Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 01 Mei 2017

Cersil AntikKho Ping Hoo 5 Darah Pendekar

Cersil AntikKho Ping Hoo 5 Darah Pendekar Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil AntikKho Ping Hoo 5 Darah Pendekar
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil AntikKho Ping Hoo 5 Darah Pendekar
"Kun-ko, ketika dia tadi kumat, aku melihat ada tiga buah tonjolan biru di pelipis kirinya. Akan tetapi
sekarang tidak tampak lagi. Apakah itu ?" tanya Bwee Hong. Mereka duduk di atas batu-batu gunung
untuk beristirahat.
Mendengar ini, Seng Kun nampak kaget. "Tiga tonjolan biru di pelipis ? Benarkah itu ? Coba kita
periksa. Saudara A-hai, maukah engkau datang ke sini sebentar ?"
A-hai yang sedang berdiri melamun itu, ter-kejut dan menoleh, lalu menghampiri mereka. "Di bawah
sana ada dusun. Ah, perutku lapar benar. Kalau saja kita dapat segera ke sana, aku akan me-mesan
ayam panggang!"
Bwee Hong tertawa juga mendengar ucapan ini. "Akupun sudah lapar. Nanti kita lanjutkan perjalanan,
akan tetapi di dusun mana ada ayam panggang ?"
"Saudara A-hai, aku hendak memeriksa peli-pismu sebentar, bolehkah ?"
"Pelipisku ? Ada apa dengan pelipisku ? Tapi, tentu saja boleh !"
Kakak beradik itu lalu memeriksa pelipis kiri A-hai. Kulit pelipis itu kini nampak bersih saja, tidak ada
tanda apa-apa. Akan tetapi ketika Seng Kun meraba bagian itu, lapat-lapat dia merasa seperti ada
tiga buah benda kecil bulat di bawah kulit.
"Hemmm” ahli obat muda itu bergumam sambil meraba-raba. "Seperti gumpalan daging mengeras
karena memar. Atau kalau tidak, tentu darah yang menggumpal karena terlanggar benda keras, atau
eh, ini, satu di antara tiga tonjolan ini persis melintang di pembuluh darah otak de pan"
"Mungkinkah benda itu yang menyebabkan pe-nyakitnya ?" tanya si adik serius.
"Entahlah, mungkin juga. Aku belum bisa me-mastikan, harus memeriksanya dengan teliti lebih dulu.
Penyakit yang berdekatan dengan otak amat-lah berbahaya kalau keliru pengobatannya." Ka-kak
beradik itu lalu termenung, nampak murung. Melihat ini A-hai menjadi tidak sabar.
"Aih, kenapa susah-susah memikirkan penya-kitku ? Lihat, sinar matahari pagi sudah mulai nampak di
sana. Lebih baik kita turun dan men-cari dusun untuk sarapan !"
Kakak beradik itu tersenyum dan menyatakan setuju. "Perutku sudah lapar, biar aku jalan dulu,
akan kucarikan warung nasi untuk kita!" Dan A-hai lalu berjalan cepat menuruni puncak bukit itu.
"Saudara A-hai, hati-hatilah, masih gelap dan jalannya licin !" Bwee Hong memperingatkan dan
bersama kakaknya ia mengejar. Akan tetapi, sung-guh amat mengherankan hati dua orang muda ahli
ginkang ini ketika mereka tidak melihat A-hai lagi, tidak mampu menyusul pemuda itu. Jalan menurun
itu memang agak sukar dan licin, apa lagi karena mereka belum mengenal jalan itu, dan cu-aca masih
gelap sehingga mereka harus melang-kah hati-hati agar jangan sampai terpeleset ma-suk jurang.
Padahal, A-hai yang berada dalam keadaan biasa itu tidak mempunyai kepandaian apa-apa,
jangankan berlari cepat. Akan tetapi ba-gaimana kini A-hai dapat meninggalkan mereka ? Satusatunya
kemungkinan adalah bahwa pemu-da itu telah mengenal baik tempat dan jalan ini. Akan
tetapi mana mungkin ? Andaikata A-hai pernah mengenalnya pula, tentu sekarang dia telah
melupakan jalan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Matahari telah muncul ketika kakak beradik itu menuruni bukit dan mereka terpaksa berhenti karena
ada sebuah sungai menghalang perjalanan mereka. Tidak nampak sebuahpun perahu di tem-pat
sunyi itu, juga tidak ada jembatan penyebe-rang.
"Eh, ke mana dia ?" Bwee Hong memandang ke kanan kiri.
"Saudara A-hai !" Seng Kun berteriak.
"Di mana engkau ?"
Tidak ada jawaban. Tiba-tiba Bwee Hong yang meloncat ke atas batu dan memandang ke seberang
sungai berseru, "Heiiii, itu dia! Di se-berang sungai!"
Seng Kun memandang dan benar saja. Mereka melihat tubuh A-hai di seberang sungai. Pemuda itu
sedang melenggang dengan santainya, menu-ju ke sebuah dusun yang dapat dilihat dari sebe-rang
sini.
Seng Kun lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak memanggil, "Saudara A-hai!!! Tung-gu dulu ! Di
mana kita harus menyeberang ? Apa-kah memakai perahu ? Di mana ??"
"Jangan-jangan dia tadi berenang," Bwee Hong berkata dan ia merasa ogah kalau harus be-renang
menyeberangi sungai itu yang walaupun tidak berapa lebar, akan tetapi airnya berlumpur dan
kelihatan dalam.
Teriakan yang menggema karena didorong te-naga khikang itu terdengar oleh A-hai di sebe-rang
sana. Dia menoleh, kemudian menggerakkan bahu dan dengan sikap ketololan diapun berjalan
kembali ke tepi sungai lalu dia menghilang di ba-lik semak-semak di tepi sungai seberang sana.
Sampai lama dia tidak muncul-muncul.
"Eh, eh, ke mana dia ? Kenapa malah ber-sembunyi ? Dia menghilang di balik semak-semak.
Apakah dia buang air besar ?" Bwee Hong meng-omel. "Atau ketiduran ?"
"Ha-ha, jangan bergurau !" keduanya lalu mendekati tepi sungai dan melcngak-longok ke seberang,
mencari-cari bayangan A-hai yang belum juga nampak.
Tiba-tiba kakak beradik itu cepat mengggerak-kan tubuh membalik ketika mendengar langkah ka-ki
orang dan mereka memandang dengan mata ter-belalak ketika melihat bahwa yang datang melangkah
itu bukan lain adalah A-hai!
"Ehhh ! Ohhh ! Bagaimana engkau
tadi menyeberang ? Kami tidak melihatmu "
"Hemm, engkau tentu lewat di sebuah tero-wongan, bukan ?" Seng Kun yang cerdik menduga.
A-hai makin bingung, dan sikapnya semakin ke-tololan ketika dia melihat dua orang yang biasanya
cerdik itu kini nampak kebingungan. "Benar .. ,
aku memang lewat di bawah air sungai. Kenapa ka-lian heran ? Memang itulah satu-satunya jalan untuk
menyeberang !"
Akan tetapi ucapan itu membuat Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan menjadi semakin
terheran-heran. Apakah A-hai ini sudah benar-benar menjadi gila sekarang, pikir mereka. Tentu saja
mereka tidak percaya begitu saja.
"Jangan main-main, saudara A-hai. Katakanlah bagaimana kita dapat menyeberangi sungai ini," kata
Bwee Hong.
A-hai mengerutkan alisnya dan menjadi pena-saran. "Kalian tidak percaya ? Marilah ikut aku !"
katanya dan dengan lagak kasar karena penasaran dia menggandeng tangan kedua orang itu dan ditariknya
menuju ke balik pohon-pohon lalu nam-paklah bahwa di balik semak-semak belukar ter-dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
sebuah jalan terowongan yang melewati da-sar sungai. Agak gelap di situ sehingga Bwee Hong dan
Seng Kun saling berpegangan tangan. Akan tetapi A-hai melangkah seenaknya saja sambil
menggandeng tangan Seng Kun dan sebentar saja dia sudah membawa kakak beradik itu menyeberang
dan mereka muncul di belakang semak-semak di tepi seberang sana.
Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong merasa heran sekali. Jelaslah bahwa jalan penyeberangan ini
bukan jalan umum karena tempatnya tersem-bunyi dan di mulut terowongan ditumbuhi semak belukar
yang liar sehingga menutupi jalan itu.
Seng Kun memandang wajah A-hai dengan penuh perhatian, juga gadis itu memandang kepa-danya
penuh selidik. "Saudara A-hai, bagaimana-kah engkau bisa mengetahui adanya jalan tero-wongan
menyeberangi sungai ini ?"
"Mengetahui?" A-hai menjawab dan tertegun bingung.
Aku aku tidak mengetahui. Aku tadi berjalan sambil membayangkan panggang ayam yang
kupesan nanti di warung dusun. Aku ingin makan sekenyangnya, uangku masih cukup.
Aku tidak memikirkan jalan yang kulalui dan tahu-tahu aku masuk terowongan itu dan sampai di seberang.
Kenapa sih ? Bukankah terowongan itu memang jalan satu-satunya untuk menyeberang ?
Apakah aku telah salah jalan ?"
Ditanya demikian, kakak beradik itu saling pan-dang dan menjadi bingung sendiri bagaimana harus
menjawab. "Sudahlah," kata Seng Kun kepada adik-nya. "Mari kita cepat pergi ke dusun di depan untuk
mencari sarapan."
"Dusun itu berada di sana ! Mari!" kata A-hai dan kembali kakak beradik itu saling pandang de-ngan
heran, akan tetapi tidak berkata sesuatu me-lainkan mengikuti A-hai yang melangkah tegap menuju
ke suatu arah tertentu. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah dusun dan biarpun tidak
mengeluarkan sebuah katapun, namun ada pero-bahan terjadi pada wajah A-hai yang tampan. Wajah
itu berseri gembira dan diapun membawa dua orang sahabatnya menuju ke sebuah warung.
Dusun itu tidak begitu besar. Rumah-rumah-nya berjajar sampai di tepi sungai. Agaknya me-mang
hanya sebuah dusun nelayan. Beberapa bu-ah perahu berjajar di tepi seberang ini dan ada ja-ringjaring
yang sedang dijemur. Beberapa orang nelayan wanita tampak sibuk bekerja. Ada yang menjahit
jaring yang robek, ada yang sedang men-jemur ikan-ikan hasil tangkapan mereka di halaman rumah
masing-masing. Bau amis ikan me-rangsang hidung. Sebuah dusun nelayan seder-hana.
Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba di ujung jalan itu muncul seorang pendek bertopi lebar keluar
dari sebuah kedai minuman. Dia ber-gegas menuju ke sebuah gerobak pembawa barang yang berdiri
di depan sebuah gardu. Cepat Seng Kun menarik tangan adiknya dan A-hai untuk me-nyelinap ke
belakang sebuah rumah. Melihat ini, A-hai bertanya, "Ada apakah ?"
"Ssttt !" Seng Kun memberi tanda dengan
telunjuk ditempelkan di bibir, tanda bahwa dia minta kedua orang itu tidak banyak mengeluarkan
suara. Kemudian dia mengajak mereka menyeli-nap dan mengambil jalan memutar mencapai warung
yang dimaksudkan oleh A-hai untuk dikun-jungi tadi. Di sini mereka duduk di tempat ter-lindung,
akan tetapi dengan bebas mereka dapat melihat ke arah jalan raya di depan.
"Koko, ada apakah ? Engkau melihat sesuatu yang mencurigakan ?" Bwee Hong bertanya ke-pada
kakaknya.
"Kalian melihat orang yang keluar dari kedai minuman di ujung jalan sana tadi ?" dia balas ber-tanya.
"Ya, tapi kenapa ?" Bwee Hong mendesak. "Apakah engkau tidak mengenalnya ? Biarpun dia
menyamar seperti itu, aku masih ingat cara dia berjalan dan juga perawakannya. Akupun belum yakin
benar, akan tetapi sebaiknya kita berhati-ha-ti. Nah, dia akan lewat di depan sini, mari kita
perhatikan."
Tak lama kemudian, lewatlah di depan warung itu sebuah gerobak kecil ditutup rapat dan dihela oleh
seekor kuda yang dikusiri oleh seorang laki-laki bertubuh pendek tegap yang berpakaian se-derhana,
dunia-kangouw.blogspot.com
mukanya ditutup caping lebar sehingga yang nampak hanyalah dagunya. Ketika gerobak itu lewat,
terciumlah bau yang amis agak busuk, amat memuakkan seperti bau bangkai atau bau ikan asin yang
belum jadi.
Bwiee Hong menggeleng kepala ketika gerobak itu sudah lewat. "Siapa dia ? Aku tidak mengenalnya.
Bukankah dia hanya seorang pedagang ikan asin yang datang ke dusun ini untuk berbelanja ikan
asin?"
A-hai juga menggeleng kepala. "Aku tidak me-ngenal dia!"
Seng Kun menghela napas panjang. "Aku ter-ingat akan seorang yang perawakannya persis orang
itu, seorang yang kepandaian silatnya amat tinggi. Gayanya ketika tadi berjalan sama seperti orang
itu, ialah Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan Soa-hu-pai, komandan pengawal istana yang li-hai itu !
Betapa lihai dia. Pernah aku berkenalan dengan pukulannya yang ampuh. Akan tetapi, aku juga
belum yakin bahwa orang tadi adalah Tongciangkun yang sesungguhnya. Perlu apa dia me-nyamar
seperti itu ? Dan kenapa pula dia berada di sini ? Padahal, keadaan di istana sendiri sedang dalam
kemelut ?"
Mereka menduga-duga akan tetapi tidak me-nemukan jawaban yang masuk akal sehingga akhir-nya
Seng Kun terpaksa membuang sangkaannya dan membenarkan pendapat Bwee Hong dan A-hai
bahwa orang tadi hanyalah seorang pedagang ikan asin yang kebetulan memiliki bentuk tubuh yang
serupa dengan Pek-lui-kong Tong Ciak. Mem-bayangkan kemungkinan ini, Seng Kun menterta-wakan
kekhawatirannya sendiri.
Pada saat itu, pemilik warung kecil itu mende-kati mereka dengan wajah berseri karena sepagi itu
sudah ada tamu datang ke warungnya. Wa-rungnya hanyalah sebuah kedai makan yang se-derhana
dan pagi itu hanya menyediakan bubur, nasi, sedikit sayur kemarin dan ikan asin. Ketika dia
menanyakan pesanan mereka, tiba-tiba saja dengan cepat A-hai berkata, "Aku minta ayam panggang
satu!"
Mendengar pesanan yang tak masuk akal meli-hat warung itu hanya sederhana sekali, Bwee Hong
dan Seng Kun memandang kepada A-hai dan hen-dak menegurnya. Akan tetapi pada saat itu, pemilik
warung memandang kepada A-hai dan kelihat-an terkejut sekali.
"Kongcu!" Dia berseru. "Aih, saya benar-benar linglung, tidak mengenali kongcu. Habis, kongcu
berpakaian seperti ini sih! Di mana nona kecil ? Tentu sekarang sudah besar, ya? Sudah empat tahun
lebih kongcu tidak singgah di sini. Ya, sejak Gu-lojin meninggal dunia."
Bwee Hong dan Seng Kun terkejut dan meman-dang heran, akan tetapi yang lebih heran dan bingung
lagi adalah A-hai sendiri. Dia memandang dengan alis berkerut, akan tetapi sedikitpun dia tidak
mengenal orang itu. Jantungnya berdebar ke-ras dan dengan hati tegang dia bangkit berdiri, tangannya
menyambar baju pemilik warung itu dan
dengan gemetar dia berseru, "Engkau engkau
mengenal siapa aku ? Ah, cepat katakan! Siapa-kah aku ini ? Siapa pula nona kecil yang kautanyakan
itu ?"
Si pemilik warung menjadi pucat dan ketakut-an. Apa lagi karena cengkeraman tangan A-hai pada
bajunya demikian keras dan pemuda yang tegap itu kelihatan melotot dari memandang kepa-danya
dengan mata berapi-api. "Ahhh, kongcu eh, aku aku mungkin yang salah lihat!
”Mungkin"
Beberapa orang yang duduk di dalam warung dan sedang makan bubur, menjadi terkejut melihat
adegan itu dan wajah mereka membayangkan rasa hati yang tidak senang. Melihat ini, Seng Kun
cepat melerai.
Sabarlah, saudara A-hai, jangan membuat onar di sini. Kita adalah orang asing di tempat ini.
Tenangkah dan mari bicara baik-baik." A-hai terpaksa melepaskan cengkeramannya dan dengan
wajah agak pucat diapun duduk kembali. Bwee Hong lalu memesan makanan nasi, sayur dan ikan
asin.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tenanglah, saudara A-hai," Seng Kun berbi-sik. "Sabar saja, nanti setelah makanan dihidang-kan,
dengan halus kita menanyakan hal itu kepa-danya."
Tiga orang tamu pertama telah meninggalkan warung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Seng
Kun. Ketika pemilik warung datang meng-hidangkan pesanan mereka, dengan suara halus Seng Kun
bertanya, "Paman, tolong ceritakan ba-gaimana engkau sampai mengenal teman kami ini?"
Kakek pemilik warung itu nampak gugup. Dia menggeleng kepala, memandang kepada A-hai sejenak,
lalu menggeleng kepala lagi. "Tidak, saya tidak mengenalnya. Maaf, saya tadi telah salah lihat, maaf"
"Sungguh, paman, kami tidak apa-apa. Kami hanya ingin tahu siapa yang paman sebut kongcu tadi.
Kami tidak bermaksud buruk, paman." Bwee Hong ikut membujuk dengan suara yang halus. Melihat
sikap gadis ini, hati si pemilik warung agak berani dan kalau tadi dia tidak berani bicara adalah karena
sikap A-hai yang kasar. Maka dia-pun berceritalah.
"Saya memang mengenal seorang kongcu yang wajahnya mirip sekali dengan tuan ini. Saya tidak
tahu nama lengkapnya, kami hanya menyebut dia Souw-kongcu saja. Juga kami tidak mengenal
nama lengkap dari Gu-lojin yang sering dikunjungi oleh Souw-kongcu. Dia selalu singgah di warung
kami ini apa bila mengunjungi Gu-lojin yang berdiam di tengah hutan itu. Dan Souw-kongcu itu kalau
singgah ke sini tentu selalu memesan ayam
panggang! Sebenarnya kami tidak menjualnya, akan tetapi khusus untuk dia, saya tentu menyembelihkan
ayam kami sendiri. Dan dia ini eh, maksud saya beliau itu sering pula mengajak pute rinya
yang mungil ehh!"
Jilid XXIV
TUKANG warung itu menghentikan cerita-nya karena terkejut melihat betapa tiga orang
pendengarnya itu tersentak. A-hai terkejut sekali karena merasa ada sesuatu menyentuh pe-rasaan
hatinya ketika pemilik warung itu menye-but tentang seorang gadis kecil. Mungkinkah aku sudah
mempunyai anak, pikirnya dengan keras. Sementara itu, Bwee Hong merasa kaget dan se-perti ada
sesuatu yang hilang ketika mendengar bahwa yang disebut kongcu itu telah mempunyai seorang
puteri. Dengan wajah agak berobah pu-cat ia memandang kepada A-hai yang nampak termangumangu
dan seperti orang yang berusa-ha mengingat-ingat sesuatu dengan sia-sia. Seng Kun sendiri
termangu-mangu dan penuh dugaan, akan tetapi jelas bahwa dia merasa sangat tertarik.
Tiba-tiba A-hai menggebrak meja dan mena ngis tersedu-sedu, menelungkupkan mukanya di atas
meja. "A-hai ...... engkau manu sia gila! Siapakah sebenarnya diriku ini?"
Kakak beradik itu merasa terharu sekali dan dari kanan kiri mereka merangkul pundak A-hai.
"Saudara A-hai, harap jangan khawatir. Kami akan membantumu menyelidiki segala sesuatu tentang
dirimu. Tenanglah, siapa tahu kita akan da-pat membuka tabir rahasiamu di tempat ini."
Setelah dibujuk oleh kakak beradik itu, A-hai berhenti menangis, mengusap air matanya dengan
kedua kepalan tangannya dan diapun tersenyum masam, "Terima kasih, kalian sungguh amat baik
kepadaku"
Seng Kun lalu berkata kepada pemilik warung itu, suaranya membujuk, "Paman, kami bertiga
sungguh tidak ingin menyusahkan paman dan kami tidak mempunyai niat buruk. Akan tetapi, terus
terang saja kami merasa amat tertarik akan cerita paman tentang kongcu itu, dan juga tentang Gulojin.
Kami tentu akan mtemberi imbalan jasa ke-padamu kalau engkau suka menceritakan sejujurnya
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada kami tentang kongcu itu, dan tentang Gu-lojin. Ceritakanlah, paman, apakah kongcu itu sering
membawa teman kalau dia sedang mem-beli makanan di sini?"
Pemilik warung itu menggeleng kepala. "Souw-kongcu tidak pernah membawa teman maupun
pengawal. Dia sakti bukan main. Lihat, saya mempunyai pedang eh, golok besar peninggalan Souwkongcu."
Pemilik warung itu berlari ke dalam dan tak lama kemudian dia sudah kem-bali lagi sambil
membawa sebuah golok yang tebal dan besar, kelihatan berat sekali dan golok itu di-bawanya
dengan kedua tangannya. Seng Kun ber-tiga segera melihat dan memeriksa golok itu. Go-lok itu
tebalnya hampir dua senti, dan di bagian tengah somplak seperti terkena pukulan benda ke-ras.
Ketika Bwee Hong memeriksa lebih teliti, ia terkejut sekali. Gadis itu melihat betapa di tem-pat yang
somplak dari golok itu terdapat tiga buah lubang dan susunan lubang itu persis seperti tiga buah
tonjolan yang terdapat di pelipis kiri A-hai, yaitu berbentuk segi tiga !
"Tolong kauceritakan tentang golok ini, pa-man." Seng Kun membujuk pemilik warung itu.
"Golok besar ini milik seorang bajak sungai yang mampir di dusun ini, dan kebetulan dia me-masuki
warung saya. Pada saat itu, kebetulan pu-la Souw-kongcu sedang berada di sini menikmati eh, ayam
panggangnya." Dia melirik ke arah A-hai dengan takut-takut, dan pada saat itu A-hai juga sedang
menghadapi pesanannya tadi, yaitu panggang ayam ! "Bajak sungai membuat onar di sini. Souwkongcu
menjadi marah dan mereka berkelahi. Akan tetapi baru segebrakan saja, bajak itu tewas !
Golok besarnya yang dipakai menang-kis jari-jari tangan Souw-kongcu somplak dan jari-jari itu tetap
mengenai pelipis bajak sungai sehingga roboh dan tewas seketika."
Tiga orang itu mendengarkan dengan penuh takjub. Bwee Hong saling berpandangan dengan
kakaknya. "Jari tangan ? Jadi ini bekas jari ta-ngan ?" Ia menunjuk ke arah lubang-lubang pada golok
itu dan melirik ke arah pelipis A-hai. Ke-duanya mulai mengerti sekarang. Mereka berdua melihat
betapa susunan bekas jari tangan pada go-lok itu sama benar dengan susunan tiga tonjolan pada
pelipis A-hai. Dan bekas-bekas jari itu tentu merupakan semacam ilmu menotok yang amat ampuh
dan kuat. Entah ilmu totok apa dan dari perguruan mana mereka tidak mengenalnya dan tidak dapat
menduganya. Akan tetapi mereka merasa yakin bahwa antara A-hai dan perguruan itu tentu ada
hubungannya yang dekat, entah se-bagai kawan ataukah sebagai lawan.
Seng Kun mengerutkan alisnya. Dia sejak tadi mengingat-ingat, perguruan mana yang memiliki ilmu
menotok tiga jari yang bekasnya merupakan bentuk segi tiga seperti itu, akan tetapi dia tidak ingat,
atau juga mungkin belum pernah mende-ngarnya. Tiba-tiba dia bangkit berdiri. Mereka sudah selesai
makan karena tadi mereka bicara sambil makan. "Paman, tolong kautunjukkan di mana rumah Gulojin
itu."
"Benar, paman. Bantulah kami. Kalau tidak ada yang menjaga, tutup sebentar warungmu ini dan kami
akan memberi kerugian kepadamu," sam-bung Bwee Hong dengan sikap manis.
Kakek pemilik warung itu mempunyai seorang pembantu, maka setelah memesan kepada pembantunya,
diapun lalu mengantar tiga orang tamunya pergi ke hutan tak jauh dari dusun itu. "Biarlah saya
mengantar sam-wi, bukan karena upahnya melainkan mengingat bahwa mendiang Gu-lojin adalah
seorang yang amat baik, sedangkan Souw-kongcu amat ramah dan dermawan. Rumah mendiang
Gu-lojin itu tidak jauh dari sini, beliau tinggal seorang diri dan kesukaannya adalah me-lukis. Marilah!"
Memang benar keterangan kakek itu. Hutan itu tidak jauh letaknya dari dusun dan di tengah hutan itu
terdapat sebuah rumah yang sudah rusak kare-na tidak terawat. Gentengnya banyak yang pecah dan
bocor. Pintunya sudah miring hampir roboh dan dinding rumah itupun banyak yang pecah ka-rena
diterjang akar-akar pohon yang menutupi rumah itu.
Seng Kun dan adiknya yang sejak tadi diam-diam memperhatikan A-hai, melihat sesuatu yang aneh
pada diri orang muda ini. Begitu memasuki hutan, A-hai berjalan seperti dengan sendirinya menuju ke
rumah itu dan setiba di situ, seperti orang gila A-hai lari ke sana-sini mengitari ru-mah, seperti orang
yang sedang mencari-cari se-suatu. Seng Kun menyentuh lengan adiknya dan memberi isyarat agar
membiarkan saja apapun yang akan dilakukan oleh A-hai.
A-hai memasuki rumah itu dan tak lama ke-mudian diapun keluar dari kamar belakang dan tangannya
membawa sebuah boneka dari batu giok yang amat indah. Ukiran pada boneka itu amat halus dan
ternyata boneka itu adalah patung se-orang puteri bangsawan istana dengan rambut di-sanggul tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cantik bukan main boneka itu dan kakak beradik itu diam-diam amat mengaguminya karena boneka
itu terbuat dari pada batu giok hijau yang jernih warnanya.
Tanpa berkata-kata, A-hai memberikan boneka itu kepada Bwee Hong yang menerimanya dan
memeriksanya bersama Seng Kun. "Koko, boneka giok ini merupakan benda yang tak ternilai harga
nya. Eh ada tulisan di bawah alas kakinya.
Coba lihat, ukiran tulisannya kecil-kecil namun jelas."
"Bagaimana bunyinya ?" tanya Seng Kun.
"Hadiah ulang tahun untuk puteriku Lian Cu." Bwee Hong membaca.
Tiba-tiba A-hai kembali lari ke sana-sini mencari sesuatu. Dia berhenti di depan sebuah batu nisan
yang hampir terpendam di bawah ta-nah. Melihat pemuda itu mengamati batu nisan seperti orang
linglung, si pemilik warung mendekatinya.
"Ini adalah makam aduhhh!"
Belum habis.
dini, harus dilaku-kan dengan sabar," kata Bwee Hong dengan ha-lus. A-hai melepaskan si pemilik
warung dan dia-pun duduk di atas tanah, di depan tanah kuburan itu dan menutupi mukanya.
"Saudara Seng Kun, nona Hong, cepatlah kalian beri tahu padaku akan asal-usulku. Siapakah sebenarnya
aku ini ? Siapakah bocah perempuan ke-cil itu ? Jangan-jangan ia benar-benar anakku.
Lihat boneka itu, aku seperti telah mengenalnya baik-baik. Benarkah aku adalah Souw-kongcu itu,
seperti yang dikatakan oleh pemilik warung ini ? Aihh, kenapa Gu-lojin ini juga sudah mati sehingga
kita tidak dapat bertanya kepadanya "
A-hai kelihatan amat berduka memandang ke arah batu nisan.
Melihat keadaan A-hai dan mendengar ratap-annya, hati Bwee Hong tergerak dan tanpa disadarinya
lagi iapun menghampiri orang muda itu, duduk di dekatnya dan membujuknya. Bwee Hong merasa
iba hati melihat A-hai, biarpun ia merasa betapa di dalam hatinya terdapat suatu kegetiran. Hatinya
tergores setelah ia menduga bahwa besar kemungkinan A-hai adalah Souw-kongcu yang telah
mempunyai seorang puteri. Di luar kesadar-annya sendiri, dara yang cantik jelita ini telah ja-tuh hati
kepada A-hai!
"Saudara A-hai, janganlah terlalu berduka.
Percayalah, aku akan membantumu untuk menyelidiki rahasia tentang dirimu, percayalah " kata gadis
itu dengan suara halus dan menggetar penuh perasaan. A-hai yang sedang hanyut da-lam kedukaan,
begitu ada uluran tangan, tanpa sa-dar diapun menangkap tangan yang kecil mungil itu dan
menggenggamnya dengan erat. Gerakan ini membuat Bwee Hong hampir tak dapat mena-han air
matanya dan sejenak ia membiarkan ta-ngannya digenggam pemuda itu sebelum dengan halus ia
menariknya dan iapun duduk berdekatan dengan A-hai.
Melihat keadaan mereka ini, diam-diam Seng Kun menjadi prihatin dan serba salah. "Apakah ini tanda
bahwa adikku jatuh cinta kepadanya?
Aih, kalau begitu, sungguh kasihan sekali Hong-moi"
Ketika kakak beradik itu mengajak A-hai kem-bali ke dusun karena matahari telah condong ke barat,
A-hai menolak keras. "Tidak, aku akan tinggal di sini dan bermalam di sini. Biarpun aku sendiri tidak
ingat dan tidak tahu, akan tetapi aku merasa bahwa aku dekat sekali dengan tempat ini. Kalian berdua
pulanglah ke dusun dan biarkan aku sendiri malam ini tidur di sini," katanya ber-keras.
Akan tetapi kakak beradik itu, terutama sekali Bwee Hong, tidak tega membiarkan A-hai tinggal di situ
seorang diri. Mereka khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu menimpa diri pemuda yang masih
kehilangan ingatannya itu. Maka mereka lalu me-nyuruh si pemilik warung pulang ke dusun terle-bih
dahulu dan mereka hendak menemani A-hai bermalam di rumah tua itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng Kun dan Bwee Hong membiarkan A-hai yang masih duduk termenung di depan batu nisan
kuburan. Mereka lalu memasuki rumah, member-sihkan ruangan yang tidak bocor untuk dipakai
beristirahat malam nanti.
"Bagaimana pendapatmu tentang A-hai, Hong-moi ?" tanya Seng Kun ketika mereka sedang sibuk
bekeria membersihkan ruangan itu.
"Koko, agaknya kita telah sampai pada ujung dari tabir rahas;a kehidupan masa lalunya. Aku yakin
bahwa tidak lama lagi kita akan dapat mem-beri tahu kepadanya siapa sebenarnya dia. Penye-lidikan
itu dapat kita mulai dari tempat ini, yang kita temukan secara kebetulan sekali."
"Maksudmu ?" Seng Kun menegas.
"Engkau tentu ingat betapa secara tidak senga-ja dia menemukan terowongan di bawah sungai itu,
kemudian ketika dia memesan ayam panggang dan ketika dia menemukan boneka giok tadi ? Pada
saat-saat itu dia hanya dibimbing oleh nalurinya saja. Dia tidak mempergunakan akal dan pikiran,
tidak mempergunakan otak. Mungkin kalau pada saat dia hendak menyeberangi sungai dia tidak
membayangkan ayam panggang, dia akan kebi-ngungan dan tidak tahu bagaimana harus menyeberang.
Karena dia melamunkan ayam panggang, maka nalurinya yang menuntunnya pergi ke tempat
terowongan itu. Seperti halnya kalau kita pu-lang ke rumah sendiri, kita tidak usah harus ber-pikir
lagi ke mana kita akan berbelok. Gerakan ka-ki kita seperti terjadi dengan sendirinya."
"Engkau benar," Seng Kun mengangguk. "Dan itu berarti bahwa tempat-tempat ini sudah sa-ngat
dikenalnya dahulu. Tempat dan suasana itu-lah yang menlbuat dia tiba-tiba menginginkan ayam
panggang pada saat perutnya terasa lapar, secara otomatis dia menginginkan ayam panggang yang
dipesannya di warung itu, dan otomatis pu-la merabawa kakinya menuju ke terowongan. Dan karena
dia mengenal baik tempat ini pula maka nalurinya menuntunnya menemukan boneka dan batu nisan."
"Koko, itu berarti bahwa A-hai adalah
Souw-kongcu itu, bukan ? Souw-kongcu yang sudah punya isteri dan anak ?" Dalam pertanyaan ini
terkandung suara yang getir.
Seng Kun dapat merasakan rial ini, akan tetapi diapun terpaksa mengangguk membenarkan. "Ku-rasa
demikian. Kini kita tinggal melanjutkan pe-nyelidikan kita. Siapakah Souw-kongcu itu ? To-koh dari
mana ?"
"Hemm, menurut penuturan pemilik warung, tentu dia itu seorang pendekar yang lihai sekali dan
bekas tangannya masih nampak pada golok itu."
"Akan tetapi kalau benar dia itu Souw-kongcu yang lihai itu, kenapa justeru pelipisnya sendiri terluka
oleh totokan tiga jari yang hebat itu ? A-dikku, kita harus menyelidiki lebih teliti sebelum mengambil
kesimpulan. Belum tentu dia itu Souw-kongcu yang pandai menotok tiga jari da-lam bentuk segi tiga.
Mungkin A-hai ini kakak atau adiknya, atau sanak keluarganya yang mem-punyai wajah mirip
sehingga penjaga warung itu mengenalnya."
Mendengar ucapan ini, tentu saja timbul lagi harapan di dalam hati Bwee Hong dan wajahnya nampak
berseri. Hal ini tidak terlepas dari penga-matan Seng Kun dan kakak ini menarik napas panjang.
Benar-benar ia sudah jatuh cinta, pikir-nya.
Pada saat itu A-hai melangkah masuk dan membantu mereka membersihkan ruangan itu. Setelah
selesai, mereka duduk di atas lantai yang sudah bersih. "Saudara A-hai, tempat ini sepi dan tenang.
Bagaimana kalau kami mulai memeriksa penyakirmu ?" kata Seng Kun.
A-hai mengangguk. "Silahkan."
Seng Kun, dibantu oleh adiknya, lalu mulai melakukan pemeriksaan. Mula-mula dia meme-riksa
mata, lalu lidah dan tenggorokan, dan de-ngan amat teliti dia memeriksa denyut nadi kedua
pergelangan tangan A-hai. Di dalam pengobatan tradisionil Tiongkok, pemeriksaan lewat denyut nadi
merupakan bagian yang terpenting. Seorang yang sudah ahli benar, dapat merasakan gejala-gejala
macam penyakit lewat denyut urat nadi itu. Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, ma-kin
dunia-kangouw.blogspot.com
yakinlah hati kakak dan adik itu bahwa sum-ber penyakit yang menghilangkan ingatan A-hai terletak
pada kekacauan jalan darah di kepala ! Maka Seng Kun lalu langsung memeriksa pelipis kiri.
Seng Kun meraba-raba pelipis itu, kemudian menggunakan jarum perak menoreh kulit di sekitar
benjolan-benjolan itu. Darah menetes dan dia memperhatikan tetesan darah yang keluar, kemu-dian
menyuruh Bwee Hong memeriksa darah itu dengan seksama. Akhirnya, setelah memeriksa dengan
teliti, Seng Kun menarik napas panjang.
"Saudara A-hai, benjolan-benjolan di pelipis-mu ini adalah akibat terkena ilmu totok urat yang amat
hebat. Melihat bekas dan akibat totokan ini, aku mempunyai dugaan bahwa ilmu itu adalah se-macam
Sam-ci Tiam-hwe-louw (Ilmu Totok Tiga Jari) yang luar biasa ampuhnya dan yang me-mang khusus
untuk menotok urat-urat kematian. Akan tetapi entah karena ilmu kepandaian si pe-notok itu yang
belum sempurna ataukah karena il-mu kepandaianmu yang lebih unggul dari padanya, akibat dari
totokan itu tidak sampai menewaskan-mu, melainkan hanya mengakibatkan memar di urat jalan
darah yang tertotok. Memar itu menye-babkan darah matang menyumbat hiat-to (jalan darah) yang
menuju ke otak tidak mendapatkan aliran darah yang wajar seperti biasanya. Tentu saja hal ini
membuat otak tidak dapat bekerja de-ngan baik. Masih untung bahwa totokan itu hanya
mengakibatkan tersumbatnya jalan darah menuju ke bagian otak yang depan saja sehingga engkau
masih mampu berpikir walaupun sebagian lagi te-lah tidak bekerja sehingga engkau tidak ingat akan
masa lalumu. Kalau totokan itu mengakibatkan tersumbatnya jalan darah ke semua bagian dari otak,
engkau akan hidup seperti seorang bayi yang tidak pernah mengetahui apa-apa !"
Mendengar keterangan terperinci ini, Bwee Hong merasa bulu tengkuknya meremang.
"Akan tetapi, koko. Kenapa pada waktu ku-mat, dia memperoleh kembali ingatan-ingatannya
walaupun hanya sebagian saja ?"
Kakaknya mengangguk-angguk. "Mudah di-perkirakan, Hong-moi. Engkau pernah mengata-kan
bahwa manusia mempunyai naluri. Nah, aku yakin bahwa ada suatu peristiwa yang sangat berpengaruh
atas naluri saudara A-hai pernah terjadi di masa lalunya. Kita tidak tahu persis apa adanya
peristiwa itu, akan tetapi mudah diperkirakan bah-wa peristiwa itu ada hubungannya dengan darah
manusia. Maka apa bila dia melihat genangan da-rah, otomatis terjadilah guncangan hebat pada batinnya.
Nah, akibat guncangan batin yang hebat inilah maka jantungnya bekerja beberapa kali le-bih
keras dari biasanya. Dan karena jantung be-kerja keras, tentu saja tekanan aliran darah menja-di
sedemikian kuatnya sehingga darah dapat juga sedikit menembus sumbatan itu dan dapat menga-lir
ke otak yang kering itu, biarpun hanya dengan sukar sekali. Dengan demikian, untuk saat-saat itu otak
yang membeku dapat bekerja kembali wa-laupun belum sempurna benar. Dan setelah pe-ngaruh
guncangan itu habis, maka berhenti pula aliran darah itu. Engkau tadi melihat, ketika aku menusukkan
jarum di bagian atas dan bawah ben-jolkan, aliran darahnya berbeda-beda, ada yang tetesannya
cukup deras ada pula yang sama sekali tidak keluar ?"
Bwee Hong mengangguk-angguk kagum se-dangkan A-hai hanya mendengarkan dengan be-ngong
saja.
"Kun-ko, engkau sungguh hebat. Keteranganmu dapat menjelaskan persoalannya. Lalu menga-pa
apa bila saudara A-hai sedang kumat dia me-lupakan semua orang ? Termasuk juga kita ?"
Seng Kun tersenyum. "Aku sudah memperhati-kan hal itu. Lihatlah satu tonjolan ini tidak berada di
dalam urat, akan tetapi mengenai bagian di luar urat. Inilah yang menyelamatkan saudara A-hai,
selamat dari kelumpuhan total dari otaknya. Akan tetapi tonjolan ini justeru terletak dalam kumpulan
otot-otot pelipis dan rahang. Dengan demikian, apa bila otot-otot itu mengejang karena saudara A-hai
sedang marah, tonjolan itu malah mende-sak dan menghimpit urat di dekatnya dengan oto-matis.
Dengan demikian, maka bagian yang nor-mal dari otak itulah yang justeru tidak kebagian darah
karena himpitan itu. Mengertikah engkau?"
Bwee Hong mengangguk. "Akan tetapi, lalu bagaimanakah agar supaya aliran darah ke otak itu dapat
terbuka kembali semuanya sehingga otak dapat bekerja kembali dengan wajar ?"
"Inilah yang harus kita kerjakan, yaitu berusaha menghilangkan sumbatan-sumbatan itu. Akan tetapi
hal ini tidaklah mudah. Darah yang me-ngental itu sudah sedemikian kerasnya sehingga aku khawatir
kekuatan obat saia tidak akan mam-pu mencairkannya kembali. Padahal kalau kita
menghilangkannya dengan pembedahan, berarti kita akan merusak pembuluh darah dan ini
dunia-kangouw.blogspot.com
berbahaya sekali. Satu-satunya cara ialah membuat lubang darurat di bagian darah yang mengental
itu. Akan tetapi cara seperti itu bukan merupakan pengobatan yang sekaligus dapat menyembuhkan.
Setiap setahun sekali, harus dibuat lagi lubang baru karena lubang yang lama itu lambat-laun akan
tertutup lagi oleh darah. Dan itu berarti saudara A-hai ini akan selalu tergantung kepada kita yang
harus membuatkan lubang darurat baru setiap tahun. Nah, sekarang terserah kepada saudara A-hai
sendiri."
"Saudara Seng Kun dan nona Hong ! Lakukan-lah sesuka hati kalian terhadap diriku. Aku me-nyerah
sepenuhnya kepada kalian. Pokoknya aku bisa tahu siapa sebenarnya aku ini !"
Seng Kun mengangguk girang. Sebagai seorang ahli pengpbatan, tentu saja menghadapi seorang
dengan gangguan penyakit seperti A-hai ini dia merasa ditantang dan dia akan merasa berbahagia
sekali kalau dapat menanggulangi dan mengalah-kan penyakit itu. Dan kalau A-hai bersikap pa-srah,
maka hal itu sudah merupakan bantuan yang amat besar artinya bagi pengobatannya.
"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi sebelum membuat lubang pada bagian darah kental yang
menyumbat jalan darah itu, lebih dahulu aku akan membedah dan mengambil gumpalan darah yang
berada di luar jalan darah, yang menghalang di kumpulan otot pelipis itu. Hal ini untuk mencegah agar
otak yang normal tidak tertutup lagi ja-lan darahnya sewaktu engkau marah atau dalam keadaan
kumat. Nah, Hong-moi, siapkan alat-nya dan mari kita bekerja !"
A-hai disuruh rebah miring ke kanan sehingga pelipis kirinya berada di atas. Dengan dibantu adiknya,
Seng Kun duduk bersila di dekatnya, de-ngan teliti mengamati ketika Bwee Hong memper-gunakan
jarum-jarumnya untuk menusuk bebera-pa jalan darah di tengkuk dan pundak. Tusuk-an-tusukan ini
untuk menghilangkan rasa perih dan nyeri ketika pembedahan dilakukan. Kemudi-an mulailah Seng
Kun mengerjakan pisaunya yang tajam. Karena pembedahan itu hanya kecil dan sederhana saja,
hanya harus dilakukan dengan amat teliti dan hati-hati agar jangan sampai me-rusak jaringan darah,
tak lama kemudian gumpal-an darah kental itu dapat dikeluarkan. A-hai ti-dak merasa sakit, dan baru
setelah luka itu dijahit dan diobati, kemudian jarum-jarum yang menu-suk beberapa bagian badan itu
diambil, dia merasa betapa pelipisnya agak perih.
"Nah, saudara A-hai, mulai saat ini, biarpun engkau sedang kumat, engkau akan tetap mengenal
siapa saja yang pernah kaukenal, termasuk kami," kata Seng Kun.
"Terima kasih, sungguh kalian selain pandai, juga amat berbudi," A-hai berkata dengan terha-ru.
Sementara itu, malampun tiba. Ruangan itu mulai gelap. Bwee Hong menyalakan lilin mem-buat
penerangan. Kemudian mereka bertiga ma-kan roti kering yang dibawa sebagai bekal oleh ga-dis itu.
Ketika Bwee Hong melihat betapa A-hai mengunyah roti itu dengan kaku, iapun tertawa.
"Saudara A-hai, untuk beberapa hari jahitan di pelipismu itu akan sedikit mengganggu apa bila engkau
sedang makan."
"Ah, tidak apa. Yang penting kini sebagian pe-nyakit lupaku sudah hilang. Saudara Seng Kun,
kapankah lubang di pembuluh darah itu akan di-buat ? Aku sudah tidak sabar lagi menanti."
"Hemm, saudara A-hai, jangan tergesa-gesa. Pembuatan lubang itu tidak boleh sembarangan. Harus
dilakukan sedikit demi sedikit, setiap kali mau tidur malam. Kalau dibuat secara mendadak, besar
bahayanya darah yang mengalir ke dalam otak terlalu banyak dan tiba-tiba itu akan men-datangkan
guncangan. Jalan darah yang tersumbat itu seakan-akan air dibendung. Kalau bendungan itu dibuka
secara tiba-tiba dan sekaligus, tentu akan terjadi banjir yang akan merusak saluran. De-mikian pula
dengan jalan darah itu, yang semula tersumbat sampai sekian lama, kalau dibuka seka-ligus, ada
bahayanya darah yang membanjir itu selain merusak jalan darah, juga dapat menimbul-kan
guncangan pada otak. Kesembuhan itu harus terjadi setahap demi setahap dan memerlukan kesabaran."
"Wah, kalau begitu, berapa kalikah aku harus mengalami tusukan jarummu untuk membuat lubang
itu?"
"Tidak terlalu banyak, kukira tidak lebih dari sepuluh kali tusukan atau sepuluh hari saja. Tidak terlalu
lama, bukan ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau begitu, kuharap engkau suka mulai se-karang juga, lebih cepat lebih baik bagiku.
"Akan tetapi baru saja engkau mengalami pem bedahan " Bwee Hong mencela.
"Tidak mengapa ! Aku sudah tidak merasakan nyeri lagi, nona."
"Baiklah kalau begitu, saudara A-hai. Nah, engkau rebahlah lagi seperti tadi. Akan tetapi se-kali ini,
sehabis penusukan pertama, engkau harus tidur dan banyak istirahat, tidak boleh banyak ber-gerak."
A-hai mengangguk dan dengmi penuh sema-ngat diapun merebahkan diri. Seng Kun menotok jalan
darah di kedua pundak dan punggung se-dangkan Bwee Hong lalu menusukkan jarum-ja-rumnya di
sekitar pelipis. A-hai segera tertidur pulas oleh totokan-totokan dan tusukan jarum-jarum itu. Dengan
hati-hati Seng Kun lalu mem-persiapkan jarumnya. Lebih dulu dia duduk me-lakukan siulian dan
mengheningkan pikiran, kemu-dian mengumpulkan hawa murni disalurkan di kedua lengannya.
Barulah dia berani melakukan pe-nusukan itu. Kedua tangannya bergerak mantap, jari-jari tangannya
tidak gemetar dan sepasang matanya memandang tajam, setiap gerakan dila-kukan dengan tepat.
Dia tahu betapa berbahaya-nya pekerjaan yang dilakukannya itu. Sedikit saja meleset atau salah, ada
bahaya nyawa A-hai akan melayang! Dia harus dapat menancapkan jarum-nya mengenai sasaran,
yaitu gumpalan darah itu, jangan sampai merusak pembuluh darah dan ja-ngan sampai mengenai
jalan darah lain walaupun yang kecil sekali. Beberapa kali tusukannya masih belum menghasilkan
apa-apa. Darah masih be lum menetes keluar. Dia mulai berkeringat, bah-kan Bwee Hong yang
melayaninya juga mengelu-arkan peluh dingin karena dara inipun tahu akan besarnya bahaya yang
mengancam nyawa A-hai.
Akhirnya, pada tusukan yang kesekian kalinya ketika jarum dicabut, nampak darah hitam sedikit
mengalir keluar. Kakak beradik itu merasa sangat puas. Seng Kun menyudahi pekerjaannya.
"Untuk yang pertama kali cukuplah, biar dia tidur nyenyak. Mari kita keluar mencari hawa se-gar," kata
Seng Kun sambil menyeka keringat yang memenuhi dahi dan lehernya.
"Baiklah, koko. Engkau keluarlah lebih dulu. Aku akan membersihkan alat-alat pengobatan ki-ta dan
menyimpannya. Nanti aku akan menyusul-mu keluar."
Seng Kun mengangguk dan melangkah keluar. Dia tahu bahwa adiknya itu masih belum tega meninggalkan
A-hai seorang diri setelah menjalani pengobatan sangat berbahaya itu. Di luar hawa-nya
sangat sejuk. Bulan sepotong yang melayang di antara awan-awan nampak indah sekali. Tanpa
disadarinya, Seng Kun melangkah perlahan-lahan menuju ke makam Gu-lojin yang berada tidak jauh
dari rumah tua itu.
Akan tetapi ketika dia sudah tiba di dekat ma-kam, mendadak dia menahan langkah kakinya dan
matanya terbelalak. Di batu nisan itu nampak se-orang laki-laki duduk bersandar, matanya melo-tot
dan lidahnya terjulur keluar. Jelaslah bahwa orang itu sudah mati ! Cepat Seng Kun mendekati dan
memeriksanya. Kiranya orang itu adalah ka-kek penjaga warung, dan baru saja mati. Badan-nya
masih hangat dan ketika Seng Kun memeriksa lehernya, dia mengumpat, "Sungguh kejam pembunuh
itu ! Seperti iblis ! Orang ini mati karena diinjak lehernya. Bekas sepatu kaki penginjak itu masih
nampak nyata."
Tiba-tiba Seng Kun meloncat bangkit berdiri dan siap siaga ketika dia mendengar suara ketawa parau
dan lantang di dekatnya. Dia cepat meno-leh, akan tetapi tidak nampak bayangan orang. Dia
mengerutkan alisnya. Tidak mungkin ada iblis ter-tawa. Tentu suara orang dan dia hampir yakin
bahwa suara ketawa itu adalah suara si pembunuh kejam yang mentertawakannya. Dia merasa penasaran
dan marah. Orang sekejam itu pasti bukan orang baik-baik dan harus dilawannya. Maka diapun
mencari ke arah suara ketawa yang kini terde-ngar lagi dari arah sungai. Akhirnya, di tepi sungai
itu, nampak seorang laki-laki pendek gemuk du-duk di atas batu, kakinya direndam di air dan mukanya
menengadah memandang bulan. Laki-laki ini usianya hampir limapuluh tahun, tubuhnya
pendek gemuk dengan perut yang gendut, tangan kirinya memegang sebatang tongkat besar berbentuk
alu, yaitu alat penumbuk padi, berwarna pu-tih. Itulah senjata yang berat dan keras, terbuat dari
pada baja putih.
Melihat orang ini, hati Seng Kun terkejut. Dia mengenal senjata itu dan dia tahu bahwa dia
berhadapan dengan orang ke dua dari Sam-ok, kawan dari San-hek-houw. Inilah Sin-go Mo Kai Ci, Si
dunia-kangouw.blogspot.com
Buaya Sakti yang menjadi raja di antara bajak-bajak sungai, seorang di antara pembantu-pem-bantu
Raja Kelelawar.
Selagi Seng Kun merasa ragu karena dia belum tahu benar apakah datuk sesat ini yang membunuh
kakek pemilik warung, tiba-tiba si gendut pendek itu menoleh kepadanya dan bertanya, "Engkau
mencari pembunuh tukang wjarung ?"
Tentu saja Seng Kun kaget dan mengangguk karena pertanyaan itu langsung mengenai perasaan
hatinya yang sedang bertanya-tanya. Si gendut pendek itu tertawa. Di bawah sinar bulan, perut
gendutnya bergerak-gerak naik turun dan karena kini dia sudah bangkit berdiri, dia kelihatan sekali
pendeknya.
"Ha-ha-ha-ha, dan engkau akan menemani-nya di sana!" Tiba-tiba saja tubuh yang gendut pendek itu
meloncat. Demikian cepat gerakannya, sama sekali tidak pantas melihat tubuhnya yang gendut itu
dan didahului oleh gulungan sinar pu-tih dari senjatanya, datuk sesat ini telah menyerang Seng Kun.
Hebat sekali serangannya itu, mengan-dung tenaga yang kuat sehingga terdengar suara angin
bersiutan menyambar-nyambar. Seng Kun maklum akan kelihaian lawan, maka diapun me-lawan
sambil mengerahkan tenaganya dan karena dia bertangan kosong, maka dia mengandalkan
ginkangnya yang hebat untuk menghindarkan diri dari ancaman senjata alu baja yang berat itu. Biarpun
gerakannya amat cepat, namun ternyata Si Buaya Sakti itu lihai bukan main, bahkan dibandingkan
dengan San-hek-houw, dia tidak kalah lihai. Serangannya juga bersifat liar dan bahkan dia
lebih ulet. Karena bertangan kosong, terpaksa Seng Kun beberapa kali menerima hantaman alu
dengan tangkisan lengannya yang membuat dia beberapa kali terpelanting. Lewat tigapuluh jurus
lebih, Seng Kun terdesak.
Tiba-tiba terdengar jeritan suara wanita dari dalam rumah tua. Tentu saja hati Seng Kun terkejut dan
penuh kekhawatiran. Adiknya berada di dalam rumah tua itu dan yang mengeluarkan jeritan itu
tentulah adiknya. Saking kaget dan khawatirnya, dia menoleh dan kesempatan ini di-pergunakan oleh
Sin-go Mo Kai Ci untuk men-cengkeram pundak Seng Kun dan pemuda itu seke-tika merasa
tubuhnya lumpuh tidak mampu berge-rak lagi.
"Ha-ha-ha, engkau mendengar jeritan gadis itu? Heh-heh, San-hek-houw tentu sedang
memperkosanya. Heh-heh-heh !"
Seng Kun terbelalak dan roboh pingsan men-dengar kata-kata keji itu. Si Buaya Sakti tidak perduli,
bahkan kelihatan gembira sekali. Dia me-nyeret tubuh Seng Kun ke arah rumah tua sambil berteriakteriak.
"Heii, bangsat tua ! Sudah selesaikah engkau? Nih, bocah itu telah kuhajar setengah mampus.
Kurang ajar engkau! Katamu, ilmu kepandaian-nya bukan main hebatnya. Tidak tahunya cuma
sebegitu saja!"
Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam ru-mah. Si Buaya Sakti melemparkan tubuh Seng Kun ke
dekat mayat pemilik warung, lalu dia du-duk di atas batu nisan, mulutnya memaki-maki dan
menyumpah-nyumpah dengan suaranya yang tinggi melengking seperti suara wanita.
"Hayo, cepatlah! Bandot tua yang tidak tahu diri! Sudah mau masuk lobang kubur masih gemar main
perempuan!" Akan tetapi tidak ada suara sedikitpun dari dalam rumah itu, tidak ada sedikitpun
jawaban terhadap kata-kata dan ma-kiannya. Hal ini membuat Si Buaya Sakti menjadi semakin uringuringan
dan akhirnya dia merasa penasaran. Bagaimanapun juga, rekannya itu tidak akan berani
menghinanya dengan membiarkan dia berteriak-teriak sendirian saja sejak tadi, seperti orang gila.
Dia lalu bangkit berdiri, meludah ke tanah, kemudian menyeringai dan berjalanlah dia menu-ju ke
rumah tua itu. Sambil tersenyum-senyum nakal dia menghampirri jendela dan dengan lagak seorang
bocah nakal diapun lalu mengintai ke da-lam sambil cengar-cengir. Akan tetapi, matanya terbelalak
dan liar mencari-cari. Kamar itu ko-song ! Tidak nampak ada gerakan orang di situ.
Tubuh yang gendut itu dengan ringannya me-layang masuk ruangan itu melalui jendela. Di atas lantai
nampak seorang pemuda terlentang dalam keadaan tidur pulas. Di sudut ruangan itu ter-dapat
pakaian si gadis berserakan. Akan tetapi ga-dis itu sendiri tidak berada di situ. Juga San-hek-houw
tidak nampak bayangannya. Ke manakah mereka pergi ? Si Buaya Sakti mengepal tinju,
dunia-kangouw.blogspot.com
mengamang-amangkan tinjunya ke atas lalu mem-banting-banting kakinya yang besar dan pendek itu
ke atas lantai sampai rumah itu tergetar.
"Bedebah ! Keparat ! Bangsat hina ! Benar-benar kurang ajar! Teman disuruh berkelahi, sedangkan
dia sendiri enak-enak pergi dengan pe-rempuan, bersenang-senang tanpa memperdulikan teman.
Tanpa pamit lagi. Keparat, kuhajar eng-kau nanti!" Si Buaya Sakti menjadi marah bukan main,
tubuhnya meloncat keluar lagi dan dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah tiba di depan nisan.
Karena dia sedang marah, dia lalu meng-hampiri tubuh Seng Kun yang terkapar di atas ta-nah ketika
dia melemparkannya tadi dan dengan buas dia lalu menginjak sambil mengerahkan tena-ganya ke
arah dadanya.
"Krekk! Krekkk! !"
Si Buaya Sakti terkejut bukan main. Korban yang diinjaknya itu lalu disepaknya dan diapun
meludahinya. Daun-daun dan ranting-ranting berhamburan dari "tubuh" yang diinjaknya tadi.
"Gila! Anjing babi keparat jahanam laknat! Siapa berani mempermainkan Si Buaya Sakti ? Siapa yang
bosan hidup di dunia ini dan berani main-main dengan aku ? Akan kulumatkan ke-palamu,
kuhancurkan dadamu !" Alu baja itu di-amang-amangkannya dan matanya melotot, men-cari-cari ke
segenap penjuru. Kiranya yang diin-jak dadanya tadi hanyalah pakaian yang diisi de-ngan daun-daun
dan ranting-ranting kecil.
"Aku berada di sini !" Suara itu halus dan ter-dengar perlahan dari atas sebatang pohon tua yang
tinggi.
Si Buaya Sakti terkejut dan memandang ke atas. Kiranya di atas sebuah dahan panjang yang ting-gi,
duduklah seorang kakek bersama dua orang pe-muda, seorang di antara dua pemuda itu adalah
Seng Kun, pemuda yang tadi dirobohkannya. Kini tiga orang itu melayang turun dengan gerakan yang
amat ringan seperti daun-daun kering yang rontok dari dahannya.
Setelah dapat memandang jelas wajah kakek itu, Si Buaya Sakti semakin kaget. Dia mengenal wajah
kakek sederhana yang memegang tongkat ini. Beberapa tahun yang lalu, kakek tua renta yang
sederhana dan kelihatan lemah ini pernah bertanding ginkang dengan Raja Kelelawar dan bahkan
mengalahkan rajanya itu! Tentu saja dia terkejut dan gentar. Dia tahu bahwa kakek ini lihai bukan
main. Apa lagi di situ masih ada pula dua orang pemuda yang juga bukan merupakan lawan yang
lunak. Akan tetapi, dia adalah Si Bu-aya Sakti, pembantu utama dari Raja Kelelawar, dia seorang
datuk kaum sesat yang terkenal seba-gai rajanya kaum bajak sungai. Orang seperti dia tentu saja
pantang untuk memperlihatkan takut. Sambil mengeluarkan suara gerengan keras diapun memutar
alu bajanya dan menyerang ke depan.
"Tranggg!" Bunga api berpijar ketika sebatang pedang menangkis alu baja itu. Kiranya yang
menangkis dengan pedang adalah pemuda ke dua yang datang bersama kakek itu. Dia adalah Kwee
Tiong Li, pemuda yang pernah menjadi murid pemberontak Chu Siang Yu, dan pernah menjadi ketua
Lembah Yangj-ce. Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda ini bertemu dengan kakek Kam
Song Ki yang menjadi murid ke tiga dari mendiang Bu-eng Sin-yok-ong. Setelah diselamatkan oleh
kakek itu. Kwee Tiong Li yang berjodoh untuk menjadi murid kakek itu lalu ikut bersama kakek itu
mempelajari ilmu silat, sehingga dia yang memang tadinya sudah lihai memperoleh kemaiuan yang
pesat sekali. Pemuda yang mukanya agak kemerahan ini mempergunakan pedangnya. Dan setelah
mereka berdua saling serang selama limapuluh jurus, harus diakui oleh Si Buaya Sakti bahwa ilmu
pedang pemuda ini hebat bukan main, dan kalau dilanjutkan, tentu dia akan celaka.
Apa lagi kalau Seng Kun dan kakek lihai itu maju. Maka, tanpa malu-malu lagi, dia lalu meloncat ke
belakang untuk melarikan diri. Kwee Tiong Li tidak mengejarnya, akan tetapi ujung pedangnya sempat
menyerempet bahu kiri Si Buaya Sakti sehingga bajunya robek dan berdarah.
Sementara itu, ketika Kwee Tiong Li sedang bertanding melawan Si Buaya Sakti, Seng Kun menengok
ke arah rumah tua. Dia maklum bahwa dengan adanya si kakek sakti, tidak perlu dikhawatirkan
pemuda itu akan kalah melawan Si Buaya Sakti. Maka diapun meninggalkan tempat itu dan
mencari adiknya ke rumah tua. Dengan hati ber-debar tegang, Seng Kun memasuki rumah itu, langsung
menuju ke dalam ruangan di mana tadi dia meninggalkan A-hai dalam keadaan tidur pulas dan
dijaga oleh Bwee Hong. Akan tetapi, dia ha-nya melihat A-hai yang masih rebah dan tertidur pulas,
dunia-kangouw.blogspot.com
sedangkan adiknya sudah tidak nampak lagi. Yang ada hanyalah pakaian adiknya yang berse-rakan
di sudut ruangan. Tentu saja hatinya menja-di pilu dan gelisah. Ke manakah perginya Bwee Hong ?
Apa yang telah terjadi dengan adiknya?
Ketika dia keluar lagi dari rumah itu, perkela-hian antara Kwee Tiong Li dan Si Buaya Sakti su-dah
berakhir dan penjahat itu sudah kabur entah ke mana. Seng Kun lalu menghampiri kedua orang yang
tadi telah menolongnya. Tadi ketika dia di-lempar dalam keadaan pingsan oleh Si Buaya Sakti di
dekat mayat pemilik warung, dia telah ditolong dan dibawa naik ke atas pohon oleh seorang ka-kek.
Kemudian seorang pemuda yang datang ber-sama kakek itu mempergunakan daun dan ranting yang
dibungkus pakaian untuk menggantikan tu-buhnya. Dengan beberapa kali totokan, diapun sadar dan
bebas dari totokan Si Buaya Sakti, dan dengan isyarat, kakek dan pemuda itu menyuruh dia berdiam
diri dan mereka menanti sampai Si
Buaya Sakti muncul dengan marah-marah dari dalam rumah tua.
"Ji-wi telah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menghaturkan banyak terima kasih. Akan
tetapi saya telah kehilangan adik perempuan saya yang saya tinggalkan di dalam rumah tua itu. Saya
khawatir kalau adik saya menjadi korban kejahatan kaum sesat itu. Mohon bantuan ji-wi untuk menyelamatkan
adik saya."
Kakek Kam Song Ki merangkapkan kedua tangan di depan dada lalu menancapkan tongkatnya ke
atas tanah. "Siancai, negara sedang dalam kekacauan dan semua penjahat merajalela, seolah-olah
semua iblis telah keluar dari neraka untuk mendatangkan onar di permukaan bumi. Kami ba-ru datang
dan kebetulan saja danat menyelamat-kanmu, orang muda. Kami tidak tahu ke mana perginya adikmu
itu."
'Tadi adik perempuan saya berada di dalam rumah tua. Di tempat ini hanya terdapat sebuah dusun.
Kalau ada yang menculiknya, tentu ke du-sun itulah dibawanya. Saya akan mencari ke sa-na !" kata
Seng Kun.
"Biarlah kami ikut bersamamu dan sedapat mungkin membantumu," kata pemuda itu. Mereka tidak
sempat berkenalan karena Seng Kun sedang berada dalam keadaan gelisah sekali memikirkan
keselamatan adiknya. Kalau benar adiknya dise-rang oleh San-hek-houw, tentu adiknya kalah dan
kalau sampai adiknya diculik oleh datuk itu, celakalah!
Merekapun mulai mencari-cari jejak. Karena malam itu hanya diterangi bulan sepotong, maka
sukarlah mencari jejak orang dan akhirnya mereka menuju ke dusun dengan mengambil jalan
setapak. Dengan teliti Seng Kun berjalan di depan dan di tengah perjalanan ini dia membungkuk dan
meng-ambil sepotong sepatu wanita yang dikenalnya se-bagai sepatu Bwee Hong. Tentu saja hatinya
men-jadi semakin gelisah dan dia mempercepat langkah. Hatinya tegang karena jejak itu telah
ditemukan berupa sepatu adiknya. Tentu adiknya telah dilari-kan penjahat menuju ke dusun itu.
Dusun itu sepi sekali. Semua rumah telah me-nutup pintunya rapat-rapat dan di depan rumah-rumah
itu tidak dipasangi lampu. Seng Kun men-jadi tidak sabar dan mulailah dia memanggil-manggil nama
adiknya. Suaranya bergema di du-sun itu, namun tidak terdengar jawaban. Kemudi-an dia mulai
memanggil nama San-hek-houw dengan nada suara marah.
"San-hek-houw, iblis busuk ! Keluarlah kalau jantan dan mari kita bertanding sampai seorang di antara
kita tewas! Jangan menjadi pengecut hina yang melarikan seorang wanita!" Namun teriakanteriakannya
inipun tidak ada jawaban. Seng Kun mulai gelisah sekali dan keringat dingin membasahi
bajunya. Dia tidak dapat menduga di rumah yang mana iblis itu bersembunyi. Memeriksa ru-mah itu
satu demi satu akan memakan waktu dan dia harus cepat-cepat menyelamatkan adiknya. Saking
jengkelnya dia mengancam.
"Kubakar semua rumah di sini apa bila engkau tetap sembunyi! !"
Kakek Kam Song Ki menyentuh pundaknya. "Tenanglah, tidak perlu membakar rumah pendu-duk
yang tidak bersalah. Kemarahan hanya akan menyeret kita kepada tindakan yang sesat." Sete-lah
berkata demikian, kakek itu lalu mengerahkan khikangnya ke arah rumah para penduduk dan berteriak,
suaranya gemuruh menggetarkan daun-daun pintu dan-jendela rumah-rumah itu.
"Saudara-saudara penghuni dusun ini semua!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kami tahu jumlah kalian tidak banyak. Keluarlah kalian semua. Semuanya, tidak boleh ada yang
tinggal di dalam ! Yang tidak mau keluar, rumah nya akan kami bakar. Cepat ! !"
Mendengar seruan yang menggelegar ini, para penghuni ramah dusun itu terkejut dan ketakutan.
Satu demi satu merekapun keluarlah dari ramah mereka, menggendong anak-anak yang masih ke-cil
dan menuntun kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah hampir tidak kuat berjalan. Kepala du-sun
itu sendiri, setelah hilang kagetnya dan meli-hat bahwa tiga orang yang minta mereka semua keluar
itu hanyalah seorang kakek dan dua orang pemuda yang nampaknya bukan orang jahat, lalu
menghampiri mereka.
"Ada urusan apakah maka sam-wi minta kami semua keluar?" tanya kepala dusun.
"Kami mencari seorang kakek iblis yang mela-rikan seorang wanita. Mungkin dia bersembunyi di
sebuah di antara rumah-rumah dusun ini," ka-ta Seng Kun tak sabar.
Kepala dusun lalu menanyai semua orang akan tetapi mereka semua menjawab bahwa tidak ada
kakek iblis bersembunyi di rumah mereka.
"Sam-wi mendengar sendiri. Warga dusun kami tidak tahu tentang kakek itu, harap sam-wi mencari
saja ke lain tempat," kata kepala dusun dengan bangga karena semua anak buahnya ter-nyata tidak
ada yang melakukan kesalahan.
"Akan tetapi kenapa kalian semua tidak mau membuka pintu seperti ketakutan ketika melihat
kedatangan kami?" Seng Kun bertanya penasaran.
"Soalnya sore tadi terjadi kerusuhan di warung makan itu. Dua orang penjahat memaksa pemilik
warung untuk menunjukkan di mana rumah Gu-lojin."
Pada saat itu terdengar rintihan orang. Kakek Kam dan dua orang pendekar muda itu cepat me-loncat
dan mendekat. Ternyata seorang nelayan muda tergolek berlumuran darah di tepi sungai. Tubuh
bawahnya masih terbenam ke air, nampaknya dengan susah payah dia baru saja berenang ke tempat
itu.
Kepala dusun yang sudah mengejar ke situ se-gera mengenai nelayan muda ini dan menegur, menanyainya.
Akan tetapi nelayan itu hanya menge-luh dan tidak mampu bicara, napasnya memburu.
Melihat ini, kakek Kam Song Ki lalu menghampiri dan menggunakan dua buah jari tangannya untuk
mengobati nelayan muda itu. Melihat betapa ka-kek itu menekuk telunjuk dan jari tengah, lalu
menggunakan dua jari yang ditekuk itu untuk menjepit urat di bagian tengkuk dan pundak, Seng Kun
memandang heran. Itulah ilmu pengobatan dari perguruannya, yaitu cubitan pada otot yang disebut
"ning"!
Sebentar saja nelayan itu sadar dan dapat bi cara.
"Jahat-jahat perahuku dirampas aku dipukul ahhh" Dan nelayan itu meringis seperti orang menangis.
Setelah dibu-juk, akhirnya nelayan muda itu menceritakan be-tapa tadi, ketika dia mendayung
perahunya hen-dak pulang, dengan membawa muatan ikan hasil tangkapan yang cukup banyak,
dengan hati gem-bira, dia dipanggil oleh dua orang yang berdiri di tepi sungai. Karena mengira bahwa
dua orang itu hendak menumpang perahunya dan hatinya sedang bergembira, diapun minggir.
Sungguh ti-dak disangkanya bahwa dua orang itu jahat sekali. Keranjang ikannya yang penuh itu
mereka tendang keluar sehingga tumpah ke dalam air, kemudian nelayan itu yang hendak melawan,
dipukul sam-pai tercebur ke dalam sungai dan perahunya di-rampas!
Sungguh mereka jahat " dia menangis.
"Ikan-ikanku dibuang, perahuku dirampas dan aku dipukuli"
"Bagaimana macamnya kedua orang itu?" Seng Kun bertanya.
"Yang seorang pendek gendut membawa tongkat besar putih, seorang lagi tinggi besar"
"Tak salah lagi. Merekalah itu!" Seng Kun berseru marah. "Tahukah engkau ke mana mereka pergi?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Nelayan muda itu menggeleng kepala, akan tetapi karena agaknya dia mengharapkan orang akan
mencari dan menghajar kedua penjahat itu dan mendapatkan perahunya, dia berkata, "Ketika aku
minggir, mula-mula mereka bertanya kepadaku di mana letaknya dusun Kim-le mungkin me reka ke
sana"
"Mari kita susul ke sana!" kata Seng Kun tak sabar lagi. Dibantu oleh dua orang penolongnya, tak
lama kemudian Seng Kun menyewa sebuah pe-rahu dan melakukan pengejaran ke arah dusun Kimle.
Seng Kun sendiri bersama Tiong Li membantu si nelayan mendayung dan biarpun pe-rahu sudah
meluncur cepat, tetap saja Seng Kun menganggapnya terlalu lambat dan dia kelihatan gelisah bukan
main. Melihat itu, kakek itu meng-hibur.
"Orang muda, sabarlah. Serahkan saja kesemua-nya kepada Thian. Di samping usaha menyelamatkan
adikmu, berdoalah saja agar adikmu itu sela-mat. Dengan membiarkan hati gelisah, hal itu akan
mengeruhkan pikiran dan hanya akan mem-buat tindakanmu menjadi kacau tanpa perhitungan lagi.
Jangan membiarkan pikiranmu membayang-kan hal-hal buruk menimpa diri adikmu, hal itu hanya
akan mengundang datangnya kegelisahan yang tiada gunanya."
Seng Kun tersadar dan dia menjadi lebih te-nang. Baru sekarang dia teringat betapa tidak pantasnya
sikapnya selama ini. Dua orang ini te-lah menyelamatkannya dari tangan Si Buaya Sakti, juga kini
bahkan membantunya mencari adiknya. Akan tetapi dia sama sekali belum tahu siapa ada-nya
mereka dan tidak pernah menanyakannya!
"Harap ji-wi sudi memaafkan saya yang bersikap tak mengenal budi. Karena gelisah memikirkan adik
saya, maka saya belum sempat memperkenalkan diri. Harap ji-wi ketahui bahwa saya bernama Seng
Kun, she Bu, dan adik saya itu adalah Bu Bwee Hong. Mohon tanya, siapa-kah nama locianpwe yang
mulia dan juga saudara yang gagah perkasa ini?"
Kakek itu terbelalak memandang wajah Seng Kun, "Engkau she Bu? Dan ginkangmu tadi ketika
berlari hemm, orang muda, nama keturunanmu itu mengingatkan aku akan seorang yang bernama
Bu Cian "
Kini Seng Kun yang menjadi terkejut mende-ngar disebutnya nama itu karena nama itu adalah nama
ayah dari ayah angkatnya atau juga paman kakeknya. Bu Kek Siang! "Apakah yang locian-pwe
maksudkan itu adalah mendiang kakek Bu Cian, si datuk utara?"
"Ha-ha-ha, benar, dia menjadi datuk ahli sin kang dan ahli obat di utara"
"Locianpwe, beliau itu adalah kakek buyut saya, juga kakek guru "
"Ehh? Engkau anak siapakah?" Kakek Kam Song Ki terbelalak lagi. "Apakah engkau mengenal Bu
Kek Siang?"
"Mendiang Bu Kek Siang adalah ayah angkat saya juga guru saya, juga paman kakek saya"
"Ayah angkat, juga guru, juga paman kakek? Bagaimana ini? Dan sudah mendiang?" kakek itu
bertanya secara bertubi-tubi.
"Benar, locianpwe. Ayah angkat saya Bu Kek Siang dan isterinya, telah meninggal dunia. Sejak kecil
kami berdua, saya dan adik Bwee Hong, dira-wat dan dididik oleh beliau, diaku anak sendiri. Di waktu
beliau hendak meninggal dunia, barulah beliau memberi tahu bahwa kami berdua sebenar-nya she
Chu dan terhitung cucu keponakan beliau karena mendiang ibu kami adalah keponakan be-liau."
"She Chu ?" Tiba-tiba Kwee Tiong Li bertanya.
“Saudara Seng Kun, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama ayah kandungmu yang she Chu itu?"
Tentu saja Tiong Li bertanya de-mikian karena pada waktu itu, she Chu hanya di-miliki oleh keluarga
dekat dari kaisar saja, seperti juga gurunya yang pertama, yaitu pemberontak Chu Siang Yu yang
masih keturunan Jenderal Chu yang terkenal berdarah keluarga kaisar pula.
Sebenarnya Seng Kun tidak suka memperke-nalkan ayah kandungnya karena dia tidak ingin diketahui
bahwa dia masih berdarah bangsawan istana. Akan tetapi mengingat bahwa dua orang itu adalah
dunia-kangouw.blogspot.com
penolongnya, maka terpaksa dia meng-aku juga, "Ayah kandungku bernama Chu Sin, akan tetapi
sekarang telah berganti nama menjadi Bu Hong Tojin."
"Aihhh ! Sungguh luar biasa! Pangeran
Chu Sin yang kini menjadi kepala kuil di istana? Kiranya engkau masih sanak keluarga atau sedarah
dengan bengcu (pemimpin) Chu Siang Yu!" teriak Tiong Li gembira.
"Siancai! Dan akupun sudah mendengar akan kehebatan Pangeran Chu Sin yang menentang istana.
Ah, anak baik, tidak tahukah engkau de-ngan siapa engkau berhadapan? Bu Kek Siang itu adalah
muridku, murid keponakan. Ayahnya, men diang Bu Cian adalah twa-suhengku."
Seng Kun memandang terbelalak, kemudian menjatuhkan diri berlutut. "Teecu sudah merasa heran
ketika susiok-couw tadi menyadarkan nelayan dengan cubitan "ning" dari perguruan teecu.
Kiranya susiok-couw adalah kalau teecu tidak salah, kakek Kam Song Ki yang mulia!"
"Ha-ha-ha, kiranya orang sendiri malah. Dan engkau tahu, dia ini, Kwee Tiong Li, adalah mu-ridku dan
tadinya menjadi murid dan pembantu utama dari pemberontak Chu Siang Yu yang masih sanakmu
juga. Ha-ha, dunia ini sungguh tidak berapa luas!"
Tentu saja Seng Kun merasa girang dan kakek itupun kini makin bersemangat untuk mencari dan
menolong Bwee Hong yang ternyata adalah cucu muridnya sendiri. Perahu didayung lebih cepat lagi
untuk menuju ke dusun Kini-le, di mana me-reka harapkan akan dapat menyusul dua orang iblis yang
melarikan Bwee Hong itu.
Setelah menguburkan mayat wanita yang te-lah menyelamatkan mereka, Liu Pang dan Pek Lian lalu
melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati. Mereka tidak ingin bertemu dengan musuh yang kini
dibantu oleh para datuk sesat. Agar dapat melakukan perjalanan yang aman dan tersembunyi,
mereka menyeberangi padang rumput. yang luas dan setelah fajar menyingsing tiba-lah mereka di
sebuah lembah bukit. Tiba-tiba, di pagi hari itu, mereka mendengar suara terom-pet bersahutsahutan.
Tentu ada perkemahan tentara, pikir Liu Pang yang tidak asing dengan suara terompet
seperti itu. Mereka berdua lalu mendaki puncak bukit dan meneliti ke bawah. Si nar matahari pagi
memandikan bagian bawah bu-kit menjadi keemasan dan indah sekali. Akan te-tapi sinar mata kedua
orang itu sama sekali tidak dapat merasakan keindahannya karena pandang mata mereka sibuk
mencari-cari dan akhirnya mereka menemukan apa yang dicari oleh pandang mata mereka. Ratusan
buah, bahkan ribuan ke-mah bertebaran di balik bukit. Liu Pang memin-cingkan mata dan berseru
gembira, "Ah, itu ada-lah pasukan kita !"
Tentu saja Pek Lian juga merasa gembira se-kali. Dari bendera yang berkibar di puncak tenda iapun
dapat mengenal tanda-tanda dari pasukan mereka sendiri. Mereka lalu cepat menuruni bu-kit dan
berlari-lari menuju ke perkemahan itu.
Ketika mereka tiba di luar hutan kecil yang se-olah-olah menjadi pintu gerbang perkemahan itu, tibatiba
puluhan batang anak panah menyambar seperti hujan ke arah mereka. Guru dan murid ini cepat
mengelak dan mencabut pedang untuk me-lindungi tubuh dari sambaran anak panah. Lalu
bermunculan belasan orang bersenjata yang segera mengeroyok guru dan murid itu. Liu Pang dari
Pek Lian tidak sempat menerangkan siapa keadaan mereka, dan mereka berduapun tahu bahwa para
pengeroyok yang terdiri dari pasukan peronda ini adalah perajurit-perajurit baru yang menggabung
selagi mereka berdua pergi sehingga tidak menge-nal mereka.
"Berhenti!" Tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek dan muncullah seorang perwira muda yang
berwajah tampan dan gagah. Para pengero-yok terkejut, membuka jalan dan memberi hormat kepada
pemuda itu. Di belakang pemuda tampan ini berjalan seorang pemuda lain yang berpakaian serba
putih sederhana.
"Liu-bengcu ! Nona Ho !" Pemuda tampan itu berseru. Dia Yap Kim, putera Yap-lojin, pe-muda yang
bengal itu. Kemudian dia tertawa ber-gelak. "Ha-ha-ha, harap bengcu maafkan, me-reka ini adalah
bekas pasukan pemerintah yang dibawa oleh Gui-ciangkun yang bergabung de-ngan kita."
dunia-kangouw.blogspot.com
Liu Pang mengangguk-angguk dan tersenyum. "Pantas, mereka sangat tangkas !"
Para perajurit terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa dua orang yang mereka keroyok tadi
bukan lain adalah Liu-bengcu, pemimpin be-sar mereka, dan nona Ho yang namanya sudah a-mat
terkenal di antara para anggauta pejuang pen-dekar itu ! Mereka segera minta maaf, dan dengan
besar hati Liu Pang berkata, "Mengapa minta ma-af? Tindakan kalian tadi sungguh mengagumkan
dan memang demikianlah seharusnya sikap pasu-kan peronda. Kalau kalian tidak menyerang kami,
mungkin aku malah akan menegur kalian !" Pasu-kan itu tentu saja merasa girang karena setelah
menyerang pemimpin besar itu, mereka tidak men-dapat marah, malah menerima pujian!
Kedatangan Liu Pang dan Pek Lian disambut dengan amat gembira oleh para pimpinan pasukan.
Mereka sudah merasa khawatir sekali akan lenyap-nya pemimpin besar itu. Dan kini tahu-tahu muncul
bersama Pek Lian yang dalam keadaan sela-mat pula. Mereka semua berkumpul dan memberi
laporan kepada pemimpin besar mereka. Ternyata gerakan mereka seperti yang sudah mereka
renca-nakan ketika menghadapi pasukan besar Lai-goanswe itu berhasil dengan baik sesuai dengan
siasat mereka. Kota kecil berhasil diduduki dan pasukan besar Jenderal Lai dihadang oleh pasukan
inti dari Liu Pang yang dipimpin oleh para pende-kar Thian-kiam-pang. Pasukan Lai-goanswe dapat
dipukul kocar-kacir, sebagian melarikan diri, dan sebagian malah menakluk dan kini menggabung
dengan para pemberontak.
"Bagus !" Liu Pang merasa girang sekali. Bi-arpun dia sendiri nyaris menjadi korban akan teta-pi
ternyata gerakan pasukannya berhasil dan hal inilah yang terpenting baginya.
Sekarang di manakah adanya Lai-goanswe?" tanyanya dengan girang.
Yap Kim menghela napas panjang. "Itulah, twako!" keluhnya. Semua pimpinan pasukan para
pendekar itu kadang-kadang menyebut twako kepada Liu Pang. "Itulah sebabnya mengapa para
peronda tadi langsung menyerang twako dan nona Ho tanpa bertanya lagi. Malam tadi muncul dua
orang sakti yang memliebaskan Lai-goanswe. Aku dan kakakku Kiong Lee melakukan pengejaran,
akan tetapi terpaksa kami melepaskan mereka. Aku sendiri tidak dapat melawan mereka dan kakakku
sungkan untuk melawan mereka"
"Maafkan saya, Liu-bengcu. Mereka adalah sahabat-sahabat kami sendiri. Antara perguruan kami dan
perguruan mereka terjalin persahabatan yang erat. Guru saya dan ketua mereka adalah sa-habat
lama." Kiong Lee menyambung penuturan adiknya dan sikapnya menjadi sungkan sekali. "Heran,
siapakah mereka?" Liu Pang bertanya. "Mereka adalah dua orang berjubah coklat dari Liong-ipang."
Mendengar bahwa dua orang penculik tawanan itu adalah orang-orang Perkumpulan Jubah
Naga, Liu Pang dan Pek Lian saling pandang. "Ah, mereka !" Liu Pang dan muridnya telah
melihat kedua orang itu ketika mereka mengintai perte-muan para tokoh kaum sesat dan mendengar
bah-wa kedua orang itu hendak pergi ke benteng. Kiranya mereka itu pergi ke perkemahan ini dan
menculik tawanan yang cukup penting! Lai-goan-swe adalah tangan kanan Jenderal Beng Tian. Jadi,
membebaskan Panglima Lai itukah tugas yang mereka dapat dari guru mereka seperti yang telah
didengarnya bersama Pek Lian ketika dua orang berjubah naga itu saling bercakap-cakap? Atau-kah
suatu tugas yang lain lagi?
Akan tetapi urusan itu segera dikesampingkan dan Liu Pang lalu mengajak para pembantunya
berunding. Para pimpinan itu berniat untuk meng-gempur kota di sebelah depan, akan tetapi Liu Pang
menentang keinginan mereka. "Jangan ke-rahkan semua tenaga ke sana. Biarlah sepasukan kecil
saja mengacau di situ. Kita perlu mengge-rakkan seluruh kekuatan kita menuju ke kota raja. jangan
sampai kita kedahuluan oleh pasukan pem-berontak Chu Siang Yu." Liu Pang lalu mencerita-kan
pengalamannya ketika dia melihat para tokoh sesat yang kini dipergunakan pula oleh para pemberontak.
Maka diaturlah siasat mereka dan pembagian kerja. Hek-coa Ouw Kui Lam, satu-satunya di antara
Huang-ho Su-hiap yang masih hidup, ju-ga pernah menjadi guru Pek Lian, menerima tugas memimpin
seribu orang pasukan untuk menggem-pur dan mengacau kota di sebelah depan. Hal ini juga amat
penting untuk menutupi gerakan mereka yang sebenarnya, yaitu gerakan ke utara, menuju kota raja.
Pasukan mereka amat besar kini, setelah banyak petani dan pasukan-pasukan pemerintah yang
kalah datang menggabungkan diri. Sampai laksaan orang. Pasukan besar ini terpaksa harus dibagidunia-
kangouw.blogspot.com
bagi menjadi beberapa kelompok. Kelom-pok terkuat berada di depan dan dipimpin oleh Liu Pang
sendiri, dibantu oleh para pendekar Thian-kiam-pang. Ho Pek Lian memimpin pasukan per-bekalan,
dibantu oleh para pendekar yang lain dan di belakang sekali terdapat sebuah pasukan lain yang
menjadi penjaga bagian belakang agar ja-ngan sampai terjadi pembokongan dari pihak mu-suh. Yap
Kiong Lee, pendekar yang dianggap pa-ling lihai di antara mereka semua, bertugas seba-gai
penghubung antar pasukan-pasukan itu.
Pagi-pagi sekali, pasukan-pasukan inipun bergerak setelah pasukan yang dipimpin Hek-coa Ouw Kui
Lam mulai melakukan penyerangan ke-pada kota di depan. Sehari penuh pasukan-pasu-kan itu
bergerak dan di waktu matahari terbenam tibalah mereka di suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit.
Mereka lalu berkemah dan Liu Pang sendiri menempati sebuah bekas pesanggrahan yang terdapat di
tempat itu. Kota besar Pao-keng yang menjadi kota benteng penting untuk kota raja, terletak hanya
belasan li di sebelah depan, di balik bukit. Setelah mereka berhasil menguasai kota Pao-keng, maka
mereka akan berhadapan dengan benteng kota raja sendiri! Maka, Liu Pang lalu memilih tempat ini
sebagai pusat atau benteng in-duk.
Malam itu amatlah sunyi. Pasukan yang sudah sehari penuh melakukan perialanan yang cukup
melelahkan memanfaatkan waktu itu untuk beristi-rahat. Akan tetapi mereka tidak lepas dari kewaspadaan.
Setiap kemah diiaga dengan ketat dan bergilir. Liu Pang sendiri bersama Yap Kiong Lee
nampak meronda mengelilingi perkemahah. Hal ini membesarkan semangat para perajurit dan seti-ap
peronda yang bertemu dengan pemimpin besar ini tentu memberi hormat dengan tegapnya.
Di perkemahan para pemimpin terjadi kete-gangan sedikit ketika nampak seorang pejuang atau
pendekar ditegur oleh peronda karena me-masuki daerah penjagaan mereka. Orang itu ber-tubuh
gendut agak pendek, kepalanya yang botak gundul ditutupi sebuah kopyah warna hitam. Su-kar
ditaksir usianya karena malam itu gelap, akan tetapi dari sinar api unggun di luar kemah dapat
diketahui bahwa dia bukanlah muda lagi.
"Siapa engkau berani memasuki tempat ini tanpa ijin !" bentak peronda dan enam orang pen-jaga
sudah menghampirinya.
"Hemm, apakah kalian tidak melihat bendera pengenalku ini?" Orang itu mengacungkan sebu-ah
bendera kecil, tanda bahwa dia adalah seorang utusan dari pasukan perbekalan yang dipimpin oleh
nona Ho Pek Lian. "Aku diutus untuk meng-hadap Panglima Yap Kim."
"Engkau juga anggauta barisan kita, tentu engkau sudah tahu akan peraturannya! Untuk menghadap
Panglima Yap Kim, harus menanti dan kami akan membuat laporan dulu. Bukannya berindap-indap
seperti maling begitu!" kepala jaga membentak marah. Mendengar ini, sepasang mata itu melotot dan
mukanya berobah gelap mengerikan. Kemudian orang pendek gendut itu tersenyum menyeringai, lalu
menggerakkan kedua tangan ke de pan seperti orang menghormat. "Aku salah
aku salah maafkanlah!" Setelah berkata demikian, diapun membalikkan tubuhnya dan pergi.
Akan tetapi, pada saat itu, terjadilah kegem-paran di antara para penjaga. Seorang demi seo-rang
menjerit dan roboh, tubuh mereka kejang-kejang dan mata mereka mendelik, mulut berbuih dan kulit
tubuh mereka, terutama di bagian muka nampak kehijauan. Tentu saja jeritan-jeritan me-reka menarik
perhatian. Semua orang keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ke-tika melihat
enam orang penjaga itu tewas tak la-ma kemudian, tewas dalam keadaan mengerikan karena muka
mereka berobah hijau. Tentu saja suasana menjadi gempar dan orang-orang mulai mencari-cari
orang pendek gendut tadi.
Sementara itu, si pendek gendut memperguna-kan kesempatan selagi keadaan kacau untuk
menyelinap mendekati perkemahan terbesar. Dengan gerakan yang amat gesit dia berhasil
menyelinap masuk. Akan tetapi ketika dia tiba di sebuah ru-angan, mendadak muncul Pek Lian yang
juga su-dah mendengar akan adanya keributan itu. Si gendut tidak sempat bersembunyi lagi dan
perjum-paan itu tidak dapat dihindarkan.
"Kau ! Si Kelabang Hijau! Awas !
Siapppp , ada pengacau di sini!" Pek Lian berteriak-teriak setelah mengenal si pendek gendut
itu yang bukan lain adalah Thian-te Tok-ong atau Ceng-ya-kang, Si Kelabang Hijau yang merupakan
tokoh ke lima dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to! Pek Lian tahu bahwa dalam hal ilmu silat, memang
dunia-kangouw.blogspot.com
tokoh ini tidak sangat lihai, akan tetapi Raja Racun ini sungguh amat berbahaya dengan racunracunnya.
Ketika banyak penjaga menyerbu ke situ, Pek Lian cepat berseru, "Awias, dia membawa racun-racun
berbahaya. Jangan dekati dia!"
Akan tetapi banyak di antara para penjaga yang marah-marah karena mendengar bahwa orang ini
sudah membunuh enam orang penjaga, tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan senjata
mereka. Akan tetapi, iblis gendut itu me-niupkan sesuatu ke arah mereka dan orang-orang itupun
berjatuhan dan kejang-kejang keracunan !
"Iblis busuk !" Pek Lian membentak dan me-nyerang dengan pedangnya. Ia berhati-hati maka ketika
si gendut meniupkan racun ke arahnya, Pek Lian dapat meloncat ke samping, mengelak sambil
menggerakkan pedangnya menyerang dari samping. Karena ilmu pedang nona Ho Pek Lian cukup
berbahaya, tokoh ke tujuh Pulau Ban-kwi-to itupun tidak berani lengah dan cepat dia meng-elak
mundur. Pek Lian merasa sukar untuk da-pat menangkap atau merobohkan tokoh ini. Per-tama,
bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya sudah kalah, apa lagi ditambah dengan kehebatan kakek
itu dalam menggunakan racun, membuat ia tidak berani terlalu mendekatinya. Tiba-tiba ter-dengar
bentakan nyaring dan muncullah Yap Kim.
"Engkau !" bentak Yap Kim melihat bekas sahabatnya itu. "Keparat, apakah engkau mau membiusku
lagi?"
Melihat pemuda tampan ini, wajah yang me-nyeramkan itu berseri, akan tetapi agaknya ben-takan
Yap Kim membuat alisnya berkerut dan ha-tinya tertusuk. "Aih, adikku yang baik, janganlah berkata
kasar begitu. Telah lama aku mencarimu, mari engkau ikut pergi bersamaku." Suaranya ha-lus dan
penuh bujukan. Pada saat itu, Liu Pang dan para pendekar lain sudah pula berada di situ dan Yap
Kim yang sudah marah sekali, kini me-nubruk maju dan menyerang dengan pedangnya. Sepasang
pedangnya berkelebatan menjadi dua gulung sinar dan pemuda itu telah mainkan sepasang
pedangnya dengan Ilmu Pedang Langit yang amat ampuh dari perguruannya.
Menghadapi serangan Yap Kim, Si Kelabang Hijau terdesak. Dia merasa sayang kepada Yap Kim,
maka masih merasa ragu-ragu untuk men-celakai pemuda itu. Melihat lawan terdesak, de-ngan
kemunculan Yap Kim, hati Pek Lian menjadi besar dan dengan penuh semangat, gadis inipun maju
membantu Yap Kim. Pemuda ini terkejut se-kali dan cepat mencegah.
"Nona, jangan dekat "
Akan tetapi terlambat sudah. Nampak asap mengepul dan Pek Lian mengeluh. Tahu-tahu tubuhnya
sudah disambar oleh Si Kelabang Hijau. Dalam keadaan pingsan, nona itu berada dalam kekuasaan
si gendut pendek yang mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
"Ha-ha, majulah kalian dan nona ini akan ku-bunuh lebih dulu !"
Melihat ini, Yap Kim menjadi pucat dan tidak berani bergerak. Suasana menjadi tegang. "Tahan,
jangan menyerangnya !" Tiba-tiba Liu Pang mem-bentak keras melarang para penjaga yang marah
dan hendak menyerang orang itu.
"Ha-ha, itu baru baik. Nah, Kim-te, ayo eng-kau ikut bersamaku, kalau tidak, nona ini akan ku-bunuh
di depanmu !"
Yap Kim ragu-ragu. Liu Pang juga menjadi tak berdaya dan serba salah. Tiba-tiba Yap Kim
mendengar bisikan suara kakaknya, mengiang di dekat telinganya, "Kim-sute, turuti kemauannya dan
bawalah dia lewat mayat-mayat di luar itu. Aku akan menolong."
Singkat saja pesan itu akan tetapi Yap Kim mengerti sudah. Sambil tersenyum pahit seperti orang
yang tidak berdaya lagi diapun menyimpan sepasang pedangnya. "Tidak ada pilihan lain ba-giku
kecuali menuruti kehendakmu, Tok-ong. A-kan tetapi, awas, kalau engkau mengganggu nona itu aku
bersumpah untuk membunuhmu!" Dia sengaja bersikap keras agar lawan tidak curiga akan adanya
siasat kakaknya, dan juga untuk mem-beri kesempatan kepada kakaknya melakukan sia-sat yang
belum dia ketahui bagaimana itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Heh-heh, baiklah, adikku yang ganteng. Ma-ri, engkau membuka jalan, aku tidak mau kalau ada
kecurangan."
Yap Kim lalu melangkah keluar, memperlihat-kan sikap ragu-ragu dan bingung. Seperti taripa
disengaja, dia berjalan melalui mayat-mayat para penjaga yang tadi roboh dan tewas menjadi korban
keganasan racun Si Kelabang Hijau. Ratusan pe-rajurit berbaris di kanan kiri, siap dengan senjata
mereka. Akan tetapi Liu Pang selalu menahan me-reka agar jangan turun tangan. Semua orang bergerak
memberi jalan ketika Yap Kim dan Si Kela-bang Hijau yang masih memondong tubuh Pek Lian
yang pingsan itu lewat. Diam-diam tokoh ke lima Ban-kwi-to itu bergidik juga ketika me-lewati barisan
perajurit yang semua memandang kepadanya penuh kebencian itu.
Yap Kim kini melalui depan pos penjagaan di mana terdapat mayat-mayat malang melintang, yaitu
mayat para penjaga yang tadi dibunuh oleh Si Kelabang Hijau. Tokoh sesat ini, sambil me-mondong
tubuh Pek Lian, mengikuti langkah-langkah Yap Kim, melangkahi mayat-mayat itu sambil menyeringai
dan memandang ke arah para perajurit -ang berdiri di kanan kiri.
"Heh-heh, kaliaa lihat mereka ini! Jangan memaksa aku membunuh lagi. Begitu ada yang bergerak
melawanku, aku akan membuang racun-racun yang akan membunuh seluruh pasukan yang berada di
sini. Yang tidak langsung mati akan tersiksa, tubuhnya akan ditumbuhi jamur-jamur menular yang
tidak dapat diobati dan nyerinya bukan main, heh-heh-heh. Dan dia akan mati per lahan-lahan
aduhhh!!"
Ketika sambil mengejek tadi Si Kelabang Hi-jau melangkahi sesosok mayat lainnya, tiba-tiba "mayat"
itu menggerakkan tangan dan iblis itu-pun terjungkal dan tubuhnya lemas karena terto-tok, sedangkan
tubuh Pek Lian sudah pindah ke tangan "mayat" itu yang bukan lain adalah Yap Kiong Lee! Kiranya
pendekar ini merebahkan diri di antara mayat-mayat itu dan ketika Yap Kim mengenal suhengnya
yang rebah miring, segera dia tahu siasat apa yang dijalankan kakaknya itu, ma-ka diapun lalu
melangkahi tubuh kakaknya.
Melihat iblis itu terjungkal dan Pek Lian sudah diselamatkan, para perajurit bersorak dan mereka
itu langsung saja menggerakkan senjata untuk melumatkan tubuh iblis itu. Tiba-tiba, membuat semua
orang terkejut sekali, terdengar suara me lengking tinggi disusul bentakan,
"Tahan! Jangan serang dia!!!"
Tentu saja semua orang, termasuk Yap Kim dan Liu Pang yang sudah mengejar ke situ, terkejut dan
heran mendengar bahwa Yap Kiong Lee yang membentak melarang semua orang membunuh Si
Kelabang Hijau.
"Suheng, iblis ini layak mampus !" Yap
Kim sendiri sampai menegur suhengnya atau ka-kak angkatnya itu.
Akan tetapi Kiong Lee tidak menjawab, mela-inkan melangkah mendekati Si Kelabang Hijau sehingga
timbul dugaan di hati semua orang bahwa pemuda ini hendak membunuh iblis itu dengan ta-ngannya
sendiri maka mencegah orang lain mem-bunuhnya. Akan tetapi Kiong Lee hanya memben-tak, "Iblis
keji, hayo serahkan obat penawar ra-cunmu untuk nona Ho !"
Barulah semua orang tahu dan Liu Pang cepat memandang ke arah wajah Pek Lian yang berada di
pondongan pemuda murid pertama dari Thian kiam-pang itu. Kiranya wajah itu pucat kehijauan
seperti wajah mayat! Terkejutlah dia dan seperti juga Yap Kim, kini dia mengerti mengapa tadi Kiong
Lee melarang iblis itu dibunuh. Tentu ka-rena satu-satunya orang yang dapat menolong nyawa Pek
Lian hanya ibhs itu sendiri!
Dugaan Liu Pang dan Yap Kim memang tepat. Begitu merampas tubuh Pek Lian dari tangan Si
Kelabang Hijau, Kiong Lee merasa sesuatu yang tidak wajar pada diri gadis itu. Cepat dia meme-riksa
dan tahulah dia bahwa iblis itu telah mera-cuni Pek Lian ! Sungguh licik dan keji sekali iblis itu, lebih
dahulu menciptakan perisai atau sema-cam sandera agar dia tidak sampai dicelakai lawan. Maka
Kiong Lee lalu melarang iblis itu diserang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Kelabang Hijau tak mampu bergerak. Hebat sekali totokan jago muda Thian-kiam-pang itu. Akan
tetapi dia masih mampu menggerakkan ma-ta dan mulutnya untuk bicara.
"Heh-heh-heh, satu nyawa ditukar satu nya-wa, itu sudah adil namanya. Bunuhlah aku, dan aku akan
pergi berdua bersama nona manis itu ke alam baka. Betapa menggembirakan! Mungkin dia akan
menjadi pelayanku di sana, tidak ada yang melindunginya seperti di sini, heh-heh-heh !"
Tentu saja Kiong Lee dan semua orang marah sekali. Kalau mungkin, mereka tentu takkan se-gan
untuk mencincang hancur tubuh ibhs itu. A-kan tetapi Kiong Lee menahan kemarahannya.
"Keluarkanlah obat penawarnya dan kami akan membebaskanmu."
"Heh-heh, bagaimana aku dapat memperca-yaimu?"
"Iblis busuk! Aku adalah seorang pendekar, bukan seorang penjahat macam engkau!" Kiong Lee
membentak. Pemuda yang pendiam ini marah juga mendengar kata-kata yang menghina itu.
"Uhhh, siapa percaya ucapan pendekar?"
Kiong Lee sadar bahwa iblis ini sengaja mem-bakar hatinya, maka diapun menjadi tenang kem-bali.
Menghadapi iblis Ban-kwi-to harus tenang dan tidak boleh menuruti perasaan marah.
"Lalu apa kehendakmu? Nona Ho terancam maut, akan tetapi engkaupun tak mungkin dapat terlepas
dari ancaman maut."
"Hanya ada satu orang yang kupercaya janji-nya, dia adalah Liu-bengcu. Biarkan dia yang berjanji
bertukar nyawa, dan aku akan percaya."
Liu Pang melangkah maju. Menghadapi orang jahat seperti itu, yang amat keji, haruslah tegas.
"Baiklah, aku berjanji akan membebaskanmu ka-lau engkau memberikan obat penawar racun untuk
nona Ho Pek Lian."
"Bagus ! Nah, bebaskan aku."
Terpaksa Kiong Lee membebaskan totokannya dan siap untuk menghantam kalau-kalau iblis itu
melakukan kecurangan. Akan tetapi, setelah kini tidak ada sandera di tangannya, Si Kelabang Hijau
juga tidak terlalu bodoh untuk menggunakan keke-rasan. Sambil menyeringai dia mengeluarkan
sebungkus obat seperti gajih, lalu mengoleskan obat itu pada leher Pek Lian di mana terdapat luka
ke-cil berwarna hijau gelap bekas tusukan jarumnya. "Minumkan pel ini padanya," katanya menyerahkan
tiga butir obat pel berwarna merah kepada Kiong Lee.
Dengan bantuan Yap Kim, Kiong Lee lalu me-maksakan tiga butir pel itu memasuki perut Pek Lian.
Tak lama kemudian, gadis itu mengeluh dan membuka matanya, warna hijau pada kulit muka-nyapun
meluntur dan akhirnya hilang. Begitu sa-dar dan melihat Si Kelabang Hijau, Pek Lian men-cabut
pedangnya yang tadi terlepas dan sudah di-sarungkan kembali oleh Yap Kim. Akan tetapi Liu Pang
meipegang lengannya, kemudian pemim-pin ini memberi perintah kepada para pembantu-nya.
"Biarkan dia pergi!"
Semua orang mengepal tinju dan menggigit gigi saking gemasnya melihat betapa iblis itu dibi-arkan
pergi. Iblis itu telah membunuh banyak pe-rajurit dan sekarang terpaksa dibiarkan pergi be-gitu saja!
Sebaliknya, sambil menyeringai dan ter-tawa ha-ha-hi-hi Si Kelabang Hijau yang mera-sa kecewa
sekali karena tidak berhasil membawa pergi Yap Kim, bahkan mengalami kekalahan, me-mandang
kepada mereka semua dan berkata meng-ancam, "Awas kalian semua! Beberapa hari lagi akan
kuhancurkan kalian dengan pasukan kami yang tidak kalah banyaknya dengan pasukan ka-lian !"
Diapun pergi tanpa diganggu karena tidak ada yang berani melanggar janji sang pemimpin.
Setelah iblis itu pergi, Liu Pang memerintahkan agar mayat para perajurit diurus baik-baik dan agar
penjagaan dilakukan lebih ketat lagi. Kemu-dian dia mengajak semua pembantunya masuk ke-mah
dan berunding.
Liu Pang mengerutkan alisnya, nampak khawa-tir. "Ancaman iblis tadi bukanlah gertak sambal belaka.
Aku sudah melihat sendiri betapa para iblis Ban-kwi-to telah bersekutu dengan pem be-rontak dan
dunia-kangouw.blogspot.com
pasukan asing. Hanya belum kita keta-hui berapa besarnya kekuatan mereka dan di mana mereka
bersarang. Untuk mengetahui keadaan me-reka ini amatlah penting, maka biarlah besok aku akan
pergi lagi bersama nona Ho untuk melakukan penyelidikan."
Para pembantunya menyatakan tidak setuju dan kekhawatiran mereka kalau kembali pemimpin mereka
akan pergi sendiri melakukan penyelidikan. Akan tetapi pemimpin besar itu membantah. "Penyelidikan
ini merupakan suatu tindakan perju-angan yang amat penting, maka harus aku sendiri yang
pergi. Sementara itu, sebagai wakil yang menggantikan aku memimpin barisan kita, kuse-rahkan
kepada saudara muda Yap Kim."
Semua pemimpin menyambut gemibira karena mereka sudah mengenal kegagahan pemuda ini. Akan
tetapi Yap Kim sendiri menjadi gugup dan wajahnya berobah, tangannya digoyang-goyang menolak.
"Aih, Liu-twako, mana saya berani me-nerima tugas yang demikian amat pentingnya?
Saya... saya masih terlalu muda, saya tidak berani menerimanya "
"Saya kira, kedudukan wakil bengcu itu dapat diserahkan kepada saudara Yap Kiong Lee yang
memiliki kepandaian paling tinggi di antara kita,
dan dibantu oleh saudara Yap Kim" kata Pek Lian.
"Aih, mana aku berani menerimanya?" Yap Kiong Lee juga menolel a Kim yang menerimanya karena
diapun telah menjadi seorang di antara para pejuang, bahkan sudah mengenakan pakaian seragam
perwira. Bi-arlah saya membantu dari belakang saja, sebagai orang luar yang menaruh perasaan
kagum terhadap perjuangan ini. Akan tetapi, kalau saya harus langsung memimpin pasukan melawan
kaisar, sungguh sama artinya dengan saya menentang su-hu dan subo yang melindungi kaisar."
Akhirnya Yap Kim menerima pula kedudukan wakil bengcu itu dan pada keesokan harinya pagi-pagi
buta, Liu Pang dan Pek Lian berangkat melakukan perjalanan mereka untuk menyelidiki keadaan
musuh.
Liu Pang menyamar sebagai seorang dusun pencari kayu sedangkan Pek Lian juga mengena-kan
pakaian sederhana seorang gadis dusun de-ngan bertopi lebar dan kulit mukanya yang pu-tih mulus
itu dilumuri warna kecoklatan sehingga kecantikannya tidak lagi menyolok. Sambil me-mikul kayu
kering, berangkatlah Liu Pang bersa-ma muridnya yang dalam penyamaran itu diaku sebagai
anaknya.
"Suhu, kita menuju ke manakah?" tanya Pek Lilan setelah mereka keluar dari dalam hutan yang
menjadi pintu masuk benteng mereka itu.
"Pasukan musuh itu hanya berselisih setengah malam saja dengan barisan kita, dan mereka juga
menuju ke arah barat laut. Tentu mereka menuju ke kota raja. Kita harus berjalan menuju ke barat,
tentu akan bertemu dengan barisan mereka."
Mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke barat. Akan tetapi setelah lewat setengah hari dan
matahari sudah naik tinggi di atas kepala mereka, belum juga mereka bertemu dengan barisan musuh.
Mereka melihat suasana panik dan kacau su-dah melanda kota-kota dan dusun-dusun yang
mereka lalui. Berita tentang kemungkinan pecah-nya perang sudah sampai di daerah dekat kota ra-ja
dan banyak penduduk yang merasa resah dan siap-siap mengemasi barang agar memudahkan
mereka kalau sewaktu-waktu harus lari mengung-si.
Karena merasa lapar dan perlu beristirahat, Liu Pang dan Pek Lian lalu memasuki sebuah kedai
makan di sebuah kota kecil. Baru saja mereka ma-kan, datang empat orang laki-laki berpakaian
pemburu dan wajah serta tubuh mereka nampak lesu dan lelah. Pemilik kedai makanan menyam-but
mereka yang agaknya sudah menjadi langga-nan lama.
dunia-kangouw.blogspot.com
JILID XXV
"MANA hasil buruan kalian? Apakah sudah habis terjual semua? Aih, agaknya kalian lupa untuk
menyisihkan daging kijang untukku !" katanya ramah.
Seorang di antara mereka yang pipinya codet bekas terluka kuku harimau, mengeluh dan men-jawab,
"Ah, A-kiu, engkau tidak tahu betapa si-alnya kami! Sebetulnya kami telah memperoleh hasil buruan
yang lumayan juga. Akan tetapi ke-marin sore kami bertemu dengan pasukan tentara yang banyak
sekali dan mereka itu dikawlal orang-orang yang memiliki ilmu seperti iblis. Hasil buru-an kami
dirampas semua, bahkan nyaris kami dibu-nuh kalau kami tidak cepat-cepat melarikan diri."
"Tapi tapi kalian adalah orang-orang ga gah " Pemilik warung itu merasa penasaran.
"Hemm, apa daya kami melawan pasukan be-sar? Apa lagi mereka dikawal oleh orang-orang kangouw
yang menyeramkan. Bayangkan saja, seorang di antara mereka yang seperti raksasa ma-kan
seekor anak harimau hidup-hidup !"
"Hidup-hidup?" Mata pemilik warung terbe-lalak.
"Ya, induk harimau kami robohkan dan tewas, anaknya masih hidup kami tangkap. Ketika diram pas
oleh mereka raksasa itu langsung menerkam anak harimau dan tanpa membunuhnya lebih dulu,
tanpa memanggang dagingnya, begitu saja leher anak harimau itu digigit dan darahnya dihisap."
"Hiiihhh!" Pemilik kedai itu bergidik dan nampak ketakutan, lalu mengundurkan diri untuk
mempersiapkan hidangan bagi empat orang lang-ganannya. Tentu saja Liu Pang dan Pek Lian yang
mendengarkan semua itu merasa tertarik dan juga girang. Besar kemungkinan yang diceritakan mereka
itu adalah pasukan musuh yang mereka se-dang kejar dan cari.
"Ah, keamanan terancam oleh perang"
Liu Pang mendekati mereka dan berkata. "Kami orang-orang dusun sungguh merasa bingung harus
mengungsi ke mana. Kalau boleh saya bertanya, di manakah saudara sekalian bertemu dengan pasukan
itu?" Dengan gaya bahasa dusun, Liu Pang dapat mengelabuhi empat orang pemburu itu yang
agaknya masih merasa tegang sehingga mereka suka sekali menceritakan pengalaman hebat yang
baru saja mereka temui itu. Dengan pancingan-pancingan yang tidak kentara, akhirnya Liu Pang
dapat mengumpulkan keterangan bahwa pasukan itu adalah pasukan besar yang mengawal iringiringan
kereta para pembesar beserta keluarganya, dan bahwa di antara para pemimpinnya terdapat
orang-orang kang-ouw yang menyeramkan. Dari keterangan mereka, Liu Pang dapat mengetahui
bahwa semua tokoh Ban-kwi-to telah lengkap bersama pasukan musuh itu.
Dengan aksi seolah-olah ketakutan dan hen-dak cepat pulang untuk mempersiapkan keluarga-nya
mengungsi, Liu Pang mengajak Pek Lian me-ninggalkan kedai dan kota kecil itu.
"Wah, sungguh berbahaya ! Semua tokoh Ban-kwi-to agaknya sudah lengkap berkumpul dan
membantu pasukan musuh. Belum lagi tokoh-to-koh sesat yang lain dan belum kita ketahui. Mari kita
cepat menyusul dan menyelidiki keadaan me-reka."
Akan tetapi, ketika mereka tiba di tepi kota, mereka melihat dua orang laki-laki tua berjubah coklat
sedang berjalan dengan cepat. Melihat me-reka, Liu Pang berbisik kepada muridnya, "Lihat, orangorang
Liong-i-pang itu lagi! Mau apa mereka? Dan di mana Lai-goanswe yang mereka culik?"
Guru dan murid ini cepat membayangi mereka yang berjalan cepat keluar kota. Baiknya mereka
mengjambil jalan di sepanjang jalan umum yang cukup ramai sehingga perbuatan guru dan murid itu
tidak menarik perhatian. Pek Lian yang pernah bentrok dengan kedua orang kakek Liong-i-parig itu,
membenamkan topinya lebih dalam untuk me-nyembunyikan mukanya.
Dua orang berjubah naga itu menuju ke sebuah kedai arak yang berdiri terpencil sendirian di se-buah
tikungan jalan. Di sinilah para pedagang, pe-rantau, dan mereka yang kebetulan lewat di jalan raya
ini, melepaskan lelah dan makan minum. Me-lihat warung arak ini, Pek Lian terkejut. "Suhu, teecu
pernah melihat tempat ini." Ia lalu mence-ritakan betapa ia pernah bersama Seng Kun dan Bwee
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong dalam perjalanan mencari ayahnya dahulu itu, sampai di warung ini. Di sinilah ia berjumpa
dengan A-hai yang menjadi tukang pengantar arak dan kusir gerobak arak. Di tempat ini pula muncul
tokoh-tokoh sesat anak buah Raja Kelelawar, yaitu San-hek-houw dan Si Buaya Sakti yang kemudian
menawan Seng Kun dan A-hai.
Liu Pang berbisik kepada muridnya agar ber-hati-hati. Setelah dia meneliti penyamaran murid-nya
dan merasa yakin bahwa penyamaran itu cu-kup sempurna, mereka berdua lalu memasuki wa-rung
itu pula, memilih tempat di sudut sebelah dalam. Matahari mulai condong ke barat dan wa-jah mereka
tertutup bayangan dinding, akan tetapi dari tempat itu mereka dapat melihat dua orang Liong -i-pang
itu dengan jelas
Dua orang Liong-i-pang itu duduk di kursi agak luar dan tak lama kemudian, selagi mereka berdua
minum, datanglah seorang pemuda yang memakai jubah hijau. Pemuda itu disambut oleh kedua
orang Liong-i-pang, duduk semeja dan mengeluarkan sehelai surat untuk diserahkan ke-pada dua
orang itu.
Tiba-tiba nampak, bayangan orang berkelebat cepat dan tahu-tahu seorang wanita cantik telah
menerjang ke arah kakek jubah coklat yang tinggi besar dan yang sedang membaca surat. Penyerangan
itu dibarengi bantuan dua orang lain yang juga menyerang si pemegang surat sedangkan wanita
cantik itu memukul tangan yang memegang surat untuk merampas surat itu. Hebat dan cepat
sekali gerakan wanita cantik itu bersama dua orang kawannya, akan tetapi kakek jubah naga itu lebih
hebat lagi. Dia memang terkejut diserang tiba-tiba, akan tetapi sambil membentak keras, kedua
tangannya bergerak dan tubuhnya bangkit berdiri. Sekaligus dia menangkis dan akibatnya, wanita
cantik itu bersama dua orang kawannya terdorong sampai terjengkang dan terhuyung! Akan tetapi,
surat yang dipegang oleh kakek jubah naga itu ter-lepas dan terdorong oleh angin pukulan mereka
yang berkelahi, surat itu terbang ke dekat meja di mana Liu Pang dan Pek Lian duduk.
Dua orang kakek Liong-i-pang itu memang lihai bukan main. Padahal, dengan kaget sekali
Pek Lian mengenal bahwa wanita cantik itu adalah Pek-pi Siauw-kwi Si Maling Cantik, tokoh sesat
yang amat lihai itu! Dan empat orang temannya juga kesemuanya memiliki gerakan yang lihai tan-da
bahwa mereka bukan orang-orang sembarang-an. Namun, mereka berlima itu kewalahan menghadapi
dua orang kakek Liong-i-pang. Bahkan, kakek Liong-i-pang yang tinggi besar, yang di-kenal
oleh Pek Lian sebagai Bhong Kim Cu yang pernah menyerbu ke rumah keluarga Bu Kek Siang,
dengan tendangannya membuat Maling Cantik kembali terhuyung. Ketika itu, Maling Can-tik hendak
menubruk surat yang terlepas tadi, akan tetapi ia terhuyung oleh tendangan dan kakek Bhong Kim Cu
kini telah menyambar kembali su-rat yang tadi terlepas dan memasukkannya ke da-lam saku
jubahnya.
Melihat betapa ia dan kawan-kawannya ke-walahan, Si Maling Cantik lalu mengeluarkan sua-ra tinggi
melengking, lalu bersama empat orang kawannya iapun meloncat keluar warung melari-kan diri. Dua
orang kakek jubah coklat tidak me-ngejar, melainkan cepat membayar harga minum-an dan
meninggalkan tempat itu pula.
Tinggal Liu Pang dan Pek Lian yang masih duduk di situ. Warung itu sudah sepi karena per-kelahian
tadi membuat semiua tamu lari cerai-be-rai ketakutan. "Tadi aku sempat membaca bebera-pa huruf di
surat itu. Sayang aku tidak dapat merampasnya. Aku membaca beberapa huruf yang penting, yaitu
kata-kata "kaisar", "pemberontak-an", dan "Pesanggrahan Hutan Cemara". Huruf-huruf itu dapat
memberi petunjuk. Tentu ada hu-bungannya dengan kaisar, juga dengan pemberon-takan."
"Dan apa artinya Pesanggrahan Hutan Cemara itu, suhu?" Pek Lian bertanya.
"Aku sedang memikirkan itu ah, sekarang aku ingat., Tak jauh dari sini, di puncak bukit ter-dapat
sebuah hutan cemara dan memang di situ terdapat sebuah pesanggrahan milik kaisar yang
diergunakan untuk beristirahat di waktu berburu di hutan-hutan liar di balik bukit. Tentu ada apa-apa di
sana. Mari kita ke sana !"
Mereka lalu membayar harga minuman dan me-ninggalkan pemilik kedai yang mengomel panjang
pendek karena perkelahian itu amat merugikannya. Banyak tamu yang lari tanpa lebih dulu membayar
harga makanan dan minuman, juga ada bebe-rapa buah bangku dan meja yang rusak, belum la-gi
perabot-perabot makan yang pecah-pecah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hutan cemara itu memang merupakan tempat indah dan tidak mengherankan apa bila kaisar memerintahkan
pembangunan sebuah pesanggrahan di tempat ini. Hutan itu cukup luas dan di tengahtengah
hutan, dikurung pohon-pohon cemara, ter-dapat sebuah danau. Pesanggrahan yang merupakan
bangunan indah itu berdiri di tepi danau, agak ke tengah sehingga sebagian besar bangunan itu
dikelilingi danau. Air danau yang jernih meman-tulkan bayangan pesanggrahan, mendatangkan pemandangan
yang amat indah.
Liu Pang dan Pek Lian tiba di hutan itu men-jelang tengah malam. Dengan hati-hati sekali mereka
memasuki hutan. Ketika mereka menye-linap di antara pohon-pohon cemara memasuki hutan hendak
menuju ke bangunan pesanggrahan di tepi danau, tiba-tiba mereka mendengar suara orang berkelahi
dan dengan berindap-indap me-rekapun menuju ke arah suara itu.
Setelah mereka dapat mendekati tempat per-kelahian itu, di bawah sinar bulan mereka dapat
mengenal tiga orang yang sedang berkelahi itu. Kiranya pemuda Tai-bong-pai, yaitu Song-bun-kwi
Kwa Sun Tek, putera ketua Tai—bong-pai yang lihai dan yang bersekongkol dengan orang-orang
asing dan para pembesar yang mengkhianati pemerintah, kini sedang bertanding dikeroyok dua oleh
orang-orang berjubah biru dan rambutnya riap-riapan. Di situ berdiri pula empat orang ber-jubah hijau
menonton perkelahian.
Kini nampak betapa Kwa Sun Tek Si Setan Berkabung itu mengeluarkan ilmu silatnya yang aneh,
yaitu Ilmu Silat Pukulan Mayat Hidup dan seorang di antara kedua pengeroyoknya yang me-nangkis
pukulan itu, terjengkang! Seperti lengan mayat yang kaku, Kwa Sun Tek mencengkeram ke depan, ke
arah orang ke dua yang mengeroyoknya sambil membalikkan tubuh. Orang inipun me-nangkis
dengan tangan kirinya.
"Plakk!" Dan tubuh orang inipun terpelanting. Akan tetapi, kedua orang jubah biru itupun lihai sekali.
Mereka sudah mampu berloncatan bangun kembali dan dibantu oleh empat orang kawan me-reka
yang berjubah hijau, mereka maju lagi. Kwa Sun Tek dikeroyok enam orang yang lihai. Namun,
pemuda tampan berwajah dingin menyeramkan se-perti wajah mayat ini tidak gentar dan gerakangerakannya
yang aneh membuat enam orang pe-ngeroyoknya bahkan kewalahan. Akan tetapi, seorang
di antara dua kakek berjubah biru kini me-ngeluarkan suitan-suitan nyaring, agaknya untuk
memanggil teman-temannya.
Melihat ini, Kwa Sun Tek terkejut sekali. Ta-dinya dia sedang melakukan penyelidikan ke dae-rah
yang akan dilewati barisannya. Tak disangka-nya di situ bertemu dengan orang-orang Liong-i-pang
yang lihai dan agaknya banyak anggauta Liong-i-pang berada di situ. Untung dia hanya bertemu yang
berjubah hijau dan biru saja, yang tingkatnya masih belum tinggi. Kalau berjumpa dengan yang
tingkatnya lebih tinggi, tentu dia ce-laka. Berpikir demikian, Kwu Sun Tek berkelebat pergi melarikan
diri dari tempat itu.
Liu Pang yang mengintai merasa bimbang. Ingin dia membayangi pemuda Tai-bong-pai itu, akan
tetapi diapun ingin sekali menyelidiki apa yang dilakukan oleh perkumpulan Liong-i-pang maka
mereka berkumpul di tempat ini. Dia meng-ambil keputusan untuk menyelidiki tempat itu. A-pa lagi,
pemuda Tai-bong-pai itu lihai sekali. Kalau dia bersama muridnya melakukan pengejar-an dan
membayanginya, hal itu amatlah berbaha-ya. Dia harus menyelidiki barisan itu dengan cara yang
lebih aman dan bersembunyi.
Setelah Kwa Sun Tek pergi, seorang di antara dua kakek berjubah biru itu berkata kepada te-mantemannya,
"Orang itu lihai sekali. Seorang yang berkepandaian tinggi telah menemukan tem-pat ini.
Mungkin dia tadi seorang di antara kaki tangan Perdana Menteri Li Su dan sekutunya. Si-apa tahu
kalau orang tadi diutus untuk mencari Tong-taihiap. Kita harus cepat memberi laporan ke dalam.
Hayo!"
Enam orang itu lalu memasuki hutan. Liu Pang memberi tanda kepada muridnya dan merekapun
cepat membayangi. Bulan kadang-kadang tertu-tup awan sehingga memudahkan guru dan murid ini
melakukan pengintaian tanpa diketahui enam orang itu. Akan tetapi, ketika enam orang itu me masuki
bangunan pesanggrahan, Liu Pang tidak berani mengambil jalan dari pintu depan. Dia mengajak
muridnya untuk mengambil jalan dari belakang, melalui air danau dan mereka berenang di antara
pohon-pohon teratai yang rimbun. Karena permukaan air itu cukup gelap, dengan agak menjauh dari
gurunya, Pek Lian berani berenang dengan telanjang bulat, membawa pakaiannya di atas kepala.
Juga Liu Pang yang berenang lebih dahulu, melepaskan pakaiannya. Setelah tiba di bagian belakang
dunia-kangouw.blogspot.com
bangunan, barulah mereka menge-nakan pakaian mereka. Mereka bergantung pada tiang-tiang
bangunan dan menanti dengan hati-hati sekali. Dalam keadaan seperti ini, Pek Lian termenung.
Banyak sudah yang aneh-aneh dialaminya se-menjak ayahnya ditawan, semenjak di istana terjadi
kekacauan. Kini hidupnya sebatangkara dan sete-lah kini berdekatan dengan gurunya, baru terasa
olehnya bahwa di dalam diri gurunya ini dia me-nemukan pengganti segala-galanya. Pengganti orang
tua, juga pengganti guru-gurunya yang ke-banyakan telah gugur dalam perjuangan, penggan-ti
sahabat-sahabatnya yang kini berpisah darinya. Kalau dia teringat kepada A-hai, jantungnya ma-sih
berdebar keras. Entah bagaimana, di. dalam hatinya terdapat suatu perasaan yang aneh terha-dap
pemuda yang aneh itu. Akan tetapi, iapun ha-rus mengakui bahwa gurunya ini juga mendapat-kan
tempat yang istimewa dalam hatinya! Liu Pang yang usianya belum ada empatpuluh tahun mi juga
hidup sendirian. Isterinya gugur dalam perjuangan pula dan belum mempunyai anak. Dan iapun dapat
merasakan sesuatu yang aneh dalam pandangan Liu Pang terhadap dirinya, walaupun ia tidak berani
memastikan apakah gurunya itu ja-tuh cinta kepadanya, seperti juga ia sendiri tidak tahu apakah ia
mencinta A-hai, ataukah mencinta Liu Pang, bahkan ia tidak tahu pasti apakah ada orang yang
dicintanya !
Tiba-tiba gurunya memberi isyarat. Mereka ta-di duduk di tiang melintang di permukaan air. Ada suara
di sebelah kiri dan suhunya kini sudah me-manjat tiang bangunan yang terendam air. Iapun mengikuti
jejak gurunya, memanjat tiang ke dua. Setelah tiba di atas, kini mereka dapat mengintai ke dalam,
juga suara mereka yang sedang berca-kap-cakap di dalam itu terdengar cukup jelas. Mereka berdua
mengenal suara Tong Ciak yang berjuluk Pek-lui-kong itu. Si pendek cebol yang amat lihai dan
menjadi jagoan istana itu. Liu Pang dan Pek lian mengintai dan Pek Lian merasa jantungnya seperti
hendak copot saking kagetnya. Pek-lui-kong Tong Ciak yang lihai itu ternyata sedang bercakap-cakap
dengan seorang kakek be-rambut putih yang amat dikenalnya dan kakek ini bahkan lebih sakti
dibandingkan dengan Tong Ciak. Kakek itu berpakaian serba putih sederhana dan dia bukan lain
adalah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin, ketua Thian-kiam-pang, ayah kandung Yap Kim dan ayah angkat
Yap Kiong Lee ! Untunglah bahwa air danau itu mengeluarkan bunyi. Riak air itulah yang
menyelamatkan guru dan murid itu sehingga kemunculan mereka tidak didengar oleh dua orang sakti
yang berada di dalam pesanggrah-an. Si Malaikat Halilintar Tong Ciak tidak mema-kai pakaian
seragam, melainkan memakai pakaian biasa dan sebuah topi caping lebar. Kiranya dia sedang
menyamar. Sikapnya amat menghormat terhadap Yap-lojin dan suaranya seperti orang melapor
kepada atasannya ketika dia berkata,
"Locianpwe, ternyata bahwa kaisar telah benar-benar dibunuh oleh mereka. Persekutuan pengkhianat
itu telah menyewa orang-orang dari golong-an hitam untuk menjatuhkan sri baginda kaisar.
Kaisar telah dibunuh oleh mereka di pantai timur. Rencana ini sebenarnya telah diketahui Sang Puteri
Siang Houw Nio-nio, dan beliau telah meng-utus saya ke tempat itu. Namun, kedatangan saya
terlambat. Kaisar telah mereka bunuh dan saya hanya mampu merebut dan melarikan jenazah sri
baginda saja."
Yap-lojin mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. "Kelemahan sri baginda sendirilah yang
menciptakan munculnya pengkhianat-peng-khianat." Sementara itu, Liu Pang merasakan tu-buhnya
menggigil. Kaisar telah dibunuh oleh pa-ra pengkhianat itu! Betapapun juga, dia masih mempunyai
perasaan setia kepada kaisar dan men-dengar nasib kaisar itu, tanpa disadarinya, kedua matanya
menjadi basah. Kaisar dibunuh orang dan jenazahnya sampai dibuat rebutan!
16
"Saya berhasil menyembunyikan jenazah itu dan membawanya sampai ke sini, locianpwe. Sung-guh
bukan sebuah pekerjaan yang mudah! Peng-khianat-pengkhianat itu mengerahkan tokoh-to-koh sesat
untuk merebut kembali jenazah kaisar. San-hek-houw dan Si Buaya Sakti yang lihai itu selalu
membayangi saya. Mereka ingin merebut jenazah karena mereka membutuhkannya untuk menjadi
bukti kematian sri baginda. Tanpa adanya bukti jenazah tak mungkin mereka dapat mengang-kat
kaisar baru menurut pilihan mereka. Demikian sukarnya saya melarikan jenazah sri baginda se hingga
terpaksa saya sembunyikan ke dalam pedati ikan asin."
Yap-lojin mengangguk-angguk. "Sungguh bu-ruk sekali nasib sri baginda. Akan tetapi engkau
bertindak benar, demi tugasmu. Perdana Menteri Li Su dan kawan-kawannya memang berusaha
mati-matian untuk merebut kekuasaan. Mereka telah berhasil menyingkirkan pangeran mahkota.
Bahkan Jenderal Beng Tian juga mereka singkir-kan bersama sang pangeran, juga para pembesar
dunia-kangouw.blogspot.com
yang jujur. Mereka sudah mencalonkan pula pa-ngeran pilihan mereka sendiri untuk diangkat menjadi
kaisar, tentu saja pangeran yang dapat menja-di boneka mereka. Mereka ingin menggantikan
kaisar secepat mungkin sebelum pangeran mahkota dan Jenderal Beng Tian kembali dari perang di
perbatasan."
Liu Pang termangu-mangui mendengarkan itu semua. Kaisar telah dibunuh. Keadaan di istana dalam
kemelut. Pangeran mahkota disingkirkan. Mereka saling memperebutkan kekuasaan, tanpa
mengetahui banwa kini pasukan-pasukan pembe-rontak dari daerah bersama pasukan asing sudah
mendekati kota raja dan siap menyerbu dan me-nguasai kota raja!
Kemudian terdengar suara kakek itu, halus penuh keharuan, "Tong-ciangkun, setelah sri baginda
kaisar wafat, perlukah beliau disiksa lagi dengan membiarkan jenazahnya membusuk? Apakah tidak
lebih baik kalau kita membakar saja jenazah itu?" '
"Saya sudah memikirkan hal itu, akan tetapi sungguh sayang bahwa hal itu tidak mungkin da-pat kita
lakukan, locianpwe. Para sesepuh dan yang berwenang di istana tidak akan dapat meng-angkat
kaisar baru kalau kaisar lama belum wafat dan sebagai buktinya tentu harus ada jenazah be-liau.
Kalau kita bakar jenazah itu, nanti apa bila putera mahkota pulang, tentu akan terdapat kesu-karan
dalam mengangkatnya sebagai kaisar baru. Bukti berupa abu tentu kurang meyakinkan, apa lagi
kalau diingat bahwa terdapat banyak pihak yang menghendaki diangkatnya pangeran yang ja-hat itu!"
"Benar pula apa yang kaukatakan, Tong-ciang-kun."
''Selain itu, sri baginda kaisar sendiri selama hi-dupnya sangat mendambakan agar hidupnya langgeng.
Beliau pergi ke mana-mana, kadang-ka-dang sendirian saja, hanya karena ingin mencari ilmu
hidup abadi. Beliau pernah berkata kepada saya bahwa beliau tidak menginginkan badannya rusak
sampai akhir jaman."
Yap-lojin mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. "Akupun sudah mendengar akan hal itu.
Beliau terlalu dipengaruhi oleh pelajaran Agama To, akan tetapi secara keliru sehingga be-liau
menghendaki hal yang aneh-aneh. Itulah se-babnya beliau suka mengembara seorang diri, ke
tempat-tempat sepi, ke gunung-gunung tanpa pengawal sehingga kesukaan beliau itu kini dimanfaatkan
oleh pengkhianat Li Su untuk mengha-dang dan membunuhnya."
"Masih untung saya berhasil mengamankan je-nazahnya sehingga niat busuk mereka itu gagal."
Pada saat itu terdengar bunyi langkah orang dan muncullah enam orang murid Liong-i-pang di
ambang pintu. Ketika dua orang berjubah co-klat itu memandang ke dalam ruangan dan melihat Yaplojin,
mereka terkejut sekali dan seperti orang bingung.
"Ahhh maaf kami ...........kami tidak tahu bahwa Yap-locianpwe berada di sini"
kata Bhong Kim Cu dengan gugup sambil membe-ri hormat, diturut oleh para sutenya pula yang
kesemuanya memandang dengan alis berkerut tanda bahwa hati mereka tidak senang.
"Hemm, Bhong Kim Cu, apa artinya kemuncul-anmu yang tiba-tiba ini bersama saudara-saudaramu,
dan apa artinya sikapmu yang gugup ini?" Yap-lojin yang mengenal baik murid-murid sa-habatnya itu
menegur.
Bhong Kim Cu menjawab dengan hati-hati, "Yap-locianpwe, kami berenam menerima tugas dari suhu
agar turut melindungi jenazah sri bagin-da kaisar. Suhu mendengar desas-desus bahwa Raja
Kelelawar sendiri akan keluar membantu-anak buahnya mencari dan merampas jenazah itu."
"Hemm, begitukah? Dan di mana adanya su-humu sekarang?"
"Suhu juga sedang berkeliling untuk mencari Raja Kelelawar dan menghadapinya!"
"Bhong Kim Cu, apa lagi yang hendak kausam-paikan kepadaku? Bicaralah!" tanya pula Yap-lojin
melihat betapa pandang mata tokoh Liong-i-pang itu masih membayangkan keraguan dan
kebingungan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bhong Kim Cu cepat menjura dengan hormat. "Saya sendiri merasa bingung dan hanya karena
perintah suhu maka saya berani menyampaikan hal ini kepada locianpwe. Saya dan sute ini
menerima tugas untuk menyelamatkan Jenderal Lai dari ta-wanan kaum pemberontak Liu Pang dan
keti-ka kami melaksanakan tugas itu, kami melihat hal yang amat mengejutkan hati, yaitu bahwa kedua
putera locianpwe, saudara Yap Kiong Lee dan Yap Kim, berada bersama para pemberontak itu,
bahkan mereka telah membantu pasukan pembe-rontak Liu Pang."
"Hemm !" Wajah kakek itu berobah merah dan juga berduka, sedangkan si cebol Tong Ciak tidak
berani mengangkat mata memandang, maklum betapa terpukulnya hati ketua Thian-kiam-pang itu
ketika mendengar berita ini. Dia sendiri tidak merasa heran karena mendengar betapa para pendekar
banyak yang membantu gerakan Liu Pang. Dan para murid Thian-kiam-pang memang sejak dahulu
menganggap diri mereka sebagai pendekar. Sejenak suasana menjadi sunyi, seolah-olah mereka
semua tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Kembali terdengar langkah-langkah kaki dan kini muncul dua orang gadis cantik yang segera
menjatuhkan diri berlutut di depan Yap-lojin. Melihat dua orang gadis ini, hampir saja Pek Lian berseru
memanggil. Mereka adalah Pek In dan Ang In, dua orang murid dan juga pengawal pribadi Siang
Houw Nio-nio yang sudah dikenal-nya dengan baik itu. Akan tetapi teringat bahwa ia sedang
mengintai bersama gurunya, Liu Pang, yang merupakan pemimpin pergerakan para pen-dekar, tentu
saja ia menahan diri dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara.
"Suhu, teecu berdua diutus oleh subo untuk menjemput suhu. Ini surat dari subo yang harus teecu
haturkan kepada suhu." Pek In mengeluar-kan sepucuk surat yang diberikannya kepada Yap-lojin.
Dengan sikap tenang, walaupun hatinya masih terpukul oleh berita tentang kedua orang putera-nya
tadi, Yap-lojin menerima dan membuka surat dari isterinya yang lalu dibacanya itu. Isi surat itu
menyatakan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian dan putera mahkota, menga-lami
gempuran-gempuran musuh dari luar dan ki-ni mengundurkan diri sudah mendekati kota raja. Juga
barisan pemberontak Chu Siang Yu yang makin kuat itu makin mendekati kota raja. Karena itu Yaplojin
diminta datang oleh bekas isterinya itu untuk berunding dan membantunya ikut me-mikirkan
keadaan kota raja yang semakin gawat.
Sejenak Yap-lojin termangu-mangu, lalu menarik napas panjang, terdengar dia mengeluh duka.
"Ahhh, agaknya Thian telah menentukan semuanya, agaknya saat-saat terakhir dari Dinasti Cin Si
Hongte sudah berada di ambang pintu"
Kalau orang lain yang berani mengeluarkan ucapan seperti ini tentu akan dianggap pemberon-tak
dan mungkin ditangkap, akan tetapi karena yang mengucapkan adalah Yap-lojin dan semua orang
tahu bahwa kakek ini benar-benar berdu-ka, maka mereka semua kelihatan prihatin dan su-asana
menjadi sunyi. Hati siapa yang tidak akan menjadi prihatin memikirkan keadaan kerajaan di saat itu?
Kaisar telah tewas dalam keadaan amat menyedihkan. Semua pejabat yang setia, seperti Jenderal
Beng Tian, putera mahkota, Siang Houw Nio-nio, Tong Ciak, dan juga mereka yang ber-pihak
kerajaan menentang para pemberontak se-perti Yap-lojin dan Liong-i-pang, agaknya kini tidak akan
dapat berbuat apapun untuk menyela-matkan istana dan kerajaan. Mereka harus meng-hadapi dua
pemberontakan yang kuat, yaitu pem-berontakan barisan Chu Siang Yu dan juga barisan Liu Pang.
Padahal di dalam tubuh pemerintah sendiri muncul sekelompok musuh dalam selimut di bawjah
pimpinan Perdana Menteri Li Su, pange-ran ke dua, dan kepala thaikam Chao Kao. Peng-khianatpengkhianat
ini bahkan tidak segan-se-gan untuk menarik golongan hitam untuk memban-tu mereka.
"Yap-locianpwe," kata Bhong Kim Cu si jubah coklat, "pada saat ini, barisan besar Liu Pang juga
sudah tiba di daerah kota raja. Negara kita benar-benar terjepit, sedangkan para pejabat di istana
yang gila kekuasaan hanya saling memperebutkan kekuasaan."
Yap-lojin menghela napas dan si pendek Tong Ciak mengerutkan alisnya sambil mengepal tinju! Yaplojin
lalu bangkit dan berkata kepada jagoan cebol itu, "Sayang aku tidak dapat ikut menjaga jenazah
sri baginda. Aku harus kembali ke kota
raja sekarang juga." Yap-lojin lalu pergi dikawal oleh dua orang gadis cantik. Mereka pergi dengan
cepat.
Bhong Kim Cu lalu berkata kepada Tong Ciak, "Tong-ciangkun, tadi dua orang sute berjubah biru dan
empat orang sute berjubah hijau telah memergoki seorang mata-mata yang sangat lihai. Sayang
dunia-kangouw.blogspot.com
bahwa mereka tidak berhasil membekuknya. Aku khawatir bahwa tempat ini sudah dike tahui pihak
musuh"
Tiba-tiba dia menghentikan bicaranya karena Tong Ciak sudah meloncat keluar, diikuti oleh pa-ra
murid Liong-i-pang. Sementara itu, Liu Pang yang tadinya mendengar semua percakapan yang amat
penting, tiba-tiba dikejutkan oleh suara air bergelombang. Dia bersama Pek Lian cepat me-rosot dan
bersembunyi di bawah bangunan yang gelap. Kiranya yang muncul adalah Si Buaya Sak-ti, Sin-go Mo
Kai Ci bersama belasan orang anak buahnya yang semua mengambil jalan air. Mereka tadi
mendekati bangunan itu dengan jalan menye-lam dan barisan katak ini sekarang bermunculan lalu
berloncatan ke atas bangunan dengan sigapnya. Tak lama kemudian, bangunan itu dibakar dan terjadilah
pertempuran antara para penyerbu dan Tong Ciak yang dibantu oleh murid-murid Liong-ipang.
Terdengar auman-auman harimau dan muncullah San-hek-houw bersama anak buahnya, juga
Si Maling Cantik, si jai-hwa-cat Jai-hwa Toat-beng-kwi, dan yang lain-lain.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Diantara berkobarnya api yang membakar pesanggrahan,
mereka berkelahi. "Tahan mereka!"
Pek-lui-kong Tong Ciak berbisik kepada Bhong Kim
Cu. "Aku akan menyelamatkan!" Dia tidak berani melanjutkan, akan tetapi murid Liong-i-pang itu
sudah mengerti. Tentu si cebol itu akan menyelamatkan jenazah sri baginda. Maka, kini Bhong Kim
Cu dan sutenya yang juga berjubah co-klat, dibantu oleh dua orang berjubah biru dan empat orang
berjubah hijau, mengamuk dan me-nahan serbuan para pengeroyok yang jumlahnya banyak itu.
Tong Ciak sendiri cepat menyelinap dan me-nyusup ke hutan lebat di sebelah utara danau. Di
sanalah dia menyembunyikan pedatinya dan peti mati kaisar berada di dalam pedati, dicampur dengan
keranjang-keranjang ikan asin. Bulan ber-sinar cukup terang dan dari jauh dia melihat pedatinya
masih berdiri dengan selamat. Dengan ha-ti girang Tong Ciak lalu berlari cepat, akan tetapi
ketika dia tiba di dekat pedati, tiba-tiba terdengar suara ketawa mendengus. Dia terkejut dan cepat
menoleh. Ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus memakai pakaian dan jubah serba
hitam, mukanya seperti mayat akan tetapi matanya mencorong mengerikan. Jantung di dalam dada
jagoan istana cebol itu berdebar tegang.
"Raja Kelelawar!" bentaknya.
"Ha-ha-ha, cebol sombong engkau mengan-tarkan nyawa!"
Biarpun sudah mendengar akan kelihaian iblis ini namun Tong Ciak tidak gentar. Jagoan istana ini
adalah seorang ahli waris Soa-hu-pai (Par-tai Persilatan Danau Pasir), mewarisi ilmu ketu-runan dari
Kim-mo Sai-ong. Dia sudah mema-tangkan ilmu-ilmu kesaktian dari perguruan itu dan dia berhak
mengaku sebagai ahli waris tung-gal atau yang paling lihai dari Soa-hu-pai. Keti-ka dia mendengar
munculnya Raja Kelelawar, bah-kan hatinya merasa penasaran dan dia ingin sekali bertemu dengan
raja iblis itu untuk mengadu ilmu. Maka kini, begitu melihat Raja Kelelawar berada di situ, diapun
menjadi marah sekali. Jelaslah bah-wa Raja Kelelawar hendak merampas jenazah sri baginda.
"Engkaulah yang datang mengantar nyawa!" bentaknya dan si cebol ini langsung saja menye-rang
dengan ganasnya. Begitu menyerang, dia su-dah mainkan ilmu inti dari perguruannya, yaitu Ilmu Silat
Teratai atau Soa-hu-lian. Begitu dia mainkan ilmu ini, kedua lengannya bergerak sede-mikian
cepatnya sehingga dilihat oleh mata biasa kedua lengannya berobah menjadi puluhan, bahkan
ratusan banyaknya! Dan setiap pukulannya men-datangkan angin halus yang bersiutan!
Tentu saja Raja Kelelawar tidak berani meman-dang rendah karena diapun sudah tahu akan kelihaian
lawan ini. Maka, begitu melihat lawan lang-sung mengeluarkan ilmu simpanannya, diapun ti-dak
segan-segan untuk mainkan ilmu simpanan-nya pula, yaitu Pat hong Sin-ciang (Silat Sakti Delapan
Penjuru Angin). Karena dua macam ilmu silat itu sama-sama mengandalkan kecepatan, ma-ka tubuh
kedua orang sakti itupun lenyap dan yang nampak hanya bayangan mereka berkelebatan dan
bayangan banyak sekali lengan dan kaki sehingga kalau ada yang menonton, dia tentu akan bingung
mengenal mana Pek-lui-kong dan mana Bit-bo-ong.
Si cebol yang segera merasa betapa hebatnya lawan, cepat mengeluarkan tenaga sakti yang am-puh,
yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut yang men-datangkan angin puyuh dan hawa dingin itu. Na-mun,
lawannya mendengus dan Raja Kelelawar-pun mainkan Kim-liong Sin-kun yang tidak kalah hebatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terjadilah perkelahian yang amat he-bat, kadang-kadang mereka mengandalkan kece-patan
sehingga tubuh mereka lenyap, ada kalanya mereka bahkan tidak bergerak atau hanya berge-rak
sedikit sekali karena mereka saling dorong dan saling serang dengan menggunakan kekuatan sinkang!
Diam-diam Raja Kelelawar terkejut juga me-nyaksikan kehebatan si cebol ini. Sejak tadi dia
mempelajari gerakan lawan dan tahulah dia bah-wa ilmu-ilmu yang dikeluarkan oleh si cebol ini
memang hebat, setingkat dengan ilmu perguruan-nya sendiri. Hanya dalam kecepatanlah dia ung-gul.
Oleh karena itu, setelah perkelahian berlang-sung seratus jurus lebih, Raja Kelelawar menge-luarkan
bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat sedemikian cepatnya sehingga Pek-lui-kong Tong
Ciak mengeluarkan seruan kaget karena sukarlah baginya untuk mengikuti gerakan lawan yang
sedemikian cepatnya seperti pandai menghi-lang itu. Kecepatan luar biasa inilah yang membu-at
Tong Ciak akhirnya terkena tamparan pada tengkuknya dan diapun roboh terguling. Pada saat itu
terdengar suitan nyaring dan dari jauh nampak berkelebatan tiga bayangan orang. Melihat ini, Raja
Kelelawar maklum bahwa yang datang ada-lah orang-orang yang tinggi ilmunya. Dia tidak merasa
gentar untuk menandingi siapapun juga, akan tetapi urusan yang lebih penting harus dise-lesaikannya
dahulu. Maka diapun mengeluarkan suara mencicit seperti kelelawar sebagai tanda ke-pada anak
buahnya untuk mundur, sedangkan dia sendiri membuka pintu pedati, tanpa memperduli-kan bau
busuk yang menyambut hidungnya, dia lalu menyambar peti jenazah sri baginda dan mem-bawanya
pergi dengan kecepatan luar biasa. Pa-kaian dan jubahnya yang serba hitam itu membuat dia seperti
menghilang saja ditelan kegelapan malain. Anak buahnya yang dipimpin oleh San-hek-houw dan Si
Buaya Sakti, mendengar isyarat pim-pinan mereka itupun lalu berloncatan pergi diikuti oleh anak buah
mereka.
Ketika terjadi perkelahian, Liu Pang dan Pek Lian sudah keluar dari tempat persembunyian me-reka di
bawah bangunan pesanggrahan yang ter-bakar itu. Mereka lalu bersembunyi di balik se-mak-semak
belukar dan dapat menyaksikan semua hal yang terjadi di situ, yakni penyerbuan para kaum sesat
yang dilawan oleh para tokoh Liong -pang. Mereka tidak dapat mengikuti Tong Ciak dan tidak tahu
bahwa si cebol yang lihai itu sudah terluka oleh Raja Kelelawar dan bahwa jenazah sri baginda telah
terampas oleh raja iblis itu.
Tiga bayangan yang datang dengan cepat se-kali itu ternyata adalah kakek Kam Song Ki, ber-sama
Kwee Tiong Li yang menjadi muridnya, dan Seng Kun. Seperti telah diceritakan di bagian de-pan,
mereka bertiga ini sedang mencari jejak San-hek-houw dan Si Buaya Sakti yang menculik Bwee
Hong. Akhirnya mereka terbawa oleh jejak kedua orang tokoh jahat itu ke tempat itu dan ke-datangan
mereka menyelamatkan nyawa Tong Ciak yang sudah roboh. Kalau mereka tidak da-tang, tentu Raja
Kelelawar akan memberi pukulan terakhir kepadanya.
Tiga orang itu datang terlambat juga karena peti mati berisi jenazah kaisar telah dilarikan Raja
Kelelawar. Akan tetapi, Seng Kun segera ber-lutut memeriksa keadaan Tong Ciak yang mengge-letak
pingsan. Ternyata si cebol menderita luka hebat sekali oleh pukulan tangan ampuh Raja Ke-lelawar
dan kalau saja dia sendiri bukan orang yang memiliki kesaktian, pukulan itu telah meram-pas
nyawanya.
"Kita lihat dulu apa yang telah terjadi di pe-sanggrahan yang terbakar itu," kata kakek Kam Song Ki.
Seng Kun memondong tubuh Tong Ciak dan merekapun pergi menghampiri para murid Liong-i-pang
yang sedang sibuk berusaha me-madamkan api yang tadi dipergunakan oleh para anak buah
penjahat untuk membakar pesanggrah-an.
Melihat betapa mereka sibuk memadamkan api yang membakar dan menjalar ke ruangan tengah,
kakek Kam Song Ki lalu meloncat dan sekali ber-gerak saja tubuhnya sudah melewati para murid
Liong-i-pang, kemudian dia melakukan gerakan seperti mendorong dengan kedua tangan dirangkapkan
ke depan dada. Angfn kuat menyambar ke arah api yang segera padam! Melihat gerakan ini,
Bhong Kim Cu dan para sutenya terkejut sekali karena mereka mengenal ilmu pukulan paling he-bat
dari perguruan mereka, yaitu Ilmu Pai-hud-ciang, akan tetapi dilakukan dengan tingkat yang amat
tinggi! Bhong Kim Cu cepat memandang dan begitu melihat tanda-tanda pada kakek itu, diapun cepat
menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh para sutenya.
"Ah, kiranya Kam-susiok yang datang. Harap maafkan bahwa teecu sekalian tidak tahu akan kedatangan
susiok!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam Song Ki tersenyum dan menggoyangkan tangannya. "Sudahlah, tidak perlu banyak sungkan,
kedatanganku inipun kebetulan saja. Jadi kalian adalah murid-murid Ouwyang-suheng yang menjadi
ketua Liong-i-pang? Ini adalah Kwee Tiong Li muridku dan pemuda itu adalah"
"Adalah orang yang hendak membalas kematian kakek Bu Kek Siang dan isterinya!" Seng Kun berseru.
Dia sudah menurunkan tubuh Tong Ciak dan kini dengan muka merah saking marahnya dia
mencabut pedang dan siap untuk menyerang Bhong Kim Cu dan para sutenya yang menyebab-kan
tewasnya kakeknya dan neneknya.
"Hemm, kiranya engkau!" Bhong Kim Cu berseru kaget dan siap melayaninya. Melihat ini, kakek
Kam Song Ki terkejut dan cepat melang-kah maju untuk melerai.
"Hemm, apa-apaan ini? Kita semua masih satu keturunan perguruan, kenapa harus bentrok sendiri?
Aku sudah mendengar tentang kematian Bu Kek Siang, dan murid-murid Liong-i-pang ini hanya
mentaati perintah guru mereka. Di mana guru kalian, Ouwyang-suheng? Akupun hendak minta
pertanggungan jawabnya atas perbuatannya terhadap Bu Kek Siang."
Melihat sikap paman gurunya ini, Bhong Kim Cu menundukkan muka. "Teecu tidak tahu di ma-na
suhu sekarang, tadinya suhu pergi untuk men-cari dan menandingi Raja Kelelawar dan kami diperintahkan
untuk membantu melindungi jenazah sri baginda "
"Jenazah sri baginda? Di mana?" tanya kakek Kam Song Ki.
"Di sana " Bhong Kini Cu tertegun memandang kepada Tong Ciak yang masih menggeletak pingsan.
Baru dia teringat akan jenazah itu dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi tubuhnya melesat ke depan,
lari memasuki hutan. Sebagai
cucu murid Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan tentu saja ginkangnya hebat. Tak lama kemudian dia
kembali dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Celaka jenazah itu telah dicuri orang ....!"
Dengan singkat dia lalu menceritakan tentang jenazah kaisar itu, didengarkan oleh mereka ber-tiga
dengan kaget. "Kalau begini, teecu sekalian harus cepat pergi mencari suhu untuk melaporkan
peristiwa ini, susiok."
"Baiklah, akan. tetapi, apakah kalian melihat penjahat-penjahat San-hek-houw dan teman-temannya?
Mereka telah menculik Bwee Hong ......" tanya kakek itu.
"Baru saja kami berkelahi melawan mereka! Merekalah yang tadi menyerbu dan membakar pesanggrahan.
Kini mereka telah melarikan diri, ten-tu setelah jenazah itu berhasil mereka curi!" kata
Bhong Kim Cu penuh geram. Setelah memberi hormat kepada susiok mereka, para murid Liong-ipang
itu segera pergi dari situ. Mereka merasa tidak enak untuk berlama-lama berada di suatu tempat
bersama Seng Kun.
Setelah dapat menyabarkan hatinya karena bu-jukan susioknya, Seng Kun lalu mengobati Pek-luikong
Tong Ciak. Sementara itu, Pek Lian membuat gerakan hendak keluar dari tempat persembunyiannya.
Melihat ini, gurunya cepat me-nyentuh lengannya dan memberi isyarat kepada
muridnya untuk mengikutinya meninggalkan tem-pat itu. Setelah mereka pergi jauh dari situ, dia
menegur, "Nona Ho, apa yang hendak kaulakukan tadi?" Di dalam percakapan resmi atau serius, Liu
Pang selalu menyebut muridnya ini nona Ho. Ha-nya kadang-kadang saja dia menyebut nama muridnya
seperti tak disadarinya.
"Suhu, teecu mengenal baik mereka itu. Mereka bukan musuh, dan teecu mendengar betapa enci
Bwee Hong diculik oleh San-hek-houw. Teecu ingin membantu mereka mencari enci Hong"
Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala. "Ingat, pada saat ini kita bukanlah bertugas seba-gai
pendekar, melainkan memiliki tugas perjuangan yang lebih penting lagi sehingga urusan-urusan
pribadi harus disingkirkan atau dikesampingkan lebih dulu. Kalau engkau keluar dan terlihat oleh Tong
Ciak atau orang-orang Liong-i-pang, ten-tu engkau akan ditangkap. Lupakah engkau bah-wa kita ini
telah dianggap pemberontak?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek Lian termangu-mangu dan terpaksa membenarkan ucapan gurunya. Ia menarik napas pan jang.
"Kasihan enci Bwee Hong"
"Kita harus berhati-hati. Kurasa yang meng-gerakkan orang-orang jahat tadi adalah Raja Ke-lelawar
sendiri. Siapa lagi yang akan mampu me-robohkan Tong Ciak kalau bukan raja iblis itu? Jangan
sampai kita bertemu dengan dia. Mari kita mencari jejak pemuda Tai-bong-pai itu untuk menyelidiki
keadaan pasukan asing yang berse-kongkol dengan para pengkhianat."
Guru dan murid itu melepaskan lelah sambil menanti datangnya fajar. Liu Pang segera dapat tertidur
dan Pek Lian duduk termenung. Ia sendi-ri tidak dapat tidur, memikirkan keadaan Bwee Hong,
sahabat yang disayangnya itu. Kalau Bwee Hong diculik San-hek-houw, di mana nona itu
ditawannya? Tadi San-hek-houw menyerbu pe-sanggrahan bersama teman-temannya tanpa membawa
Bwee Hong sebagai tawanan. Jangan-ja-ngan sudah dibunuhnya! Ia bergidik dan menge-pal
tinju. Kalau saja tidak ada tugas perjuangan yang mengikatnya tentu ia akan membantu Seng
Kun mencari Bwee Hong dan membalaskan den-dam kepada para penjahat itu kalau benar Bwee
Hong sudah terbunuh.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali me-reka telah melanjutkan perjalanan, menuju ke arah
larinya Kwa Sun Tek, pemuda Tai-bong-pai se-malam. Menjelang senja, setelah melalui bebera-pa
buah bukit dan banyak hutan liar, di dalam se-buah hutan mereka mendengar derap kaki kuda.
Mereka menyelinap bersembunyi dan dengan gi-rang mereka melihat belasan orang penunggang
kuda yang dipimpin oleh Kwa Sun Tek sendiri, menuju ke depan. Segera mereka membayangi dari
jauh dan setelah matahari mulai tenggelam ke barat, akhirnya mereka menemukan barisan yang
mereka cari-cari. Di sebuah lembah barisan itu berkemah. Menurut taksiran Liu Pang yang sudah
berpengalaman, jumlah pasukan asing yang dibantu oleh orang-orang lihai dari golongan sesat itu
berjumlah paling sedikit seribu orang. Dan di dalam pasukan itu terdapat banyak orang lihai dan
berbahaya seperti pemuda Tai-bong-pai dan pa-ra iblis Ban-kwi-to itu.
Setelah membuat perhitungan dan penggam-baran dalam benaknya, Liu. Pang mengajak murid-nya
untuk pulang ke beteng mereka. Akan tetapi mereka telah pergi jauh dan untuk pulang ke ben-teng
mereka, tentu mereka harus melakukan per-jalanan kurang lebih dua hari dua malam!
Malam itu mereka bermalam di hutan yang Se-pi. Ketika mereka sedang mencari tempat yang enak
untuk beristirahat, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil, "Hei, sobat tukang kayu. Ke si-nilah apa
bila kalian hendak beristirahat."
Liu Pang dan Pek Lian terkejut, akan tetapi mereka datang juga menghampiri sebuah gua. Dan di situ
terdapat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu sedang duduk bersila menghadapi api
unggun. Gua itu cukup luas dan memang meru-pakan tempat yang cukup enak untuk melewatkan
malam. Maka Liu Pang lalu menurunkan pikulan kayunya, lalu masuk ke dalam gua dan bersama
muridnya duduk bersandar dinding guha sambil memandang kepada dua orang tosu itu.
"Terima kasih, ji-wi totiang," katanya. "Kami ayah dan anak memang kemalaman dan sedang mencari
tempat untuk berteduh dan melewatkan malam."
Dua orang pendeta itu ramah sekali. Mereka bahkan membagi roti kering kepada Liu Pang dan Pek
Lian. Guru dan murid ini menerima dan me-makannya, tidak berani mengeluarkan perbekalan mereka
berupa roti dan daging kering yang tidak sesuai dengan keadaan mereka sebagai orang-orang miskin.
Sekali ini, Pek Lian dapat mengaso dan tertidur pulas di sudut guha, membelakangi mereka yang
sedang bercakap-cakap. Liu Pang berlagak bodoh seperti penghuni dusun pencari kayu. Dia mengatakan
bahwa dia dan puterinya terpaksa lari mengungsi karena ancaman perang, dan kini hidup
dari mencari dan menjual kayu kering.
"Siancai !" kata tosu yang matanya sipit sekali. "Dunia memang sedang kacau oleh ulah orang-orang
jahat. Kami sendiri terpaksa turun gunung untuk membantu gerakan para pendekar yang dipimpin
oleh Liu-bengcu. Kabarnya pasu-kan Liu Pang bengcu berada di dekat tempat ini."
Tentu saja Liu Pang tidak berani memperkenal-kan diri karena dia tidak boleh percaya begitu sa-ja
kepada dua orang tosu ini. Siapa tahu mereka ini malah mata-mata pihak musuh? Maka diapun lebih
banyak mendengarkan dari pada bicara. Dari percakapan itu Liu Pang mendapat kenyataan bah-wa
dunia-kangouw.blogspot.com
dua orang tosu itu amat membenci pasukan asing dan para tokoh sesat yang membantu para
pengkhianat.
Pada keesokan harinya, dua orang tosu itupun berangkat pergi, dan Liu Pang bersama muridnya juga
meninggalkan tempat itu, melanjutkan per-jalanan mereka kembali ke induk pasukan mereka.
Malam berikutnya mereka tiba di sebuah pa-dang rumput yang sebenarnya sudah tidak jauh dari
lembah di mana pasukan mereka berkumpul. Akan tetapi melanjutkan perjalanan di malam hari
amatlah berbahaya. Bukan saja jalan pendakian ke bukit di depan itu cukup licin dan banyak terdapat
jurang-jurang berbahaya, akan tetapi juga padang rumput itu sendiri dihuni banyak ular se-hingga
berjalan melalui tempat itu di malam hari juga berbahaya dan mengerikan. Mereka tahu bahwa di
dekat padang rumput sebelah barat terdapat sebuah kuil tua yang sudah kosong maka ke sanalah
mereka menuju untuk melewatkan ma-lam agar besok pagi-pagi dapat langsung kemba-li ke lembah
tempat pasukan mereka berada.
Ketika mereka mendekati kuil, tiba-tiba Liu Pang memberi isyarat. Mereka berhenti karena hidung
mereka mencium bau yang membuat mulut mereka berair, bau sedap daging dipanggang! Selama
beberapa hari ini mereka melakukan per-jalanan sukar dan mereka tidak memperoleh ke-sempatan
untuk makan enak! Dan kini, sudah de-kat dengan tempat sendiri, dalam keadaan letih dan lapar,
mereka mencium bau yang demikian sedap. Siapa orangnya tidak mengilar!
Seperti ditarik oleh tenaga sembrani, guru dan murid ini mendekati kuil. Akan tetapi, agaknya
kedatangan mereka sudah diketahui orang dalam kuil. Buktinya, tidak ada api bernyala di dalam kuil
dan keadaannya sunyi saja. Bagaimanapun juga, bau sedap daging panggang tadi tidak mung-kin
mereka hilangkan dan masih mengambang di udara, dengan mudah dapat dicium.
"Hati-hati," bisik Liu Pang. "Siapa tahu me reka adalah pihak musuh "
Karena jelas bahwa orang yang berada di da-lam kuil bersembunyi. Liu Pang dan Pek Lian ti-dak
berani sembarangan memasuki kuil. Mereka bahkan mengambil keputusan untuk bermalam di tempat
lain saja. Akan tetapi, pada saat mereka hendak membalikkan tubuh pergi dari situ, tiba-tiba nampak
dua sosok bayangan berkelebat kelu-ar. Mereka adalah dua orang gadis cantik.
"Lian-moi, kiranya engkau !." teriak gadis yang berbaju merah sedangkan gadis baju putih
memandang Liu Pang dengan sinar mata penuh selidik.
"Ah, Pek-cici dan Ang-cici !" Pek Lian berseru girang ketika mengenal dua orang gadis itu
ternyata adalah Pek In dan Ang In yang bebe-rapa hari yang lalu telah dilihatnya menghadap Yap-lojin
di dalam pesanggrahan. "Perkenalkan, ini adalah paman Kiang, seorang sahabat yang boleh
dipercaya. Paman, mereka ini adalah enci Pek In dan enci Ang In, dua orang murid Siang Houw Nionio
yang lihai. Eh, enci, kenapa ka-lian berada di sini? Hendak ke manakah?"
Pek In memandang ke kanan kiri, kemudian menggandeng tangan Pek Lian. "Mari kita bicara di
dalam saja."
Mereka berempat masuk ke dalam kuil kosong itu. Api unggun dinyalakan lagi dan sebelum bi-cara,
Pek Lian dan gurunya mendapat bagian daging panggang yang sedap tadi. Mereka berempat makan
tanpa berkata-kata. Setelah kenyang, Pek In melirik ke arah Liu Pang dan berkata ke-pada Pek Lian,
"Adik Lian, aku mau bicara pen-ting denganmu, akan tetapi jangan sampai terde-ngar orang di luar
kuil. Maukah pamanmu ini ber-jaga di luar agar diketahuinya kalau ada orang da-tang?"
Liu Pang maklum bahwa gadis baju putih ini masih belum percaya kepadanya, maka diapun bangkit
dan berkata, "Biarlah aku berjaga di luar." Diapun melangkah keluar, duduk di depan kuil yang gelap
dan sunyi, akan tetapi tentu saja dia memasang telinga karena biarpun nanti muridnya bisa bercerita
kepadanya, namun hatinya sudah ti-dak sabar, ingin mendengar apa yang akan diceri-takan oleh
gadis yang baru keluar dari istana ini. Tentu terdapat berita yang amat penting sehu-bungan dengan
lenyapnya jenazah kaisar yang di-duganya tentu dicuri oleh Raja Kelelawar atau anak buahnya, kaum
sesat yang membantu para pengkhianat.
Setelah Liu Pang keluar, Pek In berkata, "Maafkan kami, adik Lian. Yang akan kami ceritaka ini
penting sekali dan terus terang saja, hatiku tidak enak kalau terdengar orang lain. Kepadamu kami
sudah percaya penuh, akan tetapi temanmu itu, kami belum tahu benar siapa dia"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak mengapa, enci. Padahal, pamanku itu amat boleh dipercaya. Sudahlah, ada baiknya dia
berjaga di luar. Nah, ceritakan, mengapa kalian di sini dan apa yang telah terjadi?"
Pek In lalu bercerita yang membuat Pek Lian dan Liu Pang yang ikut mendengarkan di luar, menjadi
terkejut bukan main. Hal-hal yang amat hebat telah terjadi di istana! Pek In menceritakan dari awal,
dimulai dengan kepergian kaisar yang melakukan perjalanan sendirian untuk mencari il-mu hidup
abadi! Semua pembesar yang bersih, bahkan mereka yang telah diangkat kembali oleh kaisar,
dipecat oleh komplotan Perdana Menteri Li Su dan kepala thaikam Chao Kao. Kemudian, dengan
dalih berbakti kepada negara, mendapat dukungan para pembesar yang menjadi antek me-reka,
putera mahkota diperintahkan menyusul Jen-derai Beng Tian ke garis depan.
Dalam keadaan istana kosong inilah, karena kaisar tidak diketahui, ke mana perginya, Li Su dan Chao
Kao berkuasa di dalam istana! Kemudian terjadi kegegeran ketika Li Su menyatakan kaisar telah
tewas dan dapat membuktikannya dengan je-nazah kaisar yang telah mulai membusuk!
Gegerlah seluruh pejabat istana. Mereka ber-kumpul dan bersidang. Di dalam persidangan ini,
Perdana Menteri Li Su mengusulkan agar dilaku-kan pengangkatan kaisar baru agar kedudukan jangan
berlarut-larut kosong. Nenek Siang Houw Nio-nio mengusulkan agar ditunggu kembalinya
pangeran mahkota. Akan tetapi usul ini ditentang oleh Li Su yang mengatakan bahwa adanya pangeran
mahkota di garis depan amat perlu untuk membangkitkan semangat barisan. Dan kini pi-hak
pemberontak telah mulai mendekati kota raja, maka perlu segera diangkat kaisar baru. Karena Li Su
memang menang suara dan memperoleh du-kungan terbanyak, akhirnya pangeran muda yang
pandainya hanya bersenang-senang itupun diang-kat menjadi kaisar dengan julukan Cin Si Hongte
Ke Dua!
Tindakan pertama yang dilakukan oleh kaisar muda ini dapat diduga. Dia mengangkat Li Su menjadi
wakil penuh kaisar, dan Chao Kao diang-kat menjadi kepala istana! Para pejabat yang be-rani
memprotes, ditangkap dan dipecat. Yang le-bih hebat lagi. para datuk sesat diberi pangkat dan
kedudukan! Raja Kelelawar diangkat menjadi panglima! Dan orang-orang macam San-hek-houw
diangkat menjadi perwira yang berkuasa.
"Adik Lian, pendeknya gegerlah istana yang berobah seperti neraka. Tentu saja subo mempro-tes
keras dan akibatnya beliau kini ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara!"
"Ahhh !" Pek,Lian berseru kaget. Nenek
itu adalah pengawal kaisar nomor satu dan masih bibi dari kaisar lama, jadi nenek kaisar baru, akan
tetapi toh ditangkap.
"Kami berhasil melarikan diri dan melapor ke-pada suhu. Kini kami diutus suhu untuk memberi kabar
kepada Yap-suheng dan ji-suheng tentang hal itu sedangkan suhu sendiri berusaha untuk
membebaskan subo," kata Pek In dengan suara duka. "Akan tetapi kami mendengar bahwa kedua
suheng kami itu telah bergabung dengan pasukan para pendekar di bawah Liu-bengcu!"
"Kebetulan sekali! Kami juga mau pulang"
Tiba-tiba terdengar suara dan Liu Pang melangkah masuk, wajahnya masih tegang mende-ngarkan
penuturan tadi akan tetapi matanya me-mandang dua orang gadis itu dengan ramah. Pek Lian juga
tahu bahwa kini tidak perlu lagi mera-hasiakan keadaan gurunya.
"Pek-cici dan Ang-cici, kalian maafkanlah a-ku yang tadi berbohong. Beliau ini adalah Liu-bengcu,
juga guruku!"
Dua orang gadis itu terkejut bukan main. Cepat mereka bangkit berdiri dan memandang dengan
tajam. Sudah lama mereka mendengar nama Liu Pang atau Liu-bengcu. Tak disangkanya mereka
akan dapat bertemu dengan pemimpin besar itu di sini dan melihat pemimpin besar itu mengena-kan
pakaian sederhana seperti seorang petani bia-sa! Mereka lalu memberi hormat dan dibalas oleh Liu
Pang.
"Ji-wi lihiap, mari kita duduk dan bicara," ajaknya dan mereka kembali duduk mengelilingi api unggun.
"Aku tadi sudah ikut mendengarkan dari luar, maafkan kelancanganku itu dan keadaan di istana itu
sungguh mengenaskan dan mengge-maskan. Dua orang pengkhianat Li Su dan Chao Kao itu harus
dunia-kangouw.blogspot.com
dibasmi. Akan tetapi ke mana pergi-nya Pek-lui-kong Tong Ciak? Dan juga Jende-ral Beng Tian yang
kabarnya sudah meninggalkan posnya di barat? Mereka berdua adalah jagoan-jagoan Kaisar Cin Si
Hongte yang setia dan lihai!"
"Entahlah, Liu-bengcu, karena keadaan amat kacau pada waktu itu dan mereka berdua itu tidak ada
kabarnya lagi," jawab Pek In, yang kemudian menyambung cepat, "Benarkah pemberitahuan suhu
kepada kami bahwa kedua orang suheng ka-mi telah menggabungkan diri dengan pasukan bengcu?"
Liu Pang tersenyum dan mengangguk. "Bukan hanya menggabungkan diri, bahkan kini selagi ka-mi
pergi, yang menjadi wakil kami memimpin pa-sukan adalah saudara Yap Kim dibantu oleh suhengnya,
saudara Yap Kiong Lee."
Tentu saja dua orang gadis itu tercengang, akan tetapi juga merasa girang. Ketika untuk pertama
kalinya mereka mendengar dari suhu mereka bah-wa kedua orang suheng itu membantu pasukan
pemberontak Liu Pang, mereka hampir tidak mau percaya. Subo mereka adalah kepercayaan kaisar,
bahkan suhu mereka akhir-akhir ini juga mem-bantu kaisar, bagaimana mungkin dua orang su-heng
itu menjadi pembantu-pembantu para pem-berontak? Akan tetapi, setelah melihat suasana di istana,
kini mereka malah menjadi gembira men-dengar bahwa dua orang suheng mereka itu malah menjadi
pembantu-pembantu pemimpin besar, Liu Pang!
Sikap kedua orang gadis ini sama sekali tidak perlu diherankan. Kalau kita mau membuka mata,
memandang dengan waspada segala hal yang ter-jadi baik di dalam maupun di luar diri kita sendi-ri,
maka akan nampaklah dengan jelas betapa si-kap dan perasaan kita, seperti dua orang gadis itu,
selalu dikendalikan oleh pementingan diri pribadi atau ke-aku-an. Kita selalu amat mudah memaafkan
kesalahan sendiri, siap membela diri sendiri untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat. Ki-ta
selalu menentang segala sesuatu yang merugikan diri kita, dan membantu sesuatu yang menguntungkan
diri kita, karena yang menguntungkan itu, lahir maupun batin, adalah menyenangkan dan
sebaliknya yang merugikan itu selalu tidak menye-nangkan. Aku yang paling benar, aku yang paling
baik, aku yang harus menang. Siaku ini bisa melu-as menjadi anakku, keluargaku, sahabatku, kelompokku,
bangsaku dan selanjutnya. Seorang yang berada di suatu kelompok, selama memperoleh
keuntungan dan merasa disenangkan dalam kelom-pok itu, pasti akan membelanya mati-matian. Bukan
karena setianya kepada si kelompok, melainkan karena setianya kepada diri sendiri, karena di
situ terdapat kesenangan. Akan tetapi, begitu dia disi-sihkan dari kelompok, begitu dia tidak lagi memperoleh
keuntungan, apa lagi begitu dia dirugikan dan tidak disenangkan, maka seketika dia akan
berobah dan akan menentang kelompok itu dan memilih kelompok lain yang menentang kelompok
lama! Pengejaran kesenangan dapat menyeret ma-musia menjadi munafik, palsu, pengkhianat, kejam
dan curang, dan segala macam, kejahatan lain.
"Kalau begitu kami berdua akan mengikuti bengcu ke tempat kedua orang suheng kami!" kata Ang In
dengan, wajah cerah, lalu ia menoleh kepa da Pek Lian. "Apakah apakah Kim-su-heng baik-baik
saja?"
Pek Lian tersenyum. "Dia dalam keadaan se-hat dan semakin gagah!" katanya sambil terse-nyum,
penuh arti dan wajah Ang In yang manis itu berobah kemerahan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mere-ka berempat meninggalkan kuil itu dan berangkat
menuju ke perkemahan para perajurit pendekar di balik bukit. Dari puncak bukit itu tidak nam-pak apaapa
dan memang inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan pasukan itu dan baru setelah mereka
menuruni bukit, mereka memasuki daerah perondaan pasukan dan bertemulah mereka de-ngan dua
orang peronda. Liu Pang dan Pek Lian segera mengenal dua orang pendeta atau tosu yang mereka
jumpai di dalam guha, maka mereka segera menegur. Akan tetapi dua orang tosu itu meng-ambil
sikap keras.
"Kalian telah melanggar wilayah kami, harus menyerahkan diri untuk kami tangkap dan kami bawa ke
benteng!"
"Ehh? Liu Pang berseru heran.
"Apakah ji-wi kini sudah menjadi anggauta pasukan Liu-bengcu?" Pek Lian bertanya.
"Benar, karena itu, dalam tugas pertama kami, kalian harus kami tangkap sebagai orang-orang yang
melanggar wilayah kami tanpa ijin."
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum Pek Lian menjawab, Liu Pang menda-huluinya bertanya, "Kalau aku tidak mau ditang-kap?"
Suaranya mengandung tantangan, akan te-tapi sinar matanya dan wajahnya berseri.
"Kami akan menggunakan kekerasan!" jawab tosu yang bermata sipit.
"Totiang, aku sangsi apakah engkau akan mam-pu menangkap aku!" kata Liu Pang sambil melangkah
maju. Tosu sipit itu memandang tajam, kemudian diapun melangkah maju.
"Boleh kita coba!" Dan diapun sudah menu-bruk maju mencengkeram ke arah pundak Liu Pang.
Pemimpin besar ini cepat mengelak dan ba-las menyerang karena dia memang ingin sekali mencoba
kepandaian dua orang tosu yang baru sa-ja masuk menggabungkan diri dengan pasukannya itu. Dan
hatinyapun puas dan kagum. Tosu si-pit ini lihai sekali sehingga kalau Liu Pang benarbenar
menghendaki, belum tentu dia akan mampu mengalahkan tosu ini dalam waktu seratus jurus!
Gerakannya cepat dan tangkas, tenaganyapun kuat. Perkelahian itu amat seru dan semakin ramai.
Tiba-tiba terdengar bentakan, "Berhenti .... " dan muncullah Yap Kim.
Dua orang pertapa itu menghadap Yap Kim dan memprotes. "Mereka adalah pelanggar-pe langgar
wilayah tanpa ijin !" .
"Ji-wi totiang, beliau ini adalah Liu-bengcu, pemimpin kita!" kata Yap Kim.
"Siancai siancai ...Dan dia sudah bercakap-cakap semalam suntuk dengan pinto!" kata tosu ke dua
yang lebih tua. Mereka lalu memberi hormat yang dibalas oleh Liu Pang sambil tertawa dan memujimuji
kepandaian mereka.
Sementara itu, Yap Kim sudah saling bertemu dengan Pek In dan Ang In. Pertemuan yang menggembirakan,
juga mengharukan sekali. Apa lagi Ang In yang tiada kedip-kedipnya menatap wajah
pemuda itu sehingga Pek Lian merasa geli hatinya. Ketika Yap Kim mendengar bahwa ibu kandungnya
ditawan di istana, dia mengepal tinju dan mu-kanya berobah pucat, kemudian merah karena
marah.
"Mari kita bicara di sana!" kata Liu Pang dan mereka semuapun pergilah ke perkemahan pasu-kan.
Pertemuan antara Yap Kiong Lee dan Pek In yang memang sejak dahulu sudah ada rasa sa-
Darah 25 ling sayang, amat menggembirakan. Segera diada-kan pertemuan antara para pemimpin
dan para pendekar, bukan hanya untuk menyambut kemba-linya Liu Pang akan tetapi juga untuk
mengatur siasat selanjutnya. Situasi di kota raja sudah demi-kian berobah, maka harus diatur siasat
yang sesu-ai dengan keadaan itu. Yap Kiong Lee tidak me-rasa ragu-ragu lagi untuk mencurahkan
seluruh tenaganya membantu gerakan pasukan ini. Kini subonya ditawan. Kini kota raja dikendalikan
oleh pengkhianat-pengkhianat yang menjadi musuh-nya. Juga Pek In dan Ang In bertekad untuk
membantu gerakan pasukan para pendekar di ba-wah pimpinan Liu Pang.
Kita kembali menjenguk keadaan A-hai yang kini berada seorang diri saja di dalam ruangan ru-mah
tua mendiang Gu-lojin. Dia ditinggalkan oleh semua orang dalam keadaan masih pingsan atau tertidur
karena pengaruh totokan Seng Kun ketika mengobatinya. Pengaruh totokan itu ma-kin menghilang
dan akhirnya A-hai sadar. Begitu dia sadar dan dapat bergerak, dia segera bangkit duduk dan
mencari kakak beradik yang tadi meng-obatinya. Akan tetapi tidak ada orang lain di situ. Dia berteriak
memanggil.
"Saudara Kun ......! Nona Hong ......!"
Tidak ada jawaban. Dia melihat pakaian Bwee Hong bertumpuk di sudut ruangan itu. Apakah nona itu
berganti pakaian? Kalau benar demikian, kenapa pakaian yang kotor dibiarkan saja bertum-puk di
situ? Mencurigakan benar keadaan ini, pikirnya dan kembali dia memanggil-manggil.
Setelah yakin bahwa tidak ada suara jawaban, baik dari Seng Kun maupun dari nona itu, dia lalu
bangkit berdiri dan mencari ke luar. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika dia melihat
mayat si pemilik warung, dan di situ nam-pak bekas-bekas perkelahian. A-hai menjadi pa-nik dan dia
dunia-kangouw.blogspot.com
memanggil-manggil lagi sambil men-cari ke sekeliling rumah itu. Namun, tidak ada yang menjawab.
Dengan hati penuh kekhawatiran dia lalu berlari mencari, menuju ke perkampungan ne-layan dengan
melewati jalan setapak dalam hutan. Tiba-tiba dia memperlambat larinya dan hidung-nya kembangkempis,
mendengus-dengus karena dia mencium bau harum yang aneh. Dia semakin terheran-heran
karena tidak ada apa-apa di situ, cuaca yang suram karena hanya mendapat pene-rangan bulan
lemah itu mendatangkan suasana menyeramkan. Setelah menoleh ke kanan kiri dan belakang, dia
memandang ke depan lagi untuk melanjutkan perjalanan. Begitu dia membalik, hampir dia menjerit
kaget karena tiba-tiba saja di depannya kini sudah berdiri dua orang yang muka-nya pucat seperti
mayat! Seorang kakek dan seorang nenek. Kalau saja mereka itu tidak bergerak, tentu A-hai mengira
berhadapan dengan mayat yang mengingatkan dia akan mayat tukang wa-rung yang menggeletak di
luar rumah mendiang Gu-lojin itu.
Ketika laki-laki setengah tua itu bertanya, su-aranya juga kosong dan mengambang seperti bu-kan
suara manusia! "Sobat, apakah engkau melihat seorang gadis cantik di sekitar tempat ini? Seo-rang
gadis cantik dengan kulit putih dan keringat-nya berbau harum dupa?"
Pertanyaan itu saja sudah membuat A-hai serem.
Gadis cantik putih pucat berbau dupa hanyalah
siluman! "Tidak ada aku tidak tahu "
jawabnya dengan suara gemetar. Dia tidak tahu bahwa laki-laki dan wanita yang berdiri di depan-nya
itu adalah Kwa Eng Ki dan isterinya. Kwa Eng Ki adalah ketua Tai-bong-pai yang jarang keluar pintu
dan kini keluar bersama isterinya un-tuk mencari anak-anak mereka.
"Huhh!" Laki-laki setengah tua bermuka pu-cat itu mendengus dan berkata kepada isterinya, "Orangorang
dusun itu berkata bahwa anak kita menuju ke tempat ini. Mari kita cari di tempat lain dan
bertanya kepada orang yang lebih cerdik!" Mereka berkelebat dan lenyap. A-hai yang di-anggap tidak
cerdik itu tidak marah, bahkan mera-sa lega bahwa dua orang manusia yang seperti mayat hidup itu
pergi meninggalkannya. Diapun melanjutkan perjalanan menuju ke dusun nela-yan.
Keadaan dusun itu masih ribut. Para pendu-duknya masih diliputi suasana tegang dengan pe-ristiwa
aneh yang terjadi berturut-turut itu. Me-reka dipaksa keluar dengan ancaman rumah diba-kar, lalu ada
pemilik perahu yang perahunya di-rampas. Melihat para penduduk belum tidur dan berkelompok
sambil bicara secara serius dan geli-sah, A-hai lalu menghampiri mereka dan berta-nya apa yang
telah terjadi.
"Ada terjadi apakah? Dan apakah kalian me-lihat sahabat-sahabatku, pemuda tampan dan ga-dis
cantik itu?"
Dari orang-orang ini A-hai mendengar bahwa Seng Kun pergi bersama seorang kakek dan seo-rang
pemuda, katanya untuk mencari adik perem-puannya yang diculik penjahat. Mendengar ini, A-hai
terkejut. Ah, dia sendirian sekarang. Bwee Hong diculik orang dan Seng Kun melakukan pe-ngejaran.
"Dan di sana kulihat pemilik warung sudah menjadi mayat, entah siapa yang membunuhnya," katanya.
Kini para penghuni dusun itulah yang terkejut dan merekapun lalu ikut dengan A-hai menuju ke rumah
mendiang Gu-lojin. Benar saja, pemilik warung itu mereka temukan tewas dalam keadaan
mengerikan. Beramai-ramai mereka lalu mengurus mayat itu.
A-hai duduk termenung sampai fajar menying-sing. Dia bingung sekali. Dia sekarang beristirahat
seharian, dan kalau pengobatan itu tidak dilanjutkan, dia akan celaka. Mungkin ingatannya semakin
mundur, atau mungkin dia akan mati. Ah, dia kini hidup sendiri lagi, harus mengembara ke sana ke
mari bertahun-tahun sambil bekerja sedapatnya, dengan tujuan musta-hil, yaitu mencari seseorang
yang akan dapat me-ngenalnya dan menceritakan siapa sebenarnya dia? Di mana keluarganya?
A-hai menengadah. Kini dia duduk di luar rumah tua itu, memandang langit yang mulai me-rah
terbakar sinar matahari pagi yang baru terbit. Agaknya tidak ada seorangpun mengenalnya, mengenal
keluarganya. Agaknya dia sekeluarga da-hulu hidup terasing dari pergaulan umum.
Tak terasa lagi kedua matanya basah. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang
dikepal. Hatinya penasaran sekali. Masa ada orang tidak tahu siapa dirinya sendiri, siapa ayah
dunia-kangouw.blogspot.com
bundanya? Ketika lengannya bergerak, tanpa di-sadarinya tangannya menyentuh boneka batu giok
yang tadi dibawanya keluar. Boneka yang tadi di-temukannya melalui nalurinya di rumah mendiang
Gu-lojin. Kini sinar matahari memungkinkan dia memandang boneka itu dengan jelas. Ada sesuatu
pada boneka itu yang seperti membuka ingatan-nya. Batu giok yang berkilauan terkena cahaya
matahari pagi itu seperti menyihirnya dan secara samar-samar ia membayangkan pemilik boneka ini.
Seorang anak perempuan kecil yang lincah, yang suka berlari-lari dengan penuh kebahagia-an,
berlarian di alam terbuka. Suka mengejar ku-pu-kupu. Anak perempuan kecil yang manja, ber-larilarian
di dekat sebuah rumah yang bersih in-dah, di tepi sungai yang airnya jernih. Banyak ba-tu
menonjol tersembul di sana-sini. Sungai itu mengalir mengeluarkan dendang dan terjun ke ba-wah,
tak jauh di belakang rumah itu. Anak pe-rempuan itu gemar sekali bermain ke tepi sungai, berlarilarian
biarpun sudah sering dilarangnya. Pada suatu hari, anak perempuan itu kembali ber-lari-lari dan
kakinya tersandung, tubuhnya tergu-ling dan jatuhlah anak perempuan itu ke dalam lubuk air terjun
yang sangat dalam. Badannya yang mungil tenggelam, membuat pelayannya menjerit keras.
"Lian Cu!!" Tiba-tiba A-hai menjerit dan tubuhnya meloncat ke depan, tangannya menyambar ke
depan secepat kilat dan ternyata tangannya itu telah menangkap seekor burung ke-cil yang kebetulan
terbang lewat!
A-hai sadar. Dengan terheran-heran dia me-lepaskan burung kecil itu bepat-cepat. Burung itu terbang
menggelepar sambil mencicit ketakut-an. A-hai mengamati tangannya yang tiba-tiba saja menjadi
amat cepat gerakannya itu. Lalu dia menarik napas panjang dan duduk kembali.
"Hemm, aku melamun. Tempat itu, rumah itu kenapa aku seperti mengenalnya? Dan .... anak
perempuan itu Lian Cu, ahhh!"
Dia membalik boneka yang masih berada di tangan kirinya, lalu membaca tulisan yang terdapat di belakangnya.
"HADIAH ULANG TAHUN UNTUK PUTERIKU LIAN CU." Berkali-kali dibacanya tulisan
itu.
"Lian Cu, Lian Cu? Benarkah anak itu ada?" A-hai merasa pusing. Ingatan yang serba suram tentang
anak perempuan itu, rumah dekat sungai dan air terjun itu, memusingkan ke-palanya. Akhirnya dia
bangkit berdiri.
"Aku harus mencari rumah itu! Rumah indah bersih di tepi sungai jernih yang ada air terjunnya. Aku
akan menyelusuri setiap sungai di dunia ini sampai kutemukan rumah itu," tekadnya.
Pikiran ini membuat hatinya tenang. Dia lalu mengumpulkan sisa uangnya, juga buntalan pakai-annya
dan buntalan pakaian Seng Kun dan Bwee
Hong yang ditinggalkan. Sisa uangnya masih cu-kup untuk membeli sebuah perahu kecil sederhana
dari para nelayan di dusun itu. Dengan semangat besar diapun meninggalkan rumah tua mendiang
Gu-lojin dan pergi menuju ke dusun. Ketika pen-duduk dusun mendengar bahwa A-hai hendak
menyusul sahabat-sahabatnya mencari nona yang diculik penjahat, mereka memberikan sebuah perahu
kecil sederhana dengan harga murah. A-hai girang sekali, berterima kasih lalu berangkat dengan
perahu kecilnya menyusuri sungai itu. Biar-pun perahunya mudik dan melawan arus, akan tetapi
dia mendayung penuh semangat, menggerak-kan perahunya di sepanjang pinggiran sungai di
mana arusnya tidak sekuat di tengah. Setiap kali dia kelelahan dan hendak beristirahat, dia membawa
perahunya ke tepi dan menariknya ke darat, mengaso di tepi sungai. Biarpun ingatannya sudah
tertutup rahasia gelap yang membuatnya tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya, akan tetapi pada
dasarnya dia memiliki kecerdikan. Kini dia mempunyai pegangan, yaitu bahwa dia harus men-cari
sebuah rumah indah mungil di tepi pantai se-buah sungai kecil yang jernih airnya dan yang ter-dapat
air terjunnya di belakang rumah. Dia merasa yakin bahwa sungai di dekat rumah itu tentu ada
hubungannya dengan sungai yang ditelusurinya ini. Buktinya, bukankah rumah mendiang Gu-lo-jin
juga dekat dengan sungai ini dan bahwa anak kecil yang namanya terukir di belakang boneka giok
itupun menurut mendiang pemilik warung se-ring pula datang ke situ? Setidaknya, antara sungai kecil
di dekat rumah mungil dengan sungai ini ten-tu ada hubungannya.
Karena perahunya mudik, maka perahu itu ha-nya dapat maju perlahan saja. Namun A-hai ti-dak
pernah kehilangan kesabaran. Dia sudah meng-ambil keputusan untuk mencari terus di sepanjang
sungai ini, kalau perlu sampai selama hidupnya! Tiga hari sudah dia mendayung sambil memperhatikan
keadaan di kanan kiri sungai. Kalau ada tempat yang agak mirip-mirip saja dia tentu ber-henti
dan mendarat untuk melakukan penyelidikan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hari telah menjelang sore ketika perahunya me-masuki bagian sungai yang lebar dan di sini airnya
tenang sehingga dia dapat mendayung lebih cepat. Beberapa kali sejak pagi tadi dia berpapasan dengan
perahu-perahu lain yang lebih besar. Tiba-tiba muncul tiga buah perahu besar yang bergerak
mudik dengan dorongan layar, juga dibantu de-ngan dayung-dayung anak buah perahu-perahu itu.
Sinar matahari senja membuat layar-layar itu berwarna kemerahan.
Dengan cepat tiga buah perahu itu mendahu-lui perahu A-hai. Dia melihat beberapa orang dengan
sikap yang keren dan wajah serem berdiri di atas geladak, memandang kepadanya dengan si-nar
mata tajam, A-hai tidak perduli, akan tetapi hatinya tertarik juga karena dapat menduga bah-wa orangorang
yang berada di perahu-perahu itu tentulah bukan nelayan atau pedagang biasa.
Bulan menggantikan matahari dengan sinarnya yang cerah, membuat permukaan air nampak se-perti
perak. A-hai tidak mendarat. Malam terlalu indah dan terang, sedangkan air sungai tenang, enak
untuk mendayung perahu. Malam sungguh indah. A-hai mendayung perahu sambil membuka
matanya memandang ke sekeliling. Matanya ber-sinar-sinar, ada rasa bahagia yang aneh meme-nuhi
hatinya. Ataukah sinar bulan itu, keheningan yang mendalam itu yang menerangi batinnya?
Keindahan terdapat di setiap tempat dan di se-tiap saat bagi mata yang waspada dengan batin yang
kosong dari pada segala kesibukan pengejaran kesenangan. Keindahan menggetarkan jiwa yang
bersih dari pada segala kesibukan senang susah, puas kecewa dan segala perasaan yang timbul
karena pertentangan antara dua keadaan. Di seti-ap pucuk daun, di setiap sudut awan, di setiap batang
rumput, di setiap tetes air, di dalam setiap helai rambut kita, di mana-mana terdapat kea-gungan,
keindahan dan kemujijatan itu. Namun sayang, mata kita telah menjadi buta, dibutakan oleh pikiran
yang selalu mengejar-ngejar kese-nangan sehingga bertemulah pikiran dengan kesu-sahan,
kekecewaan, iri hati, kebencian, permusuh-an, pemuasan nafsu dan sebagainya. Batin menjadi lelah
dan lumpuh oleh hempasan-hempasan pe-rasaan itu dan mata menjadi buta, tidak dapat lagi melihat
keindahan, keagungan dan kemujijatan yang amat besar itu.
Selagi A-hai tenggelam ke dalam keindahan dan keheningan yang maha besar itu, tiba-tiba
perhatiannya tertarik oleh banyak benda yang mengapung di permukaan air. Dan terkejutlah hatinya
ketika dia melihat bahwa benda-benda itu adalah pecahan-pecahan perahu yang hanyut dan lebih
kaget lagi rasa hatinya ketika dia melihat betapa di antara pecahan-pecahan perahu itu ter-dapat pula
beberapa mayat manusia mengambang. A-hai bergidik ketika mengenal mayat itu seperti wajah orang
yang tadi dilihatnya di atas tiga buah perahu yang mendahuluinya. Karena merasa nge-ri, A-hai lalu
mempercepat gerakan dayungnya dan perahunya meluncur cepat mendahului benda-benda
mengerikan yang terbawa arus air itu.
Tak lama kemudian perahunya memasuki dae-rah yang berbukit-bukit dan kedua tepi sungai terdiri
dari tebing-tebing yang terjal menjulang tinggi. Tempat ini memiliki keindahan yang lain lagi, yang
megah dan jelas memperlihatkan keper-kasaan alam. Akan tetapi, perhatian A-hai terta-rik oleh tiga
buah perahu yang berlabuh di sebuah lekukan bukit atau tebing karang. A-hai merasa tertarik sekali,
apa lagi ketika dia mendengar ge-muruh suara air memantul di-antara tebing-tebing terjal itu,
membuat dia teringat akan gemuruhnya air terjun dalam lamunannya. Diapun segera mengarahkan
perahunya ke pinggir mendekati ti-ga buah perahu yang disangkanya tentu perahu-perahu para
nelayan.
Akan tetapi, begitu perahunya tiba di tepi dan berada di antara tiga buah perahu itu, tiba-tiba muncul
belasan orang dari dalam perahu-perahu itu dan perahu-perahu mereka bergerak menge-pung
perahu A-hai. Sebatang tombak panjang yang dipegang oleh seorang di antara mereka yang berdiri di
kepala perahu, meluncur ke arah dada A-hai yang masih duduk dengan kaget. Melihat ini, secara
otomatis, di luar kesadarannya, tangan A-hai bergerak cepat meraih ke depan. Gerakan-nya persis
seperti ketika dia menangkap burung kecil yang sedang meluncur terbang di depannya tempo hari, di
depan rumah tua mendiang Gu-lojin.
Dengan amat tepatnya, tombak itu tertangkap ujungnya oleh tangan A-hai. Pemilik tombak ter-kejut
dan tentu saja menahan tombaknya, lalu ber-usaha membetotnya kembali. A-hai juga otoma-tis
berusaha merampas tombak yang dapat berba-haya bagi dirinya itu. Dia mengerahkan tenaga dan
menggerakkannya melanjutkan gerakan me-nangkap tadi. Tanpa disadarinya, tenaga sinkang
mengalir dari pusarnya, otot lengannya menggem-bung dan ketika tangannya menyentak, terdengarlah
jeritan ketakutan! Tubuh pemilik tombak itu terpental dan terlempar tinggi ke udara, seperti
dilempar oleh tangan raksasa yang amat kuat saja. Belasan orang yang berada di atas tiga perahu
dunia-kangouw.blogspot.com
yang mengepung itu terbelalak kaget dan ngeri melihat betapa tubuh teman mereka itu terlempar
begitu tingginya, kemudian terbanting jatuh ke atas batu-batu tebing, mengeluarkan bunyi mengerikan
karena tulang-tulang pecah dan patah. Orang itu tak dapat bergerak lagi.
A-hai sendiri menjadi terkejut dan ngeri. Dia memandangi tangannya seperti orang tidak per-caya.
Memang terjadi keanehan pada dirinya. Tanpa disadarinya sendiri, pengobatan yang dila-kukan oleh
Seng Kun dan Bwee Hong telah mem-perlihatkan hasilnya. Sedikit demi sedikit A-hai mulai dapat
mengingat masa lalunya, juga ilmu yang pernah dipelajarinya. Memang baru sedikit sekali yang
diingatnya itu karena otaknyapun baru saja kealiran darah kembali, itupun belum lancar. Kebetulan
sekali yang mula-mula dirangsang dan dihidupkan kembali sehingga dapat bekerja, ada-lah otak di
bagian dia menyimpan kenangan ketika berada di rumah indah di tepi sungai bersama se-orang anak
perempuan bernama Lian Cu. Dia mengajarkan ilmu silat kepada bocah itu sambil menangkap kupukupu
dan burung-burung." Ba-gian inilah yang teringat sehingga bagian ini pula dari ilmu silat yang
dapat diingatnya.
Kini muncullah dua orang dari dalam bilik perahu lawan. Perahu A-hai kini sudah menempel dengan
perahu lawan, bahkan sudah dikait sehing-ga tidak dapat melepaskan diri lagi. Melihat mun-culnya
dua orang itu, A-hai mengerutkan alisnya, tahu bahwa dia berada dalam bahaya. Dua orang itu bukan
lain adalah Pek-pi Siauw-kwi, Si Ma-ling Cantik berusia tigapuluhan yang selain can-tik juga cabul dan
sesat itu. Sedangkan orang ke dua adalah Jai-hwa Toat-beng-kwi, si penjahat cabul tukang
pemerkosa yang amat keji.
A-hai kini mulai sadar bahwa seperti pernah didengarnya dari orang-orang lain, dia sebetulnya
mempunyai ilmu kepandaian silat. Maka diapun mulai memeras otaknya untuk mengingat-ingat. Dan
mulailah dia melihat bayangan-bayangan ingatan dalam otaknya, dan dia mengerahkan tena-ga
otaknya sekuatnya dan sedapatnya. Ya, dia tahu bagaimana harus melayani pengeroyokan. Hemm,
dia harus bersikap begini. Menurutkan jalan pikir-annya, A-hai lalu bangkit berdiri. Tubuhnya yang
tegap jangkung itu kelihatan gagah sekali ketika dia berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang le-bar,
lutut agak ditekuk, tubuh tidak bergoyang dan kedua lengan ditekuk pula, yang kiri menyilang di depan
dada dan yang kanan dengan jari terbuka menyentuh ujung hidung sendiri, matanya menger-ling dari
bawah ke arah lawan!
Biarpun Pek-pi Siauw-kwi dan Jai-hwa Toat-beng-kwi merupakan dua orang tokoh sesat yang amat
lihai, namun mereka kini meman-dang kepada pemuda itu dengan sikap ragu-ragu dan agak gentar.
Mereka tadi telah melihat sen-diri betapa hanya dengan satu sentakan saia, seo-rang anak buah yang
sebetulnya bukan orang le-mah sampai terpental tinggi sekali dan terbanting tewas. Maka kini mereka
berdiri di kepala perahu mereka dengan sikap hati-hati.
Jilid XXVI
EMPAT orang yang berada di perahu sebe-lah kiri, kini serentak meloncat dan menye-rang dengan
tombaknya ke arah A-hai. A-hai membuat gerakan otomatis dengan tubuhnya dan ketika tangannya
bergerak ke kiri, ada hawa atau angin pukulan yang dahsyat menyambar keluar.
"Wuuuttt prakkkk !!" Empat batang tombak itu patah-patah dan empat orang peme-gangnya
terjengkang kembali ke dalam perahu me-reka!
Si Penjahat Cabul dan Si Maling Cantik saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka tidak ta-hu
siapa pemuda ini yang tak dapat mereka lihat jelas mukanya karena bulan tertutup awan. Akan tetapi
harus mereka akui bahwa pemuda ini memi-liki ilmu yang amat dahsyat. Angin pukulan ketika
pemuda itu menangkis tadi, sampai terasa oleh mereka berdua, membuat mereka berdua bergidik
ngeri.
Akan tetapi kini mereka melihat hal yang aneh. Tadi, gerakan tangan pemuda itu selain dahsyat, juga
gerakannya indah dan gagah. Akan tetapi, begitu menangkis, pemuda itu agaknya menjadi bi-ngung,
menggerakkan tangan ke kanan, agaknya untuk menghantam ke arah perahu di kanan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wutt!" Tidak ada apa-apanya dalam pukul-an ini dan si pemuda sendiri agaknya menjadi bi-ngung
dan kaget, bahkan lalu terpelanting jatuh ke dalam perahunya sendiri! Memang A-hai me-rasa
bingung bukan main. Tadi, secara otomatis tangannya bergerak menyambut empat batang tombak
dan dia ingat benar akan gerakan ini dan merasakan betapa tangannya yang menangkis di-penuhi
tenaga yang amat kuat dan hangat. Akan tetapi setelah tangkisannya berhasil membuat o-rang-orang
yang menyerangnya terjengkang dan tombak-tombak mereka patah-patah, dia menjadi bingung, tidak
tahu harus melanjutkan bagaimana. Dia tidak ingat lagi, maka diapun membuat gerak-an ngawur saja
dengan menghantamkan tangan-nya ke arah perahu ke dua di sebelah kanan. Akan tetapi dia
semakin bingung karena kini tangannya itu kosong melompong tidak ada hawa saktinya, dan
pukulannya ini bahkan membuat tubuhnya terpelanting ke dalam perahunya sendiri. Cepat dia
merangkak bangun. Tepat pada waktunya ka-rena pada saat dia terpelanting tadi, Si Maling Cantik
dan Si Penjahat Cabul sudah melayang ke atas perahunya dan menyerangnya.
Kini, dalam keadaan terjepit, kembali A-hai ingat akan gerakannya. "Plak! Plak!" Dua orang lawannya
berteriak kaget dan meloncat mundur karena tangkisan A-hai itu membuat mereka me-rasa betapa
kedua lengan mereka tergetar hebat dan nyeri. A-hai membalas dengan serangannya. Dua orang
lawan yang lihai itu tidak berani me-nyambut dan melangkah mundur, sedangkan dua orang anak
buahnya yang lancang menyambut de-ngan golok, berteriak kaget dan terlempar ke da-lam air karena
dorongan tenaga dahsyat yang ke-luar dari tangan A-hai.
Kini A-hai dikeroyok dan terjadilah perkelahi-an yang seru, lucu dan aneh. Kadang-kadang ge-rakan
A-hai demikian indah dan dahsyat sehingga dua orang lihai macam Si Penjahat Cabul dan Si Maling
Cantik sekalipun tidak kuat menahan. A-kan tetapi, kadang-kadang gerakan A-hai demi-kian
kacaunya dan dari kedua tangannya sama sekali tidak keluar tenaga sakti sehingga bukan ha-nya
lawan yang menjadi bingung, bahkan A-hai sendiripun bingung.
Kini tiga perahu itu sudah menempel semua dan perahu A-hai dikurung. Para pengeroyok kini tinggal
tigabelas orang, akan tetapi yang be-rani menyerang dekat hanyalah dua orang tokoh sesat itu
sedangkan anak buah mereka hanya me-nyerang dari jauh dengan tombak panjang.
Memang hebat sekali kalau pemuda itu sedang "ingat" akan ilmunya. Bukan hanya gerakannya yang
hebat dan tenaganya yang dahsyat, bahkan tubuhnya juga dialiri tenaga sinkang amat kuat yang
membuat tubuhnya kebal dan mata-mata tombak yang berhasil menusuknya, membalik, bahkan ada
pula yang patah!
Kini Jai-hwa Toat-beng-kwi yang mulai me-ngerti bahwa pemuda yang lihai itu ternyata ma-sih
"mentah" ilmunya, mendesak maju. Mula-mula dia melakukan tendangan kilat, dibarengi oleh
hantaman tangan Pek-pi Siauw-kwi dari samping, ke arah tengkuk A-hai. A-hai bergerak otomatis,
merendahkan tubuhnya dan membiarkan pukulan dan tendangan lewat, lalu tangannya me-nyambar
dan dia berhasil menangkap pergelangan kaki Jai-hwa Toat-beng-kwi yang menendang tadi. Tentu
saja penjahat cabul itu terkejut dan ketakutan. Tubuhnya sudah diangkat, akan tetapi, tiba-tiba saja Ahai
kehilangan ingatannya lagi, menjadi bingung harus bergerak bagaimana dan otomatis tenaga
saktinya lenyap, seperti sebuah ba-lon yang tadinya ditiup mengembung, mendadak menjadi gembos
kehilangan anginnya. Dan sekali menggerakkan kaki yang ke dua, menendang ke arah dada A-hai,
jai-hwa-cat itu berhasil mele-paskan kakinya dari cengkeraman.
Beberapa kali A-hai berhasil mendesak lawan, akan tetapi karena tidak ingat lagi akan kelanjutan
gerakan silatnya, dan tidak dapat menahan tenaga saktinya agar tetap di dalam kedua lengannya,
semua gerakannya mandeg di tengah jalan dan dari keadaan mendesak, berbalik dia malah
menerima beberapa kali hantaman, tendangan dan gebukan yang membuatnya jatuh bangun di
perahunya. Biarpun tubuhnya secara otomatis dilindungi sin-kang yang kuat sehingga tidak terluka,
akan tetapi hantaman bertubi-tubi itu membuatnya babak bundas dan benjut-benjut juga! Masih
untung baginya bahwa yang menghajarnya hanyalah dua orang itu, kalau saja yang muncul orangorang
macam San-hek-houw atau Si Buaya Sakti, tentu dia akan celaka, tewas atau setidaknya
terluka parah.
Karena kini mengetahui rahasia A-hai, kedua orang sesat itu bersikap cerdik. Mereka tidak ter-lalu
mendesak dan kalau melihat pemuda itu ber-gerak hebat, mereka malah menjauh dan mundur. Akan
tetapi begitu melihat gerakan pemuda itu terhenti tiba-tiba dan pemuda itu nampak bi-ngung, mereka
menyerbu dan menghajarnya. A-khirnya, A-hai tidak dapat tahan juga dan sebuah tendangan
membuatnya terjungkal keluar dari pe-rahunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Byurrr !"
A-hai yang merasakan seluruh tubuhnya me-mar dan perih-perih, membiarkan dirinya hanyut terbawa
arus air. Untung bahwa permukaan air itu cukup gelap, tidak memungkinkan musuh-mu-suhnya untuk
menemukannya dan sebentar saja
A-hai sudah hanyut jauh. Sial baginya, air sema-kin dalam dan semakin kuat arusnya sehingga ke-tika
dia berusaha berenang ke tepinya, dia terse-ret terus semakin jauh dan kadang-kadang tubuh-nya
dihantamkan pada batu-batu besar. Tadi dia dihajar oleh pukulan-pukulan dan tendangan-ten-dangan,
kini dihajar oleh batu-batu yang meng-hadang, sungguh sial dan dia merasa tubuhnya se-makin
lemas, bahkan beberapa kali dia terpaksa menenggak air!
Tiba-tiba A-hai yang sudah merasa betapa tubuhnya lemas itu, terkejut dan girang. Tadinya dia
mengira bahwa yang menyambar dan meng-angkat tubuhnya ke atas perahu itu musuh dan dia
sudah siap untuk melawan lagi mati-matian. A-kan tetapi ketika dia melihat bahwa yang berada di
perahu itu adalah Bwee Hong dan seorang gadis lain, dia merasa gembira bukan main sehingga ingin
rasanya dia bersorak dan menari-nari!
"Ha-ha-ha, sungguh beruntung aku!" A-hai bangkit duduk dan tersenyum lebar, wajahnya yang basah
kuyup itu berseri-seri. Melihat kegi-rangan meluap-luap pada diri pemuda itu, Bwee Hong dan Kwa
Siok Eng, gadis yang menemani Bwee Hong di perahu itu, memandang dengan alis berkerut.
Terutama sekali Bwee Hong. Jangan-ja-ngan pengobatan yang diberikan kakaknya dan ia sendiri
kepada A-hai mendatangkan akibat sam-pingan dan membuat pemuda ini benar-benar menjadi
miring otaknya, pikirnya dengan gelisah. Pemuda ini baru saja terbebas dari maut, tubuh-nya memarmemar
dan babak bundas, hampir saja tenggelam dan kelihatan begitu kehabisan te-naga, akan
tetapi dapat tertawa-tawa gembira seperti itu.
"A-hai, apa saja yang kaulakukan di sini? Ba-gaimana engkau tahu-tahu hanyut di sungai ini?" Bwee
Hong bertanya. Akan tetapi pada saat itu A-hai memandang kepada Siok Eng dan hidung-nya
kembang kempis.
"Aih, nona yang berbau dupa harum! Kita berjumpa lagi di sini, sungguh senang hatiku. Bu kankah
nona bernama eh, nona Kwa Siok Eng?"
"Benar sekali. Aih, ingatanmu sudah mulai baik, A-hai," kata Bwee Hong girang karena ter-nyata kini
A-hai memperlihatkan kekuatan ingat-annya, tanda bahwa pengobatan itu memperlihat-kan hasilnya.
Juga Kwa Siok Eng yang sudah banyak tahu tentang keadaan A-hai yang aneh itu, tersenyum
mengangguk. "Saudara A-hai, bagaimana engkau dapat berada dalam keadaan seperti ini?"
A-hai lalu bercerita sambil memeras ujung ba-ju dan celananya, juga rambutnya yang basah ku-yup.
"Ketika engkau hilang dan kemudian kakak-mu juga pergi, agaknya mencarimu, aku bingung sekali,
nona Hong. Aku tidak tahu harus mencari atau mengejar ke mana. Maka aku lalu mengumpulkan
ingatanku tentang boneka itu. Dan aku mulai dapat membayangkan adanya sebuah rumah indah di
tepi sungai, dekat air terjun. Di tempat itu aku pernah bermain-main dengan seorang anak
perempuan bernama Lian Cu "Ah, nama yang terukir pada boneka itu." kata Bwee Hong.
"Benar. Aku belum ingat betul apa hubunganku dengan Lian Cu, akan tetapi aku ingat bermain-main
dengannya. Lalu aku mengambil keputusan untuk mencari tempat itu, mencari rumah indah mungil
dekat air terjun di tepi sungai. Aku hendak menyusuri seluruh sungai sampai dapat kutemukan tempat
itu. Dan aku dihadang orang-orang jahat aku dikeroyok, untung aku masih teringat akan beberapa
jurus ilmu silat, sayang hanya sepotong-sepotong; dan akhirnya aku ter-lempar keluar perahu dan
hanyut sampai ke sini."
"Aih, untung kami menemukanmu," kata Bwee Hong menarik napas panjang, merasa kagum dan
heran akan keadaan dan nasib pemuda itu yang aneh.
"Dan engkau sendiri, kenapa pergi meninggal-kan aku setengah jalan dalam pengobatan itu, no-na?"
A-hai bertanya, alisnya berkerut sedikit tanda bahwa kenyataan itu tidak menyenangkan hatinya.
"Aku diculik orang, A-hai."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba A-hai meloncat berdiri, lupa bahwa dia berada di perahu sehingga perahu itu menjadi miring
dan Siok Eng berteriak mengingatkan.
"Heiii, hati-hati ...... kita bisa terguling dan engkau hanyut lagi!"
"Wah, maaf " A -hai duduk kembali dan memandang Bwee Hong. "Siapa yang berani menculikmu,
nona Hong?"
"Tenanglah." Bwee Hong tersenyum dan pipi-nya berobah merah. Pemuda ini begitu marah
mendengar ia diculik orang dan sikap ini membuat jantungnya berdebar karena pemuda aneh ini
memperlihatkan saja perasaan hatinya yang demi-kian jelas menaruh perhatian besar terhadap dirinya.
"Baik kuceritakan saja apa yang telah kua-lami sejak kita terpaksa saling berpisah dari dalam
pondok mendiang Gu-lojin itu."
Bwee Hong lalu bercerita, didengarkan oleh A-hai penuh perhatian. Juga Siok Eng mendengarkan
sambil mendayung perahunya dengan hati-hati agar jangan sampai menabrak batu-batu yang
menonjok di sungai itu.
Mari kita ikuti pengalaman Bwee Hong sebelum ia lenyap dari rumah mendiang Gu-lojin. Seperti kita
ketahui, setelah melakukan pengobatan atas diri A-hai yang kemudian tidur nyenyak, Seng Kun keluar
dari dalam rumah, meninggalkan Bwee
Hong yang masih berjaga-jaga di dalam membe-nahi perabot-perabot pengobatan.
Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat memasuki ruangan itu. Bwee Hong oepat melon-cat
dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya ber-ubah pucat ketika dia melihat seorang kakek ber-tubuh
tinggi besar dan sikapnya kasar dan kokoh kuat, mengenakan jubah kulit harimau dan pada
pinggangnya nampak sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi tombak jangkar. Kakek itu bukan
lain adalah San-hek-houw, Si Harimau Gunung! Bwee Hong maklum bahwa dia berha-dapan dengan
datuk sesat yang kejam, maka tanpa banyak cakap lagi iapun menyerang dengan tangan kosong.
Pedangnya tidak ada pada tubuhnya, maka ia tidak sempat mengambil pedang yang disimpan di
sudut ruangan. Karena maklum bah-wa lawannya ini tangguh, Bwee Hong mengerah-kan tenaga
sinkang ketika melakukan pukulan ke arah leher lawan. Akan tetapi, kakek tinggi besar itu tertawa dan
sama sekali tidak mengelak, me-lainkan menggerakkan tangan menyambar ke de-pan untuk
menangkap pergelangan tangan gadis itu. Bwee Hong terkejut, menarik kembali tangan-nya dan
menyusulkan tendangan kilat dari samping mengarah lambung.
"Bukkk!!" Tendangan itu tepat mengenai lam-bung, akan tetapi Bwee Hong menjerit karena tahu-tahu
pundaknya sudah dirangkul dan di lain saat ia sudah dipondong dan ditekan pundaknya sehingga
tidak mampu bergerak lagi. Kiranya, ia tadi gugup sehingga tergesa-gesa. Kegugupan-nya
dimanfaatkan lawan yang lebih tangguh itu. Tendangannya diterima begitu saja sambil melin-dungi
tubuh dengan pengerahan sinkang dan se-baliknya, sambil menerima tendangan, Si Harimau Gunung
sudah menangkap dan mencengkeram pundak Bwee Hong seperti seekor harimau men-cengkeram
anak domba saja. Sebetulnya, biarpun ia kalah lihai, akan tetapi kalau Bwee Hong tidak gugup atau
terlalu bernapsu menyerang, melain-kan lebih mencurahkan kepandaian untuk berjaga diri,
mengandalkan ginkangnya yang membuat tu-buhnya jauh lebih cepat dan ringan dari pada la-wan,
belum tentu Si Harimau Gunung akan mam-pu menangkapnya dengan cepat.
"Ha-ha-ha-ha!" Harimau Gunung tertawa bergelak dengan girang sekali. Dia sudah meno-tok jalan
darah di tubuh Bwee Hong, membuat gadis itu tidak mampu melawan lagi, dan sambil tertawa-tawa
dia lalu melucuti pakaian Bwee Hong, dengan gerakan kasar sekali! Bwee Hong hendak melawan,
hendak meronta, namun ia tidak mampu membebaskan diri dari totokan dan meli-hat betapa dirinya
terancam malapetaka, agaknya akan diperkosa oleh iblis itu di depan A-hai yang masih tidur atau
pingsan itu, ia mengeluarkan keluhan dari rongga dadanya kemudian lemas terku-lai dan jatuh
pingsan!
Melihat gadis itu terkulai lemas dan pingsan, San-hek-houw mendengus tak senang. Watak manusia
ini memang sudah mendekati harimau, mendekati binatang buas. Seperti juga harimau yang
menerkam domba, dia tidak akan merasa pu-as kalau tidak melihat korbannya menggelepar-gelepar
di dalam gigitannya. Dia ingin korbannya meronta melawan, ingin melihat darah segar yang panas.
Maka begitu gadis itu terkulai pingsan, dia lalu menggeram, dan tubuh Bwee Hong lalu di-panggulnya
dunia-kangouw.blogspot.com
dan sekali meloncat dia sudah keluar dari dalam rumah dan membawa lari gadis itu de-ngan maksud
akan diperkosa kalau gadis itu sudah siuman dari pingsannya, di tempat lain.
Akan tetapi, tiba-tiba Bwee Hong menjerit. Si Harimau Gunung terkejut. Tak disangkanya gadis itu
akan siuman sedemikian cepatnya. Dia lalu menekan leher Bwee Hong untuk membuat gadis itu tidak
mampu berteriak lagi, dan melem-parkan gadis itu ke atas rumput. Dia sudah lari agak jauh dari
rumah dan kini melihat Bwee Hong sudah siuman, hatinya girang dan diapun hendak memperkosa
gadis itu di tepi jalan, di lereng gu-nung itu!
Jeritan melengking yang hanya satu kali keluar dari mulut Bwee Hong itu telah didengar oleh Seng
Kun, akan tetapi karena pada saat itu Seng
Kun sendiri sedang berkelahi melawan Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, maka kakak ini tidak dapat
menolong adiknya. Akan tetapi, bukan hanya Seng Kun yang mendengarnya. Seorang gadis lain juga
mendengar jeritan ini dan cepat gadis itu berlari mendekat. Gadis itu adalah Kwa Siok Eng! Da-pat
dibayangkan betapa kaget hati gadis ini ketika melihat Bwee Hong yang sudah tidak mengenakan
pakaian luar itu rebah terlentang pingsan di atas rumput dan kakek raksasa Harimau Gunung agaknya
sedang bermaksud untuk memperkosanya. Kwa Siok Eng, gadis itu, maklum akan kelihaian
Harimau Gunung dan mungkin saja datuk sesat itu masih mempunyai kawan-kawan lain seperti
biasanya. Untuk melawbn kakek itu ia tidak takut, akan tetapi bagaimana mungkin melawan kakek
yang amat tangguh berbareng harus menyelamat-kan Bwee Hong? Ia lalu mempergunakan akal.
Siok Eng bersembunyi di tempat gelap, kemu-dian mengerahkan tenaga sakti Asap Hio sehingga
terciumlah bau dupa harum yang amat menyolok keluar dari tubuhnya, lalu ia menirukan suara
ayahnya menggumam, "Hemrn, siapa berani meng-hina orang Tai-bong-pai dengan melakukan kecabulan
di depan mataku?"
Ketika hidungnya mencium bau dupa harum yang menyengat hidung itu, dan mendengar suara ini,
terkejutlah Si Harimau Gunung. Dia sendiri belum pernah bertemu dengan Kwa Eng
Ki, ketua Tai-bong-pai akan tetapi dia sudah banyak mendengar tentang tokoh aneh itu. Tai-bong-pai
adalah perkumpulan aneh, tidak con-dong kepada para pendekar akan tetapi juga tidak pernah mau
merendahkan diri memasuki golongan kaum. penjahat. Dan kabarnya Tai-bong-pai memiliki
kekejaman yang tiada taranya di sam-ping kelihaiannya yang mengerikan. Tak disang-kanya bahwa di
tempat ini dia akan bertemu de-ngan ketua Tai-bong-pai, dan dia mengerti bah-wa perbuatannya
hendak memperkosa gadis can-tik itu tentu dianggap penghinaan karena tanpa disengajanya hal itu
hendak dilakukan di depan si ketua Tai-bong-pai yang dia tidak tahu entah berada di mana.
Lebih baik mencari rekannya, Si Buaya Sakti, baru dia akan menghadapi orang Tai.-bong-pai itu dan
melanjutkan pemuasan nafsunya terhadap si gadis cantik, pikirnya. Maka tanpa banyak ca-kap
Harimau Gunung membatalkan maksudnya dan meninggalkan Bwee Hong, pergi dari situ un-tuk
mencari Buaya Sakti yang dia yakin tidak ber-ada jauh dari tempat itu. Tak lama kemudian terdengarlah
aumannya memanggil rekannya.
Begitu melihat kakek raksasa itu pergi, Siok Eng cepat meloncat keluar dan memondong Bwee Hong,
dibawa lari ke belakang semak-semak. Di sini ia membebaskan totokannya. Bwee Hong sa-dar dan
terkejut, juga girang melihat Siok Eng.
Akan tetapi, gadis Tai-bong-pai ini menutupi mulutnya, berbisik.
"Enci Hong, lekas kaupakai pakaianku ini, dan kita harus cepat pergi dari sini," katanya.
Bwee Hong yang melihat bahwa tubuhnya hampir telanjang bulat, menjadi merah mukanya dan iapun
cepat mengenakan pakaian cadangan dari Siok Eng yang diberikan kepadanya. Ia bersyukur sekali
bahwa dirinya belum ternoda oleh Si Harimau Gunung dan kalau membayangkan apa yang akan
terjadi andaikata tidak muncul Siok Eng yang menyelamatkannya, ia bergidik ngeri.
"Mari kita pergi"
"Akan tetapi, A-hai dan kakakku mereka di rumah mendiang Gu-lojin"
dunia-kangouw.blogspot.com
'"Kita pergi dulu, baru nanti mencari jalan" kata Siok Eng yang sudah menarik tangannya dia-jak lari.
Pada saat itu terdengar bentakan keras dari Harimau Gunung yang agaknya kembali ke tempat tadi
dan tidak lagi menemukan tubuh ga-dis yang hendak diperkosanya.
"Ketua dari Tai-bong-pai, harap keluar untuk bicara!" terdengar bentakan suara Harimau Gu-nung.
Mendengar ini, Siok Eng lalu menarik ta-ngan Bwee Hong dan merekapun melarikan diri. Agaknya
berkelebatnya bayangan mereka nampak oleh San-hek-houw yang cepat melakukan pe-ngejaran
sambil berteriak-teriak. Dua orang gadis itu bergegas lari menyusup-nyusup di antara pohon-pohon
dan semak-semak sehingga sukar-lah bagi San-hek-houw untuk dapat mencari me-reka. Raksasa ini
marah sekali. Dia tahu bahwa dia tadi telah dipermainkan orang. Tidak mungkin ketua Tai-bong-pai
lari terbirit-birit seperti itu. Tadi, ketika dia meninggalkan korbannya, dia me-rasa menyesal dan sambil
menanti datangnya re-kannya yang sudah dipanggilnya melalui auman-nya, dia hendak menemui dulu
ketua Tai-bong-pai untuk diajak berdamai. Akan tetapi, ternyata gadis itu telah lenyap dan dia melihat
berkelebat-nya dua bayangan gadis yang bertubuh ramping maka segera dikejarnya.
Dengan hati mengkal San-hek-houw berpu-tar-putar di dalam hutan itu, mencari-cari kor-bannya.
Akhirnya, dengan kesal dia lalu mening-galkan hutan, hendak kembali ke dusun mencari Buaya Sakti
yang belum juga datang membantu-nya. Ketika dia berlari sampai di luar dusun, tiba-tiba dia melihat
bayangan dua orang dari jauh. Timbul lagi harapannya, dan dia mempercepat larinya mengejar. Akan
tetapi setelah dekat, hati-nya menjadi semakin kesal karena dua orang itu bukanlah dua orang gadis
yang tadi dikejarnya, melainkan seorang laki-laki dan seorang perempu-an setengah tua, keduanya
mengenakan pakaian putih sederhana.
"Heh, petani-petani busuk!" bentaknya dengan sikap kasar sekali. "Hayo katakan apakah kalian
melihat dua orang gadis cantik lewat di sini. Kalau tidak bicara dengan baik kalian akan kuha-jar dan
kupatah-patahkan tulang punggungmu!" Memang sengaja Harimau Gunung yang sudah marah ini
mencari gara-gara agar ada tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Dia mengha-rapkan dua
orang itu marah-marah agar dia da-pat membunuh mereka seperti ancamannya tadi! Siapapun
orangnya tentu akan marah kalau men-dengar ucapan seperti itu. Dan dua orang setengah tua itupun
marah, walaupun kakek pakaian putih itu tidak berkata apa-apa. Si neneklah yang ma-rah dan
melangkah maju.
"Harimau iblis, agaknya engkau sudah ingin disembahyangi!" katanya dan tiba-tiba saja ne-nek itu
menerjang ke depan dan mendorongkan telapak tangannya ke arah Si Harimau Gunung. Hawa
pukulan yang kuat menyambar dan tercium bau dupa harum yang amat keras. San-hek-houw terkejut
dan cepat dia menangkis.
"Desss !" Dia terhuyung ke dekat kakek itu dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar.
"Huhh!" Kakek itupun mendengus dan tangan-nya menampar. Tercium bau hio yang lebih keras lagi.
Melihat tangan yang menyambar ke arah ke-palanya, Si Harimau Gunung cepat menangkis sambil
mengerahkan tenaganya walaupun kepala-nya masih pening dan tubuhnya terasa panas.
"Blarrrr !" Harimau Gunung mengeluh
dan tubuhnya terpelanting. Seluruh tubuhnya kini terasa dingin sekali. Dia bergidik dan cepat menggulingkan
tubuhnya, meloncat bangun dengan mata terbelalak memandang kepada kakek dan nenek
itu. "Kiranya kau kau’ dan diapun meloncat ke belakang sambil bergidik, me-nyusut sedikit darah dari
ujung mulutnya dan lari secepatnya. Sialan, pikirnya, kiranya dia benar-be-nar bertemu dengan ketua
Tai-bong-pai! Siapa lagi kalau bukan ketua Tai-bong-pai, mungkin dengan isterinya, yang memiliki
kepandaian sehe-bat itu? Kembali dia bergidik. Masih untung bahwa mereka tidak berniat
membunuhnya! Kini dia maklum bahwa biar dibantu Si Buaya Sakti sekalipun, dia tidak akan kuat
menandingi kakek dan nenek pakaian putih itu. Kecuali kalau Raja Kelelawar sendiri yang datang
membantunya.
Kakek dan nenek berpakaian putih itu memang suami isteri Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai. Mereka
berdua sedang mencari puteri dan putera mereka. Hati mereka kesal, maka mereka meng-hajar Si
Harimau Gunung, walaupun mereka tidak bermaksud bermusuh dengan kaum sesat. Oleh karena
itulah mereka tidak mengejar datuk itu dan melanjutkan perjalanan mereka menyelidiki dan mencari
anak-anak mereka.
Sementara itu, Siok Eng dan Bwee Hong sudah keluar pula dari dalam hutan. Dari jauh saja, Siok
dunia-kangouw.blogspot.com
Eng telah dapat mencium bau hio keras itu ketika suami isteri Kwa Eng Ki menghajar Si Harimau
Gunung. Gadis ini nampak terkejut dan cepat ia menarik tangan Bwee Hong, diajaknya gadis itu
masuk ke dalam hutan.
"Wah, enci Hong, itu ayah dan ibu telah datang pula ke sini! Aku pergi dari rumah tanpa perse-tujuan
mereka dan sudah beberapa bulan aku ti-dak pulang. Mereka tentu sedang mencariku dan aku belum
mau pulang sekarang. Kita bersembu-nyi dulu di sini sampai mereka pergi."
Bwee Hong mengangguk. Ia dapat mengerti keadaan Siok Eng. Sahabatnya ini adalah puteri dari
ketua Tai-bong-pai dan iapun mendengar bahwa keluarga Tai-bong-pai adalah orang-orang yang
dianggap iblis oleh dunia kang-ouw. Tidak heran kalau cara hidup merekapun aneh sekali sehingga
seorang anak perempuan pergi tanpa pamit dan takut ditemukan ayah bundanya, takut dipaksa dan
diajak pulang. Sungguh aneh! Akan tetapi ia tidak mau menyinggung hati sahabatnya dengan
menyatakan keheranannya, dan iapun ikut bersembunyi. Pengalamannya ketika terculik oleh Harimau
Gunung tadi saja sudah amat mengerikan, dan ia takut kalau-kalau bertemu lagi dengan iblis itu.
Tentang keadaan A-hai, ia tidak khawatir karena bukankah di sana terdapat kakaknya? Ma-lam itu
mereka berdua bersembunyi di dalam hu-tan, tidak berani banyak bersuara, bahkan tidak berani
membuat api unggun. Mereka hanya meng-andalkan tenaga sinkang untuk melawan dinginnya sang
malam.
Pada keesokan harinya, barulah kedua orang gadis itu berani keluar dari dalam hutan. Dengan hatihati
mereka menuju ke rumah mendiang Gu-lojin. Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong. A-hai
maupun Seng Kun tidak nampak berada di da-lam rumah. Bwee Hong lalu mengajak Siok Eng pergi
ke dusun nelayan untuk mencari mereka. Namun di dusun ini juga mereka tidak menemukan dua
orang pemuda itu. Dan dari para nelayan ini-lah mereka mendengar akan apa yang terjadi ma-lam
tadi. Mereka mendengar akan munculnya dua orang kakek iblis yang mereka dapat menduganya
tentulah Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti. Kemudian datangnya seorang kakek dan seorang
pemuda bersama Seng Kun yang mencari dua orang kakek iblis itu, kemudian betapa tiga orang ini
melakukan pengejaran menggunakan perahu ketika mendengar betapa dua orang kakek iblis itu
merampas perahu seorang nelayan. Kemudian mereka mendengar akan munculnya A-hai yang juga
membeli sebuah perahu dan mendayung pe-rahu itu seorang diri.
"Demikianlah, kami berdua lalu menggunakan perahu melakukan pengejaran karena menurut para
penghuni dusun, engkau pergi belum lama," kata Bwee Hong menutup ceritanya kepada A-hai.
""Dan akhirnya kami dapat menemukanmu dalam keadaan hanyut dan hampir tenggelam."
"Wah, wah, engkau selalu menjadi bintang pe-nolongku, nona Hong." A-hai berkata dengan ter-haru.
Dia teringat betapa baiknya gadis ini dan kakaknya, yang bahkan berjasa pula dalam mengo-bati
dirinya dan berusaha memulihkan ingatannya.
"Aih, jangan berkata demikian, A-hai. Bukan-kah engkau sebaliknya yang sudah berkali-kali
menyelamatkan diriku dari bencana?"
Melihat betapa dua orang ini saling merendah dan saling memuji, Siok Eng terbatuk-batuk. Ka-rena
batuknya ini batuk buatan, Bwee Hong me-noleh dan menegur dengan pipi merah, "Ih, apa artinya
engkau batuk-batuk itu, adik Eng?"
Siok Eng menutupi mulut dan tersenyum. "Kalian saling berebutan merendahkan diri dan saling
memuji. Sudahlah, anggap saja kalian saling hutang budi dan saling berkewajiban untuk memba las
budi hi-hik "
Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Maksudmu?"
"Maksudku adalah seperti yang kaumaksudkan di dalam lubuk hatimu, enci"
Kedua pipi itu menjadi semakin merah. "Adik Eng, jangan main-main kau. Dan jangan bicara seperti
main teka-teki. Apa yang kaumaksudkan?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Siok Eng hanya tertawa dan sikap inilah yang membuat Bwee Hong tiba-tiba mengerti apa yang
dimaksudkan sahabatnya itu, maka di dalam, gelap ia mencubit lengan Siok Eng dengan keras, akan
tetapi tidak berkata apa-apa karena takut kalau A-hai akan tahu apa yang dimaksudkan oleh Siok Eng
dengan godaannya itu. Siok Eng telah me-nyindir dan menggoda mereka, menjodohkan me-reka!
Memang sesungguhnya A-hai tidak mengerti akan kelakar dua orang gadis itu dan diapun ber-tanya,
"Kita ke mana sekarang?" Pertanyaannya diajukan kepada Siok Eng yang mengemudikan perahu.
"Sebaiknya kita pergi ke tempat A-hai dikero-yok orang. Tentu ada sesuatu di tempat itu dan siapa
tahu kalau-kalau kakakku juga berada di sana."
"Baik, kita ke sana sekarang juga!" Tiba-tiba Siok Eng berkata dengan tegas sambil mendayung
perahunya. Melihat ini, Bwee Hong tersenyum dan mendekati Siok Eng, berkata lirih di dekat te-linga
gadis itu.
"Engkau tentu sudah ingin sekali segera ber-jumpa dengan kakakku, bukan?"
Akan tetapi, sejak kecil Siok Eng mempunyai lingkungan hidup yang berbeda dengan Bwee Hong.
Sebagai puteri ketua Tai-bong-pai, ia su-dah biasa bergaul dengan orang-orang aneh yang hidupnya
tidak begitu terbelenggu oleh segala macam sopan santun dan kepura-puraan yang mu-nafik. Apa
yang berada dalam hatinya tidak ditutup-tutupinya dengan malu-malu lagi, maka iapun mengangguk
dan menjawab dengan suara serius,
"Benar, enci Hong. Aku harus cepat bertemu dengan dia dan melihat dia dalam keadaan selamat,
barulah hatiku akan merasa tenteram."
Jawaban ini sudah jelas sekali bagi Bwee Hong, akan tetapi A-hai hanya termangu-mangu di ujung
perahu, masih berusaha mengeringkan baju-nya yang basah. Dia mendengar ucapan itu da-lam arti
kata-kata biasa saja, sama sekali tidak me-lihat bahwa ucapan itu mengandung perasaan hati gadis
Tai-bong-pai itu terhadap Seng Kun.
Perahu didayung oleh A-hai menurut petunjuk Siok Eng dan menjelang sore hari tibalah mereka di
tempat pengeroyokan itu. Akan tetapi tempat itu sunyi saja dan nampak perahu A-hai di tepi sungai.
"Itu perahuku!" kata A-hai yang mendayung ke pinggir. Dengan girang dia mengambil buntal-an
pakaiannya. "Aku mau berganti pakaian kering!” katanya sambil lari ke belakang semak-se mak. Tak
lama kemudian diapun keluar dan su-dah memakai pakaian kering dan sikapnya gembira sekali.
Memang hatinya gembira setelah dia dapat berkumpul kembali dengan Bwee Hong.
"Di sini sunyi tidak ada seorangpun manusia," kata Siok Eng.
"Tapi ini banyak bekas kaki orang," kata Bwee Hong.
Mereka lalu melalui jalan setapak, mengikuti jejak kaki banyak orang yang menuju ke bukit-bukit di
depan. Ketika melihat sebuah pondok bambu yang kosong, mereka masuk. Banyak ter-dapat bekas
kaki di situ, juga di atas meja kasar terlihat corat-coret gambar semacam peta dan ada tulisan
Pesanggrahan Hutan Cemara.
"Wah, aku mengenal tempat itu!" Tiba-tiba A-hai berkata. "Telah beberapa kali aku ke sana
mengantarkan arak!"
Hari telah malam, akan tetapi karena menge-nal jalan, A-hai dapat membawa kedua orang te-mannya
menuju ke pesanggrahan yang dimaksud-kan itu. Mereka melewati kedai arak yang pernah menjadi
langganan A-hai. Kedai itu tertutup ra-pat, dan nampak bekas keributan dan perkelahian yang
membuat beberapa bagian dari kedai itu je-bol dan rusak. Agaknya keributan besar terjadi di situ.
Sama sekali tidak mereka ketahui betapa di dalam kedai itu telah terjadi keributan dan perke-lahian
antara rombongan para penjahat melawan para anggauta Liong-i-pang dan di kedai itupun hadir pula
Liu Pang dan Ho Pek Lian seperti yang telah diceritakan di bagian depan. Tiga orang itu melanjutkan
perjalanan, dengan A-hai sebagai pe-nunjuk jalan, menuju ke Pesanggrahan Hutan Cemara, yaitu
pesanggrahan, kaisar yang hanya diper-gunakan di waktu kaisar mengadakan perburuan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam sudah larut,-sudah lewat tengah malam ketika mereka bertiga tiba di pesanggrahan itu. Dan di
sinipun mereka melihat bekas-bekas per-tempuran hebat yang membuat bangunan pesang-grahan
yang mungil itu porak-poranda. Melihat akibat yang demikian parah, dapat diduga bahwa pertempuran
yang terjadi di tempat itu amatlah hebatnya. Sebagian bangunan nampak bekas ter-bakar dan darah
masih nampak berceceran di sa-na-sini, berwarna kehitaman dan sudah menge-ring.
"Ssttt , ada orang !" kata Siok Eng
berbisik dan mereka bertiga lalu menyelinap ke belakang semak-semak. Muncullah seorang laki-laki
bertubuh pendek dari dalam bangunan yang bekas terbakar dan sinar bulan membuat wajah laki-laki
pendek itu nampak pucat sekali. Meli-hat wajah itu, Bwee Hong segera mengenalnya. Orang itu
bukan lain adalah Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan istana yang setia itu. Tentu orang itu tahu akan
semua hal yang terjadi, mungkin tahu pula di mana adanya kakaknya. Maka Bwee Hong lalu keluar
dari tempat sembunyinya, diikuti oleh Siok Eng dan A-hai. Dua orang inipun telah mengenal muka
cebol yang lihai itu dan mereka merasa agak khawatir. Tadinya Tong Ciak nampak terkejut, akan
tetapi ketika dia mengenal Bwee
Hong, diapun merasa lega dan menghampiri me-reka.
"Ah, kiranya nona Chu yang datang," katanya.
"Tong-ciangkun, kenapa ciangkun berada di sini dan apakah yang telah terjadi di tempat ini? Kulihat
ada bekas-bekas pertempuran."
Si pendek itu menarik napas panjang dan nam-pak berduka. Dia mengepal tinju yang diamang-kan ke
arah bulan, menahan diri yang agaknya ingin menyumpah-nyumpah, lalu berkata, "Su-dahlah, apa
artinya dipertahankan lagi? Nona Chu, kalau nona bertemu dengan ayahmu, tolong sam-paikan
bahwa aku Tong Ciak mengirim hormat dari jauh dan bahwa aku tidak akan kembali lagi ke istana."
Bwee Hong mengerutkan alisnya. Ia tahu bah-wa panglima ini menghormati ayahnya, yaitu Bu Hong
Tojin dan ia tidak perduli apa yang akan dikerjakan oleh orang ini. Akan tetapi ia ingin ta-hu apa yang
sebenarnya telah terjadi maka pangli-ma cebol yang lihai ini kelihatan murung, berduka dan putus
harapan, maka iapun menjawab, "Baik, ciangkun, akan kusampaikan. Akan tetapi apakah yang terjadi
dan ciangkun hendak pergi ke mana-kah?"
"Aku akan kembali ke Bawa Pasir. Tidak ada gunanya lagi mengabdi di istana setelah kaisar terbunuh.
Yang berada di istana sekarang adalah kaum pencoleng dan penjahat, begundal-begundal
Perdana Menteri Li Su yang lalim dan Chao thai-kam yang korup." Si cebol menarik napas pan-jang.
"Mereka, dipimpin oleh Raja Kelelawar, telah berhasil merampas jenazah sri baginda. Kakakmu
dibantu oleh dua orang temannya melakukan pe-ngejaran karena mereka mengira bahwa para penjahat
itu membawamu, nona. Akan tetapi sungguh perbuatan mereka itu amat berbahaya. Raja Kelelawar
sungguh amat lihai sekali dan dia masih di-bantu oleh pentolan-pentolan kaum sesat yang
berilmu tinggi."
"Kalau begitu, aku harus menyusul Kun-koko," kata Bwee Hong.
"Akupun akan pergi sekarang juga, harap eng-kau suka berhati-hati, nona. Kaum sesat itu se-lain
kejam dan jahat, juga amat lihai. Aku sendiri sudah terluka, dan perlu beristirahat untuk memu-lihkan
tenaga dan kesehatan."
Mereka lalu berpisah dan Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai malam itu juga meninggalkan tempat itu.
Mereka lebih suka melewatkan malam di tem-pat lain dari pada di bekas pesanggrahan yang terbakar
itu. Mereka bermalam di tepi hutan dan pada keesokan harinya barulah mereka melanjut-kan
perjalanan ke kota raja, untuk menyusul Seng Kun.
Tiga orang itu melakukan perjalanan cepat, akan tetapi kadang-kadang mereka terpaksa me-ngurangi
kecepatan karena kalau dua orang gadis itu mengerahkan ilmu lari cepat mereka, tentu A-hai akan
tertinggal. Selain itu, juga sering kali secara tiba-tiba A-hai berhenti dan termenung, memeras otaknya
untuk mengingat-ingat ilmu si-lat yang pernah dipelajarinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Perlu apa melelahkan pikiran dengan mengi-ngat-ingat ilmu silat yang pernah kaupelajari dalam
keadaan seperti sekarang ini, A-hai?" Per-tanyaan Bwee Hong ini dimaksudkan bahwa me-reka
bertiga sedang tergesa-gesa mencari dan me-ngejar Seng Kun, maka bukanlah waktunya yang tepat
untuk sering kali berhenti dan mengingat-ingat ilmu silat.
Akari tetapi A-hai salah mengerti dan menja-wab dengan sungguh-sungguh, "Justeru dalam keadaan
seperti sekarang ini maka perlu aku meng-ingat semua ilmu yang pernah kupelajari, nona Hong. Di
mana-mana terjadi kekalutan dan aku melihat betapa ilmu silat amat diperlukan pada waktu sekarang
ini. Orang-orang jahat berkeliar-an, kalau tidak memiliki kepandaian silat, tentu ce-laka karena tidak
mampu melindungi diri sendiri. Maka perlu sekali aku mengingat-ingatnya, dan agaknya samar-samar
aku mulai teringat akan ge-rakan ilmu silat yang pernah kupelajari." Sambil berkata demikian, kaki
tangannya bergerak-gerak secara aneh dan mulutnya bicara kepada diri sendiri,
" setelah kaki digeser ke kiri, tangan harus mencengkeram ke arah ubun-ubun lawan.
Begini! Ah, benar " Dia melakukan gerakan kaki menggeser ke kiri itu dan tagannya mencuat
dengan cengkeraman aneh ke atas.
Sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi Bwee Hong dan Siok Eng dapat mengenal ilmu silat yang amat
aneh dan hebat. Sayang hanya sepotong-sepotong, akan tetapi gerakan yang kelihatan sederhana itu
memiliki dasar kecepatan yang mengerikan, bahkan setiap kali tangan digerakkan, terdengar suara
me-ngaung atau berdesing seperti sebatang pedang yang baik disentil atau diayunkan. Tenaga
sinkang yang hebat tersembunyi di dalam gerakan itu tan-pa disadari oleh A-hai sendiri!
Siok Eng yang bahkan memiliki tingkat kepan-daian lebih tinggi dari Bwee Hong, juga meman-dang
kagum lalu mengajukan usulnya, "Alangkah baiknya kalau engkau merangkai gerakan-gerakan itu,
dari awal mula. Tentu saja yang engkau ingat, saudara A-hai. Tanpa dirangkai, gerakan-gerak-an itu
menjadi kacau tidak karuan ujung pangkal-nya."
A-hai yang mendengar usul ini termenung, mengangguk-angguk, lalu kedua alisnya yang te-bal itu
berkerut, tanda bahwa dia mulai menge-rahkan ingatannya. "Baiklah, akan kucoba. Akan tetapi harap
nona berdua tidak mentertawakan."
Siok Eng dan Bwee Hong lalu duduk di bawah pohon dengan hati gembira. Mereka ingin sekali
melihat A-hai, dalam keadaan sadar, dapat meng-ingat dan menguasai ilmu-ilmunya yang mujijat.
Setelah memandang kepada dua orang gadis itu dengan malu-malu, A-hai lalu agak menjauh dan
mulailah dia memasang kuda-kuda.
Mula-mula A-hai berdiri tegak, menghadap ke arah dua orang nona yang menjadi penonton itu, lalu
mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai tanda penghormatan. Kemudian dia me-nurunkan
kedua tangannya, terus kedua lengan di-buka dan dipentang ke kanan kiri dengan jari-jari terbuka
membuat gerakan seperti burung terbang dan kedua lengan itu seperti menjadi sepasang sa-yapnya,
perlahan-lahan kaki kanan diangkat dan diturunkan lagi ke depan dalam keadaan berjung-kit. Tibatiba
saja terdengar suara berkerotokan dari tulang-tulang di tubuh pemuda itu dan sepa-sang matanya
mencorong menakutkan, sedangkan dari ubun-ubun kepalanya nampak uap tipis me-ngepul. Bwee
Hong terbelalak dan tak terasa lagi ia memegang lengan kawannya erat-erat saking tegang hatinya
dan khawatir kalau-kalau A-hai kumat lagi! Tenaga dahsyat yang seolah-olah bangkit dalam diri Ahai
itu, makin lama nampak semakin hebat sehingga mempengaruhi keadaan sekeliling. Bahkan dua
orang nona itu merasakan getaran yang aneh walaupun A-hai belum menggerakkan kaki tangannya
dan baru mulai dengan pemasangan kuda-kuda saja.
Sepasang mata yang sudah mencorong hebat itu kini perlahan-lahan menjadi redup kembali, uap di
atas kepalanyapun lenyap dan sikap A-hai nampak kebingungan dan ketolol-tololan lagi. Diapun
menurunkan kedua tangannya dan nampak lesu.
"Wah, sudahlah, aku lupa lagi bagaimana un-tuk melanjutkan!" katanya dengan nada suara ke-sal.
Tentu saja Siok Eng dan Bwee Hong yang tadi-nya sudah merasa tegang sekali dan juga gembira,
menjadi kecewa dan ikut lemas seperti balon kem-bung kini dikempiskan.
A-hai, jangan putus harapan. Cobalah lagi. Engkau sudah hampir berhasil tadi!" Bwee Hong
membujuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Benar, saudara A-hai, engkau sudah berhasil dengan pasangan kuda-kuda itu," Siok Eng juga
memuji.
"Cobalah lagi, A-hai dan karena kuda-kuda-mu sudah benar, jangan terlalu kerahkan pikiran mu untuk
itu, melainkan untuk mengingat gerak lanjutannya," sambung Bwee Hong.
Didorong semangat oleh dua orang gadis itu, akhirnya A-hai meniadi gembira juga dan dico-banya
lagi berkali-kali, kalau lupa dia mulai lagi dari permulaan. Akhirnya berhasil juga!
Ketika dia melakukan gerakan pertama mema-sang kuda-kuda, agaknya kini gerakannya itu benarbenar
sempurna. Uap yang mengepul di atas kepalanya semakin tebal dan tiba-tiba ter-jadilah
keanehan yang membuat kedua orang dara itu terbelalak dan wajah mereka berobah. Mata mereka
memandang kepada A-hai seperti orang yang tidak percaya akan apa yang mereka saksikan. Uap
yang mengepul di atas kepala A-hai itu kini terbagi menjadi dua warna. Yang sebelah kiri ber-warna
putih seperti uap tebal biasa, akan tetapi yang sebelah kanan berwarna kemerahan! Uap itu mengepul
ke atas setinggi satu meter. Tentu saja dua orang dara yang selama hidupnya belum pernah melihat
hal seperti itu, bahkan mendengar pun belum, menjadi melongo dan dapat menduga bahwa tenaga
sinkang yang dimiliki oleh A-hai sungguh luar biasa anehnya dan amat hebat. Akan tetapi, mereka
sengaja menahan mulut dan tidak mengeluarkan kata-kata agar A-hai tidak men-jadi bingung atau
kikuk. Mereka diam saja dan memperhatikan dengan kedua mata terbelalak, mengikuti setiap gerakan
kaki dan tangan A-hai.
Kini gerakan A-hai mulai lancar, walaupun masih dilakukan dengan perlahan dan lambat. Bi-arpun
begitu, dua orang dara itu memandang de-ngan melongo dan semakin takjub melihat keadaan yang
benar-benar amat luar biasa dari pemuda itu. Kini perlahan-lahan anggauta tubuh A-hal juga
mengalami perobahan warna. Agaknya warna pada uap yang mengepul di atas kepala pemuda itu
kini mempengaruhi tubuhnya sehingga separuh tubuhnya yang sebelah kiri menjadi keputih-pu-tihan,
sedangkan separuh tubuh sebelah kanan menjadi kemerah-merahan. Tentu saja wajah yang tampan
itu nampak aneh dan mengerikan ka-rena menjadi dua warna, merah dan putih seperti dicat saja
dengan warna muda.
Dari perasaan takjub dan kagum, kini dua orang dara itu merasa khawatir juga. Bahkan Bwee Hong
menjadi gelisah karena biarpun ia mengikuti ka-kaknya mengusahakan pengobatan terhadap A-hai,
namun ia sama sekali tidak dapat mengetahui de-ngan pasti, apa yang sedang terjadi dan berobah di
dalam tubuh pemuda itu dan iapun merasa ti-dak berdaya untuk menghentikannya. Kalau saja di situ
terdapat kakaknya. Kakaknya adalah seo-rang ahli pengobatan yang sudah mewarisi kepan-daian
mendiang kakek mereka, sedangkan ia sen-diri hanya mengetahui cara pengobatan umum sa-ja,
tidak terlalu mendalam seperti kakaknya. Kalau kakaknya berada di sini dan menyaksikan keadaan Ahai,
tentu akan tertarik sekali dan mungkin da-pat menerangkannya.
Kini A-hai mengeluarkan suara mendengus beberapa kali dan gerakan tubuhnya sangat aneh. Dia
hanya menggerakkan kaki dan tangan kirinya saja, bahkan yang bergerak hanya tubuh bagian kiri.
Mata kirinya melirik-lirik akan tetapi mata kanannya bengong dan diam saja! Bagian tubuh kiri yang
putih itulah yang bergerak, sedangkan bagian tubuh kanan yang merah hanya terseret, tidak ikut-ikut
bergerak. Tentu saja dua orang dara itu terbelalak dan bulu tengkuk mereka me-remang menyaksikan
keanehan yang menggiriskan dan menakutkan ini. Bwee Hong makin gelisah. Gerakan itu kini terasa
mendatangkan hawa dingin yang luar biasa sekali, yang seperti terasa menyu-sup tulang oleh dua
orang dara. Uap berwarna putih di atas kepala A-hai itupim menghilang, tinggal yang berwarna merah
saja yang mengepul. Akan tetapi, biarpun yang bergerak itu hanya ang-gauta tubuh kiri, hebatnya
bukan kepalang. Seti-ap jari tangan kiri yang bergerak melakukan totok-an-totokan dan mengeluarkan
bunyi mendesis-desis seperti bara api tersiram air hujan.
Agaknya, kelancaran gerakannya membual A-hai menjadi semakin bersemangat. Kadang-ka-dang
pemuda itu menghentikan gerakannya, meng-ingat-ingat sebentar lalu melanjutkan lagi. Akan tetapi,
pada suatu gerakan yang nampak aneh dan indah, ketika dia menggeser kakinya ke kiri, dia
termangu-mangu dan tidak mampu melanjutkan lagi, tubuhnya masih condong ke depan dan karena
dia mengingat-ingat dan menghentikan gerakan nya, dia menjadi seperti patung yang lucu. Akhirnya
dia menyerah karena tidak mampu mengingat kelanjutan gerakan ini.
"Wah, sudahlah cuma sampai di sini saja ingatanku." Dan diapun menghentikan permainan
silatnya dan duduk di atas rumput dengan hati ke-sal.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pagi telah menjelang. Kabut pagi yang dingin membuat dua orang dara yang seperti baru sadar dari
mimpi itu kedinginan. Mereka menarik napas panjang, seperti baru kembali dari alam khayal yang
mentakjubkan. Mereka disuguhi tontonan il-mu silat yang langka dan yang hebat luar biasa.
"Ehh ? Putih-putih di rambutmu itu apakah hujan salju?" tiba-tiba Siok Eng menun-juk ke arah
rambut Bwee Hong. Dara ini meng-angkat muka memandang dan iapun melihat beta-pa di rambut
Siok Eng terdapat benda-benda pu-tih seperti kapas, bahkan di puncak-puncak daun dan rumput di
sekitar mereka terdapat salju.
"A-hai, apakah hujan salju? Pantas begini di-ngin!" kata Bwee Hong sambil menoleh kepada A-hai.
"Hujan salju? Entahlah, aku tidak tahu, nona," kata A-hai yang masih tenggelam ke dalam la-munan,
mengingat-ingat ilmu silatnya.
"Hei, kenapa tidak ada salju di rambut A-hai?" Bwee Hong berseru sambil bangkit dan mendekati
pemuda itu. Siok Eng juga memeriksa sekitar situ, yang kini tidak begitu gelap lagi karena fajar mu-lai
menyingsing.
"Eh, di sinipun tidak ada salju, yang ada hanya kabut dan embun di puncak-puncak daun." Siok Eng
juga berseru. Mereka memeriksa keadaan yang aneh itu dan akhirnya mereka sadar dengan penuh
takjub bahwa salju itu tercipta sebagai aki-bat dari pada pengaruh ilmu silat aneh dari A-hai! Kiranya,
pukulan-pukulan yang dilakukan A-hai mengandung tenaga sinkang mujijat yang dingin, yang
agaknya dapat membuat embun-embun tipis di sekitar tempat itu berobah menjadi salju. Luar biasa
sekali!
Sambil menanti datangnya pagi, mereka duduk dan dua orang gadis itu memuji-muji ilmu silat yang
baru saja diperlihatkan oleh A-hai. Akan tetapi A-hai menggeleng kepalanya. "Masih kacau balau,
belum tersusun baik," katanya, bukan untuk merendah melainkan karena dia memang belum merasa
puas dan tahu bahwa ilmu yang diingatnya itu tidak lengkap.
"Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku mendengar, apa lagi melihat, ilmu silat seperti
yang kaumainkan tadi, saudara A-hai. Hanya sa-yang sekali, mengapa engkau bersilat hanya dengan
sebelah kaki dan sebelah tangan? Kalau saja eng-kau menggunakan semua kaki tanganmu, tentu ilmu
itu akan menjadi semakin hebat dan ampuh."
A-hai menunduk dari mukanya berobah me-rah, lalu dia mengangkat mukanya lagi, meman-dang
kepada Siok Eng sambil tersenyum sedih. "Akan tetapi yang kuingat memang hanya digerak-kan oleh
satu tangan saja."
"A-hai, tadi engkau mengatakan sebelum eng-kau mulai bersilat, bahwa ketika kakimu bergeser ke
kiri, seharusnya engkau mencengkeram ke arah ubun-ubun lawan. Apa yang kaumaksudkan de-ngan
itu?" Bwee Hong mengingatkan.
A-hai meloncat bangun, menepuk kepalanya. "Aih, benar! Seharusnya jurus terakhir tadi dilan-jutkan,
ketika kaki bergeser ke kiri, tangan kanan-ku harus mencengkeram ke arah ubun-ubun la-wan dengan
jurus Pai-in-jut-sui (Mendorong Awan Keluar Puncak). Ya, begitulah!" katanya dengan girang seperti
seorang anak kecil yang me-nemukan kembali mainannya yang hilang.
Dengan semangat baru yang meluap-luap A-hai kembali memainkan ilmu silatnya, melanjutkan
dengan gerakan yang terlupa tadi setelah keadaan-nya kembali seperti tadi, yaitu tubuhnya berobah
menjadi dua warna. Dengan suara menggeram dahsyat, ketika kakinya bergeser ke kiri, tiba-tiba
tangannya mencuat ke depan dan mencengkeram ke atas. Terdengar suara mendesis dan pohon di
depan A-hai tergetar keras, air embun yang tadi-nya menempel di ujung daun-daun berhamburan ke
bawah dalam keadaan berobah menjadi salju yang melayang turun seperti kapas. Sampai di sini, Ahai
berhenti dan mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. Tiba-tiba, kaki kanannya yang sejak tadi
seperti mati atau hanya mengikuti ge-rakan kaki kiri dalam keadaan terseret, kini dite-kuk dan
melangkah ke depan. Tangan kanannya dengan terbuka kini mencengkeram ke depan.
"Wuuuuttt !" Hawa panas menyambar
keluar dari telapak tangan itu dan uap merah yang mengepul di atas kepalanya lenyap. Cengkeraman
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan kanan itu menyambar ke atas dan
butiran-butiran saliu yang teriadi oleh tenaga pu-kulan tangan kirinya tadi kini lenyap dan menguap
menjadi seperti kabut. Lebih hebat lagi, daun-daun yang tergantung paling rendah di pohon itu
menjadi layu seperti terlanda hawa panas yang hebat.
"Bukan main !" Siok Eng berbisik kagum.
Ia adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan sudah banyak melihat ilmu-ilmu aneh dan hebat dari orangorang
pandai. Akan tetapi apa yang disak-sikannya ini sungguh membuat ia takjub. Bagai-mana
seorang bisa bersilat seperti itu? Kedua ka-ki dan kedua tangan itu membuat gerakan sendi-ri-sendiri,
seperti dikemudikan oleh dua otak. Bahkan kedua mata pemuda itupun bekerja sendi-ri-sendiri,
melirak-lirik mengikuti gerakan bagi-an masing-masing.
"Hebat sekali permainanmu, A-hai!" Bwee Hong juga memuji. Pujian ini membuat ingatan A-hai
menjadi buntu lagi dan betapapun dia mengingat-ingat, tetap saja dia tidak mampu me-lanjutkan.
Akan tetapi dia tidak kecewa lagi kare-na hasil ingatannya sekali ini sudah baik sekali. Me-reka lalu
beristirahat sambil makan pagi yang dike-luarkan oleh Siok Eng dan A-hai, yaitu roti kering dan
dendeng asin. A-hai masih mempunyai arak untuk menghangatkan perut melawan hawa dingin.
Setelah makan pagi, mereka bertiga melanjut-kan perjalanan. Kini pandangan Siok Eng terha-dap Ahai
lain. Ia bersikap hormat dan di dalam hatinya ia memandang pemuda itu sebagai seorang yang
lebih pandai dari padanya, sama sekali tidak memandang rendah sebagai seorang pemuda yang
kehilangan ingatannya.
Ketika mereka tiba di dataran rendah, dari jauh nampak iring-iringan tandu dikawal oleh belasan orang
perajurit yang gagah perkasa. Mereka cepat menyelinap bersembunyi dan memperhatikan ke-tika
iring-iringan itu lewat di depan tempat per-sembunyian mereka. Diam-diam Bwee Hong ter-kejut.
Tidak salah lagi. Tandu-tandu yang terisi wanita-wanita tua muda dan anak-anak itu tentu datang dari
kota raia, agaknya meranakan keluarga bangsawan. Timbul pertanyaan di hatinya. Meng-apa mereka
meninggalkan kota raja dan siapakah mereka? Akan tetapi ia tidak mau mencari perkara dengan
banyak bertanya, khawatir kalau-kalau dicurigai dan malah bentrok dengan para penga-wal itu.
Mereka sedang meninggalkan kota raja dan nampak tergesa-gesa, tentu banyak kecuriga-an mereka
kalau ada orang bertanya-tanya di jalan.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dan di sepanjang perjalanan Bwee Hong selalu mencari
keterangan tentang Raja Kelelawar yang membawa jenazah, juga tentang kakaknya yang ditemani
dua orang yang belum diketahuinya siapa. Menurut keterangan yang diperolehnya dari penghuni dusun
nelayan, yang menemani kakaknya adalah se-orang pemuda tampan dan seorang kakek tua memegang
tongkat. Biarpun Bwjee Hong selalu berta-nya kepada orang-orang di dalam perjalanan tentang
mereka itu, tidak ada seorangpun yang dapat memberi keterangan, tidak ada yang melihat
orang-orang yang ditanyakannya itu.
Pada suatu pagi perjalanan mereka terhalang oleh sebuah sungai. Mereka berhenti di dusun
penyeberangan. Untuk menyeberang, orang harus naik perahu penyeberangan yang disediakan di
dusun itu. Akan tetapi pada saat itu, tidak terda-pat perahu di tepi sini karena semua perahu dikerahkan
untuk menjemput orang-orang yang ber-jubel di seberang sana dan hendak menyeberang ke
sini. Melihat keadaan ini, A-hai mendekati se-orang anak laki-laki belasan tahun yang berada di situ.
Anak inipun membantu para tukang pe-rahu dan nampaknya cerdik.
"Adik kecil, kenapa banyak sekali orang-orang menyeberang dari sana, sedangkan aku tidak me-lihat
seorangpun yang hendak menyeberang dari sini ke sana?"
"Mereka adalah para pengungsi," jawab anak itu.
"Pengungsi dari mana dan kenapa mengungsi?" tanya pula A-hai. Anak itu memandang wajah A-hai
seperti merasa heran mengapa ada orang yang tidak tahu akan keadaan geger pada waktu itu.
"Kabarnya pasukan pemerintah telah mundur, dan pasukan pemberontak sudah mendekati kota raja.
Pasukan yang mundur sudah sampai di sebe-rang sana. Para pengungsi itu datang dari utara hendak
ke selatan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar jawaban ini, Bwee Hong dan Siok Eng saling pandang dengan A-hai. Kalau begitu, iringiringan
tandu yang mereka jumpai itu tentu-lah para pengungsi dari bangsawan atau pejabat kota raja
yang hendak menyelamatkan diri karena kota raja sudah terancam oleh para pemberontak.
Sebuah perahu dari seberang yang padat peng-ungsi tiba di tepi. Rombongan ini tentu keluar-ga
hartawan, pikir Bwee Hong dan dua anak muda ini malah hendak menuju ke sana? Ketika perahu
menye-berangi sungai yang lebar itu, A-hai sempat meng-ajak tukang perahu bercakap-cakap.
"Kami sudah lama meninggalkan utara dan ki-ni hendak pulang ke keluarga kami," demikian A-hai
bicara dan Bwee Hong melihat kenyataan bahwa setelah ingatannya agak dapat bekerja kem-bali,
sikap A-hai sungguh amat berbeda dan kini nampaklah bahwa dia adalah seorang pemuda cer-dik,
sama sekali tidak tolol. "Kami sama sekali ti-dak tahu bagaimanakah keadaan di sana. Apakah yang
telah terjadi, lopek?"
Tukang perahu menarik napas panjang. "Mem-banjirnya para pengungsi sungguh membikin pa-nik.
Kalau kami tidak ingat akan tugas, juga kare-na kami orang-orang miskin yang tidak mungkin pergi
membawa bekal, tentu kamipun akan ikut-ikut lari. Kabarnya pasukan pemerintah yang di-pimpin oleh
Jenderal Beng Tian telah dipukul mun-dur oleh pemberontak. Dan kini setelah kaisar le-nyap dan
kabarnya ditemukan tapi sudah tidak ada, juga kabarnya kaisar baru diangkat, keadaan di kota raja
menjadi kalut. Kabarnya kaum pen-jahat merajalela di kota raja, para petugas keaman-an tidak
berdaya, rakyat tidak terlindung sama sekali dan peraturan-peraturan dilanggar secara berani.
Kabarnya kini para pejabat malah bertin-dak sewenang-wenang dan bersekongkol dengan para
penjahat, bahkan banyak keluarga istana dan pejabat dihukum gantung dan dibunuh. Aku ha-nya
mengumpulkan percakapan para pengungsi, aku sendiri tidak tahu apa-apa." Tukang perahu menutup
ceritanya dan mengelak dari pertang-gungan jawab.
"Lopek, aku mencari tiga orang. Yang seorang adalah pemuda yang usianya duapuluh tahun lebih,
bertubuh jangkung, wajahnya tampan dan gagah"
"Di dagunya sebelah kanan ada tahi lalatnya" Siok Eng menyambung, kemudian mukanya menjadi
agak merah ketika Bwee Hong menoleh kepadanya sambil tersenyum.
"Ya, dan orangnya pendiam. Dia ditemani oleh seorang kakek yang bertongkat, juga seorang pemuda
yang usianya agak lebih tua dari pada pemuda pertama, tubuhnya tegap sedang dan muka nya agak
kemerahan "
"Ah, jangan-jangan mereka yang nona mak-sudkan!" Tukang perahu berseru kaget. "Baru ke-marin
ada tiga orang seperti yang nona gambarkan tadi. Akan tetapi mereka itu menjadi tawanan.
Tangan mereka dibelenggu kuat-kuat dan dijaga oleh beberapa orang yang bertampang bengis dan
menakutkan, seperti tampang penjahat. Orang-orang bengis ini dipimpin oleh seorang kakek yang
tinggi kurus dan pakaiannya serba hitam, juga mantelnya hitam dan mukanya hihhh, menyeramkan
sekali, seperti topeng mayat. Mereka menumpang perahu ini dan aku tidak berani berkutik
atau bicara sedikitpun, bahkan memandangpun tidak berani"
Tukang perahu itu tidak tahu betapa berita yang diceritakannya ini membuat tiga orang penumpangnya
terkejut setengah mati. Mereka tahu bahwa orang yang dicari-cari itu ternyata telah
terjatuh ke tangan Si Raja Kelelawar dan anak bu-ahnya. Mereka itu tidak dibunuh, melainkan ditawan
dan diajak menyeberang, maka mudahlah di-duga bahwa Seng Kun dan dua orang kawannya itu
tentu dibawa ke kota raja. Bwee Hong sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalan-an ke
kota raja, dan ia harus dapat menolong kakak-nya. Keputusan hati ini terjadi juga di dalam ba-tin Siok
Eng. Gadis puteri Tai-bong-pai ini telah jatuh cinta kepada Seng Kun, pemuda yang pernah
menyelamatkan nyawanya. Kini, mendengar bah-wa pemuda yang dicintanya itu terjatuh ke tangan
Raja Kelelawar dan dibawa ke kota raja, iapun mengambil keputusan untuk mencari sampai ke kota
raja dan berusaha menolongnya. Hanya A-hai yang tidak berpikir apa-apa. Dia akan pergi ke mana
saja Bwee Hong mengajaknya. Dia mera-sa seolah-olah dia menjadi bagian tak terpisahkan dari gadis
itu, atau gadis itu merupakan bagian tak terpisahkan darinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini perahu mereka sudah tiba di tengah-te-ngah sungai dan dari depan nampak beberapa bu-ah
perahu yang penuh dengan para pengungsi dari seberang. Tiba-tiba A-hai menunjuk ke arah hi-lir
sungai.
"Lihat, di sana ada beberapa buah perahu besar juga sedang menyeberang!"
Dua orang gadis itu memandang dan benar sa-ja, di sana nampak beberapa buah perahu besar
sedang menyeberang. "Lopek, apakah di sana ter-dapat tempat penyeberangan lain?" tanya Bwee
Hong.
"Tidak ada. Di bagian sana kedua tepinya ha-nya hutan belukar, tidak ada perkampungan. En-tah
perahu siapa itu," jawab si tukang perahu.
"Lopek, seberangkan kita di bagian sana juga." Tiba-tiba Siok Eng berkata. Tukang perahu ke-lihatan
tidak setuju.
"Akan tetapi aku harus sampai ke seberang sana untuk mengangkuti orang-orang yang masih
berjubel "
"Nih sebagai pengganti kerugianmu," kata pu-la Siok Eng sambil mengeluarkan beberapa keping
uang perak. Melihat ini, si tukang perahu tidak banyak cakap lagi dan mengerahkan perahunya ke
hilir. Biarpun dia mengangkuti para penumpang hilir-mudik seharian, dia tidak akan bisa memper-oleh
hasil sebesar seperti yang diberikan nona ini kepadanya. Maka dia lalu menerima uang perak itu dan
perahunya meluncur cepat. Bagaimanapun juga, tidak lebih cepat dari pada perahu-perahu besar
yang sudah lebih dulu mendarat di seberang sana.
Ketika melihat bahwa para penumpang perahu besar itu berpakaian seragam, Bwee Hong berbisik
kepada Siok Eng, "Adik Eng, mau apa kita ke sana?"
"Mereka mencurigakah, sebaiknya kita selidiki."
"Kalau begitu, kita menyeberang agak jauh dari perahu-perahu itu," kata Bwee Hong dan Siok Eng
setuju. Perahu itu lalu mereka suruh daratkan di seberang yang agak jauh. Mereka berloncatan ke
darat yang ternyata merupakan bagian hulan belukar.
Setelah mendaratkan tiga orang itu, si tukang perahu menggerakkan perahunya kembali dan dia
hanya menggeleng kepala keheranan melihat kela-kuan tiga orang muda itu yang memilih pendaratan
di tengah hutan! Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan yang terpenting dia sudah meneri-ma
upah yang besar.
Tiga orang muda itu menyusup-nyusup di an-tara pohon-pohon menuju ke tempat di mana pe-rahuperahu
'besar itu mendarat. Akhirnya mere-ka melihat banyak orang di sebuah lapangan ter-buka di
tengah hutan. Mereka itu berpakaian se-ragam perajurit dan bersenjata lengkap. Jumlah mereka tidak
kurang dari limapuluh orang dan yang membuat tiga orang muda itu terkejut sekali adalah ketika
mereka mengenal seorang kakek ting-gi besar yang memakai pakaian perwira dan agak-nya menjadi
pemimpin pasukan itu karena perwira ini bukan lain adalah San-hek-houw Si Harimau Gunung! Tentu
saja tiga orang muda itu terkejut bercampur heran. Mereka tahu bahwa San-hek-houw adalah
seorang datuk sesat, seorang di antara Sam-ok. Bagaimana kini tiba-tiba saja berpa-kaian perwira
dan memimpin pasukan pemerintah?
"Kalau dia berada di sini, besar kemungkinan kakakku juga ditahan di tempat ini," bisik Bwee Hong
kepada dua orang temannya. Akan tetapi karena mereka maklum akan kelihaian San-hek-houw yang
ditemani anak buah puluhan orang ba-nyaknya, apa lagi kalau diingat kemungkinan ada-nya pula Si
Raja Kelelawar di hutan itu, tiga orang muda itupun tidak berani terlalu mendekat.
"Mari kita mencoba untuk mencari sendiri di mana adanya sarang mereka di hutan ini dan me-nyelidiki
kalau-kalau kakakku berada di hutan ini pula."
Dua orang kawannya mengangguk dan mereka lalu menyusup-nyusup ke dalam hutan, di antara
pohon-pohon dan semak-semak. Mereka naik turun bukit kecil dan tiba di daerah yang banyak
rawanya. Ketika mereka berdiri di puncak bukit kecil sambil meneliti ke sekitar tempat itu, mereka
melihat seorang gadis kecil asyik menjala ikan di rawa yang tidak begitu dalam itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Menimbulkan perasaan aneh dan curiga melihat seorang gadis kecil menjala ikan seorang diri saja di
tempat yang sunyi seperti itu. Gadis itu masih kecil, paling banyak duabelas tahun usianya. Wajahnya
cantik manis dan rambutnya dikepang dua, di pinggangnya tergantung kempis yang terisi ikanikan
yang didapatkannya dalam menjala. Dengan heran dan menduga-duga, mereka bertiga lalu
menghampiri tepi rawa. Pada saat itu, mereka me-lihat seekor ular yang meluncur di atas air rawa itu
menghampiri dan menyerang gadis nelayan tadi yang berdiri di dalam air setinggi pinggang! Ten-tu
saja tiga orang itu terkejut sekali. Untuk meno-long agak sukar karena jarak antara mereka dan gadis
cilik yang berada di dalam air itu cukup jauh.
Akan tetapi, ternyata gadis itupun sudah tahu akan bahaya yang mengancam dirinya. Ular itu
menyerang dari kanan dan dengan sigapnya, gadis itu memutar tubuhnya dan tangan kanannya yang
membawa jala itu bergerak menyabet ke arah ular.
"Plakkk!" Ular itu terpukul keras, terlempar jauh dan jatuh ke air, mengambang dan tidak ber-gerak
lagi karena mati. Jatuhnya ular itu agak di tepi rawa, tidak jauh dari kaki A hai. Pemuda ini segera
menghampiri, membungkuk dan ketika me-nyentuh bangkai ular, dia mendapat kenyataan bahwa ular
itu mati dengan tulang-tulang remuk!
"Wah, adik kecil, engkau sungguh hebat! Bo-lehkah kami berkenalan denganmu? Namaku A-hai.
Siapakah engkau, adik kecil?"
Gadis cilik itu menoleh dan memandang kepa-da mereka bertiga dengan alis berkerut tanda cu-riga.
Ia tidak menjawab pertanyaan A-hai, akan tetapi ia menyudahi pekerjaannya menjala ikan dan
berjalan menuju ke tepi. Celananya basah ku-yup dan tentu saja paha dan kakinya nampak
membayang ketat di balik celana yang basah. A-kan tetapi gadis cilik itu bersikap biasa saja, tidak
kikuk.
Bwee Hong maklum bahwa gadis itu belum percaya kepada mereka dan merasa curiga, maka iapun
melangkah maju menghampiri dan merang-kul anak perempuan itu. "Siauw-moi, jangan cu-riga dan
khawatir. Kami bertiga bukanlah orang-orang jahat dan kami hanya kebetulan saja lewat di sini dan
melihatmu tadi. Kalau engkau tidak suka berkenalan dengan kami, kamipun tidak akan memaksa."
Agaknya wajah cantik dan sikap halus dari Bwee Hong menimbulkan kepercayaan pada anak
perempuan itu. "Namaku Cui Hiang, tinggal ber-sama ayah ibuku dan adikku yang masih kecil. Kami
hidup terpencil dan setiap hari mencari ikan di rawa. Kami hidup dengan tenteram. Akan teta-pi
beberapa hari ini kami didatangi orang-orang yang sikapnya kasar dan jahat. Mereka agaknya
mencari seseorang yang mereka kira bersembunyi di daerah ini. Bahkan mereka mengira ayah menyembunyikan
orang itu dan menanyai ayah. A-yahku melawan, akan tetapi para penjahat itu berkepandaian
tinggi. Ayah dihajar babak belur dan menderita luka parah. Ibuku yang menolong ayah
juga dihajar dan terluka parah. Ayah dan ibu ham-pir dibunuh, akan tetapi baiknya muncul seorang
kakek berjubah hitam yang sakti dan menghajar semua penjahat itu. Kakek itu mengatakan bahwa
orang yang dicari-cari berada dalam lindungan-nya dan dia malah menantang agar mereka menyuruh
pemimpin mereka sendiri datang menghadapi-nya. Para penjahat itu lalu pergi membawa temanteman
mereka yang terluka."
Anak itu melanjutkan ceritanya. Setelah para penjahat pergi membawa teman-teman yang ter-luka,
kakek itu lalu mengobati ayah ibunya. Dan karena ayah ibunya terluka parah, sedang diobati dan
perlu beristirahat, maka mereka tidak dapat mencari ikan seperti biasa.
"Akulah yang menggantikan mereka mencari ikan." Ia menutup ceritanya.
Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai merasa ter-haru dan kasihan sekali kepada gadis cilik ini. Bwee
Hong berpikir keras dan menduga-duga. Siapakah orangnya yang dicari-cari oleh para pen-jahat itu?
Siapa pula kakek jubah hitam yang li-hai itu, yang selain mampu memukul mundur pa-ra penjahat,
juga berani sekali menantang pemim-pin kaum sesat?
A-hai lalu bertanya, "Adik kecil, apakah eng-kau melihat rombongan pasukan belum lama ini?"
Yang ditanya menggeleng dan kelihatan kha-watir sekali, "jangan-jangan ada lagi orang jahat yang
mengganggu ayah dan ibu yang belum sem-buh," katanya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu
menggerakkan kedua kakinya yang kecil untuk berlari pulang. Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai
mengikuti dari belakang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ternyata bahwa larinya gadis cilik secara tiba-tiba untuk pulang itu digerakkan oleh suatu pera-saan
yang tidak enak. Ketika ia tiba di rumahnya, ternyata rumah itu telah menjadi abu! Masih ada arangarang
membara mengepulkan asap. Se-dangkan ayahnya, ibunya dan adiknya yang masih kecil tidak
nampak. Tentu saja Cui Hiang mena-ngis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ayah bundanya,
dengan bingung lari ke kanan kiri se-perti seekor anak ayam mencari-cari induknya sambil berkotekkotek.
Melihat ini, tak terasa lagi kedua mata A-hai menjadi basah dan diapun menghampiri anak perempuan
itu, lalu berlutut dan dirangkulnya anak itu.
"Diamlah, nak, tenanglah besarkan hatimu. Karena tidak nampak jenazah mereka, maka aku yakin
ayah ibumu dan adikmu masih hidup. Sudahlah, jangan terlalu berduka "
Anak perempuan itu merangkul A-hai dan menangis terisak-isak di dada pemuda itu yang juga
merangkul dan mengusap rambutnya.
"Mari kita ikuti jejak iblis-iblis itu," kata Siok Eng melihat jejak banyak kaki orang yang masih baru.
Tentu ini jejak kaki para penjahat yang membakar rumah keluarga itu. A-hai menggan deng tangan
Cui Hiang dan mereka berempat, di-pimpin oleh Siok Eng, lalu mengikuti jejak para penjahat. Jejak itu
nampak jelas dan mudah dii-kuti.
Dari jauh sudah dapat mereka dengar suara pertempuran itu. Siok Eng mempercepat langkah-nya
sehingga Bwee Hong juga berlari. A-hai me-mondong tubuh Cui Hiang dan dibawanya lari pula
mengikuti. Mereka tiba di daerah yang la-pang di mana terdapat batu-batu besar berserak-an. Dan di
atas batu-batu itu, sambil berloncatan, duabelas orang sedang dikeroyok oleh puluhan orang yang
dipimpin oleh San-hek-houw. Pasukan seragam itu mengeroyok sambil berteriak-teriak dan
pertempuran itu sungguh tidak seim-bang sama sekali. Apa lagi karena di antara dua-belas orang itu,
hanya dua orang saja yang lihai ilmu silatnya sedangkan yang sepuluh orang me-miliki ilmu
kepandaian yang biasa saja. Maka seo-rang demi seorang, sepuluh orang itu pun roboh dan tewas.
Kini tinggal dua orang itu saja, seo-rang pemuda gagah dan seorang kakek berjubah hitam, yang
masih bertahan dan mengamuk.
Tiba-tiba Cui Hiang melepaskan diri dari gan-dengan A-hai dan berlari menghampiri ke arah mayatmayat
yang bergelimpangan itu, kemudian ia menjatuhkan diri, menjerit dari satu ke lain ma-yat
karena ia mengenal mayat keluarganya! Seje-nak ia menangis mengguguk, kemudian matanya
menjadi beringas ketika ia bangkit berdiri dan me-mandang ke arah pertempuran, di mana dua orang
itu masih dikeroyok oleh Harimau Gunung dan anak buahnya.
"Mereka membunuh keluargaku!" teriaknya dan tiba-tiba anak perempuan itu dengan wajah beringas
lari ke medan perkelahian. Pada saat itu, San-hek-houw terhuyung mundur oleh desakan kakek
berjubah hitam yang lihai. Anak perempuan itu sudah mengenal San-hek-houw sebagai pe-mimpin
gerombolan penjahat yang pernah melukai ayah bundanya dan mengenal pula kakek jubah hitam
yang pernah menolong orang tuanya, maka dengan kemarahan meluap karena kedukaan gadis cilik
itu menyerang San-hek-houw dengan pu-kulannya. Melihat ini, Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai
terkejut, akan tetapi untuk mencegahnya sudah tidak keburu lagi.
Apa artinya serangan seorang gadis cilik seper-ti Cui Hiang? Tanpa menoleh ke belakang dia su-dah
tahu akan datangnya serangan lemah itu. Ti-ba-tiba rantai baja di tangannya berkelebat ke belakang
dan tombak jangkar di ujung rantai itu membabat ke arah lengan Cui Hiang yang menye-rangnya. Cui
Hiang hendak mengelak dengan mi-ringkan tubuhnya, akan tetapi tentu saja gerakan-nya kalah cepat.
"Crakkkk ! Aduuuhhhh !" Tombak
jangkar itu membabat lengan kiri Cui Hiang seba-tas pundaknya dan lengan itu putus seketika! Tubuh
Cui Hiang terguling pingsan.
Potongan lengan kecil itu terlempar dan melayang, tepat mengenai muka A-hai! Darah berceceran
mengenai sebagian pakaian, leher dan dagunya. "Uhh uhhh!" A-hai terbelalak dan tiba-tiba dia
merasa betapa darahnya bergo-lak. Matanya terbelalak memandang ke arah Cui Hiang yang
menggeletak pingsan dan darah me-nyembur-nyembur dari luka menganga di pundak-nya. Rasa
haru, kasihan dan kemarahan membuat darah di tubuhnya mendidih, makin lama makin hebat
sehingga dia merasa matanya menjadi kabur, kepalanya berdenyut-denyut dan pening, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi dia tetap menyadari dirinya. Tubuhnya menggigil menahan aliran darahnya yang seperti
membanjir, seperti air bah melanda turun karena bendungannya jebol. A-hai masih tetap sadar,
bahkan kini dia sadar bahwfei dia akan kumat seperti yang sering diceritakan oleh kawan-kawannya
kepadanya. Teringat akan ini, yaitu bahwa dia akan kumat, dia merasa ngeri dan bingung juga, maka
dia menoleh kepada Bwee Hong sambil ber kata, "Nona Hong ahhh aku badanku ini seperti akan
terbang melayang rasa-nya"
Sejak tadi Bwee Hong memang telah mengeta-hui akan keadaan A-hai. Dilihatnya tubuh pemu-da itu
menggetar hebat dan sepasang matanya mencorong seperti mata naga. Bwee Hong maklum bahwa
A-hai mengalami guncangan hebat yang membuat saluran darahnya membobolkan semua perintang,
yang akan membuatnya kumat. Akan tetapi berkat pertolongan Seng Kun, pemuda itu akan tetap
sadar walaupun dalam keadaan kumat. Dan dara inipun ingat akan penjelasan kakaknya bahwa pada
saat kumat seperti itulah terbuka ke-sempatan untuk menggali dan mengorek masa lalu A-hai, karena
saat itu A-hai seperti berpijak kembali kepada alam aselinya. Dan biasanya, wak-tu dalam keadaan
seperti itu tidaklah lama. Apa bila gejolak darahnya sudah normal kembali, dia akan kembali dalam
keadaan semula, yaitu sebagi-an besar masa lalunya terlupa sama sekali. Kesem-patan yang baik
sekali. Akan tetapi, gadis cilik itupun harus ditolong sekarang juga. Inilah yang paling perlu, dan juga
pihak musuh harus dibasmi lebih dulu.
"A-hai, cepat bereskan pasukan jahat itu!" te-riaknya dan iapun cepat meloncat ke depan, menyambar
tubuh Cui Hiang yang pingsan dan mem-bawanya ke tempat aman, lalu tanpa memperdulikan
apa-apa lagi, dijaga oleh Siok Eng, Bwee Hong mulai mengobati Cui Hiang, menghentikan darah
yang keluar lalu membubuh obat pencegah rasa nyeri dan membalut luka itu dengan kain ber-sih
yang dirobeknya dari bajunya sendiri.
Sejenak A-hai ternanar dan membiarkan ke-palanya yang pening itu menjadi ringan, barulah dia
meloncat ke depan dan menghadapi San-hek-houw yang sudah berkelahi lagi melawan kakek jubah
hitam. "Iblis keji!" dia memaki dengan su-ara menggeledek, "Siuuuuttt !" Tangannya bergerak menampar
ke arah San-hek-houw yang sudah kewalahan menghadapi kakek jubah hitam, walaupun dia
dibantu oleh para pembantunya yang juga lihai dan yang jumlah semua anak buahnya lebih dari
limapuluh orang itu. Melihat serangan ini, San-hek-houw cepat menangkis dengan rantai bajanya
yang menyambar ganas ke arah lengan A-hai. Akan tetapi, A-hai tidak perduli, agaknya yakin akan
kekuatan tangannya sendiri.
"Plakk!" Tangan A-hai bertemu dengan tom-bak jangkar di ujung rantai baja dan akibatnya, rantai itu
terpental dan tombak jangkar hampir menghantam kepala pemiliknya!
"Uhh !" San-hek-houw berseru kaget dan meloncat mundur. Lima orang temannya me-nubruk ke
depan untuk menolong pemimpin me-reka ketika melihat A-hai hendak menyerang lagi. Mereka
menggunakan tombak panjang menyerang A-hai sedangkan San-hek-houw memperbaiki posisinya
yang tadi terhuyung karena terkejut. Terdengar suara lantang ketika A-hai menyambut pengeroyokan.
Tombak dan pedang beterbangan dan dua orang pengeroyok kena ditangkapnya, la-lu dibanting
sehingga tewas seketika. Sementara itu, Siok Eng juga sudah meloncat ke dalam ge-langgang
perkelahian dan sepak-terjangnya sung-guh menggiriskan. Gadis ini berkelebatan, kedua tangannya
menyebar maut dengan gerakan aneh dan juga luar biasa ganasnya. Dari tubuhnya ke-luar bau dupa
harum yang menyeramkan.
Menjatuhkan kakek jubah hitam yang amat li-hai dan yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi
darinya itu saja sudah sukar sekali, kini mun-cul orang-orang muda yang lihai. Tentu saja San-hekhouw
menjadi gentar. Apa lagi melihat beta-pa di antara limapuluh orang lebih anak buahnya, kini
tinggal setengahnya lagi, dari mereka inipun sudah kelihatan gentar dan semangat mereka me-nurun.
Kalau dilanjutkan semua anak buahnya akan terbasmi dan dia sendiripuri tidak mungkin dapat
meloloskan diri dari tangan orang-orang lihai ini. Maka, seperti biasa menjadi watak orang-orang yang
licik, kejam dan pengecut, San-hek-houw lalu meloncat dan melarikan diri. Setelah dia memberi
perintah agar anak buahnya mundur. Pa-sukan yang sudah kocar-kacir itu kini melarikan diri dengan
kacau-balau.
Kakek berjubah hitam itu tidak mengejar. Dan pemuda yang tadi bertempur di sampingnya, yang
sebenarnya tidak begitu tinggi kepandaiannya dan selalu dilindungi oleh kakek jubah hitam, kini juga
berdiri mengamati tiga orang yang baru muncul. A-hai makin lama semakin lemas, kehilangan te-naga
dunia-kangouw.blogspot.com
karena dia kembali ke dalam keadaan semula sebelum kumat. Mukanya yang tadinya merah se-kali
itu perlahan-lahan menjadi pucat, peluhnya berleleran di lehernya. Setelah darah di tubuhnya berjalan
normal, ingatannyapun kembali seperti semula dan dia berdiri agak termangu-mangu, me-rasa seperti
orang baru sadar dari mimpi akan te-tapi lupa lagi apa yang diimpikan itu.
Kakek jubah hitam itu mengamati mereka de-ngan sinar mata penuh takjub. Sungguh tak disangkanya
dia bertemu dengan tiga orang muda yang begini aneh dan hebat. Gadis baju putih yang
mukanya pucat itu tadi menyerang para pengero-yok dengan jurus pukulan ampuh dari Tai-bong-pai.
Dia mengenal pukulan itu, dan mengenai pula bau dupa harum yang keluar dari tubuh Siok Eng.
jelaslah bahwa dara yang masih muda ini telah menguasai ilmu dari Tai-bong-pai dengan amat
baiknya. Dan gadis ke dua yang cantik jelita itupun dapat melakukan perawatan dan pengobat-au
yang amat baik terhadap anak perempuan yang buntung lengannya. Caranya menghentikan darah,
caranya menotok, mengobati dan membalut, semua membuktikan bahwa gadis ini adalah seorang
ahli ilmu pengobatan yang mengagumkan. Kemudian pemuda tinggi tegap ini! Bukan main! Dia sendiri
adalah seorang "golongan atas" akan tetapi harus diakui bahwa dia sama sekali tidak mengenal
ilmu pukulan yang diperlihatkan oleh pemuda itu ketika mengamuk tadi.
Akan tetapi, kakek berjubah hitam ini menjadi semakin heran dan terkejut ketika dia melihat gadis
cantik jelita yang menyelesaikan pengobatannya terhadap anak perempuan itu kini bangkit berdiri,
dan ketika memandang kepadanya, gadis itu terbelalak dan pandang matanya terhadap dirinya penuh
kemarahan dan kebencian! Apa lagi ketika Bwee Hong melangkah maju dan menudingkan
telunjuknya kepadanya sambil berkata marah,
"Kau ...kau.... pembunuh keluarga kakekku!"
"Eh eh nanti dulu !" Kakek berjubah hitam itu berseru kaget ketika tiba-tiba Bwee Hong
menyerangnya kalang-kabut. Bwee Hong tidak perduli dan terus menyerang, meng-gunakan jurusjurus
simpanan dan setiap pukulan tangannya merupakan pukulan maut. Dan si kakek jubah hitam
semakin tercengang mengenal jurus-jurus pukulan ini sebagai jurus-jurus pukulan per-guruannya
sendiri!
"Tahan! Tahan!" teriaknya sambil mengelak ke sana-sini. Bwee Hong yang hatinya dipenuhi dendam
dan kebencian itu, tentu saja tidak mau berhenti dan terus menyerang kakek berjubah hi-tam yang
diketahuinya tentu seorang tokoh besar Liong-i-pang itu, melihat dari gambar naga yang samar-samar
nampak di jubah hitamnya. Karena Bwee Hong mendesak terus, kakek itu yang ter-nyata adalah
Ouwyang Kwan Ek ketua Liong-i-pang, terpaksa turun tangan, membalas serangan gadis yang masih
terhitung cucu murid keponakan itu. Menghadapi serangan susiok-couwnya, tentu saja Bwee Hong
tidak dapat bertahan dan ia segera terkena totokan dan terkulai lemas di atas tanah.
Tiba-tiba terdengar suara menggeram dahsyat. A-hai yang tadinya sudah "loyo" itu setelah me-lihat
Bwee Hong dirobohkan orang, secara men-dadak menjadi kumat kembali! Badannya tergetar hebat
dan matanya mencorong mengawasi dara yang disayangi dan dihormati, yang kini terkulai
lemas ke atas tanah dalam keadaan tertotok. Ke-mudian dia berteriak dengan lengking nyaring dan
diapun menerjang kakek itu dengan pukulan dah-syat. Siok Eng juga menerjang maju, menyerang
kakek jubah hitam.
"Eh, nanti dulu !" Kakek jubah hitam yang sudah mengenal kehebatan dua orang muda ini, cepat
meloncat ke belakang dan menghindar-kan serangan mereka yang amat berbahaya. Tu-buhnya
berkelebatan cepat bagaikan terbang dan Siok Eng sampai menjadi bingung karena tubuh kakek yang
diserangnya itu tiba-tiba saja meng-hilang, tahu-tahu muncul di belakang dan setiap kali diserang
dapat menghilang saking cepatnya kakek itu bergerak dan mengelak.
Akan tetapi, kakek jubah hitam yang seperti para ahli silat lain kalau sudah menghadapi per-tandingan
lalu kumat keinginan tahunya untuk mengukur dan menguji kepandaian lawan, menjadi terkejut. Dua
orang lawannya itu, biarpun masih muda, ternyata memang telah memiliki kepandai-an yang tinggi
dan aneh. Dia bergembira mem-peroleh kesempatan menguji ilmu dari Tai-bong-pai dan
berkesempatan pula untuk menyelidiki dan mengenal ilmu aneh dari pemuda itu.
"Hyeeeehhhh !" Suara yang dikeluarkan
dunia-kangouw.blogspot.com
oleh A-hai itu demikian hebat getarannya sehing-ga mengguncangkan perasaan kakek Ouwyang
Kwan Ek, dan gerakan pemuda itu membuat dia
lebih kaget lagi. Dia menggunakah Pek-in Gin-kang atau Ginkang Awan. Putih yang membuat tubuhnya
ringan dan dapat bergerak cepat, dan de-ngan langkah ajaib Ilmu Silat Kim-hong-kun dari
perguruan Tabib Sakti, dia menghindarkan diri dari pukulan-pukulan kedua orang muda itu. Akan
tetapi, sambil berteriak tadi, tahu-tahu tu-buh A-hai melengkung dan dengan gerakan aneh sekali,
tubuhnya sudah melingkar ke samping dan meluncur cepat memotong jalan! Seolah-olah de-ngan
gerakan ini A-hai telah tahu ke mana arah dari langkah ajaibnya sehingga memotong jalan kakek itu
sehingga tubuh mereka kini saling berten-tangan dan hampir bertubrukan. Kakek itu terke-jut sekali,
apa lagi ketika melihat betapa pemuda itu mendorongkan kedua telapak tangannya dengan hantaman
dahsyat.
Jilid XXVII
TIDAK ada jalan lagi untuk menghindarkan tabrakan atau benturan itu dan satu-satu-nya jalan hanya
menyambut hantaman pemuda itu karena kalau dia melempar tubuh ke samping, dia akan terancam
oleh gadis Tai-bong-pai itu dan hal ini akan lebih berbahaya lagi. Terpaksa dia lalu mengerahkan
tenaga sakti Pai-hud-ciang (Tangan Menyembah Buddha) dan kedua tangan-nya didorongkan ke
depan dengan gerakan seperti menyembah, menyambut dua telapak tangan A-hai. Akan tetapi,
kembali kakek itu terkejut ketika da-lam sekejap mata melihat dua warna kabut merah dan putih
membungkus badan pemuda itu, yang kanan merah dan yang kiri putih. Benturan dua pasang tangan
itu tak terelakkan lagi.
"Blarrrrr !!"
Ouwyang Kwan Ek, kakek tua renta berusia tujuhpuluh tahun itu adalah murid ke dua dari da-tuk sakti
Bu-eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan), dan dia adalah ketua dari Liong-i-pang yang
terkenal. Akan tetapi, pertemuan tenaga melalui telapak tangan melawan pemuda itu mebuat dia
terhuyung ke samping sampai be-berapa langkah dan apa bila tangannya tidak ce-pat memegang
ujung sebuah batu besar yang ber-diri di situ, agaknya dia tentu akan terjatuh! Se-baliknya, tubuh
pemuda itu terpental ke atas, akan tetapi tubuh itu dapat berpoksai (bersalto) sampai tiga kali dengan
indahnya di udara, kemudian tu-buh itu meluncur ke bawah, hinggap di atas se-buah batu dengan
ringannya. Kabut yang menye-limuti tubuhnya tidak nampak lagi, matanya men-corong dan tidak ada
tanda-tanda bahwa dia terguncang oleh pertemuan tenaga tadi.
Tentu saja hal ini membuat Ouwyang Kwan Ek terkejut setengah mati. Dia tadi sudah amat khawatir
akan akibat pertemuan tenaga itu. Dia sendiri merasakan akibatnya, membuat dia hampir terbanting
jatuh dan dia khawatir kalau-kalau pemuda itu tidak akan mampu bertahan dan akan tewas atau
setidaknya menderita luka dalam yang parah. Akan tetapi ternyata pemuda itu sama se kali tidak
terpengaruh. "Gila" pikirnya penuh takjub. "Anak ini benar-benar mempunyai keku-atan seperti iblis.
Siapakah orang ini dan dari per-guruan mana?"
A-hai sudah siap untuk mengadu kekuatan me-lawan kakek jubah hitam, sedangkan Siok Eng yang
menyaksikan adu tenaga yang amat hebat tadipun berdiri termangu-mangu, semakin takjub melihat
keadaan A-hai. Dara ini maklum bahwa kakek jubah hitam itu lihai bukan maui, jauh lebih ting-gi ilmu
kepandaiannya dibandingkan dengan ia sendiri. Akan tetapi, bentrokan tenaga sinkang an-tara kakek
itu dan A-hai nampaknya membukti-kan bahwa pemuda aneh itu ternyata lebih unggul!
Pada saat suasana sudah menegangkan karena semua menduga bahwa tentu akan terjadi perkelahian
yang lebih hebat lagi antara kakek berjubah hitam itu dengan A-hai, tiba-tiba laki-laki muda yang
menjadi teman kakek jubah hitam yang tadi selalu dilindunginya, kini melangkah maju dan berseru
nyaring, "Tahan! Siapakah kalian? Kena pa setelah tadi menolong kami, sekarang berbalik kalian
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerang kami? Apakah maksud kalian? Inilah aku, putera mahkota! Apa bila kalian men-cari putera
mahkota, inilah aku. Apakah kalian orang-orang yang ingin mencari hadiah bagi ke-palaku?"
Semua orang terdiam dan terkejut. Kakek jubah
hitam cepat memperingatkan, "Pangeran, harap paduka berhati-hati !" Dianggapnya pangeran
yang membuka rahasianya itu amat sembrono karena pihak istana sudah menyebar orang-orangnya
untuk mencarinya, tentu bukan dengan maksud baik karena pangeran mahkota ini tentu saja akan
menjadi penghalang bagi mereka yang sudah mengangkat kaisar baru setelah mereka berusaha
menyingkirkan pangeran mahkota ini ke garis depan.
Bwee Hong yang masih rebah dalam keadaan tertotok, tak mampu bergerak atau bicara, hanya
memandang dengan hati tegang dan cemas, me-mandang ke arah A-hai yang ia tahu berada da-lam
keadaan kumat kembali. Kini A-hai yang biarpun dalam keadaan kumat itu masih sadar, ketika
mendengar bahwa dia berhadapan dengan pangeran mahkota, agaknya mampu bersikap wa-ras dan
tidak menuruti dorongan ilmu yang seperti akan membuatnya meledak-ledak itu.
Dengan sikap tenang dan penuh wibawa, A-hai melangkah maju menghadapi kakek jubah hitam yang
kini sudah berdiri berdampingan dengan sang pangeran mahkota. Sikapnya hormat dan lemah
lembut, suaranya dalam dan serius, sungguh ber-beda dengan sikap dan suaranya yang biasa setiap
hari.
"Kami adalah perantau-perantau yang kesa-sar sampai di tempat ini. Namaku adalah Thian Hai. Dua
orang nona ini adalah sahabat-sahabat baikku. Kenapa locianpwe menyerang dan menja-tuhkan
sahabatku itu?"
Ouwyang Kwan Ek adalah seorang datuk besar, ketua Liong-i-pang pula. Tentu saja diapun ber-sikap
agak tinggi, tidak mau mengaku salah, apa lagi karena dia memang tidak merasa bersalah. "Hemm,
orang muda yang lihai. Nona itulah yang menyerangku, dan aku hanya mempertahankan diri saja."
A-hai mengerutkan alisnya, agaknya tidak pu-as dengan jawaban itu. Akan tetapi sang pangeran
yang melihat betapa suasana dapat menjadi gawat lagi, lalu melerai. "Sudahlah, tidak perlu diribut-kan
siapa yang bersalah dalam hal ini. Agaknya telah terjadi kesalahfahaman di antara kita. Lo-cianpwe,
harap suka membebaskan nona itu lebih dulu."
Ouwyang Kwan Ek menghampiri Bwee Hong dan sekali menotok ke arah pundak nona itu, Bwee
Hong sudah pulih kembali. Siok Eng memandang kagum. Tadi ia sudah berusaha membebaskan totokan
itu, akan tetapi tanpa hasil. Tahulah ia bah-wa totokan kakek itu merupakan ilmu istimewa yang
hanya dimiliki oleh perguruan kakek itu, de-mikian pula cara membebaskannya.
Setelah membebaskan totokannya, Ouw yang Kwan Ek lalu memandang kepada Bwee Hong dan
berkata, "Jadi engkaukah seorang di antara dua anak angkat, juga murid mendiang Bu Kek Siang?
Ketahuilah bahwa mendiang Bu Kek Siang adalah murid keponakanku sendiri. Dia murid suheng
ku"
"Aku sudah tahu!" jawab Bwee Hong dengan suara keras dan sedikitpun ia tidak menaruh hor-mat
walaupun ia tahu bahwa ia berhadapan de-ngan susiok-couwnya. Kakek di depannya ini ada lah adik
seperguruan dari kakek gurunya! "Dan aku tahu pula bahwa kakekku, juga guruku atau ayah
angkatku, tewas di tangan murid-muridmu, tewas bersama isterinya. Padahal dia adalah mu-rid
keponakanmu sendiri!"
"Dan ketika itu aku sedang diobati oleh keluar-ga Bu, dan aku menjadi saksinya bahwa kedua
locianpwe yang menjadi penolongku itu tewas oleh tangan-tangan jahat orang-orang Liong-i-pang!"
kata Siok Eng.
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Aaah, dunia menjadi kacau-balau, kesemuanya oleh
ulah manusia yang didorong oleh keserakahan, oleh keinginan untuk senang sendiri yang menimbulkan
permusuhan, dendam-mendendam, balas-membalas, bunuh-membunuh! Ahhh, anak yang
baik, agaknya engkau hanya tahu ujungnya akan tetapi tidak tahu pangkalnya. Tahu akibatnya ti-dak
dunia-kangouw.blogspot.com
tahu sebab-sebabnya. Pertikaian di antara sesama perguruan kita agaknya sudah demikian berlarutlarut
dan sudah terjadi sejak lama sekali sebelum kau lahir. Engkau begitu membenci aku dan muridmuridku,
karena engkau belum menge-tahui persoalan yang sebenarnya. Aku juga merasa heran
mengapa kakekmu yang juga menjadi ayah angkat dan gurumu itu tidak menjelaskan persoal-an yang
sebenarnya kepadamu dan kepada kakak-mu. Kalau tidak salah, engkau berdua dengan seo-rang
kakakmu, bukan?"
Bwee Hong diam saja, tidak menjawab, hanya mendengarkan sambil menatap wajah kakek jubah
hitam itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah-olah hendak meneliti kebenaran omongan
kakek itu. Iapun tadi sudah melirik ke arah A-hai dan melihat betapa pemuda yang bernama Thian Hai
ini sekarang telah kembali ke dunia keduanya, membuat dia agak ketololan dan pemuda itupun ikut
mendengarkan. Demikian pula Siok Eng yang maklum bahwa urusan ini adalah urusan antara
keluarga seperguruan, tidak berani banyak men-campuri dan hanya mendengarkan. Juga sang pangeran
yang menghendaki agar mereka itu tidak lagi saling serang, ikut pula mendengarkan.
Dengan sabar Ouwyang Kwan Ek lalu berceri-ta, suaranya tegas dan disingkat, terbuka dan je-las.
Bwee Hong diam mendengarkan, akan tetapi hatinya masih panas oleh dendam.
"Dahulu, limapuluh tahun lebih yang lalu, mendiang suhu Bu-eng Sin-yok-ong memberi pelajaran
kepada kami bertiga sebagai murid-muridnya. Suhu memberikan ilmu-ilmunya kepada kami, sesuai
dengan bakat kami yang berbeda-beda pula. Mendiang suhengku siika bertapa dan mengasingkan
diri, dan sesuai dengan bakatnya, suheng menerima pelajaran khusus tentang lweekang yang
kemudian diturunkan kepada puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Sayang suheng Bu Cian telah
meninggal" Sejenak kakek itu terhenti dan nampak berduka sekali. Akan tetapi dia mengheia napas
panjang menenteramkan batinya lalu melanjutkan, "Aku sebagai murid ke dua suka belajar ilmu silat,
maka akupun diberi pelajaran khusus dalam ilmu silat. Sedangkan suteku yang bernama Kam Song
Ki yang bertubuh kecil dan gesit menerima waris-an ilmu ginkang yang khas. Dengan demikian, kami
bertiga menerima ilmu-ilmu keistimewaan masing-masing, suheng mahir dalam sinkang, aku sendiri
mahir dalam ilmu silat, dan sute mahir da-lam ginkang,"
"Akupun sudah mendengar akan hal itu," kata Bwee Hong penasaran. "Akan tetapi kenapa eng-kau
masih juga tidak mau menerima dengan hati rela? Mendiang sucouw sudah membagi-bagi semua
ilmunya dengan adil, akan tetapi kenapa engkau masih hendak merebut hak orang lain?"
Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku menger-ti mengapa engkau penasaran. Dan itulah yang
membuat aku terheran-heran. Kenapa kakekmu, Bu Kek Siang itu, tidak mau menceritakan hal yang
sebenarnya sehingga terjadi kesalahfahaman ini? Apakah dia ingin agar kita saling bermusuhan dan
berbunuh-bunuhan terus?"
"Berbunuh-bunuhan? Apa maksudmu?" Bwee Hong bertanya sambil mengerutkan alisnya dan
memandang tajam.
"Apakah kakekmu atau ayah angkatmu itu tidak pernah bercerita bagaimana dia memperoleh kitab
wasiat ilmu pengobatan itu?"
"Tentu saja kitab itu diwarisinya dari sucouw!" jawab Bwee Hong cepat karena ia tak mungkin dapat
berpikir lain.
"Memang, akan tetapi kitab itu bukan hanya diwariskan kepada seorang murid saja! Mendiang suhu
dahulu merupakan datuk nomor satu di du-nia. Keahliannya dalam ilmu sinkang telah diwa-riskan
kepada suheng, keahliannya dalam ilmu silat diwariskan kepadaku dan keahliannya dalam gin-kang
kepada sute. Di samping semua ilmu itu, su-hu yang berjuluk Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu juga
memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Suhu adalah seorang yang bijaksana dan adil. Ma-ka
kelebihan satu ilmu ini, yang dianggap amat berguna bagi semua muridnya, akan diberikan ke-pada
tiga muridnya. Semua muridnya diberi ke-sempatan untuk belajar. Sebelum meninggal dunia, suhu
meninggalkan sebuah kitab ilmu pengobatan dan beliau memesan agar semua muridnya mempelajari
kitab itu secara bergilir. Dengan keras be-liau melarang murid yang hendak mempertahankan
ilmu itu untuk diri sendiri. Maka, kitab itu dise-rahkan kepada suheng dengan pesan sesudah se-puluh
tahun dipelajari, harus diserahkan kepadaku untuk kupelajari selama sepuluh tahun, baru kemu-dian
kuserahkan kepada sute. Akan tetapi ternyata suheng yang pendiam itu menjadi serakah! Setelah
sepuluh tahun, buku itu tidak diserahkan kepadaku. Aku memperingatkannya dan mencelanya,
namun dia tetap tidak mau memberikan. Kami bercekcok dan akhirnya berkelahi. Akan tetapi aku
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak mampu menandingi tenaga saktinya yang hebat itu. Demikianlah, aku selalu belajar dengan
tekun dan sekali-kali aku datang untuk minta kitab itu yang berakhir dengan perkelahian dan aku
selalu berada di pihak yang kalah. Melihat kami berdua selalu cekcok dan berkelahi, sute menjadi
tidak senang dan diapun pergi menjauhkan diri sampai sekarang tidak pernah kembali. Sudah
empatpuluh tahun dia pergi"
Kerut di antara alis Bwee Hong makin menda-lam. Benarkah cerita kakek ini? Benarkah kakek
gurunya yang bernama Bu Cian, ayah Bu Kek Siang, demikian serakah? Akan tetapi ia tidak menyela
lagi, melainkan memandang kakek itu dan sinar matanya menuntut dilanjutkannya cerita itu.
"Karena bertahun-tahun usahaku minta kitab itu gagal dan aku selalu dikalahkan oleh suheng, aku
patah semangat, mengasingkan diri dan mem-perdalam ilmu silat, juga menerima murid-murid dan
mendidik putera tunggalku, mendirikan per-kumpulan Liong-i-pang dan tidak mau lagi mengganggu
suheng dengan urusan kitab itu. Akan tetapi setelah puteraku dewasa, pada suatu hari dia pergi tanpa
pamit. Agaknya dia yang tahu akan peristiwa kekeluargaan perguruan itu telah pergi seorang diri
mendatangi suheng dan mohon keadilan, meminta kitab itu. Agaknya, menghadapi keponakannya,
suheng yang biasanya keras hati itu menjadi lunak, hatinya terharu dan kitab ilmu pengobatan itu
diserahkan oleh suheng kepada pu-teraku. Puteraku girang bukan main dan pergi
membawa kitab itu. Akan tetapi " Kakek itu
berhenti lagi dan kini wajahnya diliputi kedukaan hebat, mukanya diangkat menengadah memandang
langit dan matanya menjadi basah! Tentu saja Bwee Hong terkejut sekali melihat ini dan iapun mulai
percaya akan cerita kakek yang sebenarnya masih susiok-couwnya sendiri ini.
"Lalu ...lalu bagaimana?" tanyanya, suaranya juga lunak.
"Suheng juga mempunyai putera, yaitu Bu Kek Siang. Di waktu mudanya, Bu Kek Siang berwatak
keras berangasan. Agaknya dia tidak rela bahwa kitab pusaka ilmu pengobatan itu, yang sudah
puluhan tahun dianggap sebagai pusaka perguruan ayahnya, jatuh ke tangan orang lain. Dia
menghadang perjalanan anakku, dan kitab itu dimintanya. Tentu saja puteraku tidak mau
memberikannya dan terjadilah perebutan dan perkelahian. Keduanya terluka, akan tetapi karena Bu
Kek Siang mewarisi ilmu sinkang, tenaga dalamnya lebih kuat dan luka dalam yang diderita anakku
amat parah. Ketika bertemu denganku, keadaannya tak tertolong lagi"
Bwee Hong menahan napas. Tak pernah di-sangkanya bahwa riwayat perguruannya demikian hebat,
terdapat perebutan dan permusuhan yang memalukan di antara saudara-saudara seperguru an
sendiri.
"Dia dia mati?" tanyanya, suaranya berbisik
Kakek itu memandang kepadanya, tersenyum pahit dan mengangguk. "Dia mati dan tentu saja aku
marah sekali. Urusan kitab, sudah kupendam dan aku tidak berniat merampasnya dari tangan suheng
lagi. Akan tetapi sekali ini adalah urusan matinya putera tunggalku! Aku datang kepadanya dan
minta pertanggungan jawabnya atas perbuatan puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Suheng amat se-dih.
Dia merasa menyesal sekali dengan terjadinya peristiwa itu dan sadar bahwa semua itu timbul karena
keserakahannya sendiri. Akan tetapi dia amat menyayangi putera tunggalnya itu dan tidak tega
untuk menghukumnya. Kemudian, melihat putera-ku yang sudah hampir mati itu kubawa di depannya
dan kini puteraku menghembuskan napas terakhir di depan hidungnya, suheng lalu membunuh diri
untuk menebus kesalahan puteranya! Dan dia ber-pesan sebelum menghembuskan napas terakhir,
minta kepadaku agar permusuhan dan dendam-mendendam itu dihabiskan sampai di situ saja. Pa-da
saat itu aku amat berduka atas kematian pute-raku, juga tersentuh oleh pengorbanan suhengku,
maka akupun mengangguk dan menuruti pesan-nya. Aku tidak memperdulikan lagi urusan kitab, dan
membawa pergi jenazah puteraku."
Bwee Hong merasa betapa bulu tengkuknya meremang mendengar cerita ini. Kalau saja kakak-nya
ikut mendengarkan! Pandangannya terhadap kakek jubah hitam yang sudah banyak menderita
tekanan batin itu kini berobah. Ia percaya akan kebenaran cerita ini, karena apa perlunya kakek ini
membohong dan bercerita begitu panjang lebar kepadanya?
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu menarik napas panjang. "Sayang sungguh sayang agaknya Thian tidak menghendaki
urusan itu berhenti sampai di situ saja ....!
Kalau aku sudah dapat menerima keadaan, tidak demikian dengan murid-muridku. Mereka itu
mendendam atas kematian suheng mereka dan diam-diam mereka berusaha menuntut balas, atau
setidaknya berusaha untuk merampas kitab ilmu pengobatan itu. Beberapa kali usaha mereka gagal
dan aku memberi hukuman kepada mereka. Akan tetapi mereka itu nekat terus sampai akhirnya Bu
Kek Siang menjauhi pembalasan mereka dan menyembunyikan diri. Hingga belasan tahun kemu dian
murid-muridku itu menemukan tempat persembunyiannya dan terjadilah peristiwa yang kaualami itu."
Kakek itu menghentikan ceri-tanya dan memandang kepada Bwee Hong dengan mata sedih sekali.
"Demikianlah ceritaku selengkapnya, nona.
Dendam dendam balas-membalas! Apakah sekarang engkau dan kakakmu hendak melanjutkan
lingkaran dendam itu? Engkau dan kakakmu membunuh aku atau muridku, kemudian kelak anak
mereka akan mencarimu untuk membalas dendam lagi, disambung oleh keturunanmu yang kembali
membalas dendam kepada keturunan me-reka. Begitukah yang kaukehendaki? Ah, betapa
menyedihkan…!” Kakek itu menundukkan mukanya.
Bwee Hong tak dapat bicara. Hatinya tersen-tuh. Tak mungkin dunia ini terdapat kedamaian dan
ketenteraman selama hati selalu diracuni den-dam dan kebencian. Mula-mula sekali kakek gu-ru Bu
Cian yang memulainya, dengan keserakah-annya tidak mau membagi-bagi ilmu pengobatan seperti
pesan mendiang Bu-eng Sin-yok-ong. Kemudian, ayah angkatnya, Bu Kek Siang yang membunuh
putera kesayangan kakek ini. Akibat-nya, murid-murid kakek ini datang membalas dendam. Kalau
menurut cerita ini, pihak kakek-nyalah yang menjadi biang keladi permusuhan. Akan tetapi benarkah
cerita yang baru didengar-nya dari kakek jubah hitam itu?
Agaknya Ouwyang Kwan Ek dapat menduga keraguan hati Bwee Hong.
"Kalau engkau tidak percaya akan kebenaran ceritaku, engkau boleh bertanya kepada tokoh-tokoh
tua dunia persilatan yang kini masih hidup dan yang mengetahui peristiwa keributan dalam pergu-ruan
kita itu. Di antara mereka adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang dan Siang Houw Nio-nio pengawal
kaisar."
"Kata-katanya itu benar belaka " tiba-tiba
terdengar suara seorang wanita dari balik batu be-sar. Semua orang menengok dan nampak seorang
kakek dan seorang nenek keluar dari balik batu. Mereka adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang
bersama isterinya, yaitu Siang Houw Nio-nio! Melihat Siang Houw Nio-nio, Bwee Hong cepat memberi
hormat.
"Dia tidak membohong dan memang semua itu telah terjadi pada keturunan Bu-eng Sin-yok-ong,
sungguh patut disesalkan sekali," kata pula nenek Siang Houw Nio-nio kepada Bwee Hong.
"Akupun menjadi saksi akan kebenaran cerita susiok-couwmu itu, nona Chu. Karena itu, semua
permusuhan antara keluarga perguruan sendiri yang tiada gunanya itu seyogianya dihadapi de-ngan
kesadaran dan kebesaran hati sehingga dapat berakhir." Yap-lojin juga berkata.
"Kalau memang demikian riwayatnya, sayapun tidak akan melanjutkan dendam yang tiada guna-nya
ini, locianpwe," kata Bwee Hong menunduk.
Yap-lojin dan isterinya lalu memberi hormat sambil bermuka sedih kepada pangeran mahkota. Siang
Houw Nio-nio menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata, "Pangeran, hal-hal yang hebat terjadi tanpa
saya mampu menolong, dosa saya besar sekali "
Pangeran mahkota cepat-cepat mengangkat bangun wanita itu yang masih terhitung nenek sendiri
karena mendiang ayahnya adalah keponak-an nenek ini. "Harap jangan bersikap demikian, Nio-nio.
Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita semua. Segala hal yang terjadi adalah kehendak
Thian."
Ketika Ouwyang Kwan Ek yang merasa amat takjub kepada A-hai mencari pemuda itu untuk diajak
bicara dan berkenalan lebih dekat, ternyata pemuda itu kini telah bersikap biasa, bahkan nam-pak
dunia-kangouw.blogspot.com
bodoh. A-hai telah duduk mendekati Cui Hiang yang buntung lengan kirinya itu. Cui Hiang menangis,
bukan menangis karena nyeri melain-kan karena kematian keluarganya. Memang luka di pundaknya
yang kehilangan lengan kiri itu tera-sa nyeri, akan tetapi berkat pengobatan Bwee Hong, tidaklah
begitu hebat dibandingkan dengan rasa nyeri di hatinya. A-hai merangkulnya dan menghiburnya
dengan terharu.
"Adik kecil, kita sama-sama yatim piatu, seo-rang diri saja di dunia ini, tiada sanak saudara la-gi.
Maukah engkau bersama-sama dengan aku?"
Dengan terharu Cui Hiang mengangguk. Air matanya bercucuran, sebentar menoleh ke arah jenazah
keluarganya, kemudian menoleh ke arah lengan yang menggeletak di atas tanah, Ia merasa seolaholah
lengannya yang buntung itu, yang ki-ni merupakan sepotong lengan yang menggeletak tak
bergerak dan pucat di atas tanah, seperti sebu-ah mayat pula. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia
menghampiri potongan lengannya sendiri itu, diambilnya dengan tangan kanan, lalu dibungkus-nya ke
dalam baju luarnya, semua ini dilakukan dengan agak sukar karena hanya menggunakan satu tangan
saja, lalu bungkusan lengan kiri itu di-peluknya dengan lengan kanan. Semua orang me-mandang
dengan terharu dan merasa bergidik, akan tetapi tidak ada yang bertanya karena merasa kasihan dan
tidak mau menyinggung hati anak pe-rempuan itu.
Bagaimanakah pangeran mahkota muncul di tempat itu dan bersama dengan Ouwyang Kwan Ek,
ketua Liong-i-pang? Seperti pernah dice-ritakan di bagian depan, pangeran mahkota telah
disingkirkan oleh komplotan Perdana Menteri Li Sn dan kepala thaikam Chao Kao, dikirim ke garis
depan untuk membantu Jenderal Beng Tian me-mimpin pasukan menghadapi para pemberontak.
Pada mulanya, pasukan pemerintah ini bertugas di sepanjang Tembok Besar melawan bangsa
nomad Hun (Siung Nu), akan tetapi kemudian pindah ke barat untuk menghadapi pemberontakan
yang di-pimpin oleh Chu Siang Yu. Karena pasukan itu tidak mendapat bantuan lagi dari pusat, seolah
olah dibiarkan saja, maka pasukan pemerintah ini terus terdesak mundur oleh kaum pemberontak.
Pangeran mahkota yang bukan seorang ahli perang dan hanya maju memimpin pasukan atas desakan
istana, menjadi putus asa dan dia menyerahkan sisa pasukannya kepada Jenderal Beng Tian. Dia
sendiri lalu melakukan perjalanan pulang ke sela-tan. Akan tetapi, di tengah perjalanan dia mendengar
tentang kematian kaisar dan tentang peng-gantian yang dilakukan pada waktu dia tidak ada dan
yang diangkat menjadi kaisar adalah adiknya, putera kaisar yang ke dua. Tahulah pangeran mahkota
bahwa terjadi pengkhianatan dan kecu-rangan, akan tetapi setelah lama berada di luar is-tana, ikut
bertempur bersama Jenderal Beng Tian, pangeran ini telah terbuka matanya. Dia melihat kebobrokan
pemerintahan ayahnya, melihat betapa rusaknya pemerintah akibat kelaliman para pejabat tinggi yang
mempengaruhi ayahnya. Setelah mata-nya terbuka, dia merasa malu dan jijik, bahkan tidak
mempunyai minat untuk menjadi kaisar, se-perti orang yang jijik melihat sesuatu yang penuh
kekotoran diserahkan kepadanya untuk diurus. Ngeri dia kalau harus bekerja dibantu oleh orangorang
yang demikian jahat, licin dan curangnya. Maka, mendengar bahwa adiknya yang naik tahta,
diapun tidak menjadi penasaran.
Akan tetapi, para pendekar yang tahu bahwa sang pangeran hendak kembali ke kota raja,
memperingatkannya bahwa kaisar baru, dikuasai oleh pejabat-pejabat lalim, telah mengirim jago-anjagoan
untuk mencari putera mahkota ini, sete-lah kaisar baru mengirim utusan ke garis depan untuk
menangkapnya mendengar bahwa pangeran itu telah pergi meninggalkan pasukan. Kini pange-ran
dicari oleh jagoan-jagoan istana, maka sang pangeran lalu menyembunyikan diri. Untung dia bertemu
dengan kakek Ouwyang Kwan Ek yang kemudian melindunginya.
Sementara itu, Siang Houw Nio-nio meru-pakan tokoh yang paling tidak setuju akan adanya
penggantian kaisar oleh pangeran ke dua itu. Ia-pun dapat menduga bahwa surat wasiat kaisar lama
telah dipalsukan. Akan tetapi apa dayanya seorang wanita yang pangkatnya hanya pengawal pribadi
kaisar yang sudah mati, walaupun ia masih terhitung bibi dari kaisar itu sendiri? Karena me-rasa tidak
suka akan tetapi juga tidak berdaya, ia hanya memprotes yang akhirnya hanya membuat ia ditahan
dan dijebloskan ke dalam penjara. Se-perti diceritakan di bagian depan, Pek In dan Ang In, dua orang
murid Siang Houw Nio-nio, berhasil lolos dan melaporkan hal itu kepada Yap-lojin. Kakek ini segera
terbang ke kota raja dan hanya dengan susah payah dan mengandalkan kepandai-annya dan
bantuan para pendekar di kota raja sa-jalah akhirnya Yap-lojin berhasil membebaskan isterinya. Akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi mereka menjadi buruan pe merintah, dan mereka harus cepat-cepat pergi karena kini istana
memiliki jagoan-jagoan dari kaum sesat yang dipimpin oleh Panglima Kelela-war Hitam!
Setelah mendengar para pendekar itu saling menceritakan pengalamannya, putera mahkota menarik
napas panjang. "Aih, betapa bobroknya keadaan di istana, baru sekarang aku menyadari. Kiranya
sejak lahir aku sudah berada di dalam du-nia yang mewah dan mulia namun penuh dengan
kebobrokan!" Dia makin tidak bernafsu lagi untuk kembali ke istana, apa lagi untuk memperebutkan
kedudukan kaisar. Dia akan membantu gerakan para pejuang dan semua itu dilakukan bukan un-tuk
memperebutkan kedudukan, melainkan untuk membantu melenyapkan kekuasaan sewenang-wenang
dan jahat yang menguasai negara dan rakyat.
Tiba giliran Bwee Hong untuk menceritakan pengalamannya di depan Ouwyang Kwan Ek. Yap-tajin,
Siang Houw Nio-nio, dan sang pangeran itu. Ia menceritakan tentang tugas dari kaisar yang dipikul
kakaknya, tugas mencari Menteri Ho yang ternyata gagal karena Menteri Ho yang setia itu keburu
dibunuh oleh para penjahat kaki tangan menteri lalim. Kemudian, kakaknya hendak ke kota raja untuk
melaporkan hasil tugasnya itu. A-kan tetapi dia malah ditawan oleh kaki tangan kaisar baru yang
dipimpin oleh Kelelawar Hitam atau Raja Kelelawar.
"Padahal, Kun koko yang sudah melihat sen-diri keadaan pasukan para pendekar yang dipim-pin oleh
Liu-bengcu, ingin pula melaporkan ke kota raja tentang kesalahpahaman antara, pemerin-tah dan
pasukan itu. Liu-bengcu bermaksud membersihkan negara dari para pengkhianat dan penjual bangsa,
akan tetapi oleh pemerintah malah dimusuhi dan dicap sebagai pemberontak," kata-nya.
"Tentu saja!" kata Siang Houw Nio-nio. "Pe-merintah sudah dikuasai oleh para pengkhianat itu sendiri,
tentu saja Liu-bengcu dimusuhi!"
Yap-lojin menarik napas panjang. "Kaisar bo-neka diangkat, kekuasaan berada di tangan pem-besarpembesar
lalim dan korup, malah kaum se-sat yang dipimpin raja iblis seperti Raja Kelelawar diangkat
sebagai panglima dan perwira-perwira. Aih, adakah yang lebih gila dari pada ini?"
"Menteri-menteri dan pejabat-pejabat yang jujur dipenjarakan atau dibunuh," Siang Houw Nio-nio
berkata lagi. "Setan-setan dan iblis-iblis berkeliaran di istana, menguasai negara, jenderal Beng Tian
seorang diri dibiarkan mati-matian me-nahan majunya para pemberontak yang melanda negara
seperti air bah, sedangkan mereka yang di istana hanya bersenang-senang belaka. Padahal, pasukan
Liu-bengcu sudah mendesak dari selatan dan timur, sedangkan pasukan Chu Siang Yu men-desak
dari barat."
"Kami berdua tidak berdaya. Kami sendiri men-jadi buronan, terpaksa meninggalkan kota raja,"
sambung Yap-lojin. "Di tengah jalan kami sudah berpapasan dengan sebagian pasukan Jenderal
Beng Tian yang kalah berperang. Mereka mundur untuk mempertahankan benteng terakhir, yaitu kota
raja sendiri. Kota raja sudah terhimpit dari em-pat jurusan, tak tertolong lagi!"
"Ah, apa akan jadinya dengan negara kita? Apakah akan terjatuh ke tangan pemberontak dan
terobek-robek dipakai berebutan?" Sang pange-ran ikut bicara, suaranya sedih. Semua orang terdiam,
tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak seorangpun nampak gembira, walaupun kesedihan
yang membayang di wajah A-hai dan Cui Hiang berbeda dengan kesedihan orang-orang lain itu.
Bagaimanapun juga, orang-orang yang masih setia kepada negara ini masih mempunyai sisa keinginan
untuk dapat menyelamatkan negara dari pada bencana, kalau mungkin.
Akan tetapi sampai lama mereka tidak dapat melihat jalan yang baik. Kekuatan pasukan yang dapat
diharapkan hanyalah tinggal satu-satunya pasukan Jenderal Beng Tian yang sudah menga-lami
pukulan berkali-kali dan semakin menipis, baik jumlah maupun semangatnya itu. Pasukan-pasukan
para kepala daerah sudah jatuh ke tangan para pemberontak dan banyak pula pasukan-pa-sukan
kecil yang bertugas di luar kota raja, kalau tidak dihancurkan oleh para pemberontak, juga menyeberang
dan bergabung dengan para pemberon-tak. Menteri-menteri dan para pejabat yang jujur
sudah dihalau dari kedudukan mereka. Apa lagi yang dapat dilakukan?
Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang. "Pangeran, agaknya tidak terdapat jalan yang baik untuk
menolong negara pada waktu seperti seka-rang ini. Andaikata kita mampu menghalau para
pemberontak, tetap saja kita harus menghadapi para pengkhianat yang sudah bercokol dan mencengkeram
istana. Dan melawan kekuasaan mere-ka, selain membutuhkan kekuatan besar, juga berarti
menentang kekuasaan yang ada, sama dengan memberontak pula. Sebaiknya kita bergabung
dunia-kangouw.blogspot.com
saja dengan sisa pasukan Jenderal Beng Tian. Kita ba-wa sisa pasukan menghindar dan menyusun
keku-atan baru. Biarlah para pengkhianat itu mengha-dapi pasukan pemberontak dan biarlah para
pem-berontak yang menggulingkan mereka. Kelak apa bila kekuatan kita sudah cukup, kita gempur
kem-bali pasukan pemberontak itu. Kiranya hanya ini-lah satu-satunya jalan."
Sang pangeran dan semua orang mengangguk membenarkan. Kemudian mereka bubaran. Tiga
orang locianpwe itu akan mengawal sang pangeran bergabung kepada pasukan Jenderal Beng Tian
yang sudah mundur ke benteng kota raja. Sedang-kan Bwee Hong, Siok Eng, dan A-hai yang
mengajak Cui Hiang yang masih perlu perawatan Bwee Hong dan yang sejak saat itu tidak mau
berpisah dari A-hai, hendak melanjutkan perjalanan mere-ka ke kota raja untuk mencari Seng Kur.
Sebelum berpisah, mereka beramai-ramai mengubur semua jenazah dan Cui Hiang diberi
kesempatan untuk menyembahyangi makam keluarganya. Anak kecil ini meratap dan menangis,
membuat terharu semua orang karena selain kehilangan ayah bunda dan adiknya, juga anak
perempuan ini kehilangan le-ngan kirinya.
Sebelum meninggalkan orang orang muda itu, nenek Siang Houw Nio-nio berkata kepada Bwee
Hong, "Nona Chu, kalau engkau mencari kakak-mu, janganlah mencari di kota raja, akan tetapi carilah
di benteng kuno di luar pintu gerbang kota raja sebelah selatan. Semua tawanan pemerintah
dikumpulkan di sana."
Bwee Hong mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Keterangan ini amat penting karena
mencari seorang tawanan di kota raja memang ti-dak mudah, apa lagi kota raja kini dikuasai oleh
kekuatan kaum sesat yang lihai.
Malam itu mereka bermalam di bekas rerun-tuhan rumah keluarga Cui Hiang yang telah diba-kar para
penjahat. Cui Hiang duduk termenung mengawasi bekas rumah dan tempat di mana ia biasa bermainmain
dengan adiknya. Wajahnya pucat akan tetapi ia tidak menangis lagi. Anak ini maklum bahwa ia
telah ditolong oleh orang-orang gagah dan ia merasa malu kalau selalu memperli-hatkan tangisnya.
Keluarganya sendiri hanyalah keluarga sederhana yang hanya memiliki ilmu si-lat biasa saja, akan
tetapi dari ayahnya ia sudah banyak mendengar tentang kegagahan para pen-dekar di dunia kangouw.
Ia tidak ingin menge-cewakan hati orang-orang gagah, para pendekar yang telah menolongnya
itu.
Melihat anak perempuan itu tidak tidur melain-kan duduk termenung dengan sedih. A-hai yang
merasa kasihan dan suka sekali kepada Cui Hiang, mendekati dan mereka duduk di atas batu di luar
bekas rumah itu.
"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mengaso dan tidur? Kita besok akan melanjutkan perjalanan yang
amat jauh dan melelahkan," kata A-hai de-ngan suara lembut.
Anak itu menggeleng kepala. Aku belum me-ngantuk dan biarlah malam ini kulewatkan untuk melihatlihat
tempat di mana aku dipelihara sam-pai besar dan yang akan kutinggalkan untuk sela-manya."
"Anak yang baik, mari kutemani kau. Kita bi-cara. Siapakah nama marga keluargamu? Aku hanya
tahu namamu Cui Hiang, akan tetapi tidak tahu siapa she-mu."
"Keluarga yang terbasmi penjahat itu she Gan, akan tetapi aku sendiri she Pouw."
"Eh? Kenapa begitu? Bukankah engkau anak mereka?"
Gadis cilik itu menggeleng kepalanya dan wa-jahnya menjadi muram. "Aku hanya anak angkat
mereka, akan tetapi mereka begitu baik kepadaku sehingga kuanggap mereka sebagai ayah dan ibu
kandung sendiri. Aku mereka pelihara sejak bayi."
A-hai mengangkat alisnya dan merasa tertarik sekali. "Ah, sungguh tak kusangka. Maukah eng-kau
menceritakan riwayatmu kepadaku, Cui Hiang?"
Anak itu menoleh dan memandang wajah A-hai yang hanya nampak remang-remang di bawah sinar
bintang-bintang di langit dan iapun memegang tangan orang muda itu. "Tentu saja, in-kong (tuan
dunia-kangouw.blogspot.com
penolong), aku suka menceritakan riwayatku kepadamu. Sekarang aku hanya mempunyai engkau
seorang yang mau menolongku di dunia ini " Suaranya terhenti karena haru.
A-hai memecahkan keharuan itu dengan se-nyum dan merangkul pundaknya. "Ihh. kenapa menyebut
in-kong? Tidak enak sekali sebutan itu."'
"Habis aku harus menyebut apa? Kongcu? A-tau taihiap?"
"Wah, wah bisa ditertawakan semut kalau engkau menyebutku kongcu. Masa ada kongcu (tuan
muda) macam aku ini. Dan taihiap (pende-kar besar)? Wah, kepalaku bisa mengembung dan
hidungku bisa mekar nanti. Sebut saja eh, bagaimana kalau aku menjadi kakakmu?"
"Baik, aku menyebutmu twako. Aku mendengar namamu disebut A-hai, biarlah kusebut kau Haitwako!"
Melihat gadis cilik itu sudah pulih lagi kegem-biraannya dan percakapan itu mengusir kedukaan-nya,
A-hai lalu berkata, "Nah, sekarang ceritakan-lah riwayatmu, adikku yang manis."
"Ketika itu aku masih kecil, baru berusia tiga atau empat tahun," Cui Hiang mulai mencerita-kan
riwayatnya. "Kalau ayah angkatku tidak men-ceritakan riwayat itu kepadaku, tentu aku akan lupa dan
tidak mengetahui keadaanku yang sebe-narnya. Menurut cerita ayah angkatku, aku datang dibawa
oleh ayahku yang terluka parah kepada mereka, keluarga Gan suami isteri yang belum mempunyai
anak. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Oleh ayahku, aku diserahkan kepada suami isteri
Gan yang sudah belasan tahun meni-kah tapi belum mempunyai anak. Karena lukanya yang parah
akhirnya ayahku itu meninggal dunia, dan sebelum mati dia menyerahkan aku kepada suami isteri itu
dengan pesan agar suami isteri itu membawaku bersembunyi karena ayahku dan juga aku sebagai
anaknya sedang dicari-cari musuh besar yang telah melukainya."
A-hai mendengarkan dengan tertarik. Tak di-sangkanya bahwa anak ini membawa rahasia yang
demikian menarik. "Lalu bagaimana?" tanyanya ketika anak itu kelihatan mengingat-ingat.
"Ayah dan ibu Gan amat suka kepadaku, maka aku lalu diambil anak. Dua tahun kemudian
merekapun dikurniai seorang anak yang menjadi adikku. Dan mentaati pesan ayahku, keluarga kami.
hidup di dekat rawa sebagai penangkap ikan, karena memang keluarga Gan adalah keluarga
sederhana yang miskin. Kehidupan kami sederhana namun cukup berbahagia dan ayah angkatku
melatih ilmu silat sedikit-sedikit kepadaku. Akan tetapi, siapa kira akan datang malapetaka yang
menewas kan mereka sekeluarga, kecuali aku" Gadis cilik itu menahan kesedihannya dan
memandang ke arah pundak kirinya yang tak berlengan lagi itu.
A-hai merangkulnya. "Sudahlah, sebagai gan-tinya kan ada aku yang menjadi kakakmu! Biarlah aku
menggantikan mereka, menggantikan ayahmu, ibumu, saudaramu!"
Cui Hiang memandang wajah yang tampan itu, "Hai-twako, mungkin engkau bisa menggantikan ayah
angkatku, akan tetapi mana mungkin engkau menggantikan tempat ibu angkatku dan adikku laki-laki
yang masih kecil?" katanya sambil ter-senyum.
"Siapa bilang tidak bisa?" A-hai lalu bangkit berdiri dan bergaya sebagai seorang wanita, berlenggaklenggok
dan mukanya dimanis-maniskan lalu bicara dengan suara dikecilkan, "Cui Hiang, anakku
yang baik, apakah engkau sudah ma kan?"
Melihat gaya itu, Cui Hiang tertawa geli dan lupa akan kedukaannya.
A-hai menghentikan gayanya dan tertawa pu-la. "Nah, apakah tidak pantas aku menjadi ibu-mu?
Sekarang menjadi adikmu." Dan diapun ber-gaya lagi, dengan sikap kekanak-kanakan sehing-ga
nampak lucu seperti monyet menari. Suaranya dibikin pelo seperti suara anak kecil, "Enci Hiang
sekalang aku minta endong, minta endong hu-huh "Dan dia pura-pura mau menangis seperti anak
kecil yang manja.
Melihat ini, tawa Cui Hiang makin geli. Gi-ranglah hati A-hai dan diapun bernyanyi, seperti nyanyian
anak-anak akan tetapi kata-katanya sungguh bukan kata-kata yang pantas dinyanyi-kan anak kecil.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Apa yang terjadipun terjadilah dewa dan iblis tak dapat mencegahnya tawa dan tangis tak dapat
merobohnya!
Akan tetapi sama-sama menggerakkan mulut mengapa menangis dan tidak tertawa saja?
Tangis mengeruhkan hati dan pikiran tawa menjernihkannya!
Tangis mengundang kesedihan tawa mendatangkan kegembiraan! Tangis memperburuk muka tawa
mempercantiknya! Hentikan tangis, hayo tertawa!!"
Dan keduanya lalu tertawa-tawa dengan be-bas, merasa betapa rongga dada menjadi longgar dan
langit penuh bintang nampak indah berseri. Akan tetapi, tawa juga mendatangkan lelah.
"Aku lapar! Cui Hiang berkata.
"Sama !" kata pula A-hai dan merekapun tertawa lagi.
"Di kebun belakang ada tanaman ubi, biar ku-ambilkan dan kita bakar," kata pula Cui Hiang dan anak
inipun berlari menuju ke ladang di bela-kang reruntuhan rumah. Ia melupakan kesedihan-nya, bahkan
melupakan hilangnya lengan kiri ke-tika dengan tangan kanannya ia mencari dan men-dapatkan
beberapa batang ubi yang segera diba-wanya kepada A-hai sambil berlari-lari. Mereka lalu membuat
api unggun dan membakar ubi itu lalu sama-sama makan ubi. Lezat rasanya makan ubi bakar
sewaktu perut lapar dan hati masih di-liputi kegembiraan yang timbul karena percakapan tadi. Kalau
pada saat itu Bwee Hong melihat kea-daan A-hai, tentu ia akan merasa terheran-heran. Belum pernah
A-hai memperlihatkan sikap seper-ti itu, pandai bermain-main dengan anak kecil, pandai menghibur
dan pandai pula melucu!
"Eh, Cui Hiang, siapakah ayah kandungmu itu? Engkau belum memberitahukan namanya kepada-ku,"
tiba-tiba A-hai teringat dan bertanya. Me-reka duduk menghadapi api unggun, merasa ha-ngat dan
nyaman sehabis makan ubi dan minum air.
"Menurut ayah angkatku, namanya adalah Pouw Hong!"
"Pouw Pouw Hong? Pouw Hong, hemm, aku seperti pernah mengenal nama itu." A-hai
mengerutkan alisnya dan mengerah-kan ingatannya.
Wajah Cui Hiang berseri. "Twako, engkau me-ngenal mendiang ayah kandungku itu?"
"Entahlah, akan tetapi aku benar-benar
merasa seperti pernah mendengar nama itu, tidak asing bagiku"
Pada saat itu, Bwee Hong keluar dari dalam rumah yang sebagian besar sudah terbakar. Meli-hat Ahai
dan Cui Hiang duduk bercakap-cakap dekat api unggun, Bwee Hong menghampiri.
"A-hai, malam ini kalau kita sudah berkumpul kembali dengan Kun-koko."
A-hai tidak membantah lagi dan merekapun memasuki bekas rumah keluarga Gan yang sudah porakporanda
itu. A-hai rebah di atas lantai yang sudah dibersihkan. Di bawah penerangan api yang dijaga
oleh Siok Eng dan Cui Hiang. Bwee Hong mulai dengan pengobatan itu, dengan penusukan jarumjarum
di beberapa tempat, di pelipis, tengkuk dan pundak. Mendapatkan peng-obatan itu, A-hai
merasa tubuhnya enak dan nya-man, maka diapun segera tertidur dengan nye-nyaknya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu bangun tidur, A-hai sudah cepat-cepat mencari Cui
Hiang. Bwee Hong dan Siok Eng sedang mandi di pancuran, dan Cui Hiang sedang duduk melamun
seorang diri di tepi rawa, memandang ke tengah rawa yang menjadi sumber nafkah keluar-ga Gan
selama ini.
"Hei, baru apa engkau? Melamun di sini!" tegurnya dan begitu melihat A-hai, wajah gadis cilik itupun
berseri dan wajah yang tadinya mu-ram menjadi terang seperti segumpal awan tipis tertiup angin.
A-hai lalu duduk di atas rumput di sebelah Cui Hiang. "Malam tadi aku bermimpi dan aku bertemu
dengan ayah kandungmu 1"
dunia-kangouw.blogspot.com
Cui Hiang tersenyum dan menyangka bah-wa A-hai menggodanya. "Ah, mana mungkin ber-temu
dengan orang yang belum kaukenal dalam mimpi, Hai-twako?"
"Benar! Aku teringat sekarang. Dia selalu ber-sama denganku. Tidak salah lagi, agaknya kami pernah
bersahabat karib, bahkan dia juga tinggal di rumahku. Rumah pesanggrahan kecil mungil di
dekat sungai, di mana terdapat air terjun yang indah itu"
Cui Hiang tetap kurang percaya dan tersenyum seperti mentertawakan orang yang menggoda dan
membohonginya ini. Melihat ini, A-hai berkata, "Engkau masih tidak percaya kepadaku? Nah, bukankah
ayahmu itu tubuhnya pendek bulat dan kepalanya kecil? Dan kakinya agak timpang dan
bengkok? Maaf "
Cui Hiang terbelalak memandang wajah A-hai.
"Eh be benar " katanya. "Aku masih ingat bahwa ayahku itu memang bertubuh pendek
bulat ....... akan tetapi aku tidak ingat lagi wajahnya. Ketika itu aku baru berusia tiga empat tahun . . ."
"Ha-ha, itulah!" kata A-hai dengan gembira, "Jelas bahwa aku bersahabat karib dengan ayah
kandungmu itu. Nah, kalau begitu engkau sebut saja paman kepadaku, anggap saja aku adik ayah
kandungmu!"
Cui Hiang juga menjadi gembira dan me-angguk taat. "Baiklah, paman."
"Nah, mari kita mandi."
"Di pancuran belakang rumah "
"Aku sudah tahu. Dua orang nona itupun tadi mandi di sana."
Mereka lalu berlari-lari kecil menuju ke pan-curan. Bwee Hong dan Siok Eng sudah selesai mandi.
Seperti biasa, sebelum mandi pagi, Cui Hiang berlatih silat. "Ayah angkatku selalu meng-haruskan
aku berlatih silat sebelum mandi pagi," katanya. "Dan aku ingin mencoba apakah dengan satu tangan
saja aku masih bisa berlatih silat."
Akan tetapi saat itu di dalam suara Cui Hiang tidak terkandung kesedihan dan iapun segera ber-silat
dengan sebelah tangan. Tentu saja kaku ge-rakannya, karena di bagian gerakan tangan kiri, ia harus
berhenti sebentar dan hanya membayangkan saja tangannya itu bergerak, memukul, menangkis atau
mencengkeram. A-hai diam-diam menga-mati gerakan anak itu dan hatinya terharu. Tanpa
disadarinya, kini dia dapat meneliti ilmu silat de-ngan baiknya seolah-olah dia seorang ahli silat yang
pandai! Di luar kesadarannya bahwa telah terjadi perobahan lagi pada ingatannya, A-hai ber diri dan
mendekati Cui Hiang yang sedang ber-latih itu.
"Cui Hiang, langkahmu itu lemah dan gerakan tangan kananmu itupun salah. Wah, ilmu silatmu itu
hanya baik untuk pamer saja, hanya kelihatan-nya saja bagus akan tetapi tidak ada gunanya untuk
menghadapi lawan. Mari sini, kuajari engkau il-mu silat yang lebih berguna bagimu."
Karena menduga bahwa penolongnya ini seo-rang ahli, seorang pendekar yang berilmu tinggi seperti
juga dua orang gadis pendekar tu, Cui Hiang menjadi girang sekali. Memang tadi ia ber-latih silat
dengan suatu niat di hatinya, yaitu untuk memancing perhatian A-hai karena ia sudah ber-niat minta
diajari ilmu silat. Ia harus pandai ilmu silat agar kelak ia dapat membalas kepada orang yang
membuntungi lengan kirinya. Ia sudah tahu dari Siok Eng siapa orang itu. San-hek-houw Si Harimau
Gunung!
"Terima kasih, paman. Aku suka sekali belajar ilmu silat darimu!"
"Nah, ikuti gerakanku. Mula-mula kedua kaki dibentangkan selebar ini, tenaga tubuh berada di
tengah-tengah, seimbang, perhatian ke depan dan sikapmu kokoh seperti benteng, seimbang seperti
orang menunggang kuda. Nah, begitu, lalu kaki di-geser ke depan, mula-mula yang kanan, jatuhkan
perlahan saja, disusul yang kiri dan tanganmu itu begini!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan patuh Cui Hiang mengikuti gerakan A-hai. Hebatnya, A-hai dapat saja mengajarkan ilmu silat
yang cocok untuk seorang yang hanya berlengan tunggal! juga dia memberi petunjuk tentang gerak
napas sewaktu bersilat.
Akan tetapi, baru beberapa gerakan saja, gadis cilik itu sudah menjadi pening sekali dan terhu-yung,
hampir pingsan. A-hai cepat menangkap dan merangkulnya, melihat wajah yang pucat itu. Biasanya,
menghadapi peristiwa begini, A-hai yang ketolol-tololan itu tentu akan menjadi bi-ngung. Akan tetapi
sekali ini ternyata tidak. Dia bersikap tenang saja.
"Ah, aku lupa. Tenaga dalammu belum kuat untuk mempelajari ilmu silat ini. Mari duduklah, akan
kuajarkan ilmu menghimpun tenaga dalam dan akan kubantu engkau dengan penyaluran te-naga
dalam tubuhku."
A-hai lalu tanpa ragu-ragu lagi seolah-olah memang sudah pekerjaannya sehari-hari melatih silat,
duduk bersila dan diapun menyuruh Cui Hiang duduk bersila di atas pangkuannya! De-ngan
meletakkan kedua telapak tangannya, yang kiri di punggung anak itu, yang kanan di tengkuk-nya, dia
lalu berbisik-bisik memberi petunjuk agar anak itu dapat menerima penyaluran sinkang dari tubuhnya
lewat kedua telapak tangannya, dan menyalurkan seperti yang dibisikkannya.
Cui Hiang yang menaruh kepercayaan sepenuh-nya itu mentaati semua petunjuk orang yang men-jadi
gurunya. Hawa yang panas memancar dan memasuki tubuhnya. Tiba-tiba darah mengucur keluar
dari luka di pundaknya yang dibalut oleh Bwee Hong, Melihat ini, A-hai sama sekali tidak rnenjadi
gugup. Tangannya yang tadi menempel di tengkuk kini bergerak, sebuah jari telunjuknya menekan
pundak dan darah itupun berhenti me-ngucur! Secara tiba-tiba saja A-hai menjadi se orang ahli yang
bukan main lihainya.
Mereka berdua tenggelam clalam latihan itu sehingga mereka tidak tahu bahwa Bwee Hong dan Siok
Eng muncul dan memandang ke arah mereka dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan ka gum.
"Apakah kesadarannya telah pulih kembali?" tanya Siok Eng, berbisik penuh harap.
"Entahlah, aku belum yakin benar. Agaknya eh, lihatlah !" '
Kedua orang dara pendekar yang lihai itu ter-kejut ketika nampak uap mengepul dari kepala A-hai dan
Cui Hiang. Uap itu makin tebal dan ber-warna putih dan merah. Kemudian muka dan tu-buh A-hai dan
Cui Hiang juga perlahan-lahan berobah, separuh merah dan separuh putih, per-sis keadaan A-hai
ketika kumat tempo hari.
"Hebat !" Bwee Hong berbisik. "Cui Hiang telah diberi pelajaran ilmu sinkang yang amat hebat!"
"Lebih hebat lagi, kenapa sekecil itu Cui Hiang sudah mampu menerimanya?" bisik Siok Eng yang
juga merasa kagum. Mereka tetap menonton tanpa mengeluarkan suara berisik. Lambat-laun uap di
atas kepala mereka itu makin menipis, lalu lenyap. Dan A-hai menyudahi latihannya, menyuruh Cui
Hiang turun dari atas pangkuan. Keduanya lalu bangkit berdiri. A-hai menoleh kepada dua orang dara
itu dan mereka berdua segera melihat pero-bahan itu. Sikap ketololan seperti biasa lenyap da-ri wajah
tampan itu. Sikap A-hai kini tenang dan pandang matanya penuh wibawa dan kekuatan dahsyat.
Seketika timbul rasa hormat dan segan di hati kedua orang dara itu!
"Nona berdua sudah selesai berkemas? Aku sedang berlatih dengan Cui Hiang," katanya so-pan dan
lembut.
"Saudara A-hai keh'hatannya sudah ingat kem-bali akan masa lalumu?" tanya Siok Eng sedang-kan
Bwee Hong hanya memandang seperti orang kesima.
Mendengar pertanyaan itu, A-hai mengang-guk-angguk. "Agaknya begitulah. Akan tetapi masih belum
semua dapat kuingat. Berkat pengo-batan nona Bwee Hong yang bijaksana, aku dapat mengingat
lebih banyak tentang masa laluku. Sa-yang, aku masih belum dapat teringat siapa kelu-argaku dan
dari mana aku berasal. Aku hanya bi-sa mengingat lebih banyak tentang ilmu silat. Ya, sekarang aku
ingat bahwa memang dahulu aku dapat bermain silat."
"Saudara Thian Hai, apakah engkau sudah teringat akan nama margamu?" Bwee Hong bertanya dan
tiba-tiba saja dara ini menyebut saudara Thian Hai, bukan lagi A-hai seperti bia-sanya. Dan agaknya
dunia-kangouw.blogspot.com
pemuda itupun tidak menjadi kikuk dengan sebutan itu. Dia memandang Wajah Bwee Hong dengan
pandang yang masih sama, penuh dengan rasa kagum, hormat dan sayang, akan tetapi sikapnya
sungguh jauh berbeda dengan A-hai yang biasa. A-hai yang biasa itu agak ke-tololan, bahkan
kemanjaan. Yang sekarang ini be-nar-benar seorang laki-laki jantan yang dewasa dan matang!
"Sayang, nona. Aku masih belum mampu mengingat nama margaku. Aku hanya lebih banyak teringat
akan ilmu silat yang pernah kupel ajari. Aku memang bisa silat "
"Bisa silat?" Bwee Hong tersenyum. "Bukan hanya bisa, engkau malah seorang datuk ilmu silat,
seorang ahli yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dalam ilmu silat."
"Ah, nona berolok-olok."
"Tidak, aku bersungguh-sungguh. Lihat saja adik kecil ini. Kalau kelak engkau melatihnya se-tahun
saja, kami berdua ini sudah bukan tanding-annya lagi!" kata pula Bwee Hong dengan suara serius.
"Engkau sudah begini hebat, entah bagaimana pula kelihaian orang yang menjadi gurumu, saudara
Thian Hai," kata Siok Eng yang juga ikut-ikut mengganti nama A-hai menjadi Thian Hai.
Mendengar kedua orang dara itu menyebutnya Thian Hai, pemuda itu tersenyum. "Hendaknya nona
berdua jangan bersikap sungkan. Aku masih tetap A-hai bagi kalian yang menjadi sahabat-sa-habat
baikku. Aku tidak mempunyai guru, yang mengajarkan silat kepadaku adalah ayahku sen-diri."
"Ayahmu? Siapakah ayahmu dan di manakah beliau sekarang?" Bwee Hong yang tertarik itu cepat
bertanya.
"Ayahku, ayah ibuku ah, entahlah, aku sudah lupa lagi," A-hai menutupi muka de-ngan kedua telapak
tangannya. Melihat ini, Bwee Hong merasa kasihan dan ia memberi isyarat ke-pada temannya agar
jangan bertanya lagi. Semen-tara itu, melihat A-hai menutupi mukanya, Cui Hiang menghampiri dan
menyentuh lengannya.
"Paman Hai, engkau kenapakah? Jangan berduka, paman "
Mendengar ini, A-hai menurunkan kedua ta-ngannya. Dia lalu memandang Cui Hiang dan ter-senyum.
"Mengapa menangis dan tidak tertawa saja?" tiba-tiba Cui Hiang berkata, mengutip sebaris sajak
yang pernah dinyanyikan A-hai. A-hai tertawa dan memondong tubuh anak perempuan itu ke atas dan
dia melempar-lemparkan tubuh itu seperti sebuah bal ke atas, lalu menerimanya lagi dan
melemparkannya lagi. Melihat ini, Bwee Hong dan Siok Eng ikut gembira dan setelah menerima
kembali tubuh Cui Hiang, A-hai berkata, "Lihat, aku sudah tertawta, bukan?"
Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju ke arah kota raja atau ibu kota Sian-yang di
Propinsi Shen-si. Di sepanjang perjalanan, A-hai selalu mengajak Cui Hiang bergurau dan
menghiburnya, juga setiap kali ada kesempatan, ia melanjutkan melatih sinkang kepada gadis cilik itu.
Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di se-buah dusun kecil di lereng bukit. Kota raja tidak begitu
jauh lagi. Mereka berempat melepaskan le-lah di tepi hutan kecil. Bwee Hong dan Siok Eng
mengeluarkan buntalan yang terisi perbekalan yang mereka beli di perjalanan, yaitu roti dan da-ging
kering, sedikit bumbu dan juga arak ringan. Akan tetapi, Cui Hiang tidak mau makan. Ia ma-lah
bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke puncak bukit. Bwee Hong hendak memanggil dan
menegurnya, akan tetapi A-hai memberi isya-rat kepada dara itu, kemudian diapun bangkit dan
mengikuti Cui Hiang yang berjalan seperti orang kehilangan akal menuju ke puncak bukit. Akhir-nya
Cui Hiang berhenti di tepi jurang dan berdiri termenung, memandang jauh ke bawah.
"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mau makan roti? Apakah engkau tidak suka roti? Kalau eng-kau
tidak suka, biar kucarikan binatang buruan."
Mendengar kata-kata yang begitu halus penuh kasih sayang, Cui Hiang menoleh dan memandang
wajah A-hai dengan air mata berlinang-linang, kemudian ia menunduk. Begitu ia melihat lengan
kirinya yang buntung, tangisnya meledak. Ia menubruk A-hai dan menangis mengguguk, "Paman!"
dunia-kangouw.blogspot.com
A-hai membiarkan anak itu menangis. Dia tahu bahwa selama ini Cui Hiang menahan-nahan
tangisnya, mencoba menghibur kedukaannya. Dan kini, agaknya bendungan itu bobol dan sebaiknya
kalau gadis cilik ini menangis sepuasnya agar se-mua ganjalan di hati itu dapat ikut terseret oleh arus
air mata. Dia sendiri tersentuh oleh tangis Cui Hiang, Hatinya seperti diremas-remas dan matanya
sendiripun menjadi basah. Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut-denyut. Mata yang ta-dinya berkacakaca
itu kini tiba-tiba bersinar dan mencorong mengerikan. Darahnya yang mengalir keras itu seperti
berkumpul di kepalanya sehingga wajahnya berobah menjadi kemerahan. Dia me-ngepal tinju kanan
sampai terdengar suara berke-rotokan.
"Jahanam yang membuntungi lenganmu itu ten-tu akan kubunuh apa bila bertemu denganku!"
katanya penuh geram, suaranya juga berobah men-jadi menggetar penuh kemarahan.
Tentu saja Cui Hiang menjadi terkejut bukan main dan ketakutan melihat perobahan pada wa-jah dan
sikap A-hai.
"Paman Hai ...... engkau kenapakah, paman? Jangan memandangku seperti itu aku takut "
A-hai terharu dan merangkulnya. Setelah di-rangkul, Cui Hiang kembali merasa tenang. "Paman, aku
ingin membunuh orang itu dengan ta-nganku sendiri. Akan tetapi bagaimana aku dapat melawan dia
dengan tanganku yang hanya sebelah ini?"
"Jangan takut! Masih ada aku di sini!" kata A-hai geram. "Aku mempunyai ilmu silat yang amat hebat
dan yang akan kuajarkan kepadamu. Ilmu itu disebut Thai-kek Sin-ciang. Aku perca-ya engkau akan
mampu melawan dan mengalah-kannya. Akan tetapi engkau harus lebih dahulu mematangkan tenaga
sinkang yang kita latih itu. Hayo kita latihan lagi!"
Didorong semangat untuk segera dapat menga-lahkan musuh yang telah membuntungi lengannya,
kini dengan penuh semangat dan ketekunan, Cui Hiang mulai berlatih lagi. Mereka latihan sedemikian
tekunnya sehingga ketika Bwee Hong dan Siok Eng tiba di situ, keduanya tidak tahu dan te-tap
tenggelam dalam latihan.
Melihat betapa A-hai melatih Cui Hiang de-ngan tekunnya, dua orang gadis itu menjadi terha-ru dan
juga bersyukur bahwa anak kecil yang ber-nasib malang itu, yang kehilangan keluarganya dan juga
lengannya, telah memperoleh seorang guru yang luar biasa.
"Enci Bwee Hong, agaknya saudara Thian Hai itu sudah hampir sembuh. Perawatanmu nampak-nya
berhasil."
"Mudah-mudahan begitulah. Mudah-mudah-an dengan beberapa kali perawatan dengan tusuk jarum
dia akan sembuh sama sekali, tapi "
Bwee Hong berhenti bicara, lehernya terasa seperti tercekik. Hatinya dipenuhi keraguan dan
kekhawatiran. Ia merasa khawatir kalau yang sudah didengarnya tentang A-hai itu ternyata benar.
Bagaimana kalau ternyata kemudian seperti yang didengarnya dari tukang warung yang terbunuh
oleh para penjahat itu bahwa A-hai adalah seorang kongcu yang sudah beristeri, bahkan mempunyai
seorang anak perempuan? Kalau A-hai sudah berkeluarga, tentu ia ia tidak ingin merusak
rumah tangga orang lain. Akan tetapi kalau benar dia sudah beristeri, kenapa sampai sekarang
isterinya itu tidak mencarinya?
Keraguan ini membuatnya termenung dan meli-hat perobahan pada air muka sahabatnya itu, Siok
Eng memandang dengan heran. Sahabatnya itu hampir berhasil mengobati dan menyembuhkan Ahai,
mengapa tidak nampak gembira malah se-perti orang gelisah?
"Enci Bwee Hong, engkau kenapakah?" Bwee Hong tergagap mendengar pertanyaan yang
mengandung teguran itu. "Ah, tidak apa-apa, adik Eng aku aku merasa kasihan kepada anak
perempuan itu!”
Siok Eng mengangguk dan memandang kepada Cui Hiang yang sedang berlatih sinkang secara aneh
bersama A-hai itu dan iapun menarik napas panjang. "Kalau dilihat, sukar mengatakan apakah harus
merasa kasihan ataukah bersyukur. Enci, banyak kejadian di dunia ini membuktikan bahwa peristiwa
yang nampaknya buruk sering kali malah mendatangkan berkah. Coba saja lihat Cui Hiang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Andaikata ia tidak kematian keluarganya ke-mudian buntung lengan kirinya, kukira belum tentu A-hai
akan tergerak hatinya sehingga dia menu-runkan ilmunya yang hebat kepada anak itu."
Bwee Hong mengangguk. "Kalau direnungkan, memang ada kenyataannya dalam kata-katamu itu,
adik Eng."
Setelah selesai berlatih, A-hai yang melihat dua orang gadis itu segera menghampiri dan wa-jahnya
berseri. "Nona Hong, agaknya kesehatanku sudah semakin baik. Aku makin banyak dapat mengingat
ilmu silatku."
Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba setelah mereka keluar dari hutan kecil itu, nampak debu
mengepul di kejauhan dan terdengar bunyi terompet. Empat orang itu lalu bersembunyi, tidak ingin
bertemu dengan pasukan yang lewat itu.
Tak lama kemudian, pasukan itupun lewat. Jumlah mereka antara dua sampai tigaratus orang dan
mereka nampak kelelahan. Dari pakaian me-reka, tahulah Bwee Hong bahwa mereka adalah pasukan
pemerintah yang agaknya mengundurkan diri karena terdesak oleh pasukan pemberontak Chu Siang
Yu. Wajah mereka muram, pakaian me-reka kotor berdebu dan di antara mereka terdapat orangorang
yang luka, ada yang dibalut lengan-nya, ada yang dibalut kepalanya, ada yang pucat wajahnya
dan ada yang jalannya terpincang-pin-cang. Pasukan itu lewat dan memasuki dusun kecil yang
pernah dilewati Bwee Hong dan kawan-ka-wannya, agaknya pasukan itu hendak beristirahat di sana.
"Hemm, mereka itu pasukan pemerintah yang agaknya kalah perang. Entah apa yang telah ter-jadi di
depan," kata Bwee Hong yang nampaknya ingui sekali mengetahui. "Aku akan menyelidiki-nya
sebentar."
"Jangan, nona Hong. Biar aku saja yang melakukan penyelidikan. Mereka itu pasukan yang kalah
perang, dapat melakukan apa saja untuk melampiaskan kekesalan hati mereka dan nona adalah
seorang gadis eh, cantik "
Bwee Hong senang mendengar ini akan tetapi tentu saja. tidak dinyatakannya pada wajahnya.
Bagaimanapun juga, karena pujian atau pernyataan bahwa ia cantik itu membuat jantungnya
berdebar dan mukanya agak merah, ia cepat menutupinya dengan berkata, "Aku dapat menyamar
sebagai seorang gadis dusun.".
"Sebaiknya tidak, nona. Perajurit-perajurit itu lelah dan kesal hatinya, dalam keadaan seperti itu
mereka bisa saja mengganggu setiap orang wanita. Biar aku saja yang pergi menyelidikinya. Akupun
ingin tahu apa yang telah terjadi."
Diam-diam Bwee Hong kagum. A-hai yang sekarang ini benar-benar amat berbeda dengan A-hai
tempo hari. Kini A-hai bersikap jantan dan juga tenang dan cerdas, seperti sikap seorang, pen-dekar
tulen. Dan di dalam suaranya terkandung ketegasan yang sukar untuk dibantah. Maka iapun
mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Cui Hiang. minta kepada A-hai untuk diper-bolehkan ikut. A-hai tidak merasa keberatan ka-rena
ikutnya anak itu malah mempermudah penya-marannya sebagai seorang perantau dan keponakannya.
Bwee Hong dan Siok Eng berjanji akan menanti di dalam hutan itu sampai mereka kembali
dari penyelidikan ke dusun.
A-hai bersama Cui Hiang lalu berangkat me-masuki dusun. Nampak pasukan yang kepayahan itu
tersebar di rumah-rumah penduduk dusun, di pelataran-pelataran, Mereka menggeletak di ma-namana
melepaskan lelah. Mereka minta makan-an dan minuman dari penduduk dusun itu. Pen-duduk
dusun yang ketakutan itu tidak berani mem-bantah dan sibuklah mereka hilir-mudik di jalan melayani
para perajurit itu dengan makanan dan minuman seadanya.
Munculnya A-hal dan seorang anak perempu-an kecil yang buntung lengannya tidak mencuri-gakan.
Selain pasukan mengira bahwa mereka itu-pun anggauta penduduk dusun, juga melihat seo-rang
anak perempuan buntung lengannya adalah pemandangan biasa'di waktu perang seperti itu. Di
mana-mana terlihat orang-orang terluka dan pengungsi-pengungsi kelaparan.
A-hai yang menggandeng tangan kanan Cui Hiang, memasuki dusun itu dan tiba-tiba saja si-kapnya
berobah. Dia kelihatan seperti orang ter-mangu-mangu, memandang ke sekitarnya, bukan kepada
dunia-kangouw.blogspot.com
para perajurit, melainkan kepada rumah-rumah dan pohon-pohon di dusun itu. Kadang-kadang dia
berhenti dan termenung. Melihat ini, tentu saja Cui Hiang merasa heran dan setelah me-reka melewati
sekelompok perajurit, di tempat yang sunyi, Cui Hiahg bertanya, "Paman Hai, eng-kau kenapakah?"
A-hai yang sedang melamun itu terkejut.
"Ehh ? Aku? Tidak apa-apa, hanya aku merasa heran sekali mengapa aku seperti pernah
mengenal tempat ini. Padahal ketika kita mele-watinya aku sama sekali tidak memperhatikannya.
Kenapa sekarang aku seperti merasa bahwa tempat ini sama sekali tidak asing bagiku? Kaulihat
pohon siong besar di sana itu? Aku pernah memanjat di sana! Cuma pohon itu tidak sebesar
sekarang ini.
”Dan aku pernah tinggal di tempat seseorang yang letaknya di dekat pohon itu. Akan tetapi, entah
siapa aku tidak ingat lagi" kata A – hai dengan suara lirih dan matanya termenung meman-dang ke
arah pohon itu.
Dari depan muncul beberapa orang perajurit dan seorang perwira. Agaknya mereka itu mela-kukan
tugas meronda dan meneliti keadaan. Ke-tika perwira itu melihat A-hai, alisnya berkerut dan diapun
menegur, "Hei, kenapa engkau enak-enakan saja di sini dan tidak membantu saudara-saudara lain
untuk sekedar meringankan penderi-taan pasukan kami? Apakah engkau pemberon-tak? Atau orang
yang pro kepada pemberontak?" Perwira itu sudah meraba gagang goloknya. Jelas-lah bahwa sekali
saja A-hai mengeluarkan kata-kata atau memperlihatkan sikap menentang, golok itu akan dicabut dan
dibacokkan!
"Harap tai-ciangkun tidak salah duga," A-hai berkata, suaranya tenang saja dan sikapnya sung-guh
berbeda dari biasanya. Kalau dia masih seper-ti A-hai biasanya, tentu dia akan marah dan me-makimaki,
A-hai tempo hari hanya menurutkan perasaannya saja. Kinipun A-hai mendongkol, akan tetapi
dia dapat mempergunakan kecerdikan-nya dan menjawab dengan tenang. "Aku bukan pemberontak,
malah aku menjadi korban perang, terpaksa merantau kehilangan keluarga. Bahkan keponakanku ini
kematian semua keluarganya dan lengannya juga terluka oleh penjahat."
Perwira itu memandang tajam penuh selidik, akan tetapi mengangguk-angguk percaya. "Kalau begitu,
bantulah kami. Kami mencari sumber air yang berada di dusun ini, kami perlu air untuk mandi
menyegarkan badan."
Seketika A-hai teringat di mana adanya sum-ber air itu. "Mari kutunjukkan di mana adanya sumber air
itu, ciangkun."
Perwira itu lalu memanggil anak buahnya, disu-ruh mengambil bak-bak air dan merekapun mengikuti
A-hai dan Cui Hiang mendaki bukit. De-ngan cekatan A-hai menjadi penunjuk jalan dan dia sama
sekali tidak mencari-cari, seolah-olah. dia sudah biasa pergi ke sumber air itu. Melihat ini, pasukan itu
makin percaya bahwa A-hai ten-tulah seorang penduduk dusun itu pula. Jalan ke sumber air itu licin
dan agak sulit. Dan perwira itu girang melihat betapa A-hai dengan cekatan dapat membantu para
perajurit mengusung bak-bak air ke atas dan ternyata bahwa pemuda itu memiliki tenaga yang besar
sekali.
"Nah, itulah sumber air yang mengalir ke du-sun. Di bawah pohon itu, ciangkun." kata A-hai. Benar
saja, di situ terdapat mata air yang deras airnya dan para perajurit dengan gembira lalu mandi,
didahului oleh sang perwira. A-hai sendi-ri lalu berdiri menjauh, termangu-mangu.
"Paman, apakah engkau lelah sekali? Mengapa engkau termenung lagi?" Cui Hiang yang memperhatikan
sekali setiap gerak-gerik A-hai, men-dekat, menyentuh tangannya dan bertanya dengan
suara penuh sayang.
A-hai menarik napas panjang dan duduk di atas batu gunung, diikuti oleh Cui Hiang yang duduk di
sampingnya. Para perajurit tentu akan mengira pemuda ini mengaso karena lelah. "Tidak, Cui Hiang,
aku. tidak lelah. Aku sedang berusaha mengumpulkan ingatanku. Aku sungguh telah mengenal
daerah ini dengan baik. Rasanya aku pernah menolong seorang kawan wanita yang di-larikan
orang ke tempat ini. Orang itu adalah adik seperguruanku sendiri yang murtad. Eh benar
begitu, aku ingat sekarang. Benar! Aku mem-punyai seorang saudara seperguruan yang kelakuannya
jelek, suka menghina wanita. Tapi ilmu si-latnya amat lihai. Untung ayahku siang-siang su-dah
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat keburukan wataknya itu sehingga ilmu silat simpanan keluarga tidak diajarkan kepadanya.
Agaknya suteku itu pun merasakan hal ini. Dia minggat meninggalkan ayah, tapi ayah diam saja.
Bagaimanapun juga, ketika mendengar bahwa suteku itu melakukan kejahatan-kejahatan di luar, ayah
menjadi marah. Akan tetapi ayahku telah bersumpah tidak akan keluar dari daerah pertapaannya,
maka dia lalu lalu wah, aku lupa lagi ."
Cui Hiang yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu, kini tersenyum. "Paman, tidak sukar
melanjutkan ceritamu itu. Aku dapat menebaknya. Ayahmu tentu mengutus paman untuk pergi
mencari adik seperguruan paman itu. Di jalan agaknya paman berkenalan dengan seorang wanita
yang kemudian menjadi kawan. Lalu pada suatu hari kawanmu diculik oleh sutemu itu. Bukankah
begitu? Lalu paman mengejarnya dan paman lalu menghajarnya habis-habisan di sini, di tem-pat
ini! Benarkah begitu?"
Wajah A-hai berseri gembira dan dia menepuk pahanya sendiri. "Benar sekali! Engkau benar. Kami
berkelahi dengan sengit, di di lereng sana itu!" A-hai menudingkan telunjuknya ke arah lereng
di sebelah. "Adikku itu sungguh bertambah lihai bukan main setelah berkelana di dunia luar. Dan
hebatnya, dia dapat pula memain-kan beberapa ilmu silat simpanan keluarga kami. Agaknya dia telah
mencuri lihat ketika aku berla-tih. Mari, kita melihat tempat kami bertempur dahulu. Kalau tidak salah,
di sana terdapat ba-nyak bekas-bekas perkelahian kami."
Mereka berlari-lari ke arah lereng itu. Ternya-ta tempat itu adalah sebuah lereng datar di mana
terdapat banyak batu-batu besar. Seperti orang yang sudah hafal akan tempat itu dan keadaannya, Ahai
menghampiri sebuah batu besar dan ber-kata, "Lihat batu ini! Aku terjatuh ke sini ketika terkena
pukulan pada pahaku. Ketika aku terlen-tang di batu ini, suteku melancarkan pukulan-pu-kulan maut
yang dapat kuelakkan dan pukulannya itu mengenai batu ini. Lihat!"
Cui Hiang memandang dan mulutnya ternga-nga keheranan melihat bekas-bekas di atas permu-kaan
batu itu. Bekas-bekas itu tidak menyerupai bentuk jari tangan, melainkan seperti tapak kaki anjing
atau kucing, dan dalamnya ada lima senti! "Paman, kenapa pukulan tangan macamnya seperti ini?"
Cui Hiang bertanya heran.
A-hai tersenyum. "Itu adalah bekas jari-jari tangan yang disatukan membentuk paruh burung. Itulah
pukulan sakti pemutus urat dari ilmu kelu-argaku, disebut Thai-kek Sin-ciang. Apa lagi kalau
dilontarkan dengan tenaga sinkang Merah Putih seperti yang kaupelajari, akibat pukulan itu hebat
bukan main. Untung bagiku bahwa suteku itu tidak mempelajari sinkang itu."
"Bukan main hebatnya " Cui Hiang membelalakkan matanya dan memandang ngeri.
"Ini masih belum seberapa. Ada ilmu andalan keluargaku yang disebut Thai-lek Pek-kong-ciang, lebih
hebat lagi!"
"Wah, Thai-kek Sin-ciang itu masih ada yang lebih hebat lagi?"
"Ya, Thai-lek Pek-kong-ciang adalah ilmu yang dilakukan dengan Khong-sin-kang, yaitu Tenaga Sakti
Kosong!"
"Eh? Tenaga kosong? Bagaimana itu, pa-man?"
"Hanya keturunan langsung saja yang bertulang baik diwarisi ilmu mujijat ini. Tenaga Sakti Ko-song
adalah tenaga sakti yang benar-benar kosong sehingga tidak dapat dirasakan oleh panca indera.
Tanpa mengandung hembusan angin sedikitpun se-hingga apa bila dipukulkan kepada segumpal kapas
yang ringan sekalipun, kapas itu tidak akan bergoyang. Padahal tenaga ini mempunyai daya yang
amat hebat dan sukar dicari bandingnya di dunia ini. Yang nampak kosong itu sesungguhnya penuh,
dan yang kosong itu lebih kuat dari pada yang isi. Ruangan di jagad raya inipun kosong dan yang isi
hanya merupakan bagian saja dari pada kekosongan luas itu. Seperti juga suara hanya me-rupakan
sebagian kecil dari pada keheningan yang maha luas."
"Wah, aku bingung, paman. Apa sih artinya semua itu?"
A-hai tersenyum dan bergurau. "Jangankan engkau, aku sendiripun bingung kalau sudah bicara
tentang filsafat kekosongan. Mungkin hanya omong kosong belaka! Kembali kepada ilmu itu,
dunia-kangouw.blogspot.com
sesungguhnya amat hebat. Tergantung dari besar kecilnya tenaga lawan. Kalau lawan bertenaga
besar, maka tenaga itu otomatis menjadi lebih be-sar lagi. Kalau lawan bertenaga kecil, tenaga
Khong-sin-kang itupun menjadi kecil, hanya le-bih besar sedikit sekedar untuk melebihi lawan. Kalau
tidak menemui lawan, tenaga itupun tidak nampak sama sekali, tidak ada pengaruhnya sama sekali
seperti udara hampa. Itulah sebabnya dina-makan Tenaga Sakti Kosong. Tenaga ini tidak da-pat
dipergunakan untuk melukai atau menyerang orang, melainkan menerima dan membalikkan serangan
orang lain saja."
Cui Hiang terbelalak heran dan bingung. "Apakah apakah paman sudah menguasai ilmu aneh
ini?"
"Tentu saja. Aku adalah keturunan tunggal yang terakhir dari keluargaku. Ayahku bilang bah-wa aku
memiliki bakat yang lebih baik dari ayah atau bahkan dari kakek-kakekku, jadi aku berhak
mempelajarinya."
"Kalau begitu maukah paman memperlihatkan ilmu itu kepadaku? Aku ingin sekali
menyaksikannya."
"Baiklah, agar engkau mengenal ilmu simpanan keluargaku. Nah, bersiaplah, aku memukulmu dengan
Tenaga Sakti Kosong!" kata A-hai. Dia berdiri lurus dengan kedua kaki dirapatkan. Tidak terjadi
keanehan apa-apa, tidak ada pembahan wajahnya, tidak ada suara, bahkan tidak ada sedi-kitpun
angin menyambar ketika dia menekuk se-dikit lututnya dan kedua tangannya mendorong ke depan, ke
arah Cui Hiang. Perlahan sekali, gerakan itu, seolah-olah dia hanya mengulurkan tangan kepada Cui
Hiang. Tidak terasa apapun oleh Cui Hiang, bahkan rambut anak itupun tidak sampai bergerak. Tentu
saja Cui Hiang menjadi terheran-heran. Tadinya ia bersiap menyambut serangan orang yang tanpa
upacara telah menjadi gurunya itu akan tetapi karena ternyata pemuda itu sama sekali tidak
menyerangnya, iapun termangu-ma-ngu dengan heran. Disangkanya bahwa A-hai ra-gu-ragu untuk
menyerangnya, takut kalau ia ter-luka.
"Mari, paman, cepat menyerang. Aku sudah siap menyambut. Kenapa paman tidak melanjut-kan?"
"Anak bodoh, aku. sudah memukulmu sejak tadi. Inilah maka ilmu ini dinamakan Tenaga Sak-ti
Kosong. Engkau memang tidak merasakan apa-apa, karena engkau tidak mengerahkan tenagamu.
Coba engkau menangkis, tentu engkau akan meli-hat buktinya."
Tentu saja Cui Hiang menjadi penasaran. Ten-tu A-hai telah mempermainkannya. Mana mung-kin
serangan itu sudah dilakukan kalau ia tidak merasakan apa-apa? Kenapa yang begini dina-makan
ilmu yang hebat? Dengan alis berkerut karena mengira dipermainkan ia menepiskan ta-ngannya ke
arah A-hai dan bermaksud untuk menjauhkan diri. Akan tetapi, apa yang terjadi? Ketika ia
menepiskan tangannya, tiba-tiba saja dirinya didorong oleh tenaga luar biasa yang mem-buatnya
terjungkal ke belakang!
Cui Hiang bangkit dan matanya terbelalak ke-takutan. Tubuhnya terasa lemas seperti baru saja
dilanda angin yang amat kuat.
"Paman, apa yang kaulakukan?"
A-hai tersenyum dan mengulurkan tangan, membantu gadis kecil itu bangun. "Nah, engkau sudah
merasakan sekarang? Kalau tangkisanmu tadi lebih kuat, engkaupun akan lebih keras ter-banting.
Ilmu ini hebat karena tak dapat dirasakan, di situlah letak keampuhannya. Dengan ilmu ini-lah maka di
jaman dahulu terdapat dongeng-do-ngeng yang aneh, di mana seorang sakti sendirian saja mampu
menghancurkan sebuah kerajaan yang mempunyai pasukan laksaan orang. Dan ini pula sebabnya
mengapa di jaman dahulu terdapat do-ngeng akan kesaktian manusia yang seperti dewa."
"Hebat !" Cui Hiang kagum sekali. "Oya ...... setelah paman berkelahi melawan sute paman itu lalu
bagaimana?"
"Adikku benar-benar hebat kepandaiannya. Aku hampir terbunuh olehnya. Ilmu silatnya seperti iblis,
kecepatannya seperti setan. Akan teta-pi setelah aku mempergunakan ilmu simpanan ke-luargaku,
barulah dia kewalahan. Dia jatuh ba-ngun melawan Khong-sin-kang yang kupergunakan untuk Ilmu
Thai-lek Pek-kong-ciang. Tubuh-nya yang kebal itu akhirnya terluka dan dia dapat kuringkus dan
kubawa menghadap ayahku."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wah, hebat sekali cerita itu, paman. Lalu ba-gaimana jadinya dengan wanita sahabatmu itu, paman?"
tanya Cui Hiang tertarik.
"Tentu saja ia menjadi isteri Souw-kongcu. Masa hal itu perlu ditanyakan lagi?' tiba-tiba terdengar
suara orang dan muncullah seorang la-ki-laki tua yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Laki-laki
tua yang kurus ini dengan wa-jah berseri-seri memandang kepada A-hai.
"Souw-kongcu! Telah sepuluh tahun kita ti-dak saling bertemu. Apakah kongcu baik-bauk saja?
Kenapa lama benar tidak berkunjung ke si-ni? Dan bagaimana dengan puterimu yang mu-ngil itu?
Tentu sudah besar sekarang," Berkata demikian, kakek itu melirik ke arah gadis kecil berlengan
buntung sebelah dengan ragu-ragu.
A-hai bengong memandang kepada kakek itu. Lagi-lagi ada orang yang menyebutnya kongcu,
seorang tuan muda she Souw! Benarkah dia seo-rang she Souw? Akan tetapi kenapa dia tidak mengenal
kakek ini sama sekali? Secara tak terduga-duga, proses penyembuhannya berjalan dengan
cepat, akan tetapi ternyata masih banyak hal-hal lalu yang sama sekali tidak diingatnya, agaknya
termasuk orang tua ini. Siapakah kakek ini? Nam-paknya orang ini selain sangat mengenalnya, juga
sangat menghormatnya. Telah dua orang bersama tukang warung itu yang mengenalnya sebagai seorang
kongcu yang telah mempunyai isteri dan anak. Kalau benar demikian, di manakah adanya
isterinya dan anaknya itu? Dan di mana pula ru-mahnya? Hatinya terguncang keras dan biarpun dia
belum yakin benar bahwa dia memang Souw-kongcu, melihat ada orang yang mengenalnya, dia lalu
menangkap tangan kakek itu.
"Lopek, katakanlah. Apakah wajahku benar-benar wajah Souw-kongcu seperti yang kaukenal itu?
Benarkah? Lalu lalu di manakah tinggalnya Souw-kongcu?"
Kakek itu terbelalak kebingungan. "Eh, bagai-mana ini? Souw-kongcu, apakah yang telah ter-jadi
denganmu sehingga sikapmu seaneh ini?"
"Lopek, maafkanlah aku. Aku sendiri tidak tahu betul siapa sebenarnya aku ini, apakah Souw-kongcu
ataukah orang lain. Ketahuilah, aku telah terserang penyakit sehingga aku lupa segala-galanya
tentang masa laluku. Justeru sekarang ini aku sedang melakukan penyelidikan untuk dapat
mengingat kembali masa laluku, Tempat ini kukenal baik akan tetapi maaf, aku lupa sama sekali
kepadamu, tidak mengenal wajahmu."
Kakek itu mengangguk-angguk dan memandang dengan sinar mata menaruh kasihan. "Ah... kiranya
begitu? Souw-kongcu, aku adalah kepala kampung di dusun ini. Tentu saja aku sangat mengenalmu
karena engkau telah menikah dengan puteri angkatku sendiri. Aku adalah mertua angkatmu sendiri,
kongcu. Marilah ikut aku ke rumahku dan aku akan menceritakan segalanya dan kongcu akan dapat
melihat gambar-gambar lama. Mudah-mudahan kongcu akan dapat teringat lagi akan semua masa
lalumu. Marilah "
Pada saat itu nampak beberapa orang perajurit menghampiri tempat itu. "Nah. itu dia di sana! Hei,
monyet. Kenapa kau pergi tanpa pamit? Mau lari, ya?' Hayo, bantu kami mengangkut bak air itu turun.
Komandan kami perlu air untuk mandi'"
"'Wah, ini kepala kampung di sini pula!", tegur seorang lain di antara mereka. "Kenapa engkau di sini?
Kenapa engkau meninggalkan komandan kami di rumahmu sendirian saja? Apakah engkau tidak
suka kepada kami para perajurit kerajaan ya? Mau berontak, ya? Mau jadi kaki tangan pemberontak
asing?"
Kakek kepala kampung; itu menjawab halus, "Saya tidak berniat buruk. Saya hanya ingin membuktikan
laporan orang bahwa ada beberapa orang perajurit menawan rakyatku. Maka saya mengikuti
kalian sampai ke sini. Dan ternyata orang-orang-ku ini hanya kalian mintai bantuan mencari sum-ber
air."
"Wah, kaukira perajurit-perajurit kerajaan adalah perajurit brengsek yang suka mengganggu rakyat,
ya? Gila kau. Hayo pulang ke rumahmu lagi. Komandan kami ingin sekali mandi secepat-nya dan kita
bisa didamprat kalau terlambat."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepala kampung memberi isyarat agar A-hai menurut saja. Mereka lalu turun dari tempat itu dan A-hai
membantu mereka memikul bak air ke rumah si kepala kampung di mana sang komandan sudah
menunggu, dengan baju atas terbuka. Nam-paklah dadanya yang bidang berbulu dan menye-ramkan.
"Kenapa lama benar kalian? Ingin dihukum cambuk, ya?" bentaknya marah. Tentu saja para anak
buahnya menjadi ketakutan dan mereka ce-pat mempersiapkan segalanya untuk sang koman-dan
yang kegerahan dan ingin mandi itu. Sebelum menuju ke tempat mandi, komandan itu berteriak ke
arah kepala kampung, "Siapkan makanan enak untukku. Carikan ayam gemuk dan masak yang
enak!"
Si kepala kampung hanya mengangguk lalu me-merintahkan orang-orangnya untuk mempersiap-kan
permintaan sang komandan. "Inilah akibatnya perang," katanya lirih kepada A-hai. "Kalah atau
menang, tetap saja rakyat yang menderita akibat-nya. Penindasan selalu terjadi dengan sewenangwenang,
Tentu saja, kadarnya yang berbeda. Di bawah telapak kaki musuh, tentu lebih hebat dan
lebih celaka."
A-hai mengangguk. Teringat dia akan keadaan para penduduk dusun yang kelaparan dan terpak-sa
lari mengungsi. Dan kini penduduk dusun itu dipaksa melayani para perajurit dan mengeluarkan
seluruh miliknya untuk menyenangkan para pera-jurit agar mereka tidak mengamuk dan menghu-kum
para penduduk yang dapat dituduh sebagai berpihak kepada musuh atau pemberontak. Sete-lah
selesai membantu para perajurit, A-hai dan Cui Hiang lalu diajak masuk oleh kepala kampung.
Mereka memasuki rumah melalui pintu samping dan memasuki bangunan samping di mana tuan
rumah biasa minum teh dan membaca kitab.
Jilid XXVIII
KETIKA mereka memasuki ruangan di maƱa tergantung sebuah lukisan besar seorang wanita yang
berpakaian puteri istana, A-hai ber-lari menghampiri dan berdiri memandang gambar itu dengan muka
pucat dan mata terbelalak. Cui Hiang juga berdiri mendekat dan gadis cilik ini terkejut sekali melihat
betapa gambar wanita itu wajahnya persis wajah Bwee Hong. Gambar wani-ta ini nampak lebih agung
dan anggun, mungkin karena pakaiannya seperti puteri istana. Akan te-tapi wajahnya sungguh mirip
sekali wajah Bwee Hong.
A-hai berdiri memandang dengan peluh bercucuran. Jelas dia nampak amat terpengaruh oleh
gambar itu, dan keharuan membayang di wajahnya. "Lopek siapa ...... siapakah wanita dalam
gambar ini? Aku seperti sudah sangat mengenalnya aku merasa sangat dekat dengan wanita ini,
akan tetapi ...... aku lupa lagi siapakah ia "
"Wanita ini adalah puteri angkatku sendiri, isteri dari Souw-kongcu."
"Hahhh ......? Isteri ...... Souw-kongcu? Dan kalau aku Souw-kongcu ia isteriku?"
"Benar, itulah gambar puteri angkatku"
"Akan tetapi kalau ia puteri kakek, kenapa ia mengenakan pakaian seorang puteri istana?" tiba-tiba
Cui Hiang bertanya. Gadis cilik ini sudah "pernah" melihat gambar puteri istana, maka ia me-nyatakan
keheranannya.
Kakek itu tertegun sebentar dan mukanya men-jadi kemerahan. Mendengar pertanyaan yang diajukan
Cui Hiang, A-hai juga memandang kakek itu. "Memang aneh sekali kalau engkau mempu-nyai
anak berpakaian seperti itu, lopek, dan aku .... mana mungkin aku mempunyai isteri puteri ista-na?" Ahai
juga bertanya, mendesak. Siapa tahu penjelasan kakek ini akan merupakan kunci pem-buka
rahasia masa lalunya yang dilupakannya.
Kakek itu menarik napas panjang, setelah ter-menung sejenak lalu berkata, "Mendiang isteriku adalah
bekas selir kaisar. Belum lama menjadi is-teriku, ketika pada suatu hari kaisar dalam peran-tauannya
dunia-kangouw.blogspot.com
lewat di dusun kami, beliau tertarik ke-pada isteriku dan direbutnya kekasihku dari ta-nganku, dan
dibawa ke istana. Aku tidak bisa ber-buat apa-apa. Setelah kekasihku itu mempunyai anak, ia dan
anaknya dikembalikan kepadaku dan anak itu dibesarkan di istana. Jadi sebenarnya, puteri angkatku
itu adalah anak isteriku dan kaisar."
"Ahh maafkan aku, kek" Cui Hiang berkata menyesal telah mengajukan pertanyaan tadi.
"Tidak apa. Peristiwa itu sudah lama berlalu, isteriku telah meninggal dunia. Mari kuperlihatkan
sebuah gambar lagi."
Cui Hiang menahan teriakan heran ketika me-lihat gambar besar itu. Jelas bahwa pria gagah yang
berpakaian sasterawan dan memegang ken-dali kuda putih mulus itu adalah A-hai! Dan di atas pelana
kuda duduk seorang anak perempuan yang tersenyum manis sambil memeluk sebuah bo-neka indah
berupa seorang puteri istana, terbuat dari pada batu giok.
A-hai sendiri memandang lukisan itu seperti berobah menjadi patung, kemudian dia melangkah maju
mendekati gambar, tangannya terjulur ke depan, gemetar. "Bukankah bukankah ini
gambarku?" teriaknya. "Dan ini boneka ini. . . . . . " Suaranya gemetar dan tangannya merogoh ke
dalam buntalannya. Dikeluarkannya sebuah boneka batu giok yang ternyata persis dengan bo-neka
yang dibawa anak perempuan dalam lukisan itu.
Kini kakek itu yang memandang kaget. "Ah, boneka itu boneka itu adalah hadiah dari Souw-kongcu
untuk cucuku itu, pada hari ulang tahunnya. Kenapa sekarang kaubawa? Di mana-kah cucuku itu?"
"Lopek, sudah kukatakan bahwa aku lupa akan masa laluku. Boneka ini kutemukan di rumah Gu-lojin,
sebuah rumah tua di luar dusun yang sunyi. Di sana pula untuk pertama kalinya aku mende-ngar
tentang Souw-kongcu itu. Ketika pertama kali melihat patung ini, aku terkesan dan dan nama
yang terukir pada boneka ini "
"Lian Cu? Itulah nama cucuku dan Gu-lojin yang kongcu sebut itu, bukankah dia seorang pelukis
yang hidup menyendiri?"
"Benar "
"Dia adalah kakakku sendiri, kongcu." Kakek itu nampak terharu sekali. "Kakakku bernama Gu-Toan
dan aku sendiri bernama Gu Tek. Anak angkatku itu, yang sebenarnya puteri kaisar dan isteriku,
bernama Gu Yan Kim dan cucuku bernama Lian Cu, Souw Lian Cu."
A-hai mendengarkan semua ini seperti dalam mimpi. Kemudian dia menarik napas panjang.
"Agaknya aku memang benar-benar Souw-kongcu seperti dugaan paman itu. Aku juga mahir
ilmu silat tinggi, biarpun entah karena apa aku telah lupa sebagian dari ilmu itu, dan lupa akan masa
laluku sama sekali, lupa akan keluargaku "
Tiba-tiba kepala kampung itu memandang de-ngan wajah berseri. "Aku ingat akan adanya suatu
tanda untuk meyakinkan apakah kongcu benar-be-nar Souw-kongcu atau bukan."
"Benarkah itu? Bagaimanakah maksudnya?" teriak A-hai sambil mencengkeram tangan kakek itu
sehingga kakek itu meringis kesakitan. A-hai cepat melepaskan cengkeramannya dan kakek itu
tersenyum.
"Karena aku beruntung mempunyai mantu seo-rang keturunan keluarga Souw, maka aku tahu akan
rahasia keluarga itu. Sejak turun-temurun, keluarga Souw adalah keluarga pendekar yang memiliki
ilmu silat maha hebat! Dan sebagai tan-da pengenal, semua anak keturunan mereka diberi tanda
merupakan bekas luka jahitan yang meman-jang dari ubun-ubun sampai ke belakang kepala dekat
tengkuk. Selain luka jahitan memanjang ini, juga luka akibat totokan dari ciri perguruan keluar-ga sakti
itu pada sebelah tulang punggung di ka-nan kiri, tepat di bawah pinggang. Setiap bay'i keturunan
mereka, setelah berusia satu tahun, ten-tu mendapat tanda itu. Aku sebagai kakek Lian Cu diberi tahu
dan ternyata tanda itu bukanlah sekedar tanda belaka, melainkan ada hubungannya dengan ilmu
mereka. Semua itu dimaksudkan un-tuk membuka jalan darah penting di tubuh anak itu agar setelah
besar nanti sudah siap untuk mene-rima pelajaran ilmu keturunan mereka yang hebat. Tanpa
dilakukan pembedahan pada kepala dan totokan di pinggang itu sewaktu masih bayi, tidak mungkin
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka dapat melatih ilmu mujijat ketu-runan keluarga itu. Bagaimana jelasnya tentang ilmu itu, tentu
saja aku tidak mengerti."
A-hai mendengarkan dengan terheran-heran.
"Luka bekas jahitan dan bekas totokan? Apakah itu?"
"Aku pernah melihatnya sendiri ketika cucuku Lian Cu menjalani upacara keluarga itu setelah berusia
setahun. Mula-mula di pinggangnya, se-belah kanan dan kiri tulang punggung, ditotok dan daging di
bagian itu menjadi hangus melepuh se-perti dibakar. Setelah sembuh, bekas totokan itu
meninggalkan bekas dengan nyata. Kemudian, ku-lit kepala bayi itu diiris dengan ujung pedang,
membujur dari ubun-ubun sampai ke tengkuk. Entah apa yang mereka lakukan setelah kulit kepa-. la
dibuka karena aku sendiri tidak tega untuk me-nonton terus. Kemudian kulit itu dijahit kembali dan
setelah sembuh meninggalkan bekas luka me-manjang. Nah, demikianlah. Maka untuk menen-tukan
apakah kongcu keturunan keluarga Souw atau bukan, amatlah mudah. Selain tanda-tanda di badan
yang tidak nampak dari luar itu, juga se-mua keturunan keluarga Souw memakai sebuah cincin batu
giok yang ada huruf Souw diukir di situ."
A-hai mendengarkan dengan bengong. Oto-matis, matanya mengerling ke arah jari-jari ta-ngannya
dan dia merasa kecewa tidak melihat sebuah cincinpun di jari tangannya. Apa lagi cincin batu giok
yang diukir huruf Souw, bahkan cincin kuninganpun tak pernah dia memakainya. Kemu-dian,
lengannya bergerak dan tangannya merayap menuju ke pinggangnya di belakang, meraba-raba dan
mencari-cari tanda di kanan kiri tulang pung-gung seperti yang diceritakan oleh kakek itu. Akan tetapi,
alisnya berkerut dan kembali dia merasa kecewa karena tangannya tidak merasakan adanya bekas
luka-luka akibat totokan yang membakar itu. Dengan penasaran dia lalu meraba-raba ke-palanya, jarijari
tangannya menyusup ke bawah rambutnya yang tebal, mencari-cari luka bekas jahitan yang
menjadi ciri khas keturunan keluarga Souw.
Kakek Gu Tek menanti dengan wajah tegang, sedangkan Cui Hiang juga ikut-ikutan meraba-raba
kepalanya sendiri di bawah rambut karena ia merasa amat tertarik oleh cerita aneh kakek kepala
kampung itu. Selagi A-hai sibuk mencari-cari di bawah rambutnya, Cui Hiang berteriak membuat
keduanya terkejut.
"Haiii ! Kepalaku ! Di kepalaku juga ada bekas luka memanjang dari depan ke be-lakang!
Lihatlah ini, kek!" Gadis cilik itu berseru gembira sambil menyodorkan kepalanya yang ke-cil itu ke
arah kakek kepala kampung. Tentu saja kakek yang tadinya bersikap tegang itu kini tersenyum geli.
Ada-ada saja ulah gadis cilik yang buntung lengan kirinya ini, pikirnya.
"Aih, nona, jangan main-main. Nona menge-jutkan saja. Sungguh lucu kau ini, dan ada-ada saja.
Mana bisa nona mempunyai ciri tanda itu? Apa hubunganmu dengan keluarga Souw? Ha-ha, kalau
toh ada bekas luka di kepalamu, kiranya itu tentu hanya akibat pukulan dengan sendok nasi atau
sumpit oleh ibumu karena kenakalanmu." Kakek itu tertawa geli sampai terguncang perut-nya, bukan
untuk menghina atau mentertawakan, melainkan karena benar-benar merasa lucu sete-lah dicekam
ketegangan tadi.
Akan tetapi Cui Hiang tidak ikut ketawa, malah matanya melotot. "Kek , tapi di kepalaku benarbenar
ada bekas luka yang memanjang! Coba saja kauraba sendiri, panjang bersambung dari muka
ke belakang!" Suaranya mengandung rasa penasaran sehingga menarik perhatian kakek itu.
Kakek Gu Tek masih menahan ketawa dan ter-senyum lebar ketika terpaksa meluluskan permin-taan
Cui Hiang. Jari-jari tangannya meraba se-kenanya saja ke arah kepala anak itu, hanya untuk memberi
kepuasan saja. Akan tetapi, tiba-tiba se-nyumnya sedikit demi sedikit menghilang dari pa-ras
mukanya, dan kini wajahnya dibayangi kehe-ranan yang besar, matanya terbelalak. Jari-jari
tangannya kini meraba-raba dan jelas terasa oleh ujung jari-jarinya adanya bekas luka memanjang
dari ubun-ubun sampai ke tengkuk. Cepat dia menyibakkan rambut yang hitam itu dan alang-kah
kagetnya ketika di situ dia benar-benar meli-hat tanda luka bekas jahitan!
"Kau .. kau ...... siapa?" Akhirnya kakek itu bertanya dengan suara gemetar, dan ta-ngannya yang
agak menggigil itu kini meraba ping-gang. Cui Hiang mendiamkannya saja ketika ba-junya disibakkan
agar kakek itu dapat memeriksa punggungnya. Dan kakek Gu Tek semakin terbe-lalak ketika melihat
betapa di kanan kiri pinggang gadis cilik itu benar-benar nampak adanya bekas totokan yang mirip
jejak kaki kucing itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau ....... engkau benar-benar keturunan keluarga Souw" teriaknya dengan muka berubah agak
pucat.
"Hemm " Tiba-tiba A-hai berseru lirih.
"Lopek, di kepalaku juga seperti ada bekas jahitan, akan tetapi hanya pendek saja, tidak sampai ke
ubun-ubun dan tengkuk."
"Ah, mana mungkin, kongcu? Maaf, biarkan aku memeriksanya!" Dengan hati penasaran ka-kek itu
lalu memeriksa kepala dan pinggang A-hai. Semakin penasaran hatinya ketika menemukan bahwa
memang benar di kepala A-hai ada tanda jahitan itu, akan tetapi tidak begitu panjang seperti tanda
pada kepala Cui Hiang, bahkan tanda pada pinggangnya juga tidak sedalam dan sejelas seperti yang
terdapat pada pinggang anak perempuan itu.
Biarpun demikian, jelas bahwa tanda-tanda itu ada pada A-hai, maka kakek itu menjadi girang sekali.
Dirangkulnya pemuda itu dengan hati terharu. "Engkau benar Souw-kongcu ah, Souw-kongcu
betapa girang hatiku "
A-hai bersikap tenang. Bagaimanapun juga, semua ini belum meyakinkan hatinya karena ingat-annya
belum pulih. "Lopek, harap maafkan aku. Sekarang aku baru dapat teringat sebagian-seba-gian, dan
aku sedang dalam pengobatan. Mudah-mudahan tak lama lagi aku akan dapat teringat semuanya.
Aku sendiri juga mulai agak yakin bah-wa aku sebenarnya adalah orang she Souw, mantu-mu. Akan
tetapi harap jangan bertanya apa-apa tentang masa laluku. Aku belum ingat semua itu bahkan aku
belum ingat tentang keluargaku. Tidak ada sedikitpun yang kuingat tentang isteri atau anakku. Bahkan
setelah berhadapan dengan lo-pek sendiri yang agaknya tidak salah lagi tentulah ayah mertuaku,
akan tetapi aku sama sekali tidak ingat dan tidak mengenal wajah lopek. Maafkan-lah dan harap lopek
bersabar sampai aku memper-oleh kembali ingatanku."
Dengan wajah sedih kakek Gu Tek hanya mengangguk-angguk. Kini A-hai menoleh kepa-da Cui
Hiang. Sama sekali tidak pernah disangka-nya ada hal yang begini kebetulan. Dia merasa kasihan
kepada Cui Hiang dan mengajaknya hidup bersama, bahkan telah menurunkan ilmu silatnya yang dia
tidak tahu betul adalah ilmu simpanan keluarganya dan siapa kira, ternyata gadis ini mem-punyai ciriciri
keturunan keluarga Souw seperti yang dituturkan oleh kakek itu!
"Cui Hiang, jika dilihat dari adanya tanda-tanda di tubuhmu, ternyata di antara kita masih ada hubungan
keluarga. Entah hubungan yang bagaima na aku belum dapat memastikannya. Mungkin
antara paman dan keponakan atau antara saudari sepupu, atau bahkan antara kakak dan adik."
Cui Hiang mengangguk-angguk, menunduk dan beberapa butir air mata menitik turun ke atas
sepasang pipinya yang agak pucat. Tentu saja da-ra kecil ini merasa gembira dan terharu sekali
Pendekar yang amat dikaguminya dan disayang-nya ini masih ada hubungan keluarga dengannya!
A-hai kini menjura kepada kakek Gu Tek ke-pala kampung itu. "Lopek, tolong beri tahu kepa-daku, di
manakah tempat tinggal keluarga Souw itu? Aku harus pergi ke sana karena aku yakin bahwa kalau
aku pergi ke tempat keluarga itu, aku akan lebih mudah mengingat masa laluku."
Kakek itu mengembangkan kedua lengannya dan menggerakkan pundaknya, menarik napas pan-jang
penuh sesal. "Wah, inilah celakanya. Aku sendiri belum tahu tempat tinggal keluarga pen-dekar itu.
Keluarga Souw benar-benar merahasia-kan tempat mereka, bahkan aku sendiri sebagai mertuanya
tidak boleh tahu. Mereka tidak mau dikenal orang, tidak ingin diganggu dengan urusan kaum
persilatan. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba mantuku dan puteriku pergi selama sepuluh tahun dan
tidak pernah datang berkunjung, aku sama se-kali tidak tahu ke mana harus mencari mereka.
Sampai-sampai isteriku, bekas selir kaisar itu, meninggal dunia karena duka. Hanya secara sa-marsamar
aku pernah mendengar dari puteriku, bahwa tempat tinggal mereka itu terdapat di se-buah
pulau penuh bunga yang indah. Rumah mereka didirikan di tepi sungai kecil yang airnya jernih, yang
mengalir di tengah pulau kecil itu dan di belakang rumah mereka...... terdapat sebuah air terjun
yang sangat indah!" A-hai melanjutkan, seperti dalam mimpi rasanya.
"Benar!" seru kakek itu gembira. "Ah, engkau benar-benar mantuku! Ya Tuhan, di manakah adanya
isterimu dan cucuku yang mungil itu?' Kakek itu tidak dapat menahan runtuhnya bebera-pa butir air
matanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
A-hai tertegun dan seluruh tubuhnya terasa lemas, wajahnya membayangkan kesedihan mendalam.
"Entahlah ...entahlah, aku tidak ingat lagi " katanya kecewa sekali.
Pada saat itu terdengar teriakan beberapa orang perajurit di halaman samping rumah, "Hai, kepala
kampung! Di mana engkau? Mana masakan ayam itu? Apakah sudah siap?"
Tergopoh-gopoh kakek Gu Tek menemui ko-mandan pasukan dan menjura dengan sikap hor-mat.
"Maaf, tai-ciangkun, saya harus mencarikan ayam dulu karena kami sendiri tidak mempunyai-nya,
harap ciangkun bersabar."
Komandan itu menjadi marah dan membentak, "Hemm, jangan mempermainkan aku. Siapkan secepatnya,
juga untuk sore nanti karena ada seorang panglima kerajaan yang akan datang
berkunjung.''
"Baik, ciangkun." Dan kakek Gu Tek lalu mengatur orang-orangnya untuk mempersiapkan makanan
yang dipesan oleh komandan itu.
Malam itu komandan pasukan menjamu seorang panglima yang datang bersama dua orang kakek
berjubah coklat. Panglima ini adalah Lai-goan-swe dan dua orang kakek berjubah coklat itu ada-lah
dua orang tokoh Liong-i-pang, dikawal pula oleh belasan orang perajurit pengawal. Setelah makan
hidangan yang disuguhkan, panglima itu bertanya dengan suara lantang kepada sang ko-mandan.
"Ma-ciangkun, sekarang ceritakan kepadaku tentang keadaan di garis depan dan terangkan
mengapa engkau membawa sisa pasukanmu me-ninggalkan Jenderal Beng dari daerah pertempuran?"
Komandan pasukan itu menarik napas panjang. "Lai-goanswe, keadaan semua pasukan kerajaan di
garis depan sudah amat payah. Pasukan-pasukan pemberontak Chu Siang Yu yang dibantu pasukanpasukan
bangsa liar sungguh terlalu amat kuat. Jumlah mereka bertambah terus sedangkan jum-lah
pasukan kita semakin berkurang tanpa adanya bala bantuan dari kota raja. Saya membawa pasu-kan
mundur sampai ke sini karena perintah lang-sung Beng-goanswe sendiri. Beliau kini bertahan di
sepanjang Sungai Ular, sedangkan kami diutus untuk mempersiapkan jalan mundur pasukan induk.
Juga kami diutus untuk mencari tambahan ransum karena persediaannya sudah menipis dan tidak
per-nah ada kiriman bantuan ransum dari kota raja Kekuatan musuh hampir tiga kali lipat jumlahnya.
Jenderal Beng Tian bermaksud untuk mengumpul-kan sisa pasukan yang ada, bertahan di benteng
terakhir sampai titik darah terakhir."
"Apakah Jenderal Beng sudah mendengar bah-wa di daerah selatan dan timur juga muncul baris-an
pemberontak Liu Pang yang tidak kalah kuat-nya?"
"Sudah, Beng-goanswe sudah mendengar be-rita itu. Hal itu pulalah yang membuat Beng-goanswe
menjadi patah semangat. Beliau berpen-dapat bahwa kalau sampai pasukan yang paduka pimpin itu
sampai kalah, itu berarti bahwa barisan pemberontak Liu Pang itu tentu kuat sekali. Mungkin lebih
kuat dari pada pasukan pemberontak Chu Siang Yu. Kalau sudah muncul dua pasukan pem-berontak
yang masing-masing memiliki kekuatan melebihi kekuatan pemerintah, apa yang mesti di-perbuat
lagi? Paling-paling kita bertahan sam-pai kita gugur sebagai bunga bangsa!" kata ko-mandan pasukan
she Ma itu dengan sikap gagah.
Jenderal Lai menarik napas panjang. "Betapa menyedihkan melihat banyaknya orang yang men-jadi
perajurit setia seperti engkau ini telah tewas dengan sia-sia. Ma-ciangkun, maksudmu untuk gugur
sebagai bunga bangsa memang menjadi wa-tak seorang perajurit sejati. Akan tetapi ada suatu hal
yang lebih penting lagi untuk dipikirkan. Ka-lau tekad itu dilakukan demi membela tanah air dan
bangsa, memang tepat dan sudah menjadi ke-wajiban setiap orang wuiga negara. Akan tetapi lebih
bijaksanalah kalau kita melihat dulu untuk siapa kita berjuang. Benarkah untuk negara dan bangsa,
ataukah hanya untuk segelintir manusia di istana yang merupakan manusia-manusia lalim dan tidak
patut kita bela?"
"Apa ... apa maksud paduka?" Ma-ciangkun memandang heran. Dia adalah seorang perajurit tulen
yang setia dan dia mengenal benar Jenderal Lai ini yang selama puluhan tahun pernah menjadi
atasannya. Seorang jenderal yang setia! Akan tetapi mengapa kini mengeluarkan kata – kata yang
membingungkan hatinya itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ma-ciangkun. Aku haru saja dari kota raja. Kaisar baru dan para pembantunya sungguh mem-buat
kita prihatin. Mereka itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan pasukan yang didesak mu-suh.
Mereka bersenang-senang, berpesta-pora dan melakukan segala macam kemaksiatan yang
menjijikkan. Pembesar-pembesar penjilat dan ko-rup dinaikkan pangkat, kaum sesat yang amat kejam
dijadikan pengawal-pengawal dan panglima, sedangkan pejabat-pejabat yang setia dan jujur
malah dipecat, dipenjarakan atau dibunuh. Istana seperti menjadi sarang penjahat yang paling keji.
Ketika aku menghadap kaisar yang masih muda itu, sama sekali tidak ada penghargaan melihat
betapa aku dan pasukanku telah membela kerajaan mati-matian, bahkan hampir saja aku dibunuh
oleh be-gundal-begundal kaisar yang terdiri dari datuk -datuk sesat yang lihai itu. Apakah sekarang
eng-kau masih mau gugur sebagai bunga bangsa demi sekumpulan manusia lalim dan sesat seperti
mere-ka itu?"
Wajah perwira Ma menjadi pucat. "Be benarkah itu?" Dia bertanya gagap.
Jenderal Lai menatap tajam. "Ma-ciangkun, engkau mengenal aku, bukan? Puluhan tahun aku
menjadi atasanmu, pernahkah aku bicara semba-rangan kepada bawahanku? Atau engkau ingin
membuktikan sendiri kata-kataku dan pergi ke ko ta raja?"
"Maaf, goanswe. Mana saya berani? Akan tetapi, kalau begitu keadaannya lalu ....... lalu apa yang
harus saya kerjakan?"
"Begini. Engkau tidak perlu membawa pasu-kanmu ke kota raja. Kau tetap saja di dusun ini. Aku akan
pergi menghadap Jenderal Beng Tian untuk merundingkan langkah-langkah selanjutnya. Engkau
menanti perintah saja di sini."
"Baiklah, goanswe!" kata Ma-ciangkun dengan lega karena tugas itu ternyata ringan saja. Malam itu
juga Jenderal Lai pergi bersama para penga-walnya dan pasukan itupun mengaso.
Setelah pertemuan penting itu bubaran, A-hai yang juga mendengar percakapan itu dari lain ruangan,
lalu bertanya kepada kakek Gu Tek, "Lo-pek, aku mendengar tentang adanya sebuah benteng
tua yang kini dipergunakan sebagai tempat tawanan. Di manakah letak benteng itu dan bagaimana
keadaannya? Apakah terjaga kuat dan sukar dimasuki?"
"Ah, benteng itu? Sekarang menjadi tempat pembuangan para pejabat istana. Tempatnya ku-rang
lebih sepuluh li dari sini, terletak di atas pun-cak sebuah bukit gundul yang terjal. Tempat itu sukar
didekati, tak dapat dicapai lewat samping atau belakang. Jalan satu-satunya hanyalah dari depan,
jalannya lebar dan baik. Akan tetapi kena-pa kongcu menanyakan tempat itu?"
"Hemm, aku hendak ke sana, lopek."
"Ah, apakah ada seorang kerabat yang dibuang di sana?"
A-hai hanya mengangguk dan tahulah Gu Tek bahwa dia tidak boleh banyak bertanya. Maka diapun
lalu memberi keterangan tentang jalan yang menuju ke benteng itu. A-hai merasa girang se-kali.
"Lopek, karena tempat itu cukup berbahaya, maka aku ingin menitipkan Cui Hiang agar berdi-am di
sini lebih dulu. Aku akan menjemput dua orang wanita yang menjadi sahabatku dan yang
kutinggalkan di hutan. Kalau sudah selesai urusan kami, aku akan datang ke sini untuk menjemput
Cui Hiang."
Kakek itu girang sekali. Bagaimanapun juga, gadis berlengan buntung sebelah ini adalah ketu-runan
keluarga Souw pula, maka termasuk sanak-nya juga melalui puteri angkatnya. "Baik, jangan khawatir,
kongcu. Kami akan menjaganya baik-baik."
"Kakek Gu. jangan kaget kalau kelak engkau melihat seorang di antara dua nona itu. Wajahnya mirip
sekali dengan gambar puterimu itu," kata Cui Hiang dan kakek itu mengangguk-angguk, dalam
hatinya terheran-heran mengapa begini banyak hal-hal yang "kebetulan". A-hai lalu berangkat keluar
dari dusun, meninggalkan Cui Hiang di rumah si kepala kampung karena dia merasa kurang leluasa
kalau harus rttengajak anak itu, padahal dia dan teman-temannya akan menyerbu benteng
menyelamatkan Seng Kun dan yang lain-nya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika A-hai berjalan keluar dari dusun, bebe-rapa orang perajurit peronda menegurnya. "Hei,
berhenti! Siapa itu?"
A-hai berhenti dan dua orang peronda itu menghampiri. "Ah, kiranya engkau!" kata mereka yang
sudah mengenal A-hai yang pernah mem-bantu mereka mencari air, pemuda yang berada di rumah
kepala kampung dan menjadi keluarga kepala kampung itu. "Hendak ke mana engkau?"
"Aku disuruh oleh Gu-lopek untuk mencari ayam."
"Bagus! Cari yang banyak, kalau ada telurnya juga, ya? Sudah lama aku tidak makan telur ayam!"
A-hai melanjutkan perjalanan dengan cepat, menuju ke hutan di mana dia meninggalkan Bwee Hong
dan Siok Eng. Ketika dia sudah jauh me-ninggalkan perajurit: perajurit itu, dia berpikir bahwa dia
harus mempergunakan ilmu berlari ce-pat agar kedua orang gadis itu tidak menunggu terlalu lama.
Akan tetapi ketika dia hendak me-ngerahkan tenaganya tiba-tiba saja dia lupa sama sekali bagaimana
harus mengerahkan tenaga sak-tinya. Lupa sama sekali cara atau jalannya. Dia berdiri tegak dan
menggerak-gerakkan perut dan dadanya, namun hasilnya sia-sia karena memang belum ditemukan
kembali jalannya. Dia menjadi uring-uringan dan menyumpahi diri sendiri. "O-tak udang!" Tanpa
disadarinya, sikapnya kembali seperti A-hai yang ketolol-tololan. Hal ini ada-lah karena dia masih
sedang dalam proses pengo-batan. Kalau terlambat jalan darahnya diperlancar dengan bantuan
jarum yang tepat, maka darahnya tidak lancar lagi dan ingatannyapun semakin bun-tu lagi. Dia belum
sembuh, dan masih tergantung kepada bantuan Bwee Hong yang sewaktu-waktu harus
mempergunakan jarum-jarumnya agar jalan darahnya lancar kembali. Selagi dia berkutetan dan
memarahi dirinya sendiri itu sehingga dia ke-lihatan lucu dan aneh, tiba-tiba terdengar suara orang
tertawa, suara ketawa yang ditahan-tahan akan tetapi tetap memberobot keluar sehingga ter-dengar
agak cekikikan.
Tentu saja A-hai menjadi terkejut dan juga marah. Dia memaki-maki dan memarahi diri sen-diri, akan
tetapi sekarang malah ada orang menter-tawakannya! Itu penghinaan namanya. Akan te-tapi ketika
dia membalikkan tubuh dan meman-dang, dia terbelalak dan bujlu tengkuknya mere-mang. Di
depannya berdiri dua orang kakek dan nenek yang pakaiannya serba putih dan wajahnya juga putih
seperti mayat! Bau harum semerbak tercium olehnya dan diapun bergidik. Sinar bin-tang-bintang di
langit menyinari dua wajah yang. pucat seperti mayat itu. Karena keduanya mena-han tawa dan
bergerak, mereka kelihatan seperti sepasang mayat hidup.
Akan tetapi, kakek itu lalu berkata, suaranya halus, "Saudara yang gagah perkasa. Tak dapat kami
menahan tawa melihat tingkah lakumu yang aneh dan konyol itu. Agaknya engkau baru saja
memperoleh pelajaran lweekang dari gurumu, akan tetapi kini engkau sudah lupa lagi sehingga gagal
ketika mencobanya. Benarkah?"
Mendengar pertanyaan ini, tentu saja seketika wajah A-hai menjadi merah sekali, merah karena malu
rahasianya dapat diterka sedemikian tepatnya dan marah karena orang ini sungguh telah mencemoohkannya
dengan sikapnya yang dianggapnya sombong sekali. Karena malu dan marah, juga karena
merasa tidak berdaya setelah sama sekali ti-dak mampu mengingat ilmunya, dia mendengus dan
membalikkan tubuhmu, melangkah lebar me-ninggalkan dua orang aneh itu.
Akan tetapi tiba-tiba kakek aneh itu menahan-nya, "Saudara yang baik, jangan engkau pergi dulu!"
"Huh!" A-hai tidak perduli dan mempercepat langkahnya, bahkan mulai menggerakkan kakinya untuk
lari. Akan tetapi mendadak dia merasa ada angin bertiup di dekat tubuhnya dan terpaksa dia berhenti
karena tahu-tahu kakek itu sudah bera-da di depannya sambil menyeringai! Dengan men-dongkol Ahai
hendak membalikkan tubuhnya, akan tetapi ternyata nenek itupun sudah berada di belakangnya
dengan tatapan mata yang dingin menyeramkan. A-hai menjadi marah sekali dan tiba-tiba saja dia
teringat akan semua ilmu silat-nya. Agaknya, kemarahannya membuat jalan da-rah ke otak yang
mulai menciut itu menjadi lancar kembali. Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan seketika kedua
orang suami isteri aneh itu ter-kejut sekali. Uap merah putih mengepul dari ke-pala pemuda yang
mereka anggap lucu tadi.
"Awas, itu adalah Tenaga Sakti Merah Putih!"
teriak kakek itu kepada isterinya. "Eh, orang muda, siapakah engkau ?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi A-hai tidak memperdulikan kekagetan mereka. Telapak tangannya sudah bergerak
menyerang ke arah kakek itu, bukan maksudnya untuk menyerang sebenarnya, melainkan mendorong
dengantangannya.
Sementara bau dupa harum semakin menusuk hidung. Teringatlah dia kepada Siok Eng yang juga
memiliki ilmu seperti itu. Ah, pikirnya, jangan-jangan kedua orang ini masih keluarga nona Siok Eng.
Maka diapun lalu melangkah mundur lagi sambil berseru, "Berhenti!"
Kakek itupun sudah dapat menekan hatinya yang terguncang. Dia memandang tajam penuh selidik,
dan tidak menyembunyikan keheranannya. "Orang muda, engkau sungguh hebat! Siapakah engkau?"
A-hai tidak menjawab pertanyaan ini, melain-kan mengamati kedua orang itu bergantian, lalu
bertanya, "Apakah ji-wi locianpwe ini dari Tai-bong-pai?"
"Orang muda, aneh kalau seorang dengan ting-kat kepandaian sepertimu masih belum mengenal
kami. Aku adalah ketua Tai-bong-pai dan ia ini adalah isteriku."
"Ah, kiranya ji-wi locianpwe adalah ayah dan ibu nona Kwa Siok Eng?" seru A-hai dengan gi-rang.
"Hemm, engkau mengenalnya? Di manakah anak kami itu sekarang?" Nenek itu bertanya, si-kapnya
masih dingin.
"Kami bersahabat baik sekali! Ia kini sedang menantikanku di dalam hutan. Apakah ji-wi hen-dak
mencarinya? Mari, ikut bersamaku."
Karena memang dua orang itu sudah amat mengkhawatirkan anak gadis mereka dan sudah lama
mencarinya, tentu saja mereka girang sekali mendengar keterangan A-hai. Akan tetapi kegi-rangan
hati mereka itu tidak nampak pada wajah mereka yang pucat dingin, dan kakek Kwa Eng Ki, ketua
Tai-bong-pai itu berkata, "Mari antar ka-mi bertemu dengannya!"
Kakek Kwa Eng Ki dengan isterinya, sebagai ketua Tai-bong-pai, tidak pernah mencampuri urusan
dunia. Mereka telah mewarisi ilmu-ilmu mujijat dari Tai-bong-pai dan mereka tidak ingin melihat Taibong-
pai terseret ke dalam suatu kelompok atau golongan. Karena watak mereka yang aneh dan
kadang-kadang dalam melakukan hukuman dan balas dendam mereka amatlah keras dan kejam,
maka golongan pendekar menganggap mereka sebagai kaum sesat. Sebaliknya, golongan sesatpun
tidak bersahabat dengan mereka karena Tai-bong-pai tidak pernah mau bergaul dengan mereka, Jadi
Tai-bong-pai merupakan perkum-pulan yang berdiri di tengah-tengah, tidak ber-sahabat dengan
kedua golongan, juga tidak bermu-suhan secara terbuka. Pendeknya, Tai-bong-pai ingin berdiri
sendiri dan tidak mau tunduk, tidak mau dijajah. Mereka terkenal sebagai orang-orang yang keras hati
dan bersikap dingin seperti ma-yat, tidak perdulian. Kalau mereka tidak diganggu, merekapun tidak
akan memperdulikan apapun yang terjadi asal bukan urusan mereka. Karena, itu. kini mereka
menjadi pusing sekali karena kedua orang anak mereka, yaitu Kwa Sun Tek dan Kwa Siok Eng, lebih
sering berkelana dan mencampuri urusan luar sehingga terbuka bahaya terlibatnya Tai-bong-pai. Hal
ini memusingkan mereka dan setelah gagal mengutus murid-muridnya untuk memanggil pulang
kedua orang anak itu, kini me-reka berdua berangkat sendiri untuk mencari dan memaksa kedua
orang anak mereka pulang!
A-hai lari ke dalam hutan, diikuti oleh suami isteri itu. Setelah tiba di tempat dia meninggalkan Bwee
Hong dan Siok Eng, A-hai berseru, "Nona Hong dan nona Eng, aku sudah datang! Keluar-lah dan
temuilah dua orang tamu kita ini!"
Tentu saja Siok Eng sudah tahu akan kedatang-an, ayah bundanya. Ia terkejut dan mendongkol
kepada A-hai. Mengapa si tolol itu pulang meng-ajak ayah bundanya? Ia sudah selalu berusaha
menghindarkan diri agar jangan bertemu ayah bundanya. Eh, kini tahu-tahu mereka malah dia-jak
oleh A-hai ke tempat itu. Akan tetapi, iapun maklum bahwa kalau ia tidak mau menjumpai me-reka,
tentu A-hai yang akan dipersalahkan, maka dengan cemberut iapun keluar menyambut bersa-ma
Bwee Hong.
Melihat puterinya bersama Bwee Hong, nenek itu lalu menjura ke arah Bwee Hong. "Ah, kiranya nona
penolong juga berada di sini bersama Siok Eng. Suamiku, inilah nona Bwee Hong dari kelu-arga Bu
yang telah menyelamatkan puteri kita de-ngan berkorban nyawa itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwa Eng Ki sudah banyak mendengar penu-turan isterinya tentang keluarga Bu Kek Siang yang telah
menyelamatkan puterinya dengan mengor-bankan nyawa kakek Bu dan isterinya, bahkan membuat
putera mereka yang bernama Bu Seng Kun terluka parah, maka diapun mengangguk ke arah Bwee
Hong. "Nona, aku girang sekali dapat bertemu dengan penyelamat nyawa puteri kami."
Disebut nona penolong dan penyelamat nyawa, Bwee Hong merasa kikuk sekali. Ia cepat mem-balas
dengan penghormatan kepada kakek dan ne-nek itu sambil berkata, "Harap ji-wi locianpwe tidak
bersikap sungkan. Adik Eng adalah seorang sahabat baikku, di antara kita tidak ada lagi tolongmenolong,
melainkan hanya merupakan kewajiban hidup yang lumrah saja."
Kini Kwa Eng Ki memandang kepada puteri-nya dan menghardik, "Eng-ji, kenapa engkau ti-ada
hentinya membikin pusing orang tua, selalu pergi tanpa pamit? Apakah engkau tidak betah tinggal di
rumah sendiri? Ke mana lagi engkau hendak pergi? Hayo ikut kami pulang!"
Kwa Siok Eng menggeleng kepalanya dan mu-lutnya cemberut, alisnya berkerut "Ayah, aku be-lum
ingin pulang!"
"Siok Eng, jangan kauhantah ayahmu yang su-dah pusing karena kepergianmu. Sudah lama kami
mencarimu, setelah bertemu, tak mungkin engkau menolak ajakan kami untuk pulang."
"Tidak, ibu, aku belum mau pulang. Aku harus membalas budi orang. Aku tidak mau hidup seba-gai
orang yang tidak mengenal budi. Aku sudah diselamatkan nyawaku, bahkan dengan pengorban-an
dua orang tua yang berbudi mulia seperti men-diang kakek Bu Kek Siang dan isterinya. Apakah
sekarang aku harus berdiam diri saja melihat pu-tera angkat mereka, juga cucu keponakan atau murid
mereka, terancam bahaya?"
Ayah dan ibu yang biasanya tidak mau mem-perdulikan urusan orang lain itu, saling pandang dan
kemudian menoleh lagi kepada puteri mereka. "Apa yang kaumaksudkan? Siapa yang terancam dan
hendak kautolong itu?"
"In-kong (tuan penolong) Chu Seng Kun, ka-kak kandung cnci Bwee Hong ini yang harus kuselamatkan.
Baru aku mau pulang."
Ibunya yang sudah mengenal Seng Kun dengan baik terkejut. "Apa? Tuan penolong kita terancam
bahaya? Apa yang terjadi dengan dia?"
Kini Bwee Hong yang memberi penjelasan, menceritakan bahwa kakaknya telah tertawan oleh Raja
Kelelawar dan anak buahnya dan sekarang kemungkinan besar kakaknya itu ditawan di dalam
benteng kuno yang kini menjadi semacam penjara.
Kami bertiga malam ini juga akan pergi ke benteng itu untuk berusaha menolong saudara Chu Seng
Kun keluar dari sana. Aku sudah menyeli-diki dan tahu di mana adanya tempat itu," kata A-hai yang
menceritakan kepada dua orang gadis itu bahwa dia menitipkan Cui Hiang kepada kepala kampung di
dusun. Akan tetapi dia tidak mence-ritakan tentang keadaan dirinya dan pertemuan-nya dengan kakek
Gu Tek yang membuka rahasia hubungannya dengan keluarga Souw.
"Kalau begitu, aku harus ikut dengan kalian dan membantu usaha membebaskan in-kong!" kata ibu
Siok Eng penuh semangat. Suaminya mengangguk.
"Memang dia harus diselamatkan," kata ketua Tai-bong-pai. "Akan tetapi, Eng-ji apakah eng-kau tahu
di mana adanya kakakmu.? Kami pun mencarinya sampai hampir putus asa tanpa hasil."
Tiba-tiba Siok Eng cemberut dan kelihatan tak senang. "Ayah, perlu apa mencarinya? Orang macam
dia tidak perlu dicari lagi!"
"Eh, Siok Eng, kau bicara apa itu?" Ibunya membentak marah.
"Ibu, puteramu itu telah melakukan penyele-wengan besar dan hanya membikin malu keluarga kita
saja. Dia telah menyeret nama Tai-bong-pai ke dalam lumpur!"
"Hemm, jelaskan ucapanmu itu!" Ayahnya juga membentak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah, kakak Sun Tek telah bersekongkol de-ngan pasukan asing dan membantu pemberontak. Dia
merendahkan diri menjadi kaki tangan penju-al negara!" Dara itu lalu menceritakan tentang kakaknya
seperti yang diketahuinya. Mendengar ini, ayah ibunya menjadi marah sekali.
"Hemrn, anak itu perlu dihajar! Aku akan mencarinya sendiri. Akan tetapi sekarang mari kita berangkat
untuk membebaskan dan menyelamat-kan tuan penolongmu itu."
Berangkatlah mereka berlima menuju ke ben-teng tua dengan A-hai sebagai penunjuk jalan. Dia
sudah memperoleh keterangan secara jelas se-kali dari kepala kampung, maka tanpa ragu-ragu
diapun memimpin teman-temannya memasuki hutan cemara. Setelah mereka keluar dari hutan itu,
nampaklah benteng tua itu. Malam gelap gu-lita, hanya diterangi bintang-bintang di langit. Benteng itu
memang besar dan kokoh kuat, juga dijaga dengan ketat. Tidak ada jalan lain mema-suki benteng,
kecuali dari pintu gerbang di depan yang terjaga kuat itu. Sisi benteng yang lain me-rupakan dindingdinding
karang, jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia. Dan satu-satunya jalan
menuju ke pintu gerbang me-rupakan sebuah lorong anak tangga yang kadang-kadang terputus dan
disambung jembatan-jem-batan gantung besar. Sehingga dengan adanya lo-rong ini, maka setiap
orang luar yang naik ke bukit menuju ke benteng yang berada di puncak, baru tiba di kaki bukit saja
tentu sudah diketahui oleh para penjaga.
Melihat sulitnya jalan naik dan mereka tentu akan ketahuan dan diserang sebelum sempat me-masuki
benteng sehingga usaha mereka akan sia-sia, ketua Tai-bong-pai lalu mengajak mereka berunding di
kaki bukit, duduk bersembunyi di balik semak-semak di bawah pohon-pohon cema-ra. Di sini terdapat
tanah kuburan tua dan di tem-pat inilah mereka berlima duduk untuk mengada-kan perundingan.
Anehnya, kalau Bwee Hong dan A-hai merasa seram dan ngeri berada di tanah, kuburan di waktu
malam gelap seperti ;tu, adalah ayah ibu dan anak dari Tai-bong-pai itu merasa betah dan enak!
Tidaklah mengherankan karena memang mereka berasal dari perkumpulan Makam Kuburan!
"Tempat itu sungguh terjaga ketat dan sukar dimasuki," kata Kwa Eng Ki. "Andaikata kita nekat
mendaki dinding karang yang terjal itu dan berhasil mencapai tembok, tentu setibanya di atas tembok
kita akan diketahui oleh para penjaga di sana. Ki-ta belum tahu di mana para tawanan itu berada,
maka kalau sampai kita ketahuan sebelum berha-sil membebaskan tawanan, tentu mereka akan
bersiap-siap dan penjagaan diperkuat sehingga makin sulit bagi kita untuk membebaskan tawan-an!"
Selagi lima orang itu berunding dan belum me-nemukan jalan baik, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh
suara hiruk-pikuk dan sorak-sorai di antara bunyi terompet. Jelas bahwa itu adalah suara
pertempuran! Dan suara itu makin jelas terdengar, mendekati ke arah hutan cemara itu.
Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai itu berkata, "Sebaiknya kita berlindung dan bersembunyi ke atas
pohon!" Berkata demikian, kakek ini lalu me-loncat ke atas, diikuti oleh isterinya dan puterinya.
Bagaikan burung saja mereka bertiga melayang ke atas dan hinggap di dahan pohon cemara. Bwee
Hong juga meloncat dengan ringannya, dan gerak-annya amat indah. Akan tetapi baru saja ia tiba di
atas dahan pohon dan melihat ke bawah, dara ini sudah berjungkir balik dan meloncat turun lagi. Dari
atas ia melihat A-hai berdiri bengong dan ragu-ragu, maka iapun turun lagi dan meng-hampiri pemuda
itu.
"Kau kau kenapakah?" tanyanya.
A-hai menghela napas panjang. "Ah, sungguh celaka, nona aku aku telah mulai lupa lagi, tidak ingat
lagi bagaimana harus mengerah-kan tenaga agar dapat meloncat ke atas."
Bwee Hong teringat bahwa sudah tiba waktu-nya pemuda itu harus menerima bantuan pengo-batan.
Maka iapun cepat mengeluarkan jarum-ja-rumnya dan dengan meraba-raba, ia menusukkan jarumjarum
itu pada pelipis, tengkuk dan pundak A-hai. Dan seperti biasa setelah menga-lami
pengobatan ini, A-hai tertidur pulas di ba-wah pohon! Bwee Hong duduk tersimpuh menja-ganya.
"Ssttt, enci Hong, cepat naik " terdengar
suara Siok Eng, Akan tetapi Bwee Hong tidak menjawab. Bagaimana ia dapat meninggalkan A-hai
dalam keadaan tidur seperti itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Akhirnya Siok Eng dan ayah bundanya turun kembali. "Ada apakah dia itu?" tanya ketua Tai-bong-pai
dengan terheran-heran melihat pemuda yang pernah dirasakan kehebatannya itu kini enak-enak tidur
pulas.
"Locianpwe, saudara A-hai selalu tertidur se-tiap kali habis diobati. Untuk membantu ingatan-nya yang
selalu lupa, aku dan kakakku melakukan penusukan jarum, dan baru saja aku melakukan penusukan
lagi dan akibatnya dia tertidur."
"Sampai berapa lama dia akan tidur?" tanya Kwa Eng Ki sambil mengerutkan alisnya. Suara
pertempuran itu makin mendekat, agaknya ada pi-hak yang dikejar-kejar dan lari masuk ke dalam
hutan sambil melakukan perlawanan.
"Biasanya agak lama, sedikitnya satu jam."
"Wah, kalau begitu biar kita bawa dia bersem-bunyi di atas pohon saja. Pertempuran itu sudah dekat
dan tentu akan memasuki hutan ini!" kata ketua Tai-bong-pai dan dia lalu memanggul tu-buh A-hai
lalu didudukkan di atas dahan dan cabang, bersandar batang pohon. Bwee Hong me-megang pundak
dan menjaganya.
Karena pohon cemara itu bukan pohon yang terlalu kuat untuk ditempati terlalu banyak orang, maka
ketua Tai-bong-pai, isterinya dan puteri-nya bersembunyi di pohon lain dan membiarkan Bwee Hong
berdiam di pohon itu bersama A-hai yang dijaga agar tidak sampai terguling ke bawah.
Agaknya karena posisi yang tidak menyenang-kan itulah yang membuat A-hai terbangun atau sadar
lebih cepat dari pada biasanya. Ketika per-tempuran itu mulai memasuki hutan, diapun ter-jaga. Dari
atas pohon dapat dilihat pertempuran yang tidak seimbang dari dua pasukan yang sama-sama
berpakaian seragam. Pasukan yang jumlah-nya hanya duaratus lebih itu diserbu dan didesak oleh
pasukan lain yang juga berpakaian seragam perajurit pemerintah daerah yang jumlahnya seribu orang
lebih! Dan kini jumlah pasukan yang dike-jar-kejar itu sudah banyak berkurang, agaknya sudah
banyak yang roboh dan tewas sejak mereka diserbu kemudian dikejar sampai ke hutan itu. Pa-sukan
kecil ini mati-matian mempertahankan diri, akan tetapi karena mereka itu sudah nampak kele-lahan
sekali dan satu orang dikeroyok oleh lebih dari lima orang, maka apa yang terjadi di hutan itu bukan
lagi pertempuran, melainkan pemban-taian.
Lima Orang yang berada di atas pohon, terma-suk A-hai yang kini sudah sadar kembali, menon-ton
pertempuran itu dengan penuh keheranan. Mengapa dua pasukan yang sama-sama pasukan
pemerintah itu saling gempur sendiri?
"Ah, pasukan kecil itu adalah pasukan yang berada di dusun itu!" A-hai berbisik kepada Bwee Hong.
"Dan lihat, komandan pasukan itu .... ah, bukankah dia itu kakak nona Eng? Dan di sana itu, mereka
adalah pasukan asing yang pernah kita jumpai "
Bwee Hong mengangguk. Iapun mengenal Kwa Sun Tek yang berpakaian perwira, dan melihat pula
adanya pasukan orang-orang asing bukan Bangsa Han yang berada di antara pasukan yang sedang
melakukan pembantaian. Tahulah mereka bahwa yang dibantai itu adalah pasukan kecil anak buah
pasukan induk dari Jenderal Beng Tian, yaitu pasukan yang setia kepada kerajaan, sedangkan
pasukan besar itu adalah pasukan dae-rah yang bersekongkol dengan pasukan asing.
Akhirnya, pasukan kecil yang bertahan itu ha-bis dibasmi dan mungkin hanya beberapa orang saja di
antara mereka yang berhasil meloloskan diri di dalam kegelapan hutan. Setelah musuh-tidak ada
yang bergerak melawan lagi, pasukan asing itupun berhenti dan melepaskan lelah di hutan. Kebetulan
sekali para pimpinan pasukan yang me-nang itu, terdiri dari beberapa orang pembesar kepala daerah
dan beberapa perwira, beristirahat dan berkumpul di bawah pohon di mana lima orang itu
bersembunyi. Mereka membuat api unggun dan kini lima orang yang bersembunyi di atas po-hon itu
dapat melihat wajah mereka. Terheran-heranlah lima orang itu. Jelas bahwa pasukan ini menang
perang, akan tetapi kenapa wajah para pemimpinnya nampak tidak bergembira, seperti orang
berduka dan gelisah, bahkan dua orang dj antara para pembesar sipil itu nampak mengha-pus air
matanya?
A-hai membuat gerakan, mendekatkan mulut-nya ke arah telinga Bwee Hong. Dia ingin menga-takan
atau membisikkan sesuatu, akan tetapi begi-tu dia mendekatkan mulutnya dengan kepala dara itu,
dunia-kangouw.blogspot.com
hidungnya mencium bau sedap khas wanita yang membuat dia merasa jantungnya berdebar keras
dan diapun tidak mampu mengeluarkan kata-kata, dan mukanya menjadi merah sekali.
Melihat betapa A-hai mendekatkan mulutnya dekat telinga akan tetapi tidak jadi mengeluarkan katakata
itu, Bwee Hong terheran-heran dan berbisik," Engkau kenapakah? Apa yang akan kaukatakan?"
A-hai tergagap "Anu ..eh, aku heran sekali kalau tidak salah ingat, pasukan asing dan komplotannya
itu tadinya berjumlah banyak sekali. Kenapa kini tinggal sekian?"
Bwee Hong mengangguk-angguk dan memandang penuh perhatian. Tiba-tiba seorang di antara dua
kepala daerah yang nampak menghapus air mata itu bangkit berdiri dan wajahnya merah padam,
tangan kanannya dikepal dan dipukulkan ke telapak tangan kirinya sendiri penuh geram dan
penyesalan. "Sungguh kurang ajar! Tak kusangka Liu Pang dan pasukannya itu sedemikian cerdik
dan kuatnya. Sebenarnya, pasukan gabungan kita itu lebih kuat dari pada mereka. Akan tetapi karena
kelalaian kita, kita menjadi buruan seperti ini! Untung yang kita temui tadi hanya sebagian kecil saja
pasukan pemerintah. Andaikata kita bertemu dengan pasukan besar Jenderal Beng Tian, kita akan
hancur lebur. Aihhh kita telah gagal, hancurlah semua rencana dan cita – cita kita "
Seorang perwira menarik napas panjang. "Kita memang bernasib malang. Bukan hanya kehilangan
pasukan, bahkan semua anak isteri dan keluarga dan harta benda kitapun musnah "
Apakah yang telah terjadi dengan pasukan ga-bungan yang tadinya amat kuat itu? Seperti telah kita
ketahui, Liu-bengcu atau Liu Pang, berdua dengan muridnya, Ho Pek Lian, melakukan penye-lidikan
terhadap pasukan gabungan antara pasu-kan pemerintah daerah dan pasukan asing yang menjadi
sekutunya. Pasukan itu amat kuat, bukan hanya terdiri dari pasukan para kepala daerah dan pasukan
asing, akan tetapi mereka dibantu dan di-perkuat pula oleh para iblis Ban-kwi-to dan anak buah
mereka. Akan tetapi, setelah Liu-bengcu mengetahui tempat mereka berkumpul, tempat itu dikepung
dan dengan cara perang gerilya, sergap dan lari, kekuatan mereka itu dapat diceraibe-raikan dan
akhirnya mereka mengalami kekalahan besar terhadap penyerbuan pasukan pendekar. Me-reka
dapat dibuat cerai-berai dan akhirnya mere-ka dikejar-kejar sampai ke tempat itu.
Selagi para pimpinan pejabat daerah yang ber-khianat itu bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar derap
kaki kuda dan muncullah seorang perajurit yang segera memberi laporan dengan napas tere-ngahengah,
"Pasukan Liu Pang makin dekat, tinggal dua dusun lagi dari sini. Mereka beristira-hat di sana
dan menjelang fajar nanti akan berang-kat melanjutkan pengejaran mereka."
"Keparat! Tiba-tiba Kwa Sun Tek bangkit berdiri dan mengepal tinju. "Biarkan mereka da-tang, kita
akan hadapi mereka di sini!"
Seorang perwira yang berada di antara para pimpinan itu melangkah maju dan suaranya lan-tang
terdengar oleh semua rekannya, "Cu-wi (tuan sekalian), bagaimanapun juga, agaknya kita tidak
mempunyai jalan keluar, dan terpaksa kita harus menghadapi mereka. Kekuatan mereka jauh lebih
besar dan melakukan pertempuran secara terbuka berarti menghancurkan diri sendiri bagi kita. Di
depan terdapat sebuah benteng tua, di puncak bukit itu. Tempat itu sekarang dijadikan tempat
tahanan dan tempat itu amatlah baik untuk dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Mari kita
kuasai tempat itu dan kita jadikan sebagai tem-pat pertahanan menghadapi pasukan-pasukan Liu
Pang. Mereka tidak akan mampu mengalahkan kita dengan mudah kalau kita bertahan di sana."
"Akan tetapi kalau tempat itu sukar diserbu, bagaimana mungkin kita dapat merampasnya?" kata Kwa
Sun Tek.
"Aku mengenal baik para komandan di sana karena aku pernah bertugas di sana selama bebe-rapa
tahun. Biarlah aku membawa pasukan dan mengatakan bahwa kita adalah pasukan pembantu dari
ibu kota untuk memperkuat penjagaan di tem-pat tawanan ini. Mereka tentu akan percaya dan setelah
berada di sana, kita kuasai benteng itu," kata si perwira. Semua orang menyetujui.
"Mari kita laksanakan rencana itu sebelum ba-risan Liu Pang tiba di sini," kata seorang pembesar sipil
yang sudah merasa ketakutan.
Sementara itu, tiba-tiba A-hai dan Bwee Hong mendengar bisikan suara ketua Tai-bong-pai yang
agaknya dikirim dengan kekuatan khikang sehingga biarpun kakek itu berada di pohon lain, suaranya
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat terdengar oleh mereka dengan je-las tanpa terdengar oleh mereka yang berada di bawah
pohon.
"Kebetulan sekali bagi kita rencana mereka itu. Mari kita mencari pakaian perajurit dan menya-mar
sebagai anggauta pasukan mereka. Kita me-nyusup di bagian pedati-pedati perbekalan agar tidak
mudah mereka ketahui. Jangan bertindak apa-apa, dan kita ikut menyelundup ke dalam benteng itu."
Bwee Hong lalu memberi isyarat kepada A-hai dan keduanya lalu meloncat ke pohon lain. Mempergunakan
kegelapan malam, mereka berloncatan dan setelah berada di tempat sepi, mereka dapat
mencari pakaian dari perajurit-perajurit yang te-was dalam pertempuran tadi. Mereka melucuti pakaian
mayat perajurit yang cocok besarnya untuk mereka, lalu menyamar sebagai perajurit. Karena malam
itu gelap dan semua perajurit sedang sibuk dan tegang mendengar betapa para penyerbu su-dah
semakin dekat, dengan mudah Bwee Hong dan A-hai menyusup di antara kereta-kereta perbe-kalan
dan bersikap sebagai pengawal-pengawal. Mereka juga dapat melihat kakek dan nenek Tai-bong-pai
bersama puteri mereka. Bahkan kakek itu kini memegang kendali kuda yang menarik ke-reta
perbekalan. Entah apa yang telah mereka la-kukan dengan kusirnya.
Berkat akal si perwira, dengan mudah pasukan yang berjumlah seribu orang lebih itu dapat memasuki
pintu gerbang benteng dan begitu mereka berada di dalam, segera mereka menyergap dan
melucuti para penjaga. Tentu saja para penjaga yang jumlahnya hanya seratus orang dan yang
mengandalkan kekuatan benteng itu, tak berani melawan dan akhirnya menyerahkan benteng untuk
dikuasai para pendatang baru ini. Segera pasukan itu diatur untuk melakukan penjagaan sekuatnya di
benteng yang amat kokoh itu. Hati mereka agak lega karena kini mereka memperoleh tempat perlindungan
yang boleh diandalkan.
Sementara itu, lima orang perajurit palsu yang ikut menyelundup masuk, kini berpencar untuk
menyelidiki keadaan benteng penjara itu. Bwee Hong pergi bersama A-hai, Siok Eng bersama
ibunyanya sedangkan ketua Tai-bong-pai yang lihai itu pergi menyendiri. Mereka tentukan tem-pat
untuk pertemuan mereka setelah penyelidikan masing-masing, yaitu di bagian belakang benteng, tak
jauh dari sumber air yang berada di sebelah belakang di balik tembok belakang.
Bwee Hong dan A-hai menuju ke belakang bangunan benteng, ke bagian dapur. Karena yang
bertugas di dapur adalah perajurit-perajurit lama dan mereka tidak dapat membedakan mana kawan
dan lawan, apa lagi melihat betapa di antara pasu-kan baru yang mengambil alih benteng itu terda-pat
banyak pula orang-orang liar atau orang asing, maka kemunculan Bwee Hong dan A-hai yang
menyamar sebagai perajurit-perajurit itu tidak menimbulkan kecurigaan.
"Sobat baik, tolonglah beri makanan kepada kami yang kelaparan ini," kata A-hai dan diam-diam
Bwee Hong melihat betapa kawannya itu telah mendapatkan kembali kecerdikannya, bukan seperti Ahai
yang biasanya ketololan itu.
Dua orang petugas dapur itu memandang ke-pada A-hai dan agak lama memandang wajah "perajurit"
yang bertubuh kecil ramping itu. Seo-rang di antara mereka tersenyum dan tangannya diulur untuk
menyentuh lengan Bwee Hong sam-bil berkata, "Anak masih begini kecil dan tampan sudah menjadi
perajurit."
A-hai memegang tangan orang itu dan pura-pura marah. "Jangan goda adikku! Dia tidak bisa pisah
dariku, maka terpaksa ikut menjadi perajurit. Dan jangan tertawakan dia, karena dia dia gagu."
Gagu? Wah, sayang begini tampan gagu"
"Sudahlah, kami lapar, tolong beri makanan."
"Sebentar lagi, belum matang roti yang kami masak," kata seorang di antara mereka. "Duduk-lah dulu
dan ceritakan jalannya pertempuran me-lawan pemberontak."
A-hai lalu bercerita bahwa dia ikut pula ber-tempur melawan para pemberontak di daerah se-latan.
Akan tetapi karena selalu kalah, pasukannya ditarik kembali ke kota raja dan pagi tadi menda-dak
pasukannya menerima perintah untuk menduduki benteng itu dan mempertahankannya dari
pemberontak Liu Pang yang menuju ke situ.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki dan Bwee Hong bersama A-hai sudah siap-siap menghadapi
segala kemungkinan. Yang muncul adalah dua orang perajurit lagi yang berjalan sempoyongan, tanda
bahwa mereka sedang mabok.
"Ha-ha-ha kepala jaga penjara itu selalu mempunyai arak dan kami diberi seguci arak yang
amat baik. Tapi eh, mereka minta tukar dengan roti. A-khun, tolonglah beri roti kepada-ku untuk
kepala jaga."
"Tunggu sebentar, rotinya sedang dipanaskan," kata si tukang masak. Dua orang perajurit itu du-duk
dan menghabiskan arak mereka. Ketika roti yang diminta akhirnya sudah siap, seorang di an-tara
mereka sudah rebah tidur mengorok, yang se-orang mencoba untuk membangunkannya namun siasia
karena orang itu sudah tidur seperti bang-kai. Melihat ini, A-hai menghampiri. "Sobat, te-manmu itu
sudah tidur pulas, mana mungkin bisa disuruh bangun? Kalau ada tugas, biarlah aku dan adikku ini
membantumu, menggantikan temanmu yang tidur." Melihat wajah yang mabok itu me-mandang ragu,
A-hai cepat menyambung, "Dan engkau sendiripun perlu mengaso, kalau kami ber-dua dapat
menggantikan, engkau kan dapat tidur pula di sana."
Mendengar bahwa ada orang mau mengganti-kannya berjaga sehingga dia dapat mengaso dan tidur,
perajurit itu nampak girang. Dia mengang-guk-angguk. "Baik, sungguh membosankan me-mang
berjaga di penjara itu. Apanya sih yang di-jaga?"
A-hai dan Bwee Hong lalu mengikuti penjaga itu sambil membawakan roti. Mereka berdua me-rasa
betapa jantung mereka berdebar tegang keti-ka perajurit yang jalannya sempoyongan itu mem-bawa
mereka memasuki sebuah bangunan besar yang terjaga oleh pasukan yang nampak tak acuh.
Mereka bertiga terus masuk ke lorong dalam pen-jara itu, melewati kamar-kamar tahanan. Di da-lam
sebuah ruangan tahanan yang besar dan agak gelap nampak tiga orang tahanan yang diborgol kaki
tangannya. Tiba-tiba Bwee Hong mencubit lengan A-hai. Pemuda ini memandang dan diapun
mengenal Seng Kun bersama seorang kakek dan seorang pemuda lain. Melihat betapa keadaan tiga
orang tawanan itu diborgol dengan ketat dan pen-jagaan di situ amat kuat, A-hai memberi isyarat
kepada Bwee Hong agar tidak melakukan tindakan sesuatu.
Yang berada di dalam ruangan itu memang Seng Kun dan dua orang penolongnya, yaitu kakek Kam
Song Ki dan muridnya, yaitu Kwee Tiong Li bekas pemberontak yang kini telah meninggalkan
pasukannya dan menjadi murid kakek sakti itu.
Mereka bertiga melihat adanya dua orang peraju-rit penjaga yang datang bersama perajurit mabok,
akan tetapi karena penyamaran kedua orang itu amat baik dan mereka hanya melihat dari jauh,
mereka tidak mengenal dua orang itu. Apa lagi karena memang mereka bertiga tidak menaruh
perhatian terhadap para perajurit penjaga.
Bwee Hong juga cerdik dan ia tidak memperli-hatkan sikap yang mencurigakan, pura-pura tidak
perduli dan tidak mengenal tiga orang tawanan itu walaupun ingin ia cepat turun tangan menolong
kakaknya. Ia harus menahan kesabarannya. Biar-pun saat itu amat berbahaya kalau ia dan A-hai
mencoba untuk menolong tawanan, melihat pen-jagaan yang cukup kuat. namun setidaknya ia su-dah
tahu benar di mana tempat kakaknya ditahan.
Setelah perajurit mabok itu menyerahkan roti yang dimintanya dari dapur kepada kepala jaga dan dia
sendiri lalu tertidur di tempat penjagaan dengan membiarkan A-hai dan Bwee Hong menggantikannya,
A-hai lalu mengajak Bwee Hong diam-diam meninggalkan tempat itu dan menye-linap
pergi untuk menemui teman-temannya. Di tempat yang sudah ditentukan, tak lama kemudian
merekapun sudah berkumpul kembali dengan Kwa Eng Ki ketua Tai-bong-pai, Siok Eng dan ibu-nya.
Mereka bertiga tidak berhasil mencari di mana adanya tiga orang yang ditahan itu dan tentu saja
mereka girang mendengar akan hasil pe-nyelidikan A-hai.
"Mereka ditahan di dalam ruangan tahanan yang menembus ke dapur," kata A-hai. "Kami sudah tahu
tempatnya dan kami sudah melihat me-reka di ruangan itu, diborgol kaki tangan mereka."
"Akan tetapi penjagaan di situ amat kuat, agak-nya amat sukar kalau kita menyerbu dengan kekerasan.
Sebelum kita berhasil melepaskan mereka, terdapat bahaya kalau-kalau para perajurit penjaga
menyerang mereka yang diborgol," sambung Bwee Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tadipun kita beruntung karena dapat pergi bersama seorang perajurit penjaga mabok. Kalau bukan
perajurit penjaga penjara itu, agaknya sukar untuk dapat masuk, dan kita tidak tahu pula siapa
pemegang kunci-kunci pintu besi dan kunci-kunci borgol besi itu. Padahal, memasuki ruangan itu saja
harus melalui lima pintu besi yang hanya dapat dibuka dengan kunci," A-hai menerangkan lebih
lanjut.
Ketua Tai-bong-pai mengangguk-angguk. "Kita harus pergi ke sana dan membebaskan mere-ka
sekarang juga."
'Tapi tapi itu membahayakan kakakku " Bwee Hong membantah.
"Nona, harap jangan khawatir. Percayalah ke pada suamiku. Dia tidak akan bertindak sembrono dan
dia pasti akan berusaha sampai berhasil." Is-teri ketua Tai-bong-pai menghibur Bwee Hong ketika
melihat suaminya mengerutkan alisnya, tan-da tidak senang hatinya karena dibantah. Memang sudah
menjadi watak ketua Tai-bong-pai ini yang akan merasa terhina kalau sampai tidak di percaya orang,
apa lagi kalau sampai dibantah ke-hendaknya dia akan marah sekali. Andaikata bu-kan Bwee Hong
yang membantahnya, yaitu nona keluarga penolong puterinya, tentu dia akan mem-beri hajaran!
Mendengar kata-kata nyonya itu, hati Bwee Hong menjadi lega. Bagaimanapun juga, ia sudah
mengenal Siok Eng dan tahu betapa lihainya te-mannya itu, dan kini, ayah temannya itu yang akan
turun tangan membantunya membebaskan kakak-nya, tentu saja ia percaya akan kesaktian kakek
ketua Tai-bong-pai itu.
Dipimpin oleh kakek Kwa Eng Ki, mereka de-ngan hati-hati lalu bergerak menuju ke bangunan depan,
bersikap sebagai serombongan perajurit yang sedang meronda. Tiba-tiba mereka melihat adanya
kesibukan. Beberapa orang perwira nam-pak bergegas memasaki sebuah ruangan. Kwa Eng Ki
memberi isyarat dan mereka cepat menyelinap dan melakukan pengintaian ke dalam ruangan itu
karena mereka dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang penting. Dan ternyata di dalam
mangan itu berkumpul para pimpinan pasukan yang menguasai benteng itu. Para gubernur
pelarian beserta para perwiranya sudah berkum-pul. Mereka mendengarkan pelaporan seorang
perwira yang bertugas menyelidiki keadaan di luar dan wajah mereka berobah tegang ketika mendengar
bahwa barisan pemberontak yang dipimpin oleh Liu Pang telah menuju ke benteng itu.
"Ah, barisan orang she Liu itu benar-benar datang!" kata seorang gubernur. "Mereka agaknya tidak
berhenti malam ini dan terus melakukan pe-ngejaran, langsung menuju ke sini. Kalau begitu, malam
ini juga tentu mereka akan sampai di sini. Kita harus cepat mengatur penjagaan yang kuat. Untung
bahwa benteng ini merupakan tempat ber-tahan yang amat baik."
Kwa Eng Ki memberi isyarat kepada teman-temannya dan mereka menyelinap pergi menjauhi
ruangan itu. Di tempat sunyi mereka berkumpul dan membuat rencana.
"Wah, kita akan terlibat dalam pertempuran lagi malam ini. Dan mereka ini pasti akan mempertahankan
diri mati-matian di benteng ini se-dangkan pasukan-pasukan Liu-bengcu juga tentu akan
mengerahkan kekuatan untuk menghancurkan musuh."
"Locianpwe, apa yang akan kita lakukan seka-rang?" tanya Bwee Hong, hatinya tidak sabar dan
penuh ketegangan. Ia mengkhawatirkan terjadinya perobahan kalau sampai pasukan Liu-bengcu
menyerbu. Kalau terjadi pertempuran yang kacau-balau, tentu keselamatan kakaknya terancam. Kakaknya
harus dapat dibebaskannya sebelum terjadi pertempuran, pikirnya.
"Kalian berempat tetaplah menanti di sini. Aku akan menyiapkan rencanaku. Nanti tepat tengah
malam kalian harus menyerbu dan membersihkan sudut pojok tembok belakang bagian barat itu dari
para penjaga. Aku telah menyelidiki bagian itu. Hanya ada belasan orang penjaga saja, tempatnya
sunyi dan di belakang tembok itu tebingnya biar-pun curam akan tetapi terdapat banyak tonjolan-nya
sehingga kita akan dapat menuruninya. Di bawah tebing terdapat sebuah sungai yang dang-kal
sehingga mudah bagi kita untuk menyeberang-inya dan menghilangkan jejak."
"Akan tetapi apa yang akan locianpwe lakukan? Agar kami dapat mengetahuinya sehing-ga hati
kami menjadi tenang," kata A-hai.
Ketua Tai-bong-pai itu tersenyum dan wajah-nya yang pucat seperti mayat itu nampak semakin
menyeramkan. "Tentang cara-caraku untuk me-nyelamatkan kawan-kawan kita, kalian tidak perlu
dunia-kangouw.blogspot.com
turut campur. Aku yakin pasti usahaku akan ber-hasil. Mungkin bagi orang-orang golongan bersih
seperti kalian, cara-caraku itu akan kelihatan agak mengerikan. Bagaimanapun juga, aku merasa
yakin akan dapat membebaskan tiga orang tawanan itu."
Beberapa orang perajurit muncul di tempat itu dan mereka berlima menghentikan percakapan
mereka. Seorang di antara perajurit-perajurit itu, yang agaknya memiliki pangkat, melihat lima orang
"perajurit" bergerombol itu, menegur, "Hei, apa yang kalian lakukan di sini? Kita semua sedang sibuk
melakukan persiapan untuk menghadapi pe-nyerbuan musuh, kalian malah enak-enakan di sini.
Hayo, kembali ke induk pasukan kalian dan mem-persiapkan diri!"
A-hai mendahului kawan-kawannya, meng-ambil sikap tegak dan menjawab, "Siapp!!" Lalu mereka
berlima pergi meninggalkan tempat itu. Setelah memberi isyarat dengan tangannya, ketua Tai-bongpai
lalu menggerakkan tubuhnya dan lenyap di tempat gelap.
"Di mana kita harus menanti ayah? Kalau kita ikut berkumpul dan berbaris, ada bahayanya penyamaran
kita akan ketahuan," kata Siok Eng.
"Kita ke dapur saja! Aku telah mereka kenal dan kita dapat membohong, mengatakan bahwa kita
diberi tugas memperkuat penjagaan di dapur," kata A-hai dan mereka semua tidak mempunyai pilihan
lain yang lebih baik, maka pergilah mereka ke dapur.
Menjelang tengah malam yang menyeramkan dan menegangkan. Para perajurit yang berjaga di
benteng itu merasa betapa waktu merayap amat lambatnya, semakin lama semakin menegangkan
hati. Sedikit suara saja sudah membuat mereka terperanjat dan jantung mereka berdebar-debar
penuh rasa gelisah. Mereka secara bergilir mela-kukan penjagaan di atas tembok benteng, di seki-tar
pintu gerbang dan bagian-bagian yang seki-ranya akan menjadi sasaran penyerbuan musuh.
Tiba-tiba, seorang perajurit yang berjaga di menara membunyikan terompet. Itulah tanda ba-haya,
tanda bahwa pihak musuh sudah nampak! Seperti berebutan, para komandan pasukan berla-ri-larian
ke atas tembok benteng untuk menyak-sikan sendiri dan mereka semua menahan napas ketika
melihat cahaya terang dari kejauhan yang semakin lama semakin terang, seolah-olah mata-hari terbit
di fajar menyingsing. Padahal, saat itu masih menjelang tengah malam! Dan tak lama ke-mudian,
terdengarlah derap kaki yang membuat benteng itu seperti tergetar dan nampaklah barisan obor yang
memenuhi lembah dan kaki bukit yang luas itu. Tentu saja semua perajurit yang berjaga di benteng
merasa ngeri. Kekuatan pihak musuh itu tentu puluhan kali lebih besar dari pada keku-atan mereka
sendiri.
Kini ribuan obor yang berada di lereng itu per-lahan-lahan terpencar dan tersebar mengepung
benteng Itu. Bukan main banyaknya, kemudian terdengar bunyi terompet yang memecah kehe-ningan
angkasa malam. Begitu terompet terdengar, semua obor yang bergerak naik ke atas bukit itu padam!
Keadaan menjadi gelap pekat dan tidak terdengar suara sedikitpun. Derap kaki musuhpun lenyap
seolah-olah mereka itu barisan setan yang pandai menghilang.
Tentu saja keadaan ini membuat semua peraju-rit yang berjaga di atas tembok benteng menjadi
tegang hatinya dan ketakutan. Mereka menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan
karena pimpinan merekapun tidak memberi isya-rat apa-apa, agaknya sama bingungnya dengan
mereka menghadapi siasat musuh yang luar biasa ini. Bagaimana kalau musuh itu tahu-tahu mun-cul
di depan hidung mereka? Malam demikian gelapnya! Untuk memasang penerangan di atas tembok
benteng, sama saja dengan membuat mere-ka menjadi sasaran anak panah pihak musuh. Sung-guh
celaka, belum apa-apa, sebelum bertempur, nyali para perajurit di benteng itu sudah hilang se-paruh.
Segerombolan perajurit yang berjaga di be-lakang pintu gerbang, berkelompok dan biarpun hawa
malam itu tidak begitu dingin, mereka itu sering kali menggigil seperti orang kedinginan.
"Kawan-kawan," kata seorang di antara mereka setelah mereka turun lagi dari atas benteng untuk
melihat keadaan di luar tembok benteng, mereka itu seperti setan saja! Mereka menggunakan akal
busuk, membikin kita tegang dan ketakutan terlebih dahulu dengan cara memadamkan obor – obor
itu. Kita menjadi seperti menanti musuh yang seperti iblis bangkit dari kuburan, menanti munculnya
mereka yang siap untuk mencekik leher kita, entah dari arah mana , huh, sungguh gila....!"
"Ahhh jangan bicara tentang iblis dan setan , aku juga takut. Siapa tahu tiba-tiba mereka muncul
di sini dan hiiiihhh...... sssettt ...... sseeetann !" Dan orang itupun jatuh terduduk dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
celana basah, mukanya pu-cat dan matanya terbelalak, telunjuknya menuding ke arah depan, yaitu di
arah belakang teman-te-mannya. Semua orang membalikkan tubuh dan merekapun terbelalak, ada
yang menahan jerit, bahkan ada yang langsung roboh pingsan.
Apakah yang mereka lihat? Sungguh pengli-hatan yang mendirikan bulu roma dan amat menakutkan,
apa lagi terjadi di malam sunyi yang menegangkan itu, di mana mereka semua berada
dalam keadaan dicekam ketakutan. Siapa yang ti-dak akan merasa takut kalau di malam gelap itu
mereka melihat seorang perajurit berdiri, hanya tiga meter jauhnya, dengan dadanya masih ditem-busi
tombak? Jelaslah bahwa orang itu tidak mungkin dapat berdiri, bahkan bergerakpun tak mungkin,
karena orang yang dadanya tertembus tombak seperti itu tentu sudah mati. Pakaiannya berlepotan
darah kering, dan mukanya putih pucat, mulutnya ternganga dan matanya mendelik, juga bau bangkai
busuk menyerang hidung mereka. Yang membuat mereka semua amat ketakutan adalah ketika
mereka mengenal perajurit ini seba-gai seorang teman mereka yang tewas dalam per-tempuran di
lereng bukit melawan sisa pasukan Jenderal Lai itu. Dan kini mayat hidup itu melang-kahkan kaki,
menghampiri mereka dengan gerak-an meloncat-loncat kaku!
Ternyata bukan di tempat itu saja muncul ma-yat hidup. Juga di atas tembok benteng, bermun-culan
mayat-mayat hidup, mayat para perajurit yang tewas di dalam pertempuran, baik perajurit dari
pasukan Jenderal Lai maupun perajurit te-man-teman mereka yang berjaga di benteng itu. Mayatmayat
hidup berkeliaran, gentayangan de-ngan bau busuk dan tubuh masih berlepotan da-rah kering,
Gegerlah tempat penjagaan. Siapa ti-dak akan merasa ngeri melihat mayat-mayat itu berjalan, ada
yang lengannya buntung, bahkan ada yang tanpa kepala.
Para perajurit penjaga yang panik ketakutan itu ada yang berlaku nekat, menyerang mayat-ma-yat
hidup itu dengan golok dan pedang, juga me-nusuk dengan tombak. Akan tetapi, mayat-mayat itu
tidak mengenal sakit. Biarpun tubuh mereka ditembusi senjata tajam dan leher mereka putus ditebas
golok, tetap saja mereka itu tertatih-tatih berjalan, ada yang meloncat-loncat dan bau busuk amat
memuakkan perut.
Banyak sekali mayat-mayat itu, seperti tiada habisnya bermunculan dari luar tembok benteng.
Tadinya para komandan jaga mengira bahwa ini tentu siasat musuh yang melakukan penyamaran,
akan tetapi betapa ngeri rasa hati mereka ketika mereka merobohkan dan menangkap sebuah mayat
hidup dan memeriksa, ternyata yang diperiksanya itu benar-benar mayat yang sudah hampir busuk!
Benar-benar mayat hidup yang gentayangan dan berkeliaran menyerbu benteng itu! Bukan hanya
puluhan, bahkan ratusan banyaknya. Mayat-mayat itu terus bergerak dengan kaku menuju ke penjara!
Dapat dibayangkan betapa panik dan takutnya para perajurit yang berjaga di penjara. Keadaan
menjadi kacau-balau. Memang sebelumnya me-reka sudah ketakutan mendengar bahwa benteng
diserbu oleh ratusan mayat hidup dan kini tahu-tahu mayat-mayat itu bermunculan di tempat ja-ga
mereka. Tanpa banyak cakap lagi merekapun melarikan diri ketakutan, ada yang terkencing-ken-cing.
Sebentar saja, penjara itupun kosong diting-galkan para penjaga. Betapapun gagahnya, para penjaga
yang hanya manusia-manusia biasa itu tentu saja tidak mempunyai nyali yang cukup be-sar untuk
melawan pasukan mayat hidup!
Mayat-mayat itu menyusup ke mana-mana. Bahkan dapurpun mereka masuki A-hai, Bwee Hong,
Siok Eng dan ibunya yang ikut berjaga di dapur, melihat kawan-kawan mereka lari ketakut-an dan
merekapun bangkit dan keluar dari dalam dapur untuk menyaksikan apakah benar ada ma-yat-mayat
mengamuk seperti yang diteriakkan orang-orang itu. Dan baru saja mereka keluat pintu dapur,
mereka berhadapan dengan beberapa sosok mayat hidup yang berjalan dengan gerakan kaku dan
ada yang berloncatan.
"Heiii itu be..benar mayat-mayat hidup ......!" A-hai berseru, matanya terbelalak karena selama
hidupnya belum pernah dia me-nyaksikan keanehan seperti itu.
"Hiiihhhh , mengerikan !" Bwee Hong memandang pucat dan ketakutan.
Akan tetapi, Sok Eng dan ibunya nampak tenang-tenang saja, bahkan mereka berdua lalu meloncat
ke depan menghadapi lima sosok mayat hidup itu dan mereka lalu merangkapkan kedua tangan di
depan dada seperti orang-orang mem-beri hormat, mulut mereka berkemak-kemik dan mayatmayat
itupun lalu membalikkan tubuh dengan kaku, kemudian melangkah pergi mening-galkan tempat
itu! Tentu saja A-hai dan Bwee Hong memandang dengan mata terbelalak heran.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jangan takut," kata isteri ketua Tai-bong-pai. "Semua itu adalah perbuatan suamiku. Dia
menggunakan ilmunya untuk membangkitkan mayat-mayat perajurit yang tewas dalam pertempuran,
mengerahkan mayat-mayat itu untuk mengacau musuh dan kesempatan ini harus kita pergunakan
untuk membebaskan tawanan, sebelum pengaruh Ilmu 'Memanggil Roh' itu habis."
Mendengar ini, Bwee Hong dan A-hai merasa girang sekali dan mereka berempat lalu cepat-ce-pat
memasuki penjara. Akan tetapi, baru saia me-reka tiba di pintu penjara, mereka bertemu dengan
Seng Kun, kakek Kam Song Ki dan Kwee Tiong Li. Belenggu mereka telah lepas dan di kanan kiri
mereka berjalan belasan sosok mayat hidup yang membebaskan mereka. Tiga orang itu adalah
orang-orang yang berilmu tinggi, akan tetapi me-rekapun kagum dan juga merasa ngeri menyaksikan
sepak terjang para mayat hidup itu. Akan tetapi, melihat munculnya Bwee Hong, Seng Kun terbe-lalak
dan wajahnya memperlihatkan rasa girang dan haru, hampir tidak peroaya dia bahwa dia akan dapat
bertemu dengan adiknya di tempat berbahaya dan mengerikan itu.
"Hong-moi !"
"Koko !"
Keduanya berangkulan dan Bwee Hong yang masih memakai pakaian perajurit kedodoran itu
menangis di dada kakaknya. A-hai memandang dengan hati terharu. Sementara itu, kakek Kam
Song Ki yang sakti itu bengong memandang ke arah mayat-mayat yang berkeliaran di situ.
"Ya Tuhan! Hanya orang-orang dari Tai-bong-pai sajalah yang akan mampu bermain-ma-in dengan
mayat-mayat seperti ini! Demikian banyaknya mayat yang berkeliaran. Aku berani bertaruh bahwa
yang bermain-main ini tentulah tokoh Tai-bong-pai yang berkedudukan tinggi!"
Mendengar ucapan itu, ibu Siok Eng menjura kepada kakek itu dan berkata, "Maafkan, locian-pwe.
Suamikulah yang membuat onar di sini ka-rena kami ingin membebaskan locianpwe bertiga dari
penjara ini."
Kam Song Ki cepat membalas penghormatan nyonya itu dan hidungnya kembang kempis. Dia dapat
mencium bau harum dupa dari tubuh nyo-nya yang berwajah pucat ini, maka diapun terta-wa gembira.
"Ha-ha-ha, di tempat seperti ini dapat bertemu dengan isteri ketua Tai-bong-pai, sungguh
menggembirakan sekali! Bukankah toa-nio ini nyonya Kwa Eng Ki ketua Tai-bong-pai dan dia yang
mempunyai ulah begini?"
"Benar, locianpwe," jawab nenek itu. "Dan menurut penuturan puteri kami, locianpwe adalah Kam
Song Ki, murid bungsu dari mendiang locianpwe Bu-eng Sin-yok-ong."
Kembali kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, hanya nama kosong belaka, mana mampu menandingi ilmu
mujijat dari perguruanmu ini?"
"Sementara itu Siok Eng berkata, "Sebaiknya kita menyelamatkan diri dulu melalui tebing sebelah
barat seperti telah dipesan oleh ayah."
Semua orang lalu berangkat menuju ke tembok benteng sebelah barat dan dengan kepandaian tinggi
yang mereka miliki, tidak sukar bagi mereka untuk menuruni tebing curam itu hanya dengan bantuan
obor yang mereka pegang. Akhirnya de-ngan selamat mereka tiba di dasar tebing di mana terdapat
sebuah sungai dangkal dan merekapun menyeberangi sungai dan tiba di tepi sebelah se-berang
dengan selamat.
"Mari kita mencari suamiku. Dia tentu berada di bekas pertempuran itu, di mana dia mengerah-kan
mayat-mayat untuik menyerbu benteng," ka-ta nyonya Kwa dan dengan petunjuknya, mereka semua
lalu menuju ke tempat dari mana mayat-mayat hidup itu berasal. Dan benar saja, di tem-pat itu, di
sebuah lereng yang amat sunyi, seorang kakek sedang duduk bersila menghadapi sebong-kok besar
dupa wangi yang mengepulkan asap te-bal ke udara. Kakek ini agaknya sedang menge-rahkan
tenaga batinnya, duduk bersila dalam sa-madhi. Seorang pria tinggi tegap nampak berdiri di
belakangnya, seperti sedang menjaganya. Dan memang orang itu sedang menjaga keselamatan kakek
yang raganya seperti sedang kosong ini, dan orang itu bukan lain adalah Liu Pang atau Liubengcu,
pemimpin besar barisan yang sedang bergerak menuju ke kota raja itu dan yang kini sedang
mengepung dan hendak menyerbu benteng!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Suamiku, bangunlah, usahamu telah berha-sil," kata nenek itu dengan girang. Kwa Eng Ki menarik
napas panjang beberapa kali, dari mulut-nya keluar suara bisikan membaca manteram dan membuka
matanya, lalu bangkit berdiri. Kiranya ketika ketua Tai-bong-pai ini pergi ke tempat mayat-mayat
bergelimpangan untuk memulai usa-hanya membangkitkan mayat-mayat itu untuk mengatur
siasatnya mengacau benteng, dia bertemu dengan Liu Pang dan anak buahnya. Mendengar rencana
kakek itu, Liu Pang lalu memerintahkan anak buahnya untuk membiarkan mayat-mayat itu memasuki
benteng, sedangkan dia sendiri men-jaga tubuh kakek Kwa kalau-kalau ada yang akan
mengganggunya selagi dia menjalankan ilmunya memanggil roh dan menghidupkan orang-orang
mati.
Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng memberi hormat kepada pemimpin pemberontak itu, dan Seng Kun
bersama dua orang kawannya yang baru saja dibebaskan dari penjara itupun memberi hor-mat, lalu
menghaturkan terima kasih kepada Kwa Eng Ki.

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil