Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cersil Mandarin Full Kho Ping Hoo 11 Suling Pusaka Kumala

Cersil Mandarin Full Kho Ping Hoo 11 Suling Pusaka Kumala Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Mandarin Full Kho Ping Hoo 11 Suling Pusaka Kumala
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Mandarin Full Kho Ping Hoo 11 Suling Pusaka Kumala
Sian Eng menjadi girang sekali. Kini ia mendapat
kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya kepada
Suma Kiang, juga kepada Toa Ok, dan ia akan dapat pula
menyelidiki persekongkolan itu. Kini semua orang
mengucapkan selamat kepada Sian Eng, bahkan Sian Hwa
Sian-li sendiri tampak ramah kepadanya. Semua tampak
ramah kecuali Ciang Mei Ling yang bersikap dingin dan tidak
acuh kepadanya. Pangeran Cheng Boan lalu memerintahkan
para pelayan untuk menghidangkan makanan dan minuman
karena dia hendak merayakan diterimanya Siar Eng sebagai
pembantu dengan sebuah pesta kecil di antara mereka semua.
Sian Eng yang amat cerdik pandai membawa diri sehingga
tidak ada seorang pun yang mencurigainya, kecuali mungkin
Ciang Mei Ling yang kadang-kadang mengerling kepadanya
dan Sian Eng mendapatkan betapa kerling mata gadis itu amat
tajam dan seolah menembus ke dalam dada dan menjenguk
hatinya. ia menjadi waspada terhadap Ciang Mei Ling yang
dianggapnya berbahaya.
Sian Eng mendapatkan sebuah kamar dalam istana yang
besar itu. Malam itu juga ia berpamit dari Pangeran Cheng
Boan untuk kembali sebentar ke rumah Lo Siang Kui,
mengabarkan tentang hasil pertemuannya dengan keluarga
Pangeran Cheng Boan sekalian berpamit dari keluarga Lo Kang
karena mulai malam itu ia akan tinggal di istana Pangeran
Cheng Boan sebagai seorang pengawal atau penjaga
keamanan keluarga pangeran itu.
Siang Kui dan ayah ibunya senang mendengar keterangan
Siang Kui bahwa soal pernikahan antara Siang Kui dan Cheng
Kun akan ditangani oleh Pangeran Cheng Boan sendiri dan
keputusannya pasti akan dilakukan pangeran itu dalam waktu
dekat. Biarpun ayah dan ibu Siang Kui belum mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keadaan puteri mereka yang ternoda oleh calon mantu
mereka itu, namun berita tentang akan dipercepatnya hari
pernikahan puteri mereka, membuat mereka merasa gembira.
Malam itu juga Sian Eng berpamit dari mereka dan membawa
buntalan pakaian-nya, berpindah ke dalam istana Pangeran
Cheng Boan.
Semenjak malam jahanam itu di mana ia terbius oleh
anggur beracun yang disuguhkan Sian Hwa Sian-li kepadanya
sehingga dalam keadaan tidak sadar dan terangsang ia
ternoda oleh Cheng Kun, hati Ciang Mei Ling dipenuhi
kebencian Bukan hanya benci kepada Cheng Kui dan Sian Hwa
Sian-li yang menggunakai siasat keji sehingga ia menyerahkan
kehormatannya kepada Cheng Kun, akan tetapi juga timbul
kebenciannya terhadap tunangannya sendiri, Ouw Ki Seng
atau Pangeran Cheng Lin! Kini baru terbuka, matanya bahwa
pangeran yang menjadi tunangannya itu bukan seorang lakilaki
yang baik.
Ia tahu bahwa Pangeran Cheng Lin mengadakan hubungan
gelap berjina dengan para selir muda Pangeran Cheng Boan,
dan bahwa tunangannya itu pun berbuat mesum dengan Sian
Hwa Sian-li. Kini ia dapat menduga bahwa ketika ia dahulu
menyerahkan diri kepada Pangeran Cheng Lin, sama seperti ia
menyerahkan diri kepada Cheng Kun, semua itu terjadi di luar
kesadarannya. Peristiwanya sama dan kini ia dapat mengambil
kesimpulan bahwa semua itu telah diatur oleh Sian Hwa Sianli!
Ia merasa dirinya kotor tercemar, dan ia melihat pula sikap
tunangannya yang kini tidak acuh terhadap dirinya. Kini
tinggal dendam membara di hatinya, bahkan kini timbul
kecurigaan tentang kematian ayah ibunya. Benarkah Twa-to
Siang-houw (Sepasang Harimau Golok Besar) yang membunuh
ayah ibunya? Kenapa dua orang perampok itu membunuh
ayah ibunya? Dan malam itu ia sudah melawan mereka
berdua. Rasanya mustahil kalau ayahnya sampai kalah dan
terbunuh oleh mereka berdua. Ia sendiri dikeroyok oleh
mereka berdua dan biarpun ia terdesak, namun ia merasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yakin bahwa mereka berdua bukan lawan ayahnya. Mereka
tidak akan mampu mengalahkan ayahnya! Jangan-jangan ini
hanya merupakan tipu muslihat yang sudah diatur oleh
Pangeran Cheng Lin dan Sian Hwa Sian-li!
Semua pemikiran itu membuat Mei Ling merasa muak dan
benci kepada tunangannya, biarpun tunangannya itu seorang
pangeran! Ia tidak akan merasa bahagia menjadi isteri
seorang pria seperti itu.
Semenjak ia ternoda oleh Cheng Kun, diam-diam Mei Ling
melakukan pengintaian terhadap mereka semua. Karena itu ia
mengetahui belaka ketika Cheng Kun memperdaya Lo Siang
Kui sehingga gadis tunangannya itu dijadikan korban
kebiadabannya. Ia sudah berusaha menemui Lo Siang Kui
ketika pada keesokan harinya gadis itu pergi meninggalkan
gedung Pangeran Cheng Boan. Ia sudah berusaha membuka
rahasia kejahatan Cheng Kun, akan tetapi Lo Siang Kui tidak
percaya kepadanya.
Mei Ling lalu mengintai mereka. Akan tetapi Pangeran
Cheng Boan dan para kaki tangannya itu bersikap hati-hati
sekali dan Mei Ling juga tidak berani sembrono karena
maklum betapa lihainya para pembantu pangeran itu. Kalau
sampai pengintaiannya ketahuan, ia tentu akan celaka. Karena
itu, sampai peristiwa munculnya Sian Eng di rumah itu untuk
mengancam Cheng Kun, Mei Ling masih belum dapat
mengetahui rahasia komplotan itu. Akan tetapi ia menduga
keras bahwa hubungan antara Pangeran Cheng Lin dan
Pangeran Cheng Boan bukan hubungan kekeluargaan biasa.
Pasti ada rahasia di balik semua itu dan ingin la mengetahui
rahasia itu.
Kemunculan Sian Eng yang menyerang dan mengancam
Cheng Kun untuk mem-pertanggungjawabkan perbuatannya
terhadap Lo Siang Kui, pada mulanya menarik perhatian Mei
Ling dan ia kagum kepada Sian Eng. Akan tetapi alangkah
menyesal dan kecewanya ketika pada akhirnya ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa Sian Eng adalah puteri Suma Kiang dan gadis itu
bahkan menghambakan diri kepada Pangeran Cheng Boan!
Rasa suka yang tadinya timbul di hatinya terhadap Sian Eng
yang menyerang Cheng Kun berubah menjadi kebencian
karena ia menganggap Sian Eng seorang di antara para kaki
tangan Pangeran Cheng Boan.
Pada suatu senja Mei Ling melakukan pengintaian terhadap
Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li. Dua orang ini mengadakan
pertemuan di pondok kecil di tengah taman, minum arak
sambil bercakap-cakap. Melihat kedua orang itu duduk di
bangunan pondok yang terbuka itu sambil bercakap-cakap,
Mei Ling lalu menginta dan menyelinap di balik rumpun bunga
yang banyak daunnya sehingga tubuhnya tertutup sama
sekali. Apalagi tempat ia bersembunyi mengintai dan
mendengarkan itu terlindung bayangan pohon yang gelap.
"Aku masih merasa heran sekali, Cheng Kongcu. Kalau
ayahmu pangeran sudah mengetahui bahwa Ouw Ki Seng itu
adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu, mengapa ayahmu
mau saja menerimanya sebagai sekutunya, bahkan
membiarkan dia berbuat sesuka hatinya menggaul para selir
ayahmu?"
Mei Ling terbelalak dan jantungnya berdebar keras
membuat kedua kakinya gemetar. Apa yang didengarnya itu
terlalu hebat dan penting. Ouw Ki Seng, tunangannya itu,
ternyata hanya seorang pangeran palsu? Apa pula ini?
Tiba-tiba ia terkejut setengah mati ketika pundaknya ada
yang menyentuh. Ia cepat menoleh dan betapa kagetnya
ketika ia melihat bahwa yang menyentuh pundaknya itu bukan
lain adalah Sian Eng, puteri Suma Kiang! Secara otomatis Mei
Ling menggerakkan tangannya untuk memukul, akan tetapi
Sian Eng sudah menangkap pergelangan tangannya dan
menaruh telunjuk tangan kanannya di depan mulut, memberi
tanda supaya Mei Ling tidak membuka suara membuat gaduh.
Melihat tanda dan sikap ini, biarpun la merasa heran dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
curiga, Mei Ling tidak jadi bergerak menyerang. Mereka
berdua berhimpitan bersembunyi di balik rumpun bunga dan
mendengarkan sambil mengintai ke arah dua orang yang
duduk berhadapan terhalang meja kecil di mana terdapat dua
guci anggur dan arak.
"Sssttt, hati-hati engkau bicara!" desis Cheng Kun ketika
mendengar ucapan Sian Hwa Sian-li tadi.
"Ah, apa yang kau khawatirkan, Cheng Kongcu? Malam ini
Pangeran Cheng Lin tidak berada di sini." kata wanita itu.
"Benar, akan tetapi bagaimana dengan Ciang Mei Ling? Dan
Suma Eng yang kini juga berada di sini? Kalau mereka
mendengarnya...."
"Sudahlah, tidak perlu banyak khawa-tir, kekasihku yang
tampan." kata Sian Hwa Sian-li dengan sikap genit. "Sebelum
mengajakmu ke sini tadi, aku sudah memeriksa dan mengintai
kamar mereka. Dua orang gadis itu berada di kamar masingmasing.
Pula, tempat ini terbuka, kalau ada orang datang
mendekat tentu iku akan melihatnya. Kita dapat bicara dengan
leluasa di tempat ini."
"Aku tidak begitu khawatir tentang Mei Ling. Bukankah ia
sudah kutundukkan? Pula, ia adalah tunangan Pangeran
Cheng Lin, mungkin ia sudah tahu bahwa pangeran itu palsu.
Yang kukhawatirkan adalah Suma Eng itu. Ia tampaknya galak
dan ganas, ilmu kepandaiannya tinggi sekali."
"Tidak perlu takut. Gadis itu adalah puteri Suma Kiang.
Mungkin saja ayahnya sudah memberi tahu tentang diri
Pangeran Cheng Lin."
"Akan tetapi hatiku belum yakin. Ah, kalau saja aku bisa
mendapatkan si cantik jelita itu seperti aku mendapatkai Mei
Ling, tentu ia akan dapat kukuasai Akan tetapi mungkinkah hal
itu dilaksanakan? Ia begitu lihai!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hi-hik, mengapa tidak mungkin? Dengan anggur
perangsangku, seorang dewa dari kahyanganpun dapat
terjatuh ke dalam pelukanmu, Cheng Kongcu."
"Aih! Benarkan itu, Sian-li? Kalau begitu, cepatlah lakukan
untukku. Ia cantik jelita sekali dan ia pernah menghinaku Aku
ingin sekali mendapatkannya agar puas hatiku dan dapat
membalas penghinaanku."
"Tunggu saja tanggal mainnya! Suatu waktu ia pasti akan
menjadi milikmu akan tetapi apa yang kau peroleh atas semua
jasaku itu?"
"Jangan khawatir, Sian-li. Aku tidak akan melupakanmu.
Kalau kelak ayah sudah dapat menjadi kaisar, engkau tentu
akan menjadi mantu kaisar, menjadi seorang di antara isteriisteriku
yang paling berjasa dan kucinta."
"Hemm," Sian Hwa Sian-li cemberut "Engkau akan
mempunyai berapa orang isterikah, Cheng Kongcu?"
"Tentu saja banyak! Kalau ayah sudah menjadi Kaisar
kelak, berarti aku menjadi putera mahkota yang kelak
menggantikan ayah menjadi Kaisar. Aku akan mempunyai
isteri sebanyak mungkin, juga selir dan dayang-dayang yang
cantik jelita."
"Hemm, dasar mata keranjang." Sian Hwa Sian-li berlagak
marah dengan sikap genit.
"Jangan khawatir, Sian-li. Engkau tetap akan menjadi
seorang di antara isteriku yang kucinta. Engkau akan selalu
berdekatan dengan aku karena engkau juga menjadi
pengawal pribadiku dan pelindungku."
"Akan tetapi bagaimana ayahmu pangeran akan dapat
menjadi kaisar menggantikan Kaisar Cheng Tung? Bukankah
masih ada Pangeran Cheng Lin itu, walaupun sebenarnya dia
Ouw Ki Seng? Kaisar Cheng Tung sendiri sudah menerimanya
sebagai seorang pangeran."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, jangan khawatirkan tentang pangeran palsu itu."
"Akan tetapi Ouw Ki Seng itu lihai sekali, Cheng Kongcu.
Kita harus berhati-hati sekali!" Sian Hwa Sian-li
memperingatkan.
"Takut apa? Di sini ada Suma Kiang ada Toa Ok, ada
engkau sendiri, ditambah lagi Ciang Mei Ling dan Lo Sian Kui
yang tentu sekarang suka membantu kita!"
"Akan tetapi kalau ayahmu pangeran sudah mengetahui
bahwa dia Pangeran palsu, kenapa tidak dilaporkan saja
kepada Kaisar Cheng Tung agar dia ditangkap dan dihukum?"
"Ah, ternyata engkau masih bodoh Sian-li. Kita mengajak
Ouw Ki Seng bersekutu dan sengaja mendukungnya sebaga
pangeran hanya untuk memperalat dia dalam usaha
menyingkirkan para penghalang, Tanpa disingkirkannya para
penghalang dalam istana itu, bagaimana mungkin ayah akan
dapat menjadi kaisar?"
"Siapakah penghalang-penghalang itu, Cheng Kongcu?"
"Ssstt, jangan kuat-kuat bicara!" Cheng Kun
memperingatkan, Sian Hwa sian-li menoleh ke kanan kiri,
dengan pandang mata tajam menyapu keadaan sekeliling. Lo
Sian Eng dan Mei Ling yang melakukan pengintaian menahan
nafas. Akan tetapi Sian Hwa Sian-li agaknya tidak mencurigai
sesuatu.
"Tenanglah, tidak ada siapa-siapa di sekitar sini." katanya.
"Ceritakanlah, Siapa penghalang-penghalang yang harus disingkirkan
itu, Cheng Kongcu? Ingat, aku adalah pembantu
dan juga pelindungmu, Maka sebaiknya kalau aku mengetahui
segala keadaan sehingga dapat membantu dengan tepat dan
tahu siapa kawan siapa lawan."
"Mereka adalah lima orang pangeran yang berada di dalam
istana. Mereka itu harus disingkirkan karena merupakan
penghalang bagi ayah untuk menjadi kaisar. Tentu saja hal ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan dapat dilakukan dengan mudah oleh Ouw Ki Seng yang
tinggal di istana sebagai seorang pangeran pula."
"Apakah dia mau melakukannya?"
"Kenapa tidak? Kami mendukungnya sebagai pangeran dan
kami menjanjikan kelak akan mendukungnya menjadi puteri
mahkota kalau para pangeran yang lair telah disingkirkan."
"Hernm, mengerti aku sekarang." Siai Hwa Sian-li
mengangguk-angguk. "Dan kalau mereka berlima itu berhasil
disingkirkan, kita lalu menyingkirkan Pangeran palsu itu,
bukan? Wah, cerdik sekali rencana itu! Akan tetapi, bagaimana
dengan Pangeran Cheng Lin yang aseli? Bukan-kah Ouw Ki
Seng telah merampas Suling Pusaka Kemala itu dari
tangannya? Di mana adanya Pangeran Cheng Lin yang aseli
itu? Apakah telah dibunuh oleh Ouw Ki Seng?"
"Itulah yang kadang merisaukan hati ayah. Menurut
keterangan Ouw Ki Seng Pangeran Cheng Lin yang aseli itu
masih hidup dan dia adalah saudara seperguruannya sendiri
bernama Han Lin yang katanya amat lihai."
Lo Sian Eng yang mendengarkan percakapan itu hampir
saja mengeluarkar seruan kaget, akan tetapi cepal ia
menggunakan tangan untuk membungkam mulut sendiri.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Han Lin itu
penyamaran pangeran Cheng Lin?
"Nah, bagaimana kalau Pangeran Cheng Lin yang aseli itu
muncul dan menceritakan semuanya kepada Kaisar Cheng
Tung? Kedok Ouw Ki Seng akan terbuka dan persekutuan ini
tidak ada gunanya lagi malah mungkin membahayakan nama
baik ayahmu."
"Hal itupun sudah kami pikirkan dan justeru karena adanya
kemungkinan munculnya Pangeran Cheng Lin yang aseli maka
kami menarik Ouw Ki Seng menjadi sekutu kami. Dengan
adanya Ouw Ki Seng yang berada di sini sebagai pangeran,
apa yang dapat dilakukan Pangeran Cheng Lin yang aseli?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bukti diri pangeran itu hanyalah Suling Pusaka Kemala, dan
benda pusaka itu sudah menjadi milik Ouw Ki Seng. Siapa
yang akan percaya kepada Pangeran Cheng Lin yang aseli.
Begitu muncul, dia akan ditangkap sebagai pemalsu pangeran.
Juga dengan sdanya Ouw Ki Seng, maka kalau pangeran aseli
itu muncul akan ada yang menandinginya."
"Wan, semua sudah diatur dan direncanakan dengan baik
sekali. Ayahmu pangeran memang cerdik sekali, Cheng
Kongcu. Aku senang sekali dapat membantu."
"Sudahlah, mari kita masuk, Sian li. Hawanya mulai dingin
di sini." kata Cheng Kun sambil bangkit berdiri, diturut oleh
Sian Hwa Sian-li. Tak lama kemudian mereka sudah
meninggalkan taman sambil bergandeng tangan, memasuKi
gedung melalui pintu belakang.
"Jahanam.....!" Sian Eng memaki setelah dua orang itu
pergi.
Mei Ling memandang dengan heran dan penuh selidik.
Tentu saja ia meraa ragu. Bukankah gadis ini puteri Suma
Kiang yang menjadi pembantu utama Pangeran Cheng Boan?
"Siapa yang engkau maki?" tanyanya penuh keraguan.
"Mereka semua!" jawab Sian Eng sambil mengepal tinju
dengan gemas "Mereka seluruh komplotan jahat itu. Aku
mengenalmu, Ciang Mei Ling. Engkau tentu tunangan
Pangeran Cheng Lin palsu itu. Enci Siang Kui sudah bercerita
tentang engkau kepadaku. Engkau juga menjadi korban
mereka."
"Akan tetapi engkau.... bukankah engkau ini puteri Suma
Kiang?" tanya Mei Ling, masih ragu.
"Kita semua tertipu oleh mereka yang berhati palsu itu.
Engkau tidak perlu tahu siapa aku, hanya engkau boleh tahu
bahwa akupun memusuhi komplotan busuk Itu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sikap keras dan tegas dari Sian Eng itu entah mengapa
menimbulkan kepercayaan dalam hati Mei Ling. "Aku tidak
mengerti mengapa engkau sebagai puteri suma Kiang
memusuhi mereka, akan tetapi aku percaya kepadamu, Suma
Eng. kuharap engkau berhati-hati karena di sini terdapat
banyak orang pandai. Baru Suma Kiang dan Toa Ok saja
sudah merupakan dua orang yang amat sukar dikalahkan,
apalagi kalau Ouw Ki Seng atau Pangeran palsu itu maju. Dia
lebih lihai lagi. Juga Sian Hwa Sian-li seorang iblis betina yang
licik dan jahat."
"Aku tahu, Ciang Mei Ling. Lalu, apa yang akan kaulakukan
sekarang?" tanya.
Sian Eng yang merasa bahwa mereka berdua telah
mendengar terbukanya rahasia besar komplotan itu, dan tentu
gadis yang telah dinodai Cheng Kun ini tidak akan tinggal
diam.
"Aku akan membunuh si jahanan Cheng Kun itu!" kata Mei
Ling dengan gemas. "Dia dan iblis betina itu telah
memperdayaku dan jahanam itu telah menodaiku!"
Sian Eng mengangguk. "Mereka semua layak dibasmi. Akan
tetapi engkau haru berhati-hati, Mei Ling. Iblis betina itu tentu
akan membelanya."
Kedua orang gadis itu lalu berpisah meninggalkan taman
dengan cara menyusup melalui kegelapan malam, kembali ke
kamar masing-masing dalam gedung Pangeran Cheng Boan
itu.
Mereka berunding di dalam ruangan belakang yang
tertutup itu. Pangeran Cheng Boan duduk di kepala meja dan
yang lain-lain duduk mengelilingi meja bundar yang besar itu.
Ouw Ki Seng duduk di seberangnya dan di kanan kirinya
duduk Suma Kiang dan Toa Ok, sedang-kan Sian Hwa Sian-li
dan Cheng Kun di kanan kiri Pangeran Cheng Boan. Ciang Mei
Ling tidak tampak di situ. Bagaimanapun juga, Pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cheng Boan masih belum dapat menerima gadis itu sebagai
orang kepercayaannya biarpun Mei Ling diaku sebagai
tunangan Ouw Ki Seng. Bahkan Ouw Ki Seng sendiripun tidak
berani mengajak gadis itu masuk ke dalam persekutuan
rahasia itu dan diapun tidak ingin gadis itu mengetahui bahwa
dia adalah seorang pangeran palsu. Karena itulah maka pada
malam hari itu Mei Ling tidak diperkenankan hadir dalam rapat
rahasia itu.
"Pangeran Cheng Lin, sudah paham benarkah engkau
tugasmu? Coba ulangi apa yang harus kaulakukan." kata
Pangeran Cheng Boan kepada Ki Seng yang duduk dengan
sikap tenang.
"Sudah, paman. Saya sudah paham betul. Tiga hari yang
akan datang Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng Siu
akan mengadakan perjalanan berburu binatang di hutan
selatan seperti biasa dikawal sebanyak dua puluh orang
perajurit pengawal. Saya harus menyamar dan
mempergunakan kesempatan itu untuk membunuh mereka."
"Bagus. Ingat, untuk tugas ini engkau harus bekerja sendiri
agar tidak mencurigakan. Dan yang terpenting dan yang harus
tidak boleh lolos adalah Pangeran Cheng Hwa. Engkau tahu
bahwa dia adalah Pangeran Mahkota yang kelak akan
nenggantikan Kaisar Cheng Tung. Sukur kalau engkau dapat
membunuh keduanya." kata pula Pangeran Cheng Boan.
"Jangan khawatir, paman. Saya akan dapat melakukannya
dengan baik dan mudah. Apa artinya dua puluh orang
perajurit pengawal itu untuk saya? Di-tambah dua kali lipat
lagipun tidak akan lapat menghalangi aku membunuh mereka
berdua."
"Bagus! Kalau Pangeran Cheng Hw sudah dapat
disingkirkan, empat orang yang lain itu mudah menyusul. Aku
sendiri yang akan menutupimu kalau ada yang berprasangka.
Akan kunyatakan dengan sumpah bahwa pada saat kedua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang pangeran itu diserang orang di tengah hutan, engkau
sedang berada bersamaku di rumah kami ini."
Setelah selesai mengadakan perundingan, mereka bubaran
dan Ki Seng menuju ke sebuah kamar yang memang
disediakan untuk dia kalau dia berada di istana Pangeran
Cheng Boan. Denga gembira Ki Seng menuju ke kamar yang
cukup besar dan mewah Itu karena sebelum rapat dimulai dia
sudah memesan kepada Mei Ling untuk menunggunya dalam
kamarnya itu. Malam ini dia ingin bersenang-senang dengan
tunangannya yang secara tidak resmi telah menjadi isterinya
itu.
Sementara itu, Cheng Kun juga kembali ke kamarnya.
Ketika dia memasuk kamarnya, dia tercengang akan tetapi
juga girang melihat Ciang Mei Ling telah berada di dalam
kamar itu! Sejak dia berhasil menggauli gadis itu dengan
bantuan obat perangsang dalam anggur yang disuguhkan Sian
Hwa Sian-li kurang lebih sebulan yang lalu, dia tidak pernah
lagi berkesempatan mendekati Mei Ling. Gadis itu selalu
menjauhkan diri. Akan tetapi malam ini, tahu-tahu gadis itu
sudah berada di dalam kamarnya dan menantinya, Tentu saja
dia girang bukan main dan cepat dia menghampiri sambil
mengembangkan kedua tangannya, siap untuk merangkul.
"Nona Chiang Mei Ling, betapa rindu aku kepadamu,
manis!" Cheng Kun melangkah maju dan kedua tangannya
sudah menyentuh pundak gadis itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba sebatang
pedang yang dipegang tangan kanan gadis itu telah
menodong dadanya. Dia merasa betapa ujung pedang yang
runcing dan tajam itu telah menembus kain bajunya dan
sudah menyentuh kulit dadanya.
"Cheng Kun, manusia busuk! Dengan bantuan iblis betina
itu, engkau telah menodaiku, untuk itu sekarang engkau harus
mampus di tanganku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cheng Kun menjadi ketakutan. Wajarnya pucat, matanya
terbelalak.
"Tidak....tidak....jangan bunuh aku.... toloooonnngggg!!"
Akan tetapi jerit melengking itu di sambung teriakan
kematian karena pedang di tangan Mei Ling sudah memasuki
dadanya. Ketika Mei Ling melangkah mundur dan mencabut
pedangnya, tubuh Cheng Kun terkulai roboh dan darahnya
membanjiri lantai kamarnya.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ouw
Ki Seng telah berdiri di ambang kamar itu. Ketika tadi dia
kembali ke kamarnya, dia tidak melihat Mei Ling berada di
kamarnya seperti yang telah dipesannya. Dia menjadi kecewa
dan bermaksud untuk pergi ke kamar gadis itu. Pada saat
mencari Mei Ling itulah dia mendengar jerit melengking dari
kamar Cheng Kun. Dia cepat melompat dan berlari menuju ke
kamar itu dan dilihatnya Mei Ling telah berada di kamar itu
dengan pedang yang berlumuran darah di tangannya
sedangkan Cheng Kun telah menggeletak mandi darah.
"Ling-moi, apa yang kaulakukan ini?" seru Ki Seng dengan
kaget sekali.
Mei Ling memandang kepada Ki Seng dengan mata
mencorong. Timbul kebencian dan kemuakan besar dalam
hatinya terhadap pemuda yang dahulu membuatnya kagum
dan tertarik ini.
"Ouw Ki seng!" katanya dengan suara yang dingin. "Engkau
pangeran palsu, engkau laki-laki jahanam!"
"Mei Ling, apa artinya sikap dan makianmu itu?" bentak Ki
Seng dengan heran dan marah, juga terkejut sekali.
"Artinya bahwa aku tahu betapa engkau telah mengatur
siasat yang amat jahat. Dibantu iblis betina Sian Hwa Sian-li
itu engkau telah menodaiku, dan aku tidak akan sangsi lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa pembunuhan atas diri ayah ibuku tentu diatur olehmu."
"Mei Ling.....!" Seru Ouw Ki Seng dan pada saat itu,
Pangeran Cheng Boan datang berlari-lari bersama Toa Ok dan
Sian Hwa Sian-li, diikuti pula enam orang perajurit pengawal.
Melihat ini, Ki Seng segera mengambil keputusan. Mei Ling
telah membunuh Cheng Kun dan karena gadis itu adalah
tunangannya maka dia tentu akan terlibat kalau dia tidak
mengambil keputusan cepat.
"Engkau pembunuh!" bentaknya dan cepat dia menyerang
Mei Ling dengan pukulan maut Sin-liong-jut-tong (Nagdl Sakti
Keluar Guha) sebuah jurus ampuh dari ilmu silat Sin-liong
Ciang-hoat (lima Silat Naga Sakti). Pukulan dengan kedua
tangan mendorong ke depan mengarah dada Mei Ling ini
hebat sekali. Serangkum tenaga sakti menyambar ke arah
gadis itu. Mei Ling yang sudah tahu bahwa pemuda itu amat
lihai, cepat melempar tubuh ke samping dan berjungkir balik
tiga kali, kemudian dengan nekat ia menyerang dengan
pedangnya. Dengan penuh kebencian ia menusukkan
pedangnya untuk membunuh pemuda yang telah merusak
kehidupannya itu. Akan tetapi tingkat kepandaian silat gadis
puteri ketua Pek-eng-pang itu masih jauh di bawah tingkat
kepandaian Ki Seng, maka tusukan itu dengan amat
mudahnya dihindarkan oleh Ki Seng dengan miringkan tubuh
ke kanan, menggeser kakinya sehingga tubuhnya kini tiba di
samping kiri Mei Ling. Dengan gerakan cepat sekali, dia
membalik dan tangan kanannya sudah menampar ke arah
punggung gadis itu dengan pengerahan tenaga sakti yang
amat kuat.
"Wuuttt..... plakkk!" Itulah pukulan ban-tok-ciang (Tangan
Selaksa Racun) yang pernah dipelajari Ki Seng dari
perkumpulan Ban-tok-pang. Tubuh Mei Ling tersungkur dan
gadis itu tidak bergerak lagi. Tewas dengan mulut
mengeluarkan darah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika melihat puteranya menggeletak mandi darah,
Pangeran Cheng Boan berteriak keras dan dia menangis
setelah mendapat kenyataan bahwa puteranya telah tewas.
"Apa yang terjadi di sini? Siapa yang membunuh puteraku?"
teriaknya.
Ouw Ki Seng melangkah maju, "Paman Pangeran, saya
mendengar teriakan dan ketika saya datang ke sini, saya
melihat kanda Cheng Kun telah tewas Pembunuhnya adalah
Ciang Mei Ling ini!"
Dia menuding ke arah tubuh gadis itu yang telah tewas
pula. "Melihat kejadian itu saya lalu membunuhnya."
"Akan tetapi..... mengapa ia membunuh Cheng Kun?
Bukankah ia itu gadis tunanganmu?" Pangeran Cheng Boan
bertanya penasaran.
"Saya sendiri tidak mengerti, paman Agaknya terjadi
percekcokan di antara mereka."
"Pangeran, kenapa tergesa-gesa membunuhnya?
Seharusnya ia ditangkap dan ditanya dulu mengapa ia
membunuh Cheng Kongcu." kata Sian Hwa Sian li dengan
suara menegur. Ia merasa terpukul sekali dengan kematian
Cheng Kun yang diharapkannya kelak akan mengangkat
dirinya.
"Ia telah mengetahui rahasia...." Ki Seng menyadari bahwa
di situ terdapat pula enam orang perajurit, lalu disambungnya,
"....rahasia yang seharusnya tidak ia ketahui. Maka aku lalu
membunuhnya, Sian-li."
"Aduh, celaka! Bagaimana sampai bisa terjadi hal seperti
ini?" Keluh Pangeran Cheng Boan dengan hati hancur. Dia
hanya mempunyai seorang saja putera dan sekarang
puteranya telah terbunuh!
"Dimana Suma Kiang? Dia seharusnya menjaga
keselamatan Cheng Kun!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu terdengar suara beradu-nya senjata tajam di
ujung lorong yang menuju ke belakang. Semua orang terkejut
dan tanpa diperintah lagi, Toa Ok dan Sian Hwa Sian-li sudah
berloncatan menuju ke arah itu. Ki Seng juga me-lompat dan
mengejar mereka.
Apa yang terjadi di bagian belakang rumah itu? Suma Kiang
sedang duduk di luar kamarnya mencari hawa sejuk karena di
dalam kamarnya hawanya agak panas. Tiba-tiba muncul Sian
Eng. Melihat gadis itu berdiri di depannya, Suma Kiang
menegur dengan ramah sambil memandang kepada
"puterinya" itu dengan sinar mata menyayang.
"Suma Eng, anakku, engkau belum tidur? Mari duduk di sini
dan mengobrol bersama."
Akan tetapi alangkah heran hati Suma Kiang ketika melihat
gadis itu tetap saja berdiri di depannya, bahkan ia bertolak
pinggang dan berkata dengan suara aneh, suara yang penuh
kemarahan dan kebencian.
"Suma Kiang, manusia iblis! Aku adalah Lo Sian Eng, bukan
Suma Eng!"
"Eh, Suma Eng, apa artinya ini?" tanya Suma Kiang dengan
kaget dan heran masih belum menduga apa-apa.
-00d00w00-
JILID XXVI
"ARTINYA, engkau sama sekali bukan ayah kandungku!
Engkau bahkan musuh besarku yang telah memperkosa ibuku
sehingga ia membunuh diri dan menyebabkan kematian ayah
kandungku pula, karena itu, sekarang engkau harus mati di
tanganku!" Setelah berkata demikian, Sian Eng mencabut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dari
punggungnya dan langsung saja ia menyerang Suma-Kiang
dengan cepat. Pedangnya menyambar dari atas ke bawah,
membacok ke arah kepala Suma Kiang. Serangan ini
datangnya cepat sekali dan mengandung tenaga dahsyat.
Suma Kiang terkejut setangah mati mendengar ucapan Sian
Eng tadi. Seketika diapun tahu bahwa gadis itu telah
mengetahui akan rahasianya, Entah bagaimana gadis itu dapat
mengetahuinya, akan tetapi dia maklum bahwa gadis itu tentu
akan membalas dendam dan benar-benar akan
membunuhnya. Ketika Sian Eng menyerang dengan hebat itu,
tidak ada jalan lain baginya untuk menghindarkan diri dari
maut kecuali dengan melempar diri ke belakang dan terus
bergulingan di atas lantai.
"Singg.....craakkkkk!" Kursi yang tadi diduduki Suma Kiang
terbelah menjadi dua oleh sambaran pedang. Akan tetapi
Suma Kiang sudah dapat menyelamatkan diri dan karena
maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu kini sudah tinggi
sekali, diapun cepat mencabut siang-kiam (sepasang pedang)
dari punggungnya. Sebagai seorang pengawal pribadi dan
penjaga keamanan di istana Pangera Cheng Boan, sepasang
pedangnya tidak pernah terpisah dari tubuhnya.
"Suma Eng, sabar dulu, mari kita bicara...." katanya
menyabarkan.
"Tutup mulut dan bersiaplah untuk mati dan menebus
dosamu!" bentak Sian Eng yang sudah menyerang lagi.
Pedangnya menyambar ke arah leher. Ketika Suma Kiang
melangkah mundur dan menekuk lutut sehingga sambaran
pedang itu lewat di atas kepalanya, tahu-tahu pedang di
tangan Sian Eng sudah membalik dan kini menusuk lehernya.
Suma Kiang terkejut dan cepat mengarakkan pedang
kirinya menangkis.
"Tranggg....!" Dua pedang bertemu dan pedang kanan
Suma Kiang kini membalas dengan tusukan ke arah dada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gadis itu. Akan tetapi dengan mudahnya Sian Eng mengelak.
Segera mereka terlibat dalam perkelahian yang amat seru.
Suma Kiang yang sebetulnya mencinta Sian Eng dengan
sungguh-sungguh dan menganggapnya sebagai puterinya
sendiri, terpaksa membela diri dan balas menyerang.
Hatinya terasa sakit sekali melihat gadis yang disayangnya
itu bersungguh-sungguh hendak membunuhnya. Akan tetapi,
bagaimanapun juga tentu saja dia lebih sayang dirinya sendiri
daripada gadis itu. Dia harus membela diri dengan sungguhsungguh
kalau tidak ingin mati di tangan gadis yang amat lihai
itu. Dan pembelaan diri yang paling kuat adalah dengan balas
menyerang pula.
"Haiiitttt.....!!" Sian Eng sudah menyerang lagi dengan
dahsyatnya. Pedangnya lenyap bentuknya dan yang tampak
hanya gulungan sinar kehijauan dari Ceng-liong kiam yang
membacok ke arah leher suma Kiang dari samping. Bagaikan
kilat menyambar pedang itu meluncur ke arah leher lawan
dengan kekuatan yang cepat akan dapat memancung leher
lawan kalau mengenai sasaran.
Karena serangan itu berbahaya sekali, Suma Kiang tidak
sempat mengelak dan kembali dia menangkis dengan pedang
tangan kirinya.
"Tranggg....!" Bunga api berpijar, Suma Kiang terkejut
karena merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat, tubuhnya
terdorong dan membuat dia terhuyung ke belakang. Pada saat
itu, tangan kiri Sian Eng sudah berkelebat, menyerang dengan
pukulan Pek-lek Ciang- hoat. Suma Kiang masih mencoba
untuk membuang diri ke belakang, akan tetapi hawa pukulan
yang amat dahsyat membuatnya terpelanting. Pada saat itu,
pedang Sian Eng sudah menyambar lagi kearah lehernya!
"Celaka....!" Suma Kiang berseru dan menggunakan kedua
pedangnya untuk menggunting pedang Sian Eng yang
menyerangnya. Pedang gadis itu tertangkis, meleset dan
masih melukai pundak kiri suma Kiang! Datuk ini terpaksa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melompat ke samping lalu bergulingan di atas tanah sambil
melindungi tubuhnya dengan memutar kedua pedangnya.
Keadaannya gawat dan berbahaya sekali. Sian Eng sudah siap
untuk menyerang lagi pada saat musuh besarnya sedang
bergulingan Itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar jejak kaki berlari
mendatangi tempat itu dan terdengar pula teriakan Sian Hwa
Sian-li, "Tangkap pembunuh!"
Melihat Sian Hwa Sian-li datang bersama Toa Ok dan juga
Ouw Ki Seng yang lihai, tahulah Sian Eng bahwa kalau ia
melawan mereka, tentu ia akan celaka. Maka cepat ia
meloncat dan melarikan diri keluar dari dalam rumah itu, terus
ke taman belakang dan melompati pagar yang mengelilingi
tempat tinggal Pangeran Cheng Boan. Ketika para kaki tangan
pangeran itu mengejar, Sian Eng telah lenyap ditelan
kegelapan malam.
Pangeran Cheng Boan menjadi semakin bingung dan
marah. "Apa artinya semua ini?" teriaknya ketika dia
mengetahui bahwa pembantu utamanya, Suma Kiang yang
telah menjadi pembantu setianya sejak puluhan tahun yang
lalu, nyaris terbunuh oleh anaknya sendiri.
"Sebetulnya ia bukan anak kandung saya, Pangeran." Suma
Kiang menjelaskan "Akan tetapi sejak berusia tiga tahun saya
rawat dan didik menjadi seperti anak saya sendiri. Beberapa
tahun ini menjadi murid supek (uwa guru) saya dan ilmu
kepandaiannya meningkat hebat bahkan saya sendiri tidak
mampu menandinginya."
"Akan tetapi mengapa ia hendak membunuh engkau yang
merawat dan mendidiknya sejak kecil?" Pangeran Cheng Boan
bertanya, penasaran.
"Entahlah bagaimana..., ia tahu bahwa saya yang
menyebabkan kematian ibunya dan ia hendak membalas
dendam untuk itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, ada-ada saja!" Pangeran Cheng Boan berkata
marah dan sedih mengingat akan kematian puteranya. "Ia
merupakan bahaya. Sebar para penyelidik cari dan bunuh
gadis itu. Pangeran Cheng Lin, terjadinya peristiwa tidak enak
ini, apalagi yang menyebabkan kematian puteraku, maka
rencana kita harus dilaksanakan dengan cepat. Mari kita
semua berunding di ruangan dalam!"
Jenazah Cheng Kun dan Ciang Mei Ling diurus oleh orangorangnya
pangeran itu dan keluarga Pangeran Cheng Boan
menangisi kematian Cheng Kun. Akan tetapi pada malam hari
itu juga Pangeran Cheng Boan mengajak para jagoannya
untuk berunding di ruangan rahasia mereka. Dalam
perundingan itu direncanakan dengan matang bagaimana
Ouw Ki Seng harus melakukan tugas membunuh dua orang
pangeran yang akan melakukan perjalanan ke hutan sebelah
selatan kota raja untuk berburu binatang hutan.
"Ingat, Pangeran Cheng Lin. Engkau harus melakukan
tugas ini seorang diri dan penuh rahasia. Jangan sampai gagal
dan jangan sampai rahasia ini diketahui orang lain. Kalau
sampai gagal dan bocor, engkau harus menanggungnya
sendiri kami tidak dapat membela atau melindungimu." pesan
Pangeran Cheng Boan
"Harap Paman Pangeran jangan khawatir. Saya pasti akan
dapat membunuh Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng
Siu. Akan tetapi saya khawatir seorang di antara mereka akan
lolos, Agar tugas saya dapat terlaksana dengan baik, saya
minta agar Sian Hwa Sian li diperbolehkan membantu saya. Ia
belum banyak dikenal orang di kota raja sehingga akan lebih
aman kalau dia yang membantu daripada Paman Suma Kiang
atau Paman Toa Ok." kata Ki Seng.
"Saya akan membantu Panger Cheng Lin, Yang Mulia, agar
tugas dapat dilaksanakan dengan hasil baik" kata Sian Hwa
Sian-li sambil tersenyum manis dan menatap wajah Pangeran
Cheng Boan dengan pandang mata memikat. Setelah kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cheng Kun tewas, perhatian wanita itu beralih kepada
Pangeran Cheng Boan. Ia sudah mendengar seluruh siasat
yang dilakukan pangeran ini menipu Ouw Ki Seng pangeran
palsu itu. kalau semua rencana berhasil, Pangeran Cheng
Boan inilah yang besar kemungkin besar akan menggantikan
kedudukan kaisar, bahkan perlu ia dekati.
Pangeran Cheng Boan mengangguk-angguk. "Baiklah, aku
setuju kalau Sian hwa Sian-li ikut dan membantumu, Pameran
Cheng Lin."
ooo00d0w00ooo
Rombongan berkuda itu terdiri dari dua puluh orang
perajurit mengawal dua orang pangeran keluar dari pintu
gerbang kota raja sebelah selatan. Mereka semua tampak
gagah sekali, terutama dua orang pangeran itu. Pangeran
Cheng Hwa adalah seorang pangeran yang bertubuh tinggi
tegap, berusia dua puluh lima tahun dan dia merupakan
putera mahkota karena dia adalah pangeran tertua, lahir dari
permaisuri. Sikapnya lemah lembut dan agung berwibawa.
Pangeran Cheng siu yang menemaninya pergi berburu berusia
sekitar sembilan belas tahun merupakan pangeran kelima dan
dia disayang oleh Pangeran Cheng Hwa. Pangeran kelima ini
bertubuh tinggi kurus berwajah tampan agak kewanitaan. Dua
orang pangeran ini menunggang dua ekor kuda pilihan yang
besar, melarikan kuda mereka depan diikuti dua puluh orang
perajurit pengawal itu. Di sepanjang perjalanan dua orang
pangeran ini menjadi tontonan yang mengagumkan, terutama
bagi para wanitanya.
Tidak lama kemudian mereka telah tiba di luar hutan
selatan yang cukup lebat. Hutan ini merupakan hutan yang
dilindungi, hutan yang memang dipelihara dan menjadi tempat
Kaisar dan keluarganya pergi berburu. Para pemburu umum
dilarang keras memburu binatang di hutan ini dan siapa berani
melanggar diancam hukuman berat. Karena itu, hutan selatan
ini dihuni banyak binatang hutan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka berhenti di luar hutan itu. Matahari telah naik dan
sinarnya menembus celah - celah daun pohon-pohon yang
memenuhi hutan. Dari dalam hutan sudah terdengar kicau
bermacam burung dan suara berbagai binatang hutan, seakan
menantang para pemburu itu.
Pangeran Cheng Siu memandang kakaknya dengan wajah
berseri. "Kanda Cheng Hwa, mari kita berlumba. Kita
berpencar masing-masing membawa sepuluh orang pengawal
dan kita lihat nanti, siapa di antara kita yang mendapatkan
buruan paling banyak!"
Pangeran Cheng Hwa tersenyum gembira. Dia senang
melihat adiknya gembira seperti itu. "Baiklah, Cheng Siu.
Engkau boleh membawa lima belas orang mengawal, sisanya
yang lima orang mengawalku. Akan tetapi kita tidak boleh
curang, para pengawal dilarang ikut berburu, harus dari hasil
buruan kita sendiri."
"Baik, kanda. Jangan khawatir, aku mengerti akan
peraturan permainan!" kata Pangeran Cheng Siu yang lalu
menoleh kepada rombongan pengawal.
"Harap lima belas orang dari kalian mengikuti aku,
sedangkan sisanya yang lima orang mengawal kanda
pangeran!"
Lima belas orang pengawal lalu memisahkan diri dan ketika
Pangeran Cheng Siu menggerakkan kudanya memasuki hutan
mereka juga menjalankan kuda mengiringkan dari belakang.
Setelah adiknya bersama para pengawal lenyap di antara
pohon-pohon dalam hutan, Pangeral Cheng Hwa juga lalu
memberi isarat kepada lima orang pengawalnya dan mereka
menjalankan kuda memasuki hutan. Pangeran Cheng Hwa
mempersiapkan busur dan anak panah di tangan kirinya dan
mulailah dia memandang ke sekeliling dengan waspada untuk
mencari binatang buruan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang pangeran dan dua puluh orang pengawal
mereka itu sama sekai tidak tahu bahwa ada dua pasang mata
mengikuti gerak-gerik mereka ketika mereka berhenti di luar
hutan tadi. Pengintai-pengintai itu adalah Ouw Ki Seng dan
sian Hwa Sian-li yang telah mendahului dan menanti di hutan
itu, bersembunyi diantara semak belukar dan mendengarkan
bercakapan antara kedua orang pangeran tadi.
Setelah melihat dua orang pangeran beserta rombongan
mereka memasuki hutan, Ki Seng berkata kepada Sian Hwa
Lan-li. "Sian-li, kau bereskan pangeran yang dikawal lima
orang itu. Yang dikawal lima belas orang tadi bagianku. Awas,
jangan sampai gagal. Bunuh mereka semua!"
Sian Hwa Sian-li tersenyum, lalu memasang topeng kain
hitam di depan mukanya. "Jangan khawatir. Mari kita
berlumba seperti mereka, siapa yang akan lebih cepat
membereskan mereka."
"Jangan main-main. Lakukanlah!" kata Ki Seng dan dia
sendiripun lalu memasang topeng kain hitam menutupi
mukanya. Kedua orang itu lalu berpencar, melakukan
pengejaran terhadap buruan masing-masing.
Sebentar saja Ki Seng sudah dapat nenyusul Pangeran
Cheng Siu yang dikawal lima belas orang perajurit. Pangeran
muda ini merasa gembira dan tegang. Busur dan anak panah
telah siap di tangan kirinya. Matanya jalang memandang ke
depan, kanan dan kiri untuk menangkap kalau ada gerakan
seekor binatang hutan. Tiba-tiba matanya terbelalak girang.
Dia melihat seekor kelenci putih menyusup di antara semak
belukar. Cepat dia memasang anak panah pada busurnya dan
membidik, kemudian melepaskan anak panahnya ke arah
kelenci yang menongolkan kepalanya di antara semak. Anak
panah meluncur cepat ke arah kelenci. Akan tetapi Pangeran
Cheng Siu terbelalak kaget dan heran ketika melihat anak
panahnya itu disambar tangan seseorang yang tiba-tiba saja
sudah muncul di situ. Seorang yang mengenakan pakaian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serba hitam dan memakai topeng kain hitam pula. Hanya
sepasang mata orang itu yang tampak, mencorong di balik
dua lubang pada topeng itu. Dengan beberapa loncatan,
orang bertopeng itu telah berada di depan kuda yang
ditunggangi Pangeran Cheng Siu.
"Hei, apa yang kaulakukan ini? Siapa kau....?" Pangeran itu
membentak, akan tetapi pada saat itu, orang bertopeng yang
bukan lain adalah Ouw Ki Seng telah menggerakkan tangan
kanannya. anak panah yang tadi ditangkapnya menyambar
seperti kilat dan tepat mengenai dada pangeran itu sebelah
kiri. Sedemikian kuatnya lontaran Ki Seng sehingga anak
panah itu menancap sampai tembus ke punggung. Pangeran
Cheng Siu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya
terpelanting dari atas kudanya yang meringkik dan
mengangkat kedua kaki ke atas.
Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga lima
belas orang perajurit pengawal itu tertegun. Sama sekali
mereka tidak pernah mengira akan ada orang yang berani
melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Cheng Siu.
Apalagi hutan itu adalah hutan terlindung dan terlarang.
Mereka mengira tempat ini aman seperti biasa. Karena itu
ketika Ki Seng menangkap anak panah dan mendekati
pangeran, mereka masih belum menyadari akan adanya
bahaya. Tahu-tahu orang bertopeng itu menyerang Pangeran
Cheng Siu dengan anak panah yang ditangkapnya dan
pangeran itu kini telah menggeletak di atas tanah dengan
dada tertembus anak panah dan tewas seketika. Barulah lima
belas orang perajurit pengawal itu bergerak maju dan
berteriak-teriak.
"Tangkap pembunuh!"
Akan tetapi Ki Seng tidak lari, bahkan dia menerjang ke
depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala seorang
prajurit dan tangan kanannya merampas pedang yang
dipegang perajurit yang roboh terjungkal itu. Para perajurit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengawal berloncatan dari atas kuda mereka dan sambil
berteriak-teriak mengepung serta mengeroyok Ki Seng.
Namun, dengan pedang rampasannya, Ki Seng mengamuk,
dia memang sengaja merampas pedang untuk menghadapi
para pengawal. Dia tidak mau mempergunakan pukulan
tangan karena pukulan yang mengandung sinkang yang
beracun akan dapat dikenali oleh seorang ahli silat. Akan
tetapi bacokan atau tusukan pedang untuk membunuh tentu
tidak akan ada yang mengenal siapa pelakunya. Dengan
alasan itu pula tadi dia membunuh Pangeran Cheng Siu
dengan menggunakan anak panah pangeran itu sendiri.
Lima belas orang perajurit pengawal itu sama sekali bukan
tandingan Ki Seng yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi.
Pedang di tangannya menyambar-nyambar, menjadi gulungan
sinar yang panjang dan berturut-turut lima belas orang
prajurit itu roboh. Darah muncrat di mana mana dan tempat
itu menjadi mengerikan. Mayat-mayat malang melintang
berserakan. Setelah lawan terakhir roboh Ki Seng membuang
pedang rampasannya, sejenak meneliti dengan pandang
matanya yang menyapu di antara mayat-mayat itu. Setelah
merasa yakin bahwa mereka semua, terutama pangeran itu,
sudah tewas, Ki Seng lalu melompat meninggalkan tempat itu
untuk mencari Sian Hwa Sian-li yang diharapkan juga telah
berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.
Seperti telah disepakati berdua, Sian Hwa Sian-li melakukan
pengejaran terhadap Pangeran Cheng Hwa yang dikawal lima
orang perajurit. Sebentar saja Sian Hwa Sian-li sudah dapat
menyusul pangeran itu dan karena ia ingin cepat-cepat
menyelesaikan tugasnya, kalau mungkin mendahului Ki Seng,
Sian Hwa Sian-li langsung saja meloloskan sabuk sutera ikat
pinggangnya. Biasanya, ia mempergunakan sehelai sabuk
sutera berwarna merah. akan tetapi sekali ini, untuk
merahasiakan dirinya, ia memakai sabuk sutera berwarna
hitam, sesuai dengan pakaiannya yang juga serba hitam. Ia
juga tidak membawa senjatanya yang aneh, yaitu sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
payung karena kalau hal ini dilakukannya, tentu orang akan
dapat mudah mengenalnya.
Pangeran Cheng Hwa yang menjalankan kudanya di depan,
terkejut bukan main ketika muncul seorang yang mengenakan
pakaian serba hitam dan juga mukanya ditutupi topeng kain
hitam. Hampir saja ia tadi melepaskan anak panah, karena
ketika berkelebat, orang itu hanya tampak bayangan hitam
saja yang dikiranya seekor binatang hutan. Ketika melihat
bahwa bayangan itu ternyata seorang manusia bertopeng,
tentu saja dirinya tidak jadi melepaskan anak panahnya.
"Siapa engkau dan apa maksudmu menghadang kami?"
bentak Pangeran Cheng Hwa.
"Aku datang untuk membunuhmu" kata Sian Hwa Sian-li
dengan suara yang di rendahkan agar terdengar seperti suara
pria.
Mendengar ini, Pangeran Cheng Hwa yang ahli
menunggang kuda dan sedikit banyak pernah belajar silat,
cepat melompat ke belakang dan berjungkir balik sehingga dia
berada di antara lima orang pengawalnya. Para pengawal
itupun terkejut sekali mendengar ucapan orang bertopeng itu.
Dengan marah mereka lalu berlompatan turun dari atas
punggung kuda mereka, mencabut pedang dan serentak
mereka maju mengeroyok orang bertopeng itu.
"Tar-tar-tar....!" Sabuk sutera hitam itu meledak-ledak
ketika digerakkan oleh Sian Hwa Sian-li, menangkis pedang
pedang yang menyerang dan mengepungnya. Gerakan wanita
itu amat lincah dan cepat sehingga lima orang yang
menyerangnya menjadi bingung. Orang bertopeng itu seolah
telah menjadi banyak, berkelebatan ke sana—sini dan selalu
tidak dapat tersentuh pedang mereka. Kalau tidak mengelak
cepat, bayangan itu menangkis dengan sabuk sutera hitam
dan setiap kali pedang mereka bertemu dengan ujung sabuk,
tangan mereka tergetar hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lima orang pengawal itupun bukan tandingan Sian Hwa
Sian-li yang lihai. biarpun mereka mengeroyok dan
mengepung dalam usaha mereka melindungi Pangeran Cheng
Hwa, mengerahkan seluruh kemampuan mereka, namun
setelah lewat belasan jurus, satu demi satu lima orang
pengawal itu roboh terkena patukan ujung sabuk yang amat
lihai itu, Setiap patukan merupakan totokan ke arah jalan
darah kematian dan berturut-turut lima orang itu roboh dan
tidak mampu bangkit kembali karena mereka telah tewas.
"Sekarang engkau mampus!" bentak Sian Hwa Sian-li
sambil melompat ke dekat Pangeran Cheng Hwa dan sabuk
sutera hitamnya menyambar ganas. Pangeran Cheng Hwa
sudah mencabut pedangnya dan melihat sinar hitam
menyambar ke arahnya, diapun menangkis dengan
pedangnya.
"Wuuuttt.....tranggg.....!" Pedang terlepas dari tangan
Pangeran Cheng Hwa. Sian Hwa Sian-li mengulang
serangannya. Ujung sabuk menyambar dan lecutan dahsyat
dan mematikan ke arah ubun-ubun kepala pangeran itu.
"Ehh.....??" Tiba-tiba Sian Hwa Sian li berseru kaget karena
sabuknya itu berhenti di udara. Ketika ia memutar tubuhnya,
ternyata ujung sabuk itu telah ditangkap seorang laki-laki
muda yang berpakaian sederhana seperti seorang petani,
wajahnya yang tampan itu tersenyum dan dia berdiri dengan
kedua kaki terpentang lebar. Tubuhnya sedang nampak kokoh
berisi, dan matanya mencorong memandang kepada orang
yang mukanya tertutup topeng itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Han Lin. Seperti kita ketahui,
Han Lin bersama Siang Eng telah berhasil membunuh Ji Ok
dan Sam Ok. Setelah itu Han Lin mengantar Sian Eng ke
perguruan silat hek-tiauw Bu-koan di mana Sian Eng diterima
dengan baik oleh toapek-nya (uwa tua) Lo Kang yang menjadi
ketua Hek-Tiaw Bu-koan. Setelah melihat betapa gadis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diterima oleh keluarganya, hati Han Lin merasa lega dan dia
lalu meninggalkan keluarga Lo.
Selama ini dia tidak pernah meninggalkan kota raja. Dia
mulai melakukan penyelidikan dengan hati-hati dan cermat.
Dari para penduduk kota raja dia mendengar bahwa yang
menjadi kaisar masih Kaisar Cheng Tung yang menurut
keterangan ibunya adalah ayah kandungnya. Ayah
kandungnya masih menjadi kaisar. Dan yang lebih
membesarkan hatinya adalah keterangan yang di peroleh dari
penduduk bahwa Kaisar Cheng Tung adalah seorang kaisar
yang baik budi, dermawan dan memperhatikan nasib rakyat
kecil. Sebetulnya di dasar hatinya sejak dulu telah timbul
perasaan tidak senang kepada ayah kandungnya ini yang
dianggapnya telah menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya
yang isteri seorang kaisar itu hidup terlunta-lunta sengsara
sampai akhirnya meninggal dunia dalam keadaan
menyedihkan.
Semua itu adalah karena Kaisar Cheng Tung tidak pernah
menjemput ibunya seakan akan tidak memperdulikannya.
Namun nama baik kaisar itu di mata rakyat sedikitnya
menyenangkan dan membanggakan hatinya, sedikit
mengurangi rasa tidak senangnya.
Diapun menyelidiki keadaan keluarga kaisar, mendengar
bahwa di samping belasan orang puteri, kaisar memiliki enam
orang putera. Pangeran pertama yang menjadi putera
mahkota bernama Pangeran Cheng Hwa dan di antara lima
pangeran yang lain terdapat seorang pangeran bernama
Pangeran Cheng Lin. Mendengar pula bahwa pangeran yang
satu ini baru beberapa pekan datang dan tinggal di istana,
tahulah dia bahwa yang disebut Pangeran Cheng Lin itu tentu
Coa Seng atau yang biasa dipanggil A Seng. Pemuda palsu
dan jahat itu tentu telah memalsukan dirinya, menghadap
kaisar Cheng Tung dan mengaku sebagai pangeran Cheng Lin
sambil memperlihatkan Suling Pusaka Kemala sebagai bukti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diri dan agaknya kaisar terpedaya dan menerimanya sebagai
puteranya.
Han Lin merasa gemas, akan tetapi dia tidak berdaya! Apa
yang dapat dia lakukan? menghadap kaisar dan mengatakan
bahwa dialah Pangeran Cheng Lin yang aseli sedangkan Coa
Seng adalah pangeran palsu? Apa buktinya? Satu-satunya
benda yang dapat dijadikan bukti diri adalah suling Pusaka
Kemala dan sekarang suling itu telah berada di tangan Coa
Seng. Dia kalah bukti dan kalau dia nekat menghadap, tentu
dia yang dituduh palsu dan akan ditangkap.
Han Lin bersabar diri dan diam-diam melanjutkan
penyelidikannya. Diapun tidak mungkin menyerang A Seng
yang telah menjadi Pangeran Cheng Lin itu. bukan itu saja,
baik di dalam istana maupun di luar. Semua orang tentu akan
membela A Seng sebagai pangeran dan dia akan ditentang
seluruh penduduk dan semua bala tentara. Dia harus
bersabar.
Dalam penyelidikannya, dia mengetahui bahwa A Seng
sering sekali pergi berkunjung ke istana Pangeran Cheng
Boan, adik Kaisar Cheng Tung. Akan tetapi dia tidak tahu apa
hubungan A Seng dengan Pangeran Cheng Boan selain
sebagai paman dan keponakan. Akan tetapi ada sesuatu yang
menegangkan hatinya, ia melihat Suma Kiang dan Toa Ok
berada di istana Pangeran Cheng Boan itu.
Biarpun hatinya terasa panas sekali melihat dua orang
musuh besarnya itu, dua orang yang jahat sekali bahkan
Suma Kiang adalah orang yang menjadi biang keladi
kesengsaraan hidup ibunya, namun terpaksa dia menahan diri.
Dua orang itu agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Cheng
Boan dan kedudukan mereka kuat dan terlindung. Dia tidak
boleh gegabah, Apalagi agaknya A Seng yang sempat
berkunjung ke istana itu tentu mempunyai hubungan baik
dengan Suma Kiang dan Toa Ok. Kalau mereka bertiga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergabung, sungguh merupakan kekuatan yang amat sulit
dilawan, amat tangguh dan berbahaya sekali.
Han Lin masih bingung apa yang harus dia lakukan
terhadap A Seng. Juga dia tidak tahu bagaimana dia dapat
membalas dendam kematian dan kesengsaraan ibunya kepada
Toa Ok dan Suma Kiang. Akan tetapi dia tidak merasa putus
asa dan masih selalu mencari kesempatan. Pada hari itu,
seperti biasa dia berjalan-jalan dan melewati depan istana
tanpa tujuan tertentu. Pada saat itulah dia melihat rombongan
dua orang pangeran yang dikawal oleh dua puluh orang
perajurit itu. Dia merasa tertarik sekali. Dia sudah mengenal
bahwa pangeran yang lebih tua itu adalah putera mahkota,
Pangeran Cheng Hwa. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan
dua orang pangeran itu. Maka, diam-diam dia membayangi
rombongan berkuda itu keluar dari pintu gerbang selatan. Dia
terpaksa mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh)
dan berlari cepat untuk dapat mengimbangi larinya
rombongan berkuda itu. Untung baginya bahwa rombongan
itu tidak pergi jauh. Kalau jarak yang harus ditempuhnya
terlampau jauh, tentu dia akan kehabisan tenaga dan napas,
tenaganya tidak akan mampu mengimbangi tenaga larinya
kuda yang memang sudah memiliki tenaga alamiah. Setelah
tiba tepi hutan lebat itu, rombongan berhenti lalu rombongan
berpencar menjadi dua rombongan. Karena dia lebih tertarik
kepada Putera Mahkota Pangeran Chei Hwa yang di luaran dia
dengar merupakan seorang pangeran yang paling bijaksana,
maka dia memilih untuk membayangi pangeran yang hanya
dikawal oleh lima orang perajurit itu.
Demikianlah, maka pada saat lima orang pengawal itu
tewas di tangan orang bertopeng hitam dan keselamatan
Pangeran Cheng Hwa terancam oleh sambaran sabuk sutera
hitam yang amat lihai itu, Han Lin cepat turun tangan,
melompat dekat dan berhasil menangkap ujung sabuk sutera
hitam yang menyerang Pangeran Cheng Hwa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Hwa Sian-li terkejut bukan main akan tetapi juga
marah karena melihat kegagalannya, Han Lin hanya
merupakan seorang petani muda.
"Engkau bosan hidup!" bentaknya. "Lekaskan sabukku!"
Ia lalu mengerahkan tenaga untuk menarik sabuknya agar
terlepas dari pegangan pemuda tampan itu. akan tetapi
tarikannya macet. Sabuk itu seperti telah melekat pada jari
tangan pemuda itu yang memegangnya. Sian Hwa Sian-li
penasaran dan ia mengerahkan seluruh tenaganya menarik.
Tiba-liba Han Lin melepaskan pegangannya sehingga ujung
sabuk itu menyambar balik dengan amat cepatnya, melecut ke
arah muka Sian Hwa Sian-li sendiri. Akan tetapi wanita ini
adalah seorang yang amat lihai. Biarpun ia terkejut setengah
mati menghadapi serangan senjatanya sendiri itu, ia masih
sempat mengangkat tinggi tangannya yang memegang sabuk
sehingga ujung sabuk itu menyambar lewat di atas kepalanya
dan ia terhindar dari bahaya lecutan sabuknya sendiri.
"Manusia kejam!" Han Lin menegur orang bertopeng itu.
Sian Hwa Sian-li termasuk orang yang terlalu mengagulkan
kepandaian sendiri dan biasa memandang rendah orang lain.
Biarpun dua gerakan Han Lin tadi, menangkap ujung
sabuknya lalu menahan tarikannya, sudah menunjukkan
kelihaian pemuda itu, namun Sian Hwa Sian-li masih belum
menyadari. Ia marah karena usahanya membunuh Pangeran
Cheng Hwa digagalkan pemuda ini. Ia melihat pangeran itu
kini berdiri jauh di belakang pemuda yang membelanya, maka
ia harus dapat membunuh pemuda ini dan sebelum dapat
menyerang Pangeran Cheng Hwa.
"Jahanam, kubunuh engkau!" bentaknya dan ia
menggerak-gerakkan kedua tangannya yang membentuk
cakar kucing, digerak-gerakkan menyilang seperti se ekor
kucing marah. Han Lin melihat betapa kedua lengan itu, dari
kukunya sampai pergelangan tangan, berubah menghitam.
Maklumlah dia bahwa wanita itu ahli tangan beracun. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang benar demikian. Dalam kemarahannya Sian Hwa
Sian-li telah mengerahkan tenaganya dan mempersiapkan ilmu
Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) untuk membunuh
pemuda yang menghalang-halangi usahanya membunuh
pangeran itu.
"Haiiittt.......!" Kembali sabuk sutera hitam berkelebat
menyerang seperti seekor ular mematuk ke arah ubun-ubun
kepala Han Lin. Pemuda ini dengan tenangnya mengelak
sehingga serangan sabuk hitam itu luput. Akan tetapi, sabuk
sutera hitam itu bergerak cepat membentuk gulungan sinar
hitam yang terus nengejar Han Lin, serangan ujung sabuk
diseling dengan serangan cakar kucing hitam. Serangan
datang bertubi-tubi, akan tetapi Han Lin masih terus bersilat
Ngo-heng Sin-kun dan mempergunakan keringanan tubuhnya
untuk melejit kesana-sini, bagaikan telah berubah menjadi
bayangan sehingga tak pernah tersentuh kabuk maupun
kedua cakar hitam.
Setelah lewat dua puluh jurus, Han Lin dapat mengukur
kepandaian penyerangnya dan diam-diam merasa heran.
Melihat gerakan tubuh orang bertopeng Itu, dia dapat
menduga bahwa lawannya tentu seorang wanita! Gerakannya
demikian lentur dan menggeliat gemulai, juga dia dapat
mencium bau harum minyak wangi yang biasa dipakai kaum
wanita, Dia merasa heran mengapa ada seorang wanita
memakai topeng hendak membunuh Putera Mahkota. Timbul
niatnya untuk menangkap wanita itu hidup-hidup agar dapat
dikenal siapa orangnya dan mengapa hendak membunuh
Pangeran Cheng Hwa. Ketika dia mendapat kesempatan,
sedikit saja pertahanan lawan itu terbuka, secepat kilat jari
tangan kiri Han Lin meluncur dalam totokan It-yang-ci.
"Tukk....!" Sian Hwa Sian-li mengeluh pelan, ia mencoba
untuk menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi
pengaruh totokan yang mengenai pundaknya Itu membuat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya lemas dan iapun terkulai, tak berdaya karena tidak
mampu bergerak lagi.
Pada saat itu, Ouw Ki Seng sudah tiba di situ. Dia melihat
dengan jelas ketika Sian Hwa Sian-li roboh oleh seorang
pemuda dan ketika dia memandang penuh perhatian, dia
terkejut setengah mati mengenal bahwa pemuda itu bukan
lain adalah Han Lin.
Celaka, pikirnya. Dia harus cepat melarikan Sian Hwa Sian-li
karena kalau wanita itu tertangkap, rahasianya akan
terancam. Persekutuannya dengan Pangeran Cheng Boan
akan terbuka. Cepat ia menerjang maju, mngerahkan seluruh
tenaganya menyerang Han Lin dengan pukulan yang
mengandung tenaga sin-kang. Dia tidak berusaha
menggunakan It-yang-ci karena pukulan ini tentu dikenal oleh
Han Lin dan dan membuka rahasia penyamarannya.
"Wuuuuuttt......!" Angin pukulan yang amat dahsyat
mengejutkan Han Lin. Maklumlah dia bahwa dia diserang oleh
orang yang memiliki tenaga sin-kang amat kuat. Maka cepat
dia melompat ke belakang, menghindarkan diri. Kesempatan
itu dipergunakan Ki Seng untuk menyambar tubuh Sian Hwa
Sian-li dan sekali melompat, dia sudah lenyap di antara
pohon-pohon dan semak-semak belukar. Han Lin tidak
mengejar karena dia teringat bahwa Pangeran Cheng Hwa
berada seorang diri di situ dan kalau dia meninggalkannya, hal
itu amat berbahaya bagi keselamatan pangeran itu. Dia lalu
memutar tubuhnya menghadapi sang pangeran, lalu memberi
hormat dan bertanya.
"Paduka tidak apa-apa, pangeran?"
Pangeran Cheng Hwa sejak tadi menonton pemuda yang
membelanya dan dia merasa bersukur dan kagum sekali. Dia
tahu bahwa tanpa adanya pertolongan dari pemuda sederhana
itu, tentu dia sekarang telah tewas.
"Engkau mengenal aku, sobat? Siapakah engkau?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Paduka adalah Pangeran Cheng Hwa, putera mahkota.
Semua orang mengenal paduka. Saya bernama Han Lin,
pangeran."
"Han Lin, engkau telah menyelamatkan nyawaku. Jasa dan
budimu ini tidak akan kulupakan. Ahh..... kita harus cepat
mencari adikku, Pangeran Cheng Siu. Mari kita mencarinya.
Engkau boleh menunggang seekor dari kuda para pengawalku
yang tewas itu!"
Pangeran Cheng Hwa lalu menghampiri kudanya yang
masih berada di situ dm menunggangi kuda itu. Han Lin juga
melompat ke atas punggung seekor di antara kuda-kuda para
pengawal, dan mereka berdua lalu menjalankan kuda masuk
ke bagian kiri hutan itu di mana tadi Pangeran Cheng Siu
berburu dikawal oleh lima belas orang perajurit.
Ketika akhirnya mereka menemukan Pangeran Cheng Siu,
Pangeran Cheng Hwa terbelalak pucat melihat adiknya
terkapar tanpa nyawa, dan lima belas orang perajurit yang
mengawalnya juga telah tewas semua!
"Celaka!" serunya sambil berlutut dekat jenazah adiknya.
"Siapa yang berani melakukan ini? Membunuh adikku dan
mencoba untuk membunuhku pula?"
"Penjahat-penjahat itu ada dua orang mungkin lebih,
pangeran. Yang mencoba membunuh paduka tadi memiliki
ilmu silat yang tinggi, akan tetapi orang kedua yang tadi
melarikannya memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Saya
kira dia yang telah melakukan semua pembunuhan ini,
kemudian dia datang menolong kawannya yang tadi
menyerang paduka. Sayang mereka keburu melarikan diri dan
tidak dapat saya tangkap."
"Engkau telah berhasil menyelamatkanku, jasa itu saja
sudah cukup besar, Han Lin. Sekarang bantulah untuk
mengangkat dan membawa pulang jenazah adikku Pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cheng Siu ke istana. Biar nanti kukirim pasukan untuk
mengurus semua jenazah para perajurit pengawal.
Han Lin segera mengangkat dan memondong jenazah
Pangeran Cheng Siu dan membawanya naik ke atas punggung
kuda. Dia menunggang kuda sambil memangku jenazah itu
dan mengiringkan pangeran Cheng Hwa yang menunggang
kuda di depan keluar dari hutan itu menuju ke kota raja. Di
sepanjang jalan Han Lin bersikap waspada, khawatir kalaukalau
ada orang yang akan menyerang Pangeran Cheng Hwa.
Ternyata tidak terjadi serangan dan mereka tiba dikota raja
dengan selamat.
Istana menjadi gempar ketika orang-orang mengetahui
bahwa Pangeran Cheng Siu telah dibunuh penjahat bertopeng
ketika dia sedang berburu binatang hutan. Tentu saja Kaisar
sekeluarganya berkabung dan Kaisar menjadi marah.
Diperintahkannya kepada panglima pasukan keamanan kota
raja untuk mencari para pembunuh itu.
Pangeran Cheng Hwa membawa Han Lin menghadap
kaisar.
"Mari kuperkenalkan engkau kepada Ayahanda Kaisar" kata
pangeran itu. "Beliau perlu mengetahui bahwa engkaulah yang
telah menyelamatkan aku dari ancaman baha maut di tangan
penjahat."
"Akan tetapi saya hanya melakukan apa yang menjadi
kewajiban setiap warga negara, pangeran, Apa yang saya
lakukan itu sudah semestinya dan tidak perlu di besarbesarkan."
kata Han Lin merendah, dan jantungnya berdebar
tegang ketika mendengar ajakan Pangeran Cheng Hwa yang
hendak menghadapkan dia kepada kaisar. Dia akan
dipertemukan dengan ayah kandungnya.
"Jasamu tidak dapat dilupakan begitu saja, Han Lin. Aku
akan minta kepada Ayahanda Kaisar agar engkau diberi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedudukan sebagai pengawal istana. Mari kita menghadapi
beliau."
Han Lin tidak dapat membantah lagi. Dan memang
sebetulnya diapun ingin sekali menghadap dan bertemu muka
dengan orang yang menjadi ayah kandungnya. Pangeran
Cheng Hwa membawanya masuk ke ruangan dalam istana dan
setelah mendapat keterangan dari para thai-kam pengawal
bahwa Kaisar sedang berada di dalam ruangan pustaka,
menyendiri untuk menghibur diri atas kedukaan yang
menimpa keluarganya, yaitu kematian Pangeran Cheng Siu.
Dua orang thaikam pengawal yang berada di pintu ruangan
pustaka itu segera melapor ke dalam ketika melihat bahwa
yang datang bersama seorang pemuda asing adalah Putera
Mahkota. Kaisar Cheng Tung juga menyuruh pengawal itu
mempersilakan puteranya masuk.
Pangeran Cheng Hwa dan Han Lin memasuki ruangan itu
dan mereka berdua segera menjatuhkan dirinya berlutut di
depan kaisar yang sedang duduk seorang diri menghadapi
meja dan membaca kitab suci. Agaknya untuk menghibur
hatinya yang sedang susah itu kaisar menghiburan kepada
ayat-ayat dalam kitab suci. Dia mengalihkan pandangannya
dari kitab yang dipegangnya ketika puteranya menghadap dan
ketika melihat Han Lin Kaisar Cheng Tung memandang
dengan penuh perhatian dan dalam hatinya ia merasa heran
karena dia merasa seperti pernah mengenal pemuda
berpakaian seperti pemuda petani itu.
"Cheng Hwa, siapakah pemuda ini?" tanya kaisar kepada
puteranya.
"Ayahanda, inilah pemuda yang telah menyelamatkan
nyawa ananda dari ancaman maut di tangan para penjahat."
kata Pangeran Cheng Hwa.
"Cheng Hwa, sebetulnya apakah yang telah terjadi
sehingga adikmu Cheng Siu mengalami bencana dan tewas?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tadi kami belum sempat mendengar sejelasnya. Ceritakanlah."
kata kaisar dengan suara yang dalam, mengandung kedukaan.
"Ananda berdua adik Cheng Siu mengadakan perburuan di
hutan selatan dikawal oleh dua puluh orang perajurit. setelah
tiba di hutan, adik Cheng Siu mengajak ananda untuk
berpencar dan berlumba siapa yang akan mendapatkan
buruan terbanyak. Ananda lalu menyuruh lima belas orang
perajurit mengawalnya dan yang lima orang mengawal
ananda, ketika ananda dan lima orang pengawal tiba di
tengah hutan, tiba-tiba ada seorang yang mengenakan
pakaian serba hitam dan mukanya tertutup topeng hitam
menyerang ananda. Dia bersenjata aneh, yaitu sehelai sabuk
hitam. Lima orang pengawal ananda mengeroyoknya, akan
tetapi mereka semua roboh dan tewas!. Ketika orang itu
hendak membunuh ananda, tiba-tiba muncul penolong ini. dia
yang melawan dan merobohkan penyerang ananda, akan
tetapi sebelum dapat menangkapnya, ada seorang bertopeng
lain yang datang lalu membawa lari orang bertopeng pertama.
Ananda lalu mengajak penolong ini untuk mencari adik Cheng
Siu dan ananda menemukan adik Cheng Siu bersama lima
belas orang pengawalnya telah tewas di bagian lain dalam
hutan itu. Demikianlah, ayahanda, kalau tidak ada pemuda ini,
ananda tentu sudah menjadi korban pembunuh seperti adik
Cheng Siu."
Kaisar Cheng Tung memandang kepada Han Lin yang
menundukkan mukanya. Keharuan menyelinap di hati pemuda
ini. Dia telah berhadapan dengan ayah kandungnya. Akan
tetapi, kemegahan dan kebesaran di ruangan itu menambah
kewibawaan yang amat kuat dari pria yang duduk di depannya
sehingga dia menundukkan muka, tidak berani memandang
wajah yang tadi hanya dilihatnya sepintas lalu saja.
"Orang muda, siapa namamu?" terdengar kaisar bertanya,
suaranya ramah dan lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nama hamba Han Lin, Yang Mulia" kata Han Lin, tetap
menunduk. Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya. Nama
inipun terasa tidak asing baginya.
"Han Lin, coba angkat mukamu dan pandanglah kami!"
Han Lin mengangkat mukanya dan memandang. Dua
pasang mata bertemu pandang. Bermacam perasaan
mengaduk hati pemuda itu. Ada rasa bangga dan haru melihat
wajah kaisar yang masih tampan dan berwibawa itu, akan
tetapi juga ada rasa sakit mengingat betapa pria ini menyianyiakan
ibu kandungnya. Kaisar Cheng Tung juga merasakan
betapa sepasang mata pemuda itu mencorong dan seolah
dapat menjenguk isi hatinya.
"Han Lin, engkau telah berjasa besar menyelamatkan
Pangeran Mahkota. Katakan, apa yang kau minta sebagai
imbalan."
Han Lin kembali menundukkan mukanya "Ampunkan
hamba, Yang Mulia. hamba menganggap bahwa perbuatan
hamba itu merupakan kewajiban, karena itu hamba tidak
mengharapkan imbalan apapun."
"Ayahanda, kalau paduka setuju, ananda mengusulkan agar
Han Lin ini diberi kedudukan sebagai pengawal istana. Dengan
ilmu silatnya yang tinggi tentu dia akan dapat memperkuat
penjagaan di istana sehingga keselamatan keluarga kerajaan
lebih terjamin."
Kaisar Cheng Tung mengangguk-angguk "Kami setuju
sekali. Perintahkan saja kepada komandan pasukan pengawal
istana bahwa Han Lin mulai sekarang kami angkat sebagai
pengawal dalam istana yang tugasnya menjaga keselamatan
keluarga kerajaan."
"Han Lin, mulai sekarang engkau menjadi pengawal
keluarga kami " kata Pangeran Cheng Hwa dengan girang.
Sebetulnya Han Lin tidak ingin bekerja sebagai pengawal,
akan tetapi karena pada saat itu tidak mungkin baginya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengaku sebagai Pangeran Cheng Lin, maka dia pun akan
mendapatkan kebebasan untuk menyelidiki keadaan istana
kalau menjadi pengawal dalam istana, maka diapun tidak
menolak. Dia segera memberi hormat sambil berlutut kepada
kaisar.
"Hamba menghaturkan terima kasih atas anugerah paduka
yang diberikan kepada hamba." katanya.
Kaisar memberi isarat kepada Cheng Hwa untuk
mengundurkan diri. Pangeran itu lalu mengajak Han Lin
mengundurkan diri setelah memberi hormat kepada Kaisar.
Mereka keluar dari ruangan pustaka itu dan Pangeran Cheng
Hwa mengantar Han Lin ke bangunan yang menjadi tempt
tinggal para pangeran.
"Mari kuperkenalkan engkau kepada adik-adikku dan para
anggauta keluarga kerajaan yang perlu mendapatkan
perlindunganmu."
Ketika mereka memasuki bangunan tempat tinggal para
pangeran, hati Han lin berdebar. Dia akan bertemu dengan A
Seng! Akan tetapi yang menyambut mereka hanyalah tiga
orang pangeran saja, yaitu Pangeran Cheng Ki yang menjadi
pangeran ke dua berusia dua puluh empat tahun, pangeran ke
tiga bernama Cheng Tek yang berusia dua puluh tiga tahun
dan Pangeran Cheng Bhok berusia Dua puluh tahun sebagai
pangeran ke empat. Setelah mendengar ucapan tentang Han
Lin yang sudah menyelamatkan putera Mahkota, tiga orang
pangeran itu memuji dan merasa senang kini mempunyai
tambahan seorang pengawal yang berkepandaian silat tinggi.
"Di mana Pangeran Cheng Lin? Kenapa dia tidak berada di
sini?" tanya Pangeran Cheng Hwa dan mendengar ini, diamdiam
Han Lin merasa jantungnya berdebar tegang.
Pangeran Ki Seng menjawab, "Hmmnn Cheng Lin begitu
mendengar tentang terbunuhnya adik Cheng Siu segera
memimpin sepasukan perajurit untuk mencari pembunuhnya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, dia mencari penyakit- Pembunuh-pembunuh itu
berkepandaian tinggi sekali, bagaimana mungkin dia mampu
menandingi mereka? Kenapa tidak menyerahkan saja
pengejaran dan pencarian itu kepada para panglima dan
komandan pasukan?" Pangeran Cheng Hwa berkata sambil
mengerutkan alisnya. Diam-diam Han Lin mencatat dalam
hatinya bahwa para pangeran ini agaknya belum mengetahui
bahwa Ouw Ki Seng yang menjadi pangeran palsu itu memiliki
kepandaian silat yang amat tinggi.
Karena Han Lin menyatakan bahwa dia tidak suka
mengenakan pakaian seragam perajurit pengawal, Pangeran
Cheng Hwa lalu memberinya beberapa stel pakaian biasa yang
tentu saja bagi Han Lin yang biasanya memakai pakaian amat
sederhana seperti pakaian petani itu. pakaian pemberian
pangeran itu amat mewah dan indah, terbuat dari sutera
halus. Sebagai seorang pengawal dalam istana yang bertugas
menjaga keselamatan keuarga kerajaan, Han Lin juga
mendapatkan sebuah kamar di bangunan para komandan dan
thaikam pengawal yang jauh letaknya dari bangunan tempat
tinggal para pangeran. Diam-diam Han merasa senang karena
sini dia mendapat kesempatan dengan leluasa sebagai
pengawal melakukan penyelidikan terutama sekali terhadap
Pangeran Cheng Lin palsu alias Ouw Ki Seng atau A Seng.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ouw Ki Seng
ketika dia melihat Sian Hwa Sian-li dirobohkan oleh Han Lin
dan tidak berhasil membunuh Pangeran Cheng Hwa. Khawatir
kalau-kalau Sian Hwa Sian-li tertangkap sehingga semua
rahasia persekutuan itu akan terbongkar, dia lalu cepat
melarikan Sian Hwa Sian-li keluar dari dalam hutan. setelah
membuang pakaian hitam dan topeng. dengan pakaian biasa
dia memasuki kota raja secara terpisah dengan Sian Hwa
Sian-li. Sebagai seorang ahli ilmu totok It-yang-ci, dengan
mudah Ouw Ki Seng dapat membebaskan totokan yang
dilakukan Han Lin terhadap tubuh Sian Hwa Sian-li.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Cheng Boan segera mengadakan rapat dengan
kaki tangannya ketika melihat datangnya Ki Seng dan Sian
Hwa Sian-li. Dia sudah mendengar dari istana tadi bahwa
Pangeran Cheng siu telah tewas terbunuh penjahat, akan
tetapi mendengar pula betapa Pangeran Cheng Hwa selamat
dan tertolong oleh seorang dari ancaman maut.
Pangeran Cheng Boan duduk di atas kursi di kepala meja
dengan alis berkerut. Ouw Ki Seng, Sian Hwa Sian li, Suma
Kiang dan Toa Ok duduk di depannya, terhalang meja.
"Benarkah apa yang kami dengar di depan Kaisar tadi?
Pangeran Cheng Siu tewas akan tetapi Pangeran Cheng Hwa
lolos? Pangeran Cheng Lin, apakah engkau hendak
mengatakan bahwa engkau telah gagal membunuhnya?"
tanya Pangeran Cheng Boan dengan penasaran kepada Ki
Seng. "Apakah yang telah terjadi?"
"Harap Paman Pangeran dapat memaklumi. Beginilah
terjadinya peristiwa ini. Saya dan Sian Hwa Sian-li telah
mendekati di hutan ketika rombongan dua orang pangeran
yang dikawal dua puluh orang perajurit itu tiba di hutan. Akan
tetapi mereka lalu berpencar, terpecah menjadi dua
rombongan. Pangeran Cheng Siu dikawal oleh lima belas
orang perajurit dan Pangeran Cheng Hwa dikawal oleh lima
orang perajurit. Saya lalu minta kepada Sian Hwa Sian-li untuk
mengikuti dan membereskan Pangeran Cheng Hwa dan lima
orang pengawalnya. Sedang saya sendiri membayangi
Pangeran Cheng Siu dengan lima belas orang pegawalnya.
Saya berhasil membunuh Pangeran Cheng Siu berikut lima
belas orang pengawalnya. Ketika saya pergi mencari Sian Hwa
Sian-li, saya mendapatkan ia telah membunuh lima orang
pengawal Pangeran Cheng Hwa, akan tetapi ia tidak berhasil
membunuh Pangeran Cheng Hwa karena ada seseorang yang
menolongnya."
Pangeran Cheng Boan mengerutkan alisnya. "Celaka!
Justeru Pangeran Cheng Hwa yang merupakan orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpenting yang harus disingkirkan lebih dulu! Apakah engkau
tidak mampu mengalahkan orang yang membela Pangeran
Cheng Hwa itu, Sian-li?"
Sian Hwa Sian-li menghela napas panjang dan berkata,
"Maaf, Pangeran, Orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi
sekali dan terus terang saja saya tidak mampu
menandinginya."
"Ah, sialan!" Pangeran Cheng Bon memukulkan telapak
tangan kanannya ke atas pahanya dengan kecewa.
"Paman Pangeran, kita tidak dapat menyalahkan Sian Hwa
Sian-li. Orang yang menolong Pangeran Cheng Hwa memang
lihai sekali dan tahukah paman siapa dia? Dia itu bukan iain
adalah saudara seperguruanku sendiri, yaitu Han Lin yang
pernah saya ceritakan kepada paman."
Pangeran Cheng Boan terbelalak. "Apa katamu? Han Lin.....
kau maksudkan.... Pangeran Cheng Lin yang aseli.....?"
Ki Seng menghela napas dan mengangguk. "Benar, dialah
yang tahu-tahu muncul di sana. Sebetulnya saya tidak takut
menandinginya, akan tetapi melihat sian-li sudah roboh
tertotok, saya khawatir kalau sampai terbuka topeng Sian-li
sehingga rahasia kita dapat bocor. Karena itu, terpaksa saya
hanya melarikan sian-Ii dari hutan itu."
"Hemm, dia sudah muncul...." Pangeran Cheng Boan
bangkit dari kursinya dan berjalan hilir mudik di ruangan itu,
tampaknya bingung dan gelisah. "Dia merupakan bahaya
besar bagi kita.....!"
"Harap Paman Pangeran tidak usah khawatir. Saya sudah
diterima oleh Ayahanda Kaisar sebagai puteranya dan selama
saya diterima sebagai Pangeran Cheng Lin di istana, apa yang
akan dapat dilakukan oleh Han Lin? Dia tidak mempunyai bukti
diri lain kecuali Suling Pusaka Kemala yang sudah di tangan
saya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ini, hati Pangeran Cheng Boan menjadi agak
tenang kembali dan dia lalu duduk di kursinya. "Akan tetapi
aku mendengar bahwa orang yang telah menyelamatkan
Pangeran Cheng Hwa itu kini diterima sebagai pengawal di
istana. Hal ini berbahaya sekali dan sebelum kita bergerak
lebih jauh, Han Lin itu harus dapat kita singkirkan. Sungguh
sial sekali. Baru saja puteraku tewas dan kini dibuat pusing
oleh gadis Suma Eng itu, sekarang muncul lagi Pangeran
Cheng Lin yang aseli!"
"Bukan Suma Eng, Yang Mulia, melainkan Lo Sian Eng."
kata Suma Kiang.
"Tidak perduli siapa namanya, yang jelas ia merupakan
musuh dan ancaman bagi kita. Kita harus dapat
menyingkirkan gadis itu dan Han Lin terlebih dahulu, baru
rencana kita akan dapat berjalan lancar."
"Harap paduka tenang, Yang Mulia." kata Toa Ok yang
bersikap tenang. "Dua orang itu memang harus dibunuh dan
kita sudah mengetahui di mana adanya mereka, Lo Sian Eng
itu tentu berada di rumah perguruan Hek-tiauw Bu-koan. Ia
membela nona Lo Siang Kui dan ia mengaku bermarga Lo,
berarti ia masih sanak keluarga Lo dan di mana lagi ia berada
kalau bukan di rumah keluarga Lo Kang? Paduka kirim
pasukan dan saya sendiri yang akan membantu pasukan
menyerang Hek-tiauw Bu-koan dengan tuduhan Lo Sian Eng
yang telah melakukan pembunuhan atas diri Cheng Kongcu.
bersama saudara Suma Kiang, kami berlima tentu akan
mampu mengalahkan dan membunuh Lo Sian Eng."
"Ucapan Toa Ok itu benar sekali, Pangeran Cheng Boan.
Biarlah nona Lo Sian Eng dibereskan oleh Paman Suma Kiang
dan Toa Ok. Adapun mengenai diri Han Lin, biarlah saya akan
membereskannya. saya sudah mempunyai rencana yang baik
untuk menjatuhkannya. Harap Paman Pangeran jangan
khawatir!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertemuan itu selesai dan Ki Seng kembali ke istana. Dia
segera menghubungi para komandan pasukan pengawal dan
para thaikam pengawal, mengumpulkan mereka di sebuah
ruangan tertutup.
"Aku mengumpulkan kalian untuk menanyakan pendapat
kalian tentang pemuda bernama Han Lin yang katanya telah
menyelamatkan Pangeran Mahkota kakanda Cheng Hwa.
Kalau menurut pendapat kalian, bagaimana dengan orang
itu?"
"Kenapa dengan dia, Pangeran Cheng Lin? Dia adalah
seorang pemuda sederhana dan menurut keterangan
Pangeran Cheng Hwa, dia memiliki ilmu silat yang tinggi.
Karena itu sekarang dia diangkat menjadi seorang pengawal
pribadi keluarga kerajaan." kata komandan pasukan pengawal
istana, yaitu Lai-ciangkun (panglima Lai).
Ki Seng menggelengkan kepala dan mengerutkan alisnya.
"Memang itulah tujuannya, agar dia dipercaya. Menurut hasil
penyelidikanku di hutan tempat terjadinya pembunuhan, ada
tanda-tanda bahwa penyerang dan pembunuh Pangeran
Cheng Siu bukan hanya dua orang, melainkan sedikitnya tiga
orang. Agar tidak ada saksi mata, maka semua pengawal yang
berjumlah dua puluh orang itu dibunuh. Kukira pemuda itu
merupakan seorang di antara para pembunuh itu!"
"Eh, bagaimana paduka dapat berpendapat demikian,
pangeran? Bukankah dia yang menyelamatkan Pangeran
Cheng Hwa dari tangan pembunuh?"
"Hemm, kurasa itu hanya sandiwara dia. Mungkin
pembunuhnya terdiri dari tiga orang. Setelah berhasil
membunuh pangeran Cheng Siu, seorang di antara pereka
menyerang dan membunuh lima orang pengawal Pangeran
Cheng Hwa lalu berpura-pura hendak membunuh Pangeran
Mahkota. Lalu muncullah Han Lin itu menggagalkan usaha
pembunuhan dan mengalahkan si pembunuh. Akan tetapi
muncul orang ke tiga yang melarikan pembunuh pertama.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semua itu telah diatur dengan baiknya sehingga kalian juga
percaya bahwa pemuda Han Lin itu adalah penyelamat
Pangeran Cheng Hwa."
"Akan tetapi, bagaimana paduka bisa berpendapat seperti
itu? Apa buktinya?" tanya Lai-ciangkun ragu.
"Bukti nyata memang belum ada, hal itu masih akan kucari.
Akan tetapi melihat keadaannya, kita dapat mengambil
kesimpulan dan patut mencurigainya."
"Keadaan yang bagaimana, Pangeran"
"Pertama, bagaimana seorang pemuda petani dapat
berkeliaran dalam hutan terlindung dan terlarang itu, seorang
diri pula? Hal ini tentu saja amat aneh dan mencurigakan,
apalagi kemunculannya begitu tepat pada saat Pangeran
Cheng Hwa terancam bahaya dan semua pengawalnya telah
tewas. Dan kedua, kalau memang benar dia berkepandaian
tinggi, kenapa dia membiarkan dua orang pembunuh itu lolos
dan melarikan diri? dia mestinya dia menangkap seorang di
antara mereka agar dapat diketahui siapa pembunuh itu dan
ditanya mengapa mereka melakukan pembunuhan. Nah,
kecurigaanku ini beralasan kuat, bukan?"
Para perwira dan thaikam yang jumlahnya tujuh orang itu
mengerutkan alis mereka dan mulailah mereka terpengaruh.
Hal ini dapat dengan mudah terjadi karena memang
sebelumnya ada perasaan iri dalam hati mereka terhadap Han
Lin yang diangkat menjadi pengawal pribadi keluarga kaisar.
"Akan tetapi, pangeran. Andaikata benar dia seorang di
antara pembunuh, lalu apa maksudnya berpura-pura
menolong Pangeran Cheng Hwa dari ancaman maut?"
"Ah, mengapa kalian masih bertanya lagi? Hal itu mudah
saja kita duga. Dia sengaja menanam budi itu agar dapat
dibawa masuk ke istana dan dipercaya sebagai penyelamat
pangera mahkota, dan ternyata usahanya itu berhasil dengan
baik!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan tetapi apa maksudnya?"
"Jelas dia bermaksud buruk. Melihat betapa Pangeran
Cheng Siu sudah mereka bunuh, tentu pemuda Han Lin itu
bermaksud agar dia dapat masuk istana dan menjadi leluasa
untuk bergerak. Mungkin dia bermaksud membunuhi semua
pangeran. Kalau dia sudah tinggal di sini, hal itu tentu akan
lebih mudah dia lakukan, apalagi mengingat bahwa dia
memiliki ilmu silat yang tinggi."
Para kepala pengawal itu terbelalak dan wajah mereka
menjadi pucat. Mereka saling pandang dengan kaget dan
khawatir.
"Pangeran, semua yang paduka katakan itu memang
masuk akal dan mungkin saja benar. Akan tetapi, tanpa bukti
mana mungkin kita dapat bertindak? Apa buktinya bahwa Han
Lin itu sebenarnya seorang di antara para pembunuh yang
sengaja menyusup ke istana dengan niat jahat?"
"Tenang dan sabarlah. Aku mengumpulkan kalian di sini
justeru untuk membicarakan hal itu. Setelah kalian tahu
bahwa Han Lin itu patut dicurigai, kalian dapat bersiap-siap.
Ingat, dia seorang yang lihai sekali. Aku sendiri yang akan
menyelidikinya. Kalian harus selalu siap dan diam-diam
melakukan perondaan dan penjagaan ketat. Kalau kalian
melihat dia menyerang seorang di antara para pangeran,
terutama aku, kalian harus cepat cepat turun tangan
menangkapnya. aku mempunyai dugaan bahwa dia menyusuo
ke dalam istana untuk membunuhku dan para pangeran
lainnya. Mengertikah kalian?"
"Kami mengerti, pangeran."
"Malam ini aku akan menyelidikinya, kalian agar siap dan
membantuku kalau sampai aku diserang olehnya."
Semua kepala pengawal itu menyatakan siap dan
pertemuan itu dibubarkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin merasa penasaran sekali, sejak pagi dia berada di
istana, akan tetapi orang yang dicarinya tidak pernah muncul.
Ingin sekali dia bertemu dengan Ki Seng atau A Seng yang
telah menipu Suling Pusaka Kemala miliknya dan ia tahu
bahwa kini A Seng telah mempergunakan pusaka itu untuk
mengaku dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan bahkan
telah diterima dan diakui oleh Kaisar sebagai puteranya.
Akan tetapi yang berada di bangunan untuk tempat tinggal
para pangeran itu hanya ada empat orang pangeran, yaitu
Pangeran Cheng Hwa, Cheng Ki, Cheng Tek dan Cheng Bhok.
Jenazah Pangeran Cheng Siu sudah berada dalam peti mati
yang ditaruh di ruangan berkabung. Pangeran Cheng Lin atau
A Seng tidak pernah tampak batang hidungnya. Dia sudah
bertanya kepada Pangeran Cheng Hwa tentang orang yang
dicarinya itu.
"Pangeran, hamba mendengar kalau di antara para
pangeran yang sudah hamba temui, terdapat seorang
pangeran yang bernama Pangeran Cheng Lin. Akan tetapi
hamba tidak pernah melihat bertemu."
"Ah, Pangeran Cheng Lin? Sejak pagi tadi, setelah
mendengar tentang pembunuhan dalam hutan, dia lalu
memimpin sepasukan pengawal untuk menyelidiki hutan dan
mencari para pembunuh itu."
Han Lin mengangguk-angguk dan dalam hatinya dia tidak
merasa heran kalau Pangeran Cheng Lin palsu itu berusaha
mencari pembunuh Pangeran Cheng lin karena A Seng itu
memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi pada sore hari itu
dia mendengar bahwa Pangeran Cheng Lin palsu itu telah
pulang ke istana. Tentu saja dia merasa tidak enak kalau
harus mencarinya di bangunan tempat tinggal para pangeran.
Bagaimanapun juga, A Seng kini oleh seluruh penghuni istana
telah diterima sebagai Pangeran Cheng Lin. Hanya dia seorang
yang tahu dan kepalsuannya dan tidak mungkin dirinya untuk
mengatakan di depan kaisar dan para pangeran bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Cheng Lin itu palsu. Dia tidak mempunyai bukti
untuk membongkar kepalsuannya. Satu-satunya jalan baginya
hanyalah kalau dia dapat bertemu berdua saja dengan A Seng.
Malam itu Han Lin sudah bersiap-«ip untuk menyelidiki A
Seng. Dia belum tahu bahwa orang yang dulu mengaku
bernama Coa Seng atau panggilannya A Seng itu sebetulnya
mempunyai nama lengkap Ouw Ki Seng. Dia bersembunyi
bayangan yang gelap dekat bangunan tempat tinggal pafa
pangeran dan menanti. Penantiannya tidak sia-sia karena tibatiba
dia melihat orang yang ditunggu-tunggunya itu, A Seng,
keluar dari pintu samping bangunan bersama tiga orang
pangeran, yaitu Pangeran Cheng Ki, Cheng Tek, dan Cheng
Bhok. ia melihat A Seng berpakaian mewah seperti seorang
pangeran sehingga dia tampak gagah sekali. Akan tetapi Han
Lin masih mengenalnya. Jantungnya berdebar keras dan juga
terasa panas mengingat bahwa orang itu telah memalsukan
dirinya. Akan tetapi karena A Seng keluar bersama tiga orang
pangeran yang lain, dia tidak berani berbuat apa-apa dan
hanya mengintai.
-00d00w00-
Jilid XX VII
SAMA sekali Han Lin tidak tahu bahwa sebelum empat
orang pemuda itu keluar, A Seng telah lebih dulu menyatakan
kecurigaannya terhadap Han Lin kepada tiga orang pangeran
itu.
"Kita harus berhati-hati. Pembunuhan terhadap dinda
Cheng Siu dan penyerangan terhadap kakanda Cheng Hwa
menunjukkan bahwa para pembunuh mengancam kita para
pangeran. Dan aku amat mencurigai pemuda bernama Han
Lin itu. besar sekali kemungkinannya dia adalah seorang di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
antara para pembunuh yang berpura-pura menolong Cheng
Hwa agar dapat menyusup ke dalam istana sehingga dia akan
mempunyai banyak kesempatan untuk menyerang kita."
Tiga orang pangeran itu saling pandang dan tampak
terkejut sekali. Tentu saja timbul kecurigaan besar terhadap
Han Lin dan mereka juga merasa takut.
"Akan tetapi itu hanya dugaan." kata Pangeran Cheng Ki.
"Kita tidak mempunyai bukti apapun."
"Benar, karena itu kita harus mencai buktinya," kata A Seng
atau Ki Seng "Serahkan saja kepadaku. Aku akan mencari
buktinya dan akan menangkap penjahat itu. Mari kita keluar
dan pergi ke pondok Teratai untuk memancingnya. Jangan
khawatir, aku telah mempersiapkan semua pengawal untuk
melindungi kita kalau terjadi sesuatu."
Pondok Teratai yang dimaksudkan Ki Seng adalah sebuah
pondok indah yang berada di dekat kolan teratai di tengah
taman bunga istana yang luas itu. Tiga orang pangeran itu
menurut dan pergilah empat orang pemuda itu ke taman. Dan
ketika mereka keluar dari pintu samping, Han Lin melihat
mereka dan ketika mereka berjalan memasuki taman menuju
ke pondok dekat kolam teratai, Han Lin membayanginya. Tiga
orang pangeran yang lain tidak mengetahui, akan tetapi Ki
Seng yang memiliki panca indera yang tajam tentunya sudah
mengetahui bahwa ada orang membayangi mereka dan dia
dapat menduga bahwa orang itu tentu Han Lin. Ketika empat
orang itu memasuki pondok, Han Lin segera menghampiri
jendela. Dia ingin mendengar percakapan mereka. Ketika
akhirnya dia berhasil mendekati jendela pondok itu, memilih
bagian yang gelap lalu mengintai ke dalam, dia merasa heran
karena yang dilihatnya hanya ada tiga orang pangeran . A
Seng sama sekali tidak tampak ada di dalam ruangan pondok
itu. selagi dia merasa heran dan menduga-duga tiba-tiba
terdengar bentakan nyaring yang datang dari arah
belakangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Penjahat! Tangkap penjahat!" teriakan itu disusul
menyambarnya sebuah pukulan yang amat dahsyat ke arah
punggungnya. Han Lin maklum bahwa itu merupakan
serangan yang amat berbahaya. Dia cepat melompat ke
samping untuk mengelak dan dia melihat bahwa
penyerangnya bukan lain adalah Pangeran Cheng Lin palsu
atau A Seng!
"A Seng, iblis kau! Kembalikan sulingku!" bentak Han Lin
marah.
"Penjahat! Pembunuh! Tangkap pembunuh.....!!" Ki Seng
berteriak dan dia sudah menyerang lagi dengan ilmu silat Sinliong
Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti). Melihat gerakan
lawan yang amat cepat dan mengandung tenaga kuat sekali
itu Han Lin lalu memainkan ilmu silat Ngo-heng Sin-kun (Silat
Sakti Lima unsur). Ternyata ketika lengan mereka saling
beradu, tenaga mereka seimbang. Perkelahian tangan kosong
terjadi dengan serunya di luar Pondok Teratai itu, di bawah
sinar lampu yang cukup terang.Tapi diam-diam Ki Seng keluar
dari dalam pondok dan mengambil jalan melingkar melalui
pintu belakang sehingga Han Lin tidak melihat dan tahu-tahu
dia muncul di belakang pemuda yang melakukan pengintaian
itu.
Teriakan-teriakan Ki Seng tadi memancing datangnya
banyak perajurit pengawal yang dipimpin oleh para komandan
pasukan pengawal yang memang telah dipersiapkan oleh Ki
Seng lebih dulu. Para perwira ini sudah terpengaruh oleh katakata
Ki Seng. Ketika mereka melihat betapa Pangeran Cheng
Lin bertanding melawan Han Lin, otomatis mereka mengira
bahwa Han Lin hendak membunuh Pangeran Cheng Lin
seperti telah dikatakan oleh Ki Seng. Maka dengan sendirinya
mereka lalu mencabut senjata dan tanpa dikomando lagi
mereka lalu mengepung dan mengeroyok Han Lin!
Han Lin terkejut bukan main. Melihat dirinya dikepung dan
dikeroyok para perajurit pengawal dan perwira pimpinan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka, sadarlah dia bahwa dia telah terjebak ke dalam
perangkap yang agaknya sudah diatur Ki Seng! Dia dianggap
sebagai pengacau, penjahat yang hendak membunuh
Pangeran Cheng Lin!
"Tahan! Aku bukan pembunuh!" Dia mengerahkan ilmu
kekebalannya Tiat-pouw-sin (Kekebalan Baju Besi) untuk
menjaga diri dan menggerakkan kedua tangannya untuk
menangkis dan berloncatan kekanan kiri menghindarkan
semua serangan yang datang bertubi-tubi menghujani dirinya.
"Dia penjahat! Dia hendak membunuh kami para
pangeran!" teriak Ki Seng sehingga tentu saja para komandan
pengawal itu tidak menghiraukan kata-kata Han Lin dan lebih
percaya kepada pangeran Cheng Lin.
Han Lin menjadi bingung juga. ia dikeroyok belasan orang
pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan
tangguh karena beberapa orang antara mereka adalah
perwira-perwira. Apalagi di situ ada A Seng yang ia tahu
memiliki ilmu kepandaian silat yang sudah mencapai tingkat
tinggi berkat gemblengan Cheng Hian Hwesio. Tingkat
kepandaian A Seng sebanding dengan tingkat kepandaiannya
sendiri. Dan dia tentu saja tidak ingin membunuh para
pengawal yang mengeroyoknya. Akan tetapi dia harus
membela diri agar jangan sampai mati konyol.
Han Lin mulai mempercepat gerakannya dan dia mulai
merobohkan para pengeroyok dengan menggunakan totokan
It-yang-ci. Melihat ini, Ki Seng menjadi terkejut dan juga
heran. Dia sendiri mengandalkan ilmunya It-yang-ci untuk
mengalahkan Han Lin dan sekarang ternyata Han Lin mampu
mempergunakan ilmu itu. empat orang pengeroyok sudah
roboh terguling dan tak berdaya walau tidak terluka dan yang
lain menjadi gentar. gerakan Han Lin demikian cepat sehingga
mereka tidak dapat melihat bagaimana caranya Han Lin
merobohkan empat orang rekan mereka itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Hei, ada apa ini?
Kalian semua, hentikan perkelahian ini! Aku perintahkan,
hentikan perkelahian!"
Semua orang yang mendengar perintah yang keluar dari
mulut Pangeran Mahkoka Cheng Hwa menahan gerakan
masing-masing dan melompat ke belakang. Bahkan Ki Seng
sendiri tidak berani membangkang karena dia tahu akan
kekuasaan putera Mahkota ini.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa Han Lin dikeroyok? Kalian
semua tahu bahwa dia telah kami angkat sebagai pengawal
pribadi keluarga, kenapa malam ini kalian mengeroyoknya?"
Pangeran Cheng Hwa menegur Ki Seng dan para komandan
pengawal yang mengeroyok Han Lin.
"Kakanda Pangeran, kakanda telah tertipu! Han Lin ini
bukan orang baik baik! Mungkin dia malah bersekongkol
dengan para pembunuh di hutan itu! ia tadi mengintai ketika
kami para pangeran sedang bercakap-cakap dalam Pondok
Teratai dan dia menyerang dan hendak membunuhku.
Kakanda, berhati-hatilah dia telah menipu kita semua dan
berhasil menyelundup ke dalam istana untuk membunuh kita
semua para pangeran!" kata Ki Seng.
Cheng Hwa mengerutkan alisnya memandang penuh
perhatian kepada Han Lin. "Han Lin, benarkah engkau
melakukan pengintaian terhadap empat orang adikku ini?"
tanya Pangeran Cheng Hwa sambil menunjuk ke arah Ki Seng
dan tiga orang pangeran lain yang kini sudah berani muncul
keluar.
"Be...... benar, Pangeran." jawab Han Lin yang menjadi
gugup dan tidak tahu harus berkata apa kecuali mengaku
sejujurnya.
"Dan benarkah engkau hendak membunuh adikku
Pangeran Cheng Lin?"
"Benar, Pangeran, akan tetapi dia...."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sudah cukup, kakanda. Penjahat ini harus ditangkap dan
dihadapkan Ayahanda kaisar agar dapat diputuskan hukuman
apa yang harus dijatuhkan kepadanya!" setelah berkata
demikian, Ki Seng memberi perintah kepada para komandan
pengawal,
"Tangkap dan belenggu kedua tangannya!"
Para perwira itu maju dan menelikung kedua tangan Han
Lin lalu mengikatnya, Han Lin tidak melawan karena dia tahu
bahwa melawan akan semakin memberatkan dirinya. Di depan
Pangeran Cheng Hwa dia tidak berani melakukan kekerasan.
Diapun tidak mungkin mengaku dirinya sebagai Pangeran
Cheng Lin tanpa bukti apapun. Ki Seng seolah sudah
mencengkeramnya dan dia tidak berdaya sama sekali.
"Baik, mari hadapkan dia kepada Ayahanda Kaisar, biar
beliau yang akan memutuskan." kata Pangeran Cheng Hwa
yang menjadi ragu terhadap Han Lin.
Han Lin lalu digiring oleh Ki Seng dan empat orang
pangeran, dikawal pula oleh para perwira pengawal memasuki
bangunan induk. Kepada para thaikam pengawal pribadi
Kaisar, Pangeran Cheng Hwa minta agar dilaporkan kepada
kaisar bahwa dia mohon menghadap karena ada urusan yang
teramat penting dan tidak dapat ditunda lagi. Dia mohon
menghadap bersama empat orang pangeran yang lain, juga
akan menghadapkan Han Lin dan dikawal oleh para perwira
pasukan pengawal.
Mendengar laporan bahwa puteranya yang paling disayang
dan dipercaya mohon menghadap bersama para pangeran
yang lain, Kaisar Cheng Tung segera mengijinkan mereka
masuk. Mereka semua diterima di dalam ruangan pustaka di
mana kaisar sedang duduk bersantai. Kaisar merasa heran
melihat Han lin dibawa rombongan itu dengan tangan
terborgol. Semua orang memberi hormat dengan berlutut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Pangeran Cheng Hwa, apakah yang telah terjadi? Kenapa
pemuda yang kau terima menjadi pengawal istana ini malah
menjadi tangkapan?" tanya kaisar dengan heran.
"Ampunkan kalau hamba mengganggu paduka yang
sedang bersantai. Telah terjadi peristiwa penting dan hamba
semua menanti keputusan paduka dalam peristiwa ini."
"Peristiwa apakah itu?"
"Han Lin dituduh sebagai penjahat dan pembunuh oleh
adinda Cheng Lin. karena hamba tidak ingin ada yang main
hakim sendiri, maka hamba mengajak mereka semua untuk
menghadap paduka memohon pengadilan paduka."
"Hemmm, benarkah itu, Cheng Lin? Engkau menuduh Han
Lin sebagai penjahat dan pembunuh? Bukankah dia malah
telah menyelamatkan kakakmu Cheng Hwa? Apa alasan dan
bukti tuduhanmu. " tanya Sri Baginda Kaisar kepada Ki Seng.
"Ampunkan hamba, ayahanda yang mulia. Sesungguhnya,
sejak terjadinya pembunuhan atas diri Cheng Siu dan
penyerangan atas diri kakanda Cheng Hwa, lalu dibawanya
Han Lin ke istana sebagai penyelamat kakanda Cheng Hwa,
hamba telah menaruh kecurigaan besar kepada pemuda ini.
Ketika hamba melakukan penyelidikan ke hutan, dari jejak kaki
dan bekas perkelahian, hamba berpendapat bahwa
pembunuhnya bukan hanya satu dua orang, melainkan paling
sedikit tiga orang. Hamba mempunyai dugaan bahwa Han Lin
ini seorang di antara para pembunuh itu yang kemudian purapura
menjadi penolong kakanda Cheng Hwa."
"Nanti dulu," Kaisar memotong. "Apa alasanmu menduga
seperti itu?"
"Kecurigaan hamba ini mempunyai alasan yang kuat.
Pertama, kemunculan Han Lin di hutan itu amat aneh.
Seorang pemuda petani berada seorang diri di hutan
terlarang, dan tepat pada saat kakanda Pangeran Cheng Hwa
diserang penjahat. Dan kedua, mana mungkin seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda petani memiliki ilmu silat yang tinggi dan mengapa
pula dia yang memiliki ilmu silat tinggi itu membiarkan kedua
orang bertopeng itu melarikan diri? Bukankah seharusnya
ditangkap agar dapat diketahui siapa mereka?"
Kaisar Cheng Tung mengangguk-anguk dan memandang
kepada Han Lin dengan alis berkerut. Kemudian dia menoleh
lagi kepada Ki Seng.
"Akan tetapi, kalau memang benar dugaanmu bahwa dia
itu seorang diantara para pembunuh, mengapa pula malah
menyelamatkan Pangeran Cheng Hwa?" tanya Kaisar ragu.
"Itu hanya merupakan siasatnya yang licik, Ayahanda Yang
Mulia. Dia sengaja melakukan itu agar mendapat kesempatan
memasuki istana, agar dia akan dapat membunuh para
pangeran dengan mudah dan siapa tahu, mungkin pula dia
akan membunuh paduka. Buktinya, tadi dia lakukan
pengintaian ketika hamba bersama para pangeran lain sedang
berada Pondok Teratai. Ketika hamba keluar memergokinya,
dia menyerang hamba hendak membunuh hamba."
Keadaan menjadi hening setelah Ki Seng berhenti bicara.
Kaisar kini memandang kepada Han Lin dengan alis berkerut
dan pandang mata marah.
"Han Lin, benarkah semua yang dituduhkan Pangeran
Cheng Lin kepadamu itu?"
"Ampun, Yang Mulia. Semua itu fitnah belaka." jawab Han
Lin dengan suara tegas.
"Hemm, kalau begitu, apa jawabanmu terhadap semua
tuduhan itu?"
"Hamba berada di hutan karena melihat rombongan dua
orang pangeran, hamba seorang pendatang baru dan merasa
tertarik sekali, ingin tahu bagaimana caranya para pangeran
berburu. Hamba sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah
hutan terlarang bagi orang biasa. Kemudian hamba melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
betapa Pangeran Cheng Hwa diserang orang bertopeng.
Hamba cepat turun tangan membela pangeran akan tetapi
terlambat menolong lima orang pengawal yang dibantai,
hamba berhasil memukul penyerang itu, akan tetapi muncul
orang bertopeng kedua yang memiliki ilmu silat tinggi
melarikan orang pertama. Hamba tidak melakukan pengejaran
karena hamba khawatir kalau hamba meninggalkan Pangeran
Cheng Hwa seorang diri, akan muncul penjahat lain yang akan
menyerangnya. Kemudian Pangeran Cheng Hwa mengajak
hamba ke istana dan hamba menuruti perintahnya."
"Semua pernyataan yang diucapkan Han Lin itu benar dan
hamba menjadi saksinya, Ayahanda Yang Mulia." Pangeran
Cheng Hwa yang bagaimanapun juga masih merasa berhutang
budi kepada Han Lin dan karenanya ingin membela Han Lin.
Kaisar Cheng Tung tetap mengerutkan alisnya dan
mendengar pembelaan putra mahkota itu dia menganggukangguk
sambil mengelus jenggotnya sambil memandang
kepada Han Lin.
"Han Lin, bagaimana jawabanmu terhadap tuduhan bahwa
engkau telah mengintai para pangeran yang berada di Pondok
Teratai kemudian ketika Pangeran Cheng Lin memergokimu,
engkau menyerangnya dan hendak membunuhnya. Benarkah
semua itu?"
"Hamba akui bahwa hal itu memang benar, Yang Mulia.
Hamba telah mendapat tugas untuk melindungi keselamatan
keluarga paduka, dan karena hamba khawatir kalau-kalau
para penjahat akan datang untuk membunuh para pangeran,
maka ketika para pangeran memasuki pondok Teratai, hamba
sengaja memdatangi dan menjaga. Kemudian Pangeran
Cheng Lin keluar dan meneriaki hamba sebagai penjahat dan
pembunuh, kemudian hamba berkelahi dengannya....."
"Kenapa engkau melawannya dan hendak membunuhnya?"
Kaisar mendesak, mulai marah karena semua yang dituduhkan
Pangeran Cheng Lin itu diakui oleh Han Lin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Karena...... karena..... dia.... dan hamba memang
bermusuhan sejak dia belum menjadi pangeran." Terpaksa
Han Lin mengaku demikian karena dia tahu bahwa kalau dia
mengatakan yang sesungguhnya tentang diri pangeran palsu
itu, tentu dia tidak akan dipercaya bahkan membuat dia makin
kelihatan jelek dan bersalah, disangka melakukan fitnah
karena kata-katanya tidak mungkin dibuktikan.
"Ayahanda Yang Mulia, jelas pemuda ini berdosa besar.
Mungkin dia pula yang telah membunuh adinda Cheng Siu.
oleh karena itu hamba berpendapat bahwa ia adalah seorang
yang amat berbahaya bagi keselamatan keluarga istana dan
patut dijatuhi hukuman mati!" kata Ki Seng.
Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya dan memandang
Putera Mahkota Cheng Hwa. "Pangeran Cheng Hwa,
bagaimana pendapatmu?"
Pangeran Cheng Hwa memberi hormat lalu berkata dengan
sikap tenang dan suaranya tegas. "Ayahanda Yang Mulia
menurut pendapat dan pandangan hamba semua yang
dikemukakan adinda Cheng Lin itu baru merupakan dugaan
belaka. Tidak ada buktinya bahwa Han Lin adalah seorang di
antara para pembunuh. Hanya satu yang sudah terbukti dia
bersalah, yaitu bahwa dia melawan dan menyerang adinda
Cheng Lin, akan tetapi hal itupun dilakukan karena dia
mempunyai permusuhan dengan adinda Cheng Lin,
permusuhan pribadi. Karena itu, dia belum pantas dikenakan
hukuman karena kedosaannya belum terbukti."
Kaisar Cheng Tung mengangguk-anguk kemudian berkata.
"Baiklah, kami akan mengambil keputusan tengah-tengah
dengan seadilnya. Han Lin belum terbukti menjadi pembunuh,
akan tetapi dia tetap bersalah karena berani menyerang
Pangeran Cheng Lin. Karena itu, dia harus dihukum cambuk
dua puluh kali dan diusir keluar dari kota raja!"
Ki Seng merasa kecewa, akan tetapi karena hal itu telah
menjadi keputusan. dan tak seorangpun boleh atau berani
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membantah. "Menaati perintah Yang Mulia Kaisar, hayo seret
dia keluar istana, laksanakan hukumannya sekarang juga"
Kata Ki Seng kepada para pengawal.
Kaisar menyuruh mereka semua mengundurkan diri. Ki
Seng memimpin para pengawal membawa Han Lin keluar dari
istana. Pangeran Cheng Hwa tidak ikut, akan tetapi dia
berkata kepada adiknya "Adinda Cheng Lin, ingat, engkau
tidak boleh lancang melanggar perintah Yang Mulia. Han Lin
tidak boleh dibunuh lalu setelah dihukum cambuk dua puluh
kali harus dibebaskan."
"Baik, kakanda. Tentu saja saya tidak berani melanggar
perintah." kata Ki Seng dengan sikap patuh.
Dengan disaksikan empat orang pangeran itu, Han Lin
dibawa keluar istana dan di alun-alun depan istana, hukuman
cambuk dilaksanakan oleh seorang pengawal bertubuh tinggi
besar yang menjadi algojonya. Hukuman itu dilaksanakan di
bawah pohon besar yang tumbuh di alun alun itu. Han Lin
dibelenggu kedua tangannya ke belakang tubuhnya dan dia di
suruh berlutut. Bajunya ditanggalkan. Sebuah lampu gantung
besar di pohon menerangi dan tampak algojo yang tinggi
besar dengan kedua lengan berotot kekar itu sudah siap
dengan sebatang cambuk terbuat dari pada rotan. Lima orang
pangeran, Cheng Hwa, Cheng Ki, Cheng Tek, Cheng Lin dan
Cheng Bhok sudah duduk di atas kursi, tidak jauh dari situ.
Dua losin perajurit berdiri melakukan penjagaan.
"Laksanakan hukuman sekarang juga" teriak Pangeran
Cheng Lin. Mendengar ini, Pangeran Cheng Hwa mengerutkan
alisnya. Lancang benar, pikirnya. Dia berada di situ dan
sepatutnya dialah yang mengeluarkan perintah, bukan
Pangeran Cheng Lin. Akan tetapi karena perintah sudah
dikeluarkan, dia diam saja. Biarpun demikian, mendengar
perintah yang keluar dari mulut Ki Seng itu, Algojo itu
menoleh dan memandang kepada Pangeran Mahkota Cheng
Hwa dengan pandang mata menanti perintah. Algojo itu tahu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar bahwa di antara semua pangeran yang hadir di situ,
Pangeran Cheng Hwa yang memiliki kekuasaan tertinggi.
Melihat ini, Pangeran Cheng Hwa mengangguk. Diapun ingin
melihat pelaksanaan hukuman cambuk itu cepat diselesaikan
agar Han Lin dapat segera bebas.
Algojo segera melaksanakan tugasnya setelah melihat
anggukan Pangeran Cheng Hwa. Dia mengangkat cambuknya
ke atas dan mengayun cambuk menimpa punggung Han Lin
yang telanjang.
"Tarr..... tarrr.... tarrr.....!!" Cambuk melecut-lecut ke atas
kulit punggung Han Lin. Algojo menghitung sebelum
Cambuknya melecut. Kalau bukan punggung Han Lin yang
tertimpa lecutan cambuk rotan seperti itu yang digerakkan
oleh tenaga yang kuat, tentu kulit punggungnya akan pecahpecah.
Akan tetapi Han Lin melindungi tubuhnya dengan ilmu
kebal Tiat-pouw-san (Baju Besi) sehingga cambuk itu seolah
melecut papan yang amat kuat dan tidak mendatangkan luka
apapun kecuali sedikit memar dan bilur-bilur!
"Sebelas.... tarrr! Dua belas.... tarr!!" hitungan dan
cambukan itu berlangsung bertubi-tubi, namun sedikitpun
tidak ada rintihan keluar dari mulut Han Lin dan tubuhnya
sedikitpun tidak bergerak. Pangeran Cheng Hwa diam-diam
kagum dan senang. Dia dapat menduga bahwa pemuda
penolongnya itu tentu melindungi tubuhnya dengan kekebalan
sehingga cambukan itu tidak melukainya.
".....tujuh belas.... tarr! Delapan belas. ". .tarrr!!"
"Tahan!!" tiba-tiba Ki Seng bangkit berdiri dan mengangkat
tangannya menghentikan cambukan itu. Sang algojo menahan
cambukan berikutnya dan menoleh kepadanya.
"Ada apakah, Yang Mulia Pangeran?" tanyanya.
"Hentikan dulu cambukan itu. Engkau tidak memukul
dengan sungguh-sungguh. Lecetpun tidak kulit punggung
yang kau cambuk itu. Ini bukan hukuman namanya. Kakanda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran, perkenankan hamba melakukan cambukan yang
tinggal dua kali lagi itu. Saya harus ikut menghukum orang
yang tadi hendak membunuhku!"
Pangeran Cheng Hwa tersenyum mengejek. Dia sama
sekali tidak tahu bahwa Ki Seng yang disangkanya benar adik
tirinya itu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Dipikirnya
hanya memillki ilmu silat biasa saja dan belum tentu
tenaganya lebih kuat dibandingkan algojo raksasa itu. Apa
artinya dua kali cambukan yang dilakukan Pangeran Cheng Lin
dibandingkan dengan delapan belas kali cambukan yang telah
dilakukan oleh algojo raksasa itu. Dia tersenyum dan
mengangguk.
"Silakan, adinda pangeran. Tapi ingat engkau hanya boleh
mencambuk punggungnya, jangan mencambuk tengkuk atau
kepala, apalagi sampai mematikannya!" ulang suaranya yang
lembut terdapat wibawa yang tegas. Diam-diam Ki Seng
merasa mendongkol juga. Tadinya dia memang ingin
melakukan sisa dua kali cambukan untuk membunuh Han Lin.
kalau dia mencambuk tengkuk atau kepala, pasti Han Lin akan
tewas. Akan tetapi angeran Mahkota Cheng Hwa sudah
mendahuluinya dan melarangnya. Dia terpaksa harus menaati
karena kalau melanggar, dia menempatkan diri dalam posisi
yang amat berbahaya.
"Tentu saja, kakanda. Terima kasih."
Ki Seng lalu menghampiri tempat pelakuan hukuman itu,
mengambil cambuk dari tangan sang algojo.
Han Lin terkejut sekali ketika melihat cambuk itu kini
diambil oleh Ki seng. Mengertilah dia bahwa dirinya terancam
bahaya maut. Akan tetapi dalam keadaan menjadi terhukum,
dia tidak dapat berbuat sesuatu. Tidak mungkin dia
membantah. Hanya ada satu hal yang menyelamatkannya,
yaitu ucapan Pangeran Cheng Hwa kepada Ki Seng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Mahkota itu melarang "adiknya" untuk
mencambuk tengkuk atau kepala. Hal inilah yang
menyelamatkannya, kalau hanya dicambuk di bagian
punggung dia tidak akan tewas, walaupun kemungkinan besar
dia menderita luka dan Kekebalan ilmu Tiat-pouw-san saja
tidak akan mampu menahan kehebatan pukulan cambuk yang
dilakukan oleh Ki Seng yang lihai sekali. Tentu Ki Seng akan
memilih bagian jalan darah yang paling lemah. Han Lin lalu
mengheningkan seluruh batinnya, mempersatukan semua
kekuatan dalam tubuhnya dan menyalur kekuatan itu untuk
melindungi jalan darah di kedua pundaknya.
Ki Seng menghitung dengan selantang lalu mencambuk dan
seperti sudah diperhitungkan Han Lin, dia mengerahkan
seluruh tenaganya pada dua cambukan itu.
"Sembilan belas! Syuuuuuttt...... darr.....!!" Han Lin merasa
pundaknya seperti disambar petir dan dia merasa pula betapa
dari perutnya keluar darah melalui mulutnya. Namun dia
masih tetap menghimpun dan mengerahkan tenaganya untuk
menerima pukulan ke dua.
"Dua puluh! Syuuuuttt..., darrr....!!" tubuh Han Lin
terguling dan dari mulutnya muntah darah segar!
Ki Seng memandang kepada Han Lin yang rebah miring
sambil tersenyum puas.
"Mampus kau!" desisnya lirih dan lalu mengembalikan
cambuk kepada algojo dan menghampiri saudara-saudaranya.
Pangeran Cheng Hwa bangkit dari kursinya dan lari
menghampiri Han Lin. Han Lin sudah bangkit perlahan, masih
berlutut. Dadanya terasa sesak dan kepalanya pening sekali.
"Han Lin, engkau tidak apa-apakah?" tanya Pangeran
Cheng Hwa khawatir.
Han Lin menggeleng kepalanya. "Tii, tidak apa-apa, terima
kasih Pangeran."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sekarang engkau boleh pergi dengan bebas," kata pula
Pangeran Cheng Hwa, lalu berkata kepada kepala pasukan
yang memimpin dua losin perajurit yang berjan di situ. "Antar
dan kawal dia sampai keluar dari pintu gerbang selatan. Awas,
jaga baik-baik jangan sampai ada orang mengganggunya.
Kalian yang bertanggung jawab atas keselamatannya sampai
keluar pintu gerbang!"
Perintah ini dilaksanakan dengan baik oleh perwira yang
memimpin dua losin perajurit pengawal itu. Dalam keadaan
lunglai Han Lin dikawal sampai ke pintu gerbang selatan
kemudian dilepaskan. Ketika itu malam sudah larut dan Han
Lin melangkah terhuyung-huyung dalam kegelapan malam
yang hanya diterangi oleh bintang-bintang yang bertaburan di
angkasa.
Menjelang fajar dia sudah jauh meninggalkan pintu
gerbang kota raja dan dia merasa betapa tenaganya sudah
hampir habis. Kedua kakinya gemetar dan akhirnya dia jatuh
terkulai di bawah sebatang pohon yang berdiri di tepi jalan
raya.
Seorang gadis berpakaian putih cepat menghampirinya.
"Sobat, engkau kenapakah? Engkau sakit?" tanya gadis itu
dengan suara lembut sambil menghampiri Han Lin dan cepat
meraba pergelangan tangan kiri Han Lin untuk merasakan
denyut nadinya. Han Lin bangkit duduk dan mereka saling
pandang.
"Adik Tan Kiok Hwa.....!" seru Han Lin dengan girang sekali
sehingga sejenak ia melupakan rasa sesak dan nyeri
didadanya.
"Kakak Han Lin.....! Engkaukah ini? diamlah saja, jangan
bergerak, engkau terluka. Duduklah bersila, akan kucoba
mengusir hawa beracun dari dalam tubuhmu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena maklum akan kelihaian gadis yang tak pernah dia
lupakan itu dalam ilmu pengobatan, Han Lin menurut. ia
duduk bersila dan mengendurkan seluruh urat syarafnya.
Setelah memeriksa detak nadi dan pernapasan Han Lin,
Kiok Hwa lalu menotok beberapa jalan darah di kedua pundak
dan punggung. Setelah itu ia mengeluarkan jarum emas dan
jarum peraknya dan mulai mengobati Han Lin dengan tusukjarum
di sekitar punggungnya, setelah Han Lin melepaskan
bajunya.
Fajar menyingsing. Sinar matahari mulai mengusir kabut
pagi dengan sinarnya yang lembut. Han Lin merasa betapa
sesak dan nyeri di dadanya sudah menghilang. Kiok Hwa
mencabuti jarum-jarumnya dan berkata dengan nada lega.
"Bahaya sudah lewat, Lin-ko. sekarang tinggal mengobati
luka di kedua pundakmu." Ia mengeluarkan sebungkus obat
bubuk putih dan menaburkan obat kepada luka-luka di pundak
Han Lin. Terasa dingin dan nyaman sekali oleh Han Lin.
"Terima kasih, Hwa-moi, aku sudah sembuh kembali.
Sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat tiba-tiba muncul
menolongku."
"Jangan bicara dulu, Lin-ko. Walaupun engkau sudah
sembuh, akan tetapi engkau kehabisan tenaga. Himpunlah
dulu tenaga murni untuk memulihkan kekuatanmu. Dalam
keadaan seperti sekarang ini engkau harus selalu siap siaga,
dalam keadaan sehat dan memiliki tenaga sepenuhnya."
Han Lin mengangguk, lalu diapun memejamkan mata dan
menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaganya, Kiok
Hwa duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari
tanah, memandang dan menjaga pemuda itu dengan pandang
mata penuh kasih sayang. Terbayanglah semua
pengalamannya dengan Han Lin. Tanpa melalui banyak
pengakuan kata-kata, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia
mencinta Han Lin dan pemuda itupun mencintanya. Akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi karena ia tahu betapa gadis yang dikenalnya sebagai
Suma Eng itu mati-matian mencintai Han Lin. Ia tidak tega
untuk merebut pemuda itu dari gadis yang sudah lama
mencinta pemuda itu. Ia mengalah dan meninggalkan mereka.
Ia lalu memasuki kota raja dan mendapat pengalaman tidak
enak ketika ia hendak dijebak orang jahat yang berpura-pura
sakit di sebuah kamar losmen. Akan tetapi tidak lama ia
berada di kota raja karena mendengar bahwa di daerah Lamteng
yang berada sebelah selatan kota raja berjangkit
penyakit demam panas yang sudah makan banyak korban. Ia
bergegas pergi ke daerah itu untuk menolong orang-orang
yang kejangkitan penyakit itu. la sudah berhasil menolong dan
menyelamatkan banyak orang sehingga namanya sebagai Pek
I Yok Sian-li semakin terkenal. Untuk keperluan itu, Kiok Hwa
harus mondar mandir ke kota raja untuk membeli obat obatan
dari rumah obat. Ketika ia datang pergi ke kota raja membeli
obat, bertemu dengan Souw Tek dan Su Te Ek yang terluka
dalam pi-bu (adu silat di Hek-tiauw Bu-koan. Juga pada hari
ini ia sedang hendak pergi ke kota raja untuk membeli obat
ketika ia melihat pemuda terhuyung-huyung lalu roboh di
bawah pohon yang kemudian ternyata adalah Han Lin.
Kiok Hwa menghela napas panjang, sudah mengalah
terhadap Suma Eng dan berusaha menjauhkan diri dari Han
Lin, Akan tetapi nasib rupanya menghendaki lain dan secara
tidak terduga sama sekali kini ia bertemu lagi dengan Han Lin
bahkan harus mengobatinya karena pemuda itu menderita
luka yang cukup parah. Dan pertemuan itu menambah
goresan yang memperdalam perasaan cinta kasih-kepada Han
Lin. Baru memandang kearah pemuda itu yang bersamadhi
memejamkan mata saja, ada daya tarik yang luar biasa yang
mencengkeram perasaan hatinya. Pada saat itu tahu benarlah
Kiok Hwa bahwa tanpa adanya pemuda itu di sampingnya,
hidup selangjutnya akan terasa hampa dan tidak menarik!
Matahari makin cerah. Cahayanya yang tadinya kuning
kemerahan mulai memutih dan panas mulai menyengat, Kiok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwa merasa senang melihat betapa kedua pipi Han Lin mulai
memerah, menunjukkan bahwa pemuda itu sudah sehat betul
dan selain kesehatannya sudah pulih, juga tenaganya sudah
utuh kembali.
Han lin menggerakkan pelupuk matanya kemudian
membuka kedua matanya, lalu menoleh ke arah Kiok Hwa.
Keduanya tersenyum.
"Hwa-moi, kembali engkau telah menolongku. Entah
berapa kali sudah kau menolong dan menyelamatkan aku
akan tetapi mengapa engkau selalu menjauhkan diri dariku,
Hwa-moi?"
Ada tuntutan terkandung dalam ucapan itu dan Kiok Hwa
merasa terharu.
"Sudahlah, jangan bicarakan hal itu Lin-ko. Sekarang
ceritakan, bagaimana engkau sampai menderita seperti ini.
Engkau terkena pukulan pada kedua jalan darah di pundakmu,
dan pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat. dan
punggungmu penuh bilur-bilur seperti bekas cambukan. Apa
yang terjadi?"
Han Lin menghela napas panjang, ia tidak ingin
menceritakan tentang sebenarnya bahwa dia seorang
pangeran, Ia khawatir kalau hal itu diketahui Kiok Hwa, akan
mengubah sikap gadis itu terhadap dirinya. Tidak, dia ingin
dikenal Kiok Hwa sebagai Han Lin, pemuda biasa. Bahkan
kepada Sian Engpun dia tidak membuka rahasia ini. Sekali saja
membuka rahasia sudah cukup menyengsarakannya, yaitu
ketika dia membuka rahasianya itu kepada A Seng.
Mendengar pertanyaan itu, otomatis Han Lin meraba
punggungnya dan baru menyadari bahwa dia telah kehilangan
pedangnya. Im-yang-kiam telah hilang, Ia mengingat-ingat.
Ketika dia ditangkap oleh para perajurit, pedangnya diambil
oleh Ki Seng!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ada apakah, Lin-ko? Engkau seperti mencari sesuatu!"
tegur Kiok Hwa.
"Pedangku....., pedangku diambil orang....!" kata Han Lin
dan teringat akan semua perbuatan Ki Seng yang kini menjadi
Pangeran Cheng Lin dia merasa gemas sekali.
"Im-yang-kiam? Ah, siapa yang telah mengambilnya, Linko?"
tanya Kiok Hwa yang ikut merasa menyesal bahwa
pedang pusaka yang langka itu diambil orang.
Kan Lin menghela napas panjang.
"Panjang ceritanya, Hwa-moi. Aku telah menyelamatkan
Pangeran Mahkota Cheng Hwa yang akan dibunuh orang jahat
dekat hutan. Beliau lalu membawaku ke istana dan aku diberi
pekerjaan sebagai seorang pengawal di istana. Akan tetapi
malam tadi, aku difitnah. Aku dituduh hendak membunuh para
pangeran. Kiasar marah sekali dan aku tentu sudah dijatuhi
hukuman mati kalau saja Pangeran Mahkota Cheng Hwa tidak
membela. Karena pembelaan beliau maka hukuman ku
diperingan, yaitu menerima hukuman dua puluh kali
cambukan."
"Hemm, engkau yang memiliki sinkang amat kuat dan
memiliki kekebalan, mengapa sampai menjadi begini ketika
dicambuk? Kukira jangankan hanya dua puluh kali, biar
seratus kalipun engkau tentu tidak akan terluka kalau engkau
mengerahkan sin-kang melindungi tubuhmu." kata Kiok Hwa
heran.
"Algojo hanya mencambuk sampai delapan belas kali saja,
lalu cambuknya di minta Pangeran Cheng Lin dan dia yang
mencambuk aku dua kali sehingga aku menderita luka parah."
"Hemm, jadi Pangeran Cheng Lin itu seorang yang memiliki
ilmu kepandaian silat tinggi?"
"Benar, dan dia jahat seperti iblis."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, kalau begitu dia pula yang menjatuhkan fitnah atas
dirimu?"
"Benar."
"Dan dia pula yang mengambil im yang-kiam darimu?"
"Memang benar, Hwa-moi."
"Hemm. Tidak akan ada asap kalau dak ada apinya. Tidak
akan turun hujan kalau tidak ada awalnya. Tidak ada akibat
tanpa sebabnya. Lin-ko, mengapa seorang pangeran dapat
begitu membencimu? Padahal engkau telah menyelamatkan
Pangeran Mahkota? Katakan, mengapa Pangeran Cheng Lin
itu demikian membencimu, Lin-ko?"
Han Lin merasa terdesak, namun dia bertekad untuk
mempertahankan rahasianya. Setelah berpikir sesaat, dia
menjawab, "Dia baru saja diterima sebagai pangeran, Hwamoi.
Aku sudah mengenalnya dengan baik sebelum dia
menjadi pangeran, yaitu ketika dia masih menjadi murid
Cheng Hian Hwesio, Bahkan boleh dibilang dia itu masih
saudara seperguruanku karena akupun dilatih ilmu silat oleh
Cheng Hian Hwesio. Ketika itu, dia melakukan perbuatan
menyeleweng dan minggat meninggalkan kami. Kemudian
menjadi pangeran dan melihat aku berada di istana, mungkin
dia khawatir aku aku membeberkan kejahatannya dan
mungkin dia menganggap aku sebagai saingan."
Tiba-tiba Han Lin memegang lengan Kiok Hwa dan matanya
memandang ke depan. Kiok Hwa menengok dan gadis inipun
melihat bayangan dua orang berlari cepat menuju ke tempat
itu. Setelah dua orang itu tiba dekat, dengan kaget Han Lin
dan Kiok Hwa melihat bahwa mereka itu bukan lain adalah
Toa Ok dan Suma Kiang!
"Itu dia!" seru Toa Ok.
"Bunuh dia!!" kata pula Suma Kiang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang datuk ini memang diutus oleh Pangeran Cheng
Boan yang sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di
istana malam itu. Mendengar bahwa Han Lin atau Pangeran
Cheng Lin yang aseli itu hanya dihukum cambuk dan dilukai
oleh Ki Seng akan tetapi tidak dapat di bunuh karena dibela
Pangeran Mahkota Cheng Hwa, dia cepat mengutus dua orang
jagoannya itu.
"Cepat kejar dan bunuh dia selagi terluka parah" demikian
perintahnya. Demikianlah, dua orang itu keluar dari kota raja
dan melakukan pengejaran. Mereka mengira bahwa Han Lin
masih menderita luka parah maka segera mereka menerjang
maju untuk membunuhnya. Toa Ok sudah menggunakan Kimliong-
kiam (Pedang Sinar Emas) yang berubah menjadi
gulungan sinar emas yang dahsyat. Suma Kiang juga sudah
mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan langsung saja
menyerang dengan cepat dan kuatnya.
Pada saat itu, Han Lin memang sudah sembuh sama sekali
dari luka dalam di tubuhnya. Akan tetapi walaupun dia sudah
menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaganya dan
tenaga sin-kang-sudah kembali, namun dia masih sedikit
lemah dari pada biasanya.
Menghadapi serangan tiga batang pedang yang digerakkan
tangan-tangan yang amat kuat itu, Han Lin segera
mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehingga
tubuhnya bergerak cepat dan lincah searti seekor burung
walet, mengelak ke sana-sini sehingga tubuhnya berubah
menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di antara sinar tiga
batang pedang itu. Dia bersilat dengan Ngo-heng Sin-kun
(Ilmu Sakti Lima Unsur) dan kadang membalas dengan
totokan It-yang-ci.
Namun, kondisinya yang masih lemah dan kepalanya yang
masih terasa sedikit pening itu membuat Han Lin desak hebat.
Tiga batang pedang di tangan kedua orang lawannya benarbenar
amat berbahaya dan biarpun Han Lin sudah mengelak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sedapatnya, tetap saja ujung pedang Toa Ok melukai pangkal
lengan kirinya dan ujung pedang Suma Kiang juga melukai
paha kanannya. Pangkal lengan kiri dan paha kanan Han Lin
terluka mengucurkan darah dan dari rasa panas di kedua
bagian tubuh yang terluka itu tahulah dia bahwa lukanya itu
mengandung racun. Pedang-pedang kedua orang datuk sesat
itu tentu telah direndam racun. Karena dua luka di tubuhnya
itu, gerakan Han Lin menjadi semakin kendur dan lambat.
Melihat ini, Kiok Hwa dengan nekad menerjang untuk
membela Han Lin.
"Kalian jahat dan tidak tahu malu mengeroyok seorang
yang tidak membawa senjata!" Kiok Hwa berkelebat dan
berusaha merampas pedang di tangan Toa Ok dengan jalan
memukul siku kanannya agar pedang itu terlepas dari
tangannya. Gerakan Kiok Hwa itu cepat bukan main sehingga
Toa Ok tidak dapat menghindar.
"Plakk!" Siku kanannya terpukul dan seketika tangannya
menjadi tergetar lumpuh dan pedangnya terlepas dari
pegangannya. Tangan kirinya menyambar dan menyambar
bawah pundak kanan Kiok Hwa.
"Desss.....!" tubuh Kiok Hwa terpental dan terbanting roboh
di bawah pohon.
"Hwa-moi.....!" Han Lin berseru dan cepat dia menyerang
Toa Ok dengan tiga buah totokan secara bertubi. Toa Ok
terkejut dan melompat ke belakang. Akan tetapi Han Lin tidak
sempat menghampiri Kiok Hwa karena Suma Kiang sudah
menyerangnya lagi dengan sepasang pedangnya.
"Lin-ko, sambut.....!" Kiok Hwa yang telah terluka bawah
pundak kanannya itu menemukan sebatang kayu ranting
sebesar lengannya di bawah pohon itu. Dengan tangan kirinya
ia melontarkan ranting itu ketika Han Lin melompat belakang
dan menoleh kepadanya, han Lin menyambar tongkat itu
dengan tangannya. Pada saat itu, Toa Ok dan Suma Kiang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah menyerang lagi. Han Lin memutar tongkat ranting itu
dan segera memainkan ilmu silat Sin-tek-tung (Tongkat
Bambu Sakti). Gulungan sinar kuning yang aneh melingkarlingkar
dan mencuat ke sana-sini tampak dan ternyata
gulungan sinar permainan tongkatnya mampu membendung
gelombang serangan ketiga pedang. Namun, dalam keadaan
terluka dan mengeluarkan banyak darah, Han Lin menjadi
semakin lemah sehingga tongkatnya itu hanya dapat
dipergunakan untuk melindungi dirinya saja tanpa mendapat
kesempatan untuk balas menyerang.
Kiok Hwa melihat bahaya ini, akan tetapi ketika ia bangkit
untuk nekat menolong lagi, tubuhnya terkulai lemah dan ia
roboh kembali. Ternyata pukulan tangan kiri Toa Ok yang
mengenai dadanya tadi membuat terluka di sebelah dadanya
yang cukup parah.
Keadaan Han Lin gawat. Agaknya tak lama lagi ia akan
roboh dan tewas, dan kalau hal ini terjadi, tentu keselamatan
kiok Hwa juga terancam maut.
Mendadak berkelebat bayangan merah muda dan terdengar
bentakan nyaring, "Toa Ok dan Suma Kiang dua manusia iblis
yang hina dan jahat!" Sinar pedang berwarna hijau
menyambar ganas ke arah leher Suma Kiang. Datuk ini
terkejut dan cepat menangkis dengan pedang kanannya.
"Cringgg....!!" Bunga api berpijar ketika kedua pedang
bertemu dan Suma Kiang melihat bahwa yang menyerangnya
bukan lain adalah Lo Sian Eng, atau yang diakuinya sebagai
Suma Eng, anak- yang dahulu amat disayangnya!
"Suma Eng, mundurlah, aku tidak ingin membunuhmu!"
kata Suma Kiang yang bagaimanapun juga masih mempunyai
perasaan sayang kepada gadis yang semenjak kecil dianggap
sebagai anak kandungnya sendiri, bahkan semua ilmunya
sudah dia turunkan kepada gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku Lo Sian Eng, bukan Suma Eng. Engkau tidak ingin
membunuhku, akan tetapi aku ingin membunuhmu seratus
kali untuk membalaskan dendam ayah dan ibu kandungku!"
bentak Sian Eng dan iapun sudah menyerang dengan hebat.
Suma Kiang terpaksa menangkis dan membalas menyerang
untuk membela diri.
Sementara itu, Toa Ok masih bertanding melawan Han Lin.
Karena kini Han Lin tidak dikeroyok lagi, maka lawannya
menjadi agak ringan baginya. Akan tetapi sebaliknya, darah
banyak keluar dari tubuhnya dan dia mulai lemas. Dengan
demikian, kekuatan mereka berdua seimbang dan
pertandingan itu berlangsung seru dan mati-matian.
Kiok Hwa yang bersandar di batang pohon menjadi agak
lega melihat munculnya Sian Eng. Diam-diam ia menghela
napas panjang. Mereka bertiga selalu bertemu. Mengapa
begitu kebetulan?
Sian Eng yang penuh dendam itu mengerahkan seluruh
kepandaian dan tenaganya sehingga Suma Kiang menjadi
kewalahan. Datuk ini segera terdesak hebat oleh pedang
Ceng-liong- kiam (Pedang Naga Hijau) di tangan gadis perkasa
itu. Suma Kiang melindungi dirinya sekuat mungkin, namun
akhirnya sebuah sambaran pedang Sian Eng mengenai lengan
kirinya sehingga lengan itu terluka menganga di atas siku.
Suma Kiang melompat belakang.
Sian Eng hendak mendesak untuk nembunuh ayah
angkatnya itu, akan tetapi pada saat itu terdengar Kiok Hwa
berseru, "Eng-moi (Adik Eng), bantulah Lin-ko.....!"
Sian Eng menoleh dan melihat betapa Han Lin dengan
wajah pucat didesak Toa Ok yang bergerak semakin ganas.
Khawatir akan keadaan Han Lin, Sian Eng melompat ke dekat
dua orang yang sedang bertanding mati-matian itu.
Pedangnya meluncur dan menusuk ke arah punggung Toa Ok
dari belakang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Singgg....!!" Sinar hijau menyambar ke arah dada Toa Ok.
Datuk yang lihai ini mendengar suara pedang dari arah
belakangnya. Dia memutar tubuh ke kiri untuk mengelak, akan
tetapi tetap saja pedang itu menyerempet iga kiri di bawah
lengan. Toa Ok menggerakkan tangan kirinya memukul.
"Crakk......desss....!" Pedang itu mengenai dada kiri Toa
Ok, akan tetapi pukulan tangan kiri yang mengandung ilmu
Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) itupun mengenai
pundak Sian Eng. Dara perkasa itu terdorong ke belakang
akan tetapi tidak sampai jatuh. Toa Ok yang melihat betapa
Suma Kiang sudah melarikan diri dan dia sudah terluka, tidak
ada semangat lagi untuk melanjutkan perkelahian karena
maklum bahwa hal akan sangat membahayakan dirinya. ia lalu
melompat jauh dan melarikan diri dengan luka berdarah pada
dada kirinya
Sian Eng melihat Han Lin berdarah darah pada pangkal
lengan dan pahanya dan pemuda itu berdiri dengan tubuh
bergoyang-goyang seperti hendak roboh. Ia melihat pula Kiok
Hwa menghampiri Han Lin dan gadis berpakaian putih itupun
terhuyung-huyung, agaknya terluka pula. Sian Eng merasa
betapa dadanya sesak dan sukar bernapas, namun ia
menguatkan dirinya dan menghampiri mereka.
"Lin-ko, bagaimana luka-lukamu?" tanyanya khawatir
sambil memegang lengan pemuda itu. Lengan kanan pemuda
itu sudah dipegang oleh Kiok Hwa.
Han Lin memandangnya dan tersenyum. "Aku tidak apaapa,
Eng-moi. Hanya luka-luka daging saja dan lemas..."
"Dia kehilangan banyak darah, adik Eng." kata Kiok Hwa.
Sian Eng merasa lega dan tiba-tiba ia merasa kepalanya
pening sekali. Segala tampak berpusing.
"Sukur..... sukurlah....." katanya dan ia lalu roboh terkulai,
pingsan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Eng-moi....!" Seru Han Lin.
"Adik Eng! Engkau kenapa?" seru Kiok Hwa dan mereka
berdua berjongkok dekat tubuh Sian Eng yang rebah telentang
dengan muka pucat sekali. Kiok Hwa cepat memeriksa
keadaan Sian Eng. tak lama kemudian ia berdiri dan
mengerutkan alisnya.
"Bagaimana, Hwa-moi? Bagaimana keadaannya?"
Kiok Hwa menghela napas panjang.
"Keji sekali Toa Ok. Adik Eng terkena pukulan Ban-tokciang
pada pundaknya. Masih untung bahwa ia memiliki tubuh
yang sehat dan tenaga sin-kang yang kuat. Dan lebih
menguntungkan lagi agaknya ia dahulu telah banyak minum
obat anti racun ketika ia mempelajari pukulan-pukulan
beracun. Kurasa hawa beracun Ban-tok-ciang tidak akan
menjalar kejantungnya dan aku masih sanggup mengobati
dan menyembuhkannya."
"Ah, sukur sekali kalau begitu, Hwa moi." kata Han Lin dan
diapun mengeluh karena tubuhnya terasa lemah sekali, ia lalu
duduk bersila dekat Sian Eng yang masih pingsan.
"Lin-ko, aku tadi sudah menotok jalan darahmu untuk
menghentikan keluarnya darah dari kedua luka di pangkal
lengan dan pahamu. Akan tetapi engkau sudah mengeluarkan
banyak darah dan engkau harus beristirahat dan makan obat
kuat yang akan kubuatkan untukmu."
"Hwa-moi, aku lihat engkau sendiri juga terluka. Engkau
tadi juga terkena pukulan tangan Toa Ok yang berbahaya!"
Han Lin memandang wajah Kiok Hwa yang pucat.
Kiok Hwa menggeleng kepalanya. "Aku memang terluka,
akan tetapi aku dapat mengatasinya. Jangan
mengkhawatirkan aku. Lebih baik sekarang mari kita bawa
adik Eng. Aku tadi melihat sebuah pondok bambu di hutan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sana itu, pondok bambu kosong yang agaknya ditinggalkan
para pemburu. Kita beristirahat di sana."
Han Lin mengerahkan tenaganya dan bangkit berdiri. Kiok
Hwa menotok beberapa jalan darah di tubuh Sian Eng dan
gadis itu mengeluh lirih lalu membuka matanya.
"Bagaimana keadaanmu, Eng-moi?" Han Lin bertanya.
"Dadaku...... nyeri panas dan napasku sesak......" keluh
Sian Eng.
"Adik Eng, mari kita masuk hutan di sana itu, ada sebuah
pondok bambu di sana, kita dapat beristirahat dan mengobati
luka kita. Lin-ko dan akupun terluka dan lemah, maka tidak
dapat memondongmu. Mari kami bantu engkau berjalan ke
sana."
Kiok Hwa lalu membantu Sian Eng bangkit dan gadis
perkasa ini menggigit bibir mengerahkan sisa tenaganya untuk
melangkah dan ia dipapah oleh Han Lin dan Kiok Hwa. Tiga
orang muda yang terluka itu terhuyung-huyung memasuki
hutan dan benar saja, tidak jauh dari situ terdapat sebuah
pondok bambu, bahkan ada empat buah dipan bambu di
dalam pondok. Tempat ini biasanya menjadi tempat pondokan
para pemburu kalau kemalaman di dalam hutan.
Setelah membaringkan Sian Eng di atas sebuah dipan, Kiok
Hwa lalu mulai mengobati Sian Eng dan juga Han Lin. Iapun
minum obat untuk menyembuhkan lukanya sendiri.
Pengobatan dari Kiok Hwa itu manjur bukan main sehingga
menjelang malam hari, mereka semua telah dapat terhindar
dari bahaya dan telah sembuh. Akan tetapi mereka, terutama
Han Lin, harus istirahat selama beberapa hari untuk
memulihkan tenaganya. Kebetulan sekali dalam pondok itu
terdapat banyak lilin yang ditinggalkan para pemburu
sehingga mereka tidak sampai kegelapan. Pada keesokan
pagi-pagi, Kiok Hwa yang keadaannya paling baik di antara
mereka, meninggalkan pondok dalam hutan itu untuk pergi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membeli bahan makan. Ia membeli bahan makanan yang
sekiranya cukup untuk mereka makan beberapa hari lamanya.
Lo Sian Eng dan Han Lin duduk bersila di atas dipan
bambu. Mereka duduk berhadapan, Sian Eng di atas dipan
yang satu, Han Lin di atas dipan yang lain. mereka melatih
pernapasan untuk menghimpun dan memulihkan tenaga
mereka.
Sejak tadi Sian Eng mengamati Han Lin yang duduk bersila
sambil memejamkan kedua matanya. Gadis itu memandang
kagum. Bukan main pemuda yang telah merampas hatinya ini.
Seorang pangeran tulen. Betapa kuatnya menyimpan rahasia
dirinya, bersikap seperti seorang pemuda sederhana. Biarpun
pertanyaan tentang kepangeranannya itu sudah ada di ujung
lidahnya, namun Sian Eng menekan dan menahannya, tidak
ingin membuka rahasia pemuda itu. Dia harus menghormati
rahasia itu. Ia hanya memandang penuh kagum.
Pandang mata yang terdorong oleh perasaan hati memiliki
daya yang kuat sekali. Han Lin yang tadinya memejamkan
matanya itu, tidak dapat menahan lebih lama lagi. Ada
sesuatu yang seseorang mendorongnya untuk membuka
kedua matanya. Ketika dia membuka kedua matanya,
pandang matanya tepat bertemu dengan sepasang mata jeli
yang menatapnya. Dua pasang matanya bertemu pandang,
bertaut, melekat. Sian Eng tersenyum memecahkan pesona
yang membius mereka.
"Lin-ko, mengapa engkau memandangku seperti itu?"
tanyanya, malu-malu.
"Kenapa......? Ah, aku ingin sekali tahu bagaimana engkau
tiba-tiba dapat berada di sana menolongku ketika kami
terancam bahaya maut itu, Eng-moi?"
Sian Eng tidak tersipu lagi. Ia merasa bersukur karena
ucapan Han Lin itu mengusir rasa canggung dan rikuh yang
timbul oleh bertemunya pandang mata mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Panjang ceritanya, Lin-ko. Sebaiknya engkau yang
bercerita lebih dulu mengapa engkau terluka dan berkelahi
melawan Toa Ok dan Suma Kiang kemarin?"
Han Lin tersenyum. Gadis ini masih seperti dulu. Tak
pernah mau mengalah, bahkan dalam menceritakan
pengalaman sekalipun.
"Setelah meninggalkan Hek-tiauw Bu koan, aku melakukan
penyelidikan dan mendengar banyak tentang keluarga istana."
Baru mendengar ini saja Sian Eng telah tersenyum dalam
hatinya. Tidak aneh kalau dia menyelidiki tentang keluarga
istana karena dia sendiri adalah seorang pangeran, pikirnya.
"Pada suatu hari aku mendengar pula bahwa Suma Kiang dan
Toa Ok bekerja pada Pangeran cheng Boan. Ketika melihat
Pangeran Cheng Hwa dan Pangeran Cheng Siu keluar pintu
gerbang bersama sepasukan pengawal, aku menjadi tertarik
dan membayangi dari belakang. Kiranya rombongan itu pergi
ke hutan untuk berburu dan di dalam hutan itu aku melihat
mereka berpencar, kedua orang pangeran itu berpisah dan
mengambil jalan masing-masing untuk berburu. Aku melihat
Pangeran mahkota Cheng Hwa diserang orang bertopeng,
maka aku segera melindunginya. Penyerang itu dapat
melarikan diri bersama temannya yang juga bertopeng,
Pangeran Cheng Hwa membawaku ke istana dan mengangkat
aku sebagai pengawal".
Sian Eng merasa heran sekali. Sungguh aneh, pikirnya. Dia
sendiri seorang pangeran dan Pangeran Mahkota itu tentu
masih saudaranya, mengapa dia telah menyembunyikan diri?
Lalu ia teringat, Tentu karena Ki Seng telah mencuri Suling
Pusaka Kemala dan orang jahat itu kini menyamar sebagai
Pangeran Cheng Lin. Karena Han Lin tidak memegang bukti
diri, yaitu Suling Pusaka Kemala maka dia belum dapat
menyatakan dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin yang sejati!
Sian Eng yang cerdik itu segera dapat menduga akan tetapi ia
diam saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu bagaimana, Lin-ko?" Ketika menyebut Lin-ko kali ini,
lidahnya terlalu kaku karena ia menyadari sepenuhnya bahwa
yang dipanggilnya itu adalah seorang pangeran.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil