Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cersil Cinta Terakhir Kho Ping Hoo 13 Tamat Suling Pusaka Kumala

Cersil Cinta Terakhir Kho Ping Hoo 13 Tamat Suling Pusaka Kumala Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Cinta Terakhir Kho Ping Hoo 13 Tamat Suling Pusaka Kumala
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Cinta Terakhir Kho Ping Hoo 13 Tamat Suling Pusaka Kumala
"Tangkap Pangeran Cheng Boan yang berkhianat itu dan
jebloskan dulu dalam penjara menanti keputusan hukuman!"
"Ampun, ampunkan hamba, kakanda kaisar....!" Pangeran
Cheng Boan meratap. Akan tetapi para pengawal sudah
menangkap, membelenggu dan menyeretnya keluar dari
ruangan itu.
"A-seng, sekutumu sudah ditangkap. Lebih baik engkau
menyerah untuk ditangkap dan diadili sebagaimana mestinya."
kata Han Lin.
"Mampuslah engkau!" bentak Ki Seng yang menjadi
semakin marah melihat. Pangeran Cheng Boan sudah
ditangkap. Habislah semua harapannya. Selain Pangeran
Cheng Boan, tidak ada lagi yang akan dapat membela dan
mendukungnya. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia
menggunakan jurus Sin-liong-to-sim (Naga Sakti Menyambar
Hati), sebuah jurus dari ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu
Silat Naga Sakti) yang ampuh dan yang dia pelajari dari Cheng
Hian Hwesio. Kedua tangannya membentuk cakar naga dan
mencengkeram ke arah dada Han Lin. Jari-jari kedua tangan
Ki Seng itu seakan telah berubah menjadi baja dan kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cakarannya mengenai dada lawan, dada itu akan terkoyak dan
hatinya akan dapat dirogoh dan disambar keluar!
Han Lin mengenai jurus ini karena diapun telah
mempelajari Sin-liong Ciang hoat dari Cheng Hian Hwesio. Dia
tahu betapa dahsyat dan berbahaya serangan Ki Seng itu,
Dengan tenang namun cepat dia menggeser kakinya ke
belakang lalu tubuhnya condong ke kiri, merendah dan kelagi
kedua tangan Ki Seng lewat dia menghantam dari bawah
dengan tangan kanannya ke arah lambung kanan lawan.
Serangan balik ini dilakukan cepat sekali. Gerakan Han Lin ini
mengelak dan seka-ligus menyerang maka tentu saja
berbahaya bagi lawan karena tidak tersangka-sangka. Namun
Ki Seng sudah memutar lengan kanan yang luput
mencengkeram tadi ke kanan bawah menangkis pukulan
tangan kanan Han Lin.
"Dukkk!" Dua buah lengan bertemu dan keduanya
terdorong ke belakang oleh kekuatan yang dahsyat. Kiranya
keduanya tadi telah mempergunakan sin-kang yang amat
kuat. Mereka bersiap lagi dan segera terjadi pertandingan
yang amat seru. Ouw Ki Seng bersilat dengan Sin liong Cianghoat
dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling dahsyat.
Walaupun Han Lin juga pernah mempelajari ilmu silat ini,
namun dibandingkan Ki Seng, dia kalah matang dalam latihan.
Karena itu, dia menandingi ilmu silat Ki Seng Itu dengan ilmu
silat Ngo-heng Sin-kun yang dia pelajari dari Bu-beng Lo-jin.
Cheng Hian Hwesio ketika menurunkan ilmu ilmunya kepada
Han Lin untuk dapat menandingi Ki Seng, telah melihat bahwa
Ngo-heng Sin-kun yang dikuasai Han Lin cukup tangguh dapat
mengatasi Sin-liong Ciang-hoat. Dan ternyata perhitungan
hwesio tua itu benar. Pertandingan tangan kosong itu
berlangsung seru dan tampaknya seimbang. Namun perlahanlahan
Han Lin mulai mendesak Ki Seng. Mereka saling terjang
dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat sehingga
gerakan kedua tangan mereka mendatangkan angin pukulan
yang bersuitan, bahkan angin pukulan itu terasa oleh mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang berada dalam ruangan persidangan yang luas itu. Ki
Seng mencoba menggunakan gin-kang (ilmu meringankan
tubuh) untuk mengungguli lawannya, namun Han Lin
mengimbanginya dengan gin-kang yang tidak kalah ringannya.
Tubuh kedua orang muda itu berkelebat dan kadang lenyap.
Bagi yang ilmu silatnya tidak berapa tinggi, sukar sekali untuk
dapat mengikuti gerakan kedua orang itu. Yang tampak hanya
dua bayangan orang berkelebat ke sana - sini, berputaran dan
sukar mengenal mana Han Lin dan mana Ki Seng. Akan tetapi
Cheng Hian Hwesio dapat mengikuti pertandingan itu dan dia
melihat betapa perlahan tetapi pasti, Han Lin mulai mendesak
Ki Seng.
"Haiiiiittt....!!" Tiba-tiba Ki Seng membentak nyaring. Dia
mengerahkan tenaga sin-kang dan menggunakan jurus Sinliong-
hoan-sin (Naga Sakti Memutar Tubuh). Tubuhnya yang
tadinya mengelak atas pukulan Han Lin dan membalik, kini
berputar cepat sekali dan tahu-tahu kedua tangan membentuk
cakar dan menyerang. Yang kiri mencakar ke arah kepala Han
Lin, sedangkan yang kanan mencengkeram ke arah perut.
Serangan ini hebat bukan main, Han Lin mengenal jurus ini
dan tahu bahwa cakaran tangan kiri ke arah muka Han Lin itu
hanya gertakan atau untuk mengalihkan perhatian saja
sedangkan inti penyerangan terletak pada cengkeraman
tangan kanan ke arah perutnya. Karena itu, cepat dia
mengelak ke kanan sehingga cengkeraman tangan kiri lawan
itu luput. Ketika cengkeraman tangan kanan Ki Seng mengejar
dan menyambar ke arah perutnya, Han Lin yang sudah
memperhitungkan itu cepat menangkis dengan tangan kirinya
dan pada saat itu juga kaki kanannya mencuat dan
menendang ke arah perut Ki Seng. Ki Seng yang tidak
mengenal Ngo-heng Sin-kun terkejut sekali. Tidak sempat lagi
dia mengelak atau menangkis, maka dia mengerahkan sinkang
untuk melindungi perutnya dengan kekebalan.
"Wuuuttt..... dukkk!" Tubuh Ki Seng terpental sampai
empat meter jauhnya. Akan tetapi dia turun berdiri dan sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali tidak menderita luka dalam, hanya terasa agak nyeri
pada kulit perut yang tertendang.
Melihat barisan pengawal bersenjata tombak panjang
berjajar di sebelah kiri, tiba-tiba Ki Seng menubruk ke kiri dan
dengan gerakan cepat sekali dia telah menotok lemas seorang
perajurit pengawal dan merampas tombaknya. Tanpa
mengeluarkan kata-kata dia menerjang ke depan dan
menyerang Han Lin yang bertangan kosong itu dengan
tombaknya. Dia memainkan tombaknya seperti senjata
tongkat atau tombak itu kini membentuk sinar panjang
bergulung-gulung dan menyerbu ke arah Han Lin bagaikan
seekor naga mengamuk. Inilah In-liong-tung-hoat (Ilmu
Tongkat Naga Awan), ilmu tongkat ampuh gemblengan Cheng
Hian Hwesio. Tongkat atau tombak di tangan Ki Seng itu
menyambar-nyambar secara bergelombang dengan dahsyat
sekali, suaranya mengiuk-ngiuk dan ke manapun tubuh Han
Lin berkelebatan mengelak, sinar tombak itu terus
mengejarnya bagaikan tangan maut. Menghadapi tongkat
yang menyambar-nyambar ganas itu, Han Lin terdesak hebat
dan dia hanya mampu mengelak dan kadang menangkis
dengan lengannya.
"Han Lin, sambutlah tongkat pinceng ini!" tiba-tiba
terdengar seruan Cheng Hian Hwesio dan dia sudah
melemparkan tongkat bambunya kepada Han Lin yang
melompat ke belakang. Pemuda itu girang sekali dan cepat
menyambar tongkat bambu milik Hwesio tua itu.
"Terima kasih, suhu!" katanya dan kini Han Lin bagaikan
seekor harimau tumbuh sayap. Dia memiliki ilmu tongkat yang
amat hebat, juga amat aneh gerakannya, yang disebut Sintek-
tung (Tongkat Bambu Sakti) dan kebetulan sekali tongkat
bambu milik Cheng Hian Hwesio itupun merupakan sebatang
tongkat bambu. Maka begitu dia memutar tongkat-nya,
terdengarlah suara menderu-deru yang menyambut gulungan
sinar tombak yang dimainkan Ki Seng. Terjadilah pertandingan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat tongkat yang amat dahsyat. Bayangan dua orang yang
kadang tampak kadang tidak itu terselimuti dua gulungan
sinar yang saling menghimpit dan saling mendesak, diseling
bunyi nyaring beradunya batang tombak dan tongkat,,
Melihat kemahiran Ki Seng yang dapat mengimbangi
permainan tongkat Han Lin, Cheng Hian Hwesio menghela
napas panjang dan berkata seorang diri lirih. "Omitohud,
bakat yang demikian hebat mengapa terdapat pada orang
yang berwatak demikian rendah? Pinceng telah salah lihat,
pinceng memang bodoh sekali. Omitohud......"
Sian Eng yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Cheng
Hian Hwesio berkata lirih untuk menghibur. "Banyak sekali
orang yang kita kira sebaik-baiknya orang akan tetapi ternyata
sejahat-jahat-nya orang, lo-cian-pwe, Saya sendiri juga
terkecoh oleh Suma Kiang yang teramat jahat, padahal dahulu
saya kira dia sebaik-baiknya orang di dunia ini."
Pertandingan itu berlangsung seru dan mati-matian.
beberapa kali Kaisar Cheng Tung merasa khawatir dan hendak
memberi perintah kepada para pengawal untuk mengeroyok Ki
Seng, akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Cheng Hian
Hwesio dia melihat kakek itu menggelengkan kepala
kepadanya sehingga hatinya tenang kembali karena dia
mengerti bahwa kakeknya yang menjadi guru kedua orang
muda yang sedang berkelahi itu agaknya yakin bahwa Cheng
Lin akan keluar sebagai pemenang.
Memang demikianlah. Cheng Hian Hwesio yang dapat
mengikuti jalannya pertandingan dengan baik melihat bahwa
seperti yang dahulu pernah diperhitungkannya, melihat
dengan jelas bahwa Han Lin atau Cheng Lin masih lebih
tangguh. Kini tongkat bambu itu mulai mengurung dan
mendesak tombak di tangan Ki Seng. Pada saat pertandingan
sudah berlangsung hampir lima puluh jurus, tiba-tiba Ki Seng
mengeluarkan bentakan nyaring dan tombaknya menusuk ke
arah dada Han Lin. Pemuda ini melihat datangnya tombak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang amat cepat dan kuat itu, mencondongkan tubuhnya ke
kanan dan ketika tombak meluncur di bawah lengan kirinya
yang dia kembangkan dia cepat menggunakan lengak kirinya
untuk menjepit tombak dan tangan kirinya menangkap batang
tombak. Pada saat yang sama, tangan kanannya yang
memegang tongkat bambu sudah menggerakkan tongkat
bambu yang menotok ke arah pergelangan tangan kanan Ki
Seng.
Tentu saja Ki Seng terkejut dan terpaksa melepaskan
tombaknya dari pegangan tangan kanan. Akan tetapi tongkat
bambu itu dengan cepatnya menyambar ke arah pergelangan
tangan kiri sehingga kembali Ki Seng terpaksa melepaskan
pegangan tangan kirinya. Dengan sendirinya tombak itu
berpindah ke tangan kiri Han Lin.
Ki Seng melompat mundur, wajahnya berubah pucat. Kalau
dinilai sebagai sebuah pertandingan, jelas bahwa dia sudah
kalah dua kali. Pertama kali dia kalah dalam mengadu ilmu
silat tangan kosong tadi, kemudian untuk kedua kali-nya dia
kalah dalam bertanding menggunakan senjata. Melihat
lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin melepaskan
tombak rampasan dan tongkat bambu kepada Sian Eng.
"Eng-moi, kembalikan tongkat kepada suhu!" katanya. Sian
Eng dengan cekatan menyambar dua batang senjata yang di
lemparkan kepadanya itu. Kemudian dia menyerahkan kembali
tongkat bambu kepada Cheng Hian Hwesio dan tombak
kepada pengawal sebagai pemiliknya.
Ki Seng kini sudah berhadapan dengan Han Lin, keduanya
bertangan kosong. "A-seng, lebih baik engkau menyerahkan
diri untuk diadili." kata Han Lin.
"Persetan dengan kamu!" Ki Seng membentak dan dia
sudah menerjang lagl dengan tangan kosong. Dia
mengerahkan tenaga dalamnya dan ketika dia menyerang,
dari kedua telapak tangannya keluar uap putih yang
mendahului pukulannya menyambar ke arah Han Lin. Han Lin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenal ilmu vang dahsyat itu. Itulah Pek in Hoat-sut (ilmu
Sihir Awan Putih). Baru uap putih itu saja sudah dapat
melumpuhkan semangat lawan karena mengandung kekuatan
sihir yang amat ampuh! Akan tetapi dia sudah tahu bagaimana
untuk menghadapi ilmu ini, atas petunjuk Cheng Hian Hwesio
dahulu ketika menggemblengnya. Ketika awan putih itu
menjadi semakin tebal dan seperti hidup menyerbu ke
arahnya, dia lalu mengeluarkan teriakan yang melengking dan
menggetarkan seluruh ruangan itu. Itulah Imu Sai-cu Ho -
kang (Auman Singa) yang dapat membuyarkan segala macam
kekuatan sihir dan kedua tangannya didorongkan ke depan
dengan pengerahan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang (Tenaga
Sakti Matahari Bulan).
"Wirrrr...!" Uap putih yang tebal itu ketika dilanda getaran
suara seperti auman singa seolah ditiup angin keras dan
membalik! Ki Seng yang menjadi marah nekat menerjang
maju sambil memukul dengan kedua tangan terbuka
didorongkan ke arah dada Han Lin. Han Lin menyambutnya
dengan kedua tangannya pula. Kini kedua orang itu sudah
mengambil keputusan untuk mengadu tenaga
mempertahankan nyawa.
"Blarrrr....!" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di
udara dan dua tenaga raksasa yang dahsyat bertumbukan.
Bahkan sebelum telapak tangan mereka bersentuhan, mereka
berdua sudah terdorong oleh tenaga kuat sekali sehingga
keduanya terpental ke belakang! Han Lin ter-huyung dan
wajahnya pucat sekali, napasnya agak terengah. Dia
mengalami pukulan hebat di dalam dadanya, akan tetapi
masih dapat dia tahan dengan tenaga saktinya. Sebaliknya, Ki
Seng terlempar ke belakang dan hampir saja terbanting roboh.
Biarpun dia dapat menahan sehingga tidak sampai roboh,
namun dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah segar, tanda
bahwa dia sudah menderita luka dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat keadaan Ki Seng, kembali Han tin berkata, "A-seng,
lebih baik menyerah agar dapat diadili."
"A-seng, engkau manusia tolol!" Sian Eng berseru dan
tanpa ragu kini ia menyebut orang yang tadinya dianggap
sebagai Pangeran Cheng Lin dengan nama A-seng, menirukan
Han Lin. "Engkau hanya diperalat oleh Pangeran Cheng Boan
untuk membunuhi semua pangeran Kalau sudah berhasil,
engkau sendiri akan disingkirkan dan dibunuh olehnya! Lebih
baik engkau menyerah. Engkau tidak akan mampu menang
melawan Lin-ko!"
Mendengar ini, Ki Seng mengerutkan alisnya. Kini
terbukalah matanya bahwa dia telah dipermainkan dan
diperalat Pangeran Cheng Boan. Baru dia menyadari dan
sekarang baru dia mengerti mengapa begitu mudahnya dia
menggauli dan berjina dengan para selir pangeran itu. Kiranya
para selir itu memang diumpankan untuk memancingnya.
Kesadaran ini membuat dia menjadi semakin marah dan
karena yang dihadapi hanya Han Lin maka semua
kemarahannya dia tumpah-kan kepada pemuda itu.
"Mampuslah kau!" bentaknya dan kini dia menerjang
dengan menggunakan kedua jari telunjuknya. Terdengar
suara bercuitan ketika dua buah jari telunjuk itu menyerang ke
arah tubuh Han Lin. Itulah It-yang-ci, ilmu menotok jalan
darah yang amat hebat itu. Untung bagi Han Lin bahwa
digembleng Cheng Hian Hwesio dan mempelajari It-yang-ci.
Kalau tidak, tentu dia berada dalam bahaya ketika Ki Seng
menyerangnya dengan ilmu yang ampuh itu. Melihat serangan
ini, Han Lin juga memainkan It-yang-ci untuk
mengimbanginya. Terkejutlah hati Ki Seng melihat ini dan
mengertilah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi
untuk dapat mengalahkan Han Lin dan bahwa gurunya, Cheng
Hian Hwesio yang mengajari Han Lin dengan ilmu itu. Tibatiba
dia menjadi bingung dan mencari akal. Bagaimanapun
juga, dia tidak boleh tertangkap dan tidak boleh mati sebelum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia membuat perhitungan dengan Pangeran Cheng Boan yang
telah mempermainkannya, dengan para anak buah Pangeran
Cheng Boan yang diam-diam membuat persekongkolan untuk
memperalat dia dan kemudian dia akan dibunuh kalau sudah
berhasil.
Dalam adu ilmu It-yang-ci, kembali Ki Seng terdesak. Hal
ini terjadi bukan karena dia kalah matang dalam latihan,
bahkan sesungguhnya dia lebih matang J daripada Han Lin
karena dia telah lebih lama menguasai It-yang-ci. Akan tetapi
pada saat itu hatinya gelisah dan sebagian perhatiannya
tercurah pada usaha untuk mencari akal dan mencari jalan
agar dia terlepas dan lolos dari tempat itu.
Tiba-tiba Ki Seng mengeluarkan teriakan melengking yang
mengejutkan semua orang dan tubuhnya mencelat ke
belakang. Tanpa dapat disangka-sangka sebelumnya, dia telah
berada di dekat Pangeran Cheng Hwa dan memegang lengan
kiri Pangeran Mahkota itu dengan tangan kirinya sedangkan
jari telunjuk kanannya sudah menempel pada pelipis pangeran
itu.
"Semua diam dan menjauh! Sedikit saja ada gerakan
Pangeran Cheng Hwa ikan kubunuh lebih dulu. Aku hanya
ingin keluar dari istana tanpa gangguan. Aku tidak akan
membunuhnya kalau aku dapat keluar dari sini tanpa
dihalangi!" Setelah berkata demikian, dia mendorong
Pangeran Cheng Hwa untuk berjalan menuju pintu besar
ruangan itu. Semua orang terkejut bukan main sehingga
mereka hanya berdiri dan dengan muka pucat seperti telah
berubah menjadi patung. Kemudian, para perwira pasukan
pengawal membuat gerakan maksudnya hendak mengerahkan
pasukan untuk menyerang Ki Seng dan menolong Pangeran
Cheng Hwa.
Akan tetapi Kaisar Cheng Tung segera berseru, "Jangan
ada yang bergerak! Biarkan dia keluar dari istana asal dia tidak
mengganggu Pangeran Cheng Hwa. Akan tetapi kalau dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani membunuh Pangeran Cheng Hwa, biar dia larl ke ujung
dunia sekalipun, dia harus ditangkap dan kami akan
menjatuhkan hukuman yang paling berat yang pernah
diterima seorang manusia!"
"Jangan khawatir, Sribaginda! Hamba tidak akan
mengganggu Pangeran Cheng Hwa! Akan tetapi seluruh
penghuni rumah Pangeran Cheng Boan akan hamba basmi!"
Setelah berkata demikian, Ki Seng mendorong Pangeran
Cheng Hwa keluar dari ruangan itu dan terus keluar dari
dalam istana. Para pengawal tidak ada yang berani bergerak.
"Hamba akan membayanginya dan menjaga keselamatan
Kakanda Pangeran Cheng Hwa!" kata Han Lin dan diapun
melangkah keluar. Sian Eng dan Kiok Hwa juga segera kekiar
mengikuti Han Lin. Para perwira menggerakkan pasukan
pengawal bergerak keluar pula. Mereka tidak berani
menyerang Ki Seng, akan tetapi hanya membayangi dari
belakang.
Ki Seng tahu bahwa dia dibayangi banyak orang, akan
tetapi dia tidak perduli karena yakin bahwa selama Pangeran
Cheng Hwa berada di bawah ancamannya, tak seorangpun
akan berani menyerangnya. Dan mereka yang membayangi,
juga Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa, tidak berani mengikuti
terlalu dekat.
Setelah tiba di depan istana Pangeran Cheng Boan,
beberapa orang perajurit pengawal yang mengenai baik Ki
Seng dan Pangeran Cheng Hwa, memberi hormat. Ki Seng
mencabut sebatang pedang vang tergantung di pinggang
kepala jaga, kemudian dia berkata kepada Pangeran Cheng
Hwa. "Pangeran, aku membebaskanmu di sini!" Setelah
berkata demikian, Ki Seng melompat dan berlari cepat
memasuki istana Pangeran Cheng Boan.
Begitu dia masuk ke dalam gedung besar dan mewah
seperti istana itu mulailah pembantaian yang mengerikan itu
terjadi. Beberapa orang pelayan yang menyambut keluar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
roboh seketika terbacok pedang. Darah mulai membanjir. Ki
Seng terus memasuki bagian tempat tinggal para selir. Tujuh
orang selir Pangeran Cheng Boan yang menjadi kekasihnya itu
menyambut dengan heran, akan tetapi mereka itu satu demi
satu roboh dan te-was dibantai Ki Seng.
Mendengar suara ribut-ribut, muncullah Suma Kiang, Toa
Ok dan Sian Hwa Sian-li. Mereka terbelalak kaget dan heran
melihat ke tujuh orang selir Pangeran Cheng Boan telah rebah
malang melintang mandi darah dan melihat Ki Seng yang
berdiri di ruangan itu memegang sebatang pedang yang
berlumuran dara dan sikap pemuda itu ketika memandang
kepada mereka menyeramkan. Tiga orang pembantu
Pangeran Cheng Boan ini tadi-pun ikut menonton ke lapangan
di depan istana ketika Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa hendak
dijatuhi hukuman penggal kepala. Mereka melihat kekacauan
ketika muncul Cheng Hian Hwesio menggagalkan pelaksanaan
hukuman mati itu. Mereka tidak berani berbuat sesuatu,
apalagi karena Pangeran Cheng Boan juga tidak berbuat
sesuatu. Ketika Kaisar memerintahkan agar membawa tiga
orang hukuman itu ke ruangan sidang dalam istana, dan
memerintahkan semua menteri dan pangeran untuk ikut pula
menyaksikan persidangan, mereka bertiga tentu saja tidak
dapat ikut masuk. Mereka segera kembali ke istana Pangeran
Cheng Boan untuk menanti perkembangan selanjutnya.
Mereka tidak tahu dan tidak dapat menduga apa yang telah
terjadi di dalam istana. Maka kemunculan Ki Seng yang
membantai para selir dan pembantu rumah tangga Pangeran
Cheng Boan sungguh mengejutkan hati mereka.
Sian Hwa Sian-li Kim Goat yang merasa akrab dengan Ki
Seng, bahkan menjadi kekasih pemuda itu, menghampiri dan
menyentuh lengan Ki Seng sambil bertanya, "Pangeran,
apakah yang telah terjadi? Engkau membunuh mereka ini?
Apa artinya semua ini....?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi melihat wanita cantik ini dan sikapnya yang
manis, Ki Seng teringat bahwa wanita inipun ikut bersekutu
memperalat dia, maka sebagai jawaban pertanyaannya itu
tiba-tiba saja tangan kirinya menyerang dengan totokan Ityang-
ci ke arah dada Sian Hwa Sian-li. Serangan itu dilakukan
secara mendadak dan tidak terduga-duga oleh wanita yang
berdiri amat dekat itu. Serangan It-yang-ci memang dahsyat
sekali, apalagi dalam jari tangan Ki Seng sudah mengandung
racun Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa). Sian Hwa Sian-li
terkejut dan mencoba untuk melempar tubuh ke samping.
"Siuutt... tukkk!" Jari telunjuk kiri Ki Seng masih mengenai
pundak wanita itu, Sian Hwa Sian-li menjerit karena merasa
pundaknya seperti tertusuk besi panas membara. Ia
terhuyung-huyung dan pada saat itu, pedang di tangan Ki
Seng menyambar ke arah lehernya. Darah muncrat dan Sian
Hwa Sian-li roboh dan tewas seketika.
Akan tetapi Suma Kiang dan Toa Ok sudah dapat
mengatasi rasa kaget mereka. Melihat Ki Seng menyerang
Sian Hwa Sian-li mereka cepat mencabut pedang masingmasing.
Toa Ok mencabut Kim-liong-kiam (Pedang Naga
Emas) dan Suma Kiang mencabut siang-kiam (sepasang
pedang) dan mereka berdua langsung saja menyerang Ki
Seng dari kanan kiri, pada saat Ki Seng membabatkan
pedang-nya ke leher Sian Hwa Sian-li tadi.
Pada saat Sian Hwa Sian-li roboh, pedang Toa Ok
menyambar dari kanan dan sepasang pedang Suma Kiang
menyambar dari kiri. Ki Seng mendengar sambaran tiga
batang pedang dari kanan kiri itu. Dia cepat memutar
pedangnya yang sudah merobohkan Sian Hwa Sian-li tadi
untuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi sekali ini
penyerangnya adalah datuk-datuk persilatan yang amat lihai.
Bukan saja mereka berdua itu memiliki tenaga sin-kang yang
amat kuat, akan tetapi juga pedang-pedang yang mereka
pegang adalah pedang ampuh yang terbuat dari baja pilihan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tran-trang-trakk....!" Pedang di tangan Ki Seng yang tadi
dirampasnya dari kepala jaga, patah-patah dan pedang Toa
Ok masih menyambar ke arah lehernya. Ki Seng miringkan
kepalanya dan menarik ieher ke belakang, akan tetapi tetar
saja ujung pedang itu menyentuh kulit pundaknya. Baju robek
berikut kulitnya. Pada saat itu, pedang kiri Suma Kiang juga
sudah merobek celana dan melukai paha kanannya. Darah
mengucur dari pundak dan paha. Akan tetapi Ki Seng terus
mengamuk, biarpun dia hanya menggunakan kaki tangannya
karena pedangnya telah patah-patah. Akan tetapi kedua orang
lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama sekali Toa
Ok yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih sedikit saja
dibandingkan tingkat Ki Seng. Kedua lengan Ki Seng yang
kadang terpaksa dia pergunakan untuk menangkis pedang,
sudah penuh luka dan berlumuran darah. Juga dadanya
terkena pukulan tangan kiri Toa Ok yang mengandung racun.
Dia masih berusaha untuk melawan mati-matian, akan tetapi
dia menjadi bulan-bulanan tiga batang pedang itu sehingga
tubuhnya penuh luka. Dia seperti bermandi darahnya sendiri
dan akhirnya, sebuah tusukan pedang di tangan Toa OkA
menembus dadanya. Robohnya Ki Seng dalam keadaan
mengerikan karena tubuh-nya penuh luka. Dia tewas seketika.
Pada saat itu, Han Lin dan Sian Eng berlompatan masuk.
Tadi mereka menonton perkelahian itu dari luar dan tempat
itu sudah dikepung para perajurit. Para perajurit pengawal
Pangeran Cheng Boan sudah dilucuti.
Toa Ok dan Suma Kiang adalah datuk persilatan yang
selain berkepandaian tinggi juga sudah mempunyai banyak
pengalaman. Akan tetapi ketika mereka melihat munculnya
Han Lin dan Sian Eng, wajah mereka berubah pucat dan
timbul rasa takut dalam hati mereka. Mereka memandang ke
luar, akan tetapi semakin kecut rasa hati mereka melihat
betapa gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan itu telah
dikepung ketat oleh banyak sekali pasukan kerajaan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Eng sudah menghampiri Suma Kiang yang masih
memegang sepasang pedangnya. Gadis inipun sudah
memegang Ceng-liong-kiam. Pedangnya ini tadinya dirampas
ketika ia ditangkap, akan tetapi pedang yang dijadikan satu di
antara barang bukti itu tadi diserahkan kepadanya oleh
seorang perwira yang menerima tugas dari kaisar untuk
menyerahkan pedang Ceng-liong-kiam kepadanya dan pedang
Im-yang-kiam kepada Han Lin. Karena itu kini ia menghampiri
bekas ayah dan juga gurunya itu dengan Ceng-liong-kiam di
tangan. Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kebencian
melihat orang yang pernah merawat dan membimbingnya,
orang yang pernah bersikap amat baik dan penuh kasih
sayang kepadanya, akan tetapi juga orang yang telah|
menyebabkan kematian ayah dan lbu kandungnya, yang telah
memperkosa ibui kandungnya.
Melihat sinar mata penuh kebencian dan kemarahan dari
gadis itu ditujukan kepadanya, Suma Kiang merasa ngeri dan
juga sedih. Kasih sayangnya terhadap gadis ini masih
terkandung dalam hati-nya. Dia selalu menganggap gadis ini
sebagai anak kandungnya sendiri yang tidak pernah dia miliki.
"Eng-ji, engkau..... mau apakah?" tanyanya dan suaranya
menggetar.
"Mau membunuhmu, membalaskan kematian ayah dan ibu
kandungku!" kata Sian Eng. suaranya lirih namun penuh
ancaman.
"Akan tetapi..... aku tidak membunuh mereka...."
"Engkau yang menyebabkan kematian mereka! Engkau
harus mati di tanganku!"
"Eng-ji, ingat, aku ayahmu, aku men-didik dan merawatmu,
aku selalu menyayangmu.....!"
"Cukup! Tak perlu banyak merengek, lihat pedangku dan
bersiaplah untuk mati!" bentak Sian Eng yang segera
menyerang dengan pedangnya. Biarpun hatinya sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merasa sedih sekali karena dalam keadaan terjepit dan
terancam seperti itu, orang yang dianggapnya sebagai anak
sendiri dan yang disayanginya tidak membela bahkan hendak
membunuhnya, terpaksa Suma Kiang menggerakkan sepasang
pedangnya untuk menangkis. Akan tetapi Sian Eng
melancarkan serangan bertubi-tubi sehingga Suma Kiang
harus mengerahkan tenaga dan mainkan siang-Kiamnya untuk
melindungi dirinya.
Sementara itu, begitu melihat Han Lin di hadapannya, Toa
Ok maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara karena sejak
pemuda itu masih kecil mereka sudah saling berhadapan
sebagai musuh. Maka, dia tidak berkata apapun dan langsung
saja menggerakkan pedangnya untuk menyerang dengan
dahsyat. Sinar emas bergulung-gulung ketika dia mema-inkan
Kim-liong-kiam. Namun, dengan tenang Han Lin
menggerakkan Im-yang Po-kiam yang telah berada di tangan
kembali ketika perwira pengawal menyerahkan pedang itu
kepadanya.
Seperti juga Suma Kiang, Toa Ok maklum sepenuhnya
bahwa dia sudah terkepung dan agaknya tidak mungkin
melepaskan diri. Bagaimanapun juga dia pasti akan tertangkap
dan kalau sampai tertangkap, dia pasti akan dijatuhi hukuman
mati. Melawan mati, tidak melawanpun mati. Dia seorang
gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan.
Pantang baginya untuk mati sebagai seekor babi disembelih.
Lebih baik mati sebagai seekor harimau yang membela diri
dan melawan sampai titik darah terakhir!
"Hyiaaatt....!!" Toa Ok menyerang dengan pengerahan
tenaga sekuatnya. Pedangnya berubah menjadi sinar emas
menyambar ke arah leher Han Lin. Han Lin bersikap tenang
namun waspada. Ketika sinar emas itu menyambar ke
lehernya, dia cepat melangkah mundur sambil merendahkan
tubuhnya sehingga sinar emas itu menyambar di atas
kepalanya. Namun sinar emas itu membalik dan terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengejarnya dengan serangan bertubi-tubi berupa bacokan
atau tusukan. Dahsyat sekali desakan serangan pedang dari
Toa Ok itu. Han Lin mengerahkan gin-kang sehingga tubuhnya
menjadi ringan sekali dan dapat bergerak dengan cepat bukan
main sehingga semua sambaran pedang itu dapat dia elakkan.
Akan tetapi dia tidak dapat mengelak terus, Toa Ok adalah
seorang yang amat lihai dan kalau dia hanya mengelak terus,
berarti dia terancam bahaya maut. Han Lin mulai membalas
dan sambaran pedang pusaka Im-yang Pokiam itu dahsyat
bukan main. Toa Ok tak mungkin dapat mengelak terhadap
sambaran pedang itu, maka diapun mengerahkan tenaganya
dan menangkis dengan Kim-liong-pang. Sepasang pedang
bertemu di udara, kuat bukan main karena kedua pihak telah
mempergunakan seluruh sin-kang mereka,
"Singgg..... trang....trakkk!" Pada pertemuan pedang yang
ketiga kalinya, Toa Ok melompat ke belakang dengan muka
pucat karena pedangnya telah patah menjadi dua potong!
Pedang Naga Emas yang telah menemaninya berkelana di
dunia persilatah selama sepuluh tahun. kini patah. Ini
merupakan firasat buruk sekali baginya. Pedang yang telah
membunuh entah berapa ratus orang itu, yang belum pernah
rusak menghadapi senjata lawan yang bagaimanapun juga,
kini bertemu dengan Im-yang Pokiam yang berada di tangan
Han Lin. Sebetulnya bukan karena keampuhan Im-yang
Pokiam saja yang membuat pedang Kim-liong-kiam di tangan
Toa Ok itu patah, melainkan terutama sekali karena Han Lin
mengerahkan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang ketika
menggerakkan pedang itu.
"Keparat!" Toa Ok memaki dan dia melontarkan pedang
yang tinggal sepotong itu ke arah Han Lin. Jangan dipandang
ringan lontaran pedang buntung ini. Lontaran yang
mengandung tenaga sakti itu membuat pedang buntung itu
meluncur seperti anak panah cepatnya dan pedang buntung
itu masih dapat menembus apa saja yang menjadi sasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin sama sekali tidak memandang ringan serangan ini.
Dia lalu menggerakkan pedangnya, menangkis ke arah atas.
"Cringgg.... cepp!" Pedang buntung itu melenceng ke atas dan
menancap ke langit-langit ruangan itu sampai ke gagangnya.
Melihat lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin
juga menyarungkan pedang ke punggungnya lagi.
"Toa Ok, menyerahlah saja agar engkau dapat diadili." kata
Han Lin membujuk. Betapapun sakit hatinya kalau dia teringat
akan semua perbuatan Toa Ok kepadanya, namun pemuda ini
masih selalu ingat dan menjunjung tinggi semua ajaran yang
pernah diterimanya dari Bu Beng Lojin dan Cheng Hian
Hwesio. Dia tidak mau sembarangan membunuh kalau hal itu
masih dapat dicegahnya.
Akan tetapi Toa Ok menjadi semakin marah melihat
pedangnya patah. Sebetulnya kalau saja dia tidak dikuasai
nafsu amarahnya, melihat Han Lin menyarungkan pedangnya
itu saja dia sudah harus menginsyafi betapa pemuda itu telah
mengalah kepadanya. Namun, kemarahan membutakan mata
hati dan mengenyahkan semua pertimbangan akal budi.
Sambil mengeluarkan suara gerengan seekor binatang terluka,
dia sudah menerjang ke depan. Serangannya aneh sekali.
Tubuhnya berpusing dan kedua tangan dan kakinya
menyerang bertubi-tubi dengan pukulan yang mengeluarkan
uap hitam ber-bau amis. Itulah ilmu silat Pat-hong Hong-ci
(Delapan Penjuru Angin Hujan) dan pukulan itu mengandung
ilmu Ban tok-ciang (Tangan Selaksa Racun)!
Maklum akan kelihaian lawan dengan ilmu silatnya yang
dahsyat itu, Han Lin atau Pangeran Cheng Lin segera mainkan
ilmu andalannya, yaitu Ngo-heng Sin-kun (Silat Sakti Lima
Unsur) dan untuk mengimbangi pukulan lawan yang
mengandung Ban-tok-ciang, dia mengerahkan Jit-goat Sinkang
(Tenaga Sakti Matahari dan Bulan). Terjadilah
perkelahian tangan kosong yang hebat sekali. Yang tampak
hanya bayangan tubuh Han Lin berkelebatan di sekitar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bayangan tubuh Toa Ok yang berpusing seperti gasing.
Kadang-kadang dua buah lengan bertemu dan ruangan itu
seolah tergetar. Mereka saling serang dan sekali ini, karena
tidak melihat kemungkinan melarikan diri, Toa Ok
mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan
seluruh tenaganya. Han Lin melawannya dengan hati-hati
sehingga pertandingan itu berlangsung seru.
Sementara itu, Suma Kiang sudah terdesak hebat oleh Sian
Eng. Setelah Sian Eng menerima bimbingan dan gemblengan
ilmu silat selama lima tahun dari Hwa Hwa Cin-jin, tingkat ilmu
silatnya memang sudah lebih tinggi dibandingkan tingkat
Suma Kiang. Akan tetapi ini bukan satu-satunya sebab
mengapa ia dapat mendesak Suma Kiang dengan mudah.
Sebetulnya kalau Suma Kiang menghendaki, dengan
kematangan pengalamannya, tidak akan begitu mudah bagi
Sian Eng untuk mengalahkannya.
Yang membuat Suma Kiang lemah melawan Sian Eng
karena saat itu seluruh kasih sayangnya terhadap Sian Eng
bangkit. Teringat dia ketika gadis itu masih kecil, sering
digendong dan ditimangnya dengan penuh kasih sayang
seorang ayah. Bagaimana sekarang dia akan tega untuk
membunuh atau bahkan melukai anak yang tersayang itu?
Gejolak hati dan pikirannya ini membuatnya lemah dan
permainan pedangnya menjadi kacau. Namun, karena
pengalaman yang matang membuat gerakan pedangnya
seperti otomatis, seolah sepasang pedang itu telah menyatu
dan menyambut kedua tangannya, maka dia masih terus
dapat menghindarkan diri dari semua serangan Sian Eng
dengan elakan atau tangkisan.
Akan tetapi, setelah puluhan jurus lewat, Suma Kiang
menjadi semakin terdesak dan akhirnya, ketika sepasang
pedang Suma Kiang menggunting pedang Sian Eng yang
membacok ke arah kepalanya, menahan pedang itu sehingga
terjepit sepasang pedang, tiba-tiba saja tangan kiri Sian Eng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memukul dengan dorongan telapak tangan ke arah dada
Suma Kiang.
"Wuuuttt.....dessss....!!" Itulah pukulan Toat-beng Tokciang
(Tanga Beracun Mencabut Nyawa) yang amat ampuh,
tepat mengenai dada Suma Kiang. Biar-pun Suma Kiang telah
mengerahkan sin-kang untuk melindungi dadanya, tetap saja
tubuhnya terjengkang, sepasang pedangnya terlepas dan
tubuhnya terbanting keras ke belakang. Dia telah menderita
luka dalam dadanya. Sian Eng melompat maju mengejar dan
ujung pedangnya telah menempel di leher Suma Kiang!
Suma Kiang yang sudah telentang tak berdaya itu
memandang kepada Sian Eng. "Eng-ji, di tempat ini juga aku
menyelamatkanmu ketika engkau tertangkap, dan di tempat
ini juga engkau akan membunuhku? Bunuhlah, anakku, kalau
itu yang kau inginkan, bunuhlah...." kata Suma Kiang yang
sudah putus asa.
Sian Eng tertegun. Terbayang ia ketika ia malam-malam
datang ke gedung ini, kemudian ia dikeroyok dan dijatuhkan
oleh Pangeran Cheng Lin palsu. Ia tentu sudah mati kalau saja
Suma Kiang tidak menahan Toa Ok kemudian mengakuinya
sebagai puterinya sehingga ia tidak sampai dibunuh.
Terbayang pula olehnya akan semua kebaikan yang pernah
dilimpahkan orang yang kini ditodongnya itu kepadanya dan
diapun menarik napas panjang dan menarik kembali
pedangnya. Para perwira memimpin anak buah mereka untuk
menangkap Suma Kiang yang lalu diborgol dan dibawz pergi
dari situ sebagai tawanan.
Pada saat itu, perkelahian antara Han Lin dan Toa ok sudah
mencapai puncaknya Ketika dengan marah dan penasaran Toa
Ok memukul lagi dengan penggunaar Ban-tok-ciang
sekuatnya, Han Lin menyambutnya dengan totokan satu jari It
yang-ci.
"Ciuuuuuttt.... tukkk!" Toa Ok mengeluarkan teriakan aneh
ketika telapak tangannya bertemu dengan totokan jari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telunjuk Han Lin. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan
diapun roboh terpelanting muntah darah. Han Lin memberi
isarat kepada perwira pengawal yang cepat mengerahkan
anak buahnya untuk menangkap dan membelenggu Toa Ok.
Kakek tinggi besar yang usianya sudah tujuh puluh tahun ini
sudah tidak berdaya dan menurut saja ketika ditangkap.
Seluruh penghuni gedung itu ditangkap dan dimasukkan
penjara, menunggu jatuhnya hukuman yang diberikan oleh
pengadilan. Beberapa hari kemudian sidang pengadilan dibuka
dan Pangeran Cheng Boan. Suma Kiang. dan Toa Ok dijatuhi
hukuman mati karena mereka di-anggap orang-orang yang
bersekongkol untuk memberontak dan mengatur pembunuhan
terhadap para pangeran. Adapun anggauta keluarga Pangeran
Cheng Boan dan para pelayan yang bekerja padanya juga
mendapat hukuman buang karena mereka dianggap orangorang
yang dapat membahayakan keluarga istana.
Cheng Hian Hwesio diterima oleh Kaisar Cheng Tung dan
diangkat menjadi kepala kuil istana di mana kakek yang udah
amat tua itu dapat melewatkan sisa hidupnya dengan
tenteram dan tenang.
Han Lin diterima sebagai anak kandung Kaisar Cheng Tung
dan dinobatkan menjadi seorang pangeran. Pengangkatan
sebagai Pangeran Cheng Lin itu dirayakan dengan pesta yang
dikunjungi oleh seluruh keluarga istana dan para menteri dan
pejabat tinggi.
Lo Sian Eng dan Tan Kiok Hwa yang sejak peristiwa itu
untuk sementara diminta tinggal di istana keputrian, hadir pula
dalam perayaan pesta itu. Kedua orang gadis ini merasa
gembira dan berbahagia sekali melihat pria yang mereka cinta
itu duduk dengan anggun dan gagah dalam pakaian pangeran
yang indah dan mewah, membuat dia tampak semakin
tampan dan gagah. Akan tetapi, diam-diam ada perasaan
pedih di hati mereka. Mereka melihat seolah-olah Han Lin kini
berada jauh tinggi di antara bintang-bintang sedangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka berada di atas tanah yang demikian rendah. Akan
tetapi Kiok Hwa tampak tenang saja sedangkan Sian Eng
dapat menutupi kepedihan hatinya dengan wataknya yang
gembira dan wajahnya yang cerah. Ia tersenyum-senyum
manis seperti biasa. Akan tetapi dari pandang mata mereka,
dua orang gadis ini dapat saling menjenguk dan melihat
keadaan hati masing-masing. Semenjak Sian Eng mengetahui
betapa Kiok Hwa yang dia tahu saling mencinta dengan Han
Lin mengalah dan sengaja pergi meninggalkan ia dan Han Lin
berdua, perasaan hati Sian Eng terhadap Kiok Hwa sudah
berubah sama sekali. Kalau dulu ia merasa cemburu dan
benci, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Apalagi
setelah Kiok Hwa menolongnya dan menyembuhkannya ketika
ia terluka di dalam pondok hutan itu bersama Han Lin, ia
merasa suka dan kagum sekali kepada Kiok Hwa. Ia merasa
benar akan perbedaan antara ia dan Kiok Hwa. Kiok Hwa
seorang gadis budiman, cantik jelita dan lemah lembut budi
pekertinya, ramah dan tulus sikapnya. Sebaliknya ia sendiri
adalah seorang gadis yang keras dan kasar, mudah marah.
Kini ia melihat bahwa Han Lin sudah benar dan tepat kalau
memilih Kiok Hwa.
Dua orang gadis itu sudah berhenti makan minum dan
keduanya duduk termenung. Tiba-tiba Pangeran Cheng Lin
atau Han Lin menghampiri meja mereka. Dua orang gadis itu
memandang dan segera berdiri. Yang mereka hadapi sekarang
bukanlah Han Lin pemuda biasa lagi, melainkan Pangeran
Cheng Lin yang harus mereka hormati.
Pangeran Cheng Lin tersenyum melihat dua orang gadis itu
bangkit berdiri. "Mari kalian berdua ikut aku ke taman, aku
hendak bicara dengan kalian. Di sini terlalu banyak orang dan
terlalu berisik, tidak leluasa kita bicara." katanya dan dua
orang gadis itu hanya mengangguk dan mengikutinya keluar
dari ruangan itu melalui pintu samping dan mereka memasuki
taman istana yang luas dan indah. Pangeran Cheng Lin
berjalan dengan tenang, tanpa berkata-kata, menuju ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebuah pondok merah mungil yang berdiri di dekat kolam
ikan. Hari sudah siang dan matahari bersinar cerah. Akan
tetapi duduk di pondok itu sungguh nyaman dan sejuk. Selain
pondok itu memberi keteduhan, juga di sekitar pondok
tumbuh banyak pohon cemara dan di kolam itu terdapat air
mancur yang mengeluarkan bunyi gemercik.
Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja bundar
kecil. Dua orang gadis itu duduk dengan kepala tunduk.
Mereka merasakan suasana yang sejuk nyaman, akan tetapi
juga merasa canggung dan salah tingkah. Dua orang gadis Itu
menundukkan muka dan menanti dengan jantung berdebar
penuh ketegangan tanpa mengetahui apa yang menyebabkan
hati mereka merasa tegang. Kehadiran pemuda itu sebagai
seorang pangeran tulen sungguh membuat mereka menjadi
bingung, tidak tahu bagaimana harus bersikap, tidak tahu
harus mengeluarkan suara bagaimana. Bahkan Sian Eng yang
biasanya tabah dan tidak pernah merasa rikuh itu, kini kedua
pipinya menjadi kemerahan dan rasanya ingin menangis
karena bingung dan salah tingkah.
Akhirnya Kiok Hwa yang dapat lebih dulu menenangkan
hatinya. Gadis ini memang biasanya bersikap tenang
menghadapi apapun juga dan dapat menguasai perasaannya
sepenuhnya.
"Pangeran, apakah yang hendak paduka bicarakan dengan
kami berdua?"
Pangeran Cheng Lin tersenyum mendengar sebutan
pangeran dan paduka yang dipergunakan Kiok Hwa itu. "Ain,
Hwa-moi, aku masih tetap Lin-ko seperti dulu. Apa salahnya
engkau memanggilku dengan sebutan tetap Lin-ko? Namaku
Han Lin atau Cheng Lin sama saja, dapat kau sebut Lin-ko."
Setelah Kiok Hwa bicara, timbul keberanian dalam hati Sian
Eng dan iapun menatap wajah pemuda itu dan berkata tegas.
"Enci Kiok Hwa benar. Paduka adalah seorang pangeran,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagaimana kami berani mempergunakan sebutan akrab
seperti dulu lagi?"
"Wah, Eng-moi, engkau juga ikut-ikutan. Bukankah
hubungan antara kita masih akrab seperti dahulu? Justeru aku
mengajak kalian berdua ke sini untuk membicarakan tentang
hubungan antara kita bertiga."
Dengan lembut Kiok Hwa bangkit berdiri. "Pangeran Cheng
Lin, biarlah saya mohon pamit.... saya akan pergi, saya tidak
berhak mengganggu paduka berdua adik Sian Eng. Paduka
cocok sekali untuk berjodoh dengan adik Sian Eng yang amat
mencintai paduka. Selamat tinggal, pangeran. Selamat tinggal
dan berbahagialah, adik Sian Eng....." Kiok Hwa membalikkan
tubuhnya dan hendak melangkah pergi meninggalkan taman.
"Nanti dulu, Hwa-moi!" Pangeran Cheng Lin melompat
dekat gadis itu dan memegang lengannya. "Engkau tidak
boleh pergi meninggalkan aku begitu saja!"
Melihat pemuda itu menahan kepergian Kiok Hwa dan
memegangi lengannya. Sian Eng juga bangkit berdiri dan ia
berkata dengan tegas. "Tidak, enci Kiok Hwa! Engkau tidak
boleh pergi meninggalkan Pangeran Cheng Lin. Bukan engkau
yang harus pergi, melainkan aku! Pangeran Cheng Lin, saya
mohon diri, saya tidak boleh mengganggu ikatan cinta antara
paduka dan enci Kiok Hwa. Paduka sepantasnya berjodoh
dengan enci Kiok Hwa karena saya tahu bahwa paduka dan ia
saling mencinta. Saya tidak tahu diri. Selamat tinggal,
pangeran, selamat tinggal, enci Kiok Hwa!" Sian Eng menahan
isaknya dan berlari dari dalam pondok.
"Eng-moi..... tunggu!" Pangeran Cheng Lin berlari cepat
mengejar dan dia menyambar dan memegang lengan Sian
Eng. "Tidak, engkau juga tidak boleh pergi. Mari, dengarlah
dulu kata-kataku, kita bertiga bicara dulu. Setelah itu baru
kalian boleh mengambil keputusan!" Dia menarik lengan Sian
Eng dan gadis itu terpaksa menurut dan berjalan kembali ke
dalam pondok. Setelah tiba di dekat Kiok Hwa, Sian Eng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melepaskan diri dan merangkul Kiok Hwa sambil mengusap air
matanya.
"Aku ingin melihat engkau berbahagia! enci." katanya lirih.
"Aku juga tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu, adik
Eng." kata Kiok Hwa sambil balas merangkul.
"Kalian duduklah, Hwa-moi dan Eng moi. Hatiku terharu
dan kagum sekali melihat kalian. Kalian adalah orang-orang
yang berjiwa besar dan berhati mulia, memiliki cinta kasih
sejati. Cinta kasih sejati tidak membuat orang tidak
mementingkan kesenangan dan kepentingan diri pribadi,
melainkan mementingkan kebahagiaan orang yang
dikasihinya. Akupun sayang kepada kalian, tidak perlu aku
berdusta. Aku mencintamu, Hwa-moi. Akan tetapi akupun
amat sayang padamu, Eng-moi. Aku tidak ingin melihat kalian
menderita. Aku ingin melihat kalian berbahagia. Karena itu,
tidak mungkin aku hidup berbahagia berdua saja dengan adik
Tan Kiok Hwa kalau hal itu akan membuat adik Lo Sian Eng
kesepian dan menderita, sebaliknya akupun tidak mungkin
dapat hidup berbahagia berdua saja dengan Eng-moi kalau hal
itu akan membuat Hwa-moi kesepian dan merana." Pangeran
Cheng Lin berhenti sebentar dan menghela napas panjang.
Kesempatan itu dipergunakan Kiok Hwa untuk berkata dengan
nada penuh pertanyaan.
"Pangeran, lalu apa maksud paduka? Ucapan paduka itu
sungguh membingungkan."
"Benar sekali pertanyaan enci Kiok Hwa? Apa sih maumu,
Pangeran? Paduka bicara seperti teka-teki, begini tak benar
dan begitu salah. Lalu bagaimana baik-nya?" tanya Sian Eng.
Wajah Pangeran Cheng Lin berubah kemerahan. "Aku....
eh, aku tidak bermaksud ingin mencari senang sendiri....
maksudku...... begini saja: Hanya ada dua pilihan, yaitu kita
bertiga hidup bersama dan menikmati kebahagiaan hidup
bersama. atau kalau hal itu tidak mungkin kalian lakukan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
biarlah kita bertiga berpisah dan mengambil jalan hidup
masing-masing. Aku sungguh tidak ingin mendapatkan yang
satu dan kehilangan yang lain."
Kiok Hwa bangkit berdiri, juga Sian Eng dan mereka berdua
saling pandang dengan mata terbelalak.
"Maksudmu.....?" Kiok Hwa memandang pemuda itu
dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"..... paduka ingin menikah dengan kami berdua?" sambung
Sian Eng.
Pangeran Cheng Lin menghela napas panjang lalu
mengangguk, menahan perasaan rikuhnya. "Kalau kalian
setuju. Itulah jalan terbaik bagiku. Aku akan berusaha untuk
bersikap adil dan akan membahagiakan kalian berdua."
Pada saat itu terdengar tepuk tangan dari luar pondok dan
Pangeran Cheng Lin cepat bangkit berdiri. Kiranya Pangeran
Cheng Hwa yang melangkah masuk sambil tertawa dan
bertepuk tangan.
"Bagus, bagus sekali! Kionghi (selamat), adinda Cheng Lin!
Tentu saja engkau boleh menikah dengan mereka, karena
sebagai pangeran, engkau diperkenankan memiliki sampai
lima orang isteri."
Pangeran Cheng Lin sudah maju menyambut Pangeran
Cheng Hwa dan otomatis Sian Eng dan Kiok Hwa juga maju
memberi hormat. Tanpa disengaja Kiok Hwa berdiri di sebelah
kanan Pangeran Cheng Lin dan Sian Eng berdiri di sebelah
kirinya. Mendengar ucapan Pangeran Cheng Hwa itu, kedua
orang gadis itu terbelalak dan serentak mereka menoleh dan
memandang kepada Pangeran Cheng Lin dengan alis berkerut.
"Lima orang......? Wah..... tak mungkin itu....." kata Kiok
Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lima orang isteri? Tidak sudi aku. Aku dan enci Kiok Hwa
berdua saja sudah cukup. Kalau ada yang lain lagi, seorang
lagi saja, aku akan minggat!" teriak Sian Eng cemberut.
"Ha-ha-ha-ha!" Pangeran Cheng Hwa terbahak. "Kionghi,
adinda, kionghi....!" Dan sambil terus tertawa dia
meninggalkan pondok itu.
Pangeran Cheng Lin menggerakkan kedua tangannya.
Tangan kirinya merangkul pundak Sian Eng dan tangan
kanannya merangkul pundak Kiok Hwa. "Jangan khawatir, aku
akan hidup selamanya dengan kalian berdua calon-calon
isteriku yang tercinta, tidak akan ada yang lain."
"Paduka berani bersumpah, pangeran?" Seperti diatur saja,
ucapan ini keluar dan bibir kedua orang gadis itu.
"Aku bersumpah kepada Tuhan, langit bumi menjadi saksi
bahwa aku, Pangeran Cheng Lin, tidak akan memiliki isteri lain
kecuali Tan Kiok Hwa dan Lo Sian Eng. Nah, akan tetapi
sekarang kalian harus memenuhi satu permintaanku."
"Apa itu?" tanya mereka berdua dari kanan kiri.
"Sebut aku Lin-ko, bukan pangeran!"
"Lin-ko.....!" Kiok Hwa berkata lirih dan merdu.
"Lin-koko......!" Sian Eng mendesah manja.
Pangeran Cheng Lin merangkul kedua orang calon isterinya
itu dan mereka berdua bersandar ke dada yang bidang itu dari
kanan kiri sambil memejamkan mata.
Berbahagialah tiga orang manusia yang selalu menjunjung
tinggi dan membela kebenaran dan keadilan itu, tiga orang
muda yang telah menemukan cinta kasih yang sejati, bukan
sekedar cinta nafsu belaka. Cinta kasih sejati baru akan dapat
bernyala di dalam hati manusia bila mana hati itu sudah bebas
daripada kebencian, dan kebencian baru akan dapat lenyap
apabila hati penuh dengan maaf dan pengampunan terhadap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesama yang bersalah kepada kita. Akan tetapi, karena hati
akal pikiran kita sudah dikuasai nafsu, maka amat sukarlah
untuk dapat mengampuni dan tidak mendendam kepada
orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Hanya kalau
Kekuasan Tuhan bekerja dalam hati sanubari kita, memberi
bimbingan kepada kita, barulah hal itu dapat terlaksana.
Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu menundukkan
nafsu-nafsu yang selalu mempermainkan dan memperhamba
hati akal pikiran kita. Dan Kekuasaan Tuhan hanya akan
bekerja sepenuhnya apabila kita menyerah dengan penuh
kepasrahan, penuh keikhlasan, dengan sepenuh keimanan
kita.
Pangeran Cheng Lin menjadi tangan kanan Pangeran
Cheng Hwa. Bahkan beberapa tahun kemudian, ketika
Pangeran Mahkota Cheng Hwa menggantikan ayahnya
menjadi kaisar, Pangeran Cheng Lin menjadi pembantu utama
dan penasihatnya yang amat dipercaya dan dapat diandalkan.
Sampai di sini pengarang mengakhiri kisah Suling Pusaka
Kemala ini dengan harapan semoga dapat menghibur para
pembaca dan sedikit banyak mengandung manfaat bagi kita
semua.
Amin.
T A M A T
Lereng Lawu, akhir Juli 1989.
PENERBIT CV GEMA

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil