Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 03 Mei 2017

Cersil Enak Kho Ping Hoo 3 Suling Pusaka Kumala

Cersil Enak Kho Ping Hoo 3 Suling Pusaka Kumala cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Enak Kho Ping Hoo 3 Suling Pusaka Kumala
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Enak Kho Ping Hoo 3 Suling Pusaka Kumala
Bu-beng Lo-jin tertawa. "Ha-ha bukan curiga, Cheng Hian
Hwesio. Hanya aku teringat bahwa ilmu silat yang kau Ajarkan
tentulah ilmu silat tingkat tinggi dan ilmu itu akan berbahaya
sekali kalau sampai dimiliki seorang yang pada dasar-nya
memang jahat. Kalau engkau salah memilih murid, berarti
engkau mencipta-kan bencana bagi dunia di kemudian hari."
"Omitohud, maksudmu memang baik, Bu-beng Lo-jin. Akan
tetapi engkau kurang tebal kepasrahanmu kepada Yang Maha
Kuasa. Yang terpenting bagi kita adalah meneliti dengan
waspada bahwa apa yang kita lakukan tidak menyimpang
daripada kebenaran. Adapun hasilnya bagaimana, hal itu
terserah kepada Yang Maha Kuasa. Bukankah begitu
seharusnya?"
"Ha-ha-ha, aku tidak hendak berbantahan denganmu,
Cheng Hian Hwesio. Aku hanya memperingatkan, karena kalau
engkau salah pilih, kelak engkau sendiri akan terseret ke
dalam kesulitan."
"Omitohud, terima kasih atas perhatianmu, Lo-jin. Akan
tetapi tentu saja pinceng bertanggung jawab sepenuhnya atas
segala yang pinceng lakukan."
"Bagus kalau begitu. Sekarang, perkenankan kami untuk
pulang lebih dulu. sebulan sekali aku akan menyuruh Lin
datang ke Puncak Awan Putih untuk menerima petunjuk
darimu."
"Baiklah, Lo-jin. Dan engkau, Han Lin. Setiap malam bulan
purnama, datanglah ke sini. Nelayan Gu dan Petani Lai tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan membiarkanmu masuk karena mereka berdua sudah
tahu bahwa engkau akan belajar ilmu dari pinceng."
"Baik, losuhu dan terima kasih atas budi kebaikan losuhu."
kata Han Lin sambil memberi hormat. Kemudian, dia dan Bubeng
Lo-jin meninggalkan puncak itu, kembali ke puncak
tempat kediama mereka sendiri.
Ketika Nelayan Gu, Petani Lai da A-seng kembali ke puncak,
mereka melihat Cheng Hian Hwesio masih duduk di atas batu
sambil memejamkan kedua matanya. Melihat hwesio tua itu
sedang bersamadhi, mereka tidak berani mengganggunya.
Akan tetapi A-seng menangis dan isak tangisnya agaknya
membangunkan hwesio itu. Dia bergerak menoleh dan melihat
mereka bertiga, maka dia lalu menegur.
"Nelayan Gu, Petani Lai, apa yang telah terjadi di sana?"
Dua orang itu menghadap guru mereka, sambil berlutut,
diikuti pula oleh A-seng, mereka bercerita.
"Seluruh keluarga A-seng, juga empat orang tetangganya,
berjumlah sepuluh orang semua terbantai dan tewas, suhu.
Pembantaian yang kejam karena agaknya sepuluh orang itu
tidak mampu melawan sama sekali. Para pembunuh itu tidak
mengambil apa-apa dan tidak meninggalkan bekas. Akan
tetapi menurut keterangan A-seng ini, dia melihat bahwa di
baju bagian dada para pembunuh itu terdapat lukisan seekor
harimau hitam, dan dia pernah mendengar tentang
gerombolan yang menamakan diri mereka Hek-houw-ang dan
tinggal di balik puncak."
"Omitohud! Begitu kejam mereka itu. Nelayan Gu dan
Petani Lai, kalian harus menyelidiki ke balik puncak dan
bertanya mengapa mereka membunuhi warga dusun yang
tidak berdosa. Kalau perlu mereka itu pantas dihukumi"
Meskipun sudah menjadi hwesio selama puluhan tahu
namun watak adil seorang kaisar masih melekat di hati Cheng
Hian Hwesio "Engkaupun ikutlah dengan mereka, kalau perlu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi saksi mata terhadap para pembunuh itu!"
Sambungnya kepada A-seng.
Berangkatlah ketiga orang itu menuruni Puncak Awan Putih
dan Cheng Hian Hwesio melanjutkan samadhinya. Mereka
turun dari puncak melalui timur dan belum pernah mereka
melalui jalan ini maka mereka mencari jalan yang amat sukar
itu. Namun kedua orang pembanti atau murid Cheng Hian
Hwesio itu adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi,
maka mereka dapat maju terus menuruni puncak yang sukar
itu. Yang membuat mereka kagum adalah ketika mereka
melihat kenyataan betapa A-seng juga mampu mengikuti
mereka walaupun perjalanan itu kadang-kadang amat sukar,
harus menuruni tebing dan memanjat sambil berpegangan
kepada akar-akar dan hatu-batu gunung.
Matahari telah condong ke barat ketika mereka tiba di
lereng puncak yang ditumbuhi hutan. Mereka memasuki hutan
itu dan di tengah hutan mereka melihat buah perkampungan.
Ketika mereka tiba di pintu gerbang perkampungan itu, di
depan pintu gerbang terdapat papan nama yang berbunyi
"Hek Houw Pang" (Perkumpulan Harimau Hitam). Mereka
berhenti dan tiba-tiba saja tampak banyak tubuh berkelebatan
dan di lain saat mereka telah dikepung oleh belasan orang
yang memegang golok di tangan dan sikap mereka garang
sekali. Seorang di antara mereka yang mukanya penuh
brewok dan bertubuh tinggi besar mengelebatkan goloknya
dan bertanya dengan suaranya yang parau. "Siapakah kalian
bertiga yang berani datang ke tempat kami tanpa ijin?"
Nelayan Gu dan Petani Lai bersikap tenang. Nelayan Gu
melihat bahwa pada baju bagian dada orang-orang itu
memang terdapat sulaman gambar seekor harimau hitam.
Cocok dengan keterangan A-seng maka dia berpendapat tentu
mereka inilah yang telah melakukan pembantaian terhadap
sepuluh orang dusun itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku disebut Nelayan Gu, dan rekanku ini adalah Petani Lai,
sedangkan anak ini bernama A-seng. Kami datang untuk
bicara dengan pimpinan kalian, maka kami minta menghadap
Ketua Hek-houw pang." kata Nelayan Gu dengan sikap
tenang.
"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah untuk dapat bertemu
dengan ketua kami. Kalau engkau ada urusan, cukup bicara
dengan aku saja sebagai wakil ketua di sini."
"Kami membawa urusan besar dan hanya ingin bicara
dengan ketua kalian. Harap bawa kami menghadap." kata pula
Nelayan Gu.
"Hemm, untuk dapat bertemu dengan ketua kami, engkau
harus mendapatkan kuncinya!"
"Bagaimana kami mendapatkan kuncinya?"
"Kuncinya ada padaku! Kalau engkau dapat menandingi
aku Tiat-ciang Hek-houw (Harimau Hitam Tangan Besi) baru
engkau boleh bertemu dengan ketua kami."
Setelah berkata demikian, Tiat-ciang -houw itu lalu
memutar goloknya di depan dada dengan sikap menantang
sekali.
"Bagus, kalau begitu biar aku yang akan menandingimu.
Apakah engkau hendak berjanji bahwa kalau aku dapat
menangkan engkau, kami bertiga boleh langsung menghadap
ketua kalian?"
"Ha-ha-ha, tidak mungkin engkau akan mampu
mengalahkan Tiat-ciang Hek-houw! Baik, kalau engkau
mampu menangkan aku, kalian boleh bertemu dengan ketua
kami, Toat-beng Hek-houw (Harimau Hitam Pencabut
Nyawa)!"
Kemudian dia berseru kepada teman-temannya yang masih
mengerumuni mereka. "Minggir kalian, beri kami lapangan
yang luas untuk bertanding!" Semua orang mundur dan kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua orang itu berhadapan, sama-sama tinggi besar bagaikan
dua orang raksasa yang sedang berlagak hendak mengadu
kesaktian. Petani Lai juga membawa A-seng untuk mundur
dan hanya menonton dari pinggiran. Dia percaya penuh akan
kemampuan kawannya, maka dia menonton dengan sikap
tenang saja. Sebaliknya A-seng yang kelihatan gelisah.
"Coba amati, siapa di antara mereka yang membunuh
keluargamu?" tanya Petani Lai perlahan kepada A-seng. Aseng
memandangi mereka itu lalu menggeleng kepalanya.
"Saya tidak tahu, Paman. Saya rasa para pembunuh itu
tidak berada di antara mereka walaupun baju mereka sama."
Jawaban ini membuat alis Petani Lai berkerut dan dia
merasa kecewa. Akan tetapi mungkin gerombolan pembunuh
itu masih berada di dalam perkampungan itu. Nelayan Gu
bertindak benar untuk minta bertemu kepalanya saja agar
dapat bicara dengan ketua mereka, karena kalau harus
mencari sendiri, tentu akan suka apalagi kalau para pembunuh
itu menyembunyikan diri.
"Aku sudah siap, engkau mulai lah Tiat-ciang Hek-houwl"
kata Nelayan yang telah melintangkan dayung bajanya di
depan dada.
"Bagus! Lihat golokku!" bentak wakil ketua Hek-houw-pang
itu dan diapun sudah menerjang ke depan, goloknya
membacok miring ke arah leher lawan. Tenaganya besar
sekali, hal ini dapat di-lihat dari gerakan golok besar yang
amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing.
"Singggg.....!" Golok meluncur dan menyambar ke arah
leher. Namun Nelayan Gu dengan tenangnya mengelak ke
belakang dan melintangkan dayung bajanya Menangkis.
"Trangggg.....!" Tampak bunga api berpijar ketika golok
bertemu dengan dayung baja. Kedua orang itu merasa tapak
tangan mereka yang memegang senjata tergetar hebat. Ini
menandakan bahwa kekuatan mereka seimbang. Keduanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melompat mundur dan memeriksa senjata masing-masing.
Ternyata senjata mereka tidak rusak dan Tiat-ciang Hek-uw
sudah menerjang maju lagi, kini goloknya membacok ke arah
kepala Nelayan Gu dari atas. Nelayan Gu melihat datangnya
golok yang berat dan tajam itu, cepat mengelak dengan
miringkan tubuhnya, sambil memutar dayung bajanya balas
menyerang dengan pukulan dari samping ke arah leher. Wakil
ketua Hek-houw-pang itu menangkis dengan goloknya.
"Tranggg.....!" Kembali bunga api berpijar dari pertemuan
kedua senjata ini. Nelayan Gu menjadi penasaran dia mainkan
dayung bajanya dengan dassyat, dayung itu berubah menjadi
seperti kitiran angin, menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Tiat-ciang Hek -houw terkejut dan diapun memutar golok
untuk melindungi diri sehingga tampak gulungan sinar
goloknya membentuk dinding menangkis, setiap ujung dayung
baja itu menyambar dekat.
"Trakk!" Golok itu tertahan oleh dayung dan seperti
melekat. Melihat kesempatan ini, Tiat-ciang Hek-houw
menggunakan tangan kirinya, dengan telapak tang terbuka dia
menghantam sambil mengerahkan ilmu dan tenaga Tiat-ciang
(Tangan Besi) yang kuat sekali. Melihat Nelayan Gu
melepaskan tangan kanan yang bersama tangan kiri
memegang dayung dan tangan kanan itu menyambut
hantaman tangan kiri lawan.
"Wuuutttt..... plakkk.....I!" Dua telapak tangan saling
bertumbukan di udara dan akibatnya, tubuh Tiat-ciang Hekhouw
huyung ke belakang. Dari pertemuan telapak tangan ini
saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenaga sin-kang (tenaga
sakti) wakil ketua Hek-houw-pang itu masih kalah setingkat!
Melihat pimpinan mereka terhuyung, lima belas orang anak
buah Hek-houw-pang segera melompat maju dan mengeroyok
dengan golok mereka! Petani Lai dan Nelayan Gu tidak
menjadi gentar dan mereka mengamuk sambil mencoba untuk
melindungi A-seng. Akan tetapi ternyata A-seng tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membutuhkan perlindungan. Ketika seorang pengeroyok
membacokkan goloknya ke arah kepalanya, dengan gerakan
yang gesit A-seng mengelak dan ketika golok menyambar ke
bawah, dia menggunakan tangan kanannya yang dimiringkan
untuk memukul pergelangan tangan lawan yang memegang
golok.
"Wuuttt..... plakk..... tranggg..!" Golok itu terlepas dari
pegangan dan cepat sekali A-seng sudah menyambar golok itu
dan diapun menangkis sambaran golok yang ditujukan
kepadanya. Pemuda remaja itu segera berkelahi melawan
seora anggauta Hek-houw-pang dan ternyata dia mampu
menandinginya.
Nelayan Gu dan Petani Lai mengamuk dan para
pengeroyoknya terdesak mundur. Namun mereka berdua
tetap bersikap sebagai orang gagah yang tidak mau
sembarangan membunuh sebelum tahu benar kesalahan
orang. Kesalahan Hek-houw-pa belum jelas, maka mereka
tidak mau membunuh atau membuat para pengeroyoknya
terluka parah, hanya menggertak saja dengan dayung baja
dan cangkul mereka.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring "Berhenti! Tahan
semua senjata!"
Mendengar bentakan ini, Tiat-cia Hek-houw dan anak
buahnya berlompat ke belakang. Nelayan Gu dan Petani Lui
juga menahan gerakan senjata mereka A-seng melompat ke
belakang mereka-sambil masih memegang golok rampasan.
Diam-diam Nelayan Gu dan Petani Lai merasa kagum juga
kepada pemuda remaja itu yang ternyata gagah dan memiliki
keberanian. Mereka memandang kepada orang yang
membentak tadi dan melihat seorang laki-laki berusia lima
puluh tahunn berdiri di situ dengan sikap berwibawa. Laki-laki
ini bertubuh tegap senang, mukanya yang persegi itu tampak
gagah, jenggotnya pendek dan rambutnya digelung ke atas
dan diikat dengan pita biru. Di punggungnya tergantung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebatang pedang dan pandangan matanya tajam sekali dan
kini mengamati Nelayan Gu dan petani Lai dengan penuh
selidik. .
Dengan sikap gagah, pria itu mengangkat kedua tangan
didepan dada lalu bertanya kepada Nelayan Gu dan Petani Lai.
"Siapakah sam-wi (kalian bertiga) dan mengapa pula berkelahi
dengan anak buah kami?"
Tahulah Nelayan Gu bahwa dia berhadapan dengan ketua
Hek-houw-pang, maka diapun membalas penghormatan itu
dan menjawab, "Maafkan kalau kami menimbulkan keributan
di sini, pangcu (ketua). Akan tetapi sesungguhnya kami tidak
bermaksud menimbulkan perkelahian. Kami datang untuk
bertemu dengan pangcu karena ada sesuatu yang penting
sekali ingin kami bicarakan dengan pangcu akan tetapi
saudara-saudara ini memaksa kami untuk beradu
kepandaian."
Hek-houw Pang-cu (Ketua Hek-hou pang) itu kelihatan
marah kepada anak buahnya. Dia bahkan menegur wakilnya
"Tiat-ciang (Tangan Besi), kenapa engkau bersikap demikian
terhadap tamu? Sepantasnya engkau persilakan mereka
bertemu dan bicara denganku. Maafkan, jikalau Kalau kalian
hendak bicara dengan aku, silakan masuk perkampungan
kami."
Biarpun mereka tahu bahwa tawaran masuk ke
perkampungan ini dapat berbahaya bagi mereka, namun
Nelayan Gu dan Petani Lai lidak merasa gentar dan dengan
gagah mereka mengikuti Ketua Hek-houw-pang yang berjuluk
Toat-bei Hek-houw (Harimau Hitam Pencabut Nyawa) itu
memasuki perkampungan. A-seng juga masuk dan pemuda
remaja ini tampak tabah dan tidak memperlihatkan rasa takut,
sehingga semakin senanglah hati Nelayan Gu dan Petani Lai
kepadanya.
Mereka dipersilakan duduk di ruangan dalam dan segera
hidangan makan minum dikeluarkan. Karena memang sehari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu mereka bertiga belum makan, maka suguhan itu tentu saja
mereka terima dengan senang hati.
"Sebelum kita bicara, mari kita makan dulu sebagai
sambutan kami terhadap tamu yang kami hormati." kata ketua
hek-houw pang yang tadi melihat betapa tiga orang tamunya,
terutama dua orang laki-laki gagah itu, memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan dia sendiri belum tentu akan mampu
menandingi mereka. Inilah sebabnya mengapa dia bersikap
hormat sekali.
Tanpa curiga Nelayan Gu dan Petani Lai makan minum
bersama tuan rumah. Mereka adalah orang-orang kang-ouw
yang sudah berpengalaman dan mereka akan tahu apabila
pihak tuan rumah bertindak curang, misalnya menggunakan
racun. Mereka yakin bahwa tuan rumah tidak akan
melakukaan kecurangan itu, karena mereka semua makan dari
tempat makanan yang sama, dan minum dari guci arak yang
sama pula. Setelah mereka selesai makan minum, ketua Hekhouw
Pang segera bertanya kepada para tamunya.
"Nah, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk bicara." Dia
memberi isarat kepada pelayan untuk membersihkan meja
dan mereka siap untuk bercakap-cakap. Setelah meja
dibersihkan, Nelayan Gu berkata sambil menatap tajam wajah
rumah.
"Pangcu, kami datang untuk minta keterangan kepadamu
tentang sepak terjang lima atau enam orang anggautamu
yang telah membantai sepuluh orang petani yang tidak
berdosa. Mengapa anak buahmu melakukan perbuatan yang
kejam tak berprikemanusiaan itu?"
Hek-houw Pang-cu membelalakkan matanya. "Apa? Anak
buah Hck-houw-pang tidak pernah melakukan pembantaian
terhadap petani!"
"Pangcu, kami bukan sekedar menuduh secara membabi
buta. Anak ini, A-seng menjadi saksinya. Sekeluarganya, yaitu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayah ibunya, dua orang saudaranya, dan Juga orang
pamannya berikut empat orang tetangganya semua dibunuh
oleh anak buah Hek-houw-pang. Hanya dia seorang yang
dapat meloloskan diri."
Ketua Hek-houw-pang itu mengerutkan alisnya, menoleh ke
kanan kiri seperti hendak bertanya kepada anak buahnya, lalu
memandang kepada A-seng dan beranya, "Anak muda,
bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa anak buah Hekhouw-
pang yang melakukan pembunuhan itu?"
"Karena aku melihat bahwa mereka Mengenakan baju yang
bagian dadanya tergambar seekor harimau hitam seperti yang
kalian pakai sekarang ini." kata A-seng dengan tabah.
"Akan tetapi tidak mungkin! Katakan, dusun mana yang
diserbu anak buah kami dan orang-orang apa yang terbunuh?"
"Bukan dusun, hanya sekelompok orang dengan tiga
pondok di tempat terpencil. Dan mereka yang terbunuh adalah
petani-petani miskin." kata pula A-seng.
"Lebih tidak masuk akal lagi! Membunuhi petani miskin?
Untuk apa? Kami akui bahwa kami suka menghadang para
hartawan dan bangsawan yang melakukan perjalanan melalui
wilayah kami dan kami minta pajak jalanan, kalau mereka
melawan kami mungkin membunuh mereka, juga kami
menguasai tempat-tempat pelesir dan tempat-tempat
perjudian \ kota-kota yang termasuk wilayah kami. Akan tetapi
membunuhi petani miskin Tidak pernah kami melakukan hal
itu Apalagi tanpa sebab!"
Melihat sikap dan mendengar kata kata ini, Nelayan Gu dan
Petani Lai dapat menerimanya. Nelayan Gu menoleh kepada
A-seng kemudian berkata kepada ketua Hek-houw-pang.
"Sebaiknya kumpulkan semua anak buahmu, pangcu, agar
A-seng dapat melihat dan meneliti untuk mengenal mereka
yang telah membantai keluarganya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, kalau memang ada anak buah yang melakukan
pembunuhan terhadap petani miskin, berarti dia melanggar
peraturan dan aku sendiri yang akan menghukum mereka!"
Tak lama kemudian semua anak buah Hek-houw-pang yang
jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu telah berdiri
berjajar di situ. Obor-obor dipasang untuk menerangi muka
mereka. Kemudian A-seng dipersilakan untuk meneliti mereka
satu demi satu. Anak itu tampak bingung setelah memeriksa
mereka dan setelah pemeriksaan itu berakhir, dia memandang
kepada Nelayan Gu dan Petani Lai sambil menggeleng
kepalanya.
"Saya tidak melihat mereka....." katanya ragu.
"Ha-ha-ha-ha, tentu saja engkau tidak dapat menemukan
mereka di antara anak buahku karena anak buahku tidak
mungkin melakukan pembunuhan itu."
"Hemmm,- kalau begini berarti ada orang-orang yang telah
menyamar sebagai anak buahmu, pangcu!" kata Petani Lai.
"Tentu ada orang-orang yang memusuhi Hek-houw-pang."
Hek-houw Pang-cu yang berjuluk Toat Beng Hek-houw itu
mengerutkan alisnya dan dia menepuk pahanya sendiri. "Tidak
salah lagil Ini tentu perbuatan kelompok Pek-eng-pang
(Perkumpulan Garuda Putih) di hutan cemara! Sudah lama
antara kami dan mereka terdapat permusuhan
memperebutkan wilayah. Tentu mereka yang menyamar
sebagai kami untuk memburukkan nama kami!"
"Hemm, kalau begitu sebaiknya kalau kami menyelidiki ke
sana. Jauhkah hutan cemara itu?" tanya Nelayan Gu kepada
Toat-beng Hek-houw.
"Tidak jauh, di puncak bukit depan itu," jawab ketua Hekhouw-
pang itu. "Akan tetapi sekarang malam telah tiba dan
perjalanan ke sana juga tidak mudah. sebaiknya kalau kalian
berangkat besok dan malam ini bermalam di sini sebagai tamu
kami."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih atas kebalkan dan keramahan pangcu
terhadap kami," kata Nelayan Gu.
"Ah, tidak mengapa, Gu-enghlong (pendekar Gu). Kami
suka membantu untuk membuktikan bahwa kami memang
tidak melakukan pembantaian itu." kata Hek-houw-pangcu.
Mereka bertiga bermalam di perkampungan Hek-houwpang
dan pada keesokan paginya, mereka berangkat menuju
ke bukit di depan. Perjalanan itu juga tidak mudah, namun
dapat mereka lakukan dengan cepat.
"Aneh juga kalau ada yang menyamar sebagai orang Hekhouw-
pang hanya untuk membunuh sepuluh orang petani itu.
Aku yakin ada sebab lain di balik semua ini. A-seng, yakinkah
engkau bahwa di antara para korban, orang tuamu, para
pamanmu dan tetanggamu itu tidak menyimpan sesuatu yang
amat berharga?"
A-seng mengerutkan alisnya dan berpikir, mengingat-ingat,
kemudian dia berseru, "Ah, mengapa aku lupa akan hal itu
Benar, tentu banyak yang menginginka benda itu kalau
mereka mengetahuinya."
"Benda apakah itu?" tanya Nelayan Gu dan Petani Lai
hampir berbareng dan rupanya tertarik sekali.
"Tiga tahun yang lalu, ketika ayah pergi mencari kayu di
dekat puncak, di kembali membawa sebatang pedang yang
sarungnya indah sekali, berukir gambar burung Hong, juga
gagang pedang itu menyerupai kepala burung Hong dari
emas. Pedang itu indah sekali, akan tetapi ayah
menyimpannya sebagai benda pusaka. Bahkan ketika saya
belajar silat, saya tidak boleh meminjam pedang itu."
"Ah, sebatang pedang pusaka bergagang emas? Ayahmu
seorang petani miskin, kenapa tidak mau menjual pedang itu
ke kota? Tentu akan mendapatkan uang banyak." kata Petani
Lai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ibu dan kami sudah membicarakan hal itu, akan tetapi
ayah tidak mau menjual benda itu. Katanya, di kota banyak
orang jahat dan ayah takut kalau-kalau pedang itu dirampas
orang."
"Dan ketika engkau memeriksa keadaan rumah, engkau
tidak menemukan pedang itu?" tanya Nelayan Gu.
A-seng menggeleng kepalanya. "Biasanya ayah menaruh
pedang itu dalam peti pakaian, akan tetapi sekarang pedang
itu tidak lagi berada di sana."
"Hernmm, kalau begitu pantas! Pedang itu dipakai
berebutan, tentu berita tentang pedang Itu telah bocor dan
sekarang aku tidak merasa heran mengapa mereka itu
dibunuh. Tentu untuk mendapatkan pedang itu dan kalau
begitu bukan tidak mungkin ada yang menyamar sebagai
angauta Hek-houw-pang, selain untuk menjatuhkan fitnah
atas nama Hek-houw-pang juga untuk menghilangkan jejak
Kalau para tokoh dunia kang-ouw (sungai telaga, dunia
persilatan) mendengar akan adanya pedang itu, terutamamereka
dari golongan sesat, tentu akan mencoba untuk
memperebutkannya. Akan tetapi, mengapa baru sekarang
engkau ceritakan kepada kami, A-seng?" tanya Petani Lai
sambil mengamati wajah pemuda rema Itu penuh selidik.
A-seng menghela napas panjang. "Maafkan saya, paman.
Karena bingung dan sedih oleh kematian ayah ibu dan semua
keluarga saya, maka saya sama sekali lupa akan pedang itu,
dan baru sekarang setelah paman berdua bertanya." A-seng
memandang, dengan menyesal sekali.
"Sudahlah," kata Nelayan Gu. "Setidaknya sekarang kita
mengetahui mengapa mereka dibunuh, tentu karena pedang
itu. Mari kita melanjutkan perjalanan dengan cepat. Kita
selidiki di sarang Pek-eng-pang lalu kita pulang ke Puncak
Awan Putih."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan tak lama
kemudian tibalah mereka di hutan cemara dan di tengah
hutan itu tampak sebuah perkampungan. Di depan pintu
gerbang terdapat papan nama perkumpulan itu ditulis dengan
huruf-huruf besar: PEK ENG PANG. Di dekat papan nama Itu
terdapat sebuah bendera yang bergambarkan seekor burung
garuda putih di atas dasar biru. Beberapa orang yang tampak
berada di sekitar pintu gerbang itu segera berlarian datang
menyambut tiga orang itu dengan pandang mata penuh
kecurigaan. Bahkan ada yang membunyikan sempritan
sehingga tidak lama kemudian, tiga orang itu telah dikepung
oleh belasan orang.
Seorang yang bertubuh tinggi kurus datang dan semua
orang memberi jalan kepadanya. Melihat ini saja Nelayan Gu
dan Petani Lai dapat menduga bahwa orang ini tentu pimpinan
mereka. Nelayan Gu melangkah maju mengangkat kedua
tangan untuk memberi hormat dan berkata, "Kami datang
untuk bicara dengan ketua Pek-eng-pang. Apakah engkau
ketuanya, sobat?"
Orang tinggi kurus itu memandag dengan penuh selidik,
lalu berkata dengan lantang. "Benar, aku adalah Pek-Eng
Pang-cu (Ketua Pek-eng-pang). Siapakah engkau dan ada
keperluan apakah hendak bicara denganku?"
"Aku adalah Nelayan Gu dan sahabatku ini adalah Petani
Lai dan anak itu bernama A-seng. Kami datang untuk bertanya
kepada pangcu apakah kemarin lalu ada anak buah pangcu
yang melakukan serangan dan membantai sepuluh orang
petani di balik bukit ini dan merampas sebatang pedang
pusaka bergagang burung Hong emas?"
Orang tinggi kurus itu mengerutkan alisnya. "Orang she Gu,
jangan sembarangan saja engkau bicara! Aku Cian Hok, ketua
Pek-eng-pang, bukan pemimpin perampok dan pembunuh
Kami bekerja sebagai piauwsu (pengawal pengkiriman barang)
dan selalu bertindak sebagai orang gagah, bagaimana engkau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berani melakukan tuduhan sembarangan kepada anak buah
kami?"
"Sebetulnya kami tidak mencurigai Pek-eng-pang, karena
yang melakukan pembantaian itu adalah orang-orang yang
mengenakan pakaian yang dadanya bergambarkan harimau
hitam."
"Ah! Kalau begitu orang Hek-houw-pang yang
melakukannya!" bentak ketua Pek-eng-pang yang bernama
Ciang Hok Itu.
"Tadinya kami juga menduga demikian," jawab Nelayan Gu,
"akan tetapi setelah kami menyelidiki ke sana, kami tidak
menemukan orang-orang yang melakukan pembunuhan itu.
Dan dari ketua Hek-houw-pang kami mengetahui bahwa Pekeng-
pang bermusuhan dengan Hek-Houw pang, maka
menurut keterangan ketua Hek-houw-pang, sangat boleh jadi
orang Pek-eng-pang yang menyamar sebagai anak buah Hekhouw-
pang dan melakukan pembantaian itu untuk
membumikan nama Hek-houw-pang."
"Keparat Si Toat-beng Hek-houw. Ini merupakan fitnah
yang hanya dapat dite-bus dengan darah! Dan engkau telah
mendengar hasutan mereka, lalu datang ke sini, mau apa?"
teriak Ciang Hok dengan marah.
"Kami hanya hendak mencari pembunuh-pembunuh keji
itu, dan karena kami tidak mempunyai permusuhan dengan
Pek-eng-pang, maka kami datang dengan baik menanyakan
kepadamu sebagai ketuanya."
"Aku katakan bahwa tidak ada anak buahku yang
melakukan pembunuhan itu! Yang kami bunuh hanya bangsa
perampok dan pencuri! Kedatangan kalian dengan tuduhan
anggauta kami yang melakukan pencurian pedang dan
pembunuhan merupakan penghinaan!"
"Kalau memang benar anak buahmi tidak ada yang
melakukan pembunuhan itu, sudahlah, kami juga tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memaksa kalian untuk mengaku. Kami akan pergi dari sini dan
tidak mengganggu kalian lagi." kata Nelayan Gu yang melihat
sikap dan bicara ketua Pek-eng-pang itu sudah merasa
percaya. Kaum piauw-su (pengawal barang kiriman) ini
agaknya tidak mungkin menyamar sebagai anggauta Hekhouw-
pang melakukan pembunuhan dan merampas pedang.
Tentu ada gerombolan lain yang melakukannya.
"Hemm, tidak begitu mudah kalian pergi dari sini setelah
menghina kami!" bentak Ciang Hok yang sudah marah sekali.
"Habis kalian mau apa?" tanya Petani Lai yang perangainya
lebih keras ketimbang rekannya.
"Kau baru boleh pergi setelah dapat menandingi sepasang
golokku ini!" Ciang Hok meraih ke belakang punggung dan dia
sudah melolos dua batang goloknya yang besar dan mengkilat
saking tajamnya.
"Nelayan Gu, biarkan aku yang menandinginya!" kata
Petani Lai sambil melangkah ke depan dan menggerakkan
cangkulnya, siap menandingi sepasang golok di tangan Ciang
Hok yang kini tampak galak itu karena marahnya. Dia merasa
dihina sekali dengan tuduhan bahwa anak buahnya telah
menyamar sebagai anak buah Hek-houw-pang, melakukan
pembunuhan terhadap petani dan mencuri pedang.
"Marilah, pangcu, kalau engkau ingin bermain-main
denganku, aku sudah siap menandingi sepasang golokmu!"
tantang Petani Lai.
"Baik, lihat sepasang golokku!" bentak Ciang Hok dan dia
sudah menerjang dengan dahsyatnya. Sepasang goloknya
berputar dan menyerang dari kedua jurusan dengan gerakan
menggunting. Petani Lai yang melihat datangnya serangan
yang dahsyat, tidak berani memandang rendah dan dia sudah
mengelak dengan langkah ke belakang dan begitu sepasang
golok itu menyambar lewat, dia menggerakkan cangkulnya
dari atas mencangkul ke arah kepala lawan! .
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wuuuttt..... tranggg....!" Cangkul itu bertemu dengan
sebatang golok, menimbulkan bunga api yang berpijar.
Keduan merasa betapa tangan mereka tergetar. akan tetapi
Ciang Hok mundur dua langkah, tanda bahwa dia masih kalah
kuat dalam hal tenaga sln-kang melawan Petani Lai. Akan
tetapi setelah golok kanannya menangkis, golok kirinya sudah
membacok ke arah lambung kanan Petani Lai. Kembali yang
diserang mengelak cepat, lalu membalas dengan ayunan
cangkulnya.
"Cringggg.....!" kembali bunga api berpijar dan keduanya
lalu saling serang dengan dahsyatnya. Nelayan Gu yang
menyaksikan pertandingan ini, menjadi semakin yakin bahwa
agaknya tidak mungkin orang-orang Pek-eng-pang ini yang
melakukan pembantaian. Dalam hal pertandingan ini saja
tampak kegagahan dan watak ketua Pek-eng-pang. Mereka
tidak melakukan pengeroyokan, tidak seperti orang-orang
Hek-houw-pang. Kalau memang mencurigai kedua kelompok
ini, tentu Hek-houw-pang yang lebih patut dicurigai.
Perkelahian itu berlangsung sampai lima puluh jurus dan
kini perlahan-lahan Petani Lai mulai mendesak lawannya.
Nelayan Gu melihat hal ini dan dia tidak mau kalau sampai
rekannya itu melukai lawan. Dia tidak ingin menanam
permusuhan dengan Pek-eng-pang. Oleh karena itu, ketika
cangkul Petani Lai mendesak hebat dan ketua Pek-eng-pang
itu mundur mundur mempertahankan diri, Nelayan Gu
melompat ke depan, menahan cangkul rekannya dengan
dayung bajanya dan berseru nyaring.
"Cukup sudah pertandingan ini!" Petani Lai maklum dan
diapun melompat ke belakang. "Ilmu kepandaian PeK eng
Pangcu cukup mengagumkan!" katanya dengan jujur tanpa
maksud mengejek karena walaupun dia mampu mendesak
lawan, namun agaknya akan makan waktu yang cukup lama
untuk mencapai kemenangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketua Pek-eng-pang itu menyimpan sepasang goloknya di
punggung dan dia memberi hormat, "Ilmu kepandaianmu
hebat dan aku mengaku kalah. Akan tetapi tetap saja kami
menyangkal keras kalau dikatakan bahwa kami menyamar
sebagai orang Hek-houw-pang, mencuri pedang dan
melakukan pembunuhan terhadap sepuluh orang petani!"
Kata-katanya tegas.
"Sudahlah, pangcu. Kalau memang anak buahmu tidak ada
yang melakukannya, kamipun percaya akan ucapanmu.
Maafkan kami dan biarkan kami pergi dari sini."
"Silakan, akan tetapi kami tetap akan nembikin perhitungan
kepada Hek-houw-pang yang telah menjatuhkan fitnah atas
diri kami!"
"Terserahlah kepadamu. Kami tidak mencampuri urusan di
antara kalian. Permisi!" Nelayan Gu lalu mengajak Petani Lai
dan A-seng untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Matahari telah condong ke barat ketika mereka tiba kembali
di Puncak Awan Putih. Cheng Hian Hwesio masih saja duduk di
atas batu besar seperti kemarin! agaknya batu besar yang
datar itu menjadi tempat kesukaan hwesio ini untuk
bersamadhi di luar pondok dan memang dari batu itu tampak
pemandangan alam yang luar biasa eloknya.
"Hemm, kalian telah pulang. Bagaimana hasil penyelidikan
kalian" tanyanya lembut kepada dua orang murid dan
pembantunya itu. Dua orang itu berlutut menghadap Cheng
Hian Hwesio dan A-seng juga berlutut di sebelah mereka.
Nelayan Gu lalu menceritakan semua pengalamannya
betapa mereka telah menguburkan semua jenazah mereka
yang terbantai, kemudian betapa mereka telah mendatangi
Hek-houw-pang dan Pek-eng pang.
"Teecu tidak mendapatkan bukti kedua perkumpulan itu
bahwa mereka yang telah melakukan pembantaian. Biar pun
A-seng ini mengatakan bahwa para pembunuh itu memakai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baju yang ada gambarnya Harimau Hitam, akan tetapi-dia
tidak menemukan orang-orang itu antara anak buah Hekhouw-
pang. Dari Hek-houw-pang kami mendapat keterangan
bahwa mungkin Pek-eng-pang yang telah sengaja menyamar
sebagai orang Hek-houw-pang, melakukan pembunuhan dan
mencuri pedang dari ayah A-seng Akan tetapi hal itupun tidak
dapat dibuktikan, bahkan Pek-eng-pang mengancam akan
membuat perhitungan dengan Hek houw-pang."
"Omitohud, urusan menjadi berlarut-larut. Kalau ada
pedang pusaka yang lenyap, maka sangat boleh jadi bahwa
yang melakukan pembunuhan itu adalah gerombolan
penjahat. Akan tetapi sudah-lah, kita tidak perlu mencampuri
urusan mereka. Anak muda, namamu A-seng?"
"Nama saya Coa Seng, biasa dipanggil A-seng, losuhu.
Sekarang ayah dan ibu dan semua keluarga saya telah tewas,
saya hidup sebatang kara, saya mohon sudilah losuhu
menerima saya sebagai murid untuk belajar ilmu agar kelak
saya dapat mencari para pembunuh keluarga saya." Setelah
berkata demikian, A-seng menangis lalu membenturbenturkan
kepalanya ke atas tanah sebagai penghormatan.
"Omitohud, pinceng tidak ingin mengambil murid, A-seng.
Lebih baik engkau segera pulang dan bekerja sebagai petani
melanjutkan pekerjaan orang tuamu."
Sambil menangis A-seng berkata, "Losuhu, saya telah
kematian orang tua, kematian semua keluarga, tidak memiliki
apa-apa lagi. Bagaimana saya dapat hidup seorang diri di
tempat sunyi itu, tanpa keluarga dan tanpa tetangga? Pun
saya ingin sekali memiliki ilmu kepandaian agar kelak dapat
mencari pembunuh keluarga saya."
"Omitohud, sungguh tidak baik menyimpan dendam dalam
hati. Apalagi mengajarkan ilmu untuk kelak dipakai membalas
dendam dan melakukan pembunuhan, tentu tidak akan
pinceng lalukan. Sudahlah, A-seng, engkau pergilah, pin ceng
tidak dapat menerimamu sebagai murid."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tangis A-seng semakin menjadi-jadi. Sambil sesenggukan
dia tetap berlutut dan berkata, "Saya tidak akan bangkit dan
akan berlutut di sini sampai mati sebelum suhu menerima
saya sebagai murid."
Nelayan Gu dan Petani Lai menghampiri.
"A-seng, engkau tidak boleh memaksa Suhu tidak mau
menerimamu sebagai murid!" kata Nelayan Gu.
"Benar, A-seng. Pergilah dan jangan memaksa!" kata pula
Petani Lai.
"Tidak, saya tidak mau pergi dari sini. saya tidak
mempunyai apa-apa dan siapa-siapa lagi di dunia ini. Saya
mohon lo-suhu menerima saya sebagai murid dan saya tidak
akan beranjak dari sini sebelum saya diterima sebagai murid."
kata anak itu kukuh dalam tangisnya.
"Sudahlah, mari kita tinggalkan dia!" terdengar suara
lembut Cheng Hian Hwesio. Tiga orang itu lalu meninggalkan
A-seng dan memasuki pondok. Dua orang pembantu itu
bekerja di belakang pondok mengurus tanaman sayur,
sedangkan Cheng Hian Hwesio bersamadhi dalam kamarnya.
Mereka bertiga tidak memperdulikan A-seng lagi.
Namun A-seng tetap berlutut menghadap batu besar dan
tidak bergerak pergi dari situ. Dia sudah mengambil keputusan
untuk berlutut di situ sampai mati kalau hwesio tua
itu tidak mau menerimanya menjadi murid. Malam tiba dan Aseng
tetap berlutut di tempat itu.
Malam itu gelap dan dingin sekali, hawa dingin menembus
pakaian dan kulit, nenyusup ke dalam tulang-tulang. Dapat
dibayangkan betapa dinginnya berada di luar rumah, di udara
terbuka. Namun, A-seng masih tetap berlutut seperti sore tadi,
menggigit bibir menahan rasa dingin yang membuat tubuhnya
menggigil.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dapat dibayangkan penderitaan yang dialami bocah itu.
Perutnya mulai berkruyuk minta diisi dan hawa dingin
membuat semua bulu di tubuhnya bangkit berdiri dan
tubuhnya menggigil. Namun dengan keras hati dia tidak
pernah bergerak dari tempatnya! Semalam suntuk itu dia
tetap berlutut dan pada keesokan harinya, ketika fajar
menyingsing hawa dingin menjadi hampir tak tertahankan lagi.
Giginya sampai berbunyi ketika di menahan hawa dingin dan
tubuhnya mengigil. Akan tetapi setelah matahari naik cukup
tinggi, hawa udara menjadi hangat dan nyaman, membuat
penderitaanny banyak berkurang walaupun dia merasa lapar
dan tubuhnya penat sekali karena sejak kemarin sore terus
dalam keadaan berlutut. Namun, dia sama sekali tidak
memperdulikan semua itu dan tetap berlutut.
Nelayan Gu dan Petani Lai sampai mengoyang-goyang
kepala melihat kekerasan hati pemuda remaja itu. Akan tetapi
Cheng Hian Hwesio yang melihat ini hanya diam dan
tersenyum saja.
Malam kedua tiba dan tetap A-seng masih berlutut di
tempat semula. Nelayan Gu dan Petani Lai merasa tidak tega
dan mereka mengantarkan makanan dan minuman sederhana
untuk A-seng.
"Ini makanan dan minuman, kau makan dan minumlah Aseng,
agar perutmu tidak kosong dan terserang hawa dingin
ang akan membuat engkau sakit," kata mereka.
Akan tetapi A-seng hanya menggeleng kepalanya dan tidak
bergerak. Makanan dan minuman itu ditinggal di situ, akan
tetapi pada keesokan harinya lagi makanan dan minuman itu
masih tetap berada di situ dalam keadaan utuh! Dan tubuh
pemuda remaja Itu mulai tampak lemah setelah lewat dua hari
dua malam.
"Suhu," mereka menghadap Cheng Hian Hwesio. "A-seng
masih tetap berlutut di luar. Teecu khawatir kalau dia jatuh
sakit." kata Petani Lai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud...... ketahanan yang luar biasa, kekerasan hati
yang mengagumkan, Biarkan saja, pinceng ingin melihat
sampai di mana kekuatannya." kata hwesio itu sambil
tersenyum menerima laporan kedua orang pembantu dan
muridnya.
Malam ke tiga merupakan malam penyiksaan bagi A-seng.
Tubuhnya sudah lemah dan kaku semua rasanya, perutnya
lapar sekali sehingga terasa menusuk nusuk nyeri. Namun dia
tetap bertahan dan ketika pada keesokan paginya Nelayan Gu
dan Petani Lai menengoknya, mereka mendapatkan pemuda
remaja itu masih dalam keadaan berlutut, akan tetapi dia telah
jatuh pingsan! Kalau dibiarkan pemuda ini tentu akan mati
dalam keadaan berlutut.
Ketika mereka melapor kepada Cheng Hian Hwesio, barulah
hwesio ini bangkit dan berjalan keluar mendengar bahwa
pemuda remaja itu berlutut dalam keadaan pingsan. Dia
menghampiri A-seng dan melihat keadaan pemuda itu, di
menggeleng kepalanya dan menghela napas.
"Omitohud, ingin pinceng mendengar apa akan kata Bubeng
Lo-jin melihat kenekatan anak ini." Dia lalu meraba
tubuh itu, menotok beberapa jalan darah.
A-seng mengeluh lirih dan siuman akan tetapi begitu
siuman tubuhnya terguling roboh telentang. Akan tetapi, dia
sudah berusaha pula untuk bangkit duduk dan berlutut lagi!
Cheng Hian Hwesio berkata kepada dua orang muridnya
yang juga mengikutinya keluar. "Angkat dia ke dalam dan
buatkan bubur cair untuknya."
Dua orang itu segera mengangkat tubuh A-seng, dibawa
masuk ke dalam pondok dan direbahkan ke atas sebuah
pembaringan.
"Tidur sajalah dan jangan banyak bergerak.
Permohonanmu telah dikabulkan suhu." kata Nelayan Gu
kepada A-seng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi ketika Cheng Hian Hwest masuk ke pondok
untuk melihat keadaan A-seng, anak itu lalu nekat turun dari
pembaringannya dan berlutut di depan kaki Cheng Hian
Hwesio.
"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi
kebaikan suhu yang telah menerima teecu sebagai murid." dia
lalu mencoba untuk memberi penghormatan dongan delapan
kali berlutut, akan tetapi tubuhnya terlampau lemah dan
diapun terguling roboh.
"Omitohud, cukuplah. Kekerasan hatimu yang membuat
engkau menjadi muridku . Mudah-mudahan saja kelak engkau
akan mempergunakan ilmu dari pinceng untuk kebenaran dan
keadilan dan tidak mempergunakan untuk kejahatan." Dengan
tongkatnya dia membantu A-seng berdiri dan mendorong anak
itu kembali rebah telentang di atas pembaringannya.
"Mengasolah sampai tubuhmu kuat dan sehat kembali."
kata Cheng Hian Hwesio yang lalu meninggalkannya.
A-seng memang memiliki tubuh yang kuat sekali. Dalam
dua hari saja kesehatannya telah pulih kembali dan ternyata
diapun seorang anak yang pandai membawa diri. Tanpa
diperintah dia membantu Nelayan Gu dan Petani Lai dengan
pekerjaan mereka sehari-hari, bahkan kini dialah yang
mengerjakan pekerjaan yang berat untuk keperluan mereka
berempat. Mengambil air, mencari kayu bakar membersihkan
pondok dan halamannya juga membantu pekerjaan di ladang.
Karena merasa kasihan akhirnya Cheng Hian Hwesio mulai
mengajarkan ilmu silat kepadanya dan ternyata pemuda
remaja itu memiliki bakat yang baik sekali. Juga dia telah
memiliki dasar yang kuat, pernah mempelajari ilmu sllat dari
guru yang baik, sehingga dasarnya tepat dan mudah
menerima pelajar yang lebih tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid VII
8EMENTARA ITU, Han Lin juga digembleng oleh Bu-beng
Lo-jin di Puncak Bambu, sebutan puncak di mana dia tinggal
karena puncak itu ditumbuhi banyak bambu dari berbagai
jenis. Karena sudah lima tahun lamanya digembleng ilmu silat
oleh Gobi Sam-sian, maka Han Lin memiliki dasar yang amat
kuat dan yang sealiran dengan pelajaran ilmu silat Bu-beng
Lo-jin. Setiap bulan sekali Han Lin mendaki Puncak Awan Putih
untuk belajar ilmu silat dari Cheng Hian Hwesio seperti telah
dijanjikan hwesio itu. Tiga hari dia mempelajari teorinya dan
dilatih ketika dia kembali ke Puncak Bambu.
Karena sering datang belajar di Puncak Awan Putih, dengan
sendirinya Han Lin menjadi sahabat baik dari A-seng. A-seng
adalah murid Cheng Hian Hwesio, maka masih terhitung
saudara seperguruannya dan karena A-seng berusia enam
belas tahun, setahun lebih tua dari Han Lin, maka Han Lin
menyebutnya suheng (kakak seperguruan) dan A-seng
menyebut sute (adik laki-laki seperguruan) kepada Han Lin.
Sikap A-seng yang ramah dan rendah hati membuat Han Lin
suka bersahabat dengannya, bahkan seringkali dua orang
pemuda ini berlatih bersama. Han Lin juga seorang pemuda
yang pandai membawa diri. Setiap kali berlatih dengar A-seng,
dia tidak pernah memainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari
Bu-beng Lo-jin, melainkan berlatih dengar ilmu yang
dipelajarinya dari Cheng Hian Hwesio sehingga A-seng dapat
mengimbanginya dengan ilmu yang sama.
Dari Cheng Hian Hwesio, mereka menerima pelajaran
beberapa macam ilmu silat. Hwesio sakti itu mengajarkan
permainan senjata tongkat bambu yang disebut In-liong-tunghoat
(Ilmu Tongka Naga Awan) yang gerakannya lembut
seperti gerakan awan tertiup angin, namun dahsyat seperti
amukan seekor naga. Juga hwesio itu mengajarkan ilmu silat
tangan kosong yang dasarnya dari ilmu silat Liong-kun (Silat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Naga) dari Siauw-n-pai, yaitu yang disebut Sin-liong-cianghwat
(Silat Tangan Kosong Naga Sakti). Dua macam ilmu ini
lebih dulu jajarkan dan setiap bulan sekali kalau dia datang ke
Puncak Awan Putih, Han Lin tentu berlatih bersama A Seng
dalam dua macam ilmu silat itu. Ternyata keduanya memiliki
bakat besar. Bahkan dalam hal sin-kang (tenaga sakti) dan
gin-kang (ilmu meringankan tubuh) kedua nya juga seimbang.
Melihat kemajuan dua orang muridnya, Cheng Hian Hwesio
merasa gembira sekali.
Pada suatu hari, seperti biasa Han Lin datang menghadap
Cheng Hian Hwesio dan mendengarkan petunjuk-petunjuk
Cheng Hian Hwesio untuk menyempurnakan gerakan In-liongtung-
hoat.
"Berlatihlah sebaiknya dengan A-seng agar kalian bersamasama
mendapat kemajuan," kata Cheng Hian Hwesio sambil
memandang wajah cucu buyut keponakan tu. Dia dapat
membayangkan persamaan antara wajah Han Lin dan wajah
Kaisar Cheng Tung. Dahinya yang sama lebar, mata yang
tajam mencorong penuh kewibawaan.
"Baik, losuhu."
"Nah, sekarang carilah A-seng. Mungkin dia sedang
mengerjakan pencabut rumput di ladang sayur. Akan tetapi
tidak apa, ajaklah dia untuk berlatih, sendiri mendapat
kesempatan baik kalau berlatih denganmu daripada dengan
dua orang suhengnya yang jauh lebih tua."
Han Lin lalu mencari A-seng di belakang pondok dan benar
saja, pemuda itu sedang mencabuti rumput di ladang sayur
sawi. Tanpa diminta Han Lin cepat membantunya dan setelah
selesai, keduanya lalu pergi ke lapangan rumput di dekat
ladang untuk berlatih silat.
"Kita berlatih In-liong-tung-hoat, suheng. Ada beberapa
gerakan yang kurasakan masih sulit." kata Han Lin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku yang mendapat bimbingan kedua orang suheng
Nelayan Gu dan Petani Lai juga masih mengalami kesulitan,
sute. Memang In-liong-tung-hoat merupakan ilmu tongkat
yang sukar dipelajari, banyak perkembangannya yang harus
kita buat sendiri."
Keduanya lalu mengambil dua batang pangkat bambu dan
mulailah mereka bertanding untuk berlatih. Gerakan kedua
orang muda yang kini usianya sudah tujuh belas tahun itu
cepat dan Juga bertenaga. setiap kali tongkat mereka
bertemu, Berasa getaran dari beradunya dua tenaga yang
dahsyat.
Setelah berlatih tongkat, mereka lalu berlatih ilmu silat
tangan kosong Sin-long Ciang-hoat (Silat Tangan Kosong paga
Sakti) dan kembali keduanya bergerak cepat dan mantap
sekali. Setiap gerangan mendatangkan angin mengiuk dan
tangan mereka bergerak sedemikian cepatnya sehingga
tampaknya mereka memiliki lebih dari dua tangan!
Keringat membasahi leher mereka, ketika mereka berhenti
berlatih. Sambil mengusap keringat di leher dengan ujung
lengan bajunya Han Lin bertanya.
"Suheng, setelah engkau selesai belajar Ilmu kepada suhu,
apa yang akan kau- kerjakan?"
Mendapat pertanyaan itu, yang datangnya tiba-tiba dan
tidak disangkanya sama sekali, A-seng menatap wajah Han Lin
dengan tajam dan dia lalu menundukkan mukanya, menghela
napas panjang menjawab.
"Kalau aku telah selesai belajar suhu menyuruhku turun
gunung, yang pertama-tama kukerjakan adalah menyelidiki
dan mencari para pembunuh keluarga ku."
"Ah, suheng. Bukankah losuhu telah mengajarkan bahwa
tidak baik bagi kita untuk mendendam, dan perbuatan yang
lahir dari dendam adalah kekejaman dan kejahatan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
A-seng memandang wajah Han Lin dan tersenyum. "Aku
tidak mendendam sute. Akan tetapi aku percaya bahwa orangorang
yang sudah melakukan kekejaman seperti itu,
membantai sepuluh orang yang tidak berdosa, tentu akan
tetap menjadi manusia-manusia jahat yang perlu dibasmi.
Kalau aku membasmi mereka, bukan karena mendendam
melainkan untuk membasmi kejahatan seperti yang diajarkan
suhu. Dan engkau sendiri, sute? Apa yang akan kau lakukan
setelah engkau selesai berguru?"
Han Lin tidak menjawab, melainkan termenung dan
beberapa kali menghela napas panjang.
"Sute, semenjak kita berkenalan dan menjadi saudara
seperguruan, aku belum pernah mendengar tentang
riwayatmu. Engkau sendiri sudah tahu akan riwayat-ku.
Seluruh keluargaku terbunuh oleh orang-orang jahat. Aku
hidup sebatang kara dan ditolong oleh suhu. Akan tetapi
bagaimana dengan engkau? Aku yakin engkau mempunyai
riwayat yang menarik karena aku melihat engkau bukan
seperti orang muda biasa. Ataukah engkau belum percaya
kepadaku sehingga tidak mau menceritakan riwayatmu
kepadaku?"
"Bukan begitu, suheng, akan tetapi...."
"Akan tetapi apakah, sute? Sudahlah, kalau engkau tidak
percaya kepadaku, jangan ceritakan dan biarlah engkau tetap
merupakan seorang yang penuh rahasia bagiku."
"Losuhu sendiri tidak pernah mendengar tentang riwayatku,
juga belum pernah bertanya. Akan tetapi suhu Bu-beng Lo-jin
tentu saja sudah mendengarnya dari ketiga suhu Gobi Samsian.
Aku tidak ingin orang lain mengetahui riwayatku......."
"Hemm, akan tetapi aku bukan orang lain, sute. Aku adalah
suhengmu, bukan? Atau...... engkau tidak menganggap aku ini
suhengmu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin merasa tersudut dengan ucapan A-seng itu.
Walaupun ucapan itu di keluarkan dengan ramah dan lembut
namun menyudutkannya dan membuat dia tidak berdaya
untuk mengelak lagi.
"Baiklah, biar engkau mendengar pula riwayatku, akan
tetapi engkau harus berjanji dulu tidak akan menceritakan
kepada orang lain."
Dengan sikap lucu A-seng bangkit berdiri dan mengangkat
kedua tangan depan dada seperti memberi hormat dan
berkata, "Aku berjanji, demi Bumi dan Langit, tidak akan
membuka rahasiamu, sute."
"Baiklah. Nah, dengarlah. Namaku yang sesungguhnya
bukan Han Lin melainkan Cheng Lin."
"Bukan she Han melainkan she Cheng? Akan tetapi
mengapa harus diganti dengan she Han?"
"Agar orang tidak mengetahui bahwa she Cheng, bahwa
aku adalah putera Kaisar Cheng Tung."
A-seng melompat dari tempat duduknya dan berdiri
terbelalak memandang kepada Han Lin. "Putera Kaisar Cheng
Tung? Ah, kalau begitu engkau adalah seorang pangeran! Ah,
aku tidak tahu, maafkan." Dia lalu menjatuhkan dirinya
berlutut di depan Han Lin.
"Hushh! Apa-apaan engkau ini? Dengan sikapmu itu sama
saja engkau hendak mengatakan kepada semua orang siapa
diriku!" tegur Han Lin.
Mendengar teguran ini, A-seng bangkit berdiri lagi.
Sikapnya kini berubah menjadi menghormat sekali, bahkan
memandangpun tidak berani langsung ke wajah Han Lin.
"Duduklah dan jangan bengong begitu," kata Han Lin.
"Atau engkau tidak ingin mendengar riwayatku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maaf, tentu saja aku mau mendengarnya. Harap
lanjutkan." Nada suaranya juga penuh hormat.
"Ibuku adalah seorang Puteri Mongol. Belasan tahun yang
lalu, Kaisar Che Tung pernah menjadi tawanan bangsa Mongol
selama hampir dua tahun ketika itu dia bertemu dengan ibuku
mereka lalu menikah. Sebelum aku di lahirkan, ayahku itu
kembali ke selatan dan menjadi kaisar, ibu menanti-nanti
penjemputan ayah yang tak kunjung datang. Yang muncul
malah seorang datuk jahat sekali berjuluk Huang-ho Sin-liong
(Naga Sakti Sungai Huangho) bernama Suma Kiang. Penjahat
itu menculik ibu dan aku, dan kami dibawa lari ke selatan.
Kami ditolong oleh ketiga suhu Gobi Sam-sian dan dibawa lari
ke Pao-touw. Ibu dan aku tinggal di Pao-touw, akan tetapi ibu
telah menjadi gagu karena menggigit putus lidahnya sendiri
ketika hendak diperkosa Suma Kiang sebelum ditolong Go-bi
Sam-sian."
"Hemm, betapa jahatnya Suma Kiang itu!" kata A-seng
dengan gemas.
"Memang dia jahat sekali. Ketika aku berusia sepuluh
tahun, muncul lagi Suma Kiang bersama seorang wanita yang
menurut keterangan ketiga suhu Go-bi Sam-sian kemudian
adalah Sam Ok yang terkenal sebagai datuk sesat yang lihai.
Kiranya tempat persembunyian kami diketahui oleh Suma
Kiang! Kami dikejar-kejar. Go-bi Sam-sian membela kami akan
tetapi mereka kalah oleh dua orang datuk sesat itu. Ibuku
yang hendak ditangkap Suma Kiang meloncat ke dalam jurang
yang amat dalam!"
"Aduh kasihan ibu paduka......!"
Han Lin memandangnya dengan sinar mata menegur.
"Kasihan sekali ibumu, sute.....!" A-seng berkata lagi,
biarpun agak kaku menyebut sute kepada "pangeran" itu.
"Aku dijadikan perebutan antara Suma Kiang dan Sam Ok.
Lalu muncul Toa Ok dan Suma Kiang melarikan diri. Kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku menjadi rebutan antara Toa Ok dan Sam Ok, lalu
muncullah suhu Bu-beng Lo jin yang mengalahkan dan
mengusir mereka."
"Suhumu itu sakti bukan main. Tapi.. heran siapa yang
lebih sakti di anta suhumu dan suhu kita di sini."
"Setelah itu, suhu Bu-beng Lo-jin menyusul Go-bi Sam-sian
dan mengobati mereka, bahkan suhu It-kiam-sian kehilangan
lengan kanannya ketika bertanding melawan Sam Ok. Oleh
suhu Bu-beng Lojin aku lalu diserahkan kepada ketiga suhu
Go-bi Sam-sian untuk dididik selama lima tahun. Setelah lima
tahun ketika suhu itu membawa aku ke Puncak Bambu dan
menyerahkan aku kepada suhu Bu beng Lo-jin."
"Paduka..... eh, engkau beruntung sekali dapat menjadi
murid Bu-beng Lojin dan juga murid suhu. Akan tetapi setelah
nanti engkau selesai belajar sini dan turun gunung, apa yang
aka kau lakukan, sute? Apakah engkau juga akan membalas
dendam kepada musuh musuhmu terutama kepada Suma
Kiang yang menyebabkan kematian ibumu? apakah engkau
juga akan mencari menyusul ayahmu di kota raja?"
"Kalau aku bertemu dengan Suma Kiang dan manusia itu
masih jahat seperti dulu, aku tentu akan membasminya.
Orang macam dia itu amat berbahaya bagi manusia dan
dunia. Juga orang-orang seperti ketiga Sam Ok itu akan
kutentang. Tentang menyusul ayahku...... aku masih belum
mengambil keputusan tetap, akan tetapi ingin juga aku
berhadapan dengan ayahku untuk menegurnya mengapa dia
tidak menyuruh jemput ibuku dan membiarkan ibu hidup
merana."
"Akan tetapi, sute. Andaikata engkau -dapat menghadap
Kaisar Cheng Tung, bagaimana engkau dapat mengatakan
bahwa engkau adalah puteranya? Apa buktinya?"
"Buktinya? Buktinya adalah ini!" Han Lin mengeluarkan
Suling Pusaka Kemala yang tidak pernah terpisah dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
badannya, selalu diselipkan di pinggang dan dibawa ke
manapun dia pergi.
A-seng memandang suling itu dengan mata terbelalak
kagum. "Ah, betapa indahnya!" katanya dan otomatis dia
mengulurkan tangannya. Han Lin menyerahkan suling itu
kepadanya dan A-seng mengamatinya dengan penuh
perhatian. "Sebuah pusaka yang indah sekali!" katanya
mengagumi ukiran naga pada suling kemala itu.
"Dapatkah engkau memainkannya, sute?"
"Aku masih ingat betapa ibuku memainkan suling itu,
meniup sebuah lagu Mongol." kata Han Lin. Memang seringkali
dia, selagi seorang diri, meniup suling itu dan meniru lagu
yang pernah dimainkan ibunya sehingga dia menjadi hafal.
"Tentu indah sekali! Maukah engkau memainkan lagu itu
untukku, sute?"
Han Lin segera meniup suling dan memainkan lagu "Suara
hati seorang gadis-yang dia hafal lagunya akan tetapi tidak
tahu apa judulnya. A-seng melihat dan mendengarkan dengan
penuh perhatian dan setelah Han Lin selesai memainkan
suling itu, dia bertepuk tangan memuji
"Hebat sekali! Indah sekali, sute?" katanya.
Pada saat itu, terdengar seruan lembut. "Omitohud.......!"
Dua orang pemuda itu menoleh dan mereka segera
menjatuhkan diri berlutut ketika melihat bahwa yang datang
adalah Cheng Hian Hwesio.
"Suling apakah yang kau pegang dan lagu apakah yang kau
mainkan tadi, Han Lin?"
Han Lin tidak dapat berbohong. "Ini suling pemberian
mendiang ibu teecu, losuhu. Dan lagu itupun teecu pelajari
dari mendiang ibu teecu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cheng Hian Hwesio menghela napas panjang. "Omitohud.
Pusaka warisan harus disimpan dengan baik dan tidak boleh
sembarangan diperlihatkan dan diceritakan kepada orang
lain."
Han Lin merasa bersalah, akan tetapi karena sudah
terlanjur, diapun berkata, "Maaf, losuhu. Suheng A-seng
bukanlah orang lain, melainkan suheng teecu sendiri."
"Baiklah, akan tetapi jangan sekali kali membuka rahasia
warisan orang tua kepada orang lain. Pula, engkau bicara
tentang mendiang ibumu. Siapa yang bilang bahwa ibumu
sudah meninggal dunia?"
"Losuhu, ibu terjatuh ke dalam jurang yang tidak tampak
dasarnya saking curamnya. Tidak mungkin orang terjatuh ke
jurang seperti itu tidak menjadi tewas."
"Omitohud, apakah ada buktinya bahwa ibumu sudah
tewas?"
Han Lin tertegun, dan menggeleng kepalanya. "Memang
belum ada buktinya losuhu. Akan tetapi bahkan suhu Bu-beng
Lo-jin sendiri mengatakan bahwa tidak mungkin orang
terjatuh dan tempat setinggi itu dapat terbebas dari kematian.
"
"Omitohud, suhumu terlalu memandang rendah kekuasaan
dari Yang Maha Kuasa. Pinceng juga tidak dapat mengatakan
apakah ibumu masih hidup, akan tetapi sebelum melihat
buktinya, sebaiknya jangan membicarakan ibumu seperti
orang yang sudah mati."
"Baik, losuhu, dan maafkan kesalahan teecu."
"Sudahlah, sekarang lebih baik kalian berlatih lagi, pinceng
ingin melihat kemajuan kalian."
"Suhu menghendaki kami berlatih silat apakah?" tanya Aseng
kepada gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Coba kalian berlatih silat tangan kosong, karena silat
tangan kosong merupakan dasar dari segala macam ilmu silat
bersenjata. Pinceng ingin melihat sampai di mana kemajuan
kalian dalam ilmu silat tangan kosong."
"Akan tetapi, suhu. Bagaimana dapat dilihat kemajuan
masing masing kalau kami berdua melakukan ilmu silat tangan
osong yang sama? Kami sudah saling mengenal gerakan
masing-masing. Berbeda kalau kami berlatih dengan ilmu ilat
yang berbeda, baru dapat dilihat kemajuan masing-masing."
kata A-seng.
"Benar juga pendapatnm, A-seng. Han Lin, berlatihlah
bersama A-seng dengan menggunakan ilmu silat tangan
kosong seperti yang kau pelajari dari Go-bi Sam-sian atau Bubeng
Lo-jin."
"Baik, losuhu." jawab Han Lin dengan patuh.
"Nah, mulailah." kata pula Cheng Hian Hwesio sambil
duduk di atas batu besar, siap menonton kedua orang murid
itu berlatih.
"Mulailah, sute. Aku sudah siap!" kata A-seng dan nada
suaranya gembira sekali.
"Baik, suheng. Lihat seranganku!" Han Lin lalu menyerang,
tidak lagi menggunakan ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat yang
diajarkan hwesio itu, melainkan menyerang dengan ilmu silat
Ngo-heng Sin kun (Silat Tangan Kosong Lima Unsur yang
diajarkan oleh Bu-beng Lo-jin. A seng segera menyambutnya
dengan mengelak dan selanjutnya dia membalas dan bersilat
dengan ilmu silat Sin-liong Ciang hoat (Silat Tangan Kosong
Naga Sakti) yang diajarkan oleh Cheng Hian Hwesio.
Mereka lalu saling serang dengan hebatnya. Akan tetapi
tentu saja keadaan Han Lin lebih untung. Pemuda ini sudah
mengenal gerakan Sin-liong Ciang hoat yang juga
dipelajarinya dan dia mengerti ke arah mana A-seng akan
menyerang. Sebalikny A-seng sama sekali tidak mengenal Ngo
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
heng Sin-kun sehingga kalau Han Lin menyerangnya, dia
harus waspada sekali karena dia tidak tahu perubahan pada
ilmu silat itu. Ilmu silat Ngo-heng Sin kun berdasarkan
bekerjanya Ngo-heng (Lima Unsur), yaitu tanah, air, api, kayu
dan logam yang saling menunjang dan saling menundukkan.
Perubahannya banyak sekali dan A-seng menjadi bingung
dengan perubahan-perubahan gerakan ilmu silat itu.
Sebaliknya, Han Lin yang sudah mempelajari Sin-liong Cianghoat,
tentu saja dapat berjaga diri dengan baik terhadap
serangan jurus-jurus ilmu silat ini. Keadaannya menjadi tidak
berimbang dan setelah terdesak, dalam jurus ke dua puluh
lima dada A-seng kena dorongan tangan Han Lin dan dia jatuh
terjengkang. Tentu saja Han Lin tidak menggunakan tenaga
sepenuhnya dan tidak pula memukul melainkan hanya
mendorong dengan tenaga terbatas sehingga A-seng tidak
menderita luka. Hanya yang mengherankan hati Han Lin,
mengapa gerakan A-seng terasa lambat sekali sehingga
dorongannya itu tidak dapat ditangkis atau dielakkan.
"Ah, maaf, suheng.....!" kata Han Lin sambil membantu Aseng
bangun.
"Tidak mengapa, sute. Ilmu silatmu tadi hebat sekali!" Aseng
memuji sambil tersenyum.
Cheng Hian Hwesio mengerutkan alisnya. "A-seng,
gerakanmu tadi terlambat sehingga engkau terkena dorongan
Han Lin. Andaikata gerakanmu tidak demikian lambat, tentu
engkau masih dapat mengelak atau menangkis."
"Suhu, gerakan kaki tangan sute demikian rumit dan aneh
perubahannya sehingga teecu menjadi bingung."
"Hemm, engkau harus belajar lebih giat lagi." kata Cheng
Hian Hwesio dan diapun masuk ke dalam pondok dengan alis
berkerut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah hwesio itu memasuki pondo Han Lin berkata,
"Suheng, maafkan aku. Doronganku tadi membuat engkau
ditegur oleh losuhu."
"Tidak mengapalah, sute. Memang aku harus belajar lebih
keras lagi agar dap memperoleh kemajuan. Mari kita latihan
lagi, sute. Sekarang kita mempergunaka senjata. Aku akan
mainkan In-Iiong-tung hoat (Ilmu Tongkat Naga Awan) dan
engkau boleh memainkan ilmu silat senjata yang kau pelajari
dari Bu-beng Lojin."
"Baik, suheng. Aku akan mempergunakan tongkat bambu
sebagai pedang dan mainkan Leng-kong-kiam-sut (Ilmu
Pedang Sinar Dingin) yang kupelajari dari suhu."
"Bagus, dengan demikian kita dapat lebih cepat
memperoleh kemajuan."
Dua orang pemuda Itu lalu berlatih silat dengan
mempergunakun tongkat bambu. Akan tetapi berbeda dengan
tadi, mereka bersilat dengan dua macam ilmu silat, bahkan
Han Lin bermain silat pedang yang tentu saja berbeda jauh
dengan ilmu silat tongkat yang dimainkan A-seng. Dengan
memainkan dua macam Ilmu silat ini dengan sendirinya
pertandingan itu menjadi lebih ramai dan me-reka juga
bersilat dengan lebih hati-hati. Terutama sekali bagi A-seng
yang tidak Mengenal ilmu pedang yang dimainkan Han Lin.
Dia harus waspada sekali karena tidak tahu perubahan
gerakan pedang bambu di tangan Han Lin. Dia melawan matimatian
dengan ilmu tongkat In-Iiong-Tung-hoat (Ilmu Tongkat
Naga Awan). Akan tetapi seperti juga tadi, Han Lin mendapat
lebih banyak kesempatan untuk mendesak A-seng karena dia
sudah tau akan perubahan gerakan ilmu tongkat In Liongtung-
hoat itu, sebaliknya A-seng sama sekali tidak tahu dan
tidak mengenal gerakan ilmu pedang Leng-kok-kia sut (Ilmu
Pedang Sinar Dingin) yang mainkan Han Lin.
Akan tetapi lima puluh jurus kemudian tongkat bambu yang
dimainkan sebagai pedang di tangan Han Lin memukul pundak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kirinya, Han Lin merasa bahwa gerakan A-seng kurang cepat
sehingga dapat "terbacok" pedang.
"Wah, ilmu pedangmu juga hebat sute! Aku menerima
kalah!"
"Suheng, hal ini karena aku sudah ngenal baik ilmu
tongkatmu sedangkan engkau sama sekali tidak pernah
mengenal ilmu pedangku."
"Mulai sekarang sebaiknya kita berlatih secara rajin sute.
Dengan demikian aku dapat memperoleh kemajuan dalam
ilmu yang kupelajari. Engkaupun dapat memperoleh kemajuan
dalam ilmu-ilmu yang kau dapatkan dari Bu-beng Lo-jin."
"Baiklah, suheng. Kalau memang engkau dan juga losuhu
menghendaki demikian, tentu saja aku suka sekali agar dapat
saling memajukan ilmu yang kita pelajari."
Setelah Han Lin pulang ke Puncak Bambu, meninggalkan
Puncak Awan Putih, dan A-seng menghadap Cheng Hian
Hwesio, dia berkata dengan suara biasa seperti membuat
laporan. "Teecu senang sekali dapat berlatih dengan sute Han
Lin yang mempergunakan Ilmu-ilmu yang dia pelajari dari Bu
beng Lo-jin. Teecu sudah berlatih ilmu tongkat Sin-liong-tunghoat,
dilawan sute dengan ilmu pedang yang disebut Lengkong-
kiam-sut. Wah, hebat sekali ilmu pedangnya itu, suhul
Teecu dapat bertahan sampai lima puluh jurus dan akhirnya
terkena bacokan pada pundak kiri teecu. Memang hebat
sekali. Pantas saja sute Han Lin berkali-kali mengatakan
bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Bu-beng Lo-jin
merupakan ilmu pilihan dan nomor satu di dunia persilatan,
tidak mungkin ada yang mampu menandinginya!"
"Omitohud, begitukah yang dikatakan Han Lin?" kata Chcng
Hian Hwesio sambil mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi sute Han Lin mengatakan demikian bukan
untuk menyombongkan diri, suhu. Dia hanya mengatakan
yang sebenarnya. Mulai sekarang teecu akan berlatih secara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
demikian dengan dia. Dia memainkan ilmu ilmu yang
didapatinya dari Bu-beng Lojin dan teecu memainkan ilmuilmu
dari suhu. Dengan demikian, tentu teecu akan
memperoleh kemajuan pesat."
Kerut merut di antara alis Cheng Hian Hwesio semakin
mendalam.
"A-seng, apakah engkau merasa bahwa selama menjadi
murid pinceng engkau tidak memperoleh kemajuan dalam
ilmu silatmu?"
A-seng memandang kepada suhunya dengan mata
terbelalak. "Ah, tentu saja teecu tidak «merasa begitu, suhu!
Teecu telah memperoleh kemajuan besar, dan terima kasih
atas semua jerih payah dan kebaikan hati suhu! Akan tetapi
dibandingkan sute Han Lin, memang teecu masih kalah. Hal ini
mungkin karena teecu memang kalah berbakat dibandingkan
sute Han Lin. Dan teecu tidak merasa penasaran kalau kalah
olehnya."
"Engkau tidak perlu kalah olehnya, A-seng. Tidak ada ilmu
yang tidak terkalahkan di dunia ini. Juga ilmu-ilmu yang
diajarkan oleh Bu-beng Lo-jin bukannya tidak terkalahkan.
Sekarang perhatikan baik-baik, engkau harus memperdalam
ilmu silat tangan kosong Sin-liong Clung-hoat dan ilmu tongkat
In liong Tung-hoat dengan mempelajari inti-intinya yang
tersembunyi dari pinceng. Setelah itu, pinceng akan
mengajarkan ilmu It yang-ci yang pinceng rahasiakan dan
belum pernah pinceng ajarkan kepada siapapun juga. Pinceng
hanya akan mengajarkannya kepadamu."
A-seng terbelalak memandang kepada wajah suhunya.
"Apakah suhu juga tidak akan mengajarkannya kepada sute
Han Lin, suhu?"
Cheng Hian tampak ragu-ragu, akan tetapi kemudian
menggeleng kepala. "Juga tidak karena dia sudah mendapat
banyak ilmu silat dari Bu-beng Lo-jin.ia telah sempurna semua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu-ilmu yang kau pelajari , baru pinceng akan mengajarkan
Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih) kepadamu?"
"Hoat-sut (Ilmu Sihir)?"
"Ya, ilmu sihir. Akan tetapi ilmu sihir yang bersih, bukan
untuk melaksanakan kejahatan, melainkan untuk menolak
segala macam ilmu sihir yang hitam."
Tentu saja A-seng merasa senang bukan main, akan tetapi
dia menahan dan tidak memperlihatkan perasaannya pada
wajahnya.
"Teecu akan menaati semua petunjuk suhu dan akan
mempelajari dengan tekun."
Hati Cheng Hian Hwesio terbakar. Dia merasa penasaran
sekali karena seolah dia merasa direndahkan, lebih rendah
dari Bu-beng Lo-jin! Beginilah kerjanya nafsu. Biarpun Cheng
Hian Hwesio telah menjadi pendeta dan pertapa sejak puluhan
tahun, namun tetap saja Nafsu masih belum bersih benar dari
hati akal pikirannya. Hati akal pikiran memang menjadi tempat
tinggal Nafsu yang mengangkat diri menjadi Raja, menjadi
Aku dan selalu memaksa manusia untuk memperhatikan Akunya.
Aku yang paling benar, Aku yang paling baik, Aku yang
paling pandai dan sebagainya. Aku tidak kalah oleh orang lain!
Sejak manusia dilahirkan, dia sudah disertai nafsu karena
nafsu amat diperlukan untuk mempertahankan hidupnya,
diperlukan untuk memajukan hidupnya, membela dirinya, dan
membuat manusia dapat menikmati hidup di dunia ini. Tanpa
adanya nafsu kita tidak dapat hidup atau setidaknya tidak
dapat hidup normal sebagai manusia. Mungkin kita akan hidup
sebagai binatang yang hanya mengandalkan naluri belaka,
tidak bisa memperbarui dan memajukan segala sesuatu, tidak
dapat hidup senang karena nafsu memang tujuannya hanya
satu, yakni kesenangan! Nafsu memperkenalkan diri kita
dengan kesenangan, kenikmatan dan kepuasan, namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebaliknya juga membuat kita berhubungan dengan
kesusahan, sesengsaraan dan kekecewaan!
Manusia yang mampu menguasai dan mengendalikan
nafsu, dia akan menjadi seorang yang hidupnya berbahagia,
karena nafsu yang terkuasai akan menjadi peserta dan juga
pembantu yang amat berguna bagi kehidupan, mendatangkan
kesenangan dan kepuasan. Akan tetap apabila nafsu tidak
terkendali, sebalikn nafsu malah mengendalikan kita, maka
kita akan terseret ke dalam jurang! Kita akan menjadi
pengejar kesenangan dan biasanya, kalau nafsu sudah
menguasai diri, dalam pengejaran kesenangan hati kita tidak
segan melakukan apa saja yang menyimpang dari kebenaran.
Nafsu mencari kesenangan dan kecukupan melalui harta
memang perlu bagi kehidupan. Kita hidup tidak akan terepas
dari kebutuhan yang hanya dapat ditutup dengan uang.
Namun kalau nafsu mengejar uang sudah mencengkeram kita,
apa jadinya? Kita tidak segan-segan untuk menipu, mencuri,
merampok, korupsi sebagainya.
Nafsu untuk mencari kesenangan melalui kedudukan
memang baik. Kita hidup juga memerlukan agar menjadi
orang pandang, agar menjadi orang berguna, akan tetapi
kalau nafsu mengejar kedudukan sudah mencengkeram kita,
kita tidak segan-segan untuk memperebutkan kedudukan dan
kekuasaan dengan saling nenjegal, saling melakukan fitnah,
bahan saling membunuh!
Nafsu sex adalah hal yang wajar, terutama sekali sebagai
perkembang, biakan manusia. Namun kalau nafsu sex sudah
mencengkeram kita, apa jadinya? Pelacuran, perjinaan,
perkosaan yang terjadi di mana-mana menunjukkan
keganasan nafsu sex yang sudah menguasai manusia.
Nafsu teramat penting, namun juga teramat berbahaya
bagi kita manusia, satu-satunya cara untuk membuat nafsu
menjadi pelayan yang baik dan bukan menjadi majikan yang
jahat, adalah MENGUASAINYA! Namun dapatkah kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menguasai nafsu? Dapatkah semua pengertian tentang
bahayanya pengaruh nafsu itu menguasai nafsu itu sendiri?
kenyataannya tidak demikian. Semua pencuri tahu bahwa
mencuri itu tidak baik, namun mereka tidak dapat
menghentikan kebiasaannya mencuri. Semua koruptor tahu
bahwa pekerjaan mereka itu tidak baik, namun mereka tidak
dapat menghentikan kebiasaan itu. Nafsu membuat orang
menjadi ketagihan dan kalau sudah begitu, pengertian tidak
ada gunanya. Bahkan pengertian di hati akal pikiran menjadi
pembela nafsu sehingga para koruptor mengatakan, "Ah, aku
korup karena terpaksa, orang lain juga berbuat seperti itu."
dan sebagainya. Hati dan pikiran para pencuri yang sudah
bergelimang nafsu juga menjadi pembela dengan kata-kata,
"Ah, aku mencuri karena terpaksa untuk memberi makan anak
isteri, untuk menyekolahkan anak." dan sebagainya. Tidak,
pengertian tidak dapat mengekang nafsu. Hati akal pikiran
tidak dapat menundukkan nafsu.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Meniadakan nafsu? tidak
mungkin. Membiarkan nafsu merajalela amat berbahaya.
Mengendalikan nafsu juga hampir merupakan suatu ketidakmungkinan.
Apa yang harus kita perbuat?
Jalan satu-satunya hanya menyerahkan segalanya kembali
kepada Tuhan! Tuhan Maha Pencipta. Juga Tuhan yang
memberi nafsu kepada kita. Hanya Tuhanlah deengan
KekuasaanNya yang mampu mengekang nafsu. Hanya
Kekuasaan Tuhan saja yang dapat membimbing kita,
memperkuat batin kita untuk tidak terseret oleh nafsu,
melainkan menjadikan nafsu sebagai alat, sebagai pelayan
dalan kehidupan ini. Penyerahan diri, kepasrahan dengan
penuh keikhlasan, penuh ketawakalan, sepenuh iman.
Cheng Hian Hwesio adalah seorang yang terlatih. Hampir
setiap hari dia nenggunakan kesempatan dalam waktu
luangnya untuk bersamadhi, memiliki batin yang telah menjadi
kuat. Namun, menghadapi nafsu sendiri diapun masih kalah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat kenyataan bahwa muridnya kalah oleh murid Bu-beng
Lo-jin mengugah semangatnya yang tidak mau kalah oleh
dorongan nafsu. Ingin menang. Ingin lebih besar, lebih
pandai, lebih sakti!
Kalau saja di sana tidak ada Bu-beng Lo-jin, tentu dia tidak
akan membanding-bandingkan. Akan tetapi Bu-beng Lojin ada
di sana, sebagai sahabatnya, kenalan lamanya ketika dia
berkelana Pegunungan Himalaya. Dia tahu bah Bu-beng Lo-jin
adalah seorang yang sakti. akan tetapi dia merasa tidak kalah,
bahkan dalam banyak hal dia seringkali menasihati Bu-beng
Lo-jin yang dianggapnya sebagai seorang yang tidak tentu
agama , tosu bukan hwesio pun bukan. Akan tetapi
mempelajari segala macam falsafah agama dan ajaran Khonghu-
cu. Kalau saja Han Lin tidak menjadi murid Bu beng Lo-jin,
diapun tentu tidak membandingkan kepandaian Han Lin
dengan kepandaian muridnya yang sama mudanya yaitu Aseng.
Mulai hari itu, Cheng Hian Hwesio mulai menggembleng Aseng
dengan lebih tekun, dan semua ilmunya diajarkan
kepada murid itu. Dua ilmunya yang tadinya merupakan ilmu
simpanannya, yaitu Tiam-hiat-hoat (Ilmu Menotok Jalan
Darah) yang disebut It-yang-ci (Menotok Satu jari) dan ilmu
Pek-in Hoat-sut yang merupakan ilmu yang berdasarkan
kekuatan batin dan hawa sakti, mulai diajarkan kepada Aseng,
dan ilmu-ilmu yang lain juga diperdalam sehingga Aseng
memperoleh banyak sekali kemajuan.
Cheng Hian Hwesio menjadi lupa bahwa Han Lin adalah
cucu buyut keponakannya sendiri, dan kepada pemuda itu dia
hanya mengajarkan Sin-liong Ciang-Hoat dan In-liong-tunghoat,
ilmu silat langan kosong dan ilmu tongkat itu. Akan
tetapi, Han Lin yang digembleng oleh Bu-beng Lo-jin yang
menurunkan semua ilmunya, antara lain Sin-tek Tung-i aat
(Ilmu Tongkat Bambu Sakti), Ngo-leng Sin-kun (Ilmu Silat
Tangan Kosong lima Unsur), Leng-kong Kiam-sut (Ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pedang Sinar Dingin), juga ilmu-ilmu berdasarkan sin-kang
yang tinggi, seperti Jeng-kin-cui (Beratkan Badan Seribu Kati),
Sia-kut-hoat (Ilmu Lemaskan Tulang) dan semacam ilmu
melalui suara yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa).
Ilmu ini merupakan suara melengking yang dapat
memunahkan semua kekuatan sihir lawan, dan juga dapat
menggetarkan jantung, membuat lawan menyerah tanpa
bertanding seperti seorang yang beerhadapan dengan seekor
singa yang mengaum-ngaum.
Apabila kita memperhatikan waktu maka waktu merayap
bagaikan siput. Apa lagi kalau kita menanti sesuatu yang telah
kita harapkan, agaknya waktu tidak pernah berjalan maju.
Menanti datangnya teman yang telah berjanji dengan kita
untuk suatu pertemuan, terlambat sejenak saja rasanya
seperti sehari. Akan tetapi sebaliknya kalau kita tidak
memperhatikan waktu, maka waktu terbang dengan sangat
cepatnya sehingga bertahun-tahun lewat, rasanya seperti baru
beberapa hari saja. Kalau seorang tua mengingat-ingat ketika
dia masih kanak-kanak, maka seperti baru terjadi beberapa
bulan saja padahal sudah lewat puluhan tahun!
Demikianlah, lima tahun lewat dengan sangat cepatnya
sejak A-seng menjadi murid Cheng Hian Hwesio. Dalam lima
tahun itu, anak yang cerdik itu telah menguasai semua ilmu
yang diajarkan kepadanya oleh Cheng Hian Hwesio. Dia telah
menguasainya dengan baik sekali, Cheng Hian Hwesio
mengajarkan ilmu-ilmunya yang rahasia seperti It-yang-ci dan
Pek-in Hoat-sut dengan diam-diam, bahkan dua orang
muridnya, Nelayan Gu dan Petani Lai sendiri juga tidak
mengetahui bahwa sute mereka yang muda itu telah
mempelajari kedua ilmu yang mereka tahu merupakan ilmu
simpanan suhu mereka itu.
Pada suatu malam terang bulan. Nelayan Gu dan Petani Lai
setelah melayani guru mereka makan malam dan mereka
sendiripun sudah makan malam, masih duduk di ruangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakang dan mereka membicarakan sute mereka yang muda
itu.
"Nelayan Gu, apakah kau juga memperhatikan apa yang
kulihat?"
"Apakah maksudmu?"
"Mengenai diri sute kita A-seng. Dia telah belajar lima
tahun kepada suhu dan agaknya dia telah memperoleh
kemajuan yang arnat pesat. Kemarin dulu ketika aku melihat
dia berlatih silat In liong-tung, aku melihat gerakannya ringan
seperti awan dan dahsyat seperti naga, mengingatkan aku
akan gerakan suhu sendiri. Agaknya dalam ilmu itu dia telah
melampaui kita." kata Petani Lai.
"Hemm, hal itu dapat saja terjadi. Dia masih muda dan kita
tahu bahwa sebelum belajar kepada suhu, dia telah memiliki
dasar yang amat baik dan kuat. Ditambah lagi ketekunannya
berlatih yang selalu mengagumkan hatiku."
"Akupun melihatnya, akan tetapi ada suatu hal yang
kadang merisaukan hatiku! Dia tampak luar biasa cerdiknya
dan tampaknya suhu amat menyayangnya, dan betapa
seringnya suhu berdua saja dengan dia dalam kamar suhu.
Bukan tidak mungkin suhu mengajarkan ilmu-ilmu rahasia
yang tidak suhu ajarkan kepada kita." kata Nelayan Gu.
"Maksudmu, suhu mengajarkan It-yang ci dan Pek-in Hoatsut
kepada sute A seng?" tanya Petani Lai dengan-alis
berkerut.
"Sangat boleh jadi. Pernah aku secara tidak sengaja lewat
di belakang kamar suhu ketika mereka berdua berada di
dalam dan aku mendengar suara bercuitan, suara yang hanya
ditimbulkan oleh ilmu It-yang-ci apabila dipergunakan."
"Ah, aku ingat sekarang. Suhu pernah mencari lilin dan
minta aku mencarikan ke dusun di bawah gunung. Sebanyak
tiga belas batang lilin. Bukankah suhu pernah menyinggung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa mempelajari Pek-in Hoat-sut membutuhkan tiga belas
lilin untuk latihan? Benar sekali, Nelayan Gu. Mungkin anak itu
telah diberi pelajaran It-yang-ci dan Pek-in Hoat-sut!"
"Akan tetapi mengapa? Kita yang sudah puluhan tahun
dengan setia mengikuti dan melayani suhu, tidak diajarkan
ilmu-ilmu itu, sedangkan A-seng yang belum kita ketahui
benar asal-usulnya telah diberi pelajaran ilmu rahasia itu!"
kata Nelayan Gu dengan penasaran.
Tiba-tiba Petani Lai memberi isarat kepada rekannya dan
diapun bergerak ke tempat yang tertutup bayang-bayang
gelap. Perbuatannya ini ditiru oleh Nelayan Gu yang melihat
bcrkelebatnya bayangan dua orang, agak jauh di belakang
pondok.
"Ada orang!" bisik Petani Lai.
"Ya, aku melihat dua orang."
"Mencurigakan sekali. Mari kita bayangi ke belakang,
mengambil jalan memutar."
Dengan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) mereka yang
tinggi, kedua orand itu lalu melompat ke dalam gelap di
bawah bayang-bayang pohon. Bulan bersinar terang sehingga
menciptakan banya bayang-bayang pohon dan di bawah
bayang-bayang inilah kedua orang itu melakukan penyelidikan
ke belakang pondok. Di belakang pondok itu terdapat sebuah
kebun sayur dan di sebelah sananya terdapat sepetak rumput.
Mereka bersembunyi ketika melihat ada seorang berdiri d atas
petak rumput itu, menghadap bulan membelakangi mereka
dan orang itu melipat kedua lengan di depan dada. Kemudian,
tampak bayangan dua orang berkelebat dan tiba-tiba dua
orang muncul dan berada di depan orang yang berpeluk
tangan itu.
"Kongcu.....!" Mereka memberi hormat dengan merangkap
kedua tangan depan dada lalu membungkuk sampai dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"A-kiu dan A-hok, sudah kukatakan jangan lagi muncul di
sini. Apa mau kalian malam-malam datang ke sini?" tanya
orang yang menghadap bulan itu dengan suara keren dan
Nelayan Gu bersama Petani Lai yang mengintai menjadi terheran-
heran karena mereka mengenal suara A-seng! Akan
tetapi kalau suara A-seng selalu ramah dan merendah, suara
itu kini amat angkuh dan berwibawa!
"Ampunkan kami, kongcu. Akan tetapi kami diutus oleh
pangcu untuk memanggil kongcu pulang karena perkumpulan
kita akan mengadakan perayaan peringatan ke lima puluh
tahun perkumpulan kita. Kata pangcu kongcu sekarang tentu
telah menjadi seorang pemuda dewasa dan sudah cukup
mempelajari ilmu, maka Kongcu diharapkan untuk pulang
sekarang juga bersama kami!"
Tiba-tiba A-seng, orang yang tadi bersedakap itu,
membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah di mana
Nelayan Gu dan Petani Lai bersembunyi. "Di sana ada dua
orang bersembunyi. Tangkap mereka!" perintahnya kepada
dua orang yang dipanggil sebagai A-kiu da A-hok itu.
A-kiu dan A-hok bergerak cepat kali, tiba-tiba tubuh mereka
sudah melayang ke arah di mana dua itu bersembunyi dan
langsung mereka menyerang menggunakan sebatang pedang
di tangan masing-masing.
Nelayan Gu dan Petani Lai, biarpun terheran-heran dan
terkejut mereka sudah siap siaga dan menghadapi serangan
mendadak itu, mereka menyambut dengan gerakan senjata
mereka.
"Trang-tranggggg.....!" Bunga api berpijar-pijar ketika
dayung baja dan cangkul itu bertemu dengan kedua pedang
penyerang mereka. Segera terjadi perkelahian hebat antara
mereka dan kedua orang murid Cheng Hian Hwesio itu
mendapat kenyataan bahwa dua orang itu memiliki ilmu
pedang yang aneh dan cukup kuat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Nelayan Gu dan Petani Lai adalah dua orang
yang telah menerima gemblengan Cheng Hian Hwesio, ilmu
silat mereka sudah tinggi, tenaga sin-kang mereka juga kuat
sekali dan mereka sudah memiliki banyak pengalaman dalam
perkelahian. Maka, setelah mereka berkelahi tiga puluh jurus
lebih di bawah sinar bulan purnama itu, perlahan-lahan akan
tetapi tentu, mereka dapat mendesak kedua orang lawan
mereka yang berpedang, i
"A-kiu dan A-hok, mundur kalian!" A-seng membentak dan
dua orang itu berloncatan ke belakang, membiarkan A-seng
yang maju menghadapi dua orang suhengnya!
Dua orang itu tertegun dan memandang kepada A-seng
dengan mata terbelalak seolah-olah mereka melihat setan!
Wajah pemuda itu masih- sama, wajah yang tampan dan
gagah, akan tetapi ada sesuatu yang mengerikan pada sinar
matanya yang mencorong dan senyumnya yang sinis! Sama
sekali lenyap sikap menghormat dan rendah hati yang
biasanya diperlihatkan apabila pemuda itu berhadapan dengan
kedua orang suhengnya itu.
"Sute...... apakah yang terjadi? Siapakah kedua orang ini
dan.... dan.... siapakah engkau sebenarnya?" tanya Nelayad
Gu, sedangkan Petani Lai memandang dengan alis berkerut.
"Nelayan Gu dan Petani Lai, kalian tidak perlu tahu siapa
adanya kedua orang ini!" jawab A-seng dengan suara angkuh
dan tegas.
"Ahhh....? Sute, beginikah sikapmu terhadap dua orang
suhengmu?" bentak Petani Lai marah.
"Kalian bukan suhengku!"
"A-seng.....!!"
"Ha-ha-ha, namaku bukan A-seng! Aku hanya
menggunakan nama itu agar dapat mempelajari ilmu dari
suhu Cheng Hian Hwesio! Sekarang aku telah tamat belajar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak perlu menganggap kalian sebagai suheng. Memalukan
sekali mempunyai suheng yang ilmu silatnya masih serendah
tingkat kalian!"
Dua orang itu sampai menjadi bengong karena tertegun
dan heran bukan main.
Benarkah yang bicara itu A-seng yang biasanya ramah dan
hormat? Orangnya memang sama akan tetapi sikapnya
berbeda seperti bumi dengan langit. Pemuda ini demikian
angkuh, demikian sombong dan tinggi hati. Petani Lai yang
keras hati menjadi marah bukan main mendengar ucapan itu.
Dia menggerakkan cangkulnya di atas kepala dan
mendamprat, "A-seng, jahanam keparat! Berani engkau
menghinaku?"
"Ha-ha-ha, mengapa tidak berani? Apa yang dapat kau
lakukan dengan cangkulmu itu? Untuk mencangkul tanah juga
tidak dalam, hanya untuk menakut-nakuti anjing saja!"
"Jahanam! Berani engkau melawanku?" tantang Petani Lai.
"Ha-ha, apa yang harus kutakutkan? Bagiku, cangkulmu itu
tiada gunanya, Petani Lai!"
"Keparat, lihat senjataku!" bentak Petani Lai dan diapun
sudah menyerang dengan ganas.
A-seng menyambar sebatang tongkat bambu yang berada
di situ dan diapun menyambut serangan itu dengan tongkat
bambunya. Gerakannya cepat bukan main dan segera
keduanya sudah terlibat dalam sebuah perkelahian yang
dahsyat. di bawah sinar bulan purnama, tubuh mereka berdua
hampir tak nampak, tertutup oleh sinar dari senjata masingmasing
yang membentuk lingkaran-lingkaran yang
menyambar-nyambar.
Nelayan Gu terkejut sekali melihal gerakan tongkat bambu.
Gerakannya demikian mantap, mengeluarkan angin besar dan
berdengung-dengung nyaring sehingga dalam belasan jurus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja Petani Lai sudah terdesak mundur! Akan tetapi dia tidak
mau mengeroyok. Bukan wataknya untuk mengeroyok,
apalagi kalau diingat bahwa lawan mereka hanyalah sute
mereka sendiri.
Petani Lai juga merasa penasaran sekali. Dia seolah merasa
berhadapan dengan dinding sinar bambu yang amal kokoh. Ke
manapun cangkulnya menyambar, selalu bertemu dengan
tongkat dan setiap kali senjata mereka beradu, di merasa
betapa tangannya tergetar hebat
Tiba-tiba terdengar A-seng berkata, suaranya nyaring dan
penuh kekuatan, "Petani Lai, engkau tidak akan menang
melawan aku! Lihat, kedua tanganmu sudah mulai lemah!"
Petani Lai terkejut bukan main ketika merasakan betapa
kedua tangannya benar-benar menjadi lemah sekali dan pada
saat itu, tangan A-seng menyambar dan berhasil menotok ulu
hatinya. Hebat sekali totokan itu. Petani Lai merasa se-olah
ada sebatang pedang yang runcing menembus ulu hatinya
dan melukai bagian dalam dadanya. Dia mengeluh, cangkulnya
masih menyambar namun segera terlepas dari
tangannya dan diapun roboh terkulai!
"Ha-ha-ha, sebegini saja kepandaian-mu!" A-seng tertawatawa
dengan girang.
Nelayan Gu terkejut sekali dan cepat dia meloncat ke dekat
tubuh Petani Lai ntuk memeriksa keadaan rekan itu. A-langkah
kagetnya ketika ia melihat bahwa rekannya itu telah tewas!
Rekannya telah tewas oleh totokan yang dahsyat sekali dan
diapun dapat menduga bahwa itu adalah ilmu totok It-yang-ci
yang ampuh. Wajahnya menjadi pucat sekali kemudian
berubah merah ketika dia bangkit berdiri sambil memandang
ke arah A-seng dengan sinar mata bernyala saking marahnya.
"Manusia iblis! Engkau kejam sekali!" bentaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha-ha, bagus kalau engkau mengetahui itu, Nelayan
Gu. Untuk memperoleh kemenangan orang harus berhati
kejam!"
"Sebetulnya, siapakah engkau? Mengapa pula engkau
melakukan semua ini dan sekarang bahkan membunuh Petani
Lai yang tidak bersalah apa-apa padamu?"
"Dia sendiri yang mencari mati karena menantangku. Dan
engkaupun akan menyusulnya, ha-ha-ha!" A-seng tertawatawa
dengan sikap mengejek.
"Akan tetapi siapakah engkau ini?"
"Baiklah, karena engkau akan mati aku tidak keberatan
untuk mengaku siapa adanya diriku sebenarnya. Aku bernama
Ouw Ki Seng keponakan dari ketua Ban tok-pang. Pada suatu
hari aku tersesat naik ke Puncak Awan Putih dan melihat
datuk sesat Huang-ho Sin-liong Suma Kiang bertanding
dengan kalian, kemudian dia dikalahkan dengan mudah oleh
heng Hian Hwesio. Karena itu, aku ingin sekali mempelajari
ilmu silat dari Cheng Hian Hwesio yang sakti dan akhirnya
kehendakku terpenuhi. Sekarang, semua ilmu dari Cheng Hian
Hwesio telah diturunkan kepadaku."
Wajah Nelayan Gu menjadi pucat ketika dia menatap wajah
A-seng dengan pandang mata terbelalak. "Jadi kalau begitu,
pembantaian terhadap sepuluh orang petani itu......."
"Ha-ha-ha, engkau boleh tahu sekarang, Nelayan Gu.
Akulah yang melakukan. Aku sengaja membunuhi mereka
agar Cheng Hian Hwesio menaruh iba kepadaku dan suka
menerimaku sebagai murid. Dan siasatku itu berhasil dengan
baik."
"Jahanam! Manusia berwatak iblis! Sejak muda engkau
telah menjadi manusia iblis yang kejam sekali!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha, untuk dapat mencapai keinginan hidupnya, orang
harus bersikap cerdik Nelayan Gu. Sekarang, setelah engkau
mengetahui semua keadaanku, bersiaplah untuk mampus!"
Nelayan Gu sudah tidak dapat menahan kemarahannya
lagi. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring diapun sudah
menerjang dengan dayung bajanya, menyerai dengan
dahsyat. Namun, A-seng menghadapinya dengan tenang.
Tongkat bambunya bergerak dan setelah menangkis, iapun
balas menyerang dengan sama dasyatnya.
"Tunggg.....!" Kedua senjata bertemu dan akibatnya,
Nelayan Gu terhuyung belakang.
A-seng menyerang terus dan mendesak Nelayan Gu yang
sudah terhuyung belakang. Tiba-tiba tampak sinar hitam
menyambar tubuh Nelayan Gu dari arah kiri. Nelayan Gu cepat
mengelak dan beberapa batang paku beracun lewat dekat
tubuhnya. Itulah paku-paku beracun yang disambitkan oleh Akiu
dan A-hok. Demikianlah watak mereka dari golongan
sesat. Lawan yang sudah terdesak malah dikeroyok dan
diserang dengan senjata rahasia! Ban-tok-pang (Perkumpulan
Selaksa Racun) merupakan perkumpulan golongan sesat yang
terkenal jahat dan curang.
Nelayan Gu memutar dayungnya untuk melindungi dirinya,
akan tetapi tiba-tiba tongkat bambu di tangan A-seng
membentur dayungnya dan melekat! Inilah penggunaan sinkang
(tenaga sakti) untuk menempel dan Nelayan Gu tidak
mampu lagi menarik lepas dayung bajanya.
Pada saat itu, kembali ada sinar hitam paku-paku
menyambar. Nelayan Gu menggerakkan tangan kirinya untuk
me-nyampok sinar hitam itu dan berhasil menangkis pakupaku
itu, akan tetapi pada saat itu tangan kiri A-seng sudah
mengirim totokan dengan ilmu lt-yang-ci. Jari tangan kirinya
yang meluncur itu mengeluarkan suara bercuitan dan tanpa
dapat ditangkis maupun dielakkan lagi, jari tangan itu telah
berhasil menotok bawah tulang iga kanan Nelayan Gu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nelayan Gu tersentak kaget, dayungnya terlepas dan diapun
roboh terkulai dengan mata terbelalak dan tetap terbelalak
ketika dia tewas seketika!
A-seng tidak mempedulikan lagi lawannya yang telah
tewas. "Mari kita bakar pondok itu. Biarkan hwesio tua itu mati
terbakar di dalamnya. Mari!" Dia mengajak A-kiu dan A-hok.
Ketiganya lalu berlari cepat menghampiri pondok dan ternyata
mereka memang sudah merencanakan pembakaran karena
telah tersedia banyak rumput kering di luar pondok. Mereka
mengepung pondok dengan rumput kering, kemudian
membakar rumput-rumput kering itu. Pondok yang terbuat
daripada kayu dan bambu itupun terbakar dengan mudah! Api
menyambar dan membakar dinding kayu, lalu menyambar
pintu dan jendela merambat atap. A-seng memandang api
sambil tersenyum lebar. Suara api memakan kayu dan bambu
terdengar seperti musik yang merdu di telinganya. Dia tidak
membutuhkan lagi Cheng Hian Hwesio, bahkan harus
membunuh hwesio itu karena Cheng Hian hwesio itu agaknya
yang akan mampu menandinginya, karena merupakan
ancaman baginya.
"Omitohud.....!" Terdengar seruan dan tiba-tiba saja atap
yang belum termakan api jebol dari bawah.
"Braaakkkk.....I" Tubuh Cheng Hian Hwesio menjebol atap
itu dan melayang ke atas, lalu turun ke dekat A-seng. Hwesio
itu memandang kepada A-seng dengan mata terbelalak heran.
"A-seng, apa yang telah terjadi?" tanyanya.
A-seng mendekati hwesio itu, seperti hendak melapor. Akan
tetapi setelah tiba dekat, dia membentak, "Inilah yang
terjadi!" Dan tangan kirinya sudah meluncur dengan amat
cepatnya ke arah dada Cheng Hian Hwesio. Dia menyerang
dengan It-yang-ci! Cheng Hian Hwesio terkejut, akan tetapi
ketenangannya membuat dia masih sempat mengerahkan ilmu
kekebalannya melindungi dada yang ter-totok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tukkk.....!" jari telunjuk A-seng bertemu dengan dada
yang terasa seperti sebuah dinding baja, akan tetapi tetap
saja totokan yang amat ampuh itu dapat menembus
kekebalan dan akibatnya Cheng Hian Hwesio terjengkang!
"Ha-ha-ha, Cheng Hian Hwesio, mampuslah engkau!" Dan
A-seng lalu menyerang hwesio yang sudah terjengkang itu
dengan totokan It-yang-ci lagi!
Akan tetapi Cheng Hian Hwesio adalah seorang hwesio
sakti yang sudah puluhan tahun melatih diri. Biarpun dari
mulutnya mengalir darah segar menandakan bahwa dia telah
terluka dalam, namun melihat serangan susulan itu, diapun
lalu mengerahkan sisa tenaganya, menyambut serangan Aseng
dengan ilmu It yang-ci pula.
"Desss.....!" Dua tenaga yang amat kuat bertemu dan
akibatnya A-seng terjengkang! Ternyata dia masih kalah kuat
dibandingkan gurunya dan kenyataan in membuat A-seng
terkejut.
"Ledakkan!" bentaknya dan dua orang tokoh Ban-tok-pang
itu lalu membanting dua buah benda yang meledak dan
menimbulkan asap tebal hitam. Cheng Hian Hwesio menahan
napas dan melompat jauh ke belakang. Setelah asap tebal
memudar, dia sudah tidak melihat tiga orang itu tadi. Dia
melihat pondok yang sudah terbakar semua dan menghela
napas panjang. Dia masih bingung akan sikap A-seng yang
menyerangnya dan untuk mengobati luka dalamnya, dia lalu
duduk di atas batu dan menghimpun hawa murni. Tahulah dia
bahwa It-yang-ci yang dipergunakan A-seng menyerang
dirinya sudah bercampur dengan ilmu yang sesat, yaitu hawa
yang mengandung racun!
Jendela kamar Han Lin diketuk perlahan dari luar. Han Lin
merasa heran sekali dan agar tidak mengganggu suhunya
yang tidur di kamar sebelah, dia turun dari pembaringan,
mendekati jendela dan bertanya dengan suara lirih, "Siapa di
luar?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku, sute. Aku Ingin bicara denganmu."
Mendengar suara A-seng, Han Lin segera membuka daun
jendela dan tampaklah wajah A-seng di bawah sinar bulan
purnama.
"Ah, engkau, suheng. Ada keperluai apakah malam-malam
begini engkau datang berkunjung?"
"Sute, pelajaranku telah selesai d suhu menyuruh aku turun
gunung. Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus meninggalkan
Puncak Awan Putih. Karena itu aku malam-malam berkunjung
kepadamu karena aku ingin bercakap-cakap lebih dulu
denganmu sebelum pergi. Kalau engkau tidak keberatan, aku
ingin bermalam di sini bersamamu agar dapat bercakap cakap
sebelum aku pergi besok pagi pagi."
Han Lin tersenyum. "Tentu saja boleh, suheng. Silakan
masuk."
A-seng melompat masuk ke dalam kamar itu dan mereka
lalu duduk di atas kursi, berhadapan terhalang meja kecil.
"Wah, engkau sudah tamat belajar, suheng? Kalau begitu
mulai besok pagi engkau sudah akan bebas seperti seekor
burung terbang di udara. Alangkah bebas dan senangnya!"
"Aku tidak tahu apakah aku harus senang ataukah susah!
Aku harus berpisah dari suhu yang begitu baik kepadaku, dan
berpisah dari engkau yang sudah kuanggap sebagai adikku
sendiri. Aku belum tahu harus berbuat apa. Hidupku sebatang
kara."
"Ah, mengapa khawatir, suheng? Engkau masih muda dan
kuat, engkau dapat mengerjakan apa saja dengan
menggunakan kepandaianmu, menjadi piauwsu (pengawal
barang kiriman), atau menjadi guru silat bayaran, atau masuk
tentara."
"Hemm, aku tidak menyukai itu semua. Mungkin aku akan
merantau, sute. Aku ingin sekali merantau jauh ke utara, ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memasuki daerah Mongol. Siapa tahu aku akan bertemu
dengan keluargamu. Kalau aku mengatakan bahwa aku kakak
seperguruanmu, tentu mereka akan menyambutku dengan
baik."
"Tentu saja, suheng. Paman kakekku, Kapokai Khan, adalah
seorang yang baik hati dan dapat menghargai orang gagah.
Kalau kelak engkau sempat berjumpa dengan dia, sampaikan
hormatku kepadanya."
"Akan tetapi, agar mereka dapat percaya, aku harus
mengetahui keadaanmu baik-baik, sute. Aku telah mengetahui
riwayatmu, akan tetapi engkau belum memberitahu siapa
nama ibumu kepada ku. Kalau kakek itu bertanya, aku tidak
dapat mejawabnya."
"Katakanlah bahwa ibuku bernama Puteri Chai Li."
"Hemm, Puteri Chai Li? Nama yang bagus sekali, sute.
Sekarang aku yakin mereka akan menerimaku dengan baik
dan paman-kakekmu akan memperayaiku."
Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam, kemudian
mereka tidur di atas pembaringan Han Lin. A-seng
memperhatikan dengan kerling matanya betapa Han Lin
mengambil suling kemala dari ikat pinggangnya dan
menyusupkan ke bawah bantal. Tak lama kemudian keduanya
sudah tidur nyenyak.
Akan tetapi A-seng hanya pura-pura tidur. Dia sengaja
bernapas panjang-panjang seperti seorang tidur nyenyak.
Setelah yakin bahwa Han Lin sudah tidur pulas, A-seng mulai
menggerakkan tangan perlahan-lahan seperti tidak sengaja
tangannya menyusup ke bawah bantal yang ditiduri Han Lin.
Tak lama kemudian, tangannya sudah ditarik kembali dan
telah memegang suling pusaka kemala!
Kemudian tangan kirinya bergerak, siap melancarkan
serangan It-yang-ci, akan tetapi ditahannya. Dia ragu-ragu.
Dia tahu bahwa Han Lin lihai sekali, jauh lebih lihai daripada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua suhengnya, Nelayan Gu dan Petani Lai. Belum tentu sekali
serang dia akan dapat membunuhnya. Pula, kalau sampai
gagal dan terdengar oleh Bu-beng Lo-jin, akan berbahaya
ekali. Suling pusaka kemala sudah berada di tangannya.
Benda itu dikehendakinya. Benda sebagai tanda dan bukti
bahwa pemegangnya adalah putera Kaisar Cheng Tung,
seorang pangeran! Dan benda itu sudah berada di tangannya.
Karena dia amat cerdik, dia tidak jadi menyerang Han Lin,
melainkan turun dari pembaringan dengan hati-hati sekali,
kemudian keluar dari kamar itu melalui jendela sambil
menyelipkan suling pusaka kemala di ikat pinggangnya.
Sebelum pergi dia menutupkan kembali daun jendela kamar
tu, lalu meloncat dan berlari pergi, menghilang di bawah
bayang-bayang pohon.
Seperti biasa setiap fajar, keruyuk ayam hutan jantan
membangunkan Han Lin dari tidurnya. Begitu membuka mata,
iia teringat akan A-seng dan cepat menengok ke kiri. Kosong..
Mimpikah dia semalam? Bukankah A-seng tidur di sisinya? Dia
bangkit dan seperti biasa pada setiap pagi, yang pertama kali
dilakukannya adalah mengambil suling pusaka kemala yang
ditaruh di bawah bantalnya. Dia menyusupkan tangannya ke
bawah bantal, meraba-raba dan menjadi heran, cepat
dibukanya bantal itu, diangkatnya dan terbelalak dia
memandang ke bawah bantal yang tidak ada apa-apanya!
Suling pusaka kemala yang dia simpan di bawah bantal seperti
biasa telah tiada! Kembali dia menengok ke arah bantal di
sebelah yang ditiduri A-seng semalam. Diangkat nya bantal itu
akan tetapi tetap saj sulingnya tidak berada di situ. Dia
melompat turun dan memeriksa seluruh pembaringan. Tidak
ada suling! Dia lompat ke dekat jendela dan ternyata jendela
itu dalam keadaan tidak terkunci atau terpalang. Jelas bukan
mimpi. Semalam A-seng memasuki kamarnya melalu jendela
itu dan tidur di sebelahnya, karang A-seng sudah tidak ada
dan suling pusaka kemalanya juga tidak ada!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin menjadi penasaran sekai Dengan tergesa-gesa
dipakainya sepatunya, lalu dibereskan pakaian dan rambutnya
kemudian dia membuka jendela, melompat keluar dan lari
dengan cepat meninggalkan puncak menuju ke Puncak Awan
Putih untuk mencari A-seng! Dia tidak tahu bahwa ada yang
membayangi. Orang itu bukan lain adalah Bu-beng Lojin yang
merasa heran melihat tingkah muridnya yang tergesa-gesa
pergi dari puncak di waktu sepagi itu. Karena ingin tahu, Bubeng
Lo-jin diam-diam membayangi tanpa diketahui oleh Han
Lin karena dilakukannya dalam jarak yang cukup jauh.
Karena hatinya ingin cepat bertemu dengan A-seng yang
membawa pergi suling pusaka kemala, Han Lin
mempergunakan Ilmu berlari cepat sehingga sebentar saja dia
sudah tiba di Puncak Awan Putih.
Akan tetapi apa yang dilihatnya amat mengejutkan hatinya.
Pondok itu telah runtuh dimakan api dan masih mengepul-kan
asap! Dan dia melihat Cheng Hian Hwesio duduk bersila di
atas batu besar. Tidak tampak A-seng, Nelayan Gu atau Petani
Lai di situ.
"Losuhu, apa yang telah terjadi?" tanyanya dengan suara
nyaring.
Cheng Hian Hwesio membuka matanya. "Han Lin,
engkaukah ini? Bencana telah datang menimpa. Pinceng tidak
tahu mengapa terjadi hal seperti ini. Nelayan Gu dan Petani
Lai juga tidak tampak sejak semalam. Mari kita mencari
mereka."
Hwesio tua itu telah berhasil mengusir hawa beracun akibat
pukulan A-seng dari tubuhnya dan dia lalu melompat turun.
Diikuti oleh Han Lin, dia lalu cari dua orang murid dan
pembantunya Itu ke belakang pondok. Dan di sana, di atas
petak rumput, mereka menemuki Nelayan Gu dan Petani Lai
sudah menjs di mayat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud.....! Telah terjadi seperti apa yang pinceng
khawatirkan......" Hwesio itu mengeluh dengan nada suara
berduka.
"Akan tetapi apa yang telah terjadi losuhu? Siapa yang
telah membunuh kedua orang suheng ini?"
Jilid VIII
"AMITOHUD......! Siapa lagi kalau bukan murid murtad Aseng
itu."
"A-seng?" Han Lin tertegun. A-seng menipunya, pura-pura
bermalam akan tetapi mencuri suling pusaka kemalanya, dan
ternyata di sini telah melakukan hal yang lebih hebat pula.
Amat keji perbuatannya yang dilakukan di Puncak Awan Putih.
Membunuh Nelayan Gu dan Petani Lai, masih membakar
pondok Cheng Hian Hwesio pula!
"Akan tetapi, mengapa dia melakukan hal ini, losuhu?"
"Pinceng yang bodoh, salah menilai orang. Disesalipun
tiada gunanya, akan tetapi siapa yang tidak akan bersedih?
Mereka ini tewas dengan sia-sia. Ah, gurumu Bu-beng Lo-jin
yang benar, Han Lin. Pinceng seperti buta, tidak melihat
harimau dalam kulit domba."
"Cheng Hian Hwesio, engkau benar. Disesalipun tidak ada
gunanya lagi. Dan engkau ingat akan kata-katamu dahulu. Di
sini karmamu mempermainkanmu! Karma yang bekerja
dengan amat cerdiknya. Dan dua orang pembantumu yang
setia ini telah bersikap setia sampai mati. Mereka telah mati,
tak perlu ditangisi lagi."
Bu-beng Lo-jin muncul menghampiri Cheng Hian Hwesio.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud.......! Lo-jin, pinceng masih merasa bingung dan
terpukul. Bagaimana pun juga, anak itu telah kami tolong,
Ayah bundanya dan keluarganya mati terbunuh penjahat, dia
hidup sebatangkara dan kami terima sebagai murid. Akan
tetapi kenapa kini dia melakukan ini?" Suara kakek itu pilu
penuh perasaan sedih dan sesal.
"Yang dia bunuh itu bukan keluarganya, melainkan sepuluh
orang petani biasa yang tidak berdosa." kata Bu-ben Lo-jin
tenang.
"Yang dia bunuh?" Han Lin berteriak "Suhu, jadi dia....."
"Ya, dialah, pemuda yang mengaku bernama A-seng itu,
yang membantai sepuluh orang itu. Mereka adalah petanipetani
biasa dan sama sekali bukan keluarganya!"
"Omitohud.....! Benarkah itu? Akan tetapi mengapa?"
"Cheng Hian Hwesio, biarpun engkau udah berpengalaman,
akan tetapi agaknya engkau tidak banyak mengenal
kehidupan para datuk dan tokoh jahat. Kejahatan yang
dilakukan A-seng itu belum seberapa' Dan mengapa dia
membunuh sepuluh orang yang diakuinya sebagai
keluarganya? Agar hatimu tergerak dan suka menerimanya
sebagai muridmu. Dia melakukan pembunuhan itu hanya
dengan satu tujuan, yaitu menjadi muridmu. Dan ia sudah
berhasil. Sangat berhasil sehingga dia dapat menimba ilmu
darimu samai lima tahun! Bahkan kecurigaanku sendiri
menjadi luntur karena selama lima tahun ini dia benar-benar
bersikap baik seperti yang kudengar dari Han Lin. Ah, Cheng
Hian Hwesio, anak itu adalah serang iblis cilik yang amat
berbahaya. Dia akan menjadi tokoh yang mengerikan dalam
dunia persilatan."
Cheng Hian Hwesio menghela napas panjang.
"Omitohud....., pantas dua tahun terakhir ini dia sengaja
mengadu ilmu yang dia pelajari dari pinceng dengan ilmu yang
dipelajari Han Lin darimu! Kiranya ini suatu bujukan agar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinceng menurunkan ilmu yang lebih hebat, agar tidak kalah
oleh muridmu! Sungguh menyesal sekali, aku bahkan telah
mengajarkan lt-yang-ci dan Pek-in Hoat-sut kepadanya!"
Bu-beng Lo-jin juga terkejut mendengar ini. Dia tahu
betapa hebatnya dua ilmu itu, terutama It-yang-ci. "Sungguh
ingin sekali aku mengetahui, dia itu siapa dan dari
perkumpulan sesat yang mana."
"Pinceng juga tidak tahu. Dia ditemani dua orang yang
melempar bahan peledak sehingga menghalangi pinceng
mencegah mereka melarikan diri."
"Asap beracun?"
"Agaknya begitu, akan tetapi pinceng sempat menjauhkan
diri. Anak itu secara tidak tersangka-sangka telah menyerang
pinceng dengan It-yang-ci membuat pinceng sempat
menderita luka yang cukup parah. Akan tetapi pinceng sempat
menggertaknya dan dia lalu melarikan diri di balik asap tebal."
"Dia bahkan hendak membunuhmu? Astaga, benar-benar
iblis cilik yang tidak mengenal budi! Han Lin, kelak kalau
bertemu dengan iblis itu, engkau harus berhati-hati sekali
terhadap kelicikannya." kata Bu-beng Lo-jin.
"Semalampun teecu telah menjadi korban kelicikannya,
suhu. Dia mengetuk jendela teecu dan mengatakan bahwa
pagi ini dia harus pergi, maka dia ingin bermalam di kamar
teecu untuk bercakap cakap. Tentu saja teecu tidak menolak,
karena dia adalah suheng teecu. Akan tetapi ketika pagi tadi
teecu terbangun, ia sudah tidak ada dan.... suling pusaka
kemala teecu juga hilang."
"Omitohud......!" Cheng Hian Hwesio berseru keras.
"Pusaka itu dicuri dan dibawanya lari? Han Lin, engkau harus
mencarinya dan engkau harus merampasnya kembali! Itu
adalah satu-satunya benda pusaka yang menjadi bukti akan
keadaan dirimu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin terbelalak memandang kepada Cheng Hian Hwesio.
"Jadi losuhu suda tahu.....?"
"Han Lin, akulah yang memberitahu kepadanya akan
keadaan dirimu. Dia adalah gurumu juga, bukan? Dia berhak
untuk mengetahui siapa engkau."
"Sudahlah, Han Lin. Pinceng juga tidak akan membocorkan
rahasiamu. Akan tetapi satu-satunya benda bukti bahwa
engkau adalah seorang pangeran adalah suling pusaka kemala
itu. Karena itu engkau harus mendapatkannya kembali," kata
Cheng Hian Hwesio.
"Akan tetapi, losuhu. Setelah teecu (murid) pikir-pikir, apa
gunanya suling pusaka kemala itu bagi teecu? Teecu tidak
ingin menjadi pangeran. Biarpun ayah tecu seorang kaisar,
akan tetapi dia telah meninggalkan kami ibu dan anak, berarti
dia tidak mau mengakui kami. Kalau di sudah tidak mau
mengakui, untuk apa teecu harus memaksanya untuk
mengaku teecu? Teecu tidak ingin menjadi pangeran yang
dipaksakan."
Cheng Hian Hwesio dan Bu-beng Lo-jin saling pandang dan
keduanya tertawa senang, bahkan Bu-beng Lo-jin sampai
terbahak-bahak. Kemudian Cheng Hian Hwesio memegang
kedua pundak Han Lin dan berkata, "Pendirianmu itu sehat
dan benar sekali, Han Lin. Akan tetapi tidaklah engkau ingin
menyelidiki mengapa Kaisar Cheng Tung tidak menjemput
ibumu? Dan tidak inginkah engkau mengenal ayah
kandungmu? Dan untuk itu, engkau harus memegang suling
pusaka kemala itu."
"Senjata itu boleh jadi tidak perlu bagimu, Han Lin," kata
Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Nama). "Akan tetapi jelas
perlu bagi pemuda yang mengaku bernama A-seng itu. Kalau
tidak perlu, untuk apa dia mencuri suling pusaka kemala itu
darimu? Apakah engkau telah menceritakan apa adanya suling
itu dan siapa dirimu sebenarnya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Lin mengangguk. "Karena dia merupakan seorang
suheng yang baik, teecu sudah menceritakannya, suhu."
"Nah, pantas saja dia lalu mencuri suling pusaka kemala
itu! Dia tahu bahwa suling itu merupakan satu-satunya benda
bukti bahwa pemegangnya adalah Putera Kaisar Cheng Tung
yang terlahir dari ibu Mongol! Dia tentu akan menggantikan
kedudukanmu sebagai pangeran di kota raja dengan bukti
suling itu!"
"Omitohud......! Akan hebatlah kalau begitu. Orang selicik
dia, setelah menjadi pangeran, bukan tidak boleh jadi lalu
berusaha untuk menjadi putera mahkota agar kelak
menggantikan kedudukan kaisar! Dan kalau kaisarnya seperti
dia, celakalah negara dan bangsa'" seru Chen Hian Hwesio
dan suaranya mengandung penyesalan besar sekali. "Pinceng
tidak boleh tinggal diam saja!"
Han Lin tertegun. Pikirannya tidak melayang sejauh itu dan
diapun terkejut melihat segala kemungkinan buruk itu Dia
memang tidak ingin menjadi pangeran, akan tetapi kalau
sampai A-seng yang demikian licik dan jahat menjadi
pangeran dan kemudian bahkan menjadi pengganti kaisar, dia
memang tidak boleh tinggal diam saja.
"Kalau begitu, menurut suhu berdua, teecu harus
mencarinya dan merampas kembali suling pusaka kemala itu?"
tanyanya kepada dua orang tua itu.
"Tentu saja, engkau harus menghalangi dia menjadi
pangeran dan kemungkinan menjadi pengganti kaisar. Tidak
salah lagi perkiraan kami. Dia mencuri suling pusaka kemala
itu tentu hanya dengan tujuan itu, karena tidak ada alasan
lain." kata Bu-beng Lo-jin.
"Omitohud...... dan pinceng telah mengajarkan semua ilmu
simpanan pinceng kepadanya'" kata Cheng Hian Hwesio
dengan nada penuh penyesalan. "Lo-jin, pinceng harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengetahui lebih dulu tingkat kepandaian Han Lin. Jangan
sampai dia kalah kalau bertanding melawan A-seng itu."
"Han Lin, perlihatkan ilmu-ilmu yang pernah kau pelajari
dariku kepada Cheng Hian Hwesio." kata Bu-beng Lo-jin.
"Akan tetapi kasihan sekali dua orang murid ini, apakah tidak
lebih baik kala kita kubur mayat mereka lebih dulu?"
"Omitohud, engkau benar, Lo-jin."
"Han Lin, galilah dua lubang untuk mengubur mereka."
kata Bu-beng Lo-jin.
"Baik, suhu. Di mana teecu harus menggali lubang itu,
losuhu?" tanya Han Lin kepada Cheng Hian Hwesio. Hwesio itu
lalu memilihkan tempat yang baik untuk makam Nelayan Gu
dan Petani Lai. Setelah mendapatkan tempat yan dianggapnya
layak dan baik, Han Lin lai menggunakan cangkul menggali
dua buah lubang yang cukup dalam dan lebar.
Kemudian, secara sederhana sekali dua mayat itu dikubur
dan setelah lubang ditutup kembali, Cheng Hian Hwesio berdiri
dengan kedua tangan dirangkap di depan dada, berdiri seperti
patung di depan dua makam itu. Diam-diam timbul penyesalan
yang mendalam di dalam hatinya. Kalau dia tidak menerima Aseng
sebagal murid, tidak menurunkan It-yang-ci kepadanya,
belum tentu kedua orang murid dan pembantunya yang setia
ini akan tewas di tangan pemuda iblis itu! Tanpa dirasakan,
dua butir air mata bergantungan di pelupuk mata hwesio itu!
Melihat ini, Bu-beng Lo-jin menghibur. "Penyesalan tiada
gunanya, semua telah terjadi menurut garis yang ditentukan.
Kematian merekapun tidak perlu dibuat penasaran, karena
mereka tewas dalam membela kebenaran dan menentang
yang jahat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi
kemudian. Semua itu merupakan rahasia. Kita hanya dapat
menerima dengan penuh rasa syukur karena dalam setiap
peristiwa itu terkandung hikmah yang mendalam dan penuh
rahasia. Tidakkah engkau pikir demikian, Cheng Hian Hwesio?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hwesio itu tersenyum. "Omitohud, engkau benar sekali, Lojin.
Perasaan pinceng begini lemah dan mudah hanyut."
"Karena engkau banyak melakukan samadhi atas dasar
cintakasih terhadap semua mahkluk, perasaanmu menjadi
peka sekali dan mudah hanyut. Hal itu bukanlah tidak baik.
Berbeda dengan aku yang selalu membuka mata dengan
waspada melihat keadaan hidup ini di mana baik buruk selalu
mengambil tempat dalam hati akal pikiran manusia silih
berganti. Baik dan buruk itu hanya ada dalam penilaian
manusia dan penilaian manusia itu palsu adanya."
"Omitohud, apa yang kau katakan itu amat mendalam
artinya, namun tidak dapat disangkal kebenarannya, Lo-jin."
Han Lin juga berlutut di depan makam memberi
penghormatan kepada mendiang kedua orang suhengnya
yang selalu bersikap baik kepadanya, menjadi penasaran
mendengar ucapan terakhir dari suhunya itu.
"Maaf, suhu. Teecu tidak mengerti apa artinya dengan
ucapan suhu tadi bahwa baik dan buruk itu hanya ada dalam
penilaian manusia dan penilaian manusia itu palsu adanya?"
"Ah, apakah engkau belum mengerti akan hal yang sewajar
dan sesederhana itu? Pikirkan baik-baik. Yang dinamakan baik
dan buruk itu tidak akan ada kekal tidak ada penilaian.
Sesuatu itu wajar wajar saja, tidak baik dan tidak buruk. Akan
tetapi setelah ada penilaian dan perbandingan, barulah
dinamakan ini baik dan itu buruk. Jadi yang melahirkan baik
buruk adalah penilaian. Mengertikah?"
"Teecu mengerti, suhu. Akan tetapi mengapa penilaian
manusia suhu katakan palsu adanya?" Han Lin mengejar.
"Penilaian manusia selalu didasari rasa suka dan tidak suka,
dengan perhitungan diuntungkan atau dirugikan. Kalau
diuntungkan timbul rasA suka dan penilaiannya tentu baik,
sebaliknya kalau dirugikan timbul rasa tidak suka dan
penilaiannya tentu buruk. Orang sedunia boleh nenganggap Si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
A sebaik-baiknya orang, akan tetapi kalau SI A merugikan dan
memusuhi kita, dapatkah kita menganggapnya sebagai orang
baik? Sebaliknya, orang sedunia boleh menganggap Si B
sejahat-jahatnya orang, akan tetapi kalau Si B
menguntungkan kita, amat baik terhadap kita, dapatkah kita
menganggap dia seorang jahat? Tentu saja tidak. Terhadap
orang yang kita suka karena menguntungkan kita, tentu kita
akan menilainya baik. Sebaliknya terhadap orang yang kita
tidak suka karena merugikan kita, tentu kita akan menilai-nya
jahat. Nah, penilaian seperti itu bukankah palsu adanya?"
"Akan tetapi, suhu. Bukankah penilaian yang sifatnya
umum di mana diri kita tidak terlibat?" Han Lin terus
mengejar.
"Memang ada pendapat dan penilaian umum dan itu sudah
dijadikan ukuran oleh kita untuk menganggap mana yang baik
dan mana yang jahat. Akan tetapi jangan lupa bahwa umum
juga telah terpengaruh oleh pendapatnya masing-masing
berdasarkan suka atau tidak suka, diuntungkan atau
dirugikan. Karena itu, bentrokan pendapat bukan hanya terjadi
kepada pribadi-pribadi, melainkan juga bentrokan pendapat
dan penilaian antara kelompok, golongan, dan bangsa. Bangs
Han kita semua memandang mendiang Jenghis Khan sebagai
orang yang sekejam kejamnya dan sejahat-jahatnya. Akan
tetapi coba bertanya kepada bangsa Mongol. Mereka semua
menganggap bahwa mendiang Denghis Khan adalah orang
besar, gagah perkasa, pahlawan bangsa. Mengapa demikian?
Alasannya mudah saja. Bangsa Han merasa dirugikan oleh
Jenghis Khan, sebaliknya bangsa Mongol merasa diuntungkan.
Nah, penilaian siapa kah di antara kedua bangsa ini yang
benar? Bukankah kedua-duanya mengandung ketidakkebenaran?"
Han Lin termenung dan mengangguk-angguk perlahan.
"Akan tetapi, suhu, mungkinkah kita hidup tanpa penilaian,
tanpa rasa suka atau tidak suka?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ha-ha-ha, kita adalah manusia-manusia yang masih
memiliki nafsu, tentu saja tidak mungkin. Akan tetapi kalau
engkau sudah yakin bahwa penilaian itu merupakan pendapat
yang miring, berat sebelah dan palsu, kita dapat berhati-hati
menghadapi jalan pikiran kita sendiri. Karena itu, dalam
melakukan sesuatu, sikapmu terhadap seseorang jangan
sekali kali berdasarkan rasa suka atau tidak suka saja, karena
itu menimbulkan penilaian yang palsu. Kalau engkau misalnya
berhadapan dengan seorang yang jahat, tengoklah ke dalam
hatimu apakah engkau menganggapnya jahat karena rasa
tidak suka, karena dirugikan atau karena dendam. Anggapan
begitu adalah tidak benar dan palsu. Akan tetapi amatilah
dengan teliti keadaan orang itu sebagaimana adanya, tanpa
dendam, tanpa kebencian, tanpa rasa suka atau tidak suka.
Kalau engkau biasakan bersikap seperti ini, sikap dan
perbuatanmu terhadap semua orang besar kemungkinannya
benar dan tepat."
Han Lin mengangguk-angguk. Selama lima tahun ini, dia
sudah banyak mendapat wejangan, baik dari Bu-beng Lo-jin
maupun dari Cheng Hian Hwesio. Semuai yang dikatakan Bubeng
Lo-jin tadi hanya merupakan penjelasan saja yang
membuka mata batinnya menimbulkan pengertian.
"Omitohud, Lo-jin telah membuka rahasia kekuasaan nafsu
atas diri manusia demikian gamblangnya sehingga pinceng
yakin bahwa Han Lin tentu telah mengerti baik. Sekarang,
coba perlihat-kan semua ilmu yang pernah kau pelajari agar
pinceng dapat membandingkan siapa di antara engkau dan Aseng
yang lebih lihai, Han Lin."
"Baik, Losuhu."
Setelah memberi hormat kepada dua orang gurunya, Han
Lin lalu bersilat tangan kosong memainkan Ngo-heng Sin-kun
(Silat Sakti Lima Unsur). Dia sengaja bersilat dengan
secepatnya dan menggunakan sin-kang sehingga setiap
gerakan tangannya mendatangkan angin yang kuat. Juga dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergerak berdasarkan ilmu langkah yang diajarkan oleh Bubeng
Lo-jin. Dalam ilmu silat, gerak dan langkah kaki
merupakan dasar pokok. Makin teratur dan kuat kedudukan
kaki, makin cepat gerakannya, semakin tangguh pula ilmu silat
itu. Melihat ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Sin-kun ini,
Cheng Hian Hwesio menganguk-angguk. Dengan ilmu silat itu,
ditambah pengetahuan Han Lin tentang Sin-liong-ciang-hoat
yang diajarkannya, maka dalam pertandingan tangan kosong
jelas Han Lin tidak akan kalah melawan A-seng.
"Cukup, Han Lin!" Cheng Hian Hwesio berseru dan Han Lin
menghentikan gerakannya.
"Sekarang, bersiaplah. Pinceng hendal menyerangmu
dengan It-yang-ci, jaga dirimu baik-baik. Lo-jin, tolong kau
ikut memperhatikan sehingga kita dapat mengambil keputusan
apakah dia perlu mempelajari It-yang-ci ataukah tidak."
"Aku mengerti maksudmu, Cheng Hian Hwesio. Memang
hal itu baik sekali. Pergunakanlah it-yang-ci sebaiknya untuk
mendesaknya. Dan kau Han Lin, berhati-hatilah menghadapi
serangan Cheng Hian Hwesio karena engkau belum mengenal
It-yang-ci!"
"Baik, suhu. Losuhu, teecu telah siap" kata Han Lin sambil
memasang kuda-kuda dengan kokoh dan teguh sekali.
"Bagus, sambutlah!" Cheng Hian Hwesio lalu memainkan
ilmu silat lt-yang-ci dan kedua tangannya, dengan telunjuT
diacungkan, melakukan serangan totokan bertubi-tubi. Dari
kedua telunjuknya menyambar hawa serangan yang
mengeluarkan bunyi bercuitan dahsyat!
Han Lin terkejut sekali. Cepat dia mengatur langkahnya dan
mengelak dengan menambah kecepatan gerakannya. Cheng
Hian Hwesio menyarang terus dan Han Lin mencoba untuk
menangkis. Akan tetapi ketika dia menangkis dan tangannya
bertemu telunjuk, dia terhuyung ke belakang karena dari
telunjuk itu menyambar kekuatan yang amat hebat. Diapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
coba membalas serangan Cheng Hian Hwesio karena satusatunya
jalan untuk menahan desakan lawan dengan
membalas serangan itu dengan setangan pula. Terjadilah
pertandingan yang amat seru. Mereka saling serang dan saling
elak dan tangkis, akan tetapi jurus tampak bahwa Han Lin
mulai terdesak oleh rangkaian serangan It-yang-ci yang amat
dahsyat itu setelah mereka bertanding lewat lima puluh jurus.
Akhirnya, dalam pertemuan tenaga sakti, Han Lin terhuyunghuyung
sampai lima langkah ke belakang.
"Omitohud, engkau akan kalah kalau A-seng
mempergunakan It-yang-ci!" seru Cheng Hian Hwesio.
"Sekarang masih ada semacam ilmu yang telah kuajarkan
kepadanya, yaitu ilmu Pek-in Hoat-sut (Sihir Awan Putih).
Coba engkau hadapi ilmu ini, Han Lin!"
"Teecu telah siap, Losuhu!" kata Hai Lin yang telah pulih
kembali dan memasang kuda-kuda untuk menyambut
serangan ilmu sihir itu. Dia tahu bahwa hwesio itu akan
menyerangnya dengan ilmu sihir, maka dalam persiapan itu
diapun telah mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) untuk
menghadapinya.
Cheng Hian Hwesio melipat kedua lengan di depan dada,
kemudian sambil mengeluarkan bentakan, kedua lengannya,
dilepas dari lipatan dan kedua tangannya mendorong ke
depan. Serangkup uap putih seperti awan menerjang ke
depan dan angin keras bertiup ke arah Han Lin, membawa
awan putih itu menyergap Ketika merasakan angin yang amat
dingin mulai menyergapnya dan uap putih itu membuat
matanya kabur dan tubuhnya juga menggigil, Han Lin terkejut
sekali dan cepat dia mengerahkan ilmunya yang dipelajarinya
dari Bu-beng Lo-ji yaitu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa Dari
mulutnya keluar pekik melengki seperti auman singa.
"Haaauuuuummmm.......!" Suaranya itu mendatangkan
getaran hebat sekali dan ilmu ini menurut Bu-beng Lo-jin
dapat memunahkan tenaga sihir dan serangan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdasarkan sin-kang yang kuat. Ilmu Sai-cu Ho-kang ini
dilakukan dengan mengerahan tenaga khi-kang. Begitu auman
itu menggetar, awan putih terdorong ke belakang dan
akhirnya perlahan-lahan lenyap, tidak menyerang lagi.
"Omitohud.... bagus sekali. Sai-cu Ho-kang yang kau kuasai
telah mampu menangkis Pek-in Hoat-sut, maka tidak perlu
dikhawatirkan lagi terhadap ilmu yang telah dimiliki A-seng ini.
Akan tetapi, engkau masih terancam bahaya kalau dia
menggunakan It-yang-ti. Karena itu, pinceng akan
mengajarkan It-yang-ci kepadamu. Melihat dasarmu yang kuat
dan bakatmu yang besar, dalam sebulan engkau sudah akan
menguasai teorinya, tinggal kau latih saja."
"Terima kasih, Losuhu."
"Bagus kalau begitu, Cheng Hian Hwesoo Bagaimana
dengan ilmunya yang lain, asalnya yang menggunakan
senjata?"
"A-seng hanya mempelajari In-lion tung (Tongkat Naga
Awan), akan tetapi Han Lm juga telah mempelajarinya, dan
dengan Leng-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Sinar Dingin) yang
kau ajarkan kepada Han Lin, dia tidak usah khawatir kalau
berhadapan dengan A-seng menggunakan senjata."
Demikianlah, sejak hari itu, Cheng Hian Hwesio diajak
mengungsi ke Puncak Bambu pondok tempat tinggal Bu-beng
Lo-jin karena tempat tinggal hwesio itu telah habis terbakar.
Dan setiap hari selama sebulan Han Lin mempelajari ilmu Ityang-
ci dari hwesio tua itu.
Benar seperti yang dikatakan Cheng Hian Hwesio, dalam
satu bulan saja Han Lin telah dapat menguasai teori It-yang«
ci, tinggal mematangkan dalam latihan saja.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Han Lin sudah menghadap
kedua orang gurunya dan Cheng Hian Hwesio berkata "Han
Lin, sekarang engkau telah menguasai sai It-yang-ci, tinggal
mematangkan saja melalui latihan. Pinceng tidak khawatir lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena engkau tentu akan mampu mengatasi A-seng yang
jahat itu."
"Han Lin, sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah.
Sudah tepat waktunya bagimu untuk turun gunung dan terjun
ke dunia ramai, mempergunakan segala ilmu yang telah kau
pelajari dari kami untuk menegakkan keadilan dan kebenaran,
menentang mereka yang melakukan penindasan dan
perbuatan jahat dan membela mereka yang lemah tertindas."
Biarpun sudah menduga bahwa sewaktu-waktu dia tentu
akan disuruh turun gunung oleh kedua orang gurunya, namun
pada waktu saat itu tiba, mendengar ucapan gurunya, dia
menjadi terkejut juga dan perasaannya menjadi tegang dan
terharu.
Segera ia memberi hormat sambil berlutut kepada dua
orang gurunya dan berkata, "Ji-wi suhu (bapa guru berdua)
telah lanjut usia, siapakah yang akan melayani ji-wi kalau
teecu (murid) harus pergi meninggalkan ji-wi suhu?"
Dua orang tua itu saling pandang lalu tertawa. "Omitohud,
anak baik, pinceng adalah seorang perantau yang dapat
menjaga diri sendiri."
"Akan tetapi Lo suhu biasanya dilayani oleh mendiang
suheng Nelayan Gu dan Petani Lai, dan sekarang mereka
berdua telah tiada. Biarlah teecu yang menggantikan mereka
melayani Losuhu."
"Ha-ha-ha, jangan memanjakan pinceng yang sudah tua.
Pinceng dapat mengurus diri sendiri dan jangan khawatir!
Hanya satu pesan pinceng. Selain engkau harus selalu ingat
akan semua nasihat yang telah kaudapat dari pinceng dan Lojin,
juga jangan sekali-kali lupa untuk mencari A-seng dan
merebut kembali Suling Pusaka Kemala itu. Andaikan engkau
tidak ada keinginan untuk mempergunakan pusaka itu, tidak
ingin menonjolkan diri, akan tetapi engkau harus ingat bahwa
pusaka itu dapat disalah-gunakan oleh A-seng!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baik, Losuhu. Semua petunjuk losuhu akan akan teecu
ingat selalu. Akan tetapi sesungguhnya, hati teecu tidak tega
untuk meninggalkan suhu berdua hidup tanpa dilayani
siapapun."
"Ha ha ha, kami sudah terbiasa hidup menyendiri. Aku
sendiri sudah biasa hidup sendiri, terbang di udara bebas
tanpa ikatan. Ada waktunya bertemu dan berkumpul, ada pula
waktunya berpisah. Han Lin, engkaupun harus bersikap
demikian dalam hidup, yaitu jangan membiarkan dirimu terikat
oleh apapun, karena sekali engkau terikat akan sesuatu, maka
ikatan itu akan mendatangkan duka. Orang yang kehilangan
hanyalah orang yang memiliki. Kalau engkau tidak memiliki
apa-apa, engkau tidak akan kehilangan. Mengertikah engkau,
Han Lin?"
"Teecu mengerti, suhu."
"Omitohud, bebas dari ikatan. Betap mudahnya diucapkan,
namun siapaka selain engkau yang dapat melaksanakan dalam
kehidupan, Bu-beng Lo-jin?"
"Ha-ha-ha-ha, Cheng Hian Hwesio, memang pengertian
saja belum cukup untuk mengalahkan diri sendiri. Han Lin,
masih ingatkah engkau akan pelajaran dalam kitab To-tekkeng
tentang penaklukkan diri sendiri? Bagaimana bunyinya?"
Han Lin mengangguk lalu bersajak dengan suaranya yang
bening dan lantang.
"Mengerti akan orang lain adalah bijaksana,
mengerti diri sendiri adalah waspada.
Menaklukkan orang lain adalah berjaya,
menaklukkan diri sendiri adalah kuat perkasa.
Mengetahui batas kecukupan berarti kaya,
tidak mengenal cukup berarti murka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Enggan meninggalkan kedudukan akan terbelenggu,
mati tanpa tersesat berarti panjang usia."
"Bagus. Akan tetapi jangan hanya pandai menghafalkan
saja ujar-ujar atau pelajaran itu, melainkan harus dicamkan
benar dan dilaksanakan dalam kehidupanmu. Kalau kita
melaksanakan dalam hidup, maka barulah tidak sia-sia Sang
Bijaksana Lo-cu memberikan pelajaran itu."
"Omitohud, indah sekali wejanganmu itu, Lo-jin. Memang
sesungguhnyalah, Han Lin. Menghafal selaksa kata-kata
mutiara yang indah-indah tiada gunanya sama sekali, kalau
hanya sekadar dihafalkan. Akan tetapi melaksanakan satu saja
kata-kata mutiara itu akan membuat kita dapat melalui jalan
kebenaran. Kami ber dua orang-orang tua yang sudah mulai
kehilangan tenaga dan semangat, hanya dapat mengundurkan
diri di tempat sunyi sambil memberi doa restu kepadamu."
"Terima kasih, ji-wi suhu."
"Sekarang berkemaslah karena hari ini juga engkau harus
turun gunung." kata Bu-beng Lo-jin. "Aku hanya mempunyai
sebuah pesan. Kalau engkau turun gunung dan melalui
pegunungan Lu-liang-san, jangan lupa singgahlah ke sebuah
puncak di Lu-liang-san di mana Sungai Fen-ho masuk ke
Sungai Huang-ho. Puncak itu adalah Puncak Burung Hong, di
mana terdapat sebuah guha besar yang disebut Guha Dewata.
Di depan guha itu, di atas batu-batu besar, terdapat sebatang
pedang yang menancap di atas batu. Pedang itu adalah
sebuah pusaka langka dan ampuh sekali yang disebut Im-yang
-kiam dan sudah sejak ratusan tahun menancap di situ. Ada
ukiran tulisan pada batu yang mengatakan bahwa siapa yang
mampu mencabut pedang Itu berhak memilikinya, akan tetapi
sampai sekarang tidak ada orang yang mampu mencabutnya.
Nah, aku ingin engkau singgah di sana dan cobalah engkau
mencabut pedang itu, Han Lin. Kalau engkau mampu
mencabutnya, berarti engkau berhak memilikinya. Pedang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempunyai riwayat yang amat terhormat, sebagai pedang
milik seorang gagah, pahlawan sejati yang patriotik."
"Omitohud, pinceng pernah mendengar adanya Im-yangkiam
itu, Lo-jin. Akan tetapi belum pernah mendengar
riwayatnya. Dapatkah engkau menceritakan riwayat pedang
aneh itu?"
"Pedang itu milik seorang panglima Kerajaan Sung yang
bernama Kam Tiong. Ketika Kerajaan Sung diserbu oleh
bangsa Mongol dan akhirnya dapat dikuasai bangsa Mongol,
Panglima Kam Tiong merupakan seorang panglima yang gigih
melakukan perlawanan. Namun, dia melihat pengkhianatan
beberapa orang menteri dan panglima yang bersekutu dengan
bangsa Mongol sehingga Kerajaan Sung jatuh. Dia menjadi
demikian menyesal dan sakit hati. Ketika kota raja Sung jatuh,
dia melarikan diri dan menjadi pertapa di Puncak Burung Hong
di pegunungan Lu-liang-san. Kemudian dia menghilang, tak
seorangpun tahu di mana kuburnya. Akan tetapi dia
meninggalkan pedang yang ditusukkan menancap pada batu
itu dan meningalkan pesan dengan tulisan berukir di batu
bahwa siapa yang mampu mencabut pedang pusaka itu, dia
berhak memilikinya. Tusukan pedang di batu itu merupakan
pelampiasan penyesalan dan kemarahannya yang melihat
bebe-rapa orang menteri dan panglima seolah "menjual"
Kerajaan Sung kepada musuh. Demikianlah ceritanya."
"Menarik sekali. Kalau begitu pinceng juga menganjurkan
agar engkau mencoba coba, Han Lin. Siapa tahu engkau
berjodoh dengan pedang itu." kata Cheng Hian Hwesio.
"Akan tetapi, suhu. Pedang itu sudah berada di sana
selama ratusan tahun. Tentu sudah didatangi banyak sekali
orang gagah dari seluruh penjuru."
"Memang, banyak sekali para datuk dan tokoh kang-ouw
datang ke sana untuk mencabut pedang pusaka itu, akan
tetapi tiada seorangpun berhasil. Pedang itu seolah telah
menjadi satu dengan batu dan tidak dapat d cabut lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau demikian banyaknya orang gagah yang berilmu
tinggi tidak berhasil mencabut pedang itu, bagaimana pula
teecu....."
"Omitohud, jangan berkata demikian, Han Lin, sebelum
engkau sendiri mencobanya. Di dalam kehidupan ini ada apa
yang dikatakan jodoh. Kalau engkau berjodoh dengan pedang
itu, bukan tidak mungkin engkau yang akan dapat mencabut
dan memilikinya."
"Benar, Han Lin."
"Akan tetapi, kenapa ji-wi suhu sendiri tidak mencoba
untuk mencabutnya? Dengan tingkat kepandaian ji-wi suhu,
mungkin saja pedang itu dapat dicabut?"
"Omitohud, untuk apa pedang bagi pinceng? Menyembelih
ayampun pinceng tidak pernah."
"Akupun bukan orang yang suka memiliki pedang, Han Lin.
Tongkat bambu ini cukup untuk mengusir setan, kalau ada
yang mencoba menggangguku. Engkau cobalah, hitung-hitung
mewakili kami."
"Baiklah, suhu. Akan teecu kunjungi tempat itu dan akan
teecu coba. Pedang pusaka itu milik seorang pahlawan yang
gagah perkasa, tentu bertuah."
"Han Lin, pinceng telah mengajarkan kepadamu bagaimana
untuk memperguna-kan It-yang-ci untuk pengobatan. Pinceng
akan lebih senang kalau engkau pergunakan It-yang-ci untuk
pengobatan daripada untuk merobohkan orang."
"Teecu mengerti, Losuhu."
Han Lin lalu berkemas. Tidak banyak yang dibawanya.
Hanya beberapa potong pakaian yang dibungkus dengan kain
kuning dan beberapa potong uang emas dalam kantung. Uang
itu pemberian Bu-beng Lo-jin. Sambil memegang sebatang
tongkat bambu diapun memberi hormat dengan berlutut
sebagai penghormatan terakhir atau salam perpisahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ji-wi suhu, teecu mohon pamit dan senantiasa mohon doa
restu dari ji-wi suhu."
Dua orang kakek itu mengangguk-angguk dan
menggerakkan tangan kanan, Bu-beng Lo-jin tersenyum lebar
dan sepa sang mata Cheng Hian Hwesio berlinang.
Bagaimanapun juga, pemuda itu adalah cucu-buyut
keponakannya sendiri!
0oo-dewi-oo0
Pegunungan Cin-ling-pai memanjang dari utara ke selatan.
Sungai Huang-ho mengalir di sepanjang pegunungan ini dan
banyak mendapat tambahan air dari sumber-sumber yang
mengalir di pegunungan itu. Pegunungan yang amat panjang
ini mempunyai banyak sekali bukit dan puncak-puncak yang
berbahaya. Hanya beberapa bukit rendahan saja yang dihuni
manusia. Di lereng-lereng dari bukit-bukit ini terdapat
pedusunan sederhana dari para petani gunung. Akan tetapi
banyak puncak yang sama sekali tidak dihuni manusia, bahkan
jarang atau bahkan tidak pernah terinjak kaki manusia.
Satu di antara puncak-puncak yang tidak pernah didatangi
manusia bahkan para pemburupun tidak berani mendaki
puncak yang amat berbahaya, dengan hutan-hutan liar yang
penuh binatang buas, adalah Puncak Ekor Naga. Memang
dilihat dari jauh, puncak ini bentuknya seperti ekor naga.
Akan tetapi pada suatu pagi, seorang laki-laki dan seorang
gadis remaja mendaki puncak itu dengan gerakan cepat. Setengah
berlari mereka mendaki puncak dan memasuki hutan
yang lebat itu. Laki laki itu sudah berusia enam puluh
tahunan, bertubuh tinggi kurus dengan muka merah, dahinya
lebar dan sepasang matanya sipit. Mulutnya selalu tersenyum
sinis, dan mata yang sipit itu kadang mencorong liar.
Jenggotnya sudah penuh uban dan berjuntai sampai ke
lehernya. Tangan kanannya memegang sebatang tongkal ular
hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adapun gadis remaja itu berusia kurang lebih tiga belas
tahun. Wajah gadis remaja itu cantik manis, dengan mata
yang lebar dan kocak. Mulutnya manis sekali dengan bibir
yang selalu merah basah dan murah senyum mengejek.
Lesung pipit di pipi kanannya dan tahi lalat kecil di pipi kirinya
membuat wajah itu manis sekali, apalagi kalau tersenyum.
Akan tetapi sinar mata yang kocak itu kadang-kadang
mengeras dengan pandangan yang tajam menusuk. Biarpun
usianya baru tiga belas tahun, namun sudah tampak tandatanda
bahwa ia akan menjadi seorang, gadis yang bertubuh
langsing dan padat. Gerak-geriknya lincah dan ringan sekali
ketika ia mendaki puncak itu sambil setengah berlari.
Mereka itu bukan lain adalah Huang-ho Sin-liong Suma
Kiang dan anak yang sudah dianggap puterinya sendiri, yaitu
Suma Eng. Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah
Suma Kiang dikalahkan Cheng Hian Hwesio di Puncak Awan
Putih, dia tidak mau lagi tinggal di pegunungan Thai-san dan
dia membawa Suma Eng ke Lu-liang-san untuk menghadap
seorang supeknya (uwa gurunya) yang bertapa di Puncak Ekor
Naga di Lu-liang-san.
"Hati-hati, Eng Eng. Tempat ini berbahaya. Aku mencium
bau binatang buas!" kata Suma Kiang kepada puterinya
"Hutan ini tentu dihuni banyak binatang buas yang
berbahaya."
"Ayah, perlu apa kita takut terhadap binatang buas? Kalau
mereka berani muncul, tentu akan kubunuh dengan
pedangku!" jawab Suma Eng dengan suara tegas penuh
keberanian.
"Awas, Eng Eng, di atasmu!" tiba-tiba Suma Kiang berseru.
Cepat gadis remaja itu memandang ke atas dan pada saat itu,
seekor ular yang ekornya melibat dahan pohon dan kepalanya
bergantung ke bawah berayun dan menyambar ke arah Suma
Eng!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis remaja itu dengan sigapnya mengelak sehingga
sambaran moncong ular itu luput. Sedikitpun dara cantik itu
tidak merasa ngeri atau takut. Dengan gerakan yang cepat
sekali tangan kanannya sudah mencabut Ceng-liong-kiam
(Pedang Naga Hijau) yang bersinar hijau itu dan ia menanti
dengan gagah. Ular sebesar paha orang dewasa itu agaknya
tidak melihat bahaya. Dia penasaran sekali ketika
sambarannya tadi luput dan kini dia sudah terayun kembali
dan menyambar dengan cepat sambil uembuka moncongnya
dan mengeluarkan suara mendesis! Kembali Suma Eng
mengelak dengan merendahkan tubuhnya sehingga kepala
ular itu menyambar lewat di atas kepalanya dan sebelum ular
itu dapat membalik dan menyerang lagi, gadis remaja itu telah
meloncat seperti terbang dan sinar hijau berkelebat.
"Crakkk....!" Darah muncrat dan tubuh ular itu terlepas dan
dahan, jatuh ke atas tanah menyusul kepalanya yang lebih
dulu terpisah dari badan dan jatuh. Tubuh ular tanpa kepala
itu berkelojotan sebentar lalu diam tak bergerak. Suma Eng
melihat pedangnya. Sedikitpun tidak ternoda darah,
menunjukkan betapa cepatnya gerakan memenggal leher ular
itu tadi.
"Bagus!" Suma Kiang memuji dengan girang dan bangga.
Biarpun masih belum dewasa, Suma Eng telah memiliki ilmu
pedang yang cukup tangguh. "Sekarang kita cari biruang. Di
daerah sini terdapat biruang hitam yang buas. Aku ingin
melihat apakah engkau berani melawan seekor biruang."
"Tentu saja aku berani, ayah!" kata Suma Eng penuh
semangat sambil menyarungkan kembali pedangnya.
Mereka berjalan terus dan di tempati terbuka di depan
mereka melihat seekor biruang yang cukup besar. Seekor
biruang jantan yang sedang mendongkel-dongkel tanah
mencari sesuatu.
"Nah itu dia! Beranikah engkau melawan biruang itu, Eng
Eng?" tanya Suma Kiang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suma Eng memandang binatang itu dai matanya bersinarsinar
penuh semangat "Tentu saja aku berani, ayah. Lihat, aku
akan membunuh biruang itu!"
Dengan tabah Suma Eng lalu mempercepat langkahnya lari
menghampiri biruang itu. Suma Kiang berlari di belakangnya
dan datuk inipun siap untuk sewaktu waktu melindungi
puterinya kalau-kalau terancam bahaya.
Biruang itu mendengar langkah kaki lalu memutar tubuhnya
dan mengangkat kedua kaki depannya. Tingginya dua kali
tinggi Suma Eng! Matanya mencorong dan melihat gadis
remaja itu, dia memperlihatkan taringnya dan menggrreng.
Akan tetapi Suma Eng tidak menjadi takut dan ia sudah
memcabut pedangnya, berindap-indap menghampiri lebih
dekat, tubuhnya ringan dan gesit, matanya menatap tajam
wajah biruang itu. Ketika bertemu pandang, biruang itu
mengedipkan mata beberapa kali seperti silau. Semua
binatang selalu silau kalau bertemu pandang dengan manusia
yang tidak merasa takut. Dia sudah menoleh ke belakang
seolah segan untuk berkelahi melawan manusia. Akan tetapi
Suma Eng menantang.
"Hayo, biruang jelek. Lawanlah aku dan aku akan
membunuhmu!" Kakinya menendang sepotong batu yang
terlempar menyambar ke arah biruang itu. Akan tetapi
binatang yang besar itu ternyata gesit juga.
Dengan mudah dia mengelak dari sambaran batu yang
ditendang Suma Eng dari dia menjadi marah. Dia menurunkan
kaki depannya, menggereng-gereng seperti menggertak.
Suma Eng tidak menjadi gentar, bahkan ia sudah
menerjang ke depan, membacokkan pedangnya ke arah dada
biru-ang itu. Biruang itu bangkit berdiri dan menyampok
dengan kaki depan kanannya, tepat mengenai dari arah
samping. Kuat bukan main sampokan itu. Saking kuatnya
sehingga pedang itu terpental dan tubuh Suma Eng ikut pula
terpental dan cepat gadis remaja ini bergulingan! karena pada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saat itu, biruang sudah menubruknya. Kalau ia tidak
bergulingan, tentu ia kena ditubruk dan celakalah ia kalau
sampai empat kaki yang berkuku panjang itu dapat
mencengkeramnya.
Suma Eng melompat lagi dan kini ia lebih berhati-hati. Ia
tahu bahwa binatang itu bertenaga besar sekali dan kaki
depannya amat kuat sehingga berani menangkis pedangnya.
Kalau ia kurang hati hati pedangnya dapat tertangkis dan
terpental lepas dari pegangannya. Maka, kini ia tidak
menyerang lagi melainkan menunggu serangan binatang itu.
"Grrrr......" Biruang itu menggereng dan tiba-tiba ia
menubruk ke depan. Suma Eng melihat betapa tubuh yang
besar itu menerkam ke arahnya, namun baginya gerakan
binatang itu lamban saja sehingga dengan amat mudah ia
sudah mengelak dengan loncatan ke samping, Ia mengelak
lagi ketika biruang itu membalik dan menubruk lagi. Suma Eng
menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak terus,
sengaja mempermainkan biruang itu agar menjadi marah dan
lengah. Ia memaki-maki untuk memancing kemarahan biruang
itu.
"Biruang jelek! Engkau seperti tikus besar, jelek dan bau!"
Suma Eng memaki maki sambil berloncatan mengelilingi
biruang itu.
Biruang itu berdiri di atas dua kaki belakangnya dan kini
mencoba untuk menerkam dengan kedua kaki depannya.
Suma Eng kembali mengelak dan ketika ia melihat biruang itu
agak lengah, membuka kedua kaki depan lebar-lebar, secepat
kilat pedangnya menusuk ke arah dada binatang itu.
Tusukannya selain cepat juga amat kuat karena ia
mengerahkan tenaga sin-kangnya.
"Singgg..... ceppp.....!" pedang itu amblas ke dalam dada
biruang sampai setengahnya! Begitu menancap, Suma Eng
mencabut lagi sambil melompat ke belakang sehingga ia lolos
dari sambaran kaki depan biruang. Biruang itu menggerengTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
gereng, darah mengulir keluar dari luka di dadanya. Dia
kesakitan dan agaknya menjadi jerih karena tiba-tiba dia
membalikkan tubuhnya dan lari dari situ sambil berteriakteriak.
"Bagus, Eng Eng. Engkau telah mampu mengalahkannya!"
teriak Suma Kiang dengan girang.
"Akan tetapi aku belut dapat membunuhnya, ayah!" kata
Suma Eng menyesal.
"Siapa bilang? Tusukan pedangmu tadi sudah cukup dalam
untuk melukai bagian dalam dadanya. Dia tentu akan mati di
tempat persembunyiannya."
"Ayah, ada lagi!" Tiba-tiba Suma Eng berteriak sambil
menuding ke depan dengan mata terbelalak. Suma Kiang
membalikkan tubuhnya dan diapun terbelalak kaget karena di
sana berdiri seekor biruang kulit putih yang besarnya luar
biasa! Ada dua kali tubuhnya besar biruang itu.
"Wah, hati-hati, Eng Eng, dia berbahaya sekali!" seruanya
lirih. "Mari kita pergi saja dari sini!"
"Tidak, ayah. Aku akan melawannya!" kata gadis remaja
yang tidak mengenal takut Itu. Suma Kiang memandang
dengan khawatir sekali dan diapun mencabut sepasang
pedangnya.
Suma Eng sudah tiba di depan biruang putih itu. Tiba-tiba
ia mendapat akal yang berani sekali. Sambil mengeluarkan
teriakan keras, gadis itu menggulingkan tubuhnya ke depan,
bergulingan cepat dan pedangnya menyerang ke arah kedua
kaki belakang yang berdiri itu!
Akan tetapi ternyata biruang itu, biarpun memiliki tubuh
yang amat besar, dapat bergerak lincah. Dia dapat mengelak
dari sambaran pedang itu dan melompat ke atas, kemudian
menurunkan kedua kaki depannya dan menubruk ke arah
Suma Eng!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Awas, Eng Eng!" Suma Kiang berseru kaget. Akan tetapi
Suma Eng yang masih rebah di atas tanah sudah
menggulingkan tubuhnya dengan cepat bagaikan seekor
binatang trenggiling dan tubrukan biruang itu pun mengenai
tempat kosong! Sebelum binatang itu mampu menyerang lagi,
Suma Eng sudah melompat berdiri pula dan memasang kudakuda,
siap untuk menghindarkan diri dari serangan biruang
itu. Ia hendak menggunakan siasat yang sama dengan ketika
mengalah-kan biruang hitam tadi, yaitu membiarkan binatang
itu menyerang terus sampai terlengah sehingga ia dapat
menusukkan pedangnya ke arah perut atau dada.
Akan tetapi biruang itu kini sudah berdiri lagi di atas kedua
kaki belakangnya dan kedua kaki depan yang menjadi seperti
sepasang tangan itu siap untuk menyerang. Dia melangkah
perlahan ke depan, kedua kaki depan siap di kanan kiri dan
setelah dekat, kedua kaki itu menyambar dan kanan kiri
dengan kuat dan cepat. Suma Eng mengelak mundur dan
ketika tangan atau kaki depan yang kanan menyambar lagi, ia
menyusup ke bawah kaki yang menyambar itu dan dari situ ia
menusukkan pedangnya.
"Cessss.....!" Pedangnya menusuk dada bawah lengan,
akan tetapi tidak terjadi apa-apa. Ia merasa seperti menusuk
setumpuk kapas saja dan ketika pedang dicabut, tidak tampak
binatang itu terluka, bahkan kaki depan kanan kembali
menyambar disusul pula dengan kaki depannya yang kiri dan
hampir saja kepala Suma Eng kena disambar kaki depan kiri
yang lebih besar dari kepalanya! Akan tetapi gadis remaja itu
memang memiliki kecepatan gerakan yang cukup hebat, maka
ia masih berhasil menghindarkan diri dari kaki depan itu. Suma
Eng terkejut bukan main. Pedangnya sudah jelas menusuk
dada sampai hampir setengahnya, akan tetapi mengapa
biruang itu tidak terluka? Seperti menusuk kapas, atau seperti
menusuk bayangan saja! Dengan marah ia lalu melompat ke
atas dan mengayunkan pedangnya, dengan cepat sekali
sambil melompat itu ia menebas leher biruang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Singgg.... wusssshhhh.....!" Kembali pedangnya mengenai
leher, akan tetapi biruang itu tidak apa-apa dan pedangnya
seperti menembus leher tanpa merasakan apa-apa seolah
leher itupun hanya bayangan saja!
"Ayah.....!!" Suma Eng berseru, kini terkejut dan gentar.
Kalau binatang itu tidak dapat terluka oleh pedangnya, tentu
ia berada dalam bahaya besar sekali.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil