Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 09 Mei 2017

Cersil Langka Hina Kelana 5 Cerita Silat Mantab

Cersil Langka Hina Kelana 5 Cerita Silat Mantab Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Langka Hina Kelana 5 Cerita Silat Mantab
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Langka Hina Kelana 5 Cerita Silat Mantab
Bab 32. Dian Pek-kong Diracun Orang dan Munculnya Jago Tua Hoasan-
pay Hong Jing-yang
Sebenarnya Dian Pek-kong tiada maksud hendak membunuh Lenghou Tiong. Pikirnya, "Pemuda itu lebih suka
mati daripada menyerah, sulit juga untuk dilayani. Jika sampai bergebrak, aku tidak dapat membunuh dia,
sebaliknya dia menyerang dengan nekat, hal ini tidaklah menguntungkan bagiku."
Tiba-tiba ia mendapat akal, katanya segera, "Lenghou Tiong, kita tidak punya permusuhan, buat apa mesti
mengadu jiwa? Tidakkah lebih baik kita bertaruh saja?"
Lenghou Tiong menjadi girang, memang cara demikianlah yang diharap-harapkan. Jika taruhannya kalah,
paling tidak masih dapat main pokrol untuk menyanggahnya. Walaupun demikian pikirannya, tapi mulutnya
pura-pura enggan. Katanya, "Taruhan apa? Bila menang aku tetap tidak mau pergi, sekalipun kalah juga aku
tidak mau pergi."
"Memangnya murid pertama Hoa-san-pay sedemikian takutnya terhadap ilmu golok kilat Dian Pek-kong ini
sehingga 30 jurus saja tidak berani terima?" ejek Dian Pek-kong.
"Apa yang kutakuti? Paling banter terbunuh saja, kenapa mesti takut?" jengek Lenghou Tiong dengan gusar.
"Lenghou-heng," kata Dian Pek-kong, "bukanlah aku memandang enteng padamu, namun kukira 30 jurus ilmu
golok kilatku ini sukar bagimu untuk menerimanya. Jika kau mampu menerima 30 jurus seranganku, seketika
juga aku akan mohon diri dan tinggal pergi tanpa mengusik padamu lagi. Tapi kalau beruntung aku yang
menang, maka kau harus berjanji akan ikut pergi menemui Gi-lim Siausuthay."
Sekejapan itu pikiran Lenghou Tiong bekerja cepat mengingat kembali ilmu golok Dian Pek-kong itu. Dari
pengalaman pertempuran dua kali, ditambah pula petunjuk-petunjuk dari guru dan ibu-gurunya, masakah
sekarang 30 jurus saja tidak mampu melawannya? Mendadak ia membentak, "Baik, akan kuterima 30 jurus
seranganmu!"
Berbareng itu segera pedangnya menusuk lebih dulu. Seketika tubuh Dian Pek-kong bagian atas terbungkus
oleh sinar pedangnya.
"Ilmu pedang bagus!" seru Dian Pek-kong sembari menangkis dengan goloknya dan mundur selangkah.
"Satu jurus!" teriak Lenghou Tiong, menyusul dia menyerang pula dengan jurus Jong-siong-eng-khik.
Kembali Dian Pek-kong berseru memuji. Sekali ini dia tidak menangkis lagi, tapi terus menggeser ke samping
untuk menghindar.
Karena dia hanya menghindar dan tidak saling gebrak, maka sebenarnya tak boleh dihitung satu jurus. Namun
Lenghou Tiong tak peduli, ia berteriak pula, "Jurus kedua!" Berbareng serangan lain dilontarkan pula.
Begitulah beruntun-runtun Lenghou Tiong menyerang lima kali, Dian Pek-kong hanya menghindar atau
menangkis saja, sama sekali ia tidak balas menyerang, sedangkan hitungan Lenghou Tiong sudah sampai pada
angka "kelima". Ketika serangan keenam dia lontarkan dari bawah menusuk ke atas, mendadak Dian Pek-kong
menggertak keras-keras, goloknya terus membacok sehingga kedua senjata saling beradu. Kontan pedang
Lenghou Tiong terbentur menurun ke bawah.
Tiba-tiba Dian Pek-kong membentak pula cepat, "Keenam! Ketujuh! Kedelapan! Kesembilan! Kesepuluh!"
Setiap kali ia menghitung satu kali, setiap kali pula goloknya membacok ke bawah, jadi beruntun-runtun ia
membacok lima kali, jurus serangannya tetap sama tanpa berubah, selalu ia membacok dari atas ke bawah
mengarah kepala.
Bacokan-bacokan itu yang satu lebih keras daripada yang lain, ketika dia membacok pula untuk keenam
kalinya, Lenghou Tiong tidak tahan lagi, ia merasa sekujur badannya seperti tergencet oleh segenap tenaga
lawan, sampai bernapas saja sukar, namun sekuatnya ia masih menangkis dengan pedangnya. "Trang",
kembali kedua senjata beradu keras, lengan Lenghou Tiong pegal kesemutan, pedangnya terlepas dan jatuh ke
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tanah.
Ketika untuk ketujuh kalinya Dian Pek-kong membacok pula, tiada jalan lain bagi Lenghou Tiong kecuali tutup
mata menanti ajal saja.
"Hahaha! Jurus keberapa ini?" tanya Dian Pek-kong sambil tertawa.
"Ilmu golokmu memang lebih tinggi daripadaku, tenagamu juga jauh lebih kuat, Lenghou Tiong mengaku
bukan tandinganmu."
"Jika demikian, marilah berangkat!" kata Dian Pek-kong.
"Tidak, tidak mau!" sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.
"Lenghou-heng," kata Dian Pek-kong dengan aseran, "aku menghormati kau sebagai seorang jantan tulen yang
bisa pegang janji. Dalam 30 jurus tadi kau sudah kalah, mengapa sekarang kau mengingkar janji?"
"Aku memang tidak percaya di dalam 30 jurus kau mampu menangkan aku, nyatanya sekarang aku sudah
kalah. Tetapi aku kan tidak bilang sesudah kalah lantas akan ikut pergi padamu. Coba katakan, apakah aku
berjanji demikian?"
Dian Pek-kong menjadi bungkam. Memang Lenghou Tiong tak pernah berjanji, yang menyatakan demikian itu
adalah dia sendiri. "Hm, dasar kau memang licin," jengeknya kemudian. "Lalu bagaimana jika kau tidak
berjanji?"
"Hal kekalahanku adalah karena tenagaku memang kalah kuat, maka aku masih penasaran. Sesudah mengaso
lagi boleh kita coba-coba lagi."
"Baik, aku terima tantanganmu. Akan kubikin kau menyerah lahir-batin barulah kau tidak penasaran," kata
Dian Pek-kong. Lalu ia duduk di atas batu sambil tertawa memandangi Lenghou Tiong.
Diam-diam Lenghou Tiong sedang berpikir, "Jahanam ini memaksa aku ikut dia pergi, entah apa maksud
tujuannya? Jika cuma menemui Gi-lim Sumoay saja rasanya sukar dipercaya. Dia toh bukan murid Gi-lim
sesungguhnya, apalagi seorang Nikoh prihatin dari Hing-san-pay sebagai Gi-lim Sumoay masakah mempunyai
hubungan dengan maling cabul yang bernama busuk seperti dia ini? Cuma sekarang aku telah diawasi olehnya,
cara bagaimana aku harus meloloskan diri?"
Teringat olehnya keenam kali bacokan Dian Pek-kong tadi sebenarnya tiada sesuatu yang luar biasa, hanya
tenaganya yang mahadahsyat dan sukar ditangkis. Ia pikir bila mampu menangkis bacokannya tadi, maka
untuk melawan 30 jurus tentulah tidaklah sukar. Sekonyong-konyong terkilas suatu pikiran, "Tempo hari
secepat kilat Bok-taysiansing telah membinasakan Hui Pin, itu jago terkemuka dari Ko-san-pay, betapa hebat
ilmu pedang Heng-san-pay yang dimainkan Bok-taysiansing itu benar-benar sukar diukur. Jika aku dapat
menggunakan caranya itu untuk melawan Dian Pek-kong, tentu aku takkan kalah. Tentang ilmu pedang Hengsan-
pay itu juga terukir di dinding gua belakang, bila aku dapat pelajari 30-40 jurus saja sudah cukup untuk
melabrak maling cabul ini."
Namun segera terpikir pula, "Ah, betapa pun hebatnya ilmu pedang Heng-san-pay itu, hanya dalam waktu
singkat saja mana mungkin bisa memahaminya. Aku sendirilah yang melamun tak keruan."
Melihat air muka Lenghou Tiong sebentar tampak berseri-seri dan lain saat murung lagi, Dian Pek-kong
menjadi geli. Tanyanya dengan tertawa, "Lenghou-heng, apakah akal bulusmu untuk memecahkan ilmu
golokku ini sudah kau peroleh?"
Mendengar tekanan nada Dian Pek-kong pada kata-kata "akal bulus" itu sengaja dibikin keras, keruan Lenghou
Tiong menjadi naik pitam, teriaknya, "Untuk mematahkan ilmu golokmu saja mengapa mesti pakai akal bulus
segala? Kau sengaja cerewet terus di sini untuk mengganggu pemusatan pikiranku sehingga aku tak dapat
memeras otak dengan tenang, biarlah aku memikirkannya ke dalam gua saja, tapi janganlah kau coba-coba
mengganggu lagi."
"Baiklah, boleh kau pergi peras otakmu, aku takkan mengganggu kau," kata Dian Pek-kong pula dengan
tekanan nada pada kata-kata "peras otak".
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan Lenghou Tiong mendongkol, sambil mengomel kecil ia terus masuk ke dalam gua. Ia menyalakan obor
dan menerobos ke dalam gua belakang. Tibalah dia di tempat ukiran-ukiran dinding itu. Ia pikir asal dapat
mempelajari beberapa jurus yang aneh dan ruwet perubahannya, lalu digunakan untuk melabrak Dian Pekkong,
boleh jadi akan dapat membingungkan dan mengalahkan lawan itu.
Segera ia memerhatikan dan mengingat-ingat 20-an jurus ilmu pedang Heng-san-pay, ia pikir biarpun di dalam
ukiran itu dengan mudah ilmu pedang Heng-san-pay telah dikalahkan, namun Dian Pek-kong pasti tidak tahu
cara mengatasinya.
Sementara itu didengarnya Dian Pek-kong sedang menggembor di depan, "Lenghou Tiong, jika kau tidak lekas
keluar, segera aku akan menyerbu ke dalam."
Cepat-cepat Lenghou Tiong berlari keluar dengan pedang terhunus. "Baiklah, akan kucoba lagi 30 jurus
seranganmu!"
"Sekali ini kalau Lenghou-heng kalah lagi lantas bagaimana?" tanya Pek-kong dengan tertawa.
"Kalah satu kali atau dua kali apa bedanya, mengapa mesti pakai bagaimana segala?" sahut Lenghou Tiong
sembari kerjakan pedangnya dengan cepat, sekaligus ia telah menyerang tujuh kali tanpa berhenti, semuanya
jurus serangan yang aneh dan hebat yang baru dipahaminya dari ukiran dinding.
Sama sekali Dian Pek-kong tidak menduga bahwa Hoa-san-kiam-hoat mempunyai variasi yang begitu luasnya
sehingga seketika itu dia rada kelabakan dan mundur beberapa tindak. Sampai serangan kesepuluh, diam-diam
Pek-kong terkejut. Ia pikir jika terus main bertahan saja mungkin akan memberi kesempatan kepada Lenghou
Tiong untuk menyerang sampai 30 jurus, terpaksa ia harus balas menyerang. Mendadak ia bersuit keras,
goloknya lantas membacok. Karena tenaganya sangat dahsyat, sukarlah bagi Lenghou Tiong untuk memainkan
pedangnya. Sampai jurus ke-19, ketika kedua senjata beradu, kembali pedang Lenghou Tiong tergetar
mencelat.
Cepat Lenghou Tiong melompat mundur dan berseru, "Dian-heng hanya mengandalkan tenaga lebih kuat dan
bukan dengan ilmu golokmu. Kekalahan kali ini pun kuterima. Biar kumasuk ke dalam untuk memikirkan 30
jurus lagi untuk mengulangi pertandingan kita."
"Hahaha, biarpun kau main siasat ulur waktu juga tiada gunanya, saat ini guru dan ibu-gurumu paling sedikit
berada beberapa ratus li dari sini, dalam waktu beberapa hari mereka tidak mungkin dapat pulang, janganlah
sia-siakan tenagamu," ejek Dian Pek-kong dengan tertawa.
"Kalau mengharapkan kedatangan guruku untuk membereskan kau, terhitung pahlawan apa?" sahut Lenghou
Tiong. "Soalnya aku baru saja sakit, tenagaku belum pulih sehingga menguntungkan kau. Jika melulu
bertanding jurus serangan masakah 30 jurus saja aku tidak mampu melawan kau?"
"Huh, tidak perlu kau pakai akal bulus. Aku tak peduli apakah menang dengan ilmu golok atau karena tenaga
lebih kuat, kalah ya kalah, menang ya menang, apa gunanya kau putar lidah?"
"Baik, boleh coba kau tunggu lagi. Jika memang laki-laki sejati janganlah lari, tidak nanti Lenghou Tiong sudi
mengejar kau."
Dian Pek-kong terbahak-bahak, ia mundur dua langkah dan duduk kembali di atas batu.
Sesudah masuk ke dalam gua, Lenghou Tiong pikir Dian Pek-kong itu sudah kenal ilmu pedang Thay-san-pay
dan Hing-san-pay karena dia pernah bertempur dengan Te-coat Totiang dan Gi-lim Sumoay, ilmu pedang
Heng-san-pay tadi juga sudah kucoba dan gagal, sekarang tinggal ilmu silat Ko-san-pay saja yang mungkin
belum dikenal olehnya.
Segera ia mencari bagian ukiran dinding yang mengenai ilmu pedang Ko-san-pay dan mempelajari belasan
jurus. Pikirnya dengan jurus-jurus serangan baru ini ditambah lagi jurus-jurus serangan Heng-san-pay lain
yang belum sempat digunakan tadi, lalu mendadak mengeluarkan pula beberapa jurus serangan Hoa-san-pay
sendiri, boleh jadi serangan gado-gado ini akan dapat membikin pusing kepala maling cabul itu. Maka sebelum
Dian Pek-kong berkaok memanggilnya dia sudah berlari keluar untuk bertempur.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Karena diberondong dengan macam-macam gaya serangan, mula-mula Dian Pek-kong memang kerepotan dan
berulang-ulang berteriak aneh. Tapi sesudah 20-an jurus, kembali ia balas menyerang tiga kali, akhirnya
goloknya mengancam di depan leher Lenghou Tiong sehingga pemuda itu terpaksa lepas senjata dan mengaku
kalah.
"Pertama kali aku hanya dapat bergebrak sepuluh jurus dan kedua kalinya sudah tahan 18 jurus, ketika aku
mengasah otak lebih lama sedikit sekarang sudah mampu bertahan sampai 21 jurus, dan kalau aku
menyelaminya lebih lama lagi akhirnya tentu dapat menahan 30 jurus gebrakan, bahkan mengalahkan kau.
Apakah kau tidak takut Dian-heng?"
"Apa yang kutakuti?" sahut Dian Pek-kong. "Boleh silakan kau mengasah otak, memeras otak sesukamu!"
"Baik, harap kau tunggu lagi," kata Lenghou Tiong sambil masuk lagi ke dalam gua.
Walaupun lahirnya dia tenang-tenang saja dan mengobrol kepada Dian Pek-kong, tapi batinnya sebenarnya
sangat gelisah. Pikirnya, "Dengan menghadapi bahaya dia berani datang ke Hoa-san, tentu dia mempunyai tipu
muslihat tertentu. Mengapa dia sengaja main tanding dengan aku, padahal dengan mudah dia sudah dapat
membekuk diriku, buat apa aku dilepaskan lagi setiap kali? Apa maksud tujuannya yang sebenarnya?"
Begitulah menurut panggilan perasaan Lenghou Tiong, ia merasa kedatangan Dian Pek-kong ke Hoa-san ini
tentu mempunyai muslihat keji yang tersembunyi. Tapi muslihat apa sukar untuk diketahui. Pikirnya, "Jika
tujuannya menghalangi aku agar orang lain dapat membereskan segenap Sute dan Sumoay yang tinggal di
rumah, kenapa dia tidak membunuh saja diriku, bukankah cara demikian lebih gampang dan lebih cepat? Tapi
apa sebabnya dia tidak berbuat demikian, bahkan menerima setiap tantanganku yang walaupun diketahuinya
melulu ingin ulur tempo belaka? Tampaknya hari ini Hoa-san-pay sedang menghadapi suatu kesulitan besar.
Suhu dan Sunio sekarang tidak berada di rumah, aku adalah murid tertua, kewajiban ini harus kupikul, tak
peduli Dian Pek-kong mempunyai tipu muslihat keji apa saja harus kulawan dengan segenap tenaga dan
pikiran. Asal ada kesempatan tiada jeleknya jika sekali serangan kubinasakan dia saja."
Setelah ambil keputusan bulat, segera ia pergi mempelajari gambar-gambar ukiran dinding lagi. Sekali ini yang
dia pelajari adalah jurus-jurus serangan mematikan yang paling ganas. Ketika dia keluar gua pula, sementara
itu fajar sudah menyingsing.
Biarpun di dalam hatinya sudah ambil keputusan akan membunuh orang, tapi lahirnya dia malah tertawa-tawa,
tegurnya, "Dian-heng, jauh-jauh kau datang kemari, tapi aku belum memenuhi kewajibanku sebagai tuan
rumah, sungguh aku merasa tidak enak. Sesudah pertandingan ini, tak peduli siapa yang menang atau kalah,
tetap aku akan mengundang Dian-heng sekadar menikmati hasil bumi pegunungan ini."
"Terima kasih," sahut Dian Pek-kong dengan tertawa.
"Dan kelak bila kita bertemu lagi di lain tempat, jika kita bergebrak pula, tentu bukan lagi pertandingan halusan
seperti sekarang ini, tapi pasti pertarungan mati-matian."
"Sesungguhnya teman seperti Lenghou-heng ini adalah sangat sayang bila terbunuh. Namun kalau aku tidak
membunuh kau, melihat kemajuan ilmu silatmu yang begini pesat, kelak kalau kau sudah lebih unggul
daripadaku, tentu kau tak dapat mengampuni seorang maling cabul sebagai diriku ini."
"Betul juga," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Cara tukar pikiran tentang ilmu silat seperti sekarang ini
kelak tentu tidak mungkin terjadi lagi. Dian-heng, sekarang aku akan mulai lagi, harap kau memberi petunjuk
seperlunya."
"Silakan," sahut Dian Pek-kong.
"Agaknya makin aku berpikir semakin bukan tandingan Dian-heng," seru Lenghou Tiong sambil tertawa. Belum
lenyap suaranya, pedangnya sudah lantas menusuk.
Ketika ujung pedangnya masih jauh dari sasarannya, mendadak Lenghou Tiong tarik miring ke samping dan
secepat kilat menusuk balik lagi. Waktu Dian Pek-kong angkat golok hendak menangkis, sebelum kedua
senjata beradu, tahu-tahu Lenghou Tiong sedikit memutar pedangnya dan menebas dari atas ke bawah
selangkangan. Serangan ini benar-benar di luar dugaan, keji dan lihai sekali.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan Dian Pek-kong terperanjat, lekas-lekas ia meloncat ke atas. Tapi Lenghou Tiong telah mencecarnya lagi
tiga kali serangan, semuanya mengarah tempat mematikan di tubuh Dian Pek-kong. Karena didahului,
kedudukan Dian Pek-kong menjadi terdesak dan kerepotan cara menangkisnya. Tiba-tiba terdengar "bret"
sekali, pedang Lenghou Tiong menusuk lewat di sebelah pahanya sehingga celananya tertusuk satu lubang,
untung tidak sampai terluka.
Namun gerakan Dian Pek-kong juga amat cepat, kepalan kanan lantas menjotos sehingga Lenghou Tiong
terhantam roboh terjungkal. Katanya dengan tertawa, "Serangan Lenghou-heng ini selalu mengincar jiwaku,
apakah inilah caranya mengukur ilmu silat masing-masing?"
Lenghou Tiong melompat bangun, sahutnya dengan tertawa, "Bagaimanapun cara seranganku toh tak dapat
mengganggu seujung rambutnya Dian-heng."
Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong, "Betapa pun dia toh tidak mau membunuh aku, maka akulah yang bebas
untuk menyerangnya tanpa memikirkan keselamatanku, aku hanya menyerang saja tanpa menjaga, tentu hal
demikian akan menguntungkan aku."
Maka dengan tertawa ia lantas melangkah maju, katanya, "Sungguh kuat sekali tenaga pukulan Dian-heng
tadi."
"Ah, hendaklah dimaafkan," sahut Dian Pek-kong.
"Tapi tulang igaku mungkin sudah patah beberapa buah," ujar Lenghou Tiong sambil maju lebih mendekat.
Sekonyong-konyong pedangnya berpindah tangan terus menusuk.
Serangan kilat ini benar-benar sukar diduga sebelumnya. Keruan Dian Pek-kong kaget, sementara itu ujung
pedang sudah dekat dengan perutnya. Dalam seribu kerepotannya sekuatnya ia jatuhkan diri ke belakang terus
menggelinding ke samping. Namun Lenghou Tiong sudah lantas mengejar dan melancarkan beberapa kali
serangan. Tentu saja Dian Pek-kong kelabakan dalam keadaan merebah.
Tampaknya kalau Lenghou Tiong menyerang lagi beberapa kali tentu Dian Pek-kong akan terpantek di atas
tanah oleh pedangnya. Tak terduga mendadak sebelah kaki Dian Pek-kong telah menendang sehingga
pergelangan tangan Lenghou Tiong kesakitan dan pedang terlepas, menyusul kaki Dian Pek-kong yang lain
mendepak pula dan tepat mengenai perut Lenghou Tiong, kontan ia jatuh terjengkang.
Cepat sekali Dian Pek-kong lantas melompat bangun dan menubruk maju, goloknya lantas mengancam di
depan leher Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa dingin, "Hm, keji amat ilmu pedangmu, hampir saja
jiwaku melayang. Sekali ini kau takluk atau tidak!"
"Tentu saja tidak," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Kita telah berjanji bertanding senjata, tapi tangan
dan kakimu ikut maju, ya hantam ya tendang, apakah ini masuk hitungan?"
"Biarpun hantaman dan tendangan tadi dihitung juga belum ada 30 jurus," sahut Dian Pek-kong sambil tertawa
dingin dan menarik kembali goloknya.
Segera Lenghou Tiong melompat bangun, katanya dengan gusar, "Biarpun ilmu silatmu tinggi dan
mengalahkan aku dalam 30 jurus, lantas mau apa? Kalau mau bunuh boleh bunuh, mengapa kau mengejek?
Jika mau tertawa boleh tertawa, kenapa mesti tertawa dingin?"
"Teguran Lenghou-heng memang benar, akulah yang salah, dengan tulus hati aku minta maaf," sahut Dian
Pek-kong sambil memberi hormat.
Lenghou Tiong melengak malah, sama sekali tak terduga bahwa sebagai pihak yang menang Dian Pek-kong
malah mau minta maaf padanya. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa di balik sikapnya itu pasti
mempunyai tipu muslihat tertentu. Karena sukar memperoleh kesimpulan, sekalian Lenghou Tiong lantas
bertanya secara blak-blakan. Katanya, "Dian-heng, ada sesuatu yang sukar dimengerti bagiku, entah Dianheng
sudi memberi keterangan atau tidak."
"Tiada sesuatu bagiku yang perlu dirahasiakan, baik membunuh orang maupun memerkosa dan merampok,
kalau berani berbuat ya berani mengaku, buat apa mesti menyangkal?" sahut Pek-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Bagus, jika demikian, jadi Dian-heng adalah seorang laki-laki tulen yang suka terus terang."
"Istilah 'laki-laki tulen' tak berani kuterima, paling aku hanya seorang hina yang dapat pegang janji saja," ujar
Pek-kong dengan tertawa.
"Hehe, tokoh macam Dian-heng jarang juga diketemukan di dunia Kangouw," kata Lenghou Tiong. "Sekarang
aku numpang tanya, kau telah sengaja memancing kepergian guru dan ibu-guruku, lalu datang ke sini dan
memaksa aku ikut pergi padamu, sebenarnya mau ke mana dan untuk urusan apa?"
"Sejak tadi sudah kukatakan bahwa aku mengundang kau pergi bertemu dengan Gi-lim Siausuthay untuk
sekadar memenuhi rasa rindunya."
"Tidak mungkin, urusan ini terlalu lucu dan aneh, Lenghou Tiong toh bukan anak kecil, masa dapat percaya
ocehanmu ini."
Dian Pek-kong menjadi gusar, serunya, "Aku memandang kau sebagai kesatria sejati, sebaliknya kau tetap
anggap aku sebagai jahanam yang kotor dan rendah sehingga apa yang kukatakan sama sekali kau tak
percaya? Memangnya ucapan ini bukan ucapan manusia? Nah dengarlah, bila orang she Dian ini omong
kosong, biarlah kau anggap lebih rendah daripada binatang."
Melihat ucapannya yang sungguh-sungguh itu, mau tak mau Lenghou Tiong percaya juga. Katanya dengan
heran, "Soal Dian-heng mengangkat guru kepada Nikoh kecil itu kan cuma kelakar saja, mengapa jauh-jauh
kau sengaja datang kemari untuk mengundang aku demi kepentingannya?"
Dian Pek-kong menjadi kikuk, sahutnya, "Dalam hal ini tentu saja masih ada soal lain."
Tiba-tiba terpikir oleh Lenghou Tiong urusan cinta memang sukar diceritakan, jangan-jangan Dian Pek-kong
benar-benar kesengsem kepada Gi-lim yang cantik molek itu sehingga dari maksud jahatnya telah berubah
menjadi maksud baik. Segera ia tanya, "Apakah barangkali Dian-heng telah jatuh cinta sungguh-sungguh
kepada Gi-lim Sumoay dan kau telah memperbaiki tingkah lakumu yang dahulu?"
"Ah, mana bisa jadi, janganlah Lenghou-heng sembarangan omong," sahut Pek-kong.
Lenghou Tiong lantas teringat kepada kejahatan yang baru saja dilakukan Dian Pek-kong di kota Tiang-an dan
Yen-an, masakah penjahat demikian dapat berubah dalam sekejap? Rasanya tidak mungkin. Maka ia lantas
tanya, "Habis ada soal lain apakah, mohon Dian-heng memberi tahu."
"Soal ini menyangkut kesialanku, buat apa kau bertanya terus?" sahut Pek-kong. "Pendek kata, bila aku tak
berhasil mengundang kau turun gunung, sebulan kemudian tentu aku akan mati dengan tubuh membusuk tak
terkatakan."
Lenghou Tiong terkejut, tapi lahirnya ia pura-pura tidak paham. Tanyanya, "Mana bisa demikian?"
Tiba-tiba Dian Pek-kong membuka baju sehingga kelihatan dadanya, diperlihatkannya dua titik merah sebesar
mata uang di bawah kedua teteknya, lalu berkata, "Aku telah diracun orang dan dipaksa datang ke sini untuk
mengundang kau agar menemui Gi-lim Siausuthay. Jika tak berhasil mengundang kau, sebulan kemudian
kedua titik merah ini akan mulai membusuk dan terus menjalar ke seluruh tubuh dan tak ada obatnya lagi.
Setelah tiga setengah tahun barulah akan mati membusuk. Maka maklumlah sekarang, dengan pengakuanku
yang terus terang ini bukan maksudku hendak minta belas kasihanmu, tapi agar kau tahu betapa pun kau
menolak undanganku pasti juga akan kupaksa. Bila kau benar-benar mau ikut pergi, segala perbuatan apa pun
juga dapat kulakukan. Biasanya aku memang sudah berbuat segala kejahatan, apalagi sekarang dalam
keadaan kepepet, apa yang harus kupikirkan pula?"
Diam-diam Lenghou Tiong percaya apa yang diceritakan itu. Ia pikir kalau dapat mengulur waktu sampai lebih
dari sebulan, tanpa dibunuh juga maling cabul yang terkutuk ini akan mati dengan sendirinya. Maka dengan
tertawa ia berkata, "Sungguh jail sekali orang yang meracuni Dian-heng itu. Entah Dian-heng terkena racun
apa, boleh jadi masih ada obat pemunahnya, coba terangkan."
"Tentang pemberi racun itu tak perlu dibicarakan lagi," sahut Pek-kong. "Pendek kata, bila aku benar-benar tak
berhasil mengundang kau turun gunung, kalau aku mati, maka kau pun takkan kubiarkan selamat."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Ya, sudah tentu. Tapi Dian-heng harus mengalahkan aku secara jantan sehingga aku takluk lahir batin.
Dengan demikian mungkin aku akan ikut kau turun gunung. Untuk ini silakan kau menanti lagi sebentar, aku
akan masuk ke dalam untuk memeras otak lagi."
Sesudah berada di dalam gua belakang, kali ini yang diperiksanya adalah ukiran ilmu pedang Thay-san-pay. Ia
merasa ilmu pedang itu toh tiada sesuatu yang luar biasa. Tapi tiba-tiba ia tertarik pada cara lawannya yang
memainkan tombak pendek untuk mengalahkan ilmu pedang Thay-san-pay itu. Makin diperhatikan makin
tertarik, sampai selang berapa lama pun tak diketahuinya. Baru kemudian didengarnya suara Dian Pek-kong
sedang berkaok-kaok di luar gua, maka cepat ia berlari keluar untuk bertempur pula.
Sekali ini Lenghou Tiong sudah berpengalaman, ia tidak menghitung jurus keberapa lagi, tapi begitu gebrak
segera ia menyerang dengan penuh tenaga. Dian Pek-kong juga tak berani ayal demi melihat setiap kali masuk
gua, setiap kali pula Lenghou Tiong mendapat kemajuan.
Pertarungan cepat itu dalam sekejap saja entah sudah berlangsung berapa jurus. Tiba-tiba Dian Pek-kong
melangkah maju, secepat kilat pergelangan tangan Lenghou Tiong telah kena dipegang olehnya terus
ditelikung, ujung pedang lantas mengancam di tenggorokan dan membentak, "Kembali kau kalah lagi!"
Walaupun tangannya kesakitan karena ditelikung, tapi mulut Lenghou Tiong tetap tak mau kalah, jawabnya,
"Tidak, bukan aku, tapi kaulah yang kalah!"
"Mengapa aku yang kalah malah?" tanya Dian Pek-kong dengan gusar.
"Sebab jurus ini adalah jurus ke-32," kata Lenghou Tiong.
"Jurus ke-32? Mana bisa? Kau toh tidak menghitungnya," ujar Pek-kong.
"Aku memang tidak bersuara menghitung, tapi menghitungnya secara diam-diam di dalam batin. Dengan
terang gamblang jurus terakhir ini adalah jurus ke-32," bantah Lenghou Tiong. Padahal sama sekali ia tidak
pernah menghitung. Apa yang dikatakan hanya bualan belaka.
Dian Pek-kong melepaskan tangan Lenghou Tiong, lalu berkata, "Tidak bisa. Jurus pertama tadi adalah begini,
aku menangkis dengan demikian, lalu kau menyerang lagi dengan begini dan ...." begitulah ia terus mengulangi
jurus pertarungan mereka tadi dan ternyata semuanya betul, sampai akhirnya waktu tangan Lenghou Tiong
kena dipegang baru jurus ke-28 saja.
Keruan kagum Lenghou Tiong tak terkatakan atas daya ingatan lawannya, mau tak mau ia memuji, "Ingatan
Dian-heng memang benar-benar hebat. Kiranya akulah yang salah hitung. Biar kumasuk sebentar untuk
memeras otak lagi."
"Nanti dulu!" tiba-tiba Dian Pek-kong mencegah. "Sebenarnya ada rahasia apakah di dalam gua ini. Apakah di
situ tersedia kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi? Mengapa setiap kali kau keluar selalu bertambah dengan
macam-macam jurus serangan baru?"
Sembari berkata, segera ia hendak masuk ke dalam gua.
Tentu saja Lenghou Tiong terkesiap, jika gambar ukiran dinding itu sampai dilihatnya, tentu urusan bisa
runyam. Tapi dia sengaja memperlihatkan air muka girang dan sekejap saja ia lantas pura-pura berlagak
khawatir pula, katanya sambil pentang kedua tangannya, "Apa yang tersimpan di dalam gua adalah kitab-kitab
pusaka perguruan kami, Dian-heng adalah orang luar, kau dilarang masuk."
Melihat perubahan air muka Lenghou Tiong yang cepat itu, Dian Pek-kong menjadi curiga, mengapa mula-mula
pemuda itu bergirang lalu pura-pura khawatir dan merintangi dengan tujuan aku memaksa menerjang ke
dalam gua. Padahal di dalam gua mungkin terdapat perangkap dan benda lain yang bisa bikin celaka padaku.
Tapi masakah aku gampang ditipu?
Begitulah, biarpun ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi, tapi bicara tentang tipu akal memang Lenghou
Tiong lebih licin. Dia sengaja main pura-pura dan sungguh-sungguh sehingga Dian Pek-kong tertipu, akhirnya
dia tidak berani masuk gua.
Demikianlah beberapa kali Lenghou Tiong telah masuk keluar gua lagi dan telah banyak mempelajari macamDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
macam jurus serangan yang aneh, tapi tetap tak mampu bertahan lebih dari 30 jurus. Sebaliknya Dian Pekkong
semakin curiga, dia tidak paham mengapa setiap keluar kembali dari gua tentu kepandaian Lenghou
Tiong bertambah dengan jurus-jurus serangan yang aneh dan lihai.
Sementara itu sudah lewat tengah hari, untuk sekian kalinya kembali Dian Pek-kong berhasil mengalahkan
Lenghou Tiong. Tiba-tiba terpikir olehnya ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong barusan ini adalah Kosan-
kiam-hoat, sebelumnya dia telah memainkan ilmu-ilmu pedang dari Heng-san-pay, Thay-san-pay dan lainlain.
Wah, jangan-jangan di dalam gua banyak berkumpul jago-jago dari Ngo-gak-kiam-pay yang telah
mengajarkan kepandaian mereka kepada Lenghou Tiong. Untung tadi ia tidak jadi menerjang ke dalam, kalau
tidak tentu aku bisa mati konyol.
Lantaran berpikir demikian, tanpa merasa ia lantas tanya pula, "Mengapa mereka tidak keluar saja?"
"Siapa tidak keluar?" tanya Lenghou Tiong bingung.
"Mereka, para tokoh angkatan tua di dalam gua yang mengajarkan ilmu pedang padamu itu, suruhlah mereka
keluar untuk coba-coba kepandaianku."
Untuk sejenak Lenghou Tiong melengak, tapi segera ia paham apa yang dipikir oleh Dian Pek-kong, dengan
terbahak-bahak ia berkata, "Para Locianpwe itu merasa ... merasa enggan untuk bergebrak dengan Dian-heng.
Tapi jika Dian-heng ada minat boleh saja silakan masuk ke dalam untuk minta belajar kepada belasan
Locianpwe itu. Kukira beliau-beliau itu pun rada menghargai ilmu golok Dian-heng."
"Hm, kaum Locianpwe apa? Paling-paling adalah orang-orang yang bernama kosong saja," jengek Dian Pekkong.
"Kalau tidak, mengapa berulang kali kau telah diberi petunjuk toh sampai saat itu kau belum mampu
melawan diriku lebih dari 30 jurus?"
Dengan mengandalkan Ginkangnya yang lihai, Dian Pek-kong pikir biarpun sekaligus belasan tokoh itu
membanjir keluar juga tak mampu mengejar diriku apabila aku tak sanggup melawan mereka. Apalagi kalau
benar angkatan tua dari Ngo-gak-kiam-pay, mereka tentu menjaga harga diri dan tidak sudi main kerubut.
"Soal aku tak bisa melawan dirimu adalah karena aku sendiri yang bodoh, hendaklah Dian-heng hati-hati
sedikit dan jangan sembarangan bicara, bila sampai membikin marah mereka, asal salah seorang Cianpwe itu
mau turun tangan, tak usah tunggu sebulan lagi kau akan mati dengan badan membusuk, sebentar saja
jiwamu sudah bisa dibikin melayang di puncak gunung ini."
"Coba terangkan, Cianpwe siapa-siapa saja yang berada di dalam gua itu?" tanya Dian Pek-kong.
Lenghou Tiong berpura-pura bersikap mencurigakan. Lalu menjawab, "Ah, para Cianpwe itu sudah lama
mengasingkan diri, berkumpulnya mereka di sini juga tiada sangkut pautnya dengan kau. Nama-nama para
Cianpwe itu tidak boleh diketahui orang luar, andaikan kukatakan juga kau tak kenal. Maka lebih baik tak
kukatakan saja."
Melihat sikap Lenghou Tiong yang aneh itu, Dian Pek-kong tambah sangsi. Katanya, "Kalau tokoh-tokoh
angkatan tua dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san memang masih ada sedikit. Tapi Hoa-san-pay
kalian sudah lama kehabisan tokoh angkatan tua. Hal ini diketahui setiap orang Bu-lim. Maka ucapan Lenghouheng
sungguh sukar untuk dipercaya."
"Benar, memang sejak kena penyakit menular di masa dahulu, tokoh-tokoh Cianpwe golongan kami memang
sudah wafat semua, hal ini memang sangat merugikan Hoa-san-pay kami, kalau tidak masakah Dian-heng
dapat bebas berkeliaran ke sini dan mencari perkara padaku? Ucapanmu memang benar, di dalam gua
memang betul tidak terdapat tokoh dari golongan kami."
Karena sebelumnya Dian Pek-kong sudah menarik kesimpulan dirinya sedang didustai, maka kalau Lenghou
Tiong bilang timur, tentu dia anggap barat. Lenghou Tiong menyatakan di dalam gua tidak ada tokoh Hoa-sanpay,
hal ini tentu sebaliknya. Ia coba merenung sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, serunya sambil
menepuk paha, "Ya, ingatlah aku sekarang. Kiranya adalah Hong Jing-yang, Hong-locianpwe."
Sudah tentu Lenghou Tiong tidak kenal siapakah Hong Jing-yang itu. Tapi dia tahu tak peduli apa yang dia
katakan tentu akan dicurigai Dian Pek-kong. Dari nama Hong Jing-yang itu dapat dipastikan tokoh itu masih
lebih tua dua angkatan dari gurunya yang memakai nama "Put". Maka ia sengaja menjawab, "Ah, janganlah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dian-heng sembarang omong. Hong ... Hong-thaysuco (kakek guru) sudah lama menghilang entah ke mana,
entah beliau masih hidup tidak di dunia ini, masakah sekarang beliau bisa datang ke sini. Jika Dian-heng tidak
percaya boleh silakan masuk memeriksanya sendiri."
Sudah tentu, semakin Lenghou Tiong menyilakan dia masuk ke dalam gua, semakin Dian Pek-kong merasa
hendak dijebak dan dengan sendirinya dia tidak mau tertipu. Diam-diam ia yakin dugaannya tentu tidak salah.
Sesudah terjadi bencana dahulu, di antara tokoh-tokoh angkatan tua kabarnya cuma Hong Jing-yang saja yang
berhasil selamat. Kalau dihitung umurnya sekarang juga sudah ada lebih 80 tahun, betapa pun tinggi ilmu
silatnya, dalam hal tenaga tentu juga sudah loyo. Kenapa aku mesti takut?
Karena pikiran demikian, segera Dian Pek-kong berkata, "Lenghou-heng, kita sudah bertempur hampir sehari
semalam, biarpun diteruskan juga kau tetap bukan tandinganku. Sekalipun berulang-ulang kau diberi petunjuk
oleh kau punya Hong-thaysuco juga tiada gunanya. Sebaiknya kau ikut berangkat bersama aku saja."
Baru saja Lenghou Tiong akan menjawab, sekonyong-konyong di belakangnya ada suara seorang menanggapi
dengan nada dingin, "Jika aku betul-betul memberi petunjuk beberapa jurus masakah tidak mampu
membereskan kau keparat ini?"
Keruan Lenghou Tiong terkejut, cepat ia berpaling. Maka tertampaklah di samping gua sudah berdiri seorang
kakek berjenggot putih dan berjubah hijau, sikapnya seram, mukanya pucat sebagai mayat.
Bab 33. Caranya Membikin Dian Pek-kong Roboh Tertutuk
Sungguh heran Lenghou Tiong tak terkatakan, ia tidak tahu dari mana munculnya kakek itu, mengapa sedikit
pun tidak berasa dan tahu-tahu orang sudah berdiri di belakangnya.
Tengah ragu-ragu, terdengar Dian Pek-kong telah menegur si kakek, "Apakah engkau adalah ... adalah Honglosiansing?"
Si kakek menghela napas, sahutnya, "Sungguh tidak nyana bahwa di dunia ini masih ada orang yang kenal
namaku."
Diam-diam Lenghou Tiong heran, bahwasanya Hoa-san-pay sendiri terdapat seorang tokoh angkatan tua,
mengapa selama ini guru dan ibu-gurunya tak pernah membicarakannya? Jangan-jangan dia cuma menurutkan
ucapan Dian Pek-kong tadi dan memalsukan. Pula, masakah begini kebetulan, baru saja Dian Pek-kong
menyebut Hong Jing-yang, ternyata benar-benar menongol seorang Hong Jing-yang.
Terdengar kakek itu lagi berkata, "Lenghou Tiong, kau bocah ini memang tidak becus! Coba sini, biar aku
mengajar kau. Lebih dulu kau menggunakan jurus 'Pek-hong-koan-jit', lalu jurus 'Yu-hong-lay-gi', menyusul
jurus ...." begitulah ia lalu mencerocos sekaligus sampai 30 jurus.
Ke-30 jurus yang diuraikan itu sudah pernah dipelajari semua oleh Lenghou Tiong, beberapa jurus di antaranya
bahkan terlalu biasa baginya, dalam latihan sehari-hari dengan sesama saudara seperguruan saja sungkan
digunakan, masakah sekarang malah dipakai untuk menempur Dian Pek-kong, sudah pasti tidak cukup kuat.
Tapi si kakek sudah lantas menegurnya, "Apa yang kau ragukan? Tiga puluh jurus sekaligus dimainkan
memang tidak gampang, boleh coba kau mengulangi dulu satu kali."
Pikir Lenghou Tiong tiada jelek untuk mencobanya. Segera ia menurut, lebih dulu ia memainkan jurus Pekhong-
koan-jit, jurus ini ujung pedang mengacung ke atas di waktu ditarik kembali, sedangkan jurus kedua Yuhong-
lay-gi harus menusuk dari bawah ke atas, jadi kedua jurus ini satu sama lain tak bisa menyambung.
Keruan Lenghou Tiong tertegun dan tak bisa melanjutkan.
Si kakek yang mengaku bernama Hong Jing-yang itu menghela napas, omelnya, "Bodoh, goblok! Pantas kau
adalah muridnya Gak Put-kun, tidak bisa melihat gelagat, tak dapat berubah haluan menurut keadaan. Ilmu
pedang harus dapat dimainkan secara bebas menurut keinginan. Sehabis jurus Pek-hong-koan-jit tadi, biarpun
ujung pedang mengacung ke atas, masakah kau tak dapat menariknya kembali sambil menusuk? Biarpun
menurut teori ilmu pedang tiada gerakan demikian, apakah kau tak bisa melakukannya sendiri sesuai dengan
keadaan?"
Petunjuk ini seketika menyadarkan Lenghou Tiong, pedangnya menurun, dengan sendirinya lantas melancarkan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
jurus Yu-hong-lay-gi dan begitu seterusnya dia dapat memutar pedangnya dengan lancar dan rapat. Seperti
ajaran si kakek tadi, sekaligus ia telah memainkan 30 jurus.
"Ya, boleh sih sudah boleh, cuma sayang masih kaku dan lambat," ujar si kakek. "Namun untuk melayani
bocah keparat itu rasanya sudahlah cukup. Nah, boleh coba maju saja."
Walaupun masih meragukan si kakek adalah Susiokconya sendiri, tapi apa pun juga pastilah dia seorang tokoh
persilatan angkatan tua, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Maka ia lantas memberi hormat dan mengucapkan
terima kasih, lalu berpaling ke arah Dian Pek-kong dan berkata, "Marilah Dian-heng, kita mulai lagi!"
"Apa gunanya?" sahut Dian Pek-kong. "Aku sudah hafal dengan ke-30 jurus seranganmu ini. Jika kita
bertanding lagi, biarpun aku menang juga tidak terhormat."
"Jika demikian, ya, baik juga, silakan saja Dian-heng pergi dari sini," sahut Lenghou Tiong. "Aku harus banyak
minta petunjuk kepada Locianpwe ini dan tiada tempo buat mengobrol dengan Dian-heng."
"Apa artinya ucapanmu ini?" seru Dian Pek-kong dengan aseran. "Kau tidak mau ikut pergi bersama aku, ini
berarti jiwaku akan korban percuma gara-garamu."
Lalu ia berpaling kepada si kakek dan berkata, "Hong-locianpwe, Dian Pek-kong adalah bocah kemarin saja dan
tidak sesuai untuk bergebrak dengan engkau. Bila engkau sampai ikut turun tangan tentu akan merendahkan
kedudukanmu."
Si kakek menghela napas sambil manggut-manggut, tanpa menjawab ia lantas mendekati batu besar di
sebelah sana dan duduk.
Tentu saja Dian Pek-kong merasa lega, segera ia membentak, "Lihat serangan!" dan goloknya terus membacok
ke arah Lenghou Tiong.
Cepat Lenghou Tiong mengegos terus balas menebas sesuai dengan jurus keempat menurut petunjuk si kakek.
Dan sekali serangannya sudah lancar, susul-menyusul serangan yang lain lantas membanjir dengan lincah.
Yang digunakan terkadang adalah jurus-jurus menurut petunjuk si kakek, tapi terkadang di luar ke-30 jurus
yang disebut si kakek tadi.
Setelah menyadarkan kebebasan ilmu pedang yang tidak terikat oleh suatu gerakan tertentu, seketika ilmu
pedang Lenghou Tiong maju dengan pesat. Dengan sengit ia labrak Dian Pek-kong sehingga seratus jurus lebih
dan masih belum tentu kalah atau menang. Sampai akhirnya tenaganya mulai lemas. Mendadak Dian Pek-kong
menggertak dan goloknya terus membacok.
Bacokan itu tampaknya sukar dihindarkan. Lenghou Tiong menjadi nekat, berbareng ia pun mengacungkan
ujung pedang untuk menikam dada lawan.
Tapi golok Dian Pek-kong telah diputar ke samping terus memotong ke bawah, "trang", kedua senjata
terbentur dan tanpa menunggu Lenghou Tiong menarik kembali pedangnya, mendadak Dian Pek-kong
melepaskan goloknya sambil menubruk maju, kedua tangannya dengan kuat mencekik leher Lenghou Tiong.
Seketika napas Lenghou Tiong menjadi sesak, tanpa kuasa pedangnya juga terlepas dari cekalan.
"Pendek kata, jika kau tidak ikut aku turun dari sini, segera kucekik mampus kau!" teriak Dian Pek-kong
dengan kalap.
Muka Lenghou Tiong tampak merah padam karena tak bisa bernapas, tapi dia masih menggeleng tanda tetap
tidak mau menurut.
Keruan Dian Pek-kong semakin murka, teriaknya, "Biar seratus atau dua ratus jurus, asal aku yang menang,
kau harus ikut pergi bersama aku. Peduli apa tentang 30 jurus segala."
Mestinya Lenghou Tiong ingin bergelak tertawa untuk mengolok-oloknya, tapi tenggorokannya tercekik oleh
sepuluh jari lawan yang kuat laksana tanggam, maka terpaksa ia hanya menyeringai saja tanpa bisa bersuara.
Tiba-tiba terdengar si kakek tadi berkata pula dengan nada gegetun, "Goblok, sungguh goblok, tangan tidak
pegang pedang, jari tangan juga merupakan pedang. Apakah jurus 'Kun-giok-boan-tong' (kemala emas
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
memenuhi ruangan) itu tidak dapat dilakukan dengan jari tangan?"
Terkilas seketika petunjuk itu di dalam benak Lenghou Tiong, tanpa ragu-ragu lagi kelima jarinya terus
menusuk ke depan seperti tusukan pedang dalam jurus "Kun-giok-boan-tong".
Kontan Dian Pek-kong bersuara tertahan dan roboh terkulai. Kesepuluh jari yang mencekik leher Lenghou
Tiong itu lantas terlepas.
Sungguh sama sekali Lenghou Tiong tak menyangka bahwa hanya sekali tutuk begitu saja ternyata membawa
tenaga yang begitu kuat sehingga tokoh selihai Dian Pek-kong itu dengan gampang saja sudah kena ditutuk
roboh.
Ia coba meraba-raba leher sendiri yang tercekik tadi, rasanya masih panas. Dilihatnya maling cabul itu sudah
terkulai dan melingkar seperti udang dengan tiada hentinya berkejang.
Kejut dan girang Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika tak terhingga rasa kagumnya kepada si kakek, segera
ia mendekatinya dan menyembah, serunya, "Thaysusiokco, maafkan cucu murid tadi bersikap kurang hormat."
Habis berkata, berulang-ulang ia terus menjura.
"Sekarang kau tidak menyangsikan aku sebagai penipu lagi, bukan?" kata si kakek dengan tertawa hambar.
"Ampun, mana cucu berani," sahut Lenghou Tiong sambil menyembah pula. "Sungguh cucu sangat beruntung
dapat berjumpa dengan angkatan tua dari golongan sendiri seperti kakek, hal ini benar-benar sangat
menggirangkan."
"Bangunlah kau," kata si kakek yang bernama Hong Jing-yang.
Sesudah menjura beberapa kali lagi barulah Lenghou Tiong merangkak bangun. Dilihatnya wajah si kakek
sangat pucat dan kurus seperti orang habis sakit. Segera ia berkata, "Thaysusiokco, apakah engkau lapar? Di
dalam gua sini ada tersedia sedikit ransum kering."
Lalu ia hendak pergi mengambilkan.
Namun Hong Jing-yang telah menggeleng, katanya, "Tidak perlu!"
Sambil memandang sinar matahari yang menyilaukan kemudian ia berkata pula perlahan, "Hangat benar sinar
mentari ini, sudah ada berpuluh tahun aku tidak berjemuran di bawah sinar matahari."
Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, tapi tidak berani bertanya.
Hong Jing-yang memandang sekejap kepada Dian Pek-kong yang menggeletak itu, lalu berkata, "Dia punya
Tan-tiong-hiat telah kau tutuk, dengan kekuatannya satu jam kemudian dia akan dapat menyadarkan diri,
nanti dia pasti akan merecoki kau lagi tak habis-habis. Kau dapat menggunakan jari tangan sebagai pedang,
bila kau dapat mengalahkan dia dalam 30 jurus sehingga dia menginsafi bukan tandinganmu, terpaksa dia akan
mengeluyur pergi. Tapi sesudah kau mengalahkan dia, kau harus paksa dia bersumpah takkan menyiarkan
sepatah kata pun tentang diriku di sini."
"Tadi cucu sudah bertanding berulang-ulang dengan dia dengan memakai pedang dan selalu kalah, apalagi
dengan bertangan kosong, masakah dapat ...." kata Lenghou Tiong dengan ragu-ragu.
Hong Jing-yang menghela napas, katanya dengan perlahan, "Satu jam saja rasanya sudah cukup. Kau adalah
muridnya Gak Put-kun, mestinya aku tidak ingin mengajarkan ilmu silat padamu, tapi sudah lama aku 'cuci
tangan' dan tidak pernah bergebrak dengan orang lagi. Kalau aku tidak pinjam tanganmu tentu sukar memaksa
dia bersumpah dan tutup mulut tentang rahasia diriku. Coba kau ikut masuk kemari."
Habis berkata ia lantas masuk ke dalam dan menerobos ke gua belakang melalui lubang yang digali Lenghou
Tiong itu. Segera Lenghou Tiong ikut masuk ke sana.
Sambil menunjukkan ukiran-ukiran dinding itu Hong Jing-yang berkata, "Gambar-gambar ukiran ini tentunya
sudah kau periksa dan sudah ingat betul, cuma cara memainkannya sama sekali bukan begitu. Gak Put-kun si
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
bocah itu benar-benar tidak becus. Padahal bakatmu sangat baik, tapi telah dididik olehnya sampai sebodoh
kerbau."
Biasanya Lenghou Tiong paling hormat dan mencintai sang guru, demi mendengar ucapan Hong Jing-yang yang
mengolok-olok Gak Put-kun itu, seketika ia menjawab dengan tegas, "Thaysusiokco, aku tidak mau minta
belajar padamu, sudah, biarlah aku keluar saja dan membinasakan Dian Pek-kong itu dan habis perkara."
Hong Jing-yang melengak, tapi segera ia tahu sebab musababnya. Dengan hambar ia berkata pula, "Kau sudah
kalah beberapa kali dan dia tidak mau melukai kau, tapi baru saja kau bisa menang sudah lantas mau
membunuhnya. Apakah anak murid Hoa-san-pay memang manusia-manusia yang tak tahu budi orang? Apakah
kau sirik karena aku memaki gurumu? Baiklah, selanjutnya aku takkan menyinggung dia. Tapi jelek-jelek aku
adalah Susiokconya, jika aku menyebutnya 'bocah' tentunya masih boleh, bukan?"
"Asalkan selanjutnya Thaysusiokco tidak memaki lagi guruku yang berbudi, tentu cucu akan menuruti segala
pengajaranmu," sahut Lenghou Tiong.
"Ha, jadi seakan-akan aku yang minta kau belajar, ya?" ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum.
"Cucu tidak berani berpikir demikian, mohon Thaysusiokco maafkan," kata Lenghou Tiong.
Lalu Hong Jing-yang mulai menunjuk ukiran ilmu pedang Hoa-san-pay di dinding gua itu, katanya, "Jurus-jurus
serangan ini memang benar kepandaian hebat dari golongan kita. Di antaranya ada sebagian yang sudah lama
hilang tak terturunkan, sampai-sampai ... gurumu juga tidak paham. Namun jurus-jurus serangan itu meski
bagus, bila sejurus demi sejurus dipisahkan cara memakainya tetap akan dapat dipecahkan musuh ...."
Mendengar sampai di sini tergeraklah hati Lenghou Tiong. Lapat-lapat seperti diketemukanlah suatu intisari dari
ilmu pedang, tanpa merasa air mukanya menampilkan rasa kegirangan luar biasa.
"Apakah kau sudah paham? Coba terangkan," ujar Hong Jing-yang.
"Tidakkah Thaysusiokco hendak mengutarakan bilamana jurus demi jurus itu dimainkan menjadi suatu
rangkaian, maka musuh takkan mampu memecahkannya," sahut Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang manggut-manggut girang, katanya, "Benar, memangnya aku sudah bilang bakatmu sangat
baik, nyatanya daya tangkapmu memang sangat tinggi. Para Tianglo dari Mo-kau ini ...." sembari berkata ia
telah menunjuk suatu ukiran orang-orangan yang memakai senjata toya.
"O, dia itu adalah Tianglo dari Mo-kau?" Lenghou Tiong menegas.
"Apakah kau belum tahu?!" sahut Hong Jing-yang. "Kesepuluh kerangka tengkorak yang terdapat di sini ini
adalah sepuluh Tianglo dari Mo-kau."
"Mengapa mereka bisa mati semua di sini?" tanya Lenghou Tiong dengan heran.
"Akulah yang membunuh mereka!" kata Hong Jing-yang.
Padahal para Tianglo dari Mo-kau selamanya terkenal memiliki ilmu silat mahatinggi, tapi kata-kata "akulah
yang membunuh mereka" yang diucapkan Hong Jing-yang itu kedengarannya biasa saja seakan-akan dia
hanya memites mati sepuluh ekor semut.
"Selang satu jam lagi Dian Pek-kong sudah akan mendusin, tapi kau terus tanya tentang kejadian-kejadian di
masa lampau, apakah tempomu untuk belajar ilmu silat takkan terbuang percuma?"
"O, ya, silakan Thaysusiokco memberi petunjuk," cepat Lenghou Tiong mengiakan.
Sesudah menghela napas gegetun, lalu Hong Jing-yang berkata, "Para Tianglo dari Mo-kau ini sebenarnya
semua cerdik dan pandai, mereka telah dapat memecahkan habis-habisan seluruh ilmu pedang Ngo-gak-kiampay
yang paling tinggi. Ai, sungguh sayang, sayang mereka terpaksa harus kubunuh semua."
Diam-diam Lenghou Tiong menggerutu, "Baru saja kau mengomeli aku membuang tempo percuma karena
bertanya tentang Tianglo-tianglo dari Mo-kau itu, tapi sekarang kau sendiri malah mencerocos terus."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Walaupun demikian pikirnya, namun lahirnya dia tidak perlihatkan sesuatu tanda apa-apa.
Maka Hong Jing-yang telah menyambung pula, "Sungguh sayang mereka tidak paham bahwa jurus serangan
adalah mati, tapi orang yang memainkan jurus serangan itulah yang hidup. Biarpun kau pandai
menghancurkan jurus serangan yang mati, kalau kebentur jurus serangan yang hidup, tentu kaulah yang akan
celaka. Jadi yang harus diingat betul-betul adalah kata-kata 'hidup' tadi. Belajar serangan harus mempelajari
cara hidup, di waktu menyerang harus menyerang secara hidup. Apabila ragu-ragu dan kaku, biarpun kau
sudah hafal beribu-ribu jurus serangan lihai juga percuma bila ketemukan lawan tangguh."
Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, memangnya dia adalah seorang pemuda yang lincah dan penuh
semangat, uraian Hong Jing-yang itu benar-benar kena pada lubuk hatinya. Maka berulang-ulang ia menjawab,
"Ya, ya, betul, harus belajar dan menggunakannya secara hidup."
"Di dalam Ngo-gak-kiam-pay kita memang banyak sekali orang-orang tolol," kata Hong Jing-yang lebih jauh.
"Mereka mengira asalkan dapat belajar sebaik mungkin ajaran-ajaran sang guru dan dengan sendirinya mereka
pun akan menjadi jagoan. Padahal, hm, apa artinya kalau cuma pandai bersanjak saja tanpa memahami makna
sanjak itu sendiri. Biarpun dapat juga menggubah sebuah dua syair pasaran, tapi kalau tidak timbul dari jiwa
seninya yang hidup, apakah dapat menjadi penyair yang besar?"
Sesungguhnya dengan ucapan Hong Jing-yang ini juga Gak Put-kun ikut terkena. Tapi karena merasa uraian itu
memang cukup beralasan, pula nama Gak Put-kun tidak langsung disebut, maka Lenghou Tiong tidak
menyatakan keberatannya pula.
Hong Jing-yang telah menyambung lagi, "Belajar dan menggunakannya secara hidup hanya langkah pertama
saja. Harus dapat melaksanakan menyerang tanpa jurus, dengan demikian barulah benar-benar telah mencapai
tingkatan yang paling sempurna. Tadi kau bilang jurus demi jurus sekaligus dilancarkan menjadi suatu
rangkaian serangan sehingga musuh tak mampu melawan, ucapanmu ini hanya tepat separuh saja. Mestinya
bukan cuma sekaligus dilancarkan menjadi suatu rangkaian serangan, tapi pada hakikatnya harus tidak jelas
jurus apa yang dilancarkan. Kalau menyerang tanpa diketahui jurus serangannya, dengan sendirinya musuh
tak dapat lagi memecahkan seranganmu."
Hati Lenghou Tiong sampai berdebar-debar, diam-diam ia menggumam sendiri, "Menyerang tanpa jurus, cara
bagaimana dapat memecahkannya?"
"Seumpama seorang yang tak pernah belajar silat, dia memutarkan pedang secara serabutan, dalam keadaan
demikian biarpun betapa pandainya kau juga tidak tahu dia hendak menyerang ke mana, jangankan lagi bicara
tentang memecahkan jurus serangannya. Cuma serangan tanpa jurus bagi orang yang tak pernah belajar silat
itu tentu saja akan gampang dikalahkan oleh orang yang pandai, tapi kalau ilmu pedang yang sempurna hanya
dapat mengatasi orang dan tidak dapat diatasi orang." Sampai di sini Hong Jing-yang lantas menjemput
sekerat tulang kaki tengkorak di atas tanah, sekenanya ia acungkan ujung tulang kaki itu ke arah Lenghou
Tiong dan bertanya, "Coba, cara bagaimana kau akan mematahkan jurus seranganku ini?"
Karena tidak tahu gaya jurus serangan apa itu, dengan melengak Lenghou Tiong menjawab, "Ini bukan jurus
serangan sehingga tak bisa dipecahkan."
"Itulah dia!" ujar Hong Jing-yang dengan tersenyum. "Tapi kalau musuh menggunakan senjata atau pukulan
dan tendangan, karena dia memakai jurus serangan, asal kau tahu cara memecahkan serangannya dengan
segera kau sudah dapat mengatasi dia dan merobohkannya."
"Jika musuh juga tidak pakai jurus serangan, lantas bagaimana?" tanya Lenghou Tiong.
"Jika demikian tentu musuh juga tokoh kelas wahid, untuk ini harus tergantung kepada kesudahannya,
mungkin dia lebih mahir daripada kau atau mungkin juga kau lebih pandai," sahut Hong Jing-yang. Sesudah
menghela napas, lalu ia menyambung pula, "Tapi di zaman ini sudah sukar dicari lagi tokoh lihai demikian itu.
Bila secara kebetulan dapat kau ketemukan seorang-dua, maka terhitung kau yang beruntung. Selama hidupku
juga cuma bertemu dengan tiga orang tokoh demikian saja."
"Ketiga tokoh siapakah mereka itu?" tanya Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang menatapnya sejenak dengan tersenyum, sahutnya kemudian, "Sungguh tidak nyana di antara
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
murid Gak Put-kun ternyata ada yang suka urus hal tetek bengek dan tidak mau belajar secara tekun. Hah,
bagus, bagus!"
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, cepat ia memberi hormat dan berkata, "Ya, Tecu memang bersalah."
"Tidak salah, tidak salah!" seru Hong Jing-yang dengan tertawa. "Kau bocah ini mempunyai semangat yang
hidup, ini cocok sekali dengan seleraku. Cuma temponya sekarang hanya sedikit saja, bolehlah kau melebur
30-40 jurus ilmu pedang Hoa-san-pay kita yang paling hebat, bayangkan saja cara bagaimana akan dimainkan
sekaligus menjadi suatu rangkaian, lalu melupakannya seluruhnya, ya, melupakannya sama sekali, satu jurus
pun jangan tertinggal dalam benakmu. Dan sebentar lagi bila kau bertempur dengan Dian Pek-kong, bolehlah
kau menggunakan ilmu pedang jurus itu untuk melabraknya."
Lenghou Tiong mengiakan dan segera memusatkan perhatian untuk memeriksa gambar-gambar ukiran
dinding. Selama beberapa bulan ini sebenarnya dia sudah hampir merata mengikuti semua ukiran itu. Sekarang
dia hanya berusaha merangkaikan ilmu pedang dari Hoa-san-pay sendiri agar bisa dimainkan dengan sekaligus
tanpa terputus.
"Segala sesuatu harus dibiarkan berjalan menurut apa adanya, jika satu dan lain sukar dirangkaikan janganlah
sekali-kali dipaksakan," kata Hong Jing-yang.
Petunjuk ini lebih memudahkan lagi bagi Lenghou Tiong, ia tak perlu memilih jurus-jurus serangan itu lagi,
tidak antara lama beberapa puluh jurus ilmu pedang Hoa-san-pay itu sudah dapat dirangkaikan menjadi satu,
yang masih sukar hanya cara melebur jurus-jurus serangan itu sehingga tiada lubang sedikit pun.
Begitulah ia terus memutar pedangnya menebas ke sana dan memotong ke situ, sedikit pun ia tidak hiraukan
apakah gaya serangannya itu mirip dengan gambar ukiran yang dilihatnya atau tidak, dia melontarkan gaya
serangan sesuka hatinya, terkadang serangannya menjadi sangat lancar, hal ini sangat menyenangkan hatinya.
Selama belasan tahun ia berguru dan berlatih, setiap kali harus berlatih sepenuh semangat dan tenaga, sedikit
pun tidak boleh sembrono, sebab pengawasan Gak Put-kun sangat keras, setiap jurus tak boleh dilewatkan bila
belum dimainkan dengan tepat. Tapi ajaran Hong Jing-yang sekarang ternyata terbalik, yakni menyuruhnya
sesuka hatinya, makin bebas makin baik, ini memang sangat cocok dengan jiwa Lenghou Tiong malah. Ia terus
putar pedangnya dengan segala kebebasan, rasanya senang dan puas tak terkatakan.
Tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong berteriak di luar gua sana, "Lenghou-heng, silakan keluar untuk bertanding
lagi."
Lenghou Tiong terkesiap, cepat ia menghentikan permainannya dan bertanya kepada Hong Jing-yang,
"Thaysusiokco, cara permainanku ini apakah sudah dapat menahan serangan kilat goloknya?"
"Mana bisa? Masih selisih terlalu jauh!" sahut Hong Jing-yang sambil menggeleng.
"Tak bisa menahan serangannya?" Lenghou Tiong menegas dengan kejut.
"Jika hendak menahannya sudah tentu tidak dapat, tapi buat apa sih kau menahan serangannya?" ujar si
kakek.
Seketika sadarlah Lenghou Tiong, pikirnya dengan girang, "Benar, maksud tujuan Dian Pek-kong ialah minta
aku ikut dia turun gunung dan dia sekali-kali tidak berani membunuh aku. Asalkan aku terus menyerang saja
tanpa menghiraukan jurus serangannya, akhirnya tentu aku bisa melawannya lebih dari 30 jurus."
Segera ia berlari keluar gua dengan pedang terhunus. Dilihatnya Dian Pek-kong sudah siap dengan goloknya
dan lantas menegurnya, "Lenghou-heng, sesudah kau diberi petunjuk oleh Hong-locianpwe, ilmu pedangmu
memang nyata sudah maju pesat. Cuma robohnya aku tadi adalah karena sedikit ayal sehingga kena tertutuk
olehmu. Betapa pun aku tetap penasaran dan tidak menyerah, mari kita coba bertanding lagi."
"Baik," kata Lenghou Tiong, kontan pedangnya lantas menusuk secara miring dan menceng, batang pedangnya
bergoyang-goyang, sedikit pun tidak membawa tenaga serangan.
Keruan Dian Pek-kong terheran-heran. "Jurus serangan apakah ini?" demikian ia bertanya-tanya di dalam hati.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dilihatnya serangan Lenghou Tiong itu sampai di tengah jalan mendadak berubah lagi. Sekonyong-konyong
tangannya mengkeret mundur ke samping, pedangnya menusuk ke tempat yang kosong, menyusul gagang
pedang ditarik mundur seperti hendak disodokkan ke dadanya sendiri. Tapi di luar dugaan pergelangan
tangannya terus memutar pula sehingga sodokan gagang pedang itu menuju ke tempat kosong pula di
samping badan.
Keruan Dian Pek-kong tambah heran. "Apakah dia sudah gila?" demikian pikirnya. Ia coba memancingnya
dengan golok membacok. Tapi sama sekali Lenghou Tiong tidak menghindar atau mengegos, sebaliknya ujung
pedangnya terus ditarik kembali dan menusuk ke perut Dian Pek-kong.
"Aneh!" seru Dian Pek-kong sambil menarik kembali goloknya untuk menangkis ke bawah.
Tak tersangka Lenghou Tiong mendadak melemparkan pedangnya ke udara. Saking herannya Dian Pek-kong
sampai menengadah. Pada saat itulah, "plak", tahu-tahu hidungnya telah kena dijotos oleh Lenghou Tiong
sehingga keluar kecapnya alias mengucurkan darah.
Dan di tengah Dian Pek-kong masih terkejut itulah secepat kilat Lenghou Tiong menggunakan jari tangan
sebagai pedang, untuk kedua kalinya kembali ia menutuk Tan-tiong-hiat lawan. Tanpa ampun lagi tubuh Dian
Pek-kong lemas terkulai pula dengan air muka yang penuh kejut, heran dan amat marah pula.
Waktu Lenghou Tiong memutar tubuh, Hong Jing-yang telah memanggilnya masuk ke gua lagi, katanya,
"Kembali kau mendapatkan kesempatan satu setengah jam untuk berlatih ilmu pedang. Dia roboh untuk kedua
kalinya, keadaannya tambah payah sehingga waktu sadarnya akan tambah lama. Cuma pertarungan
selanjutnya boleh jadi dia akan menggunakan serangan-serangan berbahaya, kau harus lebih hati-hati.
Cobalah sekarang kau melatih ilmu pedang dari Heng-san-pay."
Begitulah, dengan petunjuk Hong Jing-yang itu, ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong menjadi sukar
diraba perubahan jurus serangannya sehingga Dian Pek-kong kena ditutuk roboh berturut-turut dua kali.
Sementara itu hari sudah dekat magrib, Liok Tay-yu datang mengantarkan daharan pula. Lenghou Tiong sudah
menyembunyikan Dian Pek-kong yang tidak bisa berkutik itu di belakang batu karang, sedang Hong Jing-yang
berada di gua belakang.
Lenghou Tiong berkata kepada Liok Tay-yu, "Nafsu makanku mulai tambah baik, besok Laksute boleh
tambahkan sedikit nasi dan sayur-mayur."
Melihat semangat Toasukonya sudah banyak lebih segar, Liok Tay-yu ikut bergirang. Ia menyanggupi besok
akan membawakan daharan yang lebih banyak.
Sesudah Liok Tay-yu pergi, Lenghou Tiong lantas membuka Hiat-to Dian Pek-kong dan mengajak dia dan Hong
Jing-yang makan bersama. Hong Jing-yang hanya makan sedikit saja sudah cukup, sebaliknya Dian Pek-kong
masih penasaran dan kurang nafsu makan, sambil menyumpit nasi sembari mencaci maki. "Prak", mendadak
mangkuk yang dipegangnya terpencet pecah sehingga isinya bertebaran.
Lenghou Tiong terbahak-bahak, katanya, "Buat apa Dian-heng mesti marah-marah kepada sebuah mangkuk
nasi?"
"Aku tidak marah kepada mangkuk nasi, tapi marah padamu, keparat!" teriak Dian Pek-kong dengan mencaci
maki. "Lantaran aku tidak mau membunuh kau, maka di waktu bertanding kau melulu menyerang tanpa
bertahan sehingga menguntungkan kau. Hm, hm, dasar Nikoh celaka itu ...." dia mestinya hendak mencaci
maki Gi-lim, tapi entah mengapa dia tidak melanjutkan. Tapi lantas berseru pula, "Lenghou Tiong, kalau berani
hayolah coba bertanding lagi!"
"Baik!" sahut Lenghou Tiong sambil berbangkit.
Pertarungan ulangan ini berlangsung dengan lebih seru dan sengit. Lenghou Tiong menggunakan cara lama, dia
hanya menyerang saja dan tidak menghiraukan serangan Dian Pek-kong.
Tak tersangka sekali ini Dian Pek-kong sudah ganti siasat, serangannya juga ganas, "sret-sret" dua kali,
berturut-turut paha dan lengan kiri Lenghou Tiong telah kena dilukai. Nyata dia sudah jengkel, walaupun tidak
bermaksud membunuh, tapi ia sengaja melukai anggota badan Lenghou Tiong agar dia kesakitan dan jeri.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Karena itu permainan pedang Lenghou Tiong menjadi kacau, hanya dalam beberapa jurus saja ia sudah
ditendang roboh oleh Dian Pek-kong.
Dengan tertawa senang Dian Pek-kong mengancam tenggorokan Lenghou Tiong dengan goloknya, katanya,
"Nah, masih mau coba lagi tidak? Pendek kata, setiap kali bergebrak setiap kali pula akan kupersen kau dengan
beberapa luka, biarpun tidak kubunuh juga sekujur badanmu pasti akan babak belur dan mengucurkan darah."
"Sudah tentu akan kulawan terus," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Seumpama aku kalah, apakah
Thaysusiokco juga akan tinggal diam?"
"Beliau adalah tokoh angkatan tua, tidak nanti dia sudi bergebrak dengan aku," ujar Dian Pek-kong sembari
menyimpan kembali goloknya. Hatinya kebat-kebit juga, khawatir kalau-kalau Hong Jing-yang benar-benar
membela Lenghou Tiong yang dilukai itu, asal dirinya digebah pergi saja sudah bisa membikin runyam.
Lenghou Tiong lantas merobek kain baju sendiri untuk membalut kedua tempat lukanya, lalu masuk ke dalam
gua. Katanya dengan muka cemberut kepada Hong Jing-yang, "Wah, dia sudah ganti siasat, Thaysusiokco. Dia
telah main serang sungguh-sungguh, bila lengan kanan kena dilukai dia, tentu aku tak bisa memegang senjata
dan akan kalah."
"Baiknya sekarang sudah malam, kau boleh janji untuk bertanding lagi pada besok pagi," ujar Hong Jing-yang.
"Malam ini kau jangan tidur, semalam suntuk kau harus berlatih segiatnya, aku akan mengajarkan tiga jurus
ilmu pedang padamu."
"Hanya tiga jurus?" Lenghou Tiong menegaskan. Ia heran, hanya tiga jurus saja buat apa perlu makan waktu
semalam suntuk?
"Kulihat kau ini cukup pintar, cuma entah pintar sungguh-sungguh atau pintar pura-pura atau sok pintar saja,"
kata Hong Jing-yang. "Jika kau memang betul-betul pintar, maka tiga jurus ini pasti akan kau kuasai dalam
semalam ini. Tapi bila bakatmu kurang baik, daya tangkapmu kurang cekatan, maka ... maka besok pagi kau
pun tidak perlu berkelahi lagi dengan dia, kau terima mengaku kalah saja dan ikut pergi bersama dia."
Mendengar uraian ini, Lenghou Tiong menduga ketiga jurus ilmu pedang ini pasti luar biasa, tentu sangat sukar
dipelajari. Tapi hal ini malah menimbulkan rasa ingin tahu dan semangat belajarnya. Dengan tegas ia
menjawab, "Thaysusiokco, meski bakat cucu kurang cukup dan mungkin tidak sanggup mempelajari tiga jurus
ilmu pedang itu dalam semalam saja, tapi aku lebih suka dibunuh olehnya daripada menyerah dan ikut pergi
bersama dia."
"Ehm, bagus itu," kata Hong Jing-yang dengan tertawa. Ia menengadah dan memikir sejenak, kemudian
katanya pula, "Semalam mempelajari tiga jurus mungkin terlalu dipaksakan bagimu. Biarlah jurus kedua itu
boleh ditunda saja, kita hanya mempelajari jurus pertama dan ketiga saja. Cuma ... cuma jurus ketiga itu
banyak perubahan-perubahan yang berasal dari jurus kedua. Namun, biarlah kita kesampingkan dulu bagianbagian
tertentu yang ada hubungannya dengan jurus kedua, boleh kita coba nanti."
Ia berbicara sendiri, lalu merenung lagi, akhirnya geleng-geleng pula.
Keruan Lenghou Tiong dibuatnya kelabakan dan semakin ketarik, sebab ia tahu setiap ilmu silat yang semakin
sulit dipelajari tentu mempunyai manfaat yang semakin besar.
Didengarnya Hong Jing-yang sedang menggumam lagi, "Jurus pertama itu mengandung 360 gerak perubahan,
jika lupa satu perubahan saja tentu jurus ketiga akan sukar dimainkan dengan tepat. Wah, ini menjadi agak
sulit."
Kembali Lenghou Tiong terkejut mendengar bahwa jurus pertama saja meliputi 360 gerak perubahan.
Dilihatnya Hong Jing-yang sedang menghitung-hitung dengan jarinya sambil komat-kamit entah menyebut
istilah-istilah apa, yang terang air mukanya makin kelihatan muram.
Bab 34. Tokko-kiu-kiam = Sembilan Jurus Ilmu Pedang Tokko
"Tiong-ji," katanya kemudian, "dahulu waktu aku belajar jurus pertama ini saja memakan waktu tiga bulan.
Sekarang kau disuruh mempelajari dua jurus dalam semalam ini sesungguhnya lebih mirip bergurau."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sejenak kemudian, tiba-tiba ia menyebut istilah-istilah yang diucapkannya tadi dengan cepat, sesudah
beberapa puluh kalimat, ia coba suruh Lenghou Tiong ikut menghafalkan istilah-istilah itu.
Waktu Lenghou Tiong mengulangi istilah-istilah itu, ternyata dengan lancar ia dapat menyebutnya di luar
kepala.
Hong Jing-yang menjadi heran malah, ia tanya, "Apakah rumus umum Tokko-kiu-kiam (sembilan jurus ilmu
pedang Tokko) ini pernah kau pelajari?"
Lenghou Tiong menjawab, "Cucu tidak pernah belajar dan tidak tahu apa yang disebut 'Tokko-kiu-kiam' itu."
"Habis mengapa kau bisa menghafalkannya dengan tepat?" tanya Hong Jing-yang pula.
"Aku hanya menirukan Thaysusiokco saja," sahut Lenghou Tiong.
Hong Jing-yang tampak kegirangan. "Jika demikian jadilah. Meski dalam semalam saja sukar dipelajari secara
lengkap, tapi boleh kau mengingatnya secara paksa. Jurus pertama tidak perlu dipelajari melainkan diingat
saja, jurus ketiga cukup belajar setengahnya saja. Coba dengarkan dengan baik ...." lalu ia menguraikan
beberapa puluh kalimat, kemudian Lenghou Tiong disuruh menghafalkan, bila ada yang salah segera Hong
Jing-yang mengingatkannya kembali dan begitu seterusnya sampai ratusan kalimat rumus umum itu diajarkan
kepada Lenghou Tiong dan dapat diingatnya dengan baik.
Rumus umum dari "Tokko-kiu-kiam" itu seluruhnya ada ribuan kalimat, biarpun daya ingatan Lenghou Tiong
sangat baik juga diperlukan dua-tiga jam baru bisa ingat dengan sempurna.
Sesudah mencobanya dua-tiga kali lagi dan ternyata Lenghou Tiong benar-benar sudah hafal di luar kepala,
lalu Hong Jing-yang berkata, "Jurus pertama yang merupakan rumus dari Tokko-kiu-kiam itu adalah kunci
dasar seluruh pelajaran sembilan jurus ilmu pedangnya, meski sekarang kau sudah hafal, tapi karena
tujuannya asal ingat saja tanpa menyelami artinya, kelak tentu mudah terlupakan. Maka selanjutnya pagi sore
harus kau ulangi menghafalkan."
Setelah Lenghou Tiong mengiakan, lalu Hong Jing-yang berkata pula, "Tentang jurus pertama sudah kau
hafalkan, sekarang tidak perlu menyelaminya dulu. Adapun jurus kedua adalah 'cara memecahkan ilmu
pedang', gunanya untuk mematahkan semua ilmu pedang dari golongan dan aliran mana pun juga di dunia ini,
ini pun sekarang belum perlu dipelajari. Jurus ketiga adalah 'cara memecahkan ilmu golok', gunanya untuk
memecahkan segala macam ilmu golok, baik golok besar, golok tunggal atau golok kembar, dan lain-lain
sebagainya. Yang dimainkan Dian Pek-kong adalah golok kilat dari golok tunggal, maka malam ini kau hanya
belajar cara melawan ilmu goloknya itu saja."
Mendengar di antara kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan orang she Tokko itu ada jurus-jurus yang dapat
memecahkan segala macam ilmu golok dan ilmu pedang, sungguh terkejut dan girang Lenghou Tiong tak
terkatakan. Katanya dengan penuh kekaguman, "Kesembilan jurus ilmu pedang ini sedemikian saktinya, cucu
benar-benar dengar saja belum pernah."
"Gurumu sebenarnya sudah pernah dengar, cuma dia tidak mau bercerita kepada kalian," kata Hong Jing-yang.
Lenghou Tiong menjadi heran. "Apa sih sebabnya?" tanyanya tidak habis mengerti.
Hong Jing-yang tidak menjawab pertanyaannya, tapi berkata pula, "Jurus ketiga 'cara memecahkan ilmu golok'
dari Tokko-kiu-kiam itu mengutamakan kecepatan dan kegesitan. Ilmu golok Dian Pek-kong itu memang sudah
sangat cepat, tapi kau harus lebih cepat daripada dia, untuk ini apa daya? Sebenarnya dengan usiamu yang
masih muda ini juga tidak sulit untuk main lebih cepat daripada dia, cuma kalah atau menang sukarlah
diramalkan. Jika orang tua bangka seperti aku tentu sukar untuk main lebih cepat daripadanya. Jalan satusatunya
adalah menyerang lebih dulu dari dia. Asal kau sudah tahu dia akan melancarkan jurus serangan apa,
lalu mendahului. Sebelum tangan musuh terangkat dan ujung pedangmu sudah mengancam tempatnya yang
berbahaya, dengan demikian kecepatannya menjadi kalah cepat daripadamu."
Berulang-ulang Lenghou Tiong mengangguk, katanya, "Ya, benar. Agaknya Tokko-kiu-kiam ini mengajarkan
orang cara bagaimana menaksir dan mendahului serangan musuh."
"Tepat, tepat! Memang bocah yang boleh diajar!" seru Hong Jing-yang sambil tepuk tangan memuji.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Menaksirkan dan mendahului serangan musuh, memang inilah merupakan inti dari keistimewaan Tokko-kiukiam.
Sebab setiap orang di kala akan menyerang tentu sudah kelihatan tanda-tandanya. Misalnya dia akan
membacok bahu kirimu, maka dengan sendirinya dia akan melirik bahumu itu. Bila waktu itu goloknya
terpegang di tangan kanan, tentu dia akan mengangkat goloknya dengan memutar setengah lingkaran ke atas
untuk kemudian barulah membacok miring ke sebelah kiri ...." begitulah ia lantas membahas dan mengupas
jurus ketiga dari bagian yang khusus digunakan untuk mengalahkan serangan golok kilat dengan macammacam
perubahannya.
Lenghou Tiong sampai terkesima dan senang tak terkatakan mendengar uraian orang tua itu. Sesaat ia seperti
telah mencapai suatu dunia persilatan yang sebelumnya tak pernah didengar atau dilihatnya, tiada ubahnya
seperti seorang pemuda yang mendadak berada di dalam sebuah istana yang mewah, apa yang dilihat dan
didengarnya boleh dikata serbaaneh dan serbabaru baginya.
Karena luasnya variasi dari jurus ketiga itu, seketika itu juga cuma sebagian kecil saja yang dapat ditangkap
oleh Lenghou Tiong, selebihnya ia hanya ingat-ingat betul di dalam hati saja.
Begitulah yang satu mengajar dengan tekun dan yang lain belajar dengan giat, tanpa merasa sang tempo telah
lalu dengan cepat, tiba-tiba terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak di luar gua. "Lenghou-heng, hari sudah
terang, kau sudah mendusin belum?"
Lenghou Tiong tertegun dan berseru tertahan, "Wah, hari sudah pagi lagi."
"Ya, sayang temponya terlalu singkat, pelajaranmu cukup cepat dan sudah melampaui harapanku. Sekarang
boleh keluar untuk berkelahi lagi dengan dia!" ujar Hong Jing-yang.
Sambil mengiakan, Lenghou Tiong coba merenungkan kembali apa-apa yang telah dipelajarinya semalam.
Mendadak ia bertanya, "Thaysusiokco, ada suatu hal yang aku merasa tidak mengerti, yakni mengapa
perubahan-perubahan jurus ini semuanya adalah serangan belaka tanpa suatu gerakan bertahan?"
"Kesembilan jurus ilmu pedang ciptaan Tokko ini memang cuma mengenal maju dan tidak tahu apa artinya
mundur," tutur Hong Jing-yang. "Maka dari itu setiap gerakan adalah serangan belaka yang membikin musuh
terpaksa harus bertahan dan tentu saja dirinya sendiri tidak perlu pikirkan bertahan segala. Pencipta dari ilmu
pedang ini adalah Tokko Kiu-pay Locianpwe. Nama beliau 'Put-pay' (tak terkalahkan), selama hidupnya selalu
ingin mengalami kekalahan, tapi belum pernah terkabul keinginannya itu. Karena ilmu pedangnya tiada
tandingannya di dunia ini, lalu buat apa mesti pikirkan bertahan atau menjaga diri segala? Padahal kalau ada
orang yang memaksa beliau harus tarik pedang untuk bertahan, maka beliau benar-benar akan kegirangan
sekali."
"Tokko Kiu-pay, namanya Tokko Kiu-pay?" Lenghou Tiong menggumam sendiri, ia membayangkan tokoh
angkatan tua yang mahasakti itu, selama hidupnya tiada tandingan, mencari seorang lawan yang mampu
memaksa dia bertahan saja sukar, maka betapa lihai kepandaiannya benar-benar sudah sukar diukur.
Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong sedang berteriak-teriak pula, "Hayo, lekas keluar kau, biar kubacok
kau beberapa kali lagi!"
"Inilah aku!" sahut Lenghou Tiong sembari jinjing pedangnya.
"Anak Tiong," kata Hong Jing-yang, "karena tidak cukup waktu, maka di mana letak intisari dari jurus ketiga ini
belum dapat dibahas secara mendalam. Bila kau bertanding lagi dengan dia akan menghadapi suatu bahaya,
yaitu bila dia melukai atau mengutungi lengan kananmu, maka tiada jalan lain bagimu kecuali menyerah dan
terima nasib. Hal inilah yang membikin aku khawatir."
"Cucu nanti akan berbuat sekuat tenaga," seru Lenghou Tiong dengan penuh semangat. Segera ia berlari
keluar gua. Ia pura-pura bersikap lesu sambil menguap dan mengurut pinggang, lalu kucek-kucek matanya.
Habis itu barulah ia menegur, "Dian-heng, apakah semalam kau tidak bisa tidur nyenyak?"
Dian Pek-kong mengangkat goloknya ke depan dan berseru, "Lenghou-heng, sesungguhnya aku tidak ingin
melukai kau, tapi kau sendiri yang terlalu kepala batu, betapa pun kau tidak mau ikut pergi bersamaku. Jika
pertarungan ini dilangsungkan terus sehingga aku terpaksa membacok sepuluh kali atau dua puluh kali di
tubuhmu, hal ini benar-benar sangat menyesalkan bagiku."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Buat apa kau membacok sepuluh kali atau dua puluh kali," ujar Lenghou Tiong. "Cukup asal kau sekali bacok
mengutungi tangan kananku supaya aku tidak dapat memegang senjata, dengan demikian kan sudah beres
dan kau dapat berbuat sesukanya atas diriku."
"Tidak, aku hanya ingin kau mengaku kalah saja, buat apa aku membuat cacat lengan kananmu?" sahut Dian
Pek-kong sambil menggeleng.
Dalam hati Lenghou Tiong sangat girang, tapi lahirnya dia tetap perlihatkan sikap yang kurang percaya,
katanya, "Ah, jangan-jangan cuma mulutmu saja bicara demikian, bila sudah kalah nanti akhirnya kau menjadi
kalap dan menggunakan cara keji."
"Kau tidak perlu memancing," sahut Dian Pek-kong. "Pertama aku toh tiada permusuhan apa-apa dengan kau.
Kedua, aku menghormati kau sebagai seorang laki-laki yang berjiwa kesatria sejati. Ketiga, bila aku benarbenar
melukai kau hingga parah, mungkin aku akan dipersulit oleh orang lain. Nah, boleh silakan mulai lagi!"
"Baik, silakan dulu!" kata Lenghou Tiong.
Lebih dulu Dian Pek-kong membuat suatu gerakan pura-pura, serangan kedua menyusul lantas membabat dari
samping dengan amat dahsyat.
Baru saja Lenghou Tiong hendak menandingi dengan gerak perubahan jurus ketiga dari Tokko-kiu-kiam, tak
terduga ilmu golok Dian Pek-kong itu benar-benar cepat luar biasa, belum lagi pedang Lenghou Tiong
terangkat, tahu-tahu serangan Dian Pek-kong sudah berganti lagi sehingga Lenghou Tiong ketinggalan satu
langkah.
Sesudah dua-tiga kali serang, diam-diam Lenghou Tiong menjadi gelisah, "Wah, celaka! Ilmu pedang yang baru
kupelajari ternyata tak bisa digunakan, tentu Thaysusiokco sedang memaki ketololanku."
Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, butir-butir keringat sudah memenuhi dahi Lenghou Tiong.
Tak disangkanya jika dia mengeluh, adalah bagi pandangan Dian Pek-kong ilmu pedang yang dimainkannya
tampak lihai luar biasa, setiap gerakannya selalu menjadi halangan bagi ilmu goloknya. Maka Dian Pek-kong
juga kejut tak terkatakan. Pikirnya, "Beberapa gerakan pedangnya jelas dapat membinasakan aku, mengapa
dia sengaja bikin lambat? Ah, tentu dia sengaja bermurah hati agar aku tahu sendiri dan mundur teratur. Ya,
aku memang sudah 'tahu sendiri', tapi untuk 'mundur teratur' inilah yang sulit, terpaksa aku harus bertahan
sampai saat terakhir."
Begitulah, jadi kedua orang sama-sama mengeluh, maka serang-menyerang mereka menjadi sangat hati-hati.
Tidak lama kemudian permainan golok Dian Pek-kong bertambah cepat lagi, sebaliknya gerak perubahan jurus
ketiga ilmu pedang Lenghou Tiong juga mulai lancar, tertampaklah cahaya pedang dan sinar golok gemerlapan,
pertarungan mereka semakin seru.
Mendadak Dian Pek-kong membentak sambil menendang sehingga perut Lenghou Tiong terdepak. Kontan
tubuh Lenghou Tiong mencelat ke belakang. Tiba-tiba terkilas suatu pikiran, asal mempunyai waktu satu hari
satu malam lagi tentu besok akan dapat mengalahkan dia. Maka cepat Lenghou Tiong pura-pura melepaskan
pedangnya dan jatuh terguling dengan mata terpejam, dengan menahan napas ia pura-pura jatuh kelengar.
Melihat Lenghou Tiong pingsan, Dian Pek-kong menjadi khawatir malah. Tapi dia cukup mengenal watak
Lenghou Tiong yang licin dan banyak tipu akalnya, ia tidak berani mendekat untuk memeriksanya agar tidak
disergap secara mendadak. Dia hanya melangkah maju beberapa tindak dengan golok melintang di depan,
serunya, "Lenghou-heng, bagaimana kau?"
Sesudah diulangi beberapa kali seruannya, perlahan-lahan Lenghou Tiong baru siuman, dengan suara lemah ia
menjawab, "Mari ... mari kita mulai lagi!"
Lalu ia hendak merangkak bangun, tapi tangannya terasa lemas, kembali ia terbanting jatuh.
"Tampaknya kau tidak kuat lagi, boleh kau mengaso sehari lagi, besok ikut aku turun gunung saja," kata Dian
Pek-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tentu saja Lenghou Tiong sangat girang, tapi ia tidak menanggapi dan berusaha merangkak bangun dengan
napas terengah-engah.
Rupanya Dian Pek-kong tidak curiga lagi, segera ia mendekati untuk memayangnya bangun. Tapi untuk
menjaga segala kemungkinan, pada waktu melangkah maju seperti tanpa sengaja sebelah kakinya telah
menginjak pedang Lenghou Tiong yang terjatuh di atas tanah itu, berbareng tangan kanan siap menjaga diri
dan tangan kiri digunakan memegang Hiat-to di lengan kanan Lenghou Tiong, lalu diangkat ke atas.
Lenghou Tiong sengaja menggelendot sekalian pada tangan kiri Dian Pek-kong untuk memperlihatkan
kelemahannya, lalu mulutnya pura-pura mencaci maki, "Keparat! Siapa yang minta bantuanmu?"
Sambil mengomel dengan berincang-incut ia terus masuk ke dalam gua.
Hong Jing-yang tersenyum dan berkata, "Dengan cara demikian kau telah mendapat kesempatan sehari
semalam lagi tanpa susah payah. Cuma caramu tadi agak rendah dan tidak tahu malu."
"Terhadap manusia rendah dan kotor seperti dia, apa boleh buat, terpaksa juga menggunakan cara rendah,"
sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.
"Tapi bagaimana kalau terhadap orang baik?" tanya Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh.
Lenghou Tiong tertegun dan ragu-ragu, tapi akhirnya menjawab, "Biarpun orang baik-baik, kalau dia hendak
membunuh aku masakah terima dibunuh olehnya? Di kala kepepet biarpun cara rendah dan kotor juga
terpaksa digunakan."
"Bagus, bagus!" puji Hong Jing-yang dengan girang. "Dengan ucapanmu ini, kau telah menyatakan dirimu
bukanlah seorang kesatria palsu, bukan orang yang cuma pura-pura alim. Seorang laki-laki sejati harus berani
bertindak secara bebas, peduli apa dengan peraturan Bu-lim dan tertib perguruan segala, persetan semuanya!"
Lenghou Tiong hanya tersenyum saja dan tak berani menanggapi. Apa yang dikatakan Hong Jing-yang itu
sebenarnya kena betul di dalam lubuk hatinya. Cuma peraturan Hoa-san-pay sangat keras, maka dia tidak
berani memberi suara terhadap ucapan Hong Jing-yang tadi. Bila kata-kata itu terucapkan dari mulutnya dan
dapat didengar gurunya, maka 40 kali rangketan mungkin adalah hukuman yang paling ringan.
Begitulah, dengan jari tangannya yang kurus kering, Hong Jing-yang telah mengelus-elus kepala Lenghou
Tiong. Katanya dengan tersenyum, "Di antara murid Gak Put-kun ternyata ada orang semacam kau, nyata
pandangannya masih boleh juga."
Ia tepuk-tepuk bahu Lenghou Tiong, lalu menyambung, "Kau bocah yang sangat mencocoki seleraku. Baiklah,
mari kita coba berlatih lagi jurus-jurus ilmu pedang Tokko-tayhiap itu."
Segera ia menguraikan lebih mendalam jurus pertama dari Tokko-kiu-kiam, sesudah bisa dipahami oleh
Lenghou Tiong, lalu diberi petunjuk-petunjuk pula tentang hubungan-hubungan perubahan dengan jurus
ketiga. Lenghou Tiong telah mengingat semuanya dengan baik-baik, bila ada yang kurang paham ia lantas
tanya lebih jelas.
Karena kali ini temponya cukup banyak, maka cara belajarnya tidak tergesa-gesa seperti kemarinnya, setiap
gerakan dan setiap perubahannya telah dapat dimainkan dengan agak lengkap. Setelah bersantap malam dan
mengaso satu-dua jam, kemudian Lenghou Tiong mulai belajar lagi dengan giat.
Esok paginya Dian Pek-kong mengira luka Lenghou Tiong agak parah, maka dia tidak berkaok-kaok menantang
lagi. Keruan kebetulan bagi Lenghou Tiong, ia dapat berlatih lebih lama di dalam gua.
Menjelang tengah hari Lenghou Tiong telah lengkap mempelajari macam-macam perubahan jurus ketiga itu.
Maka berkatalah Hong Jing-yang, "Jika hari ini masih tak bisa mengalahkan dia juga tidak menjadi soal, boleh
belajar lagi sehari semalam, betapa pun besok pasti akan menang."
Dengan perlahan Lenghou Tiong lantas melangkah keluar, dilihatnya Dian Pek-kong sedang memandang jauh
ke depan di tepi jurang. Segera ia pura-pura heran dan menegur, "He, mengapa Dian-heng belum pergi, kukira
sudah berangkat kemarin!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aku sedang menantikan engkau," sahut Dian Pek-kong sambil berpaling. "Kemarin aku telah membikin susah
padamu, tentu hari ini sudah sembuh, bukan?"
"Sembuh sih belum," sahut Lenghou Tiong. "Cuma luka di bagian paha ini masih kesakitan."
"Haha, dalam pertarungan tempo hari di kota Heng-yang agaknya luka Lenghou-heng jauh lebih parah
daripada sekarang, tapi kau toh tidak pernah mengeluh dan merintih. Aku tahu kau banyak tipu akal, hari ini
sengaja pura-pura saja, tidak nanti aku dapat ditipu."
"Kau tidak mau tertipu, tapi sekarang kau sudah tertipu, seumpama keburu sadar juga sudah terlambat. Nah,
Dian-heng, lihat seranganku!" berbareng Lenghou Tiong terus ayun pedangnya menusuk dada lawan.
Cepat Dian Pek-kong menangkis, tapi menangkis tempat kosong. Sedangkan serangan Lenghou Tiong yang
kedua sudah tiba pula. "Cepat amat!" puji Dian Pek-kong sambil melintangkan goloknya untuk menjaga diri.
Namun serangan ketiga, keempat, kelima dan keenam berturut-turut sudah lantas dilancarkan pula oleh
Lenghou Tiong. "Itu saja belum, ini, masih ada yang lebih cepat!" serunya dengan tertawa. Berbareng
serangannya yang lain menyusul lagi secara bertubi-tubi dan tak habis-habis. Yang digunakan benar-benar
adalah intisari dari Tokko-kiu-kiam yang hanya mengenal maju terus pantang mundur, hanya menyerang
melulu tanpa kenal bertahan.
Setelah belasan gebrakan, baru sekarang Dian Pek-kong tahu rasa dan kaget. Ia merasa bingung entah cara
bagaimana menangkis serangan Lenghou Tiong. Setiap kali diserang, setiap kali ia mundur satu tindak, sudah
belasan serangan, sementara itu ia sudah mundur sampai di tepi jurang. Sebaliknya serangan-serangan
Lenghou Tiong tidak menjadi kendur. "Sret-sret ..." kembali ia melancarkan empat kali tusukan pula, semuanya
menuju tempat mematikan di tubuh Dian Pek-kong.
Sekuatnya Dian Pek-kong menangkis dua kali, tapi serangan ketiga betapa pun tak bisa ditahan lagi, terpaksa
ia melangkah mundur lagi. Tapi ia menjadi kaget karena kakinya telah menginjak tempat kosong. Ia tahu di
belakangnya adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, jika sampai terjeblos tentu tamatlah riwayatnya.
Pada detik yang berbahaya itu sekuatnya ia membacokkan goloknya ke tanah sekadar untuk menahan
tubuhnya. Namun saat itu juga ujung pedang Lenghou Tiong juga sudah mengancam di depan tenggorokannya.
Seketika wajah Dian Pek-kong pucat pias.
Sama sekali Lenghou Tiong tidak bersuara, ujung pedangnya tetap mengancam di depan tenggorokan lawan.
Sampai sekian lamanya dengan gusar Dian Pek-kong berteriak, "Mau bunuh boleh bunuh, kenapa mesti raguragu
segala!"
Tapi Lenghou Tiong lantas menarik kembali senjatanya sambil melompat mundur. Katanya, "Kekalahan Dianheng
ini hanya karena kelengahan seketika sehingga kena didahului olehku, biarlah jangan dianggap, marilah
kita mulai lagi."
Dian Pek-kong mendengus karena merasa terhina. Tanpa bicara lagi ia terus putar goloknya dan menerjang
maju, ia menyerang secara membadai. Pikirnya, "Sekali ini aku menyerang lebih dulu, tentu kau tak bisa
mengambil keuntungan lagi."
Ketika tampak golok lawan membacok tiba, cepat Lenghou Tiong juga mengangkat pedang dan menusuk
miring dari samping ke perut lawan, berbareng mengegos untuk menghindarkan serangan goloknya.
Melihat serangan balasan itu datangnya terlalu cepat, lekas-lekas ia putar goloknya kembali untuk mengetok
batang pedang. Ia menduga tenaganya sendiri lebih kuat, sekali kebentur tentu pedang Lenghou Tiong akan
tergetar mencelat.
Namun sekali serangannya sudah berbalik menguasai lawan, maka serangan kedua, ketiga dan seterusnya
lantas dilancarkan pula oleh Lenghou Tiong secara bertubi-tubi, setiap serangannya selalu ganas lagi jitu, yang
diarah selalu tempat-tempat yang berbahaya.
Karena tidak sanggup menangkis dengan sama cepat, terpaksa Dian Pek-kong main mundur lagi. Belasan
gebrakan kemudian kembali ia berada pada posisi tadi. Dia sudah berada di tepi jurang pula.
Ketika pedangnya Lenghou Tiong menebas ke bawah sehingga Dian Pek-kong terpaksa mengayun goloknya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
untuk melindungi tubuhnya bagian bawah, saat itu jari tangan kiri Lenghou Tiong juga sudah lantas
mengancam di depan dadanya, tepat Tan-tiong-hiat yang akan ditutuk. Tapi kira-kira dua-tiga senti di depan
dada lawan, jari Lenghou Tiong itu lantas berhenti.
Dian Pek-kong sudah pernah dua kali ditutuk di tempat yang sama, kalau kali ini tertutuk pula, maka robohnya
bukan jatuh pingsan di atas tanah, tapi akan tergelincir ke dalam jurang. Tapi Lenghou Tiong kelihatan diam
saja, jelas sengaja memberi kelonggaran. Benar juga, sesudah kedua orang termangu sejenak, lalu Lenghou
Tiong melompat mundur pula.
Untuk sebentar saja Dian Pek-kong berduduk di atas batu sambil merenungkan apa yang dialami. Mendadak ia
mengerang keras, golok berputar dan menerjang maju lagi, serangan-serangannya sekarang tambah lihai.
Kali ini dia sudah memilih tempat, dia berdiri membelakangi gunung. Ia berpikir andaikan terdesak mundur lagi
juga akan mundur masuk ke dalam gua, betapa pun kali ini harus bertempur mati-matian.
Namun kini Lenghou Tiong sudah lengkap mempelajari jurus "cara memecahkan ilmu golok" dari Tokko-kiukiam,
mengenai segala macam gerak perubahan serangan golok baginya sudah bukan soal lagi. Maka ia tunggu
ketika bacokan golok Dian Pek-kong sudah tiba barulah dia mengegos ke kanan, berbareng pedangnya terus
menebas lengan kiri lawan.
Waktu Dian Pek-kong tarik kembali goloknya untuk menangkis, mendadak pedang Lenghou Tiong sudah
berubah menjadi tusukan ke pinggangnya. Karena tidak keburu menangkis lagi, terpaksa Dian Pek-kong
mundur sedikit ke sisi kanan. Dalam pada itu, tusukan Lenghou Tiong sudah tiba pula, sekali ini mengarah
pelipis kiri, ketika Dian Pek-kong menangkis, tahu-tahu ujung pedang hendak menusuk paha kiri. Tiada jalan
lain, terpaksa Dian Pek-kong menggeser lagi ke kanan.
Begitulah serangan-serangan Lenghou Tiong susul-menyusul selalu mengarah sebelah kirinya sehingga Dian
Pek-kong terpaksa melangkah mundur ke sebelah kanan. Belasan langkah kemudian, bukannya dia mundur ke
dalam gua, tapi sudah terdesak ke tepi dinding tebing di sebelah kanan gua. Karena terhalang oleh dinding
batu dan tidak dapat mundur lagi, Dian Pek-kong terpaksa memutar goloknya dengan kencang, ia tidak peduli
cara bagaimana Lenghou Tiong akan menyerang lagi.
"Bret-bret ...." berulang-ulang terdengar suara robeknya kain, ternyata lengan baju dan lengan celana Dian
Pek-kong bagian kiri telah tertusuk robek sampai enam kali. Tusukan-tusukan pedang itu hanya merobek kain
baju dan celana saja, sedikit pun tidak melukai kulit dagingnya. Namun Dian Pek-kong cukup terang bahwa
setiap tusukan Lenghou Tiong itu tentu bisa mengutungi lengan atau kakinya, bahkan untuk menembus
perutnya juga tidak sukar.
Dalam keadaan demikian Dian Pek-kong menjadi putus asa. Mendadak ia muntah darah dan badan
sempoyongan.
Berturut-turut tiga kali Lenghou Tiong telah dapat mendesak Dian Pek-kong sampai di tepi garis kematiannya.
Padahal beberapa hari sebelumnya ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi daripadanya. Sekarang mati-hidup
lawannya tergantung kepada dirinya, malahan kemenangannya itu diperoleh dengan sangat mudah, keruan
girangnya tak terhingga walaupun lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa. Kini melihat Dian
Pek-kong sudah kalah habis-habisan sampai muntah darah mau tak mau ia merasa menyesal juga. Segera ia
berkata, "Dian-heng, kalah atau menang adalah soal jamak di medan perang, kenapa engkau mesti begini?
Bukankah aku pun berulang-ulang terjungkal di tanganmu?"
Dian Pek-kong lantas membuang goloknya, katanya sambil menggeleng kepala, "Ilmu pedang Hong-locianpwe
benar-benar mahasakti dan tiada tandingannya di zaman ini. Cayhe selamanya bukan tandinganmu lagi."
Lenghou Tiong menjemputkan golok orang dan diangsurkan kepadanya dengan hormat. Katanya, "Ucapan
Dian-heng memang betul. Kemenanganku secara kebetulan ini hanyalah berkat petunjuk-petunjuk dari Hongthaysusiokco.
Sekarang beliau ingin minta Dian-heng berjanji sesuatu."
Dian Pek-kong tidak menerima goloknya, tapi menjawab dengan pedih, "Jiwaku saja tergantung di tanganmu,
apa yang dapat kukatakan pula?"
"Soalnya begini," kata Lenghou Tiong. "Hong-thaysusiokco sudah terlalu lama mengasingkan diri dan tidak ikut
campur segala urusan khalayak ramai atau diganggu orang lain. Maka bila Dian-heng sudah pergi dari sini
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
hendaklah jangan bicara tentang diri beliau kepada orang lain. Untuk ini aku akan merasa sangat berterima
kasih."
"Asal pedangmu sekali tusuk saja, orangnya mati dan mulutnya tertutup, bukankah sudah beres?" ujar Dian
Pek-kong dengan dingin.
Namun Lenghou Tiong lantas melangkah mundur dan memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Jawabnya,
"Dahulu waktu kepandaian Dian-heng masih jauh di atasku, bila engkau sekali bacok membinasakan diriku
tentu juga takkan seperti peristiwa hari ini. Soal jangan disiarkan kepada orang luar tentang diri Hongthaysusiokco
adalah permohonanku yang sangat, sedikit pun tiada bermaksud memaksa dan mengancam."
"Baiklah, aku berjanji." jawab Dian Pek-kong.
"Terima kasih," kata Lenghou Tiong sambil memberi hormat.
"Aku diperintahkan ke sini untuk mengundang kau turun gunung, tapi aku tak bisa memenuhi tugasku, urusan
ini sekali-kali belum selesai sampai di sini saja," kata Dian Pek-kong. "Untuk bertempur lagi aku bukan
tandinganmu, tapi soal ini pun tidak berarti beres. Baiklah Lenghou-heng, sampai jumpa pula."
Habis berkata, ia memberi salam lalu melangkah pergi.
Teringat bahwa Dian Pek-kong keracunan dan tak lama lagi akan mati dengan badan membusuk, sesudah
bertempur selama beberapa hari dengan dia, tanpa terasa timbul juga rasa berat dalam hati Lenghou Tiong,
hampir-hampir saja ia berseru akan ikut pergi. Tapi segera teringat pula bahwa dirinya sedang dihukum
kurungan di atas puncak situ, tanpa izin gurunya sekali-kali tidak boleh turun dari puncak itu. Apalagi Dian Pekkong
adalah maling cabul yang kejahatannya sudah kelewat takaran, jika dirinya ikut pergi bersama dia,
bukankah akan dianggap sebagai manusia kotor dan rendah.
Karena itu ia hanya menyaksikan kepergian Dian Pek-kong saja, lalu ia masuk kembali ke dalam gua dan
menyembah di hadapan Hong Jing-yang, katanya, "Thaysusiokco bukan saja sudah menyelamatkan jiwaku,
bahkan telah mengajarkan ilmu pedang mahatinggi kepadaku, budi kebaikan ini betapa pun sukar dibalas."
"Ilmu pedang mahatinggi? Hehe, masih selisih terlalu jauh," demikian sahut Hong Jing-yang sambil tersenyum.
Senyumannya itu terasa penuh rasa kehampaan.
Segera Lenghou Tiong memohon, "Cucu minta Thaysusiokco sudi mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam itu."
"Kau ingin belajar? Apakah kelak kau takkan menyesal?" tanya Hong Jing-yang.
Lenghou Tiong melengak, ia heran mengapa ditanya akan menyesal atau tidak? Tapi segera ia paham. "Ya,
Tokko-kiu-kiam itu bukanlah ilmu pedang perguruannya sendiri. Maksud Thaysusiokco adalah
mengkhawatirkan kelak aku akan didamprat oleh Suhu. Tapi biasanya Suhu toh tidak melarang aku memburu
ilmu silat dari golongan lain. Apalagi dari gambar-gambar ukiran di dinding gua ini aku sudah banyak
mempelajari ilmu pedang dari Ko-san-pay, Heng-san-pay dan lain-lain, bahkan ilmu silat dari Tianglo-tianglo
Mo-kau itu pun sudah kupelajari, hendak melupakannya juga tidak bisa lagi. Kini Tokko-kiu-kiam terang jauh
lebih sakti, benar-benar kepandaian mukjizat yang diimpi-impikan oleh setiap orang persilatan, secara
kebetulan aku mendapat kesempatan untuk belajar dengan petunjuk-petunjuk dari tokoh angkatan tua
perguruannya sendiri, mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan bagus ini?"
Karena itu tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menyembah, "Jika cucu dapat belajar, ini adalah rezeki yang suka
dicari, kelak tentu akan merasa terima kasih, sekali-kali takkan menyesal."
"Baik, jika demikian aku akan mengajarkan padamu," kata Hong Jing-yang. "Dian Pek-kong telah pergi dengan
penasaran, tentu dia belum menyerah begini saja. Tapi biarpun ia datang lagi, sedikitnya juga selang sepuluh
hari atau setengah bulan pula. Waktu kita cukup banyak, kau harus belajar mulai dari depan agar dasarnya
dapat terpupuk dengan kuat."
Begitulah ia lantas menguraikan kembali dari jurus pertama Tokko-kiu-kiam itu dan memberi penjelasan lebih
lengkap. Kemudian diberi petunjuk-petunjuk pula tentang rumitnya perubahan-perubahan setiap jurus
serangan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dari awal Lenghou Tiong hanya mengingat istilah-istilahnya saja sudah dapat memahami artinya yang
terkandung, apalagi sekarang Hong Jing-yang memberi petunjuk-petunjuk secara jelas, keruan Lenghou Tiong
memperoleh manfaat sebesar-besarnya, girangnya tak terkatakan, takjubnya tak terhingga.
Di atas puncak gunung itulah Hong Jing-yang mengajarkan seluruh Tokko-kiu-kiam yang meliputi sembilan
jurus itu. Dimulai dari jurus pertama "Cong-koat-sik" (rumus atau ikhtisar umum), lalu "Boh-kiam-sik" (cara
mengalahkan ilmu pedang), kemudian "Boh-to-sik" (cara mengalahkan ilmu golok), terus "Boh-jiang-sik" (cara
mengalahkan permainan tombak), "Boh-pian-sik" (cara mengalahkan permainan ruyung), "Boh-so-sik" (cara
mengalahkan permainan tali), "Boh-ciang-sik" (cara mengalahkan ilmu pukulan), "Boh-ci-sik" (cara
mengalahkan bidikan panah) dan jurus kesembilan "Boh-gi-sik" (cara mengalahkan ilmu hawa atau Lwekang).
"Cara mengalahkan permainan tombak" itu meliputi cara mengalahkan permainan senjata-senjata panjang lain
seperti toya, trisula, tongkat panjang dan sebagainya.
"Cara mengalahkan permainan ruyung" itu meliputi cara mengalahkan senjata keras dan pendek seperti gada,
cundrik, belati, tongkat pendek, perisai, ruyung baja dan sebagainya.
"Cara mengalahkan permainan tali" itu meliputi kepandaian mengalahkan senjata-senjata yang lemas seperti
tali panjang, cambuk, toya bertekukan tiga atau sembilan, tombak berantai, jaringan, bandul bertali dan lain
sebagainya.
Tiga jurus yang terakhir ternyata jauh lebih sulit dipelajari daripada enam jurus yang pertama. "Boh-ciang-sik"
adalah kepandaian yang khusus ditujukan untuk mengalahkan segala macam ilmu pukulan dan tendangan
lawan. Sebab kalau musuh sudah berani bertanding dengan bertangan kosong untuk melawan senjatanya,
maka kepandaiannya tentu sudah mencapai tingkatan yang tertinggi, pakai atau tanpa senjata boleh dikata
tiada bedanya lagi.
"Boh-ci-sik" harus diartikan secara luas dan tidak terbatas pada mengalahkan "Ci" (panah) saja, tapi meliputi
segala macam senjata rahasia. Di waktu berlatih jurus ini harus mahir dulu kepandaian "mendengarkan suara
membedakan senjata". Harus dapat menggunakan senjata sendiri untuk menyampuk senjata rahasia musuh
dan balas menyerang musuh pula.
Sedangkan jurus kesembilan yang disebut "Boh-gi-sik" hanya diajarkan oleh Hong Jing-yang cara berlatihnya
saja. Katanya, "Jurus ini ditujukan untuk lawan yang memiliki Lwekang yang tinggi. Dengan ilmu pedangnya ini
dahulu Tokko-locianpwe telah malang melintang di dunia persilatan tak pernah ketemu tandingan, dia ingin
dikalahkan orang, tapi belum pernah dialami. Ini disebabkan beliau sudah menguasai ilmu pedangnya
sedemikian sempurna dan saktinya. Begitu pula kau, sekarang kau sudah tahu jalannya, agar bisa lebih banyak
menang daripada kalahnya kau harus berlatih dengan giat, lewat 20 tahun lagi paling tidak kau sudah dapat
menjagoi dunia persilatan di samping tokoh-tokoh yang lain."
Lenghou Tiong tahu perubahan ilmu pedang Tokko-kiu-kiam itu tak terbatas, untuk dapat menguasainya boleh
dikata sukar dipastikan waktunya, kalau Hong Jing-yang menyuruhnya untuk berlatih lagi 20 tahun juga bukan
sesuatu yang luar biasa. Maka jawabnya, "Jika dalam 20 tahun cucu dapat menguasai dan meneruskan cita-cita
Tokko-locianpwe yang menciptakan kesembilan jurus ilmu pedang ini, maka cucu benar-benar merasa syukur
tak terhingga."
"Hendaklah kau mengetahui bahwa ilmu pedang ciptaan Tokko-locianpwe ini tidak cukup dihafalkan di luar
kepala saja, yang lebih penting adalah memahami daya gunanya, kalau sudah dapat menguasai cara
penggunaannya, di kala berhadapan dengan musuh, semakin tak terikat oleh susunan ilmu pedang yang kau
hafalkan itu semakin baik. Bakatmu sangat baik, adalah sangat tepat untuk belajar ilmu pedang ini. Untuk
selanjutnya kau boleh berlatih sendiri dengan giat. Sekarang aku akan pergi saja."
"Thaysusiokco, engkau hen ... hendak ke mana?" tanya Lenghou Tiong terkejut.
"Aku memang tinggal di gua belakang sana selama berpuluh tahun," sahut Hong Jing-yang. "Kemarin dulu
karena rasa iseng aku telah keluar gua dan mengajarkan ilmu pedang ini padamu dengan harapan ilmu sakti
ciptaan Tokko-locianpwe tidak sampai musnah. Sekarang kau sudah mempelajarinya dengan lengkap, citacitaku
sudah terkabul, mengapa aku tidak lekas pulang saja?
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Bab 35. Ada Orang Hendak Rebut Jabatan Ketua Hoa-san-pay
"Kiranya Thaysusiokco tinggal di belakang situ, sungguh sangat kebetulan jika demikian. Siang malam cucu
akan dapat meladeni dan menemani Thaysusiokco."
"Coba kau ikut kemari," kata Hong Jing-yang.
Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam gua. Dilihatnya orang tua itu mendorong beberapa kali
pada dinding gua, sepotong batu lantas menggeser perlahan dan akhirnya terlihatlah sebuah lubang gua.
Sudah berpuluh kali Lenghou Tiong masuk-keluar gua belakang itu, tapi tak tersangka bahwa di gua belakang
itu masih ada sebuah gua lagi.
Hong Jing-yang lantas melangkah masuk ke dalam gua itu, baru saja Lenghou Tiong hendak ikut masuk ke
sana, mendadak orang tua itu membentak dengan suara bengis, "Coba lihat ke atas!"
Waktu Lenghou Tiong mengangkat kepalanya, tertampaklah di atas pintu gua itu tertulis: "Yang masuk gua ini
bunuh tanpa ampun." Keruan ia terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Ketujuh huruf itu adalah tulisanku," kata Hong Jing-yang dengan sungguh-sungguh, "maka siapa pun tidak
kecuali, bila kau melangkah masuk ke dalam gua ini tentu akan kubunuh."
"Thaysusiokco ...." baru Lenghou Tiong hendak bicara, tiba-tiba Hong Jing-yang sudah merapatkan pintu batu
itu dari dalam.
Untuk agak lama Lenghou Tiong berdiri terkesima di situ. Ia coba mendorong pintu batu itu perlahan, batu itu
kelihatan bergerak-gerak, nyata sekali dengan gampang saja batu itu dapat dibuka, tapi lantas terkilas olehnya
tulisan "yang masuk gua ini bunuh tanpa ampun" tadi, segera ia lepaskan tangannya dari batu itu, ia pikir bila
orang tua itu sudah mengadakan larangan keras itu sebaiknya jangan dilanggarnya.
Telah belasan hari Lenghou Tiong berkumpul dengan Hong Jing-yang, ia merasa sangat kagum dan cocok
sekali dengan jiwa orang tua itu seakan-akan sahabat sebaya, meskipun sebenarnya Hong Jing-yang adalah
angkatan tua yang lebih tinggi tiga tingkat daripadanya. Karena itu ia merasa berat dan masygul bila sekarang
mendadak harus berpisah. Pikirnya pula, "Di waktu mudanya watak Thaysusiokco ini mungkin sangat bandel
seperti aku. Di waktu dia mengajarkan ilmu pedang padaku selalu mengatakan 'manusianya yang menguasai
ilmu pedang dan bukan ilmu pedang yang menguasai manusia'. Dikatakan pula bahwa 'manusia adalah hidup,
ilmu pedang adalah mati, manusia hidup tidak boleh terikat oleh ilmu pedang yang mati'. Logika ini memang
tepat sekali. Tapi mengapa selamanya Suhu tak pernah mengatakan padaku?"
Lalu terpikir pula olehnya, "Ya, mungkin Guru kenal watakku dan khawatir aku berlatih secara ngawur sehingga
tak keruan malah. Bila kepandaianku sudah cukup sempurna tentu guru akan menjelaskan hal itu kepadaku.
Ilmu pedang Thaysusiokco sudah tentu sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya, cuma sayang beliau
tidak mau mempertunjukkan kemahirannya kepadaku. Kepandaian beliau tentu lebih tinggi lagi daripada guru.
Melihat usia beliau yang sudah begitu lanjut, seorang diri tinggal di gua belakang sana, tentu hidupnya akan
sangat kesepian dan kurang mendapat pelayanan. Tapi mengapa beliau sengaja menulis larangan memasuki
gua itu bagi siapa pun juga walaupun anak murid Hoa-san-pay sendiri seperti diriku?"
Ia bermaksud mendorong pintu batu itu untuk menemui Hong Jing-yang pula, tapi demi terbayang sikapnya
yang kereng tadi, akhirnya ia urungkan maksudnya. Ia menghela napas dan lantas keluar gua untuk berlatih
pula.
Tokko-kiu-kiam itu cuma namanya saja sembilan jurus, tapi sesungguhnya meliputi segala macam ilmu silat di
seluruh dunia ini. Setiap kali berlatih, setiap kali Lenghou Tiong bertambah memahaminya. Kira-kira satu jam
lamanya ia berlatih, ketika ia mengeluarkan suatu serangan, tanpa merasa yang dilontarkan ternyata jurus
"Yu-hong-lay-gi" dari ilmu pedang perguruannya sendiri.
Ia tertegun dan geleng-geleng sambil menggumam sendiri, "Ah, salah!" menyusul ia memainkan ilmu pedang
Tokko-kiam-hoat pula. Tapi tidak lama kemudian, ketika dia menusuk, tahu-tahu yang dikeluarkan adalah jurus
Yu-hong-lay-gi pula.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Diam-diam ia mendongkol sendiri, ia berpikir kebiasaan seorang memang sulit dihilangkan. Lantaran dirinya
sudah hafal memainkan ilmu pedang perguruannya sendiri, maka di kala berlatih setiap saat dapat menyelip
ilmu pedang yang dikuasainya itu. Mendadak terkilas suatu pikiran olehnya, "Thaysusiokco menganjurkan
padaku untuk memainkan ilmu pedang ini secara bebas dan menurutkan sewajarnya, lalu apa salahnya jika
aku memainkan ilmu pedang perguruan sendiri, bahkan kalau kuseling juga dengan ilmu pedang Heng-sanpay,
Ko-san-pay dan lain-lain juga tidak menjadi halangan. Biarlah aku berlatih menuruti pikiranku ini, salah
atau benar akan kutanyakan kepada Thaysusiokco bila beliau keluar nanti."
Segera ia memutar pedangnya pula, dasar yang ia mainkan adalah ilmu pedang ciptaan Tokko itu, tapi bila
lancar dia lantas selingi dengan jurus-jurus serangan yang hebat dari ilmu pedang perguruannya sendiri serta
jurus serangan aneh-aneh yang telah dilihatnya di dinding gua itu. Tapi karena ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay
itu pada hakikatnya berlawanan dengan ilmu silat dari Mo-kau, maka kedua macam ilmu silat itu sukar dilebur
menjadi satu.
Setelah berlatih lagi belasan kali dan tetap sukar dibaurkan, akhirnya Lenghou Tiong membuang pedangnya
dan merasa gegetun. Katanya dalam hati, "Suhu sering mengatakan bahwa yang baik dan yang jahat tidak
dapat berdiri bersama, agaknya ilmu silat Mo-kau memang aneh juga sehingga di antara kedua aliran ilmu silat
pun tidak dapat dipersatukan."
Maka untuk selanjutnya dia hanya berlatih secara bebas tanpa pedulikan ilmu pedang apa yang dimainkannya,
asal cocok terus dimainkan, ia campurkan berbagai jurus serangan di dalam Tokko-kiu-kiam. Cuma jurus yang
paling banyak dimainkan selalu jurus Yu-hong-lay-gi, main ke sana kemari akhirnya serangan yang dilontarkan
juga Yu-hong-lay-gi itu. Mendadak tergerak hatinya, "Bila jurus permainanku ini dilihat oleh Siausumoay, entah
apa yang akan dia katakan?"
Teringat kepada gadis itu, tanpa merasa wajahnya menampilkan senyuman.
Selama ini karena dia harus menghadapi Dian Pek-kong, sehingga seluruh perhatiannya tercurah kepada
latihan ilmu pedang, maka bayangan Gak Leng-sian sudah lama tidak muncul lagi dalam benaknya, kini
mendadak teringat, seketika rasa rindunya sukar ditahan pula.
Tapi lantas terpikir pula, "Entah selama ini diam-diam dia mengajarkan ilmu pedang lagi kepada Lim-sute atau
tidak? Meski Suhu telah melarangnya, tapi Siausumoay biasanya sangat bandel dan dimanjakan, boleh jadi ia
telah melanggar larangan Suhu dan telah mulai mengajar lagi. Seumpama tidak mengajar, karena siang dan
malam selalu bertemu, tentu pula hubungan Siausumoay dan Lim-sute akan semakin rapat."
Teringat demikian, senyumannya tadi lambat laun berubah menjadi senyuman getir dan akhirnya menjadi
murung malah.
Selagi dia termenung-menung, tiba-tiba terdengar seruan Liok Tay-yu, "Toasuko! Toasuko!"
Suaranya kedengarannya sangat gelisah dan khawatir.
Lenghou Tiong terkejut, terkilas pikirannya, "Wah, celaka! Jangan-jangan keparat Dian Pek-kong itu telah
mengalihkan sasarannya ke rumah dan telah menculik Siausumoay untuk memaksa agar aku menuruti
keinginannya."
Cepat ia memburu ke tepi karang, dilihatnya Liok Tay-yu sedang berlari ke atas dengan menjinjing keranjang
daharan. Napasnya tampak tersengal-sengal dan sedang berseru dengan terputus-putus, "Toa ... Toasuko,
wah, ce ... celaka!"
"Ada apa? Kenapa dengan Siausumoay?" tanya Lenghou Tiong dengan khawatir.
Saat itu Liok Tay-yu telah melompat ke atas puncak situ, ia menaruh keranjang yang dibawanya itu di atas
batu, lalu menjawab, "Siausumoay? Dia tidak apa-apa. Wah, celaka, gelagatnya bisa celaka!"
Mendengar bahwa Gak Leng-sian tidak apa-apa, maka legalah hati Lenghou Tiong. Segera ia tanya, "Urusan
apa yang celaka?"
"Suhu ... Suhu dan Sunio sudah pulang!" sahut Liok Tay-yu dengan masih megap-megap.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong bergirang, semprotnya, "Cis! Kalau Suhu dan Sunio sudah pulang kan sangat baik, mengapa
bilang celaka?"
"Tidak, tidak, kau tidak tahu," kata Liok Tay-yu. "Baru saja Suhu dan Sunio pulang, sekadar minum saja belum
mereka sudah lantas dikunjungi beberapa orang, tampaknya orang-orang dari kawan Ngo-gak-kiam-pay kita."
"Jika kunjungan kawan-kawan dari Ngo-gak-kiam-pay, apanya yang perlu diherankan?" ujar Lenghou Tiong.
"Tidak, tidak, kau tidak tahu. Di antara mereka itu masih ada tiga orang pula yang mengaku orang Hoa-sanpay
kita, bertemu dengan Suhu lantas memanggil Suheng, tapi Suhu tidak memanggilnya sebagai Sute."
"Bisa terjadi demikian? Macam apakah ketiga orang itu?" tanya Lenghou Tiong rada heran.
"Yang seorang sangat tinggi dan gemuk dan mengaku she Hong bernama Put-peng. Seorang lagi adalah Tojin
dan yang lain bertubuh pendek, nama-nama mereka aku tidak ingat, yang terang semuanya memang orang
dari angkatan 'Put'."
"Ya, mungkin mereka adalah murid murtad perguruan kita yang sudah lama dipecat."
"Benar, dugaan Suheng memang tepat. Memang begitu Suhu melihat mereka lantas tidak senang. Kata beliau,
'Hong-heng, kalian bertiga sudah tiada hubungan apa-apa lagi dengan Hoa-san-pay, untuk apa datang ke Hoasan
sini?'
"Hong Put-peng itu menjawab, 'Apakah Hoa-san adalah milikmu? Kenapa melarang orang lain datang ke sini?'
"Suhu mendengus, katanya, 'Jika kalian pesiar ke atas gunung ini sudah tentu silakan dengan bebas. Tapi Gak
Put-kun bukan lagi Suhengmu, sebutan Gak-suheng aku tidak berani terima.'
"Mendadak Hong Put-peng itu menjengek, 'Hm, dahulu kau menggunakan tipu muslihat sehingga berhasil
mengangkangi Hoa-san ini dan mengusir kami dari sini, utang lama ini harus kita bereskan hari ini. Kau tidak
sudi dipanggil Suheng olehku, hm, sesudah perhitungan utang piutang nanti sekalipun kau menyembah dan
suruh aku memanggil saja tidak sudi aku.'"
"O, sampai demikian persoalannya?" kata Lenghou Tiong. Diam-diam ia percaya sang guru sedang menghadapi
persoalan yang sangat pelik.
Sementara itu Liok Tay-yu menyambung lagi, "Ketika kami mendengar ucapan orang she Hong itu, tentu saja
kami sangat gusar. Siausumoay yang pertama-tama tidak tahan, segera ia memaki. Namun Sunio ternyata
tenang-tenang saja dan melarang Siausumoay bertindak. Suhu sama sekali tidak memandang sebelah mata
kepada ketiga orang itu, katanya dengan hambar, 'Kau ingin membuat perhitungan? Perhitungan apa dan cara
bagaimana menghitungnya?'
"Dengan suara keras Hong Put-peng itu menjawab, 'Kau merampas jabatan ketua Hoa-san-pay sudah 30-an
tahun, apa kau merasa masih belum cukup? Bukankah sudah waktunya kau menyerahkan tempatmu kepada
orang lain?'
"Suhu tertawa dan menjawab, 'O, kiranya kedatangan kalian ini bermaksud untuk merebut kedudukanku ini.
Sebenarnya tidak perlu susah-susah, asalkan Hong-heng merasa cukup syarat menjabat kedudukanku ini,
tentu aku akan menyerahkannya padamu.'
"Hong Put-peng berkata, 'Dahulu kau mendapatkan jabatanmu ini dengan tipu muslihat keji, sekarang aku
sudah melapor kepada Co-bengcu dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, aku telah diberi panji
kebesarannya dan diperintahkan mengambil alih jabatan ketua Hoa-san-pay dari tanganmu.'
"Habis berkata ia lantas mengeluarkan sebuah bendera kecil, jelas itu adalah Ngo-gak-leng-ki, panji tanda
perintah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay."
Lenghou Tiong berseru penasaran, katanya dengan gusar, "Co-bengcu benar-benar telah melampaui
kekuasaannya, urusan dalam Hoa-san-pay kita tidak perlu dia ikut campur, berdasarkan apa dia ada hak untuk
memecat dan mengangkat ketua Hoa-san-pay yang baru?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Benar, makanya waktu itu Sunio juga berkata begitu. Akan tetapi orang tua dari Ko-san-pay yang mengaku
she Sin telah membela Hong Put-peng secara mati-matian, katanya jabatan ketua Hoa-san-pay harus
diserahkan kepada Hong Put-peng sehingga terjadi perdebatan seru dengan ibu-guru. Orang-orang Thay-sanpay,
Heng-san-pay dan lain-lain yang ikut datang memusuhi kita. Toa ... Toasuko, melihat gelagatnya kurang
menguntungkan, maka aku lantas lari ke sini untuk memberitahukan padamu."
"Kesulitan perguruan adalah kewajiban mutlak para murid untuk membelanya dengan segenap jiwa raganya,"
kata Lenghou Tiong. "Laksute, marilah kita berangkat!"
"Benar! Bila Suhu melihat perjuanganmu, tentu beliau takkan menyalahkan kau yang telah melanggar
larangannya turun dari puncak sini."
Belum selesai Lak-kau-ji bicara, tahu-tahu Lenghou Tiong sudah lantas berlari ke bawah. Terdengar suaranya,
"Biarpun dimarahi Suhu juga tidak apa-apa. Celakanya kalau Suhu benar-benar menyerahkan jabatannya
kepada orang lain, inilah yang runyam."
Karena sudah ketinggalan, segera Liok Tay-yu menyusul dengan cepat dan sudah tentu dia tidak jelas
mendengar apa yang dikatakan Lenghou Tiong itu.
Belum seberapa jauhnya mereka berlari di jalan pegunungan itu, sekonyong-konyong dua sosok bayangan
orang berkelebat dan tahu-tahu telah menghalang di tengah jalan.
Jalan pegunungan itu sangat sempit, yang sebelah adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, sebelah lain
adalah dinding karang, munculnya kedua pengadang itu benar-benar mendadak luar biasa. Waktu itu Lenghou
Tiong sedang lari dengan cepat sehingga hampir-hampir tertumbuk. Ketika lekas-lekas ia menahan langkahnya,
jaraknya dengan kedua pengadang itu sudah tinggal belasan senti saja.
Waktu diperhatikan, terlihat muka salah seorang pengadang itu benjal-benjol, dekak-dekik tidak rata. Seorang
lagi mukanya penuh keriput, semuanya sangat menyeramkan. Keruan Lenghou Tiong terkejut dan cepat
melompat mundur, bentaknya, "Siapa kau?"
Tapi pada saat itu juga ia merasa di belakangnya juga berdiri dua orang. Dengan terkejut ia menoleh. Kembali
dilihatnya dua wajah yang sangat buruk, yang satu bermuka lebar dan sangat merah, yang lain bermuka
lonjong sebagai muka kuda. Kedua wajah itu jaraknya cuma belasan senti saja di belakangnya, sehingga waktu
ia menoleh hampir-hampir saja ia adu hidung dengan salah seorang aneh itu.
Keruan Lenghou Tiong tambah kaget, cepat ia melangkah maju. Tapi segera tertampak lagi di tepi jalan yang
berbatasan dengan jurang itu berdiri pula dua orang. Yang seorang bermuka sangat hitam dan yang lain pucat
keabu-abuan. Telapak kaki kedua orang itu kelihatan mengapung di tepi jurang, hanya satu-dua jari kaki
mereka yang bertahan di atas tanah, jadi tubuh mereka pada hakikatnya bergantungan di udara, keadaannya
sangat berbahaya, jangankan didorong, cukup ditiup oleh angin pegunungan saja mungkin mereka sudah
tertiup jatuh ke dalam jurang.
Dalam sekejap itu Lenghou Tiong telah dikepung oleh enam orang aneh di tengah jalan yang luasnya cuma
satu meter saja. Hawa napas kedua orang di depannya dapat tercium, hawa napas kedua orang di belakangnya
juga terasa hangat-hangat mengusap tengkuknya.
Melihat kedua orang yang berdiri di tepi jurang itu, bila Lenghou Tiong mau menumbuknya memang dengan
sangat mudah dapat membuat mereka terjerumus ke dalam jurang, tapi itu tidak berarti dia dapat lolos dari
kepungan keempat orang yang berdiri di muka-belakangnya itu.
Segera Lenghou Tiong hendak melolos pedang, tapi keenam orang mendadak melangkah maju setengah tindak
sehingga Lenghou Tiong tergencet di tengah-tengah, ruang bergeraknya semakin sempit, hendak mengangkat
tangan saja susah, sebab pasti akan menyentuh orang-orang itu.
Waktu itu terdengar Liok Tay-yu telah berteriak-teriak di belakang, "He, he! Kalian mau apa?"
Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah mengalami kejadian seaneh ini, biarpun dia pintar dan cerdik juga
kehilangan akal dalam waktu sekejap itu.
Keenam orang itu benar-benar seperti setan, seperti jin, mirip siluman. Muka mereka buruk menakutkan,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
gerak-gerik mereka lebih-lebih aneh pula.
Lenghou Tiong bermaksud mendorong kedua orang di depannya, tapi kedua orang itu berdiri terlalu dekat
sehingga tak mungkin dapat mengangkat kedua tangannya. Sekilas terpikir olehnya bahwa orang-orang aneh
ini tentu adalah begundalnya Hong Put-peng. Namun dia coba bertanya pula, "Sebenarnya siapa kalian ini?"
Sekonyong-konyong pandangannya jadi gelap, sebuah karung besar telah mengurung dari atas kepalanya,
tahu-tahu tubuhnya sudah berada di dalam karung itu. Hanya terdengar seorang berkata padanya dengan
suara tajam melengking, "Jangan takut, akan kami bawa kau untuk bertemu dengan si nona cilik."
Mendengar itu mendadak Lenghou Tiong tahu, "Ah, kiranya mereka adalah komplotannya Dian Pek-kong."
Segera ia berteriak-teriak, "He, lekas kalian melepaskan aku! Kalau tidak segera aku membunuh diri dengan
pedang. Lenghou Tiong berani berkata berani berbuat, biarpun mati aku pantang menyerah."
Baru habis ucapannya, tiba-tiba kedua lengan sendiri telah dipegang oleh dua tangan dari luar karung. Begitu
kuat kedua tangan itu sehingga mirip tanggam besi, lengan Lenghou Tiong sampai amat kesakitan.
Percuma saja Lenghou Tiong habis mempelajari Tokko-kiu-kiam dan mahir cara mematahkan ilmu tangkapan,
tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, biarpun mempunyai kepandaian setinggi langit juga tidak dapat
dikeluarkan sedikit pun. Dia hanya bisa mengeluh belaka di dalam karung.
Mendadak terdengar seorang di antaranya berkata, "Si nona cilik sayang itu ingin bertemu padamu. Kau
menurut ya, kau pun anak yang baik, sayang!"
Menyusul seorang lagi berkata, "Kau jangan membunuh diri, jika tidak menurut sebentar akan kubikin kau mati
tidak hidup pun tidak."
"Jika dia sudah mati bunuh diri, bagaimana kau akan bikin dia hidup tidak mati pun tidak?" tanya seorang
kawannya.
"Aku hanya menakut-nakuti dia supaya tidak membunuh diri," sahut orang yang tadi.
"Kalau mau menakut-nakuti harus jangan diperdengarkan padanya, sekarang dia sudah tahu, tentu tak dapat
ditakut-takuti lagi," debat kawannya pula.
"Aku justru ingin menakut-nakuti dia, kau mau apa?" ngotot orang tadi.
"Aku bilang lebih baik membujuk dia saja," kata seorang lagi.
"Tidak, sekali aku menakut-nakuti tetap akan kutakut-takuti dia," orang tadi tetap ngotot.
"Tapi aku lebih suka membujuknya," sahut yang lain. Dan begitulah orang-orang itu terus bertengkar tak
berhenti-berhenti.
Dikurung di dalam karung itu Lenghou Tiong menjadi khawatir dan mendongkol pula mendengar pertengkaran
orang-orang seperti anak kecil itu. Pikirnya, "Ilmu silat enam orang itu sangat tinggi, tapi agaknya sangat
tolol."
Segera ia berteriak, "Kalian akan menakut-nakuti atau membujuk, semuanya tak berguna. Bila kalian tidak
lepaskan aku, segera aku akan menggigit lidah untuk membunuh diri."
Tapi mendadak pipinya terasa kesakitan, seorang telah meremas kedua belah pipinya dengan keras. Lalu suara
seorang sedang berkata, "Bocah ini sangat bandel, jika lidahnya tergigit putus dan tak bisa bicara tentu si nona
cilik tidak senang."
"Jika lidahnya tergigit putus tentu orangnya akan mati, masakah cuma tak bisa bicara?" ujar seorang lagi.
"Belum tentu bisa mati," sahut orang tadi. "Kalau tidak percaya boleh coba kau menggigit lidahmu."
"Aku percaya pasti akan mati, maka tidak perlu gigit lidahnya sendiri. Kau tidak percaya, maka kau saja yang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
coba."
"Buat apa aku menggigit lidah?" sahut orang tadi. "Eh, biar dia saja."
Lalu terdengarlah suara jeritan Liok Tay-yu, rupanya dia telah kena ditangkap juga oleh orang-orang aneh itu.
Terdengar orang tadi membentak, "Hayo, kau menggigit putus lidahmu, coba lihat kau akan mati atau tidak.
Hayo lekas gigit, lekas!"
"Tidak, tidak, aku tidak mau!" teriak Liok Tay-yu.
Mendadak Lenghou Tiong berteriak dan pura-pura sangat kesakitan. Tapi terdengar salah seorang aneh itu
berkata, "Kau pura-pura saja. Kupencet gerahammu, cara bagaimana kau dapat menggigit lidah?"
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Lenghou Tiong dengan suara tak jelas.
Mendadak terdengar suara "bret-bret" dua kali, karung itu telah robek, kedua lengannya telah ditarik keluar
melalui lubang sobekan karung itu. Menyusul pandangannya menjadi terang, kiranya seorang aneh itu telah
merobek dua lubang kecil pada karung itu sehingga dia dapat melihat keadaan di luar.
Tertampaklah seorang kakek dengan muka penuh keriput berkata padanya, "Asal kau berjanji takkan
membunuh diri segera juga akan kulepaskan kau."
Habis berkata ia lantas melepaskan tangannya yang memencet kedua belah geraham Lenghou Tiong itu.
Sementara itu dua orang aneh yang berada di belakangnya sedang memaksa Liok Tay-yu supaya menggigit
lidahnya sendiri untuk dicoba akan mati atau tidak bila lidah tergigit putus.
Maka Liok Tay-yu terus berteriak-teriak, "Tidak, tidak, aku tidak mau. Bila lidah tergigit putus tentu akan mati!"
"Nah, apa kataku?" kata si orang aneh tadi. "Bila lidah putus tentu orangnya akan mati. Dia sendiri pun
mengaku demikian."
"Dia kan belum mati, mana buktinya?" sahut kawannya.
"Dia belum mati karena belum gigit lidahnya. Sekali gigit tentu akan mati!" bantah orang tadi.
Dalam pada itu diam-diam Lenghou Tiong mengerahkan tenaga ke lengannya dan coba meronta sekuatnya,
tapi pergelangan tangannya lantas kesakitan, sedikit pun tak bisa terlepas. Muka keenam orang aneh itu
sangat buruk, ilmu silat mereka begitu lihai pula. Dalam keadaan demikian, biarpun Lenghou Tiong yang
biasanya sangat cerdik juga mati kutu seketika.
Sejenak kemudian tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia menjerit dan pura-pura pingsan. Maka terdengarlah
tiga orang aneh itu berseru khawatir, "Wah, celaka!"
"Dia mati ketakutan!" kata seorang di antaranya.
"Tidak, takkan mati ketakutan, masakah begitu tak becus," ujar yang lain.
"Seumpama mati juga bukan mati ketakutan!" timbrung pula seorang lagi.
"Habis, sebab apa dia mati?" tanya yang pertama tadi.
Di sebelah sana Liok Tay-yu menjadi kaget. Disangkanya sang Toasuko benar-benar telah dibikin mati, seketika
ia menangis sedih.
Sementara itu seorang aneh itu berkata pula, "Aku tetap bilang dia mati ketakutan."
"Tidak, cengkeramanmu terlalu keras, tentu dia mati tercengkeram," kata yang lain lagi.
"Ya, sebenarnya apa sebab kematiannya?" kata pula yang lain.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aku menutup urat nadi sendiri, mati bunuh diri!" mendadak Lenghou Tiong berteriak.
Karena Lenghou Tiong mendadak berteriak, keenam orang aneh itu menjadi kaget malah. Tapi mereka lantas
terbahak-bahak dan berkata bersama, "Hahahaha! Kiranya dia belum mati, cuma pura-pura mati!"
"Aku tidak pura-pura mati, tapi sudah mati dan hidup kembali!" seru Lenghou Tiong.
"Apa benar kau dapat menutup urat nadi sendiri? Wah, kepandaian ini sukar sekali dipelajari, kau ajarkan
padaku saja," kata seorang di antaranya.
"Kepandaian itu teramat tinggi, bocah ini tentu tidak bisa, dia berdusta padamu," kata yang lain.
"Kau bilang aku tidak bisa? Kalau tidak bisa, mengapa tadi aku bisa mati menutup urat nadi sendiri?" ujar
Lenghou Tiong.
Orang aneh itu garuk-garuk kepala, katanya, "Ya, ini memang rada aneh!"
Melihat kebebalan keenam manusia aneh itu, segera Lenghou Tiong berkata pula, "Jika kalian tidak lekas
lepaskan aku, segera aku akan menutup urat nadiku, bila sekali ini aku mati lagi tentu takkan hidup kembali."
"Tidak, kau tidak boleh mati," seru kedua orang yang memegangi lengan Lenghou Tiong sambil melepaskan
tangan masing-masing. "Jika kau mati, wah, bisa runyam."
"Minta aku tidak mati juga boleh asal kalian lekas menyingkir, aku ada urusan penting harus buru-buru
berangkat," kata Lenghou Tiong.
"Tidak, tidak boleh!" kata kedua orang yang mengadang di depan itu. "Kau harus ikut kami pergi menemui si
nona cilik."
Sekuatnya Lenghou Tiong melompat dengan maksud melampaui kedua orang yang mengadang di depannya
itu, di luar dugaan, kedua orang itu pun ikut-ikut meloncat ke atas, gerakan mereka cepat luar biasa sehingga
tubuh mereka seperti dinding terbang saja yang tetap mengadang di depan Lenghou Tiong.
Tapi begitu badan Lenghou Tiong tertumbuk dengan tubuh kedua pengadangnya dan jatuh kembali, selagi
badannya masih terapung dia sudah lantas hendak melolos pedang. Namun pundaknya lantas terasa ditahan
ke bawah, dua orang di belakangnya kembali sudah memegangi kedua lengannya dari luar karung sehingga
pedang tidak sampai dicabut keluar. Waktu itu kedua lengannya terbuka di luar karung dan badannya masih
tetap dikerudung karung, pedangnya juga tertutup di dalam karung. Sebenarnya ia bermaksud menggunakan
pedang untuk merusak karung itu, lalu akan melawan orang-orang itu dengan Tokko-kiu-kiam yang baru
dipelajarinya itu. Tapi sekali pundaknya ditahan oleh tangan kedua orang aneh itu, seketika tubuhnya mendak
ke bawah, jangankan lolos pedang, untuk berdiri tegak saja sukar.
Sesudah merobohkan Lenghou Tiong, kedua orang itu berseru, "Angkat saja dia!" Segera kedua orang yang
berdiri di depannya masing-masing memegangi sebelah kaki Lenghou Tiong terus diangkat ke atas.
"He, apa-apaan kalian ini?" Liok Tay-yu berteriak-teriak.
"Orang ini suka gembar-gembor, bunuh saja dia!" kata seorang aneh. Lalu tangannya hendak menggaplok ke
batok kepala Liok Tay-yu.
Cepat Lenghou Tiong berseru, "Jangan, jangan dibunuh!"
"Baik, aku menurut padamu, tidak bunuh dia, tapi tutuk dia supaya bisu," kata orang aneh itu. Habis
ucapannya, tanpa berpaling lagi jarinya terus menuding ke belakang. "Crit", tahu-tahu Hiat-to yang membikin
bisu di tubuh Liok Tay-yu sudah tertutuk.
Waktu itu Liok Tay-yu sedang berteriak, tapi mendadak ia menjerit terus putus suaranya seketika seperti tali
suara yang digunting secara mendadak. Tubuhnya juga lantas melingkar kejang.
Melihat cara menutuk tenaga dalam dari jarak jauh, betapa jitunya pula, mau tak mau Lenghou Tiong
terpesona, tanpa merasa ia bersorak memuji.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Orang aneh itu menjadi senang, katanya dengan tertawa, "Ini saja belum. Aku masih mempunyai kepandaiankepandaian
lain yang lebih hebat, biarlah aku pertunjukkan untukmu."
Jika di waktu biasa tentu Lenghou Tiong ingin menambah pengalamannya, tapi sekarang dia sedang
mengkhawatirkan keselamatan sang guru, pikirannya sedang gelisah, maka cepat ia menjawab, "Tidak, aku
tidak ingin lihat."
"Mengapa kau tidak ingin melihat? Aku justru suruh kau lihat," kata orang aneh itu. Mendadak ia meloncat ke
atas, tahu-tahu sudah melayang lewat di atas kepala keempat orang aneh yang mengusung Lenghou Tiong.
Badannya sebenarnya agak gendut, tapi lompatannya itu ternyata sangat enteng dan gesit dengan gaya yang
sangat indah.
Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah melihat loncatan seindah itu, tanpa merasa ia berseru memuji pula,
"Bagus!"
Wajah orang aneh yang lonjong sebagai muka kuda itu berseri-seri, sahutnya, "Ini saja belum, masih ada lagi
yang lebih hebat!"
Usia orang bermuka kuda ini sedikitnya juga sudah ada 60-70 tahun, tapi sifatnya benar-benar mirip anak
kecil, sekali dipuji semakin menjadi. Ilmu silatnya yang tinggi itu benar-benar berbeda sama sekali dengan
sifatnya yang kekanak-kanakan itu.
Diam-diam Lenghou Tiong teringat kepada guru dan ibu-gurunya yang sedang menghadapi kesulitan. Pihak
lawan terdiri dari jago-jago Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain, biarpun dirinya sudah berada di sana juga
tak bisa membantu banyak. Orang-orang ini berkepandaian sangat tinggi, kenapa aku tidak menipu mereka
agar ikut ke sana untuk membantu Suhu?
Karena pikiran demikian segera Lenghou Tiong berkata, "Sedikit kepandaianmu ini apa gunanya dipamerkan di
sini?"
"Sedikit kepandaianku? Buktinya kau kan tak bisa berkutik dan tertangkap?" kata orang bermuka kuda itu.
"Aku cuma kaum keroco dari Hoa-san-pay, sudah tentu dengan mudah dapat kalian tangkap," sahut Lenghou
Tiong. "Sekarang di atas gunung ini sedang berkumpul jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain,
apakah kalian berani mengusik mereka?"
"Kenapa tidak berani? Di mana mereka?" teriak orang itu.
"Si nona cilik hanya suruh kita menangkap Lenghou Tiong dan tidak minta kita mengusik jago-jago Ko-san-pay
atau Thay-san-pay segala. Sudahlah, kita jangan mencari gara-gara, lekas berangkat saja," demikian kata si
kakek bermuka keriput.
"Benar juga," kata Lenghou Tiong dengan tertawa. "Pantas jago-jago Ko-san-pay dan Thay-san-pay itu
mengatakan paling memandang hina kakek-kakek bermuka kuda, bermuka merah dan siluman tua bermuka
keriput dan lain-lain lagi, bila ketemu tentu mereka akan dipites seperti semut. Cuma sayang keenam siluman
tua itu belum-belum sudah lantas lari terbirit-birit bila mendengar suara jago-jago Ko-san-pay dan kawankawannya
itu dan sukar diketemukan lagi meski telah dicari-cari."
Mendengar ucapan Lenghou Tiong itu seketika keenam kakek aneh itu berjingkrak marah, mereka berkaokkaok,
"Di mana beradanya orang-orang Ko-san-pay dan begundalnya? Hayo bawa kami ke sana, lekas!"
"Huh, peduli apa Ko-san-pay, Thay-san-pay dan lain-lain segala, masakah Tho-kok-lak-sian (enam dewa dari
lembah Tho) jeri kepada mereka?"
"Kurang ajar! Barangkali orang itu sudah bosan hidup, masakah Tho-kok-lak-sian hendak dipites seperti semut
saja?"
"Eh, ya, kalian mengaku sebagai Tho-kok-lak-sian, tapi orang-orang Ko-san-pay dan kawan-kawannya itu
justru menyebut kalian Tho-kok-lak-kui (enam setan)," demikian Lenghou Tiong sengaja mengadu biru lagi.
"Wah, Lak-sian, kukira kalian lebih baik menghindari mereka saja sejauh mungkin, ilmu silat jago Ko-san-pay
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
itu luar biasa lihainya, tentu kalian bukan tandingannya."
"Tidak, tidak bisa! Biar sekarang juga kita melabraknya," teriak si kakek bermuka merah.
Tapi orang yang bermuka benjal-benjol itu lantas menyela, "Wah, kukira gelagatnya tidak bagus. Bila jago Kosan-
pay itu berani bermulut besar, tentu dia mempunyai kepandaian luar biasa. Jangan-jangan kita memang
bukan tandingannya, buat apa kita mencari penyakit? Hayolah, kita lekas pulang saja."
"Site (adik keempat) memang paling penakut, berkelahi saja belum sudah mengaku kalah?" ujar si muka kuda.
"Tapi kalau benar-benar dipites seperti semut, wah kan celaka?" ujar si muka benjol.
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli. Ada-ada saja manusia-manusia aneh di dunia Kangouw. Padahal ilmu
silat orang ini sangat tinggi, tapi nyalinya justru begini kecil. Biarlah aku memancingnya lagi. Segera ia
berkata, "Jika mau lari hendaklah lekas. Kalau terlambat, jangan-jangan jago Ko-san-pay itu sudah akan
memburu ke sini dan kalian tentu tak bisa lolos lagi."
Eh, benar saja, si muka benjol itu terus lari secepat terbang, hanya sekejap saja sudah menghilang.
Lenghou Tiong sampai terperanjat malah, pikirnya, "Ginkang orang aneh ini benar-benar luar biasa laksana
setan iblis saja. Ginkangnya ini tampaknya berpuluh kali lebih tinggi lagi daripada Dian Pek-kong, kalau dia
mau lari siapa pula di dunia ini yang mampu mengejarnya? Sungguh aneh, dia memiliki Ginkang yang
mahatinggi, kenapa penakut dan suka lari? Wah, ucapanku tadi yang terlalu berlebih-lebihan, kalau mereka
benar-benar lari ketakutan kan berbalik membikin runyam maksud tujuanku."
Dalam pada itu si muka kuda sedang berkata, "Siko memang penakut, biarkan dia lari saja, kita yang akan
pergi melabrak jago Ko-san-pay itu."
"Ya, berangkat, lekas! Harus kita hajar dia!" seru keempat kawannya yang lain.
Mendadak si muka hitam melepaskan karung yang masih mengerudungi badan Lenghou Tiong, lalu katanya,
"Hayo lekas bawa kami ke sana, ingin kulihat bagaimana caranya dia akan pites kami sebagai semut."
"Membawa ke sana sih aku tidak keberatan," sahut Lenghou Tiong, "Cuma kalian harus menuruti suatu
syaratku."
"Syarat apa?" tanya si muka keriput. "Kalau bisa dipenuhi akan kami penuhi, kalau tidak ya tidak."
Diam-diam Lenghou Tiong mengakui di antara keenam kakek itu adalah si muka keriput ini yang paling encer
otaknya. Segera ia berseru, "Aku Lenghou Tiong adalah seorang laki-laki sejati, sekali-kali takkan sudi
menyerah diancam dan dipaksa orang. Soalnya aku cuma mendengar jago Ko-san-pay itu mencemooh dan
menghina kalian berenam, aku merasa ikut penasaran bagi kalian, makanya mau membawa kalian ke sana
untuk membikin perhitungan dengan dia. Tapi kalau mentang-mentang berjumlah banyak dan hendak
memaksa berbuat ini dan itu, maka biar mati pun aku Lenghou Tiong sekali-kali takkan menurut."
Serentak kelima kakek aneh itu bertepuk tangan memuji, "Bagus, kau berjiwa kesatria, kami sangat kagum."
"Jika demikian aku akan membawa kalian ke sana, tapi sesudah bertemu nanti kalian tak boleh sembarangan
omong dan bertindak supaya semua kesatria dunia persilatan takkan menertawakan Tho-kok-lak-sian terlalu
bodoh, masih anak bawang, tidak tahu seluk-beluk orang hidup. Maka kalian harus menuruti omonganku, kalau
tidak kalian tentu akan membikin malu padaku."
Ucapan Lenghou Tiong ini sebenarnya bermaksud coba-coba saja, tak terduga kelima kakek aneh serentak
berseru, "Benar, itu memang tepat. Kami tidak boleh dicemoohkan orang bahwa Tho-kok-lak-sian terlalu
bodoh, masih anak bawang!"
Lenghou Tiong mengangguk, katanya, "Baiklah, jika demikian marilah kalian ikut padaku."
Segera ia melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat. Kelima kakek aneh itu pun mengikutinya dari
belakang.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Beberapa li kemudian, tertampak si muka benjol sedang mengintip di balik batu karang sana. Lenghou Tiong
pikir orang penakut ini harus dipancing supaya berani. Segera ia berseru padanya, "Kepandaian jago Ko-sanpay
itu berselisih sangat jauh dengan kau, jangan takut padanya, mari kita beramai-ramai pergi menghajar
dia."
Si muka benjol menjadi girang. "Baik, aku pun ikut!" serunya. Tapi mendadak ia menambahkan pertanyaan
pula, "Kau bilang ilmu silat jago Ko-san-pay itu selisih jauh sekali dengan aku. Lalu aku yang lebih tinggi atau
dia yang lebih tinggi."
Bab 36. Enam Kakek Aneh dari Lembah Tho
Kiranya otak orang ini memang bebal, tapi selamanya sangat hati-hati.
"Sudah tentu kau lebih tinggi," sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. "Caramu berlari tadi menunjukkan
Ginkangmu sangat tinggi, betapa pun jago Ko-san-pay itu takkan mampu menyusul kau."
Si muka benjol bertambah senang, tanpa ragu-ragu lagi ia mendekati Lenghou Tiong. Namun dia masih belum
hilang dari seluruh kekhawatirannya, ia tanya pula, "Tapi kalau dia dapat menyusul aku, lantas bagaimana?"
"Jangan khawatir, jika dia berani main gila padamu, hmm, ini!" sampai di sini Lenghou Tiong mencabut
sebagian gagang pedangnya, lalu dientakkan kembali ke dalam sarungnya sehingga mengeluarkan suara
"takkk", lalu melanjutkan, "Sekali tebas segera kubunuh dia!"
"Bagus, bagus!" si muka benjol sangat senang. "Apa yang kau katakan ini harus kau tepati."
"Sudah tentu," sahut Lenghou Tiong. "Cuma kalau dia tidak menguber kau ya aku tidak perlu membunuh dia."
"Betul, kalau dia tak mampu menyusul aku, boleh biarkan dia sesukanya," kata si benjol dengan tertawa.
Diam-diam Lenghou Tiong geli. Pikirnya, "Sekali kau sudah lari, di dunia ini siapa yang mampu menyusul kau?
Buset!"
Ia melihat sifat kakek-kakek aneh itu ketolol-tololan, tapi terang sangat polos dan bukan orang jahat, untuk
dijadikan sahabat masih boleh juga. Segera ia berkata, "Sudah lama kudengar nama kalian yang termasyhur.
Hari ini dapat bertemu, nyatanya memang tidak bernama kosong. Numpang tanya, siapakah nama kalian yang
terhormat?"
Kata-kata Lenghou Tiong itu sebenarnya tidak masuk akal. Sudah menyatakan nama kakek-kakek itu
termasyhur dan telah lama didengar, tapi bertanya pula tentang nama-nama mereka. Tapi keenam kakek itu
ternyata tidak memikirkan ucapan yang bertentangan itu, mereka justru sangat gembira karena nama mereka
dikatakan termasyhur. Segera si muka keriput berkata, "Aku adalah Toako, bernama Tho-kin-sian (dewa akar
Tho)."
"Dan aku adalah Jiko, bernama Tho-kan-sian (dewa dahan Tho)." sambung si muka kelabu.
"Dan aku entah Samko atau Siko, namaku Tho-ki-sian (dewa ranting Tho)," kata si muka benjol. Ia tuding si
muka hitam dan menyambung pula, "Dan dia entah Site atau Samko, dia bernama Tho-yap-sian (dewa daun
Tho)."
Lenghou Tiong menjadi heran, "Mengapa kalian berdua tidak mengetahui siapa yang lebih tua, siapa Samko
dan yang mana Siko?" tanyanya.
"Bukan kami yang tidak tahu, tapi ayah-bundaku yang lupa," kata Tho-ki-sian.
"Aneh, bagaimana ayah-bundamu bisa lupa?" tanya Lenghou Tiong pula terheran-heran.
"Waktu kami dilahirkan, ayah-ibu sih ingat siapa yang lebih tua, tapi beberapa tahun kemudian beliau-beliau
telah lupa semua, maka sukar diketahui pula siapa Losam dan siapa Losi (si nomor tiga dan si nomor empat),"
jawab Tho-ki-sian. Kemudian dia tunjuk si muka hitam dan menyambung, "Tapi dia berkeras ingin menjadi
Losam, aku tidak mau panggil dia Samko, dia lantas ajak berkelahi padaku, terpaksa aku mengalah padanya."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Kiranya kalian adalah dua bersaudara," kata Lenghou Tiong tertawa.
"Benar, kami berenam saudara," sahut Tho-ki-sian.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, "Ada ayah-ibu yang sinting, pantas melahirkan anak-anak tolol begini."
Segera ia tanya pula kepada yang lain, "Dan yang dua ini apa namanya?"
"Aku adalah Tho-hoa-sian (dewa bunga Tho)," sahut si muka merah.
"Dan aku Tho-sit-sian (dewa buah Tho)," sambung si muka kuda.
Lenghou Tiong sampai tertawa geli. Nama Tho-hoa-sian yang merah itu memang rada-rada sama dengan
warna bunga Tho, tapi potongan mukanya yang buruk itu betapa pun tidak sesuai dengan namanya yang indah
itu.
Melihat Lenghou Tiong tertawa, Tho-hoa-sian salah wesel, katanya dengan tertawa, "Di antara enam saudara
hanya namaku yang paling enak didengar."
"Ya, nama Tho-hoa-sian memang sangat indah, tapi Tho-kin, Tho-kan, Tho-ki, Tho-yap dan Tho-sit juga tidak
kurang indahnya," ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. "Wah, jika namaku juga demikian indahnya tentu aku
akan sangat senang."
Dasar sifat Tho-kok-lak-sian itu memang mirip anak kecil, demi mendengar nama mereka dipuji, seketika
mereka sangat gembira. Mereka anggap Lenghou Tiong adalah manusia yang paling baik di dunia ini. Bahkan
Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian sampai berjingkrak-jingkrak dan menari.
"Dan sekarang marilah kita berangkat," kata Lenghou Tiong kemudian. Sebenarnya ia hendak minta Tho-koklak-
sian membuka Hiat-to Liok Tay-yu yang tertutuk itu, tapi begitu mengingat keadaan guru dan ibu-gurunya
sedang menghadapi bahaya, ia pikir lagi sejam dua jam biarkan Liok Tay-yu terbuka sendiri Hiat-to yang
tertutuk itu daripada membuang waktu.
Dari jalanan lereng situ ke ruang pendopo Hoa-san-pay jaraknya ada belasan li, tapi perjalanan mereka sangat
cepat, hanya sebentar saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Begitu sampai di luar rumah lantas terlihat Lo Tek-nau, Nio Hoat, Si Cay-cu, Gak Leng-sian, Lim Peng-ci dan
belasan Sute yang lain sedang berkumpul di situ, paras mereka kelihatan sedih. Mereka menjadi girang begitu
tampak datangnya Lenghou Tiong.
Lo Tek-nau lantas memapak maju, katanya dengan suara bisik-bisik, "Toasuko, guru dan ibu-guru sedang
menemui tamu di dalam."
Lenghou Tiong menoleh dan memberi isyarat agar Tho-kok-lak-sian berhenti di situ saja dan jangan bersuara.
Lalu ia berkata kepada Lo Tek-nau, "Keenam orang ini adalah kawanku, tak perlu diurus. Biar kuperiksa apa
yang terjadi di dalam."
Segera ia mendekati jendela dan mengintip ke dalam ruangan.
Perbuatan Lenghou Tiong ini sebenarnya tidak pantas, tapi Lo Tek-nau dan lain-lain tahu saat ini keadaan luar
biasa sehingga mereka pun tidak anggap keliru tindakan Lenghou Tiong itu.
Waktu Lenghou Tiong mengintip ke dalam, dilihatnya pada tempat tamu berduduk seorang tua berjenggot,
bertubuh kekar, kedua pelipis agak menonjol, terang mempunyai Lwekang dan Gwakang yang cukup tinggi.
Pada tangan kanannya membawa Leng-ki (panji kebesaran) Ngo-gak-kiam-pay. Di sebelahnya duduk seorang
Tojin setengah umur, seorang lagi adalah Nikoh berusia 30-an lebih, lalu seorang tua pula berumur kuranglebih
setengah abad. Dari dandanan mereka teranglah mereka adalah jago-jago dari Ko-san-pay, Thay-sanpay,
Hing-san-pay dan Heng-san-pay.
Selain itu ada lagi tiga orang, semuanya berusia 50-60 tahun, dari pedang yang tergantung di pinggang
mereka terang adalah orang Hoa-san-pay. Orang pertama berparas murung dengan kulit muka kuning
kemerah-merahan, mungkin inilah Hong Put-peng yang diceritakan oleh Liok Tay-yu itu. Guru dan ibu-gurunya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tampak mengiringi duduk di tempat tuan rumah, di atas meja tersedia teh dan penganan.
Terdengar si kakek dari Heng-san-pay sedang berkata, "Gak-heng, urusan golonganmu mestinya tidak pantas
kami untuk ikut campur. Tapi Ngo-gak-kiam-pay kita sudah berserikat, sama kewajiban dan sama tanggungan,
jika ada sesuatu golongan yang bertindak kurang baik tentu akan ditertawai oleh sesama kawan Kangouw dan
keempat golongan lain akan ikut menanggung malu, oleh karena itu, tadi Gak-hujin mengatakan Ko-san, Thaysan
dan Heng-san kami tidak seharusnya ikut campur urusan orang lain. Kukira ucapan ini kurang tepat."
Mendengar itu, legalah hati Lenghou Tiong. Pikirnya, "Mereka telah bicara sekian lamanya, kiranya masih
bertengkar tentang urusan demikian dan belum sampai bergebrak. Untung Laksute menyampaikan berita
padaku tepat pada waktunya sehingga aku tidak terlambat."
Maka terdengar Gak-hujin sedang menjawab, "Dengan ucapan Pang-suheng ini apakah kau anggap Hoa-sanpay
kami tidak tahu urusan sehingga membikin nama baik golonganmu ikut tercemar?"
Kakek she Pang dari Heng-san-pay itu nama lengkapnya adalah Pang Lian-eng. Selama hidupnya memang
paling suka usil, suka ikut campur urusan orang lain yang mestinya tiada sangkut pautnya dengan dia.
Kedatangannya ke Hoa-san ini bukan dia yang menjadi peranan pokok, dia juga bukan tokoh pemegang panji
kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, tapi justru dia yang paling banyak bersuara. Dengan tertawa dingin dia lantas
menjawab ucapan Gak-hujin, "Hehe, orang mengatakan Ling-lihiap dari Hoa-san-pay adalah mahaketuanya,
mestinya Cayhe tidak percaya, tapi tampaknya sekarang apa yang tersiar di Kangouw itu memang bukan
omong kosong."
Gak-hujin menjadi gusar karena diolok-olok lebih berkuasa daripada suaminya, seakan-akan suaminya takut
bini. Jawabnya, "Betapa pun kedatangan Pang-suheng ini terhitung tamu kami, maka tidak pantas kami
menyalahi kau. Cuma seorang kesatria Heng-san-pay yang sudah terkenal tak dinyana bisa sembarangan
mengoceh demikian, kelak bila bertemu dengan Bok-taysiansing rasanya perlu kutanyakan padanya."
"O, jadi karena aku adalah tamu, maka Gak-hujin sungkan menyalahi, kalau bukan di Hoa-san sini tentu Gakhujin
sudah ayun pedang menebas kepalaku, bukan?" jengek Pang Lian-eng.
"Mana aku berani," sahut Gak-hujin. "Masakah Hoa-san-pay kami berani mengurusi persoalan dalam golongan
kalian? Di antara orang Heng-san-pay kalian ada yang bersekongkol dengan Mo-kau, hal ini sudah tentu akan
diselesaikan oleh Co-bengcu, golongan kami tidak perlu ikut campur."
Ucapan Gak-hujin ini cukup lihai. Tentang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay berkomplot dengan Kik Yang dari
Mo-kau dan dua-duanya binasa di luar kota Heng-san, setiap orang Kangouw mengetahui mereka dibunuh oleh
jago Ko-san-pay yang dikirim oleh Co-bengcu. Dengan mengungkat kejadian itu, pertama, Gak-hujin sengaja
mengorek borok Heng-san-pay, kedua, dia menyindir Pang Lian-eng yang telah melupakan sakit hati
terbunuhnya Suheng sendiri, tapi sekarang malah mendukung orang Ko-san-pay dan datang mencari perkara
kepada Hoa-san-pay.
Benar juga seketika air muka Pang Lian-eng berubah hebat. Teriaknya dengan sengit, "Gak-hujin, dari zaman
dulu kala sampai sekarang, dari golongan atau aliran mana yang tidak pernah terdapat murid murtad?
Kedatangan kami ke Hoa-san sekarang justru hendak menegakkan keadilan dan membantu Hong-toako
membersihkan anasir jahat dari perguruannya."
"Siapa adalah anasir jahat yang kau maksudkan?" jawab Gak-hujin dengan sikap menantang. "Jelek-jelek
suamiku disebut orang sebagai 'Kun-cu-kiam', tapi kau, apa julukanmu?"
Paras Pang Lian-eng menjadi merah.
Kiranya julukannya yang resmi adalah "Kim-gak-tiau" (rajawali bermata emas), tapi di belakangnya orang Bulim
suka memanggilnya "Kim-gak-oh-ah" (si gagak bermata emas), yaitu karena dia banyak omong, suka
cerewet mencampuri urusan orang lain dan menjemukan.
Dengan pertanyaan Gak-hujin itu sudah tentu ia tahu yang dimaksudkan oleh nyonya rumah itu sekali-kali
bukan julukan "Kim-gak-tiau", tapi adalah si gagak bermata emas. Dianggap gagak, keruan Pang Lian-eng
tambah gusar. Teriaknya, "Hm, suamimu berjuluk Kun-cu-kiam apa? Di atas Kun-cu (laki-laki sejati) itu kukira
harus ditambah lagi satu huruf 'Wi' (palsu, maksudnya menjadi laki-laki palsu)."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mendengar sang guru dihina secara terang-terangan, Lenghou Tiong tidak tahan lagi. Cuma dia belum kenal
asal usul Pang Lian-eng, segera ia menoleh dan tanya Lo Tek-nau, "Lo-sute, apa sih nama julukan manusia
ini?"
Lo Tek-nau masuk perguruan sudah memiliki ilmu silat lebih dulu, pengalamannya di dunia Kangouw juga
sudah luas dan banyak kejadian-kejadian di dunia persilatan yang pernah didengarnya. Segera ia menjawab,
"Orang menjuluki si tua ini sebagai 'si gagak bermata emas'."
Tanpa berpikir lagi Lenghou Tiong terus berteriak dari luar, "Hai, itu gagak bermata buta, kalau berani lekas
keluar ke sini!"
Suara tanya-jawab Lenghou Tiong dengan Lo Tek-nau itu telah didengar oleh Gak Put-kun, diam-diam ia heran
mengapa muridnya itu turun dari puncak pertapanya? Segera ia mencelanya, "Jangan kurang sopan, anak
Tiong. Pang-susiok adalah tamu, mana boleh kau sembarangan omong?"
Keruan mata Pang Lian-eng merah berapi, dadanya hampir-hampir meledak saking gusarnya. Dia sudah
pernah dengar apa yang terjadi dengan Lenghou Tiong di kota Heng-san, maka ia lantas memaki, "Hah, kukira
siapa, tak kusangka adalah bocah yang suka main perempuan di Heng-san itu! Hm, jago-jago Hoa-san-pay
benar-benar hebat sekali."
"Betul," jawab Lenghou Tiong tertawa, "aku memang pernah main perempuan di kota Heng-san, lonte
kenalanku itu she Pang."
"Kau ... kau masih berani mengoceh tak keruan!" bentak Gak Put-kun.
Mendengar sang guru benar-benar sudah gusar, Lenghou Tiong tidak berani bersuara pula. Tapi Hong Put-peng
dan kawan-kawannya yang duduk di dalam ruangan itu tanpa merasa sama tersenyum.
Sekonyong-konyong Pang Lian-eng melompat ke tepi jendela, "blang", ia depak daun jendela hingga sempal
dan mencelat. Ia tidak kenal Lenghou Tiong, maka dengan menuding rombongan anak murid Hoa-san-pay ia
membentak, "Yang bicara tadi adalah binatang yang mana?"
Anak murid Hoa-san-pay semua bungkam tak menjawabnya.
"Maknya," Pang Lian-eng mengumpat pula. "Aku tanya, mana yang bicara barusan ini?"
"Barusan adalah kau sendiri yang bicara, dari mana aku bisa tahu binatang apa?" kata Lenghou Tiong dengan
tertawa.
Berulang kali Pang Lian-eng dicaci oleh Lenghou Tiong, memangnya dia sudah murka, terutama ucapan "lonte
yang kukenal di Heng-san itu she Pang" itu benar-benar sangat menghinanya, sebab ini berarti orang dari
keluarga Pang yang telah menjadi pelacur. Apalagi kata-kata "dari mana aku bisa tahu binatang apa", ini
seakan-akan langsung menganggapnya sebagai binatang. Sebagai tokoh yang tingkatannya lebih tua, keruan
Pang Lian-eng berjingkrak murka, ia tidak tahan lagi. Sambil mengerang keras-keras ia terus menerjang ke
arah Lenghou Tiong.
Melihat datangnya lawan yang sedang kalap itu, cepat Lenghou Tiong melompat mundur dan segera hendak
mencabut pedang. Tapi tiba-tiba sesosok bayangan orang sudah berkelebat, dari dalam pendopo telah
melayang keluar seorang, di mana cahaya pedang mengilat, "cring", kontan Pang Lian-eng telah dihalangi.
Kiranya orang itu adalah nyonya Gak.
"Kita adalah orang sendiri, ada urusan apa boleh dibicarakan secara baik-baik, buat apa pakai kekerasan?" seru
Gak Put-kun sambil melangkah keluar. Ia lolos pedang dari pinggangnya Lo Tek-nau, sekali putar terus tekan
ke bawah, kontan pedangnya telah menahan ke bawah kedua batang pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin
yang sedang beradu itu.
Sekuatnya Pang Lian-eng hendak mengangkat pedangnya, tapi sedikit pun bergeming, pedang Gak Put-kun tak
dapat digeser sama sekali. Keruan ia tersipu-sipu, dengan muka merah kembali ia mengerahkan tenaganya
pula.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Ngo-gak-kiam-pay kita adalah sejalan dan sehaluan seperti orang sekeluarga, hendaklah Pang-suheng jangan
merisaukan kata-kata anak kecil," kata Gak Put-kun sambil tertawa. Lalu ia menoleh menyemprot Lenghou
Tiong, "Kau sembarangan mengoceh, hayo lekas minta maaf pada Pang-supek!"
Lenghou Tiong tidak berani membantah, terpaksa ia melangkah maju dan memberi hormat, katanya, "Maaf
Pang-supek, tadi aku telah sembarangan omong seperti burung gagak yang berkaok-kaok tak keruan dan
mencemarkan nama baik tokoh persilatan yang terhormat, sungguh lebih rendah daripada binatang, hendaklah
engkau jangan marah, aku tidak sengaja memaki engkau. Ocehan gagak busuk, gagak celaka tadi anggap saja
seperti kentut."
Begitulah berulang-ulang ia menyebut gagak busuk segala, sudah tentu semua orang mengetahui secara tidak
langsung dia sedang memaki Pang Lian-eng lagi. Masih mendingan orang lain, tapi Gak Leng-sian sudah tidak
tahan lagi sehingga mengikik tawa.
Dalam pada itu Gak Put-kun merasakan Pang Lian-eng berturut-turut tiga kali telah mengerahkan tenaga
dengan maksud hendak melepaskan pedang dari tindihan pedangnya. Gak Put-kun tersenyum sambil perlahanlahan
menarik pedangnya dan dikembalikan kepada Lo Tek-nau.
Saat itu Pang Lian-eng sedang berusaha mengangkat pedangnya ke atas, ketika daya tekanan dari atas
mendadak lenyap, maka terdengarlah suara "trang-trang" dua kali, dua batang pedang patah telah jatuh ke
lantai. Pedang Pang Lian-eng dan Gak-hujin masing-masing tinggal separuh saja, dan karena saking nafsunya
dia mengangkat pedangnya sehingga jidat Pang Lian-eng sendiri hampir-hampir terbacok oleh senjata patah.
Untung dia sempat menahannya, tapi juga sudah kelabakan dan muka merah.
"Ka ... kau ... dua mengeroyok satu," bentak Pang Lian-eng dengan gusar. Tapi lantas teringat olehnya bahwa
pedang Gak-hujin juga patah tertindih oleh tenaga dalam Gak Put-kun. Jadi terang Gak Put-kun hanya ingin
memisah pertarungan itu dan tiada maksud hendak membela istrinya. Maka dengan muka merah padam
mendadak ia membuang pedangnya yang patah, lalu putar tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Di waktu menggunakan pedangnya untuk menindih patah pedang kedua orang, Gak Put-kun sudah melihat di
belakang Lenghou Tiong berdiri Tho-kok-lak-sian yang berpotongan sangat aneh, diam-diam ia heran dan
segera memberi salam, "Maafkan jika ada sambutan yang kurang baik atas kunjungan tuan-tuan berenam."
Akan tetapi Tho-kok-lak-sian hanya terbelalak saja, tidak balas memberi hormat, juga tidak bicara.
Segera Lenghou Tiong berkata, "Ini adalah Suhuku, ketua Hoa-san-pay ...."
Belum habis ucapannya, mendadak Hong Put-peng telah menyela, "Memang betul dia adalah gurumu, tapi
apakah dia juga ketua Hoa-san-pay, ini harus tunggu nanti. Nah, Gak Put-kun, Ci-he-sin-kang yang telah kau
pertunjukkan tadi sungguh hebat. Tapi melulu mengandalkan kepandaian itu saja belum tentu mampu
mengetuai Hoa-san. Setiap orang mengetahui bahwa Hoa-san-pay adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay,
lima aliran ilmu pedang dari lima gunung, dan dengan sendirinya mengutamakan ilmu pedang. Tapi kau hanya
berlatih tentang 'Khi' (hawa, tenaga dalam) saja sehingga kau sebenarnya telah menyeleweng, yang kau latih
sudah bukan ajaran murni perguruan sendiri lagi."
"Ucapan Hong-heng ini agak berlebihan," sahut Gak Put-kun. "Memang betul yang dimainkan Ngo-gak-kiampay
adalah pedang, tapi setiap golongan dan aliran tentu juga mengutamakan 'tenaga dalam menyertai
pedang'. Ilmu pedang adalah pelajaran luar, Khikang adalah pelajaran dalam. Luar-dalam harus dilatih barulah
ilmu silatnya dapat sempurna. Bila menurut ucapan Hong-heng tadi dan cuma berlatih ilmu pedang melulu, bila
bertemu ahli Lwekang tentu akan kelihatan kelemahanmu."
"Itu pun belum tentu," kata Hong Put-peng dengan tertawa dingin. "Paling baik memang orang yang
serbapandai. Tapi umur manusia terbatas, mana ada kesempatan bagimu untuk meyakinkan segala macam
ilmu itu? Untuk meyakinkan ilmu pedang saja belum tentu bisa sempurna, masakah masih ada kesempatan
untuk meyakinkan Lwekang apa segala? Seperti dikatakan orang, tangan kiri melukis lingkaran, tangan kanan
menggambar persegi, kedua-duanya takkan jadi. Contoh ini sudah cukup menunjukkan bahwa seorang tidak
mungkin sekaligus meyakinkan macam-macam ilmu dengan sempurna. Aku tidak mengatakan berlatih Khikang
kurang baik, cuma ilmu silat sejati dari Hoa-san-pay kita bukanlah Khi, tapi adalah Kiam, ilmu pedangnya.
Bahwasanya kau ingin belajar ilmu silat dari golongan lain apa salahnya, sedangkan belajar ilmu dari Mo-kau
saja orang tak bisa urus, apalagi meyakinkan Khikang. Tapi manusia umumnya memang tamak, kalau bisa
ingin dapat lebih banyak, tapi sering-sering ketamakan itulah mendatangkan malapetaka malah. Sekarang kau
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
mengetuai Hoa-san-pay dan telah tersesat jalan, bencana yang ditimbulkan olehmu sungguh celaka bagi anak
murid Hoa-san-pay umumnya."
"Membawa bencana bagi anak murid Hoa-san-pay, kukira ini sukar dibuktikan," ujar Gak Put-kun dengan
tersenyum.
"Mengapa sukar dibuktikan?" mendadak si pendek yang berada di sebelah Hong Put-peng berteriak.
Perawakannya pendek, tapi suaranya ternyata sekeras guntur sehingga mengejutkan orang. Hanya Gak Putkun
yang Lwekangnya cukup sempurna sama sekali tidak tergetar oleh suaranya itu.
Melihat kepandaian "Say-cu-ho" (auman singa) yang sangat diandalkan itu sedikit pun tidak mengejutkan Gak
Put-kun, diam-diam si pendek gusar. Segera ia berteriak lebih keras lagi, "Kau bilang tiada buktinya? Ini,
murid-muridmu yang tak becus ini bukankah korban bencana yang kau perbuat? Kepandaian apa yang mereka
miliki?"
Suaranya yang lebih keras itu membuat anak telinga semua orang mendengung-dengung seakan-akan pekak.
Tapi Gak Put-kun tetap tersenyum saja, katanya, "Seng-heng, ilmu 'Say-cu-ho' ini sebenarnya berasal dari
kaum Buddha, jika sudah terlatih sempurna, sekali gertak saja dapat meruntuhkan ratusan atau ribuan orang,
kekuatannya memang tiada taranya."
Si pendek she Seng itu bernama Put-yu, arti namanya adalah "tidak sedih", tapi wataknya sangat keras,
berangasan. Begitu mendengar ucapan Gak Put-kun tadi, ia terkesiap dan mengakui pengetahuan Gak Put-kun
yang luas. Namun dengan gusar ia lantas berkata pula, "Hm, apakah kau hendak bilang Lwekangku kurang
murni, ilmu 'Say-cu-ho' ini belum sempurna, bukan?"
"Mana aku berani bermaksud demikian," sahut Put-kun. "Cuma ilmu Say-cu-ho ini adalah ilmu sakti kaum
Buddha, untuk bisa melatihnya hingga sempurna memang tidaklah mudah. Padri-padri saleh yang benar-benar
mahir ilmu ini pada zaman sekarang mungkin dapat dihitung dengan jari."
Ucapan Gak Put-kun itu kedengarannya sopan santun, tapi kalau diteliti lebih dalam, terang dia sedang
mengolok-olok kepandaian Seng Put-yu yang dianggapnya belum sempurna.
Watak Seng Put-yu sangat keras tapi otaknya kurang encer. Sesudah tertegun sejenak barulah paham maksud
ucapan Gak Put-kun itu, keruan ia menjadi gusar. "Sret", pedangnya lantas dilolos dan berteriak pula, "Hongsuheng
telah menyatakan kau tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay, kulihat kau memang tidak pantas
juga. Nah, kau ingin mundur teratur atau minta diseret turun dari kedudukanmu?"
"Seng-heng," jawab Gak Put-kun, "cabang Kiam-cong (sekte pedang) kalian sudah meninggalkan perguruan
kita pada 30 tahun yang lalu dan tidak mengaku sebagai murid Hoa-san-pay pula, mengapa hari ini kalian
datang mencari perkara? Jika kalian anggap memiliki kepandaian hebat, boleh saja kalian mendirikan
pangkalan sendiri untuk mengalahkan Hoa-san-pay di dunia persilatan, jika demikian halnya maka aku pun
akan menyerah lahir-batin. Tapi sekarang kalian sengaja cari perkara, selain membikin buruk hubungan baik
kita, apa sih faedahnya."
"Gak-suheng," seru Seng Put-yu, "Cayhe memang tiada permusuhan apa-apa dengan kau dan mestinya tidak
perlu bercekcok. Cuma kau sudah mengangkangi kedudukan Hoa-san-pay dan menyesatkan anak muridmu
yang mengutamakan berlatih Khi dan tidak meyakinkan Kiam, akibatnya nama dan wibawa Hoa-san-pay kita
makin hari makin runtuh, tanggung jawab ini betapa pun tak bisa kau elakkan. Sebagai murid Hoa-san-pay tak
dapatlah aku tinggal diam saja."
Baru sekarang Lenghou Tiong tahu jelas bahwa Hong Put-peng dan si pendek Seng Put-yu ini adalah murid
sekte pedang dari perguruannya sendiri.
Maka terdengar Gak Put-kun sedang menjawab, "Seng-heng, percekcokan sekte Khi dan sekte Kiam kita sudah
berlangsung sejak lama. Pada pertandingan di puncak Giok-li-hong dahulu sudah jelas siapa yang kalah dan
siapa yang menang. Kejadian yang sudah ditentukan beberapa puluh tahun yang lalu itu apa gunanya kalian
mengungkat-ungkatnya pula?"
"Tentang kalah atau menang pada pertandingan dahulu itu siapa yang menyaksikannya?" kata Seng Put-yu.
"Dengan lain perkataan, kedudukanmu sebagai ketua ini diperoleh secara tidak beres, kalau tidak, Co-bengcu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sebagai pemimpin Ngo-gak-kiam-pay sampai-sampai mengirimkan panji kebesarannya ini dan memerintahkan
kau mengundurkan diri?"
"Ya, kukira di dalam soal ini tentu ada sesuatu yang tidak beres," sahut Gak Put-kun. "Biasanya Co-bengcu
cukup bijaksana, menurut pikiran sehat tentu beliau takkan begitu saja mengirimkan panji kebesarannya dan
suruh mengganti ketua Hoa-san-pay."
"Memangnya apakah kau sangka panji ini palsu?" tanya Seng Put-yu sambil menunjuk panji Ngo-gak-kiam-pay
itu.
"Panji itu sih tidak palsu, cuma panji adalah benda mati, barang bisu, tak bisa bicara," ujar Put-kun.
Mendadak si kakek berjenggot dari Ko-san-pay itu ikut bicara, "Gak-suheng mengatakan panji ini barang bisu,
apakah aku Theng Eng-gok juga bisu?"
"Mana aku berani berkata demikian," sahut Put-kun. "Cuma persoalan ini sangat penting, Cayhe harus bertemu
sendiri dulu dengan Co-bengcu baru dapat mengambil keputusan."
"Jika demikian, jadi Gak-suheng tak dapat memercayai aku si orang she Theng ini?" kata si kakek berjenggot
yang bernama Theng Eng-gok itu dengan kurang senang.
"Mana aku berani," kata Put-kun. "Seumpama Co-bengcu benar-benar mempunyai maksud demikian juga
beliau tak dapat melulu percaya kepada satu pihak saja lantas memberikan perintahnya. Betapa pun beliau
juga mesti mendengar kata-kataku dahulu."
"Ah, apa gunanya banyak omong? Pendek kata kedudukanmu sebagai ketua ini terang tak mau diserahkan,
bukan?" sela Seng Put-yu sambil melolos pedang terus menyerang.
Berbareng dengan selesai ucapannya, sekaligus ia sudah menyerang empat kali. Empat kali serangan itu
cepatnya luar biasa, yang paling hebat adalah empat serangan itu satu sama lain berbeda gerakannya, benarbenar
luar biasa lihainya. Tusukan pertama menembus baju bagian bahu kiri, tusukan kedua menembus baju
bahu kanan, tusukan ketiga menembus baju dekat lambung kanan dan tusukan keempat menembus baju
bagian lambung kiri. Jadi empat kali tusukan telah membuat baju Gak Put-kun berlubang delapan buah,
untungnya tusukan-tusukan itu semuanya lewat dekat kulit badannya dan tiada sedikit pun melukai. Betapa
hebat dan bagusnya serangan-serangan ini benar-benar sudah mencapai tingkatan yang sangat sempurna.
Keruan para anak murid Hoa-san-pay sama terperanjat menyaksikan itu. Pikir mereka, "Keempat jurus
serangan itu adalah sejalan dengan ilmu pedang perguruan kita sendiri, cuma selamanya tak pernah melihat
dimainkan sang guru. Jago dari sekte pedang memang benar-benar lain daripada yang lain."
Sebaliknya Theng Eng-gok, Hong Put-peng dan lain-lain merasa lebih kagum terhadap Gak Put-kun. Sudah
terang empat jurus serangan Seng Put-yu itu sangat lihai dan mematikan, namun Gak Put-kun tetap
menghadapinya dengan tersenyum dan tenang, kesabarannya sebagai seorang yang berlatih ilmu dalam
sungguh jarang terdapat. Dan kalau dia dapat menghadapi serangan-serangan lihai itu dengan acuh tak acuh,
tentu Gak Put-kun sudah mempunyai perhitungan sendiri, bilamana perlu sekali turun tangan tentu dia mampu
mengalahkan Seng Put-yu. Dalam keadaan demikian walaupun Gak Put-kun sama sekali belum balas
menyerang, namun perbawanya tiada ubahnya seperti dia sudah di pihak yang menang.
Sedangkan Lenghou Tiong tengah menyelami keempat jurus serangan yang dilancarkan Seng Put-yu tadi.
Meski gaya empat kali serangan itu sangat aneh, tapi ia merasa sudah kenal betul, yaitu dua jurus serangan
menurut ukiran di dinding gua belakang yang telah dipelajarinya itu. Cuma di sini Seng Put-yu telah mengubah
dua jurus itu menjadi empat gerakan, padahal sebenarnya cuma dua jurus saja. Pikirnya diam-diam, "Apanya
yang mengherankan kedua jurus serangannya itu? Tapi tampaknya dia sangat bangga dengan kepandaiannya
itu."
Sementara itu terdengar Gak-hujin telah berkata, "Seng-heng, suamiku hanya mengalah mengingat kalian
adalah tamu kami. Kau sudah menusuk empat kali di atas bajunya, jika kau masih tidak tahu diri, betapa pun
Hoa-san-pay menghormati tamunya juga ada batasnya!"
Seng Put-yu memang sangat bangga dengan empat kali serangannya, tapi walaupun dia kagum juga terhadap
sikap Gak Put-kun yang tenang-tenang itu, namun dilihatnya sikap Gak-hujin rada khawatir, terang agak jeri
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
terhadap ilmu pedangnya tadi, keruan rasa sombong Seng Put-yu bertambah, segera ia menjawab, "Huh,
mengalah kepada tamu apa? Asalkan Gak-hujin mampu memecahkan empat jurus seranganku tadi, tanpa
disuruh juga aku akan segera pergi dari sini dan takkan menginjak lagi puncak Giok-li-hong ini."
Biarpun pengalamannya luas dan membanggakan ilmu pedangnya sendiri tapi melihat sikap Gak Put-kun yang
tenang-tenang itu, ia pun tidak berani menantang lagi padanya, sebagai gantinya ia berbalik menantang Gakhujin
yang dianggapnya kaum wanita lemah dan gampang dibekuk, dalam keadaan demikian tentu Gak Putkun
akan bingung menghadapi Hong Put-peng.
Begitulah segera ia menegakkan pedang dan berseru, "Nah, silakan Gak-hujin! Ling-lihiap adalah jago
terkemuka Hoa-san-pay yang terkenal, hari ini Seng Put-yu dari sekte pedang ingin belajar kenal dengan ilmu
dalam andalanmu."
Dengan ucapannya ini secara tidak langsung ia hendak menyatakan pertarungan kembali antara kedua sekte
Hoa-san-pay yang berbeda paham itu.
Dasar watak Gak-hujin memang lebih keras daripada sang suami, sudah tentu dia tak tahan atas tantangan
Seng Put-yu itu. "Sret", segera pedang dilolosnya.
Tapi sebelum dia membuka suara, Lenghou Tiong sudah lantas berseru, "Sunio, kepandaian sekte pedang yang
tersesat ini masakan dapat dibandingkan ilmu silat murni ajaran perguruan kita. Biarlah Tecu coba-coba dulu
padanya, jika Khikangku tidak mampu menandinginya barulah nanti Sunio membereskan dia."
Dan tanpa menunggu jawaban Gak-hujin segera ia melangkah maju, tahu-tahu tangannya sudah membawa
sebuah sapu bobrok yang dijemputnya dari pojok dinding sana. Sambil mengacung-acungkan sapunya dia
berkata kepada Seng Put-yu, "Seng-suhu, kau bukan lagi orang seperguruan, maka sebutan Supek atau Susiok
tidak berlaku lagi. Jika kau mau insaf dan masuk kembali ke perguruanku, entah Suhu sudi menerima kau atau
tidak? Seumpama Suhu sudi menerima kau, namun menurut peraturan Hoa-san-pay, orang yang masuk
perguruan lebih belakang harus panggil Suheng padaku. Nah, mau tidak?"
Habis berkata ia putar balik sapunya dan menuding ke arah Seng Put-yu.
Keruan Seng Put-yu menjadi murka, bentaknya, "Anak keparat, sembarangan mengoceh! Asalkan kau mampu
menahan empat kali seranganku tadi, aku Seng Put-yu akan mengangkat kau sebagai guru!"
Lenghou Tiong menggeleng-gelengkan kepala, sahutnya, "Tidak, aku tidak sudi mempunyai murid seperti kau
...." belum lenyap suaranya, Seng Put-yu sudah berjingkrak murka.
"Lolos pedangmu dan terima kematian!" bentak Seng Put-yu.
"Di mana tenaga murni tiba biarpun sebatang rumput juga mirip senjata tajam, terhadap beberapa jurus
serangan Seng-heng yang sepele itu buat apa mesti pakai pedang?" sahut Lenghou Tiong dengan sikap
mengejek.
"Baik, adalah kau sendiri yang sombong, maka jangan menyalahkan aku turun tangan keji," kata Seng Put-yu.
Gak Put-kun dan Gak-hujin tahu ilmu silat Seng Put-yu jauh lebih tinggi daripada Lenghou Tiong, hanya
sebatang sapu saja dapat berbuat apa? Jika pertandingan berlangsung tentu akan sangat berbahaya bagi
pemuda itu. Maka cepat mereka membentak, "Mundur, anak Tiong!"
Namun sudah terlambat, sinar pedang berkelebat, Seng Put-yu sudah mulai menyerang. Ia telah menusuk,
yang digunakan memang betul adalah jurus serangannya terhadap Gak Put-kun tadi.
Sebabnya dia tidak pakai jurus serangan lain, pertama, keempat jurus serangan itu memang kepandaiannya
yang paling diandalkan. Kedua, dia sudah menyatakan lebih dulu akan tetap menggunakan empat jurus
serangan itu. Ketiga, dia sengaja menggunakan serangan-serangan yang sudah dikenal lawan, dengan
demikian supaya orang lain takkan mengatakan dia menang karena bersenjata.
Sebaliknya diam-diam Lenghou Tiong sudah merancangkan cara menghadapi jurus-jurus serangan Seng Put-yu
itu. Dari gambar-gambar ukiran dinding yang dilihatnya di dalam gua itu, semuanya melukiskan pemakaian
senjata aneh untuk mengalahkan pedang lawan. Bila sekarang dirinya memakai pedang, padahal Tokko-kiuDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kiam belum terlatih dengan sempurna, tentu sukar memperoleh kemenangan malah. Sebaliknya sapu bobrok
ini kebetulan dapat digunakan sebagai Lui-cin-tang (sejenis senjata berbentuk serok).
Begitulah, maka ketika dilihatnya pedang Seng Put-yu menusuk ke arahnya, kontan sapu Lenghou Tiong terus
menyapu ke muka lawan.
Tindakan Lenghou Tiong ini sebenarnya sangat berbahaya. Kalau senjata yang dia gunakan benar-benar Luicin-
tang yang terbuat dari baja, maka serangannya ini tentu akan memaksa lawan menarik kembali pedangnya
untuk menangkis. Tapi sekarang senjatanya hanya sebatang sapu bobrok, paling-paling lidinya akan
menggores beberapa jalur luka di muka lawan saja, lebih dari itu tidak mungkin lagi. Sebaliknya pedang Seng
Put-yu tentu akan menembus dadanya.
Namun Lenghou Tiong agaknya sudah memperhitungkan lawannya adalah jago angkatan tua, tentu mukanya
tidak sudi disapu oleh sebuah sapu yang kotor itu. Sekalipun dia dapat membinasakan lawannya juga sukar
mencuci bersih rasa malu tersapunya muka oleh sapu yang penuh tahi ayam dan debu kotor itu.
Dan benar juga, di tengah jerit khawatir orang banyak, tiba-tiba Seng Put-yu memalingkan mukanya untuk
menghindar dan menarik kembali pedangnya untuk menangkis.
Cepat Lenghou Tiong juga menahan sapunya ke bawah untuk menghindarkan benturan dengan pedang musuh.
Bab 37. Tubuh Seng Put-yu Dibeset Menjadi Empat
Hanya satu gebrakan saja Seng Put-yu sudah terpaksa menarik kembali pedangnya untuk menangkis, tanpa
terasa mukanya menjadi merah jengah. Ia tidak tahu bahwa usapan sapu Lenghou Tiong sebenarnya adalah
ciptaan belasan jago Mo-kau, sebaliknya ia menyangka berhasilnya Lenghou Tiong mematahkan serangannya
hanya karena kebetulan saja. Dengan gusar serangan kedua segera dilontarkan pula menuju dada dekat
ketiak.
Namun Lenghou Tiong sempat mengegos pula, ia pindahkan sapu ke tangan kiri, tampaknya seperti
menghindari tusukan pedang lawan, tapi secepat kilat sapunya menyambar pula ke depan mengarah dada
Seng Put-yu.
Gagang sapu lebih panjang daripada pedang, meski sapunya bergerak belakangan, tapi tiba lebih dulu pada
sasarannya, belum sempat Seng Put-yu putar kembali pedangnya, beberapa jalur ujung sapu yang lemas itu
sudah mengenai dadanya, berbareng Lenghou Tiong berseru, "Kena!"
Akan tetapi hampir pada saat yang sama sapunya tertebas kutung oleh pedang lawan.
Namun para penonton dapat melihat dengan jelas bahwa Seng Put-yu yang kalah. Apabila senjata yang
digunakan Lenghou Tiong bukan sapu melainkan senjata panjang terbuat dari besi, maka dada Seng Put-yu
pasti sudah terluka parah.
Bilamana lawannya adalah tokoh kelas tinggi tentu Seng Put-yu akan melempar pedang dan mengaku kalah.
Tapi sekarang yang mengalahkan dia hanya seorang murid angkatan kedua, bahkan dikalahkan hanya dengan
sebuah sapu, ke mana lagi dia harus menaruh mukanya.
Tanpa bicara lagi, "sret-sret-sret", berturut-turut ia melancarkan tiga kali serangan lihai. Dua jurus serangan di
antaranya sama dengan ukiran di dalam dinding gua, satu jurus lainnya meski belum dikenal oleh Lenghou
Tiong, tapi sejak dia berhasil mempelajari "cara mengalahkan ilmu pedang" dari Tokko-kiu-kiam, untuk
mematahkan segala macam serangan pedang boleh dikata bukan sesuatu yang sukar lagi baginya.
Segera Lenghou Tiong berkelit menghindarkan serangan pertama, menyusul ia gunakan gagang sapu sebagai
toya untuk membentur batang pedang lawan sehingga menceng ke samping. Jurus ketiga dia sambut dengan
"toya", ujung pedang lawan dipapak dengan toya.
Jika yang dipegang Lenghou Tiong itu benar-benar toya terbuat dari baja, maka toya yang keras itu akan
melawan pedang yang agak lemas, tentu pedang akan patah seketika, cara ini memang amat bagus untuk
mematahkan serangan lawan dan pemakai pedang pasti akan celaka.
Tak terduga karena permainan dalam keadaan tergesa-gesa itu Lenghou Tiong lupa bahwa senjata yang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dipegangnya itu hanya batang bambu bekas sapu yang sudah terkutung ujungnya, toya bambu ketemu pedang
baja, dengan sendirinya bambunya kalah, "cret", ujung pedang menancap masuk ke tengah tabung bambu.
Pikiran Lenghou Tiong dapat bekerja dengan cepat, tangan kanan segera digunakan menghantam batang
bambu itu dari samping, kontan bambu yang berisikan pedang itu mencelat jauh ke sana.
Dari malu Seng Put-yu menjadi murka, tangan kiri menyambar secepat kilat, "brak", dengan tepat dada
Lenghou Tiong kena digenjot olehnya.
Kepandaian Seng Put-yu adalah hasil latihan dari berpuluh tahun, sebaliknya Lenghou Tiong hanya
mengandalkan gerak tipu yang aneh, sudah tentu tenaga dalamnya sekali-sekali bukan tandingan Seng Put-yu,
kontan ia roboh terjungkal, darah segar lantas menyembur dari mulutnya.
Sekonyong-konyong beberapa bayangan orang berkelebat, tahu-tahu kedua tangan dan kedua kaki Seng Putyu
diangkat ke atas oleh orang, terdengarlah suara jeritan ngeri, menyusul darah bertebaran memenuhi lantai
bercampur dengan isi perut yang berhamburan.
Ternyata badan Seng Put-yu telah dibetot mentah-mentah menjadi empat potong, setiap anggota badannya itu
dipegang oleh seorang yang berwajah buruk dan aneh. Kiranya empat dari Tho-kok-lak-sian yang membeset
tubuh Seng Put-yu.
Kejadian yang cepat dan luar biasa ini membikin setiap orang terkesima kaget. Saking ngerinya Gak Leng-sian
sampai menjerit dan jatuh pingsan.
Perubahan yang mendadak itu sekalipun Gak Put-kun, Hong Put-peng dan tokoh-tokoh kelas tinggi pun
tertegun di tempatnya dengan mulut melongo. Pada saat yang hampir sama, Tho-kan-sian yang bermuka
kelabu dan Tho-sit-san yang bermuka kuda itu pun melayang maju mendekati Lenghou Tiong, dengan cepat
luar biasa mereka angkat tubuh pemuda itu terus dibawa lari ke bawah gunung dengan cepat luar biasa.
Berbareng Gak Put-kun dan Hong Put-peng juga bergerak, pedang mereka menusuk dua orang di antara enam
tamu aneh itu, tapi lantas terdengar suara "crang-cring" dua kali, pedang mereka lantas patah menjadi dua.
Hanya dalam sekejap mata saja keempat "dewa" itu sudah menghilang dengan Ginkang mereka yang tinggi.
Waktu pedang Gak Put-kun dan Hong Put-peng tergetar patah, mereka merasa badan sasarannya itu bukanlah
badan dari darah dan daging, keruan mereka terperanjat. Tapi mereka lantas sadar juga bahwa di punggung
kedua orang aneh itu tentu terdapat benda keras sebangsa pelat besi dan sebagainya, kalau tidak masakah
mampu menahan tusukan dua jagoan seperti Gak Put-kun dan Hong Put-peng.
Jago Hoa-san-pay yang satu lagi bernama Ko Put-ek, dia juga menyambitkan sebatang panah kecil dan jago
Ko-san-pay yang berjenggot telah menimpukkan sebuah paku, sambaran kedua senjata rahasia ini sangat
keras, tapi juga terdengar suara "tring-tring" dua kali, walaupun mengenai sasarannya, namun punggung
kedua orang aneh itu tidak terluka sedikit pun, hanya dalam sekejap saja keenam manusia aneh sudah
menghilang dengan menggondol Lenghou Tiong.
Gak Put-kun, Hong Put-peng, Theng Eng-gok, Ko Put-ek dan lain-lain hanya saling pandang dengan melongo,
sudah terang mereka tidak sanggup mengejar kecepatan Tho-kok-lak-sian itu. Mereka merasa ngeri dan sedih
melihat darah berceceran memenuhi lantai dengan jenazah Seng Put-yu yang sudah terbeset menjadi empat
potong itu.
Selang agak lama barulah Theng Eng-gok membuka suara, "Gak-heng, apakah engkau tidak kenal asal-usul
keenam orang aneh itu?"
Put-kun menggeleng kepala, sorot matanya menatap ke arah Hong Put-peng dengan maksud bertanya, tapi
Hong Put-peng juga geleng-geleng kepala, begitu pula yang lain.
Dalam pada itu Lenghou Tiong yang terluka parah karena hantaman Seng Put-yu, selama jatuh pingsan dia
telah dibawa lari oleh kedua "dewa". Waktu dia siuman kembali, segera dilihatnya dirinya berbaring di dalam
kamar, sebuah wajah yang panjang seperti muka kuda dengan mata yang bersinar tajam sedang menatapnya
dengan penuh rasa cemas dan khawatir.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Melihat Lenghou Tiong membuka mata, dengan girang Tho-hoa-sian berseru, "Aha, dia sudah sadar, sudah
sadar! Bocah ini takkan mati."
"Sudah tentu takkan mati, hanya pukulan begitu saja masakah bisa membuatnya mati?" ujar Tho-sit-sian.
"Huh, enak saja kau bicara," bantah Tho-hoa-sian. "Coba kalau pukulan itu mengenai tubuhmu, sudah tentu
tak bisa melukaimu, tapi bocah ini mana bisa dibandingkan dirimu, bukan mustahil dia akan mati terhantam."
"Sudah terang dia tidak mati, mengapa kau bilang dia akan terhantam mati?" sahut Tho-sit-sian.
"Aku kan tidak bilang pasti akan mati, tapi aku mengatakan bukan mustahil akan terpukul mati," kata Tho-hoasian.
"Kalau dia sudah siuman kembali tentu tidak ada alasan dikatakan bukan mustahil akan mati," sahut Tho-sitsian
dengan ngotot.
"Aku tetap akan berkata demikian, habis kau mau apa?" kata Tho-hoa-sian dengan aseran.
"Itu membuktikan pandanganmu kurang tepat, boleh dikatakan pula pada hakikatnya kau tidak tahu," ujar
Tho-sit-sian.
"Jika kau tahu pasti dia takkan mati, mengapa tadi kau sendiri menghela napas dan merasa khawatir dan
sedih?" debat Tho-hoa-sian.
"Aku menghela napas bukan mengkhawatirkan kematiannya, tapi khawatir si nona cilik akan merasa cemas bila
melihat keadaannya ini," sahut Tho-sit-sian. "Kedua, dasarnya mukaku memang panjang seperti muka kuda,
potongan muka yang panjang seperti aku ini dengan sendirinya tak bisa tertawa-tawa dan riang gembira."
Mendengar pertengkaran mulut kedua orang aneh itu, walaupun merasa geli juga, tapi jelas kedua orang itu
menaruh perhatian yang amat besar terhadap keselamatannya, maka diam-diam Lenghou Tiong merasa sangat
terharu dan berterima kasih.
Ketika mendengar mereka mengatakan "si nona cilik" mungkin yang dimaksudkan itu adalah Gi-lim Sumoay
dari Hing-san-pay. Maka dengan tersenyum ia lantas menyela, "Sudahlah, kalian berdua jangan khawatir, aku
Lenghou Tiong takkan mati."
"Nah, kau dengar dia sendiri menyatakan takkan mati, tadi kau masih terus bilang dia mungkin akan mati,"
demikian Tho-sit-sian lantas menumpangi.
"Waktu aku mengatakan demikian tadi dia masih belum bersuara," sahut Tho-hoa-sian tak mau kalah.
"Sejak tadi dia sudah membuka mata dan dengan sendirinya dapat membuka suara, hal ini siapa pun dapat
menduganya," kata Tho-sit-sian.
Diam-diam Lenghou Tiong merasa jemu, kalau pertengkaran kedua orang itu diteruskan, boleh jadi takkan
berhenti biarpun tiga-hari-tiga-malam. Segera ia berkata, "Ya, sebenarnya aku akan mati, cuma ketika
mendengar kalian berharap aku jangan mati, kupikir betapa besar kekuasaan Tho-kok-lak-sian, bila kalian
minta aku jangan mati, mana aku berani mati?"
Mendengar demikian, senanglah hati Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian. Kata mereka berbareng, "Marilah kita beri
tahukan kepada Toako!"
Segera mereka berlari pergi. Tidak lama kemudian Tho-kok-lak-sian pun muncul lagi seluruhnya.
Kembali keenam orang itu bicara tidak habis-habis, ada yang membual bahwa jasanya sendiri paling besar, ada
yang merasa bersyukur Lenghou Tiong tidak mati, ada lagi yang menyatakan rasa khawatirnya ketika Lenghou
Tiong terpukul roboh, karena menolong pemuda itu lebih penting sehingga tidak sempat membikin perhitungan
dengan si anjing tua dari Ko-san-pay. Kalau tidak, anjing tua Ko-san-pay itu juga dibetot menjadi empat
potong barulah rasa dongkolnya bisa terlampias.
Luka Lenghou Tiong sebenarnya sangat berat, untuk menyenangkan Tho-kok-lak-sian tadi dia telah ikut bicara,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
tapi habis itu dia lantas pingsan pula. Dalam keadaan samar-samar ia merasa dadanya terasa muak dan sesak,
darah seluruh tubuhnya seakan-akan bergolak saling tumbuk, rasanya tidak enak.
Sejenak kemudian, ketika pikirannya rada sadar, ia merasa tubuhnya seperti sedang dipanggang, panasnya tak
terkatakan. Tanpa merasa ia merintih. Tiba-tiba ada orang membentaknya, "Ssst, jangan bersuara!"
Waktu Lenghou Tiong membuka matanya, dilihatnya sebuah pelita dengan api sebesar kacang berada di atas
meja, sekujur badan sendiri telanjang bulat dan terbaring di lantai, kedua tangan dan kedua kaki masingmasing
dipegang oleh seorang, dua orang lagi ada yang menahan perutnya dengan telapak tangan, ada lagi
yang menggunakan telapak tangan menekan "Pek-hwe-hiat" di ubun-ubunnya.
Dalam kagetnya segera Lenghou Tiong merasa suatu hawa panas menyusup masuk melalui telapak kaki kiri
terus naik ke paha, ke perut, ke dada, ke lengan kanan dan akhirnya mencapai telapak tangan kanan.
Berbareng itu suatu hawa panas juga menyusup masuk melalui telapak tangan kiri terus naik ke lengan, ke
dada, ke perut, ke paha kanan dan akhirnya sampai di telapak kaki kanan.
Kedua arus hawa panas itu terus berputar kian kemari, saking panasnya Lenghou Tiong merasa seperti sedang
dipanggang. Dia tahu Tho-kok-lak-sian sedang menggunakan Lwekang yang tinggi untuk menyembuhkan
lukanya, dalam hati dia merasa sangat berterima kasih. Segera ia pun mengerahkan Lwekang sendiri untuk
menambah kekuatan penyembuhan itu.
Tak terduga baru saja tenaganya sendiri baru mulai bekerja dari pusarnya, mendadak perut terasa sakit luar
biasa seperti ditikam, kontan darah segar tersembur dari mulutnya.
Keruan Tho-kok-lak-sian terkejut. "Celaka!" teriak mereka berbareng.
Segera Tho-yap-sian yang tangannya menahan ubun-ubun Lenghou Tiong itu lantas menepuk sehingga
pemuda itu dihantam pingsan lagi.
Untuk selanjutnya Lenghou Tiong selalu berada dalam keadaan tak sadar, badan sebentar dingin dan sebentar
panas, kedua arus hawa panas itu pun selalu menyusur kian kemari di antara urat anggota badannya, antara
kedua kaki dan kedua tangan terkadang timbul beberapa arus hawa panas yang saling gontok, saling tumbuk
sehingga rasanya bertambah menderita.
Hari itu mendadak pikiran Lenghou Tiong rada segar. Didengarnya Tho-kan-sian sedang berkata, "Coba kalian
lihat, dia sudah tidak berkeringat lagi, bukankah karena hawa murni yang kusalurkan dan berputar di antara
urat nadi anggota badannya telah membawa hasil? Dengan caraku ini tentu dapat kusembuhkan lukanya."
"Ala, masih berani omong besar?" sahut Tho-kin-sian. "Coba kalau kemarin dulu tidak menggunakan caraku,
dengan hawa murni yang kusalurkan ke berbagai urat nadi di bagian jantung dan perutnya, tentu sejak itu
bocah ini sudah mati, masakah kau sempat menunggu lagi sampai hari ini."
"Betul!" sahut Tho-ki-sian. "Cuma biarpun cara Toako itu dapat menyembuhkan luka dalamnya, namun kedua
kakinya tentu akan menjadi lumpuh dan ini berarti kurang sempurna cara penyembuhanmu, betapa pun toh
caraku lebih baik. Luka dalam bocah ini terletak pada bagian jantungnya, segala penyembuhan harus
disalurkan melalui sana."
"Kembali kau mengoceh tak keruan," omel Tho-kin-sian dengan gusar. "Kau bukan cacing di dalam perutnya,
dari mana kau tahu luka dalamnya terletak pada jantungnya?"
Begitulah beberapa orang aneh itu kembali bertengkar tidak habis-habis.
Tiba-tiba Tho-yap-sian berkata, "Cara menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, kukira kurang baik, kurasa
lebih penting harus menyembuhkan dulu kakinya melalui Siau-yang-meh."
Habis berkata, tanpa menunggu persetujuan kawan-kawannya segera tangannya menekan "Tang-kok-hiat" di
bagian lutut kiri Lenghou Tiong, suatu arus hawa panas lantas menyusup masuk melalui Hiat-to itu.
Tho-kan-sian menjadi gusar, bentaknya, "Hah, kembali kau main gila padaku. Baiklah, boleh kita coba-coba
siapa yang lebih tepat."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lalu ia pun mengerahkan tenaga dalam dan memperkuat saluran hawa murninya.
Keruan yang paling celaka adalah Lenghou Tiong sendiri, ia merasa muak dan ingin muntah, darah seakanakan
hendak menyembur keluar pula. Diam-diam ia hanya mengeluh belaka.
Ia tahu keenam orang itu bermaksud baik menolong jiwanya, tapi mereka mempunyai pendirian yang berbedabeda
cara penyembuhannya, jika masing-masing menggunakan caranya sendiri-sendiri, maka runyamlah
dirinya.
Sesungguhnya ia ingin bersuara menolak dan minta agar Tho-kok-lak-sian berhenti saja, celakanya mulutnya
sukar bicara.
"He, kalian lihat, kedua mata bocah itu terbelalak belaka, bibirnya bergerak, tapi justru tidak mau bicara ...."
demikian terdengar Tho-yap-sian berseru.
Keruan Lenghou Tiong sangat mendongkol, bukannya dia tidak mau bicara, tapi badan tersiksa sedemikian
rupa, masakah sanggup bersuara pula.
Sementara itu Tho-yap-sian sedang melanjutkan, "Melihat keadaannya, terang kepalanya pening dan matanya
berkunang-kunang, maka harus disembuhkan melalui ...."
Baru sampai di sini Lenghou Tiong lantas merasa bagian bawah matanya yang melekuk itu kesakitan, menyusul
ujung sisi bawah juga terasa linu, menyusul lagi beberapa Hiat-to di bagian dahi dan di belakang kepala ikut
kesakitan pula dan linu pegal, saking tak tahan, Lenghou Tiong hanya dapat meringis saja.
"Lihatlah, biarpun kau pencet sini dan pijat sana toh dia masih tidak bicara," kata Tho-ki-sian. "Kukira bukan
otaknya yang berpenyakit, tapi lidahnya yang kaku, ini tandanya harus menyembuhkan dia melalui In-pek-hiat,
Thay-pek-hiat dan lain-lain tempat, tapi ... tapi kalau tidak sembuh, jangan kalian menyalahkan aku!"
"Jika kau tak bisa menyembuhkan dia, tentu jiwanya akan melayang, maka kau harus disalahkan," kata Thokan-
sian.
"Wah, kalau salah menyembuhkannya kan bisa runyam," sahut Tho-ki-sian yang bernyali kecil sebagai tikus
itu.
"Salah atau tidak sulit untuk dikatakan karena belum kau lakukan," ujar Tho-hoa-sian. "Padahal bocah ini
hanya terluka luar saja dan tidak penting, namun sudah sekian lama kita berusaha menyembuhkan dia dan
tetap gagal. Kukira dia punya penyakit ini harus disembuhkan mulai dari dalam."
"Ah, kau memang plintat-plintut, kemarin kau bilang begitu, sekarang bilang begini, mengapa saling
bertentangan pendapatmu?" omel Tho-sit-sian.
"Kita sudah mencobanya dengan berbagai cara dan tetap tidak berhasil, terpaksa aku harus menggunakan cara
yang luar biasa," tiba-tiba Tho-kin-sian menyela.
"Cara yang luar biasa bagaimana?" tanya saudara-saudaranya.
"Penyakit bocah ini terang semacam penyakit yang aneh dan harus disembuhkan dengan cara aneh pula. Maka
aku akan menyembuhkan dia melalui Hiat-to di luar kebiasaan, aku akan menutuk 12 Hiat-to yang paling aneh
dan jarang dikenal."
"He, jangan Toako, ini terlalu bahaya!" seru Tho-hoa-sian dan lain-lain.
Tapi lantas terdengar Tho-kin-sian membentak, "Jangan apa? Jika ayal tentu jiwa bocah ini sukar tertolong
lagi!"
Habis itu Lenghou Tiong lantas merasa In-tong-hiat, Hi-yau-hiat dan lain-lain kesakitan luar biasa seperti
ditusuk oleh pisau tajam. Ia pentang mulut ingin berteriak, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan suara. Ia
merasa enam arus hawa panas berputar kian kemari dari berbagai urat nadi yang berlainan, terkadang saling
gontok dan saling tumbuk dengan hebatnya. Sudah tentu derita Lenghou Tiong tak terkatakan, nyata tubuhnya
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
telah menjadi medan pertempuran hawa murni keenam manusia aneh itu.
Sungguh gusar Lenghou Tiong tidak kepalang, diam-diam ia mengutuki Tho-kok-lak-sian itu, bila dirinya tidak
jadi mati, kelak tentu akan kucencang kalian enam ekor anjing tua ini, demikian gerutunya dalam hati. Kalau
bisa bersuara, mungkin segala caci maki yang paling kotor sudah dilontarkan.
Padahal kalau dipikir, maksud tujuan Tho-kok-lak-sian itu tidaklah jahat melainkan ingin menyembuhkan
lukanya dengan bantuan tenaga murni mereka, cara demikian sebenarnya sangat merugikan mereka sendiri.
Begitulah sembari mengerahkan hawa murni masing-masing untuk menyembuhkan Lenghou Tiong, Tho-koklak-
sian masih terus bertengkar karena berbeda pendapat. Mereka tidak tahu bahwa karena sok pintar mereka,
selama beberapa hari Lenghou Tiong telah "dipermak" oleh mereka sedemikian rupa.
Untunglah sejak kecil Lenghou Tiong sudah belajar Lwekang Hoa-san-pay yang hebat, dasarnya sudah
terpupuk kuat, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang kena dikocok oleh Tho-kok-lak-sian itu.
Sesudah lama mengerahkan hawa murni mereka dan keadaan Lenghou Tiong bukannya bertambah baik,
sebaliknya denyut jantungnya semakin lemah, napasnya semakin berat, bukan mustahil segera akan tewas,
mau tak mau Tho-kok-lak-sian menjadi khawatir. Tho-ki-sian yang penakut itu yang pertama-tama berkata,
"Sudahlah, aku tidak mau bekerja lagi. Jika diteruskan dan dia telanjur mati, arwahnya yang penasaran
mungkin akan selalu menggoda padaku, kan bisa susah aku."
Habis berkata segera ia menarik tangannya yang menahan salah satu Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong.
Tho-kin-sian menjadi gusar, katanya, "Jika bocah ini benar-benar mati, maka orang pertama yang disalahkan
tentulah dirimu. Arwahnya akan berubah menjadi setan gentayangan dan akan selalu menggoda dan mengintil
di belakangmu."
Mendadak Tho-ki-sian menjerit ketakutan, ia melompat keluar melalui jendela, dalam sekejap saja sudah
menghilang entah ke mana.
Berturut-turut Tho-kan-sian, Tho-sit-sian dan lain-lain juga lantas menarik kembali tangan mereka. Ada yang
berkerut kening, ada yang geleng-geleng kepala, semuanya merasa tak berdaya.
"Tampaknya bocah ini sukar diselamatkan lagi, lantas bagaimana baiknya?" ujar Tho-yap-sian.
"Boleh kalian beri tahukan si nona cilik, katakan bahwa bocah ini telah kena dihantam satu kali oleh keparat
itu, karena tidak tahan maka bocah ini mati," ujar Tho-kan-sian.
"Katakan tidak bahwa kita telah berusaha menyembuhkan dia?" tanya Tho-kin-sian.
"Wah, ini jangan sekali-kali diberitahukan," sahut Tho-kan-sian.
"Tapi kalau si nona cilik tanya kita mengapa tidak berusaha menyembuhkan dia, lantas bagaimana?" tanya pula
Tho-kin-sian.
"Jika begitu kita katakan saja sudah berusaha menyembuhkan dia, cuma tidak berhasil," kata Tho-kan-sian.
"Dan si nona cilik tentu akan anggap kita Tho-kok-lak-sian tak berguna, tidak becus, lebih celaka daripada
enam ekor anjing," kata Tho-kin-sian.
Tho-kan-sian menjadi gusar, serunya, "Wah, si nona cilik memaki kita sebagai anjing, sungguh keterlaluan, aku
tidak tahan."
"Si nona cilik tidak memaki kita, akulah yang bilang demikian," kata Tho-kin-sian.
"Jika dia tidak memaki, dari mana kau tahu?" tanya Tho-kan-sian.
"Aku kan cuma mengumpamakan saja, boleh jadi dia akan memaki kita," sahut Tho-kin-sian.
"Aku yakin si nona cilik pasti akan menangis dan takkan memaki kita," ujar Tho-kan-sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aku lebih suka dia memaki kita sebagai anjing daripada melihat dia menangis sedih," kata Tho-kin-sian.
"Seumpama dia benar-benar memaki juga takkan memaki kita sebagai anjing," kata Tho-kan-sian pula.
"Habis memaki kita sebagai apa?" tanya Tho-kin-sian.
"Memangnya kita berenam ini mirip anjing?" sahut Tho-kan-sian. "Sedikit pun tidak mirip. Maka kukira dia akan
memaki kita sebagai kucing."
"Cis, mengapa memaki kita sebagai kucing?" sela Tho-yap-sian. "Memangnya kita mirip kucing?"
"Kata-kata makian kan tidak perlu mesti mirip dengan orang yang dimaki," timbrung Tho-hoa-sian. "Kita
adalah manusia, adalah orang, bila nona cilik mengatakan kita adalah orang, maka ini bukan lagi makian."
"Seumpama dianggap orang juga masih ada kemungkinan dimaki," Tho-sit-sian ikut di dalam perdebatan itu.
"Umpama dia mengatakan kita adalah orang goblok, orang tolol, orang jahat, ini kan kata-kata makian."
"Biarpun orang goblok atau tolol atau orang jahat, setidak-tidaknya akan lebih lumayan daripada anjing, "ujar
Tho-kin-sian.
"Jika keenam ekor anjing itu adalah anjing pintar, anjing galak, lalu anjingnja lebih baik atau orangnya lebih
baik?" tanya Tho-sit-sian.
Sejak tadi Lenghou Tiong berbaring dalam keadaan kempas-kempis, sungguh geli setengah mati ketika
mendengarkan pertengkaran mereka yang lucu itu. Entah mengapa, tiba-tiba suatu arus hawa hangat
menyentak ke atas, mendadak ia dapat bersuara, "Enam ekor anjing tentu akan jauh lebih baik daripada
kalian!"
Seketika para "Sian" itu melongo kaget. Belum lagi mereka sempat bersuara, sekonyong-konyong terdengar
Tho-ki-sian bertanya di luar jendela, "Mengapa enam ekor anjing akan lebih baik daripada kami?"
Tadi dia telah lari pergi terbirit-birit, entah sejak kapan dia sudah mengeluyur kembali.
Maka berbareng kelima saudaranya ikut bertanya, "Ya, mengapa enam ekor anjing bisa lebih baik daripada
kami?"
Sungguh Lenghou Tiong ingin membuka mulut dan mencaci maki mereka, tapi tenaga sedikit pun tidak ada,
hanya dengan suara lemah ia berkata, "Ka ... kalian antarkan aku kembali ke ... ke Hoa-san, hanya ... hanya
Suhuku saja yang da ... dapat menolong jiwaku ...."
"Apa katamu? Hanya gurumu saja yang mampu menolong jiwamu?" Tho-kin-sian menegas. "Jadi maksudmu
Tho-kok-lak-sian tak mampu menolongmu?"
Lenghou Tiong manggut-manggut, mulutnya ternganga, tapi tak bisa bicara lagi.
"Persetan!" omel Tho-yap-sian. "Apa kepandaian Suhunya, masakah dia lebih lihai daripada kami Tho-kok-laksian?"
"Hm, boleh coba suruh gurunya bertanding dengan kita," seru Tho-hoa-sian.
"Ya, kita berempat masing-masing memegang satu tangan dan satu kakinya, sekali betot saja dia akan kita
sobek menjadi empat potong," kata Tho-kan-sian.
"Benar, bahkan setiap orang di Hoa-san akan kita sobek menjadi empat potong," teriak Tho-sit-sian.
Mendengar pertengkaran manusia-manusia abnormal yang ngawur dan lucu itu, kalau tidak berada dalam
keadaan payah sungguh Lenghou Tiong ingin tertawa sepuas-puasnya. Tapi biarpun tutur kata dan tingkah laku
orang-orang aneh itu sangat menggelikan, namun akhirnya Lenghou Tiong merasa sebal juga.
Cuma kalau dipikir kembali, kali ini secara kebetulan dapat bertemu dengan manusia-manusia aneh itu, hal ini
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
boleh dikata sesuatu yang menguntungkan juga, paling tidak melihat tingkah laku yang menggelikan dan sukar
dicari bandingannya itu sungguh tidak percumalah hidupnya ini.
Teringat demikian, tanpa merasa timbul semangat jantannya, tiba-tiba ia berkata, "Aku ... aku ingin minum
arak!"
Seketika Tho-kok-lak-sian bergirang mendengar suara Lenghou Tiong. Seru mereka, "Bagus, bagus sekali! Dia
ingin minum arak, terang dia takkan mati."
"Mati atau tidak, paling perlu sekarang minum arak dulu sepuas-puasnya," kata Lenghou Tiong setengah
merintih.
"Betul, orang hidup kalau tidak minum arak apa artinya menjadi manusia, kan lebih baik menjadi kura-kura
saja," kata Tho-hoa-sian yang kegemarannya juga minum arak.
Sebaliknya Tho-kan-sian yang biasanya tidak minum arak itu menjadi gusar, teriaknya, "Kau memaki aku yang
tidak suka minum arak sebagai kura-kura, kuyakin kau sendiri adalah bulus."
"Bulus juga boleh, paling perlu minum arak," sahut Tho-hoa-sian.
Khawatir kedua orang itu bertengkar lagi tak habis-habis, cepat Lenghou Tiong merintih pula, "Lekas ... lekas
ambilkan, aku ingin minum arak, kalau tidak tentu aku akan ... akan mati!"
"Ya, ya, baik, akan kuambilkan arak," sahut Tho-hoa-sian cepat sambil melangkah pergi.
Benar juga, tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah poci arak.
Keadaan Lenghou Tiong sebenarnya sudah sangat payah, tapi demi mengendus bau arak, seketika
semangatnya berbangkit, katanya, "Harap suapi aku!"
Tho-ki-sian lantas tempelkan poci arak itu ke mulutnya dan perlahan menuangkan araknya. Seceguk demi
seceguk akhirnya Lenghou Tiong menjadi tambah sadar dan cerdas, pikirnya, "Keenam orang ini suka diumpak,
dipuji, terpaksa aku harus menipu mereka."
Maka ia lantas berkata, "Guruku sering berkata bahwa jago yang paling ... paling lihai di dunia ini adalah Tho ...
Tho ...." sampai di sini ia sengaja berhenti.
Sudah tentu Tho-kok-lak-sian menjadi tertarik, cepat mereka tanya berbareng, "Apakah Tho-kok-lak-sian
maksudmu?"
Lenghou Tiong tersenyum, sahutnya, "Ya, betul. Suhuku sering berkata pula bahwa beliau sangat ingin diberi
kesempatan untuk minum arak bersama Tho-kok-lak-sian dan bersahabat dengan mereka agar ... agar dapat
minta keenam kesa ... kesat ...."
"Keenam kesatria maksudnya?" kembali Tho-kok-lak-sian menegas.
"Betul, agar dapat minta keenam kesatria besar itu sudi memperlihatkan kesaktian mereka di depan para murid
Hoa-san-pay ...." sampai di sini napas Lenghou Tiong terasa sesak, terpaksa ia berhenti bicara.
Keruan Tho-kok-lak-sian tidak mau berhenti, beramai-ramai mereka bertanya, "Lalu bagaimana? Dari mana
gurumu mengetahui kesaktian kami? Wah, ketua Hoa-san-pay itu benar-benar seorang yang baik hati, siapa
saja yang berani mengganggu sebatang rumput ataupun sebatang pohon Hoa-san tentu kita takkan
mengampuni dia."
"Gurumu adalah orang baik, kami sangat ingin bersahabat dengan dia. Marilah sekarang juga kita berangkat ke
Hoa-san!" akhirnya Lak-sian berkata demikian.
Justru kata-kata ini yang lagi diharapkan Lenghou Tiong agar diucapkan mereka, maka tanpa pikir ia lantas
menanggapi, "Betul, sekarang juga kita lantas berangkat ke Hoa-san!"
Dasar Tho-kok-lak-sian memang polos, sekali bilang berangkat segera mereka benar-benar berangkat.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong lantas mereka gotong terus diangkut pergi.
Setengah hari kemudian tiba-tiba Tho-kin-sian mengeluh, "Wah, celaka. Salah, salah besar! Nona cilik
menyuruh kita membawa bocah ini untuk menghadapinya, mengapa kita malah membawanya kembali ke Hoasan?"
Bab 38. Kui-hoa-po-tian = Inti Rahasia Pi-sia-kiam-hoat
"Kali ini ucapan Toako benar," sahut Tho-kan-sian. "Lebih baik kita membawanya menghadap si nona cilik
dahulu, kemudian baru kita berangkat ke Hoa-san."
Bicara demikian, kontan mereka ganti haluan dan menuju ke jurusan selatan.
Lenghou Tiong menjadi kelabakan, cepat ia berkata, "Yang ingin dilihat si nona cilik itu orang hidup atau orang
mati?"
"Sudah tentu ingin melihat bocah yang hidup dan tidak mau yang mati," sahut Tho-kin-sian.
"Kalau demikian, bila kalian tidak mengantar aku ke Hoa-san, segera aku akan memutuskan urat nadiku sendiri
supaya mati seketika," kata Lenghou Tiong.
"Bagus, Kungfu mahatinggi memutus urat nadi sendiri itu cara bagaimana melatihnya, coba pertunjukkan
kepada kami!" seru Tho-sit-sian dengan girang.
"Sekali melatih ilmu demikian, seketika kau sendiri akan mati, apa faedahnya melatihnya?" ujar Tho-kan-sian.
"Ada faedahnya juga," seru Lenghou Tiong dengan napas terengah-engah. "Umpama pada waktu terpaksa,
daripada menderita lebih baik memutus urat nadi sendiri agar mati saja."
Mendadak Tho-kok-lak-sian merasa khawatir, seru mereka, "Nona cilik ingin bertemu denganmu, sekali-sekali
kami tidak bermaksud jahat dan sengaja memaksamu."
"Ya, kalian mungkin bermaksud baik, tapi sebelum kulapor kepada Suhu dan minta persetujuan beliau, biarpun
mati juga aku tidak mau menurut," kata Lenghou Tiong.
"Baiklah, terlambat sedikit hari tidak menjadi soal, biarlah kami mengantarmu pulang ke Hoa-san dahulu," kata
Tho-kin-sian.
Beberapa hari kemudian mereka bertujuh sudah berada di Hoa-san lagi. Kira-kira dua li dari ruang pendopo Cokong-
tong mereka sudah dilihat oleh anak murid Hoa-san-pay dan segera berlari memberi lapor kepada Gak
Put-kun.
Gak Put-kun dan istri terkejut mendengar bahwa keenam orang aneh yang menculik Lenghou Tiong itu
sekarang datang lagi. Cepat ia membawa anak muridnya menyambut keluar.
Cepat sekali datangnya Tho-kok-lak-sian itu, baru saja Gak Put-kun dan rombongannya keluar ruangan
pendopo sudah lantas tampak keenam orang aneh itu sedang mendatang, dua orang di antaranya menggotong
usungan dan Lenghou Tiong terbaring di atas usungan itu.
Gak-hujin memburu maju untuk memeriksa, dilihatnya muka muridnya kurus pucat, terang dalam keadaan
sakit payah. Keruan Gak-hujin terkejut, cepat ia pegang nadi Lenghou Tiong, terasa denyutnya lemah dan
kacau, jiwanya dalam keadaan bahaya.
"Tiong-ji, Tiong-ji!" serunya.
Lenghou Tiong membuka mata sedikit dan menyapa dengan lemah, "Su ... Su ...." tapi ia tidak sanggup
meneruskan panggilannya.
Air mata Gak-hujin lantas bercucuran, katanya, "Tiong-ji, biarlah ibu guru membalaskan sakit hatimu!"
Mendadak ia lolos pedang terus hendak menusuk Tho-hoa-sian yang ikut menggotong usungan itu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Nanti dulu!" syukur Gak Put-kun sempat mencegahnya. Lalu ia memberi salam kepada Tho-kok-lak-sian dan
berkata, "Maafkan jika aku tiada mengadakan penyambutan atas kunjungan kalian ke Hoa-san ini. Entah
siapakah nama kalian yang mulia dan asal dari aliran manakah?"
Mendengar itu mendongkol dan kecewa pula Tho-kok-lak-sian. Sebenarnya mereka percaya penuh apa yang
dikatakan Lenghou Tiong bahwa Gak Put-kun sangat kagum dan hormat kepada mereka berenam saudara,
siapa duga baru bertemu saja sudah lantas tanya nama, terang ketua Hoa-san-pay ini sebelumnya sama sekali
tidak kenal siapa Tho-kok-lak-sian.
Segera Tho-kin-sian berkata, "Katanya kalian suami-istri sangat mengagumi kami berenam saudara, jadi hal ini
sama sekali tidak benar?"
"Kau pernah bilang Tho-kok-lak-sian adalah jago yang paling lihai di dunia ini, masakah kau tidak tahu bahwa
kami inilah Tho-kok-lak-sian yang dimaksud itu?" Tho-kan-sian ikut bicara.
"Ya, katanya kau sangat ingin bertemu dan bersahabat dengan kami untuk minum arak bersama-sama,
sekarang kami telah datang kemari, nyatanya kau tidak gembira dan tiada maksud mengundang kami minum
arak pula, jadi apa yang kau katakan dahulu itu cuma dusta belaka?" tanya Tho-kin-sian.
Sudah tentu Gak Put-kun merasa bingung. Pikirnya, "Keenam orang ini mengaku Tho-kok-lak-sian, tapi
tampang mereka dan tingkah lakunya mirip siluman, di mana ada tanda-tanda sebagai 'Sian' (dewa)? Apalagi
kalau melihat cara mereka merobek tubuh Seng Put-yu yang kejam itu, terang mereka adalah jago dari
golongan Sia-pay. Sebenarnya mereka adalah tamu dan pantas juga mengundang mereka makan-minum, tapi
mereka telah membunuh orang di atas Hoa-san tanpa menghormati pihak tuan rumah, untuk ini saja sudah
kehilangan kehormatan sebagai tamu. Sejak dulu golongan Cing-pay tak pernah hidup berdampingan dengan
Sia-pay, apalagi mereka telah menyiksa anak Tiong sedemikian rupa, tidak mungkin mereka mempunyai
maksud baik."
Karena pikiran demikianlah, dengan sikap dingin ia lantas menjawab, "Kalian mengaku sebagai Tho-kok-laksian,
padahal aku hanya manusia biasa saja dan tidak berani bersahabat dengan para dewa."
Ucapan Gak Put-kun ini terang adalah sindiran, tapi bagi pendengaran Tho-kok-lak-sian ternyata dirasakan
sebagai suatu pujian, mereka sangat senang dan berkata, "Ah, tidak menjadi soal. Kami Lak-sian sudah
bersahabat dengan muridmu, untuk bersahabat lagi denganmu juga boleh."
"Meski ilmu silatmu sangat rendah juga kami takkan memandang hina padamu, untuk ini kau tak perlu
khawatir," demikian Tho-sit-sian menambahkan.
"Ya, seumpama dalam hal ilmu silat ada yang kurang jelas bagimu, boleh silakan kau tanya saja kepada kami,
sekali Tho-kok-lak-sian menganggapmu sebagai sahabat, tentu kami akan memberi petunjuk seperlunya," kata
Tho-hoa-sian.
Dasar sifat Tho-kok-lak-sian memang kekanak-kanakan dan tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia, apa
yang mereka ucapkan itu sesungguhnya timbul dari maksud baik, tapi bagi pendengaran seorang guru besar
ilmu silat sebagai Put-kun sudah tentu dirasakan sebagai suatu penghinaan besar.
Untung Gak Put-kun adalah seorang yang sabar dan ramah tamah, walaupun batinnya sangat gusar, tapi
mukanya masih tersenyum saja, katanya, "Terima kasihlah atas maksud baik kalian."
"Terima kasih tidaklah perlu," kata Tho-kan-sian. "Bila Tho-kok-lak-sian sudah anggap kau sebagai sahabat,
sudah tentu segala apa yang kami ketahui akan kami beri tahukan selengkapnya."
"Ya, sekarang juga akan kuperlihatkan beberapa gerakan agar segenap warga Hoa-san-pay kalian bisa tambah
pengalaman," Tho-sit-sian menambahkan pula.
Mendengar kata-kata mereka yang sombong dan sembrono itu, sejak tadi Gak-hujin sudah amat gusar.
Sekarang ia benar-benar tidak tahan lagi, pedang bergerak, tahu-tahu dada Tho-sit-sian sudah terancam, tapi
Gak-hujin belum lagi menyerang, katanya, "Baik, akan kubelajar kenal dengan kepandaian senjatamu."
"Selamanya Tho-kok-lak-sian tidak menggunakan senjata, katanya kau kagum terhadap ilmu silat kami,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
mengapa tidak tahu akan hal ini?" kata Tho-sit-sian.
Ucapan ini bagi pendengaran Gak-hujin kembali dirasakan sebagai penghinaan pula, tanpa pikir lagi pedangnya
lantas menusuk ke depan sambil berkata, "Ya, aku memang tidak tahu."
Gak-hujin adalah tokoh tertinggi dari Hoa-san-pay, sekte yang mengutamakan "Khi" (hawa), serangannya itu
dengan sendirinya sangat lihai dan cepat. Apalagi Tho-sit-sian sama sekali tiada sedikit pun merasa
bermusuhan dengan nyonya Gak itu, sama sekali ia tidak menduga akan diserang secara mendadak, tahu-tahu
ujung pedang sudah sampai di depan dadanya, dalam kagetnya lekas ia hendak berkelit.
Namun sudah kasip, serangan Gak-hujin itu sungguh teramat cepat, "bles", dadanya tertubles pedang.
Berbareng Tho-sit-sian masih sempat hantam dengan sebelah tangannya dan mengenai pundak Gak-hujin.
Kontan Gak-hujin terhuyung-huyung mundur dua tindak sehingga pedangnya terlepas dari cekalan dan masih
menancap di dada Tho-sit-sian dengan bergoyang-goyang.
Keruan Tho-kin-sian dan saudara-saudaranya yang lain menjerit kaget. Lebih-lebih Tho-ki-sian yang bernyali
kecil itu, tanpa pikir lagi segera ia angkat tubuh Tho-sit-sian terus dibawa lari terbirit-birit, hanya sekejap saja
sudah menghilang.
Sisa empat "dewa" lagi mendadak menerjang maju, dengan cepat tak terperikan mereka sambar kedua kaki
dan kedua tangan Gak-hujin terus diangkat ke atas.
Gak Put-kun tahu gerakan selanjutnya dari keempat orang itu tentu membetot sekuatnya dan tubuh sang istri
pasti akan terobek menjadi empat potong. Cepat ia bertindak, namun betapa pun tenangnya, menghadapi
keadaan demikian mau tak mau tangannya agak gemetar juga ketika pedangnya sekaligus menusuk Tho-kinsian
dan Tho-yap-sian.
Saat itu Lenghou Tiong masih terbaring di atas usungan yang terletak di atas tanah, ketika melihat sang ibu
guru terancam bahaya maut, entah dari mana datangnya tenaga, sekonyong-konyong ia melompat bangun
sambil berteriak, "Jangan mencelakai ibu guruku. Kalau tidak, segera kuputuskan urat nadiku sendiri."
Selesai ucapannya itu, tak tertahan lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya, menyusul
orangnya lantas jatuh pingsan.
Dalam pada itu Tho-kin-sian telah dapat menghindarkan serangan Gak Put-kun, segera ia berkata, "Wah,
bocah itu akan memutus urat nadinya sendiri, ini bisa runyam, biarlah kita ampuni saja perempuan ini."
Tanpa bicara lagi keempat "dewa" itu lantas melepaskan kembali Gak-hujin. Rupanya mereka
mengkhawatirkan keadaan Tho-sit-sian yang terluka parah itu. Empat saudara seperti satu perasaan, tanpa
berunding segera mereka putar tubuh dan berlari pergi menyusul Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian.
"Sumoay, janganlah gusar, kita pasti akan menuntut balas kejadian ini," kata Gak Put-kun kemudian. "Keenam
orang ini benar-benar lawan yang tangguh, syukur kau sudah membinasakan satu di antara mereka."
Sesudah agak tenang kembali, teringatlah Gak-hujin akan nasib Seng Put-yu dirobek mentah-mentah tubuhnya
oleh Tho-kok-lak-sian itu, seketika hatinya berdebar-debar membayangkan kejadian tadi sehingga wajah pun
pucat.
Gak Put-kun tahu tidak kecil kejut sang istri tadi, katanya kepada Leng-sian, "Anak Sian, bawalah ibumu ke
kamar untuk mengaso dulu."
Waktu ia periksa keadaan Lenghou Tiong, dilihatnya mulut dan dada pemuda itu penuh darah, napasnya lemah,
keadaannya sangat payah, tampaknya lebih banyak mati daripada hidupnya.
Cepat Gak Put-kun menahan Leng-tay-hiat di punggung muridnya itu, jiwa Lenghou Tiong itu hendak
diselamatkannya dengan saluran tenaga dalam yang kuat.
Tapi baru saja ia mulai mengerahkan tenaga, mendadak terasa di dalam tubuh pemuda itu timbul perlawanan
dari beberapa arus tenaga dalam yang sangat aneh, hampir-hampir saja tangan Gak Put-kun tergetar lepas.
Gak Put-kun sudah berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, di dunia persilatan kalau melulu soal Lwekang boleh
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dikatakan jarang ada tandingannya. Tapi beberapa arus tenaga aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong itu
ternyata dapat menggetarkan tangannya, hal ini benar-benar sangat aneh dan mengejutkan.
Segera ia pun dapat merasakan bahwa beberapa arus tenaga dalam yang aneh itu bahkan saling gontok di
dalam tubuh Lenghou Tiong dan bertumbuk kian kemari tak berhenti-henti.
Waktu ia merasakan pula Tan-tong-hiat di dada Lenghou Tiong, kembali tangannya tergetar lebih keras, hal ini
membuatnya lebih terkejut. Terasa olehnya beberapa arus hawa murni yang bergerak di dalam tubuh muridnya
itu terang adalah Lwekang yang paling tinggi dari golongan persilatan tertentu, setiap arus hawa murni itu
meski lebih lemah daripada Ci-he-sin-kang sendiri, tapi kalau dua arus tenaga itu bergabung menjadi satu, ini
saja sudah cukup untuk mengalahkannya.
Setelah diperiksa lebih teliti lagi, terasa hawa murni di dalam tubuh Lenghou Tiong itu ada enam arus. Khawatir
kalau tenaga dalam sendiri terbuang terlalu banyak, Gak Put-kun tidak berani meraba tubuh Lenghou Tiong
lagi. Pikirnya, "Enam arus tenaga ini tentu milik keenam orang aneh yang disalurkan ke dalam tubuh anak
Tiong. Maksud tujuan keenam orang itu sungguh keji, mereka telah menyalurkan tenaga murni masing-masing
ke dalam enam urat nadi sehingga anak Tiong kenyang menderita, hidup tak bisa mati pun sukar."
Maklumlah bahwa Tho-kok-lak-sian sebenarnya bermaksud menyembuhkan luka Lenghou Tiong, akibatnya
malah tubuh Lenghou Tiong berubah menjadi medan gontok-gontokan bagi keenam tenaga murni mereka.
Kekuatan mereka berenam memangnya sembabat, enam arus tenaga itu sukar menentukan kalah dan menang
sehingga selalu dalam keadaan gontok-gontokan tak berhenti-henti. Hal aneh ini selamanya tak pernah terjadi
di dunia persilatan, sudah barang tentu sulit diselami menurut akal sehat Gak Put-kun.
Segera Put-kun suruh Ko Kin-beng dan Liok Tay-yu menggotong Lenghou Tiong ke kamar, ia sendiri lantas
pergi menjenguk sang istri.
Gak-hujin hanya terkejut saja dan tidak terluka apa-apa, saat itu ia sedang duduk di tempat tidur sembari
memegangi tangan Leng-sian, hatinya masih belum tenteram. Ketika melihat sang suami datang segera ia
bertanya, "Bagaimana keadaan Tiong-ji? Apakah lukanya berbahaya?"
Gak Put-kun diam saja, selang sebentar barulah berkata, "Aneh, sungguh aneh!"
"Kenapa aneh?" tanya Gak-hujin.
Maka berceritalah Gak Put-kun tentang enam arus hawa murni yang aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong.
"Wah, jika demikian, hawa murni itu satu per satu harus dipunahkan, hanya tidak tahu apakah waktunya masih
keburu atau tidak?" ujar Gak-hujin dengan rasa khawatir.
Put-kun termenung sambil menengadah. Agak lama kemudian baru berkata, "Sumoay, menurut pendapatmu,
sedemikian rupa keenam siluman itu menyiksa Tiong-ji, sesungguhnya apa maksud tujuan mereka?"
"Mungkin mereka ingin paksa anak Tiong bertekuk lutut mengaku kalah atau hendak memaksa dia mengaku
sesuatu rahasia perguruan kita," kata Gak-hujin. "Sudah tentu anak Tiong pantang menyerah, maka keenam
siluman itu lantas menyiksanya dengan cara kejam."
"Seharusnya memang begitu," ujar Gak Put-kun sambil menggeleng. "Namun perguruan kita kan tiada rahasia
apa-apa, keenam siluman itu selamanya tidak kenal dan tiada permusuhan apa-apa dengan kita. Apa sebabnya
mereka menculik anak Tiong dan kemudian dibawanya kembali lagi?"
"Apakah mungkin karena ...." tapi Gak-hujin tidak melanjutkan lagi karena merasa pendapatnya itu tidak
masuk di akal. Suami-istri itu hanya saling pandang saja sembari berkerut kening.
Tiba-tiba Leng-sian menceletuk, "Meski perguruan kita tiada sesuatu rahasia apa pun, tapi ilmu silat Hoa-sanpay
amat terkenal di seluruh jagat. Dengan menangkap Toasuko mungkin mereka bermaksud memaksa dia
mengaku tentang intisari Khikang dan Kiam-hoat dari perguruan kita."
"Aku pun berpikir tentang hal ini," kata Put-kun. "Tapi taraf Lwekang anak Tiong masih terbatas, dengan
Lwekang keenam siluman yang mahatinggi itu, mereka akan segera mengetahui kekuatan anak Tiong itu.
Mengenai Lwekang, jelas cara mereka itu tidak sama dengan Hoa-san-pay kita, tidak nanti mereka incar soal
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
ini. Seumpama mereka hendak memaksa anak Tiong mengaku sesuatu toh dapat dibawa ke lain tempat,
mengapa mesti dibawa kembali ke sini?"
Mendengar nada kata-kata sang suami semakin pasti, sebagai suami-istri sekian lama, Gak-hujin lantas tahu
tentu suaminya sudah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Segera ia pun bertanya, "Lalu
sebenarnya apa tujuan mereka?"
"Menggunakan luka parah anak Tiong untuk menguras tenaga dalamku," kata Gak Put-kun dengan serius.
Gak-hujin sampai melonjak bangun. "Benar," serunya. "Demi untuk menolong jiwa anak Tiong tentu kau akan
menggunakan tenagamu untuk menghapus hawa murni mereka yang tertanam di dalam badan anak Tiong itu,
bila usahamu tengah kepalang tanggung, tentu keenam siluman itu mendadak akan muncul dan dengan mudah
kita dibinasakan."
Ia merandek sejenak, lalu melanjutkan, "Untung sekarang hanya tinggal sisa lima siluman saja. Suko, tapi
mereka terang sudah menangkap diriku, mengapa demi mendengar bentakan anak Tiong mereka lantas
melepaskan aku pula?"
Teringat kepada saat-saat berbahaya tadi, tanpa terasa ia menggigil ngeri juga.
"Aku justru merasa curiga atas kejadian tadi," kata Gak Put-kun. "Mereka takut kalau-kalau Tiong-ji benarbenar
memutus urat nadi sendiri, maka engkau dilepaskan kembali. Coba pikirkan, kalau tiada muslihat keji di
balik perbuatan mereka itu, buat apa mereka menyayangkan Tiong-ji?"
"Sungguh keji dan kejam," gerutu Gak-hujin.
Memang kalau melihat caranya siluman itu membetot tubuh Seng Put-yu sehingga sobek menjadi empat
potong, tiada seorang pun yang tidak merasa jeri dan ngeri. Sekarang Tho-kok-lak-sian sudah menculik dan
membawa kembali lagi Lenghou Tiong yang keadaannya sangat payah itu, siapa pun juga tentu yakin keenam
orang itu pasti tidak bermaksud baik. Jadi dugaan Gak Put-kun dan istrinya itu bukanlah tanpa alasan.
Maka Gak-hujin berkata pula, "Jika demikian, jelas engkau tak dapat menyembuhkan Tiong-ji dengan
Lwekangmu. Meski tenagaku tak dapat disamakan dengan kau, semoga dapat menyelamatkan jiwanya untuk
sementara."
Habis berkata segera ia melangkah ke pintu kamar.
"Sumoay!" tiba-tiba Put-kun memanggilnya.
Waktu sang istri menoleh, Put-kun telah menggeleng kepala dan berkata, "Tidak perlu kau lakukan, tiada
gunanya. Hawa murni keenam siluman itu sangat lihai."
Ia kenal watak istrinya yang suka unggul, maka ia tidak mau bicara lebih banyak lagi.
Gak-hujin ragu-ragu sejenak, akhirnya ia duduk kembali, katanya, "Hanya kau punya Ci-he-sin-kang saja yang
dapat menyembuhkannya bukan? Lalu bagaimana baiknya?"
"Sekarang terpaksa kita berbuat sebisanya selangkah demi selangkah, lebih dulu kita pertahankan hidup anak
Tiong, untuk ini tidak perlu banyak membuang tenaga dalam," ujar Put-kun.
Segera mereka masuk ke kamar Lenghou Tiong. Napas pemuda itu tampak sangat lemah, Gak-hujin menjadi
cemas, air mata hampir-hampir bercucuran pula. Segera ia bermaksud memeriksa nadi Lenghou Tiong.
Tapi Put-kun mencegah dengan memegang tangan sang istri, ia geleng-geleng kepala, lalu tangan istrinya
dilepaskan.
Tiba-tiba ia gunakan kedua telapak tangannya untuk menahan kedua telapak tangan Lenghou Tiong, ia
salurkan tenaga murni Ci-he-sin-kang dengan perlahan-lahan. Tapi begitu tenaganya kebentrok dengan hawa
murni yang bergolak di dalam tubuh Lenghou Tiong, seketika badan Gak Put-kun tergetar, hampir saja hawa
ungu pada wajahnya bertambah tandas. Lekas-lekas ia mundur selangkah dan segera mengerahkan tenaga
dalam pula sehingga hawa ungu pada mukanya itu hanya timbul sekejap saja lantas menghilang lagi. Ia kedipi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sang istri, lalu mereka hendak keluar kamar.
Ketika Leng-sian hendak ikut keluar, Put-kun memberi tanda dan berkata, "Kau boleh tinggal di sini dan
merawat Toasukomu."
Pada saat itu mendadak Lenghou Tiong membuka suara, "Di ... di manakah Lim-sute?"
"Untuk apakah kau cari Siau-lim-cu?" tanya Leng-sian heran.
Dengan mata terpejam Lenghou Tiong berkata, "Ketika ayahnya ... ayahnya akan mangkat, dia pesan sesuatu
padaku agar ... agar disampaikan kepada Lim-sute. Aku su ... sudah tak tertolong lagi, lekas ... lekas panggil
Lim-sute ke sini."
Dengan air mata berlinang-linang Leng-sian lantas lari keluar kamar.
Put-kun membisiki sang istri, "Ucapan ini mungkin sangat penting, dia harus sempat memberitahukannya
kepada Peng-ci."
Segera ia mendekati tempat tidur, sebelah tangannya menahan di Leng-tay-hiat dan menyalurkan Ci-he-cin-khi
(hawa murni dari ilmu sakti Ci-he-sin-kang) pula dengan perlahan.
Anak murid Hoa-san-pay memang semuanya berkumpul di luar kamar, begitu mendengar panggilan Leng-sian,
segera Lim Peng-ci ikut masuk ke kamar. Ia mendekati pembaringan Lenghou Tiong dan menyapa, "Toasuko,
hendaklah menjaga badanmu baik-baik."
"Apakah Lim ... Lim-sute ini?" tanya Lenghou Tiong dengan mata terpejam.
"Ya, akulah," sahut Peng-ci.
"Waktu ayahmu wafat, aku ... aku menunggu di sampingnya," tutur Lenghou Tiong dengan lemah dan
terputus-putus. "Beliau minta ... minta aku menyampaikan padamu, katanya ... katanya ...."
Sampai di sini suaranya bertambah lemah pula. Semua orang sama menahan napas sehingga suasana di dalam
kamar bertambah hening.
Cepat Gak Put-kun mengerahkan Lwekang sakti pula, napas Lenghou Tiong dapat dikuatkan, maka dapatlah ia
menyambung ucapannya, katanya, "... di Ku ... Kui ... Kui-hoa ...."
Mendengar kata-kata "Kui-hoa" (bunga matahari) itu, seketika hati Gak Put-kun tergetar. Dan sedikit
terpencarnya pikiran itu saja lantas terasa enam arus hawa murni dalam tubuh Lenghou Tiong membanjir ke
Leng-tay-hiat dengan amat dahsyat dan hampir-hampir tangannya tergetar lepas.
Cepat Gak Put-kun mengerahkan tenaga pula, dengan hawa murni yang kuat ia salurkan pula melalui Lengtay-
hiat di tubuh Lenghou Tiong.
Lalu Lenghou Tiong berkata pula, "... di Kui-hoa-kang ... setiap benda di tempat tinggal lama itu harus dijaga
sebaik-baiknya. Cuma ... cuma jangan sekali-kali membongkar dan melihatnya, kalau tidak ... kalau tidak,
tentu akan mendatangkan bencana ...."
Peng-ci terheran-heran, katanya, "Kui-hoa-kang (Gang bunga matahari) kata ayah. Tapi di kota Hokciu kami
tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang. Tempat tinggal kami yang lama juga tidak terletak di gang yang
bernama demikian."
"Hanya ... hanya begitulah pesan ayahmu yang ... yang minta kusampaikan pada ... padamu ...."
Habis isi suara Lenghou Tiong kembali lemah lagi.
Gak Put-kun dapat merasakan enam arus hawa aneh di dalam tubuh muridnya itu makin lama makin bergolak
dengan hebat, sekalipun dirinya mengorbankan seluruh tenaga murni Ci-he-sin-kang juga pasti sukar
memunahkannya. Maka ia lantas menarik kembali tangannya. Segera Gak-hujin mengeluarkan saputangannya
untuk mengusap keringat yang memenuhi dahi sang suami.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Kemudian Put-kun tanya Lim Peng-ci pula, "Jadi di kota Hokciu tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang? Tapi
mungkin ada tempat atau jalan lain yang bernama senada dengan itu?"
Peng-ci mengingat-ingat sebentar, akhirnya menjawab, "Tidak, tidak ada."
"Jika begitu di manakah letak tempat tinggal keluargamu yang lama?" tanya Gak-hujin.
"Buyutku dahulu tinggal di Hiang-jit-hong (jalan matahari)," sahut Peng-ci. "Kemudian pindah ...."
"Hiang-jit-hong, Hiang-jit-hong!" sela Gak Put-kun. "Hiang-jit-kui adalah nama lain dari bunga matahari. Jika
demikian agaknya Hiang-jit-hong itu pun bernama Kui-hoa-kang."
"Ya, boleh jadi begitu," sahut Peng-ci. "Mungkin usia Tecu masih terlalu kecil sehingga tidak tahu nama lain
daripada Hiang-jit-hong itu. Sebab sejak perusahaan pengawalan kami berkembang dengan besar, lalu kakek
membangun gedung perusahaan yang dijadikan untuk tempat tinggal pula."
"Ya, tentu begitulah," kata Gak Put-kun.
"Menurut pesan ayahmu, barang apakah yang dikatakan benda yang berada di tempat tinggal lama itu?" tanya
Gak-hujin.
"Hal ini boleh dibicarakan nanti saja," tiba-tiba Put-kun menyela. Lalu katanya kepada Peng-ci dan Leng-sian,
"Kalian berdua boleh temani Toasuko, bila penyakitnya ada perubahan hendaklah lekas lapor padaku."
Kedua muda-mudi itu mengiakan.
Lalu Put-kun mengedipi sang istri, kedua orang lantas kembali ke kamar sendiri. Sesudah tutup pintu kamar,
dengan suara berbisik Put-kun berkata, "Sumoay, menurut pikiranmu, benda apakah yang dimaksudkan itu?"
"Benda di tempat tinggal mereka yang lama itu sudah tentu tidak berhitung banyaknya, dari mana bisa
mengetahui benda apa yang dimaksudkan?" sahut Gak-hujin.
"Pesannya mengatakan jangan membongkar dan melihatnya bukan?" Put-kun.
Seketika Gak-hujin sadar, serunya, "Ah, benar, tentu maksudnya 'Pi-sia-kiam-boh' keluarga mereka itu?"
"Tapi kalau yang dimaksudkan adalah 'Pi-sia-kiam-boh', mengapa pada waktu ajalnya Lim Cin-lam memberi
pesan wanti-wanti agar jangan sekali-kali membuka dan melihatnya, kalau tidak pasti akan mendatangkan
bencana?"
"Teka-teki ini tidak sukar ditebak," ucap Gak-hujin. "Bukankah 'Pi-sia-kiam-hoat' keluarga Lim mereka teramat
jamak dan tiada artinya, sekalipun berhasil melatihnya juga tidak cukup untuk menghalau musuh tangguh,
sebaliknya malah akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Sebab itulah Lim Cin-lam menyuruh putranya
menjaga baik-baik benda pusaka leluhur dan melarangnya untuk belajar karena pengalaman selama hidup
sendiri itu sudah menjadi bukti yang nyata."
Put-kun merenungkan pendapat sang istri dan tidak memberi tanggapan apa-apa.
Gak-hujin tahu dalam segala hal sang suami jauh lebih paham daripada dirinya, melihat suaminya tidak
membenarkan juga tidak menyanggah uraiannya ia menduga besar kemungkinan pendapatnya tadi kurang
tepat. Maka ia lantas tanya pula, "Habis sebenarnya bagaimana persoalannya? Ai, engkau ini memang suka
main simpan rahasia, lekas menerangkan."
"Aku sendiri pun tidak paham bagaimana persoalan yang sebenarnya," sahut Gak Put-kun. "Buyut Peng-ci
bernama Lim Wan-tho, dahulu malang melintang dan jarang ada tandingan di dunia Kangouw, ilmu pedang
yang diandalkan olehnya 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim mereka, kisah ini turun-temurun selalu
menjadi buah bibir para tokoh Jing-sia-pay, guru Ih Jong-hay yang bernama Tiang-jing-cu juga dikalahkan
olehnya, maka dapat dibayangkan Pi-sia-kiam-hoat yang tulen pasti tidak sejelek seperti apa yang dipahami
Lim Peng-ci sekarang."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Kan aneh, kalau bukan Pi-sia-kiam-hoat yang dimaksudkan, lalu mengenai apa?" ujar Gak-hujin.
Gak Put-kun mengeluarkan sebuah kotak besi dari bawah bantal, tutup kotak itu dibuka dan dikeluarkannya
sejilid buku bertulis linen.
Keruan Gak-hujin tambah heran, katanya, "Apa barangkali keluarga Lim mereka juga memiliki 'Ci-he-pit-kip'
(kitab rahasia ilmu sakti pelangi ungu)?"
Put-kun tersenyum, jawabnya, "Kitab Ci-he-pit-kip ini adalah pusaka yang dirahasiakan dari perguruan kita,
mana mungkin dipunyai oleh orang lain?"
Ia lantas membalik halaman terakhir dari kitab itu, ditunjukkannya 16 huruf paling akhir dari halaman itu dan
berkata, "Coba baca!"
Gak-hujin memandang ke arah yang ditunjuk itu, terlihat ke-16 huruf yang dimaksudkan itu, arti huruf-huruf
itu adalah, "Ci-he-pit-kip, pengantar permulaan pemupukan dasar. Kui-hoa-po-tian, tingkatan tertinggi paling
sempurna!"
Sebagai sesama saudara seperguruan, meski Gak-hujin tidak pernah diberi lihat kitab pusaka itu oleh guru
mereka, tapi sesudah kawin dengan Gak Put-kun, sebagai suami istri dengan sendirinya tiada sesuatu pula
yang perlu dirahasiakan, maka sudah beberapa kali Gak-hujin membaca isi kitab itu.
Cuma pantangan pada waktu melatih Ci-he-sin-kang itu terlalu banyak, kemajuannya juga sangat lambat, hal
ini tidak cocok dengan sifat Gak-hujin yang tidak sabaran, maka ia cuma berlatih beberapa bulan saja, lalu
tidak diteruskan.
Ke-16 huruf itu juga sudah lama dibacanya, tatkala mana ia pun berpikir, "Melulu Ci-he-pit-kip yang
merupakan pengantar ilmu pemupukan dasar saja sukar dilatih, apalagi hendak meyakinkan isi 'Kui-hoa-potian'
(kitab mestika bunga matahari) yang merupakan tingkatan tertinggi dan paling sempurna?"
Lantaran tidak tertarik, maka apa yang pernah dibacanya itu pun lantas dilupakan olehnya. Sekarang sang
suami justru memperlihatkan tulisan itu, tiba-tiba pikirannya tergerak, maka katanya cepat, "Kui-hoa-po-tian?
Apakah mungkin Kui-hoa-kang di kota Hokciu ada sangkut pautnya dengan Kui-hoa-po-tian? Apakah di dunia
ini benar-benar ada kitab mestika Kui-hoa-po-tian?"
Dengan sikap sungguh-sungguh Gak Put-kun berkata, "Ci-he-pit-kip ini adalah tulisan tangan leluhur perguruan
kita, setiap huruf dan setiap kalimatnya telah kupelajari dengan teliti, di dalamnya memang mencakup ilmu
ajaib yang tiada terbatas. Ke-16 huruf di halaman terakhir ini pun, serupa dengan huruf-huruf isi kitab yang
lain, kuyakin pasti bukan omong kosong dan palsu."
Gak-hujin menghela napas, katanya, "Seumpama di dunia ini benar ada kitab Kui-hoa-po-tian, tentu isinya
sangat mukjizat dan sukar dipelajari dengan sempurna."
"Untuk ini ...." mendadak Gak Put-kun tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Suko," kata Gak-hujin, "bila kawanan siluman itu sudah mengatur muslihat keji demikian pasti mereka matimatian
akan datang lagi, bila sampai terjadi sesuatu, bukankah ...."
"Ya, dengan kekuatan kita berdua paling-paling hanya dapat melawan mereka berdua dengan sama kuatnya,
bila melawan keroyokan mereka bertiga sudah pasti akan kalah, apalagi kalau mereka berlima maju sekaligus,
terang kita tidak mampu melawan."
Sebenarnya Gak-hujin juga merasa suami-istri mereka bukan tandingan kelima siluman itu, tapi ia tahu akhirakhir
ini sejak sang suami berhasil menyempurnakan Ci-he-sin-kang, kekuatan sang suami sudah maju luar
biasa, betapa pun ia masih berharap kalau-kalau dapat mengatasi musuh. Sekarang demi mendengar
pengakuan sang suami yang terus terang itu, seketika ia menjadi gelisah, katanya, "Lalu bagaimana ...
bagaimana baiknya? Masakah kita hanya berpeluk tangan menanti ajal saja?"
"Sumoay," kita Put-kun, "hendaknya jangan khawatir. Seorang laki-laki sejati harus berani melihat kenyataan,
bisa maju dan berani mundur. Kalah atau menang tidak ditentukan dalam pertarungan sesaat-dua saat saja."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Jadi kau maksudkan kita lebih baik melarikan diri?" tanya Gak-hujin.
"Bukan lari," sahut Put-kun, "melainkan menghindarnya untuk sementara. Musuh berjumlah banyak, sebaliknya
kita suami-istri hanya berdua, cara bagaimana kita mampu melawan kerubutan mereka berlima? Padahal
engkau sudah membunuh salah seorang siluman itu, sesungguhnya kita sudah di pihak yang menanti,
andaikan sekarang kita menghindar untuk sementara juga tidak merosotkan derajat siapa pun juga, rasanya
orang luar juga takkan mengetahui kejadian ini."
"Meski telah kubunuh seorang di antara mereka, tapi jiwa anak Tiong juga terancam bahaya, maka palingpaling
cuma dianggap seri saja," kata Gak-hujin. "O, anak Tiong ...."
Sejak kecil Lenghou Tiong berada di bawah asuhannya hingga dewasa, maka nyonya Gak anggap anak muda
itu seperti anak kandung sendiri. Teringat jiwanya terancam bahaya, tanpa terasa timbul lagi kesedihannya,
katanya dengan suara parau, "Suko, aku akan menurut padamu, bolehlah kita membawa serta anak Tiong,
perlahan kita dapat menyembuhkan dia."
Gak Put-kun diam saja tanpa menjawab.
"Apakah kita tak dapat membawa serta anak Tiong?" Gak-hujin menegas.
"Luka anak Tiong teramat parah, jika dia dibawa serta dalam perjalanan cepat, tentu tidak sampai satu jam
jiwanya akan amblas," kata Put-kun.
"Lantas ba ... bagaimana baiknya? Apakah benar tiada cara yang baik untuk menyelamatkan jiwanya?" tanya
Gak-hujin setengah meratap.
Gak Put-kun menghela napas, katanya, "Ai, dengan tulus tempo hari aku hendak mengajarkan Ci-he-sin-kang
padanya, siapa duga secara kebetulan entah sebab apa dia memainkan ilmu pedang yang aneh, ia tersesat
menuju ke jalan yang dianut kaum Kiam-cong (sekte yang mengutamakan ilmu pedang melulu) sehingga aku
membatalkan maksudku mengajarkan ilmu sakti itu padanya. Coba kalau sejak tempo hari dia mulai belajar Cihe-
sin-kang, walaupun baru dua-tiga halaman saja yang dapat dipahami, tentu juga sekarang dia dapat
mengadakan penyembuhan bagi dirinya sendiri dan takkan teralang oleh dua arus hawa murni yang aneh itu."
Mendadak Gak-hujin berbangkit, katanya "Suko, urusan masih belum terlambat. Sekarang juga engkau dapat
mengajarkan Ci-he-sin-kang padanya. Sekalipun dia dalam keadaan payah dan sukar memahami seluruh ilmu
sakti itu toh akan lebih baik daripada sama sekali tidak melatihnya."
"Sumoay," kata Put-kun dengan suara halus sambil menarik tangan sang istri, "kecintaanku terhadap anak
Tiong tiada ubahnya seperti dirimu. Namun, coba kau pikirkan lagi, jika sekarang aku menyerahkan Ci-he-pitkip
kepadanya, padahal tidak lama lagi kelima musuh akan datang kembali ke sini, dengan sendirinya anak
Tiong tidak sanggup menjaga diri dan kitab pusaka Hoa-san-pay kita yang tiada taranya ini bukankah akan
jatuh ke tangan musuh dengan mudah? Bilamana kawanan siluman itu sampai berhasil meyakinkan Lwekang
golongan kita, bukankah akan mirip harimau tumbuh sayap dan akan mendatangkan bencana besar bagi dunia
persilatan? Jika demikian ini terjadi, tentu aku Gak Put-kun akan berdosa besar bagi sesama kawan persilatan
kita."
Bab 39. Gak Put-kun Buron Bersama Keluarga
Gak-hujin tidak dapat menyangkal pendapat sang suami itu, saking cemasnya tanpa terasa air matanya
meleleh.
Segera Gak Put-kun berkata pula, "Tingkah laku kawanan siluman itu sukar diraba dan tak menentu, daripada
nanti terlambat, marilah sekarang juga kita lantas berangkat."
Habis berkata ia terus masukkan Ci-he-pit-kip ke dalam baju dan melangkah keluar.
Ternyata Gak Leng-sian sudah menunggu di luar pintu, segera ia menyapa, "Ayah, keadaan Toasuko
tampaknya ... tampaknya sukar ditolong lagi."
"Bagaimana keadaannya?" Put-kun menegas.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Dia ... dia mengigau tak keruan, pikirannya makin tidak jernih," kata si nona.
"Apa yang dia igaukan?" tanya Put-kun.
Muka si nona menjadi merah, sahutnya kemudian, "Entah, aku pun tidak paham apa arti igauannya itu."
Kiranya Lenghou Tiong yang tersiksa oleh bergolaknya enam arus hawa panas yang disalurkan Tho-kok-laksian
itu, pikirannya terkadang jernih dan lain saat samar-samar dan tidak sadarkan diri. Suatu ketika demi
dilihatnya Leng-sian berdiri di depannya, tanpa terasa ia berkata, "O, Siausumoay, alangkah aku me ...
merindukan dikau! Apakah engkau telah mencintai Lim-sute, maka ... maka tidak mau menggubris padaku
lagi?"
Sama sekali Leng-sian tidak mengira sang Toasuko dapat mengutarakan perasaannya itu di hadapan Lim Pengci
yang saat itu juga berada di situ, keruan wajahnya berubah merah jengah dan merasa kikuk.
Bahkan terdengar Lenghou Tiong berkata pula, "Siausumoay, sejak kecil kita dibesarkan bersama, berlatih ilmu
silat bersama, sungguh aku tidak ... tidak tahu di mana aku bersalah padamu. Jika kau marah padaku, silakan
memaki atau memukul aku, sekalipun kau tusuk badanku dengan pedangmu juga aku takkan mengeluh. Hanya
saja janganlah begitu dingin padaku, bahkan tidak menggubris padaku!"
Apa yang diucapkannya itu memang sudah lama terkandung dalam sanubarinya, selama beberapa bulan itu
entah sudah berapa kali dipikirkan olehnya. Bila sadar tentu dia takkan berani mengutarakan perasaannya
sekalipun berada sendirian bersama Leng-sian. Tapi sekarang pikirannya dirasakan melayang-layang entah
berada di mana, segala pantangan antara muda-mudi sudah tak teringat lagi olehnya, maka tanpa aling-aling
segala apa yang terkandung di lubuk hatinya telah dikeluarkan seluruhnya.
Keruan Peng-ci juga merasa kikuk, dengan suara perlahan ia berkata kepada Leng-sian, "Biar aku keluar
sebentar."
"Jangan, boleh kau yang menjaga Toasuko saja," seru Leng-sian sambil mendahului lari keluar kamar. Ketika
sampai di luar kamar ayah-bundanya, kebetulan ia dapat mendengar pembicaraan ayah-ibunya tentang
penyembuhan luka Lenghou Tiong dengan bantuan Ci-he-sin-kang tadi.
Begitulah Gak Put-kun lantas berkata kepada Leng-sian, "Boleh sampaikan perintahku agar semua orang
berkumpul di ruang Co-kong-tong."
Leng-sian mengiakan. "Dan bagaimana dengan Toasuko, siapa yang harus menjaganya?" tanyanya.
"Boleh suruh Tay-yu saja yang menjaganya," sahut Put-kun.
Segera Leng-sian pergi menyampaikan perintah ayahnya itu. Maka hanya sebentar saja semua murid Hoa-sanpay
sudah berkumpul di ruang pendopo, mereka berdiri berjajar menurut urutannya masing-masing. Gak Putkun
sendiri duduk di kursi tengah, istrinya duduk di sebelah samping.
Dalam hubungan suami-istri mereka memang sederajat, tapi sekarang berada di ruang upacara resmi Gak Putkun
adalah pejabat ketua, dengan sendirinya sang istri terhitung bawahan dan harus duduk di samping.
Sekilas pandang Gak Put-kun melihat seluruh muridnya hadir semua kecuali Liok Tay-yu dan Lenghou Tiong.
Segera ia berkata, "Di antaranya tokoh-tokoh angkatan tua golongan kita ada sementara orang yang tersesat
ke jalan yang tidak benar, yang mereka utamakan adalah latihan ilmu pedang melulu dan meremehkan berlatih
Khikang. Mereka tidak mau tahu bahwa setiap ilmu silat paling tinggi di dunia ini pasti mempunyai alas dasar
Khikang yang kuat, jika Khikang kurang sempurna, betapa pun bagusnya ilmu pedang yang dilatihnya juga
sukar mencapai puncak yang paling sempurna.
"Sungguh sayang para Locianpwe itu tetap tidak mau sadar dan meneruskan cara mereka serta mendirikan
sekte pedang sendiri, pertentangan antara sekte pedang dan sekte hawa kita sudah berlangsung selama
puluhan tahun, sudah tentu hal ini sangat mengganggu perkembangan Hoa-san-pay kita."
Habis berkata ia lantas menghela napas panjang.
Diam-diam Gak-hujin mendongkol. Sebentar lagi kelima siluman itu mungkin akan tiba, tapi sang suami masih
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
mengobrol tentang kejadian masa lampau dengan seenaknya. Ia melirik sang suami, tapi tidak berani
menimbrung.
Dalam pada itu Gak Pun-kun lagi menyambung, "Meski pertengkaran antara kedua golongan sangat keras, tapi
yang benar tetap benar. Tiga puluh tahun yang lalu sekte pedang telah mengalami kekalahan habis-habisan
sehingga terpaksa mengundurkan diri dari Hoa-san-pay kita, sejak itu aku diangkat sebagai pejabat ketua
sampai kini tanpa mengalami sesuatu alangan apa pun.
"Tak terduga beberapa hari yang lalu tiba-tiba datang murid buangan golongan kita dari sekte pedang yang
bernama Hong Put-peng, Seng Put-yu dan lain-lain, entah dengan cara bagaimana mereka berhasil menipu Cobengcu
dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu mereka
sengaja datang hendak merebut kedudukan ketua Hoa-san-pay dari tanganku.
"Setelah menjabat sekian lama dan banyak mengalami persoalan rumit sesungguhnya aku pun sudah lama
ingin mengundurkan diri dan menyerahkan tempat ketua ini kepada orang yang lebih bijaksana, sekarang ada
orang mau menggantikan aku sebenarnya itulah sangat kuharapkan."
Tiba-tiba Ko Kin-beng membuka suara, "Suhu, murid buangan dari sekte pedang seperti Hong Put-peng itu
sudah lama tersesat ke jalan yang jahat, mereka tiada bedanya seperti anggota Mo-kau. Andaikan mereka
minta masuk kembali ke perguruan kita saja harus ditolak, mana boleh membiarkan mereka secara sembrono
mengoper jabatan ketua kita ini. Jika hal ini sampai terjadi, bukankah Hoa-san-pay kita akan hancur dalam
sekejap saja?"
"Ya, sekali-kali kita tidak boleh tinggal diam, tipu muslihat kawanan jahanam itu harus digagalkan," dukung Lo
Tek-nau, Si Cay-cu dan lain-lain.
Melihat anak muridnya sama penasaran dan tegas menolak maksud jahat musuh, dengan tersenyum Put-kun
menyambung pula, "Tentang jabatan ketua ini sebenarnya adalah soal kecil bagiku. Tapi kalau golongan
pedang itu dibiarkan memimpin perguruan kita, tentu ilmu silat Hoa-san-pay yang terkenal selama ratusan
tahun ini akan hancur dalam waktu singkat, lalu cara bagaimana kita harus bertanggung jawab kepada para
leluhur perguruan bila kita sudah mati? Sedangkan nama baik Hoa-san-pay selanjutnya tentu juga takkan
dihormati lagi oleh sesama kawan Kangouw."
"Ya, ucapan Suhu memang benar," kata Tek-nau dan lain-lain.
"Kalau melulu Hong Put-peng dan beberapa kawannya dari sekte pedang saja sebenarnya tidak perlu
dikhawatirkan, cuma mereka sudah mendapatkan panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, mereka bersekongkol
pula dengan jago-jago Ko-san-pay. Heng-san-pay, Thay-san-pay dan Hing-san-pay, hal inilah yang tidak boleh
kita remehkan, sebab itulah ...."
Sampai di sini sorot mata Gak Put-kun menyorot sekeliling anak muridnya, lalu menyambung, "Besok juga kita
lantas berangkat ke Ko-san untuk menemui Co-bengcu, kita akan menuntut kebenaran dan minta keadilan
padanya."
Mendengar demikian, Lo Tek-nau dan lain-lain sama terkesiap. Mereka tahu Ko-san-pay adalah kepala dari
Ngo-gak-kiam-pay, serikat aliran ilmu pedang dari lima pegunungan. Ketua Ko-san-pay bernama Co Leng-tan
bahkan adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, selain ilmu silatnya sangat hebat,
orangnya juga kaya akan tipu akal, setiap orang Kangouw bila mendengar nama "Co-bengcu" tentu merasa jeri
dan segan.
Sekarang sang guru menyatakan hendak datang sendiri ke Ko-san untuk minta keadilan, hal ini benar-benar di
luar dugaan siapa pun juga. Sebab mereka pun maklum bilamana "keadilan" yang diminta itu kurang adil tentu
akibatnya adalah bergebrak dengan kekerasan.
Maka anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir, "Meskipun ilmu silat Suhu sangat tinggi, tapi juga belum tentu
dapat mengalahkan Co-bengcu, apalagi ketua Ko-san-pay itu masih mempunyai belasan orang Sute yang lihai,
orang Bu-lim menjuluki mereka sebagai 'Ko-san-cap-thay-po' (tiga belas gembong dari Ko-san). Meski satu di
antaranya sudah tewas, yaitu Ko-yang-jiu Hui Pin, sisanya juga masih berjumlah 12 orang dan semuanya
adalah jago kelas wahid yang disegani, betapa pun anak murid Hoa-san-pay pasti bukan tandingan mereka.
Kalau sekarang pihak sendiri mencari perkara ke Ko-san, bukankah terlalu sembrono seperti ular mencari
gebuk?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Meski anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir demikian, tapi tiada seorang pun berani membuka suara.
Sebaliknya Gak-hujin biarpun berperangai berangasan, namun otaknya sebenarnya tidak bodoh, demi
mendengar ucapan sang suami itu diam-diam ia lantas bersorak memuji. Pikirnya, "Akal Suko sungguh sangat
bagus. Kalau kita diketahui kabur dari Hoa-san yang merupakan pangkalan asli perguruan sendiri lantaran
takut kepada kawanan siluman dari lembah Tho itu, kelak tentu akan ditertawai oleh sesama orang Kangouw
dan pamor Hoa-san-pay pasti akan luntur habis-habisan. Tapi sekarang kalau secara resmi kita datang ke Kosan
hendak menuntut keadilan, hal ini bila diketahui orang luar bahkan kita akan dipuji. Pula Co-bengcu
bukanlah manusia yang tidak kenal keadilan, kedatangan kita ke sana tidak perlu bertarung secara matimatian,
paling tidak toh masih ada waktu untuk bicara dan bertindak menurut gelagat."
Maka tanpa pikir lagi ia lantas menyokong maksud sang suami tadi, katanya, "Ya, Hong Put-peng dan
begundalnya telah mengacau ke sini dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu, bukan mustahil panji itu
adalah hasil curian. Seumpama panji itu adalah tulen dan pemberian Co-bengcu, bila soalnya mengenai urusan
dalam Hoa-san-pay kita sendiri, meski Ko-san-pay mereka berjumlah lebih banyak, ilmu silat Co-bengcu tiada
bandingannya pula, namun Hoa-san-pay kita juga bukan kaum keroco, biar mati pun pantang menyerah. Murid
Hoa-san-pay yang bernyali kecil dan pengecut boleh tetap tinggal di sini, tak usah ikut."
Mendengar kata-kata ibu-gurunya ini, sudah tentu tiada seorang pun anak murid Hoa-san-pay mau mengaku
sebagai pengecut, serentak mereka menjawab, "Bila guru dan ibu-guru ada perintah, sekalipun masuk lautan
api juga Tecu takkan mundur."
"Bagus jika begitu," seru Gak-hujin. "Nah, supaya urusan tidak terlambat sekarang juga kalian lekas berbenah,
dalam waktu setengah jam kita lantas berangkat."
Lalu ia pergi menjenguk Lenghou Tiong pula. Murid itu kelihatan kempas-kempis, jiwanya hanya tunggu ajal
saja dalam sesaat-dua saat, hati nyonya Gak menjadi pedih. Tapi pada saat menghadapi bencana yang akan
menimpa Hoa-san-pay mereka, setiap waktu Tho-kok-ngo-kay (lima siluman lembah Tho) bisa datang,
keselamatan Lenghou Tiong seorang tidak boleh mengakibatkan musnahnya orang banyak, terpaksa ia suruh
Liok Tay-yu memindahkan Lenghou Tiong ke kamar samping di bagian belakang dan memberi pesan agar
menjaganya dengan baik.
Katanya kemudian, "Tay-yu, demi masa depan Hoa-san-pay kita, terpaksa kami berangkat ke Ko-san untuk
minta keadilan kepada Co-bengcu, perjalanan ini sangat berbahaya, semoga di bawah pimpinan gurumu nanti
dapatlah kita memperoleh kemenangan dan pulang dengan selamat. Keadaan Tiong-ji sangat payah,
hendaknya kau dapat menjaganya dengan baik. Bila kedatangan musuh, boleh kalian berusaha
menyembunyikan diri, terimalah penghinaan untuk sementara dan tidak perlu membuang nyawa percuma."
Dengan mengembeng air mata Liok Tay-yu mengiakan pesan itu. Dengan hormat ia mengantar keberangkatan
rombongan sang guru, ibu guru dan para Suheng dan Sutenya, kemudian ia kembali ke pondok tempat
berbaring Lenghou Tiong yang tak berkutik itu.
Puncak Hoa-san seluas itu sekarang hanya tertinggal dirinya sebatang kara bersama sang Toasuko dalam
keadaan tak sadar. Tampaknya cuaca sudah mulai suram mendekat petang, mau tak mau timbul juga rasa
jerinya.
Ia coba pergi ke dapur untuk memasak bubur, sesudah itu ia membawa semangkuk bubur ke kamar, ia
memayang bangun Lenghou Tiong dan menyuapinya dua ceguk.
Cegukan ketiga ternyata disembur keluar oleh Lenghou Tiong, bubur yang berwarna putih itu tampak bersemu
merah, kiranya darah ikut tersembur keluar.
Liok Tay-yu sangat khawatir, ia rebahkan kembali sang Toasuko dan menaruh mangkuk bubur itu di atas meja.
Ia termangu-mangu memandang keluar jendela yang gelap gulita. Tiba-tiba terdengar suara burung hantu
yang mengerikan berkumandang dari kejauhan.
Diam-diam Tay-yu membatin, "Menurut cerita orang, katanya bunyi burung hantu pada waktu malam adalah
sedang menghitung bulu alis orang sakit, bila jumlah bulu alis terhitung jelas olehnya tentu orang sakit itu akan
mati."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Maka cepat ia gunakan jarinya yang dibasahi dengan air ludah untuk memoles alis Lenghou Tiong agar burung
hantu sukar menghitung bulu alisnya.
Namun bunyi burung hantu itu masih terus terdengar, di tengah malam yang sunyi itu Liok Tay-yu tambah
ngeri, tanpa terasa ia pun memoles alis sendiri dengan air ludah.
Pada saat itulah dari jauh tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang enteng. Cepat Tay-yu meniup padam
api pelita dan melolos pedang serta berjaga di samping Lenghou Tiong.
Suara tindakan orang itu makin sama makin mendekat, ternyata arah yang dituju adalah pondok kecil ini.
Keruan hati Liok Tay-yu berdebar-debar tegang. Katanya di dalam hati, "Celaka! Musuh ternyata mengetahui
Toasuko sedang dirawat di sini. Wah, cara bagaimana aku harus melindungi keselamatan Toasuko?"
Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara seorang wanita sedang memanggil dengan suara tertahan, "Lak-kau-ji,
apakah kau berada di dalam rumah?"
Di luar dugaan, kiranya adalah suara Gak Leng-sian.
Keruan Tay-yu sangat girang, cepat ia menjawab, "Apakah Siausumoay di situ? Ya, aku ... aku berada di sini."
Lekas Tay-yu mengetik api untuk menyalakan pelita, saking keburunya sampai minyak pelita itu tersampuk dan
tertumpah.
Sementara itu Leng-sian telah mendorong pintu dan melangkah masuk, tanyanya cepat, "Bagaimana dengan
Toasuko?"
"Banyak tumpah darah pula," sahut Tay-yu.
Leng-sian mendekati tempat tidur dan coba meraba dahi Lenghou Tiong, ternyata panasnya luar biasa, tangan
seperti terbakar rasanya. "Lak-kau-ji, kenapa tidak mengusap darah di pinggir mulut Toasuko ini?" katanya
kemudian.
Tay-yu mengiakan dan lekas-lekas mengeluarkan saputangan.
Tapi Leng-sian lantas mengambil saputangannya, perlahan ia membersihkan darah yang berlepotan di tepi
mulut Lenghou Tiong.
"Teri ... terima kasih Siausumoay," mendadak Lenghou Tiong membuka suara.
Sama sekali Leng-sian tidak mengira Toasuko yang kelihatan tak sadar itu mendadak bisa bicara padanya,
dengan kejut dan girang cepat ia menjawab, "Toasuko, bagaimana ... bagaimana keadaanmu?"
"Rasanya isi perutku seperti disayat-sayat oleh ... oleh enam bilah pisau yang tajam," tutur Lenghou Tiong
dengan lemah.
Tiba-tiba Leng-sian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari bajunya, katanya dengan suara tertahan,
"Toasuko, ini adalah 'Ci-he-pit-kip' kata ayah ...."
"Ci-he-pit-kip?" Lenghou Tiong menegas.
"Ya," sahut Leng-sian, "kata ayah, di dalam badanmu telah tertanam hawa murni yang aneh dari kawanan
siluman itu, untuk memunahkannya harus menggunakan inti Lwekang dari perguruan kita sendiri. Lak-kau-ji,
coba membacakan isi kitab pusaka ini kepada Toasuko, bacalah sehuruf demi sehuruf supaya jelas. Tapi awas,
kau sendiri tidak boleh ikut meyakinkannya, kalau tidak, bila diketahui ayah, hm, tentu kau sendiri tahu akan
akibatnya."
Liok Tay-yu sangat girang, sahutnya, "Ah, orang macam apakah aku ini? Masakah aku berani meyakinkan
Lwekang tertinggi dari perguruan kita? Sudahlah Siausumoay jangan khawatir. Demi menolong jiwa Toasuko,
tanpa segan Suhu sudi menurunkan kitab pusaka ini kepadanya, sekali ini Toasuko pasti dapat diselamatkan."
"Hal ini jangan sekali-kali kau beri tahukan orang lain," pesan Leng-sian. "Kitab ini bukan pemberian ayah, tapi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
aku mencurinya dari bawah bantal ayah."
"Hah, jadi kau ... mencuri?" seru Tay-yu terkejut. "Yah, jika diketahui Suhu lantas ... lantas bagaimana?"
"Bagaimana apa? Masakah aku akan dibunuh olehnya?" ujar Leng-sian. "Paling-paling aku akan didamprat dan
boleh juga dihajar babak belur. Tapi kalau dapat menyelamatkan Toasuko, bila ayah-ibu menjadi senang, bisa
jadi semuanya takkan diusut dan tak menjadi soal lagi bagi mereka."
"Ya, ya, memang paling penting selamatkan Toasuko lebih dulu, urusan belakang," sahut Liok Tay-yu.
Mendadak Lenghou Tiong membuka suara, "Siausumoay, bawa ... bawa kepada Suhu."
"Sebab apa?" tanya Leng-sian heran. "Dengan susah payah aku membawa kitab pusaka ini dengan menempuh
jalan pegunungan puluhan li jauhnya di tengah malam buta dan memburu kembali ke sini, tapi engkau berbalik
tidak mau terima? Ini toh bukan mencuri belajar, tapi menyelamatkan jiwamu."
"Ya, Toasuko, kau pun tidak perlu meyakinkan selengkapnya, latih saja secukupnya asal dapat memunahkan
hawa jahat dalam tubuhmu, kemudian kitab pusaka ini dapat dikembalikan lagi kepada Suhu, tatkala mana
boleh jadi Suhu akan mewariskan sekalian kitab pusaka ini kepadamu. Memangnya engkau adalah murid
pewaris perguruan kita, kepada siapa Ci-he-pit-kip ini akan diwariskan kalau bukan kepadamu? Hal ini hanya
soal waktu saja, apa alangannya jika engkau melatihnya sekarang?"
"Tidak, biar ... biar mati pun aku tidak mau melanggar perintah Suhu. Sudah pernah Suhu mengatakan bahwa
... bahwa aku tidak dapat belajar Ci-he-sin-kang ini. Maka dari itu, Siausumoay ...."
Hanya sampai di sini mendadak napas Lenghou Tiong menjadi sesak lagi dan jatuh pingsan pula.
Leng-sian coba memeriksa sang Toasuko, terasa panas, katanya kepada Liok Tay-yu, "Sedemikian dia mati
tanpa menolongnya? Aku harus cepat kembali pula ke sana sebelum fajar tiba agar tidak dicari oleh ayah-ibu.
Hendaknya kau bujuk Toasuko, betapa pun kuharap dia suka menuruti permintaanku dan berlatihlah isi Ci-hepit-
kip ini. Jangan sia-siakan ...."
Sampai di sini mukanya menjadi merah, lalu melanjutkan, "Jangan sia-siakan jerih payahku lari-lari semalaman
ini."
"Baik, tentu akan kubujuk dia," sahut Tay-yu, "Siausumoay, sekarang rombongan Suhu bermalam di mana?"
"Di hotel kecil di Pek-ma-tik (nama kota)," sahut Leng-sian.
"Itu sudah menjauh 50-an li," kata Tay-yu. "Di tengah malam buta kau lari pulang-pergi sejauh ratusan li, hal
ini pasti takkan dilupakan oleh Toasuko selamanya."
Mata si nona menjadi merah terharu, katanya, "Yang kuharap adalah selekasnya Toasuko bisa cepat kembali.
Tentang dia tetap ingat atau tidak pada kejadian ini tidak dipikirkan."
Habis berkata ia menaruh "Ci-he-pit-kip" di ujung ranjang Lenghou Tiong, dipandangnya pemuda itu sejenak
lalu ia berlari keluar.
Kira-kira hampir satu jam kemudian barulah Lenghou Tiong mendusin. Waktu ia buka mata segera ia berseru,
"Siau ... Siausumoay!
"Siausumoay sudah pergi," sahut Liok Tay-yu.
"Sudah pergi?" teriak Lenghou Tiong. Mendadak ia bangkit duduk, baju dada Liok Tay-yu terus dijambret
olehnya.
Keruan Tay-yu terperanjat, katanya, "Ya, Siausumoay sudah turun gunung, katanya ... katanya kalau sebelum
fajar menyingsing tidak berada di rumah penginapan sana, tentu akan membikin khawatir Suhu dan Sunio.
Toasuko, hendaknya berbaring dan mengaso saja."
Namun jawaban Liok Tay-yu itu seperti tidak didengar oleh Lenghou Tiong, ia bergumam sendiri, "Dia ... dia
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sudah pergi? Dia ... dia bersama Lim-sute?"
"Siausumoay berada bersama guru dan ibu guru," Tay-yu menambahkan.
Akan tetapi kedua mata Lenghou Tiong terbelalak dan menatap kaku ke depan, kulit mukanya tampak
berkerut-kerut. Tay-yu menjadi takut, ia tidak berani meronta meski dadanya masih dicengkeram oleh Lenghou
Tiong, terpaksa ia berkata dengan suara perlahan, "Toasuko, sesungguhnya Siausumoay sangat memerhatikan
keselamatanmu, tengah malam buta dia lari pulang ke sini dari Pek-ma-tik, seorang nona cilik sebagai dia telah
lari pulang pergi ratusan li, betapa perasaannya terhadapmu dapatlah dibayangkan. Sebelum pergi dia juga
memberi pesan wanti-wanti agar bagaimanapun juga engkau harus mempelajari kitab Ci-he-pit-kip ini dan
jangan ... jangan menyia-nyiakan maksud baiknya padamu."
"Dia berkata demikian?" Lenghou Tiong menegas.
"Ya, masakan aku berani dusta?" sahut Tay-yu.
Tenaga Lenghou Tiong sudah sangat lemah, ia tidak tahan lagi dan roboh berbaring pula. Walaupun batok
kepala belakang kebentur balai-balai, tapi tak dirasakan sakit lagi.
Segera Liok Tay-yu berkata pula, "Toasuko, biar kubacakan isi kitab ini."
Lalu ia ambil Ci-he-pit-kip itu dan membuka halaman pertama, ia mulai membacanya kalimat demi kalimat ....
"Kau sedang membaca apa?" tiba-tiba Lenghou Tiong bertanya.
"Ini adalah bab pertama dari Ci-he-pit-kip," sahut Tay-yu. "Seterusnya tertulis ...."
Begitulah ia lantas melanjutkan pula membaca isi kitab pusaka itu.
Di luar dugaan Lenghou Tiong menjadi gusar, serunya, "Ini adalah rahasia perguruan kita yang tak boleh
diajarkan kepada siapa pun, kau berani sembarangan membacanya dan melanggar hukum perguruan kita yang
paling keras? Ayo, lekas simpan kembali kitab itu!"
"Toasuko," kata Liok Tay-yu, "seorang laki-laki sejati harus dapat menyesuaikan diri menurut keadaan.
Sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan engkau, segala urusan boleh dikesampingkan dahulu.
Biar kubacakan lagi ...."
Lenghou Tiong hanya mendengarkan beberapa kalimat saja lantas tahu kitab asli "Ci-he-pit-kip". Seberapa
kalimat di antaranya dahulu pernah didengarnya dari pembicaraan guru dan ibu gurunya, cuma dia tidak
paham apa artinya. Sekarang sesudah kepandaian dirinya tambah tinggi dan mendengar pula kalimat
pendahuluan dalam kitab pusaka itu barulah diketahui bahwa kalimat-kalimat itu sebenarnya adalah kunci
latihan Lwekang tertinggi dari perguruan sendiri.
"Tutup mulut!" mendadak ia membentak.
Tay-yu melengak, ia pandang Lenghou Tiong dengan heran, katanya, "Toasuko, ada ... ada apakah?"
"Sungguh aku merasa tidak enak sekali mendengarmu membaca isi kitab pusaka milik Suhu itu," kata Lenghou
Tiong dengan gusar. "Apakah kau sengaja hendak menyeret aku agar menjadi seorang yang tidak setia dan
tidak berbudi ya?"
"Tidak, tidak, mengapa bisa dianggap tidak setia dan tidak berbudi?" sahut Tay-yu bingung.
"Kitab pusaka ini tempo hari pernah dibawa oleh Suhu ke puncak perenung dosa dan bermaksud diajarkan
padaku," kata Lenghou Tiong. "Tapi kemudian beliau mengetahui bahwa jalan latihan silatku telah sesat,
bakatku juga tidak cocok, maka beliau telah mengubah maksudnya semula ...."
Sampai di sini napasnya sudah tersengal-sengal dan rasanya sangat payah.
"Tapi sekarang soalnya demi untuk menyelamatkan jiwamu dan bukan sengaja mencuri belajar, apakah ...
alangannya?" ujar Liok Tay-yu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Sebagai murid orang, apakah jiwa sendiri lebih penting atau mesti mengutamakan keputusan Suhu?" tanya
Lenghou Tiong.
"Tapi Suhu dan Sunio ingin engkau diselamatkan, ini adalah urusan yang paling penting, apalagi ... apalagi
Siausumoay semalam suntuk telah berlari kian kemari dengan susah payah, cintanya padamu ini, Toasuko,
apakah dapat kau sia-siakannya?"
Lenghou Tiong menjadi terharu, air mata hampir-hampir menitik, lekas ia putar mukanya ke sebelah dalam,
katanya, "Justru karena dia yang membawa un ... untukku, aku Lenghou Tiong seorang laki-laki sejati,
masakah harus menerima belas kasihan orang?"
Sesudah kata-kata itu terucapkan, tanpa terasa badannya bergetar. Pikirnya, "Ah, kiranya dalam lubuk hatiku
diam-diam dendam dan benci pada hubungan baik antara Siausumoay dan Lim-sute, sebaliknya ia bersikap
dingin padaku. Wah, Lenghou Tiong, mengapa jiwamu begini sempit?"
Namun bila teringat bahwa besok juga Gak Leng-sian sudah akan berkumpul pula dengan Lim Peng-ci dan
sepanjang jalan menuju ke Ko-san mereka tentu akan bergaul dengan lebih akrab, tanpa terasa pedih juga
hatinya.
"Toasuko, mengapa engkau berpikir tak keruan?" kata Liok Tay-yu, "Sejak kecil engkau dibesarkan bersama
Siausumoay, kalian ... kalian berdua laksana saudara sekandung saja ...."
"Aku justru tidak ingin seperti saudara sekandung dengan dia," demikian kata Lenghou Tiong di dalam hati.
Sudah tentu perasaan demikian tidak diucapkannya.
Dalam pada itu terdengar Liok Tay-yu sedang menyambung pula, "Biar kubacakan lagi isi Ci-he-pit-kip ini,
harap Toasuko mendengarkan dengan baik, bila sukar diingat, boleh aku mengulangi lagi ...."
"Tidak, jangan membacanya," bentak Lenghou Tiong dengan bengis.
"Toasuko," kata Liok Tay-yu, "demi untuk menyembuhkan penyakitmu selekasnya, hari ini terpaksa aku
membangkang perintahmu. Ya, biar berdosa melanggar peraturan perguruan juga kupikul semua. Engkau
berkeras tidak mau mendengarkan isi kitab ini, akulah yang paksa dan sengaja membaca bagimu. Jadi engkau
sendiri sama sekali tidak menjamah kitab pusaka ini, apa yang tertulis di dalam kitab juga tidak pernah kau
baca sendiri, dengan demikian apakah dosamu? Kalau salah, akulah Liok Tay-yu yang bersalah karena aku
yang paksa engkau berlatih. Nah, dengarkan ...."
Hendak menolak mendengarkan namun tiap huruf dan tiap kalimat yang dibaca Liok Tay-yu itu toh terus
menyusup ke dalam telinganya. Saat itu keenam arus hawa aneh masih terus bergolak di dalam tubuh Lenghou
Tiong, ia benar-benar tak bisa mengatasi lagi.
Tidak lama lagi kalau Liok Tay-yu sudah habis membacakan isi Ci-he-pit-kip itu, walaupun dirinya berkeras
tidak mau melatihnya toh akan ikut menanggung dosa lantaran sudah mengetahui rahasia kitab pusaka
gurunya. Bahkan kalau dirinya sebentar lagi mati, orang luar yang tidak tahu duduknya perkara tidak mustahil
akan menuduh dirinya mati lantaran tidak berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, hal ini tentu akan dibuat
tertawaan orang malah.
"Liok-sute sesungguhnya bermaksud baik ingin menolong aku, namun aku sukar tertolong lagi, aku tidak boleh
membikin susah padanya karena mesti menanggung dosa bencana kitab itu," demikian pikir Lenghou Tiong
akhirnya. Mendadak ia merintih dengan suara keras.
Tay-yu terkejut. "He, Toasuko, kenapakah?" tanyanya khawatir.
"Coba ... ganjal bantalku supaya ... supaya lebih tinggi sedikit," pinta Lenghou Tiong.
Sambil mengiakan Tay-yu menggunakan kedua tangannya untuk mengganjal bawah bantal sang Toasuko. Di
luar dugaan mendadak Lenghou Tiong mengerahkan tenaga dan menutuk tepat Tang-tiong-hiat di dadanya.
Dalam keadaan kedua tangan sedang digunakan untuk mengganjal bantal sehingga dada sama sekali terbuka,
pula sama sekali tidak terduga duga bahwa Toasuko yang paling disayang dan dihormati itu bisa mendadak
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menyerang padanya, sebab itulah biarpun Lenghou Tiong dalam keadaan sakit payah dan tenaga lemah toh
sekali tutuk saja kontan Liok Tay-yu roboh terkulai dan tak berkutik lagi.
"Laksute, maaf, terpaksa mesti membikin susah padamu. Boleh berbaring beberapa jam di sini, nanti Hiat-to
yang tertutuk tentu ... tentu akan terbuka sendiri," kata Lenghou Tiong dengan tersenyum getir.
Perlahan ia meronta bangun, ia pandang sejenak Ci-he-pit-kip, akhirnya menghela napas dan berjalan perlahan
ke samping pintu, ia pegang palang pintu yang terletak di pojok dan digunakannya sebagai tongkat darurat,
lalu dengan langkah rada sempoyongan ia menuju keluar.
Keruan Liok Tay-yu sangat gelisah, teriaknya, "Toa ... hen ... ke ...." maksudnya hendak tanya, "Toasuko
hendak ke mana?"
Tapi karena Hiat-to penting tertutuk sehingga suaranya tidak lancar. Namun karena tenaga tutukan Lenghou
Tiong itu terlalu lemah, maka dia hanya dibikin lemas seketika saja dan tidak sampai lumpuh seluruhnya.
Tiba-tiba Lenghou Tiong menoleh, "Laksute, terpaksa aku akan pergi jauh, makin jauh meninggalkan 'Ci-he-pitkip'
makin baik, agar orang lain tidak dapat melihat mayatku menggeletak di samping kitab pusaka itu, agar
aku tidak disangka mati sebelum selesai mencuri belajar ilmu sakti itu ...."
Sampai di sini darah yang bergolak di rongga dadanya tak tertahan lagi dan mendadak tersembur keluar.
Ia tidak berani membuka suara lagi. Ia khawatir kalau sedikit ayal saja, jangan-jangan tenaganya habis dan
sukar meninggalkan pondok kecil itu. Segera ia gunakan tongkat darurat itu, selangkah demi selangkah dengan
napas terengah-engah ia bertindak ke depan.
Pertama karena usianya masih muda, tenaga kuat, pula dengan penuh tekad, maka perlahan ia masih biasa
melangkah pergi walaupun dengan susah payah.
Kira-kira belasan meter jauhnya, ia benar-benar merasa lemah, terpaksa ia bersandar dengan bantuan tongkat
untuk bernapas. Sejenak kemudian ia coba melanjutkan langkahnya pula dan begitu seterusnya, sebentarsebentar
terpaksa harus berhenti mengaso.
Sampai hampir satu li jauhnya, terasalah matanya mulai berkunang-kunang dan kepala pusing, bumi dan langit
seakan-akan berputar, badan tak kuat lagi dan akan terbanting roboh. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di
tengah semak-semak di depan sana ada suara orang merintih.
Lenghou Tiong terkesiap. Di tengah malam kelam tak bisa melihat siapa yang bersuara itu, tapi ia yakin orang
yang berada di puncak Hoa-san kebanyakan adalah kawan dan bukan lawan. Segera ia bertanya, "Siapa itu?"
Terdengar orang itu berteriak menjawab, "Apakah di situ Lenghou Tiong? Aku Dian Pek-kong."
Menyusul terdengar suara rintihan lagi, agaknya kesakitan luar biasa.
Lenghou Tiong terkejut, "He, kiranya Dian ... Dian-heng. Ken ... kenapakah engkau?"
"Aku ... aku hampir mati!" sahut Dian Pek-kong. "Lenghou-heng, kumohon engkau suka membantu aku, aduh
... aduh, lekas ... lekas gunakan pedangmu dan bunuh saja diriku."
Di tengah kata-katanya itu diseling pula suara mengaduh kesakitan, namun suaranya tetap lantang dan keras.
"Apa ... apakah engkau terluka?" tanya Lenghou Tiong. Mendadak kaki sendiri terasa lemas, ia terbanting jatuh
di tepi jalan.
Kini Dian Pek-kong yang terkejut. "He, apakah kau pun terluka? Aduh, aduh, sia ... siapakah yang melukaimu!"
"Terlalu panjang untuk diceritakan," sahut Lenghou Tiong lemah. "Dian ... Dian-heng, kau sendiri di ... dilukai
siapa?"
"Ai, aku sendiri tidak tahu," sahut Dian Pek-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aneh, mengapa tidak tahu?"
"Waktu itu aku sedang berjalan, sekonyong-konyong kedua tangan dan kedua kakiku dipegang orang terus
diangkat ke atas. Aku sendiri tidak jelas siapakah yang memiliki kesaktian sedemikian hebat, aduh ... aduh ...
sakit ...."
"O, kiranya perbuatan Tho-kok-lak-sian pula," ucap Lenghou Tiong dengan tertawa. "Lukaku ini pun gara-gara
... gara-gara perbuatan mereka. Eh, Dian-heng, bukankah kau pun sehaluan dengan mereka?"
"Sehaluan apa maksudmu?"
"Kau minta aku pergi menemui Gi-lim Siausumoay, dan mereka ... mereka juga datang mengundang aku untuk
menemui dia ... dia ...." sampai di sini napas Lenghou Tiong kembali terengah-engah lagi.
Dian Pek-kong merangkak keluar dari semak-semak sana, ia menggeleng kepala dan memaki, "Keparat, sudah
tentu aku tidak sehaluan dengan mereka. Katanya mereka datang ke Hoa-san untuk mencari orang, mereka
tanya padaku di mana beradanya orang itu. Kutanya mereka siapa yang mereka cari, tapi mereka anggap aku
ini tawanan mereka, maka yang berhak tanya adalah mereka dan sebaliknya aku dilarang tanya mereka, jika
aku mampu menangkap mereka barulah aku berhak tanya pada mereka. Kata mereka ... aduh ... kata mereka,
jika mampu boleh coba menangkap mereka, jika ... jika berhasil tentu aku dapat mengajukan pertanyaan
kepada mereka."
Bab 40. Tho-kok-lak-sian Takut kepada Kentut
Lenghou Tiong terbahak-bahak, tapi baru dua-tiga kali mengakak napasnya sudah sesak dan tidak sanggup
tertawa lagi.
Maka Dian Pek-kong meneruskan ceritanya, "Saat itu tubuhku terapung di atas, biarpun punya kepandaian
setinggi langit juga tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman mereka, jangankan hendak menangkap
mereka segala. Huh, mereka benar-benar mengoceh tak keruan, sialan ...."
"Cara omong dan mau menang sendiri serta ngawur tak habis-habis begitu memang sifat khas Tho-kok-laksian,"
demikian pikir Lenghou Tiong. Lalu ia tanya pula, "Dan bagaimana seterusnya?"
"Lalu aku bilang bahwa aku tidak ingin tanya apa-apa kepada mereka, tapi merekalah yang tanya padaku,
'Lekas lepaskan aku!' pintaku. Namun satu di antara mereka lantas berkata, 'Sekali kami sudah menangkapmu,
jika tidak merobekmu menjadi empat potong kan membikin rusak nama besar kami?'
"Seorang lagi berseru, 'Sesudah dia dirobek menjadi empat potong, dia masih dapat bicara tidak?' - 'Sudah
tentu tidak dapat bicara lagi. Orang yang pernah kita robek menjadi empat potong sedikitnya berjumlah tiga
ratus kalau tidak ada lima ratus. Kapan terjadi yang sudah kita robek masih dapat bicara pula?' bantah
kawannya."
Begitulah dengan terputus-putus Dian Pek-kong menceritakan pengalamannya. Meski sudah terluka parah, tapi
ia masih ingat sejelasnya percakapan yang tak keruan yang pernah didengarnya itu, boleh jadi lantaran
kesannya terlalu mendalam ketika dia kena dibekuk oleh Tho-kok-lak-sian.
"Keenam orang itu benar-benar jarang ditemukan bandingannya di dunia ini," kata Lenghou Tiong gegetun.
"Aku ... aku menderita begini pun akibat perbuatan mereka."
"Kiranya Lenghou-heng juga terluka oleh mereka?" Dian Pek-kong terkejut.
"Mereka terus mengoceh dan bertengkar sendiri tak habis-habis, sedangkan badanku terapung di udara, terus
terang aku pun merasa takut. Aku merasa mual juga terhadap pertengkaran mereka yang tidak masuk di akal
itu. Segera aku berteriak, 'Ayolah, kalau mau tanya lekas tanya, kalau aku terus diangkat begini saja, awas,
segera aku akan melepaskan gas racun.'
"Seorang di antaranya tanya padaku, 'Gas racun apa?' - Aku menjawab, 'Kentutku, baunya jangan ditanya lagi,
barang siapa mengendus bau kentutku, tanggung tiga hari tiga malam tidak mampu makan, bahkan nasi yang
telah kau makan tiga hari yang lalu juga akan tumpah semua. Nah, sudah kuperingatkan lebih dulu, jika kalian
tidak menurut masa bodohlah jika nanti kalian kena gas racunku.'."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong tertawa, "Haha, ucapanmu ini cukup beralasan juga."
"Ya, memang," seru Dian Pek-kong. "Demi mendengar kata-kataku itu, mendadak keempat orang itu menjerit
takut, berbareng mereka membanting tubuhku ke tanah, mereka terus melompat minggir jauh-jauh. Waktu
aku merangkak bangun, kulihat ada enam kakek yang sangat aneh, masing-masing sama pencet hidung
sendiri, mungkin takut bau kentutku yang kukatakan seperti gas racun itu. Lenghou-heng, apakah maksudmu
keenam kakek itu yang disebut Tho-kok-lak-sian?"
"Benar," Sahut Lenghou Tiong. "Ai, sayang aku tidak secerdik Dian-heng, waktu itu tak terpikir olehku untuk
menggunakan 'akal kentut' untuk menakutkan mereka. Agaknya tipu akal Dian-heng ini tidak kalah
dibandingkan tipu daya Khong Beng di zaman Sam Kok."
"Hehe, maknya," Dian Pek-kong mengumpat sambil mengekek. Lalu katanya pula, "Kutahu keempat orang itu
sukar dilawan, celakanya lagi senjataku ketinggalan di puncak gunungmu itu. Segera aku tancap gas hendak
mengeluyur pergi. Tak terduga keenam orang yang masih pencet hidung sendiri itu segera mengadang di
depanku dengan berjajar serapat dinding.
"Tapi hehe, tiada seorang pun berani berdiri di belakangku, rupanya mereka benar-benar takut pada kentutku
yang berbau busuk. Melihat di depan telah dibuntu oleh mereka, segera aku putar tubuh dan berbalik arah, tapi
gerak-gerik keenam orang itu benar-benar seperti setan, entah cara bagaimana tahu-tahu mereka sudah
mengadang di depanku lagi.
"Sampai beberapa kali aku ganti arah dan tetap tak bisa meloloskan diri. Mendadak aku mendapat akal, aku
berjalan mundur setindak demi setindak. Tapi mereka memburu dengan jalan ke depan, sudah tentu aku tak
bisa lebih cepat daripada mereka, akhirnya aku terdesak sampai di dinding gunung dan tak bisa bergerak lagi.
"Keenam orang aneh itu sama bergelak tertawa senang, seorang di antara lantas tanya padaku, 'Dia berada di
mana?' - Aku balas tanya, 'Siapa yang hendak kalian cari?' - Keenam orang itu serentak berkata, 'Kau telah
kami kepung, kau yang harus menjawab pertanyaan kami!' Seorang lagi berkata, 'Jika kau dapat mengepung
kami sehingga tak bisa lolos, barulah kau berhak tanya kepada kami. Sekarang kau harus menjawab dan bukan
bertanya.'
"Orang yang tadi menukas, 'Dia hanya sendirian, dari mana dia mampu mengepung kita berenam?' Yang lain
menjawab, 'Bisa saja. Jika kepandaiannya amat tinggi, umpamanya dia mengurung kita di dalam sebuah gua,
dia sendiri berjaga di mulut gua sehingga kita tersumbat tak bisa keluar. Bukankah itu pun berarti kita
terkepung.' - 'Itu bukan terkepung, tapi tersumbat tak bisa keluar,' sahut yang tadi.
"Rupanya orang pertama itu tiada alasan buat berdebat lagi, tapi ia justru tidak mau kalah. Sesudah tertegun
sejenak, mendadak ia tertawa sambil melonjak-lonjak, serunya, 'Aha, betul, jika dia kentut terus-menerus
sehingga kita tidak berani mendekatnya, dia kepung kita dengan kentut, dengan demikian bukankah kita akan
terkepung benar?' Keempat orang yang lain serentak bertepuk tangan dan berseru, 'Betul, orang ini dapat
mengepung kita dengan kentut!'
"Mendengar ucapan mereka itu, tiba-tiba pikiranku tergerak, mendadak aku angkat kaki dan berlari sambil
berteriak, 'Awas kalian jangan mengejar kalau takut kepada kentutku!' Aku menduga mereka tentu takut pada
kentutku dan tentu tak berani mengudak diriku.
"Siapa tahu gerakan keenam makhluk aneh itu berpuluh kali terlebih cepat daripadaku, baru beberapa langkah
aku berlari tahu-tahu aku sudah kena dibekuk lagi oleh mereka.
"Tanpa ampun lagi aku didudukkan di atas sepotong batu dan ditekan sekuat-kuatnya sehingga tulang
punggungku hampir-hampir patah. Sedemikian kuat mereka menekan tubuhku agar duduk kencang-kencang di
atas batu sehingga sekalipun aku benar-benar ingin kentut juga tidak bisa mengeluarkan hawa busuk itu."
Saking gelinya Lenghou Tiong terbahak-bahak. Tapi baru dua-tiga kali tertawa mendadak darah di rongga
dadanya bergolak lagi dan tidak mampu tertawa pula.
Maka Dian Pek-kong menyambung pula ceritanya, "Sesudah aku didudukkan di atas batu dengan ditahan
sekuatnya, seorang di antaranya lantas bertanya, 'Dari mana datangnya kentut?' - 'Dari perut melalui usus
besar terus keluar dari lubang pantat.' - 'Ya, tutuk saja Hiat-to bagian Siang-yang, Hap-kok-kik-ti dan GingDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
hiang-hiat.'
"Habis berkata tangan pun lantas bergerak, sekaligus ia tutuk empat Hiat-to yang disebutkan itu. Betapa cepat
dan jitunya cara menutuk sungguh jarang ada bandingannya.
"Setelah menutuk Hiat-toku, keenam orang aneh itu sama menghela napas lega, seperti terbebas dari beban
berat. Kata mereka, 'Kutu tukang kentut ini sekarang tak mampu kentut lagi.' Kemudian orang yang menutuk
aku itu bertanya padaku, 'He, sebenarnya di manakah orang itu? Jika kau tetap tak mau mengatakan,
selamanya aku takkan membuka Hiat-tomu, biar kau ingin kentut tak terlepaskan, biar perutmu kembung dan
akhirnya mampus.'
"Diam-diam aku berpikir sedemikian tinggi ilmu silat keenam makhluk aneh ini, kedatangan mereka ke Hoa-san
ini tentu bukan mencari seorang keroco yang tak berarti. Padahal waktu itu guru dan ibu-gurumu tidak berada
di rumah, seumpama sudah pulang tentu mereka diketemukan keenam orang aneh itu dan tidak perlu mencari
lagi. Tapi sekarang mereka masih tetap mencari 'orang itu'. Sesudah kupikir pulang-pergi, akhirnya aku
menarik kesimpulan bahwa orang yang sedang dicari keenam siluman itu tentu Thaysusiokcomu Honglocianpwe."
Hati Lenghou Tiong tergetar, "Dan kau beri tahukan mereka tidak?" tanyanya.
Dian Pek-kong merasa kurang senang, sahutnya, "Huh, memangnya kau anggap Dian Pek-kong ini manusia
apa? Orang she Dian ini memang suka kepada bunga dan gemar pada wanita, namaku sudah busuk di
kalangan Kangouw, tapi paling-paling juga terbatas dalam hal kegemaranku kepada kaum wanita saja, apakah
pernah kau dengar aku buat kejahatan lain lagi? Sekali aku sudah berjanji padamu, tidak nanti aku
membocorkan jejak Hong-locianpwe itu. Memangnya aku orang she Dian ini adalah manusia yang tak bisa
dipercaya?"
"Ya, ya, aku yang salah omong, harap Dian-heng jangan marah," cepat Lenghou Tiong minta maaf.
"Jika kau berani menghina aku lagi, biarlah kita putus hubungan, selanjutnya jangan saling anggap sebagai
sahabat," kata Dian Pek-kong pula.
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, "Kau ini maling cabul yang tak terampunkan bagi orang Bu-lim, siapa
yang pernah anggap kau sebagai sahabat? Hanya saja beberapa kali kau tidak jadi membunuhku, meski
kesempatan membunuh itu terbuka bagimu, maka aku anggap masih utang budi padamu."
Dalam kegelapan Dian Pek-kong tak bisa melihat air muka Lenghou Tiong, maka ia sangka pemuda itu diamdiam
sudah menerima kata-katanya tadi. Segera ia melanjutkan, "Keenam makhluk aneh itu masih terus tanya
padaku, aku sangat mendongkol dan merasa sebal, dengan suara keras aku berteriak, 'Sudah tentu aku tahu di
mana beradanya orang itu, tapi aku justru tidak mau mengatakan. Sedemikian banyak puncak di pegunungan
Hoa-san ini, jika aku tidak mau omong, biarpun selama hidup juga kalian takkan menemukan dia.'
"Keenam orang itu menjadi gusar, mereka menggunakan kekerasan dan menyiksa diriku. Sejak itu aku lantas
tak menggubris segala ocehan dua pertanyaan mereka. Lenghou-heng, ilmu silat keenam siluman itu benarbenar
luar biasa, hendaknya lekas kau beri tahukan kepada Hong-locianpwe agar beliau dapat siap siaga
sebelumnya."
"Dian-heng, terus terang kukatakan, orang yang hendak dicari Tho-kok-lak-sian itu adalah diriku dan bukan
Hong-thaysusiokcoku," tutur Lenghou Tiong.
Dian Pek-kong tergetar kaget, "Kau? Kau yang dicari mereka? Untuk apa mereka mencari dirimu?" ia menegas.
"Mereka pun sama dengan tujuanmu, atas permintaan Gi-lim Sumoay supaya mencari aku," kata Lenghou
Tiong.
Dian Pek-kong melongo dan tak bisa bicara lagi.
Lenghou Tiong tahu ilmu silat Tho-kok-lak-sian memang sukar dibayangkan oleh siapa pun juga. Tenaga dalam
dan hawa murni mereka lebih-lebih luar biasa anehnya. Tapi Dian Pek-kong seenaknya saja mengatakan
"mereka menyiksa diriku", padahal kata-kata "menyiksa" itu entah meliputi penderitaan betapa hebatnya, hal
ini dapat dibuktikan dengan penderitaan dirinya sekarang, apalagi Dian Pek-kong yang sengaja dipaksa bicara
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
oleh keenam siluman itu, tentu penyiksaan yang mereka gunakan entah berapa puluh kali lebih keji dan lebih
ganas.
Teringat akan derita Dian Pek-kong dan rintihan sekarang, perasaan Lenghou Tiong merasa tidak tega. Katanya
kemudian, "Dian-heng lebih suka mati daripada membocorkan jejak Hong-thaysusiokco, engkau benar-benar
seorang yang paling bisa pegang janji di dunia ini, sungguh aku sangat kagum dan hormat."
"Orang she Dian ini adalah manusia yang tak terampunkan bagi tokoh-tokoh persilatan, tapi mendengar
pujianmu sekarang, biar mati pun aku merasa puas," kata Pek-kong.
Tiba-tiba Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, "Guru dan ibu-guruku sedang mencari dia di mana-mana dan ingin
mencabut nyawanya, tapi aku malah memberi pujian padanya. Bila kata-kataku tadi didengar oleh Suhu dan
Sunio, entah kena beliau itu akan betapa marahnya padaku?"
Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong berkata pula, "Bila waktu itu akan mengetahui orang yang dicari
keenam siluman itu adalah dirimu, tentu akan memberitahukan kepada mereka, dengan demikian aku tinggal
ikut di belakang, mereka yang berhasil mengundangmu ke sana, maka aku pun tak perlu mati di Hoa-san sini
akibat bekerjanya racun yang dalam tubuhku ini. Eh, aneh juga, jika kau telah jatuh di tangan keenam siluman
itu, mengapa mereka tidak terus menggondolmu pergi menemui Siausuthay itu?"
Lenghou Tiong menghela napas, katanya, "Hal itu terlalu panjang suntuk diceritakan. Dian-heng, barusan kau
bilang racun akan bekerja dan engkau akan mati di Hoa-san sini?"
"Seperti sudah pernah kukatakan padamu bahwa aku kena diracun orang, aku diharuskan dalam sebulan
membawamu untuk menemui Siausuthay itu habis itu barulah aku akan diberi obat penawar racun. Sekarang
aku tak dapat mengundangmu, untuk berkelahi juga aku sudah keok, sebaliknya aku malah babak belur
dianiaya oleh keenam siluman itu, kalau dihitung sampai hari ini, kumatnya racun itu hanya kurang tujuh hari
lagi."
"Jika begitu, sekarang Gi-lim Sumoay berada di mana? Kalau kita segera berangkat entah masih keburu atau
tidak?"
Dian Pek-kong menjadi girang, tanyanya, "Apakah kau mau pergi bersama aku?"
"Telah beberapa kali engkau mengampuni jiwaku, meski tingkah lakumu tidak baik, namun aku pun tidak dapat
tutup mata dan membiarkan engkau mati keracunan. Sebelum ini engkau memaksa aku dengan kekerasan,
sudah tentu aku tidak mau menurut. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda dan aku pun telah berubah
pikiran."
"Saat ini Siausuthay berada di Sucwan Utara, ai ... kalau kita berdua dalam keadaan sehat walafiat mungkin
masih keburu mencapai sana dengan menunggang kuda cepat, tapi sekarang kita kedua sama-sama terluka
parah, jangankan tujuh hari, boleh jadi 70 hari pun sukar mencapai sana."
"Tapi daripada menunggu kematian di sini, biarlah kita coba-coba berangkat juga," kata Lenghou Tiong. "Ya,
siapa tahu kalau-kalau Tuhan memberkahi kita dan mungkin kita mendapatkan kereta bagus dan kuda cepat di
bawah gunung, lalu dalam waktu tujuh hari kita dapat mencapai tempat tujuan."
"Hah, selama hidupku hanya berbuat kejahatan melulu, dosaku sudah kelewat takaran, masakah Tuhan mau
memberkahi aku?" kata Dian Pek-kong dengan tertawa.
"Tuhan Maha Pengasih, siapa yang mau insaf akan dosanya pasti akan diberi ampun," kata Lenghou Tiong.
"Toh akhirnya kita mesti mati, tiada alangannya kita coba-coba."
"Benar," seru Dian Pek-kong sambil bertepuk tangan. "Kau memang sangat cocok dengan watakku, Lenghouheng.
Apa bedanya mati di atas gunung sini dan mati di tengah jalan? Kukira paling penting turun gunung dan
mencari makanan enak lebih dulu. Apakah engkau sanggup berdiri. Lenghou-heng? Biar kupegang dirimu!"
Ia menyatakan akan memegang Lenghou Tiong, padahal ia sendiri tidak mampu bangkit, Lenghou Tiong
hendak mengulurkan tangan untuk memayang Dian Pek-kong, tapi tangan sama sekali tidak bertenaga. Dalam
kegelapan napas kedua orang dapat terdengar oleh masing-masing, jarak mereka sangat dekat, celaka mereka
sama-sama tak bisa berkutik, semakin hendak mengeluarkan tenaga semakin lemas.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sesudah berkutatan sekian lama dan tetap tak berguna, mendadak kedua orang sama-sama bergelak tertawa.
Seru Dian Pek-kong, "Selama hidup Dian Pek-kong malang melintang di Kangouw tanpa seorang sahabat karib,
sekarang dapat mati bersama Lenghou-heng di sini, sungguh menyenangkan juga."
"Kelak bila guruku melihat kita berdua, tentu beliau menyangka kita habis bertarung sengit dan akhirnya gugur
bersama," ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. "Ya, siapa pun tidak menyangka bahwa sebelum ajal malah kita
telah saling mengeratkan persaudaraan."
"Lenghou-heng, marilah kita berjabat tangan baru mati bersama," ajak Pek-kong sambil mengulurkan sebelah
tangannya.
Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu. Teringat olehnya Dian Pek-kong itu adalah maling cabul yang terkenal
busuk, sebaliknya dirinya sendiri adalah murid perguruan ternama dan terhormat, mana boleh bersahabat karib
dengan dia. Maka sebelah tangannya yang sudah telanjur setengah jalan itu tidak diulurkan lagi.
Dian Pek-kong tidak tahu perasaan Lenghou Tiong, ia sangka luka Lenghou Tiong terlalu parah sehingga lengan
pun sukar bergerak, maka ia lantas berseru, "Lenghou-heng, hendaknya jangan khawatir. Sekali Dian Pek-kong
telah mengikat persahabatan denganmu, maka biarpun kita tidak dilahirkan pada tahun atau bulan dan hari
yang sama, bolehkah sekarang kita mati pada hari yang sama bulan dan tahun yang sama. Bila kau mati lebih
dulu karena lukamu lebih parah, aku orang she Dian pasti takkan hidup sendirian lagi."
Lenghou Tiong terkesiap mendengar ucapan orang yang jujur ikhlas itu, pikirnya, "Orang ini benar-benar
sahabat sejati, ucapannya barusan ini pasti tidak pura-pura."
Maka tanpa ragu lagi tangannya tadi lantas diulurkan, lantas memegang tangan orang, katanya dengan
tertawa, "Dian-heng, kita berada bersama, kematian kita rasanya tidak terlalu kesepian."
Baru habis kata-katanya itu, tiba-tiba terdengar ada orang mendengus di belakang mereka, menyusul ada
orang berkata, "Huh, murid utama Hoa-san-pay ternyata sedemikian jauh tersesatnya, sampai-sampai mau
bersahabat dengan maling cabul yang dikutuk oleh setiap orang Kangouw."
"Siapa itu?" bentak Dian Pek-kong.
Sedangkan Lenghou Tiong diam-diam mengeluh, "Wah, celaka. Ajalku sudah dekat, mati bagiku tidak menjadi
soal, tapi juga membikin buruk nama baik Suhu, inilah yang rada runyam."
Dalam kegelapan, remang-remang hanya kelihatan sesosok bayangan orang berdiri di hadapan mereka. Orang
itu menghunus pedang yang mengeluarkan cahaya gemilapan.
"Lenghou Tiong," orang itu berkata pula dengan tertawa dingin, "saat ini kau masih boleh menyatakan
penyesalanmu, asalkan maling cabul she Dian ini kau bunuh saja, tentu tiada orang yang akan mencela
hubunganmu dengan dia."
Habis berkata, "cret", mendadak ia tancapkan pedangnya di atas tanah.
Dari batang pedang yang berbentuk lebar itu segera Lenghou Tiong mengenalnya sebagai senjata kaum Kosan-
pay. Segera ia berkata, "Siapakah tuan dari Ko-san-pay ini?"
"Hm, boleh juga pandanganmu, sekali lihat saja lantas kenal asal usulku," kata orang itu. "Aku Ku An, murid
Hui-suya, tokoh keempat Ko-san-pay."
"O, kiranya Ku-suheng adanya, selama ini kita jarang bertemu," sahut Lenghou. "Entah ada keperluan apakah
kunjunganmu ke Hoa-san kami ini?"
"Aku ditugaskan oleh Ciangbun-supek (paman ketua) untuk meronda di sini, kami ingin tahu apakah murid
Hoa-san-pay benar-benar tidak genah sebagaimana tersiar di luaran. Tak tersangka, hehe, begitu sampai di
sini lantas terdengar percakapanmu yang sedemikian akrabnya dengan maling cabul ini."
"Bangsat, memangnya orang Ko-san-pay kalian ada yang baik? Mengapa kalian tidak periksa dan bercermin
atas diri sendiri, sebaliknya suka urus perkara orang lain," damprat Dian Pek-kong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Bluk", tanpa bicara lagi kontan Ku An menendang kepala Dian Pek-kong sambil membentak, "Anjing buduk,
sudah hampir mampus masih berani membacot pula?"
Akan tetapi Dian Pek-kong tidak merasa kapok, dia masih terus memaki "bangsat, anjing" dan macam-macam
kata kotor lagi.
Kalau Ku An mau cabut nyawa Dian Pek-kong sebenarnya terlalu mudah baginya, cuma dia memang sengaja
hendak menghina Lenghou Tiong lebih dulu. Maka katanya pula sambil menjengek, "Lenghou Tiong, kau telah
mengikat persahabatan dengan dia, jadi kau sudah pasti tidak mau dibunuh dia?"
Lenghou Tiong menjadi gusar. Sahutnya lantang, "Aku mau membunuh dia atau tidak peduli apa denganmu?
Bila berani boleh sekali tusuk binasakan Lenghou Tiong lebih dulu, kalau pengecut boleh lekas enyah dari sini
dengan mencawat ekormu."
"Jadi kau pasti tidak mau membunuh dia dan tetapi mengakui maling cabul ini sebagai sahabat sejati?" Ku An
menegas pula.
"Peduli ada dengan siapa aku bersahabat?" sahut Lenghou Tiong. "Hm, pendek kata, dengan siapa pun aku
bersahabat juga lebih baik daripada bersahabat denganmu."
"Hahaha! Bagus, bagus! Tepat sekali!" sorak Dian Pek-kong dengan tertawa
"Huh, kau sengaja membikin aku murka supaya kubunuh kalian secepatnya, hm, jangan harap, di dunia tiada
urusan semudah ini," kata Ku An. "Aku justru ingin membelejeti kalian sampai telanjang bulat, akan kuikat
kalian menjadi satu, lalu kututuk Hiat-to kalian supaya bisu, kemudian akan kupertontonkan kalian kepada
umum dan mengatakan perbuatan kalian yang tidak senonoh dan secara kebetulan kepergok olehku. Haha,
Gak Put-kun dari Hoa-san-pay kalian suka pura-pura suci, pura-pura berbudi, tapi sesudah pertunjukanmu
nanti ingin kulihat apakah dia masih berani mengaku berjuluk 'Kun-cu-kiam' atau tidak?"
Mendengar maksud orang yang keji itu, saking gusarnya seketika Lenghou Tiong jatuh pingsan.
Sedangkan Dian Pek-kong lantas memaki pula, "Bangsat kep ...." belum sempat memaki lebih lanjut, tahu-tahu
Hiat-to bagian pinggang sudah kena ditendang oleh Ku An, kontan mulutnya terganggu dan tak bisa bersuara
lagi saking sakitnya. Ku An terkekeh-kekeh ejek, segera ia pegang Lenghou Tiong dan hendak membelejeti
pakaiannya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di belakangnya ada suara orang perempuan yang lembut sedang
menegurnya, "He, apa yang sedang dilakukan Toako ini?"
Terkejut juga Ku An, cepat ia menoleh. Dilihatnya bayangan seorang wanita tahu-tahu sudah berdiri di
belakangnya. Segera ia menjawab, "Dan kau sendiri mau bikin apa di sini?"
Mendengar suara wanita itu, girang luar biasa Dian Pek-kong, segera ia berseru, "Siau ... Siausuhu, kiranya
engkau sudah datang sendiri. Sungguh sangat kebetulan, bang ... bangsat itu hendak mencelakai kau punya
Lenghou-toako."
Kiranya pendatang ini tak lain tak bukan adalah Gi-lim.
Keruan Gi lim menjadi khawatir demi mendengar orang yang menggeletak di atas tanah itu adalah "dia punya
Lenghou-toako", cepat ia melompat maju sambil berseru, "He, Lenghou toako, apakah betul engkau ini?"
Melihat perhatian Gi-lim sedang dicurahkan seluruhnya terhadap Lenghou Tiong yang menggeletak tak berkutik
itu, tanpa pikir lagi jari Ku An lantas menutuk iga Gi-lim.
Tak terduga, baru saja jari hampir menyentuh baju Nikoh jelita itu, sekonyong-konyong kuduk sendiri kena
dicengkeram orang, menyusul tubuhnya lantas terangkat ke atas sehingga terapung hampir satu meter di atas
tanah.
Keruan Ku An terperanjat sekali, sikut kanan segera ia ayun ke belakang untuk menyodok, tapi mengenai
tempat kosong. Menyusul kaki kiri lantas mendepak ke belakang, tapi lagi-lagi mengenai tempat kosong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan ia tambah kaget, kedua tangannya cepat diangkat ke belakang untuk menangkap tangan lawan. Namun
pada saat itu juga lehernya sudah kena dicekik oleh sebuah tangan yang lebar dan kasar, seketika napasnya
menjadi sesak, sedikit pun tak bisa mengerahkan tenaga lagi.
Dalam pada itu Lenghou Tiong telah mulai siuman, ia dengar suara seorang wanita sedang memanggilnya
dengan rasa cemas, "Lenghou-toako, Lenghou-toako!"
Samar-samar ia dapat mengenali seperti suaranya Gi-lim.
Waktu ia membuka mata, di bawah sinar bintang yang remang-remang dilihatnya sebuah wajah yang putih ayu
berhadapan dengan muka sendiri dalam jarak cuma belasan senti jauhnya. Siapa lagi kalau bukan Gi-lim
adanya.
Tiba-tiba didengarnya pula suara seorang yang sangat keras sedang bertanya, "Anak Lim, apakah si penyakitan
kurus kering ini adalah Lenghou Tiong?"
Ketika Lenghou Tiong berpaling ke arah suara itu, ia sendiri menjadi kaget. Dilihatnya seorang Hwesio yang
sangat tinggi dan sangat gemuk sedang berdiri di situ laksana sebuah menara baja.
Tinggi Hwesio itu sedikitnya tujuh kaki, memakai Kasa (jubah padri) merah, mesti di tengah malam gelap
masih jelas kelihatan warna Kasanya yang merah darah itu. Tertampak tangan kirinya terjulur lurus ke depan,
kuduk Ku An terpegang olehnya dan terangkat sehingga kakinya kontal-kantil lemas, entah sudah mati atau
masih hidup.
"Ayah, memang dia inilah ... Lenghou-toako, tapi bukan si penyakitan," sahut Gi-lim, sambil bicara
pandangannya tak pernah meninggalkan muka Lenghou Tiong, tampaknya ia hendak mengulur tangan untuk
meraba pipi pemuda itu, tapi seperti tidak berani pula.
Lenghou Tiong sangat heran, pikirnya, "Kau ini seorang Nikoh cilik, mengapa memanggil Hwesio gede itu
sebagai ayah? Hwesio punya anak saja sudah mengejutkan orang, apalagi putri Hwesio itu adalah seorang
Nikoh pula, hal ini lebih-lebih luar biasa."
Dalam pada itu Hwesio besar gemuk itu sedang mengakak tawa, katanya, "Hahaha! Lenghou Tiong yang kau
rindukan siang malam ini tadinya kukira adanya seorang laki-laki gagah baik, siapa tahu cuma seorang kurus
kering yang tak becus dan menggeletak tak bisa berkutik begini. Orang penyakitan begini aku tidak mau
mengambil sebagai menantu, kita jangan gubris dia, marilah pergi saja."
Gi-lim menjadi malu dan gugup pula, katanya, "Siapa yang rindu siang dan malam? Engkau memang suka
ngaco-belo tak keruan. Mau pergi boleh pergi sendiri saja. Aku ... aku tak mau ...."
Sebaliknya Lenghou Tiong menjadi gusar karena dirinya dimaki sebagai penyakitan, dianggap tak becus segala.
Segera ia menjawab, "Kau mau pergi boleh pergi, memangnya siapa yang menahanmu di sini?"
Di luar dugaan Dian Pek-kong menjadi kelabakan malah, teriaknya, "He, jangan, jangan pergi!"
"Memangnya kau suruh dia jangan pergi?" tanya Lenghou Tiong.
"Habis, obat penawar racun yang kuperlukan berada padanya, jika dia pergi begitu saja kan jiwaku bisa
melayang?" ujar Dian Pek-kong.
"Aku kan sudah menyatakan akan mati bersamamu, bila racunmu kumat dan mati, seketika aku juga
membunuh diri," kata Lenghou Tiong.
Mendadak Hwesio gede tadi bergelak tertawa, suaranya keras menggema lembah pegunungan. Serunya
kemudian, "Bagus, bagus! Kiranya bocah ini adalah seorang yang punya jiwa kesatria. Anak Lim, dia sangat
mencocoki seleraku. Cuma masih ada suatu hal yang harus kita tanya jelas padanya, dia minum arak atau
tidak?"
"Sudah tentu, mengapa aku tidak minum arak. Bila sudah menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum arak,
siang minum malam minum, dalam mimpi juga minum arak. Bila menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum
arak, tanggung akan membikin mati kaku Hwesio besar macam dirimu yang pantang minum arak, pantang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
makan daging, pantang membunuh, pantang mencuri, pantang mendusta dan entah pantang apa lagi."
"Hahahaha!" Hwesio gede itu mengakak lagi. Katanya, "Anak Lim, coba katakan padanya apa gelaran agama
ayahmu ini."
Maka dengan tersenyum Gi-lim berkata, "Lenghou-toako, gelar ayahku adalah 'Put-kay' (tidak pantang), beliau
adalah murid Buddha, namun segala peraturan suci dan pantangan agama tidak mengikat beliau, sebab itulah
beliau mengambil nama 'Put-kay' itu. Hendaknya engkau jangan menertawainya, beliau memang tidak pantang
segala, tidak pantang arak tidak pantang daging, membunuh maupun mencuri juga dilakukan olehnya, bahkan
... bahkan mempunyai seorang putri seperti ... seperti aku ini."
Sampai di sini ia pun mengikik geli sendiri.
Lenghou Tiong juga lantas terbahak-bahak, serunya lantas, "Hahaha! Hwesio demikian barulah menyenangkan
benar!"
Sembari bicara ia terus meronta hendak berdiri, tapi kemauan ada, tenaga kurang, betapa pun sukar
berbangkit.
Cepat Gi-lim membantunya dengan memayangnya bangun. Mesti dia adalah Nikoh jelita yang masih malumalu,
tapi setidak-tidaknya dia belajar silat, jangankan cuma memayang bangun saja, sekalipun mengangkat
tubuhnya juga bukan hal sulit baginya.
Maka dengan tertawa Lenghou Tiong berkata pula, "Laupek (paman), jika segala apa kau perbuat, mengapa
engkau tidak menjadi orang preman saja, buat apa mesti pakai Kasa segala?"
"Hal ini ada alasannya," sahut Put-kay Hwesio. "Justru karena aku tidak pantang berbuat apa pun, makanya
aku menjadi Hwesio. Sama halnya seperti dirimu, aku telah menyukai seorang Nikoh cantik ...."
"Engkau sembarangan mengoceh lagi, ayah!" sela Gi-lim tiba-tiba dengan wajah merah. Untung dalam gelap
sehingga orang lain tidak melihatnya.
Dalam pada itu Put-kay berkata pula, "Seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani terus terang,
biarpun dimaki atau ditertawai orang peduli apa. Aku Put-kay Hwesio adalah laki-laki sejati, apa yang mesti
kutakuti?"
"Tepat!" Lenghou Tiong dan Dian Pek-kong mengiakan berbareng.
Dasar Put-kay Hwesio itu memang suka dipuji, keruan ia makin menjadi, dengan gembira ia menyambung
pula, "Hehe, Nikoh cantik yang kucintai itu tak-lain tak-bukan adalah ibunya."
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, "Kiranya Gi-lim Sumoay punya ayah seorang Hwesio dan ibunya adalah
seorang Nikoh pula."
"Dahulu aku adalah seorang jagal hewan," demikian Put-kay menyambung pula, "aku mencintai ibunya. Akan
tetapi ibunya tidak mau menggubris diriku, tiada jalan lain terpaksa aku menjadi Hwesio. Menurut jalan
pikiranku waktu itu, Hwesio dan Nikoh adalah sekaum, jika Nikoh tidak suka kepada si jagal tentu akan suka
pada Hwesio."
"Ayah, mulutmu selalu mencerocos tak keruan, sudah tua masih seperti anak kecil saja cara bicaramu," omel
Gi-lim.
"Memangnya aku salah omong?" sahut Put-kay. "Cuma waktu itu tak terpikir olehku bahwa sesudah menjadi
Hwesio, maka tak boleh lagi bergaul dengan kaum wanita, bahkan bergaul dengan Nikoh juga dilarang. Jadi
maksudku ingin mendapatkan ibunya menjadi tambah sukar. Aku menyesal dan tidak mau menjadi Hwesio
lagi. Tak terduga guruku justru mengatakan pembawaanku harus menjadi Hwesio, aku dilarang kembali
menjadi preman dan akhirnya entah cara bagaimana ibunya juga jatuh hati karena kesungguhanku dan ... dan
lahirlah seorang Nikoh cilik. Kau sekarang sudah jauh lebih bebas daripada zamanku dahulu, anak Tiong. Kau
menyukai seorang Nikoh cilik seperti anakku ini dan tidak perlu menjadi Hwesio seperti aku."
Lenghou Tiong menjadi serbarunyam mendengar uraian Put-kay itu. Pikirnya, "Dahulu aku menolong Gi-lim
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sumoay karena waktu itu dia jatuh di bawah cengkeraman Dian Pek-kong. Dia adalah Nikoh suci dari Hing-sanpay,
mana boleh berhubungan cinta dengan orang biasa? Dia menyuruh Dian Pek-kong dan Tho-kok-lak-sian
agar mencari diriku untuk bertemu dengan dia, boleh jadi dia benar-benar terguncang imannya karena untuk
pertama kalinya dia bergaul dengan kaum lelaki. Dalam persoalan ini aku harus menghindar selekasnya supaya
tidak mencemarkan nama baik Hoa-san dan Hing-san-pay, jangan sampai aku didamprat oleh guru dan ibu
guru, bahkan akan dipandang hina oleh Leng-sian Siausumoay."
Dalam pada itu Gi-lim sendiri juga sangat kikuk, katanya, "Ayah, Lenghou-toako sudah punya pilihannya
sendiri, mana dia sudi kepada orang lain. Selanjutnya engkau ... engkau jangan menyinggung hal ini lagi,
supaya tidak ditertawai orang."
"Hah, bocah ini sudah pilihan orang lain katamu? Kurang ajar!" teriak Put-kay. Tangan kanan terus
mencengkeram dada, Lenghou Tiong tidak mampu menghindarkan cengkeraman orang. Seketika dia kena
dipegang terus diangkat ke atas. Jadi tangan kiri Put-kay Hwesio memegang kuduk Ku An dan tangan kanan
menjambret dada Lenghou Tiong, kedua tangan terjulur lurus laksana memikul dua orang.
"Ayah, lekas lepaskan Lenghou-toako!" seru Gi-lim khawatir. "Lepaskan, kalau tidak aku akan marah, lho!"
Aneh juga, demi mendengar putranya akan "marah", seketika Put-kay sangat takut dan lekas menaruh
Lenghou Tiong ke bawah, namun mulutnya masih mengomel, "Nikoh jelita mana lagi yang dia penujui?
Sungguh kurang ajar!"
Karena Put-kay sendiri menyukai seorang Nikoh cantik, maka menurut jalan pikirannya di dunia ini tiada wanita
yang lebih cantik lagi daripada kaum Nikoh.
"Gadis pilihan Lenghou-toako adalah Sumoaynya sendiri, Gak Leng-sian, Gak-siocia," kata Gi-lim.
Mendadak Put-kay mengerang keras-keras sehingga anak telinga setiap orang mendenging-denging. Lalu
katanya, "Nona she Gak katamu, keparat, apanya yang menarik sehingga ia kepincut? Lain kali bila kulihat dia
tentu akan kucekik mampus dia."
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil