maupun imbalan jasa dari "kebaikan" itu sendiri. Dan jelas ini bukan baik
lagi namanya, melainkan kemunafikan, kepu-ra -puraan karena "kebaikan" itu hanya dilakukan secara
palsu, untuk memperoleh pamrih yang ter-sembunyi di baliknya. Karena itu, bagi orang yang memiliki
cinta kasih dalam hatinya, dalam setiap perbuatannya yang disinari cinta kasih, tidak ada istilah baik
atau buruk. Dia tidak akan menilai, tidak akan tahu apakah yang dilakukannya itu baik atau buruk, dan
penilaian orang lain tidak akan mempengaruhinya. Cinta kasih itu indah, cinta kasih itu sederhana,
seperti indah dan sederhana-nya bunga mawar yang harum semerbak, seperti indah dan
sederhananya sinar matahari pagi. Ke-sederhanaan bukanlah hidup bercawat di puncak bukit
memamerkan "kesederhanaannya" kepada setiap orang yang datang untuk memujanya. Kesederhanaan
berarti kewajaran tanpa pamrih, tanpa kepalsuan, tidak dibuat-buat, hanya didasari cinta
kasih.
Setelah memberi hormat, Bu Hong Sengjin lalu menanti teguran atau pertanyaan sri baginda. Melihat
kakek ini bangkit berdiri, agaknya kaisar itu baru sadar bahwa kepala kuil istana ini selain menjadi
pamannya, juga menjadi seorang di antara para penasihat kaisar. Maka diapun cepat berkata
setelah menerima penghormatan itu, "Ahh... , hampir aku melupakan kehadiran orang -orang tuaku
yang dapat menasihatiku. Paman yang mulia, bagaimanakah menurut pendapatmu ?"
Pendeta itu dengan tenangnya menjura lagi, kemudian terdengar suaranya yang lembut. Semua
orang mendengarkan dengan penuh perhatian se-hingga suasana di ruangan itu sunyi sekali dan
suara yang lembut dan tenang itu terdengar satu-satu, "Bagi seorang yang mencinta kedamaian seperti
hamba, cara yang terbaik haruslah mengingat akan keselamatan semua pihak. Baik
keselamatan paduka dan kerajaan, keselamatan para pejabat, keselamatan rakyat dan lain -lain. Kita
harus menghindarkan segala pertentangan yang mengaki-batkan pertumpahan darah. Hamba kira,
jalan satu-satunya untuk itu hanya memanggil kembali Wakil Perdana Menteri Kang yang telah kita
ketahui pengaruhnya terhadap rakyat, agar dia memangku kembali jabatannya agar suasana keruh
dapat dijernihkan kembali. Mengenai para menteri yang dijadikan syarat kembalinya Wakil Perdana
Menteri Kang, dapat dipertimbangkan dan dimusyawarahkan kembali tanpa meninggalkan
kepentingan yang menyangkut persoalan itu dari segala pihak. Misalnya, pengampunan dan
penempatan kembali para menteri itu dapat dilakukan dengan syarat-syarat berat tertentu yang akan
mengikat mereka."
Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan kata-kata yang lugu, suara yang lembut dan jelas itu,
wajah sri baginda kaisar nampak berseri. Kai-sar Cin Si Hong-te bangkit dari tempat duduknya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
menggerakkan tangannya menunjuk kepada jenderal Beng Tian, tangan kirinya memegangi ka-lung
mutiara dan matanya bersinar -sinar.
"Bagus ! Benar sekali itu ! Begitulah keputusanku. Jenderal Beng Tian, sekarang juga kau pergi-lah
dan panggil Menteri Kang ke sini! Semua syaratnya akan kupenuhi. Bawalah surat perintah dariku !"
Kaisar menengok ke arah sudut di mana seorang petugas yang berpakaian sebagai sastera-wan telah
menuliskan surat perintah itu dengan cekatan. Setelah membubuhi cap sebagai tanda kekuasaan
kaisar, surat itu diberikan kepada Jen-deral Beng Tian dan kaisar berkata, "Selain Men-teri Kang, juga
perintahkan agar para menteri yang ditahan agar semua menghadap ke sini!"
Para pejabat tinggi yang mendukung Menteri Kang tentu saja menjadi gembira sekali dan hati mereka
merasa lega. Tentu saja Perdana Menteri Li Su dan kaki tangannya mengerutkan alis dan merasa
penasaran, tidak puas walaupun mereka tidak berani membantah keputusan yang diambil oleh kaisar.
Mereka juga merasa khawatir karena mereka tahu bahwa para menteri itu, di bawah pimpinan Wakil
Perdana Menteri Kang, akan selalu menentang dan memusuhi mereka.
Ho Pek Lian merupakan orang yang paling gembira mendengar keputusan kaisar itu. Hampir saja ia
lupa diri dan bersorak kegirangan. Untung ia masih ingat akan keadaan dan ia hanya menun-dukkan
muka menyembunyikan senyum di wajahnya yang mendadak menjadi berseri-seri itu.
Setelah Jenderal Beng Tian berangkat, persi-dangan dibubarkan. Para menteri siap untuk mengundurkan
diri. Sebelum kaisar meninggalkan ruangan, Siang Houw Nio-nio yang bertugas menga-wal
kaisar sampai ke bagian dalam istana, berkata kepada dua orang muridnya, "Ajaklah kawanmu
pulang dulu. Nanti aku menyusul setelah selesai tugasku di sini."
Setelah kaisar meninggalkan ruangan itu, baru-lah para menteri bubaran dan mereka itu tentu saja
berkelompok, memilih kelompok masing-masing dan ramailah mereka membicarakan keputusan
menghebohkan yang baru saja diambil oleh kaisar.
Rakyat di manapun juga di dunia ini mengha-rapkan kemakmuran dalam hidup. Makmur dalam arti
kata lahir batin. Makmur lahiriah adalah mu-rahnya sandang pangan sehingga nilai tenaga ma-nusia
dihargai dan cucuran keringat dari pekerja mendatangkan hasil yang lebih dari cukup untuk keperluan
hidup yang pokok. Makmur batiniah adalah hidup dalam suasana aman tenteram bebas tanpa adanya
penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah, dari yang berkuasa terhadap rakyat jelata, merasa
terjamin keselamatan dan kebebasan dirinya lahir batin. Dan kemakmuran seperti itu tidak mungkin
terlaksana kalau pemerintahnya ti-dak baik. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang
dikemudikan oleh alat pemerintah yang ca-kap dan sehat lahir batin. Karena alat pemerintah
merupakan kelompok bertingkat, maka sudah ba-rang tentu tingkat yang tertinggi haruslah benar dan
bersih. Dalam sebuah kerajaan, kalau sang raja tidak bersih dan korup, mana mungkin mengharapkan
para pejabat dan pembantunya bersih ? Seba-liknya kalau sang raja benar -benar bersih dan
sehat, tentu dia akan mampu untuk menegur, me-mecat atau menghukum para pembantunya yang
menyeleweng dan korup, lalu memilih pembantu-pembantu puncak yang jujur dan bersih agar para
pembantu puncak ini dapat pula membersihkan ba-wahan -bawahannya. Karena, kalau bukan atasannya
sendiri, siapa lagi di antara rakyat yang berani menentang kekuasaan orang yang sedang diberi
kursi kekuasaan ? Rakyat tidak akan berani menen-tang lurahnya yang korup. Yang dapat
menentang-nya hanyalah atasan sang lurah itu, yaitu camat atau bupati misalnya. Dan sang
bupatipun kalau menyeleweng hanya dapat ditentang oleh atasan-nya pula. Jadi jelaslah bahwa sang
atasan yang duduk paling tinggi dan memegang Kekuasaan paling besar yang harus lebih dulu
bersih, dalam hal sebuah kerajaan adalah sang raja sendiri.
Sayanglah bahwa kebanyakan raja bersikap ke-ras menekan justeru terhadap rakyatnya, bukan
terhadap para pembantunya. Para pembantu itu hanya menurut atasan. Kalau atasannya korup, maka
para pembantunya juga mendukung keko-rupan itu atau penyelewengan itu. Kalau atasan-nya jujur
dan bersih, para pembantunya akhirnya terpaksa akan mendukung kejujuran dan kebersih-an itu. Ini
sudah menjadi watak manusia pada umumnya yang ingin bermuka-muka kepada atasan.
Raja juga seorang manusia. Dan manusia itu lemah terhadap kesenangan. Oleh karena itu, banyak
raja yang jatuh hanya karena mengejar ke-senangan sehingga melupakan kewajibannya yang besar,
yaitu mengatur pemerintahan yang bersih agar kemakmuran mungkin dapat dinikmati oleh rakyat
jelata. Rakyat jelata yang selalu diam itu amatlah awas. Kalau ada raja yang bertindak bi-jaksana dan
membersihkan para pembantunya dari penyelewengan, maka sudah dapat dipastikan bah-wa rakyat
dunia-kangouw.blogspot.com
pada umumnya akan setuju sepenuhnya. Yang dimaksudkan dengan rakyat di sini adalah rakyat
jelata yang tidak ada sangkut -pautnya de-ngan segala perbuatan korupsi. Tentu saja tindakan raja
yang membersihkan para pembantunya dari tindakan korupsi itu akan ditentang oleh mereka yang
sudah biasa melakukan perbuatan itu, sudah biasa menyalahgunakan kedudukannya untuk me-meras
dan memperoleh hasil -hasil yang tidak wa-jar dari rakyat. Akan tetapi mereka ini tidak masuk
hitungan rakyat, bahkan menjadi penjegal kemak-muran rakyat!
Tak dapat disangkal bahwa ada sebagian rakyat yang sengaja mempergunakan uang untuk menyogok
para pejabat. Hal ini dilakukan bukan karena paksaan pejabat itu lagi, melainkan karena si penyogok
itu mempunyai pamrih lain, yaitu dengan jalan menyogok dia akan memperoleh kesempatan
dan wewenang yang akan mendatangkan hasil yang lebih besar lagi. Penyogokannya itu sama
dengan memberi umpan untuk mendapatkan ikan. Akan tetapi, hal ini hanya merupakan akibat atau
lan-jutan dari pada penyelewengan si pejabat. Karena kalau raja sudah berhasil membersihkan
seluruh pembantunya dari pada watak menyeleweng, maka para pejabat yang sudah bersih itu sendiri
yang akan menindak dan menghukum orang -orang yang membujuk dan hendak menyogoknya
dengan uang. Dengan demikian, maka segalanyapun akan beres dan bersih. Atasan ditindak oleh
atasannya, atasan menindak bawahan dan bawahan yang menjadi petugas dan pelaksana menindak
rakyat yang hendak menyeret mereka ke dalam penyelewengan.
Tentu saja hal ini tidaklah semudah dibicara-kan. Untuk dapat berhasil membutuhkan suasana dan
keadaan yang dapat menimbulkan gairah dan semangat untuk kebersihan itu. Dan rakyat sudah pasti
akan mendukung sekuat tenaga. Rakyat sela-lu mengidamkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Sayang bahwa Kaisar Cin Si Hong-te masih terombang-ambing oleh pengejaran kesenangannya diri
sendiri. Bahkan keputusan yang dikeluarkan-nya itu pun bukan didasari kesadaran hatinya, melainkan
didasari perhitungan untung rugi bagi diri-nya, bagi kerajaan, bukan bagi rakyat jelata. Dia
lupa bahwa raja dan pemerintah diadakan untuk rakyat jelata! Tanpa rakyat, apa artinya negara ? Apa
artinya kaisar ?
********************
Ho Pek Lian ikut bersama Pek In dan Ang In keluar dari istana kaisar melalui pintu samping yang
menembus melalui sebuah taman yang luas di mana terdapat banyak jembatan -jembatan yang
bercat dan terukir indah menyeberangi sungai-sungai buatan kecil yang penuh dengan ikan -ikan
emas dan bunga teratai. Kembali Pek Lian merasa kagum bukan main karena selama hidupnya
belum pernah ia melihat taman bunga seluas dan seindah ini. Kiranya tempat tinggal Siang Houw Nio
-nio juga berada di kompleks istana, tidak begitu jauh dari bangunan induk yang menjadi tempat
tinggal kaisar. Sebagai seorang pengawal pribadi, tentu saja ia harus selalu dekat dengan kaisar
sehingga dalam sekejap saja dapat dipanggil kalau kaisar memerlukannya. Bahkan ada rahasia
antara kamar kaisar dan kamar Siang Houw Nio-nio, rahasia yang hanya diketahui oleh mereka
berdua. Kalau kaisar menarik tali tertentu, sebuah kelenengan ke-cil akan bergenta di kamar nenek
itu. Genta kecil ini tentu saja dihubungkan dengan tali halus yang dipasang secara rahasia, melalui
taman bunga.
Ketika Pek In dan Ang In tiba di pintu gedung yang cukup indah itu, mereka disambut oleh para
pelayan wanita yang bukan hanya berwajah can-tik -cantik akan tetapi juga dari gerak -gerik me-reka
dapat diketahui bahwa mereka itu rata -rata memiliki ilmu silat yang tinggi!
"Heii ! Nona Pek dan nona Ang sudah kembali!" kata mereka dengan nada suara gembira.
Kedua orang nona itu tersenyum lalu memperkenalkan Pek Lian kepada mereka. Para pelayan itu
yang berpakaian sebagai dayang-dayang me-nyambut Pek Lian dengan ramah. Kemudian Pek Lian
diajak melihat -lihat gedung kecil mungil yang indah itu. Di situ terdapat ruangan berlatih silat yang
cukup luas, ada tempat samadhi, tempat di mana disimpan abu leluhur yang menjadi semacam
tempat sembahyang, ada ruangan tamu yang indah, mangan duduk, ruangan makan dan sebagainya.
Gedung itu sungguh indah sekali, jauh lebih megah dan indah dibandingkan dengan gedung
tempat tinggal keluarga ayannya sebagai menteri kebudayaan. Mungkin kemenangan satu -satunya di
gedung keluarga Ho adalah tergantungnya lukis-an -lukisan dan tulisan -tulisan bagus yang dihadiahkan
oleh para sasterawan dan seniman kepada Menteri Ho.
"Apakah subomu tinggal di sini ?" tanya Pek Lian kepada mereka. Pek In menggeleng kepa-lanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak. Hampir setiap malam subo tidur di da-lam istana, tidak jauh dari kamar sri baginda. Su-bo
mempunyai sebuah kamar indah pula di sana. Hanya kadang -kadang saja subo ke sini. Gedung ini
adalah bekas tempat tinggal kakak sepupunya yang meninggalkan istana dan tidak menempatinya
lagi. Lalu gedung ini oleh sri baginda kaisar diha-diahkan kepada subo ketika subo meninggalkan
suhu dan mengabdikan diri ke dalam istana. Kare-na subo sendiri bertugas menjaga keselamatan sri
baginda, maka gedung ini lalu oleh subo diserah-kan kepada kami berdua untuk menempatinya
bersama dayang-dayang kami." Pek In menun-juk kepada para dayang yang sedang sibuk bekerja
dengan wajah berseri.
Pek Lian memandang kepada mereka dan mak-lum bahwa mereka itu adalah anggauta-anggauta
kelompok wanita bertusuk konde kemala yang lihai-lihai. Ia menghela napas panjang. "Dayangdayangmu
itu sungguh lihai-lihai sekali." Ia teringat betapa ia pernah jatuh ke tangan mereka, bahkan
menjadi tawanan mereka.
Pek In dan Ang In tersenyum, lalu Ang In yang menjawab, "Hal itu tidak mengherankan karena
mereka itu langsung menerima pelajaran dari subo, tidak ada bedanya dengan kami berdua. Hanya
saja, kami berdua adalah murid -murid utama, ten-tu saja mempelajari ilmu yang lebih tinggi dari pada
mereka."
Ruangan sembahyang, di mana abu leluhur di-simpan, merupakan bagian terakhir dari gedung itu
yang mereka masuki. Ketika mereka masuk, Pek In mengerutkan alisnya. Sepasang matanya yang
bening itu memandang ke sana -sini dengan sinar mata menyelidik. Pandang mata tajam dari nona ini
dapat melihat adanya bekas-bekas abu dan ada beberapa batang hio yang tinggal gagang-nya saja
menancap di tempat dupa, batang hio yang masih baru, berbeda dengan yang sudah lama. Dari ini
saja Pek In dapat menduga bahwa baru beberapa hari yang lalu ada orang membakar hio di tempat
itu. Segera dipanggilnya pelayan. De-ngan cepat, tiga orang pelayan sudah berdatangan ke ruangan
itu.
"Siapakah yang datang untuk bersembahyang di sini beberapa hari yang lalu ?" tanya Pek In.
Akan tetapi, sungguh mengherankan hati Pek In dan Ang In ketika mendengar bahwa tidak ada
seorangpun di antara para pelayan yang tahu. Me-nurut mereka, ruangan itu selalu tertutup pintunya
dan jarang sekali dimasuki mereka, kecuali kalau mau membersihkan. Itupun dilakukan paling cepat
dua minggu sekali. Selama ini, tidak ada pelayan yang masuk ke situ, sedangkan kedua orang nona
itu bersama subo mereka juga selama beberapa hari. pergi keluar kota. Kalau ada orang luar
memasuki ruangan itu, sudah pasti para pelayan itu akan melihatnya. Mereka semua adalah
anggauta -ang-gauta pasukan wanita bertusuk konde kemala, ra-ta -rata memiliki kepandaian tinggi
sehingga rasa-nya mustahil kalau ada orang masuk tanpa mereka ketahui.
Jilid X
MELIHAT ketegangan menyelimuti wajah me-reka itu, Ho Pek Lian lalu tersenyum dari berkelakar,
"Wah, jangan-jangan yang datang adalah orang -orang yang dikabarkan berkeliaran di istana -istana
di waktu malam itu! Siapa tahu mereka itu mendengar akan kecantikan kalian ber-dua, lalu datang ke
sini akan tetapi karena kalian tidak ada, mereka lalu iseng-iseng membakar hio!"
"Ih, genit kau!" Ang In berseru dan mencubit lengan Pek Lian yang mengelak sambil tertawa. Wajah
Pek In dan Ang In berobah merah oleh ke-lakar itu.
Sebelum dua orang gadis itu dapat membalas, tiba-tiba terdengar suara orang-orang di serambi
depan. Kiranya nenek Siang Houw Nio -nio datang bersama seorang tamu.
"Wah, subo datang membawa tamu," kata Pek In. Mereka lalu meninggalkan ruang sembahyang itu,
menutupkan daun pintunya lalu menuju ke ruang-an depan. Terdengar suara Siang Houw Nio-nio
bercakap-cakap dengan tamunya. Pek Lian merasa jantungnya berdebar tegang ketika mengenal
suara tamu itu. Ternyata ada dua orang tamu yang bukan lain adalah Jenderal Beng Tian dan si cebol
dunia-kangouw.blogspot.com
Tong Ciak! Juga dua orang gadis itu menahan langkah, tidak berani mengganggu ketika mereka
mengenal suara dua orang jagoan istana yang sakti itu.
"Kapankah Beng -goanswe berangkat ke tempat Menteri Kang ?" terdengar suara nenek itu berta-nya.
"Aku telah berjanji kepadanya untuk membe-ri kabar tentang keputusan kaisar dan dua hari telah
lewat. Tentu dia sangat menanti -nanti ke-datanganku."
"Saya menanti kembalinya Hek -ciangkun yang saya suruh menyusul paduka ke tempat Menteri
Kang, karena saya ingin memberi tugas baru kepa-da Hek -ciangkun agar pergi menjemput dan membawa
kembali Menteri Ho ke kota raja."
"Bagaimana dengan para menteri yang lainnya ?" tanya Siang Houw Nio -nio.
"Saya telah memerintahkan Liok -ciangkun un-tuk menghubungi kepala penjara agar membebas-kan
para menteri yang ditahan, dan menyuruh mencari para menteri yang telah dipecat, mengun-dang
mereka ke kota raja."
Si cebol Pek -lui -kong Tong Ciak yang sejak tadi diam saja menarik napas panjang dan berkata,
suaranya penuh kekecewaan, "Aah, banyak tenaga telah dibuang secara sia-sia belaka."
Jenderal Beng Tian menjawab ramah, "Memang, akan tetapi siapa mengira keadaan akan menjadi
berobah begini macam? Tong-ciangkun telah ikut memeras keringat membantuku ketika menga-wal
Menteri Ho sampai jauh sehingga tugas Tong-ciangkun sendiri yang menjadi pengawal di istana
hampir kebobolan! Untung bahwa dua orang maling yang aneh itu tidak membuat kerusakan apa -apa
di istana. Kalau kita tahu bahwa akhirnya sri baginda akan mengampuni dan memanggil kem-bali para
menteri itu, tentu aku tidak sampai me-mohon kepada sri baginda agar Tong-ciangkun membantu
dalam tugas-tugasku itu."
"Ah, Beng-goanswe terlalu sungkan. Kita sebagai rekan sudah selayaknya saling membantu. Pula,
kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi. Akupun menyadari betapa beratnya tugas Beng – goanswe
harus mengawal Menteri Ho yang terkenal dan dicinta oleh para pendekar itu secara rahasia, pada
hal pada waktu itu juga Beng -goanswe bertugas menumpas para pemberontak di Lembah Yang -ce.
Sesungguhnya, saya harus merasa malu karena kebodohanku dalam mengatur siasat sehingga
banyak anak buah goanswe yang tewas ketika kawan-kawan Menteri Ho melakukan penghadangan
ketika itu. Memang... aku cuma bisa berkelahi saja, sama sekali tidak mengerti akan siasat-siasat
perang seperti Beng-goanswe."
"Tidak mengapalah. Yang penting Menteri Ho dapat diselamatkan, dan itupun berkat bantuan
ciangkun dan kami sudah amat berterima kasih."
Pek -lui -kong Tong Ciak menarik napas pan-jang. Dia teringat akan peristiwa penghadangan kereta
yang ditumpangi Menteri Ho sebagai tawan-an itu. Betapa dia hampir saja gagal mempertahan-kan
tawanan itu. Tak disangkanya akan muncul si pemuda kusir kereta yang memiliki kesaktian luar biasa
itu. Untung pemuda itu berotak miring se-hingga perkelahian tidak dilanjutkan. Kalau sampai
dilanjutkan, mungkin saja tawanan sudah dirampas oleh para pemberontak. Pemuda itu lihai bukan
main. Dia sendiri, yang sudah mampu menyempur-nakan ilmunya sehingga mencapai tingkat terakhir,
yaitu tingkat tingkat tigabelas terpaksa ketika beradu tenaga, terdorong mundur ! Biarpun belum dapat
ditentukan siapa yang akan kalah atau me-nang kalau perkelahian diteruskan, akan tetapi ka-lau dia
harus sibuk menghadapi pemuda lihai itu, bukankah tawanan itu akan mudah dilarikan orang?
Pasukannya sudah terdesak ketika itu.
"Pembersihan yang kita lakukan di Lembah Yang-ce itu memang dapat dikata berhasil. Akan tetapi,
mereka itu hanya sebagian kecil saja dari pada gerombolan yang memberontak, yang kabarnya
semakin besar dan kuat, saja karena bantuan rakyat. Dan lebih mengkhawatirkan lagi adalah adanya
berita bahwa kaum sesat dari dunia hitam telah bangkit dan dipimpin oleh keturunan si raja kaum
hitam setengah abad yang lalu. Orang itu juga menamakan dirinya seperti leluhurnya yaitu Raja
Kelelawar! Hal ini sungguh mendatangkan kegelisahan. Mereka itu lebih kejam dan lebih ganas
dibandingkan dengan para pemberontak. Para pemberontak itu hanya menentang pemerintah, akan
tetapi kaum sesat itu tidak memakai peraturan lagi, mengganas dan melakukan kejahatan tanpa
pandang bulu, merusak kehidupan rakyat. Dan mereka itu memiliki kepandaian yang tinggi. Hemm,
ingin aku dapat bertemu dan berhadapan dengan iblis itu !" Jenderal Beng Tian mengepal tinjunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Akupun sudah mendengar tentang itu," sambung Pek-lui-kong Tong Ciak. "Aku mendengar bahwa
dia memang sakti seperti iblis sendiri. Ja-ngan-jangan dialah yang mengunjungi wuwungan istana
beberapa malam yang lalu. Kim-i-ciangkun yang mengejar bayangan kedua orang itu melapor-kan
bahwa mereka memiliki gerakan cepat seperti setan, berloncatan dan berlarian di atas wuwungan
kompleks istana dengan amat ringannya dan sukar disusul. Siapa lagi yang mampu meninggalkan pasukan
pengawal yang rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi itu dengan mudah, kecuali iblis
itu sendiri ?"
"Hemm, benar kiranya dugaanmu itu, Tong-ciangkun. Di antara kita bertiga ini, akulah yang pernah
merasakan kelihaiannya."
"Ehh ......?" seru Jenderal Beng.
"Ahh... ?" Si pendek Tong Ciak juga berseru kaget dan heran.
"Sesungguhnyalah, baru kemarin aku bertemu dan bertanding melawan iblis itu. Dan terus terang saja
kuakui bahwa aku bukan tandingannya. Padahal waktu itu aku sudah dibantu oleh murid pertama dari
suamiku. Kami berdua terdesak dan nyaris tewas!"
Tentu saja dua orang jagoan istana itu tertegun. Hampir mereka tidak dapat menerima kebenaran
cerita itu kalau tidak mendengar sendiri dari mulut Siang Houw Nio-nio. Mereka tahu benar siapa
adanya wamta tua yang berada di depan mereka ini. Pengawal pribadi kaisar! Mereka tahu betapa
lihainya nenek ini dan merekapun sudah mendengar siapa pula suami nenek ini. Suhengnya sendiri,
ketua Partai Pedang Langit, keturunan Sin-kun Bu-tek, datuk besar utara jaman abad lampau. Mereka
sudah pernah samar-samar mendengar tentang apa yang telah terjadi antara suami isteri sakti itu.
Oleh karena itu, mereka merasa sungkan dan sungguhpun mereka merasa heran sekali mendengar
bahwa iblis Raja Kelelawar itu menye-rang si nenek yang dibantu oleh murid utama suaminya,
mereka tidak berani mendesak atau bertanya lebih lanjut.
Di dalam hati, kedua orang jagoan ini berdebar penuh ketegangan. Nenek ini memiliki ilmu
kepandaian yang hebat, tidak banyak selisihnya dengan mereka sendiri, dapat dikatakan setingkat.
Biarpun demikian, melawan iblis itu, padahal sudah dibantu oleh murid utama suaminya, masih kalah
dan nyaris tewas! Padahal, merekapun pernah melihat kelihaian murid utama itu, ialah Yap Kiong
Lee. Murid utama ini boleh dibilang telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian gurunya sehingga dapat dibilang
hampir selihai gurunya. Pemuda itu sering datang ke kota raja dan semua orang gagah di kota
raja mengenalnya.
"Hemm, jelas bahwa tentu iblis itu yang muncul di kota raja!" Pek-lui-kong berkata sambil mengepal
tinju. "Aku harus berhati-hati."
"Memang kita harus berhati -hati," kata Siang Houw Nio -nio. "Akan tetapi aku mendengar dari
pelaporan para dayang dari Pek-ji dan Ang-ji yang diutus oleh murid -muridku itu menyelidiki ke
tempat pertemuan kaum sesat, bahwa si iblis itu bersama dengan pembantunya akan mencari Tunghai-
tiauw (Rajawali Lautan Timur) yang pada waktu itu tidak muncul. Jadi, mungkin dia hanya lewat
saja di sini."
Si cebol mengangguk. "Menurut pengamatan paduka, benarkah iblis itu keturunan Si Raja Kelelawar
beberapa puluh tahun yang lalu seperti tersebut dalam dongeng-dongeng itu ?"
"Kurasa benar demikian, karena ilmu silat yang dimainkannya itu tentulah Kim -liong Sin -kun seperti
yang pernah kudengar, dan ilmu ginkang-nya itu tentulah Bu-eng Hwee-teng yang membuat aku mati
kutu. Kurasa, untuk masa kini, tidak ada lagi orang yang mampu menandinginya." Nenek itu
memandang kepada Pek-lui-kong dengan sinar mata tajam penuh selidik. Menurut penu-turan
Ouwyang Kwan Ek dalam percakapannya dengan suaminya, si cebol ini telah mencapai tingkat
tertinggi dalam perguruan Soa-hu-pai. Ingin sekali ia tahu, bagaimana jika si cebol ini menandingi
Raja Kelelawar. Mana yang lebih lihai antara ilmu si iblis itu, yalah Pat-hong Sin-ciang atau Kim-liong
Sin-kun dibandingkan dengan Ilmu Silat Teratai Soa-hu-lian dan Ilmu Pukulan Pusaran Pasir Maut ?
Pek-lui-kong Tong Ciak tersenyum dingin. "Hemm, sekali-kali aku ingin sekali berkenalan dengan
ilmu-ilmunya. Tentu saja hal itu akan sukar terkabul karena aku terikat oleh tugas di da-lam istana.
Akan tetapi, ingin sekali aku mencoba ilmuku, apakah mungkin dapat untuk dipakai menghadapinya ?
Kurasa, yang paling sukar dila-wan adalah Bu -eng Hwee -teng itu karena kalau benar dia telah
dunia-kangouw.blogspot.com
mewarisi ilmu itu dengan sempurna, kiranya di dunia ini sukar dicari orang yang akan mampu
menandingi kecepatannya. Kecuali apa bila locianpwe Sin -yok -ong hidup kembali. Akan tetapi,
dengan kecepatan gerak tangan Ilmu Silat Teratai Soa-hu-lian, kurasa iblis itu tidak akan mudah untuk
menundukkanku." Si cebol ini meng-akhiri kata-katanya dengan kalimat yang penuh dengan
kepercayaan akan kehebatan ilmunya sen-diri.
Ucapan itu bukan sekedar kesombongan kosong belaka. Semenjak dia berhasil mencapai tingkat
tertinggi dengan ilmu keturunannya, belum pernah ada lawan yang mampu mengalahkan dia. Apa lagi
jika dia mengeluarkan Ilmu Silat Soa-hu-lian karena kedua lengannya dapat bergerak dengan luar
biasa cepatnya sehingga nampak seperti ribu-an tangkai bunga teratai mencuat di antara daun-daun
teratai di telaga pasir. Karena ilmunya ini, selain julukan Pek-lui-kong (Malaikat Halilintar), diapun
kadang-kadang dijuluki Si Lengan Seribu.
Jenderal Beng Tian menarik napas panjang. Dia-pun amat tertarik. "Tentang Ilmu Bu-eng Hwee-.
teng itu, kurasa Tong -ciangkun salah duga kalau mengira tidak ada orang yang akan mampu menandinginya.
Ketika aku mengejar -ngejar ketua lembah, aku bertemu dengan seorang kakek yang
memiliki ginkang yang luar biasa hebatnya. Kakek itu dengan menggendong seorang gadis masih
mampu menggandeng tangan si ketua lembah dan melarikan diri bebas dari kepungan beribu orang
perajurit pilihan. Padahal di sana masih ada aku sendiri dan dua orang pengawalku. Bayangkan sa-ja
betapa hebat ginkangnya."
"Memang banyak terdapat orang-orang tak terkenal yang sakti," kata Siang Houw Nio-nio. "Para anak
buah Ang -ji yang beruntung dapat menyaksikan pertemuan rahasia kaum sesat itu mengatakan
bahwa seorang kakek telah berhasil menundukkan kesombongan iblis itu dalam ilmu ginkang yang
luar biasa. Kakek itu memperkenal-kan diri sebagai murid bungsu Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti)."
"Ohhh ! Jadi locianpwe Sim-yok–ong masih mempunyai murid?" kata Jenderal Beng Tian. "Kalau
begitu, kakek yang kuhadapi itu ten-tulah dia juga orangnya!"
"Mungkin demikianlah adanya. Tentang murid-murid Sin-yok-ong, aku masih mengenal seorang
muridnya yang lain, yaitu suheng dari murid bung-su itu. Dia adalah ketua perguruan Liong -i -pang
(Jubah Naga)."
"Kakek berjubah naga ?" Pek-lui-kong berseru kaget. "Ali, tidak kusangka ! Pantas saja ilmu
silatnya sedemikian hebat. Wah, kalau demikian halnya, si iblis Raja Kelelawar tentu akan banyak
menemui kesulitan dalam pemunculannya ini.
Murid-murid Sin-yok-ong... hemm, Beng-goanswe, benarkah bahwa ketua orang-orang lembah itu
diselamatkan oleh kakek murid bungsu dari Sin-yok-ong ?"
"Memang dia diselamatkan seorang kakek, akan tetapi aku tidak yakin apakah benar kakek itu sama
dengan kakek yang telah muncul dalam pertemuan rahasia para kaum sesat atau bukan, aku tidak tahu
benar apakah dia itu murid Sin -yok -ong atau-kah orang lain," jawab jenderal itu.
"Heii! Aku ingat sekarang !" Tiba -tiba Siang Houw Nio -nio berseru keras. "Aku membawa se-orang
gadis yang pernah bersama -sama dengan ketua lembah itu. Aku malah membawanya ke sini dari
perlawatanku ke tempat Menteri Kang tempo hari. Mungkin ia tahu di mana adanya kawannya itu.
Heh, kamu pelayan yang di luar. Cepat pang-gil Pek -ji dan Ang -ji ke sini, suruh mereka mem-bawa
tamunya!"
Mendengar perintah ini, Ho Pek Lian yang mendengarkan di ruangan samping tentu saja menjadi
terkejut sekali. Jantungnya berdebar tegang. Ia akan dihadapkan dengan dua orang jagoan is-tana
yang pernah dilawannya itu ? Mereka tentu akan mengenalnya kalau begitu. Akan tetapi ah,
mengapa ia mesti takut ? Bukankah ayahnya sekarang telah bebas, bukan menjadi pemberontak lagi,
bukan menjadi buronan pemerintah atau orang hukuman lagi ? Akan tetapi kalau ia dituduh seba-gai
komplotan orang -orang lembah itu. Ah, perduli amat! Bagaimanapun juga, ia bukanlah komplotan
mereka. Ia termasuk anggauta kelompok yang di-pimpin oleh Liu Pang, sedangkan orang -orang
lembah pimpinan Kwee Tiong Li itu adalah ke-lompok yang berada di bawah perlindungan bengcu
Chu Siang Yu.
Ketika dayang itu datang, dengan sikap tenang saja Pek Lian bersama Pek In dan Ang In pergi
menghadap memenuhi panggilan Siang Houw Nio-nio.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jenderal Beng Tian memandang tajam ke arah gadis itu, kemudian diapun berseru dengan suara
keras, "Ah, benar! Inilah gadis itu! Aku pernah berhadapan dengan ia ini sampai dua kali. Perta-ma
ketika ia muncul secara tiba-tiba dari balik gerobak tokoh Ban-kwi-to dan membantu ketua lembah
yang menyamar sebagai perajuritku. Ke dua ketika ia diselamatkan oleh kakek sakti itu! Benar begitu
bukan, nona ?"
Ho Pek Lian maklum bahwa ia tidak mungkin dapat mengelak dan menyangkal lagi, maka iapun
dengan sikap tenang sekali mengangguk. "Benar, akulah gadis itu. Akan tetapi sekali lagi kujelaskan
kepada siapa saja bahwa aku bukanlah teman orang -orang lembah itu. Aku baru mengenal dia pada
saat dia menyamar sebagai peraiurit itu. Pa-da saat itu aku tidak tega melihat dia dikeroyok banyak
perajurit." Pek Lian bersikao tenang dan sedikitpun ia tidak kelihatan takut. Sementara itu, Pek-luikong
Tong Ciak juga memandang nona itu dengan penuh perhatian. Dia merasa seperti pernah
bertemu dengan gadis ini, akan tetapi dia lupa lagi entah kapan dan di mana.
"Akan tetapi nona selalu bersama dengan pe-muda pemimpin lembah itu, maka tentu saja kami
menyangka bahwa nona adalah anggauta mereka pula. Sekarang kami ingin bertanya kepadamu, nona,
di manakah kawanmu pemimpin lembah itu ? Namanya Kwee Tiong Li, bukan ? Dan dia itu
termasuk kelompok manakah ?"
"Tai -ciangkun salah sangka kalau mengira aku selain bersama dengan dia. Sejak aku diselamat-kan
oleh kakek sakti, aku lalu memisahkan diri. Aku tidak tahu ke mana kakek dan pemuda itu pergi.
Memang benar namanya Kwee Tiong Li, akan tetapi aku tidak tahu dia termasuk kelompok mana."
"Ah, nona. Sebagai seorang tua biasa tentu saja aku bisa percaya omonganmu. Akan tetapi sebagai
perajurit, aku terpaksa tidak danat menerimanya begitu saja tanpa penyelidikan. Kami harus menahanmu
untuk menyelidiki kebenaran kata -katamu. Tuan puteri, bolehkah aku membawa gadis ini
sebentar saja ? Kami ingin menyelidikinya !"
Siang Houw Nio-nio mengangguk dan meno-leh kepada Pek Lian. "Akan tetapi kuminta dengan
sangat kepada Beng -goanswe untuk memperlaku-kan gadis ini baik -baik. Aku suka kepadanya, ia
tabah dan gagah, dan aku percaya bahwa ia mem-beri keterangan yang sebenarnya."
"Baik," jawab jenderal itu, lalu dia memberi perintah kepada bawahannya. "Bawa gadis ini ke kantorku
!"
Perwira itu bersama beberapa orang perajurit melangkah masuk. Pek In dan Ang In memandang
bingung, merasa serba salah. Dengan mata gelisah dan bersedih mereka itu memandang kepada Pek
Lian dan kepada subo mereka berganti -ganti, tak tahu harus berbuat bagaimana.
Akan tetapi, Pek Lian yang memiliki kekerasan hati itu tentu saja tidak mau ditangkap secara mu-dah
begitu saja. Selama ini ia juga menjadi ta-wanan Siang Houw Nio -nio dengan dua orang muridnya,
akan tetapi ia lebih diperlakukan seba-gai sahabat atau tamu dari pada sebagai tawanan. Selain itu,
juga ia merasa bahwa ia kini adalah pu-teri seorang menteri yang telah bebas dari hukuman pula.
Mana mungkin ia membiarkan dirinya di-tangkap oleh perwira muda dan delapan orang perajuritnya
itu. Maka, ketika perwira itu hendak menangkap lengannya, iapun nrelangkah mundur dan mengelak.
"Nona, menyerahlah untuk kami tangkap. Ja-ngan sampai kami mempergunakan kekerasan," ka-ta
perwira muda itu yang merasa malu karena sambaran tangannya tadi dengan mudah dapat dielakkan
oleh nona yang hendak ditangkapnya.
Pek Lian memandang dengan senyum dingin. "Hemm, hendak kulihat apakah akan mudah begitu
saja kalian menangkap aku yang tidak berdosa !"
Perwira muda itu menjadi merah mukanya dan diapun memberi aba -aba kepada delapan orang
perajuritnya, "Ringkus gadis ini!"'
Delapan orang perajurit itu lalu mengurung dan serentak maju untuk menangkap kedua lengan Pek
Lian. Akan tetapi, dengan langkah -langkah ter-atur Pek Lian mengelak sambil menggerakkan ke-dua
'tangannya. Terdengar suara "plak, plak!" beberapa kali dan tiga orang perajurit terhuyung ke
belakang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini, lima orang perajurit yang lain men-jadi penasaran dan marah. Tak mereka sangka bahwa
gadis itu akan melawan. Merekapun seren-tak menubruk ke depan. Akan tetapi kembali me-reka
hanya menubruk tempat kosong saja dan ta-ngan Pek Lian sudah menampar dua orang pera-jurit lagi
yang terhuyung dan terpelanting dengan muka biru terkena tamparan.
Kini perwira muda itu menjadi marah dan dia sendiripun maju, dibantu oleh delapan orang, perajuritnya.
Akan tetapi, Pek Lian sudah mengambil keputusan untuk melawan. Ia tidak akan membiarkan
orang menangkapnya dengan mudah tanpa perlawanan. Biarlah ia tertawan karena kalah, bukan
karena takut. Maka terjadikah perkelahian, antara sembilan orang pengeroyok itu dengan Pek
Lian. Pek In dan Ang In yang melihat perkelahian ini, tersenyum -senyum melihat betapa Pek Lian
membuat sembilan orang itu kocar-kacir. Dan karena yang hadir adalah ahli -ahli silat, mereka-pun
tertarik. Bahkan Jenderal Beng Tian setengah membiarkan perkelahian itu terjadi dan dia-pun kagum
melihat sepak terjang gadis itu.
"Bukan main... " pikirnya. "Boleh juga gadis muda ini." Diam -diam dia memperhatikan gerakangerakan
Pek Lian dan dia merasa heran. Dasar gerakan gadis itu menunjukkan bahwa ia telah
mempelajari ilmu silat yang baik dan bersih. Akan tetapi mengapa begitu campur aduk, seolah -olah
gadis itu telah menggabungkan beberapa macam ilmu silat dari aliran -aliran yang berbeda dalam
gerakan silatnya. Kadang-kadang gerakan silat-nya bergaya harimau tutul, kadang -kadang seperti
gaya ular dan ginkangnya juga amat baik, membuat tubuhnya dapat bergerak ringan sekali. Jelaslah
bahwa gadis ini bukan orang sembarangan dan telah menerima pendidikan ilmu silat dari guru -guru
yang baik.
Sembilan orang perajurit itu benar -benar dibu-at kewalahan oleh Pek Lian. Nona ini bukan hanya
menghindarkan diri untuk ditangkap dengan cara mengelak atau menangkis, akan tetapi juga membagi
-bagi pukulan dan tamparan, walaupun nona itu tidak pernah mempergunakan pukulan maut
yang dimalcsudkan untuk membunuh lawan. Hal inipun diketahui dengan baik oleh para ahli silat yang
melihat perkelahian ini dan diam -diam me-reka merasa kagum juga kepada nona muda ini yang
agaknya masih mampu mengendalikan pera-saannya.
Jenderal Beng Tian merasa sungkan untuk turun tangan sendiri terhadap seorang gadis muda seperti
Pek Lian. Akan tetapi diapun maklum bahwa gadis ini tidak boleh dipandang ringan dan kalau dia
hanya menyuruh perwira -perwira saja agak-nya akan sukar untuk menangkapnya. Oleh karena itu,
melihat sembilan orang itu kembali jatuh ba-ngun, dia lalu membentak dan menyuruh mereka mundur
sambil memberi isyarat kepada dua orang pengawal pribadinya yang sejak tadi berjaga-jaga di dekat
pintu. Dua orang pengawal pribadi dari Jenderal Beng Tian ini adalah sute -sutenya sendiri, maka
biarpun tingkat kepandaian mereka tidak setinggi sang jenderal, namun mereka meru-pakan dua
orang tangguh yang berilmu tinggi.
Dua orang pengawal ini maklum bahwa atasan atau juga suheng mereka itu sungkan turun tangan
terhadap nona muda itu, maka merekapun meng-angguk dan keduanya lalu maju menggantikan
perwira muda dan delapan orang perajuritnya yang sudah keluar dari situ dengan muka matang biru.
Seorang di antara mereka lalu menyelonong ke depan dan tangannya menyambar, mencengkeram ke
arah pundak Pek Lian. Ada angin bersuit ketika tangan ini meluncur ke depan. Pek Lian sudah
maklum akan kelihaian dua orang ini, maka iapun sudah siap -siap dan cepat mengerahkan
tenaganya menangkis tangan yang mencengkeram itu.
"Plakkk !" Sambil menangkis, Pek-Lian meng-gunakan tangan kanan untuk memukul ke arah dada
dan ia terkejut bukan main melihat betapa lawannya sama sekali tidak mengelak atau menang-kis
melainkan menerima pukulan itu begitu saja dengan dadanya.
"Bukk !" Kepalan tangan Pek Lian itu menda-rat di dada dengan empuk saja. Ia merasa seperti
memukul benda lunak yang kenyal seperti karet. Pek Lian terkejut dan maklumlah ia bahwa lawannya
ini memiliki kekebalan yang amat kuat. Maka iapun cepat mencabut pedangnya. Biarpun ia menjadi
tawanan Siang Houw Nio -nio dan dua orang muridnya, akan tetapi ia telah dipercaya setelah ia
bersama dengan mereka ikut melawan musuh dan iapun diperbolehkan membawa pedang di
pinggangnya. Kini Pek Lian yang maklum bahwa kalau hanya dengan kedua tangan kosong tak
mung-kin ia mampu menghadapi dua orang pengawal Jenderal Beng Tian, telah mencabut
pedangnya. Dengan ilmu pedang yang dipelajarinya dari guru-nya yang baru dan lihai, yaitu Liu Pang
atau lebih terkenal dengan sebutan Liu -twako, bengcu yang amat disegani itu, Pek Lian mulai
memainkan pe-dangnya menghadapi pengawal pribadi Jenderal
dunia-kangouw.blogspot.com
Beng Tian yang hendak menangkapnya. Pedangnya bergerak indah dan kuat, membentuk gulungan
si-nar yang menyilaukan mata dan mengeluarkan su-ara berdengung -dengung. Akan tetapi,
pengawal yang masih sute sendiri dari Beng -goanswe itu tetap menghadapinya dengan kedua
tangan kosong. Pengawal yang tangguh inipun maklum akan keli-haian pedang si nona muda, maka
diapun mengelu-arkan ilmu andalannya, yaitu ilmu pukulan yang amat hebat dari perguruan mereka.
Pukulan ini bernama Khong -khi -ciang (Pukulan Tangan U-dara Hampa) yang amat hebat. Dari jarak
jauh saja pukulan ini mampu melukai lawan karena me-ngandung getaran seperti petir menyambar.
Juga, pukulan ini mengeluarkan suara berdentam dan meledak -ledak. Dengan kedua lengan yang
am-puh ini, yang dipenuhi getaran tenaga sinkang yang amat kuat, pengawal itu berani menghadapi
pedang Pek Lian, bahkan berani menangkis pedang dengan lengan telanjang!
Ilmu pedang Pek Lian adalah ilmu pedang pi-lihan yang merupakan ilmu silat tinggi. Akan te-tapi,
gadis ini belum begitu lama menjadi murid Liu -taihiap atau Liu Pang, maka ilmu pedangnya selain
kurang matang, juga tenaga sinkangnya be-lum dapat mengimbangi sifat ilmu pedang yang hebat itu.
Oleh karena itulah, kini menghadapi seorang lawan yang memiliki ilmu silat tinggi, sete-lah lewat
tigapuluh jurus, ia mulai terdesak. Pada hal, pengawal ke dua belum juga maju membantu temannya.
Sementara itu, Pek-lui-kong Tong Ciak yang sejak tadi menonton perkelahian itu selalu memperhatikan
gerakan-gerakan Pek Lian dan meng-ingat -ingat di mana dia pemah melihat gadis ini.
Setelah memperhatikan ilmu pedang dari gadis itu, barulah dia teringat.
"Tahan !" teriaknya dan diapun meloncat ke dalam arena pertempuran. Melihat majunya si
cebol, Pek Lian terkejut dan mengira bahwa si ce-bol botak itu hendak menangkapnya, maka iapun
sudah membalikkan tubuhnya ke kiri, meninggal-kan pengawal lihai itu dan menggunakan pedangnya
untuk menyerang Pek-lui-kong Tong Ciak.
"Hyaaatttt...... !!" Pek Lian menerjang dan mengangkat pedangnya tinggi di atas kepala lalu
membacok ke arah kepala botak si cebol.
"Hemm... !" Pek-lui-kong berseru, kedua tangannya bergerak dan pandang mata Pek Lian menjadi
silau karena kedua tangan itu seolah -olah berobah menjadi banyak sekali dan tahu -tahu
pergelangan tangan kanannya kena ditotok dan dalam sekejap mata saja pedangnya telah berpin-dah
tangan!.
"Aku sekarang mengenal gadis ini!" kata Pek-lui-kong sambil meloncat mundur kemudian melempar
pedang rampasan itu ke atas lantai. "Tidak salah lagi! Nona, bukankah engkau gadis yang
menghadang iring-iringan kereta tawanan di sebelah utara kota Kong-goan, di dusun Han-kung-ce
itu? Herani, hampir saja engkau dan kawan-kawanmu berhasil menculik Menteri Ho ketika pemuda
gila kusir kereta itu mengamuk. Hampir separuh perajurit-perajuritku terbunuh. Bukankah engkau
gadis yang memimpin penghadangan itu ?"
Pek Lian merasa serba salah untuk menjawab pertanyaan ini dan sementara itu, Jenderal Beng Tian
dan Siang Houw Nio -nio, juga Pek In dan Ang In, terkejut bukan main mendengar ucapan panglima
cebol yang tidak berpakaian sebagai panglima itu.
"Alih ?" Jenderal Beng berteriak hampir berbareng dengan nenek itu. Kemudian jenderal itu
melanjutkan, "Kalau begitu gadis ini harus ditawan untuk mempertanggungjawabkan perbuat-annya
melawan negara! Pengawal, cepat ringkus gadis ini!"
Pengawal yang seorang lagi bergerak cepat me-nubruk ke depan hendak menangkap pundak Pek
Lian yang sudah tidak memegang pedang. Akan tetapi, tiba-tiba Pek-lui-kong Tong Ciak
menggerakkan tangannya menangkis cengkeraman ta-ngan pengawal yang tangguh itu.
"Ehh... !!" Pengawal itu terkejut dan meloncat ke belakang. Semua orang memandang dengan mata
terbelalak. Apakah Pek-lui-kong telah menjadi gila? Apakah panglima pengawal aneh ini mau
berkhianat ? Jenderal Beng Tian menge-rutkan alisnya dan dengan penuh rasa penasaran dia
memandang kepada rekannya sambil melangkah maju, juga bersiap siaga. Siang Houw Nio -nio juga
melangkah maju, siap membantu jenderal itu menghadapi si cebol yang lihai.
"Tong-ciangkun, apakah maksud ciangkun mencegah pengawalku menangkap gadis ini ?" ta-nya
Jenderal Beng Tian dengan sikap hati-hati, tidak berani sembarangan bergerak sebelum me-ngerti
benar duduknya perkara.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap jenderal itu dan juga Siang Houw Nio-nio yang mengerutkan alis dan bersiap untuk
melawannya, barulah Pek -lui -kong sadar akan keadaannya dan mengerti bahwa tindakannya tadi
menimbulkan kecurigaan. Maka cepat-cepat dia menjura dengan hormat kepada jenderal itu dan
berkata lantang, "Beng -goanswe, saya kira engkau tidak ingin menentang keputusan sri baginda
kaisar yang baru saja dikeluarkan itu, bukan ?"
Dengan sikap masih penasaran, tanpa mengu-rangi kewaspadaannya, jenderal itu mengerutkan
alisnya dan balas bertanya, "Apakah maksud ucap-an Tong -ciangkun itu ?"
Dengan sikap tenang dan ada kegembiraan terpancar dari pandang matanya, kegembiraan da-ri,
orang yang mengetahui suatu rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain, panglima cebol itu kembali
ke kursinya dan duduk.
"Beng -goanswe, untuk memulihkan keadaan negara yang dilanda kekeruhan, yang diakibatkan
karena rasa tidak puas dari rakyat atas dipecat dan dihukumnya beberapa orang menteri, sri baginda
telah memutuskan untuk memanggil kembali Wakil Perdana Menteri Kang dan membebaskan Menteri
Kebudayaan Ho dan menteri -menteri lainnya, agar memangku kembali jabatan mereka, dengan
tujuan agar rakyat menjadi tenang kembali. Bu-kankah demikian keputusan sri baginda ?"
"Benar ! Akan tetapi apa hubungannya hal itu dengan pemberontak kecil ini ?" tanya Beng-goanswe
sambil menuding ke arah Pek Lian.
"Harap goanswe suka bersabar. Ketahuilah, gadis ini adalah puteri tunggal dari Menteri Ho Ki Liong !
Nah, kalau sekarang kita menangkapnya dan memasukkannya ke dalam penjara, apa yang akan
terjadi jika ayahnya mendengar akan hal itu ? Tentu dia akan marah dan menolak untuk kembali ke
istana. Padahal, Menteri Ho adalah sahabat baik Menteri Kang, bahkan pembebasan Menteri Ho
merupakan syarat utama dari Menteri Kang. Hal ini tentu akan menimbulkan akibat luas dan kalau
sampai bertentangan dengan keputusan sri baginda kaisar, lalu siapakah yang akan menanggung akibatnya
? Siapa yang berani mempertanggungja-wabkan ?"
Tentu saja semua orang tertegun mendengar penjelasan Pek -lui -kong Tong Ciak itu. Semua mata
kini ditujukan memandang kepada Pek Lian dari kaki sampai kepala. Tentu saja mereka tidak pernah
mengira bahwa gadis ini ternyata adalah seorang puteri bangsawan, puteri tunggal dari Menteri Ho
yang amat terkenal itu.
Jenderal Beng Tian sendiri menjadi lemas mendengar penjelasan itu. Dengan sinar mata tajam dia
memandang gadis itu lalu bertanya, "Benarkah bahwa nona adalah puteri Menteri Ho?"
Dengan sikap angkuh Pek Lian berkata, "Memang benar ! Memangnya kenapa kalau begitu ?
Mengapa tidak diteruskan pengeroyokan atas diriku ?"
"Nah, lihat saja sikapnya!” Pek -lui -kong ber-kata lagi. "Dan harap goanswe ketahui bahwa nona ini
adalah murid dari jago pedang yang terkenal dengan sebutan Liu -taihiap atau Liu -twako, bengcu
yang terkenal memimpin para pendekar yang merasa tidak puas atas perlakuan pemerintah terhadap
para menteri itu."
Jenderal Beng Tian menjadi semakin kaget. Dia terbelalak memandang. "Benarkah itu ?"
"Dahulu aku pernah bertanding melawan jago pedang she Liu itu sebelum aku mengabdi di ista-na,
dan aku mengenal gaya permainan pedangnya," kata Pek-lui-kong tegas.
"Akan tetapi mengapa la selalu bersama-sama orang-orang lembah ?" Jenderal itu bertanya dengan
nada suara sangsi dan curiga.
"Apakah anehnya hal itu ? Bukankah kedua pi-hak itu sama -sama memusuhi pemerintah ? No-na ini
merasa sakit hati karena ayahnya akan dihu-kum mati. Orang -orang lembah itupun sakit hati karena
mereka dikejar -kejar dan dibasmi oleh pasukan pemerintah. Kalau keduanya bertemu, tentu saja
akan terjalin persahabatan sebagai ka-wan senasib sependeritaari, bukan ?"
Jenderal Beng Tian mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. "Ah, betapa bodohnya aku
sekali ini! Nona Ho, maafkanlah kekasaran para pembantuku tadi," katanya kepada Pek Lian dan
diapun kembali ke kursinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu, seorang perajurit datang melapor bahwa Hek -ciangkun yang diutus oleh jenderal itu ke
tempat tinggal Wakil Perdana Menteri Kang telah tiba kembali. Mendengar ini, Jenderal Beng Tian lalu
berkata, "Suruh tunggu sebentar!" Ke-mudian dia menjura kepada Siang Houw Nio -nio dan Panglima
Tong Ciak. "Harap maafkan karena saya terpaksa menunaikan tugas."
Siang Houw Nio-nio lalu mengantar dua orang tamunya pergi, karena Panglima Tong Ciak juga minta
diri. Pertemuan itupun bubar dan kedua orang gadis itu setelah kini tahu bahwa Pek Lian adalah
puteri Menteri Ho yang terkenal itu, segera merangkulnya.
"Ah, kiranya engkau adalah puteri Menteri Ho yang hebat itu. Ah, pantas saja sikapmu demikian
angkuh !" kata Pek In dengan kagum.
"Sungguh nakal sekali! Kenapa tidak dari dulu kaukatakan tentang dirimu ?" Ang In juga berkata
gemas sambil mencubit sayang.
"Bagaimana aku berani mengaku ?" Pek Lian berkata sambil tertawa. "Kalau dahulu aku meng-aku,
tentu enci berdua sudah menyerangku dan bagaimana aku akan dapat selamat ? Tadipun ka-lau tidak
ada Tong -ciangkun, bukankah aku sudah dijebloskan ke dalam sel tahanan ?"
Siang Houw Nio -nio memang tidak pernah memperdulikan urusan politik, akan tetapi sebagai
seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, diam-diam iapun merasa simpati kepada Menteri Ho
yang berani itu, dan merasa suka kepada Pek Lian juga karena keberanian gadis ini. Sekarang, mendapat
kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri menteri itu, iapun merasa semakin suka.
"Sementara engkau menanti kedatangan ayah-mu ke istana, engkau boleh tinggal bersama Pek In
dan Ang In di sini," kata nenek itu dengan sikap ramah.
Pek Lian cepat memberi hormat kepada nenek itu, penghormatan yang sungguh -sungguh, seba-gai
puteri seorang menteri kepada seorang yang berkedudukan tinggi seperti bibi kaisar itu. Akan tetapi
karena ia lebih kagum dan tertarik kepada nenek ini sebagai seorang wanita sakti, maka ia tetap
menyebut locianpwe sebagai penghormatan seorang ahli silat muda terhadap seorang tokoh besar
yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya.
"Saya menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan locianpwe dan harap sudi memaafkan segala
kesalahan saya yang sudah-sudah terhadap locianpwe."
Melihat sikap dan mendengar pula tanda-tanda adanya orang yang me-masuki ruangan itu, bahkan
telah bersembahyang, subo. Akan tetapi, tidak ada seorangpun di antara anak buah teecu yang
melihatnya." Demikian Pek In imenutup laporannya. Gurunya mengerutkan alis dan memandang
heran. Ia tidak perlu meme-riksa sendiri ke ruangan itu karena ia percaya pe-nuh akan ketelitian
muridnya ini
"Mengingat akan cerita tentang munculnya dua bayangan orang yang amat lihai di gedung para
bangsawan bahkan juga di istana, jangan-jangan yang memasuki ruangan sembahyang inipun mereka
itu, subo," kata Ang In dan diam -diam gadis yang gagah perkasa ini melirik ke kanan kiri de-ngan
hati mengandung rasa jerih juga. Siapa tahu bayangan setan itu pada saat itu masih berada di situ!
"Akan tetapi, apa perlunya mereka berkeliaran di sini dan memasuki ruangan sembahyang tempat
penyimpanan abu leluhur ?" Nenek itu bertanya sangsi, akan tetapi ia teringat akan dugaan Pek-luikong
akan kemungkinan bahwa seorang di an-tara dua bayangan itu adalah Si Raja Kelelawar
sendiri. Kalau benar yang datang ke istana ini adalah Si Raja Kelelawar, lalu apa maksudnya ?
Apakah iblis yang mengerikan itu masih terhitung keluarga istana dan dia datang untuk bersembahyang
di depan abu leluhurnya sendiri ? Siang Houw Nio -nio mengerutkan alisnya dan dengan termenung
iapun lalu memasuki kamarnya sendiri. Dua orang muridnya yang melihat sikap subonya, maklum
bahwa subonya sedang berpikir keras, maka merekapun tidak berani banyak bertanya, melainkan
mengiringkan subonya.
Siang Houw Nio-nio duduk termenung di da-lam kamarnya, di atas kursinya. Pek In dan Ang In, diikuti
oleh Pek Lian, duduk di luar kamar menanti dan menduga-duga apa yang dipikirkan oleh nenek itu.
Nenek itu melayangkan lamunannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gedung mungil ini dahulunya menjadi tempat tinggal keluarga pamannya yang menjabat sebagai
kepala rumah tangga istana. Pamannya itu hanya mempunyai seorang putera yang kini menjadi kepala
kuil istana, yaitu Bu Hong Sengjin yang masih terhitung saudara sepupunya sendiri. Ketika masih
muda, Bu Hong Sengjin yang pangeran itu oleh ayahnya disuruh mempelajari ilmu silat tinggi dari
seorang kepala kuil Agama To -kauw. Tentu saja pamannya itu mengharapkan agar putera tunggalnya
itu kelak dapat menjadi seorang panglima atau perwira tinggi. Akan tetapi, tempat perguruan di
mana pangeran itu belajar tidak hanya mengajar-kan ilmu silat tinggi, melainkan juga keagamaan.
Dan dia memang telah mewarisi ilmu silat tinggi, akan tetapi di samping itu juga mewarisi ilmu keagamaan
yang mendalam. Bahkan agaknya, pemu-da itu lebih condong mendalami agama dari pada
ilmu silatnya sehingga setelah tamat belajar silat, dia tidak mau pulang ke rumah orang tuanya, bahkan
lalu masuk menjadi pendeta Agama To dengan julukan Bu Hong Tojin. Kemudian, sebagai
seorang tosu dia lebih senang mengembara di kalangan rakyat untuk menyebarkan Agama To -kauw.
Tentu saja hal ini amat mengecewakan hati pa-mannya. Watak pamannya itu keras dan perbuatan
puteranya itu dianggap merendahkan martabat dan nama keluarga. Maka dengan jalan kekerasan
pamannya lalu mengurus pasukan mencari putera-nya itu. Sampai bertahun -tahun usaha itu dilakukan
dan akhirnya dengan bantuan para pembesar dan pasukan, puteranya dapat dibawa kembali
ke istana. Akan tetapi, Bu Hong Tojin juga memiliki watak yang sama kerasnya dengan ayahnya. Dia
berkeras tidak mau menjadi perajurit. Perbantahan terjadi dan akhirnya, pamannya yang keras hati itu
menjebloskan puteranya ke dalam penjara. A-kan tetapi, Bu Hong Tojin tetap berkeras kepala. Hal ini
amat mengesalkan hati pamannya sehingga dia "makan hati" dan jatuh sakit sampai akhirnya
meninggal dunia.
Hal ini amat mendukakan hati Bu Hong Tojin. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia tidak suka akan
kekerasan, tidak mau menjadi perajurit. Dia tidak meninggalkan istana, akan tetapi dia bahkan
memasuki istana dan menjadi pendeta di situ. Akhir-nya, kaisar mengangkatnya menjadi kepala kuil
dan juga menjadi penasihat. Dan gedung istana mungil ini, karena tidak ada yang menempati lagi,
oleh kaisar lalu dihadiahkan kepadanya.
Ketika lamunannya melayang -layang sampai sejauh itu, Siang Houw Nio -nio lalu teringat akan kakak
sepupunya itu. "Hemm, tentu saja dia, siapa lagi ? Tentu Bu Hong Sengjin yang datang bersembahyang
di sini, menyembahyangi arwah men-diang paman. Tentu saja dengan kepandaiannya
yang tinggi, dia dapat datang tanpa terlihat oleh para dayang. Sebaiknya kutanyakan sendiri kepadanya."
Wanita itupun lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar, wajahnya tidak
sekeruh tadi.
"Pek -ji dan Ang -ji, aku mau kembali ke istana," katanya kepada dua orang muridnya itu. Tanpa
menanti jawaban, nenek itu melangkah cepat me-ninggalkan mereka yang tentu saja hanya dapat
mengangguk dan tidak berani bertanya.
Malam yang kelam. Hujan rintik -rintik mem-buat hawa dingin sekali. Suasana di kompleks is-tana
amat sunyi menyeramkan. Bukan hanya karena kelamnya malam gelap -gulita, melainkan teruta-ma
sekali dengan adanya cerita tentang tamu yang misterius maka suasana menjadi nampak sunyi dan
menyeramkan. Para petugas jaga merasakan ini dan mereka memperketat penjagaan, bersikap waspada.
Namun, makin tegang hati mereka, makin menyeramkanlah suasananya. Lewatnya seekor
kucing di atas genteng saja sudah cukup untuk membuat jantung berdetak seolah akan pecah dan
membuat darah tersirap meninggalkan muka. Lam-pu-lampu teng yang dipasang oleh para hamba
istana tidak mampu memberi penerangan yang cukup, bahkan kabut tipis yang diciptakan oleh hujan
rintik -rintik itu membuat lampu -lampu itu nam-pak seperti cahaya -cahaya yang aneh menyeramkan.
Tiga orang gadis itu bukanlah orang -orang yang lemah. Sama sekali bukan. Pek In dan Ang In
adalah murid-murid kesayangan Siang Houw Nio-nio dan mereka telah memiliki tingkat ilmu silat yang
tinggi, lebih tinggi dari kepandaian Ho Pek Lian. Dan Pek Lian sendiri, biarpun belum selihai dua
orang gadis itu, namun sudah merupakan seorang gadis yang hebat ilmu silatnya, dan jarang ada
orang yang akan mampu menandinginya. Mereka bertiga ini sudah jelas sekali bukan orang-orang
penakut, bahkan tidak pernah merasa takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi,
pada malam hari ini, ada rasa ngeri dan takut menyelinap dalam hati masing-masing dan mereka
mencoba untuk menyembuyikannya dengan melalui obrolan yang asyik di dalam ruangan duduk itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Rasa takut bukan datang dari luar, melainkan dari dalam batin kita. sendiri. Rasa takut timbul dari
permainan pikiran sendiri yang membayangkan hal -hal yang mengerikan. Kalau kita menghadapi
segala sesuatu tanpa bayangan pikiran akan hal-hal yang belum ada ini, maka rasa takut tidak akan
muncul. Umpamanya, kita duduk seorang diri di dalam kamar dalam suasana yang sunyi. Pikiran kita
teringat akan cerita orang tentang adanya setan dalam kamar, tentang hal -hal yang mengerikan lain,
maka pikiran itu lalu membayangkan hal -hal yang tidak ada. Dalam keadaan seperti itu, suara seekor
tikus melanggar sesuatu saja sudah cukup untuk menimbulkan bayangan dalam pikiran ten-tang
munculnya setan yang menakutkan. Timbul-lah rasa takut dan rasa takut ini membuat orang tidak
waspada sehingga ada bayangan sedikit saja lalu bisa kelihatan seperti setan oleh mata kita yang
sudah terselubung rasa takut. Kewaspadaan yang menyeluruh, perhatian yang menyeluruh ter-hadap
apapun yang terjadi di depan kita, akan meniadakan rasa takut itu.
Tiga orang gadis itu, dalam keadaan diliputi rasa ngeri dan takut akan kemungkinan munculnya hal -
hal yang tidak mereka inginkan, terutama sekali munculnya dua bayangan yang dihebohkan itu, dan
juga adanya bekas -bekas orang bersem-bahyang di dalam ruangan penyimpanan abu lelu-hur,
mencoba untuk melarikan diri dari rasa takut dengan jalan mengobrol. Mereka saling mencerita-kan
pengalaman dan riwayat masing -masing dan dalam kesempatan itu, mereka merasa menjadi semaian
akrab satu sama lain.
"Aih, ternyata engkau mempunyai banyak guru yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Mulamula
Huang-ho Su-hiap, empat orang pendekar Huang-ho yang terkenal itu menjadi guru -gurumu,
kemudian engkau digembleng pula oleh Liu-taihiap yang terkenal itu. Pantas saja engkau lihai sekali,
adik Lian," kata Ang In me-muji.
"Ah, jangan terlalu memuji, enci Ang. Biarpun aku mempunyai lima orang guru, akan tetapi dibandingkan
dengan engkau atau enci Pek yang hanya mempunyai seorang guru saja, aku masih belum
ada setengahmu! Aku masih harus banyak bela-jar dari kalian !"
"Hemm, sesungguhnya tidak demikian, adik Lian. Ilmu silatmu sudah cukup hebat, hanya agak-nya
engkau masih kurang dalam latihan. Ilmu-ilmu-mu itu belum dapat kaukuasai dengan matang. Kalau
sudah matang, tentu aku bukan lawanmu karena engkau mempunyai ilmu yang lebih leng-kap dan
banyak ragamnya. Kalau engkau bisa merangkai semua itu, tentu engkau benar -benar akan tangguh
sekali," bantah pula Ang In.
Selagi Pek Lian hendak membantah untuk merendahkan diri, tiba-tiba Pek In memandang kepada
mereka dengan mata terbelalak dan nona ini menaruh telunjuk di depan mulut sambil mendesis
lirih, "Ssshhhhh !" Ang In dan Pek Lian melihat perobahan muka yang menjadi tegang itu,
dan mereka berdua menjadi waspada. Melihat betapa cuping hidung Pek In berkembang -kempis,
merekapun menggerakkan cuping hidung mencium cium dan barulah mereka dapat menangkap bau
yang agak harum itu. Dan mereka merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang, leher terasa
dingin karena serem. Itu adalah bau asap dupa hio ! Me-reka bertiga saling pandang. Mereka lalu
bangkit dan atas isyarat Pek In, ketiganya lalu berganti pakaian ringkas. Dengan hati tegang mereka
mengadakan persiapan, kemudian dengan hati-hati sekali, mengerahkan ginkang agar jangan sampai
langkah kaki mereka bersuara, dipimpin oleh Pek In, ketiganya lalu keluar dari situ dan menuju ke
belakang, ke arah datangnya bau asap hio itu yang datang dari arah belakang, dari ruangan sembahyang
tempat penyimpanan abu leluhur!
Mereka bergerak sigap dan seluruh urat syaraf meneka menegang. Jantung mereka berdebar pe-nuh
ketegangrn ketika, mereka berindap -indap menuju ke ruangan sembahyang itu. Makin dekat dengan
ruangan itu, bau dupa semakin keras me-nusuk hidung. Betapa beraninya orang itu, pikir mereka.
Membakar hio di rumah orang sedemikian menyoloknya, seolah -olah tidak memperdulikan penghuni
rumah dan tidak takut dipergoki. Akan tetapi, bulu tengkuk mereka meremang kalau me-reka teringat
akan kata-kata Pek-lui-kong siang tadi. Jika benar dugaan si cebol itu yang mengata-kan bahwa
orang yang berkeliaran di komplek istana pada beberapa hari yang lalu adalah Si Raja Kelelawar,
maka mungkin sekali orang yang membakar hio dalam mangan itu adalah si Iblis itu sen-diri ! Jika hal
ini benar, maka amatlah berbahaya untuk didekati. Iblis itu kabarnya memiliki kepan-daian yang amat
hebat dan apa yang mereka saksi-kan ketika iblis itu berkelahi dengan Siang Houw Nio-nio sudah
cukup membuat mereka jerih. Me-reka maklum bahwa kalau yang membakar hio adalah Raja
dunia-kangouw.blogspot.com
Kelelawar, maka mereka bertiga bu-kanlah tandingan iblis itu dan menyerbu masuk sama saja
dengan membunuh diri atau mati konyol. Oleh karena itu setelah tiba di luar ruangan yang pintunya
tertutup itu, mereka berhenti dan saling pandang dengan ragu -ragu.
"Kita pukul saja tanda bahaya?" bisik Ang In kepada kakaknya.
Pek In menggeleng kepalanya. "Jangan dulu," bisiknya kembali. "Kita masih belum yakin. Kalau benar
musuh, memang baik sekali memukul tanda bahaya. Bagimana kalau bukan ? Bagaimana kalau dia
sudah pergi ? Berarti menggegerkan is-tana dengan sia-sia dan tentu Kim -i -ciangkun akan marahmarah
kepada kita. Kita tunggu se-bentar."
Tiba-tiba mereka bertiga terkejut dan cepat menyelinap dan bersembunyi di balik tiang besar sambil
mengintai ke depan. Daun pintu ruangan sembahyang itu terbuka perlahan dari dalam ! Ke-adaan
menjadi semakin menyeramkan. Mereka bertiga memasang mata, memandang tanpa berkedip.
Daun pintu terbuka perlahan-lahan dan di antara keremangan sinar lilin, mereka melihat dua sosok
tubuh yang tinggi kurus, mengenakan pakaian ringkas serba hitam. Wajah mereka itu ditutupi kain
hitam dari kepala sampai ke leher dan hanya sepasang mata mereka saja yang nampak bersinarsinar
seperti bintang kecil. Dari bentuk tubuh mereka, tiga orang gadis yang mengintai itu dapat
menduga bahwa seorang di antaranya tentulah wanita. Ho Pek Lian memandang dengan penuh
perhatian dari tempat persembunyiannya.
Yang pria mungkin si iblis Raja Kelelawar, pikirnya. Badannya juga jangkung kurus, pakaiannya
hitam-hitam, sepasang matanya mencorong. Dan wanita itu, matanya begitu jeli, bukankah itu Si
Maling Cantik ? Akan tetapi kalau memang benar mereka itu adalah Raja Kelelawar dan Maling
Cantik, mengapa mereka harus memakai kedok kain ?
Dua orang yang berada di dalam ruangan sembahyang itu setelah membuka daun pintu perlahanlahan,
dengan mata mereka yang mencorong itu memandang keluar ruangan, ke kanan kiri,
kemudian agaknya mereka hendak melanjutkan kesibukan mereka di dalam kamar itu, dan siap untuk
meninggalkan ruangan yang sudah mereka buka pintunya.
Sementara itu, Pek In berbisik kepada dua orang kawannya, "Ang -moi, cepat kaupukul tanda ba-haya
sedangkan aku dan Lian -moi akan menyerbu mereka dan menghadang mereka agar tidak mela-rikan
diri. Siap ? Hayo, Lian -moi!"
Mereka bertiga berpencar sambil menyelinap ke tempat gelap. Ang In cepat menuju ke sudut di mana
tergantung kentungan alat untuk dipukul ka-lau ada bahaya, sedangkan Pek In dan Pek Lian su-dah
berindap menghampiri jendela ruangan yang berada di depan kamar sembahyang itu. Mereka berdua
menanti dan begitu terdengar suara ken-tungan dipukul bertalu-talu dengan gencarnya, merekapun
menerjang ke depan !
Mendengar suara kentungan tanda bahaya ini dua orang yang berada di dalam kamar sembah-yang
terkejut dan menengok. Padi saat itu, Pek Lian sudah meloncat masuk sambil membentak nyaring,
"Maling -maling hina jangan lari !"
Hampir berbareng, Pek In juga muncul dan menyerbu dari pintu yang terbuka. Akan tetapi ha-nya
sejenak saja dua orang aneh itu kelihatan ter-kejut.
"Mari... !" Terdengar yang pria menggumam dan keduanya melesat dengan amat ceratnya ke arah
pintu. Pek In memapaki dengan pukulannya, akan tetapi dengan mudahnya dua orang itu menghindar
dengan gerakan tubuh yang amat cepat, dan sekali meloncat mereka telah dapat melewati Pek In dan
terus melesat keluar dari dalam ruangan itu melalui pntu. Pek Lian sendiri tidak sempat menyerang.
Dua orang itu meloncat naik ke atas tembok dan ketika mereka mengayun tangan, semua lampu teng
di sekitar tempat itu padam dan kea-daan menjadi gelap sekali.
"Kejar !" Pek In berseru dan bersama Pek Lian ia mengejar. Akan tetapi karena di luar amat gelap,
mereka hampir kehilangan bayangan dua orang itu.
Akan tetapi, pukulan tanda bahaya yang dibu-nyikan oleh Ang In itu mengakibatkan datangnya
banyak sekali pengawal dan penjaga. Derap kaki mereka terdengar dari semua penjuru, dan hal ini
agaknya membuat dua orang itu menjadi bingung juga. Sebaliknya, Pek In dan Pek Lian merasa lega
dunia-kangouw.blogspot.com
dan terus mengejar ke depan dan melihat dua orang itu sedang berdiri bingung di serambi depan
taman bunga. Dua orang gadis ini segera menya-rang dan menggunakan pedang mereka. Pek In
menyerang maling pria dan Pek Lian menerjang maling wanita. Akan tetapi dua orang itu sungguh
lihai bukan main. Hanya dengan gerakan langkah kaki dan kadang -kadang mengibaskan tangan, mereka
mampu menghadapi serangan pedang itu dan jelaslah bahwa Pek In maupun Pek Lian bukan
tandingan mereka. Ketika mereka membalas de-ngan serangan tamparan tangan dan tendangan
kaki, Pek In dan Pek Lian terdesak mundur. Un-tung bagi mereka bahwa pada saat itu, Ang In datang
bersama para pengawal yang segera terjun dan mengeroyok. Melihat ini, dua orang maling itu
berloncatan jauh dan melarikan diri. Tak lama kemudian keduanya sudah berada di atas gentenggenteng
wuwungan kompleks istana dan melarikan diri, dikejar oleh tiga orang gadis itu bersama para
perwira pengawal yang memiliki kepandaian cukup tinggi untuk dapat mengejar sambil berlompatan di
atas wuwungan rumah.
Karena datangnya banyak pengejar dari semua jurusan, dua orang yang gerakannya cepat seperti
iblis itu kadang-kadang harus melawan pengero-yokan para pengejar, melarikan diri lagi, dikeroyok
lagi dan terjadilah kejar -kejaran yang amat ramai di kompleks istana, di bawah cucuran hujan rintikrintik.
Banyaknya pengawal yang menghadang di sana-sini membuat dua orang maling itu kebingungan.
Mereka berputaran di seluruh kompleks dan agaknya malah kehilangan jalan. Memang jalan
keluar telah dijaga ketat oleh para pengawal sehingga dua orang mal'ng itu hanya mampu berlari—
larian di sekitar bangunan-bangunan kom-pleks istana yang luas itu dan tanpa mereka sadari
mereka beberapa kali kembali ke tempat semula. Dari tingkah mereka ini saja mudah diketahui bahwa
dua orang maling itu masih belum mengenal benar keadaan di kompleks istana.
Padi saat itu muncullah Kim -i -ciangkun, komandan dari pasukan Kim-i-wi. Melihat bahwa para anak
buahnya yang membantu tiga orang nona itu mengeroyok dua orang berpakaian hitam dan berkedok
kain, Kim -i -ciangkun menjadi marah. Dengan suara gerengan seperti seekor harimau marah dia
menerjang ke depan, begitu maju dia telah mengeluarkan ilmunya yang ganas, yaitu Hwi-ciang
(Tapak Tangan Api) memukul ke arah maling yang bertubuh ramping. Iblis betina yang berke-dok ini
agaknya memandang rendah kepada lawan, dengan mengandalkan kecepatan tubuhnya dan
kekuatan tangannya iapun menangkis.
"Desss ! Aihhh !" Jeritan suara wanita membuka rahasianya sehingga semua orang tahu
bahwa maling ke dua bertabuh ramping ini benar-benar seorang wanita. Wanita itu meloncat ke
belakang dan matanya terbelalak memandang ke arah lengan baju kirinya yang terbakar hangus!
Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat sehingga pukulan ampuh itu tidak
melukai kulitnya dan gerakannya yang cepat meloncat ke belakang tadi telah menyelamatkannya.
Diam-diam Kim -i -ciangkun juga terkejut, tidak mengira bahwa wanita itu benar-benar mampu
menangkis pukulan saktinya, maka diapun menyerang terus. Akan tetapi wanita itupun agaknya
marah karena lengan bajunya hangus. Ia menangkis, mengelak dan balas meyerang. Kecepatan
gerakannya membuat Kim -i -ciangkun kewalahan dan sebuah tendangan kilat mengenai pahanya,
membuat Kim -i -ciangkun terpelanting. Akan tetapi para pengawal menerjang dan mengeroyok.
Melihat betapa banyaknya pihak pengeroyok, maling pria berseru kepada temannya, "Lari ...... !" Dan
merekapun lari lagi, dikejar oleh banyak sekali penga-wal. Bahkan kini nampak pula pengawal Gin-i-wi
yang berpakaian perak datang membantu dari luar.
Karena dikepung makin rapat, kedua orang ma-ling itu semakin bingung. Ke manapun mereka lari,
tentu ada pasukan yang menghadang. Akhirnya, tanpa disengaja mereka lari sampai ke kuil agung
istana. Melihat bangunan kuil ini, dua orang itu lari ke sana. Akan tetapi setibanya di depan kuil yang
megah itu, kembali mereka telah dikepung rapat oleh para pengawal yang sudah ada pula yang
berjaga di tempat itu. Segera terjadi penge-royokan lagi. Biarpun ada beberapa orang penga-wal dan
pengeroyok yang roboh terluka, namun dua orang itu dikepung terus sampai tiga orang ga-dis lihai
dan juga Kim -i -ciangkun datang pula di tempat itu.
"Sungguh aneh, kenapa iblis itu tidak segesit dahulu ?" kata Pek Lian kepada dua orang temannya.
"Bukankah dahulu gerakannya luar biasa cepatnya seperti pandai menghilang saja? Biarpun
sekarang gerakannya juga cepat bukan main akan tetapi rasanya tidak sehebat dahulu "
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mungkin karena dia harus melindungi teman pei'empuannya itulah," jawab Pek In yang segera
mengajak dua orang temannya untuk membantu para pengeroyok karena memang dua orang iblis itu
luar biasa sekali. Pengeroyoknya amat banyak, dipimpin oleh Kirn -i -ciangkun yang tangguh. Semua
pengawal adalah perajurit -perajurit pilihan karena untuk dapat diterima menjadi anggauta pasukan
pengawal istimewa ini orang harus melalui ujian berat. Maka mereka itu rata -rata memiliki ilmu silat
yang cukup tangguh. Biarpun demikian, agaknya mereka itu menghadapi kesulitan untuk dapat
merobohkan atau menangkap dua orang iblis itu. Bahkan banyak sudah anggauta pengawal yang
roboh terluka oleh pengamukan mereka berdua. Hebatnya, dua orang maling itu tidak pernah
menggunakan pedang mereka yang tergantung di punggung. Ini saja menunjukkan bahwa selain
mereka tidak ingin membunuh para pengeroyok, juga menjadi tanda bahwa mereka adalah orangorang
yang sudah memiliki ilmu silat tinggi sehing-ga merasa tidak perlu lagi dibantu oleh senjata
dalam menghadapi lawan.
Selagi para pengawal itu dengan ramainya me-lakukan pengeroyokan, tiba -tiba terdengar bentak-an
melengking nyaring dan muncullah Pek-lui-kong Tong Ciak ! Melihat munculnya tokoh ini, tentu saja
para pengawal bersorak girang. Kalau jagoan ini yang turun tangan, tentu dua orang ma-ling itu akan
dapat ditangkap atau dirobohkan. Juga Kim -i -ciangkun merasa girang sekali melihat munculnya
atasan ini. Sebaliknya, Pek Lian dan dua orang tokoh wanita bertusuk konde kemala itu mundur dan
hanya menonton karena mereka sudah mulai meragukan bahwa orang berkedok itu adalah Si Raja
Kelelawar. Pula, kalau yang maju adalah orang seperti Pek -lui -kong, tentu amat tidak enak bagi
jagoan itu kalau dibantu. Biasanya, seo-rang tokoh besar yang sudah menjadi jagoan, tidak sudi dan
merasa malu untuk melakukan pengeroyokan.
Pengeroyokan itu terjadi di serambi depan, di bawah pagoda kuil yang bertingkat enam. Melihat
betapa para anak buahnya ternyata t'dak mampu menundukkan dua orang maling itu, Pek -lui -kong
Tong Ciak menjadi marah. Sambil membentak dia lalu menerjang ke depan dan menggerakkan
tangan kanannya menampar. Melihat ini, wanita dalam kedok itu menangkis dan seperti tadi,
perbuatannya ini sungguh ceroboh. Ia tidak tahu dengan siapa ia berhadapan dan dengan ceroboh ia
berani meng-adu tenaga begitu saja ! Padahal, pukulan Pek -lui-kong Tong Ciak ini sama sekali tidak
dapat disama-kan dengan pukulan api dari Kim -i -ciangkun tadi.
"Dessss ......ahhhh !!" Tubuh wanita itu terlempar ke udara! Demikian hebatnya tenaga yang
terkandung dalam pukulan Pek -lui -kong sehingga ketika wanita itu menangkis mengadu tenaga, tubuhnya
terlampar keras. Tubuh itu meluncur ke arah pagoda dan terjadilah hal yang mengagumkan
sekali. Kiranya wanita itu juga memiliki sinkang yang amat hebat sehingga biarpun tubuhnya mencelat
ke atas, namun agaknya ia tidak terluka. Ma-lah dengan ginkang yang luar biasa indahnya, ia
berjungkir balik dan dapat dengan tenangnya turun dan hinggap di lantai dari tingkat ke dua pagoda
itu ! Semua orang memandang kagum.
Ketika tubuhnya terlempar ke atas tadi, teman-nya terkejut dan dengan ringannya tubuhnya juga
melayang ke atas menyusul kawannya. Melihat ini, Kim -i -ciangkun yang sudah mempersiapkan
pasukan panah segera memberi isyarat dan melun-curlah belasan batang anak panah ke arah tubuh
ma-ling yang melayang ke atas itu. Akan tetapi, kem-bali terjadi hal yang amat mengagumkan ketika
iblis atau maling itu berjungkir balik dan dengan mudahnya menggerakkan kaki tangan memukul dan
menendang runtuh semua anak panah yang melun-cur ke arah tubuhnya. Semua ini dilakukan selagi
tubuhnya berada di tengah udara. Kemudian tubuh itu meluncur turun ke lantai tingkat dua, di dekat
temannya. Melihat ini, Pek -lui -kong mengeluar-kan dengus mengejek dan diapun bersama Kim -iciangkun
meloncat ke atas loteng tingkat dua. Pa-ra perajurit pengawal berlari-larian melalui tang-ga.
Merekapun hanya ingin menambah semangat saja karena setelah si cebol sendiri yang maju, me-reka
tidak berani mengganggu dengan pengeroyokan mereka. Hanya pasukan anak panah saja yang
masih siap di luar dan di bawah menara, meman-dang ke atas di mana dua orang iblis itu kini bertanding
dengan amat serunya melawan Pek -lui-kong dan Kim -i -ciangkun.
Pek Lian, Pek In dan Ang In menonton di ba-wah. Mereka merasa terheran -heran melihat be-tapa
iblis yang mereka sangka Si Raja Kelelawar itu ternyata nampak terdesak oleh Pek-lui-kong setelah
mereka berkelahi belasan jurus lamanya. Sebaliknya, maling wanita itu bertempur dengan seru dan
nampaknya seimbang dengan Kim -i-ciangkun. Pek -lui -kong dan Kim -i -ciangkun bernapsu sekali
untuk mengalahkan dua maling itu, maka merekapun sudah mengerahkan seluruh te-naga dan
kemampuan, mendesak dua orang lawan yang hanya melakukan perlawanan dengan sikap ragu -
dunia-kangouw.blogspot.com
ragu itu. Karena terdesak dan tersudut, akhir-nya iblis itu kembali menjejakkan kakinya dan tu-buhnya
sudah melayang ke atas, ke arah loteng tingkat tiga. Memang tidak ada lain jalan baginya. Ketika dia
sudah tersudut ke pinggir loteng, hanya ada dua pilihan, yaitu meloncat ke bawah lagi atau meloncat
ke atas. Di bawah sudah menanti ratusan pengawal yang siap dengan anak panah dan yang sudah
mengepung pagoda kuil itu. Maka diapun meloncat ke atas dan melihat ini, temannya si ma-ling
wamta juga mempergunakan ginkangnya yang hebat untuk menyusul dengan loncatan ke atas.
Melihat betapa dua orang lawannya berloncatan ke atas, tentu saja Pek-lui-kong yang sudah merasa
"menang angin" itu tidak mau melepaskannya dan diapun meloncat ke atas, mengejar, diikuti oleh
Kim-i-ciangkun yang berbesar hati karena adanya Pek-lui-kong di sampingnya.
Kini terjadi kejar-kejaran dan juga perkelahian sengit di tingkat tiga. Agaknya dua orang maling itu
hendak mengandalkan ginkang mereka karena mereka hanya sebentar saja menghadapi lawan lalu
cepat berloncatan lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Dua orang jagoan istana itu terus mengejar dan
terjadilah perkelahian seru di atas leteng ke empat. Semua orang yang menonton di bawah dapat
meng-ikuti semua kejar -kejaran dan perkelahian itu de-ngan jelas. Para anggauta pasukan bersorak -
sorak menjagoi komandan mereka.
Kini Pek Lian dan dua orang temannya dapat melihat bahwa Pek -lui -kong benar -benar dapat
mendesak si iblis pria dengan pukulan -pukulan saktinya ! Iblis itu nampak kewalahan sekali. Akan
tetapi, sebaliknya, Kim -i -ciangkun juga nampak terdesak oleh iblis wanita itu. Terutama sekali karena
dia kalah cepat dalam bergerak, dan kalah panjang napasnya membuat panglima ini terdesak dan
napasnya mulai terengah -engah. Melihat ini, para perajurit yang di bawah dan tidak dapat mem-bantu
itu lalu melepas anak panah ke atas. Mereka tahu bahwa dengan pakaian pengawalnya, ko-mandan
mereka tidak akan terlukai oleh anak panah.
Kembali terjadi keheranan dalam hati Pek Lian. Ia tahu bahwa iblis Si Raja Kelelawar memiliki jubah
yang dapat menahan segala macarn senjata tajam. Akan tetapi iblis ini agaknya tidak berani
mengandalkan jubahnya, atau dia tidak memakai jubah pusakanya itu. Iblis itu dan teman wanita
nya harus mengelak ke sana -sini dan menjadi kewalahan ketika dihujani anak panah dari bawah,
maka mereka berdua lalu meloncat lagi ke tingkat lima. Di sini anak panah tidak lagi dapat mencapai
mereka karena terhalang langkau melintang di tepinya. Pek -lui -kong dan Kim -i -ciangkun terus
mengejar. Terjadilah perkelahian yang lebih hebat di tingkat lima.
Agaknya si maling wanita itu menjadi marah karena terdesak dam tersudut. Ia mengeluarkan teriakan
melengking dan tubuhnya melesat dengan luar biasa cepatnya menyambut Kim -i -ciangkun yaag
sudah mengejar ke tingkat lima. Komandan itu maklum bahwa lawannya melakukan serangan yang
berbahaya, maka diapun cepat mengerahkan tenaga untuk menangkis. Akan tetapi, agaknya dia
kurang cepat dan tahu-tahu sebuah pukulan telah mengenai pundak kirinya.
"Dess !" Kim -i -ciangkun mengeluh dan terpelanting, roboh dan ketika dia hendak bangkit lagi, dia
menyeringai karena pundaknya terasa nye-ri sampai ke dada, bahkan lengan kirinya tidak da-pat
digerakkan, amat nyeri rasanya kalau digerak-kan ! Tentu saja dia menjadi terkejut dan maklum
bahwa dia tidak mungkin dapat maju untuk ber-tanding lagi.
Sementara itu, melihat pembantunya roboh, Pek-lui-kong menjadi marah dan sepak terjangnya
menjadi semakin hebat. Dia kini dikeroyok dua oleh lawannya. Akan tetapi, dia tidak merasa gen-tar,
bahkan kini mengeluarkan ilmunya yang amat diandalkan, yaitu tenaga pukulan Pusaran pasir Maut.
Begitu dia melancarkan pukulan ini, angin puyuh bertiup dan hawa dingin terasa melanda tubuh
kedua orang lawannya! Seketika butiran-bu-tiran keringat dan air hujan yang membasahi tubuh kedua
lawan itu menjadi beku ! Keduanya meng-gigil kedinginan dan menjadi gelagapan. Cepat mereka
mengerahkan sinkang untuk memunahkan pengaruh luar biasa dari pukulan Pusaran Pasir Maut itu.
Si cebol mengeluarkan suara ketawa me-nyeramkan.
"Hayo, keluarkan ilmu -ilmu andalanmu yang terkenal itu !" bentaknya kepada iblis yang tinggi dan
yang disangkanya Raja Kelelawar itu. "Sudah kutunggu sejak tadi. Kenapa tidak kaukeluarkan ilmu -
dunia-kangouw.blogspot.com
ilmumu ? Orang bilang, ginkangmu tidak ada keduanya di dunia ini, tidak tahunya Cuma sebegitu
saja!" Kembali si cebol tertawa menge-jek. Kemudian dia memasang kuda -kuda dengan tubuh yang
sudah cebol itu direndahkan, kedua tangannya bergerak cepat sekali di selatar tubuh-nya, makin lama
makin cepat.
"Hayo, majulah !" bentaknya dan kini dua le-ngannya sudah sukar diikuti pandang mata, biar oleh
seorang ahli silat tinggi sekalipun. Seolah-olah kedua lengan itu kini nampak menjadi ratusan atau
ribuan banyaknya, membentuk bayang bayang dan sukar dilihat dengan nyata yang manakah le-ngan
aselinya dan di mana adanya kedua lengan itu di satu saat. Itulah ilmu sakti yang luar biasa, Ilmu Silat
Soa -hu -lian (Teratai Danau Pasir)!
Iblis itu nampak terkejut, sepasang matanya ter-belalak, nampak jerih dan putus asa.
"Koko , awas !" Maling wanita memperingatkan dengan suara halus. Mereka berdua cepat bersatu
untuk menghadapi si cebol yang benar -benar amat menggiriskan ilmunya. Biarpun dikeroyok dua,
namun tetap saja dia mampu mendesak lawan. Kedua tangan yang berobah menjadi banyak sekali
saking cepat gerakannya itu, mengeluarkan angin berputar menyambar -nyambar dan membawa
hawa dingin. Butir-butiran air hujan yang jatuh di sekitar tempat itu, terkena sambaran angin dingin ini
menjadi beku dan berjatuhan mengeluarkan bunyi seperti batu!
Ho Pek Lian, Pek In dan Ang In juga sudah tiba di tingkat ke lima itu. Mereka berloncatan dan kini
menonton pertandingan hebat itu dari jarak yang agak jauh. Biarpun demikian, mereka masih merasa
betapa hawa dingin melanda tubuh mere-ka, terdorong oleh angin pukulan si cebol, membu-at
mereka mengg:gil.
Sepasang iblis itu telah terdesak hebat. Mere-ka tidak dapat lari lagi. Terpaksa melawan dari pada
mati konyol. Akan tetapi, gerakan si cebol benar -benar membuat mereka bingung. Ketika Pek -lui -
kong mengeluarkan bentakan nyaring dan kedua tangannya bergerak cepat, sepasang ma-ling itu
menangkis dan akibatnya hebat sekali. Kedok yang dipakai oleh maling pria itu tereng-gut lepas,
sedangkan maling wanita yang terkena sambaran tangan pada pundaknya itu, menjerit dan tubuhnya
terlempar jauh ke atas, ke tingkat paling atas !
Pada saat itu, dari tingkat paling atas terdengar suara halus menegur, "Siapa berkelahi di bawah ?"
Dan muncullah seorang kakek pendeta ke serambi tingkat teratas itu. Ketika dia melihat sesosok tubuh
terlempar dari bawah, cepat dia mengulurkan tangan dan menangkap dengan mencengkeram
punggung baju tubuh itu. Dan ket;ka dia melihat bahwa wanita yang berpakaian hitam itu terluka
parah, dia lalu merebahkannya di atas lantai.
Pada saat itu berkelebat bayangan hitam dan ternyata maling pria tadi, yang terhindar dari pukulan
akan tetapi kedoknya copot itu, telah melon-cat dan menyusul maling wanita yang terpukul dan
terlempar ke atas. Tak lama kemudian, si ce-bol juga sudah meloncat ke atas dan melihat beta-pa
lawannya berjongkok menghampiri dan meme-riksa tubuh kawannya yang terluka, Pek -lui -kong
sudah melangkah maju untuk melakukan pukulan maut pula.
Pada saat itu, terdengarlah teriakan Ho Pek Lian, "Tahan!! Dia bukan Raja Kelelawar!!"
"Ehhh ??" Tentu saja Pek-lui-kong menjadi terkejut, juga, kecewa karena tadinya dia sudah merasa
girang dan bangga bahwa dia mampu menandingi bahkan mendesak dan nyaris merobohkan iblis
yang dikenal dengan nama si Raja Kelelawar itu! Akan tetapi, kini puteri Menteri Ho itu mengatakan
bahwa orang itu bukanlah si Raja Kelelawar! Tentu saja dia terkejut dan kecewa. Dia menengok dan
melihat bahwa Ho Pek Lian,
Pek In dan Ang In juga sudah tiba di tempat itu.
Sementara itu, iblis yang sedang berjongkok memeriksa kawannya yang terluka, terkejut meli-hat si
cebol telah mengejarnya, maka diapun me-loncat dan siap menghadapi serbuan lawan yang amat
tangguh itu. Pada saat itu, ada suara gemu-ruh angin pukulan melanda dirinya, dari samping.
Karena dia tadi memperhatikan ke arah si cebol, dia tidak tahu bahwa di sampingnya ada seorang
lawan lain, maka kini diapun cepat mengangkat tangannya menangkis.
"Bresss !" Maling itu terdorong ke belakang oleh tenaga yang amat hebat. Celaka, pikirdunia-
kangouw.blogspot.com
nya. Ada seorang lagi yang memiliki ilmu sedemikian hebatnya. Kesempatan untuk meloloskan diri
bersama kawannya sungguh menjadi semakin tipis lagi. Cepat dia mengangkat muka memandang
dan ternyata orang yang melepaskan pukulan sakti yang amat hebat itu adalah seorang nenek!
Memang, sesungguhnya penyerang itu adalah Siang Houw Nio -nio yang juga baru keluar dari
ruangan dalam di tingkat tertinggi, bersama de-ngan kakek pendeta itu. Nenek ini memang sedang
berada di situ, dan melihat ada orang berpakaian hitam yang dikejar oleh si cebol, iapun sudah da-pat
menduga bahwa tentu dua orang berpakaian hitam itulah yang dikabarkan menjadi pengacau yang
sering muncul di kompleks istana, maka iapun segera mengirim pukulan tadi.
"Adikku sabar dulu jangan sembarangan turun tangan !" Pendeta tua yang bukan lain adalah Bu
Hong Sengjin itu berkata halus. Pendeta itu sedang memeriksa maling wanita yang terluka.
Ketika Pek Lian tadi melihat maling pria yang terenggut kedoknya, segera ia dapat mengenal pria
muda yang tampan itu. Maka iapun cepat menge-jar ke atas dan kini ia menghampiri maling pria yang
ternyata merupakan seorang pemuda tam-pan yang jangkung, usianya duapuluh tahun lebih.
"Bu -taihiap ......!" serunya.
Pemuda itu memang Bu Seng Kun, yang di-kenal oleh Pek Lian sebagai putera Bu Kek Siang
keturunan murid Sin-yok-ong si Tabib Sakti itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari ki-sah
ini, setelah Bu Kek Siang tewas, "barulah Bu Seng Kun dan adiknya, Bu Bwee Hong, mengeta-hui
dari surat peninggalan kakek itu bahwa mere-ka sesungguhnya bukan putera dan puteri Bu Kek
Siang, melainkan cucu keponakan pendekar itu. Ayah kandung mereka adalah seorang pangeran
yang bernama Pangeran Chu Sin yang ditawan oleh pasukan pemerintah, sedangkan ibu mereka
yang She Bu, keponakan dari Bu Kek Siang, telah tewas. Jadi, mereka itu adalah Chu Seng Kun dan
Chu Bwee Hong dan mereka berdua meninggalkan tem-pat tinggal mereka untuk pergi mencari ayah
me-reka yang lenyap setelah ditawan oleh pasukan pemerintah!
Melihat Pek Lian, pemuda itu segera mengenal-nya. "Ah, kiranya Ho -siocia berada di sini ?" Dia
memberi hormat dan menoleh ke arah maling wa-nita yang rebah terluka. "Dan dia adalah adikku."
Lalu dengan sedih dia mendekati adiknya, menge-luarkan sebutir pel dan berkata, "Kau cepat telan
pel ini."
Dibukanya topeng adiknya dan dimasukkannya pel itu ke mulut adiknya. Semua orang terkejut dan
kagum. Kiranya yang bersembunyi di balik kedok hitam itu adalah wajah yang luar biasa can-tiknya !
"Enci Hong !" Pek Lian cepat berlutut dan memegang tangan dara cantik yang sudah dikenalnya
dengan baik itu.
Gadis yang terluka itu setelah menelan pel dari kakaknya, dapat bernapas agak longgar dan iapun
tersenyum melihat Pek Lian.
"Anak nakal, engkau di sini dan ikut mengeroyok kami pula ?" katanya dan senyumnya membuat
semua orang seolah-olah melihat bulan bersinar penuh, demikian manis dan cemerlangnya wajah itu.
"Ah, enci, mana aku tahu bahwa Bu-taihiap dan engkau ? Kenapa ...... ah, kenapa ?" tanya Pek
Lian yang tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu, Siang Houw Nio-nio sudah
bertanya kepadanya,
"Nona Ho, siapakah sesungguhnya mereka ini ?" "Locianpwe, mereka ini adalah kakak beradik she
Bu, yaitu Bu Seng Kun dan Bu Bwee Hong. Mereka ini adalah keturunan dan ahli waris dari Sin -yok -
ong, putera dan puteri dari mendiang pendekar besar Bu Kek Siang cucu murid Sin-yok-ong
locianpwe "
"Hemm! " Tiba-tiba pendeta Bu Hong Sengjin berseru dan diapun memberi isyarat kepada
nenek Siang Houw Nio -nio, lalu berkata, "Mari kita semua bicara di dalam. Ternyata dua orang
muda ini adalah orang -orang sendiri. Dan nona ini perlu istirahat dari lukanya "
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang ikut masuk adalah selain kakek pendeta itu sendiri, Siang Houw Nio-nio dan dua orang
muridnya, Pek Lian, kakak beradik she Bu itu, dan Pek-lui-kong Tong Giak. Kim-i-ciangkun lalu keluar
dan memerintahkan semua pasukan untuk mengundurkan diri dan merawat mereka yang menderita
luka dalam perkelahian tadi. Suasana menjadi hening dan tenang kembali setelah tadi terjadi
keributan yang menggegerkan itu.
Biarpun pukulan dari si cebol itu amat hebat, namun berkat sinkangnya yang kuat, Bwee Hong tidak
sampai terancam maut. Apa lagi ia telah menelan pel mujijat dari kakaknya, bahkan Pek-lui -kong
sendiripun lalu memberi obat luka yang khusus untuk melawan bekas pukulannya kepada gadis itu.
Maka nona itu dapat ikut bercakap -ca-kap, walaupun ia harus duduk dengan punggung diganjal
bantal dan kaki dilonjorkan, dijaga oleh kakaknya, dan oleh Pek Lian.
"Nah, sekarang ceritakanlah semua," kata pen-deta tua itu dengan suara halus. "Kalau kalian be-nar
putera dan puteri dari pendekar Bu Kek Siang, lalu mengapa kalian datang ke sini seperti dua orang
maling ? Ceritakan sejujurnya, karena hanya itulah yang akan menerangkan duduknya perkara dan
akan dapat membebaskan kalian dari kecuri-gaan dan hukuman."
Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Bu Seng Kun bercerita dengan singkat namun jelas,
"Kami berdua mengunjungi kompleks istana seperti dua orang pencuri, sesungguhnya bukan dengan
iktikad buruk. Kami sedang melakukan penyelidik-an untuk mencari seseorang yang dahulu pernah
tinggal di kompleks istana. Kami tidak tahu apakah dia masih hidup, akan tetapi kami tahu bahwa dia
pernah menjadi seorang bangsawan di sini. Akhir nya, setelah mencari selama beberapa hari, kami
menemukan istananya dan kami mengunjunginya, tentu saja dengan diam -diam karena tak mungkin
kami dapat berkunjung dengan terang-terangan..."
Siang Houw Nio -nio yang sejak tadi meman-dang tajam penuh perhatian, merasa berhak untuk
bertanya karena yang dikunjungi kedua orang mu-da ini adalah rumahnya yang diberikan kepada dua
orang muridnya. "Siapakah bangsawan yang kalian cari itu ?"
"Dia seorang pangeran, namanya Chu Sin"
Kalau nenek Siang Houw Nio-nio dan kakek Bu Hong Sengjin terkejut, maka mereka tidak memperlihatkan
perasaan ini pada wajah mereka yang tetap tenang saja itu. Bahkan, nenek Siang Houw
Nio-nio lalu bertanya cepat, "Lalu mengapa kali-an mendatangi gedung itu, memasuki ruangan
penyimpan abu leluhur dan bersembahyang di sana ?"
"Kami hendak bersembahyang kepada arwah leluhur dari Pangeran Chu Sin"
Pek Lian, Pek in, Ang In dan juga Pek -lui -kong Tong Ciak mendengarkan dengan heran karena
mereka tidak tahu siapa yang dimaksudkan dengan Pangeran Chu Sin itu. Akan tetapi, kini kakek Bu
Hong Sengjin bertanya, dan suaranya agak gemetar, "Mengapa kalian menyembahyangi leluhur
Pangeran Chu Sin?"
Kembali kakak beradik itu saling pandang, lalu Seng Kun menarik napas panjang. Tidak ada jalan
lain untuk menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud buruk, yaitu hanya dengan membuka rahasia
mereka. "Beliau adalah ayah kandung kami, maka leluhur beliau berarti leluhur kami,pula "
Sebelum nenek Siang Houw Nio -nio yang ter-kejut sekali itu sempat bicara dan hanya meman-dang
kepada kakak sepupunya dengan melongo, kakek pendeta itu sudah bertanya lagi, "Bagaima-na baru
sekarang kalian datang mencari ayah kan-dung kalian di sini?"
"Kami mendengar akan rahasia tentang ayah kandung kami itu baru saja setelah ayah... eh, setelah
paman kakek kami Bu Kek Siang meninggal, melalui surat wasiat peninggalannya. Kakek Bu suami
isteri meninggal dunia dan begitu kami ta-hu akan riwayat ayah kandung kami, lalu kami da-tang ke
kompleks istana untuk mencarinya."
Pendeta itu menarik napas panjang dan meman-dang kepada dua orang muda itu berganti -ganti,
kemudian dia menunduk dan sungguh mengheran-kan hati semua orang yang hadir kecuali Siang
Houw Nio-nio ketika nampak beberapa butir air mata turun dari sepasang mata itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Seng Kun, Bwee Kong, akulah orangnya yang memberi nama -nama kepada kalian itu karena akulah
Pangeran Chu Sin yang kalian cari -cari."
Seng Kun terperanjat dan memandang kepada kakek itu dengan mata terbelalak, akan tetapi ia
didahului oleh adiknya yang sudah menjerit, "Ayah !!" Dan gadis itu sudah turun dari kursi tempat ia
bersandar dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bu Hong Sengjin. Juga Seng Kun cepat
menjatuhkan diri berlutut. Suasana menjadi sunyi dan mengharukan sekali, yang terdengar hanya
isak tangis Bwee Hong.
Sambil duduk, kakek itu lalu meraih pundak. Suasana menjadi semakin mengharukan. Akan tetapi,
agaknya kakek itu telah dapat menguasai hatinya dengan mudah.
"Seng Kun, Bwee Hong, kalian adalah anak-anak kandungku. Duduklah dan tenangkan hatimu, biar
aku menceritakan semua riwayat kita agar me-reka yang menyaksikan pertemuan antara kita ini dapat
mengerti duduknya perkara. Kurasa hanya bibi kalian Siang Houw Nio -nio sajalah yang tahu akan
rahasiaku ini."
Jilid XI
SAMBIL menyusut air mata karena girang dan terharu, dua orang muda itu lalu duduk kembali dan
tentu saja kini pandang mata mereka terhadap kakek pendeta itu berrobah sebagai pandangan anak
terhadap ayahnya. Bu Hong Sengjin lalu bercerita secara singkat. Di waktu mudanya, dia belajar ilmu
silat dan juga ilmu Agama To. Ayahnya, seorang pangeran tua, menghendaki agar dia menjadi
seorang panglima. Akan tetapi, biarpun telah mempelajari ilmu -ilmu silat tinggi dan mem-buatnya lihai
sekali, Pangeran Chu Sin lebih suka memperdalam Agama To dan lebih suka berkelana di antara
rakyat. Apa lagi karena pangeran ini memiliki pandangan yang berbeda dengan ke-luarga istana. Dia
melihat penindasan yang dilaku-kan oleh istana terhadap rakyat. Dia melihat keme-wahan yang
berlimpah -limpah di kalangan istana dan melihat kesengsaraan yang memilukan di ka-langan rakyat.
Hal inilah yang membuat dia eng-gan untuk menyumbangkkan tenaganya membantu istana. Ayahnya
marah sekali dan dia dianggap sebagai pemberontak atau penentang keluarga istana. Kemudian
ayahnya minta bantuan pasukan dan para pembesar untuk mencarinya. Akan tetapi, Pangeran Chu
Sin yang sudah bertekad tidak mau pulang itu melarikan diri dan merantau sampai jauh dan sampai
bertahun -tahun. Bahkan di da-lam pelariannya ini dia bertemu dengan seorang gadis kang-ouw
dengan siapa dia saling jatuh cinta. Kemudian dia menikah dengan gadis she Bu itu, lalu suami isteri
ini mengasingkan diri ke gunung, hidup tenteram dan bahagia sampai terlahirlah Seng Kun dan Bwee
Hong. Akan tetapi, pada sua-tu hari, para penyelidik dari istana dapat menemu-kan jejaknya dan
tempat tinggal mereka diserbu. Biarpun Pangeran Chu Sin dan isterinya menga-muk dan melawan,
namun jumlah pasukan amat banyak dan setelah melihat isterinya tewas dalam pengamukan itu,
Pangeran Chu Sin menjadi lemas dan menyerah dengan syarat bahwa kedua orang anaknya tidak
diganggu.
"Demikianlah, anak -anakku dan kalian yang menjadi saksi pertemuan ini," kakek itu menutup
ceritanya. "Ketika itu, Seng Kun baru berusia tiga tahun dan Bwee Hong berusia satu tahun. Aku
menyerahkan diri dan ditangkap. Kedua orang anak ini benar tidak diganggu dan dipelihara oleh
paman Bu Kek Siang, yaitu paman dari isteriku. Aku di-bawa ke istana dan karena aku tetap tidak
mau memegang pangkat untuk membantu pemerintah, aku dipenjarakan dan ayahku sampai
meninggal karena sakit dan menyesal. Bertahun-tahun aku berada di dalam penjara di mana aku
memperdalam ilmu silat dan ilmu agama. Akhirnya, aku dibebas-kan dan menjadi pendeta di kuil ini,
bahkan ke-mudian diangkat menjadi kepala kuil dan penasihat kaisar seperti sekarang."
Tentu saja peristiwa geger mengejar maling itu berakhir dalam suasana gembira karena pertemuan
antara ayah dan kedua orang anaknya itu. Yang ta-hu akan rahasia itu hanyalah Siang Houw Nio -nio
seorang, karena memang Bu Hong Sengjin selama ini merahasiakan nama mudanya. Orang-orang
yang tidak mengenalnya di waktu kecil tentu tidak ada yang tahu bahwa di waktu mudanya, ketua kuil
itu bernama Pangeran Chu Sin. Siang Houw Nio -nio tentu saja tahu akan hal ini karena kakek itu
ada-lah saudara sepupunya yang dikenalnya sejak ke-cil, bahkan iapun tahu akan petualangan kakek
dunia-kangouw.blogspot.com
itu di waktu mudanya. Hanya saja, nenek inipun sa-ma sekali tidak tahu bahwa kakak misannya itu,
yang menjadi tosu yang dihormati, ternyata di wak-tu mudanya ketika bertualang telah menikah,
bahkan mempunyai dua orang anak !
Tentu, saja peristiwa yang menggembirakan itu disambut oleh Siang Houw Nio -nio dan Pek -lui-kong
Tong Ciak yang segera menghaturkan selamat kepada Bu Hong Sengjin. Dan dua orang muda-mudi
yang berbahagia itupun diterima dengan senang hati oleh Siang Houw Nio -nio, Pek In dan Ang In
untuk tinggal di istana itu, karena mereka berdua itulah yang sesungguhnya berhak atas ru-mah
nenek moyang mereka itu. Dengan hati rela Siang Houw Nio -nio dan kedua orang muridnya
menyerahkan kembali gedung istana mungil itu kembali kepada yang berhak dan kakak beradik she
Chu itu tinggal di istana itu sebagai tuan dan nona rumah ! Akan tetapi karena Seng Kun dan Bwee
Hong sejak kecil dididik dengan keras, mere-ka menjadi orang-orang sederhana yang tidak menjadi
angkuh dengan perobahan dalam kehidup-an mereka itu. Mereka sendiri yang membujuk agar Pek In
dan Ang In bersama para dayang untuk terus tinggal di istana itu, para dayang itu tetap bekerja di situ
dan kedua orang murid Siang Houw Nio-nio itu tinggal di situ sebagai sahabat-saha-bat baik, bahkan
dapat dibilang masih merupakan kerabat mereka karena bukankah nenek Siang Houw Nio -nio itu
adalah bibi mereka sendiri ? Dan me-reka semua segera dapat menjadi akrab, karena memang di
dalam batin orang -orang muda ini terdapat watak pendekar yang gagah perkasa se-hingga mereka
itu sudah memiliki persamaan dalam selera.
Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong telah dibawa menghadap kaisar oleh ayah mereka. Kaisar sendiri
menjadi tertegun dan heran, akan tetapi ju-ga merasa gembira bahwa Bu Hong Sengjin ter-nyata
mempunyai dua orang anak yang demikian cakap dan gagahnya. Atas persetujuan kaisar pula maka
Seng Kun dan Bwee Hong secara sah menjadi ahli waris istana nenek moyang mereka, dan kaisar
lalu memberikan sebuah istana lain untuk Siang Houw Nio -nio dan murid -muridnya.
Beberapa hari kemudian, Chu Bwee Hong yang menjadi nona rumah itu menerima kunjungan Pek In
dan Ang In, sedangkan Pek Lian memang untuk sementara menjadi tamunya yang amat disayangnya.
Empat orang gadis yang cantik -cantik ini duduk di serambi depan. Dari tempat mereka du-duk
bercakap -cakap nampak bunga -bunga yang sedang mekar. Musim semi sudah tua, akan tetapi
bunga-bunga di taman itu malah mekar semua sehingga suasana menjadi amat indah dan segarnya
di pagi hari itu. Mereka berempat bercakap -cakap sambil menghadapi hidangan teh hangat dan
kueh-kueh.
Chu Bwee Hong nampak cantik jelita bukan main. Apa lagi dalam pandang mata kaum pria,
sedangkan Pek Lian, Pek In dan Ang In sendiri diam -diam kagum bukan main. Wajahnya demiki-an
cemerlang, dengan garis -garis yang hampir sempurna, kulit mukanya halus licin dan seolah-olah
mengeluarkan kehangatan dan kesegaran yang mempesona. Rambutnya hitam gemuk, dengan anakanak
rambut yang berjuntai dari dahi, bah-kan sinom yang tumbuh di depan telinga itu me-lengkung
ke bawah seperti lukisan seniman yang pandai. Alisnya hitam kecil melengkung seperti dilukis,
padahal dara ini tidak pernah mempergu-nakan alat penghitam alis. Sepasang matanya begitu bening
dan tajam, kini sinarnya mengandung keba-hagiaan dan kegembiraan, tentu karena pertemuan-nya
dengan ayah kandungnya. Ia sudah sembuh sama sekali dari akibat pukulan Pek -lui -kong dan
nampak segar dari sepasang bibirnya yang merah membasah, merekah seperti sekuntum bunga
mawar diselimuti embun pagi itu. Juga kedua pipinya, yang menonjol di bawah mata, kemerahan
seperti buah tomat masak. Hidungnya kecil mancung, cupingnya dapat bergerak lembut dan lucu
menam-bah kemanisan wajahnya. Memang, Bwee Hong adalah seorang dara yang cantik jelita dan
manis.
Pek Lian dan kedua orang murid Siang Houw Nio -nio itupun merupakan dara -dara yang can-tik,
terutama sekali Pek Lian yang memiliki kecan-tikan yang khas, dengan mukanya yang agak lon-jong,
dagu meruncing halus, hidung mancung dan mata yang lebar dan tajam, kecantikan yang mengandung
kegagahan, keberanian dan penuh de-ngan gairah dan semangat hidup. Akan tetapi, kecantikan
Bwee Hong memang luar biasa sekali se-hingga nampak menonjol di antara mereka.
Empat orang gadis itu bercakap -cakap dengan gembira sekali, terbawa oleh suasana segar di pagi
hari itu. "Aku dan Kun-koko sudah lebih dari sepuluh hari berkeliaran di daerah istana ini," terdengar
Bwee Hong bercerita mengenang kembali semua pengalamannya yang menyeramkan. "Kami
dunia-kangouw.blogspot.com
berusaha mencari ayah yang belum pernah kami kenal, hanya bermodalkan pesan terakhir mendi-ang
kakek Bu Kek Siang itu."
"Engkau sungguh beruntung, enci Hong," kata Pek Lian. "Kalian mengunjungi tempat yang amat
berbahaya dan terjaga kuat, menyelidiki sampai berhasil menemukan rumah keluarga nenek mo-yang
ayahmu tanpa menemukan kesukaran."
Bwee Hong tersenyum manis dan mengangguk. "Memang kami beruntung sekali. Ketika kami ber-dua
tiba di sini, jagoan -jagoan istana kebetulan sekali sedang bertugas keluar. Andaikata pada waktu itu
di istana terdapat Beng -goanswe, atau Tong -ciangkun, atau bibi Siang Houw Nio-nio, sudah pasti
kami berdua akan tertangkap basah. Betapapun juga, beberapa hari yang lalu kami pernah kepergok
oleh Kim -i -ciangkun sehingga terjadi geger. Untung kami masih dapat melolos,-kan diri.
"Bagaimanapun juga, kami merasa amat kagum akan kepandaian nona Chu," kata Pek In memuji.
"Kim -i -ciangkun yang amat lihai dengan pukulan apinya itu masih dapat nona kalahkan, sungguh
sukar dapat dipercaya kalau tidak menyaksikannya sendiri. Nona yang begini muda dan cantik jelita
dan lembut, mampu mengalahkan seorang jagoan tangguh seperti dia. Bukan main !"
"Apa lagi kakakmu itu, nona. Masih semuda itu sudah mampu melayani jagoan istana nomor satu
seperti Tong -ciangkun sampai begitu lama. Sung-guh luar biasa sekali, agaknya tidak kalah kalau
dibandingkan dengan Yap -suheng kami."
'"Tap -suheng kalian itu siapakah ?" tanya Bwee Hong. Ia sudah pernah mencela sebutan kedua
orang murid bibinya ini kepadanya yang bersikap hormat dan menyebut nona, akan tetapi kedua
orang gadis itu tetap menyebutnya nona. Bagai manapun juga, Bwee Hong adalah puteri pangeran
dan keponakan Siang Houw Nio -nio, maka tentu saja sudah layak kalau dihormati.
Mendengar pertanyaan ini, Ang In tertawa. Bi-arpun ia dan cicinya selalu bersikap hormat, akan tetapi
keakraban mereka terhadap Bwee Hong membuat mereka seperti sahabat-sahabat biasa saja.
"Hi-hi-hik, kalau nona hendak mengetahui, tanya saja kepada Pek-cici. Ia pacarnya ......!"
"Hushh ! Siapa bilang ?" Pek In berseru dengan kedua pipi berobah merah sekali. Tangannya menyambar
ke depan untuk mencubit lengan adiknya, akan tetapi ribut-ribut disertai kekeh tawa ini
terhenti seketika ketika mereka melihat muncul-nya Seng Kun dari halaman depan. Bwee Hong
segera bangkit dan menyongsong kakaknya.
"Koko, ada berita apakah ? Kenapa sepagi ini engkau sudah dipanggil menghadap ke dalam ?"
Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan adik-nya, dengan sikap sopan Seng Kun lebih dulu memberi
hormat dan menyapa tiga orang gadis itu yang juga cepat membalas salamnya. Kemudian
mereka semua duduk menghadapi meja dan Seng Kun lalu bercerita.
"Malam tadi Hek-ciangkun, utusan Beng-goanswe pulang. Seperti diketahui, dia diutus untuk
menjemput ayah nona Ho dari penjara.
Juga Beng -goanswe sudah pulang dari tempat Wakil Perdana Menteri Kang. Menteri Kang me-nunda
keberangkatannya ke kota raja memenuhi panggilan sri baginda karena ...... karena Hek-ciangkun
telah gagal untuk membawa Menteri Ho ke kota raja."
"Eh ......!! Kenapa? Apa yang telah terjadi?"
Pek Lian berseru kaget, mukanya berobah agak pucat.
Melihat ini, Seng Kun segera menghibur. "Harap nona tidak menjadi gelisah. Karena ayahmu pasti
tidak kurang suatu apa."
"Akan tetapi ...... apa yang terjadi dengan ayah-ku ?"
"Menteri Ho telah diculik orang sebelum Hek-ciangkun tiba untuk menjemputnya. Para penjaga tidak
ada yang mengetahuinya. Jeruji -jeruji baja pintu penjara itu melengkung semua sehingga ta-wanan
dapat lolos. Memang luar biasa sekali. Ha-nya orang yang memiliki kekuatan luar biasa saja yang
dunia-kangouw.blogspot.com
akan mampu membuat jeruji -jeruji baja yang amat tebal itu melengkung semua tanpa ada
seorangpun penjaga yang mendengarnya."
"Ahh, ayahku ...... !!" Pek Lian mengeluh.
"Akan tetapi, mengapa engkau dipanggil oleh sri baginda, koko ?" tanya lagi Bwee Hong kepada
kakaknya.
"Sri baginda menjadi sangat marah. Beliau ingin mengutus seseorang yang akan dapat menemukan
kembali Menteri Ho dan mengantarkannya ke kota raja dalam keadaan selamat. Utusan itu haruslah
seorang yang belum dikenal baik oleh golongan sesat maupun oleh golongan yang menentang kembalinya
para menteri di istana, karena kalau tugas merampas kembali Menteri Ho ini diketahui pihak
lawan, sebelum beliau dapat diselamatkan, mungkin keselamatannya akan terancam. Sri baginda
tidak berani mengutus Tong -ciangkun, Beng-goanswe maupun bibi Siang Houw Nio -nio yang sudah
banyak dikenal. Pula, istana perlu dijaga karena keadaan yang seperti sekarang ini sungguh mengkhawatirkan.
Kemudian sri baginda memilih aku atas petunjuk Tong -ciangkun. Hal itupun disetujui
oleh ayah dan oleh bibi. Nah, di sinilah aku, siap untuk berangkat melaksanakan tugas itu."
"Aku juga akan pergi untuk mencari ayah !" Ho Pek Lian yang wajahnya pucat itu berseru, di dalam
suaranya terkandung kedukaan dan kegelisahan. Baru saja ia terbebas dari kedukaan ketika sri baginda
memutuskan untuk membebaskan ayahnya dan sekarang, kembali ayahnya dilanda
malapetaka, diculik orang tanpa diketahui siapa penculiknya dan apa maksudnya menculik orang tua
itu.
"Aku juga ikut!" kata Bwee Hong penuh sema-ngat. "Kapan kita berangkat, koko ?"
"Hari ini juga, nanti kalau matahari telah terbe-nam. Akan tetapi sebaiknya kalau kalian tidak usah
ikut."
"Aku harus pergi mencari ayah !" Pek Lian ber-seru. "Kalau engkau tidak mau mengajakku, aku akan
pergi mencari sendiri!"
"Dan akupun akan menemani adik Lian kalau engkau tidak mau mengajakku, koko !" sambung Bwee
Hong. Seng Kun tahu akan kekerasan hati adiknya dan diapun sudah mengenal watak Pek Lian,
maka dia menarik napas panjang dan mau ti-dak mau meluluskan juga permintaan mereka. Dia bisa
melarang adiknya, akan tetapi tidak mungkin dapat melarang Ho Pek Lian yang hendak mencari
ayahnya. Dan diapun tidak enak hati kalau harus melakukan perjalanan berdua saja dengan Pek Lian.
Setelah bercakap -cakap beberapa lamanya, Pek In dan Ang In minta diri. Mereka khawatir kalau -
kalau guru mereka mencari mereka dan mereka mengucapkan selamat jalan kepada mereka bertiga.
"Selamat jalan, nona Ho," kata Pek In. "Hati-hatilah di jalan karena sekarang ini di dunia ba-nyak
berkeliaran orang -orang jahat yang amat sakti."
"Semoga engkau bisa cepat mendapatkan kem-bali ayahmu dalam keadaan sehat dan selamat, nona
Ho," kata pula Ang In.
Pek Lian mengucapkan terima kasih dan iapun segera bersiap-siap bersama Bwee Hong. Menu-rut
petunjuk dan saran Seng Kun, mereka bertiga melakukan perjalanan sambil menyamar sebagai
petani -petani. Pemuda ini berpendapat bahwa akan lebih mudah dan aman, menjauhkan gangguangangguan
kalau tidak melakukan perjalanan sebagai nona -nona cantik yang berpakaian mewah.
Muka mereka dilapisi bedak yang agak kehitaman, ram-but mereka dibikin kusut dan di atas telinga
diberi warna keputih-putihan sehingga kedua orang dara jelita ini berobah menjadi wanita-wanita
petani setengah tua yang sederhana. Seng Kun sendiri juga menyamar sebagai seorang petani,
lengkap dengan caping dan jenggot palsu.
Setelah matahari terbenam, berangkatlah tiga orang keluarga "petani" itu meninggalkan kota raja.
Mereka bertiga sengaja menguji penyamaran mere-ka dengan melewati para penjaga, akan tetapi ternyata
tidak ada seorangpun yang mengenal atau mencurigai mereka. Mereka keluar dari pintu gerbang
kota raja dan berhenti di tempat yang sepi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ke mana kita akan menuju untuk memulai de-ngan tugas mencari ayah ini ? Kita buta sama sekali
dan tidak tahu dengan siapa kita berhadapan, ke mana kita harus mencari," Pek Lian berkata dengan
sikap bingung.
"Benar kita sama sekali tidak tahu siapa pen-culiknya. Apakah para penculik itu termasuk orang-orang
yang menyukai Menteri Ho ataukah justeru mereka itu yang memusuhinya ? Kalau yang menculik itu
para pendekar yang ingin menyelamatkan Menteri Ho dari hukuman, ahh... tugas kita menjadi ringan
sekali dan keselamatan Menteri Ho tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi bagaimana kalau
sebaliknya ?" Bwee Hong juga mengemukakan pendapatnya.
"Biarlah kita menggantungkan diri kepada nasib dan kewaspadaan kita. Mari kita menuju ke dusun di
depan sana, siapa tahu di suatu tempat kita akan bertemu dengan petunjuk," jawab Seng Kun dan
mereka lalu menuju ke dusun yang sudah nampak dari situ. Sebuah dusun yang tidak begitu jauh dari
kota raja. Senja telah tiba ketika mereka memasuki dusun itu dan mereka lalu memasuki sebuah
kedai teh yang berada di tepi dusun. Seng Kun mengajak dua orang gadis itu singgah karena dia
tertarik sekali melihat betapa warung itu penuh dengan tamu. Padahal biasanya, kedai teh yang
menjual makanan tentu hanya dikunjungi orang di-waktu pagi atau siang saja. Seolah-olah ada terjadi
sesuatu di situ dan hal inilah yang menarik perhatiannya. Karena di bagian dalam telah penuh,
mereka bertiga duduk di meja yang terdapat di halaman kedai. Kemunculan tiga orang ini tidak
menarik perhatian karena mereka dianggap tiga orang dari keluarga petani biasa saja dan banyak
pula di situ terdapat petani -petani sederhana. Di halaman depan itupun telah duduk beberapa orang
tamu yang bercakap -cakap.
Ketika pelayan datang mengantar teh dan bak-pao yang mereka pesan, secara sambil lalu Seng Kun
berkata, "Wah, tamunya banyak sekali, ber-arti banyak rezeki!"
Pelayan itu menaruh teh dan makanan di atas meja dan tertawa senang. "Memang benar, dan ke
datangan kalian bertigapun merupakan rezeki ka-lian. Ketahuilah bahwa setelah diumumkan oleh
pemerintah bahwa Menteri Ho dan para menteri lainnya diampuni, juga Menteri Kang kabarnya
hendak bertugas kembali, kami merasa seperti ke-jatuhan bulan saking girangnya. Majikan kami telah
mengatakan kepada para langganan bahwa pada hari ini kami mengundang semua orang untuk
mengadakan pesta untuk bersyukur atas kurnia kaisar terhadap Menteri Ho dan Menteri Kang yang
kami cinta dan hormati. Jadi, kalian bertigapun kami anggap sebagai tamu dan ... ha-ha, tentu saja
mendapatkan minuman dan makanan gratis!" Pelayan itu meninggalkan mereka sambil tertawa
gembira, dan menghampiri meja lain. Sua-sana di situ memang seperti orang dalam pesta.
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan Pek Lian menundukkan mukanya untuk menyembunyikan
kedua matanya yang menjadi merah dan basah. Dengan kekuatan batinnya ia dapat membendung
tangisnya. Setelah diusapnya air matanya dengan ujung baju tanpa ada yang melihatnya kecuali
dua orang kawan yang duduk di depannya, iapun mengangkat muka.
"Kenapa kau menangis ?" Bwce Hong berbisik. "Ayahmu demikian disuka dan dipuja orang ! Li-hat itu
di dalam, hampir segala lapisan masyarakat begitu gembira menyambut berita dibebaskannya
ayahmu."
"Benar, nona. Semestinya nona gembira dan berbahagia mempunyai seorang ayah yang demiki-an
disuka orang," kata Seng Kun menyambung ucapan adiknya.
Pek Lian menghela napas panjang dan balas berbisik, "Semestinya demikian, akan tetapi mereka itu
tidak tahu kalau orang yang mereka rayakan kebebasannya itu kini sama sekali tidak bebas lagi,
bahkan tidak diketahui hidup matinya."
Diingatkan akan hal ini, kakak beradik itupun menjadi prihatin dan diam saja. Suasana di dalam kedai
itu benar-benar gembira dan terdengarlah orang -orang di dalam ruangan itu bersorak -sorak dan
berteriak, "Hidup Menteri Ho ! Hidup Mente-ri Ho !"
Seorang laki -laki yang berjenggot tebal naik ke atas sebuah kursi sambil mengisyaratkan dengan
kedua tangan ke atas agar semua orang suka mem-perhatikannya. Keadaan menjadi hening dan lakilaki
itupun berkata dengan suara yang lantang,
"Saudara -saudara, marilah kita bergembira me-rayakan kebebasan para tokoh pembela rakyat dari
kecurangan musuh -musuh rakyat. Menteri Ho mendapat pengampunan kaisar dan Wakil Perdana
dunia-kangouw.blogspot.com
Menteri Kang kembali akan memimpin kita. Negeri akan menjadi tenteram dan damai seperti semula,
dan kita akan hidup tenang dan terbebas dari pada penindasan!"
Semua orang bersorak-sorak. Bwee Hong me-ngerutkan alisnya dan berkata kepada kakaknya dan
Pek Lian, "Orang itu sungguh lancang dan berani. Tempat ini dekat sekali dengan kota raja. Kalau
kaki tangan para menteri korup yang memu-suhi Menteri Ho dan menentang keputusan kaisar
mendengar, bukankah akan terjadi keributan dan mungkin orang itu takkan diampuni ?" Akan tetapi
ketika Bwee Hong memandang kepada Pek Lian, ia terkejut dan berbisik, "Adik Lian, ada apakah ?
Engkau melihat siapa ?"
"Ssttt hati-hatilah kalian di sini terdapat pengunjung lain, seorang anak buah dari Raja Kelelawar
......"
"Ehh ? Di mana ?" tanya kakak beradik itu dengan kekagetan yang ditekan.
"Sstt lihat di sudut halaman sebelah kanan," kata Pek Lian tanpa memandang ke arah orang yang
ditunjuknya. Kakak beradik itupun meman-dang secara sepintas lalu saja dan mereka melihat adanya
seorang laki -laki yang usianya kurang le-bih tigapuluh lima tahun, berwajah ganteng dengan pakaian
yang indah mewah. Pria itu tersenyum -se-nyum, wajahnya selalu berseri dan berlagak, tangan-nya
memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) dari emas yang kadang-kadang diisapnya. Seng Kun
dan Bwee Hong tidak mengenal pria itu, akan tetapi tentu saja Pek Lian mengenalnya karena orang
itu bukan lain adalah Jai-hwa Toat-beng-kwi, satu di antara tokoh sesat yang dahulu pernah
menghadiri pertemuan rahasia pemunculan Raja Kelelawar. Itulah penjahat cabul yang lihai sekali,
dan yang menjadi anak buah San -hek -houw si Harimau Gunung, pembantu utama Raja Kelelawar.
Sebagai anak buah San -hek -houw, tentu saja penjahat cabul ini juga menjadi kaki tangan Raja
Kelelawar.
Mendengar bahwa pria itu adalah anak buah Raja Kelelawar, tentu saja Seng Kun menjadi curi-ga.
Dia tidak mempunyai pegangan untuk meng-ikuti jejak penculik Menteri Ho, maka setiap pe-tunjuk
penting baginya. Dan kalau ada anak buah Raja Kelelawar di situ, belum tentu penjahat ini tidak akan
dapat memberi petunjuk. Peristiwa-peristiwa kejahatan harus diselidiki di antara pen-jahat, pikirnya.
Oleh karena itu, Seng Kun diam-diam memperhatikan pria tampan pesolek itu. Ketika melihat laki -laki
itu bangkit berdiri dan pergi, diapun segera mengajak dua orang gadis itu untuk membayanginya.
"Akan tetapi itu berbahaya sekali," bisik Pek Lian. "Dia amat lihai, dan siapa tahu dia akan menemui
kawan-kawan si Raja Kelelawar yang lain ?"
"Justeru itu kebetulan sekali. Siapa tahu para penjahat itu menculik ayahmu, nona ? Dan seti-daknya,
mungkin mereka itu tahu siapa penculik yang kita cari." Mendengar jawaban Seng Kun ini, Pek Lian
terpaksa lalu mengikutinya karena iapun ingin sekali dapat cepat menemukan ayahnya.
Akan tetapi setelah tiba di tempat sunyi, si pen-jahat cabul itu mengerahkan ginkang dan berlari cepat
sekali. Seng Kun dan Bwee Hong juga ber-lari cepat mengejar sehingga terpaksa Pek Lian yang
tingkat ginkangnya paling rendah itu harus mengerahkan seluruh tenaganya sampai ia terengahengah.
Baiknya orang yang dibayangi itu tidak mengambil jalan hutan karena cuaca sudah mulai
gelap. Penjahat itu mengambil jalan melalui semak-semak dan padang ilalang sehingga mereka
bertiga dapat membayanginya dari jauh dengan mudah tanpa bahaya kehilangan dia.
Setelah tiba di jalan besar lagi, penjahat itu menuju ke sebuah rumah yang berdiri terpencil di tempat
sunyi, di tepi jalan yang membelah pa-dang ilalang itu. Ternyata bahwa rumah itu ada-lah sebuah
kedai minuman yang biasa, dipakai untuk tempat peristirahatan dan persinggahan para pe-dagang
yang akan memasuki kota raja. Di setiap sudut kedai itu dipasangi lampu besar sehingga keadaan di
sekitarnya menjadi terang. Kedai itu nampak sunyi menantikan datangnya orang lain.
"Harap kalian suka bersembunyi dulu di sini. Aku akan mengambil jalan memutar dan pergi ke warung
itu sebagai tamu yang kemalaman dan ingin minum untuk mencoba mendengarkan percakapan
mereka dan kita melihat perkembangannya nanti," kata Seng Kun kepada dua orang gadis itu.
"Baik, akan tetapi engkau berhati-hatilah, koko," kata adiknya.
Ketika Seng Kun tiba di kedai itu dari arah lain, dia disambut oleh pelayan dan tanpa menarik
perhatian dan sambil lalu dia lalu duduk di meja yang tidak berjauhan dengan meja penjahat cabul
dunia-kangouw.blogspot.com
bersama dua orang wanita itu. Akan tetapi, mereka sudah berhenti berbicara, atau agaknya mereka
memang tidak ingin percakapan mereka terdengar orang lain, maka mereka menghentikan percakapan
dan memperhatikan petani setengah tua yang baru datang itu. Ketika melihat bahwa petani itu
hanya seorang petani sederhana yang kehausan, mereka kelihatan lega. Dan pada saat itu, Seng
Kun melihat munculnya sebuah gerobak yang di-tarik oleh seekor kuda dan dikusiri seorang pemuda.
"Heii, A -piang ! Kenapa arakmu sangat ter-lambat ?" pemilik warung yang setengah tua dan agak
gemuk itu keluar dari kedainya dan meng-hampiri gerobak yang berhenti di pekarangan ke-dai.
"Sudah dua hari persediaan arakku yang baik habis. Tamu -tamuku sudah mengomel!" Pemilik kedai
itu menegur, kemudian dia melihat pemuda yang turun dari tempat kusir dan tertegun. "Eh, siapa
engkau ?"
"Lo-pek, A-piang berhalangan datang karena dia jatuh salut, itulah sebabnya pengiriman arak menjadi
terlambat dan sekarang aku yang disuruh menggantikannya mengantarkan pesananmu."
Pemuda itu bertubuh tinggi tegap dan dengan kaku, agaknya merupakan pekerjaan yang tidak biasa
baginya, dia mulai menurunkan guci -guci arak dari gerobaknya. Pemilik kedai sejenak ter-mangu,
akan tetapi lalu mengangguk -angguk dan mulai menghitung guci -guci arak yang diturunkan itu,
membuka tutup beberapa buah guci, mencium bau arak yang terhembus keluar dan menganggukangguk
puas. Siapapun kusirnya, bukan hal yang penting baginya. Yang penting, araknya bagus!
Seng Kun yang duduk tak jauh dari meja penjahat cabul, mendengarkan akan tetapi mengambil sikap
tidak perduli dan mengeluh memijati kedua kaki-nya seperti orang yang kelelahan setelah melakukan
perjalanan jauh.
Sementara itu, ketegangan hebat terjadi dalam diri Pek Lian. Matanya terbelalak dan jantungnya
berdebar-debar keras, darahnya berdenyut ken-cang. Bwee Hong sendiri sampai terkejut ketika
merasa betapa lengannya dicengkeram orang.
"Eh, eh, kau kenapa ?" bisiknya kepada Pek Lian.
"Enci Hong... aku mengenal pemuda kusir pedati itu !" suara Pek Lian terdengar tergetar.
"Ehemm... , begitukah ?" Matanya yang bening itu melirik ke arah kawannya dan mulutnya yang indah
itu tersenyum penuh arti. "Dia memang seorang pemuda yang ganteng dan gagah, pantas kalau
menjadi kenalan baikmu."
Seketika muka Pek Lian menjadi merah sekali. "Ih, kau jahat, enci Hong! Siapa bilang dia tam-pan
dan gagah ? Aku kan cuma bilang kalau aku mengenal dia. Perkara dia ganteng atau bopeng, siapa
perduli ?"
"Wah -wah, kenapa jadi marah -marah ? Aku juga cuma bergurau ! Maafkan, ya ?" Bwee Hong yang
berada dekat sekali dengan. Pek Lian itu mendekatkan mukanya dan mencium pipi teman-nya.
"Siapa sih dia ? Putera seorang pedagang arak?" tanya Bwee Hong, suaranya kini sungguh -sungguh.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu benar siapa dia itu. Dia sangat baik, akan tetapi wataknya sangat
aneh. Mungkin... mungkin dia itu berpenyakit gila!"
"Lhoh... ?!" Dara cantik itu tertegun.
"Benar, enci, aku tidak bergurau. Sudah tiga kali aku bertemu dengan dia dan selalu dia menolong
dan menyelamatkan aku. Pertama ketika kami serombongan menghidang iring-iringan kereta yang
membawa ayahku. Pemuda itu yang menjadi kusir keretanya. Ke dua ketika kami dikejar oleh Benggoanswe,
pemuda itu menjadi pelayan di kuil. Dan sekarang dia menjadi penjual arak." Pek Lian
memandang dan jantungnya berdebar aneh. Rasanya, ingin ia keluar dan berlari menghampiri
pemuda itu. Tadipun, hampir ia berteriak memanggil nama A-hai! Rasa girang yang aneh dan luar
biasa menyelinap di dalam hatinya ketika ia melihat A-hai. Padahal, selama ini, jarang ia teringat
kepada pemuda itu.
"Hemm, kalau begitu dia mencurigakan," kata Bwee Hong yang kini juga memandang penuh
perhatian melihat pemuda itu menurun-nurunkan guci arak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Engkau belum mendengar semua, enci. Kau-lihat langkahnya itu ? Seperti seorang biasa yang sama
sekali tidak mengenal ilmu silat, bukan ? Nah, itulah keadaannya kalau dia sedang waras, seorang
pemuda biasa yang baik hati dan lemah, yaitu ti-dak tahu ilmu silat walaupun dia boleh jadi memi-liki
tenaga dasar yang amat kuat. Akan tetapi ja-ngan ditanya kalau dia menjadi kumat! Dia se-perti
menjadi gila, menangis dan marah-marah, akan tetapi juga seketika dia menjadi seorang yang sakti.
Bahkan Tong -ciangkun sendiri, jagoan no-mor satu di istana itu, terpaksa mundur ketika ber-adu
tangan dengan dia."
"Wah! Benarkah itu ? Kalau begitu, betapa lihainya dia !" Nona cantik itu terkejut sekali dan kini
pandang matanya terhadap pemuda kusir itu berobah, menjadi kagum dan juga penuh keheran-an.
Kalau bukan Pek Lian yang bicara, tentu ia akan mentertawakan. Dari gerak-geriknya ketika
menurunkan guci -guci arak itu, jelas terlihat bah-wa pemuda kusir itu tidak pandai ilmu silat dan
agaknya tidak tahu bagaimana mempergunakan tenaga dalam. Buktinya dia menurunkan guci -gu-ci
arak itu mengandalkan tenaga otot saja. Ia sen-diri bersama dengan kakaknya yang lihai pernah
berhadapan mengeroyok si cebol Tong -ciangkun. Dan akhirnya mereka berdua harus mengakui kelihaian
si cebol itu. Dan sekarang ia mendengar bahwa pemuda kusir itu mampu membuat si ce-bol
terdorong mundur ? Betapa mustahilnya hal ini. Kini dengan tajam sepasang mata yang in-dah bening
itu memandang ke arah wajah si pemu-da kusir. Mata seorang ahli silat dan ahli pengobat-an, menilai
dan memeriksa. Kini ia melihat bahwa perawakan pemuda itu memang tepat apa bila menjadi
seorang ahli silat yang tangguh. Tapi gerakan -gerakan pemuda itu sungguh tidak me-yakinkan.
"Enci, engkau adalah keturunan Sin -yok -ong dan gurumu adalah seorang ahli pengobatan yang
paling hebat di dunia. Tahukah engkau penyakit apa yang membuat orang kadang-kadang mengamuk
dan kadang -kadang waras, kemudian lupa diri sama sekali seperti pemuda itu ? Bisakah engkau
atau kakakmu mengobati dan menyembuhkan pemuda itu ?"
"Entahlah, tidak mudah dikatakan begitu saja. Harus lebih dulu memeriksanya dengan teliti. Akan
tetapi, kalau penyakit gila itu akibat rusaknya syaraf -syarafnya, atau karena guncangan jiwanya,
memang tidak mudah menyembuhkannya."
Jawaban ini meragukan dan mengecewakan hati Pek Lian. Betapa akan bahagia rasa hatinya kalau
ia dapat melihat A -hai disembuhkan sama sekali dari penyakit lupa diri dan gila itu. Biarpun dia tidak
akan pernah bisa menjadi sakti kembali ka-rena sudah tidak dapat kumat gilanya, namun pemuda itu
tidak akan menderita seperti itu. Ke-adaan lalu menjadi sunyi, Pek Lian tenggelam ke dalam
lamunannya membayangkan nasib A -hai, sedangkan Bwee Hong masih terkesan akan cerita tentang
pemuda aneh itu. Mereka berdua meman-dang ke arah kedai itu.
A -hai, pemuda itu, setelah selesai menurunkan semua guci arak, agaknya menanti pembayaran dan
untuk itu dia melepaskan lelahnya sambil duduk di dekat lampu minyak yang tergantung di atas.
Pemilik warung itu sedang membereskan barang-barang dagangannya yang baru diterimanya itu,
dibantu pelayan mengangkut guci -guci arak itu ke dalam kedai, langsung ke gudang yang berada di
bagian belakang. Mata pemuda itu menyapu ke arah warung, meneliti setiap wajah untuk me-lihat
kalau -kalau ada yang dikenalnya.
Tiba-tiba kesunyian malam itu dipecahkan oleh suara derap kaki kuda yang datang ke arah kedai itu.
Semua orang menoleh ke arah datangnya suara derap kaki kuda. Di bawah remangnya sinar bintang
-bintang di langit, nampak serombongan penunggang kuda yang menuju ke kedai itu. Yang terdepan
adalah dua orang laki -laki gemuk pen-dek berjenggot lebat yang mukanya hampir mirip satu sama
lain. Di pinggang mereka tergantung sepasang golok pendek. Di belakang mereka terda-pat sepuluh
orang yang agaknya adalah anak bu-ahnya, semua bersenjata dan lagak mereka kasar dan bengis,
jelas membayangkan bahwa mereka bukanlah golongan orang baik-baik melainkan le-bih pantas
kalau digolongkan orang -orang yang biasa mengandalkan kekuasaan melakukan kekeras-an dan
kekejaman untuk memaksakan kehendak mereka. Dari tempat persembunyiannya, Pek Lian dan
Bwee Hong yang merupakan dua orang dara perkasa dan sudah banyak mengenal orang -orang dari
dunia hitam, maklum bahwa rombongan ini tentu merupakan gerombolan kaum sesat yang jahat.
Maka merekapnn bersikap waspada karena agaknya di tempat itu datang banyak gerombolan jahat.
"Ha-ha-ha, kalian memang gesit, agaknya telah tiba lebih dulu dari pada kami!'' dua orang laki-laki
gemuk pendek itu berteriak dari pung-gung kuda ketika mereka melihat Jai-hwa Toat-beng-kwi si
Penjahat Cabul dan dua orang wanita itu. "Mana kawan-kawan yang lain, apakah belum ada yang
datang ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Duabelas orang itu berloncatan turun dari atas kuda mereka dan dua orang gendut itu segera
menghampiri Jai -hwa Toat -beng -kwi yang men-jawab pertanyaan mereka tadi, "Baru kami yang
datang. Duduklah dulu sambil menanti kedatang-an teman -teman yang lain."
Dua orang pemimpin rombongan itu meman-dang ke kanan kiri dan ketika mereka melihat Bu Seng
Kun yang menyamar sebagai seorang petani setengah tua, seorang di antara mereka mengge-rakkan
kepala dengan dagu menunjuk ke arah pe-tani itu sambil bertanya kepada Si Cabul, "Teman-mukah
dia ?"
Si Cabul melirik ke arah Seng Kun lalu menggeleng kepala dengan sikap tak acuh. Tadi ketika petani
itu masuk, dia telah melakukan penyelidik-an dan keadaan petani itu tidak mencurigakan. "Bukan, dia
hanya tamu biasa yang kelaparan dan kehausan."
Mereka lalu bercakap -cakap dengan suara berbisik-bisik, kadang -kadang kalau mereka hanya
bersendau-gurau, suara mereka keras dan mereka tertawa-tawa sehingga Seng Kun yang berada di
meja lain, juga dua orang dara pendekar yang mengintai, mengerti bahwa bisikan-bisikan itu adalah
percakapan penting yang menyangkut urus-an mereka pada waktu itu. Malam itu nampak semakin
menegangkan karena tiga orang pendekar itu seperti merasakan adanya suatu ancaman, sesuatu
yang akan meledak dan yang akan terjadi. Tidak percuma saja para penjahat berkumpul di tempat itu
pada malam hari itu. Pasti ada apa -apanya dan agaknya urusan itu tentu penting sekali. Apa lagi
ketika mereka melihat datangnya orang yang semakin banyak. Seluruhnya terdiri dari orang -orang
yang bersikap galak, bertampang serem dan bertingkah kasar. Dari sikap mereka, di antaranya
banyak yang saling mengenal dan pertemuan itu mendatangkan kegembiraan di an-tara mereka.
Seng Kun dapat menduga bahwa me-mang pertemuan itu sudah direncanakan dan go-longan hitam
itu tentu datang berkumpul atas pang-gilan atau perintah pimpinan mereka untuk meren-canakan
sesuatu yang penting. Maka diapun me-rasa beruntung sekali dapat secara kebetulan hadir di situ.
Sayangnya, di antara mereka itu tidak ada seorangpun yang membocorkan rahasia urusan atau
rencana mereka itu.
Warung itu menjadi penuh dan orang -orang baru masih saja berdatangan. Melihat keadaan ini,
pemilik warung itu merasa khawatir juga. Seorang bermuka hitam brewok yang matanya lebar dan
bengis, berteriak, "Heii, tukang warung! Di mana kami harus duduk ? Engkau bisa menyediakan
bangku untuk petani busuk, apakah tidak dapat melayani, kami dengan baik ?" Mata yang lebar itu
melotot ke arah Seng Kun yang menyamai sebagai petani setengah tua dan yang duduk dengan
tenangnya itu.
Pemilik warung melihat gelagat tidak baik. Karena dia melihat bahwa petani itu telah selesai makan
minum, maka bergegas dia menghampiri Seng Kun dan berkata dengan suara lunak dan membujuk,
"Harap saudara suka meninggalkan meja ini agar dapat dipakai oleh orang lain. Lihat saja sendiri,
tamu begini banyak dan tempat men-jadi kurang. Tentu saudara tidak ingin menyusah-kan aku, bukan
?"
Sejak tadi, Seng Kun tentu saja sudah merasa tidak suka kepada mereka itu. Akan tetapi dia datang
bukan untuk mencari keributan atau memancing perkelahian, melainkan untuk melakukan
penyelidikan. Dia sedang melaksanakan tugas yang amat penting, jauh lebih penting dari pada urusan
yang menyangkut perasaan pribadi. Maka, biarpun dia merasa tidak senang dan penasaran sekali
karena dia diusir dengan halus, namun dia mengangguk dan sambil mengerutkan alis menahan rasa
jengkel diapun bangkit berdiri. Dirogohnya saku bajunya untuk, membayar harga makanan dan
minuman, akan tetapi pemilik warung yang merasa bahwa dia telah mengusir tamu, cepat
menggerakkan tangan menolak. "Tak usah bayar..., engkau sudah baik sekali mau meninggalkan
tempat ini "
Kalau menurut perasaannya, tentu saja Seng Kun menjadi semakin penasaran dan tentu dia akan
memaksa dan membayar harga makanan dan mi-numan. Bukan wataknya untuk merugikan lain
orang. Akan tetapi dia teringat bahwa kalau dia melakukan hal ini, maka tentu akan menimbulkan
kecurigaan. Harga diri tidak pantas dipegang ter-lalu tinggi oleh seorang petani sederhana. Maka
diapun tersenyum dan memaksakan diri untuk mengucapkan terima kasih, lalu pergilah dia keluar.
Dengan sikap sambil lalu dan tidak acuh, juga santai seperti seorang petani yang kecapaian, Seng
Kun yang keluar dari rumah makan itu lalu duduk di atas bangku butut yang berada di luar warung. Di
emper itu telah duduk pemuda kusir gerobak yang tadi datang mengirim arak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda itu memandangnya dan mereka saling pandang. Seng Kun maklum bahwa pemuda ini bukan
seorang di antara para gerombolan itu, ma-ka diapun tersenyum dan mengangguk. Pemuda itu,
seperti telah dikenal oleh Pek Lian dari tempat persembunyiannya, memang benar adalah A -hai,
pemuda aneh yang pernah dijumpai gadis itu be-berapa kali. Biarpun A-hai sedang menderita
penyakit yang aneh, namun perasaannya masih peka dan diapun agaknya dapat merasakan bahwa
petani setengah tua yang duduk tak jauh darinya itu adalah seorang baik -baik, tidak seperti para
tamu yang berdatangan di situ, yang kelihatan bengis -bengis dan jabat -jahat. Maka diapun balas
mengangguk dan tersenyum kepada petani yang dianggapnya ramah itu.
"Banyak sekali tamu malam ini," kata Seng Kun sambil lalu, menoleh ke dalam di mana para tamu
memenuhi semua meja dan mereka itu bercakap-cakap dan bersendau -gurau secara kasar sekali.
"Ya," A-hai mengangguk. "Amat banyak dan ramai."
Mendengar jawaban singkat dengan suara te-nang ini, Seng Kun memandang dan memperhatikan.
Pemuda ini sungguh tampan, pikirnya, dan memi-liki bentuk tubuh yang begitu kokoh membayangkan
tenaga besar. Seorang pemuda yang bertulang baik sekali dan diapun menjadi tertarik.
"Saudara juga tamu ?" tanyanya.
A-hai menggeleng kepala. "Bukan, saya pem-bawa arak untuk warung ini. Itu gerobakku." Dia
menunjuk ke arah gerobak dan Seng Kun meman-dang guci-guci arak yang berjajar di halaman warung,
tak jauh dari tempat mereka berdua duduk.
Kini agaknya sudah tidak ada lagi tamu baru yang datang, akan tetapi warung itu telah penuh sesak,
bahkan banyak di antara mereka yang tidak kebagian bangku sehingga mereka hanya bercakapeakap
dan minum arak sambil berdiri saja. Mereka mulai kelihatan tidak sabar, agaknya ada orang
yang mereka nanti -nantikan dan yang belum juga muncul. Beberapa orang yang tidak kebagian
tempat duduk, menjadi tidak sabar dan merekapun keluar dari warung itu, berjalan -jalan hilir -mudik
di pelataran warung sambil mengomel. Mereka semua membawa cawan penuh arak yang mereka
minum sambil menanti di luar.
Dua orang laki-laki kasar yang pakaiannya kumal dan berbau busuk karena tak pernah diganti dan
dicuci, berkali-kali terendam keringat, men-dekati Seng Kun dan A-hai yang sedang duduk mengobrol
di emper warung.
"Sudah terlalu lama kalian duduk di sini, sekarang giliran kami. Hayo berikan bangku-bangku itu
kepada kamil" bentak seorang di antara mereka.
Seng Kun maklum bahwa melayani orang-orang seperti ini sama artinya dengan membuat keributan,
maka diapun bangkit berdiri, akan tetapi A-hai kelihatan tak senang hati dan mengerutkan alis-nya,
memandang dengan mata terbelalak dan ma-rah.
"Pergi kau ! Mau apa melotot?" bentak orang ke dua dan diapun sudah memegang lengan A -hai dan
menarik pemuda itu dari atas bangkunya. A-hai terhuyung dan hendak marah, akan tetapi tangannya
sudah dipegang oleh Seng Kun yang menariknya dengan halus menjauhi bangku-bang-ku itu. "Ah,
terlalu lama duduk juga melelahkan pinggang, mari kita jalan-jalan saja," kata Seng Kun dan A-hai
yang sudah mengepal tinju itu dapat disabarkan. Mereka berjalan menjauhi orang-orang itu dan
berdiri di bawah pohon di sudut halaman.
"Mereka itu semua bukan orang baik-baik !" kata A-hai.
"Ssstt, perlu apa mencari keributan dengan mereka ?" Seng Kun berbisik. "Hanya akan merugi-kan
diri sendiri saja."
"Orang-orang macam itu tentu hanya akan menimbulkan kekacauan, hanya, akan melakukan
kejahatan saja."
"Saudara yang baik, apalah engkau mengenal mereka ? Siapakah mereka itu dan mengapa malam ini
mereka berkumpul di tempat ini ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
A-hai memandang kepada petani itu sejenak, lalu menggeleng kepalanya. "Aku sama sekali tidak
tahu, malah tadinya aku mengira engkau yang tahu dan mengenal mereka."
Seng Kun menggeleng kepala. "Eh, kenapa engkau menyangka bahwa aku mengenal mereka ?"
tanyanya.
"Entahlah, karena engkau kelihatan begitu cerdik."
Seng Kun mengerutkan alisnya. Pemuda ini, yang kelihatan bodoh dan jujur, ternyata memiliki
pandang mata yang tajam sehingga agaknya seperti sudah menduga bahwa dia bukanlah seorang
pe-tani biasa! Begitu burukkah penyamaranku, pikir Seng Kun dengan hati khawatir juga. Apakah
orang lain juga akan menduga seperti pemuda ini ? Ka-lau begitu, gagallah penyamarannya ini.
"Heii... ! Jangan ambil arakku... !!" Tiba-tiba A-hai melompat dan berlari ke depan.
Seng Kun terkejut memandang dan melihat seorang
di antara para tamu itu mengambil sebuah guci arak, membuka tutupnya dan menuangkan arak dari
guci itu ke dalam cawannya yang telah kosong.
A -hai berlari mendekat dan hendak merampas guci araknya, akan tetapi penjahat itu tertawa dan
menggerakkan kaki menendang. Sebuah tendangan yang sembarangan saja, bukan tendangan
seorang ahli silat tinggi, akan tetapi akibatnya, tubuh A-hai terjengkang setelah terdengar suara
berdebuk ka-rena perutnya tertendang.
"Ha -ha -ha ! Lihat tikus ini berguling-gulingan!!" Penjahat itu tertawa bergelak, disusul suara ketawa
teman-temannya yang sudah berdatangan. "Hayo siapa yang ingin tambah arak ?" Enam orang lain
yang berada di luar warung itu berda-tangan dan mereka mengulurkan cawan-cawan kosong mereka
untuk diisi oleh orang yang meme-gang guci arak.
"Itu arakku ! Jangan kalian mencuri sembarang-an saja !" A -hai sudah bangkit lagi dan menyerbu,
hendak merampas guci. Akan tetapi, beberapa buah kepalan menyambutnya dan orang -orang itu kini
menjadi marah karena dimaki mencuri. A -hai lalu dihajar dan dijadikan bulan -bulanan pukulan dan
tendangan kaki mereka. Terdengar suara berdebukan dan A -hai jatuh bangun menjadi kor-ban
pukulan -pukulan keras.
Biarpun dia sedang menyamar dan tidak ber-niat untuk memancing keributan, akan tetapi me-lihat
pemuda yang amat disukanya karena diang-gap jujur dan polos, juga bertulang bersih itu, Seng Kun
tidak dapat menahan diri lagi.
"Heii, jangan pukuli orang yang tidak berdosa!" bentaknya dan sekali bergerak, tubuhnya sudah
melayang ke tempat di mana A-hai dihajar dan begitu dia menggerakkan kaki tangannya, tu-. juh
orang pengeroyok itu terlempar ke kanan kiri dan mereka mengaduh -aduh. Seng Kun lalu me-narik
bangun A-hai yang memandang kepada-nya dengan wajah berseri, walaupun pipinya beng-kak dan
matanya menghitam.
"Haa, sudah kuduga, engkau seorang yang li-hai, paman petani!" serunya.
Akan tetapi, teriakan-teriakan itu memancing munculnya para penjahat dari dalam warung dan melihat
keributan itu, mereka segera serentak me-nyerbu dan mengeroyok Seng Kun dan A-hai. Seng Kun
tentu saja menyambut mereka dan para pengeroyok segera menjadi kaget mendapat ke-nyataan
betapa petani setengah tua itu benar-be-nar amat lihai. Akan tetapi, pemuda tukang gero-bak itu tidak
merupakan lawan berat sehingga ki-ni mereka mengeroyok Seng Kun sedangkan empat orang
pertama masih menghajar A-hai yang melawan sedapatnya sambil memaki-maki.
"Kalian manusia -manusia jahat! Kalian iblis-iblis berwajah manusia!" Pemuda ini hanya ber-gerak
sembarangan saja, sama sekali tidak menu-rut gerakan ilmu silat dan karena empat orang pengeroyoknya
adalah orang-orang kasar yang su-dah biasa berkelahi dan juga semua memiliki ilmu
silat, maka A-hai menjadi bulan-bulanan pukul-an. Akan tetapi pemuda ini memiliki tubuh yang kuat
sehingga biarpun sudah dipukuli jatuh ba-ngun, dia tetap terus bangkit dan melawan lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat pemuda itu dihajar dan dipukuli, Seng Kun yang dikeroyok oleh banyak orang itu mem-bantu
dan mencoba untuk melindunginya. Karena ini, maka dia sendiri menerima beberapa kali pu-kulan
yang cukup keras.
Ketika, melihat terjadinya keributan itu, dari tempat sembunyinya, Pek Lian dan Bwee Hong tentu saja
menjadi terkejut. Bwee Hong yang me-lihat kakaknya dikeroyok banyak sekali orang jahat, segera
meloncat maju, sedangkan Pek Lian yang melihat A -hai dipukuli orang, juga tidak mungkin dapat
berdiam diri dan gadis irupun sudah me-. lompat keluar dari tempat persembunyiannya. Dua orang
gadis ini lalu menyerbu dan mengamuk.
Para penjahat itu terkejut sekali melihat mun-culnya dua orang wanita petani yang demikian lihainya.
Mereka pun sadar bahwa petani setengah
tua dan dua orang wanita petani ini tentulah pihak musuh yang datang melakukan penyelidikan, maka
merekapun kini mengurung dan menyerang mati-matian mempergunakan senjata mereka. Jumlah
pengeroyok ada tigapuluh orang lebih dan mereka semua rata -rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan
pengalaman berkelahi yang matang, apa lagi mereka itu adalah penjahat -penjahat yang kejam dan
sudah biasa membunuh orang.
Melihat kehebatan petani setengah tua itu, Jai-hwa Toat-beng-kwi, penjahat cabul berusia tigapuluh
lima tahun yang berwajah ganteng dan berpakaian mewah pesolek itu lalu meloncat ke depan, begitu
menerjang, dia sudah menggunakan huncwe emasnya untuk menotok ke arah leher Seng Kun.
Melihat meluncurnya sinar emas di bawah sinar lampu yang kini dibantu obor itu. Seng Kun mak-lum
bahwa penyerangnya tidak boleh disamakan dengan para pengeroyok lainnya. Diapun cepat
melangkah mundur sambil mengelak dan meng-gerakkan lengan kanan untuk menangkis huncwe
emas itu. Akan tetapi, Si Cabul sudah menarik kem-bali huncwenya dan dengan gerakan cepat sudah
menggerakkan senjata istimewa itu yang meluncur ke arah muka Seng Kun, didahului oleh percikan
api tembakau dari hunewe yang menyambar ke arah mata. Inilah keistimewaan huncwe itu! Seng Kun
maklum akan bahayanya serangan kilat itu, maka diapun lalu meniup ke depan untuk menghalau
percikan api tembakau, lalu membuang diri ke belakang, menyelinap ke bawah dan dengan gerak-an
indah namun kuat, tangannya sudah menusuk perut lawan dengan jari -jari tangan terbuka.
"Wuiiuuttt !" Tusukan tangan yang kuatnya melebihi golok itu dapat dihindarkan pula oleh Jaihwa
Toat -beng -kwi yang diam-diam juga merasa kaget. Kiranya petani ini benar-benar bu-kan lawan
ringan ! Diapun mempercepat gerakan huncwenya dan kini mengerahkan seluruh tenaga dan
mengeluarkan semua ilmunya untuk mengha-dapi petani yang lihai itu, dibantu pula oleh be-berapa
orang penjahat yang memiliki kepandaian cukup tinggi.
Sementara itu, dua orang wanita yang pertama kali datang ke warung itu bersama Si Cabul yang
amat mirip satu sama lain, sudah mencabut pedang dan menyambut Bwee Hong karena mereka melihat
betapa wanita petani ini gerakannya amat si-gap dan cepat. Bwee Hong tahu pula bahwa dua
orang wanita ini cukup lihai, maka iapun sudah mencabut pedang yang disembunyikan di balik baju,
menyambut dan menyerang mereka dengan sengit. Terjadi pula pertandingan seru di antara mereka
dan dua orang wanita itu juga dibantu oleh beberapa orang penjahat yang memperguna-kan senjata
mereka untuk mengurung Bwee Hong.
Pek Lian meloncat dan hendak menolong A -hai yang masih menjadi bulan -bulan pukulan dan tendangan
empat orang jahat itu, akan tetapi iapun disambut oleh banyak orang yang mengurung dan
mengeroyoknya. Pek Lian membentak marah, mencabut pula pedangnya dan mengamuklah gadis ini.
Daerah yang sunyi itu kini menjadi medan per-kelahian yang amat seru. Akan tetapi, kepandaian tiga
orang pendekar muda ini agaknya terlalu kuat bagi para penjahat itu. Terutama sekali kakak ber-adik
bangsawan she Chu itu, biarpun di pihak ka-um sesat terdapat Si Cabul dan dua orang wanita
berpedang, namun tetap saja mereka itu kewalahan menghadapi pengamukan Seng Kun dan Bwee
Hong. Bagaimanapun juga, dua orang muda ini adalah keturunan dari datuk sakti Sin -yok -ong dan
mereka memiliki gerakan yang amat cepat. Juga Ho Pek Lian merupakan seorang dara yang-gagah
perkasa. Ia memiliki dasar ilmu silat tinggi yang baik, dan selama beberapa bulan ini ia telah
digembleng oleh pengalaman -pengalaman hebat, bertemu dengan orang-orang sakti dan semua
pengalaman ini membuatnya menjadi masak dan ilmunya juga menjadi semakin mantap. Pedangnya
membentuk gulungan sinar yang membuat para pengeroyoknya kewalahan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba -tiba terdengar suara mengaum seperti auman singa dan disambut oleh dua kali auman
harimau. Suara ini menggetarkan suasana yang hiruk-pikuk oleh perkelahian di tempat itu. Se-mua
orang tertegun dan Pek Lian segera mengerti bahwa bahaya besar muncul karena ia tahu siapa
orangnya yang datang. Mungkin orang inilah yang dinanti-nanti oleh para penjahat itu. San-hek-houw
Si Harimau Gunung telah muncul ! Juga Bwee Hong dan Seng Kun cepat meloncat ke bela-kang dan
memandang.
Seorang kakek tinggi besar yang mengenakan jubah kulit harimau berdiri dengan gagahnya, dan di
belakangnya nampak dua ekor harimau kum-bang. Ketika tiba di tempat itu tadi, San-hek-houw sudah
tahu bahwa petani yang berkelahi melawan Si Cabul bersama beberapa orang teman-nya itulah yang
paling lihai di antara mereka yang dikeroyok oleh anak buahnya, maka diapun tanpa banyak cakap
lagi lalu menerjang ke depan dan menyerang Seng Kun. Tangannya diulur ke depan dengan jari -jari
tangan terbuka membentuk cakar harimau dan Seng Kun cepat meloncat ke bela-kang untuk
menghindarkan cakaran -cakaran yang amat kuat itu. Itulah Umu Silat Houw -jiauw -kun (Ilmu Cakar
Harimau) akan tetapi yang berbeda dengan ilmu silat harimau lainnya. Gerakan orang ini amat kuat
dan ganas ! Dengan hati -hati Seng Kun lalu balas menyerang dan segera terjadi perke-lahian yang
amat seru di antara mereka.
Melihat bahwa lawan yang tangguh itu kini telah dihadapi oleh San -hek -houw yang merupa-kan
tokoh yang lebih tinggi tingkatnya dari pada-nya, Si Cabul lalu tersenyum -senyum mengham-piri
Bwee Hong. "Ih, wanita petani kotor ternyata pandai juga berkelahi. Sayang kau sudah agak tua,
kalau masih muda tentu akan menjadi penghibur yang menarik !" Sambil berkata demikian, Si Cabul
sudah mencolek ke arah dada Bwee Hong.
"Plakk !" Bwee Hong menangkis dengan penge-rahan tenaga dan akibatnya, Si Cabul itu terdorong ke
belakang. Jai-hwa Toat-beng-kwi menjadi marah dan diapun menyerang dengan huncwenya, djbantu
pula oleh dua orang wanita berpedang. Kini Bwee Hong menghadapi lawan yang jauh le-bih lihai dari
pada tadi. maka iapun memutar pe-dangnya dan melawan dengan mati-matian.
Akan tetapi, pada saat Seng Kun mengerahkan semua kepandaiannya untuk dapat mengalahkan
San-hek-houw yang sudah dibantu pula oleh be-berapa orang anak buahnya, tiba-tiba saja terde-ngar
suara tinggi seperti suara wanita, akan tetapi suara itu mengandung getaran khikang yang kuat.
"Ha-ha-ha, apakah Harimau Gunung sudah kehilangan sebagian giginya maka menghadapi seo-rang
petani saja sudah kewalahan ?"
Dari dalam kegelapan malam, muncullah seo-rang laki -laki yang usianya kurang lebih empat-puluh
tahun, tubuhnya gendut pendek, perutnya besar seperti perut kerbau bunting, dan tangan kanannya
memanggul sebuah senjata yang kelihatan-nya sederhana saja, yaitu sebatang toya besar se-perti alu
yang terbuat dari pada baja putih. Akan tetapi, melihat munculnya orang ini, Pek Liari ter-kejut sekali
karena ia mengenal orang ini sebagai Sin -go Mo Kai Ci. Julukannya Sin -go (Buaya Sakti), raja dari
segala bajak sungai dan menjadi rekan dari Harimau Gunung. Inilah dua di antara Sam -ok {Tiga
Jahat) yang menjadi pembantu-pembantu utama Si Raja Kelelawar!
"Buaya hina, dari pada banyak mulut, tidakkah lebih baik cepat membantuku menundukkan mu-suh
ini? Dia bukan petani biasa, tentu mata-.mata pihak musuh !" kata San-hek-houw sambil rnen-coba
untuk mendesak lawan. Namun, Seng Kun yang juga sejak tadi munculnya Harimau Gunung ini
sudah mainkan sebatang pedang, menahan se-rangannya dengan baik dan membalas dengan serangan
kilat yang nyaris merobek ujung jubah ha-rimaunya.
Buaya Sakti tertawa bergelak dan begitu tubuh-nya yang bundar itu bergerak, toya putihnya sudah
diputar dan diapun terjun ke dalam perkelahian itu membantu rekannya. Melawan Harimau Gu-nung
saja sudah merupakan hal yang cukup berat bagi Seng Kun. Kini ditambah munculnya Sin -go Mo Kai
Ci yang memiliki tingkat yang seimbang dengan rekannya, maka tentu saja Seng Kun men-jadi repot
sekali. Apa lagi karena corak permainan silat dan gaya permainan senjata pendatang baru ini jauh
berbeda, membuat mereka berdua itu me-rupakan kombinasi yang sulit untuk dilawan.
Biarpun Seng Kun melawan mati-matian, na-mun akhirnya sebuah hantaman toya dari Buaya Sakti itu
mengenai punggungnya dengan amat ke-rasnya. Untung bahwa Seng Kun memiliki tenaga sinkang
yang amat kuat, maka hantaman itu tidak sampai mematahkan tulang punggungnya, hanya
membuatnya terpelanting saja. Akan tetapi, banyak orang menubruk dan meringkusnya sehingga
Seng Kun tidak mampu berkutik lagi. Dia telah terta-wan !
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini, Bwee Hong menjadi marah. Akan tetapi Pek Lian yang melihat betapa sia-sia ka-ku
mereka melawan dan akhirnya mereka berdua-pun tentu akan roboh tewas atau tertawan, cepat
mendekati Bwee Hong.
"Enci Hong, mari kita lari !"
"Tapi... tapi... Kun-ko"
"Kita bicarakan nanti. Lekas, ikut aku !" Dan Pek Lian lalu menarik tangannya. Bwee Hong adalah
seorang gadis yang cukup cerdas. Biarpun ia merasa khawatir sekali akan nasib kakaknya, akan
tetapi iapun tahu apa yang dimaksudkan oleh Pek Lian. Kalau mereka berdua selamat, setidak-nya
mereka akan mampu untuk memikirkan usaha agar dapat menyelamatkan Seng Kun. Sebaliknya,
kalau mereka berdua nekat dan melawan, lalu me-rekapun tertawan, habislah sudah semua harapan
untuk dapat lolos !
Dua orang wanita itu meloncat dan melarikan diri dalam gelap.
"Kejarl" teriak Harimau Gunung dan Buaya Sakti dengan penasaran, dan merekapun ikut lari
mengejar. Akan tetapi, dua orang gadis itu me-mang dapat bergerak cepat sekali, dan pula, kegelapan
malam menolong mereka sehingga akhirnya para pengejar itu terpaksa kembali ke warung dengan
tangan hampa.
Setelah melibat tidak ada pihak musuh yang mengejar, kedua orang dara itu berhenti dan Bwee Hong
segera mencela Pek Lian, "Adik Lian, bagai-manakah engkau ini ? Kakakku tertawan dan eng-kau
malah memaksaku melarikan diri ! Memang aku tahu bahwa kita tidak dapat selamat dan tidak da-pat
menolongnya, akan tetapi, melarikan diri selagi kakakku tertawan, sungguh membuat aku merasa
berduka dan malu. Apa yang akan dipikir oleh kakakku ?"
"Kakakmu tentu akan membenarkan tindakan kita ini, enci. Pihak musuh begitu banyak dan di
antaranya banyak terdapat orang lihai. Sedangkan kakakmu saja tertawan, apa lagi kita. Belum lagi
kalau sampai pimpinan mereka datang, yaitu Si Raja Kelelawar. Sungguh habislah kita ! Sekarang
kita berdua masih selamat. Apa kaukira akupun akan diam saja melihat kakakmu dan A -hai dita-wan
orang ? Kita dapat membayangi mereka dan melihat keadaan selanjutnya. Kalau memang ba-haya
mengancam mereka, kita boleh turun tangan dan mengadu nyawa !"
Bwee Hong yang kebingungan karena memikir-kan kakaknya itu hanya mengangguk dengan lesu dan
selanjutnya ia akan menurut saja kepada saha-batnya ini. Biarpun tingkat kepandaian silatnya masih
lebih lihai dari pada Pek Lian, namun ha-rus diakuinya bahwa ia kalah wibawa, dan juga kalah
pengalaman. Hal ini adalah karena Pek Lian telah mewakili gurunya untuk memimpin para pen-dekar.
Pandangannya lebih luas dan ia tidak ber-tindak menurutkan perasaan belaka, melainkan ber-tindak
dengan pedntungari sebagai layaknya seorang yang berjiwa pemimpin.
Sementara itu, San-hek-houw dan Sin-go Mo Kai Ci yang memimpin pertemuan itu, nampak tergesa -
gesa membagi -bagi tugas kepada para anak buahnya, kemudian terdengar dia berkata, "Munculnya
gangguan ini merobah acara. Kita ha-rus cepat pergi meninggalkan tempat ini. Tidak aman setelah
diketahui orang lain." Pertemuan itu-pun bubaran dan dua orang yang ditawan itu,
A -hai dan Seng Kun, dibawa pergi sebagai tawan-an oleh dua orang tokoh sesat itu, ditotok dan di
be-lenggu kemudian dilempar di dalam pedati milik A -hai yang tadi dipergunakan untuk mengangkat
arak.
Melihat betapa dua orang itu dibawa pergi oleh Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti, Pek Lian dan
Bwee Hong lalu membayangi gerobak itu. Mereka berdua tidak berani sembarangan turun tangan
karena maklum bahwa keselamatan A-hai dan Seng Kun terancam jika mereka dengan sembro-no
melakukan penyergapan. Apa lagi karena dua orang tokoh sesat itu masih dikawal oleh para pembantunya
yang lihai.
Sampai beberapa hari lamanya dua orang gadis itu membayangi kereta atau gerobak dua orang
tokoh sesat yang menawan A-hai dan Seng Kun. Mereka melihat betapa kedua orang tawanan itu
diperlakukan dengan cukup baik, masih dibelenggu akan tetapi setiap kali rombongan berhenti untuk
makan, keduanya mendapatkan hidangan secukup-nya. Hal ini melegakan hati Bwee Hong dan Pek
dunia-kangouw.blogspot.com
Lian yang mendapat kenyataan bahwa agaknya para penjahat tidak berniat membunuh dua orang
tawanan itu.
Dan memang sesungguhnya demikianlah. Se-telah berhasil menawan A -hai dan Seng Kun, Si
Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti memperhatikan Seng Kun dan melarang anak buah mereka
untuk membunuh atau melukainya. Juga A-hai yang telah dibela oleh petani itu mendapatkan
perlakuan yang cukup baik walaupun kedua orang tawanan itu selalu dibelenggu. Hal ini adalah
karena Harimau Gunung merasa curiga melihat kelihaian petani itu dan menduga bahwa petani itu
tentulah seorang tokoh pembantu yang cukup ting-gi kedudukannya dari Si Petani Laut, seorang di
antara raja-raja lautan. Ciri khas dari para tokoh bajak lautan ini adalah pakaian mereka yang seper-ti
pakaian petani, walaupun pekerjaan mereka ada-lah perampok -perampok di lautan alias bajak -bajak
laut! Kabarnya, Si Petani Laut berasal dari ke-luarga petani, maka setelah menjadi seorang di
antara jagoan-jagoan atau bahkan raja-raja kecil yang menguasai lautan timur, dia tetap berpakaian
petani bahkan mengharuskan para pembantunya berpakaian seperti petani! Dan karena Si Petani
Laut juga termasuk tangan kanan atau juga sekutu dari Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur), maka
Si Harimau Gunung menduga bahwa petani yang tertawan itu adalah seorang utusan dari ke-lompok
bajak laut. Seperti kita ketahui, Sam -ok atau Si Tiga Jahat adalah Tung -hai -tiauw Si Rajawali Lautan
Timur, Sin -go Mo Kai Ci Si Bua-ya Sakti, dan San-hek-houw Si Harimau Gunung. Merekalah yang
disebut raja -raja di wilayah dan daerah masing -masing, yaitu raja lautan, raja sungai -sungai dan raja
daratan. Dua di antara mere-ka, yaitu Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung telah menakluk
terhadap Raja Kelelawar. Kemu-dian Raja Kelelawar yang merupakan datuk terting-gi di antara kaum
sesat itu mengutus dua orang pembantunya ini untuk menghubungi Si Rajawali Laut.
Demikianlah, karena menduga bahwa Seng Kun adalah tokoh sesat lautan yang menjadi anak buah
Si Rajawali Laut, maka Harimau Gunung dan Buaya Sakti tidak mau bertindak lancang. Bahkan
mereka menganggap bahwa Seng Kun dapat men-jadi semacam sandera agar mereka dapat dengan
mudah menghubungi rekan yang kadang -kadang menjadi saingan dan musuh itu. Harimau Gunung
dan Buaya Sakti scndiripun tadinya sering kali bentrok dan bersaing. Hanya kini setelah muncul Raja
Kelelawar, mereka menjadi akur dan tidak berani bentrok, karena sama -sama menjadi pem-bantu
dari atasan mereka yang baru, yang amat mereka takuti, yaitu Raja Kelelawar.
Ketika rombongan itu tiba di tepi lautan di se-belah timur kota raja, menghadapi Teluk Po -hai yang
luas, rombongan yang mengawal kedua orang raja penjahat itu segera menyediakan sebuah pe-rahu
layar besar. Kemudian, dikawal oleh belasan orang saja. Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti
membawa dua orang tawanan naik perahu yang berlayar ke arah timur laut. Ketika itu, hari masih
amat pagi akan tetapi matahari telah meninggal-kan permukaan laut dan membakar seluruh permukaan
air dengan cahayanya yang masih belum terlalu panas, masih keemasan. Perahu layar besar
yang membawa dua orang tawanan itu mem-bentuk sebuah bayangan memanjang di atas permukaan
air yang merah tembaga. Angin laut pagi itu lembut saja, namun cukup membuat perahu itu
melaju karena layar terkembang yang lebar itu menangkap banyak angin yang mendorong pe-rahu.
Sunyi sekali, karena perahu -perahu nelayan yang terapung di sana-sini sedang tenang, me-nanti
datangnya rombongan ikan yang biasanya muncul setelah sinar matahari menjadi keperakan. Para
nelayan duduk di dalam perahu masing-ma-sing, memandang ke arah perahu besar yang lewat
melaju, tidak merasa curiga atau heran karena memang sering terdapat perahu -perahu besar lalu -
lalang di perairan itu, baik perahu -perahu pedagang maupun perahu -perahu pelancong. Merekapun
tidak khawatir kalau -kalau ada pera-hu bajak laut, karena mereka semua berada dalam
"perlindungan" raja -raja bajak laut dengan cara membayar "pajak penghasilan" setelah mereka pulang
membawa hasil penangkapan ikan mereka nanti. Di darat telah menanti kaki tangan para raja
bajak yang akan menentukan besar kecilnya pajak itu disesuaikan dengan hasil pekerjaan mereka
semalam, atau sehari. Dengan pembayaran pajak seperti itu, keselamatan mereka terjamin dan
mereka dapat bekerja dengan tenang.
Pungutan liar semacam ini terdapat di manapun juga dan di jaman apapun juga. Pungutan liar ini
tercipta oleh kesempatan mengeduk keuntungan yang banyak dimiliki oleh mereka yang mempunyai
banyak kekuasaan, oleh mereka yang mempunyai wewenang. Dengan kekuasaan atau wewenang
yang ada pada mereka, maka terbukalah kesempatan un-tuk memeras. Kekuasaan atau wewenang
itu bisa saja timbul dari kedudukan atau dari kekuatan. Kedudukan dan kekuatan itu dijadikan modal
untuk memeras atau mencari keuntungan dengan jalan memeras. Para nelayan itu tanpa mereka
sadari te-lah diperas. Mereka merasa "dilindungi" oleh para bajak, dan untuk itu mereka mau
menyerahkan se-bagian dari pada hasil keringat mereka. Dilin-dungi dari siapa ? Tentu saja dari
gangguan, dan biasanya, yang mengganggu adalah para bajak itu sendiri. Berarti, kalau tidak mau
dunia-kangouw.blogspot.com
menyogok, akan diganggu ! Perbuatan para bajak laut ini tiada bedanya dengan perbuatan para
pejabat yang ju-ga akan "mengganggu" dengan menggunakan ke-kuasaan dan wewenang mereka
apa bila mereka ti-dak disogok.
Pungutan liar memang akibat disalahgunakan-nya wewenang dan kekuasaan. Akan tetapi, sumber
pokoknya terletak dalam batin seseorang itu sendi-ri. Kedudukan tinggi sebagai pejabat tidak
mempunyai kecondongan kc arah perbuatan baik atau buruk tertentu. Kedudukan itu diperlukan untuk
mengatur orang banyak, dan untuk pekerjaan ini dia telah menerima upah. Jadi sepenuhnya tergantung
kepada seseorang itu sendiri, mau dijadi-kan apakah kedudukannya itu ! Dapat saja dijadikan
modal untuk memeras, akan tetapi dapat pula dijadikan alat untuk menertibkan dan mengatur,
yang pertama adalah untuk kesenangan diri sendiri sedangkan yang ke dua adalah untuk kesenangan
orang -orang lain, atau setidaknya untuk meme-nuhi tugas yang telah dibebankan ke atas pun-daknya
dengan imbalan upah yang semestinya. Demikian pula dengan kekuatan yang ada pada diri
seseorang, dapat saja kekuatan itu dipakai un-tuk menindas demi memenuhi kesenangan diri pribadi,
dapat juga dipakai untuk melindungi orang-orang lain dari pada ancaman kejahatan yang
mengandalkan kekuatan. Jadi, sumber pokok dari perbuatan pungutan liar itu, seperti dari penyelewengan
-penyelewengan hidup yang lain, ter-letak dalam batin masing-masing. Tanpa adanya
kesadaran batin, segala usaha untuk memberantas-nya hanya akan berhasil untuk sementara saja.
Dengan kekerasan, mungkin saja perbuatan sesat dapat dihentikan, akan tetapi penghentian ini hanya
lahiriah, hanya bersifat sementara karena bo-rok di dalam batin itu masih belum sembuh. Kalau
penjagaannya kurang ketat, maka borok itu akan kambuh lagi dan perbuatan sesat itu akan tendang,
mungkin lebih hebat dari pada yang sudah. Seba-liknya, kalau batinnya sudah sembuh dari pada bibit
penyakit itu, tanpa pengekangan sekalipun, perbuatan sesat itu takkan muncul.
Ketika Pek Lian dan Bwee Hong melihat persi-apan para penjahat itu, Pek Lian segera dapat menduga
bahwa dua orang tawanan itu akan dibawa pergi berlayar. Maka dengan cepat iapun mencari
perahu yang disewanya dari seorang nelayan. Ke-tika perahu besar itu mengembangkan layar, Pek
Lian dan Bwee Hong juga sudah mendayung pe-rahu dan tak lama kemudian perahu kecil mereka
pun berlayar mengikuti perahu besar. Dengan adanya banyak perahu nelayan di sekitar tempat itu,
maka tentu saja perbuatan dua orang wanita ini tidak menarik perhatian, juga tidak dicurigai oleh para
penjahat itu.
Dua orang gadis itu telah menanggalkan pe-nyamaran mereka begitu perahu kecil mereka ber-gerak.
Kini tidak perlu lagi menyamar karena me-reka bukan sedang melakukan tugas menyelidik dan
membantu Seng Kun, melainkan sedang meng-hadapi para penjahat secara langsung. Tidak perlu
lagi mereka menyamar. Perahu kecil mereka me-luncur cepat ketika mereka memasang layar. Untung
bagi mereka bahwa Pek Lian tidak asing de-ngan pelayaran dan Bwee Hong ternyata juga merupakan
seorang gadis yang dapat belajar dengan cepat. Kekuatan dalam mereka berkat latihan
membuat mereka dapat bertahan terhadap gun-cangan dan goyangan perahu mereka ketika dipermainkan
oleh air laut yang mulai bergelombang. Bersama meningginya matahari, gelombangpun
se-maian membesar. Hal inilah yang membuat mereka tertinggal oleh perahu besar di depan. Perahu
be-sar itu tidak begitu payah melawan gelombang seperti perahu kecil dua orang dara perkasa ini.
Menjelang tengah hari, mereka berdua kehi-langan perahu besar di depan! Tentu saja mereka
menjadi bingung dan biarpun mereka berusaha untuk mengejar, namun gelombang laut yang besar
itu membuat perahu mereka terombang-ambing.
"Ah, celaka perahu itu telah meninggalkan kita! Aih, bagaimana ini, adik Lian! Bagaimana dengan
Kun-koko! "Bwee Hong meratap dan hampir saja ia menangis. Bwee Hong sama sekali bukan
seorang gadis lemah. Bahkan dalam hal ilmu silat, ia masih lebih lihai dari pada Pek Lian. Akan tetapi,
ia amat sayang kepada kakaknya. Kini kakaknyalah satu-satunya keluarga
terdekat di dunia ini baginya. Ayah kandungnya, yang baru saja dijumpainya, telah merupakan orang
yang jauh dari batinnya. Bukan hanya karena sejak kecil terpisah, melainkan juga karena ayahnya itu
telah menjadi seorang pendeta di istana dan sudah tidak mau tahu akan urusan keluarga lagi.
Keluarga Bu yang mengasuh ia dan kakaknya sejak kecil, sudah tewas. Di dunia ini ia hanya
mempunyai seorang saja, yaitu Seng Kun dan sekarang kakaknya itu dilarikan penjahat.
"Tenangkan hatimu, enci Hong. Dalain keadaan seperti sekarang ini, yang penting sekali bagi kita
adalah ketenangan. Kita tidak boleh panik dan putus asa. Arah perahu mereka menuju ke arah timur
laut dan lihatlah, bukankah di depan sana itu terdapat gugusan pulau -pulau yang nampak lapat -lapat
dunia-kangouw.blogspot.com
dari sini ? Tentu ke sanalah mereka menuju dan perahu mereka lenyap karena pandang-an kita
terhalang oleh gelombang. Kita menuju ke arah itu, pasti kita akan bertemu lagi dengan mereka."
Melihat sikap Pek Lian yang tangkas dan pan-dang mata yang penuh semangat itu, Bwee Hong
terhibur dan merasa malu. Dirangkulnya teman-nya itu dan sejenak ia memejamkan mata sambil
bersandar pada pundak sahabatnya yang memiliki watak amat kuat itu. Sahabatnya inipun menderita.
Ayahnya juga dilarikan penjahat, akan tetapi Pek Lian masih mampu menghibur dan membesarkan
hatinya!
"Maafkan aku, Lian-moi. Aku telah bersikap cengeng seperti anak kecil. Mari, kita lanjutkan pelayaran
kita. Ombak -ombak ganas ini harus kita lawan dan atasi!" Di dalam suara dara cantik jelita ini
terkandung ketabahan dan ketekadan be-sar sehingga Pek Lian tersenyum,
"Bagus ! Mari kita bekerja keras!"
Demikianlah, kedua orang gadis itu bersitegang dengan gelombang lautan, memperebutkan perahu
dan nyawa mereka. Ombak -ombak besar itu seo-lah-olah merupakan jangkauan tangan maut yang
hendak menelan dan menghempaskan perahu, se-dangkan mereka berdua dengan kedua tangan
yang berjari kecil mungil halus itu mengerahkan tenaga untuk menahan perahu mereka agar jangan
teng-gelam ! Terjadilah proses pertarungan dan perju-angan hidup yang mungkin sudah setua lautan
itu sendiri atau setua sejarah manusia, antara manusia dan alam ! Antara ancaman mati dan
memperta-hankan hidup ! Proses yang sampai kini masih me-landa kehidupan manusia, dan
karenanya amat mengharukan. Bukankah kita inipun setiap saat dikelilingi jangkauan tangan -tangan
maut ? Me-lalui penyakit, melalui kecelakaan, melalui bencana alam? Betapa mati dan hidup ini seling
-menye-ling, merupakan perpaduan yang serasi, yang me-nguasai diri kita ? Kalau kita tidak
membuka ma-ta mempelajari apa sesungguhnya kehidupan ini, apakah kita lalu hanya hidup untuk
menghindarkan diri dari pada jangkauan maut belaka dan akhirnya kita akan tercengkeram juga dan
tunduk di bawah kekuasaan maut sebelum kita tahu apa sesungguh-nya kehidupan ini ? Apakah
hidup ini hanya per-juangan, kesengsaraan, kekecewaan, duka nestapa, permusuhan, segala pahit
getir dengan hanya sedikit manis sekali -kali, kemudian habislah semua itu dan mati ?
Setelah terhindar dari rasa khawatir, baik ke-khawatiran akan nasib kakaknya maupun rasa ta-kut
akan gelombang yang mengancam nyawanya, mulailah terasa oleh Bwee Hong kegairahan dan
kegembiraan dalam menghadapi gelombang lautan yang mendahsyat itu. Kegembiraan yang jarang
terasa olehnya, mungkin hanya terasa oleh mereka yang tahu apa artinya berdekatan dengan maut,
apa artinya dapat menyelinap di antara jari -jari tangan maut yang mengancam. Saking besarnya rasa
gem-bira ini, Bwee Hong yang membantu Pek Lian me-ngemudikan perahu, menjerit -jerit, suaranya
dite-lan angin dan gemuruh gelombang air yang saling timpa.
"Hayo, majulah! Datanglah gelombang! Ha-ha, hayo serbulah, aku tidak takut padamu ! Huiiii-huuu!"
Perahu itu melambung tinggi lalu meluncur turun dengan kecepatan yang membuat jantung terasa
copot tertinggal di udara ! Namun Bwee Hong menjerit dan tertawa, sehingga Pek Lian ikut pula
terseret kegembiraan itu dan kedua orang dara perkasa itupun menjerit -jerit dan ter-tawa-tawa, dan
gelombang lautan itu berobah menjadi sahabat -sahabat yang mengajak mereka bersendau-gurau!
Setengah hari lamanya dua orang dara pendekar itu berjuang melawan amukan air laut dan tiga kali
hampir saja perahu mereka terbalik. Pakaian mereka sudah basah kuyup, basah oleh air bercam-pur
keringat mereka. Wajah mereka yang cantik itu nampak berseri, berkilau dengan cahaya kehi-dupan
dan kesegaran, kemerahan dan sepasang mata mereka bersinar -sinar, muka mereka yang berkulit
halus itu kemerahan dan agak coklat ter-bakar matahari. Setelah setengah hari lamanya bergurau,
agaknya air laut menjadi jemu dan bo-san juga dan gelombangpun tidak seganas tadi. Napas lautan
yang tadinya terengah -engah itu kini menjadi tenang dan hanya tinggal sisanya saja.
Tiba-tiba Pek Lian menunjuk ke arah depan. "Lihat, itu mereka ! "
Di antara -puncak -puncak gunung ombak di kejauhan, nampak mula-mula ujung tiang perahu layar
besar dengan benderanya, kemudian nampak layarnya dan mereka berdua hampir bersorak gi-rang
mengenal bahwa memang itulah perahu yang mereka bayangi, perahu yang membawa A -hai dan
Seng Kun sebagai tawanan. Karena kini ge-lombang tidak terlalu mengganas lagi, badai tidak
mengamuk seperti tadi dan angin bertiup tenang dan kuat, mereka lalu memasang layar besar dan
dunia-kangouw.blogspot.com
perahu kecil itu melaju, seperti anak kecil berlari-larian di atas rumput -rumput ketika mereka menerjang
puncak -puncak gelombang, mengejar ke depan.
Matahari telah condong jauh ke barat dan cua-ca sudah mulai berkurang terangnya, sinar perak telah
berganti sinar lembayung yang lemah dan redup, seolah -olah matahari telah mulai mengan-tuk dan
siap untuk beristirahat di balik permukaan laut, seperti hendak tenggelam di dalam lautan yang amat
luas itu. Dan seperti juga di waktu mun-culnya pagi tadi, ketika menghilang, matahari juga bergerak
amat cepatnya, tenggelam sedikit demi sedikit sampai akhirnya yang tinggal hanya sinar redup
kemerahan, memancar dari balik permukaan kaki langit di atas lautan, bola mataharinya sendiri telah
tenggelam di balik ujung laut.
Dua orang gadis itu tidak merasa khawatir lagi. Biarpun kegelapan malam akan melenyapkan pera-hu
di depan dari pandang mata mereka, akan tetapi mereka percaya bahwa perahu besar itu akan memasang
lampu, atau setidaknya mereka berdua su-dah melihat bayangan gugusan pulau-pulau di
depan. Mereka merasa yakin bahwa ke sanalah perahu di depan itu menuju.
Tiba -tiba, di dalam keremangan senja, nampak cahaya lampu bermunculan di sebelah kanan dan kiri.
Perahu -perahu ini membawa penerangan yang cukup terang, menerangi air laut di sekitarnya.
"Eh, eh, dari mana munculnya perahu -perahu ini dan siapakah mereka ?" Pek Lian bertanya de-ngan
heran dan juga hatinya terasa tidak enak. Kini bermunculan perahu -perahu dari kanan kiri dan
melihat lampu-lampu mereka, mudah meng-hitung jumlahnya. Ada delapan buah perahu yang
muncul, semua memakai penerangan dan dari pe-rahu kecilnya, Pek Lian dan Bwee Hong dapat melihat
bahwa di atas setiap perahu terdapat anak buah sebanyak sepuluh orang. Dan mereka itu
bersenjata lengkap. Delapan buah perahu itu me-luncur searah dengan perahu yang ditumpangi A -
hai dan Seng Kun, seolah -olah mengawal pera-hu penjahat itu. Dan mereka itu mungkin tidak melihat
perahu kecil Pek Lian yang tidak memakai lampu.
Kurang lebih satu jam lamanya perahu -perahu itu berlayar menuju ke arah timur laut. Tiba -tiba
terdengar suara peluit ditiup berulang-ulang saling sahutan dan kedua orang dara itu melihat betapa
semua perahu itu berpencar ke kanan kiri dengan teratur, membentuk barisan seperti hendak menggunting
dan lampu -lampu penerangan merekapun kadang-kadang padam kadang-kadang nampak,
itupun hanya merupakan penerangan lampu hijau redup -redup. Karena seolah -olah ditinggalkan oleh
barisan perahu itu, perahu kecil Pek Lian dan Bwee Hong kini meluncur ke depan dengan cepat-nya
sendirian saja menempuh kegelapan malam. Keadaan amat mengerikan, seolah -olah setiap saat
mereka akan ditelan oleh sesuatu yang telah meng-ancam sejak tadi. Namun, dua orang gadis itu telah
memperoleh kembali ketabahan mereka dengan jalan bersendau -gurau dan bercakap -cakap,
seo-lah -olah mereka sedang menikmati sebuah pela-yaran yang amat romantis dan
menggembirakan. Langit amat indah. Langit di waktu malam hanya nampak indah kalau gelap seperti
itu. Bintang-bintang nampak jelas menghias angkasa menghitam. Seperti hamparan beludru hitam
yang ditaburi ratna mutu manikam yang berkilauan.
Jilid XII
ENTAH berapa lamanya mereka berdua me-ngemudikan perahu layar mereka yang me-luncur pesat
ke depan sambil menikmati keindahan angkasa dan mendengarkan dendang air yang ter-sayat oleh
moncong perahu mereka, ketika tiba-tiba keduanya terkejut melihat sinar terang lampu dari sebuah
perahu besar yang meluncur berla-wanan arah dengan perahu mereka.
"Cepat, belokkan perahu !" teriak Pek Lian ke-pada Bwee Hong yang kebetulan sedang menggantikan
tugas mengemudikan perahu. Bwee Hong sudah terlatih beberapa jam lamanya, sudah gapah,
akan tetapi karena terkejut dan panik, iapun bingung dan perahunya membelok terlampau keras.
Ham-pir saja perahu itu terbalik ketika layarnya menja-di kacau.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dukkkkk !!" Tiba-tiba mereka merasakan gun-cangan keras dan ternyata perahu mereka telah menumbuk
sebuah perahu lain. Kiranya di kanan kiri perahu besar yang terang itu terdapat pula dua
buah perahu kecil yang agaknya mengawal perahu besar.
Terdengar teriakan dan maki -makian dalam ba-hasa asing. Perahu besar itupun berhenti dan ramailah
suara orang -orang dengan bahasa asing di atas perahu besar. Ketika Pek Lian dan Bwee
Hong dapat menenangkan hati mereka yang terguncang karena perahu mereka hampir terbalik,
dengan ma-rah mereka lalu memandang ke atas, ke arah pera-hu besar dan melihat munculnya
beberapa orang di atas perahu itu, menjenguk ke bawah ke arah mereka. Sebuah lampu sorot
ditujukan kepada me-reka dan perahu kecil mereka kini bermandikan ca-haya sehingga mata kedua
orang dara itu menjadi silau karenanya.
Orang -orang yang menjenguk ke bawah itu berteriak-teriak dalam bahasa asing, agaknya ma-rah -
marah dan ada pula yang tertawa -tawa, ke-mudian dua buah perahu kecil di kanan kiri perahu besar
mewah itu didayung maju dengan cepat dan beberapa batang dayung panjang mendorong -do-rong
perahu dua orang dara itu, sehingga perahu itu terguncang -guncang ke kanan kiri.
"Eh, kalian ini mau apa ?" bentak Pek Lian.
Akan tetapi orang -orang asing yang rata -rata bertubuh pendek itu hanya menjawab sambil tertawatawa
dan melanjutkan usaha mereka men-dorong-dorong perahu dua orang dara itu, agaknya
bermaksud untuk menggulingkan perahu. Sementara itu, orang -orang yang berada di atas perahu
besar itu tertawa-tawa dan menggerakkan tangan, nampaknya memberi anjuran kepada para
pembantu mereka yang berada di dalam dua buah perahu kecil di bawah.
Biarpun tidak mengerti bahasa mereka, Pek Lian dan Bwee Hong maklum bahwa orang -orang ini
berusaha untuk menggulingkan perahu mereka, maka tentu saja mereka menjadi marah. "Jahanam,
kalian hendak menggulingkan perahu kami ?" ben-tak Pek Lian marah. Akan tetapi, orang -orang di
atas perahu besar itu tertawa -tawa dan menuding-nuding ke arah dua orang gadis yang marah -
marah itu.
"Adik Lian, mari kita hajar mereka !" kata Bwee Hong dan sekali tangannya bergerak, ia sudah menangkap
sebatang dayung yang mendorong pinggir perahu dan sekali renggut, dayung itu dapat
diram-pasnya dan pemegang dayung berteriak ketika tu-buhnya terlarik dan akhirnya dia terjungkal
keluar perahu ke dalam air laut!
"Jangan di sini! Mari kita naik ke perahu besar itu saja dan menghajar pimpinan mereka !" kata Pek
Lian yang maklum bahwa kalau mereka ber-dua melawan di dalam perahu kecil mereka, keselamatan
mereka malah terancam. Kalau sampai pe-rahu mereka itu digulingkan, tentu mereka akan
celaka. Bwee Hong mengerti apa yang dimaksud-kan oleh kawannya, maka iapun mengangguk dan
tiba-tiba mereka berdua, menggunakan kepa-nikan para pengganggu yang melihat seorang ka-wan
mereka tercebur ke dalam lautan tadi, untuk mengenjot tubuh dan meloncat ke atas perahu be-sar
yang mewah itu.
Ketika mereka yang berada di atas perahu besar melihat berkelebatnya dua bayangan mereka melayang
ke atas perahu besar, mereka tercengang dan terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa dua
orang penghuni perahu nelayan yang mereka permainkan itu ternyata memiliki kepandaian sehe-bat
itu. Mereka mengeluarkan seruan kaget, apa lagi ketika melihat dua orang dara cantik telah berada di
atas perahu besar mereka. Sejenak me-reka semua melongo. Baru sekarang mereka dapat melihat
jelas betapa cantik jelitanya dua orang penghuni perahu yang bertumbukan dengan perahu mereka
tadi! Tadinya mereka mengira bahwa perahu kecil itu hanya ditumpangi dua orang nela-yan dan
mereka hendak menghukum dan mem-permainkan mereka yang berani menghadang di tengah
perjalanan. Siapa kira, penghuninya adalah dua orang dara yang demikian cantik manisnya! Maka
timbullah niat buruk di dalam hati mereka untuk mempermainkan dua orang dara cantik jeli-ta ini.
"Aha, kiranya kalian adalah dua orang dewi lautan cantik jelita yang sengaja datang untuk menghibur
kami ? Ha -ha -ha !" kata seorang di antara mereka sambil-menepuk -nepuk perutnya yang gendut.
Orang ini dapat bicara dalam Bahasa Han dan dimengerti oleh dua orang gadis itu, wa-laupun
suaranya terdengar kaku dan asing. Pek Lian segera dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan
orang -orang Jepang. Pernah ia melihat tamu -tamu Bangsa Jepang di istana ayahnya keti-ka
ayahnya masih menjadi menteri kebudayaan. Menurut penuturan ayahnya, Bangsa Jepang adalah
orang-orang pelarian dari Tiongkok dan masih seketurunan, bahkan berkebudayaan sama, de-ngan
dunia-kangouw.blogspot.com
bentuk tulisan huruf yang sama pula, meru-pakan sekelompok suku bangsa yang telah memi-sahkan
diri dari daratan Tiongkok dan tinggal di Kepulauan Jepang di sebelah timur laut. Bangsa Jepang ini,
menurut ayahnya, merupakan bangsa yang cerdik, pandai, rajin dan orang harus berhati-hati
menghadapi mereka karena mereka itu dapat menjadi lawan yang amat berbahaya.
Dua orang laki -laki pendek, si perut gendut itu dan seorang yang mukanya seperti kanak -kanak
akan tetapi sepasang matanya mengandung penuh nafsu berahi, kini melangkah maju dan kedua lengan
mereka yang pendek -pendek dan nampaknya ceko itu dikembangkan seolah -olah mereka
hendak menangkap dua ekor ayam, ditonton oleh teman-teman mereka yang sudah berkumpul di situ
dan mereka semua tertawa riuh dan gembira.
"Nona manis, mari ke sini... mari kupeluk cium..." kata si gendut yang agaknya merupakan satusatunya
orang di antara mereka yang dapat berbahasa Han, sedangkan teman-temannya hanya
tertawa-tawa dan berkata-kata dalam Bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh kedua orang nona
itu. Setelah berkata demikian si perut gendut itu menubruk ke arah Pek Lian. Gerakannya cepat dan
nampaknya si perut gendut ini kuat sekali. Temannya, yang bermuka anak-anak itupun sudah
mengeluarkan teriakan nyaring sambil menubruk kepada Bwee Hong.
Akan tetapi Pek Lian dan Bwee Hong sudah siap siaga. Pek Lian menyambut tubrukan itu de-ngan
elakan ke kiri, kemudian pada saat tubuh si perut gendut itu terdorong ke depan karena menu-bruk
tempat kosong, kakinya sudah melayang dan menyambar ke arah perut lawan.
"Ngekkk ! Aughhh... auhhh ......!" Si perut gendut itu membungkuk-bungkuk sambil mendekap perut
gendutnya dengan kedua tangan, meringis -ringis karena dia merasa perutnya mulas seketika, begitu
mulasnya sampai dia terhuyung-huyung lari ke kakus dan terdengar suara membe-rebet dari tubuh
belakangnya !
Si muka kanak -kanak yang menubruk Bwee Hong mengalami nasib lebih buruk lagi diban-dingkan
dengan si perut gendut yang menjadi mu-las perutnya sehingga isinya menuntut keluar itu.
Bwee Hong menyambut tubrukan lawannya dengan marah. Ia memiliki ginkang yang luar biasa
hebat-nya, dan si muka kanak -kanak itu tadinya sudah merasa yakin bahwa kedua lengannya akan
dapat memeluk nona yang cantik jelita itu. Akan tetapi, pada detik terakhir, tahu -tahu tubuh nona itu
hi-lang begitu saja dan sebelum dia dapat melihat di mana adanya nona itu, tiba -tiba kaki nona itu
me-nyambar dari samping dan menyambar dadanya.
"Desss ...!" Tendangan itu keras sekali. Tubuhnya yang pendek itu terjengkang dan si muka kanak -
kanak itu roboh dan pingsan, mukanya seperti seorang anak kecil sedang tidur dengan nyenyak dan
tenteramnya!
Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang terkejut dan sekaligus juga sadar bahwa dua orang
dara yang hendak mereka permainkan itu ternyata adalah dua orang wanita yang memiliki kepandaian
lihai! Mereka bukan hanya terkejut, akan teta-pi juga merasa penasaran sekali melihat dua orang
teman mereka dirobohkan, dan dengan muka ber-ubah merah cemberut, lenyap semua kegembiraan
tadi, belasan orang anak buah perahu layar itu me-ngurung Pek Lian dan Bwee Hong! Tentu saja dua
orang dara perkasa itupun siap -siap untuk menghadapi pengeroyokan.
Orang -orang yang sebagian bertubuh katai itu mengurung makin ketat. Akan tetapi pada saat itu
terdengar bentakan dalam Bahasa Jepang. Bentak-an itu halus, akan tetapi mengandung wibawa
yang sedemikian hebatnya terhadap orang -orang itu karena mereka semua terkejut seperti diserang
ular dan mereka semua serentak mundur, lalu ber-diri tegak dan memandang dengan penuh ketaatan
dan kehormatan kepada seorang laki -laki yang berpakaian indah bersikap agung, yang baru mun-cul
dari dalam bilik perahu besar itu diiringkan oleh empat orang yang pakaiannya warna -warni dan
menyolok sekali. Empat orang ini bertubuh pendek gempal dan nampaknya kokoh kuat, di pinggang
mereka tergantung pedang panjang me-lengkung yang ujungnya terseret di atas lantai pe-rahu !
Perahu layar besar mewah itu adalah milik la-ki -laki berusia tigapuluh lima tahun yang baru muncul
ini. Dia seorang Pangeran Jepang yang me-lakukan pelayaran menuju ke daratan Tiongkok untuk
mengunjungi kaisar dengan membawa ba-nyak barang-barang berharga yang akan dihadiah-kan
kepada kaisar. Empat orang pengawalnya ada-lah jagoan -jagoan samurai. Ketika sang pangeran ini
mendengar suara ribut -ribut di luar dan setelah dia keluar melihat dua orang dara cantik dikurung
oleh anak buah perahu, dia menjadi tertarik sekali dan menyuruh para anak buahnya mundur. Dia
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri memandang kepada dua orang nona cantik itu, maklum bahwa mereka tentulah dua orang
dara berbangsa Han dan melihat sikap mereka, tentulah dua orang nona ini merupakan dua orang
wanita petualang yang memiliki ilmu kepandaian silat. Sudah banyak sang pangeran ini mendengar
ten-tang ahli -ahli silat di Tiongkok, dan tentang pen-dekar-pendekar wanita. Hatinya tertarik sekali,
terutama kepada Pek Lian yang dianggapnya me-miliki sifat kegagahan yang amat mengagumkan
hatinya di samping kecantikannya. Maka, kalau dia dapat menawan dua orang dara ini, tentu akan
menjadi suatu kebanggaan baginya kalau pulang kelak, sebagai hasil perjalanan jauh ini yang paling
menyenangkan dan mengesankan hatinya. Di an-tara para selirnya, tidak terdapat seorang pendekar
wanita dan betapa akan bangga hatinya memiliki selir yang selain cantik juga berkepandaian silat
tinggi seperti dua orang dara ini. Maka, dengan senyumnya yang khas, senyum seorang Pangeran
Jepang yang hanya merupakan gerakan bibir ter-buka saja, seperti topeng tersenyum, pangeran itu
melangkah maju menghadapi Pek Lian dan Bwee Hong, lalu mengangguk dengan sikap ramah. Sebelum
meninggalkan negerinya untuk menghadap Kaisar Tiongkok, tentu saja pangeran ini lebih dulu
telah mempelajari bahasa dari negara yang hendak dikunjunginya, dan kini dia berkata dengan suara
dan sikap halus, kata-katanya teratur rapi seperti kata-kata seorang yang menguasai bahasa asing
melalui pelajaran, bukan karena praktek.
"Harap nona berdua sudi memaafkan kekasar-an orang-orang kami. Akan tetapi mereka itu
menentang nona berdua karena perahu nona me-numbuk perahu kami."
"Hemm, dalam hal ini perahu siapa yang me-numbuk perahu siapa ? Agar tidak menuduh yang
bukan-bukan dan sembarangan saja !" bantah Pek Lian sambil memandang kepada laki -laki itu dengan
penuh perhatian. Juga Bwee Hong meman-dang dengan heran. Laki-laki itu berusia kurang
lebih tigapuluh lima tahun, pakaiannya dari sutera halus dengan potongan aneh-aneh. Wajah orang
itu dapat dikatakan tampan dan berwibawa, de-ngan jenggot yang dicukur dengan bentuk aneh pula.
Rambutnya digelung ke atas dengan hiasan beberapa batang tusuk konde kemala, akan tetapi dahi
yang teramat luas itu jelas merupakan dahi buatan, yaitu sebagian besar dari rambut di atas dahi itu
dicukur sehingga dahi kelihatan ting-gi dan luas! Diam-diam dua orang dara itu me-rasa geli dan juga
heran. Laki -laki ini termasuk tinggi di antara teman -temannya, setinggi Pek Lian, sedangkan yang
lain -lain itu jauh lebih pendek.
Pangeran itu menarik napas panjang. "Kami sudah menerima laporan dan ternyata bahwa pe-rahu
nona tidak memakai lampu. Jadi, tabrakan ini jelas sekali terjadi karena kelalaian nona."
Pek Lian tidak dapat membantah. Bagaimana-pun juga, ucapan itu memang benar, perahunya tidak
mempunyai lampu penerangan sehingga kalau orang -orang ini menabrak perahunya, mereka tidak
dapat terlalu disalahkan.
"Memang perahuku tidak mempunyai penerang-an. Lalu, setelah terjadi tabrakan, apakah sudah
sepatutnya kalau anak buahmu hendak menggu-lingkan perahuku ? Aturan mana itu ?" kata Pek Lian
marah.
"Itupun hanya akibat dari pada tabrakan perahu, nona. Dan nona sudah merasa betapa kesalahan
berada di pihak nona karena tidak adanya lampu penerangan. Kemudian nona malah naik ke sini dan
merobohkan dua orang kami."
Pek Lian menjadi marah. Dia menegakkan ke-palanya dan memandang tajam. "Habis, kalian mau
apa?"
Pangeran itu tersenyum dan seperti tadi, Pek Lian merasa seolah-olah tidak mengira bahwa mereka
berhadapan dengan seorang pangeran Bangsa Jepang.
"Kita mengadu ilmu silat, kalau nona berdua dapat mengalahkan kami, aku berjanji akan membebaskan
nona dan akan menghabiskan urusan ta-brakan perahu tadi."
"Kalau kami kalah ?" Pek kian mendesak.
Pangeran itu tersenyum. "Terpaksa nona ber-dua harus menjadi tamuku. Aku ingin berkenalan lebih
erat dengan nona berdua yang menarik ha-tiku."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus!" teriak Pek Lian marah. "Sudah kudu-ga tentu ada pamrih busuk di balik semua ini. Majulah!"
Ia menantang sambil mencabut pedang-nya. Bwee Hong juga mencabut pedangnya dan dua orang
dara itu siap menghadapi segala ke-mungkinan.
Pangeran itu tersenyum dan menoleh kepada empat orang pengawalnya, mengangguk dan ber-kata
dalam bahasanya sendiri, "Tangkap mereka ini!"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil