Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 09 Mei 2017

Cersil Kuna Lecit 1 PATUNG HOK LOK SIOE

Cersil Kuna Lecit 1 PATUNG HOK LOK SIOE Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Kuna Lecit 1 PATUNG HOK LOK SIOE
kumpulan cerita silat cersil online
-
PATUNG HOK LOK SIOE
Lelakon OEY ENG, Si Burung Kenari
*
Ditjeritakan oleh:
O. K. T.
*
Penerbit :
P.T. "MEKAR DJAYA"
P.O. Box 2555
DJAKARTA
I
PEMUDA TAMPAN JANG MENTJURIGAI
Malam jang sunji-senjap dan gelap-gulita
bagaikan mengurung sebuah rumah gedung jang besar
dengan tamannja jang luas. Hanja dua kali sadja
terdengar mendengungnja suara lontjeng jang
berada di dalam kamar tulis di tingkat ke-dua.
Untuk sedjenak, suara lontjeng itu memetjah
ketenangan gedung itu. Djusteru itu pintu kamar
tulis itu terbuka, segera terlihat satu bajangan
hitam, jang bertindak berindap-indap, tangannja
merabah-rabah tembok, melintasi dua lorong jang
banjak tikungannja, hingga tibalah ia bagaikan
merajap, dia menjampaikan sebuah tangga ke bawah
mana dia bertindak turun. Di dalam gelap itu dia
berdjalan terus, melintasi dua lorong jang banjak
tikungannja, hingga tibalah ia di bagian rumah
terbawah. Dari sini dia melewati taman, pergi ke
sebuah bangunan, akan achirnja berhenti di depan
sebuah kamar tidur.
Bajangan itu merogo ke dalam sakunja. Ia
mengeluarkan sesuatu. Ia menggunai itu untuk dapat
membuka pintu. Dengan berhati-hati dia menolak
daun pintu itu. Segera setelah berada di dalam
kamar, ia menubruk ke pembaringan kaju.
Di atas pembaringan itu tengah rebah seorang
budjang wanita muda dan tjantik, umurnja kirakira
duapuluh tahun. Ia rebah tanpa membuka
pakaian luar. Ketika itu ia masih belum pulas.
Ketika ia ditubruk, ia berontak, untuk melepaskan
diri. Ia lantas lari ke kenop listrik, untuk
menjalakannja. Ia rupanja telah bersiap-sedia,
maka ia lantas ingat pada api.
„Ah, tuan.....” katanja, perlahan dan tenang.
„Tengah malam begini kau datang ke kamarku, ada
apakah?”
„Oh, Giok Hoan, djangan memanggil madjikan lagi
padaku,” berkata bajangan itu. „Marilah, lekas kau
mendjadi isteriku jang ke-lima!”
Kho Giok Hoan mengawasi madjikannja itu,
seorang dengan rambut sudah berwarna abu-abu. Ia
melihat sepasang mata tadjam, hidung jang
bengkung, tulang pipi jang nondjol, dan bibir jang
tipis. Orang itu mempunjai raut muka persegi
pandjang dan lantjip ke djanggut, sedang tubuhnja
gemuk terokmok. Setelah mengawasi ia menggelenggeleng
kepala.
Madjikan ini menjangka orang malu-malu kutjing,
sedang hatinja diam-diam menerima baik tawarannja
itu. Ia bertindak menghampirkan.
Giok Hoan, si budjang, lantas mendjerit, tetapi
mulutnja segera ditutup.
Biar bagaimana, budjang itu sudah mendjerit,
maka suaranja itu terdengar ke sekitarnja. Maka
bangunlah budjang-budjang jang tidur berdekatan,
djuga Yo Lee In, njonja mantu jang telah mendjadi
djanda. Ketika mereka itu datang dan menolak pintu
kamarnja Giok Hoan, sesuatunja mendjadi serba
salah, madju salah, mundur salah .........
„Tolong! Tolong!” teriak Giok Hoan. „Madjikan
mau .........”
Budjang muda ini berada di dalam pelukan Seng
Yoe Tek, madjikannja itu, ia meronta-ronta dengan
sia-sia belaka ...............
Yoe Tek lantas sadja mendjadi gusar sekali
melihat muntjulnja sang menantu serta tiga-empat
budjangnja jang lainnja. Ia djusteru paling
membentji menantunja itu.
„Semua pergi!” ia memerintah, bengis.
„Tuan, besok hendak aku pulang ke kampungku,”
berkat Giok Hoan. „Biarnja aku mati tak dapat aku
mendjadi budjang di sini.....” Air matanja lantas
melele turun. „Njonja muda, tolong kau
mengidjinkan aku menumpang di kamarmu semalaman
ini. Aku takut tidur sendirian sadja....”
Orang-orang di luar itu lantas lenjap, dan Giok
Hoan si tjantik-manis pun lenjap bersama. Maka
kamar budjang jang buruk itu mendjadi kosong
ketjuali Yoe Tek seorang diri.........
Di rumah keluarga hartawan, peristiwa itu
peristiwa umum. Besoknja pagi Kho Giok Hoan
meletaki djabatan dan mengangkat kaki. Lalu,
kemudian, peristiwa itu tidak ada jang menjebutnjebut
pula.
Hanjalah tidak demikian dengan Seng Yoe Tek.
Kebentjiannja meluap, ia menimpahkan kesalahan
kepada Lee In, si nona mantu. Ia tidak mau
menjalahkan budjang-budjangnja. Ia kata, tanpa
muntjulnja si nona mantu nistjajalah Giok Hoan
telah mendjadi isterinja jang nomor lima. Ia
menamakan si nona mantu sebagai bintang sapu,
hingga sesuatu jang paling indah berubah mendjadi
jang paling buruk........
Yoe Tek menganggap ada alasannja mengapa ia
menjebutnja nona mantunja sebagai bintang sapu.
Puteranja menikah sama Lee In baru satu bulan atau
puteranja itu lantas meninggal dunia, ia tidak
mengambil mumat bahwa puteranja sudah lama
mendapat sakit tbc dan karenanja dirampas djiwanja
oleh penjakit itu. Ia djusteru menganggap nona
mantu ini „penakluk” suami. Dan masih ada satu
sebab lainnja. Ia mempunjai sebuah toko barangbarang
perak, di hari nikah puteranja itu,
kuasanja kabur dengan uang toko jang berdjumlah
besar. Maka ia menganggap Lee In jalah bintang
sapu jang menitis, mendjelma di dunia, jang
membawa kesialan padanja.........
Tidak ada seorang djua jang mau pertjaja
anggapannja Yoe Tek itu, akan tetapi ialah radja
di rumahnja, ia jang paling berkuasa. Siapa jang
ia bentji, ingin ia membinasakannja, dan siapa
jang ia sajang, ia menghendaki hidupnja. Maka itu,
untuk si menantu ia mengadakan aturannja
tersendiri. Lee In boleh menikah sama lain orang
tetapi dia dilarang membawa anaknja, anak
perempuan nama Siauw Lee, jang baru berumur lima
tahun — anak satu-satunja. Tentu sekali, tanpa
anak itu, Lee In tidak mau pergi ke mana djuga.
Dengan berdiam di rumah mentuanja, Lee In mesti
menderita, dibentji dan diperlakukan tak
selajaknja nona mantu.
Bahkan seberlalunja Giok Hoan, Yoe Tek semakin
menjiksa menantunja itu.
Pada suatu lohor Yoe Tek merapikan pelbagai kado
dari sahabat-sahahatnja berhubung ulangtahunnja
jang ke-50. Ia mendapatkan banjak sekali barang
berharga jang membuatnja girang sekali. Tengah ia
bergembira itu tiba-tiba Siauw Lee, tjutjunja,
muntjul di dalam kamarnja itu. Tjutju ini lantjang
masuk karena dia sedang menguber andjingnja,
seekor Pekingese jang ketjil-mungil, jang bulunja
putih. Dia kaget melihat kakeknja berada di dalam
kamar, dia takut bukan main. Lekas-lekas dia
memutar tubuh untuk lari pergi.
„Bintang sapu tjilik, berhenti!” Yoe Tek
memerintah.
„Kakek, ampun,” betkata si tjutju. Tak berani
dia tak berhenti.
„Siapa suruh kau masuk ke sini?” tanja engkong
itu, bengis.
„Aku.... aku.... mengedjar andjingku....” sahut
tjutju itu ketakutan, suaranja tidak lantjar,
mukanja putjat.
„Aku telah peringatkan kamu, bintang sapu tuabangka
dan bintang sapu tjilik, sampai beratus
kali, bahwa kamu dilarang masuk ke mari, kenapa
sekarang kau berani datang pula?” Sambil berkata
begitu, mata Yoe Tek melotot dan tangannja
mengambil sebatang rotan jang digantung di
belakang lemari.
„Kakek, ampun, lain kali aku tidak berani
pula....” kata Siauw Lee, takutnja bertambah.
„Sungguh, aku tidak berani pula.........” ia
lantas berlutut.
„Aku larang kau, kau berani langgar!” berkata
kakek itu keren. „Djikalau aku tidak hadjar kau,
dua bintang sapu bangkotan dan tjilik, maka
kamulah jang bakal menakluki aku! Bisa-bisa akulah
jang mampus.....”
„Kakek, sudah lama aku tidak berani datang ke
mari....” si tjutju masih memohon. „Hari ini
disebabkan andjing ini lari ke mari, aku menjusul
.........”
„Bukankah tiga minggu jang lalu kau pun telah
menguber andjingmu datang ke mari?” kata kakek
itu, jang lantas mengajun rotannja, dengan bengis
ia menghadjar, bagaikan ia menghadjar musuh
turunannja.
Siauw Lee lantas sadja menangis berkaok-kaok,
hingga suaranja terdengar sampai di luar kamar,
terdengar oleh satu budjang. Dia ini mengenali
suaranja si nona ketjil dan dapat menduga sebabnja
itu, lantaran dia tidak bisa membudjuki
madjikannja, dia lantas lari kepada Lee In, untuk
memberi kabar.
Namanja Lee In nona mantu tetapi dia tinggalnja
di belakang, di dalam sebuah rumah peranti
budjang-budjang, bertjampur sama semua budjang.
Bisalah dimengerti kalau kamar itu buruk demikian
djuga perlengkapannja. Dia mesti bekerdja seperti
budjang djuga, hanja bedanja, kalau budjang
mendapat gadji, dia sendiri tidak............
„Njonja muda,” berkata si budjang, jang datang
sambil berlari-lari, „Nona ketjil Siauw Lee masuk
ke kamar tulis, sekarang dia lagi dianiaja si tuabangka
jang djahat!”
Luar biasa budjang ini. Ia memanggil njonja muda
pada Lee In — itulah suatu tanda menghormat.
Sebaliknja, madjikannja sendiri, jang menggadji
padanja, dia menjebutnja tua-bangka jang
djahat............
Lee In kaget bukan main, hingga ia berseru
tertahan, sedang airmatanja lantas mengutjur
turun. Lantas dia melemparkan badju jang lagi
ditjutji, dia lari ke kamar buku. Selagi mendekati
ia sudah mendapat dengar djeritan anaknja jang
menjajatkan serta suara rangkelan djuga,
ditjampur sama tjatjiannja Yoe Tek, hatinja
mentjelos. Maka ia melekaskan larinja, akan
setibanja lantas menghadang di depan anaknja, guna
manda mengasi dirinja jang disabet pergi-pulang.
Dengan bengisnja Seng Yoe Tek menghadjar Siauw Lee,
Lee In buru2 menjela dan mengalingi tubuh anaknja
dengan tubuhnja sendiri.
„Papa, ampuni Siauw Lee,” ia berkata. „Kau
hadjarlah aku...”
Amarahnja Yoe Tek bertambah melihat datangnja
si „bintang sapu” bangkotan, tanpa membilang apaapa,
ia menghadjar semakin sengit.
Lee In mengertak gigi, ia tidak mengasi dengar
suara, melainkan airmatanja mengutjur deras. Ia
menahan sakit sebisa-bisanja.
Achir-achirnja rotan patah dan tangan Yoe Tek
pun pegal.
„Pergilah!” dia membentak. „Kalau lain kali
kamu berani datang pula, aku hadjar kamu berdua
sampai mampus!”
Ia bernapas sengal-sengal.
Malam itu Yoe Tek lantas mengasi instruksi pada
kuasa rumahnja untuk persiapan pesta besok, di
hari ulangtahunnja jang ke-50.
„Ajah, berhubung dengan pesta ulangtahun besok,
apakah ajah akan berbuat seperti biasanja tahuntahun
jang sudah dengan mengeluarkan patung batu
sapir dari ketiga bintang malaikat Hok Lok Sioe?”
Itulah pertanjaan Nona Pek Hoa, gadisnja Yoe
Tek.
„Pasti aku akan mengeluarkan patung malaikat
itu!” menjahut si ajah tjepat. „Ketiga patung itu
pasti akan menambah redjeki, kebahagiaan dan
pandjang umur!”
„Djadi ajah akan mengundang Detektip To Tjie An
jang mendjadi sahabat-karib ajah serta A Poan
detektip pembantunja jang gemuk itu untuk sekalian
melindunginja?” si anak menanja pula.
„Tanpa detektip jang melindungi, mana berani
aku mengeluarkan ketiga patung malaikat itu?”
membaliki sang ajah. „Umpama-kata ketiga patung
itu lenjap. sudah terang malapetaka bakal datang
mengantjam kita hingga bisa-bisa musnalah
rumahtangga kita. Di rumah kita sudah muntjul dua
bintang sapu, sjukur kita mempunjai ketiga
malaikat itu, kita mendjadi ketolongan....”
„Ajah tachajul ajah hebat sekali,” kata Pek Hoa.
„Aku mengharap ajah dapat menjingkirkan
kepertjajaanmu jang tak masuk di akal itu....”
„Angin.........” berkata Yoe Tek, terus
tertahan. Ia ingin menjebutkan „angin busuk” atau
tiba-tiba ia tidak tega karena ia ingat Pek Hoa
ialah gadisnja jang tersajang dan termandjakan.
„Kau masih muda, kau tahu apa? Aku sudah tua
begini, mustahil aku kalah pengetahuan dengan
kau?”
Melihat ajahnja kurang senang, Pek Hoa berdiam.
Ketika itu seorang budjang djangkung kurus
masuk dengan membawa tiga buah dos, jang ia terus
letaki di atas medja. „Tuan, ada orang mengantar
bingkisan,” katanja.
Yoe Tek melihat kartjis nama di atas ketiga dos
itu, bunjinja „In Hong, Kat Po dan Hiang Kat.”
„Aku tidak kenal tiga orang ini,” katanja. „Tapi
aku sering mendengar nama mereka......... Aneh,
kita toh tidak mempunjai perhubungan satu dengan
lain?”
„Ajah, merekalah sahabat-sahabatku!” berkata
Pek Hoa. „Aku jang mengirimkan mereka surat
undangan agar mereka datang minum arak pandjang
umur.”
„Sahabat-sahabatmu?” kata Yoe Tek. „Aku ingat
sekarang! Merekalah ketiga pendjahat wanita jang
kesohor!”
„Bukan, bukan, ajah!” kata Pek Hoa lekas.
„Sebaliknja merekalah tiga nona gagah dan mulia
jang gemar menolongi sesamanja!”
„Eh, Pek, mengapa kau kenal mereka? Kau bergaul
sama bandit. apa itu tidak menurunkan deradjatmu?”
Yoe Tek mendongkol bukan kepalang tetapi ia
menjabarkan diri.
„Sahabatku, Tjoe Lee Hong, kenal mereka,” Pek
Hoa mendjelaskan, „lantas aku minta Lee Hong
mengadjar aku kenal dengan mereka itu, lantas kita
mendjadi sahabat-sahabat kekal. Merekalah wanitawanita
luar biasa! Ajah, harap kau tidak memandang
rendah kepada mereka itu. Mari aku lihat, apakah
bingkisan mereka............”
Pek Hoa baru berusia enambelas tahun, masih ada
sifat kekanak-kanakannja. Ia lantas membuka dos
kado dari In Hong, Kat Po dan Hiang Kat. In Hong
mengirim kuwe koe, Hiang Kat menghadiahkan mieshoa.
Jang hebat jalah Kat Po. Dia mengirim seekor
kura-kura jang di punggungnja dituliskan dua huruf
merah, bunjinja „Djin Tjoe,” artinja, „Welas-asih
dan Murah-hati.”
„Kurang adjar! Kurang adjar!” Yoe Tek mengumbar
kemarahannja. „Njata sengadja mereka hendak
mengganggu aku! Besok aku larang dia mengindjak
rumahku!”
„Sabar, ajah,” berkata Pek Hoa. „Memang hadiah
mereka tidak berarti tetapi maksudnja baik. Mana
bisa mereka ditolak?”
„Tidak apa kuwe dan mie-shoa itu,” kata sang
ajah. „Tapi itu kura-kura? Bukankah mereka
menghina aku?”
Hartawan ini memandang kura-kura sebagai
edjekan untuknja.
„Siapa bilang kura-kura berani menghina, ajah?
Bukankah kura-kura lambang usia pandjang? Katakata
'djin tjoe’ itu pun doa pandjang umur djuga.
Orang memudjikan ajah pandjang umur seperti
pandjang umurnja sang kura.”
„Aku tidak mengerti mengapa kau membelai mereka
itu? Pasti aku menolak kedatangan mereka. Atau
ketiga patungku jang berharga akan terantjam
bahaja lenjap!”
„Bukankah ajah mengidjinkan mereka datang?” si
anak mendesak.
„Biarlah aku minta Detektip To mengirim lebih
banjak orangnja untuk membuat pendjagaan.”
Benarlah besok pagi, atas undangan Yoe Tek,
Detektip To datang bersama A Poan.
„Tuan To, aku minta kau mendajakan lima atau
enam agen polisi untuk mendjaga pelbagai pintuku,”
Yoe Tek lantas memohon.
„Apa perlunja pendjagaan demikian kuat, Tuan
Seng?”
„Oleh karena aku hendak menolak datangnja ke
rumahku tiga tetamu jang tidak aku inginkan!”
„Itulah gampang. Adakah mereka itu sanakmu jang
melarat? Kau serahkan sadja padaku!”
Detektip To bitjara sambil melembungkan dada,
bitjaranja pun enak sadja.
„Bukan, bukan sanakku,” Yoe Tek menggeleng
kepala, „Merekalah ketiga bandit wanita jang
kesohor!”
„In Hong, Kat Po dan Hiang Kat?” kata Detektip
To, jang alisnja lantas mengkerut dan dadanja
tidak melembung lagi. „Djadi mereka pun bakal
datang?”
„Mereka telah mengantar kado, pasti mereka akan
datang!” „Inilah sulit. Mereka dapat masuk dengan
dua djalan, melompati tembok atau dengan menjamar.
Mereka mau datang, itu artinja mereka tidak dapat
ditjegah.”
Tjie An menggaruk-garuk kepalanja.
„Kalau begitu, mustikaku harus dipersembahkan
pada orang?”
„Lebih baik patung itu djangan dibawa keluar.”
„Setiap tahun biasa dikeluarkan, kalau tidak,
itulah merusak nasib baik,” kata Yoe Tek jang
tebal ketachajulannja. „Maka mesti aku
mengeluarkannja! Aku tjuma minta kau, saudara,
sukalah kau membantu melindunginja. Dapat kau
mengasi datang lebih banjak agen.”
Detektip To tidak berdaja untuk menampik, maka
ia lantas menugaskan empat agen guna mendampingi
kiri dan kanan ketiga patung mustika itu, sedang
setiap pintu masuk dan keluar didjaga masingmasing
dua agen lainnja. Di kaki tembok pekarangan
taman pun ada sepuluh orang polisi dengan senapan
mereka untuk terus meronda.
Walaupun semua pendjagaannja itu, hati Detektip
To berdebaran. In Hong bukannja pendjahat
kebanjakan............
Pada djam 10.00 lebih-kurang. tetamu mulai
mengalir datang. Yoe Tek bersama kuasanja repot
melakukan penjambutan. Mereka dibantu beberapa
budjang tua jang dipertjaja. Setiap sanak atau
tetamu, jang kurang dikenal, ditanja dulu tegastegas,
baru dilajani.
Perdjamuan berdjalan dengan menggembirakan,
peristiwa pun tidak terdjadi dan ketiga patung
malaikat Hok Lok Sioe bertjokol di atas medjanja.
In Hong bertiga tidak muntjul di medan pesta itu.
Hanjalah sekira djam 6.00, baru di ruang pesta
itu terlihat seorang jang mentjurigai.
Ruang pesta jalah ruang tengah jang besar, ruang
itu dirias setjara kuno, hingga djaman seperti
mundur beberapa ratus tahun. Di sebelah utara,
nempel pada tembok, ada sebuah medja pandjang
terbuat dari kaju merah. Di depan itu ada dua buah
medja pat-sian-to, di kiri-kanan itu ada dua buah
kursi thaysoe-ie. Di kedua sisi itu ada lagi
masing-masing sebuah medja ketjil untuk teh serta
kursinja dari kaju merah djuga. Semua kursi dan
medja ditutup dengan kain penutup jang tersulam
benang emas.
Di tengah-tengah medja pandjang itu, di sanalah
terletak ketiga patung Hok Lok Sioe jang terbuat
dari batu sapir, masing-masing tingginja empat
tjoen. Tatakannja pun dari batu akik. Pernah
seorang saudagar barang kuno menawar ketiga patung
itu untuk dua-ribu tail emas. Seng Yoe Tek sajang
untuk mendjualnja.
Di atas medja pat-sian-to itu ada diatur
pelbagai barang sembahjang serta lilin dan hio.
Dan di kedua sisi itu berdiri masing-masing dua
agen polisi.
Keletakannja ketiga patung adalah jang
dibilang, dapat dipandang, tak dapat diraba,
ketjuali keempat agen polisi itu disuruh minggir
lebih dulu dan orang lalu mendekati, mengulur
tangan pandjang-pandjang untuk mendjambretnja.
Tapi si agen polisi berdiri di situ bagaikan
patug-patung hidup .........
Orang jang mentjurigai itu muda usianja dan
tubuhnja sedang, kulitnja putih, parasnja tampan,
sepasang alisnja lentik tetapi gemuk dan hitam,
rambutnja djuga hitam mengkilap sedap dipandang.
Badjunja jalah badju hidjau tua model Barat dengan
dasi putih bawahnja hidjau. Dengan gerak-geriknja
jang halus, tak dapat disangkal bahwa ialah pemuda
jang ganteng. Hanjalah, ia terus memperhatikan
ketiga patung jang berharga mahal itu, ia agaknja
tidak mau menjingkir djauh dari medja
itu...............
Detektip To berdjalan mundar-mandir di dalam
ruangan, ia sangat bersangsi untuk pemuda itu.
Tidak nanti ada prija demikian tampan.........
Rambutnja pun terlalu tebal dan mengkilap. Adakah
itu rambut palsu? Pula, alis prija tidak demikian
lentik. Bukankah dia wanita jang menjamar? Dia pun
berpotongan tubuh berimbang sama potongan
tubuhnja In Hong......
Letak ketiga patung itu ialah demikian rupa, hingga
tidaklah mudah orang mengambilnja. Empat orang agenpolisi
tak pernah meninggalkan tempatnja, mendjaga
disekeliling medja itu. Tetapi ketjurigaan detektip
To terhadap si pemuda tampan semakin besar pula,
karena pemuda itu terus-menerus memandang medja
patung itu.
Wadjah In Hong lain sekali, ia mengenalinja
dengan baik, hanja In Hong itu pandai menjamar,
umpama hidungnja bisa dipalsukan dengan lilin dan
warna kulitnja bisa dipulas, bahkan raut muka
bundar bisa disulap mendjadi potongan telur atau
kwa-tjie.........
Ada lagi jang mentjurigai, jalah matanja pemuda
itu, jang begitu hitam dan djeli, mata itu mesti
dimiliki seorang wanita. Mata itu mirip dengan
matanja In Hong..................
Detektip To tidak berani memastikan orang itu
In Hong walaupun dugaannja sudah sampai delapan
atau sembilan dalam sepuluh. Ia pun tidak berani
datang mendekati, ia memasang mata dari kedjauhan
sadja.
Tetamu banjak dan banjak jang memperhatikan
ketiga patung malaikat Hok Lok Sioe itu, walaupun
demikian, mereka tidak sebagai si pemuda, mereka
mengawasi, mereka kagum, lantas mereka pergi ke
lain ruang, untuk bersuka-ria.
Untuk mengudji ketjurigaannja, Detektip To jang
menempatkan diri di antara lain-lain tetamu
mendadak berseru: „Nona In Hong, sudah lamakah kau
datang?”
Semua tetamu lainnja tidak memperhatikan suara
itu, tetapi si pemuda tampan lantas sadja menoleh,
matanja menjapu keliling ruang. Maka dugaannja
Tjie An mendjadi makin kuat.
Masih pemuda tampan itu tidak mau berkisar dari
dekat medja patung berharga, saban-saban ia
melirik kepada keempat agen polisi. Baru kemudian,
achirnja, dia pergi djuga bertindak ke ruang
belakang, tindakannja tjepat.
Detektip To menguntit dari kedjauhan, hingga ia
melihat orang masuk ke ruang jang mendjadi kamar
tidur para budjang. Semua budjang lagi repot
bekerdja, tetapi di ruang itu, jalah kamar timur,
terdengar suara orang berbitjara perlahan.
„Mama, aku sudah lapar, aku ingin makan!”
demikian suara itu, jalah suaranja Siauw Lee, jang
duduk di sebuah kursi kaju sambil tangannja
memeluki andjingnja, si andjing pekingese jang
putih dan mungil. Pada lengan dan mukanja botjah
itu masih ada tanda balan bekas rangketan
kakeknja.
„Siauw Lee, sabar,” berkata Lee In, sang ibu.
„Di dapur orang lagi repot sekali masak tetapi itu
bukan untuk kita, sebentar sisanja sekalian
tetamu, baru dapat kita makan. Kau tunggulah
sebentar lagi.........”
Selagi berkata, Lee In berhenti mendjahit.
Djuga, ia, muka dan lengannja bertanda balan bekas
rotan.........
Yo Lee In baru berusia duapuluh lebih, ia kurus
dan perok, tetapi itu tidak menghilangi bekasbekas
ketjantikannja. Ia mengenakan badju abu-abu
dan rambutnja didjepit bersama setangkai bunga
putih terbuat dari benang wol. Ajah dan ibunja
telah mati dalam satu bentjana kebakaran dan
sampai sekarang ia masih berkabung.
„Mama, mengapa kakek sangat menghina kita?"
tanja si botjah selang sesaat. „Kakek gemar sekali
menganiaja kita serta tidak mau mengasikan kita
barang santapan jang lezad?”
Tidak tahu bagaimana Lee In harus mendjawab
anaknja itu, sedang airmatanja lantas sadja
mengembeng dan meleleh keluar, maka lekas-lekas
ia berpaling ke lain arah. Sakit rasa hatinja.
Detektip To mengikuti sampai di taman, di luar
djendela kamar tidur itu.
Ketika si pemuda masuk ke dalam kamar itu, Lee
In menjambul dengan girang, lantas mereka
berbitjara, hanja suara mereka tidak dapat
didengar terang oleh detektip itu.
„Tjelaka!” Tjie An mendumal dalam hatinja,
sebab untuk menghampirkan sampai dekat, ia tidak
berani. Karena ia menduga pemuda itu pasti In Hong
adanja, ia pun mau menduga, mungkin In Hong
menemui si njonja muda untuk mendajakan perubahan
penghidupannja itu.........
Lama djuga mereka itu bitjara, lalu si pemuda
mengempo Siauw Lee, jang diberikan kembang gula.
Kemudian baru ia meletakkan botjah itu di kursinja
dan ia ngelojor keluar.
Ketika itu telah tiba saatnja bersantap, semua
tetamu berkumpul di ruang makan. Di tempat patung
tinggal keempat agen polisi tadi, jang tetap
berdiri diam bagaikan patung.
Si pemuda tampan kembali ke ruang itu. Ia lantas
memilih sebuah kursi di kiri dekat medja pat-sianto,
duduknja menghadapi ketiga patung malaikat Hok
Lok Sioe. Ia mengeluarkan sigaret, ia menjulut
itu, lalu mengelepus dengan asjik.
Detektip To bersembunji diluar ruang itu, di
belakang sebuah pohon hoay. Ia merasa pasti
niatnja pemuda itu, jang bukan pergi bersantap
atau minum arak hanja bertjokol setjara tenang
luar biasa di ruang jang sunji itu.
Sudah sering Tjie An ketjele terhadap In Hong,
maka itu perhatiannja mendjadi luar biasa. Ia mau
menjangka In Hong tidak menduga sama sekali bahwa
ia telah mengetahui penjamarannja itu dan bahwa
si Burung Kenari tidak mengetahui jang dirinja
lagi diintjar. Senang hatinja si detektip. Ia
pertjaja, asal si nona turun tangan, dapat ia
turun tangan djuga, untuk mempergoki dan mentjekuk
nona itu. Asal ia dapat mentjekuk orang berikut
buktinja, pikir Tiie An, ia tentu akan dapat
membuktikan bahwa In Hong ialah Oey Eng, atau Oey
Eng ialah In Hong. Djikalau si Burung Kenari telah
dibekuk dan didjebluskan dalam pendjara, pasti
nama Detektip To Tjie An bakal djadi tersohor
sekali.........
Oleh karena memikir begitu, lantaran ia girang
sekali, lantas Tjie An memberi tanda dengan
tangannja agar keempat agen polisi itu
meninggalkan djagaan mereka.
„Kau tunggu di sini sebentar,” kata satu agen
kepada kawannja jang ke-empat. „Kita akan dahar
dulu, lantas kita akan kembali.” Lantas ia berlalu
bersama dua kawannja.
„Bagus betul!” kata agen jang ditinggal pergi
itu. „Kamu bertiga enak-enakan makan, aku
ditinggal sendirian!......... Biar aku menghisap
sigaret sadja.........” Dan ia bertindak ke medja
teh di ruang kanan, ia mengambil sebatang sigaret,
untuk terus dimasuki ke dalam mulutnja.
Dengan begitu maka ketiga patung Hok Lok Sioe
seperti tidak ada lagi pendjaganja.
Inilah ketika jang ditunggu-tunggu si pemuda
tampan, dengan berdjingkrak, ia bangun dari
kursinja, dengan lekas ia menghampirkan medja patsian-
to di mana segera ia mengulur tangannja
menjamber sebuah patung .........
II
BEKERDJANJA PISAU BELATI
Detektip To dari belakang pohon terus memasang
mata. Ia melihat sepak-terdjangnja si pemuda
tampan. Ia membiarkannja, ia mengawasi terus. Tapi
ia merasa tegang sendirinja. Maka ia mengeluarkan
revolvernja, ia bersiapsedia. ia mau menunggu
sampai tangan orang mendjumppit untuk ke-dua
kalinja, baru ia mau turun tangan. Ia menghendaki
pendjahat berikut barang buktinja.
Si pemuda menoleh ke arah si agen polisi. Dia
ini tidak hanja menghisap sigaret. Dengan membalik
tubuh, membelakangi, dia lagi dahar manisan, ia
tidak mau mensia-siakan tempo lagi, untuk ke-dua
kalinja, ia mengulur tangannja, jang terus
dimasukkan ke dalam sakunja.
Hampir berbareng dengan itu, Detektip To lompat
keluar dari tempatnja bersembunji. Ia lari
kedalam, lekas ia tiba di dekat pemuda itu,
punggung siapa ia lantas todong dengan sendjata
apinja.
„Angkat tangan!” ia mengantjam bengis. „Djangan
melawan!” Bukan main girangnja detektip ini. Ia
telah menawan In Hong alias Oey Eng si Burung
Kenari, si pendjahat wanita jang litjin.........
„Bagaimana eh?” menanja si pemuda tampan,
heran. „Mengapa kau mengantjam aku dengan sendjata
api?”
Ketika itu, selain si agen polisi jang menghisap
sigaret dan makan kembang gula, djuga ketiga
kawannja telah balik dengan tjepat. Maka mereka
lantas membantui sep mereka memasang mata atas si
pemuda.
„Aku telah membekuk pendjahat berikut barang
bukti, kau hendak bilang apa?” Tjie An menjahuti.
„Artinja kau membekuk pendjahat berikut barang
buktinja?”
„Memang, tanpa bukti, kau tidak mempunjai
urusan apa-apa di sini!.........” djawab Detektip
To. „Kau hebat, ketjuali pandai menjamar, kau pun
dapat mengubah lagu suaramu!”
Suara si pemuda tampan tidak mirip suaranja In
Hong.
„Aku tidak mengerti!” kata dia. „Mana barang
buktinja?”
„Di dalam saku badjumu!”
„Silahkan kau geledah!”
Detektip To lantas menggeledah. Patung sapir
itu tak ada.
„Sep, dia mentjuri apa?” tanja si agen, jang
menghisap sigaret.
„Tentu sekali patung malaikat! Aku melihat
sendiri dia mengambilnja dan dimasuki ke dalam
sakunja!”
„Tetapi, tuan, bukankah ketiga patung tetap
berada di tempatnja?” tanja si agen. „Tadi aku
menggunai tali jang kuat untuk mengikat ketiga
patung kepada medja.”
Detektip To menoleh ke arah medja patung, di
sana ia melihat tiga buah patung itu tetap di
tempatnja. Ia mendjadi melongoh. Njata ia terlalu
sembrono, rupanja disebabkan ketegangannja, tadi
ia tidak memperhatikan lain ketjuali gerakan
tangan si pemuda tampan. Ia sampai tidak melihat
bahwa orang sebenarnja tidak merabah patungpatung
itu.
„Nona In, sungguh beruntung kau lolos dari
tanganku.........” katanja kemudian.
„Aku bukan Nona In,” berkata si anak muda. „Aku
she Eng. Mustahil seorang detektip tak dapat
membedakan prija dari wanita?”
„Apa?” tanja detektip itu. „Kau Tuan?”
Saking penasaran, Tjie An menjamber rambut
orang serta hidungnja, hingga ia mendapat bukti
dari rambut dan hidung tulen. Saking djengah, ia
mengawasi sadja, dan membiarkannja orang
bertindak pergi.........
Sampai djam 12.00 tengah-malam maka bubarlah
pesta. In Hong bertiga Kat Po dan Hiang Kat terus
tidak muntjul. Ketiga patung Hok Lok Sioe tetap
bertjokol di atas medja, tidak hilang-lenjap,
tidak rusak djuga. Dan Seng Yoe Tek. dengan hatihati
tetapi girang, membawanja sendiri ke lauwteng
tingkat ke-dua di mana ada kamar istimewanja
peranti dia menjimpannja.
Detektip To telah selesai mendjalankan
tugasnja, dengan mengadjak orang-orangnja, ia
berangkat pulang.
Dua djam kemudian, sunjilah gedung Yoe Tek itu.
Semua orang tidur njenjak setelah bekerdja berat
dan letih. Adalah di saat demikian itu, di
belakang taman tampak bajangan satu orang, jang
gerak-geriknja gesit sekali. Bajangan itu lari ke
gedung, memasukinja, terus naik ke lauwteng
tingkat ke-dua. Tidak sulit dia membuka pintu,
karena dia membekal seperangkat kuntji maling.
Maka di lain saat, terbukalah pintu kamar istimewa
Yoe Tek. Dia masuk ke dalam, sama tjepatnja dia
keluar pula, untuk lari turun di tangga. Tiba di
dalam taman, dia lari ke arah kamarnja budjang.
Djusteru itu di belakangnja, ada suara tindakan
mcngedjar.
„Berhenti! Atau aku akan tembak padamu!”
demikian antjaman jang halus tetapi tadjam dari
pengedjar itu.
Bajangan itu lari masuk ke dalam, ia membuka
pintunja sebuah kamar dengan merusak kuntji dengan
pisau belatinja. Selagi pintu terbuka, suara
andjing ketjil menggonggong berulang-ulang.
Yo Lee In mendusin dari tidurnja. atau ia segera
diantjam dengan pisau belati hingga ia terguguh
dan bungkam, maka dengan gampang sadja kepalanja
dibungkus dengan selimut hingga ia mendjadi tidak
berdaja.
Si pengedjar sudah lantas tiba, ia mendengar
suara andjing, menduga orang lari ke dalam
kamarnja Lee In, ia memburu masuk, ia membawa
sendjata api, ia mendjadi tidak takut-takut.
Lee In dengan kepala terbungkus rapat mendengar
suara pintu menggabruk, disusul sama djeritan
tertahan, lalu kamarnja itu mendjadi sunjisenjap.
Sesaat kemudian ia mendengar suara sangat
perlahan dari andjing pekingese. Dengan perlahan
ia membuka bungkusan jang membungkus kepalanja,
lantas paling dulu ia menekan kenop listrik di
samping pembaringannja.
Begitu kamar mendjadi terang dan ia bisa melihat
segala apa, Lee In kaget tidak terkira. Di pinggir
pintu rebah seorang wanita dengan badju dan
tjelana tidur, tangannja mentjekal revolver,
tetapi dia mandi darah. Teranglah, dia sudah tidak
ada njawanja. Tanpa melihat muka orang, ia bisa
menduga kepada Nona Seng Pek Hoa, jalah nona rumah
atau gadisnja Yoe Tek. Sebaliknja di situ tidak
lagi ada bajangan orang jang mentjekal pisau
belati tadi.
Saking kaget dan bingung, njonja muda ini duduk
diam sadja.
Lama djuga Lee in bertjokol bagaikan patung,
lalu ia disandingi rasa takutnja, ia segera
menginsafi bahaja jang mengantjam atas dirinja.
Bukankah ia bisa dituduh sebagai pembunuh oleh Yoe
Tek jang kedjam itu? Mana dapat ia menjangkal?
Sedjenak itu ia ingat: Lari! ke mana? Itulah ia
tidak tahu. Ia pun tidak mempunjai uang. Tapi ia
mesti menjingkir!
Dengan tubuh bergemetaran, ia turun dari
pembaringannja. Di atas pembaringannja ada
badjunja warna abu-abu, ketika ia melihatnja, ia
terkedjut. Badju itu telah terkena darah. Maka
batal ia mengambil itu; ia mengambil sepotong jang
lain, jang warnanja biru, ia lekas mengenakannja.
Ia mengasi bangun pada Siauw Lee, ia menolongi
anak itu memakai pakaian.
„Kakek bakal menganiaja kita sampai mati, mari
kita lari......” ia berbisik di kuping anak itu,
jang ia dustakan. „Djangan berisik.........”
Siauw Lee tjerdik, ia mengerti, maka sambil
mengempo andjingnja, tanpa bersuara ia mengikuti
ibunja.
Tiba di pintu taman, mereka terintang pintu,
jang dikuntji.
„Pintu dikuntji....." kata Siauw Lee.
„Hus, djangan berisik!” sang ibu berbisik. „Kau
tunggu di sini, nanti aku minta dari tukang
kebun.........”
Dengan tindakan perlahan, Lee In menudju ke
gubuknja si tukang kebun jang terpisahnja tjuma
beberapa puluh tindak, ia tahu anak kuntji
digantung di samping djendela, maka ia
menghampirkan djendela, ia menolaknja dengan
perlahan, dengan merabah-rabah, ia dapat memegang
anak kuntji. Ia ambil itu, dengan lekas ia kembali
ke pintu. Setelah pintu terbuka, ia melemparkan
anak kuntji itu, ia mengadjak anaknja lari ke
djalan besar. Ketika ia menoleh ke belakang, ia
melihat satu bajangan orang berkelebat di atas
wuwungan gedung mertuanja, bajangan mana lantas
lenjap. Ia tidak berani berdiam lama-lama di situ,
ia menikung di sebuah pengkolan, lantas ia lari
tanpa tudjuan.
„Mama,” kata Siauw Lee di tengah djalan,
„bukankah kita sudah lari tjukup djauh? Bukankah
kakek tidak bakal dapat mengedjar kita?"
„Kita masih perlu lari, lari sampai sangat
djauh,” ibunja menjahuti.
Di malam jang sunji itu, jang tjuma diterangi
sang rembulan, ibu dan anak ini menjingkir terus,
tubuh mereka berbajang di djalanan jang litjin dan
mengkilap.
„Kita lari ke mana, mama?” si anak tanja lagi.
Itulah pertanjaan jang Lee In tidak dapat
djawab.
„Mama, mari kita pergi ke rumah paman Eng,” si
anak berkata pula. „Dia membuka paberik kembang
gula, di sana setiap hari aku dapat makan kembang
gula.........”
Lee In seperti disadarkan, ia mendjadi ingat
Eng Sie Tjiang, kakak misan dari Pek Hoa, Sie
Tjiang bersimpati kepadanja,
pemuda itu menentang perlakuan kedjam dari Yoe
Tek terhadap mereka ibu dan anak. Tadi sore pun
Sie Tjiang berdjandji akan membudjuki Yoe Tek agar
Yoe Tek mengubah perlakuannja jang buruk itu,
supaja mereka diidjinkan meninggalkan rumah Yoe
Tek. Tidak disangka sekarang terdjadi peristiwa
hebat ini. Ia pertjaja, kalau ia pergi pada Sie
Tjiang, tidak nanti Sie Tjiang menolak mereka.
„Baiklah, anak, kita pergi ke rumah pamanmu
itu.”
***
Besoknja pagi-pagi, Detektip To masih tidur
ketika ia dikasi bangun dengan kaget oleh bel
tilponnja. Dengan tangan kirinja mengutjakngutjak
mata, dengan tangan kanan ia menjamber
alat pendengar, guna memasang kupingnja.
„Hallo!”
„Hallo! Detektip To di sana? Aku Seng Yoe Tek!
Lekas datang ke rumahku! Lekas! Tiga patungku
lenjap! Anak perempuanku dibunuh si bintang sapu
Lee In!.........”
Detektip itu terkedjut.
„Apakah kau telah tangkap dia?”
„Kalau aku telah menangkap, buat apa aku minta
bantuanmu?” djawab Yoe Tek mendongkol.
„Baiklah, aku segera datang!”
Di lain saat, To Tjie An, bersama A Poan serta
dua orang sersi, jang menaiki oto polisi, jang
membuatnja berisik di sepandjang djalan, tiba di
rumah Seng Yoe Tek, djusteru hartawan itu lagi
mentjatji dan mengutuk kalang-kabutan. Umpama
kata kutukannja mandjur, pastilah Yo Lee In dan
anaknja telah mati sendirinja.........
Lantas Yoe Tek membawa Detektip To semua ke
kamar Lee In.
„Menggunai waktu kami semua lagi tidur njenjak,
si bintang sapu pergi mentjuri tiga patungku itu!”
kata Yoe Tek, tetap sengit, suaranja menjalakan
sangat membentjinja ia terhadap menantunja. „Dia
kena dipergoki anakku, dia dikedjar, tetapi dengan
pisau belati dia membunuh anakku, jang ditikam
tenggorokannja. Lihat itu badjunja, jang masih ada
tanda darahnja! Setelah itu, ibu dan anak itu
mentjuri kuntji kebun, untuk kabur! Maka itu, Tuan
To. lekas kau tangkap kedua bintang sapu jang
djahat itu, dan kau rampas pulang patung-patungku
jang harganja tak terkirakan! Awas, atau kau nanti
tidak dapat melindungi kedudukanmu!”
„Baiklah, Tuan Seng,” berkata si detektip, jang
tidak dapat banjak omong, ia ketahui baik sekali,
hartawan ini erat perhubungannja sama banjak orang
besar, djadi benar, kalau ia diganggu, ia dapat
ditjopot dengan gampang dari pangkatnja.
Dalam pemeriksaan, Tjie An mendapatkan buku
tjatatan hari2 dari Yo Lee In — buku tahun 1944,
djadi tjatatan dari satu tahun jang baru
berselang. Di situ ada ditjatat perlakuan buruk
Yoe Tek pada menantu dan tjutjunja, antaranja ini:
„Hari ini, dengan tidak disengadja, aku
menjebut-njebut kepada Siauw Lee bahwa ia
mempunjai seorang bibi serta seorang paman.
Mertuaku mendengar perkataanku itu, aku
lantas digampari hingga belasan kali.....”
Tidak tertarik hatinja detektip ini, tjatatan
itu tidak ada hubungannja sama perkara djiwa itu,
maka ia melemparkannja pula ke atas pembaringan.
Dari situ ia naik ke lauwteng ke-dua, ke kamar
tempat simpan patung malaikat.
Kamar itu berdampingan sama kamar tulis Yoe Tek.
Bagian luar, tembok kamarnja itu berlapisan
tembaga, untuk pentjegah kebakaran dan di antara
tiga bagian, jang dua terlindung terali besi serta
pintunja pun pintu besi, sedang kuntji pintu ada
kuntji rahasia, jang tak dapat dibuka dengan anak
kuntji sembarangan.
Di dalam kamar, jang mendjadi gudang istimewa
itu, ada dua buah lemari besi jang besar dalam
mana biasa disimpan pelbagai surat-surat penting
dan berharga. Di tengah ruang ada sebuah medja
dengan bok-djie-kam kaju tjendana. Itulah tempat
disimpan, atau dipudjanja, ketiga patung Hok Lok
Sioe jang lenjap itu.
Yoe Tek menganggap ketiga patungnja bukanlah
barang kuno, dari itu ia tidak menjimpannja di
dalam lemari besi. Ia kuatir nanti kwalat dan
nanti mendapat tjelaka karenanja, maka ia
memudjanja di atas medja itu, medja mana dikurung
dengan terali besi, supaja, andaikata pendjahat
dapat memasuki gudangnja itu, si pendjahat masih
tidak dapat mengambilnja ketjuali terali besi itu
dirusak. Orang tentunja tjuma dapat memandang
sadja dari luar terali.........
Di luar terali ada diatur medja serta alasannja,
peranti berlutut. Di atas medja ada teratur
tjiaktay, hiolouw, lilin dan hio, djuga bunga
segar dan bebuahan peranti suguhan atau pemudjaan.
Sebab biasanja setiap pagi Seng Yoe Tek datang ke
situ, guna berlutut, guna memasang hio, untuk
bersudjut.
Terali besi itu dipasang djarang tiga dim,
karena mana, orang tidak bisa nelusup masuk ke
situ. Bok-djie-kam pun terpisah kira delapanbelas
kaki dari terali, mendjadi tangan djuga tidak
dapat diulur sampai kepada patung. Semua itu
menjatakan ketiga patung telah terdjaga sempurna
sekali.
Setelah memperhatikan semua itu, pusing
kepalanja Detektip To.
„Ketika tadi malam kau membawa ketiga patung ke
mari, kuntjinja dikuntji betul atau tidak?” ia
tanja.
„Mustahil aku tidak kuntji! Bahkan habis
dikuntji, aku periksa pula!”
Yoe Tek tidak senang ditanja begitu, ia
mendongkol sekali.
„Apakah tidak ada lain orang jang ketahui
rahasianja kuntji ini?”
„Ketjuali aku sendiri, tidak ada orang jang kedua!”
sahut Yoe Tek, kaku.
„Kalau begitu, tak mungkin ketiga patung
lenjap!” kata Tjie An, jang alisnja berkerut.
„Tidak ada orang dapat membuka pintu kamar ini,
kuntji terali ini tidak dapat diganggu, tidak ada
tubuh jang dapat molos di terali ini, pula tidak
ada tangan jang dapat disodorkan sampai ke
bokdjiekam untuk mentjuri patung.....”
„Djadi kau tidak pertjaja ketiga patung ilu
lenjap?” tanja Yoe Tek gusar, kakinja dibanting.
„Habis, ke mana perginja ketiga patung itu ?”
Tjie An mengawasi bokdjiekam jang kosong.
Pentjurian jalah kenjataan, tetapi untuk itu tidak
ada alasannja.........
„Tolong kau buka pintu teralinja, ingin aku
memeriksa,” ia minta.
„Tjoba kamu keluar dulu, nanti aku buka,” kata
Yoe Tek, jang masih hendak menjimpan rahasia
kuntjinja itu.
Detektip To dan A Poan menurut, mereka pergi
keluar. Mereka mendengar suara bergelotak, habis
mana, tuan rumah memanggil mereka masuk. Mereka
terus masuk ke dalam ruang jang terkurung bagaikan
pendjara itu, akan mulai memeriksa. Di lantai
kedapatan tapak-tapak bundar dan persegi seperti
tapak uang tembaga. Di kursi kedapatan pula
beberapa lembar bulu halus warna putih, dan di
kolong medja ada sekuntum bunga putih terbikin
dari benang wol.
„Bulu putih halus ini,” kata Yoe Tek, „dan bunga
wol itu jalah bunga wol putih jang dipakai di
rambutnja si bintang sapu Yo Lee In. Inilah njata
luar biasa: Yo Lee In telah masuk ke dalam sini
mentjuri patung mustikaku itu, terus dia lari ke
kamarnja di mana dia dapat ditjandak anakku Pek
Hoa, lalu dengan pisau belati dia menikam mati
anakku itu. Tuan To, asal kau dapat bekuk Yo Lee
In, kau akan mendapatkan djuga tiga patungku itu.
Nah pergilah lekas bekuk si bintang sapu, lekas!”
Kemarin sore Detektip To sendiri pernah melihat
Yo Lee In memakai bunga wol putih di rambutnja,
maka itu, dengan adanja bunga itu di dalam terali,
teranglah Yo Lee In telah masuk ke dalam situ dan
mentjuri. Hanja masih mendjadi satu pertanjaan,
tjara bagaimana dia masuknja? Pula adalah hal
wadjar kalau habis mentjuri dan membunuh nrang,
Lee In kabur, supaja dia tidak manda ditangkap.
Dia tentu kabur bersama anaknja. Hanja, ke mana
kaburnja dia?
Tjie An mengasa otaknja memikirkan dua rupa
pertanjaan itu. Karena ia berpikir keras, ia
mendjadi ingat si Tuan Eng, jang mentjurigai. Tuan
Eng itu telah bitjara lama dengan Lee In. Mungkin
mereka mendamaikan pekerdjaan mentjuri patung
itu. Mungkin djuga, si Tuan Eng jang mendjadi
biang.........
„Tuan Seng, kenalkah kau seorang muda she Eng
jang romannja tampan sekali?” ia tanja Yoe Tek.
„Kau maksudkan pemuda kemarin jang hadir di sini
memberi selamat padaku?” tegaskan Yoe Tek. „Ialah
itu pemuda dengan pakaian Barat? Dialah Eng Sie
Tjiang.”
„Benar, benar dia.”
„Dia keponakan-luarku. Memang dia tidak
menjetudjui sikapku terhadap Yo Lee In ibu dan
anak akan tetapi dia tidak ada sangkutannja sama
perkara ini. Dia djudjur dan boleh dipertjaja! Ada
apa kau menanja tentang dia?”
„Aku merasa pasti seratus persen Yo Lee In dan
anaknja kabur ke rumahnja dia,” Detektip To
mengutarakan dugaannja. Ia memasuki bulu putih dan
kembang wol itu ke dalam sebuah sampul. Ia
pertjaja itulah bukti penting untuk perkara ini.
„Mungkin mereka pergi kerumah keponakanku itu,”
bilang Yoe Tek. „Di sini mereka tidak mempunjai
sanak lainnja. Pergi kau lekas tangkap ibu dan
anak itu untuk dimasuki dalam tahanan. Hanja
keponakanku itu, djangan kau ganggu. Aku berani
mendjamin dia tidak sangkut-pautnja!”
Yoe Tek pun memberitahukan alamatnja keponakan
itu.
Detektip To lantas berpamitan, bersama orangorangnja
ia mengendarai mobilnja pergi ke rumah
Eng Sie Tjiang.
Ketika oto polisi mendekati rumah Sie Tjiang,
Lee In takut bukan main. Ia mendengar suara mobil,
hatinja berdebaran.
„Pasti polisi datang hendak melakukan
penangkapan.....” katanja.
„Belum tentu,” kata Sie Tjiang. „Mungkin mereka
kebetulan lewat sadja. „Hanjalah tidak ada
salahnja kalau kita bersedia-sedia.”
„Bersedia bagaimana?”
„Kau berdua serta andjingmu menjembunjikan
diri.”
„Bagaimana? Di mana kami bersembunjinja?” tanja
Lee In. „Kemarin polisi telah mentjurigai kau,
sudah tentu mereka datang untuk menjeret-njeret
kau ”
„Mari!” mengadjak Sie Tjiang.
Mereka berputaran mentjari tempat sembunji,
tidak ada jang kelihatan tepat.
Suara oto datang semakin dekat, suara itu
membuat mereka bingung.
„Penasaranku ini sulit untuk diterangkan dengan
mulut,” kata Lee In putus asa. „Daripada aku
ditangkap dan dihukum tanpa bersalah, lebih baik
aku mati sadja! Kau baik sekali, kau tolong rawat
anakku ini, asal dia djangan terdjatuh kedalam
tangannja Seng Yoe Tek ”
Lee In lari ke djendela lauwteng, niat
menerdjunkan diri.
Sie Tjiang menubruk, memegangi erat-erat.
„Djangan!” tjegahnja.
„Mama, bukankah kakek menjuruh orang mengedjar
kita untuk menangkap aku untuk nanti dipukuli
hingga mati?” Siauw Lee tanja. Botjah ini pun
takut sekali.
Djusteru itu, oto sudah tiba di depan pintu,
lalu disusul sama ketukan keras pada daun pintu,
jang terus digedor, hingga suaranja bagaikan
geruman hantu.........
III
SEMBUNJI DI DALAM PETI KOSONG
„Benar-benar mereka datang!” kata Lee In,
mukanja putjat.
„Mari turut aku!” mengadjak Sie Tjiang, jang
masih lebih tenang.
Lee In dan anaknja mengikuti. Mereka naik ke
lauwteng ke-tiga, tempat mendjemur pakaian. Siauw
Lee lupa membawa andjingnja.
Di atas lauwteng itu terdapat sebuah peti
kosong, jang tadinja dipakai memuatkan mesin
pembuat kembang gula, karena sudah terlalu lama
terdjemur, peti itu pada renggang, djadi tak dapat
orang bersembunji di situ, tetapi Sie Tjiang toh
mau menggunai itu. Ia membuka tutup peti dan
menjuruh Lee In dan anaknja masuk ke dalamnja,
setelah menutup rapi, ia lantas turun, untuk pergi
ke kamar tempat duduk-duduk di mana ia menjetel
radio. Ia membawa sikap tenang sekali.
Sie Tjiang mempunjai dua pegawai wanita tua,
jang sudah bekerdja lama. Tadi pagi mereka itu
telah dipesan madjikannja, maka mereka tidak
berani sembarang membukai pintu, tetapi gedoran
pintu keras sekali, jang satu lantas pergi kepada
madjikannja, untuk berkata: „Aku melihat polisi
dengan otonja, djumlah mereka empat, lantas dua
berdiam di depan, dua lagi pergi ke belakang.
Kalau mereka tidak dibukai pintu, mungkin mereka
menggunai kekerasan.”
„Pergi kau membukai pintu!” Sie Tjiang
mendjawab. „Kau tahu bagaimana harus bersikap?”
Budjang itu, jang usianja sudah limapuluh
lebih, mengangguk, lantas dia bertindak pergi,
tiba di pintu depan, ia lantas mendumal sendiri:
„Siapakah jang menggedor pintu begini berisik?
Tanganku tjuma dua, kakiku tjuma dua, aku mesti
lakukan ini, mesti lakukan itu, habis bagaimana
aku bisa kerdjakan semua itu?” Ia terus membukai
pintu, ia memegangi palangannja seraja lantas
menegur: „Kau tjari siapa?”
Detektip To mendelik.
„Apakah ini rumahnja Eng Sie Tjiang?” dia tanja.
Budjang tua itu mengangguk.
„Tolong kau mengasi tahu Nona Yo Lee In, kami
datang mendjenguk!” kata detektip itu. Itulah
siasatnja, untuk membuat orang kaget dan bingung.
Kadang-kadang siasat ini memberi hasil jang
memuaskan.
Budjang itu tabah hatinja. Ia rupanja telah
berpengalaman. Ia menggeleng kepala.
„Di sini tidak ada Nona Yo Lee In. Mungkin kau
salah alamat!”
Detektip To melotot pula. Ia menduga orang main
gila.
„Apakah Tuan Eng Sie Tjiang ada di rumah?” ia
tanja pula.
Budjang itu mengangguk.
Melihat itu, Detektip To dan A Poan lantas
bertindak masuk.
„Eh, eh!” kata si budjang tua.
Kedua detektip itu masuk terus, maka mereka
menemui Sia Tjiang lagi mendengari radio. Detektip
To mengawasi sambil tertawa dingin.
„Tuan Eng, tadi malam di rumah Tuan Seng telah
terdjadi keonaran, tahukah kau?” dia tanja. Dia
mengawasi tadjam, untuk melihat air muka orang.
„Apakah kau maksudkan Tuan Seng Yoe Tek?” Sie
Tjiang tanja. Pemuda ini mentjoba menenangkan diri
tetapi airmukanja tak wadjar dan suaranja pun
kurang lantjar. Njata dia kalah bersandiwara
daripada budjang tuanja. „Aku tidak tahui. Telah
terdjadi perkara apakah?”
Detektip To telah melihat perubahan airmuka
orang itu, ia sudah lantas dapat membade.
„Hm! Hm!” ia mengasi dengar suara di hidung.
„Kau tahu, adik perempuanmu, Nona Seng Pek Hoa,
telah dibunuh Yo Lee In dan tiga patung malaikat
pamanmu telah ditjuri djuga oleh perempuan itu!
Tadi malam Yo Lee In lari ke rumahmu ini,
mustahilkah dia tidak memberitahukannja?”
Sie Tjiang heran. Ia tahu Pek Hoa telah terbunuh
orang, tetapi tidak tentang lenjapnja ketiga
patung itu, bahkan Lee In tidak mengetahuinja
djuga.
„Aku tidak tahu,” Sie Tjiang menjahut,
menggeleng kepala. „Yo Lee In djuga tidak datang
ke rumahku ini. Kenapa dia lari? Apakah dia
tersangkut dalam perkara bunuh orang dan mentjuri
patung mustika itu?”
„Sudah dia mentjuri, dia pun membunuh orang!”
djawab Tjie An tandas. „Dialah orang jang
tersangkut! Kau menjembunjikan dia, kau bisa
kerembet-rembet! Maka lekas kau serahkan dia
padaku!”
„Aku berani tanggung dia tidak ada di rumahku!”
Sie Tjiang menjangkal terus.
„Djikalau begitu, terpaksa aku tidak berlaku
sungkan lagi untuk menggeledah rumahmu ini!” kata
si detektip, karena ia merasa sangat pasti Lee
In ada di rumah itu berikut barang tjuriannja.
„Silahkan geledah!" Sie Tjiang menantang. Dia
tetap bimbang hatinja. „Djikalau kau tidak
berhasil mendapatkan Yo Lee In, aku akan mendakwa
kau!............”
Detektip To tidak membilang apa-apa lagi,
bersama A Poan ia mulai dengan penggeledahannja.
Pemeriksaan dimulai dari bawah lauwteng dan
dilakukannja sangat teliti, sampai lemari dan
latji-latjinja pun dibukai, tak terketjuali
lemari buku. Hasilnja nihil.
Melihat tjara penggeledahan itu, hati Sie
Tjiang kebat-kebit. Ia takut Lee In dapat ditjari.
Maka ia menjedot sigaretnja dalam2 dan
mengebulkannja dengan keras, guna menutupi
kekuatirannja itu.
Tepat Detektip To dan A Poan membelakangi lemari
barang makanan, hati Sie Tjiang gontjang keras.
Tiba-tiba ia melihat andjing-pekingese di luar
kamar itu dan mengawasi ia sambil menggojanggojang
ekornja. Hawa udara tidak panas tetapi
dahinja mengutjurkan keringat. Maka ia
mengeluarkan saputangannja, untuk menjusuti itu,
sedang mulutnja mengasi dengar suara „Hus! Hus!”
dan tangannja jang lain digojang-gojangi, untuk
mengusir andjingnja Siauw Lee itu.
Detektip To menoleh, dengan sinar mata penuh
ketjurigaan, ia mengawasi tadjam kepada si anak
muda, terus ia memandang ke luar kamar.
Hampir Sie Tjiang berteriak bahna kagetnja. Ia
menahan napas. Sjukur di saat si detektip melihat
ke luar, andjing itu sudah ngelojor pergi. Maka
ia menghela napas lega.
Detektip To melirik, lalu ia meneruskan
penggeledahannja. Naik mulai lauwteng ke-dua,
terus sampai ke lauwieng ke-tiga. Di sini sebuah
kamar tidur jalah kamar jang terachir jang mesti
diperiksa. Tetap Lee In dan anaknja tidak ada, dan
ketiga patung terus tidak kedapatan.
Segera sampailah mereka ke kamar mandi.
„Tuan Eng, tolong buka pintunja kamar ini,” Tjie
An minta.
„Nenekku lagi mandi,” kata Sie Tjiang. „Kau
periksa dulu lain kamar, sebentar baru kamar mandi
ini.........”
„Tidak! Mintalah nenekmu keluar dulu!” kata
Tjie An. „Aku tahu Lee In berada di dalam kamar
ini!”
Terpaksa Sie Tjiang memanggil neneknja, mengasi
tahu polisi hendak menggeledah dan ia minta
neneknja itu keluar dulu.
Maka keluarlah si njonja tua, dengan pakaiannja
tidak rapi, romannja mendongkol.
Kamar mandi itu ketjil, sebentar sadja maka
selesailah pemeriksaan, jang hasilnja nihil.
Tjie An keluar sambil menggaruk-garuk kepala.
Benar-benar Lee In tidak kedapatan. Ke mana
menjingkirnja njonja muda itu ?
Ketika mereka keluar dari kamar mandi, di
samping itu mereka melihat sebuah peti besar di
tempat pendjemuran itu.
„Achir-achirnja!” berseru si detektip. „Aku
telah menemui Yo Lee In! Dia sembunji di dalam
peti itu!” Ia tampaknja puas sekali.
Sie Tjiang bersender pada pintu kamar mandi
neneknja, kulit mukanja tanpa darah. Ia hampir tak
kuat berdiri lebih lama pula.
Tjie An melihat roman orang, dia semakin
mendapat hati. Karena ini, dia tidak lantas
menghampirkan peti itu.
„Tuan Eng, paras mukamu putjat sekali,” kata
dia, sengadja. „Apakah kau tidak enak badan?
Maukah kau aku memanggilkan tabib?” Ia bitjara
dengan sabar sekali tapi nada suaranja menjindir.
„Aku sehat, tuan To, terima kasih,” mendjawab
Sie Tjiang, hampir suaranja tidak terdengar.
Tjie An tetap berlaku sabar, melainkan parasnja
jang berubah, paras ini mengasi lihat kepuasan.
„A Poan, kau buka tutupnja peti itu, kau minta
Nona Yo Lee In keluar untuk berbitjara,” kemudian
ia menitahkan djuga pembantunja.
A Poan turut perintah. Ia menghampirkan peti
itu, untuk dibuka, hanja ia tidak melongok ke
dalamnja, sembari mengetuk-ngetuk samping peti,
ia berkata: „Nona Yo, silahkan keluar!”
Yo Lee In tapinja tidak muntjul, tidak meskipun
si detektip mengulangi permintaannja. Kemudian
baru ia melongok. Sekarang ia tidak pertjaja
matanja sendiri. Peti itu kosong-melongpong!
„Tuan sep!” katanja kemudian, setelah melongo
sekian lama, „di dalam peti ini tidak ada Nona Yo
Lee In! Inilah peti kosong!”
Detektip To terkedjut.
„Apa?” serunja. „Kosong?” Ia merasai kepalanja
pusing. Maka lekas ia menghampirkan, guna
membuktikan sendiri. Memang peti itu tidak ada
isinja.
„Tuan To, paras mukamu putjat sekali!” kata Sie
Tjiang, jang mendapat hati dengan tiba-tiba.
„Apakah kau tidak enak badan? Maukah kau aku
panggilkan tabib?”
Lee In tidak ada di dalam peti. Sebenarnja bukan
tjuma Detektip To, djuga Sie Tjiang bingung bukan
main.
Ketjuali Lee In dan anaknja, andjing pekingese
turut hilang bersama.
Tengah Tjie An belum mendapat pikiran bagaimana
harus bertindak terlebih djauh, budjang perempuan
jang tadi muntjul pula dengan beritanja: „Tuan,
di bawah ada Nona In Hong bersama Nona Kat Po
mohon bertemu!”
„Ah!” berseru Sie Tjiang, napasnja lega. „Aku
djusteru hendak mengundjungi mereka! Lekas kau
minta mereka menantikan di kamar tetamu, aku akan
lantas menemuinja!”
Budjang perempuan itu mengundurkan diri.
Detektip To masih sadia berpikir. Yo Lee In
lenjap, In Hong muntjul. Tidakkah pada ini ada
sesuatu hubungannja?
„Tuan To,” berkata Sie Tjiang, umpamakata kau
hendak melandjuti penggeledahanmu, silahkan,
lakukanlah sesukanja, maaf, tidak dapat aku
menemani kamu lebih lama. Hanja Ingat, apabila kau
tidak berhasil mendapatkan Yo Lee In, kau harus
bertanggungdjawab untuk perbuatanmu sudah
merampas kemerdekaan rakjat!”
Tanpa menanti djawaban, Sie Tjiang turun dari
lauwteng separuh berlari.
Detektip To bersama A Poan terpaksa mengikuti
turun djuga.
„Aneh kedatangan mereka!” kata si detektip,
mendongkol. „Aku pun ingin bitjara sama mereka
itu!"
Ketika mereka tiba di kamar tetamu, disana In
Hong dan Kat Po lagi berduduk dengan tenang.
„Nona In! Nona Kat!” berkata Detektip To,
mendahului tuan rumahnja. „Tidak terlebih dulu,
tidak terlebih belakang, kamu datang djusteru di
saat seperti ini, sungguh kamu membuatnja kami
tidak mengerti!”
In Hong melirik detektip itu, ia tidak
menjahuti, ia tidak mengambil mumat.
„Tuan, kau tentulah Tuan Eng Sie Tjiang kakak
misan dari Nona Seng Pek Hoa!" ia tanja tuan rumah
jang muda.
„.Benar,” Sie Tjiang mendiawab. „.Nona-nona
datang ke rumahku ini, ada apatah pengadjaranmu?"
Tuan rumah ini berlaku hormat.
„Djikalau tidak mendjadi halangan, kami
menehendaki sedikit keterangan dari kau, tuan
Eng,” menjahut In Hong. „Kami bersahabat sama Nona
Seng Pek Hoa, dan kami ketahui djuga hal perlakuan
buruk dari Tuan Seng Yoe Tek kepada njonja mantu
serta tjutjunja. Berhubung dengan itu, kami
memikir untuk berbuat sesuatu agar Tuan Seng dapat
mengubah sikapnja jang kolot itu. Sajang sekali
kemarin, di hari pesta ulangtahunnja, lantaran ada
urusan, kami tidak dapat hadir. Tadi pagi aku
bitjara tilpon sama Nona Seng, menjesal kami
mendapat kabar jang di luar dugaan. Menurut
budjang perempuan jang menjambuti tilpon, katanja
Nona Seng telah dibunuh Yo Lee In njonia mantu
Tuan Seng serta njonja mantu itu sudah mentjuri
tiga patung. Aku heran sekali atas kedjadian itu.
Aku kenal Lee In halus dan lemah, tidak mestinja
dia mentjekal sendiata tadjam dan membunuh orang.
Maka itu mungkin di sini ada terselip sesuatu. Kau
sanaknia keluarga Seng, Tuan Eng, aku pertjaja kau
dapat memberikan sesuatu keterangan kepada kami.”
„Maaf, nona, bahkan aku malu sekali,” menjahut
Sie Tjiang tjepat. „Mengenai peristiwa di rumah
Paman Yoe Tek, aku tidak tahu suatu apa, malah aku
baru ketahui itu dari ini Tuan To, jang baru sadja
berkundjung ke mari. Tuan To menjangka saudara Lee
In bersembunji di rumahku ini, dia datang untuk
menggeledah, tetapi dia tidak menemukan Lee In!"
„Nona In,” Tjie An menjelak, „kesalahannja Yo
Lee In itu sudah terang sekali, dia djadinja bukan
terfitnah!”
„Djikalau Seng Pek Hoa benar dibunuh Lee In,
kami akan membantu dengan sekuat tenaga kami untuk
membekuk dia, agar dia dapat dihukum,” berkata In
Hong. „Sebaliknja djikalau dia tidak bersalahdosa,
dia tjuma difitnah, pasti kami akan membantu
padanja! Tuan To, sudikah kau menuturkan duduknja
perkara jang djelas kepada kami?”
Mendengar suara si nona, Tjie An mau menduga
nona ini tidak atau belum ada hubungannja sama Lee
In, dari itu ia memberikan keterangan jang diminta
itu, bahkan ia mengasi lihat djuga barang jang
ditjurigai, jalah bulu putih jang halus serta
bunga wol.
In Hong memindjam mikroskop dari detektip itu
untuk ia memeriksa dengan seksama kedua barang
bukti itu, jang bisa didjadikan bahan untuk
menjelidiki perkara. „Tuan To, dapatkah kau
menemani aku memeriksa di tempat kedjadian?”
kemudian In Hong minta pula.
„Menjesal, aku tidak mempunjai tempo akan
menemani kau. Tidak dapat aku membiarkan Yo Lee
In kabur dengan merdeka!”
„Pendjahat siapa djuga tidak pernah lolos dari
genggamanmu, Tuan To, perlu apa kau begini terburu
napsu?” In Hong kata dingin.
Detektip To terdesak, terpaksa ia menerima baik
permintaan si nona. Maka dengan bersama-sama
mereka pergi ke rumah Seng Yoe Tek. Hanja kepada
A Poan ia meninggalkan titah untuk pembantunja itu
melandjuti usaha mentjari Lee In, supaja semua
djalan umum, pelabuhan dan perhentian-perhentian
pelbagai kendaraan didjaga baik-baik. Tegasnja
detektip ini mau memasang thian-lo tee-bong, jaitu
„djala langit dan djaring bumi,” agar Lee In tidak
dapat lolos dan kabur!
Pemeriksaan In Hong di rumah Yoe Tek, singkat
temponja, besar hasilnja untuknja. Ialah ia telah
mengantongi buku tjatatan hari-hari dari Lee In,
jang Tjie An tidak memperdulikannja. Ia merasa
buku itu penting dan hendak memeriksanja terlebih
djauh. Ia mendapat perasaan, Lee In bukan si
pembunuh dan bukan si pentjuri djuga.
„Nona In, apakah jang kau peroleh?” tanja Tjie
An kemudian. „Bagaimana kesanmu?”
„Aku merasa sesuatu jang tidak tepat,” menjahut
In Hong. „Badju Lee In jang terkena darah jalah
udjung bawahnja, sebaliknja lukanja Pek Hoa di
tenggorokannja, kalau benar Lee In si pembunuh,
jang ketjipratan darah mesti badjunja bagian
atas”.
„Habis, dari mana datangnja darah di badju itu?”
„Pastilah itu darah dari sendjata tadjamnja si
pendjahat, jang disusutkan kepada badju itu,
maksudnja untuk memfitnah! Djadi badju berdarah
itu bukanlah bukti kuat bahwa Lee In si pembunuh
adanja.”
Bitjaranja In Hong beralasan, mau atau tidak,
gontjanglah pendapat Tjie An bahwa Lee In si
pembunuh.
„Djikalau begitu, siapakah si pembunuh?” ia
tanja pula.
„Dialah mesti lain orang, hanja sekarang belum
ketahuan siapa dia.”
„Ketiga patung itu, siapakah pentjurinja?”
„Si pembunuh. Dia lebih dulu mentjuri, lalu dia
melakukan pembunuhan itu.”
„Bagaimana dengan bunga putihnja Lee In? Kenapa
itu bisa berada di dalam kamar terali dari patungpatung
itu?”
„Bunga itu bukan bunganja Lee In. Bunga jang
dipakai di rambut sedikitnja mesti terkena minjak
atau pomade. Pula itulah bunga jang belum pernah
dipakai. Laginja kalau bunga itu djatuh dari
kepalanja, djatuhnja tidak nanti di kolong medja.
Maka terang sudah, Lee In tidak pernah masuk ke
dalam kamar itu, lebih-lebih tidak sampaikan masuk
ke dalam terali. Si pendjahat melakukan
pentjuriannja dari luar terali dan ia telah
melemparkan bunganja, jang sudah disediakan,
untuk memfitnah.”
Memangnja Tjie An heran pendjahat dapat masuk
ke dalam terali, jang pintunja dikuntji dengan
kuntji rahasia, jang tjuma dapat dibuka Yoe Tek
sendiri, bahkan ketika Yoe Tek hendak membukanja,
ia sampai diminta mengundurkan diri dulu, maka
sekarang, tepat pendapat In Hong ini. Djadinja
nona ini seperti telah membantu ia menerka tekateki
itu.
„Hanjalah,” dia masih menanja, „djikalau orang
tidak masuk ke dalam terali, bagaimana orang dapat
mentjuri ketiga patung itu?”
„Tak usahlah si pendjahat masuk ke dalam terali
itu. Seekor andjing ketjil dapat membantu
madjikannja memasukinja dan mentjurinja, setiap
kalinja andjing itu menggigit sebuah patung,
dengan tiga kali gigit sadja selesailah sudah
tugasnja.”
„Tapi di lantai tak kedapatan tapak kaki
andjing...............”
„Tapak-tapak persegi dan bundar itu jalah
tapaknja andjing itu. Madjikan si andjing telah
membungkus kaki andjingnja, dengan begitu di sana
djadi tidak terdapat tapaknja."
„Bulu halus itu bukan bulu benang wol, itulah
bulunja si andjing ketjil. Djikalau tuan memeriksa
bulu itu dengan seksama dan mentjoba mentjium
membauinja, pasti akan terasa bulu itu, ada
sedikit bau andjingnja.”
„Djikalau demikian, bukankah Yo Lee In dapat
dibantu andjing ketjilnja mentjuri patung-patung
itu?”
In Hong menggeleng kepala.
„Bulu itu tampaknja putih, tetapi djikalau
telah diperiksa teliti, njata itu ada berwarna
kuning muda jang samar sekali. Hanjalah perbedaan
itu sangat sukar dilihatnja.”
„Djadi maksud nona, andjing pentjuri itu
berbulu semu kuning muda?”
„Benar. Djikalau tuan menganggap dugaanku ini
tidak tepat dan tuan tetap mengusahakan
ditangkapnja Yo Lee In, maka kau akan berdjalan
bertentangan denganku!” berkata si nona tandas.
Detektip To bersuara sangat perlahan.
Ketika itu oto, jang dikendarai oleh seorang
sersi dalam pakaian preman, menudju ke Hungjao
Road.
„Apakah kau hendak mengantarkan aku pulang?” In
Hong tanja sopir itu. „Terima kasih I Aku masih
ingin pergi ke lain tempat...............”
Nona ini tidak meminta untuk kendaraan itu
dihentikan, supaja ia dapat turun, hanja ketika
ia membuka pintu, tubuhnja segera melesat keluar,
gerakannja bagaikan burung walet terbang
melajang, lintjah sekali, ia tiba di djalan besar,
kakinja mengindjak tetap. Ia segera ditelad Kat
Po, jang masih sempat menggapai kepada detektip
To, hingga Tjie An dan sersinja mendjadi kagum
sekali.
Dengan naik kereta roda tiga, In Hong berdua
kembali ke rumah Sie Tjiang. Mereka disambut
pemuda tampan itu di ruang tempat duduk-duduk.
„Tuan Eng,” berkata In Hong, „bukankah kau masih
ingat bahwa Lee In pernah membilangi Siauw Lee
jang Siauw Lee masih mempunjai seorang paman,
karena mana Lee In sudah digaplok Yoe Tek? Tahukah
kau apa artinja itu?”
Sie Tjiang heran.
„Kenapa kau ketahui hal itu, nona?” tanjanja.
„Di dalam buku tjatatannja Lee In, hal itu ada
ditjatat.”
„Yoe Tek itu penggemar paras elok,” berkata Sie
Tjiang, menerangkan. „Pada sepuluh tahun lebih
jang sudah, dia telah berhasil memintjuk seorang
budjangnja jang muda bernama Tjian Kiauw Kiauw.
Dari perhubungan mereka itu telah terlahir seorang
anak laki-laki. Lama-lama, datanglah bosannja Yoe
Tek. Dia menganggapnja seorang budjang jalah
seorang rendah, maka ia usir budjangnja itu
berikut anaknja. Ia tjuma memberikan sedjumlah
uang kepada budjang itu. Anak itu apamau beraut
muka mirip ajahnja. Kemudian lagi Tjian Kiauw
Kiauw tidak mau mengerti, ia mentjoba meminta
pertolongan pengadilan. Pengaduan itu terdjadi
beberapa kali. Yoe Tek menggunai pengaruh uangnja,
ia membuat dakwaan bujar tanpa bekas-bekasnja.
Sampai sekarang ini sudah delapan atau sembilan
tahun, urusan itu sirap. Budjang itu serta anaknja
setahu telah pergi ke mana. Kenapa kau menanja hal
budjang itu, nona? Adakah ia hubungannja sama
peristiwa pembunuhan dan pentjurian ini?”
„Setiap urusan, jang bagaimana ketjil djuga,
kadang-kadang ada pentingnja,” mendjawab si nona,
„Bahkan itu satu waktu dapat mendjadi bahan
terpenting.”
„Perbuatannja Yoe Tek sematjam itu lumrah dan
banjak sekali,” Sie Tjiang bilang pula. „Umpama
jang paling belakang ini, jaitu beberapa hari
sebelum dia merajakan ulangtahunnja. Dia telah
mempermainkan seorang budjang perempuannja jang
muda dan tjantik nama Kho Giok Hoan, tetapi
budjang itu tidak sudi diperhina, dia meronta dan
berkaok-kaok. Maka Yoe Tek tidak berhasil sama
niatnja jang buruk itu. Besoknja Kho Giok Hoan
berhenti dan pulang ke kampungnja.”
In Hong berdiam tetapi otaknja bekerdja.
„Yoe Tek jalah seekor binatang jang
berpakaian!” kata Kat Po sengit. „Kalau begitu,
dia harus dibunuh, habis perkara!”
„Nona In, di manakah kau menjembunjikan Lee In
dan anaknja?” Sie Tijang tanja. Inilah soal, jang
sekian lama ia hendak tanjakan si nona tetapi baru
sekarang ada ketikanja.
„Aku tidak menjembunjikan Lee In,” sahut In
Hong. „Kenapa begitu?”
Sie Tjiang heran.
„Djikalau begitu, dia benar-benar lenjap,”
katanja. Ia lantas mengasi keterangan halnja Lee
In datang untuk bersembunji tetapi sekarang dia
benar-benar hilang. Ia menuturkan djuga sebabnja
kenapa Lee In minggat.
Keterangan Sie Tjiang ini membenarkan terkaan
In Hong bahwa Lee In tidak mentjuri dan membunuh,
hanja lenjapnja njonja muda itu serta anaknja
menambah kesulitan, menambah pekerdjaan. Kemana
mereka itu mesti ditjari?
„Kalau begitu, kita mesti bekerdja berpisahan,”
kata si nona kemudian.
Sie Tjiang suka membantu, maka ia diperbantukan
kepada Kat Po guna mentjari Lee In, Ibu dan anak.
In Hong sendiri hendak mentjari si pembunuh dan
pentjuri.
IV
UMPAN SINGA DAN HARIMAU
Tiga hari sudah lewat semendjak Nona Pek Hoa
terbunuh; sia-sia belaka Sie Tjiang mentjari Lee
In ibu dan anak. Maka itu, di hari ke-tiga itu,
kira djam 10.00 pagi, ia berdjalan dengan lesu
menudju pulang ke rumahnja. Ia mengambil djalan
di Yisin Road jang sepi. Ia tengah bertindak itu
ketika di depan ia terlihat mendatanginja seorang
mabuk arak.
Orang itu tinggi tidak lebih dari lima kaki,
hanja tubuhnja lebar sekali melebihkan tubuh orang
kebanjakan, mukanja persegi pandjang, alisnja
kasar, matanja gedeh, romannja bengis menakuti.
Dia mengenakan badju hitam. Dia berdjalan
sempojongan, dia menghadang di depan Sie Tjiang.
Tapi segera dia jang menantang lebih dulu,
suaranja bengis: „Hai, botjah tjilik! Tuan besarmu
lewat di sini, mengapa kau menghalang-halangi?”
Sie Tjiang muda dan tabiatnja keras, ia memang
lagi lesu berbareng hatinja tak senang, ia tidak
puas atas sikap orang jang kasar itu, hampir ia
menegur, sjukur ia lekas dapat mengendalikan diri.
Ia pun ingat orang lagi dipengaruhi air kata-kata.
Maka ia berdiam terus dan djalan menjingkir, untuk
mengalah.
Si pemabukan jang bengis dan kasar itu berlompat
madju, kembali dia menghadang.
„Eh, botjah, apakah kau hendak berlalu dengan
begini sadja?” dia menegur. „Lekas kau berlutut
dan mengangguk-angguk tiga kali sampai kepalamu
njaring membentur tanah, nanti tuan besarmu
mengasihani kau dan membiarkan kau menggelinding
seperti telur!”
Darahnja Sie Tjiang meluap, tetapi ia masih
mentjoba mengendalikannja. Ia pernah beladjar
silat, ia pertjaja dapat ia melajani si pemabukan,
meski si pemabukan bertubuh besar dan mestinja
besar tenaganja; hanja ia telah berpikir, kalau
ia kesalahan tangan, perkara bisa mendjadi onar
besar. Maka ia kata: „Kau hendak lewat, aku sudah
mengalah! Tidak ada apa-apa, bukan?”.
„Tidak! Kau mengalahnja terlambat!” bentak si
galak itu. „Tidak dapat tidak, kau mesti berlutut
dan mengangguk-angguk, untuk meugaku salah!”
Sie Tjiang lantas timbul ketjurigaannja.
Mungkin orang ini bukan pemabuk wadjar. Bukankah
orang telah mengatur rentjana, untuk memegal ia
di tengah djalan sunji ini?
„Apakah kau kira aku dapat diperhina?” katanja
keras. „Kau tidak punja mata!”
„Hm, botjah, kau berani kurang adjar!” teriak
si pemabuk, jang tertawa dingin. „Mari, mari, kita
tjoba-tjoba!”
Dia lantas mengulur tangannja jang besar dan
kasar, menjamber ke arah dada.
Sie Tjiang berkelit, terus ia menjerang.
Pemabukan itu djuga berkelit, membebaskan diri
dari serangan itu, habis itu ia menjamber pula,
sekarang dengan kedua tangannja. Sebat sekali
sambarannja ini.
Sie Tjiang tidak sempat berkelit, terpaksa ia
menangkis. Ia berhasil, tetapi meski begitu, ia
merasa tenaga lawan kuat sekali, hingga ia merasa
tak ungkulan akan melajani terus. Hanja untuk
mundur, ia tidak mempunjai kesempatan, si
pemabukan lantas mendesak rapat.
Sie Tjiang kalah pengalaman berkelahi. Ia
beladjar silat untuk olahraga sadja. Ia tidak
menjangka lawan ini kuat dan pandai. Djadi
dugaannja tadi meleset.
Tjara berkelahi orang itu djuga luar biasa. Dia
tidak main tindju atau tendang, dia main menjamber
ke dada, ke kepala, ke leher.
Repot Sie Tjiang membela diri, tenaganja mulai
berkurang. Ini membuat gerakannja mendjadi ajal
dan napasnja pun memburu.
„Hm, botjah tjilik!” kata si pemabukan itu.
„Tenagamu sudah habis, bukan?” Dia puas sekali.
Dia menambahkan: „Kalau sekarang kau berlutut dan
mengangguk padaku tiga kali, aku djuga tidak sudi
menerimanja! Sekarang aku menghendaki djiwamu!”
Kata-kata ini dibuktikan dengan samberansamberan
dahsjat.
Achir-achirnja Sie Tjiang kena djuga didjambak,
tubuhnja diangkat, terus dilemparkan tinggi dan
djauh, hingga dia djatuh terbanting. Dia merasa
sakit tetapi tidak terluka. Belum lagi ia keburu
bangun, ia sudah disamber pula oleh si pemabukan,
jang berlompat kepadanja.
„He, botjah!” kata si pemabukan seram. „Sekali
dilempar, kau tidak mampus! Hendak aku melempar
untuk ke-dua kalinja! Aku akan terus melemparkan
kau, sampai kau mampus, baru aku berhenti!”
Habis berkata begitu, orang itu mengangkat
tangannja. Di saat ia hendak melemparkan pula,
sekonjong-konjong ada satu bajangan jang lari ke
arahnja, bajangan itu berlompat tinggi, terus
menendang, maka terkenalah ia pundaknja hingga ia
sempojongan. Karena ia lantas diserang terus,
terpaksa ia melepaskan tjekalannja kepada si anak
muda, untuk dapat melawan penjerang itu.
Kira seratus tindak dari situ ada lentera
penerangan djalan, dengan bantuannja sinar
lentera itu, Sie Tjiang mengenali bajangan itu
jalah Kat Po. Maka legalah hatinja.
Kat Po menjerang dengan seru. Si pemabukan itu
berkelit di mana ia bisa, atau kalau toh ia kena
dihadjar, tubuhnja tidak bergeming. Sebaliknja,
ia berkelahi seperti tadi melawan Sie Tjiang,
terus-terusan dia main samber!
Kat Po gesit dan lintjah, dengan berlompatan
atau berkelit, ia menjingkir dari setiap samberan.
Ia hanja kewalahan disebabkan tubuh lawan ini kuat
sekali, hingga tidak dapat ia menjelesaikan
pertempuran dalam waktu jang singkat.
Sie Tjiang mengawasi. Ia heran mendapatkan
orang menangkis kalau kepalanja didjadikan
sasaran, kalau tubuh atau lainnja, dia seperti
membiarkan sadja.
„Nona Kat Po, hadjar terus kepalanja!” achirnja
ia berteriak, untuk memberi ingat kepada si nona.
Kat Po menerima baik peringatan itu, ia
mentjetjar kepala.
Benar sadja, si pemabukan mendjadi repot dan
berkuatir, maka begitu ada kesempatannja, dia
lantas berlompat mundur, akan terus lari
kabur.........
Kat Po hendak mengedjar, Sie Tjiang mentjegah.
„Nona hendak pergi ke mana?” kemudian si pemuda
tanja.
„Aku djusteru mau pergi ke rumah kau, tidak
disangka di sini kita bertemu. Apakah dia begal?”
„Tidak miripnja,” sahut Sie Tjiang, jang terus
memberikan keterangannja.
„Ah, djadi dia sengadja mentjari gara-gara!”
kata Kat Po. „Sajang, seharusnja dia dibekuk,
untuk mengorek keterangan dari mulutnja.”
„Tadinja aku tidak menduga demikian.”
„Apakah kau mempunjai musuh?”
„Tidak.”
„Demikian adanja, dia sungguh menjurigakan”
Lalu keduanja berdjalan sama-sama, sembari
djalan mereka memasang omong, menuturkan usaha
mereka, jang belum memberi hasil. Lee In dan
anaknja seperti lenjap di dalam lautan-
............
„Mulai hari ini dan selandjutnja, kau mesti
mendjaga diri baik-baik,” Kat Po memberi nasihat.
Ia berdiri di depan rumah Sie Tjiang. „Djikalau
kau tidak mempunjai pistol, ini pakai pistolku,
untuk membela diri.”
Sampai di situ, mereka berpisahan.
Besoknja Sie Tjiang pergi ke sebuah cafe. Itulah
kira djam 1.00 lewat tengah-hari. Di situ ia makan
tengah-hari. Ia baru selesai bersantap ketika ia
melihat sehelai surat kabar tertindih katja medja,
ia melihat sebuah iklan begini bunjinja:
Ka Ka Roon Circus
Djam 1.00 sampai djam 5.00.
Pertundjukan terachir!
Paling hebat!
Habis ini kami akan berlajar ke Lamyang, tidak
tahu kapan kami bakal kembali. Maka itu
djanganlah lewatkan kesempatan ini!
Jang menarik perhatiannja Sie Tjiang jalah
gambar jang diberikuti di dalam iklan itu — gambar
dari seorang kuat jang ditindaskan oto. Itulah
gambarnja si pemabukan, jang kemarin mengganggu
padanja!
„Djangan-djangan dia mempunjai hubungan sama
pembunuhan atas diri Pek Hoa ......” pikirnja.
„Dia harus dikorek keterangannja.........”
Tanpa ajal lagi, Sie Tjiang memindjam tilpon,
untuk memberitahukan pada In Hong.
„Apakah Nona In Hong ada di rumah?”
„Dia pergi semendjak pagi tadi, belum kembali,”
ia mendapat djawaban.
„Kau siapa?”
„Hiang Kat. Kau?”
„Eng Sie Tjiang. Apa Nona Kat Po ada?”
„Dia djuga keluar dan belum kembali.”
„Apakah nona tahu kapan mereka akan kembali?”
„Tidak. Mungkin lekas.”
Bingung djuga pemuda ini. Kalau komedi kuda itu
tidak ditonton, mungkin lenjap ketikanja untuk
mengennli pasti kepada si pemabukan. Tentu sekali,
ia tidak dapat menunggui In Hong atau Kat Po, jang
djuga sukar ditjarinja. Achirnja ia mengambil
putusan akan menjaksikan sendiri, terutama untuk
melihat gelagat dulu. Sebenarnja ia bersangsi
pergi sendirian sadja. Tetapi ia membekal pistol.
„Nona Hiang Kat,” ia lantas memesan, „kalau
sebentar Nona-nona In Hong dan Kat Po pulang,
tolong beritahukan mereka bahwa karena ada urusan
penting, aku pergi lebih dulu menonton
pertundjukan Ka Ka Roon Circus, umpama mereka
kembali sebelum 5.00, aku minta mereka menjusul
aku.”
Setelah mendapat djandji Hiang Kat, Sie Tjiang
lantas pergi dengan tjepat ke tempat circus, jang
adanja di Petain Road, di mana ada sebuah tanah
lapang luas, jang dikurung dengan pagar bambu.
Ketika ia tiba, penonton sudah berdesak-desak di
loket kartjis. Di pagar ada digantung pengumuman,
bunjinja:
Circus kami segera djuga akan melawat ke
pelbagai tempat di Lamyang, berhubung
dengan itu, kami membutuhkan beberapa
tenaga, jalah orang-orang dengan tubuh
tinggi tudjuh kaki lebih atau jang kate di
bawah dua kaki. Mereka akan diterima
bekerdja dengan gadji besar, perlajanannja
baik, dan beaja pergi-pulang dan hotel
bebas.
Berhubunganlah sama Tuan Kho Tat Tjie,
Direktur kami, setiap hari dari pagi djam
9.00 sampai sore d jam 7.00.
Pemilik,
Hok Hong.
Habis membatja itu, Sie Tjiang mendapatkan
loket tidak terlalu sesak pula, ia madju mendekati
djendela, untuk membeli kartjis.
Tiba-tiba ia melihat seorang wanita, jang
tubuhnja langsing dan romannja tjantik, jang dalam
sedjenak sadja lenjap di antara orang banjak.
Djusteru itu pendjual kartjis memberitahukan ia
bahwa semua kartjis sudah habis terdjual ketjuali
untuk kelas termurah, jang tempatnja paling tinggi
dan paling belakang. Ia beli kartjis itu, sebab
ia bukan bermaksud menonton hanja untuk mentjari
si pemabukan dalam dirinja si orang kuat dari
circus itu.
Kelas termurah itu terbuat dari panggung papan,
benar paling tinggi dan djuga paling belakang,
penonton sudah penuh, sukar untuk naik dari depan,
maka seorang pegawai circus mengadjak ia naik dari
belakang di mana ada tangga bambu. Dari situ ia
bisa melihat tegas kelilingan. Kelas paling murah
tetapi itulah paling tepat untuk ianja.
Ketika itu dipertundjukkan kepandaian belasan
ekor kuda, jang terkurung dengan galangan kain
merah. Semua kuda itu lari berputaran keras
sekali, empat orang akrobat berlompatan dan
berdjumpalitan setjara mahir di punggung mereka.
Seorang badut membuatnja para penonton tertawa
riang karena kedjenakaannja.
Sie Tjiang tidak terlalu memperhatikan
pertundjukan itu. Di samping si orang kuat,
sekarang otaknja mengingat-ingat si wanita
tjantik tadi, jang terlihat hanja sekelebatan. Ia
merasa seperti pernah melihat wanita itu, hanjalah
entah di mana. Di antara kawan sekerdja, di antara
teman sekolahnja, tidak ada wanita dengan roman
demikian.
Atjara pertundjukan berdjalan terus, bertukar
silih-berganti. Kemudian keluarlah si orang kuat.
Sie Tjiang tidak berpikir lainnja lagi ketjuali
memasang mata pada orang kuat itu. Djarak di
antara mereka tjukup djauh akan tetapi otaknja
masih dapat mengingat dengan baik. Tidak salah
lagi, si orang kuat jalah si pemabukan jang
mentjegat dan mengganggu padanja. Tanpa merasa,
hatinja mendjadi kurang tenteram, sebab ia
mengharap-harap muntjulnja In Hong dan Kat Po,
tetapi kedua nona itu tak nampak djuga. Ia
memindjam programa dari seorang di sampingnja,
dengan melihat itu ia mendapat tahu, orang kuat
itu bernama Boe Tjian Kin.
Segera orang kuat itu mulai dengan
pertundjukannja. Ia melempar-lemparkan batu-batu
besar, jang setiap satunja diikatkan rantai besi.
Beratnja batu turun-tangga, masing-masing dari
lima-puluh sampai seribu kati. Ia melemparkannja
dengan memegang rantainja dengan sebelah tangan,
dan setiap batu terlempar tinggi sepuluh kaki atau
lebih. Jang hebat jalah ketika ia melemparkan batu
900 kati, jalah ia dapat melempar sampai tigapuluh
kaki lebih, hingga para penonton bertempik-sorai
gegap-gempita. Hanjalah orang tidak ketahui, batu
itu tjuma berat lima atau enampuluh kati, sebab
dalamnja kosong.........
Habis itu, si orang kuat memperlihatkan
kekuatan atau kepandaiannja melempar-lempar tubuh
manusia, jang dipandang bagaikan gantinja batu.
Beberapa pelawak menggoda dia, dia menangkapnja,
pelawak-pelawak itu berkelit atau lari, siapa jang
tertjekuk, dialah jang dilemparkan tinggi, hanja
setiap dilemparkan dan djatuh ke tanah, pelawak
itu bisa djatuh atas kakinja sendiri, untuk terus
berlompat, untuk membadut lagi.
Setelah mengawasi sekian lama, Sie Tjiang ingat
akan tjaranja ia dilemparkan si orang kuat. Djadi
orang ini sudah terlatih baik dalam bal menjambernjamber
— menjamber rantai batu — dan melemparkan
tubuh manusia. Dia tjuma bisa melempar menurut
tjaranja itu, djikalau gerakannja lain, lantas dia
tidak lantjar lagi, kikuk agaknja.
Kemudian datang atjara lain dari si orang kuat.
Mulanja dia rebah, tubuhnja ditindih batu besar
dan berat, lantas batu itu dihadjar dengan martil
jang besar dan berat djuga. Setelah ini dia tetap
rebah, tubuhnja dialaskan papan besar dan tebal,
lalu tubuhnja digilingkan oto. Dia tidak terluka,
dia dapat bangun sambil berlompat, untuk memberi
hormat kepada para penonton.
„Pantas dia tidak mempan tindju,” pikir Sie
Tjiang. Pantas dia tidak dapat dirobohkan Kat Po,
karena tubuhnja kuat luar biasa.
Sesudah itu menjusul lain-lain atjara,
permainan singa, harimau dan orang-hutan, lalu
trapeze, jalah dua akrobat prija, dua akrobat
wanita, dan seorang akrobat wanita lainnja, jang
memegang peran utama, main ajunan dan
berdjumpalitan. Inilah pertundjukan jang paling
berbahaja, hanja dimata para pemain, itulah mirip
permainan anak-anak sadja.
Sie Tjiang memperhatikan si pemain utama, jang
tubuhnja langsing, jang romannja tjantik. Dia
djusteru wanita jang tadi di depan loket
berkelebat lewat hingga tak sempat dipandang lama,
jang sekian lama ia tunggu-tunggu dan ingat-ingat.
Sekaranglah ia melihat tegas, ia mengenalinja,
tidak perduli orang telah berdandan lain rupa. Dia
pun orang jang ia telah kenal sedjak lama.........
Nona itu berambut keriting, mukanja dipulas
dengan pupur dan, yantjie, hingga ketjantikannja
mendjadi mentereng sekali. Menurut1 programa, dia
bernama Kho Tat Giok. Ia mendjadi heran sekali.
„Dia begini pandai, peladjarannja ini tidak
dapat dijakinkan dalam tempo pendek,” pikirnja.
„Mengapa dia mengubah namanja mendjadi Kho Giok
Hoan dan dia sudi bekerdja di rumah Seng Yoe Tek
sebagai budjang perempuan? Kalau tidak salah, dia
membudjang sekira tudjuh bulan.....“
Sie Tjiang berpikir keras sekali.
„Ah, tidak salah lagi!” pikirnja kemudian
setelah ia ingat sesuatu, jang membikin ia sadar
tiba-tiba. „Dialah pembunuhnja Seng Pek Hoa! Di
dalam circus ini dia bernama Kho Tat Giok, di
gedung Seng Yoe Tek dia bernama Kho Giok Hoan si
budjang! Dia pula si pentjuri patung-patung Hok
Lok Sioe!”
Setelah memikirkan semua itu, hati Sie Tjiang
mendjadi tidak tenang. Ia merasa seperti lagi
berduduk di atas permadani berdjarum.
„Tidak dapat aku berdiam lebih lama pula di
sini,” ia berpikir, untuk mengambil putusan. „Aku
mesti lekas2 berlalu, untuk mentjari Nona-nona In
Hong dan Kat Po, guna memberitahukan semua ini
kepada mereka.”
Memang, selagi pemuda tampan ini membeli
kartjis, ia terlihat Kho Tat Giok alias Kho Giok
Hoan. Nona itu menghilang ke belakang tenda di
mana di sebelah kiri ada kamar direktur circus
itu.
„Kakak, Eng Sie Tjiang jang mendjadi
keponakannja Seng Yoe Tek datang mengantarkan diri
ke dalam djala!” kata Tat Giok pada kakaknja.
„Dia membawa berapa banjak kawan?” tanja Kho
Tat Tjie.
„Seorang diri sadja! Dia sungguh bernjali
besar!”
Tat Giok bitjara sambil bersenjum, hingga
teriihat sudjennja jang manis.
„Lekas tjari A Liong, Boe Tjian Kin, Khoe San
dan Khoe Hong!” si direktur lantas menjuruh satu
orangnja, jalah Siauw Long.
Tjepat sekali, empat orang itu sudah datang
berkumpul. Khoe San dan Khoe Hong jalah perawat
binatang liar.
„Giok, bagaimana dia berdandan?” tanja Tat Tjie
pada adiknja.
„Dia mengenakan badju dan tjelana abu2 dengan
dasi merah bawahnja hitam,” menjahut si nona. „Dia
tampan sekali, kulitnja putih bersemu dadu, mirip
dengan seorang wanita jang tjantik. Dia sangat
gampang dikenalinja.”
„Khoe San, kau mendjaga pintu, kau larang dia
keluar,” Tat Tjie memerintahkan. „Khoe Hong,
bersama Boe Tjian Kin, kamu mentjari dia, setelah
bertemu, kau memasang mata terhadapnja, begitu ada
ketikanja, kau antjam dia dan menggiringnja ke
mari. Djagalah supaja kau tidak sampai
mendatangkan ketjurigaan orang lain, terutama
harus ditjegah terulangnja perbuatan Boe Tjian Kin
kemarin jang ada kepala tidak ada ekornja, tjuma
membikin orang kaget, hasilnja nihil............”
„Tidak dapat aku dipersalahkan,” Boe Tjian Kin
membantah. „Aku telah lempar dia satu kali, dia
tidak mati, ketika aku hendak mengulangi
melemparnja pula, tiba-tiba datang seorang wanita
jang liehay ilmu-silatnja, jang telah menolongi
dia.”
„Baiklah, tapi ini kali berhati-hatilah,
djangan sampai gagal!” kata si direktur. „Lekas!
Atjara pertundjukanmu masih belum selesai.”
Ketiga orang itu, jang mendjadi orang-orang
kepertjajaan, lantas mengundurkan diri.
Benar seperti katanja Kho Tat Giok, sasaran
mereka gampang sekali ditjarinja. Sie Tjiang masih
tetap berada di tempatnja tadi. Maka Khoe San
berdua Khoe Hong lantas berdiri menantikan di
bawah panggung, sedang Boe Tjian Kin kembali ke
dalam tenda guna menanti gilirannja.
Sie Tjiang benar tidak mau berdiam lama, belum
lagi pertundjukan selesai ia sudah turun dari
tangga. Ia turun di tempat di mana tadi ia naik.
Ia tidak kenal Khoe San dan Khoe Hong, ia djuga
tidak menduga bahwa ia lagi terantjam bahaja.
Begitu ia tiba di bawah, mendadak ia ditodong
pistol oleh seorang jang bertubuh besar dan kekar.
„Berlaku lunak dan tenang seperti biasa!” Khoe
Hong memberi ingat, tapi suaranja keluar dari
antara gigi-giginja dan terdengarnja menjeramkan.
„Turut aku!”
Eng Sie Tjiang menginsafi bahaja, dengan
membungkam ia bertindak berendeng sama
pengantjamnja itu. Mereka mengikuti pagar, mutar
ke belakang, ke kiri. Sie Tjiang mengendus bau
amis dari binatang-binatang liar dan mendengar
derumannja jang menakuti. Selewatnja dari situ,
tibalah mereka di kantor direktur.
„Kau toh Eng Sie Tjiang keponakannja Seng Yoe
Tek?” tanja Kho Tat Tjie, dengan suara bengis,
bengis seperti romannja. Dia tertawa menjeringai.
Sie Tjiang bungkam.
„Biarpun kau diam sadja kami toh ketahui kau
benar Eng Sie Tjiang!” kata Boe Tjian Kin, jang
tjampur bitjara. „Siapa itu wanita jang kemarin
menempur aku?”
Sie Tjiang tetap membungkam. Mendadak ia
mengeluarkan pistolnja. Tapi Khoe Hong awas dan
gesit, tangannja disamber, untuk dibikin tidak
dapat bergerak, terus sendjata apinja dirampas.
Ia keliru menduga bahwa musuh-musuh tak dikenal
itu lagi lengah.
„Ringkus dulu!” Tat Tjie perintahkan.
„Kita tidak kenal satu pada lain, kita djuga
tidak bermusuhan, mengapa kamu perlakukan aku
begini rupa?” achirnja Sie Tjiang membuka
mulutnja. Ia gusar.
„Kaulah penghalang dari rentjana kami!” kata
Tat Tjie. „Kau mesti disingkirkan! Maafkan
kami.........”
Khoe San dan Khoe Hong lekas djuga selesai
membelenggu.
Sie Tjiang tidak berdaja. Tapi itu waktu di
waktu siang benderang dan disana ada banjak orang,
jang lagi menonton, maka ia lantas menggunai
djalan satu-satunja. Mendadak ia berteriakteriak.
Tapi ia tidak bisa berteriak terus. Khoe
San lantas menekap mulutnja dan Khoe Hong
menjumbatnja dengan saputangan.
„Malam pandjang, impian banjak,” kata Tjian
Kin, „dari itu baiklah dia lekas dibereskan,
supaja dia djangan sampai mendatangkan perubahan
apa-apa.”
„Kita harus berhati-hati,” kata Tat Tjie.
„Untuk menjingkirkan dia, kita harus tidak
meninggalkan tanda atau bekas-bekasnja.”
Tiba-tiba ada ketukan pada pintu kamar.
„Siapa?” tanja Siauw Long.
„Hok Hong! Lao Kho ada atau tidak?”
Itulah pemilik circus. Lao Kho jalah Tat Tjie.
Hok Hong bersama Kho Tat Tjie membangun bersamasama
circusnja ini. Hok Hong manis-budi dan baik
hatinja, sebaliknja Tat Tjie bertabiat keras dan
galak dan kedjam djuga. Tat Tjie berkongkol sama
pegawai-pegawai jang penting kedudukannja, jang
semua mendjadi orang kepertjajaannja. Mereka
biasa berbuat kedjam dan sewenang-wenang. Karena
ini, Hok Hong mendjadi kalah pengaruh, dia
kehilangan haknja walaupun dialah si direktur.
„Buka pintu, aku mau masuk!” kata Hok Hong.
„Kau hendak bitjara sama aku?” tanja Tat Tjie.
„Pergi kau ke kantormu, aku akan lantas menjusul!”
Pemilik jang manis-budi itu ngelojor pergi.
Siauw Long mengintai setelah ia mendengar
tindakan orang sudah djauh. lantas dia menganggukangguk
dan berkata: „Tua-bangka itu sudah pergi!”
„Tua-bangka itu dan jang lainnja tidak dapat
diberitahukan sepak-terdjang kita ini,” kata Tat
Tjie perlahan. „Nah, kamu mempunjai pikiran apa
jang baik guna menjingkirkan penghalang kita ini?”
„Bunuh dia, habis perkara,” kata Khoe Hong.
„Kita potong tubuhnja mendjadi potongan-potongan
ketjil, kita pakai dagingnja untuk memelihara
delapan singa, dan sepuluh hariman kita. Bukankah
sekedjab sadja dagingnja habis dan tidak ada
bekas-bekasnja?”
„Daja ini benar bagus,” kata Tat Tjie. „Nah,
kau boleh lantas bekerdja!”
„Boe Tjian Kin harus membantu aku,” Khoe Hong
minta. Lalu ia meneruskan pada Tjian Kin: „Pergi
kau bawa kemari tahang peranti menjimpan daging.
Di sini sadja kita bekerdja.”
Boe Tjian Kin berlalu, akan tak lama kembali.
Segera mereka sudah siap. Sie Tjiang
dipernahkan di samping tahang.
Khoe Hong memegang goloknja jang tadjam, jang
udjungnja lantjip.
V
BOTJAH PEMAIN KOMEDI
Tetapi di saat perbuatan biadab dan kedjam
hendak dilakukan, pintu terdengar terketuk.
„Setan alas! Tentu si tua-bangka datang pula!”
Khoe Hong mentjatji, tetapi dengan perlahan.
„Biariah dia pun digusur ke dalam dan djadikan
tubuhnja potong-potongan ketjil untuk dikasi
digegarasi singa dan harimau!”
„Siapa?” Siauw Long bertanja seraja dia
mengintai di liang kuntji.
„Lekas buka pintu! Aku!”
Suara itu njaring tetapi halus dan sedap
didengarnja.
„Oh, si Giok! Lekas buka pintu!” berkata Tat
Tjie.
Siauw Long pun telah melihat Tat Giok, maka ia
lantas membuka pintu, mengasi si nona masuk,
setelah mana, pintu segera dikuntji pula.
Tat Giok baru selesai bermain trapes, ia lantas
kembali ke kamarnja, untuk menjalin pakaian biasa,
jalah shanghai dress sutera putih-perak, dan
dengan menghisap sigaretnja, ia lantas datang ke
kantor kakaknja. Segera ia menjapu seluruh ruang
dengan matanja, asap sigaretnja dikepulkan
perlahan-perlahan. „Kamu lagi membuat apa?”
tanjanja tenang.
„Kita hendak melenjapkan penghalang kita!”
menjahut Khoe Hong, tangannja menundjuk Sie
Tjiang.
Tat Giok melihat si pemuda tampan, jang berdiri
di samping tahang dengan kedua matanja ditutup,
mukanja putjat, mulutnja disumbat saputangan,
hingga nampaknja dia harus dikasihani.
„Inilah rentjana sangat tolol!” kata si nona.
„Siapakah jang mendapatkan pikiran ini?”
„Tolol?” tanja Tat Tjie. „Di manakah
ketololannja?”
„Dengan ini tjara kamu menganggap dia terbasmimusna,
bukankah?” si nona tanja. „Bukankah
pakaiannja mendjadi bukti? Bukankah tulangtulangnja
bukti djuga? Tulang-tulangnja toh beda
daripada tulang kerbau ? Laginja......”
„Tjukup!” Tat Tjie memotong. „Habis, bagaimana
pikiranmu?”
„Aku mempunjai suatu tjara. Tunggu sebentar,
aku hendak mengambil serupa barang. Aku akan
kembali.”
Tat Giok berlalu, akan kembali selang lima
menit, tangannja membawa sebuah botol ketjil. Ia
lantas mengambil satu gelas, jang ia isikan air
dingin, separuhnja, lalu isi botol, jalah obat
bubuk, ia tuang ke dalam air itu. Ia aduk itu
sampai rata. Lantas ia menghampirkan Sie Tjiang
di kuping kiri siapa ia berbisik: „Tuan Eng.
djangan takut, aku akan tolong kau. Kau buka
matamu dan lihat aku. Apakah kau masih mengenali
aku?”
Pikirannja Sie Tjiang sebenarnja sudah katjau.
Tidak biasa ia menghadapi kawanan manusia kedjam
itu. Meski demikian, ketika ia membuka matanja,
samar-samar ia mengenali Kho Giok Hoan, budjangnja
Yoe Tek. Ia merapatkan pula matanja, untuk menanti
kematiannja.
„Kau djangan salah mengerti,” Tat Giok berbisik
pula. „Aku hendak menolong kau, maka kau dengarlah
perkataanku. Kau minum ini air gula, kau akan
mendapatkan kefaedahannja.”
Sie Tjiang tidak pertjaja si tjantik bagaikan
ular berbisa ini, tetapi sama-sama bakal mati, ia
tidak takut, bahkan minum ratjun lebih baik
daripada disembelih dan dirinja dikasi gegares
binatang liar. Maka ia mengangguk.
Tat Giok mentjabut saputangan sumbatan di mulut
orang, ia membawa mulut gelas ke mulut orang itu.
Dengan sekali tjegluk, Sie Tjiang minum habis
„air gula” itu, jang ia duga ratjun. Benar rasanja
itu manis dan lezad. Hanja selang beberapa menit,
ia mulai batuk-batuk, itu baru mendjadi kurangan
belasan menit kemudian.
„Tuan Eng, bukankah kau sekarang merasa enak?”
Tat Giok tanja.
Sie Tjiang membuka mulutnja, niatnja mengedjek
si nona. Apa mau, ia tidak dapat berkata-kata,
suaranja lenjap. Ia kaget. Tahulah ia jang ia
telah dikasi minum obat menghilangi suara.
Tat Giok mendapat kenjataan obatnja sudah
bekerdja.
„Pergi ambil kulit oranghutan,” ia menitah Khoe
Hong, sedang kepada Sie Tjiang, ia kata: „Tuan
Eng, maaf. Untuk beberapa hari, sukalah kau
mendjadi oranghutan.....”
Khoe Hong berlalu tak lama, ia sudah kembali
bersama kulit oranghutan itu, jang terbuat bagus
sekali, kalau dipakaikan kepada tubuh orang, sukar
orang mengenali kepalsuannja.
Ka Ka Roon Circus mempunjai sembilanbelas ekor
oranghutan, belum lama, jang seekor mati. Kho Tat
Tjie tidak lantas memendam bangke binatang itu,
hanja ia menitahkan orang mengeset baik-baik
kulitnja, untuk didjemur dan disimpan. Tat Giok
ingat kulit binatang itu, maka ia menggunai
akalnja ini guna menjembunjikan Sie
Tjiang.........
„Khoe San, Khoe Hong,” kata si nona kemudian,
„kamu bawa dia ke kandang oranghutan, untuk
mentjampurnja dengan jang lain-lain, asal
kurungannja dipisahkan tjukup djauh satu dari
lain. Aku telah berikan ia obat gagu, jang
bertahan untuk satu bulan, maka selama itu, dia
tidak bakal dapat bitjara dan tidak akan mengasi
dengar suara apa djuga. Nanti, selagi berlajar ke
Lamyang, di tengah djalan kita lemparkan dia ke
laut! Bukankah itu berarti lenjap semua bekasbekasnja?”
Semua orang memudji ini akal, jang dianggap
sempurna.
Khoe San dan Khoe Hong lantas bekerdja, menuntun
Sie Tjiang ke kandang oranghutan.
Ketika itu, pertundjukan masih berdjalan,
tinggal beberapa atjara lagi. Maka djuga Hok Hong
dan semua anggauta lainnja dari circus itu tidak
ketahui perbuatannja rombongan Tat Tjie ini.
***
In Hong dan Kat Po bekerdja sungguh-sungguh
untuk memetjahkan perkara jang gelap itu. Pagi itu
mereka meninggalkan rumah mereka, pergi ke
pelbagai tempat, guna membuat penjelidikan, guna
mentjari endusan. Achirnja mereka pulang dengan
tangan kosong. Lee In dan anaknja tak dapat
ditjari. Lohornja, kira djam 4.00, di tengah
djalan mereka bertemu sama Detektip To. Detektip
itu mengundang mereka ke sebuah kedai kopi, untuk
memasang omong.
Terhadap In Hong, si nona tjantik, gagah dan
pintar, pikirannja Tjie An bertentangan
sendirinja. Dia sangat penasaran dan membentji,
dia pun sangat menjintainja — menjintai sendirian.
Hampir tak hentinja dia memikirkan si nona. Dia
menjukai In Hong bukan tjuma disebabkan tjantikmanisnja,
hanja kegagahannja, ketjerdasannja dan
kelintjahannja. Dia hanja mendongkol dan
membentji kapan datang saatnja si nona mengadjar
adat kepadanja sebagai akibat sepak-terdjangnja
djuga.........
„Nona in, Nona Kat,” ia tanja, „apakah kamu
telah mendapat endusan di mana bersembunjinja si
pentjuri merangkap pembunuh itu?”
„Tidak,” menjahut si nona menggeleng kepala.
„Kau sendiri, apakah kau telah berhasil menangkap
Lee in?”
„Belum,” sahut Tjie An, jang pun menggojang
kepala. „Yoe Tek sebaliknja memberi tempo satu
bulan untuk aku membekuk Lee In dan anaknja serta
mendapatkan pulang ketiga mustikanja itu,
djikalau tidak.........”
„Djikalau tidak......... bagaimana ?”
„Djikalau tidak......... terpaksa aku mesti
menjerahkan pangkatku ini kepada orang
lain........."
„Relakah kau menjerahkannja?” tanja In Hong
dingin.
„Tentu tidak! tetapi Yoe Tek pasti menghendaki
itu....."
„Tidak mendjadi kepala detektip berarti bebas
merdeka!” Kat Po tjampur bitjara. „Dengan begitu
kau djadi dapat mengurangi beberapa perkara
penasaran, hingga orang tak usah meringkuk di
dalam terali besi tanpa bersalahn-dosa!”
Tawar suaranja nona ini, jang tak suka bitjara
memakai tedeng-aling.
„Menurut rasa hatiku, penasaran ketjil mungkin
ada, penasaran besar tidak sama sekali.....” kata
Tjie An. „Di dalam banjak hal, kamu sering
membantu aku. Umpama dalam perkara Yo Lee In ini,
aku sekarang pertjaja dia tidak bersalah. Menurut
pemeriksaan ahli, bulu putih itu benar bulu warna
kuning muda. Maka sekarang aku lagi mentjari
andjing itu. Asal andjing itu kedapatan, si
pendjahatnja mesti kedapatan djuga.....”
„Kalau begitu, djalanmu ini tepat. Semoga kau
berhasil! kata In Hong.
„Tadi aku naik oto lewat di djalan besar ini,”
berkata pula Tjie An, „aku melihat satu anak
ketjil bersama seekor andjing ketjil bulu kuning
lagi bermain di gang ketjil sana. Botjah itu
melemparkan sehelai karet kulit, andjing itu
mengubernja dan menggigit pulang. Andjing itu bisa
menggigit karet, dia tentu bisa menggigit patung.
Ketika aku menghentikan otoku dan pergi ke gang
itu, botjah dan andjing itu telah pergi entah ke
mana. Maka itu sekarang aku lagi menantikan di
sini, menanti keluarnja pula mereka itu.....”
Baru Tjie An menutup mulutnja atau matanja
melihat seekor andjing ketjil warna kuning muda,
dengan mulut menggigit kulit karet, lari lewat di
depan kedai.
„Nah, itulah andjing itu!” ia berseru seraja
berlompat bangun, untuk terus mengedjar.
Kat Po dan In Hong tidak turut memburu. Djustru
itu, nona sembrono ini nampak bersemangat sekali.
„Aku pun memperoleh endusan!” katanja keras.
„Kau lihat, itulah si orang mabuk dengan siapa aku
bertempur di tengah djalan!” Ia menundjuk kepada
iklan dalam surat kabar jang tertindih katja.
„Kau tidak melihat keliru?” tanja In Hong.
„Tidak!” Kat Po pastikan.
„Kalau begitu, dia pasti mengenali kau. Mari
kita menjamar dulu!"
Mereka membajar uang kopi, terus mereka masuk
ke kamar peranti mentjutji muka. Di situ mereka
lantas berdandan, memakai hidung palsu, sedang
muka mereka dipulas, akan mengubah warna kulit
muka mereka.
Tatkala kedua nona ini sampai di tempat circus,
pertundjukan sudah mendekati achirnja. Mereka
berdiri di samping panggung, mata mereka melihat
ke empat pendjuru. Di dalam gelanggang, dua anak
muda serta seorang botjah umur tiga atau
empatbelas tahun lagi main berlompatan pergipulang
melewati gelang api.
„Lihat itu orang di bawah panggung musik,” kata
Kat Po seraja tangannja menundjuk, „dialah jang
kemarin bertempur sama aku! Dialah si pemabukan
jang hendak melempar-lemparkan Sie Tjiang sampai
mati.”
Kat Po bitjara dalam bahasa rahasianja, jalah
sambil bersuit. Kalau orang lain mendengarnja,
mereka menjangka itulah suara anak burung lagi
bernjanji.........
„Ia, aku telah melihat,” menjahut In Hong,
dengan bahasa rahasia djuga. „Di samping dia itu,
aku menemui seorang lain lagi. Aku maksudkan itu
botjah jang main gelang api. Tahukah kau, siapa
botjah itu?”
Kat Po mengawasi tadjam kepada botjah itu, mata
siapa rada djuling, hidungnja bengkung, kedua
tulang pipinja nondjol, dan kedua bibirnja tipis,
sedang raut mukanja persegi pandjang, lantjip ke
bawahnja.
„Sungguh mirip!” serunja.
„Mirip siapakah?” In Hong tegaskan.
„Ketika itu hari kita turut Detektip To pergi
ke rumah keluarga Seng, meski waktunja pemeriksaan
singkat sekali, aku toh telah mendapat kesan jang
dalam sekali,” djawab Kat Po. „Botjah ini mirip
Seng Yoe Tek!”
„Benar!” Nona In kata. „Tidak salah lagi, botjah
ini jalah botjahnja Yoe Tek jang belasan tahun
jang lalu dia memperolehnja dari Tjian Kiauw
Kiauw. Ibu dan anak itu disia-siakan Yoe Tek.
mereka pergi entah ke mana setelah gagalnja
pengaduan mereka, rupanja mereka mendapat
pekerdjaan di dalam circus ini dan turut merantau,
sampai sekarang mereka kembali ke mari. Mungkin
rombongan circus ini telah mengetahui hal-ichwalnja
ini ibu dan anak, lantas mereka memikir suatu
usaha guna menjingkirkan achliwarisnja Seng Yoe
Tek. Orang kuat itu pasti turut di dalam komplotan
ini. Demikianlah, pertama-tama mereka mentjoba
mentjuri ketiga patung malaikat. Dengan djalan
ini, mereka dapat memfitnah Lee In. Bukankah Yoe
Tek sangat membentji menantunja itu? Hanja di luar
dugaan, pentjurian patung itu berakibat
kebinasaannja Nona Pek Hoa, sebab si nona
mempergokinja. Si pentjuri mestinja mengenal baik
gedung Yoe Tek. Mungkin dialah si budjang Kho Giok
Hoan, jang telah berhenti dan pulang ke
kampungnja, katanja disebabkan Yoe Tek hendak
mempermainkan padanja. Siapa tahu dia jang
sengadja memantjing Yoe Tek hingga Yoe Tek
mendjadi tergila-gila kepadanja? Dengan berhenti
setjara demikian, dia bebas dari sangkaan. Ketika
dia dipergoki Pek Hoa, mungkin dia ingat Lee In,
maka sekalian sadja dia menggunai akal. Dia lari
ke kamar Lee In, di situ Pek Hoa dibunuh, lalu
pisaunja disusut ke badjunja Lee In, guna
memindahkan kedosaan atas diri njonja muda jang
lemah itu. Dengan Lee In terusir, usaha mereka
hampir berhasil. Achli waris Yoe Tek tinggal Sie
Tjiang seorang, maka Sie Tjiang pun hendak
disingkirkan. Demikian Sie Tjiang dipegat di
tengah djalan. Kalau Sie Tjiang lenjap, maka Kiauw
Kiauw dan anaknja jalah achliwaris satu-satunja.
Aku mau pertjaja, Kiauw Kiauw telah diadjak
bekerdja sama, hanja kalau nanti warisan telah
berpindah tangan, mereka ibu dan anak akan dapat
bagian sedikit sekali. Atau lagi, ada kemungkinan
Kiauw Kiauw dan anaknja tjuma dipaksa didjadikan
alat kawanan pendjahat itu.........
Sajang kita belum pernah melihat romannja Kho
Giok Hoan si budjang perempuan, tetapi mungkin dia
pun salah satu anggauta komedi kuda ini. Aku harap
kita nanti menemukan dia di sini....”
Kat Po tidak dapat berpikir banjak, ia tjotjok
sama pandangan In Hong itu.
„Sekarang marilah kita bekuk dulu si orang kuat,
untuk korek keterangan dari mulutnja!” ia berkata.
„Asal dia membuka rahasia, pastilah semua-mua akan
mendjadi terang! Tunggu, aku akan bekuk dia!”
„Hus, djangan sembrono!” In Hong mentjegah.
„Dugaanku itu masih dugaan belaka, belum ada
buktinja sebagai pegangan, djikalau mereka
menjangkal, kita bisa bikin apa? Bahkan mereka
bisa mendakwa kita memfitnah mereka.” Nona ini
berlaku sabar sekali. „Maka itu, kita mesti sabar,
kita mesti mentjari buktinja jang kuat. Di dalam
ini hal, kita mesti terus bekerdja sama Sie
Tjiang. Dia bisa mendjadi saksi kuat jang menuduh
si orang kuat hendak membinasakannja. Kita pula
mesti mentjari Kho Giok Hoan. Umpama kata dia
benar ada di dalam circus, dia pasti akan memakai
nama palsu. Dari itu, djuga mengenai Giok Hoan,
kita mesti mengandal kepada Sie Tjiang. Kita mesti
bertindak tepat, agar djangan rumput terkeprak
hingga ular kaget dan kabur.........”
„Hari ini hari terachir, mereka mau berlajar ke
Lamyang,” Kat Po peringatkan.
„Meskipun hari ini hari terachir, pasti mereka
memerlukan tempo lagi beberapa hari untuk
berangkat. Besok kita bekerdja bersama Sie Tjiang,
untuk kita masih ada tempo.”
Tidak lama selesailah sudah pertundjukan, musik
mengasi dengar lagu penutup, untuk mengasi selamat
djalan kepada sekalian penonton, jang mulai
berlerot keluar, hingga keadaan mendjadi ramai
sekali. Tapi keramaian itu tidak berdjalan lama,
atau kalangan circus itu lantas mendjadi sepi.
„Mari kita pergi, supaja tidak membangunkan
ketjurigaan,” In Hong mengadjak.
Ketika mereka tiba di rumah mereka, di Hungjao
Road, mereka mendapatkan Nona Tjoe Lee Hong,
sahabatnja Hiang Kat, berada sendirian, romannja
bingung dan ketakutan, Hiang Kat sendiri tidak
nampak.
„Tjelaka!” kata Nona Tjoe itu begitu ia melihat
datangnja kedua nona. „Tjelaka! Mereka.........
mereka.....”
„Ada terdjadi apakah?” Kat Po menanja tjepat.
„Mereka...... Siapakah mereka? Mana Hiang Kat?
Lekas bilang! Lekas!”
Nona Tjoe mendjadi semakin bingung, sampai ia
tergugu terus.
„Tenang,” kata In Hong, jang sendirinja berlaku
tenang luar biasa.
„Dia ......... dia .........” kata pula si nona.
„Dia apa? Lekas!” Kat Po mendesak pula. „In
Hong, kenapa kau diam sadja!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil