Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cersil Warbiyasah Kho Ping Hoo 8 Suling Pusaka Kumala

Cersil Warbiyasah Kho Ping Hoo 8 Suling Pusaka Kumala Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Warbiyasah Kho Ping Hoo 8 Suling Pusaka Kumala
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Warbiyasah Kho Ping Hoo 8 Suling Pusaka Kumala
Ouw Ki Seng tertawa. Tangannya menyambar ke depan
dan sekali tarik, tubuh wanita itu telah terangkat ke atas
pembaringan dan dipangkunya.
"Hushh, jangan begitu. Sebelum aku diterima dengan resmi
menjadi seorang pangeran, bagimu aku tetap Ouw Ki Seng
dan jangan sekali-kali memperlihatkan sikap seperti tadi
karena dengan begitu engkau akan membuka rahasiaku!"
"Baik, hamba....... eh, aku akan bersikap biasa, Ki Seng.
Kalau begitu, siapakah nama aselimu?" tanya Sian Hwa Sian-li,
di dalam hatinya ia merasa berbahagia sekali karena orang
yang menjadi kekasih barunya ini ternyata seorang pangeran!
Pikirannya melayang-layang dan membayangkan betapa ia
akan menjadi isteri seorang pangeran, dan bahkan mungkin
kelak kalau sang pangeran menjadi kaisar, ia akan menjadi
permaisuri!
"Namaku adalah Cheng Lin. Ketika Kaisar Cheng Tung
meninggalkan ibu Chai Li untuk kembali ke selatan, ibuku itu
sedang mengandung aku sehingga aku belum pernah bertemu
dengan ayah kandungku. Kaisar Cheng Tung meninggalkan
suling kemala ini kepada ibuku dan suling inilah yang menjadi
pertanda bahwa aku benar adalah putera Kaisar Cheng Tung.
sebelum ibuku meninggal dunia, ia memberikan suling ini
kepadaku dengan pesan agar aku mencari ayah kandungku ke
kota raja kerajaan Beng. Akan tetapi, aku belajar ilmu silat
dengan tekun lebih dulu sehingga aku memiliki bekal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepandaian sebelum mencari ayah kandungku. Demikianlah
riwayatku, Kim Goat."
"Jadi, engkau belum pergi menemui ayah kandungmu itu?"
"Belum, aku hendak menyusun kekuatan lebih dulu
sebelum melakukan hal itu Karena itu, untuk menyusun
kekuatan agar kedudukanku cukup kuat dan terpandang,
setelah aku menjadi ketua Ban-tok-pang, aku ingin
menundukkan perkumpulan-perkumpulan lain. Aku telah
berhasil menundukkan dan menguasai Hek-houw-pang, dan
sebetulnya aku ingin pula menundukkan dan menguasai Pekeng-
pang."
"Akan tetapi, mengapa engkau ingin menguasai dua
perkumpulan itu?"
"Selain agar kedudukanku kuat, juga aku menginginkan
penghasilan mereka, terutama Pek-eng-pang dengan hasil
piawkiok mereka, dan Hek-houw-pang dengar hasil rumahrumah
pelesir dan rumah judi mereka."
"Akan tetapi kenapa engkau bukannya menundukkan Pekeng-
pang, bahkan membantu mereka untuk menentangku?"
tanya pula Sian Hwa Sian-li.
"Apakah engkau menyesal, Kim Goat? Bukankah dengan
demikian kita dapat saling bertemu seperti sekarang ini?" Ki
Seng menggoda.
Sian Hwa Sian-li tersenyum. "Tentu saja aku tidak
menyesal, bahkan merasa senang sekali. Aku hanya ingin tahu
mengapa engkau tidak menundukkan dan menguasai Pekeng-
pang."
"Justeru aku mengharapkan bantuanmu untuk ini, Kim
Goat."
"Bantuanku? Hi-hik, jangan berkelakar, Ki Seng. Mereka itu
tidak mampu menandingiku, sedangkan aku kalah olehmu.
Apa sukarnya kalau engkau hendak menundukkan mereka?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak ada yang akan mampu menandingimu dan dengan
mudah engkau akan dapat menundukkan mereka dan
menguasai Pek-eng-pang."
Ki Seng menghela napas dan tersenyum. Terbayang wajah
Mei Ling dan agaknya sekarang bayangan wajah itu lebih
menarik lagi. "Soalnya, mereka itu Menyambutku sebagai
tamu dan sikap mereka terhadap aku baik sekali. Pula..... aku
tidak tega terhadap Ciang Mei Ling..."
"Ah-ah......" Sian Hwa Sian-li mencubit paha Ki Seng,
kemudian ia merangkul dan berkata manja, "kalau begitu
engkau tertarik dan mencinta kepada gadis itu"
"Terus terang saja aku suka sekali kepadanya, Kim Goat.
Karena itu bantulah aku untuk menguasai Pek-eng-pang
sekaligus mendapatkan Mei Ling."
"Dan kalau engkau sudah mendapatkan Mei Ling, engkau
lalu akan lupa kepadaku dan mencampakkan aku?" Suara
wanita itu terdengar sedih.
Ki Seng merangkulnya. "Tentu saja tidak, Kim Goat. Engkau
adalah wanita pertama yang pernah kugauli, aku tidak akan
melupakanmu selama hidupku. Pula bukankah mulai saat ini
engkau bersedia untuk menjadi kekasihku dan pembantuku?
Aku mengharapkan pula bantuanmu kelau kalau aku menuntut
hakku kepada Kaisar sebagai puteranya. Engkau tentu suka
membantuku untuk menguasai Pek-eng pang tanpa
mengganggu Mei Ling, bukan?" Ki Seng membujuk.
Sian Hwa Sian-li menghela napas panjang dan menatap
wajah Ki Seng.
"Baiklah, aku akan membantumu dalam segala hal yang
kaukehendaki sampai kelak engkau menjadi seorang
Pangeran. Akan tetapi kalau engkau sudah menjadi pangeran
dan mungkin menggantikan kedudukan Kaisar, harap jangan
melupakan aku. Nah, bagaimana aku dapat membantumu
untuk menguasai Pek-eng-pang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sebaiknya diatur begini....." Ki Seng lalu berbisik-bisik
mengatur rencana apa yang harus mereka lakukan terhadap
Pek-eng-pang.
Pada pagi nari itu, setelah tiga hari tiga malam Ki Seng
tinggal di rumah Sian Hwa Sian-li di puncak Bukit Merak
seperti yang telah dijanjikan, dia menuruni bukit mengendarai
sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Semua isi kereta itu
masih lengkap. Sian Hwa Sian-Li mengantar sampai keluar
halaman dan kereta bergerak ke depan menuruni bukit.
Metelah tiba di kaki bukit, kereta itu terus menuju ke
perkampungan Pek-eng-pang, tidak pernah berhenti dan tiba
di perkampungan itu setelah hari menjadi malam.
Ciang Hok dan Ciang Mei Ling yang sejak pagi menunggununggu,
menjadi girang sekali dan segera menyambut
kedatangan Ki Seng. Juga para piauwsu menyambut dan
merasa gembira melihat betapa kereta dan semua isinya
lengkap telah kembali dengan selamat. Mereka bersorak
gembira dan Ciang Hok bersama Mei Ling segera menyambut
Ki Seng dengan wajah berseri.
Tentu saja ayah dan anak ini menjari girang bukan main.
Mereka menyambut Ki Seng dengan pesta yang memang
sudah disediakan untuk menyambutnya! bergantian Cian Hok
dan Mei Ling mengangkat cawan arak untuk mengucapkan
selamat dan terima kasih kepada Ki Seng, yang disambut oleh
pemuda itu dengan gembira pula.
"Kami telah berhutang budi besar sekali kepadamu, Ouwpangcu.
Engkau telah menyelamatkan bukan saja nama dari
kehormatan Pek-eng-pang, akan tetapi juga nyawa kami. Oleh
karena itu, kami mengharap dengan sangat sukalah engkau
menerima uluran tangan kami untuk mengekalkan
perhubungan di antara kami dengan perjodohan. Dengan
segala kerelaan hati kami ingin menjodohkan Mei Ling, anak
tunggal kami, denganmu, Ouw-Pangcu." kata Ciang Hok dan
isterinya-pun mengangguk-angguk. Mendengar ucapan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayahnya ini, Mei Ling menundukkan mukanya yang menjadi
merah sekali. Ia tersipu, akan tetapi tidak meninggalkan
kursinya dan hanya sekali ia mengerling Ke arah Ki Seng
dengan wajah tersipu.
Ki Seng tersenyum dan diapun mengerling ke arah Mei
Ling. Tiga hari yang lalu, mungkin dia tidak berani mengerling
atau memandang kepada gadis itu karena merasa sungkan
dan malu. Akan tetapi, setelah dia bertemu dengan Sian Hwa
Sian-li yang menjadi gurunya dalam permainan asmara, kini
dia tidak lagi merasa sungkan atau malu. Hubungannya
selama tiga hari tiga malam dengan Sian Hwa Sian-li seolah
membangkitkan seekor binatang buas dalam dirinya, yang
membuat dia memandang wanita cantik seperti seekor singa
kelaparan memancing seekor domba atau memandang sebuah
permainan yang amat indah menyenangkan untuk
dipermainkan !
"Terima kasih atas maksud baik dani kepercayaan Paman
Ciang kepadaku," jawabnya. "Tentu saja aku menerima baik
uluran tangan paman ini, karena aku sendiri merasa amat
kagum dan suka kepada nona Ciang Mei Ling. Akan tetapi
karena pernikahan merupakan urusan keluarga maka aku
harus mendapat ijin lebih dulu dari ayahku."
"Ah, tentu saja, di mana tempat tinggal ayahmu?" tanya
Ciang Hok.
"Ayah tinggal di kota raja dan aki akan minta
persetujuannya untuk menikah dengan nona Ciang Mei Ling."
"Ki Seng, di antara kita sudah ada ikatan keluarga,
bagaimana engkau masih memanggil Mei Ling dengan nona?"
kata Nyonya Ciang Hok sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan memanggilnya Ling-moi (adik Ling)!"
kata pula Ki Seng sambil tersenyum dan Mei Ling tersipu
sambil tersenyum manis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pesta perjamuan itu dilanjutkan dalam suasana yang lebih
gembira dan akrab dan malam itu Ki Seng bermalam di
sebuah kamar yang disediakan oleh keluarga Ciang.
Malam itu sunyi. Seluruh penghuni rumah keluarga Ciang
sudah tidur karena mereka lelah dan kekenyangan setelah
pesta perjamuan sore tadi. juga para anak buah Pek-eng-pang
sudah tidur. Merekapun kelelahan setelah merayakan
kembalinya kereta berikut isinya dengan minum-minum
sepuasnya.
Lewat tengah malam, tiga sosok bayangan hitam
berkelebat di atas genteng tumah Ciang-pangcu. Mereka
memakai pakaian serba hitam dan muka mereka pun tertutup
kain hitam. Mereka itu adalah Sian Hwa Sian li dan dua orang
temannya. Dua orang itu adalah dua orang perampok yang
memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, pernah ditalukkan Sian
Hwa Sian-li dan kini menjadi kawan yang menaati semua
perintah Sian Hwa Sian-li. Karena itu ketika Sian Hwa Sian-li
mengajak mereka untuk membantunya menyerbu rumah
ketua Pek-eng-pang, mereka segera menyanggupi.
Di atas wuwungan rumah itu mereka berhenti dan
mendekam untuk melihat keadaan di bawah. Di bawah sana
sunyi sekali, tanda bahwa semua orang di perkampungan Pekeng-
pang itu sudah tidur, bahkan tidak tampak penjaga
malam atau peronda.
"Ingat, tugas kalian hanya memasuki kamar gadis itu dan
menangkapnya, lalu membawanya lari, Hati-hati, ia cukup lihai
dan jangan sekali-kali kalian melukainya, apalagi
membunuhnya. Biar aku yang menghadapi ketua Pek-engpang."
Dua orang perampok itu mengangguk. "Jangan khawatir,
kalau hanya menangkap seorang gadis, tentu kami sanggup!"
kata seorang dari mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah meneliti benar keadaan di bawah, Sian Hwa Sian-li
lalu memberi isarat kepada dua orang kawannya dan mereka
lalu melayang turun ke dalam taman bunga di belakang
bangunan induk yang menjadi tempat tinggal Ciang Hok,
ketua Pek-eng-pang, dan keluarganya. Dalam penyamaran ini
Sian Hwa Sian-li tidak membawa payung merahnya. Ia lelah
mendengar dari Ki Seng tentang keadaan rumah ketua Pekeng-
pang itu dan dari atas genteng tadi iapun sudah
mempelajari di mana letak kamar Ciang Hok dan kamar Ciang
Mei Ling.
"Kalian lakukanlah, itu kamarnya." Ia menunjuk ke arah
kamar gadis puteri ketua Pek-eng-pang itu, sedangkan ia
sendiri menuju ke kamar besar di mana Ciang Hok dan
isterinya tidur. Dengan mudah saja ia dapat menggunakan
tenaga sinkangnya untuk membuka daun jendela dengan
paksa lalu melompat masuk ke dalam kamar yang gelap itu.
Hanya sedikit sinar dari lampu di luar kamar yang menerobos
masuk melalui jendela yang sudah terbuka.
Biarpun terbukanya jendela itu hanya menimbulkan sedikit
saja suara, namun agaknya sudah cukup untuk membuat
Ciang Hok terbangun. Apalagi ada cahaya masuk dari luar
jendela. Dia terkejut dan cepat meloncat turun dari atas
pembaringan. Akan tetapi pada saat itu sinar kilat meluncur
dan menusuk ke arah dadanya. Ciang Hok tidak sempat
mengelak dan menggunakan lengannya untuk menangkis.
Ternyata yang menusuk adalah sebatang pedang yang
dipegang oleh seorang yang mukanya tertutup kain hitam.
"Crakkk!" Lengannya terluka oleh pedang yang tajam itu
sehingga Ciang Hok mengaduh kesakitan. Akan tetapi dia
tidak diberi kesempatan lagi dan pedang itu kembali
menyambar. Serangan itu amat hebat. Cepat sekali dan
mengandung tenaga yang kuat. Ciang Hok tidak sempat lagi
untuk menghindarkan diri dan pedang itu menusuk dan
memasuki lambungnya. Dia berteriak dan roboh terpelanting.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam keadaan terluka parah itu kembali pedang berkelebat
menyambar lehernya dan tewaslah ketua Pek-Eng-pang itu
dalam keadaan menyedihkan, berlumur darahnya sendiri.
Nyonya Ciang terkejut dan terbangun pula dari tidurnya. Ia
turun dari pembaringan, akan tetapi segera disambut bacokan
pedang yang mengenai lehernya dan tanpa dapat berteriak
lagi nyonya inipun roboh di samping mayat suaminya dan
tewas pada saat itu juga. Setelah membunuh suami isteri itu,
Sian Hwa Sian-li cepat melompat keluar dari jendela dan terus
melompat ke atas genteng dan melarikan diri, sengaja
meninggalkan dua orang pembantunya yang ditugaskan untuk
menangkap dan menculik Mei Ling. Tidak seperti ayah dan
ibunya, malan itu Mei Ling masih belum pulas benar
Pikirannya masih melayang-layang membayangkan wajah Ki
Seng, pemuda yang dijodohkan kepadanya itu. Ia merasa
tegang dan juga senang karena ia memang sudah tertarik
kepada Ki Seng semenjak pertama kali bertemu dengan
pemuda itu. Maka ketika daun jendelanya dipaksa terbuka dari
luar, iapun sudah terjaga dan cepat melompat turun dari atas
pembaringan, tepat pada saat dua sosok bayangan melompat
memasuki kamarnya dari jendela yang sudah terbuka lebar.
Dari sinar yang memasuki kamar melalui jendela yang
terbuka, ia melihat dua sosok bayangan hitam berlompatan
memasuki kamarnya. Karena pedangnya ter-gantung di
dinding, Mei Ling tidak sempat mengambilnya dan ia sudah
menerjang maju menyerang orang terdepan dengan pukulan
tangan kanannya. Akan tetapi yang dipukulnya itu cepat
mengelak lalu menjulurkan tangan hendak meringkusnya. Mei
Ling miringkan tubuhnya dan menampar.
"Plakk......!" Orang itu terkena tamparan pada lehernya dan
hampir terpelanting. Akan tetapi ternyata dia cukup kuat
karena tamparan itu tidak merobohkannya dan pada saat itu
orang kedua sudah menubruk dan memegang lengan tangan
Mei Ling. Mei Ling meronta akan tetapi ia belum ia sempat
melepaskan diri, orang pertama tadi sudah memegangi tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sebelah lagi. Karena keadaan di kamar itu gelap, Mei
Ling tidak dapat berbuat sesuatu selain meronta-ronta dan
mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari pegangan
kedua orang itu. Akan tatapi dua orang itu ternyata kuat
sekali. Mereka sudah dapat menyeret Mei Ling keluar dari
kamar itu melalui jendela dan setibanya di luar jendela baru
Mei Ling dapat melihat bahwa dua orang yang menangkapnya
itu adalah dua orang tinggi besar berpakaian serba hitam dan
mukanya tertutup kain hitam pula.
Setelah kini berada di tempat yang tidak begitu gelap
sehingga ia dapat melihat, Mei Ling mempergunakan kakinya
menendang. Seorang di antara kedua orang penangkapnya itu
tertendang perutnya dan dia berseru kesakitan sambil
melepaskan pegangan. Setelah sebelah tangannya bebas, Mei
Ling menghantam ke-arah orang kedua. Orang itu dapat
menangkis, akan tetapi terpaksa harus melepaskan
pegangannya. Kini Mei Ling bebas dan iapun mengamuk,
menggunakan kaki tangannya, bersilat dengan ilmu silat Pekeng
Sin-kun (Silat Sakti Garuda Putih) menyerang kedua orang
bertopeng itu. Akan tetapi ternyata kedua orang itupun cukup
lihai. Mereka mampu mengelak atau menangkis dan terus
mendesak Mei Ling untuk dapat meringkus gadis itu.
Dalam keadaan terdesak itu, Mei Ling teringat akan Ki Seng
yang tidur di ka-mar sebelah, kamar tamu. "Seng-ko,
tolong......!" Ia berteriak sambil menangkis empat buah
tangan yang berusaha untuk menangkapnya itu.
Ki Seng memang tidak tidur di malam itu. Dia menanti
karena memang dia sudah berunding dengan Sian Hwa Sian-li
bahwa malam itu Sian Hwa Sian-li akan bergerak mengajak
dua orang perampok yang dikenalnya. Ki Seng tadi tentu saja
mendengar gerakan Sian Hwa Sian-li yang menyerbu ke dalam
kamar Ciang Hok, akan tetapi dia mendiamkannya saja. Juga
dia yang mengintai dari jendela kamarnya melihat Sian Hwa
Sian-li yang memakai topeng, dia mengenalnya dari bentuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya, melompat keluar dari kamar Ciang Hok dan
melarikan diri melalui genteng. Ketika dia mendengar ributribut
di kamar Mei Ling, dia segera keluar dari kamarnya dan
hanya bersiap.
Setelah terdengar seruan Mei Ling minta tolong kepadanya,
barulah Ki Seng meloncat dan dia membentak, "Jahanam dari
mana berani membuat keributan di sini?" Cepat sekali dia
menyerang dan sekali tangannya bergerak, langsung saja dia
sudah menyerang dengan ilmu It-yang-ci. Totokan-totokannya
demikian cepat dan hebat, tak dapat dielakkan atau ditangkis
oleh dua orang perampok itu dan berturut-turut mereka roboh
terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali karena sudah
tewas seketika.
Totokan It-yang-ci dari Ki Seng memang dahsyat sekali,
juga amat kejam karena totokan itu telah dicampurnya
dengan ilmu pukulan beracun Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa
Racun). Dua orang itu tewas dengan muka berubah menjadi
kehitaman.
Pada saat itu, para anak buah Pek eng-pang berdatangan
sambil membawa senjata karena mereka mendengar suara
ribut-ribut. Ada pula yang membawa lampu gantung sehingga
keadaan di situ menjadi terang. Ki Seng menunjuk ke arah
kamar Ciang Hok sambil berseru "Itu kamar Paman Ciang
jendelanya terbuka, mari kita lihat!"
Mendengar ini, Ciang Mei Ling menjadi terkejut dan dengan
hati penuh kekhawatiran ia lalu melompat ke dalam kamar itu
diikuti oleh Ki Seng dan para murid Pek-eng-pang yang
membawa lampu gantung. Daun pintu ternyata juga tidak
terkunci dan dapat didorong terbuka dari luar. Begitu daun
pintu terbuka dan sinar banyak lampu gantung yang dibawa
para anggauta Pek-eng-pang menyorot ke dalam, semua
orang terbelalak melihat tubuh Ciang Hok dan isterinya sudah
menggeletak di atas lantai, berlumur darah mereka sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayahhh...... ibu.....!!" Ciang Mei Ling menjerit dan terkulai
pingsan. Ki Seng cepat menyambut tubuh gadis itu sehingga
tidak sampai terjatuh ke atas lantai, Kemudian dipondongnya
Mei Ling dan dibawanya masuk ke dalam kamar gadis itu,
diikuti oleh para pelayan wanita yang sudah berkumpul dan
merekapun bertangisan.
Sementara itu, para anggauta Pek-rng-pang ketika melihat
bahwa ketua dan nyonya ketua mereka tewas, menjadi marah
sekali dan mereka melampiaskan kemarahan mereka kepada
dua orang perampok bertopeng yang tewas di tangan Ki Seng
tadi. Mereka menghujankan senjata pada tubuh kedua orang
itu.
"Tahan dulu!" tiba-tiba terdengar bentakan dan melihat
bahwa yang membentak itu adalah Ouw Ki Seng, para murid
itu menghentikan amukan mereka dan mundur. "Kita harus
melihat dulu siapa mereka ini yang telah membunuh ketua
dan isterinya!" kata, Ki Seng dan dia lalu merenggut lepas kain
hitam yan menutupi sebagian muka dua orang tinggi besar itu.
Setelah penutup muka mereka itu dibuka, beberapa orang
murid Pek eng-pang yang biasa mengawal barang kiriman,
berseru.
"Twa-to Siang-houw (Sepasang Harimau Golok Besar)!"
"Siapakah Twa-to Siang-houw?" tanya Ki Seng.
"Mereka adalah sepasang perampok yang biasa bergerak
tanpa anak buah dan mengganas di daerah Pegunungan Thai
san sebelah timur. Akan tetapi selama ini mereka bersikap
baik dengan kami tidak pernah mengganggu, hanya cukup
menerima hadiah dari ketua kami."
"Hemm, nyatanya mereka telah membunuh ketua kalian
dan hampir saja menculik nona Ciang Mei Ling." kata Ki Seng.
Pada saat itu terdengar jerit tangis Mei Ling.
"Ayah....... ibu......!!" Gadis itu berlari keluar dari kamarnya,
dan para pelayan wanita mencoba untuk mencegahnya. Akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi gadis itu mendorong para pelayan wanita sehingga
mereka roboh saling tindih dan dengan rambut awut-awutan
dan sambil menangis gadis itu berlari menuju kamar ayahnya
yang masih dirubung oleh para anggauta Pek-Eng-pang.
Setibanya di depan pintu kamar itu, Ki Seng menangkap
lengannya.
"Ling-moi, tenanglah. Kuasailah perasaanmu dan
bersabarlah."
"Tenang? Sabar? Seng-ko, ayah ibuku dibunuh orang dan
engkau minta aku tenang dan sabar?" Gadis itu menjerit dan
meronta.
Ki Seng tetap memegangi tangannya bahkan lalu
merangkul pundaknya.
"Ling-moi, di mana kegagahanmu? Ayah ibumu memang
telah dibunuh orang, akan tetapi para pembunuhnya sudah
kubunuh pula. Mereka berdua itulah pembunuh ayah ibumu."
Mei Ling menoleh ke arah yang ditunjuk Ki Seng, yaitu dua
mayat perampok yang tadi hendak menculiknya. "Mereka yang
membunuh ayah dan ibu?!" tanyanya ragu.
"Benar, Ling-moi. Tidak ada yang mengacau rumah ini
kecuali mereka berdua."
"Apakah tidak ada orang lain yang memasuki kamar ayah
dan melakukan pembunuhan itu?" tanya Mei Ling.
Ki Seng menggeleng kepalanya. "Kurasa tidak. Tentu kedua
orang penjahat itu yang lebih dulu memasuki kamar ayahmu
dan membunuh ayah ibumu yang masih tidur, baru kemudian
mereka memasuki kamarmu."
"Jahanam keparat! Siapakah mereka?!"
"Menurut keterangan para anggauta Pek-eng-pang, mereka
adalah Twa-to Siang-houw."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mei Ling teringat lagi kepada ayah ibunya. Ia memandang
ke dalam kamar dan menjatuhkan diri berlutut dan menangis
tersedu-sedu.
"Ling-moi, sebaiknya sekarang kita rawat jenazah kedua
orang tuamu baik-iaik, kasihan kalau mereka dibiarkan lebih
lama lagi di lantai." kata Ki Seng. Mei Ling masih terisak dan
hanya mengangguk. Ki Seng lalu memimpin para anak buah
Pek-eng-pang untuk mengurus dua jenazah Ciang Hok dan
isterinya.
Ki Seng menyuruh A Kiu untuk memimpin para anak buah
Pek-eng-pang mengurusi kedua jenazah itu. Para anak buah
Pek-eng-pang bertanya, apa yang harus mereka lakukan
terhadap dua mayat perampok Twa-to Siang-houw.
"Lemparkan mayat-mayat itu ke dalam Jurang biar dimakan
binatang buas!" kata ki Seng dan semua anak buah Pek-engpang
bergidik melihat sinar mata yang dingin dari pemuda itu.
juga Mei Ling merasa ngeri. Ia tahu betul bahwa kalau
ayahnya masih hidup, tentu ayahnya melarang untuk
membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang dan tentu
ayahnya akan menyuruh para anak buah untuk mengubur
mereka. Akan tetapi karena ia masih tenggelam ke dalam
kedukaan, maka iapun diam saja.
Malamnya, ketika Mei Ling duduk dan menangis seorang
diri di depan peti jenazah ayah dan ibunya, Ki Seng
menhampirinya dan berlutut di samping gadis itu. Melihat
sikap Ki Seng seperti hendak menghiburnya, Mei Ling
menghentikan tangisnya terisak lalu berkata dengal pilu.
"Seng-ko, aku...... sekarang...... telah menjadi yatim
piatu...... hidup sebatang kara di dunia ini....."
"Ling-moi, tidak perlu engkau berkecil hati. Bukankah di sini
ada aku yang selalu akan menjagamu dan melindungimu
dengan taruhan nyawaku? Mendiang ayahmu telah berpesan
sebelum meninggal dunia. Beliau ingin menjodohkan kita,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berarti itu merupakan pesan agar aku melindungimu.
Bagaimana, Ling-moi, apakah engkau setuju untuk berjodoh
denganku, menjadi isteriku sehingga aku dapat melindungi
selama hidupmu?"
Mei Ling menyusut air matanya dam dengan mata
kemerahan ia memandang kepada pemuda itu. "Seng-ko,
engkau telah menyelamatkan Pek-eng-pang, dan engkau telah
dipilih oleh ayah untuk menjadi suamiku, bahkan malam tadi
engkau telah menyelamatkan aku dari tangan dua orang
penjahat itu. Aku hanya menyerahkan segalanya kepadamu,
Seng-ko. Aku menurut saja. Akan tetapi pernikahan itu baru
dilaksanakan setelah setahun aku berkabung, kecuali kalau
dilaksanakan di depan peti mati ayah ibuku......" Mei Ling
menahan tangisnya dan terisak sehingga kedua pundaknya
terguncang.
Ki Seng tidak berniat mengikatkan diri dengan sebuah
pernikahan sekarang. Masih banyak yang harus dilakukan dan
diperjuangkan, dan pernikahan hanya akan mengikatnya.
Biarpun dia amat merindukan dan menginginkan Mei Ling,
akan tetapi dia tidak ingin menikah dulu sekarang, sebelum
tercapai cita-citanya, yaitu menjadi seorang pangeran!
"Tidak, Ling-moi. Aku tidak tergesa-gesa, bagiku sudah
cukup bahagia kalau berdekatan selalu denganmu dan kita
menikah nanti kalau engkau sudah lepas berkabung saja."
katanya dan hal ini melegakan hati Mei Ling karena iapun
merasa tidak enak kalau harus menikah selagi ia berada dalam
kedukaan yang amat besar.
Kematian Ciang-pangcu segera diketahui banyak orang
karena berita itu tersebar luas. Banyak orang datang melayat.
Para penduduk dusun di sekitar perkampungan Pek-eng-pang
datang melayat, Juga para saudagar yang suka mengirim
barangnya dikawal oleh Pek-eng Piauw kok datang melayat.
Bahkan beberapa golongan penjahat yang berhubungan baik
dengan Pek-eng-pang berdatangan. Dan pada keesokan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harinya, pagi-pagi sekali Sian Hwa Sian-li juga datang melayat.
Kedatangannya diterima baik oleh Ciang Mei Ling dan para
anggauta Pek-eng pang karena bagaimanapun juga wanita ini
telah mengembalikan kereta berikut isinya kepada Pek-engpang
melalui Ouw Ki Seng.
Semua urusan di Pek-eng-pang selama perkabungan ini,
praktis diurus dan dikuasai oleh Ki Seng karena Mei Ling
menyerahkan segalanya kepada pemuda itu. Ki Seng lalu
menyerahkannya kepada A kiu sehingga A Kiu-lah yang
memimpin para anak buah Pek-eng-pang. Karena A Kiu
menjadi orang kepercayaan Ki Seng, maka semua anak buah
Pek-eng-pang menaatinya.
Ketika Ki Seng bersama Mei Ling menyambut kedatangan
Sian Hwa Sian-li, hanya Ki Seng dan wanita itulah yang tahu
akan rahasia kematian Ciang Hok dan isterinya. Pertukaran
pandang yang mesra antara keduanya tidak tampak oleh
orang lain, dan dalam mata Ki Seng terpancar rasa sukur dan
terima kasih kepada kekasihnya itu karena Sian Hwa Sian-li
benar-benar telah membantunya sehingga dia dapat
menguasai Pek-eng-pang tanpa ada rasa permusuhan dengan
Mei Ling. Bahkan di mata Mei Ling, dia merupakan penolong
besar ketika gadis itu hendak diculik oleh Twa-to Siang-houw.
Sepasang perampok yang sial itu sampai matipun tidak tahu
bahwa mereka memang sengaja dikorbankan. Mereka oleh
Sian Hwa Sian-li disuruh menculik Me Ling dan sengaja
dibunuh oleh Ki Seng agar pembunuhan terhadap Ciang Hok
dan isterinya itu seolah-olah dilakukan oleh Twa-to Sianghouw.
Padahal yang melakukan pembunuhan itu adalah Sian Hwa
Sian-li sendiri. Kalau Twa-to Siang houw yang diserahi tugas
membunuh Ciang Hok, kiranya hal itu tidak akan terlalu
mudah dilakukan oleh dua orang penjahat itu. Semua telah
diatur dengan rapi oleh Ki Seng dan Sian Hwa Sian li!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku sungguh ikut merasa berduka dengan kematian
Ciang-pangcu,". kau Sian Hwa Sian-li ketika disambut oleh Ki
Seng dan Mei Ling dan mereka duduk di ruangan depan, tak
jauh dari dua peti mati yang ditaruh berjajar. "Padahal baru
saja aku menganggap Ciang-pangcu sebagai sahabat baru.
Siapakah yang telah melakukan pembunuhan terhadap ayah
dan ibumu, nona Ciang Mei Ling?"
"Pembunuhnya adalah Twa-to Siang houw, akan tetapi
merekapun telah dibunuh oleh Seng-ko." kata Mei Ling.
"Ahhh! Aku tahu siapa mereka itu! Dua orang perampok
ganas. Tentu mereka datang untuk mencuri dan ketahuan
oleh Ciang-pangcu. Akan tetapi sukurlah kalau mereka sudah
terbunuh. Seandainya belum, tentu aku sendiripun akan suka
mencari dan menghajar mereka sampai mampus!"
Setelah bercakap-cakap beberapa lamanya, Sian Hwa Sianli
berpamit dan dengan suara sewajarnya ia berkata kepada Ki
Seng, "Ouw-pangcu, kalau urusan di sini sudah selesai,
kuharap engkau suka berkunjung ke tempatku. Bukankah di
antara kita telah terjalin persahabatan? Engkau juga, nona
Ciang Mei Ling."
Ki Seng mengangguk. "Baiklah, aku akan berkunjung ke
rumahmu, Sian-li."
Ki Seng mengatur semua perkabungan dan penguburan
Ciang Hok dan isterinya sehingga Mei Ling merasa berterima
kasih sekali. Setelah penguburan selesai Ki Seng lalu
mengajak gadis itu bercakap-cakap di ruangan dalam.
"Sekarang bagaimana, Ling-moi? Setelah ayahmu
meninggal, siapakah yang akan mengatur semua pekerjaan,
baik perusahaan pengawalan barang maupun perguruan?"
Mei Ling menghela napas, barulah terasa olehnya bahwa
secara tiba-tiba ia harus memikul kewajiban yang teramat
berat. Akan tetapi ia teringat kepada Ki Seng. Bukankah
pemuda itu telah berjanji akan menikah dengannya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Walaupun belum diresmikan karena keburu ayah ibunya
meninggal, akan tetapi bukankah Ki Seng telah menjadi
tunangannya, calon suaminya? Dan pemuda itu juga memiliki
ilmu kepandaian tinggi sekali, dapat di percaya sepenuhnya
untuk menguasai dan mengelola Pek-eng-pang.
"Seng-ko, aku menyerahkan Pek-eng pang kepadamu
untuk mengaturnya. Terserah kepadamu bagaimana baiknya."
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mengatur Pek-eng-pang.
Karena aku adalah ketua Ban-tok-pang, maka Pek-eng-pang
menjadi semacam cabang dari Ban tok-pang. Aku akan
mengatur agar perusahaan pengawalan barang dari Pek-eng
pang menjadi semakin besar dan kuat sehingga para
pedagang tidak akan ragu lagi mengirim barang di bawah
pengawalan kita. Aku akan menunjuk A Kiu untuk menjadi
ketua baru Pek-eng-pang karena dia adalah orang
kepercayaanku dan ilmu kepandaiannya juga cukup tinggi dan
boleh diandalkan."
"Aku hanya menurut saja, Seng-ko." kata gadis itu. "Akan
tetapi aku mengharap engkau tidak segera meninggalkan aku.
Aku..... aku masih belum siap hidup seorang diri......"
"Jangan khawatir, Ling-moi. Aku akan memimpin di sini dan
memberi petunjuk selama beberapa bulan kepada A Kiu
sebelum aku meninggalkan tempat ini."
*d*w*
Beberapa hari kemudian, Ki Seng dan Mei Ling memanggil
seluruh anggauta Pek-eng-pang untuk berkumpul di ruangan
besar. Semua anggauta hadir karena merekapun ingin
mengetahui perkembangan perkumpulan mereka setelah
ketua mereka meninggal dunia. Hampir semua dari mereka
sudah mendengar bahwa Ciang Mei Ling akan dijodohkan
dengan Ouw Ki Seng dan mereka semua merasa setuju karena
mengetahui betapa lihainya pemuda itu yang telah
menyelamatkan nama baik Pek-eng-pang, bahkan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelamatkan pula Mei Ling dari tangan penjahat. Selain itu,
juga Ki Seng telah membunuh dua orang pembunuh Ciang
pangcu. Jasa pemuda itu sudah terlalu besar dan mereka
semua juga mengharapkan bahwa pemuda itu yang akan
memimpin Pek-eng-pang.
Setelah semua orang berkumpul dan para murid kepala
yang dianggap sebagai anggauta atau murid yang dipercaya
oleh mendiang Ciang-pangcu sebagai kepala kepala piauwkiok
duduk di deretan depan, Ciang Mei Ling lalu membuka
pertemuan itu.
"Para saudara, kalian semua tentu mengerti bahwa setelah
ayahku sebagai ketua Pek-eng-pang meninggal duni. tentu
kita harus mengangkat seorang ketua baru untuk memimpin
Pek-eng-pang kita. Aku sendiri merasa tidak ada kemampuan
untuk memimpin perkumpulan Kita yang kadang menghadapi
tantangan dan persoalan yang rumit, karena itu mengingat
bahwa saudara Ouw Ki Seng ini telah berjasa besar kepada
kita, juga bahwa dia mempunyai kemampuan itu, maka saya
menyerahkan kepemimpinan Pek-eng-pang ini ke tangannya.
Bagaimana, apakah saudara-saudara dapat menyetujui
pendapatku ini?"
Para murid kepala yang berjumlah lima belas orang itu
yang pertama-tama menjawab serentak, "Kami setuju!" dan
jawaban ini tentu saja diturut oleh para anggauta lainnya.
Menghadapi sambutan ini, Ouw Ki seng tersenyum dan
diapun bangkit kedepan. "Saudara sekalian, terima kasih atas
kepercayaan saudara sekalian kepadaku. Perlu kiranya
saudara sekalian ketahui bahwa mendiang Ciang Pangcu telah
meninggalkan pesan agar aku dan Ling-moi menjadi suami
isteri. Pernikahan akan ini lakukan setelah masa berkabung
setahun lewat."
Para anggauta menyambutnya dengan tepuk tangan
gembira walaupun beberapa orang di antara mereka merasa
terpukul dan kecewa hati mereka karena diam diam beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang pemuda anggauta Pek-eng-pang jatuh cinta kepada
puteri ketua itu. Akan tetapi tentu saja tidak ada seorangpun
yang berani membantah. Ki Seng mengangkat kedua tangan
menyuruh mereka tenang.
"Karena itu sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga
kelangsungan dan kebesaran Pek eng-pang. Akan tetapi
karena aku sendiri sudah menjadi ketua dari Ban-tok-pang,
kiranya tidak mungkin seseorang menjadi ketua dari dua buah
perkumpulan. Oleh karena itu, aku menunjuk orang
kepercayaanku, A Kiu, untuk menjadi ketua Pek eng-pang
yang baru." Ki Seng memberi isarat kepada pembantunya itu
dan A Kiu segera bangkit dari tempat duduknya agar tampak
oleh semua anak buah Pek eng-pang. Sekali ini, para
anggauta Pek eng-pang, terutama para murid kepala
mengerutkan alis mereka.
Kemudian seorang tinggi besar yang usianya kurang lebih
tiga puluh lima tahun, yang merupakan murid pertama di
antara mereka, bangkit berdiri dan berkata.
"Kalau Ouw-pangcu sendiri yang menggantikan kedudukan
mendiang Ciang-pangcu dan memimpin kami, kami merasa
senang dan sama sekali tidak berkeberatan karena kami
semua sudah mengetahui benar akan kemampuan Ouwpangcu.
Akan tetapi kalau Ouw-pangcu menunjuk orang lain
untuk menjadi ketua Pek-eng-pang, kami merasa keberatan
karena belum melihat sampai di mana kemampuan orang itu!"
Semua anggauta Pek-eng-pang serentak membenarkan
pernyataan murid kepala pertama itu.
Ouw Ki Seng tersenyum. Dia maklum bahwa para anggauta
Pek-eng-pang itu belum mengenal A Kiu dan belum tahu akan
kemampuan pembantunya itu. Maka ia lalu berkata, "Siapa di
antara anggauta Pek-eng-pang yang paling tinggi
kepandaiannya, harap maju ke sini. Aku akan membuktikan
bahwa A Kiu adalah seorang yang boleh diandalkan
kepandaiannya dan patut untuk menjadi ketua Pek-eng-pang."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anggauta Pek-eng-pang yang tadi bicara segera melangkah
maju menghampiri Ki Seng. "Sayalah yang menjadi kepala dari
semua piauwsu di sini dan di angkat sebagai murid pertama
Pek-eng pang, Ouw-pangcu." katanya.
"Bagus! Sekarang kuminta murid kepala ke dua dan ke tiga
juga maju ke sini."
Dua orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun
berloncatan maju. Ki Seng menoleh kepada Mei Ling dan
bertanya, "Ling-moi, benarkah merek bertiga ini merupakan
murid-murid yang paling tinggi tingkat kepandaiannya?"
Mei Ling mengangguk. "Benar, Seng ko. Mereka bertigalah
yang mewakili ayah untuk membimbing para murid lain dalam
pelajaran ilmu silat."
"Baik sekali kalau begitu. Nah, sekarang, untuk
membuktikan bahwa A Kiu pantas menjadi ketua Pek-engpang,
kalian bertiga boleh maju bersama mengeroyok A Kiu
untuk menguji kemampuannya. A Kiu, layani mereka!" kata Ki
Seng.
A Kiu mengangguk dan dia lalu meninggalkan kursinya dan
pergi ke tengah ruangan yang kosong, berdiri dan siap
menghadapi pengeroyokan tiga orang itu. Akan tetapi sebelum
tiga orang anggauta Hek-eng-pang itu maju, Ciang Mei Ling
bangkit dan berkata lantang.
"Pertandingan ini hanya untuk menguji kepandaian, oleh
karena itu aku minta agar kalian tidak mempergunakan
senjata, melainkan mengandalkan kaki tangan saja!"
Tiga orang anggauta Pek-eng-pang itu memberi hormat
dan mengangguk kepada Mei Ling, bahkan lalu melepaskan
pedang masing-masing dari punggung dan meninggalkannya
di atas kursi mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"A Kiu, engkau juga sama sekali tidak kuperkenankan
mempergunakan senjata!" kata Ki Seng kepada pembantunya
itu.
A Kiu mengangguk. "Baik, pangcu."
Kini A Kiu sudah berhadapan dengan tiga orang murid
kepala dari Pek-eng-pang. Tiga orang yang merasa penasaran
itu lalu mengepung A Kiu dari tiga jurusan membentuk barisan
segi tiga. A Kiu yang terkepung di tengah-tengah bersikap
tenang. Diapun maklum bahwa dia berhadapan dengan tiga
murid kepala Pek eng-pang, maka dia bersikap hati-hati. Dia
percaya akan pandangan dan perhitungan Ouw Ki Seng yang
tentu telah mengukur sampai di mana tingkat kepandaian para
murid Pek-eng-pang itu sehingga disuruh mengeroyoknya. A
Kiu yang sudah berusia lima puluh tahun itu merupakan tokoh
dari Ban-tok-pang dan tingkat kepandaiannya hanya di bawah
tingkat mendiang Ouw Kian dan Ouw Sian ketua dan wakil
ketua Ban-tok-pang.
"Paman A Kiu, awas terhadap serangan kami!" Orang
pertama dari para murid kepala Pek-eng-pang berseru dan
diapun sudah menerjang dengan pukulan tangan kanan ke
arah dada A Kiu. Sementara itu, kedua orang kawannya juga
sudah menyerang dari kanan dan kiri. Menghadapi serangan
tiga orang itu, A Kiu memperlihatkan kegesitannya. Dia
melangkah ke belakang dan menggerakkan kedua lengannya
diputar ke depan kanan kiri. Pukulan orang pertama dapat
dielakkan dengan langkah mundur, sedangkan pukulan dari
kanan kiri ditangkisnya dengan kedua lengannya.
"Dukk! Dukk!" Dua orang penyerang dari kanan kiri itu
terpental ke belakang ketika lengan mereka bertemu dengan
lengan A Kiu yang kuat. Akan tetapi mereka sudah membalik
dan menyerang lagi. Tiga orang itu bersilat dengan ilmu silat
Pek-eng Sin-kun (Silat Sakti Garuda Putih). Gerakan mereka
cepat dan juga setiap pukulan mengandung tenaga sin-kang
yang cukup kuat. Akan tetapi ternyata A Kiu memiliki gerakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang lebih cepat dan kedua tangannya selalu dapat menangkis
pukulan tiga orang pengeroyoknya yang datang bagaikan
hujan. Akan tetapi ternyata ilmu silat Pek-eng Sin-kun
memang hebat. Tiga orang murid kepala Pek-eng-pang itu
menyerang bagaikan tiga ekor garuda yang menyambarnyambar.
Oleh karena itu, setelah lewat tiga puluh jurus,
mulailah A Kiu terdesak dan dia hanya mampu mengelak dan
menangkis saja, sama sekali tidak memperoleh kesempatan
untuk membalas. Dia merasa khawatir juga karena kalau hal
itu dibiarkan berlanjut, akhirnya dia akan terkena pukulan dan
kalau demikian hal-nya, berarti dia kalah!
Diam-diam ia lalu mengerahkan tenaga sakti dari ilmu Bantok-
ciang (Tangan Selaksa Racun) dari tanpa diketahui oleh
tiga orang lawannya! kedua lengannya berubah menjadi
kehitaman. Ketika tenaga Ban-tok-ciang sudah menjalar ke
dalam kedua lengannya! A Kiu terdengar mengeluarkan
bentakan bentakan nyaring sambil menangkisi lengan lawan.
"Dukk-dukk-dukkk!" Tiga orang itu terpental ke belakang
dan ketiganya mengaduh dan meringis, memegangi lengan
yang tadi beradu dengan lengan A Kiu. Ketika mereka
memandang lengan yang terasa nyeri luar biasa itu, panas
dari pedih, mereka terkejut karena pada lengan mereka
terdapat tanda menghitam. Sebagai ahli-ahli silat yang sudah
berpengalaman, maklumlah mereka bahwa mereka telah
terkena serangan tenaga beracun! Maka mereka berloncatan
kebelakang dan tidak berani melanjutkan pertandingan.
Ki Seng lalu bangkit dan menghampiri mereka. "Apakah
kalian sudah merasa kalah? Lihat, lengan kalian itu sudah
kemasukan hawa beracun dan kalau tidak cepat disembuhkan,
hawa beracun itu akan menjalar ke dalam dan nyawa kalian
tidak dapat dipertahankan lagi."
Tiga orang itu terkejut dan ketakutan, segera mereka
menjatuhkan diri berlutut di depan Ki Seng. "Harap OuwTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
pangcu menaruh kasihan kepada kami dan sudi mengobati
kami."
"Mudah saja mengobati karena A Kiu juga tidak berniat
membunuh kalian. Akan tetapi apakah kalian sudah yakin
bukan kemampuan. A Kiu dan menerima dia sebagai ketua
Pek-eng-pang?"
"Kami sudah mengaku kalah dan memang Paman A Kiu
pantas menjadi ketua Pek-eng-pang." kata tiga orang itu yang
merasa betapa nyeri pada lengan mereka semakin
menghebat, rasanya panas seperti membakar.
"Nah, tahan napas kalian!" kata Ki seng dan dia
menggunakan It-yang-ci untuk menotok pundak dan lengan
tiga orang itu berturut-turut. Setelah itu, dia mengurut bagian
yang kulitnya berwarna hitam dan sebentar saja warna hitam
pada kulit lengan itu lenyap dan rasa nyeripun lenyap pula.
Tiga orang murid kepala Pek-eng-pang itu mengucapkan
terima kasih dan Ki Seng tersenyum.
"Kalau kalian bersikap baik terhadap ketua kalian yang
baru, tentu dia akan suka mengajarkan kalian ilmu pukulan
yang amat lihai itu. Dengan demikian kepandaian para murid
Pek-eng-pang akan meningkat dan nama Pek-eng-pang akan
menjadi semakin terkenal."
"Akan tetapi, siapakah nama lengkap dari Paman Kiu?
Bagaimana kami harus memanggilnya?" tanya murid kepala
sambil memandang kepada A Kiu.
A Kiu tersenyum. "Aku memang she Kiu, maka kalian boleh
menyebutku Kiu pangcu."
Semua orang merasa puas dan Mei Ling juga tidak
berkeberatan dengan pilihan Ki Seng karena ia sudah percaya
sepenuhnya kepada pemuda yang menjadi calon suaminya itu.
Beberapa hari kemudian, Ki Seng pergi berkunjung ke Bukit
Merak. Dia mengatakan terus terang kepada Mei Ling bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia pergi berkunjung ke tempat tinggal Sian Hwa Sian-li. "Ia
merupakan seorang sahabat yang dapat diandalkan dan kelak
tentu akan dapat membantu kita." kata Ki Seng. Biarpun
hatinya merasa tidak enak bahwa tunangannya berkunjung ke
rumah wanita cantik yang genit itu, akan tetapi tentu saja Mei
Ling merasa malu untuk menyatakan keberatan dan
kecemburuannya.
Tentu saja kedatangan Ki Seng disambut dengan gembira
oleh Sian Hwa hian-Li yang memang sudah merindukan
kekasih barunya itu. Ketika dengan terus terang Ki Seng
menceritakan keadaan pek-eng-pang, betapa dia sudah
menguasai Pek-eng-pang dan mengangkat pembantunya, A
Kiu, menjadi ketua Peng-eng-pang, Sian Hwa Sian-li tertawa.
"Hi-hik, usahamu berhasil baik,. Ki Seng-"
Ki Seng merangkul. "Berkat bantuanmu yang amat besar,
Kim Goat. Kalau tidak mendapat bantuan malam itu dan
mengorbankan dua orang pembantumu, mana bisa aku
berhasil sebaik ini. Ciang pangcu dan isterinya tewas, Mei Ling
selamat dan ia bahkan berterima kasih kepadaku. Engkau
memang hebat dan pantas menjadi kekasihku yang setia dan
baik."
"Asal saja engkau tidak akan cepat melupakan aku,
terutama setelah engkau menjadi seorang pangeran kelak,"
kata Sian Hwa Sian-li sambil menyandarkan kepalanya di atas
dada Ki Seng dengan manja.
"Mana mungkin aku dapat melupakanmu, Kim Goat."
"Dan bagaimana dengan Mei Ling?"
"Aku dan ia sudah terikat dengan pertunangan, akan tetapi
aku menangguhkan pernikahan sampai sehabis berkabung
selama satu tahun."
"Dan setelah setahun engkau akan mengawininya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Seng menggeleng kepalanya. "Sebelum aku menjadi
seorang pangeran, aku tak mau menikah!"
"Kenapa engkau tidak berterus terang saja kepadanya
tentang keadaan dirimu? bukankah ia calon isterimu?"
"Tidak! Hanya engkau yang boleh mengetahui rahasiaku.
Dan akupun tidak berniat untuk menjadikan Mei Ling sebagai
isteriku."
"Kalau begitu, kenapa tidak engkau tolak saja ikatan
perjodohan itu?"
"Aku..... aku menginginkan ia, Kim Goat. Ia cantik jelita dan
menarik hatiku. aku ingin memilikinya sekarang juga, akan
tetapi bagaimana?"
"Hi-hi-hik!" Sian Hwa Sian-li tertawa dan mencubit paha
pemuda itu lalu berkata. "Apa sukarnya bagimu? Kalau engkau
memaksanya, iapun tidak akan dapat mengelak dan
melawan."
"Aku tidak ingin secara itu, Kim Goat. Aku tidak ingin
memilikinya dengan cara memperkosa. Dapatkah engkau
membantuku agar ia suka menyerahkan dirinya kepadaku
dengan sukarela tanpa paksaan walaupun kami belum
menikah?"
"Hi-hi-hik!" Kembali Sian Hwa Sian-li mencubit. "Engkau
nakal, Ki Seng. Kalau engkau sudah mendapatkan yang baru,
engkau akan melupakan yang lama. Kalau engkau sudah
berhasil memiliki Mei Ling, engkau tentu tidak akan ingat lagi
kepadaku!"
"Sungguh mati aku tidak akan melupakanmu, Kim Goat.
Aku bahkan akan berterima kasih sekali kepadamu dan aku
semakin sayang padamu."
"Hemm, engkau sekarang sudah pandai merayu. Akan
tetapi bagaimana aku akan dapat mempercayaimu begitu
saja?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, aku bersumpah. Biar hidupku akan sengsara kalau
aku sampai melupakanmu!"
"Aku percaya kepadamu, pangeran, Tidak perlu engkau
bersumpah, akan tetapi sebelum aku membantumu dalam hal
itu yang kutanggung pasti berhasil engkau harus tinggal di sini
selama tiga hari tiga malam lagi!"
Ki Seng tersenyum. Tidak perlu wanita itu mengajukan
syarat seperti itu, karena memang kunjungannya adalah untuk
melampiaskan rasa rindunya kepada wanita yang pandai
mengambil hatinya itu. Kembali Ki Seng seperti mabok,
berenang dalam lautan cinta berahi di bawah bimbingan Sian
Hwa Sian-li yang berpengalaman sehingga nafsu dalam dirinya
semakin berkobar, semakin kuat mencengkeramnya sehingga
tanpa ia sadari, dia telah menjadi budak dari pada nafsunya
sendiri. Nafsu yang hanya menuntut kesenangan dan
kepuasan yang tiada batasnya.
Pada hari ke empat, ketika Ki Seng akan meninggalkan
kediaman Sian Hwa Sian-li untuk kembali ke perkampungan
Pek-eng-pang, wanita itu memberinya sebotol kecil benda cair
berwarna merah. "Campurkan ini ke dalam arak, tidak akan
terasa apa-apa bahkan membuat arak menjadi lebih harum
dan ia tentu akan menuruti segala kehendakmu. Akan tetapi
sekali lagi, jangan engkau melupakan aku, Ki Seng!"
"Terima kasih, Kim Goat. Bagaimana aku dapat melupakan
engkau yang begini cantik dan menggairahkan, juga sudah
banyak menolongku? Tidak, aku masih membutuhkan banyak
sekali bantuanm dan kelak kita akan menikmati hidup penuh
kemuliaan bersama."
Dengan hati girang dan penuh harapan menikmati apa
yang ia bayangkan dalam usahanya mendapatkan diri Mei
Ling, Ki Seng berlari cepat kembali ke Pek-eng-pang. Dia
disambut oleh Mei Ling dengan wajah agak muram. Gadis ini
memang merasa cemburu dan tidak enak hati sekali menanti
Ki Seng yang tidak kunjung datang dari tempat kediaman Sia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwa Sian-li. Senja telah mendatang ketika dia tiba di
perkampungan Pek-eng-pang Melihat Mei Ling menyambutnya
denga wajah yang agak muram, Ki Seng segera berkata
dengan wajah gembira.
"Ah, senang sekali aku sudah dapat kembali ke sini, Lingmoi.
Selama tiga hari ini hatiku kesal karena setiap hari Sian
Hwa Sian-li dan kawan-kawannya hanya membicarakan
tentang ilmu silat dan dunia kang-ouw. Malam ini aku ingin
sekali mengadakan perjamuan kecil bersamamu, makan
minum dan bercakap-cakap dengan santai berdua saja. Kita
mengadakan perjamuan di mana enaknya, Ling-moi? Di
ruangan dalam atau di taman bunga?"
Mendengar cerita Ki Seng bahwa pemuda itu merasa kesal
hatinya berada di tempat tinggal Sian Hwa Sian-li dan kini
mengajaknya makan minum, lenyap sudah rasa tidak senang
dari hati Mei Ling, dan ia terseret oleh kegembiraan pemuda
pujaan hatinya itu.
"Sebaiknya di taman bunga saja, Seng-ko. Di sana
hawanya sejuk dan kita dapat makan minum di gardu dekat
kolam ikan. Engkau mandi dan mengasolah dulu, Seng-ko.
Aku akan membantu para pelayan menyediakan hidangan
untuk kita."
Dengan gembira Ki Seng lalu pergi mandi dan berganti
pakaian bersih. Setelah hidangan siap dan malam sudah tiba,
Mei Ling sendiri mengetuk pintu kamar Ki Seng dan
memanggilnya dari luar. Pemuda itu lalu keluar dari kamarnya
dan ternyata Mei Ling juga sudah mandi, tampak segar
dengan pakaian yang rapi.
"Seng-ko, hidangan telah dipersiapkan di taman bunga.
Mari kita makan, Sen ko."
Kedua orang itu jalan beriringan memasuki taman bunga.
Malam itu bulan separuh memberi cahaya redup yang
menyejukkan suasana. Akan tetapi di taman bunga itu tampak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
indah karena Mei Ling menyuruh para pelayan memasang
lampu lampu gantung beraneka warna di sana sini. Ketika
mereka tiba di sebuah bangunan tanpa dinding, semacam
gardu di tepi kolam ikan, di sana sudah dihidangkan masakanmasakan
di atas sebuah meja dengan dua buah kursi dan
lampu gantung di bangunan itu cukup terang. Suasananya
menyenangkan sekali dan setibanya di situ, hidung Ki Seng
disambut bau masakan yang sedap, membuat perutnya terasa
lapar sekali.
Melihat di situ tersedia seguci arak dengan dua cawan yang
cukup besar, Ki Seng girang sekali. Dia lalu mengambil tempat
duduk dekat guci arak itu, dan segera menuangkan arak ke
dalam dua buah cawan di depan mereka, masing masing
setengah cawan saja. "Mari minum, Ling-moi, untuk
pembangkit nafsu makan."
Gadis itu tidak membantah dan mereka minum arak itu
dengan satu tegukan. Kemudian mulailah mereka makan.
Dengan sikap manis Mei Ling melayani Ki Seng, mengambil
dan memilihkan daging-daging terbaik untuk ditaruh ke dalam
mangkok pemuda itu.
"Malam ini kita harus minum sepuasnya, Ling-moi. Ah,
lampu itu sinarnya terlalu cerah menyilaukan mata. Tolong,
Ling-moi, tolong pindahkan lampu itu agar tidak menyilaukan
mata!" kata Ki heng sambil menuding ke arah lampu yang
tergantung dekat tempat itu. Mei Ling segera bangkit dan
menghampiri lampu gantung itu, memindahkannya ke
belakang serumpun bunga. Kesempatan ini dipergunakan oleh
Ki Seng untuk menuangkan cairan merah dari botol kecil yang
diperolehnya dari Sian Hwa Sian-li. Setelah Mei Ling kembali
ke kursinya, ia melihat Ki Seng memenuhi kawannya dengan
arak, kemudian menuangkan arak ke cawannya sendiri. Sama
sekali Mei Ling tidak tahu bahwa sebagian dari arak dalam
cawannya dalam dari botol kecil itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ling-moi, silakan minum untuk merayakan kegembiraan
malam ini!" kata Ki Seng sambil mengangkat cawannya ke
depan mulut.
"Ah, aku telah menghabiskan tiga cawan arak, Seng-ko.
Kiranya sudah cukup, aku takut kalau mabok."
"Tidak, Ling-moi. Secawan lagi saja hayolah, temani aku
bergembira! Secawan ini lagi saja dan aku tidak akan minta
engkau minum lagi!" Dalam suara pemuda itu terkandung
permintaan yang sangat membujuk. Mei Ling merasa tidak
tega untuk menolak, maka iapun mengangkat cawan araknya
dan menempelkan di bibirnya yang merah. Arak itu berbau
harum dan karena khawatir mabok ia minum arak itu dengan
nekat sambil memejamkan mata. Ia minum arak itu sampai
habis dan menaruh cawan kosong ke atas meja sambil
memandang kepada Ki Seng dengan senyum gembira. Hatinya
lega karena ia tidak mabok, tidak merasa pening.
"Terima kasih, Ling-moi. Engkau benar-benar seorang gadis
yang baik hati, telah suka menemani aku minum dan
bergembira. Aku benar-benar merasa senang dan gembira
sekali. Hayo minum lagi, Ling-moi. Makanmu kulihat sedikit
sekali."
"Sedikit? Heh-heh-heh!" Tawanya kini terdengar lepas dan
ringan. "Makan sebegini kau bilang sedikit? Biasanya aku tidak
makan sebanyak ini, Seng-ko. Aku sudah kekenyangan nih!"
Ki Seng tersenyum, hatinya girang melihat sikap gadis itu
mulai terlepas dan tawanya begitu bebas. Dia memandang
wajah gadis itu penuh harap.
"Aku juga sudah kenyang, Ling-moi." Dia melihat betapa
wajah gadis itu di bawah sinar lampu kini tampak merah
sekali, matanya redup seperti orang mengantuk memandang
kepadanya dengan aneh.
"Ling-moi, engkau kenapakah?" Ki Seng bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Mei Ling tertawa, tawanya merdu dan bebas.
"Heh-heh-hi-hi-hik."
"Ling-moi, kenapa engkau tertawa?" tanya Ki Seng yang
belum menyadari apa yang terjadi pada gadis itu.
"Hi-hi-hik, engkau tampak lucu sekali, Seng-ko......"
"Lucu?" Ki Seng bertanya heran.
"Lucu dan menyenangkan sekali...." Mal Ling bangkit
berdiri, tubuhnya bergoyang goyang seperti pohon cemara
tetiup angin.
Ki Seng juga bangkit berdiri dan mulailah dia dengan hati
berdebar menduga bahwa ini tentu pengaruh ramuan yang di
campurkan dengan arak dalam cawan Mei Ling tadi. Ramuan
obat yang diterimanyA dari Sian Hwa Sian-li rupanya mulai
bekerja! Maka dengan berani dia lalu memutari meja
mendekati Mei Ling dan merangkulnya. Begitu dirangkul, Mei
Ling balas merangkul dan menyandarkan mukanya di dada Ki
Seng.
"Ling-moi, aku cinta padamu....." bisik Ki Seng.
"Ah, aku juga, Seng-ko....." Mei Ling berbisik sambil
menekan mukanya di dada pemuda itu. Ki Seng menjadi
girang sekali.
"Mari kita kembali ke rumah, Ling-moi. Di sini dingin
sekali." katanya sambil menggandeng tangan Mei Ling dan
mengajaknya pergi meninggalkan taman bunga sambil
bergandengan tangan. Para pelayan melihat sepasang orang
muda itu pergi sambil bergandengan tangan. Mereka saling
pandang dan tersenyum, akan tetapi tidak ada yang berani
membuka suara. Selain mereka takut, juga mereka sudah
mendengar bahwa sepasang orang muda itu telah ditentukan
untuk menjadi calon suami isteri. Mereka hanya sibuk
membersihkan meja di mana Ki Seng dan Mei Ling tadi makan
minum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Seng membawa Mei Ling yang seperti orang mengantuk,
berjalan sambil bersandar kepadanya itu bukan ke kamar
gadis itu melainkan ke kamarnya sendiri, Hal ini menunjukkan
kecerdikannya. Kalau dia membawa Mei Ling ke kamar gadis
itu, seolah-olah dia mendatangi kamar Mei Ling. Akan tetapi
kalau dia membawa gadis itu ke kamarnya, Mei Ling yang
mendatangi kamarnya, dan gadis itu yang menghendaki
pertemuan itu, bukan dia!
Mei Ling sama sekali tidak menolak ketika ia dibawa masuk
ke kamar Ki Seng, juga hanya memandang pemuda itu
dengan mata setengah terpejam ketika Ki Seng menutup dan
memalang pintu kamarnya. Ketika Ki Seng kemudian
merangkulnya, iapun membalas merangkul dengan penuh
gairah, seperti orang mabok. Ia seperti sudah kehilangan
kesadarannya,, tidak ingat apa-apa lagi kecuali hanya menurut
saja apa yang dilakukan Ki Seng terhadap dirinya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mei Ling terbangun
dari tidurnya. Pengaruh ramuan obat perangsang yan
diminumnya sudah lenyap dan tiba-tiba ia teringat akan apa
yang terjadi semalam seperti orang mimpi.
"Ohhh...... tidak.....!" Ia cepat bangkit duduk dan matanya
terbelalak. Bukan mimpi! Ia berada di atas pembaringan dan
Ki Seng masih rebah di sampingnya masih tidur. Ia telah tidur
di dalam kamar Ki Seng! Dan pakaian mereka....
"Ahhhh..... bagaimana dapat terjadi semua ini.....?" Ia
berseru dan Ki Seng terbangun dari tidurnya. Diapun bangkit
duduk dan memandang wajah Mei Ling sambil tersenyum.
"Ada apakah, Ling-moi? Sepagi ini engkau sudah
terbangun?"
Mei Ling melompat turun dari atas pembaringan dan
membetulkan letak pakaiannya. Kemudian ia memandang Ki
Seng dengan alis berkerut. "Seng-ko! Apa yang telah kau
lakukan terhadap diriku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Seng juga turun dari pembaringan dan hendak
merangkul Mei Ling. Akan tetapi gadis itu mengelak dan
melangkah mundur, "Seng-ko! Kenapa aku tidur di sini? Apa
yang telah kaulakukan?"
-00dw00kz00-
Jilid XIX
"LING-MOI, kurasa pertanyaanmu itu terbalik. Semestinya
engkau bertanya apa yang telah kaulakukan! Lihatlah, engkau
yang telah tidur bersamaku di dalam kamarku, bukan aku
yang tidur di kamarmu."
Mei Ling memandang bingung dan tangan kirinya diangkat
memijat-mijat keningnya. "Kita makan minum dalam taman,
setelah itu....."
Ki Seng menyambung, "Setelah itu engkau kuantar kembali
ke kamarmu, akan tetapi engkau tidak mau dan memaksa
ingin tidur bersamaku dalam kamarku ini. Engkau yang
menghendakinya, Ling-moi. Aku hanya memenuhi apa yang
kau kehendaki."
"Ah.....!" Mei Ling mengangkat kedua tangannya dan
ditutupkan pada mukanya. "Apa yang telah kulakukan? Apa
yang telah kita lakukan, Seng-ko? Kita..... kita masih belum
menikah....." Gadis itu tidak dapat menahan penyesalan dan
kesedihan hatinya. Ia menangis sesenggukan.
Ki Seng maju dan merangkul gadis itu. "Sudahlah, jangan
menangis, Ling moi. Apa yang telah kita lakukan bukan
kesalahanmu, juga bukan kesalahan kita. Kita saling mencinta
dan bukankah kita ini kelak akan menjadi suami isteri? Kita
kini telah menjadi suami isteri, hanya tinggal menanti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengesahan saja, kalau masa berkabung sudah lewat. Tidak
perlu disesalkan, Ling-moi, bukankah engkau mencintaku
seperti aku mencintamu?"
Mei Ling yang tadinya merasa menyesal dan hendak marah
kepada Ki Seng, tidak jadi marah melihat kenyataan bahwa
ialah yang tidur di kamar Ki Seng. Walaupun ia tidak ingat lagi
mengapa begitu, akan tetapi kenyataannya, memang berada
di kamar itu maka tidak dapat ia menyalahkan Ki Seng. Dan
kata-kata Ki Seng dapat menghibur hatinya akan apa yang
telah mereka lakukan. ia lalu merangkul Ki Seng dan menangis
didada pemuda itu. Ki Seng diam-diam tersenyum penuh
kemenangan!
Kalau hati akal pikiran telah menjadi rimba nafsu, maka hati
akal pikiran akan melakukan segala usaha dan daya upaya
untuk memuaskan nafsu yang telah menjadi majikannya.
Nafsu sex bukanlah sesuatu yang kotor, buruk atau jahat,
sebaliknya malah. Nafsu ini, seperti se-macam nafsu lainnya,
merupakan pembawaan sejak kita lahir, menjadi peserta kita
yang amat bermanfaat bagi kehidupan kita. Bahkan nafsu ini
menjadi sarana perkembang-biakan manusia di dunia. Selama
nafsu ini menjadi peserta ini kita menguasai dan
mengendalikannya, maka nafsu ini mendatangkan
kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan kita. Akan tetapi
sebaliknya, kalau kita membiarkan nafsu sex ini merajalela
dan menguasai kita, menjadi majikan kita, naka kita akan
diseretnya. Hati akal pikiran kita akan berdaya upaya untuk
mendirikan kepuasan bagi nafsu itu. Akibatnya, terjadilah
perjinaan, perkosaan, dan pelacuran.
Ki Seng sudah menjadi hamba nafsu berahinya sendiri. Dia
selalu menurut dorongan nafsunya dan untuk memuaskannya
dia kini telah mendapat korban, yaitu Mei Ling yang percaya
penuh kepadanya dan semenjak malam itu, gadis itu menuruti
segala kehendak Ki Seng. Bukan akhirnya rahasia itu tidak
dapat ditutup-tutup lagi dan semua anggauta Pek-eng-pang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahu bahwa kedua orang muda itu sudah melakukan
hubungan seperti suami isteri. Sering mereka tidur sekamar.
Akan tetapi tentu saja tidak seorangpun dari mereka yang
berani memberi komentar mengenai hal ini.
Ki Seng memenuhi janjinya kepada Sian Hwa Sian-li. Dia
tidak melupakan wanita itu dan seringlah dia datang
berkunjung dan bermalam di rumah wanita ini. Dia
memuaskan nafsunya dengan Mei Ling dan dengan Kim Goat.
Akan ini tapi makin dipuaskan, nafsu akan semakin murka,
akan semakin kuat dan menuntut lebih banyak, lagi!
Kini Ban-tok-pang yang diketuai Ki Seng tidak kekurangan
penghasilan dari Hek-houw-pang, dia dapat memungut hasil
dari rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelacuran yang tidak
sedikit jumlahnya. Dari Pek-eng-pang, dia dapat memperoleh
hasil dari perusahan pengawal kiriman barang. Setelah semua
perkumpulan yang kini dipimpin oleh A Kiu dan A Hok berjalan
lancar, dan dia bersenang-senang selama beberapa bulan
dengan Mei Ling dan Sian Hwa Sian-Li, akhirnya Ki Seng
mengambil keputusan bahwa waktunya sudah tiba baginya
untuk pergi ke kota raja, menemui "ayahnya", yaitu Kaisar
Cheng Tung sebagai putera kaisar itu yang bernama Cheng
Lin dan terlahir didaerah Mongol di utara. Sudah tiba
waktunya pula untuk membuka "rahasia" dirinya itu kepada
Mei Ling agar wanita itu tidak banyak rewel dan menuntutnya
untuk segera menikahinya setelah masa berkabung lewat.
Pada suatu malam, setelah mempertimbangkan baik-baik,
diapun bercakap-cakap dengan Mei Ling di dalam kamarnya.
"Ling-moi, dalam beberapa hari ini, aku akan pergi dari sini.
Aku akan pergi ke kota raja."
Mei Ling terbelalak. "Ke kota raja, Aku ikut, Seng-ko."
"Jangan, Ling-moi. Aku sedang menghadapi urusan besar.
Engkau tidak boleh ikut dan tinggallah saja di sini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Urusan apakah itu, Seng-ko? Untuk urusan apakah engkau
hendak pergi ke kota raja, seorang diri pula?"
"Ini merupakan rahasia besar, Ling moi. Akan tetapi karena
engkau sekarang telah menjadi isteriku, biarlah engkau
mengetahui rahasia besar ini sebelum aku pergi. Ketahuilah,
aku akan pergi ke kota raja, menghadap Kaisar untuk
menuntut hakku."
"Menuntut hakmu? Hak apakah itu Seng-ko?"
"Akan kuceritakan kepadamu, akan tetapi aku minta agar
engkau untuk sementara merahasiakan keadaanku ini sampai
aku memperoleh hakku. Berjanjilah"
Mei Ling memandang heran dan mengangguk. "Aku
berjanji, Seng-ko."
"Begini ceritanya. Dua puluh tahun yang lalu, Kaisar Cheng
Tung yang pada waktu itu masih muda, tertawan oleh
pasukan Mongol yang dipimpin oleh kepala suku Mongol
bernama Kapokai Khan dan dibawa ke utara, ke daerah
Mongol. Ditempat tawanan itu dia diperlakukan dengan baik
dan hormat dan di perkampungan Mongol itu Kaisar Cheng
Tung bertemu dengan keponakan Kapokai Khan yang
bernama Chai Li. Mereka saling jatuh cinta dan Puteri Chai Li
lalu diperistri oleh Kaisar Cheng Tung.
Ketika Pu-U-ri Chai Li mengandung, Kaisar Cheng Tung
dibebaskan dan kembali ke selatan. Puteri Chai Li ditinggalkan
dengan janji bahwa kelak akan dijemput. Puteri Chai Li
melahirkan seorang putera, akan tetapi Kaisar Cheng Tung tak
kunjung datang menjemput sampai akhirnya Puterti Chai Li
tewas di tangan penjahat dan anak itu menjadi besar dalam
keadaan terlunta-lunta. Akan tetapi anak itu akhirnya dapat
mempelajari ilmu silat yang cukup tinggi sehingga dia dapat
mengangkat dirinya sendiri memperoleh kedudukan yang
cukup baik. Nah, sekarang anak itu telah dewasa dan dia
hendak menuntut agar diterima oleh ayah kandungnya dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diakui sebagai seorang pangeran, keturunan Kaisar Cheng
Tung."
Mei Ling terbelalak memandang wajah Ki Seng.
"Maksudmu..... engkau adalah..... putera Kaisar Cheng Tung
itu...."
Ki Seng tersenyum dan mengangguk sambil mengeluarkan
suling kemala dari balik bajunya. "Benar. Akulah Cheng Lin
putera Kaisar Cheng Tung dan benda ini adalah peninggalan
ayah kandungku itu kepada mendiang ibuku, menjadi tanda
bahwa aku adalah puteranya yang terlahir di daerah Mongol."
"Ohhh.....!!" Mei Ling berseru dengan kaget, heran dan
juga amat girang mendengar bahwa kekasihnya, calon suaminya,
adalah seorang pageran! Ia cepat menjatuhkan dirinya
berlutut dan memberi hormat kepada pemuda itu. "Ampunkan
saya, karena tidak tahu saya....."
"Husssh....., bangkitlah, Mei Ling." kata Ki Seng sambil
merangkul pundak wanita itu. "Sudah kukatakan bahwa
engkau harus merahasiakan keadaanku ini. kalau engkau
bersikap seperti ini dan ketahuan orang lain tentu akan
terbuka rahasiaku. Bersikaplah wajar dan seperti biasanya
saja. Setelah aku secara resmi menjadi pangeran, boleh
engkau bersikap lain,"
"Baik...... Seng-ko....." kata Mei Ling dengan suara gemetar
karena ketegangan hatinya. Masih berdebar keras jantungnya
mendengar bahwa tunangan yang secara belum resmi telah
menjadi suaminya itu adalah seorang pangeran, putera Kaisar!
"Nah, engkau tahu sekarang mengapa aku hendak pergi ke
kota raja dan seorang diri pula. Engkau tinggallah di sini dan
kalau ada sesuatu yang penting, ajaklah A Hok dan A Kiu
untuk berunding. Untuk sementara ini, kau pimpinlah Pek-Engpang
dan A Kiu biar memimpin Ban-tok-pang."
"Baik, Seng-ko." kata Mei Ling dan dalam suaranya
terkandung kepatuhan harus terhadap laki-laki itu. Dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandangan Mei Ling, laki-laki itu bukan hanya menjadi calon
suaminya, melainkan juga seorang pangeran yang harus
dipatuhi perintahnya.
Beberapa hari kemudian, Ki Seng meninggalkan Pek-engpang,
diantarkan sampai keluar dari perkampungan oleh Mei
Ling. Mei Ling melihat Ki Seng pergi dan mengira bahwa lakilaki
itu akan langsung pergi ke kota raja. Akan tetapi Ki Seng
mengambil jalan lain karena dia akan pergi dulu ke Bukit
Merak di markas Sian Hwa Sian-li telah menunggu. Dia
mengajak wanita itu untuk menemaninya ke kota raja, selain
untuk menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, juga
dapat menjadi pembantu kalau-kalau dia menghadapi
rintangan dalam usahanya menjadi seorang pangeran!
Setelah tiba di rumah Sian Hwa Sian li, wanita itu telah siap
dan mereka berdua segera berangkat meninggalkan Bukit
Merak yang ditinggalkan untuk diatur oleh sembilan orang
pelayan wanita. Mereka berdua melakukan perjalanan dengan
gembira, masing-masing membawa sebuah buntalan pakaian
di punggung. Sian Hwa Sian-li tidak lupa membawa
payungnya karena selain benda ini dapat menjadi senjatanya
yang ampuh, juga ia memerlukannya untuk melindungi kulit
wajahnya yang halus dan putih mulus itu dari sengatan sinar
matahari.
ooo00d00w0ooo
Dua orang pemuda itu mendaki kaki pegunungan Tai-hangsan.
Mereka adalah dua orang pemuda yang berwajah tampan
dan usia mereka masih muda sekali. Yang seorang baru
berusia paling banyak dua puluh satu tahun, tubuhnya sedang
tegap dengan dada yang bidang, matanya mencorong penuh
semangat, hidungnya mancung dan bibirnya yang berbentuk
indah itu selalu tersenyum ramah, langkahnya tegap seperti
langkah harimau dan pakaiannya sederhana seperti seorang
petani.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda ke dua lebih muda lagi. Paling banyak enam belas
tahun usianya. Wajahnya tampan sekali, lebih tampan dari
pemuda pertama. Tubuhnya sedikit agak kecil dengan
pinggang kecil. Matanya lebar dan kocak, dan senyumnya
membuat wajah itu cerah dan segar. Rambutnya hitam dan
lebat, digelung ke atas dan sebagian kepalanya tertutup kain
pengikat rambut yang lebar. Pakaiannya juga sederhana
namun tidak mengurangi ketampanannya. Seperti pemuda
pertama, diapun membawa sebuah buntan pakaian berwarna
kuning di punggungnya. Mereka melangkah dengan tegak
sambil bercakap-cakap dengan sikap lincah dan gembira.
Kita sudah mengenal baik dua orang pemuda ini. Yang
pertama adalah Han Lin dan pemuda ke dua bukan lain adalah
Suma Eng yang menyamar sebagai seorang pemuda bernama
Eng-ji. Sebetulnya Suma Eng adalah seorang yang usianya
sudah hampir sembilan belas tahun, akan tetapi setelah
menyamar sebagai seorang pemuda, ia tampak masih muda
sekali, seperti seorang pemuda remaja berusia enam belas
tahun!
Setelah melakukan perjalanan berdua selama belasan hari,
hubungan di antara mereka makin akrab saja. Dan Han Lin,
seorang pemuda yang belum pernah bergaul dengan wanita
kecuali dengan Tan Kiok Hwa yang dicintanya, akan tetapi
itupun hanya sebentar saja, sama sekali tidak pernah
dibayangkan bahwa pemuda menjadi sahabat yang amat
menyenangkan dan bernama Suma Eng-ji itu sebetulnya
adalah seorang gadis yang setengah mati jatuh cinta
kepadanya!
Sikap Eng-ji amat baik kepadanya sehingga Han Lin
terkadang lupa bahwa pemuda remaja ini adalah putera Suma
Kiang, musuh besarnya. kadang-kadang kalau dia teringat
akan kenyataan ini, hatinya merasa tidak enak sekali. Suma
Kiang begitu jahat terhadap dirinya dan ibu kandungnya, akan
tetapi puteranya, Suma Eng-ji ini, begitu baik kepadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi kebaikan sikap Eng-ji kepadanya kadang
terganggu kalau ia teringat bahwa pemuda remaja ini jatuh
cinta kepada Tan Kiok Hwa, gadis berpakaian serba putih yang
berhati emas, yang setiap saat siap menolong siapa saja
dengan pengobatan tanpa pandang bulu. Akan tetapi kalau
dia melihat sikap dan watak Eng-ji yang aneh dan kadang
ugal-ugalan itu, teringatlah bahwa Eng-ji adalah seorang
pemuda yang masih mentah.
Cintanya terhadap Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat Berbaju
Putih) Tan Kiok Hwa tentu hanya menrupakan cinta monyet
yang tidak akan tahan lama! Teringat akan ini, legala hatinya
dan Han Lin senyum-senyum sendiri.
"Ehh, Lin-ko, apanya sih yang lucu?" Eng-ji menegur kawan
seperjalanannya itu.
"Apa yang lucu?" balas tanya Han Lin, tidak mengerti.
"Kulihat engkau senyum-senyum sendiri, tentu ada yang
lucu!"
"Ah, itukah? Aku tersenyum melihat engkau, Eng-ji."
Eng-ji berhenti melangkah, matanya yang lebar menatap
wajah Han Lin penuh selidik dan mulutnya cemberut. "Engkau
tersenyum melihatku? Engkau menertawakan aku? Apaku
yang lucu dan harus ditertawakan?" Eng-ji menuntut, marah
karena ia merasa ditertawakan.
"Tenang dan sabarlah, Eng-ji, dan jangan marah dulu. Aku
tersenyum melihatmu karena sikapmu yang aneh-aneh.
Engkau mengajak aku untuk membelokkan arah perjalanan ke
kota raja dan menuju ke pegunungan ini. Mau apakah engkau
sebenarnya? Apakah sekadar pesiar ke pegunungan?
Bukankah dalam perjalanan kita selalu melewati gununggunung?"
"Itukah yang membuatmu tersenyum? Kukira engkau
menertawakan aku. Aku mengajakmu ke sini untuk mencari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dusun tempat tinggal mendiang ibuku, Lin-ko. Aku ingin sekali
bersembahyang di depan makam ibu kandungku yang tidak
pernah kulihat atau kuingat. Aku rindu sekali kepada ibu!"
Suara Eng-ji agak gemetar karena hatinya terharu, teringat
akan ibunya yang menurut cerita ayahnya telah meninggal
dunia. Ayahnya tidak pernah mau bercerita tentang ibunya
sehingga dia amat merindukan ibunya.
"Ibumu sudah meninggal di dusun yang berada di
pegunungan ini, Eng-ji? Ah, maaf, aku tidak tahu akan maksud
dan tujuan perjalananmu ke sini. Jadi ibumu telah meninggal
dunia sejak engkau masih kecil?"
"Menurut ayah, ibu meninggal sejak aku berusia tiga
tahun."
"Ibumu masih muda, mengapa meninggal dunia? Karena
sakit atau apa?"
"Ayahku tidak pernah mau menceritakan tentang kematian
ibu. Bahkan kalau aku bertanya tentang ibu, dia marah marah.
Agaknya ayahku amat mencintai ibu dan kematian ibu amat
menghancurkan hatinya. Bahkan nama ibupun tidak pernah
diberitahukan kepadaku" kata Eng-ji dengan suara
mengandung kekecewaan dan kesedihan.
Han Lin membayangkan watak Suma Kiang yang amat
jahat itu. Dia sangsi apakah seorang manusia berwatak iblis
seperti itu dapat mencinta seorang wanita sedemikian
besarnya.
"Kalau engkau tidak ingat akan wajah ibumu dan tidak tahu
namanya, bagaimana engkau akan dapat mencari keterangan
tentang ibumu itu?"
"Ayah hanya memberitahu bahwa ibu berasal dari dusun
Cia-lim-bun di pegunungan Tai-hang-sang ini. Karena itulah
aku mengajakmu untuk singgah di pegunungan ini untuk
mencari dusun Cia-lim-bun. Barangkali di dusun itu aku akan
dapat mencari keterangan tentang ibu dan dapat menemukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
makamnya, bahkan siapa tahu akan dapat kutemukan
keluarga ibu, kakek dan nenek misalnya, atau saudarasaudara
dari mendiang ibuku."
Han Lin merasa iba kepada Eng-ji. "Marilah, kita mencari di
depan, kalau bertemu dusun, kita mencari keterangan tentang
dusun Cia-lim-bun." katanya dan pereka melanjutkan
perjalanan.
Tak lama kemudian, masih di kaki gunung, mereka
memasuki sebuah dusun Kecil. Kepada seorang petani yang
mencangkul sawahnya, Eng-ji bertanya, "Paman, dapatkah
engkau menunjukkan dimana adanya dusun Cia-lim-bun?"
Petani itu menunda pekerjaannya. "Cia-lim-bun? Itu di
sana, di lereng pertama. Dusun itu dapat tampak dari sini."
katanya sambil menuding ke arah lereng bukit. Han Lin dan
Eng-ji melihat dan benar saja. Di lereng bukit itu terdapat
sebuah dusun. Genteng-genteng rumah dusun itu sudah dapat
terlihat dari situ.
"Mari, Lin-ko!" kata Eng-ji sambil menarik tangan Han Lin
diajak berlari. Agaknya pemuda itu lupa untuk mengucapkan
terima kasih kepada petani saking girang hatinya.
"Terima kasih, paman!" kata Han Lin kepada petani. Dia
harus mengikuti Eng ji yang berlari cepat mendaki lereng bukit
itu.
Karena mereka berdua berlari cepat, sebentar saja mereka
telah tiba di dusun itu. "Eng-ji, sebaiknya kalau kita menemui
kepala dusun saja. Dari dia tentu kita akan memperoleh
keterangan lebih lengkap dan lebih banyak."
Eng-ji mengangguk. "Kukira sebaiknya begitu, Lin-ko."
Suara Eng-ji agak gemetar dan jelas tampak betapa hatinya
berdebar gelisah dan harap-harap cemas menghadapi
keterangan tentang ibu kandungnya dan mungkin ia dapat
bertemu dengan keluarga ibunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan tetapi bagaimana cara menanyakannya? Aku tidak
tahu nama ibuku."
"Tenanglah, Eng-ji. Biar aku yang akan bertanya kalau
engkau merasa gugup. Nama ayahmu Suma Kiang, bukan?
Nama ibumu engkau tidak tahu. Mungkin kepala dusun itu
mengenal nama ayahmu atau teringat akan namamu."
Eng-ji hanya mengangguk karena ia merasa bingung, tidak
tahu harus bertanya secara bagaimana. Dari petunjuk
beberapa orang dusun, dengan mudah mereka menemukan
rumah kepala dusun Cia-lim-bun.
Kepala dusun itu masih muda. Usianya sekitar tiga puluh
lima tahun dan melihat kepala dusun yang masih muda itu,
Han Lin mengerutkan alisnya. Akan tetapi karena kepala
dusun itu menyambut mereka dengan ramah, diapun bersikap
hormat.
"Ji-wi (anda berdua) silakan duduk dan apa yang dapat
kami bantu untuk ji-wi?" kata kepala dusun itu setelah
mempersilakan mereka duduk.
"Maafkan kalau kami mengganggu kesibukan, chung-cu
(lurah)." kata Han Lin. "Kedatangan kami menghadap ini
untuk minta keterangan tentang suami istri dan anaknya yang
tinggal di dusun cia lim-bun ini kira-kira lima belas tahun yang
lalu."
"Lima belas tahun yang lalu? Ah, ketika itu kami belum
menjadi lurah di sini, bahkan belum tinggal di dusun ini. Kami
baru sekitar sepuluh tahun tinggal di sini, dan baru lima tahun
menjadi kepala dusun." jawab lurah itu dengan ramah.
Eng-ji kecewa sekali mendengar ini dan dengan suara
penuh harapan ia bertanya, "Chung-cu, apakah sekiranya kami
boleh bertanya kepada orang yang sudah tinggal di sini pada
lima belas tahun lebih yang lalu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"O, itu mudah saja. Seorang paman kami telah puluhan
tahun tinggal di sini, mungkin dia mengetahui. Tunggu dulu,
kami memanggilnya." Kepala dusun itu lalu masuk ke ruangan
belakang dan tak lama kemudian dia kembali lagi bersama
seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih.
"Inilah, paman, dua orang muda yang ingin bertanya
tentang suami isteri dan anaknya yang pernah tinggal di sini
lima belas tahun yang lalu." kata kepala dusun itu kepada
pamannya.
Laki-laki tua itu memandang kepada Han Lin sampai
beberapa lamanya, lalu da menggeleng kepala. Setelah itu dia
memandang kepada Eng-ji dan mengamati pemuda remaja itu
penuh perhatian. Agaknya perhatiannya tertarik kepada Eng-ji
dan dia bergumam.
"Ya, aku pernah melihat wajah ini..... kenapa yang akan
dapat melupakan peristiwa mengerikan itu? Orang muda,
kalau saja engkau seorang wanita, wajahmu persis dengan
wanita yang malang itu."
Mendengar ucapan itu, Eng-ji merasa jantungnya berdebar.
"Paman, apakah maksudmu? Siapa wanita yang malang itu,
yang wajahnya mirip wajahku?"
"Nanti dulu, orang muda. Laki-laki dan wanita itu, suami
isteri dan anaknya yang kau cari itu, siapakah nama mereka?"
tanya kakek itu.
"Suaminya bernama Suma Kiang sedangkan isterinya aku
tidak tahu namanya. Anaknya bernama Suma Eng-ji." kata
Eng-ji penuh harapan
Akan tetapi laki-laki itu menggeleng kepalanya. "Aku tidak
mengenal nama itu. Akan tetapi, tentang wanita yang malang
itu, ada yang lebih mengetahuibta karena dialah saksi
peristiwa yang mengerikan itu. Sebaiknya kita panggil saja dia
karena kami semua mendengar tentang peristiwa itu darinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia yang lebih tahu." Kakek itu lalu menyuruh keponakannya,
kepala dusun itu untuk memanggil seseorang.
"Panggil A-lok ke sini, biar dia bercerita sendiri." katanya.
Kepala dusun lalu menyuruh orangnya untuk memanggil
orang bernama A-lok itu dan sambil menanti datangnya orang
yang dipanggil, dia mempersilakan Han Lin dan Eng-ji duduk
sambil menghidangkan minuman teh.
Tak lama kemudian orang yang bernama A-lok itupun
datang di situ. Laki-laki ini berusia sekitar lima puluhan tahun
dan jalannya terpincang-pincang, agaknya mengalami cacat
pada kaki kanannya.
"Paman A-lok, silakan duduk," kata kepala dusun dan
setelah A-lok mengambil tempat duduk dia berkata, "Dua
orang muda ini datang untuk mencari keterangan tentang
suami isteri dan anaknya yang tinggal di sini kurang lebih lima
belas tahun yang lalu. Dan menurut pamanku, saudara muda
ini wajahnya mirip sekali dengan seorang wanita yang pernah
kau ceritakan tertimpa nasib yang mengerikan."
A-lok memandang kepada Eng-ji dan matanya terbelalak,
seolah dia baru melihat kemiripan yang disebut kakek paman
kepala dusun tadi.
"Ya Allah! Benar sekali!"
"Nah, apa kataku?" kata kakek yang menjadi paman kepala
dusun. "Pemuda ini wajahnya mirip sekali dengan wajah
mendiang Siu Lin, bukan?"
"Siapa itu Siu Lin?" Eng-ji bertanya dengan jantung
berdebar. "Paman yang baik, apakah engkau mengenal suami
isteri dan anaknya itu? Suaminya bernama Suma Kiang, dan
anaknya bernama Suma Eng-ji."
A-lok menggeleng kepalanya. "Tidak cocok. Suami Siu Lin
bernama Lo Kiat yang kini telah meninggal dunia dan mereka
memiliki seorang anak perempuan bernama Lo Sian Eng."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah memandang Eng-ji sesaat dan mengerutkan alisnya,
diapun melanjutkan. "Apakah mereka itu benar-benar tinggal
di dusun ini, kongcu (tuan muda)?"
Eng-ji hampir putus harapan, akan tetapi dia mencoba
untuk menerangkan.
"Wanita itu berasal dari dusun Cia lim-bun ini. Ia meninggal
dunia dan suaminya yang bernama Suma Kiang lalu membawa
pergi anak mereka yang bernama Suma Eng-ji dan ketika itu
baru berusia tiga tahun."
A-lok mengerutkan alisnya semakin dalam sambil menatap
wajah Eng-ji "Nanti dulu! Apakah laki-laki bernama Suma
Kiang itu usianya ketika itu sekitar empat puluh lima tahun,
bertubuh tinggi kurus, mukanya merah dahinya lebar,
matanya sipit, jenggotnya panjang, di punggungnya terdapat
sepasang pedang dan tangannya memegang sebatang tongkat
yang mengerikan karena tongkat itu mirip seekor ular?"
Eng-ji menahan diri untuk tidak terlonjak kegirangan.
Betapa tepat gambaran itu! Itulah ayahnya!
"Benar! Benar sekali!" teriaknya. "Paman yang baik,
ceritakan tentang mereka, terutama tentang sang isteri yang
telah meninggal itu!"
A-lok menggeleng-geleng kepalanya dan bergumam.
"Sungguh aneh sekali. Agaknya ada kesalahan paham di sini.
Akan tetapi baiklah, akan kuceritakan apa yang telah kami
lihat. Aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu selama
hidupku, dan kau lihat, cacat di kaki kananku ini menjadi bukti
kebenaran ceritaku." Dia berhenti dan menghela napas
panjang.
"Ceritakanlah, paman yang baik. Ceritakanlah segalanya
tentang wanita itu dan apa yang telah terjadi!" Eng-ji sudah
tidak sabar lagi dan ucapannya mengandung desakan
sehingga Han Lin menyentuh lengannya memberi isarat agar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kawannya itu bersabar dan membiarkan A lok menceritakan
dengan tenang.
A-lok minum air teh yang disuguhkan. tampaknya tidak
tergesa-gesa, penuh keyakinan bahwa ceritanya akan menarik
sekali. Kemudian dia mulai bercerita "Wanita bernama Teng
Siu Lin itu memang seorang yang cantik sekali. Ketika itu
usianya sekitar dua puluh satu tahun dan memang sejak
masih gadis ia menjadi kembang di dusun ini. Ia menikah
dengan seorang sasterawan bernama Lo Kiat yang datang dari
kota, akan tetapi setelah menikah, Lo Kiat tinggal di dusun ini
dan mengajarkan ilmu baca-tulis kepada anak-anak di dusun
ini dan sekitarnya. Ketika itu, mereka telah mempunyai
seorang anak perempuan yang diberi nama Lo Sian Eng yang
ketika peristiwa terjadi berusia kurang lebih tiga tahun,"
Kembali dia berhenti dan minum air teh-nya. Dia agaknya
menikmati ceritanya sendiri karena maklum bahwa kedua
orang muda yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu
menanti kelanjutan ceritanya dengan tak sabar.
"Lalu bagaimana tentang kematian wanita itu? Apakah
karena sakit?" Eng-ji mendesak. Ia meragu dan tidak yakin
apakah wanita yang diceritakan itu benar Ibunya, walaupun
katanya berwajah mirip dia karena wanita itu isteri seorang
sastrawan bernama Lo Kiat.
"Pada suatu pagi, aku bersama tiga orang kawan, berjalan
keluar dari dusun Ini mendaki bukit. Suasananya amat sunyi
ketika itu dan tiba-tiba kami mendengar jerit suara wanita.
Kami cepat pergi ke arah suara itu dan ketika kami tiba di
sana, kami tercengang menyaksikan pemandangan yang
mendirikan bulu roma dan membuat kami tercengang dan
ngeri. Seorang laki-laki agaknya baru saja memperkosa wanita
yang bukan lajn adalah Teng Siu Lin! Dalam keadaan marah
telanjang, wanita malang itu melompat dan membenturkan
kepalanya pada sebuah batu sehingga ia tewas seketika.
Anaknya, Lo Sian Eng yang baru berusia tiga tahun itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menangis di atas rerumputan. Tentu saja kami terkejut dan
marah. Kami segera berlari untuk bertindak terhadap laki-laki
laknat itu.
Akan tetapi dia lihai bukan main. Dia lalu mengamuk dan
kami berempat dia robohkan dengan tongkat ularnya. Tiga
orang kawanku tewas dan aku sendiri mengalami cedera berat
pada kaki kananku, akan tetapi aku masih sadar dan aku pura
pura mati sehingga laki-laki iblis itu tidak menyerangku lagi.
Aku melihat betapa laki-laki itu memondong Sian Eng dan
dibawanya anak itu pergi dari situ."
Han Lin melihat betapa wajah Eng ji menjadi pucat sekali
dan pemuda remaja itu menggerakkan bibirnya yang
menggigil, "Lalu.... laki-laki jahanam iblis itu.... siapakah
dia......?"
A-lok berkata. "Laki-laki itu tidak meninggalkan nama, akan
tetapi dia adalah orang yang kugambarkan tadi, tinggi kurus,
membawa sepasang pedang di punggungnya, tangannya
membawa tongkat ular, mukanya merah dan...."
"Aihhhhh......!!" Eng-ji mengeluh dan ia terkulai pingsan
dan tentu akan roboh dari kursinya kalau saja Han Lin tidak
dengan cepat menyambar tubuhnya.
"Eh, kenapa dia.....?" Kepala dusun, pamannya, dan A-lok
bertanya heran.
Han Lin memangku Eng-ji. "Dia pingsan, agaknya masuk
angin."
"Orang muda, bawa dia ke kamar, biarkan dia rebah di
pembaringan." kata kepala dusun yang ramah itu. Han Lin
menurut karena memang dia perlu meredakan Eng-ji untuk
disembuhkan. Dia tahu bahwa pemuda remaja itu mengalami
guncangan batin yang hebat mendengar akan kejahatan Suma
Kiang, ayahnya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia memondong tubuh Eng-ji dan membawanya masuk ke
dalam kamar yang ditunjukkan oleh kepala dusun. Dengan
hormat dia minta agar mereka semua keluar dari kamar.
"Saya akan menyadarkannya, harap paman sekalian keluar
dulu." katanya. Kepala dusun dan dua orang itupun keluar dari
dalam kamar, bahkan kepala dusun menutupkan pintu kamar
dari luar.
Karena maklum bahwa Eng-ji mendapat guncangan hebat.
Han Lin lalu mempergunakan ilmu It-yang-ci untuk menotok
kedua pundak dan tengkuk Eng-ji, lalu dia melepaskan
kancing baju pemuda remaja itu untuk mengurut dadanya
Akan tetapi tiba-tiba dia menarik kedua tangannya seperti
dipagut ular dan matanya menatap ke arah dada yang telah
terbuka kancing bajunya itu.
"Ya Tuhan.....! Dia..... dia ...... perempuan.....!" bisiknya
dan cepat dia mengancingkan lagi baju itu dengan jari tangan
gemetar. Setelah itu dia mengurut punggung Eng-ji dan
menekan bawah hidungnya. Tak lama kemudian Eng-ji
mengeluh, menarik napas panjang dan membuka matanya.
"Jahanam keparat!" Tiba-tiba Eng ji memaki dan bangkit
duduk, memandang ke sekeliling, lalu mendapatkan Han Lin
yang duduk di tepi pembaringan dan diapun tersadar.
"Lin-ko, mana paman yang bercerita tadi? Kenapa aku
rebah di sini?"
"Kau tadi pingsan, Eng-ji. Mereka berada di luar."
"Aku ingin mendengarkan ceritanya lagi. Mari kita keluar,
Lin-ko."
"Engkau sudah merasa sehat? Tenangkanlah hatimu, Engji."
"Aku tidak apa-apa. Mari kita keluar." Diapun turun dari
pembaringan dan bersama Han Lin keluar dari kamar itu.
Melihat dia sudah sembuh kembali, kepala dusun menjadi lega
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan girang. "Siauwte (adik), engkau tadi mengagetkan dan
menggelisahkan kami." katanya pada Eng-ji.
Eng-ji tersenyum. "Maafkan aku, Chung-cu (lurah),
agaknya aku masuk angin sehingga jatuh sakit dengan tibatiba.
Akan tetapi sekarang aku sudah sembuh kembali. Paman,
teruskanlah ceritamu tadi. Lalu bagaimana setelah laki-laki
jahanam itu membawa pergi anak itu?"
A-lok melanjutkan ceritanya. "Setelah dia pergi dan tidak
tampak lagi, barulah aku berani bangkit berdiri. Tanpa
memperdulikan kaki kananku yang cedera dan nyeri sekali,
aku berlari setengah merangkak memasuki dusun dan minta
bantuan penduduk. Kami berbondong-bondong lari ke tempat
itu dan mengurus jenazah Teng Siu Lin dan tiga orang
kawanku. Suami Teng Siu Lin, yaitu Lo Kiat, hancur hatinya
melihat isterinya tewas secara demikian mengerikan. Dia jatuh
sakit dan beberapa bulan kemudian diapun meninggal dunia
menyusul isterinya," A lok berhenti bercerita dan keadaan
menjadi sunyi sekali. Han Lin memandang wajah Eng-ji. Dia
melihat betapa dengan susah payah Eng-ji menahan diri untuk
tidak menjerit-jerit. Kini tampak jelas olehnya apa yang
sesungguhnya terjadi. Eng-ji bukanlah putera Suma Kiang!
Namanya bukan Eng-ji melainkan Lo Sian Eng, seorang gadis,
puteri mendiang Lo Kiat dan mendiang Teng Siu Lin yang
malang itu, yang menjadi korban kekejian Suma Kiang lalu
membunuh diri.
Lo Sian Eng menjadi gadis yatim piatu. Dia melihat gadis
yang selama ini mengelabuhi dan dalam pandangannya
merupakan seorang pemuda remaja yang lincah
menyenangkan itu menelan ludah agaknya untuk
menenangkan hatinya yang tergoncang, lalu bertanya dengan
suara lemah.
"Jadi mereka berdua telah meninggal dunia? Di mana
makam mereka?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka kami makamkan berjajar di pemakaman umum
dusun ini." kata A-Lok.
Han Lin dan Eng-ji lalu mengucapkan banyak terima kasih
kepada kepala dusun dan dua orang tua itu, kemudian
berpamit meninggalkan rumah kepala dusun. Eng-ji segera
mengajak Han Lin pergi ke perkuburan umum di luar dusun
dan memasuki tanah kuburan yang sepi. Tidak sukar bagi
mereka untuk menemukan sepasang kuburan itu karena di
depan gundukan tanah itu terdapat batu nisan yang
tertuliskan nama Lo Kiat dan Teng Siu Lin.
Mereka berdiri di depan sepasang makam itu dan Han Lin
berkata dengan suara lembut. "Eng-moi....."
Eng-ji yang bukan lain adalah Sian Eng itu terkejut dan
menoleh, memandang kepada Han Lin dengan wajahnya yang
masih pucat. "Lin-ko, kau menyebut aku apa.....?"
"Eng-moi, aku tahu bahwa engkau sesungguhnya adalah Lo
Sian Eng, puteri suami isteri yang terkubur di sini."
"Kau...... kau..... sudah tahu.....?"
"Mudah saja menduga, Eng-moi. Aku yang selama ini
seperti buta, tidak tahu bahwa engkau seorang gadis."
Kesedihan yang sejak tadi ditahan-tahan oleh Sian Eng, kini
seperti bendungan air bah yang pecah. Ia jatuh berlutut dan
menangis tersedu-sedu, hal yang sejak tadi ingin ia lakukan.
Banyak hal yang menusuk-nusuk hatinya dan membuat ia
ingin menjerit-jerit menangis. Pertama karena ayah dan ibu
kandungnya telah tewas, kedua karena kematian ibu
kandungnya demikian mengenaskan, ketiga karena orang
yang selama ini dianggap ayah yang mencintanya, ternyata
adalah musuh besarnya, pembunuh ibunya dan
menghancurkan keluarga orang tuanya. Ia menangis
sesenggukan sampai kedua pundaknya terguncang-guncang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ayah, ibu..... ampunkan anakmu......tadinya aku tidak
tahu..... aku menganggap dia ayahku yang baik.... ampunkan
aku..... ayah, ibu, aku bersumpah, akan kubalaskan sakit hati
dan kematian ayah dan ibu.... akan kubunuh si jahanam
keparat Suma Kiang, iblis busuk jahat itu... .!!" katanya sambil
memukuli tanah di depannya.
Ia lalu menangis lagi sambil mengeluarkan kata-kata yang
tidak ada maknanya.
Han Lin memandang dengan terharu, teringat akan ibu
kandungnya sendiri. Ibu kandungnya juga menderita lahir
batin karena ulah Suma Kiang. Dia menghela napas panjang.
Dia tahu bahwa Sian Eng sedang dilanda kesedihan besar dan
jalan satu-satunya yang terbaik adalah membiarkannya
melampiaskan kesedihannya melalui tangis.
Air matanya saja yang akan mencuci kesedihannya,
menjadi penyalur sakit hatinya. Karena itu dia mendiamkannya
saja, hanya memandang dengan perasaan iba. Sekarang dia
merasa betapa bodohnya dia. Setelah melakukan perjalanan
berminggu-minggu bersama gadis itu, dia masih belum tahu
bahwa ia adalah seorang wanita, bukan seorang pemuda
remaja seperti yang dianggapnya selama ini.
Dan teringat akan sikap Eng-ji yang demikian baik
kepadanya, teringatlah betapa Eng-ji dengan mesra
merangkul Pek I Yok Sian-li sehingga membuatnya cemburu,
teringat betapa Eng-ji mengatakan bahwa ia mencinta Pek I
Yok Sian li, Han Lin merasa betapa mukanya menjadi panas.
Dia merasa malu sekali, akan tetapi juga timbul perasaan tidak
enak dalam hatinya, perasaannya tidak nyaman.
Bukankah semua ulah dan sikap Sian Eng ketika menyamar
sebagai pria itu menunjukkan bahwa gadis ini agaknya
menaruh hati kepadanya?
Kalau diingat betapa Eng-ji marah-marah melihat dia
memandang wanita cantik dalam rumah makan itu! Tak salah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lagi, Sian Eng mencintanya! Bukan cinta sahabat seperti yang
tadinya dia sangka, melainkan cinta seorang gadis terhadap
seorang pria!
Dari dugaan ini mendatangkan rasa tidak enak sekali dalam
hatinya. Sebetulnya, betapa mudahnya bagi dia untuk jatuh
cinta kepada seorang gadis seperti Sian Eng yang cantik jelita
dan berkepandaian tinggi pula, berwatak baik dan ternyata
keturunan orang baik-baik, bukan puteri Suma Kiang seperti
yang tadinya dia sangka. Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat
terjadi? Dia sudah jatuh cinta kepada Tan Kiok Hwa, gadis ahli
pengobatan yang berhati emas itu. Teringat akan ini, betapa
Sian Eng mencintanya dan dia tidak akan mampu
membalasnya, hatinya terasa pedih dan dia merasa amat iba
kepada Sian Eng.
Setelah tangis Sian Eng mereda, barulah Han Lin berani
menghiburnya. "Sudahlah, Eng-moi. Tidak baik menurutkan
kedukaan hati, tidak sehat membenamkan hati dalam
kesedihan. Orang tuamu sudah terbebas dari kesengsaraan
hidup, sudah kembali ke alam asal. Kita doakan saja semoga
mereka mendapatkan tempat yang baik, aman dan tenteram.
Bagaimanapun juga, sekarang engkau telah dapat
menemukan siapa sebenarnya dirimu, dan aku sungguh
merasa berbahagia sekali mendapat kenyataan bahwa engkau
bukanlah anak dari manusia iblis Suma Kiang itu."
Sian Eng menyeka sisa air matanya dan memandang
kepada Han Lin dengan mata merah. "Lin-ko, hati siapa tidak
kan hancur melihat kenyataan ini? Ibuku diperkosa sampai
membunuh diri sehingga ayahku juga menjadi sakit dan
meninggal dunia, semua ini akibat perbuatan terkutuk iblis
Suma Kiang. Akan tetapi sejak kecil aku dipelihara dan dididik
oleh iblis itu dengan penuh kasih sayang! Ternyata dia musuh
besarku. Suma Kiang, manusia iblis jahanam, aku pasti akan
membalaskan sakit hati ayah dan ibu kandungku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tenangkan hatimu, Eng-moi, aku pasti membantumu
karena akupun mencari orang bernama Suma Kiang itu."
"Kenapa engkau mencarinya, Lin-ko?"
"Ingatkah engkau akan ceritaku dulu bahwa ibuku menjadi
sengsara hidupnya karena seorang yang amat jahat? Orang
itu bukan lain adalah Suma Kiang!"
Sian Eng membelalakkan matanya yang kemerahan.
"Jadi.... selama ini engkau tahu bahwa aku adalah anak dari
musuh besarmu? Akan tetapi kenapa engkau bersikap amat
baik kepadaku Lin-ko? Padahal engkau tahu bahwa aku yang
ketika itu menyamar adalah puteri musuh besarmu."
"Tadinya akupun terkejut sekali ketika engkau sebagai Engji
menceritakan bahwa ayahmu adalah Suma Kiang. Akan
tetapi bagaimana aku dapat membencimu, walaupun yang
kusangka ayahmu itu telah menghancurkan kehidupan ibuku?
Engkau amat baik dan engkau tidak jahat seperti Suma Kiang,
maka akupun tentu saja bersikap baik kepadamu."
Sian Eng memandang penuh haru. "Lin ko, engkau seorang
yang bijaksana dan baik sekali. Semestinya engkau benci
kepadaku yang waktu itu tentu kau kira putera orang yang
telah berbuat keji terhadap ibumu, akan tetapi engkau malah
baik sekali kepadaku."
"Dan aku girang bahwa ternyata engkau bukan putera
Suma Kiang, Eng-moi. engkau adalah Lo Sian Eng, puteri
mendiang sasterawan Lo Kiat dan isterinya yang bernama
Teng Siu Lin."
"Dan bagaimana engkau mengetahui bahwa aku adalah Lo
Sian Eng seperti diceritakan paman A-lok?" Sian Eng ingin
sekali tahu.
Wajah Han Lin menjadi agak kemerahan. Dia teringat
betapa dia mengetahui bahwa Eng-ji adalah seorang wanita
ketika dia membuka kancing baju gadis yang menyamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai pemuda remaja itu Akan tetapi tentu saja dia tidak
berani mengatakan hal ini kepada Sian Eng karena tentu gadis
itu akan menjadi malu sekali dan mungkin juga marah
kepadanya.
"Setelah melihat reaksimu ketika mendengar penuturan Alok,
timbul dugaanku itu, Eng-moi. Aku menduga bahwa
engkaulah Lo Sian Eng itu, dan aku lalu teringat akan sikap
yang aneh dari Eng ji, maka semakin yakinlah aku bahwa
engkau adalah seorang gadis yang menyamar sebagai seorang
pemuda."
"Sikap aneh yang bagaimana, Lin ko?" Percakapan itu
menarik hati Sian Eng sehingga sejenak ia melupakan
kesedihannya. Memang duka itu diberi umpan oleh ingatan
yang mengingat-ingat keadaan masa lalu dan membayangkan
keadaan dirinya sehingga timbul perasaan iba dan Kalau
pikiran dipergunakan untuk memperhatikan hal lain dan tidak
bermaim main dengan ingatan masa lalu, maka kedukaannya
akan menghilang.
"Banyak setelah kuperhatikan dan ingat sekarang, Eng-moi.
Di antaranya, engkau tidak mau tidur sepembaringan
bersamaku. Engkau selalu sembunyi-sembunyi kalau mandi
dan bertukar pakaian. engkau pandai memasak. Bahkan
engkau menjadi marah-marah ketika aku memandang gadisgadis
cantik di rumah makan itu."
Kini wajah Sian Eng yang berubah kemerahan. "Aku paling
tidak suka melihat laki-laki yang mata keranjang, maka aku
tidak senang engkau memandangi gadis-gadis cantik."
katanya. Kemudian ia bangkit berdiri dan dan berkata, "Lin-ko,
aku hendak pergi sebentar."
"Ke mana, Eng-moi?"
"Membeli perlengkapan sembahyang. Aku ingin
bersembahyang dengan pantas di depan makam ayah ibuku."
"Mari kutemani, Eng-moi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keduanya lalu meninggalkan tanah kuburan itu. Kebetulan
sekali dalam dusun yang cukup besar itu terdapat beberapa
buah toko yang menjual barang-barang cukup lengkap. Sian
Eng, masih berpakaian sebagai Eng-ji, membeli perlengkapan
sembahyang dan juga membeli tiga stel pakaiian wanita
dusun.
Dalam perjalanan mereka kembali ke tanah kuburan, Han
Lin bertanya.
"Untuk apa engkau membeli pakaian wanita, Eng-moi?"
Sian Eng menoleh, menatap wajah Han Lin dan tersenyum!
Han Lin menjadi lega. Gadis ini memang memiliki watak yang
lincah dan gembira sehingga tidak berlarut-larut tenggelam
dalam kedukaan dan wataknya yang gembira itu sudah
muncul kembali dengan cepat.
"Lin-ko, engkau sudah tahu bahwa aku seorang wanita.
Kukira tidak ada gunanya lagi aku menyamar sebagai pria
karena engkau sudah mengetahuinya. Mulai sekarang aku
akan mengenakan pakaian wanita biasa."
"Wah, aku akan kehilangan Eng-ji, sahabatku yang lucu
dan ramah itu!" Han Lin menggodanya.
Tiba-tiba Sian Eng berhenti melangkah sehingga Han Lin
terpaksa berhenti juga dan memandang wajah Sian Eng yang
kelihatan gelisah.
"Eh, ada apa, Eng-moi?"
"Lin-ko, setelah Eng-ji menjadi Sian Eng, engkau masih
akan suka memandangnya sebagai sahabat baik, bukan? Kita
masih menjadi sahabat yang saling membantu, iya kan?" Di
dalam suaranya terkandung permintaan dan harapan yang
mendesak.
Han Lin merasa tidak tega untuk menyangkal. Pula,
bukankah memang dia amat suka kepada Eng-ji? Setelah EngTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
ji ternyata adalah seorang gadis bernama Sian Eng, hal itu
tidak perlu menghilangkan rasa sukanya.
"Tentu saja, Eng-moi. Kita adalah sahabat-sahabat yang
baik!" katanya sungguh-sungguh.
Wajah yang tadinya membayangkan kegelisahan itu
menjadi cerah kembali. Senyumnya menghias wajah itu manis
sekali dan mata itu amat indah, seperti sepasang bintang
kejora. Han Lin kagum dan baru sekarang setelah dia tahu
bahwa Eng-ji adalah seorang gadis, dia melihat betapa
"cantik" wajah pemuda remaja itu, terlalu cantik. Mengapa dia
begitu bodoh sehingga tidak pernah menduga bahwa Eng-ji
sebenarnya seorang gadis yang amat cantik?
Mereka kini tiba di tanah kuburan dan kembali mendung
menyelimuti wajah Sian Eng yang tadinya berseri. Dengan
khidmat ia mengatur peralatan sembahyang, membakar hioswa
(dupa biting) dan bersembahyang. Han Lin tanpa diminta
juga ikut bersembahyang. Setelah bersembahyang dengan
hio, Sian Eng lalu berlutut di depan makam kedua orang
tuanya dan berkata dengan suara terharu.
"Ayah, ibu, di sini anakmu Lo Sian Eng bersumpah untuk
membalaskan sakit hati ayah dan ibu. Tenanglah ayah dan
ibu, aku akan mencari jahanam Suma Kiang dan tidak akan
berhenti sebelum dapat menemukan dan membunuhnya!"
Suaranya lirih akan tetapi mengandung ancaman yang terasa
oleh Han Lin. Sua ra itu demikian dingin dan mengandung
ancaman maut!
Sian Eng menancapkan batu nisan dan dibantu oleh Han
Lin, ia menuliskan nama ayah dan ibunya di batu nisan
masing-masing. Kemudian ia duduk termenung di tempat
kuburan yang teduh oleh pohon-pohon yang ditanam orang
dan tumbuh subur di situ.
"Eng-moi, sekarang apa yang hendak kau lakukan? Setelah
meninggalkan tempat ini, engkau akan pergi ke manakah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanya Han Lin memecahkan kesunyian yang menyelubungi
mereka berdua.
"Aku akan melaksanakan tugasku!" kata Sian Eng dengan
pasti.
"Apakah tugasmu itu kalau boleh aku mengetahui?"
"Ada dua tugas yang harus kulaksana-kan dalam hidupku.
Pertama mencari dan membunuh Suma Kiang karena dia yang
menyebabkan kematian ayah ibuku."
"Akan tetapi bukankah menurut pengakuanmu sendiri,
Suma Kiang telah memelihara dan membesarkanmu,
mendidikmu dengan kasih sayang?" tanya Han Lin untuk
meredakan dendam yang dia tahu amat mendalam itu.
"Hemm, tidak ada budi, betapa besarpun, yang sanggup
menghapus dosa yang telah dia lakukan terhadap orang tuaku
terutama terhadap ibu kandungku. Aku harus membunuh
manusia berwatak iblis itu!"
"Dan tugas yang kedua?"
"Tugasku yang kedua adalah mencari dan membunuh
Thian-te Sam-ok karena mereka bertiga telah membunuh
guruku Hwa Hwa Cinjin." kata Sian Eng dengan suara tegas.
Han Lin terkejut. Melihat tingkat kepandaian gadis itu,
untuk membunuh Suma Kiang, mungkin saja ia dapat
melakukannya. Akan tetapi melawan Thian-te Sam-ok yang
demikian lihai?
"Eng-moi, bagaimana engkau akan mampu membunuh
Thian-te Sam-ok? Mereka itu lihai sekali! Engkau akan
terancam bahaya besar jika menghadapi mereka bertiga!"
"Aku tidak takut, Lin-ko! Untuk melaksanakan tugasku, aku
mempertaruhkan nyawaku. Aku tidak akan menyesal kalau
sampai aku tewas dalam melaksanakan tugas ini. Pula, aku
yakin bahwa tidak sia-sialah aku mempunyai seorang sahbat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik seperti engkau, Lin-ko. Aku yakin bahwa engkau tentu
akan suka membantuku menghadapi para musuh besarku itu.
Bukankah Suma Kiang itu merupakan musuh besar kita
bersama?" Ia berhenti sebentar, mengamati wajah Han Lin
peluh selidik. "Dan bukankah Thian-te Sam Ok juga
memusuhimu, bahkan hampir saja membunuh kita? Aku yakin
engkau akan suka membantuku dan melawan mereka."
"Tentu! Tentu saja aku suka sekali membantumu, Eng-moi.
Akan tetapi, aku sendiri mempunyai beberapa tugas yang
amat penting."
"Tugas apakah itu, Lin-ko?"
Han Lin meragu sejenak, lalu menjawab, "Aku harus
mencari seseorang yang telah mencuri sebuah benda pusaka
peninggalan ibu kandungku." Dia berhenti sampai di situ, tidak
ingin membuka rahasia pribadinya.
"Siapakah yang telah mencuri benda pusaka itu, Lin-ko?
Aku teringat akan pesan ibumu bahwa engkau harus mencari
ayah kandungmu pula."
Han Lin hanya mengangguk, menghela napas dan berkata
lirih, nadanya minta maaf. "Maafkan aku, Eng-moi. Aku tidak
dapat menceritakan hal itu kepadamu, untuk sekarang ini."
Sian Eng mengerutkan alisnya dan menatap Han Lin
dengan penuh selidik, akan tetapi ia lalu menghela napas dan
berkata, "Baiklah kalau engkau ingin merahasiakan hal itu,
Lin-ko. Akan tetapi setidaknya aku boleh mengetahui, bukan!
ke mana engkau hendak mencari pencuri benda pusakamu
itu?"
"Aku hendak mencarinya ke kota raja." jawab Han Lin terus
terang.
Wajah Sian Eng berseri ketika ia memandang kepada
pemuda itu. "Ke kota raja? Ah, kalau begitu tujuan kita sama,
Lin-ko! Aku tidak tahu ke mana harus mencari Thian-te SamTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
ok yang tidak tentu tempat tinggalnya itu. Akan tetap aku
tahu atau dapat menduga bahwa Suma Kiang mungkin sekali
berada di kota raja pula. Dahulu, ketika dia meninggalkan aku
di Puncak Ekor Naga di Cin-ling san, dia mengatakan bahwa
dia hendak pergi ke kota raja. Karena itu, sekarang aku
hendak pergi mencarinya ke kota raja. Kita dapat melakukan
perjalanan bersama, bukan? Kuharap engkau tidak
menolaknya, Lin-ko. Aku..... aku tidak dapat membayangkan
berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini. Aku akan
merasa kesepian dan kehilangan segala-galanya."
Han Lin merasa terharu. Dia dapat membayangkan
perasaan duka yang sangat menghimpit hati gadis itu. Baru
saja gadis itu menemukan siapa sebenarnya ayah dan ibu
kandungnya, akan tetapi hanya menemukan mereka dalam
nama saja karena mereka telah menjadi segunduk tanah
berjajar dua. Ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Orang yang
tadinya dianggap ayahnya dan masih hidup, ternyata
merupakan orang yang telah mengakibatkan kematian ayah
dan ibu kandungnya, ternyata merupakan musuh besarnya.
Satu-satunya orang yang kini dianggap dekat adalah Han Lin,
yang dianggap sebagai seorang sahabat baik. Dan dia dapat
merasakan bahwa gadis itu mencintanya.
Tentu saja gadis itu akan merasa hancur hatinya dan
berduka sekali kalau dalam saat seperti itu dia
meninggalkannya. Tidak mungkin dia dapat menolak
permintaan Sian Eng untuk melakukan perjalanan bersama ke
kota raja. Tidak ada alasannya yang tepat. Apalagi kalau dia
teringat bahwa gadis itu mempunyai musuh besar lain yang
amat berbahaya, yaitu Thian-te Sam-ok.
Melihat watak Sian Eng dia tahu bahwa kalau gadis itu
bertemu dengan mereka, tentu Sian Eng akan berlaku nekat
dan menyerang mereka. Akibatnya tentu akan mencelakakan
bagi gadis itu. Thian-te Sam-ok terlalu tangguh bagi Sian Eng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, Eng-moi. Kita melakukan, perjalanan bersama ke
kota raja. Akan tetapi sebelumnya aku lebih dulu hendak
memberitahu kepadamu bahwa setelah kita tiba di kota raja,
terpaksa kita harus berpisah karena aku harus melaksanakan
tugasku seorang diri saja."
Sian Eng menjadi girang sekali. Sepasang matanya bersinar
dan wajahnya berseri. Saking girangnya, ia lupa diri bahwa ia
bukan lagi pemuda remaja Eng-ji. Ia memegang kedua tangan
Han Lin ambil berkata penuh senyum, "Aku tahu, engkau
tentu tidak akan keberatan, Lin-ko. Aku tahu engkau seorang
yang baik bati sekali, berbudi luhur dan bijaksana. Aku sangat
berterima kasih kepadamu, Lin-ko!"
Biarpun gadis itu masih berpakaian pria namun karena dia
sudah tahu bahwa ia adalah seorang gadis, kini dipegang
kedua tangannya dengan jari-jari tangan yang memegang
kuat-kuat, Han Lin merasa rikuh sekali dan mukanya berubah
kemerahan. Dengan lembut dia menarik lepas tangannya dan
untuk mengalihkan perhatian dan percakapan diapun berkata
ambil tersenyum. "Eng-moi, engkau lupa bahwa sekarang
engkau tidak perlu menyamar lagi, kenapa engkau tidak
berganti pakaian?"
"Ah ya, aku sampai lupa, Lin-ko! Akan tetapi......" Ia
memandang ke sekeliling mencari tempat untuk berganti
pakaian.
"Di sana ada pohon-pohon besar, engkau dapat berganti
pakaian di belakang pohon. Biar aku yang berjaga di sini agar
tidak ada orang lewat dan melihatmu" kata Han Lin yang
mengerti bahwa gadis itu kebingungan mencari tempat
sembunyi untuk bertukar pakaian.
Sian Eng lalu pergi ke pohon besar itu dan kebetulan di situ
terdapat semak semak yang agak tebal. Di belakang semak
semak itulah ia berganti pakaian, yakin bahwa Han Lin tidak
akan menoleh atau memandang ke arahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin berdiri membelakangi tempat itu. Tanpa dapat
dicegahnya, benaknya membayangkan Sian Eng bertukar
pakaian menanggalkan pakaian pria yang membungkus
tubuhnya. Mukanya terasa panas dan ada bisikan-bisikan di
belakangnya,
"Kalau engkau menoleh dan memandang, apa salahnya?
Alangkah bagusnya penglihatan itu....."
"Hushh! Tidak sopan kau!" hati Hari Lin membantah dan
menegur.
"Aihh, siapa bilang tidak sopan? Bukankah gadis itu pernah
melihat engkau telanjang ketika mencuri pakaianmu selama
engkau mandi? Kini tiba giliranmu melihat ia bertelanjang!"
"Setan.....!" Han Lin memaki.
"Tidak orang melihatnya, apa sih salahnya? Ia tidak akan
rugi. Tengoklah! pandanglah!"
"Keparat!" Han Lin menampar kepalanya sendiri. Rasa nyeri
mengusir bisikan-bisikan itu dan diapun duduk termenung,
mengatur perasaannya dan menentramkan hatinya yang
sempat terguncang oleh bisikan-bisikan pembujuk tadi.
"Lin-ko.....!" Tiba-tiba Han Lin terkejut ketika mendengar
suara Sian Eng memanggilnya dari arah belakang. Akan tetapi
dia menahan diri untuk tidak segera menoleh.
"Eng-moi, engkau sudah selesai berpakaian?" Dia bertanya.
"Tentu saja sudah, kalau belum, masa aku datang
menghampirimu?" jawab Sian Eng.
Han Lin memutar tubuhnya dan matanya terbelalak! Dia
berhadapan dengan seorang gadis yang bertubuh ramping
padat, wajahnya cantik dan manis sekali. walaupun ia hanya
mengenakan pakaian wanita dusun yang sederhana.
Rambutnya terurai, diikat tengahnya dengan pita merah dan
ada setangkai bunga menghiasi rambutnya. Wajahnya segar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berseri dan senyumnya sungguh menawan. Ternyata Sian Eng
jauh lebih cantik daripada yang dia bayangkan! Seperti
setangkai bunga yang amat indah.
"Lin-ko, engkau kenapa?" tanya Sian Eng sambil tersenyum
menggoda, hatinya girang dan bangga sekali melihat Han Lin
menatapnya dengan sinar mata membayangkan kekaguman.
"Aku..... aku kenapa?" Han Lin bertanya gagap dan baru
menyadari bahwa dia tadi hanya berdiri bengong dan
terpesona.
Sian Eng tersenyum makin lebar dan bagi Han Lin, dunia
seakan ikut tersenyum.
"Lin-ko, kenapa engkau memandangku seperti itu?"
"Seperti apa?" tanya Han Lin yang kini sudah dapat
menguasai hatinya.
"Seperti..... seperti orang melihat setan!" Sian Eng tertawa.
Han Lin juga tertawa. Tawa mereka itu membuyarkan
semua pesona dan dia merasa biasa kembali, seperti kalau
berhadapan dengan Eng-ji karena tawa Sian Eng itu wajar dan
sama dengan tawa Eng-ji.
"Tidak, bukan seperti melihat setan melainkan seperti
melihat seorang bidadari turun dari kahyangan! Engkau canti
jelita seperti bidadari, Eng-moi."
Ucapan ini keluar dari lubuk hatinya, dengan tulus dan
tanpa maksud memuji untuk merayu.
Wajah Sian Eng berubah kemerahan dan ia menjadi
semakin tampak cantik. Matanya berbinar-binar. "Lin-ko,
sesungguhnyakah ucapanmu itu atau sekedar pujian kosong
belaka?"
Han Lin menjawab dengan sungguh sungguh. "Demi
Tuhan, aku bicara sesungguhnya, Eng-moi. Engkau memang
cantik luar biasa."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mana lebih cantik antara aku dan Pek I Yok Sian-li, Linko?"
Han Lin terkejut bukan main mendengar pertanyaan ini,
seperti dipagut ular Dia tersentak dan memandang kepada
Sian Eng, sampai lama tidak dapat menjawab. Pada saat yang
amat pendek itu, dalam benaknya muncul bayangan Pek I Yok
Sian-li (Dewa Obat Baju Putih Tan Kiok Hwa, cantik jelita
lemah lembut bijaksana!
Dan dalam waktu amat singkat itu pikirannya telah
membuat perbandingan. Ibarat burung, Kiok Hwa adalah
burung merak yang indah lembut penuh damai sedangkan
Sian Eng adalah seekor burung rajawali yang gagah perkasa,
liar dan ganas.
Ibarat kembang, Kiok Hwa adalah setangkai kembang
seruni yang berwarna lembut dan tenang sedangkan Sian Eng
adalah setangkai mawar yang berwarna merah menyala dan
penuh duri! Keduanya sama-sama cantik menarik, memiliki
daya tarik yang khas masing-masing.
"Jawablah, Lin-ko. Jawablah dengan jujur. Aku tahu bahwa
engkau adalah seorang laki-laki yang jujur dan tidak berhati
palsu."
"Apa? Apa yang harus kujawab?" Han Lin tergagap.
"Jawablah, menurut engkau, siapa yang lebih cantik antara
aku dan enci Tan Kiok Hwa?"
Han Lin sudah dapat menenangkan hatinya yang
terguncang dan bingung oleh pertanyaan itu. Dia menjawab
sambil tersenyum.
"Kedua-duanya cantik jelita, tidak ada yang lebih tidak ada
yang kurang."
"Lin-ko, engkau..... mencintai enci Kiok Hwa, bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin tidak tahan menentang pedang mata yang
demikian tajam dan bersinar penuh selidik. Dia menjadi
bingung. Dia tahu bahwa gadis ini mencintanya maka akan
tidak enaklah kalau dia mengatakan bahwa dia mencinta Kiok
Hwa seperti keadaan yang sesungguhnya.
Akan tetapi, tidak baik pula kalau dia berbohong
mengatakan tidak. Kini teringatlah dia ketika dulu Eng-ji
mengaku cinta kepada Kiok Hwa dan kini tahulah dia mengapa
Eng-ji mengaku demikian. Tentu ada maksud lain kecuali agar
dia tidak mencinta Kiok Hwa!
"Aku kagum dan suka kepadanya, Eng-moi." Akhirnya dia
berkata, mengambil jawaban yang berada di tengah-tengah.
"Dan kepadaku, Lin-ko? Apakah terdapat sedikit perasaan
suka di hatimu terhadap aku?" Mata yang bersinar seperti
bintang itu mengandung harapan dan permintaan.
Han Lin menjawab sejujurnya, seperti apa yang
dirasakannya. "Aku juga kagum dan suka sekali padamu, Engmoi."
"Lin-ko, sungguhpun engkau mencintai enci Kiok Hwa,
jangan..... jangan engkau lupakan aku dan membiarkan aku
merana seorang diri...." Suara gadis itu gemetar dan pandang
matanya sayu.
"Aku tidak akan melupakanmu, Eng-moi. Sudahlah, mari
kita berangkat. Hari telah hampir sore, apakah kita harus
melewatkan malam di tanah kuburan ini?"
Sian Eng lalu memberi hormat kepada makam ayah ibunya,
diturut oleh Han Lin dan keduanya melangkah meninggalkan
tanah kuburan itu. Sian Eng beberapa kali menoleh,
memandang ke arah batu nisan yang sudah terukir nama ayah
ibunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena tidak ingin menarik perhatian semua orang di dusun
Cia-lim-bun, mereka meninggalkan dusun itu dan menuruni
lereng pertama di mana dusun itu berada.
Setelah tiba di kaki pegunungan Tai hang-san mereka
mendapatkan sebuah dusun lain. Senja telah datang mereka
mendapatkan sebuah rumah penginapan sederhana di dusun
itu. Rumah penginapan ini biasanya disewa oleh para pemburu
dari kota yang suka berburu di hutan hutan pegunungan Taihang-
san. Sebuah rumah penginapan kecil yang sederhana
namun lumayan karena mereka bisa mendapatkan dua buah
kamar yang mereka sewa.
Malam itu mereka dapat memesan masakan dan nasi
kepada pemilik rumah penginapan. Seekor ayam disembelih
dan dimasak menjadi beberapa macam masakan untuk
mereka.
Ketika mereka sedang makan di dalam ruangan belakang,
Sian Eng teringat dan berkata kepada Han Lin. "Ah, Lin ko.
Aku sampai terlupa karena kedukaan yang melandaku siang
tadi. Kenapa aku begitu bodoh? Aku sama sekali tidak ingat
untuk menyelidiki apakah ayah dan ibuku mempunyai keluarga
di dusun Cia-lim-bun."
Han Lin juga tertegun. "Ah, kenapa aku juga lupa untuk
mengingatkanmu, Eng-moi? Jangan khawatir, besok pagi-pagi
aku akan kembali ke Cia-lim-bun dan akan menanyakan
keterangan kepada lurah dusun itu. Engkau menunggu saja di
sini."
"Baik, Lin-ko. Akupun tidak ingin menjadi pusat perhatian
orang yang tentu akan mengetahui bahwa aku adalah bocah
yang dibawa pergi oleh pembunuh ibuku. Nanti kalau ternyata
ada keluarga orang tuaku di dusun itu, baru aku akan
menemui mereka di sana."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Lin
meninggalkan rumah penginapan itu seorang diri dan dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berlari cepat menuju ke dusun Cia-lim-bun. Sebentar saja dia
sudah tiba di dusun itu dan langsung saja dia menuju ke
rumah kepala dusun.
Kebetulan sekali kepala dusun sedang hendak keluar
melakukan pemeriksaan terhadap para pekerja di sawahnya
dan pamannya yang tua menemaninya.
"Hei, orang muda. Engkau sepagi ini sudah datang ke sini?
Ada keperluan apakah yang membawamu pagi-pagi datang
berkunjung?" tanya kepala dusun yang ramah itu.
"Harap suka memaafkan saya, chung cu (lurah) karena
sepagi ini saya sudah berani datang mengganggu. Saya hanya
mohon sedikit keterangan mengenai mendiang Lo Kiat dan
isterinya, mendiang Teng Siu Lin. Yaitu, apakah mereka
menpunyai sanak keluarga di dusun ini, atau di tempat lain?
Saya ingin sekali mengetahui siapa dan di mana adanya
keluarga mereka itu?"
Jilid XX
"MENGENAI hal itu, pamanku ini tentu mengetahui karena
selain dia lama sekali menjadi penduduk Cia-lim-bun, juga
kebetulan sekali dia dahulu tetangga dan mengenal baik Lo
Kiat dan isterinya itu. Nah, paman, ceritakanlah apa yang
paman ketahui tentang mereka berdua kepada orang muda
ini." kata kepala dusun.
Kakek itu kelihatan senang untuk bercerita karena hal ini
membuktikan bahwa dia lebih tahu daripada orang lain. "Teng
Sui Lin itu sudah yatim piatu. Ayah ibunya meninggal dunia
tidak lama setelah ia menikah, terserang wabah penyakit
menular yang melanda dusun ini. tidak memiliki saudara atau
sanak keluarga lain. Sedangkan suaminya, Lo Kiat, adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang sasterawan yang gagal ujian. Menurut cerita mereka
ketika kami sempat mengobrol, Lo Kiat mempunyai seorang
kakak sebagai saudara tunggal. Menurut cerita Lo Kiat,
kakaknya itu bernama Lo Kang dan berbeda dengan Lo Kiat
yang sejak kecil menekuni sastra, Lo Kang itu sejak kecil
memperlajari ilmu silat sehingga menjadi seorang guru silat
yang kenamaan di kota raja, bahkan menurut cerita mendiang
Lo Kiat, perguruan silat yang di pimpin Lo Kang itu bernama
Hek-tiauw Bu-koan (Perguruan Silat Rajawali Hitam) yang
amat terkenal di kota raja. Hanya itulah yang kuketahui."
Akan tetapi itu sudah cukup bagi Han Lin. Dia merasa
girang sekali mendengar bahwa Sian Eng memiliki seorang
paman tua di kota raja! Selain hal ini tentu akan
menggembirakan hati Sian Eng, juga setelah tiba di kota raja
dia dapat berpisah dari gadis itu yang tentu tidak akan
kesepian lagi karena sudah bertemu dengan keluarga
ayahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Han Lin lalu
meninggalkan dusun Cia-lim-bun dan menuruni lereng,
kembali ke dusun di kaki pegunungan di mana Sian Eng masih
menanti di rumah penginapan.
Sian Eng menyambut kedatangan Han Lin yang berseri
wajahnya itu dengan pertanyaan penuh harap, "Bagaimana,
Lin-ko? Berita apa yang kau dapatkan di sana?"
"Berita baik yang amat menggembirakan, Eng-moi. Ayah
ibumu memang tidak mempunyai sanak keluarga di dusun
Ciang-lim-bun, bahkan ibumu tidak diketahui memiliki sanak
keluarga sama sekali karena kakek dan nenekmu telah
meninggal dunia karena wabah penyakit menular di dusun itu.
Akan tetapi ayah kandungmu mempunyai seorang kakak
bernama Lo Kang yang kini memimpin sebuah perguruan silat
terkenal bernama Hek-tiauw Bu-koan di kota raja."
"Ah, aku masih mempunyai seorang Toa-pek (uwa)
bernama Lo Kang? Sungguh menyenangkan sekali!" seru Sian
Eng gembira.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang lebih menggembirakan lagi, dia tinggal di kota raja,
Eng-moi. Padahal, kitapun sedang pergi ke sana, jadi
kebetulan sekali, engkau dapat mencari dan menjumpainya di
sana. Kiraku untuk mencari sebuah bu-koan (perguruan silat)
yang terkenal tidaklah sukar."
"Oooh, aku gembira sekali, Lin-ko. Bertemu dengan satusatunya
keluarga ayah kandungku! Dan dia seorang guru silat
terkenal? Akan tetapi kenapa ayah kandungku bahkan menjadi
sasterawan?"
"Entahlah, menurut cerita paman dari kepala dusun,
memang sejak kecil ayah kandungmu tekun mempelajari
sastra sedangkan kakaknya itu tekun mempelajari ilmu silat
sehingga menjadi seorang pemimpin perguruan silat yang
terkenal di kota raja."
Pada pagi hari itu juga Han Lin dan Sian Eng melanjutkan
perjalanan mereka ke kota raja. Mereka melakukan perjalanan
cepat sekali dan baru berhenti kalau terhalang datangnya
malam.
ooo00d0w00ooo
Hek-Tiauw Bu-koan (Perguruan Silat Rajawali Hitam)
merupakan perguruan silat terbesar di kota raja. Banyak orang
muda, bahkan putera para hartawan dan bangsawan yang
ingin belajar silat, menjadi murid di situ walaupun bayarnya
cukup mahal. Akan tetapi di antara para muridnya yang lebih
seratus orang banyaknya, hanya sedikit yang jadi atau yang
dapat mengusai ilmu silat dari Hek-tiauw Bu-koan dengan
baik. Kebanyakan dari mereka tidak tahan dan tidak sabar
untuk mempelajari dasar-dasar ilmu silat yang sukar dan
membutuhkan keuletan. Baru mempelajari pasangan kudakuda
saja seorang muridnya harus tekun belajar setiap hari
selama berbulan-bulan, bahkan bagi yang tidak memiliki bakat
besar, sampai belajar setahun lamanya belum juga mampu
memasang kuda-kuda yang cukup kokoh. Karena itu,
kebanyakan dari mereka hanya menguasai kembanganTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kembangannya saja dan putus di tengah jalan karena tidak
tahan uji.
Yang memimpin Hek-tiauw Bu-koan adalah seorang
pendekar bernama Lo Kang, seorang laki-laki bertubuh tinggi
besar dan tegap berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Wajahnya gagah, dengan kumis dan jenggot lebat seperti
tokoh Kwan Kong dalam cerita Sam Kok. Dia terkenal memiliki
ilmu silat yang banyak ragamnya, akan tetapi yang paling
terkenal adalah ilmu silatnya yang disebut Hek-tiauw Sin-kun
(Silat Sakti Rajawali Hitam).
Ilmu silat ini merupakan ilmu yang paling dalam dari
perguruan itu dan yang dapat mencapai tingkat sehingga
menguasai ilmu silat Rajawali Hitam ini hanya beberapa orang
murid saja. Mereka inipun belum menguasai secara sempurna
karena untuk menguasai sepenuhnya, orang harus memiliki
sinkang (tenaga sakti) yang cukup.
Lo Kang dibantu oleh dua orang anak nya. Anak pertama
adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang
bertubuh tinggi besar gagah seperti ayahnya, berwajah
tampan dan bermata lebar. Adapun anak kedua adalah
seorang gadis yang berusia dua puluh tahun, wajahnya bulat
dan cantik, pandang matanya keras seperti pandang mata
kakaknya.
Dua orang kakak beradik ini sejak kecil digembleng oleh
ayah mereka dan keduanya merupakan murid-murid yang
paling tinggi tingkat kepandaiannya di antara para murid
lainnya. Karena itu mereka membantu ayah mereka untuk
mendidik murid-murid yang sudah agak tinggi tingkatnya.
Adapun murid-murid tingkat permulaan diajar oleh lima orang
murid kepala.
Putera Lo Kang itu bernama Lo Cin Bu dan pemuda tinggi
besar, tampan dan gagah ini terkenal berhati keras dan
wataknya agak angkuh. Hal ini karena dia tahu bahwa
ayahnya merupakan guru silat yang paling terkenal di kota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
raja dan dia merasa bahwa keluarganya memiliki ilmu silat
yang tidak akan dapat dikalahkan oleh orang lain! Adiknya,
gadis itu bernama Lo Siang Kui dan gadis yang cantik manis
inipun memiliki watak yang mirip kakaknya, agak angkuh dan
merasa diri sendiri paling hebat.
Pembentukan watak seperti ini tidak terlalu mengherankan
karena ayah mereka, Lo Kang juga berwatak tinggi hati dan
menganggap diri sendiri paling jagoan. Dan ini bukan sekedar
kesombongan! kosong belaka karena sudah seringkali
keluarga Lo ini mengalahkan jagoan-jagoan yang sengaja
datang untuk mencoba dan menguji kepandaian mereka.
Watak keluarga Lo ini menjadi lebih congkak lagi setelah
mereka menerima pinangan Cheng Kun yang biasa disebul
Cheng-kongcu (tuan muda Cheng) karena dia adalah seorang
pemuda bangsawan,' seorang di antara putera - putera
Pangeran Cheng Boan yang menjadi adik kaisar! Pinangan itu
diterima dan setelah Lo Siang Kui ini menjadi tunangan Cheng'
kongcu, watak keluarga Lo menjadi semakin tinggi hati.
Lo Kang merasa dirinya terangkat karena akan menjadi
besan Pangeran Cheng Boan.
Hek-tiauw Bu-koan memiliki bangunan yang besar,
dikelilingi pagar tembok yang setinggi dua meter. Gedung itu
amal luas, memiliki taman bunga dan kebun belakang dan di
belakang terdapat bangunan yang dijadikan lian-bu-thia
(ruangan bermain silat) yang luas sekali.
Letak pusat Hek-tiauw Bu-koan ini di pinggir kota raja,
dekat pintu gapura sebelah selatan, di tepi jalan besar
sehingga semua yang memasuki kota raja lewat pintu gerbang
selatan yang merupakan pintu paling ramai, tentu akan
melihat papan nama besar yang tergantung di depan gedung
itu.
Pada hari itu, pintu gerbang halaman rumah dan gedung
itu sendiri tampak terhias meriah. Papan nama yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertuliskan Hek-tiauw Bu-koan di depan pintu gerbang juga
dicat baru dan mengkilap. Beberapa orang murid perguruan
itu dengan pakaian serba baru berjaga di pintu gerbang dan
sejak pagi berdatanganlah tamu-tamu yang disambut para
murid, diantar masuk dan di ruangan depan para tamu itu
disambut oleh Lo Kang yang ditemani dua orang anaknya, Lo
Cin Bu dan Lo Siang Kui.
Cin Bu tampak gagah dan tampan dalam pakaiannya yang
baru, demikian pula Siang Kui tampak cantik dan gagah. Ayah
dan dua orang anaknya itu memang kelihatan gagah dan
berwibawa. Di punggung mereka tergantung sebatang pedang
dengan ronce kuning, menunjukkan bahwa mereka adalah ahli
ahli bermain pedang.
Ketika pagi hari itu Han Lin dan Sian Eng tiba di depan
pintu gerbang perguruan Rajawali Hitam yang terhias meriah
itu, mereka berdua merasa heran. Melihat ada tujuh orang
muda, agaknya murid-murid perguruan itu, berdiri di depan
pintu gerbang menyambut para tamu,, setelah tidak tampak
tamu datang, Han Lin dan Sian Eng lalu maju menghampiri
pintu gerbang itu.
Para murid itu mengira bahwa mereka berdua juga tamu,
maka mereka menyambut dengan hormat. Han Lin dan Sian
Eng cepat membalas penghormatan mereka. Para murid itu
dalam menyambut para tamu, selalu menanyakan nama para
tamu untuk dilaporkan ke dalam ketika mereka mengantar
tamu itu ke dalam. Akan tetapi sebelum mereka bertanya
kepada Han Lin dan Sian Eng, Han Lin mendahului mereka
bertanya, "Saudara-saudara, perguruan Hek-tiauw Bu-koan ini
sedang merayakan apakah maka di sini dihias begini meriah?"
Mendengar pertanyaan ini, para murid perguruan silat itu
terbelalak dan saling pandang. Mengertilah mereka bahwa
pemuda dan gadis ini sama sekali bukan tamu untuk
menghadiri perayaan, buktinya mereka tidak tahu apa yang
sedang dirayakan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jadi ji-wi (kalian berdua) belum tahu? Perayaan ini adalah
merayakan hari ulang tahun ketua kami yang ke lima puluh
tahun. Kalau begitu ji-wi bukan tamu undangan. Ada
keperluan apakah ji-wi datang ke sini?" kata seorang di antara
mereka, sikapnya berbalik tidak hormat lagi, melainkan curiga.
Pada saat itu, dari dalam muncul lima orang laki-laki yang
usianya antara tiga puluh lima tahun, bersikap gagah. Mereka
ini adalah lima orang murid kepala. Seorang di antara mereka
yang mukanya penuh brewok, melihat para murid mengepung
seorang pemuda dan seorang gadis, segera maju dan
membentak. "Ada apa ini?"
"Twa-suheng (kakak seperguruan tertua)," seorang di
antara para murid yang lebih muda itu berkata, "dua orang ini
bukan tamu-tamu undangan karena mereka tidak tahu untuk
apa perayaan ini diadakan."
Si brewok itu mengamati wajah Han Lin dan Sian Eng.
Melihat gadis yang cantik jelita itu, sikapnya melunak dan
pandang matanya tidak segalak tadi.
"Kalau kalian bukan tamu undangan, lalu untuk apa kalian
datang ke sini? Ada keperluan apakah datang berkunjung ke
Hek-tiauw Bu-koan?"
Kini Sian Eng menjawab dengan pertanyaan pula.
"Bukankah ketua Hek-tiauw Bu-koan ini seorang yang
bernama Lo Kang?"
"Benar, nona. Suhu memang bernama Lo Kang." jawab si
brewok.
"Kalau begitu, tolong antarkan kami untuk bertemu dengan
dia! Saya ingin menghadap Lo-kauwsu (guru silat Lo)!" kata
Sian Eng penuh gairah.
"Apakah kalian hendak belajar silat? Kalau untuk itu, tidak
perlu bertemu suhu, cukup mendaftarkan kepada kami saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi jangan hari ini karena hari ini kami sibuk.
Datanglah ke sini besok pagi."
"Kami bukan datang untuk belajar silat." kata Sian Eng.
"Aku datang untuk bertemu Lo-kauwsu. Dia adalah pamantuaku.
Aku ini keponakannya yang datang dari dusun Cia-limbun
di Tai-hang-san!"
Si brewok itu tampak tertegun dan heran. Dia belum
pernah mendengar bahwa gurunya mempunyai seorang
keponakan perempuan seperti ini, padahal dia sudah menjadi
murid guru silat Lo Kang selama sepuluh tahun. "Akan tetapi
suhu sedang sibuk sekali menerima para tamu, dan sedang
merayakan hari ulang tahunnya, tidak dapat diganggu."
"Coba laporkan kepadanya. AKu yakin dia akan senang
sekali menerima kedatanganku!" kata Sian Eng mendesak.
"Baiklah, akan saya laporkan. Siapa nama kalian?"
"Aku bernama Lo Sian Eng dan ini sahabatku bernama Han
Lin."
"Harap kalian tunggu sebentar di sini, akan saya laporkan
kepada suhu." kata si brewok yang lalu masuk ke dalam
dengan langkah lebar. Han Lin dan Sian Eng melangkah
mundur dan berdiri di pinggiran karena ada beberapa orang
tamu berdatangan dan disambut oleh para murid Hek-tiauw
Bu-koan. Akan tetapi mereka tidak menunggu lama. Si brewok
sudah datang dan dia langsung menghadapi Sian Eng dan
berkata dengan alis berkerut.
"Suhu telah saya lapori, akan tetapi beliau menyatakan
bahwa beliau tidak mempunyai seorang keponakan yang
bernama Lo Sian Eng. Mungkin nona salah alamat, kata suhu,
karena itu sebaiknya nona tidak mengganggu suhu yang
sedang sibuk."
Sian Eng mengerutkan alisnya. Han Lin tahu bahwa gadis
itu akan marah, maka dia cepat berkata kepada si brewok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tadi. "Saudara agaknya terjadi kekurang-pengertian di sini.
Memang adik Lo Sian Eng ini tidak pernah bertemu dengan
Lo-kauwsu (guru silat Lo). Akan tetapi kalau engkau
melaporkan bahwa adik Lo Sian Eng adalah puteri dari
sasterawan Lo Kiat, kami yakin dia akan mengenal dengan
baik. Kami mohon dengan hormat, sukalah saudara melapor
sekali lagi dengan mengatakan bahwa puteri sasterawan Lo
Kiat mohon bertemu."
Sian Eng maklum bahwa Han Lin tidak menghendaki ia
main kasar, maka iapun segera tersenyum manis kepada si
brewok itu dan berkata, "Tolonglah, saudara yang baik.
Tolong sekali ini saja lagi."
Si brewok meragu. Tadinya dia hendak menolak dan
mengusir mereka, akan tetapi melihat senyum manis dan
pandang mata gadis cantik jelita itu, hatinya luluh dan dia
mengerutkan alis sambil mengangguk. "Baiklah, akan tetapi
kalau suhu merasa terganggu dan marah, kalian sendiri yang
harus bertanggung jawab." Setelah berkata demikian, kembali
dia melangkah lebar memasuki pekarangan yang luas itu
menuju ke rumah yang sedang menerima para tamu.
Kembali Sian Eng dan Han Lin menunggu. Tiba-tiba Sian
Eng menarik tangan Han Lin dan mereka mundur menjauh,
bahkan lalu membalikkan tubuh agar jangan sampai muka
mereka tampak oleh dua orang yang baru datang sebagai
tamu. Mereka itu bukan lain adalah Ji Ok dan Sam Ok!
"Aku harus bunuh mereka!" kata Sian Eng lirih dengan
suara mengandung kemarahan. Ia teringat betapa gurunya,
Hwa Hwa Cinjin, tewas setelah bertanding melawan Thian-te
Sam-ok. Apalagi kalau ia teringat betapa ibu Han Lin juga
tewas oleh pisau yang disambitkan, oleh oleh Ji Ok, hatinya
menjadi panas, sekali.
"Sssstt.....tenanglah, Eng-moi. Engkau tidak ingin membikin
kacau perayaan pamanmu, bukan? Sekarang belum waktunya
untuk menentang mereka. Kita tunggu saatnya yang tepat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bisik Han Lin dan Sian Eng menjadi tenang kembali, teringat
bahwa kalau ia menyerang kedua orang itu, tentu akan terjadi
pertempuran dan hal ini tentu saja mengacaukar perayaan
yang diadakan oleh pamannya itu. Maka ia mendiamkan saja
sampai kedua orang musuh besar yang tidak menyadari
tentang keberadaan ia dan Han Lin diantar masuk oleh para
murid Hek-tiauw Bu-koan.
Tak lama kemudian si brewok datang lagi dan dari
wajahnya yang berseri dapat diduga bahwa dia membawa
berita baik. "Memang benar bahwa suhu mempunyai seorang
adik bernama Lo Kiat! Suhu memanggil kalian untuk masuk
dan menghadap."
"Terima kasih!" kata Han Lin dan dia bersama Sian Eng lalu
mengikuti si brewok memasuki pekarangan menuju ke rumah
gedung itu. Ruangan depan di mana perayaan itu diadakan,
amat luas dan ruangan itu telah penuh dengan tamu. Tidak
kurang dari seratus orang memenuhi ruangan itu. Agaknya
para tamu terbagi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri
dari tamu-tamu muda yang dipersilakan duduk di bagian
bawah, sedangkan kelompok ke dua terdiri dari para tamu
yang agaknya merupakan tokoh-tokoh besar, hanya ada
belasan orang saja dan mereka ini duduk di bagian atas,
sejajar dengan tempat duduk pihak tuan rumah.
Han Lin dan Sian Eng dibawa menghadap Lo Kiang dan dua
orang anaknya. Sian Eng memandang kepada laki-laki berusia
lima puluh tahun itu dengan penuh perhatian. Hatinya
berdebar dan ia merasa bangga. Inilah orang yang menjadi
kakak dari ayah kandungnya. Begitu gagah dan berwibawa
paman-tuanya itu!
Di lain pihak, Lo Kang dan dua orang anaknya yang tadi
diberitahu si brewok tentang seorang gadis yang mengaku
sebagai puteri Lo Kiat, kini memandang Sian Eng dengan
penuh selidik. Ketika Han Lin dan Sian Eng mengangkat kedua
tangan depan dada untuk memberi hormat, Lo Kang hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengangguk, dan dua orang anaknya juga hanya
mengangguk. Diam-diam Sian Eng merasa tidak enak hati.
Apakah mereka masih tidak percaya kepadanya maka bersikap
demikian angkuh?
"Pek-hu (Uwa), saya Lo Sian Eng menghaturkan hormat
saya kepada pek-hu." kata Sian Eng yang menghadapi Lo
Kang.
"Hemm, engkaukah puteri Lo Kiat? Bagaimana keadaan
ayahmu?" tanya Lo Kang sambil mengamati wajah gadis itu.
"Pek-hu, ayah dan ibu saya telah meninggal dunia karena
sakit."
Lo Kang mengerutkan alisnya yang tebal. "Hemm,
begitulah kalau mempunyai tubuh yang lemah. Sejak kecil aku
sudah menganjurkan kepadanya untuk berlatih silat, akan
tetapi dia memilih menjadi kutu buku yang lemah dan
berpenyakitan! Berbeda dengan aku yang setua ini masih
sehat kuat! Dan siapa pemuda ini?" tanya nya sambul
menunjuk kepada Han Lin.
"Nama saya Han Lin, locianpwe (orang tua yang gagah)."
jawab Han Lin.
"Dia adalah seorang sahabat yang menjadi teman
seperjalanan saya, pek-hu." kata Sian Eng memperkenalkan.
Sepasang alis Lo Kang mengerut semakin dalam dan
matanya memandang kepada Sian Eng penuh teguran.
"Seorang gadis melakukan perjalanan bersama seorang
pemuda? Sungguh tidak pantas!"
"Akan tetapi, pek-hu....." Sian Eng hendak membantah
akan tetapi Lo Kang sudah menggerakkan tangan dengan
tidak sabar. "Sudahlah, kita bicara nanti saja. Sekarang kami
sedang sibuk menerima tamu. Kalian berdua duduklah
bersama para tamu di sana."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia menuding kearah kelompok tamu yang duduk di bagian
bawah. "O ya," sambungnya cepat. "Lo Sian Eng, perkenalkan,
inilah anak-anakku, saudara-saudara sepupumu. Dia ini Lo Cin
Bu dan yang ini Lo Siang Kui,"
Dia menuding kepada dua orang anaknya itu yang tetap
saja bersikap angkuh terhadap Sian Eng. Mereka hanya
mengangguk ketika Sian Eng memberi hormat, akan tetapi Cin
Bu agak tersenyum memandang adik sepupunya yang cantik
itu. Kembali Lo Kang melambaikan tangan memberi isarat
kepada Sian Eng dan Han Lin untuk duduk di kelompok
bawah.
Sian Eng dan Han Lin segera turun dari undak-undakan dan
mencari tempat duduk di antara para tamu yang berada di
bawah. Sian Eng yang hatinya merasa tidak puas dengan
sikap uwanya dan saudara-saudara sepupu nya, tidak perduli
ketika banyak pasan mata para tamu memandangnya dengan
kagum. Ia dan Han Lin mendapatkan tempat duduk di bagian
belakang dan segera lenyap di antara para tamu.
Mereka melihat betapa Ji Ok dan Sam Ok mendapat tempat
duduk kehormatan, di kelompok yang duduk di bagian atas.
"Hemmm........ sombong amat......!"
Sian Eng mendesis setelah duduk di bagian paling belakang
bersama Han Lin karena di bagian depan kelompok bawah itu
sudah penuh tamu.
"Ssstt..... tenanglah, Eng-moi. Di sini kita malah tidak
tampak oleh Ji Ok dan Sam Ok, sebaliknya kita dapat
mengintai gerak-gerik mereka." kata Han Lin lirih.
Tiba-tiba terdengar seruan para murid yang berjaga di
depan. "Yang terhormat Kongcu Cheng Kun datang......!"
Mendengar ini, Lo Siang Kui berlari keluar, diikuti oleh Lo
Kang dan kakaknya, Lo Cin Bu. Agaknya keluarga ini begitu
bangga untuk menyambut calon suami Siang Kui, yaitu Cheng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kun atau Cheng Kongcu, putera Pangeran Cheng Boan!
Bahkan Nyonya Lo Kang yang tadinya duduk di kursi, bahkan
tidak ambil perduli ketika Siang Eng dan Han Lin muncul, kini
bangkit dari kursinya dari biarpun ia tidak keluar menyambut,
namun ia tetap berdiri sambil tersenyum, gembira dan
bangga. Setelah menyambut Cheng Kongcu di depan, Lo Kang
dani Cin Bu mengikuti pemuda itu yang berjalan
berdampingan dengan tunangannya, Siang Kui.
Sian Eng dan Han Lin memandangi penuh perhatian.
Pemuda itu memang gagah, pakaiannya mewah gemerlapan,
dari topi di kepalanya sampai sepatu di kakinya, semua serba
baru dan merupakan barang mewah dan mahal. Wajahnya
tidak dapat disebut tampan, akan tetapi karena pembawaan
dan pakaiannya, dia tampak gagah berwibawa.
Lo Kang membawa tamu muda itu ke bagian atas dan
setelah tiba di atas Lo Kang menghadap kepada para tamunya
dan berkata dengan suara lantang memperkenalkan tamunya
yang amat dihormatinya itu.
"Cu-wi (saudara sekalian), perkenalkanlah. Beliau ini adalah
Kongcu Cheng Kun, putera dari yang mulia Pangeran Cheng
Boan dan beliau ini adalah calon mantu kami!"
Mendengar ini, sebagian besar dari para tamu bangkit
berdiri dan memberi hormat ke arah putera pangeran itu,
yang dibalas oleh Cheng Kun dengan anggukan kepala yang
angkuh dan bangga. Akan tetapi Sian Eng dan Han Lin
termasuk diantara mereka yang tetap duduk. Mereka melihat
bahwa Ji Ok dan Sam Ok juga tetap duduk di tempatnya.
Cheng Kun lalu mendapatkan kursi di samping Lo Kang dan
Siang Kui, diapit di tengah-tengah. Agaknya kedatangan
putera pangeran ini merupakan pertanda bahwa pesta
dimulai, atau dibukanya pesta perayaan itu menunggu
kedatangannya. Seperti juga sebagian dari para tamu, Cheng
Kun membawa hadiah yang dibawakan dua orang
pembantunya yang datang belakangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hadiah yang dibawa dua orang pembantunya itu tidak
kepalang banyaknya. Kalau lain tamu hanya masing-masing
membawa sebuah bungkusan, dua orang pembantu itu
membawa tidak kurang dari sepuluh buah bungkusan besarbesar!
Semua hadiah berupa bungkusan itu ditumpuk di atas
sebuah meja besar yang telah disediakan di situ, dan hadiah
dari Cheng Kun itu diletakkan di atas meja bagian paling
depan sehingga kelihatan oleh semua orang.
Lo Kang bangkit berdiri dan melangkah ke tengah
panggung yang dipasang di tengah ruangan itu. Panggung ini
sengaja dibuat untuk tempat pertunjukan. Semua orang dunia
persilatan kalau mengadakan perayaan tentu membangun
panggung seperti itu, mempersiapkan tempat untuk
pertunjukkan karena biasanya tentu ada pertunjukan tarian
atau permainan silat. Lo Kang juga sudah mengundang
serombongan penyanyi dan penari yang terkenal di kota raja
dengan bayaran tinggi.
"Cu-wi (saudara sekalian) yang terhormat. Kami seluruh
keluarga mengucap kan selamat datang dan terima kasih atas
kehadiran cuwi, juga terima kasih atas semua sumbangan dan
hadiah yang diberikan kepada kami. Kami merayakan hari
ulang tahun saya yang ke lima puluh, juga sekalian merayakan
berdirinya Hek-tiauw Bu-koan yang sudah dua puluh lima
tahun. Untuk menyambut kedatangan cuwi, kami persilakan
cuwi untuk minum secawan arak!"
Setelah berkata demikian dengan suara lantang, Lo Kang
lalu mengambil secawan arak yang disodorkan oleh Siang Kui
dan mengajak para tamu minum. Para tamu menyambut
dengan minum arak dari cawan masing-masing.
Setelah sambutan yang singkat dari Lo Kang ini, mulailah
hidangan disuguhkan dan para tamu mulai makan minum
dengan gembira. Tak lama kemudian para penabuh musik dan
para penyanyi muncul dan perayaan itu menjadi semakin
meriah ketika para gadis penyanyi yang muda-muda dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cantik-cantik itu mulai menyanyi dengan iringan musik.
Kemudian merekapun mulai menari sehingga suasana semakin
meriah.
Sejak tadi Han Lin diam saja. Kadang kadang dia
memandang ke arah Ji Ok yang duduk di samping Sam Ok di
kelompok bagian atas sebagai tamu-tamu kehormatan.
Pertemuannya dengan Ji Ok tanpa disangka-sangka ini
membuatnya termenung. Dia teringat kepada ibunya yang
tewas oleh pisau yang disambitkan Ji Ok untuk
membunuhnya.
Ji Ok telah membunuh ibunya! Biarpun hal itu tidak
disengaja, tetap saja Ji Ok yang membunuh ibunya. Diapun
teringat ketika ibunya yang terluka parah dan dalam keadaan
sekarat itu melarangnya untuk membunuh Ji Ok karena ibunya
sudah berhutang nyawa kepada Ji Ok! Teringat akan semua
itu, hatinya menjadi sedih sekali. Bagaimanapun juga, Ji Ok
bukanlah manusia baik-baik, bahkan seorang tokoh sesat yang
jahat sekali.
Biarpun ibunya tampak mencinta dan taat kepada Ji Ok,
namun hal itu dilakukan karena ibunya terpengaruh sihir. Ji Ok
telah menyihir ibunya sehingga ibunya menjadi seperti sebuah
boneka hidup! Untuk semua kejahatannya itu Ji Ok pantas
dihajar, atau kalau perlu dibunuh! Hidupnya seseorang macam
Ji Ok hanya akan mengotorkan dunia dan mendatangkan
bencana bagi orang lain!
"Lin-ko....."
Mendengar bisikan Sian Eng itu barulah Han Lin tersadar
dari lamunannya dan dia menoleh. "Ada apakah, Eng-moi?"
"Engkau diam dan melamun saja, tidak menonton taritarian.
Ada apakah?"
"Ah, tidak apa-apa."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka tidak melanjutkan percakapan bisik-bisik itu karena
menjadi perhatian para tamu lain yang duduk dekat mereka.
Untuk memindahkan perhatian, Han Lin lalu mengajak Sian
Eng untuk minum araknya dan makan hidangan yang berada
di meja depan mereka.
Setelah para penari meramaikan pesta itu dengan tarian
dan nyanyian dan para tamu sudah makan secukupnya,
tampak Lo Siang Kui maju ke tengah panggung dan memberi
tanda dengan tangannya agar musik dan nyanyian dihentikan.
Suasana menjadi agak sunyi setelah musik dihentikan, hanya
terdengar suara para tamu yang bicara dengan gembira.
Ketika Siang Kui berdiri di tengah panggung dan mengangkat
tangan kanan memberi isarat agar para tamu tidak berisik,
semua orang terdiam dan suasana menjadi sepi.
Semua orang memandang kepada gadis yang berwajah
bulat seperti bulan dan cantik itu. Kedua pipi Siang Kui
kemerah-merahan, agaknya pengaruh arak yang membuatnya
menjadi berani tampil ke depan dan bicara di depan orang
banyak.
"Cuwi yang terhormat. Untuk meriahkan hari ulang tahun
ayah dan memperingati berdirinya Hek-tiauw Bu-koan, saya
akan menyuguhkan tarian ilmu silat pedang dari perguruan
kami." Setelah berkata demikian, tangan kanannya bergerak
ke punggung dan tampaklah sinar pedang berkilat ketika ia
mencabut pedangnya dari sarung pedang.
Tepuk tangan gemuruh menyambut ucapan gadis itu. Siang
Kui memandang ke arah Cheng Kun dan melihat pemuda
bangsawan inipun bertepuk tangan dengan gembira dan
bangga, Siang Kui tersenyum. Memang sesungguhnya gadis
ini hendak memamerkan ilmu pedangnya kepada sang
tunangan itu.
Dengan gerakan tangkas Siang Kui lalu memasang kudakuda.
Kaki kanannya ditekuk ke belakang dan ia berdiri
dengan kaki kiri saja, pedangnya disembunyikan di bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lengan kanan dan kedua lengannya dipentang ke kanan kiri.
Inilah pasangan kuda-kuda yang disebut Hek-tiauw-tiam-ci
(Rajawali Hitam Pentang Sayap). Memasang kuda-kuda seperti
itu sambil matanya tajam menatap ke depan dan mulutnya
tersenyum, Siang Kui tampak manis sekali.
"Hemm, melihat betapa kokohnya kuda-kuda itu, aku
percaya ia memiliki ilmu pedang yang cukup kuat." kata Sian
Eng.
Han Lin mengangguk. "Agaknya saudara sepupunya itu
bukan hanya sombong kosong belaka, melainkan benar-benar
lihai." kata Han Lin.
"Haiiittt.....!" Siang Kui mengeluarkan bentakan nyaring dan
mulailah ia bersilat. Pedangnya menyambar-nyambar dengan
ganas, mengeluarkan desing saking kuatnya, makin lama
semakin cepat gerakannya sehingga lenyap bentuk pedangnya
berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan
mengeluarkan suara mendengung-dengung.
"Bagus!" bisik Sian Eng kagum.
Han Lin mengangguk-angguk. "Benar, ilmu silat perguruan
Hek-tiauw Bu-koan memang hebat."
Semua tamu juga kagum menonton gadis cantik itu
bermain silat pedang. Kini bahkan tubuhnya hanya tampak
bayangannya saja dan hanya kadang-kadan tampak kakinya
menginjak lantai karena gulungan sinar pedangnya demikian
panjang dan lebar sehingga membungkus tubuhnya dan suara
gerakan pedang itu berdesingan seperti kilat menyambarnyambar.
Yang paling gembira dan bangga tentu saja Cheng
Kun, pemuda bangsawan itu. Saking bangganya, diapun
bertepuk tangan dan begitu terdengar tepuk tangan itu,
sebagian besar tamu juga ikut-ikutan bertepuk tangan
memuji.
Siang Kui menghentikan permainan pedangnya dan ia
berdiri dengan senyum menghias wajahnya. Tidak tampak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
napasnya memburu, hanya ada sedikit keringat membasahi
anak rambut yang terjuntai di atas dahinya, membuatnya
tampak manis sekali. Begitu ia berhenti bersilat, tepuk tangan
gemuruh menyambutnya dan banyak di antara para tamu
bahkan bangkit berdiri dan bertepuk tangan untuk
menyambutnya.
Juga para tamu di kelompok atas, para tamu kehormatan
ada yang bertepuk tangan. Akan tetapi, sepasang mata tajam
dari Siang Kui melihat betapa dua orang diantara tamu
kehormatan itu tidak bertepuk tangan.
Mereka adalah Ji Ok dan Sam Ok yang tidak bertepuk
tangan, bahkan tersenyum mengejek. Dan ada pula beberapa
orang yang duduk di deretan terdepan dari tamu kelompok
bawah tidak menyambut dengan tepuk tangan.
Hal ini memanaskan hati Siang Kui. Gadis itu merasa
dirinya paling hebat dan merasa bahwa ilmu pedangnya sudah
tinggi sekali. Sudah terbiasa ia oleh pujian, maka sekali ini
melihat ada orang-orang yang tidak turut memuji, tentu saja
ia merasa tidak senang hatinya.
Setelah tepuk tangan mereda dan berhenti, gadis itu lalu
memandang ke arah mereka yang tidak bertepuk tangan dan
berkata dengan lantang. "Terima kasih atas pujian cuwi. Akan
tetapi saya melihat ada beberapa orang yang tidak bertepuk
tangan memuji bahkan menertawakan saya. Tentu mereka ini
menganggapi rendah ilmu silat dari Hek-tiauw Bu-koan dan
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Karena itu, bagi mereka yang
memandang rendah dan merasa memiliki ilmul silat tinggi,
saya persilakan untuk maju dan mari kita main-main sebentar
untuk menguji ilmu siapa yang lebih unggul!"
Dasar keluarga Lo itu memiliki keangkuhan tinggi, terlalu
memandang tinggi ilmu kepandaian sendiri, maka mendengar
kata-kata dan melihat sikap Siang Kui, Lo Kang sama sekali
tidak menegur atau menyalahkannya. Bahkan dia
mengangguk-angguk tanda setuju. Demikian pula Lo Cin Bu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda ini menganggap adiknya benar dan mempertahankan
namai besar Hek-tiauw Bu-koan.
Suasana sunyi menyambut ucapan Siang Kui tadi. Biarpun
gadis itu tidak memperlihatkan kemarahan, namun isi ucapan
itu jelas menunjukkan bahwa ia tersinggung oleh mereka yang
tidak menyambutnya dengan tepuk tangan, bahkan secara
terang-terangan gadis itu menantang mereka. Hati para tamu
mulai terasa tegang karena biasanya, orang-orang dunia
persilatan pantang kalau ditantang, walaupun ditantang secara
halus.
Tidak akan terasa aneh kalau ada yang menyambut
tantangan itu dan kalau terjadi demikian, perayaan itu
berjalan seperti yang mereka harapkan, yaitu terjadinya
pertandingan adu ilmu silat.
"Hemm, ia mencari perkara." bisik Sian Eng. "Ia
mengeluarkan tantangan, padahal tadi aku melihat Ji Ok dan
Sam Ok tidak ikut bertepuk tangan memuji. Kalau kedua
orang itu maju, tentu ia akan celaka."
"Kita lihat saja perkembangannya. Bagaimanapun juga, ia
adalah saudara sepupumu dan yang merayakan pesta ini
adalah keluargamu, maka engkau harus membantu mereka."
bisik Han Lin.
Apa yang diduga Sian Eng segera menjadi kenyataan.
Bukan Ji Ok atau Sam Ok yang menyambut tantangan itu,
melainkan seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun
yang bangkit dari tempat duduknya di kelompok bawah. Dia
seorang yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya
membayangkan kekerasan hati. Setelan bangkit dari tempat
duduknya, dia langsung naik panggung dan menghampiri
Siang Kui yang memegang pedangnya.
"Kepandaian Lo-siocia (nona Lo) cukup menganggumkan.
Sudah lama aku mendengar bahwa Hek-tiauw Bu-koan adalah
perguruan silat yang paling terkenal di kota raja sehingga lainTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
lain perguruan mati dan tidak berkembang. Karena itu, aku
ingin sekali mencoba kemampuan sendiri dan bermain-main
dengan nona."
Siang Kui memandang pria itu dengan alis berkerut.
"Siapakah engkau? Kenalkan diri lebih dulu sebelum kita
bertanding." Suaranya mengandung tantangan dan sikapnya
memandang rendah.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil