Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 09 Mei 2017

Cersil Kenthir Pendekar Gila 2 Tamat

Cersil Kenthir Pendekar Gila 2 Tamat Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Kenthir Pendekar Gila 2 Tamat
kumpulan cerita silat cersil online
-
Saat Mo Siu-cun memiringkan pundak mengangkat tangan, waktu yang gawat itu, gaya telapak tangan Han Lie sudah dirubah dari cakar menjadi jari, dengan jari secepat kilat menotok urat nadi Mo Siu-cun.
Perubahan jurus Han Lie ini juga di luar dugaan dan amat cepat. Kalau orang lain pasti tidak bisa menghindar totokan telunjuknya!
Ternyata Mo Siu-cun memiliki ilmu silat yang luar biasa, tampaknya lebih tinggi satu tingkat di atas Han Lie. Mana mungkin totokan telunjuknya Han Lie bisa berhasil?
Terdengar suara mengejek Mo Siu-cun. Jurus mencengkram telapak tangannya mendadak dirobah juga menjadi totokan dengan telunjuk, bukan menotok tetapi menggores. Ujung jari sebuah telunjuk, dengan cepat mengerat urat nadi pergelangan kanan Han Lie!
Tidak terasa hati Han Lie merasa terkejut dan ngeri! Dia tidak menyangka Mo Siu-cun begitu cepat merubah jurus. Dalam hatinya jelas, sekali pergelangan kanannya tergores oleh telunjuk itu, kalau tidak luka parah dan cacat, sedikitnya mendapat cedera ringan, sementara waktu ini tentu tidak bisa digerakan.
Sebab itu setelah hatinya merasa ngeri, secepat kilat dia menarik pergelangan tangannya menarik serangannya. Telapak tangan kiri tiba-tiba diangkat langsung menghantam dada Mo Siu-cun!
Mo Siu-cun dengan tertawa mengejek berkata: "Hu-hoat, aku sudah menunggumu dari tadi!" Sambil berkata, telapak tangan kirinya cepat menyongsong telapak kiri Han Lie!
"Phaaang!" tubuh Han Lie bergoyang seketika terhempas dan mundur 3 langkah besar, darah didalam dadanya bergolak!
Dia mengangkat muka melihat Mo Siu-cun, yang tenang dan santai berdiri di situ tidak tergoyahkan sedikitpun.
Sekarang hati Han Lie sudah sadar, meski umur Mo Siu-cun muda tapi ilmu yang dikuasai ternyata hebat luar hiasa!
Hatinya menjadi gentar sekali, otaknya berpikir, 'Siapa sebenarnya pemuda ini, ilmu silat yang dikuasai ternyata...' Dia masih berpikir, pihak Mo Siu-cun dengan nada mengejek berkata:
"Hu-hoat yang terhormat, sekarang tentu kau percaya, bukan aku bermulut besar tapi kau benar-benar tidak berdaya padaku!"
Saat ini memang dalam hati Han Lie amat jelas, bagaimana tingginya kepandaian yang dikuasai Mo Siu-cun, dia mungkin tidak berdaya terhadap Mo Siu-cun, tetapi dengan julukannya "Toan-hiat-hun-ciang" (telapak berdarah pemutus arwah) dia merasa tidak bisa menerima begitu saja kejadian ini, apalagi dia masih membawa 7 orang anak buahnya!
Dia menarik napas panjang, dengan tertawa sinis berkata:
"Mo Siu-cun, kau jangan merasa sombong setelah bisa menerima satu pukulan telapakku, lalu mengangap aku tidak bisa berdaya padamu dan patah semangat hingga mau melepasmu!"
Mo Siu-cun dengan santai berkata:
"Kalau begitu Tuan pelindung utama tetap mau mengambil barang pusaka itu dengan kekerasan? Dan tidak akan berhenti kalau belum tercapai!"
"Betul!" dengan kejam dia berkata, "Tadinya aku hanya ingin kau menyerahkan barang pusaka itu saja lalu kau boleh bebas, sayang kau telah melepas kesempatan baik ini, sekarang aku sudah berubah pikiran!"
Mo Siu-cun bertanya:
"Jadi sekarang kau berubah pikiran?"
Han Lie berkata:
"Sekarang meski kau menyerahkan dengan baik-baik juga, aku sudah tidak bisa mengampunimu!" "Oh!" Mo Siu-cun bertanya, "Kenapa?" "Kenapa? Sebentar lagi kau juga akan tahu sendiri!"
Mo Siu-cun tersenyum, tiba-tiba pandangan mata menyorot:
"Tuan Han tidak ingin melepaskan aku apa karena ingin memiliki sendiri barang pusaka itu?"
"Betul, itu memang maksudku!"
"Apa kau yakin mampu?"
Han Lie tertawa keji dan berkata:
"Kau harus mengerti kedudukanmu sekarang!"
Mata Mo Siu-cun berkedip-kedip lalu bertanya:
"Apa kalian ingin menggunakan orang banyak?"
"Hm!" dengan suara hidung Han Lie berkata, "Ini adalah kenyataan!"
Kedua alis Mo Siu-cun terangkat dengan datar dia berkata:
"Aku mau mengatakan separah kata, apa kau mau mendengarkan?"
"Perkataan apa?"
"Jangankan sekarang kalian hanya ada 8 orang, jika ditambah 8 orang lagi juga belum tentu bisa menahan diriku!"
Diam-diam hati Han Lie bergetar! Tiba-tiba kedua matanya melotot
"Mulutmu terlalu besar! Aku tidak percaya!"
"Itu gampang sekali, kalau tidak percaya, silahkan kalian turun tangan sekaligus!"
Han Lie tidak berbicara lagi, dengan tertawa sinis, tenang-tenang mengangkat dan mengayunkan tangan, lalu berteriak:
"Serang!"
Dia yang paling pertama melambungkan tubuhnya menyerang.
Sisanya 7 orang yang bertopeng berturut-turut :a-gera meloncat menyerang ke depan. Menghantam dengan genggamannya, memukul dengan telapak tangannya, nu-notok dengan jari, bersama-sama menyerbu Mo Siu-cun.
Orang-orang yang bertopeng ini semuanya adalah jagoan kelas satu di dunia persilatan. Gerakan senjata, telapak, maupun jarinya semua amat mahir dan berbobot. Tiap
orang menyerang bagian-bagian penting di tubuh Mo Siu-cun!
Memang Mo Siu-cun memiliki ilmu aneh dan kepandaiannya amat tinggi, sekarang dia sendirian melawan 8 orang jagoan kelas satu dunia persilatan. Dia tidak berani bersikap sombong atau menganggap enteng lawannya!
Tampak alisnya menangkat, tidak menunggu serangan 8 orang itu mendekat, dia dengan cepat mengayunkan dua telapaknya, tenaga telapaknya seperti longsoran gunung menyapu dan menggencet 8 orang itu!
Tapi hatinya amat welas asih, dalam keadaan satu lawan 8 begini, dia tetap tidak mengeluarkan jurus-jurus membunuh dan membasmi lawannya!
Han Lie dengan tujuh orang anak buahnya, semua termasuk jago kelas satu di dunia persilatan, dia selalu merasa dirinya amat hebat. Setelah Mo Siu-cun mengayunkan dua telapak tangannya, mereka semua merasa dadanya sesak. Tubuh yang menyerbu ke depan terdesak mundur kembali oleh tenaga telapak yang seperti longsoran gunung itu!
Sebab tenaga telapak itu mengandung getaran balik yang amat dahsyat, kalau saja mereka ngotot tidak mau mundur, pasti akan luka parah karena tenaga yang membalik.
Han Lie dan orang-orangnya semua kaget dan tercengang oleh tenaga telapak Mo Siu-cun yang begitu hebat!
Mo Siu-cun dengan mata menyorot tajam berkata dengan mengejek:
"Han Lie, kalau dalam hatimu masih belum puas, boleh mencoba kembali!"
Kenyataannya sudah terlihat di depan mata, meski di pihak Han Lie ada 8 orang, tapi apa boleh bual kepandaian yang dikuasainya masih kalah dari satu orang, tidak puas juga masih bisa apa?
Begitu perkataan Mo Siu-cun berhenti, Han Li« segera menggeleng kepala:
"Memang aku tidak bisa mengalahkanmu, tapi perkumpulan kami pasti ada orang yang bisa mengalahkan mu. Mulai sekarang kau sudah menjadi musuh nomor satu dari perkumpulan kami, berhati-hatilah!"
Perkataannya berhenti, dengan tenang dia berputar pada 7 orang yang bertopeng itu dengan suara keras berkata:
"Ayo jalan!"
Dia sudah mau melambungkan tubuhnya untuk pergi.
Tiba-tiba Mo Siu-cun dengan suara berai membentak:
"Tunggu!"
Hati Han Lie tersentak, dengan dingin bertanya:
"Anda masih ada perlu apa?"
"Kau tidak boleh pergi!"
Hati Han Lie tersentak lagi, lalu bertanya:
"Kenapa?"
"Kau harus mengerti sendiri!"
Han Lie menggeleng-geleng kepala dan berkata: "Aku tidak mengerti."
Dengan cuek Mo Siu-cun berkata: "Kalau kau tidak mengerti, aku beri tahu, persoalanmu sudah pasti dan jelas!"
"Persoalan apa?"
"Peristiwa berdarah membunuh, membakar, dan menghilangkan mayat!"
Kedua mata Han Lie membelalak lebar berkata: "Kau ngawur, kapan aku berbuat begitu?"
"Sebulan yang lalu."
"Dimana?"
"Disini!"
Hati Han Lie tidak tertahan lagi berdegup keras! Muka yang tertutup kain hitam juga tampak berobah. Dengan suara terkejut berkata:
"Mo Siu-cun, kau jangan ngawur, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!"
Mo Siu-cun dengan datar bertanya:
"Apa perkataanku ngawur dan memfitnah?"
Han Lie bernapas keras-keras, matanya berputar-putar lalu berkata, 'Pepatah berkata, yang selingkuh harus ditangkap sepasang, maling harus ditangkap dengan barang bukti.' Apa kau mengerti perkataan ini?"
"Kau mau minta bukti apa padaku?"
"Apa kau punya bukti?"
"Tidak ada!" Mo Siu-cun menggelengkan kepala. "Itulah" Han Lie mengejek, "Perkataanmu sama sekali tidak ada bukti, itu sama dengan ngawur dan mengfitnah?"
Mata Mo Siu-cun berkedip-kedip, tiba-tiba seperti kilat menatap Han Lie dengan suara rendah berkata:
"Han Lie, sebagai seorang jantan, bisa tanggung jawab tidak?"
"Aku sudah berumur 60 tahun. Malang melintang puluhan tahun di dunia persilatan, belum pernah ada orang yang menuding aku!"
Dengan suara tajam Mo Siu-cun berkata:
"Oleh sebab itu kalau kau berani berbuat harus berani bertanggung jawab!"
"Seumur hidup yang aku perbuat belum pernah ada yang tidak bertanggung jawab!"
"Kenapa sekarang kau tidak berani bertanggung jawab?"
"Kalau aku yang berbuat pasti aku bertanggung jawab, kalau bukan aku yang berbuat, apa yang harus aku tanggung jawab?"
Mata Mo Siu-cun berkedip-kedip, tiba-tiba dengan tertawa ringan berkata:
"Han Lie, kau jangan berharap menyangkal dengan alasan yang bukan-bukan, dan tidak mau mengakui, jujur saja padamu, aku sudah punya saksi!"
Hati Han Lie berdebar keras, matanya membelalak:
"Kau punya saksi?"
"Hm!" dengan wajah yang serius, Mo Siu-cun mengangguk.
"Siapa?"
Dengan datar Mo Siu-cun berkata: "Kau masih ingat anak buahmu yang di belakang Coan-ti dan Ong-ceng?"
Hati Han Lie mendadak bergetar: "Sie Cit-peng?"
"Betul!" Mo Siu-cun berkata, "Memang dia!"
"Apa katanya?"
"Kata dia, demi merebut sebuah pusaka dunia persilatan dari tangan Pui Siauhiap, perkumpulanmu malam-malam menyerang Sian-sia-cu-cia!"
"Oh!" Han Lie menarik udara keras-keras lalu bertanya, "Dimana Sie Cit-peng sekarang berada?"
'Terbaring di kereta kuda yang dibawa Hwan Eng-giauw."
Tiba-tiba Han Lie tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Tuan Mo, kau tertipu!"
"Aku tertipu?"
"Sebetulnya tidak ada gerakan begini, kelompok ini tidak pernah malam-malam menyerang Sian-sia-cu-. Ih!"
"Maksudmu Sie Cit-peng telah berbohong?"
Han Lie dengan tertawa berkata:
"Kalau dugaanku tidak salah, tentu anda menggunakan kekerasan atau mengancam membunuhnya, maka demi menyelamatkan nyawanya dan mencari selamat terpaksa dia asal bicara."
Mo Siu-cun melamun dan menangguk, lalu berkata:
"Betul juga perkataanmu, tetapi..."
Dia berhenti sejenak, pelan-pelan dia membuka suara:
"Song Tayhiap, bawa Sie Cit-peng keluar, agar dia bisa membuktikan di depan kepala pelindung utama."
Begitu perkataannya berhenti, terdengar sebuah suara yang nyaring berkata:
"Baik!"
Bersamaan dengan suara itu, dari balik dinding roboh, tempat Mo Siu-cun muncul tadi berdiri dua orang. Melewati dinding roboh berjalan keluar dengan langkah besar.
Dua orang ini, satu berbaju abu-abu, dia adalah "Pedang awan terbang" Song Bun-po dari Tiang-pai, satu lagi orang berbaju hitam, yang berpura-pura gila, si "Ilusi bayangan pedang" Pui Se-cin pemilik Sian-sia-cu-cia.
Kebetulan sekali, postur tubuh Pui Se-cin hampir sama dengan Sie Cit-peng, pada waktu malam yang gelap ini, dari jarak yang cukup jauh. Sehingga Han Lie tidak bisa mengenali orang berbaju hitam ini adalah Sie Cit-peng gadungan.
Begitu Sie Cit-peng muncul, hati Han Lie menciut keras, diam-diam dia menghentakkan kaki dan berkata: "Celaka..."
Sebentar saja, Song Bun-po dan' Sie Cit-peng gadungan bersama-sama sudah berjalan mendekati Mo Siu-cun dan berdiri sejajar di belakangnya.
Ketika jarak sudah dekat, Han Lie sudah bisa. melihat dengan jelas, sayang dia hanya melihat jelas Song
Bun-po, tapi tidak bisa melihat jelas Sie Cit-peng gadungan yang berbaju hitam.
Sebab Sie Cit-peng gadungan ini tidak saja menundukkan kepala, agar orang tidak dapat melihat mukanya, tetapi sebagian besar tubuhnya terhalang oleh tubuh Mo Siu-cun.
Keadaannya seolah-olah takut dijebak dan dibunuh agar bisa bungkam!
Terdengar Mo Siu-cun dengan tertawa mengejek berkata:
"Han Lie, sekarang kau masih mau menyangkal?"
Han Lie tidak menjawab perkataan Mo Siu-cun, tapi menatap Sie Cit-peng dengan suara keras membentak:
"Sie Cit-peng, kau masih ingat peraturan perkumpulan?"
Sie Cit-peng berdiri di belakang Mo Siu-cun, tidak menjawab, juga tidak mengangkat kepala.
Han Lie dengan keras membentak lagi:
"Sie Cit-peng, hayo keluar kau jawab pertanyaanku!"
Sie Cit-peng tetap menunduk, tidak menjawab juga tidak bergerak.
Mo Siu-cun dengan tenang berkata:
"Han Lie, kau tidak perlu menggertak dia dengan segala peraturan perkumpulan, sekarang kau mau bicara apa lagi, apa masih mau mengatakan aku mengfitnah dirimu?"
Keadaan sudah terlanjur begini, Han Lie tahu Sie Cit-peng sudah jatuh ke tangan lawan dan sudah membuka lahasia, dia tidak mau mengaku juga percuma!
Akhirnya dia menarik napas panjang. Dengan tertawa terpaksa dia berkata:
"Mo Siu-cun, aku mengaku. Peristiwa ini memang perkumpulan kami yang melakukan!"
Begitu suara berhenti, Sie Cit-peng gadungan yang berdiri di belakang Mo Siu-cun tiba-tiba melangkah keluar, dengan keras mengangkat kepala, mengeluarkan tertawa panjang yang mengerikan!
Begitu Sie Cit-peng mengangkat kepala, Han Lie segera melihat jelas mukanya.
Hatinya tersentak keras! Dengan terkejut sekali berkata:
"Kau!"
Mata Pui Se-cin menyorot sinar api dengan gemas mengangguk:
"Betul, apakah di luar dugaanmu?"
Dengan hati bergetar Han Lie berkata:
"Ternyata kau tidak benar-benar gila!"
Sekarang dia baru mengerti dia telah terjebak, sayang sudah terlambat!
Mata Pui Se-cin seperti mau menyemburkan api, wajahnya sangat menakutkan, dengan keras membentak:
"Han Lie, serahkan nyawamu!"
Begitu perkataan habis, tubuhnya bergerak, segera akan menyerang Han Lie!
Tiba-tiba Mo Siu-cun mengangkat tangannya menghadang dan berkata:
"Sabar sebentar Toako!"
Begitu Pui Se-cin dihalangi Mo Siu-cun wajah menakutkan agak mereda, dia berdiri diam tidak bergerak.
Mata bulat Mo Siu-cun' berkedip, seperti kilat menyembur menatap tajam Han Lie dan berkata:
"Han Lie, aku mau bertanya, penyerbuan malam itu siapa yang memimpin?"
Han Lie sedikit ragu lalu menjawab:
"Aku."
Mo Siu-cun mengangguk dan berkata: "Kau berkata begitu terus terang, benar-benar orang yang berani berbuat
berani bertanggung jawab. Aku mau bertanya lagi, yang ikut operasi malam itu berjumlah berapa orang?"
"35 orang"
"Siapa saja?"
"Jagoan-jagoan di bawah pimpinan perkumpulan kami."
"Apa perkataanmu jujur?"
"Aku sudah mengaku, tentu semua perkataanku adalah sebenarnya!"
"Kalau begitu, bagus sekali,"
Mo Siu-cun mengangguk-angguk dan bertanya, "Sekarang kau mau berkata apa lagi?"
"Apa keinginanmu?" Tanya Han Lie Mo Siu-cun termenung sebentar "Kau memilih diam disini atau mau bertarung dulu denganku? Aku beri kau kesempatan untuk memilih."
Sepasang mata Han Lie berkedip: "Bagaimana menurutmu?"
Mo Siu-cun berkata, "Bagus, kata pepatah, 'siapa yang mengerti keadaan, itu yang disebut orang pintar Menurut aku, paling baik kau memilih yang pertama."
Dengan sinis Han Lie tersenyum:
"Tapi aku akan memilih yang kedua!"
Mo Siu-cun dengan santai berkata:
"Memang ini hak mu. Tapi aku mau memberitahu, ini adalah pilihan kau yang kurang cerdik!"
"Siapa yang tahu?" Kata Han Lie
Mo Siu-cun dengan mengejek berkata:
"Kau sama sekali bukan lawan yang bisa bertahan l«m hadap 3 jurus ku!"
Diam-diam hati Han Lie menciut, dia cepat menarik napas panjang, lalu berkata:
"Tidak apa-apa, anggota tubuhku masih menempel ditubuhku!"
Artinya perkataannya Mo Siu-cun mengerti, jika dia tidak sanggup melawan, dia masih bisa kabur.
Dengan tertawa datar, Mo Siu-cun berkata: "Kalau kau berpikiran begitu, aku jadi tidak bisa berkata lagi. Tapi aku berjanji padamu, kalau dalam 3 jurus kau bisa bertahan atau kau bisa lari lebih cepat dariku melebihi 30 tombak, aku akan mengizinkanmu pergi dengan leluasa!"
Han Lie sudah mengetahui Mo Siu-cun memiliki ilmu aneh, kepandaian yang tinggi dan hebat Tetapi dia tidak tidak yakin dengan kepandaian yang sudah dia pelajari dia tidak bisa melawan hingga 3 jurus, dia lebih tidak percaya tidak bisa kabur melebihi 100 meter!
Oleh karena itu, begitu perkataan Mo Siu-cun berhenti, dia segera memegang perkataannya dengan tertawa seram berkata:
"Perkataanmu ini apa bisa dipertanggung jawabkan?"
Sepasang alis Mo Siu-cun agak terangkat, lalu berkata:
"Seumur hidupku jika sudah berkata tentu tidak akan ditarik lagi. Tidak ada yang tidak diperhitungkan!"
Han Lie menyusul sepatah:
"Apa tidak menyesal?"
Mo Siu-cun dengan datar berkata:
"Kau tenang saja. Apa yang aku lakukan tidak pernah aku menyesal!"
Perkataan ini didengar oleh Pui Se-cin yang berdiri di sampingnya, dia menjadi berkerut sepasang alisnya. Dia tidak bisa menahan emosi, berkata:
"Adik sepupu..."
Mo Siu-cun tidak menunggu Pui Se-cin meneruskan perkataannya, dia segera mengangkat tangannya melarang dengan kata-kata:
"Pui Toako, kau tenang saja, adik lelap ln-ilahial semasa kecil. Tidak mau berkata yang tidak yakm, berbual yang tidak yakin pula!"
Tadi ketika Pui Se-cin dan Song Pun p» bersembunyi di balik dmding roboh memang sudah melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan Mo Siu-cun, nu-n-ka juga percaya Han Lie tidak akan bisa menang dari Mo Siu cun. Tapi mereka berpikiran sama dengan Han LIc sedikitpun tidak yakin Mo Siu-cun bisa mengalahkan I lan Lie dalam 3 jurus, juga tidak yakin bisa menghalangi Han Lie kalau kabur melebihi 30 tombak.
Dalam hatinya tidak yakin, tetapi dia amat paham tabiat adik sepupunya ini.
Kalau Mo Siu-cun sudah berkata begitu, dia mau berkata apalagi, dia hanya berdiam diri saja.
Tentu ini semua dikarenakan dia belum mengetahui setahun belakangan ini pengalaman ajaib apa yang telah dia dapatkan. Mo Siu-cun juga belum sempat menceritakan ini semua. Kalau tidak dia akan percaya semua!
Selanjutnya Mo Siu-cun memandangi Han Lie sedikit mengejek berkata:"Han Lie, kau sekarang sudah jelas. Kau boleh mulai melakukan gerakan!"
Han Lie mengejek, tidak berbicara lagi. Tubuh tiba-tiba maju ke depan. 2 telapak dengan cepat dikeluarkan. Telunjuk kiri telapak kanan. Secepat kilat langsung menyerang Mo Siu-cun.
Dia mengetahui pertarungan kali ini berbeda dengan yang tadi. Pertarungan ini tidak saja menyangkut lolos tidaknya dia. Juga menyangkut nyawa dan hidup matinya dirinya!
Sebab itu, sekali bertindak segera dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Telapak kanan mengandung jurus Telapak berdarah pemutus arwah," Berharap dengan menyerang di luar dugaan bisa membawa hasil!
Tentu dia juga sudah siap dengan siasat mundurnya. Kalau terjadi sesuatu yang tidak beres, sekali tidak berhasil, dia bisa ambil kesempatan mundur cepat!
Tetapi serangan telapak dan jari-jarinya baru saja dilancarkan, si "Pedang awan terbang" Song Bun-po tiba-tiba berkata:
"Siauya, hati-hati dengan telapak berdarahnya!"
Membuat orang kesal, Han Lie kesal dan memaki dalam hati:
"Song Bun-po, di kemudian hari jika aku bertemu denganmu akan aku kupas kulitmu!"
Dia sedang mengomel, pihak Mo Siu-cun tertawa lantang dan berkata:
"Terima kasih atas peringatan Song Toako. Adik akan berhati-hati!"
Sambil berkata, tangannya tidak menganggur. Telapak tangannya mengangkat cepat, miring-miring menyabet pergelangan tangan kiri Han Lie. Telapak kiri diluruskan, secepatnya menyongsong telapak kanan Han Lie yang berisi kekuatan telapak berdarah!
Han Lie merasa senang, tapi pikirannya belum keburu berputar, Sebuah telapak kiri Mo Siu-cun sudah beradu telapak dengan dia!
"Phianggg!" telapak kanan Han Lie seperti terkena setrum, hatinya bergetar keras!
Dia sudah sadar keadaannya, jantung dan hatinya seperti hancur, dia membentak keras> tangan kiri secepatnya diayunkan menghantam Mo Siu-cun, bersamaan tubuhnya meloncat ke langit malam yang gelap.
Jelas dia mau kabur!
Perubahan ini diluar dugaan, keadaannya juga berubah secepat kilat!
Menurut perubahan yang terjadi buat Han Lie jika mau kabur sejauh 30 tombak, seharusnya tidak sulit bagi dia.
Sayangnya lawan yang di depan mata adalah Mo Siu-cun. Ilmu silat yang dipelajari dengan kecerdasannya, Mo Siu-cun jauh lebih tinggi daripada dia.
Tubuh Han Lie baru mengankat, Mo Siu-cun sudah berkata dibarengi tertawa ringan:
"Kalau aku sampai membiarkan kau kabur, bagaimana aku harus bertanggung jawab pada Pui Toako?"
Selesai berkata, tubuhnya sudah seperti kilat menyambar mengikuti gerakan Han Lie, dia melejit menjulurkan tangan, jarinya langsung mencengkram betis Han Lie.
Han Lie segera merasakan betis kirinya sakit karena telah dicengkram oleh Mo Siu-cun. Hatinya gugup sekali, kaki kanannya dengan cepat menendang dada Mo Siu-cun.
Mulut Mo Siu-cun mengeluarkan tertawa mengejek dan berkata:
"Tidak perlu menendang lagi, turunlah!"
Tangan yang mencengkram betis Han Lie itu ditarik, tubuh Han Lie secepatnya terlempar ke tanah.
Han Lie masih mencoba meronta-ronta, dia segera mengerahkan Gin-kangnya, berusaha agar saat tubuhnya menginjak tanah bisa mendarat dengan mantap, maksudnya setelah menginjak tanah dia dapat melejit lagi.
Siapa sangka begitu dia mengerahkan tenaga dalamnya, tenaganya tidak bisa berkumpul, saat itu juga hatinya mencelos.
"Bruk!" terdengar suara keras, tubuh Han Lie yang tinggi besar dan kekar itu terhempas ke tanah!
Tanah itu penuh rongsokan dan puing-puing, memang dia terhempas tidak terlalu keras, tapi cukup lumayan dan sakit!
Baju panjang Mo Siu-cun berkibar-kibar, tubuhnya pelan-pelan turun ketanah.
Tubuh Han Lie berbaring di tanah tidak bergerak. Dalam hatinya diam-diam mendesah:
"Celaka!"
Mata Mo Siu-cun memandang sekilas, dengan suara datar berkata:
"Han Lie, berdirilah!"
Han Lie tetap tidak bergerak, juga tidak peduli kata-kata Mo Siu-cun, dia malah memejamkan mata, sebab dalam hatinya amat maklum, kata-katanya tidak perlu didengar, sebab nyawanya sudah pasti akan lenyap.
Sepasang alis Mo Siu-cun agak terangkat, lalu berkata:
"Han Lie, kau bertubuh tegap. Seorang laki-laki sejati, jangan berbaring di tanah berpura-pura mati, tenaga dalammu tidak bisa mengumpul tapi ilmu silatmu tetap utuh meski terbanting, sebatang igamu juga tidak ada yang patah, seharusnya tidak ada kesulitan untuk berdiri!"
Sebenarnya Han Lie tidak mau meladeni Mo Siu-cun dan tidak mau berdiri. Tapi setelah Mo Siu-cun berkata begitu, dia tidak mungkin tidak berdiri. Dia tidak ingin menjelang mati masih harus memikul nama busuk.
Akhirnya dia mengerahkan tenaga dari pinggang ke bawah, tubuh menegang, akhirnya dia bisa berdiri di atas tanah.
Mo Siu-cun tidak terasa tersenyum dan berkata: "Ini baru sikap laki-laki sejati, juga baru pendekar dunia persilatan!"
"Hm!" Han Lie dengan kecut berkata, "Tidak perlu basa basi, aku belajar tidak sempurna, kepandaianku kalah darimu. Aku terima nasib, kalian rriau membalas dendam lakukanlah!"
Pui Se-cin dengan sepasang mata yang bersinar penuh dendam dengan keras berkata:
"Han Lie, hari ini jika aku tidak mengulitimu hidup-hidup, bagaimana aku bertanggung jawab kepada arwah ratusan jiwa keluargaku di alam sana!"
Hati Han Lie tidak terasa bergoncang keras, lalu dengan datar berkata:
"Penggal kepala mati, hati dikorek mati, dikuliti juga mati. Mati model bagaimanapun juga sama pokoknya tetap mati, terserah padamu!"
Selesai berkata, dia pelan-pelan menutup mata, dengan tenang menunggu kematian, pasrah pada Pui Se-cin yang mau mencabut nyawanya!
Ternyata dia sudah menerima nasib, sudah pasrah! Memang harus begitu, kalau kepandaian tidak sebagus lawannya, terimalah nasib. Kalau tidak bisa lagi menghindar dari mati, kenapa tidak berbesar hati agar mati dengan cara terhormat?
Pui Se-cin adalah calon seorang pendekar besar yang berbudi pekerti luhur, biarpun dia mengalami kepedihan yang amat sangat atas malapetaka dengan terbunuh seluruh keluarganya, memang dia berkata mau menguliti hidup-hidup Han Lie untuk membalas dendam ratusan jiwa keluarganya. Tetapi tindakan begitu terlalu kejam, terlalu sadis, dia tidak sanggup berbuat seperti itu, dia juga tidak tega melakukannya.
Sebab itu dia melihat wajah Han Lie yang memejam kan mata, menunggu ajal menjemput, hatinya sempat melintas sebersit keraguan, akhirnya dia melangkah ke depan. Pelan-pelan dia mengangkat tangan menjulurkan jari-jari, segera akan menotok jalan darah kematian Han Lie.
Tiba-tiba hati Mo Siu-cun terpikir sesuatu, dia mengangkat lengan menghadang sambil berkata: "Pui Toako, tunggu dulu!"
Pui Se-cin tercengang, kembali dia menarik lengan memandang Mo Siu-cun.
Sudah tiga tahun lebih dia tidak bertemu dengan adik sepupunya, yang sejak kecil sudah terlihat pintar dan urdik
luar biasa ini. Sekarang dalam hati Pui Se-cin selain merasakan keanehan dan kekaguman, juga merasa kepandaiannya tidak bisa diukur.
Sebab adik sepupu yang dia kenal tadinya adalah anak terpelajar yang lemah. Sedikitpun tidak mengerti ilmu silat, tetapi adik sepupu yang sekarang berdiri di depan matanya berilmu silat tinggi dan aneh sekali! Dalam hatinya penuh pertanyaan Dia tidak mengerti, hanya 3 tahun lebih tidak bertemu, adik sepupunya entah dari mana belajar dan bagaimana latihan ilmu silatnya sampai bisa sehebat ini?
Dia memandang Mo Siu-cun, terlihat Mo Siu-cun tersenyum-senyum padanya. Lalu berkata:
"Pui Toako apa kau mau menerima saran adikmu?"
Sepasang mata Pui Se-cin berkedip-kedip dan bertanya:
"Saran apa?"
"Masalah ini biar diurus oleh adikmu."
Dengan sinar mata kurang mengerti dia bertanya:
"Kenapa?"
"Tentu saja adikmu mempunyai cara."
"Cara bagaimana?"
"Harap Toako jangan bertanya sekarang."
Kedua mata Pui Se-cin berkedip-kedip, dia berpikir sejenak, kemudian menangguk dan berkata:
"Baiklah. Kalau itu memang yang terbaik, uruslah olehmu!"
"Terima kasih Toako."
Pui Se-cin mengangkat tangan menggoyangkannya:
"Tidak usah berterima kasih. Kau dan aku masih saudara, siapa yang membalas dendam sama saja."
Selesai berkata, dia melayang mundur berdiri sejajar dengan Song Bun-po.
Mo Siu-cun menatap Han Lie berkata:
"Han Lie bukalah matamu!"
Han Lie membuka matanya, dengan pelan bertanya:" Anda masih ada pesan apa?"
Pandangan Mo Siu-cun diam menatap dan berkata: "Apa kau mau berkata-kata denganku sebentar?"
"Aku sudah menjadi tawanan yang menunggu dipotong leher. Ada perkataan apa lagi yang perlu dikatakan?"
Mo Siu-cun tersenyum dan berkata:
"Tidak juga, tawaan yang menunggu dipotong leher itu adalah kata-katamu, aku tidak merasa begitu."
Han Lie tercengang dan bertanya:
"Memangnya bukan?"
Dengan datar Mo Siu-cun berkata:
"Kau tidak saja bukan, dalam perasaanku, kau dan aku malah bisa berteman!"
"Mungkinkah?" Han Lie memandang heran.
Mo Siu-cun mengangguk:
"Tentu."
Han Lie tidak tahan tertawa dan berkata:
"Mo Siu-cun, kau ingin membohongi aku seperti anak berumur 3 tahunan?"
"Kau salah menangkap maksudku."
Han Lie mengedip mata lalu bertanya:
"Aku ingin tahu apa maksudmu?"
"Kau harus mengerti, maksudnya aku ingin kau mau atau tidak berunding denganku dalam waktu yang menentukan!"
"Oh!" Han Lie berpikir sebentar bertanya: "Kau ingin berunding apa denganku?"
"Tidak tentu," Kata Mo Siu-cun, "Apa yang terpikir olehku itu yang dibicarakan. Tetapi apa yang dikatakan liarus jujur dan terus terang, sedikitpun tidak boleh berbohong."
"Kalau begini yang dimaksud berkata-kata adalah «kedar kau bertanya, aku menjawab."
"Sebenarnya memang begitu."
"Aku sudah mengerti," Han Lie berkata, "Yang mau kau tanyakan, tentu semua tentang perkumpulan kami bukan?"
Mo Siu-cun mengangguk:
"Betul, apa kau mau terus terang denganku?"
Han Lie terdiam sesaat, lalu menggoyang kepala dan berkata:
"Tidak mau!"
Kedua alis Mo Siu-cun menegang dan bertanya: "Kenapa? Untuk apa menjual nyawa demi orang lain? Apa patut?"
Tubuh Han Lie pelan-pelan timbul getaran ringan.
Segera menarik napas panjang dan berkata:
"Kau tidak perlu bicara apa-apa lagi. Peristiwa malam itu dipimpin olehku. Aku penjahat yang membunuh dan membakar. Kata pepatah, 'membunuh orang menebus dengan nyawa' Aku bersedia menebus dengan nyawaku!"
Alis Mo Siu-cun tidak terasa mengangkat lalu berkata:
"Han Lie, apa kau sudah berpikir. Apa kau mau menanggung ratusan jiwa oleh dirimu seorang?"
"Kalau kau menuduh begitu, aku juga menerima."
Tiba-tiba Mo Siu-cun mendesah lalu berkata:
"Aku sangat menyayangkan, juga merasa kurang pantas!"
Han Lie dengan ringan berkata:
"Ini urusanku, kau tidak usah menyayangkannya."
"Memang ini masalah kau sendiri, tapi kau sebagai orang dunia persilatan harus memikirkan seluruh dunia persilatan. Harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dunia persilatan. Baru bisa merasa bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki sejati dengan ilmu silat yang kau miliki."
Perkataan ini seperti segumpal tenaga yang dahsyat menghimpit jiwa dan raga Han Lie. Membuat dia merasa sesak dan sulit untuk bernapas. Juga membuat hati Han Lie yang sudah pasrah menjadi hidup kembali. Hatinya yang paling dalam juga bergelora seperti gelombang yang bergulung-gulung, menerpa pikiran dan tekadnya!
Saat ini, Mo Siu-cun dengan wajah tegas berkata lagi:
"Memang penyerangan malam itu dipimpin olehmu, kau juga telah membunuh orang, tetapi kau mau begitu saja memborong dan menanggung ratusan nyawa orang, mau menebus dosa, ini perilaku seorang pemberani tetapi pemberani yang terlalu bodoh, tidak ada artinya, kata
pepatah, 'mati ada yang lebih berat dari Thai-san, ada yang lebih ringan dari sehelai bulu." Coba kau pikir, orang tua yang melahirkanmu, guru yang mengajarimu ilmu, semua ini demi apa? Apa hanya demi menebus dosa? Kau pikir lagi, berpuluh-puluh tahun kehidupan dunia persilatan, apa yang telah kau perbuat? Apa kau telah bertanggung jawab pada orang tuamu? Bertanggung jawab pada guru yang menurunkan ilmu silatnya padamu? Bertanggung jawab pada dirimu sendiri?"
Sepasang mata Han Lie tiba-tiba melintas rasa malu, pelan-pelan dia menundukkan kepalanya.
Mo Siu-cun sangat memperhatikan wajah Han Lie. Ketika mata Han Lie melintas rasa malu, sepasang matanya menyorot sinar lain. Dia tahu sudah ada reaksi, perkataan dia tidak sia-sia, dan sudah berhasil.
Dia berhenti sejenak, berkata lagi, dengan amat lulus dan jujur:
"Tuan Han kau orang yang pengertian, umurpun lebih tua dariku, perkataan ini seharusnya aku tidak boleh sehutkan. Tapi dalam keadaan hidup dan mati yang sudah mendesak bagimu, aku tidak bisa diam saja. Juga tidak tega tangan sebutkan. Sebab aku sangat memuja pendirian Tuan Han sebagai seorang pendekar, tidak tega Tuan Han mati begitu saja... sudahlah, cukup perkataanku sampai disini, selebihnya Tuan Han boleh pikirkan dengan teliti!"
Sampai disini Pui Se-cin dan Song Bun-po masih kurang paham maksud Mo Siu-cun, tapi mereka dapat memahami tentu Mo Siu-cun mempunyai maksud lebih jauh.
Dalam hati mereka berdua sangat mengagumi dan setuju perkataan Mo Siu-cun ini, mereka pun menangguk.
Sebab semua perkataan ini logis dan masuk akal, yang bandel seperti batupun mendengar ini tentu akan menangguk
Han Lie tertunduk diam, tidak bicara. Mo Siu-cun juga tidak berkata lagi. Jelas sekali, dia sedang memberi Han Lie waktu untuk berpikir "7 keliling"
Tetapi, apa Han Lie akan memberi jawaban? Semua ini masih sulit untuk diramal. Tapi dalam hati Mo Siu-cun ada 70 persen keyakinan pasti berbeda. Lama, lama sekali. Han Lie berkata juga akhirnya. Dia menarik napas panjang, mengangkat kepala berkata:
"Mo Siauhiap, kepintaranmu melebihi orang lain kata-katanya juga sangat pandai."
Mo Siu-cun tersenyum-senyum dengan merendah berkata:
"Terima kasih atas pujian Han Lopek. Sebenarnya bukan aku pandai bicara. Aku hanya berkata berdasarkan masalah berdasarkan kenyataan, berdasarkan kejujuran dan kebajikan."
"Kau juga telah meluluhkan hatiku!"
Mata Mo Siu-cun berbinar lalu berkata:
"Kalau begitu tentu sekarang Han Lopek sudah menerima tawaranku?"
Han Lie mengangguk:
"Di bawah kejujuran dan kebajikan, apa aku bisa mengelak?"
Mo Siu-cun bersoja memberi hormat dan berkata: "Terima kasih Han Lopek."
Han Lie juga membalas hormat juga dengan bersoja, lalu berkata:
"Tidak usah sungkan-sungkan, sebenarnya Siauhiap ingin mengetahui masalah apa? Silahkan tanya!"
Mo Siu-cun tertawa-tawa, matanya terdiam lalu berkata:
"Aku mau bertanya pada Han Lopek. Siapa sebenarnya ketua perkumpulan anda?"
Han Lie terlihat agak ragu-ragu lalu berkata: "Kalau aku mau berkata tidak tahu, apa Siauhiap percaya?"
Mo Siu-cun sedikitpun tidak ragu menjawab: "Percaya."
'Tidak curiga perkataanku tidak jujur?"
Mo Siu-cun dengan tegas berkata: "Aku percara Han Lopek bukan orang yang suka bolak balik, maka aku sama sekali tidak mencurigai."
Mata Han Lie berbinar dan berkata: "Hati Siauhiap lebih luas dari siapapun, sejujurnya aku jarang bertemu dengan orang yang begini."
"Han Lopek terlalu memuji, aku hanya bersikap jujur terhadap siapapun!"
"Terima kasih Siauhiap mempercayai aku."
"Han Lopek, jangan sungkan-sungkan, aku percaya dan menghargai Han Lopek sebagai pendekar yang bertanggung jawab!"
"Siauhiap berkata begitu, aku jadi merasa malu!"
Mo Siu-cun dengan tersenyum berkata:
"Han Lopek tidak perlu malu, asal Lopek memberitahu dengan sejujurnya apa yang diketahui sudah cukup!"
Han Lie terdiam sesaat, lalu berkata: "Betul kata Siauhiap, sejujurnya aku sebagai Hu-hoat utama di Bu-eng-pang, kalau menyebut tidak tahu siapa ketua kelompoknya siapapun tidak akan percaya. Tetapi sebenarnya aku benar-benar berada di antara keduanya."
Mo Siu-cun kaget mendengar ini semua. Tiba-tiba seperti ada yang diresapi dan mengedipkan matanya lalu berkata:
"Apakah berada di antara mengetahui tetapi tidak bisa memastikan?"
Han Lie tersenyum dan menangguk: "Siauhiap hebat sekali, memang begitu adanya."
Mo Siu-cun termenung sebentar lalu bertanya: "Apa Lopek belum pernah melihat wajahnya?"
"Pernah!" Han Lie berkata, "Tapi aku berani memastikan yang aku lihat bukan wajah aslinya."
Alis lebar Mo Siu-cun berkerut lalu berkata: "Melihat keadaannya, ketua perkumpulan ini tentu seorang yang amat cerdik dan lihay!"
Han Lie terdiam tidak menjawab.
Mo Siu-cun berkedip mata besarnya dan bertanya:
"Bagaimana Lopek bisa diangkat menjadi kepala pelindung utama?"
Tiba-tiba Han Lie menghela napas, dengan pelan berkata:
"Tiga tahun yang silam, aku tiba-tiba dijebak oleh musuhku. Saat aku terluka parah sedang meregang nyawa, untung ada yang menolong kalau tidak aku sudah mati."
"Kalau begitu, untuk membalas budi pertolongan ini, Lopek baru mau menerima jabatan sebagai Hu-hoat utama
ini. Juga rela menanggung nyawa ratusan jiwa yang melayang!"
Han Lie mengangguk.
Mo Siu-cun terdiam berpikir, lalu berputar topik pembicaraan:
"Aku mau bertanya pada Lopek, dimana pusat perkumpulan anda?"
"Yan-san-Hek-houw-kok" (gunung Yen lembah macan hitam)," Dia berhenti sebentar, dia menatap dan bertanya, "Apakah Siauhiap mau kesana mencari dia?"
Mo Siu-cun menangguk:
"Aku mau mencari tahu siapa sebenarnya dia?"
Han Lie menggeleng kepala dan berkata:
"Tidak ada gunanya, sebab dalam sebulan juga jarang datang sekali ke pusat perkumpulan, kalau pun datang tidak pernah lama!"
"Kalau begitu tentu dia punya tempat tinggal yang lain!"
"Sepertinya begitu!"
"Apakah Lopek tahu?"
Han Lie menggeleng kepala berkata:
"Kalau aku tahu, tentu jelas siapa dia."
Alis Mo Siu-cun berkerut dan berkata:
"Kalau begitu, mau mencari tahu siapa dia tentu harus kebetulan bertemu di markas pusat, kalau tidak tentu tidak ada jalan lain!"
Han Lie mengangguk, dia mau menjawab lagi. Tiba-tiba muncul sebuah suara serak berkata: "Aku punya akal."
Mo Siu-cun dan Pui Se-cin semua terkejut! Memandang kearah tempat munculnya suara, terlihat dalam jarak 20 tombak jauhnya muncul seorang terpelajar setengah baya berbaju biru sedang melangkah datang dengan tenang.
Mo Siu-cun melihat dengan kaget dan gembira berkata:
"Kau!"
Orang itu tersenyum menangguk berkata:
"Kau tidak menyangka?"
"Adikmu betul-betul tidak terpikir."
Berhenti sejenak, mata besarnya berkedip bertanya:
"Kau punya akal apa?" orang itu memandangi Han Lie dan kawan-kawannya sejenak lalu berkata:
"Aku mau bertanya, orang dalam dunia persilatan yang kau kenal, siapa yang paling bisa memahamimu?"
"Yang ini..." Mo Siu-cun terdiam berpikir-pikir, matanya tiba-tiba melotot dan berkata, "Mungkinkah dia..."
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru buru-buru menggoyangkan tangan memotong perkataan berkata:
"Jangan disebutkan, asal kau tahu saja!"
Mo Siu-cun bukan orang bodoh, dia mengerti perkataan ini, mengerti maksud orang terpelajar setengah baya berbaju biru itu agar dia jangan menyebutkannya, supaya Han Lie dan 7 orang bertopeng itu tidak mengetahui rahasia ini.
Mo Siu-cun mengedip-ngedipkan mata besarnya dan berkata:
"Mungkinkah?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru bertanya:
"Kenapa tidak mungkin?"
Mo Siu-cun berkata:
"Bu-eng-pang berdiri 3 tahun lebih yang lalu, 3 tahun lebih yang lalu dia baru berumur berapa?"
Orang terpelajar setengah bayaberbaju biru dengan datar ketawa dan berkata:
"Bagus kata pepatah, 'Bercita-cita tidak melihat umur. Apalagi 3 tahun lebih yang lalu umurnya banding kau sekarang lebih tua setahun dua tahun!"
"Betul perkataanmu, tapi waktu itu ayahnya masih hidup, kelakuan ayahnya tidak jahat, termasuk orang lurus. Apa dia akan membiarkannya berbuat kejahatan?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru termenung sebentar berkata:
"Ini sulit dikatakan, mungkin ayahnya menyetujui, mungkin sama sekali tidak mengetahui, atau mungkin juga Pangcu aslinya adalah ayahnya."
Dia berhenti sejenak, matanya melirik Han Lie berkata lagi:
"Masalah ini tanyakan saja pada Han Lopek, nanti akan segera jelas."
Mo Siu-cun berkata:
"Menurut perkataan Han Lopek barusan, yang pernah dia lihat mungkin bukan wajah aslinya, dia sama sekali tidak tahu siapa dia. Mana mungkin bisa..."
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru dengan tersenyum meneruskan perkataan:
"Yang Tuan Han lihat mungkin bukan wajah aslinya. Tapi setahun belakangan ini Pangcu yang dia temui dengan yang dulu apa orang yang sama tentu bisa dibedakan."
Mo Siu-cun termenung lalu berbalik pada Han Lie bertanya:
"Han Lopek, aku mau dengar bagaimana pendapatmu?"
Han Lie mengangguk:
"Betul sekali. Pangcu 3 tahun yang lalu berbeda dengan Pangcu yang sekarang, mungkin benar mereka ayah dan anak"
Dengan bangga orang terpelajar setengah baya berbaju biru itu tersenyum dan berkata:
"Adik Cun, kalau begitu yang mendirikan Bu-eng-pang adalah yang tua. Setelah yang tua mati, yang muda otomatis menggantikannya. Han Lopek mendapat perintah dari dia, menyerang di malam hari, dialah yang penjahat utamanya!"
Mo Siu-cun diam, setelah berpikir-pikir lalu berkata:
"Tetapi..ani baru dugaan belum terbukti."
'Tentu," Orang terpelajar setengah baya berbaju biru tersenyum, sambil mengangguk berkata, "Apa yang dikatakan Tuan Han dan dugaanku cocok. Mungkin hanya kebetulan, tapi ini sebuah petunjuk. Asal bisa menelusuri jalur ini untuk memeriksa aku jamin pasti berhasil!"
"Kau merasa ada berapa persen kemungkinannya?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru berkata:
"Tujuh puluh persen."
"Apa dasarnya?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru berkata dengan tersenyum:
"Dugaan dan perasaanku."
Mo Siu-cun menggeleng kepala berkata:
"Ini tidak betul."
"Kenapa tidak betul?"
"Semua tidak cocok dengan kebiasaanmu sehan hari. Kau bukan orang yang biasa mengandalkan kepandaian, berkata tujuh persen persen kemungkinannya aku tahu pasti kau telah menemukan sesuatu."
Mo Siu-cun berhenti sejenak, kemudian menatap lalu berkata:
"Katakan padaku apa yang kau temukan “
"Hebat adik Cun." Orang terpelajar setengah baya berbaju biru tertawa, berkata, "Setengah bulan yang lalu, aku pernah sekali kemari, aku bertemu dengan 3 orang. ketiga orang ini yang paling muda Majikan muda Begitu saja."
"Majikan muda itu apakah dia?” kata Mo Sio cun
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru berkata.
"Muka ketiga orang itu di tutup kain hitam. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Kalau tidak aku tidak akan berkata kemungkinannya 70 %”
Mata Mo Sio cun berkedip-kedip lalu berkata.
"Kalau begitu, bagaimana kau bisa menduga mungkin itu dirinya?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru tertawa berkata:
"Sebab aku mengenal salah satu di antara 2 orang itu, biar mereka bertopeng kain hitam, bentuk tubuh dan logat bicara aku hafal sekali."
Mo Siu-cun termenung, lalu berkata:
"Kau tahu darimana, dia adalah Pangcu dari Bu-eng-pang?"
"Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Tuan Han, baru aku tahu. Sebab dia pernah menyinggung nama Tuan Han dan memuji Hu-hoatnya melakukan pekerjaan ini dengan bersih!"
Mo Siu-cun diam sesaat, lalu berkata:
"Kalau begitu, memang ada kemungkinan dia itu Pangcu dari Bu-eng-pang."
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru dengan tersenyum berkata:
"Sekarang kau sudah mempunyai petunjuk, soal lainnya semua ini menjadi bagianmu!"
"Semua menjadi bagianku."
Mata Mo Siu-cun menatap lalu berkata:
"Apa kau ingin berpangku tangan tidak mau membantu?"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru berkata: "Kau jauh lebih hebat dari padaku, buat apa aku membantumu lagi? Dan lagi kalau aku membantu juga belum tentu berguna!"
Mo Siu-cun dengan tenang menggeleng kepala: "Tidak bisa, urusan ini kau tidak boleh enak-enakan, kau harus mau membantu!"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru itu alisnya berkerut dan berkata:
"Adik Cun, kau kenapa memaksa aku, aku tidak mau membunuh orang!"
"Siapa menyuruhmu membunuh orang?"
"Kau mengharuskan aku membantu, tentu menyuruhku membunuh orang."
"Kau harus maklum, aku tidak mau kau jadi pemalas, tapi aku tidak akan menyuruhmu membunuh orang!"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru tertawa:
"Kalau tidak membunuh orang, aku mau menerima perintahmu. Kau mau menyuruh aku bekerja apa?"
Mo Siu-cun dengan datar berkata: "Aku harap kau pergi menyelidiki dia, dan mencari bukti!"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru bertanya:
"Mencari bukti apa?"
"Membuktikan apa dia betul Pangcu dan Bu-eng- pang!"
Orang terpelajar setengah baya berbaju biru termenung, lalu berkata:
"Baiklah, aku menurut perintah." Perkataannya terhenti, tiba-tiba dia menghela napas lalu berkata, "Kalau tahu bakal begini jadinya, seharusnya aku tidak muncul, menambah kerepotan saja. Benar saja kata orang, "Sengketa didapat karena banyak bicara. Kepusingan didapat karena lebih unggul!"
Mo Siu-cun tertawa datar, dan berkala
"Sudahlah, jangan ngomong yang tidak berguna, sekarang kau boleh pergi!"
Orang terpelajar setengah baya b«#ilja|u bini tidak bicara apa-apa lagi, dia bersoja p.ula l'ui 'n-, m J.m Song Bun-po berdua, lalu tubuh meli-pt ti'tb.mg, sekelebat menghilang di malam yang gelap
Han Lie dan teman teman berfikir dalam hati.
"Siapakah orang ini? Hebat sekali ilmu meringankan tubuhnya..."
Ketika sedang melamun, Mo Siu-cun telah memandang 7 org bertopeng yang diam berdiri disamping-nya dan bertanya:
"Kalian 7 orang apa mau menurut perintahku?"
Tujuh orang bertopeng ini tidak menjawab, mereka saling berpandangan, lalu bersama-sama melihat Han Lie. Tampak jelas mereka minta petunjuk Han Lie.
Dengan suara batuk-batuk Han Lie bertanya: "Siauhiap mau mengatur bagaimana mereka?"
Mo Siu-cun berkata:
"Aku mau mereka tidak membocorkan peristiwa disini sementara waktu, aku jamin juga tidak mempersulit mereka."
"Apa sebabnya?" Tanya Han Lie. "Han Lopek orang pintar, tentu mengerti aku tidak mau semua pembicaraan kita malam ini bocor sampai ke telinga Pangcu kalian."
Han Lie mengangguk dan berkata: "Aku sudah mengerti maksud Siauhiap, tetapi Siauhiap tenang saja, mereka semua orang kepercayaanku"
Dengan senyum Mo Siu-cun berkata: "Bagus, kata pepatah, 'kenal orang kenal muka tidak kenal hati.' Memang mereka semua orang kepercayaan Tuan Han, demi menjaga segala sesuatunya, aku berharap mereka
mendengar perintahku, tinggal selama beberapa waktu di tempat lain."
"Apakah aku juga ikut?" Tanya Han Lie
Mo Siu-cun menggeleng kepala lalu berkata: "Tidak, aku ada tugas lain untuk Han Lopek." Han Lie merasa sedikit bimbang, dia berputar pada mereka 7 orang anak buahnya bertanya: "Bagaimana pendapat kalian?"
Dari 7 orang yang berbadan tinggi kurus bertopeng itu berkata:
"Kami semua patuh perintah Han Hu-hoat."
Artinya perkataannya mereka menerima pengaturan Han Lie. Mempersilahkan Han Lie yang mengambil keputusan menurut atau tidak pada Mo Siu-cun.
Han Lie mengangguk memandang Mo Siu-cun bertanya:
"Siauhiap pasti tidak akan mempersulit mereka bukan?"
Dengan tegas Mo Siu-cun berkata: "Han Lopek tenang saja. Kalau mereka mendapat cedera sedikit saja, Lopek boleh mencari aku." Mata Han Lie berkedip:
"Sementara Siauhiap mau mengatur mereka tinggal dimana?"
Mo Siu-cun berpikir sebentar lalu menjawab: "Vihara Leng-in."
Mata Han Lie tiba-tiba bersinar aneh:
"Menurut apa yang aku tahu, rahib-rahib vihara Leng-in semua berilmu tinggi. Tiap orang memiliki kepandaian yang luar biasa. Tetapi mereka selalu tidak berhubungan dengan orang dunia persilatan. Juga tidak ikut campur masalah dunia persilatan..."
Mo Siu-cun dengan tersenyum menyambung: "Memang begitu kenyataannya, tetapi itu hanya bagi orang persilatan biasa, pengurus Pe-kuo laysu itu memanggil aku adik seperguruan!"
Hati Han Lie tidak tertahan bergetar! Lalu berkata: "Pantas aku tidak bisa melawan Siauhiap. Ternyata Siauhiap anak didik vihara Leng-in."
Perkataannya berhenti pembicaraan berobah: "Kalau Siauhiap membutuhkan tenagaku katakan saja."
"Aku minta Han Lopek kembali dulu ke pusat perkumpulan."
Han Lie tercengang dan berkata: "Ini..."
"Han Lopek tidak mau pulang ke sana lagi?" Han Lie menggeleng kepala berkata: "Sekarang aku sudah menjadi penghianat Bu-eng-pang, tidak enak untuk kembali."
Mo Siu-cun bertanya dengan tersenyum: "Kenapa Lopek menyebut dirimu sebagai pengkhianat Bu-eng-pang?"
"Semua kata-kata yang telah aku berikan pada Siauhiap, itu sudah cukup dianggap sebagai penghianat."
Mo Siu-cun mengedipkan matanya lalu berkata: "Aku mau tanya, Han Lopek sudah memberi tahu apa saja padaku?"
Han Lie tersentak lagi! Dia berpikir, 'Aku telah memberi tahu apa?...'
Dia terbengong, lalu mengelengkan kepala dan berkata:
"Memang aku belum memberi tahu apa-apa pada Siauhiap, tapi aku sudah merasa malu untuk pulang."
Mo Siu-cun menatap dan bertanya: "Mengapa?"
"Sebab aku sudah gagal bekerja. Dan keadaan diriku sudah terbuka."
Mo Siu-cun tersenyum bertanya: "Apa Han Lopek tahu, apa sebabnya aku minta Lopek untuk pulang?"
"Aku tidak tahu." dia menatap dan bertanya, "Siauhiap ingin aku pulang untuk membantu anda memeriksa..."
Belum selesai berkata, Mo Siu-cun sudah geleng-geleng kepala dan memotong perkataan:
"Lo-pek salah duga, aku minta Lo-pek pulang bukan untuk membantu aku apa-apa, tetapi untuk Han Lopek."
Dengan aneh Han Lie bertanya: "Demi aku sendiri?"
"Hm!" mata Mo Siu-cun berkedip-kedip. Lalu bertanya, "Apakah Lo-pek tahu, 3 tahun silam musuh yang menjebakmu itu siapa?"
Han Lie menggeleng kepala dan berkata:
"Aku tidak tahu."
"Masa Lo-pek tidak pernah terpikir kemungkinan siapa yang berbuat? Juga tidak pernah memeriksa?"
Han Lie berkata:
"Aku pernah berpikir, juga pernah memeriksa. Tapi hanya menghabiskan tenaga saja."
Mo Siu-cun menatap dan berkata:
"Dugaanku orang yang menjebak Tuan Han adalah salah seorang anggota dari Bu-eng-pang!"
Han Lie tercengang lalu berkata:
"Mungkinkah?"
"Mungkin saja, dan lagi aku masih menduga orang yang menjebak Lo-pek itu tidak ada permusuhan apa-apa denganmu!"
Han Lie tercengang lagi dan berkata: "Tidak ada permusuhan?" Mo Siu-cun mengangguk dan berkata: "Kalau tidak salah dugaanku, orang itu menjebak Lopek sama seperti ketika Lo-pek membawa qrang malam-malam menyerang Sian-sia-cu-cia."
Sepasang mata Han Lie terdiam, lalu berkata: "Maksud Siauhiap penyerangan itu juga atas perintah orang?"
Mo Siu-cun mengangguk: "Tuan Han percaya tidak?"
"Aku tidak percaya." Han Lie menggeleng-geleng kepala dan bertanya, "Mengapa Siauhiap bisa berpikir begitu?"
Mo Siu-cun dengan tenang berkata:
"Persoalan itu mendadak timbul dalam pikiranku, juga berdasarkan cerita Lo-pek yang mengatakan kebetulan ditolong oleh Pangcu anda."
Han Lie bukan orang bodoh, begitu diingatkan oleh Mo Siu-cun, hatinya agak mengerti. Dengan mendesah dia berkata:
"Maksud Siauhiap, ini adalah sebuah siasat yang diatur oleh Pangcu kami?"
"Benar atau bukan harus Han Lo-pek sendiri yang pergi mencari tahu dan meneliti dengan seksama."
"Jadi itu sebabnya Siauhiap minta aku pulang ke pusat perkumpulan?"
Mo Siu-cun bertanya: ,
"Apakah sekarang Lo-pek bersedia pulang?"
Han Lie diam sebentar lalu bertanya.
"Mungkin Siauhiap masih punya maksud lain lagi?"
"Hebat Han Lo-pek" Mo Siu-cun mengangguk, dengan tersenyum berkata:
"Betul, aku memang mempunyai maksud lain. Tetapi itu harus menunggu hasil Lo-pek dulu."
"Setelah selesai lalu mau diapakan?"
Dengan tenang Mo Siu-cun berkata: "Harus bagaimana tidak perlu aku yang mengatur, aku percaya Tuan Han bisa mengatur sendiri. Betul tidak?"
Mata Han Lie menatap dan berkata: "Kalau ternyata bukan bagaimana?"
Mo Siu-cun tertawa dan berkata: "Kalau salah, Han Lo-pek tetap menjabat sebagai kepala pelindung utama Bu-eng-pang!"
Sepasang mata Han Lie berkedip-kedip lalu berkata:
"Mendengar perkataan Siauhiap terhadap masalah ini tampaknya sangat yakin. Apakah betul?"
Mo Siu-cun menggeleng-geleng kepala berkata:
"Jujur saja, itu hanya berdasarkan pemikiran seketika dan dugaan, sama sekali tidak ada pegangan." Berhenti sebentar dia berkata lagi, "Sekarang semua sudah jelas. Lo-pek boleh berangkat, masalah mereka bertujuh, paling lama tidak lebih dari 1 bulan aku menjamin mereka tidak akan kurang sesuatu apa dan dapat lagi bertemu dengan Han Lo-pek."
Han Lie terdiam sebentar, akhirnya memberi salam dengan bersoja, dam mengucapkan sampai ketemu lagi, tubuhnya melesat terbang dan pergi.
0-0-0
Memandang bayangan tubuh Han Lie yang terbang melesat dan menjauh, lenyap dalam kegelapan malam. Setelah itu Mo Siu-cun baru berputar, wajahnya memandang Pui Se-cin dan berkata:
"Toako, adikmu mengatur begini, apa kau tidak marah?"
Pui Se-cin menggelengkan kepala dan berkata: "Tidak, kau mengatur begini pasti ada maksud tertentu."
Dia berhenti sesaat, mengedipkan mata dan bertanya:
"Adik Cun, orang terpelajar setengah baya berbaju biru itu tadi siapa?"
Mo Siu-cun berkata:
"Dia she Jin bernama Ci-ciauw. Dia satu-satunya anak didik vihara Leng-in yang tetap seperti orang biasa tidak menjadi hweesio."
"Dia anak didik Pek-kuo Taysu?"
Mo Siu-cun menggeleng-gelengkan kepala lalu menjawab:
"Bukan, dia anak didik ketua vihara almarhum Han-hoat Taysu."
Pui Se-cin terdiam sesaat bertanya lagi: "Sebenarnya siapa Pangcu Bu-eng-pang yang dia dan kau katakan itu?"
Mo Siu-cun termenung sebentar dan berkata: "Siauya pemilik gerbang Su-bun di Yan-pak." Berhenti sejenak, dia menatap dan bertanya: "Pui Toako bertanya begini apa mau ke Yan-pak melihat-lihat?"
Pui Se-cin mengangguk dan berkata: "Aku mau melihat-lihat ke sana, juga mau membunuh penjahat utamanya dengan tangan ku sendiri. Utang darah bayar darah!"
Mo Siu-cun menggeleng-gelengkan kepala berkata: "Aku menganjurkan Toako tidak perlu kesana. Menurut adat Jin Suheng, kalau pergi kali ini bisa membuktikan dia itu betul Pangcu dari Bu-eng-pang, kalau juga tidak dibunuh dia paling sedikit juga harus dimusnahkan seluruh ilmu silatnya!"
Kedua alis Pui Se-cin dikerutkan lalu berkata: "Adik Cun kalau aku tidak membunuh dia dengan tanganku sendiri, dan membalaskan dendam kakak iparmu, aku merasa malu pada arwah kakak iparmu di alam sana. Juga malu pada arwah ratusan jiwa yang tidak berdosa!" Mo Siu-cun menangguk dan berkata: "Perkataan Pui Toako memang betul. Utang darah memang harus dibayar darah. Tapi yang sudah meninggal ya sudah. Kalaupun Toako ingin membunuh dengan tangan sendiri, ada faedah apa bagi yang sudah meninggal? Yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Untuk apa demi "balas dendam" Toako harus mengotori tangan sendiri dengan darah?"
Berhenti sebentar, dia berkata lagi:
"Pui Toako tenang saja. Jin Suheng kali ini kesana kalau sampai tidak membunuh dia, nanti juga ada orang lain yang membunuhnya. Dia tidak bisa lolos."
Pui Se-cin kaget dan bertanya:
"Siapa yang akan memburuh dia?"
Dengan datar Mo Siu-cun berkata:
"Han Lie."
Mata Pui Se-cin terdiam, lalu berkata:
"Menurut pendapatmu, Han Lie pasti akan membunuh dia?"
"Aku rasa kemungkinannya besar."
Perkataannya berhenti sebentar lalu diteruskan lagi:
"Aku rasa Pui Toako harus mulai membangun kembali Sian-sia-cu-cia. Aku akan meminta Song Tayhiap tinggal disini membantumu. Sampai jumpa lagi."
Perkataannya berhenti sebentar, dia berbalik menuju 7 org yang bertopeng, dia menangkat tangan mengayunkannya dan berkata:
"Kalian bertujuh, mari ikut aku pergi."
Ketujuh orang bertopeng itu tidak berkata-kata, mereka mengangkat kaki pelan-pelan mengikuti, keluar perkampungan.
Pui Se-cin segera menanya: "Adik Cun, kapan kau balik kesini lagi?"
Mo Siu-cun berpikir sebentar menjawab: "Setelah mengantar mereka bertujuh, ke vihara Leng-in aku akan pulang dulu ke rumah. Paling lama tidak lebih dari 1 bulan, aku pasti kembali lagi kemari untuk berkumpul dengan Toako. Tetapi aku berharap sampai waktunya nanti yang aku lihat sudah bukan perkampungan Sian-sia-cu-cia yang berantakan seperti sekarang lagi!"
0-0-0
27 hari kemudian.
Mo Siu-cun kembali lagi ke perkampungan Sian-shia yang belum selesai dibangun kembali. Kebetulan sekali setelah Mo Siu-cun tiba, tidak lama kemudian orang terpelajar setengah baya berbaju biru Jin Ci-ciauw dan Han Lie berturut-turut juga datang kembali di perkampungan Sian-shia.
Semua permasalahan seperti yang diduga oleh Mo Siu-cun, perjalanan Jin Ci-ciauw mendapatkan bukti bahwa
Siauya pemilik gerbang Su-bun itu betul Pangcu dari Bu-eng-pang, jadi dia hanya memusnahkan semua ilmu silat yang dimilikinya, tidak sampai membunuhnya. Orang yang membunuh dia ternyata memang Han Lie.
Han Lie telah menyelidiki kembali semua bukti-bukti dengan teliti. Akhirnya sadar 3 tahun silam orang yang menjebak dia betul Siauya pemilik gerbang dan 2 orang yang berilmu silat tinggi.
Ular tidak bisa merayap tanpa kepala. Akhirnya Bu-eng-pang pun runtuh.
Kebanyakan pengikut Bu-eng-pang kembali lagi ke dunia persilatan. Sebagian kecil dipimpin oleh Han Lie masuk ke perkampungan Sian-shia. Menjadi salah satu anggota Sian-sia-cu-cia. Juga menjadi tenaga inti pembela keadilan dan kebenaran di dunia persilatan.
Habis
Bandung, 18 Juni 2008
Salam Hormat
(SeeYanTjinDjin)
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil