Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 01 Mei 2017

Cersil Jadul Kho Ping Hoo 6 Tamat Darah Pendekar

Cersil Jadul Kho Ping Hoo 6 Tamat Darah Pendekar Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Jadul Kho Ping Hoo 6 Tamat Darah Pendekar
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Jadul Kho Ping Hoo 6 Tamat Darah Pendekar
"Ha-ha-ha, tepat dugaanku bahwa tentu to-koh besar Tai-bong-pai yang bermain-main dengan mayatmayat
itu. Kiranya malah ketuanya yang maju sendiri menolong kami. Ha-ha, terima kasih, pai-cu!"
Beberapa lamanya Kwa Eng Ki menatap wajah kakek sederhana itu lalu menarik napas panjang.
"Kalau ada orang-orang mampu menawan seorang murid mendiang Bu-eng Sin-yok-ong, dapat
dibayangkan betapa lihainya orang-orang itu!"
Kakek Kam menarik napas panjang. "Tidak aneh kalau yang menjadi lawan itu iblis macam Raja
Kelelawar dan anak buahnya yang terdiri da-ri datuk-datuk kaum sesat yang amat lihai."
"Ayah, inilah dia tuan penolongku yang berna-ma Chu Seng Kun atau Bu Seng Kun, berdua de-ngan
enci Bwee Hong dan mendiang suami isteri Bu Kek Siang telah menyelamatkan selembar nya-waku
yang tidak berharga, bahkan dengan pengor-banan nyawa suami isteri Bu Kek Siang."
Kakek yang berwajah mayat itu memandang kepada Seng Kun dengan sepasang mata tajam penuh
selidik, kemudian diapun tidak segan-segan untuk menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat
kepada Seng Kun! Tentu saia Seng Kun menjadi kaget dan cepat -cepat diapun membalas dengan
menjatuhkan diri berlutut pula.
Tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang diti-up oleh Liu Pang. Kiranya pemimpin besar ini sudah
berdiri di tempat tinggi sambil meniup te-rompetnya yang menjadi tanda bagi barisannya untuk
memulai dengan penyerbuan mereka! Dan terjadilah geger di benteng musuh. Sebelumnya memang
pasukan yang berada di dalam benteng sudah kacau-balau ketakutan oleh sepak terjang para mayat
hidup. Baru saja mereka dikejutkan dan dibikin ngeri lagi ketika mayat-mayat hidup itu secara tiba-tiba
saja, seperti kemunculan me-reka tadi, berjatuhan dan mati kembali, seolah-olah tenaga penggerak
mereka dicabut serentak dan mereka itu terpelanting semua tanpa nyawa lagi.
Bukan hanya para perajurit yang menjadi panik. Bahkan para pimpinannya termasuk Kwa Sun Tek
yang amat diandalkan oleh para pembesar itu menjadi ketakutan. Tentu saja pemuda ini menge-nal
ilmu yang menggerakkan mayat-mayat itu dan tahulah dia bahwa ayah dan ibunya juga da-tang ke
benteng itu dan menjadi musuh! Tahulah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi un-tuk
melaksanakan cita-citanya memperoleh kedu-dukan tinggi karena pihak yang dibelanya itu agaknya
telah mendekati jurang kehancuran dan kegagalan. Maka diapun diam-diam berusaha meloloskan diri
bersama anak buahnya.
Pada saat mereka diliputi kekhawatiran, tiba-tiba saja, dalam keadaan gelap gulita itu, pintu gerbang
benteng didobrak dari depan. Terjadilah pertempuran hiruk-pikuk dan kacau-balau. Pa-sukan Liu
Pang yang menyerbu mengenakan tanda ikat pinggang putih di pinggang mereka sehingga mereka
dapat bergerak dengan leluasa, dapat membedakan mana kawan mana lawan. Sebalik-nya,
pasukan yang mempertahankan benteng yang sudah dicekam ketakutan dan dalam keadaan gu-gup
tidak dapat membedakan lawan dan kawan, dihantam dan didesak, sebentar saja banyak ang-gauta
pasukan mereka yang roboh dan benteng itupun jatuh. Semua perajurit pasukan asing di-hancurkan
dan terbunuh, karena semua perajurit Liu Pang menerima pesan khusus bahwa mereka harus
membunuh semua perajurit asing dan boleh mengampuni dan menerima kalau ada perajurit para
gubernur yang menakluk dan menyerahkan diri. Belum sampai pagi, pertempuran berhenti dan
benteng itupun jatuh ke tangan pasukan pem-berontak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jilid XXIX
BEBERAPA orang gubernur yang ketakutan membunuh diri, ada pula yang ikut melawan dan tewas.
Akan tetapi ada pula yang menakluk dan mereka ini bersama keluarga mereka diterima oleh para
pimpinan pemberontak. Juga para pe-rajurit yang menakluk diterima untuk dibentuk menjadi pasukan
khusus yang masih berada di bawah pengawasan. Semua perajurit kini bertugas membersihkan
benteng itu, menyingkirkan mayat-mayat dan merawat mereka yang terluka. Para tawanan yang
tadinya ditahan di penjara itu dibe-baskan. Pada keesokan harinya, semua mayat di-kuburkan dengan
rapi dan sederhana, dan pada malam harinya, Liu Pang mengadakan pesta seder-hana, sekedar
untuk menghibur hati para anggauta pasukan, merayakan kemenangan itu.
Pada waktu itu, Liu Pang dan barisannya telah menguasai hampir seluruh bagian negara. Bengcu
atau pemimpin pemberontak itu kini tidak diang-gap sebagai bengcu lagi, melainkan sebagai seorang
raja baru! Hal ini tidak mengherankan. Perjuangannya berhasil dengan baiknya. Banyak kota jatuh ke
tangannya dan pasukannya menjadi semakin besar dan kedudukannya menjadi semakin kuat. Kini,
kota raja sudah berada di depan mata. Liu Pang ingin membiarkan pasukannya memperoleh istirahat
secukupnya untuk menyusun kekuatan se-baik-baiknya agar pasukan dalam keadaan segar ketika ia
menggerakkannya untuk tujuan terakhir, yaitu menghantam kota raja, mendudukinya dan merampas
singgasana kaisar.
Sambil makan minum berpesta sekedarnya untuk merayakan kemenangan, Liu Pang duduk di atas
kursi kepemimpinan, dikelilingi para perwira dan pembantunya yang kini telah mulai mengena-kan
pakaian seragam sesuai dengan pangkat yang diberikan oleh pemimpin itu kepada mereka. Di antara
para perwira ini terdapat pula Yap Kim yang tampan dan gagah. Sambil bercakap-cakap
membicarakan semua pengalaman pertempuran mereka, semua orang nampak bergembira.
A-hai dan teman-temannya juga ikut berpesta, berkumpul dengan perwira-perwira muda. Kare-na Ahai,
Seng Kun, Bwee Hong, Tiong Li, kakek Kam Song Ki dan suami isteri Kwa merupakan ta-mutamu
kehormatan, mereka mendapatkan sebu-ah meja kehormatan yang ditempatkan tak jauh dari
tempat duduk Liu Pang dan para perwiranya. Sejak tadi, A-hai celingukan memandang ke kanan kiri
dan akhirnya dia berbisik kepada Bwee Hong yang duduk di sebelah kirinya.
"Sejak pagi tadi aku mencari-cari nona Ho Pek Lian, akan tetapi ia tidak kelihatan. Mengapa ia tidak
menemui kita dan ke manakah perginya? Bukankah ia merupakan seorang tokoh penting dalam
barisan ini, bahkan menjadi murid paling dipercaya dari Liu-bengcu?"
"Ah, engkau benar! Aku sampai lupa saking gembiraku melihat Kun-koko dalam keadaan se-lamat."
"Biar kutanyakan kepada Liu-bengcu "
kata A-hai, akan tetapi seorang perwira muda yang duduk tidak berjauhan dengan mereka dan
mende-ngar percakapan itu segera menoleh. Perwira muda ini dahulunya adalah seorang pendekar
ternama di daerah pantai timur. Ketika dia menoleh dan melihat wajah Bwee Hong, dia seperti silau
oleh kecantikan nona itu. Dengan sikap hormat diapun lalu berkata, ditujukan kepada A-hai karena dia
kurang patut kalau bicara kepada seorang gadis yang belum dikenalnya.
"Agaknya ji-wa (anda berdua) adalah sahabat baik dari Ho-siocia. Memang saat ini ia tidak berada di
dalam-barisan ini. Ia mendapat tugas dari Liu-bengcu untuk melakukan penyelidikan ke kota raja,
ditemani oleh Yap-taihiap. Kita ha-rus mengetahui dengan baik keadaan di kota raja sebelum
melakukan penyerbuan, dan karena itulah benteng ini kita kuasai secepatnya agar kita dapat
beristirahat dan mengumpulkan kekuatan. Kalau tidak ada halangan, menurut perhitungan, hari ini
juga Ho-siocia akan kembali dari kota raja."
"Terima kasih, ciangkun," kata A-hai girang. "Memang kami bersahabat baik dengan nona Ho. Kota
raja sudah dekat, hanya tiga empat jam per-jalanan dari sini. Tentu ia akan kembali nanti. Kami akan
menanti sampai ia pulang."
dunia-kangouw.blogspot.com
Bwee Hong menarik napas panjang, hatinya terasa sedih. Bagaimanapun juga, sedikit banyak ada
hubungan darah antara ia dan keluarga kaisar. "Aahh, agaknya kota raja sudah benar-benar akan
runtuh!"
Perwira muda itu menggeleng kepala. Dia tidak perlu merahasiakan kepada tamu-tamu pemimpin-nya
ini, karena diapun sudah mendengar bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, bahkan kakek dan nenek yang bermuka seperti mayat itu sudah berjasa besar dalam
penyerbuan ke benteng malam tadi. "Saya kira tidaklah begitu mudah, nona. Selain di kota raja
masih ada Beng-tai-ciangkun yang pandai, juga kami masih mempunyai musuh besar, yaitu barisan
yang dipimpin oleh pemberontak Chu Siang Yu yang kabarnya juga sudah menguasai hampir selu-ruh
daerah utara dan barat."
A-hai dan teman-temannya tidak melanjutkan percakapan mengenai perang karena sesungguhnya
mereka tidak ingin terlibat. Kalau sampai selama ini mereka kadang-kadang terlibat adalah karena
kebetulan saja dan bukan karena mereka memang ingin membantu suatu pihak tertentu. Seng Kun
dan Bwee Hong memang pernah dekat dengan kaisar yang telah meninggal dunia, akan tetapi pendekatan
itupun hanya karena mereka bertemu de-ngan ayah kandung mereka yang menjadi orang
penting di istana saja, dan Seng Kun juga tidak ter-jun ke dalam pertempuran, melainkan hanya bertugas
menyelidiki hilangnya mendiang Menteri Ho Ki Liong, ayah Pek Lian. Di dalam hatinya, pendekar
inipun tidak suka akan peperangan, apa lagi perang antara bangsa sendiri yang merupakan perang
sau-dara yang amat kejam.
Tak lama kemudian terdengar orang-orang bersorak di luar benteng. Seorang pengawal me-laporkan
kepada Liu Pang dengan suara nyaring dan gembira bahwa rombongan Ho-siocia telah tiba kembali.
Nampaklah Ho Pek Lian menung-gang kuda, diiringkan oleh seorang pemuda yang berpakaian putihputih
dan nampak gagah perka-sa penuh wibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Yap Kiong Lee yang
amat dihormati oleh para pe-rajurit karena pemuda ini memiliki ilmu kepandai-an yang amat hebat dan
walaupun Kiong Lee juga tidak mau terlibat secara resmi dalam barisan itu, namun dia terpaksa
membantu karena sutenya menjadi orang penting di situ. Di belakang kedua orang ini nampak
perajurit-perajurit yang me-nyambut dan mengelu-elukan mereka dengan gembira. Kedua orang
muda itu memang amat po-puler di kalangan mereka dan mereka amat me-nyayangi mereka berdua
yang sudah banyak ber-jasa namun selalu bersikap ramah dan rendah hati.
Dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pek Lian bertemu dengan kawan-kawannya di tempat itu.
Pertemuan yang tak disangka-sangka-nya. Apa lagi mendengar bahwa Seng Kun telah dapat
ditemukan dalam keadaan selamat. Ia me-rangkul dan mencium pipi Bwee Hong dan Siok Eng,
memberi hormat kepada suami isteri Tai-bong-pai, bergembira menyambut penghormatan Seng Kun
dan Tiong Li yang sudah dikenalnya sejak dahulu, dan disambutnya uluran tangan A-hai dengan
hangat. Bagaimanapun juga, pemuda ini masih meninggalkan guratan istimewa di dalam hati
pendekar wanita muda ini. Kemudian, sete-lah meluapkan kegembiraannya di depan teman-teman
lamanya, Pek Lian lalu melapor kepada pe-mimpin dan gurunya, dengan suara nyaring men-ceritakan
hasil penyelidikannya sehingga dapat didengar oleh semua anggauta pimpinan pasukan yang
berkumpul di situ.
"Saya dan Yap-taihiap sudah berhasil menye-lundup ke kota raja. Wah, kami menemui keadaan yang
kacau-balau di dalam kota raja. Penduduk kota sudah banyak yang lari mengungsi ke luar kota, akan
tetapi mereka itu tidak dapat memba-wa secuilpim harta kekayaan mereka karena diha-langi oleh
para penjaga. Bagaimana kota raja tidak akan menjadi kacau-balau? Penjahat-penjahat besar,
pencoleng, perampok dan maling-maling berkumpul di sana. Datuk-datuk seperti San-hek-houw, Singo
Mo Kai Ci, Pek-pi Siauw-kwi Si Maling Cantik, Jai-hwa Toat-beng-kwi Si Pen-jahat Cabul, dan
orang-orang sebangsa itu yang jahat dan kejam, yang menjadi anak buah Raja Kelelawar, semua
berkumpul di sana dan mereka malah diberi kedudukan! Orang-orang macam itu diberi kedudukan
dan kekuasaan! Bagaimana ti-dak akan kacau? Seolah-olah harimau ganas di-beri tambahan sayap
saja. Dan yang paling gila lagi, kini kaisar baru mengangkat Raja Kelelawar menjadi Panglima Besar
Kerajaan, menggantikan kedudukan Beng-goanswe!"
Semua orang terkejut, dan Liu Pang mengerutkan alisnya. "Ah , dia malah diangkat menjadi
panglima besar? Lalu di mana adanya Jenderal Beng Tian?"
"Sisa pasukan kerajaan di bawah pimpinan Jen-deral Beng Tian telah dipukul mundur dan porak
peranda oleh pasukan Chu Siang Yu kemarin dulu. Jenderal Beng pulang ke kota untuk melapor ke
dunia-kangouw.blogspot.com
istana. Akan tetapi dia malah ditangkap dan di-anggap bersalah karena kekalahan itu, dan ka-barnya
besok dia akan dihukum mati!"
"Kaisar gila !!" Liu Pang bangkit berdiri dan mengepal tinju. Pemimpin ini mengenal betul orang
macam apa adanya Jenderal Beng Tian. Se-orang panglima besar, seorang perajurit sejati yang amat
setia dan pandai. Kekalahan yang diderita-nya itu bukan kesalahannya, melainkan karena kelemahannya
kerajaan. Jenderal itu sudah berusaha mati-matian untuk menghalau semua musuh negara.
Akan tetapi dia bekerja sendiri, sama sekali tidak memperoleh dukungan dari pusat, bahkan
tidak didukung rakyat yang sudah marah terhadap kelaliman kaisar dan para pengikutnya. Akhirnya
Liu Pang teringat akan keadaannya dan dia duduk kembali, memandang muridnya dan berkata, "La-lu
bagaimana?"
Pek Lian menarik napas panjang. "Pagi tadi pasukan Chu Siang Yu sudah mengepung kota ra-ja.
Kami melihat pasukannya yang amat besar dan kuat, bercampur dengan pasukan asing di luar tembok
besar. Kami bergegas kembali ke sini sesuai dengan rencana sehingga kami tidak tahu apa yang
terjadi sekarang di kota raia."
Liu Pang mengerutkan alisnya. "Benarkah se-mua keterangan itu, Yap-taihiap?" tanyanya ke-pada
Kiong Lee.
Kiong Lee mengangguk. "Benar semua, dan sa-ya kira saat ini tentu sedang terjadi pertempuran di
benteng kota raja."
Liu Pang menundukkan kepalanya. "Ahh, kita telah didahului oleh Chu Siang Yu. Tak kusangka dia
akan lebih dulu sampai di kota raja dari pada kita. Hemm, kita harus bergerak, tidak boleh
membiarkan dia mendahului kita."
Selagi Liu Pang dan para pembantunya ber-bincang-bincang dengan sikap dan suara serius, diamdiam
A-hai meninggalkan ruangan itu. Munculnya Pek Lian mendatangkan perasaan ti-dak karuan di
dalam hatinya. Teringat dia akan masa lalunya ketika dia masih berada dalam kea-daan hilang
ingatan. Mula-mula nona Ho Pek Lian itulah yang menggugah perasaannya. Harus diakuinya bahwa
dalam keadaan hilang ingatan, dia pernah bergantung secara batiniah kepada Ho Pek Lian dan dalam
pertemuan tadi, dia masih da-pat menangkap sinar mata nona Ho itu kepadanya. Sinar mata yang
mengandung rasa kasih sayang! Tak salah lagi, Pek Lian pernah jatuh cinta kepada-nya. Setelah Pek
Lian, lalu muncul Bwee Hong dalam hidupnya. Diapun dalam keadaan hilang ingatan pernah
bergantung secara batiniah kepada Bwee Hong, apa lagi karena wajah Bwee Hong se-rupa benar
dengan wajah isterinya! Kini, setelah dia mulai memperoleh kembali ingatannya, tentu saja dia harus
menjauhkan perasaannya terhadap dua orang dara itu. Dia sudah mempunyai isteri, bahkan sudah
mempunyai seorang anak. Kenyata-an ini membuat A-hai merasa berdosa, walaupun tidak sengaja
dia menggoda hati dua orang dara perkasa yang cantik jelita dan berbudi mulia itu. Betapa baiknya
kedua orang dara itu terhadap di-rinya! Dan dia hanya dapat membalas mereka de-ngan melukai hati
mereka, pikirnya. Hal inilah yang membuat A-hai tidak betah tinggal lebih lama di dalam ruangan itu
dan diapun keluar ber-jalan-jalan.
Malam itu amat cerah. Bulan sepotong naik tinggi dan A-hai sengaja mencari tempat yang se-pi di
sudut benteng itu. Yang menjaga benteng hanyalah para petugas jaga di atas benteng dan semua
perajurit lainnya menikmati istirahat setelah merayakan kemenangan mereka.
Selagi A-hai berdiri termenung di bawah po-hon yang membentuk bayangan gelap, tiba-tiba dia
melihat berkelebatnya dua bayangan orang. Dua orang itu berhenti tidak jauh dari pohon itu dan
heranlah dia ketika melihat bahwa mereka itu berpakaian tosu. Teringat dia bahwa memang ada dua
orang tosu yang membantu perjuangan barisan Liu Pang dan kabarnya dua orang tosu itu lihai ilmu
kepandaiannya. Agaknya dua orang tosu ini-lah orangnya, pikir A-hai. Akan tetapi, dari da-lam gelap
bermunculan beberapa orang berpakaian perajurit dan mereka bercakap-cakap dengan dua orang
tosu itu dengan bahasa daerah utara! A-hai mendengarkan dan ternyata dia mampu menang-kap dan
mengerti bahasa itu! Dia sendiri merasa heran dan tidak ingat bahwa dia mengerti bahasa daerah
utara, maka dengan gembira dia lalu meng-intai dan mendengarkan.
"'Sudah tiba saatnya bagi kita untuk bergerak," terdengar seorang di antara dua tosu itu berkata. Tosu
ini membawa sebatang tongkat, rambutnya digelung ke atas dan memakai jubah kotak-kotak,
sikapnya berwibawa, "Nanti tengah malam, kalian kumpulkan semua teman di tempat ini dan kami
dunia-kangouw.blogspot.com
berdua akan keluar dari benteng dan langsung melapor akan keadaan barisan Liu Pang kepada Chutaijin."
Ucapan ini saja cukup bagi A-hai. Kiranya mereka adalah mata-mata musuh, anak buah pemberontak
Chu Siang Yu, karena yang disebut Chu-taijin tadi tentulah Chu Siang Yu. Dan pemberontak
Chu Siang Yu merupakan musuh dan saingan Liu Pang. Kiranya mereka itu memang sengaja
menyelundup ke dalam barisan ini untuk menga-mati gerak-geriknya dan kemudian memberi pelaporan
kepada Chu Siang Yu sehingga tentu akan memudahkan fibak musuh untuk mengatur
perang-kap! Dengan hati-hati, menggunakan ilmu ke-pandaiannya yang tinggi, A-hai menyelinap pergi
dan langsung dia memasuki ruangan di mana Liu Pang masih berbincang-bincang dengan para pembantunya.
Seperti tidak disengaja, A-hai yang merupakan seorang di antara para tamu terhormat,
mengambil tempat duduk agak dekat di belakang
Liu Pang. Kemudian, setelah dia mengingat kem-bali ilmunya, bibirnya bergerak-gerak perlahan dan
terkejutlah Liu Pang ketika dengan jelas sekali dia mendengar suara A-hai di samping telinganya!
"Dua orang tosu pembantu ternyata adalah dua orang mata-mata anak buah Chu Siang Yu yang
menyelundup. Tengah malam ini mereka akan mengadakan gerakan, harap Liu-bengcu waspada dan
siap siaga."
Tentu saja Liu Pang terkejut bukan main men-dengar suara A-hai ini. Dia maklum bahwa A-hai yang
aneh itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, dan tidak mengherankan kalau A-hai pandai
mengirim suara dari jauh seperti itu. Yang mengejutkan hatinya adalah berita itu sendiri. Ma-ka dia
lalu mengusap mukanya yang sama sekali tidak memperlihatkan kekejutan hatinya dan me-ngatakan
kepada semua pembantunya bahwa dia merasa lelah dan ingin beristirahat dulu.
"Kita harus beristirahat dan besok pagi-pagi aku akan mengadakan rapat lagi," katanya.
Rapat itu bubaran dan Liu Pang berkata kepa-da A-hai, "Saudara A-hai, aku ingin sekali men-dengar
ceritamu”.
Ketika mendengar penuturan A-hai tentang dua orang tosu yang ternyata mata-mata musuh yang
menyelundup itu.
"Biarlah saya menangkap dan menghajar mere-ka!" katanya.
Liu Pang tersenyum. "Aku sendiri ingin meng-hadapi mereka. Engkau siapkan saja pasukanmu untuk
menangkap anak buah mereka." Pemimpin besar ini lalu mengatur siasat bersama Yap Kim dan A-hai
untuk menghadapi dua orang mata-ma-ta dan anak buah mereka yang akan beraksi men-jelang
tengah malam nanti.
Menjelang tengah malam itu keadaan semakin sunyi di dalam benteng. Para perajurit yang tidak
sedang tugas jaga sudah tidur mendengkur mele-paskan lelah setelah pertempuran. Juga para perwira
yang memperoleh kesempatan tidur itu me-muaskan badan yang sudah kelelahan. Suasana
amat sunyi. Tidak ada seorangpun yang tahu be-tapa dalam keadaan yang amat sunyi itu, pemimpin
besar mereka sendiri sedang sibuk mengatur para pembantunya mengepung tempat yang akan dijadikan
pertempuran para mata-mata itu!
Untuk memudahkan gerakannya, Liu Pang menanggalkan pakaian kebesarannya dan hanya
memakai pakaian biasa, pakaian petani seperti ke-tika dia masih memimpin barisannya melintasi gunung-
gunung selama ini. Hanya sebatang pedang tergantung di pinggang sehingga dia lebih mirip
seorang pendekar dari pada seorang pemimpin dan calon kaisar!
Tiba-tiba terdengar suara suitan-suitan lirih dan mulailah bermunculan beberapa orang. Ada dua
orang berpakaian perwira, belasan orang ber-pakaian perajurit dan dua orang tosu itu. Hanya kini
para perajurit itu mengenakan topi khas, topi ciri bahwa mereka itu adalah perajurit-perajurit asing dari
utara! Kiranya mereka adalah pasukan istimewa dari barisan asing yang bersekutu dengan Chu Siang
Yu dan yang dikirim untuk menyelun-dup ke dalam barisan Liu Pang dan selain mema-ta-matai juga
mengatur siasat.
Liu Pang sendiri, diikuti Yap Kim, menggu-nakan kepandaiannya untuk menyusup dekat se-hingga
mereka berdua selain mampu melihat ge-rak-gerik mereka, juga dapat mendengarkan per-cakapan
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka dengan jelas. Sedangkan anak buah Yap Kim tetap berjaga di tempat pengepung-an, siap
menanti komando.
"Petugas pembakaran!" tiba-tiba seorang di antara dua tosu itu berkata lirih namun tegas.
"Siap!" Tujuh orang perajurit maju.
"Kalian sudah tahu benar akan tugas kalian?" tanya si tosu yang menjadi pimpinan.
"Kami akan berpencar, mempergunakan minyak yang sudah tersedia membakar gudang-gudang
makanan dan perlengkapan," jawab seorang di an-tara mereka.
"Bagus! Petugas racun!"
"Siap!" Dua orang perajurit maju.
"Bagaimana tugas kalian?"
"Kami sudah mempersiapkan empat guci air beracun untuk dituang ke dalam sumber dan sim-panan
air minum, juga ke dalam guci-guci arak, akan dilakukan pada saat pembakaran terjadi."
"Baik sekali. Kini regu panah!"
"Siap!" Lima orang perajurit yang membawa busur maju. "Selagi terjadi kebakaran dan keribut-an,
kami akan berbaris pendam menanti orang she Liu keluar untuk kami serang dengan anak panah dari
tempat gelap. Mudah-mudahan usaha kami berhasil!"
"Ya, mudah-mudahan semua kita berhasil. Ingat, kalau semua rencana ini berhasil baik, ka-lian akan
menerima hadiah yang amat besar dan pangkat yang tinggi. Sesudah melaksanakan tugas masingmasing,
kalian sudah tahu harus berkum-pul di mana di luar benteng, kami akan mendahu-lui kalian
untuk memberi pelaporan tentang kedu-dukan musuh kepada induk barisan yang berada dekat kota
raja."
"Baik!"
Akan tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, Liu Pang sudah melompat ke depan dengan pe-dang
terhunus, lalu menudingkan telunjuknya ke-pada tosu pemimpin mata-mata itu.
"'Bagus, kalian berdua telah membuat dua ma-cam dosa tak berampun. Pertama, kalian memal-sukan
pendeta-pendeta dan ke dua, kalian men-jadi pengkhianat-pengkhianat dan mata-mata busuk!"
"Serbu !" Tosu itu yang menjadi terkejut sekali berteriak. Anak buahnya bergerak, akan tetapi pada
saat itu, Yap Kim dan kawan-kawan-nya bermunculan! Liu Pang sendiri segera mener-jang tosu
pemimpin dengan pedangnya setelah merobohkan seorang perajurit mata-mata yang membawa
sebuah bendera asing, agaknya untuk memberi semangat kawan-kawannya.
"Tranggg !" Tosu itu menangkis dengan tongkat di tangan kirinya, dan dengan dahsyat ta-ngan
kanannya menghantam dengan jari-jari ter-buka dan dimiringkan.
"Dukkk!" Liu Pang menangkis dengan tangan kiri, dan pedangnya membabat lagi dengan gerak-an
yang amat cepat. Segera terjadi perkelahian yang amat seru di antara mereka berdua.
Sementara itu, anak buah mata-mata yang hendak mengamuk, ternyata menghadapi kepungan
pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya. Apa lagi di situ terdapat Yap Kim yang dibantu oleh
perwira-perwira yang lihai ilmu silatnya sehingga sebentar saja, semua mata-mata roboh dan tewas
kecuali dua orang tosu yang dihadapi oleh Liu Pang dan Yap Kim sendiri! Dua orang tosu itu terdesak
hebat dan sudah luka-luka. Akan tetapi agaknya mereka tidak mau menyerah karena mak-lum bahwa
bagaimanapun juga, mereka tidak mungkin dapat diampuni. Dari pada tertawan da-lam keadaan
hidup dan disiksa untuk mengaku, lebih baik melawan sampai mati, demikian pikir mereka. Dan
memang Liu Pang dan Yap Kim tidak ingin membunuh mereka, hendak menangkap hi-dup-hidup agar
dapat mengorek keterangan dari mulut mereka. Maka, Liu Pang dan Yap Kim ber-usaha sedapat
mungkin untuk merobohkan lawan tanpa membunuh mereka. Akhirnya, pedang Liu Pang berhasil
membacok kaki kanan lawannya se-hingga orang itu terpelanting roboh dan pada saat yang hampir
dunia-kangouw.blogspot.com
berbareng, Yap Kim juga sudah me-robohkan lawannya dengan tendangan. Akan teta-pi, begitu
roboh, dua orang tosu itu menggerak-kan tongkat mereka sendiri. Liu Pang dan pem-bantunya
hendak mencegah namun terlambat ka-rena dua orang tosu itu telah tewas dengan kepala pecah oleh
hantaman tongkat sendiri. Mereka membunuh diri agar jangan tertawan musuh!
Liu Pang memandang mayat-mayat yang ber-gelimpangan itu dan menarik napas panjang. "Pan-tas
Chu Siang Yu mampu mendahului kita ke kota raja. Kiranya dia dibantu oleh orang-orang pandai dan
gagah seperti mereka ini!!"
Karena penundaan rapat tadipun hanya dilaku-kan untuk menghadapi mata-mata ini, maka Liu Pang
lalu memerintahkan agar semua pembantu-nya dipanggil, yang tidur digugah, untuk melan-jutkan
rapat mereka! Rapat dilanjutkan lewat te-ngah malam dengan penuh kesungguhan hati, ka-rena
semangat mereka bangkit oleh adanya peris-tiwa tadi.
"Bagaimana kalau kita terus saja menyerbu ko-ta raja pada besok pagi-pagi?" Yap Kim meng-ajukan
usulnya. Setelah membantu perjuangan Liu Pang, kini Yap Kim mencurahkan seluruh per-hatiannya
terhadap perjuangan itu dan dia meru-pakan orang terpenting di dalam barisan Liu Pang.
"Saya kira tidak tepat waktunya," kata seorang perwira yang berpengalaman karena dia merupa-kan
bekas perwira kerajaan yang sudah menakluk. "Pada saat ini, terdapat dua kekuatan besar, yaitu
barisan kerajaan yang sedang bertempur melawan barisan Chu Siang Yu. Kalau saat ini kita menyerbu,
bukan tidak mungkin mereka berdua itu ber-henti perang dan keduanya malah menggencet kita.
Kalau sudah demikian, alangkah berbahaya-nya."
"Akan tetapi, kalau kita diamkan saja, barisan Chu itu akan mendahului kita merebut kota raja .... dan
kita ketinggalan " Yap Kim membantah.
Ucapan Yap Kim itu membuat semua orang mengerutkan alis dan hati mereka menjadi gelisah. Kalau
kedahuluan musuh, berarti akan sia-sia gerakan mereka selama ini yang sudah mengorban-kan
banyak tenaga dan nyawa.
"Pasukan kita selama tiga hari tidak pernah beristirahat. Kalau sekarang diharuskan bertempur lagi,
hal itu sungguh berbahaya dan terlalu memeras tenaga, apa lagi kalau diingat betapa kuatnya fihak
musuh " kata seorang pembantu lain.
Banyaklah di antara mereka yang mengemuka-kan pendapatnya dan selama itu Liu Pang hanya
mendengarkan tanpa membantah. Dia mendengar-kan dan mempertimbangkan semua usul dan pendapat.
Setelah semua orang mengajukan usulnya dan agaknya menemui jalan buntu, akhirnya Liu
Pang bangkit berdiri.
"Saudara sekalian. Sesungguhnya, memang saat inilah yang paling tepat untuk menyerbu kota raja,
selagi dua kekuatan itu saling bertempur. Akan tetapi mengingat keadaan kita yang sudah lelah, besar
bahayanya kalau kita menyerbu sekarang. Oleh karena itu, sebaiknya kita. membiarkan mere-ka
saling gempur sehingga kedudukan mereka ke-dua pihak itu menjadi semakin lemah. Sementara itu,
kita menyusun kekuatan dan beristirahat. Nah, setelah satu di antara mereka kalah, kita menyerbu
dengan keadaan segar bugar!"
"Akan tetapi, bagaimana kalau barisan Chu Siang Yu sudah lebih dahulu merebut kota raja sehingga
keadaan mereka lebih baik, memiliki per-lengkapan yang lebih kuat, dan posisi mereka men-jadi
semakin baik? Kita akan ketinggalan dan le-bih sukar menyerang mereka yang sudah bertahan di
benteng kota raja."
"Saya kira hal itu tidak perlu dikhawatirkan," tiba-tiba Yap Kiong Lee ikut bicara. "Bagaima-napun
juga, kalau mereka sudah berhasil mema-suki kota raja, tentu korban di antara mereka amat besar
dan jumlah mereka menjadi kecil dan lemah. Selain itu, rnerekapun tentu dalam keadaan lemah,
semangat tempur mereka menurun, apa lagi mere-ka tentu masih mabok kemenangan."
"Bagus sekali! Pendapat Yap-taihiap tepat!" kata Liu Pang.
Lalu diambil keputusan untuk membiarkan pa-sukan mereka beristirahat, akan tetapi mereka ha-rus
dapat mengikuti perkembangan dan terutama sekali dapat mengetahui besarnya kekuatan musuh.
Untuk itu, mereka lalu mencari orang-orang yang dapat ditunjuk sebagai penyelidik. Memang ba-nyak
dunia-kangouw.blogspot.com
terdapat orang-orang lihai di antara mereka, akan tetapi tidak mudah untuk menunjuk siapa orangnya
yang patut melakukan tugas berbahaya itu. Liu Pang sendiri dalam waktu itu tidak mung-kin
meninggalkan pasukannya. Kehadirannya amat diperlukan karena segala macam keputusan yang
diambil pada saat itu dapat menjadi kunci sukses atau gagalnya gerakan mereka. Yap Kim harus
membantunya, dan Ho Pek Lian bersama Yap Kiong Lee baru saja pulang. Ketua Tai-bong-pai dan
anak isterinya tak mungkin mau menjadi pe-nyelidik karena mereka adalah orang-orang "be-bas" yang
tidak mau melibatkan diri dengan pe-rang. Demikian pula kakek Kam Song Ki dan mu-ridnya, Kwee
Tiong Li, walaupun pemuda ini se-belum menjadi murid kakek Kam juga seorang ke-tua lembah
pemimpin para pemberontak yang menjadi anak buah Chu Siang Yu akan tetapi se-menjak menjadi
murid kakek sakti itu juga men-jadi orang "bebas". Masih ada orang-orang lihai lainnya seperti Seng
Kun, Bwee Hong dan juga A-hai yang kadang-kadang masih meragukan kese-hatan ingatannya.
Akhirnya, tidak ada orang lain lagi yang lebih tepat, kakak beradik Seng Kun dan Bwee Hong dipilih!
Usulnya datang dari Pek Lian yang lang-sung disetujui oleh Liu Pang dan semua orang yang sudah
mengenal baik kakak beradik ini, mengenai kelihaian mereka dan juga mengenal watak mereka
sebagai orang-orang gagah perkasa. Hanya satu hal yang meragukan, yaitu bahwa Seng Kun dan
Bwee Hong juga tidak mau telibat dalam perang. Apa lagi mereka itu masih merupakan keluarga
kaisar, walaupun agak jauh, dan Seng Kun bahkan pernah menjadi utusan kaisar tua yang sudah meninggal.
Melihat semua orang memilih dia dan adiknya, Seng Kun menarik napas panjang. "Seperti sau-dara
sekalian telah mengetahui, aku dan adikku tidak suka terlibat dalam perang, oleh karena itu
sesungguhnya tidak tepatlah kalau anda sekalian memilih kami. Akan tetapi, kami telah lama mengenal
barisan para pendekar ini dan tahu bahwa cita-cita kalian mulia. Selain itu, kami berduapun
mempunyai kepentingan di kota raja. Kami ingin mencari ayah kandung kami, maka biarlah dengan
senang hati kami menerima tugas untuk melakukan penyelidikan itu."
Semua orang bersorak mendengar ucapan Seng Kun itu dan setelah sorakan itu mereda, terdengar
A-hai berkata, "Akupun akan menemani kalian berdua!"
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang, dan khawatir kalau-kalau kakak beradik itu menolak, A-hai
berkata cepat, "Tanpa kalian berdua, ba-gaimana aku akan dapat sembuh?"
Sesungguhnyalah, pemuda sinting ini memang masih amat memerlukan pengobatan mereka dan
kesembuhannya belum sempurna. Maka, kedua-nyapun tidak dapat menolak. Selain itu, dengan ilmu
kepandaiannya yang amat luar biasa, A-hai dapat menjadi seorang pelindung yang amat baik dan
boleh diandalkan.
Persiapan diadakan dan malam itu A-hai men-dapat perawatan tusukan jarum dari Seng Kun dan
Bwee Hong. Pada keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, tiga orang muda itupun
berangkatlah meninggalkan perkemahan mereka. Mereka me-motong jalan, melalui sawah ladang
dan ke-bun-kebun para penduduk dusun. Di mana-mana mereka bertemu dengan orang-orang yang
pergi mengungsi menjauhi tempat pertempuran. Semua orang yang sedang bergegas mengungsikan
keluarga dan harta milik mereka itu memandang dengan terheran-heran kepada tiga orang muda ini.
Semua orang berbondong-bondong dan ter-gesa-gesa pergi menjauhi kota raja, akan tetapi ti-ga
orang muda ini malah menuju ke sana!
Karena para pengungsi itu rata-rata tergesa-gesa ketakutan, tidak mudah bagi Seng Kun berti-ga
untuk mencari keterangan tentang keadaan di kota raja. Baru setelah mereka bertemu dengan
serombongan pedagang yang juga melarikan diri dan mereka mengaso di luar hutan saking lelahnya,
Seng Kun memperoleh kesempatan ber-cakap-cakap dengan seorang di antara mereka, seorang lakilaki
setengah tua yang nampak ge-lisah.
"Kalian bertiga hendak mencari keluarga di kota raja? Aih, orang-orang muda, kalau boleh kunasihati
kalian, jangan mendekati kota raja.
Tempat itu telah menjadi seperti neraka!" kata se-orang di antara mereka.
"Seperti neraka? Apa maksudmu?" Seng Kun bertanya. "Memang ada perang, akan tetapi yang
perang adalah pasukan dan kita tidak ikut-ikut dengan mereka!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ahhh, enak saja engkau bicara karena belum melihat sendiri. Di sekitar kota raja terjadi pertempuran
yang amat hebat dan mengerikan. Ribuan, bahkan laksaan tentara bertempur di sana dan pasukan
pemberontak amat banyak dan pasukan kerajaan hiiihh, amat mengerikan."
"Kenapa?"
"Mereka itu kejam sekali, seperti bukan manusia lagi, seperti iblis! Mereka itu lebih patut menjadi
penjahat-penjahat keji, mereka suka makan daging dan minum darah! Apa lagi para komandan
mereka, seperti bukan manusia lagi, seperti binatang tidak, bahkan lebih pantas seperti iblis
mereka itu. Mereka membunuh tidak memandang bulu, bukan hanya pihak perajurit musuh saja yang
mereka bunuh, akan tetapi juga rakyat jelata yang mengungsi, kalau bertemu mereka tentu dibunuh
dan dirampas barang-barangnya. Huh, sungguh menakutkan sekali sepak terjang mereka itu."
Tiga orang muda itu sesungguhnya tidak ter-lalu heran mendengar berita ini. Mereka sudah
mendengar bahwa istana kini dibantu oleh para tokoh kaum sesat, bahkan dipimpin oleh datuk se-sat
Raja Kelelawar yang sakti itu. Akan tetapi Bwee Hong pura-pura bertanya kepada pedagang itu.
"Sungguh aneh dan sukar dipercaya! Kenapa orang-orang jahat seperti iblis diangkat menjadi perajurit
pemerintah, bahkan menjadi komandan?"
Mendengar pertanyaan ini, rombongan peda-gang itu makin percaya bahwa tiga orang muda ini tidak
tahu apa-apa maka berani hendak pergi menuju ke kota raja. "Ah, mana kami mengerti? Sejak kaisar
baru naik tahta, bermunculan banyak perwira dan perajurit kejam, seperti itu, berkeliaran di kota raja.
Maka, sebaiknya kalau kalian bertiga cepat-cepat pergi dari sini dan jangan mendekati kota raja."
"Apakah pertempuran masih berlangsung di sa-na?" A-hai bertanya sambil menunjuk ke depan.
"Tentu saja masih! Makin hebat tentunya. Pertempuran dimulai malam tadi dan tentu kini masih
berlangsung dengan hebatnya. Untung ka-mi dapat segera melarikan diri, akan tetapi banyak teman
kami yang terkurung di kota raja dan tidak sempat lagi melarikan diri. Entah bagaimana nasib mereka
itu. Kalau mereka tidak kehilangan nyawa saja masih untung akan tetapi tidak mung-kin dapat
diharapkan mereka akan dapat memper-tahankan barang dagangannya dan semua harta milik
mereka."
Setelah secara omong-omong sambil lalu, tiga orang muda itu berhasil memperoleh gambaran
sekedarnya tentang keadaan di kota raja, mereka lalu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan
perjalanan menuju ke kota raja dengan cepat. Ma-kin dekat dengan kota raja, mulailah terdengar sayup
sampai terbawa angin suara gemuruh dan ri-uh-rendah, tanda bahwa jauh di depan terjadi
pertempuran hebat. Dan makin tinggi lagi, mulai nampaklah debu mengepul tinggi.
Mereka bertiga cepat mendaki bukit yang ber-ada di luar benteng kota raja. Kini nampak debu tebal
dan asap api bertebaran, menghalangi pan-dangan mereka sehingga pertempuran itu tidak kelihatan
jelas. Dari tempat sejauh itu, orang-orang yang bertempur hanya kelihatan kecil seperti se-mut yang
bergerak dan berlarian ke sana-sini. Nampak panji-panji, bendera-bendera bercampur baur dengan
kereta perang, kuda dan manusia. Suara bising memenuhi udara. Teriakan manusia diseling bunyi
terompet komando dan tambur. Da-ri atas bukit itu, sukar dikenal mana pasukan pe-merintah dan
mana pemberontak. Juga belum nampak tanda-tanda siapa yang berada di pihak unggul.
Tiba-tiba A-hai berseru, "Lihat di luar pintu gerbang sebelah barat itu! Pertempuran di sana sungguh
luar biasa!" Pemuda ini menunjuk ke de-pan. Dua orang temannya cepat menengok dan memandang
ke arah yang ditunjuk. Dan nampak-lah apa yang dimaksudkan oleh A-hai. Ada seo-rang penunggang
kuda yang dari situ, hanya keli-hatan sebesar lengan, membawa panji besar dan penunggang kuda ini
dikepung oleh banyak sekali pasukan lawan, mungkin ada ratusan orang ba-nyaknya. Para
pengeroyok itu mengepungnya dan bahkan ada pasukan anak panah menghujaninya dengan
serangan anak panah. Akan tetapi, jelas nampak oleh tiga orang muda di atas bukit itu betapa dengan
benderanya yang besar, penunggang kuda itu mengebut runtuh semua anak panah yang menyambar
ke arah d'rinya. Dan anehnya, penge-pung yang jumlahnya demikian banyak itu tidak ada yang berani
mendekatinya karena siapa berani agak terlalu dekat pasti roboh. Orang lihai ini ten-tu merupakan
seorang tokoh besar yang amat lihai dari kota raja, mungkin seorang panglima.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Heii! Itu di sana juga ada dua orang dikepung ratusan orang perajurit!" tiba-tiba Bwee Hong berseru
sambil menuding ke arah kiri. Yang di-maksudkan itu adalah dua orang yang berdiri membelakangi,
dikepung dan dikeroyok oleh ra-tusan orang perajurit seperti keadaan penung-gang kuda itu.
"Dan itu di sana ! Dia sendirian ah, ada dua ekor harimau, wah siapa lagi kalau bukan Sanhek-
houw? Hemm, kiranya datuk-datuk sesat mereka itu dan kini mereka sedang menghadapi
pengeroyokan pasukan anak buah Chu Siang Yu!" kata Seng Kun.
"Ah, benar!" kata Bwee Hong. "Para datuk sesat telah turun tangan menghadapi pasukan yang
mengepung kota raja. Akan tetapi di mana pemim-pin mereka yang kabarnya diangkat menjadi panglima
kerajaan itu? Di mana dia Raja Kelelawar?"
Kini tiga orang muda itu mencari-cari dengan pandang mata mereka, mencari iblis itu di antara orangorang
yang sedang bertempur. Akan tetapi mereka tidak dapat menemukan raja iblis itu.
"'Ha-ha, mana ada kelelawar muncul di siang hari? Kalau kalian ingin melihatnya, datang saja kembali
ke sini malam nanti. Ha-ha, lihat betapa pasukan kerajaan mulai terdesak. Paling lama so-re nanti
mereka tentu akan dapat didesak mundur sampai ke dalam benteng kota raja. Kalau sudah begitu,
tentu Iblis Kelelawar itu akan muncul, tunggu saja malam nanti!"
Tiga orang muda itu terkejut dan memandang ke sana-sini mencari siapa orangnya yang tiba-tiba
bicara kepada mereka itu. Suara itu seperti terdengar dari atas, akan tetapi mereka tidak da-pat
menemukan pembicara itu. Akhirnya mereka tidak perduli lagi karena keadaan jauh di bawah sana itu
amat menarik hati mereka. Mereka ber-tugas melakukan penyelidikan dan kini mereka memperoleh
tempat yang amat baik untuk dapat melihat jalannya pertempuran antara para pemberontak anak
buah Chu Siang Yu melawan pasukan pemerintah. Kini, setelah melihat jalannya pertem-puran,
mulailah mereka dapat membedakan mana pasukan pemerintah dan mana pasukan pembe-rontak.
Dan memang tepat seperti yang dikatakan orang yang tak dapat mereka temukan tadi, kini pihak
pemerintah terdesak hebat. Pada saat ma-tahari terbenam, pihak pasukan pemerintah sudah
terdesak semakin hebat dan akhirnya mereka itu meninggalkan teman-teman yang tewas, lari memasuki
pintu gerbang yang segera mereka tutup dan pasukan anak panah menghujankan anak panah
dari atas tembok benteng. Tentu saja pertem-puran otomatis berhenti dan pihak pemberontak
juga menarik pasukannya agar mengepung tembok benteng akan tetapi tidak terlalu dekat agar
jangan menjadi korban anak panah yang turun bagaikan hujan. Pasukan pemberontak yang berhasil
men-desak pasukan pemerintah itu kini memperkuat kedudukan dan membuat perkemahan di kaki
bu-kit, mengepung tembok benteng kota raja.
Karena pertempuran berhenti, Seng Kun bertiga lalu turun dari puncak untuk beristirahat pula dan
mengisi perut. Mereka mengambil keputusan un-tuk kembali lagi malam nanti, sesuai dengan an-juran
suara tanpa rupa tadi.
Malam itu sunyi, akan tetapi bulan muncul di langit yang bersih. A-hai mencari sepotong kayu cabang
pohon untuk membantunya mendaki bukit sampai ke puncak. Walaupun pendakian ke pun-cak itu
merupakan jalan liar yang harus dicari sendiri, namun mereka bertiga dapat mendakinya dengan
mudah, apa lagi ada sinar bulan menerangi permukaan puncak. Seng Kun dan Bwee Hong berjalan di
depan, sedangkan A-hai yang meme-gang tongkat kasar dengan tangan kirinya, mengi-kuti dari
belakang. Agaknya pasukan kedua pihak malam itu tidak melanjutkan pertempuran. Agak-nya
masing-masing pihak hendak menyimpan te-naga sambil mengatur siasat malam itu.
Ketika tiga orang muda itu tiba di puncak, me-reka berhenti dan memandang ke bawah pohon di
mana berdiri seorang laiki-laki yang amat gagah! Pria itu berdiri dengan tegak, kedua tangan bersedekap
dan tidak bergerak seperti sebuah arca. Ju-bahnya panjang berwarna putih terbuat dari sutera
halus. Di pinggangnya tergantung sebatang pe-dang. Sepatunya mengkilap dan kuat, rambutnya
digelung ke atas, dihias dengan semacam hiasan berbentuk mahkota kecil. Wajahnya tampan dan
sikapnya agung, menunjukkan bahwa pria ini ada-lah seorang bangsawan yang memiliki wibawa
kuat. Dari tempat itu, Seng Kun bertiga dapat melihat perkemahan para pemberontak, dan lebih jauh
lagi nampak benteng kota raja.
"Selamat malam!" Orang berjubah putih itu menyambut mereka dengan sikap angkuh, tanpa menoleh
dan melanjutkan pandang matanya yang sejak tadi memeriksa keadaan di bawah sana pe-nuh
perhatian.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng Kun bertiga terkejut mendengar suara ini, suara yang segera mereka kenal baik sebagai suara
orang yang tidak mau memperlihatkan dirinya si-ang tadi. Karena keadaan orang itu menimbulkan
rasa hormat, merekapun membalas salam orang itu dan menghampirinya, lalu berdiri di dekatnya
sambil ikut pula memandang penuh perhatian ke bawah puncak. Setelah dekat, nampaklah bahwa
laki-laki ini berusia hampir empatpuluh tahun dan wajahnya gagah dan tampan.
"Kalian lihatlah!" Orang itu berkata seolah-olah mereka adalah kenalan lama. "Perkemahan itu
demikian luas, tidak kurang dari seribu buah banyaknya, dan setiap kemah kecil itu menam-pung
duapuluh lima orang perajurit, belum ke-mah yang besar. Kekuatan pemberontak Chu ini sungguh
tidak kecil, bukan?"
Seng Kun mengangguk-angguk membenarkan. "Kami juga menduga bahwa kekuatan pasukan pemerintah
tidak akan dapat bertahan terlalu lama."
"Bertahan terlalu lama? Ha-ha, kau lihat sa-ja, besok, sebelum matahari terbenam, benteng itu akan
jatuh dan dapat dikuasai, kota raja akan dapat diduduki oleh pasukan-pasukan Chu yang hebat!"
Tiga orang muda itu tertegun dan saling pan-dang. Diam-diam mereka menduga-duga. Siapakah
gerangan orang ini? Dari golongan mana dan bagaimana orang ini dapat meramal dengan suara
demikian penuh keyakinan?
'"Eh locianpwe siapakah?" A–hai yang sejak tadi sudah ingin tahu sekali tidak da-pat menahan
pertanyaannya.
Pertanyaan itu membuat si jubah putih mem-balik dan menatap mereka dengan langsung. Ti-ga orang
muda itu kembali terkejut. Kini nampak jelas wajah yang gagah penuh wibawa itu, dan se-pasang
matanya tajam bersinar tanda bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi.
"Kelak kalian akan tahu sendiri siapa aku. Ti-dak layak aku memperkenalkan diri kepada orang-orang
yang aku sendiri tidak mengenalnya dengari betul. Siapa tahu aku berhadapan dengan pihak musuh?
Suasana begini kacau dan kita harus ber-sikap curiga dan hati-hati."
A-hai mengerutkan alisnya. Orang ini bicara begini terus terang tanpa menjaga perasaan orang lain
sehingga kata-katanya terdengar kasar dan tidak enak, walaupun suaranya tetap halus dan sopan.
Diapun sudah siap untuk membalas ucapan tidak enak itu, akan tetapi sebelum dia sempat membuka
mulut, orang itu sudah mengangkat ta-ngan mencegah mereka membuat berisik.
"Sstt, harap perhatikan. Inilah saatnya Raja Kelelawar keluar dari sarangnya!"
Tentu saja ucapan itu membuat mereka bertiga terkejut dan juga merasa serem sehingga tanpa dapat
mereka cegah, mereka merasa betapa tengkuk mereka menjadi dingin. Mereka semua kini memandang
penuh perhatian ke bawah, ke segenap penjuru, terutama ke arah benteng kota raja yang
nampak sunyi itu.
Tiba-tiba A-hai menyentuh lengan Seng Kun, "Lihat di atas tembok sebelah barat itu, di dekat menara
penjaga. Ada orang berlompatan di sana hemm , ada lima orang banyaknya"
Seng Kun dan Bwee Hong mengerahkan keku-atan pandang mata mereka ke arah yang ditunjuk Ahai
itu. Tentu saja keduanya menjadi terkejut dan heran. Dari puncak bukit itu, benteng kota raja
hanya kelihatan kecil, seperti tembok rumah biasa saja, dan bangunan-bangunan di bagian da-lamnya
hanya sebesar kotak-kotak kertas. Bagai-manakah A-hai dapat melihat orang-orang yang tentu saja
amat kecil, di waktu malam lagi, hanya dengan penerangan bulan saja? Kalau waktu si-ang dan
mereka mengerahkan sinkang, mungkin mereka masih akan mampu melihat orang-orang yang
dimaksudkan oleh A-hai. Seng Kun dan Bwee Hong menoleh dan memandang kepada A-hai dan
mereka berdua terkejut bukan main. Se-pasang mata A-hai mencorong seperti mata ha-rimau di
dalam kegelapan. Bukan hanya kakak beradik itu yang menjadi kagum, juga orang ber-jubah putih itu
diam-diam terkejut bukan main.
Pemuda mi memiliki ketajaman mata yang luar bi-asa, pikirnya sehingga dia sendiripun kalah kuat!
"Pemuda ini bukan orang sembarangan dan memiliki tenaga sinkang yang sukar diukur kehebatannya,"
demikian dia berkata di dalam hatinya dan sikapnya menjadi semakin waspada.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di dalam keheranan dan kekaguman mereka, kakak beradik itu diam-diam merasa girang bu-kan
main. Mereka tahu bahwa keadaan A-hai semakin membaik dan ternyatalah bahwa A-hai benar-benar
seorang pemuda yang amat lihai. Si-kap A-hai saja menunjukkan bahwa pemuda itu sudah mulai
pulih kembali ingatannya, tidak lagi kelihatan ketololan. Hanya ada hal-hal yang be-lum diingatnya dan
mungkin hal-hal yang ter-amat pentinglah yang dilupakannya itu, dan siapa tahu, hal-hal penting ini
yang menjadi penyebab dia kehilangan ingatan. Kalau peristiwa penting ini teringat, bukan tidak boleh
jadi kalau dia akan menjadi waras kembali.
Seng Kun meraba tangan adiknya dan diajak-nya minggir agak menjauhkan diri. "Hong-moi, aku tibatiba
mendapat pikiran bahwa jalan satu-satunya untuk membuat dia sembuh sama sekali adalah
memberinya guncangan batin hebat dengan jalan mempertemukannya dengan tempat dan orang
yang membuat dia kehilangan ingatannya. Ingat, totokan tiga jari di pelipisnya itu. Kalau saja dia
dapat berhadapan dengan orang yang menotoknya, aku berani bertaruh bahwa guncangan batin akan
mampu menembus semua penghalang dan dia akan pulih kembali sama sekali."
"Akan tetapi," Bwee Hong juga berbisik, "ba-gaimana hal itu dapat dilaksanakan? Kita tidak tahu
siapa yang melakukan perbuatan keji terha-dapnya, bahkan diapun tidak ingat di mana tem-pat
tinggalnya dahulu.*"
Seng Kun menarik napas panjang. "Engkau be-nar. Kita hanya boleh mengharapkan terjadinya suatu
keajaiban, yaitu musuhnya itulah yang da-tang mencarinya!"
"Harapan itu bukan kosong belaka, koko. Ka-lau musuhnya melihat bahwa dia masih hidup, tentu
musuhnya itu akan datang untuk mencoba membunuhnya."
"Betapa mengerikan! A-hai yang demikian saktinya saja sampai kalah dan dibuat tidak ber-daya.
Kalau musuh yang sedemikian saktinya muncul dan menyerangnya, bagaimana kita akan mampu
menolongnya?"
Pada saat itu, terdengar suara orang berjubah putih, "Nah, tepat dugaanku! Si Raja iblis Kelelawar itu
keluar dari sarangnya. Dia menyeberangi parit yang mengelilingi tembok benteng!"
Setelah berkata demikian, dia bertepuk tangan dan terkejutlah tiga orang muda itu ketika melihat
munculnya beberapa orang dari tempat gelap dan melihat kecepatan gerakan mereka, mudah
diketahui bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi! Yang membuat Seng Kun dan
Bwee Hong memandang dengan kaget adalah ketika mereka mengenal dua orang di antara me-reka
itu. Dua orang itu bukan lain adalah Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dua orang pangli-ma yang
menjadi komandan pasukan pengawal istana dan mereka adalah tangan kanan dari Pek-lui-kong
Tong Ciak, jagoan di istana kepercayaan kaisar lama!
Beberapa orang itu menghadap si jubah putih dan memberi hormat. "Si iblis sudah muncul, te-pat
seperti yang kita perhitungkan. Dia membawa empat orang teman yang berkepandaian tinggi. Beri
tahu teman-teman dan jalankan siasat yang telah kita rencanakan!"
"Akan hamba laksanakan perintah Ong-ya!" jawab seorang di antara mereka.
"Ji-wi Tai-ciangkun, bagaimanakah ji-wi dapat berada di sini selagi kota raja terancam oleh pasukan
musuh? Mengapa dua orang ini malah berada di sini dan agaknya menjadi pembantu orang asing
ini?"
Mendengar teguran si gadis, orang yang berju-bah putih itu nampak terkejut. Tadinya dia me-mang
sudah curiga dan menduga-duga siapa ada-nya tiga orang muda yang amat lihai itu dan ter-nyata
gadis itu malah sudah mengenal dua orang pembantunya yang dipercaya! "Kalian mengenal mereka
ini?" tanyanya kepada Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun.
"Maaf, Ong-ya. Mereka berdua itu adalah ke-luarga kaisar lama, masih keponakan kaisar lama.
Mereka adalah putera Bu Hong Seng-jin, ketua kuil istana Thian-to-tang yang kini telah dipen-jara
oleh kaisar baru itu."
"Ayah dipenjara?" Kakak beradik itu bertanya, hampir berbareng. Memang, hubungan antara me-reka
dan ayah kandung mereka tidaklah demikian erat karena sejak kecil mereka telah berpisah dari ayah
kandung mereka, namun tentu saja mereka menjadi terkejut dan penasaran sekali mendengar betapa
ayah kandung mereka yang tidak berdosa itu, yang hanya menjadi ketua kuil di istana, kini ditangkap
dunia-kangouw.blogspot.com
dan dijebloskan pula ke dalam penjara. "Tai-ciangkun, di mana ayah ditahan dan meng-apa?" Seng
Kun mendesak.
Akan tetapi orang yang berjubah putih dan disebut Ong-ya itu menggerakkan tangan mena-han.
"Hendaknya kalian berdua bersabar dan menunda pertanyaan kalian itu. Keadaan amat men-desak,
Raja Kelelawar telah keluar dari sarangnya. Mari ikut kami, menyongsong Raja Kelelawar yang
menjadi panglima dan mungkin pula penyebab ditangkapnya ayah kalian."
Seng Kun dan Bwee Hong tidak dapat mem-bantah lagi dan mereka, tentu saja diikuti pula oleh A-hai,
mengikuti orang itu pergi dari puncak bukit. Mereka semua pergi dengan jalan me-nyebar, dan tiga
orang muda itu mengikuti si ju-bah putih.
Kiranya si jubah putih itu membawa mereka turun puncak menuju ke perkemahan barisan pemberontak
yang mengepung benteng kota raja! Mereka tiba di tempat penyimpanan kuda dan ti-ba-tiba
dari tempat gelap muncul seorang berku-lit hitam berkepala gundul. Kemunculannya amat
mengejutkan. Kulitnya yang hitam membuat dia sukar darat dilihat di dalam kegelapan malam. Akan
tetapi orang ini menghadap si jubah putih sambil memberi hormat. "Ong-ya, semua kuda dalam
keadaan baik dan terjaga kuat. Tidak akan ada musuh dapat lewat di sini tanpa sepengetahu-an
kami," orang itu melapor..
Si jubah putih mengangguk-angguk. "Bagus, akan tetapi hati-hatilah. Musuh yang akan me-nyusup ke
sini adalah Raja Iblis Kelelawar dan te-man-temannya. Mereka itu memiliki kepandaian tinggi seperti
iblis-iblis saja. Pergilah dan bersi-aplah baik-baik!"
Orang itu menjura dan sekali berkelebat diapun lenyap. A-hai yang kini sudah agak pulih ingat-annya
dan sudah menguasai sebagian besar kepan-daiannya, memuji, "Wah, ginkang si hitam itu hebat
juga."
Mereka tiba di gudang persediaan makanan dan tiga orang muda itu merasa kagum akan ke-rapian
penjagaan di bagian ini. Juga seorang ko-mandan maju memberi hormat dan melaporkan bahwa
keadaan di situ aman dan bahwa mereka melakukan penjagaan dengan ketat. Setelah mele-wati
bagian-bagian yang dijaga ketat, si jubah putih membawa tiga orang muda itu masuk ke kompleks
perkemahan. yang besar, terjaga kuat dan dihias dengan panji-panji dan bendera-bendera. Di situ
nampak para komandan, di antaranya Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dan mereka semua
menghormati si jubah putih seperti orang-orang menghormati raja. mereka. Dan setelah tiga orang
muda itu disuruh ikut masuk, barulah mereka sa-dar bahwa si jubah putih itu bukan lain adalah
pemimpin besar barisan ini, dan dialah pemimpin barisan pemberontak, yaitu Chu Siung Yu yang
terkenal sekali itu!
Setelah tiba di bagian dalam, beberapa orang dayang mengiringkan seorang wanita cantik ber-usia
tigapuluh tahun lebih yang menyambut ke-datangan Chu Siang Yu dengan meriah. Kiranya wanita
cantik itu adalah isteri pemimpin pembe-rontak Chu Siang Yu itu, seorang isteri yang amat setia dan
mencinta suaminya, mengalami segala macam suka duka selama suaminya memimpin
pemberontakan dan sering kali hidup dalam kea-daan amat sukar dan penuh dengan kekerasan dan
bahaya.
Setelah sadar bahwa si jubah putih itu adalah Chu Siang Yu si pemimpin pemberontak yang amat
terkenal dan lihai, yang menjadi saingan be-sar dari Liu Pang, tentu saja tiga orang muda itu menjadi
terkejut sekali dan mereka saling pandang dengan hati berdebar. Celaka, pikir Seng Kun. Mereka
telah masuk di tengah-tengah kekuatan musuh! Mereka menduga-duga apakah pemim-pin
pemberontak ini sudah tahu bahwa mereka, biarpun tanpa ikatan, kini menjadi mata-mata pihak Liu
Pang, berarti musuh pemberontak ini!
Akan tetapi, agaknya Chu Siang Yu tidak me-musuhi mereka dan agaknya belum tahu akan hubungan
mereka dengan Liu Pang. "Isteriku, mari kuperkenalkan dengan tiga orang muda yang ten-tu
akan sangat menarik hatimu. Mereka berdua ini adalah masih sanakku sendiri, karena mereka adalah
putera-puteri dari paman Chu Sin, engkau tentu ingat, paman Pangeran Chu Sin yang kini menjadi Bu
Hong Seng-jin, ketua kuil istana Thian-to-tang. Dan pemuda yang seorang ini, jangan main-main, dia
ini memiliki ilmu kepan-daian yang mungkin tidak ada tandingannya di antara kita semua!"
Mendengar ucapan ini, tiga orang muda itu terkejut bukan main. Tahulah kini mengapa Chu Siang Yu
bersikap begitu baik. Kiranya masih ada pertalian keluarga antara pemimpin pemberontak ini dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
ayah mereka. Pantas nama keturunan mereka sama, yaitu she Chu! Juga A-hai ter-kejut sekali
karena pemimpin pemberontak ini ter-nyata sudah dapat mengetahui akan ilmu kepan-daiannya.
Benar-benar seorang gagah perkasa yang cerdik dan tidak boleh dipandang ringan!
Karena diperkenalkan, terpaksa mereka mem-perkenalkan nama mereka. Ketika mendengar bahwa
pemuda yang memiliki mata amat tajam itu hanya bernama A-hai tanpa she, Chu Siang Yu
mengerutkan alisnya akan tetapi tidak memberi komentar. Sebagai seorang gagah diapun tahu bahwa
orang-orang kang-ouw memang banyak yang memiiliki watak aneh dan dia mengira bah-wa pemuda
inipun tidak ingin memperkenalkan nama yang sebenarnya dan hanya memakai nama samaran saja.
Isteri Chu Siang Yu segera tertarik dan suka sekali kepada Bwee Hong yang memang amat can-tik
jelita. Ia menggandeng tangan gadis ayu itu dan diajak duduk di dekatnya. Sementara itu, pa-ra
dayang lalu mengeluarkan hidangan dan pe-mimpin pemberontak itu, bersama isteri dan para
komandan yang menjadi pembantu dekatnya, lalu mengadakan perjamuan makan minum dengan
gembira. Kiranya mereka itu secara sederhana merayakan kemenangan pertempuran di hari tadi.
Tentu saja tiga orang muda itu menjadi semakin kagum. Bukankah Chu Siang Yu sudah mengeta-hui
bahwa Raja Kelelawar-bersama empat orang pembantunya yang lihai keluar dari dalam benteng dan
agaknya hendak menyusup ke dalam perke-mahan barisannya? Bahkan para komandan pembantunya
juga sudah tahu? Akan tetapi mengapa mereka itu malah makan minum dan berpesta seperti
tidak mengambil pusing sama sekali? Ini ha-nya menunjukkan bahwa Chu Siang Yu amat percaya
kepada kekuatannya sendiri.
Diam-diam tiga orang muda itu memperhati-kan para komandan pembantu Chu Siang Yu dan
bagaimanapun juga, di dalam hati Seng Kun merasa tidak senang melihat kenyataan bahwa
pemimpin pemberontak yang masih sanaknya ini ternyata te-lah mempergunakan tenaga-tenaga
asing dalam pasukannya. Di situ duduk beberapa orang yang dari bentuk tubuh, muka dan
pakaiannya, juga lo-gat bicaranya, jelas menunjukkan bahwa mereka itu adalah orang-orang asing. Di
antaranya terda-pat seorang laki-laki raksasa Mongol yang keli-hatan amat kuat. Tubuhnya tinggi
besar, kokoh seperti bukit karang, dan dengan pakaian seorang panglima yang bersisik emas,
sungguh dia nam-pak menakutkan. Kedua pergelangan tangannya dilindungi kulit berlapiskan perak,
dan rambutnya yang pendek dibiarkan teriap ke belakang, diikat dengan pita, sedangkan mukanya
penuh brewok yang sudah bercampur uban.. Sepasang matanya besar dan tajam, dan sikapnya agak
kasar seperti sikap orang-orang yang tidak memperdulikan sopan-santun, juga dari gerak-geriknya
masih terbayang keliarannya dan agaknya dia mengang-gap rendah orang-orang lain. Seorang lawan
yang amat tangguh, pikir Seng Kun.
Setelah makan minum selesai, Chu Siang Yu lalu berkata sambil tersenyum lebar, "Kita malam ini
menyambut tiga orang muda yang memiliki il-mu kepandaian tinggi, oleh karena itu, sudah sepatutnya
kalau kita memberi pertunjukan ilmu silat. Nah, siapa mau memulai untuk menyambut para
tamu kita yang gagah?"
Mereka semua sudah minum arak cukup banyak yang membuat kepala dan hati terasa ringan. Gin I
Ciaugkun sudah bangkit berdiri dan menjura ke arah pemimipinnya. "Biarlah saya yang bodoh
menghormati putera dan puteri Bu Hong Seng-jin!" katanya dan setelah Chu Siang Yu mengang-guk
setuju, kakek berusia empatpuluh tahun lebih ini menuju ke tengah ruangan itu dan mulailah dia
bersilat.
Kakek ini bertubuh tinggi tegap dan bermuka brewok. Gerakan kaki tangannya mantap dan ke-tika
dia bermain silat beberapa lamanya, orang-orang di situ mulai merasakan sambaran hawa dingin.
Kiranya panglima baju perak ini memiliki ilmu sinkang yang disebut Swat-ciang (Tangan Salju) dan
pukulan yang mengandung hawa dingin itu amat berbahaya bagi lawan. Setelah dia sele-sai bersilat
dan memberi hormat kepada pemimpinnya, Chu Siang Yu bertepuk tangan memuji, diikuti oleh orangorang
yang hadir di situ. Me-lihat rekannya sudah maju, Kim I Ciangkun tidak mau ketinggalan.
Diapun memperlihatkan ketang-kasannya. Tubuhnya yang tinggi kurus bergerak cepat dan tak lama
kemudian, gerakan kedua ta-ngannya itu mengeluarkan hawa panas menyam-bar-nyambar. Itulah
ilmu Hui-ciang (Tangan Api) yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Swat-ciang milik
rekannya tadi. Juga Kim I Ciangkun menerima sambutan pujian dan tepuk tangan.
Sejak tadi, raksasa Mongol yang duduknya ber-hadapan dengan isteri Chu Siang Yu sehingga dia
dapat menatap wajah Bwee Hong dengan jelas, memperlihatkan sikap amat tertarik kepada dara ini.
Dia bersikap kasar dan biarpun dia tidak berani secara terus terang mengeluarkan kata-kata yang
dunia-kangouw.blogspot.com
menyinggung, namun kerling matanya yang lebar itu selalu menyambar ke arah Bwee Hong, membuat
dara ini kadang-kadang mengerutkan alisnya dan membuang muka. Kini, melihat betapa dua
orang rekannya itu memperlihatkan ilmu kepan-daian, si raksasa Mongol inipun bangkit berdiri dan
mengajukan diri untuk menghibur para tamu. Tentu saja permintaannya dikabulkan dengan gem-bira
oleh Chu Siang Yu. Dengan langkah gagah raksasa ini menuju ke tengah mangan. Raksasa ini
adalah adik dari Malisang, kepala suku Mongol yang menjadi sekutu Chu Siang Yu dan bekerja sama
dengan pasukan yang dipimpin oleh Kwa Sun Tek putera ketua Tai-bong-pai. Usianya sudah hampir
limapuluh tahun dan dalam hal il-mu silat, ilmu gulat dan tenaga, dia tidak kalah oleh kakaknya. Sejak
tadi dia terpesona oleh ke-cantikan Bwee Hong, maka kini dia maju untuk menjual tampang, untuk
menarik perhatian dara yang membuatnya tergila-gila itu.
Mulailah raksasa Mongol ini bersilat dan begitu dia menggerakkan kedua kakinya, lantai bergo-yanggoyang
dan seluruh kemah itu tergetar. Ju-ga kedua tangannya yang menyambar-nyambar
mendatangkan hawa pukulan yang amat kuat. Akan tetapi, baru belasan jurus raksasa ini bersilat, dia
menghentikan gerakannya. Sejak tadi dia ber-silat sambil tersenyum dan mengerling ke arah Bwee
Hong, akan tetapi nona ini malah memaling-kan muka dan tidak mau nonton kelihaiannya. Hal ini
membuatnya merasa penasaran. Dia bersilat hanya untuk pamer kepada nona itu, akan tetapi yang
dipameri malah membuang muka! Semua orang merasa heran melihat raksasa itu berhenti bersilat,
bahkan Chu Siang Yu sendiri bertanya mengapa ilmu silat yang belum selesai dimainkan itu
dihentikan tiba-tiba?
''Bermain silat sendirian kurang menggembira-kan," kata si raksasa Mongol dengan logat asing. "Para
tamu kita adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Kata orang persilatan, per-kenalan
tidaklah akrab tanpa melalui adu silat. Oleh karena itu, aku meropersilahkan seorang di antara tiga
tamu kita yang gagah untuk maju dan bermain-main denganku beberapa jurus. Akan tetapi, orang
bilang bahwa kepalan tidak mem-punyai mata, maka aku takut kalau-kalau aku akan salah tangan
dan lupa, melukai tamu terhormat. Oleh karena jitu, agar aman, kuharap nona tamu sudi
memperlihatkan kepandaian. Kalau mengha-dapi lawan wanita, tentu aku tidak akan lupa dan tidak
akan salah tangan, ha-ha-ha!"
Mendengar ucapan ini, para perwira yang wa-taknya kasar tertawa. Akan tetapi tiga orang mu-da itu
tentu saja merasa mendongkol sekali. Dan Seng Kim merasa makin tidak suka kepada pemim-pin
pemberontak yang menjadi sanaknya. Di situ-ah letak kelemahan Chu Siang Yu, pikirnya. Ber-beda
dengan Liu Pang yang pandai memilih se-kutu dan anak buah, yang sebagian besar terdiri dari para
pendekar dan rakyat jelata, sebaliknya Chu Siang Yu memilih orang-orang asal pandai ilmu silatnya
saja, biarpun orang itu datang dari go-longan yang sesat, bahkan tidak segan bersekutu dengan pihak
asing! Seng Kun berpikir bahwa tidaklah pantas membiarkan Bwee Hong menjadi buah tertawaan
melawan raksasa yang tangguh ini. Dan kalau A-hai yang maju, dia khawatir kalau-kalau A-hai yang
kadang-kadang masih kumat itu akan menurunkan ilmunya yang amat hebat dan raksasa ini akan
terpukul tewas. Jalan terbaik adalah dia sendiri yang maju, mencoba mengalah-kan raksasa ini tanpa
membuat Chu Siang Yu ma-rah. Maka diapun cepat mendahului adiknya dan A-hai yang sudah
memandang marah kepada rak-sasa itu. Dengan tenang dan sabar dia memberi hormat kepada
raksasa itu.
"Ciangkun, harap maafkan adikku kalau tidak dapat memenuhi undangaranu karena tentu saja adikku
bukanlah tandinganmu. Biarlah aku me-wakilinya menerima petunjuk-petunjuk dari ciangkun."
Raksasa itu memandang kepada Seng Kun dan tertawa, sikapnya memandang rendah sekali.
"Ah, jadi engkau adalah kakak nona itu? Ba-gus, dengan mengingat bahwa engkau kakaknya, tentu
akupun berlaku hati-hati agar tidak sampai melukaimu, orang muda. Dan jangan khawatir, andaikata
engkau terluka olehku, akupun mempu-nyai obatnya untuk menyembuhkanmu."
Sungguh tekebur sekali sikap dan ucapan raksa-sa Mongol ini. Akan tetapi Seng Kim tetap tenang
saja. "Ciangkun, lebih baik kita segera mulai dari pada membuang-buang waktu dengan obrolan
kosong."
Melihat ada nada marah dalam ucapan Seng Kun, raksasa itu mendengus, akan tetapi mulutnya
masih tersenyum-senyum. "Baik, kau jagalah pu-kulanku!"
"Wuuuuttt !" Pukulan itu memang kencang sekali datangnya, dan amat kuatnya karena sebelum
kepalan tiba, angin pukulannya sudah terasa oleh Seng Kun dan membuat bajunya berkibar. Akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi pemuda ini tentu saja dapat mengelak dengan sigapnya. Dia membiarkan si raksasa memukul
sampai empat kali berturut-turut, selalu menghindarkan diri dengan jalan mengelak.
Pada pukulan ke lima, yang dilakukan dengan keras sekali karena raksasa itu mulai merasa
penasaran melihat semua pukulannya luput, Seng Kun menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukkk !!" Akibat dari adu tenaega ini membuat Seng Kun terlempar dan hampir terjeng-kang
kalau saja dia tidak memiliki ginkang yang baik sekali sehingga dia mampu meloncat ber-jungkir balik
dan tidak sampai terbanting. Dia ter-kejut, karena tidak disangkanya raksasa itu memi-liki tenaga
sehebat itu.
"Ha-ha-ha, aku membuatmu kaget? Maaf, dan hati-hatilah!" Raksasa itu tertawa girang dan nada
suaranya mengejek sekali. Bagaimanapun juga, Seng Kun hanya seorang manusia biasa dan
kesabaran ada batasnya. Dia mulai merasa pena-saran dan mukanya menjadi merah. Ketika rak-sasa
itu menyerang lagi, dia mengelak dan balas menyerang dengan tamparan ke arah dada lawan
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat lawan tidak mengelak atau menangkis sama sekali, sebaliknya
membiarkan dadanya dipukul akan tetapi membarengi dengan pukulan ke arah perut Seng
Kun. Pukulan yang keras sekali!
"Bukkk!" Tamparan tangan Seng Kuaa tepat mengenai dada, akan tetapi pemuda itu menahan
seruannya karena telapak tangannya terasa nyeri dan pedas. Kiranya baju perang itu terbuat dari
pada logam tipis yang amat kuat dan di antara si-siknya itu terdapat bagian runcing sehingga akan
dapat melukai pukulan tangan lawan! Hampir saja perut Seng Kun kena terpukul kalau saja dia tidak
meloncat ke belakang dan pada saat itu Bwee Hong meloncat ke depan hendak membantu kakaknya.
"Hong-moi, mundur!" Seng Kun berseru kepada adiknya setelah dia terbebas dari pada pukulan ke
arah perutnya tadi. Untung kepalan tangan lawan itu hanya menyerempet kulit perut dan bajunya,
kalau mengenai perut dengan tepat, mungkin dia akan celaka mengingat besarnya te-naga lawan.
"Ha-ha-ha, kalau engkau hendak maju seka-lian, silahkan, nona. Dikeroyok dua akan menjadi
semakin meriah!"
"Lihat serangan!" Seng Kun membentak ma-rah melihat kecongkakan raksasa itu dan kini dia-pun
mulai menyerang. Dan si raksasa terkejut karena gerakan Seng Kun itu cepat bukan main, tu-buhnya
seperti terbang saja dan kedua tangannya seperti berobah menjadi banyak! Raksasa itu
menggunakan kedua tangan untuk menangkis, bahkan berusaha menangkap dengan ilmu gulat,
namun Seng Kun terlalu cepat baginya dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di belakangnya dan
sekali renggut, terlepaslah ikatan rambutnya! Pa-da saat tali rambutnya putus direnggut tangan Seng
Kun, pemuda ini memberi sentilan dengan jari tangannya pada tengkuk lawan. Hal ini dila-kukannya
untuk memberi isyarat kepada lawan bahwa kalau dia berniat buruk, betapa mudah ba-ginya untuk
mengganti sentilan itu dengan totok-kan atau pukulan maut!
Akan tetapi, raksasa Mongol itu adalah seorang kasar yang tidak mengenal segala macam isarat dan
sindiran halus seperti itu. Baginya, dalam perke-lahian atau adu kepandaian hanya ada dua hal, kalah
atau menang. Dan dia belum merasa kalah kalau hanya direnggutkan tali rambutnya sampai terlepas
saja! Maka dengan gerengan keras, dia menyerang lagi. Seng Kun cepat menghindarkan diri dengan
loncatan ke samping dan pada saat itu terdengar seruan Chu Siang Yu.
"Tahan pukulan! Cukup sudah, kita di antara kawan sendiri!" Dan tahu-tahu tubuh Chu Siang Yu yang
tadinya masih duduk di atas kursi sudah melayang dan berdiri di antara dua orang itu.
Melihat gerakan ini, A-hai mengangguk-angguk dan kagum akan kelihaian pemimpin pemberontak itu.
Sementara, itu, raksasa Mongol yang merasa belum kalah, menjadi penasaran dan sikapnya ma-sih
marah. Keadaan menjadi tegang, akan tetapi pada saat itu terdengar suara anak panah menga-ung di
udara, disusul suara ribut-ribut di kejauh-an. Peristiwa ini menyadarkan si raksasa dan dia-pun cepat
menjura kepada sekutu dan pemimpin-nya, lalu kembali ke tempat duduknya. Seng Kun juga duduk
kembali dan anehnya, peristiwa itu agaknya tidak mempengaruhi sikap Chu Siang Yu yang masih saja
melanjutkan makan minum.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian pen-jaga yang datang berlari-lari dan menjatuhkan diri
berlutut, memberi laporan bahwa musuh ge-lap mulai menyerang.
"Bodoh! Tidak tahukah kalian bahwa Ong-ya sedang menyambut tamu? Hayo pergi, jangan
diganggu!" Dua orang itu memberi hormat dan pergi. Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Seng
Kun dan teman-temannya.
Tak lama kemudian, kembali datang dua orang perwira yang nampak gugup. Dua orang ini segera
membuat laporan, "Ada beberapa orang penga-cau memasuki perkemahan kita. Mereka berkepandaian
tinggi sekali dan beberapa orang perajurit terbunuh secara aneh dan mengerikan."
Kini Chu Siang Yu sendiri yang menjawab de-ngan sikap tak acuh. "Sudah, kalian kembalilah ke
tempat penjagaanmu. Tak perlu gelisah. Iblis-iblis itu tidak dapat berbuat seenaknya sendiri. Mereka
sudah dikepung dan semua akan dapat kita binasakan!"
Diam-diam Seng Kun bertiga menjadi semakin kagum. Orang ini benar-benar amat tabah, pan-dai
dan berwibawa. Dan memang bukan bual ko-song saja ketika Chu Siang Yu menghibur dua orang
penjaga tadi. Ketika mereka berdua kem-bali ke tempat penjagaan, para penyelundup itu telah
dikepung ketat oleh jagoan-jagoan yang su-dah dipersiapkan oleh Chu Siang Yu dan para
pembantunya. Seorang di antara para penyelun-dup itu, yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun,
berwajah ganteng pesolek dan bersenjata sebatang huncwe berlapis emas, dikeroyok oleh lima orang
jagoan pilihan. Tak jauh dari situ ter-dapat pula seorang wanita cantik berusia sekitar tigapuluh tahun
yang mengamuk dengan senjata pedang pendek di tangan kiri dan sehelai sabuk di tangan kanan.
Juga wanita ini dikepung oleh lima orang jagoan. Dua orang penyelundup ini adalah pembantupembantu
Raja Kelalawar yang lihai, yaitu Jai-hwa Toat-beng-kwi si penjahat cabul dan Pek-pi Siauwkwi,
Si Maling Cantik.
Di depan gedung ransum terjadi pulas pengero-yokan atas diri San-hek-houw yang mengamuk
dengan senjatanya yang istimewa itu, ialah seba-tang rantai baja dengan ujung tombak jangkar.
Sedangkan di dekat kandang kuda terdapat pula perkelahian seru antara Sin-go Mo Kai Ci Si Bua-ya
Sakti yang juga dikeroyok oleh banyak orang. Ternyata empat orang pembantu utama Raja Kelelawar
itu masuk perangkap. Maka dibiarkan memasuki perkemahan, lalu dikepung ketat dan
dikeroyok oleh jagoan jagoan yang memang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Chu Siang Yu
dan para pembantunya.
Empat orang penjahat itu marah sekali. Mere-ka tidak mengira akan terperangkap oleh pihak musuh,
maka mereka mengamuk dengaa hebatnya. Sepak terjang mereka, terutama sekali Si Buaya Sakti
dan Si Harimau Gunung, benar-benar amat menggiriskan. Perajurit-perajurit yang berani mencoba
untuk ikut mengeroyok, banyak yang roboh dan tewas. Debu dan batu kerikil berham-buran, kemahkemah
di sekitar tempat mereka mengamuk itu roboh. Dua orang iblis ini meng-amuk sambil
mengeluarkan caci-maki dan ge-raman-geraman seperti binatang buas. Betapapun juga, yang
mengepung dan mengeroyok mereka adalah jagoan-jagoan dan juga banyak jumlahnya sehingga
mereka berempat itu tidak melihat jalan, keluar untuk meloloskan diri, maka mereka meng-amuk matimatian.
Sementara itu, di atas puncak tiang kemah tak
jauh dari situ, terdapat sesosok tubuh berdiri tegak seperti seekor burung hinggap di ujung tiang. Pakaian
dan jubahnya berwarna hitam sehingga su-kar dapat dilihat. Si jubah hitam ini memandang ke
bawah, ke arah perkelahian itu dan dia menge-pal tinju, bibirnya bergerak memaki-maki marah.
"Keparat! Gila! Tak kusangka bangsat Chu Siang Yu begini cerdik. Kiranya dia tidak boleh dipandang
ringan, para pembantunya juga banyak yang lihai. Jahanam benar!"
Tubuh yang tinggi besar itu tiba-tiba bergerak melayang ke atas puncak tenda lain, kemudian
meloncat lagi dari tenda ke tenda seperti seekor kelelawar saja gesit dan ringannya. Kemudian dia
hinggap di puncak perkemahan pusat di mana Chu Siang Yu sedang makan minum dengan para tamunya.
Begitu berjumpa dengan tiga orang muda itu, Chu Siang Yu sudah tertarik sekali dan dia dapat
menduga bahwa tiga orang muda ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
akan dapat menjadi tenaga-tenaga yang amat penting baginya. Oleh karena itu, sambil menja-lankan
dunia-kangouw.blogspot.com
siasatnya untuk menjebak pihak musuh yang berani menyelundup ke perkemahan, dia juga berusaha
untuk menyenangkan hati tiga orang mu-da itu dan kalau mungkin dia akan menarik mere-ka menjadi
pembantu-pembantunya.
"Sam-wi adalah orang-orang muda yang luar biasa," akhirnya sambil menyuguhkan arak dia berkata.
"Sam-wi merupakan orang-orang muda yang memiliki harapan baik sekali untuk mencapai kedudukan
tinggi dan mulia, dan pertemuan anta-ra kita ini membuka kesempatan yang amat baik bagi kalian.
Kota raja sudah berada di telapak ta-ngan kita, tak lama kemudian kita akan dapat menguasainya.
Dan aku akan merasa gembira se-kali kalau dapat memperoleh bantuan sam-wi dalam membangun
kerajaan baru."
Seng Kun terkejut mendengar ini. Baru dia ta-hu sekarang mengapa pemimpin pemberontak ini
bersikap demikian baiknya terhadap dia bertiga. Kiranya mempunyai maksud untuk memperguna-kan
mereka sebagai pembantu. Diapun cepat me-wakili teman dan adiknya itu, memberi hormat kepada
pemimpin pemberontak itu.
"Kami kakak beradik menghaturkan terima ka-sih atas maksud baik taijin. Akan tetapi, pada sa-at ini
kami sama sekali belum memikirkan tentang kedudukan atau pekerjaan . . . . . . "
"Wah, saya sendiripun masih mempunyai ba-nyak sekali urusan keluarga dan pribadi sehingga tidak
sempat memikirkan tentang urusan keduduk-an!" A-hai juga berkata.
"Kami masih amat mengkhawatirkan keadaan ayah kandung kami!" Bwee Hong juga membantu
kakaknya. "Saya ingin sekali mengetahui bagaimana sebenarnya dengan keadaan ayah kandung
kami itu?"
Chu Siang Yu menarik napas panjang menyem-bunyikan rasa kecewa hatinya. Dia maklum bahwa
menghadapi orang-orang muda yang lihai ini ti-dak boleh tergesa-gesa, apa lagi mempergunakan
tekanan.
"Menurut keterangan Kim I Ciangkun memang benar ayah kalian ditangkap dan dimasukkan pen-jara.
Tentu saja hal itu terlihat oleh Kim I Ciang-kun dan Gin I Ciangkun sebelum mereka berdua lari dari
istana setelah melihat keadaan yang kacau di istana, di mana kaisar muda itu mempergunakan para
datuk kaum sesat untuk menjadi pengawal-pengawal dan pembantu-pembantu. Banyak pe-jabat yang
setia seperti kedua ciangkun itu tidak tahan melihat betapa pembesar-pembesar yang jujur
dijebloskan penjara atau dibunuh, sedangkan penjahat-penjahat rendah diberi kedudukan ting-gi.
Kim I Ciangkun menambahkan keterangan pe-mimpinnya. "Bu Hong Seng-jin sebagai seorang
penasihat istana, mencoba untuk mengingatkan sri baginda kaisar yang masih muda itu. Akan tetapi
beliau malah kena marah dan ditangkap, dijeblos-kan ke dalam penjara."
"Akan tetapi kalian jangan khawatir. Kota raja sudah kita kepung dan sebentar lagi, kalau kita sudah
dapat menguasai kota raja, kalian akan dapat menyelamatkan ayah kandung kalian. Oleh karena itu,
marilah kalian bantu kami untuk menyerbu kota raja besok."
Seng Kun dan adiknya saling pandang, tidak dapat segera menjawab. Tentu saja mereka ber-dua
yang bertugas menyelidiki keadaan musuh Liu Pang dan menyelidiki keadaan ayah mereka, tidak
mungkin kalau kini malah bergabung dengan pemberontak Chu Siang Yu dan membantunya
menyerbu kota raja. Dan A-hai sendiri kini keli-hatannya tidak tertarik lagi, bahkan seperti tidak
mengacuhkan percakapan itu dan perhatiannya seperti tertarik oleh hal lain.
Tiba-tiba api lilin-lilin yang berada di dalam ruangan itu bergoyang seperti tertiup angin dan mereka
yang berada di situ tidak sadar bahwa di dalam ruangan itu telah bertambah seorang lagi kalau saja
A-hai t;dak menyapanya. "Silahkan masuk!"
Mendengar ucapan A-hai, Chu Siang Yu dan semua orang menoleh dan mereka semua terkejut
bukan main melihat betapa di ambang pintu ke-mah itu telah berdiri seorang laki-laki tinggi yang
mengenakan pakaian dan jubah hitam! Penjaga penjaga yang berdiri di luar pintu kemah itu agak-nya
tidak melihat masuknya orang ini dan hanya A-hai seorang yang melihatnya. Akan tetapi, kini terjadi
keanehan. Orang yang mereka semua du-ga tentu Si Raja Kelelawar itu yang tadinya melangkah
dengan gerakan kaki seperti tidak meng-injak tanah, tiba-tiba berhenti dan matanya ter-belalak
menatap wajah A-hai, kemudian tiba-tiba kakinya melangkah ke samping dan memasang kuda-kuda
sambil menjaga jarak antara dia dan A-hai, agaknya siap untuk berkelahi! A-hai juga memandang
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan tajam penuh selidik, akan te-tapi dia tidak mengenal orang ini dan hanya me-mandang
dengan wajah heran.
"Kiranya engkau belum mampus juga !"
Tiba-tiba orang itu berkata dengan mata mende-lik.
Dan terjadilah perobahan pada wajah A-hai. Wajahnya yang tadinya nampak keheranan meli-hat
tingkah laku orang berpakaian hitam itu, kini berkerut-kerut seolah-olah terjadi sesuatu di da-lam
ingatannya. Matanya terbuka lebar dan men-corong, seperti hendak menembus ke dalam dada orang
berjubah hitam itu, memandang penuh seli-dik, mukanya menjadi merah sekali dan dahinya
berdenyut-denyut.
"Siapa siapakah engkau ? Aku ...... aku seperti mengenal suaramu " Dia tergagap
menudingkan telunjuknya kepada orang itu.
Orang berjubah hitam itu agaknya menemukan kembali ketenangannya. Mulutnya tersenyum
mengejek dan dia tidak lagi mengacuhkan A-hai, melainkan memutar tubuhnya memandang ke sekeliling.
Semua orang tadinya seperti terpesona oleh ketegangan yang terjadi ketika A-hai menegur
orang itu, dan barulah kini mereka sadar akan si-apa orangnya yang telah begitu berani memasuki
kemah pusat ini. Kim I Ciangkun segera menge-nalnya dan tanpa banyak cakap lagi, bekas pengawal
jagoan di kota raja ini sudah menerjang sambil mengerahkan Hui-ciang (Tangan Api), memukul ke
arah orang berpakaian hitam itu. Angin keras menyambar berikut hawa yang amat panas.
Jilid XXX
"BERHENTI!" Tiba-tiba orang berpakaian hitam itu membentak sambil memandang ke muka Kim I
Ciangkun dan sungguh aneh, tiba-tiba saja Kim I Ciangkun berhenti di tengah-tengah serangannya,
seolah-olah dia te-lah berobah menjadi patung, mukanya memba-yangkan kebingungan dan matanya
terbelalak.
"Keluar kamu!" Kembali si jubah hitam mem-bentak dan semua orang terkejut dan heran sekali
melihat betapa seperti orang yang amat patuh, Kim I Ciangkun membalikkan tubuhnya dan tertatihtatih
melangkah keluar kemah itu. Takutkah pang-lima pengawal yang lihai ini?
Akan tetapi Chu Siang Yu dan mereka yang memiliki kepandaian tinggi di dalam kemah itu dapat
menduga apa yang telah terjadi. Si Raja Ke-lelawar, orang yang berpakaian dan berjubah hitam itu,
tentu telah mempergunakan ilmu sihirnya un-tuk menguasai dan menaklukkan Kim I Ciangkun, maka
Chu Siang Yu lalu mengeluarkan suara me-lengking nyaring yang mengandung getaran khi-kang kuat
sekali. Lengkingan ini ternyata mampu memecahkan daya pengaruh sihir yang dikerahkan oleh Si
Raja Kelelawar kepada Kim I Ciangkun karena panglima pengawal itu tiba-tiba berhenti di ambang
pintu tenda lalu membalik memandang kepada orang berjubah hitam itu.
Akan tetapi, orang aneh itu mengulur tangan kiri dan telapak tangan kirinya dihadapkan ke arah Kim I
Ciangkun dan tiba-tiba saja panglima pe-ngawal ini merasa betapa ada kekuatan dahsyat
menghimpitnya dari semua penjuru, membuat dia tidak dapat berkutik, seolah-olah tenaganya habis
tersedot.
Perlahan-lahan, sambil menyeringai sadis, Raja Kelelawar mengangkat tangan kanannya ke atas,
siap melakukan pukulan maut ke arah lawan. Ba-rulah semua orang sadar akan bahaya yang mengancam
keselamatan Kim I Ciangkun. Belasan orang perajurit pengawal yang berada di luar pintu lalu
menyerbu masuk dan dengan tombak di tangan mereka itu menyerang. Bagaikan hujan senjatasenjata
itu menyambar dan mengenai tubuh Raja Kelelawar! Akan tetapi, terdengar suara keras dan
semua senjata itu terpental seperti mengenai tubuh yang terbuat dari baja yang amat kuat saja! Tentu
saja para perajurit itu merasa ngeri dan otomatis mereka melangkah mundur dengan mata terbelalak
dan wajah pucat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tangan kanan Raja Kelelawar yang tadinya sudah siap menghantam Kim I Ciangkun, kini digerakkan,
bukan memukul Kim I Ciangkun melain-kan dialihkan, menyapu ke samping, ke arah para
perajurit yang menyerang tadi. Hembusan angin dingin melanda mereka ini dan seperti daun-daun
kering tertiup angin, belasan orang perajurit itu berpelantingan dan terdengar mereka mengeluh dan
merintih. Beberapa orang di antara mereka bahkan tidak sempat mengeluh lagi karena lang-sung
tewas seketika!
"Tahan !!" Chu Siang Yu melompat kedepan menghadapi orang berjubah hitam itu yang memandang
kepadanya dengan senyum mengejek. "Kalau tidak keliru, engkau adalah panglima kera-jaan yang
baru diangkat oleh kaisar muda. Eng-kau adalah Si Raja Kelelawar itu, bukan?"
"Pemberontak she Chu! Dosamu bertumpuk dan aku sendiri yang akan menghukummu!" Raja
Kelelawar berseru dan begitu tangannya bergerak, angin dahsyat menyambar ke arah pemimpin itu.
Akan tetapi, ternyata Chu Siang Yu juga bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu silat yang
cukup tinggi dan serangan Raja Kelelawar yang dahsyat itu dapat dielakkannya dengan baik, bah-kan
diapun membalas dengan serangan pedang-nya. Demikian cepatnya Chu Siang Yu telah men-cabut
pedang dari pinggangnya dan menyerang sehingga Raja Kelelawar juga terkejut dan cepat mengelak
sambil bersikap hati-hati, tidak berani memandang rendah pemimpin pemberontak ini yang ternyata
adalah seorang ahli pedang yang berbahaya juga. Terjadilah perkelahian hebat dan para pembantu
Chu Siang Yu tentu saja tidak mau membiarkan pemimpin mereka terancam bahaya di tangan raja
iblis itu. Mereka serentak maju me-ngepung dan mengeroyok. Akan tetapi, kepandai-an raja iblis itu
memang hebat sekali sehingga da-lam waktu singkat saja, tiga orang pengeroyok telah dapat
dirobohkannya dan Chu Siang Yu sen-diri terdesak hebat. Pemimpin pemberontak itu lalu bersuit
nyaring dan muncullah tujuh orang berseragam putih-putih mengkilap yang meme-gang sebatang
pedang di tangan kanan dan sebuah perisai di tangan kiri. Sambil bergulingan, tujuh orang itu maju
dan membuat gerakan mengepung Raja Kelelawar. Chu Siang Yu dan para pemban-tunya mundur
karena mereka bahkan akan menga-caukan gerakan Jit-seng-tin (Barisan Tujuh Bin-tang) ini kalau
mereka membantu.
Raja Kelelawar berdiri tegak memandang tujuh orang lawan yang kini mengepungnya dan tujuh orang
itu semua bertindak mengitarinya. Sungguh merupakan pemandangan yang amat menegangkan dan
juga mempsonakan. Karena pakaian para pe-ngepung ini putih-putih mengkilap, maka pakaian Raja
Kelelawar yang serba hitam itu menjadi me-nyolok sekali.
Tiba-tiba seorang di antara tujuh anggauta Jit-seng-tin itu mengeluarkan bentakan sebagai aba-aba
dan mulailah bergerak menyerang secara teratur sekali. Raja Kelelawar menghadapi mere-ka dengan
tenang dan biarpun tujuh orang itu da-pat bergerak saling bantu dan tentu saja gerakan mereka amat
cepat karena susul-menyusul, namun Raja Kelelawar dengan gin-kang yang luar biasa dapat
mengimbangi mereka, bahkan dapat mema-tahkan semua serangan mereka yang membentuk
bintang-bintang. Belum lewat tiga jurus Raja Ke-lelawar sudah mengenal inti gerakan mereka dan kini
dialah yang memimpin dan menyerang sehing-ga bentuk barisan itu membayar dan menjadi ka-cau.
Ketika memperoleh kesempatan baik, Raja Kelelawar itu membentak keras dan tangannya yang
bergerak itu dapat bertemu dengan dada dan punggung dua orang pengeroyok.
"Takk! Takkk!"
Raja iblis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang ketika merasa betapa tangannya bertemu
benda keras yang amat kuat. Tahulah dia bahwa di balik baju putih mengkilap itu tersembunyi pe-risai
baja yang kuat. Maka, pukulannya tadi ha-nya membuat mereka terdorong mundur akan te-tapi tidak
terluka parah. Kini Raja Kelelawar ter-desak oleh tujuh orang lawannya. Marahlah dia. Sekali
tangannya bergerak, kedua tangannya itu telah memegang sepasang belati yang mengeluarkan sinar
kebiruan. Dan diapun bergerak cepat Mantelnya yang lebar itu membungkus tubuhnya, menjadi
perisai yang amat kuat karena mantel itu tahan serangan senjata. Tubuhnya berputar-pu-tar dan
terbungkus jubah. Setiap senjata yang sempat menyentuh tubuhnya, mental dan membalik ke arah
penyerangnya sendiri dan tubuhnya yang bergulingan.
Akan tetapi robeknya perisai membukti-kan betapa ampuh dan tajamnya sepasang be-lati di tangan
raja iblis itu. Gentarlah mereka.
"Awas! Jangan terlalu dekat dengan dia!" Chu Siang Yu berseru dan diapun bertepuk tangan beberapa
kali. Kini muncul pula lima pasang orang yang berpakaian hitam-hitam. Mereka membawa
dunia-kangouw.blogspot.com
senjata aneh, yaitu jaring seperti jaring untuk men-jala ikan. Setiap pasang, yaitu dua orang, membawa
sehelai jaring. Lima pasang orang ini segera mengepung dan berada di sebelah luar tujuh orang
Jit-seng-tin. Melihat ini, diam-diam Raja Kele-lawar merasa terkejut sekali. Kiranya Chu Siang
Yu telah benar-benar bersiap siaga untuk me-nyambutnya, pikir raja iblis ini. Betapapun lihai-nya dan
betapapun ampuh sepasang belatinya kalau sampai dia tertangkap jaring, dia akan cela-ka. Kalau
dipikirkan secara mendalam, memang tidak mungkin dia dan empat orang kawannya saja menyerbu
perkemahan yang dihuni oleh pu-luhan ribu orang perajurit!
Tiba-tiba Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking dan selagi semua orang terkejut dan
seperti pecah rasa anak telinga mereka, raja iblis itu sudah melenting tinggi di udara, menerobos atap
kemah yang tinggi itu dan lenyap. Suara leng-kingannya amat hebat, bergema dan seperti ber-gulunggulung
bagaikan kilat bergemuruh, men-deru-deru dari segala penjuru. Semua orang ter-pukau dan
seperti kesima, tak dapat bergerak dari tempatnya. Ketika semua orang sadar kembali dan hendak
melakukan pengejaran, iblis itu telah le-nyap.
Semenjak Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking tadi, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi
menonton perkelahian dengan wajah tetap bi ngung mengingat-ingat siapa adanya orang berpa-kaian
hitam itu, kini bangkit berdiri dan terjadi pe-rubahan hebat pada wajahnya. Matanya menco-rong
ganas, klu mendelik menakutkan. Urat-urat darah di pelipis dan dahinya menggembung seper-ti mau
pecah. Uap tipis membungkus kepalanya dan matanya yang melotot itu seperti hendak me-loncat
keluar. Peluhnya menetes-netes dan ta-buhnya gemetar hebat seperti erang kedinginan.
Melihat keadaan A-hai ini, Bwee Hong tak dapat lagi menguasai rasa gelisah dan ngerinya , "Koko!
Kun-ko , dia dia kenapa?"
Seng Kun cepat menghampiri adiknya dan me-narik tangan adiknya menyingkir menjauhi A-hai,
kemudian berteriak kepada semua orang yang ber-ada di situ, "Awas, kawanku ini sedang kumat sakitnya.
Harap semua orang menjauhkan diri, kare-na dalam keadaan begini dia berbahaya sekali.
Kepandaiannya amat luar biasa!"
Kata-kata ini tentu saja disambut dengan se-nyum oleh mereka yang berada di situ. Betapapun
lihainya pemuda ini, siapa yang akan takut? Di si-tu penuh dengan orang-orang lihai sehingga Ra-ja
Kelelawar sendiripun sampai melarikan diri Sementara itu, Chu Siang Yu sibuk memberi perintah
kepada anak buahnya untuk melakukan pengejaran dan juga penjagaan agar diperketat.
"Kun-ko tolonglah dia. jangan biarkan dia mati , jangan biarkan dia mati...! Lihat urat-urat di
kepalanya ah, seperti mau pecah...!"
Bwee Hong berteriak sambil meremas-remas tangan kakaknya.
Seng Kun mengelus pundak adiknya. "Jangan khawatir, Hong-moi. Kita sekarang tidak bisa
mendekatinya. Lihat matanya, siapa mendekat mung-kin dibunuhnya. Kita hanya mengharap mudahmudahan
pengobatan yang kita berikan selama ini mampu menghilangkan hambatan-hambatan yang
mengganggu jalan darahnya. Lihat, tonjolan di pelipisnya sudah tidak nampak lagi."
"Tidak , tidak , biar dia akan membunuhku, aku akan menolongnya, aku akan menusukkan jarumku
di jalan darah tengkuknya. Aihh ... koko, lepaskanlah aku, lepaskan aku biar aku menolongnya !"
Bwee Hong meronta – ronta dari pelukan kakaknya.
"Jangan...!!" Seng Kun terpaksa membentak adiknya karena dia maklum betul betapa besar bahayanya
mendekati A-hai di saat seperti itu.
Sementara itu, wajah A-hai nampak semakin mengerikan dan tiba-tiba dia mengepal tinju tangannya,
dan sekali menggerakkan tangan itu ke kanan, ada angin bersiutan menyambar dan beberapa orang
yang berada dua meter jauhnya dari tempat itu terpelanting! "Aku... aku mengenal ... suara
melengking itu...! Jahanam...! Engkaulah kiranya orang itu! Engkau...! ENGKAU !!" A-hai menjerit dan
tiba-tiba tubuhnya meluncur ke-atas, menerobos lubang atap kemah dari mana Raja Kelelawar tadi
melarikan diri. Cepat sekali gerakannya, seperti terbang, seperti anak panah terlepas dari busurnya
dan sebentar saja lenyap, hanya terdengar suara lengkingan aneh yang tidak kalah dahsyatnya
dibandingkan dengan lengking-an yang dikeluarkan oleh Raja Kelelawar tadi. Se-mua orang kembali
dunia-kangouw.blogspot.com
kesima dan terpesona, seperti dalam mimpi saja. Baru beberapa saat kemudian, setelah gema suara
melengking itu lenyap, ber-bondong-bondong orang yang berada di dalam kemah itu keluar.
Sementara itu, empat orang kawan Raja Kele-lawar, ketika mendengar pekik lengkingan pemim-pin
mereka, berusaha meloloskan diri. Mereka di-kepung ketat dan sukar untuk lolos. Akan tetapi, dasar
penjahat-penjahat yang sudah berpengalam-an, mereka menemukan akal dan mereka memba-kari
kemah-kemah sehingga keadaan menjadi ka-lut. Di dalam kekalutan itulah, biarpun mereka menderita
luka-luka, empat orang iblis itu dapat melarikan diri.
Setelah semua penjahat lari dan Chu Siang Yu bersama para pembantunya sibuk memadamkan
kebakaran dan mengatur penjagaan menenteram-kan para perajurit yang tadi dilanda kekalutan,
diam-diam Seng Kun dan Bwee Hong yang di-tinggal pergi A-hai itu meninggalkan perkemahan,
mengambil jalan yang tadi dilalui Chu Siang Yu. Para penjaga yang mengenal mereka sebagai sahabat
dan tamu pemimpin mereka, tidak menghalangi. Mereka berdua pergi dengan cepat, dengan
maksud hendak kembali ke perkemahan pasukan Liu Pang yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Di sepanjang perjalanan ini, wajah Bwee Hong nampak berduka sekali. Ia teringat kepada A-hai yang
pergi meninggalkan mereka dalam keadaan kumat dan berbahaya, apa lagi kalau diingat bah-wa
agaknya A-hai lari melakukan pengejaran ter-hadap Raja Kelelawar yang demikian sakti dan ganasnya.
"Koko, bagaimana kalau A-hai nanti dibunuh oleh Raja Kelelawar? Biarpun dia juga lihai kalau sedang
kumat, akan tetapi mana mungkin dia akan mampu menandingi Raja Kelelawar yang sakti itu?"
Seng Kun diam saja. Matanya menatap wajah adiknya. "Hong-moi, serahkan saja kepada Thian.
Pada hakekatnya, A-hai adalah seorang yang amat baik budinya dan aku yakin bahwa orang yang baik
budinya pada akhirnya akan selamat lahir batin-nya dan akan bahagia hidupnya. Pada saat ini kita
tidak mampu berbuat sesuatu, karena kita tidak a-kan mampu mencari kedua orang yang memiliki
kepandaian amat tinggi itu."
"Ah, koko, aku khawatir aku gelisah "
Bwee Hong menahan isaknya. Seng Kun merangkulnya dengan hati terharu.
"Adikku engkau mencintanya ?"
Bwee Hong tidak mampu menjawab, akan te-tapi pertanyaan kakaknya itu membuat ia menangis
tersedu-sedu di atas dada kakaknya yang merang-kul dan mengelus rambutnya.
Cinta kasih adalah sesuatu yang hanya dapat dirasakan. Bukan sesuatu yang dapat dipikirkan. Cinta
kasih tidak terpengaruh oleh pikiran, karena-nya tidak pernah membuat perhitungan untung rugi.
Segala perbuatan kita manusia sekarang ini penuh dengan perhitungan untung rugi, oleh kare-na itu,
pamrih memperoleh keuntungan menjauhi kerugian ini membuat setiap perbuatan kita palsu dan
pura-pura, menyembunyikan pamrih. Hanya cinta kasih sajalah satu-satunya yang masih mem-beri
harapan. Perbuatan yang didasari cinta kasih adalah perbuatan yang bebas dari pada pamrih mencari
keuntungan atau kesenangan. Hidup tanpa adanya cinta kasih sama dengan mati, karena hidup
menjadi hampa, membuat manusia tiada bedanya dengan sebuah robot. Dan cinta kasih ini baru
nam-pak, baru muncul, sinarnya baru terang memenuhi hati yang tidak lagi dipenuhi keinginankeinginan.
Malam itu terang bulan, sunyi akan tetapi me-nyejukkan hati, sama dengan sejuknya suasana dan
udara yang penuh dengan sinar bulan kuning ke-hijauan. Di tepi sebuah hutan, tak jauh dari perkemahan
barisan pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang, nampak dua orang duduk di atas rumput.
Seorang pemuda dan seorang gadis. Tidak ada pe-mandangan yang lebih mesra, lebih
menyenangkan dilihat dari pada sepasang muda-mudi ber-cengkerama di bawah sinar bulan, di
tempat yang sunyi dan sejuk aman, pada saat yang amat roman-tis penuh damai.
Akan tetapi, asmara tidak selamanya menda-tangkan kebahagiaan! Asmara antara pria dan wa-nita
membutuhkan sambutan dari kedua pihak! Kalau hanya sepihak yang mencinta sedangkan pihak lain
tidak, maka asmara mendatangkan seng-sara, kekecewaan, patah hati! Bahkan sambutan kedua
pihak sajapun belum cukup. Banyak terjadi dua orang muda yang saling mencinta, yang ber-sumpah
disaksikan Langit dan Bumi bahwa mereka akan saling mencinta sampai selamanya, kemudian
dunia-kangouw.blogspot.com
bercerai kasih, bahkan cinta mereka berobah men-jadi benci! Cinta asmara seperti itu mengenal pula
cemburu, mengenal kebosanan, karena cinta as-mara seperti itu mengandung nafsu dan nafsu sela-lu
didampingi oleh kebosanan.
Demikian pula, kalau kita mengikuti percakap-an antara pemuda dan gadis di tepi hutan itu di bawah
sinar bulan, akan ternyata bahwa mereka tidaklah semesra seperti nampaknya.
"Nona Ho, betapa sempit dunia ini kalau kita bayangkan betapa sudah bertahun-tahun kita pernah
bertemu secara kebetulan saja. Kemudian kita saling berpisah, bertahun-tahun lamanya, menempuh
jalan hidup masing-masing, akan tetapi akhirnya kita saling berjumpa pula di sini, Aneh, bukan?"
Ho Pek Lian, dara itu, tersenyum mengangguk, "Kwee-taihiap...."
"Aih, jangan menyebutku taihiap (pendekar besar), nona."
"Hemm, aku tidak pernah dapat melupakan bahwa engkau dahulu adalah ketua lembah yang
memimpin banyak orang gagah "
"Lupakan saja hal itu, nona. Engkau sendiripun seorang pemimpin para pendekar yang berjuang, dan
aku, selama menjadi murid suhu, tidak lagi mau mencampuri urusan perang. Aku adalah Kwee Tiong
Li biasa, bukan pendekar besar bukan pula pejuang "
"Baiklah, Kwee-toako. Akan tetapi apa sih a-nehnya pertemuan antara kita? Bagaimanapun juga,
masih terdapat kesamaan antara kita, yang je-las, kita sama-sama menentang segala macam bentuk
kejahatan. Tentu saja besar kemungkinan kita saling jumpa."
"Nona eb, sebaiknya kusebut adik padamu karena engkau menyebutku toako. Lian-moi, ma-sih
ingatkan engkau akan pertemuan kita yang per-tama kali?"
Pek Lian tertawa. 'Tentu saja. Di sebuah rumah yang gelap, engkau membunuh beberapa orang
perwira dan wah, engkau pernah membuat aku ketakutan."
"Akan tetapi, ada suatu hal yang takkan pernah kauketahui atau kauduga." "Apa itu, toako?"
"Bahwa pertemuan itu takkan pernah kulupakan selama hidupku, karena pada saat pertemuan itulah
aku aku jatuh cinta padamu, Lian-moi."
Ucapan yang membelok ke arah pernyataan cinta ini sungguh tak pernah disangka oleh Pek Lian. Ia
terkejut sekali dan mengangkat muka memandang wajah pemuda yang duduk di sampingnya itu
dengan mata terbelalak. Seorang pemuda yang tampan, bertubuh tegap, bermuka merah, berwibawa,
pendiam dan pakaiannya sederhana.
Seorang pendekar tulen! Jatuh cinta padanya sejak pertemuan pertama itu? Seperti dalam dongeng
saja, atau dalam mimpi. Akan tetapi, di dalam hatinya, Pek Lian menggeleng kepala dengan sedih.
Sesungguhnya, seorang gadis seperti ia seharusnya berbahagia dicinta oleh seorang pendekar muda
seperti Kwee Tiong Li dan betapa mudahnya membalas cinta seorang pemuda seperti ini. Akan tetapi
baginya tidak mungkin. Tidak mungkin ia membalas cinta pemuda ini karena karena memang
tidak merasakan adanya cinta di dalam hatinya terhadap pemuda ini, melainkan hanya perasaan suka
dan kagum sebagai sahabat belaka. Cinta hatinya sudah direnggut oleh oleh siapa? Ia sendiri masih
bingung dan hal ini sering kali membuat ia gelisah dan tak dapat tidur.
Melihat gadis itu memandang kepadanya de-ngan pandang mata kaget lalu nampak termenung diam,
Tiong Li menatap wajah itu penuh harapan. Betapa rindunya kepada Pek Lian. Rasa cinta dan
rindunya dipendam selama bertahun-tahun dan dia merasa bahwa kini tiba saatnya untuk berterus
terang. Hatinya diliputi kekhawatiran dan harapan.
"Lian-moi, maafkan aku. Sudah terlalu lama aku menyimpan rahasia hatiku ini, dan biarlah ki-ni
kubukakan kepadamu. Aku cinta padamu, Lian-moi, dan suhu juga menyetujui perasaanku terhadap
dirimu. Kalau saja engkau sudi menerima cintaku "
"Cukup, toako, harap jangan dilanjutkan. Maafkan aku toako, akan tetapi aku tidak mungkin dapat
menerima cintamu bukan aku tidak menghargainya aku amat berterima kasih bahwa engkau
dunia-kangouw.blogspot.com
suka memperhatikan diriku, akan tetapi ...... " Ia tidak dapat melanjutkan dan menundukkan mukanya,
jantungnya berdebar gelisah menanti reaksi penolakannya itu dari Tiong Li.
Hening sejenak. Bukan keheningan yang me-nyejukkan hati lagi bagi keduanya. Bagi Pek Lian,
keheningan itu menggelisahkan hati dan bagi Tiong Li keheningan itu merupakan suatu kesepian
yang membuatnya terpencil menyedihkan hati.
Ketika Pek Lian merasa hampir tidak dapat lebih lama lagi menahan himpitan kegelisahan dalam
keheningan itu, terdengar suara Tiong Li, lirih dan agak gemetar, "Lian-moi, apakah ...... apakah
sudah ada orang lain?"
Pertanyaan yang sama inipun sering kali menghantui hati Pek Lian dan ia sendiripun belum dapat
menjawab dengan tepat. Akan tetapi ia pikir lebih baik mengiyakan saja agar Tiong Li tidak perlu
memperpanjang harapan hatinya. Maka iapun mengangguk, kemudian menyusulkan ucapan lirih, "
...... maafkan aku, toako."
Tiong Li tersenyum dan Pek Lian hanya bera-ni memandang sekilas saja karena melihat betapa
getirnya senyum itu. "Tidak apa, Lian-moi. Sudah dapat kuduga dan tidak mengherankan. Seorang
dara seperti engkau ini tentu banyak pemuda yang jatuh cinta. Akan tetapi, seorang laki-laki harus
memiliki keberanian untuk mencoba dan membuka isi hatinya, seperti halnya menghadapi seorang lawan
tangguh, soalnya hanya kalah atau menang, dan aku ...... aku telah kalah ...... engkaulah yang
harus memaafkan kelancanganku dan selamat tinggal, Lian-moi, mudah-mudahan kelak kita akan
dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih menggembirakan " Pemuda itu bangkit berdiri dan
ketika Pek Lian juga berdiri, dia men-jura dengan hormat, lalu pergi.
"Toako, engkau hendak ke mana?"
Tiong Li menoleh dan tersenyum lagi. "Pergi bersama suhu. Sampai jumpa..." Dan diapun pe-gi
meninggalkan Pek Lian yang termangu – mangu.
Pek Lian tentu akan lebih lama tenggelam da-lam lamunannya dengan hati sedih kalau tidak muncul
seorang perajurit yang melaporkan kepa-danya bahwa Seng Kun dan Bwee Hong telah pu-lang dan
kini gurunya, Liu Pang, memanggilnya Mendengar ini, hati Pek Lian girang sekali dan ia cepat-cepat
pergi ke perkemahan besar di mana ia melihat Seng Kun, Bwee Hong, dan Liu Pang bersama semua
pembantunya telah berkumpul mendengarkan pelaporan kakak beradik itu. Pek Lian segera
merangkul Bwee Hong dan duduk di sebelah gadis itu, mendengarkan pula penuturan kakak beradik
yang berhasil baik dengan tugas me-reka itu. Akan tetapi, ia mengerutkan alisnya ka-rena tidak
melihat adanya A-hai bersama mereka!
"Di mana di mana A-hai ?" tanyanya kepada Bwee Hong sambil berbisik.
"Kaudengarkan saja, nanti koko tentu akan menceritakan tentang dia," bisik Bwee Hong kembali.
Seng Kun menceritakan semua pengalamannya, tentang keadaan kota raja yang dikepung oleh pasukan
Chu Siang Yu, tentang pertemuan mereka dengan Chu Siang Yu yang kemudian mengajak
mereka bertiga berkunjung, kemudian tentang ke-munculan Raja Kelelawar dan anak buahnya un-tuk
mengacau perkemahan Chu Siang Yu akan te-tapi akibatnya hampir saja raja iblis dan anak bu-ahnya
itu celaka. Akhirnya dia menceritakan tentang A-hai yang begitu bertemu dengan Raja Ke-lelawar lalu
kumat dan melakukan pengejaran se-orang diri.
Mendengar penuturan yang hebat menegangkan itu, semua orang termangu-mangu. Terutama sekali
Liu Pang dan juga Pek Lian, walaupun antara guru dan murid ini terdapat perbedaan sebab yang
membuat mereka termangu. Liu Pang termangu membayangkan kekuatan musuh, sedangkan Pek
Lian termenung karena mengkhawatirkan kepergi-an A-hai yang melakukan pengejaran terhadap
Raja Kelelawar seorang diri saja!
Sementara itu, Yap Kiong Lee yang tentu saja paling tertarik mendengar kemunculan Raja Kelelawar,
ketika mendengar tentang A-hai, menggeleng kepala. "Hebat , hebat! Saudara A-hai itu memang
memiliki ilmu kepandaian simpanan yang amat dahsyat. Akan tetapi Raja Kelelawar-pun merupakan
seorang iblis yang sakti. Aku per-nah menghadapi keduanya dan tingkat kepandaian mereka memang
jauh di atas tingkatku. Sungguh, aku ingin sekali dapat menyaksikan pertarungan di antara keduanya,
dunia-kangouw.blogspot.com
tentu akan hebat bukan main!"
Semua orang yang mendengar ucapan Yap Kiong Lee ini menarik napas panjang penuh kagum.
Pemuda she Yap yang mereka banggakan dan me-reka anggap paling lihai itupun masih mengaku
kalah terhadap Raja Kelelawar!
"Hemm, baiknya raja iblis itu mengacau perkemahan Chu Siang Yu, bukan perkemahan kita! ” kata
seorang di antara mereka dengan ngeri.
Liu Pang yang sejak tadi menundukkan muka dengan alis dikerutkan, lalu berkata, "Kita harus berhatihati.
Kalau dibandingkan, di antara ke-kuatan pemerintah, kekuatan pemberontak Chu Siang Yu dan
kekuatan kita, maka kekuatan kita a-dalah yang paling lemah. Kita harus mengatur sia-sat sebaikbaiknya
agar sekali pukul merupakan pukulan terakhir yang berhasil baik."
Mereka bermusyawarah dan akhirnya diambil keputusan bahwa mereka akan membiarkan dua
kekuatan itu saling hantam sampai seorang di an-taranya kalah dan yang lain, biarpun menang, te-tap
saja berkurang kekuatannya. Saat itulah mere-ka akan menggempur pihak yang menang. Siasat ini
mereka namakan MEMBIARKAN DUA EKOR ANJING MEMPEREBUTKAN TULANG, yang
dimaksudkan bahwa dua ekor anjing itu adalah pihak kerajaan dan pihak Chu Siang Yu. Kalau dua
ekor anjing itu sudah kelelahan dan yang seekor mati, mudah untuk membunuh yang ke dua.
Setelah pertemuan dibubarkan untuk memberi waktu istirahat kepada semua orang, Seng Kun dan
Bwee Hong bercakap-cakap dengan Yap Kiong Lee yang masih merasa tertarik sekali me-ngenai diri
A-hai dan Raja Kelelawar. Dalam ke-sempatan ini, Seng Kun menceritakan bahwa dia pernah
bertemu dengan ayah angkat atau guru pendekar itu, ialah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin ketika orang
tua itu melindungi putera mahkota yang hendak dibunuh oleh kaisar muda.
"Yap-locianpwe itu pergi mencari sisa pasukan Jenderal Beng," demikian Seng Kun menutup
ceritanya. "Akan tetapi eh, kenapa dalam pertemuan tadi aku tidak melihat Kwa – locianpwe ketua
Tai-bong-pai?"
"Benar! Akupun tadi sudah heran kenapa tidak melihat adik Siok Eng!" Bwee Hong bertanya, Adik ini
tahu bahwa sang kakak sesungguhnya mencari dan kehilangan gadis manis puteri ketua Tai-bong-pai
itu!
Yap Kiong Lee tersenyum. "Aih, hampir aku lu-pa. Beliau sekeluarga lelah pergi dan menitipkan surat
untukmu." Dia lalu mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya dan diserahkan kepada Seng
Kun. Pemuda ini tidak segera membacanya. Entah bagaimana, biarpun surat itu datangnya dari ketua
Tai-bong-pai, karena ketua itu ayah Siok Eng, dia merasa malu membukanya di depan orang lain!
Dan untuk menutup rasa malunya, dia membelokkan percakapan dan bertanya.
"Dan akupun tidak melihat Karn lo-cianpwe dan Kwee Tiong Li!"
"Merekapun sudah berangkat pergi, baru saja se-belum kalian berdua datang," jawab yang ditanya.
Mereka berpisah dan pergi ke kemah masing-masing yang sudah disediakan untuk mereka. Sete-lah
berduaan dengan adiknya, baru surat itu dibuka oleh Seng Kun dan isinya ternyata merupakan surat
undangan! Dengan resmi, ketua Tai-bong-pai sekeluarga mengundang tuan penolong mereka, Seng
Karo dan Bwee Hong, untuk berkunjung ke tempat mereka sesudah kakak beradik itu menyelesaikan
semua urusan mereka.
Membaca surat undangan itu, Bwee Hong ber-kata, "Kun-ko, kita harus menemui ayah dahulu sebelum
pergi mengunjungi mereka."
Mendengar nada suara adiknya, Seng Kun memandang. "Maksudmu ?"
"Kita harus pergi bersama ayah ke sana untuk meminang adik Siok Eng!"
Seng Kun menarik napas panjang. "Matamu tajam sekali, adikku. Memang, aku tertarik kepadanya.
Hanya sayang ayahnya ketua Tai-bong-pai "
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, apa hubungannya hal itu dengan kalian berdua kalau kalian saling mencinta?"
"Engkau melupakan ayah kita? Ayah adalah seorang bangsawan, seorang pendeta pula. Aku sangsi
apakah beliau suka berbesan dengan ke-tua Tai-bong-pai."
Bwee Hong terdiam dan melihat wajah kakak-nya yang muram, ia merangkul, "Koko, jangan
khawatir, aku akan membantumu membujuk ayah kalau tiba saatnya."
"Engkau adikku yang baik. Mudah-mudahan engkaupun akan berbahagia kelak dengan... dia!"
Malam itu, Bwee Hong tidur bersama Pek Lian. Keduanya mempunyai rahasia hati, akan tetapi ti-dak
mau saling menceritakan. Bahkan Pek Lian ti-dak berani bercerita tentang peristiwa yang di-alaminya
bersama Tiong Li malam tadi.
*
**
Semua perhitungan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu yang ahli dalam ilrnu perang itu ternyata
berjalan seperti yang digambarkannya. Benteng kota raja diserbu. Pasukannya dibantu pasukan asing
dari utara dan barat yang besar jumlahnya. Biarpun kota raja dilindungi oleh datuk-datuk kaum
sesat, akan tetapi tidak mampu menahan gelombang pasukan yang amat besar itu dan akhir-nya
benteng itupun jatuh. Dan sesuai dengan wa-tak para penjahat, begitu mereka tidak ada ha-rapan
lagi, para datuk itupun melarikan diri entah ke mana!
Ketika Chu Siang Yu dan para pembantu pi-lihannya menyerbu istana, mereka menemui per-lawanan
gigih. Kaisar yang jangkung itu dilindungi oleh datuk-datuk sesat seperti Pek-pi Siauw-kwi, Jai-hwa
Toat-beng-kwi, Sin-go Mo Kai Ci, San-hek-houw dan masih banyak lagi tokoh-tokoh
dunia sesat yang jumlahnya duapuluh orang lebih. Mereka ini mengadakan perlawanan gigih dan ketika
keadaan mendesak, kaisar sendiri yang maju membela diri dan Chu Siang Yu bersama para pembantunya
menghadapi suatu kejutan yang hebat. Kiranya kaisar itu amat lihai, bahkan jauh lebih lihai
dari pada para pengawalnya, lebih lihai dari pada penjahat besar seperti San-hek-houw sendiri!
Banyak sekali perajurit yang roboh dan tewas di tangan kaisar dan para pengawalnya ini. Aneh-nya,
Raja Kelelawar sendiri tidak pernah keluar dan agaknya raja iblis yang licik itu siang-siang sudah
melarikan diri dari istana!
Akan tetapi ketika Chu Siang Yu dan beberapa orang bekas komandan pengawal termasuk Kim I
Ciangkun dan Gin I Ciangkun ikut mengeroyok dan berhasil mendekati kaisar, barulah mereka tahu
bahwa kaisar yang amat lihai ini ternyata bulanlah kaisar muda yang diangkat oleh para menteri dunia
sebagai pengganti kaisar tua yang telah meninggal! Karena memakai pakaian kaisar, maka hampir
sama. Akan tetapi orangnya sama se-kali bukan! Ini adalah kaisar palsu! Keadaan men-jadi geger
ketika Kim I Ciangkun berteriak-teriak mengatakan bahwa kaisar adalah kaisar palsu!
"Bedebah engkau!" bentak kaisar itu dan ta-ngannya menyambar ke depan. Kim I Ciangkun dibantu
oleh Gin I Ciangkun menyambut, mengerahkan sinkang mereka dan keduanya memper-gunakan
Hui-ciang dan Swat-ciang yang men-jadi andalan mereka.
"Dessss !" Hantaman kedua tangan kaisar itu disambut oleh dua orang komandan ini dan
akibatnya, dua orang komandan itu terlempar dan terbanting roboh dengan mata mendelik dan napas
putus! Hal ini tentu saja menggegerkan pihak pe-nyerbu. Dua orang komandan itu amat lihai dan kuat,
akan tetapi sekali pukul tewas oleh kaisar asing ini!
Chu Siang Yu memberi aba-aba dan masuklah ratusan orang perajurit pilihan menyerbu istana.
Melihat ini, kaisar memberi isyarat dan bersama para pengawalnya, dia berhasil membuka jalan
berdarah dan meloloskan diri melalui pintu bela-kang. Di antara puluhan orang pengawal dan a-nak
buahnya hampir setengahnya roboh dan tewas, akan tetapi kaisar itu sendiri berhasil lolos menyelamatkan
diri.
Perlawanan para pengikut kaisar akhirnya da-pat dilumpuhkan dan Chu Siang Yu berhasil menguasai
istana. Dua orang pembesar durna yang menjadi biang keladi semua kekeruhan pemerintah,
yaitu kepala thaikam yang bernama Chao Kao bersama sekutunya, Perdana Menteri Li Su yang
dunia-kangouw.blogspot.com
korup, ditangkap dan tidak sempat diadili karena mereka berdua dikeroyok, dipukuli, ditendangi dan
diinjak-injak sehingga mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan sekali. Mayat mereka menjadi
dua onggok daging dan tulang-tulang re-muk.
Karena merasa heran melihat betapa kaisar muda yang amat lihai dan berhasil melarikan diri itu
ternyata bukan kaisar aseli, Chu Siang Yu mengadakan penyelidikan. Dari pengakuan para tawanan
dia mendengar bahwa kaisar muda yang menggantikan kaisar lama diam-diam telah dibu-nuh dengan
racun oleh Chao Kao dan kaki tangan-nya, kemudian bersama Li Su dan para pembesar pengkhianat
lainnya, diam-diam mereka mengang-kat seorang kaisar baru, yaitu kaisar yang amat lihai ilmu
silatnya tadi.
Chu Siang Yu menggeleng-geleng kepala. Tak disangkanya sampai sejauh itu pengkhianatan yang
dilakukan oleh para menteri korup. Yang amat mengherankan hatinya adalah tidak munculnya Ra]a
Kelelawar dalam penyerbuan di istana itu. keadaan yang mengerikan sekali. Apa gerangan yang telah
terjadi dengan raja iblis itu? Dia teringat betapa pemuda aneh yang ku-mat itu melakukan pengejaran
terhadap Raja Kele-lawar, apakah pemuda itu berhasil membunuhnya?
Banjir darah terjadi di kota raja, sejak dari pintu benteng sampai ke dalam istana. Tak terhitung
banyaknya manusia yang tewas, menjadi korban perang yang amat ganas itu. Dan mereka yang
menang perang berpesta-pora di atas tanah yang masih berlumur darah, baik darah musuh maupun
darah rekan-rekan mereka sendiri. Selagi hawa kematian masih mengotori kota raja, Chu Siang Yu
dan pasukan-pasukannya, bersama para sekutu-nya, yaitu pasukan-pasukan asing, merayakan pesta
kemenangan dengan meriah sekali. Akan tetapi, seperti biasa terjadi dalam perang, pesta
kemenangan ini bukan tidak terjadi bersama pe-ristiwa-peristiwa mengerikan dan menyedihkan bagi
para penduduk. Para perajurit yang merasa menang perang mulai bertindak sewenang-wenang
Manusia, di bagian dunia yang manapun, selalu condong untuk menciptakan kekuasaan dalam kemenangan,
dan mempergunakan kekuasaan itu un-tuk bertindak sewenang-wenang. Para perajurit
yang mabok-mabokan itu berkeliaran di antara rumah para penduduk, dan tidak ada harta benda dan
wanita-wanita yang lolos dari gangguan me-reka. Terjadilah perampokan, perkosaan dan pembunuhan
terhadap mereka yang melawan. Teru-tama sekali para perajurit pasukan asing dari uta-ra
yang memang ganas dan liar itu segera mem-perebutkan para wanita penduduk kota raja, tidak
perduli wanita itu cantik atau buruk, muda atau-pun tua.
Bukan hanya wanita-wanita penduduk kota raja yang menjadi sasaran. Juga keluarga para pembesar,
para dayang istana, para puteri yang cantik-cantik dijadikan rebutan. Banyak peristiwa perkosaan
dan pembunuhan keji terjadi di de-pan mata perajurit pribumi sendiri, dan bagaima-napun juga,
perasaan setia kawan sebangsa mem-buat para perajurit pribumi menjadi marah. Mu-lailah terjadi
bentrokan-bentrokan antara para pe-rajurit pribumi melawan perajurit asing itu. Mu-la-mula memang
bentrokan kecil saja antara pe-rajurit, memperebutkan wanita atau harta benda, akan tetapi bentrokan
pribadi disusul bentrokan kelompok dan golongan, kemudian bentrokan an-tara pasukan!
Para pimpinan pasukan tidak berhasil melerai, bahkan mereka terseret dan terjadilah pertempuran
secara terbuka! Pesta kemenangan yang dirayakan selama dua tiga hari itupun kini berobah menjadi
pesta pertempuran yang makin lama semakin he-bat, seolah-olah berobah menjadi, perang terbuka!
Kembali kota raja dilanda pertempuran hebat yang mengorbankan lebih banyak lagi jiwa manusia
Melihat ini, Chu Siang Yu mengerahkan pasukar-pasukannya dan dia tidak bertindak kepalang tanggung.
Dia melihat betapa pasukan asing yang tadi nya menjadi sekutunya itu amat tamak dan kalau
dibiarkan kelak hanya akan menjadi pengganggu jalan pemerintahannya saja. Ternyata orang-orang
asing itu amat tamak dan menuntut terlalu banyak dari jasa bantuan mereka. Siapa tahu kelak malah
akan merampas kedudukannya, maka sebelum hal-hal yang lebih buruk terjadi, lebih baik basmi saja
mereka. Kesempatan baik terbuka dan alasannyapun cukup kuat, yaitu dengan adanya permusuhanpermusuhan
antara pasukan mereka.
Terjadilah pertempuran hebat dan dalam wak-tu dua hari dua malam, pasukan asing itu dapat dibasmi
habis karena memang tentu saja jumlah mereka jauh kalah banyak dibandingkan dengan pasukan
Chu Siang Yu. Walaupun demikian, da-lam gerakan pembasmian ini, Chu Siang Yu kehi-langan
banyak sekali perajurit sehingga tentu saja kekuatan barisannya menjadi jauh berkurang. Apa lagi
sisa pasukannya juga menjadi lelah kehabisan tenaga karena baru saja mengerahkan tenaga menyerbu
kota raja, harus disusul pula dengan per-tempuran hebat dan melelahkan melawan pasukan
asing bekas sekutu mereka itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua peristiwa yang terjadi di kota raja itu tentu saja tidak pernah lepas dari pengintaian Liu Pang.
Tentu saja hati Liu Pang gembira bukan main melihat perkembangan yang sama sekali ti-dak
diduganya dan amat menguntungkan pihak-nya itu. Maka diapun menahan diri dan membiar-kan Chu
Siang Yu berhantam sendiri dengan se-kutunya sampai pasukan-pasukan asing itu ter-basmi habis.
Selagi pasukan-pasukan Chu Siang Yu kelelah-an, tiba-tiba saja Liu Pang menggerakkan baris-annya
yang sudah beristirahat selama lima hari dan berada dalam keadaan segar bugar, menyerbu pintu
gerbang kota raja yang terjaga oleh pasukan-pasukan yang kelelahan. Kembali terjadi perang yang
paling hebat di antara perang yang lalu. Ko-ta raja yang porak-poranda itu menjadi semakin hancur.
Chu Siang Yu yang sedang mabok keme-nangan itu tentu saja kaget setengah mati. Cepat dia
mengumpulkan para pembantunya untuk mengatur pertahanan. Akan tetapi, mana mungkin
pasukannya yang sudah banyak berkurang jumlah-nya itu, yang sedang berada dalam kelelahan dan
kehabisan tenaga, mampu menandingi kekuatan pasukan para pendekar yang jumlahnya besar dan
keadaan jasmaninya segar bugar itu? Apa lagi karena penduduk segera menyambut pasukan Liu
Pang ini sebagai pasukan pembebas, dan para penduduk mendukung dan membantunya.
Liu Pang melakukan penyerbuan di pagi buta. Tidak sukar bagi pasukannya untuk meiuntuhkan pintu
gerbang dan terjadilah pertempuran terbuka di seluruh kota raja. Pertempuran besar yang amat
mengerikan dan terjadi selama sehari penuh. Ke-tika matahari sudah condong ke barat, pasukan Chu
Siang Yu hampir seluruhnya tersapu bersih. Mayat-mayat berserakan dan bergelimpangan di loronglorong,
di jalan-jalan, di halaman-hala-man rumah penduduk, bercampur baur dengan ma-yat-mayat
pasukan asing yang kemarin mereka bantai dan belum sempat disingkirkan. Keadaan ini sungguh
mendirikan bulu roma.
Laporan demi laporan tentang kekalahan yang diderita pasukannya membuat Chu Siang Yu me-rasa
benar-benar terpukul hancur batinnya. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa perjuang-annya
yang bertahun-tahun lamanya, yang me-ngorbankan puluhan ribu nyawa pasukannya, yang
diperjuangkannya dengan susah payah melalui air mata, peluh dan darah, kini setelah tiba di ambang
keberhasilan yang gemilang, ternyata menghadapi kehancuran! Penguasaan kota raja dan istana hanya
dapat dinikmatinya dalam waktu beberapa ha-ri saja!
Seluruh pengawal dan pasukan di istana telah dikerahkan membantu keluar. Kini tinggallah Chu
Siang Yu berdua dengan isterinya di istana, dite-mani tujuh orang pengawalnya yang berpakaian putih
mengkilap. Sore hari itu, setelah mendengar laporan terakhir bahwa pasukannya sudah hampir
terbasmi habis, Chu Siang Yu mengenakan pakaian perang dan duduk menghadapi meja makan ditemani
isterinya yang cantik. Mereka makan minum dan kelihatannya gembira, walaupun wajah isterinya
yang cantik itu pucat sekali dan matanya ba-sah.
"Isteriku, kenapa engkau menangis? Segala sesuatu di dunia ini hanya ada dua macam, baik atau
buruk, terang atau gelap, menang atau kalah. Yang dua itu selalu datang bergantian, bergilir. Ada
waktunya terang ada waktunya gelap, ada waktunya menang ada waktunya kalah, seperti ju-ga ada
waktunya hidup ada waktunya mati. Kita harus berani menghadapi kenyataan, baik maupun buruk.
Mari kita makan minum sepuasnya, isteriku, siapa tahu untuk yang terakhir kali."
Mendengar ucapan terakhir itu, isterinya bang-kit dan menubruknya sambil menangis. Chu Siang Yu
merangkul dan menciumi isterinya yang tercin-ta, diam-diam merasa bersyukur bahwa mereka tidak
mempunyai anak. Sungguh akan membi-ngungkan sekali kalau mereka harus menghadapi kegagalan
seperti ini bersama anak-anak mereka.
"Sudahlah, tenangkan hatimu. Ingat bahwa aku adalah keturunan keluarga panglima, bahwa aku
seorang pemimpin yang harus berani mengha-dapi segala kegagalan. Aku akan keluar memim-pin
sendiri sisa pasukanku menghadapi musuh."
Wanita itu bangkit dan menyusut air matanya, lalu berkata dengan sikap gagah, "Aku ikut dan akan
membantumu!"
"Ah, jangan, isteriku. Engkau tinggallah di sini. Liu Pang adalah seorang gagah, dia pasti akan
melindungimu dan tidak akan membolehkan orang mengganggumu."
"Tidak! Mati hidup aku harus berada di sampingmu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan, isteriku. Apakah engkau akan mem-buat suamimu ini menjadi buah tertawaan orang? Apa
akan kata mereka? Lihat, Chu Siang Yu tidak berani maju perang tanpa diantar isterinya! Maukah
engkau melihat aku menjadi bahan ejek-an?"
Isterinya menangis dan merangkul suaminya, tidak mau melepaskah lagi. Beberapa orang da-yang
juga menangis sambil berlutut, sedangkan tujuh orang pengawalnya, yaitu barisan Jit-seng-tin yang
lihai itu, memandang dengan termangu-mangu. Mereka merasa terharu, akan tetapi mere-ka adalah
perajurit-perajurit yang keras hati dan tidak mau membiarkan diri diseret kelemahan pe-rasaan.
Akhirnya, setelah beberapa kali mencium iste-rinya dengan penuh kemesraan dan kecintaan ha-tinya,
Chu Siang Yu dengan halus merenggutkan dirinya terlepas dari rangkulan isterinya, memberi isyarat
kepada Jit-seng-tin lalu meninggalkan ruangan istana itu tanpa menoleh lagi karena dia mendengar
isterinya menangis sesenggukan bersa-ma para dayang. Pemimpin pemberontak ini me-langkah lebar
diikuti tujuh orang pengawalnya, kemudian menunggang kuda dan menyerbu keluar, mengamuk!
Hebat bukan main sepak terjang Chu Siang Yu dan Jit-seng-tin dan akhirnya mereka bertemu dengan
rombongan Liu Pang sendiri!
Terjadilah pertempuran yang amat seru, akan tetapi karena Liu Pang dibantu orang-orang pan-dai
seperti dua saudara Yap, Pek Lian dan lain-lain, akhirnya seorang demi seorang dari Jit-seng-tin
roboh dan tewas. Melihat, betapa para penga-walnya tewas dan pertempuran di sekitar tempat itu
berhenti karena sisa anak buah pasukannya ba-nyak yang menyerah, Chu Siang Yu menjadi semakin
sedih.
"Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup karena aku mengagumi kegagahannya'!" Liu Pang berseru
kepada para pembantunya dan kini Chu Siang Yu dikepung. Pemimpin ini maklum bahwa melawan
terus tidak mungkin. Dia tentu akan ke-walahan dan akhirnya dapat ditangkap sebagai tawanan.
"Seorang perajurit sejati lebih baik mati dari pada hidup menjadi tawanan!" teriaknya dan pe-dangnya
berkelebat. Liu Pang dan para pemban-tunya terkejut akan tetapi mereka tidak sempat mencegah
lagi. Tubuh Chu Siang Yu terguling dari atas kudanya dalam keadaan tak bernyawa karena
pedangnya telah menggorok lehernya sen-diri! Liu Pang berdiri memandang jenazah yang berlumuran
darah itu dengan hati trenyuh lalu dia memesan pengawalnya untuk mengurus baik-baik jenazah
pemimpin itu.
"Serahkan jenazah dalam peti yang baik kepa-da keluarganya yang mungkin masih berada di is-tana,
agar dapat disembahyangi," katanya.
Akan tetapi, ketika dia dan para pembantunya menyerbu istana, tidak terdapat perlawanan sama
sekali. Di sebuah ruangan depan, mereka menemukan isteri Chu Siang Yu dan duabelas orang
dayang menggeletak tak hernyawa. Melihat pisau belati menancap di dada masing-masing tahulah
Liu Pang bahwa mereka itu semua membunuh diri, mungkin setelah mendengar akan tewasnya Chu
Siang Yu. Liu Pang makin terharu melihat peris-tiwa ini dan diapun memesan agar jenazah isteri
pemimpin pemberontak itu dirawat sebagaimana mestinya. Mereka semua terus memasuki istana.
Kosong! Istana yang masih porak poranda bekas tangan-tangan panjang yang merampoki bendabenda
berharga itu nampak sunyi dan kosong, wa-laupun semua lampu dipasang. Agaknya para pengawal
dan petugas yang tadinya berjaga di ista-na, semua telah dikerahkan keluar untuk membantu
pasukan menahan serangan musuh. Liu Pang me-mimpin para pembantunya terus masuk sampai ke
balairung, ruangan luas di mana terdapat singga-sana kaisar dan di mana kaisar biasa bersidang
bersama semua pembesar atasan. Ruangan yang luas itupun sunyi, akan tetapi tiba-tiba Bwee Hong
menuding ke depan sambil menahan jeritnya. Se-mua orang memandang dan terbelalak keheranan.
Di atas singgasana, kursi kebesaran kaisar itu, du-duk seorang pria yang agaknya sedang termenung
seorang diri. Dan pria itu bukan lain adalah A-hai!
Tentu saja semua orang merasa heran bukan main. Pek Lian sudah meloncat ke depan, memandang
terbelalak kepada pemuda itu. "Engkau...... engkau di sini ? Bagaimana bisa berada di sini?"
Juga Seng Kun dan Bwee Hong meloncat maju, girang melihat pemuda itu yang amat mereka khawatirkan
ternyata, dalam keadaan selamat di dalam istana, malah enak-enak duduk di atas
singgasana kaisar!
"Saudara A-hai, bagaimana engkau tahu-tahu berada di sini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
A-hai tersenyum dan bangkit berdiri dan ka-kak beradik yang bermata tajam itu dapat melihat dengan
jelas betapa terjadi perobahan besar pada diri pemuda itu. Sikapnya yang seperti orang tolol atau
bingung itu lenyap sama sekali dan kini si-kapnya tenang, bahkan agung dan berwibawa. Ma-tanya
bersinar tajam dan wajahnya berseri gembira melihat rombongan Liu Pang, apa lagi melihat Pek Lian,
Bwee Hong dan Seng Kun.
"Nona Lian, panjang ceritanya bagaimana aku dapat berada di sini," jawabnya kepada Pek Lian,
kemudian dia menjura kepada Seng Kun dan Bwee Hong sambil berkata, "Sahabat Kun dan nona
Hong, berkat pengobatan kalian berdua yang amat berharga, kini aku dapat mengingat semua hal dan
ingatanku pulih kembali. Banyak terima kasih atas segala budi kebaikan kalian berdua." Sebelum tiga
orang muda itu sempat menjawab, dia sudah men-jura kepada Liu Pang, "Liu-bengcu, saya
menghaturkan selamat atas kemenangan bengcu dan pa-ra pendekar."
Liu Pang balas menjura dan biarpun wajahnya berseri, namun dia menarik napas panjang dan
mengerutkan alisnya. "Ah, kemenangan yang ber-lumuran darah. Entah berapa laksa orang gagah
yang harus mengorbankan nyawanya, negara ini baru dapat dibebaskan dari cengkeraman orangorang
jahat setelah dicuci oleh darah para pende-kar."
Diam-diam Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi antara
A-hai dan Raja Kelelawar, akan tetapi ka-rena suasana yang demikian sibuknya, mereka be-lum
sempat bertanya. Kemenangan gemilang itu tentu saja disambut dengan pesta lagi oleh Liu Pang dan
pasukannya. Akan tetapi, Liu Pang ada-lah seorang pemimpin yang baik. Dia tidak mau mengulang
kesalahan yang diperbuat Chu Siang Yu. Dia mengeluarkan peraturan keras dan mela-rang perajuritperajuritnya
untuk berbuat sewe-nang-wenang. Para pendekar yang membantunya bertugas
melakukan pengawasan. Juga dia tidak mabok kemenangan. Dibentuknya pasukan-pa-sukan baru
yang bertugas mengadakan pembersih-an terhadap musuh-musuh yang masih berkeliar-an, juga ada
pasukan yang bertugas memperbaiki semua kerusakan dan penjagaan terhadap keaman-an di kota
raja juga diperkuat. Rakyat merasa aman terlindung sehingga mereka menyambut keme-nangan Liu
Pang dengan gembira, dianggap seba-gai kemenangan mereka sendiri pula, kemenangan yang baik
terhadap yang jahat.
Karena itu, yang bergembira dan berada dalam keadaan berpesta ria bukan hanya Liu Pang dan
pasukannya, melainkan seluruh penghuni kota ra-ja. Orang-orang bersuka ria, di jalan-jalan, di
warung-warung, di rumah-rumah, dengan pema-sangan kembang api dan petasan. Pada keesokan
harinya, dengan meriah Liu Pang dinobatkan se-bagai kaisar baru secara resmi. Yang mengepalai
upacara resmi penobatan Liu Pang sebagai kaisar ini bukan lain adalah Bu Hong Seng-jin, kepala kuil
istana Thian-to-tang yang sudah dibebaskan dari dalam penjara bersama banyak sekali pejabat tinggi
lainnya. Para pejabat tinggi yang rata-rata pandai dan jujur ini oleh Liu Pang dibebaskan dan diberi
kedudukan tinggi sesuai dengan kepandaian masing-masing. Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong
hadir pula dalam penobatan kaisar yang di-pimpin upacaranya oleh ayah kandung mereka itu. Juga Ahai,
Pek Lian, Yap Kiong Lee, Yap Kim dan para pembantu lain hadir semua dengan wajah berseri
gembira.
Dengan dinobatkannya Liu Pang menjadi Ka-isar Han Kao Cu, maka berdirilah wangsa baru yang
disebut Wangsa Han (tahun 202 Sebelum Masehi). Kaisar Han Kao Cu segera membagibagi hadiah
kepada para pembantunya. Mereka diberi kedudukan dan tanah dengan pangkat yang tinggi sesuai
dengan kepandaian dan jasa mereka. Penobatan kaisar dan pangkat para pembantunya itu tentu saja
disusul dengan pesta yang meriah.
Yap Kim yang menjadi tangan kanan Liu Pang di waktu akhir-akhir ini, oleh kaisar Han Kao Cu
diangkat menjadi panglima kerajaan, sedangkan Yap Kiong Lee yang tidak mau menerima pang-kat
itu diangkat sebagai penasihat tanpa keduduk-an tetap, akan tetapi mempunyai tanda kekuasaan
berupa pedang pusaka hadiah kaisar dan cap ke-besaran sebagai penasihat! Bu Hong Seng-jin masih
tetap menjadi kepala kuil istana dan pena-sihat kaisar. Akan tetapi Seng Kun dan Bwee Hong dengan
halus menolak pemberian pangkat, hanya menerima hadiah-hadiah dari kaisar berupa ba-rangbarang
berharga dan indah sebagai hasil sitaan dalam istana. Banyak sekali harta kekayaan yang
disita dari istana, terutama sekali harta pusa-ka yang telah ditimbun oleh mendiang Perdana Menteri
Li Su, sungguh luar biasa banyaknya sampai tak terhitung. Demikian pula harta keka-yaan dari
mendiang Thaikam Chao Kao amatlah besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang bergembira ria, agaknya sudah lupa bahwa kota raja yang sudah nampak bersih itu
masih berbau darah, dan ribuan orang masih menderita karena luka-luka mereka di dalam
pertempuran.
Sewaktu semua orang bersuka ria di pagi hari esoknya, A-hai meninggalkan istana yang sedang
dalam keadaan pesta itu secara diam-diam dan dia berjalan seorang diri menyusuri jalan-jalan yang
juga amat ramai dengan penduduk yang ikut pula merayakan penobatan kaisar baru. Dia me-langkah
perlahan-lahan seperti orang termenung, tidak menengok ke kanan kiri, bahkan tidak me-lihat semua
keramaian itu. Karena itu, diapun ti-dak memperhatikan dan tidak tahu bahwa ada se-orang wanita
diam-diam membayanginya dari jauh. Wanita ini bukan lain adalah Chu Bwee Hong! Dara ini belum
juga memperoleh kesem-patan untuk bercakap-cakap dengan A-hai se-menjak mereka bertemu di
dalam istana. Keadaan terlalu sibuk dan Bwee Hong sendiripun bersama kakaknya sibuk menangani
pembebasan ayah kan-dungnya dan kemudian menghabiskan waktu me-reka untuk bercakap-cakap
dengan ayahnya. Ke-mudian disusul kesibukan ayahnya yang memim-pin upacara pengangkatan
kaisar baru, maka biar-pun hatinya ingin sekali dapat bicara dan berduaan dengan A-hai, namun
kesempatan belum terbuka. Oleh karena itu, ketika Bwee Hong melihat A – hai keluar dari ruangan
pesta dan berjalan sendirian, iapun diam-diam membayangi dari jauh, ingin sekali tahu ke mana
pemuda itu hendak pergi dan mengapa pula agaknya hendak menyingkir dari orang banyak. Sejak
pertemuan mereka di istana itu, Bwee Hong selalu memperhatikan A-hai ke-tika bertemu dan ia
melihat bahwa biarpun A-hai kini sudah berobah, bukan seorang yang nampak tolol lagi, akan tetapi
pria perkasa itu seperti ke-hilangan kegembiraannya dan selalu wajahnya di-liputi mendung, seolaholah
perasaannya sedang menderita suatu kesedihan yang tidak diketahui-nya.
A-hai berjalan terus menuju ke pinggir kota yang sepi, di antara sawah ladang yang pada hari itu
ditinggalkan semua orang yang sibuk bersuka ria. Akhirnya dia berhenti di sebuah ladang dan duduk
di atas batu dekat selokan air sawah yang kecil, duduk termenung seperti patung. Angin bersilir
menggerakkan rambut dan ujung pakaian-nya. Hanya itu yang bergerak, sedangkan tubuh pria itu
sendirian sama sekali tidak bergerak.
Sampai beberapa lamanya Bwee Hong meng-intai dan berdiri agak jauh di belakang batang po-hon,
memandang kepada A-hai. Akhirnya ia tidak tahan melihat pemuda itu diam seperti patung dan
dengan hati-hati agar jangan mengejutkan pemuda itu, ia menghampiri.
Tiba-tiba A-hai menggerakkan tangannya dan Bwee Hong menahan langkah, lalu menyelinap lagi.
bersembunyi di antara batang-batang pohon yang malang melintang karena ada batang pohon yang
tumbang. Ia mengintai, ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.
Ternyata A-hai hanya menggerakkan tangan ka-nan mengambil sebuah boneka batu kemala dari
saku jubahnya. Bwee Hong mengenal betul bone-ka itu dan iapun memandang penuh perhatian. Ki-ni
A-hai menarik napas panjang, memandangi bo-neka itu, lalu menciumnya satu kali dan menekan-kan
boneka itu ke dadanya, kemudian dia meme-gang boneka itu dan menundukkan mukanya yang
nampak sedih sekali.
Bwee Hong melihat semua ini dan iapun dapat menduga apa artinya semua itu. Ia dapat menduga
bahwa boneka itu tentulah patung kecil dari seo-rang wanita yang amat dicinta oleh A-hai dan ki-ni
agaknya A-hai telah mengenal kembali siapa adanya wanita itu. Bwee Hong merasa betapa
jantungnya seperti tertusuk, hatinya sedih tak te-rasa lagi beberapa tetes air mata membasahi pipinya
dan tanpa disengaja kakinya membuat gerakan sehingga terdengar suara daun kering terinjak. Ia
terkejut sendiri dan cepat menggunakan tangan menyusut air matanya.
Memang sedikit suara itu cukup bagi A-hai. Dia tahu bahwa ada orang di sebelah kirinya. Ketika dia
mengerling dan melihat bahwa orang itu adalah Bwee Hong, dia terkejut sekali.
"Nona Hong !" katanya dan diapun bangkit berdiri, cepat menghampiri dara itu dengan boneka
masih dipegangnya.
Sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan. Pandang mata A-hai yang awas
itu agaknya dapat melihat bekas air mata di bawah mata Bwee Hong, maka diapun bertanya dengan
khawatir.
"Engkau engkau menangis, nona?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar pertanyaan ini, otomatis tangan Bwee Hong mengusap kedua matanya dan ia
menggeleng tanpa menjawab.
"Akan tetapi aku melihat engkau seperti orang berduka, ada apakah, nona?"
"Aku tadi melihat engkau berjalan sendirian ke tempat ini dan aku diam-diam membayangimu.
Kemudian aku melihat engkau duduk termenung, demikian sedih sehingga akupun ikut merasa sedih.
Aku khawatir kalau-kalau penyakitmu kambuh kembali, saudara A eh, aku tidak berani lagi
menyebutmu dengan nama sederhana itu."
Pria itu tersenyum pahit. "A-hai adalah nama kecilku, nona. Namaku adalah Souw Thian Hai "
"Ah, jadi engkau benar Souw-kongcu itu? Dan boneka itu"
"Ini patung isteriku. Ia sudah meninggalkan aku, sudah tewas dan anakku anakku buntung pula
lengannya." Pria itu mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram sekali.
Tentu saja Bwee Hong menjadi terkejut bukan main. Kiranya A-hai ini benar adalah Souw-kong= cu
yang sudah mempunyai anak isteri! Hampir saja air matanya runtuh kembali, akan tetapi kini ia
menekan perasaannya dan memandang wajah pria itu dengan penuh rasa kasihan. Betapa banyak ia
mengalami hal-hal yang hebat dengan pria ini dan biarpun di lubuk hatinya ia merasa girang me-lihat
A-hai telah sembuh dan kembali menjadi Souw Thian Hai, seorang pendekar yang gagah perkasa,
namun pulihnya ingatan itu malah mem-benamkan pria ini ke dalam kedukaan. Dan pula, ia
kehilangan sesuatu pada pandang mata pria ini. Dahulu, sebagai A-hai, pria ini memandangnya
dengan sinar mata yang kadang-kadang amat me-sra, penuh cinta!
"Engkau sungguh kasihan sekali, Souw-taihiap " katanya dan tak terasa pula ia menjamah
tangan kiri pria itu dengan hati terharu.
Jari-jari tangan kiri A-hai atau Souw Thian Hai menyambut dan sejenak digenggamnya tangan yang
kecil itu dengan jari tangan mengandung getaran penuh perasaan, akan tetapi lalu dilepas-nya
kembali.
"Nona Hong, engkau sungguh seorang yang berhati mulia, bahkan engkau dan kakakmu telah
menyembuhkan aku. Budimu terlampau besar, dan jangan sebut aku taihiap. Engkau penolongku,
sahabatku yang kuhormati, dan "
"Dan bagaimana? Mengapa tidak kaulanjut-kan? Engkau tentu sudah tahu akan isi hatiku, perlukah
kita menyembunyikan semuanya itu?" Ucapan Bwee Hong keluar dengan bibir gemetar dan kembali
kedua matanya menjadi basah ketika ia memandang wajah pria yang dicintanya itu. Ya. ia telah jatuh
cinta kepada A hai, dan biarpun kini ia tahu bahwa A-hai adalah pendekar Soiiw Thian Hai yang
sudah duda dan mempunyai seo-rang anak perempuan, ia tidak mampu menyangkal perasaan
hatinya sendiri.
Thian Hai menatap wajah dara itu, penuh kerinduan dan penuh kasih sayang kini, akan tetapi dia
memalingkan muka, memandang patung di tangannya, lalu menggeleng kepalanya keras-keras.
"Tidak! Tidak boleh! Engkau seorang dara mulia dan bangsawan tinggi, sedangkan aku aku ......
seorang yang kesepian, kehilangan kebahagiaan, seorang duda yang sudah mempunyai seorang
anak perempuan besar maafkan aku, nona Hong ! "
Sebelum Bwee Hong mampu membantah, Thian Hai berkelebat lenyap dari tempat itu. Bwee Hong
merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil
menutupi muka dengan kedua ta-ngannya. Isaknya terdengar lirih tertahan. Hati-nya terasa pilu dan
perih seperti disayat-sayat. Ia merasa yakin akan perasaan cintanya kepada Thian Hai, dan iapun
tahu bahwa pria itu mencintanya! Tadi, dalam pandangan yang sekejap saja, iapun sudah tahu akan
isi hati Thian Hai. Akan tetapi, pria yang halus budi itu merasa dirinya terlalu rendah dan rela
menjauhkan diri karena merasa tidak sederajat, kalah kedudukan dan sudah duda mempunyai anak
lagi!
"A-hai ohh, A-hai!" Ia mengeluh lirih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba tangan yang gemetar menyentuh pundaknya. Ia cepat mengangkat muka dan ter-nyata
Thian Hai sudah berdiri di belakangnya. Pria itu kembali! Bwee Hong cepat bangkit ber-diri dan
mereka saling berpegang tangan tanpa kata-kata. Tidak perlu kata-kata kalau sudah begini. Getaran
yang keluar dari jari-jari tangan sudah mewakili seribu satu kata. Akan tetapi, de-ngan halus Thian Hai
melepaskan pegangannya.
"Nona Hong, maafkanlah kekasaranku tadi. Tentu saja aku tahu akan isi hatimu, dan engkaupun tentu
sudah tahu akan isi hatiku. Tidak dapat disangkal, terutama oleh kita sendiri bahwa kita saling
mencinta. Akan tetapi, aku sungguh merasa tidak patut menjadi sisihanmu "
"Hai-ko, ucapan itu tidak pantas keluar dari mulut seorang gagah sepertimu!" Bwee Hong menegur.
"Apakah engkau mulai menilai seseorang dari keturunan dan kedudukannya?"
Thian Hai memandang kagum dan menggeleng kepala. "Bukan itu saja. Akan tetapi aku baru saja
memperoleh kembali ingatanku dan kenyataan ke-adaan diriku amat mengejutkan, dan engkau .... ..
engkau dalam pandanganku begitu mulia. Maukah engkau maafkan aku dan berjanji tidak akan
mem-bicarakan urusan cinta kita sebelum tiba saatnya?"
Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Hemm, ti-ba saatnya? Dan kapankah saatnya itu, Hai-ko?"
"Aku masih mempunyai banyak urusan yang merupakan ganjalan hati. Pertama, aku harus dapat
menemukan musuh besarku "
"Si Raja Kelelawar? Jadi engkau belum mem-bunuhnya?"
"Benar, dia! Bukan raja iblis atau raja kelela-war, melainkan dia pembunuh isteriku! Dan aku-pun
harus mencari San-hek-houw untuk memba-laskan buntungnya lengan anakku."
Bwee Hong mengangguk lemah. Pria ini minta waktu karena masih merasa terikat untuk membereskan
urusan dendam keluarganya dan ia sama sekali tidak boleh dan tidak berhak untuk mencampuri,
apa lagi melarang. Ia harus menanti de-ngan sabar, dan walaupun kenyataan ini amat pahit
baginya, amat berat, namun demi cintanya, ia harus berani mengorbankan perasaannya.
"Baiklah, Hai-ko, aku akan menanti uluran tanganmu " katanya lemah.
Tiba-tiba Thian Hai membalikkan tubuhnya dan ternyata sesosok bayangan berkelebat dari jauh.
Setelah dekat, bayangan tadi adalah Seng Kun.
"Ah, kucari kalian dengan hati khawatir, tidak tahunya berada di sini!" kata pemuda itu dengan
gembira melihat keberduaan adiknya dan Thian Hai, akan tetapi juga agak cemas melihat betapa
wajah keduanya tidak membayangkan kegembiraan. "Aku mencarimu ke mana-mana, saudara Ahai."
"Koko, namanya Souw Thian Hai, sebaiknya kita tidak memanggil A-hai lagi karena itu hanya
panggilan nama kecilnya," kata Bwee Hong.
"Ah, ah jadi benar-benar engkau ini pendekar Souw Thian Hai yang oleh orang-oran g yang
mengenalmu disebut Souw-kongcu itu? Saudara Souw, apakah sekarang engkau sudah dapat
mengingat seluruh riwayatmu?"
Thian Hai mengangguk. "Sudah, berkat bantu-an dan pertolongan kalian berdua. Dan untuk itu,
biarlah kalian berdua menjadi orang-orang per-tama yang mendengarkan riwayatku. Mari kita duduk
di bawah pohon yang teduh."
Ketiganya duduk di bawah pohon dan kakak beradik itu mendengarkan penuturan Thian Hai dengan
penuh perhatian dan hati tertarik sekali. Agar jelas, mari kita ikuti keadaan pria yang luar biasa ini
sebelum menjadi seorang A-hai yang ketolol-tololan.
Seperti pernah kita ketahui dari penuturan Yap-lojin dan Ouwyang Kwan Ek, di jamannya para datuk
mereka, puluhan bahkan seabad yang lalu, di dunia persilatan ada empat datuk yang paling terkenal
dan dianggap mewakili dunia persilatan. Yang pertama adalah Bu-eng Sin-yok-ong yang dianggap
datuk dunia selatan, ke dua Sin-kun Bu-tek datuk dunia utara, ke tiga Cui-beng Kui-ong pendiri Taidunia-
kangouw.blogspot.com
bong-pai, kemudian ke empat Kim-mo Sai-ong pendiri Soa-hu-ipai. Empat orang datuk ini dianggap
sebagai datuk-datuk besar yang tidak dapat dicari tandingannya. Ada pula Bit-bo-ong atau Si Raja
Kelelawar akan te-tapi dia dianggap sebagai orang luar dan juga masih belum dapat dibandingkan
dengan keempat orang datuk itu. Akan tetapi, pada suatu hari, em-pat orang datuk itu berturut-turut
dikalahkan se-cara mudah oleh seorang kakek sasterawan pelukis yang sama sekali tidak dikenal
namanya! Dan biarpun kemudian empat orang datuk itu mencaricarinya
sampai bertahun-tahun, sampai mereka itu satu demi satu meninggal dunia, mereka tidak
berhasil menemukan kakek sasterawan itu!
Siapakah kakek sasterawan pelukis itu? Dia adalah seorang sakti yang menyembunyikan diri,
seorang yang pada waktu itu oleh orang-orang dusun dikenal sebagai kakek Souw saja. Kakek ini
menurunkan ilmu-ilmunya yang mujijat kepada puteranya, yang kemudian mewariskannya pula
kepada puteranya yang bernama Souw Koan Bu. Akan tetapi, keluarga Souw ini oleh nenek moyangnya
dilarang keras untuk memperkenalkan ilmu keluarga mereka, dan bahkan diharuskan un-tuk
menyembunyikan diri saja karena mereka mempunyai keyakinan bahwa seorang ahli silat yang
dikenal tentu akan mempunyai banyak mu-suh.
Demikianlah, Souw Koan Bu inipun membawa isteri dan seorang puteranya tinggal di sebuah tempat
yang amat indah dan terpencil, di tepi su-ngai dengan lembah yang amat subur di mana ter-dapat air
terjun yang besar. Souw Koan Bu hanya mempunyai seorang putera yang diberi mama Souw Thian
Hai. Tentu saja sejak kecil, Souw Thian Hai diajar ilmu-ilmu keluarga yang amat lihai itu.
Pada suatu hari, Souw Koan Bu mendengar betapa kaum sasterawan dimusuhi oleh kaki tangan
kaisar, kitab-kitab dibakar dan orang-orangnya dibunuh. Biasanya, Souw Koan Bu tidak mau ambil
perduli terhadap urusan luar. Akan tetapi se-kali ini, mendengar betapa kaum sasterawan dike-jarkejar,
disiksa dan dibunuh, hati Souw Koan Bu menjadi prihatin dan berduka sekali, juga marah. Sejak
turun-temurun keluarga Souw adalah orang-orang yang menghargai sastera, bahkan mereka selalu
berpakaian sasterawan dan mempelajari sastera sejak kecil. Thian Hai juga sejak kecil, di samping
ilmu silat, diajar sastera oleh ayahnya. Maka, dengan hati panas Souw Koan Bu turun gunung, keluar
dari lembah dan dengan me-nyamar sebagai seorang sasterawan miskin, dia membantu dan
membela kaum sasterawan. Ketika pasukan pemerintah yang jumlahnya seratus orang lebih
menggerebeg sebuah kota untuk menangkapi para sasterawannya, Souw Koan Bu mengamuk. Tentu
saja fdak ada anggauta pasukan yang mampu mendekatinya dan sebelum dekat mereka sudah roboh
oleh dorongan tangan dari jauh. Ten-tu saja hal ini amat menggemparkan. Jagoan-jagoan dari kota
raja didatangkan, akan tetapi tidak ada yang mampu menandingi Souw Koan Bu yang ber-hasil
mengungsikan para sasterawan dan menyuruh mereka itu bersembunyi.
Pada suatu hari, Souw Koan Bu pulang ke lem-bah membawa seorang pemuda kurus tinggi. Tu-buh
pemuda yang berpakaian sasterawan ini pe-nuh luka dan menurut penuturan Souw Koan Bu ketika
ditanya oleh anak isterinya, dia menceritakan bahwa pemuda yang bernama Ma Kim Liang ini adalah
seorang sasterawan yang akan dibunuh oleh pasukan pemerintah dan berhasil diselamat-kan. Karena
kasihan, pemuda itu lalu dibawa pu-lang ke lembah dan diambil murid, tentu saja se-telah menjalani
upacara pengambilan sumpah dan juga upacara keluarga Souw seperti yang pernah kita ketahui,
yaitu pembedahan dan jahitan pada ubun-ubun dan punggung.
Pemuda bernama Ma Kim Liang itu ternyata memiliki bakat yang baik sekali sehingga dia memperoleh
kemajuan pesat, bahkan hampir mengejar tingkat Souw Thian Hai yang menjadi suhengnya
dan yang juga memiliki bakat luar biasa. Akan te-tapi, Souw Koan Bu mempunyai pandang mata yang
cukup tajam. Ada gerak gerik Ma Kim Liang yang membuatnya belum percaya sepenuhnya dan dia
belum mau menurunkan ilmu-lmu simpan-an yang paling ampuh dari keluarganya, seperti yang
diajarkannya semua kepada puteranya sen-diri.
Hal ini ternyata diketahui oleh Ma Kim Liang. Diam-diam dia menjadi marah dan menaruh dendam,
akan tetapi secara cerdik dia menyembu-nyikan perasaannya itu dan kelihatannya baik dan tekun,
juga rajin sekali. Akan tetapi, diam-diam secara sembunyi-sembunyi dia suka mengintai apa bila Thian
Hai berlatih ilmu-ilmu silat yang tidak diwariskan kepadanya. Dan diapun melakukan penyelidikan
dengan diam-diam tentang ra-hasia-rahasia dan benda-benda pusaka milik keluarga sakti itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setahun kemudian, ketika pada suatu pagi Kim Liang bekerja di ladang mengurus tanaman sayur
keluarga Souw, dia melihat seorang kakek asing lewat di tempat itu. Dia menjadi curiga dan cepat dia
meninggalkan ladang dan menghadang.
'Siapakah engkau, lopek, dan ada keperluan apa datang ke lembah ini?" dia bertanya.
Kakek itu ternyata memiliki muka yang amat buruk, kulit mukanya habis dimakan cacar, hitam dan
matanya besar sebelah. Muka yang buruk menakutkan dan usianya kurang lebih enampuluh lima
tahun, tubuhnya tinggi besar agak bongkok dengan kedua lengan panjang seperti lengan orang hutan.
Dengan matanya yang mengerikan itu dia menatap wajah Kim Liang, lalu dia berkata, "Aku mau
mengunjungi Souw-supek."
Kim Liang mengerutkan alisnya. Orang macam ini menjadi murid keponakan gurunya? Usianya-pun
tua orang ini, pikirnya. Dan dia belum pernah mendengar bahwa gurunya mempunyai seorang sute
(adik seperguruan), maka dari mana muncul-nya murid keponakan ini?
"Maksudmu yang kaucari adalah suhu Souw Koan Bu?" tanyanya.
"Benar, supek Souw Koan Bu gurumukah? Ka-lau begitu, kita masih saudara seperguruan."
"Nanti dulu, aku belum pernah mendengar su-hu menyebutkan seorang sute, apa lagi murid keponakannya.
Hayo ceritakan siapa engkau dan siapa pula gurumu itu untuk meyakinkan hatiku."
"Heh, aku hanya mau bicara dengan supek, bu-kan dengan bocah ingusan seperti kamu!' Tiba-tiba
kakek itu memperlihatkan belangnya dan ter-nyata dia seorang yang kasar sekali, pantasnya seorang
penjahat yang biasa bersikap kasar dan keras.
"Kalau begitu, engkau kuanggap palsu dan aku melarang engkau melanjutkan perjalanan memasuki
lembah ini!"
Kakek itu menjadi marah. "Engkau ini saudara muda akan tetapi bersikap kurang ajar!" katanya sambil
menampar.
"Wuuuuttt… plakkk!" Kim Liang menangkis dan akibatnya dia terpelanting! Dia terkejut se-kali melihat
kekuatan dahsyat lawannya, akan te-tapi diapun melihat lawannya itu menyeringai kesakitan. Maka
diapun membalas dengan han-taman sekuat tenaga yang juga ditangkis oleh ka-kek itu.
"Dukkk!" Dan kini Kim Liang terlempar, akan tetapi kakek itu mundur dua langkah, terbatuk dan ada
darah keluar dari ujung bibirnya. Tahulah Kim Liang bahwa kakek ini sedang menderita suatu penyakit
atau sudah terluka dalam ketika memasuki lembah itu. Maka diapun terus menyerang. Mereka
berkelahi dengan sengit dan diam-diam Kim Liang harus mengakui bahwa kakek ini me-miliki tingkat
yang lebih tinggi darinya, terutama sekali gerakan ginkangnya yang membuat tubuh kakek itu
berkelebatan ke sana-sini. Akan tetapi ada suatu keuntungan baginya, yaitu kakek itu sedang sakit
dan setiap kali mengadu tenaga, kea-daannya semakin payah. Akhirnya, dengan sebuah tendangan,
Kim Liang berhasil membuat kakek itu roboh tertelungkup dan diapun cepat menubruk dan
menungganginya, menelikung kedua lengan-nya ke belakang.
"Engkau minta hidup atau mampus?" katanya mengancam.
"Auhhh, lepaskan aku ah, aku sedang terluka hebat, lepaskan aku "
"Mengaku dulu siapa sebenarnya engkau dan siapa gurumu"
"Aku tidak bohong. Guruku, atau mendiang guruku adalah cucu Bit-bo-ong Si Raja Kelelawar "
"Apa? Raja Kelelawar datuk sesat yang meng-gemparkan dunia persilatan itu? Dan engkau be-rani
mengaku bahwa guruku adalah supekmu?"
"Memang benar. Ada rahasianya tentang ini. Lepaskan aku dan aku akan bicara."
"Baik, akan tetapi kalau engkau membohong, kubunuh kau!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah dilepaskan, kakek itu tertawa. "Heh-heh, kiranya m,urid supek juga sama saja dengan kami.
Akan tetapi kenapa supek tidak mau men-dekati mendiang suhu?"
"Hayo ceritakan!" Kim Liang mendesak.
"Sebenarnya, hubungan seperguruan ini telah terjadi puluhan, bahkan seratus tahun yang lalu.
Sucouw Bit-bo-ong adalah sute dari kakek supek Souw Koan Bu. Dengan demikian, berarti bahwa
guruku masih terhitung sute dari gurumu walau-pun tidak pernah berhubungan. Asal mulanya dari
sucouw Bit-bo-ong. Karena beliau diang-gap jahat, maka kakek supek Souw Koan Bu tidak
mengakuinya lagi sebagai sute, bahkan keturunan-nya dipesan agar jangan berhubungan atau mengakui
keturunan Bit-bo-ong."
"Hemm, sudah begitu, kenapa engkau berani muncul di sini?"
"Aku aku hanya mentaati pesan mendiang suhu. Sebelum meninggal, suhu menyerahkan pusaka-
pusaka peninggalan sucouw Bit-bo-ong, juga jubahnya dan semua kitab pelajarannya, kepadaku
dengan pesan agar diserahkan kepada su-pek Souw Koan Bu. Suhu tidak mau kalau kesesatan
keturunan sucouw Bit-bo-ong diteruskan orang lain."
Kim Liang merasa tertarik sekali. Dia sudah pernah mendengar tentang datuk sesat Raja Kele-lawar
yang mengguncang dunia persilatan. Kini pusaka-pusakanya berada di tangan kakek ini!
"Bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau tidak membohong? Mana pusaka-pusaka itu?"
Kakek itu membuka buntalannya dan nampak-lah beberapa buah kitab kuno dan jubah hitam, juga
sepasang pisau belati yang bergagang indah berhiaskan mutiara. Berdebar jantung Kim Liang melihat
semua ini. Gurunya telah menyia-nyiakan dirinya, tidak diberi pelajaran ilmu terampuh dari keluarga
Souw. Dan ini ada kitab-kitab pusaka dan senjata-senjata pusaka ampuh dari Bit-bo-ong. Bodoh kalau
dilewatkannya begitu saja.
"Kalau benar engkau keturunan Bit-bo-ong, coba ceritakan tentang semua pusaka ini," katanya.
Dengan panjang lebar kakek itu lalu menceri-takan keistimewaan Bit-bo-ong, dan juga jubah kebal
dan sepasang pisau belati yang amat tajam itu. "Kauhilang pisau-pisau ini tajam dan am-puh?" Kim
Liang mengambil kedua batang pisau itu dan menimang-nimangnya. Kemudian, se-cepat kilat dia
menggerakkan sepasang pisau itu dan menusuk ke arah lambung dan dada kakek itu.
Kakek buruk rupa itu kaget setengah mati ka-rena tidak pernah menyangka pemuda itu akan berbuat
demikian. Dia menggerakkan kedua ta-ngan menangkis, akan tetapi, sepasang pisau itu ternyata
ampuh dan tajam bukan main sehingga tangkisannya membuat kedua tangannya malah buntung
sebatas pergelangan tangan dan dua ba-tang pisau itu tetap saja meluncur dan masuk ke dalam dada
dan perutnya! Kakek itu melotot dan roboh, berkelojotan sebentar saja dan tewas.
Kim Liang cepat membersihkan kedua pisau itu, menyimpannya di pinggang, menyambar bun-talan
terisi pusaka-pusaka peninggalan Bit-bo-ong, kemudian setelah memasukkan kedua tangan buntung
ke dalam saku jubah kakek itu, dia me-nyeret mayat kakek itu dan membuangnya ke da-lam jurang
yang amat dalam. Jurang itu terlalu curam dan berbahaya untuk dapat didatangi ma-nusia dan mayat
itu lenyap, sama sekali tak dapat nampak dari atas.
Akan tetapi, pemuda ini lupa bahwa mayat yang membusuk itu akan mengeluarkan bau yang keras
dan dapat tercium
Kemudian ia berseru ka-get. "Mana mungkin ada bau mayat di tempat ini?"
"Hemm, bagaimanapun juga, harus kita selidiki dan cari sampai dapat, dari mana datangnya bau
bangkai ini," kata Souw Koan Bu.
"Malam tadipun teecu sudah mencium sesuatu yang mencurigakan, suhu, akan tetapi teecu menduga
bahwa itu tentu bau tikus mati. Dan seka-rang baunya begitu keras," kata Ma Kim Liang.
"Mari kita cari!" kata pula Souw Koan Bu dan tiga orang pria ini cepat keluar dari rumah untuk mencari
sumber bau busuk itu. Tidaklah mudah mencari sumber bau busuk di tempat terbuka. A-ngin telah
dunia-kangouw.blogspot.com
meniup dan menyebarkannya sehingga di mana-mana tercium bau itu, dan mereka bertiga lalu
berpencar.
Setelah berputar-putar di sekitar tempat itu, akhirnya Thian Hai menemui ayahnya. "Ayah, ka-lau tidak
salah, bau itu keluar dari dalam jurang di barat itu."
"Apa? Dari jurang yang curam itu? Ah, ja-ngan-jangan ada binatang atau orang yang terjeru-mus ke
sana. Mari kita lihat!" Mereka berlari ke tepi jurang itu dan setelah mempergunakan keta-jamannya,
Souw Koan Bu membenarkan pendapat puteranya bahwa sumber bau itu memang keluar dari dasar
jurang.
"Biar aku yang turun dan memeriksanya, ayah," kata Thian Hai. Jurang itu amat dalam dan curam,
agaknya tak mungkin dapat dituruni manusia. Akan tetapi Souw Koan Bu percaya akan kepandai-an
puteranya, maka dia mengangguk.
"Hati-hati dan pergunakan pedangmu untuk membantumu merayap turun."
Thian Hai mengangguk dan dengan cekatan pemuda yang amat lihai ini menuruni jurang yang curam
itu. Memang bukan pekerjaan mudah. Te-bing itu curam, lurus ke bawah dan permukaan din-ding
tebing itu licin dan kadang-kadang tidak ada tempat untuk berpijak atau berpegang. Namun, Thian Hai
tidak perlu mempergunakan pedang un-tuk membantunya. Dengan kedua tangannya mencengkeram,
dia dapat merayap turun seperti seekor kucing. Jari-jari tangannya dapat mencengkeram
perrnjukaan batu tebing dan berpegang, dan dengan cara demikian akhirnya dia dapat mencapai
dasar jurang. Dan dia terpaksa menahan napas ketika tiba di dasar jurang dan melihat sisa tubuh
manusia yang sudah rusak dan mukanya sukar untuk dikenal lagi! Dia memperhatikan mayat busuk
itu, men-coba untuk mencari ciri-cirinya, kemudian diapun menggunakan kekuatan kedua tangannya
untuk menggempur batu padas dan tanah untuk menim-buni mayat itu agar baunya jangan tersiar ke
ma-na-mana. Selagi dia mengerjakan ini, terdengar
suara ayahnya dari atas, bergema, "A-hai !
Apa yang terjadi? Kenapa lama benar engkau di bawah?"
"Aku sedang menimbuni mayat busuk ini, ayah!" jawabnya sambil mengerahkan khikang sehingga
suaranya terdengar sampai ke atas jurang.
Setelah mayat itu tertimbun rapat, Thian Hai lalu merayap naik. Ayahnya sudah menantinya dengan
hati tidak sabar. "Mayat siapakah itu? Bagaimana mungkin ada mayat di dalam jurang itu?"
Jilid XXXI
"WAJAHNYA sukar dikenal lagi, ayah. Sudah rusak membusuk dan juga hancur, agaknya ketika
terjatuh kepalanya yang mendahului badan menimpa batu. Aku tidak dapat memeriksa de-ngan
seksama karena baunya, akan tetapi ada ku-lihat bekas luka di dada dan perut karena bajunya di
bagian itu berlubang dan ada tanda-tanda bekas darah."
"Hemm, pembunuhan? Dan mayatnya dilempar ke situ? Mana mungkin? Di sekitar sini tidak ada
orang..."
"Orang itu berkulit kehitaman, tinggi besar dengan punggung agak bongkok. Kuketuk-ketuk kaki
tangannya dan ternyata dia bukan orang sem-barangan, ayah, melainkan seorang yang sudah terlatih
kaki tangannya,*'
"Engkau tidak menemukan tanda-tanda lain?"
Thian Hai menggeleng kepala, lalu mengerut-kan alisnya. "Ayah, yang tinggal di sini hanyalah ayah,
ibu, aku, sute dan Pouw Hong pelayan kita. Jelas bahwa ibu tidak tahu apa-apa, juga kita bertiga Madunia-
kangouw.blogspot.com
sute sibuk mencari mayat dan tidak tahu tentang peristiwa ini. Tinggal Pouw Hong yang belum kita
tanyai."
Ayahnya mengangguk-angguk. "Mari kita pulang dan tanyai Pouw Hong, barangkali dia mengetahui
sesuatu."
Mereka pulang dan segera memanggil pelayan mereka yang setia, yaitu Pouw Hong. Orang ini sejak
muda sudah ikut Souw Koan Bu dan bentuk tubuhnya lucu. Tubuhnya pendek gendut dengan kepala
kecil gundul sehingga biarpun usianya su-dah tigapuluh tahun lebih, dia masih kelihatan seperti
kanak-kanak. Wajahnya kekanak-kanak-an. Ketika dia ditanya tentang mayat itu, dia menggeleng
kepala dan kelihatan bingung.
"Mayat? Di dasar jurang? Saya tidak tahu."
"Apakah engkau tidak melihat orang asing berkeliaran di sini dalam beberapa hari yang lalu?" tanya
Souw Koan Bu.
"Tidak, tidak ada orang asing...... "
"Dan tidak ada peristiwa yang kaurasakan aneh selama beberapa hari ini?" tanya pula Thian Hai. Si
pendek gendut itu menggeleng kepala, akan tetapi tiba-tiba dia seperti ingat akan sesuatu.
"Sebaiknya kongcu bertanya saja kepada Ma-kongcu!"
Ayah dan anak itu saling pandang. Memang keduanya sudah sering kali merasa curiga terhadap Ma
Kim Liang yang biarpun pada lahirnya nam-pak ramah, sopan dan rajin, namun di balik itu semua
seperti menyembunyikan suatu rahasia, juga kadang-kadang ada sinar aneh mencorong dari pandang
matanya.
"Mengapa aku harus bertanya kepadanya? Ada apakah dengan dia?" tanya Thian Hai.
"Saya... saya melihat hal aneh-aneh dilakukan oleh Ma-kongcu."
"Hemm, Pouw Hong, sejak kecil engkau menjadi pembantuku dan engkau seperti keluarga kami
sendiri. Kalau engkau melihat hal-hal aneh, kenapa engkau tidak melaporkan hal itu kepadaku?
Kenapa?"
"Maaf, saya...... saya tidak berani... "
"Mengapa tidak berani? Hayo cepat ceritakan segala keanehan yang kaulihat itu!" Souw Koan Bu
berkata dengan nada suara agak marah sehingga pelayan itu menjadi ketakutan lalu menceritakan
semua isi hatinya.
"Sudah lama Sekali saya melihat sikap aneh dari Ma-kongcu. Sering kali dia mengintai kalau Souwkongcu
sedang berlatih silat seorang diri di dalam kamar kongcu dan sering pula dia ber-tanya-tanya
tentang keadaan keluarga Souw, ten-tang pusaka-pusaka dan semua yang saya keta-hui. Bahkan
pernah saya melihat dia mencari-cari di kamar perpustakaan. Ketika tanpa sengaja saya masuk, dia
mengancam agar saya tidak mencerita-kan kehadirannya itu kepada lo-ya, dan sinar matanya
demikian penuh ancaman, mengerikan dan saya menjadi takut," Pouw Hong menoleh ke kanan kiri
dengan sikap takut.
"Ceritakan terus, apa lagi yang kaulihat, ter-utama dalam beberapa hari ini?" desak Souw Koan Bu.
Dengan suara lirih pelayan itu berkata, "Kira-kira empat lima hari yang lalu saya bertemu de-ngan Makongcu.
Dia agaknya baru pulang dari ladang dan dia membawa sebuah buntalan hitam. Karena hari
masih siang dan dia membawa bun-talan, saya bertanya kepadanya. Akan tetapi dia menghardik,
mengatakan bahwa saya tidak boleh mencampuri urusannya."
Ayah dan anak itu saling pandang. Memang tepat kalau empat lima hari yang lalu. Akan tetapi apa
hubungannya Ma Kim Liang dengan kematian kakek di dasar jurang itu? Dan apa pula adanya
buntalan hitam itu?
"Ayah, hatiku tidak enak. Mari kita cari di ka-marnya dan bertanya kepadanya!" Ayah dan anak itu lalu
cepat memasuki kamar Ma Kim Liang, hanya untuk mendapatkan bahwa kamar itu telah kosong!
dunia-kangouw.blogspot.com
Jangankan buntalan hitam seperti yang diceritakan Pouw Hong tadi, bahkan semua pakaiannya dan
juga pedang yang dipinjam dari guru-nya untuk berlatih silat, ikut pula lenyap!
"Ah, anak itu telah melarikan diri!" kata Souw Koan Bu terkejut dan penasaran, juga marah.
"Ayah...... tempat penyimpanan pusaka kita!"
Begitu Thian Hai berkata demikian, Souw Koan Bu mengeluarkan seruan aneh dan tubuhnya berkelebat
lenyap. Thian Hai juga meloncat dan me-ngejar ayahnya. Mereka berlari cepat sekali ke air
terjun yang berada agak jauh di sebelah bela-kang pondok mereka. Pusaka keluarga Souw me-mang
oleh Souw Koan Bu disimpan di dalam guha rahasia di belakang air terjun itu. Hal ini dilaku-kan untuk
mencegah pusaka keluarga yang amat penting itu terjatuh ke tangan orang jahat atau orang yang
tidak berhak.
Keduanya cepat memeriksa dan tak lama ke-mudian mereka keluar lagi dari guha itu dengan muka
pucat. Mereka saling pandang dan tanpa kata-katapun mereka tahu akan isi hati masing-masing.
Semua pusaka di dalam peti, berisi kitab-kitab ilmu simpanan keluarga Souw, telah lenyap! Dan
melihat kenyataan betapa Kim Liang juga le-nyap, mudah saja diketahui bahwa tentu murid murtad
itulah yang melarikan pusaka keluarga Souw.
"Ayah, biar kucari jahanam itu dan kurampas kembali pusaka kita, juga kuwakili ayah untuk
menghukum murid murtad itu!" kata Thian Hai dengan marah sekali melihat betapa wajah ayah-nya
membayangkan penyesalan besar.
Ayahnya menarik napas panjang. "Jangan tergesa-gesa, A-hai. Semua ini terjadi karena kesa-lahanku
sendiri yang kurang teliti menilai orang. Setelah dia membawa lari semua pusaka, maka dia dapat
merupakan musuh yang amat berbahaya. Untuk menghadapinya sekarang, memang tingkat
kepandaianmu masih lebih tinggi, akan tetapi dia amat cerdik dan kalau dia mempelajari semua il-mu
itu, mungkin engkau akan menghadapi kesu-karan. Baiknya, ada beberapa macam ilmu di da-lam
kumpulan pusaka itu yang tidak mungkin dilatih tanpa guru, tanpa bimbingan dan pengo-peran tenaga
sinkang. Engkau sempurnakan dulu dua ilmu itu, baru hatiku akan tenang kalau engkau
menghadapinya. Pula, dia hanya bersalah mela-rikan pusaka kita, dan itu belum hebat asal dia tidak
mempergunakan ilmu keluarga kita untuk kejahatan. Bagaimanapun juga, dia adalah murid yang
sudah kuangkat, dan semua ini kesalahanku sendiri."
"Akan tetapi, mayat dalam jurang itu...?"
"Belum tentu dia yang melakukannya. Sudahlah, mari engkau tekun mempelajari dua ilmu sim-panan
itu, kemudian baru engkau berangkat men-carinya. Pula, kalau belum jelas dia melakukan kejahatan,
mengapa tergesa-gesa?"
Diam-diam Thian Hai menarik napas panjang karena dia tahu bahwa ayahnya ini sebenarnya
mencinta murid murtad itu. Hal inipun tidak mengherankan karena memang Kim Liang amat pandai
mengambil hati orang.
Demikianlah, dengan tekun mulai hari itu Thian Hai digembleng oleh ayahnya memperdalam dua
macam ilmu simpanan keluarga Souw. Yang per-tama adalah Thai-kek Sin-ciang dan yang ke dua
adalah Thai-lek Pek-kong-ciang, dua macam ilmu tangan kosong yang luar biasa ampuhnya. Biarpun
Thian Hai memperoleh bimbingan dari ayahnya sendiri, namun demikian sukarnya dua macam ilmu
itu sehingga setelah lewat tiga tahun, barulah dia dapat menguasainya dengan sempurna dalam arti
bahwa kedua ilmu itu seolah-olah su-dah mendarah daging pada dirinya.
Sementara itu, di dunia persilatan muncullah seorang "duplikat" Raja Kelelawar! Dan Souw Koan Bu
yang mendengar berita angin tentang munculnya orang yang mengaku sebagai Raja Ke-lelawar,
cepat memanggil puteranya. "Sungguh gila! Raja Kelelawar sudah mati puluhan tahun yang lalu,
bagaimana mungkin kini muncul lagi?" kata ayah itu.
"Akan tetapi, ayah, siapa tahu kalau yang mun-cul ini adalah keturunannya, baik keturunan kelu-arga
maupun murid."
Ayahnya mengelus jenggot. "Hemm, engkau tahu bahwa Bit-bo-ong adalah seorang adik seperguruan
kakek guruku yang sudah tidak diakui lagi. Semenjak dia tewas di tangan locianpwe Sindunia-
kangouw.blogspot.com
kun Bu-tek, keturunan atau murid-muridnya tidak berani muncul secara berterang. Hal ini adalah
karena sukong memesan kepada keturunan-nya untuk mengawasi gerak-gerik keturunan be-kas sute
itu. Bagaimanapun juga, sumber ilmu-ilmunya adalah ilmu keluarga kita, maka kita ha-rus menjaga
agar ilmu-ilmu itu jangan diperguna-kan untuk kejahatan. Selama ini, tidak ada ketu-runan Raja
Kelelawar yang berani main gila."
"Akan tetapi, kalau sekarang ada orang berani mengaku sebagai Raja Kelelawar, setidaknya dia tentu
mempunyai hubungan dengan datuk sesat itu."
"Mungkin engkau benar. Nah, sekarang engkau berangkatlah A-hai. Pertama untuk mencari murid
murtad Ma Kim Liang itu dan merampas semua kitab pusaka kita, dan ke dua untuk me-nyelidiki
apakah benar ada penjahat yang mengaku bernama Raja Kelelawar merajalela di dunia per-silatan."
Maka berangkatlah Souw Thian Hai seorang diri untuk mencari bekas sutenya dan penjahat yang
mengaku sebagai Raja Kelelawar itu. Sete-lah berputar-putar selama setahun lebih, akhir-nya dia
menemukan jejak Raja Kelelawar, bukan jejak adik seperguruannya! Dan pada malam hari yang
hebat itu, dia melihat penjahat berjubah hi-tam itu sedang menyerbu rumah kepala kampung Go Tek
untuk menculik puterinya yang amat can-tik! Puteri kepala kampung ini yang bernama Go Yan Kim
memang cantik jelita dan agung se-perti seorang puteri saja biarpun ayahnya hanya-lah seorang
kepala dusun. Memang sesungguhnya, yang mengalir di bawah kulitnya yang putih mulus itu adalah
darah bangsawian tertinggi, darah kai-sar! Di waktu mudanya, ketika kaisar melakukan perjalanan
berburu dan singgah di dusun itu, dia disambut dan dilayani oleh Go Tek yang ketika itu hanya
merupakan seorang petani dan pemburu biasa saja. Kaisar tergila-gila kepada isteri Go Tek, seorang
wanita dusun sederhana dan agaknya justeru kesederhanaannya inilah yang membuat kaisar tergilagila.
Sebagai seorang kaisar, setiap hari dia dihadap oleh wanita-wanita cantik akan tetapi kecantikan
mereka itu dibantu oleh riasan-riasan muka dan pakaian-pakaian indah. Tidak demikian dengan isteri
Go Tek yang sederhana itu. Kecantikannya adalah kecantikan alam dan kaisar yang tergila-gila lalu
mengajak wanita itu bersa-manya ketika dia pulang ke istana. Go Tek yang masih pengantin baru itu
tidak berani berbuat sesuatu, apa lagi dia lalu diangkat menjadi kepala dusun itu karena dianggap
"berjasa" kepada kaisar!
Akan tetapi setelah wanita itu mengandung, agaknya kaisar menjadi bosan dan mengirim kem-bali
wanita itu kepada suaminya! Memang tak dapat disangkal pula bahwa hubungan antara pria dan
wanita, kalau hal itu terjadi hanya karena da-ya tarik kecantikan, kedudukan, harta dan seba-gainya,
maka hubungan yang mereka anggap cinta itu akan gagal dan akhirnya akan mendatangkan
kebosanan dan kekecewaan! Daya tarik seperti itu hanyalah nafsu, dan segala macam bentuk nafsu
hanyalah sementara saja, tidak mungkin abadi. Inilah sebabnya mengapa pria dan wanita yang
tadinya bersumpah setinggi langit saling mencinta, kalau sudah saling memiliki lalu cintanya menguap
dan bahkan ada kalanya berobah menjadi ke-bosanan dan kebencian. Akhirnya, sepasang manusia
yang tadinya bersumpah sehidup semati itu, dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun
saja bercerai! Akan tetapi tidak demikian dengan cinta kasih! Cinta kasih adalah kekal abadi. Cin-ta
kasih bukan lahiriah, bukan karena nafsu, me-lainkan terpendam jauh di dalam perasaan hati. Cinta
kasih menjelma setelah unsur pemisah dan pemecah-belah antar manusia lenyap, dan unsur
pemecah-belah itu adalah si aku.
Go Tek menerima kembali isterinya dan tentu saja dia tidak berani menolak. Memang dia masih
mencinta isterinya dan setelah seorang anak pe-rempuan terlahir, dia menganggapnya sebagai anak
keturunannya sendiri, tentu saja dia merasa bang-ga mempunyai anak seperti Go Yan Kim itu. Seorang
anak yang mungil dan setelah dewasa menjadi seorang dara yang amat cantik.
Pada malam hari itu, terang bulan membuat malam teramat indah. Langit cerah dan sinar bu lan
purnama sepenuhnya menerangi bumi. Sesosok bayangan hitam yang amat cepat gerakannya
nampak seperti beterbangan dari atas genteng se-buah rumah ke rumah lain di dusun tempat ting-gal
keluarga Go Tek. Bayangan itu adalah seorang laki-laki jangkung kurus yang memakai pakaian serba
hitam dengan jubah hitam pula. Ketika dia berlompatan seperti terbang cepatnya itu, jubah hitamnya
berkembang dan berkibar membuat dia nampak seolah-olah memang sedang beterbangan seperti
seekor kelelawar raksasa!
Ketika tiba di atas rumah keluarga Go Tek, bayangan itu berhenti, kemudian melayang turun dan
lenyap. Tak lama kemudian, bayangan itu sudah melayang naik lagi ke atas genteng dan kini dia
memanggul seorang gadis yang lemas tak mampu bergerak. Kiranya bayangan hitam itu telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menculik Go Yan Kim tanpa mengeluarkan suara gaduh sedikitpun sehingga dara itu tidak sempat
berteriak dan tidak ada seorangpun ang-gauta keluarga itu yang terbangun dari tidurnya. Dengan
cepat sekali bayangan hitam itu membawa pergi korbannya, meninggalkan dusun.
Dia berhenti di sebuah lereng bukit yang datar di mana terdapat batu-batu besar dan diturun-kannya
dara culikannya itu dari atas pundaknya. Kemudian, sambil menyeringai girang, bayangan itu
melepaskan jubah hitamnya. Pada saat itu, wajahnya tertimpa sinar bulan purnama, wajah yang
memiliki sepasang mata mencorong seperti mata iblis.
"Keparat Ma Kim Liang, kiranya engkaukah Raja Kelelawar palsu itu?" Tiba-tiba terdengar bentakan
nyaring dan muncullah Thian Hai yang sejak tadi membayanginya tanpa diketahui oleh iblis itu.
Bukan main kagetnya hati Ma Kim Liang yang sudah menyamar sebagai Raja Kelelawar. Hampir dia
tidak dapat percaya bahwa di tempat ini dia akan berhadapan muka dengan bekas suhengnya.
Rahasianya telah terbuka. Selama bertahun-tahun, setelah mencuri pusaka gurunya, dia bersembunyi
di tempat rahasia, dengan tekun mempelajari se-mua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab pu-saka
gurunya, juga mempelajari ilmu-ilmu sesat dari kitab-kitab peninggalan Raja Kelelawar! Setelah
merasa dirinya lihai, walaupun ada bebe-rapa macam ilmu silat keluarga Souw yang tidak dapat
dikuasainya, dan ilmu-ilmu peninggalan Raja Kelelawar juga belum dikuasainya secara sempurna,
diapun mulai memperlihatkan diri de-ngan menyamar sebagai Raja Kelelawar. Dan kini timbullah
watak aselinya dan dia tidak segan-segan untuk memuaskan nafsunya dengan jalan menculik dan
memperkosa lalu membunuh wanita-wanita cantik yang menimbulkan seleranya!
Biarpun dia merasa terkejut, akan tetapi meng-ingat bahwa selama beberapa tahun ini dia telah
menambah ilmu kepandaiannya, dia menjadi te-nang kembali dan sambil tersenyum mengejek dia
menyambar kembali jubahnya yang tadi dibuka dan dilemparkannya ke atas tanah dekat tubuh dara
itu yang menggeletak terlentang tak dapat bergerak karena tubuhnya tertotok lemas dan dara itu
hanya dapat memandang dengan mata basah air mata. Dikenakannya kembali jubahnya. Jubah ini
amat penting baginya, karena jubah ini adalah jubah pusaka peninggalan Raja Kelelawar, jubah yang
membuatnya kebal terhadap serangan senjata apapun.
Karena maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat lihai, Ma Kim Liang mengeluar-kan
sepasang pisau belatinya, senjata istimewa pe-ninggalan Kelelawar Hitam. "Suheng, akhirnya engkau
datang juga. Akan tetapi jangan mengira aku takut kepadamu, karena aku sudah mempela-jari semua
ilmu keluarga Souw dan engkau hendak menangkapku, berarti engkau sudah bosan hidup. Ha-haha!"
"Ma Kim Liang, engkau seorang manusia tak kenal budi. Ayahku telah mengangkatmu sebagai murid
dan engkau diperlakukan baik, akan tetapi sebagai balasannya engkau malah mencuri pusaka
keluarga kami! Dan engkau malah menyamar menjadi Raja Kelelawar yang sejak dahulu dimu-suhi
oleh keluarga kami karena dia telah mence-markan nama keluarga perguruan kami."
"Souw Thian Hai, jangan sombong engkau! Siapa bilang bahwa ayahmu memperlakukan aku dengan
baik? Aku dipekerjakan seperti budak pelayan, dan hanya diberi pelajaran ilmu-ilmu silat kelas rendah
saja. Ilmu-ilmu yang menjadi simpanan hanya diajarkan kepadamu seorang! Tidak sudah
sewajarnyakah kalau aku melarikan semua pusaka untuk kupelajari sendiri? Dan ten-tang Raja
Kelelawar, memang akulah keturunan nya, akulah ahli waris satu-satunya dari semua ilmu dan
pusakanya. Lihat pakaian dan jubah ini, lihat sepasang pisau ini dan lihatlah ilmu-ilmu yang sudah
kumiliki, ha-ha-ha!"
"Ma Kim Liang, engkau menguasai pusaka Ra-ja Kelelawar tentu ada hubungannya dengan ma-yat
yang berada di dasar jurang itu!"
"Ha-ha-ha, engkau dan ayahmu yang tolol itu baru tahu sekarang? Dia itu murid dari cucu murid Raja
Kelelawar, seorang manusia berotak miring yang hendak menyerahkan semua pusaka kepada
ayahmu. Orang gila itu kubunuh dan pusakanya kurampas, kusatukan dengan pusaka keluarga Souw
dan kupelajari "
"Jahanam busuk engkau!" Souw Thian Hai lalu menyerang bekas sutenya itu. Akan tetapi, sute-nya
tertawa, meloncat dengan amat cekatan ke samping lalu menggunakan sepasang pisau belati-nya
untuk balas menyerang. Melihat gerakan be-kas sutenya, Thian Hai terkejut. Dia maklum bahwa
sutenya menguasai pula semua ilmu silat keluarganya, maka kalau tidak mempergunakan ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
simpanan yang tidak mungkin dipelajari su-tenya, dia akan terancam bahaya besar. Maka, cepat dia
mulai bergerak mempergunakan kaki tangannya mainkan ilmu Thai-kek Sin-ciang. Begitu tangan
kirinya bergerak, angin dahsyat menyambar dan dari jauh pukulan itu sudah me-rupakan serangan
maut yang menerjang ke arah Ma Kim Liang.
"Ah, Thai-kek Sin-ciang!" Ma Kim Liang berseru. Dia mengenal ilmu ini karena dia sudah memiliki
kitabnya, akan tetapi sampai pusing dia mencoba untuk mempelajarinya, hasilnya nihil. Dan kini
lawannya mempergunakan ilmu itu un-tuk menyerangnya. Diapun berhati-hati sekali, cepat
menggerakkan pundak sehingga jubah hitam itu melindungi tubuhnya, dan diapun menerjang dengan
sepasang belatinya. Akan tetapi, angin dahsyat itu menggempurnya dan tahu-tahu tela-pak tangan
Thian Hai menyambar ke arah leher-nya. Kim Liang menyambut dengan pisau belati yang menggurat
ke arah pergelangan tangan itu.
Tahu-tahu tangan itu meluncur ke bawah dan menampar dadanya.
"Dukk !" Dada Kim Liang kena ditampar, akan tetapi tubuhnya terdorong ke belakang tanpa
menderita luka karena dada itu terlindung oleh jubah hitam yang amat kuat. Sebaliknya, Thian Hai
terkejut sekali ketika merasa betapa tangannya bertemu dengan benda lunak yang amat kuat!
Dan bagaikan kilat menyambar, tahu-tahu dua batang pisau belati di tangan Kim Liang yang te-lah
berubah menjadi dua gulung sinar itu me-nyambar dengan serangan mautnya! Thian Hai cepat
meloncat ke belakang dan menggerakkan ta-ngan mendorong, kembali mengerahkan tenaga Thaikek
Sin-ciang sehingga angin besar mena-han gerakan Kim Liang, membuat serangannya gagal.
Mereka serang menyerang dengan hebatnya, Thian Hai mengandalkan ilmu yang belum dikua-sai
oleh lawan, sedangkan Kim Liang yang kalah unggul ilmunya itu mengandalkan kekebalan jubah
hitam dan keampuhan sepasang belatinya. Sampai tigapuluh jurus lebih mereka saling serang
dengan serunya, namun masih sukar bagi Thian Hai untuk mengalahkan lawan, apa lagi
menangkapnya. Pe-muda ini lalu merobah gerakan tangannya dan begitu tangan kirinya menyambar,
nampak uap putih yang amat panas menerjang ke depan.
"Thai-lek Pek-kong-ciang !" kata pula Ma Kim Liang dengan gentar. Dia mencoba untuk
mengelak, akan tetapi tetap saja tubuhnya terguling ketika telapak tangan Thian Hai sempat menyerempetnya.
Karena maklum bahwa agaknya tidak mungkin baginya dapat menandingi bekas suhengnya
yang amat lihai itu, Kim Liang terus bergu-lingan sampai jauh, lalu meloncat dan menghilang di
dalam kegelapan malam.
"Jahanam, hendak lari ke mana engkau...?"
Thian Hai hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu dia mendengar suara rintihan lemah dan
teringatlah dia akan gadis yang terculik tadi. Ah, mengapa dia begitu sembrono? Kalau dia menge-jar,
mungkin saja Kim Liang mengambil jalan me-mutar untuk membawa lari lagi gadis itu. Melaku-kan
pengejaran terhadap seorang yang ginkangnya setingkat dengan dia, apa lagi di waktu malam di
tempat yang tidak dikenalnya benar, tentu akan berbahaya sekali. Dia tidak jadi mengejar dan melihat
ke sekeliling. Hebat memang perkelahian antara dia dan sutenya tadi. Ada pohon tumbang bekas
pukulan atau tendangan kaki Kim Liang, bahkan ada batu besar yang ditinggali tanda bekas jari
tangan sutenya. Dia bergidik. Sutenya itu kini lihai sekali dan kalau dia tidak mahir dua macam ilmu
simpanan keluarganya tadi, kiranya belum tentu dia akan menang.
Dengan hati-hati dia lalu menghampiri dara itu, membebaskan totokannya dari begitu dapat bergerak
dara itu lalu berlutut di depan kaki Thian Hai sambil menangis. Thian Hai menjadi gugup dan
disentuhnya pundak itu dan disuruhnya gadis itu bangkit berdiri.
"In-kong (tuan penolong) telah menyelamatkan saya dari malapetaka hebat, sampai mati saya tidak
akan melupakan budi in-kong yang amat besar itu." kata si dara dengan suara bercampur sedu
sedan.
"Ah, sudahlah, nona. Penjahat itu memang pantas dihajar. Siapakah nona dan di mana rumah-mu?
Apakah di rumah dalam dusun dari mana engkau diculik tadi?"
"In-kong sudah mengetahuinya ?"
"Sejak tadi aku membayangi penjahat itu yang memang menjadi incaranku sejak tadi."
dunia-kangouw.blogspot.com
"In-kong, nama saya adalah Go Yan Kim, ayahku adalah kepala dusun itu bernama Go Tek. Bolehkah
saya mengetahui nama in-kong yang mulia?"
"Namaku Souw Thian Hai. Mari kuantar eng-kau pulang, nona."
Keduanya lalu berjalan menuju ke dusun itu tanpa berkata-kata lagi. Akan tetapi keduanya kadangkadang
saling lirik dan diam-diam Thian Hai merasa heran sendiri mengapa hatinya begitu tertarik
kepada wajah yang cantik jelita ini! Be-gitu bertemu dan bicara, dia telah jatuh cinta ke-pada wanita
ini!
Tentu saja ketika mereka mengetuk pintu dan disambut oleh Go Tek dan isterinya, kedua orang tua
itu terkejut bukan main melihat puteri me-reka tahu-tahu mengetuk pintu dari luar dite-mani seorang
pemuda asing yang berpakaian sas-terawan! Lebih kaget lagi hati mereka ketika mendengar
penuturan puteri mereka bahwa ia diculik penjahat dan diselamatkan oleh pemuda itu yang
selanjutnya mereka kenal sebagai Souw Kong-cu.
Peristiwfa itu ternyata menjadi awal perjodohan antara Thian Hai dan Yan Kim. Keduanya saling
mencinta dan ketika orang tua Thian Hai meng-ajukan pinangan, tentu saja diterima dengan gem-bira
oleh keluarga kepala dusun itu. Tanpa ada halangan apapun, berlangsunglah pernikahan an-tara
Souw Thian Hai dan Go Yan Kim. Thian Hai mengajak isterinya tinggal di rumah keluarganya yang
terpencil, dan kadang-kadang mereka me-ngunjungi keluarga Go Tek di dusun itu. Sampai mereka
mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Souw Lian Cu, kebiasaan mengunjungi
dusun itu masih sering dilakukan. Kadang-kadang Souw Thian Hai hanya pergi berdua dengan puterinya
yang amat dicintanya, dan kadang-kadang juga bersama isterinya. Akan tetapi karena keluarga
Souw hidup dalam keadaan menjauhkan diri dari dunia ramal, maka keluarga Go tidak pernah diperkenankan
mengunjungi lembah itu. Ketika di-rayakan pesta pernikahanpun, keluarga Souw yang
datang berkunjung dan pesta diadakan di rumah keluarga Go. Souw Thian Hai hidup rukun dengan
isterinya, saling mencinta dan dalam suasana yang bahagia. Mereka semua sudah hampir melupakan
Ma Kim Liang karena tidak ada kabar ceritanya lagi tentang murid murtad itu. Juga di dunia kang-ouw
tidak ada lagi terdengar munculnya orang yang mengaku sebagai Raja Kelelawar.
Akan tetapi, sesungguhnya Ma Kim Liang tidak tinggal diam begitu saja. Hatinya sakit bukan main
karena kekalahannya terhadap bekas suheng-nya. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa gadis dusun
yang membuatnya tergila-gila itu kabarnya menjadi isteri suhengnya dan hidup berbahagia di lembah,
hatinya dipenuhi oleh iri dan dendam. Dia menggembleng dirinya dengan tekun sekali, teru-tama dia
mempelajari ilmu-ilmu aneh dari Raja Kelelawar di samping memperdalam ilmu-ilmu yang didapatnya
dari keluarga Souw. Juga dia mempelajari ilmu yang jahat tentang racun-racun karena dia harus
mempersiapkan diri menghadapi dua ilmu simpanan keluarga Souw yang sukar di-kalahkan itu.
Selama tiga tahun dia menyiksa diri dengan tekun berlatih siang malam tak mengenal lelah sehingga
setelah tiga tahun dia keluar dari dalam guha persembunyiannya, tubuhnya menjadi kurus dan
wajahnya menjadi jauh lebih tua dari pada usia yang sesungguhnya. Setelah merasa di-rinya benarbenar
memperoleh kemajuan yang amat pesat, diapun berangkat untuk membalas dendam atas
kekalahannya dan melampiaskan iri hatinya terhadap Thian Hai!
Malam itu gelap gulita dan hujan turun dengan derasnya di lembah tempat tinggal keluarga Souw.
Sungai kecil yang biasanya berair bening dan tidak begitu besar, kini meluap dengan air bercampur
lumpur, dan anak sungai yang biasanya mengelu-arkan bunyi berdendang merdu, kini mengeluarkan
bunyi gemuruh yang menyeramkan. Karena hawa menjadi dingin oleh hujan, sore-sore keluarga
Souw sudah tidur di kamar masing-masing. Iste-ri Souw Koan Bu menemani menantunya, berca-kapcakap
dalam kamar mantunya karena malam itu, Go Yan Kim hanya sendirian saja di kamarnya.
Suaminya, Souw Thian Hai dan puterinya, Souw Lian Cu yang baru berusia dua tahun, pergi keluar
rumah sejak sebelum hujan. Mereka semua tahu bahwa malam itu Souw Thian Hai berlatih ilmu silat
di dekat air terjun, dan biasanya kalau sedang berlatih, hujan atau panas tidak menjadi pengha-lang,
bahkan menambah gemblengan dengan keras-nya hawa udara. Dan sore tadi Thian Hai menga-jak
anak perempuan yang amat dicintanya itu, de-ngan maksud untuk mulai melatih tubuh anak itu
dengan perobahan hawa udara. Dia mengajak pula Pouw Hong, pelayan setia itu untuk menjaga Lian
Cu selagi dia berlatih di bawah air terjun, berlatih sinkang.
Malam yang gelap menyeramkan itu bertambah seram dengan munculnya bayangan hitam yang
mengintai di rumah terpencil itu. Dengan gerakan yang amat hati-hati dan sama sekali tidak dapat
terdengar oleh seorang sakti seperti Souw Koan Bu sekalipun karena suara itu tertutup oleh suara air
dunia-kangouw.blogspot.com
hujan, bayangan hitam itu menyelinap dan meng-intai ke dalam kamar belakang. Bayangan ini bukan
lain adalah Ma Kim Liang yang sudah mengenakan pakaian Raja Kelelawar! Dia harus berhati-hati.
Berbahayalah menghadapi Souw Koan Bu dan Souw Thian Hai begitu saja dan dia sudah meng-atur
muslihat dan siasat yang baik untuk melum-puhkan mereka. Kebetulan sekali hujan menolong-nya.
Kalau tidak ada hujan lebat yang menimbul-kan suara berisik ketika menimpa genteng, dia tentu akan
ragu-ragu untuk melepaskan siasatnya, maklum betapa lihainya keluarga itu.
Ketika dia mengintai ke dalam kamar Souw Thian Hai yang amat dibencinya, dia melihat seo-rang
wanita muda cantik sedang bercakap-cakap dengan subo-nya. Jantungnya berdebar dan mu-kanya
terasa panas. Itulah gadis yang pernah di-gilainya dan yang kemudian menjadi isteri Souw Thian Hai!
Cepat dia mengeluarkan sesuatu dari bungkusannya, lalu membuat api dan membakar sesuatu yang
mengeluarkan asap tebal. Dilubang-inya jendela kamar dan ditiupnya asap tebal itu memasuki kamar.
Semua ini dapat dilakukannya dengan aman, karena selain gemuruh air hujan menyembunyikan
semua suara yang ditimbulkan-nya, juga dua orang wanita di dalam itu tidak me-miliki ilmu silat tinggi.
Dan dengan girang dia melihat betapa kedua orang wanita itu berkali-kali menutupkan tangan ke
depan mulut, menguap dan akhirnya keduanya tidur pulas di atas kursi dengan berbantal tangan di
atas meja!
Sayang Souw Thian Hai tidak berada di kamar-nya, pikirnya. Dia tidak berani bertindak sembro-no
dan tubuhnya bergerak menyusup ke bangunan yang sudah amat dikenalnya itu dan tak lama kemudian
dia sudah mengintai ke kamar bekas guru-nya. Dan girangnya bukan main melihat suhunya
rebah miring dan agaknya sudah hampir tidur ka-rena pernapasannya sudah panjang dan halus,
nampak dari kembang kempisnya dada yang ber-selimut itu. Bagus, pikirnya, suasananya ternyata
amat menguntungkan dan memudahkan segalanya. Dia mengeluarkan sebatang bambu sumpit dan
tiga batang jarum halus berwarna merah. Dimasukkan-nya jarum-jarum itu ke dalam sumpit dan disusupkan
sumpit itu melalui lubang jendela. Setelah membidik dengan hati-hati, dia mengerahkan khikangnya
dan sekali tiup, tiga batang jarum itu meluncur seperti kilat cepatnya menuju ke arah
sasarannya.
Betapapun lihainya Souw Koan Bu, dibokong seperti itu tentu saja dia tidak berdaya. Andaikata tidak
sedang turun hujan, mungkin saja dia dapat menangkap suara desir angin tiga batang jarum itu. Akan
tetapi kalaupun ada suara itu, kalah jauh oleh suara rintik hujan di atas atap rumah, maka tahu-tahu
pendekar sakti ini merasa nyeri pada pung-gungnya. Sebagai seorang ahli silat yang sakti, dia segera
meloncat sambil mengebutkan selimut-nya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia merasa
betapa punggungnya nyeri sekali, gatal, panas dan ada rasa kesemutan menjalar dari pung-gungnya,
mengancam kelumpuhan tubuh! Dia sadar akan adanya malapetaka dan segera dia ter-ingat akan
isteri dan mantunya. Cepat dia menu-bruk ke arah pintu yang tertutup.
"Brakkkkk!" Daun pintu kamarnya ambrol dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah
memasuki kamar mantunya. Asap harum keras menyambutnya dan kakek ini menggunakan kedua
tangan memukulkan angin ke depan. Asap itu segera membuyar dan terdesak keluar. Setelah asap
membuyar, Souw Koan Bu melihat betapa isteri dan mantunya sudah tertidur pulas di atas tempat
duduk mereka. Ini tidak wajar, pikirnya dan dia menghampiri. Tahulah dia bahwa mereka berdua itu
telah keracunan asap tadi. Dia hendak menolong, membungkuk, akan tetapi tiba-tiba rasa nyeri yang
hebat menyerang punggungnya dan dia terhuyung.
"Ha-ha-ha-ha! Souw Koan Bu, akhirnya engkau roboh juga di tanganku!"
Souw Koan Bu cepat membalikkan tubuhnya dan terkejutlah dia melihat orang berpakaian hitam
berjubah hitam itu. "Raja .... Raja Kelelawar !" katanya seperti mimpi, akan tetapi segera dia
mengenal wajah itu, wajah muridnya sendiri. Engkau ?!"
Dia hendak menerjang, akan tetapi kembali begitu mengerahkan sinkang, punggungnya terasa nyeri.
Racun yang terkandung dalam tiga batang jarum itu sungguh hebat bukan main, dan jarum-jarum itu
sudah masuk ke dalam tubuhnya.
"Uhhh !" Dia mengeluh dan bekas muridnya itu tertawa bergelak, campur dengan suara air hujan dan
angin sehingga terdengar mengerikan, seperti suara iblis dalam dongeng.
"Ma Kim Liang, mengapa engkau memusuhiku?" bentaknya karena dia merasa penasaran sekali.
Kalau murid murtad itu mencuri pusaka ka-rena tamak, hal itu masih dapat dimengertinya. Akan tetapi
sesungguhnya bekas murid ini tidak ada alasan untuk memusuhinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, engkau tidak tahu? Aku adalah keturunan Raja Kelelawar, ha-ha-ha. Aku harus membasmi
orang-orang yang pernah memusuhi nenek moyangku itu, dan aku akan membangun kembali
kerajaan dunia sesat di mana aku akan menjadi rajanya, ha-ha-ha*!"
Souw Koan Bu sudah mendengar dari puteranya tentang pusaka peninggalan Raja Kelelawar yang
dirampas oleh Kim Liang dengan membunuh cucu murid raja iblis itu. Kim Liang sama sekali bukan
keturunan raja iblis itu, juga bukan murid yang diangkat secara sah. Maka sikapnya itu mem-buat dia
merasa serem.
"Engkau telah gila!" bentaknya.
"Ha-ha-ha, dan engkau akan mampus!" Ma Kim Liang yang merasa yakin akan kemenangan-nya
menubruk maju. Dia sudah memperdalam ilmu-ilmunya sehingga kini menghadapi bekas gurunyapun,
dia belum mencabut pisaunya dan hanya menggunakan pukulan sakti Kim-liong Sin-kun untuk
menyerang bekas gurunya itu.
"Huh, Kim-liong Sin-kun inipun berasal dari keluarga kami!" kata Souw Koan Bu dan dengan
mudahnya dia mengelak ke sana-sini karena dia hafal akan ilmu silat ini. Akan tetapi ketika dia
menangkis dan bertemu tenaga dengan bekas mu-ridnya, dia mengeluh dan terhuyung, hampir terjatuh.
Ternyata sebagian tubuhnya lumpuh oleh racun jarum-jarum itu.
"Ha-ha-ha!" Kim Liang tertawa lagi dan menyerang terus. Akan tetapi, ternyata kakek yang sudah
terluka parah dan keracunan itu masih he-bat bukan main. Biarpun sebagian tubuhnya lum-puh,
namun ilmu silatnya yang amat tinggi mem-buat dia masih dapat melawan dengan hebatnya. Apa lagi
ketika dia mengeluarkan dua ilmu Thai-kek Sin-ciang dan Thai-lek Pek-kong-ciang, biarpun tenaga
sinkangnya sudah berkurang namun kedua ilmu ini masih hebat dan membuat Kim Liang yang belum
dapat menguasai kedua ilmu itu menjadi sukar untuk merobohkannya.
"Keparat!!" bentaknya marah dan kini dia mencabut sepasang belatinya! Dan pemuda ini lalu
mengamuk. Kasihan sekali Souw Koan Bu yang sudah mulai lemah itu. Gerakannya kurang cepat,
tenaganya kurang kuat dan tubuhnya penuh dengan luka-luka pisau yang menyambar ganas. Akan
tetapi, kakek itu masih melawan terus dengan hebatnya. Bahkan tiba-tiba dia mengeluarkan pe-kik
melengking yang tinggi sekali, pekik yang di-maksudkan untuk melumpuhkan lawan dan me-manggil
puteranya. Akan tetapi begitu mengerah-kan khikang sekuatnya, napasnya hampir putus dan dia
terjengkang. Kim Liang yang sudah marah itu menubruk dan sebuah tendangan mengenai pe-rutnya.
"Bukk!" Kim Liang terjengkang akan tetapi tidak terluka karena jubahnya melindunginya. Dia marah
sekali dan dua batang pisaunya disambitkan dari jarak dekat.
"Crott! Crottt!!" Souw Koan Bu hanya sempat mengeluarkan gerengan sekali karena dua batang pisau
itu telah menembus jantung dan paru-paru-nya. Dia tewas dalam keadaan menyedihkan sekali.
Biarpun tendangan tadi tidak melukainya, akan tetapi membuat isi perutnya terguncang dan kemarahan
Ma Kim Liang memuncak. Dia mencabut kedua pisaunya lalu mengamuk, menusuki tubuh
Souw Koan Bu sampai ludas. Darah berhamburan ke mana-mana dari tubuh yang sudah tidak mampu
berkutik itu. Sebentar saja, tubuh pendekar itu sudah hancur dan hanya tinggal kepalanya saja
yang utuh.
Ma Kim Liang seperti gila. Dia tertawa-tawa, lalu menghampiri nyonya Souw Koan Bu. Dengan kejam,
sambil menyeringai sadis, kedua pisaunya digerakkan dan leher nyonya itu terpenggal! Da-rah
menyembur-nyembur dan kini tubuh nyonya itupun menjadi korban keganasan iblis ini.
Yang terakhir kali, Ma Kim Liang mengham-piri tubuh Yan Kim yang masih pulas di atas tem-pat
duduknya. Sekali tendang, tubuh itu terpelan-ting dan roboh ke atas lantai yang penuh darah,
terlentang. Pisau-pisau itu bekerja dan dalam waktu sekejap saja semua pakaian wanita cantik itu
terlepas, membuatnya rebah terlentang dengan telanjang bulat dalam keadaan masih pulas.
"Ha-ha-ha, engkau tidak mau menjadi keka-sihku dan menjadi isteri Souw Thian Hai? Haha-ha,
perempuan tolol, sekarangpun aku tidak sudi kepadamu!" Dan kedua batang pisau itupun
menyambar-nyambar ganas. Kembali darah mun-crat-muncrat ketika menyayat-nyayat dada dan
perut. Wanita itu tewas tanpa sempat bergerak atau mengeluh lagi karena masih terbius oleh ra-cun
asap.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, tanpa menduga sedikitpun akan malapetaka hebat yang menimpa keluarganya, Souw
Thian Hai sedang melatih sinkang di bawah air terjun. Puterinya, Souw Lian Cu, sudah tidur pulas di
dalam guha di belakang air terjun, dijaga dan ditunggui oleh Pouw Hong, pelayan keluarga Souw yang
setia itu. Tiba-tiba Thian Hai men-dengar suara melengking tinggi memecah kehe-ningan malam. Dia
terkejut dan mengenal suara khikang ayahnya. Sungguh aneh sekali kalau ayah nya mengeluarkan
suara melengking itu di malam buta! Pasti ada sesuatu, pikirnya. Akan tetapi dia tidak merasa
khawatir, tidak menyangka buruk karena dia percaya penuh kepada ayahnya yang sakti. Siapa yang
akan berani mengganggu kelu-arganya? Biarpun demikian, dia lalu memesan kepada Pouw Hong
untuk menanti di situ sambil menjaga Lian Cu karena dia hendak pulang sebentar untuk melihat apa
yang terjadi.
Dengan mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja dia sudah tiba di rumah keluarganya.
Lampu penerangan masih bernyala dan diapun cepat menuju ke kamarnya dan terkejutlah hatinya
melihat dari luar betapa pintu kamarnya telah je-bol. Dengan jantung berdebar dia lalu meloncat ke
dalam kamar. Lilin masih bernyala di dalam kamar itu, bahkan tidak seperti biasanya, ada lima batang
lilin bernyala di atas meja sehingga kamar itu menjadi terang sekali.
"Aaiiihhhh!" Tak terasa Thian Hai menjerit ketika matanya terbelalak memandang ke dalam kamar.
Mukanya seketika menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak liar seperti tidak percaya akan apa
yang dilihatnya. Pemandangan di dalam kamar itu akan dapat meremas hati orang yang bagaimana
tabah pun juga. Tubuh Souw Koan Bu hancur seperti cacahan daging, hanya kepalanya saja yang
dibiarkan utuh sehingga dapat dikenal bahwa mayat yang dicincang itu adalah mayat pendekar sakti
ini. Dan tak jauh dari situ menggeletak tubuh ibunya yang berada di genangan darah yang masih
mengucur di lantai, keluar dari lehernya yang putus! Kemudian, matanya menatap tubuh isterinya.
Telanjang bulat dan bagian depan tubuh itu disayat-sayat!
"Houkkk !" Thian Hai hampir muntah dan diapun menubruk ke depan, berlutut dan be-ngong
seperti patung. Terlalu hebat pemandangan itu, membuat dia hampir pingsan dan kehilangan
kesadaran. Terlalu hebat pukulan dan guncangan batin yang diterima pendekar ini sehingga dia tak
tahu harus berbuat apa. Tidak ada suara lagi keluar dari kerongkongannya, dan dia diam saja tak
bergerak seperti telah kehilangan semangatnya. Kedukaan itu terlampau besar, kekagetan itu terlampau
tiba-tiba.
Dalam keadaan setengah pingsan dan kehilang-an kesadaran itu tentu saja Thian Hai menjadi lengah,
tidak tahu bahwa ada sesosok tubuh menye-linap masuk dengan gerakan yang amat ringan.
Bayangan ini bukan lain adalah Ma Kim Liang. Pemuda yang menaruh dendam ini memang sengaja
memasang banyak lilin agar kamar itu menjadi te-rang dan dia menyelinap bersembunyi mengintai
ketika Thian Hai memasuki kamar. Ketika dia me-lihat musuh besarnya itu berlutut di dekat mayatmayat
itu dan tak bergerak seperti kehilangan se-mangat, diapun secepat kilat menyerang dengan
Ilmu Sam-ci Tiam-hwe-louw, yaitu totokan meng-gunakan tiga jari tangan yang amat kuat, satu di
antara ilmu-ilmu simpanan keluarga Souw! De-ngan tiga jari tangannya, Kim Liang menotok ke arah
ubun-ubun kepala Thian Hai yang sedang berlutut. Serangan ini hebat sekali dan kalau me-ngenai
sasaran di ubun-ubun tentu akan menda-tangkan maut, betapapun lihainya orang yang ter-kena
serangan ini.
Thian Hai adalah satu-satunya keturunan keluarga Souw yang telah mewarisi semua ilmu keluarga
ini. Ilmu silatnya yang amat tinggi sudah mendarah daging di dalam tubuhnya, sehingga dia seperti
memperkuat atau mempertajam indera ke enam yang tidak digerakkan lagi oleh pikiran, melainkan
bergerak secara otomatis setiap kali tubuhnya diancam bahaya. Demikian pula, pada saat itu, secara
tiba-tiba indera ke enam itu bekerja dan tubuh Thian Hai secara otomatis pun mengelak. Akan tetapi,
sekali ini yang menyerangnya adalah seorang lawan yang amat lihai sehingga elakannya itu tidak
berhasil sepenuhnya. Totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw yang menggunakan tiga jari tangan itu, yang
tadinya menyambar ke arah ubun-ubun, ketika dielakkan masih saja mengenai pelipis Thian Hai.
"Tukk !!"
Tubuh Thian Hai terjengkang dan dari mata, mulut, telinga dan hidungnya mengalir darah se-gar!
Melihat ini, Kim Liang tertawa bergelak, me-rasa yakin akan keberhasilan serangannya walau-pun
hanya mengenai pelipis dan bukan ubun-ubun yang dijadikan sasaran. Akan tetapi, tiba-tiba dia harus
menghentikan tawanya karena Thian Hai sudah melompat dan menerjangnya dengan dah-syat bukan
dunia-kangouw.blogspot.com
main! Kim Liang hampir tidak percaya. Totokan tiga jari tangannya tadi tepat mengenai pelipis! Orang
lain tentu akan tewas seketika dan biarpun karena kekebalan dan kelihaiannya bekas suhengnya ini
tidak sampai tewas, tentu menderita luka yang hebat. Akan tetapi bagaimana mungkin Thian Hai
bahkan masih dapat menyerangnya se-demikian dahsyat? Dia tidak memperoleh banyak waktu untuk
memikirkan teka-teki ini karena bekas suhengnya itu menyerang dengan hebat sekali. Terpaksa Kim
Liang mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk melawan.
Thian Hai mengamuk. Agaknya totokan itu telah mempengaruhinya, membuatnya kehilangan
kesadaran dan kerongkongannya mengeluarkan su-ara menggereng-gereng seperti binatang buas
dan sepak terjangnya amat hebat. Beberapa kali Kim Liang terkena hantaman dan tendangannya dan
kalau bukan Kim Liang, tentu telah roboh. Kim Liang merasa gentar bukan main. Biarpun bekas
suhengnya ini sudah terluka hebat, akan tetapi da-pat mengamuk sedemikian dahsyatnya. Ngeri dia
memikirkan kalau harus melawan bekas suhengnya ini dalam keadaan sehat. Akhirnya, dia temaksa
melarikan diri membawa beberapa luka pukulan setelah mencoba untuk melawan selama seratus
jurus lebih. Bekas suhengnya itu masih terlampau kuat baginya!
Souw Thian Hai menderita hebat akibat totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw itu. Dia kehilangan
kesadarannya, kehilangan ingatannya dan seperti berobah menjadi gila. Biarpun lawannya sudah
melarikan diri, dia tetap mengamuk seperti orang gila. Rumah itu dihancurkan, dirobohkan lalu dibakar!
Tentu saja jenazah ayah bundanya dan isterinya habis terbakar pula, menjadi satu dengan
puing rumah yang dibakarnya. Sambil membakar rumah, Thian Hai berloncatan ke sana-sini sambil
kadang-kadang tertawa kadang-kadang mena-ngis. Kemudian diapun meloncat jauh dan berlari cepat
meninggalkan tempat itu. Dia berlari terus siang malam tiada hentinya sampai akhirnya bebe-rapa hari
kemudian dia roboh pingsan di sebuah padang rumput, di mana terdapat banyak domba. Dia ditolong
oleh para penggembala domba dan setelah siuman diapun jatuh sakit hebat. Akan te-tapi, jasmaninya
yang terlatih baik itu dapat meng-atasi derita karena luka pukulan dan tubuhnya sembuh. Akan tetapi
ingatannya lenyap dan dia sudah lupa segala-galanya tentang dirinya.
Dia tidak tahu lagi siapa dirinya dan siapa atau di mana keluarganya. Sementara itu, Pouw Hong
yang menjaga Souw Lian Cu, akhirnya mengetahui akan malapetaka yang menimpa keluarga
majikan-nya. Diapun melarikan Lian Cu dan karena dia ketakutan kalau-kalau para musuh keluarga
itu akan mencarinya, dia lalu membawa Lian. Cu ke-pada adik perempuannya yang sudah menikah
de-ngan seorang she Gan yang hidup di tepi rawa itu. Dan anak perempuan itupun lalu berganti nama
menjadi Gan Cui Hiang!
Demikianlah riwayat Souw Thian Hai yang ke-mudian hanya mengingat namanya sebagai A-hai, yaitu
nama kecil yang biasa dipakai ayah bundanya untuk memanggilnya. Seng Kun dan Bwee Hong
mendengarkan cerita A-hai atau Souw Thian Hai itu dengan hati tertarik, dan keharuan besar menyelinap
di dalam hati Bwee Hong mendengar be-tapa buruk nasib keluarga pria yang dicintanya itu.
Diam-diam iapun berjanji dalam hatinya bahwa kalau sudah tiba saatnya, ia akan memenuhi sisa
hidup pria itu dengan cintanya agar Thian Hai mengalami kebahagiaan.
Demikianlah, setelah Thian Hai menuturkan riwayatnya, dia lalu pergi menjemput puterinya di rumah
kepala dusun Go Tek. Pertemuan itu amat mengharukan. Begitu bertemu dengan Go Tek yang
menggandeng tangan Cui Hiang, Thian Hai menubruk dan merangkul anak perempuan itu,
menciuminya dan berkata, "Anakku... , anakku..., engkau anakku! Lian Cu, engkau Lian Cu...!"
Tentu saja Cui Hiang, anak perempuan yang buntung sebelah lengannya itu, menjadi kaget, bingung
dan juga ketakutan. "Paman...... paman, ada apakah ini......?" katanya heran.
Juga kepala dusun Go Tek terkejut mendengar bahwa anak perempuan yang memang memiliki ciriciri
khas keluarga di ubun-ubun dan pung-gungnya itu ternyata adalah cucunya yang hilang! Setelah
Cui Hiang atau Lian Cu itu mendengar cerita tentang keluarga ayahnya, iapun menangis dalam
rangkulan ayahnya dan malam itu keluarga Go Tek berada dalam suasana penuh keharuan dan juga
kegembiraan karena keluarga itu dapat ber-satu kembali.
Pada keesokan harinya, Thian Hai kembali ke kota raja. Dia menemui Seng Kun, Bwee Hong, Pek
Lian dan semua orang yang pernah dikenalnya untuk minta diri, kemudian diapun mengajak Lian Cu
pergi meninggalkan kota raja untuk melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar yang berhasil
meloloskan diri, karena dia bersumpah di dalam hatinya untuk mencari dan membunuh bekas sutenya
itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian Hai dan Lian Cu melakukan perjalanan ke arah selatan. Di sepanjang perjalanan, ayah dan
anak ini saling melepas rindu hati mereka. Mereka berdua itu kini merasa benar bahwa mereka hanya
saling memiliki di dunia ini, tidak ada orang lain. Setidaknya, demikianlah yang terasa oleh Lian Cu
karena di sudut hati Thian Hai terdapat bayangan wajah Bwee Hong!
Karena dia dapat menduga bahwa bekas sute-nya, Ma Kim Liang kini telah berobah menjadi Raja
Kelelawar dan menjadi raja di antara penja-hat, dia lalu mendatangi tempat-tempat yang terkenal
menjadi sarang dunia hitam. Dia pikir ten-tu akan lebih mudah mencari jejak Raja Kelelawar melalui
lembah hitam dunia kaum sesat.
Pada suatu hari, ketika memasuki sebuah hutan, dari jauh saja Thian Hai sudah dapat menangkap
suara hiruk-pikuk orang-orang berkelahi. Cepat dia memberi isyarat kepada Lian Cu untuk berha-tihati.
Pada waktu itu, Lian Cu sudah berusia kurang lebih duabelas tahun, dan anak ini telah memiliki
dasar-dasar ilmu silat yang secara kilat diajarkan ayahnya kepadanya. Bahkan selagi ayah-nya masih
menjadi "A-hai" ia sudah menerima gemblengan ilmu itu. Ia dapat menerimanya de-ngan amat mudah
karena memang sejak bayi ia sudah "dioperasi" sesuai dengan aturan keluarga Souw yang sakti. Dan
orang-orang akan merasa heran melihat betapa pria semuda Thian Hai da-pat mempunyai seorang
anak perempuan yang su-dah berusia duabelas tahun. Akan tetapi, yang mengenal sejak dahulu tidak
akan merasa heran karena tahu bahwa Thian Hai kini telah berusia tigapuluh satu atau dua tahun!
Kalau dia masih nampak muda, hal itu adalah karena racun totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw itulah!
Selain menda-tangkan luka parah dan membuat ingatannya hi-lang, juga racun totokan itu membuat
dia seperti tidak menjadi semakin tua!
Kini Thian Hai menyusup-nyusup di antara batang-batang pohon bersama puterinya. Lian Cu juga
bersikap waspada dan hati-hati, dan jantungnya berdebar tegang. Inilah pengalaman pertama sejak ia
melakukan perjalanan bersama ayah kandungnya. Setelah tiba di tempat pertem-puran, mereka
menyelinap dan bersembunyi sam-bil mengintai dari balik semak belukar. Ternyata yang sedang
berkelahi itu adalah dua kelompok penjahat kasar yang sedang memperebutkan harta! Melihat
pakaian mereka dan cara mereka berkela-hi, Thian Hai mengerti bahwa mereka itu adalah orangorang
kasar yang sudah biasa berkelahi ke-royokan. Karena dia ingin sekali tahu mengapa mereka
berkelahi dan siapakah mereka, dia mem-pergunakan kepandaiannya. Dengan gerakan cepat dia
meloncat dari tempat sembunyinya, menceng-keram leher baju seorang di antara mereka yang sudah
terluka dan menyeretnya ke balik semak-se-mak. Tidak ada yang melihat perbuatan pendekar ini
karena semua orang sedang sibuk berkelahi.
Setelah dipaksa dengan ancaman, orang itupun mengaku dan dengan suara terputus-putus dia
bercerita. Ternyata duapulub orang lebih itu ada-lah bekas pasukan pengawal dari istana, anak buah
Perdana Menteri Li Su. Ketika kota raja terancam oleh barisan pemberontak, Perdana Menteri Li Su
siang-siang sudah mempersiapkan pengungsian keluarga dan harta bendanya. Perdana Menteri Li Su
adalah seorang pembesar yang korup. Harta bendanya banyak sekali dan untuk menyelamatkan
harta benda dan keluarganya, dia menyuruh sepa-sukan pengawal mengantar keluarganya ke luar
kota raja, kembali ke kampung halaman. Dia me-ngatakan agar pasukan itu berangkat dulu dan dia
akan menyusul kemudian.
Akhirnya pasukan itu berhasil mengawal ke-luarga dan harta benda itu sampai di pantai timur, di
mana direncanakan untuk menanti kedatangan perdana menteri itu. Akan tetapi, pembesar itu tak
kunjung datang, bahkan para pengawal lalu men-dengar bahwa pembesar itu telah terbunuh oleh
barisan pemberontak. Mendengar berita ini, para pengawal menjadi gelisah. Dan karena di situ terdapat
banyak wanita cantik dan harta benda yang banyak, tak dapat dicegah lagi terjadilah pemberontak
dan perebutan. Terjadilah perkelahian di antara para pengawal itu sendiri. Pihak peme-nang
lalu mencari harta karun. Akan tetapi, me-reka tidak menemukan harta karum kecuali perhi-asanperhiasan
yang dipakai oleh para wanita dan anak-anak. Marahlah mereka. Semua perhiasan itu
dirampas, para wanita yang cantik dan muda mereka permainkan dan perkosa, selebihnya, yang tua
dan kanak-kanak dibunuh. Pembantaian be-sar-besaran ini terjadi di tepi laut dan akhirnya, mereka
yang tadinya diperkosapun dibunuh semua. Mayat-mayat mereka, berikut tandu-tandu yang tadinya
dipakai mengangkut mereka, dibuang ke lautan.
"Hemm, kalian sungguh orang-orang kejam!" Thian Hai memotong cerita orang itu.
Orang itu terengah-engah karena lukanya me-mang berat. "Kami melarikan perhiasan-perhiasan itu,
akan tetapi sesampainya di hutan ini, kembali terjadi keretakan dan perebutan antara pemimpindunia-
kangouw.blogspot.com
pemimpin kami sehingga terjadi perkelahian ini ..." Orang itu tidak dapat melanjutkan ceritanya karena
dia sudah roboh pingsan karena kehabisan darah yang bercucuran keluar dari lukanya.
Akhirnya perkelahian itupun berhenti setelah pihak yang kalah habis dibunuh. Pihak yang me-nang
tinggal belasan orang lagi, dipimpin oleh se-orang bekas perwira. Karena kelelahan, kepala penjahat
ini lalu menduduki sebuah tandu, satu-satunya tandu yang masih ada karena yang lain semua
dibuang ke laut, dan memerintahkan anak buahnya untuk memikulnya secara bergilir.
Thian Hai mengajak puterinya untuk memba-yangi mereka. Siapa tahu, para penjahat bekas
pengawal istana ini akhirnya akan membawanya kepada musuh besarnya! Dan para penjahat yang
masih berpakaian seperti pasukan itupun dapat melakukan perjalanan dengjan aman karena seperti
biasa, rakyat sudah menyingkir ketakutan melihat pasukan serdadu ini. Pada sore hari itu mereka tiba
di tepi sungai dan tiba-tiba saja nampak be-lasan orang berloncatan keluar dari balik semaksemak
dan pohon-pohon besar. Mereka itu jelas perampok-perampok dengan pakaian mereka yang tidak
karuan dan senjata mereka yang bermacam-macam. Dan tanpa banyak cakap lagi, belasan orang
perampok yang muncul itu lalu menyerang. Terjadilah perkelahian lagi. Akan tetapi bekas pengawal
itu rata-rata memiliki kepandaian ber-kelahi yang lumayan sehingga kelompok perampok kewalahan
menghadapi mereka. Para pengawal ini mahir mempergunakan gendewa dan anak panah, juga
pandai berkelahi dengan golok dan perisai. Thian Hai dan putcrinya hanya mengintai, tidak mau
mencampuri urusan orang-orang yang saling berebut harta itu. Diam-diam Thian Hai melihat betapa
gilanya manusia. Memperebutkan harta benda seperti itu, sampai bunuh-bunuhan!
Akan tetapi, ketika para perampok itu mulai terdesak, tiba-tiba muncullah seorang gendut pendek
yang membawa senjata ruyung atau alu pendek. Begitu muncul, orang ini menggunakan alunya untuk
mengamuk dan para perajurit itu tidak ada yang mampu melawannya, seorang demi seorangpun
roboh! Melihat orang gendut pendek ini, Thian Hai menahan seruannya. Dia mengenal orang itu. Singo
Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, ke-pala bajak sungai yang perkasa itu. Dan hatinya merasa girang,
harapannya muncul karena datuk sesat ini merupakan seorang di antara para pem-bantu Raja
Kelelawar! Akan tetapi, dia tidak mungkin muncul begitu saja. Kalau melihat dia, tentu Buaya Sakti
itu akan mengerahkan anak bu-ahnya untuk mengeroyok dan akan sukarlah bagi-nya untuk mengikuti
jejak musuh besarnya. Dia harus mencari dan menggunakan akal yang cerdik, agar dia dapat
mengikuti orang-orang ini ke sa-rang mereka tanpa mereka curigai.
Setelah Thian Hai meninggalkan kota raja, su-asana di kota raja semakin tenang karena Liu Pang
yang kini telah menjadi Kaisar Han Kao Cu mulai mengatur pemerintahan dengan bijaksana, dibantu
oleh para pendekar yang kini memperoleh kedu-dukan tinggi sesuai dengan jasa dan kepandaian
masing-masing.
Setelah suasana menjadi tenang, Chu Seng Kun berpamit kepada ayahnya yang kini telah memegang
jabatannya kembali sebagai ketua kuil di lingkungan istana, untuk pergi mengunjungi kelu-arga
Kwa, ketua Tai-bong-pai yang telah me-ninggalkan undangan kepadanya itu.
Bu Hong Seng-jin, ayah pemuda itu, sebetul-nya merasa berat juga melepas kedua orang anak-nya,
karena Bwee Hong tidak mau ditinggalkan kakaknya, pergi mengunjungi keluarga yang diang-gapnya
sebagai orang-orang sesat itu. Akan tetapi diapun maklum bahwa selama dalam kekacauan, kedua
orang anaknya itu telah menjalin tali persahabatan dengan banyak orang, dan sedikit banyak,
keluarga Tai-bong-pai itu telah berjasa bagi pe-merintah yang baru. Selain itu, juga menurut cerita
anak-anaknya, puteri ketua Tai-bong-pai sudah beberapa kali menolong dan menyelamatkan mereka.
Maka, terpaksa kakek ini membiarkan kedua orang anaknya pergi.
Setelah kakak beradik yang menjadi sahabat paling dekat itu pergi, Ho Pek Lian merasa betapa
hidupnya sunyi. Dia merasa kesepian sekali. Per-tama-tama dara ini mengalami pukulan batin ke-tika
mendapat kenyataan bahwa A-hai pemuda yang mula-mula ditemukannya itu ternyata adalah
seorang pendekar bernama Souw Thian Hai yang selain sakti, juga sudah mempunyai keluarga,
punya isteri dan anak. Lebih dani pada itu, iapun dapat merasakan dari sikap sahabatnya, Chu Bwee
Hong, bahwa antara Bwee Hong dan Thian Hai terdapat perasaan saling mencinta. Kemudian,
lepasnya A-hai atau Thian Hai dari hatinya, ia condong kembali kepada gurunya yang kini telah
menjadi kaisar. Akan tetapi, dengan hati duka ia harus dapat melihat kenyataan bahwa tidaklah
mungkin ia berdekatan lagi dengan pria yang se-lama ini amat dikaguminya dan diam-diam juga
dunia-kangouw.blogspot.com
mendapatkan tempat penting di dalam lubuk hati-nya. Liu Pang telah menjadi kaisar. Selain kaisar,
juga pria ini adalah gurunya. Mana mungkin ba-ginya untuk mendekatinya terus?
Kedukaan ini ditambah lagi melihat para pem-besar jujur yang dahulu menjadi sahabat-sahabat dan
teman seperjuangan ayahnya, kini memperoleh kedudukan layak kembali dan hidup bahagia de-ngan
keluarga mereka. Hal ini membuat ia teringat akan keluarganya sendui yang sudah berantakan. Dan
iapun terdorong oleh hasrat yang amat kuat untuk pergi mengunjungi makam ayahnya.
Ketika ia hendak menghadap gurunya untuk bermohon diri, ia mendengar bahwa kaisar yang baru itu
sedang sibuk memimpin sendiri pasukan istimewa untuk mengadakan pembersihan di dae-rah kota
raja! Memang tindakan kaisar baru ini bijaksana sekali. Dia tidak mau enak-enakan saja setelah
menduduki singgasana, melainkan bekerja memberi contoh kepada para pembantunya, meng-adakan
pembersihan dan turun tangan sendiri agar suasana menjadi benar-benar aman dan rakyat darat
hidup tenang setelah menderita kekacauan selama bertahun-tahun karena perang saudara itu.
Terpaksa Pek Lian, lalu menyusul ke tempat pa-sukan gurunya itu beroperasi dan di luar kota raja,
akhirnya dara ini dapat bertemu dengan gurunya atau Kaisar Han Kao Cu yang sedang beristirahat
dan duduk di bawah pohon besar, berlindung dari terik panas matahari yang membuat tubuhnya amat
gerah dalam pakaian perang kebesaran yang megah itu.
Pek Lian lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya. Melihat dara ini, sang
kaisar tersenyum. "Ah, kiranya engkau yang mohon menghadapku dalam saat dan di tempat seperti
ini, nona Ho?"
Pek Lian merasa terharu dan semakin kagum. Biarpun sudah menjadi kaisar, ternyata gurunya ini
masih bersikap biasa kepadanya, menyebutnya "nona Ho" dan bersikap sederhana seperti gurunya
yang biasa. Akan tetapi ia sendiri tidak mungkin berani bersikap seperti terhadap Liu Pang ketika
masih melakukan perjalanan bersamanya untuk melakukan penyelidikan. Pria gagah perkasa di
depannya ini adalah kaisar! Maka iapun berlutut memberi hormat tanpa berani mengangkat mukanya.
"Sri baginda, harap paduka sudi memaafkan hamba yang berani datang mengganggu dan
menghadap tanpa dipanggil. Hamba menghadap untuk mohon perkenan paduka untuk pergi
mengunjungi makam ayah hamba."
Di dalam suara dara itu terkandung kedukaan hatinya dan hal ini agaknya terasa oleh kaisar. Dia
memandang murid itu dengan kerut di antara ke-ningnya dan diulurkannya tangan kanannya untuk
menyentuh kepala dara perkasa itu. Sejenak di-elusnya rambut kepala itu penuh keharuan dan
kemesraan hatinya, akan tetapi perlahan-lahan ditariknya kembali tangannya.
"Nona Ho, setelah engkau mengerahkan segala-galanya, juga sudah berkorban keluarga, demi perjuangan,
mengapa engkau tidak mau menikmati hasilnya? Engkau tidak mau menerima jabatan, dan
bekas istana keluarga ayahmu telah kuberikan kepadamu. Akan tetapi engkau tidak mau beristi-rahat
di rumah, melainkan hendak pergi lagi. Ingat, sehabis perang, keadaan di luar masih kacau dan
orang-orangku belum sempat mengamankan se-luruh daerah."
"Sri baginda, hamba merasa kesepian setelah semua sahabat pergi dan dan hamba ingin
bersembahyang di depan makam ayah "
Kaisar itu menarik napas panjang dan memandang dengan terharu. "Nona, sejak berjuang, engkau
selalu berada di sampingku, seperti murid atau anak sendiri, aku menyesal sekali bahwa sekarang,
sebagai kaisar, tidak mungkin aku, kita, ah, menjadi orang besar sama seperti duduk di tempat paling
tinggi, nam-pak dari manapun dan dijadikan sari tauladan, disorot oleh semua rakyat. Maka, terpaksa
harus berhati-hati dan tidak mungkin dapat berbuat sekehendak hati sendiri. Baiklah, engkau berangkatlah,
akan tetapi harus berhati-hati dan seba-iknya kalau menyamar sebagai seorang pria."
Hati Pek Lian terharu mendengar ucapan gu-runya itu. Ia maklum apa yang dimaksudkan oleh kaisar,
bahwa kaisar sebenarnya juga ingin selalu berdampingan dengannya, akan tetapi sebagai kai-sar,
akan menjadi celaan orang kalau berdekatan dengan seorang gadis yang dikenal sebagai mu-ridnya.
Terdapat jurang pemisah di antara mereka, jurang yang berupa kedudukan pemimpin itu. Ba
gaimanapun juga, seorang murid sama dengan anak, kalau seorang guru menikah dengan murid-nya,
sama saja dengan seorang ayah menikahi anaknya. Hal ini masih tidak begitu mengheboh-kan kalau
terjadi di antara rakyat biasa, akan te-tapi kaisar? Tentu akan merupakan aib!
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah memberi hormat dan sejenak bertemu pandang yang menembus sampai ke jantung, Pek Lian
lalu mengundurkan diri dan berkemas. Ia menyamar sebagai seorang pria muda yang tampan dan
berangkatlah dara ini sendirian meninggalkan kota raja.
Di sepanjang perjalanan Pek Lian melihat be-kas-bekas perang dan diam-diam ia mengeluh dan
merasa bersedih atas nasib rakyat jelata. Ke-tika ia sendiri sedang berjuang, seluruh perhatian-nya
tertuju kepada perjuangan sehingga dia meli-hat semua penderitaan rakyat akibat perang itu sebagai
korban perjuangan yang suci. Pengorbanan yang diderita rakyat itu dianggap sebagai bahan bakar
perjuangan, sebagai penambah semangat dan perjuangan itupim dilakukan oleh para pendekar demi
kemakmuran rakyat jelata, demi membebas-kan rakyat dari tindasan si angkara murka.
Akan tetapi sekarang, setelah perang selesai dan para pejuang berhasil memperoleh kemenangan,
gurunya menjadi kaisar dan para pembantu guru-nya masing-masing memperoleh kedudukan, harta
benda dan kemuliaan, baru ia melihat betapa rak-yat jelata yang tadinya menjadi kocar-kacir hidupnya
dilanda perang, kini masih juga belum terbe-bas dari pada kesengsaraan! Bahkan sebaliknya,
kemalangan lain menimpa rakyat jelata karena perang telah membuat daerah-daerah pedalaman
menjadi daerah tak bertuan. Pergantian pemerintah menimbulkan perebutan kekuasaan di daerahdae-
rah, dan karena belum ada ketentuan siapa yang akan menjadi kepala, di suatu daerah, maka
daerah itu seolah-olah menjadi medan perang perebutan kekuasaan, menjadi daerah kosong
sehingga kaum penjahat merajalela seenaknya tanpa ada pihak pemerintah yang ditakutinya. Rakyat
hidup dalam kegelisahan tanpa pelindung karena pemerintah yang baru belum sempat mengirimkan
pembesar untuk daerah-daerah itu. Ada pembesar lama yang masih mempertahankan kedudukannya
dan menjadi semacam raja kecil. Kalau tidak demikian, tentu kepala penjahat yang menggantikannya
men-jadi semacam pejabat sementara yang sewenang-wenang.
Sepanjang sejarah, di bagian manapun juga di dunia ini, perang merupakan semacam wabah yang
paling keji dan terkutuk bagi manusia. Di dalam perang, manusia bukan saja terserang dan teran-cam
jasmaninya, akan tetapi juga terancam roha-ninya. Perang membuat manusia menjadi keras, kejam,
mementingkan diri sendiri, haus akan keku-asaan. Perang adalah perebutan kekuasaan antara orangorang;
golongan atas, perebutan yang dila-kukan di atas tumpukan mayat rakyat jelata. Ba-gaikan
dalang atau suteradara, golongan atas ini bersembunyi di belakang layar, membiarkan rak-yat yang
berkiprah di dalam perang dengan pe-ngorbanan harta dan nyawa. Kalau kemenangan tercapai,
orang-orang golongan atas itulah yang akan membagi-bagi rejeki di antara mereka sen-diri, lupa
sudah akan segala pengorbanan yang di-lakukan rakyat demi kemenangan perjuangan me-reka.
Kalau kekalahan diderita, orang-orang go-longan atas itulah yang akan bersicepat lari meng-ungsi
sambil menyelamatkan keluarga dan harta mereka. Tentu ada kecualinya, ada orang-orang yang
berjiwa pemimpin dan pahlawan sejati, akan tetapi yang begini ini hanya ada beberapa gelintir?
Sebagian besar adalah dalang-dalang curang yang mementingkan diri sendiri dan hanya mempergunakan
rakyat untuk mencapai cita-cita pribadinya.
Tidaklah mengherankan apa bila Pek Lian me-rasa berduka dan menyesal sekali ketika ia menyaksikan
kesengsaraan rakyat di daerah-daerah dalam perjalanannya itu. Pek Lian adalah seorang
pendekar sejati, seorang yang berjiwa patriot tan-pa ambisi pribadi. Ia menuruni watak ayahnya,
Menteri Ho yang terkenal sebagai seorang menteri yang jujur.
Kejahatan merajalela dan pen-duduk hidup dalam keadaan yang tidak tenang, selalu diburu
ketakutan. Ketika Pek Lian memasuki kota itu, hari sudah hampir senja dan selagi ia berkeliling
mencari sebuah rumah penginapan, ti-ba-tiba ia mendengar suara teriakan-teriakan. Lalu nampak
belasan orang berlari-larian keluar dari sebuah rumah yang dirias, beberapa orang di antara mereka
yang lari itu memikul sebuah tandu dan ada pula yang memondong seorang pemuda yang berpakaian
pengantin.
"Tolong, toloonggg,! Kedua pengantin, diculik!" Teriak seorang laki-laki tua yang berlari keluar dari
rumah itu sambil melaku-kan pengejaran. Sebuah tendangan dari seorang yang bertubuh tinggi besar
membuat orang tua itu terpelanting. Para tamu juga berlari keluar akan tetapi tidak ada seorangpun di
antara mereka yang berani melakukan pengejaran.
Melihat ini, sejenak Pek Lian berdiri bengong. Ia tidak akan merasa heran mendengar seorang gadis
atau seorang pengantin puteri diculik penja-hat. Akan tetapi sepasang pengantin yang diculik?
Sungguh luar biasa dan tentu ada apa-apanya di balik peristiwa aneh ini. Maka, iapun cepat mempergunakan
kepandaiannya untuk melakukan pe-ngejaran. Setelah rombongan penculik itu tiba di luar
dunia-kangouw.blogspot.com
kota, di tepi sebuah hutan, tiba-tiba mereka terkejut melihat munculnya seorang pemuda tam-pan
yang berdiri bertolak pinggang menghadang jalan.
"Penculik-penculik hina! Hayo bebaskan se-pasang pengantin itu kalau kalian ingin selamat!" Pek Lian
membentak dengan marah. Kemarahan Pek Lian bukan hanya melihat orang-orang kasar ini
melakukan kejahatan, akan tetapi juga karena tidak melihat adanya petugas-petugas keamanan yang
mencegah kejahatan itu, bahkan tidak ada pula yang melakukan pengejaran.
Pemimpin gerombolan itu adalah seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih yang memegang
sebatang toya. Melihat seorang pemuda yang keli-hatan begitu muda dan tampan berani
menghadang dan menantang, dia menjadi marah, akan tetapi juga merasa geli hatinya. Pemuda ini
seperti seekor harimau kecil yang baru mulai berani berlagak, pikirnya. Akan tetapi pemuda itu masih
amat mu-da dan amat tampan, jauh lebih tampan dari pada pengantin pria yang mereka culik. Kalau
dia dapat menangkap pemuda ini dan menghadapkannya kepada pemimpinnya, tentu dia akan
menerima ganjaran.
"Tangkap anak ayam ini!" perintahnya dan belasan orang itu maju mengepung Pek Lian sam-bil
tertawa-tawa mengejek. Mereka semua mengi-ra akan dengan amat mudahnya menangkap pe-muda
ini.
"Ha-ha-ha, bocah ingusan, engkau sudah be-rani berlagak!" kata seorang di antara mereka sambil
menubruk ke depan. Akan tetapi, secepat kilat Pek Lian melompat ke kiri dan kaki kanannya bergerak
menendang, cepat dan kuat.
"Dukk ! Heppp !" Orang yang kena tendang itu terjengkang, memegangi ulu hati yang kena
tendang dan megap-megap seperti ikan di darat karena pernapasannya menjadi sesak oleh
tendangan itu.
Melihat ini, teman-temannya menjadi marah dan empat orang menubruk ke depan. Kembali mereka
kecelik karena mereka hanya menubruk tempat kosong dan sebelum mereka sempat me-nyingkir,
Pek Lian telah menghujankan pukulan dan tendangan yang membuat mereka terpelanting dan
mengaduh-aduh.
Kini marahlah si kepala gerombolan, juga ma-tanya terbuka melihat kenyataan bahwa pemuda
ingusan itu sesungguhnya bukan orang sembarang-an, bukan mangsa lunak melainkan lawan yang
berbahaya! Maka diapun menggerakkan toyanya dan membentak, "Bunuh setan, ini!"
Teman-temannya juga sudah marah dan me-reka mempergunakan segala macam senjata yang ada
pada mereka untuk maju mengeroyok, dan melihat ini, Pek Lian cepat mencabut pedangnya yang
disembunyikan di balik baju luarnya. Nam-pak sinar berkilat dan berturut-turut dua orang anggauta
gerombolan menjerit kesakitan. Pek Lian yang juga sudah marah sekali itu mengamuk, pe-dangnya
berkelebatan dan si kepala gerombolan yang kelihatan paling lihai di antara mereka itupun tidak
terluput dari amukannya. Pundak kiri orang itu terserempet pedang, membuat dia terpekik dan
melompat ke belakang, kemudian terus melarikan diri! Teman-temannya merasa gentar, dan sam-bil
menyeret tubuh teman-teman yang terluka, merekapun melarikan diri meninggalkan si pemuda
ingusan!
Pek Lian memang tidak berniat membunuh orang. Akan tetapi, ia ingin tahu siapa yang men-jadi
pemimpin mereka. Maka iapun cepat meng-ambil sepotong batu dan menyambitkan batu itu ke arah
seorang anggauta gerombolan yang larinya paling belakang. Batu kerikil menyambar, mencium
tengkuk dan orang itupun terguling roboh. Teman-temannya hendak menolong, akan tetapi melihat
pemuda ingusan itu sudah berloncatan datang, mereka ketakutan dan melarikan diri, tidak perduli lagi
kepada teman mereka yang roboh tadi.
"Hayo katakan, siapa yang menjadi pemimpin kalian dan apa maksud kalian menculik sepasang
pengantin itu?" bentak Pek Lian sambil meno-dongkan pedangnya di dada orang yang masih pening
kepalanya terkena sambitan pada tengkuk-nya itu.
"Ampun..... ampun... saya hanya... hanya anak buah saja."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Katakan siapa pemimpinmu dan mengapa menculik sepasang pengantin!" Pek Lian meng-hardik dan
ujung pedangnya menembus baju me-lukai kulit dada.
"Aduh...! Ampun..... kami adalah anak buah kepala daerah kota San-cou dan..... dan beliau yang
memerintahkan kami menculik sepasang pengantin."
"Untuk apa ......?" Pek Lian bertanya heran.
"Entahlah, mana saya mengetahui? Mungkin ...... taijin dan ...... teman-temannya suka ditemani
orang-orang muda, laki ataupun wanita . . . . "
Pek Lian menarik pedangnya dan menendang dagu Orang itu. "Pergilah!" Orang itu pergi, Pek Lian
menghampiri sepasang pengantin itu. Pengantin pria telah membuka tirai tandu dan kini dia sedang
merangkul isterinya yang menangis ketakutan. Melihat adegan mesra ini, Pek Lian me-rasa
jantungnya tertusuk dan iapun lalu berkata, "Sebaiknya kalau kalian cepat-cepat pergi dari sini dan
sementara ini bersembunyi saja di tempat lain."
Pengantin pria itu lalu menarik keluar pengaintin wanita, mengajaknya menjatuhkan diri berlutut di
depan Pek Lian. "Kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan taihiap..." kata
pengantin pria sedangkan pengantin wanita sambil menangis hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Sudahlah, aku hanya ingin bertanya, di manakah kota San-cou itu?"
"Tidak jauh dari sini, taihiap. Di luar hutan ini akan ada jalan menuju ke San-cou."
"Terima kasih, aku akan pergi ke sana. Kalian pergilah sebelum gelap." kata Pek Lian sambil
membalikkan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu.
"Nanti dulu, taihiap !" tiba-tiba terdengar suara pengantin wanita yang sejak tadi tidak
mengeluarkan kata-kata.
Pek Lian berhenti dan membalikkan tubuhnya, memandang pengantin wanita yang kini bersama
suaminya sudah bangkit berdiri. "Ada apakah?" tanyanya heran mengapa pengantin wanita itu
memanggilnya, suatu hal yang amat berani bagi seorang pengantin wanita yang biasanya malu-ma-lu
terhadap seorang pria asing,.
Pengantin wanita itu memang nampak malu-malu, akan tetapi suaranya bersungguh-sungguh ketika
ia berkata, "Maaf, taihiap. Pakaianmu me-mang sudah tepat, akan tetapi gerak-gerikmu dan kulit
mukamu yang halus, bentuk alis dan anak rambutmu tidak menyembunyikan sifat kewanita-an.
Penyamaran taihiap kurang berhasil dan mu-dah diketahui orang."
Mendengar ucapan itu, wajah Pek Lian menjadi merah dan iapun tertawa sambil membuka kain
penutup kepalanya. "Aih, kalau engkau dapat me-ngenaliku, cici, tidak ada gunanya lagi aku bersusah
payah menyamar. Akupun merasa tidak lelu-asa kalau harus merobah suara dan sikap."
Pengantin pria itu memandang bengong kepada gadis cantik jelita yang berada di depannya. Dia
sendiri sama sekali tidak pernah mengira bahwa pendekar yang lihai dan yang telah menyelamat-kan
dia dan isterinya itu ternyata adalah seorang dara yang cantik!
Setelah mereka saling berpisah, Pek Lian langsung saja pergi ke San-cou, lalu mencari keterang-an
perihal kepala daerah dan didengarnya bahwa kepala daerah itu adalah seorang baru. Di dalam
perebutan kekuasaan, kepala daerah baru ini ber-hasil menggulingkan kepala daerah yang lama.
Anehnya, tidak ada orang yang mengenal benar siapa adanya kepala daerah ini dan, dari mana asalnya!
Menurut keterangan itu, baru satu bulan ke-pala daerah baru ini menguasai San-cou, dan semenjak
itu, berbagai perbuatan kejam dan sewe-nang-wenang terjadilah. Satu di antara kejahatankejahatan
itu adalah bagaimana si pembesar mem-biarkan anak buahnya menculik gadis-gadis cantik
dan pemuda-pemuda tampan yang kabarnya dipaksa menjadi pelayan-pelayan di dalam gedung
kepala daerah yang baru.
Begitu memperoleh keterangan jelas dan merasa yakin bahwa kepala daerah baru itu memang jahat
dan sewenang-wenang, Pek Lian lalu langsung pergi mengunjungi gedung besar dan megah tempat
tinggal kepala daerah baru itu. Tentu saja para penjaga di luar pintu gerbang merasa heran melihat
dunia-kangouw.blogspot.com
munculnya seorang gadis cantik yang menyatakan ingin menghadap pembesar itu. Akan tetapi, Pek
Lian melihat betapa para penjaga itu tertawa-tawa dan dengan sikap kurang ajar mereka
mempersilahkan Pek Lian menanti.
"Tunggu dulu sebentar, nona. Kami yakin bah-wa seorang cantik manis seperti engkau tentu akan
diterima, oleh taijin, walaupun hari telah mulai gelap. Ha-ha, siapa yang tidak akan girang me-nerima
kunjungan seorang tamu seperti nona?"
Pek Lian tidak mau melayani kekurangajaran mereka. Dara ini menanti dan tidak lama kemudian ia
dipersilahkan masuk oleh penjaga yang tersenyum-senyum menyeringai memuakkan. Em-pat orang
penjaga yang memegang tombak menga-walnya. Pek Lian diajak masuk ke sebuah ruangan luas dan
dari jauh ia sudah melihat seorang berpa-kaian pembesar duduk di atas kursi kebesarannya yang
terletak tinggi di puncak anak tangga. Bebe-rapa orang pengawal berdiri menjaganya dan di dekatnya
duduk seorang perwira yang berpakaian mewah dan bertubuh kokoh kuat.
Pek Lian maklum bahwa ia telah memasuki. sarang harimau. Akan tetapi hatinya terlampau marah
kepada pembesar yang suka menculik orang-orang muda itu dan begitu melihat pembesar itu ia lalu
menudingkan telunjuknya.
"Engkaukah kepala daerah kota San-cou?"
Mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan tegas ini, si perwira meloncat turun menghadapinya
dan para pengawal yang tadi mengiringkannya lalu menodongkan tombaknya kepada Pek Lian. Akan
tetapi dara ini bersikap tenang saja. Kini ia mengenal beberapa orang pengawal sebagai ang-gauta
penculik yang sore tadi dihajarnya. Agaknya mereka tidak mengenalnya karena ia kini sudah
berpakaian sebagai seorang perempuan.
Jilid XXXII
PEMBESAR itu sendiri mengerutkan alisnya, akan tetapi sikapnya masih ramah karena dia melihat
bahwa gadis itu benar-benar cantik jelita seperti yang dilaporkan oleh penjaga tadi.
"Nona, memang akulah kepala daerah di sini. Siapakah engkau dan apa keperluanmu malam-malam
datang ke sini?"
"Siapa aku tidak penting. Aku mewakili semua muda-mudi yang menderita gangguanmu. Benarkah
engkau yang menyuruh gerombolan penjahat menculiki pemuda-pemuda dan gadis-gadis, juga yang
sore tadi hendak menculik sepasang pengantin di kota Tung-cou?"
"Eh ...... ohh..... aku... aku tidak... " Pembesar itu menjawab tergagap.
"Heii, ia ini yang tadi menyamar pria dan menggagalkan pekerjaan kita!" Tiba-tiba seorang pengawal
berteriak ketika dia mengenal Pek Lian. Mendengar ini, belasan orang perajurit segera mengepung
dara itu. Dan si perwira yang mendengar teriakan anak buahnya lalu berseru, "Tangkap gadis ini!!"
Akan tetapi, gadis itu telah mencabut pedangnya dan mengamuk. Seperti ketika ia dikeroyok di hutan
tadi, kinipun para perajurit bukanlah tandingannya. Ilmu pedang yang dimainkan Pek Lian sungguh
hebat dan sebentar saja beberapa orang perajurit telah roboh terluka dan ada pula yang kehilangan
senjatanya. Hanya tinggal perwira berjenggot pendek itu yang masih melawan dengan pedangnya
dibantu sisa para pengawal pribadinya.
"Tahan senjata!" tiba-tiba terdengar bentakan halus dan muncullah dua orang wanita kembar yang
sikapnya genit, pesolek dan cukup cantik bi-arpun muka mereka tebal oleh riasan. Melihat mereka,
terkejutlah Pek Lian. Ia mengenal mereka karena sepasang wanita kembar itu bukan lain adalah
Jeng-bin Siang-kwi (Iblis Kembar Seribu Muka), yaitu dua orang wanita kembar yang merupakan
tokoh ke tiga dan ke empat dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihh! Kiranya puteri Menteri Ho yang muncul! Hi-hik, bagus sekali, mari kita tangkap gadis ini dan
biar taijin menikmatinya." Dua orang wanita itu sudah menubruk ke depan untuk menangkap Pek Lian.
Dara ini maklum akan kelihaian lawan, maka iapun memutar pedangnya menangkis dan balas
menyerang. Akan tetapi, gerakan kedua orang wanita itu sungguh cepat dan karena mereka berdua
maju bersama, biarpun keduanya bertangan kosong, Pek Lian menjadi terdesak dan beberapa kali
hampir saja ia kena dipukul atau ditangkap. Dara ini maklum bahwa ia tidak boleh melanjutkan
amukannya. Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan halus ketika tangan kirinya bergerak dan ia sudah
melemparkan dua batang piauw berturut-turut ke arah dua orang lawan itu. Ketika dua orang
lawannya mengelak dengan gesit, Pek Lian melompat jauh ke belakang dan keluar dari dalam
bangunan. Para penjaga tidak berani mencoba untuk menghalanginya karena mereka sudah tahu
betapa lihainya dara ini, dan kedua orang wanita kembar itupun hanya mengejar sampai di pintu dan
membiarkan gadis itu melarikan diri dan lenyap di dalam kegelapan malam. Agaknya dua orang
wanita kembar itu merasa gentar kalau-kalau Pek Lian datang membawa teman dan merekapun
sudah maklum siapa adanya dara perkasa ini, dan bahwa dara perkasa ini mempunyai banyak sekali
kawan-kawan pendekar yang tinggi ilmunya.
Pek Lian juga maklum bahwa dengan adanya iblis betina kembar itu di rumah si kepala daerah ia
tidak dapat berbuat banyak. Ia tahu sampai di mana kelihaian sepasang iblis itu, belum lagi diingat
kemungkinan hadirnya pula iblis-iblis Ban-kwi-to yang lain. Kiranya para penghuni Ban-kwi-to, setelah
kegagalan mereka bersekongkol dengan para pembesar pengkhianat, melarikan diri bersembunyi di
tempat yang tak tersangka-sangka, yaitu di rumah para pembesar yang dapat mereka kuasai. Kini
tahulah ia siapa yang berdiri di balik kejahatan penculikan-penculikan itu. Tentu sepasang iblis betina
ini yang membutuhkan pemuda-pemuda yang diculik, sedangkan gadis-gadis yang diculik tentu
diberikan kepada si pembesar, atau mungkin juga kawan-kawan para iblis itu. Ia tidak dapat berbuat
apa-apa pada saat itu, akan tetapi sudah dicatatnya di dalam hati agar kelak kalau ia sudah kembali
ke kota raja, ia dapat melapor kepada kaisar dan pasukan yang kuat akan dikirim untuk
menghancurkan penjahat-penjahat itu. Juga daerah harus dibersihkan dari pada pembesar-pembesar
yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat berkedok kedudukan mereka.
Karena maklum bahwa besar kemungkinan ia akan dikejar oleh pihak lawan, maka Pek Lian terus
melarikan diri dengan cepat sampai lewat tengah malam ia terpaksa berhenti karena terhalang oleh
sebuah sungai yang cukup besar dan lebar. Ia mencari-cari perahu untuk menyeberang dan karena
akhirnya ia hanya dapat melihat sebuah perahu besar yang berhenti di tepi sungai itu, iapun
menghampiri perahu itu. Sunyi di perahu itu, agaknya semua penghuninya sudah tidur.
Dua orang laki-laki yang agaknya menjadi penjaga malam di ujung perahu, ketika melihat seorang
gadis longak-longok sendirian di situ, lalu menghampiri dan bertanya, "Siapakah nona dan hendak
mencari siapa?"
Tanpa menyangka buruk, Pek Lian yang sudah lelah itu menjawab, "Saya seorang pelancong yang
kemalaman di sini dan hendak mencari perahu untuk menyeberang."
"Aihh, kebetulan sekali, nona. Kamipun hendak menyeberang. Kalau nona mau, mari ikut kami
menyeberang dengan perahu ini."
Tentu saja tawaran itu disambut gembira oleh Pek Lian. "Terima kasih, saudara baik sekali. Jangan
khawatir, nanti akan saya bayar berapapun biaya penyeberangannya."
Dua orang itu tidak menjawab melainkan mempersilahkan Pek Lian naik perahu. Perahu itu memang
besar sekali, sebuah perahu yang akan cukup memuat puluhan orang dan begitu naik ke perahu, Pek
Lian melihat bahwa memang penghuninya banyak sekali, sebagian besar laki-laki yang tidur malangmelintang
di atas geladak perahu. Melihat betapa beberapa orang di antara mereka itu yang belum
tidur menyeringai kepadanya dan rata-rata sikap mereka kasar, juga mereka membawa-bawa senjata,
hati Pek Lian mulai terasa tidak enak. Akan tetapi ia butuh diseberangkan, maka iapun diam saja
ketika dua orang tadi mengajaknya pergi ke sebuah ruangan besar di dalam bilik perahu.
Ruangan itu terang sekali dan nampak duduk beberapa orang mengelilingi sebuah meja panjang.
Ada pula anak buah yang berdiri di sudut dan dari tempat itu nampak sekelompok pendayung perahu
yang agaknya sudah siap untuk menggerakkan dayung mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, selamat memasuki perahu kami, nona Ho Pek Lian!"
Pek Lian mengangkat muka memandang dan bukan main kaget rasa hatinya ketika mengenal bahwa
yang menegurnya itu bukan lain adalah datuk sesat gendut pendek yang suaranya tinggi seperti
wanita itu, ialah Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti! Dan di dekatnya duduk pula seorang raksasa tinggi
besar yang menyeramkan dan orang inipun bukan tokoh sembarangan melainkan orang ke dua dari
Tujuh Iblis Ban-kwi-to, ialah Tiat-siang-kwi, raksasa yang suka makan daging manusia itu!
"Celaka......" pikirnya dan ia sudah siap untuk membalikkan tubuh melarikan diri dari tempat
berbahaya itu. Akan tetapi, pada saat itu perahu sudah meluncur ke tengah sungai!
"Ha-ha-ha, engkau sudah masuk ke sini, seperti seekor anak kijang memasuki guha naga dan
harimau, mana mungkin engkau akan melarikan diri, nona? Silahkan duduk, engkau menjadi tamu
kami. Jangan khawatir, kami takkan mengganggumu. Siapa orangnya mau mengganggu murid sri
baginda kaisar? Bukankah begitu, saudara Tiat-siang-kwi?" kata pula si gendut pendek sambil
tertawa-tawa girang sekali. Memang hatinya girang bukan main ketika anak buahnya memberi tahu
akan munculnya Ho Pek Lian yang dikenalnya sebagai murid dan pembantu setia Liu-Pang yang kini
telah menjadi kaisar. Kalau dara ini menjadi tawanannya, berarti dia akan untung besar. Dia akan
dapat menjadikan gadis itu sebagai sandera dan dia akan minta uang tebusan yang besar dari kaisar
baru!
Tiat-siang-kwi mengangguk-angguk. "Kau benar, Sin-go, nona ini akan membikin kita kaya raya."
Mendengar percakapan itu mengertilah Pek Lian apa yang mereka maksudkan. Dari kata-kata itu ia
dapat menangkap maksud orang-orang jahat itu. Ia diculik dan mereka akan mengancam kaisar untuk
memberi uang tebusan yang besar atas dirinya!
"Aku tidak sudi!" teriaknya dan sambil mencabut pedangnya iapun hendak lari keluar dari ruangan itu.
Akan tetapi, tujuh orang pengawal yang sudah siap siaga itu kini menghadangnya sambil menyeringai
dan mereka menodongkan senjata golok dan tombak, menghadang gadis itu keluar dari ruangan.
Pek Lian maklum bahwa jalan satu-satunya hanyalah melawan. Iapun mengerti bahwa ia menghadapi
lawan yang amat kuat. Baru dua orang iblis itu saja masing-masing memiliki ilmu kepandaian yang
jauh lebih tinggi darinya. Akan tetapi, ia tidak sudi menyerah begitu saja untuk menjadi sandera, maka
dengan pedangnya iapun menerjang tujuh orang penghalang itu. Terjadilah pertempuran kecil di
ruangan itu dan karena ilmu pedang Pek Lian juga lihai sekali, maka para pengeroyok itu menjadi
repot menghadapi sambaran sinar pedang dara perkasa itu. Dalam belasan jurus saja, tiga orang
pengeroyok telah dapat dirobohkannya. Akan tetapi, pada saat Pek Lian memutar pedangnya dan
menangkis serangan sisa para pengeroyoknya, terdengar gerengan keras dan ternyata Tiat-siang-kwi
(Iblis Gajah Besi) telah meloncat ke depan.
"Plak! Tranggg......!" Tepukan pada pundak kanan Pek Lian itu sedemikian kuatnya sehingga pedang
yang dipegangnya terlempar dan jatuh ke atas lantai ruangan perahu itu. Dan sebelum Pek Lian dapat
mengelak, dua buah tangan besar berkuku panjang telah mencengkeram lengan dan pundaknya dari
belakang. Ia berusaha meronta, akan tetapi dalam cengkeraman Tiat-siang-kwi, ia tidak mampu
bergerak lagi.
"Engkau masih belum mau menyerah?" bentak Tiat-siang-kwi.
Pek Lian bukanlah seorang wanita bodoh. Ia tidak mau mencari penyakit. Tahu bahwa melawanpun
tidak ada gunanya, hanya akan menyakiti badan, ia tidak meronta lagi. Ia tahu bahwa selama ia
dijadikan sandera dengan maksud menukarnya dengan uang tebusan, mereka ini tidak akan
mengganggunya. Selain itu, setelah kini gurunya menjadi kaisar, bagaimanapun juga, para datuk
sesat ini tentu tidak begitu tolol untuk mengganggu murid kaisar karena hal itu akan membuat mereka
menjadi buronan pemerintah selama hidup. Melihat dara itu tidak meronta lagi, Tiat-siang-kwi lalu
melepaskan cengkeramannya.
"Ha-ha-ha, nona Ho sungguh amat lihai dan gagah. Kami merasa kagum sekali. Marilah, nona, mari
duduk sebagai tamu kami dan menikmati hidangan sekedarnya!" Si Buaya Sakti yang agaknya
menjadi pimpinan di perahu itu berkata dengan suara halus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian tidak berlaku sungkan lagi. Ia tahu bahwa ia telah menjadi tawanan dan mereka akan
memperlakukan dengan hormat selama ia tidak melawan. Ia melihat bahwa selain dua orang datuk
yang kini setelah sama-sama menderita kekalahan dalam perang agaknya dapat bersatu itu, terdapat
pula beberapa orang yang dari sikapnya dapat diketahui bahwa mereka adalah kaum sesat.
Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya adalah ketika ia melihat seorang anak perempuan
berusia kurang lebih duabelas tahun, berwajah cantik manis sekali, akan tetapi lengan kirinya
buntung, duduk pula di meja itu di sebelah Si Buaya Sakti. Apakah iblis ini mempunyai seorang anak
perempuan yang demikian manisnya? Bagaimanapun juga, ia segera merasa tertarik kepada anak
manis ini, dan merasa kasihan melihat sebelah lengan itu buntung. Maka, ketika dipersilahkan duduk
dan melihat ada kursi kosong di dekat anak perempuan itu, iapun duduklah.
Anak perempuan itu memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang bening, kemudian
tersenyum dan hati Pek Lian semakin tertarik. Anak ini sungguh manis sekali dan tiba-tiba ia
mengerutkan alisnya, teringat betapa jahat dan kejamnya para datuk sesat ini. Jangan-jangan anak
inipun menjadi korban mereka! Maka, ia hendak menggunakan kepentingan dirinya sebagai sandera
untuk menentang Si Buaya Sakti.
"Aku tidak akan melawan dengan kekerasan selama kalian di sini tidak melakukan kejahatan di depan
mataku. Kalau kalian melanggar, sampai matipun aku tidak akan menyerah, dan biarlah kalian
membunuhku. Guruku, sri baginda kaisar tentu akan mengirim pasukan mengejar dan mencari dan
memberi hukuman seberat-beratnya kepada kalian!"
Mendengar ucapan ini, diam-diam semua penjahat menjadi gentar juga. Menghadapi pembalasan
orang seperti Liu Pang itu sungguh mengerikan. Sebelum menjadi kaisar saja pemimpin itu sudah
dibantu oleh semua pendekar gagah, apa lagi sekarang setelah menjadi kaisar. Siapa berani
melawannya?
Sin-go Mo Kai Ci menyembunyikan kegentaran hatinya di balik senyum lebar dan suaranya meninggi
ketika dia menjawab, "Nona Ho, siapa yang akan berani melakukan hal-hal yang tidak,
menyenangkan hatimu? Engkau adalah tamu kehormatan, tentu saja kami tidak akan melanggar
laranganmu."
"Hemm, kalau begitu, siapakah anak ini? A pakah iapun menjadi korban penculikan?"
Si Buaya Sakti tertawa. "Ha-ha, jangan salah sangka, nona. Anak ini adalah anak seorang pembantu
kami, dan kami semua suka kepadanya karena ia manis dan lucu, juga amat cerdik. Biarpun sebelah
lengannya buntung, ia cekatan dan pandai melayani kami."
Anak itu lalu bangkit dan dengan sebelah tangan kanannya anak itu cepat mengisi arak dalam cawan
bersih, memberikannya kepada Pek Lian dengan sikap hormat. "Enci yang baik, aku di sini senang
sekali dan semua paman ini baik kepadaku. Silahkan cici minum, biar kuambilkan mangkok bersih
dan sumpit." Dengan cekatan anak itu lalu melayani Pek Lian, dan melihat sikap anak ini yang
gembira dan tidak nampak seperti korban yang tersiksa, hatinya merasa lega.
Akan tetapi, keterangan yang diberikan oleh Si Buaya Sakti itu membuat si raksasa Tiat-siang-kwi
mengerutkan alisnya. Dua hari yang lalu, ketika mereka saling bertemu dan berjanji untuk be-kerja
sama di bawah pimpinan Raja Kelelawar yang menaklukkan pula tujuh iblis Ban-kwi-to, Sin-go Mo Kai
Ci sudah berjanji kepadanya untuk memberikan anak perempuan mungil itu kepadanya! Tunggu
sampai kita tidak membutuhkan lagi bantuan ayahnya, baru kuserahkan anak itu kepadamu dan boleh
kaumiliki sesuka hatimu." Akan tetapi, kini Si Buaya Sakti berjanji kepada murid kaisar itu bahwa
mereka tidak akan mengganggu anak perempuan itu. Tentu saja dia merasa kecewa sekali dan
beberapa kali dia memandang dengan mata membayangkan kedongkolan hatinya dan beberapa kali
dia mengerling ke arah anak perempuan itu dengan sinar mata penuh gairah. Dia harus
mendahuluinya, pikir raksasa ini dan untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, diapun minum arak
sebanyak dan sepuasnya.
Setelah makan minum, Pek Lian dipersilahkan dengan ramah oleh Buaya Sakti untuk melepaskan
lelah dan tidur di dalam bilik perahu. Gerombolan kaum sesat itu melanjutkan makan minum dan Pek
Lian tidak lagi memperdulikan mereka karena ia sendiri merasa lelah dan perlu untuk mengaso dan
mengumpulkan tenaga. Selama perahu ini masih berlayar, ia tidak berdaya. Andaikata ia dapat
melarikan diri, akan pergi ke manakah? Meloncat dari perahu ke air? Ia akan mati tenggelam karena
dunia-kangouw.blogspot.com
ia tidak begitu pandai renang. Pula, melawan dengan kekerasan akan sia-sia belaka mengingat
betapa di situ terdapat Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi yang amat lihai. Ia harus menanti
kesempatan baik, sesudah mendarat baru ia mencari akal untuk meloloskan dirinya. Sementara ini, ia
harus banyak istirahat dan mengumpulkan tenaga.
Dengan pikiran ini, sebentar saja Pek Lian tidur pulas. Akan tetapi, belum lama ia tertidur dalam
pakaian lengkap karena ia tidak mau bersikap lengah, ia terkejut mendengar suara jeritan nyaring.
Cepat ia meloncat dan menyambar pedangnya yang sudah dikembalikan kepadanya, lalu melompat
keluar bilik. Dilihatnya bayangan raksasa Tiat-siang-kwi sedang memegang lengan kanan anak
perempuan buntung itu sambil menarik-narik dan anak itupun meronta-ronta.
"Lepaskan aku! Lepaskan.....!" Anak itu meronta dan berteriak.
"Heh-heh, anak manis, jangan cerewet atau kucengkeram hancur kepalamu." Raksasa itu
menghardik. Akan tetapi, dengan heran sekali Pek Lian melihat betapa anak perempuan itu membuat
gerakan aneh dengan kakinya dan tahu-tahu kaki kiri yang kecil itu telah melayang dengan kecepatan
luar biasa, ujung sepatunya menotok siku lengan kakek yang memegangi tangannya.
"Tukk !" Kakek itu terkejut dan melepaskan cengkeramannya karena sikunya yang tertotok ujung
sepatu itu untuk beberapa detik lamanya menjadi lumpuh! Kesempatan ini dipergunakan oleh anak
perempuan itu untuk meloncat ke belakang dan kembali Pek Lian melihat gaya lompatan yang amat
indah dan cekatan! Itu bukanlah tendangan dan lompatan seorang anak biasa saja, pikirnya heran.
Akan tetapi melihat anak itu terancam dan kini si raksasa agaknya sudah marah dan hendak
menubruk lagi, ia meloncat ke depan dan pedangnya melakukan gerakan menyerang.
"Singg..... plakk!" Kakek raksasa itu masih dapat menangkis pedang dengan tangannya yang
dilindungi kekebalan, lalu matanya yang lebar itu melotot memandang Pek Lian dengan marah.
"Kau ...... kau berani mencampuri?" Bentaknya dan dari suara dan sikapnya, juga bau mulutnya,
mudah diketahui bahwa kakek raksasa ini dalam keadaan mabok.
"Sudah kukatakan, semua bentuk kejahatan di sini akan kutentang sampai mati!" Pek Lian berkata
dan iapun sudah menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi, dengan sigapnya kakek raksasa itu
mengelak. Sekali ini, Pek Lian berlaku hati-hati dan ia tidak mau pedangnya sampai terpukul oleh
kakek yang bertenaga gajah ini. Ia mengandalkan kegesitannya dan pedangnya berkelebatan mencari
sasaran lemah, tidak memberi kesempatan kepada kakek itu untuk mengadu kekuatan. Menghadapi
dara yang menggunakan kegesitannya ini, Tiat-siang-kwi yang agak mabok itu kewalahan juga dan
tiba-tiba dia mencabut senjatanya yang menggiriskan, yaitu sebatang golok besar sekali yang
punggungnya seperti gigi gergaji. Begitu golok ini menyambar, terdengar angin bersiutan dan Pek
Lian terpaksa berloncatan mundur karena golok lawan itu menyambar-nyambar ganas dengan
kekuatan yang tidak mungkin ditangkisnya. Kalau ia berani menangkis, tentu pedangnya akan
terpental dan mungkin terlepas dari pegangannya. Sebentar saja Pek Lian sudah terdesak hebat oleh
raksasa itu.
Tiba-tiba anak perempuan itu berteriak dengan suara melengking, "Ayaaaahhh......! Tolonglah......
kami!!"
Pada waktu itu, para anak buah perahu sudah banyak yang berdatangan dan menonton perkelahian
itu. Tidak ada yang berani melerai atau mencegah si raksasa karena di dalam perahu itu, hanyalah Si
Buaya Sakti seoranglah yang berani menentang si raksasa yang telah menjadi rekan dan sekutunya.
Teriakan anak perempuan itu ternyata memperoleh sambutan. Tiba-tiba papan lantai perahu tergetar
hebat dan di situ telah berdiri seorang laki-laki muda yang gagah perkasa, berpakaian biasa saja
seperti para tukang dayung, akan tetapi kini wajahnya penuh wibawa dan nampak menyeramkan,
sepasang matanya mencorong seperti mata naga ketika dia memandang kepada Tiat-siang-kwi yang
berhenti sejenak melihat munculnya orang ini. Pek Lian yang tadinya sudah terdesak hebat itu
memperoleh kesempatan memperbaiki posisinya dan iapun menengok dan memandang.
"A-hai......!!" Tiba-tiba Pek Lian berseru girang dan kaget sehingga dara ini lupa bahwa orang yang
biasanya disebut A-hai itu telah mem-perkenalkan diri sebagai Souw Thian Hai, seorang pendekar
yang sakti.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah, bantulah enci ini!" Anak perempuan buntung itu kini mendekati ayahnya dan kembali Pek Lian
tertegun. Kiranya anak perempuan buntung inilah puteri pendekar ini! Karena anak itu belum pernah
diperkenalkan kepadanya, maka ia tidak tahu, dan siapa mengira bahwa anak A-hai berada di perahu
penjahat ini? Tidak tahunya malah pendekar itu sendiripun berada di sini, agaknya menyamar sebagai
tukang dayung.
Sementara itu, si raksasa berdiri dengan mata terbelalak lebar. Dia kini juga mengenal pria gagah ini
dan teringatlah akan kehebatan pemuda ini ketika mengamuk. Dia sendiri pernah dikalahkan dengan
mudah! Pada saat itu, karena terganggu oleh keributan, Si Buaya Sakti juga sudah datang ke tempat
itu dan seperti juga Tiat-siang-kwi, si gendut pendek ini terbelalak memandang kepada Thian Hai.
Melihat betapa di tempat itu terdapat banyak kawannya, si raksasa timbul kembali keberaniannya dan
sambil mengereng diapun menubruk ke depan dengan goloknya yang besar dan berat itu. Akan
tetapi, dengan tenang Thian Hai menggerakkan tangan kirinya mendorong ke depan. Tiba-tiba saja
gerakan raksasa itu tertahan oleh dinding tenaga yang tidak nampak namun yang kuat sekali
membuat dia tertegun dan gerakan serangannyapun terhenti. Pada saat itu, tangan kanan Thian Hai
membuat gerakan menampar seperti orang mengusir lalat dan dari mulutnya terdengar bentakan,
"Pergilah engkau iblis busuk!"
Sungguh aneh sekali. Tubuh tinggi besar itu terpelanting jauh, bergulingan di atas lantai perahu dan
ketika tiba di tepi perahu, si raksasa itu agaknya sudah kehilangan nyalinya maka diapun melanjutkan
tubuhnya terguling ke luar perahu.
"Byuurrr......!" Tokoh ke dua dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to itu begitu ketakutan sehingga dia memilih
terjun ke sungai dari pada harus berhadapan
lagi dengan pendekar yang memiliki kesak-tian luar biasa itu.
Si Buaya Sakti memandang dengan muka pu-cat. Dia maklum akan kehebatan lawan ini, akan tetapi
sebagai pimpinan di perahu itu, tentu saja dia merasa malu kalau harus melarikan diri seperti Tiatsiang-
kwi, Walaupun hatinya pudah lebih dahulu melarikan diri. Sambil mengeluarkan ben-takan
nyaring, dia menerjang dengan senjata alu-nya. Thian Hai tidak melangkah pergi, tidak mengelak,
melainkan diam saja dan ketika alu itu sudah mendekati kepalanya yang dijadikan sasaran, tiba-tiba
saja kedua tangannya bergerak, cepat bukan main dan tahu-tahu tangan yang memegang alu itu
lumpuh tertotok sikunya dan alu itupun berpindah tangan. Lalu senjata itu menyambar punggung
pemiliknya sendiri.
"Bukk !!" Tubuh Si Buaya Sakti memang kebal, akan tetapi pukulan itu sedemikian kuatnya
sehingga walaupun tulang-tulang punggungnya tidak remuk, akan tetapi tubuhnya terlempar sampai
keluar perahu.
"Byuuurrr !!" Untuk kedua kalinya, air muncrat tinggi ketika tubuh ke dua itu menimpa air.
Melihat ini, para penjahat anak buah Buaya Sakti menjadi panik ketakutan dan tanpa menanti
komando lagi mereka mengikuti contoh pimpinan mereka, berloncatan ke sungai sehingga sebentar
saja perahu itu telah kosong, kecuali tukang-tu-kang dayung yang sebagian besar merupakan orangorang
paksaan atau bayaran, bukan ang-gauta-anggauta bajak yang sudah lebih dulu berloncatan ke
air.
Souw Thian Hai berdiri termangu-mangu me-mandang ke air, seperti orang merasa menyesal. Melihat
ini, Souw Lian Cu, yaitu puterinya yang buntung lengannya, menghampiri dan merangkul pinggang
ayahnya. Souw Thian Hai sadar kembali dan merangkul puterinya, lalu menoleh dan meng-hadapi
Pek Lian sambil tersenyum.
"Nona Ho Pek Lian, tidak kusangka akan ber-temu denganmu di sini," katanya.
Melihat sikap dan mendengar suara orang ini, seketika wajah Pek Lian menjadi merah. Ini bukan Ahai
yang dulu lagi, bukan pemuda ketololan yang menimbulkan rasa iba di hatinya. Ini adalah seorang
pendekar sakti yang sikapnya tenang ber-wibawa, maka iapun menjura.
"Souw-taihiap, terima kasih atas pertolongan mu.
"Ah, nona Ho, perlukah engkau menyebutku taihiap segala? Aku adalah A-hai "
dunia-kangouw.blogspot.com
"Taihiap, mana berani aku menyebutmu seperti dahulu? Kalau engkau berkeberatan disebut tai-hiap,
biarlah aku menyebutmu Souw-toako."
"Itu lebih baik, Lian-moi (adik Lian). Inilah puteriku itu yang bernama Souw Lian Cu. Lian Cu, inilah bibi
Ho Pek Lian yang sering kali ku-ceritakan padamu, ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa
dan berbudi."
"Bibi !" Lian Cu memberi hormat dan Pek Lian cepat merangkulnya. Kini hatinya merasa terharu
dan kasihan. Anak semanis ini, masih kecil sudah harus kehilangan lengan kirinya.
"Aku sungguh bingung, bagaimana aku mendapatkan engkau di sini sebagai tukang dayung dan
puterimu ini melayani mereka itu "
"Nanti kuceritakan, sekarang kita perlu menge-mudikan perahu ini." Thian Hai lalu minta kepa-da
teman-temannya atau bekas teman-temannya tukang dayung untuk melanjutkan pekerjaan me-reka,
mendayung dan membantunya mengemudi-kan perahu. Setelah perahu berjalan lancar dan tenang
kembali, Thian Hai mengajak Pek Lian dan puterinya duduk di ruangan, lalu menceritakan
pengalamannya.
Seperti telah kita ketahui dari bagian depan, Thian Hai dan puterinya melakukan perjalanan mencari
jejak musuh besarnya, yaitu Ma Kim Liang yang menyamar atau berobah menjadi Raja Kele-lawar.
Dia melakukan perjalanan jauh, mendatangi tempat-tempat yang menjadi sarang gerombolangerombolan
jahat karena dia menduga bahwa di tempat-tempat seperti itulah dia mempunyai harapan
untuk menemukan jejak Raja Kelelawar, mengingat bahwa iblis itu telah menjadi datuk be-sar
atau raja dari dunia sesat. Kemudian dia me-nyaksikan perebutan harta karun milik keluarga bekas
Menteri Li Su, dan akhirnya dia melihat Buaya Sakti yang berhasil merampas barang-barang harta
benda itu. Melihat datuk ini, dia lalu cepat melakukan penyamaran. Dia menanggalkan baju atasnya
dan pura-pura kelelahan mengaso sambil tiduran ketika Buaya Sakti berhasil membasmi pa-sukan
yang merampok harta benda keluarga Li Su. Tukang-tukang pemikul tandu sudah pada mela-rikan diri
atau ikut terbunuh, hanya tinggal dua orang saja lagi yang dipaksa oleh anak buah Buaya Sakti untuk
memikul tandu yang berat itu. Anak buah bajak itu sudah melucuti pakaian para ang-gauta pasukan
yang terbunuh dan sambil tertawa-tawa mereka mengenakan pakaian seragam tentara itu, mematutmatut
diri seperti monyet-monyet diberi pakaian. Kemudian, beberapa orang di an-tara mereka
melihat Thian Hai yang sedang tidur terlentang di atas tanah, berbantalkan kedua ta-ngan itu. Mereka
menghampiri dan seorang di antara mereka menghardik, "Heh, malas! Orang-orang lain sibuk
mengangkut tandu, engkau enak-enak tidur! Hayo bangun!" Dan seorang di anta-ra mereka
menendang pahanya.
Thian Hai pura-pura terkejut dan kesakitan menggosok-gosok pahanya. "Aduh, aduh baru saja
istirahat sudah dibangunkan "
Kemudian dia pura-pura heran melihat beberapa orang yang berpakaian tentara itu. "Eh, apa? Mau
berangkat lagi? Apa pertempuran sudah selesai?"
Beberapa orang bajak itu terbahak-bahak, mengira bahwa pemikul tandu ini salah lihat dan
menyangka mereka anak buah pasukan yang sudah terbasmi habis. "Tolol, hayo bantu kami
mengang-kut tandu itu ke perahu."
Thian Hai bangkit, menyambar bungkusan pakaiannya dan longak-longok. "Mana anakku? Lian Cu,
di mana kau?"
Seorang anak perempuan yang buntung sebelah lengannya datang berlari-lari, baru saia keluar dari
tempat sembunyinya. Anak ini bertindak se-suai dengan rencana ayahnya yang hendak menyelundup
menjadi anak buah Si Buaya Sakti agar dia dapat mencari jejak musuh besarnya.
"Ayah, apakah kita akan berangkat lagi?"
"Ya, mari, kita harus angkut tandu itu," kata-nya bangkit berdiri.
"Hei, anak ini tidak boleh ikut!" kata seorang di antara mereka.
"Hemm, biar lengannya buntung sebelah, ia manis juga. Mari kita hadapkan kepada pimpinan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka memegang tangan Lian Cu. Anak ini ketakutan, akan tetapi ket.ka melihat ayahnya berkedip
dan mengangguk kepadanya, iapun me-nurut saja dibawa pergi. Ketika Si Buaya Sakti melihat Lian
Cu, hatinyapun merasa suka kepada anak perempuan yang biarpun buntung sebelah lengannya,
akan tetapi berwajah manis dan bersi-kap berani dan cekatan itu. Siapa tahu, anak pe-rempuan ini
ada gunanya kelak, pikirnya.
Demikianlah, Thian Hai berhasil menyelundup menjadi tukang pikul tandu berisi harta benda itu,
kemud;an setelah tiba di perahu besar, tugasnya berobah menjadi tukang dayung di antara belasan
tukang dayung bayaran atau paksaan. Sementara itu, dengan cerdiknya Lian Cu dapat menyenangkan
hati Si Buaya Sakti dengan pelayanannya yang cekatan, baik di dapur maupun di ruangan
makan. Beberapa hari kemudian, Si Buaya Sakti bertemu dengan Tiat-siang-kwi. Keduanya dahulu
men-jadi lawan dalam perang, akan tetapi karena kedua pihak sudah kalah dan karena kini Tujuh Iblis
Ban-kwi-to sudah ditaklukkan pula oleh Raja Kelelawar, si raksasa itupun mau dipersilahkan naik ke
perahu untuk bersama-sama mengunjungi tempat persembunyian Raja Kelelawar. Dalam pertemuan
itu, secara iseng ketika melihat si rak-sasa tertarik kepada Lian Cu, Sin-go Mo Kai Ci menjanjikan
kelak akan menyerahkan gadis cilik itu kepada si raksasa! Karena itulah maka terjadi keributan di
malam itu dan terpaksa Thian Hai turun tangan untuk melindungi puterinya dan Pek Lian.
"Demikianlah, Lian-moi, terpaksa aku turun tangan dan sekarang buyarlah harapanku untuk dapat
menemukan jejak musuh besarku. Tadinya aku merasa yakin bahwa mereka itu akan memba0 waku
kepada musuhku. Lian Cu dapat mende0 ngarkan percakapan mereka di meja makan dan ternyata
kedua orang datuk sesat itu telah menjadi anak buah Raja Kelelawar dan mereka hendak melayarkan
perahu ke tempat sembunyinya." Thian Hai menutup ceritanya sambil menarik napas pan-jang penuh
rasa kecewa.
"Ah, kalau aku tidak muncul tentu rencanamu tidak akan gagal, Souw-toako." Pek Lian berkata
menyesal pula.
"Sudahlah, yang lalu tidak perlu disesalkan. Sekarang aku hendak mencari sendiri tempat itu, kurasa
tidak jauh dari sini walaupun aku belum tahu di mana sesungguhnya tempat persembunyi-an musuh
besarku itu."
Selagi mereka hercakap-cakap, tiba-tiba me-reka merasa badan perahu itu terguncang dan terdengar
teriakan-teriakan ketakutan para penda-yung perahu. Mereka bertiga cepat keluar dari dalam
ruangan itu dan betapa kaget hati mereka
melihat bahwa perahu besar itu telah dikepung oleh beberapa buah perahu kecil yang penuh penumpang
dan para penumpang itu membawa obor sehingga keadaan menjadi terang seperti siang.
Perahu-perahu itu adalah perahu bajak sungai dan ketika mereka bertiga melihat wajah Si Buaya
Sakti di antara para bajak itu, tahulah mereka bah-wa mereka telah berada di tangan musuh!
Si Buaya Sakti itu menyeringai dan dengan suaranya yang kecil tinggi dia berseru, "Kalau melawan
perahu kalian akan kami bakar!"
Menghadapi ancaman ini, Thian Hai tidak berdaya, bahkan melihat sikap Pek Lian, dia ber-bisik,
"Lian-moi, di sini kita tidak boleh melawan."
Pek Lian maklum bahwa memang percuma saja melakukan perlawanan selagi mereka berada di atas
perahu. Betapapun lihainya Thian Hai, tak mungkin dia dapat menyelamatkan Pek Lian dan Lian Cu
kalau mereka masih berada di tengah su-ngai. Maka Pek Lianpun diam saja membiarkan perahu
mereka dikait dan ditarik oleh perahu-pe-rahu musuh.
Hari telah pagi ketika perahu-perahu bajak itu menarik perahu rampasan itu ke pantai dan nam-paklah
oleh Pek Lian betapa selain perahu mereka, ada pula sebuah perahu lain terampas oleh bajak. Di
atas perahu yang juga besar dan mewah itu terdapat belasan orang yang berpakaian seperti
saudagar-saudagar kaya, akan tetapi di antara mereka itu nampak pula seorang kakek tua berpakaian
sederhana memegang tongkat butut dan se-orang pemuda sederhana bermuka merah yang
bertubuh tegap dan berwajah gagah. Tentu saja Pek Lian merasa girang di samping keheranannya
mengenal dua orang itu sebagai kakek sakti Kam Song Ki dan muridnya, bekas pemimpin lembah
Kwee Tiong Li! Kiranya guru dan murid itu yang meninggalkan kota raja, agaknya menumpang sebuah
perahu saudagar dan ikut pula menjadi ta-wanan ketika perahu itu dirampas oleh para bajak
anak buah Si Buaya Sungai. Dalam semalam itu, kawanan bajak telah membajak dua buah perahu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Kwee Tiong Li dan gurunya juga ter-kejut, heran dan girang melihat Pek Lian dan juga
Thian Hai. Akan tetapi mereka diam saja dan pu-ra-pura tidak mengenal mereka. Dua buah pe-rahu
itu ditarik terus sampai ke pantai di mana telah menunggu sekelompok pasukan yang dipim-pin oleh
seorang laki-laki berusia limapuluh ta-hunan yang berpaka'an mewah seperti seorang bangsawan
kaya. Orang ini berkepala bundar, tu-buhnya juga bulat serba gendut dan mukanya pe-nuh senyum
ramah.
Melihat orang gendut mewah ini, Pek Lian ter-kejut bukan main. Ia mengenal orang itu walaupun si
gendut itu belum sempat mengenalnya. Pria itu adalah Lam Siauw-ong (Raja Muda Selatan), seorang
di antara tiga tokoh besar lautan yang men-jadi kepala bajak. Dahulu, pernah Lam Siauw-ong
menawan Chu Bwee Hong dan dengan sembunyi-sembunyi ia berhasil menolong Bwee Hong dan
meloloskan diri dari cengkeraman kepala bajak laut ini. Siapa kira hari ini ia yang menjadi tawanannya.
Dan diam-diam ia merasa semakin heran bagaimana Si Buaya Sakti dapat menjadi sekutu
Lam Siauw-ong? Bukankah dahulu terda-pat suatu permusuhan atau persaingan antara go-longan
mereka?
Akan tetapi, Pek Lian tidak mau banyak cakap lagi. Ia maklum bahwa sekali ini, ia harus mela-kukan
perlawanan. Sebelum ia dan Thian Hai di-tawan dan dibuat tidak berdaya, ia harus melaku-kan
perlawanan. Inilah satu-satunya kesempatan untuk melawan, setelah perahu mendarat. Ia danat
melihat kekuatan lawan yang cukup banyak. Dan melihat betaoa anak buah bajak itu banyak yang
memakai pakaian seragam bekas pakaian tentara. Akan tetapi, iapun sudah sap siaga. Sebelum mendarat,
ia telah mempersiapkan diri, mengenakan pakaian ringkas dan menemukan pedang di dalam
ruangan bilik perahu. Begitu perahu menempel di darat, tanpa membuang waktu lagi Pek Lian mengeluarkan
pekik melengking dan iapun meloncat ke darat, langsung menyerbu ke arah Lam Siauwong
yang berdiri sambil tersenyum-senyum. Akan tetapi, si gendut ini memang lihai sekali. Diserang
seperti itu, dengan mudah dia meloncat ke bela-kang dan para pengawalnya yang sebagian ada yang
mengenakan pakaian seragam pasukan itu segera maju mengepung Pek Lian. Namun gadis ini tidak
menjadi gentar. Ia meloncat ke atas, kaki tangannya bergerak dan ia mengamuk seperti see-kor
garuda, membagi-bagi tamparan dan tendang-an di antara para pengeroyoknya. Melihat kehe-batan
dara muda ini, Lam Siauw-ong kagum se-kali. Dia belum sempat mendengar dari rekan-rekannya
seperti Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi siapa adanya gadis cantik gagah itu, karena kedua orang
rekannya itupun agaknya sedang ber-kelahi tak jauh dari situ. Melihat kehebatan Pek Lian, dia pun
berseru keras menyuruh anak buah-nya mundur dan tubuhnya yang bulat itu dengan ringan sekali
telah melayang ke depan Pek Lian.
"Heh-heh, nona cantik manis. Engkau patut menjadi permaisuriku, maka marilah kita berdamai saja.
Untuk apa kita saling "
"Lam Siauw-ong manusia cabul, lihat pedang!" Pek Lian membentak sambil mencabut pedang dan
menyerang dengan dahsyat.
"Eh, oh engkau sudah mengenalku? Lebih baik lagi !" kata raja muda bajak gendut itu.
Akan tetapi Pek Lian tidak memberinya kesem-patan untuk banyak cerewet karena dara itu telah
menyerang semakin ganas, membuat lawannya terpaksa mencabut pula sebatang pedangnya. Begitu
pedangnya bergerak, Pek Lian terkejut karena ham-pir saja pergelangan tangannya kena digurat. Itulah
Hun-kin-kiam (Pedang Pemutus Urat) dan raja muda bajak ini ternyata mahir sekali bermain
pedang.
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat. "No-na Ho, minggirlah dan biarkan aku menghadapi babi ini!"
Orang itu adalah Kwee Tiong Li yang juga su-dah mempergunakan pedangnya. Melihat majunya
kawan ini, hati Pek Lian menjadi girang dan iapun mengamuk di antara para anak buah bajak. Terja-di
perkelahian antara Tiong Li dan Lam Siauw-ong dan ternyata kepandaian mereka seimbang sehingga
perkelahian itu menjadi seru dan hebat. Ge-rakan Tiong Li sekarang jauh berbeda dengan da-hulu.
Kini dia telah mewarisi ilmu dari kakek Kam, maka ginkangnya luar biasa sekali, gerakan-nya cepat
laksana burung walet beterbangan me-nyambar-nyambar.
Menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang, tentu Pek Lian akan kewalahan kalau saja ia tidak
mendapat bantuan kakek Kain Song Ki! Ia sudah terpincang kareua betisnya kena disambar ujung
tombak lawan sehingga kulit betisnya terobek dan terluka. Namun, dengan gigih dan gagah ia melawan
terus, merobohkan banyak orang dengan pedangnya. Dalam keadaan gawat itulah muncul
dunia-kangouw.blogspot.com
kakek Kam Song Ki yang mengamuk dengan tong-katnya. Tentu saja sepak terjang kakek ini amat
hebat. Tongkatnya mendatangkan angin pukulan dahsyat sehingga para pengeroyok sudah bergelimpangan
walaupun belum tercium ujung tongkat.
Sementara itu, di bagian lain, Thian Hai dike-royok dua oleh Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi.
Pemuda perkasa ini sungguh hebat luar biasa. Dua orang pengeroyoknya itu bukan sembarang
orang, Sin-go Mo Kai Ci, Si Buaya Sakti, adalah seorang di antara tiga Sam-ok (Tiga Jahat),
merupakan raja di antara para bajak sungai dan jaranglah ada orang dapat menandinginya. Adapun
orang ke dua, dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to. Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian raksasa
pemakan daging manusia ini. Namun, sekali ini menghadapi Thian Hai, keturunan langsung dari
keluarga sakti Souw yang selalu menyembunyikan diri, mereka berdua tidak mampu berbuat banyak.
Golok besar pung-gung gergaji dan senjata penggada berbentuk alu dari kedua orang datuk ini tidak
ada gunanya sa-ma sekali ketika dipergunakan untuk menyerang Thian Hai. Senjata-senjata itu
seolah-olah me-rupakan benda lunak saja, ditangkis begitu saja oleh kedua lengan Thian Hai dan
setiap kali ter-jadi pertemuan antara lengan dan senjata, si pe-megang senjata tentu mengeluh dan
merasa betapa telapak tangan mereka seperti terbakar dan terku-pas.
Thian Hai maklum bahwa dia telah menemukan jejak musuh besarnya. Tidak salah lagi, di sinilah
agaknya tempat persembunyian musuhnya itu, ma-ka diapun tidak ingin membiarkan dua orang pembantu
musuhnya ini lolos. Dua orang ini terlalu jahat dan lihai untuk dibiarkan lolos, dan juga kedudukan
musuhnya akan terlalu kuat kalau dua orang ini dibiarkan terlepas dari tangannya. Maka
pemuda perkasa inipun. mengerahkan tenaganya, terdengar dia mengeluarkan suara menggeram
dan ketika tubuhnya menyerang ke depan dengan kedua tangan terbuka, kedua orang lawannya itu
tidak mampu bertahan lagi. Pukulan Thai-kek Sin-ciang yang dilontarkan dari jarak dekat itu terlalu
hebat bagi dua orang iblis itu. Mereka berusaha menahan dengan sinkang, akan tetapi akibatnya
mereka terbanting ke belakang, terjengkang dan tidak mampu bangkit kembali karena isi dada mereka
yang terlanda hawa pukulan sakti itu telah remuk-rendam, membuat mereka tewas seketika
dengan semua lubang di tubuh mereka mengucur-kan darah segar!
Sejenak Thian Hai termangu menyaksikan aki-bat pukulannya, akan tetapi dia segera mendengar
teriakan puterinya. Cepat dia menoleh dan meloncat, menendang dua orang perajurit atau ang-gauta
bajak yang berhasil menangkap Lian Cu ketika anak perempuan ini ikut pula mengamuk. Dua orang
itu terlempar dan Thian Hai mengamuk, membiarkan puterinya yang sudah lumayan ilmu silatnya
itupun ikut pula mengamuk.
Sementara itu, perkelahian antara Tiong Li melawan Siauw-ong amat hebatnya. Keduanya sudah
berkeringat, akan tetapi belum juga ada yang kalah. Melihat betapa pihaknya menderita keka-lahan,
Lain Siauw-ong menjadi gentar dan begitu memperoleh kesempatan, dia meloncat ke bela-kang dan
hendak melarikan diri. Akan tetapi, se-batang tongkat menotok punggungnya dan diapun roboh
terpelanting. Kiranya yang menotoknya adalah seorang kakek tua, akan tetapi totokannya itu hanya
membuat dia roboh saja dan tidak me-lukainya, juga tidak menghentikan jalan darah. Hal ini makin
menunjukkan betapa lihainya kakek itu, maka Lam Siauw-ong menjadi semakin jerih. Akan tetapi,
begitu dia bangkit berdiri, pemuda yang menjadi lawannya itu sudah menerjangnya lagi dan kembali
mereka berkelahi. Sekali ini se-mangat perlawanan Lam Siauw-ong mengendur. Hatinya sudah gentar
maka permainan pedangnya tidaklah sekuat tadi, bahkan agak kalut sehingga pada suatu ketika
Kwee Tiong Li berhasil mema-sukkan pedangnya menusuk dan mengenai pundaknya. Lam Siauwong
terkejut dan terhuyung, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tiong Li untuk menyusulkan
tusukan maut yang menembus dada lawan. Robohlah Raja Muda Selatan itu de-ngan badan
berlumuran darah dan tewas tak lama kemudian.
Anak buah gerombolan bajak itu menjadi pa-nik melihat betapa tiga orang pemimpin mereka tewas
dan banyak sekali teman-teman mereka roboh, tewas atau terluka. Akan tetapi selagi me-reka panik
dan hendak melarikan diri, tiba-tiba muncul pasukan yang berpakaian hitam sebanyak belasan orang
dan terdengarlah suara melengking nyaring dari tengah daratan, di mana nampak gen-teng dan
tembok sebuah bangunan besar.
"Tahan semua senjata! Para tawanan harus menyerah, kalau tidak akan kami bunuh semua !!"
Semua orang, termasuk kakek Kam Song Ki, terkejut bukan main. Itulah suara yang mengan-dung
khikang amat kuatnya, menunjukkan bahwa orang yang mengirim suara itu memiliki kepandai-ari
yang hebat. Akan tetapi, kalau semua orang terkejut dan gentar, sebaliknya Thian Hai merasa girang
dunia-kangouw.blogspot.com
bukan main dan jantungnya berdebar te-gang. Itulah pekik yang mengandung tenaga Pek-houw-hokang,
yaitu auman Harimau Putih, ilmu khikang dari keluarga Souw dan dia dapat menduga siapa
yang mengeluarkan pekik seperti itu. Musuh besar berada di depan mata! Maka, diapun lalu memberi
isyarat kepada Pek Lian, ka-kek Kam dan Kwee Tiong Li agar menghentikan amukan. Ketika pasukan
berpakaian hitam itu mengumpulkan para saudagar sebagai tawanan, merekapun termasuk di
dalamnya dan dengan mandah mereka digiring meninggalkan pantai su-ngai itu menuju ke sebuah
bangunan besar yang megah.
Begitu memasuki ruangan depan di mana nam-pak beberapa orang penjaga yang memegang golok
dan perisai, pimpinan pasukan berpakaian hitam itu berkata, "Berhenti! Nona ini harus memisahkan
diri dan mari ikut bersama dia!" Pemimpin itu menudingkan telunjuknya kepada seorang anak
buahnya yang berkumis tebal tanpa jenggot. Laki-laki tinggi besar ini tersenyum dan menghampiri Pek
Lian.
"Marilah,, nona, kuantar ke tempat peristirahatan nona!"
Tentu saja Pek Lian tidak mau dipisahkan dari kawan-kawannya. Ia menggeleng kepalanya dan
berkata tegas, "Tidak, aku tidak mau memisahkan diri!"
Si kumis tebal melotot dengan sikap mengancam. Dia menghampiri Pek Lian dan tangannya diulur
untuk menangkap lengan dara itu. "Di sini orang tidak boleh membantah!" katanya, Tentu saja Pek
Lian tidak membiarkan tangannya ditang-kap dan ia menarik tangannya mengelak.
"Eh, engkau malah melawan?" bentak si kumis tebal dan sekali ini dia menggerakkan tangan ka-nan
mencengkeram ke arah pundak Pek Lian de-ngan gerakan cepat dan bertenaga kuat.
Marahlah Pek Lian. Ia cepat menggeser kaki-nya yang terpincang karena terluka itu ke samping
sehingga tubuhnya miring dan ketika tangan ka-nan lawan yang luput mencengkeram itu lewat,
secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan kanan orang itu dan sambil mengeluarkan bentak-an
nyaring ia menarik tangan itu ke belakang de-ngan gerak membanting keras. Laki-laki berkumis tebal
itu terkejut bukan main, tak dapat menghin-darkan dirinya terangkat dan terbanting keras ke lantai
ruangan.
"Brukk " dan laki-laki itu mengeluh karena tulang lengannya yang bersambung di pundak terlepas,
membuat lengan kanan itu lumpuh. Melihat ini, pemimpin pasukan berpakaian hitam marah sekali.
Tak disangkanya bahwa orang–orang yang tadinya menyerah tanpa melawan sedikitpun itu kini
setelah tiba di dalam bangunan malah memperlihatkan sikap menentang dan melawan. Dia memberi
aba-aba dan pasukannya bergerak, dibantu pasukan penjaga, mengurung para tawan-an. Para
saudagar yang ikut tertawan menjadi ke-takutan dan mereka menjatuhkan diri berlutut de-ngan tubuh
gemetar.
Akan tetapi, melihat Pek Lian kini mulai dise-rang oleh banyak orang bersenjata, Tiong Li segera
melompat, menggerakkan pedangnya dan bersama nona itu dia mengamuk. Kakek Kam Song Ki juga
tidak tinggal diam, meloncat ke depan dan mem-bantu muridnya dan Pek Lian. Diamuk oleh tiga
orang ini, pasukan berpakaian hitam itu mawut dan barisan mereka menjadi kacau. Sementara itu,
Thian Hai menyuruh puterinya berlindung di an-tara para saudagar yang tidak melawan dan dia tahu
tidak akan diserang oleh pasukan itu. Dia sendiri lalu meloncat lenyap dari tempat itu, ber-usaha
mencari musuh besarnya ke sebelah dalam bangunan.
Souw Lian Cu adalah seorang anak yang cerdik sekali. Ia mengerti maksud ayahnya yang hendak
mencari musuh besar mereka dan ia merasa aman berada di antara para saudagar yang berlutut
sam-bil menonton perkelahian. Diam-diam anak ini memperhatikan dengan kagum betapa tiga orang
teman ayahnya itu, terutama sekali kakek Kam
Song Ki, memiliki kepandaian hebat dan biarpun dikeroyok banyak orang, mereka bert;ga dapat menguasai
keadaan dan banyak sudah pihak pengero-yok berjatuhan. Ketika ia melihat sebatang golok
yang terlempar dari pegangan seorang pengeroyok terjatuh tidak jauh dari tempat ia berlutut di antara
para saudagar, ia lalu mengambilnya dan meng-genggam gagang golok itu erat-erat. Lumayan,
pikirnya. Golok ini dapat kupakai untuk membela diri kalau perlu.
Tiga orang gagah itu memang dapat membuat para pengeroyok mereka menjadi kacau-balau.
Terutama sekali amukan Tiong Li dan gurunya, sungguh membuat mereka tak berdaya, apa lagi
dunia-kangouw.blogspot.com
ketika pemimpin pasukan itu roboh oleh tongkat di tangan kakek Kam dan tidak dapat bangkit
kembali. Hal ini membuat para sisa anak buah pasukan pakaian hitam itu menjadi panik.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara aum-an harimau yang menggetarkan dan muncullah
seorang kakek tinggi besar yang berjubah kulit harimau dan tangannya memegang senjata rantai
yang ujungnya berbentuk tombak jangkar dan di belakangnya ikut pula dua ekor harimau kumbang
yang ganas dan mengaum-aum menggiriskan. Melihat ini, para saudagar menjadi ketakutan dan
menyembunyikan muka di balik kedua tangan, seolah-olah merasa khawatir kalau-kalau muka
mereka akan dicakar dan diganyang harimau-ha-rimau itu. Pek Lian dan kedua temannya terkejut dan
mengenal raksasa itu yang bukan lain adalah San-hek-houw, Si Harimau Gunung yang amat lihai dan
kejam. Di antara para saudagar itu, Lian Cu memandang kepada pendatang baru ini dan tiba-tiba saja
sepasang mata anak ini mengeluar-kan sinar mencorong penuh kemarahan. Itulah orangnya yang
telah membuat lengannya buntung!
Melihat munculnya tokoh ini, sisa pasukan dan para penjaga bangkit kembali semangat mereka dan
memperketat pengeroyokan. Sedangkan San-hek-houw ketika melihat siapa yang muncul, menjadi
marah. Dia mengenal Pek Lian dan Tiong Li, dan biarpun dia belum tahu siapa adanya kakek bertongkat
itu, namun dia memandang rendah dan sambil menggereng, diapun maju diikuti oleh dua ekor
harimau kumbang!
Melihat ini, kakek Kam Song Ki berseru kepada muridnya, "Tiong Li, kau hadapi dua ekor anjing itu!"
Dan dia sendiri lalu menggerakkan tongkat-nya menyambut terjangan Si Harimau Gunung.
"Trangg" Barulah San-hek-houw kaget setengah mati ketika senjatanya yang panjang dan berat itu,
begitu bertemu dengan tongkat butut, melayang dan terpental kembali kepadanya! Kiranya kakek ini
lihai sekali, pikirnya. Diapun ce-pat memutar rantainya dan menerjang dengan buas, tiada ubahnya
seekor harimau besar mengamuk. Akan tetapi, dia menjadi semakin kaget ketika ti-ba-tiba saja tubuh
kakek di depannya itu lenyap dan tahu-tahu ada ujung tongkat menyambar tengkuknya! Nyaris
tertotok dan Si Harimau Gu-nung memperhebat gerakannya. Dia maklum bah-wa lawannya ini adalah
seorang ahli ginkang yang amat hebat, dan tiba-tiba dia merasa tengkuknya dingin dan bulu
tengkuknya meremang. Dia ter-ingat sekarang! Kakek ini adalah kakek yang per-nah mengajak Raja
Kelelawar bertanding dan da-lam pertandingan adu ginkang kakek ini bahkan mampu mengatasi
kepandaian raja iblis itu! Ten-tu saja San-hek-houw menjadi gentar juga. Akan tetapi dia sudah
muncul dan sudah bertanding, tidak ada jalan lain kecuali melawan mati-matian.
Tiong Li menggunakan pedangnya menghadapi dua ekor harimau ganas itu, dan dengan gerakangerakan
yang amat gesit dia mengatasi kecepatan dua ekor binatang itu sehingga tak lama kemudian,
dia berhasil merobohkan dua ekor harimau itu yang roboh berkelojotan dan mandi darah, hanya
auman-auman mereka saja yang menggetarkan tempat itu akan tetapi keduanya sudah tidak berbahaya
lagi. Sedangkan Pek Lian masih mengamuk dikeroyok para penjaga dan kini Tiong Li segera
membantunya setelah merobohkan dua ekor hari-mau.
Melihat betapa dua ekor harimau peliharaan-nya roboh, hati San-hek-houw semakin gentar. Karena
gentar, permainan rantai di tangannya men-jadi kacau dan kesempatan itu dipergunakan oleh kakek
Kam untuk menggerakkan tongkatnya. Tong-kat butut meluncur dan menotok dadanya. San-hekhouw
mengeluarkan gerengan keras, tubuhnya terhuyung ke belakang dan rantai itu terlepas. Sejenak
totokan ampuh itu menembus kekebalan tu-buhnya, dan dia merasa seperti kehilangan tenaga.
Tiba-tiba saja sebatang golok menghunjam lambungnya dari samping. Si Harimau Gunung terkejut,
namun dalam keadaan tertotok itu kekebalannya lenyap dan tanpa dapat dicegahnya lagi, golok itu
menancap di lambungnya sampai dalam sekali. Dia membuat gerakan membalik dan melihat bahwa
yang menusuknya itu adalah seorang anak perempuan yang buntung lengan kirinya! Dia terbelalak,
memandang anak itu dan sayup-sayup dia teringat kepada anak itu dan mulutnya menyeringai, "Kau,
kau!" Dia hendak menubruk, akan tetapi sebatang tongkat meluncur dan menotok lututnya, membuat
dia jatuh berlutut, lalu tergelimpang mandi darah yang bercucuran dari lambungnya. Sementara itu,
Lian Cu merasa ngeri sendiri menyaksikan akibat dari perbuatannya.
Ia melemparkan golok berdarah itu, mundur-mundur dan dengan mata terbelalak memandang
korbannya, mulutnya beberapa kali berkata lirih seperti membela diri, "Dia membuntungi lenganku,
dia membuntungi lenganku!" Anak inipun menjatuhkan diri kembali berlutut dan menangis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Robohnya San-hek-houw ini membuat semua semangat perlawanan para anak buah gerombolan itu
lenyap sama sekali. Mereka menjadi ketakutan dan sisa gerombolan lalu melarikan diri keluar dari
dalam bangunan itu.
Pek Lian lalu menghampiri Lian Cu yang se-dang menangis, merangkulnya dan memandang tubuh
San-hek-houw yang sudah tak bergerak lagi dan sudah tewas. "Sudahlah, Lian Cu, engkau hanya
membasmi kejahatan yang membahayakan semua orang di dunia ini."
Pada saat itu, dari dalam terdengar suara aneh, suara angin menyambar-nyambar dan bentakanbentakan
yang menggetarkan jantung. Pek Lian segera bangkit berdiri dan bersama Lian Cu yang
digandengnya, Tiong Li dan kakek Kam ia lalu berlari ke dalam. Setibanya di ruangan paling belakang,
mereka berhenti dan terbelalak menyaksi-kan suatu pertandingan yang amat hebat dan yang
selamanya belum pernah mereka saksikan!
Ruangan itu mewah, akan tetapi pada saat itu, prabot-prabot ruangan telah porak-poranda, bahkan
dinding-dinding yang dicat indah itu ba-nyak yang retak-retak. Ketika Pek Liari dan ka-wan-kawannya
tiba di. ambang pintu ruangan itu, mereka merasakan getaran-getaran aneh yang amat kuat, yang
membuat mereka terpaksa melang-kah mundur lagi dan tidak berani menonton terlalu dekat! Di situ,
bagaikan dua ekor naga, nampak Souw Thian Hai berkelahi mati-matian melawan seorang yang
berpakaian serba hitam, siapa lagi kalau bukan Raja Kelelawar! Dan agaknya mere-ka keduanya
sudah kelihatan kelelahan!
Memang mereka telah bertanding cukup lama. Tadi ketika Thian Hai mencari musuhnya di dalam
bangunan, akhirnya dia menemukan musuh itu berkemas di ruangan paling belakang. Thian Hai
tersenyum mengejek melihat musuhnya itu sedang menutupkan sebuah peti. Dia dapat menduga
bah-wa tentu pusaka peninggalan keluarga Souw berada di dalam peti itu, juga mungkin pusaka
peninggalan Raja Kelelawar aseli. Dan dugaannya memang be-nar. Raja Kelelawar sedang berkemas
ketika meli-hat munculnya lawan-lawan tangguh, mengandal-kan para pembantunya yang cukup lihai
untuk menahan para lawan sehingga dia masih mempu-nyai waktu untuk berkemas dan melarikan
diri. Semenjak kalah dalam peperangan di kota raja, iblis ini menaklukkan datuk-datuk dan memaksa
para datuk seperti Tujuh Iblis Ban-kwi-to bah-kan Raja Muda Selatan untuk menjadi pembantu-nya
dan melindunginya bersembunyi.
"Ma Kim Liang, engkau tidak akan dapat lari lagi dariku!" kata Souw Thian Hai yang tadi
mempergunakan kepandaiannya sehingga masuk-nya tidak diketahui lawan. Raja Kelelawar menoleh
dan diapun terkejut bukan main melihat bekas suhengnya di dalam ruangan itu. Tahulah dia
bahwa dia harus melawan mati-matian. De-ngan tenang diapun bangkit, percaya akan kemam-puan
sendiri. Dia bahkan tersenyum menyeringai.
"Souw Thian Hai, kebetulan sekali. Aku akan menyempurnakan perbuatanku yang lalu, dan se-kali ini
engkau tentu akan mati di tanganku."
"Hemm, kalau bukan aku, tentu engkau yang akan tewas agar arwahmu dapat menerima perhi-tungan
dan hukuman atas dosa-dosamu!"
Tanpa banyak cakap lagi, mereka lalu saling se-rang dengan dahsyatnya. Karena masing-masing
sudah tahu betapa lihainya lawan, maka begitu bergebrak keduanya sudah mengeluarkan simpan-an
masing-masing dan mengerahkan seluruh tena-ga. Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Pra-botprabot
ruangan itu dilanda pukulan dan ten-dangan mereka, menjadi porak-poranda dan pu-kulan
yang mengenai dinding membuat dinding itu retak-retak atau ambrol. Angin pukulan bersiuran,
bahkan terdengar dan terasa oleh mereka yang berada di luar ruangan itu dan bentakan-ben-takan
yang keluar dari dada mereka mendatangkan getaran aneh dan amat kuat. Diam-diam Souw Thian
Hai harus mengakui bahwa bekas sutenya ini tidak boleh dibandingkan dengan ketika diha-dapinya
terakhir kali. Kini sutenya itu telah mem-peroleh kemajuan pesat dan terutama sekali alat yang
tersembunyi di dalam sepatunya membuat gerakannya cepat dan tak terduga-duga. Bagaima-napun
juga, Thian Hai memiliki andalan dua ma-cam ilmu rahasia keluarga Souw, yaitu Thai-kek Sin-ciang
dan Thai-lek Pek-kong-ciang, yang bagaimanapun juga, belum dapat dikuasai dengan baik oleh Ma
Kim Liang. Akan tetapi sebagai penggantinya, dia telah memiliki dan menguasai ilmu-ilmu
peninggalan Kelelawar Hitam yang hebat seperti Ilmu Pat-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Delapan
Penjuru Angin), Kim-liong Sin-kun (Silat Sakti Naga Emas) dan terutama sekali sepa-sang pisau
belatinya yang amat tajam. Akan tetapi, maklum betapa lihainya sepasang tangan lawan, Raja
dunia-kangouw.blogspot.com
Kelelawlar tidak mau menggunakan sepasang pisau belatinya, karena penggunaan sepasang pisau
ini bahkan mengganggu kelihaian sepasang lengan-nya dan tangannya. Maka diapun melawan
dengan tangan kosong dan mengandalkan jubahnya untuk menerima pukulan lawan.
Lebih dari seratus jurus mereka bertanding dan Raja Kelelawar sudah menerima beberapa kali
pukulan karena dia tidak hati-hati.
Sedangkan dia sendiri mengerahkan sinkang untuk menahannya. Sambil mengeluarkan pekik
dahsyat itu, Raja Kelelawar melompat ke depan, seperti seekor kelelawar raksasa tubuhnya
melayang, ju-bahnya menjadi semacam sayap dan dia telah me-nubruk ke arah kepala Thian Hai
dengan masing-masing tangan membentuk segi tiga dengan tiga jari tangannya. Dengan dahsyat dia
telah mem-pergunakan Ilmu Totok Sam-ci Tiam-hwe-louw untuk menyerang ubun-ubun kepala dan
tengkuk lawan dari atas!
Sam-ci Tiam-hwe-louw adalah ilmu totok yang amat hebat dan ganas dari keluarga Souw dan Thian
Hai dahulupun dilukai sampai menjadi gila oleh Ma Kim Liang mempergunakan ilmu ini. Murid murtad
ini, di antara ilmu-ilmu keluarga Souw yang lain, memang telah mempelajari ilmu ini se-cara
mendalam dan mahir. Dan dia menggabung-kan ilmu ini dengan ilmu meloncat dari Raja Kele-lawar,
maka hebatnya serangan itu bukan main!
Akan tetapi Thian Hai sudah mengenal baik ilmu keluarganya ini dan sudah tahu akan kelihaian
lawan. Agaknya lawannya sudah putus asa untuk mencapai kemenangan, maka mengeluarkan lagi ilmunya
yang pernah membuatnya roboh dahulu. Agaknya bekas sutenya ini hendak mengadu nya-wa
karena serangan ini memang hebat bukan ma-in dan banyak sekali kemungkinannya untuk melanjutkan
dengan serangan-serangan maut lainnya. Mengelak: tidak mungkin dan untuk menangkis,
amat berbahaya karena sekali tangkisan luput, dia akan terancam bahaya maut yang tak mungkin
terelakkan lagi. Kalau sampai ubun-ubun atau bagian kepala lain yang berbahaya terkena totokan itu,
yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang sepenuhnya, dia tentu akan tewas seketika!
Tenaga totokan Ma Kim Liang sekarang ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan beberapa tahun yang
lalu, ketika merobohkannya dengan totokan yang sama pada pelipisnya.
"Haiiiiittt !" Thian Hai juga mengeluarkan pekik melengking yang membuat Pek Liari kem-bali
menutupi telinga Lian Cu, akan tetapi ia sendiri tiba-tiba merasa lemas dan jatuh berlutut, tidak dapat
menahan getaran yang melumpuhkan kakinya.
Thian Hai mengangkat kedua tangannya me-lindungi kepala dan ketika kedua tangan lawan menotok
turun, ia menyambut dengan telapak ta-ngan terbuka. Tangan kanannya berhasil menyam-but tangan
kiri lawan, akan tetapi tangan lawan ketika bertemu dengan telapak tangan kirinya, tiba-tiba meleset
dan terus menyerang ke bawah ke arah pelipisnya! Nyaris terulang kembali pe-ristiwa beberapa tahun
yang lalu. Akan tetapi Thian Hai cepat miringkan kepalanya sehingga totokan tiga jari itu meluncur
terus mengenai pundak kirinya. Pada saat itu, Thian Hai juga sudah menggerakkan tangan kirinya
yang luput menyambut tangan kanan lawan tadi ke depan, mengerahkan tenaga dan memukul
dengan Thai-lek Pek-kong-ciang.
"Tukk ! Desss !!"
Totokan pada pundak Thian Hai dan hantaman dengan tangan terbuka pada dada Raja Kelelawar itu
terjadi dalam waktu bersamaan dan akibatnya, tubuh Thian Hai berlutut sedangkan tubuh Raja
Kelelawar terdorong dan terpental ke belakang lalu diapun terbanting roboh! Muka raja iblis itu
menjadi pucat seperti mayat dan tangan kirinya menekan dadanya, mukanya memperlihatkan rasa
nyeri yang ditahan-tahan. Sebaliknya, Thian Hai merasa betapa lengan kirinya lumpuh dan diapun
merasa pundak kirinya nyeri. Dicobanya dengan tangan kanan mengurut pundak kirinya yang tertotok
itu. Biarpun mereka sudah sama-sama ter-luka, akan tetapi mereka saling pandang dengan
sinar mata mencorong penuh kemarahan dan ke-bencian.
"Souw-toako !" Melihat Thian Hai juga roboh berlutut, Pek Lian tak dapat menahan kekhawatiran
hatinya dan iapun sudah meloncat dan menghampiri pendekar itu. "Toako, engkau engkau terluka?"
tanyanya khawatir sambil menyentuh punggung pendekar itu.
Pada saat itu terdengar suara ketawa Raja Ke-lelawar. "Ha-ha-ha, suheng, inikah pengganti isterimu?
Inikah calon isterimu? Bukankah ia puteri mendiang Menteri Ho? Ha-ha, Ho-siocia, ke sinilah
engkau!" Suara terakhir yang mengundang Pek Lian ini terdengar aneh, mengge-tarkan dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mengandung wibawa yang demikian kuatnya sehingga seperti dalam mimpi, Pek Lian meninggalkan
Thian Hai dan menghampiri raja iblis itu!
Melihat ini, Thian Hai terkejut sekali. "Lian-moi, minggir !!" Dan tubuhnya yang sudah terluka itupun
dipaksanya meloncat ke de-pan dan pada saat yang tepat, dengan tangan ka-nannya dia telah
berhasil mendorong dara itu sehingga terpelanting, tepat pada saat Raja Kelela-war melemparkan
pisau belatinya ke arah dada Pek Lian. Pisau itu meluncur lewat dan menan-cap sampai ke
gagangnya, memasuki dinding se-bagai pengganti dada Pek Lian yang tentu saja kaget setengah
mati ketika tubuhnya terpelanting itu. Ia mengeluh karena ketika ia jatuh, kakinya terhimpit, membuat
luka di betisnya menjadi se-makin parah dan mengeluarkan darah.
"Souw Thian Hai keparat!" Terdengar Raja Kelelawar memaki dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat
dan tahu-tahu sebatang pisau belati yang sama dengan pisau yang tadi menyam-bar Pek Lian, telah
memasuki dadanya, menembus jantungnya. Ternyata raja iblis ini yang sudah ter-luka parah oleh
pukulan Thai-lek Pek-kong-ciang, merasa bahwa dia tidak dapat hidup lagi, setelah gagal memberi
pukulan terakhir kepada Thian Hai dengan jalan mencoba membunuh dara yang di-anggapnya calon
isteri bekas suhengnya itu, lalu membunuh diri.
Thian Hai bangkit berdiri menghampiri, me-mandang kepada bekas sutenya. Juga Pek Lian
terpincang-pincang menghampiri, lalu Lian Cu lari menghampiri ayahnya. Kam Song Ki dan
muridnya juga menghampiri. Semua orang memandang wajah Raja Kelelawar itu dan Pek Lian
berseru, "Haiii ! Bukankah dia ini kaisar yang lihai itu?"
Souw Thian Hai menarik napas panjang dan mengangguk. "Aku gagal mengejarnya karena tertipu
pula. Ketika aku mengejar Raja Kelelawar, dia memasuki istana dan lenyap. Aku tidak mengira bahwa
kaisar muda itu adalah dia! Kiranya, kaisar baru telah dibunuh oleh komplotan mereka dan Ma Kim
Liang, bekas suteku ini diangkat menjadi kaisar! Bagaimanapun juga, aku kagum kepadanya. Dia
benar-benar telah berhasil menjadi kaisar, walaupun hanya untuk beberapa hari! Dan ilmu
kepandaiannya hebat "
Thian Hai yang teluka pundaknya oleh totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw ini lalu diperiksa oleh kakek
Kam. Bagaimanapun juga, kakek ini adalah murid mendiang Bu-eng Sin-yok-ong Si Raja Obat.
Setelah memeriksa dan memberi obat, dia menganjurkan agar pendekar itu beristirahat selama sehari
untuk mengumpulkan hawa murni. Tubuh pendekar ini terlampau kuat untuk sampai celaka oleh
totokan tadi.
Tiong Li sendiri lalu mencari tenaga bantuan untuk menguburkan semua jenazah, dan mengobati
mereka yang luka tanpa pilih bulu. Semua orang berterima kasih dan baru mereka melihat betapa
bedanya watak pendekar dan watak kaum sesat. Pendekar tidak mendendam dan selalu mengulurkan
tangan membantu siapa saja yang membutuh-kan bantuan, termasuk bekas-bekas lawan! Lian
Cu menemani ayahnya yang duduk bersila di dalam sebuah kamar kosong di bekas tempat ting-gal
Raja Kelelawar. Peti terisi pusaka-pusaka peninggalan keluarga Souw dan Raja Kelelawar berada di
dekatnya.
Setelah selesai mengubur semua jenazah dan membiarkan mereka yang terluka pergi, Tiong Li
menghampiri Pek Lian. Dia memandang dengan sinar mata kagum dan penuh keharuan. "Nona,
kakimu terluka, perlu dirawat dan diobati." Dia memandang ke arah celana yang menyembunyikan
betis kanan yang terluka itu. Masih nampak darah mengering pada celana itu. Nona yang gagah
perkasa ini tadi seperti melupakan luka di kakinya dan membantu dengan penguburan jenazah, dan
ketika kakinya hendak diobati oleh kakek Kam ditolaknya.
"Ah, tidak apa-apa, hanya luka sedikit," kata Pek Lian.
"Nona, pekerjaan telah beres dan kalau kakimu tidak diobati, bisa keracunan. Bolehkah aku membantumu?"
Tidak enak juga hati Pek Lian melihat kera-mahan pemuda yang mencintanya dan pernah di-tolak
cintanya ini. Ia hanya mengangguk, lalu duduk di atas batu di bawah pohon, melonjorkan kaki
kanannya. Dengan duduk di dekat gadis itu, Kwee Tiong Li menyingsingkan celana itu ke atas sambil
minta maaf. Sikapnya amat sopan walau-pun jari-jari tangannya tidak ragu-ragu sebagai seorang ahli,
karena selain pengalaman dan kepan-daiannya sendiri dalam merawat luka-luka, pe-muda inipun
memperoleh pelajaran ilmu pengo-batan yang lebih mendalam dari gurunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan ternyata luka itu tidaklah seringan yang diakui Pek Lian. Kulitnya robek berikut daging-nya dan
banyak daiah keluar. Bahkan karena di-diamkan saja, luka itu nampak agak merah dan bengkak.
Terkejutlah Pek Lian ketika tiba-tiba saja Tiong Li membungkuk dan mengecup luka itu dengan
mulutnya, mengeluarkan darah dan kotoran dari situ! Wajah dara ini menjadi merah sekali dan kedua
matanya basah melihat perbuatan pe-muda itu. Sampai tiga kali Tiong Li mengecup, setelah luka itu
bersih, dia menaruh obat, lalu membalut betis itu dengan sobekan sutera putih yang bersih.
"Aughhh!" Pek Lian merintih dan membuang muka. Ini dilakukan untuk menyembunyikan kenyataan
bahwa ia menangis, menangis saking terharu melihat cinta kasih yang demikian nyata diperlihatkan
Tiong Li terhadap dirinya.
"Nyeri sekalikah, nona ?" Tiong Li bertanya sambil membereskan balutannya, kemudian
menurunkan kembali celana menutupi betis dan sebagian paha yang berkulit putih halus itu.
Pek Lian menyusut air matanya, lalu memandang tersenyum melalui air matanya, menggeleng
kepala. "Tidak berapa nyeri, dan..... dan engkau baik sekali, terima kasih !" Sejenak mereka
beradu pandang dan Tiong Li melihat su-atu sinar yang aneh dan mesra dalam pandang ma-ta gadis
itu. Jantungnya berdebar penuh harapan, akan tetapi dia lalu teringat bahwa gadis ini per-nah
menolak cintanya, maka ketika Pek Lian me-nundukkan muka, diapun berpamit dan pergi.
Sementara itu, Lian Cu yang tadi berjalan-jalan keluar melihat ayahnya samadhi, kini memasuki
kamar ayahnya. Melihat ayahnya sudah membuka matanya, ia menghampiri dan memperlihatkan sebatang
kayu. "Ayah, lihat ini!"
Thian Hai melihat bahwa potongan kayu itu ternyata di dalamnya adalah batangan emas mur-ni! "Eh,
dari mana kau dapatkan ini?" tanyanya heran, membolak-balik potongan kayu itu.
"Ini adalah sebagian tandu yang rusak. Ingat tandu yang kaupikul itu, ayah? Ketika kita me-nyelundup
menjadi anak buah bajak? Tandu itu kutemukan pecah berantakan dan tanpa sengaja aku melihat ini.
Di dalam kayu yang dipakai membuat tandu itu terdapat emas semua!"
"Ahhh !" Thian Hai tahu sekarang bahwa harta karun mendiang Perdana Menteri Li Su telah
dijadikan emas murni dan disembunyikan di dalam tandu-tandu itu, dilapisi kayu. Dan belasan buah
tandu itu telah dibuang ke lautan, ke tepi lautan di antara batu-batu karang oleh para bajak. Jadi harta
karun itu berada di sana, aman, tidak ada yang tahu kecuali dia karena semua bajak telah tewas!
Mereka tidak lama tinggal di tempat itu. Pek Lian melanjutkan perjalanannya mengunjungi ma-kam
ayahnya. Kemudian ia kembali ke kota raja, membantu gurunya yang menjadi kaisar untuk melakukan
pembersihan terhadap para pengacau di daerah-daerah. Sedangkan Tiong Li yang patah hati itu
mengikuti gurunya merantau. Dan ke ma-nakah perginya Souw Thian Hai? Pendekar ini mengajak
puterinya kembali ke rumah keluarga Souw yang sudah porak-poranda untuk dibangun kembali,
sambil membawa peti terisi pusaka kelu-arganya. Ada suatu ganjalan di hatinya kalau dia teringat
Bwee Hong. Dia mencinta Bwee Hong, bukan hanya karena dara itu telah menyelamatkan-nya
dengan pengobatan, bukan hanya karena dara itu mirip sekali dengan isterinya yang telah tewas,
bukan hanya karena dara itu memang cantik jelita dan berbudi mulia, melainkan karena ada rasa cinta
di dalam hatinya. Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Lian Cu, timbul keraguan di dalam hatinya.
Baikkah bagi Lian Cu kalau dia menikah lagi?
Souw Thian Hai masih ragu-ragu. Bagaima-napun juga, dia belum mengikat gadis itu dengan janji
perjodohan. Dan dia berkewajiban untuk menggembleng puterinya yang sudah kehilangan sebelah
lengannya…..
>>>>> T A M A T <<<<<

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil