Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 10 Mei 2017

Cersil 9 Hina Kelana Cerita Silat MAri Menertawakan Dunia Persilatan

Cersil 9 Hina Kelana Cerita Silat MAri Menertawakan Dunia Persilatan Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf  Cersil 9 Hina Kelana Cerita Silat MAri Menertawakan Dunia Persilatan
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil 9 Hina Kelana Cerita Silat MAri Menertawakan Dunia Persilatan
Bab 74. Mo-kau-kaucu = Ketua Mo-kau, Yim Ngo-heng
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dalam kejutnya Lenghou Tiong lantas hendak berkata, “Aku ... aku ....”
“Aku apa? Sudah lama aku mencurigai kau dan sudah kuduga kau pasti hendak mohon Yim Ngo-heng untuk
mengajarkan ilmu iblis itu kepadamu, hm, apakah kau sudah lupa kepada sumpah yang pernah kau ucapkan?”
demikian jengek Ui Ciong-kong.
Pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau, ia bingung apa mesti memperlihatkan wajah aslinya atau tetap
memalsukan Hek-pek-cu. Seketika ia tidak dapat mengambil keputusan, segera ia lolos pedang yang
dirampasnya dari Hek-pek-cu terus menusuk ke arah Tut-pit-ong.
“Bagus, Jiko, apa ingin berkelahi sungguh-sungguh ya?” seru Tut-pit-ong dengan gusar, berbareng pensilnya
lantas menangkis.
Tak terduga serangan Lenghou Tiong itu hanya tipu belaka, selagi orang hendak menangkis, secepat terbang ia
lantas berlari ke luar.
Sudah tentu Ui Ciong-kong bertiga tidak tinggal diam, serentak mereka mengejar. Hanya sebentar saja
Lenghou Tiong sudah berlari sampai di ruangan besar di depan.
“Jite, kau hendak lari ke mana?” teriak Ui Ciong-kong.
Lenghou Tiong tidak menjawab, ia tetap berlari secepat terbang. Mendadak terlihat seorang mengadang di
tengah pintu dan berseru padanya, “Silakan berhenti, Jichengcu!”
Saat itu Lenghou Tiong sedang berlari dengan cepat sehingga tidak keburu mengerem, tanpa ampun lagi,
“blang”, dengan tepat orang itu tertumbuk. Tubrukan ini benar-benar amat keras sehingga orang itu terpental
ke luar dan terbanting beberapa meter jauhnya.
Sekilas pandang Lenghou Tiong dapat mengenali orang itu kiranya adalah Ting Kian, mungkin terluka parah
sehingga tampaknya Ting Kian tidak mampu berkutik.
Tanpa berhenti Lenghou Tiong berlari terus menuju ke jalan kecil. Ui Ciong-kong bertiga hanya menguber
sampai di muka kampung, lalu tidak mengejar lagi.
Tidak lama kemudian sampailah Lenghou Tiong di tanah pegunungan yang sunyi, jaraknya dengan kota
agaknya sudah jauh, tanpa terasa dia ternyata sudah berlari sekian jauhnya. Aneh juga, meski dia berlari-lari
secepat terbang dan begitu jauh, waktu berhenti ternyata tidak merasakan lelah, napasnya juga tidak
memburu, dibandingkan sebelum terganggu oleh hawa murni yang aneh di dalam perut agaknya tenaganya
sekarang sudah jauh lebih kuat.
Segera ia menanggalkan kerudung kepalanya. Terdengar suara gemerciknya air, memangnya ia merasa haus,
segera ia mencari ke arah suara air itu, akhirnya sampai di tepi sebuah sungai pegunungan yang kecil. Ia
berjongkok, belum lagi ia sempat meraup air untuk diminum, tahu-tahu di permukaan air tercermin sebuah
bayangan orang yang berambut gondrong, muka penuh godek, dan berkumis panjang, jelek sekali wajah
begitu.
Semula Lenghou Tiong terkejut, tapi ia lantas tertawa geli sendiri. Nyata setelah terkurung sekian lamanya di
dalam penjara bawah tanah itu dia tidak pernah mandi dan bercukur, dengan sendirinya mukanya sekarang
sedemikian kotor.
Seketika ia merasa badannya sangat gatal dan risi, segera ia membuka baju dan terus terjun ke dalam sungai
untuk mandi sepuas-puasnya. Ia menduga daki di atas badannya itu kalau tidak ada setengah kuintal
sedikitnya juga ada 30 kati.
Setelah mencuci badan sebersih-bersihnya dan kenyang minum, lalu ia memotong rambutnya di atas kepala.
Ketika bercermin lagi ke permukaan air, ternyata wajahnya sekarang tampak lebih angker dan gagah, beda
sekali daripada pemuda Lenghou Tiong yang bermuka putih mulus itu. Lebih-lebih tiada mirip sedikit pun
daripada penyamaran yang dibuat oleh Hiang Bun-thian tempo hari.
Lenghou Tiong coba merenungkan pengalamannya, ia merasa heran tempat macam apakah Bwe-cheng itu?
Mengapa tokoh hebat seperti orang she Yim itu sampai dikurung di situ sampai belasan tahun lamanya? Ia pikir
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
hal ini perlu diselidiki dengan jelas, bilamana Yim-locianpwe itu terkurung di sana lantaran terjebak, maka aku
harus berusaha menolong dia. Cuma dia telah menyatakan bila bebas dari kurungan itu, maka dia akan
melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang bu-lim. Jika demikian, orang baik atau orang jahatkah
orang she Yim itu? Ini perlu dibikin terang dahulu dan tidak boleh sembarangan bertindak secara ngawur.
Dengan wajahku sekarang, asalkan aku berganti pakaian, biarpun berhadapan lagi pasti Ui Ciong-kong dan
lain-lain takkan kenal padaku. Demikian akhirnya ia mengambil keputusan.
Waktu ia berpakaian kembali, mendadak jalan darah dan napasnya terasa tidak lancar. Segera ia duduk semadi
di tepi sungai dan menjalankan ilmu lwekang yang dipelajarinya dari ukiran di atas dipan itu, maka terasalah
hawa murni yang bergolak di dalam perut itu mulai tersalur ke delapan urat nadi khusus, kemudian perut
terasa kosong lagi tanpa sesuatu hawa murni.
Lenghou Tiong sendiri tidak tahu bahwa dirinya sesungguhnya sudah berhasil meyakinkan semacam lwekang
yang paling lihai di dunia ini, tadi waktu memegang tangan Hek-pek-cu, dalam sekejap saja segenap lwekang
yang dimiliki Hek-pek-cu sudah kena disedot seluruhnya olehnya serta terhimpun di dalam perut, sekarang
hawa murni baru itu disalurkan ke dalam delapan urat nadi khusus, ini berarti serentak lwekangnya telah
bertambah dengan lwekang seorang tokoh seperti Hek-pek-cu, maka dengan sendirinya semangatnya menjadi
tambah berkobar.
Sementara itu hari sudah dekat magrib, perut terasa lapar juga, ia coba meraba saku atas jubah rampasan dari
Hek-pek-cu itu, ternyata tiada berisi uang perak atau emas, hanya ada sebuah pipa tembakau air, yaitu pipa
berbentuk poci yang berisi air, pipa tembakau itu terbuat dari timbel bertatahkan batu zamrud yang indah,
terang itu semacam benda antik yang sukar dinilai harganya.
Segera ia merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju kota. Terlihat suasana Kota Hangciu di waktu malam
yang cukup ramai. Ia mendapatkan sebuah hotel, lalu pesan arak dan daharan untuk makan sekenyangkenyangnya.
Malamnya ia dapat tidur dengan lelap.
Besok paginya ia menggadaikan pipa berbatu zamrud itu dan mendapatkan belasan tahil uang perak untuk
membeli pakaian baru, sepatu, dan keperluan lain, semuanya serbabaru gres, sesudah berdandan, ia merasa
pangling terhadap coraknya sendiri yang serbabaru itu.
Tiba-tiba teringat olehnya, “Jikalau siausumoay melihat bentukku ini entah bagaimana perasaannya? Ai, aku
seakan-akan baru hidup kembali setelah mengalami bencana, mengapa aku selalu terkenang lagi kepada
siausumoay?”
Keluar dari hotel, ia berjalan tanpa arah tujuan. Akhirnya sampai di tepi Se-ouw (Telaga Barat) yang tersohor
akan pemandangannya yang indah itu. Dilihatnya di tepi telaga ada sebuah restoran besar pakai merek “Songsi-
lau”. Seketika Lenghou Tiong ketagihan arak lagi, segera ia melangkah ke dalam restoran itu, ia pilih suatu
tempat di tepi jendela yang menghadap ke telaga, lalu pesan minuman. Sambil menikmati arak ia melamun
pula, kemarin ia masih terkurung di dalam penjara yang gelap gulita di dasar danau, tapi sekarang dirinya
sudah bebas dan dapat makan minum sepuasnya, sungguh rasanya seperti habis mimpi saja.
Tanpa terasa Lenghou Tiong telah menghabiskan beberapa poci arak sehingga membikin pelayan restoran
melongo heran akan kekuatan minumnya itu.
Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, terlihat empat orang naik ke atas loteng restoran itu.
Sekilas pandang Lenghou Tiong menjadi terkesiap. Dilihatnya sorot mata keempat orang itu bersinar tajam,
jelas adalah jago silat yang memiliki kepandaian tinggi.
Tiga di antara keempat orang itu adalah kakek-kakek yang berusia 60-an tahun, satunya lagi adalah wanita
setengah umur. Dandanan keempat orang sama-sama sederhana, selain memanggul sebuah buntelan di
punggung masing-masing, senjata pun tidak tampak mereka bawa.
Salah seorang kakek itu berbadan sangat tinggi, ketika sampai di atas loteng dan mengawasi keadaan di situ,
sikapnya sangat gagah dan berwibawa. Ia pun memandang sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu berpaling dan
berkata kepada kawan-kawannya, “Resik juga tempat ini, bolehlah kita makan di sini.”
Ketiga kawannya mengiakan, lalu mereka mengambil tempat duduk pada meja sebelah sana yang juga
menghadap ke telaga.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dengan cekatan pelayan lantas mendekati untuk menawarkan makanan-makanan yang menjadi kebanggaan
restorannya, siapa duga keempat orang itu ternyata tidak minum arak, bahkan juga tidak makan daging. Yang
mereka pesan adalah sayur-sayuran belaka, selain itu mereka pesan lagi enam kati mi rebus.
Di waktu makan keempat orang itu sama sekali tidak berbicara, selesai makan juga habis perkara, sedikit pun
mereka tidak ambil pusing enak atau tidak dari daharan yang mereka makan itu.
Dengan sangat hormat pelayan tadi mendekati tamu-tamunya, katanya dengan mengiring senyum manis,
“Sayur campur goreng ini adalah masakan khusus dari koki kami, hebatnya goreng sayur melulu ini terdapat
rasa hati ayam, ginjal babi, dan rempela itik tiga macam, entah bagaimana pendapat Tuan-tuan atas masakan
ini?”
Seorang kakek yang kekar itu menjawab, “Masakan sayur adalah masakan sayur, buat apa pakai rasa hati babi
atau hati sapi segala?”
Dari logat orang dapatlah Lenghou Tiong menduga orang berasal dari daerah Soatang (Santung). Ia heran
entah keempat orang ini berasal dari golongan atau aliran mana, entah apa urusan mereka datang ke Hangciu
ini? Tapi karena pikirannya sedang dipusatkan untuk menolong orang she Yim itu, ia tidak ingin cari perkara
lain, ia pikir sehabis makan segera akan pergi dari situ.
Sama sekali tak terduga bahwa cara makan minum keempat orang itu ternyata sangat cepat, beberapa
mangkuk mi rebus telah mereka sikat dalam sekejap, lalu membayar terus berangkat pergi tanpa memberi
persen segala kepada pelayan.
Tentu saja pelayan restoran itu mengomel panjang-pendek, terlalu pelit katanya. Tapi ia lantas teringat bahwa
di situ masih ada tamu lain, yaitu Lenghou Tiong, cepat ia mendekatinya dan minta maaf, “Harap Tuan jangan
marah, yang hamba maksudkan bukanlah Tuan. Engkau telah makan minum besar, sudah tentu tak bisa
dipersamakan dengan kaum kikir tadi.”
“Makan minum besar menjadi mirip tukang gegares saja,” ujar Lenghou Tiong tertawa. Lalu ia membayar dan
tidak lupa memberi persen kepada pelayan.
Ia terus melancong ke seluruh pelosok kota mengikuti langkahnya tanpa tujuan yang tetap. Malamnya ia
makan minum pula di suatu restoran yang lain, habis itu barulah kembali ke hotelnya untuk tidur.
Lewat tengah malam ia lantas bangun, ia melompat ke luar melalui jendela dan melintasi pagar tembok hotel
terus menuju ke tepi Se-ouw di mana terletak kediaman Ui Ciong-kong.
Ginkang Lenghou Tiong sebenarnya tidak tinggi, tapi sejak berlatih “Thi-pan-sin-kang” (Ilmu Sakti dari Papan
Besi) itu, sekarang bukan saja langkahnya enteng dan kuat, cukup satu langkah lebar sesuka hati saja sudah
mencapai tingkatan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan olehnya sendiri. Begitu cepat langkahnya di
tengah malam buta yang sunyi itu, sampai-sampai suara tindakan kaki sendiri pun tidak terdengar.
Ketika melihat bayangan pohon berkelebat begitu cepat di sisinya, seketika Lenghou Tiong menghentikan
langkahnya dan melongo heran. Pikirnya, “Sesungguhnya aku masih hidup atau sudah menjadi setan? Mengapa
aku bisa berlari secepat ini seakan-akan terbang saja tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun?”
Ketika ia meremas-remas tangannya sendiri, jelas terasa sakit, maka ia sendiri menjadi geli pula. Pikirnya,
“Thi-pan-sin-kang itu benar-benar aneh, aku cuma berlatih sebulan saja sudah mencapai kemajuan sepesat ini,
kalau kulatih terus bukankah aku akan berubah menjadi siluman?”
Ia tidak tahu bahwa cara melatih ilmu yang terukir di dipan besi itu yang paling sulit ialah membuyarkan dulu
segenap tenaga dalam, kalau hal ini kurang sempurna dilaksanakan akan berarti maut bagi dirinya sendiri.
Untungnya Lenghou Tiong memang sejak mula tenaga dalam sendiri sudah punah, jadi hal yang sukar bagi
orang lain telah dia capai dengan tidak mengalami halangan apa-apa.
Setelah membuyarkan tenaga dalam sendiri, selanjutnya adalah menyedot hawa murni orang lain untuk
dikumpulkan di dalam perut sendiri, lalu mengerahkan ke berbagai urat nadi khusus sebagai cadangan.
Langkah ini pun sangat sulit, sebab adalah mustahil bahwa tenaga dalam sendiri sudah hilang cara bagaimana
dapat menyedot hawa murni orang lain? Tapi dalam hal ini kembali Lenghou Tiong mempunyai keuntungan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
secara kebetulan, sebab sebelumnya ia telah memiliki berbagai macam hawa murni yang aneh dari Tho-koklak-
sian serta Put-kay Hwesio, lantaran itu pula dengan cepat ilmu itu telah berhasil diyakinkan olehnya,
sebuah mangkuk sedikit dipencet sudah lantas hancur, tanpa sengaja tenaga dalam Hek-pek-cu juga telah dia
sedot. Jadi sekaligus ia telah memiliki kekuatan delapan tokoh kelas wahid, apalagi ketika di Siau-lim-si, waktu
Hong-sing Taysu berusaha menyembuhkan penyakitnya juga telah mencurahkan sedikit tenaga sakti Siau-limpay
ke dalam tubuhnya. Maka betapa kuat tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang boleh dikata jarang ada
bandingannya di seluruh dunia persilatan. Hanya saja ia sendiri tidak paham duduknya perkara, sebaliknya ia
merasa aneh dan terkejut sendiri.
Untuk sejenak ia berdiri termenung, pikirnya, “Kepandaianku seperti sekarang ini terang tak bisa diajarkan oleh
suhu, akan tetapi ... aku lebih suka kembali seperti dahulu dan hidup senang di tengah perguruan Hoa-san
daripada luntang-lantung seorang diri di dunia Kangouw.”
Begitulah ia merasa selama hidupnya belum pernah memiliki ilmu silat setinggi sekarang ini, tapi merasakan
pula tiada pernah hidup sesunyi ini dan sehampa sekarang. Selama beberapa bulan dikurung di dalam penjara
bawah tanah itu dengan sendirinya ia kesepian, tapi sekarang sesudah bebas toh masih berkeliaran di tengah
malam buta seorang diri, dasar pembawaannya memang suka ramai, suka bergaul, dan gemar minum arak,
meski menyadari ilmu silatnya mendadak bertambah lihai, tapi rasa girang itu tidak dapat mengatasi rasa
kesalnya yang hampa itu.
Setelah termangu-mangu sejenak, akhirnya ia berkata di dalam hati, “Ai, semua orang tidak sudi menggubris
lagi padaku terpaksa aku akan pergi ke Bwe-cheng untuk menjenguk locianpwe she Yim yang masih dikurung
di sana itu. Jika dia mau bersumpah tak membunuh orang bilamana lolos dari penjara, maka boleh juga aku
menolongnya meloloskan diri.”
Segera ia melanjutkan perjalanan menuju ke Bwe-cheng. Tidak lama kemudian ia sudah mendaki bukit itu dan
sampai di samping perkampungan itu. Suasana di dalam kampung sunyi senyap, dengan enteng sekali ia telah
melompati pagar tembok.
Dilihatnya belasan rumah di situ semuanya sunyi dan gelap gulita, hanya sebuah rumah di sebelah kanan
kelihatan masih ada sinar lampu. Dengan hati-hati segera ia mendekati jendela rumah itu.
“Ui Ciong-kong, apakah kau sudah tahu akan dosamu?” demikian mendadak terdengar suara seorang yang
serak tua membentak di dalam rumah.
Lenghou Tiong menjadi heran, tokoh macam Ui Ciong-kong ternyata masih ada orang yang berani membentakbentak
padanya. Ia coba mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Begitu mengetahui siapa yang
berada di dalam itu, seketika hatinya berdebar-debar.
Terlihat orang berduduk di empat kursi, mereka adalah keempat orang yang dijumpainya di atas loteng Songsi-
lau siang tadi. Ui Ciong-kong, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing bertiga tampak berdiri di depan keempat orang
itu dengan membelakangi jendela sehingga wajah mereka tidak kelihatan. Tapi yang satu berduduk dan yang
lain berdiri, dari ini pun jelas akan perbedaan kedudukan mereka.
Terdengar Ui Ciong-kong sedang menjawab, “Ya, hamba mengakui salah. Hamba tidak mengadakan
penyambutan sepantasnya atas kedatangan keempat Tianglo, benar-benar berdosa.”
“Hm, apa dosanya jika cuma soal sambutan saja?” jengek kakek yang bertubuh jangkung. “Janganlah kau
berlagak pilon lagi. Di manakah Hek-pek-cu? Mengapa tidak menghadap kepada kami?”
Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, Hek-pek-cu telah terkurung di dalam penjara, tapi Ui Ciong-kong
bertiga malah mengira saudara angkat mereka itu telah melarikan diri.
Begitulah Ui Ciong-kong telah menjawab, “Lapor para Tianglo, pengawasan hamba kurang keras sehingga sifat
Hek-pek-cu akhir-akhir ini telah banyak mengalami perubahan. Beberapa hari ini dia telah meninggalkan
tempat tinggalnya.”
“Hm, dia tidak di sini? Tidak di tempat tinggalnya?” kakek tadi menegas.
“Ya,” jawab Ui Ciong-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Kakek itu tampak menatap Ui Ciong-kong dengan sorot mata yang tajam, katanya pula, “Ui Ciong-kong, Kaucu
menugaskan kalian menjaga Bwe-cheng ini, apakah kalian disuruh memetik kecapi, minum arak, melukis, dan
main catur melulu?”
“Tidak, hamba berempat ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting di sini,” sahut Ui Ciong-kong
dengan membungkuk tubuh.
“Betul,” kata si kakek. “Lalu bagaimana dengan tahanan penting yang kau awasi itu?”
“Lapor Tianglo, tahanan penting itu masih terkurung di dalam penjara bawah tanah,” tutur Ui Ciong-kong.
“Selama 12 tahun hamba tidak pernah meninggalkan Bwe-cheng ini, tidak pernah melenakan tugas.”
“Bagus, bagus. Kalian tidak pernah meninggalkan tempat tugas, tidak pernah melenakan tugas,” kata si kakek.
“Jika demikian, jadi tahanan penting itu masih tetap berada di dalam penjara bukan?”
“Betul,” sahut Ui Ciong-kong tegas.
Mendadak kakek itu menengadah memandangi langit-langit rumah, tiba-tiba ia terbahak sehingga debu di
langit-langit rumah itu sama rontok. Selang sejenak baru ia berkata pula, “Coba kau bawa kami pergi melihat
tahanan penting itu.”
“Mohon maaf para Tianglo,” kata Ui Ciong-kong. “Menurut perintah keras Kaucu dahulu, tak peduli siapa pun
juga dilarang menyambangi tahanan itu, jika melanggar ....”
Dengan cepat kakek tadi lantas mengeluarkan sepotong benda terus diangkat tinggi-tinggi ke atas sembari
berdiri. Tiga orang kawannya serentak juga berdiri dengan sikap sangat hormat.
Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati benda itu, kiranya benda itu adalah sepotong papan kayu warna hitam
hangus yang belasan senti panjangnya, di atas papan kayu itu ada ukiran-ukiran kembang dan tulisan,
tampaknya sangat aneh dan penuh rahasia.
Seketika Ui Ciong-kong bertiga lantas memberi hormat dan berkata, “Hek-bok-leng-pay (Papan Kebesaran
Kayu Hitam) Kaucu tiba, hamba akan menerima segala titah dengan hormat.”
“Baik, sekarang pergilah membawa tahanan penting itu ke sini,” kata si kakek.
“Tahanan penting itu terborgol dengan rantai, tidak ... tidak dapat dibawa ke sini,” jawab Ui Ciong-kong dengan
ragu-ragu.
“Hm, sampai saat ini kau masih coba putar lidah dan bermaksud mendustai kami,” jengek kakek itu. “Aku ingin
tanya, sesungguhnya cara bagaimana tahanan itu sampai lolos dari sini?”
“Tahanan ... tahanan itu telah melarikan diri? Ah, mana ... mana mungkin,” jawab Ui Ciong-kong terperanjat.
“Orang itu masih tetap terkurung di dalam penjara, mana bisa melarikan diri.”
“O, jadi kau tidak mau bicara dengan terus terang ya?” kata si kakek. Perlahan-lahan ia lantas mendekati Ui
Ciong-kong, mendadak sebelah tangannya menepuk ke pundak Ui Ciong-kong.
Serentak Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing bermaksud melangkah mundur, tapi tindakan mereka ternyata kalah
cepat dengan gerak tangan si kakek jangkung, “plok-plok” dua kali, berturut-turut pundak Tut-pit-ong dan Tanjing-
sing juga telah kena ditabok.
“Pau-tianglo,” teriak Tan-jing-sing, “apa kesalahan kami sehingga engkau menggunakan cara ... cara sekeji ini
terhadap kami?”
Dari suaranya dapat diketahui di samping menahan sakit luar biasa ia pun merasa penasaran.
Kakek itu menjawabnya dengan perlahan, “Kalian ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting itu,
sekarang tahanan itu berhasil melarikan diri, kalian pantas dihukum mati atau tidak?”
“Jika tahanan itu benar-benar melarikan diri, sudah tentu hamba pantas dihukum mati,” sahut Ui Ciong-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Akan ... akan tetapi tahanan itu sampai saat ini masih berada di dalam penjara. Sekarang Pau-tianglo datangdatang
lantas menggunakan hukuman keji, ini membikin kami penasaran.”
Waktu bicara badan Ui Ciong-kong sedikit miring sehingga dari samping Lenghou Tiong dapat melihat jidatnya
penuh butiran keringat sebesar kedelai. Maka Lenghou Tiong dapat menduga tepukan Pau-tianglo tadi tentu
sangat lihai sehingga jago silat hebat sebagai Ui Ciong-kong juga tidak tahan.
Maka terdengar si kakek telah menjawab, “Baik, silakan kalian memeriksa sendiri ke dalam penjara, jikalau
tahanan itu masih tetap di sana, hm, biar aku nanti menjura dan minta maaf kepada kalian, seketika pula akan
memunahkan hukuman Na-sah-jiu (Pukulan Pasir Biru).”
“Baik, harap para Tianglo menunggu sementara,” kata Ui Ciong-kong. Segera bersama Tut-pit-ong dan Tanjing-
sing bertindak ke luar dan badan rada gemetar.
Khawatir diketahui, Lenghou Tiong tidak berani mengintip lebih jauh, perlahan-lahan ia berduduk di atas tanah,
pikirnya, “Kaucu apa yang dikatakan itu menugaskan mereka menjaga tahanan penting di sini selama 12
tahun, dengan sendirinya tahanan yang dimaksudkan bukanlah diriku dan tentulah locianpwe she Yim itu.
Apakah benar dia sudah berhasil lolos? Dia dapat melarikan diri dari penjara tanpa diketahui oleh Ui Ciong-kong
dan lain-lain, maka kepandaiannya benar-benar mahasakti. Ya, tentunya Ui Ciong-kong bertiga memang tidak
tahu, makanya Hek-pek-cu menyangka aku sebagai Yim-locianpwe.”
Ia pikir sebentar lagi kalau Ui Ciong-kong bertiga sudah memeriksa tahanan di dalam penjara tentu akan dapat
mengetahui keadaan yang sebenarnya. Perubahan-perubahan yang hebat itu kalau dipikirkan benar-benar
sangat aneh dan lucu.
Didengarnya keempat orang yang duduk di dalam itu semuanya diam saja. Pikirnya pula, “Keempat orang ini
benar-benar sangat pendiam, sudah tidak minum arak, tidak makan daging pula, mana senangnya menjadi
manusia? Kaucu yang dikatakan itu dari agama apakah? Jangan-jangan Mo-kau? Tapi Kaucu dari Mo-kau itu
katanya bernama Tonghong Put-pay dan merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, ilmu
silatnya tiada tandingannya, jangan-jangan keempat orang ini adalah tianglo (tertua) dari Mo-kau, sebab itulah
Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya sedemikian takut padanya? Dan jika demikian, jadi Ui Ciong-kong
berempat juga anggota Mo-kau semua?”
Begitulah timbul macam-macam pikirannya, tapi bernapas pun dia tidak berani keras-keras, meski dia dan
empat orang tua itu terhalang oleh selapis dinding, tapi jaraknya cuma beberapa meter saja, asal napasnya
sedikit berat seketika pasti akan ketahuan.
Dalam keadaan sunyi senyap itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri yang berkumandang dari
jauh, jeritan yang penuh derita dan ketakutan. Dari suaranya dapat Lenghou Tiong mengenali sebagai
suaranya Hek-pek-cu.
Menyusul terdengarlah suara tindakan kaki yang makin mendekat, Ui Ciong-kong dan lain-lain telah kembali.
Segera Lenghou Tiong mengintip lagi. Dilihatnya Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing memayang Hek-pek-cu yang
tampak lemas itu, air muka Hek-pek-cu tampak pucat guram, matanya sayu, berbeda sekali dengan tingkah
lakunya yang cekatan dan cerdik sebelumnya.
“La ... lapor para Tianglo,” demikian Ui Ciong-kong berkata dengan suara gemetar, “tahanan itu ternyata sudah
... sudah melarikan diri. Hamba terima dihukum mati di hadapan para Tianglo.”
“Tadi kau bilang Hek-pek-cu tidak di sini, mengapa sekarang dia muncul lagi? Sebenarnya bagaimana
duduknya perkara?” tanya kakek she Pau bernama Tay-coh itu.
“Tentang seluk-beluk kejadian ini sesungguhnya hamba juga merasa bingung,” tutur Ui Ciong-kong. “Ai,
kegemaran melalaikan tugas, hal ini adalah salah kami berempat yang terlalu iseng dan tergila-gila kepada
kegemaran masing-masing sehingga kelemahan kami ini telah dipergunakan musuh untuk mengatur tipu
muslihat, akhirnya orang itu ... orang itu telah mereka bawa lari.”
Lenghou Tiong juga merasa bingung, pikirnya, “Kiranya locianpwe she Yim itu juga sudah melarikan diri, apa
betul mereka sama sekali tidak mengetahui?”
Maka terdengar Pau Tay-coh bertanya pula, “Kami berempat dititahkan oleh Kaucu untuk menyelidiki
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
bagaimana sampai tahanan penting itu bisa meloloskan diri. Jika kalian mengaku terus terang tanpa berdusta,
maka ... mungkin kami akan memohonkan ampun kepada Kaucu bagi kalian.”
Ui Ciong-kong menghela napas panjang, sahutnya, “Seumpama Kaucu sudi memberi ampun juga hamba malu
untuk hidup lagi di dunia ini? Cuma sebelum hamba mengetahui seluk-beluk akan peristiwa ini, biar mati pun
hamba merasa penasaran. Pau-tianglo, apakah ... apakah Kaucu beliau berada di Hangciu?”
Alis Pau Tay-coh tampak menegak, sahutnya, “Siapa bilang Kaucu berada di Hangciu?”
“Sebab tahanan itu baru saja melarikan diri kemarin, mengapa Kaucu seketika lantas tahu dan segera
mengirim keempat Tianglo ke Bwe-cheng sini?” ujar Ui Ciong-kong.
“Hm, kau makin lama tampaknya tambah pikun,” jengek Pau Tay-coh. “Siapa yang bilang tahanan penting itu
baru melarikan diri kemarin?”
“Orang itu benar-benar baru melarikan diri pada kemarin siang,” sahut Ui Ciong-kong. “Tatkala mana kami
bertiga mengira dia adalah Hek-pek-cu, tak tersangka dia telah berhasil memancing Hek-pek-cu untuk
ditawannya, lalu menukar pakaiannya dengan baju Hek-pek-cu terus menerjang keluar. Kejadian ini tidak cuma
kami bertiga yang menyaksikan, malahan Ting Kian juga kena ditubruk oleh orang itu sehingga tulang iganya
banyak yang patah ....”
Pau Tay-coh menoleh kepada ketiga tianglo yang lain, katanya dengan mengerut dahi, “Orang ini entah
mengaco-belo apa, masakah bisa terjadi begitu?”
Seorang kakek yang pendek gemuk di antaranya lantas berkata, “Kita menerima berita itu pada tanggal
delapan bulan yang lalu ...” sembari bicara ia terus menghitung-hitung dengan jarinya, lalu menyambung,
“sampai hari ini sudah hari ke-21.”
“Tidak ... tidak mungkin,” seru Ui Ciong-kong sambil melangkah mundur, lalu berpaling dan berteriak, “Si Lengwi,
gotong Ting Kian ke sini!”
Dari jauh terdengar suara Si Leng-wi mengiakan.
Pau Tay-coh coba mendekati Hek-pek-cu dan menjambret dadanya terus diangkat, ternyata tokoh nomor dua
dari Bwe-cheng itu keadaannya memang lemas lunglai seakan-akan seluruh ruas tulang badannya telah
terlepas semua.
“Ya, itulah akibat seluruh tenaganya telah disedot habis oleh Gip-sing-tay-hoat orang itu,” ujar si kakek hitam
kurus sebelah sana.
“Bilakah kau kena dikerjai oleh orang itu?” tanya Pau Tay-coh.
“Kemarin,” sahut Hek-pek-cu dengan suara terputus-putus lemah, “orang itu men ... mencengkeram
pergelangan kananku sehingga aku tak bisa ... tak bisa berkutik, terpaksa aku pasrah nasib.”
“Lalu bagaimana?” tanya Pau Tay-coh dengan tidak mengerti.
“Melalui lubang persegi di daun pintu itu aku telah ditarik masuk ke dalam kamar tahanan,” tutur Hek-pek-cu.
“Dia menanggalkan pakaianku dan membelenggu kaki-tanganku, kemudian dia menerobos keluar melalui
lubang persegi itu.”
“Jadi kemarin, benar-benar kemarin? Mana mungkin?” ujar Pau Tay-coh mengerut dahi.
“Dan cara bagaimana belenggu baja itu dapat diputuskan olehnya?” tanya si kakek kurus.
“Hal ini aku ... aku tidak tahu,” jawab Hek-pek-cu.
“Tadi hamba telah meneliti belenggu-belenggu itu, ternyata digergaji putus dengan gergaji baja yang amat
lihai, sungguh aneh, dari manakah orang itu mendapatkan gergaji halus demikian itu?” kata Tut-pit-ong.
Dalam pada itu Si Leng-wi sudah datang menggotong Ting Kian bersama dua orang pelayan. Ting Kian
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menggeletak di atas dipan dan tertutup selapis selimut tipis.
Pau Tay-coh membuka selimut itu dan memegang perlahan di atas dada Ting Kian, seketika Ting Kian berteriak
kesakitan. Pau Tay-coh manggut-manggut dan memberi tanda agar Ting Kian digotong pergi lagi.
“Tubrukan itu benar-benar sangat hebat, jelas dilakukan oleh orang itu,” ujar Pau Tay-coh kemudian.
Wanita yang duduk di sebelah kiri sejak tadi tidak pernah membuka suara, sekarang mendadak ia berkata,
“Pau-tianglo, jika betul orang itu baru lolos kemarin, lantas berita yang kita terima permulaan bulan yang lalu
mungkin adalah kabar bohong yang sengaja disebarkan oleh begundalnya untuk memengaruhi pikiran kita.”
Usia wanita itu tidak dapat dikatakan muda lagi, tapi suaranya ternyata masih merdu dan enak didengar.
“Tidak, tidak mungkin palsu,” sahut Pau Tay-coh sambil menggeleng.
“Tidak palsu?” wanita itu menegas.
“Ya, coba pikirkan, Sik-hiangcu memiliki ilmu Kim-cong-cu dan Thi-poh-sah (ilmu-ilmu kebal) yang tidak
mempan diserang oleh senjata tajam biasa, tapi lima jari orang itu telah mampu menembus dadanya sehingga
ulu hatinya kena dikorek ke luar mentah-mentah, kepandaian selihai ini rasanya tiada orang keduanya di dunia
ini selain orang itu ....”
Selagi asyik mendengarkan, mendadak Lenghou Tiong merasa pundaknya ditepuk orang dengan perlahan, ia
terkejut dan cepat menoleh. Maka tertampaklah di belakangnya telah berdiri 2 orang. Karena membelakangi
cahaya rembulan yang remang, maka air muka kedua orang itu tidak terlihat jelas. Hanya seorang di antaranya
lantas berkata padanya, “Adik kecil, marilah kita masuk ke sana!”
Terang itulah suaranya Hiang Bun-thian.
Keruan Lenghou Tiong kegirangan, serunya dengan suara tertahan, “He, Hiang-toako!”
Meski suara mereka itu sangat perlahan, tapi ternyata sudah didengar oleh orang-orang di dalam rumah.
“Siapa itu?” Pau Tay-coh lantas membentak.
Maka terdengarlah suara gelak tertawa seorang, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Ternyata suara
yang keluar dari mulut orang di sebelah Hiang Bun-thian itu.
Orang yang tertawa itu lantas melangkah ke depan, dinding tembok yang merintangi itu ditolak begitu saja
oleh kedua tangannya, seketika terdengar suara gemuruh, tembok itu ambruk menjadi suatu lubang besar,
melalui lubang tembok itulah orang itu lantas melangkah ke dalam. Sambil menggandeng tangan Lenghou
Tiong segera Hiang Bun-thian ikut masuk ke dalam rumah.
Pau Tay-coh berempat sudah berbangkit dengan senjata terhunus, air muka mereka tampak sangat tegang.
Mestinya Lenghou Tiong ingin lekas-lekas tahu siapakah gerangan teman Hiang Bun-thian itu, cuma dia
berjalan di depan dan membelakangi Lenghou Tiong, pula perawakannya tinggi besar, hanya tampak
rambutnya yang hitam dan bajunya warna hijau.
“Kiranya ... kiranya Yim ... Yim-cianpwe yang datang,” kata Pau Tay-coh ragu-ragu.
Orang itu hanya mendengus saja dan tidak menjawab, ia terus melangkah maju. Dengan sendirinya Pau Taycoh
dan lain-lain lantas menyingkir mundur. Sesudah membalik tubuh, orang itu lantas berduduk pada kursi
yang tengah, yaitu kursi yang tadi diduduki oleh Pau Tay-coh.
Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas wajah orang itu yang rada lonjong, air mukanya pucat seperti
mayat, tampak jelas membayangkan muka tampan pada masa mudanya.
Orang itu menggapaikan tangannya kepada Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong, katanya, “Hiang-hiante dan
Adik Lenghou Tiong, marilah duduk di sini.”
Demi mendengar suaranya, alangkah kejut dan girangnya Lenghou Tiong. “He, jadi kau ... kau adalah Yimlocianpwe?”
serunya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Orang itu tersenyum, sahutnya, “Benar. Sungguh bagus sekali ilmu pedangmu.”
Bab 75. Lenghou Tiong Tidak Sudi Menjadi Pemimpin Mo-Kau
“Haha, kau ternyata benar sudah lolos,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang ... sekarang ....”
“Sekarang kau datang hendak menolong aku, bukan?” sela orang itu dengan tertawa. “Hahaha, Hiang-hiante,
saudaramu ini benar-benar seorang sahabat sejati.”
Hiang Bun-thian menyilakan Lenghou Tiong berduduk di sisi kanan orang itu, ia sendiri duduk di sebelah
kirinya, lalu berkata, “Lenghou-hiante adalah seorang pemberani dan berjiwa luhur, ia benar-benar seorang
laki-laki sejati yang terpuji di zaman ini.”
“Lenghou-hengte, sungguh aku merasa menyesal telah membikin susah padamu sampai meringkuk tiga bulan
di dalam penjara gelap di dasar danau, harap maaf ya, hahahaha,” kata pula orang itu dengan gelak tertawa.
Kini Lenghou Tiong lamat-lamat dapat memahami sedikit duduknya perkara, cuma masih belum jelas
seluruhnya.
Dengan tersenyum simpul orang she Yim itu memandangi Lenghou Tiong, lalu katanya lagi, “Meski kau telah
menderita selama tiga bulan di dalam penjara, tapi dasar ada jodoh dan secara kebetulan kau telah berhasil
meyakinkan Gip-sing-tay-hoat yang kuukir di atas dipan besi itu. Hehe, rasanya itu pun sudah cukuplah untuk
menambal kerugianmu.”
“Ilmu sakti yang terdapat di atas dipan besi itu adalah ... ukiranmu?” Lenghou Tiong menegas dengan heran.
“Kalau bukan aku, di dunia ini siapa lagi yang mahir akan Gip-sing-tay-hoat?” sahut orang itu dengan
tersenyum.
“Lenghou-hiante,” sela Hiang Bun-thian, “sejak kini, Yim-kaucu punya Gip-sing-tay-hoat di dunia ini hanya kau
satu-satunya ahli warisnya, sungguh aku ikut girang dan harus diberi selamat.”
“Yim-kaucu?” Lenghou Tiong menegas pula.
“Kiranya sampai sekarang kau masih belum tahu jelas akan kedudukan Yim-kaucu,” kata Hiang Bun-thian.
“Beliau bukan lain adalah Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau, namanya yang lengkap adalah Yim Ngo-heng,
apakah kau pernah mendengar nama beliau ini?”
“Nama Yim ... Yim-kaucu telah kuketahui dari tulisan yang terukir di atas dipan besi itu, cuma tidak tahu bahwa
beliau adalah ... adalah kaucu,” sahut Lenghou Tiong ragu-ragu. Ia tahu Tiau-yang-sin-kau (Agama Penyembah
Matahari) adalah Mo-kau, orang Mo-kau sendiri menyebut agama mereka sebagai Tiau-yang-sin-kau, tapi di
luar orang menamakan agama mereka sebagai Mo-kau (Agama Iblis). Ia pun tahu ketua Mo-kau selama ini
adalah Tonghong Put-pay, dari mana mendadak muncul lagi seorang Yim Ngo-heng yang mengaku sebagai
ketuanya?
Mendadak si kakek kurus tadi membentak, “Kaucu apa dia itu? Setiap orang di dunia ini sama tahu bahwa
ketua Tiau-yang-sin-kau kami adalah Tonghong-kaucu, orang she Yim ini telah mengkhianat dan berontak,
sudah lama dia dipecat dari agama kami. Hiang Bun-thian, kau berani ikut-ikutan murtad, apa kau tidak takut
menerima hukuman mati?”
Perlahan-lahan Yim Ngo-heng berpaling ke arah si kakek kurus, katanya kemudian, “Kau bernama Cin Pang-wi
bukan?”
“Benar,” sahut kakek kurus itu tegas.
“Waktu aku masih memegang kekuasaan agama kita kau adalah Jing-ki Ki-cu (Pemimpin Panji Hijau) di wilayah
Kangsay bukan?” tanya Yim Ngo-heng.
“Benar,” sahut Cin Pang-wi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Yim Ngo-heng menghela napas, katanya, “Sekarang kau telah menjadi satu di antara kesepuluh tianglo, cepat
amat kenaikan pangkatmu ini. Sebab apa Tonghong Put-pay begini menilai tinggi dirimu? Apakah ilmu silatmu
tinggi atau karena kerjamu pintar?”
“Selamanya aku setia kepada agama, selalu tampil ke muka menghadapi segala urusan, jasa-jasa yang telah
kupupuk selama 20 tahun inilah yang menaikkan pangkatku menjadi tianglo,” jawab Cin Pang-wi.
“Ehm, boleh juga ya,” ujar Yim Ngo-heng. Habis itu mendadak ia melompat maju ke depan Pau Tay-coh,
tangannya menjulur terus mencengkeram tenggorokan.
Keruan Pau Tay-coh terkejut, untuk mencabut senjata buat menangkis sudah tidak keburu lagi, terpaksa
tangan kiri diangkat untuk melindungi tenggorokan sendiri, berbareng kaki kiri melangkah mundur setindak,
habis itulah tangan kanan yang mencabut goloknya itu baru ditebaskan.
Walaupun rapat benar pertahanan Pau Tay-coh itu dan ganas pula serangan balasannya, tapi tangan kanan Yim
Ngo-heng itu tetap lebih cepat satu langkah, belum lagi golok Pau Tay-coh bergerak turun, dada sasarannya
sudah kena dipegangnya, “bret”, jubah Pau Tay-coh itu terus dirobek, sepotong benda di dalam bajunya itu
terus dirampasnya. Kiranya adalah Hek-bok-leng-pay, papan hitam tanda kebesaran sang kaucu tadi.
Hampir pada saat yang sama terdengarlah suara “trang-trang-trang” tiga kali, kiranya Hiang Bun-thian telah
menggunakan pedangnya menyerang tiga kali kepada Cin Pang-wi dan kedua temannya, ketiga orang itu pun
lantas menangkis dengan senjata mereka. Rupanya serangan Hiang Bun-thian ini bertujuan merintangi ketiga
orang itu memberi bantuan kepada Pau Tay-coh, setelah gebrakan itu pun Pau Tay-coh sudah berada dalam
cengkeraman Yim Ngo-heng.
“Aku punya Gip-sing-tay-hoat belum lagi kugunakan, apakah kau ingin mencicipi rasanya?” kata Yim Ngo-heng
dengan tersenyum.
Sebagai seorang gembong Mo-kau yang berkedudukan tinggi dan berpengalaman, sudah tentu Pau Tay-coh
tahu betapa lihainya Yim Ngo-heng, kalau tidak menyerah tentu jiwanya akan melayang, kecuali itu tiada jalan
lain lagi.
Caranya mengambil keputusan juga sangat cepat, tanpa pikir ia terus menjawab, “Yim-kaucu, selanjutnya aku
berjanji akan setia padamu.”
“Dahulu kau pun pernah bersumpah akan setia kepadaku, mengapa kemudian kau balik pikiran?” tanya Yim
Ngo-heng.
“Mohon Yim-kaucu memberi kesempatan kepada hamba untuk membuat jasa buat menebus dosa,” kata Pau
Tay-coh.
“Baik, makanlah pil ini,” kata Yim Ngo-heng sambil melepaskan tangannya, lalu merogoh saku dan
mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangnya sebutir pil warna merah terus dilemparkan kepada Pau
Tay-coh.
Dengan gesit Pau Tay-coh menyambar pil itu, tanpa pandang lagi terus dijejalkan ke dalam mulut.
“Itu ... itu kan ‘Sam-si-nau-sin-tan’?” seru Cin Pang-wi.
“Benar, memang itulah Sam-si-nau-sin-tan (Obat Sakti Otak Busuk),” kata Yim Ngo-heng sambil manggut. Lalu
ia menuang enam butir pil merah itu dan dilemparkan begitu saja ke atas meja.
Keenam butir pil itu bergelindingan di atas meja, tapi tiada satu pun yang jatuh ke bawah meja, malahan di
tengah satu biji dan lima biji lainnya terus berputar mengelilingi satu biji itu dalam jarak yang sama.
“Kalian tentunya sudah tahu kelihaian obatku ini, bukan?” tanya Yim Ngo-heng.
“Sesudah makan Nau-sin-tan Yim-kaucu, untuk selanjutnya harus setia dan tunduk kepada Kaucu sampai akhir
hayat, kalau tidak, basil yang tersimpan di dalam pil akan terus bergerak dan menyusup ke dalam otak dan
sumsum tulang, rasanya sangat menderita, bahkan akan menjadi gila,” kata Pau Tay-coh.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Memang tidak salah ucapanmu,” kata Yim Ngo-heng. “Sudah tahu betapa mujarabnya obatku, mengapa kau
berani mati menelannya?”
“Asalkan selanjutnya hamba tunduk dan setia kepada Kaucu, betapa pun lihainya Nau-sin-tan juga takkan
mengganggu diri hamba,” ujar Pau Tay-coh.
“Hahaha! Bagus, bagus!” Yim Ngo-heng bergelak tertawa. “Dan siapa lagi yang mau makan obatku ini?”
Ui Ciong-kong saling pandang dengan Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing, mereka tahu apa yang dikatakan Pau Taycoh
tadi bukanlah bualan belaka. Cin Pang-wi dan kawan-kawannya sudah lama menjadi gembong Mo-kau,
dengan sendirinya mereka lebih kenal pil maut yang mengandung basil itu, pada hari-hari biasa obat itu tidak
ada sesuatu yang luar biasa, tapi setiap tahun satu kali di hari Toan-ngo-ce (hari Pek-cun) harus minta obat
lagi kepada Yim Ngo-heng, kalau tidak, maka basil di dalam pil itu akan lantas bekerja dan begitu masuk otak,
seketika orangnya akan menjadi gila mirip anjing gila dan tidak dapat disembuhkan lagi.
Selagi orang-orang itu merasa ragu-ragu, mendadak Hek-pek-cu berseru, “Mohon belas kasihan Kaucu, biarlah
hamba minum dulu satu biji.”
Habis itu ia terus mendekati meja dan hendak mengambil obat pil itu.
Namun Yim Ngo-heng keburu mengebaskan lengan bajunya, kontan Hek-pek-cu terhuyung-huyung ke
belakang dan akhirnya jatuh terjungkal, “blang”, dengan keras kepalanya membentur dinding.
“Tenagamu sudah punah, buat apa kau membuang-buang obatku saja?” jengek Yim Ngo-heng. Lalu ia
berpaling dan berkata pula, “Cin Pang-wi, Ong Sing, Sang Sam-nio, kalian tidak sudi minum obatku yang
mujarab ini bukan?”
Sang Sam-nio, wanita setengah umur itu lantas berkata dengan membungkuk tubuh, “Hamba bersumpah akan
setia kepada Yim-kaucu.”
Kakek yang gemuk bernama Ong Sing juga berkata, “Hamba juga akan tunduk dan setia kepada Kaucu untuk
selamanya.”
Kedua orang lantas mendekati meja, masing-masing mencomot sebutir pil itu terus dijejalkan ke dalam mulut
sendiri. Rupanya mereka biasanya memang sangat jeri terhadap Yim Ngo-heng, sekarang melihat dia telah
lolos dari kurungan, keruan mereka sangat takut dan tidak berani membangkang sedikit pun.
Berbeda dengan Cin Pang-wi, dia adalah jago Mo-kau dimulai dari kedudukan rendah sampai tingkatan tianglo
berkat jasa-jasanya. Waktu Yim Ngo-heng menjabat kaucu dia adalah pemimpin Mo-kau di wilayah Kangsay
sehingga belum sempat menyaksikan betapa lihainya sang kaucu ini. Sekarang dilihatnya tiga orang kawannya
telah minum obat maut Yim Ngo-heng, segera ia berseru, “Maaf, aku akan pulang saja!”
Berbareng ia terus menutul kedua kakinya dan melompat keluar melalui jendela.
Yim Ngo-heng bergelak tertawa dan tidak berbangkit untuk merintangi. Ia tunggu sesudah tubuh orang
melayang ke luar jendela barulah tangan kirinya lantas bergerak, sekonyong-konyong dari dalam bajunya
menyambar keluar satu utas cambuk panjang warna merah. Ketika semua orang belum melihat jelas tahu-tahu
sudah terdengar jeritan Cin Pang-wi, cambuk panjang itu pun sudah tertarik balik dengan membelit sebelah
kaki Cin Pang-wi.
Cambuk merah itu sangat lembut, paling-paling sebesar jari kecil, tapi sedikit pun Cin Pang-wi tak bisa berkutik
dan cuma mampu bergulingan saja di atas tanah.
“Sang Sam-nio, coba kau ambil satu biji pil itu, kelupas dulu kulit luarnya dengan hati-hati,” perintah Yim Ngoheng.
Dengan hormat Sang Sam-nio mengiakan, ia ambil satu biji pil di atas meja itu dan perlahan-lahan mengupas
kulit luar pil yang kecil dan berwarna merah itu sehingga kelihatan biji bagian dalam yang berwarna kelabu.
“Cekokkan dia,” Yim Ngo-heng memberi perintah lagi.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Kembali Sang Sam-nio mengiakan dan mendekati Cin Pang-wi, bentaknya, “Buka mulut!”
Mendadak Cin Pang-wi membalik tubuh terus memukul dengan telapak tangannya. Meski ilmu silatnya sedikit
di bawah Sang Sam-nio, tapi selisihnya juga tidak jauh. Namun betis kakinya terlilit oleh cambuk panjang Yim
Ngo-heng, hiat-to bagian-bagian tertentu terkekang, tenaga tangannya menjadi banyak berkurang.
Maka dengan gampang saja kaki kiri Sang Sam-nio telah digunakan menendang tangan Cin Pang-wi yang
memukul itu, menyusul kaki kanan juga lantas melayang, “bluk”, dengan tepat dada Cin Pang-wi tertendang,
kedua kaki Sang Sam-nio menendang pula secara berantai, kembali pundak Cin Pang-wi tertendang, lalu
tangan kiri Sang Sam-nio digunakan mementang dagu Cin Pang-wi dan tangan kanan menjejalkan pil itu ke
dalam mulutnya.
Lantaran kakinya terbelit oleh cambuk, beruntun beberapa tempat hiat-to kena ditendang pula oleh Sang Samnio,
maka Cin Pang-wi tidak mampu berkutik lagi dan kena dicekoki pil maut oleh Sang Sam-nio. Sebisabisanya
Cin Pang-wi bermaksud memuntahkan pil itu, tapi mana dapat?
Yim Ngo-heng tersenyum tanda puas akan tindakan Sang Sam-nio yang telah melaksanakan tugasnya dengan
baik itu. Sang Sam-nio tidak memperlihatkan sesuatu perasaannya meski ia telah memperlakukan kawannya
sendiri dengan cara kekerasan, dengan sikap hormat ia lantas berdiri ke pinggir.
Setelah mengikuti kata-kata Pau Tay-coh tadi, semua orang tahu bahwa di dalam Nau-sin-tan itu tersimpan
basil maut yang dibungkus oleh lapisan obat, kulit obat warna merah yang dikelupas Sang Sam-nio tadi
mungkin adalah obat yang antibasil maut itu.
Kemudian Yim Ngo-heng melayangkan pandangnya ke arah Ui Ciong-kong bertiga, maksudnya ingin tahu
ketiga orang itu mau minum pil yang sudah tersedia atau tidak?
Tut-pit-ong tidak bicara apa-apa, terus mendekati meja dan ambil satu biji pil itu dan dimakan, Tan-jing-sing
tampak berkomat-kamit entah menggumam apa, tapi akhirnya mendekat dan ambil juga satu biji pil dan
dimakan.
Air muka Ui Ciong-kong tampak pucat sedih, ia mengeluarkan sejilid buku, yaitu buku yang berisi lagu “Hina
Kelana”, ia mendekati Lenghou Tiong dan berkata, “Tuan selain berilmu silat sangat tinggi juga kaya akan tipu
daya, dengan akal sedemikian bagusnya kau telah berhasil menolong keluar Yim Ngo-heng, hehe, sungguh
Cayhe sangat kagum. Buku lagu inilah yang telah membikin kami berempat saudara hancur dari kehidupan ini,
sekarang biarlah kupersembahkan kembali benda ini.”
Habis berkata ia terus melemparkan buku lagu itu kepada Lenghou Tiong.
Selagi Lenghou Tiong tertegun, dilihatnya Ui Ciong-kong sudah putar tubuh dan mendekati meja, sungguh
Lenghou Tiong merasa sangat menyesal, pikirnya, “Tertolongnya Yim-kaucu ini adalah hasil tipu daya Hiangtoako,
sebelumnya aku sendirinya tidak tahu apa-apa. Tapi adalah jamak jika Ui Ciong-kong mereka membenci
padaku, sukarlah bagiku untuk menerangkan kepada mereka.”
Pada saat itu duga terdengar Ui Ciong-kong bersuara tertahan, perlahan-lahan badannya lantas lemas terkulai.
“Toako?” Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing menjerit berbareng sambil berlari maju untuk memayang Ui Ciongkong,
terlihat ulu hati sang toako sudah tertancapkan sebilah belati, kedua matanya melotot, namun sudah
putus napasnya.
“Toako! Toako!” Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berteriak pula dan menangislah mereka dengan sedih.
Ong Sing lantas membentak, “Orang she Ui itu tidak tunduk kepada perintah Kaucu, ia takut dihukum dan
terima membunuh diri, kenapa kalian masih coba bikin ribut segala?”
Dengan murka Tan-jing-sing bermaksud menubruk ke arah Ong Sing untuk melabraknya. Tapi segera teringat
tadi ia sudah minum obat maut Yim Ngo-heng, selanjutnya tidak boleh lagi membangkang perintahnya, mau
tak mau ia mesti menahan rasa murkanya dan terpaksa menunduk kepala sambil mengusap air mata.
“Bawa pergi mayat dan manusia cacat itu, lalu siapkan arak dan santapan, hari ini aku harus minum sepuasnya
bersama Hiang-hiante dan Lenghou-hiante,” kata Yim Ngo-heng.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tut-pit-ong mengiakan dan memondong mayat Ui Ciong-kong ke luar, begitu pula pelayan-pelayan lantas
memayang pergi Hek-pek-cu. Menyusul meja perjamuan lantas disiapkan dengan enam kursi.
“Sediakan saja tiga kursi, kami mana ada harganya bersama meja dengan Kaucu?” ujar Pau Tay-coh.
“Kalian tentunya juga sudah lelah, bolehlah makan minum di luar sana,” kata Yim Ngo-heng.
Serentak Pau Tay-coh, Ong Sing, dan Sang Sam-nio bertiga mengiakan dan mengucapkan terima kasih, lalu
mengundurkan diri
Lenghou Tiong mempunyai kesan tidak jelek terhadap Ui Ciong-kong, maka ia ikut berdukacita melihat tokoh
utama Bwe-cheng itu membunuh diri.
Terdengar Hiang Bun-thian bertanya padanya dengan tertawa, “Adikku, mengapa secara begitu kebetulan kau
berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat Kaucu itu? Hal ini perlu ceritakan padaku.”
Maka, Lenghou Tiong lantas menguraikan pengalamannya di dalam penjara neraka itu.
“Selamat, selamat!” kata Hiang Bun-thian. “Kau benar-benar ada jodoh sehingga telah ditakdirkan harus
memiliki Gip-sing-tay-hoat.”
Habis itu ia angkat cawan arak dan mendahului menenggak. Segera Yim Ngo-heng dan Lenghou Tiong juga
mengiringi secawan.
“Kalau diceritakan, kejadian itu memang sangat berbahaya,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa. “Semula
waktu aku mengukir rahasia ilmu itu di atas dipan besi belum tentu akan bertujuan baik. Rahasia ilmu sakti itu
memang tulen, tapi selain aku yang mengajar dan memberi petunjuk sendiri, yang melatih ilmu itu tentu akan
tersesat dan mati konyol. Tapi sekarang Lenghou-hiante ternyata mampu meyakinkan dengan baik, ini benarbenar
sudah takdir.”
Diam-diam Lenghou Tiong merasa bersyukur bahwa rahasia ilmu sakti yang terukir di atas dipan besi itu telah
digosok rata sehingga orang lain takkan tersesat. Lalu ia bertanya, “Hiang-toako, sesungguhnya cara
bagaimana Yim-kaucu meloloskan diri, sampai saat ini aku masih tidak paham.”
Hiang Bun-thian mengeluarkan sesuatu benda dan diserahkan kepada Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa,
“Coba lihat apakah ini?”
Lenghou Tiong merasa benda itu bulat dan keras, itulah barang titipan Hiang Bun-thian tempo hari yang
disuruh menyerahkannya kepada Yim Ngo-heng. Waktu ia periksa, memang betul sebuah bola kecil buatan
baja, di atas bola baja itu ada sebuah gotri yang amat kecil. Waktu gotri itu diputar, segera sebuah gergaji baja
yang amat halus menjulur ke luar. Gergaji halus itu ujungnya melekat pada gotri itu dan ujung lain tergulung di
dalam bola baja, itu. Nyata itulah sebuah gergaji baja yang terbuat dengan sangat indah.
Baru sekarang Lenghou Tiong sadar duduknya perkara. Katanya kemudian, “Kiranya belenggu di tangan dan
kaki Yim-kaucu itu digergaji putus dengan benda ini.”
“Dengan suara tertawaku yang menggelegar itu aku telah menggetar roboh kalian dengan tenaga dalamku
yang ampuh, lalu aku menggergaji putus belenggu,” tutur Yim Ngo-heng. “Cara bagaimana kau telah kerjakan
atas diri Hek-pek-cu, dengan cara itu pulalah aku telah memperlakukan kau waktu itu.”
“Kiranya kau telah menukar pakaianku, pantas Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya tidak tahu,” kata Lenghou
Tiong.
“Sebenarnya hal ini pun sukar mengelabui Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu, cuma sesudah mereka mendusin,
aku dan Kaucu lebih dulu sudah meninggalkan Bwe-cheng, aku telah meninggalkan lukisan dan tulisan serta
catatan problem catur yang mereka inginkan itu, keruan mereka kegirangan sehingga tidak mencurigai isi
penjara yang telah berganti orang itu.”
“Tipu daya Hiang-toako dengan perhitungan yang tepat sungguh sukar ditiru oleh orang lain,” puji Lenghou
Tiong. Diam-diam ia pun membatin, “Kiranya segalanya sudah kau atur dengan baik sehingga Ui Ciong-kong
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
berempat terpancing. Tapi sudah sekian lamanya Yim-kaucu lolos, mengapa sekian lama masih belum datang
menolong aku?”
Melihat air muka Lenghou Tiong itu segera Hiang Bun-thian dapat menerka apa yang sedang dipikirkan pemuda
itu, katanya dengan tertawa, “Adik cilik, sesudah Kaucu lolos, banyak sekali urusan penting yang harus
dikerjakan dan tidak boleh diketahui oleh musuh, maka terpaksa membikin kau menderita sekian lama di dasar
danau. Justru kedatangan kami sekarang ialah hendak menolong kau. Syukurlah dari susah engkau telah
menjadi untung dan berhasil meyakinkan ilmu sakti tiada bandingannya sebagai imbalan. Hahaha, terimalah
permintaan maaf dari kakakmu ini.”
Lalu ia menuang arak di cawan masing-masing, ia sendiri lantas menenggak habis pula.
Yim Ngo-heng bergelak tertawa, katanya, “Aku pun mengiringi kau satu cawan!”
Dasar watak Lenghou Tiong memang polos, kejadian yang telah lalu itu pun tidak dipikirkan lebih lanjut,
katanya dengan tertawa, “Maaf apa? Justru aku yang harus berterima kasih kepada kalian berdua. Tadinya aku
menderita luka dalam yang sukar disembuhkan, tapi setelah meyakinkan ilmu sakti Kaucu itu serentak luka
dalam itu lantas sembuh dan jiwaku dapat dipertahankan.”
Begitulah mereka bertiga lantas bergelak tertawa dengan sangat gembira. Sesudah minum belasan cawan,
Lenghou Tiong merasa pribadi Yim-kaucu itu sangat simpatik, pengetahuan dan pengalamannya sangat luas,
benar-benar seorang kesatria, seorang pahlawan yang jarang diketemukan selama hidup ini. Diam-diam
Lenghou Tiong merasa sangat kagum. Walaupun tadinya ia merasa cara Yim Ngo-heng bertindak terhadap Cin
Pang-wi, Ui Ciong-kong, dan lain-lain rada-rada kelewat keji, tapi sesudah bercakap-cakap, ia merasa seorang
kesatria tidak dapat dinilai dengan kejadian-kejadian kecil itu.
Setelah menenggak satu cawan arak lagi, kemudian Yim Ngo-heng berkata pula, “Adik cilik, terhadap musuh
selamanya aku sangat ganas, terhadap bawahan aku pun sangat keras, hal-hal ini mungkin tidak biasa bagi
pandanganmu. Tapi coba kau pikir, sudah betapa lamanya aku dikurung di dasar danau? Kau sendiri telah
merasakan bagaimana hidup di penjara maut itu. Cara bagaimana orang telah memperlakukan dapatlah kau
bayangkan. Lalu terhadap musuh, terhadap orang yang mengkhianati aku apakah aku harus menaruh belas
kasihan?”
Lenghou Tiong mengangguk membenarkan, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia berbangkit dan berkata, “Ada
suatu hal ingin kumohon kepada Kaucu, semoga Kaucu sudi meluluskan.”
“Urusan apa?” tanya Yim Ngo-heng.
“Dahulu waktu pertama kali aku bertemu dengan Kaucu pernah kudengar ucapan Ui Ciong-kong, katanya kalau
sampai Kaucu berhasil lolos dan berkecimpung lagi di dunia Kangouw, maka melulu orang-orang Hoa-san-pay
saja sedikitnya akan menjadi korban separuh. Lalu Kaucu juga menyatakan bila bertemu dengan guruku akan
membuat beliau kalang kabut. Mengingat ilmu Kaucu sedemikian sakti, bilamana membikin susah kepada Hoasan-
pay terang tiada seorang pun yang mampu melawan ....”
“Dari Hiang-hiante kudengar kau telah dipecat dari Hoa-san-pay dan gurumu telah mengumumkan hal ini ke
seluruh bu-lim,” kata Yim Ngo-heng. “Jika aku nanti menghajar mereka, kalau perlu kutumpas sama sekali
Hoa-san-pay supaya lenyap dari dunia persilatan, bukankah dendammu akan bisa terlampias?”
“Sejak kecil aku sudah yatim piatu dan dibesarkan berkat keluhuran budi suhu dan sunio, meski nama kami
adalah guru dan murid, tapi sebenarnya tiada ubahnya seperti ayah dan anak,” kata Lenghou Tiong. “Tentang
aku dipecat dari Hoa-san-pay memangnya adalah salahku sendiri, pula ada sedikit kesalahpahaman sehingga
sekali-kali aku tidak berani dendam dan menyalahkan suhu.”
“Jika demikian, meski Gak Put-kun tidak kenal ampun padamu, sebaliknya kau tetap setia padanya?” tanya Yim
Ngo-heng dengan tersenyum.
“Yang kumohon kepada Kaucu adalah sudilah engkau bermurah hati dan janganlah membikin susah guru dan
anggota-anggota Hoa-san-pay yang lain,” pinta Lenghou Tiong pula.
Untuk sejenak Yim Ngo-heng termenung, katanya kemudian, “Lolosnya aku dari kurungan musuh harus diakui
mendapat bantuanmu yang tidak sedikit. Tapi aku telah menurunkan Gip-sing-tay-hoat padamu dan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menyelamatkan jiwamu, kedua kejadian ini boleh dikata timbal balik, siapa pun tidak utang siapa. Sekarang
aku telah masuk Kangouw kembali, banyak sekali urusan-urusan penting yang belum selesai sehingga aku
tidak boleh memberi janji apa-apa kepadamu, sebab hal ini akan berarti merintangi setiap tindakanku
selanjutnya.”
Wajah Lenghou Tiong tampak cemas karena permohonannya ditolak. Dengan tertawa lantas Yim Ngo-heng
berkata pula, “Duduklah dulu, Adik cilik. Di dunia ini sekarang aku cuma mempunyai dua orang kepercayaan
sejati, ialah Hiang-hiante dan kau. Maka apa yang kau minta padaku betapa pun dapat dirundingkan lagi.
Baiklah begini, hendaklah kau menyanggupi sesuatu urusan padaku, lalu aku pun akan berjanji padamu untuk
tidak mengganggu orang-orang Hoa-san-pay kecuali bila mereka yang mendahului bersikap tidak hormat
padaku. Andai kata aku mesti hajar adat kepada mereka juga akan bertindak seringannya mengingat
permohonanmu tadi. Nah, bagaimana, setuju?”
Lenghou Tiong menjadi girang, serunya, “Pesan apa saja dari Kaucu tentu akan kuterima dengan baik.”
“Begini,” kata Yim Ngo-heng, “marilah kita bertiga mengangkat sebagai saudara. Selanjutnya ada rezeki
dinikmati bersama, ada kesukaran dipikul bersama. Jabatan Hiang-hiante kunaikkan menjadi Kong-beng-cosu
dari Tiau-yang-sin-kau kita dan kau menjadi Kong-beng-yusu (Rasul Cahaya Kanan). Nah, bagaimana
pendapatmu?”
Seketika Lenghou Tiong melenggong, sama sekali ia tidak menduga orang akan minta dirinya masuk menjadi
anggota Mo-kau. Sejak kecil ia telah mendengar cerita guru dan ibu gurunya tentang macam-macam kejahatan
yang dilakukan orang-orang Mo-kau, meski sekarang dirinya telah dipecat dari Hoa-san-pay, yang
diinginkannya adalah hidup bebas dan menjadi seorang yang tidak terikat oleh sesuatu aliran atau golongan.
Maka tidak mungkin dirinya disuruh menjadi anggota Mo-kau.
Begitulah pikirannya menjadi kacau dan tidak sanggup menjawab. Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sama
menatap tajam padanya untuk menantikan jawabnya, sesaat itu suasana menjadi sunyi senyap.
Selang sejenak baru Lenghou Tiong membuka suara, “Maksud Kaucu memang baik, tapi Lenghou Tiong adalah
angkatan muda, mana berani disejajarkan dengan Kaucu dan mengangkat saudara segala? Pula meski Cayhe
bukan orang Hoa-san-pay lagi, namun Cayhe masih berharap suhu akan berubah pikiran dan menarik kembali
keputusan beliau ....”
Yim Ngo-heng tertawa hambar, katanya, “Meski kau panggil kaucu padaku, tapi jiwaku sendiri setiap saat
dapat melayang, sebutan kaucu tidak lebih cuma gelar kosong belaka. Di dunia ini sekarang setiap orang
mengetahui ketua Tiau-yang-sin-kau adalah Tonghong Put-pay. Orang ini sekali-kali tidak di bawahku ilmu
silatnya, tipu akalnya bahkan jauh lebih pintar daripadaku. Banyak pula anak buahnya, kalau melulu
mengandalkan tenagaku serta Hiang-hiante berdua dan bermaksud merebut kembali kedudukan kaucu dari dia,
hal ini mirip memakai telur memukul batu, hanya khayalan belaka. Jika kau tidak ingin mengangkat saudara
dengan aku, ini pun aku dapat mengerti karena kau ingin menjaga dan membersihkan dirimu sendiri. Marilah,
kita bergembira ria dan minum arak saja, hal-hal tadi tidak perlu kita bicarakan lagi.”
“Cara bagaimana kedudukan kaucu sampai direbut oleh Tonghong Put-pay dan mengapa sampai kena dikurung
pula di penjara maut itu, apakah sekiranya seluk-beluk kejadian itu dapat dituturkan kepadaku?” tanya
Lenghou Tiong.
Yim Ngo-heng tersenyum pedih dan menggeleng kepala, katanya, “Selama 12 tahun mengeram di dasar
danau, soal kedudukan dan nama segala mestinya sudah hambar bagiku. Tapi, hehe, justru semakin tua hatiku
terasa semakin panas malah.”
“Adik cilik,” sambung Hiang Bun-thian, “tempo hari Tonghong Put-pay telah mengirimkan orang-orangnya
sebanyak itu untuk mengudak diriku, betapa ganasnya mereka itu sudah kau saksikan sendiri. Coba kalau kau
tidak tampil ke muka membela diriku, tentu aku sudah dicincang hancur lebur di tengah gardu itu. Dalam
pandanganmu masih ada perbedaan antara pihak cing-pay dan Mo-kau segala, tapi cara mereka mengerubut
kita berdua tempo hari itu apakah masih dapat dibedakan antara yang baik dan yang jahat? Padahal segala hal
adalah tergantung perbuatan orang. Memang di dalam cing-pay tidak sedikit terdapat orang baik, namun siapa
berani bilang tiada manusianya yang rendah dan kotor? Di dalam Mo-kau memang betul juga tidak sedikit
orang-orangnya yang jahat, tapi bila kita bertiga sudah pegang pimpinan, kita dapat mengadakan pembersihan
secara keseluruhan untuk melenyapkan golongan sampah itu, dengan demikian dapatlah kita membuka
lembaran baru bagi sejarah dunia Kangouw.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Ya, ucapan Toako juga ada benarnya,” sahut Lenghou Tiong mengangguk.
“Masih segar dalam ingatanku,” demikian Hiang Bun-thian melanjutkan, “dahulu Kaucu menganggap Tonghong
Put-pay seperti saudara sekandung sendiri sampai mengangkatnya sebagai Kong-beng-cosu, hampir semua
kekuasaan kepemimpinan agama telah diserahkan padanya. Tatkala mana Kaucu sedang memusatkan segenap
tenaga dan pikiran untuk meyakinkan Gip-sing-tay-hoat untuk membetulkan beberapa kekurangan-kekurangan
ilmu itu, maka urusan agama sehari-hari tidak sempat diawasinya. Siapa duga Tonghong Put-pay itu memang
manusia berhatikan binatang, lahirnya saja ia sangat hormat kepada Kaucu dan tidak berani membangkang
segala perintahnya, tapi diam-diam ia memupuk kekuatan dan pengaruhnya sendiri, dengan macam-macam
alasan yang dibuat-buat ia telah memecat atau menghukum mati anak buah yang setia kepada Kaucu. Hanya
beberapa tahun saja orang-orang kepercayaan Kaucu telah dicerai-berai. Kaucu adalah seorang yang jujur dan
tulus, karena melihat Tonghong Put-pay begitu menghormat padanya, pula segala urusan agama telah diatur
sedemikian rapinya, maka beliau sama sekali tidak menaruh curiga apa-apa.”
Yim Ngo-heng menghela napas, katanya, “Hiang-hiante, soal ini sungguh membuat aku merasa malu padamu.
Kau pernah beberapa kali memberi nasihat padaku agar hati-hati terhadap Tonghong Put-pay, tapi aku malah
menyalahkan kau menaruh iri hati padanya dan menganggap kau sengaja memecah belah persatuan di antara
pimpinan. Kau menjadi marah dan tinggal pergi untuk seterusnya tidak pernah bertemu lagi.”
“Hamba sekali-kali tidak berani dendam dan menyalahkan Kaucu,” ujar Hiang Bun-thian. “Soalnya hamba lihat
gelagatnya kurang baik, Tonghong Put-pay telah mengatur anak buahnya sedemikian rapi dan setiap saat bisa
bertindak, kalau hamba tetap mendampingi Kaucu tentu akan lebih dulu terancam kekejiannya. Maka kupikir
lebih baik menyingkir pergi saja untuk mengawasi gerak-geriknya dari tempat lain, dengan demikian sedikitnya
akan membuat Tonghong Put-pay berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu pengkhianatan.”
“Ya, langkahmu memang tepat,” ujar Yim Ngo-heng. “Tapi waktu itu dari mana aku mengetahui akan
maksudmu yang baik itu? Bahkan aku merasa gusar karena kau tinggal pergi tanpa pamit dan hampir-hampir
saja aku celaka karena saat itu aku sedang asyik berlatih. Pada saat demikian Tonghong Put-pay semakin giat
melayani aku dan minta aku jangan marah. Dengan begitu aku tambah masuk perangkapnya sehingga
akhirnya aku menyerahkan kitab pusaka ‘Kui-hoa-po-tian’ kepadanya.”
Mendengar disebutnya “Kui-hoa-po-tian”, tanpa tertahan Lenghou Tiong sampai berseru.
“Apakah kau juga tahu akan ‘Kui-hoa-po-tian’, Adik cilik?” tanya Bun-thian.
“Aku pernah mendengar nama kitab itu dari guruku, katanya kitab itu berisi rahasia ilmu silat yang paling
tinggi, sungguh tak terduga bahwa kitab pusaka itu ternyata berada di tangan Kaucu,” sahut Lenghou Tiong.
“Selama beberapa ratus tahun Kui-hoa-po-tian selalu adalah pusaka Tiau-yang-sin-kau kita, selalu diturunkan
dari kaucu yang satu kepada kaucu penggantinya,” tutur Yim Ngo-heng. “Waktu itu karena aku sedang
tenggelam dalam latihan Gip-sing-tay-hoat sehingga lupa daratan, maka timbul maksudku hendak
menyerahkan kedudukan kaucu kepada Tonghong Put-pay. Sebab itu aku telah menurunkan ‘Kui-hoa-po-tian’
kepadanya sebagai tanda yang jelas bahwa tidak lama lagi aku akan mengangkat dia sebagai penggantiku.
Tapi, ai, Tonghong Put-pay sebenarnya seorang yang sangat pintar, sudah terang kedudukan kaucu akan dia
jabat, mengapa dia masih terburu-buru nafsu, tanpa menunggu aku mengadakan musyawarah dan
mengumumkan secara resmi, tapi dia justru lantas mengambil risiko dengan mengadakan pengkhianatan dan
perebutan kedudukan?”
Dahi Yim Ngo-heng terkerut rapat-rapat seakan-akan sampai saat ini dia masih tidak paham akan kejadian itu.
Hiang Bun-thian lantas menanggapi, “Pertama dia tidak sabar menunggu, ia tidak tahu kapan baru Kaucu akan
menyerahkan kedudukan padanya. Kedua, dia merasa khawatir kalau-kalau mendadak timbul sesuatu
perubahan besar.”
“Padahal segala sesuatunya sudah dia atur dengan baik, perubahan mendadak apa yang dia takuti? Sungguh
sukar dimengerti,” kata Yim Ngo-heng. “Dengan tenang aku telah coba merenungkan macam-macam tipu
muslihatnya, meski semuanya dapat kupahami, hanya saja apa sebabnya mendadak dia berontak, itulah yang
sampai saat ini aku tetap tidak mengerti. Memang, terhadap kau memang dia rada-rada iri, ia khawatir bukan
mustahil aku akan mengangkat kau sebagai penggantiku. Tapi sesudah kau pergi tanpa pamit, dia sudah
kehilangan saingan, mestinya dia dapat menunggu secara sabar.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Bab 76. Lenghou Tiong Menjadi Perwira Gadungan
“Apakah Kaucu masih ingat satu kalimat yang diucapkan Siocia pada malam perayaan Pek-cun dalam tahun
perebutan kekuasaan Tonghong Put-pay itu??” tanya Bun-thian.
“Hari Pek-cun? Apa yang telah diucapkan si Ing-ing kecil? Apa sangkut pautnya dengan Tonghong Put-pay, aku
sudah tidak ingat lagi,” sahut Yim Ngo-heng.
“Janganlah Kaucu menganggap Siocia (tuan putri) masih anak kecil, tapi dia cukup pintar dan cerdik, betapa
teliti pikirannya tidak kalah daripada orang dewasa,” ujar Bun-thian. “Tahun itu kalau tidak salah Siocia baru
berumur delapan tahun. Di tengah perjamuan ia telah menghitung-hitung yang hadir dan mendadak tanya
kepada Kaucu, ‘Ayah, mengapa setiap tahun hari Pek-cun dalam perjamuan setiap tahun selalu berkurang satu
orang?’
“Waktu itu Kaucu tercengang dan menjawab, ‘Setiap tahun berkurang satu orang bagaimana?’
“Lalu Siocia berkata, ‘Aku masih ingat tahun yang lalu yang hadir dalam perjamuan demikian ada sepuluh
orang, dua tahun yang lalu adalah sebelas orang dan tiga tahun yang lalu ada 12 orang. Tapi tahun ini, satu,
dua, tiga, empat, lima ... cuma tinggal kita bersembilan orang saja.’”
“Ya, tatkala itu aku pun merasa masygul sesudah mendengar ucapan si Ing-ing cilik itu,” ujar Yim Ngo-heng
dengan menghela napas. “Setahun sebelumnya Tonghong Put-pay memang telah menghukum mati Cik-hiante,
satu tahun sebelumnya lagi Khu-tianglo telah mati di Kamsiok tanpa diketahui apa sebabnya, kalau dipikir
sekarang tentunya juga tipu keji yang telah diatur Tonghong Put-pay. Dan lagi setahun sebelumnya Bun-tianglo
telah dipecat, akibatnya ia pun binasa dikerubut oleh jago-jago Hoa-san-pay, Heng-san-pay, dan lain-lain,
sebab musababnya dengan sendirinya juga karena perbuatan Tonghong Put-pay. Ai, kata-kata yang diucapkan
oleh anak kecil sebagai si Ing-ing cilik tanpa sengaja itu ternyata tidak menyadarkan aku pada waktu itu.”
Setelah merandek sejenak dan minum arak seceguk, lalu sambungnya pula, “Terus terang, Hiang-hiante,
tatkala mana latihan ilmuku Gip-sing-tay-hoat meski sudah lebih dari sepuluh tahun, ilmu saktiku itu pun sudah
cukup ternama di dunia Kangouw sehingga sangat ditakuti orang-orang yang menamakan dirinya dari cing-pay.
Akan tetapi aku sendiri mengetahui ilmu saktiku itu masih ada beberapa kekurangan, kalau aku tidak lekas
memperbaikinya tentu kelak akan membawa bencana bagiku, tenaga-tenaga yang kusedot dari orang lain akan
mendadak menggempur badanku malah. Tatkala itu di dalam badanku sudah terdapat tenaga dalam lebih 20
tokoh silat kelas wahid yang berbeda-beda, agar tidak membahayakan diriku sendiri, aku harus berusaha
melebur puluhan macam tenaga dalam itu menjadi satu sehingga dapat kugunakan dengan leluasa. Tahun itu,
sebabnya aku tenggelam dalam pikiranku sendiri adalah persoalan yang kukhawatirkan ini. Karena itu pula apa
yang diucapkan si Ing-ing cilik di tengah perjamuan Pek-cun itu dengan cepat telah kulupakan.”
“Pantas, makanya hamba sangat heran, biasanya Kaucu sangat gesit menghadapi segala persoalan, mengapa
terhadap tipu muslihat Tonghong Put-pay itu tidak merasakan apa-apa, bahkan kelihatannya rada-rada
limbung,” kata Hiang Bun-thian. “Setelah mendengar ucapan Siocia itu, kulihat wajah Tonghong Put-pay
menunjukkan rasa kurang senang meski dia pura-pura bersenyum simpul dan berkata, ‘Rupanya Siocia suka
keramaian. Jika demikian lain tahun kita mengundang banyak hadirin untuk ikut perjamuan ini ya?’
“Mungkin waktu itu ia mengira Kaucu telah mempunyai pendirian yang tetap dan pura-pura tidak tahu untuk
mencoba dia. Maklumlah ia cukup kenal kecerdasan Kaucu, ia menduga hal yang terang gamblang itu mustahil
tidak menimbulkan kecurigaan Kaucu.”
“Ya, sesudah kau ingatkan, lapat-lapat aku menjadi ingat memang si Ing-ing cilik pernah berkata demikian
pada waktu itu,” ujar Yim Ngo-heng.
“Pula, mungkin Tonghong Put-pay melihat Siocia sudah mulai besar dan tambah pintar, bilamana Siocia sudah
dewasa bukan tidak mungkin Kaucu mengangkatnya sebagai ahli waris. Makanya Tonghong Put-pay tidak sabar
menunggu lebih lama lagi dan lebih suka mengambil risiko dengan bertindak lebih dahulu dengan kekerasan.”
Yim Ngo-heng manggut-manggut, katanya dengan terharu, “Ya, jika saat ini si Ing-ing cilik berada di sini, kita
menjadi bertambah dengan seorang kawan lagi dan takkan kekurangan tenaga.”
“Adik cilik,” Hiang Bun-thian berpaling kepada Lenghou Tiong, “tadi Kaucu telah mengatakan bahwa di dalam
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Gip-sing-tay-hoatnya terdapat beberapa kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan. Tapi aku yakin
selama terkurung 12 tahun di dalam penjara, meski cukup menderita, namun Kaucu menjadi sempat
mencurahkan segenap pikirannya untuk menyelami kelemahan ilmunya itu dan akhirnya dapatlah dipecahkan
semua kesulitan dalam ilmu saktinya itu. Betul tidak, Kaucu?”
Sambil meraba-raba jenggotnya yang hitam itu Yim Ngo-heng tertawa senang, katanya, “Memang betul.
Selanjutnya tenaga murni siapa pun yang kusedot akan dapat kupergunakan semua dan tidak perlu khawatir
digemparkan kembali oleh hawa-hawa murni aneh yang kuhimpun. Hahaha, Lenghou-hengte, coba kau
menarik napas panjang-panjang, bukankah hiat-to di bagian belakang kepala dan di depan dada terasa
bergolaknya hawa murni yang melonjak-lonjak dengan keras?”
Lenghou Tiong menarik napas panjang seperti apa yang dikatakan, benar juga dirasakan hiat-to yang disebut
itu ada hawa murni yang melonjak-lonjak. Seketika berubahlah air mukanya.
Segera Yim Ngo-heng berkata lagi, “Kau baru saja belajar sehingga belum begitu merasakan bergolaknya hawa
murni itu. Tapi dahulu aku sendiri hampir-hampir tak tahan melawan gempuran hawa murni yang membalik
itu. Lantaran itu pula maka Tonghong Put-pay berhasil melaksanakan pengkhianatannya.”
Lenghou Tiong percaya apa yang dikatakan Yim Ngo-heng itu memang bukan omong kosong, pula diketahui
sebabnya Hiang Bun-thian sengaja mengatakan hal demikian itu, maksudnya ialah supaya dirinya mau mohon
petunjuk kepada Yim Ngo-heng. Tapi kalau dirinya tidak mau masuk Tiau-yang-sin-kau, dengan sendirinya
permohonan demikian sukar untuk diucapkan. Pikirnya, “Khasiat Gip-sing-tay-hoat adalah mengisap tenaga
orang lain untuk memupuk kekuatan sendiri. Ilmu demikian terlalu keji dan mementingkan diri sendiri, sekalikali
aku tidak mau meyakinkannya, selanjutnya juga takkan kugunakan. Tentang hawa murni aneh dalam
tubuhku yang sukar dilenyapkan memang sebelumnya datang ke sini sudah demikian adanya, jiwaku ini
memangnya seperti diketemukan kembali secara kebetulan. Sebagai seorang laki-laki sejati mana boleh aku
takut mati dan mengingkari cita-citaku selama ini?”
Karena pikiran demikian, segera ia membelokkan pokok pembicaraan, katanya, “Kaucu, ada sesuatu yang
Cayhe ingin minta penjelasan. Menurut cerita suhuku, katanya Kui-hoa-po-tian itu adalah kitab pusaka yang
tiada taranya dalam ilmu silat. Bila berhasil meyakinkan ilmu silat dalam kitab pusaka itu, selain tiada
tandingannya di dunia, bahkan bisa panjang umur dan awet muda, Mengapa ... mengapa Kaucu tidak mau
meyakinkan ilmu sakti di dalam kitab pusaka itu, sebaliknya malah ... malah berlatih Gip-sing-tay-hoat yang
ganas dan membahayakan itu?”
“Sebab musabab tentang ini tentunya tak boleh diceritakan kepada orang luar,” sahut Yim Ngo-heng dengan
tertawa hambar.
“O, maaf kesembronoanku,” ujar Lenghou Tiong dengan muka merah, sebab ia merasa dirinya adalah orang
luar dan tidak pantas tanya lebih lanjut.
Mendadak Hiang Bun-thian berdiri dan berseru dengan suara lantang, “Adik cilik, usia Kaucu sudah lanjut, umur
toakomu ini pun beda tidak seberapa tahun dari beliau. Jika kau mau masuk agama kita, kelak ahli waris Kaucu
tiada orang lain kecuali kau sendiri. Seumpama kau anggap nama Tiau-yang-sin-kau kurang baik, apakah kelak
kau tak bisa memperbaikinya bilamana kau sudah pegang pimpinan demi kebahagiaan sesama umat di dunia
ini?”
Sampai di sini ia menggabrukkan cawan araknya ke atas meja, lalu menuangi secawan penuh kemudian
berkata lagi, “Selama beberapa ratus tahun Tiau-yang-sin-kau kita selalu bermusuhan dengan golongan yang
menamakan dirinya cing-pay. Jika kau tidak sudi masuk agama kita, penyakitmu tentu tidak bisa sembuh,
jiwamu setiap saat bisa melayang, andaikan dapat hidup lebih lama juga mungkin gurumu, ibu-gurumu dan
orang-orang Hoa-san-pay sendiri ... Hehe, dengan ilmu sakti yang dimiliki Kaucu sekarang, untuk menumpas
segenap orang Hoa-san-pay sehingga lenyap dari dunia persilatan rasanya juga bukan bualan belaka. Sebagai
saudara angkat jika kau mau terima nasihatku, silakan habiskan secawan ini.”
Ucapan Hiang Bun-thian ini memang betul dan masuk di akal, tapi juga mengandung ancaman dan pancingan
dengan kedudukan sehingga mau tak mau Lenghou Tiong dipaksa harus masuk menjadi anggota Mo-kau.
Namun darah panas Lenghou. Tiong seketika tersirap, serunya dengan lantang, “Toako, Kaucu, tanpa sengaja
aku telah mempelajari ilmu silat Kaucu, ilmu ini bilamana selanjutnya tak bisa kulupakan, selama aku masih
hidup tentu juga takkan kugunakan terhadap orang lain. Hoa-san-pay telah berdiri selama beberapa ratus
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tahun dan tentu mempunyai cara hidupnya sendiri, orang lain belum tentu mampu sekaligus menumpasnya
begitu saja. Adapun mengenai jiwaku ini memangnya sudah tidak kupandang penting lagi, mati atau hidup
sudah suratan takdir, boleh pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Hanya sekianlah ucapanku, sampai berjumpa
pula kelak.”
Habis berkata ia terus berangkat dan memberi salam perpisahan kepada Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian,
lalu melangkah pergi. Hiang Bun-thian bermaksud bicara lagi, namun dengan cepat Lenghou Tiong sudah pergi
jauh.
Keluar dari Bwe-cheng, Lenghou Tiong tarik napas panjang-panjang, tertiup oleh angin malam, segar rasa
badannya. Dilihatnya bulan sabit menghias di tengah cakrawala, air telaga di kejauhan membayangkan bulan
sabit itu dengan awan putih di sekelilingnya. Pemandangan alam di daerah Kanglam jelas berbeda sama sekali
dengan pemandangan pegunungan di atas Hoa-san.
Lenghou Tiong menuju ke tepi telaga, ia berdiri termenung sejenak di situ, pikirnya, “Urusan penting yang
dihadapi Yim-kaucu sekarang tentunya membikin perhitungan dulu dengan Tonghong Put-pay untuk merebut
kembali kedudukan kaucu, dengan sendirinya ia belum sempat mencari perkara kepada Hoa-san-pay. Tapi
kalau suhu, sunio dan para sute atau sumoay yang tidak tahu seluk-beluk ini sampai kepergok dengan dia,
maka mereka pasti akan celaka. Aku harus berusaha memberitahukan mereka selekasnya agar mereka bisa
siap-siap dan berlaku waspada.”
Hatinya menjadi pedih bilamana teringat suhunya telah mengumumkan kepada seluruh orang bu-lim tentang
pemecatannya dari Hoa-san-pay. Tapi guru dan ibu-guru telah membesarkannya seperti ayah-ibu kandung
sendiri, maka ia harus merasa duka dan tidak menaruh dendam atau benci. Pikirnya pula, “Kalau nanti aku
menuturkan kepada suhu tentang aku hendak dipaksa masuk Mo-kau oleh Yim-kaucu, tentunya suhu akan
dapat memahami diriku yang tidak sengaja bergaul dengan orang-orang Mo-kau, bisa jadi beliau akan terus
menarik kembali keputusannya dan menerima aku kembali, paling-paling aku akan dihukum kurung di atas
‘Puncak Perenung Dosa’ selama tiga tahun saja.”
Karena ada harapan akan diterima kembali oleh gurunya, semangat Lenghou Tiong lantas terbangkit, ia pikir
Hok-wi-piaukiok milik keluarga Lim-sute-nya mungkin ada kantor cabangnya di Kota Hangciu, biarlah ke sana
aku akan mencari berita tentang suhu.
Begitulah ia lantas pulang ke hotel dengan melompati pagar tembok tanpa diketahui siapa pun juga. Ketika ia
hendak tidur, sementara itu sudah ramai suara ayam jago berkokok, fajar sudah hampir menyingsing.
Ketika ia mendusin hari sudah tengah hari. Ia pikir sebelum bertemu dengan gurunya lebih baik jangan
memperlihatkan muka aslinya. Apalagi Ing-ing pernah memerintahkan Coh Jian-jiu dan lain-lain supaya
menyiarkan berita di Kangouw bahwa jiwanya akan dihabiskan. Maka ada lebih baik menyamar saja agar tidak
mendatangkan kesulitan. Tapi sebaiknya menyamar apakah?
Sembari melamun ia terus berjalan keluar kamar. Baru saja sampai di tengah chimce (pelataran di dalam
rumah), mendadak ada orang mengguyurkan satu baskom air ke arahnya.
Tapi betapa gesit dan cepat gerakan Lenghou Tiong sekarang, seketika ia meloncat ke pinggir sehingga air
baskom itu mengenai tempat kosong.
Waktu berpaling, dilihatnya seorang perwira tentara memegangi sebuah baskom cuci muka sedang melotot
kepadanya, bahkan terus mengomel dengan kasar, “Jalan saja tidak bawa mata, apa tidak tahu tuan besar
sedang membuang air kotor?”
Sungguh tidak kepalang gusar Lenghou Tiong, mana di dunia ada orang kasar sedemikian, sudah hampir
mengguyur orang dengan air busuk malahan mendahului memaki orang pula. Dilihatnya usia perwira itu sekira
40-an tahun, wajahnya rada kereng dan sikapnya gagah, dari pakaian seragamnya dapat diduga mungkin
berpangkat perwira menengah.
“Lihat apa? Apakah tidak kenal pada tuan besarmu?” demikian perwira itu membentak pula.
Mendadak Lenghou Tiong mendapat akal, ia pikir menarik juga jika aku menyaru sebagai perwira ini, dengan
demikian aku dapat kian-kemari di Kangouw dengan bebas, orang bu-lim mana yang mengira akan
penyamaranku ini?
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Nenekmu, tertawa apa? Apanya yang lucu?” begitu lagi perwira itu membentak.
Kiranya Lenghou Tiong menjadi senang ketika membayangkan penyamarannya sebagai si perwira nanti
sehingga tanpa terasa wajahnya tersenyum simpul.
Namun ia tidak menggubris lebih jauh, ia datang kepada pengurus hotel untuk membayar rekeningnya.
Sekalian ia bertanya dengan suara perlahan, “Dari manakah perwira garang itu?”
“Siapa tahu dia dari mana?” jawab pengurus hotel itu dengan murung. “Dia mengaku datang dari kota raja.
Baru tinggal satu malam di sini pelayan yang meladeni dia sudah mendapat persen tiga kali tamparan. Sudah
banyak daharan yang dia makan, entah nanti dia membayar atau tidak.”
Lenghou Tiong manggut-manggut dan tidak memberi komentar apa-apa. Ia keluar dari hotel itu dan masuk
sebuah kedai minum yang berdekatan, ia pesan teh dan minum dengan perlahan. Sesudah menunggu sekian
lamanya, terdengarlah suara berdetaknya kaki kuda, perwira itu telah keluar dari hotel dengan menunggang
seekor kuda merah, pecutnya telah diayun-ayunkan sehingga menerbitkan suara petasan, mulutnya lantas
membentak-bentak pula, “Minggir, minggir! Neneknya, hayo lekas minggir!”
Beberapa orang yang sedikit terlambat menyingkir telah kena pecutnya sehingga berteriak-teriak kesakitan.
Lenghou Tiong sudah membayar uang minum sejak tadi, segera ia lantas berbangkit mengikut di belakang
kuda perwira itu.
Perwira itu terus melarikan kudanya ke jalan raya pintu gerbang barat, sesudah keluar kota, kira-kira beberapa
li jauhnya, jalanan sudah mulai sepi, segera Lenghou Tiong mempercepat langkahnya dan menyerobot ke
depan kuda sembari mengebaskan sebelah tangannya.
Keruan kuda perwira itu terkejut dan meringkik sambil berjingkrak ke atas, hampir-hampir saja perwira itu
jatuh terbanting. Untung kepandaian menunggang kudanya cukup mahir sehingga badannya ikut menegak
dengan masih tetap menginjak di atas pelana.
“Nenekmu, jalan saja tidak bawa mata? Hampir saja binatang ini menubruk mati diriku,” demikian Lenghou
Tiong lantas membentak.
Seumpama Lenghou Tiong tidak buka suara saja perwira itu pun sudah murka, apalagi dia pakai memaki
segala, keruan perwira itu tambah gusar, begitu kudanya sudah tenang kembali, “tarrr”, kontan pecutnya
menyabet ke atas kepala Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong merasa kurang leluasa bertindak di tengah jalan raya, segera ia pura-pura menjerit takut terus
berlari ke jalan kecil di sebelahnya. Tentu saja perwira itu tidak mau menyudahi begitu saja, ia melompat turun
dari kuda dan ditambat sekadarnya di batang pohon, lalu mengejar ke arah Lenghou Tiong.
“Aduh mak!” Lenghou Tiong pura-pura berteriak ketakutan dan lari ke dalam hutan.
Dengan membentak-bentak dan memaki kalang kabut perwira itu mengejar terus. Tapi baru saja ia memasuki
hutan itu, sekonyong-konyong iganya terasa kesemutan, “bluk”, tanpa ampun lagi ia jatuh tersungkur.
Dengan sebelah kaki menginjak di atas dada perwira yang sudah roboh tak berkutik itu, Lenghou Tiong berkata
dengan tertawa, “Neneknya, begini saja kepandaianmu masakah mampu pimpin pasukan dan perang segala?”
Kemudian ia menggeledah baju perwira itu dan dikeluarkannya sebuah sampul surat besar, di atas sampul
tertulis “Surat Pengangkatan” dengan stempel merah Peng-poh-siang-si (Kementerian Angkatan Perang).
Waktu sampul dibuka, dikeluarkannya sehelai kertas tebal. Memang benar itulah sebuah surat pengangkatan
yang ditujukan kepada Go Thian-tik, semula perwira distrik Jongciu di Hopak, sekarang diangkat menjadi
komandan militer Kota Coanciu di Hokkian, ditetapkan pula supaya segera berangkat ke tempat tugas yang
baru itu.
“Kiranya adalah tuan besar komandan tentara, jadi kau inilah Go Thian-tik?” tanya Lenghou Tiong dengan
tertawa.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lantaran dadanya terinjak dan tak bisa berkutik, air muka perwira itu menjadi merah padam, ia masih coba
membentak, “Lekas lepaskan aku, kau ... kau berani main gila kepada pembesar negeri, apa kau ti ... tidak
takut mati?”
Walaupun masih pakai membentak segala, tapi lagaknya sudah tidak segarang tadi.
“Aku kehabisan sangu, ingin pinjam pakaianmu untuk digadaikan,” ujar Lenghou Tiong tertawa. Lalu ia tepuk
perlahan di atas kepala perwira itu sehingga pingsan. Dengan cepat ia lantas membelejeti pakaian seragam itu.
Ia pikir perwira ini tentu sudah biasa menindas rakyat kecil, maka harus diberi hajaran yang setimpal. Segera
ia belejeti pula seluruh pakaiannya sehingga telanjang bulat.
Ia angkat buntelan perwira itu, rasanya rada berat, ketika dibuka, ternyata ada beberapa ratus tahil perak di
dalamnya, ada pula tiga buah lantakan emas. Pikirnya, “Ini tentu hasilnya memeras dari rakyat kecil, sukar
bagiku untuk menggunakannya kembali kepada asalnya, terpaksa untuk beli arak saja bagi tuan besar Go
Thian-tik aku ini. Ha, ha, haha!”
Begitulah ia lantas menanggalkan pakaian sendiri, lalu memakai seragam perwira rampasan itu lengkap dengan
sepatu kulit panjang, golok kebesaran, buntelan berisi uang perak, semuanya dipindahkan ke atas tubuhnya.
Lalu pakaian sendiri dirobek untuk dipakai mengikat Go Thian-tik yang tak bisa berkutik itu, mulutnya dijejal
penuh pula dengan tanah liat, habis itu barulah ia menuju kembali ke jalan raya.
Begitu mencemplak ke atas kuda, pecutnya berbunyi, lantas membentak-bentak pula, “Minggir, minggir!
Neneknya, jalan saja tidak bawa mata? Hahahaha!”
Ia berlagak seperti Go Thian-tik tulen, tapi akhirnya ia menjadi geli sendiri. Di tengah suara tertawanya itulah
ia melarikan kudanya secepat terbang ke arah selatan
Malamnya ia menginap di suatu kota kecil, pengurus dan pelayan hotel telah meladeni dia dengan sangat
hormat dan takut-takut. Besok paginya Lenghou Tiong menanyakan jurusan ke Hokkian, lalu memberi persen
satu tahil perak. Keruan pengurus dan pelayan hotel sangat berterima kasih dan mengantar keberangkatannya
dengan hormat.
“Untung kalian ketemukan perwira gadungan seperti aku, jika ketemu perwira tulen seperti Go Thian-tik tentu
kalian bisa celaka,” pikir Lenghou Tiong.
Ia lantas meneruskan perjalanan ke selatan. Sampai di Kota Kim-hoa dan selanjutnya logat daerah selatan
sudah sangat berbeda dengan daerah utara. Untungnya orang-orang mengira dia perwira tulen dan sama
berusaha bicara Mandarin (bahasa pemerintah) dengan dia sehingga tidak banyak kesukaran yang dia alami.
Selama hidup Lenghou Tiong tidak pernah pegang uang sebanyak sekarang, keruan ia lantas makan minum
semaunya tanpa batas. Terkadang hawa murni yang masih mengeram di dalam tubuhnya suka bergolak lagi ke
dalam perut dan membuatnya kepala pusing, terpaksa ia menjalankan ilmu yang diukir Yim Ngo-heng di atas
papan besi itu untuk membuyarkan tenaga dalam itu ke urat nadi tertentu, dengan demikian semangatnya
lantas pulih kembali dan badannya terasa segar.
Meski tempo hari ia telah menyatakan di depan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian bahwa ilmu sakti yang
berhasil diyakinkan tanpa sengaja itu selanjutnya takkan digunakannya terhadap orang lain, tapi di saat
macam-macam hawa murni di dalam badannya itu menerjang dengan hebat, terpaksa ia mengerahkan ilmu itu
untuk memunahkannya. Begitulah setiap kali ia berlatih berarti setiap kali ilmu itu bertambah kuat, tapi dia pun
insaf dirinya makin kejeblos ke dalam ilmu Mo-kau itu. Untungnya dia menggunakan ilmu itu terhadap diri
sendiri sehingga tidak dapat dianggap mengingkari pernyataannya sendiri.
Suatu hari sampailah dia di lereng Pegunungan Sian-he-nia, jalan pegunungan berliku-liku dan makin
meninggi. Untung kuda tunggangannya itu adalah kuda pilihan dan cukup cepat meski berlari di jalan
pegunungan.
Menjelang tengah hari, terlihat di depan sana juga ada tiga orang laki-laki sedang berjalan ke selatan. Dari
langkah mereka yang tangkas jelas mereka adalah orang-orang bu-lim. Lenghou Tiong tidak ingin bikin garagara,
perlahan-lahan ia menjalankan kudanya dan berseru, “Maaf, harap memberi jalan!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Waktu ketiga orang itu menoleh dan melihat pendatang adalah seorang perwira yang tampaknya berpangkat
tidak rendah. Padahal zaman itu kaum militer berkuasa, tapi perwira ini ternyata mau bicara dengan sopan,
sungguh jarang ada. Maka cepat mereka lantas menyingkir ke pinggir jalan.
Waktu melalui ketiga orang itu, sekilas Lenghou Tiong melihat satu di antara mereka itu adalah orang tua
berumur setengah abad lebih, kedua alisnya menjulur ke bawah, sebaliknya sudut mulutnya menjengkit ke
atas. Kedua orang lainnya adalah pemuda-pemuda umur 20-an. Seorang di antaranya rada tampan dan gagah.
Pada pinggang kedua pemuda itu masing-masing bergantung sebuah golok. Sedangkan orang tua itu tidak
tampak membawa senjata.
Jago silat di dunia Kangouw teramat banyak, maka Lenghou Tiong juga tidak menaruh perhatian. Ia melarikan
kudanya lagi, dua-tiga puluh li kemudian, sampailah dia di suatu kedai nasi. Ia berhenti di situ dan pesan
pemilik kedai menyembelihkan seekor ayam gemuk disertai dua kati arak. Perlahan-lahan ia menenggak
araknya sembari menantikan ayam dipanggang.
Baru saja pemilik kedai selesai membubuti bulu ayam dan belum lagi diolah, ternyata ketiga orang tadi pun
sudah datang dan singgah juga di kedai. Mereka mengangguk kepada Lenghou Tiong, lalu mengambil tempat
duduk sendiri-sendiri.
Ketika melihat pemilik kedai sedang menyembelih ayam, orang tua itu lantas berkata, “Harap buatkan juga dua
ekor ayam, kalau ada daging juga boleh potongkan dua piring.”
Dari logatnya jelas dia berasal dari Tiongciu (daerah tengah).
Tiba-tiba pemilik kedai mengeluh, “Wah, sungguh sayang! Kebetulan kami cuma tinggal seekor ayam ini dan
telah dipesan oleh tuan pembesar itu. Daging juga tidak ada, kalau goreng sosis saja bagaimana?”
“Kami tidak makan daging babi,” sahut orang tua itu. “Sudahlah kalau ada telur boleh goreng saja satu piring.”
“Telur juga baru saja habis, sungguh sayang,” jawab pemilik kedai.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Mereka tidak makan daging babi, agaknya mereka adalah kaum
muslimin.”
Maka segera ia berkata, “Saudara-saudara, biarlah ayam itu kuberikan kepada kalian, aku sendiri boleh makan
sosis saja.”
“Bapak komandan benar-benar orang baik, sungguh kami sangat berterima kasih,” kata yang tua.
“Ah, tidak apa, kita sama-sama orang utara, sudah seharusnya saling membantu,” ujar Lenghou Tiong.
Ketiga orang lantas memberi hormat dan mengucapkan terima kasih pula, lalu mulai minum arak.
Ketika pemilik kedai lagi goreng ayam sehingga bau mulai teruar dari wajan, mendadak terdengar ada suara
keriang-keriut di luar, beberapa gerobak dorong telah berhenti di depan kedai. Lima tukang gerobak dengan
dada telanjang lantas melangkah ke dalam kedai. Berkarung-karung muatan gerobak-gerobak itu tampaknya
adalah garam yang cukup berat.
Kelima tukang gerobak itu bermandikan keringat, mereka duduk di meja yang silir sembari kipas-kipas dengan
topi rumput masing-masing. Seorang di antaranya lantas berkata, “Wah, alangkah sedap baunya. Ada ayam
goreng ya juragan? Berikan dua ekor, pilihkan yang gemuk.”
“Ai, tahu bakalan laris begini tentu di pasar kemarin aku tentu membeli ayam beberapa ekor lagi,” ujar pemilik
kedai dengan tertawa. “Maaf Tuan-tuan, ayamnya cuma tinggal seekor saja telah dipesan Tuan komandan ini.
Tapi Tuan besar ini benar-benar orang baik, beliau telah memberikan lagi kepada ketiga Tuan itu.”
Laki-laki yang bicara tadi memandang sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu melotot pula ke arah si kakek dan
kedua pemuda, kemudian berkata, “Kematian sudah di depan mata masih ingin gegares segala? Ada lebih baik
lekas enyah dari sini saja.”
Kedua pemuda tadi menjadi gusar, serentak mereka berdiri dengan tangan memegang golok. Seorang yang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
gagah itu lantas membentak, “Kau mengoceh apa?”
Si tukang gerobak yang berpotongan pendek gemuk lantas menjawab, “Hm, kawanan anjing dari Mo-kau
seperti kalian hendak berbuat apa sama berkeliaran ke sini?”
Si kakek melirik kepada kedua pemuda, lalu menjengek, “Hm, kiranya kawan-kawan sekaum sengaja hendak
cari ....” Belum selesai ucapannya, mendadak bayangannya berkelebat, “plak-plok” dua kali, punggung kedua
tukang gerobak telah kena digaplok olehnya dan roboh terkapar.
Lenghou Tiong terkejut, dalam hal ilmu pukulan dan sebagainya dia tidak mendalam mempelajari sehingga dia
tidak tahu cara bagaimana si kakek melakukan serangan kilat itu.
Terdengar suara bentakan seorang, kiranya pemilik kedai telah menerjang ke luar dengan dua bilah belati yang
mengilat terus menubruk ke arah si kakek. Tiga tukang gerobak yang lain juga sama melolos senjata dari
gerobak masing-masing dan mulai bertempur melawan kedua pemuda dari Mo-kau. Menyusul lantas terdengar
suara bentakan riuh ramai dari segenap pelosok, dari balik batu dan pohon mendadak muncul lebih 20 orang
dan membanjir ke depan kedai nasi itu.
Lenghou Tiong tambah terkejut, kiranya di sini telah sembunyi orang sebanyak ini.
Gerakan si kakek tadi ternyata sangat licin, sekali menyelinap ke samping ia telah menghindarkan terjangan si
pemilik kedai, tahu-tahu dua tukang gerobak yang lain kena dipukul roboh lagi. Tenaga pukulannya sungguh
lihai, asal kena seketika binasa sasarannya.
Tiba-tiba sinar pedang berkelebat, seorang tojin telah menyerbu ke dalam kedai, pedangnya terus menusuk si
kakek.
“Kiranya Ho-hong Susiok dari Thay-san-pay,” kata Lenghou Tiong di dalam hati.
Ho-hong Tojin yang dimaksud adalah tokoh keempat dalam Thay-san-pay, betapa tinggi ilmu silatnya hanya di
bawah ketuanya, yaitu Thian-bun Tojin. Maka sekali turun tangan susul-menyusul ia telah menyerang empat
kali sehingga si kakek terdesak mundur dua-tiga tindak. Tapi dengan memainkan kedua telapak tangannya
menyusup kian-kemari di bawah sambaran pedang lawan, sedikit pun si kakek tidak tampak di bawah angin.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Anggota-anggota Mo-kau benar-benar sangat banyak orang pandai,
pantas selama beberapa ratus tahun kaum cing-pay tidak mampu membasminya. Seperti si kakek ini jelas
adalah jago kelas satu.”
Begitulah Ho-hong Tojin masih terus mendesak sehingga kembali si kakek mundur dua tindak. Sekonyongkonyong
tangannya memukul ke belakang dan mengenai dada pemilik kedai itu, walaupun ia menyerang tanpa
menoleh, tapi seperti halnya di punggung juga ada mata, serangannya sangat jitu.
Sekali serangan tepat mengenai sasarannya, dengan cepat sekali si kakek lantas menggeser ke belakang
pemilik kedai dan kembali memukul satu kali lagi di punggungnya. Badan pemilik kedai seketika mencelat ke
depan, menubruk ke arah Ho-hong Tojin. Waktu Ho-hong berkelit ke samping, kesempatan itu cepat digunakan
si kakek untuk lari ke ruang belakang.
Sudah tentu Ho-hong Tojin tidak tinggal diam, bersama dua orang lagi mereka lantas mengejar ke dalam.
Sementara itu pemuda yang gagah tadi telah mati dikerubut oleh belasan orang. Lalu ada orang berteriak,
“Anjing kecil itu jangan dipotong lagi, kita perlu tawanan hidup!”
Tinggal pemuda yang tampan itu masih terus bertempur mati-matian meski badannya sudah penuh luka,
namun ia tidak gentar sedikit pun. Mendadak kaki kanannya kena disabet oleh ruyung seorang lawan, kontan ia
jatuh terjungkal, cepat tiga orang lantas menubruknya dan menawannya hidup-hidup.
Dalam pada itu di lereng belakang sana ramai dengan suara bentakan orang, rupanya Ho-hong Tojin dan
kawan-kawannya sedang mengejar si kakek. Tapi hanya sebentar saja Ho-hong bertiga tampak sudah kembali
dengan marah-marah, bahkan seorang di antaranya yang pendek mencaci maki kalang kabut karena tidak
mampu menyusul buronannya.
Di kala orang-orang itu sedang bertempur, Lenghou Tiong pura-pura ketakutan dan meringkuk di pojokan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kedai. Ia lihat di antara anak murid Thay-san-pay yang dipimpin Ho-hong Tojin itu ada beberapa orang seperti
sudah dikenalnya. Sejak meninggalkan Hangciu selama belasan hari ini ia tidak pernah cukur, maka ia yakin
orang-orang itu takkan bisa mengenalnya. Tapi selama mukanya tidak dirias, ia merasa tetap berbahaya. Maka
ia sengaja menunduk pura-pura takut dan tidak berani beradu pandang.
Melihat sang “perwira” sedemikian takutnya, seorang murid Thay-san-pay lantas berkata, “Tuan komandan,
kau sendiri telah menyaksikan keganasan orang-orang Mo-kau tadi. Tapi urusan ini tiada sangkut pautnya
dengan kau, silakan lekas meneruskan perjalananmu saja.”
“Baik, baik, aku akan segera be ... berangkat,” sahut Lenghou Tiong pura-pura gemetar. Lalu bergegas-gegas
keluar dari kedai dan mencemplak ke atas kudanya. Diam-diam ia pikir, “Untuk urusan apakah orang-orang ini
datang ke Hokkian sini? Apakah ada hubungannya dengan Hoa-san-pay kami?”
Lantaran pertempuran tadi sehingga Lenghou Tiong tidak jadi bersantap. Padahal daerah Pegunungan Sian-henia
sangat jarang penduduknya, meski sudah lebih 20 li jauhnya tetap tidak tampak sebuah rumah pun.
Sementara itu hari sudah hampir gelap. Seadanya Lenghou Tiong lantas petik buah-buahan yang diketemukan
sekadar tangsel perut.
Tiba-tiba ia melihat di sebelah pohon sana ada sebuah gua kecil yang rada kering dan tidak sampai terganggu
oleh binatang atau serangga. Segera ia tambat kudanya di batang pohon dan membiarkannya makan rumput
sendiri. Lalu ia sendiri pun mencari setumpukan rumput kering untuk dibuat kasur, ia bermaksud bermalam di
gua itu.
Ia merasa jalan napas dan saluran darahnya rada-rada sesak, segera ia duduk semadi. Ilmu sakti ajaran Yim
Ngo-heng itu ketika permulaan latihan tidak terasakan apa-apa, tapi setiap kali diulangi lagi setiap kali
merasakan tambahan manfaatnya, rasanya nyaman tak terkatakan. Sekian lamanya ia berlatih sehingga badan
terasa segar dan enteng.
Akhirnya ia menarik napas panjang-panjang, lalu berbangkit. Ia menjadi tersenyum getir sendiri, pikirnya,
“Tempo hari Yim-kaucu tidak mau menjawab pertanyaanku tentang apa sebabnya dia meyakinkan Gip-singtay-
hoat, padahal dia memiliki Kui-hoa-po-tian yang tiada bandingannya. Namun sekarang aku menjadi paham
sebabnya. Kiranya Gip-sing-tay-hoat ini kalau sudah berhasil diyakinkan, maka seperti halnya candu saja,
orang akan merasa seperti ketagihan dan sukar untuk meninggalkannya.”
Bab 77. Kelakar Si Perwira Gadungan
Ia berjalan keluar gua, dilihatnya langit penuh dengan bintang, sekeliling melulu suara serangga belaka. Pada
saat lain tiba-tiba dari atas jalan pegunungan itu ada suara orang sedang mendatangi. Tatkala itu jaraknya
masih jauh, tapi sekarang tenaga dalamnya amat kuat, dengan sendirinya telinganya menjadi tajam pula.
Tergeraklah pikirannya, cepat ia melepaskan tambatan kuda, ia tepuk perlahan pantat kuda itu agar berjalan
ke lereng sana. Ia sendiri lantas sembunyi di belakang pohon.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang tadi semakin mendekat. Jumlah orangnya ternyata
tidak sedikit. Di bawah sinar bintang yang remang-remang terlihat orang-orang itu sama memakai baju hijau,
seorang di antaranya bertindak dengan sangat cepat dan gesit. Kiranya bukan lain daripada si kakek yang
bertempur di kedai melawan orang-orang Thay-san-pay itu. Selebihnya kira-kira ada 30-an orang dengan
potongan tinggi-pendek tidak sama, mereka mengikut di belakang si kakek tanpa membuka suara.
“Mereka menuju ke selatan dan masuk ke Hokkian, jangan-jangan ada hubungannya dengan Hoa-san-pay
kami? Apakah mereka mendapat perintah Yim-kaucu untuk membikin susah kepada suhu dan sunio?” demikian
pikir Lenghou Tiong.
Ia tunggu sesudah rombongan itu sudah pergi rada jauh, dengan hati-hati segera ia pun menguntit dari
belakang.
Beberapa li kemudian, jalan pegunungan itu mendadak bertambah curam, kedua tepi berdiri dinding tebing,
hanya di tengah-tengah celah bukit itu jalanan sempit itu menembus. Begitu sempit jalanan itu sehingga tidak
cukup untuk dua orang jalan berjajar. Terlihat 30-an orang itu menanjak ke jalan pegunungan itu dalam
barisan yang panjang.
Lenghou Tiong lantas menyusup ke tengah semak-semak rumput di tepi jalan untuk menghindarkan pergokan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
orang-orang itu jika kebetulan ada yang menoleh. Ia hendak tunggu barisan orang itu sudah melintas ke
sebelah bukit sana barulah akan menyusul ke atas.
Di luar dugaan, ketika hampir sampai di atas bukit, mendadak rombongan orang-orang itu lantas
memencarkan diri dan bersembunyi di balik batu-batu padas, hanya sekejap saja semuanya sudah menghilang.
Lenghou Tiong terkejut dan mengira jejaknya telah diketahui oleh orang-orang itu. Tapi segera ia mengetahui
bukan begitu halnya. Pikirnya, “Mereka sembunyi di sini untuk menyergap musuh yang hendak naik ke atas
bukit. Ya, tempat ini memang sangat berbahaya, jika diserang secara mendadak tentu lawan akan terbasmi.
Ngo-gak-kiam-pay adalah kawanan serikat, aku harus memperingatkan mereka akan bahaya ini.”
Begitulah ia lantas merangkak pergi di tengah semak rumput, sesudah jauh meninggalkan jalan pegunungan
itu barulah ia lari turun ke bawah. Sesudah tidak tampak lagi tanjakan bukit tadi baru dia berani kembali ke
jalan pegunungan itu dan melangkah ke utara.
Sembari jalan cepat ia pun pasang telinga memerhatikan suara tindakan orang dari depan. Belasan li
kemudian, tiba-tiba dari tempat yang lebih tinggi di sebelah kiri berkumandang suara tajam seorang wanita
sedang berkata, “Kau masih berdebat membela Lenghou Tiong keparat itu?”
Di tengah malam buta dan di tanah pegunungan sunyi demikian mendadak namanya sendiri disebut secara
jelas oleh seorang wanita, betapa pun tabahnya Lenghou Tiong juga tidak urung merasa merinding, pikirnya,
“Setan atau siluman ini, mengapa namaku disebut-sebut di tempat begini?”
Menyusul lantas terdengar pula suara seorang wanita lain, cuma jaraknya rada jauh, suaranya perlahan pula
sehingga tidak jelas apa yang dikatakan.
Waktu Lenghou Tiong menengadah ke atas, ternyata di lereng sana berdiri dua-tiga puluh orang. Ia heran,
mereka membicarakan diriku, mengapa memaki aku keparat lagi?
Segera ia menyusup pula ke semak rumput dan menyusur ke belakang tanah tanjakan itu. Dengan jalan
membungkuk sampailah dia di balik sebatang pohon besar. Didengarnya suara seorang wanita sedang berkata,
“Supek, Lenghou-suheng berhati baik dan berbudi luhur ....”
Hanya mendengar kalimat ini saja seketika dalam benak Lenghou Tiong terbayang sebuah wajah yang bulat
telur dan cantik manis, sebab lantas diketahuinya bahwa yang bicara itu adalah nikoh cilik dari Hing-san-pay,
yaitu Gi-lim. Lantaran guncangan perasaannya sehingga ucapan Gi-lim selanjutnya tidak terdengar olehnya.
Suara wanita yang tajam semula tadi lantas berkata dengan gusar, “Mengapa kau ngotot terus? Memangnya
surat selebaran ketua Hoa-san-pay adalah palsu? Gurunya telah menyebarkan surat edaran bahwa Lenghou
Tiong telah dipecat karena bersekongkol dengan orang Mo-kau, apakah tuduhan ini adalah fitnahan? Kepergian
kita ke Hokkian sekarang rasanya tidak-bisa-tidak mesti bertarung dengan pihak Mo-kau, maka setiap tindak
tanduk kita harus dilakukan dengan hati-hati. Aku tahu dahulu kau pernah ditolong oleh Lenghou Tiong, tapi
besar kemungkinan dengan sedikit budi kebaikan yang pernah dia berikan padamu itu akan digunakan olehnya
untuk menjebak kita ....”
“Supek, kejadian itu bukan cuma sedikit budi kebaikan saja,” sela Gi-lim. “Tapi tanpa menghiraukan
keselamatannya sendiri Lenghou-suheng telah ....”
“Masih kau menyebutnya suheng?” bentak suara wanita yang pertama yang serak tua itu. “Dia memang pandai
berpura-pura, adalah bajingan yang banyak tipu daya sehingga anak kecil seperti kau mudah tertipu.”
“Perintah Supek tentu saja Tecu patuhi,” sahut Gi-lim. “Cuma ... cuma saja Lenghou-su ....” sebelum kata
“heng” terucapkan telah ditelan kembali mentah-mentah.
“Cuma apa?” tanya suara tua tadi.
Gi-lim seperti sangat takut dan tidak berani bicara lagi.
Orang tua itu lantas berkata, “Sekali ini Ngo-gak-kiam-pay telah mendatangi Hokkian semua. Kita sama-sama
mengetahui bertujuan mencari ‘Pi-sia-kiam-boh’ milik keluarga Lim di Hokciu itu. Bocah dari keluarga Lim
sudah menjadi murid Gak-siansing dari Hoa-san-pay, jika kiam-boh itu sampai diperoleh pihak Hoa-san-pay
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sudah tentu kita ikut bersyukur. Hing-san-pay kita selamanya mengutamakan keadilan dan tidak sudi
mengincar barang milik orang lain. Seumpama kiam-boh itu jatuh di tangan kita juga akan kita kembalikan
kepada keluarga Lim. Yang hendak kita jaga adalah jangan sampai kitab pusaka itu jatuh di tangan kaum jahat
sehingga disalahgunakan. Ciangbunjin telah memberikan tugas berat kepadaku untuk memimpin orang-orang
kita ke Hokkian, urusan ini menyangkut kepentingan cing-pay kita, maka kita harus waspada dan akan
kulaksanakan dengan sepenuh tenaga. Bila kiam-boh itu sampai jatuh di tangan Mo-kau sehingga menambah
ilmu kepandaian mereka, maka celakalah pihak kita tentu. Kira-kira maju lagi 30 li akan sampai di tapal batas
Hokkian dan Ciatkang, selanjutnya setiap langkah kita akan selalu menghadapi bahaya. Maka malam ini biarlah
kita capek sedikit dan meneruskan perjalanan ke Ji-pek-poh. Untungnya Ho-hong Susiok dari Thay-san-pay
sudah membunuh kawanan Mo-kau yang datang lebih dulu sehingga kita tidak perlu buang-buang tenaga lagi.
Tapi kalau orang-orang Mo-kau menyusul tiba secara besar-besaran, tentu pertarungan sengit akan terjadi
lagi.”
Terdengar suara beberapa puluh orang perempuan sama mengiakan.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Orang tua ini bukan ketua Hing-san-pay, juga bukan gurunya Gi-lim
Sumoay, entah suthay tua mana dari Hing-san-pay mereka? Dia telah menerima surat edaran guruku dan
menganggap aku sebagai orang jahat, hal ini juga tak bisa menyalahkan dia. Dia mengira rombongannya
sudah mendahului jalan di depan, tak tahunya kalau orang-orang Mo-kau sudah sembunyi di atas bukit sana.
Syukur aku memergoki kejadian ini, tapi cara bagaimana aku memberitahukan kepada mereka?”
Terdengar orang tua itu berkata pula, “Di pegunungan sunyi ini akan kuberi tahukan secara jelas kepada
kalian. Harus diketahui, begitu kita memasuki wilayah Hokkian, maka di tiap tempat akan selalu berhadapan
dengan musuh. Bukan mustahil pelayan restoran atau pesuruh hotel adalah mata-mata Mo-kau pula.
Jangankan di sebelah kamar ada telinga, bahkan di tengah semak-semak rumput umpamanya juga mungkin
ada musuh bersembunyi. Oleh karena itu, selanjutnya tiada seorang pun boleh menyebut ‘Pi-sia-kiam-boh’
segala, bahkan nama Gak-siansing, Lenghou Tiong, dan Tonghong Pit-pay juga tidak boleh disebut-sebut.”
Para murid wanita itu lantas sama mengiakan.
Kiranya ketua Mo-kau yaitu Tonghong Put-pay, karena ilmu silatnya mahasakti, maka menamakan dirinya “putpay”
(tak terkalahkan), tapi orang-orang cing-pay kalau menyebut namanya sengaja diubah menjadi “pit-pay”
(pasti kalah). Hanya beda satu huruf saja, tapi artinya sama sekali terbalik.
Mendengar namanya sendiri disejajarkan dengan nama gurunya sendiri serta nama Tonghong Put-pay,
tertampil senyuman getir di wajah Lenghou Tiong. Pikirnya, “Aku cuma seorang keroco yang tak berarti saja,
mengapa sedemikian dihargai oleh para cianpwe Hing-san-pay kalian?”
Lalu terdengar orang tua tadi berkata lagi, “Marilah kita melanjutkan perjalanan!”
Kembali para murid mengiakan, menyusul tujuh murid wanita berlari cepat ke bawah dari tempat yang tinggi
itu, selang sejenak kembali tujuh orang lari ke bawah pula.
Ginkang kaum Hing-san-pay cukup terkenal dan mempunyai keindahannya sendiri, maka barisan tujuh orang
berturut-turut itu tampaknya menjadi sangat rapi. Tidak lama kemudian kembali tujuh orang berlari turun lagi.
Murid-murid wanita itu bercampur aduk antara murid nikoh dan murid perempuan preman, di tengah malam
gelap sukar juga diketahui Gi-lim ikut di dalam kelompok yang mana. Hanya diketahui semuanya menuju ke
arah selatan.
Lenghou Tiong berpikir pula, “Para suci dan sumoay dari Hing-san-pay itu memiliki kepandaian tinggi, tapi
begitu mendaki lereng bukit sana, di tengah jalan kecil yang diapit oleh tebing yang curam, bila mendadak
disergap oleh kawanan Mo-kau, tentu keadaan tidak menguntungkan mereka dan akan menderita korban
berat.”
Begitulah berturut-turut anak murid Hing-san-pay itu telah diberangkatkan, seluruh ada lima kelompok, pada
kelompok terakhir berjumlah delapan orang, mungkin dipimpin sendiri oleh orang tua tadi.
Segera Lenghou Tiong mencabut segenggam rumput hijau dan dikucek-kucek supaya keluar airnya, lalu dipoles
ke mukanya sendiri, kemudian ditempeli pula dengan debu tanah sehingga kotor, ia menduga sekalipun di
waktu siang juga Gi-lim takkan mengenalnya. Lalu ia berlari memutar ke sebelah kiri jalanan terus mengejar ke
depan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ginkang Lenghou Tiong sebenarnya tidak tinggi, namun sekarang dia memiliki tenaga dalam yang mahakuat,
setiap langkah yang diayunkan sekenanya juga cukup lebar, apalagi sekarang ia berlari dengan bersemangat,
maka hanya sekejap saja ia sudah dapat menyusul rombongan orang-orang Hing-san-pay. Khawatir jejaknya
didengar oleh tokoh tua Hing-san-pay yang pasti berkepandaian tinggi itu, Lenghou Tiong sengaja memutar
pula untuk kemudian mendahului di depan rombongan Hing-san-pay. Sesudah berada kembali di jalanan
pegunungan itu, larinya menjadi lebih cepat lagi.
Sesudah lewat sekian lamanya, sang bulan sudah menghias di tengah cakrawala. Sampai di bawah tanah
tanjakan Lenghou Tiong lantas berhenti dan mendengarkan dengan cermat, tapi tidak terdengar sesuatu suara
apa pun. Pikirnya, “Jika aku tidak menyaksikan sendiri kawanan Mo-kau itu sembunyi di sekitar tanah tanjakan
ini, siapa yang dapat mengirakan bahwa di tempat inilah tersembunyi bahaya maut yang setiap saat akan
meletus.”
Perlahan-lahan Lenghou Tiong mendaki tanjakan yang diapit dinding tebing curam itu. Sampai di mulut jalan
yang sempit, jaraknya dengan tempat sembunyi orang-orang Mo-kau ditaksir masih ada ratusan meter
jauhnya. Segera ia duduk di situ sambil termenung, “Besar kemungkinan orang Mo-kau sudah melihat diriku,
cuma khawatir sembunyi mereka diketahui pihak Hing-san-pay, rasanya mereka takkan mengganggu diriku.”
Sesudah menunggu sebentar, akhirnya ia merebahkan diri sekalian. Selang sejenak lagi, sayup-sayup
terdengarlah suara tindakan orang di bawah sana. Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong ingin memancing
keluarnya orang-orang Mo-kau untuk bertempur agar diketahui oleh orang-orang Hing-san-pay.
Segera ia menggumam sendiri, “Huh, selama hidupku paling benci kepada pengecut-pengecut yang pintarnya
menyerang secara menggelap. Kalau benar berani kenapa tidak bertempur secara terang-terangan untuk
menentukan mati atau hidup? Huh, main sembunyi-sembunyi untuk membikin celaka orang lain, ini benarbenar
perbuatan manusia rendah yang tidak tahu malu.”
Dia bicara menghadap ke atas bukit dengan menggunakan tenaga dalam, meski suaranya tidak begitu keras,
tapi dapat berkumandang jauh dan diduga akan terdengar jelas oleh orang-orang Mo-kau.
Tak tersangka orang-orang itu ternyata cukup sabar dan dapat menahan perasaan tanpa gubris caci maki
Lenghou Tiong itu. Tidak lama kemudian, tujuh murid Hing-san-pay kelompok pertama sudah sampai di depan
Lenghou Tiong.
Di bawah sinar bulan dapatlah murid-murid Hing-san-pay itu melihat seorang perwira tentara tidur telentang di
atas tanah itu. Padahal jalan pegunungan itu sangat sempit dan cuma cukup dilalui seorang saja, kedua
samping adalah dinding tebing yang curam, untuk menanjak ke atas harus melangkahi dulu badan sang
“perwira”.
Sebenarnya dengan suatu lompatan saja dengan gampang murid-murid Hing-san-pay itu sudah bisa lalu, cuma
kaum wanita adalah tidak pantas melompat lewat di atas kepala kaum pria, betapa pun hal ini tidak sopan.
Maka seorang nikoh setengah umur di antaranya lantas berkata, “Maaf, tolong Tuan komandan suka memberi
jalan!”
Lenghou Tiong sengaja bersuara “ah-uh” tak jelas, habis itu mendadak timbul suara mengoroknya dengan
keras.
Nikoh setengah umur itu bergelar Gi-ho, wataknya rada berangasan. Ketika melihat seorang perwira tidur
mengadang di tengah jalan di tengah malam buta, bahkan suara mengoroknya itu jelas sengaja dibuat-buat,
keruan ia sangat mendongkol. Tapi sedapat mungkin ia menahan gusarnya dan bicara pula, “Jika kau tidak
mau menyingkir, terpaksa kami akan melangkah di atas badanmu.”
Sembari masih mengorok, Lenghou Tiong sengaja menggumam pula seperti mengigau, “Jalanan ini sangat
banyak setan iblisnya, janganlah lalu ke sana. Oooh, lautan derita tiada batasnya, kembalilah masih bisa
menepi.”
Gi-ho melengak, ucapan orang itu seakan-akan bermakna ganda. Seperti omongan orang sinting, tapi seolaholah
bermaksud memperingatkannya akan bahaya di depan sana.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Seorang nikoh lebih muda lantas tarik lengan baju Gi-ho, ketujuh orang sama mundur beberapa tindak.
Seorang lantas bicara dengan suara bisik-bisik, “Suci, tampaknya orang ini rada-rada tidak beres.”
“Ya, mungkin dia adalah orang Mo-kau yang hendak menyergap kita di sini,” ujar yang lain.
Tapi seorang lagi lantas menanggapi, “Tidak, kukira orang Mo-kau takkan menjadi perwira kerajaan. Andaikan
sengaja menyamar juga akan menyaru dalam bentuk lain.”
“Tak perlu gubris padanya,” kata Gi-ho akhirnya. “Jika dia tetap tidak mau menyingkir segera kita melompati
dia.”
Lalu ia melangkah maju dan membentak, “Jika kau tetap tidak menyingkir, terpaksa kami akan berlaku kurang
hormat.”
Baru sekarang Lenghou Tiong pura-pura mendusin, lalu merangkak bangun berduduk sambil mengolet
kemalas-malasan. Khawatir Gi-lim mengenalnya, ia sengaja duduk menghadap ke atas bukit dan
membelakangi anak murid Hing-san-pay itu. Dengan sebelah tangan menahan dinding tebing, badannya purapura
sempoyongan kayak orang mabuk sembari berseru, “Arak enak, arak bagus!”
Pada saat itu pula anak murid Hing-san-pay kelompok kedua juga sudah tiba. Seorang murid dari keluarga
preman lantas tanya, “Gi-ho Suci, apa yang dilakukan orang ini di sini?”
“Entah, kenal saja tidak!” ujar Gi-ho sambil mengerut dahi.
Tiba-tiba Lenghou Tiong berseru, “Tadi baru saja sembelih seekor anjing, perutku menjadi kembung saking
kenyang, terlalu banyak pula menenggak arak, wah, mungkin aku ingin muntah-muntah. Ai, celaka, benarbenar
akan muntah!”
Lalu ia sengaja mengeluarkan suara “Aooh! Aouuuh!” seperti orang hendak tumpah.
Murid-murid perempuan Hing-san-pay itu dasarnya memang suka akan kebersihan, sesudah menjadi murid
Hing-san-pay mereka tidak pernah minum arak dan makan daging pula, apalagi daging anjing. Keruan mereka
sama mendekap hidung dan menyingkir mundur demi mendengar ocehan Lenghou Tiong tadi.
Meski mulutnya menguak berulang-ulang, tapi tiada sesuatu yang ditumpahkan oleh Lenghou Tiong.
Selagi murid-murid Hing-san-pay itu bisik-bisik membicarakan kelakuan Lenghou Tiong itu, dalam pada itu
rombongan ketiga juga sudah tiba pula. Segera terdengar seorang di antaranya berkata dengan suara lemah
lembut, “Orang ini sedang mabuk, sungguh harus dikasihani. Biarlah dia mengaso sebentar barulah kita lewat
ke sana.”
Mendengar suara itu, hati Lenghou Tiong rada tergetar, pikirnya, “Hati Gi-lim Sumoay benar-benar welas asih.”
Tapi terdengar Gi-ho telah berkata, “Orang ini sengaja mengacau di sini, agaknya tidak bermaksud baik.”
Habis itu ia lantas melangkah maju dan membentak, “Lekas menyingkir!”
Berbareng itu pundak kanan Lenghou Tiong lantas didorong.
Lenghou Tiong pura-pura tergeliat sambil berseru, “Ai, celaka!”
Tubuhnya lantas terhuyung-huyung ke depan sehingga jalan pegunungan yang sempit itu semakin tersumbat.
Untuk bisa lalu Gi-ho dan rombongannya harus melompat melintasi kepala Lenghou Tiong, lain jalan tidak ada.
Gi-ho menyusul maju dan membentak lagi, “Minggir!”
“Baik, baik!” sahut Lenghou Tiong sembari melangkah ke atas beberapa tindak. Semakin jalan semakin
menanjak ke atas sehingga jalanan sempit itu semakin tertutup rapat. Mendadak ia berteriak, “Hai, kawankawan
yang sembunyi di atas itu, awas, orang-orang yang kalian tunggu-tunggu sekarang sudah mulai naik ke
atas, begitu diterjang tentu tiada satu pun bisa lolos!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mendengar teriakan Lenghou Tiong itu, cepat Gi-ho dan teman-temannya melangkah mundur. Seorang di
antaranya berkata, “Tempat ini memang sangat berbahaya, jika musuh sembunyi di sini dan menyergap secara
mendadak memang sukar untuk ditahan.”
“Jika benar ada orang sembunyi di sini masakah dia berteriak-teriak demikian?” ujar Gi-ho. “Kukira dia cuma
menggertak sambal belaka, tentu di atas tidak ada orang. Bila kita perlihatkan rasa takut tentu akan ditertawai
musuh.”
“Memang,” tukas dua nikoh setengah umur yang lain. “Marilah kita bertiga membuka jalan di depan, biarkan
para sumoay menyusul dari belakang.”
Begitulah mereka lantas melolos pedang, segera mereka mendekati Lenghou Tiong pula.
Lenghou Tiong pura-pura megap-megap napasnya dan berkata, “Wah, terjal benar bukit ini, sudah tua, tidak
kuat lagi.”
Seorang nikoh itu lantas membentak, “He, silakan kau minggir agar kami bisa lewat dulu.”
“Ai, orang beragama janganlah suka marah-marah. Cepat atau lambat akhirnya toh akan sampai juga di
tempat tujuan. Ai, kalau pergi ke akhirat kan lebih baik perlahan sedikit.”
“Kurang ajar, kenapa kau memaki orang?” kata nikoh tadi sembari menusukkan pedangnya ke punggung
Lenghou Tiong dari samping Gi-ho.
Tujuannya hanya untuk menggertak Lenghou Tiong agar dia mau menyingkir, maka ketika pedangnya hampir
mencapai tubuhnya segera ia tahan pedang dan tidak diteruskan.
Kebetulan pada saat yang sama Lenghou Tiong telah putar tubuh, ketika melihat sebatang pedang mengacung
tepat di depan dadanya, mendadak ia membentak, “Ai, kau ... kau mau apa? Aku adalah pembesar kerajaan,
kau berani berbuat kurang ajar padaku? Hayo prajurit, tangkap nikoh ini!”
Tapi biarpun dia membentak dan berteriak memberi aba-aba, sudah tentu di pegunungan sunyi itu tiada orang
menggubrisnya. Malahan beberapa nikoh muda menjadi cekikikan geli. Mereka merasa lucu akan sikap
Lenghou Tiong yang berlagak seperti tuan besar itu.
“Tuan komandan, kami ada urusan penting harus buru-buru berangkat, sudilah kau minggir dulu memberi
jalan,” demikian seorang nikoh membujuk lagi dengan tertawa.
“Komandan apa segala? Aku adalah panglima, kau harus panggil jenderal padaku, tahu?” bentak Lenghou
Tiong.
Dengan tertawa-tawa beberapa nikoh lantas memanggil berbareng, “Baiklah, Jenderal, mohon engkau suka
memberi jalan!”
Lenghou Tiong bergelak tertawa sembari membusungkan tiada, lagaknya seperti dunia ini dia kuasa. Tapi
mendadak sebelah kakinya terpeleset, badannya terus terperosot jatuh.
Nikoh-nikoh muda itu sama menjerit khawatir. Dua di antaranya lantas memburu maju untuk memegangi
lengan Lenghou Tiong. Lenghou Tiong pura-pura terpeleset sekali lagi, habis itu baru berdiri tegak sambil
memaki, “Mak ... begini licin tanah ini. Pembesar setempat benar-benar tak becus semua, masakah jalanan
kecil seburuk ini tidak pernah diperbaiki.”
Karena terpeleset dan jatuhnya itu, waktu berdiri lagi badannya sudah menyandar pada dinding tebing yang
lekuk, kesempatan itu segera digunakan oleh murid-murid Hing-san-pay untuk melompat lewat dengan
ginkang masing-masing dan terus berlari ke atas.
Ketika sesosok tubuh yang ramping melayang lewat, itulah Gi-lim adanya. Cepat Lenghou Tiong lantas
mengintil di belakangnya. Dengan demikian orang-orang yang masih berada di belakang menjadi terhalang
lagi.
Melihat langkah Lenghou Tiong sangat kaku, napasnya terengah-engah pula, dua tindak tiga kali jatuh, jalan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
setengah merangkak, tapi cukup cepat juga, maka murid-murid Hing-san-pay yang berada di belakangnya
sama geli dan mengomel pula, “Ai, jenderal kok begini ... jatuh berapa kali sih setiap harinya?”
“Jangan kau mendesak-desak jenderal, Gi-jing Suci,” kata Gi-lim sambil menoleh. “Jika terburu-buru nanti
beliau benar-benar akan jatuh tergelincir ke bawah.”
Melihat sepasang mata Gi-lim yang besar dan bening dengan wajah yang ayu itu, Lenghou Tiong jadi terkenang
kejadian dahulu ketika menghindari pengejaran orang-orang Jing-sia-pay di Kota Heng-san. Gi-lim telah
memondongnya melarikan diri dari kota itu, tatkala itu dirinya pernah juga memandang muka yang molek itu
dengan kesima. Maka sekarang mendadak timbul juga rasa kasihnya, pikirnya kalau musuh yang sembunyi di
atas itu sampai menyerbu keluar, betapa pun aku harus melindungi keselamatan Gi-lim Sumoay.
Dalam pada itu kelompok-kelompok Hing-san-pay di bagian belakang berturut-turut sudah sampai di kaki
bukit, sedang kelompok paling depan juga hampir mencapai atas bukit sana.
Lenghou Tiong sengaja berteriak-teriak lagi, “He, he! Awas! Di atas sana banyak bersembunyi kaum pencoleng,
hati-hati jangan sampai sedikit sangu yang kalian bawa itu dirampok oleh mereka!”
“Ada jenderal kita di sini, kenapa kita mesti takut!” ujar Gi-jing dengan tertawa.
“He, awas, seperti ada orang melongak-longok di atas sana!” teriak Lenghou Tiong.
Seorang murid muda lantas mengomel, “Jenderal ini memang rewel, masakah kami takut kepada beberapa
kaum pencoleng begituan?”
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar jeritan dua murid wanita yang lain dan terus terperosot
ke bawah. Cepat dua temannya memburu maju untuk membangunkan mereka.
Beberapa orang di depan lantas berseru, “Awas, kawanan bangsat melepaskan senjata rahasia!”
Belum habis ucapannya kembali ada seorang terguling ke bawah lagi.
“Berjongkok semua, awas senjata rahasia musuh!” seru Gi-ho. Serentak mereka sama mendakkan tubuh.
Lenghou Tiong lantas memaki, “Bangsat kurang ajar, apa kalian tidak tahu ada jenderal di sini?”
Gi-lim tarik-tarik tangannya sambil berkata khawatir, “Lekas berjongkok, lekas!”
Beberapa murid wanita di depan sana lantas balas menghamburkan senjata rahasia, tapi musuh sembunyi di
balik batu-batu padas, seorang pun tidak kelihatan, sudah tentu serangan mereka tidak mengenai sasarannya.
Nikoh tua yang memimpin rombongan Hing-san-pay itu adalah Ting-cing Suthay. Ketika mendengar jejak
musuh diketemukan di bagian depan, segera ia memburu maju dengan melompati kepala anak murid wanita
itu. Sampai di belakang Lenghou Tiong, secepat burung ia lantas melayang lewat pula di atas kepalanya.
Keruan Lenghou Tiong berteriak-teriak, “Wah, sebal, sial!” Lalu ia berludah beberapa kali.
Tertampak Ting-cing Suthay terus menyerbu ke atas di bawah berhamburnya senjata rahasia musuh, senjatasenjata
rahasia itu ada yang menancap di lengan bajunya yang gondrong longgar itu, ada yang disampuk jatuh
pula. Hanya beberapa kali loncatan lagi Ting-cing Suthay sudah sampai di atas bukit.
Tapi baru saja sebelah kakinya hendak melangkah ke atas, sekonyong-konyong angin keras menyambar tiba.
Sebatang toya tembaga telah mengemplang ke atas kepalanya. Dari suara angin yang menderu itu dapatlah
diketahui toya itu pasti sangat berat.
Ting-cing Suthay tidak berani menangkis begitu saja, cepat ia berkelit dan menggeser ke samping. Tapi tahutahu
dua tombak berantai lantas menusuknya pula dari atas dan bawah. Ternyata penyerangnya adalah
seorang ahli tombak yang lihai.
“Pengecut!” bentak Ting-cing Suthay sambil cabut pedangnya, sekali tangkis sepasang tombak lawan kena
disampuk ke samping. Tapi toya tadi lagi-lagi menyerampang ke pinggangnya. Kiranya ada tiga musuh lihai
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
yang menyergapnya di ujung jalan situ sehingga Ting-cing tidak sempat mencapai puncak bukit.
Meski satu lawan tiga, namun Ting-cing Suthay tetap tabah. Ketika pedangnya menempel toya musuh, sekalian
ia terus menebas ke bawah. Tapi sebuah tombak lawan tahu-tahu juga menusuk ke pundaknya.
Dalam pada itu di bawah sana ramai dengan jerit khawatir murid-murid Hing-san-pay, menyusul terdengarlah
suara gemuruh, ternyata musuh sudah memanjat ke atas tebing dan dari situ mereka menjatuhkan batu-batu
besar.
Terimpit di jalan pegunungan yang sempit itu, terpaksa murid-murid Hing-san-pay itu berlompatan kian-kemari
untuk menghindari tumbukan batu-batu besar. Untung murid Hing-san-pay yang dikerahkan ke Hokkian ini
adalah jago-jago pilihan semua dengan ginkang yang tinggi, namun demikian tidak urung beberapa orang
terluka juga keserempet batu-batu itu.
Mendengar jeritan anak muridnya, Ting-cing Suthay lantas mundur dua tindak dan berseru, “Putar balik, turun
dulu ke bawah!”
Segera ia mengadang di belakang untuk menahan kejaran musuh.
Tapi suara gemuruh masih terus terdengar, batu-batu besar dijatuhkan terus oleh musuh dari atas tebing.
Menyusul terdengar suara benturan senjata yang ramai, kiranya di kaki bukit juga ada musuh, mereka
menunggu rombongan Hing-san-pay sudah memasuki jalanan sempit dan mendaki ke atas bukit, begitu teman
di atas bertindak, lalu mereka muncul dari tempat sembunyi untuk menyumbat jalan mundur orang-orang
Hing-san-pay.
Segera Ting-cing Suthay mendapat laporan dari bagian bawah bahwa musuh yang mencegat di bawah itu
sangat lihai, sukar menerjang ke bawah. Bahkan sejenak kemudian laporan datang lagi mengatakan dua teman
telah terluka.
Ting-cing menjadi gusar, secepat terbang ia lari ke bawah. Dilihatnya dua laki-laki baju hijau dengan golok
sedang menyerang, dua murid wanita tampak terdesak mundur. Sembari membentak Ting-cing terus melayang
ke bawah dengan tusukan pedang.
Tapi mendadak dari bawah dua buah gandin berantai menghantam mukanya. Terpaksa Ting-cing menangkis
dengan pedangnya, sebuah gandin yang lain mendadak mencelat ke atas untuk kemudian lantas menghantam
ke bawah.
Keruan Ting-cing terkejut dan mengakui betapa hebat tenaga lawan. Sebab gandin itu masing-masing
sedikitnya adalah 20-an kati. Tapi orang itu dapat memainkan gandin seberat itu dari jauh dengan melalui
rantai yang lemas, maka dapatlah dibayangkan kekuatan lengannya itu.
Jika di tanah datar Ting-cing Suthay tentu tidak sukar untuk melayani serangan-serangan demikian, tapi di
tengah jalan sedemikian sempit, selain berhadapan dari satu jurusan tiada jalan lain lagi. Padahal sepasang
gandin lawan itu diputar sedemikian rapatnya dan menghantam berulang-ulang, percuma saja Ting-cing
memiliki ilmu pedang yang tinggi, terpaksa ia main mundur ke atas bukit lagi.
Tiba-tiba terdengar suara mengaduh di atas, kembali beberapa murid wanita terguling ke bawah karena kena
senjata rahasia musuh.
Bab 78. Orang Hing-san-pay Masuk Perangkap Musuh
Ting-cing coba tenangkan diri, ia merasa musuh yang menjaga di atas itu ilmu silatnya lebih lemah dan lebih
mudah dilayani. Maka cepat ia menerjang ke atas lagi dengan melompati murid-murid Hing-san-pay.
Ketika Lenghou Tiong dilompati pula, ia lantas berteriak-teriak, “Ai, macam apa ini? Memangnya lompat tinggi
atau lompat jauh? Sudah tua begini masih suka main-main lompat segala? Kepalaku kau lompati ke sana ke
sini, sungguh sial, kalau judi tentu kalah!”
Lantaran ingin buru-buru menerjang musuh, maka Ting-cing tidak memerhatikan apa yang diucapkannya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sebaliknya Gi-lim lantas berkata kepadanya, “Maaf, Supek kami tidak sengaja melompati kau!”
Tapi Lenghou Tiong pura-pura masih mengomel, “Sudah sejak tadi aku bilang di sini banyak pencoleng, tapi
kalian tidak mau percaya.”
Dalam hati ia pun merasa tidak terduga bahwa di bawah bukit itu ternyata ada sembunyi orang-orang Mo-kau
pula. Tergencet di tengah jalan sedemikian sempit, biarpun berjumlah banyak juga terpaksa orang-orang Hingsan-
pay tidak mampu berkutik, untuk membantu mereka dirasakan serbasusah juga.
Waktu Ting-cing hampir tiba di atas bukit lagi, sekonyong-konyong bayangan toya berkelebat, sebatang
pentung padri telah mengemplang ke atas kepalanya. Kiranya musuh telah siap di situ pula dengan jago
pilihan.
Diam-diam Ting-cing gelisah, ia pikir kalau rintangan ini tidak bisa dibobolkan, besar kemungkinan anak murid
Hing-san-pay yang dipimpinnya ini akan musnah seluruhnya di bukit ini.
Cepat ia mengegos, pedangnya menusuk dari samping, dari jarak beberapa senti saja jauhnya ia berhasil
menghindarkan diri dari hantaman pentung musuh. Berbareng itu ia sudah menubruk maju bersama
pedangnya terus menusuk musuh bersenjata pentung, yaitu seorang thauto (hwesio berambut) besar gemuk.
Serangan Ting-cing ini boleh dikata sangat bahaya, tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, jika perlu
gugur bersama musuh. Karena tidak terduga-duga akan kenekatan Ting-cing, thauto itu menjadi tidak keburu
menarik kembali pentungnya untuk menangkis. “Cret”, tusukan pedang itu tepat menancap di bawah iganya.
Thauto itu benar-benar sangat tangkas dan kuat, meski terluka parah ia masih berteriak sembari menghantam
sehingga pedang Ting-cing terpukul patah menjadi dua, sudah tentu kepalanya juga berlumuran darah.
“Lekas, berikan pedangmu!” seru Ting-cing.
Secepat terbang Gi-ho melompat ke atas sembari mengangsurkan pedangnya dan berseru, “Ini, Supek!”
Baru saja Ting-cing putar tubuh hendak memegang pedang itu, sekonyong-konyong dari sebelah sebuah
tombak menyerang ke arah Gi-ho, tombak yang lain terus menusuk pula ke pinggang Ting-cing Suthay.
Terpaksa Gi-ho menarik kembali pedangnya untuk menangkis. Tapi orang bertombak itu lantas menyerang
lebih gencar sehingga Gi-ho didesak mundur ke bawah lagi. Maka gagallah usahanya mengangsurkan
pedangnya kepada Ting-cing.
Menyusul dari sana menubruk maju lagi tiga orang. Dua orang bergolok, seorang pakai sepasang boan-koanpit,
Ting-cing lantas terkepung di tengah. Namun sedikit pun nikoh tua itu tidak gentar, dengan bertangan
kosong ia keluarkan “Thian-tiang-ciang-hoat” yang lihai dari Hing-san-pay, ia layani empat senjata musuh
dengan sama lihainya.
“Ai, bagaimana baiknya ini?” demikian seru Gi-lim perlahan karena khawatir.
Segera Lenghou Tiong berteriak, “He, kawanan berandal kurang ajar! Minggir, minggir, biar aku lewat ke sana
untuk membekuk berandal-berandal itu.”
“Eh, jangan, mereka bukan berandal biasa, tapi adalah jago silat semua, begitu maju tentu kau akan dibunuh
mereka,” cegah Gi-lim.
Tapi Lenghou Tiong lantas membusungkan dada dan berkata, “Sungguh terlalu kawanan bandit ini, apa mereka
tidak kenal undang-undang kerajaan?”
Habis itu ia lantas melangkah maju dan mendesak lewat di samping murid-murid wanita Hing-san-pay itu.
Terpaksa murid-murid itu menempel rapat di dinding untuk memberi jalan padanya.
Setiba di atas bukit, segera Lenghou Tiong bermaksud melolos goloknya, tapi sudah ditarik-tarik sekian
lamanya golok tidak tertarik keluar. Ia pura-pura memaki, “Neneknya, golok ini juga main gila padaku. Pada
detik segawat ini mengapa dia berkarat di dalam sarungnya dan tidak mau keluar!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Gi-ho yang sedang bertempur sengit melawan dua anggota Mo-kau dapat mendengar omelan Lenghou Tiong di
belakangnya itu, ia menjadi dongkol dan geli pula, segera ia berteriak, “Lekas kau menyingkir, di sini terlalu
bahaya bagimu!”
Karena berbicara, sedikit meleng saja tombak musuh telah menusuk ke pundaknya dan hampir saja terluka.
Lekas-lekas Gi-ho melompat mundur, sudah tentu lawannya lantas memburu maju.
Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak, “Wah, wah! Apa macam ini? Berandal kurang ajar, apa kalian tidak
melihat jenderalmu berada di sini?”
Sekali menyelinap, tahu-tahu ia telah mengadang di depan Gi-ho.
Musuh yang bertombak itu menjadi melengak ketika mendadak muncul seorang perwira tentara di
hadapannya. Saat itu cuaca sudah mulai remang-remang sehingga dapat terlihat jelas dandanan Lenghou
Tiong yang terang adalah perwira tinggi kerajaan. Maka tombak orang itu tidak jadi ditusukkan terus, hanya
diacungkan ke dada Lenghou Tiong sambil membentak, “Siapa kau? Apakah orang yang berkaok-kaok di bawah
tadi adalah pembesar anjing kau ini?”
“Nenekmu, kau sebut aku pembesar anjing? Kau sendirilah berandal anjing!” balas Lenghou Tiong dengan
lagak tuan besar. “Kalian berani merampok di sini, aku sudah datang masih juga kalian tidak lekas kabur,
sungguh besar amat nyali kalian! Nanti kalau jenderalmu ini sudah bekuk batang leher kalian dan dimasukkan
penjara baru kalian tahu rasa.”
Dia sengaja mengoceh tak keruan, sebaliknya murid-murid Hing-san-pay yang berada di belakangnya sama
geleng-geleng kepala.
Sekilas Lenghou Tiong melihat Ting-cing Suthay belum ada tanda-tanda akan kalah, kawanan Mo-kau juga
tidak menghujani senjata rahasia lagi ke bawah, maka ia lantas membentak, “Bandit kurang ajar, mengapa
kalian tidak lekas berlutut dan menyembah minta ampun padaku? Memangnya kalian ingin kupenggal kepala
kalian satu per satu ....”
Mendengar ucapan itu, murid-murid Hing-san-pay sama mengerut kening dan berkata di dalam hati, “Orang
gila!”
Gi-ho lantas melangkah maju dengan pedang terhunus, ia siap melindungi Lenghou Tiong jika musuh mulai
menyerangnya.
Lenghou Tiong pura-pura tarik-tarik goloknya lagi sekuat tenaga dan tetap tak terlolos dari sarungnya, kembali
ia mengumpat, “Neneknya, di garis depan golok pusaka ini justru berkarat. Hm, jika golok ini tidak berkarat,
biarpun seribu kepala kawanan berandal macam kalian juga sudah kupenggal.”
Musuh bersenjata tombak itu terbahak-bahak geli, lalu membentak, “Persetan kau!”
Berbareng itu batang tombaknya terus digunakan menyabet pinggang Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong menjerit takut sembari menarik goloknya sekuat tenaga sehingga golok itu terbetot berikut
sarungnya, lalu tubuhnya menyelonong ke depan pura-pura terbanting jatuh.
“Hati-hati!” seru Gi-ho.
Tapi di waktu terbanting jatuh tadi Lenghou Tiong sudah menggunakan satu jurus dari “Tokko-kiu-kiam”, ujung
sarung goloknya dengan tepat menutuk hiat-to penting di pinggang musuh bertombak. Tanpa berkutik sedikit
pun musuh itu lantas menggeletak tak berkutik lagi.
Sesudah “bluk” terbanting jatuh, seperti orang kelabakan, lekas-lekas Lenghou Tiong merangkak bangun. Lalu
ia pura-pura heran, “He? Aha, kau juga terguling! Kita menjadi seri, marilah kita coba-coba lagi.”
Gi-ho cukup cerdik dan cekatan, tanpa disuruh ia terus cengkeram laki-laki itu dan dilemparkan ke belakang. Ia
pikir dengan seorang tawanan tentu urusan akan lebih mudah diselesaikan.
Dalam pada itu dari pihak Mo-kau telah menerjang maju lagi tiga orang dengan maksud hendak menolong
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kawan mereka.
Lenghou Tiong berteriak pula, “Aha, kawanan berandal benar-benar kurang ajar!”
Segera goloknya memukul ke kanan dan menyabet ke kiri, caranya sama sekali tidak teratur.
Memang Tokko-kiu-kiam yang ajaib itu tidak punya jurus serangan tertentu, apakah dimainkan dengan indah
atau dimainkan secara bodoh tiada beda daya gempurnya dan sama-sama dapat mengalahkan musuh dengan
ajaib. Sebab titik pokoknya adalah terletak pada tujuannya dan bukan gayanya.
Langkah Lenghou Tiong tertampak sempoyongan kian-kemari, goloknya yang masih berselubung sarung itu
diputarnya serabutan tak keruan. Tiba-tiba ia seperti kesandung dan menubruk ke arah seorang anggota Mokau.
“Bluk”, kebetulan ujung sarung golok tepat mengenai pula “ki-hay-hiat” di bagian perut orang itu. Orang
itu cuma sempat menarik napas panjang-panjang, lalu jatuh terkapar.
Sambil menjerit kaget, Lenghou Tiong melompat mundur, tahu-tahu gagang goloknya membentur pula “sintong-
hiat” di bagian punggung seorang lawan. Kontan orang itu terguling.
Mendadak kaki Lenghou Tiong seperti kesandung badan musuh yang terguling itu. Ia memaki, “Nenekmu!”
Tapi tubuhnya lantas terhuyung-huyung ke depan dan kembali sarung goloknya tepat mengarah di atas tubuh
seorang Mo-kau bergolok.
Orang ini adalah satu di antara jago pilihan yang mengeroyok Ting-cing Suthay. Lantaran punggungnya
tertumbuk, golok yang dia pegang lantas mencelat dari cekalan. Kesempatan itu tidak diabaikan Ting-cing,
kontan ia melancarkan pukulannya di dada musuh. Tanpa ampun lagi orang itu muntah darah dan tampaknya
jiwanya tak tertolong lagi.
“Eh, awas, awas!” demikian Lenghou Tiong berkaok-kaok sambil mundur-mundur beberapa tindak ke arah
musuh yang pakai senjata boan-koan-pit.
Tanpa pikir orang itu lantas menutuk “sin-tong-hiat” di punggung Lenghou Tiong dengan senjata pensilnya.
Namun Lenghou Tiong sempat menggeliat dan menyelonong ke depan lagi, di mana ujung sarung goloknya
membentur, kembali dua anggota Mo-kau kena dirobohkan lagi.
Musuh bersenjata boan-koan-pit itu sangat gesit, secepat terbang ia lantas menubruk maju. Lenghou Tiong
menjerit, “Tolooong!” sambil terus lari ke depan. Sudah tentu orang itu lantas mengejar.
Di luar dugaan mendadak Lenghou Tiong menghentikan langkah dan berdiri tegak, gagang goloknya menongol
ke belakang melalui bawah ketiak. Karena tidak pernah menduga Lenghou Tiong akan berhenti mendadak,
keruan musuh yang mengejar itu menjadi kelabakan, betapa pun tinggi ilmu silatnya juga tidak sempat untuk
ganti haluan lagi, saling nafsunya dia mengudak sehingga “tong-kok-hiat” di antara dada dan perutnya seperti
sengaja ditumbukkan sendiri ke gagang golok Lenghou Tiong. Air muka orang itu memperlihatkan sikap yang
sangat aneh, seakan-akan terhadap apa yang terjadi sekali-kali tidak mau percaya. Namun perlahan-lahan
badannya lantas terkulai lemas.
Kemudian Lenghou Tiong baru memutar tubuh, dilihatnya pertempuran di atas bukit sudah berakhir, sebagian
murid-murid Hing-san-pay sudah naik ke situ dan sedang berdiri berhadapan dengan kawanan Mo-kau, temantemannya
berturut-turut juga sedang naik ke atas bukit dengan cepat.
Lenghou Tiong lantas berteriak-teriak pula, “He, kawanan bandit kurang ajar, melihat sang jenderal di sini
mengapa kalian tidak takluk dan menyembah minta ampun padaku? Apa kalian minta mampus semua!”
Habis itu dengan memutar goloknya yang bersarung itu ia terus menyerbu ke tengah-tengah gerombolan Mokau.
Karena tidak kenal asal usulnya, anggota-anggota Mo-kau itu tidak berani sembrono, beramai-ramai senjata
mereka memapak terjangan Lenghou Tiong.
Murid-murid Hing-san-pay segera bermaksud maju untuk membantu, tapi kelihatan Lenghou Tiong sudah
berlari ke luar dari gerombolan musuh sambil berteriak-teriak, “Wah, lihai amat kawanan bandit kurang ajar
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
ini!”
Lenghou Tiong berlari dengan langkah yang berat dan setengah diseret, sedikit ayal mendadak ia jatuh
terbanting, goloknya yang bersarung itu terpental balik dan tepat mengetok keningnya, seketika ia jatuh
kelengar. Tapi dalam serbuannya ke tengah gerombolan Mo-kau itu ternyata ada lima jago musuh yang telah
digulingkan lagi.
Habis serbu musuh mendadak jatuh sendiri tak sadarkan diri, keruan hal ini membuat kedua pihak sama-sama
tertegun heran.
Cepat Gi-ho dan Gi-jing memburu maju sambil berseru, “Kenapa kau, Jenderal?”
Tapi Lenghou Tiong memejamkan mata dengan rapat dan pura-pura tidak sadar.
Seorang tua yang menjadi pemimpin gerombolan Mo-kau mau tak mau harus berpikir dulu sebelum bertindak
lagi. Hanya dalam sekejap saja pihaknya sudah mati seorang, bahkan ada sebelas orang yang ditutuk roboh
secara aneh oleh perwira sinting itu. Baru saja perwira itu pun menyerbu ke tengah barisannya, ketika dia
menyerang dua kali dan bermaksud menangkapnya tapi gagal, bahkan hiat-to sendiri yang penting hampirhampir
tertutuk oleh sarung goloknya.
Nyata benar betapa tinggi ilmu silat “perwira sinting” benar-benar sukar diukur. Apalagi pihak sendiri sudah
tertutuk roboh sebelas orang, lima orang di antaranya kena ditawan pula oleh Hing-san-pay, jelas urusan hari
ini tidaklah menguntungkan.
Maka dengan suara lantang orang tua itu lantas berkata, “Ting-cing Suthay, orang-orangmu yang terkena
senjata rahasia itu perlu obat pemunah racun tidak?”
Melihat di pihak sendiri juga ada beberapa orang yang tak sadarkan diri karena terkena senjata rahasia berbisa
musuh, maka tahulah Ting-cing Suthay akan maksud lawan, ia lantas menjawab, “Berikan obat pemunah untuk
tukar orang!”
Orang itu manggut-manggut, lalu bisik-bisik bicara dengan seorang anak buahnya, kemudian majulah anak
buahnya itu dengan membawa sebuah botol porselen kecil ke hadapan Ting-cing Suthay dengan hormat.
Ting-cing terima botol obat itu, lalu berkata dengan suara tegas, “Jika obat pemunahnya manjur betul tentu
akan kubebaskan orang-orangmu.”
“Baik,” sahut orang itu. “Ting-cing Suthay dari Hing-san-pay tentu bukan seorang yang suka menjilat kembali
ludahnya sendiri.”
Habis itu ia lantas memberi tanda, dua anak buahnya lantas berlari maju untuk menggotong mayat kawan
mereka yang sudah mati, dua orang lagi mendekati orang bersenjata boan-koan-pit tadi untuk memayangnya.
Lalu mereka turun ke bawah bukit dari sebelah barat. Dalam sekejap saja mereka sudah menghilang.
Perlahan-lahan Lenghou Tiong pura-pura siuman sambil merintih, “Aduh, sakit benar!”
Diraba-rabanya dahi sendiri yang benjut itu. Lalu menyambung, “He, ke mana kawanan berandal itu? Ke mana
mereka?”
Gi-ho mengikik geli, sahutnya, “Jenderal benar-benar sangat aneh bin lucu, untung tadi kau menyerbu ke
tengah musuh dan menyerang mereka serabutan, ternyata kawanan berandal itu dapat kau halau lari.”
“Hahahaha! Bagus, bagus! Sekali jenderalmu maju, seketika kawanan berandal kabur semua,” demikian ia
berkaok dengan tepuk-tepuk dada. Tapi mendadak ia memegang dahi sambil menjerit, “Aduh ....”
“Apakah lukamu sakit, Jenderal?” tanya Gi-ho. “Ini, kami ada obat luka.”
“O, tidak apa-apa, aku hanya-pusing kepala!” sahut Lenghou Tiong dengan menyengir.
Ting-cing Suthay menyerahkan obat pemunah kepada seorang muridnya dan menyuruhnya mengobati kawankawan
yang terluka. Lalu ia mendekati Lenghou Tiong dan memberi hormat, katanya, “Nikoh tua Ting-cing dari
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Hing-san mohon tanya siapakah nama Siauhiap (pendekar muda) yang mulia?”
Hati Lenghou Tiong terkesiap dan diam-diam mengakui tokoh Hing-san-pay itu benar-benar bermata tajam
karena dapat mengetahui usianya yang masih muda, bahkan tahu dia adalah jenderal gadungan. Maka cepat ia
membalas hormat dan menjawab, “Hormatku Suthay. Jenderal she Go bernama Thian-tik, jabatanku adalah
panglima militer daerah kota besar Coanciu, sekarang juga aku akan menuju ke tempat jabatanku itu.”
Sudah tentu Ting-cing merasa sangsi, sudah jelas orang ini memiliki ilmu silat mahatinggi, tidak nanti sudi
menjadi kaki tangan kerajaan. Tapi dengan jawabannya itu jelas dia tidak mau mengaku terus terang asal
usulnya. Padahal Hing-san-pay telah utang budi padanya, entah bagaimana cara membalasnya kelak. Katanya
kemudian, “Kiranya Ciangkun (jenderal) adalah seorang tokoh yang tirakat dalam jabatan resmi. Ilmu silat
Ciangkun sukar diukur, meski nikoh tua sudah berpengalaman, tapi sedikit pun tidak dapat menerka asal usul
perguruanmu, sungguh aku sangat kagum.”
Lenghou Tiong bergelak tertawa, katanya, “Sesungguhnya ilmu silatku memang sangat lihai. Banyak terima
kasih atas pujianmu. Harap kau berdoa saja agar aku lekas naik pangkat dan banyak rezeki, setiap kali judi
pasti menang, istri muda tambah sepuluh lagi, putra-putri berbaris seperti antre. Hahahahahaha!”
Di tengah suara gelak tawanya itulah ia lantas melangkah pergi.
Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang sinting itu, anak murid Hing-san-pay lantas mengelilingi Ting-cing
Suthay, dan tanya beramai-ramai, “Supek, orang macam apakah dia itu?”
“Dia benar-benar sinting atau pura-pura saja?”
Ting-cing hanya menghela napas dan tidak menjawab. Ia coba memandang anak murid yang terluka itu,
ternyata keadaan mereka sudah tidak berbahaya setelah dibubuhi obat pemunah dari Mo-kau tadi. Untuk
penyembuhan selanjutnya Hing-san-pay sendiri juga punya obat luka yang manjur. Maka ia lantas membuka
hiat-to kelima anggota Mo-kau yang tertutuk itu dan menyuruhnya pergi.
Kemudian ia memerintahkan rombongannya mengaso dulu di bawah pohon. Ia sendiri duduk di atas batu dan
merenungkan kejadian tadi. Ia masih ingat ketika Lenghou Tiong menerjang ke tengah musuh, orang tua
pimpinan Mo-kau itu telah menyerangnya, tapi dalam sekejap saja Lenghou Tiong masih mampu merobohkan
lima orang lawan, jurus yang dipakai tiada sedikit pun memperlihatkan gaya perguruannya yang sebenarnya.
Di dunia persilatan sekarang ternyata ada jago muda selihai ini, sepantasnya dia anak murid orang kosen yang
mana? Jago sehebat ini ternyata adalah kawan dan bukan lawan, sungguh harus bersyukur bagi Hing-san-pay.
Demikian pikirnya.
Selang sejenak, ia suruh muridnya mengeluarkan alat tulis dan sehelai sutra tipis, ia menulis sebuah surat, lalu
berkata, “Gi-cit, ambilkan merpati pos!”
Gi-cit adalah murid Ting-cing sendiri, sambil mengiakan segera ia mengeluarkan seekor merpati pos putih dari
sebuah sangkar bambu yang digendongnya.
Ting-cing melipat sutra tipis itu menjadi suatu pulungan kecil, lalu dimasukkan ke dalam sebuah bumbung
bambu yang amat kecil pula, diberi tutup, lalu lak. Kemudian diikat dengan benang di kaki kiri merpati. Dalam
hati ia berdoa semoga merpati itu mencapai tempat tujuannya dengan selamat. Habis itu ia mengaburkan
merpati itu ke udara. Makin lama makin tinggi terbang merpati itu dan akhirnya menghilang dari pandangan.
Dari menulis surat sampai melepaskan merpati, setiap gerakan Ting-cing Suthay dilakukan dengan sangat
lamban, berbeda sama sekali daripada ketangkasannya melabrak musuh tadi. Dengan menengadah ia
mengikuti terbang merpati pos itu sampai burung itu menghilang. Selama itu anak murid Hing-san-pay tiada
seorang pun berani bersuara, mereka tahu pertempuran tadi sesungguhnya sangat berbahaya meski beruntung
mendapat bantuan seorang perwira yang sinting dan lucu. Tentu Ting-cing Suthay telah menguraikan peristiwa
tadi dalam suratnya untuk dilaporkan kepada Ciangbunjin Hing-san-pay mereka, yaitu Ting-sian Suthay.
Selang agak lama, tiba-tiba Ting-cing menggapai kepada seorang nona cilik berumur 15-16 tahun. Dara cilik itu
berbangkit dan mendekatnya sembari menyapa, “Suhu!”
Perlahan-lahan Ting-cing membelai rambut anak dara itu dan bertanya, “Anak Koan, tadi kau takut tidak?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Nona cilik itu manggut, jawabnya, “Takut. Untung jenderal itu sangat gagah berani sehingga kawanan penjahat
dapat dihalau lari.”
Ting-cing tersenyum, katanya, “Jenderal itu bukannya gagah berani, tapi ilmu silatnya memang sangat bagus.”
“Kau katakan ilmu silatnya sangat bagus, Suhu?” nona itu menegas. “Tapi kulihat serangannya tak keruan
macam, malahan jidatnya sendiri terketok golok, bahkan goloknya berkarat di dalam sarungnya dan tak bisa
dilorot keluar.”
Melihat Ting-cing Suthay bercakap dengan sumoay kecil mereka, beramai-ramai anak murid Hing-san-pay yang
lain juga lantas merubung maju.
Kiranya nona cilik itu bernama Cin Koan, dia adalah murid Ting-cing yang paling kecil, pintar dan cerdik, maka
sangat disayang oleh sang guru.
Anak murid Hing-san-pay enam bagian adalah nikoh, empat bagian lain adalah murid preman, ada wanita
setengah umur yang sudah menikah, ada pula nenek-nenek yang sudah lanjut usia. Cin Koan adalah murid
Hing-san-pay yang paling muda.
Begitulah Gi-ho lantas ikut bicara, “Kau bilang serangannya tak keruan, kukira ia sengaja pura-pura saja. Ia
dapat mengelabui orang dengan ilmu silatnya yang tinggi, itu namanya orang pintar. Supek, apakah engkau
dapat menerka jenderal itu berasal dari aliran dan golongan mana?”
Perlahan-lahan Ting-cing menggeleng, sahutnya, “Jika aku bisa menerkanya sedikit saja tentu aku tidak perlu
merasa khawatir lagi. Ilmu silat orang itu hanya dilukiskan dengan kata-kata ‘sukar diukur’, selebihnya aku
sendiri tidak tahu.”
Cin Koan menarik-narik lengan bajunya dan bertanya pula, “Suhu, apa sih yang kau khawatirkan? Bukankah
jenderal itu sudah membantu kita menghalau musuh?”
“Bukan begitulah soalnya,” tutur Ting-cing. “Jika musuh menghadapi kita secara terang-terangan, maka setitik
pun kita takkan takut sekalipun kita akan terbunuh jika kalah. Tapi sekarang kita seakan-akan diselubungi
selapis kain, kita seperti orang buta yang tidak tahu apa yang sedang kita hadapi, entah langkah selanjutnya
adalah tanah datar atau jurang, coba bayangkan, mengkhawatirkan atau tidak?”
Cin Koan manggut-manggut, tanyanya pula, “Surat Suhu tadi ditujukan kepada Ciangbun-susiok bukan?
Apakah bisa segera sampai?”
“Burung merpati itu akan menuju ke Pek-in-am di Sohciu untuk diganti merpati yang lain, dari Pek-in-am ke
Biau-siang-am di Celam adalah satu pos lagi, kemudian satu pos lagi di Jing-cing-am di Lau-ho-kau, jadi
berturut-turut disambung oleh empat merpati, akhirnya tentu akan mencapai Hing-san.”
“Syukur rombongan kita tidak ada korban jiwa, beberapa suci dan sumoay yang terluka itu satu-dua hari lagi
juga akan sembuh,” ujar Gi-ho.
Ting-cing Suthay seperti tidak menghiraukan ucapan Gi-ho itu, ia menengadah dan termangu-mangu, tiba-tiba
ia berseru kepada Gi-lim yang berdiri di luar kerumun orang banyak sana, “Gi-lim, kau pernah bilang ilmu silat
Lenghou Tiong jauh di bawah Dian Pek-kong, beberapa kali dia dikalahkan, betul tidak?”
Gi-lim tampak melengak, kedua pipinya perlahan-lahan bersemu merah. Sungguh aneh, setiap kali orang
menyebut namanya Lenghou Tiong tentu hatinya lantas berdebar seakan-akan sesuatu perbuatannya yang
salah telah diketahui orang. Tapi di dalam lubuk hatinya juga lantas merasa senang dan bahagia, kalau bisa
biarkan setiap saat orang lain selalu menyebut namanya Lenghou Tiong di tepi telinganya.
Melihat kedua pipi Gi-lim semu merah, sikapnya kikuk-kikuk pula, diam-diam Ting-cing membatin, “Begitu
mendengar nama Lenghou Tiong, seketika sikapnya berubah aneh, jangan-jangan telah timbul pikiran
keduniawiannya?” Segera ia mengulangi pertanyaannya dan menegas, “Kutanya kau betul tidak apa yang kau
ceritakan itu?”
“Betul,” jawab Gi-lim rada terkejut dari lamunannya. “Ilmu silat Lenghou-suheng memang tidak dapat
menandingi Dian Pek-kong, waktu dia menolong aku, dia telah kena bacokan-bacokan golok Dian Pek-kong dan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
hampir-hampir jiwanya melayang.”
Ting-cing manggut-manggut, lalu menggumam, “Lenghou Tiong cukup mengetahui seluk-beluk Ngo-gak-kiampay
kita, orang ini telah sekongkol dengan Mo-kau, sungguh merupakan bahaya besar bagi kita. Jika bukan dia
yang membocorkan rahasia, dari mana Mo-kau mengetahui kita akan lalu di Sian-he-nia ini?”
“Supek,” cepat Gi-lim berkata, “dia ... dia ... Lenghou-suheng kan juga tidak mengetahui perjalanan kita ini?”
Dengan tajam Ting-cing menatap Gi-lim, jawabnya, “Dia tidak tahu? Dari mana pula kau mengetahuinya?”
“Saat ini entah di mana beradanya Lenghou-suheng, masakah dia bisa bersekongkol dengan Mo-kau untuk
membikin susah kita?” ujar Gi-lim.
Ting-cing mendengus dengan kurang senang, katanya, “Gi-lim, kau adalah orang yang telah meninggalkan
rumah, jiwamu sudah berada pada Buddha, janganlah kau tersesat agar tidak sesal di kemudian hari.”
Gi-lim merangkap kedua tangannya sambil menunduk dan berkata perlahan, “Tecu tidak berani.”
Melihat kedua mata Gi-lim basah berkaca mengembeng air mata, Ting-cing menjadi tidak tega dan merasa
kasihan. Ia tepuk-tepuk bahu Gi-lim dan berkata, “Musuh sudah kabur jauh, untuk sementara agaknya mereka
tidak berani mengusik kita lagi. Habis bertempur tentu kalian sudah lelah, bolehlah makan ransum dulu di sini
dan tidurlah sebentar di bawah pohon yang rindang sana.”
Beramai-ramai anak murid Hing-san-pay sama mengiakan, lalu mereka sibuk bekerja, ada yang memasang api
unggun untuk memasak air dan sebagainya.
Kiranya keberangkatan orang-orang Hing-san-pay ke selatan ini sebenarnya sangat dirahasiakan. Tapi
beritanya toh diketahui oleh pihak Mo-kau, sebab itulah Ting-cing merasa sangsi dan khawatir.
Sesudah mengaso beberapa jam, selesai makan siang, Ting-cing melihat beberapa murid yang terluka itu
masih lesu semangatnya, katanya, “Jejak kita sudah ketahuan, selanjutnya tidak perlu berjalan di malam hari,
yang luka juga perlu dirawat maka malam ini biarlah kita menginap di Ji-pek-poh saja.”
Begitulah mereka terus turun ke bawah, beberapa jam kemudian sampailah mereka di Ji-pek-poh, suatu kota
kecil yang merupakan kota perbatasan antara Ciatkang dan Hokkian. Setiba di kota itu cuaca sudah mulai
remang-remang. Anehnya tiada terdapat seorang pun di kota kecil itu.
“Adat kebiasaan Hokkian mengapa begini aneh, masakah begini dini orang di sini sudah masuk tidur?” kata Giho
heran.
“Coba kita mencari suatu hotel untuk bermalam,” kata Ting-cing Suthay.
Biasanya Hing-san-pay mempunyai hubungan baik dengan berbagai nikoh dunia persilatan yang menghuni di
kuil atau kelenteng setempat, tapi Ji-pek-poh ini tiada kelenteng sehingga terpaksa mereka harus mencari
hotel.
Seluruh kota Ji-pek-poh ada ratusan rumah dan toko, tapi aneh, semua pintu rumah sudah tertutup rapat.
Sepanjang mata memandang keadaan sunyi lelap, mirip sebuah kota mati belaka. Meski hari belum gelap sama
sekali, tapi suasana di tengah kota seperti di tengah malam buta saja sepinya.
Setelah membelok di pengkolan jalan sana, tertampaklah sehelai spanduk yang bertuliskan nama sebuah hotel
“Sian-an-khek-tiam” (Rumah Penginapan Sian-an). Tapi pintu hotel itu pun tertutup rapat, keadaan sunyi
senyap.
Seorang murid perempuan bernama The Oh lantas maju mengetok pintu hotel itu. The Oh adalah murid dari
keluarga preman, raut mukanya yang bulat telur itu selalu mengulum senyum manis. Pintar bicara dan pandai
menjawab, maka sangat disukai kawan-kawannya. Sepanjang jalan dia boleh dikata ditugaskan sebagai juru
bicara dan hubungan luar bagi rombongan mereka.
Begitulah The Oh berulang-ulang telah mengetok pintu hotel, tapi sampai lama sekali masih belum ada orang
membukakan pintu. Ia lantas berseru, “Bukakan pintu, Paman!”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Suaranya nyaring dan jelas, meski terhalang beberapa ruangan rumah juga akan mendengarnya. Tapi aneh,
tetap tiada seorang pun dalam hotel itu membukakan pintu, keadaan jelas sangat luar biasa.
Gi-ho lantas maju dan pasang kuping di daun pintu, tapi tiada suatu suara apa-apa yang terdengar di dalam. Ia
berpaling dan berkata kepada Ting-cing, “Supek, di dalam memang tiada orang.”
Ting-cing juga merasakan ketidakwajaran suasana itu, dilihatnya kain spanduk yang bertuliskan nama hotel itu
masih baru, daun pintu juga cukup bersih, pasti hotel itu bukan menghentikan usahanya. Katanya kemudian,
“Coba kita ke sana, hotel di kota ini tentunya tidak cuma satu ini saja.”
Tidak jauh ke depan sana kembali ada sebuah Hotel “Lam-an-khek-tiam” lagi. Akan tetapi sesudah The Oh
mengetok pintu seperti tadi, keadaan tetap sama tiada jawaban seorang pun.
“Gi-ho Suci, marilah kita periksa ke dalam,” ajak The Oh.
Gi-ho mengiakan, bersama mereka lantas melompati pagar tembok ke dalam. The Oh segera berseru, “Adakah
orang di dalam?”
Tetap tiada jawaban apa-apa. Mereka lantas melolos pedang dan masuk ke ruangan hotel itu, lalu masuk ke
ruangan dalam, dapur, dan sekelilingnya, memang benar tiada seorang pun, namun di atas meja kursi tiada
berdebu, bahkan satu poci teh rasanya juga masih hangat-hangat.
The Oh membuka pintu membiarkan Ting-cing Suthay dan rombongan masuk ke dalam, lalu melaporkan apa
yang dilihatnya. Semua orang sama menyatakan keheranan mereka.
“Coba kalian bertujuh menjadi satu kelompok memeriksa ke berbagai pelosok di sana, carilah tahu apa
sebabnya kota menjadi kosong begini?” Ting-cing memberi perintah. “Tujuh orang tidak boleh terpencar, begitu
ada jejak musuh segera berikan tanda dengan suitan.”
Para murid Hing-san-pay mengiakan, masing-masing kelompok lantas berjalan ke luar dengan cepat, dalam
sekejap saja di ruang hotel itu hanya tinggal Ting-cing sendirian. Semula masih terdengar suara tindakan
kepergian murid-murid itu, sampai akhirnya suasana menjadi sunyi senyap dan mendirikan bulu roma. Sebuah
kota dengan ratusan rumah itu ternyata hening lelap, sampai suara kokok ayam atau salak anjing juga tak
terdengar, benar-benar suasana yang luar biasa.
Selang sejenak, Ting-cing mendadak merasa khawatir, “Jangan-jangan pihak Mo-kau sengaja pasang jebakan,
anak murid itu sebagian besar belum berpengalaman, bisa jadi mereka akan masuk perangkap musuh.”
Ia coba ke luar pintu hotel itu, terlihat bayangan orang berkelebatan di ujung timur sana, di sebelah lain ada
beberapa bayangan melompat ke dalam rumah orang lagi, semuanya dikenali sebagai anak murid Hing-sanpay,
legalah hati Ting-cing.
Tidak lama kemudian para murid telah kembali susul-menyusul dan sama melaporkan tiada menemukan
seorang pun di seluruh kota. Kata Gi-ho, “Jangankan manusia, hewan juga tiada seekor pun.”
“Tampak belum lama penduduk kota ini meninggalkan tempatnya,” sambung Gi-jing. “Banyak tanda-tanda
yang menunjukkan mereka baru saja berangkat dengan tergesa-gesa dengan barang-barang berharga
sekadarnya.”
Ting-cing manggut-manggut, tanyanya kemudian, “Bagaimana pendapat kalian?”
“Tecu kira semuanya ini adalah perbuatan kaum iblis Mo-kau,” ujar Gi-ho. “Mereka telah mengusir pergi
penduduk kota, tidak lama lagi mereka tentu akan menyerang kita secara besar-besaran.”
“Benar!” sahut Ting-cing. “Sekali ini rupanya kaum iblis hendak bertempur dengan kita secara terang-terangan,
itulah sangat bagus. Kalian takut atau tidak?”
“Menumpas kaum iblis adalah tugas suci murid Buddha kita,” sahut para murid serentak.
Ting-cing berkata pula, “Baiklah, kita akan bermalam di hotel ini, paling perlu tanak nasi dan makan kenyang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dulu. Coba dulu apakah air dan bahan makanan ada racunnya atau tidak?”
Begitulah anak murid Hing-san-pay lantas sibuk menyiapkan daharan. Di waktu makan biasanya murid Hingsan-
pay memang dilarang bicara. Sekarang mereka lebih-lebih prihatin lagi. Mereka sama pasang kuping untuk
mendengarkan kalau-kalau ada sesuatu suara yang mencurigakan di luar. Selesai kelompok pertama makan
mereka lantas keluar berjaga menggantikan kelompok yang lain dan begitu seterusnya.
Tiba-tiba Gi-jing mendapat satu akal, katanya, “Supek, bagaimana kalau kita pergi menyalakan pelita di
rumah-rumah penduduk yang lain agar musuh tidak tahu pasti di mana kita berada.”
“Akal membingungkan musuh ini sangat bagus,” ujar Ting-cing. “Kalian bertujuh boleh pergi menyalakan
pelita.”
Bab 79. Jatuh ke Sumur Ditimpa Batu Pula
Waktu ia memandang keluar dari hotel itu, dilihatnya rumah-rumah penduduk itu satu per satu mulai
memancarkan cahaya lampu. Tidak lama kemudian hampir sekeliling sudah rata terpasang lampunya, hanya
saja keadaan tetap sunyi. Di atas langit bulan sabit tampak memancarkan sinarnya yang remang redup.
Meski Ting-cing pernah malang melintang di dunia Kangouw, tapi pertempuran sengit di atas Sian-he-nia
semalam benar-benar sangat berbahaya, bila dibayangkan kembali rasanya masih mengerikan. Jika seorang
diri, biarpun keadaan lebih buruk sepuluh kali juga Ting-cing tidak gentar, tapi sekarang ia memimpin berpuluh
anak murid Hing-san-pay, mau tak mau ia harus memikirkan keselamatan mereka. Diam-diam ia berdoa
semoga Buddha memberkahi kekuatan baginya sehingga para murid yang dipimpinnya itu tidak mengalami
cedera apa-apa. Kalau perlu biarlah ia sendiri yang menjadi korban, yang lain semoga selamat pulang sampai
di Hing-san.
Pada saat itulah tiba-tiba dari arah timur laut sana berkumandang suara jeritan orang perempuan, “Tolong,
tolooong!”
Di tengah malam sunyi senyap itu, suara jeritan tajam itu kedengaran menjadi tambah ngeri. Ting-cing rada
terkesiap, suara itu terang bukan suara anak murid Hing-san-pay. Ia coba mengawasi jurusan datangnya suara
itu, tapi tidak tampak sesuatu. Segera terlihat Gi-jing bertujuh berlari ke timur laut, tentunya mereka sengaja
memeriksa ke sana. Tapi sampai lama kelompok Gi-jing itu tidak tampak muncul kembali.
“Supek, coba Tecu dan enam sumoay lain pergi melihat ke sana,” mohon Gi-ho.
Ting-cing mengangguk. Segera Gi-ho memimpin kelompoknya berlari ke timur laut sana. Sinar pedang
gemilapan di tengah malam sunyi, tidak lama kemudian lantas menghilang dalam kegelapan.
Selang sebentar lagi tiba-tiba suara jerit tajam wanita tadi berkumandang pula, “Tolong, ada orang terbunuh,
toloong!”
Anak murid Hing-san-pay saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang terjadi di sana. Anehnya
kelompok-kelompok Gi-jing dan Gi-ho itu sampai sekian lamanya masih belum tampak kembali. Jika ketemu
musuh mengapa tiada terdengar suara pertempuran?
Mendengar suara wanita yang minta tolong itu para murid Hing-san-pay yang berhati luhur itu sama
memandangi Ting-cing Suthay untuk menunggu perintah pergi memberi pertolongan.
“Ih-soh,” kata Ting-cing kemudian, “kau lebih tua dan lebih pengalaman, boleh kau bawa enam sumoay, tak
peduli apa yang terjadi hendaklah segera kirim orang kembali melapor padaku.”
Ih-soh yang disebut adalah seorang wanita setengah umur, asalnya adalah babu yang melayani Ting-sian
Suthay di Pek-in-am, Hing-san. Kemudian karena dia memperlihatkan kerajinan kerja dan keluhuran jiwa,
akhirnya Ting-sian Suthay telah menerimanya sebagai murid.
Begitulah Ih-soh lantas mengiakan dan membawa enam temannya berlari ke arah timur laut sana. Akan tetapi
aneh bin ajaib, kepergian ketujuh orang ini pun seperti batu dilemparkan ke laut, ditunggu sekian lamanya
tetap tidak kembali.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan Ting-cing tambah gelisah, ia pikir mungkin musuh telah pasang perangkap sehingga ke-21 muridnya itu
terpancing ke sana dan kena ditangkap satu per satu. Ia coba tunggu lagi sejenak, ternyata suara jerit
permintaan tolong tadi tidak berjangkit lagi, suasana juga tetap sunyi.
Kata Ting-cing kemudian, “Gi-cit dan Gi-cin, kalian 14 orang tinggal saja di sini, rawatlah teman-teman yang
terluka itu. Tak peduli apa yang terjadi jangan sekali-kali meninggalkan hotel agar tidak terjebak akal
pancingan musuh.”
Gi-cit dan Gi-cin berdua mengiakan dengan memberi hormat.
Di arah timur laut situ adalah sederetan rumah, keadaan gelap gulita, tiada penerangan juga tiada sesuatu
suara. Dengan suara bengis Ting-cing membentak, “Kaum iblis Mo-kau, kalau berani hayolah keluar untuk
bertempur, macam orang gagah apa main sembunyi-sembunyi seperti tikus?”
Sampai sekian lamanya tiada jawaban apa-apa dari dalam rumah. Tanpa pikir lagi Ting-cing mendepak pintu
rumah di depannya, “krak”, palang pintu patah dan daun pintu terpentang lebar. Tapi di dalam rumah gelap
gulita entah ada penghuninya atau tidak.
Ting-cing tidak berani menerobos masuk begitu saja, ia berseru, “Gi-ho, Gi-jing, Ih-soh, apakah kalian
mendengar suaraku?”
Namun di tengah malam sunyi itu hanya kumandang suaranya yang terdengar, habis itu keadaan kembali
hening lagi.
“Kalian bertiga ikut rapat di belakangku, jangan sembarangan berpisah,” kata Ting-cing sambil menoleh kepada
Gi-lim bertiga.
Segera ia mengitari rumah-rumah itu satu keliling, tapi tiada tampak sesuatu yang mencurigakan. Ia coba
melompat ke atas rumah, dari situ dipandang sekelilingnya. Keadaan juga tenang tenteram. Percuma saja
Ting-cing memiliki ilmu silat tinggi, kalau musuh tetap tidak muncul benar-benar dia mati kutu. Ia menjadi
gelisah dan menyesal pula telah mengirim kelompok-kelompok muridnya keluar sehingga masuk perangkap
musuh.
Mendadak hatinya tergetar, cepat ia melompat turun terus berlari kembali ke hotel tadi dengan ginkang yang
tinggi, sebelum masuk hotel ia sudah berseru, “Gi-cit, Gi-cin, adakah kalian melihat sesuatu?”
Akan tetapi tiada jawaban seorang pun dari dalam hotel. Cepat ia menerjang ke dalam, namun hotel itu sudah
kosong, beberapa muridnya yang terluka dan terbaring di situ juga sudah menghilang entah ke mana.
Dalam keadaan demikian, betapa pun tenang dan sabarnya Ting-cing juga tak bisa menguasai perasaannya
lagi. Tangan yang memegang pedang sampai gemetar.
Jika sekaligus Ting-cing dikepung berpuluh jago musuh dan dirinya pasti akan binasa, rasanya satu jari pun
Ting-cing takkan gemetar. Tapi sekarang berpuluh anak murid Hing-san-pay mendadak telah lenyap begitu
saja tanpa menimbulkan sesuatu suara apa pun, mau tak mau Ting-cing merasa cemas, tenggorokan serasa
kering, otot tulang sekujur badan serasa lemas semua.
Namun rasa lemas begitu hanya terjadi sekejap saja, segera ia menarik napas dalam-dalam, seketika
semangatnya terbangkit lagi. Ia coba periksa seluruh pelosok hotel itu, ketika sampai di pekarangan depan di
bawah pohon mendadak ditemukannya sebuah sepatu. Cepat ia menjemputnya, itulah sebuah sepatu kain
wanita, jelas adalah sepatu orang Hing-san-pay sendiri. Bahkan sepatu itu rasanya masih hangat-hangat,
terang sepatu itu baru saja terlepas dari anak muridnya yang tertawan musuh. Anehnya jarak tempat itu tidak
terlalu jauh, mengapa tiada terdengar apa-apa.
Ting-cing tenangkan diri sebisanya, lalu berseru, “Oh-ji, Koan-ji, Gi-lim, lekas kalian ke sini, lihatlah ini sepatu
siapa?”
Namun di tengah malam buta itu hanya terdengar kumandang suaranya sendiri, sedikit pun tiada jawaban The
Oh bertiga.
Diam-diam Ting-cing mengeluh di dalam hati, cepat ia menerjang keluar lagi dan-berteriak, “Oh-ji, Koan-ji, GiDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
lim, di mana kalian berada?”
Nyata benar, bayangan ketiga murid kecil itu pun sudah lenyap. Menghadapi peristiwa luar biasa ini, dari cemas
Ting-cing menjadi murka malah, ia terus melompat ke atas rumah dan berteriak sekerasnya, “Kawanan iblis
Mo-kau, kalau berani keluarlah bertempur mati-matian, main sembunyi dan pura-pura seperti setan terhitung
orang gagah macam apa?”
Ia mengulangi teriakannya beberapa kali, tapi sekelilingnya tetap sunyi senyap. Ia coba mencaci maki, namun
di tengah kota yang berpenduduk ratusan rumah itu seperti cuma tinggal dia sendiri saja. Sebagai seorang
nikoh suci, meski mencaci maki juga pakai kata-kata yang sopan, kata-kata yang kasar tidaklah diucapkannya.
Selagi kehabisan akal, tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia berseru lantang, “Wahai kaum iblis Mo-kau! Jika
kalian tetap tidak unjuk diri, itu berarti membuktikan Tonghong Put-pay adalah kaum pengecut yang tidak tahu
malu dan tidak berani menghadapi kaum cing-pay kami secara terang-terangan. Huh, Tonghong Put-pay apa?
Yang benar adalah Tonghong Pit-pay. Hayo, Tonghong Pit-pay, kalau berani keluarlah menghadapi nikoh tua.
Hah, dasar Pit-pay, sudah kuduga kau pasti tidak berani.”
Ia tahu segenap anggota Mo-kau paling hormat kepada kaucu mereka, sang kaucu dipuja sebagai malaikat
dewata yang diagungkan. Jika nama sang kaucu dihina, maka para anggota Mo-kau pasti akan membela matimatian
nama baik kaucu mereka jika tidak mau dianggap sebagai pengkhianat.
Akal Ting-cing itu ternyata membawa hasil, lenyap suaranya tadi, mendadak dari rumah-rumah itu telah
membanjir keluar tujuh orang, tanpa mengeluarkan suara serentak mereka melompat ke atas rumah sehingga
Ting-cing terkepung di tengah.
Munculnya musuh-musuh itu membikin senang hati Ting-cing. Pikirnya, “Akhirnya kaum iblis kalian ini kena
kumaki keluar juga. Biarpun aku harus mati juga lebih senang daripada aku kehilangan sasaran seperti
dipermainkan setan.”
Ketujuh orang itu ternyata tidak membawa senjata, mulut mereka pun bungkam, mereka hanya berdiri
mengelilingi Ting-cing.
“Di manakah anak murid kami? Mereka telah diculik ke mana?” bentak Ting-cing dengan gusar.
Namun ketujuh orang itu tetap bungkam.
Kedua orang yang berdiri di sebelah kirinya berusia 50-an, air muka mereka tampak kaku seperti mayat. “Baik,
lihat serangan!” bentak Ting-cing sambil terus menusuk ke dada salah seorang itu.
Di tengah kepungan musuh, sudah tentu Ting-cing mengetahui serangannya sukar mencapai sasarannya. Maka
tusukannya itu hanya percobaan belaka, sampai di tengah jalan segera ia menarik kembali pedangnya.
Tapi orang yang berada di depannya sungguh lihai, rupanya ia pun menduga serangan Ting-cing itu cuma
percobaan saja, maka terhadap tusukan Ting-cing itu sama sekali ia tidak menggubris, tidak ambil pusing dan
tidak mengelak.
Namun setiap jago silat kelas wahid, setiap gerak serangannya selalu bisa berubah, dari sungguh-sungguh bisa
menjadi pura-pura, dari pura-pura mendadak bisa menjadi sungguh-sungguh pula. Maka waktu melihat
sasarannya diam saja, tusukan yang mestinya akan ditarik kembali itu mendadak tidak jadi, sebaliknya ia terus
mengerahkan tenaga dan ditusukkan ke depan dengan lebih cepat.
Pada saat itulah sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang menyelinap maju, kedua tangan masingmasing
sama mencengkeram ke pundak kanan-kiri Ting-cing. Cepat Ting-cing menggeser ke samping, seperti
kitiran pedangnya memutar balik untuk menebas tubuh lawan yang berperawakan tinggi besar.
Dengan gesit orang itu pun melangkah mundur, dengan mengeluarkan suara nyaring ia pun sudah bersenjata
sekarang, itulah sebuah perisai yang berat. Perisai itu terus dihantamkan ke batang pedang Ting-cing.
Namun pedang Ting-cing sudah keburu berputar ke arah lain, seorang kakek di sebelah kiri lantas ditusuk pula.
Ternyata kakek itu tidak gentar terhadap senjata tajam, dengan sebelah tangan segera ia hendak
mencengkeram pedang Ting-cing. Di bawah sinar bulan yang remang-remang terlihat tangannya, seperti
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
memakai sarung tangan hitam, dapat diduga tentu sarung tangan yang tidak mempan senjata, makanya berani
merebut pedang dengan bertangan kosong.
Dalam sekejap saja Ting-cing sudah bergebrak beberapa jurus dengan lima di antara tujuh musuh. Dirasakan
semuanya adalah lawan-lawan tangguh, jika satu lawan satu atau satu lawan dua tentu Ting-cing tidak gentar,
bahkan yakin bisa menang. Tapi sekarang tujuh musuh maju sekaligus dan bekerja sama dengan rapat,
terpaksa Ting-cing hanya bisa bertahan saja dan sukar balas menyerang lagi.
Makin lama makin gelisah juga Ting-cing akan cara bertempur ketujuh musuh, jelas mereka menggunakan
semacam barisan yang sangat rapi dan teratur. Pikirnya, “Tokoh-tokoh Mo-kau yang ternama hampir
semuanya kukenal namanya, senjata dan ilmu silat yang dimainkan iblis-iblis itu cukup diketahui Ngo-gakkiam-
pay kami. Tapi ketujuh orang ini ternyata belum dikenal dan tak pernah terdengar pula nama mereka.
Nyata akhir-akhir ini pengaruh Mo-kau sudah maju sepesat ini sehingga banyak jago-jago kelas tinggi yang
sudi diperalat dengan merahasiakan asal usul mereka.”
Beberapa puluh jurus lagi, keadaan Ting-cing tambah payah, napasnya sudah mulai terengah-engah. Ia
menduga jiwanya hari ini tentu akan melayang di kota mati Ji-pek-poh ini. Sekilas dilihatnya di atas genting
rumah telah bertambah beberapa sosok bayangan orang yang mendekam di situ, jumlahnya ada belasan
orang. Jelas orang-orang itu sejak tadi sudah sembunyi di situ, semula Ting-cing tidak mengetahui, tapi
sesudah bertempur sekian lamanya, setelah sang dewi malam rada mendoyong ke barat, bayangan orangorang
itu makin memanjang dan akhirnya dapatlah dilihat sekarang.
Diam-diam Ting-cing mengeluh, “Celaka, tujuh orang saja aku kewalahan, apalagi di samping masih sembunyi
musuh sebanyak itu. Daripada nanti tertawan musuh dan menderita siksaan, lebih baik aku membunuh diri
saja. Meski agama Buddha melarang bunuh diri, tapi ini adalah bunuh diri di medan perang dan bukan aku
ingin membunuh diri. Kematianku tidak perlu disayangkan, hanya saja berpuluh murid yang kubawa seluruhnya
juga menjadi korban, di alam baka nanti cara bagaimana aku harus menghadapi para leluhur Hing-san-pay?”
Sesudah ambil kebulatan tekad, mendadak ia menyerang tiga kali untuk mendesak mundur musuh, habis itu
cepat ia membalikkan pedang terus menikam ke ulu hati sendiri.
Ketika ujung pedang sudah hampir menancap di dada, tiba-tiba terdengar “trang” yang keras, tangan Ting-cing
tergetar, pedang juga terbentur ke samping. Tertampaklah seorang laki-laki dengan pedang terhunus sudah
berdiri di sebelahnya sambil berseru, “Jangan membunuh diri Ting-cing Suthay, kawan Ko-san-pay berada di
sini!”
Maka terdengarlah suara beradunya senjata dengan ramai, belasan orang yang sembunyi di situ telah
melompat keluar serentak dan melabrak ketujuh jago Mo-kau tadi.
Lolos dari elmaut, semangat Ting-cing lantas terbangkit, segera ia putar pedang melabrak musuh pula. Tentu
saja ketujuh jago Mo-kau tidak mampu melawan kerubutan belasan jago Ko-san-pay, apalagi ditambah Tingcing
Suthay, sekali bersuit, beramai-ramai mereka lantas mengundurkan diri ke sebelah selatan.
Ting-cing bermaksud mengejar, tapi dari tempat gelap di bawah emper sana seketika senjata rahasia
berhamburan ke arahnya. Teringat oleh senjata rahasia berbisa Mo-kau yang lihai dan telah melukai beberapa
anak muridnya di Sian-he-nia kemarin, Ting-cing tidak berani sembrono, cepat ia putar kencang pedangnya
untuk menyampuk senjata-senjata rahasia itu. Karena rintangan itu, ketujuh musuh pun sudah menghilang
dalam kegelapan.
“Ban-hoa-kiam-hoat (Ilmu Pedang Berlaksa Bunga) Hing-san-pay benar-benar sangat hebat, baru hari ini kami
dapat menyaksikannya!” terdengar pujian seorang di belakang Ting-cing.
Sambil memasukkan pedang ke sarungnya, perlahan-lahan Ting-cing membalik tubuh, dalam sekejap saja dari
seorang tokoh bu-lim yang tangkas dan cekatan telah berubah menjadi seorang nikoh tua yang alim dan
ramah. Lalu ia merangkap tangan memberi hormat sambil menyapa, “Banyak terima kasih atas bantuan Ciongsuheng.”
Ia kenal orang yang berdiri di depannya itu adalah adik seperguruan ketua Ko-san-pay, she Ciong bernama Tin
dan berjuluk “Kiu-kiok-kiam” atau Pedang Bertekuk Sembilan. Julukan ini bukan menggambarkan senjata yang
dia pakai adalah pedang lengkung sembilan, tapi adalah karena ilmu pedangnya banyak ragam perubahannya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ting-cing Suthay mengenal Ciong Tin ketika dahulu di antara Ngo-gak-kiam-pay diadakan pertemuan besar di
puncak Thay-san. Selain Ciong Tin, di antara belasan orang itu ada lima orang lagi yang dikenalnya.
Begitulah Ciong Tin lantas membalas hormat, jawabnya dengan tersenyum, “Dengan sendirian Ting-cing
Suthay melawan ‘Chit-sing-sucia’ dari Mo-kau dengan ilmu pedang yang mahatinggi, sungguh kami merasa
amat kagum.”
Baru sekarang Ting-cing mengetahui bahwa ketujuh lawannya tadi disebut “Chit-sing-sucia” (Rasul Tujuh
Bintang) segala. Agar tidak memperlihatkan pengalamannya sendiri yang cetek, maka Ting-cing tidak menegas
lebih jauh, ia pikir setelah mengetahui siapa nama musuh-musuh itu, tentu kelak akan gampang mencari
keterangan lagi.
Dalam pada itu orang-orang Ko-san-pay telah maju memberi hormat berturut-turut, dua orang di antaranya
adalah sute Ciong Tin, selebihnya adalah angkatan muda, yaitu anak murid.
Selesai membalas hormat, lalu Ting-cing berkata, “Sungguh memalukan, perjalanan kami ke Hokkian ini
bersama beberapa puluh anak murid, tapi di kota inilah mendadak puluhan anak murid itu lenyap semua.
Ciong-suheng, kapan kalian sampai di sini, apakah melihat sesuatu tanda-tanda yang dapat kugunakan sebagai
bahan penyelidikan?”
Ting-cing Suthay adalah suci ketua Hing-san-pay, kedudukannya tinggi, wataknya juga angkuh. Ia pikir orangorang
Ko-san-pay ini sejak tadi sudah sembunyi di situ, tapi sengaja menunggu dirinya sudah payah, sudah
mau bunuh diri barulah mereka muncul membantunya. Cara demikian jelas sengaja hendak membikin malu
padanya untuk kemudian memperlihatkan kebesaran Ko-san-pay mereka. Tentu saja Ting-cing kurang senang.
Cuma saja berpuluh anak muridnya lenyap mendadak, persoalannya teramat gawat, terpaksa ia mencari tahu
kepada mereka. Coba kalau urusannya mengenai dia sendiri, biarpun mati juga dia tidak sudi mengeluarkan
kata-kata memohon kepada mereka.
Maka Ciong Tin telah menjawab dengan tersenyum, “Kawanan iblis Mo-kau memang banyak tipu muslihatnya,
kedatangan mereka ini terang direncanakan lebih dulu. Mereka tahu kelihaian Suthay, maka mereka sengaja
pasang perangkap untuk menjebak anak murid kalian. Tapi Suthay tidak perlu khawatir, betapa pun kurang
ajarnya Mo-kau rasanya tidak berani mencelakakan jiwa para sumoay itu. Marilah kita turun ke bawah dulu
untuk berunding cara-cara yang baik untuk menolongnya.”
Memangnya Ting-cing tidak mengetahui anak muridnya telah diculik ke mana, apalagi dengan tenaganya
sendiri melulu juga sukar untuk menolong mereka. Terpaksa ia harus bersabar dan menerima olok-olok orang
she Ciong ini. Maka ia lantas mendahului melompat ke bawah.
Menyusul Ciong Tin dan rombongannya juga melompat turun, ia mendahului jalan ke sebelah barat, katanya,
“Marilah ikut padaku, Suthay.”
Kiranya yang dituju adalah Hotel Sian-an-khek-tiam, setiba di situ, Ciong Tin lantas mendorong pintu dan
masuk ke dalam, katanya, “Suthay, marilah kita berunding saja di sini.”
Kedua sutenya Ciong Tin masing-masing bernama “Sin-pian” Ting Pat-kong, Si Ruyung Sakti, dan yang lain
bernama “Kim-mo-say” Ko Kik-sin, Si Singa Berbulu Emas.
Mereka bertiga membawa Ting-cing ke suatu kamar yang luas dan terpajang indah. Sesudah mengambil
tempat duduk masing-masing, anak muridnya menyuguhkan teh, lalu mengundurkan diri. Habis itu Ko Kik-sin
lantas menutup rapat pintu kamar.
Maka Ciong Tin lantas mulai berkata, “Ting-sute dan Ko-sute sudah lama mengagumi ilmu pedang Suthay
sebagai jago nomor satu dari Hing-san-pay, maka ....”
“Tidak,” sela Ting-cing sambil menggeleng. “Ilmu pedangku tidak bisa menandingi Ciangbun-sumoay, juga
lebih rendah daripada Ting-yat Sumoay.”
“Ah, Suthay terlalu rendah hati saja,” ujar Ciong Tin tersenyum. “Soalnya kedua sute ingin melihat kehebatan
ilmu pedang Suthay sehingga tadi terlambat memberi bantuan, padahal kami tidak punya maksud jelek, untuk
mana kami minta Suthay sudi memberi maaf.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Ah, tak apa-apa,” sahut Ting-cing dengan membalas hormat ketika melihat mereka bertiga memberi hormat
padanya, rasa dongkolnya tadi menjadi rada buyar.
Lalu Ciong Tin menyambung lagi, “Sejak Ngo-gak-kiam-pay kita berserikat, selamanya kita anggap seperti
pancatunggal dan tidak membeda-bedakan situ dan sini. Cuma akhir-akhir ini kita jarang bertemu, banyak
urusan penting tidak dikerjakan bersama pula sehingga membikin Mo-kau semakin ganas dan meluaskan
pengaruh.”
Ting-cing mendengus, katanya di dalam hati, “Hm, ucapanmu ini bukankah ingin menyindir Hing-san-pay
kami?”
Kiranya keberangkatan orang-orang Hing-san-pay ke Hokkian ini adalah di luar tahu ketua Ko-san-pay sebagai
ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi hal ini pun bukan diperbuat oleh Hing-san-pay sendiri, juga Hoasan-
pay, Thay-san-pay juga melakukan hal yang serupa. Sebenarnya di kala menghadapi urusan mahapenting
barulah Ngo-gak-kiam-pay perlu bergabung dan bertindak bersama, jika cuma mengenai urusan-urusan dalam
golongan sendiri-sendiri memangnya tiada peraturan yang mengharuskan lapor dulu kepada Co-bengcu.
Tapi Ciong Tin lantas menambahkan pula, “Co-ciangbun sering mengatakan, bersatu teguh, berpisah lemah.
Jika Ngo-gak-kiam-pay kita senantiasa bersatu padu, jangankan cuma Mo-kau, sekalipun Siau-lim-pay dan Butong-
pay yang termasyhur sebagai aliran besar bu-lim tentu pula takkan mampu menandingi kita. Maka beliau
mempunyai suatu cita-cita ingin mempersatukan Ngo-gak-kiam-pay yang mirip sepiring pasir yang terceraiberai
ini untuk digabung menjadi suatu ‘Ngo-gak-pay’ yang mahakuat. Entah bagaimana pendapat Suthay
mengenai cita-cita Co-ciangbun kami ini?”
Ting-cing mengerut alis, jawabnya kemudian, “Nikoh tua seperti aku adalah orang bebas di dalam Hing-sanpay,
selamanya aku tidak ikut campur urusan ke luar maupun ke dalam. Maka urusan penting yang Ciongsuheng
kemukakan ini sebaiknya dibicarakan saja dengan Ciangbun-sumoay-ku. Yang paling penting sekarang
adalah berdaya menyelamatkan anak murid kami yang hilang itu. Urusan yang lain-lain bolehlah dirundingkan
lain hari.”
“Suthay jangan khawatir,” ujar Ciong Tin. “Sekali kejadian ini sudah kepergok Ko-san-pay, urusan Hing-sanpay
adalah urusan Ko-san-pay kami pula, betapa pun kami pasti tidak membiarkan para sumoay menderita.”
“Terima kasihlah kalau begitu,” kata Ting-cing. “Tapi entah apa rencana Ciong-suheng sehingga yakin untuk
berkata demikian.”
“Suthay sendiri sudah berada di sini, masakan tokoh nomor dua Hing-san-pay mesti takut kepada beberapa
iblis Mo-kau? Lagi pula kami tentu juga akan membantu dengan sepenuh tenaga, jika toh masih tak bisa
melayani beberapa iblis Mo-kau dari kelas rendahan, hehe, benar-benar keterlaluan, bukan?”
Karena ucapan orang pergi-datang tetap tiada sesuatu yang baru, Ting-cing sangat mendongkol dan gelisah
pula. Segera ia berbangkit dan berseru, “Jika demikian ucapan Ciong-suheng, itulah bagus, marilah sekarang
juga kita lantas berangkat!”
“Suthay hendak berangkat ke mana?” tanya Ciong Tin.
“Pergi menolong mereka!” sahut Ting-cing.
“Menolong mereka? Ke mana tempatnya?” tanya Ciong Tin pula.
Pertanyaan ini membikin Ting-cing tertegun bungkam. Sesudah merandek sejenak barulah ia berkata, “Anak
murid kami itu belum lama hilangnya, tentu mereka masih berada di sekitar sini, semakin lama tertunda tentu
akan semakin sulit diketemukan.”
“Setahuku, tidak jauh dari kota ini Mo-kau mempunyai suatu sarang persembunyian, besar kemungkinan para
sumoay juga dikurung di sana, maka menurut pendapatku ....”
“Di mana letak sarang mereka itu? Marilah sekarang juga berangkat ke sana,” tukas Ting-cing cepat.
“Pihak Mo-kau terang bertindak dengan rencana yang sudah teratur, jika kita pergi begitu saja, sedikit lengah
bukan mustahil kita sudah terjebak lagi sebelum kita berhasil menolong keluar orang-orang kita. Maka menurut
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
pendapatku hendaklah kita berunding secara masak-masak barulah kita mulai bertindak.”
Terpaksa Ting-cing duduk kembali dan berkata, “Baiklah, bagaimana pendapat Ciong-suheng yang sempurna
itu?”
“Kedatanganku ke Hokkian atas perintah Ciangbun-suheng sebenarnya memang ada suatu urusan penting
yang harus dirundingkan dengan Suthay,” kata Ciong Tin dengan perlahan-lahan. “Urusan ini menyangkut
masa depan dunia persilatan Tionggoan dan menyangkut jaya atau runtuhnya Ngo-gak-kiam-pay kita, maka
bukanlah soal sepele. Jika urusan penting ini sudah ditetapkan, maka soal menolong orang segala boleh dikata
sangat mudah diselesaikan.”
“Urusan penting apa yang kau maksudkan?” Ting-cing menegas.
“Yaitu seperti apa yang kukatakan, tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu aliran itu,” jawab
Ciong Tin.
Serentak Ting-cing berbangkit dari tempat duduknya dengan muka merah padam, katanya, “Bukankah kau ...
kau ....”
“Harap Suthay jangan salah paham dan anggap Cayhe mendesak orang di saat kepepet serta memaksa Suthay
menyanggupi urusan ini,” kata Ciong Tin dengan tersenyum.
“Bagus, jadi kau sudah bicara sendiri dan tidak perlu kukatakan lagi,” sahut Ting-cing dengan gusar. “Apa
namanya perbuatanmu ini jika bukan mendesak orang di kala aku sedang kepepet?”
“Hing-san-pay bukan Ko-san-pay, begitu pula sebaliknya, urusan Hing-san-pay kalian sudah tentu mendapat
perhatian kami, tapi soalnya mengenai adu senjata dan adu nyawa, sekalipun Cayhe bersedia bantu Suthay,
tapi belum diketahui bagaimana pikiran para sute dan sutit, apakah mereka pun sudi berkorban bagimu?
Namun bila kedua aliran sudah tergabung menjadi satu, maka urusanmu adalah urusanku pula, betapa pun
harus dikerjakan sepenuh tenaga.”
“Jadi tegasnya kalau Hing-san-pay kami tidak mau bergabung dengan Ko-san-pay kalian, maka terhadap
hilangnya anak murid kami yang diculik Mo-kau itu kalian tidak mau ikut campur?” Ting-cing menegas.
“Juga tak bisa dikatakan begitu,” sahut Ciong Tin. “Cayhe hanya diperintahkan Ciangbun-suheng untuk
berunding urusan penting tadi dengan Suthay, mengenai urusan lain, sebelum mendapat perintah Ciangbunsuheng
terpaksa Cayhe tidak berani sembarangan bertindak, untuk ini harap Suthay jangan marah.”
Saking gusarnya muka Ting-cing sampai pucat, katanya dengan mendengus, “Hm, urusan penggabungan
kedua aliran, nikoh tua tidak bisa memberi keputusan. Sekalipun aku menyanggupi, percuma juga kalau nanti
Ciangbun-sumoay kami menolak.”
Ciong Tin menggeser kursinya lebih dekat, lalu bicara setengah berbisik, “Asalkan Suthay sudah menyanggupi,
sampai waktunya nanti mau tak mau Ting-sian Suthay pasti akan terima juga. Biasanya, setiap ciangbun
(ketua) dari satu aliran atau golongan selalu dijabat oleh murid tertua. Bicara tentang luhur budi, tentang ilmu
silat, tentang tingkatan, seharusnya Suthay sendirilah yang mesti mengetuai Hing-san-pay ....”
“Brak”, mendadak Ting-cing menggebrak meja sehingga ujung meja sempal seketika. Selanya dengan suara
bengis, “Apakah kau sengaja hendak memecah belah? Diangkatnya sumoayku menjadi ketua justru adalah
atas usulku kepada mendiang guruku. Jika aku mau menjadi ketua tentu sudah jadi waktu dahulu dan tidak
perlu orang luar ikut-ikut mengusik seperti kau sekarang?”
“Ai, apa yang dikatakan Ciangbun-suheng memang tidak salah,” tiba-tiba Ciong Tin berkata sambil menghela
napas.
“Apa yang dia katakan?” hardik Ting-cing.
“Sebelum aku berangkat ke selatan sini Ciangbun-suheng memang sudah berkata kepadaku bahwa perangai
Ting-cing Suthay dari Hing-san-pay memang baik, ilmu silatnya juga sangat tinggi, hanya saja kurang
bijaksana. Aku telah tanya beliau mengapa Suthay dikatakan kurang bijaksana. Beliau mengatakan cukup
mengenal pribadi Suthay yang suka kepada ketenteraman, tidak suka nama kosong, juga tidak suka ikut
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
campur urusan sehari-hari. Jika soal penggabungan kedua aliran dibicarakan kepada Suthay tentu akan sia-sia
belaka. Namun karena soalnya sangat penting, biarpun tahu akan gagal toh tetap kubicarakan dengan Suthay.
Jika Suthay tetap tidak menghiraukan keselamatan beribu-ribu anggota cing-pay kita, maka apa mau dikata
lagi, terpaksa kita anggap saja hal itu sudah takdir Ilahi yang tak terelakkan lagi.”
Mendadak Ting-cing berbangkit dan berkata, “Percuma saja biarpun kau putar lidah dengan macam-macam
obrolanmu. Perbuatan Ko-san-pay kalian ini bukan saja mendesak orang di kala orang sedang kepepet, bahkan
boleh dikatakan orang kejeblos ke dalam sumur malah kau timpa batu pula.”
“Salahlah ucapan Suthay,” bantah Ciong Tin. “Bila Suthay mau terima ajakan kami, kemudian membujuk lagi
pihak Thay-san-pay, Hoa-san-pay, dan ....”
“Sudahlah, tidak perlu kau teruskan, hanya bikin kotor telingaku saja,” seru Ting-cing sambil goyang-goyang
kedua tangan. Mendadak ia memukul, “blang”, daun pintu terpentang seketika, secepat terbang ia melayang ke
luar, dengan langkah cepat ia lantas meninggalkan hotel itu.
Setiba di luar, Ting-cing merasa mukanya yang panas tadi menjadi segar terembus angin malam yang silir.
Pikirnya, “Orang she Ciong itu mengatakan Mo-kau mempunyai sarang tidak jauh dari Ji-pek-poh ini. Entah
ucapannya itu betul atau bohong?”
Di tengah malam sunyi itulah ia berjalan sendirian sambil termenung-menung. Tiba-tiba ia menghentikan
langkahnya, pikirnya pula, “Ya, hanya tenagaku sendiri betapa pun tidak mampu menolong berpuluh anak
murid itu. Apa jeleknya jika untuk sementara aku menyanggupi permintaan orang she Ciong itu. Nanti kalau
para murid sudah diselamatkan segera aku akan membunuh diri untuk menebus kesalahanku, dengan
demikian Ko-san-pay akan tertipu dan tidak punya saksi hidup lagi. Seumpama dia menuduh aku ingkar janji,
maka biarlah semua kejelekan akulah yang pikul sendiri.”
Begitulah ia menghela napas panjang, lalu putar balik menuju ke Sian-an-khek-tiam lagi.
Pada saat itulah mendadak di ujung jalan besar sana ada suara seorang laki-laki sedang membentak, “Hei,
pelayan, lekas buka pintu, jenderalmu sudah kecapekan dalam perjalanan, sekarang ingin bermalam dan
minum arak.”
Dari suaranya Ting-cing lantas tahu orang itu adalah Go Thian-tik, itu komandan militer Kota Coanciu yang
diketemukan di Sian-he-nia kemarin. Seketika Ting-cing seperti seorang yang hampir mati tenggelam
mendadak mendapatkan suatu benda pegangan. Sungguh girangnya tak terkatakan.
Pendatang itu memang betul Lenghou Tiong adanya. Di Bukit Sian-he-nia kemarin dia telah membantu Gi-lim,
hatinya sangat senang, bahkan Gi-lim tidak mengenali dia, ia menjadi tambah ria. Walaupun gojekan
semalaman, ia tidak merasakan letih, segera ia melanjutkan perjalanan dan sampailah di Ji-pek-poh paginya.
Kebetulan toko-toko sudah sama membuka pintu, segera ia memasuki sebuah restoran dan berteriak,
“Sediakan arak!”
Melihat tamunya adalah seorang jenderal, sudah tentu si pelayan tidak berani ayal, cepat membawakan arak
dan menyiapkan daharan dan meladeni dengan sangat hormat.
Memangnya Lenghou Tiong sudah ketagihan arak, ia lantas minum sepuas-puasnya sehingga rada-rada mabuk.
Ia pikir sesudah mengalami kegagalan serangannya kali ini, tentu pihak Mo-kau akan mencari perkara lagi
kepada Hing-san-pay. Ting-cing Suthay itu kelihatannya cuma tangkas saja tanpa akal, tentu bukan lawan Mokau,
maka aku harus melindungi mereka secara diam-diam.
Begitulah habis makan dan membereskan rekening, lalu ia mencari kamar ke Hotel Sian-an-khek-tiam untuk
tidur. Sampai petangnya, baru saja bangun dan selesai cuci muka, tiba-tiba terdengar ramai-ramai di luar.
Dalam sekejap saja terdengar suara bentakan berjangkit di sana-sini, ada orang berteriak-teriak pula,
“Kawanan bandit dari Loan-ciok-kang malam ini akan datang merampok Ji-pek-poh ini, setiap orang yang
diketemukan akan dibunuh, harta benda yang dilihat akan dirampas, lekaslah lari menyelamatkan diri!”
Sekejap kemudian datanglah si pelayan menggedor pintu kamarnya sambil berteriak-teriak, “Tuan komandan!
Kawanan bandit Loan-ciok-kang malam ini akan menggerayangi kota, setiap orang sekarang lagi kabur
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menyelamatkan diri.”
Lenghou Tiong membuka pintu kamar dan memaki, “Nenekmu, ada apa ribut-ribut?”
Maka pelayan lantas mengulangi lagi seruannya tadi.
“Nenekmu, siang hari bolong di mana ada bandit? Ada jenderalmu di sini, mereka berani main gila?” Lenghou
Tiong memaki pula.
“Tapi ... tapi gerombolan itu teramat jahat, mereka juga ... juga tidak tahu beradanya engkau di sini,” sahut
pelayan dengan sedih.
“Boleh kau beri tahukan kepada mereka,” ujar Lenghou Tiong.
“Wah, mana hamba be ... rani, bisa-bisa buah kepalaku akan dipotong oleh mereka,” sahut si pelayan dengan
takut.
“Di mana letak Loan-ciok-kang itu?” tanya Lenghou Tiong.
“Kira-kira dua ratusan li dari sini,” tutur si pelayan. “Dua tahun yang lalu kota ini pernah dirampok bersih,
berpuluh orang menjadi korban, puluhan rumah dibakar, sungguh menyedihkan. Meski kepandaian Jenderal
cukup tinggi, tetapi sendirian sukar melawan jumlah banyak, selain pemimpin-pemimpin kaum bandit yang
jahat itu, anak buahnya paling sedikit juga ada tiga ratus orang lebih.”
Bab 80. Muslihat Keji Orang Ko-san-pay
“Nenekmu, biarpun lebih tiga ratus orang lantas mau apa? Jenderalmu sudah biasa terjang kian-kemari di
tengah pasukan musuh yang berpuluh ribu jumlahnya. Cuma beberapa orang saja apa artinya bagiku?”
Si pelayan cuma mengiakan saja beberapa kali, lalu tinggal pergi dengan cepat.
Terdengar suara kacau-balau di seluruh kota. Waktu Lenghou Tiong berjalan keluar, dilihatnya berpuluh-puluh
orang beramai-ramai menuju ke selatan dengan harta benda masing-masing yang bisa dibawa.
“Tempat ini adalah perbatasan antara Ciatkang dan Hokkian, agaknya pembesar-pembesar di Hangciu dan
Hokciu tidak mampu mengamankan gangguan kaum bandit ini sehingga rakyat kecil menjadi korban. Sebagai
komandan militer Kota Coanciu, mana boleh aku Go Thian-tik tinggal diam saja, aku harus tumpas kawanan
bandit itu sebagai jasaku kepada raja. Ya, nenekmu, mana boleh aku tinggal diam. Hahaha!” begitulah ia
berpikir, sampai akhirnya ia tertawa geli sendiri. Lalu berteriak-teriak pula, “Hei, pelayan, bawakan arak,
selesai makan minum kenyang jenderalmu akan menumpas bandit.”
Tapi waktu itu segenap penghuni hotel itu, dari tauke restoran, istri dan gundik-gundiknya, koki dan pelayanpelayannya,
semuanya sudah kabur pergi. Maka biarpun Lenghou Tiong berteriak-teriak sampai
kerongkongannya kering juga tidak ada orang menggubrisnya.
Terpaksa Lenghou Tiong pergi dapur sendiri untuk mengambil arak, lalu duduk di ruangan depan untuk minum
sendirian. Suara hiruk-pikuk di tengah kota itu lambat laun mulai mereda dan akhirnya menjadi sepi.
Lenghou Tiong merasa heran mengapa berita akan datangnya kaum bandit Loan-ciok-kang itu sampai bocor
lebih dulu sehingga tujuan mereka terang nanti akan gagal total. Sebuah kota berpenduduk ratusan keluarga
itu kini tertinggal dia seorang diri, hal ini benar-benar peristiwa luar biasa yang baru dialaminya sekarang.
Di tengah heningnya suasana itu, tiba-tiba dari jauh ada kumandang suara derapan kaki kuda, ada empat ekor
kuda sedang dipacu ke Ji-pek-poh ini dari arah barat daya. “Hah, tentu itulah pemimpin kawanan bandit, tapi
mengapa jumlahnya cuma sekian, mana anak buahnya?” demikian pikir Lenghou Tiong.
Setiba penunggang-penunggang kuda itu sampai di tengah kota, seorang di antaranya lantas berteriak, “Wahai
dengarkanlah kambing-kambing Ji-pek-poh ini, atas perintah Tay-ong (kepala), semuanya supaya berdiri di
luar rumah masing-masing, yang berdiri di luar takkan dibunuh, kalau tidak keluar semuanya akan dipenggal
kepala.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sembari berteriak kudanya terus dilarikan kian-kemari di jalan-jalan kota.
Waktu Lenghou Tiong mengintip ke luar, terlihat empat orang itu semuanya berbaju singsat warna kuning.
Kuda mereka telah dilarikan secepat terbang sehingga yang kelihatan hanya bayangan belakang mereka.
Tergerak pikiran Lenghou Tiong, “Aneh, dari sikap menunggang kuda mereka itu tampaknya mereka berilmu
silat sangat tinggi, kalau cuma anak buah kaum bandit mana bisa ada tokoh sehebat ini?”
Perlahan-lahan ia membuka pintu, lalu merunduk ke pinggir sana melalui emper rumah. Belasan meter
kemudian, dilihatnya di sebelah kelenteng toapekong ada pohon beringin yang rindang. Jika panjat ke pucuk
pohon, maka segala kejadian di dalam kota hampir-hampir dapat terlihat semua. Segera ia melompat ke atas,
dari satu dahan ia melompat ke dahan yang lain sehingga mencapai cabang dahan yang tertinggi. Suasana
sekeliling dalam keadaan sunyi senyap. Semakin lama menunggu semakin dirasakan oleh Lenghou Tiong akan
ketidakberesan keadaan itu. Ia heran mengapa gerombolan bandit itu masih belum muncul, mana mungkin
kaum bandit sengaja mengirim beberapa anak buah untuk memberi peringatan kepada kaum penduduk agar
mereka sempat melarikan diri lebih dulu?
Sesudah ditunggu lagi rada lama, akhirnya sayup-sayup baru terdengar suara manusia, tapi bukan suara
manusia biasa, melainkan suara kaum wanita yang sedang bicara bisik-bisik.
Sedikit memasang telinga saja Lenghou Tiong lantas mengenali suara-suara itu adalah anak murid Hing-sanpay.
Pikirnya, “Mengapa mereka baru sekarang sampai di sini? Ya, tentunya siang tadi mereka telah mengaso
di tengah jalan.”
Dari percakapan rombongan Hing-san-pay itu dapat didengar mereka tidak jadi masuk Sian-an-khek-tiam, lalu
menuju ke hotel yang lain, yaitu Lam-an-khek-tiam yang jaraknya rada jauh dari kelenteng toapekong. Apa
yang dilakukan dan dibicarakan orang-orang Hing-san-pay itu sesudah masuk hotel dengan sendirinya tidak
diketahui lagi oleh Lenghou Tiong. Lapat-lapat hati kecilnya merasa orang-orang Mo-kau yang telah sengaja
memasang perangkap itu untuk menjebak rombongan Hing-san-pay. Maka ia tetap menyembunyikan diri di
atas pohon untuk melihat perkembangan selanjutnya.
Agak lama kemudian, tertampak Gi-jing bertujuh keluar dari hotel untuk menyalakan lampu, banyak rumah
penduduk dan toko memancarkan sinar lampu dalam waktu singkat.
Selang sebentar lagi, sekonyong-konyong di sebelah timur laut sana ada suara jeritan wanita yang minta
tolong. Lenghou Tiong terkejut dan mengira anak murid Hing-san-pay ada yang dicelakai orang Mo-kau. Segera
ia melompat turun dari pucuk pohon dan hinggap di atas wuwungan kelenteng, dengan ginkang ia berlari ke
arah timur laut dengan melompati wuwungan rumah satu ke rumah yang lain.
Betapa hebat tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang, maka larinya di atas wuwungan rumah itu bukan saja
sangat cepat, bahkan sangat ringan dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya sekejap saja ia sudah
berada di luar rumah tempat suara jeritan wanita tadi.
Perlahan-lahan ia turun ke bawah dengan merembet dinding tembok, lalu mengintip ke dalam rumah melalui
celah-celah jendela. Keadaan di dalam ternyata gelap gulita dan tiada sinar lampu. Tapi selang sejenak lantas
dapat dilihat ada tujuh atau delapan laki-laki berdiri tegak mepet dinding, seorang wanita berdiri di tengah
rumah lantas berteriak-teriak, “Tolong, ada orang terbunuh, toloong!”
Lenghou Tiong hanya melihat wanita itu dari samping, tetapi air mukanya tampaknya sangat seram, melihat
gelagatnya jelas ada orang yang sengaja hendak dipancing datang.
Benar juga, belum lama ia menjerit, di luar lantas ada seorang wanita membentaknya, “Siapa yang mengganas
di sini?”
Rupanya pintu rumah itu memang tidak dipalang, maka sekali tolak saja daun pintu lantas terpentang,
serentak ada tujuh wanita bersenjata pedang menerjang ke dalam. Orang pertama bukan lain adalah Gi-jing.
Sekonyong-konyong wanita yang menjerit minta tolong tadi mengayun sebelah tangannya, sepotong kain hijau
selebar kira-kira satu meter persegi lantas terbentang ke depan, kontan Gi-jing bertujuh lantas kelihatan
gemetar, seperti pusing kepala dan berkunang-kunang matanya. Sesudah terhuyung-huyung, lalu roboh
terguling semua.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan Lenghou Tiong terkejut, sekilas terpikir olehnya, “Kain yang dibentangkan wanita itu pasti mengandung
racun pembius yang amat lihai. Jika aku menyerbu ke dalam untuk menolong Gi-jing bertujuh tentu aku pun
akan mengalami nasib yang sama, terpaksa aku harus bersabar.”
Begitulah beberapa laki-laki yang berdiri mepet dinding tadi beramai-ramai lantas lari maju, mereka
mengeluarkan tali untuk meringkus kencang kaki dan tangan Gi-jing bertujuh.
Tidak lama kemudian, di luar ada suara lagi, seorang wanita telah membentak, “Siapa yang berada di dalam?”
Karena pernah berbicara ketika bertemu di Sian-he-nia kemarin, maka segera Lenghou Tiong mengenali
pembicara itu adalah Gi-ho yang berwatak berangasan. Ia pikir nikoh cilik yang kasar ini tentu juga akan
diringkus musuh.
Terdengar Gi-ho berseru lagi di luar, “Gi-jing Sumoay, apakah kalian berada di dalam?”
Menyusul pintu lantas didepak orang dan terpentang lebar. Gi-ho dan kawan-kawannya berturut-turut lantas
menerobos ke dalam dengan berdua-duaan.
Begitu melangkah ke dalam rumah segera mereka memutar pedang masing-masing untuk melindungi diri dari
sergapan musuh. Dapat diduga tentu itulah sejenis barisan pedang Hing-san-pay yang khusus diajarkan untuk
menjaga diri, betapa rapat pertahanan mereka sehingga tidak memungkinkan musuh menyerang.
Musuh-musuh di dalam rumah itu ternyata diam saja, mereka menunggu sesudah Gi-ho bertujuh masuk ke
dalam rumah barulah wanita itu membentang lagi kainnya, tanpa ampun lagi Gi-ho bertujuh kena dirobohkan
pula dan tertawan.
Habis itu adalah giliran Ih-soh dengan enam kawannya, mereka pun mengalami nasib yang sama. Jadi
berturut-turut ada 21 murid Hing-san-pay dirobohkan dalam keadaan tak sadar, semuanya diringkus kaki dan
tangannya dan ditaruh di pojokan rumah.
Sejenak lagi, kembali wanita tadi menjerit minta tolong. Tapi orang Hing-san-pay tidak tampak datang pula.
Segera seorang tua yang berdiri di sudut rumah sana memberi tanda, beramai-ramai orang-orang itu lantas
keluar melalui pintu belakang.
Cepat Lenghou Tiong melompat ke atas rumah, dengan merunduk ia mengikuti jejak orang-orang itu.
Sekonyong-konyong di sebelah sana ada suara berkesiurnya angin, ia mendekam di tepi emper rumah,
dilihatnya belasan laki-laki sedang saling memberi tanda, lalu terpencar dan sembunyi di bawah serambi rumah
besar di sebelah itu, jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempat Lenghou Tiong.
Dengan enteng Lenghou Tiong merosot ke bawah, pada saat itulah dilihatnya Ting-cing Suthay dan tiga orang
muridnya sedang memburu ke arahnya.
Segera Lenghou Tiong menduga Ting-cing pasti sudah terkena tipu pancingan musuh, anak muridnya yang
tertinggal di Hotel Lam-an-khek-tiam itu pasti akan celaka. Dan dari jauh memang dilihatnya beberapa sosok
bayangan orang sedang berlari cepat ke hotel itu.
Baru saja Lenghou Tiong bermaksud memburu ke arah hotel sana, tiba-tiba di atas rumah ada orang berkata
dengan suara tertahan, “Sebentar bila nikoh tua itu sudah datang, kalian bertujuh hendaklah melibatkan dia di
sini.”
Suara orang itu tepat berada di atasnya, asal sedikit bergerak saja tentu jejak Lenghou Tiong akan ketahuan,
terpaksa ia diam saja dengan berdiri mepet tembok.
Dalam pada itu terdengar Ting-cing Suthay telah mendepak pintu rumah hingga terpentang sambil berseru,
“Gi-ho, Gi-jing, Ih-soh, apakah kalian dengar suaraku?”
Menyusul kelihatan Ting-cing mengelilingi rumah itu, lalu melompat ke atas rumah, tapi tidak memeriksa ke
dalam rumah. Lenghou Tiong heran mengapa Ting-cing tidak mau masuk ke dalam rumah, padahal begitu
masuk tentu akan mengetahui ke-21 anak muridnya meringkuk di situ. Tapi segera ia pun merasa bersyukur
Ting-cing tidak masuk ke dalam rumah, sebab pihak Mo-kau sudah siap menantikan kedatangannya, jika TingDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
cing masuk ke dalam rumah, sekali kena kain berbisa orang Mo-kau itu tentu nikoh tua itu pun akan tertawan
seperti nasib anak muridnya yang lain.
Dilihatnya Ting-cing Suthay berlari kian-kemari seperti orang bingung, mendadak nikoh tua itu lari kembali ke
Lam-an-khek-tiam dengan cepat sekali sehingga tak tersusulkan oleh Gi-lim bertiga. Maka ketika mendadak
dari ujung pengkolan jalan sana muncul beberapa orang, sekali membentangkan sepotong kain, seketika Gi-lim
bertiga roboh terkapar dan diseret orang-orang itu ke dalam rumah.
Dalam keadaan samar-samar Lenghou Tiong melihat di antara ketiga orang itu seperti terdapat pula Gi-lim,
seketika timbul maksudnya hendak segera pergi menolong nikoh jelita itu. Tapi segera terpikir lagi olehnya,
“Jika saat ini aku perlihatkan diri tentu akan terjadi pertempuran sengit. Padahal anak murid Hing-san-pay
sudah tertawan musuh dan mungkin akan dibunuh bila musuh kepepet. Maka tidak boleh bertempur terangterangan,
lebih baik bertindak menurut gelagat secara gelap saja.”
Tidak lama kemudian dilihatnya Ting-cing keluar lagi dari hotelnya, lalu berteriak dan mencaci maki di tengah
jalanan, kemudian melompat ke atas rumah dan memaki-maki Tonghong Put-pay. Benar juga, pihak Mo-kau
menjadi tidak tahan oleh caci makian itu, segera ada tujuh orang menampakkan diri dan menempurnya.
Sesudah mengikuti beberapa jurus pertempuran itu, Lenghou Tiong yakin dengan ilmu pedang Ting-cing yang
hebat untuk sementara tentu takkan kalah melawan ketujuh musuhnya. Maka biarlah lebih dulu aku pergi
menolong Gi-lim Sumoay saja. Demikianlah ia ambil keputusan.
Segera ia menyelinap ke dalam rumah tadi, dilihatnya di tengah ruangan ada seorang penjaga dengan golok
terhunus, Gi-lim bertiga tampak menggeletak di samping kakinya dalam keadaan teringkus.
Tanpa bicara lagi Lenghou Tiong lantas melompat maju, sekali bergerak pedangnya langsung menusuk
tenggorokan orang itu. Belum lagi orang itu menyadari apa yang terjadi, kontan jiwanya sudah melayang.
Lenghou Tiong menjadi melongo malah, sama sekali tak tersangka olehnya gerak pedangnya bisa begitu cepat,
bahkan sekali menusuk saja tahu-tahu sudah kena sasarannya.
Ia tidak menyadari bahwa sejak dia berhasil meyakinkan “Gip-sing-tay-hoat” ajaran Yim Ngo-heng ditambah
dengan hawa murni Tho-kok-lak-sian, Put-kay Hwesio, dan Hek-pek-cu yang terhimpun di dalam tubuhnya,
maka betapa tinggi tenaga dalamnya sekarang bahkan dia sendiri pun tidak pernah membayangkannya. Maka
sekali ia memainkan “Tokko-kiam-hoat” dengan tenaga dalam selihai itu, sudah tentu tak terperikan daya
tempurnya.
Semula Lenghou Tiong mengira musuh tentu akan menangkis, maka dia sudah merencanakan serangan
susulan yang lain untuk merobohkan musuh, habis itu barulah menolong Gi-lim bertiga. Tak terduga musuh
sama sekali tidak sempat menangkis dan tahu-tahu sudah binasa kena tusukannya.
Lenghou Tiong menjadi rada menyesal, ia singkirkan mayat itu, waktu diperiksa, memang benar Gi-lim berada
di antara ketiga wanita itu. Pernapasannya terasa baik, selain dalam keadaan tak sadar agaknya tidak terluka
apa-apa. Segera ia pergi ke dapur di belakang untuk mengambil satu ciduk air dingin dan dicipratkan sedikit di
atas muka Gi-lim.
Selang sejenak mulailah Gi-lim bersuara dan menggeliat seperti orang baru bangun tidur. Semula ia tidak tahu
dirinya berada di mana, waktu matanya perlahan-lahan dibuka barulah mendadak ia ingat apa yang sudah
terjadi. Cepat ia melompat bangun dan bermaksud melolos pedang, tapi segera mengetahui kaki dan
tangannya dalam keadaan teringkus, hampir saja ia terbanting jatuh lagi.
“Jangan takut, Siausuthay, orang jahat itu sudah kubunuh,” kata Lenghou Tiong sembari memutuskan tali
pengikat tangan dan kaki Gi-lim itu dengan pedang.
Mendengar suaranya dalam keadaan gelap gulita, samar-samar seperti suara “Lenghou-toako” yang senantiasa
dirindukannya itu, Gi-lim menjadi kejut dan girang pula, segera ia berseru, “He, engkau Lenghou ....” tapi
belum terucapkan panggilan “toako” lantas terasa tidak tepat olehnya, mukanya menjadi merah jengah dan
cepat ganti suara, “Engkau ini siapa?”
Lenghou Tiong tahu Gi-lim hampir mengenalinya dan mendadak ganti ucapan, dengan suara perlahan ia
menjawab, “Jenderal ada di sini, kawanan bandit itu pasti tidak berani mengganggu kalian lagi.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Ah, kiranya Go-ciangkun adanya,” seru Gi-lim. “Di ... di manakah Supek?”
“Dia sedang bertempur dengan musuh di luar sana, marilah kita pergi melihatnya,” ajak Lenghou Tiong.
Gi-lim lantas berseru pula, “The-suci, Cin-sumoay ...” ia lantas mengeluarkan ketikan api, maka tertampaklah
kedua temannya masih menggeletak di lantai, segera ia berkata, “O, mereka pun berada di sini semua.”
Lalu ia bermaksud memotong tali pengikat mereka.
Namun Lenghou Tiong telah mencegahnya, “Nanti dulu, paling penting marilah pergi membantu supekmu
dahulu.”
“Betul juga,” ucap Gi-lim sambil mengikut di belakang Lenghou Tiong yang sudah mendahului melangkah
keluar.
Belum berapa jauh keluar, terlihat tujuh sosok bayangan orang secepat terbang melayang ke sana, menyusul
lantas terdengar suara nyaring tersampuk jatuhnya senjata rahasia, lalu ada suara orang memuji ilmu pedang
Ting-cing yang tinggi, sebaliknya Ting-cing juga lantas mengenali pihak lain adalah tokoh Ko-san-pay. Tidak
lama kemudian terlihat Ting-cing Suthay ikut belasan orang laki-laki itu menuju ke Sian-an-khek-tiam. Lenghou
Tiong lantas menggandeng tangan Gi-lim dan diajak menyusup ke dalam hotel itu untuk mengintip dari balik
jendela.
Sebelah tangan Gi-lim dipegang Lenghou Tiong, ia bermaksud melepaskan tangannya, tapi mengingat orang
telah menolongnya dari tawanan musuh, agaknya tidak bermaksud jahat hanya memegangi tangannya saja.
Kemudian didengarnya Ting-cing sedang bicara dengan Ciong Tin di dalam kamar, orang she Ciong itu
mendesak agar Ting-cing Suthay berjanji untuk melebur Hing-san-pay ke dalam Ko-san-pay, habis itu barulah
dia mau membantu menolong anak muridnya yang tertawan musuh.
Meski masih hijau juga Gi-lim dapat merasakan ucapan Ciong Tin yang tidak kesatria itu, orang lagi kepepet
juga dipaksa lagi untuk menuruti maksud jahatnya. Didengarnya Ting-cing menjadi marah dan akhirnya
meninggalkan hotel.
Sesudah Ting-cing pergi rada jauh barulah Lenghou Tiong ikut keluar dan pura-pura berteriak-teriak memanggil
pengurus hotel itu seperti apa yang diceritakan di depan. Dalam keadaan kehilangan akal, keruan Ting-cing
kegirangan setengah mati dan segera putar balik.
Gi-lim lantas menyongsongnya sambil berseru, “Supek!”
Ting-cing menjadi girang pula dan cepat bertanya, “Di manakah kau tadi?”
“Tecu telah ditawan kawanan iblis Mo-kau,” sahut Gi-lim. “Ciangkun inilah yang telah menolong aku ....”
Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah mendorong pintu hotel dan masuk ke dalam. Dilihatnya di ruangan
tengah tersulut dua batang lilin besar dengan sinarnya yang cukup terang. Dengan suara garang Ciong Tin
lantas membentak, “Siapa kau main gembar-gembor di sini, lekas enyah!”
Lenghou Tiong balas memaki, “Nenekmu, kau berani kurang ajar terhadap seorang jenderal? Apa kau minta
digantung? Hai, juragan hotel, mana pelayan, lekas keluar semua!”
Orang-orang Ko-san-pay menjadi geli-geli dongkol. Hanya mencaci maki sepatah dua saja, lalu memanggilmanggil
juragan hotel dan pelayan, terang lahirnya saja ciangkun itu galak, tapi hatinya sebenarnya takut.
Tapi Ciong Tin pikir sedang melaksanakan tugas penting, buat apa melayani seorang perwira dogol begitu?
Maka dengan suara perlahan ia memerintahkan, “Tutuk roboh dia, tapi jangan mencelakai jiwanya.”
Kim-mo-say Ko Kik-sin manggut, dengan tertawa ia lantas mendekati Lenghou Tiong sambil menyapa, “Eh,
kiranya adalah Tuan besar yang datang, maaf jika kami kurang hormat.”
“Asal tahu saja,” sahut Lenghou Tiong. “Memang kalian rakyat jembel ini sok tidak tahu aturan ....”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dengan tertawa Ko Kik-sin mengiakan, mendadak ia menubruk maju, dengan jari telunjuk ia terus menutuk
pinggang Lenghou Tiong. Ilmu tiam-hiat Ko-san-pay terhitung suatu kepandaian tersendiri di dalam dunia
persilatan, caranya aneh dan jitu, sekali “siau-yau-hiat” di pinggang tertutuk seketika sasarannya akan
bergelak tertawa untuk kemudian jatuh pingsan dan baru dapat siuman kembali 12 jam kemudian.
Tak terduga tutukan Ko Kik-sin itu ternyata hanya membikin Lenghou Tiong mengikik tawa geli saja, bahkan ia
masih berkata, “He, kau ini benar-benar tidak tahu aturan, mengapa main kitik-kitik segala, memangnya kau
ingin bercanda dengan jenderalmu?”
Sementara itu Ting-cing dan Gi-lim sudah kembali di depan pintu hotel dan menyaksikan tutukan Ko Kik-sin
yang lihai itu ternyata tidak mempan terhadap Lenghou Tiong, keruan Ting-cing terkejut dan girang pula. Ia
pikir ilmu silat perwira gadungan ini sedemikian tinggi, sekali ini orang-orang Ko-san-pay yang pengecut itu
pasti akan kecundang.
Ko Kik-sin juga heran karena tutukannya tidak membawa hasil sebagaimana dugaannya. Segera tutukan kedua
kalinya dilontarkan. Sekarang dia menggunakan segenap tenaganya.
Namun Lenghou Tiong lantas mengakak sambil melonjak seperti orang kegelian lantaran dikilik-kilik. Ia
memaki pula sambil tertawa, “Nenekmu, mengapa main raba-raba segala di pinggang tuanmu? Memangnya
kau ingin mencuri dompetku ya? Potonganmu sih gagah, kenapa jadi copet?”
Ko Kik-sin pikir orang ini mengapa begini aneh? Tanpa pikir tangan kirinya lantas menyambar sehingga
pergelangan kanan Lenghou Tiong terpegang, sekali telikung, ia bermaksud merobohkan Lenghou Tiong.
Tak tersangka, baru saja tangan menempel pergelangan tangan lawan, seketika tenaga dalam sendiri terasa
mencurah keluar melalui telapak tangan dan sukar dikendalikan lagi. Saking kaget dan takutnya sampai
mulutnya ternganga, hendak berteriak pun sukar mengeluarkan suara lagi.
Sejak Lenghou Tiong berhasil meyakinkan “Gip-sing-tay-hoat”, meski dia tidak sengaja menggunakan ilmu
sakti itu, tapi dengan sendirinya mempunyai keampuhan daya sedot tenaga dalam lawan. Jika lawan tidak
mengerahkan tenaga dalam, seperti tadi dia menggandeng tangan Gi-lim secara biasa, maka takkan timbul
daya sedotnya yang lihai. Tapi kalau lawan mengerahkan tenaga dalam, semakin besar tenaga yang
dikerahkan, semakin cepat pula tenaga dalamnya akan terkuras dan disedot olehnya. Jalan satu-satunya
adalah segera menghentikan curahan tenaga dalam itu, kecuali Lenghou Tiong memang sengaja hendak
menyedot tenaganya.
Begitulah Lenghou Tiong juga kaget ketika merasakan tenaga dalam lawan sedang mengalir ke dalam
tubuhnya seperti apa yang terjadi atas diri Hek-pek-cu tempo hari. Padahal ia sendiri sudah berjanji takkan
menggunakan Gip-sing-tay-hoat. Maka cepat ia mengebaskan tangan sekuatnya sehingga pegangan Ko Kik-sin
terlepas.
Ko Kik-sin terlongong-longong sejenak, rasanya seperti pesakitan yang sudah dijatuhi hukum gantung
mendadak diampuni, cepat ia melompat mundur, tapi seluruh badan rasanya lemas lunglai seakan-akan habis
sakit berat. Ia berteriak-teriak dengan suara serak dan rasa seram, “Gip-sing ... Gip-sing-tay-hoat!”
Ciong Tin, Ting Pat-kong, dan anak murid Ko-san-pay yang lain serentak melonjak kaget dan tanya berbareng,
“Apa katamu?”
“Orang ... orang ini mahir menggunakan Gip-sing-tay-hoat,” sahut Ko Kik-sin.
Serentak sinar pedang berkelebat dengan suara nyaring mendering, semua orang Ko-san-pay telah melolos
pedang, hanya Ting Pat-kong yang memakai senjata ruyung panjang lemas. Ilmu pedang Ciong Tin paling lihai
dan cepat, sekali sinar pedang berkelebat, secepat kilat ia menusuk ke leher Lenghou Tiong.
Waktu Ko Kik-sin berteriak-teriak lagi Lenghou Tiong sudah menduga orang-orang Ko-san-pay pasti akan
mengerubut maju, maka begitu melihat mereka melolos senjata, segera ia pun siapkan goloknya yang masih
terselubung sarung golok itu, sebelum tusukan Ciong Tin mencapai sasarannya, dengan cepat luar biasa ujung
golok bersarung itu sudah menutuk ke punggung tangan lawan masing-masing.
Maka terdengarlah suara gemerantang nyaring memekak telinga, pedang lawan jatuh berserakan. Hanya
kepandaian Ciong Tin yang paling tinggi itu tidak mengalami nasib sama, meski punggung tangannya juga
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
terketok, tapi pedangnya tidak sampai terlepas dari cekalan. Saking kagetnya segera ia melompat mundur.
Yang paling runyam adalah Ting Pat-kong, gagang ruyungnya terlepas dari cekalan, tapi ruyungnya yang lemas
itu sempat melibat balik ke lehernya sendiri sehingga tercekik dan hampir-hampir tak bisa bernapas.
Muka Ciong Tin menjadi pucat, katanya, “Di dunia Kangouw tersiar berita Yim-kaucu, ketua Mo-kau yang dulu,
telah muncul kembali, apakah engkau ... engkau, inilah Yim ... Yim-kaucu Yim Ngo-heng adanya?”
“Keparat, peduli apakah Yim Ngo-heng atau Yim Kuping neneknya, yang pasti jenderalmu ini she Go bernama
Thian-tik, tahu?” maki Lenghou Tiong dengan tertawa. “Nah, kalian ini kawanan bandit dari mana, di hadapan
jenderalmu kenapa tidak lekas lari pulang ke tempat nenekmu?”
Ciong Tin merangkap kedua tangannya sebagai hormat, katanya, “Munculnya kembali engkau di bu-lim, Ciong
Tin merasa bukan tandinganmu, selamat tinggal, sampai bertemu kelak.”
Habis berkata, mendadak ia meloncat ke luar dengan membobol jendela. Menyusul Ko Kik-sin dan lain-lain juga
ikut melompat pergi, pedang yang berserakan memenuhi lantai itu tiada seorang pun yang berani
menjemputnya kembali.
Sembari memegangi goloknya yang masih lengket dengan sarungnya, Lenghou Tiong pura-pura hendak
melolosnya, tapi tetap tidak terlorot keluar. Katanya dengan menggumam sendiri, “Golok ini benar-benar sudah
berkarat, besok perlu cari tukang asah gunting membersihkan karatnya.”
“Go-ciangkun,” Ting-cing Suthay menegurnya, “sudilah kiranya pergi menolong beberapa anak murid wanita
kami itu?”
Lenghou Tiong menduga dengan kepergian rombongan Ciong Tin itu sudah tidak ada orang yang mampu lagi
melawan kepandaian Ting-cing Suthay. Katanya, “Aku masih ingin minum arak lagi di sini, apakah Losuthay
mau mengiringi aku?”
Melihat “perwira” ini berulang-ulang bicara tentang minum arak, diam-diam Gi-lim merasa mirip benar dengan
kegemaran Lenghou-toako. Tanpa merasa ia melirik ke arahnya, tak terduga sang jenderal itu pun sedang
membuang pandang ke arahnya, seketika muka Gi-lim menjadi merah dan cepat menunduk.
“Aku tidak bisa minum arak, maafkan aku tidak dapat mengiringi Ciangkun,” sahut Ting-cing sembari memberi
hormat dan mengundurkan diri.
Gi-lim cepat ikut keluar, sampai di luar pintu, ia masih menoleh memandang sekejap lagi kepada Lenghou
Tiong, terlihat dia sedang berbangkit mencari arak sambil mengomel, “Neneknya, apakah orang di hotel ini
sudah mampus semua, mengapa sampai sekarang tiada seorang pun yang keluar.”
Pikir Gi-lim, “Dalam kegelapan tadi samar-samar suaranya kusangka sebagai suaranya Lenghou-toako,
memang mirip benar suara mereka. Cuma ciangkun ini bermulut kotor, selalu memaki kalang kabut, berbeda
sekali dengan Lenghou-toako yang sopan santun. Ai, mengapa aku menjadi berpikir yang tidak-tidak, ah, dasar
....”
Dalam pada itu Lenghou Tiong telah mendapatkan arak, tanpa pakai cawan segala, terus saja ia menghirupnya
langsung dari poci arak dan sekaligus menghabiskan setengah poci.
Sembari minum benaknya juga bekerja, pikirnya, “Para nikoh dan perempuan tua muda itu sebentar akan
kembali lagi ke sini, dalam keadaan ceriwis tak habis-habis bisa jadi aku kurang hati-hati sehingga dikenali
mereka kan bisa runyam, maka lebih baik aku tinggal pergi saja. Tapi untuk menolong kawan-kawan mereka
yang banyak itu tentu juga makan tempo, sementara ini perutku yang lapar perlu diisi dulu.”
Begitulah selesai menghabiskan isi poci arak segera ia menuju ke dapur. Dilihatnya dalam wajan sedang
mengepul nasi liwet yang berbau rada sangit, agaknya rombongan Ciong Tin tadi yang menanak nasi itu dan
belum sempat diangkat sehingga hangus. Segera ia mengisi satu mangkuk penuh, sembari dimakan ia coba
mencari lauk-pauk.
Tapi baru beberapa suap nasi disumpit ke dalam mulut, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara Gi-lim, “Supek,
Supek! Di mana kau?”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dari suaranya yang tajam melengking itu agaknya nikoh muda itu sangat cemas dan khawatir.
Sambil memegangi mangkuk nasi itu Lenghou Tiong lantas memburu ke luar ke arah suara itu. Maka
tertampaklah Gi-lim dan kedua nona muda tadi berada di jalanan sana dan sedang berteriak-teriak, “Supek!
Suhu!”
“Ada apa?” tanya Lenghou Tiong sesudah dekat.
“Aku yang telah menolong The-suci dan Cin-sumoay sehingga mereka siuman kembali,” tutur Gi-lim. “Tapi
Supek mengkhawatirkan para suci yang lain, beliau buru-buru pergi sendiri untuk mencari mereka. Ketika kami
bertiga keluar ternyata sudah ... sudah kehilangan jejak beliau.”
Melihat usia The Oh paling-paling baru 20-an, bahkan umur Cin Koan cuma belasan tahun saja, Lenghou Tiong
merasa tidak mengerti untuk apa Hing-san-pay mengirim nona-nona muda belia begitu ke dunia ramai? Segera
ia berkata dengan tertawa, “Jangan khawatir, aku tahu tempat mereka, coba kalian ikut padaku.”
Segera ia mendahului melangkah ke gedung yang besar di sebelah timur laut itu. Sampai di depan pintu, sekali
depak ia bikin daun pintu terpentang. Khawatir kalau wanita Mo-kau masih sembunyi di dalam dan mungkin
akan membiusnya dengan racun lagi, maka lebih dulu ia pesan Gi-lim bertiga, “Tutup rapat mulut dan hidung
kalian dengan saputangan, awas di dalam ada seorang perempuan keparat suka menebarkan racun.”
Habis itu ia lantas pencet hidung dan menahan napas terus menerjang ke dalam rumah. Tapi ia menjadi
melengak begitu berada di dalam ruangan. Di dalam ruangan yang tadinya penuh bergelimpangan anak murid
Hing-san-pay yang diringkus dan tak sadarkan diri itu sekarang sudah kosong melompong, hilang tanpa bekas.
Ia bersuara heran. Dilihatnya di atas meja ada sebuah tatakan lilin dengan api yang masih menyala, tapi
ruangan itu benar-benar sudah kosong. Dengan cepat sekali ia memeriksa sekeliling rumah itu, namun tiada
menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan. Sungguh herannya tak terkatakan.
Gi-lim bertiga juga menatap Lenghou Tiong dengan penuh rasa sangsi dan tanda tanya.
“Neneknya, para suci kalian sudah jelas dibius roboh oleh seorang perempuan keparat dan teringkus semua di
sini, mengapa hanya sebentar saja mereka sudah lenyap semua?” demikian omel Lenghou Tiong.
“Go-ciangkun, benar kau melihat para suci kami dibius roboh di sini?” The Oh menegas.
“Ya, semalam aku telah mimpi dan menyaksikan sendiri banyak sekali kawanan nikoh dan orang perempuan
bergelimpangan di ruangan ini, mana bisa salah lagi,” sahut Lenghou Tiong.
“Masa kau ....” mestinya The Oh hendak membantah mustahil impian dapat dibuat patokan. Tapi lantas
teringat olehnya perwira ini memang suka mengoceh tak keruan, katanya mimpi, tapi sebenarnya menyaksikan
kejadian yang sungguh, maka cepat ia ganti suara, “Go-ciangkun, menurut dugaanmu ke manakah mereka
semua?”
“O, bisa jadi mereka sudah lapar dan pergi mencari daging dan arak, atau mungkin di mana ada tontonan dan
mereka telah pergi ke sana,” kata Lenghou Tiong. Lalu ia menggapai mereka dan menyambung pula, “Marilah
sini, kalian bertiga anak dara ini sebaiknya ikut kencang di belakangku, jangan ketinggalan. Mau makan daging
dan minum arak juga dapat kusediakan nanti.”
Walau umur Cin Koan masih kecil, tapi ia pun menyadari keadaan sangat membahayakan mereka dan tahu
para suci sudah jatuh dalam perangkap musuh. Ocehan ciangkun sinting ini tidak perlu dianggap sungguhsungguh.
Namun berpuluh kawan mereka kini tinggal mereka bertiga saja, selain menurutkan segala perintah
sang ciangkun boleh dikata tiada jalan lain yang lebih baik. Terpaksa mereka bertiga ikut keluar di belakang
Lenghou Tiong.
Bab 81. Gugurnya Ting-cing Suthay
Lenghou Tiong menggumam sendiri, “Aneh, apa impianku semalam tidak betul, apa yang kulihat hanya
khayalan belaka? Ah, malam nanti aku harus mimpi yang betul-betul terjadi.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dalam hati ia merasa heran ke mana menghilangnya anak murid Hing-san-pay yang tadinya ditawan musuh
itu? Mengapa mendadak Ting-cing Suthay juga menghilang? Apa barangkali nikoh tua itu pun masuk perangkap
musuh? Jika demikian harus lekas-lekas dicari. Tapi Gi-lim bertiga anak dara ini akan kurang aman jika
ditinggalkan di kota kecil ini, terpaksa mereka harus dibawa serta pergi mencari Ting-cing dan lain-lain.
Katanya kemudian, “Daripada menganggur, marilah kita pergi mencari supek kalian dan teman-temanmu,
mungkin mereka sedang main-main di suatu tempat.”
“Baik sekali,” seru The Oh cepat. “Ilmu silat Ciangkun amat tinggi, pengalaman luas pula, jika engkau mau
membawa kami pergi mencari supek tentu akan dapat ditemukan kembali.”
“Ilmu silat tinggi dan pengalaman luas, ucapanmu ini memang tidak salah,” ujar Lenghou Tiong tertawa. “Kelak
kalau jenderalmu ini naik pangkat dan berkuasa lebih besar, tentu aku akan mengirim seratus tahil perak
kepada kalian untuk beli baju baru dan jajan sepuas-puasnya.”
Begitulah sambil membual, ketika sampai di ujung kota, ia melompat ke atas wuwungan rumah untuk
memandang sekeliling situ. Sementara itu fajar baru menyingsing, pepohonan masih diliputi kabut tebal,
suasana sunyi senyap tiada suatu bayangan pun yang tertampak.
Sekonyong-konyong Lenghou Tiong melihat di tepi jalan sebelah selatan sana ada sesuatu benda hijau. Cuma
jaraknya rada jauh sehingga tidak jelas benda apakah itu. Namun di tengah jalan raya yang kosong itu sebuah
benda demikian tampaknya sangat mencolok.
Cepat ia melompat turun dan berlari ke sana. Waktu benda dijemput, kiranya adalah sebuah sepatu kain
wanita. Tampaknya sangat mirip dengan sepatu yang dipakai Gi-lim.
Ia menunggu sebentar di tempatnya, kemudian Gi-lim bertiga juga sudah menyusul tiba. Ia serahkan sepatu
wanita itu kepada Gi-lim dan bertanya, “Apakah ini sepatumu? Mengapa jatuh di sini?”
Walaupun sadar dirinya masih lengkap bersepatu, tapi Gi-lim masih memandang sekejap pula ke kakinya
sendiri dan tertampak sepasang sepatunya sendiri masih terpakai dengan baik.
“Ah, ini adalah ... adalah sepatu suci atau sumoay kami, mengapa bisa jatuh di sini?” ujar The Oh.
“Tentu salah seorang suci yang diculik musuh itu telah meronta-ronta di sini sehingga sepatunya tertanggal,”
kata Cin Koan.
“Ya, mungkin juga sepatu ini sengaja dilepaskan di sini agar kita dapat menemukan jejaknya,” ujar The Oh.
“Benar, pengetahuanmu memang luas, ilmu silatmu juga tinggi,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang kita harus
menguber ke selatan atau ke utara?”
“Sudah tentu ke selatan saja,” sahut The Oh.
Segera Lenghou Tiong berlari cepat ke arah selatan, hanya sebentar saja sudah beberapa puluh meter jauhnya,
semula jarak Gi-lim bertiga tidak terlalu jauh ketinggalan, tapi lama-lama bayangan Lenghou Tiong lantas
berubah menjadi suatu titik hitam saja.
Sembari berlari Lenghou Tiong memeriksa keadaan jalan yang dilaluinya itu, sering pula ia menoleh mengawasi
Gi-lim bertiga, ia khawatir mereka tertinggal terlalu jauh dan mungkin tidak keburu ditolong lagi jika mendadak
mereka dicegat musuh. Maka sesudah beberapa li jauhnya berlari ia lantas berhenti untuk menunggu.
Sesudah Gi-lim bertiga menyusul tiba, lalu Lenghou Tiong lari ke depan lagi dan begitu seterusnya sampai
beberapa kali, maka belasan li jauhnya sudah dilalui. Jalanan di depan kelihatan mulai berliku-liku tidak rata,
pepohonan sangat banyak di tepi jalan. Jika musuh bersembunyi di suatu pengkolan dan menyergap mendadak
tentu tidak keburu lagi untuk menolong Gi-lim bertiga. Apalagi Cin Koan sudah kelihatan letih, keringatnya
memenuhi dahinya dan mukanya merah. Lenghou Tiong tahu dara cilik itu terlalu muda dan tidak tahan lari
jauh, segera ia perlambat langkahnya sambil sengaja berteriak, “Neneknya, cepat benar lari jenderalmu ini,
jangan-jangan sepatu kulitku ini nanti akan tergosok tipis, kukira sepatuku ini perlu dihemat. Biarlah kita jalan
perlahan-lahan saja.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Setelah berjalan beberapa li lagi, tiba-tiba Cin Koan berseru heran, “He!”
Ia berlari ke pinggir semak-semak sana dan menjemput sebuah kopiah kain hijau, itulah kopiah yang biasa
dipakai nikoh-nikoh Hing-san-pay.
“Ciangkun, para suci dan sumoay kami benar-benar telah diculik oleh musuh dan melalui jalanan ini,” seru The
Oh.
Karena jurusan yang mereka tempuh tepat menuju sasarannya, segera mereka mencepatkan langkah sehingga
Lenghou Tiong berbalik ditinggal di belakang malah.
Menjelang tengah hari mereka berempat berhenti di suatu warung nasi untuk mengisi perut. Melihat seorang
perwira membawa serta seorang nikoh jelita dan dua nona muda dalam perjalanan, si pemilik warung nasi
terheran-heran sehingga berulang-ulang ia mengamat-amati mereka.
“Neneknya!” Lenghou Tiong memaki sambil menggebrak meja. “Apa yang kau lihat? Memangnya tidak pernah
melihat nikoh atau hwesio?”
“Ya, ya, hamba tidak berani!” sahut pemilik warung dengan ketakutan.
Tergerak hati The Oh, ia tunjuk Gi-lim dan bertanya kepada si pemilik warung, “Paman, apakah kau melihat
beberapa orang-orang beragama seperti siausuthay ini lalu di sini?”
“Beberapa orang sih tidak, kalau cuma seorang saja memang ada,” sahut laki-laki itu. “Tadi ada seorang
losuthay, usianya jauh lebih tua daripada Siausuthay ini ....”
“Ngaco-belo belaka,” damprat Lenghou Tiong. “Sudah tentu seorang losuthay umurnya jauh lebih tua daripada
siausuthay, memangnya kau anggap kami ini orang tolol semua?”
“Ya, ya,” sahut laki-laki itu dengan ketakutan.
“Lalu bagaimana dengan losuthay itu?” The Oh menegas dengan tertawa.
“Dengan tergesa-gesa losuthay itu tanya kepadaku apakah melihat beberapa orang beragama seperti beliau
lalu di jalanan sini. Kujawab tidak ada, lantas beliau berlari ke sana. Wah, sudah begitu tua, tapi larinya
sungguh amat cepat, malahan tangannya memegang pedang yang mengilap.”
“Beliau tentulah suhu adanya, marilah kita lekas menyusul ke sana,” seru Cin Koan.
“Jangan terburu-buru, makan dulu, urusan belakang,” ujar Lenghou Tiong.
Cepat mereka berempat mengisi perut, pada akhirnya Cin Koan membeli pula empat buah kue mangkuk,
katanya untuk makan gurunya.
Mendadak hati Lenghou Tiong terasa pedih, pikirnya, “Sedemikian dia berbakti kepada gurunya, aku sendiri
meski ingin berbakti kepada suhu juga tidak dapat lagi.”
Saat itu mereka sudah berada di wilayah Provinsi Hokkian, jaraknya sudah berdekatan dengan tempat
beradanya sang guru dan ibu-guru, ia pikir dengan penyamarannya itu tentu sang guru dan ibu-gurunya takkan
mengenalinya, jika kutemui beliau-beliau itu tentulah mereka akan pangling dan takkan marah-marah lagi
padaku.
Akan tetap, sampai hari sudah gelap lagi mereka tetap belum menemukan jejaknya Ting-cing Suthay.
Sepanjang jalan hanya hutan belaka, jalanan makin lama makin sempit. Tidak lama kemudian, sekitar jalan
rumput alang-alang tumbuh setinggi manusia, untuk melalui jalanan menjadi tambah sukar.
Lenghou Tiong berharap akan menemukan rumah penduduk di situ, dengan demikian akan ada tempat
meneduh daripada berkeliaran di hutan belukar itu.
Ketika dilihatnya di depan ada pohon besar, segera ia berlari ke sana dan meloncat ke atas, dari pucuk pohon
ia coba mengintai sekitarnya, ternyata tiada sebuah rumah pun yang kelihatan. Sekonyong-konyong dari arah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
barat laut sana sayup-sayup ada suara nyaring beradunya senjata.
Cepat ia melompat turun dan berkata, “Lekas ikut padaku, di sana ada orang sedang berkelahi, kita akan
menonton keramaian.”
“Ai, jangan-jangan adalah guruku?” ujar Cin Koan.
Lenghou Tiong lantas berlari ke arah datangnya suara dengan menyusur rumput alang-alang yang lebat.
Kiranya beberapa puluh meter jauhnya mendadak matanya terbeliak, suasana terang benderang oleh sinar api
berpuluh obor, suara benturan senjata juga tambah nyaring.
Ia percepat langkahnya, sesudah dekat, terlihat beberapa puluh orang memegangi obor melingkari suatu
kalangan pertempuran, di tengah kalangan seorang berpedang sedang menempur tujuh orang lain dengan
sengit. Siapa lagi dia kalau bukan Ting-cing Suthay adanya.
Di luar lingkaran orang-orang itu tampak menggeletak beberapa puluh orang pula, dari pakaian mereka segera
diketahui mereka adalah anak murid Hing-san-pay.
Orang-orang itu semuanya memakai kedok. Dengan perlahan-lahan Lenghou Tiong mendekati mereka. Karena
semua orang sedang mencurahkan perhatian kepada pertarungan sengit di tengah kalangan, maka tiada
seorang pun yang mengetahui kedatangan Lenghou Tiong.
Mendadak Lenghou Tiong bergelak tertawa dan berkata, “Hahahaha! Tujuh orang mengerubut satu orang,
sungguh hebat!”
Munculnya Lenghou Tiong secara mendadak membikin orang-orang berkedok itu terkejut dan serentak
berpaling. Hanya ketujuh orang yang sedang menempur Ting-cing Suthay itu seperti tidak peduli terhadap apa
yang terjadi, mereka tetap melingkari Ting-cing dan menyerang dengan gencar dengan berbagai senjata
mereka.
Lenghou Tiong melihat jubah Ting-cing sudah berlepotan darah, mukanya juga kecipratan air darah, malahan
yang memegang pedang adalah tangan kiri, terang tangan kanan sudah terluka. Jika dirinya datang terlambat
sedikit saja mungkin nikoh tua itu sudah binasa dicincang musuh-musuhnya.
Dalam pada itu di antara gerombolan orang-orang itu sudah ada yang membentak, “Siapa kau?”
Berbareng dua orang bergolok lantas melompat ke depan Lenghou Tiong.
“Kawanan bangsat, lekas menyerahkan diri jika kalian tidak ingin kujewer satu per satu,” bentak Lenghou
Tiong.
“Haha, kiranya seorang dogol!” kata seorang di antaranya dengan tertawa geli. Berbareng goloknya lantas
membacok kepada Lenghou Tiong.
“Ai, kau sungguh-sungguh memakai senjata?” teriak Lenghou Tiong sambil menggeliat ke samping, serentak ia
pun menyerbu ke tengah kalangan, goloknya yang bersarung itu bergerak cepat, “plak-plok” berulang tujuh
kali, dengan tepat pergelangan tangan ketujuh orang kena diketok, tujuh bentuk senjata terjatuh semua ke
tanah. Menyusul terdengar suara “cret” satu kali, pedang Ting-cing Suthay telah menancap di dada seorang
lawan.
Rupanya orang itu menjadi terperanjat ketika mendadak senjatanya diketok jatuh oleh Lenghou Tiong, maka
tidak sempat mengelak serangan kilat Ting-cing Suthay yang lihai itu. Saking kerasnya tusukan Ting-cing itu
sehingga badan lawan seakan-akan terpantek di atas tanah. Habis itu Ting-cing sendiri tidak tahan lagi, ia
terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk.
“Suhu! Suhu!” seru Cin Koan khawatir sembari memburu maju dan memeluk badan sang guru.
Salah seorang berkedok itu mengacungkan goloknya mengancam di tengkuk seorang murid Hing-san-pay
sambil berteriak, “Mundur semua! Kalau tidak segera kubinasakan perempuan ini!”
“Baik, baik! Mundur ya mundur, kenapa begini galak!” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. Tapi mendadak
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
goloknya disodokkan ke depan, ujung golok bersarung itu tepat mengenai dada orang itu. Kontan orang itu
menjerit dan mencelat hingga beberapa meter jauhnya.
Sebenarnya jarak Lenghou Tiong dengan orang itu ada dua-tiga meter jauhnya, tapi aneh juga, begitu
tangannya menjulurkan goloknya seketika dada orang itu tersodok. Di mana tenaga dalamnya tiba, seketika
orang itu terpental.
Lenghou Tiong menduga sodokannya pasti dapat merobohkan lawan agar ancamannya kepada murid Hing-sanpay
itu digagalkan, tapi tidak menyangka bahwa tenaga dalam sendiri bisa sedemikian hebatnya, hanya sedikit
menyodok saja orang itu lantas mencelat begitu jauh. Ia sendiri menjadi melongo malah, menyusul goloknya
lantas diputar lagi, “plak-plok” berulang, kembali tiga laki-laki berkedok dirobohkan lagi.
“Nah, kalian mau enyah atau tidak? Jika tidak, sebentar kubekuk batang leher kalian satu per satu dan kukirim
ke penjara, paling tidak pantat kalian akan dirangket 30 kali setiap orang!” bentak Lenghou Tiong.
Melihat kepandaian Lenghou Tiong begitu tinggi dan sukar diukur, pemimpin orang-orang berkedok itu
menyadari bukan tandingannya lagi, segera ia memberi hormat dan berkata, “Menghadapi Yim-kaucu, biarlah
kami mengalah saja.”
Lalu ia memberi tanda kepada kawan-kawannya dan membentak, “Yim-kaucu dari Mo-kau berada di sini, kalian
harus tahu diri sedikit dan lekas pergi bersamaku!”
Beramai-ramai mereka lantas mengusung sesosok mayat dan tiga teman mereka yang tertutuk roboh itu,
melemparkan obor, lalu menuju ke jurusan barat laut. Dalam sekejap saja sudah menghilang di balik semaksemak
rumput yang lebat.
Cepat Gi-lim dan The Oh membuka ringkusan para suci mereka, dalam pada itu Cin Koan sudah memberi
minum obat luka perguruannya kepada Ting-cing Suthay. Empat murid perempuan yang sudah bebas dari
ringkusan itu lantas menjemput obor dan mengelilingi Ting-cing. Melihat luka Ting-cing cukup parah, semuanya
termangu diam.
Dada Ting-cing tampak berombak, napasnya memburu, perlahan-lahan ia membuka mata dan bertanya kepada
Lenghou Tiong, “Jadi kau ... kau ini Mo-kau-kaucu Yim ... Yim Ngo-heng di masa dahulu itu?”
“Bukan,” sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.
Ting-cing memejamkan mata pula, napasnya tambah lemah, tampaknya keadaannya semakin payah. Ia
mengembuskan napas beberapa kali, habis itu mendadak berkata dengan nada bengis, “Jika kau adalah Yim
Ngo-heng, maka biarpun Hing-san-pay kami kalah ha ... habis-habisan dan ter ... terbinasa semua juga ... juga
tidak sudi ... tidak sudi ....” sampai di sini napasnya sudah sukar menyambung lagi.
Melihat ajal nikoh tua itu sudah di depan mata, Lenghou Tiong tidak berani sembarangan omong lagi, katanya,
“Dengan usiaku yang masih sedikit ini masakah mungkin Yim Ngo-heng adanya?”
Sekuatnya Ting-cing membuka mata lagi dan memandang sekejap, dilihatnya meski kumis jenggot Lenghou
Tiong awut-awutan tak terawat, tapi umurnya ditaksir paling-paling baru 30-an saja. Dengan suara lemah ia
berkata, pula, “Jika demikian mengapa kau ... kau mahir menggunakan Gip ... Gip-sing-tay-hoat? Apakah kau
mu ... muridnya Yim Ngo-heng?”
Lenghou Tiong menjadi teringat kepada macam-macam kejahatan yang sering diceritakan oleh guru dan ibugurunya
dahulu. Beberapa hari terakhir ini disaksikannya pula cara-cara licik kawanan Mo-kau menyergap
orang-orang Hing-san-pay, maka dengan tegas ia lantas menjawab, “Mo-kau berbuat kejahatan dan tak
terampunkan, mana Cayhe sudi berkomplot dengan mereka? Yim Ngo-heng itu pasti bukan guruku, harap
Suthay jangan khawatir, guru Cayhe adalah seorang kesatria sejati, seorang tokoh bu-lim dari kalangan suci
yang dihormat dan disegani akan budi pekertinya.”
Wajah Ting-cing terkilas senyuman puas dan lega, dengan suara terputus-putus ia berkata pula, “Keadaanku
sudah ... sudah payah dan tak tertolong lagi, harap ban ... harap bantuanmu agar suka mem ... membawa
anak murid Hing-san-pay ini ke ...” sampai di sini ia lantas berhenti karena napasnya memburu hebat. Selang
sejenak baru ia menyambung pula, “Membawa mereka ke Bu-siang-am di ... di Hokciu. Aku punya Ciangbunsumoay
dalam be ... berapa hari ini tentu akan menyusul tiba.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Harap Suthay jangan khawatir, silakan istirahat beberapa hari, tentu kau akan lekas sembuh kembali,” ujar
Lenghou Tiong.
“Apakah kau sudah menyanggupi per ... permintaanku?” tanya Ting-cing pula.
Melihat nikoh tua itu menatapnya dengan rasa penuh harapan dan khawatir kalau-kalau dirinya menolak
permintaannya, Lenghou Tiong lantas menjawab, “Jika demikian kehendak Suthay sudah tentu akan
kulaksanakan dengan baik.”
Ting-cing tersenyum puas, katanya, “Omitohud! Memangnya tugas berat ini sebenarnya tidak cocok bagiku.
Siauhiap, se ... sesungguhnya siapakah engkau?”
Melihat sinar mata nikoh tua itu sudah guram, suaranya lemah dan napasnya sangat pendek, jiwanya terang
sukar dipertahankan lagi. Lenghou Tiong tidak tega untuk merahasiakan dirinya sendiri lagi, perlahan ia
membisiki telinga nikoh tua itu, “Ting-cing Supek, Wanpwe adalah murid Hoa-san-pay yang telah dipecat,
Lenghou Tiong adanya.”
“Aaah, kau ... kau ....” Ting-cing hanya sempat berseru demikian lalu putus napasnya.
Serentak ramailah jerit tangis anak murid Hing-san-pay, hutan belukar yang sunyi itu diliputi suasana sedih,
obor-obor yang terpegang tadi sama terbuang di atas tanah, berturut-turut api obor itu padam, keadaan
menjadi gelap gulita dan menambah seramnya suasana.
“Jelek-jelek Ting-cing Suthay terhitung seorang tokoh terkemuka, tapi dia telah ditewaskan lawan secara licik
dan pengecut di tempat sunyi ini. Sebenarnya dia adalah seorang nikoh tua yang tidak punya ambisi apa-apa,
kenapa Mo-kau merecoki dia dan tidak memberi ampun padanya?” demikian pikir Lenghou Tiong. Mendadak
tergerak hatinya, “Sebelum pergi tadi pemimpin orang-orang berkedok itu telah menyebut tentang Mo-kaukaucu
Yim Ngo-heng. Padahal orang Mo-kau menyebut agamanya sendiri sebagai Tiau-yang-sin-kau, istilah
Mo-kau dianggap sebagai suatu penghinaan, mengapa orang itu malah mengucapkan istilah Mo-kau? Jika dia
berani mengucapkan kata-kata Mo-kau, maka jelas dia pasti bukan anggota Mo-kau. Lalu, dari manakah asal
usul rombongan orang-orang berkedok itu?”
Dilihatnya anak murid Hing-san-pay masih terus menangis dengan sedihnya, ia pun tidak mau mengganggu
mereka, ia sendiri lantas duduk bersandar pada batang pohon, sebentar saja sudah tertidur.
Besok paginya waktu mendusin, dilihatnya beberapa murid Hing-san-pay berjaga di sekitar jenazah Ting-cing
Suthay. Beberapa murid kecil yang lain tampak tidur melingkar di samping Ting-cing yang sudah tak bernyawa
itu.
Diam-diam Lenghou Tiong menimbang sendiri, “Jika seorang perwira seperti aku diharuskan membawa
sepasukan perempuan seperti ini ke Hokciu, maka tampaknya benar-benar sangat lucu dan aneh. Baiknya aku
memang hendak menuju ke Hokciu, maka tak perlu aku memimpin rombongan mereka, cukup asalkan aku
melindungi mereka sepanjang jalan saja.”
Dengan mendahului berdehem, Lenghou Tiong lantas mendekati anak murid Hing-san-pay itu, Ih-soh, Gi-ho,
Gi-cin, Gi-jing, dan beberapa murid yang memimpin regu masing-masing sama merangkap tangan memberi
hormat padanya dan menyapa, “Kami telah mendapat pertolongan Tayhiap, budi kebaikan ini sukar kami batas.
Sungguh malang supek kami mengalami bencana, sebelum wafat beliau telah memintakan bantuan kepada
Tayhiap, maka untuk selanjutnya segala perintah Tayhiap tentu akan kami taati.”
Mereka tidak memanggil “ciangkun” lagi padanya, tentunya karena sudah tahu dia cuma seorang perwira
gadungan.
“Ah, pakai tayhiap apa segala, aku menjadi risi rasanya, jika kalian mengindahkan aku, maka boleh tetap
panggil ciangkun padaku,” ujar Lenghou Tiong.
Ih-soh saling pandang dengan Gi-jing, Gi-cin, dan lain-lain, akhirnya mereka manggut semua tanda setuju.
“Kemarin malam jelas aku mimpi kalian telah dirobohkan dengan obat tidur oleh seorang perempuan keparat
dan dikumpulkan di suatu rumah besar, mengapa kalian bisa berada di sini sekarang?” tanya Lenghou Tiong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Kami pun tidak tahu apa yang terjadi sesudah dibius oleh musuh,” tutur Gi-ho. “Kemudian kawanan bangsat
itu telah menyadarkan kami dengan air dingin dan mengendurkan tali pengikat kami. Kami digiring ke dalam
sebuah lorong di bawah tanah, waktu keluar tahu-tahu sudah jauh berada di luar kota. Kami diseret supaya
berjalan secepat mungkin. Jika ayal sedikit langkah kami lantas dipersen dengan cambukan. Sampai hari sudah
gelap kami masih terus digiring seperti hewan. Syukur akhirnya supek memburu tiba, mereka lantas
mengepung supek dan memaksa beliau menyerah ....” bicara sampai di sini tenggorokannya seakan-akan
tersumbat, lalu menangis lagi.
“Kawanan bangsat itu tampaknya bukan orang-orang Mo-kau, apakah di tengah jalan kalian ada mendengar
sesuatu yang mencurigakan?” tanya Lenghou Tiong.
“Tentu mereka adalah kawanan iblis Mo-kau, kalau tidak mana bisa begitu kejam dan pengecut?” ujar Gi-ho. Ia
anggap di dunia ini selain orang-orang Mo-kau tiada orang jahat lagi.
Tapi Gi-jing lantas menambahkan, “Ciangkun, aku telah mendengar suatu kalimat ucapan mereka yang
mencurigakan.”
“Ucapan apa?” cepat Lenghou Tiong menegas.
“Kudengar salah seorang berkedok itu berkata, ‘Menurut pesan Gu-suheng, kita harus percepat perjalanan, di
tengah jalan tidak boleh minum arak agar tidak membikin runyam tugas kita. Nanti setiba di Hokciu baru boleh
kita minum sepuas-puasnya.’”
“Ya, ucapan mereka ini memang aneh, kenapa di tengah jalan tidak boleh minum arak dan mesti tunggu
setibanya di Hokciu?” ujar Lenghou Tiong.
Gi-jing tidak peduli timbrungannya dan meneruskan, “Kupikir orang-orang Mo-kau pada umumnya tidak saling
sebut suheng atau sute segala, juga biasanya mereka pantang minum arak dan tidak makan daging, kata-kata
minum sepuas-puasnya yang mereka ucapkan itu menjadi rada-rada janggal.”
Diam-diam Lenghou Tiong mengakui ketelitian nikoh cilik itu dan dapat menggunakan otak, tapi di mulut ia
sengaja berkata, “Pantang minum arak dan makan daging paling bodoh. Jika setiap orang tidak minum arak,
lalu untuk apa orang membikin arak? Lalu untuk apa lagi hewan-hewan sebangsa babi, sapi, ayam, dan itik itu
hidup di dunia ini?”
Gi-jing tidak peduli lagi akan persoalan pantang minum arak dan makanan daging segala, ia bicara lagi,
“Ciangkun, bagaimana urusan selanjutnya, mohon engkau sudi memberi petunjuk seperlunya.”
Lenghou Tiong menggeleng, katanya, “Urusan hwesio dan nikoh segala sedikit pun ciangkunmu ini tidak
paham, jadi aku hanya bisa garuk-garuk kepala jika aku dimintai petunjuk apa. Paling penting bagi ciangkunmu
ini adalah lekas naik pangkat dan cepat kaya, lain tidak. Maka biarlah sekarang juga aku akan pergi saja.”
Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas tinggal pergi menuju ke selatan.
“Ciangkun! Ciangkun!” para murid Hing-san-pay itu berteriak-teriak.
Lenghou Tiong tidak menggubris mereka. Tapi sesudah membelok pada pengkolan bukit sana ia lantas
sembunyi di atas pohon. Kira-kira menunggu setengah jam lamanya, terlihatlah anak murid Hing-san-pay
mengusung jenazah Ting-cing Suthay sedang mendatang dengan bertangisan. Sesudah rombongan Hing-sanpay
itu lewat, lalu dari jauh Lenghou Tiong menguntit untuk melindungi mereka bila perlu.
Untung tiada terjadi apa-apa sepanjang jalan. Anak murid Hing-san-pay itu telah membeli peti mati untuk
jenazah Ting-cing Suthay, lalu menyewa kuli memikul peti mati itu ke Hokciu. Dengan demikian, perjalanan
mereka menjadi tambah lambat.
Lenghou Tiong terus mengawasi mereka memasuki Kota Hokciu dan sampai di suatu kuil nikoh dan kuil itu
jelas tertulis sebagai “Bu-siang-am”, dengan begitu barulah ia merasa lega karena kewajiban yang dipasrahkan
Ting-cing kepadanya itu sudah dilaksanakan dengan baik. Pikirnya, “Seorang ciangkun memimpin pasukan
nikoh, kejadian benar-benar belum pernah ada di dunia ini. Untung bebanku sudah selesai sekarang,
kesanggupanku kepada Ting-cing Suthay sudah kupenuhi.”
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ia putar haluan menuju ke jalan raya kota yang lain, maksudnya hendak mencari tahu di mana letaknya “Hokwi-
piaukiok”. Mendadak di antara orang berlalu-lalang ramai itu dilihatnya seorang laki-laki berbaju hijau
dengan air muka yang aneh buru-buru memalingkan mukanya ke arah lain, lalu menyingkir pergi dengan
langkah cepat.
Tergerak hati Lenghou Tiong, ia heran mengapa orang itu buru-buru menyingkir pergi begitu melihatnya?
Sebagai seorang cerdik segera ia paham duduknya perkara, “Ya, dengan dandananku ini sudah dua kali aku
melabrak musuh di luar dan di dalam kota Ji-pek-poh, mungkin sekali kabar tentang diriku sudah tersiar luas,
tentang Kaucu Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng sudah muncul kembali di Kangouw dengan dandanan beginibegini.
Tampaknya laki-laki ini adalah orang bu-lim, bisa jadi termasuk salah satu orang berkedok pada malam
itu sehingga aku dikenal olehnya. Maka aku harus mencari ganti pakaian lain, kalau tidak tentu gerak-gerikku
takkan bebas.”
Begitulah ia lantas mencari suatu hotel, lalu keluar lagi hendak beli pakaian. Ia melintasi beberapa jalan kota,
tapi tiada menemukan sesuatu toko pakaian bekas. Sekonyong-konyong suara seorang yang sudah sangat
dikenalnya berkumandang ke dalam telinganya, “Siau-lim-cu, katakan terus terang, kau mau mengawani aku
pergi minum arak atau tidak?”
Begitu mendengar suara itu, seketika dada Lenghou Tiong terasa panas, benaknya menjadi kacau pusing.
Jauh-jauh ia datang ke Hokkian tujuannya justru ingin mendengar suara ini, ingin melihat wajah pemilik suara
ini. Sekarang benar-benar dia telah mendengar suara itu, namun dia justru tidak berani menoleh untuk
memandangnya.
Padahal dalam keadaan menyamar tentunya siausumoaynya takkan mengenalnya lagi, entah mengapa,
seketika ia termangu seperti patung, tanpa terasa air mata memenuhi kelopak matanya hingga pandangannya
menjadi samar. Maklum, hanya dengan satu kalimat saja, dengan panggilan tadi saja segera diketahuinya
bahwa sang siausumoay sudah sedemikian mesranya dengan Lim-sute, maka dapat dibayangkan pula entah
betapa senangnya dan bahagianya selama dalam perjalanan jauh ini.
Dalam pada itu terdengar Lim Peng-ci sedang menjawab, “Aku tidak ada tempo. Pelajaran yang diberikan suhu
sampai sekarang belum lagi kulatih dengan baik.”
“Tiga jurus ilmu pedang itu kan teramat gampang,” ujar Leng-sian. “Sesudah kau mengiringi aku minum arak
segera kuajarkan padamu di mana letak rahasia ketiga jurus ilmu pedang itu. Mau tidak?”
“Tapi suhu dan sunio sudah pesan agar dalam beberapa hari ini kita jangan sembarangan berkeliaran di kota
agar tidak menimbulkan gara-gara. Maka menurut pendapatku lebih baik kita pulang saja.”
Bab 82. Terbongkarnya Rahasia Kiam-boh
“Masakah jalan-jalan saja tidak boleh? Apalagi sudah sekian lama tiada seseorang tokoh bu-lim yang kulihat.
Seumpama ada jago-jago Kangouw yang berdatangan di kota ini, asalkan kita tidak saling mengganggu, peduli
apa?”
Begitulah sembari bicara kedua orang lambat laun sudah pergi jauh.
Mendadak Lenghou Tiong membalik tubuh, dilihatnya bayangan Gak Leng-sian yang langsing itu berada di sisi
kiri dan bayangan Lim Peng-ci yang kekar berada di sisi kanan, kedua muda-mudi itu berjalan berendeng. Si
nona memakai baju hijau tua dengan kain warna hijau pupus. Peng-ci sendiri memakai jubah panjang warna
kuning. Dipandang dari belakang mereka benar-benar merupakan suatu pasangan yang setimpal.
Seketika dada Lenghou Tiong serasa tersumbat oleh sesuatu sehingga bernapas pun rasanya sukar. Dia sudah
berpisah beberapa bulan dengan Gak Leng-sian, walaupun selama ini senantiasa terkenang, tapi baru sekarang
ia merasakan dirinya sedemikian mencintai sang sumoay. Tanpa terasa ia memegang gagang golok, rasanya
ingin sekali gorok leher sendiri untuk menghabiskan hidupnya yang merana ini.
Sekonyong-konyong matanya menjadi gelap, langit seperti berputar dan bumi terbalik, seketika ia jatuh
terduduk.
Di tengah jalan kota itu ramai sekali orang berlalu-lalang, ketika mendadak melihat seorang perwira jatuh
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
terduduk di tengah jalan, serentak khalayak ramai itu merubungnya dan menanyakan apa sebabnya. Sebisanya
Lenghou Tiong menenangkan diri, lalu berbangkit perlahan-lahan, kepalanya masih terasa pusing, tapi dalam
hati ia sudah ambil keputusan, “Selamanya aku tak dapat bertemu dengan mereka lagi. Hanya mencari susah
sendiri saja, apa gunanya bagiku? Malam nanti aku akan meninggalkan sepucuk surat untuk memberitahukan
suhu dan sunio, setelah melihat wajah beliau-beliau itu secara diam-diam, lalu aku akan jauh menuju ke negeri
asing dan takkan menginjak kembali tanah air.”
Cepat ia lantas keluar dari rubungan orang banyak itu, ia tidak jadi membeli baju lagi, tapi terus kembali ke
hotel dan pesan arak untuk minum sepuas-puasnya. Kekuatan minumnya memang hebat, tapi kalau pikiran
lagi sedih, arak yang masuk perutnya mengakibatkan dia lekas mabuk. Maka cuma tiga kati arak saja sudah
membuatnya terpulas di tempat tidurnya.
Sampai tengah malam, ketika mendadak ia mendusin, segera ia memanggil pelayan, ia tanya di mana letaknya
Hok-wi-piaukiok, lalu minta disediakan alat tulis. Ia tulis sepucuk surat untuk Gak Put-kun dan istri. Pada
sampul surat hanya ditulisnya: “Diaturkan kepada ketua Hoa-san-pay Gak-tayhiap dan nyonya”. Isi surat
memberitahukan tentang munculnya kembali Yim Ngo-heng di dunia Kangouw dan sengaja hendak memusuhi
Hoa-san-pay, diberi tahu bahwa ilmu silat Yim Ngo-heng teramat tinggi, maka diharapkan waspada. Surat itu
tidak dibubuhi tanda tangan, hanya ditulis “tanpa nama”.
Ia sengaja menulis dengan goresan yang menceng dan miring seperti cakar ayam agar tidak dikenali Gak Putkun,
cuma nada surat yang menghormat itu jelas ditulis oleh seorang angkatan muda.
Selesai tulis surat, ia panggil lagi si pelayan hotel. Begitu pelayan itu masuk kamar, segera ia menutuknya
roboh, lalu membelejeti pakaiannya.
Keruan pelayan itu terbelalak tak bisa berkutik, hanya rasa cemas dan takut yang tertampil pada air mukanya.
Sesudah membelejeti pakaian si pelayan dan dikenakan pada badan sendiri, lalu Lenghou Tiong membungkus
pakaian kebesaran perwira menjadi suatu buntelan dan dikempit di bawah ketiaknya, ia lemparkan tiga tahil
perak di samping si pelayan dan membentaknya, “Ciangkun datang kemari hendak menangkap penjahat, maka
perlu pinjam pakaianmu ini. Jika kau membocorkan rahasia tugasku ini sehingga bandit yang akan kubekuk itu
lolos, maka aku akan datang kembali ke sini untuk bikin perhitungan dengan kau. Sebagai ganti kerugianmu
kutinggalkan tiga tahil perak ini, tentu jauh daripada cukup.”
Si pelayan tak bisa membuka mulut, hanya kepalanya saja manggut-manggut.
Dengan melompati pagar tembok Lenghou Tiong meninggalkan hotel itu terus menuju ke Hok-wi-piaukiok.
Gedung perusahaan pengawalan itu sangat megah dan luas bangunannya, maka sangat mudah dikenali, pula
tidak jauh dari hotelnya. Hanya sebentar saja dua tiang bendera piaukiok yang dicari itu sudah kelihatan
menjulang tinggi di depan gedung. Tiang bendera itu tidak terpancang panji apa-apa, mungkin sejak ayahbundanya
meninggal dunia, perhatian Lim Peng-ci lantas dicurahkan dalam hal belajar silat dan tidak mengurus
usaha orang tua lagi.
Lenghou Tiong memutar ke belakang gedung piaukiok, pikirnya, “Entah suhu dan sunio tinggal di mana?
Mungkin saat ini beliau-beliau itu sudah tidur, biarlah malam ini kusampaikan dulu suratku ini, malam besok
akan kudatang lagi melihat wajah mereka untuk penghabisan kalinya.”
Gedung piaukiok yang megah itu tiada penerangan sama sekali, suasana juga sunyi senyap. Pada saat itulah
tiba-tiba di pojok kiri sana ada berkelebatnya bayangan orang. Sesosok bayangan hitam melayang ke luar
dengan melompati pagar tembok gedung piaukiok. Dari bangun tubuh bayangan orang itu dapat diketahui
adalah seorang perempuan.
Dengan beberapa kali lompatan cepat Lenghou Tiong sudah mengitar lagi ke depan piaukiok, tertampak
perempuan itu berlari ke arah tenggara, ginkang yang digunakan jelas adalah dari golongan Hoa-san-pay.
Segera ia mengejar lebih kencang, melihat bayangan belakang orang perempuan itu agaknya bukan lain Gak
Leng-sian adanya. Ia menjadi heran, di tengah malam buta hendak ke manakah siausumoaynya itu?
Dilihatnya Gak Leng-sian berlari dengan menyelisir dinding rumah. Heran dan ingin tahu pula Lenghou Tiong,
segera ia mengintil di belakang sang sumoay.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Kini tenaga dalam Lenghou Tiong entah sudah berapa kali lebih tinggi daripada siausumoay itu, meski Lengsian
tampak berlari secepat terbang, tapi Lenghou Tiong tidak perlu banyak membuang tenaga sudah dapat
mempertahankan jaraknya dalam belasan meter di belakang Leng-sian, langkahnya enteng dan gesit, sedikit
pun tidak diketahui oleh si nona.
Sesudah berlari-lari sebentar, Leng-sian lantas menoleh untuk melihat di belakangnya ada orang menguntit
tidak. Tapi di kala dia mau berpaling selalu bahunya bergerak lebih dulu, maka sebelumnya Lenghou Tiong
sempat sembunyi dulu di lekukan dinding sehingga tidak dilihat si nona.
Jalanan Kota Hokciu simpang-siur cukup banyak dengan rumah penduduk yang tak terhitung banyaknya, Gak
Leng-sian terus berlari ke depan, sebentar membelok ke kanan, lain saat menikung ke kiri, seakan-akan
jalanan-jalanan itu sudah sangat hafal baginya.
Kira-kira ada dua li jauhnya nona itu berlari-lari, akhirnya ia membelok ke suatu gang yang kecil di samping
sebuah jembatan batu.
Lenghou Tiong tidak menguntit dari belakang lagi, ia melompat ke atas rumah dan memburu ke depan.
Dilihatnya setiba di ujung gang itu Leng-sian lantas melompat masuk ke dalam pekarangan sebuah gedung.
Gedung itu berpintu hitam dengan dinding dikapur putih, di atas pagar tembok melingkar tumbuh-tumbuhan
sebangsa akar-akaran yang sudah tua sekali. Dari balik jendela-jendela beberapa sudut rumah itu kelihatan
memancarkan sinar lampu.
Dengan hati-hati dan berjengket-jengket Leng-sian tampak menyusur ke bawah jendela di kamar sebelah
timur, lalu mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara lengking seram
seperti bunyi setan.
Tadinya Lenghou Tiong menduga cara si nona mendatangi tempat ini dengan penuh rahasia, tentu rumah ini
adalah tempat kediaman musuh. Tapi sekarang demi mendengar si nona mendadak mengeluarkan suara aneh,
ia menjadi melongo heran. Tapi begitu terdengar suara seorang berbicara di dalam kamar, maka ia pun paham
duduknya perkara.
Terdengar orang di bagian dalam sedang berkata, “Suci, apa kau ingin membikin aku mati kaget? Jika aku mati
kaget dan menjadi setan, paling-paling akan serupa dengan kau sekarang.”
“Siau-lim-cu busuk, Siau-lim-cu mampus, kau berani memaki aku sebagai setan, awas sebentar kukorek
jantung hatimu,” omel Leng-sian dengan tertawa.
“Tidak perlu kau korek, akan kukorek sendiri untuk dilihatkan padamu,” sahut Peng-ci.
“Bagus, kau berani bicara melantur padaku secara gila-gilaan, sebentar akan kulaporkan kepada ibu,” omel
Leng-sian lagi.
“Tapi kalau sunio tanya kau bilakah aku bicara demikian dan di mana aku mengatakannya, lalu bagaimana kau
akan menjawab?” ujar Peng-ci tertawa.
“Akan kukatakan kau bicara demikian pada waktu berlatih pedang di tempat latihan, kau tidak mau latihan
sungguh-sungguh, tapi selalu bicara hal-hal yang tidak genah.”
“Ya, dan bila sunio marah, tentu aku akan dikerangkeng, selama tiga bulan tidak dapat bertemu dengan kau.”
“Cis! Memangnya siapa yang kepingin? Tidak bertemu biarlah tidak bertemu!” kata Leng-sian. “He, Siau-lim-cu
busuk, kenapa kau tidak lekas membuka jendela, apa-apaan kau di dalam?”
Di tengah gelak tawa Lim Peng-ci disertai suara berkeriutnya daun jendela dibuka, Peng-ci telah melongok
keluar. Tapi cepat Leng-sian mendekam sembunyi di sebelah sehingga Peng-ci tidak melihatnya.
Terdengar Peng-ci menggumam sendiri, “He, kenapa tidak ada orang? Kukira Suci yang datang?”
Lalu daun jendela perlahan-lahan dirapatkan kembali. Namun sebelum daun jendela tertutup, cepat Leng-sian
melompat ke dalam.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong sampai linglung mendengarkan senda gurau mereka yang mesra itu. Dari atas rumah melalui
jendela yang setengah tertutup itu bayangan Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci dapat terlihat dengan jelas,
bayangan kepala kedua muda-mudi itu tampak merapat satu sama lain, suara tawa tadi pun perlahan-lahan
lenyap.
Dengan rasa pedih mestinya Lenghou Tiong hendak tinggal pergi, tapi mendadak terdengar Leng-sian berkata,
“Sudah jauh malam begini mengapa kau belum tidur?”
Terdengar Peng-ci menjawab dengan tertawa, “Aku kan sedang menunggu kau.”
“Cis, dasar pembohong! Dari mana kau tahu akan kedatanganku ini?”
“Menurut firasatku, menurut perasaanku, jelas suciku yang baik malam ini akan berkunjung kemari.”
“Ah, tahulah aku. Melihat keadaan kamarmu yang morat-marit ini, terang kau lagi mencari kiam-boh itu, betul
tidak?”
Lenghou Tiong sudah melangkah pergi beberapa tindak, ketika mendadak mendengar lagi kata “kiam-boh”,
seketika hatinya tergerak lagi dan putar balik.
Didengarnya Peng-ci lagi berkata, “Selama beberapa bulan ini entah sudah berapa kali aku telah memeriksa
dan menggeledah seluruh rumah ini, sampai genting rumah juga satu per satu kuteliti, hanya saja ubinnya
yang belum kubongkar ... Ah, Suci, toh rumah ini sudah tidak terpakai, apa salahnya jika kita benar-benar
membongkar ubinnya untuk diperiksa. Bagaimana pendapatmu?”
“Rumah ini adalah milik keluarga Lim kalian, dibongkar atau tidak adalah urusanmu, buat apa kau tanya
padaku?” sahut Leng-sian.
“Tidak tanya kau, lalu tanya siapa? Memangnya kelak ... kelak kau bukan anggota keluarga Lim kami ini,
heeh?”
Maka terdengarlah omelan Leng-sian dengan tertawa, berbareng terdengar pula suara plak-plok beberapa kali,
mungkin tangan si nona sedang menggaploki Lim Peng-ci.
Begitulah kedua muda-mudi itu bersenda-gurau di dalam rumah, sebaliknya perasaan Lenghou Tiong seperti
disayat-sayat. Pikirnya hendak tinggal pergi saja, tapi teringat kepada persoalan Pi-sia-kiam-boh itu, waktu
ayah-ibu Peng-ci meninggal dunia hanya dirinya yang menjaga di samping mereka, sialnya karena beberapa
kata pesan kedua orang tua itu yang minta disampaikan kepada Peng-ci malahan mendatangkan fitnah. Lebihlebih
sesudah mendapat ajaran Hong-susiokco, setelah mahir Tokko-kiu-kiam yang hebat, maka setiap orang
Hoa-san-pay sendiri juga mengira dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh, sampai-sampai siausumoay
yang biasa paling kenal wataknya itu juga menaruh curiga.
Kalau dipikir secara jujur, soal ini memangnya tak bisa menyalahkan orang lain, sebab pada hari dirinya
dihukum menyepi di atas puncak Hoa-san pernah sang ibu-guru menjajal ilmu pedangnya dan sedikit pun tidak
mampu menandingi jurus ilmu pedang ibu-gurunya yang tiada bandingannya itu, namun sesudah tinggal
beberapa bulan di atas puncak gunung mendadak ilmu pedangnya maju pesat, bahkan ilmu pedang ini berbeda
dengan ilmu pedang perguruannya sendiri, padahal di atas puncak gunung itu tidak pernah didatangi orang
luar, kalau bukan dirinya mendapat kitab rahasia ilmu pedang dari aliran lain, dari mana ilmu pedang lihai itu
diperolehnya. Dan kitab rahasia ilmu pedang itu kalau bukan Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, lalu kitab apa
lagi?
Dalam keadaan memang pantas dicurigai, celakanya dirinya telah berjanji kepada Hong-susiokco untuk tidak
membocorkan tempat sembunyinya itu, karenanya sukar baginya untuk memberi penjelasan dan membela diri.
Ia merasa sebabnya sang guru begitu tegas memecatnya jelas lebih condong pada alasan karena dirinya telah
menggelapkan Pi-sia-kiam-boh daripada alasan pergaulannya dengan orang Mo-kau. Sekarang demi
mendengar Peng-ci dan Leng-sian menyinggung tentang kiam-boh, biarpun hatinya pedih karena suara senda
gurau mereka itu sangat menusuk perasaannya, terpaksa ia menahan perasaannya dan ingin mendengarkan
terus.
Begitulah terdengar Leng-sian sedang bicara pula, “Kau sudah mencari selama beberapa bulan dan tetap tidak
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
ketemu, maka jelas kiam-boh itu tidak berada di sini, buat apa kita mesti susah-susah membongkar ubin
segala. Hanya satu kata Toa ... Toasuko saja kenapa kau menganggapnya sungguh-sungguh?”
Kembali perasaan Lenghou Tiong merasa pedih, pikirnya, “Ternyata dia masih mau menyebut aku ‘toasuko’.”
Terdengar Peng-ci menjawab, “Toasuko telah menyampaikan pesan ayahku, katanya barang tinggalan leluhur
di rumah kediaman lama di Hiang-yang-kang (Gang Matahari) sini tidak boleh sembarangan diperiksa. Kupikir
seumpama kiam-boh itu telah dipinjam oleh Toasuko dan untuk sementara tidak dikembalikan ....”
Lenghou Tiong mendengus di dalam hati, “Hm, baik hati benar ucapanmu, kalau tidak mengatakan aku
menggelapkan barangmu, tapi mengatakan aku pinjam sementara. Hm, buat apa kau bicara sehalus ini?”
Dalam pada itu terdengar Peng-ci lagi menyambung, “Tapi mengingat kata-kata kediaman lama di Hiang-yangkang
sekali-kali tidak dapat dikarang oleh Toasuko sendiri, maka aku yakin apa yang disampaikan padaku
benar-benar adalah pesan ayah-bundaku. Selamanya Toasuko juga tidak kenal keluarga kami, selamanya juga
tak pernah datang ke Hokciu sini, sekali-kali dia takkan tahu di kota ini adalah sebuah jalan bernama Hiangyang-
kang, lebih-lebih takkan tahu kediaman lama leluhur kami berada di jalan ini. Malahan orang-orang
Hokciu asli juga jarang yang tahu akan hal ini.”
“Ya, seumpama betul adalah pesan peninggalan ayah-ibumu, lantas bagaimana?” tanya Leng-sian.
“Pesan tinggalan ayahku yang disampaikan Toasuko itu menyebut pula jangan memeriksa atau membaca kitab
atau benda apa segala, setelah kupikir sekian lamanya, kuyakin pasti ada sangkut pautnya dengan soal kiamboh.
Siausuci, kupikir jika pesan ayah menyebut jalan dan rumah lama ini, seumpama kiam-boh tidak berada
di sini lagi, mungkin di sini akan diperoleh sedikit tanda-tanda tertentu.”
“Benar juga uraianmu. Selama beberapa hari ini kulihat semangatmu rada lesu, malam hari juga tidak mau
tinggal di piaukiok dan mesti pulang ke sini. Aku menjadi khawatir, maka sengaja datang menjenguk kau. Di
waktu siang hari kau berlatih pedang, harus mengawani aku pula, dan kalau malam masih harus membongkar
rumah lagi di sini.”
Peng-ci tersenyum ewa, lalu menghela napas dan berkata, “Kupikir kematian ayah-ibuku sangatlah
menyedihkan, jika aku dapat menemukan kiam-boh dan dapat membunuh musuh dengan tangan sendiri
dengan ilmu pedang warisan leluhur, dengan demikian barulah ayah-ibu akan terhibur di alam baka.”
“Entah saat ini Toasuko berada di mana?” ujar Leng-sian. “Jika aku dapat bertemu dia tentu akan memintakan
kiam-boh itu bagimu. Ilmu pedangnya sekarang sudah sangat tinggi, sudah seharusnya kiam-boh itu
dikembalikan kepada yang empunya. Menurut aku, Siau-lim-cu, sebaiknya akhiri khayalanmu, tidak perlu lagi
membongkar seisi rumah ini. Seandainya tidak ada kiam-boh keluargamu, asalkan berhasil meyakinkan Ci-hesin-
kang ayah juga mampu membalas sakit hatimu.”
“Sudah tentu,” kata Peng-ci. “Cuma kematian ayah-ibuku sedemikian mengenaskan, sebelum ajal banyak
disiksa dan dihina pula, bila aku dapat menuntut balas dengan ilmu pedang keluarga sendiri akan dapat
melampiaskan dendam ayah-ibu. Pula, Ci-he-sin-kang perguruan kita selamanya hanya diajarkan kepada
seorang murid yang terpilih sebagai ahli waris. Aku sendiri adalah murid buncit, meski suhu dan sunio sangat
sayang padaku, tapi para suheng dan suci tentu takkan terima dan menyangka hal-hal yang tidak baik.”
“Ah, peduli bagaimana anggapan mereka, asalkan kau berbuat tulus dan sejujurnya sudah cukup,” ujar Lengsian.
“Cara bagaimana kau mengetahui aku akan tulus dan jujur?” tanya Peng-ci tertawa.
Mendadak terdengar suara gaplokan Leng-sian di atas badan Peng-ci, omelnya, “Ya, aku tahu kau cuma purapura
saja, kau adalah manusia berhati serigala.”
“Sudahlah, sudah sekian lamanya kita di sini, marilah kita pulang,” terdengar Peng-ci berkata dengan tertawa.
“Tapi kalau kuantar kau pulang piaukiok, bila diketahui suhu dan sunio tentu bisa celaka.”
“Maksudmu mengusir aku, bukan? Baiklah, kau mengusir aku, segera juga aku akan pergi, tidak perlu kau
mengantar,” kata Leng-sian. Nadanya kedengaran tidak senang.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sejak kecil Lenghou Tiong dibesarkan bersama si nona, ia tahu saat ini Leng-sian tentu menjengkit mulut, anak
dara di waktu marah-marah kecil memang mempunyai daya pikat tersendiri. Ia pikir Lim-sute ini sungguh
aneh, kalau siausumoay datang menjenguk aku, biarpun langit ambruk juga aku mengharapkan dia tetap
tinggal bersama aku. Tapi sekarang ia justru ingin perginya siausumoay, seakan-akan siausumoay sedemikian
melengket padanya, sebaliknya dia anggap sepi saja.
Sementara itu Peng-ci sedang bicara lagi, “Menurut kata suhu, ketua Mo-kau yang dulu Yim Ngo-heng telah
muncul di Kangouw lagi, kabarnya sudah berada di wilayah Hokkian. Ilmu silat bekas ketua Mo-kau ini sangat
tinggi dan sukar dijajaki, tindak tanduknya keji dan ganas pula. Jika tengah malam kau pulang sendiri dan
kebetulan kepergok olehnya, lantas ... lantas bagaimana?”
“Hm, andaikan kau mengantar aku pulang, kalau kebetulan kepergok dia, apakah kau lantas mampu
membekuk dia atau membunuh dia?” sahut Leng-sian.
“Ya, sudah tahu ilmu silatku tidak becus, kau sengaja mengejek aku ya?” sahut Peng-ci. “Sudah tentu aku
bukan tandingannya, tapi asal berada bersama kau, biarpun mati juga boleh mati bersama.”
Seketika hati Leng-sian menjadi lemas, katanya dengan suara halus, “Siau-lim-cu, bukan maksudku
mengatakan ilmu silatmu tidak becus. Asalkan kau berlatih segiat ini, kelak tentu lebih hebat daripadaku.
Padahal selain ilmu pedang yang belum kau kuasai, jika berkelahi sungguh-sungguh mana aku sanggup
melayani kau.”
Peng-ci tertawa, katanya, “Ah, dengan sebelah tangan saja kau sudah dapat merobohkan aku.”
Rupanya Gak Leng-sian belum mau pergi dan ingin membikin senang Lim Peng-ci, ia berkata pula, “Siau-limcu,
marilah kubantu kau mencari lagi. Benda-benda di rumahmu sendiri sudah teramat hafal bagimu sehingga
tidak menarik perhatian, mungkin sekali aku dapat menemukan sesuatu benda yang mencolok.”
“Baiklah, boleh coba kau mencari sesuatu yang dirasakan aneh,” ujar Peng-ci.
Menyusul lantas terdengar suara gedubrakan, suara ditariknya laci dan bergesernya meja-kursi. Selang
sejenak, terdengar Leng-sian berkata, “Semuanya biasa saja, tiada apa-apa yang menarik. Apakah rumahmu
ini ada tempat-tempat yang luar biasa?”
Peng-ci terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Tempat yang luar biasa? Tidak ada. Menurut pesan ayahku, di
antaranya ada kata-kata jangan memeriksa segala, apa ada tempat luar biasa yang harus diperiksa?”
“Ya, umpamanya kita bisa memeriksanya ke kamar baca,” ujar Leng-sian.
“Keluarga kami turun-temurun menjadi jago pengawal, hanya ada ruangan kantor, tidak ada kamar baca.
Kantor juga cuma ada di piaukiok sana.”
“Jika begitu menjadi sulit untuk mencarinya. Apakah isi rumah ini ada sesuatu yang dapat dibuka dan
diperiksa?”
“Dari pesan ayah yang disampaikan Toasuko itu, katanya aku dilarang membongkar dan memeriksa barangbarang
tinggalan leluhur. Padahal besar kemungkinan aku justru disuruh membongkar dan memeriksa bendabenda
tinggalan leluhurku. Tapi di sini toh tidak ada benda-benda kuno apa? Setelah kupikir-pikir lagi, yang
ada cuma sedikit kitab-kitab agama Buddha tinggalan leluhur saja.”
Mendadak Leng-sian melonjak girang, serunya, “Bagus! Kitab Buddha katamu? Sungguh tepat. Tat-mo Cosu
adalah cikal bakal ilmu silat, adalah bukan sesuatu yang aneh jika di dalam kitab Buddha tersembunyi kiamboh
segala.”
Mendengar kata-kata Leng-sian itu, semangat Lenghou Tiong seketika ikut terbangkit. Katanya di dalam hati,
“Jika Lim-sute dapat menemukan kiam-boh di dalam kitab Buddha yang dikatakan itu, tentu segala urusan
akan menjadi beres dan aku takkan dicurigai menggelapkan kiam-bohnya.”
Tapi lantas terdengar Peng-ci menjawab, “Kitab-kitab itu sudah kuperiksa semua, bahkan sudah kuperiksa
beberapa kali. Malahan sudah kucocokkan dengan kitab-kitab yang serupa yang kupinjam dari perpustakaan,
isi kitab-kitab di sini ternyata tiada sesuatu yang mencurigakan. Jadi kitab-kitab Buddha di sini hanya kitabDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kitab biasa.”
“Jika demikian apa daya kita?” ujar Leng-sian. Setelah termenung sebentar, mendadak ia bertanya, “Tapi
lapisan dalam halaman kitab-kitab itu apa sudah kau periksa juga?”
“Lapisan dalam? Hal ini tak terlintas dalam pikiranku,” sahut Peng-ci. “Marilah sekarang juga kita
memeriksanya lagi.”
Begitulah masing-masing lantas membawa sebuah tatakan lilin, dengan tangan bergandengan tangan mereka
keluar dari kamar itu dan menuju ke ruangan belakang.
Lenghou Tiong mengikuti jurusan mereka dari atas rumah. Tertampak sinar lampu itu menembus keluar dari
balik jendela sebuah kamar, lalu kamar yang lain pula. Akhirnya sampai di kamar di sudut barat laut sana.
Dengan enteng Lenghou Tiong melompat turun dan mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Kiranya
kamar itu adalah sebuah ruangan pemujaan Buddha.
Di tengah ruangan itu tergantung sebuah lukisan cat air Tat-mo Cosu (Buddhatama) itu cikal bakal Siau-limpay
yang terkenal. Anehnya lukisan Tat-mo Cosu itu dilukis dalam posisi mungkur. Agaknya melukiskan
sewaktu Tat-mo Cosu sedang semadi selama sembilan tahun menurut kisahnya. Di sebelah kiri ruangan ada
sebuah kasuran yang tampaknya sudah sangat tua, di atas meja sembahyang ada bok-hi (kentungan
berbentuk ikan laut), genta kecil, dan setumpuk kitab.
Melihat keadaan ruangan itu, Lenghou Tiong menduga leluhur Hok-wi-piaukiok yang pernah menjagoi dunia
Kangouw itu tentu dahulunya banyak membinasakan kawanan bandit yang menjadi seterunya, tapi pada akhir
hayatnya dia telah bersujud menjadi seorang yang alim.
Tertampak Gak Leng-sian mengambil sebuah kitab dan berkata, “Kita bongkar kitab ini, coba periksa lapisan
dalam tiap-tiap halamannya apa ada terselip sesuatu benda. Jika tidak ada, kitab ini dapat kita jilid kembali.”
“Baiklah,” sahut Peng-ci, ia pun ambil satu jilid kitab itu dan memutuskan jahitan benang jilidan, lalu halamanhalaman
kitab itu dibentang, begitu pula Leng-sian juga lantas membuka satu jilid yang lain serta diangkat di
depan lilin untuk menyorotnya kalau-kalau di tengah halaman kitab itu ada tulisan lain.
Lenghou Tiong dapat menyaksikan potongan badan si nona dari belakang, tangan Leng-sian kelihatan putih
bersih, pergelangan tangan kiri masih memakai gelang pualam hijau seperti dulu. Terkadang mukanya miring
sedikit dan saling pandang dengan Peng-ci, keduanya lantas tersenyum penuh arti, lalu keduanya memeriksa
lagi halaman-halaman kitab itu. Entah karena sorotan api lilin atau pipi si nona memang bersemu merah, tapi
tampaknya wajah si nona memang alangkah moleknya. Lenghou Tiong sampai kesima di luar jendela.
Satu per satu kitab-kitab di atas meja telah dibongkar oleh Leng-sian dan Peng-ci, ketika kitab-kitab itu hampir
habis diperiksa, sekonyong-konyong Lenghou Tiong mendengar di belakangnya ada suara mendesirnya angin
yang sangat lirih. Waktu menoleh, dilihatnya ada dua sosok bayangan melayang ke arahnya dari tembok rumah
sebelah kanan, keduanya saling memberi isyarat dengan tangan, lalu melompat ke dalam pekarangan dengan
sangat enteng, jelas sekali ginkang mereka sangat tinggi.
Tatkala itu Lenghou Tiong sudah menyelinap ke pojok lain, dilihatnya kedua orang itu mendekati ruangan di
mana Peng-ci berdua berada, mereka juga mengintip ke dalam.
Selang tak lama, terdengar Leng-sian berkata di dalam, “Sudah habis, tiada menemukan sesuatu.”
Nadanya kedengaran sangat kecewa. Tapi mendadak ia menyambung lagi, “Eh, Siau-lim-cu, aku ingat sesuatu,
coba kita ambil satu baskom air.”
“Untuk apa?” terdengar Peng-ci bertanya.
“Sering kali kudengar cerita ayah bahwa orang kuno suka menggunakan semacam obat untuk menulis,
sesudah kering huruf yang tertulis akan hilang, tapi kalau kertas tulis dibasahi dengan air, maka hurufnya akan
timbul lagi.”
Lenghou Tiong juga ingat memang dulu pernah mendengar sang guru bercerita tentang hal ini, tatkala itu
Leng-sian baru berumur sepuluhan, sebaliknya dirinya sudah jejaka tanggung. Terkenang kepada masa silam
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
yang menyenangkan, kembali matanya berkaca-kaca mengembeng air mata.
Terdengar Peng-ci lagi menyahut, “Benar, kita harus mencobanya.”
Begitulah kedua muda-mudi lantas keluar untuk mengambil air. Dua orang yang mengintip di luar jendela itu
tampak menahan napas dan tidak berani bergerak. Tidak lama kemudian Peng-ci dan Leng-sian masing-masing
membawa satu baskom air dan masuk lagi ke ruangan Buddha itu, beberapa halaman kitab yang sudah
terbuka itu mereka rendam di dalam air.
Hanya sebentar saja rupanya Peng-ci sudah tidak sabar lagi, segera ia mengambil satu halaman kitab
rendaman itu dan disorot di bawah cahaya lilin, namun tidak kelihatan bekas tulisan apa-apa. Belasan halaman
kitab rendaman itu telah mereka periksa dan tetap tidak tampak sesuatu yang aneh.
Maka terdengar Peng-ci menghela napas dan berkata, “Sudahlah, tidak perlu dicoba lagi, tidak ada tulisan apaapa
yang aneh.”
Baru selesai Peng-ci berkata demikian, kedua orang yang mengintip di luar jendela itu sudah lantas memutar
ke muka pintu dengan gesit sekali, lalu mendorong pintu dan menerobos ke dalam.
“Siapa?” bentak Peng-ci kaget
Tapi cepat luar biasa gerakan kedua orang itu, begitu menerobos masuk segera mereka menerjang maju. Baru
saja Peng-ci hendak melawan, tahu-tahu iganya sudah kena tertutuk.
Begitu pula Gak Leng-sian, baru saja pedangnya terlolos setengah, tahu-tahu jari musuh menuju ke arah
matanya, terpaksa Leng-sian mengurungkan menarik pedang dan angkat tangannya untuk menangkis.
Berturut-turut lawan itu mencakar tiga kali, semuanya mengarah ke tenggorokan Leng-sian secara keji. Keruan
Leng-sian terperanjat dan mundur dua tindak sehingga punggungnya sudah mepet meja sembahyang dan tidak
dapat mundur lagi.
Mendadak sebelah tangan orang itu menggaplok ke batok kepalanya, terpaksa Leng-sian menangkis sekuatnya
dengan kedua tangan. Tak terduga serangan musuh ini hanya pancingan belaka, jari tangan yang lain
mendadak menutuk sehingga pinggang Leng-sian tertutuk dengan jitu dan tak bisa berkutik lagi.
Semua itu telah disaksikan oleh Lenghou Tiong, tapi dilihatnya jiwa Peng-ci dan Leng-sian untuk sementara tak
terancam, maka ia pikir tidak perlu buru-buru menolong mereka. Ia ingin tahu apa kehendak dan asal usul
kedua orang penyergap itu.
Dilihatnya kedua orang itu celingukan dan melongak-longok di ruangan pemujaan itu, mendadak seorang di
antaranya memegang kasuran di lantai terus dirobek menjadi dua, seorang lagi menghantam bok-hi di atas
meja sehingga pecah.
Peng-ci dan Leng-sian tak bisa bicara dan juga tak bisa bergerak, tapi melihat tenaga kedua orang itu
sedemikian lihai, merusak kasuran dan menghancurkan bok-hi, terang tujuan mereka juga hendak mencari Pisia-
kiam-boh. Namun mereka merasa lega juga karena di dalam kasuran serta bok-hi itu tiada tersimpan
sesuatu benda.
Usia kedua orang itu sama-sama sudah tua, sedikitnya sudah mendekati 60-an, seorang kepalanya botak,
seorang lagi rambutnya ubanan semua. Gerak-gerik kedua orang sama-sama cepat luar biasa, hanya sebentar
saja mereka telah menghancurkan segala benda yang berada di dalam ruangan pemujaan itu, tapi tidak
menemukan apa-apa.
Tiba-tiba pandangan kedua orang itu sama-sama terpusat ke arah lukisan Tat-mo Cosu yang tergantung di
dinding itu. Mendadak si botak hendak menjambret lukisan itu, tapi kawannya telah mencegahnya dan berseru,
“Nanti dulu, coba kau lihat jarinya?”
Berbareng pandangan Peng-ci, Leng-sian, dan Lenghou Tiong juga ikut tercurah kepada lukisan itu. Tertampak
Tat-mo Cosu dalam lukisan itu digambarkan dalam keadaan tangan kiri menelikung ke belakang, sebaliknya
jari telunjuk tangan kanan teracung ke atas atap rumah.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
“Apakah kau maksudkan jarinya yang tidak beres?” tanya si botak.
“Aku belum tahu pasti, tapi harus kita coba dulu,” sahut si rambut putih. Mendadak ia meloncat ke atas, kedua
tapak tangan memukul sekaligus menuju tempat yang dituding jari Tat-mo Cosu dalam lukisan itu. Tempat itu
adalah atap rumah.
Maka berhamburlah debu pasir. Kata si botak, “Mana ada barang ....” belum habis ucapannya, sekonyongkonyong
segulung benda merah jatuh dari lubang atap rumah yang terpukul tadi. Kiranya adalah sebuah kasa
(jubah) yang biasa dipakai kaum hwesio.


Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil