Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 09 Mei 2017

Cersil 6 Cerita Silat Hina Kelana (Smiling Proud Wonder)

Cersil 6 Cerita Silat Hina Kelana (Smiling Proud Wonder) Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil 6 Cerita Silat Hina Kelana (Smiling Proud Wonder)
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil 6 Cerita Silat Hina Kelana (Smiling Proud Wonder)
Bab 41. Matinya Liok Tay-yu Secara Aneh
Diam-diam Lenghou Tiong membatin, "Put-kay Hwesio ini benar-benar seorang laki-laki kasar dan dogol,
banyak persamaannya dengan Tho-kok-lak-sian yang ketolol-tololan itu. Dia berani berkata tentu juga berani
berbuat, jika dia benar-benar membikin celaka Siausumoay, wah, lantas bagaimana baiknya?"
Sementara itu Gi-lim tampak sangat gelisah, serunya, "Ayah, Lenghou-toako dalam keadaan terluka parah,
lekas menyembuhkan dia. Urusan lain boleh kita bicarakan nanti."
Put-kay Hwesio ternyata sangat penurut terhadap setiap ucapan putrinya, segera ia berkata, "Baik, apa
susahnya untuk menyembuhkan penyakitnya?"
Habis berkata sekenanya ia lantas melemparkan tubuh Ku An. Sedangkan Lenghou Tiong perlahan
direbahkannya di atas tanah, lalu ia tanya dengan suara keras, "Kau menderita luka apa?"
"Dadaku terkena pukulan orang, tapi rasanya tidak apa-apa ...."
Dasar watak Put-kay memang kasar dan tidak sabaran, tanpa menunggu jawaban selesai segera ia memotong,
"Dadamu kena pukulan, tentu Jin-meh (nadi bagian dada) tergetar luka ...."
"Aku ... aku dipukul Tho-kok ...."
"Bagian Jin-meh mana ada Hiat-to yang bernama Tho-kok segala," demikian Put-kay memotong pula.
"Lwekang Hoa-san-pay kalian memang kurang bagus, maka dalam hal Hiat-to menjadi kurang pandai pula.
Biarlah kubantu dengan penyaluran tenaga murniku, tanggung dalam waktu beberapa hari saja kau akan
sembuh kembali dan lincah seperti sediakala."
Habis berkata, tanpa permisi lagi ia terus menutuk Hiat-to bisu di tubuh Lenghou Tiong, menyusul kedua
telapak tangannya yang lebar itu menahan dada dan punggung pemuda itu. Seketika dua arus hawa hangat
menyusup masuk melalui Hiat-to bagian itu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Mendadak dua arus hawa murni itu kebentur dengan enam arus hawa murni Tho-kok-lak-sian yang tertinggal
di dalam tubuh Lenghou Tiong itu, kedua tangan Put-kay hampir-hampir tergetar lepas. Keruan ia berseru
kaget.
"Kenapa, ayah?" tanya Gi-lim.
"Di dalam tubuhnya ada beberapa arus tenaga yang aneh ... dua ... tiga ... empat, ada empat arus .... Eh,
tidak, ada lagi satu, seluruhnya jadi ada lima, kelima arus tenaga murni ini .... Aha, ada lagi satu. Buset,
seluruhnya ada sebanyak enam arus. Wah, jangan-jangan masih ada lagi. Hahaha, sungguh ramai sekali!
Sungguh menarik! Kedua arus tenagaku ini biar kucoba diadu dengan keenam arus tenagamu ini, coba siapa
punya lebih lihai? Ayolah datang lagi! Hm, sudah habis bukan? Hanya enam arus saja? Maknya di ...
memangnya aku Put-kay takut padamu?"
Dasarnya dia memang orang kasar, asalnya adalah jagal hewan, sesudah menjadi Hwesio selamanya juga tidak
pernah baca kitab, sampai tua mulutnya masih suka mengucapkan kata-kata kasar dan kotor.
Begitulah kedua tangannya masih terus menahan kedua Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong dengan erat, lambat
laun dari ubun-ubunnya tampak mengepul kabut tipis. Semula Put-kay masih bisa gembar-gembor, tapi
kemudian tenaganya makin banyak dikerahkan sehingga akhirnya tidak sanggup membuka suara lagi.
Sementara itu hari sudah mulai terang, kabut tipis di atas ubun-ubun Put-kay makin lama makin tebal sehingga
kepalanya yang gundul itu hampir-hampir terselubung. Sampai agak lama, mendadak Put-kay angkat kedua
tangannya sambil terbahak-bahak. Tapi mendadak pula suara tertawanya terhenti. "Bluk", ia jatuh terguling di
atas tanah.
Gi-lim terkejut, "Ayah, yah!" serunya sambil mendekat untuk memayangnya bangun. Tapi badan Put-kay yang
sebesar kerbau itu teramat berat, baru saja terangkat bangun tahu-tahu ia jatuh terduduk pula sehingga Gi-lim
ikut terseret jatuh.
Sekujur badan Put-kay tampak basah air keringat, napas ngos-ngosan. Serunya dengan terputus-putus,
"Maknya, di ... aku ... aku ... maknya ...."
Mendengar ayahnya masih sanggup bersuara dan mencaci maki barulah Gi-lim merasa lega. Katanya, "Ayah,
bagaimana? Apakah sangat lelah?"
"Keparat, di dalam tubuh bocah ini ada enam arus tenaga murni yang sangat lihai, tapi tenaga murni yang
kukerahkan tadi telah ... telah dapat menahannya ke bawah, hehe, jangan khawatir, bocah ini takkan mampus,
pasti takkan mampus, pasti takkan mampus!"
Gi-lim sangat terhibur, waktu ia berpaling, benar juga tampak Lenghou Tiong telah dapat berdiri dengan
perlahan.
"Lwekang si Hwesio besar memang sangat lihai," demikian Dian Pek-kong memuji dengan tertawa, "Hanya
sebentar saja luka parah Lenghou-heng sudah dapat disembuhkan."
Put-kay sangat senang dipuji, segera ia berkata, "Kau bocah ini sebenarnya sudah kelewat takaran melakukan
kejahatan, seharusnya sekali remas kumampuskan dirimu. Tapi mengingat kau telah berjasa menemukan si
bocah Lenghou Tiong ini, biarlah kuampuni jiwamu, lekaslah enyah dari sini!"
Dian Pek-kong menjadi gusar, dampratnya, "Apa artinya lekas enyah dari sini? Maknya, Hwesio gede keparat,
ucapanmu sebenarnya ucapan manusia atau bukan? Kau kan sudah berjanji akan memberi obat penawar racun
jika sebulan aku dapat menemukan Lenghou Tiong, kenapa sekarang kau hendak mungkir janji? Jiwaku sih
tidak menjadi soal, tapi kau telah berjanji dan sekarang tidak mau memberi obat penawarnya, kau benar-benar
Hwesio buruk, Hwesio rendah dan kotor melebihi binatang."
Sungguh aneh, biarpun Dian Pek-kong mencaci maki padanya, sama sekali Put-kay tidak marah, sebaliknya ia
menjawab dengan tertawa, "Coba lihat, sedemikian bocah keparat ini takut mati, takut aku Put-kay Taysu tidak
pegang janji dan tidak memberi obat penawar. Huh, bocah keparat, ini obat penawarnya, ambil!"
Sambil berkata tangannya lantas merogoh ke dalam saku hendak mengeluarkan obat yang dimaksudnya, tapi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
rupanya tadi terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tangannya masih gemetar, sebuah botol porselen kecil
sudah dikeluarkan olehnya, tapi beberapa kali terjatuh lagi ke pangkuannya.
Lekas Gi-lim menjemput botol obat itu dan membuka sumbat botol.
"Berikan tiga biji padanya," kata Put-kay. "Sekarang makan satu biji, tiga hari kemudian makan satu biji lagi
dan lewat enam hari nanti makan biji ketiga. Jika dalam sembilan hari ini kau dibunuh orang bukanlah
tanggunganku."
Dian Pek-kong menerima obat penawar itu dari Gi-lim, sahutnya kemudian, "Hwesio gede, kau telah paksa aku
minum racun, sekarang kau memberikan obat penawar padaku, jika aku tidak memaki kau juga terhitung baik,
maka aku tidak mau mengucapkan terima kasih padamu. Lenghou-heng, tentu ada apa-apa yang hendak kau
bicarakan dengan Siausuhu ini, aku akan pergi saja, sampai berjumpa pula."
Habis berkata ia membalik tubuh terus hendak melangkah pergi.
"Nanti dulu, Dian-heng," seru Lenghou Tiong.
"Ada apa?" tanya Dian Pek-kong.
"Dian-heng," kata Lenghou Tiong, "beberapa kali engkau telah sudi mengalah padaku, engkau benar-benar
pantas menjadi seorang sahabat. Cuma ada sesuatu ingin kunasihatkan, bila engkau tidak mau memperbaiki,
persahabatan kita ini tentu tidak kekal."
"Sudahlah, tak perlu kau katakan juga kutahu," sahut Dian Pek-kong dengan tertawa. "Kau ingin aku jangan
lagi memerkosa wanita baik-baik dan membunuh. Baiklah, aku akan menurut padamu. Di dunia ini masih
banyak wanita cabul, untuk mencukupi seleraku juga tidak perlu harus memerkosa wanita keluarga baik-baik
dan membunuh orang pula. Hahaha, Lenghou-heng, bukankah kau masih ingat kenikmatan di Kun-giok-ih di
kota Heng-san tempo hari?"
Mendengar disebutnya rumah pelacuran itu, seketika wajah Lenghou Tiong dan Gi-lim menjadi merah.
Dian Pek-kong terbahak-bahak dan hendak melangkah pergi pula. Tapi mendadak kaki terasa lemas, ia jatuh
terguling. Sekuatnya ia merangkak bangun, cepat mengambil sebiji obat penawar pemberian Put-kay tadi terus
ditelan. Ia tahu sebelum racun dipunahkan sukarlah turun dari puncak Hoa-san.
Sesudah Lenghou Tiong mendapat saluran tenaga murni dari Put-kay sehingga keenam arus hawa murni yang
ditinggalkan Tho-kok-lak-sian itu dapat ditekan, kini Lenghou Tiong merasa dada sudah tidak sesak lagi, kaki
juga sudah bertenaga, ia sangat girang. Segera ia melangkah maju dan memberi hormat kepada Put-kay,
katanya, "Banyak terima kasih atas pertolongan Taysu tadi."
"Terima kasih tidak perlu, selanjutnya kita toh sudah orang sekeluarga, kau adalah menantuku dan aku adalah
mertuamu, masih pakai terima kasih apa segala?" demikian jawab Put-kay sambil tertawa.
Keruan Gi-lim merasa malu, cepat ia menyela, "Ayah, engkau ... engkau sembarangan mengoceh lagi."
"Eh, mengapa bilang aku sembarangan mengoceh?" sahut Put-kay dengan heran. "Siang dan malam kau
senantiasa merindukan dia, memangnya kau tidak ingin kawin dengan dia? Seumpama tidak kawin apakah
juga tidak mau melahirkan seorang Nikoh yang cantik dengan dia?"
"Cis, tua-tua tak genah, siapa ... siapa ...." demikian semprot Gi-lim dengan muka merah.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ada orang lagi datang. Kiranya adalah ketua Hoasan-
pay, Gak Put-kun dan putrinya, Gak Leng-sian.
Melihat mereka, Lenghou Tiong menjadi girang, cepat ia memapak maju dan berseru, "Suhu, Siausumoay,
kalian lagi. Dan di manakah Sunio?"
Gak Put-kun tidak menjawab, ia pandang Lenghou Tiong dengan sikap dingin. Lalu ia memberi salam kepada
Put-kay Hwesio dan menyapa, "Siapakah gelar Taysu yang terhormat ini? Entah bersemayam di kuil dan
gunung mana? Adakah sesuatu keperluan kunjungan Taysu ke Hoa-san ini?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aku ... aku bernama Put-kay Hwesio, aku ... aku datang ke sini hendak mencari menantu," sahut Put-kay
ambil menuding Lenghou Tiong. Karena tidak jelas seluk-beluknya, pula mendengar orang menjawab tentang
"mencari menantu" segala, maka Gak Put-kun mengira Hwesio gendut itu sengaja hendak menggoda dirinya,
keruan ia sangat gusar. Cuma dia memang seorang peramah dan sabar, betapa pun batinnya bergolak,
lahirnya tetapi tenang-tenang saja. Ia hanya berkata, "Ah, Taysu ini suka berkelakar."
Dalam pada itu Gi-lim juga telah maju memberi hormat padanya, Gak Put-kun lantas tanya, "Tak usah banyak
adat, Gi-lim Sutit, kedatanganmu ke Hoa-san sini apakah atas perintah gurumu?"
Dengan muka rada marah Gi-lim menjawab, "Tidak. Aku ... aku ...."
Hanya sekian saja ucapannya dan tidak dapat melanjutkan pula.
Gak Put-kun tidak tanya lebih jauh, ia berpaling dan menegur Dian Pek-kong, "Hm, Dian Pek-kong, besar amat
nyalimu ya?"
"Belum tentu begitu halnya," sahut Dian Pek-kong. "Aku merasa cocok dengan muridmu, aku lantas membawa
satu pikul guci arak ke sini untuk minum bersama dia sepuas-puasnya, untuk ini juga tidak diperlukan nyali
yang terlalu besar."
Wajah Gak Put-kun tampak semakin kereng, tanyanya pula, "Mana araknya?"
"Sudah lama kami habiskan di atau puncak perenung dosa sama," sahut Pek-kong.
"Apakah benar ucapannya?" Put-kun menoleh kepada Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong menjawab, "Duduk perkara ini cukup panjang. Suhu, biarlah nanti murid menuturkan secara
jelas."
"Sudah berapa hari Dian Pek-kong berada di Hoa-san sini?" tanya Put-kun pula.
"Kira-kira sudah 20 hari," sahut Lenghou Tiong.
"Selama itu dia tetap berada di atas gunung sini?"
"Benar."
"Mengapa tidak kau laporkan padaku?"
"Waktu itu Suhu dan Sunio tiada di rumah."
"Aku dan ibu-gurumu ke mana?"
"Ke sekitar Tiang-an untuk mencari saudara Dian."
"Kau tahu kejahatan orang ini sudah lewat takaran, mengapa takut mati dan malah bergaul dengan dia?"
Mendadak Dian Pek-kong menimbrung, "Akulah yang tidak mau membunuh dia, lalu dia bisa berbuat apa?
Memangnya kalau tidak dapat menandingi aku lantas mesti membunuh diri di hadapanku?"
"Di hadapanku masakah kau ada hak bicara?" damprat Put-kun. Ia menoleh kepada Lenghou Tiong dan
berkata, "Bunuh dia!"
"Ayah," tiba-tiba Leng-sian menyela, "Toasuko terluka parah, mana dia sanggup bertempur dengan dia?"
"Memangnya orang lain tidak terluka? Apa yang kau khawatirkan? Aku berada di sini, masakah jahanam itu
dapat dibiarkan mencelakai muridku?" demikian jengek Put-kun.
Ia cukup kenal watak Lenghou Tiong yang cerdik dan banyak tipu akalnya, selamanya benci pada kejahatan,
belum lama berselang malah pernah dilukai oleh Dian Pek-kong, maka mustahil dia mau bersahabat dengan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
maling cabul ini. Diduganya mungkin sang murid tidak mampu melawannya dengan kekerasan, maka hendak
mengalahkannya dengan tipu daya. Keadaan Dian Pek-kong yang payah itu boleh jadi adalah akibat perbuatan
muridnya itu. Sebab itulah ia tidak marah sungguh-sungguh ketika mendengar Lenghou Tiong bergaul dengan
maling cabul itu, dia hanya menyuruh Lenghou Tiong membunuhnya saja.
Waktu Gak Put-kun berangkat kemarin, keadaan Lenghou Tiong terang dalam keadaan kempas-kempis, tapi
sekarang ternyata dapat bergerak, sudah tentu Put-kun merasa heran, cuma seketika ia tidak sempat tanya,
terutama Dian Pek-kong itu memang sudah lama dicarinya, maka ia memerintahkan Lenghou Tiong
membunuhnya. Andaikan Dian Pek-kong berani melawan juga takkan tahan oleh tenaga jentikan jari sendiri.
Tak terduga Lenghou Tiong hanya menjawab, "Suhu, Dian-heng ini telah berjanji pada Tecu bahwa selanjutnya
dia akan memperbaiki kelakuannya dan takkan memerkosa wanita baik-baik lagi, Tecu yakin dia pasti akan
pegang janji, maka lebih baik ...."
"Dari mana kau tahu dia pasti akan memegang janji? Terhadap durjana yang mahajahat ini juga bicara tentang
kepercayaan segala! Sudah berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban goloknya? Kalau manusia binatang
demikian tak dibunuh, apa gunanya lagi kita belajar silat? Sian-ji, coba berikan pedangmu kepada Toasuko!"
Leng-sian mengiakan, ia lolos pedang sendiri dan diangsurkan kepada Lenghou Tiong.
Tentu saja Lenghou Tiong serbasusah. Selamanya ia tidak berani membangkang perintah gurunya. Tapi tadi
Dian Pek-kong sudah menyanggupi akan memperbaiki kelakuannya, jika sekarang membunuhnya terasa
tidaklah berbudi.
Selagi otaknya berpikir ia pun menerima pedang yang diangsurkan Leng-sian itu. Dengan langkah
sempoyongan ia mendekati Dian Pek-kong. Kira-kira belasan tindak, ia pura-pura karena lukanya yang parah
mendadak kaki lemas dan jatuh terguling sehingga pedang menusuk pada betis sendiri.
Kejadian yang tak tersangka-sangka ini membikin orang banyak sama menjerit kaget. Gi-lim dan Leng-sian
berbareng lari ke arah Lenghou Tiong. Tapi baru satu-dua langkah Gi-lim berlari segera berhenti. Ia pikir diri
sendiri adalah Nikoh, mana boleh memperlihatkan rasa perhatiannya kepada seorang pemuda di hadapan
umum?
Dalam pada itu Leng-sian telah berseru, "Toasuko, kenapakah engkau?"
Lenghou Tiong tidak menjawab, kedua matanya terpejam rapat. Cepat Leng-sian mencabut pedang yang
menancap di betis Suhengnya itu sehingga darah mancur keluar dari tempat luka.
Segera ia mengeluarkan obat dan dibubuhkan di bagian luka itu. Waktu ia berpaling, tiba-tiba dilihatnya wajah
Gi-lim yang cantik itu pucat pasi dan penuh rasa khawatir. Tergetarlah hati Leng-sian, "Nikoh cilik ini ternyata
menaruh perhatian sedemikian besar terhadap Toasuko."
Ketika berdiri kembali, sambil menjinjing pedang Leng-sian berkata, "Ayah, biar aku saja yang membunuh
jahanam itu."
"Kau mau membunuh keparat itu, jangan-jangan mencemarkan namamu sendiri," kata Gak Put-kun. "Berikan
pedang padaku."
Maklumlah, Dian Pek-kong terkenal sebagai maling cabul, sedangkan Gak Leng-sian masih seorang gadis suci
bersih, bila kelak di dunia Kangouw tersiar bahwa Dian Pek-kong terbunuh oleh putri keluarga Gak, hal ini tentu
akan ditambah macam-macam cerita, dibumbu-bumbui oleh mulut usil yang tidak senonoh, ini terang akan
merugikan nama baik Leng-sian sendiri.
Maka Leng-sian lantas mengangsurkan pedangnya kepada sang ayah. Tapi Put-kun tidak memegangnya,
melainkan mengebaskan lengan bajunya untuk membebatnya.
"Jangan!" seru Put-kay mendadak. Cepat ia tanggalkan sepasang sepatunya dan disiapkan di tangan.
Benar juga, tertampak Gak Put-kun telah mengebaskan pula lengan bajunya sehingga pedang yang tadinya
terbebat itu meluncur cepat ke arah Dian Pek-kong. Memangnya Put-kay sudah menduga, segera ia pun
menyambitkan sepasang sepatunya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Pedang lebih berat daripada sepatu, pula pedang meluncur lebih dulu. Tapi sungguh aneh, sepasang sepatu
Put-kay ternyata dapat melampaui pedang bahkan terus memutar balik dan dari kanan-kiri sepasang sepatu itu
berhasil mengait kedua sisi gagang pedang yang melintang itu. Pedang itu diputar balik mentah-mentah,
malahan terus menyambar pula ke depan dan beberapa meter jauhnya kemudian baru jatuh dan menancap di
atas tanah. Sepasang sepatu itu masih mencantol di atas pedang dan bergoyang-goyang.
"Wah, runyam benar!" seru Put-kay tiba-tiba. "Anak Lim, tadi ayah banyak membuang tenaga ketika
menyembuhkan si anak menantu sehingga pedang itu hanya mencapai setengah jalan saja. Padahal pedang itu
seharusnya menyambar sampai di depan guru menantumu baru jatuh ke bawah, dengan demikian baru dapat
membuatnya kaget. Tapi sekarang ternyata gagal. Ai, sekali ini benar-benar runyam, sungguh memalukan."
Melihat sikap Gak Put-kun yang tidak senang itu, cepat Gi-lim membisiki Put-kay agar jangan bicara lebih
lanjut. Ia sendiri lantas menjemput kembali sepatu sang ayah. Ketika ia cabut pedang yang menancap di atas
tanah itu, hatinya menjadi ragu, sebab diketahuinya Lenghou Tiong tidak ingin membunuh Dian Pek-kong, bila
pedang itu dikembalikan kepada Gak Leng-sian dan nona itu yang turun tangan membinasakan Dian Pek-kong,
hal ini tentu akan membikin susah kepada Lenghou Tiong.
Dalam pada itu Gak Put-kun melengak juga ketika melihat Put-kay dapat menggagalkan serangannya kepada
Dian Pek-kong hanya dengan menyambitkan sepasang sepatu saja. Bahkan Hwesio gendut itu berkaok-kaok,
katanya tadi telah banyak membuang tenaga lantaran habis menyembuhkan luka Lenghou Tiong. Walaupun
demikian, betapa tinggi kepandaian si Hwesio memang jelas jauh lebih kuat daripada dirinya, sungguhpun
kebasan lengan bajunya tadi belum sempat menggunakan Ci-he-sin-kang, tapi seorang tokoh terkemuka sekali
menyerang tidak kena mana boleh mencoba lagi untuk kedua kalinya?
Maka sambil memberi hormat, dengan muka membesi Put-kun berkata, "Kagum, sungguh kagum sekali. Jika
Taysu sudah bertekad akan membela jahanam cabul itu, hari ini tidak leluasa kuturun tangan lagi. Lalu Taysu
ingin apa pula?"
Mendengar Gak Put-kun sudah menyatakan hari ini takkan turun tangan membunuh Dian Pek-kong, segera Gilim
mendekati Leng-sian dan mengangsurkan pedang dengan hormat, katanya, "Cici, pedangmu ini ...."
Mendadak Leng-sian mendengus dan pegang senjata itu, tanpa memandang sekejap pun ia terus masukkan
pedang ke dalam sarungnya.
"Hahahaha!" tiba-tiba Put-kay bergelak tertawa, "Lebih baik sekarang juga kita lantas berangkat saja anak
menantuku. Sumoaymu sangat cantik, jika kau berada bersama dia, sungguh aku merasa khawatir."
"Taysu agaknya memang suka berkelakar," sahut Lenghou Tiong. "Tapi kata-kata yang mencemarkan nama
baik Hing-san dan Hoa-san-pay hendaknya jangan dikeluarkan lagi."
"Apa maksudmu?" tanya Put-kay dengan heran. "Dengan susah payah aku menemukanmu dan menyelamatkan
jiwamu pula, tapi sekarang kau tidak mau mengawini putriku?"
Dengan muka merah padam Lenghou Tiong menjawab, "Budi pertolongan Taysu sudah tentu seumur hidup
takkan kulupakan. Tapi Hing-san-pay mempunyai peraturan yang keras, bila Taysu mengucapkan kata-kata
iseng demikian tentu akan membikin rikuh kepada Ting-sian dan Ting-yat Suthay."
"Eh, anak Lim, apa-apaan calon menantuku ini? Sungguh aku ... aku tidak paham?" demikian seru Put-kay.
Mendadak Gi-lim menangis sambil mendekap muka, serunya, "Kau jangan omong lagi, ayah, jangan omong
lagi! Dia adalah dia, dan aku adalah aku, ada sangkut paut apa antara aku dan ... dan dia?"
Segera ia lari cepat ke bawah gunung.
Put-kay garuk-garuk kepalanya yang gundul, untuk sejenak ia termangu-mangu, katanya kemudian, "Aneh,
sungguh aneh! Bila tidak bertemu, dengan susah payah berusaha mencarinya. Tapi sesudah bertemu ditinggal
pergi lagi? Ah benar-benar sangat mirip ibunya, perasaan Nikoh cilik memang sukar diraba."
Habis ini segera ia pun lari pergi menyusul Gi-lim.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dian Pek-kong juga lantas berbangkit perlahan. Sesudah minum obat penawar racun pemberian Put-kay tadi,
sekarang daya kerja racun dalam badannya sudah berkurang. Katanya kepada Lenghou Tiong, "Sampai
berjumpa pula, Lenghou-heng!"
Lalu ia putar tubuh dan turun ke bawah gunung dengan langkah lemah dan sempoyongan.
Sesudah Dian Pek-kong pergi jauh barulah Gak Put-kun membuka suara, "Anak Tiong, sungguh berbudi kau
terhadap jahanam itu. Kau lebih suka melukai diri sendiri daripada membunuhnya."
Lenghou Tiong rada malu. Ia tahu pandangan sang guru sangat tajam, tingkah lakunya yang pura-pura jatuh
tadi tidak nanti dapat mengelabui mata gurunya. Terpaksa ia menjawab dengan menunduk, "Suhu, meski
perbuatan orang she Dian itu tidak baik, tapi dia sudah berjanji akan mengubah perbuatannya, pula beberapa
kali Tecu pernah dikalahkan olehnya dan selalu dia memberi ampun tanpa membunuh."
"Hm, dengan bangsat berhati binatang begitu juga bicara tentang budi setia segala, selama hidup ini tentu kau
akan merasakan akibatnya," jengek Put-kun.
Biasanya ia sangat mengasihi muridnya yang tertua ini, maka terhadap perbuatannya yang pura-pura melukai
diri sendiri waktu menghindari pembunuhan kepada Dian Pek-kong tadi tidak mengusutnya lebih lanjut. Pula ia
merasa puas dengan jawaban Lenghou Tiong kepada Put-kay yang tegas itu. Maka persoalan Dian Pek-kong
untuk sementara dikesampingkan. Tiba-tiba ia bertanya pula, "Dan di mana kitab itu?"
Waktu melihat sang guru pulang lagi bersama Sumoaynya, segera Lenghou Tiong tahu pasti peristiwa
hilangnya kitab pusaka yang dicuri Leng-sian itu telah ketahui. Sekarang sang guru pulang lagi untuk
mengurus, hal ini sangat kebetulan baginya malah.
Segera ia menjawab, "Kitab itu berada pada Laksute. Demi untuk menolong jiwaku, mohon Suhu jangan
menyalahkan maksud baik Siausumoay itu. Namun tanpa seizin Suhu betapa pun Tecu tidak berani menyentuh
kitab pusaka itu, lebih-lebih tentang isinya, membaca sekejap saja Tecu tidak berani."
Seketika air muka Gak Put-kun tampak berubah tenang, katanya dengan tersenyum, "Memang seharusnya
begitu. Bukannya aku tidak mau mengajarkan ilmu sakti itu padamu, soalnya perguruan kita masih
menghadapi urusan gawat, keadaan sangat mendesak, maka aku tiada tempo buat memberi petunjuk padamu.
Bila membiarkan kau melatihnya sendiri bukan mustahil akan tersesat dan tak keruan malah."
Setelah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, "Put-kay Hwesio tadi tampaknya angin-anginan, tapi
Lwekangnya memang boleh juga. Apakah dia yang telah memunahkan enam arus hawa murni yang aneh
dalam tubuhmu itu? Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Rasa mual dan sesak dada sekarang sudah bilang, macam-macam siksaan rasa panas seperti dibakar
sekarang juga sudah lenyap, hanya sekujur badan terasa lemas, sedikit pun tidak bertenaga," sahut Lenghou
Tiong.
"Habis sembuh dari luka parah sudah tentu lemah," ujar Gak Put-kun. "Pertolongan jiwa Put-kay Hwesio
padamu itu kita harus membalasnya kelak."
Lenghou Tiong mengiakan.
Waktu Put-kun naik kembali ke Hoa-san, diam-diam ia khawatir akan kepergok oleh Tho-kok-lak-sian, kini ia
merasa lega karena musuh-musuh itu tidak kelihatan bayangannya. Tapi ia pun tidak ingin tinggal lebih lama di
situ, segera ia berkata, "Marilah kita mencari Tay-yu, lalu berangkat bersama ke Ko-san. Tiong-ji, apakah kau
sanggup menempuh perjalanan jauh?"
Lenghou Tiong sangat girang, berulang-ulang ia menyatakan dapat dan sanggup.
Begitulah mereka bertiga lantas menuju ke pondok kecil di samping ruang pendopo, Leng-sian mendahului
mendorong pintu dan masuk ke dalam. Tapi mendadak terdengar nona itu menjerit kaget, suaranya penuh rasa
ngeri dan takut.
Berbareng Gak Put-kun dan Lenghou Tiong menyusul ke dalam. Maka tertampaklah Liok Tay-yu menggeletak
tak berkutik di atas lantai.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Jangan kaget, Sumoay," kata Lenghou Tiong dengan tertawa. "Akulah yang menutuk roboh dia."
"O, kiranya begitu, membikin kaget saja," sahut Leng-sian. "Mengapa kau tutuk Lak-kau-ji?"
"Sebenarnya ia bermaksud baik, karena aku tidak mau membaca kitab pusaka itu dia lantas membacanya agar
aku mendengarkan dengan baik. Karena aku tidak dapat menghalangi dia, terpaksa aku menutuknya supaya
tak bisa berkutik. Tapi mengapa dia ...."
Belum habis Lenghou Tiong menutur, sekonyong-konyong Gak Put-kun bersuara "he" dan cepat memeriksa
pernapasan Liok Tay-yu, lalu memegang nadinya pula. Lalu katanya terkejut, "He, mengapa dia ... dia sudah
mati? Tiong-ji, Hiat-to apa yang kau tutuk?"
Keruan kaget Lenghou Tiong tidak kepalang demi mendengar Liok Tay-yu sudah mati, ia terhuyung-huyung
dan hampir saja jatuh kelengar.
"Aku ... aku ...." katanya dengan suara gemetar, tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi.
Ia coba meraba Liok Tay-yu, terasa sudah dingin dan kaku, nyata sudah lama matinya. Tak tertahan lagi ia
menjerit menangis, "Lak ... Laksute, engkau benar-benar telah meninggal?"
"Dan di manakah kitabnya?" tanya Put-kun.
Waktu Lenghou Tiong memandang dengan air mata berlinang-linang, memang benar kitab "Ci-he-pit-kip" itu
sudah tak kelihatan lagi. Ia pun bertanya, "Ya, di manakah kitabnya?"
Cepat ia memeriksa baju Liok Tay-yu, tapi tiada menemukan apa yang dicarinya. Katanya kemudian, "Waktu
Tecu menutuk roboh Laksute jelas masih terlihat kitab pusaka itu tertaruh di atas meja, mengapa ... mengapa
sekarang bisa hilang?"
Segera Leng-sian mencari lagi ke segenap pelosok pondok itu, tapi Ci-he-pit-kip itu benar-benar sudah
menghilang. Keruan Gak Put-kun merasa cemas, ia coba periksa jenazah Liok Tay-yu, tapi tiada sesuatu tandatanda
luka yang menyebabkan kematiannya. Di sekitar pondok, bahkan atas genting juga diperiksa, namun
tiada sesuatu bekas yang menandakan pernah didatangi orang luar. Jika tiada orang luar pernah datang ke situ
terang bukan Tho-kok-lak-sian atau Put-kay Hwesio yang mengambil kitab itu.
"Tiong-ji, sebenarnya Hiat-to mana yang telah kau tutuk?" tanya Put-kun dengan suara bengis.
Seketika Lenghou Tiong berlutut di hadapan sang guru, jawabnya, "Dalam keadaan terluka waktu itu Tecu
khawatir kurang kuat menutuknya, maka yang kututuk adalah Tan-tiong-hiat, tak terduga malah membikin ...
membikin celaka Laksute."
Habis berkata segera ia lolos pedang yang masih bergantung di pinggang Liok Tay-yu yang sudah tak bernyawa
itu terus hendak menggorok leher sendiri.
Namun sekali Put-kun menjentik dengan jarinya, kontan pedang itu mencelat dan terbang keluar menembus
daun jendela.
"Sekalipun ingin mati juga mesti menemukan Ci-he-pit-kip lebih dulu," kata Put-kun dengan kereng. "Di mana
telah kau sembunyikan kitab pusaka itu?"
Dingin sekali perasaan Lenghou Tiong, ternyata sang guru telah mencurigai dia menyembunyikan Ci-he-pit-kip.
"Suhu, kitab pusaka itu pasti telah dicuri orang. Betapa pun Tecu berjanji akan mencari dan menemukannya
kembali tanpa kurang satu halaman pun."
Kusut sekali pikiran Gak Put-kun, katanya, "Jika isi kitab itu sampai disalin atau dihafalkan orang di luar kepala,
sekalipun akhirnya kitab itu diketemukan kembali juga tiada nilainya lagi disebut sebagai kitab pusaka
perguruan kita."
Setelah merandek, kemudian ia menyambung dengan suara ramah, "Anak Tiong, jika kau yang mengambil
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kitab itu hendaknya kau kembalikan saja. Suhu berjanji takkan mengomelimu."
Lenghou Tiong melengak, ia memandang mayat Liok Tay-yu terkesima. Sekonyong-konyong menengadah dan
tertawa panjang, lalu serunya, "Suhu, bila ada sepuluh orang yang membaca biar kubunuh sepuluh, kalau ada
seratus orang juga seratus orang akan kubunuh. Dan bila Suhu masih tetap menyangsikan Tecu yang
mencurinya, silakan Suhu bunuh Tecu saja sekarang dengan sekali hantam."
Put-kun menggeleng, katanya, "Coba berdirilah. Bila kau mengaku tidak tentu juga tidak. Selamanya kau
berhubungan sangat baik dengan Tay-yu, sudah tentu kau tidak sengaja membunuhnya. Cuma ... kitab pusaka
itu lantas dicuri siapa?"
Ia memandang jauh keluar jendela dan termangu-mangu.
"Ayah," tiba-tiba Leng-sian menyela, "Anak yang bersalah. Akulah yang banyak bertingkah dan mencuri kitab
pusaka ayah, siapa tahu Toasuko berkeras tak mau membacanya dan sekarang malah membikin jiwa Laksuko
juga melayang. Biarlah anak ... anak pergi mencari kitab itu."
"Coba kita mencari sekali lagi di sekitar sini," ujar Pun-kun.
Bab 42. Gak Put-kun Ditawan Musuh dan Lenghou Tiong yang
Menolong
Namun meski mereka bertiga mencari pula segenap pelosok pondok kecil itu dengan lebih teliti toh hasilnya
tetap nihil. Akhirnya Put-kun berkata, "Kejadian ini jangan sekali-kali disiarkan keluar, kecuali aku yang akan
memberitahukan kepada ibumu, kepada siapa pun jangan bercerita. Marilah mengubur Tay-yu dan lekas
tinggalkan tempat ini."
Waktu mengangkat Liok Tay-yu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka pula. Pikirnya, "Di antara sesama
saudara seperguruan, selamanya Laksute paling baik padaku. Siapa duga sekali salah tutuk aku membinasakan
dia. Hal ini sungguh di luar dugaan, mungkin karena di dalam tubuhku terdapat hawa murni yang ditinggalkan
Tho-kok-lak-sian yang aneh itu, maka tenagaku menutuk telah jauh berbeda? Seumpama betul demikian, lalu
kitab Ci-he-pit-kip itu mengapa bisa menghilang tanpa bekas? Seluk-beluk kejadian ini benar-benar sukar
untuk dimengerti. Sekarang Suhu sudah mencurigai diriku, tiada gunanya aku memberi penjelasan, paling
perlu aku harus menyelidiki perkara ini sehingga jelas, sesudah itu biarlah aku membunuh diri untuk mengiringi
kematian Laksute."
Ia mengusap air mata, diambil sebuah cangkul untuk menggali liang kubur Liok Tay-yu. Jika dalam keadaan
biasa, sebuah liang kubur saja tidak perlu banyak membuang tenaganya, tapi sekarang dia sudah mandi
keringat dengan napas tersengal-sengal, bahkan atas bantuan Leng-sian barulah jenazah Liok Tay-yu dapat
dikubur secara sederhana.
Kemudian mereka lantas berangkat ke Pek-ma-tik untuk bergabung dengan Gak-hujin dan lain-lain.
Sudah tentu Gak-hujin sangat girang melihat Lenghou Tiong sudah sehat, bahkan ikut datang pula. Tapi ketika
dari sang suami diketahui tentang kematian Liok Tay-yu serta hilangnya Ci-he-pit-kip, hal ini membuatnya
sedih dan meneteskan air mata.
Soal hilangnya Pit-kip baginya tidak terlalu gawat karena isi kitab itu sudah dipelajari dengan masak oleh sang
suami. Hanya tentang kematian Liok Tay-yu, murid yang disukai oleh segenap saudara seperguruan itulah yang
membuatnya berduka.
Murid-murid yang lama tidak tahu urusannya, yang jelas diketahui adalah guru dan ibu guru mereka, begitu
pula Toasuko dan Siausumoay tertampak lesu. Maka mereka pun ikut prihatin dan tidak berani bicara atau
tertawa keras.
Gak Put-kun menyuruh Lo Tek-nau menyewa dua kereta untuk Gak-hujin dan Leng-sian, yang lain untuk
Lenghou Tiong yang masih lemah. Rombongan lantas meneruskan perjalanan ke Ko-san di sebelah timur.
Satu hari sampailah mereka di Wi-lim-tin, hari sudah hampir gelap, mereka lantas mencari hotel untuk
bermalam. Tapi kota kecil ini hanya ada sebuah hotel yang telah penuh tamu. Karena membawa keluarga
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
wanita sehingga dalam hal penginapan menjadi kurang leluasa. Terpaksa Gak Put-kun memerintahkan
melanjutkan perjalanan ke kota di depan.
Di luar dugaan, beberapa li kemudian mendadak kereta yang ditumpangi nyonya Gak patah asnya dan tidak
dapat meneruskan perjalanan.
"Sunio," kata Lenghou Tiong sesudah Gak-hujin dan Leng-sian turun dari kereta mogok itu, "lukaku sudah
sembuh, silakan Sunio dan Sumoay menumpang keretaku ini, biar aku berjalan bersama orang banyak."
Dan baru saja Lenghou Tiong keluar dari keretanya, tiba-tiba Si Cay-cu menuding ke arah timur laut sana dan
berseru, "Suhu, di tepi hutan sana ada sebuah kelenteng, apakah kita mau minta memondok barang semalam
saja di sana?"
"Hanya anggota keluarga wanita yang kurang leluasa," ujar Gak-hujin.
Tetapi Gak Put-kun lantas menjawab, "Cay-cu, boleh coba kau pergi tanya, jika Hwesio penghuni kelenteng itu
menolak, maka jangan kau memaksanya."
Cay-cu mengiakan dan segera berlari pergi. Tidak lama kemudian ia sudah lari kembali, dari jauh ia berteriak,
"Suhu, kelenteng itu dalam keadaan rusak dan tiada penghuninya."
Keruan semua orang sangat girang dan merasa kebetulan. Segera To-kin, Bok Pek-lo, Su Ki dan beberapa
murid termuda mendahului lari ke sana untuk membersihkan tempat bermalam itu.
Ketika rombongan Gak Put-kun sampai di luar kelenteng, sementara itu langit tiba-tiba mendung, dalam
sekejap saja cuaca menjadi gelap.
"Untung ada kelenteng rusak ini, kalau tidak kita pasti akan kehujanan di tengah jalan," kata Gak-hujin.
Waktu mereka masuk ke ruangan kelenteng, kiranya arca yang dipuja di situ adalah Toapekong Yok-ong (raja
obat) yang aslinya bernama Sin-long-si.
Beramai-ramai Gak Put-kun dan lain-lain lantas memberi hormat kepada Toapekong. Dan belum lagi mereka
berbenah seperlunya tiba-tiba sinar kilat menyambar-nyambar dan guntur berbunyi, menyusul hujan lantas
menetes dengan lebatnya.
Karena kelenteng itu sudah rusak, hampir di mana-mana air bocor menggenangi ruangan kelenteng itu.
Terpaksa mereka tidak memasang tikar dan membuka selimut, masing-masing hanya mencari tempat duduk
yang tidak kebocoran. Sedangkan Ko Kin-beng, Nio Hoat dan tiga orang murid wanita sibuk menanak nasi.
"Hujan musim rendeng ini cepat amat datangnya, bisa jadi panen kali ini takkan berhasil dengan baik,"
demikian kaca Gak-hujin.
Dalam pada itu Lenghou Tiong yang duduk meringkuk di pojok sana sedang termenung-menung memandangi
air hujan yang menyiram dari atas talang yang rusak. Pikirnya, "Jika Laksute juga berada di sini, tentu suasana
akan riang gembira."
Biasanya di antara Lenghou Tiong, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu, Ko Kin-beng dan lain-lain paling suka bergurau
bila berkumpul bersama. Tapi sejak Liok Tay-yu meninggal, karena merasa berdosa dan yakin dirinya sendiri
takkan hidup terlalu lama lagi di dunia ini, maka jarang sekali Lenghou Tiong mengajak bicara dengan Lengsian.
Terkadang bila ia melihat Leng-sian bergaul dengan Peng-ci, selalu ia menyingkir sejauh mungkin.
Sering ia berpikir, "Biarpun tahu akan dimaki oleh Suhu, tapi Siausumoay telah sengaja mencuri Ci-he-pit-kip
untukku, ini menandakan betapa cinta kasihnya kepadaku. Jika aku mencintai Sumoay, sudah seharusnya aku
menginginkan dia hidup senang dan bahagia. Aku sudah bertekad akan membunuh diri untuk membalas budi
Laksute bila kelak kitab pusaka itu diketemukan, maka tidak boleh aku mendekati Siausumoay pula. Dia dan
Lim-sute adalah pasangan yang setimpal, semoga Siausumoay dapat melupakan diriku sebersih-bersihnya. Bila
aku mati nanti janganlah dia menitikkan setetes air mata pun."
Walaupun begitu pikirnya, tapi setiap kali bila melihat Leng-sian jalan bersama Peng-ci sambil bicara dengan
asyiknya, maka pedih juga rasa hatinya. Kini dilihatnya pula Leng-sian sedang sibuk membantu menanak nasi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
dan pekerjaan lain, pada waktu nona itu mondar-mandir, setiap kali beradu pandang dengan Peng-ci, kedua
muda-mudi itu sama menampilkan senyuman berarti.
Tukar pandang mesra mereka itu disangka tiada orang lain yang tahu, akan tetapi setiap kali mereka
bersenyum sebenarnya tidak terlepas dari pandangan Lenghou Tiong.
Sudah tentu pandangan kedua orang itu membuat perasaan Lenghou Tiong tambah pedih. Ia bermaksud
berpaling ke arah lain dan tak mau memandangnya, namun setiap Leng-sian lalu di depannya, tanpa merasa ia
melirik juga terhadap si nona.
Sehabis dahar malam, masing-masing lantas hendak tidur. Hujan masih terus turun, sebentar deras, sebentar
gerimis, tak berhenti-henti.
Karena perasaan kusut, Lenghou Tiong tak bisa tidur. Kira-kira sejam-dua jam, terdengarlah suara
mendengkur para Sutenya di sana-sini, semuanya sudah tidur nyenyak.
Sekonyong-konyong dari jurusan barat daya berkumandang suara derapan kuda yang ramai, jumlahnya ada
belasan dan sedang mendatang melalui jalan raya.
Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, "Di tengah malam buta dan hujan mengapa ada orang mengebut kudanya
secepat itu? Jangan-jangan rombongan kita ini yang dituju?"
Segera ia bangun duduk. Pada saat itulah terdengar Gak Put-kun telah membentak dengan suara tertahan,
"Ssst, semua jangan bersuara!"
Tidak lama belasan penunggang kuda itu telah lewat di luar kelenteng. Sementara itu anak murid Hoa-san-pay
sudah mendusin dan masing-masing telah menyiapkan senjata untuk menghadapi musuh. Mereka merasa lega
mendengar suara kuda lari itu sudah jauh melalui kelenteng.
Baru mereka hendak tidur kembali, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai itu berputar balik.
Belasan penunggang kuda telah sampai di luar kelenteng, lalu berhenti.
Segera terdengar suara seorang yang keras dan nyaring berseru, "Apakah Gak-siansing dari Hoa-san-pay
berada di dalam kelenteng? Ada suatu urusan kami ingin minta keterangan."
Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, biasanya Lenghou Tiong yang mewakilkan perguruannya melayani
orang luar. Segera ia menuju ke pintu, ia tarik palang pintu dan menjawab, "Tengah malam begini entah kawan
dari manakah yang datang kemari?"
Ketika pintu terbuka, ia lihat di luar kelenteng telah berbaris 15 penunggang kuda, beberapa orang di
antaranya membawa Khong-beng-ting (lampu Khong Beng, yaitu sejenis lampu seperti lampu kapal zaman
sekarang), serentak mereka menyorotkan sinar lampu mereka ke muka Lenghou Tiong.
Di tengah malam gelap mendadak disoroti cahaya lampu yang terang, sudah tentu Lenghou Tiong merasa
silau. Perbuatan demikian sesungguhnya sangat kasar, tidak tahu adat.
Dari kejadian ini saja sudah dapat diketahuinya maksud pendatang-pendatang itu terang bersifat permusuhan.
Waktu Lenghou Tiong memerhatikan, ternyata orang-orang itu semuanya memakai kedok kain hitam, hanya
sepasang mata saja yang kelihatan, kedok itu mungkin dipakai sebagai penahan air hujan, tapi maksud
tujuannya yang jelas agar orang lain tidak dapat mengenali muka asli mereka.
Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya, "Orang-orang ini kalau bukan sudah dikenal, tentunya khawatir wajah
mereka terlihat dan diingat-ingat oleh kami."
Begitulah, maka seorang di antaranya lagi berkata pula, "Diharap Gak Put-kun, Gak-siansing suka keluar
menjumpai kami."
"Siapa tuan?" tanya Lenghou Tiong. "Tolong beri tahukan she dan namamu yang mulia agar dapat kulaporkan
kepada Suhuku."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Tentang siapa kami rasanya kau tidak perlu tanya lagi," sahut orang itu. "Boleh kau katakan kepada gurumu
bahwa kami mendengar Hoa-san-pay telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh asal milik Hok-wi-piaukiok di Hokkian
itu. Maka kami ingin meminjam dan melihatnya."
Lenghou Tiong menjadi gusar, jawabnya, "Hoa-san-pay kami mempunyai ilmu silat kebanggaannya sendiri,
buat apa kami menginginkan Pi-sia-kiam-boh orang lain? Jangankan kami memang tidak mendapatkan kitab
itu, seumpama didapat oleh kami, bila tuan memintanya secara begini, apakah sikapmu ini dapat dikatakan
menghargai Hoa-san-pay kami?"
Orang itu terbahak-bahak, dan belasan kawannya juga ikut mengakak. Suara tertawa mereka berkumandang
jauh di tengah malam sunyi itu, dari suara mereka yang keras nyaring itu teranglah Lwekang setiap orang
tidaklah lemah.
Diam-diam Lenghou Tiong terkejut dan sadar lagi berhadapan dengan musuh tangguh, ke-15 orang itu jelas
adalah jago-jago pilihan semua, cuma tidak diketahui dari mana asal usulnya.
Di tengah suara gelak tertawa orang banyak itu lantas terdengar seorang di antaranya berseru lantang,
"Selama ini kami kenal Gak-siansing yang bergelar Kun-cu-kiam itu memiliki ilmu pedang yang sakti dan jarang
ada bandingannya, terhadap Pi-sia-kiam-boh segala sudah tentu tidak sudi mengincarnya. Tapi kami adalah
Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco), maka kami benar-benar sangat ingin melihat
kitab ilmu pedang itu, diharap Gak-siansing suka memperlihatkannya."
Suara orang ini dapat terdengar jelas di tengah gelak tawa orang banyak dan bahkan tetap lantang, ini
menandakan Lwekang pembicara ini lebih kuat setingkat lagi daripada kawan-kawannya.
"Sebenarnya siapakah tuan? Kau ...." baru Lenghou Tiong bertanya sekian saja, suara sendiri sedikit pun tak
terdengar dan tenggelam di tengah suara tertawa orang-orang itu.
Terkesiap hati Lenghou Tiong dan tidak melanjutkan ucapannya. Diam-diam ia merasa cemas terhadap
Lwekang sendiri yang terlatih selama belasan tahun kini ternyata tiada gunanya lagi.
Sebenarnya sejak meninggalkan Hoa-san, sepanjang jalan beberapa kali ia pernah coba meyakinkan inti
Lwekang perguruannya sendiri, tapi setiap kali mengerahkan tenaga, selalu hawa murni dalam badan bergolak
dengan hebatnya dan sukar dikuasai, rasanya sesak tak tertahan, kalau tidak berhenti berlatih bisa jadi lantas
pingsan.
Karena itu ia pernah minta nasihat kepada gurunya, tapi Gak Put-kun hanya memandangnya dengan sorot
mata dingin tanpa menjawab.
Tatkala itu Lenghou Tiong menganggap hidupnya toh takkan lama lagi, buat apa meyakinkan Lwekang pula.
Maka ia pun tidak meneruskan latihannya lebih lanjut. Akhir-akhir ini badannya telah sehat kembali, gerakgeriknya
sudah biasa, tak tersangka suara bicaranya sekarang ternyata tiada membawa suara sedikit pun dan
hilang di tengah suara tertawa musuh.
Tapi segera terdengar suara Gak Put-kun yang nyaring berkumandang keluar dari dalam kelenteng, "Kalian
adalah tokoh persilatan ternama, mengapa merendah hati dan mengaku sebagai Bu-beng-siau-cut? Selamanya
orang she Gak tidak pernah omong kosong, tantang Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim itu tidak berada padaku."
Ia menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti untuk mengantarkan suaranya, maka di tengah suara tertawa
belasan orang di luar kelenteng itu suara Gak Put-kun masih terdengar dengan sangat jelas, baik bagi orangorang
di luar maupun bagi orang Hoa-san-pay sendiri yang berada di dalam kelenteng.
Apalagi cara bicaranya kedengaran acuh tak acuh dan tidak menggunakan tenaga, nyata jauh benar bedanya
dengan pembicara tadi yang mesti bicara dengan suara keras. Dari sini pun dapat dinilai bahwa Lwekang Gak
Put-kun jauh di atas orang itu pula.
Lalu terdengar lagi suara seorang lain dengan nada serak, "Kau mengapa tidak memegang Kiam-boh itu, lalu
ke mana perginya kitab itu?"
"Berdasarkan apa saudara berhak mengajukan pertanyaan demikian?" sahut Put-kun.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Urusan di dunia ini setiap orang berhak ikut mengurusnya," teriak orang itu.
Tapi Put-kun hanya mendengus saja dan tidak menjawab.
"Orang she Gak, terus terang saja, kau mau menyerahkan kitab itu atau tidak?" teriak pula orang itu dengan
suara kasar. "Janganlah diberi arak suguhan tidak mau, tapi minta dicekoki. Jika kau tidak mau menyerahkan
terpaksa kami main kasar dan menggeledah ke dalam."
Melihat gelagat jelek, segera Gak-hujin membisiki anak muridnya, "Para murid wanita berkumpul menjadi satu,
masing-masing punggung menempel panggung. Murid laki-laki siapkan pedang!"
Serentak terdengar suara "sret-sret" yang ramai, semua orang sudah melolos pedang masing-masing.
Waktu itu Lenghou Tiong masih berdiri di ambang pintu, tangan memegang gagang pedang dan belum lagi
dicabut, tapi dua orang lawan sudah melompat turun dari kuda terus menerjang ke arahnya.
Sedikit mengegos ke samping segera Lenghou Tiong bermaksud melolos pedangnya, tapi terdengarlah seorang
di antaranya telah membentak, "Minggir!"
Berbareng sebelah kakinya lantas mendepak sehingga Lenghou Tiong jatuh terguling sejauh beberapa meter.
Alangkah cemasnya Lenghou Tiong, sudah terang barusan ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat dengan jurus
"Hwe-hong-sau-liu" (angin puyuh menyambar pohon) untuk memegang lawan, jurus serangan ini bukan saja
dapat menghindarkan depakan musuh, bahkan akan dapat membanting lawan ke samping.
Tapi aneh, biarpun tepat mengenai sasarannya toh serangannya tidak mempan, sebaliknya diri sendiri malah
terdepak jatuh, padahal tenaga depakan orang juga tidak terlalu keras, mengapa kuda-kuda sendiri begitu
kendur seakan-akan tak bertenaga sehingga mudah terjatuh.
Ia meronta bangun hendak duduk, sekonyong-konyong darah bergolak dalam rongga dadanya, tujuh atau
delapan arus hawa murni berputar-putar dalam badan, saling tumbuk dan saling terjang kian kemari, akibatnya
dia tersiksa setengah mati, sampai satu jari tangan saja sukar bergerak.
Keruan Lenghou Tiong terperanjat ia membuka mulut bermaksud menggembor, tapi tak bisa mengeluarkan
suara. Keadaannya mirip benar orang yang bermimpi buruk, otaknya cukup jernih hanya sama sekali tak bisa
bergerak.
Dalam pada itu telinganya dapat mendengar suara nyaring beradunya senjata yang ramai. Suhu, Sunio dan
para Sutenya sudah menerjang keluar kelenteng dan mulai bertempur dengan beberapa orang berkedok hitam
itu. Sebaliknya beberapa orang berkedok itu sudah menerjang ke dalam kelenteng, terdengar suara bentakan
berkumandang dari dalam kelenteng diseling suara jeritan kaum wanita beberapa kali.
Waktu itu hujan kembali turun dengan lebatnya, beberapa buah lampu telah terlempar dengan mengeluarkan
cahayanya yang remang-remang, sinar pedang tampak berkilauan dan bayangan orang berkelebat di sana-sini.
Tidak lama kemudian terdengar pula suara jeritan ngeri seorang wanita di dalam kelenteng.
Lenghou Tiong tambah gelisah. Telah diketahui semua musuh itu adalah kaum lelaki, dengan sendirinya jeritan
ngeri itu disebabkan salah seorang Sumoaynya mengalami cedera.
Tertampak Suhunya memutar pedang dengan kencang, seorang diri melawan empat orang musuh. Sedangkan
ibu gurunya juga menandingi dua orang. Ia tahu ilmu pedang guru dan ibu gurunya ingat lihai, biarpun
dikeroyok musuh juga takkan kalah.
Lo Tek-nau juga satu melawan dua dan sedang melabrak musuh dengan sengit. Kedua lawannya memakai
golok, dari suara benturan senjata dapat diketahui tenaga kedua orang itu sangat kuat, lama-kelamaan tentu
Tek-nau akan payah.
Jadi di pihak berdiri hanya tiga orang melawan musuh sebanyak delapan orang, sudah tentu keadaan rada
berbahaya. Apalagi keadaan di dalam kelenteng tentu lebih runyam lagi. Musuh yang masuk ke dalam
kelenteng hanya tujuh orang saja, para Sute dan Sumoaynya walaupun berjumlah banyak, namun tidak ada
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
yang tergolong jago kelas tinggi.
Sementara itu suara jeritan masih terus terdengar, mungkin beberapa Sumoaynya telah roboh pula. Jika
kawanan musuh membunuh habis para Sute dan Sumoaynya, lalu keluar lagi untuk mengerubut Suhu, Sunio
dan Lo Tek-nau, tatkala mana guru dan ibu gurunya paling-paling hanya dapat menyelamatkan diri saja,
sebaliknya pasti tidak mampu membunuh musuh dan menuntut balas.
Makin cemas dan makin gelisah perasaan Lenghou Tiong, semakin lemas pula badannya. Tiada hentinya ia
berdoa, "Semoga Tuhan memberkati sedikit tenaga padaku, cukup dalam waktu singkat saja asal dapat masuk
ke dalam kelenteng, tentu Lenghou Tiong dapat atau akan melindungi keselamatan Siausumoay, sekalipun aku
sendiri akan dicencang oleh musuh dan mengalami siksaan badan yang paling kejam juga aku rela."
Sekuatnya ia meronta dan mengerahkan tenaga dalam lagi, sekonyong-konyong enam arus hawa murni
menerjang naik ke atas dada, menyusul ada dua arus hawa murni yang lain menyalur dari atas ke bawah
sehingga keenam arus tadi dapat ditekan turun lagi. Habis itu sekujur badan terasa enteng hampa, seakanakan
seluruh isi perutnya sudah hilang entah ke mana, kulit daging juga lenyap tanpa bekas.
Diam-diam ia mengeluh, "O, kiranya demikian halnya, sungguh celaka!"
Kiranya ia menjadi paham duduknya perkara, bahwa ketika Tho-kok-lak-sian berlomba menyembuhkan
lukanya, enam arus hawa murni yang disalurkan keenam tokoh aneh itu telah menyusup masuk melalui urat
nadi yang berbeda, luka dalam tidak tersembuhkan, sebaliknya keenam arus hawa murni itu tertahan di dalam
badan dan sukar dikeluarkan.
Jika dia meyakinkan Lwekang sakti menurut isi Ci-he-pit-kip tentu ia dapat memunahkan keenam arus hawa
murni aneh itu, celakanya dia bertemu dengan Put-kay Hwesio yang memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi
wataknya kasar dan tak bisa berpikir, secara paksa ia kerahkan dua arus hawa murninya untuk menekan hawa
murni Tho-kok-lak-sian itu, seketika itu kesehatan Lenghou Tiong seperti pulih kembali, tapi sebenarnya di
dalam badan telah bertambah pula dengan dua arus hawa murni yang lain dan masing-masing saling terjang
setiap kali ia bermaksud mengerahkan tenaga. Hal ini mengakibatkan Lwekang sendiri yang pernah dipupuk
oleh Lenghou Tiong menjadi tak tertinggal sedikit pun, jadi praktis sekarang Lenghou Tiong mirip seorang
lumpuh.
Setelah paham persoalannya, Lenghou Tiong menjadi pedih, tanpa terasa air matanya berlinang, pikirnya,
"Nasib malang yang menimpa diriku ini sama dengan memusnahkan sama sekali ilmu silatku. Hari ini
perguruanku menghadapi kesulitan, tapi sedikit pun aku tak bertenaga, sebagai murid tertua Hoa-san-pay aku
hanya menggeletak di sini dan menyaksikan Suhu dan Sunio dihina orang dan para Sute serta Sumoay dibantai
musuh tanpa berbuat apa-apa, sungguh sia-sia aku menjadi manusia. Ya, biarlah aku masuk ke sana dan mati
di suatu tempat bersama Siausumoay saja."
Ia tahu bila sedikit mengerahkan tenaga tentu kedelapan arus hawa murni di dalam tubuhnya akan bergolak
lagi dan akan membuatnya tak bisa bergerak. Maka ia coba menahan napas, sedikit pun tidak berani
mengerahkan tenaga dalam, dengan demikian dapatlah ia mengangkat kakinya dan dapatlah bergerak,
perlahan ia berdiri dan perlahan melolos pedang, selangkah demi selangkah ia menggeremet ke dalam
kelenteng.
Begitu masuk ke dalam pintu segera hidungnya kesampuk bau anyir darah. Di atas altar arca masih diterangi
oleh dua buah lampu, mungkin musuh yang menaruhnya di situ. Nio Hoat, Si Cay-cu, Ko Kin-beng dan para
Sute yang lain sedang melawan musuh dengan berlumuran darah. Beberapa Sute dan Sumoay yang lain
tampak menggeletak di lantai dan entah sudah mati atau masih hidup.
Leng-sian dan Peng-ci tampak sedang melawan seorang musuh berkedok. Rambut Leng-sian yang panjang
terurai kusut. Peng-ci memegang pedang dengan tangan kiri, nyata tangan kanan terluka.
Musuh mereka itu bersenjatakan tombak pendek, tampaknya sangat lihai. Berulang tiga kali Peng-ci
menyerang, tapi selalu luput mengenal sasarannya. Sebaliknya mendadak tombak pendek musuh terangkat,
"cret", tiba-tiba bahu kanan Peng-ci terluka pula.
Lekas-lekas Leng-sian menyerang dua kali sehingga musuh terpaksa melangkah mundur. "Siau-lim-cu, lekas
membalut lukamu dahulu," teriak Leng-sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Tidak apa-apa," sahut Peng-ci dengan pedang menusuk pula, namun langkahnya sudah sempoyongan.
Orang berkedok itu tertawa panjang, tombak mendadak menyabet dari samping, "bluk", dengan tepat
pinggang Leng-sian terpukul. Saking sakitnya sampai Leng-sian menungging dan pedang terlepas dari
pegangan.
Keruan Lenghou Tiong sangat kaget, dalam keadaan demikian yang dia pikirkan hanya menolong si nona,
bahaya apa yang akan dihadapinya sudah tak dihiraukan lagi.
Segera ia menerjang maju, sekuatnya pedang menusuk. Tapi baru setengah jalan pedang menyelonong ke
depan, sekonyong-konyong hawa murni dalam tubuhnya bergolak, tangan kanan seketika lemas dan terjulai ke
bawah.
Ketika diserang, orang berkedok itu sudah siap-siap hendak mengegos, lalu akan balas menyerang dengan
tombak secara jitu dan ganas, bukan mustahil sekaligus dada pemuda itu akan ditembus oleh tombaknya,
siapa tahu baru setengah jalan Lenghou Tiong menusukkan pedangnya, tiba-tiba tangan terjulur kembali ke
bawah.
Sudah tentu orang berkedok itu rada heran. Seketika ia pun tidak sempat berpikir apa sebabnya, kontan
kakinya menyapu sehingga Lenghou Tiong ditendang keluar kelenteng lagi. Dalam keadaan lemas dan tak
berdaya, "byurr", tubuh terbanting di tengah air pecomberan di luar kelenteng itu.
Di bawah hujan yang masih lebat, seluruh muka Lenghou Tiong penuh dengan lumpur, seketika ini masih tidak
dapat bergerak. Segera dilihatnya Jisute Lo Tek-nau telah roboh ditutuk orang, dua lawan yang mengeroyoknya
tadi kini ikut mengerubut Gak Put-kun dan istrinya. Tidak lama kemudian dari dalam kelenteng berlari keluar
tujuh orang, sedangkan Gak-hujin menandingi tiga orang musuh.
Sejenak kemudian terdengarlah teriakan dan bentakan Gak-hujin bersama seorang musuh, ternyata kaki kedua
orang telah sama-sama terluka. Musuh itu lantas mengundurkan diri. Meski musuhnya berkurang seorang, tapi
kakinya terbacok golok, lukanya tidaklah ringan. Maka setelah bergebrak lagi beberapa jurus, kembali
pundaknya kena diketok oleh punggung golok musuh, seketika ia jatuh terkapar.
Cepat dua orang musuh berkedok itu menutuk beberapa Hiat-to penting di punggung nyonya Gak agar dia
tidak dapat bangun lagi untuk melawan.
Dalam pada itu para murid Hoa-san-pay di dalam kelenteng berturut-turut juga telah banyak yang terluka, satu
per satu mereka dirobohkan.
Rupanya kawanan penyerang berkedok itu mempunyai maksud tujuan tertentu, mereka hanya merobohkan
dan menawan anak murid Hoa-san-pay saja, ada yang dilukai kaki atau tangannya dan yang lain ditutuk Hiatto
yang membuatnya tak bisa berkutik, tapi jiwa mereka tidak diganggu.
Begitulah kelima belas orang lalu mengurung di sekeliling Gak Put-kun, delapan jago di antaranya berdiri di
delapan penjuru untuk menempur Gak Put-kun, sisa tujuh orang yang lain sama memegang lampu Khongbeng-
ting untuk memberi penerangan.
Betapa pun tinggi kepandaian ketua Hoa-san-pay itu, namun kedelapan lawannya semuanya adalah jago-jago
pilihan, tujuh sorot sinar lampu terlebih-lebih membuat matanya merasa silau.
Namun Gak Put-kun bukanlah tokoh utama salah satu pemimpin Ngo-gak-kiam-pay bila mudah menyerah
begitu saja. Biarpun menghadapi bahaya dia tidak menjadi gugup. Ia sadar bahwa Hoa-san-pay hari ini jelas
sudah kalah habis-habisan, boleh jadi segenap rombongannya akan terbunuh semua di dalam kelenteng
bobrok. Tapi dia tetap putar pedang dan bertahan dengan rapat, makin lama makin tangkas, tenaganya
bertahan lama, ilmu pedangnya tambah lihai. Bila sinar lampu menyorot ke arahnya ia lantas memandang ke
bawah, dengan demikian kedelapan lawannya itu menjadi tak bisa mengapa-apakan dia dalam waktu singkat.
"Gak Put-kun, kau mau menyerah atau tidak?" tiba-tiba seorang di antaranya berseru.
"Biarpun mati orang she Gak pantang menyerah, kalau mampu membunuh aku silakan bunuh saja," sahut Putkun
tegas dan lantang.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Kau tidak mau menyerah, biar kutebas dulu tangan kanan istrimu," kata orang itu sambil angkat goloknya
yang tebal dengan ujung berbentuk kepala setan. Di bawah pantulan cahaya lampu goloknya mengeluarkan
sinar mengilap kehijau-hijauan, mata golok sudah mengancam di atas pundak Gak-hujin.
Gak Put-kun menjadi ragu apakah mesti terima menyaksikan lengan sang istri ditebas kutung oleh musuh. Tapi
kalau menyerah begitu saja toh nanti juga akan dihina oleh mereka. Kehormatan Hoa-san-pay yang sudah
bersejarah ratusan tahun mana boleh runtuh di tanganku sekarang?
Karena pikiran demikian, mendadak ia menarik napas panjang-panjang, warna ungu mukanya mendadak
menebal, serentak pedangnya lantas menebas ke arah laki-laki yang mengancam istrinya tadi.
Untuk mencari selamat dengan sendirinya orang itu menangkis dengan goloknya, Tak terduga serangan Gak
Put-kun ini disertai dengan Ci-he-sin-kang, tenaga saktinya mahadahsyat, golok laki-laki itu ikut tertolak balik
sehingga pedang dan golok sekaligus membacok lengan kanannya, tapi dia belum lagi mengutungi lengan Gakhujin,
sekarang lengan sendiri sudah terkutung lebih dulu, maka darah pun muncrat berhamburan. Orang itu
menjerit dan roboh terguling.
Sekali serang berhasil, menyusul pedang Gak Put-kun menyambar pula, kembali kaki seorang musuh tertusuk.
Orang itu mencaci maki sambil cepat mengundurkan diri.
Musuh telah berkurang dua orang, tapi sisa enam orang lagi adalah jago pilihan semua, baik Lwekang maupun
Gwakang. Bila satu lawan satu pasti Gak Put-kun akan menang, tapi kini mereka maju berbareng, betapa pun
Put-kun repot juga menghadapi mereka. "Plok", mendadak punggungnya tertimpuk sekali oleh "Lian-cu-tay"
musuh, yaitu senjata gandin berantai.
Kontan Gak Put-kun juga balas menyerang tiga kali sehingga musuh terpaksa sama melompat mundur. Namun
darah segar sudah lantas tersembur dari mulutnya.
Musuh-musuh berkedok itu sama bersorak gembira, "Aha, si tua sudah terluka, saking letihnya juga dia akan
mampus sendiri nanti."
Karena yakin kemenangan pasti akan berada di pihak mereka, maka keenam orang itu menjadi adem ayem
saja dan memperlambat serangan. Dengan demikian Gak Put-kun menjadi mati kutu malah, ia tidak punya
kesempatan buat membinasakan lawannya lagi.
Dari ke-15 orang berkedok yang menyerang di tengah malam hujan lebat itu sudah ada tiga orang dilukai oleh
Gak Put-kun dan istrinya, satu di antaranya lengan terkutung dan terluka agak parah, sedangkan dua orang
yang lain hanya terluka ringan saja, mereka masih dapat mengangkat lampu membantu penerangan bagi
kawan-kawannya sambil tiada hentinya mencaci maki.
Dari logat bicara mereka itu Gak Put-kun menduga mereka adalah orang dari daerah perbatasan antara
Sucwan dan Soasay, tapi kota Wi-lim-tin yang baru saja dilalui siang tadi sudah termasuk wilayah Holam barat,
logat bicaranya sama sekali berbeda dengan orang-orang berkedok itu.
Ilmu silat orang-orang itu pun bercampur, terang bukan terdiri dari suatu golongan yang sama. Tapi pada
waktu bertempur mereka selalu bantu-membantu dengan baik, agaknya bukan rombongan yang baru saja
bergabung. Lalu bagaimanakah asal usul kawanan penyatron ini, sungguh sukar diperkirakan.
Yang paling mengherankan adalah ke-15 orang itu tiada satu pun yang lemah, semuanya lihai. Berdasarkan
pengetahuan dan pengalamannya sendiri yang luas tidak seharusnya sama sekali tak mengenali seorang pun di
antara ke-15 orang musuh lihai ini. Tapi nyatanya memang demikian, sama sekali Gak Put-kun tidak tahu
siapakah mereka.
Hanya satu hal ia merasa pasti, yaitu sebelumnya musuh tidak pernah bertempur dengan dirinya sehingga
pasti juga tiada permusuhan dan dendam apa pun. Tapi apakah mungkin demi mengincar sejilid "Pi-sia-kiamboh"
saja perlu memusuhi Hoa-san-pay secara besar-besaran seperti ini?
Biarpun hatinya berpikir, tapi tangan Gak Put-kun tidak menjadi kendur. Sekali Ci-he-sin-kang dikerahkan,
ujung pedang lantas memancarkan sinar kemilauan. Belasan jurus kemudian kembali pundak seorang musuh
tertusuk oleh pedangnya sehingga senjata yang berwujud ruyung baja terlepas jatuh.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Seorang kawannya yang berdiri di luar kalangan segera melompat maju untuk menggantikan lowongannya.
Orang baru ini bersenjatakan "Kun-gi-to", golok bergigi gergaji. Bobot senjata ini sangat berat, ujung golok
melengkung pula, yang dia incar selalu hendak menggantol pedang Gak Put-kun.
Tapi Lwekang Gak Put-kun sangat kuat, makin bertempur makin bersemangat. Mendadak tangan kirinya
menghantam ke belakang sehingga mengenai dada seorang lawan. "Krek", tulang rusuk orang itu patah dua
buah, tongkat baja yang dipegang sampai tergetar jatuh.
Namun orang itu benar-benar sangat berani dan nekat, dengan kalap mendadak ia menubruk maju ke bawah
seperti bola, ia pentang kedua tangan untuk mendekap kaki Gak Put-kun.
Keruan ketua Hoa-san-pay itu terkejut. Tanpa pikir pedangnya menikam ke punggung musuh. Tapi dari
samping dua golok telah menangkisnya.
Gerakan Gak Put-kun amat cepat, pedang gagal menikam, secepat kilat kaki kanan lantas menendang dagu
orang yang nekat itu.
Tak terduga orang itu ternyata juga ahli Kim-na-jiu, sekali tangannya menyambar, kaki kanan Gak Put-kun
berbalik kena dipegangnya, hampir berbareng orang itu lantas menggelinding ke samping. Dalam keadaan
demikian betapa pun sulit berdiri tegak lagi. Seketika ia terseret jatuh. Hanya sekejap saja berbagai macam
senjata musuh sama mengancam tempat mematikan di atas tubuhnya.
Gak Put-kun menghela napas panjang, ia lepaskan pedang dan pejamkan mata menunggu ajal. Tapi segera
terasa beberapa Hiat-to di bagian pinggang, dada dan tempat lain yang penting telah ditutuk musuh dengan
Kim-kong-ci-lik (tenaga jari raksasa). Menyusul dua orang berkedok itu telah memayangnya bangun.
Bab 43. Si Baju Kuning Co Hui-leng Putra Sulung Co-bengcu
"Ilmu silat Kun-cu-kiam Gak-siansing memang tidak bernama omong kosong," demikian suara seorang tua lagi
bicara. "Dengan kekuatan kami belasan orang mengerubutmu malahan beberapa orang kami sampai terluka,
dengan demikian akhirnya baru dapat menangkapmu, sungguh kami harus mengaku tidak becus. Hehe, kami
benar-benar sangat kagum padamu. Bila aku harus satu melawan satu padamu terang takkan mampu menang.
Tapi kalau dipikir kembali mesti jumlah kami ada 15 orang, namun rombongan kalian bahkan berjumlah 20
orang lebih, kalau dibandingkan toh Hoa-san-pay kalian tetap lebih banyak. Jadi malam ini dengan jumlah
sedikit kami telah menangkap pihak Hoa-san-pay yang berjumlah lebih banyak. Pertarungan ini telah kami
menangkan dengan tidak mudah, betul tidak kawan-kawan?"
"Ya, memang kemenangan kita diperoleh tidak mudah," seru beberapa orang berkedok di belakangnya.
Maka orang itu melanjutkan lagi, "Gak-siansing, selamanya kami tiada permusuhan apa pun denganmu, kami
hanya ingin pinjam lihat itu Pi-sia-kiam-boh saja. Sesungguhnya Kiam-boh itu juga bukan milik Hoa-san-pay
kalian, dengan segala tipu daya kau pancing anak muda keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu masuk
perguruanmu, maksud tujuanmu sebenarnya kurang gemilang, para kawan Bu-lim merasa penasaran juga atas
perbuatan itu. Sekarang ingin kuberi nasihat secara baik-baik, lebih baik kau keluarkan Kiam-boh itu."Gak Putkun
sangat gusar, jawabnya, "Aku sudah jatuh di tanganmu, hendak bunuh boleh lekas bunuh, apa gunanya
mengoceh tak keruan. Bagaimana pribadi orang she Gak ini cukup dikenal setiap orang Kangouw, adalah
mudah kau membunuhku, tapi hendak merusak nama baikku, hm, jangan mimpi!"
"Hahahaha! Apa susahnya merusak namamu?" mendadak salah seorang berkedok itu bergelak tertawa.
"Istrimu, putrimu dan anak muridmu yang perempuan semuanya cantik-cantik, ayu-ayu. Kami masing-masing
dapat membaginya dan mengambilnya sebagai istri muda. Dengan demikian kutanggung nama Gak-siansing
pasti akan semakin tersohor di Bu-lim."
Kata-kata ini membuat orang-orang berkedok yang lain sama ikut tertawa keras, bahkan suara tertawa
mengandung nada kotor dan rendah.
Saking marahnya sampai seluruh badan Gak Put-kun gemetar. Langkah kotor yang dikatakan orang itu
sungguh tak pernah terpikir olehnya. Ia melihat beberapa orang berkedok itu benar-benar mulai menggiring
anak muridnya keluar dari kelenteng. Para muridnya sama tertutuk, ada yang berjalan sampai di luar kelenteng
lantas jatuh terkapar, terang bagian kaki terluka.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Gak-siansing," terdengar orang tua berkedok tadi bicara pula, "tentang asal usul kami boleh jadi kau sudah
dapat menduga-duga. Kami bukan kaum kesatria atau pahlawan segala di dunia persilatan, tiada sesuatu yang
tidak dapat kami lakukan. Lebih-lebih kawan ini, banyak yang gemar paras cantik, main perempuan adalah
acara mereka sehari-hari. Bila mereka sampai mengganggu istri dan putrimu, bagaimana pun kurang baik."
"Sudah, sudahlah, jika kau tatap tidak percaya, silakan menggeledah badan kami saja, coba lihat apakah
terdapat Pi-sia-kiam-boh yang kalian cari atau tidak?" sahut Gak Put-kun.
"Kukira lebih baik kau mengeluarkan sendiri saja kitab itu," kata seorang berkedok yang lain dengan tertawa,
"bila kami harus menggeledah satu per satu, kalau binimu dan putrimu juga kami geledah, tentu akan kurang
sedap dipandang."
Sekonyong-konyong Peng-ci berkata, "Biar kukatakan terus terang kepada kalian, keluarga Lim kami di
Hokkian pada hakikatnya tidak punya Pi-sia-kiam-boh apa segala. Percaya atau tidak terserahlah kepada
kalian."
Habis berkata ia terus jemput sebatang tongkat besi yang terjatuh di tanah tadi terus menghantam batok
kepala sendiri. Cuma Hiat-to di bagian kedua lengannya juga tertutuk sehingga tangannya tak bertenaga.
Meski tongkat itu mengenai juga kepalanya, namun hanya membuat kulitnya lecet dan berdarah dan tidak
sampai menghancurkan kepalanya.
Maksud tujuan tindakan Peng-ci itu dapat dimengerti oleh semua orang. Pemuda itu sengaja hendak
mengorbankan jiwa sendiri untuk menyatakan dengan tegas bahwa Pi-sia-kiam-boh segala benar-benar tidak
berada di tangan orang Hoa-san-pay.
"Hehe, bocah ini ternyata cukup setia kawan, gurumu ini percuma saja berjuluk Kun-cu (laki-laki sejati),
nyatanya dia tidak punya jiwa seorang laki-laki sejati," jengek orang tadi. "Bocah she Lim, lebih baik kau
pindah menjadi murid kami saja, tanggung kau akan memperoleh kepandaian tinggi yang cukup untuk malang
melintang di dunia Kangouw."
"Kentut makmu!" Peng-ci memaki. "Orang she Lim ini sekali sudah menjadi murid Hoa-san-pay masakan sudi
mengangkat manusia rendah macammu sebagai guru?"
"Jawaban bagus!" teriak Nio Hoat. "Hoa-san-pay kita ...."
"Hoa-san-pay kalian ada apa?" mendadak salah seorang berkedok itu menyela sambil mengayun goloknya,
kontan kepala Nio Hoat dipenggalnya bulat-bulat, darah segar lantas menyembur keluar.
Beberapa orang murid Hoa-san-pay sampai menjerit kaget. Sedangkan di dalam benak Gak Put-kun timbul
macam-macam pikiran, tapi selalu tidak ingat bagaimana asal usul kawanan penyatron ini. Jika ditilik dari
ucapan orang tua tadi besar kemungkinan mereka adalah tokoh-tokoh kalangan Hek-to (kaum penjahat) atau
pemimpin berbagai perkumpulan atau gerombolan yang biasa berbuat jahat. Holam, Soasay dan Sucwan pada
umumnya cukup diketahuinya dan sekali-kali tiada terdapat jago-jago lihai sebanyak ini. Orang tadi sekali
tebas memenggal kepala Nio Hoat, betapa kejamnya sungguh jarang terlihat.
Bahkan sesudah membunuh Nio Hoat, orang itu tertawa seperti orang gila, ia mendekati Gak-hujin, golok yang
berlumuran darah itu diayunkan kian kemari dan pura-pura menebas beberapa kali di atas kepala nyonya Gak.
"Jangan ... jangan mencelakai ibuku!" jerit Leng-sian, hampir-hampir saja ia jatuh kelengar saking
khawatirnya.
Sebaliknya Gak-hujin memang seorang kesatria wanita, sedikit pun ia tidak gentar. Ia pikir kalau musuh
membunuhnya dengan sekali tebas akan kebetulan malah, dengan demikian tidak perlu khawatir dan dianiaya
dan dihina pula. Maka dengan bersitegang ia memaki, "Bangsat, kalau berani bunuhlah aku!"
Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sana ada suara derapan kuda lari yang ramai, puluhan
penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat.
"Siapa itu? Coba pergi lihat!" seru si orang tua berkedok.
Dua orang kawannya mengiakan dan segera mencemplak ke atas kuda dan memapak ke sana.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Terdengar suara derapan kuda yang riuh itu tidak pernah berhenti dan langsung dilarikan ke kelenteng,
menyusul terdengar suara "trang-tring" beberapa kali, suara beradunya senjata dan jeritan orang pula. Terang
para pendatang itu telah bergebrak dengan kedua orang berkedok yang memapak ke sana itu dan ada orang
terluka terguling dari atas kuda.
Sungguh girang Put-kun dan lain-lain tak terkatakan, mereka tahu telah kedatangan bala bantuan. Di bawah
cahaya lampu samar-samar terlihat dari kejauhan ada 30 sampai 40 penunggang kuda sedang mendatang
dengan cepat, hanya sekejap saja sudah berhenti di luar kelenteng dengan mengelilingnya.
"Kiranya sahabat dari Hoa-san-pay. He, itu kan Gak-heng?" demikian seorang penunggang kuda itu berseru.
Waktu Gak Put-kun memandang pembicara itu, seketika ia merasa kikuk dan serbasalah.
Kiranya orang itu adalah Theng Eng-gok, tokoh kelima dari Ko-san-pay yang beberapa hari lalu pernah datang
ke Hoa-san dengan membawa Leng-ki (panji perintah) dari ketua Ngo-gak-kiam-pay. Bahkan orang yang
berada di sebelahnya jelas adalah Hong Put-peng, itu murid Hoa-san-pay dari golongan Kiam-cong (sekte
pedang), selain itu jago-jago Thai-san-pay, Heng-san-pay dan Hing-san-pay, yang ikut datang ke Hoa-san
tempo hari juga terdapat di antara mereka, malahan sekarang telah bertambah tidak sedikit orang baru yang
sukar dikenali di bawah cahaya lampu yang remang-remang.
"Gak-heng," demikian terdengar Theng Eng-gok bicara pula, "tempo hari kau tidak mau terima perintah Cobengcu,
hal ini membuat Co-bengcu merasa tidak senang. Maka kini beliau sengaja mengutus putranya yang
tertua hendak mengunjungi engkau pula di Hoa-san dengan membawa Leng-ki. Siapa duga di tengah malam
buta begini ternyata berjumpa di sini, sungguh tak terduga sama sekali."
Waktu Gak Put-kun memandang sebelah Theng Eng-gok pula, terlihat di atas seekor kuda hitam yang tinggi
besar dan gagah ada seorang penunggang laki-laki tinggi besar berusia antara 30-an tahun, berbaju panjang
warna kuning dan sedang mengangguk perlahan padanya, sikapnya sangat angkuh.
Gak Put-kun tahu ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan, mempunyai dua orang putra. Putra sulung bernama Co Huieng
dan sudah memperoleh ajaran segenap kepandaian sang ayah, betapa tinggi ilmu silatnya sudah boleh
dijajarkan beserta para paman gurunya. Dan mungkin orang tinggi besar di hadapan inilah Co-toakongcu itu.
Padahal dirinya sama tingkat dengan ayahnya, seharusnya dia mesti menyapa dengan sebutan "paman" dan
memberi hormat, biarpun sekarang Gak Put-kun sendiri dalam kesukaran juga merasa kurang senang atas
sikap pemuda itu.
Dan sebelum Gak Put-kun membuka suara, tiba-tiba si orang tua berkedok tadi telah bicara, "Kiranya Cotoakongcu
dari Ko-san-pay telah datang, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa di sini. Dan kesatria
berjenggot ini tentunya Theng-loenghiong, tokoh kelima dari Ko-san-pay bukan?"
"Ah, saudara terlalu memuji saja," sahut Theng Eng-gok. "Dan siapakah nama saudara yang mulia, mengapa
tidak sudi memperlihatkan wajah kalian yang asli?"
"Saudara-saudara kami ini semuanya adalah Bu-beng-siau-cut dari kalangan Hek-to, bila nanti julukan jelek
kami ini diperkenalkan mungkin akan membikin kotor telinga Co-toakongcu dan Theng-loenghiong, terhadap
Gak-hujin dan Gak-siocia sudah terang kami tidak berani berbuat kasar lagi, hanya ada suatu urusan kami
ingin minta keadilan kepada kalian menurut hukum persilatan."
"Urusan apa? Tiada alangannya kau sebutkan agar kami pun ikut mengetahui," sahut Theng Eng-gok.
Maka orang tua itu lantas berkata, "Gak-siansing ini mempunyai gelaran sebagai Kun-cu-kiam, konon tutur
katanya setiap hari selalu mengutamakan budi pekerti dan kebajikan, kabarnya paling taat kepada peraturan
Bu-lim. Akan tetapi akhir-akhir ini telah terjadi suatu peristiwa, Hok-wi-piaukiok di Hokciu telah bangkrut
dihancurkan orang. Congpiauthau Lim Cin-lam dan istrinya juga dibunuh orang. Tentang ini tentu tuan-tuan
juga sudah mendengar."
"Ya, kabarnya yang berbuat adalah Jing-sia-pay dari Sucwan," sahut Theng Eng-gok.
Orang tua itu menggeleng kepala beberapa kali, katanya, "Walaupun demikian berita yang tersiar di kalangan
Kangouw, tapi hal yang sesungguhnya belum tentu begitu. Marilah kita bicara secara blak-blakan saja. Setiap
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
orang Bu-lim tentu tahu bahwa keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu memiliki satu jilid kitab pusaka Pi-siakiam-
boh yang berisikan pelajaran ilmu pedang yang sangat hebat. Siapa yang berhasil meyakinkannya dengan
sempurna akan menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan. Sebabnya Lim Cin-lam dan istrinya terbunuh juga
karena ada orang mengincar Pi-sia-kiam-boh itu."
"Lalu bagaimana?" tanya Theng Eng-gok.
"Tentang siapa yang membunuh Lim Cin-lam dan istrinya tidak diketahui, kami hanya mendengar bahwa Kuncu-
kiam Gak-siansing ini telah menggunakan tipu muslihat, putra Lim Cin-lam ditipu sehingga dengan sukarela
mau masuk menjadi murid Hoa-san-pay. Tentang Pi-sia-kiam-boh itu dengan sendirinya juga ikut dibawa ke
dalam Hoa-san-pay. Setelah kami saling tukar pikiran, kami menarik kesimpulan bahwa Gak Put-kun benarbenar
sangat licin, dia tidak dapat merebut secara terang-terangan dan lantas menggunakan tipu daya. Coba
pikir, berapakah usia bocah she Lim itu? Berapa luas pengalamannya? Sesudah dia menjadi murid Hoa-san-pay
bukankah dengan mudah dia akan dipermainkan oleh rase tua she Gak itu dan akan mempersembahkan Pi-siakiam-
boh tanpa diminta."
"Pendapatmu mungkin kurang tepat," ujar Theng Eng-gok. "Ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri cukup bagus, Cihe-
sin-kang yang dibanggakan Gak-siansing juga tiada bandingannya di dunia persilatan dan merupakan jenis
Lwekang paling tinggi, guna apa lagi dia mau mengincar ilmu pedang dari golongan lain?"
"Hahahaha!" orang tua itu bergelak tertawa, "Agaknya Theng-loenghiong telah menggunakan jiwa kesatria
untuk menilai hati manusia rendah. Ilmu pedang bagus apa yang dipunyai Gak Put-kun? Sejak kedua sekte Khi
dan Kiam dari Hoa-san-pay mereka berpecah belah, selama ini sekte Khi telah mengangkangi Hoa-san, yang
diutamakan mereka hanya berlatih Khi saja, tentang ilmu pedang mereka adalah terlampau rendah dan tiada
nilainya. Orang Kangouw umumnya cuma segan kepada nama kosong Hoa-san-pay dan menyangka dia benarbenar
mempunyai kepandaian sejati, padahal, hehe, hehe ...."
Sesudah tertawa dingin mengejek beberapa kali, lalu orang tua itu melanjutkan, "Menurut pantasnya, sebagai
ketua Hoa-san-pay, ilmu pedang Gak Put-kun mestinya tidak rendah, namun para hadirin telah menyaksikan
sekarang, saat ini dia tertawan oleh kami sebangsa keroco. Pertama, kami tidak memakai racun; kedua, tidak
menggunakan Am-gi (senjata gelap rahasia); ketiga, kami pun tidak menang lantaran berjumlah lebih banyak,
kami menang berdasarkan kepandaian sejati, kami telah labrak dan membereskan segenap orang Hoa-san-pay
ini dari guru sampai muridnya tanpa kecuali. Maka dapatlah dibayangkan sampai di mana ilmu silat sekte Khi
dari Hoa-san-pay, untuk ini kiranya tak perlu penjelasan pula. Sudah tentu Gak Put-kun tahu akan dirinya
sendiri, pastilah dia buru-buru ingin mendapatkan ilmu pedang sekte agar namanya yang kosong tidak
terbongkar. Tapi pada saat dia menghadapi kami, maka boroknya sukar lagi ditutup-tutupi."
"Ya, uraianmu cukup beralasan juga," ujar Eng-gok.
"Sebenarnya kepandaian kami kaum keroco dari Hek-to ini tiada harganya bagi kalian kaum kesatria ternama.
Pi-sia-kiam-boh itu pun kami tidak berani menaruh minat apa-apa," demikian si orang tua melanjutkan. "Cuma
selama belasan tahun ini kami telah banyak mendapat kebaikan dari Lim-congpiauthau dari Hok-wi-piaukiok,
setiap kali kereta barangnya lalu di wilayah kekuasaan kami, tiada seorang pun di antara kami mau
mengganggunya. Kami ini demi mendengar Lim-congpiauthau mengalami nasib malang, keluarga hancur dan
orangnya binasa. Hal ini membikin kami merasa penasaran, maka beramai-ramai kami lantas datang buat bikin
perhitungan dengan Gak Put-kun."
Sampai di sisi ia berhenti sejenak, ia pandang para penunggang kuda itu, lalu berkata pula, "Yang datang
malam ini tampaknya adalah kaum kesatria ternama, bahkan terdapat tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang
ada ikatan perjanjian dengan Hoa-san-pay, maka cara bagaimana harus memutuskan perkara ini boleh silakan
kalian menentukan saja, aku dan kawan-kawan pasti akan menurut belaka."
"Saudara ternyata sangat baik hati, biarlah kami terima maksud baikmu," sahut Eng-gok. "Co-hiantit,
bagaimana pendapatmu tentang persoalan ini?"
"Menurut pesan ayah, katanya, kedudukan ketua Hoa-san-pay harus dipegang oleh Hong-siansing, sekarang
Gak Put-kun ternyata melakukan perbuatan yang rendah dan memalukan pula, maka biarlah Hong-siansing
sendiri yang menyelesaikan urusan dalam perguruannya."
"Benar, keputusan Co-bengcu memang sangat bijaksana," demikian sokong beberapa penunggang kuda yang
lain.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Urusan Hoa-san-pay memang seharusnya diselesaikan oleh ketua Hoa-san-pay sendiri, dengan demikian kita
dapat pula menghindarkan tuduhan yang tak diharapkan di kemudian hari oleh kawan-kawan Kangouw."
Segera Hong Put-peng melompat turun dari kudanya, ia memberi hormat sekeliling kepada para hadirin, lalu
bicara, "Sungguh aku sangat berterima kasih atas penghargaan kalian padaku. Hoa-san-pay kami telah cukup
lama dikangkangi oleh Gak Put-kun, nama baik Hoa-san-pay telah runtuh habis-habisan di dunia Kangouw
lantaran perbuatannya yang menyeleweng. Bahkan sekarang telah membunuh ayah orang dan merebut kitab
pusakanya, memaksa orang menjadi muridnya dan macam-macam perbuatan yang tidak pantas. Cayhe
sebenarnya tidak punya kepandaian apa-apa dan mestinya tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay. Cuma
mengingat berapa sukarnya para leluhur mendirikan Hoa-san-pay yang sudah bersejarah ratusan tahun ini
dihancurkan oleh murid khianat macam Gak Put-kun ini, maka terpaksa sebisa mungkin aku menerima tugas
ini, untuk mana masih diharapkan bantuan-bantuan dari para sahabat."
Dalam pada itu beberapa penunggang kuda itu sudah menyalakan obor. Hujan masih belum reda, cuma
sekarang hanya gerimis saja. Di bawah cahaya obor itu wajah Hong Put-peng tampak berseri-seri, senangnya
tak terkatakan. Terdengar dia melanjutkan pula pidatonya, "Dosa Gak Put-kun sudah teramat besar dan tak
bisa diampuni, untuk mana harus dihukum mati sesuai dengan undang-undang perguruan. Pau-sute, silakan
kau melaksanakan hukum perguruan kita, bunuhlah murid murtad Gak Put-kun dan istrinya."
Terdengar seorang laki-laki berusia 50-an telah mengiakan sambil melolos pedangnya, lalu mendekati Gak Putkun,
katanya dengan menyeringai, "Orang she Gak, kau telah merusak perguruan kita, hari ini kau harus
menerima ganjaran yang setimpal."
Gak Put-kun menyedot napas dalam, katanya, "Bagus, bagus! Karena ingin merebut kedudukan ketua,
ternyata Kiam-cong (sekte pedang) kalian tidak segan-segan menggunakan tipu keji demikian. Pau Put-ki, hari
ini kau membunuh aku, tapi di alam baka apakah kau ada muka untuk menjumpai para leluhur Hoa-san-pay
kita?"
"Hahahaha! Orang yang banyak kejahatan tentu akan mampus sendiri, kau sendiri telah banyak berbuat dosa,
jika aku tidak membunuh kau, tentu juga kau akan mati dibunuh orang, jika demikian kan kurang baik malah?"
demikian Pau Put-ki sambil tertawa.
"Pau-sute," bentak Hong Put-peng, "tiada gunanya banyak omong, laksanakan hukuman!"
Pau Put-ki mengiakan. Segera ia angkat pedangnya. Di bawah cahaya obor terpantullah sinar pedang yang
gemilap.
"Nanti dulu!" tiba-tiba Gak-hujin berteriak, "Tentang Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berada di mana? Tangkap
maling harus dengan bukti, kalau cuma memfitnah orang, ini bukan sifat seorang kesatria."
"Tangkap maling harus dengan bukti, bagus sekali istilah ini," jengek Pau Put-ki sambil mendekati Gak-hujin
dengan cengar-cengir. "Kukira Pi-sia-kiam-boh itu benar kemungkinan disembunyikan di dalam bajumu, biarlah
aku menggeledah kau agar tidak menuduh kami memfitnah." Habis berkata sebelah lengannya hendak meraba
ke dada Gak-hujin.
Sesudah kakinya terluka, Gak-hujin telah ditutuk pula dua tempat Hiat-to yang membuatnya tak bisa bergerak.
Dilihatnya tangan Pau Put-ki sedang diulurkan ke arahnya, bila badannya sendiri sampai tersentuh, maka ini
benar-benar suatu penghinaan yang sukar dibersihkan, tiba-tiba ia mendapat akal dan segera berseru, "Cotoakongcu!"
Sama sekali Co Hui-eng tidak menduga nyonya Gak akan berteriak memanggilnya. Maka ia lantas menjawab,
"Ada apa?"
Cepat Gak-hujin berkata, "Ayahmu adalah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay, merupakan teladan bagi
setiap orang Bu-lim, tapi kau ternyata membiarkan manusia tidak tahu malu begini menghina kaum wanita di
depan umum. Apakah memang demikian kau dididik oleh ayahmu?"
"Hal ini ...." Co Hui-eng menjadi ragu-ragu.
Segera Gak-hujin berseru pula, "Bangsat tadi sembarangan mengoceh, katanya mereka tidak menang dengan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
jumlah orang banyak. Coba sekarang kedua murid khianat Hoa-san-pay ini, asal salah satu mampu menangkan
suamiku dengan satu lawan satu, maka dengan sukarela kami akan menyerahkan kedudukan ketua Hoa-sanpay
dengan kedua tangan, dengan demikian mati pun kami takkan menyesal, kalau tidak rasanya tindakan
kalian ini sukar untuk diterima oleh beratus-ratus ribu kesatria Bu-lim yang mengutamakan keadilan dan
kebenaran."
Habis berkata mendadak ia meludah ke muka Pau Put-ki, "crot", tepat sekumur riak kental hinggap di pipi Pau
Put-ki. Karena berdirinya terlalu dekat, pula diludah secara tiba-tiba sehingga Pau Put-ki tidak sempat
menghindar. Keruan ia sangat gusar. Ia mengusap ludah itu sambil mencaci maki, nenek moyang tujuh belas
keturunan Gak-hujin diumpatnya habis-habisan.
Dengan gusar Gak-hujin memaki pula, "Kaum pengkhianat dari Kiam-cong kalian semuanya tidak becus,
sebenarnya tidak perlu suamiku turun tangan sendiri, cukup aku seorang wanita saja juga tidak sukar untuk
membinasakan kau bila aku tidak tertutuk oleh musuh yang pengecut tadi."
"Baik," tiba-tiba Co Hui-eng berseru, kedua kakinya mengempit, ia melarikan kudanya dan mengitar ke
belakang Gak-hujin, sekali cambuk kudanya mengayun, "tar-tar-tar" tiga kali, ujung cambuk sama menyabat
tiga tempat Hiat-to di punggung nyonya Gak.
Gak-hujin hanya merasa badan bergetar, kedua tempat Hiat-to yang tertutuk itu lantas terbuka. Keruan saja ia
terperanjat. Dalam pada itu kuda hitam Co Hui-eng telah mengitar balik ke tempatnya semula, mata
terdengarlah suara sorak puji orang banyak.
Cambuk kuda sebenarnya adalah benda lemah, tapi dengan ujung cambuknya Co Hui-eng sanggup membuka
Hiat-to orang yang tertutuk, maka betapa hebat tenaga dalamnya sungguh jarang ada bandingannya, apalagi
sekaligus menyabat tiga tempat Hiat-to berbareng, betapa jitu caranya mengincar tempat Hiat-to juga benarbenar
jarang terdengar.
Setelah anggota badannya dapat bergerak, Gak-hujin tahu maksud Co Hui-eng ialah membiarkan dirinya
bertanding dengan Pau Put-ki. Jadi pertandingan ini tidak melulu menyangkut jiwa sendiri serta suami dan
putrinya, tetapi juga akan menentukan mati-hidup Hoa-san-pay selanjutnya. Jika dirinya dapat mengalahkan
Pau Put-ki, meski belum tentu akan mengubah keadaan bahaya menjadi selamat, paling tidak hal ini akan
berarti suatu titik balik. Sebaliknya kalau dirinya kalah, maka tamatlah segalanya.
Tanpa bicara segera ia jemput pedang sendiri yang terpukul jatuh tadi, ia lintangkan pedang di depan dada dan
pasang kuda-kuda. Tapi mendadak kaki kiri terasa lemas, hampir-hampir saja ia jatuh berlutut. Rupanya luka
kakinya tidaklah ringan, sedikit menggunakan tenaga saja sukar ditahan.
"Hahaha!" Pau Put-ki bergelak tertawa. "Kau menganggap dirimu bukan kaum wanita yang lemah, sekarang
kau pura-pura kaki terluka pula, lalu buat apa bertanding lagi? Seumpama aku menang juga tidak gemilang
...."
"Lihat pedang!" bentak Gak-hujin mendadak sambil menusuk tiga kali, dengan membawa tenaga dalam yang
hebat pedangnya mengeluarkan suara mencicit, tiga kali serangan itu satu lebih cepat daripada yang lain,
semuanya mengincar tempat fatal di tubuh musuh.
"Bagus!" teriak Pau Put-ki sambil menyurut mundur dua langkah.
Sebenarnya Gak-hujin dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyerang lebih jauh, tapi dia tidak berani
menggeser kakinya yang terluka itu, terpaksa ia tetap berdiri di tempatnya.
Sudah tentu Pau Put-ki tidak tinggal diam, segera ia balas menyerang. Tiga kali beruntun-runtun ia menyerang
dengan cara keji. Tapi semuanya kena ditangkis Gak-hujin, menyusul nyonya Gak itu melancarkan tusukan ke
perut musuh dan begitu seterusnya silih berganti mereka saling menyerang.
Gak Put-kun yang tak bisa berkutik itu dapat menyaksikan sang istri melawan musuh dengan menanggung luka
pada kakinya, sebaliknya gerak serangan pedang Pau Put-ki sangat lincah dan banyak ragam perubahannya,
terang musuh lebih pandai daripada istrinya. Setelah lebih 20 jurus, bagian kaki Gak-hujin mulai payah.
Sebenarnya Khi-cong atau sekte Khi (hawa kekuatan dalam) dari Hoa-san-pay biasanya mengutamakan tenaga
dalam untuk menguasai musuh. Tapi sejak terluka Gak-hujin merasa hawa murni dalam tubuhnya kurang
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
lancar sehingga permainan pedangnya sekarang lambat laun kena diatasi oleh Pau Put-ki.
Keruan Gak Put-kun menjadi gelisah. Lebih celaka lagi ia melihat sang istri memainkan pedangnya semakin
cepat. Diam-diam ia berpikir, "Kiam-cong mereka mengutamakan permainan pedang, tapi kau malah melabrak
dia dengan gerakan pedang, ini berarti menggunakan kelemahan sendiri untuk melawan keunggulan musuh,
tentu saja akan kalah."
Sebenarnya Gak-hujin cukup mengetahui akan hal kelemahan pihak sendiri dan keunggulan pihak lawan.
Soalnya dia punya kaki terluka, sesudah itu lantas tertutuk pula sehingga selama itu tidak sempat membalut
lukanya. Malahan sampai saat ini darah juga masih mengucur keluar, dalam keadaan demikian mana dapat
mengerahkan tenaga dalam untuk mengatasi gerak pedang musuh? Saat ini dia hanya bertahan dari sedikit
semangatnya yang masih ada, meski gerak pedangnya tampak kencang, tapi tenaganya sudah mulai
berkurang dan makin lemah.
Beberapa jurus kemudian Pau Put-ki sudah dapat melihat kelemahan lawan, ia sangat girang. Tidak perlu lagi
dia menyerang untuk mencari menang secara cepat, sebaliknya ia bertahan dengan rapat.
Di sebelah sana Lenghou Tiong juga sedang mengikuti pertarungan kedua orang itu. Dilihatnya gerak pedang
Pau Put-ki sejak tadi tampaknya sangat lihai, tapi sesungguhnya tidak punya tenaga, hal ini berlawanan
dengan ajaran gurunya yang mengutamakan tenaga dalam daripada gerakan. Tiba-tiba hatinya tergerak,
pikirnya, "Pantas perguruan sendiri terbagi menjadi Khi-cong dan Kiam-cong, kiranya haluan ilmu silat yang
dianut oleh kedua sekte memang berlawanan sama sekali."
Perlahan ia coba merangkak bangun, ia pun berhasil meraba sebatang pedang yang kebetulan berada di
sampingnya. Pikirnya pula, "Perguruan sendiri hari ini benar-benar telah kalah habis-habisan, tapi nama baik
Sunio dan Sumoay yang suci bersih sekali-kali tak boleh dinodai oleh kawanan bangsat itu. Tampaknya Sunio
sudah tak bisa mengalahkan lawannya, sebentar biar kubunuh Sunio lebih dulu dan Sumoay, kemudian aku
akan membunuh diri untuk mempertahankan nama baik Hoa-san-pay."
Sementara itu permainan pedang Gak-hujin tampak mulai kacau. Sekonyong-konyong pedangnya berputar
secepat kilat terus menusuk ke depan. Serangan ini adalah "jurus tunggal tiada bandingan" yang menjadi
kebanggaannya itu.
Pau Put-ki terkejut juga oleh serangan lihai itu, lekas-lekas ia melompat mundur, hanya terpaut sedetik saja,
untung dia dapat menghindarkan tusukan maut itu.
Jika kaki Gak-hujin dalam keadaan sehat tentu dia dapat melancarkan serangan susulan yang lebih hebat dan
musuh pasti sukar menyelamatkan diri. Tapi sekarang wajahnya sudah pucat, bahkan ia harus menggunakan
pedang sebagai tongkat, napasnya tampak terengah-engah.
"Bagaimana Gak-hujin? Tenagamu sudah habis bukan? Apakah sekarang boleh kugeledah badanmu?" demikian
Pau Put-ki mengejek dengan tertawa. Sebelah tangannya dipentang, selangkah demi selangkah ia mendesak
maju.
Gak-hujin ingin angkat pedang untuk menyerang lagi, tapi lengannya seperti diganduli oleh benda yang berat,
betapa pun sukar diangkat lagi.
"Nanti dulu!" mendadak Lenghou Tiong berseru. Ia melangkah ke depan Gak-hujin dan memanggil, "Sunio!"
Habis itu ia bermaksud mengangkat pedangnya menusuk mati sang ibu guru untuk menjaga kebersihan
namanya.
Gak-hujin rupanya tahu maksud Lenghou Tiong, sorot matanya memantulkan sinar rasa senang, ia
mengangguk dan berkata, "Ehm, bagus, anak baik!"
Tapi tiba-tiba Pau Put-ki membentak, "Enyah kau!"
Berbareng pedang terus menusuk ke tenggorokan Lenghou Tiong.
Melihat serangan itu, Lenghou Tiong tahu tangan sendiri tiada bertenaga sedikit pun, jika menangkis dengan
pedang tentu senjata sendiri akan tergetar mencelat. Tanpa pikir lagi segera ia pun angkat pedang dan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menusuk tenggorokan lawan.
Serangan ini adalah cara untuk gugur bersama dengan musuh, gerak pedangnya tidak terlalu cepat, tapi
tempat yang diarah sungguh sangat bagus dan tepat, tipu serangan lihai ini adalah jurus "Boh-kiam-sik",
gerakan mengalahkan ilmu pedang lawan, yaitu salah satu jurus serangan hebat dari Tokko-kiu-kiam yang
pernah dipelajarinya di dalam gua di puncak Hoa-san tempo hari. Keruan serangan balasan ini membuat Pau
Put-ki terperanjat, sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda yang badannya kotor penuh lumpur ini
mendadak bisa melancarkan serangan lihai demikian. Dalam keadaan kepepet tanpa pikir cepat ia menjatuhkan
diri terus menggelinding ke samping hingga beberapa meter jauhnya, habis itu baru melompat bangun.
Melihat Pau Put-ki menghindarkan serangan lawannya dengan cara yang konyol itu, sampai-sampai muka,
tangan dan seluruh badan penuh berlumuran air lumpur, saking gelinya ada beberapa orang bergelak tertawa.
Tapi bila dipikirkan secara mendalam, untuk menghindarkan serangan Lenghou Tiong itu memang tiada jalan
lain kecuali menjatuhkan diri seperti Pau Put-ki.
Bagaimanapun Pau Put-ki menjadi malu karena menjadi buah tertawaan orang, dengan murka segera ia
menerjang ke arah Lenghou Tiong berikut pedangnya.
Lenghou Tiong sendiri cukup paham bahwa kini dirinya sekali-kali tidak boleh menggunakan tenaga dalam
supaya berbagai arus bawa murni di dalam tubuh itu tidak bergolak, untuk menghadapi musuh cukup
mengeluarkan "Tokko-kiu-kiam" ajaran Thaysusiokco dahulu itu.
Memangnya dia sudah cukup masak mempelajari cara memecahkan ilmu pedang lawan menurut ajaran orang
tua itu, maka dapatlah dia mematahkan berbagai macam serangan musuh yang betapa pun anehnya.
Ketika dilihatnya Pau Put-ki menyeruduk tiba seperti orang gila, segera Lenghou Tiong tahu di mana letak
kelemahan serangan musuh itu. Langsung ia memapak dengan ujung pedangnya yang diacungkan miring ke
depan, yang dinantikan adalah perut lawan.
Dengan cara serudukan Pau Put-ki itu, kalau lawannya bukan Lenghou Tiong tentu akan berusaha berkelit ke
samping atau pasti juga akan menangkis dengan senjata. Sebab itulah Pau Put-ki membiarkan perutnya
terbuka tanpa mengadakan penjagaan.
Tak terduga Lenghou Tiong sama sekali tidak menghindar dan juga tidak menangkis, ujung pedang memapak
datangnya perut lawan untuk ditumbukkan sendiri ke ujung pedang yang dipasang miring ke depan itu. Keruan
Pau Put-ki terkejut, lekas-lekas ia meloncat ke atas sambil pedang menebas ke bawah dengan maksud
menghantam jatuh pedang Lenghou Tiong.
Namun lebih dulu Lenghou Tiong sudah memperhitungkan akan gerakan Pau Put-ki itu, tiba-tiba tangannya
sedikit menggeser dan pedang terangkat lebih tinggi, ujung pedang membalik ke atas, maka tebasan pentang
Pau Put-ki tadi hanya mengenai tempat kosong.
Sungguh sama sekali tak terpikirkan oleh Pau Put-ki bahwa mendadak Lenghou Tiong bisa ganti serangan
demikian. Sudah pedang menebas tempat kosong, tubuhnya yang terapung di atas udara dan sedang menurun
ke bawah itu tepat jatuh di atas ujung pedang lawan. Keruan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, ia
berkaok-kaok tak berdaya sambil jatuh ke bawah.
Segera Hong Put-peng melompat maju, sebelah tangan terus mencengkeram punggung Pau Put-ki dengan
maksud menahan jatuhnya sang Sute.
Namun tindakannya tetap terlambat sedikit, terdengarlah suara "crat" disertai muncratnya darah, bahu Put-ki
tertembus oleh ujung pedang.
Karena tidak berhasil menyelamatkan Sutenya, tanpa pikir Hong Put-peng melolos pedang terus menebas ke
leher Lenghou Tiong.
Menurut akal sehat seharusnya Lenghou Tiong melompat mundur untuk mengelakkan serangan maut itu. Tapi
karena dia tidak berani mengerahkan tenaga, untuk melompat sudah tentu tidak sanggup. Dalam keadaan
terpaksa tiada jalan lain baginya kecuali mengeluarkan pula jurus serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai itu,
pedangnya berputar ke samping dan segera belas menusuk ulu hati Hong Put-peng.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Serangan ini kembali memperlihatkan cara nekatnya yang hendak gugur bersama musuh. Tapi karena arah
tujuan pedangnya sangat aneh, pedangnya ternyata dapat mengenai sasarannya lebih dulu baru kemudian
senjata musuh akan mengenai dia. Selisih waktu hanya sekejap, namun bila pemain pedang itu adalah tokoh
lihai tentu akan dapat menggunakan kesempatan sesingkat itu dengan baik, yaitu melalui musuh dan
menghindarkan dari serangan lawan.
Dalam hal ilmu pedang sesungguhnya Hong Put-peng terhitung salah satu jago paling lihai di antara jago
pedang pada zaman ini yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Ia yakin serangannya tadi pasti sukar
ditangkis oleh musuh. Siapa duga sekenanya Lenghou Tiong bisa balas menyerang ke arah yang tak terdugaduga.
Cepat ia menyurut mundur. Ia tarik napas panjang-panjang, sekaligus ia melancarkan tujuh kali
serangan pula secara berantai dan membadai.
Melihat serangan lawan yang sangat lihai dan sukar dilayani, namun kini Lenghou Tiong sudah nekat dan tidak
pikirkan mati-hidup lagi, yang teringat olehnya adalah macam-macam ilmu pedang ajaran Hong Jing-yang di
puncak gunung tempo hari, terkadang terkilas pula lukisan ilmu pedang yang terukir di dinding gua itu, lalu
sekenanya lantas dikeluarkan sesukanya, dengan demikian ia dapat bergebrak sampai 60-70 jurus dengan
Hong Put-peng, pedang kedua orang selama itu tak pernah kebentur, serang-menyerang mereka semuanya
menggunakan ilmu pedang yang bagus.
Para penonton sampai bingung menyaksikannya. Diam-diam mereka pun sama memuji. Dalam pada itu
mereka mendengar napas suara Lenghou Tiong yang mulai memburu, terang tenaganya tidak tahan lagi.
Namun dalam hal tipu serangan yang hebat masih terus-menerus dilontarkan dengan gerak perubahan yang
sukar diraba.
Bab 44. Sekali Serang Lenghou Tiong Membutakan 15 Orang Musuh
Hong Put-peng bertenaga lebih besar dari lawannya, setiap kali bila sukar mengelakkan serangan Lenghou
Tiong selalu ia gunakan pedangnya membabat dan menebas secara keras lawan keras, sebab ia tahu lawannya
takkan mengadu senjata dengan dia. Dengan demikian ia selalu dapat terhindari dari posisi yang kepepet.
Di antara penonton itu sudah tentu tidak kurang jago-jago ternama, ketika melihat cara pertarungan Hong Putpeng
lama-kelamaan menjurus kepada cara licik dan cara bajingan, diam-diam mereka tidak puas. Seorang
Tosu dari Thay-san-pay lantas menyindir, "Ilmu pedang murid Khi-cong lebih tinggi, sebaliknya paman guru
dari Kiam-cong bertenaga dalam lebih kuat, bagaimana bisa jadi demikian? Khi-cong dan Kiam-cong dari Hoasan-
pay ini bukankah telah berputar balik sama sekali!"
Muka Hong Put-peng menjadi merah, ia putar pedangnya semakin kencang dan melancarkan serangan lebih
gencar. Pertama, dia memang tokoh nomor satu dari sekte pedang Hoa-san-pay, ilmu pedangnya
sesungguhnya memang sangat lihai. Kedua, keadaan Lenghou Tiong sangat lemah, untuk berdiri saja sangat
dipaksakan, maka dia banyak kehilangan kesempatan baik. Ketiga, baru untuk pertama kalinya Lenghou Tiong
menggunakan Tokko-kiu-kiam untuk melawan musuh tangguh, sudah tentu perasaannya rada jeri,
permainannya belum terlalu lancar pula. Karena semuanya inilah maka sudah bertempur sekian lamanya masih
belum dapat ditentukan siapa yang kalah atau menang.
Setelah berlangsung 30 jurus lagi, Lenghou Tiong merasa setiap kali bila dirinya semakin sembarangan
melancarkan serangan, maka lawannya juga semakin sukar menangkisnya dan memperlihatkan tingkah yang
gugup dan kelabakan. Tapi kalau tanpa sengaja dirinya mengeluarkan jurus serangan dari ilmu pedang
perguruannya sendiri, maka Hong Put-peng selalu dapat mematahkan serangannya dengan baik, bahkan satu
kali dirinya hampir-hampir termakan pedang lawan itu. Pada saat berbahaya itulah tiba-tiba satu kalimat
ucapan Hong Jing-yang dahulu mengiang dalam benaknya, "Pedangmu tiada gerak serangan, tentu musuh
takkan dapat mematahkannya. Tanpa gerakan untuk mengalahkan gerakan adalah puncak kesempurnaan ilmu
pedang."
Dalam pada itu sudah ratusan jurus mereka bergebrak, pengertian Lenghou Tiong terhadap intisari Tokko-kiukiam
sudah semakin mendalam, tak peduli Hong Put-peng menyerang dengan jurus betapa pun kejinya, sekali
pandang saja ia sudah dapat melihat di mana letak kelemahan serangan musuh dan sekenanya ia balas
menyerang, kontan Hong Put-peng terpaksa harus menarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.
Setelah beberapa jurus pula, lambat laun batinnya bertambah berani, ia merasa kepandaian pihak lawan tidak
lebih juga cuma sekian saja, untuk mengalahkan dia sebenarnya tidak sulit. Tiba-tiba terkilas pula belasan
jurus tipu serangan. Tanpa terasa ia terus menusuk miring ke depan, gerakan ini tidak termasuk sesuatu tipu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
serangan, tampaknya enteng tak bertenaga, ujung pedang seperti mengarah ke timur dan seperti ke barat tak
menentu.
Hong Put-peng sampai tertegun, ia merasa heran, tipu serangan jenis apakah ini? Karena tidak kenal dan tidak
tahu cara bagaimana mematahkannya, terpaksa Hong Put-peng putar kencang pedangnya untuk melindungi
tubuh bagian atas.
Tapi karena gerakan pedang Lenghou Tiong itu tiada menentu, setiap gerakannya dapat berubah setiap saat
menurut keadaan, sekarang lawan menjaga diri bagian atas, seketika ujung pedangnya menusuk ke bawah
pinggang.
Keruan Hong Put-peng terkejut dan lekas melompat mundur.
Lenghou Tiong tak sanggup ikut melompat buat mendesak lebih jauh, setelah bertempur sekian lama mau
tidak mau juga banyak makan tenaga, karena itu napasnya mulai memburu, tangan memegang dada sambil
tersengal-sengal.
Melihat pemuda itu tidak mendesak maju sudah tentu Hong Put-peng tidak tinggal diam, berturut-turut ia
menyerang beberapa kali pula ke dada, perut dan pinggang lawan.
Tapi mendadak pedang Lenghou Tiong bergerak pula secara seenaknya, yang ditusuk adalah mata kiri Hong
Put-peng. Sungguh kaget Hong Put-peng tak terkatakan, ia menjerit dan kembali melompat mundur untuk
menyelamatkan diri.
Terdengar seorang Nikoh setengah umur dari Hing-san-pay berkata, "Aneh, sungguh aneh. Ilmu pedang tuan
ini benar-benar sangat mengagumkan."
Sudah tentu yang dia maksudkan bukan ilmu pedang Hong Put-peng melainkan Lenghou Tiong. Bagi
pendengaran Hong Put-peng ucapan itu dirasakan cukup menyinggung. Sebagai pemimpin sekte pedang yang
ingin menjabat ketua Hoa-san-pay, jika dalam hal ilmu pedang ternyata dikalahkan oleh seorang murid dari
sekte Khi, maka ambisinya akan merebut ketua sejak kini akan buyar dan tiada muka buat tancap kaki lagi di
dunia Kangouw.
Berpikir demikian, diam-diam ia mengeluh apa mau dikata lagi. Mendadak ia mendongak dan bersuit nyaring,
ia melangkah miring ke depan, pedang terus menebas dari samping dengan cepat luar biasa. Sekaligus ia
menyerang beberapa kali sehingga pedang mengeluarkan suara deru angin yang keras.
Kiranya ilmu pedang ini disebut "Hong-hong-gway-kiam" (pedang kilat angin puyuh), hasil karya kebanggaan
Hong Put-peng selama dia menyepi 15 tahun di atas gunung. Jurus-jurus serangan yang satu lebih cepat
daripada yang lain dan makin keras pula deru angin yang diterbitkan oleh sambaran pedangnya.
Ilmu pedang ini sebenarnya merupakan ilmu simpanannya yang akan digunakan sebagai bekal dalam
perebutan Bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay mendatang, sebenarnya ia enggan memperlihatkan ilmu pedang
simpanannya itu di hadapan tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang lain.
Tapi sekarang karena sudah kepepet, kalau tidak dapat mengalahkan Lenghou Tiong tentu namanya akan
bangkrut habis-habisan, maka terpaksa ia keluarkan juga ilmu pedangnya.
Daya tekanan Hong-hong-gway-kiam itu memang mahadahsyat, tenaga yang terpancar dari ujung pedangnya
makin lama makin luas sehingga bagi penonton yang berdekatan merasakan muka dan tangan kesakitan
tersambar oleh angin pedang, mau tak mau mereka sama mundur lebih jauh, maka kalangan pertempuran
kedua orang juga tambah luas.
Kini biarpun jago-jago terkemuka dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san-pay juga tidak berani menilai
rendah lagi atas diri Hong Put-peng. Mereka merasa ilmu pedang itu memang sangat lihai sehingga cukup
memenuhi syarat untuk menjadi ketua Hoa-san-pay.
Terlihat sumbu api obor yang dipegangi beberapa orang penunggang kuda itu makin lama makin tertarik
panjang oleh sambaran angin yang diterbitkan oleh pedang Hong Put-peng, bahkan deru angin itu lambat laun
bertambah keras pula.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Jika Lenghou Tiong menempur Hong Put-peng dengan tenaga tentu tak mampu melawan ilmu pedang yang
diyakinkan selama belasan tahun dan amat dahsyatnya itu, di dalam Hoa-san-pay hanya Gak Put-kun saja
dapat menandingi Hong-hong-gway-kiam dengan menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti.
Untung sekarang Lenghou Tiong sama sekali tidak bertenaga, setiap kali bila serangan Hong Put-peng tiba
selalu ia dapat mematahkannya dengan cara sembarangan saja. Betapa pun lihainya serangan Hong Put-peng
juga tak dapat memancing keluar tenaga dalam Lenghou Tiong.
Bagi penglihatan para penonton keadaan Lenghou Tiong menjadi mirip sebuah sampan kecil yang terombangambing
di tengah gelombang ombak raksasa, tapi sampan itu selalu naik turun mengikuti damparan gelombang
ombak dan tak tertenggelamkan. Semakin cepat serangan Hong Put-peng semakin membikin Lenghou Tiong
paham akan intisari petunjuk Hong Jing-yang dahulu tentang ilmu pedang.
Pada waktu mulai belajar Tokko-kiu-kiam, lawannya itu adalah Dian Pek-kong. Ilmu golok Dian Pek-kong sudah
tergolong tingkat atas di dunia persilatan, tapi kalau dibandingkan Hong Put-peng sekarang selisihnya sangat
jauh pula.
Sebentar-sebentar dalam benak Lenghou Tiong terkilas pengetahuan yang baru menghadapi serangan lawan.
Pikirnya, "Ahli pedang seperti ini sungguh jarang terdapat di dunia ini. Jika aku melukainya mungkin
selanjutnya akan sukar memperoleh lawan ahli pedang sebaik untuk menambah pengetahuanku."
Semakin jelas memahami macam-macam inti tipu serangan ilmu pedang, semakin kuat pula kepercayaannya
kepada diri sendiri. Maka ia tidak buru-buru ingin menang lagi, tapi terus mencurahkan perhatiannya untuk
meneliti macam-macam perubahan ilmu pedang lawan yang lihai itu.
Hong-hong-gway-kiam itu meliputi 108 gerakan dan hanya sebentar saja sudah habis dimainkan. Hong Putpeng
menjadi gelisah karena tetap tak bisa mengapa-apakan lawan. Ia membentak-bentak murka dan
menyerang terlebih sengit pula dengan maksud memancing tangkisan pedang Lenghou Tiong.
Namun Lenghou Tiong hanya sedikit acungkan pedangnya, berturut-turut "crit-crit-crit-crit" empat kali suara
perlahan, kontan kedua lengan dan kedua paha Hong Put-peng tertusuk semua. "Trang", pedang terlepas dari
cekalan dan jatuh ke lantai.
Lantaran tidak sengaja hendak melukai orang, pula tangannya tak bertenaga, maka empat kali tusukan
Lenghou Tiong itu dilakukan dengan sangat enteng.
Meski Hong Put-peng tidak terluka parah, tapi dengan kedudukannya mana bisa dia melanjutkan pula
pertandingan itu. Seketika wajahnya menjadi pucat, serunya, "Sudah, sudahlah!"
Lalu ia memberi salam kepada Co Hui-eng, katanya, "Co-toakongcu, harap sampaikan salamku kepada
ayahmu, katakan aku merasa sangat berterima kasih atas bantuannya. Cuma ... cuma kepandaianku masih tak
sanggup menandingi orang, aku ... aku ... tidak ...."
Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya karena tenggorokannya serasa tersumbat. Segera ia melangkah pergi
dengan cepat. Kira-kira belasan tindak mendadak ia berhenti dan berteriak, "He, anak muda, ilmu pedangmu
sungguh sangat lihai, aku mengaku kalah. Tapi ilmu pedang demikian rasanya bukan ajaran Gak Put-kun.
Numpang tanya siapakah namamu yang mulia, ilmu pedang itu ajaran dari tokoh kosen siapa?"
"Aku Lenghou Tiong adanya, murid tertua dari guruku yang berbudi Gak-siansing," sahut Lenghou Tiong. "Ilmu
pedang yang sepele ini hanya secara kebetulan dapat menang sejurus-dua, buat apa mesti dipikirkan?"
Terdengar Hong Put-peng menghela napas panjang, suaranya penuh rasa masygul dan patah semangat,
perlahan ia melangkah pergi dan akhirnya menghilang dalam kegelapan.
Co Hui-eng saling pandang sekejap dengan Theng Eng-gok, mereka sama pikir, "Bicara tentang ilmu pedang
besar kemungkinan kita sendiri masih bukan tandingan Hong Put-peng dan sudah tentu lebih-lebih bukan
tandingan Lenghou Tiong. Kalau beramai-ramai mengerubutnya tentu dengan gampang dapat membunuh
pemuda itu. Tapi berbagai tokoh terkemuka sekarang sama hadir, betapa pun tidak dapat melakukan
perbuatan yang begitu rendah dan pengecut."
Karena pikiran yang sama kedua orang saling manggut, lalu Co Hui-eng membuka suara, "Lenghou-heng, ilmu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
pedangmu sungguh hebat dan benar-benar banyak menambah pengalamanku. Sampai berjumpa pula!"
Sekali kakinya mengempit, seketika kudanya membedal cepat ke depan dan segera diikuti orang-orang lain.
Hanya sebentar saja mereka pun sudah menghilang di malam kelam, yang terdengar sayup-sayup hanya derap
kaki kuda yang makin menjauh.
Sekarang yang berada di luar kelenteng itu selain orang-orang Hoa-san-pay hanya tertinggal para berandal
yang berkedok kain hitam tadi. Si orang tua tadi mengekek tawa, lalu berkata, "Lenghou-siauhiap, betapa
hebat ilmu pedangmu, sungguh kami merasa kagum tak terhingga. Kepandaian Gak Put-kun masih selisih
sangat jauh denganmu, pantasnya kau yang cocok untuk menjabat ketua Hoa-san-pay. Melihat ilmu pedangmu
yang hebat itu seharusnya kami mesti tahu diri dan mundur teratur. Cuma kami sudah telanjur mengganggu
Hoa-san-pay kalian, bencana di kemudian hari tentu akan timbul, terpaksa hari ini kami harus babat rumput
sampai akar-akarnya. Tampaknya kau sudah terluka, tiada jalan lain kami harus mengerubutmu dengan jumlah
banyak."
Habis berkata, sekali bersuit segera kawan-kawannya ikut mengurung maju.
Walau Co Hui-eng dan rombongannya pergi, obor yang mereka buang sekenanya masih belum padam, maka
bagian bawah setiap orang tersorot dengan terang, sedangkan bagian pinggang ke atas hanya remangremang.
Senjata ke-15 berandal berkedok itu gemilapan terhunus dan mendesak maju selangkah demi
selangkah.
Sesudah menempur Hong Put-peng tadi, walaupun tidak memakai tenaga dalamnya, tidak urung Lenghou
Tiong juga mandi keringat. Sebabnya dia dapat mengalahkan tokoh nomor satu dari sekte pedang itu adalah
berkat Tokko-kiu-kiam yang aneh itu. Sekarang ke-15 kawanan berandal itu menggunakan 15 macam senjata
yang cara permainannya tentu berbeda-beda pula, bila sekaligus mereka menyerang, cara bagaimana dia
mampu mematahkannya satu per satu?
Dalam keadaan tak bisa mengerahkan tenaga dalam, ia menjadi putus asa. Ia menghela napas dan coba
memandang ke arah Gak Leng-sian. Ia tahu ini adalah pandangan terakhir pada ajalnya hampir tiba, ia
berharap akan mendapat sedikit tanda-tanda mesra dari si nona sebagai pelipur lara. Benar juga, dilihatnya
sepasang mata Leng-sian yang jeli itu sedang memandangnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.
Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan. Tapi di bawah cahaya obor sekilas dilihatnya pula sebelah
tangan Leng-sian terjulur ke samping dan ternyata saling genggam dengan tangan seorang lelaki. Dilihatnya
lelaki itu bukan lain adalah Lim Peng-ci.
Orang-orang Hoa-san-pay sebenarnya telah dibekuk oleh kawanan berandal berkedok itu dan tak bisa berkutik,
tapi kini para berandal berkedok itu sedang siap-siap hendak mengerubut Lenghou Tiong sehingga Peng-ci dan
Leng-sian dengan sendirinya mendapat kesempatan untuk saling bersandar menjadi satu dan tangan
menggenggam tangan.
Seketika perasaan Lenghou Tiong seperti disayat-sayat, patahlah semangat tempurnya, segera ia bermaksud
membuang senjata dan membiarkan dirinya dibantai musuh sesukanya.
Di tengah kegelapan malam itu tertampak ke-15 orang berkedok perlahan sedang mendesak maju. Rupanya
orang-orang itu masih jeri terhadap kelihaian Lenghou Tiong yang telah mengalahkan Hong Put-peng tadi,
maka siapa pun tidak berani menyerang lebih dulu.
Perlahan Lenghou Tiong putar tubuhnya, dilihatnya 30 biji mata ke-15 orang itu berkedip-kedip di balik lubang
kain kedoknya, tersorot oleh cahaya obor yang remang-remang itu ke-I5 pasang mata mereka itu mirip mata
binatang buas.
Sekonyong-konyong dalam benak Lenghou Tiong terkilas sesuatu ingatan, "Di dalam Tokko-kiu-kiam itu ada
satu jurus yang khusus digunakan untuk mematahkan macam-macam serangan senjata rahasia musuh.
Biarpun betapa banyak dan macam apa pun senjata musuh yang dihamburkan, asal jurus serangan itu
dikeluarkan, serentak senjata rahasia musuh akan dapat disapu jatuh semua."
Saat gawat itu segera timbul, terdengar si orang tua berkedok tadi lagi membentak, "Maju semua, cincang
dia!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Sadar posisi yang berbahaya pada saat itu, tanpa pikir lagi pedang Lenghou Tiong mendadak bergerak, ujung
pedang bergetar terus menutul kepada ke-15 pasang mata musuh. Dalam waktu yang sangat singkat
terdengar suara jeritan di sana-sini, menyusul terdengar pula suara gemerantang nyaring jatuhnya macammacam
senjata. Dalam sekejap saja 30 biji mata ke-15 orang berkedok itu sekaligus ditusuk buta oleh
serangan kilat Lenghou Tiong yang mahalihai.
Jurus serangan yang digunakan Lenghou Tiong mestinya khusus digunakan untuk menyapu bersih hamburan
senjata rahasia musuh, tapi kini digunakan untuk menusuk mata musuh, hasilnya ternyata sangat
menakjubkan.
Sesudah menyerang segera Lenghou Tiong menerobos lewat di antara orang banyak dengan langkah
sempoyongan, ia mendekati Lo Tek-nau dan memegang pundaknya dengan muka pucat dan badan gemetar.
Menyusul pedangnya lantas terlepas dari cekalan.
Ke-15 orang berkedok itu tampak kelabakan menutupi mata masing-masing, dari celah-celah jari mereka
tampak merembes keluar darah segar. Ada yang berjongkok merintih, ada yang menjerit-jerit dan berlari
seperti lalat tak berkepala, ada yang terguling-guling di tengah air lumpur.
Sesudah mata mereka tertusuk buta, pandangan mereka seketika menjadi gelap gulita dan terasa sakit sekali.
Saking kaget dan takutnya yang teringat oleh mereka adalah menutupi mata yang buta itu sambil berteriak
dan menjerit. Padahal kalau mereka bisa berlaku tenang dan tetap mengerubut maju, tentu Lenghou Tiong
akan tercencang menjadi daging cacah oleh senjata ke-15 orang itu.
Tapi maklum juga, siapa pun dan betapa pun tinggi ilmu silatnya jika mendadak mata tertusuk buta, mana bisa
lagi berlaku tenang dan mana sanggup meneruskan serangan kepada musuh.
Begitulah ke-15 orang itu menjadi kelabakan dan tak keruan entah apa yang harus mereka lakukan lagi.
Pada detik yang berbahaya tadi Lenghou Tiong lantas menyerang dan berhasil dengan baik, tapi demi melihat
keadaan ngeri ke-15 orang itu, tanpa terasa ia menjadi tidak tega dan menaruh belas kasihan kepada mereka.
Mendadak Gak Put-kun membentak, "Tiong-ji, putuskan otot kaki mereka, nanti kita periksa dan tanya
mereka."
"Ya ... ya ...." sahut Lenghou Tiong sambil berjongkok hendak menjemput pedangnya. Tak terduga
serangannya tadi telah mengerahkan tenaga dalamnya sehingga mengakibatkan badan gemetar dan tidak
sanggup menjemput pedang.
Dalam pada itu si orang tua berkedok tadi lagi berseru, "Kawan-kawan, lekas jemput senjata masing-masing,
sebelah tangan pegang ikat pinggang teman, semuanya pergi mengikuti aku!"
Ke-14 orang kawannya memang sedang kelabakan dan bingung, demi mendengar seruan si orang tua,
serentak mereka berjongkok dan meraba-raba tanah, tak peduli senjata siapa yang mereka sentuh segera
dijemputnya. Ada yang mendapatkan senjata dengan mudah, tapi ada pula tidak memperoleh sesuatu. Buruburu
mereka memegangi ikat pinggang temannya sehingga menjadi satu barisan dan ikut pergi bersama si
orang tua dengan langkah tak menentu.
Para murid Hoa-san-pay kecuali Lenghou Tiong, yang lain semuanya tertutuk Hiat-to yang membikin tak bisa
bergerak sedikit pun. Sedangkan Lenghou Tiong sendiri dalam keadaan tak bertenaga dan menggeletak lumpuh
di atas tanah, maka mereka hanya menyaksikan kaburnya ke-15 orang berandal dan tak bisa mencegah.
"Lenghou Tiong, Lenghou-tayhiap, mengapa engkau belum mau membuka Hiat-to kami, apa perlu menunggu
kami memohon pertolonganmu?" tiba-tiba Gak Put-kun berkata.
Keruan Lenghou Tiong terkejut. Katanya dengan suara gemetar, "Su ... Suhu, mengapa engkau ber ...
berkelakar dengan Tecu? Segera akan ... akan kubuka Hiat-to Suhu."
Segera ia merangkak bangun dan mendekati Gak Put-kun dengan terhuyung-huyung. Tanyanya kemudian, "Su
... Suhu, harus kubuka Hiat .. Hiat-to yang mana?"
Di dalam hati sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan, ia mengira Lenghou Tiong sengaja melepaskan ke-15
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
berandal berkedok tadi, sekarang sengaja mengulur waktu dan tak mau cepat membuka Hiat-to yang tertutuk.
Dengan gusar ia lantas menjawab, "Tak perlu lagi!"
Diam-diam ia mengerahkan Ci-he-sin-kang dengan lebih kuat untuk menggempur bagian Hiat-to yang tertutuk
itu.
Sejak ditutuk dan tak bisa berkutik, terus-menerus Gak Put-kun mengarahkan Lwekang untuk menggempur
Hiat-to yang tertutuk itu. Cuma orang yang menutuknya tadi adalah tokoh pilihan dan memiliki tenaga yang
sangat kuat. Beberapa Hiat-to yang tertutuk itu adalah tempat penting pula, karena itu seketika Ci-he-sin-kang
tidak dapat memunahkan Hiat-to yang tertutuk.
Lenghou Tiong sendiri tak bertenaga sehingga mungkin lebih lemas daripada anak kecil, ia ingin membuka
Hiat-to sang guru yang tertutuk itu, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan tenaga. Beberapa kali ia coba
mengerahkan tenaga, tapi setiap kali matanya berkunang-kunang, telinga mendengung-dengung, hampir saja
jatuh pingsan. Terpaksa ia duduk di sebelah Gak Put-kun dan menunggu sang guru membuka Hiat-to sendiri.
Sementara itu hujan sudah berganti gerimis dan masih turun tak berhenti-henti, keruan seluruh badan semua
orang basah kuyup tak terkecuali.
Menjelang fajar barulah hujan berhenti. Muka semua orang pun remang-remang mulai terlihat jelas. Leng-sian
dan beberapa anak muda yang Lwekangnya lebih rendah menggigil kedinginan tertiup angin pagi yang semilir.
Sebaliknya ubun-ubun kepala Gak Put-kun tampak mengepulkan asap putih, air mukanya yang bersemu ungu
semakin tandas. Sekonyong-konyong ia bersuit panjang, seluruh Hiat-to yang tertutuk telah terbuka semua. Ia
melompat bangun, kedua tangan bekerja dengan cepat, ada yang ditepuknya, ada yang diremasnya, hanya
sekejap saja setiap orang yang tak bisa berkutik itu telah dibebaskan semua dari siksaan.
Gak-hujin dan para muridnya lantas berbangkit, Ko Kin-beng, Si Cay-cu dan lain-lain sama meneteskan air
mata. Beberapa murid wanita bahkan menangis sedih. Beberapa orang di antaranya berkata, "Beruntung ilmu
pedang Toasuko mahasakti dan dapat mengalahkan kawanan berandal itu, kalau tidak entah bagaimana
jadinya kita ini?"
Saat itu Lenghou Tiong masih telentang di atas tanah berlumpur, lekas Ko Kin-beng membangunkan dia.
Air muka Gak Put-kun tidak memperlihatkan sesuatu, dengan dingin ia tanya, "Kau tahu asal usul ke-15 orang
berkedok itu?"
"Tecu ... Tecu sendiri tidak tahu," sahut Lenghou Tiong.
"Apa kau tidak kenal mereka?" Put-kun menegas.
"Suhu, sebelum ini Tecu tidak pernah kenal salah seorang di antara mereka," sahut Lenghou Tiong dengan
takut atas penegasan sang guru.
"Jika demikian, mengapa perintahku agar kau menahan mereka untuk diperiksa, tapi kau anggap tidak
mendengar dan tak menggubris?" tanya Put-kun pula.
"Tecu ... Tecu sama sekali tak bertenaga lagi, seluruh tubuh terasa lemas, kini ... kini ...." sambil berkata
badannya juga tergoyang-goyang, untuk berdiri saja tidak kuat rasanya.
"Hm, pandai benar kau main sandiwara!" jengek Put-kun.
Lenghou Tiong berkeringat dingin seketika, cepat ia tekuk lutut di hadapan sang guru, katanya, "Sejak kecil
Tecu sudah yatim piatu, atas budi kebaikan Suhu dan Sunio sehingga Tecu dirawat sampai besar, selama itu
Tecu juga tidak berani membangkang perintah Suhu atau sengaja mendebat Suhu dan Sunio."
"Kau tidak berani mendustai Suhu dan Sunio? Hm, lantas ilmu pedangmu itu diperoleh dari mana? Apakah
ajaran malaikat di dalam mimpi atau mendadak jatuh dari langit?"
Berulang Lenghou Tiong menjura, katanya, "Tecu pantas dihukum mati. Soalnya Cianpwe yang mengajarkan
ilmu pedang ini mengharuskan Tecu berjanji takkan memberitahukan kepada siapa pun juga tentang asal usul
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
ilmu pedang ini, karena itu terpaksa kepada Suhu dan Sunio juga tak dapat Tecu beri tahukan."
"Ya, sudah tentu, sudah setinggi ini ilmu silatmu, masakah kau masih pandang sebelah mata kepada Suhu dan
Suniomu?" jengek Put-kun. "Memangnya sedikit kepandaian Hoa-san-pay yang tak berarti ini mana tahan
sekali gempur oleh ilmu pedangmu yang sakti? Kakek berkedok itu memang tepat ucapnya, jabatan ketua Hoasan-
pay kita ini seharusnya kau yang mendudukinya."
Lenghou Tiong tak berani menjawab, ia hanya menjura terus. Pikiran bergolak hebat, "Jika aku tidak
menuturkan pengalaman tentang diperolehnya ajaran ilmu pedang dari Hong-thaysusiokco, tentu Suhu dan
Sunio takkan memberi maaf. Namun seorang laki-laki sejati harus bisa pegang janji, sedangkan seorang maling
cabul sebagai Dian Pek-kong saja tidak mau membocorkan rahasia jejak Thaysusiokco biarpun menghadapi
siksaan Put-kay Hwesio, apalagi aku Lenghou Tiong telah menerima budi kebaikannya, sekali-kali aku tidak
boleh ingkar janji, rasa setia dan baktiku kepada Suhu dan Sunio adalah tulus dan jujur, untuk ini dapat
kupertanggungjawabkan kepada siapa pun juga. Kalau untuk sementara ini aku menanggung penasaran
apakah artinya bagiku?"
Maka katanya kemudian, "Suhu dan Sunio, sekali-kali bukan Tecu sengaja membangkang kepada perintah
guru, sesungguhnya ada kesukaran Tecu yang tak dapat dijelaskan. Kelak Tecu akan mohon maaf kepada Suhu
dan Sunio, tatkala mana Tecu akan memberi laporan kepada Suhu dan Sunio dan bercerita terus terang
selengkapnya."
"Baiklah, boleh bangun," kata Put-kun.
Lenghou Tiong menjura tiga kali lagi, segera ia bermaksud berbangkit, tapi baru saja kakinya menegak
sebelah, kembali ia lemas dan jatuh berlutut pula. Kebetulan Peng-ci berdiri di sebelahnya, cepat ia bantu
menariknya bangun.
"Hm, ilmu pedangmu hebat, caramu main sandiwara terlebih bagus pula," ejek Gak Put-kun.
Lenghou Tiong tidak berani menjawab, pikirnya, "Betapa pun besarnya budi Suhu yang dicurahkan padaku, hari
ini beliau sudah salah paham, kelak segala persoalan pasti akan kubikin terang. Urusan ini memang agak
janggal, pantas juga kalau beliau merasa curiga."
Begitulah biarpun menahan penasaran, tapi ia pun tidak dendam sedikit pun.
Sementara itu para murid Hoa-san sedang sibuk pada tugasnya masing-masing, ada yang menanak nasi, ada
yang menggali liang untuk mengubur jenazah Nio Hoat.
Sesudah sarapan pagi, semua orang sama mengeluarkan baju kering untuk ganti pakaian mereka yang basah
dan kotor. Habis itu mereka sama memandang Gak Put-kun untuk menunggu perintah. Pikir mereka, "Apakah
kita masih mau meneruskan perjalanan ke Ko-san?"
"Sumoay, ke mana kita harus pergi menurut pendapatmu?" tanya Put-kun kemudian kepada sang istri.
"Ke Ko-san kukira tidak perlu lagi," sahut Gak-hujin. "Tapi kita sudah telanjur keluar dari rumah rasanya juga
tidak perlu buru-buru pulang kembali ke Hoa-san."
"Ya, toh tiada pekerjaan apa-apa, boleh juga kita pesiar ke sana-sini supaya dapat menambah pengalaman
para murid," kata Put-kun.
Yang paling senang adalah Leng-sian, cepat ia bersorak, "Baik sekali! Ayah ...."
Tapi lantas teringat olehnya tentang kematian Nio Hoat, adalah tidak pantas ia memperlihatkan rasa girang
begitu cepat, maka hanya ucapan itu saja lantas berhenti.
"Huh, bicara tentang pesiar kau lantas kegirangan ya?" omel Put-kun dengan tersenyum. "Baiklah, kali ini ayah
akan mengikuti sifat kesukaanmu. Coba katakan sebaiknya kita pergi ke mana, anak Sian?"
Sambil berkata pandangnya ditujukan kepada Peng-ci.
"Ayah, jika mau pesiar sepuas-puasnya dan makin jauh makin baik, janganlah kepalang tanggung, janganlah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
belum seberapa jauh dan baru beberapa hari sudah sibuk mau pulang lagi," kata Leng-sian. "Bagaimana
umpamanya kalau kita pergi ... pergi ... ke rumah Siau-lim-cu. Dia bilang buah lengkeng Hokkian besar-besar
dan manis-manis, katanya jeruk di sana juga sangat tersohor dan macam-macam barang lain."
Gak-hujin melelet lidah, katanya, "Dari sini ke Hokkian jauhnya beribu-ribu li, dari mana kita mempunyai biaya
sebanyak itu untuk rombongan sebanyak ini. Jangan-jangan Hoa-san-pay kita harus menjadi Kay-pang dan
meniru cara mereka berkelana sambil mengemis."
Tiba-tiba Peng-ci berkata, "Suhu dan Sunio, besok juga kita sudah bisa memasuki wilayah Holam. Nenek luar
Tecu bertempat tinggal di kota Lokyang."
"Ya, benar, kakek-luarmu Kim-to-bu-tek, (golok emas tiada tandingan) Ong Goan-pa memang betul orang
Lokyang," kata Gak-hujin.
"Ayah-bunda Tecu telah wafat semuanya, sungguh Tecu ingin berkunjung kepada Gwakong dan Gwapoh
(kakek dan nenek luar) untuk memberi lapor segala sesuatu," kata Peng-ci pula. "Apabila Suhu, Sunio dan para
Suko dan Suci sudi ikut mampir ke tempat kediaman Gwakong dan tinggal di sana barang beberapa hari, tentu
Gwakong dan Gwapoh akan merasa mendapat kehormatan besar. Habis itu barulah kita melanjutkan
perjalanan ke Hokkian, tentang ongkos perjalanan ...."
Ia merandek sejenak, lalu menyambung, "Di sepanjang jalan toh ada cabang Piaukiok kami, segala sesuatu
tentu akan mendapat pelayanan dari mereka, maka mengenai hal ini kukira tidak perlu khawatir."
Sejak Gak-hujin melukai Tho-sit-sian, senantiasa ia dirundung rasa khawatir kalau-kalau Tho-kok-lak-sian akan
datang menuntut balas. Keberangkatannya dari Hoa-san kali ini alasannya saja hendak menuntut kebenaran
dan keadilan ke Ko-san, tapi sebenarnya adalah melarikan diri untuk menghindari bencana.
Tadi sesudah sang suami mengarahkan pandangnya kepada Peng-ci, lalu pemuda itu mengundang semua
orang berkunjung ke Hokkian. Kalau dipikir, untuk mengungsi memang lebih jauh lebih baik. Apalagi dirinya
dan sang suami juga tak pernah berkunjung ke daerah selatan, sekarang tiada jeleknya jalan-jalan ke sekitar
Hokkian.
Karena pikiran itu ia lantas berkata kepada sang suami, "Suko, Siau-lim-cu telah menyatakan akan tanggung
makan dan tanggung tempat tinggal, kita mau pergi dengan biaya gratis atau tidak?"
Put-kun tersenyum, jawabnya, "Hokkian adalah tempat asal Siau-lim-si sekte selatan, selama ini banyak
menghasilkan tokoh-tokoh persilatan. Jika kita dapat mengikat beberapa kawan karib barulah tidak sia-sia
perjalanan kita ini."
Mendengar gurunya sudah mau pesiar ke Hokkian, keruan para murid sangat gembira. Para murid, baik lakilaki
maupun wanita kecuali Lo Tek-nau, rata-rata umur mereka belum ada yang lebih dari 30 tahun. Dengan
sendirinya mereka sangat tertarik dan bersemangat mengenai pesiar ke daerah selatan yang indah permai itu.
Lebih-lebih Peng-ci dan Leng-sian, mereka berdua yang paling girang.
Sebaliknya hanya Lenghou Tiong seorang saja yang muram durja. Pikirnya, "Suhu dan Sunio tidak mau pergi
ke mana-mana dan justru lebih dulu pergi ke Lokyang untuk bertemu dengan kakek luar Lim-sute, habis itu
baru akan berangkat ke Hokkian yang jauh itu, tak usah dijelaskan lagi terang dia sudah menjodohkan
Siausumoay kepada Lim-sute, boleh jadi setiba di Hokkian mereka akan lantas dinikahkan di rumah Lim-sute.
Aku sendiri adalah anak piatu, tanpa sanak tiada kadang, mana aku dapat dibandingkan dengan putra juragan
Hok-wi-piaukiok yang kantor cabangnya tersebar di mana-mana tempat. Melulu kakek luarnya Kim-to-bu-tek
Ong Goan-pa saja biasanya juga sangat mendapat penghargaan dari Suhu. Sekarang Lim-sute ingin pergi ke
Lokyang untuk berkunjung kepada kakek dan neneknya, buat apa aku ikut pergi ke sana?"
Diam-diam ia pun mendongkol demi melihat para Sute dan Sumoaynya bergembira ria seakan-akan semuanya
sudah melupakan kematian Nio Hoat yang mengerikan itu. Pikirnya pula, "Malam nanti kalau menginap di suatu
tempat biarlah tengah malam seorang diri aku tinggal pergi saja. Masakah aku harus ikut semua orang ke sana
dan ikut makan nasi Lim-sute dan tinggal di rumahnya dulu menahan perasaan sambil mengucapkan selamat
kepada pernikahan Lim-sute dan Siausumoay?"
Ketika semua orang berangkat melanjutkan perjalanan, dengan semangat lesu dan badan lemas Lenghou Tiong
ikut dari belakang, tapi makin lama makin lambat jalannya sehingga tertinggal agak jauh oleh rombongan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Dekat tengah hari keadaannya tambah payah, ia tidak tahan lagi dan duduk mengaso di atas batu di tepi jalan
dengan napas tersengal-sengal.
Tiba-tiba tertampak Lo Tek-nau berlari balik dan berseru padanya, "Toasuko bagaimana keadaanmu? Apakah
lelah? Biar kutunggu engkau. Sunio telah menyewa sebuah kereta besar di kota depan sana dan sebentar lagi
akan datang memapak dirimu."
Diam-diam Lenghou Tiong merasa terima kasih, biarpun sang guru timbul curiga padanya, tapi ibu gurunya
ternyata masih tetap sangat baik.
Selang tidak lama, benar juga sebuah kereta keledai sedang mendatang dengan cepat. Segera Lenghou Tiong
naik ke atas kereta dengan didampingi Lo Tek-nau.
Bab 45. Macan Kesasar Dikeroyok Anjing
Malamnya waktu menginap di hotel Lo Tek-nau juga tinggal sekamar dengan Lenghou Tiong. Dan begitu
seterusnya beberapa hari berturut-turut Lo Tek-nau selalu mendampinginya dan tak terpisahkan.
Lenghou Tiong mengira Lo Tek-nau bermaksud baik merawatnya karena keadaan dirinya yang lemah itu. Siapa
tahu pada malam ketiga ketika Lenghou Tiong sedang istirahat di tempat tidur, tiba-tiba didengarnya Sute yang
kecil bernama Su Ki sedang bicara di luar kamar dengan suara berbisik, "Jisuko, Suhu menanyakan padamu
apakah hari ini Toasuko memperlihatkan sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan?"
Lalu terdengar Lo Tek-nau berdesis, "Ssst, jangan keras-keras! Mari keluar saja!"
Hanya kedua kalimat itu pun sudah membuat perasaan Lenghou Tiong tergetar. Baru sekarang ia tahu gurunya
sesungguhnya telah curiga padanya, bahkan Lo Tek-nau sengaja disuruh mengawasinya secara diam-diam.
Dalam pada itu terdengar Su Ki sedang melangkah pergi dengan berjinjit-jinjit, sedangkan Lo Tek-nau lantas
mendekati tempat tidur untuk memeriksa Lenghou Tiong apakah sudah pulas atau tidak.
Sebenarnya Lenghou Tiong sangat gusar dan segera hendak melonjak bangun untuk mendamprat Lo Tek-nau,
tapi lantas terpikir olehnya Jisute itu hanya menerima perintah sang guru saja, kenapa mesti marah kepada
orang yang tidak berdosa? Maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan pura-pura tidur nyenyak.
Sejenak kemudian Lo Tek-nau lantas melangkah keluar juga. Lenghou Tiong tahu tentu dia hendak pergi
melapor kepada sang guru tentang gerak-geriknya, diam-diam ia sangat mendongkol. "Hm, aku toh tidak
berbuat sesuatu apa yang berdosa, sekalipun kalian mengawasi aku siang dan malam juga aku tidak takut asal
perbuatanku cukup dapat dipertanggungjawabkan," demikian pikirnya.
Karena perasaannya bergolak sehingga mengguncangkan tenaga dalam, seketika ia merasa dada sesak dan
sangat menderita, ia mendekam di atas bantal dengan napas tersengal-sengal. Sampai agak lama baru tenang
kembali. Ia coba berbangkit dan mengenakan baju dan sepatu. Katanya di dalam hati, "Jika Suhu tidak
pandang aku sebagai murid lagi dan mengawasi aku seperti maling buat apa lagi aku tinggal di Hoa-san, lebih
baik kutinggal pergi saja. Kelak syukurlah kalau Suhu sudi memahami diriku, kalau tidak ya terserahlah."
Memangnya sejak salah membunuh Liok Tay-yu, dalam hati kecilnya selalu dirundung rasa berdosa, lebih-lebih
mengenai Gak Leng-sian yang telah mengalihkan cintanya kepada orang lain, hal ini semakin melukai
perasaannya, sudah lama ia merasa bosan hidup lagi. Sekarang diketahui pula sang guru menaruh curiga dan
menyuruh orang mengawasi gerak-geriknya, keruan ia tambah sedih dan putus asa.
Pada saat itulah mendadak di luar jendela ada orang bicara dengan suara tertahan, "Ssst, jangan bergerak!"
Lalu ada lagi seorang lain menjawab, "Ya, Toasuko seperti sudah bangun."
Suara bicara kedua orang itu sangat perlahan, tapi di tengah malam yang bunyi itu cukup jelas didengar oleh
Lenghou Tiong, terang itulah dua orang Sutenya yang kecil. Agaknya mereka sengaja sembunyi di luar sana
untuk mengawasi dirinya kalau-kalau melarikan diri.
Sungguh Lenghou Tiong mendongkol tak terkatakan, ia mengepal sehingga ruas tulangnya bekertakan.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Katanya di dalam hati, "Jika saat ini juga aku tinggal pergi tentu akan berbalik memperlihatkan aku berdosa
dan sengaja kabur. Baik, baik, aku justru takkan pergi, terserah cara bagaimana kalian akan berbuat terhadap
diriku."
Mendadak ia berteriak-teriak, "Pelayan! Pelayan! Ambilkan arak!"
Sampai agak lama baru terdengar jawaban pelayan hotel datang membawakan arak yang diminta. Terus saja
Lenghou Tiong minum arak sepuas-puasnya sampai mabuk dan tak sadarkan diri.
Esok paginya waktu akan berangkat Lenghou Tiong masih belum sadar sehingga perlu bantuan Lo Tek-nau
memayangnya ke atas kereta.
Beberapa hari kemudian rombongan mereka sampai di Lokyang dan bermalam di suatu hotel yang besar.
Seorang diri Lim Peng-ci lantas berkunjung ke rumah neneknya.
Gak Put-kun dan lain-lain sudah salin pakaian bersih semua. Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap memakai
baju panjang yang berlepotan lumpur waktu bertempur di luar kelenteng tempo hari.
Dengan membawa seperangkat pakaian bersih Leng-sian mendekati Lenghou Tiong, katanya, "Toasuko,
maukah ganti pakaian ini?"
"Pakaian Suhu mengapa mesti diberikan padaku?" sahut Lenghou Tiong.
"Sebentar kita diundang berkunjung ke rumah Siau-lim-cu, maka lekas kau ganti pakaian yang lebih bersih ini,"
ujar Leng-sian.
"Ke rumah kan apa harus pakai baju yang bagus," jawab Lenghou Tiong sambil mengamat-amati sang
Sumoay.
Ternyata Leng-sian sudah berdandan rapi, memakai baju sutera bungkus kapas tipis dan berkain satin warna
hijau pupus. Mukanya berbedak dan bergincu tipis sehingga makin menambah kecantikannya. Rambutnya yang
hitam pun tersisir dengan mengilap, pada samping gelungnya dihias dengan tusuk kundai bermutiara.
Seingat Lenghou Tiong, pada masa lampau, hanya kalau tahun baru Leng-sian berdandan sedemikian rupa.
Tapi sekarang hendak bertamu ke rumah Lim Peng-ci saja si nona juga berdandan serapi itu, sudah tentu pedih
hati Lenghou Tiong.
Segera ia bermaksud mengucapkan kata-kata ejekan, tapi lantas terpikir olehnya seorang laki-laki sejati
kenapa mesti berjiwa begitu sempit? Maka urung ia membuka mulut.
Sebaliknya Leng-sian menjadi rikuh sendiri karena dipandang dengan sorot mata yang tajam, segera katanya,
"Jika engkau tidak mau ganti pakaian, ya sudahlah."
"Ya, terima kasih! Aku tidak biasa memakai baju baru, lebih baik tidak ganti pakaian saja," kata Lenghou Tiong.
Leng-sian tidak bicara lebih jauh, ia membawa kembali pakaian itu ke kamar ayahnya.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara seorang yang nyaring keras sedang berseru di luar pintu, "Jauh-jauh
Gak-tayciangbun berkunjung kemari, tapi Cayhe tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya,
sungguh terlalu tidak sopan."
Gak Put-kun saling pandang dengan sang istri dan tersenyum senang, mereka tahu Kim-to-bu-tek Ong Goanpa
sendiri telah datang menyambut. Cepat mereka memapak ke luar.
Tertampak usia Ong Goan-pa sudah 70-an tahun, tapi mukanya merah bercahaya, jenggotnya putih panjang,
semangatnya masih menyala-nyala Sebelah tangannya memainkan dua buah bola emas sebesar telur angsa
sehingga menerbitkan suara nyaring bergeseknya dua benda logam itu.
Adalah umum orang persilatan memainkan bola besi, tapi biasanya bola logam demikian adalah buatan besi
biasa atau baja murni. Sebaliknya sekarang yang dipegang Ong Goan-pa adalah dua biji bola emas sehingga
bobotnya berlipat-lipat lebih berat daripada besi, bahkan memperlihatkan kemewahannya yang lain daripada
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
yang lain.
Begitu melihat Gak Put-kun segera jago tua itu bergelak tertawa dan berseru, "Selamat bertemu! Nama Gaktayciangbun
menggema di dunia persilatan dengan gilang-gemilang, hari ini Gak-tayciangbun sudi berkunjung
ke Lokyang, sungguh merupakan suatu kehormatan besar dan peristiwa yang menggembirakan bagi kawankawan
Bu-lim di daerah Tiongciu ini."
Sembari berkata ia terus melangkah maju dan menjabat tangan Gak Put-kun serta diguncang-guncangkan
dengan penuh gembira, sikapnya sangat tulus dan simpatik.
Gak Put-kun menjawab dengan tertawa, "Cayhe suami-istri bersama para murid sengaja berkelana keluar dan
berkunjung pada para sahabat untuk mencari pengalaman, justru tokoh pertama yang kami kunjungi adalah
Tiongciu-tayhiap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu di sini. Kedatangan kami belasan tamu yang tak diundang ini
benar-benar terlalu mendadak dan sembrono."
Dengan suara keras Ong Goan-pa berkata, "Sebutan 'Kim-to-bu-tek' siapa pun dilarang mengucapkannya lagi
di hadapan Gak-tayciangbun. Barang siapa menyebutnya lagi tidak berarti menyanjung diriku, tapi suatu
penghinaan padaku. Gak-siansing, engkau sudi menerima cucu luarku, budi kebaikan ini sungguh sukar
dibalas, sejak kini Hoa-san-pay dan Kim-to-bun adalah satu keluarga, harap tinggal di rumahku satu atau
setengah tahun, siapa pun jangan meninggalkan kota Lokyang ini. Gak-siansing, biarlah kubawakan barangbarangmu
dan marilah berangkat."
"Ah, jangan, mana aku berani membikin repot Ong-loyacu," sahut Gak Put-kun cepat.
Segera Ong Goan-pa berpaling dan berkata kepada kedua putranya yang berdiri di belakangnya, "Pek-hun,
Tiong-kiang, lekas kalian menjura kepada Gak-susiok dan Gak-subo!"
Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang berbareng mengiakan, terus memberi sembah dan hormat.
Lekas-lekas Gak Put-kun dan istrinya berlutut membalas hormat mereka. Katanya, "Kita adalah satu tingkatan,
sebutan 'Susiok' mana berani kuterima? Selanjutnya biarlah kita anggap sama tingkatan menurut hitungan
Peng-ci."
Sesungguhnya nama Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang (kedua putra Ong Goan-pa) sudah cukup gilanggemilang
di dunia persilatan wilayah Oupak. Meski mereka mengagumi Gak Put-kun, tapi disuruh menjura
betapa pun mereka merasa enggan, cuma perintah sang ayah tak bisa dibantah terpaksa mereka berlutut
memberi hormat. Kini melihat Gak Put-kun juga menjura membalas hormat mereka, dengan sendirinya mereka
berdiri kembali.
Waktu Gak Put-kun mengamat-amati Pek-hun dan Tiong-kiang, ternyata perawakan kedua bersaudara itu
sangat tinggi, hanya Ong Tiong-kiang agak lebih gemuk. Pelipis kedua orang itu sama-sama melembung, otot
tulang tangan menonjol, terang baik Lwekang maupun Gwakang mereka pasti sangat tinggi.
Segera Gak Put-kun juga mengucapkan kata-kata pujian dan menyuruh anak muridnya memberi hormat
kepada Ong Goan-pa dan jago-jago Kim-to-bun yang lain.
Seketika itu di ruangan hotel menjadi ramai orang saling memberi hormat disertai kata-kata sanjung puji dari
masing-masing pihak.
Kemudian Peng-ci memperkenalkan anak murid Hoa-san-pay satu per satu kepada kakeknya.
Waktu memperkenalkan Gak Leng-sian, dengan berseri-seri Ong Goan-pa berkata kepada Gak Put-kun, "Gaklaute,
putrimu ini benar-benar gadis rupawan, apakah sudah berbesanan?"
"Ah, anak perempuan masih kecil, pula keluarga Bu-lim seperti kita ini hanya dikenal suka main golok dan
putar pedang melulu, bicara tentang kepandaian putri seperti menyulam atau menjahit dan memasak segala
sama sekali tidak becus, tentu saja tidak ada yang mau kepada budak liar seperti dia," demikian sahut Gak
Put-kun dengan tertawa.
"Ah, ucapan Gak-laute terlalu merendah diri," ujar Ong Goan-pa. "Putri tokoh termasyhur sudah tentu tidak
sembarangan diberikan kepada pemuda dari keluarga biasa saja. Cuma anak perempuan memang juga tiada
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
jeleknya belajar sedikit pekerjaan tangan kaum wanita."
Bicara sampai di sini suaranya menjadi perlahan dan rawan.
Put-kun tahu pasti jago tua itu terkenang kepada putrinya (ibu Peng-ci) yang meninggal itu, segera ia
mengiakan dengan wajah prihatin.
Ong Goan-pa ternyata seorang yang periang, segera ia dapat mengatasi perasaannya dan berseru dengan
tertawa pula, "Gak-laute, Lwekang dari Ngo-gak-kiam-pay sangat hebat, tentu kekuatanmu minum arak sangat
hebat. Marilah kita pergi minum sepuluh mangkuk bersama."
Habis berkata ia terus gandeng tangan Gak Put-kun dan diajak berangkat.
Gak-hujin, Ong Pek-hun, Ong Tiong-kiang dan anak murid Hoa-san-pay lantas ikut dari belakang. Di luar hotel
ternyata siap sedia kereta dan kuda. Kaum wanitanya disilakan menumpang kereta dan yang lelaki naik kuda.
Hanya dalam waktu tiada satu jam sejak perginya Peng-ci ke rumah kakeknya ternyata segala sesuatu telah
dapat disiapkan dengan cepat, dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa kaya raya dan pengaruh keluarga
Ong di kota Lokyang.
Sampai di rumah keluarga Ong, tertampak pintu gedung yang megah itu bercat merah, dua buah gelangan
tembaga pada tiap-tiap daun pintu itu tergosok bersih sehingga mengilap, delapan laki-laki tegap telah menanti
di luar pintu dengan sikap sangat hormat.
Begitu masuk ke dalam pintu tertampaklah di atas belandar terpampang sebuah papan besar cat hitam
bertuliskan empat huruf "Kian-gi-yong-wi" (berani membela keadilan) yang dihadiahkan oleh gubernur Holam.
Ternyata Ong Goan-pa tidak cuma tokoh persilatan saja tapi juga mempunyai hubungan baik dengan pembesar
negeri setempat.
Malamnya Ong Goan-pa mengadakan perjamuan besar-besaran untuk menghormati Gak Put-kun dan
rombongannya serta mengundang orang-orang terkemuka di kota Lokyang.
Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, di antara tamu-tamu lelaki, kecuali Gak Put-kun, adalah Lenghou
Tiong terhitung paling tinggi derajatnya. Tapi demi melihat bajunya yang kotor, semangatnya lesu, diam-diam
semua orang sama terheran-heran. Cuma di dunia persilatan memang banyak juga tokoh kosen yang aneh,
seperti jago-jago Kay-pang hampir semuanya berpakaian compang-camping. Jika pemuda ini benar murid
utama Hoa-san-pay tentu juga mempunyai kepandaian yang luar biasa. Karena pikiran ini, maka tiada orang
berani memandang hina pada Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong duduk di meja kedua dan diiringi Ong Pek-hun merasa dongkol karena sikap Lenghou Tiong
yang dingin, bila diajak bicara tampaknya juga sungkan menjawab seakan-akan tidak memandang sebelah
mata padanya. Segera ia sengaja bicara tentang ilmu silat, ia coba memancing-mancing dan mengemukakan
beberapa pertanyaan untuk minta petunjuk kepada Lenghou Tiong.
Tapi pemuda itu hanya menjawab ya atau tidak secara singkat saja, sama sekali tidak mau memberi komentar
apa-apa.
Sesungguhnya bukanlah Lenghou Tiong kurang simpatik pada Ong Pek-hun, yang benar adalah karena ia
merasa rendah diri, dilihatnya keluarga Ong begini mewah hidupnya, sebaliknya diri sendiri adalah anak yatim
yang miskin, kalau dibandingkan boleh dikata langit dan bumi bedanya.
Setiba di rumah kakeknya Peng-ci lantas ganti pakaian yang bagus-bagus dan mewah, dasarnya tampang
Peng-ci memang cakap, setelah berdandan menjadi lebih elok lagi.
Begitulah dengan sendirinya Lenghou Tiong merasa rendah diri, pikirnya, "Jangankan Siausumoay memang
sudah sangat rapat bergaul dengan Lim-sute, seumpama dia tetap cinta padaku seperti sediakala, lalu apa dia
akan bahagia ikut pada anak miskin seperti diriku?"
Karena pikirannya hanya dicurahkan mengenai diri Gak Leng-sian sehingga segala apa yang dibicarakan Ong
Pek-hun padanya dengan sendirinya tak diperhatikan olehnya. Padahal di wilayah Tiongciu setiap orang Bu-lim
sangat segan kepada Ong Pek-hun siapa pun ingin mengambil hati jago keluarga Ong yang ternama itu, tapi
malam ini dia selalu menghadapi muka kecut dari Lenghou Tiong, kalau menuruti wataknya yang biasa,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sungguh sejak tadi ia sudah mengumbar rasa dongkolnya itu.
Tapi mengingat mendiang kakaknya (ibu Peng-ci), pula sang ayah tampak sangat menghargai kaum Hoa-sanpay,
maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan berulang-ulang masih menyuguh arak kepada
Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong juga tidak menolak, setiap cawan arak yang disuguhkan selalu ditenggak habis sehingga tanpa
merasa 40-an cawan sudah dihabiskan olehnya.
Sebenarnya Lenghou Tiong sangat kuat minum arak, sekalipun ratusan cawan juga takkan membuatnya
mabuk. Tapi sekarang Lwekangnya sudah punah sehingga kekuatan minumnya banyak berkurang, ditambah
hatinya lagi murung maka lebih mudah menjadikan mabuknya, baru saja 50-an cawan ia minum sudah mulai
sinting.
Diam-diam Ong Pek-hun berkata di dalam hati, "Kau bocah ini terlalu tidak tahu adat. Keponakanku adalah
Sutemu, seharusnya kau menyebut aku paman, tapi sama sekali kau memanggil, tidak menjadi soal, bahkan
sikapmu acuh tak acuh terhadapku. Biarlah kucekoki sehingga mabuk, supaya membikin malu nama Hoa-sanpay
kalian di depan perjamuan ini."
Sementara itu mata Lenghou Tiong sudah kelihatan merah, mabuknya sudah ada tujuh-delapan bagian.
Dengan tertawa Ong Pek-hun berkata, "Lenghou-laute adalah murid utama Hoa-san-pay, nyatanya memang
seorang kesatria muda sejati, bukan saja ilmu silatnya tinggi, kekuatan minumnya juga sangat hebat. Ayo
pelayan, bawakan mangkuk besar, tuangkan arak untuk Lenghou-toaya."
Pelayan keluarga Ong mengiakan dengan suara keras, lalu datang menuangkan arak.
Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah menolak arak yang dituangkan baginya, maka setiap mangkuk arak
yang dituangkan untuknya selalu ditenggaknya habis sehingga sekaligus lima-enam mangkuk besar telah
diminumnya lagi, ketika pengaruh alkohol mulai bekerja, tanpa terasa mangkuk dan cawan di depannya
tersampuk oleh lengan bajunya dan jatuh berantakan.
"Ah, Lenghou-siauhiap telah mabuk, minumlah secangkir teh panas sebagai penawar," kata seorang yang
duduk semeja di sebelahnya.
"Mana bisa, orang adalah murid tertua Hoa-san-pay, masakah begitu gampang lantas mabuk?" kata Pek-hun.
"Mari Lenghou-laute, kita habiskan ini!"
Dan kembali mereka bersama-sama menuang penuh semangkuk besar.
"Mas ... masakah mabuk? Mari ... minum!" kata Lenghou Tiong sambil angkat mangkuk arak terus ditenggak
lagi, tapi ada sebagian besar isi mangkuk berceceran membasahi bajunya.
Sekonyong-konyong badannya bergeliat, mulur terbuka dan tumpah-tumpah, seluruh makanan dan minuman
yang sudah masuk perut dimuntahkan semua sehingga mengotori meja.
Tamu-tamu yang semeja dengan dia sama kaget dan berbangkit menyingkir. Sebaliknya Ong Pek-hun hanya
tertawa dingin, diam-diam ia senang karena maksud tujuannya berhasil.
Karena muntahnya Lenghou Tiong itu, serentak pandangan beratus orang tamu sama diarahkan kepadanya.
Gak Put-kun dan istrinya juga berkerut kening, pikir mereka, "Bocah ini memang tidak cocok bergaul dengan
tingkatan atas, membikin malu saja di depan tamu sebanyak ini."
Dalam pada itu Lo Tek-nau dan Peng-ci sudah memburu maju untuk memayang Lenghou Tiong. "Toasuko,
marilah kubawa mengaso saja ke kamar," kata Peng-ci.
"Aku ... aku tidak mabuk, aku mau minum lagi, amb ... ambilkan arak?" sahut Lenghou Tiong dengan tak
lancar.
"Baik, baik, akan kuambilkan arak," ujar Peng-ci.
Dengan matanya yang merah cepat Lenghou Tiong melirik Peng-ci, katanya, "Kau ... kau ... Siau-lim-cu,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
kenapa tidak pergi mengawani Siausumoay, buat apa memegangi aku?"
Cepat Lo Tek-nau membujuk dengan suara perlahan. "Toasuko, marilah kembali ke kamar saja, di sini orang
terlalu banyak, jangan sembarangan bicara lagi."
"Aku sembarangan bicara apa?" sahut Lenghou Tiong dengan gusar. "Hm, Suhu menugaskanmu mengawasi
aku dan ... bukti apa yang kau temukan?"
Khawatir sang Suheng yang sudah mabuk itu semakin tak keruan mengocehnya, cepat Tek-nau dan Peng-ci
memayangnya masuk ke kamar dengan setengah paksa.
Ketika mendengar ucapan Lenghou Tiong yang mengatakan "Suhu menugaskanmu mengawasi aku dan bukti
apa yang telah kau temukan", sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan sehingga mukanya sampai pucat.
"Gak-laute," kata Ong Goan-pa dengan tertawa, "ocehan anak muda pada waktu mabuk buat apa digubris?
Mari, mari minum!"
"Anak desa yang tidak berpengalaman, hanya membikin malu saja," terpaksa Put-kun menanggapi dengan
menyeringai.
Mabuknya Lenghou Tiong itu baru sadar kembali pada esoknya lewat tengah hari, apa yang telah dia ucapkan
waktu mabuk sama sekali tak teringat olehnya. Sebaliknya sesudah mendengar ucapan Lenghou Tiong, diamdiam
Gak Put-kun memberi pesan kepada Lo Tek-nau agar selanjutnya jangan mengikuti Lenghou Tiong lagi,
cukup mengawasi secara diam-diam saja.
Sesudah sadar kembali, Lenghou Tiong merasa kepalanya sakit seakan-akan pecah. Terlihat dirinya menempati
sebuah kamar sendirian dengan perabotan yang resik dan indah.
Ia melangkah keluar kamar, tiada seorang Sutenya kelihatan. Ia coba tanya pelayan, kiranya sama berkumpul
di ruang latihan di belakang bersama anak murid keluarga Ong dan sedang saling belajar ilmu silat.
"Buat apa aku berkumpul bersama mereka? Lebih baik aku pesiar keluar saja," demikian pikir Lenghou Tiong.
Segera ia berangkat seorang diri.
Lokyang adalah kota raja beberapa dinasti masa lampau, kotanya cukup megah, tapi keramaiannya kurang.
Lenghou Tiong tidak pandai membaca, pengetahuannya tentang sejarah dan kebudayaan kuno sangat terbatas.
Karena itu ia tidak tertarik biarpun di dalam kota banyak terdapat tempat-tempat bersejarah yang terkenal.
Ia terus berjalan tanpa tujuan. Ketika sampai di suatu kedai arak, dilihatnya di situ ada tujuh-delapan orang
gelandangan penganggur sedang main dadu. Ia lantas ikut mendesak maju, ia membawa beberapa tahil perak,
segera dikeluarkannya dan ikut main dadu bersama mereka. Sampai hari sudah petang ia lantas minum arak di
kedai itu sehingga mabuk, habis itu barulah pulang dengan langkah sempoyongan.
Beberapa hari berturut-turut ia terus minum arak dan main dadu bersama kawanan gelandangan itu. Hari-hari
pertama masih mujur baginya, dia menang beberapa tahil perak. Tapi hari keempat ia kalah habis-habisan
sehingga isi saku kosong melompong. Dengan sendirinya para gelandangan melarangnya bertaruh lebih jauh.
Dengan marah Lenghou Tiong masih terus pesan arak, semangkuk demi semangkuk ditenggaknya sehingga
menghabiskan belasan mangkuk.
"He, anak muda, kau kalah judi, uangmu sudah ludes, cara bagaimana kau membayar uang arak ini nanti?"
demikian tanya pelayan kedai arak.
"Utang dahulu, teken bon, besok akan kubayar," sahut Lenghou Tiong.
"Tidak bisa," kata si pelayan sambil menggeleng. "Modal kedai kami kecil, baik kenalan maupun keluarga,
semuanya tidak boleh utang."
Lenghou Tiong tambah gusar, bentaknya, "Kurang ajar! Apa kau kira tuanmu tidak punya uang?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Aku tak peduli apakah kau tuan atau nyonya, pendek kata ada uang ada arak, dan utang harus bayar," sahut
si pelayan ketus.
Pakaian Lenghou Tiong memang sudah dekil dan jelas bukan potongan hartawan, saat itu hanya pada
pinggangnya masih menggelantung sebatang pedang, selain itu tidak punya barang berharga lagi. Terpaksa ia
menanggalkan pedangnya dan ditaruh di atas meja, katanya, "Ini, gadaikan saja ke pegadaian sana!"
Salah seorang gelandangan di situ rupanya ingin mencari keuntungan lagi, cepat ia menukas, "Baik, biar aku
menggadaikannya untukmu."
Terus saja ia bawa pedang itu dan berlari pergi.
Benar juga ada uang dan arak, segera pelayan membawakan dua poci arak lagi untuk Lenghou Tiong.
Belum lagi Lenghou Tiong menghabiskan araknya, si gelandangan tadi sudah pulang dengan membawa
beberapa potong perak pecah, katanya, "Kugadaikan tiga tahil empat uang."
Berbareng ia menyerahkan uang perak dan surat gadai kepada Lenghou Tiong.
Lenghou Tiong juga tidak menghitung, cuma dari bobotnya ia merasa uang perak itu paling banyak hanya tiga
tahil saja, terang sisanya telah dicatut gelandangan itu. Tapi ia pun tidak banyak bicara dan kembali main dadu
lagi.
Sampai hari sudah petang, untuk bayar dan kalah judi, tiga tahil perak hasil gadai pedangnya itu kembali
lenyap semua.
"Beri pinjam tiga tahil, kalah menang akan kukembalikan lipat," kata Lenghou Tiong kepada seorang
gelandangan di sebelah yang bernama si Tembong.
"Dan kalau kalah bagaimana?" tanya si Tembong dengan tertawa.
"Kalau kalah akan kukembalikan besok," sahut Lenghou Tiong.
"Huh, melihat macammu masakah di rumahmu ada uang," jengek si Tembong. "Apa barangkali kau akan
menjual binimu atau menjual adik perempuanmu?"
Lenghou Tiong menjadi murka, "plok", kontan ia gampar muka si Tembong, beberapa tahil perak di depan
orang segera dirampasnya pula.
"Aduuh! He, kau merampok?" jerit si Tembong sambil mendekap mulutnya yang mengeluarkan darah.
Para gelandangan itu memangnya satu komplotan, tanpa bicara lagi mereka terus mengerubut maju, kepalan
mereka menghujani tubuh Lenghou Tiong tanpa kenal ampun.
Jika dalam keadaan biasa, jangankan cuma beberapa orang gelandangan yang tidak mahir ilmu silat, sekalipun
jago silat yang lihai juga belum tentu mampu menyerangnya. Tapi kini Lenghou Tiong sudah tidak membawa
pedang, pula kehilangan tenaga, percumalah dia mahir ilmu silat karena sama sekali tak dapat dikeluarkan.
Begitulah Lenghou Tiong dibekuk oleh kawan gelandangan itu dan dihujani pukulan dan tendangan tanpa
mampu melawan sedikit pun. Benar-benar "harimau kesasar dikerubut anjing", hanya sekejap saja ia sudah
babak belur, mata matang biru dan hidung keluar kecapnya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kaki kuda, ada beberapa penunggang kuda kebetulan lalu di
situ.
Seorang penunggang di antaranya sedang membentak, "Ayo, minggir, minggir!"
Berbareng pecutnya disabetkan, kawanan gelandangan itu dihalau lari semua.
Lenghou Tiong sendiri tergeletak tak sanggup bangun lagi. Mendadak suara seorang wanita berteriak, "He,
bukankah ini Toasuko?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ternyata suara Leng-sian.
Lalu seorang lain berkata, "Coba, biar kuperiksanya!"
Ini suara Peng-ci yang telah melompat turun dari kudanya dan mendekati Lenghou Tiong, setelah tubuh
Lenghou Tiong dibalik, Peng-ci berseru kaget. "Toasuko, ke ... kenapakah engkau?"
Lenghou Tiong menggeleng kepala, sahutnya dengan tersenyum ewa, "Mabuk dan kalah judi!"
Segera Peng-ci memondong Lenghou Tiong ke atas kuda.
Penunggang kuda itu selain Peng-ci dan Leng-sian masih ada empat orang lagi. Mereka adalah dua putri Ong
Pek-hun dan dua putra Ong Tiong-kiang, mereka terhitung saudara misan Peng-ci.
Pagi-pagi mereka berenam sudah keluar pesiar ke tempat terkenal di seluruh kota Lokyang dan sekarang baru
pulang, tak terduga di gang yang kecil ini dapat menemukan Lenghou Tiong lagi dihajar orang hingga babak
belur.
Sudah tentu putra-putri Ong Tiong-kiang dan Ong Pek-hun itu terheran-heran. Pikir mereka, "Hoa-san-pay
mereka terhitung anggota Ngo-gak-kiam-pay terkemuka, biasanya kakek juga sangat mengagumi mereka.
Selama beberapa hari ini anak murid Hoa-san-pay mereka suka berlatih dan tukar pikiran dengan kami,
kenyataannya mereka memang luar biasa. Padahal Lenghou Tiong ini adalah murid pertama Hoa-san-pay,
mengapa dia tidak dapat melawan beberapa bicokok yang tak berarti itu? Apakah dia sengaja pura-pura.
Namun melihat keadaannya yang babak belur terang bukan pura-pura. Sungguh aneh?"
Sepulangnya di rumah Ong Goan-pa, terpaksa Lenghou Tiong harus istirahat beberapa hari baru pulih
kesehatannya. Lantaran mendengar bahwa Lenghou Tiong berjudi dan berkelahi dengan kaum bicokok, diamdiam
Gak Put-kun dan istrinya sangat marah, maka mereka tidak datang menjenguknya.
Sampai hari kelima, Ong Kah-ki, putra Ong Tiong-kiang yang terkecil, dengan penuh semangat masuk ke
kamar Lenghou Tiong dan memberi tahu, "Lenghou-toako, hari ini aku telah melampiaskan rasa dendammu.
Beberapa bicokok yang menyerangmu tempo hari telah kucari dan telah kuhajar mereka sepuas-puasnya."
Terhadap peristiwa itu sebenarnya Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi, maka dengan hambar saja ia
menjawab, "Ah, sebenarnya juga tidak perlu begitu. Peristiwa tempo hari itu adalah salahku karena aku sedang
mabuk."
"Mana boleh jadi," ujar Ong Kah-ki. "Lenghou-toako adalah tamu keluarga Ong kami, orang tidak
menghormatimu juga harus menghormati tamu keluarga Ong, mana boleh sembarangan dipukul orang di kota
Lokyang ini tanpa dibalas? Jika kami tidak hajar kembali kaum bicokok itu, ke mana lagi muka keluarga Ong
kami harus ditaruh?"
Sedikit-sedikit dia menonjolkan, "keluarga Ong", seakan-akan golok emas keluarga Ong adalah keluarga
penguasa di dunia persilatan yang harus dihormati. Dasar di dalam hati Lenghou Tiong sudah kurang puas
terhadap "Golok emas keluarga Ong", lebih-lebih selama beberapa hari ini perasaannya lagi murung, maka
tanpa terasa tercetuslah ucapan dari mulutnya, "Terhadap beberapa bicokok begitu masakah diperlukan
anggota keluarga Ong ikut turun tangan?"
Begitu kata-kata ini diucapkan barulah Lenghou Tiong merasa menyesal, namun sudah kasip.
Bab 46. Siau-go-kang-ouw-kik = Lagu Hina Kelana
Dengan wajah kurang senang segera Ong Kah-ki menjawab, "Lenghou-toako, apa maksud ucapanmu ini? Kalau
tempo hari aku tidak bantu membubarkan kaum bicokok itu apakah jiwamu dapat diselamatkan sampai
sekarang?"
"Ya, untuk itu aku harus mengucapkan terima kasih," sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum hambar.
Dari nada ucapan orang, Ong Kah-ki tahu yang dimaksudkan Lenghou Tiong adalah kebalikannya dari makna
kata-katanya, tentu saja Kah-ki tambah mendongkol. Segera ia berseru, "Lenghou-toako adalah murid pewaris
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Hoa-san-pay, sekarang ternyata tidak mampu menghadapi beberapa bicokok keroco di kota Lokyang, hehe,
kalau diketahui orang luar bukankah akan dianggap bernama kosong belaka?"
Dalam keadaan iseng dan sungkan Lenghou Tiong juga tidak urus ucapan yang menyinggung itu, jawabnya tak
acuh, "Ya, memangnya nama kosong saja aku tidak punya, dianggap atau tidak juga sama saja."
Pada saat itu juga di luar jendela ada orang menyela, "Adik, kau sedang bicara apa dengan Lenghou-toako?"
Ketika kerai pintu tersingkap, masuklah seseorang lagi. Kiranya Ong Kah-cun, putra Ong Tiong-kiang, yakni
saudara tua Ong Kah-ki.
Melihat kedatangan saudaranya, dengan marah-marah Kah-ki berseru, "Koko, dengan maksud baik aku
mewakilkan dia menghajar kaum bicokok itu, setiap bicokok itu telah kucambuki dengan babak belur, siapa
tahu Lenghou ... Lenghou-tayhiap ini malah mengatakan aku suka cari perkara."
"Ah, tentu adik belum tahu," kata Ong Kah-cun. "Tadi aku mendengar dari Gak-sumoay, katanya Lenghoutoako
ini sesungguhnya sangat lihai. Ketika di kelenteng Yo-ong-bio tempo hari, hanya dengan sebatang
pedang saja sekaligus ia telah membutakan mata 15 musuh kelas berat dalam satu jurus, ilmu pedangnya
benar-benar mahasakti dan jarang ada bandingannya di dunia ini. Haha, sungguh hebat, haha!"
Ia tertawa dengan nada mengejek, nyata dia sama sekali tidak percaya terhadap cerita Gak Leng-sian itu.
Ong Kah-ki juga ikut mengakak tawa, katanya, "Ya, boleh jadi ke-15 lawan kelas berat itu kalau dibandingkan
kaum bicokok kota Lokyang kita masih selisih sekian jauhnya. Hahahaha!"
Ternyata Lenghou Tiong sama sekali tidak gusar, malahan dia ganda tertawa sambil bersimpuh dengkul dan
digoyang-goyangkan, sedikit pun ia tidak pandang sebelah mata kepada kedua saudara Ong itu.
Kedatangan Ong Kah-cun ini sebenarnya atas perintah ayah dan pamannya yang menyuruhnya coba-coba
menanyai Lenghou Tiong. Pek-hun dan Tiong-kiang suruh dia tanya dengan cara baik dan sekali-kali jangan
membikin marah kepada tamu. Tapi sekarang demi melihat sikap Lenghou Tiong yang angkuh itu, diam-diam
Kah-cun naik pitam. Dengan suara keras ia lantas menegur, "Lenghou-heng, ada suatu urusan ingin kuminta
keterangan padamu."
"Ah, jangan sungkan-sungkan," sahut Lenghou Tiong.
"Begini," kata Kah-cun, "menurut cerita Peng-ci Piauhia (kakak misan), katanya pada saat paman dan bibi kami
wafat, hanya Lenghou-heng seorang saja yang menunggui kedua beliau itu."
"Memang benar," sahut Lenghou Tiong.
"Dan pesan tinggalan paman dan bibiku itu juga Lenghou-heng yang menyampaikan kepada Peng-ci bukan?"
"Tidak salah!"
"Jika begitu, di manakah Pi-sia-kiam-boh pamanku itu?" tanya Kah-cun lebih lanjut.
"Apa katamu?" teriak Lenghou Tiong sambil melonjak bangun seketika.
Khawatir kalau orang mendadak menyerang, Kah-cun melangkah mundur dua tindak, lalu berkata, "Pi-siakiam-
boh yang diminta supaya engkau menyampaikannya kepada Peng-ci Piauhia mengapa sampai sekarang
belum engkau serahkan padanya?"
Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terkatakan karena kata-kata fitnah itu, badannya sampai gemetar. "Siapa ...
siapa yang bilang ada Pi-sia-kiam-boh yang dikatakan harus kuserahkan kepada ... kepada Lim-sute?"
tanyanya kemudian dengan suara terputus-putus.
"Jika tidak benar urusan ini, mengapa engkau menjadi khawatir, bicara saja gemetar?" ujar Kah-cun dengan
tertawa.
Sedapatnya Lenghou Tiong menahan perasaannya, tanyanya, "Kedua saudara Ong, saat ini aku adalah tamu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
keluarga kalian, apa yang kau lakukan ini adalah suruhan kakekmu, ayahmu atau pendirian kalian berdua
sendiri?"
"Aku cuma tanya sambil lalu saja, kenapa mesti panik?" ujar Kah-cun. "Ini tiada sangkut pautnya dengan
kakek dan ayahku. Cuma Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim di Hokciu sangat termasyhur dan disegani kawan
maupun lawan. Secara mendadak paman meninggal dunia dan kitab pusaka yang selalu dibawanya itu hilang
pula, sebagai keluarga terdekat dengan sendirinya kami ingin tanya dan mengusutnya."
"Apa Siau-lim-cu yang menyuruhmu tanya padaku? Dia kenapa tidak datang sendiri saja?" tanya Lenghou
Tiong pula.
"Hehe, Peng-ci Piauhia adalah Sutemu, masakan dia berani tanya secara blak-blakan padamu?" sahut Kah-cun
sambil mengekek tawa.
Padahal Peng-ci tidak pernah bicara tentang Pi-sia-kiam-boh kepada kedua saudara Ong itu. Lantaran jawaban
Kah-cun itu, tentu saja membikin Lenghou Tiong tambah sirik lagi kepada Peng-ci. Dengan tertawa dingin ia
berkata pula, "Dengan dijagoi oleh golok emas keluarga Ong yang termasyhur di Lokyang ini, kini kalian
serentak boleh memaksa pengakuanku. Silakan memanggil dia kemari."
"Kau adalah tetamu keluarga Ong kami, kata-kata 'memaksa pengakuanmu' sekali-kali tidak berani kami
terima," sahut Kah-cun. "Kami bersaudara hanya terdorong oleh rasa ingin tahu saja, maka kami tanyakan
secara iseng. Syukurlah kalau Lenghou-heng mau memberi jawaban, kalau tidak mau, ya apa boleh buat."
"Ya, aku tak mau menjawab dan kalian apa boleh buat, sekarang silakan pergi saja," kata Lenghou Tiong ketus.
Kah-cun dan Kah-ki saling pandang sendiri. Sama sekali mereka tidak menduga Lenghou Tiong akan menjawab
secara ketus dan tegas sehingga pintu bicara telah ditutup.
Begitulah mereka menjadi kikuk sendiri. Sesudah batuk dua kali, Kah-cun coba mengalihkan pokok
pembicaraan. Katanya, "Lenghou-heng, katanya sekali serang engkau telah membutakan, mata 15 orang
musuh tangguh. Jurus serangan pedang yang begitu sakti besar kemungkinan baru saja kau dapat belajar dari
Pi-sia-kiam-boh bukan?"
Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika keringat dingin membasahi sekujur badannya, kedua
tangan sampai gemetar semua. Pahamlah sekarang baginya bahwa sang guru, ibu guru dan para Sute dan
Sumoaynya tidak berterima kasih padanya yang telah menyelamatkan jiwa mereka, sebaliknya mereka malah
menaruh curiga padanya. Kiranya mereka menganggap dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh tinggalan
Lim Cin-lam.
Pikir Lenghou Tiong, "Selamanya mereka tidak kenal Tokko-kiu-kiam, aku tidak mau menerangkan pula rahasia
Hong-thaysiokco, sudah tentu mereka heran mengapa ilmu pedangku maju sepesat ini, sampai-sampai tokoh
paling lihai dari sekte pedang seperti Hong Put-peng juga bukan tandinganku, kepandaianku ini kalau bukan
diperoleh dari Pi-sia-kiam-boh itu lalu didapat dari mana? Ya, maklum juga, tentang ajaran Hong-thaysiokco
kepadaku itu memang terlalu mendadak dan tak tersangka-sangka, sedangkan waktu Lim Cin-lam meninggal
dunia juga melulu aku sendiri yang menunggui dia, dengan sendirinya setiap orang akan berpikir bahwa Pi-siakiam-
boh yang diincar oleh setiap jago silat itu pasti jatuh di tanganku. Bila orang lain berprasangka demikian
dapat dimengerti, namun Suhu dan Sunio cukup kenal watakku bagai anak kandung, mengapa mereka pun
tidak memercayai aku lagi? Hehe, mereka benar-benar terlalu memandang rendah padaku!"
Karena begitu pikirannya, dengan sendirinya wajahnya memperlihatkan rasa penasaran.
Ong Kah-ki sangat senang, segera ia berkata pula, "Nah, ucapanku tadi kena benar bukan? Di manakah Pi-siakiam-
boh itu? Bukan maksud kami juga mengincarnya, soalnya benda itu harus kembali kepada pemilik yang
sebenarnya, silakan kau serahkan Kiam-boh itu kepada Lim-piauko dan selesailah urusan ini."
"Tidak, selamanya aku tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala," sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.
"Lim congpiauthau dan istrinya berturut-turut pernah ditawan oleh orang Jing-sia-pay dan si bungkuk Bok Kohong.
Jika padanya tersimpan Kiam-boh apa segala tentu juga lebih dulu sudah diambil orang lain."
"Benar juga," seru Kah-cun. "Betapa bernilainya Pi-sia-kiam-boh itu, masakah pamanku mau menyimpannya di
saku dan dibawa ke mana pun beliau pergi? Sudah tentu kitab pusaka itu disimpan beliau pada suatu tempat
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
yang dirahasiakan. Sebelum mereka wafat, karena merasa sayang bila Kiam-boh itu lenyap begitu saja, maka
kau yang diberitahukan tempat penyimpanannya agar menyampaikannya pula kepada Peng-ci Piauko, siapa
tahu ... siapa tahu, hehe ...."
"Siapa tahu secara diam-diam kau telah pergi mengambil kitab pusaka itu dan mengangkanginya sebagai
milikmu sendiri," sambung Kah-ki.
Makin gusar Lenghou Tiong mendengar tuduhan itu, sebenarnya ia tidak mau berdebat, cuma soal ini sangat
penting, dirinya tidak sudi menerima fitnahan itu dan mendapat nama kotor, segera ia berkata, "Jika betul Limcongpiauthau
memiliki Kiam-boh sehebat itu, beliau sendiri seharusnya tiada tandingan pada masa hidupnya,
tapi mengapa dia tidak mampu melawan beberapa anak murid Jing-sia-pay bahkan ditawan mereka?"
"Ini ... ini ...." Ong Kah-ki gelagapan tak bisa menjawab.
Sebaliknya Ong Kah-cun adalah seorang pandai putar lidah, katanya, "Kejadian di dunia ini memang seringsering
sangat kebetulan. Lenghou-heng sendiri sudah berhasil mempelajari Pi-sia-kiam-hoat yang sakti, tapi
terhadap bicokok keroco saja tidak mampu melawan sehingga kena dihajar oleh mereka sampai babak belur.
Apa sebabnya bisa terjadi demikian? Haha, haha, sandiwaramu ini agak keterlaluan sedikit, Lenghou-heng
masakah seorang murid pewaris Hoa-san-pay bisa dihajar oleh beberapa bicokok di kota Lokyang, setiap orang
pasti tidak percaya kepada kepalsuanmu itu? Dan kalau tidak dapat dipercaya, tentu di balik kejadian itu ada
apa-apanya. Nah, Lenghou-heng, kukira lebih baik kau mengaku terus terang saja."
Kalau menuruti watak Lenghou Tiong, sebenarnya ia tidak ambil pusing terhadap Kim-to (golok emas) tiada
tandingan dan keluarga Ong apa segala. Soalnya ia tidak sudi dirinya dicurigai guru, ibu guru dan Sumoaynya.
Maka dengan tegas ia berkata pula, "Selama hidup Lenghou Tiong tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala.
Pesan Lim-congpiauthau sebelum wafat juga telah kusampaikan kepada Lim-sute tanpa mengurangi satu
kalimat pun. Jika Lenghou Tiong ternyata bohong dan menipu, dosa ini pantas dihukum mati dan terkutuklah
dia."
Habis berkata ia berdiri tegak dengan sikap kereng.
Ong Kah-cun tersenyum, katanya, "Urusan penting yang menyangkut dunia persilatan begini jika cukup
diselesaikan dengan bersumpah saja, hah, rasanya Lenghou-heng terlalu kekanak-kanakan dan orang lain
semuanya tolol."
"Habis bagaimana kalau menurut pendapatmu?" tanya Lenghou Tiong dengan menahan rasa gusarnya.
"Maaf, kami ingin coba menggeledah badanmu," sahut Kah-ki. Setelah merandek sejenak, lalu menyambung
pula dengan cengar-cengir, "Anggap saja seperti tempo hari waktu Lenghou-heng dibekuk oleh kawanan
bicokok itu dan tak bisa berkutik, mereka tentu juga akan menggerayangi badanmu."
"Hm, kalian ingin menggeledah badanku? Memangnya kau anggap Lenghou Tiong ini maling?" jengek Lenghou
Tiong.
"Mana kami berani beranggapan demikian," ujar Kah-cun. "Tapi kalau Lenghou-heng menyatakan tidak pernah
ambil Pi-sia-kiam-boh itu, lalu kenapa mesti takut digeledah orang? Sesudah digeledah, jika memang betul
tiada Kiam-boh itu, tentu kau pun akan bersih dari segala tuduhan, cara demikian bukankah sangat baik?"
"Baik," sahut Lenghou Tiong mengangguk. "Coba panggil dulu Lim-sute dan Gak-sumoay, biar mereka berdua
ikut menjadi saksi."
Tapi Ong Kah-cun khawatir kalau dirinya pergi jangan-jangan adiknya seorang diri akan disergap Lenghou
Tiong atau kalau mereka pergi berduaan kesempatan itu tentu akan digunakan oleh Lenghou Tiong untuk
menyembunyikan Pi-sia-kiam-boh dan takkan ditemukan lagi bila digeledah.
Maka dengan ngotot Kah-cun berkata, "Kalau mau geledah harus segera geledah, bila Lenghou-heng tidak
berdosa, kenapa mesti banyak alasan lagi?"
Namun Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya, "Jika cuma kalian berdua saja rasanya tidak sesuai untuk
menggeledah badanku."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Semakin Lenghou Tiong tidak mau digeledah semakin yakin kedua saudara Ong itu bahwa pasti Lenghou Tiong
mengangkangi Kiam-boh itu. Karena ingin mencari pahala dan mendapat pujian kakek dan ayahnya, pula
mereka sudah lama mendengar Pi-sia-kiam-hoat itu sangat lihai, bila kitab itu nanti diketemukan tentu Peng-ci
akan memberi pinjam kepada mereka.
Segera Kah-cun memberi isyarat kepada adiknya, lalu berkata, "Lenghou-heng, janganlah kau tidak mau diajak
bicara secara halus tapi minta digunakan kekerasan, bila sampai terjadi apa-apa tentu akan kurang baik bagi
hubungan kita."
Sembari bicara kedua saudara itu terus mendesak maju. Dengan membusungkan dada Ong Kah-ki lantas
menerjang ke depan.
Ketika Lenghou Tiong mengangkat tangan menolaknya, Kah-ki berteriak teriak, "Aduh, kau berani memukul
orang?"
Berbareng kedua tangannya terus mengunci lengan lawan.
Sebenarnya pengalaman Lenghou Tiong sudah sangat luas, kepandaiannya juga jauh lebih tinggi daripada
kedua pemuda she Ong itu. Ketika Kah-ki menerjang maju segera ia tahu anak muda itu tidak bermaksud baik,
maka tangannya yang menolak ke depan itu sebenarnya sudah siap dengan berbagai gerakan susulan yang
tersembunyi.
Celakanya dia sudah kehilangan tenaga dalam, walaupun tangan tetap bergerak menurut rencana, tapi sama
sekali tak bertenaga, maka dengan gampang saja Ong Kah-ki dapat melaksanakan maksud kejinya, "krek",
tahu-tahu Lenghou Tiong merasa lengan kesakitan tangan telah dipegang oleh Kah-ki dan dipuntir, nyata ruas
tulang lengannya telah terlepas, keseleo.
"Lekas geledah, Koko!" seru Kah-ki cepat.
Segera Kah-cun menjulurkan sebelah kakinya untuk menahan bawah perut Lenghou Tiong untuk berjaga jaga
kalau Lenghou Tiong menendang. Menyusul tangan lantas menggerayangi baju Lenghou Tiong dan
mengeluarkan seluruh isinya.
Mendadak sebuah buku kecil kena dirogoh keluar. Serentak kedua orang bersorak gembira, "Ini dia, Pi-siakiam-
boh milik Lim-kohtio (paman Lim) sudah ditemukan!"
Buru-buru Kah-cun dan Kah-ki membuka buku kecil itu. Tertampak pada halaman pertama tertulis "Siau-gokangouw-
kik" (lagu Hina Kelana) dalam bentuk huruf kembang.
Kedua saudara Ong juga tidak tinggi sekolahnya, jika huruf-huruf itu ditulis dalam huruf biasa tentu akan dapat
mereka baca, tapi sekarang huruf kembang yang aneh itu tak dikenal oleh mereka. Waktu mereka membalik
halaman lain, semuanya juga tertulis dalam huruf-huruf yang aneh.
Mereka tidak tahu buku itu berisi not lagu bagi permainan kecapi dan seruling, yang mereka pikir adalah buku
ini pasti Pi-sia-kiam-boh. Maka tanpa ragu lagi mereka terus berteriak-teriak, "Pi-sia-kiam-boh! Ini dia Pi-siakiam-
boh!"
"Ayo lekas bawa dan perlihatkan kepada kakek!" seru Kah-cun. Dan buku not musik itu lantas buru-buru
dibawa lari pergi.
Kah-ki masih belum puas, sebelum pergi ia tendang pula pinggang Lenghou Tiong sambil memaki, "Tidak
punya malu, maling cilik!"
Bahkan ia meludahi pula muka Lenghou Tiong.
Mula-mula dada Lenghou Tiong serasa hampir meledak saking marahnya. Tapi sesudah dipikir lagi, ia percaya
Ong Goan-pa pasti bukan manusia kasar dan hijau seperti kedua cucunya yang kurang ajar itu, sebentar bila
buku itu diketahui adalah buku not musik tentu dia akan datang sendiri dan minta maaf padanya.
Cuma kedua tulang lengannya yang keseleo itu terasa sakit tidak kepalang. Pikirnya, "Tenagaku sudah punah,
terhadap beberapa bicokok saja tak mampu melawan, keadaanku mirip seorang cacat, apa artinya pula hidup
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
di dunia ini?"
Ia berbaring di tempat tidurnya, sampai agak lama barulah terdengar suara tindakan orang, kedua saudara
Ong muda itu datang lagi.
"Ayo pergi menemui kakekku," jengek Ong Kah-cun.
"Tidak mau!" bentak Lenghou Tiong dengar gusar. "Kakekmu tidak datang minta maaf padaku, untuk apa aku
pergi menemui dia?"
Kah-cun dan Kah-ki terbahak-bahak geli. "Minta kakek mohon maaf padamu? Hahahaha, jangan kau mimpi di
siang bolong! Ayo, berangkat!" seru Kah-ki.
Berbareng mereka terus menarik bangun Lenghou Tiong dan diseret keluar.
Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terlukiskan, kontan ia mencaci maki, "Huh, golok emas keluarga Ong sok
sombong mengaku sebagai kaum kesatria, tapi perbuatan sewenang-wenang begini pada hakikatnya teramat
kotor dan tidak tahu malu."
"Plok", Kah-cun terus menggambar muka Lenghou Tiong sehingga mengeluarkan darah.
Namun Lenghou Tiong sangat keras kepala, ia masih terus mencaci maki sampai akhirnya kedua saudara Ong
itu menyeretnya ke ruangan besar di bagian belakang.
Tertampak Ong Goan-pa dan Gak Put-kun serta istrinya sudah duduk di situ. Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang
duduk di sebelah Ong Goan-pa.
Lenghou Tiong masih terus memaki, "Golok emas keluarga Ong ternyata juga kotor dan rendah seperti ini di
dunia persilatan."
"Tutup mulut, Tiong-ji," bentak Gak Put-kun sambil menarik muka.
Karena bentakan sang guru barulah Lenghou Tiong berhenti memaki. Walaupun demikian ia tetap bersikap
angkuh dan melotot ke arah Ong Goan-pa.
Tangan Ong Goan-pa tampak memegangi buku not musik yang dirampas dari Lenghou Tiong itu. Katanya
kemudian, "Lenghou-hiante, Pi-sia-kiam-boh ini dari mana memperolehnya?"
Lenghou Tiong tidak menjawab, sebaliknya ia menengadah dan mengakak tawa, sampai lama ia masih
bergelak tertawa.
"Tiong-ji, orang tua mengajukan pertanyaan padamu harus kau jawab dengan sejujurnya, mengapa kau
bersikap kurang sopan begini? Macam apa ini?" omel Gak Put-kun.
"Suhu," jawab Lenghou Tiong, "dalam keadaan terluka parah, badan Tecu sedikit pun tidak bertenaga, tapi cara
bagaimana kedua bocah ingusan itu memperlakukan diriku, hehe, apakah ini caranya keluarga Ong
memerhatikan tetamunya?
"Jika tamu terhormat dan sahabat baik betapa pun keluarga Ong kami tidak berani berlaku kurang adat," ujar
Ong Tiong-kiang, "Tapi kau mengingkari pesan orang, ini kan perbuatan sebangsa maling dan rampok, sebagai
keluarga terhormat mana kami dapat menganggapmu sebagai sahabat lagi?"
"Kalian kakek dan cucu tiga turunan berkeras mengatakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, tapi apakah kalian
sendiri pernah melihat Kiam-boh itu? Dari mana kalian dapat mengetahui buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh?"
tanya Lenghou Tiong dengan angkuh.
Saking gusarnya Lenghou Tiong berbalik tertawa, katanya, "Jika kau katakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh,
maka kebalikan anggap betul buku itu memang Kiam-boh. Semoga keluarga Ong kalian dapat meyakinkannya
menurut petunjuk kitab itu sehingga berhasil memiliki Kiam-hoat yang tiada tandingan di dunia ini, selanjutnya
keluarga Ong di Lokyang akan disegani karena ilmu pedang dan goloknya yang tiada taranya di dunia
persilatan ini. Haha, hahaha!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Lenghou-hiante," Ong Goan-pa, "jika ada kesalahan cucuku kepadamu, hendaknya kau pun jangan menyesal.
Setiap manusia tentu mempunyai kesalahan, tapi kalau sadar akan kesalahannya dan mau memperbaiki, inilah
yang baik. Sesudah kau menyerahkan Kiam-boh ini, mengingat Suhumu masakah kami masih sampai hati
untuk mengusut lebih jauh padamu? Persoalan ini selanjutnya siapa pun jangan mengungkatnya lagi. Sekarang
biarlah kusambung dulu lenganmu."
Habis bicara ia terus berbangkit dan mendekati Lenghou Tiong hendak memegang tangannya.
Namun Lenghou Tiong lantas mundur dua-tiga tindak, teriaknya, "Tidak perlu! Lenghou Tiong tidak sudi
menerima kebaikanmu!"
"Aku memberi kebaikan apa?" kata Goan-pa melengak.
"Aku Lenghou Tiong bukanlah patung yang tidak punya perasaan," teriak Lenghou Tiong. "Lenganku ini tidak
dapat diperlakukan sesuka hati kalian, mau dipatahkan lantas dipatahkan, ingin disambung lantas disambung,
huh!"
Ia terus melangkah ke hadapan Gak-hujin dan berkata, "Sunio, lenganku ini ...."
Sebelum habis ucapannya Gak-hujin sudah tahu maksudnya. Nyonya Gak itu menghela napas gegetun, ia
lantas membetulkan kedua tulang lengan Lenghou Tiong yang terlepas ruasnya itu.
Lengan Lenghou Tiong itu hanya keseleo saja, tulangnya tidak patah, setiap orang persilatan yang pernah
belajar Kim-na-jiu-hoat tentu paham cara menyambung tulang, maka dengan mudah saja Gak-hujin dapat
membetulkan lengan yang keseleo itu.
Kemudian Lenghou Tiong berkata pula, "Sunio, sudah terang buku itu adalah buku not musik kecapi tujuh
senar dan seruling, tapi rupanya keluarga Ong mereka buta huruf semua dan ngotot mengatakan buku itu
adalah Pi-sia-kiam-boh segala. Sungguh suatu lelucon mahabesar di dunia ini."
"Ong-loyacu," kata Gak-hujin kemudian, "apakah buku itu boleh coba kulihat?"
"Silakan Gak-hujin melihatnya," sahut Ong Goan-pa sambil mengangsurkan buku not musik itu.
Sesudah membalik-balik beberapa halaman, Gak-hujin sendiri juga tidak paham isinya, katanya kemudian,
"Tentang not musik kecapi dan seruling aku tidak paham, tapi kalau kitab ilmu silat sih sering kubaca. Buku
kecil ini agaknya tidak mirip Kiam-boh segala. Ong-loyacu, apakah di kediaman kalian ini ada orang yang mahir
memetik kecapi dan meniup seruling, boleh coba mengundangnya keluar dan mencobanya, tentu segala
persoalan akan mudah dipecahkan."
Goan-pa merasa sangsi sebab khawatir buku itu jangan-jangan memang betul adalah buku not musik dan jika
demikian berarti dia akan malu besar.
Sebaliknya Ong Kah-ki adalah pemuda yang bodoh, tanpa disuruh ia sudah berteriak, "Yaya (kakek), Ih-suya,
juru tulis kita itu biasanya mahir meniup seruling, apa perlu kita memanggilnya ke sini untuk mencobanya.
Sudah terang buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, masakah dikatakan buku musik?"
"Jenis kitab pusaka ilmu silat di kalangan Bu-lim banyak macam ragamnya, sering kali orang ingin
merahasiakan kepandaian tunggalnya dan sengaja menuliskan pelajaran ilmu silat sebagai not musik dan cara
lain, hal demikian sebenarnya juga tidak perlu diherankan," ujar Ong Goan-pa.
"Jika di sini ada seorang Ih-suya yang mahir meniup seruling, maka buku itu Kiam-boh atau Siau-boh (buku
seruling) tentu akan segera diketahui sesudah dilihat olehnya," ujar Gak-hujin.
Tiada jalan lain, terpaksa Ong Goan-pa menurut dan menyuruh Kah-ki pergi memanggil Ih-suya.
Juru tulis she Ih itu ternyata seorang laki-laki kurus berusia 50-an, berkumis ala kumis tikus, pakaiannya cukup
rajin.
"Ih-suya," kata Ong Goan-pa, "silakan periksa apakah ini buku not musik?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Ih-suya itu membalik-balik beberapa halaman bagian not kecapi lalu katanya sambil menggeleng kepala,
"Untuk ini hamba tidak terlalu paham!"
Ketika ia membalik-balik lagi bagian not seruling, tiba-tiba wajahnya berseri-seri, mulutnya mulai bernyanyinyanyi
kecil, dua jarinya ketuk-ketuk di atas meja menurut irama.
Sesudah bernyanyi nyanyi kecil sejenak, tiba-tiba ia menggeleng kepala pula dan berkata, "Ah, tidak, tidak
betul!"
Lalu mulutnya mulai mengiang-ngiang lagi, mendadak nadanya meninggi, sekonyong-konyong berubah
menjadi rendah sekali sampai suaranya serak dan tak bisa diteruskan. Ia berkerut kening dan berkata, "Tidak,
tidak mungkin begini, ini sungguh sukar ... sukar dimengerti ...."
"Apakah isi buku ini ada bagian-bagian yang menyangsikan? Adakah perbedaan mencolok dengan buku musik
biasa?" tanya Goan-pa.
Ih-suya membalik kembali halaman permulaan bagian not seruling dan berkata, "Silakan Loya melihat ini, di
sini dimulai dengan nada sedang, lalu mendadak berubah tinggi, kemudian berubah lagi nada paling rendah, ini
benar-benar sangat bertentangan nada tinggi dan rendah demikian."
"Kau sendiri tidak becus, apakah orang lain juga tiada seorang pun mampu?" jengek Lenghou Tiong.
"Ya, betul juga ucapanmu," sahut Ih-suya sambil manggut-manggut. "Cuma di dunia ini kalau betul ada orang
yang mampu membawakan lagu demikian, maka aku sungguh kagum tak terhingga, kagum tak terkatakan. Ya,
kecuali ... kecuali ...."
"Apa kau maksudkan ini bukan not seruling biasa, lagu di dalamnya pada hakikatnya tidak dapat dibunyikan
dengan seruling?" demikian Ong Goan-pa menyela.
"Ya, memang lain daripada biasa," sahut Ih-suya, "yang pasti aku tidak mampu memainkan lagu ini kecuali ...."
"Kecuali siapa? Apakah di sini ada seorang ahli yang mampu membawakan lagu ini?" Gak-hujin menegas.
"Sesungguhnya aku pun tidak berani tanggung, cuma ... cuma ... Lik-tiok-ong (si kakek bambu hijau) di kota
timur itu, beliau mahir memetik kecapi dan pandai meniup seruling pula, mungkin beliau dapat membawakan
lagu ini. Kepandaiannya meniup seruling jauh lebih mahir daripadaku, bedanya benar-benar sangat jauh."
"Kalau bukan not seruling biasa, di dalamnya tentu ada sesuatu yang ganjil," kata Ong Goan-pa.
Ong Pek-hun yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini mendadak membuka suara, "Ayah, pelajaran Liokhap-
to dari Pat-kwa-bun di Thociu sana bukankah juga tertulis di dalam sejilid buku not musik?"
Semula Ong Goan-pa melengak, tapi segera ia paham bahwa putranya itu sengaja membual, sebab Pat-kwabun
di Thociu itu ada hubungan famili dengan keluarga Ong, namun selama ini tidak pernah terdengar tentang
ajaran ilmu goloknya tertulis di dalam buku musik segala. Ia percaya Gak Put-kun juga tak mengetahui akan
hal ini, maka dengan mengangguk ia menjawab, "Ya, benar juga. Beberapa tahun yang lalu Bok-cinken dari
Pat-kwa-bun juga pernah menyinggung tentang hal ini. Sebenarnya ilmu silat ditulis dalam not musik adalah
sangat jamak, sedikit pun tidak perlu diherankan."
"Huh, jika tidak perlu diherankan, maka numpang tanya, macam apakah Kim-hoat yang tertulis dalam not
musik ini, silakan Ong-loyacu memberi keterangan," jengek Lenghou Tiong.
"Tentang ini ... ai menantuku itu sudah meninggal dunia, rahasia dalam not musik di dunia selain Lenghoulaute
sendiri agaknya tidak orang kedua lagi yang tahu," demikian jawab Ong Goan-pa.
Nyata bukan saja ilmu golok Ong Goan-pa sangat lihai, bahkan bicaranya juga sangat tajam. Di balik
ucapannya itu kembali ia menuduh Lenghou Tiong yang telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh dan telah
mempelajari isi kitab itu.
Sebenarnya kalau Lenghou Tiong mau membela diri secara mudah dan tepat, dengan terus terang ia dapat
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
menerangkan asal usul buku "Hina Kelana" itu. Tapi bila ia beri tahukan, akibatnya akan sangat luas, sebab
terpaksa ia juga harus menceritakan terbunuhnya jago Ko-san-pay, yaitu Hui Pin, oleh Bok-taysiansing dari
Heng-san-pay. Dan kalau gurunya mengetahui lagu itu ada sangkut pautnya dengan gembong Mo-kau yang
bernama Kik Yang, tentu juga buku itu akan dimusnahkan. Jika hal ini terjadi, maka berarti dia telah
mengingkari tugas yang diterimanya dari orang yang menyerahkan buku itu.
Segera ia berkata pula, "Tadi Ih-suya bilang di kota timur ada seorang Lik-tiok-ong yang mahir seni musik,
kenapa kita tidak memperlihatkan buku musik ini padanya dan minta pertimbangan."
Goan-pa menggeleng, katanya, "Lik-tiok-ong itu sangat aneh, suka angin-anginan dan seperti orang sinting,
terhadap orang lain sikapnya selalu acuh tak acuh. Orang demikian mana dapat dipercaya omongannya?"
"Tapi urusan ini betapa pun juga harus kita bikin terang," ujar Gak-hujin. "Tiong-ji adalah murid pertama kami,
Peng-ci juga murid kami, kami tidak boleh pilih kasih dan membela salah satu pihak. Sebenarnya siapa yang
salah, tiada jeleknya kita coba-coba minta pertimbangan Lik-tiok-ong itu."
Gak-hujin tidak enak untuk mengatakan buku itu adalah sebab pertimbangan antara Lenghou Tiong dan
keluarga Ong, tapi dialihkannya pihak yang berselisih kepada Lim Peng-ci.
Segera Gak Put-kun menyokong usul sang istri, "Benar! Ih-suya, bagaimana kalau engkau mengirim orang
membawa tandu pergi memapak Lik-tiok-ong ke sini?"
"Sifat orang tua itu sangat aneh," sahut Ih-suya. "Jika orang lain ingin minta pertolongannya, bila dia tidak
mau, biarpun menyembah padanya juga dia takkan gubris. Sebaliknya kalau dia sudah mau ikut campur, maka
hendak ditolaknya juga tidak dapat."
"Sifat demikian sama dengan kaum kita," kata Gak-hujin. "Agaknya Lik-tiok-ong ini adalah Cianpwe kalangan
Bu-lim. Suko, kita benar-benar terlalu picik dan kerdil."
"Lik-tiok-ong bukan orang Bu-lim melainkan cuma seorang tukang bambu yang kerjanya hanya pandai
membuat keranjang bambu dan tikar bambu," tutur Goan-pa sambil tertawa. "Cuma dia pun mahir memetik
kecapi dan pandai meniup seruling, pula dapat melukis, mengukir bambu, sebab itulah penduduk setempat
rada menghormat padanya."
"Tokoh demikian mana boleh kita lewatkan begini saja," ujar Gak-hujin, "Ong-loyacu sudilah engkau mengiringi
kami pergi menyambangi si tukang bambu yang istimewa itu."
Karena Gak-hujin sudah mengajak, terpaksa Ong Goan-pa menurut, dengan anak cucunya dan Gak Put-kun
suami istri serta anak murid Hoa-san-pay mereka lantas berangkat ke kota timur dengan Ih-suya sebagai
petunjuk jalan.
Sesudah melalui beberapa jalan besar dan kecil, akhirnya sampai di suatu gang yang agak sempit. Ujung gang
itu penuh semak-semak bambu yang rimbun dan luas, pemandangan cukup indah.
Baru saja mereka memasuki gang itu sudah terdengar suara kecapi yang merdu. Di tengah sunyi itu sungguh
amat berbeda keramaian di jalan lain di kota Lokyang.
"Lik-tiok-ong ini benar-benar dapat menikmati kehidupannya yang tenteram," bisik Gak-hujin kepada sang
suami.
Pada saat itu juga mendadak terdengar suara kecapi lantas berhenti juga. Terdengar suara seorang tua
bertanya, "Tamu agung yang sudi berkunjung ke gubuk yang kotor ini, entah ada sejilid not kecapi dan seruling
yang aneh ingin minta pendapatmu."
"Ada not seruling ingin minta pendapatku? Hehe, ini benar-benar terlalu menghargai si tukang bambu tua,"
sahut Lik-tiok-ong.
Belum Ih-suya bersuara lagi, buru-buru Ong Kah-ki sudah menimbrung, "Ong-loyacu dari keluarga golok emas
datang berkunjung."
Ia sengaja menonjolkan merek sang kakek yang termasyhur dan disegani di kota Lokyang dan mengira
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
seorang tukang bambu tua tentu akan cepat ke luar menyambut.
Tak tersangka Lik-tiok-ong itu malah mendengus, katanya, "Hm, golok emas atau golok perak segala, apa
gunanya kalau tidak lebih berharga daripada golok pembelah bambuku dari besi rongsokan ini. Tukang bambu
tua tidak pergi menyambangi Ong-loyacu, maka Ong-loyacu yang perlu berkunjung pada si tukang bambu tua."
Kah-ki menjadi gusar, teriaknya, "Yaya, tukang bambu tua ini adalah orang tidak tahu adat, buat apa bertemu
dengan dia? Lebih baik kita pulang saja!"
Tapi Gak-hujin lantas berkata, "Toh kita sudah datang di sini, tiada alangannya kita minta pendapat Lik-tiokong
tentang not musik ini."
Ong Goan-pa hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sedangkan Ih-suya lantas menerima buku not dan
melangkah masuk ke tengah semak bambu yang rimbun itu.
Terdengar suara Lik-tiok-ong berkata, "Baiklah, boleh kau taruh di situ!"
"Tolong tanya Tiok-ong, apakah ini benar-benar not musik atau rumus rahasia dari sesuatu ilmu silat yang
sengaja ditulis dalam bentuk not musik?" tanya Ih-suya.
"Rumus rahasia ilmu silat apa? Sudah tentu ini adalah not kecapi," jawab Lik-tiok-ong. Lalu suara kecapi mulai
menggema, mengalun merdu. Sejenak Lenghou Tiong mendengarkan, segera teringat olehnya lagu yang
dibunyikan kecapi ini memang benar adalah lagu yang dipetik oleh Lau Cing-hong tempo hari. Sekarang
lagunya masih ada, tapi orangnya sudah meninggal, tanpa terasa hatinya merasa pilu.
Bab 47. Lenghou Tiong Belajar Main Kecapi
Tidak lama kemudian mendadak suara kecapi itu meninggi, makin keras makin tinggi, suaranya teramat tajam
melengking, setelah lebih tinggi pula beberapa iramanya, sekonyong-konyong "cring", senar kecapi itu putus
lagi seutas.
Terdengar Lik-tiok-ong bersuara heran, katanya, "Aneh, not kecapi ini sungguh sangat aneh dan sukar
dimengerti."
Seketika Ong Goan-pa saling pandang dengan anak cucunya, diam-diam mereka merasa senang.
Dalam pada itu terdengar Lik-tiok-ong sedang berkata, "Biar kucoba lagi not seruling ini."
Menyusul suara seruling lantas berkumandang pula dari tengah-tengah semak bambu.
Semula suara seruling itu sangat merdu menawan hati. Tapi waktu nadanya berubah menjadi rendah, bahkan
makin lama makin rendah sampai hampir-hampir tak terdengar, lalu irama seruling itu menjadi parau dan tidak
enak didengar lagi.
Lik-tiok-ong menghela napas, katanya, "Ih-laute, kau sendiri dapat meniup seruling, tapi nada yang begini
rendah mana dapat ditiup keluar? Not kecapi dan seruling ini rasanya tidak palsu, tapi orang yang menggubah
lagu ini rupanya sengaja mengada-ada dan bergurau dengan orang lain. Boleh kau pulang dulu, biar aku cobacoba
lagi mempelajarinya lebih mendalam."
"Mana Kiam-bohnya?" tanya Ong Tiong-kiang.
"Kiam-boh?" Ih-suya melengak. "O, Lik-tiok-ong bilang, sementara ditinggalkan di sini dan akan dipelajarinya
lebih mendalam."
"He, lekas mengambilnya kembali," seru Tiong-kiang. "Itu adalah Kiam-boh yang tak ternilai, entah berapa
banyak orang persilatan selalu mengincar dan ingin memilikinya, mana boleh sembarangan ditinggalkan pada
seorang yang tidak berkepentingan?"
Ih-suya mengiakan lagi dan baru saja ia hendak putar balik ke tengah semak-semak bambu sana, tiba-tiba
terdengar seruan Lik-tiok-ong, "Eh, Kokoh (bibi), mengapa engkau keluar?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Keruan semua merasa heran. "Berapa kira-kira umur Lik-tiok-ong itu?" tanya Ong Goan-pa kepada Ih-suya
dengan suara bertanya.
"Lebih dari 70 tahun, mungkin sudah hampir 80 tahun," sahut Ih-suya.
Diam-diam semua orang berpikir, "Seorang kakek berusia hampir 80 tahun dan masih punya seorang bibi,
maka nenek ini mungkin sudah ada seratus tahun umurnya?"
Dalam pada itu terdengar suara seorang perempuan sedang menjawab, ditilik dari suaranya toh belum terlalu
tua.
"Bibi, silakan lihat, buku musik ini rada-rada aneh," demikian terdengar Lik-tiok-ong lagi berkata.
Kembali terdengar perempuan tua itu bersuara "ehm", lalu suara kecapi mulai berbunyi, agaknya iramanya
sedang disetel dulu, lalu berhenti sejenak, mungkin senar yang putus tadi sedang disambung, habis itu disetel
lagi dan akhirnya baru mulai dipetik.
Semula irama kecapi itu sama dengan permainan Lik-tiok-ong tadi, tapi kemudian mulai berbeda, nada kecapi
itu makin lama makin tinggi, namun irama yang dibawanya itu berjalan lancar dan gampang saja dapat
mengikuti nada yang tinggi itu.
Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, sayup-sayup suara kecapi itu seperti keadaan pada malam itu
ketika Lau Cing-hong memetik kecapi dan membawakan lagu Hina Kelana ini.
Walaupun Lenghou Tiong tidak paham seni musik, tapi merasa lagu yang dibawakan nenek itu sama dengan
lagu yang dibawakan Lau Cing-hong dahulu, cuma iramanya agak berbeda. Irama kecapi yang dipetik si nenek
ini ulem meresap, kedengarannya sangat menyegarkan, sedikit pun tidak menimbulkan semangat yang
bergolak-golak seperti irama yang dibawakan Lau Cing-hong.
Tidak lama kemudian suara kecapi mulai lompat seakan-akan semakin menjauh, mirip si pemetik kecapi itu
telah pergi belasan meter jauhnya, lalu makin menjauh seakan-akan sudah beberapa li dan akhirnya makin
perlahan dan makin lirih sehingga tak terdengar pula. Lagu itu belum selesai dipetik, hanya saja suaranya
terlalu rendah dan jauh sehingga sukar didengar.
Ong Goan-pa, Gak Put-kun dan lain-lain juga tidak paham seni musik, namun tanpa terasa mereka pun
tenggelam dalam lamunan suara kecapi itu seakan-akan ikut terbawa ke tempat yang amat jauh oleh suara
musik itu. Ketika suara kecapi itu berhenti, seketika terdengar suara seruling yang halus mulai berbunyi di
samping suara kecapi.
Suara seruling itu mengalun merdu dan perlahan makin mendekat. Tiba-tiba pada seruling itu berubah
melengking tinggi, lalu merendah pula, sekonyong-konyong berubah perlahan, lalu berbunyi keras lagi.
Tiba-tiba suara seruling seakan-akan sekaligus memancarkan macam-macam suara yang berbeda, tapi lambat
laun macam-macam suara itu berkurang satu per satu dan akhirnya lenyap semua, suara seruling itu telah
berhenti.
Lama juga suara seruling itu berhenti barulah semua orang seperti baru sadar dari bermimpi, sungguh sukar
dipercaya bahwa sebuah kecapi tujuh senar dan sebatang bambu kecil itu mampu mengeluarkan macammacam
nada suara yang begitu aneh.
Gak-hujin menghela napas panjang penuh kekaguman, katanya, "Sungguh hebat. Lagu apakah itu tadi, Tiongji?"
"Lagu itu disebut 'Lagu Hina Kelana'," sahut Lenghou Tiong. "Kepandaian nenek itu sungguh sangat hebat, baik
kecapi maupun seruling telah dimainkannya dengan bagus sekali."
"Meski lagu itu sangat bagus dan aneh, tapi memang diperlukan seorang ahli musik seperti si nenek baru dapat
memperdengarkan keindahan lagu itu," kata Gak-hujin "Musik sebagus ini agaknya kau pun baru pertama kali
ini mendengarnya "
"Tidak, apa yang Tecu dengar dahulu jauh lebih bagus daripada barusan ini," kata Lenghou Tiong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Mana mungkin!" ujar Gak-hujin. "Masakah di dunia ini masih ada orang yang lebih mahir daripada nenek ini
dalam hal memetik kecapi dan meniup seruling?"
"Lebih pandai sih memang tidak," sahut Lenghou Tiong. "Cuma yang pernah Tecu dengar dahulu adalah
paduan suara dari dua orang pemain, yang satu memetik kecapi dan yang lain meniup seruling, yang
dibawakan juga lagu Hina Kelana ini ...."
Belum habis ucapannya, rupanya si nenek yang tak kelihatan di balik semak bambu itu pun mendengar apa
yang dikatakan Lenghou Tiong, terdengar suara kecapi dibunyikan perlahan beberapa kali dan sayup-sayup
terdengar suaranya berkata, "Paduan suara kecapi dan seruling, di dunia ini ke mana lagi untuk mencari
seorang demikian ini?"
Kemudian terdengar Lik-tiok-ong berseru, "Ih-suya, buku ini memang betul berisi not kecapi dan seruling, ini
baru saja dimainkan oleh bibiku, sekarang boleh kau ambil kembali buku ini."
Ih-suya mengiakan, lalu masuk ke tengah semak bambu, waktu keluar lagi dia sudah membawa buku musik
itu.
Terdengar Lik-tiok-ong berkata pula, "Betapa bagus lagu yang tertulis itu sungguh tiada bandingannya di dunia
ini. Buku ini adalah benda pusaka dan jangan sekali-kali jatuh ke tangan orang biasa. Kau tidak dapat
memainkannya dan jangan sekali-kali memaksakan diri mencobanya, kalau tidak menurut tentu akan
merugikan kau sendiri."
Kembali Ih-suya mengiakan, lalu buku not musik itu diserahkannya kembali kepada Ong Goan-pa.
Dengan telinga sendiri Goan-pa sudah mendengar permainan kecapi dan seruling, ia percaya isi buku itu
memang betul adalah not musik, segera ia pun mengembalikan buku itu kepada Lenghou Tiong dan berkata,
"Maaf!"
Lenghou Tiong mendengus dan sebenarnya hendak melontarkan beberapa patah kata ejekan, tapi Gak-hujin
keburu mengedipinya sehingga dia urung membuka mulut.
Karena merasa kehilangan muka, Ong Goan-pa dan anak cucunya mendahului meninggalkan tempat itu disusul
oleh Gak Put-kun. Sebaliknya Lenghou Tiong masih berdiri termangu-mangu di situ sambil memegangi buku
not musik itu.
"Tiong-ji, apa kau tidak ikut pulang?" tegur Gak-hujin.
"Sebentar lagi segera Tecu akan pulang," sahut Lenghou Tiong.
"Hendaknya lekas pulang untuk mengaso," pesan Gak-hujin. "Lenganmu baru saja keseleo, tidak boleh
menggunakan tenaga keras."
Lenghou Tiong mengiakan.
Sesudah orang lain sudah pergi semua, suasana di gang kecil itu menjadi sunyi senyap. Hanya suara
berkereseknya daun bambu bertiup angin mengiringi Lenghou Tiong yang masih berdiri melamun di situ sambil
memegangi buku musik.
Teringat olehnya dahulu di tengah malam Lau Cing-hong bertemu dengan Kik Yang, di sanalah kedua tokoh itu
telah menciptakan lagu yang ajaib ini. Sekarang walaupun si nenek di tengah semak-semak bambu itu juga
mahir memetik kecapi dan meniup seruling dengan sama menakjubkan, namun sayang dia hanya memainkan
kedua jenis alat musik itu secara terpisah dan Lik-tiok-ong itu ternyata tidak mampu memainkannya bersama
dia. Agaknya paduan suara kecapi dan seruling dalam membawakan lagu Hina Kelana ini selanjutnya akan
tamat riwayatnya dan tidak dapat didengar lagi untuk kedua kalinya.
Kemudian Lenghou Tiong berpikir pula, "Lau-susiok dan Kik-tianglo sebenarnya adalah musuh, yang satu
adalah tokoh golongan Cing-pay dan yang lain adalah gembong Mo-kau, tapi akhirnya mereka merasa sepaham
dan mengikat persahabatan sehidup semati, bahkan menciptakan 'Lagu Hina Kelana' yang bagus ini bersama.
Ketika mereka berdua meninggal dunia bersama, jelas mereka tidak merasa menyesal sedikit pun, jauh lebih
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
senang daripada hidupku sebatang kara di dunia. Laksute yang paling menghormat dan cinta padaku itu malah
terbinasa oleh tutukanku sendiri."
Teringat akan kematian Liok Tay-yu yang mengenaskan itu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka, air matanya
menetes jatuh di atas buku musik itu, akhirnya suara tangisnya yang tersenggak-sengguk terdengar pula.
Tiba-tiba suara Lik-tiok-ong terdengar berkumandang dari balik semak-semak bambu sana, "Sebab apakah
sobat itu tidak pergi dan malah menangis di sini?"
"Wanpwe berduka akan nasib sendiri yang malang dan terkenang pula kepada kematian kedua Locianpwe yang
menggubah lagu ini sehingga tanpa sadar telah mengganggu ketenangan Losiansing, harap dimaafkan," habis
berkata segera Lenghou Tiong hendak melangkah pergi.
"Sobat kecil, ada beberapa patah ingin kuminta keteranganmu, apakah sudi masuk kemari untuk omongomong?"
kata Lik-tiok-ong.
Tadi Lenghou Tiong mendengar sendiri cara bicara kakek tukang bambu itu sangat ketus dan angkuh terhadap
Ong Goan-pa, sungguh tidak tersangka bahwa dia justru berlaku begitu ramah terhadap dirinya seorang
pemuda yang tak terkenal. Maka jawabnya kemudian, "Cianpwe ingin tanya apa, tentu Wanpwe akan memberi
penjelasan."
Lalu ia pun melangkah ke depan menyusuri hutan bambu itu.
Jalanan kecil itu membelok beberapa kali di tengah hutan bambu, kemudian tertampaklah di depan sana ada
lima buah gubuk kecil. Di sebelah kiri dua dan di sebelah kanan tiga. Semuanya terbuat dari bambu. Terlihat
seorang kakek melangkah ke luar dari gubuk di sebelah kanan dan memapaknya dengan tertawa.
"Silakan masuk untuk minum teh, sobat kecil!" demikian sapa orang tua itu.
Lenghou Tiong melihat badan Lik-tiok-ong itu rada bungkuk, kepala botak, rambutnya jarang-jarang. Tangan
lebar dan kaki besar, semangatnya sangat kuat. Segera ia memberi hormat dan berkata, "Wanpwe Lenghou
Tiong memberikan salam hormat!"
Kakek itu bergelak tertawa, sahutnya, "Aku cuma kebetulan lebih tua beberapa tahun, kita tidak perlu banyak
adat. Marilah silakan masuk, silakan!"
Sesudah Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam pondok kecil itu, terlihat meja kursi, balai-balai dan lemari,
semuanya terbuat dari bambu. Di sana-sini terdapat pula hiasan ukiran bambu dengan tulisan yang indah, di
atas meja tertaruh sebuah kecapi dan sebatang seruling, keadaan ruangan itu menjadi lebih mirip kamar tulis
kaum sastrawan daripada rumah seorang tukang bambu.
"Silakan minum, sobat cilik," kata Lik-tiok-ong sesudah menuangkan secangkir teh dari sebuah kendi porselen
hijau.
Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerima cangkir teh itu.
"Sobat kecil, buku not musik ini entah kau dapatkan dari mana? Apakah sudi memberi keterangan?" tanya Liktiok-
ong lebih lanjut.
Lenghou Tiong melengak atas pertanyaan itu. Buku musik itu banyak mengandung rahasia, sebab itulah sang
guru dan ibu gurunya saja belum pernah diberi tahu.
Dahulu maksud tujuan Lau Cing-hong dan Kik Yang menyerahkan buku itu padanya harapannya adalah semoga
buku itu dapat diturunkan kepada angkatan baru dan supaya tidak lenyap begitu saja lagu ciptaan mereka.
Sekarang Lik-tiok-ong dan bibinya ternyata juga ahli seni musik dan dapat memainkan lagu itu sedemikian
bagusnya, biarpun usia mereka sudah tua, tapi selain mereka rasanya di dunia ini tiada orang lain lagi yang
sesuai untuk diserahi lagu indah itu. Seumpama di dunia ini ada yang lebih pandai, tapi jiwa sendiri takkan
bertahan lebih lama lagi dan tentu tidak sempat buat menemukan ahli musik yang lain.
Setelah berpikir sejenak, kemudian katanya, "Kedua Cianpwe yang menggubah lagu ini, yang seorang mahir
memetik kecapi dan yang lain ahli meniup seruling, kedua orang telah mengikat persahabatan dan bersamaDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sama menciptakan lagu ini, cuma sayang mereka mengalami malapetaka dan telah meninggal dunia bersama.
Menurut pesan kedua Cianpwe itu, lagu yang diserahkan kepadaku ini diharapkan akan mendapatkan ahli waris
yang tepat agar supaya tidak sampai lenyap begitu saja di dunia ramai ini."
Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, "Tadi dapat kudengar bibi Locianpwe memainkan kecapi dan
seruling secara amat indah, Tecu sangat bersyukur lagunya telah menemukan tuannya, maka mohon
Locianpwe sudi menerima buku musik ini dan sampaikan kepada Popo (nenek) supaya Tecu tidak sia-siakan
maksud tujuan kedua Cianpwe menggubah lagu ini, dengan demikian pun terkabul juga cita-citaku ini."
Habis berkata ia terus mempersembahkan buku lagu itu dengan penuh khidmat.
Lik-tiok-ong tidak berani menerimanya begitu saja, katanya, "Aku harus tanya dulu kepada Kokoh, entah beliau
sudi menerima atau tidak?"
Maka terdengarlah suara si nenek dari gubuk sebelah sana, "Maksud luhur Lenghou-siansing yang ingin
memberikan lagu bagus itu, untuk menolaknya akan kurang hormat, jika menerimanya merasa malu. Entah
kedua Cianpwe penggubah lagu itu bernama siapa, dapatkah Lenghou-siansing memberitahukan?"
"Jika Cianpwe ingin mengetahui sudah tentu akan kuterangkan," sahut Lenghou Tiong. "Kedua penggubah lagu
itu adalah Lau Cing-hong Susiok dan Kik Yang, Kik-tianglo."
"Ah ... kiranya mereka berdua," demikian terdengar si nenek bersuara, agaknya sangat heran dan terkejut.
"Apakah Cianpwe kenal pada mereka?" tanya Lenghou Tiong.
Nenek itu tidak menjawab. Sejenak kemudian barulah ia berkata, "Lau Cing-hong adalah tokoh Heng-san-pay,
sebaliknya Kik Yang adalah gembong Mo-kau, kedua pihak adalah musuh bebuyutan, mengapa mereka bisa
menggubah lagu bersama? Sungguh hal ini sukar untuk dimengerti."
Walaupun Lenghou Tiong belum pernah tahu muka nenek itu, tapi sesudah mendengar permainan kecapi dan
serulingnya tadi, ia merasa si nenek tentu adalah seorang tokoh angkatan tua yang baik budi dan welas asih,
pasti takkan menipu dirinya apalagi orang mengetahui pula asal usul Lau Cing-hong dan Kik Yang, terang juga
kaum persilatan yang sama.
Maka tanpa ragu lagi ia terus bercerita tentang Lau Cing-hong ingin "cuci tangan", tapi dirintangi Co-bengcu
dari Ko-san-pay, dan pertemuan Lau Cing-hong dengan Kik Yang di pegunungan sunyi di sana kedua orang
bersama memainkan kecapi serta seruling, akhirnya gugur bersama dibunuh oleh Hui Pin, jago terkemuka Kosan-
pay. Sebelum mengembuskan napas penghabisan kedua orang itu minta pertolongannya agar mencari
orang yang paham seni musik dan menyerahkan lagu itu padanya. Begitulah ia menuturkan semua
pengalamannya itu dengan sejujurnya.
Selama itu si nenek terus mendengarkan dengan cermat tanpa bersuara.
Selesai Lenghou Tiong bicara barulah nenek itu bertanya, "Sudah terang ini adalah buku musik mengapa si
golok emas Ong Goan-pa itu mengatakannya sebagai kitab pusaka ilmu silat segala?"
Maka Lenghou Tiong bercerita pula tentang tertawannya Lim Cin-lam dan istrinya oleh orang Jing-sia-pay dan
kemudian ditolong oleh Bok Ko-hong, sebelum ajalnya orang tua itu memberi pesan agar disampaikan kepada
Lim Peng-ci, tapi hal ini telah menimbulkan rasa curiga keluarga Ong dan sebagainya.
"O, kiranya demikian," kata si nenek. "Seluk-beluk urusan ini jika mau kau katakan terus terang kepada guru
dan ibu-gurumu, bukankah segala prasangka itu seakan lenyap dengan sendirinya? Sebaliknya aku adalah
orang yang belum pernah kau kenal, kenapa kau malah bicara sejujurnya kepadaku?"
"Tecu sedikit pun tidak tahu apa sebabnya?" sahut Lenghou Tiong. "Mungkin sesudah mendengar permainan
kecapi Cianpwe yang indah tadi lantas timbul rasa kagum dan hormatku atas keluhuran Cianpwe sehingga tidak
merasa sangsi apa pun."
"Jika begitu, tadi kau malah sangsi kepada guru dan ibu-gurumu?" tanya si nenek.
"Sekali-kali Tecu tidak berani punya pikiran demikian," sahut Lenghou Tiong cepat. "Cuma ... cuma Suhu diamDimuat
di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
diam sudah mencurigaiku. Tetapi, ai, ini pun tak dapat menyalahkan beliau."
"Dari suaramu dapat diketahui tenagamu sangat lemah, orang muda tidak seharusnya begitu, entah apa
sebabnya? Apakah kau baru sakit payah atau pernah terluka parah?"
"Ya, pernah menderita luka dalam yang amat berat," sahut Lenghou Tiong.
"Tiok-hiantit, coba kau bawa anak muda itu ke pinggir jendelaku, biar kuperiksa nadinya," kata nenek itu.
Terdengar Lik-tiok-ong mengiakan, lalu Lenghou Tiong diajaknya ke pinggir jendela gubuk kecil di sebelah kiri
sana dan menyuruh dia menjulurkan tangan kiri ke dalam gubuk melalui bawah kerai bambu. Di balik tirai
bambu itu teraling-aling pula selapis tirai sutera yang halus. Samar-samar Lenghou Tiong hanya melihat ada
bayangan orang, tapi bagaimana mukanya sama sekali tidak kelihatan. Segera dirasakan ada tiga buah jari
yang dingin memegang nadi pergelangan tangannya, ujung ketiga jari itu terasa halus dan licin, tidak mirip
anggota badan perempuan.
Setelah memegangi sebentar nadi Lenghou Tiong, terdengar nenek itu bersuara kejut dan berkata, "Aneh,
sungguh sangat aneh!"
Selang sejenak, lalu katanya pula, "Coba ganti tangan kanan!"
Selesai memeriksa nadi kedua tangan Lenghou Tiong, sampai agak lama nenek itu tertegun diam.
Lenghou Tiong tersenyum, katanya, "Harap Cianpwe tidak perlu khawatir bagi keselamatanku. Tecu sadar tidak
lama lagi hidup di dunia ini, sudah lama Tecu tidak pikiran soal ini lagi."
"Mengapa kau tahu jiwamu tak bisa hidup lebih sama lagi?" tanya si nenek.
"Tecu telah salah membunuh Sute sendiri dan menghilangkan Ci-he-pit-kip milik perguruan, diharap selekasnya
kitab pusaka itu dapat diketemukan habis itu Tecu akan segera membunuh diri untuk menyusul Sute di alam
baka."
"Ci-he-pit-kip katamu?" si nenek menegas. "Ini pun sesuatu benda yang luar biasa. Dan cara bagaimana kau
bisa salah membunuh Sutemu sendiri?"
Segera Lenghou Tiong bercerita pula tentang maksud Tho-kok-lak-sian hendak menyembuhkan lukanya, tapi
enam arus hawa murni mereka malah tertinggal di dalam badannya dan perang tanding di antara arus hawa
murni itu sendiri. Lalu Sumoaynya mencuri kitab pusaka dengan maksud hendak membantu menyembuhkan
lukanya, namun dirinya telah menolak menerima kitab pusaka itu lalu Liok-sute sengaja membacakan isi kitab
itu kemudian dirinya menutuk roboh sang Sute, mungkin tutukannya terlalu keras sehingga mengakibatkan
kematiannya. Semua itu diceritakan pula dengan jelas.
Habis mendengar mendadak nenek itu berkata, "Sutemu itu bukan terbunuh olehmu."
Lenghou Tiong terkesiap. "Bukan aku yang membunuhnya?" ia menegas.
"Ya, waktu itu tenagamu sendiri sangat lemah, hanya tutukan kedua Hiat-to saja pasti takkan mampu
membinasakan dia," kata si nenek. "Sutemu itu dibunuh oleh orang lain dan bukan olehmu."
"Lalu ... lalu siapakah yang membunuh Liok-sute?" demikian Lenghou Tiong seperti bergumam sendiri.
"Walaupun orang yang mencuri Ci-he-pit-kip itu belum tentu adalah si pembunuh Sutemu, tapi di antara
keduanya sedikit banyak mungkin ada hubungannya," kata si nenek lebih lanjut.
Lenghou Tiong menghela napas lega, rasa batinnya yang tertekan selama ini seketika menjadi enteng.
Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pintar dan cerdik, semula ia pun sudah berpikir bahwa tutukannya
yang tak bertenaga itu mana bisa mengakibatkan kematian Liok Tay-yu? Cuma saat itu dalam hati kecilnya
terasa sangat menyesal, ia merasa Liok Tay-yu biarpun bukan mati tertutuk olehnya, paling tidak Sute itu mati
lantaran dia. Ia merasa seorang laki-laki sejati mana boleh mencari alasan untuk mengelakkan tanggung jawab
dan membersihkan kesalahan sendiri?
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Apalagi akhir-akhir ini sikap Gak Leng-sian semakin dingin padanya, saking pedih dan kecewanya ia menjadi
putus asa dan bosan hidup, yang terpikir selalu olehnya hanyalah "mati" melulu, lain tidak.
Tapi kini demi si nenek mengingatkan dia, seketika terbangkit rasa penasarannya, "Balas dendam! Ya, balas
dendam! Harus membalas dendam Liok-sute!"
Dalam pada itu terdengar si nenek berkata pula, "Kau mengaku di dalam tubuhmu ada enam arus hawa murni
sedang saling gontok sendiri, tapi dari denyut nadimu tadi aku merasa ada delapan arus hawa murni. Mengapa
bisa demikian?"
Maka tertawalah Lenghou Tiong, segera menerangkan pula tentang Put-kay Hwesio yang juga memaksa
hendak menyembuhkan dia itu.
"Sifatmu sebenarnya sangat periang," kata si nenek pula. "Walaupun denyut nadimu agak kacau tapi tiada
tanda-tanda sesuatu kelemahan. Bagaimana kalau aku memetik kecapi dan membawakan satu lagu pula agar
kau suka memberi penilaian?"
"Perhatian Cianpwe kepada diriku tentu akan kuterima dengan penuh rasa terima kasih," sahut Lenghou Tiong.
Sejenak kemudian, suara kecapi pun mula menggema pula.
Kini lagunya sangat halus dan merdu, seperti nyanyian seorang ibu yang lagi meninabobokan anaknya, tidak
lama mendengar, sayup-sayup Lenghou Tiong merasa mengantuk. Katanya di dalam hati, "Jangan tidur,
jangan tidur! Kau sedang mendengarkan permainan kecapi nenek itu, jika tertidur akan terasa tidak sopan."
Namun begitu matanya terasa semakin sepat dan makin merapat sehingga akhirnya sukar terbuka lagi,
tubuhnya lantas lemas terkulai, lalu tertidur.
Di tengah impiannya dia masih terus mendengar suara kecapi yang merdu itu, seperti ada sebuah tangan yang
halus sedang mengelus-elus kepalanya terasa seperti belaian kasih ibunda pada waktu masih kanak-kanak.
Agak lama juga, ketika suara kecapi berhenti, seketika Lenghou Tiong juga terjaga dan cepat ia merangkak
bangun. Keruan ia merasa malu dan berkata, "Tecu benar-benar tidak tahu aturan, tidak memerhatikan
permainan kecapi Cianpwe, sebaliknya malah tertidur, sungguh perasaan Tecu tidak enak."
"Tak perlu kau menyesali diri sendiri," kata si nenek. "Lagu yang kubawakan barusan ini memang mempunyai
pengaruh tidak sedikit dengan harapan dapat mengatur kembali hawa murni dalam tubuhmu itu dengan baik.
Sekarang coba mengerahkan sedikit tenaga, apakah rasa muak dan sesak itu sudah berkurang atau tidak?"
Lenghou Tiong sangat girang dan mengucapkan terima kasih. Cepat ia duduk bersimpuh dan coba
mengerahkan tenaga dalam. Ia merasa kedelapan arus hawa murni itu masih terus saling terjang di dalam
badan, tapi rasa sesak karena bergolaknya darah di rongga dada telah banyak berkurang.
Akan tetapi hanya bertahan sebentar saja kembali kepalanya terasa pusing dari badan lemas dan terkapar di
atas tanah.
Melihat itu lekas Lik-tiok-ong mendatangi dan memayangnya masuk ke dalam rumah, sesudah ditidurkan
sekian lama baru rasa pusing kepalanya hilang.
"Lwekang Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Taysu itu teramat tinggi, hawa murni yang mereka tinggalkan itu sukar
diatur oleh suara kecapi yang lemah ini sehingga membikin kau lebih menderita, sungguh aku merasa tidak
enak hati," kata nenek itu.
"Janganlah Cianpwe berkata demikian," ujar Lenghou Tiong cepat. "Dapat mendengar lagu yang merdu tadi
sudah tidak sedikit manfaat yang diperoleh Tecu."
Tiba-tiba ia melihat Lik-tiok-ong menyodorkan secarik kertas yang baru saja ditulis olehnya, waktu Lenghou
Tiong membaca isinya, kiranya tertulis, "Mintalah agar diajarkan lagu itu sekalian."
Tergerak juga hati Lenghou Tiong, segera ia pun memohon, "Bilamana tidak menjadi keberatan Cianpwe
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sungguh Tecu ingin mempelajari lagu penyembuhan tadi agar lambat laun Tecu dapat mengatur hawa murni
yang bergolak di dalam tubuh ini."
Nenek itu tidak lantas menjawab, selang sejenak baru membuka suara, "Sudah berapa jauh kepandaianmu
memetik kecapi? Coba mainkan satu lagu."
Wajah Lenghou Tiong menjadi merah, katanya, "Selamanya Tecu belum pernah belajar maka sama sekali tidak
paham. Memang Tecu terlalu sembrono ingin belajar permainan kecapi yang amat tinggi dari Cianpwe ini,
harap suka dimaafkan kebodohan Tecu."
Sebenarnya sifat Lenghou Tiong biasanya sangat angkuh kecuali terhadap guru, ibu-guru dan Siausumoaynya,
jarang sekali dia bersikap rendah hati kepada orang lain.
Tapi sejak dia mendengar permainan kecapi dan seruling si nenek, pula mendengar tutur katanya yang ramah
tamah dan berbudi luhur, tanpa terasa ia menjadi sangat menghormatinya. Segera ia pun berkata kepada Liktiok-
ong, "Biarlah sekarang Tecu mohon diri saja."
Lalu ia membungkuk tubuh dan hendak melangkah pergi.
"Nanti dulu," terdengar si nenek menahannya. "Aku tidak dapat membalas apa-apa atas pemberian lagu indah
ini, sebaliknya lukamu sukar disembuhkan hal ini pun membuat aku tidak tenteram. Tiok-hiantit, mulai besok
boleh mengajarkan pengantar dasar memetik kecapi kepada Lenghou-siansing, jika dia cukup sabar dan dapat
tinggal agak lama di Lokyang sini, maka tiada alangannya juga akan kuajarkan laguku 'Jing-sim-boh-sian-ciu'
ini padanya."
Begitulah mulai esok paginya Lenghou Tiong lantas datang ke rumah bambu itu untuk belajar main kecapi. Liktiok-
ong telah mengeluarkan kecapi tua dan mulai memberi petunjuk tentang dasar-dasar seni suara.
Sebenarnya Lenghou Tiong boleh dikata buta huruf dalam hal musik, tapi dia adalah seorang cerdik, sekali
diberi tahu lantas paham berikutnya, sekali dengar tak pernah lupa lagi. Tentu saja Lik-tiok-ong sangat senang,
sengaja ia mengajarkan cara memetik kecapi, lalu Lenghou Tiong disuruh coba membawakan satu "Pik-siaukim"
yang paling cekak dan sederhana.
Hanya belajar main beberapa kali saja Lenghou Tiong sudah biasa menguasainya, bahkan irama permainannya
sedemikian merdu seperti pemusik saja.
Selesai mengikuti lagu permulaan yang dimainkan Lenghou Tiong itu, tanpa merasa si nenek di gubuk sebelah
menghela napas gegetun. Katanya, "Lenghou-siansing, sedemikian pintar kau belajar kecapi, rasanya dalam
waktu singkat saja kau sudah dapat belajar laguku 'Jing-sim-boh-sian-ciu' (lagu penyebar bajik dan pemurni
batin) ini."
"Banyak terima kasih atas pujian Cianpwe," sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati. "Tapi entah kapan Tecu
baru sanggup memainkan lagu Hina Kelana seperti cara Cianpwe memainkannya kemarin."
"Kau ... kau juga ingin memainkan 'Lagu Hina Kelana' itu?" tanya si nenek.
Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya, "Karena Tecu sangat kagum terhadap permainan kecapi dan
seruling Cianpwe kemarin, maka timbul juga impian muluk-muluk ingin belajar lagu itu. Padahal Lik-tiok
Cianpwe saja tidak sanggup memainkan lagu itu, apalagi Tecu yang masih hijau pelonco ini."
Nenek itu tidak bersuara pula. Sampai agak lama baru terdengar ia berkata dengan suara perlahan, "Jika kau
dapat memainkan lagu itu, hal ini tentu saja sangat baik ...."
Tapi suaranya makin lama makin lirih sehingga tak terdengar lagi apa yang diucapkan selanjutnya.
Begitulah berturut-turut belasan hari Lenghou Tiong selalu datang ke perumahan bambu itu untuk belajar
kecapi, petangnya baru pulang, makan siang juga dilakukan di tempat Lik-tiok-ong. Biarpun makanannya
sangat sederhana, tapi rasanya jauh lebih lezat daripada ayam daging yang dimakannya di rumah Ong Goanpa.
Ada beberapa hari Lik-tiok-ong sibuk membikin alat-alat bambu, maka si nenek sendiri yang memberi
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
pelajaran. Lama-kelamaan Lenghou Tiong merasa kepandaiannya sudah banyak maju, sering kali Lik-tiok-ong
tidak mampu memberi penjelasan bila diajukan pertanyaan sehingga perlu si nenek memberi petunjuk. Tapi
bagaimana wajah si nenek sebegitu jauh belum dilihatnya.
Hari itu si nenek mengajarkan sebuah lagu "terkenang" padanya. Sesudah mendengarkan beberapa kali, lalu
Lenghou Tiong mulai memetikkan lagu itu. Tanpa terasa ia pun terkenang kepada kejadian masa lampau waktu
dia bermain bersama Gak Leng-sian, tatkala mana si nona benar-benar mencurahkan kasih mesranya kepada
dirinya, tapi entah mengapa sesudah munculnya Lim Peng-ci, sikap Siausumoaynya lantas semakin dingin
kepadanya. Karena pikirannya melayang-layang, maka irama kecapi yang dipetiknya itu menjadi agak kacau.
Tapi segera ia sadar dan lekas berhenti.
Dengan ramah si nenek bertanya, "Sebenarnya lagu 'terkenang' ini caramu membawakannya sangat baik, tapi
mendadak nadanya berubah, tentu hatimu sendiri tiba-tiba terkenang kepada pengalamanmu dahulu."
Dasar Lenghou Tiong memang seorang yang suka terus terang, tanpa ragu lagi ia lantas menuturkan isi hatinya
yang sudah tercekam lamanya itu, ia ceritakan tentang cintanya pada Gak Leng-sian, sebaliknya gadis itu
penujui pemuda lain.
Ia sendiri tidak tahu mengapa dia bercerita segala rahasia pribadinya kepada si nenek yang dianggapnya
seakan-akan nenek dan ibu sendiri. Baru setelah selesai bercerita ia merasa malu.
Si nenek lantas menghiburnya, "Tentang jodoh memang tidak dapat dipaksakan. Kata peribahasa, setiap orang
mempunyai jodoh sendiri-sendiri dan jangan iri kepada orang lain. Meskipun hari ini Lenghou-siansing patah
hati, lain hari bukan mustahil akan mendapatkan jodoh yang lebih setimpal."
"Tapi selama hidup Tecu ini sudah pasti takkan menikah," kata Lenghou Tiong.
Nenek itu tidak bicara pula, tapi lantas memetik kecapi dan memainkan lagu "Jing-sim-boh-sian-ciu". Hanya
sebentar saja mendengarkan Lenghou Tiong lantas merasa mengantuk.
Si nenek lantas menghentikan suara kecapi dan berkata, "Mulai hari ini juga aku akan mengajarkan lagu ini
padamu. Kira-kira dalam waktu sepuluh hari sudah cukup. Selanjutnya setiap hari lagu ini dimainkan satu kali,
meski tak bisa memulihkan seluruh tenagamu masa lalu, sedikitnya akan berguna juga bagimu."
Lenghou Tiong mengiakan dan si nenek lantas memberi petunjuk tentang seluk-beluk lagu itu serta cara
memetiknya. Dengan penuh perhatian Lenghou Tiong mengingatnya dengan baik.
Hari ketiga ketika Lenghou Tiong hendak berangkat belajar main kecapi pula, tiba-tiba Lo Tek-nau datang
memberi tahu padanya, "Toasuko, Suhu bilang besok juga kita akan berangkat."
Keruan Lenghou Tiong melengak. "Besok juga kita akan pergi dari sini?" ia menegas.
"Ya," sahut Tek-nau. "Sunio menyuruhmu berbenah seperlunya agar besok pagi bisa lantas berangkat."
Lenghou Tiong menyatakan baik. Lalu bergegas-gegas ia datang ke pondok bambu dan memberitahukan si
nenek, "Popo, besok juga Tecu akan mohon diri."
Agaknya si nenek juga melengak. Sampai agak lama baru dia berkata dengan perlahan, "Mengapa begini
terburu-buru, sedangkan ... lagu ini belum selesai kau pelajari."
"Tecu pun berpikir demikian," ujar Lenghou Tiong. "Cuma perintah guru tak bisa dibantah. Sebagai tamu juga
tak bisa tinggal di rumah orang selamanya."
"Ya, benar juga," kata si nenek. Lalu ia mulai memberi petunjuk pula cara memetik kecapi seperti hari-hari
sebelumnya.
Lenghou Tiong adalah seorang yang berperasaan halus. Walaupun belum pernah melihat muka si nenek, tapi
dari percakapan melalui suara kecapi dapatlah diketahui orang tua itu sangat memerhatikan dia seperti
anggota keluarga sendiri. Hanya saja si nenek juga sungkan bicara, cuma beberapa kalimat saja lantas diseling
dengan soal lain, terang ia pun tidak ingin Lenghou Tiong mengetahui perasaannya.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Orang yang paling memerhatikan Lenghou Tiong di dunia ini adalah Gak Put-kun dan istrinya, Gak Leng-sian
serta Liok Tay-yu. Kini Tay-yu sudah mati, Leng-sian telah penujui Peng-ci, guru dan ibu gurunya menaruh
curiga pula padanya, maka kini ia merasa orang yang paling akrab hubungannya dengan dia hanyalah Lik-tiokong
serta si nenek yang belum kenal muka itu.
Bab 48. "Tabib Sakti Pembunuh" Namanya Peng It-ci
Pada hari terakhir ini berulang kali mestinya Lenghou Tiong hendak menyatakan kepada Lik-tiok-ong agar
diperbolehkan tinggal di hutan bambu situ untuk belajar main kecapi dan seruling. Tapi bila terkenang kepada
bayangan Gak Leng-sian, betapa pun ia merasa berat untuk berpisah.
"Sekalipun Siausumoay tidak menggubris padaku, asal setiap hari aku dapat melihatnya dan mendengar
suaranya juga sudah puas aku. Apalagi dia toh bukannya tidak menggubris padaku?" demikian pikirnya.
Menjelang magrib waktu mau berpisah, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat berat. Ia mendekati jendela
gubuk kediaman si nenek dan menyembahnya beberapa kali.
Samar-samar dilihatnya di balik kerai bambu sebelah dalam si nenek juga berlutut membalas hormatnya.
Terdengar si nenek berkata, "Meski aku mengajarkan cara bermain kecapi padamu, tapi ini adalah untuk
membalas kebaikanmu yang telah menghadiahkan lagu padaku. Kenapa engkau menjalankan penghormatan
setinggi ini padaku?"
"Perpisahan sekarang ini entah sampai kapan baru dapat berkunjung lagi kemari untuk mendengarkan
permainan kecapi Popo, asalkan Lenghou Tiong tidak mati, kelak tentu akan datang lagi ke sini untuk
menyambangi Popo dan Tiok-ong," demikian kata Lenghou Tiong.
Tapi tiba-tiba terpikir olehnya tentang usia kedua orang tua yang sudah amat lanjut itu, bilamana kelak datang
lagi ke Lokyang entah masih dapat bersuara atau tidak dengan mereka. Teringat bahwa hidup manusia ini
seakan-akan mimpi belaka tanpa terasa suaranya menjadi parau.
"Lenghou-siansing," kata si nenek, "sebelum berpisah aku ingin memberi pesan sepatah kata padamu."
"Baik, atas petuah Popo sampai mati pun takkan kulupakan," sahut Lenghou Tiong.
Tapi sampai lama nenek itu tidak bicara lagi. Selang sekian lama, akhirnya dia baru berkata dengan perlahan,
"Banyak bahaya dan kepalsuan orang Kangouw, hendaknya kau menjaga diri dengan baik."
Lenghou Tiong mengiakan, hati menjadi pilu. Ia memberi hormat pula kepada Lik-tiok-ong untuk mohon diri.
Dalam pada itu terdengar dari dalam gubuk suara kecapi menggema merdu, yang dibawakan adalah lagu kuno
"terkenang" itu.
Esok paginya Gak Put-kun dan anak muridnya sama mohon diri kepada Org Goan-pa untuk berangkat dengan
menumpang perahu. Goan-pa dan anak-cucunya mengantar sampai di tepi sungai Loksui, memberi bekal
sangu dan macam-macam makanan untuk persediaan di tengah perjalanan.
Sejak tempo hari lengan Lenghou Tiong dipuntir keseleo oleh Ong Kah-cun dan Ong Kah-ki, maka Lenghou
Tiong tidak pernah bicara pula dengan anggota keluarga Ong itu. Pada saat berpisah sekarang ia pun tidak
mengucapkan apa-apa, sebaliknya cuma mendelik saja kepada mereka seakan-akan di depan matanya pada
hakikatnya tiada jago golok emas dari keluarga Ong itu.
Gak Put-kun cukup kenal perangai muridnya itu. Jika anak muda itu dipaksa memberi hormat dan mohon diri
kepada Ong Goan-pa, untuk sementara terpaksa Lenghou Tiong menurut, tetapi kelak besar kemungkinan akan
mencari perkara kepada keluarga Ong itu untuk membalas dendam. Sebab itulah ia sendiri memberi hormat
dan mengucapkan terima kasih kepada Ong Goan-pa, sebaliknya sikap Lenghou Tiong yang kurang sopan itu ia
pura-pura tidak tahu.
Lenghou Tiong melihat banyak oleh-oleh pemberian keluarga Ong itu, terutama oleh-oleh yang diberikan
kepada Gak Leng-sian. Nona itu tampak sangat senang dan sibuk menerima macam-macam oleh-oleh itu.
Tengah sibuk, tiba-tiba seorang tua berbaju rombeng naik ke pinggir perahu mereka dan berseru, "Lenghousiaukun
(tuan muda)!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Waktu Lenghou Tiong berpaling, kiranya adalah Lik-tiok-ong, keruan ia melengak.
"Bibi menyuruh aku menyerahkan bungkusan ini kepadamu, Lenghou-siaukun," kata Lik-tiok-ong sembari
mempersembahkan sebuah bungkusan panjang.
Bungkusan itu dibebat dengan kain kembang biru. Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerimanya dan
berkata, "Atas hadiah Cianpwe yang berharga ini Tecu menerimanya dengan terima kasih."
Sambil berkata berulang-ulang ia pun membungkuk tubuh memberi hormat.
Terhadap tukang bambu tua bersikap sedemikian menghormat, sebaliknya terhadap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu
yang namanya termasyhur di dunia Kangouw sedikit pun tidak menggubris, keruan sikap Lenghou Tiong ini
membikin Kah-cun dan Kah-ki merasa gusar. Coba kalau tidak di depan orang banyak tentu mereka sudah
menyeret turun Lenghou Tiong menghajarnya sepuas-puasnya.
Dalam pada itu sesudah menyerahkan bungkusan panjang tadi, Lik-tiok-ong lantas melangkah ke atas papan
loncatan dan hendak turun kembali ke daratan.
Melihat ada kesempatan, sesudah saling memberi isyarat, segera Kah-cun dan Kah-ki sengaja memapak dari
bawah papan loncatan perahu, mereka terus mendesak maju, yang satu menggunakan bahu kanan dan yang
lain memakai bahu kiri, asal ditumbuk sedikit saja mereka percaya kakek itu umpama tidak sampai mati
tenggelam sedikitnya juga akan membikin Lenghou Tiong kehilangan muka.
Melihat apa yang akan terjadi itu, cepat Lenghou Tiong berseru, "He, awas!"
Tapi ia sudah tidak bertenaga sehingga sama sekali tak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu tampaknya
kedua saudara Ong muda itu sudah menerjang tiba pada sasarannya.
"Jangan!" segera Ong Goan-pa juga berteriak. Sebagai seorang yang punya harta benda di kota Lokyang, kalau
kedua cucunya sampai menumbuk mati seorang kakek, tentu akibatnya takkan menguntungkan bila sampai
pihak yang berwajib ikut turun tangan. Perkara jiwa bukanlah soal kecil.
Tapi karena dia sedang duduk dalam kamar perahu besar itu dan lagi bicara dengan Gak Put-kun sehingga
tidak sempat mencegah lagi.
Maka terdengarlah suara "bluk", bahu kedua anak muda itu sudah membentur tubuh Lik-tiok-ong. Menyusul
dua sosok tubuh orang sama mencelat dan "plung-plung", tahu-tahu kedua anak muda itu sama kecemplung
ke dalam sungai, sebaliknya Lik-tiok-ong tampak masih tenang-tenang saja dan terus berjalan ke daratan.
Tubuhnya mirip bola saja, setiap diseruduk oleh kedua saudara Ong muda itu segera mengeluarkan daya
membalik sehingga kedua anak muda itu terpental sendiri.
Keruan suasana menjadi kacau, semua orang sibuk memberi pertolongan kepada Kah-cun dan Kah-ki,
beberapa orang lantas terjun ke dalam sungai untuk menyeret mereka ke atas. Tatkala itu baru permulaan
musim semi, air sungai sedingin es, apalagi kedua anak muda itu tidak bisa berenang, mereka sudah telanjur
minum air sungai sampai beberapa ceguk, gigi mereka berkertukan menggigil dingin, keadaannya sangat
runyam.
Sesudah diperiksa, sungguh kejut Ong Goan-pa tidak kepalang. Ternyata lengan kedua cucunya itu semuanya
keseleo, tulang lengan terlepas dari ruasnya, sama halnya seperti tempo hari kedua anak muda itu memuntir
tangan Lenghou Tiong sehingga keseleo.
Melihat kedua putranya kecundang, segera Ong Tiong-kiang melompat ke daratan dan mencegat di depan Liktiok-
ong.
Kakek itu tampak masih terus berjalan ke depan dengan kepala merunduk, memangnya badannya juga
bungkuk.
"Orang kosen dari manakah ingin coba-coba pamer kepandaian di Lokyang sini?" bentak Ong Tiong-kiang.
Tapi Lik-tiok-ong seperti tidak mendengar saja dan tetap jalan ke depan, perlahan ia sudah berhadapan dengan
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tiong-kiang. Keruan perhatian semua orang di atas perahu sama dipusatkan kepada mereka berdua.
Kedua tangan Ong Tiong-kiang tampak sedikit dipentang, ketika Lik-tiok-ong maju selangkah lagi, mendadak
Tiong-kiang membentak, "Pergi!"
Kedua tangannya terus mencengkeram pundak si kakek.
Tapi baru saja jarinya hampir menyentuh tubuh sasarannya, sekonyong-konyong badannya yang tinggi besar
itu mencelat ke udara sampai beberapa meter jauhnya. Di tengah jerit kaget orang banyak Ong Tiong-kiang
berjumpalitan satu kali, selagi terapung di udara lalu dapat menancapkan kali kembali di atas tanah.
Jika terjadinya tabrakan itu dilakukan kedua orang yang sama-sama berlari cepat dari arah berlawanan, lalu
salah seorang terpental, ini sih tidak mengherankan, yang aneh sekarang adalah Ong Tiong-kiang berdiri tegak
di tempatnya, sedangkan Lik-tiok-ong hanya berjalan sangat perlahan, tapi mendadak Ong Tiong-kiang
tergetar mencelat, sekali pun tokoh-tokoh terkemuka sebagai Gak Put-kun dan Ong Goan-pa juga tidak tahu
dengan cara bagaimana si kakek reyot itu membikin orang terpental.
Hanya saja waktu Ong Tiong-kiang tancapkan kakinya kembali di atas tanah tampaknya juga sewajarnya saja
sehingga orang yang tidak mahir ilmu silat malah mengira dia sengaja meloncat sendiri untuk pamerkan
Ginkangnya yang lihai, maka ada sebagian centeng keluarga Ong salah wesel dan memberi sorak puji kepada
majikan muda mereka.
Memangnya Ong Goan-pa sudah heran ketika tanpa bergerak Lik-tiok-ong dapat menggetar lengan kedua
cucunya sehingga keseleo, kini ia tambah kaget demi melihat putranya juga tergetar mencelat secara aneh.
Padahal ia tahu putranya itu sudah memperoleh segenap ajaran ilmu silatnya, tapi belum satu gebrak saja
sudah dientak mencelat oleh lawan, ini benar-benar belum pernah terjadi selama hidup. Dilihatnya sesudah
kecundang Ong Tiong-kiang masih hendak melabrak maju lagi cepat ia berseru, "Tiong-kiang, kemari!"
Tiong-kiang putar tubuh dan melompat ke haluan perahu dengan enteng. "Tua bangka itu besar kemungkinan
bisa ilmu sihir!" ia mencemooh.
"Bagaimana keadaanmu, tidak terluka?" tanya Goan-pa dengan perlahan.
Tiong-kiang menggeleng. Diam-diam Goan-pa menimbang, biarpun dengan kemampuannya sendiri juga belum
tentu dapat melawan kakek bungkuk itu, apalagi kalau sampai perlu minta bantu Gak Put-kun, sekalipun
menang juga kurang cemerlang.
Maka ia sengaja tidak mempersoalkan itu lebih lanjut, paling tidak kakek itu pun sudah memberi muka
padanya tanpa merobohkan putranya. Dilihatnya Lik-tiok-ong sudah pergi semakin jauh, sungguh tak enak
perasaannya. Pikirnya, "Kakek itu terang adalah kawan Lenghou Tiong, lantaran para cucu mematahkan
lengannya, maka kakek itu pun datang mematahkan lengan mereka sebagai pembalasan. Selama hidupku
malang melintang di kota Lokyang ini, masakan sampai hari tua terbalik akan terjungkal habis-habisan?"
Dalam pada itu Ong Pek-hun sudah membetulkan lengan kedua keponakannya yang keseleo itu, dua buah
tandu lantas membawa kedua anak muda yang basah kuyup itu pulang lebih dulu.
"Gak-tayciangbun, orang macam apakah kakek tadi? Agaknya mataku yang tua ini sudah lamur dan tidak kenal
orang kosen demikian," tanya Ong Goan-pa kepada Put-kun.
"Siapakah dia, Tiong-ji?" Put-kun bertanya kepada Lenghou Tiong.
"Dia itulah Lik-tiok-ong," sahut Lenghou Tiong.
Goan-pa dan Put-kun bersama mengeluarkan suara "Ooo". Kiranya tempo hari meski mereka juga datang ke
hutan bambu sana, tapi mereka tidak sampai kenal muka Lik-tiok-ong, sedangkan Ih-suya yang kenal Lik-tiokong
tidak ikut mengantar ke dermaga ini, sebab itulah tiada seorang pun yang kenal si kakek bambu hijau.
"Barang apa yang dia berikan padamu?" tanya Put-kun pula sambil menuding bungkusan panjang tadi.
"Tecu sendiri belum tahu," sahut Lenghou Tiong sambil membuka bungkusan itu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Maka tertampaklah isinya adalah sebuah kecapi antik, pada ujung kecapi itu terukir dua huruf kembang "Yangi".
Selain itu ada pula satu buku kecil, pada sampulnya tertulis "Jing-sim-boh-sian-ciu". Kiranya adalah lagu
yang diajarkan si nenek kepada Lenghou Tiong itu. Keruan Lenghou Tiong bersuara kejut dan terharu.
"Ada apa?" tanya Put-kun sambil memandang tajam.
"Kiranya Cianpwe itu selain memberikan sebuah kecapi padaku, bahkan menyertakan not kecapi pula," kata
Lenghou Tiong.
Ia coba membalik-balik buku kecil itu, ternyata berisi lengkap ajaran cara memetik kecapi dengan petunjukpetunjuk
yang sangat jelas. Dari tulisannya dan kertasnya yang masih baru itu terang baru saja selesai ditulis
oleh si nenek. Teringat kepada kebaikan Locianpwe itu Lenghou Tiong sangat terharu sehingga matanya
berkaca, air mata hampir-hampir menetes.
Melihat buku itu berisi not kecapi, walaupun Ong Goan-pa dan Gak Put-kun merasa curiga tapi juga tak bisa
bicara apa-apa.
"Lik-tiok-ong itu ternyata seorang kosen di dunia persilatan yang tidak mau menonjolkan diri, apakah kau tahu
dia dari aliran atau golongan mana, Tiong-ji?" tanya Gak Put-kun.
Ia sudah menduga andaikan Lenghou Tiong tahu asal usul Lik-tiok-ong juga takkan mengaku secara terus
terang. Soalnya Kungfu si kakek bambu hijau itu terlalu hebat, kalau tidak ditanyakan betapa pun rasanya
tidak tenteram.
Benar juga, segera Lenghou Tiong menjawab, "Tecu hanya belajar kecapi kepada Locianpwe itu, sesungguhnya
tidak tahu bahwa dia juga mahir ilmu silat."
Begitulah Gak Put-kun lantas memberi hormat tanda perpisahan dengan Ong Goan-pa, perahu layarnya yang
besar itu lantas mengangkat jangkar dan berlayar ke hilir.
Di dalam kapal ramailah anak murid Hoa-san-pay itu membicarakan Lik-tiok-ong, ada yang memuji kepandaian
si kakek yang mahatinggi, ada yang anggap Lik-tiok-ong itu belum tentu punya kepandaian sejati, mungkin
kedua saudara Ong muda kecemplung ke dalam sungai karena mereka sendiri kurang hati-hati. Sedangkan
Ong Tiong-kiang dikatakan tidak sudi bertengkar dengan kakek yang sudah loyo itu, maka sengaja meloncat
menyingkir.
Lenghou Tiong duduk sendirian di buritan dan tidak menghiraukan percakapan para Sute dan Sumoaynya itu.
Ia asyik membaca not kecapi. Karena khawatir mengganggu gurunya, maka ia tidak berani membunyikan
kecapinya.
Gak-hujin merasa tidak tenteram ketika teringat kepada potongan tubuh Lik-tiok-ong serta gerak-geriknya
yang aneh. Ia coba naik ke haluan perahu itu melihat pemandangan.
Tiba-tiba terdengar sang suami bicara di sebelah, "Sumoay, bagaimana pendapatmu tentang Lik-tiok-ong itu?
Begitu aneh caranya membikin terpental tiga jago keluarga Ong itu, tampaknya kepandaiannya itu bukan ilmu
silat aliran yang baik."
"Tapi dia tiada maksud jahat terhadap Tiong-ji, pula tampaknya tidak sengaja hendak mencari perkara kepada
keluarga Ong," ujar Gak-hujin.
"Ya, semoga urusan ini selesai sampai di sini saja, kalau tidak, jangan-jangan kehormatan Ong-loyacu selama
ini akan berakhir dengan buruk," kata Put-kun. Sejenak kemudian ia menyambung pula, "Kita juga harus
waspada walaupun kita mengambil jalan air ini."
"Apa kau maksudkan ada kemungkinan orang akan mencari perkara pada kita?" tanya sang istri.
"Sampai saat ini kita masih tetap belum jelas orang macam apakah ke-15 musuh berkedok tempo hari itu.
Mengingat kejadian itu, perjalanan kita ini rasanya masih banyak rintangan yang akan kita hadapi."
Begitulah mereka lantas pesan para muridnya agar selalu waspada.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Di luar dugaan, setelah perahu mereka keluar dari muara Kiat-koan dan memasuki sungai Tiangkang dan
meluncur ke hilir pula ke arah timur, ternyata sama sekali tidak terjadi sesuatu.
Semakin jauh meninggalkan Lokyang, semakin berkurang pula rasa waswas mereka. Hari itu mereka sudah
dekat dengan kota Kayhong. Gak Put-kun dan istrinya membicarakan tokoh-tokoh Bu-lim di kota itu. Menurut
pendapat Gak Put-kun di kota Kayhong boleh dikata tiada jago silat yang berarti.
Tapi Gak-hujin berkata, "Ada seorang tokoh ternama di sini, mengapa Suko melupakan dia?"
"Tokoh ternama? Sia ... siapa yang kau maksudkan?" tanya Put-kun.
"Mengobati seorang bunuh seorang, bunuh seorang mengobati seorang, bunuh orang mengobati orang sama
banyaknya, dagang rugi tak mau. Siapa dia itu?" ucap Gak-hujin dengan tertawa.
"Aha, 'Sat-jin-beng-ih' (tabib sakti pembunuh orang) Peng It-ci memang benar sangat ternama," ujar Gak Putkun
tertawa. "Tapi biarpun kita berkunjung padanya juga belum tentu dia mau menemui kita."
"Sungguh aneh, sudah disebut tabib sakti, mengapa pembunuh pula? Apa sebabnya, ibu?" tanya Leng-sian
heran.
"Peng-losiansing itu adalah seorang ajaib di dunia persilatan," tutur Gak-hujin. "Ilmu pengobatannya memang
mahasakti, betapa pun berat penyakit seorang asalkan dia mau mengobati ditanggung pasti akan sembuh
kembali. Cuma dia mempunyai suatu sifat yang aneh. Ia bilang manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan
oleh takdir, bila dia terlalu banyak menyembuhkan orang sehingga mengurangi orang mati, tentu akibatnya
dunia akan terlalu banyak orang hidup dan sedikit orang mati, kelak jika dia sendiri mati tentu Giam-lo-ong
(raja akhirat) akan minta pertanggungjawabannya ...."
Sampai di sini anak muridnya sama tertawa geli. Tapi Gak-hujin telah melanjutkan, "Sebab itulah dia
mengadakan suatu ketentuan, setiap kali menyembuhkan seorang, maka dia juga harus membunuh satu orang
sebagai imbalannya. Sebaliknya kalau dia membunuh satu orang tentu pula akan menghidupkan seorang sakit
sebagai gantinya. Dengan demikian supaya Giam-lo-ong tidak dibikin rugi."
Kembali para muridnya sama tertawa. Leng-sian bertanya pula, "Tabib sakti Peng It-ci itu benar-benar sangat
kocak. Tapi mengapa dia pakai nama It-ci (satu jari), memangnya apakah dia hanya punya sebuah jari
tangan?"
"Tidak, Peng-tayhu (tabib Peng) punya sepuluh jari seperti orang biasa," tutur Gak Put-kun, "dia mengaku
bernama It-ci, maksudnya baik membunuh orang atau mengobati orang cukup memakai sebuah jari saja."
"O, kiranya demikian. Jika begitu tentu ilmu Tiam-hiat sangat lihai?" kata Leng-sian.
"Jarang sekali ada orang bergerak dengan Peng-tayhu itu," sahut Gak Put-kun. "Yang terang setiap orang Bulim
mengetahui ilmu pertabibannya sangat lihai, boleh jadi setiap waktu memerlukan pertolongannya, maka
setiap orang rada segan padanya. Tapi kalau tidak sangat terpaksa juga tak berani minta pengobatan
padanya."
"Sebab apa?" tanya Leng-sian.
"Habis kalau menurut ketentuannya menyembuhkan seorang harus membunuh pula seorang sebagai
imbalannya, bilamana orang itu kebetulan adalah sanak kadang atau sobat handainya, bukankah hal ini akan
membuatnya serbasulit?"
"Ya, Peng-tayhu itu benar-benar sangat aneh perangainya," kata para murid.
"Jika demikian, penyakit Toasuko tak dapat minta pertolongannya," ujar Leng-sian.
Sejak tadi Lenghou Tiong hanya mendengarkan cerita sang guru dan ibu gurunya tentang tabib sakti
pembunuh yang aneh itu. Demi mendengarkan ucapan Siausumoay, ia hanya tersenyum hambar dan berkata,
"Ya, jangan-jangan dia sudah menyembuhkan aku, lalu menyuruh aku membunuh Siausumoayku sendiri."
Para murid Hoa-san-pay kembali tertawa riuh. Leng-sian juga tertawa dan berkata, "Peng-tayhu itu tidak kenal
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
aku, buat apa dia menyuruhmu membunuh aku?" Lalu ia berpaling kepada Gak Put-kun dan bertanya, "Ayah,
sebenarnya Peng-tayhu itu tergolong orang baik atau jahat?"
"Menilik sifatnya yang aneh dan kelakuannya yang tak menentu, dia boleh dikata berada di antara yang baik
dan yang jahat," ujar Put-kun.
"Ah, mungkin orang Kangouw sengaja membesar-besarkan persoalannya," kata Leng-sian. "Setiba di Kayhong
nanti aku ingin berkunjung pada Peng-tayhu itu."
"Hus," bentak Put-kun dan istrinya berbareng. "Jangan kau cari gara-gara. Orang aneh begitu masakah dapat
kau kunjungi sesukamu? Kedatangan kita ini adalah untuk pesiar dan bukan ingin mencari perkara."
Melihat ayah-bundanya marah, Leng-sian tidak berani bicara lagi walaupun penuh keheranan terhadap si tabib
sakti pembunuh itu.
Besok paginya lewat tengah hari perahu mereka sudah sampai di dermaga Kayhong, cuma untuk masuk ke
kota masih ada beberapa li jauhnya.
"Di sebelah barat daya Kayhong ada suatu tempat, di mana leluhur Gak kita pernah sangat terkenal, tempat itu
harus kita kunjungi," demikian kata Put-kun dengan tertawa.
"Ya, betul, tempat itu pasti Cu-sian-tin adanya," seru Leng-sian sambil tertawa senang. "Di situlah kakek
moyang kita Gak Peng-ki (Gak Hui) mengalahkan tentara Kim secara besar-besaran."
Dan begitu perahu mereka merapat ke dermaga, segera Leng-sian mendahului melompat ke daratan dan
berseru, "Ayo, lekas berangkat ke Cu-sian-tin, lalu makan malam di kota Kayhong."
Beramai-ramai semua orang lantas ikut mendarat. Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap duduk di buritan
perahu.
"Ayo, Toasuko, apa engkau tidak ikut?" seru Leng-sian.
Sesudah kehilangan tenaga dalam Lenghou Tiong selalu merasa lelah dan malas bergerak, maka kepergian
semua orang itu kebetulan baginya untuk belajar memetik kecapi. Apalagi dilihatnya Lim Peng-ci berdiri di sisi
Leng-sian dengan sangat mesra, semakin dinginlah hatinya, maka jawabnya, "Tidak, aku tidak sanggup
berjalan terlalu lama."
"Baiklah, boleh mengaso saja di sini, dari kota nanti akan kubawakan beberapa kati arak enak," kata Leng-sian
pula.
Begitulah dengan perasaan pedih Lenghou Tiong menyaksikan keberangkatan si nona yang didampingi Peng-ci
itu, Jing-sim-boh-sian-ciu yang dilatihnya itu sudah berhasil menyembuhkan luka dalamnya, tapi apa artinya
lagi hidup di dunia ini? Seketika itu ia merasa segala macam pahit getir orang hidup seakan-akan membanjir
tiba, dadanya terasa sesak, napas tersengal-sengal, segera perutnya kesakitan pula ....
Sementara itu Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci yang jalan bersama itu asyik bicara dengan kasih mesra
sehingga tanpa terasa mereka sudah jauh meninggalkan rombongan.
Gak-hujin mengedipi sang suami dan memandang kedua muda-mudi yang berjalan jauh di depan itu. Gak Putkun
tahu maksud sang istri, ia tertawa sambil mempercepat langkahnya. Hanya sekejap saja suami istri itu
sudah menyusul sampai di belakang Leng-sian dan Peng-ci. Dengan tindakan mereka yang cepat, mereka
tanya arahnya kepada orang di tepi jalan, lalu empat orang mendahului menuju ke Cu-sian-tin.
Ketika hampir sampai di kota kecil itu, terlihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng, papan di atas pintu
kelenteng itu tertulis "Nyo-ciangkun-bio" (kelenteng panglima Nyo).
"Ayah, kutahu kelenteng ini adalah tempat pemujaan panglima Nyo Cay-hin yang kejeblos di dalam sungai
Siau-sian-ho yang beku itu sehingga mati dihujani panah pasukan musuh," kata Leng-sian.
"Betul," sahut Put-kun. "Nyo-ciangkun gugur di medan bakti, sungguh membikin orang kagum padanya.
Marilah kita masuk ke dalam untuk melihatnya."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Karena muridnya yang lain masih ketinggalan jauh di belakang, tanpa menunggu lagi mereka berempat lantas
masuk ke dalam kelenteng. Patung Nyo Cay-hin yang dipuja itu tampak sangat gagah dan tampan, Leng-sian
memandang sekejap ke arah Peng-ci, diam-diam timbul maksudnya membandingkan Toapekong yang tampan
itu dengan Lim Peng-ci.
Belum lagi mereka sempat bicara, pada saat itu juga di luar kelenteng tiba-tiba ada suara orang berkata, "Aku
tahu Toapekong yang dipuja di dalam kelenteng panglima Nyo ini pasti Nyo Cay-hin adanya."
Mendengar suara orang itu, seketika air muka Gak Put-kun dan istrinya berubah pucat berbareng mereka sama
meraba pedang yang tergantung di pinggang masing-masing.
Dalam pada itu terdengar seorang lain lagi bicara, "Di zaman dahulu panglima she Nyo teramat banyak, dari
mana kau yakin Toapekong yang dipuja ini adalah Nyo Cay-hin dan bukan Nyo Leng-kong dan panglima Nyo
yang lain?"
"Tidak, aku tahu pasti adalah Nyo Cay-hin," demikian orang yang pertama tetap ngotot.
Kiranya dari suara orang-orang itu dapatlah Gak Put-kun dan istrinya mengenali mereka bukan lain daripada
Tho-kok-lak-sian.
Cepat ia memberi isyarat, segera bersama sang istri serta Peng-ci dan Leng-sian mereka sembunyi di belakang
patung. Ia dan istrinya sembunyi di sisi kiri, Leng-sian dan Peng-ci di sebelah kanan.
Diam-diam Put-kun merasa cemas bilamana sebentar lagi rombongan Lo Tek-nau dan lain-lain datang, tentu
mereka akan kepergok dan ini berarti malapetaka bagi mereka.
Dalam pada itu karena pertengkaran mengenai Toapekong yang dipuja di kelenteng itu, akhirnya salah seorang
dari manusia aneh itu berkata, "Coba kita melihatnya ke dalam kelenteng."
Menyusul seorang di antaranya lantas berteriak, "Aha, coba lihat! Bukankah di atas situ jelas tertulis patung
yang dipuja ini adalah patung Nyo Cay-hin?"
Ternyata yang bicara itu adalah Tho-ki-sian. Kemudian ia berseru pula, "Wahai Nyo Cay-hin, asalkan kau
memberkahi Lakte kami agar jangan mati, boleh juga aku menjura beberapa kali padamu. Biarlah sekarang
juga aku memberi persekot lebih dulu."
Habis berkata ia terus berlutut dan menyembah.
Mendengar itu, Put-kun saling pandang sekejap dengan sang istri, air muka mereka sama memperlihatkan rasa
lega dan girang. Pikir mereka, "Dari ucapannya tadi agaknya orang yang tertusuk pedangnya itu belum mati."
Sementara itu Tho-hoa-sian lagi ikut berkata, "Tapi bagaimana kalau Lakte jadi mati?"
"Kalau Lakte sampai mati, tentu patung ini akan kuhancurkan, lalu akan kukencingi pula," sahut Tho-ki-sian.
"Tapi kalau Lakte benar-benar mati, apa gunanya kau mengencingi dan bahkan memberaki sekalipun juga
percuma," ujar Tho-hoa-sian.
"Benar juga," sahut Tho-ki-sian. "Mari kita kembali ke sana untuk tanya dia apa Lakte dapat disembuhkan, bila
sudah sembuh baru kita datang ke sini untuk sembahyang, kalau tidak dapat sembuh akan kita beraki."
"Wah, kalau Lakte tidak dapat disembuhkan, lalu kita tidak kencing dan tidak berak, apa perut kita takkan
kembung?" kata Tho-kin-sian.
"Ya, betul, jika kita tidak berak dan tidak kencing, tentu kita akan mati kembung," seru Tho-kan-sian. Maka
menangislah dia dengan sedih.
Mendadak Tho-ki-sian bergelak tertawa, "Jika Lakte tidak mati, bukankah sia-sia saja kau menangis? Ayo pergi
ke sana, kita harus tanya yang jelas kalau perlu baru menangis."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Begitulah kelima orang itu sambil ribut mulut terus keluar lagi dari kelenteng dengan langkah cepat.
"Entah bagaimana keadaan orang aneh yang kau tusuk itu? Sumoay, hendaknya kau tunggu di sini bersama
Peng-ci dan Sian-ji, biar kuperiksa ke sana," kata Put-kun.
"Daripada sendirian menghadapi bahaya, biar kupergi bersamamu," kata Gak-hujin, habis itu segera ia
mendahului keluar kelenteng.
Gak Put-kun juga tidak banyak bicara pula, segera mereka berdua mengikuti jejak kelima orang aneh tadi. Dari
jauh tertampak Tho-kok-ngo-koay itu membelok ke suatu tanah tanjakan melalui suatu jalan kecil. Sepanjang
jalan kelima orang itu masih terus ribut mulut sehingga memudahkan penguntitan Gak Put-kun berdua.
Sesudah menyusuri jalan pegunungan itu, tertampaklah di balik beberapa puluh pohon Liu yang rindang di
depan sana ada sebuah sungai kecil, di tepi sungai sana ada beberapa buah rumah genting. Terdengar suara
ribut kelima orang aneh itu menggema masuk ke rumah genting itu.
"Mari kita mengitar ke belakang rumah," ajak Put-kun kepada istrinya.
Dengan Ginkang yang tinggi suami istri lantas mengitar jauh ke belakang rumah-rumah genting itu. Sesudah
dekat, terlihat di belakang rumah itu pun terdapat sebaris pohon Liu yang rindang, kedua orang lantas
sembunyi di balik semak pohon.
Terdengar suara Tho-kok-ngo-koay lagi berkaok-kaok di dalam rumah, "He, kau telah membunuh Lakte kami."
"Wah ken ... kenapa kau membedah dadanya?"
"Keparat, kami harus cabut nyawamu sebagai ganti nyawa Lakte! Kami harus bedah juga dadamu!"
"Ai, Lakte, sedemikian ngeri kematianmu, biar kami selamanya takkan ... takkan berak agar mati kembung
bersamamu!"
Begitulah Ngo-koay itu berteriak dan berjingkrak tak keruan.
Gak Put-kun terkejut, pikirnya, "Kenapa ada orang membedah dada Lakte mereka?"
Perlahan mereka lantas merunduk maju, sampai di bawah jendela, mereka coba mengintip ke dalam rumah
melalui celah-celah.
Tatkala itu hari sudah mulai gelap, di dalam rumah tampak terang benderang dengan beberapa buah pelita. Di
tengah rumah tertaruh sebuah dipan dan di atasnya terbaring seorang lelaki dalam keadaan telanjang bulat.
Dadanya telah terbedah, darah mengucur. Kedua mata orang itu tampak tertutup rapat, agaknya sudah mati
sekian saat.
Dari wajahnya segera Gak-hujin mengenalnya sebagai Tho-sit-sian yang terkena tusukan pedangnya di puncak
Hoa-san tempo hari. Tho-kok-ngo-koay tampak berkerumun di sekitar saudara mereka dan mencaci maki
kepada seorang laki-laki pendek gemuk.
Laki-laki buntak itu tingginya tidak lebih dari empat kaki, tapi lebar pundaknya juga hampir empat kaki,
kepalanya sangat besar, pakai kumis tikus, mukanya sangat lucu. Kedua tangannya berlumuran darah, tangan
kanan memegang pisau yang juga berlepotan darah.
Dengan mata melotot ia pandang Ngo-koay yang sedang berkaok-kaok itu, selang sejenak dengan suaranya
yang berat barulah ia tanya, "Sudah habis belum kentut kalian?"
"Sudah, kau sendiri mau kentut apa?" sahut Tho-kok-ngo-koay berbareng.
"Dada saudara kalian yang lebih mirip mayat hidup ini terkena pedang, dari tempat jauh kalian membawanya
kemari dan minta aku menolong jiwanya," demikian kata si buntak. "Tapi perjalanan kalian terlalu lambat,
lukanya telah membusuk, urat nadinya juga kacau, untuk menolong jiwanya tidaklah sukar, tapi sesudah
sembuh ilmu silatnya akan punah, setengah badan bagian bawah akan lumpuh. Orang cacat begitu apa
gunanya biarpun disembuhkan?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Biarpun cacat juga lebih baik daripada mati," kata Tho-kin-sian.
"Tidak bisa," teriak si buntak dengan gusar. "Kalau mau mengobati orang harus kusembuhkan betul-betul,
kalau menyembuhkan orang menjadi cacat ke mana mukaku ini harus ditaruh? Sudahlah, aku tidak jadi
mengobati dia, tidak jadi! Lekas kalian gotong pergi mayat hidup ini!"
"Jika kau tidak mampu menyembuhkan Lakte kami, kenapa kau membedah dadanya?" tanya Tho-kan-sian.
"Sebenarnya kau ... kau ...."
"Hm, coba katakan, apa julukanku?" tanya si buntak dengan mendengus.
"Julukan setanmu adalah Sat-jin-beng-ih!" sahut Tho-kan-sian.
Seketika Gak Put-kun dan istrinya terkesiap dan saling pandang. Kiranya si buntak yang berwajah lucu itu taklain
tak-bukan adalah si tabib sakti pembunuh Peng It-ci yang maha termasyhur itu
Dalam pada itu terdengar Peng It-ci sedang berkata pula, "Jika sudah tahu aku berjuluk 'Sat-jin-beng-ih', kalau
cuma membunuh satu orang masakah kau parau?"
"Apa sulitnya membunuh satu orang?" kata Tho-hoa-sian. "Jika kau cuma pandai membunuh orang dan tak
becus mengobati orang, kan percuma saja julukanmu memakai kata 'Beng-ih' segala?"
"Siapa bilang aku tidak becus mengobati orang?" teriak Peng It-ci dengan gusar, "Aku telah membedah dada
mayat hidup ini, sesudah kusambung urat nadinya, setelah sembuh nanti dia akan sehat seperti sediakala, ilmu
silatnya juga takkan punah. Dengan demikian barulah kelihatan kepandaian Sat-jin-beng-ih!"
"Aha, kiranya kau dapat menyelamatkan Lakte kami, jika begitu kami telah salah mengomelimu," seru Ngokoay
bersama. "Ayolah lekas bekerja, dada Lakte telah kau bedah, darahnya mengucur terus, kalau tidak lekas
diobati tentu akan terlambat."
"Tabibnya kau atau aku?" tiba-tiba Peng It-ci bertanya.
"Sudah tentu engkau, buat apa tanya lagi?"
"Jika aku, dari mana kau mengetahui terlambat atau tidak? Sesudah membedah dadanya mestinya aku sudah
siap mengobati dia, tapi kalian berlima setan alas ini keburu datang lantas ribut tak keruan, padahal aku
menyuruh kalian pergi pesiar seharian penuh, mengapa kalian sedemikian cepat kembali. Lalu cara bagaimana
aku sempat mengobati dia?"
"Lekas mulai saja, kau sendiri yang rewel, mengapa bilang kami yang ribut?" sahut Tho-kan-sian.
Peng It-ci mendelik pula padanya. Sekonyong-konyong ia membentak, "Ambilkan jarum dan benang!"
Tho-kok-ngo-koay dan Gak Put-kun suami-istri sampai terkejut oleh suara bentakannya yang menggeletar itu.
Maka tertampaklah seorang wanita tinggi kurus melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah
nampan, tanpa bersuara nampan itu ditaruhnya di atas meja.
Usia wanita itu antara 40-an tahun, wajahnya pucat bagai mayat, matanya sayu, seperti orang sakit-sakitan.
"Kalian minta aku menyelamatkan kawanmu ini, apakah kalian sudah tahu peraturanku?" tiba-tiba Peng It-ci
tanya Ngo-koay.
"Sudah tentu tahu," sahut Ngo-koay. "Tak peduli membunuh siapa, silakan mengatakan saja, kami berenam
saudara pasti akan menurut."
"Baiklah jika begitu," ujar Peng It-ci. "Tapi sekarang aku belum tahu siapa orang yang harus dibunuh. Nanti
kalau aku sudah ingat baru akan kukatakan. Sekarang kalian harus berdiri di pinggir sana, dilarang
mengeluarkan suara, asal bersuara sedikit saja segera aku akan berhenti kerja, dan mati atau hidup kawanmu
ini aku tidak peduli lagi."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Selama hidup Tho-kok-lak-sian tak pernah diperintah orang sesukanya, sekarang mereka diharuskan berdiri
diam, dilarang mengeluarkan suara, padahal ribut mulut adalah kegemaran mereka. Keruan larangan itu lebih
menderita daripada mereka dipukul.
Tapi demi untuk menyelamatkan saudara mereka, tiada jalan lain terpaksa mereka berdiri dengan mulut
tertutup dan mata mendelik penuh mendongkol.
Sementara itu Peng It-ci telah ambil sebuah jarum besar dari nampan di atas meja, dipasang seutas benang
putih bening lalu mulai menjahit dada Tho-sit-sian yang terbedah itu.
Jangan dikira kesepuluh jarinya itu pendek dan kasar sehingga mirip sepuluh batang wortel, gerak-geriknya
ternyata sangat lincah melebihi anak gadis yang pandai menyulam.
Hanya sekejap saja sudah selesai menjahit rapat jalur luka sepanjang belasan senti itu.
Agaknya sudah lama Tho-sit-sian tak sadarkan diri, sama sekali ia tidak bersuara. Maka dengan leluasa Peng
It-ci membubuhkan macam-macam obat di atas lukanya. Lalu ia mencekoki Tho-sit-sian dengan beberapa
macam air obat pula, akhirnya noda darah di badannya dibersihkan dengan sepotong kain basah.
Si wanita tinggi kurus setengah umur itu sejak tadi membantunya dari samping mengembalikan jarum,
memberikan obat gerak-geriknya juga sangat cepat dan lancar.
Kemudian Peng It-ci memandang Tho-kok-ngo-koay, tertampak bibir kelima orang itu bergerak-gerak, terang
mereka ingin lekas-lekas diperbolehkan bicara.
"Kawanmu ini belum lagi hidup kembali, tunggu sesudah dia sadar baru kalian boleh bicara," kata Peng It-ci.
Keruan Tho-kok-ngo-koay sangat mendongkol dan serbarunyam.
Peng It-ci tidak menggubrisnya lagi, ia duduk sendiri di samping. Ngo-koay hanya saling pandang saja dengan
menyengir.
Wanita tinggi kurus itu lantas menyingkirkan nampan yang berisi jarum dan peralatan lain.
Gak Put-kun bersama istrinya yang mengintip di luar jendela pun menahan napas. Dalam keadaan sunyi
senyap itu, asal sedikit bergerak saja pasti akan diketahui oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.
Dalam keadaan sunyi senyap tiba-tiba dari kamar sebelah ada orang bertanya dengan suara serak, "Sute,
hidup tidak orang yang kau obati?"
"Sudah tentu hidup, masakah pasienku bisa mati?" sahut Peng It-ci.
Lalu terdengar suara pintu didorong, seorang kakek gemuk melangkah masuk. Orang ini lebih tinggi sedikit
daripada Peng It-ci, rambutnya beruban semua, mukanya sudah keriput.
Sesudah mendekati Tho-sit-sian yang terbaring itu, mendadak kakek itu tabok "Pek-hwe-hiat" di atas ubunubun
Tho-sit-sian.
Serentak enam orang menjerit bersama, yang lima orang adalah Tho-kok-ngo-sian, yang satu lagi adalah Thosit-
sian yang tadinya tak bisa berkutik itu, tapi sekarang ia dapat bersuara terus bangkit duduk sambil memaki,
"Keparat, mengapa kau pukul kepalaku?"
Si kakek beruban balas memaki, "Keparat, jika Locu tidak menyalurkan hawa murni ke Pek-hwe-hiatmu, apa
kau bisa sembuh begini cepat?"
"Persetan, Locu akan sembuh dengan cepat atau lambat, peduli apa denganmu?" sahut Tho-sit-sian.
"Keparat, Locu ada urusan penting yang harus berunding dengan Suteku, jika kau terus menggeletak tak bisa
sembuh bukankah Locu harus menunggu lama?" semprot si kakek pula.
"Baik, biar Locu pergi sekarang juga, memangnya Locu ingin tinggal di sini?" sahut Tho-sit-sian. Habis berkata,
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
serentak ia berdiri terus melangkah pergi.
Melihat saudaranya sekali bilang pergi segera juga pergi, sembuhnya sedemikian cepat, keruan Tho-kok-ngosian
terkesiap dan bergirang pula. Mereka ikut di belakang Tho-sit-sian dan pergi tanpa pamit.
Terkejut Gak Put-kun dan istrinya, bahwa ilmu pertabiban Peng It-ci benar-benar sangat menakjubkan,
Lwekang Suhengnya itu juga luar biasa, hanya sekali tabok saja telah menyalurkan tangan murni melalui Pekhwe-
hiat di ubun-ubun kepala Tho-sit-sian dan membuatnya sadar seketika.
Dalam pada itu Tho-kok-lak-sian sudah pergi jauh, sedangkan si kakek beruban telah duduk berhadapan
dengan Peng It-ci di dalam kamar, maka Gak Put-kun dan istrinya tidak berani sembarangan bergerak lagi,
mereka tahu betapa lihainya kedua orang di dalam rumah itu, jika sekarang mereka bergerak pergi tentu akan
ketahuan, terpaksa mereka harus menunggu kesempatan lain lagi.
Terdengar si kakek beruban sedang tanya Peng It-ci, "Kau hendak menyuruh Tho-kok-lak-sian membunuh
siapa?"
"Sekarang aku belum ingat siapa yang harus dibunuh," sahut Peng-It-ci. "Eh, Suko, menurut pendapatmu
sebaiknya suruh mereka membunuh siapa?"
"Dari mana aku bisa tahu apa kehendak yang terkandung di dalam hatimu?" sahut si kakek. Setelah merandek
sejenak, lalu ia meneruskan, "Kukira akan kau peralat mereka untuk membantumu pergi ke Jian-jiu-kiong
untuk mengambil pusaka, bukan?"
"Hm, mengambil pusaka ke Jian-jiu-kiong?" jengek Peng It-ci. "Sekali kau Pek-hoat-tongcu sudah menyatakan
akan pergi ke sana, di dunia ini siapa lagi yang berani berebut denganmu?"
Mendengar sampai sini, Gak Put-kun mengangguk-angguk terhadap sang istri, katanya di dalam hati, "Kiranya
kakek ini adalah Pek-hoat-tongcu (si bocah berambut ubanan) Yim Bu-kiang. Konon orang ini berhati kejam,
membunuh mata pun tidak berkedip, namun sudah 20-an tahun lamanya jarang terdengar namanya, tak
tersangka bahwa dia adalah Suheng si tabib sakti pembunuh Peng It-ci."
Sebaliknya Gak-hujin tidak tahu asal usul Pek-hoat-tongcu segala, cuma dari anggukan sang suami serta
matanya yang penuh rasa waswas itu segera ia pun paham asal usul si kakek beruban itu pasti tidak
sembarangan.
Dalam pada itu si kakek beruban, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang, tampak sedang berjingkrak tertawa kekanakkanakan
dan berkata, "Sute, dahulu waktu Jian-jiu-kiong dibuka, tatkala itu aku baru saja mulai meyakinkan
Liong-siang-ciang (pukulan naga dan gajah), aku menyadari belum mampu memasuki istana itu. Kini sesudah
dengan susah payah menunggu 30 tahun dengan sendirinya aku akan mencoba-cobanya. Padahal jika kau
pergi bersama aku juga boleh, kita berdua bergabung tentu jauh lebih kuat daripada aku pergi sendiri."
"Sudah, sudah, lebih baik aku tidak pergi ke Jian-jiu-kiong dan kita masih tetap berhubungan dengan baik,"
sahut Peng It-ci. "Tapi sekali timbul maksudku akan pergi ke sana, mungkin sebelum meninggalkan Cu-sian-tin
ini jiwaku sudah melayang di bawah Liong-siang-ciangmu. Di dunia ini terang tiada tabib sakti pembunuh yang
mampu menyembuhkan aku?"
"Hah, orang yang terkena pukulan Liong-siang-ciangku, sekalipun kau si tabib sakti sendiri yang mengobati
juga belum tentu mampu menolongnya," ujar Yim Bu-kiang dengan tertawa.
"Benar," sahut Peng It-ci, "membunuh orang lebih gampang daripada menolong orang, ini memang kenyataan
yang tak terbantahkan."
"Ya, tapi itu pun harus dilihat siapa yang akan dibunuh dan siapa yang hendak ditolong," kata Yim Bu-kiang.
"Umpama orang ingin membunuh aku Pek-hoat-tongcu, terang tidak gampang."
"Tepat, sangat tepat," seru Peng It-ci. "Selama ini entah berapa banyak orang Kangouw yang ingin mencacah
dirimu, tapi Yim-suhengku ini toh bisa hidup langgeng sampai rambut pun sudah ubanan semua. Tampaknya
engkau masih dapat hidup aman sentosa untuk 60-70 tahun lagi."
"Hahahaha!" Yim Bu-kiang bergelak tertawa. "Usiaku sekarang sudah 74, jika hidup 60-70 tahun lagi bukankah
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
akan berubah menjadi siluman?"
"Suko," tiba-tiba Peng It-ci berkata, "sekarang juga aku akan pergi mengobati seorang, apakah engkau ada
minat untuk ikut pergi berjalan-jalan."
"Memangnya aku sudah merasa sebal meringkuk di gubukmu ini, ikut pergi berjalan-jalan akan lebih baik,"
sahut Yim Bu-kiang dengan tertawa.
Begitulah kedua orang itu sambil bicara terus berjalan menuju ke sebuah rumah yang lain.
Gak Put-kun cepat memberi tanda kepada sang istri, dengan hati-hati mereka lantas meninggalkan rumah itu,
sesudah beberapa puluh meter jauhnya barulah mereka berani berjalan dengan cepat.
"Lwekang kakek beruban itu agaknya jauh lebih tinggi daripada tabib sakti pembunuh itu," ujar Gak-hujin di
tengah jalan. "Suko, sebenarnya dari golongan manakah kedua orang itu?"
"Konon menurut cerita orang bahwa guru Peng It-ci itu adalah seorang Tosu tua yang menyepi di pegunungan
Hok-gua-san, soal asal usul dan dari golongan mana tidak ada orang Bu-lim yang tahu," sahut Put-kun.
"Tapi dari tingkah laku mereka berdua tampaknya lebih jahat daripada baiknya," ujar Gak-hujin.
"Karena Tho-kok-lak-sian juga berada di sini, sebaiknya kita lekas meninggalkan tempat ini," ajak Gak Put-kun.
Gak-hujin tidak menanggapi lagi ucapan sang suami, ia merasa nasib mereka benar-benar sedang apes, suami
adalah tokoh utama Ngo-gak-kiam-pay yang terhormat, tapi selama beberapa bulan terakhir ini terpaksa harus
menyingkir kian kemari seakan-akan di dunia ini tiada tempat meneduh lagi bagi mereka.
Tidak lama kemudian mereka berada kembali di kelenteng, tertampak Leng-sian, Peng-ci, Lo Tek-nau dan
murid-murid lain sedang menunggu dengan tidak sabar dan cemas.
"Marilah kita kembali ke perahu," ajak Gak Put-kun.
Para muridnya sudah mendapat tahu bahwa Tho-kok-ngo-sian berada di sekitar situ, maka tanpa bertanya
mereka buru-buru ikut berangkat.
Lo Tek-nau cukup paham perasaan sang guru, setiba di perahu segera ia bicara kepada juragan perahu agar
segera berangkat. Sudah tentu si tukang perahu sangat heran tanyanya, "Mengapa kita tidak bermalam dulu di
sini? Arus sungai sangat deras berlayar di malam hari sangat berbahaya, akan lebih baik kita berangkat besok
pagi-pagi saja."
Segera Tek-nau mengeluarkan lima tahil perak dan diberikan kepada tukang perahu itu, katanya, "Berangkat
saja sekarang ini untukmu!"
Karena mendapat persen cukup banyak, pula melihat rombongan Lo Tek-nau sama membawa senjata, mau tak
mau si tukang perahu menurut juga walaupun dengan ogah-ogahan.
Tapi baru saja tukang perahu itu hendak angkat sauh, pada saat itulah terdengar suara teriakan Tho-kok-ngosian,
"Lenghou Tiong! Di mana kau berada, Lenghou Tiong?!"
Seketika air muka Gak Put-kun dan murid-muridnya berubah hebat. Dalam pada itu terlihat ada tujuh orang
telah memburu sampai di tepi dermaga. Selain Tho-kok-ngo-sian, yang dua orang lagi ternyata adalah Peng Itci
dan Yim Bu-kiang.
Tho-kok-ngo-sian sudah kenal Gak Put-kun suami istri, begitu melihat dari jauh mereka lantas berjingkrak
kegirangan. Sesudah dekat, serentak mereka berlima meloncat ke atas perahu.
Tanpa ayal Gak-hujin lantas melolos pedang dan menusuk ke dada Tho-kin-sian. Sebelum serangan sang istri
dilancarkan, berbareng Gak Put-kun juga sudah mencabut pedang. "Trang", tahu-tahu ia tahan batang pedang
sang istri ke bawah, menyusul tangan lain meraup ke depan, ia rampas pedang istrinya itu sambil
membisikinya, "Jangan sembrono!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Nyata Gak Put-kun telah memperhitungkan datangnya Tho-kok-ngo-sian sekaligus itu, andaikan satu-dua
orang di antaranya dapat dirobohkan toh pihak sendiri tetap bukan tandingan sisa musuh yang lain.
Dalam pada itu terasa haluan perahu rada tenggelam ke bawah, Tho-kok-ngo-sian sudah berdiri di situ. Thokin-
sian lantas berseru, "Lenghou Tiong, kau sembunyi di mana? Mengapa tidak lekas keluar?"
Lenghou Tiong menjadi gusar, katanya, "Memangnya aku takut kepada kalian? Buat apa aku sembunyi?"
Pada saat itulah sekonyong-konyong perahu mereka oleng ke kiri, keruan para murid wanita Hoa-san-pay sama
menjerit kaget. Syukur perahu itu lantas miring pula ke sebelah lain lalu bergoyang-goyang ke kanan dan ke
kiri. Tahu-tahu di haluan perahu sudah bertambah dua orang, yang seorang adalah si tabib sakti Peng It-ci dan
yang lain adalah Suhengnya, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang.
Kedua orang ini punya potongan tubuh yang serupa, sudah pendek lagi gemuk, bobot setiap orang sedikitnya
200 kati. Padahal perahu itu cukup besar, daya angkutnya paling sedikit beberapa puluh ribu kati, kalau cuma
ditambah dengan muatan empat lima ratus kati saja seharusnya tidak sampai bergoyang. Sebabnya perahu
tadi oleh tentulah karena kedua orang itu serentak menggunakan tenaga "Jian-kin-tui" (tekanan ribuan kati)
yang lihai.
Diam-diam Gak Put-kun terkejut, pikirnya, "Mengapa mereka berdua menyusul kemari? Jangan-jangan mereka
telah mengetahui perbuatan kami yang mengintip tadi? Tho-kok-ngo-koay saja sudah sukar dilayani, sekarang
bertambah lagi dua tokoh lihai ini, agaknya jiwa kami hari ini akan melayang di sini."
Tiba-tiba terdengar Peng It-ci berseru, "Yang manakah Lenghou-hengte?"
Nadanya kedengaran sangat sungkan dan hormat.
Perlahan Lenghou Tiong berjalan ke haluan perahu, katanya, "Aku inilah Lenghou Tiong, entah siapakah nama
kalian yang mulia dan ada keperluan apa?"
Lebih dulu Peng It-ci mengamati-amatinya sejenak, lalu katanya, "Ada orang minta aku mengobati dirimu."
Habis berkata, sekali tangannya bergerak tahu-tahu pergelangan tangan Lenghou Tiong sudah kena dipegang,
jari telunjuknya terus menekan di atas nadinya.
"Heh," mendadak ia bersuara heran sambil berkerut kening. Selang sejenak dahinya terkerut semakin terkejut
dan kembali bersuara, "Eh!"
Sambil memeriksa nadi, Peng It-ci menengadah pula sembari garuk-garuk kepala dengan tangan yang lain, ia
bergumam heran, "Aneh, sungguh aneh!"
Selang sekian lama baru ia ganti memegang nadi tangan Lenghou Tiong yang lain. Mendadak ia bersin lalu
berkata, "Sangat aneh! Selama hidupku belum pernah menemukan penyakit seaneh ini."
"Apanya yang perlu diherankan?" demikian mendadak Tho-kin-sian menukas. "Dia terluka dalam, sudah lama
aku menyembuhkan dia dengan hawa murni dari Lwekangku."
"Bukan kau yang menyembuhkan dia, tapi akulah yang menyalurkan tenaga padamu, kalau tidak, bocah ini
masakah dapat hidup sampai sekarang?" sela Tho-hoa-sian.
Tho-ki-sian, Tho-yap-sian dan Tho-hoa-sian juga tidak mau kalah, beramai-ramai mereka pun menyatakan
dirinya yang menyembuhkan Lenghou Tiong.
"Kentut! Kentut!" sekonyong-konyong Peng It-ci membentak.
"Kentut apa?" sahut Tho-kin-sian dengan gusar. "Kau yang kentut atau kami berlima yang kentut?"
"Kalian berenam yang kentut!" sahut Peng It-ci. "Jelas di dalam tubuh Lenghou-hengte ini ada dua arus hawa
murni yang sangat kuat, rasanya adalah tenaga yang disalurkan oleh Put-kay Hwesio, selain itu ada enam arus
tenaga pula yang lebih lemah, besar kemungkinan inilah berasal dari kalian berenam manusia tolol ini."
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Gak Put-kun saling pandang sekejap dengan istrinya, katanya di dalam hati, "Peng It-ci ini benar-benar luar
biasa. Bukan saja sekali pegang nadi dia dapat mengetahui adanya delapan arus tenaga murni yang berbeda di
dalam tubuh Tiong-ji itu, anehnya dia dapat mengetahui asal usulnya bahwa dua arus tenaga murni di
antaranya adalah berasal dari Put-kay Hwesio."
Dalam pada itu terdengar Tho-kan-sian lagi berseru dengan gusar, "Mengapa kau bilang tenaga kami berenam
lebih lemah daripada si kepala gundul Put-kay? Sudah terang tenaga kami lebih kuat, dia punya lebih lemah!"
"Huh, tidak tahu malu," ujar It-ci. "Dengan tenaganya seorang dapat menahan tenaga kalian berenam, apakah
ini namanya kalian lebih kuat?"
Sampai mati pun Tho-hoa-sian juga tidak mau mengaku kalah, segera ia pun menjulur sebuah jarinya purapura
hendak memeriksa nadi Lenghou Tiong, katanya, "Menurut pemeriksaanku tempo hari, terang tenaga
kami berenam yang mendesak hawa murni si gundul Put-kay sehingga tak bisa bergerak ...."
Mendadak ia menjerit, jarinya kesakitan seperti digigit orang, cepat ia tarik kembali tangannya sambil
berteriak, "Aduh! Keparat!"
Peng It-ci bergelak tertawa senang.
Semua orang tahu tentu tabib sakti itu menggunakan Lwekangnya yang lihai dan melalui tubuh Lenghou Tiong
telah "menyetrum" jari Tho-hoa-sian.
Sesudah tertawa, tiba-tiba Peng It-ci menarik muka dan berkata, "Kalian harus menunggu di ruangan perahu
sana, siapa pun dilarang bersuara."
"Persetan kau!" semprot Tho-yap-sian. "Kenapa kami harus tunduk pada perintahmu."
"Aku tidak menyuruh kalian tunduk kepada perintahku," sahut Peng It-ci. "Tapi kalian sudah pernah bersumpah
akan membunuh seorang bagiku bukan?"
"Ya, aku menyanggupi akan membutuhkan seorang bagimu, tapi toh tidak berjanji akan menurut perintahmu,"
sahut Tho-ki-sian.
"Menurut perintahku atau tidak memang adalah hak kalian dan terserah kepada kalian untuk menentukannya,"
kata si tabib sakti. "Tapi bagaimana pendapat kalian seumpamanya kusuruh kalian harus membunuh Tho-sitsian,
orang keenam dari Tho-kok-lak-sian kalian?"
"He, mana bisa jadi! Baru saja kau menyembuhkan dia, mana boleh kau suruh kami membunuhnya?" teriak
Tho-kok-ngo-sian berbareng
"Coba jawab, kalian telah bersumpah apa di hadapanku?" tanya Peng It-ci.
"Kami bersumpah apabila engkau dapat menolong jiwa saudara kami Tho-sit-sian, maka permintaanmu agar
kami membunuh satu orang bagimu, tak peduli siapa pun yang harus dibunuh pasti akan kami laksanakan dan
takkan menolak," sahut Tho-kin-sian.
"Betul. Dan sekarang aku sudah menyelamatkan saudara kalian atau tidak?"
"Sudah!"
"Dia orang atau bukan?"
"Sudah tentu orang, memangnya kau kira dia setan?"
"Bagus, dan sekarang aku minta kalian pergi membunuh satu orang. Orang itu bukan lain adalah Tho-sit-sian!"
Keruan Tho-kok-ngo-sian saling pandang dengan melenggong karena permintaan yang sukar dibayangkan itu.
"Tampaknya kalian enggan membunuh Tho-sit-sian bukan? Baiklah, bila perlu boleh juga dirunding lagi. Pendek
kata kalian mau menurut pada perkataanku atau tidak? Aku suruh kalian duduk baik-baik di ruangan perahu
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
sana, siapa pun tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak," kata Peng It-ci pula.
Terpaksa Tho-kin-sian berlima mengiakan. Hanya sekejap saja mereka berlima sudah duduk anteng dengan
tangan bersimpuh di atas lutut dan tidak berani cerewet lagi.
"Peng-locianpwe," demikian Lenghou Tiong lantas berkata, "konon engkau menolong seseorang selalu dengan
satu syarat, yaitu bila orang itu sudah disembuhkan, maka orang itu diharuskan membunuh satu orang
bagimu."
"Betul, memang itulah peraturan yang kutetapkan," sahut Peng It-ci.
"Jika demikian Wanpwe tidak sudi membunuh orang bagimu, maka engkau pun tidak perlu menyembuhkan
penyakitku," kata Lenghou Tiong.
"Hahahaha!" hanya ini saja reaksi Peng It-ci demi mendengar ucapan Lenghou Tiong itu.
"Hmk!" Yim Bu-kiang juga cuma mendengus.
Kembali Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala seakan-akan
sedang memeriksa sesuatu barang antik yang aneh dan menarik. Selang sejenak barulah ia membuka suara
pula, "Pertama, penyakitmu terlalu berat, aku tidak mampu menyembuhkannya. Kedua, andaikan dapat
kusembuhkan juga sudah ada orang lain yang menyanggupi akan membunuh orang bagiku, kau sendiri tidak
perlu turun tangan."
Walaupun Lenghou Tiong sudah putus asa dan merasa bosan hidup karena patah hati berhubung cinta Gak
Leng-sian telah beralih kepada pemuda lain, tapi kini demi mendengar tabib sakti yang termasyhur ini pun
menyatakan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, mau tak mau timbul juga rasa dukanya.
"Sute," tiba-tiba Yim Bu-kiang membuka suara, "siapakah gerangan yang minta kau mengobati pemuda ini?
Orang macam apakah yang dapat mengundang 'Sat-jin-beng-ih' keluar dari tempat tinggalnya untuk
mengobati orang sakit?"
Peng It-ci menggeleng, sahutnya, "Aku tidak mampu mengobati penyakitnya, aku merasa malu, buat apa
membicarakan dia?"
"Biasanya orang yang sudah sekarat, sudah 99 persen juga dapat kau sembuhkan kembali, sekarang pemuda
ini tampaknya sehat-sehat saja, kenapa kau malah tidak mampu mengobati dia?" ujar Yim Bu-kiang.
"Di dalam tubuhnya ada delapan arus hawa murni yang aneh, tak dapat dipunahkan dan sukar diatasi, itulah
kesukarannya," kata Peng It-ci.
"Masakah begitu lihai?" ucap Yim Bu-kiang. Kedua tangannya segera pegang nadi tangan Lenghou Tiong, tapi
hanya sejenak saja ia lantas lepas tangan sambil mendengus, "Hmk!"
"Lenghou-hengte," kata Peng It-ci kemudian, "aku telah diminta orang untuk mengobati penyakitmu, ini
menyangkut hawa murni dan Lwekang yang sukar diobati begitu saja seperti penyakit biasa. Selama
melakukan pertabiban belum pernah kutemukan penyakit seaneh ini, aku benar-benar tidak dapat berbuat apaapa,
sungguh aku sangat malu."
Sembari bicara ia pun mengeluarkan sebuah botol porselen, ia menuang keluar sepuluh biji pil berwarna merah
tua, katanya pula, "Sepuluh butir 'Tin-sim-li-gi-wan' ini terbuat dari bahan obat-obatan yang sangat berharga.
Setiap sepuluh hari boleh kau minum satu biji dan dapat memperpanjang jiwamu selama seratus hari."
Lenghou Tiong menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih.
Peng It-ci lantas putar tubuh, tapi sebelum melompat ke daratan, tiba-tiba ia berpaling dan berkata pula, "Di
dalam botol ini masih ada dua butir, biarlah kuberikan sekalian padamu."
Namun Lenghou Tiong tidak mau menerima, jawabnya, "Sedemikian bagus obat ini, tentu Cianpwe masih perlu
menggunakannya untuk menolong orang lain, maka lebih baik kau simpan kembali saja. Sekalipun Wanpwe
dapat hidup lebih lama sepuluh hari atau dua puluh hari juga tiada faedahnya baik untuk diriku sendiri maupun
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
untuk orang lain."
Untuk sejenak Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong pula, katanya kemudian, "Tidak memikirkan mati
atau hidup, ini benar-benar jiwa seorang laki-laki sejati."
Lalu ia mengangguk kepada Yim Bu-kiang, kedua orang lantas melompat ke daratan, hanya sekejap saja
bayangan mereka sudah lenyap.
Mereka datang dan pergi sesukanya, sama sekali tidak pandang sebelah mata terhadap seorang tokoh seperti
Gak Put-kun, keruan Put-kun sangat mendongkol. Cuma di dalam perahu sekarang masih duduk lima orang
aneh, cara bagaimana mengenyahkan mereka masih merupakan persoalan.
Tertampak Tho-kok-ngo-sian sedang duduk anteng bagai kaum padri bersemadi tanpa bergerak sedikit pun,
jika tukang perahu disuruh menjalankan kendaraan air itu tentunya kelima malaikat maut itu pun terpaksa
dibawa serta. Jika perahu tidak diberangkatkan, lalu sampai kapan kelima orang itu mau pergi, jangan-jangan
mereka akan menyerang mendadak untuk membalas dendam dilukainya Tho-sit-sian oleh Gak-hujin.
Begitulah diam-diam Gak Put-kun serbasusah, begitu pula Lo Tek-nau, Gak Leng-sian dan murid-murid Hoasan-
pay yang lain, semuanya merasa khawatir dengan beradanya Tho-kok-ngo-sian di atas perahu mereka.
Sementara itu Lenghou Tiong telah masuk ke dalam ruangan perahu, katanya kepada Tho-kok-ngo-sian, "He,
buat apa kalian tinggal di sini?"
"Kami harus duduk anteng di sini, tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak," sahut Tho-kin-sian.
"Kami sudah akan berangkat, silakan kalian naik ke daratan saja," kata Lenghou Tiong.
"Menurut pesan tabib Peng It-ci, kami disuruh duduk baik-baik di dalam perahu ini, kalau kami sembarangan
omong dan bergerak tentu kami akan disuruh membunuh saudara kami sendiri. Sebab itulah kami harus duduk
saja di sini dan tak berani bergerak dan sembarangan bicara," demikian sahut Tho-kan-sian.
Tak tertahan rasa gelinya, Lenghou Tiong tertawa, katanya, "Sudah sejak tadi Peng-tayhu (tabib Peng) telah
mendarat, kalian sudah boleh sembarangan omong dan bergerak."
"Tidak boleh, jika tingkah laku kami sampai dilihatnya tentu urusan bisa runyam," ujar Tho-hoa-sian sambil
menggeleng.
Pada saat itulah tiba-tiba di daratan sana ada suara seorang yang agak serak sedang berseru, "He, di mana
beradanya kelima makhluk yang tidak mirip manusia dan tidak mirip setan itu?"
"Siapa yang dia maksudkan, apa kita?" demikian kata Tho-kin-sian.
"Kukira bukan, memangnya kita tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?" ujar Tho-kan-sian.
Dalam pada itu orang tadi sedang berseru lagi, "Di sini pun kubawa suatu makhluk yang tidak mirip manusia
dan tidak mirip setan, dia baru saja disembuhkan oleh Peng-tayhu. Kalian mau ambil kembali dia atau tidak?
Kalau tidak, biar kubuang dia ke dalam sungai untuk umpan ikan."
Mendengar itu, serentak Tho-kok-ngo-sian melompat keluar perahu dan berdiri di tepi dermaga. Terlihat wanita
setengah umur yang tinggi kurus pembantu Peng It-ci yang menjahit dada Tho-sit-sian ketika dibedah itu
sedang berdiri di sana, tangan kiri wanita itu menjulur lurus ke samping menjinjing sebuah usungan, di atas
usungan itu Tho-sit-sian tampak rebah telentang.
Sungguh tidak nyana wanita yang tampaknya kurus kering itu ternyata bertenaga sedemikian besar, ia jinjing
tubuh Tho-sit-sian yang beratnya ratusan kati ditambah dengan usungan kayu itu, tampaknya sedikit pun tidak
makan tenaga.
Begitulah cepat-cepat Tho-kin-sian menanggapi ucapan wanita tadi, "Sudah tentu kami mau, mengapa tidak?"
"Kenapa kau memaki orang? Mengapa kau bilang kami tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?" semprot
Tho-kan-sian.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Padahal rupanya juga tidak lebih cakap daripada kita," demikian mendadak Tho-sit-sian yang menggeletak di
atas usungan itu menimbrung.
Kiranya sesudah luka Tho-sit-sian dijahit rapat kembali oleh Peng It-ci dan diberi obat mujarab, kemudian
ubun-ubunnya ditabok sekali oleh Yim Bu-kiang, saluran hawa murni itu seketika membuatnya dapat bergerak
kembali.
Cuma dia sudah terlalu banyak kehilangan darah, tidak jauh ia berjalan lantas jatuh pingsan lagi, si wanita
setengah umur itu lantas membawanya kembali ke sana. Dalam keadaan payah toh sifat Tho-sit-sian yang
tidak mau kalah bicara itu tetap dipertahankan, segera ia balas mengolok-olok wanita itu.
Maka wanita itu berkata pula dengan dingin, "Apakah kalian tahu, selama hidup Peng-tayhu itu, apa yang
paling ditakutinya?"
"Tidak tahu," sahut Tho-kok-lak-sian berbareng. "Dia takut apa?"
"Dia paling takut bini!" ucap si wanita.
Bab 50. Minum Arak Juga Ada Seninya
"Hahahaha!" Tho-kok-lak-sian bergelak tertawa. "Orang yang tidak takut langit dan tidak gentar pada bumi
seperti dia ternyata takut bini. Haha, sungguh menggelikan!"
"Apa yang menggelikan? Aku inilah bininya!" jengek si wanita.
Seketika Tho-kok-lak-sian bungkam, tidak berani bersuara lagi.
Maka si wanita berkata pula, "Segala perintahku tentu akan dia turut. Jika aku ingin membunuh siapa tentu dia
akan menyuruh kalian membunuhnya."
"Ya, ya, entah Peng-hujin ingin membunuh siapa?" sahut Tho-kok-lak-sian.
Wanita itu tidak menjawab, tapi sorot matanya yang tajam terus menatap ke arah Gak Put-kun, lalu Gak-hujin,
Gak Leng-sian dan lain-lain. Semua orang sama mengirik karena sinar matanya yang tajam itu.
Mereka tahu, asalkan wanita bermuka buruk ini menuding salah seorang di antara mereka, seketika juga Thokok-
ngo-sian pasti akan melompat maju dan menyobeknya, sekalipun tokoh terkemuka seperti Gak Put-kun
juga sukar terhindar dari malapetaka.
Sorot mata wanita itu perlahan dialihkan kembali ke arah Tho-kok-lak-sian. Hati keenam orang aneh itu
berdebar-debar.
"Hmk!" wanita itu mendengus.
"Ya, ya," cepat Tho-kok-lak-sian menjawab bersama.
"Sekarang aku belum tahu akan membunuh siapa," kata wanita itu. "Tapi Peng-tayhu sudah mengatakan
bahwa di dalam perahu ini ada seorang tuan Lenghou ... Lenghou Tiong yang sangat dihormati olehnya, karena
itu kalian harus melayani dia sebaik-baiknya sampai Lenghou-siansing itu meninggal dunia. Apa yang dikatakan
Lenghou-siansing harus kalian kerjakan, segala perintahnya harus kalian turut dan tidak boleh membantah."
"Melayani dia sampai dia meninggal dunia?" Tho-kok-lak-sian menegas dengan ragu.
"Ya, melayani dia sampai dia meninggal dunia," sahut Peng-hujin. "Cuma jiwanya hanya tinggal 100 hari saja,
dalam 100 hari ini kalian harus menurut segala perintahnya."
Mendengar tugas mereka hanya terbatas 100 hari saja, seketika Tho-kok-lak-sian menjadi girang seru mereka,
"Hanya melayani dia 100 hari saja masih boleh juga dan tidak sukar."
Tiba-tiba Lenghou Tiong menyela, "Maksud baik Peng-locianpwe sungguh aku merasa sangat berterima kasih.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Namun Wanpwe tidak berani membikin capek dan dilayani Tho-kok-lak-sian, biarlah silakan mereka mendarat
saja, sekarang juga Wanpwe ingin mohon diri."
Wajah Peng-hujin tidak menampilkan sesuatu perasaan senang atau marah, katanya dengan dingin, "Pengtayhu
mengatakan bahwa penyakit Lenghou-hengte itu adalah karena gara-gara keenam orang tolol ini, bukan
saja jiwa Lenghou-hengte akan melayang, bahkan membikin malu Peng-tayhu karena tidak sanggup
menyembuhkannya sehingga tidak dapat pula bertanggung jawab kepada orang yang minta Peng-tayhu
mengobatimu. Untuk ini keenam orang goblok ini harus diberi hukuman yang setimpal. Sebenarnya Peng-tayhu
hendak menyuruh mereka membunuh salah seorang saudara mereka sendiri sesuai dengan sumpah mereka,
tapi sekarang mereka diberi kelonggaran, mereka hanya dihukum sebagai jongos agar melayani Lenghouhiante."
Setelah merandek sejenak, kemudian ia menyambung pula, "Dan kalau keenam orang tolol ini berani
membantah sesuatu perintahmu, bila diketahui Peng-tayhu, segera juga nyawa salah seorang di antara mereka
berenam akan dicabut."
"Karena penyakit Lenghou-hiante ini adalah gara-gara perbuatan kami, memang pantas jika kami merawat dia
sebagaimana mestinya, ini namanya laki-laki yang dapat membalas budi," kata Tho-hoa-sian.
"Ya, seorang laki-laki biasanya rela berkorban bagi kesukaran kawan, apalagi cuma merawat penyakit saja,"
timbrung Tho-ki-sian.
Begitulah, biarpun mau tak mau Tho-kok-lak-sian harus menurut kepada perintah Peng It-ci itu, tapi dasar sifat
mereka yang mau menang sendiri, di mulut mereka tetap tidak mau kalah omong.
Dan di tengah cerewet mereka itulah Peng-hujin hanya mendelik saja dan segera tinggal pergi.
Tho-ki-sian dan Tho-kan-sian lantas mengangkat usungan yang berisi Tho-sit-sian itu dan dibawa melompat ke
atas perahu dan diikuti saudara-saudaranya yang lain-lain.
Tho-kin-sian lantas berteriak, "Angkat sauh, jalankan perahunya!"
Melihat gelagatnya sudah terang sukar menolak ikut sertanya Tho-kok-lak-sian, segera Lenghou Tiong berkata,
"Eh, keenam Tho-heng, boleh juga kalau kalian mau ikut bersama kami. Tapi terhadap guru dan ibu guruku
kalian harus bersikap sopan dan hormat, inilah perintahku yang pertama. Jika kalian tidak mau menurut, maka
sekarang juga aku menolak pelayanan kalian."
"Tho-kok-lak-sian memangnya adalah laki-laki sopan santun yang termasyhur, jangankan guru dan ibu
gurumu, sekalipun murid atau cucumu juga kami akan menghormatinya," demikian sahut Tho-yap-sian.
Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli mendengar dia mengaku sebagai laki-laki yang sopan santun. Segera ia
berkata kepada Gak Put-kun, "Suhu keenam Tho-heng ini ingin menumpang perahu kita, entah bagaimana
pendapat Suhu?"
Gak Put-kun pikir keenam orang itu sekarang toh tidak sampai mencari perkara kepada Hoa-san-pay, apalagi
melihat gelagatnya terang tak bisa mengusir mereka. Untungnya meskipun kepandaian keenam orang itu
sangat tinggi, tapi sifatnya dogol dan angin-anginan, jika dilayani dengan akal rasanya masih dapat diatasi.
Maka sahutnya kemudian sambil mengangguk, "Baiklah, jika mereka mau menumpang kapal juga boleh. Cuma
watakku suka ketenangan, aku tidak suka mendengar mereka ribut mulut dan suka berdebat."
"Ucapan Gak-siansing ini terang salah," kata Tho-kan-sian. "Manusia dilahirkan dengan sebuah mulut, mulut ini
selain berguna untuk makan nasi juga perlu untuk bicara. Kecuali itu manusia pun punya sepasang telinga yang
gunanya untuk mendengarkan pembicaraan orang lain. Jika sifatmu suka ketenangan, kan sia-sia maksud baik
Thian yang menciptakan sebuah mulut dan sepasang telinga bagimu."
Gak Put-kun tahu bila terlibat dalam perdebatan dengan mereka, maka sukarlah untuk berakhir. Maka ia hanya
ganda tersenyum saja dan lantas berseru, "Tukang perahu berangkatlah!"
Di tengah suara perdebatan Tho-kok-lak-sian itu si tukang perahu sudah angkat sauh dan menolak perahunya.
Tanpa terasa Gak Put-kun dan istrinya memandang sekejap kepada Lenghou Tiong lalu memandang pula
kepada Tho-kok-lak-sian, kemudian saling pandang sendiri.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Yang terpikir oleh suami istri itu adalah satu persoalan yang sama, yaitu, "Peng It-ci mengatakan dimintai
orang agar mengobati Tiong-ji, dari ucapannya jelas orang yang minta pertolongannya pasti mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi dan terhormat di Bu-lim sehingga meski dia tidak pandang sebelah mata kepada
seorang ketua Hoa-san-pay, sebaliknya berlaku sungkan terhadap seorang murid Hoa-san-pay malah.
Sesungguhnya siapakah orang yang minta Peng It-ci mengobati Tiong-ji itu?"
Jika hari biasa tentu sejak tadi mereka suami istri sudah memanggil menghadap Lenghou Tiong untuk dimintai
keterangannya. Tapi sekarang tanpa terasa guru dan murid itu sudah timbul macam-macam prasangka, maka
suami-istri itu merasa belum tiba waktunya untuk menanyai Lenghou Tiong.
Karena mendapat angin buritan, pula menuju ke hilir, maka perahu itu berlayar dengan sangat lajunya. Waktu
berlabuh pada malamnya sudah tidak jauh lagi dari kota Lauhong.
Sementara itu si tukang perahu telah menyiapkan daharan bagi mereka. Selagi mereka hendak bersantap,
tiba-tiba ada suara orang berseru lantang di daratan, "Numpang tanya, apakah para kesatria Hoa-san-pay
menumpang di perahu ini?"
Sebelum Gak Put-kun menjawab, di sebelah sana Tho-ki-sian sudah mendahului berteriak, "Ya, para kesatria
gagah Hoa-san-pay dan Tho-kok-lak-sian berada perahu ini. Ada urusan apa?"
"Syukurlah jika demikian," seru orang itu dengan girang. "Kami sudah menunggu sehari semalam di sini. Ayo,
lekas, lekas dibawa kemari!"
Maka tertampak belasan orang laki-laki kekar terbagi dalam dua barisan berjalan keluar dari sebuah kotak
bercat merah.
Seorang laki-laki berbaju biru dan bertangan kosong mendekati perahu, katanya dengan hormat, "Majikan
kami mendapat tahu bahwa kesehatan Lenghou-siauhiap terganggu, beliau ikut sangat prihatin, mestinya
beliau akan datang menjenguk, cuma sayang tidak keburu pulang, maka hamba sekalian disuruh
mengantarkan sedikit oleh-oleh, mohon Lenghou-siauhiap sudi menerimanya."
Rombongan orang-orang itu lantas berjalan ke atas perahu, belasan kotak merah itu ditaruh di geladak perahu.
Lenghou Tiong menjadi heran, ia tanya, "Entah siapakah majikan kalian? Mengapa memberikan hadiah
sebanyak ini, sungguh aku merasa malu dan tidak berani menerimanya."
"Bila Lenghou-siauhiap sudah membuka kotak-kotak ini tentu akan tahu sendiri," sahut laki-laki baju biru tadi.
"Semoga kesehatan Lenghou-siauhiap selekasnya pulih kembali, untuk itu diharap Lenghou-siauhiap suka
menjaga diri baik-baik."
Habis berkata mereka memberi hormat pula lalu mohon diri dan tinggal pergi.
Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, katanya, "Sungguh aneh bib ajaib, entah siapakah gerangan orang yang
mengantarkan oleh-oleh padaku ini."
Dasar watak Tho-kok-ngo-sian itu memang tidak sabar, beramai-ramai mereka berkata. "Coba buka saja
kotak-kotak itu, bukanlah orang tadi mengatakan asalkan kotak-kotak ini dibuka dan segera akan tahu sendiri
siapa pengantarnya."
Tanpa disuruh lagi, beramai ramai Tho-kok-ngo-sian lantas membuka tutup kotak-kotak merah itu, maka
tertampaklah isi kotak-kotak itu ada penganan alias jajanan yang bagus sekali buatannya, ada panggang
ayam, ham dan makanan lain yang cocok untuk minum arak. Bahkan ada pula Jinsom, Yan-oh (sarang
burung), Ho-siu-oh dan lain-lain macam bahan obat yang tak ternilai harganya.
Dua kotak paling akhir ternyata penuh berisi emas perak, agaknya disediakan sebagai bekal sangu perjalanan
Lenghou Tiong. Melulu isi kedua kotak emas perak ini saja rasanya sudah cukup biaya orang-orang Hoa-sanpay
buat beberapa tahun lamanya.
Tho-kok-ngo-sian tidak tahu apa artinya sungkan-sungkan segala, tanpa disuruh lagi segera mereka comot
makanan di dalam kotak itu terus dijejalkan ke mulut sambil berteriak teriak, "Enak, lezat sekali!"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Akan tetapi di dalam belasan kotak makanan itu ternyata tiada sesuatu surat atau kartu nama segala, jadi
siapa sebenarnya pengirim oleh-oleh itu tetap tidak diketahui.
"Suhu," kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun, "urusan ini benar-benar membikin bingung padaku. Pengirim
oleh-oleh ini tampaknya tidak punya maksud jahat, tapi juga tidak seperti sengaja bergurau."
Sambil berkata ia pun mengambilkan makanan untuk disuguhkan kepada guru dan ibu-gurunya serta para Sute
dan Sumoay.
"Apakah kau punya kawan Kangouw yang tinggal di daerah sini?" tanya Put-kun.
Lenghou Tiong berpikir sejenak, sahutnya kemudian sambil menggeleng, "Tidak ada."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, ada delapan penunggang kuda sedang
membalap tiba. Seorang di antaranya berseru, "Apakah Lenghou-siauhiap dari Hoa-san-pay berada di sini?"
"Ya, di sini, di sini!" beramai ramai Tho-kok-lak-sian menjawab. "Barang enak apa lagi yang kalian antar
kemari?"
"Pangcu kami mendapat tahu akan kedatangan Lenghou-siauhiap, beliau mendengar bahwa Lenghou-siauhiap
gemar minum barang beberapa cawan, maka hamba disuruh mencari 16 macam arak enak terpilih dan khusus
diantar kemari, mohon Lenghou-siauhiap sudi memberi penilaian atas ke-16 guci arak ini," demikian seru orang
tadi.
Sesudah dekat, benar juga pada kedelapan ekor kuda itu masing-masing tergantung dua guci arak. Di atas
setiap guci itu ada plakat yang bertuliskan nama arak yang bersangkutan.
Melihat arak sebanyak itu keruan girang Lenghou Tiong melebihi diberi hadiah paling berharga sekalipun, cepat
ia memapak ke haluan perahu katanya sambil memberi salam, "Maafkan atas kebodohanku, entah dari Pang
(perkumpulan) apakah saudara-saudara ini? Siapa pula nama saudara yang terhormat."
Orang itu tertawa dan menjawab, "Pangcu kami telah memberi pesta wanti-wanti agar jangan menyebutkan
nama Pang kami karena hanya akan membikin malu saja."
Ketika ia memberi tanda komando, serentak para penunggang kuda itu mengangkat guci-guci arak itu ke atas
geladak perahu.
Dari dalam ruangan perahu Gak Put-kun coba mengamat-amati, dilihatnya kedelapan laki-laki itu semuanya
sangat cekatan, setiap tangan mengangkat sebuah guci arak dan dapat melompat ke atas perahu dengan gesit
dan enteng, hanya saja dari golongan mana kepandaian mereka itu tidak dapat diketahui, terang mereka
bukan dari suatu perguruan yang sama, hanya sama-sama anggota sesuatu Pang apa.
Sesudah mengusung ke-16 guci arak itu ke atas perahu, kedelapan orang itu memberi hormat kepada Lenghou
Tiong, lalu mencemplak ke atas kuda terus pergi pula dengan cepat.
"Suhu, kejadian ini benar-benar sangat aneh," kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun dengan tertawa. "Entah
siapakah yang sengaja berkelakar dengan Tecu dan mengirim arak sebanyak ini?"
"Jangan-jangan Dian Pek-kong," ujar Gak Put-kun sesudah termenung sejenak. "Atau mungkin juga Put-kay
Hwesio?"
"Ya, kelakuan kedua orang itu memang aneh dan sukar diduga, memang bisa jadi adalah perbuatan mereka,"
sahut Lenghou Tiong. "Hei, Tho-kok-lak-sian, ada arak sebanyak ini, kalian mau minum atau tidak?"
"Hahaha, tentu saja minum, masakah tidak mau?" sahut Tho-kok-lak-sian berbareng.
Tanpa disuruh lagi segera Tho-ki-sian dan Tho-hoa-sian mengangkat dua guci arak di antaranya, sesudah tutup
guci dibuang, isinya lantas dituang dalam mangkuk. Seketika bau harum menyampuk hidung, tanpa sungkansungkan
lagi Lak-sian lantas menenggak sendiri arak enak itu.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Lenghou Tiong juga menuang semangkuk dan diaturkan kepada Gak Put-kun, katanya, "Suhu, silakan
mencicipi, boleh juga baunya ini."
Put-kun mengerut kening. Sebelum menerima arak itu, terdengar Tek-nau berkata, "Suhu, tiada jeleknya kalau
kita berhati-hati. Arak ini entah pemberian siapa, entah di dalam arak terdapat sesuatu yang mencurigakan
atau tidak?"
"Ya, Tiong-ji, akan lebih baik berhati-hati sedikit," kata Put-kun mengangguk.
Begitu mengendus bau arak tadi Lenghou Tiong sudah hampir mengiler, mana dia tahan lebih lama lagi,
dengan tertawa ia berkata, "Umur Tecu memang sudah tidak lama lagi, jika di dalam arak ini ada racun juga
tiada alangannya bagiku."
Habis itu segera ia angkat mangkuk, hanya beberapa kali tenggak saja isi mangkuk itu sudah habis, ia
menjilat-jilat bibir, lalu memuji, "Ehm, arak bagus, arak bagus!"
Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah datangnya suara itu, tertampaklah di bawah pohon Liu sana ada
seorang Susing (pelajar) berbaju kotor dan penuh tambalan, tangan kanan memegang sebuah kipas rusak,
kepala mendongak lagi mengendus bau arak yang teruar dari perahu, terdengar pujiannya pula, "Ya, benarbenar
arak yang sedap!"
"Eh, saudara itu," sapa Lenghou Tiong dengan tertawa, "engkau kan belum mencicipi araknya, dari mana
mengetahui baik atau jeleknya arak ini?"
"Arak ini adalah Hun-ciu yang sudah tersimpan 60 tahun lamanya, begitu mengendus baunya segera kutahu
rasa araknya," sahut Susing miskin ini.
Lenghou Tiong sangat senang, katanya, "Jika saudara tidak menampik, boleh silakan kemari untuk minum
beberapa cawan."
Susing itu menggeleng kepala dan berkata, "Ah, selamanya kita belum kenal, hanya secara kebetulan bertemu
di sini, dengan mengendus bau araknya saja sudah mengganggu, mana aku berani merasai arak saudara yang
enak itu. Jangan, jangan!"
"Di segenap penjuru lautan ini adalah saudara semua," ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. "Dari ucapan
saudara tadi jelas saudara adalah ahli arak angkatan tua, justru kuingin minta petunjuk lebih banyak, boleh
silakan naik ke atas perahu dan jangan sungkan-sungkan lagi."
Perlahan Susing itu menyusuri papan loncatan ke atas perahu, sesudah berhadapan ia memberi hormat,
katanya, "Cayhe she Coh, Coh berarti kakek moyang, nama Jian-jiu yang berarti seribu musim, sebagai kiasan
panjang umur. Mohon tanya juga nama saudara yang mulia?"
"Cayhe she Lenghou dan bernama Tiong," sahut Lenghou Tiong.
"Ehm, she yang bagus, namanya juga baik," ujar Coh Jian-jiu.
Lenghou Tiong tersenyum, katanya di dalam hati, "Aku mengundangmu minum arah, sudah tentu segala apa
kau puji dengan baik."
Segera ia menuangkan semangkuk arak dan diaturkan kepada Coh Jian-jiu sambil berkata, "Silakan minum!"
Usia Coh Jian-jiu itu kira-kira 50-an, kulit mukanya kuning kecokelat-cokelatan, matanya sayu, jenggotnya
jarang-jarang, bajunya kotor, bagian tertentu agaknya sering dipakai untuk mengusap sehingga tampak
mengilap. Kedua tangannya yang terjulur keluar dari lengan berbaju itu tertampak kesepuluh kuku jarinya
hitam kotor.
Coh Jian-jiu lantas menerima suguhan arak Lenghou Tiong itu, katanya, "Lenghou-heng, meski engkau punya
arak bagus, tapi tidak punya wadah yang baik, sungguh harus disayangkan."
"Di tengah perjalanan hanya ada mangkuk kasar dan cawan lama, harap Coh-siansing suka memaklumi," ujar
Lenghou Tiong.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Tapi Coh Jian-jiu telah menggeleng, katanya, "Jangan, sekali-kali tak boleh begitu. Sedemikian gegabah
caramu menilai peralatan arak, nyata sekali dalam hal ini minum arak kau kurang memahami. Minum arak
harus mengutamakan juga wadah araknya, arak apa yang diminum harus memakai cawan arak tertentu. Kalau
minum Hun-ciu harus memakai cawan kemala. Ini terbukti pada syair di zaman kuno yang menyatakan:
Mangkuk kemala dapat menambah indah warnanya arak."
Karena memang tidak paham seluk-beluk uraian orang, Lenghou Tiong hanya mengiakan saja.
Lalu Coh Jian-jiu menyambung pula, "Arak putih dari Kwan-gwa mempunyai rasa yang sangat enak, cuma
sayang kurang berbau harum, maka paling baik kalau dipakai cawan dari tanduk badak kemudian diminum,
dengan demikian rasanya dan baunya akan terasa tiada bandingannya. Hendaklah maklum bahwa cawan
kemala bisa menambah cemerlang warnanya arak, cawan dari tanduk badak dapat menambah bau harumnya
arak, agaknya orang zaman kuno menang tidak membohongi kita."
Selama hidup Lenghou Tiong memangnya paling gemar minum arak, cuma sahabatnya kebanyakan adalah
orang-orang Kangouw, yang bisa membedakan baik jeleknya arak saja sudah jarang diketemukan, dari mana
ada yang paham tentang "seni minum arak" dengan cawan kemala, cawan tanduk badak segala? Sekarang
sesudah mendengar cerita Coh Jian-jiu itu, Lenghou Tiong merasa dirinya seperti orang bodoh yang mendadak
menjadi pintar.
Begitulah Coh Jian-jiu mencerocos terus tentang cawan-cawan lain lagi yang tepat untuk wadah berbagai
macam arak bagus yang dibawa oleh ke-8 orang laki-laki tadi. Katanya untuk arak anggur harus dipakai Yakong-
pwe (cawan gemerlap di waktu malam), kalau Ko-liang-ciu harus pakai cawan tembaga hijau, bila minum
Bi-ciu (arak beras) harus memakai gantang yang besar agar terasakan meresapnya seni minum arak.
Sejak tadi Gak Put-kun juga memerhatikan obrolan Coh Jian-jiu itu, ia merasa ucapan orang terlalu dilebihlebihkan,
tapi rasanya ada benarnya juga dan masuk di akal. Dilihatnya pula di sebelah lain Tho-ki-sian dan
kawan-kawannya sedang sibuk membuka satu guci arak, isi guci itu tercecer memenuhi meja, sama sekali
mereka tidak menghiraukan betapa bernilainya arak bagus itu. Walaupun Gak Put-kun tidak gemar minum, tapi
dari baunya yang harum semerbak memabukkan ia pun tahu bahwa arak itu memang benar arak bagus,
sungguh sangat sayang dihambur-hamburkan secara sembrono oleh Tho-kok-lak-sian.
Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus membual tentang jenis-jenis arak lain, katanya Siau-hin-ciu harus
memakai cawan porselen kuno, minum Le-hoa-ciu harus memakai cawan hijau zamrud, bila minum Giok-lohciu
lebih tepat memakai gelas karena arak Giok-loh-ciu ada buih-buih kecil seperti mutiara, di tengah gelas
yang bening tembus itu dapat kelihatan letak kebagusan Giok-loh-ciu yang lain daripada yang lain.
Begitulah dalam sekejap saja ia telah menguraikan delapan macam arak dengan cawan yang harus dipakai.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berolok-olok, "Huh, membual, jual jamu!"
Ternyata pengolok-olok itu adalah Gak Leng-sian. Cepat Gak Put-kun berkata, "Anak Sian, jangan sembrono,
apa yang diuraikan Coh-siansing tadi memang masuk di akal."
"Masuk di akal apa?" ujar Leng-sian. "Minum arak sekadar membangkitkan semangat memang boleh juga, tapi
kalau siang dan malam selalu menenggak arak melulu, ditambah lagi macam-macam cara yang dinamakan
seni apa segala, apakah itu kelakuan seorang kesatria atau pahlawan sejati?"
"Salah, salah ucapan Siocia ini," kata Coh Jian-jiu. "Dahulu Han-ko-co Lau Pang sehabis mabuk baru memulai
dengan pergerakannya, akhirnya dia mendirikan kerajaan Han dan diakui sebagai pahlawan."
"Jika Coh-siansing sudah tahu arak bagus, katanya pahlawan sejati harus pula minum arak bagus, tapi
mengapa engkau sejak tadi tak mau minum?" ujar Lenghou Tiong dengan tertawa
"Sejak tadi juga aku sudah bilang, kalau minum tanpa memakai wadah yang baik kan hanya menyia-nyiakan
arak bagus saja?" kata Coh Jian-jiu.
"Ah, kau membual tentang cawan zamrud, Ya-kong-pwe dan cawan kemala apa segala, di dunia ini mana ada
cawan arak demikian?" tiba-tiba Tho-kan-sian mengejek. "Ya, seumpama ada paling-paling juga cuma satu-dua
macam saja, siapa orangnya yang mampu memiliki cawan sekomplet itu?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Ahli minum arak yang tahu apa artinya seni tentu mempunyai peralatan secara komplet," sahut Coh Jian-jiu.
"Jika minum cara kerbau menyeruput seperti kalian, dengan sendirinya dapat pakai mangkuk besar dan cawan
kasar seadanya."
"Kau sendiri apakah terhitung ahli minum yang tahu seni?" tanya Tho-yap-sian.
"Tidak banyak dan tidak sedikit, kalau tiga bagian sebagai ahli yang tahu seni kukira masih ada," sahut Coh
Jian-jiu.
"Hahaha, jika begitu, cawan untuk minum kedelapan macam arak bagus ini kau membawanya berapa biji?"
tanya Tho-kok-lak-sian dengan gelak tertawa.
"Bilang banyak tidak banyak, katakan sedikit juga tidak sedikit, tapi setiap macamnya satu sih aku
membawanya," sahut Coh Jian-jiu.
"Hahahaha! Tukang 'ngecap', jual jamu!" Tho-kok-lak-sian tertawa pula.
"Eh, mari kita bertaruh saja," demikian Tho-kok-lak-sian mendadak. "Jika kau benar-benar membawa
kedelapan macam cawan itu, biarlah aku nanti akan makan satu demi satu cawan itu ke dalam perutku.
Sebaliknya kalau kau tidak punya cawan yang kau katakan, lalu bagaimana?"
"Jika begitu aku akan makan cawan dan mangkuk arak yang kasar ini satu per satu ke dalam perutku," sahut
Coh Jian-jiu.
"Bagus, bagus!" seru Tho-kok-lak-sian. "Coba kita lihat cara bagaimana dia ...."
Belum habis teriakan mereka, tiba-tiba Coh Jian-jiu sudah memasukkan tangannya ke dalam baju yang
gondrong itu, waktu tangan ditarik kembali, tahu-tahu sebuah cawan arak sudah dirogoh keluar. Cawan itu
halus gilap, nyata adalah sebuah cawan kemala putih susu yang sangat indah. Keruan Tho-kok-lak-sian
terkejut sehingga tidak menyambung lagi olok-olok mereka.
Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawannya sebuah demi sebuah. Benar juga, ada cawan
zamrud, ada cawan tanduk badak, ada cawan gelas dan lain-lain, semuanya berjumlah delapan cawan, komplet
seperti apa yang dia uraikan tadi.
Meskipun kedelapan cawan mestika itu sudah komplet, tapi Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawancawan
yang lain, ada cawan emas yang gemilapan, ada cawan perak yang berukir indah, ada cawan batu yang
berwarna-warni, ada lagi cawan gading, cawan kulit, cawan bumbung bambu, cawan kayu, cawan gigi harimau
dan lain-lain lagi, besar dan kecil tidak sama.
Keruan semua orang sama terkesima, siapa pun tidak menduga bahwa di dalam baju Susing rudin itu ternyata
tersimpan cawan arak sebanyak itu, mereka heran apakah Susing miskin itu memiliki kantong wasiat?
"Bagaimana?" tanya Coh Jian-jiu kepada Tho-ki-sian.
Sahut Tho-ki-sian dengan air muka sedih, "Aku kalah. Biarlah kumakan kedelapan cawan arak itu."
Habis berkata ia terus comot cawan kemala putih tadi, "krak", ia keremus cawan itu, lalu dikunyah sehingga
berbunyi kertak-kertuk, ia ganyang mentah-mentah cawan kemala itu dan dilalap habis ke dalam perut.
Semua orang sama terkesiap melihat cara Tho-ki-sian yang nekat itu, masakah cawan kemala itu benar-benar
dimakan begitu saja dan diganyang sungguh-sungguh.
Segera Tho-ki-sian menjulur tangan hendak mengambil cawan zamrud pula. Tapi Coh Jian-jiu keburu ayun
tangan kirinya ke bawah untuk memotong nadi orang. Cepat Tho-ki-sian menggeser tangannya, berbareng
tangannya membalik hendak memegang pergelangan tangan Coh Jian-jiu.
Namun Coh Jian-jiu lantas menyelentik dengan jari tengah, yang diarah adalah Lo-kiong-hiat di tengah telapak
tangan. Tho-ki-sian terkejut dan lekas-lekas menarik kembali tangannya, serunya, "He, kenapa kau tidak jadi
memberi makan cawanmu padaku?"
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
"Sudahlah, aku kagum padamu, kedelapan awan ini anggap saja sudah kau lalap ke dalam perutmu," ujar Coh
Jian-jiu. "Kau berani makan cawan secara nekat, tapi aku yang rugi."
Semua orang bergelak tertawa geli.
Semula Gak Leng-sian rada takut kepada Tho-kok-lak-sian, tapi sesudah sekian lama berdampingan, ia merasa
mereka toh bukan manusia jahat, malahan tingkah laku mereka sesungguhnya sangat jenaka. Dengan
tabahkan hati ia lantas tanya Tho-ki-sian, "He, enak tidak rasanya cawan kemala itu?"
"Rada pahit, tidak enak," sahut Tho-ki-sian dengan mulut masih berkecap-kecap.
Dalam pada itu Coh Jian-jiu tampak mengerut kening, katanya, "Wah, cawan kemala telah kau makan, tapi
urusanku ini bisa runyam. Ai, sekarang arak Hun-ciu ini harus ditadahi dengan cawan apa yang tepat? Ah,
terpaksa memakai cawan batu saja untuk sementara."
Lalu ia ambil sebuah cawan batu, ia mengeluarkan sepotong saputangan untuk mengusap cawan batu itu.
Cawan batu itu mestinya cukup bersih sebaliknya saputangannya tampak sudah hitam lagi dekil, masih
mendingan kalau tidak dilap, sekali dilap bukannya cawan batu itu menjadi bersih sebaliknya makin dilap makin
kotor.
Sesudah mengusap sekian lama barulah ia taruh cawan batu itu di atas meja, kedelapan cawan pilihan itu
berjajar satu baris sedangkan cawan-cawan lain yang tidak terpakai dimasukkan kembali ke dalam baju. Lalu ia
menuang delapan jenis arak ke dalam delapan cawan yang bersangkutan sesuai dengan uraiannya tadi.
Selama menuang arak, ia menghela napas lega, lalu berkata kepada Lenghou Tiong, "Lenghou-heng, kedelapan
cawan arak ini silakan minum satu per satu kemudian aku akan mengiringimu minum delapan cawan juga,
habis itu barulah kita bertukar pikiran untuk menilai di mana perbedaan cita rasa arak-arak ini dengan arakarak
yang pernah kau minum dahulu."
"Baik," sahut Lenghou Tiong. Ia angkat cawan batu yang berisi Hun-ciu (arak semerbak), sekali tenggak ia
habiskan isinya. Ia merasa arak itu sangat pedas, begitu masuk mulut rasa pedas itu terus menyusup ke dalam
perut. Keruan ia terperanjat, pikirnya, "Aneh, mengapa rasa arak ini sedemikian aneh?"
Tiba-tiba Coh Jian-jiu berkata, "Cawan-cawan arakku ini benar-benar adalah benda mestika bagi kaum
peminum arak. Cuma kalau kaum pengecut, bila merasa arak yang diminumnya ada rasa yang aneh, setelah
minum cawan pertama lantas tidak berani minum kedua lagi. Dari dahulu kala sampai sekarang, orang yang
sanggup minum delapan cawan sekaligus sesungguhnya belum ada."
Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, "Sekalipun dalam arak ada racun, memangnya jiwaku sudah tidak lama lagi
akan menemui ajal, biarpun mati diracun juga aku tidak mau kalah pamor."
Maka tanpa pikir lagi ia angkat cawan dan beruntun minum dua cawan arak itu. Ia merasa arak yang satu
cawan sangat pahit, sedangkan cawan yang lain rasanya pesing, daripada dibilang rasa arak enak, akan lebih
tepat dikatakan rasa air kencing.
Waktu Lenghou Tiong hendak mengambil cawan arak keempat, tiba-tiba Tho-ki-sian berseru, "Aduh, celaka!
Perutku rasanya sangat panas seperti dibakar!"
"Kau telah ganyang mentah-mentah sebuah cawan kemalaku, tentu saja perutmu kesakitan?" kata Coh Jian-jiu
dengan tertawa. "Lekas kau banyak minum obat cuci perut agar dapat dikuras keluar, kalau tidak dapat keluar
terpaksa kau harus minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk membedah perutmu dan
mengeluarkan cawan kemala itu."
Seketika Lenghou Tiong tergerak pikirannya, "Ah, kedelapan cawan araknya ini tentu ada sesuatu yang luar
biasa. Tho-ki-sian telah makan cawan kemala itu, seumpama kemala adalah benda keras dan tak bisa
dicernakan juga tidak sampai timbul rasa panas seperti dibakar? Tapi, ah, seorang laki-laki sejati pandang
kematian seperti pulang ke asalnya, kenapa mesti takut? Biarlah semakin jahat racunnya semakin baik bagiku."
Dan sekali tenggak kembali ia menghabiskan isi secawan arak pula.
"Toasuko," tiba-tiba Leng-sian berseru, "arak itu jangan diminum lagi, jangan-jangan dalam arak itu beracun.
Dimuat di serialsilat.tungning.com di upload oleh Nra dan dilanjutkan Tungning sendiri
PDF by Kang Zusi
Engkau pernah membutakan orang-orang itu, hendaknya waspada kalau orang mencari balas padamu."
Lenghou Tiong tersenyum pedih, katanya, "Coh-siansing ini adalah seorang laki-laki yang suka blak-blakan,
rasanya tidak sampai meracuni diriku. Pula, jika dia mau membunuh aku bisa segera dilakukannya, mengapa
mesti banyak membuang waktu dan pikiran?"
Tanpa pikir lagi segera ia minum pula dua cawan.
Arak dari cawan keenam ini rasanya rada asam dan asin, bahkan rada berbau bacin. Waktu mengalir masuk ke
perut, mau tak mau keningnya terkerut.
Melihat Lenghou Tiong menenggak arak sendirian, Tho-kin-sian menjadi kepingin dan ingin mencicipi arak-arak
itu. Katanya, "Sisa kedua cawan itu berikan saja padaku."
Berbareng tangannya lantas hendak mengambil cawan arak ketujuh.
Tapi mendadak Coh Jian-jiu mengayun kipasnya dan mengetuk punggung tangan Tho-kin-sian, katanya sambil
tertawa, "Nanti dulu, bergiliran, jangan berebutan, setiap orang harus minum delapan cawan secara beruruturutan,
dengan demikian baru dapat merasakan intisari arak-arak ini yang sesungguhnya."
Melihat ketukan kipas Coh Jian-jiu itu sangat keras, bila kena tentu tulang tangannya akan remuk, cepat Thokin-
sian putar tangan dan berbalik hendak merampas kipas orang. Bentaknya, "Aku justru hendak minum dulu
secawan ini, kau bisa berbuat apa?"
Kipas Coh Jian-jiu itu sebenarnya terlempit menjadi satu potong, ketika jari tangan Tho-kin-sian hampir
mencengkeram tiba, mendadak kipas menjepret lebar, pinggang kipas lantas menjentik ke jari telunjuk Thokin-
sian.
Kejadian di luar dugaan ini membikin Tho-kin-sian kerepotan dan lekas menarik kembali tangannya, namun
tidak urung jari telunjuknya sudah keserempet dan terasa kesemutan, sambil berkaok-kaok cepat ia melompat
mundur.
"Lenghou-heng, lekas minum habis isi kedua cawan itu ...." belum lenyap suara Coh Jian-jiu, dari sebelah sana
Tho-hoa-sian sudah menjulur tangan hendak mengambil cawan-cawan arak itu. Waktu Coh Jian-jiu mengayun
tangan untuk menangkis, dari sebelah lain kembali Tho-ki-sian hendak rebut lagi cawan itu.
Meski kepandaian Coh Jian-jiu tidak lemah, tapi di bawah kerubutan Tho-kok-ngo-sian yang merupakan tokohtokoh
kelas satu, terang sukar baginya untuk menahan serobotan kelima orang yang hendak rebut kedua
cawan arak itu. Tangan yang satu ditangkis pergi, tangan yang lain sudah menyambar pula dari belakang.
Dalam keadaan yang serbasusah untuk merintangi Tho-kok-ngo-sian itu, tiba-tiba Coh Jian-jiu mendapat akal
teriaknya, "Hah, kiranya Tho-kok-lak-sian sama sekali tidak punya rasa persaudaraan, tahunya hanya berebut
ini dan itu, sungguh menggelikan, sungguh menertawakan!"
Usia di antara Tho-kok-lak-sian satu sama lain hanya terpaut satu tahun, selamanya mereka belum pernah
berpisah barang satu hari pun, meski setiap hari mereka suka bertengkar dan ribut mulut, tapi sebenarnya rasa
persaudaraan mereka sangat akrab. Maka demi mendengar Coh Jian-jiu menuduh mereka tidak punya rasa
persaudaraan, mereka menjadi gusar dan berhenti semua sambil membentak, "Kentut! Kentutmu busuk!"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil