Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 08 Mei 2017

Cersil Pendek Banget Tongkat Setan

Cersil Pendek Banget Tongkat Setan Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Pendek Banget Tongkat Setan
kumpulan cerita silat cersil online

TONGKAT SETAN
(Lam Hay Djie Tee)
Dituturkan oleh :
SENG KIE-SU
KIDJANG
Kata Pendahuluan
Setiap wanita jang ditjintai, sudah pasti akan
menemui adjalnja!
Setiap lelaki jang berani menentang kemauannja,
sudah pasti akan meninggal dengan setjara mengerikan
sekali!
Dikalangan Kang-ouw sudah terkenal djulukan si
Tongkat Setan, jang selalu membawa kesialan bagi wanita
maupun pria.
Tidak ada seorangpun diantara djago2 ternama didalam
dunia persilatan jang berani mengusik atau menentang
kemauannja si Tongkat Setan!
Semua takut.....semua djeri akan keliehayannja.
Tapi, meskipun demikian, setiap wanita jang melihat
si Tongkat Setan pasti akan djatuh hati dan sedikitdikitnja
mereka rela untuk mati demi kebaikan dan
keberuntungan si Tongkat Setan!
Siapakah si Tongkat Setan jang menggemparkan itu?
Entahlah!
Siapakah orangnja?
Tidak ada jang mengetahuinja!
Semua gelap, segelap kabut diwaktu malam.
Kedjadian terus djuga terulang dengan tidak dapat
ditjegah atau di halangi!....
I
Berdendang dan bergembira di Han-yang.
Harum bunga tersiar berlaksa lie,
Bo-tan dan Kioe-hoa berlomba ketjantikan,
Namun sang rase lari sedjauh tiga elo.
Sungai Tiang-kang mengalir deras.
Hati si anak muda gundah-gulana,
Sang dewi hati menari dihadapan mata.
Namun achirnja lari sedjauh tiga elo.
Desa, kota atau pun kampung,
Semua terbajang dihadapan mata,
Siapa dia? Siapa aku?!!
Entahlah!!
Tidak ada jang mengetahui!
Kita berlari sedjauh tiga elo.
Sang angin sajup2 membawa suara njanjian jang saju
dan menarik perhatian.
Halus tetapi terang suara njanjian itu, tarikannja
bagaikan tarikan penasaran, namun berirama riang. Kata2
njanjian itu menjatakan kedukaan dan keriangan mendjadi
satu.
Itulah digunung Kong-san, dipropinsi Ho-lam, dimana
tampak seorang To-djin sedang menunggangi seekor kuda
hitam kurus jang berlari mentjongklang dengan perlahan.
To-djin itu berusia diantara 40-41 tahun,
diwadjahnja tampak sinar kesedihan. Ia mengenakan
pakaian To-soe jang berwarna merah djambu dan pada tumit
sepatunja tampak lukisan seekor naga jang sedang
mementangkan mulut menjemburkan api. Rambutnja jang
digelung keatas dan ditusuk oleh Kioe-tjiam (Tusukankonde-
todjin) berbentuk segi delapan.
Tjelananja jang berwarna abu-abu muda terbikin dari
bahan kain jang sederhana. Sikap To-djin ini agung tapi
matanja mempunjai suatu sinar jang gandjil.
Tampaknja si orang beribadat sedang menantikan
sesuatu. Lama djuga To-djin ini berdiam digunung Kongsan,
hingga sampai petang hari.
Kian lama To-djin ini kian gelisah dan lebih2 ketika
dikedjauhan terdengar suara raungan jang menjajatkan
pendengaran. Air mukanja mendjadi putjat.
"Ah, dia datang!" berbisik hatinja.
Kudanja ia tambat disebuah pohon, lalu ia merapikan
pakaiannja. Dengan pandangan tadjam ia memandang kearah
utara, dimana asal suara raungan tadi datang.
Kembali diudara menggetar suatu raungan jang
memekakkan telinga.
Muka si orang beribadat kembali berubah, sedangkan
djantungnja memukul kian keras.
Dari djurusan utara, dimana pohon2 besar mendjulang
tinggi, tampak mendatangi seorang laki-laki jang
wadjahnja seperti muka singa. Orang asing jang baru
datang ini memakai badju gedembrangan dan sepatu butut
jang terbuka udjungnja.
Rupa orang itu sangat menjeramkan, lebih2 rambutnja
jang riap-riap mendjuntai kebawah menutupi separoh
wadjahnja, sehingga bagaikan memedi.
"Aha, rupanja kau menepati djandji!” berseru orang
jang menjeramkan itu. "Sungguh dapat dipertjaja, sungguh
dapat dipertjaja!!"
Si To-djin memberi hormat, ia membungkukkan
tubuhnja.
"Aku jang rendah Hang Tjioe Tjin-djin dari Boe-tong
Pay entah telah mempunjai kesalahan apa terhadap
dirimu?"
"Tidak, kau tidak mempunjai kesalahan apapun
terhadap diriku si Hitam dari Kun-lun. Tapi kau
mempunjai suatu kesalahan besar terhadap diri Tongkat
Setan! Pada tiga tahun jang lampau kau pernah melakukan
suatu perbuatan jang menjinggung diri si Tongkat Setan.
Ingat2lah!" Sehabis berkata demikian, orang jang
menjeramkan itu tertawa terbahak-bahak.
Air muka Hang Tjioe Tjin-djin berubah mendjadi
putjat. Hatinja memukul keras.
Memang pada tiga tahun jang lampau ia pernah
membitjarakan perihal Tongkat Setan dengan saudara
seperguruannja, ia mengatakan bahwa nama Tongkat Setan
hanjalah nama kosong belaka.
Tadi malam ketika ia menginap disebuah penginapan
didusun Kong-tjhung, tiba-tiba ia mendapat undangan
tantangan untuk datang kegunung Kong-san, jang berdiri
megah dibelakang dusun Kong-tjhung itu.
Dibawah surat tantangan itu terlukis sebuah gambar
tengkorak dan disamping surat itu terdapat sebuah
tongkat ketjil.
Sekarang ternjata Tongkat Setan hendak mentjari
perkara dengan dirinja!
"Tapi aku jang rendah belum pernah menjentuh atau
saling mengenal dengan Tongkat Setan, maka heranlah
djika mengatakan bahwa diantara kami berdua terdjadi
suatu permusuhan."
"Jang penting sekarang bukan sangkalan darimu!"
bentak si orang bermuka memedi dengan aseran. "Aku
diperintah oleh Tongkat Setan untuk melenjapkan dirimu.
Habis perkara!"
Air muka Hang Tjioe Tjin-djin berubah pula.
Tangannja bergerak menjambar pedang jang berada
dipinggangnja.
Melihat ini, si orang bermuka memedi tertawa dingin.
"Tjabutlah sendjatamu itu, nanti aku lajani dengan
kedua tanganku ini!"
Melihat orang susah untuk diadjak berunding, Hang
Tjioe Tjin-djin benar-benar menjabut pedangnja. Ia
memang diperguruan Boe-tong terkenal akan keliehayan
ilmu pedang Boe-tong Kiam-hoatnja, maka meskipun orang
jang berada dihadapannja ini sangat menjeramkan, tapi ia
merasa pasti bahwa ia akan dapat mengalahkan. Ia pasti
menang!
"Tongkat Setan sudah mempertjajai suatu tugas
kepadaku untuk membunuh dirimu. To-djin tua bangka! Maka
dengan sangat menjesal harus kulaksanakan tugas itu!"
"Persilahkan!!" menjahut Hang Tjioe Tjin-djin
tersenjum. Hatinja pertjaja akan keliehayan ilmu
pedangnja, namun tetap sadja djantungnja memukul dengan
keras. "Tjabutlah sendjatamu!!" ia berteriak parau.
"Ho-ho! Aku tidak memerlukan sendjata. Djagalah dan
hati-hati."
Berbareng dengan habisnja suara, tubuh orang jang
menjeramkan itu melambung keatas. Tangannja menjambret
batok kepala Hang Tjioe Tjin-djin dengan kelima djari
tangannja jang keras bagaikan tjeker besi!
Itulah "Ie San To Hay" atau "Memindahkan-gununguntuk-
menguruk-lautan " dari partai Siauw-lim-sie!
Hang Tjioe Tjin-djin menggeserkan kaki kanannja dan
lekas-lekas mengeluarkan bentakan njaring.
Tubuh To-djin ini melambung keatas pula melampaui si
orang jang bermuka memedi jang mengaku sebagai si orang
Hitam dari Kun-lun. Lompatan itu disertai dengan babatan
pedang dengan djurus Houw-Yauw Peng atau Harimau-mauberlompat-
ditandjakan-datar!
Tapi orang bermuka memedi itu sungguh berani, sebat
sekali gerakannja. Sambil mundur sedikit, ia menjampok
kebelakang dengan udjung djubahnja, sehingga pedang Todjin
itu mental.
Pertempuran ini seru sekali. Si To-djin gesit, maka
dari itu dengan bcrsendjata pedang ditangannja, ia
bergerak leluasa. Berlainan dengan orang bermuka memedi
itu, ia bergerak dengan sebat dan bertenaga. Setiap
pukulannja berarti maut mengintjer!
Lama-kelamaan rupanja orang memedi itu, si Hitam
dari Kun-lun, mendjadi tidak sabaran.
"Sreeet!" Ia mentjabut sebuah seruling! Dengan
bersendjatakan seruling itu, Si Hitam dari Kun-lun
bagaikan tumbuh sepasang sajap, ia mendesak selagi
pedang lawan menikam, ia menjabet dengan seruling sambil
menotok!
Heranlah Hang Tjioe Tjin-djin, karena ia tidak kenal
si orang bermuka memedi jang ternjata ilmu silatnja
liehay, tanpa ajal lagi ia keluarkan ilmu silat pedang
Boe-tong Kiam-hoat untuk mendesak dengan tiga puluh enam
djurusnja.
Setiap diserang, Hang Tjoe djin berkelit, sehingga
tampak njata sekali bahwa To-djin ini sangat terdesak.
Satu kali orang bermuka memedi menjerang, udjung
pedang Hang Tjioe Tjin-djin jang sedang menjambar tidak
diperdulikan. serulingnja disabetkan dengan gaja menotok
kearah tenggorokan.
Hang Tjioe Tjin-djin terkesiap, lekas2 menarik
pulang pedangnja dan berkelit, habis berkelit, ia balas
menikam dengan tipu silatnja "Kim-Tjie Tiauw-Liang" atau
"Tikus-emas-lompat-dipenglari."
Demikianlah kedua orang ini bertempur terus dengan
hebatnja. Tapi lama-kelamaan terlihat Hang Tjioe Tjindjin
terdesak dan djatuh dibawah angin.
Suatu ketika, waktu si muka memedi berkelit, ia
melompat djauh sambil membalikkan tubuhnja. Baru memutar
tubuh atau ia merasakan hawa dingin menjambar. Seperti
ada benda jang mengenakan bebokongnja, hingga ia
mendjadi terperandjat.
"Eh, kau hendak lari?" terdengar suara dingin
dibelakangnja, suara mana diiringi dengan tertawa
mengedjejek. Ia mendjadi putjat sekali, sebab ia kenali
suara itu ialah suara Si orang bermuka memedi lawannja,
jang entah kapan lompat menjusulnja, tahu2 sudah ada
dibelakngnja, mengantjam ia dengan udjuug seruling.
Dalam keadaan kaget itu, ia tjepat2 berkelit, terus
berlompat kedepan, menjingkir dari antjaman. Akan tetapi
diluar dugaannja, si orang bermuka memedi terus
membajanginja dengan seruling jang menempel
dibebokongnja......
Karena ini, Hang Tjioe Tjin-Djin mendjadi nekat.
Dengan berseru pandjang, ia membalikkan tubuhnja sambil
menjabetkan pedangnja.
Tapi..... "Taaakk!!" kepalanja terhadjar terlebih
dahulu oleh seruling si Hitam dari Kun-lun, sehingga ia
rebah ketanah dengan tidak bernjawa.
Seorang To-djin Boe-tong telah mati ditangan utusan
si Tongkat Setan!!
Melihat lawannja sudah tidak bernjawa, si Hitam dari
Kun-lun tertawa bcrgelak-gelak.
"Tongkat Setan, Tongkat Setan, Ha-ha-ha! Ha-ha-ha!
Ha-ha-ha!!!"
Setelah mentjoret-tjoret tanah pegunungan, tubuh
memedi jang menjeramkan itu berkelebat pergi sambil
memperdengarkan raungannja jang menjeramkan.
Badan Hang Tjioe Djin menggeletak tak bernjawa.
Seorang tokoh Boe-tong Pay meninggal setjara mengenaskan
dipegunungan Kong-san dibawah tangan utusan Tongkat
Setan...
Tongkat Setan.......... Tongkat Setan!!!
Dunia Kang-ouw gempar oleh terbunuhnja Hang Tjioe
Tjing-djin, paman gurunja Tjiang-bun-djin Boe-tong Pay!
Didunia persilatan muntjul Tongkat Setan jang akan
membuat badai dan topan gelombang jang menjeramkan.
Setiap orang membitjarakan si Tongkat Setan jang
sangat telengas.
***
Saat itu disebuah Boe-koan dikota Jang-kie-boen, ada
seorang guru silat she Lam bernama Kie. Ia adalah
seorang tua jang berbudi halus dan sangat dermawan.
Setiap murid2nja diadjarkan ilmu silat berdasarkan
perguruan Siauw-lim-sie. Namun ada satu tjatjad pada
dirinja Lam Kie. Ia sering memperbintjangkan tentang
urusan orang lain.
Pada hari itu, ia sedang mengawasi muridnja melatih
diri, ketika tahu2 disisinja berdiri seorang anak muda
jang tampan dan bertubuh tegap. Anak muda ini berpakaian
sebagai seorang sastrawan.
Hal ini membuat Lam Kie tak senang hatinja.
"Kong-tjoe, siapakah namamu?"
"Ha, aku datang, aku pergi, itulah sekehendak
sepasang kakiku," menjahuti si anak muda jang berdandan
sebagai peladjar itu.
Mendengar djawaban orang jang ugal2an, Lam Kie
sedikit mendongkol, ia sebagai seorang guru silat dikota
Jang-kie-boen, dihormati dan disegani, tapi sekarang ada
seorang anak muda jang berani berlaku kurang adjar
dihadapan dirirya.
"Kalau Kong-tjoe tidak ada urusan, harap lekas2
meninggalkan Boen-koan!" udjar Lam Kie. "Anak2 sedang
berlatih dengan sendjata tadjam, maka kalau sampai
terlepas atau sendjata njasar, membuat Lo-hoe tidak enak
hati terhadapmu."
Anak muda itu tidak menjahut, dengan tenang ia
mengawasi kearah anak2 murid-guru silat she Lam itu.
"Kong-tjoe, aku harap kau meninggalkan Boe-koan!"
Anak muda itu membalikan mukanja dengan sinar mata
jang tadjam bagai tjahaja kilat, ia memandang ke-arah
guru silat tua she Lam itu.
"Aku sudah mengatakan tadi bahwa aku tidak dapat
diperintahkan oleh siapapun. Djangan kata baru kau
seorang guru silat tua jang tidak ternama, sedangkan
Tongkat Setan pun tidak dapat memerintah diriku!!"
Mendengar disebutnja Tongkat Setan, air muka Lam Kie
sekonjong-konjong berubah putjat.
"Kong-tjoe, aku harap dengan sangat supaja kau
meninggalkan ruangan Boe-koan sebelum aku menggunakan
kekerasan."
"Aha, kau hendak menggunakan kekerasan? Bagus,
apakah kau ingat kedjadian empat tahun jang lalu, ketika
mana kau pernah mendamprat seorang anak muda jang sedang
melihat kau berlatih?!"
Air muka Lam Kie berubah kembali, mendjadi lebih
putjat.
"Siapa kau?!"
"Aku tanja kau, apakah kau masih ingat akan anak
muda itu?!"
"Kong-tjoe, sebetulnja kau siapakah?!**
"Tentang diriku dapat diurus nanti belakangan. Tapi
jang penting sekarang aku hendak menanja kepadamu,
apakah kau masih ingat kedjadian empat tahun jang lalu
itu?"
"Keluarlah sebelum kuperintahkan anak muridku untuk
melempar dirimu keluar dari Boe-koan ini!"
"Hahaaa! Boleh kau tjoba-tjoba sendiri."
Berbareng dengan perkataan ini, si anak muda
mentjabut sebatang tongkat pendek jang berkepalakan
seekor naga jang sedang menganga mementangkan mulutnja.
Melihat ini, air muka Lam Kie jang sudah putjat kian
putih sadja.
"Tongkat Setan!!"
"Benar, sedikitpun tidak salah!"
"Kau.........kau.......!"
"Hari ini adalah hari kematianmu!"
Lam Kie mendjerit bagaikan orang gila. Hatinja
sangat takut dan gugup sehingga ia tidak tahu apa jang
harus diperbuat. Pada saat itu murid2-nja telah
berkumpul menjaksikan gurunja berteriak-teriak bagaikan
gila.
Tapi achirnja Lam Kie rupanja dapat menenangkan
pikirannja. Ia mentjabut pedang jang menggelantung
dipinggangnja dan dengan mata mentjorong penuh
kebentjian ia menjerang.
Terdengar suatu djeritan jang menjajatkan.
Tubuh Lam Kie tersungkur keubin dengan kepala
hantjur terhadjar oleh tongkat ketjil jang berada
ditangan si anak muda.
Murid2 dari guru silat she Lam ini berteriak dan
serempak mengurung ketika mereka melihat guru mereka
binasa ditangan anak muda jang tak dikenal.
Dengan mengeluarkan satu siulan njaring tapi halus,
si anak muda mentjelat keatas genteng untuk lantas
menghilang1
Tongkat Setan telah meminta korban njawa pula!!
Dunia persilatan kian gempar sadja. Muntjulnja
Tongkat Setan bagaikan Setan memedi jang sangat
menjeramkan bagi orang2 gagah didunia persilatan!!
Badai dan gelombang kian mengamuk dengan santer, dan
sang lakon masih berdjajan terus...
—o—
DI HEK HOUW NIA, atau Bukit Matjan Hitam.....
Dibawah teriknja sinar matahari tampak berdjalan
perlahan-lahan sepasang muda-mudi.
Sang pemuda bagaikan Boh Kang dari ahala Tjioe jang
terkenal akan ketjakapannja, sedangkan si pemudi
bagaikan Kioe Hoa Lan, jang hidup diahala Goan. Kedua2nja
tjantik, kedua-duanja sebabat dalam hal
ketjantikan.
Si anak muda mengenakan badju biru dengan tjelana
kuning. Pedang indah jang berbentuk ketjil menggelantung
rendah dipinggangnja. Rambutnja digulung merupakan
sebuah konde ketjil jang mungil dan tersisir litjin.
Si pemudi dengan berpakaian koen merah matang
diselaraskan oleh roknja jang berwarna kuning muda.
Mukanja jang bulat seperti bulan dihiasi oleh mulut
ketjil serta hidung bangir, sehingga menambah
ketjantikannja sadja.
Siapakah mereka berdua?!
Si pemuda bernama Kwee Lay Eng, sedangkan si pemudi
bernama Kho Siu Lin. Mereka anak murid Boe-tong Pay.
Adapun maksud perdjalanan mereka ini untuk mentjari
djedjak si Tongkat Setan.
Dilihat dari sikap mereka, tampak hubungan kedua
orang ini sangat akrab, namun diantara keeratan itu,
tidak menundjukkan kelebihan dari perhubungan dua orang
saudara seperguruan.
"Moay-moay. apakah si Tongkat Setan itu mempunjai
suatu ilmu mudjidjat, sehingga orang diintjer djiwa-nja
tidak dapat bergerak untuk melawan?"
"Entahlah, aku sendiri pun tidak mengetahui."
"Aku ingin melihat tegas wadjah orang itu untuk
mengetahui sampai dimana ketelengasan jang berbajang
diair mukanja."
"Tapi nanti djika sudah bertemu dengan dirinja, kau
tentu akan lari meninggalkan diriku, bukan?”
Muka si anak muda berubah merah.
"Biar langit runtuh atau bumi amblas, aku tetap akan
melindungi......"
"Sstttt! Djangan suka berkata jang bukan2."
"Aku bukan bergujon Moay-moay, kau lihat sadja
nanti."
"Baiklah, kau memang Soe-hengku jang terpandai."
Bungalah hatinja Lay Eng dipudji oleh si pemudi,
sehingga dengan lantas air mukanja menundjukkan
kebanggaan hatinja.
"Moay-moay......... Moay-moay, aku.............
aku........."
"Kau kenapa, Soe-heng?"
"Aku aku hendak...."
"Kau bitjara biar keras, Soe-heng! Kau hendak
berbuat apa?"
"Aku..... ach tidak!"
"Ach, Soe-heng, kau sungguh aneh!"
"Ja, memang aku aneh," djawab sikakak seperguruan
itu dengan muka merah. "Mari kita landjutkan
perdjalannan kita!"
Si pemudi tidak menjahuti, ia hanja mengikuti sadja.
Tapi baru sadja mereka melangkah beberapa tindak,
atau tiba2 dibelakang mereka terdengar suara pudjian:
"Aduh, sungguh tjantiknja!"
Bagaikan kilat dua sedjoli ini membalikan tubuhnja.
Dihadapan mereka berdiri seorang pemuda jang berdandan
sebagai seorang peladjar. Ditangannja tergenggam sebuah
kipas jang diajun-ajunkan kekiri kanan, sedangkan
mulutnja tersenjum manis memandang kearah Kho Siu Lin.
Dipandang setjara demikian, Siu Lin menundukkan
kepala. Hatinja memukul keras dan mukanja terasa panas.
Itulah suatu perasaan aneh.
Lay Eng jang melihat ini, hatinja keruan sadja
mendjadi mendongkol.
"Siapa kau?!" ia membentak.
"Tentang diriku, tidak perlu kau mengetahuinja.
Bukankah begitu nona manis?"
Darah Lay Eng kian mendidih melihat lagak orang jang
tjeriwis.
"Enjalah kau dari hadapanku!"
"Enjah? Siapa kau dan atas hak2 apa kau hendak
mengusir diriku?"
Muka Lay Eng kian merah matang.
"Kau......... kau.........?"
"Apa jang kau-kau-an?"
"Soe-heng!" tegur Siu Lin dengan muka merah.
Entah mengapa ia merasa malu akan kelakuan kakak
seperguruannja itu. Padahal ia sendiri tidak mengetahui,
sebab apa ia bisa berbuat begitu.
Mendengar teguran Soe-moaynja ini, jang nada
suaranja seperti memihak keanak muda jang baru datang,
rasa tjemburunja Kwee Lay Eng kian meluap-luap. Namun
disamping rasa tjemburu ia pun merasa sedih, sehingga
hampir air matanja mentjelat keluar.
"Soe-moay, mari kita pergi dari sini," ia mengadjak
adik seperguruan perempuannja.
"Kau pergi, pergilah, untuk apa kau mengadjak-ngadjak
nona manis ini?"
Dada Lay Eng bagaikan hendak meledak, dengan mata
merah ia mengawasi anak muda jang baru datang itu. Tjoba
kalau tidak ada Siu Lin, tentu ia sudah labrak habiskan
si anak muda jang tjeriwis itu.
Siu Lin sendiri pun tidak habis mengerti akan
dirinja. Ia mengetahui dan melihat sendiri bahwa si anak
muda jang baru datang itu sangat tjeriwis, tapi entah
bagaimana suatu perasaan lain telah menindih rasa tidak
senang itu.
"Soe-moay, mari kita pergi," mengadjak Lay Eng pula.
Tanpa menjahut, Siu Lin mengikuti dibelakang.
Si anak muda jang tjeriwis jang berpakaian sebagai
seorang peladjar berdiri memandang, tiba-tiba ia
tersenjum.
Djantungnja Lay Eng masih bergolak mengenangkan
kedjadian jang baru sadja terdjadi. Hatinja sangat
tjemburu terhadap dirinja si anak muda jang berpakaian
sebagai peladjar tadi, namun ia tidak berani
mengutarakan kepada adik seperguruan perempuannja ini,
sebab antara ia dan Soe-moaynja ini tidak terikat atau
tegasnja masih belum terikat apa-apa.
Mereka berdjalan terus, kedua-duanja diam membisu.
Ketika tiba disatu tikungan, mereka merandek. Si
anak muda tjeriwis tadi sudah berada dihadapan mereka
lagi, menghadang ditengah djalan.
Darah Lay Eng menggolak dan tanpa memperdulikan lagi
ia menjabut pedangnja.
"Bangsat!" ia membentak. "Untuk apa kau mengikuti
kami?"
"Siapa jang mengikuti dirimu? Aku hanja hendak
melihat nona manis ini!"
"Setan!"
"Ha-ha-ha! Ha-ha-ha! Achirnja toch kau tahu sendiri
bahwa akulah si Tongkat Setan!"
Mendengar ini, darah Lay Eng dan Siu Lin bergolak
kuat-kuat.
"Kau Tongkat Setan?!"
"Sedikitpun tidak salah. Sekarang kau hendak berbuat
apa terhadap diriku?"
"Lihatlah pedang!" berseru Lay Eng dan benar2 ia
menjerang dengan tjepatnja. Tapi dengan hanja sekali
berkelit, pedang tersebut lewat tanpa mengenakan
sasarannja.
"Kau masih hidjau, pulanglah beladjar pula kepada
gurumu selama 10 tahun!" berseru si anak muda tjeriwis —
Tongkat Setan! Tangannja bergerak dan dengan bersuara
"tak pletak!" dua kali, patahlah pedang Lay Eng mendjadi
tiga potong!
Siu Lin mendjerit bahna terperandjatnja melihat ini.
Ia menjerbu dan mentjabut pedangnja, ia menikam dengan
hebatnja.
"Eh, eh, manis, mengapa kau menjerang diriku?"
Ditegur demikian, terlihat Siu Lin agak ragu2, ia
menahan pedangnja. Tapi achirnja ia mengamuk, sinar
pedangnja berkelebat laksana taufan.
"Aduh galaknja!" Dan tubuh si Tongkat Setan
menghilang entah kemana.
Siu Lin dan Lay Eng termanggu-mangu.
Lama si Tongkat Setan menghilang, mungkin ia sudah
berlalu.
Achirnja dengan lesu, kedua muda-mudi ini kembali
kegunung Boe-tong-san untuk memberitahukan kepada pamanpaman
guru mereka tentang si Tongkat Setan jang
liehay........
—o—
DI GUNUNG Boe-tong-san.......
Dipendopo kuil Boe-tong tampak duduk dua orang Todjin
tua, sedang asjik memperbintjangkan tentang dirinja
si Tongkat Setan.
"Menurut laporan Lay Eng Su-tit, si Tongkat Setan
sudah berani berkeliaran dengan leluasa didunia Kangouw.
Apakah menurut Soe-tee kita kaum tua harus turun
tangan pula menjelesaikan urusan ini?"
"Kita lihat selama sebulan lagi. Kalau seandainja si
Tongkat Setan kian kurang adjar dan berani menjentuh
orang Boe-tong Pay pula, maka kita mau atau tidak harus
mentjeburkan diri pula kedalam dunia persilatan."
"Baiklah!"
Tapi baru sadja si To-djin mengatakan demikian, atau
diluar terdengar suara edjekan:
"Memang begitupun bagus tjaranja untuk
memperpandjang djiwa kalian berdua selama sebulan!"
Tanpa mengatakan sesuatu apapun kedua To-djin ini,
jang mendjadi pengawas keamanan kuil Boe-tong, mentjelat
bangun. Dihadapan mereka berdiri seorang anak muda jang
berdandan sebagai peladjar dan seorang jang mempunjai
muka seperti memedi.
"Siapa kau?"
"Aku adalah orang jang sedang kalian orang2 Boe-Tong
Pay ributkan"
"Siapa namamu?"
"Tongkat Setan!"
"Ha?!"
"Kenapa? Kaget?"
"Sretttt!" Tanpa mengatakan sesuatu, kedua To-djin
itu mentjabut pedang mereka masing2.
Melihat ini, si Tongkat Setan berdua dengan orang
jang bermuka memedi, tertawa bergelak-gelak.
"Tjabut sendjatamu!"
"Kami tidak perlu memakai sendjata djika hanja
melajani To-djin2 hidung kerbau!"
Dada kedua To-djin itu bagaikan hendak meledak.
Dengan mengeluarkan seruan njaring, Pan In To-djin
menjerang si anak muda jang berdandan sebagai peladjar.
Sedangkan iman jang seorangnja pula, Mie In To-djin,
menjerang orang bermuka memedi itu.
Si Tongkat Setan dan si Hitam dari Kun-lun ketika
melihat mereka diserang, dengan mengeluarkan suara
edjekan melompat kebelakang. Lalu dengan menotolkan
udjung sepatu kepada batu, tubuh mereka melesat ke-arah
kedua To-djin itu. Mereka memukul dengan telapak-tangan!
Sekarang giliran kedua To-djin itu jang diserang!
Mereka sebetulnja dapat menghindarkan, tapi karena tadi
mereka terlalu terburu nafsu dan pada saat itu tubuh
mereka sedang menjelonong, maka dengan telak kedua-nja
terhadjar dibagian punggung I
"Buuukkkkk!" terdengar suara njaring sekali.
Hal ini membuat kedua To-djin itu gusar sekali.
Mereka berteriak keras laksana guntur jang menggelegar.
Serangan itu dilantjarkan dengan sepenuh tenaga,
sehingga angin dingin berkesiuran.
Tapi Tongkat Setan dan si Hitam dari Kun-lun dapat
kuasai diri mereka sendiri. Tongkat Setan berlaku
tenang. Ia tunggu sampai kepalan lawan sampai, sambil
menggeserkan kaki kesamping ia menangkis. Tangan
kanannja dari bawah naik keatas, ditekuk untuk dipakai
menggaet.
Mie In To-djin kaget. Ia tahu, kalau ia tergaet,
tangannja itu bisa tertjekal. Itulah berbahaja! Maka
lekas2 ia loloskan tangannja sambil terus melompat
kesamping kanan, mentjegah nanti kena dirangsang oleh
lawan.
"Bagus!" memudji Tongkat Setan.
Mereka bertempur terus dengan serunja, sehingga jang
tampak berkelebat-kelebat hanjalah bajangan putih dan
hidjau sadja.
Begitupun keadaannja dengan Pan In To-djin dengan si
Hitam dari Kun-lun, mereka bertempur tidak kalah
dahsjatnja. Dengan sebentar-bentar mengeluarkan djeritan
jang njaring dan hampir menjerupai suara kerbau, si
Hitam dari Kun-lun menjerang tidak henti2-nja.
Tongkat Setan jang melihat serangannja selalu gagal,
mukanja mendjadi berubah merah, ia gusar, maka ia
menjerang dengan lebih ganas. Kali ini keduanja
tangannja madju berbareng dalam sikap Siang-liong Tjoethay
atau Sepasang-naga keluar-dari-laut, disusul oleh
serangan jang tidak kalah berbahaja dan gesit Tjiongkouw
Tjee-beng atau Gembreng-dan-tambur-berbunjiberbareng!
Mie In To-djin tahu liehaynja serangan itu. Tak mau
ia menangkisnja, ia berkelit dengan menggojangkan kepala
dalam gerakan Hay-tong Tjoen-swie atau Bunga Hay-tongtidur
dimusim semi, tetapi ia tidak tjuma berkelit, ia
djuga menendang tinggi kearah dada lawan, si Tongkat
Setan terkesiap!
Hampir2 si anak muda berpakaian sebagai peladjar ini
mendjadi korban kegalakannja. Dalam saat berbahaja itu,
ia masih keburu menjambut tendangan itu dengan sabetan
To-ta Kim-tjong atau Merubuhkan-lontjeng-emas!
Mie In To-djin tidak menduga orang masih dapat
menghindarkan diri dari tendangannja itu. Si To-djin
memutar tangannja, sehingga tangannja itu mengubat
tangan si Tongkat Setan! Ia mengerahkan tenaga-dalam dan
membetot dengan maksud untuk mendjatuhkan lawanannja,
akan tetapi ternjata tenaga si Tongkat Setan djuga besar
sekali. Djangankan untuk membetot ngusruk, menggojangkan
sadja si To-djin Boe-tong Pay ini tidak sanggup!
Pada saat itu, mendadak si Tongkat Setan
melantjarkan serangannja dengan kaki jang bergerak
bergantian dalam ilmu tendangan jang dinamakan Sha-Kak-
Twie Tendangan-segi-tiga. Ilmu tendangan ini sangat
liehay dan tjepat sekali. Tjelakalah si To-djin! Dalam
dua djurus sadja pergelangan tangannja kena ditendang
sehingga tangannja jang menggubat tangan si Tongkat
Setan terlepas dan terlempar keudara.
Dalam keadaan terapung itu, si Todjin Boe-tong Pay
masih sempat ber-poksay (djungkir balik) sehingga
djatuhnja dengan kaki dibawah kepala diatas. Ia djatuh
dengan badan tegak berdiri ditanah!
Satu kali Tongkat Setan menjerang pula dengan
tendangannja dan si To-djin Boe-tong Pay menjambut
dengan sabetannja To-ta Kim-tjong — merubuhkan-lontjeng
emas.
Arahnja adalah dengkul lawan. Kalau ia dapat
mengenai sasaran seperti djuga kaki lawan nanti mengenai
dadanja, kedua-dua pihak bakal tjelaka!
Tapi si Tongkat Setan tahu bahaja, ia batalkah tendangannja.
Untuk mengalahkan pukulan musuh, ia pukul
djanggut To-djin Boe-tong Pay ini! Mie In terpaksabatalkan
djuga sabetannja itu.
Begitu kedua pihak pisahkan diri, kedua-duanja
berlompat pula untuk menjerang.
Tidak beda terlalu djauh kepandaian Tongkat Setan
dengan Mie In To-djin, kalau dipermulaan ia menang
diatas angin, itulah disebabkan kesembongan pihak si
iman. Setelah itu, keduanja djadi berimbang. Sampai 40
djurus lebih, belum ada fihak jang suka mengalah. Tapi
lama-kelamaan kedua orang ini terlihat perbedaanhja.
Untuk sekian kalinja si iman dari Boe tong Pay
lompat merangsek, ia menjambar pinggang Tongkat-Setan.
"Bagus!" seru si Tongkat Setan sambil lompat,
sehingga tangan si iman lewat dibawah kakinia. Habis itu
tidak tunggu sampai tubuhnja turun mengindjak tanah,
tangannja sudah menotok kederah djalan darah Hoa-khayhiat.
Itulah serangan Pek-hong Koan-djit atau Bianglala
putih mengalingi matahari.
"Ihhh!" berseru iman Boe-tong Pay sambil melompat
mundur, tangannja ditarik kembali untuk dipakai menotok
nadi orang.
Itulah serangan saling balas jang dahsjat sekali!
Si Tongkat Setan tjepat2 tarik tangannja, tubuhnja
menjingkir dari antjaman si iman Boe-tong ini. Ia telah
menggunakan tipu Djit-goat Keng-thin atau Matahari dan
rembulan melewati garis!
Mie In menghindar dan lompat menjingkir, Tongkat
Setan ulangi serangannja jang tidak kurang berbahaja,
dengan gerakan jang sangat tjepat dan ganas.
Nampaknja tidak ada djalan untuk Mie In berkelit
atau menangkis, ia sudah sangat terdesak. Akan tetapi
disaat udjung tangannja si Tongkat Setan mengantjam,
tahu2.........
"Bukkkk! Gedebuk!"
Terdengar suara beradunja tangan. Karena
keberaniannja, si iman Boe-tong menangkis djuga. Maka
itu kedua tangan bentrok dengan kerasnja laksana batu
gunung beradu.
Kedua-duanja mundur 4-5 tindak. Masing2 merasakan
tangan mereka sakit dan njeri sekali. Tapi achirnja
kedua-duanja dapat menetapkan hati masing2.
Si Tongkat Setan lah jang menjerang terlebih dahulu.
Kali ini, ia berlaku lebih bengis namun lebih waspada.
Mungkin tidak sabar, dengan mengeluarkan suatu seseruan
njaring, si Tongkat Setan mentjabut Tongkat
Mautnja.
Melihat tongkat berkepala naga itu, tubuh Mie In Todjin
menggigil, ia melompat kebelakang untuk melepas
panah api, mengasih tanda kepada orang2 Boe-tong Pay,
tapi terlambat!
"Taaakkkkkk!" kepalanja terhadjar keras oleh Tongkat
berkepala naga itu. Tanpa dapat mengeluarkan djeritan,
ia djatuh meloso dan njawanja menghadap ke Giam Lo-ong.
Si Tongkat Setan setelah menghabisi njawa lawannja,
dengan wadjah berseri-seri menghampiri kearah Pan In Todjin
dan si Hitam dari Kun-lun jang sedang bertempur
dengan hebatnja.
Pan In melihat si Tongkat Setan telah mentjabut
Tongkat Mautnja, mukanja berubah putjat pias. Tanpa
perdulikan sesuatu apapun, ia melompat mundur untuk
melepaskan panah api.
Tapi iapun terlambat, baru sadja panah tanda itu
melajang diatas udara, kepala iman Boe-tong ini telah
hantjur pula
Dengan mengeluarkan suara tertawa mengerikan, si
Tongkat Setan dan si Hitam dari Kun-lun berkelebat
menghilang.
Panah tanda itu berhasil djuga mendatangkan balabantuan.
Tjiang-boen-djin Boe-tong Pay, Kiong In To-djin
sendiri keluar djuga. Tapi jang mereka ketemukan adalah
majatnja Mie In dan Pan In To-djin jang telah kaku
dingin.
Dilantai terdapat surat dan ketika dibatja oleh
Kiong In To-djin, isinja antara lain :
Kiong In To-djin :
Aku Tongkat Setan mengundangmu untuk hadir
kepulau Kim-liong-to (Pulau Naga Emas) pada
harian Go-gwee Tje-it.
Djangan salah djandji dan djangan tidak datang,
disana telah berkumpul gembong2 silat jang akan
kumusnahkan!
Tertanda :
Tongkat Setan
Kiong In To-djin mengangkat kepalanja.
"Setan...... Setan ...... Sungguh biadab si Tongkat
Setan!"
—o—
II
Siapa jang menduga bahwa pohon2 itu dengki?
Siapa jang msnduga bahwa hati manusia itu telengas?
Dikatakan satu, pasti satu.
Dikatakan dua, sudah pasti akan mendjadi dua.
Siapa jang akan menentang?
Tidak, tidak seorang pun akan menentang!
Dengan badju seragam kita madju kemedan bakti.
Dengan badju peladjar kita pergi menunaikan tugas.
Hajo, siapa jang mengatakan salah?
Tidak ada seorangpun jang akan mengatakannja!
Pohon2 bertebaran sekeliling,
Harum2 bunga menusuk hidung,
Ikan lumadjang melenggang saju diair sungai Tiang-kang,
tidak ada jang perduli!
Binatang akan berachir, tjerita akan berachir,
Begitupun dengan manusia, semuanja akan berachir.
Tapi hari dan waktu berdjalan terus......
Itulah Lian jang dipadjang didepan pintu masuk dari
kuil Hwa-san Pay. Lian itu dibuat oleh Tjiang-bun-djin
tingkat ke-26, Tjiang bun-djin jang bernama Kioe Hwa
Seng. Itulah diwaktu 400 tahun jang lalu dan sekarang
jang mendjadi Tjiang-bun-djin adalah Boen Lai Keng.
Lai Keng adalah seorang jang berotak tjerdas dan
selalu bertindak diatas dasar2 keadilan. Pada saat ini
ia sudah berusia 43 tahun.
Meskipun tidak dapat dikatakan sebagai sebuah partai
persilatan jang besar, namun Hwa-san Pay boleh dikatakan
djuga sebagai sebuah partai persilatan jang terpenting
dan terpandang djuga, sebab dikalangan Kang-ouw tersebar
banjak murid-muridnja.
Memang, kalau dibandingkan dengan Boe-tong dan Siauw
Lim-sie, kedua partai persilatan ini menang djauh, tapi
tentang kepandaian, Tjiang-bun-djin Hwa-san Pay jang
sekarang ini dapat dikatakan sederadjat dan setingkat
dengan kepandaian Kiong In To-djin dari Boe-tong Pay.
Hari itu tjuatja baik, langit bersih dengan angin
bertiup saju, bagaikan sedang mejampaikan bisikan sedih
bahwa sebentar lagi Hwa-san Pay akan mengalami suatu
peristiwa jang menjeramkan.
Hari ini Go-wee Tjap-djie. Dimana sang rembulan akan
bersinar penuh.
Dikaki gunung Hwa-san sekonjong-konjong tampak
berdjalan dua orang laki-laki. Satu anak muda peladjar
dan seorang lagi memedi hantu. Kedua orang ini telah
menggemparkan dunia Kang-ouw dengan sepak terdjangnja
jang sangat telengas dan tidak mengenal kasihan.
Tudjuan mereka adalah kuil Hwa-san Pay! Mereka
mengerahkan ilmu lari tjepat Tjoei-hong-soat, sehingga
sebentar sadja sampailah mereka didepan pintu kuil Hwasan
Pay.
Dengan sekali pukul, pintu kuil jang kuat dan sedang
terkuntji terhadjar hantjur. Kemudian dengan tindakan
tenang mereka berdjalan masuk. Tindakan mereka sangat
ringan sekali.
Murid2 Hwa-san dan Tjiang-bun-djinnja djuga, ketika
mendengar ribut2 diluar, serentak keluar untuk melihat.
Boen Lai Keng ketika melihat kedatangan kedua orang
ini, air mukanja berubah putjat.
"Ada apakah maka tuan-tuan datang kekuil kami?" ia
menegur dengan keras.
"Tentang kedatangan kami kemari, tidak perlu kamu
semua mengetahui, tapi satu jang hendak kuminta darimu,
ialah pedang Kim Hoa Kiam supaja diserahkan padaku."
Mendengar ini, air muka Lai Keng berubah hebat.
"Siapa kau?"
"Tongkat Setan!"
"Tongkat Setan?!" berteriak orang2 Hwa-san Pay,
begitupun dengan Boen Lai Keng.
Sedikitpun tidak salah. Lekas kau serahkan pedang
jang kupinta tadi."
Lai Keng berdiam menenangkan diri. Achirnja setelah
pikirannja sedikit tenang, ia mendjura kepada Tongkat
Setan.
"Dengan sangat menjesal Lo-hoe tidak dapat memenuhi
permintaan itu," udjarnja lantang. "Apakah permintaan
itu tidak dapat diganti dengan jang lain?"
"Dengan pedang lain?" mengedjek si Tongkat Setan.
"Baik, boleh kau tukar dengan pedang Liong Kim Pek Kiam
dari Siauw Lim-sie!"
Mendengar ini, muka Lai Keng berubah putjat pias.
Sama sadja kalau diingat-ingat. Dari mana ia harus
mendapatkan pedang Liong Kim Pek Kiam, pedang dari
perguruan Siauw Lim-sie itu, sedangkan dengar baru
sekarang.
"Bagaimana?"
Lai Keng tertawa meringis.
"Dengan sangat menjesal pedang, itupun Lo-hoe tidak
dapat memberikannja, sebab itulah pedang leluhur dari
perguruan Siauw-lim-sie!"
"Persetan dengan pedang leluhur! Kau hendak
menjerahkan atau tidak pedang Kim Hoa Kiam?"
Tampang mukanja Lai Keng pada saat itu sangat lutju
untuk dilihat. Dikatakan tertawa bukan tertawa,
dikatakan menangis, ia bukan menangis.
Tiba2 didalam dirinja Tjiang-boen-djin Hwa-san Pay
timbul berkelebat suatu pikiran nekat.
"Baiklah. Kau terimalah pedang Kim Hoa Kiam ini!" ia
berseru sambil meloloskan pedang pusakanja itu dari
pinggang.
Pedang itu diangsurkan kepada si Tongkat Setan, tapi
ketika si Tongkat Setan hendak menjambuti, mendadak ia
mentjabut keluar dan menikam dengan nekat!
Namun baru sadja pedang tertjabut, tongkat maut si-
Tongkat Setan terlebih dahulu menjambar kepala Tjiangboen-
djin Hoa-san Pay ini sehingga pingsan.
Murid2 Hoa-san Pay jang menjaksikan kedjadian ini
berteriak-teriak, tapi satupun tidak ada jang madju
untuk mentjoba melawan.
Tenang2 si Tongkat Setan membungkukkan tubuhnja
mengambil pedang Kim Hoa Kiam jang lalu digantungkan
dipinggangnja.
Dengan pandangan menghina, ia melemparkan seputjuk
surat kepada kelompok murid2 Hoa-san Pay, lalu dengan
mengeluarkan teriakan jang njaring dan mendebarkan hati,
kedua orang ini, si Tongkat Setan dan si Hitam dari Kunlun
berlalu dan menghilang dari pandangan semua murid2
Hwa-san Pay.
Dengan tjepat mereka saling berebutan untuk melihat
surat jang ditinggalkan oleh si Tongkat Setan.
Isi surat itu antara lain :
Boen Lai Keng;
Djika kau mengingini pedang Kim Hoa Kiam
ini pulang kepadamu, datanglah kepulau
Kim-liong-to (pulau naga emas), disana
akan berkumpul Tjiang-boen-djin dari
semua partai persilatan.
Djangan salah djandji dan djangan tidak
datang.
Waktunja ialah Go-gwee Tjee-it,
Tertanda:
Tongkat Setan
Murid2 Hoa-San-Pay tjepat2 berusaha menjadarkan guru
mereka dan merangkap Tjiang-boen-djin itu...
Ketika Boen Lay Keng sadar dari pingsannya, ia
menangis, sedang mulutnja tidak berhenti mengotjeh:
"Habis! Habislah!....."
—o—
DI PEGUNUNGAN Thian-san, berdirilah partai
persilatan Thian-san Pay. Pada saat itu jang mendjadi
ketuanja ialah Lie Keng Beng.
Malam itu bulan tidak muntjul, bagaikan takut
menghadapi kedjadian jang akan terdjadi dipegunungan
tersebut.
Kuil partai persilatan Thian-san Pay sepi dan sunji,
sehingga jang terdengar hanjalah suara2 binatang malam
jang berdendang memanggil hudjan. Selain dari itu tidak
terdengar apa-apa.
Tapi lihatlah! Djauh diudjung dari pekarangan
kelenteng itu tampak berlari dua sosok tubuh bajangan
jang gesit dan lintjah. Mereka bergerak dengan leluasa.
Siapakah mereka?
Tak lain tak bukan merekalah pengatjau kalangan
Kang-ouw. Si Tongkat Setan dan si Hitam dari Kun-lun!
Apakah maksud mereka menjatroni kuil Thian-san Pay?
Kita lihat sadja selandjutnja.
Sekali lompat si Tongkat Setan telah melesat keudara
dan berteriak sekuat-kuatnja, sehingga membangunkan
seisi penghuni kuil Thian-san Pay.
Ketika mereka pada keluar, jang mereka lihat
hanjalah kedua orang ini.
Tjiang-bun-djin Thian-san Pay, Lie Keng Beng,
bergegas ikut djuga keluar. Ia segera dapat menduga
dengan siapa ia berhadapan ketika melihat tjara dandan
kedua orang jang tidak dikenal ini.
Keng Beng madju kedepan, ia memberi hormat.
"Siapakah Djie-wie berdua? Apakah maksud tuan2
datang ke Thian-san ini?!"
Anak muda jang berdandan sebagai peladjar, tersenjum
mendengar pertanjaan itu.
"Kami adalah setan2 jang berkeliaran disana atau
berkeliaran disini. Maka itu djanganlah menanjakan asal
usul atau djanganlah pula menanjakan siapa kami."
Habis maksud kedatangan Djie-wie ke Thian-san ini
mengandung maksud apa?"
"Aku ingin meminta pedang Im-Yang-Kiam!"
Mendengar ini, air muka Lie Keng Beng lantas berubah
putjat.
"Kau..... kau si Tongkat Setan?!"
"Sedikitpun tidak salah!"
Lemaslah seluruh tubuh Keng Beng.
"Lekas kau serahkan pedang jang kuminta!"
Melihat gelagat ini, Keng Beng memberi tanda kepada
anak2 muridnja untuk menjerang dan mengerojok si Tongkat
Setan.
Tersenjum si Tongkat Setan mentjabut tongkatnja,
maka terdengarlah suara: "Tak! Takkk! Takkkkkk!" jang
berulang-ulang, sehingga membuat hati Keng Beng djadi
gontjang. Murid2 Thian-san Pay pada djatuh
bergelimpangan!
Dari belakang Keng Beng keluar seorang setengah tua.
Ia mengenakan seperangkat pakaian mewah.
Biar aku jang melawannja!" ia berseru dengan gusar.
"Soe-siok, apakah terlebih baik kita menjerahkan
sadja pedang Im-Yang-Kiam?!"
"Kau gila? Meskipun Thian-san Pay hantjur lebur,
tapi pedang Im Yang Kiam tidak boleh djatuh ketangan
orang lain. Ter-lebih2 kepada manusia djahat jang
telengas ini!"
Keng Beng diam membisu.
"Hai, bangsat! Kau lawanlah aku Po Lay Tjie!"
berseru si orang setengah umur.
Murid2 Thian-san Pay ketika mendengar seruan itu,
semuanja pada mundur dengan hati berdebar-debar.
Si Tongkat Setan tertawa sinis.
"Kau madjulah!" ia bilang dengan berani. "Kalau aku
tidak dapat mendjatuhkan kau dalam sepuluh djurus, maka
djangan panggil aku sebagai si Tongkat Setan lagi!"
"Hu, sungguh terkebur kau anak muda!" berbareng
dengan perkataannja itu, Po Lay Tjie menjerang dengan
pedangnja. Itulah gerakan It-kwa It-tjie, suatu gerakan
jang sangat telengas dan mematikan!
Melihat serangan ini, Si Tongkat Setan sedikit kaget
djuga. Ia tidak menjangka bahwa Thian-san Pay mempunjai
ilmu simpanan jang tjukup liehay.
Dengan mengeluarkan seruan njaring, si Tongkat Setan
berkelit dari serangan Po Lay Tjie, lalu ketika tubuhnja
sedang berputar, ia mengantjam dengan tongkatnja kearah
kepala si orang setengah tua.
Melihat serangannja gagal, malahan sekarang dirinja
jang diserang, Po Lay Tjie kian kalap. Dengan bersiul
njaring ia berlompat untuk membarengi dan memapak
serangan orang.
Itulah suatu gerakan jang sungguh2 berani dan nekat.
Tjoba kalau papakan pedangnja meleset dan tongkat orang
mengenai kepalanja, maka Po Lay Tjie akan berhenti
mendjadi orang!
Kedua orang ini saling serang menjerang dengan
hebatnja.
Si Hitam dari Kun-lun hanja menjaksikan dari
samping. Ia memandang dengan mulut tersungging senjuman
iblis.
Pada saat itu Po Lay Tjie sedang menjerang dengan
mengunakan djurus Ling-Iing Ko-siauw, dimana pedangnja
meleset dan menusuk kearah lawan dengan ketjepatan jang
luar biasa.
Tapi, tiba2 dengan mengeluarkan suara djeritan jang
menjajatkan hati, tubuh Po Lay Tjie meloso djatuh
ketanah. Kepalanja telah hantjur dihadjar oleh tongkat
si Tongkat Setan!
Melihat ini, tubuh Keng Beng menggigil.
Dengan mendadak si Tongkat Setan membalikan tubuhnja
dan dengan pandangan tadjam, ia menjapu. kearah Keng
Beng.
"Bagaimana? Apakah kau hendak menjerahkan pedang Im
Yang Kiam?" ia menegur.
Keng Beng tidak menjahuti, ia menundukkan kepala.
"Tjepat serahkan pedang, atau kubunuh semua murid2
Thian-san Pay ini!" mengantjam si Tongkat Setan dengan
aseran.
"Baik, baik, akan kuserahkan pedang Im Yang Kiam
kepadamu," menjahuti Keng Beng dengan gugup.
"Tapi........tapi kau buat apakah pedang Im Yang Kiam
itu?"
"Tentang itu urusanku sendiri, tidak perlu kau ambil
tahu. Jang penting kau serahkan pedang Im Yang Kiam
tersebut dan pada harian Go-gwee Tjee-it pedang ini akan
kembali djika kau datang kepulau Kim Liong To!"
Tanpa mengatakan sesuatu apa pula, Keng Beng
mencabut pedang jang menggelantung dipinggangnja. Ia
menjerahkan pedang Im Yang Kiam, pedang pusaka Thian-san
Pay kepada si Tongkat Setan.
Dengan tersenjum sinis, si Tongkat Setan menerima
pedang itu, jang lalu diamat-amati dengan teliti.
"Djangan lupa pada harian Go-gwee Tjee-it kau datang
kepulau Kim Liong To untuk menerima pedang ini kembali.
Nah! Selamat tinggal!" Sehabis berkata demikian, dengan
sekali berkelebat, tubuh si Tongkat Setan telah lenjap
dari pandangan mata orang2 Thian-san Pay. Perbuatannja
itu diikuti oleh si Hitam dari Kun-lun.
Keng Beng bengong mengawasi kepergian orang, dan
ketika ada seorang muridnja menegur mengingatkan tentang
kematian Soe-sioknja Po Lay Tjie, tanpa dapat ditahan
pula tersembul dari sudut matanja dua butir air
bening......
—o—
DI DUNIA Kang-ouw Tongkat Setan telah membuat suatu
kegemparan. Setiap Tjiang-boen-djin dari partai2
persilatan jang ternama sudah pasti diundang untuk hadir
kepulau Naga-emas!
Sebagai barang djaminan, setiap partai sudah pasti
diambil sebuah benda pusaka leluhurnja. Maka mau atau
tidak, Tjiang-boen-djin2 dari partai-partai persilatan
itu sudah pasti akan datang kepulau Kim Liong To, tempat
jang ditundjuk oleh si Tongkat Setan!
Sampai Siauw Lim-sie jang boleh disebut sebagai
bapak partai persilatan masih disatroni djuga!
Perbuatan Tongkat Setan kian lama kian djadi
bertambah gila. Gadis2 jang tjantik dan menarik hatinja.
sudah diperkosa, sesudah mana dengan menggunakan
tongkatnja, ia mengemplang membunuh kurbannja.
Tapi meskipun demikian, didunia Kang ouw tetap sadja
namanja tjemerlang oleh kekedjaman jang dilakukannja.
Tidak ada suatu perbuatan jang kedjam dan djahat
jang tidak dilakukan oleh manusia kedjam ini! Semua
djeri akan tongkatnja jang mengedjar djiwa bagaikan
penjabut njawa!
Perbuatan si Tongkat Setan ini dibantu oleh si Hitam
dari Kun-lun jang tidak kalah hebatnja melakukan
kekedjamannja didunia Kang-ouw. Kedua orang ini boleh
dikatakan sangat ditakuti oleh dua golongan, jaitu
golongan putih dan golongan hitam!
Sebetulnja berasal dari mana dan siapakah kedua
orang ini jang telah menggegarkan dunia persilatan?
Mari kita mundur kepada kedjadian dua puluh tahun
jang lalu :
Didesa Khong-in-tjhoeng hidup satu keluarga Khong.
Pada saat itu jang mendjadi kepala keluarga ialah Khong
Ting. Keluarga Khong ini boleh dikatakan sebagai
keluarga jang disegani dan dihormati oleh keluarga2
lainnja dikampung Khong-in-tjhung ini.
Mereka hidup aman dan sentosa, tidak pernah terdjadi
suatu apapun. Meskipun diantara orang2 pernah tersiar
kabar bahwa Khong Ting ini adalah bekas begal tunggal
jang telah mengasingkan diri dengan kekajaannja jang
dikumpulkannja dari hasil rampokan dan begalannja dulu.
Tapi karena keluarga Khong ini telah menetap
dikampung Khong-in-tjhung ini selama sepuluh tahun, maka
semua kabar2 angin itu lenjap dengan sendirinja.
Khong Ting pada saat itu mempunjai seorang putra dan
seorang putri, jang masing-masing bernama Khong Lan dan
Khong Eng Boen.
Meskipun kedua putra-putri Khong Ting masih berusia
7-8 tahun, namun ketjerdasan dan ketjakapan mereka telah
terpeta. Mereka hidup didalam keadaan jang tenang dan
tak pernah terdjadi sesuatu.
Namun suatu kedjadian jang mengerikan achirnja
menimpali djuga keluarga Khong ini dan tidak dapat
dihindarkan lagi.
Pada malam itu Khong Ting suami isteri dan kedua
putra putrinja sedang makan malam, ketika tahu2 dari
luar menerobos masuk tiga orang laki2 jang memelihara
tjabang-bauk jang menjeramkan.
"Siapa tuan bertiga?" tanja Khong Ting dengan sopan.
"Kau-kah jang disebut Khong Ting?"
"Ja, ada keperluan apakah tuan bertiga datang
kerumahku ini?"
Tanpa mengeluarkan perkataan apa2 pula, ketiga orang
brewok mentjabut golok masing2.
"Kami kemari atas perintah dari dari seluruh partai
persilatan untuk membunuh seorang begal Im Ling Tjie
jang telah menjembunjikan diri sebagai si kakek tua
Khong Ting! Hu-hu-hu, hu! terimalah kematianmu!"
Benar2 ketiga orang ini menjerang, sehingga mau atau
tidak Khong Ting harus mengelakkan setiap serangan jang
dllantjarkan pada dirinja. Lebih2 ketika salah seorang
dari ketiga itu mementjarkan diri dan menjerang
isterinja, maka hati Khong ling gelisah luar biasa.
Dengan mengeluarkan suatu djeritan jang menjajatkan,
isteri Khong Ting tewas dibawah golok si orang berewok.
Djeritan itu disusul oleh djeritan anak ketjil dan
ketika Khong Ting menoleh, semangatnja seperti terbang,
karena Khong Lan telah dibunuh djuga oleh si orang
berewok!
Sesudah melihat ini, Khong Ting mendjadi kalap. Ia
berteriak menggeledek dan menjerang si orang berewok
dengan tidak mengenal kasihan pula, sehingga ketiga
orang itu mendjadi gentar. Tapi sekarang Khong Ting
sudah mengambil keputusan untuk membunuh ketiga orang
itu. Dengan mengeluarkan djeritan pandjang. Khong Ting
mengibas dengan udjung badjunja dan terdengarlah 3 kali
beruntun suara djeritan. Ternjata ketiga orang berewok
itu telah dibunuh oleh Khong Ting dengan mudah sekali!
Dengan air mata jang bertjutjuran Khong Ting memeluk
majat isterinja.
"San Lie, rupanja pembalasan dari si Singa muka
merah telah sampai saatnja, sehingga kau harus meninggal
didalam tangan anak buahnja! Oh, sungguh menjedihkan!"
Khong Ting membalikkan tubuhnja, ia memeluk Eng Boen
dengan hati hantjur luluh.
"Anak, kau pergilah kesuatu tempat, karena sebentar
lagi musuh ajahmu si Singa muka merah akan datang
kemari. Baik2lah kau mendjaga diri dan pesan ajah
kepadamu hanja satu : Djika nanti kau sudah besar dan
mempunjai kepandaian silat, balaslah dendam ajah-ibumu
ini. Djanganlah kau pertjaja kepada orang2 rimba
persilatan!"
Sehabis berkata demikian, Khong Ting membuntel
pakaian Eng Boen. Ia menjisipi 500 tail uang emas.
Kasihan adalah si botjah she Khong ini, ia baru
berusia 8 tahun, maka ketika ia keluar dari rumah, ia
tidak tahu kemana ia harus pergi.
Tentang Kho Ting, si botjah sudah tidak mengetahui
sedikitpun. Ia pergi kemana dibawa kakinja.
Untuk achirnja ia diketemukan oleh Peng In Sioetjhay
dari Kun lun Pay dan ia dipungut sebagai murid.
Demikianlah waktu berdjalan terus, dua puluh tahun
telah dilalui. Si botjah telah mempunjai kepandaian jang
luar biasa. Dan ketika ia turun gunung ia dikawani oleh
Soe-hengnja jang bergelar si Hitam dari Kun-lun.
Sedjak dari saat inilah si anak muda she Khong
melakukan kedjahatan untuk membalas dan melampiaskan
dendamnja terhadap orang2 dunia persilatan. Lebih2 katakata
ajahnja masih teringat olehnja, jaitu: "Djanganlah
mempertjajai orang2 rimba persilatan!" maka kian
menggilalah rasa hendak membasmi orang2 Kang-ouw.
Lelakon berdjalan terus .......
-oHARIAN
Go-gwee Tjee-it.
Dipulau Kim Liong To telah berkumpul Tjiang-bundjin2
dari semua partai persilatan. Mereka semua
menantikan kedatangan si Tongkat Setan untuk mengambil
pulang pusaka mereka masing2.
Dari Boe-tong Pay datang Kiong In ditemani oleh Kwee
Lay Eng dan Kho Siu Lin. Dari Siauw Lim-sie Kang Oh
Sian-soe dengan dikawani oleh dua orang muridnja djuga.
Dari Khong-tong, dari Hwa-san, dari Thian-san, dan lain2
partai persilatan jang ternama.
Hati semua orang berdebar gelisah dan tidak tenang.
Menantikan si Tongkat Setan bagaikan sedang menantikan
suatu malapetaka jang besar.
Tiba2 diudara terdengar mengaung suara teriakan jang
mengguntur dan muntjullah si Tongkat Setan dari balik
batu-batu karang jang menondjol tinggi.
"Aha, sudah lama kamu semua menantikan kami berdua
bukan?" tertawa si Tongkat Setan, njaring sekali
suaranja.
Semua orang tidak menjahut.
"Apakah semua partai persilatan jang kuundang sudah
datang semua?" menanja si Tongkat Setan pula.
Tjiang-bun-djin2 jang datang kepulau itu tidak ada
seorang pun jang membuka mulut, hati mereka kebat-kebit.
Inilah mungkin sarang si Tongkat Setan, maka dapat
dibajangkan akan bahaja jang mengantjam mereka semua.
Tapi disebabkan mereka berkumpul kira-kira 18-20 Tjiangbun-
djin, maka hati mereka sedikit mantep.
Kang Oh Sian-soe dari Siauw Lim-sie madju kedepan.
Ia memberi hormat.
"Lo-lap dari Siauw Lim-sie datang kemari untuk
meminta kembali pedang Kim Giok-kiam dari tangan mu," ia
berkata.
"Tunggu dulu, kau duduklah disitu biar tenang."
"Sian-tjhay, sian-tjhay! Tapi dengan sangat menjesal
Lo-lap tidak dapat berdiam disini lebih lama pula,
karena masih ada suatu urusan jang perlu diselesaikan.
Waktu dulu Sie-tju datang ke Siauw Lim-sie, kebetulan
Lo-lap sedang keluar, maka kita tidak saling bertemu."
"Memang, tapi sekarang kuperintahkan kau duduk
disitu dengan tenang!" kata si Tongkat Setan dengan
kurang senang.
"Sian-tjhay, sian-tjhay! Kalau seandainja Sie-tju
tidak mengembalikan pedang pusaka Siauw Lim itu, maka
djangan menjesalkan kalau Lo-lap menggunakan kekerasan."
"Ha-ha-ha, ha-ha-ha, memang aku mengundang kalian
datang ke Kim Liong To ini dengan maksud untuk pie-boe!"
tertawa si Tongkat Setan. "Maka dari itu duduklah
tenang2 dulu."
"Sie-tju, apakah Sie-tju tidak takut kalau arang2
gagah dari rimba persilatan akan bergabung untuk
mengepung diri Sie-tju?!" bentak Kang Oh Sian-soe habis
sabar.
"Takut? Dalam diriku tidak ada suatu perkataan
takut! Bergabunglah kamu semua sekarang, tapi ingat, aku
pun ada djalan lain untuk menghantjurkan kamu sesemua!
Disekeliling pulau ini telah kutanami bahan2 peledak!"
Mendengar ini, para Tjiang-boen-djin jang datang
kepulau Kim Liong To mendjadi panik. Mereka ribut dan
bersuara tidak keruan.
"Habis apa kehendakmu?" tanja mereka serentak
Si Tongkat Setan tertawa dingin. "Aku sebetulnja
tidak bermusuhan dengan dirimu, tapi ajahku pernah
berpesan dulu bahwa aku tidak boleh mempertjajai atau
tegasnja mempunjai teman orang rimba persilatan! Maka
dari itu dengan sangat menjesal djiwa kamu semua harus
dihabiskan dipulau Naga Emas ini!"
Sehabis berkata demikian, dengan sinar mata jang
tadjam si Tongkat Setan menjapu semua orang jang hadir
disitu. Pandangan mata si Tongkat Setan membuat tubuh
para Tjiang-boen-djin menggigil dan hati mereka berdebar
aneh.
Hanja seorang sadja jang memandang kearah si Tongkat
Setan dengan pandangan lain dari jang lain, dialah nona
Kho Siu Lin.
Kang Oh Sian-su rupanja sudah tidak tahan sabar,
dengan berkata tenang dan menjebut nama Budha, ia
membuka serangan kepada si Tougkat Setan!
"Ha-ha, ha-ha-ha-ha, apa kau dengan selalu menjebut
nama Budha dapat mengusir si Tongkat Setan?" mengedjek
si Tongkat Setang sambil berkelit dari serangan Kang Oh.
Tjiang Boen-djin dari Siauw Lim-sie ini tidak dapat
dibuat main, karena ilmu silat Siauw Lim-sie boleh
dikatakan bapaknja ilmu silat didaratan Tiong-goan.
Tentang kepandaian silat, si Tongkat Setan pun telah
mengetahuinja, maka ia sendiri berlaku sangat hati2.
Kembali Kang Oh Sian-soe menjerang dengan djurus
"Hie-lang Hie-boe" suatu pukulan jang melantjarkan hawa
dingin menusuk tulang!
Kang Oh berniat menghilangkan bibit penjakit didunia
Kang-ouw ini, sehingga ia membuka serangan dengan
serangan2 jang berbahaja dan mematikan!
Tongkat Setan adalah seorang jang berkepandaian
tinggi dan kosen, meskipun menghadapi Kang Oh Sian-soe
jang berkepandaian tinggi, tetap sadja ia berlaku
tenang.
"Thay-soe, apakah kau masib tetap hendak menjerang?"
tanja si Tongkat Setan dengan tertawa sinisnja. "Kau
djangan manjesal djika pembukaan darian dari atjara
membunuh adalah djiwamu dahulu jang melajang!"
Darah Kang Oh meluap-luap, ia berseru pandjang dan
menjerang dengan menggunakan pukulan Keledai malas
bergulingan ditanah.
Si Tongkat Setan berkelit sambil berseru: " Soeheng,
djika ada seorang dari kambing2 ini bergerak, maka
petjahkanlah bahan peledak jang kutanam!"
Sihitam dari Kun-lun hanja tertawa menjeramankan
sadja, ia me-manggut2kan kepalanja.
Semua orang jang hadir dipulau Naga Emas bermandikan
peluh dingin.
Kang Oh Sian-soe jang sedang bertempur dengan si
Tongkat Setan sebetulnja hendak menjelesaikan
pertempuran itu setjepat mungkin, maka ia menjerang
dengan pukulan2 jang mematikan.
Si Tongkat Setan dengan tertawa mengedjek selalu
mengelakkan setiap serangan dari pendeta Siauw Lim ini.
Ketika Kang Oh Sian-soe menggunakan tipu It-wie
Tong-kang atau Melintasi sungai dengan selembar rumput
jang disusul dengan Teng-pek Touw-sui atau Melintasi air
dengan mengindjak kapu2, tangan pendeta ini meluntjur
dengan tjepat kearah lambung si Tongkat Setan.
"Iihhh!" berseru si Tongkat Setan dengan kaget. Ia
mendjedjakkan kakinja kepada sebatang bambu jang
melintang, dengan mana ia melompat pula mendjauhi.
"Kau hendak lari kemana?" bentak Kang Oh dengan
kalap. Ia mengedjar untuk lantas menjerang pula dengan
hebatnja.
Si Tongkat Setan tertawa terbahak-bahak, perlahanlahan
ia mentjabut tongkat mautnja.
Melihat ini, semua orang bukan kepalang gentarnja.
Tapi Kang Oh jang sudah tidak memperdulikan suatu
apapun, kembali menjerang dengan hebatnja! Serangan2nja
sekarang bertambah bengis.
Si Tongkat Setan pun sekarang bertempur dengan
bersungguh-sungguh dan mencurahkan sepenuh perhatiannja
terhadap si Hwee-shio dari Siau lim.
Dengan berkelebat-kelebat, tongkat mautnja
mengintjer kepala Kang Oh, sehingga kalau kena, maka tak
ampun lagi tewaslah iman Siauw Lim ini.
Saat itu, waktu baru menundjukkan tengah hari,
sehingga matahari bersinar sangat panas dan terik. Tapi
semua itu tidak diperdulikan oleh orang jang berkumpul
disitu, karena semuanja diliputi oleh ketegangan.
Tiba2 terdengar seruan si Tongkat Setan dengan
diiringi oleh djeritan jang mengerikan dari Kang Oh
Sian-soe. Kepala Hwee-shio ini dihadjar hingga petjah!
Kedua orang murid Siauw-lim-sie jang datang
menjertai Tjiang-boen-djin-nja, jang masing2 bernama Lie
Po dan Lie Au djadi berteriak kaget. Mereka menjerbu
kearah si Tongkat Setan dan menjerang dengan pedang
mereka masing-masing. Tapi merekapun menjusul ketua
partai mereka, karena tak lama kemudian, terdengar suara
djeritan jang saling susul.
Dengan berdiri tenang, si Tongkat Setan memandang
kearah orang banjak.
"Hajo, diantara kalian, siapa jang hendak madju
terlebih dahulu?" ia menentang pula.
Dari kalangan orang banjak lompat keluar dua orang
kakek. Mereka adalah Tjiang-boen-djin dari See-gak Pay
dan Hwa-san Pay.
Ketua Hwa-san Pay, Boen Lai Keng memberi hormat
kepada si Tongkat Setan.
"Kami berdua, Hwa-san dan See-gak tidak ada
permusuhan dengan kau, maka dengan sangat kami harap
supaja kami dilepaskan. Sekarang djuga kami mohon diri.
Tentang pedang pusaka kami, itu terserah atas
kebidjaksanaan kau sadja."
Semua orang jang hadir kaget mendengar perkataan
pengetjut dari Tjiang-boen-djin Hwa-san Pay dan See-gak
Pay ini.
Si Tongkat Setan ketika mendengar perkataan Boen Lai
Keng ini, tertawa terbahak-bahak.
"Manusia jang sudah masuk kedalam pulau Naga Emas
ini, djangan harap dapat keluar pula dengan masih
bernjawa!" ia kata. "Maka dari itu dengan sangat
menjesal, tidak dapat aku luluskan permohonanmu itu!"
Air muka Boen Lai Keng dan Peng Tjioe Ie berubah.
Mereka tidak menjangka bahwa si Tongkat Setan tidak
mengenal belas kasihan, sehingga membuat kedua orang ini
serba salah.
"Hajo, kamu berdua madjulah menjerang diriku!"
Boen Lai Keng dan Peng Tjioe Ie bengong. Kalau
menjerang, bagian matilah untuk dirinja, maka achirnja
mereka berdiam diri sadja.
"Kalau kau berdua tidak hendak menjerang, maka
djangan menjesalkan aku djika membunuhmu berdua!"
Antjaman itu dibuktikan, sehingga mau atau tidak si
Tjiang-boen-djin Hwa-san dan See-gak harus mentjabut
pedang mereka untuk melawan.
Tapi pertarungan ini tidak berdjaian lama, karena
tak lama kemudian terdengar suara djeritan saling susul.
Ketua Hwa-san dan Tjiang-boen-djin See-gak mendjadi
korbannja si Tongkat Setan jang ketiga!
Kembali si Tongkat Setan dengan tenang menantang
para Tjiang-boen-djin jang sedang berkumpul itu.
"Hajo, siapa jang hendak madju lagi?"
Kiong In To-djin jang melihat gerak-gerik si Tongkat
Setan, tak tertahan naik darahnja. Dengan sekali
mentjelat ia sudah berada dihadapan orang.
"Bedebah, kau sudah bertempur 4 gebrakan, maka dari
itu istirahat dahululah, bila memang kau ada bantu, maka
madjukanlah dia!"
Kiong In melirik kearah si Hitam dari Kun-lun.
Orang jang dilirik oleh Kiong In tertawa ter-bahak2.
"Benar, benar! Soe-tee kau mundurlah. Biarkan
kambing ini aku jang membereskannja."
Si Tongkat Setan tersenjum.
"Baiklak, tapi Soe-heng, kau hati2lah, kambing ini
sedikit liar!"
"Djangan kuatir," sahut si Hitam dari Kun-lun.
Sesudah mana ia membalikkan tubuhnja untuk menghadapi
Kiong In.
"Tjabutlah sendjatamu!" bentak Kiong In.
"Ho-ho, kau hendak menggunakan sendjata? Baik, baik,
aku memang hendak beladjar dengan ilmu pedang Boe-tong
Pay!"
Dengan tenang dan perlahan-lahan ditjabutnja dari
ikat pinggangnja sebuah suling ketjil jang mungil tapi
bentuknja menjeramkan.
Melihat lawannja telah mentjabut sendjata, Kiong In
tanpa ajal mentjabut pedang Giok Tam-kiamnja.
Tanpa sungkan2 lagi Kiong In menjerang dengan
serangan jang berbahaja dan mematikan.
"Bagus, bagus!" mengedjek si Hitam dari Kun-lun.
Iapun tidak tinggal diam. Dengan sebat si Hitam dari
Kun-lun mengeluarkan djurus Keng-po Liong-ie, dengan
kekerasan ia menangkis, sehingga membuat kedua pedang
itu saling beradu dan bersuara njaring.
"Traaang!"
Melihat serangannja gagal, Kiong In merubah
gerakannja, dengan djurus Ang-tjioe Po-ing dan disusul
oleh Ing-kiang Dju-po, ia menjerang bertubi-tubi,
sehingga si Hitam dari Kun-lun repot djuga.
Mereka bertempur dengan hebat dan sengit, sehingga
hampir menjerupai dua ekor naga sakti sedang bertempur
merebut mustika. Jang satu berasal dari partai Boe-tong
Pay jang tersohor dan kosen sekali, tapi jang satunja
adalah memedi kedjam jang tidak kalah kosennja.
Si Tongkat Setan menjaksikan dari samping, ia hanja
dapat menonton sadja, karena djika ia turun tangan
djuga, maka ia akan salah djandji dengan To-djin dari
Boe-tong Pay ini.
Ketika itu, dengan mengeluarkan suara teriakan jang
mengguntur, si memedi jang menjeramkan — si Hitam dari
Kun-lun, menjerang dengan djurus Boen-djie Ie-giok!
Djurus ini hebat dan telengas, karena itu adalah ilmu
simpanannja si Hitam dari Kun-lun1
Tipu ini pula jang mengangkat naik nama si Hitam
dari Kun-lun sehingga orang2 rimba persilatan gentar
hatinja semua.
Mendapat serangan jang demikian, dengan menggeserkan
kaki kirinja kekanan dan kaki kanannja kekiri, maka
loloslah si To-djin dari Boe-tong ini. Itulah Lo-han Itwie,
tipu jang chusus untuk menghindarkan diri dari
serangan berbahaja.
Kedua orang ini bertempur kian lama kian seru.
Selain menjerang dan menghindari, mereka djuga
mengeluarkan tenaga dalam mereka. Inilah membahajakan
kedua djiwa mereka. Karena tenaga Lwee-kang sekali dapat
mendesak, maka hantjurlah riwajat hidup lawan. Inilah
suatu pertempuran antara mati dan hidup......
Pada suatu saat, tatkala tubuh si Hitam dari Kun-lun
sedang melambung untuk melantjarkan serangan jang
mematikan, tiba2 si To-djin membalikkan tangannja.
Kedua tangan jang penuh dengan hawa Sin-kang beradu
ditengah udara dengan mengeluarkan suara beradu jang
sangat njaring sekali.
Tubuh si Hitam dari Kun-lun jang sedang melajang
mengapung diudara ketika saling beradu tangan itu
terdjadi, sedangkan si To-djin terhadjar duduk dengan
badju dipundaknja hantjur....
Belum sempat si To djin bergerak terlebih landjut,
tiba-tiba: "Taakkk!"
Suling si Hitam menghadjar kepalanja! Untung hanja
rambutnja jang kena dan menghadjar tusuk kondenja sadja,
tjoba kalau kena batok kepalanja, maka Kiong In To-djin
sudah pasti akan mendjadi setan getajangan.
Membarengi sedang orang menghadjar kepalanja dengan
suling mudjidjatnja itu, Kiong In To-djin melepaskan
tangannja kedada lawan!
"Bukkkkk!" terdengar suara jang njaring sekali
ketika dada si Hitam terpukul.
Si Hitam dari Kun-lun terpental dan djatuh dengan
tubuh kaku tak dapat bangun kembali, karena djiwanja
telah meninggalkan badannja.
Si Tongkat Setan bukan kepalang kagetnja melihat
ini, ia mendjerit keras dan lantas menjerang dengan
tongkatnja kearah Kiong In To-djin.
To-djin Boe-tong Pay jang masih lemah karena baru
sadja bertempur deDgan si Hitam, terdesak mundur.
Tak lama kemudian, tampak si Tongkat Setan menjerang
dengan hebat. Tongkatnja berputar-putar laksana taufan
mengamuk.
Dengan mengeluarkan suatu djeritan mengerikan, si
Tongkat Setan menjerang bagaikan gila, tongkatnja
berkelebat2 mengarah kepala si To-djin.
Pertempuran ini berdjalan dengan dahsjat, tapi tidak
seimbang.
Lama kelamaan tampak djuga kelemahan Kiong In Todjin
dan satu kali ketika ia mengeluarkan tipu Kudameringkik-
buntut-bergojang, kakinja tergaet oleh tongkat
mautnja si Tongkat Setan, sehingga djatuh. Kesempatan
mana digunakan oleh si Tongkat Setan dengan baiknja
untuk menghadjar kepala Kiong In To-djin I
Dengan sekuat tenaga si To-djin dari Boe-tong Pay
berusaha untuk mengelakkan pukulan maut jang datang
menghadjar kepalanja itu. tapi malang.....
"Takkkkk!" Tongkat maut si Tongkat Setan
menghantjurkan kepalanja!
Kiong In To-djin telah tewas!
Kho Siu Lin dan Kwee Lay Eng ketika melihat guru
mereka dapat dibinasakan oleh si Tongkat Setan,
mendjerit dengan suara parau. Lay Eng sudah lantas
lompat menubruk kearah si Tongkat Setan untuk menjerang.
Mendapatkan serangan kalap dari seorang anak muda,
si Tongkat Setan sedikit bingung djuga. Ia berkelit
terus menerus, sampai achirnja ia memukulkan tongkat
mautnja kearah kepala Lay Eng.
Djiwa si anak muda she Kwee sudah berada diudjung
rambut, sebentar lagi tentu akan mengalami peristiwa
seperti gurunja........
Tongkat maut menjambar terus, sampai ketika tinggal
2 dim lagi dari atas kepala Lay Eng. Tapi tiba2 tongkat
itu terpukul mental oleh sematjam tenaga jang kuat dan
dahsjat!
Lay Eng lompat untuk mendjauhi si Tongkat Setan,
keringat dinginnja membasahi tubuhnja.
Sedangkan si tongkat Setan membalikkan badannja
untuk melihat orang jang menghalangi dirinja itu.
Dihadapannja berdiri seorang tua jang tak dikenal.
"Siapa kau?" ia membentak dengan aseran. "Apa
kerdjaanmu disini?"
"Eng Boen, sungguh bagus perbuatanmu didunia
persilatan!" bentak orang tua itu dengan suara dalam.
Mendengar nama aslinja disebut, si Tongkat Setan
bagaikan disengat kala djengking. Dengan penuh perhatian
ia mengawasi.
"Siapa kau?" Mengapa...... mengapa kau tahu namaku?"
"Apakah kau tidak mengenali ajahmu lagi?
"Kau.......kau ajahku?"
"Hu, sungguh pintar kau melakukan suatu hal jang
menggemparkan! Tapi..... kau tahu?" tiba2 suaranja
berobah mendjadi bengis. "Dengan perbuatan itu, kau
telah membuat aku djadi malu!"
Muka si Tongkat Setan berubah merah, ia mendjatuhkan
dirinja. Berlutut dihadapan Khong Ting, sang ajah.
Sang ajah membungkukkan tubuhnja untuk memeluk tubuh
Eng Boen.
"Anak, ketika dulu kau pergi dari rumah, setjara
kebetulan aku dapat mengalahkan dan menewaskan si Singa
muka merah. Selama ini kau kutjari-tjari, namun tidak
ada kabar beritanja. Siapa tahu....... siapa tahu kau
adalah penghianat dunia persilatan!" pada achir katanja
itu, Khong Ting menekan suaranja sehingga terdengar
sangat menjeramkan.
"Ajah, aku sebetulnja hendak membalas dendam kepada
orang rimba persilatan tentang sakit hati itu dan adik
perempuanku......"
"Tapi perbuatanmu itu terlalu gila!" bentak sang
ajah. Pelukannja pada diri sang anak dilepaskan.
"Ajah......?"
"Ja, kau membalas sakit hati keluargamu setjara
menjimpang, aku sendiri tidak dapat membenarkan. Lebih2
kau hendak memusnahkan orang2 gagah semua didunia
persilatan!"
"Ajah.......?"
"Aku adalah seorang ajah, tapi aku tidak ingin
mempunjai seorang anak jang mempunjai sifat membunuh
setjara telegas!"
Sehabis berkata demikian, Khong Ting membalikkan
tubuhnja menghadapi orang banjak.
"Kalian semua orang2 gagah dari dunia persilatan
adalah tiangnja dari negara. Lekas2 kalian semua
meninggalkan pulau ini!"
Tanpa disuruh untuk kedua kalinja, semua orang
bergegas meninggalkan pulau Naga Emas jang membawa maut
serta bentjana itu.
Sebentar sadja orang2 gagah ini sudah berada diatas
sebuah perahu besar, jang menggeser kian lama kian djauh
meninggalkan pulau Naga Emas itu. Jang tertinggal
dipulau itu hanja kedua orang ajah dan anak itu.
Baru sadja perahu itu menggeser 1 lie lebih, tiba2
di-pulau itu terdjadi ledakan. Mula2 hanja ketjil dan
djarang2, tapi lama kelamaan pulau itu seperti
terbungkus oleh api.
Ternjata karena malu menghadapi ajahnja dan ia
sendiri sudah mengambil satu keputusan lain, si Tongkat
Setan menarik tombol jang menjambung ke bahan peledak,
sehingga pulau itu habis meledak, lalu tenggelam.
Khong Ting dan Khong Eng Boen mati tertambus dipulau
itu.
Kho Siu Lin memeluk Lay Eng dengan mengutjurkan air
mata ketika melihat kemusnahan pulau itu.
Semua orang2 gagah menggelengkan kepala, menjesalkan
tindakan gila jang dilakukan oleh si Tongkat Setan jang
bermaksud hendak membasmi orang2 gagah didunia
persilatan.
"Sudahlah, Lin-moay, tidak perlu kau bersedih hati
pula," menghibur si anak muda she Kwee. Padahal
dikelopak matanja sendiri telah tergenang butir2 air
mata jang hendak melontjat keluar. Mereka bersedih hati
mengenangkan jang sudah tidak ada pula diatas dunia ini.
Perahu itu terus djuga berlajar tanpa memperdulikan
ledakan api pulau Naga Emas jang telah ditelan oleh
lautan........
Sekali lagi orang2 gagah jang berada diatas perahu
itu menghela napas. Mereka merasa lega, meskipun mustika
perguruan mereka tidak dapat diambil pulang, tapi
perusuh dunia persilatan telah lenjap.
Tongkat Setan telah lenjap. Ia telah meninggal
bersama ajahnja diatas pulau Naga Emas.....
—o—
KABAR terbunuhnja si Tongkat Setan dipulau Naga Emas itu
menggembirakan seluruh orang2 gagah didunia persilatan.
Mereka menjambut kabar itu dengan hati jang riang dan
terbuka.
Perusuh dunia Kang-ouw jang hampir2 memusnakan
orang2 gagah dipulau Naga Emas itu, telah terbunuh dan
tidak ada pula diatas dunia ini.
Perbuataunja sangat djahat, semua kelakuan jang
dilakukan adalah melanggar peraturan undang2 orang2
gagah didunia persilatan.
Namun demikian, si Tongkat Setan tertjatat djuga
oleh sedjarah sebagai seorang jang hampir2 menjebabkan
hantjurnja dunia Kang-ouw!
Sekarang dunia Kang-ouw tenang kembali. Jang timbul
hanjalah kedjahatan2 ketjil sadja.
Disamping itu, rimba persilatan sekarang pun telah
muntjul sepasang pendekar muda suami-isteri. Mereka
selalu memberantas kedjahatan, sehingga orang2 dari
rimba hidjau semua djeri akan keliehayannja pedang
mereka.
Sepasang pendekar muda suami-isteri itu ialah Kwee
Lay Eng dan Kho Siu Lin jang telah terangkap mendjadi
sepasang suami isteri......
— TAMAT —
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil