Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cersil Langka Bingit Kho Ping Hoo 9 Suling Pusaka Kumala

Cersil Langka Bingit Kho Ping Hoo 9 Suling Pusaka Kumala Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Langka Bingit Kho Ping Hoo 9 Suling Pusaka Kumala
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Langka Bingit Kho Ping Hoo 9 Suling Pusaka Kumala
"Aku bernama Souw Tek dari dusun Pak-siang-bun di
sebelah utara kota raja. Karena aku hanya ingin menguji ilmu
silat, bukan hendak berkelahi atau bermusuhan, maka aku
ingin agar kita saling mengadu ilmu silat tangan kosong, tanpa
mempergunakan senjata. Aku ingin sekali membuktikan
kehebatan ilmu silat Hek-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali
Hitam) !"
Tampak sinar pedang berkelebat ketika Siang Kui
memasukkan kembali pedangnya di sarung pedang yang
menempel di punggungnya. Gerakannya demikian cepat
sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata.
"Bagus, bertanding tangan kosongpun aku tidak gentar.
Majulah, aku sudah siap!" kata Siang Kui sambil membuka
pasangan kuda-kuda seperti tadi, yaitu pasangan Rajawali
Hitam Pentang Sayap, akan tetapi sekali ini tanpa pedang.
Pria yang bernama Souw Tek itupun segera memasang
kuda-kuda. Kedua kaki terpentang lebar, tubuh agak
merendah, kedua tangan membentuk cakar, yang kiri
menempel pinggang, yang kanan di depan muka.
Tiba-tiba terdengar bentakan. "Tahan....!" Siang Kui dan
calon lawannya menunda gerakan mereka dan menoleh.
Ternyata yang berseru itu adalah Lo Kang.
"Souw Tek, engkau mempergunakan pasangan pembukaan
ilmu silat Hek-houw Sin-kun (Silat Sakti Harimau Hitam). Ada
hubungan apakah antara engkau dengan Hek-houw Bu-koan
(Perguruan Silat Harimau Hitam)?" tanya Lo Kang. Perguruan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Silat Harimau Hitam adalah sebuah di antara para perguruan
silat yang berada di kota raja dan menjadi saingan Hek-tiauw
Bu-koan.
Souw Tek menghadap ke arah Lo Kang dan memberi
hormat. "Lo-kauwsu, saya bukan anggauta Hek-houw Bukoan,
akan tetapi ketuanya masih terhitung saudara
seperguruanku. Akan tetapi saya menyambut tantangan Losiocia
tidak ada sangkut pautnya dengan Hek-houw Bu-koan,
melainkan atas kehendak saya sendiri."
"Baiklah, kalau begitu lanjutkan." kata Lo Kang sambil
duduk kembali.
"Orang she Souw, aku sudah siap!" tantang Siang Kui
sambil memasang kuda-kuda kembali.
"Baiklah, nona. Lihat seranganku!" kata Souw Tek yang
telah memasang kuda-kuda dan tiba-tiba tubuhnya melompat
ke depan seperti seekor harimau menubruk dan menggunakan
tangannya yang membentuk cakar untuk mencengkeram
pundak gadis itu. Akan tetapi dengan gerakan ringan dan
lincah seperti seekor burung, gadis itu telah melompat ke
belakang sehingga cengkeraman itu luput dan langsung saja
Siang Kui sudah menendangkan kakinya.
Cepat sekali kaki itu mencuat ke depan dan mengarah
lambung lawan. Souw Tek terkejut, tidak menyangka akan
mendapat serangan balasan secepat itu. Dia menggerakkan
lengan kanannya ke bawah untuk menangkis kaki itu.
"Dukk!" Kaki kiri Siang Kui tertangkis, akan tetapi secepat
kilat kaki kanannya menendang lagi, kini mengarah lutut kiri
lawan.
"Bagus!" Souw Tek terkejut dan kagum, akan tetapi sempat
menarik kaki yang tertendang ke belakang sehingga luput dari
ciuman ujung sepatu Siang Kui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Awas....!" Bentak Souw Tek dengan suaranya yang besar
dan nyaring. Kini tubuhnya melompat seperti seekor harimau
menubruk mangsanya dan memang inilah jurus Go-houw-pothouw
(Harimau Lapar Tubruk Kelenci). Tubuhnya melompat
ke atas dan menubruk ke arah lawan, mencengkeram dengan
kedua tangan yang kiri mengancam ubun-ubun kepala, yang
kanan terjulur mencengkeram ke arah pundak kiri. Sungguh
ini merupakan jurus serangan yang amat berbahaya.
Namun dengan tenang Siang Kui menggunakan jurus Hektiauw-
sia-hui (Rajawali Hitam Terbang Miring), tubuhnya
mengelak dengan miring ke kiri, kemudian sambungan jurus
Hek-tiauw-sin-yauw (Rajawali Hitam Menggeliat) kedua
tangannya menangkis dari samping diputar ke arah atas
sehingga dua lengannya dapat menangkis dua lengan lawan
yang menyerang ke arah kepala dan pundak.
"Dukk! Dukk!" Empat lengan bertemu dan serangan Souw
Tek itu gagal. Bahkan dia harus cepat berjungkir balik
membuat salto sampai tiga kali ke belakang kalau dia tidak
mau jatuh oleh tangkisan itu.
Kemudian terjadilah pertandingan yang menarik sekali.
Para tamu menonton dengan kagum. Gerakan kedua orang itu
tidak pernah menyimpang dari aliran masing-masing sehingga
Souw Tek menubruk-nubruk dan mencakar-cakar seperti
seekor harimau, sedangkan Siang Kui bergerak lincah dan
kadang-kadang melompat ke atas seperti terbang. Seolah-olah
para tamu itu menyaksikan seekor harimau sakti berkelahi
melawan seekor rajawali sakti!
Mereka saling serang dengan dahsyatnya, berusaha sekuat
tenaga untuk keluar sebagai pemenang.
"Siang Kui memang hebat,. ia tidak akan kalah." bisik Sian
Eng kepada Han Lin.
"Agaknya begitulah. Tenaga mereka seimbang akan tetapi
gadis itu memiliki gerakan yang lebih lincah. Pula ia tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ragu-ragu dalam penyerangannya, bahkan eranganserangannya
ganas sekali, berbeda dari lawannya yang
agaknya masih ragu-ragu untuk menggunakan tenaga
sepenuhnya menyerang seorang gadis." kata Han Lin.
Dugaan mereka ternyata benar. Setelah mereka bertanding
lewat lima puluh jurus, mulailah Souw Tek terdesak. Dan
agaknya Siang Kui mempergunakan kesempatan ini untuk
mendesak dan melancarkan serangan-serangan yang
berbahaya. Agaknya gadis ini tidak sekedar hendak mencapai
kemenangan, melainkan juga berniat untuk merobohkan
lawannya.
Souw Tek yang terdesak hebat itu hanya mampu mengelak
dan menangkis, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan
Siang Kui menjadi semakin ganas seperti seekor rajawali yang
kelaparan menyerang lawan, berkelebatan dan kadang
melompat ke atas seperti terbang.
"Haiiitttt....!!" Tiba-tiba tubuh gadis itu melayang ke atas,
lalu menukik dan menyerang ke arah ubun-ubun kepala Souw
Tek dengan totokan. Tangan kanannya itu seperti paruh
rajawali yang mematuk, mengarah ubun-ubun. Serangan ini
bukan main hebat dan berbahayanya.
Karena maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya maut,
Souw Tek mengangkat kedua tangannya ke atas, bukan hanya
untuk menangkis dan melindungi ubun-ubun kepalanya,
melainkan juga untuk berusaha menangkap lengan
penyerangnya itu. Akan tetapi, tanpa diduga-duganya, Siang
Kui bahkan membiarkan lengan kanannya yang menyerang itu
tertangkis dan tertangkap dan tiba-tiba sekali tangan kirinya
menampar tengkuk lawan.
"Plakk!" Tamparan dengan tangan miring itu menyambar
tengkuk dan tubuh Souw Tek terpelanting roboh. Tamparan
itu nampaknya saja tidak keras, akan tetapi karena dilakukan
dengan pengerahan tenaga dalam, maka akibatnya cukup
parah bagi Souw Tek. Dia merasa seolah kepalanya pecah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepeningan membuat dia tidak dapat segera bangkit berdiri,
hanya bangkit duduk sambil memegangi kepalanya. Pada saat
itu, Siang Kui sudah melangkah datang dan mengayun kakinya
menendang ke arah dada Souw Tek yang sudah tidak berdaya
itu.
"Desss.....!" Tubuh Souw Tek terlempar dan terpelanting
jatuh ke bawah panggung dalam keadaan pingsan!
"Ganas dan kejam!" kata Han Lin lirih dan Sian Eng
mengerutkan alisnya. Ia tidak lagi dapat membanggakan
saudara sepupunya itu karena apa yang dilakukan sungguh
memalukan. Seorang gagah tidak akan melakukan hal itu.
Menyerang lawan yang sudah jelas kalah dan tidak mampu
melawan lagi.
Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun bangkit dari
tempat duduknya di kelompok bawah itu, menghampiri Souw
Tek dan setelah menotok dan mengurut beberapa bagian
tubuh Souw Tek, laki-laki itu membantu Souw Tek yang sudah
siuman untuk duduk kembali. Laki-laki itu lalu melangkah ke
arah panggung dan setelah berhadapan dengan Siang Kui, dia
berkata, suaranya bernada teguran.
"Nona Lo, engkau sungguh keterlaluan. Sute-ku (adik
seperguruanku) tadi sudah kalah dan tidak dapat melawan
lagi, kenapa nona masih menyerangnya dengan tendangan
keji? Nona dapat membunuhnya!"
Siang Kui bertolak pinggang menghadapai laki-laki yang
bertubuh tinggi kurus itu dan suaranya terdengar menantang
ketika ia berkata lantang, "Dalam pertandingan adu silat,
kematian merupakan hal lumrah. Apa lagi kalau hanya terluka.
Kalau takut terluka atau tewas, lebih baik tinggal di rumah dan
jangan memasuki pertandingan silat!" Ia memandang dengan
sikap gagah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku yang maju
menggantikan sute-ku yang sudah kalah. Hendak kulihat
sampai di mana kehebatanmu, nona!" kata orang itu.
Pada saat itu, Lo Cin Bu bangkit dari tempat duduknya dan
berseru, "Kui-moi! Engkau sudah bertanding satu kali, biarkan
aku yang menghadapinya!" Pemuda tinggi besar itu lalu
melangkah lebar ke tengah panggung. Melihat kakaknya
datang, Siang Kui tersenyum dan berkata sambil melirik ke
arah laki-laki tinggi kurus itu.
"Sayang, sebetulnya aku ingin menghadapi dan menghajar
yang ini juga, akan tetapi kalau engkau ingin mendapat
bagian, silakan, Bu-ko!" Dan iapun melangkah kembali ke
tempat duduknya dekat Cheng Kun, tunangannya yang
menyambutnya dengan senyum penuh kebanggaan.
Lo Cin Bu kini berhadapan dengan laki-laki tinggi kurus itu.
"Aku. Lo Cin Bu menggantikan adikku dan berdiri di sini
sebagai wakil Hek-tiauw Bu-koan. Engkau siapakah yang
berani menentang Hek-tiauw Bu-koan?" '
Laki-laki itu tersenyum pahit. "Aku bernama Su Toan Ek,
toa-suheng (kakak seperguruan tertua) dari Souw Tek. Tadi
adikmu menantang-nantang dan sute-ku yang berdarah muda
menyambut tantangan itu dan telah diberi pelajaran keras
oleh adikmu. Karena itu akupun ingin diberi pelajaran oleh
Hek-tiauw Bu-koan."
"Engkau datang atas nama Hek-houw Bu-koan?" tanya Cin
Bu.
Laki-laki itu menggeleng kepalanya. "Sama sekali bukan.
Seperti juga suteku tadi, aku maju atas nama pribadi dan
menyambut tantangan pihak tuan rumah untuk ikut
meramaikan perayaan ini."
"Bagus, kalau begitu mari kita bertanding mengadu ilmu
silat untuk mengetahui siapa di antara kita yang lebih
tangguh." tantang Cin Bu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Majulah, orang muda. Aku sudah siap!" kata laki-laki
bernama Su Toan Ek itu, sikapnya tenang sekali dan dia tidak
memasang kuda-kuda seperti yang dilakukan Souw Tek tadi.
Lo Cin Bu sudah lebih berpengalaman dibandingkan adiknya,
maka dia dapat menduga bahwa lawannya ini tentu seorang
yang memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari pada
Souw Tek. Diapun berlaku hati-hati.
"Lihat serangan." bentaknya dan tangan kanannya
menyambar ke depan dengan pukulan ke arah dada. Akan
tetapi pukulan itu hanya pancingan belaka dan sudah
ditariknya kembali, bia hanya ingin melihat gerakan lawan
kalau diserang. Dia melihat Su Toan Ek menggerakkan tangan
dari bawah ke atas dan mencengkeram. Kalau pukulannya tadi
dilanjutkan, tentu lengannya akan dicengkeram dari bawah.
Sungguh merupakan tangi kisan sekaligus serangan
balasan yana berbahaya, dan cengkeraman itu merupakan ciri
khas bahwa lawannya adalah seorang ahli silat Hek-houw Sinkun
yang pandai. Cin Bu yang menarik kembali tangan
kanannya, sudah menggerakkan tangan kiri menampar ke
arah pelipis dengan tangan membentuk kepala rajawali yang
mematuk dengan ujung kelima jarinya.
Su Toan Ek juga mengenal serangan berbahaya. Dia
mengelak sambil melangkah ke belakang, kemudian kedua
tangan nya menyerang dari kanan kiri membentuk
cengkeraman ke arah kedua pundak Cin Bu sambil menubruk
ke depan. Cin Bu juga mengelak mundur sambil
mengembangkan kedua tangan seperti sayap seekor rajawali
untuk menangkis.
"Dukk! Dukk!" Dua pasang lengan bertemu dan Cin Bu
merasa tubuhnya terguncang. Dia melangkah mundur lagi dan
maklumlah dia bahwa Su Toan Ek adalah seorang ahli Iweekeh
(tenaga dalam) yang tangguh. Diapun mengerahkan sinkang
(tenaga sakti) dan menyerang seperti seekor rajawali
yang menyambar-nyambar dengan tangkasnya. Su Toan Ek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang bertubuh tinggi kurus itupun melawan dengan
mengandalkan kekuatannya dan berusaha untuk menerkam
dan mencengkeram dengan kedua tangan yang membentuk
cakar harimau.
Pertandingan ini lebih menegangkan dibandingkan yang
pertama tadi. Kalau pertandingan yang pertama tadi, Siang
Kui dan Souw Tek mengerahkan kecepatan untuk
mengalahkan lawan, pertandingan kedua ini dilakukan dengan
pengerahan tenaga sakti sehingga setiap sambaran tangan
mendatangkan angin yang kuat dan mengeluarkan suara
bersiutan.
"Pemuda itu lebih tangguh dari adiknya." kata Han Lin yang
sejak tadi memperhatikan pertandingan itu.
"Akan tetapi lawannyapun lebih tangguh daripada sutenya
tadi." kata Sian Eng.
"Pemuda itu tidak akan kalah. Ilmu silatnya yang
berdasarkan pada gerakan burung rajawali itu lebih lincah dan
lebih banyak perkembangannya daripada gerakan orang tinggi
kurus yang bergerak seperti harimau itu." kata pula Han Lin.
"Agaknya dia sama ganas dan bengis seperti adiknya.
Jurus-jurus pukulannya merupakan serangan maut yang
berbahaya." Sian Eng berkata sambil mengerutkan alisnya.
Memang ada rasa bangga di dalam hatinya bahwa keluarga
ayah kandungnya terdiri dari keluarga ahli silat yang pandai.
Akan tetapi keganasan, kebengisan dan keangkuhan mereka
membuat ia merasa kecewa dan tidak senang sekali.
"Hyaaattt.....!" Tiba-tiba Cin Bu membentak nyaring dan
tubuhnya melayang ke depan, didahului kedua kakinya yang
melakukan tendangan seperti sepasang kaki rajawali yang
menyerang lawan. Su Toan Ek terkejut dan cepat
merendahkan dirinya untuk mengelak.
Akan tetapi pada saat itu Cin Bu membuat gerakan pok-sai
(salto) sehingga tubuhnya berjung-kir balik, kepalanya di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bawah dan kakinya di atas. Kedua tangan membentuk paruh
rajawali menyerang ke bawah, yang kanan mematuk kepala
dan kiri mematuk jalan darah di punggung!
Su Toan Ek membalikkan tubuh, akan tetapi gerakannya
kurang cepat dan terlambat. Biarpun dia dapat menghindarkan
kepalanya dari serangan dengan miringkan kepalanya, namun
totokan ke arah punggungnya tepat mengenai sasaran.
"Tukkk.... aahhh....!" Dia terhuyung-huyung ke belakang
dan saat itu Cin Bu sudah turun dan cepat pemuda ini
mengirim pukulan ke arah dada lawan yang sudah terhuyung
itu.
"Bukk....." Tubuh Su Toan Ek terpental keluar dari
panggung, jatuh ke bawah dan dia rnuntuhkan darah segar.
Souw Tek cepat menolong Toa-suhengnya dan memapahnya
keluar dari tempat perayaan itu, terus keluar dari pekarangan
rumah untuk meninggalkan tempat itu. Mereka telah kalah
mutlak dan tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk tinggal
lebih lama di situ, hanya akan menjadi bahan tertawaan orang
saja.
Setelah memperoleh kemenangan, Cin Bu berdiri tegak
memandang ke sekeliling, lalu berkata dengan suara lantang.
"Siapa yang merasa memiliki kepandaian dan tadi berani
memandang rendah kepada adikku, silakan maju untuk
menguji kepandaian." Setelah berkata demikian, Cin Bu
kembali ke tempat duduknya semula.
Suasana yang tadinya hening ketika semua orang
menonton pertandingan itu, kini kembali berisik karena para
tamu saling bicara sendiri, membicarakan ketangguhan kakak
beradik she Lo yang telah mengalahkan dua orang lawannya
tadi.
Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring seorang wanita.
Ketika Han Lin dan Sian Eng memandang, mereka diam-diam
merasa khawatir karena melihat bahwa yang tertawa itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah Sam Ok yang kini telah bangkit dari tempat duduknya
dan melangkah dengan lenggang gemulai menuju ke tengah
panggung. Suara tawa itu mengatasi semua suara berisik
sehingga para tamu menoleh dan memandang.
Tentu saja mereka tertarik sekali melihat seorang wanita
cantik melangkah dengan lenggang yang membuat pinggulnya
menari-nari. Wanita itu tampaknya berusia kurang lebih empat
puluh tahun, sama sekali tidak kelihatan seperti usianya yang
sebenarnya, yaitu sudah enam puluh tahun. Wajah yang
cantik itu tersenyum-senyum dan matanya melirik-lirik tajam.
Setelah semua orang tidak lagi berisik melainkan
memandang kepadanya dengan penuh perhatian, Sam Ok lalu
menghadap ke arah tempat duduk tuan rumah dan ia berkata
lantang, dan karena ia memandang ke arah Lo Kang, maka ia
seolah bicara kepada Ketua Hek-tiauw Bu-koan itu.
"Namaku Ciu Leng Ci dan aku bukanlah seorang tamu
undangan. Aku datang ikut rekanku Phoa Li Seng untuk
memberi selamat kepada Hek-tiauw Bu-koan yang merupakan
perguruan silat paling terkenal di kota raja. Tadi aku tidak ikut
bertepuk tangan memuji karena bagiku permainan pedang itu
biasa-biasa saja. Akan tetapi nona Lo tadi menantang kepada
mereka yang tidak bertepuk tangan, maka aku merasa bahwa
aku juga ditantang. Karena itu, aku sekarang ingin main-main
sebentar dengan ilmu silat dari keluarga Hek-tiauw Bu-koan."
Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan lembut dan
sambil tersenyum itu, Lo Siang Kui merasa diejek dan
ditantang! Sebelum ayah dan kakaknya sempat mencegah, ia
sudah melompat dan berlari ke tengah panggung menghadapi
Sam Ok dan langsung saja ia mencabut pedangnya sehingga
tampak sinar terang berkelebat. Dengan pedang di tangan
kanan ia menghadapi Sam Ok dan menudingkan telunjuk
kirinya ke arah muka wanita itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ciu Leng Ci! Kalau memang engkau menganggap ilmu
pedangku biasa-biasa saja dan tidak ada harganya untuk
dipuji, marilah coba engkau tandingi ilmu pedangku!"
Sam Ok tersenyum mengejek. Tangan kanannya meraih ke
belakang pundak dan di lain saat tampak sinar hitam
berkelebat ketika ia sudah mencabut Hek-kong-kiam (Pedang
Sinar Hitam) dari sarung pedangnya yang menempel di
punggung.
"Wah, Lo Siang Kui bisa celaka sekarang.....!" Sian Eng
berseru lirih dengan alis berkerut.
"Aku akan membantunya!" Ia bangkit berdiri akan tetapi
Han Lin menyentuh lengannya, memberinya isarat untuk
duduk kembali. Setelah gadis itu duduk kembali, Han Lin
berbisik kepadanya.
"Jangan turun tangan dulu, hal itu berarti akan
merendahkan pihak tuan rumah. Aku tidak percaya Sam Ok
berani mencelakai gadis itu karena begini banyak tokoh kangouw
berada di sini."
Sian Eng mengangguk dan membenarkan pendapat Han
Lin. Saudara sepupunya itu demikian angkuhnya. Kalau ia
maju tentu akan disambut dengan marah dan ia yang akan
mendapat nnalu. Maka iapun lalu menonton saja dengan hati
gelisah. Bagaimanapun juga, Siang Kui adalah saudara
sepupunya dan ia sudah tahu betul betapa lihai dan kejamnya
Sam Ok si iblis betina itu.
Biarpun dari sinar pedangnya saja sudah dapat dikatakan
bahwa Sam Ok memiliki sebuah pedang pusaka bersinar hitam
yang ampuh, Siang Kui yang berwatak angkuh itu sama sekali
tidak takut.
"Nona Lo, pedang yang berada di tanganmu itu hanya
pedang biasa, tidak dapat diandalkan dan ilmu pedangmu
tadipun biasa-biasa saja. Aku bukan sekadar membual,
melainkan mengatakan dengan sebenarnya. Kalau dua orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari aliran Hek-houw Bu-koan tadi dikalahkan olehmu dan
kakakmu, hal itu adalah karena kepandaian mereka masih
rendah sekali. Untuk membuktikan kebenaran ucapanku, nah,
maju dan seranglah aku dengan pedangmu itu. Hendak kulihat
apa yang dapat kaulakukan dengan pedangmu itu terhadap
diriku!"
Sam Ok mengeluarkan kata-kata itu dengan lantang
sehingga terdengar oleh para tamu, dan biarpun ia
mengucapkannya dengan tersenyum dan dengan kata-kata
halus, namun bagi Siang Kui merupakan tantangan yang amat
memandang rendah kepadanya. Tentu saja ia menjadi marah
sekali.
"Perempuan sombong, lihat pedangku!" bentaknya dan ia
sudah menyerang dengan dahsyat, mengelebatkan pedangnya
yang menyambar ke arah leher Sam Ok dengan pengerahan
tenaga seakan-akan ia hendak sekali serang membabat putus
leher wanita itu!
Akan tetapi dengan gerakan amat tenang Sam Ok
mengangkat pedangnya dan menangkis sambaran pedang
lawan itu.
"Tranggg....!" Tampak bunga api berpijar ketika kedua
pedang bertemu dan Siang Kui terkejut setengah mati ketika
merasa betapa tangannya tergetar hebat dan pedang itu
hampir saja terlepas dari pegangannya! Hal ini jelas
membuktikan bahwa tenaga sin-kang wanita itu amat
kuatnya.
Akan tetapi biar tahu akan hal ini, Siang Kui tidak menjadi
gentar dan pedangnya sudah menyambar dan menyerang
bertubi-tubi sehingga lenyap bentuk pedangnya, berubah
menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ke arah
tubuh Sam Ok.
Akan tetapi dengan sikap masih tenang Sam Ok
menghadapi hujan serangan itu dengan elakan atau tangkisan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan setiap kali ia menangkis dengan pedangnya, pedang di
tangan Siang Kui terpental. Akan tetapi gadis ini nekat terus
mendesak dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Hektiauw
Kiam-sut (Ilmu Pedang Rajawali Hitam).
Tubuhnya berkelebatan dan kadang melompat ke atas
seperti terbang untuk kemudian menukik dan menyerang dari
atas dengan pedangnya. Namun, semua usahanya itu gagal
dan semua serangannya dapat dipatahkan atau dihindarkan
oleh Sam Ok.
Sam Ok membiarkan dirinya diserang sampai tiga puluh
jurus lebih. Siang Kui sudah mulai kebingungan dan penasaran
sekali karena semua serangannya gagal. Tiba-tiba Sam Ok
berseru dengan nyaring sekali.
"Patah....!" Pedangnya yang bersinar hitam itu dibacokkan
dengan pengerahan tenaga sepenuhnya menyambut pedang
Siang Kui sehingga kedua pedang itu bertemu dengan dahsyat
di udara.
"Trakkk......!!" Siang Kui terkejut dan melompat ke
belakang, lalu memandang pedang yang berada di tangannya.
Pedang itu tinggal sepotong karena telah patah di tengahtengahnya
ketika beradu dengan pedang hitam di tangan Sam
Ok!
Sam Ok tertawa. "Nah, apa kataku tadi? Pedang dan ilmu
pedangmu memang belum pantas menerima pujianku!"
Sambil berkata demikian, ia sendiri menyimpan kembali
pedangnya.
Siang Kui menjadi merah mukanya. Sudah jelas bahwa ia
kalah dalam pertandingan silat pedang, akan tetapi ia masih
tidak mau menerimanya, seolah-olah ia tidak percaya bahwa
dirinya dapat dikalahkan orang lain. Ia membanting sisa
pedangnya ke atas lantai dan berkata dengan berang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ciu Leng Ci, pedangku memang kalah kuat dibanding
pedangmu, akan tetapi apakah engkau berani bertanding
melawanku dengan tangan kosong?" tantangnya.
Sam Ok tersenyum mengejek. "Apa yang kau andalkan
untuk dapat menang dariku? Lebih baik engkau kembali ke
tempat dudukmu agar terhindar dari terluka olehku!"
"Manusia sombong! Jagalah serangan-ku!" Tiba-tiba Siang
Kui yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya sudah
melompat cepat ke depan menerjang dengan pukulannya. Ia
memainkan ilmu silat tangan kosong Hek-tiauw Sin-kun dan
menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Ia amat
bernapsu untuk menebus kekalahannya bermain pedang tadi,
maka serangannya bertubi-tubi dan membabi-buta!
Seperti juga tadi, Sam Ok mengandalkan kelincahannya
untuk mengelak atau kadang menangkis pukulan dan
tendangan yang dilakukan Siang Kui sehingga lewat dua puluh
jurus. Tiba-tiba ia berseru nyaring.
"Roboh!" Telunjuk tangan kiri menuding. Suara bercuitan
terdengar dan dari telunjuk itu menyambar hawa pukulan
yang amat dahsyat. Itulah ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun)
yang hebatnya bukan alang kepalang!
Siang Kui merasa betapa pundak kanannya dilanggar
sesuatu seperti tertusu pedang iapun roboh terjengkang. Ia
merasa nyeri sekali di pundaknya, panas dan perih. Ketika ia
menunduk dan memandang, ternyata bajunya di bagian
pundak kanan sudah hangus dan kulit pundaknya tampak
kehitaman. Ia kaget sekali, maklum bahwa ia telah terkena
pukulan jarak jauh yang mengandung hawa beracun jahat
sekali. Siang Kui bangkit berdiri dengan wajah pucat
memandang kepada lawannya. Lo Kang sudah melompat ke
dekat puterinya dan merangkulnya.
"Lo-kauwsu, anakmu telah terkena pukulan Ban-tok-ci,
kalau engkau tidak menggunakan obat penawar ini, tidak ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
obat lain yang akan mampu menyembuhkannya." kata Sam
Ok sambil menyerahkan sebuah bungkusan kertas dan Lo
Kang menerimanya tanpa sepatahpun kata. Dia lalu memapah
puterinya kembali ke kursinya dan cepat mencampurkan obat
penawar itu dengan air teh dan meminumkannya kepada
Siang Kui. Ternyata obat itu manjur bukan main karena
seketika rasa panas dan perih pada pundaknya menghilang.
"Ciu Leng Ci, coba engkau melawan aku!" tiba-tiba
terdengar bentakan dan Lo Cin Bu sudah melompat ke depan
Sam Ok sebelum wanita itu meninggalkan panggung.
Sam Ok memandang kepada pemuda itu dengan sinar
mata penuh selidik dan penilaian, seperti seorang pedagang
kuda yang sedang menilai seekor kuda yang hendak dibelinya.
Ia memandang pemuda itu dari kepala sampai ke kaki
kemudian tersenyum senang. Dalam penilaiannya, pemuda itu
mengagumkan hatinya. Tinggi besar tampak kokoh kuat dan
gagah!
"Orang muda yang gagah, siapakah engkau?"
"Aku adalah Lo Cin Bu. Adikku Lo Siang Kui telah kalah
olehmu. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa ilmu silat dari
aliran Hek-tiauw Bu-koan rendah dan tidak dapat
menandingimu, melainkan tingkat adikku yang belum begitu
tinggi. Hayo tandingilah aku kalau engkau memang tidak mau
menghargai ilmu silat kami."
"Hi-hi-hik, orang muda. Boleh jadi ilmu silat Hek-tiauw Bukoan
sudah baik dan tinggi, akan tetapi ingatlah bahwa di
dunia ini banyak sekali ilmu silat yang lebih tinggi daripada
yang kalian bangga-banggakan itu. Lebih baik engkau ikut
denganku selama satu dua tahun untuk memperdalam ilmu
silatmu. Bagaimana?"
Ucapan itu dilakukan penuh kerling memikat dan senyum
manis, akan tetapi Cin Bu merasa dipandang rendah sekali.
Dia adalah jagoan dari Hek-tiauw Bu-koan, tingkatnya hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalah oleh ayahnya saja dan di kota raja dia sudah sukar
menemukan tandingnya. Sekarang dipandang rendah oleh
wanita ini, tentu saja ketinggian hatinya tersinggung dan
mukanya berubah merah karena marah.
"Ciu Leng Ci, tidak perlu banyak cakap lagi. Mari kita
bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih
unggul!" bentak Cin Bu dan dia sudah maju tiga langkah
menghampiri wanita itu dan memasang kuda-kuda dengan
membuka kedua lengan seperti seekor burung rajawali hendak
terbang.
"Bagus, pemuda gagah. Aku ingin melihat sampai di mana
kemampuanmu!" kata Leng Ci atau Sam Ok.
"Sambut seranganku!" Ci Bu sudah menerjang dengan
dahsyatnya. Begitu menyerang Cin Bu sudah mengerahkan
seluruh tenaga dan kecepatannya karena dia maklum betapa
lihai lawannya.
"Bagus!" Sam Ok memuji dan iapun menggerakkan tangan
untuk menangkis dan sengaja ia menggunakan tenaga untuk
mengukur kekuatan pemuda itu.
"Dukkk.....!!" Cin Bu tertolak ke belakang, akan tetapi Sam
Ok juga merasa betapa lengannya tergetar sehingga tahulah
ia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang lebih kuat
dibandingkan Siang Kui.
-00dw00kz00-
Jilid XXI
CIN BU merasa penasaran sekali ketika tubuhnya terpental,
seolah dia bertemu dengan dinding yang amat kuat. Dia
segera menyerang lagi dan tangannya yang membentuk paruh
burung itu menotok ke arah bagian tubuh yang berbahaya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena sekali ini dia hendak menebus kekalahan adiknya agar
nama besar Hek-tiauw Bu-koan terangkat lagi.
Akan tetapi, ke manapun dia menyerang, dia selalu
memukul angin kosong belaka atau pukulannya itu ditangkis
dan selalu tangannya terpental dan seluruh lengannya tergetar
hebat. Setelah belasan jurus dia menyerang tanpa hasil dan
lawan hanya mengelak atau menangkis saja tanpa balas
menyerang dia merasa dipandang rendah sekali.
"Balaslah menyerang kalau engkau mampu!" tantangnya.
"Hi-hik, sayang kalau sampai melukaimu, pemuda gagah!"
Sam Ok tertawa dan tiba-tiba secepat kilat tangannya
menyambar dan telapak tangan yang halus dan hangat itu
mengelus pipi Cin Bu. Pemuda ini terkejut sekali karena kalau
wanita itu menghendaki, tentu saja pipinya bukan hanya
dielus, melainkan dipukul atau ditampar.
Pertandingan dilanjutkan, akan tetapi kini Cin Bu merasa
menjadi permainan wanita itu. Pipinya dielus, dagunya diusap,
bahkan kadang pahanya dicubit dan pinggulnya ditepuk.
Wajahnya berubah merah sekali karena dia belum dapat
menyentuh tubuh lawan dengan semua serangannya,
sebaliknya kalau lawannya itu menghendaki, tentu sejak tadi
dia sudah roboh, terluka berat bahkan mungkin sekali tewas!
Dia merasa penasaran sekali dan sambil menggigit bibir
sendiri dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan
semua ilmu silatnya, bahkan menyerang dengan membabi
buta. Anehnya, semua serangannya yang dahsyat itu tidak
pernah dapat menyentuh tubuh lawan. Tiba-tiba Sam Ok
mengeluarkan suara tawa kecil dan begitu jari-jari tangannya
menyambar, Cin Bu merasa betapa semua tenaganya lenyap,
tubuhnya lemas dan dia tidak kuat berdiri lagi dan ambruk
berlutut di depan lawannya itu! Secara cepat sekali sehingga
sukar diikuti pandangan mata, ternyata Sam Ok telah berhasil
mempergunakan tiam-hiat-to (menotok jalan darah) membuat
tubuh pemuda itu lumpuh dan lemas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat Cin Bu berlutut di depannya, sambil tersenyum
lebar Sam Ok membungkuk dan kedua tangannya memegang
kedua pundak pemuda itu sambil berkata lembut namun
nyaring sehingga terdengar semua orang yang hadir di situ.
"Ah, pemuda gagah, tidak perlu menghormatiku dengan
berlutut seperti ini!"
Jari-jari tangan yang mungil itu menyentuh pundak dan
seketika Cin Bu bergerak lagi. Dia segera bangkit berdiri.
Mukanya menjadi merah sekali dan sambil menundukkan
mukanya dia melangkah kembali ke tempat duduknya. Semua
orang melihat betapa dia sudah jatuh berlutut. Dia sudah
kalah, hal ini harus ia sadari dan akui. Wanita itu terlalu kuat,
terlalu tangguh baginya. Dia tahu benar bahwa kalau wanita
itu menghendaki, dia dapat tewas dalam perkelahian tadi.
Dia dapat menduga bahwa dia jatuh berlutut tadi karena
totokan yang ampuh sekali. Dia dan adiknya telah dikalahkan
dengan mudah oleh wanita itu dan hal ini benar-benar
merupakan pukulan hebat bagi hatinya yang penuh
kecongkakan, yang biasanya terlalu memandang tinggi kepada
diri dan kemampuannya sendiri.
Lo Kang yang menyaksikan betapa kedua orang anaknya
itu kalah dengan amat mudahnya oleh tamu wanita itu,
menjadi merah sekali mukanya. Dari kekalahan kedua orang
anaknya tadi diapun sudah dapat mengukur kepandaian
wanita bernama Ciu Leng Ci itu. Dari kekalahan dua orang
anaknya yang amat mudah itu tadi saja diapun sudah maklum
bahwa dia sendiri tidak akan mampu menandingi wanita itu.
Dia teringat ketika wanita tadi memperkenalkan diri. Namanya
Ciu Leng Ci dan katanya ia bukan tamu undangan, melainkan
datang ikut bersama Phoa Li Seng.
Dia mengenal Phoa Li Seng sebagai Ji Ok, datuk yang amat
lihai. Tiba-tiba dia teringat. Jangan-jangan wanita ini adalah
Sam Ok, rekan dari Ji Ok yang juga amat terkenal memiliki
ilmu silat yang amat hebat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan memberanikan diri Lo Kang bangkit dari tempat
duduknya, akan tetapi dia tidak menghampiri wanita itu,
melainkan menegur dari bagian atas di mana dia duduk dan
menghadap ke arah Sam Ok yang berdiri di atas panggung.
"Ciu-toanio (Nyonya Besar Ciu), engkau datang bersama
Phoa-locianpwe yang berjuluk Ji Ok. Apakah engkau yang
berjuluk Sam Ok?"
Sam Ok tersenyum, senyum yang mengandung ejekan.
"Lo-busu (guru silat Lo), aku tidak ingin menggunakan nama
julukanku untuk menakut-nakuti orang. Dua orang anakmu
sudah membuktikan bahwa ilmu silat mereka masih amat
rendah, tepat seperti yang kukatakan tadi. Kalau engkau
setuju dengan penilaianku tadi, akuilah akan kerendahan mutu
Ilmu silat dari Hek-tiauw Bu-koan. Akan tetapi kalau engkau
menyangkal, engkau dapat mempertahankan kehebatan ilmu
silatmu itu dariku!"
Lo Kang menjadi penasaran sekali, hiarpun dia sudah dapat
memaklumi bahwa dia tidak akan mampu menandingi wanita
itu, namun kalau dia membiarkan orang meremehkan ilmu
silat dari perguruannya, namanya akan jatuh dan takkan ada
lagi orang mau berguru kepadanya. Karena itu dia menjadi
nekad dan dia melangkah maju hendak menghampiri Sam Ok
dengan alis berkerut dan sinar mata memancarkan api
kemarahan.
Akan tetapi sebelum dia tiba di tengah panggung, tiba-tiba
tampak bayangan merah muda berkelebat dan Sian Eng sudah
melompat dari bagian bawah ke tengah panggung,
menghadang Lo Kang.
"Toapek, harap toapek jangan turun tangan sendiri
memberi hajaran kepada wanita sombong itu. Toapek adalah
tuan rumah yang sedang mengadakan pesta perayaan.
Sebaiknya aku sajalah yang akan maju mewakili toapek
menghadapi perempuan sombong ini!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lo Kang terkejut dan memandang kepada keponakan yang
baru saja ditemuinya itu dengan alis berkerut. "Lawan itu lihai
sekali. Engkau hanya anak dari mendiang Lo Kiat, adikku yang
sasterawan lemah itu. Apa yang akan dapat kaulakukan untuk
menandinginya?"
Cin Bu dan Siang Kui juga sudah bangkit dari tempat duduk
mereka dan menghampiri Sian Eng. "Hei, engkau ini anak kecil
hendak ikut-ikutan! Lancang benar hendak mewakili ayah
kami!" bentak Lo Siang Kui.
"Adik kecil, mundurlah dan jangan mencari perkara. Kalau
engkau maju melawannya dan terpukul mati, engkau hanya
membikin malu kami dan merepotkan saja!"
Sian Eng yang pada dasarnya berwatak keras, tersenyum
mengejek dan berkata kepada mereka bertiga, "Hemm, kalian
lihat saja nanti!" Setelah berkata demikian, tanpa
memperdulikan mereka bertiga ia sudah melompat ke depan
Sam Ok. Ia menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah
hidung wanita itu dan membentak dengan . suara lantang
sehingga terdengar oleh semua orang.
"Heii, Sam Ok iblis betina yang jahat dan busuk! Aku Lo
Sian Eng menantangmu bertanding, beranikah engkau
melawan aku?"
Tantangan yang sekaligus memaki dan meremehkannya ini
tentu saja membuat Sam Ok marah sekali. Wajahnya menjadi
merah, sepasang matanya menyinarkan api. Ia tadi sudah
mendengar cegahan Lo Kang dan dua anaknya terhadap gadis
yang menantangnya ini.
"Bocah gila! Engkau tidak tahu disayang keluargamu dan
nekat hendak melawanku. Apakah engkau sudah bosan hidup?
Kalau sudah bosan, biarlah aku akan mengantar nyawamu ke
alam baka!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sam Ok, bukan aku yang akan mati, melainkan engkau
yang akan mampus di tanganku untuk menebus semua
dosamu yang bertumpuk-tumpuk!" kata Sian Eng.
Sam Ok tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Bocah
setan, mampuslah!" teriaknya dan ia sudah menerjang maju,
sekali ini tidak seperti ketika ia melawan Siang Kui dan Cin Bu.
Kalau tadi ia hanya ingin mengalahkan mereka tanpa
membunuh, bahkan setelah memukul Siang Kui juga langsung
memberi obat penawar, akan tetapi sekarang, begitu ia
menyerang, ia telah mengerahkan tenaga sin-kangnya yang
beracun dari jari telunjuk tangan kirinya meluncur untuk
mengirim totokan maut dengan ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa
Racun). Hebat bukan main totokannya itu karena kalau
mengenai sasaran, pasti lawan akan tewas seketika!
Sian Eng yang pernah bertanding melawan Sam Ok,
mengenal serangan ini dan iapun tidak mau mengalah atau
memperlihatkan kelemahannya. Ia tidak mengelak, melainkan
maju dan menyambut serangan totokan jari itu dengan ilmu
Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa)! Ilmu
pukulan yang mengandung hawa beracun ini tidak kalah
dahsyatnya dibandingkan Ban-tok-ci yang dipergunakan Sam
Ok.
"Dukkk!!" Dua lengan itu bertemu di udara dan akibatnya
tubuh Sam Ok terdorong mundur sampai lima langkah,
sedangkan Sian Eng hanya mundur dua langkah.
Bukan main kagetnya Sam Ok ketika merasa betapa lengan
lawan yang menangkisnya itu sedemikian kuatnya dan
mengandung hawa yang tidak kalah panasnya dengan hawa
pukulannya sendiri! Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa
gadis muda yang cantik jelita ini bukan lain adalah pemuda
tampan bernama Eng-ji yang pernah menjadi lawan ketiga
Sam-ok menemani Han Lin dan Pek I Yok Sian-li Tan Kiok
Hwa! Ia menjadi penasaran dan semakin marah. Sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berteriak nyaring ia sudah menerjang lagi dan menghujankan
serangan maut.
Siang Eng memperlihatkan kegesitan-nya. Ia mengelak
atau menangkis lalu membalas dengan tidak kalah dahsyatnya
sehingga kedua orang wanita itu sudah terlibat dalam
perkelahian yang amat dahsyat dan mati-matian. Bahkan
orang-orang di sekitar panggung itu dapat merasakan hawa
pukulan panas yang menyambar-nyambar!
Melihat jalannya pertandingan ini, Lo Kang terkejut dan
heran, juga girang dan timbul harapan dalam hatinya agar
keponakannya itu dapat memenangkan pertandingan dan
mengembalikan kehormatan dan nama besar Hek-tiauw Bukoan.
Saking tegang dan gembiranya, Lo Kang bangkit berdiri
dari kursinya dan menonton sambil berdiri.
Lo Cin Bu dan Lo Siang Kui juga bangkit berdiri dan
menonton dengan kedua mata terbelalak. Mereka berdua juga
merasa terkejut dan heran, akan tetapi yang lebih dari itu,
mereka merasa malu sekali mengingat betapa tadi mereka
bersikap angkuh dan memandang rendah kepada adik sepupu
yang baru saja datang itu. Wajah mereka menjadi merah
sekali, akan tetapi merekapun menonton dengan hati tegang
dan penuh harapan agar saudara sepupu itu dapat
membalaskan kekalahan mereka.
Tiga puluh jurus telah lewat dan pertandingan itu semakin
dahsyat dan seru. Sudah beberapa kali tubuh Sam Ok
terpental dan terhuyung ketika lengan mereka saling beradu.
Tiba-tiba Sian Eng mengubah gerakannya dan kini ia bersilat
dengan ilmu Pek-lek Ciang-hoat (Silat tangan Kosong
Halilintar)! Sam Ok terkejut sekali. dan sebelum ia dapat
menghindarkan diri, pundaknya terkena dorong in tangan kiri
Sian Eng.
"Plakk!" Tubuh Sam Ok terpelanting dan terguling-guling di
atas papan panggung. Wanita itu melompat bangun, pundak
kanannya terasa nyeri, akan tetapi ia memaksakan diri untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencabut pedang Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam) dari
punggungnya. Akan tetapi sebelum pedang tercabut, sesosok
bayangan berkelebat di dekatnya.
"Sam Ok, mundurlah. Aku akan melawan gadis ini!"
Ternyata orang itu adalah Ji Ok. Sam Ok yang merasa pundak
kanannya nyeri sehingga lengan kanannya juga kurang leluasa
untuk bermain pedang, maklum bahwa kalau melawan terus ia
pasti kalah. Maka melihat kemunculan Ji Ok, hatinya merasa
girang dan diapun cepat melompat turun dari atas panggung,
tidak lagi duduk di bagian atas melainkan mencari tempat
kosong di bagian bawah panggung.
Sian Eng menghadapi Ji Ok dengan hati panas. Tentu saja
ia mengenal baik datuk ini, orang yang amat dibencinya
karena Ji Ok inilah orangnya yang pernah menguasai dan
mempengaruhi ibu Han Lin dengan sihir, kemudian bahkan
pisau terbang iblis ini pula yang telah menewaskan ibu Han
Lin.
Sejak tadi Ji Ok memperhatikan gadis yang bertanding
melawan Sam Ok ini dan dia merasa kagum bukein main.
Bukan hanya kagum oleh kecantikan Sian Eng, akan tetapi
juga amat kagum melihat betapa lihainya gadis itu sehingga
mampu mendesak dan mengalahkan Sam Ok!
Dia telah kehilangan Chai Li dan kalau ada penggantinya,
agaknya gadis inilah yang pantas menjadi pengganti Chai Li,
untuk menjadi pembantu dan juga kekasih atau isterinya!
Kalau gadis ini dapat menjadi isterinya, keadaannya akan
menjadi kuat sekali dan dia bahkan tidak takut terhadap Toa
Ok atau musuh yang manapun! Maka, begitu berhadapan
dengan Sian Eng, Ji Ok diam-diam mengerahkan daya sihirnya
untuk mempengaruhi gadis itu.
Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu amat benci
kepadanya. Sian Eng memang sedang berusaha untuk
menekan perasaannya yang dilanda kebencian yang amat
sangat. Bukan saja karena Ji Ok telah membunuh ibu Han Lin,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
walaupun tidak sengaja, melainkan juga karena dara ini
teringat betapa Thian-te Sam-ok adalah pembunuh-pembunuh
dari kakek-uwa gurunya yang juga menjadi gurunya yang ke
dua, yaitu mendiang Hwa Hwa Cinjin.
"Lo Sian Eng, engkau masih begini muda namun sudah
memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Engkau pantas kalau
menjadi seorang sahabat baikku, dan aku akan mengajarkan
ilmu-ilmu yang lebih tinggi kepadamu. Untuk itu, aku
perintahkan kamu untuk berlutut memberi hormat kepadaku!"
Ji Ok mengerahkan daya sihirnya dan mulutnya berkemakkemik
membaca mantera. Dia sama sekali tidak tahu bahwa
gadis itu telah mempelajari ilmu sihir dari mendiang Hwa Hwa
Cinjin sehingga begitu ada kekuatan sihir menyerangnya, Sian
Eng segera mengetahuinya! Cepat gadis inipun mengerahkan
kekuatan sihirnya dan sepasang matanya yang tajam menatap
wajah Ji Ok, dipusatkan di antara kedua alis laki-laki itu dan
sinar matanya seolah menembus daerah itu dan mulutnya
mengeluarkan seruan yang menggetar.
"Siapa yang berlutut? Engkau atau aku? Engkaulah yang
berlutut, Ji Ok!"
Ji Ok sama sekali tidak mengira akan mendapat serangan
yang membuat daya sihirnya membalik dan menghantam
dirinya sendiri. Tanpa dapat dicegah lagi ke dua kakinya
bertekuk lutut! Setelah berlutut barulah dia menyadari
keadaannya dan dengan pengerahan sin-kang dia dapat
memulihkan kesadarannya dan dia sudah melompat berdiri.
Wajahnya menjadi merah sekali, merah karena malu dan juga
marah. Kini dia mengamati wajah gadis itu dengan tajam
penuh selidik dan tiba-tiba teringat olehnya bahwa dia pernah
bertemu dengan gadis ini! Gadis ini pandai ilmu sihir pula!
Benar, dia ingat sekarang. Gadis ini adalah gadis yang dulu
membantu Hwa Hwa Cinjin ketika dia dan dua orang
rekannya, yaitu Toa Ok dan Sam Ok, menyerang kakek sakti
itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau..... kau..... murid Hwa Hwa Cinjin!" serunya marah,
akan tetapi dia tidak berani memandang rendah lagi dan cepat
dia melolos senjatanya yang ampuh, yaitu sehelai sabuk
sutera putih.
Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat dan Han Lin
sudah berdiri di samping Sian Eng. "Eng-moi, mundurlah dan
biarkan aku sendiri yang menghadapi jahanam busuk ini!"
Sian Eng tersenyum dan melompat turun dari atas
panggung. Ketika Ji Ok melihat Han Lin, matanya terbelalak
dan mukanya menjadi pucat sekali. Dia tahu betapa lihainya
pemuda ini tahu pula bahwa putera Chai Li pasti tidak akan
mau melepaskannya, dan akan membunuhnya untuk
membalaskan ibunya. Maka, menggunakan kesempatan selagi
Han Lin belum siap, dia langsung saja menggerakkan sabuk
sutera putihnya yang meluncur dan ujungnya menyambar ke
arah leher Han Lin dalam serangan maut yang amat
berbahaya! Han Lin maklum akan datangnya bahaya maut.
Dia menggerakkan tubuhnya, melompat ke belakang untuk
menghindarkan diri dari serangan sabuk sutera putih itu. Akan
tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Ji Ok untuk
melompat jauh turun dari atas panggung dan melarikan diri,
mengejar Sam Ok yang sudah melarikan diri terlebih dahulu
ketika wanita itu melihat munculnya Han Lin di situ!
"Lin-ko, mari kita kejar!" Sian Eng berseru dan gadis ini lalu
berlari cepat keluar dari tempat itu untuk mengejar Sam Ok
dan Ji Ok. Han Lin juga mengerahkan gin-kang (ilmu
meringankan tubuh) untuk mengejar.
Keadaan di tempat pesta menjadi gempar. Akan tetapi Lo
Kang dapat menenangkan suasana dan pesta dilanjutkan.
Semua orang membicarakan tentang gadis dan pemuda itu
yang dapat membuat dua orang datuk besar seperti Sam Ok
dan Ji Ok melarikan diri ketakutan! Sementara itu, Lo Kang
dan dua orang anaknya, Lo Cin Bu dan Lo Siang Kui, juga
membicarakan Sian Eng yang diluar dugaan mereka sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali ternyata merupakan seorang gadis yang memiliki ilmu
silat yang amat tinggi. Cheng Kun, putera Pangeran Cheng
Boan yang menjadi tunangan Siang Kui, juga menyatakan
kekagumannya, bahkan dia berkata dengan sungguh-sungguh
kepada Siang Kui.
"Kalau aku melaporkan kepandaian adik sepupumu Lo Sian
Eng itu kepada ayahku, tentu ayah mau memanfaatkan
kepandaiannya dan mau mengangkatnya menjadi pengawal
atau penjaga keselamatan keluarga kami."
Mendengar ini, Siang Kui cemberut dan mengerling manja.
"Engkau yang akan kesenangan mendapatkan seorang
pengawal yang cantik!"
Putera pangeran itu tertawa sehingga matanya yang sipit
itu menjadi semakin sipit sehingga nyaris terpejam. "Ha-haha,
agaknya engkau cemburu, kasihku?"
Akan tetapi Sian Kui hanya cemberut dan matanya
mengerling marah.
"Baiklah, kalau begitu aku berjanji tidak akan melaporkan
kepada ayahku. Nah, aku sudah berjanji, engkau puas, bukan?
Senyumlah agar wajahmu menjadi tambah manis." Ucapan
bernada rayuan itu dikeluarkan oleh putera pangeran itu
begitu saja di depan calon ayah ibu mertuanya dan di depan
banyak orang tanpa sungkan-sungkan. Mendengar ini, Siang
Kui mengerling lagi, akan tetapi kini mulutnya yang berbentuk
manis itu tidak cemberut lagi, melainkan tersenyum.
Pesta dilanjutkan dan suasana menjadi gembira lagi.
Sekarang para tamu kehormatan yang duduk di bagian atas
menghujani Lo Kang dengan pertanyaan tentang keponakan
perempuan yang amat lihai itu.
"Ah, ia adalah Lo Siang Eng, keponakanku." kata Lo Kang
dengan nada bangga. "Ayahnya bernama Lo Kiat dan dia itu
adikku yang menjadi seorang sasterawan. Akan tetapi kini
adikku itu dan isterinya telah meninggal dunia sehingga Sian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Eng menjadi yatim piatu dan tentu saja ia akan ikut dengan
kami."
Pesta dilanjutkan dan diam-diam, dalam hati mereka,
keluarga Lo itu bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Sian
Eng dan Han Lin yang tadi melakukan pengejaran terhadap
Sam Ok dan Ji Ok.
Sam Ok harus mengerahkan seluruh tenaganya agar ia
tidak tertinggal oleh Ji Ok. Wanita itu masih merasa
pundaknya agak sakit dan hal ini membuat larinya agak
terganggu. Setelah mereka berlari cepat sampai di lereng
sebuah bukit yang sunyi, Ji Ok tidak sabar lagi.
"Sam Ok, terpaksa aku akan meninggalkan engkau di sini.
Kita berpisah saja dan mengambil jalan masing-masing."
"Akan tetapi, Ji Ok. Bagaimana kalau pemuda setan itu
melakukan pengejaran? Kalau kita berdua tentu akan lebih
kuat untuk melawannya." bantak Sam Ok.
"Justeru karena ada kemungkinan dia melakukan
pengejaran, maka kita harus berpisah. Kalau kita berpisah,
tentu seorang di antara kita akan lolos dari pengejarannya.
Kuharapkan saja aku yang akan lolos itu!" kata Ji Ok yang
sudah akan meninggalkan rekannya itu. Akan tetapi tiba-tiba
dua orang datuk sesat itu terkejut setengah mati ketika
terdengar suara orang di belakang mereka.
"Kalian berdua tidak akan dapat lolos dari tangan kami!"
Mereka berdua memutar tubuh dan melihat Han Lin dan
Sian Eng sudah berdiri di situ. Melarikan diri agaknya tidak
mungkin lagi karena mereka tentu akan dikejar dan tersusul.
Mereka berdua terpaksa menghadapi dua orang lawan muda
yang mereka takuti itu.
"Lo Sian Eng, di antara kita tidak ada permusuhan apapun.
Kenapa engkau mendesak aku?" tanya Sam Ok dengan suara
mengandung penasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Eng tersenyum mengejek. "Sam Ok, engkau katakan
tidak ada permusuhan apapun antara kita? Hemm,
kesalahanmu kepadaku sudah bertumpuk-tumpuk, dan
sebesar Gunung Thai-san! Pertama, engkau dan dua orang
rekanmu, telah menyerang guruku Hwa Hwa Cinjin dan
mengakibatkan kematiannya. Ke dua, kalian bertiga pernah
menawan aku bersama kakak Han Lin dan enci Tan Kiok Hwa,
nyaris membunuh kami. Dan kau bilang tidak ada urusan di
antara kita? baru mengingat akan kejahatanmu yang amat keji
itu saja sudah cukup bagiku untuk memusuhimu dan
membunuhmu!"
"Menawanmu? Ketika kami menawan Han Lin dan Kiok
Hwa, engkau tidak ikut kami tawan. Yang ada hanya seorang
pemuda yang.... ahh, kiranya engkaukah pemuda bernama
Eng-ji itu?" seru Sam Ok yang ingat akan persamaan wajah
antara Sian Eng dan pemuda bernama Eng-ji itu.
Sian Eng tersenyum. "Engkau sudah tahu sekarang dan
bersiaplah untuk memasuki neraka!" Sian Eng menggerakkan
tangan kanannya ke pundak dan sebatang pedang bersinar
hijau telah berada di tangannya. Itu adalah Ceng-liong-kiam
(Pedang Naga Hijau) pemberian ayahnya! yang kini menjadi
musuh besarnya, yaitu Suma Kiang.
Melihat ini, biarpun hatinya merasai gentar, Sam Ok juga
mencabut Hek-kong kiam (Pedang Sinar Hitam), melintangkan
pedang bersinar hitam itu di depan dada dan berseru,
"Engkaulah yang akani mampus di ujung pedangku, bocah
sombong!"
"Sambut seranganku!" Sian Eng berteriak lantang dan sinar
hijau menyambar dahsyat ke arah dada Sam Ok. Datuk wanita
inipun menggerakkan pedangnya menangkis.
"Tranggg.....!!" Tampak bunga api berpijar dan kedua
orang wanjta itu melangkah ke belakang untuk memeriksa
pedang masing-masing. Pedang mereka tidak rusak dan Sian
Eng sudah menerjang lagi, mengirim serangan bertubi-tubi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sam Ok mengelak dan menangkis, juga membalas setiap
terdapat kesempatan sehingga kedua orang wanita ini sudah
bertanding dengan serunya. Pedang di tangan mereka lenyap
bentuknya, berubah menjadi sinar hijau dan sinar hitam yang
bergulung-gulung bagaikan dua ekor naga yang berlaga di
angkasa.
Sementara itu, Ji Ok yang merasa gentar terhadap Han Lin,
mencoba untuk meloloskan diri dengan membujuk pemuda
itu. "Han Lin, ingatlah bahwa aku dan ibumu saling mencinta.
Aku mencinta ibumu dengan segenap jiwa ragaku. Apakah
engkau tidak dapat membiarkan aku pergi?"
Sinar mata Han Lin mencorong ketika dia memandang
kepada laki-laki berusia enam puluh tahun yang masih tampan
dan gagah itu. Teringat akan nasib dan kematian ibunya,-
sinar matanya mengandung api kemarahan. "Ji Ok, ibuku tidak
pernah mencintaimu. Akan tetapi engkau telah menguasainya
dengan sihir! Bahkan pisau-pisaumulah yang telah merenggut
nyawanya! Kau masih berani menyangkal kenyataan itu?"
"Tapi aku tidak sengaja. Dan ingat, aku pernah
menyelamatkan ibumu dari bahaya maut ketika ia terjungkal
ke dalam jurang! Ia berhutang nyawa kepadaku dan kami
saling mencinta!"
"Ji Ok, tidak perlu engkau membujuk aku! Sebagai
anggauta Thian-te Sam-ok, kejahatanmu sudah melewati
takaran. Aku tidak mungkin dapat melepaskanmu.
Sambutlah!" Han Lin sudah menerjang dengan Im-yang-kiam
karena sekali ini dia memang sudah mengambil keputusan
untuk menewaskan datuk yang amat jahat ini.
Ji Ok juga melolos sabuk suteranya, mengelak dan balas
menyerang. Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat antara
kedua orang ini dan untuk membela diri dan mempertahankan
nyawanya, Ji Ok mengeluarkan seluruh ilmu simpanannya
untuk melawan Han Lin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertandingan antara Sian Eng dan Sam Ok juga
berlangsung amat seru dan mati-matian. Sian Eng yang sekali
ini tidak mau membiarkan lawannya lolos, sudah memainkan
pedang hijaunya dengan Coa-tok Sin-kiam-sut (Ilmu Pedang
Sakti Racun Ular) dan selain serangan pedang di tangan kanan
yang amat berbahaya, juga tangan kirinya menyelingi
serangan pedang dengan pukulan Toat-beng Tok-lung yang
tidak kalah ampuhnya! Diserang dengan pedang dan pukulan
beracun yang ampuh itu, Sam Ok menjadi kewalahan.
Memang iapun menyambut serangan itu dengan pedangnya di
tangan kanan dan tangan kirinya juga menyerang dengan
Ban-tok-ci yang merupakan totokan jari telunjuk yang dapat
mematikan, namun ia kalah cepat dan segera terdesak hebat
dan lebih banyak mengelak dan menangkis dan menyerang.
"Hyaaaatt....!!" Pedang itu berubah menjadi sinar hijau
yang meluncur cepat sekali, menusuk ke arah muka Sam Ok,
di antara kedua matanya. Datuk sesat ini terkejut sekali
karena sinar hijau itu cepat bukan main, seperti kilat
menyambar. Ia miringkan kepalanya ke kiri sambil melangkah
mundur, akan tetapi sinar pedang hijau itu mendadak sudah
membalik dan mengejarnya dengan sabetan ke arah
pinggang. Sabetan pedang ini dilakukan Sian Eng dengan
pengerahan tenaga sin-kang sepenuhnya. Sam Ok menangkis
dengan pedang hitamnya.
"Tranggg......!" Bunga api berpijar dan sekali ini Sam Ok
merasa betapa beratnya menangkis pedang hijau itu sehingga
ia terhuyung. Dalam keadaan terhuyung itu, Sian Eng sudah
melangkah maju dan mengirim pukulan tangan kirinya dengan
Toat-beng Tok-ciang ( Tangan Beracun Pencabut Nyawa).
Sam Ok tidak sempat mengelak dan terpaksa ia menyambut
pukulan telapak tangan itu dengan tangan kiri pula sambil
mengerahkan ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Plakk....!!" Tubuh Sam Ok terpelanting. Sebelum ia sempat
bangkit, sinar pedang hijau menyambar dan meluncur masuk,
menusuk lambungnya.
"Capp....!" pedang itu menusuk sampai dalam dan cepat
dicabut kembali oleh Sian Eng. Tubuh Sam Ok terguling dua
kali lalu rebah menelungkup, tak bergerak lagi. Darah
mengucur dari luka di lambungnya.
Sian Eng menghampiri tubuh Sam Ok yang sudah tidak
bergerak itu untuk memeriksa apakah benar lawannya telah
tewas. Pada saat ia membungkuk untuk memeriksa keadaan
tubuh lawan, tiba-tiba saja pedang sinar hitam mencuat dan
meluncur ke arah dadanya! Serangan ini tiba-tiba sekali. Akan
tetapi baiknya Sian Eng sudah waspada.
Ia memang masih sangsi apakah lawannya benar-benar
sudah tewas maka ia bersikap hati-hati sekali ketika
menghampiri dan membungkuk tadi. Ia sudah siap siaga
dengan pedang di tangan, maka ketika tiba-tiba ada sinar
hitam menyambar ke arah dadanya, Sian Eng cepat
menggerakkan pedangnya menangkis.
"Tranggg......!!" Bunga cipi berpijar lagi dan Sian Eng cepat
mengayun tangan kirinya menampar ke arah kepala Sam Ok
yang kini sudah membalik dan menengadah.
"Plakkkk!" Pelipis Sam Ok kena ditampar tangan kiri Sian
Eng. Kepala itu terkulai dan muka itu berubah menjadi hitam.
Sam Ok benar-benar tewas sekali ini. Andaikata tidak disusul
tamparan dengan ilmu Toat-beng Tok-ciang sekalipun, ia pasti
akan tewas karena pedang Ceng-liong-kiam tadi telah
menembus lumbungnya.
Dengan pedang masih di tangan dan namun kewaspadaan
Sian Eng kini berdiri dari jauh mayat Sam Ok dan menonton
ke arah pertandingan antara Han Lin dan Ji Ok. Ia tidak mau
mengeroyok karena selain hal ini dapat merendahkan
kekasihnya itu, juga ia yakin bahwa Han Lin tidak akan kalah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia hanya waspada untuk berjaga-jaga, kalau-kalau muncul
Toa nk, orang pertama Thian-te Sam-ok itu.
Ji Ok yang sudah jerih itu selain terdesak oleh Han Lin.
Akan tetapi karena tahu bahwa pemuda itu tidak akan tnau
mengampuninya dan nyawanya terancam maut, maka Ji Ok
melawan sekuat tenaga. Sabuk sutera putihnya berubah
menjadi sinar putih bergulung-gulung, merupakan perisai yang
amat kokoh kuat dan ketat melindungi dirinya dari sambaran
sinar pedang di tangan Han Lin.
Ketika kembali pedang Im-yang Pek-liong-kiam menyambar
dengan dahsyatnya, Ji Ok tidak berani menangkis dengan
sabuknya karena ujung sabuk itu sudah dua kali putus
terbabat pedang. Dia melempar diri ke belakang dan
bergulingan. Ketika bergulingan inilah dia melihat Sam Ok
yang sudah tewas. Hatinya menjadi semakin ketakutan.
Sambil bergulingan dia mencabut pisau-pisau terbangnya dan
melemparkan ketiga batang pisau itu berturut-turut ke arah
Han Lin.
Melihat sinar-sinar menyambar ke arahnya itu, Han Lin
menangkis dua kali dengan pedangnya sehingga dua batang
pisau terbang itu terpukul runtuh, akan tetapi pisau ke tiga
disambar oleh tangan kiri Han Lin. Ji Ok mempergunakan
kesempatan itu untuk melompat berdiri dan melarikan diri
secepatnya. Akan tetapi, Han Lin yang sudah mempunyai niat
ketika menangkap pisau ke tiga tadi untuk membunuh Ji Ok
seperti ketika ibunya tewas oleh pisau Ji Ok, cepat
menyambitkan pisau itu ke arah tubuh lawan yang mencoba
untuk melarikan diri itu. Dia mengarahkan sambitannya ke
leher Ji Ok.
"Wuuuutt..... ceppp.....I!" Pisau itu dengan tepat sekali
mengenai tengkuk Ji Ok sampai tembus ke leher! Ji Ok Phoa Li
Seng tidak mampu mengeluarkan teriakan lagi dan tubuhnya
roboh, berkelojotan sejenak lalu diam, pisau masih menancap
di lehernya yang mengucurkan darah!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat lawannya sudah tewas, Han Lin masih berdiri
seperti patung. Dia teringat akan ibunya dan semua
penderitaan ibunya. Masih ada dua orang lagi yang harus dia
mintai pertanggunganjawanan atas kesengsaraan ibunya.
Pertama adalah Suma Kiang yang membuat ibunya hidup
penuh kesengsaraan. Dia harus membunuh Suma Kiang! Dan
kedua adalah Kaisar Cheng Tung, ayah kandungnya sendiri.
Dia harus bertemu dengan ayah kandungnya itu dan
menegurnya dengan keras karena ayah kandungnya telah menyia-
nyiakan ibunya dan dia, meninggalkan ibunya dalam
keadaan mengandung dan sama sekali tidak
memperdulikannya lagi! Teringat kepada ibunya, Han Lin
berdiri menundukkan mukanya dengan hati yang sedih sekali.
Dia membayangkan keadaan ibunya yang penuh
kesengsaraan itu. Lalu dia memandang kepada mayat Ji Ok.
Dia tahu bahwa Ji Ok mencinta ibunya. Kalau saja ibunya
ketika itu mencinta Ji Ok dengan wajar, tentu dia tidak akan
membunuh Ji Ok yang pernah menyelamatkan ibunya dari
kematian ketika terjatuh ke dalam jurang. Akan tetapi ibunya
tidak mencinta Ji Ok, melainkan berada dalam pengaruh sihir
sehingga ibunya mirip boneka hidup yang menuruti segala
perintah Ji Ok! Kemudian, pisau Ji Ok yang membunuh ibunya,
walaupun hal itu dilakukan tidak dengan sengaja. Hatinya
puas telah dapat membunuh Ji Ok, karena bagaimanapun
juga, Ji Ok adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan
sudah sepatutnya kalau disingkirkan dari dunia di mana dia
hanya akan menyusahkan orang-orang lain dengan
perbuatannya yang jahat.
Dia dapat menduga bahwa tentu sudah tak terhitung
banyaknya orang-orang tak berdosa yang tewas di tangan Ji
Ok, maka sebagai seorang pendekar yang membela
kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, sudah
sepatutnya dia membunuh datuk sesat itu.
"Lin-ko....! Engkau kenapakah.....?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Eng bertanya sambil memegang lengan pemuda itu
dan mengguncangnya. Han Lin mengangkat muka
memandang gadis itu lalu menghela napas panjang.
"Aku tidak apa-apa, Eng-moi. Kulihat engkau telah berhasil
menewaskan Sam Ok. Sukurlah."
"Kita telah berhasil menewaskan Ji Ok dan Sam Ok. Hatiku
puas, Lin-ko. Sekarang kita tinggal mencari Toa Ok dan Suma
Kiang. Dua orang jahanam busuk itu harus dapat kita
musnahkan!" kata gadis itu penuh semangat. "Sekarang mari
kita kembali ke rumah toa-pek (Uwa) Lo Kang, karena mereka
tentu sedang menanti-nanti kita."
"Nanti dulu, Eng-moi." kata Han Lin sambil menunjuk ke
arah mayat Ji Ok dan Sam Ok.
"Hemm, apakah engkau hendak mengambil pedang hitam
itu?" tanya Siang Eng sambil mengerutkan alisnya.
"Tidak, Eng-moi. Aku hendak mengubur dua jenazah itu
lebih dulu."
"Ah, untuk apa? Untuk apa mengubur jenazah dua orang
iblis jahat itu?" cela Sian Eng.
Han Lin menatap wajah dara itu dengan pandang mata
tajam dan suaranya terdengar tegas ketika dia berkata, "Engmoi,
engkau tidak boleh berkata demikian. Ketika mereka
masih hidup, mereka memang Ji Ok dan Sam Ok, dua orang
yang amat jahat dan sudah selayaknya kalau kita menentang
mereka. Akan tetapi sekarang mereka bukan orang-orang
jahat lagi, melainkan dua sosok jenazah yang tidak berdaya.
5udah sepatutnya kita menghormatinya dan mengurus
sebagaimana mestinya. Sebagai manusia-manusia yang
berakal sehat kita tidak mungkin meninggalkan dua jenazah
itu terkapar di sini lalu membusuk dan mengotori udara di
sekitarnya. Aku harus mengubur dulu kedua jenazah itu, Engmoi.
Kalau engkau hendak kembali dulu ke rumah keluarga
Lo, silakan. Aku akan menyusul nanti."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Heii, engkau marah, Lin-ko? Kalau itu kehendak dan
keputusanmu, tentu saja akupun suka membantumu
mengubur dua jenazah itu!" kata Sian Eng.
Han Lin dapat tersenyum lagi melihat betapa Sian Eng
dengan penuh semangat membantunya menggali lubang,
menggunakan pisau-pisau yang tadi disambitkan Ji Ok kepada
Han Lin namun dapat ditangkisnya. Tentu amat sulit menggali
lubang untuk mengubur jenazah hanya menggunakan pisaupisau.
Akan tetapi karena dua orang itu memiliki tenaga sinkang
yang kuat, akhirnya mereka dapat juga menggali sebuah
lubang yang cukup besar. Mereka lalu mengangkat dan
merebahkan dua jenazah itu berjajar dalam satu lubang,
kemudian menimbuni lubang itu dengan tanah sampai
menjadi segunduk tanah.
Setelah selesai, matahari telah naik tinggi dan mereka
berdua lalu membersih kan kedua tangan di sebuah anak
sungai, kemudian mereka pergi kembali ke kota raja dan
langsung menuju ke rumah keluarga Lo.
Ketika mereka berdua tiba di rumah Lo Kang, ternyata
pesta itu telah bubaran. Semua tamu telah meninggalkan
tempat itu. Akan tetapi Lo Kang, isterinya, dan dua orang
anaknya menyambut kedatangan Sian Eng dengan gembira
sekali!
"Silakan kalian berdua masuk dan mari kita duduk dan
bicara di dalam!" kata Lo Kang.
"Adik Sian Eng, engkau ternyata hebat sekali! Engkau harus
mengajarkan ilmu silat tinggi kepadaku!" kata Siang Kui sambil
menggandeng tangan Sian Eng dengan akrabnya. Sikap
keluarga itu berubah sepenuhnya sekarang. Mereka sama
sekali tidak angkuh lagi terhadap dua orang muda itu, bahkan
ramah dan memuji-muji.
Begitu mereka memasuki ruangan dalam dan duduk
mengitari sebuah meja bundar, pelayan berdatangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membawa hidangan. Lo Kang sendiri yang menyuguhkan arak
secawan kepada Sian Eng dan Han Lin.
"Mari kita minum sebagai ucapan selamat datang kepada
keponakanku Lo Sian Eng dan ananda Han Lin yang menjadi
sahabat baiknya!" katanya dan semua orang minum secawan
arak. Kemudian, dengan ramahnya Lo Kang dan isterinya lalu
menawarkan hidangan itu kepada Sian Eng dan Han Lin. Dua
orang mud inipun makan minum bersama keluarga Lo.
"Bagaimana hasil kalian mengejar Ji Ok dan Sam Ok tadi,
Sian Eng?" tanya Lo Kang kepada keponakannya sambil
memandang wajah gadis itu dengan senyum penuh kagum.
"Kami telah berhasil membunuh dua orang datuk sesat
yang jahat itu, toapek. kami lalu menguburkan dua jenazah itu
lebih dulu, maka kami agak terlambat datang."
Keluarga itu menjadi terkejut sekali mendengar ini, "Kalian
telah membunuh Ji Ok dan Sam Ok? Ahhh.....!" kata Lo Kang
sambil membelalakkan matanya memandang kepada dua
orang itu. Dia terkejut sekali dan juga heran. Terkejut bahwa
keponakannya dan sahabatnya itu telah membunuh dua orang
datuk besar dan hal ini pasti akan menggegerkan dunia kangouw.
Dan dia heran bagaimana keponakannya yang masih
amat muda dan wanita pula itu bersama sahabatnya yang
juga masih muda, mampu membunuh dua orang datuk sesat
yang sakti itu.
"Kenapa, toa-pek?" tanya Sian Eng ambil menatap tajam
wajah uwanya.
"Ah, tidak apa-apa, aku hanya heran dan terkejut.
Bagaimana kalian dapat membunuh dua orang datuk besar
yang sakti itu? Dan kalau hal ini terdengar oleh kawan-kawan
mereka, apakah tidak akan membahayakan kalian berdua?"
"Aku sama sekali tidak takut, toapek! Kalau ada yang
menuntut balas atas kematian Ji Ok dan Sam Ok, dia akan
kuhadapi dan akan kubasmi semua orang jahat yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengotorkan dunia! Sam Ok dan Ji Ok itu jahat sekali, dan
kalau Toa Ok sebagai orang pertama dari Thi-an-te Sam-ok itu
datang, akan kuhadapi dia!" kata Sian Eng dengan sikap
gagah. Lo Kang dan dua orang anaknya saling pandang.
Mereka merasa amat kagum, akan tetapi juga khawatir.
"Sian Eng, aku sungguh merasa heran sekali dan tidak
mengerti bagaimana engkau dapat memiliki ilmu silat setinggi
itu. Padahal ayahmu, setahuku adalah seorang kutu buku,
seorang sastrawar yang lemah, bahkan sekarang sudah
meninggal dunia dalam usia muda, juga ibumu. Bagaimana
engkau dapat memilik kepandaian seperti ini? Siapa gurumu?"
Sian Eng masih ingat akan sikap angkuh keluarga ayahnya
ini, maka ia tidak ingin menceritakan tentang kematian ayah
dan ibunya yang mengenaskan "Ayah dan ibu meninggal
dunia selagi aku masih kecil, berusia tiga tahun. Semenjak itu,
aku dipungut oleh guruku yang mengajarkan semua ilmu silat
ini kepadaku."
"Ah, gurumu tentu seorang yang amat sakti. Siapakah dia,
Sian Eng?" tanya Lo kang dengan ingin tahu sekali.
Sian Eng tidak mau mengakui Suma Kiang sebagai gurunya
lagi, maka ia menjawab tanpa menyebut nama gurunya yang
pertama dan yang merupakan orang yang memeliharanya
sejak kecil itu. "Guru saya adalah mendiang Hwa Hwa Cin-jin
yang tinggal di puncak Ekor Naga di pergunungan Cin-lingsan."
"Hwa Hwa Cinjin? Belum pernah aku mendengar nama itu.
Dia telah meninggal dunia?"
"Benar, toapek, meninggal dalam usia tua dan karena sakit
sebagai akibat pengeroyokan Thian-te Sam-ok. Karena itulah
maka aku dan Lin-ko ini membunuh Ji Ok dan Sam Ok!"
Lo Kang mengangguk-angguk. "Engkau hebat, Sian Eng.
Kami senang sekali dapat menerima sebagai keluarga dekat
kami. Engkau masih semarga dengan kami, puteri adik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kandungku sendiri. Karena engkau sekarang sudah yatim
piatu, maka sudah sepantasnyalah kalau engkau tinggal
bersama kami. Engkau akan kami anggap sebagai anakku
sendiri dan engkau dapat membimbing kedua kakakmu Cin Bu
dan Siang Kui untuk memperdalam ilmu-ilmu silat mereka."
"Eng-moi (adik Eng), tinggallah di sini bersama kami." kata
Cin Bu dengan senyum ramah.
"Tentu saja! Engkau harus tinggal bersama kami, Eng-moi!
Engkau adalah adikku sendiri, kita dapat berlatih bersama.
Oya, aku sudah bertunangan, Eng moi dan tak lama lagi akan
menikah. Engkau sudah melihat tunanganku, bukan?" kata
Siang Kui.
"Benar, Siang Eng. Akupun akan senang sekali kalau
engkau suka menjadi anggauta keluarga kami dan tinggal di
sini." kata pula Nyonya Lo Kang.
Melihat keramahan mereka, hati Sia Eng merasa terhibur
juga. Agaknya ia salah kira. Mereka itu ternyata tidak
seangkuh yang ia sangka. Ia memandang Siang Kui sambil
tersenyum.
"Aku sudah melihat tunanganmu, enci Siang Kui. Bukankah
dia putera pangeran itu?" katanya.
"Benar dia! Bagaimana pendapatmu tentang dia? Cukup
baik dan cocok untuk menjadi suamiku, bukan?" tanya pula
Siang Kui dengan sikap terbuka sekali.
Sian Eng tersenyum lebar, timbul kegembiraannya melihat
sikap yang terbuka dan polos dari Siang Kui itu. "Hemm,
menurut penglihatanku, dia cukup gagah dan berwibawa,
cukup cocok untuk menjadi jodohmu, enci Kui."
Semua orang tertawa gembira mendengar jawaban ini dan
Siang Kui lalu mendekati Sian Eng dan merangkulnya. "Terima
kasih, adik Eng. Dan bagaimana dengan engkau sendiri?
Apakah engkau sudah mendapatkan jodoh?" Sambil berkata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
demikian, Siang Kui mengerling ke arah Han Lin yang hanya
menundukkan muka
"Ah, belum.....!" kata Sian Eng lirih.
"Tunangan juga belum?"
Sian Eng menggeleng kepalanya, menahan senyum.
"Akan tetapi tentu sudah memiliki pilihan hati, bukan?
Kulihat saudara Han Lin ini...."
Han Lin terkejut dan cepat dia bangkit berdiri sambil
memberi hormat.
"Saya dan nona Lo Sian Eng adalah sahabat-sahabat baik
yang sudah melebihi saudara sendiri. Eng-moi, engkau telah
dapat bertemu dengan keluargamu dan diterima dengan baik.
Oleh karena itu, perkenankan aku pergi melanjutkan
perjalananku."
"Akan tetapi bukankah tujuan perjalananmu ke kota raja,
Lin-ko? Dan sekarang kita sudah tiba di kota raja!" bantah
Sian Eng yang sebetulnya tidak ingin berpisah dari pemuda
itu.
"Benar, Eng-moi. Akupun tidak akan pergi dari kota raja
karena tujuanku memang ke sini. Akan tetapi banyak hal yang
harus kukerjakan. Karena itu, biarlah engkau tinggal di sini
bersama keluargamu dan aku akan menyelesaikan urusanku."
"Akan tetapi, kalau engkau dapat bertemu dengan Toa Ok
atau Suma Kiang, harap kau kabarkan kepadaku, Lin-ko. Aku
akan selalu merasa penasaran kalau tidak dapat merobohkan
mereka dengan tanganku sendiri. Engkaupun membutuhkan
bantuanku, Lin-ko. Mereka adalah orang-orang berbahaya."
Untuk melegakan hati Sian Eng, Han Lin berkata, "Baiklah,
Eng-moi. Aku akan mengabarkan kepadamu kalau aku
bertemu dengan mereka." Dia lalu bangkit berdiri dan
memberi hormat kepada Lo Kang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Paman Lo Kang, terima kasih atas penerimaan keluarga
paman kepada saya dengan ramah sekali. Mudah-mudahan
sahabat baik saya adik Lo Sian Eng akan dapat hidup
berbahagia dengan paman kalian di sini. Selamat tinggal!"
"Jaga dirimu baik-baik, Lin-ko!" kata Sian Eng dan suaranya
terdengar agak menggetar.
"Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, Eng-moi." kata Han
Lin dengan setulus hatinya. Dia sungguh amat menyayang
gadis itu dan dia tahu betapa besar cinta kasih gadis itu
kepadanya. Dia tahu bahwa kalau di sana tidak ada Tan Kiok
Hwa yang telah menjatuhkan hatinya, kiranya akan mudah
sekali baginya untuk jatuh cinta kepada Lo Sian Eng.
Sekeluarga itu mengantar Han Lin sampai keluar
pekarangan rumah itu. Setelah Han Lin pergi dan lenyap di
sebuah tikungan jalan, Sian Eng masih berdiri termenung di
situ, merasa kehilangan sekali, seolah semangatnya ikut
terbang mendampingi Han Lin.
Siang Kui merangkul pundaknya. "Mari kita kembali ke
dalam, Eng-moi."
Sian Eng menghela napas panjang dan menyadari
keadaannya, lalu ia ikut masuk bersama keluarga itu.
Sepasang orang muda yang memasuki pintu gerbang kota
raja sebelah selatan itu tampak serasi. Pemudanya berusia
kurang lebih dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan
wajahnya tampan, sepasang matanya yang tajam itu
membayangkan kecerdikan, senyumnya sinis seolah selalu
mengejek apa yang dilihatnya. Gadis pasangannya itu lebih
menarik hati. Melihat wajah dan bentuk badan nya, iapun
kelihatan masih muda sekali, tidak lebih dari dua puluh tahun.
Wajahnya cantik jelita, mata dan mulutnya indah
menggairahkan, akan tetapi pada mata dan mulut itu tampak
kegenitan, terutama matanya dengan kerling-kerling yang
tajam memikat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bibirnya juga selalu tersenyum menantang. Pakaiannya
indah dan mewah, dan gadis ini membawa sebuah payung
yang digambari beraneka warna dengan dasar warna merah
sehingga ketika payung itu melindungi wajahnya dari sinar
matahari, timbul warna kemerahan yang membuat wajahnya
tampak semakin menarik.
Mereka itu bukan lain adalah Ouw Ki Seng dan Sian Hwa
Sian-li. Seperti telah kita ketahui, kedua orang ini melakukan
perjalanan bersama ke kota raja. Ouw Ki Seng pergi ke kota
raja dengan niat hendak memperkenalkan diri kepada Kaisar
Cheng Tung sebagai Cheng Lin, putera kaisar itu. Sian Hwa
Sian-li. yang sudah menjadi sahabat baik, juga kekasihnya itu
menemaninya sehingga perjalanan itu seolah merupakan
perjalanan bulan madu bagi mereka berdua. Hubungan
mereka semakin lekat dan mesra.
"Sianli, kita telah tiba di kota raja. Ah, betapa indah dan
megahnya bangunan bangunan itu!" kata Ki Seng sambil
memandang ke kanan kiri dengan kagum.
Belum pernah dia datang ke kota raja sebelumnya dan dia
amat kagum akai kemegahan kota raja.
Sian Hwa Sian-li yang sudah pernah beberapa kali
berkunjung ke kota raja tersenyum melihat kekaguman Ki
Seng "Tunggu sampai engkau melibat istana kaisar, tentu
engkau akan menjadi semakin kagum." katanya.
"Sebaiknya kita lebih dulu mencari sebuah kamar di rumah
penginapan, dan kita berunding apa yang harus kulakukan
selanjutnya, Eh..... alangkah cantik jelitanya gadis itu..,.!" Ki
Seng memandang ke arah kiri dari mana datang seorang
gadis. Memang sungguh luar biasa cantik jelita dan
menariknya gadis yang melenggang dengan tenang itu.
Usianya kurang lebih sembilan belas tahun. Wajahnya cantik
jelita dan manis sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kulit muka, leher, dan tangannya tampak putih dan agak
kemerahan tanda sehat. Pakaiannya terbuat dari sutera putih
yang bersih sekali. Sepatunya berwarna hitam, Ki Seng seperti
terpesona memandangnya. Sepasang mata gadis itu
mengingatkan dia akan mata burung Hong dalam gambar,
hidungnya kecil mancung dan mulutnya amat indah dengan
bibir yang merah basah dan selalu tersenyum ramah, sinar
matanya juga lembut sekali dan penuh pengertian. Gadis itu
membawa sebuah buntalan kuning di punggungnya. Seorang
gadis yang luar biasa cantiknya, mengingatkan Ki Seng akan
patung Kwan Im Posat yang pernah dilihatnya dalam sebuah
kuil!
Sian Hwa Sian-li juga sudah melihat gadis berpakaian putih
itu dan iapun harus mengakui bahwa gadis itu memang cantik
bukan main.
"Hemm, engkau tergila-gila kepadanya?" tanyanya lirih,
tanpa rasa cemburu. Kedua orang ini memang sudah
bersepakat bahwa hubungan mereka tidak ada ikatan apapun
dan masing-masing bebas untuk bersenang-senang dengan
pasangan lain. Itu pula sebabnya maka Sian Hwa Sian-li tidak
cemburu kepada Ciang Mei Ling, bahkan membantu Ki Seng
mendapatkan gadis itu.
"Ah, ia manis sekali. Sian-li, tolonglah aku
mendapatkannya. Aku akan merasa berbahagia sekali dan
berterima kasih sekali kepadamu kalau aku bisa mendapatkan
gadis itu!" kata Ki Seng penuh gairah.
Mereka melihat betapa gadis berpakaian putih itu
memasuki sebuah toko obat besar.
"Kita cari kamar dulu. Itu ada sebuah rumah penginapan.
Mari kita mencari kamar di sana, baru kita atur bagaimana
untuk mendapatkan gadis itu. Jangat khawatir, aku akan
membantumu sampai berhasil." Mereka berdua lalu pergi ke
rumah penginapan An Lok yang berdiri di seberang jalan, tak
jauh dari rumah obat itu. Cepat mereka memesan sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kamar pada pengurus rumah penginapan dan mendapatkan
sebuah kamar nomor sebelas. Setelah mendapatkan kamar,
mereka berdua lalu keluar lagi dan menuju ke rumah obat.
"Kau tunggu saja di luar, biar aku yang akan menyelidiki
keadaannya." kata Sian Hwa Sian-li. Ki Seng mengangguk dan
dia menanti di luar, membiarkan Sian Hwa Sian-li masuk
sendiri ke rumah obat yang besar itu.
Gadis berpakaian putih yang cantik jelita itu adalah Tan
Kiok Hwa yang berjuluk Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat berbaju
Putih). Karena ia kehabisan beberapa macam obat penting
yang selalu dibawanya sebagai bekal untuk menolong orang
kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, maka melihat toko obat
besar itu, ia lalu masuk melihat-lihat.
Ketika Sian Hwa Sian-li memasuki toko obat itu, ia purapura
melihat-lihat dan mendekati Kiok Hwa yang sedang
memesan beberapa macam obat kepada pelayan toko. Kiok
Hwa menyebutkan beberapa macam obat dengan lancar dan
bahkan memberi keterangan obat macam apa yang ia
perlukan. Pelayan toko obat Itu memandang heran.
"Wah, nona begitu hafal dan lancar menyebutkan obat-obat
yang langka dan jarang dikenal orang. Bagaimana nona dapat
mengenal semua nama obat-obat itu?" tanya pelayan toko
obat sambil sibuk mengambilkan obat-obat yang dipesan Kiok
Hwa.
Kiok Hwa tersenyum, manis sekali "Aku memang biasa
mengobati orang orang yang sakit, maka aku mengenal
banyak macam obat."
"Aih, kiranya nona seorang tabib yang pandai?" pelayan itu
berseru penuh kagum. Orang masih begini muda, wanita lagi,
ternyata seorang tabib yang pandai.
"Ah, bukan tabib pandai, akan tetap kalau ada orang sakit
yang membutuhkan pertolongan, setiap saat aku siap sedia
untuk mencoba mengobatinya." kata Kiok Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar percakapan itu, cepat Sia Hwa Sian-li keluar
dari toko obat.
"Ki Seng, ternyata ia seorang ahli pengobatan. Cepat
engkau kembali ke kamar kita di rumah penginapan. Aku akan
memancingnya ke sana untuk mengobatimu. Engkau boleh
berpura-pura sakit berat."
"Hemm, aku memang sakit berat,Sian-li. Sakit rindu....."
"Hushh, sudahlah, cepat sana. Aku akan membujuknya
agar mau mengobatimu."
Ki Seng bergegas menuju ke rumah penginapan An Lok,
memasuki kamarnya dan menunggu di situ dengan hati
berdebar penuh harapan. Dia sudah membayangkan betapa
akan senangnya dapat memeluk gadis berpakaian putih yang
amat cantik jelita itu.
Sian Hwa Sian-li masuk kembali ke dalam toko obat dan
begitu memasuki toko obat, ia menangis terisak-isak, air
matanya bercucuran dan diusapnya dengan tangannya.
Melihat seorang wanita cantik masuk sambil menangis, hal ini
tentu saja menarik perhatian pelayan toko obat. Segera dia
menghampiri wanita yang menangis itu dan bertanya.
"Nona, engkau kenapakah? .Mengapa rngkau menangis di
sini?"
Sambil terisak Sian Hwa Sian-li berkata, berdirinya dekat
gadis berpakaian putih tadi. "Aku..... aku bingung sekali.
Adikku terserang penyakit keras, entah mengapa.... dia
pingsan..... badannya panas.... aku ingin membeli obat, akan
tetapi tidak tahu obat apa yang harus kubeli...." Ia menangis
lagi.
"Wah, kebetulan sekali. Nona ini adalah seorang tabib
pandai, engkau dapat minta tolong kepadanya!" kata pelayan
toko itu sambil menuding ke arah Kiok Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ini, Sian Hwa Sian-li lalu maju dan menjatuhkan
diri berlutut di depan kaki Kiok Hwa. "Tolonglah, tolong-lah
adikku yang sakit berat!" katanya memohon.
Kiok Hwa memegang kedua pundak Sian Hwa Sian-li dan
menariknya bangkit.
"Bangunlah, enci, tidak perlu engkau berlutut seperti ini.
Aku pasti akan suka menolong adikmu yang sakit. Di mana
dia?"
"Kami adalah pendatang dari luar kota dan kini kami tinggal
di rumah penginapan, tak jauh dari sini." kata Sian Hwa Sianli.
Kiok Hwa lalu membayar harga obat-obat yang dibelinya,
memasukkan bungkusan obat-obat ke dalam buntalan di
gendongannya, kemudian ia keluar dari toko obat mengikuti
Sian Hwa Sian-li.
Setibanya di luar kamar di mana Ki Seng menanti, Sian-li
bicara cukup lantang kepada Kiok Hwa. "Mendadak saja
wajahnya menjadi pucat, tubuhnya panas dan jatuh pingsan.
Aku khawatir sekali dia terserang penyakit yang berbahaya,
nona. Tolonglah sembuhkan dia!"
Ki Seng yang berada dalam kamar itu tentu saja
mendengar ucapan ini yang memang dilakukan Sian Hwa
Sian-li agar terdengar olehnya. Ki Seng cepat merebahkan diri
terlentang di atas pembaringan.
"Tenanglah, enci. Setelah memeriksanya dan menentukan
bagaimana keadaannya dan apa penyakitnya, mudahmudahan
aku dapat mengobati dan menyembuhkannya." kata
Kiok Hwa sambil mengikuti Sian Hwa Sian-li yang membuka
pintu dan memasuki kamar itu.
"Nah, itu dia, nona. Lihat, dia begitu pucat dan napasnya
memburu. Dia masih pingsan...... ahhh......!" kata Sian Hwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian-li, dalam hatinya merasa geli melihat Ki Seng yang
berpura-pura pingsan.
Kiok Hwa menarik sebuah kursi didekatkan dengan
pembaringan. Ia melihat seorang pemuda tampan gagah
telentang di atas pembaringan, wajahnya pucat sekali,
napasnya terengah dan sepert orang tidur atau tak sadar. Ia
lalu duduk di atas kursi dekat pembaringan, kemudian
memegang pergelangan tangan kiri Ki Seng untuk merasakan
denyut nadinya Ia mengerutkan alisnya, meraba leher dan
dahi, kemudian tersenyum, wajahnya keheranan. Ia tahu
benar bahwa pemuda itu hanya pura-pura saja pingsan.
Wajah pucat, napas memburu dan tubuh panas itu hanya
buatan, dilakukan dengan pengerahan sin-kang. Ia tahu
bahwa pemuda ini seorang ahli sin-kang (tenaga sakti) yang
sedang mempermainkannya.
Kiok Hwa bangkit berdiri dan menghampiri buntalannya
yang tadi ia turunkan dari punggung dan ia letakkan di atas
meja. "Enci, adikmu ini tidak sakit apa-apa, jangan kau
khawatir. Dia akan sembuh dengan sendirinya tanpa obat."
Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng terkejut dan kagum
mendengar ucapan itu. Tahulah mereka bahwa gadis cantik
jelita berpakaian putih ini benar-benar seorang yang ahli
dalam pengobatan. Sian Hwa Sian-li pura-pura heran.
"Akan tetapi dia pingsan...."
"Jangan khawatir, mungkin dia lelah atau bermain-main
saja." kata pula Kiok Hwa. "Dia tidak memerlukan bantuanku."
Sian Hwa Sian-li cepat menghampiri meja dan menuangkan
air teh dari poci ke dalam cangkir yang memang sudah
dipersiapkan Ki Seng sejak tadi.
"Nona, sebelum engkau pergi, terimalah suguhanku ini.
Hanya inilah yang dapat kami berikan sebagai ucapan terima
kasih atas kebaikan hatimu!" Ia memberikan cangkir yang diisi
setengahnya dengan air teh itu kepada Kiok Hwa. Kiok Hwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersenyum dan ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari
dalam buntalan pakaiannya, membuka bungkusan itu, barulah
ia menerima secangkir air teh. Dituangkannya sedikit bubuk
putih dari bungkusan itu dalam air teh.
"Terima kasih." katanya lalu diminumnya air teh itu sampai
habis.
Setelah minum air teh dan meletakkan cangkir kosong itu
ke atas meja Kiok Hwa memejamkan matanya dan agak
terhuyung ia duduk di atas kursinya kembali, matanya tetap
terpejam dan ia duduk tegak di atas kursi. Melihat ini, Sian
Hwa Sian-li dan Ki Seng menjadi girang. Obat perangsang
milik Sian Hwa Sian-li yang dicampurkan dalam air teh itu
biasanya manjur sekali dan mereka menduga bahwa Kiok Hwa
tentu mulai terpengaruh.
Sambil tersenyum kepada Ki Seng yang sudah membuka
kedua matanya, Sian Hwa Sian-li mengangguk lalui bangkit
berdiri dan keluar dari kamar itu, menutupkan kembali daun
pintu kamar dari luar. Ia hendak memberi kesempatan kepada
Ki Seng untuk berdua saja dengan calon korban itu.
Melihat dia sudah tinggal berdua saja dengan gadis jelita
itu Ki Seng lalu bangkit duduk dan memandang kepada Kiok
Hwa. Gadis ini masih duduk di atas kursi, kedua tangannya
diletakkan di atas meja di depannya dan kedua matanya
masih terpejam, sepasang pipinya kemerahan.
Ki Seng menduga bahwa tentu gadis itu sudah mulai
terpengaruh obat perangsang. Karena ketika dia
mempergunakannya untuk menundukkan Ciang Mei Ling,
gadis itupun segera saja terpengaruh dan terangsang. Dia lalu
turun dari pembaringan, duduk di atas kursi dekat Kiok Hwa
dan tangannya bergerak hendak memegang tangan Kiok Hwa
yang berada di atas meja.
Akan tetapi pegangannya itu luput. Dengan cepat sekali
Kiok Hwa sudah menarik kedua tangannya dari atas meja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika hendak ditangkap. Ketika Ki Seng memandang, ternyata
Kiok Hwa sudah membuka kedua matanya dan memandang
kepadanya dengan sinar mata tajam.
"Sobat, engkau sama sekali tidak sakit. Jangan mencobacoba
untuk mempermainkan aku. Engkau hanya berpurapura."
kata Kiok Hwa dengan suara mengandung nada
teguran.
Ki Seng yang mengira gadis itu sudah terpengaruh obat
perangsang, tersenyum. "Nona yang cantik, aku memang
sakit, benar-benar sakit. Aku menderita sakit rindu kepadamu,
aku tergila-gila kepada mu, begitu melihatmu, aku langsung
jatuh cinta! Marilah, manisku, engkaupu cinta padaku,
bukan?" Ki Seng meraih dengan tangannya untuk merangkul,
akan tetapi gadis itu telah bangkit dan mengelak mundur
sehingga tangan itu meraih tempat kosong. Kiok Hwa
menggendong lagi buntalannya di belakang punggung.
"Tidak, aku tidak cinta padamu. Kita baru saja bertemu,
aku tidak mengenalmu. Sungguh tidak sopan bicara tentang
cinta!"
-00dw00kz00-
Jilid XXII
KI SENG membelalakkan kedua matanya, hampir tidak
percaya melihat sikap dan mendengar ucapan gadis itu, "Akan
tetapi, engkau sudah minum...."
"Hemm, jangan dikira bahwa aku tidak tahu akan
perbuatan keji itu, mencampurkan racun perangsang ke dalam
air teh! Akan tetapi jangan harap dapat menjebak aku dengan
segala macam racun pembius atau perangsang. Sobat, aku
melihat bahwa engkau bukan orang bodoh, bahkan engkau
memiliki tenaga sin-kang yang sudah cukup tinggi sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
engkau dapat main-main seperti orang menderita sakit berat.
Kenapa engkau hendak menggunakan kepandaianmu itu
untuk melakukan kejahatan yang amat keji, menjebak seorang
wanita? Apakah engkau tidak malu? Sepatutnya engkau
mempergunakan ilmu yang tentu telah engkau pelajari
bertahun-tahun itu untuk melakukan kebaikan, bukan untuk
mengumbar nafsu melakukan kejahatan yang keji. Nah, aku
pergi!"
Setelah berkata demikian, Kiok Hwa melangkah menuju ke
pintu. Ki Seng hanya memandang dengan mata terbelalak
keheranan, juga dia semakin kagum kepada gadis ahli
pengobatan itu. Kiranya bukan hanya seorang gadis tabib
biasa, melainkan agaknya juga seorang ahli silat yang pandai.
Buktinya tahu bahwa dia berpura-pura sakit menggunakan sinkang
dan pula, dua kali tangannya meraih namun selalu luput.
Pada saat Kiok Hwa hampir tiba dI pintu, daun pintu itu
terbuka dari luar dan masuklah Sian Hwa Sian-li. Wanita ini
melihat Kiok Hwa melangkah hendak pergi dan melihat pula Ki
Seng berdiri dekat meja dengan mata terbelalak.
"Eh, apa yang terjadi?" tanyanya heran. Ia tadi
mendengarkan dari luar pintu dan mendengar ucapan Kiok
Hwa maka ia membuka pintu karena menduga telah terjadi
kegagalan. Maka, ketika melihat Kiok Hwa sudah
menggendong buntaiannya hendak pergi dari situ sedangkan
Ki Seng diam saja tidak mencegah, ia merasa heran sekali.
Melihat wanita itu, Kiok Hwa memandang tajam dengan
hati merasa jijik. ia tahu bahwa wanita ini bersekongkol
dengan pemuda itu untuk menjebaknya.
"Aku tidak dibutuhkan siapapun di sini. biarkan aku pergi!"
katanya dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar.
"Hemm, engkau tentu telah menelan obat penawar tadi.
Perlahan dulu, jangan pergi!" kata Sian Hwa Sian-li dan cepat
tangannya meluncur untuk menotok pundak Kiok Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wuuuttt....!" Dan totokan itu luput, dengan gerakan
langkahnya yang aneh, Kiok Hwa telah dapat mengelak dari
totokan itu. Sian Hwa Sian-li terkejut dan cepat tangan kirinya
mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap Kiok Hwa,
akan tetapi pundak itu bergerak ke bawah dan cengkeraman
itupun luput
"Biarkan ia pergi!" tiba-tiba terdengar Ki Seng berseru.
"Akan tetapi...." Sian Hwa Sian-li membantah.
"Biarkan ia pergi kataku!" Ki Seng membentak dan Sian
Hwa Sian-li tidak berani membantah lagi, lalu melangkah
mundur membiarkan Kiok Hwa yang melangkah keluar dari
pintu kamar itu.
Setelah Kiok Hwa pergi, Sian Hwa Sian-li cepat
menghampiri Ki Seng yang telah duduk di atas kursi. "Ki Seng,
apa yang telah terjadi? Kenapa ia....ia tidak....."
"Hemm, kau lihat sendiri. Obatmu itu tidak dapat
mempengaruhinya!" kata Ki Seng agak ketus karena kecewa.
"Kau tidak melihat tadi, ketika ia akan minum air teh, lebih
dulu ia mencampurkan bubuk putih ke dalam air teh itu. Itu
tentu merupakan obat penawar. Tidak aneh kalau ia tidak
terpengaruh oleh obat perangsangku." Sian Hwa Sian-Li
membela obatnya. "Akan tetapi apa sukarnya untuk
menangkap dan menundukkannya? Kenapa engkau tidak
menangkapnya dan engkau malah mencegah aku
menangkapnya dan membiarkan ia pergi?" Pertanyaan ini
mengandung penasaran.
"Tidak! Aku tidak suka mendapatkan seorang gadis dengan
paksa, aku tidak sudi melakukan perkosaan. Dan lagi, aku......
mencintanya, Sian-li, aku sungguh mencintanya, aku kagum
kepadanya."
Sian Hwa Sian-li tidak menyadari bahwa ialah yang menjadi
guru pertama bagi Ki Seng dalam bercinta. Dan ia merupakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang guru yang bukan hanya sukarela menyerahkan diri,
bahkan penuh kemesraan dan penuh cinta kasih. Karena itu,
sedikit banyak hal ini membentuk watak Ki Seng terhadap
wanita, dia menghendaki agar semua wanita menyerahkan diri
kepadanya seperti yang dilakukan Sian Hwa Sian-li, dengan
suka rela dan mesra.
"Akan tetapi engkau telah membiarkan ia pergi, Ki Seng.
Bagaimana engkau kelak akan bisa mendapatkannya?"
"Biarlah. Kalau aku sudah menjadi seorang pangeran, tentu
aku akan dapat nenemukannya kembali. Dan aku ingin tahu
apakah ia akan menolak cinta seorang pangeran kepadanya!
Aku ingin ia menyerah dengan suka rela dan membalas
cintaku."
Sian Hwa Sian-Li mengerutkan alisnya. Hatinya merasa
tidak senang dan tidak enak. Ia merasa cemburu kepada Kiok
Hwa yang agaknya demikian dicinta oleH Ki Seng.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya untuk
mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan segera pergi menghadap Kaisar. Sekarang mari
kita makan dulu. perutku terasa lapar sekali."
Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng meninggalkan rumah
penginapan karena rumah penginapan itu tidak menyediakan
restoran. Akan tetapi mereka tidak perlu berjalan jauh. Tak
jauh dari situ terdapal sebuah rumah makan yang besar. Siang
itu banyak tamu mengunjungi rumah makan itu. Ki Seng dan
Sian Hwa Sian-li mendapatkan meja di sudut, agak terpisahl
dari ruangan depan yang luas dan penuhi tamu. Tak jauh dari
situ duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih,
seorang diri dan agaknya dia juga masih menanti hidangan
yang dipesannya karena di mejanya belum terdapat hidangan,
kecuali sebuah guci arak dan cawannya, kakek itu minum arak
seorang diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Seng duduk dan kebetulan posisi duduknya menghadap
ke arah kakek yang duduk seorang diri itu. Pandang mata
mereka bertemu, akan tetapi kakek itu lalu mengalihkan
pandangan matanya, sama kali tidak memperhatikan pemuda
itu. Akan tetapi Ki Seng mencuri pandang dengan penuh
perhatian. Sepasang pedang yang tersembul gagangnya di
belakang pundak kakek itu menarik perhatiannya, membuat
dia memperhatikan kakek itu. Seorang kakek yang bertubuh
kurus tinggi, mukanya kemerahan, dahinya lebar dan
sepasang matanya sipit. Mulutnya seperti tersenyum
mengejek dan jenggotnya panjang sampai ke leher.
Sian Hwa Sian-li duduk di depan Ki Seng dan wajah wanita
cantik ini tampak muram, mulutnya yang menggairahkan dan
penuh nafsu itu sekali ini cemberut. Seorang pelayan
menghampiri mereka dan Ki Seng memesan masakan dan
minuman setelah bertanya kepada Sian Hwa Sian-li dan
wanita itu mempersilakan dia saja yang memilih macam
masakan yang di pesan.
Ketika mereka menanti datangnya hidangan yang mereka
pesan, Ki Seng me lihat wajah temannya yang cemberut "Eh,
Sian-li, kenapa wajahmu muram dan engkau cemberut saja?
Apa yang meng ganggu pikiranmu?" tanya Ki Seng yanj
melihat bahwa kakek di meja depan itu masih asik minum arak
dan makan kue kering dengan sikap tidak acuh. Namun tetap
saja dia bicara dengan suara lirih hampir berbisik. Sama sekali
dia tidak pernah mengira bahwa yang duduk di depannya
bukan orang biasa, melainkan seorang datuk yang berilmu
tinggi sehingga biarpun dia berbisik, datuk itu tetap saja
mampu menangkap suaranya. Apalagi ketika dia menyebut
Sian-li (Dewi) kepada temannya. Kakek itu walaupun tampak
tidak mengacuhkan, sebenarnya diam diam memasang telinga
dan kadang-kadang mengerling dengan matanya yang sipit
sehingga tidak kentara bahwa matanya itu mengerling ke arah
meja Ki Seng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Hwa Sian-li menjawab sambil berbisik pula. "Perlukah
engkau bertanya lagi? Engkau menyakitkan hatiku. Engkau
jatuh cinta kepada seorang wanita di depan mataku, sungguh
menyakitkan hati ekali!"
Ki Seng mengerutkan alisnya. "Hemm, jadi engkau
cemburu, Sian-li? Bukankah kita tidak saling terikat dan
memberi kebebasan kepada masing-masing? Kepada Mei Ling
pun engkau tidak cemburu. Kenapa sekarang engkau cemburu
kepada gadis itu, padahal aku belum melakukan apa-apa
terhadapnya?"
"Justeru itulah yang membuat hatiku panas!" kata Sian
Hwa Sian-li dan saking marahnya, suaranya agak kuat.
"Andaikata engkau memaksanya menyerah, aku tidak akan
cemburu. Akan tetapi tidak, engkau tidak tega memaksanya
karena ngkau jatuh cinta kepadanya. Gadis itu telah membuat
engkau lupa diri. Kalau lain kali aku bertemu dengannya, pasti
ia akan kubunuh!"
Ki Seng yang benar-benar jatuh cinta kepada Kiok Hwa,
menjadi marah pula mendengar ucapan itu. "Hemm, kalau
engkau hendak membunuhnya, maka aku yang akan
membelanya mati-matian! Sian-li, apakah engkau sudah lupa
kepada ini?" Dia menyingkap bajunya memperlihatkan suling
kemala yang terselip di pinggangnya.
Melihat benda itu, seketika Sian-li diam dan menundukkan
mukanya. Teringatlah ia bahwa pemuda yang duduk di
depannya ini adalah seorang pangeran. Dan bagi seorang
pangeran, tentu saja wajar kalau membagi-bagi cintanya di
antara banyak wanita!
Pelayan datang mengantarkan hidangan di atas meja.
"Sudahlah, tidak perlu bicara yang bukan-bukan. Mari kita
makan!" ajak Ki Seng dan Sian-li menurut tanpa banyak
membantah lagi, wajahnya juga tidak semuram tadi. Ia
memaksa diri untuk bermuka manis kembali. Ki Seng
mengangkat muka dan kebetulan ia bertemu pandang dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kakek itu yang juga sudah mulai makan hidangan yang
dipesannya. Sejenak Ki Seng terkejut melihat sinar mata yang
mencorong dari kakek itu. Akan tetapi kakek itu lalu
mengalihkan pandangan dan melanjutkan makan dengan
sikap tak acuh sehingga Ki Seng kehilangan kecurigaannya.
Tentu saja Suma Kiang terkejut sekali ketika tadi Ki Seng
menyingkap bajunya memperlihatkan suling kemala kepada
Sian-li. Dia segera mengenal suling pusaka kemala itu sebagai
milik mendiang Chai Li yang tentu saja terjatuh ke tangan
puteranya yang dia tahu bernama Cheng Lin, putera Kaisar
Cheng Tung! Karena itu dia memperhatikan wajah pemuda
itu. Dia masih ingat baik-baik akan wajah Cheng Lin dan yakin
benar bahwa biarpun usia dan perawakan pemuda ini sama
dengan Cheng Lin, namun wajahnya berbeda. Apalagi setitik
tahi lalat di bawah telinga kanan pemuda ini jelas
menunjukkan bahwa dia bukanlah Cheng Lin, putera kaisar!
Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di tangan
pemuda ini? Dan pemuda itu memperlihatkan suling pusaka
itu kepada teman perempuannya dengan lagak
mempengaruhi. Tentu ada maksud tertentu dengan suling itu
bagi pemuda yang tidak dikenalnya ini.
Suma Kiang adalah seorang yang amat cerdik. Dia segera
dapat menduga bahwa pemuda itu mungkin sekali akan
mengakui dirinya sebagai Cheng Lin agar diterima kaisar
sebagai puteranya. Pemuda itu hendak memalsukan Cheng Lin
yang tidak diketahuinya kini berada di mana, masih hidup
ataukan sudah mati. Dia telah selesai makan. Akan tetapi
sengaja dia atur sehingga selesainya sama waktunya dengan
pemuda dan gadis yang sudah selesai makan pula. Suma
Kiang memanggil pelayan dan membayar harga makanan dan
minuman. Akan tetapi dia tidak segera pergi melainkan duduk
menghadapi mejanya. Ketika melihat pemuda dan gadis itu
membayar makanan, dia cepat bangkit dan menghampiri meja
kasir d mana duduk pengurus rumah makan itu. Di situ dia
minta pinjam alat tulis dan kertas, lalu membuat tulisan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pendek, Setelah itu, dia keluar dari rumah maka dan berdiri di
tepi jalan. Kertas bertulis itu dilipatnya beberapa kali.
Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li keluar dari rumah makan.
Setelah mereka tiba di tepi jalan, tiba-tiba Ki Seng melihat
sebuah benda putih melayang ke arah mukanya. Cepat dia
menangkap benda itu dan mengangkat muka memandang.
Ternyata kakek yang tadi duduk berhadapan meja dengannya
itulah yang telah melemparkan benda itu kepadanya. Benda
itu ternyata sehelai kertas yang dilipat-lipat. Dapat
melontarkan kertas seringan itu dari jarak jauh dengan cukup
kuat menunjukkan bahwa kakek itu memiliki tenaga sakti yang
kuat. Cepat dibukanya surat itu.
"Apakah itu?" tanya Sian Hwa Sian-li yang melihat ketika Ki
Seng menangkap benda kecil yang terbang menyambar tadi.
Wanita inipun segera dapat mengetahui siapa pelempar benda
itu.
Ki Seng tidak menjawab melainkan membuka surat itu dan
membacanya, Sian Hwa Sian-li mendekatkan mukanya dan
ikut membaca.
"Aku tahu akan rahasiamu. Ikuti aku keluar kota dan kita
bicara tentang Suling Pusaka Kemala!"
Membaca surat itu, tentu saja Ki Seng terkejut bukan main.
Orang itu mengetahui tentang suling pusaka, berarti dia tahu
pula bahwa dia bukan Cheng Lin yang asli. Dia mengangkat
muka dan melihat kakek itu sudah melangkah pergi menuju ke
pintu gerbang sebelah timur.
"Mari kita ikuti dia!" kata Ki Seng kepada Sian Hwa Sian-li
dan mereka berdua cepat melangkah dan mengikuti kakek
pengirim surat tadi.
Kakek yang kita kenal sebagai Suma Kiang itu berjalan
menuju ke pintu gerbang sebelah timur yang sepi
keadaannya. Dia antara ke empat pintu gerbang kota raja,
yang paling ramai lalu lintasnya adalah pintu gerbang selatan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di pintu gerbang timur ini jarang ada orang berlalu lalang.
Suma Kiang keluar dari pintu gerbang, maklum bahwa dua
orang muda itu terus mengikutinya. Setelah tiba di tempat
yang sunyi dan tidak tampak ada orang lain, dia lalu
mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari
cepat menuju ke sebuah bukit. Seperti telah diduganya, dua
orang muda itu kini juga berlari cepat dan dapat mengimbangi
kecepatan larinya.
Setelah tiba di kaki bukit yang amat sepi, dekat sebuah
hutan, Suma Kiang berhenti dan membalikkan tubuh, menanti
dua orang muda itu yang cepat telah datang di depannya.
Kini Ki Seng berhadapan dengan Suma Kiang. Keduanya
saling pandang dengan penuh perhatian, kemudian Ki Seng
bertanya dengan suara lantang. "Siapakah engkau dan apa
maksudmu dengan surat ini?"
"Orang muda, aku telah melihat suling yang kau bawa di
pinggangmu itu. Aku mengenal suling itu sebagai suling
pusaka kemala. Suling itu milik Kaisar Cheng Tung yang
diberikan kepada isteri-nya yang bernama Chai Li dan
kemudian diberikan kepada putera mereka bernama Cheng
Lin. Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di
tanganmu?"
Bukan main kagetnya hati Ki Seng mendengar ucapan itu.
Kakek itu ternyata telah mengetahui dengan jelas akan
riwayat suling pusaka kemala, Bahkan agaknya tahu benar
tentang Pangeran Cheng Lin, ibunya dan ayahnya. Teringatlah
dia akan cerita Han Lin tentang ibunya yang tewas oleh
seorang musuh besarnya bernama Suma Kiang!
"Akulah Pangeran Cheng Lin. Chai Li adalah mendiang
ibuku dan Kaisar Cheng Tung adalah ayahku!" kata Ki Seng.
Dia harus mati-matian mempertahankan pengakuannya
sebagai Pangeran Cheng Tung karena di situ terdapat pula
Sian Hwa Sian-li.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha-ha! Aku mengenal siapa itu Pangeran Cheng Lin.
Bukan engkau. Pangeran Cheng Lin yang aseli tidak
mempunyai tahi lalat di bawah telinga kanannya dan
wajahnya juga beda darimu! Ha-ha-ha!" Suma Kiang
menertawakan Ki Seng.
Wajah Ki Seng berubah merah. "Kakek jahanam
pembohong! Akulah Pangeran Cheng Lin dan aku tahu siapa
engkau! Engkau tentu jahanam Suma Kiang yang telah
menyebabkan tewasnya ibu kandungku Puteri Chai Li!"
"Benar, akulah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai
Kuning) Suma Kiang. Serahkan suling pusaka kemala
kepadaku atau terpaksa aku akan membunuhmu!"
"Suma Kiang, hari ini engkau harus menebus dosamu
terhadap ibuku. Aku akan membalas dendam atas kematian
ibuku!" Setelah berkata demikian, Ki Seng segera menyerang
dengan dahsyatnya. Pemuda ini tahu bahwa dia harus
membunuh Suma Kiang yang telah mengetahui rahasianya
bahwa dia bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli! Maka begitu
menyerang dia telah mempergunakan ilmu silat Sin-liongciang-
hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang gerakannya amat
hebat dan kuat.
Melihat datangnya serangan yang membawa angin pukulan
dahsyat itu, Suma Kiang terkejut bukan main. Dia segera
dapat mengenal serangan ampuh, maka cepat dia bergerak
mengelak dan membalas dengan ilmu silat Ciu-siai Ciang-hoat
(Ilmu Silat Dewa Mabok) yang gerakannya aneh seperti orang
mabok.
"Hyaaattt....!" Suma Kiang balas menyerang dengan
pengerahan tenaga sepenuhnya karena dia ingin segera
membunuh pemuda yang agaknya merupakan lawan tangguh
ini. Diserang dengan pukulan yang amat kuat itu, Ki Seng
tidak mengelak melainkan menyambut pukulan itu dengan
tangkisan sambil mengerahkan tenaga saktinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wuuutttt..... desss.....!!" Suma Kiang terkejut bukan main
karena benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke
belakang sedangkan pemuda itu masih tetap berdiri dengan
tegak. Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini. Dia
tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya karena bermaksud
untuk membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Akan tetapi
ternyata pemuda itu bukan hanya dapat menangkis
pukulannya, bahkan dapat membuat dia terhuyung.
Suma Kiang adalah seorang yang terbiasa mengagulkan diri
dan kepandaian sendiri. Dia menjadi penasaran sekali dan
tidak mau mengaku bahwa dia kalah kuat. Dia tidak percaya
bahwa dirinya kalah oleh seorang lawan yang masih begitu
muda. Yang pantas menjadi cucunya! Sambil mengeluarkan
suara gerengan seperti binatang buas yang terluka, Sum Kiang
melompat dan menerjang maju mengeluarkan semua jurus
simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk
menyerang dengan ilmu Ciu-sia Ciang-hoat yang dapat
membingungkan lawan karena, gerakannya yang aneh itu.
Ki Seng yang maklum akan ketangguhan lawan, tidak
berani memandang rendah dan diapun melawan dengan terus
memainkan Sin-liong Ciang-hoat. Terjadilah perkelahian yang
amat seru. Sian Hwa Sian-li yang menonton menjadi semakin
kagum kepada kekasihnya itu. Ia dapat melihat betapa
tangguhnya kakek itu, akan tetapi Ki Seng sama sekali tidak
tampak terdesak, bahkan sebaliknya pemuda itu mulai
mendesak lawannya setelah pertandingan itu berlangsung tiga
puluh jurus lebih.
"Haiiitt....!" Tiba-tiba Suma Kiang melakukan serangan
totokan dengan satu jari. Ki Seng cepat mengelak dengan
cepat dan heran karena dia mengenal jurus serangan ilmu Ityang-
ci (Totokan Satu jari). Akan tetapi melihat betapa jurus
It-yang-ci itu tidak begitu sempurna, dia-pun lalu
mengeluarkan ilmu It-yang-ci yang dipelajarinya dari Cheng
Hian Hwesio, membalas serangan lawan. jurus It-yang-ci yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia pergunakan lebih hebat karena sudah dia campur dengan
Bin-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) sehingga totokan Ityang-
ci yang dipergunakan Ki Seng itu mengandung hawa
beracun yang amat jahat. Kini giliran Suma Kiang yang kaget
setengah mati melihat betapa Ki Seng juga mempergunakan
It-yang-ci, bahkan lebih dahsyat dari pada serangannya
sendiri.
Karena kewalahan dan maklum bahwa kalau dia sampai
terkena totokan It-yang-ci yang mengandung hawa panas luar
biasa itu dia dapat celaka, Suma Kiang mencabut sepasang
pedangnya dan memainkan Coa-tok Siang-kiam (Sepasang
Pedang Racun Ular) yang amat dahsyat itu. Sepasang pedang
itu bagaikan dua ekor ular yang mematuk-matuk dari segala
jurusan. Gerakannya amat cepat dan juga mengandung
tenaga yang amat kuat. Melihat dirinya dihujani serangan dua
sinar pedang yang bergulung-gulung itu, Ki Seng maklum
bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai. Maka, diapun
segera mengerahkan sin-kang dan memainkan ilmu silat Sinliong
Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) dengan menggunakan
tenaga Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Hebat bukan
main ilmu silat yang dimainkan Ki Seng dengan tenaga yang
mengandung kekuatan sihir itu. Kedua tangannya
mengeluarkan uap putih yang tebal dan uap itu mengandung
tenaga luar biasa, membuat sepasang pedang di tangan Suma
Kiang selalu terpental kalau sinarnya bertemu dengan uap
putih itu.
Suma Kiang menjadi semakin terkejut. Tak disangkanya
pemuda yang memalsu putera kaisar ini memiliki ilmu
kepandaian yang demikian hebatnya. Dengan kedua tangan
kosong pemuda itu mampu melawan sepasang pedangnya
yang telah mengangkat namanya menjadi datuk persilatan
yang jarang bertemu tanding. Dia penasaran sekali dan masih
mencoba berlaku nekat dan melawan sambil menghujankan
serangan dengan jurus-jurus pilihan. Namun, semua
serangannya gagal, bahkan akhirnya, setelah lewat lima puluh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jurus dalam perkelahian yang amat seru, dia sendiri yang
mulai terdesak oleh uap putih tebal itu. Karena tidak ingin
roboh di tangan pemuda itu, kemungkinan yang besar sekali
mengingat bahwa pemuda itu masih mempunyai teman
wanita cantik yang belum turun tangan, Suma Kiang
mengeluarkan seruan yang disertai kekuatan sihirnya.
"Berhenti!!!" Seruan itu kuat sekali pengaruhnya sehingga
biarpun Ki Seng juga memiliki kekuatan sihir, namun bentakan
itu sempat membuat dia menghentikan gerakannya sejenak.
Kesempatan itu dipergunakan Suma Kiang untuk melompat
dan melarikan diri ke dalam hutan lebat di samping jalan.
Hutan itu lebat dan gelap maka Ki Seng tidak berani
melakukan pengejaran. Selain dia tidak mempunyai urusan
dengan Suma Kiang, juga mengejar lawan yang amat lihai di
dalam hutan yang gelap itu amat berbahaya baginya.
"Ki Seng, mengapa tidak kejar dia?" Sian Hwa Sian-li
bertanya.
"Kim Goat, mengejarnya merupakan kebodohan." kata Ki
Seng yang kadang menyebut nama aseli wanita itu dan
kadang hanya menyebut Sian-li saja.
"Kenapa merupakan kebodohan? Bukankah engkau tadi
sudah mulai dapat mendesaknya?" tanya Kim Goat atau Sian
Hwa Sian-li.
"Engkau melihat sendiri betapa lihainya orang itu. Setelah
bersusah payah demikian lamanya, barulah aku mulai dapat
mendesaknya. Akan tetapi kalau mengejar seorang lawan
selihai itu dalam sebuah hutan lebat yang asing bagiku, hal itu
merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya sekali. Dia dapat
menyebabkan aku terjebak, juga dia dapat menyerangku
secara tiba-tiba. Hal itu berbahaya sekali."
"Akan tetapi dia tadi menuduhmu yang bukan-bukan,
mengatakan bahwa engkau bukan pangeran putera kaisar!"
kata Sian Hwa Sian-li dengan khawatir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dan engkau percaya? Bodoh sekali! Dia sudah lupa
kepadaku karena ketika kami bertemu dahulu, aku masih kecil.
Dia adalah seorang yang teramat licik dan jahat. Sayang aku
tadi belum berhasil membunuhnya."
"Siapa sih sebetulnya orang itu, Ki Seng?"
"Namanya Suma Kiang. Dialah orangnya yang memaksa ibu
kandungku meninggalkan perkampungan Mongol di utara,
bahkan kemudian dia mengejar-ngejar ibu sampai akhirnya
ibu terjatuh ke dalam jurang dan tewas. Dia yang
menyebabkan kematian ibu kandungku!"
"Aku khawatir, orang yang licik itu akan merupakan
ancaman bahaya bagimu, Ki Seng. Kita harus berhati-hati
sekali. Aku dengar banyak sekali terdapat orang orang yang
berkepandaian tinggi di kota raja. Siapa tahu Suma Kiang itu
mempunyai teman-teman yang juga amat lihai."
Ki Seng mengangguk. "Karena itu, aku harus secepat
mungkin menghadap Kaisar. Kalau Kaisar sudah menerimaku
sebagai puteranya dan menjadi pangeran. siapa yang akan
dapat menggangguku? Malam ini kita bermalam di rumah
penginapan dan besok pagi aku akan berusaha untuk
menghadap Kaisar. Engkau tinggal saja di rumah penginapan
agar tidak menarik perhatian. Nanti kalau aku sudah diterima
sebagai pangeran, akar kucarikan jalan agar engkau dapat
pula masuk istana."
Mereka kembali ke kota raja dan memasuki kamar mereka
di rumah penginapan An Lok. Mereka menyewa sebuah kamar
nomor sebelas dengan mengaku sebagai suami isteri, maka
ketika mereka masuk ke kamar itu, seorang pelayan yang
melihatnya tidak menaruh curiga apapun.
Setelah tiba di dalam kamar dan menutupkan daun pintu,
Sian Hwa Sian-li segera menuntun Ki Seng duduk di tepi
pembaringan dan wanita itu dengan sikap manja
merangkulnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ki Seng, benarkah engkau akan mengusahakan agar aku
dapat masuk ke dalam istana? Jangan-jangan setelah engkau
menjadi pangeran dalam istana, engkau akan melupakan aku
begitu saja!"
Ki Seng memeluk dan mencium wanita itu. "Aih, Kim Goat!
Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu? Engkau adalah
pembantuku yang utama, pembantuku yang cantik manis,
yang kusayang. Tidak mungkin aku melupakanmu,, kau
tunggu sajalah besok di sini, aku pasti akan datang
menjemputmu!" Mereka berangkulan dan bermesraan seperti
biasa.
Setelah melalui pasukan pengawal yang berlapis-lapis,
akhirnya Ki Seng dapat membujuk para perwira yang bertugas
menjaga keamanan istana untuk dibawa menghadap kaisar.
Kepada para perwira itu dia menyatakan bahwa dia datang
membawa berita yang teramat penting bagi Kaisar dan
sebagai tanda bahwa dia memiliki hubungan dekat dan
dipercaya oleh Kaisar, dia memperlihatkan Suling Pusaka
Kemala yang dibawanya. Melihat suling milik Kaisar itu
akhirnya para panglima yang bertanggung jawab atas
keselamatan Kaisar mengawal Ki Seng menghadap. Dua orang
panglima yang bertugas menjaga keselamatan Kaisar
mengawal Ki Seng ke ruangan di mana Kaisar biasanya
menerima pelaporan-pelaporan dari para pembantunya.
Biarpun dia seorang pemuda yang tabah dan penuh
keberanian, namun sekali ini, memasuki istana yang dilengkapi
perabotan yang serba indah dan megah, di mana-mana
terdapat perajurit pengawal yang berpakaian indah dan
gagah, dia merasa dirinya kecil dan timbul perasaan rendah
diri. Sayang dia tidak mungkin mengajak Sian Hwa Sian-li
untuk bersama-sama menghadap Kaisar, pikir-nya. Kalau ada
wanita yang penuh pengalaman itu, dia tentu tidak akan
merasa demikian gugup.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lebih lagi ketika kedua orang panglima itu membawanya
memasuki sebuah ruangan yang luas di mana sang kaisar
duduk di atas singasana. Kemewahan dan kemegahan
ruangan yang indah itu, keagungan kaisar yang duduk dengan
sikap berwibawa sekali, dihadap beberapa orang menteri dan
di pinggir ruangan di kanan kiri duduk para perajurit
pengawal, di belakang berderet pula pasukan thaikam,
membuat hati Ki Seng merasa tegang luar biasa. Jantungnya
berdegup kencang dan timbul perasaan takut dalam hatinya
kalau dia teringat bahwa dia datang sebagai Cheng Lin yang
palsu! Dua orang panglima itu berbisik kepadanya agar dia
menjatuhkan diri berlutut. Dia segera berlutut bersama dua
orang, panglima itu.
Pembesar yang bertugas menjaga dan mengatur ketertiban
di ruangan persidangan itu lalu dengan suara lantang melapor
kepada Kaisar. Dia sudah diberi-tahu oleh seorang pengawal
tadi bahwa Ki Seng mohon menghadap Kaisar dengan
membawa berita yang teramat penting. Tentu saja Kaisar
mengerutkan alis dengan heran dan juga tidak senang karena
persidangannya terganggu oleh datangnya seorang pemuda
yang mohon menghadap kepadanya. Akan tetapi karena
pemuda itu menyatakan bahwa dia datang menghadap
membawa berita yang teramat penting, sebagai seorang
kaisar yang bijaksana Kaisar Cheng Tung lalu bertanya.
"Orang muda, siapakah engkau!"
Ki Seng menekan perasaan takutnya dan menjawab sambil
menunduk, suaranya terdengar tegas dan tenang.
"Hamba bermarga Cheng, bernama Lin, Yang Mulia."
Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya lebih dalam lagi
dan matanya memandang pemuda itu penuh perhatian.
Bahkan semua pembesar yang duduk menghadap di situ,
semua mengerling ke arah pemuda itu dengan hati bertanyatanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau bernama Cheng Lin? Datang dan berasal dari
mana?"
"Hamba berasal dari perkampungan Mongol di utara, Yang
Mulia."
Kerut di kening Kaisar Cheng Tung semakin mendalam.
Kaisar berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tentu saja
segera teringat akan pengalamannya sekitar dua puluh tahun
yang lalu. Teringatlah dia betapa ketika itu dia meninggalkan
seorang wanita Mongol yang diper-isterinya dan wanita itu
dalam keadaan mengandung. Dia meninggalkan pesan kepada
isterinya itu bahwa kalau isterinya melahirkan seorang putera
agar diberi nama Cheng Lin! Dia masih ingat semuanya karena
dia mencinta wanita Mongol itu. Akan tetapi, ketika dia
berkehendak mendatangkan isterinya itu ke kota raja dan
tinggal di istana sebagai isterinya yang sah, para penasihatnya
mencegah dan mengingatkannya bahwa hal itu akan
merendahkan derajatnya. Dan ia menyetujui para penasehat
itu. Dia lalu memandang kepada menteri yang duduk
menghadapnya. Mereka telah menyampaikan pelaporan
masing-masing sebelum pemuda itu datang, maka dia lalu
berkata kepada mereka sambil menggerakkan tangan.
"Kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini. Kami ingin
berbincang-bincang dengan pemuda ini berdua saja."
Mendengar peritah itu, semua pejabat memberi hormat lalu
pergi dengan perasaan heran. Segera ruangan itu menjadi
sunyi. Yang ada hanya Kaisar Cheng Tung bersama Ki Seng.
Tentu saja belasan orang perajurit pengawal pribadi kaisar
masih berjaga di dekat pintu-pintu ruangan itu. Akan tetapi
mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi yang amat
rahasia, pengawal-pengawal thaikam yang berkepandaian silat
tinggi dan mereka seperti robot-robot saja. Mereka tidak akan
perduli bahkan tidak memperhatikan semua percakapan
antara kaisar dan tamunya, akan tetapi mereka selalu
waspada terhadap keselamatan kaisar. Menjaga dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyelamatkan kaisar dari bahaya, itulah satu-satunya tugas
mereka yang akan mereka laksanakan dengan taruhan nyawa.
Setelan semua pejabat pergi, dan setelah memandang ke
sekelilingnya, Kaisar Cheng Tung memandang Ki Seng yang
masih menundukkan mukanya.
"Nah, sekarang semua orang telah pergi, tinggal kita
berdua yang berada di sini. Orang muda, kenapa engkau
menghadap kami tanpa dipanggil dan berita penting apakah
yang hendak kau sampaikan kepada kami?"
Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Ki Seng
menjawab. "Yang Mulia, hamba berani menghadap paduka
karena hamba ingin memenuhi pesan terakhir ibu hamba dan
berita yang hendak hamba sampaikan kepada paduka adalah
bahwa ibu hamba telah meninggal dunia."
"Siapa ibumu itu?" tanya Kaisar Cheng Tung dan dalam
suaranya terkandung nada gemetar.
"Nama mendiang ibu adalah Puteri Chai Li, keponakan
kepala suku Kapokai Khan, Yang Mulia."
"Ahh.....!" Kaisar Cheng Tung tidak dapat menahan
kekagetan dan kedukaan nya. Terbayanglah wajah Chai Li
yang pernah dicintanya dan dia menggunakan kedua tangan
untuk menutupi mukanya.
Tak lama kemudian dia menurunkan kedua tangannya
memejamkan kedua matanya yang tampak agak basah.
"Coba angkat mukamu!" perintah Kaisar Cheng Tung
kepada Ki Seng yang sejak tadi menundukkan muka, tidak
berani menatap wajah kaisar yang berwibawa itu. Ki Seng
mengangkat mukanya dan dia bertemu pandang dengan
sepasang mata Kaisar Cheng Tung, membuat pemuda itu
merasa bulu tengkuknya meremang. Kaisar Cheng Tung
memperhatikan wajah Ki Seng. Seorang pemuda yang cukup
tampan dan gagah. Dia sudah dapat menduga dari tadi bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda ini tentu putera Chai Li, puteranya. Akan tetapi dia
tidak dapat menerimanya begitu saja tanpa bukti yang pasti.
"Jadi engkau ini adalah Cheng Lin putera Puteri Chai Li?"
tanyanya.
Dengan mengerahkan kekuatannya Ki Seng
mempertahankan diri sehingga tetap mengangkat mukanya.
"Benar sekali Yang Mulia. Hamba putera ibu Chai Li satusatunya."
"Dan tahukan engkau siapa ayah kandungmu?" tanya
Kaisar Cheng Tung dengan pandang mata tajam seolah
hendak menembus melalui mata Ki Seng untuk menjenguk isi
hatinya.
"Hamba...... hamba tidak berani, Yang Mulia....." kata Ki
Seng sambil menundukkan mukanya, dan suaranya gemetar.
"Hemm, katakan saja siapa ayah kandungmu, jangan takut
asalkan engkau tidak berbohong. Awas, kalau engkau
membohong dan hendak menipu, engkau akan dihukum
berat!" kata Kaisar Cheng Tung.
"Menurut ibu hamba...... ketika ibu hamba hendak
meninggal..... beliau mengatakan..... bahwa..... bahwa ayah
hamba adalah...... paduka yang mulia sendiri."
"Hemm, orang muda. Tidak semudah itu untuk mengaku
sebagai seorang puteraku! Apa buktinya bahwa engkau ini
benar Cheng Lin putera Puteri Chai Li dan putera kami?
Engkau harus mampu membuktikannya!"
"Ampun, Yang Mulia.,. Hamba hanya mendengar semua ini
dari mendiang ibu hamba. Ibu hamba yang menceritakan
bahwa hamba adalah putera yang mulia Sri Baginda Kaisar
Cheng Tung. Ibu hamba menceritakan bahwa paduka
meninggalkan ibu ketika ibu sedang mengandung hamba dan
paduka ada meninggalkan sebuah suling pusaka kemala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada ibu hamba. Inilah suling pusaka kemala itu Yang
Mulia."
Ki Seng mencabut suling yang suda dipersiapkannya dari
ikat pinggangnya dan menyerahkan benda itu dengan kedua
tangan kepada Kaisar Cheng Tung.
Dengan tangan kanan yang gemetar Kaisar Cheng Tung
menerima suling kemala itu, mengamatinya dan setelah yakin
bahwa itu benar sulingnya yang pernah dia berikan kepada
Chai Li, dia memejamkan matanya dan menekan suling itu ke
dadanya. Seolah terngiang dalam telinganya ketika Chai Li
meniup suling itu, memainkan lagu Mongol yang dia sudah
lupa lagi namanya.
Setelah agak lama dan Kaisar Cheng Tung dapat
menenteramkan lagi hatinya dia memandang kepada Ki Seng
yang sudah menundukkan lagi mukanya dan berkata,
suaranya terdengar ramah. "Cheng Lin, engkau memang
benar putera mendiang Chai Li, engkau putera kami.
Terimalah suling ini."
Ki Seng mengangkat mukanya dan menerima suling itu
dengan hati berdebar girang. "Beribu terima kasih hamba
haturkan, Yang Mulia, bahwa paduka sudah menerima hamba
sebagai putera paduka yang mulia."
"Bangkitlah, Cheng Lin dan mari ikut kami ke dalam, kami
perkenalkan kepada seluruh keluarga istana." Kaisar bangkit
berdiri dan Ki Seng juga berdiri. Kaisar memberi isarat kepada
para pengawal pribadinya dan perlahan-lahan kaisar berjalan
masuk ke bagian dalam istana, di ikuti oleh Ki Seng dan para
pengawal yang belasan orang banyaknya itu.
Dengan jantung berdebar-debar karena tegang dan girang,
juga agak rendah diri, Ki Seng diperkenalkan kepada seluruh
keluarga Kaisar di istana! Ki Seng diperkenalkan sebagai
Pangeran Cheng Lin dan diterima secara sah oleh keluarga
bangsawan tinggi itu. Dia mendapatkan sebuah kamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersendiri, juga pakaian yang biasa dipakai seorang pangeran
dan masih banyak lagi barang yang indah indah diterimanya.
Ki Seng merasa bagaikan terbang ke angkasa. Kepalanya
terasa membesar dan dadanya makin membusung ketika dia
diperlakukan dengan sikap hormat oleh semua perajurit
pengawal istana dan para pelayan yang amat banyak
jumlahnya. Juga hatinya gembira bukan main ketika dia
diperkenalkan dengan belasan orang puteri-puteri istana yang
menjadi adik-adiknya. Puteri-puteri yang cantik jelita,
membuat dia merasa seperti dirubung serombongan bidadari.
Biarpun lima orang pangeran putera Kaisar Cheng Tung
menerimanya dengan pandang mata yang tampaknya tidak
senang, dia tidak perduli.
Hanya lima orang pangeran itu yang menyambutnya
dengan senyum merendahkan dan tampaknya tidak senang,
akan tetapi sisa keluarga yang lain semua menerimanya
dengan ramah. Sehari penuh itu dihabiskan waktunya oleh Ki
Seng untuk berjalan-jalan, ditemani seorang thai-kam sebagai
penunjuk jalan, memeriksa seluruh istana sampai ke dalam
taman-tamannya yang luas dan indah. Dia merasa seperti
hidup dalam sorga.
Dia mendapat sebuah kamar yang indah, luas dan megah
dalam sebuah bangunan yang khusus menjadi tempat tinggal
para pangeran. Bersama lima orang pangeran lainnya dia
tinggal di situ dan dia mulai memperhatikan dan mempelajari
keadaan lima orang "saudara" isterinya itu. Dua orang
pangeran lebih tua darinya, berusia dua puluh lima dan dua
puluh tujuh tahun, sedang yang tiga lagi lebih muda darinya,
berusia antara tujuh belas sampai dua puluh tahun. Lima
orang pangeran itu agaknya memandang rendah kepadanya.
Ki Seng yang cerdik maklum bahwa hal itu mungkin karena
"ibunya" seorang Mongol.
Dia tidak merasa takut kepada mereka. Dia harus dapat
menyesuaikan diri di dalam istana dan di antara keluarga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kaisar. Setelah dapat menyesuaikan diri, barulah dia akan
mengatur siasat, apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Dia
juga melihat bahwa hanya para pangeran yang belum
menikah saja yang tinggal dalam bangunan untuk pangeran
itu. Demikian pula puteri-puterinya, yang belum menikah
tinggal bersama dalam sebuah bangunan. Adapun puteri yang
sudah menikah lalu keluar dari bangunan itu dan tinggal
dalam bangunan lain bersama suami dan anaknya, walaupun
masih dalam kompleks istana.
Akan tetapi, kesenangan dan kepuasan yang memenuhi
hati Ki Seng yang kini menjadi "Pangeran Cheng Lin" itu mulai
menipis setelah lewat dua hari saja. Namanya bukan sifat
nafsu kalau merasa puas dan cukup. Nafsu memang selalu
mendorong kita untuk mendapatkan apa yang kita kejar dan
inginkan, akan tetapi kalau yang kita kejar sudah terdapat,
maka kepuasan yang ditimbulkannya hanya bertahan sebentar
saja. Segera kepuasan itu lenyap terganti kehausan untuk
mengejar yang lain lagi, yang kita anggap akan lebih
menyenangkan daripada apa yang sudah kita peroleh. Nafsu
adalah kelaparan yang tak kunjung kenyang.
Cawan tanpa dasar sehingga diisi berapa pun takkan
pernah penuh.
Demikian pula dengan Ki Seng. Tadinya dia mengejar
kedudukan pangeran dan untuk memperoleh kedudukan yang
dianggap akan amat menyenangkan itu, dia tidak segan untuk
mencuri suling pusaka, tidak segan untuk menipu kaisar. Akan
tetapi setelah kedudukan pangeran itu dia peroleh, kepuasan
dan kesenangan akan hasilnya hanya berlangsung sebentar
saja karena sudah tertutup oleh keinginan lain untuk
memperoleh sesuatu yang dia anggap akan lebih memuaskan
dan menyenangkan. Setelah kini menjadi pangeran, dia
membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau dia
dapat menjadi pengganti kaisar. Dia menjadi kaisar! Bukan
hanya mimpi kosong, karena dia sekarang telah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang pangeran Dan kaisar tentu selalu mewariskan tahta
kerajaannya kepada seorang di antara putera-puteranya!
Yaitu, seorang di antara dia dan saudara-saudara tirinya! Dia
harus mencari jalan agar warisan tahta itu dapat terjatuh ke
tangannya. Bayangan akan kesenangan menjadi kaisar ini
sekaligus menghapus semua kesenangan menjadi pangeran.
Pangeran Cheng Boan yang sudah berusia empat puluh
delapan tahun itu memasuki gedungnya yang megah dengan
muka merah dan mulut cemberut. Ketika pelayan
menyambutnya, dia memandang dengan mata melotot
sehingga pelayan itu menjadi ketakutan, maklum bahwa
majikannya sedang marah. Maka dia hanya berdiri di pinggir
memberi hormat, membiarkan majikannya lewat memasuki
rumah.
"Cepat panggil Suma Lo-sicu (Orang Tua Gagah Suma) ke
sini. Cepat! Suruh dia langsung masuk ke kamar kerjaku!"
bentak Pangeran Cheng Boan kepada pelayan tua itu.
Pelayan itu membungkuk dalam dan berkata penuh hormat,
"Baik, yang mulia pangeran!"
Pangeran Cheng Boan dengan uring uringan langsung
memasuki kamar kerjanya. Pangeran ini seorang laki-laki
bertubuh tinggi gendut dengan wajah bunda dan kekanakkanakan.
Akan tetapi matanya tajam dan membayangkan
kecerdikan dan kelicikan. Pakaiannya mewah sekali Dia adalah
seorang adik dari Kaisar Cheng Tung yang terlahir dari
seorang selir. Karena dia pandai mengambil hati kakaknya
yang berkuasa, maka Kaisar Cheng Tung memberi kedudukan
yang cukup penting kepadanya. Dia menjadi pengawas
keuangan kerajaan. Pangeran Cheng Boan mempunyai
seorang isteri yang memberinya seorang putera, yaitu Cheng
Kun atau yang biasa disebut Cheng Kongcu yang sudah kita
kenal sebagai tunangan dari Lo Siang Kui saudara sepupu Lo
Sian Eng. Selain isterinya yang menjadi ibu Cheng Kun, Cheng
Boan juga mempunyai tujuh orang selir, namun tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorangpun dari tujuh orang selir yang masih muda-muda dan
cantik-cantik itu menurunkan anak. Cheng Kun menjadi anak
tunggal yang amat dimanja.
Begitu memasuki kamar kerjanya, Pangeran Cheng Boan
menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi besar dan meneriaki
pelayannya. Seorang pelayan wanita berlari-lari memasuki
kamar itu.
Setelah membungkuk dengan hormat, wanita pelayan itu
bertanya, "Perintah apa yang harus hamba lakukan, yang
mulia?" Pangeran Cheng Boan, walaupun hanya seorang
pangeran, namun dia mengharuskan para pelayan dan
pengawalnya bersikap hormat kepadanya seperti orang
menghormati kaisar.
"Cepat ambilkan huncwe, tembakau dan peralatannya. Aku
mau isap. Cepat!"
Pelayan yang sudah biasa melayaniangeran itu bergegas
mengambilkan huncwe (pipa tembakau), tembakau, pemuat
api dan dengan cekatan ia memasukkan tembakau ke dalam
kepala huncwe, menyerahkannya kepada pangeran itu,
kemudian menyulut tembakau. Pangeran Cheng Boan
menyedot huncwenya dan matanya terpejam dengan
nikmatnya ketika asap tembakau itu memasuki paru-parunya.
Pelayan itu lalu mengundurkan diri sambil membungkukbungkuk
karena pada saat itu masuk seorang pemuda yang
bukan lain adalah Cheng Kun yang baru pulang dari
kebiasaannya sehari-hari, yaitu pergi melancong ke mana saja
bersenang-senang dengan kawan-kawannya sesama pemuda
bangsawan di kota raja.
"Hemm, engkau baru muncul, Chenji Kun? Tadi kucari-cari
tidak ada. Kemana saja engkau?" tegur Pangeran Cheng Boan.
"Aku pergi melancong dengan teman-teman, ayah. Ada
keperluan apakah ayah mencariku?" tanya pemuda
bangsawan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kita diundang Kaisar."
"Aku juga, ayah?"
"Ya, engkau dan aku. Ibumu tidak-masuk hitungan."
"Eh, ada urusan apakah Paman Kaisar mengundang kita?"
"Itulah yang mengesalkan hatiku. Kita diperkenalkan
dengan seorang pangeran baru."
"Pangeran baru? Bibi yang manakah yang melahirkan
putera?"
"Tidak ada isteri Kaisar yang melahirkan. Pemuda itu
seperti muncul dari neraka. Dia adalah anak dari wanita
Mongol yang pernah diperisteri Kaisar ketika dia ditawan
orang-orang Mongol di utara, dua puluh tahun yang lalu.
Sialan benar! Bocah keturunan Mongol itu kini menjadi
seorang pangeran yang harus dihormati!" Suara Pangeran
Cheng Boan mengandung kemarahan dan penasaran besar.
Pada saat itu muncullah Suma Kiang yang tadi dipanggil
oleh pelayan yang disuruh Pangeran Cheng Boan. Suma Kiang
memberi hormat sambil membungkuk dan bertanya dengan
nada menghormat. "Yang mulia Pangeran mengundang saya?"
Pangeran Cheng Boan memandang wajah Suma Kiang
dengan muka cemberut.
"Suma-sicu, duduklah." katanya pendek dan dari sikap ini
saja tahulah Suma Kiang bahwa majikannya ini sedang berada
dalam keadaan marah besar. Diapun duduk di atas kursi,
berhadapan dengan Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun.
Setelah jagoannya itu duduk, Pangeran Cheng Boan segera
melontarkan rasa penasaran di hatinya. "Suma-sicu, semua ini
gara-gara kegagalanmu ketika dua puluh tahun yang lalu
engkau kuutus untuk membunuh wanita Mongol dan anaknya
itu. Gara-gara kegagalanmu itulah sekarang pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muncul menuntut haknya dan dia diterima oleh Kaisar sebagai
seorang pangeran yang sah!"
"Pemuda yang manakah paduka maksudkan?" tanya Suma
Kiang dengan sikapnya yang tenang.
"Pemuda mana lagi kalau bukan si keparat anak
perempuan Mongol itu!" bentak Pangeran Cheng Boan.
"Bagaimana dia dapat diterima oleh Yang Mulia Kaisar? Apa
buktinya bahwa dia itu benar-benar Pangeran putera Kaisar
dari ibu wanita Mongol itu? Apakah ada tanda-tandanya,
Pangeran?"
"Buktinya sudah jelas dan dapat diterima oleh Kaisar.
Pemuda itu membawa Suling Pusaka Kemala, milik Kaisar
yang dulu oleh Kaisar diberikan kepada wanita Mongol, ibu
pemuda itu. Nama pemuda itu Cheng Lin, Pangeran Cheng
Lin!"
Segera Suma Kiang teringat akan pemuda pembawa suling
kemala yang dijumpainya pada hari kemarin. Sekarang
tahulah dia bahwa pemuda yang dia tahu bukan putera Chai Li
yang sesungguhnya itu telah memperdaya kaisar dengan
menunjukkan suling kemala dan mengaku sebagai Pangeran
Cheng Lin putera Puteri Chai Li.
"Dia bukan putera wanita Mongol itu! Dia adalah Pangeran
Cheng Lin yang palsu!" seru Suma Kiang.
"Suma-sicu! Jangan bicara sembarangan! Pemuda itu telah
membawa bukti suling kemala dan dia sudah diterima oleh
Kaisar sebagai puteranya dan kini menjadi pangeran!"
Suma Kiang tertawa sehingga matanya menjadi semakin
sipit, hampir terpejam dan tangan kirinya mengelus
jenggotnya yang panjang. "Ha-ha-ha! Saya berani tanggung
bahwa dia bukan putera wanita Mongol itu. Saya telah
bertemu dengan pangeran palsu itu kemarin, Pangeran,
bahkan sudah sempat bertanding silat dengannya. Ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia lihai bukan main. Akan tetapi dia bukanlah Pangeran
Cheng Lin walaupun dia benar membawa suling pusaka
kemala yang entah bagaimana telah terjatuh di tangannya.
Saya sudah pernah bertemu dengan pangeran yang aseli,
putera dari Chai Li wanita Mongol itu. Yang sekarang mengaku
pangeran dan diterima oleh Kaisar sebaga puteranya jelas
bukan yang aseli. Yang palsu ini mempunyai setitik tahi lalat di
bawah telinga kanannya, sedangkan yang aseli tidak memiliki
tahi lalat di mukanya. Saya mengenal betul Pangeran Cheng
Lin yang aseli, yang menggunakai nama Han Lin. Maka saya
berani memastikan dengan yakin bahwa pemuda yang
mengaku Pangeran Cheng Lin dan diterima oleh Sribaginda
Kaisar itu adalah pangeran palsu."
"Keparat!" Pangeran Cheng Boan mengepal tinju dan
memukul pahanya sendiri. "Aku akan membongkar rahasia
jahanam itu agar dia dijatuhi hukuman mati!"
"Biar sekarangpun juga aku pergi membawa pengawal dan
menghadap Sri baginda Kaisar untuk melaporkan hal itu, ayah.
Aku sendiri yang akan menghajar hocah palsu itu!" kata Cheng
Kun dengan marah.
"Cheng Kongcu harap sabar dulu." kata Suma Kiang.
"Sabar? Engkau menyuruh Cheng Kun bersabar
menghadapi seorang yang memalsukan pangeran?" tegur
Pangeran Cheng Boan sambil mengerutkan alis memandang
kepada Suma Kiang.
"Harap paduka tenang dulu, Pangeran. Menghadapi segala
hal, kita perlu bersikap tenang dan dapat memanfaatkan
segala keadaan. Paduka sudah tahu akan rahasia pangeran
palsu itu, berarti nasibnya berada di telapak tangan paduka.
Nah, dengan demikian, tidaklah paduka dapat memanfaatkan
dia yang sudah diterima sebagai pangeran di dalam istana?
Pangeran palsu itu adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu
silat tinggi sekali, hal ini sudah saya buktikan sendiri. Kalau dia
dapat diancam lalu dibujuk sehingga mau menjadi pembantu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
paduka, terbukalah jalan bagi paduka untuk menyingkirkan
lawan-lawan paduka dalam istana."
Mendengar ucapan Suma Kiang itu Pangeran Cheng Boan
termenung. Tent saja sebagai orang kepercayaannya yang
sudah bertahun-tahun, Suma Kiang mengetahui segala
rencananya. Pangeran Cheng Boan mempunyai cita-cita yang
besar dan sudah mengatur rencana yang belum juga dapat dia
laksanakan. Bahkan bantuan Suma Kiang juga tidak membuka
kesempatan baginya untuk melaksanaka rencana itu.
Rencananya adalah menyingkirkan lima orang pangeran
putera Kaisar Cheng Tung. Kalau semua pangeran itu dapat
disingkirkan, maka tahta kerajaan besar sekali
kemungkinannya akan terjatuh ke dalam tangannya kelak. Dia
adalah adik kaisar tertua dan terdekat dengan kaisar. Kalau
lima orang pangeran itu lenyap, kiranya tidak ada orang lain
yang lebih pantas untuk mewarisi tahta kerajaan kecuali dia.
"Plakkkk!!" Dia menampar pahanya sendiri sambil
memandang kepada Suma Kiang dengan mata bersinar dan
wajah berseri gembira. "Benar! Engkau benar sekali, Sumasicu!
Bagus! Kini aku mendapatkan jalan! Kesempatan terbuka
lebar bagiku."
"Ayah, apa maksud ayah?" Cheng Kun bertanya ketika
melihat kegembiraan ayahnya.
"Cheng Kongcu, apakah kongcu tidak dapat menduganya?
Sekarang Pangeran akan mempunyai seorang mata-mata dan
pembantu yang amat boleh diandalkan dalam istana kaisar."
kata Suma Kiang sambil tersenyum.
"Suma-sicu, engkau tentu mengerti akan rencana dan
siasatku. Malam besok akan kuundang makan Pangeran
Cheng Lin untuk menyambutnya sebagai ucapan selamat
datang dan menghormatinya. Dalam kesempatan itu aku akan
membuka matanya bahwa aku telah memegang kunci rahasia
dirinya dan bahwa dia harus menuruti kehendakku kalau ingin
selamat. Engkau kumpulkan para jagoan untuk menyertaiku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambutnya dengan pesta makan, untuk berjaga-jaga
kalau dia bertindak yang bukan-bukan."
"Pangeran, pemuda itu lihai sekali, Terus terang saja, kalau
saya seorang diri menghadapinya, akan berbahaya sekali. Dan
kalau saya membawa terlalu banyak kawan untuk menjaga
keselamatan paduka, hal itupun tidak baik karena berarti
rencana rahasia paduka akan di ketahui banyak orang. Akan
tetapi saya mempunyai seorang kawan yang berilmi tinggi dan
yang sudah menyatakan ingin menghambakan diri kepada
paduka asalkan diberi janji bahwa kelak dia akan
mendapatkan anugerah pangkat tinggi Dengan orang itu di
samping saya, maka saya yakin akan dapat menundukkan
pemuda lihai yang memalsu pangeran itu."
"Hemm, baik sekali. Siapakah tokoh itu?"
"Namanya terkenal di dunia kang-ouw sebagai Toat-beng
Kui-ong atau juga disebut Toa Ok karena dia adalah orang
tertua dari Thian-te Sam-ok. Adapun nama aselinya, tidak
pernah ada orang tahu."
"Bagus, panggil dia ke sini agar besok malam dapat
bersamamu menyertai kami berpesta menyambut pangeran
baru. Rahasianya sudah kuketahui, dan kalau dia masih
membandel, ada engkau dan Toa Ok yang akan menekannya.
Dia pasti tidak akan terlepas dari tanganku!" kata Pangeran
Cheng Boan gembira.
"Akan tetapi, dia tidak akan dapat menjadi pembantu yang
benar-benar dapat dipercaya kalau hanya ditundukkan dengan
ancaman, Pangeran. Sebaiknya kalau dia diberi janji yang
akan menguntungkan dan menyenangkan hatinya. Dengan
demikian maka dia akan bersungguh sungguh membantu
paduka karena ada harapan memperoleh keuntungan."
"Hadiah apakah yang akan kita janjikan kepadanya?
Sebagai seorang pangeran yang hidup dalam istana, tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja dia sudah tidak kekurangan apa-apa." kata Pangeran
Cheng Boan.
"Aku tahu, ayah! Aku tahu hadiah yang pasti akan sangat
menarik hatinya dan yang membuat dia mati-matian
membantu ayah!" kata Cheng Kun.
"Hemm, hadiah apakah itu?"
"Kita janjikan bahwa kalau rencana ayah berhasil dilakukan
dengan bantuan-nya, maka kelak kita akan membantu dia
agar dia dapat naik tahta!"
"Gila! Hadiah gila itu!" bentak Pangeran Cheng Boan.
"Sama sekali tidak gila, Pangeran. Bahkan usul Cheng
Kongcu itu baik sekali!" kata Suma Kiang. "Besok malam kalau
kita menjamu dia, selain paduka menyatakan bahwa
rahasianya telah berada dalam tangan paduka, juga paduka
janjikan bahwa kalau dia mau membantu sehingga rencana
paduka berhasil baik, kita akan membantu dia agar kelak
dapat naik tahta menggantikan Sribaginda Kaisar. Tentu saja
ini hanya merupakan janji agar dia lebih bersemangat
membantu. Kelak, kalau semua rencana berhasil baik, saya
kira tidak akan sukar untuk menyingkirkan dia dari permukaan
bumi. Untuk hal itu, saya dan Toa Ok akan sanggup untuk
melakukannya dengan baik."
Wajah Pangeran Cheng Boan berseri dan dia tertawa-tawa,
lalu bangkit dan menghampiri puteranya, menepuk-nepuk
pundak puteranya dengan girang dan bangga.
"Bagus sekali! Semua boleh diatur sesuai rencana. Sumasicu,
sekarang pergilah untuk menghadang Toa Ok agar besok
malam dia dapat bersamamu menghadiri perjamuan.
Sementara itu, sore ini juga aku akan pergi ke istana menemui
dan mengundang Pangeran Cheng Lin. engkau ikut, Cheng
Kun, agar dapat ku-perkenalkan dengan Yang Mulia Pangeran
Cheng Lin." Dia tertawa-tawa sinis. Cheng Kun dan Suma
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiang juga tertawa gembira, seolah telah dapat
membayangkan hasil dari siasat yang mereka rencanakan.
Pada sore hari itu juga, Pangeran Cheng Boan dan Cheng
Kun berkunjung ke istana. Sebagai seorang pangeran adik
kaisar, tentu saja dengan mudah dia dapat masuk ke istana
tanpa banyak gangguan. Apalagi kedatangannya hanya untuk
menjumpai seorang pangeran. Dengan mudah Pangeran
Cheng Boan dan puteranya bertemu dengan Pangeran Cheng
Lin di bangunan tempat tinggal para pangeran.
Pangeran Cheng Lin palsu atau Ouw Ki Seng menyambut
kedua orang tamunya dengan wajah ramah. Dia memang
pandai membawa diri dan dia tahu bahwa untuk mendapatkan
kepercayaan seluruh keluarga kaisar, dia harus bersikap
ramah dan baik terhadap semua keluarga. Dia sudah
berjumpa pada kemarin harinya dengan Pangeran Cheng Boan
yang juga diperkenalkan dengannya, maka dia menyambut
kunjungan pamannya itu dengan hormat dan ramah.
"Selamat sore, paman pangeran. Persilakan duduk dan
apakah yang dapat saya lakukan untuk paman?" katanya lalu
dia memandang kepada Cheng Kun yang belum dikenalnya.
"Selamat sore, pangeran. Perkenalkan ini adalah anak saya
bernama Cheng Kun, masih terhitung sepupu pangeran." kata
Pangeran Cheng Boan setelah dia dan puteranya duduk.
"Ah, terimalah hormatku, kakak Cheng Kun." kata Ki Seng
sambil bangkit dan memberi hormat. Cheng Kun juga bangkit
dan membalas penghormatan itu.
"Terima kasih, Lin-te, (adik Lin). Ayah sengaja mengajakku
ke sini karena tadi tidak sempat bertemu dan berkenalan
denganmu. Karena itu aku sengaja datang untuk berkunjung
dan mengundangmu agar besok malam engkau suka
berkunjung ke rumah kami." kata Cheng Kun dengan ramah
pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar sekali, Pangeran Cheng Lin. kami ingin sekali
memperkenalkan engkau kepada keluarga kami di rumah.
Harap engkau tidak menolak undangan kami ini. Besok malam
kami sungguh mengharapkan kedatanganmu untuk
berkunjung dan berkenalan dengan keluarga kami."
Tentu saja Ki Seng tidak berani menolak. Dia tersenyum
dan mengangguk-angguk. "Baiklah, paman dan Kun-ko (kakak
Kun). Besok malam saya pasti akan datang berkunjung. Akan
tetapi, di manakah rumah paman? Maaf, karena baru tiba di
kota raja maka saya belum mengetahui di mana rumah
paman."
"Ah, dekat saja. Di luar istana ini kalau engkau pergi ke kiri
engkau akan tiba pada sebuah simpang empat. Nah, sebelah
kiri ada sebuah gedung bercat kuning dan ada arca seekor
harimau depan gedung. Itulah tempat tinggal kami."
Ki Seng mengangguk-angguk. "Baiklah paman. Besok
malam saya akan datang ke sana."
Setelah minum arak yang disuguhkan oleh pelayan, Cheng
Kun bertanya, "Kabarnya Lin-te dilahirkan dan dibesarkan di
daerah utara. Tentu banyak sekali pengalamanmu."
Ki Seng tersenyum. "Benar, Kun ko Akan tetapi aku hanya
hidup di perkampungan di utara sana. Tentu saja keadaan di
sana yang sunyi dan sederhana tidak dapat dibandingkan
dengan keadaan kota raja yang ramai dan serba mewah."
"Pangeran, tentu engkau senang tinggal di istana, bukan?"
tanya Pangeran Cheng Boan.
"Wah, senang sekali, paman. Selama tinggal dekat ayah
kandung dan saudara saudara, juga di sini serba ada,
berkecukupan dan serba indah."
"Lin-te, kabarnya kehidupan di utara amat keras dan sukar.
Tentu engkau yang dibesarkan di sana menjadi seorang yang
kuuat dan terbiasa menghadapi kekerasan, engkau tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pandai ilmu silat dan sudah biasa berkelahi dengan lawanlawan
yang kuat." kata Cheng Kun memancing.
Ki Seng tersenyum. Dia tidak ingin memamerkan
kelihaiannya dalam ilmu silat agar tidak menimbulkan
kecurigaan. "Ah, aku hanya mempelajari ilmu bela diri biasa
saja. Maklum, di utara kehidupan memang keras sehingga kita
harus membekali diri dengan ilmu bela diri untuk menjaga
keselamatan, Kun-ko."
Setelah puas mengobrol, ayah dan anak itu lalu berpamit
dan berpesan wanti-wanti agar besok malam Pangeran Cheng
Lin datang berkunjung.
"Kami sekeluarga akan menantimu dengan gembira." kata
Pangeran Cheng Boan. Kemudian dia pergi bersama puteranya
meninggalkan istana.
Ketika Ki Seng datang pada keesokan malamnya ke rumah
gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan, dia disambut
oleh Pangeran Cheng Boan, Cheng Kui Nyonya Cheng, dan
tujuh orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik. Melihat
sambutan yang demikian meriah dan manis, terutama dari
para selir yang berusia dari dua puluh sampai dua puluh lima
tahun, cantik-cantik dan agak genit, Ki Seng merasa rikuh
juga. Pengalamannya dengan wanita hanya sempat bergaul
dengan Sian Hwa Sian-li Kim Goat dan Ciang Mei Ling, Kini,
dirubung demikian banyak wanita muda yang cantik dan
berpakaian mewah, dia menjadi bingung.
-00dw00kz00-
Jilid XXIII
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
AKAN tetapi keluarga Pangeran Cheng Boan amat ramah
kepadanya sehingga akhirnya rasa rikuhnya berkurang dan
mulailah dia berani mengangkat muka memperhatikan mereka
satu demi satu. Di dalam hatinya dia memuji pamannya yang
pandai memilih sehingga memiliki tujuh orang selir yang
demikian cantik manisnya.
Sebuah pesta keluarga diadakan untuk menyambut Ki Seng
yang tentu saja merasa terhormat sekali. Bermacam hidangan
serba mewah dan lezat disuguhkan dan bergantian, keluarga
itu menyulanginya dengan secawan arak sebagai ucapan
selamat datang.
Mereka lalu bercakap-cakap dengan gembira. Hawa banyak
arak yang diminumnya membuat Ki Seng setengah mabok dan
lenyaplah semua rasa rikuh dan malu. Dia berani memandang
kepada selir selir yang cantik itu secara terbuka dan
tersenyum manis kepada mereka. Mereka makan minum dan
sesuai dengan anjuran Pangeran Cheng Boan yang memang
sudah mengatur sebelumnya, tujuh orang selir cantik itu
secara ramah dan mesra bergantian memilihkan daging yang
paling lunak dengan sumpit mereka dan menaruhnya ke
dalam mangkok Ki Seng. Perbuatan ini dapat dianggap
sebagai keramahan sesama anggauta keluarga, akan tetapi
dapat juga sebagai suatu kemesraan yang diperlihatkan
wanita terhada pria. Melihat ulah para selir yang genit itu,
Pangeran Cheng Boan tertawa saja sehingga Ki Seng juga
tidak merasa rikuh atau malu-malu lagi menerima semua sikap
mesra itu.
Baru saja mereka selesai makan, seorang pengawal masuk
dan melapor bahwa Huang-ho Sin-liong dan Toat-beng Kuiong
datang dan ingin menghadap Pangeran Cheng Boan.
Inipun sesuai dengan siasat yang sudah direncanakan
sebelumnya.
"Ah, mereka sudah datang? Hampir aku lupa bahwa aku
sudah berjanji untuk menyambut mereka. Pengawal,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persilakan kedua orang sicu itu untuk duduk dan menanti di
ruangan tamu!" kata Pangeran Cheng Boan kepada pengawal
yang melapor. Kemudian setelah pengawal pergi, Pangeran
Cheng Boan berkata kepada Ki Seng, "Pangeran, mari kita
bicara di ruangan tamu. Kebetulan sekali dua orang pembantu
kami datang, aku ingin memperkenalkan pangeran kepada
mereka."
Ki Seng yang baru saja dijamu besar-besaran, tentu saja
mereka sungkan untuk menolak. Dia lalu bangkit berdiri,
memberi hormat dengan senyum manis kepada Nyonya Cheng
dan tujuh orang selir cantik itu, kemudian dia mengikuti
Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun menuju ke sebuah
ruangan luas yang menjadi ruangan tamu. Ketika mereka
bertiga memasuki ruangan itu, Ki Seng melihat betapa di luar
pintu ruangan itu terdapat tujuh orang pengawal berjaga dan
mereka memberi hormat ketika mereka bertiga lewat. Dalam
ruangan itu telah duduk dua orang laki-laki tua yang segera
bangkit berdiri ketika Pangeran Cheng Boan bersama Cheng
Kun dan Ki Seng masuk.
Tentu saja Ki Seng merasa terkejut bukan main ketika dia
melihat dan mengenal Suma Kiang. Otaknya yang cerdik
bekerja cepat karena dia tahu bahwa dia berada dalam
bahaya. Suma Kiang yang sudah dapat menduga dan
mengetahui rahasianya bahwa dia adalah Pangeran Cheng Lin
yang palsu, tentu akan menceritakan rahasianya itu kepada
Pangeran Cheng Boan. Bahkan mungkin sudah
menceritakannya. Dia harus berkeras mempertahankan dirinya
sebagai Pangeran Cheng Lin dan untuk mempertahankan ini,
dia harus memperlihatkan permusuhannya terhadap Suma
Kiang yang sudah membunuh "ibu kandungnya", yaitu Puteri
Chai Li dari Mongol. Maka, setelah pikiran ini berkelebat dalam
benaknya, dia memandang kepada Suma Kiang dengan mata
mendelik marah dan mukanya berubah merah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suma Kiang, jahanam keparat busuk! sekali ini engkau
tidak akan lolos dari tanganku. Mampuslah untuk menebus
kematian ibu kandungku!" Setelah berkata demikian, diapun
menerjang ke depan, mengirim serangan sambil mengerahkan
tenaga sin-kang dengan satu jari tangan, totokan ini hebat
sekali karena totokan itu adalah ilmu It-yang-ci aseli yang dia
campur dengan pukulan beracun Ban-tok-ciang (Tangan
Selaksa Racun)!
Suma Kiang yang sudah bangkit berdiri memang sudah
mempersiapkan diri. Dia masuk bersama Toat-beng Kui-ong
(Raja Setan Pencabut Nyawa) Toa Ok memang sudah
direncanakan semula. Dia sudah menduga bahwa untuk
mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin,
besar sekali kemungkinannya pemuda itu akan menyerangnya.
Karena itu, begitu Ki Seng menyerangnya dengan totokan,
diapun cepat menghindarkan diri meloncat ke belakang,
maklum bahwa serangan pemuda itu hebat bukan main.
Melihat lawannya menghindar, Ki Seng yang ingin menjaga
rahasianya, cepat melompat ke depan mengejar dan langsung
menyerang lagi, sekali ini menggunakan jurus dari ilmu Sinliong
Ciang-hwat (Ilmu Silat Naga Sakti). Serangannya itu
hebat bukan main karena dia telah mempergunakan jurus
pilihan, yaitu Sin-liong Lo-thian (Naga Sakti Mengacau Langit),
tubuhnya melayang ke atas dan dari atas dia mengirim
pukulan maut ke arah kepala lawannya. Melihat ini, Suma
Kiang menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukk....." Tubuh Suma Kiang terhuyung dan Ki Seng yang
sudah turun kembali, mengejarnya dan kembali mengirimi
totokan It-yang-ci yang akan mematikan lawan kalau
mengenai sasarannya, yaitu leher. Dalam keadaan terhuyung
itu, agaknya sulit bagi Suma Kiang untuk dapat
menghindarkan diri lagi. Akan tetapi, dalam keadaan yang
amat gawat-itu, Toa Ok yang melihat rekannya dalam bahaya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat melompat ke depan dan menggerakkan lengannya
menangkis pukulan Ki Seng.
"Dukkk....!!" Toa Ok dan Ki Seng sama-sama terdorong ke
belakang sehingga keduanya terkejut bukan main karena
mengetahui bahwa pihak lawan memiliki tenaga sin-kang yang
amat kuat.
"Tahan dulu.....!!" Pangeran Cheng Boan melerai dan
mengangkat tangannya ke atas. "Pangeran Cheng Lin, ada
apa ini? Mengapa engkau menyerang Suma-sicu yang menjadi
pembantu kami? Jangan berkelahi dalam rumah kami, dan
reritakan apa artinya semua ini!"
Ki Seng teringat bahwa Suma Kiang yang gagal dibunuhnya
itu adalah pembantu dari Pangeran Cheng Boan. Dia berada
dalam keadaan yang sulit sekali akan tetapi dia tetap harus
mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin.
Dia menghela napas dan menyadari bahwa tindakannya tadi
tentu saja amat kurang ajar, menyerang orang dalam rumah
Pangeran Cheng Boan.
"Maafkan saya, paman. Akan tetapi orang ini.... dia Suma
Kiang dan dia musuh besar saya yang harus saya bunuh!"
Pangeran Cheng Boan tersenyum dan mengangkat tangan
memberi isarat kepada Ki Seng, Suma Kiang dan Toa Ok
untuk duduk. "Tenang dan sabar dulu, Pangeran Cheng Lin,
marilah kita bicara secara baik-baik. Mengapa engkau
memusuhi Suma-sicu dan hendak membunuhnya?"
"Dia telah menyebabkan kematian ibi kandung saya,
paman!" kata Ki Seng dengan suara tegas.
"Hemm, mungkin saya telah menyengsarakan Chai Li,
puteri Mongol. Akan tetapi saya sama sekali tidak mengenal
ibu pemuda ini!" kata Suma Kiang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apa kau kata?" Ki Seng bangkit berdiri dan sikapnya
marah dan hendak menyerang. "Aku adalah Pangeran Cheng
Lin dan Puteri Chai Li adalah mendiang ibu kandungku!"
Kembali Pangeran Cheng Boan membujuk Ki Seng.
"Pangeran Cheng Lin duduk dan tenanglah. Kita harus bicara
baik-baik dan melihat kenyataan dengan damai. Ketahuilah
bahwa kami semua tidak ingin bermusuhan denganmu,
sungguhpun kami telah mengetahui semua rahasiamu."
"Rahasia apakah mengenai diri saya, paman?" tanya Ki
Seng, waspada.
"Tidak perlu berpura-pura, pangeran. Kami tahu benar
bahwa engkau bukan Pangeran Cheng Lin!"
Mendengar ini, Ki Seng terkejut dan bangkit berdiri. Akan
tetapi Suma Kiang Nan Toa Ok juga sudah bangkit berdiri dan
begitu Pangeran Cheng Boan bertepuk tangan tiga kali,
belasan orang pengawal dengan senjata di tangan telah
berdiri di ambang pintu. Ki Seng maklum bahwa keadaannya
berbahaya sekali karena tadi dia sudah merasakan betapa
lihainya Toa Ok. Kalau dia harus menghadapi Toa Ok dan
Suma Kiang, sukar baginya untuk dapat menang, apalagi di
situ terdapat belasan orang pengawal.
"Tenanglah, pangeran. Kukatakan kepadamu, tenang dan
duduklah. Kita bicara baik-baik. Atau engkau memilih jalan
kekerasan dan tewas di sini?"
Melihat sikap dan mendengar ucapan Pangeran Cheng
Boan, tahulah Ki Seng bahwa pangeran itu agaknya hendak
mengajaknya berdamai dan akan menawarkan sesuatu. Maka
diapun duduk kembali. Pangeran Cheng Boan memberi isarat.
Kedua orang datuk itu duduk kembali dan belasan orang
pengawal juga keluar lagi dari ambang pintu.
"Nah, pangeran. Biarpun kami telah tahu bahwa engkau
bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli, namun aku masih
memanggilmu pangeran. Hal ini membuktikan kemauan baik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kami. Kalau tidak demikian, tentu kami akan menangkapmu.
Kalau kami melapor kepada Kakanda Kaisar tentang dirimu,
tentu engkau akan ditangkap dan dihukum mati! Akan tetapi
jangan khawatir, kami tidak akan melaporkan, dan akan terus
menganggapm sebagai Pangeran Cheng Lin."
Ki Seng yang amat cerdik maklum bahwa tidak ada artinya
membantah lagi. Suma Kiang yang pernah bertemu dengan
Han Lin, tentu dapat mengenalnya sebagai bukan Pangeran
Cheng Lin dan kalau sampai kaisar mendengar tentang hal itu,
celakalah dia! Maka, tidak lain jalan baginya kecuali berdamai
dengan Pangera Cheng Boan.

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil