Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 09 Juni 2017

Cerita Silat Jadul Mutiara Hitam 4

Cerita Silat Jadul Mutiara Hitam 4 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Jadul Mutiara Hitam 4
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Jadul Mutiara Hitam 4
“Ahh, Ji-wi hendak menyewa perahu? Baiklah, akan tetapi perahu merah itu tak mungkin dapat disewakan
karena besok akan dipakai mengantar pengantin...”
“Apa kau bilang? Kami berani bayar sewanya dan siapa pun juga tidak boleh mendahului kami.
Pendeknya, sediakan perahu itu besok pagi-pagi, kalau tidak... kau yang akan kami lemparkan ke dalam
sungai!”
Nelayan tua itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi sambil membungkuk-bungkuk ia berkata, “Baik...,
baik... dan sewanya...“
“Berapa pun akan kami bayar! Kami hendak memeriksanya dulu!” Dua orang tinggi besar itu diantar oleh
nelayan tua menuju ke perahu cat merah.
Mereka melangkah masuk dan... tercenganglah mereka melihat Kwi Lan sudah duduk di dalam perahu itu
sambil tersenyum manis! Kiranya Kwi Lan yang tadi mengikuti percekcokan menjadi tak senang dengan
sikap dua orang itu, maka diam-diam ia lalu memasuki perahu cat merah yang dipilih oleh dua orang itu
secara paksa.
“Eh, mau apa kalian berdua longak-longok seperti monyet dan tanpa ijin memasuki perahu yang sudah
kusewa ini?” kata Kwi Lan sambil tersenyum mengejek.
Sejenak dua orang tinggi besar itu tertegun. Mereka kagum akan kecantikan gadis dalam perahu dan
mendengar bentakan itu, mereka terkejut dan saling pandang. Kemudian seorang di antara mereka yang
brewok tadi dapat menenangkan hatinya lalu menoleh kepada nelayan tua yang juga bengong terlongong.
“Eh, Paman tua, apakah ini yang akan menjadi pengantin? Cantik benar!”
“Bu... bukan, bukan dia... saya tidak mengenalnya..., Nona, siapakah kau dan mau apa kau di sini?”
“Paman tua, aku lebih dulu memasuki perahu ini, berarti aku lebih dulu menyewanya. Dua orang kasar
seperti monyet ini boleh mencari perahu lain untuk disewa atau... mereka ini boleh terjun ke air!”
Pada waktu itu, dua orang tinggi besar tadi sudah melihat gagang pedang di pinggang Kwi Lan dan ketika
melihat sebuah mutiara hitam bersinar di gagang pedang itu, mereka terkejut.
“Mu... Mutiara Hitam...?” teriak mereka sambil mencabut golok.
“Hemm, kiranya orang-orang Thian-liong-pang yang tak kenal mampus!” seru Kwi Lan tanpa bangkit dari
tempat duduknya.
Melihat gerakan dua orang yang menerjangnya ini, Kwi Lan memandang rendah. Saat mereka sudah
menubruk maju diikuti teriakan kaget dan ngeri dari kakek nelayan, secepat kilat kedua kaki Kwi Lan
bergerak menendang ke depan. Ia menggunakan kedua tangan untuk menekan papan perahu sehingga
kedua kakinya dapat melakukan tendangan sekaligus. Tepat sekali ujung kedua sepatunya mencium
sambungan lutut dua orang lawan itu.
“Krekk!” terdengar suara dan... sambungan lutut kanan mereka terlepas.
Tentu saja mereka itu seketika ambruk dan sebelum tubuh mereka menyentuh papan perahu, kembali
kedua kaki Kwi Lan bergerak, kini mendorong dada mereka. Tak dapat dicegah lagi tubuh dua orang lakilaki
tinggi besar itu terlempar masuk ke dalam sungai!
Biar pun bagi Kwi Lan peristiwa ini biasa saja, namun bagi para nelayan merupakan hal yang amat hebat.
Hampir mereka tak dapat percaya betapa hanya dengan dua buah kaki yang kecil mungil, tanpa
menggerakkan tangan dan tanpa bangkit dari tempat duduknya, gadis remaja cantik manis itu mampu
melemparkan dua orang lawan kuat ke dalam sungai dengan tulang lutut terlepas sambungannya! Mereka
bersorak-sorai dan mentertawai dua orang laki-laki tadi yang kini dengan susah payah berenang ke tepi
sungai. Lenyaplah kegagahan mereka berdua yang terpaksa harus pergi dengan sebelah kaki meloncatloncat
sambil menyumpah-nyumpah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Seketika Kwi Lan dirubung para nelayan yang kagum. Mereka berbondong menawarkan perahu mereka
untuk mengantar gadis ini melakukan pelayaran ke utara, akan tetapi Kwi Lan tersenyum dan berkata, “Aku
hanya membutuhkan sebuah perahu dan karena yang kupilih perahu merah ini, maka perahu inilah yang
akan kusewa. Sudah, kalian pergilah, aku ingin mengaso.”
Pada saat itu, seorang nelayan datang berlari-lari dan melaporkan kepada Kwi Lan bahwa dua orang tinggi
besar itu lari terpincang-pincang ke dalam kuil Ban-hok-tong. “Harap Nona hati-hati, bahaya besar
mengancam. Kiranya dua orang itu temannya banyak sekali dan galak-galak.”
“Tak perlu melayani mereka.”
“Tapi... harap Lihiap (Pendekar Wanita) sudi mengasihani kami,” kata nelayan tua. “Lihiap sudah
menyaksikan sendiri betapa mereka itu ganas dan kejam terhadap kami. Kalau Lihiap pergi dari sini, tentu
kamilah yang akan dijadikan korban untuk melampiaskan kemarahan mereka!”
“Huh, apa peduliku!” Kwi Lan mendengus. Memang ia tidak suka mengacuhkan urusan orang lain yang
tiada sangkut pautnya dengan dirinya.
“Tapi, Lihiap... kami akan dibasmi... akan dipukuli, dibunuh...!” kata seorang nelayan lain.
“Peduli apa? Kalau kalian begitu lemah dan tidak becus melakukan perlawanan sampai terbunuh, adalah
salah kalian sendiri!” Kwi Lan menjawab jengkel karena merasa terganggu.
“Tapi... semua ini terjadi gara-gara Lihiap merobohkan dua orang itu!” si Nelayan Tua menyambung. “Saya
mendengar bahwa seorang gagah sekali berbuat berani menanggung segala akibatnya....”
“Cukup!” Kwi Lan membentak marah. “Aku tunda perjalananku sampai besok dan kalian lihat, malam ini
akan kuhajar habis mereka itu!”
Setelah berkata demikian Kwi Lan merebahkan dirinya di atas papan perahu, dan para nelayan bubaran
dengan hati lega, akan tetapi juga masih khawatir. Menurut penyelidikan mereka, jumlah pendatang di
kelenteng itu ada belasan orang dan para hwesio di Ban-hok-tong sendiri kelihatan takut menghadapi
mereka. Bagaimana kalau pendekar wanita muda ini sampai kalah? Tentu mereka akan mendapat bagian
pahit pula. Betapa pun juga, karena harapan mereka bergantung kepada kesanggupan Kwi Lan, mereka
lalu melayani gadis ini dengan hidangan dan minuman yang diterima oleh Kwi Lan dengan hati gemblra.
Benar juga, pikirnya, dia harus bertanggung jawab. Apa lagi jelas rombongan Thian-liong-pang itu tidak
akan membiarkan ia lolos begitu saja. Dari pada menghadapi mereka di atas air sungai yang pernah
membuat ia hampir tewas dahulu, lebih baik sekarang menghadapi mereka di darat. Turun tangan di waktu
siang hanya akan menimbulkan geger di dalam dusun ini, maka lebih baik malam nanti turun tangan
menghajar mereka dan mengusir mereka dari dalam dusun. Dengan pikiran ini, legalah hati Kwi Lan dan
setelah makan kenyang, ia pun tidur di atas perahu dengan nyenyaknya.
Malam itu terang bulan. Tiada awan mengotori udara sehingga sinar bulan sepenuhnya menerangi bumi.
Bagaikan seekor burung hantu, tubuh Kwi Lan berkelebat di antara sinar bulan. Dengan pedang terhunus
di tangannya, gadis perkasa ini meloncat ke atas genteng kuil Ban-hok-tong, mendekam di atas wuwungan
dan mengintai ke bawah. Sunyi sepi di kelenteng itu. Hemm, pikirnya geram, tentu mereka siap sedia
menyambutku, dan sudah siap memasang jebakan.
Akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Dengan gerakan yang lincah sekali ia lalu berlari di atas genteng,
sengaja memberatkan tubuhnya sehingga menimbulkan bunyi pada genteng agar musuh muncul
menyerangnya. Namun tidak terjadi apa-apa dan Kwi Lan terus berlari menuju ke belakang. Dari atas
genteng di belakang bangunan ia dapat melihat halaman belakang yang luas dan terkejutlah ia ketika
melihat beberapa orang hwesio sudah menjadi mayat berserakan di halaman itu. Seorang laki-laki yang
mengempit tongkat membungkuk dan agaknya memeriksa mayat-mayat itu seorang demi seorang.
Kwi Lan menjadi heran sekali, tidak mau sembarangan turun tangan. Siapakah laki-laki itu dan mengapa
pula hwesio-hwesio itu tewas? Ke mana perginya orang-orang Thian-liong-pang? Tentu laki-laki itu yang
membunuh para hwesio, dan siapa lagi orang itu kalau bukan seorang di antara anggota dari Thian-liongpang?
Kwi Lan mengeluarkan jarumnya dan sekali tangannya bergerak, sinar hijau menyambar ke arah
leher orang yang sedang memeriksa mayat-mayat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Kwi Lan terkejut melihat orang itu tanpa menoleh mengibaskan tangannya sehingga jarumjarum
itu runtuh oleh lengan bajunya yang lebar, kemudian lebih kaget lagi Kwi Lan ketika mendengar
orang itu berkata, “Kwi Lan Siauw-moi, kau turunlah. Jarum-jarummu sudah terlalu banyak membunuh
orang tak berdosa!”
Kwi Lan mengenal suara ini dan ketika orang itu kini berdiri sambil membalikkan tubuh ia mengenal wajah
yang tampan itu.
“Yu Siang Ki...!” Cepat ia melayang turun sambil membawa pedangnya.
Pemuda itu memang Yu Siang Ki yang mengempit tongkatnya. Caping bututnya tergantung di belakang
punggung. Kalau Kwi Lan berseri wajahnya karena pertemuan yang tak terduga-duga ini, sebaliknya Yu
Siang Ki memandang dengan wajah keruh dan sepasang matanya memandang penuh teguran.
“Kenapa mereka...?”
“Kwi Lan, betapa pun kagum hatiku terhadapmu, namun sungguh aku kecewa dan menyesal melihat sepak
terjangmu yang terlalu ganas. Kau terlalu mudah membunuh orang sehingga kadang-kadang kau tidak
segan-segan membunuh orang-orang tak berdosa seperti mereka ini. Kwi Lan, aku tidak percaya kau
memiliki dasar yang ganas dan....”
“Ihhhh, apa-apaan ini tiada hujan tiada angin suaramu menyambar-nyambar laksana kilat bergeluduk?
Siang Ki, apa maksudmu memberi kuliah kepadaku?” Kwi Lan memotong dengan marah. Sepasang
matanya kini menyambar seperti api, penuh selidik ke arah wajah yang tampan itu.
Akan tetapi Siang Ki tidak mundur. Wajahnya tetap muram dan suaranya tetap kering. “Kwi Lan, kalau kau
membasmi dan membunuhi orang-orang jahat, aku masih dapat mengerti. Akan tetapi hwesio-hwesio ini,
bukankah mereka itu orang-orang yang menjalani hidup suci, sama sekali tidak jahat dan tidak berdosa?
Mengapa kau membunuh mereka ini secara keji? Apa sebabnya kau membunuh empat orang hwesio
pengurus kuil Ban-hok-tong ini? Sungguh aku tidak mengerti...!”
“Apa kau bilang?” Kwi Lan kembali memotong. “Kalau kau tidak mengerti, aku lebih tidak mengerti lagi
akan sikapmu yang aneh ini. Gilakah engkau, Siang Ki? Kau menuduh yang bukan-bukan. Aku tidak
membunuh hwesio-hwesio itu! Kalau aku membunuh mereka, perlu apa aku takut mengaku padamu?”
Siang Ki terheran, kini dialah yang menatap wajah gadis itu yang cantik jelita tersinar cahaya bulan, penuh
selidik. “Ah, mengapa kau menyangkal? Mereka itu kau bunuh...!”
“Siang Ki! Tak usah banyak cerewet. Kalau kau memang ingin memusuhiku, jangan kira aku takut. Tak
perlu menggunakan alasan yang bukan-bukan, tuduhan dan fitnah yang bukan-bukan. Kalau memang kau
hendak menantang, hayo, aku sudah siap!” Setelah berkata demikian, gadis ini meloncat mundur,
pedangnya siap di depan dada dan ia sudah memasang kuda-kuda, matanya mencorong seperti mata
harimau.
Akan tetapi Siang Ki tidak melayaninya, bahkan pemuda ini kelihatan melongo, terheran dan ragu-ragu.
“Kwi Lan, aku sama sekali tidak menuduh yang bukan-bukan. Ada buktinya. Aku mengenal jarum-jarum
hijaumu yang lihai, yang kau pergunakan untuk menyerangku tadi. Kau lihat, empat orang hwesio itu
semua tewas karena jarum-jarum hijaumu. Lihat baik-baik leher mereka!”
Kagetlah Kwi Lan. Kemarahannya lenyap seketika terganti keheranan yang amat sangat. Ia lalu meloncat,
mendekati empat mayat itu dan berjongkok memeriksa. Alangkah heran dan kagetnya ketika melihat
betapa leher empat mayat itu benar-benar menunjukkan tanda-tanda keracunan, yang hanya dapat
ditimbulkan oleh jarum-jarum hijaunya! Hati gadis ini menjadi penasaran. Ia menggunakan ujung
pedangnya, menusuk dan mengorek ke luar sebatang jarum dari leher mayat.
“Aiihhh... aneh sekali...!” Ia berseru ketika melihat jarum hijau di ujung pedangnya. Jarum itu serupa benar
dengan jarumnya dan warna hijau itu tak salah lagi adalah racun bunga hijau yang ia pergunakan untuk
meracun jarum-jarumnya. Inilah jarumnya, tak salah lagi. Ia bangkit berdiri, wajahnya berubah.
Melihat wajah gadis ini, Siang Ki mulai percaya. “Kwi Lan, agaknya ada orang yang mencuri jarumjarummu
dan mempergunakannya untuk membunuh hwesio-hwesio ini,” katanya sambil maju mendekat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwi Lan menggeleng kepala dan mengingat-ingat. “Tak mungkin,” katanya kemudian penuh keyakinan.
“Jarum-jarumku tidak pernah terpisah dari badan, selalu berada di saku dalam bajuku. Siapa dapat
mencurinya?”
“Akan tetapi buktinya, hwesio-hwesio ini tewas karena jarum-jarum hijau...“
“Benar, tak dapat disangkal lagi. Pantas saja kau menuduh aku...“
“Maafkan aku, Kwi Lan. Aku kebetulan lewat di sini. Karena curiga terhadap rombongan orang-orang
Thian-liong-pang, lalu mengikuti secara diam-diam. Aku tahu akan perbuatanmu menghajar orang-orang
Thian-liong-pang di sungai siang tadi, akan tetapi karena aku sedang menyelidiki mereka, aku
menyembunyikan diri. Malam ini aku datang menyelidik, melihat hwesio-hwesio ini sudah tewas dan orangorang
Thian-liong-pang tidak kelihatan seorang pun di sini.”
“Hemm, tentu ada hubungannya antara mereka dengan kematian para hwesio ini.”
Yu Siang Ki mengerutkan keningnya yang tebal, “Aku meragukan hal ini, Kwi Lan. Kalau mereka yang
membunuh hwesio-hwesio ini, mengapa menggunakan jarum-jarummu atau lebih tepat lagi... jarum-jarum
yang serupa dengan jarum-jarummu? Mari kita kejar mereka!”
Kwi Lan mengangkat mukanya dan sepenuhnya muka itu kini tertimpa sinar bulan. Alangkah cantik jelita
muka ini. Siang Ki meramkan mata dan menarik napas panjang sambil menekan isi dada yang bergerakgerak.
“Mengapa?”
“Mereka sudah membunuh hwesio-hwesio tak berdosa!” kata Siang Ki sewajarnya. Bukankah wajar
seorang pendekar menjadi marah melihat pembunuhan atas orang-orang tak berdosa?
“Hemm, bukan urusanku. Aku tidak mengenal hwesio-hwesio ini,” jawab Kwi Lan seenaknya.
Kerut di kening Siang Ki makin mendalam. Ia kagum akan kecantikan dan kelihaian gadis ini, namun
kecewa melihat sikap dan wataknya. “Akan tetapi mereka telah menggunakan senjata rahasia seperti
milikmu, itu berarti mencemarkan nama baikmu. Siapa tahu mereka sengaja memalsukan senjatamu.”
“Hemm, justru karena itu aku tidak mau mengejar. Mereka tentu melakukan hal ini menurut rencana dan
tentu mereka akan datang mencari aku kalau tiba saatnya. Aku mau menanti di perahu dan kalau sampai
besok mereka tidak datang aku akan melanjutkan perjalananku.”
“Ke mana?”
“Ke utara.”
Wajah Yu Siang Ki berseri. “Aihh, mengapa begini kebetulan? Aku pun hendak ke utara.”
“Hemmm? Benarkah?” Kwi Lan kurang percaya, menyangka bahwa pemuda ini mencari-cari alasan untuk
melakukan perjalanan bersamanya.
“Mengapa tidak? Aku hendak mencari Suling Emas.”
Berdebar jantung Kwi Lan mendengar ini. “Kenapa mencari ke utara?”
“Menurut laporan anak buahku, Locianpwe itu menuju ke utara. Ada kepentingan besar sekali yang
memaksa aku mencarinya ke utara.”
Kwi Lan melamun. Suling Emas ke utara? Hendak bertemu ibu kandungnya, Ratu Khitan?
“Kalau kau tidak keberatan, kita dapat melakukan perjalanan bersama.”
Kwi Lan tersenyum. “Mengapa keberatan? Asal kau tidak lagi menuduh aku dengan fitnah yang bukanbukan
seperti tadi.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Maafkan aku sekali lagi, Siauw-moi.” Yu Siang Ki menjura dan Kwi Lan tertawa geli.
“Mari ke perahuku. Kuharap saja mereka akan muncul agar enak kita berdua mengganyang mereka di
perahu!”
Namun Yu Siang Ki tidak segembira Kwi Lan. Hatinya tetap merasa gelisah dengan munculnya hal yang
merupakan teka-teki ini. Siapa pembunuh hwesio-hwesio itu? Andai kata orang-orang Thian-liong-pang,
apakah maksudnya? Namun ia tidak sempat bicara lagi karena Kwi Lan sudah berkelebat dan meloncat
jauh dari tempat itu. Cepat ia mengejar dan sebentar saja mereka sudah berada di perahu cat merah yang
disewa Kwi Lan.
“Aku mau tidur,” kata Kwi Lan dan terus saja ia tidur telentang di atas papan perahu berbantal bungkusan
pakaiannya.
Sejenak Siang Ki tertegun memandang tubuh yang melintang di depannya, kagum bukan hanya oleh
keindahan bentuk tubuh, juga oleh sikap yang demikian polos dan wajar. Ah, ada remaja yang jujur dan
bersih, tidak berpura-pura, liar seperti bunga mawar hutan, pikirnya terharu.
“Aku duduk menjaga di luar,” katanya dengan suara tergetar sambil duduk di atas papan melintang di
kepala perahu, memandangi bulan purnama yang bermain-main di dalam air sungai.
Sinar bulan dan keadaan yang sunyi itu membuat Siang Ki melamun. Pelabuhan sungai itu sunyi sekali
karena setelah peristiwa yang terjadi siang tadi, semua nelayan merasa takut dan menghentikan kegiatan
pekerjaan malam. Mereka menduga bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang hebat antara nona perkasa itu
dengan para penjahat yang bermalam di Kuil Ban-hok-tong.
Siang Ki berkali-kali menarik napas panjang. Ia terpaksa meninggalkan Kang-hu karena peristiwa yang
amat penting telah terjadi. Mula-mula berita itu tidak dipercayanya. Berita yang didengar dari beberapa
orang pengemis anggota perkumpulannya bahwa di daerah selatan muncul Suling Emas yang memusuhi
para pengemis. Mula-mula ia mengutus Gak-lokai dan Ciam-lokai untuk menyelidiki berita yang tak masuk
akal itu. Dan dua orang kakek pengemis itu pulang dengan babak-belur.
Mereka telah bertemu dengan Suling Emas itu dan ternyata berbeda dengan Suling Emas yang telah
menyamar sebagai Yu Kang Tianglo! Akan tetapi Suling Emas yang baru ini berpakaian seperti Suling
Emas dengan tanda gambar sulaman suling di depan dadanya. Hebatnya, Suling Emas baru ini pun
berkepandaian tinggi sehingga Gak-lokai dan Ciam-lokai tidak mampu menandinginya dan dirobohkan.
Bahkan Suling Emas itu menantang agar supaya Yu Kang Tianglo datang sendiri menandinginya!
Mendengar ini panas hati Yu Siang Ki. Maka ia lalu melakukan perjalanan ke selatan, menemui Suling
Emas ini sebagai wakil ayahnya, Yu Kang Tianglo. Ia menjadi bingung, tidak tahu mana yang tulen mana
yang palsu antara Suling Emas yang pernah menyamai sebagai mendiang ayahnya dengan Suling Emas
yang sekarang. Akan tetapi nyatanya, dalam belasan jurus saja ia roboh oleh orang ini! Karena inilah Yu
Siang Ki lalu mengambil keputusan untuk pergi mencari Suling Emas pertama untuk dimintai tolong
menghadapi Suling Emas kedua ini!
Kini duduk melamun di kepala perahu, memandang sepasang bulan yang di atas dan di dalam air,
teringatlah ia akan sepasang Suling Emas yang membingungkan hatinya. Suling Emas kedua ini selain
lihai juga agaknya sengaja memusuhi pihak pengemis, namun tak pernah terdengar melakukan kejahatan
dan tidak pula melukai berat kepada para pengemis termasuk Gak-lokai berdua dan dirinya sendiri.
Agaknya asal dapat menang cukuplah bagi Suling Emas ke dua itu!
Kembali ia menarik napas panjang memandangi dua bulan berganti-ganti, lalu tanpa disadarinya Yu Siang
Ki bersenandung.
Bulan terapung di angkasa
bermain dengan mega
tak mungkin terbang menjangkaunya!
Bulan tenggelam di air
bercanda dengan gelombang
tak mungkin menyelaminya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali Siang Ki menarik napas panjang. Dua orang Suling Emas itu seperti dua bulan ini, bulan dan
bayangannya, yang mana tulen dan mana palsu? Keduanya sakti dan sukar menyelidiki keadaannya.
“Ah... kau... kau gagah...”
Siang Ki terkejut dan menoleh. Ia melihat Kwi Lan menggeliat perlahan dan mulut gadis itu berbisik-bisik.
Hatinya berdebar. Tak salahkah pendengarannya bahwa gadis itu dengan suara bisik merayu
menyebutnya gagah? Tak salahkah penglihatannya bahwa gadis itu menggeliat dan seolah-olah
mengharapkan dia datang membelainya? Tanpa disadarinya lagi Siang Ki melangkah maju mendekati
tubuh yang masih tidur telentang itu.
Sinar bulan tertutup atap perahu sehingga wajah gadis itu terlindung dalam cuaca remang-remang.
Bergerak-gerakkah bulu mata panjang lentik itu? Sampai lama Siang Ki berdiri menatap wajah yang amat
cantik itu. Bibir gadis ini seperti tersenyum menantang, tangan kiri di atas perut dan tangan kanan di bawah
dagu. Rambutnya harum hitam halus yang dikucir dua itu terletak di atas dada, kanan kiri, ikut bergerakgerak
turun naik bersama dadanya.
Ada dorongan hasrat yang amat kuat merangsang dari dalam dada Siang Ki, membuat ia membungkuk
dan hampir saja ia mencium pipi dan bibir itu, namun kesadaran dan keteguhan hatinya menahannya. Dia
seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang hidup sebagai seorang pendekar. Tak mungkin melakukan hal
sekeji ini, menggunakan kesempatan selagi seorang dara tidur untuk menciumnya. Pekerjaan hina! Sama
dengan mencuri, sama dengan memperkosa.
Dua macam perasaan berperang di hati Siang Ki, yang satu mendorong yang lain menahan. Untung pada
saat itu perasaannya yang tajam dapat merasa betapa perahu bergoyang sedikit. Cepat ia menoleh dan
tampaklah dua orang laki-laki meloncat ke atas perahu. Gerakan mereka ringan bagai burung,
membuktikan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bayangan
beberapa orang lagi tampak berloncatan di perahu-perahu yang berada di pelabuhan, juga di pantai tak
jauh dari situ. Perahunya telah terkepung! Seorang di antara dua laki-laki yang sudah meloncat ke perahu
itu dahinya berhias mutiara, itulah salah seorang di antara Cap-ji-liong, jago-jago Thian-liong-pang yang
tersohor lihai!
“Kau gagah Suling Emas...!” Kembali terdengar suara Kwi Lan barbisik dan Siang Ki yang masih menoleh
ke belakang itu seperti ditusuk jantungnya.
Kiranya gadis ini tadi bukan memuji dia yang gagah, melainkan memuji Suling Emas di dalam mimpi!
Mengingat akan sikap dan persangkaannya sendiri tadi, dengan muka merah saking malu Siang Ki
meloncat bangun sambil menyambar tongkatnya.
“Kalian siapa dan mau apa mengganggu kami?!” bentaknya sambil melintangkan tongkat di depan dada.
Akan tetapi sebagai jawaban, dua orang itu sudah mencabut golok masing-masing, menerjang maju sambil
berteriak, “Kepung! Tangkap sepasang anjing muda ini!”
Siang Ki marah sekali, tongkatnya berkelebat dan saking dahsyatnya serangan tongkatnya, dua orang itu
berseru kaget dan meloncat mundur, keluar dari perahu! Yu Siang Ki menoleh dulu sebelum mengejar, dan
melihat betapa Kwi Lan sudah bangkit duduk mengucek-ucek mata, ia berseru.
“Kwi Lan, setan-setan itu sudah datang, hayo bantu aku basmi mereka!” Setelah berseru demikian,
pemuda ini dengan gerakan gesit telah melayang ke luar dari perahu ke darat.
Sebentar saja ia sudah dikepung dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang
mengepungnya adalah dua belas orang yang memakai mutiara di dahinya. Kedua belas orang Cap-ji-liong,
jagoan dari Thian-liong-pang lengkap berada di situ! Dan di samping dua belas orang ini masih ada
sedikitnya tiga puluh orang laki-laki tinggi besar yang merupakan anak buah mereka dan kesemuanya
sudah siap dengan senjata di tangan. Hebat, pikirnya dengan hati kecut.
Akan tetapi karena keadaan mendesak, ia tidak mau banyak cakap lagi dan cepat ia menggerakkan
tongkatnya yang panjang sambil berteriak. ”Kiranya dua belas ekor cacing dari Thian-liong-pang yang
datang. Kalian mau apa?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tranggg...!” tongkatnya tertangkis oleh sepasang pedang panjang di tangan seorang yang brewok, tinggi
besar dan bermata lebar.
Inilah Ma Kiu, atau Thian-liong-pangcu, ketua perkumpulan itu, juga merupakan orang pertama atau
pimpinan Cap-ji-liong yang tersohor. Siang Ki sudah pernah mendengar tentang orang ini, akan tetapi
belum pernah bertemu. Kini ia dapat menduganya dan pantas saja tangkisan tadi demikian kuat, pikirnya.
Makin tidak enak hatinya karena ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi banyak lawan pandai.
“Orang muda, siapa pun adanya engkau, jangan mencampuri urusan kami. Pergilah kalau kau ingin
selamat. Kami hanya membutuhkan Mutiara Hitam!” kata Ma Kiu yang marah sekali mengingat akan
semua perbuatan Mutiara Hitam yang pernah mengacaukan Thian-liong-pang bersama seorang pemuda
berandalan bernama Tang Hauw Lam.
Tadinya ketika ia mendapat laporan, hatinya girang, menyangka bahwa Mutiara Hitam yang dilaporkan
bersama seorang pemuda di perahu itu tentulah Tang Hauw Lam. Kiranya pemuda tampan itu hanya
pengemis muda yang tidak dikenalnya. Sebagai ketua Thian-liong-pang yang merasa derajatnya jauh lebih
tinggi, tentu saja Ma Kiu tidak mau melayani pengemis muda ini maka mengeluarkan ucapan seperti itu.
Panas juga hati Siang Ki mendengar ucapan itu. Ia tahu bahwa ketua Thian-liong-pang ini memandang
rendah kepadanya, maka sambil mengangkat dada ia menjawab. “Jika tak salah dugaanku, engkau
tentulah yang bernama Ma Kiu, yang menjadi pimpinan Cap-ji-liong dan juga menjadi ketua Thian-liongpang.”
“Orang jembel sudah mengenal tidak lekas pergi!” bentak seorang di antara Cap-ji-liong.
“Thian-liong-pangcu! Biar pun jalan kita bersimpangan, namun sudah lama aku mendengar tentang Thianliong-
pang dan Cap-ji-liong. Ketahuilah, aku adalah pangcu dari Khong-sim Kai-pang! Dan Mutiara Hitam
adalah sahabatku. Kuharap, mengingat akan kedudukan kita bersama, engkau suka melihat mukaku dan
tidak mengganggunya. Kalau engkau berkeras, marilah kita sama-sama pangcu dari perkumpulan besar
melihat siapa di antara kita yang lebih unggul!”
Ma Kiu dan sute-sute-nya terkejut dan memandang lebih teliti. Kiranya pengemis muda ini adalah pangcu
dari Khong-sim Kai-pang. Tentu saja mereka sudah mendengar akan sepak terjang pangcu baru ini,
betapa Khong-sim Kai-pang di bawah pimpinan pangcu muda ini telah membasmi golongan pengemis baju
bersih yang tadinya menguasai kai-pang-kai-pang (perkumpulan pengemis) di daerah Kang-hu. Karena
para pengemis golongan baju bersih adalah sekutu Thian-liong-pang, maka tentu saja dua belas orang
Cap-ji-liong ini menganggap Yu Siang Ki sebagai musuh.
“Ah, kiranya engkau jembel muda pengacau itu? Bagus kau datang menyerahkan diri!” Ma Kiu membentak
dan sepasang pedangnya berkelebat menyambar.
Siang Ki yang sudah siap cepat menggerakkan tongkat, sekaligus menangkis sepasang pedang itu dan
membalikkan tongkat mengirim serangan dengan tusukan ke arah perut yang gendut. Ma Kiu meloncat ke
kanan, dan pada saat itu sebelas orang sute-nya yang menyaksikan gerakan cepat Siang Ki segera maju
mengeroyok!
“Dua belas ekor cacing Thian-liong-pang tak tahu malu!” terdengar bentakan Kwi Lan disusul sinar hijau
pedang Siang-bhok-kiam.
Gadis ini sudah melompat maju dan begitu ia memutar pedangnya, empat batang pedang lawan telah
dapat tertolak mundur berikut pemiliknya. Akan tetapi pada saat itu anak buah yang bertubuh tinggi besar
dan mereka ini adalah bekas-bekas bajak sungai yang sudah takluk kepada Siauw-bin Lo-mo, kini maju
mengepung Kwi Lan!
“Bagus, makin banyak makin baik! Memang pedangku sudah haus darah!” teriak gadis itu sambil
membabat ke sekelilingnya.
Hebat bukan main gerakan Kwi Lan ini dan lebih-lebih karena para pengeroyoknya yaitu para bajak laut,
hanya mengandalkan tenaga besar dan kekasaran saja, maka dalam sekejap mata terdengar teriakan
kesakitan dan lima orang sudah roboh mandi darah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau Kwi Lan dengan enaknya membabati para pengeroyoknya, adalah Yu Siang Ki yang benar-benar
menghadapi pengeroyokan berat. Cap-ji-liong terdiri dari orang-orang pandai dan mereka ini bergerak
bukan sembarangan, melainkan menurut aturan dalam bentuk barisan yang amat rapi dan kuat. Tingkat
kepandaian Yu Siang Ki sudah tinggi. Andai kata Cap-ji-liong maju seorang demi seorang, biar pun Ma Kiu
sendiri takkan dapat menangkan pemuda ini.
Akan tetapi begitu Cap-ji-liong maju bersama dalam bentuk barisan yang mengurung rapat, Siang Ki
menjadi repot sekali dan terdesak hebat. Dua belas orang itu menggunakan bermacam-macam senjata
sehingga gerakan mereka itu bagi Siang Ki amat kacau-balau dan sukar diduga. Karena itulah maka
pemuda ini hanya dapat memutar tongkat melindungi tubuhnya dari hujan senjata para pengeroyok yang
rata-rata memiliki tenaga lweekang cukup besar.
Biar pun ia sedang mengamuk, Kwi Lan tidak melepaskan perhatiannya terhadap Siang Ki yang ia tahu
menghadapi pengeroyokan Cap-ji-liong yang lihai. Maka ia dapat melihat betapa pun lihainya, pemuda itu
repot sekali menyelamatkan diri dari ancaman senjata-senjata lawan. Maka ia lalu berseru keras,
merobohkan dua orang pengeroyok terdepan lalu sekali meloncat ia sudah tiba di luar barisan Cap-ji-liong
yang mendesak Siang Ki. Pedangnya berkelebat menyerbu barisan Cap-ji-liong dari belakang sehingga
tiga orang anggota barisan terpaksa membalikkan tubuh dan menangkis, kemudian secara teratur sekali
mereka bergerak diikuti teman-temannya dan di lain saat Kwi Lan telah terkurung pula bersama Siang Ki!
“Siang Ki, mari kita basmi cacing-cacing yang menjemukan ini!” seru Kwi Lan marah sambil memutar
pedangnya menerjang kepungan.
Akan tetapi barisan itu teratur rapi sekali dan betapa pun lihainya pedang Kwi Lan, karena sekaligus
ditangkis oleh sedikitnya tiga senjata secara berbareng, ia kalah tenaga dan berbalik ia pun dijadikan
sasaran hujan senjata!
“Kwi Lan, kita berdua beradu punggung!” Siang Ki berseru dan Kwi Lan yang maklum akan maksud
temannya.
Segera ia membelakangi pemuda itu dan kini mereka berdiri saling membelakangi. Dengan demikian,
kedudukan mereka lebih kuat dan tidak perlu lagi mereka membagi perhatian ke belakang karena bagian
belakang masing-masing telah terlindung sehingga perhatian dapat dicurahkan ke depan. Bahkan kanan
kiri dapat terjaga oleh kedua orang muda perkasa ini. Benar saja, setelah beradu punggung dua orang
muda ini dapat melawan lebih ringan dan biar pun kadang-kadang para pengepungnya berlari-lari
memutari mereka, kedua orang muda ini tidak usah ikut berlari-lari takut diserang dari belakang lagi.
Mereka melayani dengan tenang dan kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang, sungguh pun
serangan mereka kurang berhasil karena selalu ditangkis oleh banyak lawan. Diam-diam Siang Ki menjadi
gelisah karena balasan lawan benar-benar hebat. Andai kata dia dan Kwi Lan dapat bertahan
mengandalkan kegesitan, tenaga dan ilmu silat mereka yang lebih tinggi tingkatnya, namun sampai berapa
lama mereka mampu bertahan? Di luar barisan dua belas orang Thian-liong-pang ini masih terdapat
puluhan orang anak buah mereka.
Ma Kiu yang memimpin sute-sute-nya ketika melihat betapa barisannya tidak berdaya menghadapi dua
orang muda yang benar-benar lihai itu, menjadi penasaran dan marah sekali. Tak disangkanya bahwa
ketua Khong-sim Kai-pang yang masih muda ini ternyata juga amat lihai sehingga diam-diam ia harus
meragukan kepandaiannya sendiri, apakah ia akan sanggup menghadapi orang muda itu satu lawan satu.
Ia lalu memberi aba-aba dalam bahasa rahasia perkumpulannya. Mendengar aba-aba ini dua belas orang
Cap-ji-liong itu lalu berlari-lari mengelilingi dua orang muda itu dan makin lama lingkaran itu menjadi makin
jauh.
“Awas...!” Siang Ki berseru keras.
Kwi Lan yang sudah menduga segera memutar pedangnya, melindungi tubuhnya dari sambaran senjatasenjata
rahasia mereka, yaitu Sin-seng-piauw yang berbentuk bintang. Juga Siang Ki memutar tongkatnya
sehingga sebentar saja di sekitar mereka berdiri berserakan senjata rahasia musuh. Hebatnya, tidak hanya
Sin-seng-piauw yang menyambar bagaikan hujan, kini banyak anak panah yang dilepas oleh anak buah
bajak. Sibuk sekali Siang Ki dan Kwi Lan menghadapi hujan serangan senjata rahasia ini.
“Kwi Lan... kau larilah... lekas serbu sayap kiri... aku membantu dan melindungimu, kau harus lari...!”
Terdengar Siang Ki berkata dengan napas memburu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika Kwi Lan melirik tanpa menghentikan putaran pedangnya, ia terkejut melihat pemuda itu terluka
pundak kirinya sehingga mengeluarkan darah. “Huh, enak kau bicara! Kau kira aku pengecut yang takut
mampus? Kau lihat!”
Sambil berkata demikian, tangan kiri Kwi Lan bergerak menyambitkan jarum-jarumnya ke sebelah kanan.
Sinar hitam menyambar dan terdengarlah jerit-jerit kesakitan disusul robohnya lima anggota bajak yang
menjadi korban sambaran jarum-jarum hijau beracun. Akan tetapi gerakan ini hampir mencelakakan Kwi
Lan juga karena dengan gerak serangannya ini, putaran pedangnya kurang kuat dan kalau ia tidak cepat
meloncat ke kiri, tentu ia menjadi korban sambaran sebuah di antara puluhan senjata rahasia.
“Tiada guna... mereka terlalu banyak dan lihai. Lekas kau lari selagi ada kesempatan Kwi Lan.”
“Ih, kalau kau takut, kau larilah. Aku tidak takut, akan kulawan sampai mampus!”
“Aku tidak takut, tapi aku ingin kau menyelamatkan diri, jangan pikirkan diriku...”
“Eh, orang bernama Yu Siang Ki! Apakah kau mau menjadi orang gagah sendiri dan aku harus menjadi
pengecut? Tidak, kalau kita lari, harus lari bersama, kalau melawan terus juga harus berdua!” jawab Kwi
Lan dengan kukuh dan suaranya jelas bernada kemarahan.
“Ah, kau bodoh!” kata Siang Ki sambil memutar tongkat dan mengebutkan lengan baju, lalu melompat
tinggi. Biar pun sudah terluka ternyata ia masih gesit sekali. “Bukan berani atau takut, melainkan kita harus
gunakan otak! Kalau melawan terus dan keduanya mati, siapa akan tolong? Kau lari dulu, kalau aku
tertawan, masih ada kau yang menolongku. Kenapa nekat? Hayo lekas serbu ke sayap kiri, aku bantu kau
melarikan diri!”
Kwi Lan menjadi gemas sekali. Sambil memutar pedang menangkis senjata rahasia, ia berhasil
menangkap sebuah peluru bintang dan cepat mengembalikannya dengan sambitan kuat. Kembali
terdengar jerit seorang anggota bajak roboh dan tewas.
“Aku punya rencana. Hayo kau lindungi aku!” bentaknya kepada Siang Ki, kemudian tanpa memberi
kesempatan kepada pemuda itu untuk membantah, ia sudah meloncat dan menyerbu, bukan ke kiri
melainkan ke kanan.
Yang mengurung di sebelah kiri adalah anggota-anggota termuda Cap-ji-liong dan ketika bertempur tadi
Siang Ki sudah dapat melihat bahwa sayap kiri ini yang paling lemah. Akan tetapi gadis ini sekarang malah
menyerbu sayap kanan di mana terdapat Ma Kiu, ketua Thian-liong-pang yang tentu saja paling kuat di
antara adik-adiknya! Karena melihat Kwi Lan sudah menyerbu, tentu saja ia pun tak dapat mencegah.
Cepat ia melindungi gadis itu dari dekat.
Ma Kiu terkejut dan cepat ia bersama adik-adiknya menyambut serangan Kwi Lan dan sekaligus tiga orang
menangkis sedangkan tiga orang lain membalas dengan serangan dari kanan kiri. Akan tetapi Kwi Lan
tidak peduli akan serangan ini, bahkan ia terus menerjang maju ke arah Ma Kiu dengan tikaman dan
sabetan pedang bertubi-tubi! Melihat ini, tiga orang anggota Cap-ji-liong menjadi girang dan mengira
bahwa serangan mereka tentu akan mengenai sasaran.
“Trang-trang-trang...!” tangkisan tongkat Siang Ki amat kerasnya sehingga golok dan pedang yang
mengancam Kwi Lan itu sampai terpental dari tangan pemegangnya.
Akan tetapi karena Siang Ki sudah terluka dan dalam tangkisan ini ia mempergunakan terlalu banyak
tenaga, maka ketika ruyung di tangan Cap-ji-liong ke empat menyambar punggung, ia tidak dapat
menghindar lagi sehingga punggungnya kena hantaman ruyung! Siang Ki mengeluh dan cepat memutar
tubuh menggerakkan tongkat. Robohlah orang Cap-ji-liong pemegang ruyung itu dan pingsan karena
perutnya terkena sodokan tongkat! Akan tetapi Siang Ki yang menjadi gelap pandang matanya oleh
hantaman ruyung di punggungnya tadi juga roboh karena pada saat itu, dua buah peluru bintang yang
mengandung racun telah menyambar dan mengenai dada dan lehernya! Siang Ki roboh pingsan dengan
tongkat masih terpegang erat-erat.
Pada saat yang hampir berbareng, Kwi Lan yang menyerang Ma Kiu juga telah berhasil. Dengan gerakan
seperti burung walet terbang miring, gadis itu melompat menghindarkan sambaran sepasang pedang Ma
Kiu, Kemudian dari samping atas tangan kirinya bergerak dan tanpa dapat dicegah lagi jari-jari tangannya
dunia-kangouw.blogspot.com
yang kecil halus namun kuat dan cekatan itu telah menotok tengkuk Ma Kiu. Ma Kiu mengeluarkan jeritan
parau dan roboh, kedua pedangnya terlepas. Sebelum adik-adik seperguruannya mampu menolongnya,
Kwi Lan sudah meloncat turun, menginjakkan kaki kirinya pada tubuh Ma Kiu yang pingsan itu,
menodongkan pedangnya ke dada ketua Thian-liong-pang ini sambil membentak.
“Mundur semua atau kurobek perut ketua Thian-liong-pang!”
Ancaman yang dikeluarkan dengan suara nyaring penuh amarah ini berhasil. Orang-orang Thian-liongpang
yang tadinya sudah menggerakkan senjata hendak membunuh Siang Ki yang sudah tak berdaya itu
menarik kembali senjata masing-masing, juga mereka yang hendak menyerbu Kwi Lan kini terpaksa
melangkah mundur. Akan tetapi sepuluh orang Cap-ji-liong yang belum terluka masih mengurung tubuh
Siang Ki yang sudah pingsan. Mereka bukan orang bodoh dan melihat kepala mereka terjatuh di tangan
gadis itu, mereka pun mengurung dan menawan Siang Ki.
“Bebaskan kawanku itu, baru aku akan membebaskan ketua Thian-liong-pang!” kembali Kwi Lan
membentak dan pedangnya masih ditodongkan ke arah dada Ma Kiu.
Seorang di antara sepuluh anggota Cap-ji-liong yang bertubuh kurus bermuka pucat melangkah maju
mewakili teman-temannya. Ia melihat betapa banyaknya anak buah bajak yang roboh menjadi korban nona
perkasa itu, dan melihat pula betapa nyawa ketuanya terancam bahaya maut! Akan tetapi ia pun melihat
betapa bulu mata Ma Kiu bergerak-gerak, tanda bahwa ketuanya itu tidak pingsan!
Memang dalam hal ini Kwi Lan kurang menghargai kepandaian lawan. Ia tidak tahu bahwa Ma Kiu berjuluk
Thai-lek-kwi (Setan Bertenaga Besar), memiliki gwakang yang bukan main kuatnya sehingga jalan darah di
tubuhnya seakan-akan terlindung oleh otot-otot baja dan kulit besi! Tadi ketika terkena totokan, ketua
Thian-liong-pang ini hanya puyeng sebentar akan tetapi jalan darahnya tidaklah terhenti seperti yang
disangka Kwi Lan. Ia hanya setengah pingsan sebentar saja, dan kini ia sudah sadar kembali. Akan tetapi
dasar ia cerdik, ia diam saja karena maklum bahwa sedikit saja ia bergerak, tentu gadis yang sakti ini akan
curiga dan menusuk dadanya.
“Hemm, Mutiara Hitam,” kata anggota Cap-ji-liong yang bermuka pucat tadi, “keadaanmu tidak
menguntungkan, akan tetapi kau masih membuka mulut besar! Kau boleh mengancam ketua kami akan
tetapi kami pun dapat mengancam nyawa kawan baik dan kekasihmu ini. Ha-ha-ha!”
Wajah Kwi Lan menjadi merah sekali, pandang matanya melotot dan ia membentak, “Baik, kau boleh
bunuh dia, akan tetapi selain ketuamu ini kubunuh, juga semua orang Thian-liong-pang takkan kubiarkan
hidup!”
Tiba-tiba anggota Cap-ji-liong yang bermuka pucat itu bersuit nyaring dan mereka berbareng menerjang
maju pada saat Ma Kiu menggerakkan tubuh bergulingan menjauhi Kwi Lan!
Gadis itu kaget sekali. Kalau ia menghadapi penyerbuan mereka, tentu Ketua Thian-liong-pang itu terlepas
dari tangannya. Sebaliknya kalau ia mengejar dan menyerang Ma Kiu yang bergulingan, tentu ia akan
menjadi korban serbuan sepuluh orang Cap-ji-liong! Tentu saja yang terpenting adalah menyelamatkan
dirinya sendiri, karena kalau ia roboh, berarti Siang Ki takkan dapat tertolong lagi.
Dengan geram ia memutar pedangnya menyambut serbuan sepuluh orang anggota Cap-ji-liong itu.
Demikian hebat gerakan pedangnya yang dirangsang kemarahan sehingga tubuhnya berkelebat lenyap
dan gerakan pedang yang aneh itu tidak saja dapat menangkis senjata yang mengancamnya, juga ia
berhasil pula merobohkan dua orang pengeroyok. Sungguh pun pedangnya tidak mengenai tepat, hanya
menyerempet saja namun dua orang anggota Cap-ji-liong itu roboh karena terluka dekat leher.
Segera Kwi Lan dikurung oleh sisa anggota Cap-ji-liong dan anak buah Thian-liong-pang yang amat
banyak. Terdengar suara Ma Kiu marah sekali, “Seret ketua jembel itu dan bawa pergi! Siapkan barisan
Am-gi (Senjata Rahasia), keroyok iblis betina ini!”
Makin bingung dan gelisah hati Kwi Lan mendengar perintah yang dikeluarkan ketua Thian-liong-pang ini.
Ia masih belum berpengalaman seperti Siang Ki. Andai kata ia menurut nasehat Yu Siang Ki dan
menyelamatkan diri, agaknya tidak terlalu sukar bagi Kwi Lan untuk meloloskan diri di dalam kegelapan
malam. Namun gadis ini luar biasa beraninya dan juga tak dapat menahan kemarahannya. Melihat betapa
temannya terancam bahaya maut, ia tidak pedulikan lagi akan keselamatan diri sendiri, terus saja
mengamuk seperti seekor naga sakti.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun Ma Kiu yang maklum akan kelihaian gadis ini dan menghendaki agar gadis ini ditawan dalam
keadaan hidup, lalu mengatur barisan. Mereka lalu mengeluarkan tambang-tambang yang diayun-ayun
untuk menyerimpung kedua kaki Kwi Lan, di samping itu hujan senjata rahasia membuat Kwi Lan sibuk
bukan main. Selain ia harus menghindarkan diri dari hujan senjata, ia pun harus berloncatan karena
kakinya diancam oleh ayunan tambang-tambang yang dipegangi para pengeroyok dari depan dan
belakang serta kiri kanan. Kini ia terkepung rapat dan andai kata ia mempunyai maksud hati untuk
melarikan diri sekali pun sudah tak mungkin lagi, sudah terlambat.
Sementara itu, Ma Kiu yang cerdik dan banyak siasat diam-diam sudah mengambil jaring yang berada di
tepi sungai, jaring para nelayan yang dijemur di tepi sungai. Diam-diam ketua Thian-liong-pang ini
mengatur siasat dan alangkah kaget hati Kwi Lan ketika tiba-tiba banyak sekali jaring melayang dari atas
menyelimutinya. Ia berusaha memutar pedang membela diri. Banyak jaring yang robek oleh pedangnya,
akan tetapi tiba-tiba kakinya terasa sakit tertusuk senjata rahasia anak panah, sehingga ia terhuyunghuyung.
Pada saat itu beberapa buah jaring menutup tubuhnya, dan ada tambang melibat kakinya dan
menjegalnya. Betapa pun kuatnya Kwi Lan, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan roboh terguling.
Para anggota Thian-liong-pang bersorak-sorak dan sebentar saja tubuh Kwi Lan sudah dilibat-libat jaring.
Ia tertawan dalam libatan jaring-jaring itu dan hanya mampu memaki-maki akan tetapi sama sekali tidak
dapat meronta lagi. Ma Kiu memimpin orang-orangnya membawa pergi Kwi Lan dan Yu Siang Ki sebagai
dua orang tawanan penting. Masih untung bagi dua orang muda itu.
Kwi Lan adalah gadis yang pernah mengacau Thian-liong-pang akan tetapi juga mengaku sebagai utusan
Pak-sin-ong yang mengirim kuda hitam, maka ia bukan orang biasa dan oleh Ma Kiu akan dibawa dan
dihadapkan kepada Siauw-bin Lo-mo yang kini hendak mengadakan hubungan dengan barisan Hsi-hsia.
Ada pun Yu Siang Ki adalah Ketua Khong-sim Kai-pang yang menjadi musuh besar Bu-tek Siu-lam karena
pemuda ini berani memusuhi para pengemis baju bersih, maka juga merupakan orang penting yang patut
dihadapkan kepada Siauw-bin Lo-mo untuk diambil keputusan nasibnya. Selain ini, juga Ma Kiu yang
melihat kecantikan Kwi Lan merasa sayang kalau membunuh gadis ini secara begitu saja!
Rombongan orang Thian-liong-pang ini lalu pergi meninggalkan desa Ci-chung, sebagian naik kuda dan
ada yang berjalan kaki mendorong dua buah kereta kecil, yaitu kereta tawanan yang bentuknya seperti
kurungan binatang buas di mana menggeletak Yu Siang Ki yang pingsan dan Kwi Lan yang memaki-maki
di sepanjang jalan.
********************
Lembah Sungai Nu-kiang yang meluncur turun dari lereng Gunung Kao-likung-san memang merupakan
tempat yang selain amat indah, juga amat strategis untuk dijadikan tempat persembunyian para pendeta
Tibet yang memimpin sisa pasukan Hsi-hsia. Lembah ini penuh dengan hutan-hutan liar, tanahnya amat
subur dan selain banyak tetumbuhan yang dapat menjadi bahan makanan, juga di situ banyak terdapat
binatang hutan. Di samping ini semua, keadaan daerah pegunungan yang amat sukar didatangi orang itu
merupakan daerah sunyi dan tidaklah mudah bagi musuh untuk datang menyerbu.
Karena tempat itu dijadikan markas untuk Bouw Lek Couwsu, tokoh pendeta jubah merah dari Tibet
bersama anak buahnya dan pasukan Hsi-hsia, maka di situ telah dibangun pondok-pondok darurat yang
cukup besar. Sisa pasukan yang menyerbu Nan-cao dan gagal karena dapat dipukul mundur, sebagian
besar sudah mengalihkan rencana ke utara untuk memasuki dan mengganggu perbatasan Kerajaan Sung.
Akan tetapi Bouw Lek Couwsu yang suka dengan markas baru ini, hanya menyerahkan penyerbuan atau
pengacauan itu kepada anak buahnya, sedangkan ia sendiri beristirahat di markas baru ini, ditemani Siangmou
Sin-ni yang biar pun tua namun masih kelihatan cantik dan menyenangkan hatinya, apa lagi kalau
diingat bahwa hadirnya iblis betina ini di sampingnya merupakan pembantu yang amat boleh diandalkan
ilmu kepandaiannya menghadapi musuh. Dan kakek berkepala gundul yang wajahnya masih tampan ini
maklum bahwa setelah ia berhasil merusak dan membunuh tokoh-tokoh Beng-kauw, tentu akan banyak
lawan tangguh yang mencarinya.
Biar pun usahanya menyerbu Nan-cao gagal dan pasukan Hsi-hsia dipukul mundur, namun hati Bouw Lek
Couwsu tidaklah terlalu kecewa. Pertama, ia memang tidak terlalu ingin menaklukkan Nan-cao karena
yang ia incar adalah Kerajaan Sung. Ke dua, ia telah berhasil membunuh ketua Beng-kauw dan para
tokohnya sehingga ia dapat membalas kekalahannya dahulu. Ke tiga, anak buahnya juga sudah cukup
puas karena dalam penyerbuan itu mereka merampas banyak harta benda dan menculik banyak wanita
dunia-kangouw.blogspot.com
muda. Untuk kakek pendeta yang hanya menggunakan kependetaannya sebagai kedok belaka ini saja
disediakan belasan orang gadis rampasan yang tercantik, sehingga sambil beristirahat di Lembah Nu-kiang
kakek ini akan dapat bersenang-senang sepuas hatinya.
Juga Siang-mou Sin-ni yang tidak ambil pusing akan apa yang dilakukan bekas kekasihnya, menjadi amat
girang ketika ia dapat menculik Kam Han Ki, putera bungsu Kam Bu Sin. Ia melihat bahwa selain anak
berusia sebelas tahun ini amat tampan dan berwatak gagah, juga memiliki darah murni dan tulang bersih
sehingga terpenuhilah kebutuhannya untuk menyempurnakan ilmunya Hun-beng-to-hoat! Siang-mou Sin-ni
memesan kepada para penjaga untuk menjaga tawanan anak kecil ini baik-baik dan setiap hari supaya
diberi makan minum secukupnya, bahkan diberi hidangan lezat yang sudah ia campuri obat untuk
memperkuat keadaan tubuh anak itu sebelum ia ‘pergunakan’ untuk keperluan ilmunya.
Akan tetapi tidaklah mudah membujuk dan membohongi Kam Han Ki. Anak ini semenjak diculik dan
dibawa ke dalam rimba, lalu dijebloskan ke dalam kamar tahanan selalu memperlihatkan sikap melawan
dan menentang. Sedikit pun anak ini tidak pernah menangis sejak ditangkap. Ia tidak mengenal takut dan
selalu menolak apa bila diberi makan. Setidaknya, ia menerima makanan dengan sikap menentang dan
baru mau makan sedikit kalau tidak ada penjaga melihatnya, ini pun hanya untuk menjaga agar ia tidak
kelaparan saja, sedangkan sisanya ia lemparkan ke lantai. Sebab itu tidaklah mengherankan, walau pun
sudah diberi makanan dan minuman yang lezat dan berlebihan, ditunggu sampai satu dua pekan tubuh
Han Ki tidak makin segar, melainkan makin kurus dan pucat.
Setengah bulan kemudian, pada pagi hari itu Siang-mou Sin-ni sendiri datang memasuki kamar tahanan
Han Ki yang berpintu jeruji besi dan terkunci dari luar. Melihat masuknya wanita cantik berpakaian mewah
dengan rambut terurai panjang yang mengeluarkan bau wangi memabokkan itu, sepasang mata Han Ki
sudah bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Wanita inilah yang bersama pendeta gundul berkaki
buntung yang membunuh ayah bundanya, dan wanita inilah yang telah menculiknya, menotok dan
memondongnya sambil berlari seperti terbang cepatnya ke tempat ini.
Melihat wanita ini memasuki kamar tahanan yang bersih dan tidaklah seburuk kamar tahanan biasa, Han Ki
melangkah mundur sampai kedua kakinya menyentuh tempat tidur, lalu ia duduk di pembaringannya.
Matanya tak pernah berkedip memandang wanita ini, jantungnya berdebar karena di samping kemarahan
dan kebenciannya, ia dapat menduga bahwa wanita ini tak mungkin berniat baik terhadap dirinya.
Sejenak Siang-mou Sin-ni memandang dengan matanya yang genit, kemudian ia tersenyum, menggelenggeleng
kepalanya dan berkata, suaranya halus dan manis. “Anak baik, namamu Kam Han Ki, bukan? Ah,
mengapa kau mengecewakan hatiku? Kau tidak mau makan dengan baik-baik sehingga tubuhmu makin
kurus. Kenapa kau menyiksa dirimu? Aku sayang padamu, Han Ki.”
“Kalau sayang kenapa kau bunuh ayah bundaku? Tidak, kau jahat dan biarkan aku pergi dari sini!” Sambil
berkata demikian, Han Ki yang melihat betapa pintu tahanan yang kokoh kuat itu kini sudah terbuka, lalu
mengerahkan tenaga dan melompat ke arah pintu untuk melarikan diri. Betapa pun juga ia adalah putera
suami isteri pendekar, sejak kecil sudah menerima gemblengan dasar-dasar ilmu silat sehingga
gerakannya cepat dan sebentar saja ia sudah lari ke luar menerobos pintu.
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terbetot ke belakang, bahkan melayang kembali ke dalam kamar. Han Ki
meronta dan kaget sekali melihat betapa tubuhnya sudah terbelit rambut yang hitam dan harum
memabokkan, kemudian ia mendengar suara tertawa merdu yang amat dibencinya itu.
“Hi-hi-hik, Kam Han Ki, kau tampan dan nyalimu besar. Bagus!”
Han Ki hendak meronta, namun sia-sia. Rambut itu seperti hidup, membelit dan mengikatnya, membuat
kaki tangannya tak dapat bergerak. Ia tahu-tahu telah berada di atas dada wanita itu seperti dipegangi
rambut yang amat kuat. Kedua tangan iblis betina itu mulai membelai-belainya, mengelus-elus kepala,
meraba-raba muka, dagu dan leher, mengurut-urut dada dan punggung penuh kasih sayang. Namun
sentuhan-sentuhan ini menimbulkan rasa dingin dan ngeri di hati Han Ki, seakan-akan bukan kedua
tangan, melainkan ratusan ekor ular yang menggeliat-geliat dan merayap-rayap di sekujur tubuhnya. Akan
tetapi ia tidak mampu bergerak, hanya menatap wajah yang amat dekat itu dengan mata terbelalak. Karena
wajah wanita itu amat dekat dengan wajahnya, ia merasa betapa hawa panas keluar dari mulut dan hidung
wanita itu menyentuh pipinya, dan ia melihat betapa wajah itu sebenarnya penuh gurat-gurat halus
tersembunyi di balik bedak dan yanci. Ia makin serem dan ngeri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hi-hi-hik, anak baik, anak tampan dan ganteng. Engkau tampan dan ganteng seperti Kam Bu Sin,
ayahmu. Hi-hik ayahmu dahulu pernah menjadi kekasihku, tahukah kau anak baik? Dia amat cinta
kepadaku... hi-hik”
“Bohong...!” Han Ki tidak begitu mengerti akan arti ucapan wanita ini, akan tetapi mendengar bahwa
ayahnya mencinta iblis betina ini, mana ia mau percaya?
“Hi-hi-hik, siapa bohong? Kau lebih tampan dari dia, hem... kulitmu lebih halus, darahmu lebih bersih dan
murni... hemmm...!” Tiba-tiba wanita itu mencium dahinya, pipinya hidungnya, bahkan kemudian mulut
yang merah itu mencium mulutnya!
Han Ki gelagapan hampir pingsan, mengira bahwa wanita itu akan menggigiti dan seperti seekor serigala
akan memakannya. Ia merasa ngeri, jijik, takut dan terutama sekali marah. Ketika Siang-mou Sin-ni
mencium mulutnya seperti orang gila, atau lebih mirip dengan seekor kucing yang hendak menggerogoti
tubuh tikus, Han Ki merasa betapa dada di mana tubuhnya menempel itu terengah-engah, merasa betapa
mulut yang mencium bibirnya itu panas terengah dan betapa rambut yang membelit tubuhnya mengendur.
Saking takut, jijik dan marahnya, ia menggunakan kesempatan selagi rambut yang membelitnya itu
mengendur, ia meronta sekuat tenaga sambil menarik mukanya ke belakang
Gerakannya yang tiba-tiba membuat ia merosot dan cepat kedua tangannya merangkul pundak dan leher
Siang-mou Sin-ni, kemudian dengan buas dan terdorong kemarahan meluap-luap, Han Ki membuka
mulutnya dan... menggigit ternggorokan Siang-mou Sin-ni! Mulutnya bertemu kulit leher yang halus, terus
saja ia menggunakan giginya yang kuat menggigit sekuat tenaga, bertekad untuk menggigit dan tidak akan
melepaskan gigitannya biar pun ia dipukul sampai mati!
“Aiihhh...!” Siang-mou Sin-ni menjerit lirih.
Dia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan jarang ada tokoh kang-ouw yang
dapat menandinginya. Dialah seorang di antara Thian-te Liok-kwi (Enam Iblis Bumi Langit) yang tersohor
puluhan tahun, dan bahkan dialah satu-satunya orang di antara Enam Iblis yang masih hidup. Ilmu
kepandaiannya amat hebat bahkan mengerikan bagi banyak tokoh kang-ouw. Baru ilmunya
mempergunakan rambut panjang saja sudah sukar dicari jagoan yang mampu menghadapinya, belum lagi
ilmunya yang disebut Tok-hiat-hoat-lek, yaitu semacam pukulan darah beracun, bukan main kejinya.
Akan tetapi karena dalam detik-detik tadi ketika ia mencium Han Ki, ia dikuasai oleh nafsu binatang karena
mengilar akan kemurnian darah dan kebersihan tulang anak itu, maka ia berada dalam keadaan seorang
mabok, dan pada detik-detik itu semua tenaga sakti seakan-akan melayang meninggalkan raganya yang
dikuasai oleh nafsu binatang dan semua pikiran dan perasaannya hanya ditujukan akan kenikmatan
menguasai darah dan sumsum bocah itu untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dilatihnya. Inilah
sebabnya mengapa gigitan Han Ki dengan tepat mengenai sasaran, bahkan kulit tenggorokannya robek
oleh gigitan itu. Padahal dalam keadaan biasa, bukan kulit lehernya yang robek, melainkan gigi anak itu
yang rontok!
Betapa pun juga, sebagai seorang berilmu tinggi, hanya sedetik Siang-mou Sin-ni terkejut. Kalau saja ia
bukan orang yang memiliki kesaktian luar biasa, agaknya dalam kaget dan marah ia tentu sekali
menggerakkan jari tangan membunuh anak itu. Namun ia cukup sadar bahwa ia amat membutuhkan bocah
ini, maka ia tidak menurunkan tangan maut, melainkan menggunakan tangan mengetuk perlahan tengkuk
Han Ki. Bocah itu mengeluh dan gigitannya terlepas, lalu roboh di atas pembaringannya karena
dilemparkan, dalam keadaan pingsan.
Siang-mou Sin-ni meraba tenggorokannya dan tersenyum memandang anak itu. “Hebat,” bisiknya, “kulit
leherku sampai pecah-pecah terluka.” Ia lalu melangkah ke luar dan memanggil penjaga yang datang
berlarian. “Jaga baik-baik anak ini dan mulai sekarang, semua hidangan dariku untuknya harus dia makan,
kalau perlu dijejalkan ke dalam mulutnya secara paksa.”
Ketika malam hari itu Han Ki siuman dari pingsannya, ia bergidik ngeri dan jijik teringat akan peristiwa pagi
hari tadi. Ia merasa beruntung masih hidup. Semalaman itu ia duduk termenung memikirkan
pengalamannya. Yang selalu terngiang di telinganya adalah pengakuan Siang-mou Sin-ni bahwa mendiang
ayahnya dahulu adalah kekasih iblis betina itu! Ia tidak sudi untuk mempercayai hal ini, akan tetapi entah
bagaimana, ucapan itu selalu teringat olehnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja anak ini sama sekali tidak mau percaya karena ia menjunjung tinggi kepada mendiang ayahnya,
seorang pendekar dan menantu ketua Beng-kauw. Padahal apa yang diucapkan iblis betina itu memang
ada benarnya. Pernah Kam Bu Sin menjadi kekasih iblis betina ini dahulu, akan tetapi kekasih paksaan
karena Kam Bu Sin melayani semua kehendak dan nafsu iblis Siang-mou Sin-ni dalam keadaan tidak
sadar karena telah dicekoki obat perampas semangat. (baca cerita CINTA BERNODA DARAH)!
Pada keesokan harinya, seperti biasa pagi-pagi sekali orang sudah mengantar makanan lezat untuknya.
Akan tetapi bedanya, kali ini yang datang mengantar makanan adalah seorang hwesio jubah merah yang
bermuka bengis.
“Kau makan ini, kalau tidak mau akan kujejalkan ke mulutmu secara paksa,” hwesio itu mengancam sambil
menyeringai, tampak giginya yang besar-besar dan berwarna kuning dekil. Melihat gigi besar-besar kuning
dekil dan mencium bau memuakkan dari mulut hwesio yang didekatkan di mukanya itu saja sudah
membuat Han Ki mual perutnya dan tidak ada nafsu makan sama sekali biar pun perutnya lapar. Apa lagi
karena ia masih marah terhadap Siang-mou Sin-ni. Wajah yang cukup bengis itu tidak mendatangkan rasa
takut pada hati anak pemberani ini.
“Aku tidak sudi. Kau makan sendiri!” ia menjawab sambil membuang muka.
“Ha-ha-ha, memang kuharapkan kau akan menolak, biar puas hatiku menjejalkan makanan ini di mulutmu,
bocah bandel!” bentak hwesio itu dan secepat kilat tangan kirinya yang penuh bulu hitam itu meraih,
mencengkeram pundak Han Ki dan menarik naik anak ini mendekat.
Ia tidak pedulikan Han Ki meronta-ronta, mendudukkan anak itu dipangkuannya dan menelikung kedua
lengan anak itu. Tangan kirinya lalu membuka mulut Han Ki secara paksa. Tentu saja amat mudah bagi
hwesio yang memiliki tenaga besar dan berkepandaian tinggi ini untuk memaksa Han Ki membuka mulut,
kemudian ia menjejalkan makanan itu dalam mulut Han Ki. Bocah ini tersedak-sedak, terengah-engah dan
karena makanan itu dijejalkan sampai menutup leher dan menghalangi jalan pernapasannya, mau tak mau
ia terpaksa harus menelannya!
Percuma saja Han Ki meronta-ronta, dan percuma saja ia berusaha untuk tidak menelan makanan, karena
hal ini tidak mungkin. Akhirnya semua makanan semangkok penuh itu terjejal ke mulut dan memasuki
perutnya! Masakan ini memang lezat dan hal ini sudah diketahui Han Ki yang kadang-kadang makan pula,
akan tetapi dijejal seperti ini lenyaplah rasa lezatnya. Ketika hwesio itu selesai menjejalkan makanan dan
melemparkan tubuh Han Ki kembali ke atas ranjang, dua butir air mata meloncat ke luar dari mata Han Ki
yang melotot dan hinggap di atas kedua pipinya. Ia memandang hwesio itu dengan mata melotot penuh
kebencian. Akan tetapi hwesio itu mengebut-ngebutkan bajunya dan berkata.
“Aku masih ingin sekali menjejalkan makanan beberapa kali sampai perutmu penuh dan bibirmu robek. Haha-
ha!” Setelah berkata demikian, hwesio itu keluar dari kamar. Penjaga segera datang, mengambil
mangkok dan menutup pintu lalu menguncinya.
Setelah berada seorang diri, Han Ki duduk terlongong. Hampir ia menangis menggerung-gerung kalau saja
hatinya tidak menahannya. Ia tidak mau menangis, apa lagi di depan hwesio itu. Ia tidak mau memberi
kesenangan pada musuh-musuhnya dengan tangisnya! Akan tetapi Han Ki seorang anak yang cerdik. Ia
pun maklum bahwa kalau ia tidak mau makan, tentu hwesio itu memenuhi ancamannya dan kalau sampai
dijejali lagi, berarti ia mengalami penghinaan dan agaknya hal itu menyenangkan hati si Hwesio bengis.
Inilah sebabnya maka mulai saat itu, setiap kali hwesio itu membawa masakan, ia segera memakannya
dengan sukarela sampai habis.
Luar biasa sekali hasilnya. Dalam waktu sepekan saja tubuh Han Ki menjadi gemuk, dagingnya penuh,
kedua pipinya kemerahan dan sepasang matanya bersinar-sinar tajam! Inilah hasil obat kuat dalam
masakan-masakan yang dibuat oleh Siang-mou Sin-ni sendiri. Obat yang mengandung hawa panas,
memanaskan darah dan menguatkan tulang, menambah sumsum.
Han Ki merasa sehat dan kuat, hanya ia sering kali kepanasan sampai sering ia membuka bajunya di
waktu siang, tidak kuat karena merasa tubuhnya seolah-olah terbakar. Dan kini yang membawa datang
makanan bukan lagi hwesio bengis. Agaknya karena Han Ki tidak pernah menolak untuk makan hidangan,
Siang-mou Sin-ni tidak mau lagi menggunakan hwesio untuk mengancam, dan kini masakan dibawa
datang oleh penjaga biasa. Penjaga itu seorang Hsi-hsia, biar pun cukup kuat dan galak, akan tetapi tidak
mempunyai watak sadis (suka menyiksa) seperti hwesio itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam itu si Penjaga kembali datang membawa makanan untuk Han Ki. “Mungkin malam ini yang terakhir
kau di sini,” kata si Penjaga sambil lalu.
Berdebar jantung Han Ki mendengar ini. “Mengapa? Aku hendak diapakan?” tanyanya.
Penjaga itu tertawa mengejek. “Apa lagi? Kau anak musuh, tidak disembelih sejak dulu sudah untung! Haha,
agaknya Sin-ni suka kepadamu. Entah bagaimana aku tidak tahu... heh-heh, menurut pikiranku, kau
masih terlalu kecil, mana bisa melayaninya?”
Tentu saja Han Ki tidak mengerti maksudnya, akan tetapi ia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi halhal
yang tidak baik atas dirinya. Harus sekarang kulaksanakan, pikirnya. Untung atau buntung. Hidup atau
mati, tidak ada pilihan lagi.
“Paman yang baik, apa pun yang akan terjadi, sampai mati aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Han Ki
sengaja terisak-isak seperti bocah terharu dan menangis.
Belasan hari lamanya, si Penjaga diam-diam amat kagum menyaksikan Han Ki. Bocah berusia sebelas
tahun menjadi tawanan, namun tak pernah menangis, tak pernah mengeluh, tak pernah ketakutan. Maka
kini melihat Han Ki menangis di depannya dan menyatakan tidak melupakan kebaikannya, ia tentu saja
terheran-heran.
“Huh? Apa maksudmu?”
“Selama ini kau telah menjaga diriku, Paman. Aku tidak punya apa-apa, hanya ini kubawa dari rumah
orang tuaku, akan kutinggalkan kepadamu sebagai kenang-kenangan dan balas budi...“ Dari balik bajunya,
Han Ki mengeluarkan sebuah benda yang macamnya seperti sehelai tambang, akan tetapi sesungguhnya
adalah baju dalamnya yang terbuat dari pada sutera putih dan yang selama ini ia pilin-pilin menjadi seperti
tali. Tadinya ia melepas baju dalam ini karena merasa tubuhnya panas, akan tetapi ketika ia bermain-main
dan memilin-milinnya, timbullah gagasan untuk menyelamatkan diri dengan tali istimewa ini.
“Huh? Apa ini...?” Orang Hsi-hsia yang belum banyak mengerti tentang benda-benda milik orang kota
memandang heran.
“Inilah kalung jimat para bangsawan di Nan-cao, Paman. Sebagai cucu ketua Beng-kauw, aku selalu
memakai kalung ini. Kau diamlah, biar aku memakaikannya kepadamu, Paman, dan kau akan tahu nanti
bagaimana besar manfaatnya.” Tanpa menanti jawaban. Han Ki memutari tubuh penjaga itu dan berdiri di
belakangnya.
Orang Hsi-hsia itu terlampau heran dan ingin tahu, maka ia hanya tersenyum menanti.
“Beginilah pakainya, Paman.” Han Ki lalu menggunakan kedua tangan memegangi kedua ujung tali sutera
itu, mengalungkan secepatnya di leher penjaga, kemudian ia membelit-belit kedua ujung pada lengannya
dan menarik sekuat tenaga!
Orang Hsi-hsia itu terkejut, meronta hebat. Namun Han Ki sekarang sudah menempelkan tubuh pada
punggungnya seperti seekor lintah, kedua kakinya mengempit pinggang, kedua tangan sekuat tenaganya
menarik ujung tali. Semenjak kecil Han Ki telah digembleng orang tuanya, maka ia telah memiliki dasar
tenaga dalam.
Namun, andai kata ia tidak kebetulan diberi makan obat yang dicampurkan dalam masakan oleh Siangmou
Sin-ni, kiranya tenaga anak berusia sebelas tahun ini belum tentu akan dapat mencekik si Penjaga
yang kuat. Kebetulan sekali, pengaruh obat Siang-mou Sin-ni luar biasa hebatnya, membuat tenaga dalam
anak itu bertambah kuat beberapa kali lipat! Beberapa menit lamanya orang Hsi-hsia yang tak dapat
berteriak dan tak dapat bernapas itu meronta-ronta, bergulingan, namun tubuh anak itu tetap lengket di
punggungnya dan akhirnya ia berkelojotan dan matanya mendelik, lidahnya terjulur ke luar.
Setelah penjaga itu tidak berkutik lagi, barulah Han Ki melepaskan cekikan talinya lalu meloncat menjauhi.
Seluruh tubuhnya berpeluh, bukan hanya karena hawa panas yang menyelubungi tubuhnya, juga karena
tegang dan tadi mengerahkan tenaga. Ia memegangi kedua kaki penjaga itu dan menyeretnya. Ia sendiri
merasa heran mengapa tubuh penjaga itu demikian ringan. Ia tidak tahu bahwa bukan tubuh si Penjaga
yang ringan, melainkan tenaganya yang kini menjadi amat kuat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diseretnya mayat itu ke bawah pembaringannya dan ditariknya tilam pembaringan ke bawah sehingga
menutupi kolong pembaringannya. Kemudian ia mengatur letak guling bantal, ditutupnya dengan selimut
sehingga sepintas lalu tampak seolah-olah ia tidur dan berselimut dari kaki sampai menutupi kepala.
Setelah itu dengan cepat namun hati-hati ia keluar dari pintu, menutupkan pintu dan mengancingkannya
dari luar.
Ia tidak tahu sama sekali bahwa tempat ia ditahan itu merupakan kamar belakang dari bangunan yang
menjadi tempat tinggal Bouw Lek Couwcu dan Siang-mou Sin-ni! Bangunan ini biar pun dibuat secara
darurat, namun amat luas. Di sinilah Bouw Lek Couwsu tinggal ditemani gadis-gadis rampasan yang
menempati beberapa buah kamar-kamar besar ini, sedangkan Sian-mou Sin-ni tinggal terpisah.
Karena dari kamar tahanan itu tidak ada jalan ke luar kecuali melalui ruangan belakang dan yang pertamatama
menembus ke kamar Siang-mou Sin-ni yang selalu ingin berdekatan dengan kamar tahanan calon
korbannya, maka ketika Han Ki menyelinap ke luar dan berjalan melalui lorong dalam rumah itu, ia makin
mendekati kamar Siang-mou Sin-ni seperti seekor kelinci mendekati sarang macan!
Tiba-tiba suara ketawa cekikikan membuat ia berhenti bergerak dan merasa jantungnya seakan-akan copot
karena suara ketawa itu ia kenal sebagai suara Siang-mou Sin-ni. Suara itu keluar dari jendela yang tepat
berada di pinggir kepalanya, jendela kamar Siang-mou Sin-ni! Dengan jantung berdebar Han Ki lalu
mengintai dari celah-celah daun jendela, menahan napas. Untung bahwa ia bertelanjang kaki sehingga
tapak kakinya tidak menerbitkan suara. Sedikit saja ada suara tentu takkan terlepas dari telinga Siang-mou
Sin-ni dan Bouw Lek Couwsu yang berada di kamar itu.
“Hi-hi-hik, kau bajul buntung tua bangka tak bermalu!” terdengar suara Siang-mou Sin-ni.
Han Ki yang mengintai kini melihat kakek yang kaki kirinya buntung dan bertubuh tinggi besar berjubah
merah, sedang duduk bersila di atas pembaringan yang indah. Kakek ini tersenyum-senyum dan wajahnya
yang tampan itu masih kelihatan muda dan sehat. Tangan kanannya memegang sebuah cawan emas yang
besar. Siang-mou Sin-ni rebah dengan kepala di atas pangkuan Bouw Lek Couwsu, rambutnya yang
panjang terurai sampai ke lantai. Wanita ini tertawa-tawa dengan sikap genit dan manja, lalu menyambung
kata-katanya.
“Kau sudah tua bangka akan tetapi hatimu lebih muda dari pada orang yang paling muda! Masih kurangkah
perempuan muda yang kau keram di sini? Masa kau menginginkan pula dua orang dara itu?”
Bouw Lek Couwsu yang sudah mendekatkan cawan emas pada bibirnya, menunda minumnya dan
memandang wajah yang menengadah di atas pangkuannya, tersenyum dan berkata, “Kim Bwee, setua ini
kau masih cemburu?” Ia tertawa bergelak.
Siang-mou Sin-ni cepat bangkit duduk dan matanya mendelik. “Tua bangka menyebalkan! Aku cemburu
padamu? Huh, memalukan! Kau tahu aku tidak cemburu, aku tidak peduli kau akan mengumpulkan ribuan
perempuan seperti juga kau tidak cemburu dan peduli kalau aku mengumpulkan ribuan pemuda-pemuda
tampan. Akan tetapi, dua orang dara itu adalah puteri Kam Bu Sin, mereka itu adalah cucu-cucu ketua
Beng-kauw yang sudah berhasil kita bunuh. Mereka tadinya dapat lolos, sekarang dapat tertawan oleh
murid-muridmu, itu baik sekali. Kenapa tidak lekas bunuh mereka? Makin lama mereka dibiarkan hidup,
makin banyak pula kesempatan bagi mereka untuk lolos. Lebih baik kita singkirkan bahaya di hari depan
kita.”
“Hemmm, omonganmu selalu benar, Kim Bwe. Akan tetapi, aku merasa sayang untuk membunuh mereka
begitu saja. Seperti juga bocah laki-laki yang akan kau ambil darah dan sumsumnya, dua orang dara itu
adalah keturunan orang pandai, mereka memiliki tulang yang baik dan darah bersih, juga... hemm, amat
cantik jelita. Malam ini, aku janji padamu, mereka akan kutundukkan mau atau tidak mau, dan besok masih
belum terlambat untuk membunuh mereka.”
“Huh, dasar mata keranjang. Akan kulihat besok, kalau kau belum bunuh mereka, aku sendiri yang akan
turun tangan!”
Bouw Lek Couwsu mendekatkan mukanya dan mencium pipi Siang-mou Sin-ni. Sambil tertawa ia
mendekatkan cawan emas pada bibirnya, tetapi kembali ia menunda karena Siang-mou Sin-ni berkata
mencela.
“Kau akan mencelakai dirimu dengan minuman seperti itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, mana bisa celaka? Darah ular salju amat besar khasiatnya, tentu saja terutama sekali
kepadaku. Kau tahu, aku ahli Im-kang aku membutuhkan racun dingin untuk memperkuat tenagaku, tidak
seperti kau yang suka akan yang panas-panas, ha-ha-ha!”
Pada saat itu terdengar pintu terketok dari luar. Han Ki yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan
dengan wajah pucat dan tubuh menggigil saking gelisahnya mendengar dua orang kakak perempuannya
juga tertawan, menjadi makin kaget dan cepat-cepat ia menarik kepalanya, mendekam di bawah jendela
yang gelap. Ia hanya mendengarkan sambil menahan napas. Akan tetapi ternyata bahwa yang datang
memasuki kamar itu adalah seorang pendeta jubah merah anak buah Bouw Lek Couwsu dan mereka
bicara dalam bahasa Tibet yang sama sekali tidak dimengerti Han Ki. Kemudian terdengar Bouw Lek
Couwsu memaki-maki, juga Siang-mou Sin-ni berseru marah.
“Mari kita lihat bagaimana macamnya iblis itu!” Terdengar mereka meninggalkan kamar.
Setelah keadaan di situ sunyi, barulah Han Ki berani menggerakkan lehernya mengintai. Kamar itu kosong.
Hatinya berdebar. Kedua orang kakaknya tertawan pula. Di mana? Dengan hati-hati ia lalu naik ke atas
jendela, lalu memasuki kamar itu. Tubuhnya masih gemetar dan jantungnya masih berdebar. Lehernya
seperti dicekik, amat kering dan haus. Keadaan sudah amat sunyi dan agaknya ia akan dapat melarikan
diri, akan tetapi ia mendengar bahwa dua orang kakaknya tertawan, lenyaplah keinginan hatinya untuk
melarikan diri. Ia lama menyelidiki dan mencari di mana kedua orang kakaknya ditahan dan ia akan
berusaha menolongnya!
Bau harum sedap menarik perhatiannya. Cawan emas itu masih di atas meja dan isinya penuh. Agaknya
Bouw Lek Couwsu tidak sempat meminumnya, keburu datang pelapor yang membuatnya marah-marah
dan meninggalkan kamar. Mencium bau sedap dan melihat isi cawan yang kuning kemerahan dan jernih,
makin kering rasa tenggorokannya. Sebagai putera pendekar yang dilatih silat sejak kecil Han Ki tidak
asing dengan arak, karena sering kali ia diharuskan minum arak obat untuk memperkuat tulang-tulangnya
dan membersihkan darahnya.
Dalam keadaaan gelisah ia menjadi haus sekali, melihat arak dalam cawan emas itu tak dapat ia menahan
keinginan hatinya. Tanpa banyak pikir lagi ia lalu menyambar cawan emas dan menuang isinya ke mulut.
Sedap dan manis! Rasa enak membuat ia minum terus sampai cawan itu kosong. Ketika ia melempar
kembali cawan ke atas meja, ia mengeluh dan terhuyung-huyung ke kanan kiri.
Tubuhnya terasa aneh sekali, sebentar rasa panas yang selama ini memenuhi tubuhnya menjadi makin
panas seperti terbakar, akan tetapi di lain saat menjadi dingin sampai giginya atas bawah saling beradu
dan tubuhnya menggigil. Selain ini, di dalam dada dan seluruh tubuhnya terjadi tarik menarik antara dua
macam tenaga raksasa yang membuat tubuh anak itu terhuyung-huyung dan kemudian robohlah Han Ki
dalam keadaan pingsan di atas lantai dalam kamar Siang-mou Sin-ni!
Apakah yang terjadi pada anak ini? Dia menjadi korban pengaruh dua macam obat yang bertentangan!
Mula-mula ia dijejali makanan yang mengandung hawa panas luar biasa, yang membuat darahnya seolaholah
mendidih dan tubuhnya menjadi panas sekali. Kemudian tanpa ia ketahui, ia minum obat dalam cawan
emas, obat yang disangkanya arak biasa. Padahal obat itu adalah milik Bouw Lek Couwsu, obat yang
mengandung hawa dingin luar biasa karena terbuat dari pada darah ular salju. Dengan demikian dua
macam obat berbahaya yang memiliki daya kekuatan luar biasa, panas dan dingin, bertemu di dalam
tubuhnya, diserap oleh darahnya yang menjadi medan pertempuran antara dua kekuatan. Darahnya
keracunan secara hebat sekali.
Ketika akan roboh pingsan, dari mulut anak ini keluar bisikan. “Aku harus menolong kedua enciku (kakak
perempuanku) ... harus kutolong mereka...!”
Seperti kita ketahui atau dapat menduga, dua orang enci anak ini, Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui,
telah lenyap ketika mereka sedang menonton pertandingan antara Siauw-bin Lo-mo melawan Kiang Liong.
Pada saat Siauw-bin Lo-mo meledakkan senjata rahasianya yang mengeluarkan asap tebal, dua orang
gadis itu secara tiba-tiba roboh tertotok. Mereka kaget dan heran sekali karena tidaklah sembarang orang
mampu merobohkan mereka begitu mudah dengan serangan gelap dari belakang.
Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang mengempit tubuh mereka dengan kedua lengan adalah
searang pendeta gundul jubah merah yang berkaki satu, tahulah mereka bahwa nyawa mereka terancam
dunia-kangouw.blogspot.com
maut. Mereka terjatuh ke dalam tangan musuh besar mereka, Bouw Lek Couwsu yang sakti, yang telah
membunuh ayah bunda dan kakek mereka!
Ketika kakek itu tidak segera membunuh mereka dan menjebloskan mereka ke dalam kamar tahanan,
dibelenggu dan dijaga oleh hwesio-hwesio jubah merah, dua orang gadis itu dapat menduga bahwa nasib
yang lebih mengerikan dari pada maut sendiri yang tengah menanti mereka. Namun mereka tidak berdaya
sama sekali, hanya mengambil keputusan bahwa setiap kesempatan akan mereka pergunakan untuk
mengamuk dan mengadu nyawa.....
********************
“Ke sini jalannya,” Po Leng In berbisik sambil menarik tangan Kiang Liong yang digandengnya. Mereka
menyusup di antara pohon-pohon kecil, setengah merunduk dan mendaki naik lereng gunung itu.
“Sekeliling puncak terjaga kuat, hanya bagian ini yang tidak terjaga karena sukar dilewati.” Setelah berbisik
demikian, karena muka mereka saling berdekatan, Po Leng In merangkul leher dan mencium.
“Sudah, bukan saatnya bersenang-senang!” Kiang Liong mencela sambil menjauhkan mukanya.
Po Leng In menarik napas panjang. “Liong-koko...,” bisiknya dengan suara mesra dan manja, “Aku... aku
cinta padamu..., selamanya aku tak ingin berpisah dari sampingmu...”
“Huh, cukuplah. Kita bertemu dan bersenang-senang, cukup sudah. Kau berjanji untuk membantuku
menolong Siang Kui, Siang Hui, dan Han Ki. Jalan hidup kita bersimpang, setelah selesai tugasku, kita
berpisah sebagai sahabat.”
“Tapi....”
“Cukup sudah! Tidak ada cinta di antara kita, tidak ada kecocokan dalam jalan hidup. Asal kelak kita tidak
saling bertentangan dalam jalan hidup masing-masing, hatiku akan lega. Nah, ke mana sekarang
jalannya?”
Wajah yang cantik itu menjadi muram, mulutnya yang tadinya tersenyum bahagia itu kini menjadi pahit.
“Aku tahu... aku harus tahu diri....“ Po Leng In menahan isak yang keluar dari dalam dada, kemudian
menudingkan telunjuknya ke depan. “Lewat lereng berbatu-batu itu dan kita akan berada di wilayah
kediaman mereka. Lihat itu sungai Nu-kiang sudah tampak.”
Kiang Liong memandang ke kanan yang ditunjuk wanita itu. Di bawah sana tampak air sungai yang berlikuliku
berwarna putih, dan di sebelah depan, masih remang-remang di senja hari itu, tampak puncak Kaolikung-
san yang menjadi markas para pendeta jubah merah. Di sanalah kedua orang gadis dan adik
mereka ditawan dan diam-diam Kiang Liong berdoa semoga tiga orang itu masih dalam keadaan selamat.
Tiba-tiba Po Leng In memegang lengannya. “Sst, Koko, lihat...!”
Tempat mereka berdiri merupakan lereng yang tinggi dan dari situ mereka dapat melihat pemandangan
terbuka di sebelah timur gunung Kao-likung-san. Kiang Liong dapat melihat serombongan orang mendaki
bukit itu, gerakan mereka cepat dan tangkas dan di tengah-tengah rombongan terdapat dua buah kereta
tahanan yang didorong-dorong naik.
Po Leng In mengeluarkan suara melengking tinggi, mengagetkan Kiang Liong. Pemuda itu memegang
lengannya erat-erat dan membentak lirih. “Apa yang kau lakukan?”
“Aku memberi peringatan kepada para penjaga dan semua yang berada di atas.”
“Eh, apa maksudmu? Bukankah hal itu membuat mereka siap dan akan menyukarkan aku menolong anakanak
mendiang Paman Bu Sin?”
Po Leng In menggeleng kepalanya. “Sebaliknya malah. Jika para penjahat melihat rombongan orang asing
itu tentu mereka akan turun dan semua perhatian akan dicurahkan terhadap rombongan itu. Di dalam
keributan, apa lagi di waktu malam, penjagaan di atas menjadi kurang diperhatikan dan kau dapat bergerak
leluasa.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiang Liong mengangguk-angguk dan melepaskan lengan gadis, itu. “Marilah kita lanjutkan perjalanan ke
atas.”
Po Leng In menggeleng kepalanya. “Jangan, kau menanti di sini sampai gelap. Aku harus pergi dulu.”
Kembali tangan pemuda ini memegang lengannya. “Leng In, apa sebetulnya kehendakmu?” pertanyaan ini
disertai pandang mata penuh selidik dan curiga.
“Aih, Liong-koko, kau masih belum percaya kepadaku? Kepada orang lain, mungkin aku akan melakukan
pengkhianatan atau aku akan membunuhnya, habis perkara. Akan tetapi tidak mungkin terhadapmu. Kau
tahu, setelah aku mengeluarkan suaraku tadi, guruku dan yang lain-lain akan tahu bahwa aku telah datang.
Kalau aku tidak lekas-lekas menemui mereka, apa kau kira mereka takkan menjadi curiga? Aku harus
segera naik ke sana, dan akan kuusahakan agar mereka semua turun puncak menghadapi rombongan.
Kalau sudah gelap, kau boleh merayap terus, melalui lereng berbatu itu. Kemudian setelah kau melihat
bangunan-bangunan di puncak, carilah bangunan yang paling besar di tengah. Di sanalah dua orang gadis
itu ditawan, sedangkan adik mereka itu ditawan dalam bangunan di samping kanannya, tempat tinggal
guruku. Kurasa hanya penjaga-penjaga lemah saja yang akan menghalangimu.”
“Maafkanlah kecurigaanku tadi, Leng In. Baiklah aku menurut petunjukmu.”
Po Leng In tiba-tiba merangkulnya. “Koko, kau... kau takkan melupakan Po Leng In, bukan...?”
Kiang Liong menggeleng kepalanya, akan tetapi lalu menyambung lirih. “Aku akan tetap mengenangmu
sebagai sahabat, kecuali... kecuali kalau kelak kita saling jumpa dalam keadaan lain. Kalau jalan kita
bersimpang, terpaksa aku menentang kau dan gurumu.”
Po Leng In terisak, melepaskan rangkulannya lalu lari ke depan menuju ke puncak.
“Gadis yang hebat,” Kiang Liong berkata seorang diri. “Sayang terjerumus menjadi murid iblis betina itu.”
Ia duduk terlindung pohon-pohon kecil dan dari tempat ia duduk, ia dapat memandang ke bawah, ke
sebelah timur. Dari tempat ia berada, ia tak dapat melihat siapa adanya rombongan orang yang
gerakannya tangkas itu, juga tidak tahu siapa yang berada di dalam dua buah kerangkeng tahanan. Akan
tetapi ia mengenal kakek yang kurus, yang berjalan di depan rombongan itu.
Kakek itu menggendong bambu di punggung, pinggangnya dilingkari dompet-dompet tempat senjatasenjata
rahasianya yang aneh. Kakek itu adalah Siauw-bin Lo-mo! Teringat akan ini, Kiang Liong terkejut
dan ia mengerahkan ketajaman pandang matanya untuk menembus cuaca senja yang remang-remang
untuk melihat lebih jelas siapa yang berada di dalam kereta kerangkeng itu. Tidak tampak jelas, namun
hatinya berdebar. Siapa mereka? Ada dua orang dalam dua buah kerangkeng itu.
Kiang Liong tak dapat menduga bahwa yang berada di dalam kereta kerangkeng itu, yang seorang adalah
Mutiara Hitam! Memang, Kwi Lan dan Yu Siang Ki yang berada di dalam kereta kerangkeng itu.
Rombongan itu adalah orang-orang Thian-liong-pang yang dipimpin oleh Cap-ji-liong. Setelah mereka ini
herhasil menawan Yu Siang Ki dan Kwi Lan, mereka lalu melanjutkan perjalanan seperti yang telah
diperintahkan oleh Siauw-bin Lo-mo, ke gunung Kao-likung-san. Di kaki gunung ini Siauw-bin Lomo telah
menanti dan betul saja seperti dugaan Ma Kiu dan adik-adiknya, kakek ini menjadi gembira sekali melihat
dua orang tawanan itu.
“Yang seorang ketua Khong-sim Kai-pang! Bagus, bagus. Ha-ha-ha, tentu akan kecut muka Bu-tek Siu-lam
si banci melihat betapa musuh mudanya terjatuh ke tanganku. Ini merupakan sebuah jasa yang
mengangkat aku lebih tinggi dari padanya, memungkinkan aku menjadi orang pertama dari Bu-tek Ngosian!
Dan gadis ini? Mutiara Hitam? Ha-ha-ha, dia cantik. Kudengar Bouw Lek Couwsu paling suka gadis
cantik, kebetulan sekali karena aku tidak membawa oleh-oleh untuknya. Hadiah seperti ini tentu akan
menyenangkan pemimpin orang-orang Hsi-hsia. Ha-ha-ha-ha!”
Demikianlah, dengan girang Siauw-bin Lo-mo lalu memimpin Cap-ji-liong dan beberapa orang pentolan
perampok dan bajak yang menjadi anak buahnya untuk mengunjungi pimpinan pendeta jubah merah, yaitu
Bouw Lek Couwsu, karena ia sudah mendengar akan sepak terjang pendeta itu yang sudah membasmi
Beng-kauw dan ingin bersahabat untuk memperkuat kedudukannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tokoh yang sudah berhasil membunuh Beng-kauw patut dijadikan sahabat kalau dapat ditarik untuk
menguntungkan kedudukannya, sebaliknya bila perlu juga patut dibasmi kalau membahayakan! Dibantu
oleh Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang dan para kepala bajak dan rampok, tentu saja ia tidak takut
menghadapinya andai kata Bouw Lek Couwsu memperlihatkan sikap tidak bersahabat.
Siauw-bin Lo-mo yang belum mengenal watak Bouw Lek Couwsu dan para pendeta jubah merah dari Tibet
juga tidak menduga bahwa di situ terdapat pula Siang-mou Sin-ni, orang terakhir Thian-te Liok-kwi. Dengan
hati besar ia memimpin rombongannya mendaki lereng Gunung Kao-likung-san. Akan tetapi ketika
rombongan tiba di padang rumput yang berada di lereng itu, hari sudah mulai gelap. Karena tidak
mengenal daerah ini, Siauw-bin Lo-mo memerintahkan rombongannya berhenti.
“Besok kita lanjutkan pendakian ke puncak,” katanya.
Akan tetapi keadaan yang sunyi dan aman itu segera terganggu oleh suara lengking tinggi yang datangnya
dari bawah puncak, lengking aneh yang mengingatkan Siauw-bin Lo-mo akan wanita muda yang pernah
datang menemui para tokoh Bu-tek Ngo-sian di puncak Cheng-liong-san. Lengking gadis baju merah yang
mengaku sebagai murid Siang-mou Sin-ni. Salahkah pendengarannya? Akan tetapi kakek ini tidak sempat
memikirkan hal itu karena tiba-tiba terdengar pekik kesakitan dan kemarahan di antara anak buahnya. Di
antara sinar obor yang dipasang anak buahnya, ia melihat beberapa orang perampok roboh dan kini
tampaklah olehnya hujan anak panah menyerang mereka.
Siauw-bin Lo-mo kaget sekali. Ia melompat ke depan, menyampok anak-anak panah yang menyambar ke
arahnya, mengerahkan khikang dan berseru keras. “Tahan anak panah! Di sini aku, Siauw-bin Lo-mo,
seorang di antara Bu-tek Ngo-sian, memimpin Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang dan orang-orang gagah
dari hutan sungai, bermaksud mengunjungi Bouw Lek Couwsu pemimpin pasukan Hsi-hsia!”
Suara Siauw-bin Lo-mo amat nyaring dan bergema di empat penjuru. Seketika terhentilah hujan anak
panah dan tiba-tiba tampak api obor yang banyak sekali menerangi tempat itu. Muncul puluhan orang
pasukan Hsi-hsia, pasukan panah yang dipimpin oleh belasan orang hwesio berjubah merah yang
berwajah kereng. Tempat itu sudah terkurung! Seorang di antara mereka, pendeta jubah merah,
melangkah maju dan berkata kepada Siauw-bin Lo-mo, suaranya parau besar dan logatnya kaku.
“Nama Siauw-bin Lo-mo sudah terkenal, akan tetapi belum cukup besar untuk berlancang datang
membawa anak buah ke wilayah kami tanpa ijin. Apakah gerangan niat yang dikandung di hati Siauw-bin
Lo-mo dan anak buahnya?”
“Ha-ha-heh-heh, bagus sekali kalau orang telah mendengar nama besar Siauw-bin Lo-mo! Kalau kami
datang dengan maksud hati buruk, tentu tidak datang secara terang-terangan. Aku datang dengan hati
terbuka, ingin bersahabat dengan Bouw Lek Couwsu dan membawa hadiah dara jelita untuk Couwsu!”
“Tidak ada perintah dari Couwsu untuk menerima tamu. Kalau ada hadiah boleh serahkan kepada kami,
dan selanjutnya kami harap Siauw-bin Lo-mo dan anak buahnya suka meninggalkan gunung sebagai
sahabat.”
“Ha-ha-ha-ha! Para pendeta Tibet benar-benar tidak memandang mata kepada Siauw-bin Lo-mo. Akan
tetapi karena kedatanganku memang bukan berniat buruk, biarlah kalian boleh membawa gadis jelita yang
menjadi tawanan di dalam kerangkeng itu untuk dipersembahkan kepada Bouw Lek Couwsu diiringi
hormatku. Juga harap disampaikan bahwa aku Siauw-bin Lo-mo mohon berjumpa besok pagi.”
Pendeta jubah merah itu kelihatan ragu-ragu. Betapa pun juga, ia tidak berani memandang ringan Siauwbin
Lo-mo yang namanya sudah amat terkenal sebagai seorang tokoh sakti dan agaknya permintaannya ini
cukup pantas untuk dipertimbangkan. Kalau ia pergi menghadap Bouw Lek Couwsu, menyampaikan
persembahan berupa seorang gadis muda cantik yang memang ia tahu menjadi kesukaan ketuanya dan
mohon persetujuannya menerima permintaan Siauw-bin Lo-mo yang sudah merendahkan diri untuk
menghadap, agaknya ketuanya takkan marah.
“Hemm, asal cianpwe suka berjanji akan menjaga agar anak buahmu tidak menimbulkan kekacauan dan
tidak pergi dari tempat ini, agaknya kami akan dapat menerima permintaan yang layak ini,” katanya dan ia
pun sudah menyebut cianpwe kepada Siauw-bin Lo-mo sebagai tanda bahwa ia mengakui kakek itu
sebagai seorang sakti.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lega hati Siauw-bin Lo-mo. Setelah melakukan perjalanan jauh tentu saja ia cukup cerdik dan sabar untuk
mengalah dan sedikit merendah terhadap pemimpin pendeta-pendeta Tibet yang sekaligus juga
merupakan pimpinan bala tentara Hsi-hsia yang kuat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras
yang didahului dengan lengkingan tinggi.
“Tidak mungkin! Para Lo-suhu jangan kena dikelabui oleh kakek kurus kering yang jahat ini! Namanya
Siauw-bin Lo-mo, mukanya tersenyum-senyum akan tetapi hatinya busuk dan palsu!”
Siauw-bin Lo-mo terbelalak memandang dengan penuh kemarahan. Ternyata yang muncul adalah gadis
berpakaian merah, murid Siang-mou Sin-ni yang bernama Po Leng In. Tampak cantik dan gagah di bawah
sinar banyak obor, tangannya memegang pedang dan rambutnya yang hanya tinggal separuh itu
tergantung di depan dada.
“Po-kouwnio (Nona Po), apakah yang kau maksudkan dengan ucapan itu?” tanya hwesio tinggi besar
muka merah.
“Maksudku, dia ini adalah orang jahat yang tidak mempunyai niat baik. Kalau berniat baik, masa ia
membawa-bawa pasukan? Nah, para Lo-suhu dengar baik-baik, aku akan mengajukan beberapa
pertanyaan kepadanya.” Setelah berkata demikian, Po Leng In melangkah maju mendekati Siauw-bin Lomo
sambil menudingkan pedangnya ke arah hidung kakek itu.
“Heh, Siauw bin Lo-mo, kalau kau benar-benar sebagai seorang tokoh besar dan maksud kedatanganmu
baik-baik, tentu kau akan menjawab semua pertanyaanku dengan sebenar dan sejujurnya. Bukankah
engkau pernah bertemu dengan aku?”
“Benar, pernah aku melihat Nona di Cheng-liong-san,” jawab Siauw-bin Lo-mo, sedikit pun tidak khawatir
karena ia memang tidak tahu akan hubungan guru nona ini dengan Bouw Lek Couwsu.
“Bagus, engkau ternyata masih cukup berani untuk menjawab sebetulnya. Bukankah engkau bersama
dengan Thai-lek Kauw-ong, Bu-tek Siu-lam, Jin-cam Khoa-ong, dan seorang tokoh lain lagi membentuk
apa yang kalian sebut Bu-tek Ngo-sian?”
Siauw-bin Lo-mo mengangguk-angguk bangga. “Memang benar dan akulah orang pertamanya!”
“Bagus! Sekarang katakan, ketika aku muncul di sana mewakili guruku untuk menghadiri pertemuan
puncak, engkau melihat Bu-tek Siu-lam menangkapku dan menghinaku, menghina nama baik guruku dan
hampir membunuhku. Betulkah? Dan engkau sama sekali tidak mencampuri urusan itu malah engkau lalu
pergi, betul?”
Siauw-bin Lo-mo masih tidak mengerti apa artinya semua itu dan apa hubungan dengan Bouw Lek
Couwsu serta para hwesio jubah merah ini. Namun sebagai seorang cerdik, kini melihat munculnya Po
Leng In di antara para hwesio jubah merah, ia dapat menduga tentu ada hubungan baik di antara mereka
itu. Maka ia lalu menjawab.
“Yang menghinamu adalah Bu-tek Siu-lam, tidak ada sangkut pautnya dengan aku.”
“Bagus, tidak ada sangkut-pautnya kau bilang? Akan tetapi kau tadi mengaku bahwa Bu-tek Siu-lam
adalah sekutumu, saudaramu dalam kelompok Bu-tek Ngo-sian! Engkau melihat guruku diperhina nama
baiknya tanpa bilang apa-apa, melihat aku hampir dibunuh kau pun tidak bilang apa-apa, sekarang masih
berani bilang kau datang dengan maksud baik?”
“Eh-eh, apa sangkut-pautnya dirimu atau gurumu dengan kunjunganku pada Bouw Lek Couwsu? Aku....”
“Tutup mulutmu! Engkau tentu datang sebagai pembela Beng-kauw!” Setelah berkata demikian, sertamerta
Po Leng In lalu menerjang maju, menyerang Siauw-bin Lo-mo dengan pedangnya yang bergerak
cepat seperti kilat menyambar.
Namun dengan mudah sekali Siauw-bin Lo-mo miringkan tubuh mengelak, bahkan sekali tangannya diulur
ke depan, hampir saja gagang pedang di tangan Po Leng In dapat dirampasnya. Gadis itu berseru kaget
dan meloncat mundur. Sementara itu, para hwesio jubah merah yang mendengar betapa kakek ini berani
menghina nama baik Siang-mou Sin-ni, tentu saja sudah menjadi terpengaruh dan serentak mereka maju
menerjang dengan senjata mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha! Pendeta-pendeta Tibet mudah dibujuk murid Siang-mou Sin-ni!” Siauw-bin Lo-mo tertawa
bergelak dan kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak dengan ilmu silatnya yang dahsyat dan aneh. Dua
orang hwesio yang ilmunya tinggi, setingkat dengan ilmu Po Leng In, kena ditendang mencelat.
Ada pun Cap-ji-liong tokoh-tokoh Thian-liong-pang, para ketua bajak dan rampok, yang melihat betapa
datuk mereka diserang dan dikeroyok, segera berteriak marah dan menyerbu, diikuti anak buah mereka.
Demikian pula dari pihak anak buah para pendeta, yaitu orang Hsi-hsia yang berani dan liar, sambil
mengeluarkan teriakan lantang lalu maju menggerakkan senjata masing-masing. Terjadilah perang kecil
yang dahsyat dan seru di antara sinar-sinar obor.
Di bawah pimpinan Siauw-bin Lo-mo yang sakti, Cap-ji-liong mengamuk hebat dan tentu akan banyak jatuh
korban di tangan Siauw-bin Lo-mo dan dua belas orang naga itu kalau saja Siauw-bin Lo-mo yang cerdik
tidak cepat berseru nyaring. “Hajar kerbau-kerbau dungu ini, akan tetapi jangan bunuh mereka!”
Inilah sebabnya maka orang-orang Hsi-hsia yang roboh, juga beberapa orang hwesio jubah merah, hanya
terluka saja dan tidak sampai tewas. Melihat hebatnya sepak terjang para penyerbu, seorang hwesio jubah
merah cepat-cepat lari naik seperti terbang cepatnya, membuat pelaporan kepada Bouw Lek Couwsu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bouw Lek Couwsu yang sedang bersenang-senang dengan
Siang-mou Sin-ni di dalam kamar iblis betina ini, segera lari keluar ditemani Siang-mou Sin-ni.
Kwi Lan yang terkurung dalam kerangkeng tidak luka parah seperti Yu Siang Ki yang sampai lama berada
dalam keadaan pingsan. Ketika sadar dan mendapatkan kedua tangannya terbelenggu, demikian pula
pada kedua kakinya, dan ia meringkuk di dalam kerangkeng, Kwi Lan cepat bangkit dan meneliti
keadaannya. Ia melihat Siang Ki yang masih pingsan berada dalam kerangkeng lain, tak jauh dari
kerangkeng yang mengurung dirinya, didorong-dorong oleh beberapa orang, dan dijaga oleh Cap-ji-liong.
Sekarang tahulah Kwi Lan mengapa Siang Ki mendesaknya untuk melarikan diri. Pemuda itu ternyata
benar. Kalau ia menurut nasehatnya dan membebaskan diri, biar pun Siang Ki menjadi tawanan, namun
dia sendiri masih bebas dan tentu akan dapat mencari akal untuk menolong Siang Ki. Akan tetapi, segala
hal telah terlanjur, kini ia sendiri tertawan sehingga tidak saja Siang Ki tak dapat ditolong bahkan
keselamatannya sendiri terancam mala-petaka hebat.
Kwi Lan meneliti tubuhnya. Tidak terluka parah. Juga belenggu pada kaki tangannya, kalau ia mau dapat ia
patahkan. Namun kerangkeng itu cukup kuat, dan terutama sekali di sekeliling kerangkeng terdapat tokohtokoh
Cap-ji-liong. Tidak ada harapan baginya untuk meloloskan diri pada waktu itu. Saking jengkelnya,
Kwi Lan lalu memaki-maki di sepanjang jalan. Ia amat marah, akan tetapi pengalaman ini membuat ia
bertambah kecerdikannya dan ia tidak mau melepaskan atau mematahkan belenggu kaki tangannya pada
saat itu karena maklum bahwa hal ini akan percuma saja.
Pedang Siang-bhok-kiam dan jarum hijau dalam kantung telah dirampas musuh dan di sekeliling
kerangkeng terdapat Cap-ji-liong yang kosen ditambah banyak kepala bajak dan rampok. Ia menanti
kesempatan dan saat baik untuk dapat meloloskan diri dengan berhasil sambil menolong Yu Siang Ki.
Akan tetapi, alangkah kaget dan kecewa hatinya ketika di kaki gunung Kao-likung-san, rombongan orang
Thian-liong-pang ini bertemu dengan Siauw-bin Lo-mo yang agaknya memang sudah menanti di situ.
Dengan adanya kakek ini, lenyaplah harapannya untuk dapat membebaskan diri!
Kwi Lan tadinya sudah merasa putus asa dan sudah mengambil keputusan untuk memberontak malam
hari itu, nekat mengadu nyawa. Maka dapat dibayangkan betapa tegang dan gembira hatinya ketika ia
melihat munculnya kesempatan yang baik sekali, yaitu pada waktu para pendeta jubah merah yang
didahului oleh Po Leng In menyerang Siauw-bin Lo-mo dan anak buahnya.
Kwi Lan segera mengenal Po Leng In dan begitu pertempuran dimulai diam-diam ia mengerahkan
sinkangnya. Setelah beberapa kali membetot dan menarik, putuslah belenggu kedua tangannya. Tanpa
banyak kesukaran ia membebaskan kedua kakinya.
Seorang di antara kepala rampok yang ditugaskan menjaga kedua kerangkeng berseru kaget dan cepat
menghampiri kerangkeng Kwi Lan. Namun tiba-tiba lengan tangan Kwi Lan menyambar dari dalam
kerangkeng dan tahu-tahu rampok itu sudah tercengkeram lengannya, ditarik ke kerangkeng dan sebelum
orang itu mampu berteriak, nyawanya sudah meninggalkan raganya karena pukulan Siang-tok-ciang yang
amat dahsyat dari tangan kiri Kwi Lan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Penjaga kerangkeng semua ada tujuh orang. Enam orang yang lain melihat betapa temannya tewas, cepat
maju mengurung kerangkeng Kwi Lan dengan tombak di tangan. Biar pun Kwi Lan berkepandaian tinggi,
namun bertangan kosong menghadapi ancaman tombak dari enam penjuru ini, sedangkan dirinya masih
dikurung di dalam kerangkeng, amat berbahaya juga.
Pada saat itu enam orang perampok ini tiba-tiba menjerit kesakitan dan tahu-tahu roboh bergulingan. Kwi
Lan hanya melihat sinar menyambar, sinar halus. Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika melihat
betapa muka seorang di antara perampok yang diterangi sinar obor menjadi hijau ketika orang ini roboh.
Itulah tanda bahwa dia terkena racun hijau dari senjata rahasia jarum. Jarum hijau, seperti senjata
rahasianya yang kantungnya bersama pedang Siang-bhok-kiam kini dipegang seorang di antara para
perampok. Kini ia akan melihat orang yang telah membunuhi hwesio-hwesio dalam kelenteng
mempergunakan jarum-jarum hijau!
Kwi Lan terkejut ketika dua orang berkelebat datang mendekati kerangkeng. Yang seorang adalah laki-laki
tua berjenggot, pakaiannya sederhana, usianya tentu sudah enam puluh tahun. Tubuhnya kecil kurus,
sepasang matanya bersinar lembut, punggungnya membawa pundi-pundi.
Orang ke dua adalah seorang gadis amat cantik, senyumnya manis, rambutnya digelung ke atas, usianya
sebaya dengannya. Kedua orang ini memegang sebatang pedang dan di pinggang gadis itu terdapat
sebuah kantong kulit. Agaknya gadis itulah yang tadi melepaskan jarum-jarum hijau yang merobohkan para
penjaga kerangkeng.
Kwi Lan mengerahkan tenaganya, menghantam kerangkengnya sehingga terdengar suara keras dan
jebollah kerangkeng itu.
“Engkau hebat sekali, Adik manis!” kata gadis itu melihat cara Kwi Lan menjebol kerangkengnya. Akan
tetapi sambil berkata demikian ia menggunakan pedangnya untuk dibabatkan ke arah kerangkeng yang
mengurung tubuh Yu Siang Ki.
“Jangan ganggu dia!” Kwi Lan menyambar cepat, mengirim pukulan Siang-tok-ciang ke arah gadis cantik
itu. Hebat sekali serangannya dan karena hal ini ia lakukan dari belakang selagi gadis itu membabatkan
pedangnya ke arah kerangkeng, maka tentu serangannya akan mengenai sasaran.
“Desss...!” Tubuh Kwi Lan terhuyung mundur dan lengannya terasa sakit. Kakek kurus yang menangkisnya
itu pun terhuyung mundur dan berubah wajahnya ketika berseru, “Ihhh...! Inikah Siang-tok-ciang? Keji
sekali...!”
Akan tetapi Kwi Lan tidak mempedullkan kakek ini karena perhatiannya tertuju kepada keselamatan Yu
Siang Ki yang ia sangka akan dicelakakan gadis cantik itu. Ketika ia membalikkan tubuh memandang,
ternyata dugaannya keliru karena kini gadis itu telah membabat putus kerangkeng dan bahkan sudah
melepaskan belenggu tangan Yu Siang Ki.
“Siapa kalian? Mau apa...?” tanyanya gagap.
“Nona, kami datang menolong kalian. Selagi ada kesempatan tidak lekas lari mau tunggu apa lagi? Goat-ji
(Anak Goat) kau jaga dibelakangku, biar kugendong dia!”
Tanpa pedulikan Kwi Lan lagi, laki-laki kurus itu lalu melompat ke dekat kerangkeng Siang Ki, menyambar
tubuh pemuda itu dan memanggulnya, kemudian melompat hendak lari. Gadis cantik yang disebut Goat itu
pun dengan pedang terhunus melompat di belakangnya, melindungi kakek yang menggendong pemuda
itu.
Kwi Lan cepat mengambil pedang dan kantong jarumnya dari tubuh penjaga yang sudah menjadi mayat,
kemudian berpaling menonton pertempuran yang berlangsung hebat. Ia melihat betapa Po Leng In
terdesak hebat biar pun gadis ini mengeroyok Siauw-bin Lo-mo dengan beberapa orang Hwesio jubah
merah.
Timbul keinginan hatinya untuk membantu Po Leng In karena dianggapnya bahwa munculnya Po Leng In
merupakan pertolongan baginya, membuka kesempatan baginya untuk membebaskan diri. Akan tetapi ia
teringat akan keselamatan Yu Siang Ki. Pemuda ini dalam keadaan luka-luka parah, kini dibawa lari dua
orang yang sama sekali tak dikenalnya. Bagaimana kalau pemuda itu terjatuh di tangan musuh? Berpikir
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian, tanpa banyak cakap lagi Kwi Lan lalu melompat dan lari mengejar bayangan dua orang yang
membawa lari tubuh Yu Siang Ki.
--- dunia-kangouw.blogs;pot.com ---
“Tahan, senjata...!”
Bentakan ini keras luar biasa, seakan-akan menggetarkan gunung Kao-likung-san. Apa lagi bagi anak
buah Siauw-bin Lo-mo karena sambil membentak, Bouw Lek Couwsu melakukan gerakan mendorong
sehingga empat orang anggota Cap-ji-liong terpental dan terhuyung-huyung mundur hanya oleh hawa
pukulan yang amat kuat, keluar dari dorongannya tadi.
Para hwesio jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia cepat menarik senjata masing-masing dan melompat
mundur. Siauw-bin Lo-mo juga memberi perintah kepada anak buahnya untuk menghentikan pertandingan.
Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang di bawah sinar obor yang amat banyak. Siauw-bin Lomo
melihat seorang hwesio tinggi besar berkaki satu memegang sebatang tongkat kuningan yang amat
besar dan berat dengan kepala tongkat berukirkan patung Buddha yang amat indah. Di dekat kakek ini
berdiri seorang wanita yang amat cantik dan garang, berambut terurai panjang.
Wanita ini sukar ditaksir berapa usianya, bibirnya manis tersenyum-senyum akan tetapi matanya membuat
orang berdiri bulu tengkuknya karena sinar mata itu amat keji dan ganas. Melihat wanita ini jantung Siauwbin
Lo-mo berdebar saking kagetnya karena biar pun selamanya ini belum pernah bertemu dengan wanita
ini, sekarang ia dapat menduga bahwa wanita ini tentulah Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te
Liok-kwi yang sudah terbasmi habis itu.
Ia memang mendengar kabar bahwa hanya Siang-mou Sin-ni seorang yang masih hidup di antara Thian-te
Liok-kwi, akan tetapi menurut berita, wanita sakti ini sudah mengasingkan diri di pulau kosong di laut
selatan. Kini mengertilah Siauw-bin Lo-mo mengapa Po Leng In bersekutu dengan hwesio jubah merah,
kiranya gurunya berada di tempat ini, bersama Bouw Lek Couwsu!
“Ha-ha-ho-ho-ho! Terima kasih bahwa Bouw Lek Couwsu berkenan keluar sendiri menyambut. Sungguh
merupakan kehormatan besar bagiku. Tidak kelirukah dugaanku bahwa sahabat yang perkasa ini adalah
Bouw Lek Couwsu, pemimpin pasukan Hsi-hsia yang gagah berani?” Siauw-bin Lo-mo menegur sambil
mendekati Bouw Lek Couwsu.
Bouw Lek Couwsu mengerutkan alisnya yang tebal, lalu matanya menyapu keadaan di sekeliling tempat
itu. Ia melihat beberapa orang anak buahnya terluka dan dirawat teman-temannya, akan tetapi tak seorang
pun tewas. Ia mengangguk-angguk dan kembali memandang Siauw-bin Lo-mo sambil menggerakkan
tongkat kuningan itu di depan dada, lalu berkata,
“Pinceng pernah mendengar nama besar Siauw-bin Lo-mo. Apakah Lo-mo mengandalkan kepandaian
tidak memandang mata kepada pinceng (aku) dan malam ini sengaja hendak mencoba kepandaianku?”
“Ho-ho-ha-ha-ha! Sama sekali tidak. Salah mengerti... salah mengerti! Mana bisa aku begitu tak tahu diri
membentur gunung? Aku Siauw-bin Lo-mo selamanya mengenal orang gagah. Aku sengaja datang untuk
berkenalan dan bersahabat, dan sebagai bukti kemauan baikku, aku datang membawa hadiah seorang
dara jelita yang liar. Bukan sembarangan dara tapi gadis berjuluk Mutiara Hitam untuk dipersembahkan
kepada Bouw Lek Couwsu...“
Pada saat itu Ma Kiu sudah lari menghampiri Siauw-bin Lo-mo dan berkata, suaranya gugup.
“Locianpwe..., dalam keributan... dua orang tawanan telah lolos...!”
“Apa?!” Sekali ini Siauw-bin Lo-mo lupa ketawanya dan mukanya kelihatan marah sekali. “Goblok kau!
Hayo lekas kejar sampai dapat!” Ia lalu menjura kepada Bouw Lek Couwsu setelah melihat Cap-ji-liong
berkelebat pergi untuk mengejar tawanan yang lolos, menjura dan berkata, “Maaf, Couwsu, aku harus
menangkap kembali tawanan itu dan mempersembahkan kepadamu sebagai bukti niat baikku. Besok aku
naik untuk menghadap.” Tanpa menanti jawaban, Siauw-bin Lo-mo lalu berkelebat pergi menyusul anak
buahnya.
“Hemm, iblis tua itu mencurigakan!” kata Siang-mou Sin-ni.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia, memang jahat dan sama sekali tidak boleh dipercaya!” kata Po Leng In. “Sudah teecu (murid)
laporkan bahwa dia adalah seorang di antara Bu-tek Ngosian yang membiarkan saja ketika teecu dihina di
Cheng-liong-san.”
“Hemm, harus diberi hajaran!” Siang-mou Sin-ni sudah siap untuk mengejar ketika tiba-tiba terdengar suara
tanduk ditiup dari puncak. Itulah tanda rahasia yang digunakan oleh pasukan Hsi-hsia untuk memberi tanda
bahaya.
“Agaknya di puncak terjadi hal yang tidak baik. Marilah, Kim Bwe, kita lihat ke atas. Urusan Siauw-bin Lomo
kita tunda sampai besok, kita lihat apa kehendaknya besok.”
Ketika dua orang sakti itu dengan gerakan cepat laksana terbang berkelebat ke arah puncak, wajah Po
Leng In menjadi pucat. Ia dapat menduga apa maknanya tanda bahaya yang ditiup orang di puncak itu.
Tentu Kiang Liong sudah turun tangan dan agaknya ketahuan penjaga. Dengan jantung berdebar tak enak
ia lalu berlari cepat pula menyusul gurunya dan Bouw Lek Couwsu, mendahului para pendeta jubah merah
yang juga berlari-lari naik.
Dugaan Po Leng In memang tepat. Kiang Liong yang ditinggalkan wanita ini di lereng gunung itu menanti
sampai cuaca menjadi gelap. Dan tepat seperti yang dipesankan Po Leng In, ia lalu mendaki ke puncak
melalui lereng berbatu. Gerakannya cepat sekali akan tetapi ia berlari naik dengan amat hati-hati dan
waspada.
Begitu tiba di puncak, hatinya girang melihat keributan dan melihat para pendeta baju merah berlari-larian
keluar masuk pintu gerbang yang terjaga kuat oleh orang-orang Hsi-hsia. Kemudian dari tempat
persembunyiannya di luar tembok, ia melihat pula pendeta baju merah yang buntung kaki kirinya
berkelebat cepat keluar tembok bersama seorang wanita cantik berambut panjang. Ia dapat menduga
bahwa tentu mereka inilah Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni.
Biar pun hanya mendengar keterangan dari Po Leng In, namun kini melihat gerakan mereka berdua
demikian cepat, ia tahu bahwa dua orang itu amat sakti. Maka legalah hatinya ketika melihat dua orang ini
berlari turun diikuti beberapa orang pendeta baju merah dan sepasukan orang-orang Hsi-hsia. Ia segera
meloncat ke atas tembok pada saat peronda dan penjaga sedang lengah karena keributan yang terjadi di
bawah puncak. Makin terasa olehnya jasa Po Leng In, karena ia maklum bahwa andai kata tidak terjadi
keributan di bawah puncak, andai kata Po Leng In tidak sengaja memancing keributan dan memancing
keluar dua orang sakti itu serta menimbulkan kesibukan di puncak, akan sukarlah baginya untuk dapat
melompati tembok yang selalu terjaga rapat itu.
Gerakan Kiang Liong memang amat cepat sehingga tubuhnya sukar diikuti pandangan mata orang biasa.
Ketika ia meloncat ke dalam dan bergerak menyelinap di antara bangunan-bangunan di situ, yang tampak
hanya berkelebatnya bayangan putih saja. Betapa pun juga, ia menghadapi kesulitan ketika ia tiba di
bangunan terbesar di tengah-tengah kelompok bangunan itu, seperti yang ditunjukkan oleh Po Leng In.
Bangunan ini terjaga, baik di bagian depan, kanan kiri, belakang mau pun atas!
Dengan hati-hati sekali Kiang Liong mengintai dan mengatur siasat. Agaknya bangunan besar-besar yang
menjadi tempat tinggal Bouw Lek Couwsu dan para selirnya, juga termasuk tempat kediaman Siang-mou
Sin-ni, mempunyai penjaga-penjaga tetap. Di depan terjaga empat orang, di belakang, kanan dan kiri
masing-masing tiga orang dan di atas genting tampak menjaga dua orang. Dari semua penjaga itu,
agaknya penjaga di atas genteng merupakan penjaga berkepandaian tinggi karena mereka adalah dua
orang pendeta jubah merah. Ada pun penjaga lain adalah orang-orang Hsi-hsia tinggi besar.
Kiang Liong lalu mengumpulkan beberapa buah batu kecil, kemudian menyelinap ke sebelah kiri bangunan
itu. Beberapa detik kemudian, tiga orang penjaga di sebelah kiri rumah besar itu roboh dan tak sempat
mengeluarkan sedikit pun suara karena tengkuk mereka disambar batu-batu kecil yang membuat mereka
roboh pingsan tanpa mengetahui sebabnya. Cepat bagaikan bayangan setan, Kiang Liong melompat ke
luar dan sekaligus mengempit tiga tubuh penjaga itu dibawa ke tempat gelap, ditotok lumpuh dan
disembunyikan di bawah gerombolan pohon kembang. Berturut-turut ia lakukan hal seperti pada penjaga di
kanan, depan dan belakang sehingga dalam waktu beberapa menit saja tiga belas orang Hsi-hsia yang
menjaga rumah itu sudah rebah tumpang-tindih dalam keadaan pingsan di bawah pohon.
Tepat seperti dugaan Kiang Liong, dua orang penjaga di atas rumah, yaitu dua orang pendeta jubah
merah, ternyata adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian, tidak seperti tiga belas orang Hsi-hsia
yang hanya kuat saja. Buktinya, sambitan kerikil, dari tangan Kiang Liong itu tidak merobohkan dua orang
dunia-kangouw.blogspot.com
hwesio jubah merah ini, hanya membuat mereka terhuyung-huyung saja di atas genteng. Kiang Liong tidak
mau memberi kesempatan. Tubuhnya berkelebat cepat melayang naik ke atas genteng. Dua orang
pendeta jubah merah yang masih belum pulih kagetnya menyambutnya dengan usaha perlawanan.
Namun sia-sia, tingkat kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk menandingi pemuda sakti ini. Dua
kali tangan Kiang Liong bergerak dan mereka sudah tertotok lumpuh dan di saat lain tubuh mereka sudah
dilempar di tumpukan tubuh para penjaga lain dalam keadaan pingsan dan lumpuh.
Akan tetapi Kiang Liong tertegun dan mau tidak mau harus mengagumi kesetiaan dan kegagahan para
penjaga dan dua orang pendeta itu karena betapa pun dipaksa dan diancamnya, ketika ia mencari
keterangan tentang dua orang gadis tawanan, mereka itu tetap membungkam! Terpaksa Kiang Liong lalu
mencari sendiri, menyelinap ke dalam bangunan besar itu.
Ketika empat orang pelayan wanita menyambut munculnya dengan mata terbelalak ketakutan, Kiang Liong
cepat mengangkat tangan dan berkata, “Aku tidak akan menyusahkan kalian, aku datang untuk menolong
dua orang tawanan, dua orang gadis yang ditawan oleh Bouw Lek Couwsu. Beritahu di mana mereka dan
aku akan membawa pergi mereka dari sini dengan segera.”
Dengan tubuh gemetar empat orang pelayan itu berlutut dan saking takutnya tak seorang pun dari mereka
dapat menjawab! Dan pada saat itu kembali bermunculan wanita-wanita pelayan yang muda-muda dan
cantik-cantik. Diam-diam Kiang Liong mengeluh dalam hatinya. Tidak dirobohkan berbahaya, untuk
menyerang mereka ia tidak tega karena mereka itu adalah wanita-wanita lemah!
“Hayo lekas beritahukan di mana adanya dua orang gadis tawanan itu. Kalau tidak, terpaksa aku bunuh
kalian!” ia sengaja mengancam.
“Ampun... mereka... mereka di sana... di kamar belakang...!” Seorang pelayan akhirnya dapat menjawab.
“Lekas bawa aku ke sana!”
Pelayan itu terhuyung-huyung ketakutan, akan tetapi dapat berjalan menuju ke ruang belakang, diikuti oleh
Kiang Liong dari belakang. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar yang pintunya bercat merah,
daun pintunya tertutup. Dengan pengerahan tenaganya, sekali dorong saja daun pintu itu terbuka dan...
Kiang Liong mengeluarkan suara mengutuk ketika ia melihat Siang Kui dan Siang Hui, dua orang gadis
cucu Ketua Beng-kauw yang cantik itu, terbelenggu di atas pembaringan dalam keadaan telanjang! Melihat
tumpukan pakaian mereka di atas pembaringan, Kiang Liong cepat meloncat dekat dan sebentar saja
semua belenggu yang mengikat dua orang gadis itu sudah dipatahkan.
“Lekas pakai pakaian kalian!” bisiknya sambil membalikkan tubuh, tidak mau melihat kakak beradik yang
telanjang itu. Siang Kui dan Siang Hui dengan muka merah sekali cepat-cepat mengenakan pakaian
mereka.
“Untung kau datang tepat pada waktunya, Liong-twako,” kata Siang Kui dengan suara terharu.
“Terima kasih, Twako. Mari sekarang kita hajar sampai mampus monyet-monyet gundul itu!” seru Siang
Hui penuh kemarahan.
Kiang Liong menoleh menghadapi mereka. Mendengar ucapan mereka, melihat sikap dan keadaan
mereka, hatinya lega. Ia maklum bahwa kedatangannya belum terlambat. “Siauw-moi, jangan bicara
tentang menghajar mereka. Jumlah mereka banyak sekali, yang paling penting sekarang, di mana adanya
Han Ki adik kalian?”
Barulah enci adik itu teringat dan mereka menjadi bingung. “Begitu terculik, kami berdua selalu dikeram ke
dalam kamar ini dan tak seorang pun di antara pelayan ada yang mau membuka mulut memberi tahu di
mana adanya Han Ki. Mari kita cari,” kata Siang Kui penuh semangat.
Kiang Liong menggeleng kepala, lalu menarik tangan mereka keluar dari dalam kamar itu, terus ke ruang
depan. Di ruangan ini terdapat rak senjata dan ia menyuruh kakak beradik itu memilih senjata. Siang Kui
dan Siang Hui memilih sebatang pedang dan begitu tangan mereka memegang senjata, dua orang nona ini
kelihatan bersemangat sekali. Mereka sudah gatal tangan untuk mengamuk dan mengadu nyawa dengan
orang yang telah membasmi keluarga mereka dan bahkan telah menculik dan nyaris membunuh mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sikap ini, Kiang Liong berbisik. “Lekas kalian lari dari sini, ambil jalan dari kiri bangunan ini. Di sana
ada sebatang pohon, kalian loncati pagar tembok melalui pohon itu dan melarikan diri ke luar. Aku akan
mencari Han Ki baru menyusul kemudian...“
“Mana bisa begini?” Siang Hui mencela. “Aku tidak mau lari, aku akan mengadu nyawa dengan monyetmonyet
gundul itu!”
“Biarkan kami berdua membantumu, Twako.” Siang Kui juga berkata, nadanya mendesak.
“Ji-wi Siauw-moi harap jangan salah mengerti. Keadaan di sini berbahaya sekali dan amat kuat. Kalau tidak
kebetulan ada musuh menyerbu sehingga semua tokoh di sini terpancing ke luar, aku sendiri agaknya
belum tentu dapat menolong kalian dengan mudah. Kalau Han Ki sudah dapat kutolong tentu aku ikut
melarikan diri bersama kalian. Akan tetapi sekarang aku harus mencari Han Ki lebih dulu.”
“Justru untuk adik kami itu kami harus bantu, kalau perlu dengan taruhan nyawa!” kata Siang Hui.
Kiang Liong habis sabar. “Kalian harus mengerti, kepandaian mereka hebat, aku sendiri belum tentu dapat
menang menandingi mereka, masih harus melindungi kalian, berarti kita semua berempat akan binasa
semua.”
“Kami tidak takut mati!” Siang Kui dan Siang Hui berseru saling mendahului.
Kiang Liong melotot. “Kalau aku bekerja sendirian, lebih besar harapan dapat menolong adikmu. Kalian
hendak menggangguku? Ingin semua ditangkap dan semua mati sehingga tidak akan ada orang yang
membalas kematian ayah bunda kalian? Masih tidak cepat-cepat pergi?”
Dua orang gadis itu seketika menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian bagaikan dua ekor ayam
digebah, mereka meloncat ke luar dan menghilang di dalam gelap. Hanya terdengar mereka meninggalkan
isak tertahan.
Kiang Liong tersenyum geli. “Dasar puteri-puteri Paman Bu Sin gagah perkasa dan berani mati.” Ia memuji,
hatinya perih teringat akan kematian Kam Bu Sin dan isterinya yang begitu menyedihkan. Segera ia
teringat akan Kam Han Ki, maka cepat ia menyelinap ke luar dari bangunan besar itu dan mendatangi para
pelayan wanita yang berkumpul di sebuah ruangan dengan tubuh menggigil dan muka pucat.
“Aku tidak akan ganggu kalian. Akan tetapi kalian harap memberi tahu, di mana adanya Kam Han Ki, anak
laki-laki kecil yang diculik dan dibawa ke sini sebagai tawanan!”
Setelah ribut bicara sendiri akhirnya seorang pelayan berkata. “Kami tidak tahu orang gagah. Yang
menahannya adalah Siang-mou Sin-ni...“
“Di mana kamar Siang-mou Sin-ni?”
Pelayan itu hanya dapat menudingkan telunjuknya pada bangunan sebelah kanan bangunan besar itu.
Tampak bayangan putih berkelebat dan pemuda baju putih itu sudah lenyap dari depan mata mereka. Para
pelayan itu cepat berlutut dan saling peluk penuh rasa takut. Akan tetapi dua orang di antara mereka lalu
berlari ke luar. Biar pun kaki mereka menggigil namun akhirnya mereka sampai juga ke tempat penjaga. Di
sini dengan suara terputus-putus mereka lalu menceritakan tentang serbuan pemuda pakaian putih.
Ributlah para penjaga, dan para pendeta jubah merah lalu membunyikan tanda tiupan tanduk untuk
memberi tahu para tokoh yang sedang turun puncak menghadapi lawan. Sebagian pula dengan senjata di
tangan lalu menyerbu, lari ke arah bangunan yang menjadi tempat tinggal Siang-mou Sin-ni.
Kiang Liong yang berhasil memasuki tempat tinggal Siang-mou Sin-ni, kaget mendengar suara tiupan
tanduk itu. Ia maklum bahwa bahaya mengancamnya, bahwa suara itu merupakan tanda bahaya dan
persiapan pihak lawan. Ia harus segera menemukan Han Ki. Rumah itu kosong, agaknya para pelayan
sudah lari ke luar. Ia cepat menuju ke belakang. Biasanya tempat tawanan adalah di bagian belakang.
Kamar-kamar di belakang dimasukinya, yang pintunya tertutup didobraknya, namun ia tidak dapat
menemukan anak itu.
“Han Ki...! Kam Han Ki...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Teriakan panggilan berkali-kali ini menggema di sekitar puncak karena suara Kiang Liong didorong oleh
khikang yang amat kuat. Namun tidak ada jawaban. Tentu saja Han Ki tak dapat menjawab karena pada
saat itu Han Ki menggeletak di dalam kamar Siang-mou Sin-ni dalam keadaan pingsan!
Suara tapak kaki banyak orang menyatakan bahwa rumah itu telah terkurung. Ia lalu melayang ke luar dari
dalam rumah melalui jendela. Dalam sekejap mata, belasan buah senjata tajam menyambutnya seperti
hujan.
“Trang-trang-trang...!” Suara pertemuan senjata nyaring ini disusul robohnya lima orang pengeroyok
sekaligus. Ketika meloncat keluar tadi ia telah mencabut keluar sepasang senjatanya yang aneh, yaitu
sepasang pensil. Dengan tubuh masih melayang ia dapat menangkis dan sekaligus merobohkan lima
orang pengeroyok, dapat dibayangkan betapa lihainya pemuda ini.
Akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah. Orang-orang Hsi-hsia sungguh pun tidak memiliki ilmu
silat yang tinggi, namun mereka adalah orang-orang peperangan yang ulet dan berani, lagi pula amat kuat
sehingga robohnya banyak kawan tidak mengecilkan hati mereka yang terus mengamuk dan mengeroyok.
Jumlah mereka yang puluhan orang banyaknya ini diperkuat oleh belasan orang hwesio jubah merah yang
memiliki ilmu silat cukup lihai karena mereka ini adalah kaki tangan sekaligus juga murid Bouw Lek
Couwsu.
Hebat sekali amukan Kiang Liong. Dalam waktu setengah jam lebih, tidak kurang dari dua puluh orang Hsihsia
roboh tak dapat bangun lagi ditambah tujuh orang pendeta jubah merah roboh terluka! Ia tidak akan
melarikan diri sebelum dapat menolong Han Ki. Sepasang siang-pit (pensil) di tangannya menjadi dua
gulungan sinar memanjang, seperti dua ekor ular sakti saling belit dan melayang-layang di angkasa.
“Tahan senjata, mundur semua...!” Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring berpengaruh.
Kiang Liong tidak mengenal suara ini, akan tetapi semua pengeroyok seketika meloncat mundur sambil
menarik senjata masing-masing, bahkan lalu mundur dan berdiri menjadi dua barisan dengan sikap
menghormat. Karena menduga bahwa kini yang muncul tentulah Bouw Lek Couwsu yang terkenal sakti
bersama Siang-mou Sin-ni yang kesaktiannya pernah ia dengar dari suhu-nya, maka Kiang Liong
memegang sepasang senjatanya erat-erat, pandang mata ditujukan ke depan, seluruh urat syarafnya siap
menghadapi lawan tangguh.
Di bawah sinar obor yang dipegang kedua barisan berjajar di kanan kiri, tampaklah kini seorang pendeta
gundul berkaki satu yang berjubah merah. Biar pun kaki kirinya buntung, namun dengan bantuan tongkat ia
dapat berjalan dengan tegak dan cepat sekali. Di samping hwesio ini berjalan seorang wanita cantik yang
berambut panjang.
“Bagus! Engkau tentulah Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, iblis tua jantan betina yang amat keji!”
Kiang Liong membentak marah sekali.
Bouw Lek Couwsu membelalakkan matanya. Kalau seorang tokoh besar seperti Siauw-bin Lo-mo yang
terkenal sakti masih jerih terhadap dirinya, bagaimana ada seorang pemuda seperti ini berani memaki dia
dan Siang-mou Sin-ni? Dan menyaksikan pengeroyokan tadi, melihat banyaknya murid-murid dan orangorang
Hsi-hsia roboh, benar-benar pemuda ini luar biasa sekali. Keheranannya melampaui kemarahannya
ketika ia bertanya.
“Orang muda yang tak takut mati, engkau siapakah?”
Dengan sikap tenang pemuda itu menjawab, “Aku she Kiang bernama Liong. Karena engkau melakukan
kebiadaban di kalangan Beng-kauw dan menculik wanita dan kanak-kanak, maka aku datang untuk
menghadapimu. Bouw Lek Couwsu, hayo kau bebaskan Kam Han Ki, anak kecil itu tidak tahu apa-apa!”
Bouw Lek Couwsu mengangguk-anggukkan kepala sambil meraba kepalanya yang gundul. “Aih-aih...
pantas kau seberani ini. Kiranya engkau inikah yang bernama Kiang-kongcu, putera Pangeran Sung yang
terkenal sebagai murid Suling Emas?”
Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melompat ke depan dan tertawa. Suara ketawanya melengking tinggi
menyeramkan, sungguh pun wajahnya menjadi menarik sekali ketika tertawa, karena tampak giginya
berderet rapi dan putih berkilauan di balik bibir merah. Cuping hidungnya berkembang kempis dan matanya
dunia-kangouw.blogspot.com
menyinarkan api. “Hi-hi-hik! Inikah murid Suling Emas? Bagus, kau wakili gurumu mampus di tanganku!”
Berkata demikian, kepala wanita ini bergerak dan dari kanan kiri pundaknya menyambar bayangan hitam.
“Siuuuuttt!” Dahsyat sekali gulungan dua, sinar hitam ini menyambar ke arah leher dan pusar Kiang Liong.
Pemuda ini sudah menyaksikan kelihaian Po Leng In menggunakan rambut sebagai senjata, namun
dibandingkan dengan gerakan ini, Po Leng In bukan apa-apa. Dua gumpal rambut panjang ini menyambar
seperti dua ekor naga, mengeluarkan bunyi mengerikan dan mendatangkan bau harum yang mencekik
leher! Pemuda ini maklum bahwa terkena hantaman ujung rambut ini akibatnya hebat, apa lagi kalau
sampai terbelit. Karena itu, cepat ia sudah menggerakkan sepasang pensilnya, menggetarkan sepasang
senjata itu dengan tenaga sinkang.
“Plak-plak... aiihhh...!” Siang-mou Sin-ni terkejut bukan main sampai mengeluarkan suara kaget ketika
sepasang gumpalan rambutnya itu terpukul membalik. Getaran pensil itu tidak memungkinkan rambutnya
untuk melibat.
Rasa kaget ini berbalik menjadi kemarahan. Kembali kepalanya bergerak dan kini dua gumpalan rambut
bergabung menjadi satu dan menyambar ke depan, gerakannya seperti sebatang toya baja menghantam
kepala Kiang Liong. Karena bergabung menjadi satu, maka tenaganya menjadi lipat dua kali. Menyusul
serangan rambut ini, kedua tangan Siang-mou Sin-ni juga bergerak melakukan pukulan dengan jari-jari
tangan terbuka. Hebatnya, dari kedua telapak tangan itu keluarlah bau yang amis sekali, amis busuk dan
tampak telapak tangannya merah seperti mengeluarkan darah.
Kiang Liong yang tahu bahwa ia berhadapan dengan orang sakti, bekas musuh besar gurunya, tidak mau
bersikap sembrono. Ia sudah siap dan kini ia menggerakkan kedua pensilnya seperti orang mencorat-coret
di udara, menuliskan huruf-huruf indah dengan gerakan indah pula. Dalam sekejap mata, sepasang
pensilnya sudah membuat gerakan menyilang dan seperti menggunting rambut.
Siang-mou Sin-ni terkejut dan menarik kembali rambutnya melanjutkan pukulan telapak tangan merah ke
arah dada dan lambung pemuda itu. Namun gerakan corat-coret selanjutnya itu secara otomatis membuat
sepasang pensil sudah maju menyambut pergelangan kedua tangan Siang-mou Sin-ni dengan totokantotokan
pada jalan darah. Kalau pukulan dilanjutkan, sebelum telapak tangan menyentuh baju Kiang Liong,
tentu saja ujung pena akan lebih dulu bertemu dengan pergelangan tangan menotok jalan darah. Gerakan
ini dilakukan seperti orang menulis huruf sehingga tak tersangka dan membingungkan lawan. Kembali
Siang-mou Sin-ni berseru keras dan menarik kedua tangannya sambil menggeser kaki mundur selangkah
sehingga ia pun berhasil membebaskan diri dari pada totokan kedua pensil.
“Kiang Liong, kau masih tidak mau menyerah? Lihat siapa mereka ini!” Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu yang
tadi memberi tanda kepada anak buahnya, menudingkan telunjuknya kepada dua orang gadis di
sampingnya.
Kiang Liong memandang dan matanya terbelalak. Wajahnya pucat karena dua orang gadis itu adalah
Siang Kui dan Siang Hui, tampak lemas dan kakinya tangannya terbelenggu, memandang kepadanya
dengan mata duka namun sedikit pun tidak takut.
“Liong-twako, maaf, kami tertangkap kembali,” kata Siang Kui, sedih melihat kekagetan dan kekecewaan
yang membayang di mata Kiang Liong.
“Liong-twako, jangan hiraukan kami!” kata Siang Hui dengan suara lantang.
“Ha-ha-ha-ha, Kiang-kongcu. Dua orang cucu ketua Beng-kauw ini sungguh gagah dan manis. Sayang
kalau mereka mati. Menyerahlah, dan mereka akan kubebaskan!”
“Liong-twako, kami tidak takut mati!” teriak Siang Hui.
“Benar Twako, jangan hiraukan kami. Jangan menyerah, lawanlah dan kalau dapat larilah!” teriak pula
Siang Kui.
Kiang Liong berdiri tegak ragu-ragu, wajahnya pucat. Melihat Bouw Lek Couwsu memalangkan tongkatnya,
mengancam di atas kepala dua orang gadis itu, maklumlah ia bahwa sekali ia bergerak, dua orang gadis itu
tentu akan tewas. Dan dia seorang diri belum tentu akan dapat mengalahkan Bouw Lek Couwsu dan
Siang-mou Sin-ni, apa lagi dibantu banyak sekali pendeta jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia. Baru
dunia-kangouw.blogspot.com
Siang-mou Sin-ni seorang saja tadi ia sudah merasakan kelihaiannya. Kiang Liong seorang pemuda yang
cerdik dan tenang, maka sebentar saja ia sudah dapat mengambil keputusan.
“Bouw Lek Couwsu, jangan seperti anak kecil! Bebaskan gadis-gadis itu dan adik mereka, kemudian kalau
kau dan Siang-mou Sin-ni ada kepandaian, cobalah untuk mengalahkan dan membunuhku!” Sikapnya
tenang, suaranya berpengaruh sehingga kembali Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara kagum.
“Seperti Suling Emas benar...! Beginilah Suling Emas di waktu mudanya!”
Akan tetapi Bouw Lek Couwsu tertawa bergelak. “Orang muda sombong! Gurumu sendiri si Suling Emas
belum tentu dapat menandingi pinceng, apa lagi engkau muridnya! Kau lepaskan senjatamu dan
menyerahlah, pinceng ingin bicara denganmu dan pinceng memerlukan bantuanmu. Pinceng berjanji akan
membebaskan dua orang gadis ini. Tentang anak laki-laki itu, dia adalah hak Siang-mou Sin-ni.”
“Bagaimana aku dapat percaya omonganmu, Bouw Lek Couwsu?”
Pendeta jubah merah itu marah sekali. “Kiang Liong, kau benar-benar memandang rendah kepada
pinceng! Tak tahukah engkau dengan siapa kau bicara? Pinceng adalah ketua yang terhormat dari para
pendeta jubah merah. Sebagai pendeta kepala, sekali pinceng mengeluarkan kata-kata, pasti tak ditarik
kembali!”
Kiang Liong tersenyum mengejek. Ia sengaja hendak memanaskan hati pendeta ini. Makin panas hatinya,
kelak ia akan makin malu untuk menarik kembali kata-katanya. “Hemm, siapa tidak tahu bahwa engkau
menjadikan jubah merah dan kepala gundul sebagai kedok belaka, Bouw Lek Couwsu? Engkau
berpakaian pendeta akan tetapi tidak hidup sebagai pendeta, bagaimana aku bisa percaya omongan
seorang pendeta palsu? Akan tetapi aku akan lebih percaya kalau engkau bicara sebagai pimpinan barisan
Hsi-hsia yang terkenal jujur dan perkasa!” Suara Kiang Liong diucapkan nyaring dan lantang sekali
sehingga terdengar oleh semua orang yang hadir di situ, termasuk orang-orang Hsi-hsia.
Diam-diam Bouw Lek Couwsu mengutuk di dalam hatinya. Ia merasa benar-benar dilucuti oleh pemuda ini.
Sebagai seorang pimpinan suku bangsa Hsi-hsia yang mengharapkan kedudukan besar, tentu saja ia tidak
akan berani menarik kembali kata-kata dan merendahkan diri dan martabat dalam pandangan bangsa Hsihsia.
Akan tetapi di samping ini, ia pun amat membutuhkan bantuan Kiang Liong. Pemuda ini adalah putera
pangeran di Kerajaan Sung yang sudah terkenal. Kalau ia dapat menarik pemuda ini menjadi sekutu!
Alangkah akan baiknya, akan memudahkan rencananya menyerbu Sung.
“Baiklah, aku berjanji sebagai pimpinan Hsi-hsia untuk membebaskan dua orang gadis ini setelah kau
melepaskan senjata dan menyerah.”
Kiang Liong tersenyum lalu memandang sepasang pensilnya.
“Twako, jangan menyerah!”
“Twako, mari kita berontak, lawan dan adu nyawa dengan mereka!”
Namun Kiang Liong menggelengkan kepala dan memandang dua orang gadis itu sambil berkata. “Kalian
harus menurut kepadaku. Setelah dibebaskan, lekas turun gunung dan jangan hiraukan aku lagi!” Di dalam
suara ini terkandung wibawa besar, dan sepasang mata itu menatap dengan begitu pasti sehingga dua
orang gadis itu menunduk sambil terisak menangis.
Kiang Liong mendongak ke atas, melihat tiang bendera yang amat tinggi berdiri di situ. Bendera pasukan
Hsi-hsia berkibar di puncak tiang. Ia lalu berkata, “Biarlah sepasang pensilku kusimpan di atas sana!”
Kedua tangannya bergerak, terdengar suara berdesing nyaring sekali dan dua sinar menyambar ke atas.
Ketika semua orang memandang, ternyata dua buah pensil itu telah manancap berjajar di puncak tiang
bendera! Semua orang terbelalak memandang penuh keheranan dan kekaguman. Bahkan Bouw Lek
Couwsu dan Siang-mou Sin-ni sendiri menjadi kagum.
“Ha-ha-ha, engkau benar seorang muda gagah perkasa,” kata Bouw Lek Couwsu yang kemudian menoleh
dan memberi perintah kepada anak buahnya. “Bebaskan dua orang nona ini dan jangan halangi mereka
turun gunung!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Belenggu kedua orang nona ini dilepaskan. Mereka sejenak meragu, memandang ke arah Kiang Liong
dengan sepasang mata basah, akan tetapi Kiang Liong menggerakkan mukanya dan berkata. “Pergilah, Jiwi
Siauw-moi dan berhati-hatilah.”
Dua orang nona itu sedih sekali. Tadi pun mereka menangis kecewa ketika dipaksa oleh Kiang Liong untuk
pergi dan tidak diperbolehkan ikut pemuda itu mencari Han Ki. Sekarang tahulah mereka bahwa pemuda
itu ternyata benar ketika menyuruh mereka melarikan diri. Musuh terlampau banyak dan sakti. Baru saja
mereka tiba di lereng bukit, mereka itu bertemu dengan Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni yang
berlari cepat naik ke puncak sehingga tanpa dapat melakukan perlawanan berarti mereka telah ditangkap
kembali!
Dan sekarang karena mereka berdua, Kiang Liong menjadi tawanan tanpa dapat melawan. Tentu saja
mereka berduka sekali. Kali ini mereka tidak berani membantah dan sambil menangis mereka pergi
meninggalkan tempat itu, di dalam hati berjanji akan cepat-cepat mencari adik mendiang kakek mereka
yang bertapa di puncak Tai-liang-san, minta pertolongannya kemudian kembali ke tempat ini untuk
menolong Kiang Liong dan Han Ki. Kalau terlambat dan dua orang itu sudah terbunuh, mereka akan
mengamuk dan mengadu nyawa.
Setelah dua orang gadis itu pergi, Bouw Lek Couwsu berkata, “Orang muda, pinceng sudah berjanji
membebaskan mereka dan sekarang mereka sudah bebas. Engkau menjadi tawananku, dan pinceng juga
tidak bermaksud membunuhmu, kalau saja engkau tidak menolak tawaranku. Sebagai seorang tawanan,
kau harus dibelenggu dan harap saja kau tidak melawan agar kami tidak perlu membunuhmu sebelum
berunding!“
Kiang Liong bukan seorang bodoh. Kalau sepasang pensilnya masih berada di kedua tangannya sekali pun
belum tentu akan dapat membebaskan diri dari dua orang sakti ini bersama seratus orang lebih anak buah
mereka yang sudah mengurung tempat itu. Kini sepasang senjata sudah ia simpan di atas tiang bendera,
dan ia sudah berjanji pula untuk menyerah. Seorang pendekar harus memegang janjinya dan ia menyerah,
kecuali tentu saja kalau ia akan dibunuh, ia akan melawan sedapat mungkin. Maka mendengar ucapan ini
ia tersenyum dan menjawab.
“Silakan Bouw Lek Ciouwsu.” Ia memasang kedua tangan dengan merangkap pergelangan tangannya.
Seorang pendeta jubah merah murid Bouw Lek Couwsu tanpa diminta segera melompat maju. Ia sudah
membawa sebuah rantai besi dan untuk menyenangkan hati gurunya ia segera mengikat kedua
pergelangan tangan itu erat-erat kemudian mengaitkan ujungnya kepada mata rantai. Demikian kuatnya
belenggu itu sehingga kedua tangan Kiang Liong sedikit pun tak dapat bergerak. Dengan hati puas dan
muka bangga pendeta jubah merah itu melangkah mundur dan memandang ke arah gurunya
mengharapkan pujian.
“Goblok kau! Goblok dan tolol!”
Pendeta jubah merah itu kaget setengah mati. Takut, mendongkol dan heran terbayang di mukanya.
“Tapi... Suhu....“
“Kau kira belenggu itu dapat menahan kedua tangannya?” bentak Bouw Lek Ciouwsu.
Kiang Liong kagum akan kecerdikan dan ketajaman mata pendeta kepala itu. Ia tersenyum dan tak perlu
berpura-pura lagi. Sekali ia mengerahkan tenaga Kim-kong-kiat, terdengar suara keras dan rantai besi
yang membelenggunya itu patah-patah! Kemudian ia menyodorkan kedua tangannya lagi kepada Bouw
Lek Couwsu. Semua anak buah yang berada di situ mengeluarkan seruan kaget dan melongo. Seekor
harimau sekali pun tak mungkin dapat mematahkan belenggu seperti itu, dan pemuda ini mematahkannya
sedemikian mudah.
“Biar kubelenggu dia untukmu!” terdengar Siang-mou Sin-ni berkata, sebagian jengkel menyaksikan
kegagahan Kiang Liong dan juga sebagian benci karena mengingat bahwa pemuda ini adalah murid Suling
Emas, musuh besar yang amat dibencinya karena Suling Emaslah yang mengenyahkan dia dari dunia
kang-ouw (baca cerita CINTA BERNODA DARAH). Sambil berkata demikian, kepalanya bergerak dan
segumpal rambutnya telah menyambar ke arah kedua tangan Kiang Liong, seperti seekor ular hidup
rambut itu membelit-belit pergelangan tangan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiang Liong dapat merasa betapa rambut yang membelit kedua lengannya itu mengandung tenaga yang
luar biasa, terasa panas dan maklumlah ia bahwa wanita sakti yang terkenal karena rambutnya ini sama
sekali tak boleh dipandang ringan dan sekiranya ia berusaha melepaskan ikatan rambut, ia masih sangsi
apakah dia akan berhasil. Maka ia diam saja dan bahkan memuji.
“Rambutmu memang amat hebat, Siang-mou Sin-ni!”
Untuk kedua kalinya anak buah yang berada di situ melongo. Mereka sudah dapat menduga bahwa tamu
kehormatan pemimpin mereka itu tentulah seorang wanita sakti dan pandai mempergunakan rambut
sebagai senjata. Akan tetapi kalau rambut itu bisa lebih kuat dari pada rantai besi, benar-benar hal ini
membuat mereka menjulurkan lidah saking heran!
Setelah kedua tangan Kiang Liong terbelenggu, tiba-tiba sekali Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara
melengking tinggi, tangan kanannya bergerak menghantam ke depan. Kiang Liong terkejut, karena ia sama
sekali tidak menyangka akan diserang. Ia tak dapat menangkis mau pun mengelak, hanya dapat
mengerahkan tenaga, dan menerima pukulan itu.
“Bukkk...!”
Lambungnya terkena pukulan. Tidak sakit rasanya akan tetapi hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya
dan terkumpul di lambung kembali, mendatangkan rasa gatal-gatal dan hidungnya mencium bau amis.
Diam-diam ia kaget sekali karena ia maklum bahwa pukulan Siang-mou Sin-ni yang dilakukan secara
curang itu adalah pukulan yang amat hebat, pukulan beracun yang ia sendiri tidak tahu akan bagaimana
akibatnya.
Tentu saja Kiang Liong sebagai tokoh muda tidak mengenal pukulan ini. Selain ilmu menggunakan rambut
yang amat hebat, di waktu mudanya Siang-mou Sin-ni menciptakan ilmu dahsyat mengerikan yang
bernama Tok-hiat-hoat-lek. Dahulu ketika ia sering menghadapi Suling Emas, dia menggunakan Tok-hiathoat-
lek pula, yaitu dengan cara menyemburkan darah dari dalam perutnya, langsung keluar dari mulut.
Darah yang beracun ini amat berbahaya dan jlka mengenai kulit lawan, dapat membuat kulit dan daging
lawan membusuk dan tidak ada obatnya!
Akan tetapi makin tua, Siang-mou Sin-ni makin matang ilmunya. Kini ia dapat menggunakan Tok-hiat-hoatlek
menjadi pukulan tangan terbuka. Darah beracun yang dikumpulkannya itu dapat ia rubah menjadi hawa
beracun yang jika mengenal lawan akan meracuni darah lawan itu. Tanpa diketahuinya, Kiang Liong telah
terkena pukulan Tok-hiat-hoat-lek ini dan perlahan-lahan darah di tubuhnya mulai keracunan.
“Kim Bwe, jangan bunuh dia!” bentak Bouw Lek Couwsu sambil melompat maju menghadang. Keduanya
saling pandang dan akhirnya Siang-mou Sin-ni tertawa.
“Hi-hi-hik, tidak bunuh juga tidak apa. Hatiku sudah puas dapat memukulnya!”
Bouw Lek Couwsu menghampiri Kiang Liong yang kini kedua tangannya sudah terlepas dari ikatan rambut
Siang-mou Sin-ni. “Kiang Liong Kongcu, maafkan sikap sahabatku ini yang dulu disakitkan hatinya oleh
gurumu. Percayalah, kami berniat baik dan ingin bersahabat dengan kau yang muda dan perkasa. Kalau
kau berjanji takkan melawan dan menyerah baik-baik, pinceng tidak berani membelenggumu. Marilah,
engkau kini menjadi tamuku yang terhormat.”
Kiang Liong hanya tersenyum dingin dan tanpa bicara ia mengikuti pendeta ini naik ke puncak. Siang-mou
Sin-ni tertawa ha-ha-hi-hi di belakang mereka dan para anak buah ikut pula naik kembali ke markas sambil
membawa mereka yang terluka.....
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Dapat dibayangkan betapa berdebar tegang dan penuh haru rasa hati Suling Emas ketika ia berlutut
bersama panglima-panglima lain menghadap Sang Ratu Yalina, ratu bangsa Khitan yang pada waktu itu
amat kuat.
Begitu datang menghadap tadi dibawa oleh Loan Ti Ciangkun dan Hoa Ti Ciangkun, dalam keadaan
menyamar sebagai seorang kakek yang berjenggot panjang, Suling Emas memandang Yalina atau Lin Lin
dengan jantung seakan-akan ditusuk. Bekas kekasihnya, juga adik angkatnya itu dalam pandangannya
masih seperti dulu, dua puluh tahun yang lalu!
Masih cantik jelita, masih kelihatan muda, hanya bedanya, kalau sepasang mata itu dahulu bersinar-sinar
penuh kegembiraan, kelincahan dan kenakalan orang muda, kini pandang matanya suram. Kalau bibir
yang masih merah mungil ini dahulu tersenyum-senyum dan menghadapi dunia dengan seri gembira, kini
tertarik seperti orang menderita tekanan batin hebat. Hanya sikapnya kini membayangkan keagungan dan
kematangan. Begitu pandang mata sayu itu ditujukan ke arah mukanya dan sepasang alis yang kecil
panjang menghitam itu bergerak membayangkan keheranan dan perhatian, Suling Emas cepat-cepat
menundukkan mukanya dengan sikap amat menghormat.
Suling Emas berlutut sambil menundukkan kepala dengan jantung berdebar dan pikiran melamun jauh
sehingga suara Loan Ti Ciangkun yang memberi laporan kepada ratunya hanya terdengar sebagian saja
olehnya. Akhirnya ia mendengar suara Lin Lin atau Ratu Yalina, suara yang selama puluhan tahun tak
pernah ia lupakan, yang selalu terngiang di telinganya dalam mimpi.
“Kami amat berterima kasih kepada Cianpwe dan kami setuju akan usul kedua panglima kami untuk
mengangkat Cianpwe sebagai pengawal dalam istana. Betapa pun juga, hati kami takkan puas kalau
belum menguji kepandalan Cianpwe.”
Di dalam hatinya Suling Emas merasa geli dan kagum. Biar pun sudah menjadi ratu selama puluhan tahun,
ratu besar yang disanjung dan disembah orang-orang Khitan, namun Lin Lin masih belum kehilangan
hormatnya terhadap tokoh kang-ouw sehingga dia yang dianggap seorang tokoh besar di dunia kang-ouw
disebut cianpwe! Ia hanya menunduk dan menjawab, merubah suaranya dibesarkan.
“Silakan apa yang akan Paduka lakukan, hamba hanya menurut.”
“Lihat serangan!” Tiba-tiba ratu itu berseru keras dan tangan kanannya menyambar ke arah dada Suling
Emas.
Suling Emas kaget bukan main. Ia mengenal pukulan ini karena pukulan ini memiliki dasar ilmu silat Bengkauw.
Teringatlah ia betapa Yalina ini mewarisi ilmu ciptaan mendiang Pat-jiu Sian-ong Liu Gan, pendiri
Beng-kauw, yaitu ilmu Cap-sha Sin-kun (Tiga Belas Pukulan Sakti) yang dirahasiakan, namun secara
kebetulan terjatuh ke tangan Lin Lin (baca CINTA BERNODA DARAH).
Tentu saja dengan Hong-In Bun-hoat ia akan dapat memunahkan pukulan dahsyat ini, akan tetapi kalau ia
pergunakan Hong-in Bun-hoat, sudah pasti Lin Lin akan mengenalnya. Karena inilah maka ia sengaja
mengerahkan sinkang di pundaknya, lalu mengelak setelah pukulan itu menyentuh dadanya. Dengan
gerakan ini, pukulan ke dada itu menyeleweng dan menghantam pundaknya sehingga tubuhnya mencelat
sampai empat meter akan tetapi ia jatuh dalam keadaan masih berlutut seperti tadi.
“Aiihhh...! Hampir aku kesalahan tangan membunuhmu!” teriak Yalina dan memberi isyarat supaya Suling
Emas maju lagi.
Dari tempat ia berlutut, Suling Emas mengerahkan ginkang dan... dalam keadaan masih berlutut itu
tubuhnya melayang dan kembali di tempat tadi, sama sekali tidak merubah kedudukan tubuhnya. Semua
orang yang hadir melongo dan mengeluarkan seruan kaget. Itulah ilmu sihir, pikirnya. Bahkan Yalina
sendiri terkejut. Hebat ilmu orang ini, pikirnya. Dengan ginkang seperti itu, dia sendiri takkan mungkin
menandinginya. Juga pukulannya tadi hebat sekali, biar pun hanya mengenai pundak namun kalau
seorang di antara panglima tingginya terkena hantaman itu sedikitnya tentu akan pingsan. Akan tetapi
kakek itu tidak apa-apa, hanya mencelat dan tidak terluka.
“Ah, maafkan percobaan kami, Cianpwe. Ternyata Cianpwe sakti seperti diceritakan kedua panglimaku.
Siapakah nama julukan Cianpwe?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hamba tidak ingat lagi nama hamba, orang hanya menyebut hamba Bu Beng Lojin (Kakek Tak Bernama).”
Ratu Yalina mengangguk-angguk. “Bu Beng Lojin, apakah engkau tidak mempunyai saudara muda atau
keponakan atau putera?”
Hati Suling Emas berdebar. Ternyata pandang mata tajam dari Yalina dapat mengenal persamaan muka
penyamarannya. Cepat ia menggelengkan kepala. ”Hamba hidup sebatang kara di dunia ini. Apakah
maksud pertanyaan Paduka?”
Ratu Yalina menarik napas panjang. “Tidak apa-apa, hanya kau mengingatkan aku akan seseorang...“ Ia
berhenti termenung sejenak, wajahnya terliputi kedukaan, kemudian menyambung. “Mulai sekarang kau
kuangkat menjadi pengawal dalam istana. Keselamatan kami sekeluarga kuserahkan ke dalam
penjagaanmu.”
Suling Emas menunduk, hatinya terharu. “Terima kasih atas segala kebaikan dan kurnia Paduka”
Demikianlah, mulai saat itu Suling Emas menjadi kepala pengawal dan tinggal pula di lingkungan istana.
Dia diberi pakaian yang sesuai dengan pangkatnya. Seperangkat pakaian yang indah dan gagah, dengan
hiasan sulaman-sulaman benang emas dan di dadanya tersulam gambar sebagai tanda bahwa pangkatnya
adalah panglima pengawal. Kepalanya memakai topi bundar berhias bulu kuning, hiasan bulu bagi
panglima yang tinggi.
Dalam beberapa hari setelah bertugas sebagai panglima pengawal, Suling Emas mendapatkan hal-hal
yang mengharukan hatinya. Ia diperkenalkan dengan Pangeran Mahkota Talibu yang masih muda belia
dan amat tampan, bersikap halus sabar dan tidak sombong, pandai bergaul dengan rakyatnya sehingga
timbul rasa suka di hati Suling Emas, apa lagi mengingat bahwa putera angkat Ratu Yalina ini adalah
putera Panglima Kayabu, bekas sahabatnya yang gagah perkasa. Ia bertemu pula dengan Panglima
Kayabu yang tidak mengenalnya dan ternyata bahwa Panglima Tinggi Kayabu ini masih tampak muda dan
gagah seperti dulu, juga sikapnya amat ramah terhadap bawahannya, namun penuh disiplin keras. Pantas
saja bangsa Khitan menjadi makin kuat berkat sikap Panglima Kayabu ini.
Terutama sekali keadaan Ratu Yalina, sering kali membuat Suling Emas hampir tidak kuat menahan
hatinya. Hanya di waktu bersidang saja ratu ini nampak agung dan berwibawa. Akan tetapi kerap kali
Suling Emas melihat ratu ini duduk termenung seorang diri di dalam ruangan dalam istana dan tidak jarang
tampak matanya merah bekas menangis!
Kalau sudah melihat keadaan ratu itu demikian, jantung Suling Emas serasa ditusuk-tusuk dan kalbunya
menjerit-jerit menyebut nama Lin Lin kekasihnya. Akan tetapi, ia merasa heran mengapa ratu ini bertekad
memanggilnya? Setelah beberapa hari berada di situ, ia tidak melihat sesuatu yang mengancam keadaan
di Khitan. Pemerintahannya berjalan baik, keadaan ratu itu dicinta dan dihormati bangsanya, dan para
panglima juga setia. Rahasia apakah yang diderita Lin Lin? Rahasia apakah yang membuat Lin Lin
berduka seperti itu?
Beberapa hari kemudian, di dalam persidangan terbuka, datanglah seorang perwira Khitan yang membawa
laporan hebat, yaitu tentang diserbunya Nan-cao oleh bangsa Hsi-hsia dan tentang kematian ketua Bengkauw
dan banyak tokoh-tokohnya termasuk Kam Bu Sin dan isterinya.
Mendengar ini Ratu Yalina mengeluarkan teriakan aneh. Wajahnya menjadi pucat sekali, tubuhnya
menggigil dan hanya karena ingat bahwa ia seorang ratu saja yang mencegah dia roboh pingsan di atas
kursinya. Cepat-cepat ia memberi isyarat membubarkan persidangan, lalu memasuki ruangan dalam
istana. Begitu berada seorang diri, Ratu Yalina menjatuhkan diri di atas kursi dan menangis tersedu-sedu!
Sibuklah para dayang dan pelayan, sibuk menghibur namun mereka dibentak oleh Ratu itu yang terus
menangis tanpa mau pindah dari atas kursinya. Ia menolak pelayanan para dayang, tidak mau makan,
bahkan sampai malam tiba, Sang Ratu masih menangis di atas kursinya. Berkali-kali ia mengeluh dan
membisikkan nama Kam Bu Sin, kakak angkatnya yang baginya seperti kakak kandungnya sendiri
Tentu saja berita tentang mala-petaka yang menimpa para pimpinan Beng-kauw ini juga membuat Suling
Emas terkejut, marah, dan berduka sekali. Kedukaannya tidak kalah besar dengan kedukaan Ratu Yalina
karena Kam Bu Sin adalah adik tirinya, seayah lain ibu dan Suling Emas adalah sahabat baik semua
dunia-kangouw.blogspot.com
pimpinan Beng-kauw. Akan tetapi dasar dia seorang pendekar sakti yang sudah matang jiwanya dan kuat
batinnya oleh gemblengan pahit getir hidup, ia menerima berita ini dengan sikap tenang.
Sekarang ia harus pergi dari Khitan, pikirnya. Ia harus pergi ke Nan-cao menyelidiki keadaan Beng-kauw
yang tertimpa mala-petaka. Tiada gunanya ia berlama di Khitan karena ternyata bahwa Khitan tidak
terancam bahaya apa-apa, keadaan Yalina juga sehat. Akan tetapi tak mungkin ia pergi begitu saja. Malam
ini ia harus bertemu dengan Yalina, memperkenalkan diri dan berpamit. Ia harus bertemu secara rahasia
agar jangan ada yang tahu akan hubungan mereka.
Sebagai seorang pengawal kepala, tentu saja mudah bagi Suling Emas untuk memasuki semua ruangan
istana dengan dalih memeriksa keamanan. Akhirnya ia sampai di luar pekarangan di mana Yalina
menangis. Ruangan itu amat indah, juga diterangi lampu penerangan seperti di siang hari saja. Ia
mengintai dari balik tirai tebal.
Tampak oleh Suling Emas betapa Ratu Yalina masih menangis, duduk di atas kursi dan menyandarkan
kepala di atas lengan yang diletakkan di atas meja. Mukanya pucat sekali dan air mata bercucuran tiada
hentinya di sepanjang pipinya. Seorang pelayan muda yang membawa tempat hidangan berdiri di
belakangnya dengan bingung. Baru saja hidangan yang sengaja ia bawa datang dan membawanya kepada
Sang Ratu ditolak dengan bentakan marah.
Dari belakang datang seorang dayang lain membawa teng (lampu). Mereka berdua saling memberi tanda
dengan mata dan gerakan tangan, kemudian si Pembawa hidangan mundur. Dengan menggerakkan
pundak dan menghela napas panjang, kedua orang dayang itu lalu meninggalkan ruangan. Sunyi di
ruangan itu, yang terdengar hanya isak tangis Sang Ratu Yalina.
Suling Emas belum berani memperlihatkan diri karena ia khawatir kalau-kalau para dayang akan
melihatnya dan hal ini akan membikin malu Sang Ratu. Maka sambil menahan gelora keharuan hatinya, ia
meninggalkan ruangan itu dan mengambil keputusan untuk menemui Yalina malam nanti di kamarnya
untuk memperkenalkan diri dan berpamitan.
Sambil menanti saat yang baik, Suling Emas lalu menemui perwira yang melaporkan tentang mala-petaka
yang menimpa Beng-kauw itu. Perwira itu adalah seorang di antara petugas-petugas Khitan yang bekerja
sebagai mata-mata atau penyelidik keadaan di luar Khitan. Memang Panglima Kayabu amat cerdik. Biar
pun pada waktu itu Khitan tidak punya musuh, namun ia selalu menyebar mata-mata, baik ke negara Sung,
ke Nan-cao dan lain-lain tempat untuk mengetahui keadaan dan perubahan negara-negara lain itu.
Perwira ini menceritakan kepada Suling Emas dengan jelas akan penyerbuan bangsa Hsi-hsia ke Nan-cao.
“Bangsa Hsi-hsia secara tiba-tiba menyerbu ke selatan, akan tetapi berhasil dihalau pergi oleh tentara Nancao
yang kuat. Akan tetapi, pimpinan Hsi-hsia yang terdiri dari pendeta-pendeta Tibet berjubah merah,
dikepalai oleh pendeta kaki satu yang amat sakti dan kabarnya juga seorang wanita rambut panjang,
menyerang Beng-kauw. Menurut keterangan yang hamba peroleh, ketua Beng-kauw berikut pembantupembantunya
terbunuh oleh pendeta kaki satu dan wanita rambut panjang itu.”
“Dan bagaimana dengan anak, mantu dan cucu-cucu ketua Beng-kauw? Aku pernah singgah di sana dan
mereka itu bersikap baik sekali kepadaku,” tanya Suling Emas.
“Menurut kabar, juga puteri dan menantu ketua Beng-kauw tewas, dan anak-anak mereka terculik...”
“Aihhh...!” Suling Emas menjadi marah sekali. Kalau mungkin, saat itu juga ia ingin terbang ke Nan-cao.
Sementara itu, Ratu Yalina sudah memasuki kamarnya. Ia masih menangis, duduk di atas kursi dalam
kamarnya ketika sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya.
“Ibu, jangan terlalu berduka...”
Suara Pangeran Talibu yang menghibur ibunya ini membuat tangis Ratu Yalina menjadi-jadi. Karena Ratu
ini teringat akan masa dahulu, ketika ia masih menjadi Kam Lin Lin, semenjak kecil bermain-main dengan
Kam Bu Sin kakak angkatnya. Teringat pula ia akan pengalamannya melakukan perantauan dengan Kam
Bu Sin dan Kam Sian Eng kedua orang saudara angkatnya, sampai bertemu dengan Suling Emas. Makin
jauh pula ia melamun, teringat akan Suling Emas kekasihnya, ayah dari Pangeran Talibu ini yang sekarang
menjadi anak angkatnya. Padahal dialah sendiri yang melahirkan anak ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, anakku...!” Ia membalik dan merangkul Talibu sambil menangis.
Pangeran Talibu sungguh pun tahu bahwa Ratu ini hanya ibu angkatnya karena ia diangkat anak ketika
berusia lima tahun, namun rasa kasih sayangnya kepada ibu angkat ini amat besar.
“Ibu, perbuatan orang-orang Hsi-hsia itu memang biadab. Biar pun aku belum pernah bertemu dengan
Paman Kam Bu Sin yang menjadi kakak angkat ibu, namun aku sudah dapat membayangkan kebaikannya
dan betapa besar ibu menyayangnya. Memang kematiannya menyedihkan, Ibu. Akan tetapi hal ini kiranya
tidak cukup untuk disedihkan. Biarlah aku bersama Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun pergi
menyelidik ke Nan-cao dan mencari pembunuh Paman Bu Sin, menangkapnya dan menyeretnya ke depan
kaki Ibu!”
Mau tak mau di antara air matanya Ratu Yalina tersenyum. “Ah, Puteraku, engkau belum tahu tingginya
langit dalamnya lautan! Di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang sakti, Puteraku. Dalam ukuranmu,
mungkin kedua orang Ciangkun kita itu sudah memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, akan tetapi di dunia
kang-ouw masih banyak sekali yang jauh melampaui mereka. Baru Bu Beng Lojin pengawal baru kita itu
saja sudah jauh lebih lihai dari pada mereka. Kau tahu Anakku, ilmu kepandaian ketua Beng-kauw amat
hebat, juga kepandaian pamanmu Bu Sin cukup tinggi terutama sekali Bibi Liu Hwee puteri ketua Bengkauw.
Mereka adalah orang-orang yang lihai dan sukar dicari tandingnya, namun mereka tewas di tangan
pendeta Tibet kaki satu dan teman-temannya. Kalau mereka saja terbunuh, apakah yang akan dapat kau
lakukan, biar pun kau dibantu oleh Hoan Ti Ciangkun dan Loan Ti Ciangkun?”
“Biar pun begitu, aku tidak takut, Ibu. Ah, betul juga! Pengawal tua itu amat lihai, biarlah dia bersamaku
pergi ke Nan-cao!” Wajah Pangeran Talibu tampak penuh semangat.
Ratu Yalina menggeleng-geleng kepalanya. “Kita belum tahu benar siapa dia, Nak. Orang-orang yang
membasmi pimpinan Beng-kauw adalah orang sakti. Hanya ada satu-satunya orang di dunia ini yang akan
mampu membalaskan kematian para pimpinan Beng-kauw dan Paman serta Bibimu.”
Pangeran Talibu membelalakkan matanya yang lebar dan bersinar tajam. “Siapakah dia, Ibu?”
“...Suling Emas...”
“Ohh...!” Pangeran ini tentu saja sudah tahu bahwa ibunya mengerahkan para panglima untuk mencari dan
memanggil Suling Emas dan ia tahu pula bahwa Suling Emas adalah kakak angkat ibunya, juga kakak tiri
Kam Bu Sin. “Begitu saktikah Paman Suling Emas? Mengapa sampai sekarang dia belum datang, Ibu?”
Panas rasa kedua mata Ratu Yalina dan hanya dengan kekerasan hatinya saja ia dapat menahan turunnya
air mata. Mendengar Talibu menyebut Paman kepada Suling Emas, hatinya menjerit. “Dia Ayahmu! Dia
Ayah kandungmu!”
Akan tetapi mulutnya hanya berkata lirih, “Mudah-mudahan usaha para panglima mencarinya akan berhasil
dan dia suka datang ke sini, Talibu. Sekarang Ibumu hendak tidur.” Dengan gerakan lemas Ratu itu lalu
menghampiri pembaringannya, menjatuhkan diri di atas pembaringan, memeluk guling dan membanjirlah
air matanya membasahi bantal.
Sejenak Pangeran Talibu berdiri bengong, kemudian menarik napas panjang dan hatinya ikut sedih sekali
menyaksikan kedukaan ibunya. “Ibu, perkenankanlah aku malam ini tidur di sini menemani Ibu.”
Dengan suara serak dan hati terharu, juga senang mendengar puteranya yang jelas memperlihatkan kasih
sayang kepadanya, ia menjawab. “Baiklah, Talibu.”
Pangeran itu lalu menghampiri sebuah dipan di sudut kamar yang luas itu, merebahkan diri dan berkali-kali
menarik napas panjang. Ratu Yalina dalam dukanya terisak-isak tak dapat tidur, dan Pangeran Talibu juga
gelisah sukar sekali pulas. Namun menjelang tengah malam, akhirnya mereka pulas juga.
Ibu dan anak itu tidak tahu bahwa semua percakapan mereka sejak tadi didengar oleh orang yang menjadi
bahan percakapan mereka. Suling Emas telah berdiri di balik jendela mendengarkan dengan hati terharu.
Ia juga merasa girang mendapat kenyataan betapa Pangeran Talibu, sungguh pun hanya putera angkat
Ratu Yalina, namun ternyata amat mencinta ibunya. Anak itu mewarisi watak baik ayahnya, Panglima
Kayabu, pikirnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah ibu dan anak itu tidur pulas yang dapat diketahuinya dari pernapasan mereka yang halus teratur,
Suling Emas lalu membuka jendela dan melompat ke dalam kamar peraduan. Sebagai seorang pengawal
kepala, tentu saja para pelayan yang tadi melihatnya di bagian pedalaman istana tidak ada yang menaruh
curiga. Bukankah kepala pengawal dalam memang tugasnya menjaga keselamatan keluarga ratu? Karena
itulah maka Suling Emas dapat mengintai dan kini melompat ke dalam tanpa ada yang tahu atau menduga.
Kini ia berdiri di tengah kamar. Hatinya tidak berdebar lagi. Ia merasa seolah-olah berada di dalam
kamarnya sendiri. Seolah-olah sudah selayaknya ia berada di dalam kamar di mana Lin Lin tidur nyenyak.
Pula, kamar ini tidaklah asing baginya. Ketika Lin Lin mula-mula menjadi ratu dua puluh tahun yang lalu, ia
berdiam di kamar ini selama sebulan. Berdiam di kamar ini bersama Lin Lin, menikmati jalinan cinta kasih
mereka, seperti sepasang mempelai berbulan madu!
Maka kini ia merasa wajar berada di sini. Hanya adanya Pangeran Talibu yang tidur di sudut kamar, di atas
dipan, rebah miring menghadapi dinding, membuat ia merasa canggung. Betapa pun pemuda itu putera
angkat Yalina, namun dengan dia bukan apa-apa. Namun, keberangkatannya ke Nan-cao berhubung
dengan mala-petaka yang menimpa Beng-kauw tak dapat diundur lagi. Besok pagi-pagi ia harus sudah
berangkat dan malam inilah saat dan kesempatan terakhir baginya untuk bertemu dan memperkenalkan
diri kepada Lin Lin.
Suling Emas lalu menanggalkan penyamarannya. Mula-mula ia membuka kumis dan jenggot palsu yang
menyembunyikan mukanya. Hatinya lega ketika melirik ke arah Pangeran Talibu yang masih tidur nyenyak.
Setelah menanggalkan jenggot palsu, ia lalu menanggalkan jubah panglima dan di sebelah dalamnya ia
memakai pakaiannya sendiri yang sederhana. Bahan penyamarannya itu ia lemparkan di sudut, kemudian
ia melangkah maju menghampiri pembaringan Ratu Yalina. Dari balik kelambu sutera tipis itu tampaklah
tubuh yang masih langsing padat itu, berselimut sampai pinggang, tidurnya miring memeluk guling
menghadap ke dinding.
“Lin-moi...!” Ia memanggil dengan suara gemetar dan dari luar kelambu tangannya bergerak,
menggunakan angin dorongan tangannya yang amat kuat sehingga tanpa menyentuh tubuh Ratu Yalina, ia
dapat membuat tubuh itu berguncang keras.
Ratu Yalina, biar pun seorang ratu adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi. Sebagaimana
lazimnya seorang ahli silat, dalam keadaan bagaimana pun urat syarafnya selalu siap sedia menghadapi
segala macam ancaman. Oleh karena itu, biar pun seorang ahli silat sedang tidur nyenyak, apa bila
tersentuh atau terguncang sedikit saja tentu akan bangun dan seketika sadar dan siap membela diri.
Ketika Yalina terguncang oleh angin dorongan tangan Suling Emas, segera tubuhnya mencelat ke luar dari
pembaringan dan berdiri di depan Suling Emas. Tangannya sudah siap mengirim pukulan ketika ia melihat
seorang laki-laki tinggi besar berdiri di depannya. Akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak, mulutnya
setengah terbuka, napasnya serasa terhenti dan kedua kakinya menggigil.
“...Song-koko (Kanda Song)...?” bisiknya meragu, tak percaya akan pandangan matanya sendiri.
“Lin-moi, sudah lama sekali...”
“Song-ko...!” Yalina menjerit dan menubruk, kedua tangannya merangkul leher Suling Emas dan mukanya
merapat di dada laki-laki itu sambil menangis terisak-isak. “Song-koko... ah, Song-koko...!”
Suling Emas menunduk, membenamkan mukanya di dalam rambut yang halus harum itu, kedua matanya
basah air mata, kedua tangannya memeluk. Sampai lama mereka berdua dalam keadaan seperti ini, tiada
kata-kata keluar dari mulut mereka, namun getaran perasaan mereka mewakili seribu bahasa. Tiba-tiba
Yalina merenggutkan dirinya terlepas, lalu melangkah mundur dua tindak, memandang dengan pipi dan
mata basah. Bibirnya berbisik-bisik, matanya dikejap-kejapkan.
“Ah..., tak mungkin... ini tentu hanya mimpi... hanya mimpi...!” Ia tersedu dan....
“Plakkk!” ditamparnya pipinya sendiri dengan maksud agar ia sadar dari mimpi. Pipinya terasa panas dan
kedua lengan Suling Emas yang memeluknya terasa hidup, bukan mimpi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh... Song-koko... kau benar-benar datang...?” Jeritnya kemudian dan tangisnya makin menjadi-jadi.
Demikian ketat ia memeluk Suling Emas, rapat-rapat ia menempelkan muka ke dada orang yang
dicintainya itu seakan-akan tak hendak melepaskan kembali.
Suling Emas amat terharu, namun sebagai seorang sakti yang sudah dapat menguasai perasaannya, ia
hanya meramkan mata dan merasa betapa dadanya basah. Air mata yang membasahi dada dan terasa
dingin itu seolah-olah air embun yang menyiram akar jantungnya yang telah lama melayu dan mengering.
Ia meramkan kedua mata, merasa bahagianya dapat memeluk wanita ini. Namun dalam keadaan demikian
telinganya masih dapat menangkap gerakan di sebelah belakangnya, kemudian malah ia tahu ketika tibatiba
ada sambaran angin pukulan menghantam punggungnya dengan keras. Ia tidak bergerak, hanya
mengerahkan sinkang menjaga punggung.
“Desss...!”
“Auuuhhh...!” Pangeran Talibu meloncat ke belakang, memegangi tangan kanannya yang terasa sakit
setelah memukul punggung orang yang memeluk ibunya itu.
Ratu Yalina terkejut dan cepat melepaskan diri dari pelukan. Suling Emas dengan tenang membalikkan
tubuh menghadap Pangeran Talibu. Biar pun tangannya terasa sakit dan maklum bahwa orang ini amat
sakti, namun pemuda ini tidak takut dan dengan kemarahan meluap ia sudah mencabut pedang yang
tergantung di dinding, siap untuk menerjang. Pedang itu berkelebat cepat dibarengi bentakannya.
“Keparat, berani kau...!” Sinar pedang itu meluncur dan menusuk ke arah dada Suling Emas yang sekali
lagi tidak bergerak, hanya tersenyum.
“Plakk... traanggg...!” pedang itu terpental dari tangan Talibu ketika Yalina maju dan menepuk lengannya.
“Ibu...?” Pemuda itu berseru, heran, bingung dan marah.
“Jangan, Talibu. Tenanglah, dengarlah baik-baik. Dia inilah yang bernama Suling Emas!”
Pangeran Talibu melongo. Semenjak kecil sudah didengarnya nama Suling Emas ini, nama yang dikagumi
dan dipuji-puji oleh ibunya, oleh Panglima Kayabu dan semua panglima tua di Khitan. Ia tahu bahwa selain
Suling Emas ini seorang pendekar sakti juga masih kakak angkat ibunya. Kini kemarahannya lenyap,
terganti rasa malu dan canggung sungguh pun masih ada perasaan heran mengapa pamannya itu
menemui ibunya pada tengah malam, di dalam kamar pula dan mereka tadi berpelukan begitu mesra!
Talibu segera menjura dengan penuh hormat dan berkata, “Paman, mohon maaf atas kekurang-ajaranku,
karena saya tidak tahu....“
“Paman apa? Talibu, kini tiba saatnya Ibumu membuka semua rahasia. Dia ini adalah... A... Ayahmu...!”
“Ibu!”
“Lin-moi...!”
Entah siapa lebih kaget antara Pangeran Talibu dan Suling Emas mendengar ucapan ini. Wajah Suling
Emas sampai menjadi pucat sekali dan kedua kakinya menggigil, kepalanya pening. Pangeran Talibu
memandang ibunya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tidak percaya dan khawatir kalau-kalau
saking sedihnya ibunya menjadi berubah ingatan!
Melihat keadaan dua orang yang dicintanya itu, Ratu Yalina tersenyum di antara air matanya, kemudian
melangkah maju memegang tangan Suling Emas dan Talibu sambil berkata, “Sebagai Ratu, tak boleh
rakyatku mengerahui rahasia ini, akan tetapi sebagai Ibu, kalian dua orang yang paling kucinta di dunia ini
harus mengetahuinya. Marilah, Song-koko dan kau Talibu, mari kita duduk dan dengarlah ceritaku.”
Seperti dalam mimpi, Suling Emas dan Talibu menurut saja digandeng Yalina menuju meja di tengah
ruangan itu. Ketika melihat jenggot palsu dan baju bertumpuk di sudut, Yalina tertawa. “Ah, kiranya engkau
yang menyamar sebagai Bu Beng Lojin. Pantas saja aku merasa seperti mengenalmu dan begitu bertemu,
kau mengingatkan aku akan Suling Emas. Koko, kenapa kau begini kejam menggodaku, tidak langsung
menemuiku yang sudah dua puluh tahun mengharap-harapmu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suling Emas menjatuhkan diri di atas kursi sambil menarik napas panjang. Pangeran Talibu memandang
wajah Suling Emas dengan bermacam perasaan mengaduk hatinya. Tentu saja pemuda ini menjadi
bingung setengah mati. Selama ini yang ia ketahui adalah bahwa dia adalah putera kandung Panglima
Besar Kayabu yang pada usia lima tahun diangkat putera oleh Sang Ratu. Dan kini dari Ratu Yalina sendiri
ia mendengar bahwa dia adalah putera Suling Emas! Bagaimana ini?
“Lin-moi, semenjak... pertemuan antara kita dua puluh tahun yang lalu, dengan terpaksa sekali dan dengan
hati luka aku terpaksa meninggalkan Khitan, meninggalkan engkau yang sudah menjadi Ratu. Tak mungkin
aku mencemarkan dan merusak namamu di mata rakyatmu hanya demi kesenangan hatiku sendiri. Aku
rela berkorban dan selama dua puluh tahun menderita sakit batin yang amat hebat. Akan tetapi, mengapa
kau sekarang mengatakan bahwa Pangeran ini adalah puteraku? Apa artinya semua ini?”
“Betul sekali ucapan Paman Suling Emas, Ibu. Bukankah aku putera tunggal Pangeran Kayabu yang Ibu
angkat sebagai putera?”
Ratu Yalina kembali memegang tangan kedua orang itu di atas meja seakan-akan ia mencari kekuatan dari
mereka untuk bercerita, “Anakku, kau bukan anak angkatku, engkau adalah anak kandungku sendiri.
Akulah yang mengandungmu dan melahirkanmu, Talibu. Dan Ayahmu adalah dia inilah!” Ia berhenti
sebentar, merasa betapa dua pasang mata di depannya itu memandang seakan hendak menembus
jantungnya dan betapa dua tangan yang dipegangnya itu gemetar.
“Bu Song Koko, ketahuilah bahwa sepeninggalmu, baru aku ketahui bahwa aku mengandung! Tentu saja
aku menjadi bingung sekali. Untung ada Kayabu yang setia dan berbudi mulia. Dialah yang menolongku,
menjaga teguh agar rahasiaku tidak diketahui siapa pun di sini. Bahkan ketika aku melahirkan, yang tahu
hanyalah seorang dukun dan Kayabu sendiri. Tidak hanya itu, sebelumnya Kayabu lalu memilih seorang
gadis untuk dikawin, karena menurut rencananya, anak yang akan kulahirkan itu akan diakui sebagai anak
isterinya....”
Sampai di sini ia berhenti dan dari kedua mata Pangeran Talibu bertitik air mata, sedangkan tangan
pemuda itu kini menggenggam tangan ibunya dengan erat. Sedu-sedan naik dari dada Yalina, dan Suling
Emas mendengarkan dengan muka pucat dan mata bersinar-sinar. Ketika dia menoleh kepada Talibu,
pandang matanya mesra dan penuh kasih.
Setelah gelora perasaan harunya mereda, Yalina melanjutkan, “Rencana Kayabu berjalan baik. Aku
melahirkan, dan engkau, Talibu, begitu lahir terus secara diam-diam dibawa oleh Kayabu, dan diumumkan
bahwa isterinya melahirkan engkau. Baru setelah engkau berusia lima tahun, kuangkat menjadi puteraku.
Aku ibu kandungmu, dan dia inilah Ayahmu yang sejati.”
Talibu tak dapat menahan perasaannya lagi. Ia bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk ibunya.
“Ibu... Ibu...!” Mereka bertangisan, kemudian pemuda itu berlutut di depan Suling Emas sambil berkata
dengan suara menggetar, “Ayah...!”
Dua titik air mata menetes di atas pipi pendekar sakti itu ketika ia memeluk puteranya dan mengangkat
bangun. “Terima kasih kepada Thian bahwa aku dikaruniai seorang putera seperti engkau, Talibu. Engkau
tampan dan gagah, sungguh aku merasa bangga sekali!”
Akan tetapi tiba-tiba Yalina menangis tersedu-sedu, tangis yang amat sedih. Suling Emas dan Talibu
menjadi terkejut dan heran. Mengapa Yalina berduka? Padahal bukankah pertemuan antara ibu, anak, dan
ayah ini suatu peristiwa yang amat menggembirakan? Kalau Yalina menangis terharu, hal itu tidak
mengherankan, akan tetapi tangisnya amat menyedihkan.
“Lin-moi, ke mana perginya kegagahan dan ketabahanmu? Bukankah menggirangkan sekali pertemuan di
antara kita bertiga ini?”
“Ibu..., kenapa Ibu begini berduka?”
Ratu Yalina mengangkat muka, menahan isaknya lalu berkata, “Song-ko, anakku Talibu, ada hal yang
selama kau terlahir menjadi derita batin hebat bagiku. Talibu, ketika engkau terlahir, lahir pula seorang
Adikmu. Engkau adalah anak kembar....”
“Ibu...!” Talibu terkejut dan menangkap tangan ibunya. Suling Emas hanya memandang seperti orang
dalam mimpi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Adik kembarmu itu kemudian oleh Panglima Kayabu diserahkan kepada nenek dukun untuk dipelihara
baik-baik dan dirahasiakan dari orang lain, sementara engkau sendiri dibawa pergi Panglima, Kayabu.
Akan tetapi... ah... pada keesokan paginya, nenek dukun itu kedapatan mati di dalam taman istana!”
“Ahhh...!” kini Suling Emas yang berseru.
“Dan anak itu... Adikku itu, bagaimana, Ibu?”
“Itulah yang menyusahkan hatiku. Adikmu itu telah lenyap tak meninggalkan jejak sama sekali. Tentu saja
aku dan Kayabu tidak berani ribut-ribut tentang hilangnya anak itu karena takut rahasiaku akan terbongkar.
Bu Song Koko, inilah sebabnya mengapa selama ini aku berusaha keras untuk mencari dan memanggilmu
ke sini. Tak kuat aku menanggung rahasia ini lebih lama lagi. Kalau aku teringat akan anak perempuan kita
itu, tak dapat menahan kesedihan hatiku... dan kini... mendengar akan mala-petaka yang menimpa Kanda
Bu Sin... ah...!” Kembali Ratu Yalina menangis sedih.
Dua orang laki-laki itu, ayah dan anak, saling pandang dan hanya bengong tak dapat bicara. Hati mereka
tidak karuan rasanya. Pukulan hebat menghantam batin mereka mendengar semua kenyataan yang sama
sekali tak pernah mereka duga.
Tiba-tiba Suling Emas menampar pahanya sendiri. “Ah! Dia... tentu dia... tak salah lagi...!”
Yalina mengangkat muka memandang, “Apa maksudmu, Song-ko?”
Suling Emas memegang kedua pundak Ratu Yalina, wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar. “Lin-moi,
aku telah bertemu dengan anak perempuan kita! Dia seorang gadis jelita, serupa benar dengan engkau,
ilmu kepandaiannya amat lihai. Julukannya Mutiara Hitam dan namanya... kalau tak salah Kwi Lan. Dia
menjadi murid Sian Eng!”
Yalina meloncat bangun, matanya terbelalak. “Ah... betul juga! Mayat nenek dukun itu mengalami pukulan
yang hebat. Kiranya Enci Sian Eng yang membunuhnya dan membawa pergi anakku! Akan tetapi,
mengapa ia tidak menjumpai aku? Mengapa ia berbuat begitu aneh?”
“Hemm, kau tahu keadaan Sian Eng, Lin-moi...!” Mereka termenung, teringat akan keadaan Kam Sian Eng
yang menjadi gila.
“Song-ko, ceritakan keadaan gadis itu, anak kita itu kalau kau tak salah sangka. Di mana kau bertemu
dengannya? Bagaimana dia?”
“Benar, ceritakan, Ayah. Aku ingin sekali mendengar tentang Adikku...,“ kata pula Pangeran Talibu dengan
suara tersendat karena terharu. Mengingat bahwa ia mempunyai adik kembar, sesuatu yang amat mesra
dan aneh bergejolak di dalam hatinya.
Maka berceritalah Suling Emas tentang pertemuannya beberapa kali dengan Kwi Lan. Ketika ia
menceritakan sikap Kwi Lan yang marah-marah, yang menegurnya mengapa meninggalkan Ratu Khitan,
kemudian betapa Kwi Lan yang marah-marah itu menyatakan sebagai anak Ratu Khitan.
Mendengar penuturan ini, Ratu Yalina kembali menangis saking terharu dan girang hatinya karena
mendapat kenyataan bahwa anaknya yang lenyap sejak baru lahir itu ternyata masih hidup dan menjadi
murid encinya.
“Dia cantik dan gagah, ilmu silatnya ganas dan dahsyat lagi aneh, tentu saja karena dia murid Sian Eng
yang mewarisi semua kitab mendiang Ibuku dan mempelajarinya secara ngawur dalam keadaan sakit
ingatan. Kwi Lan amat galak dan jujur, berani tak mengenal takut, persis seperti... seperti Ibunya!” Suling
Emas teringat akan ini tertawa dan Yalina dalam tangisnya juga ikut tertawa.
Melihat betapa ayah dan ibunya saling berpandangan mesra, mengingat pula bahwa selama dua puluh
tahun mereka tak saling jumpa, Pangeran Talibu yang sudah menjelang dewasa dan yang hatinya masih
terguncang menghadapi kenyatan luar biasa tentang dirinya, lalu berkata,
“Harap Ayah dan Ibu maafkan aku..., aku... aku masih bingung dan pusing akan kenyataan yang hebat dan
membahagiakan hati ini... aku ingin mengaso.” Tanpa menanti jawaban pemuda ini segera lari ke luar dari
dunia-kangouw.blogspot.com
kamar ibunya sambil menutupkan daun pintu. Pemuda ini sesungguhnya tidak pergi ke kamarnya,
melainkan menjaga di ruangan luar untuk melarang siapa saja, juga pelayan-pelayan ibunya, andai kata
malam itu ada yang akan memasuki kamar ibunya!
Sampai lama Suling Emas dan Yalina saling pandang, kemudian seperti ditarik oleh besi semberani,
keduanya saling peluk. Semua kerinduan hati, semua rasa cinta kasih yang selama ini ditahan-tahan dan
dipendam, kini tercurahkan. Sampai pagi mereka tidak tidur, berbisik-bisik mesra dan menceritakan
pengalaman masing-masing.
Akhirnya, ketika malam terlewat menjelang pagi, Suling Emas berkemas dan berkata, “Sekarang juga aku
akan berangkat, Lin-moi. Betapa pun juga mala-petaka yang menimpa Beng-kauw tak mungkin kudiamkan
begitu saja.”
“Engkau benar, Koko. Akan tetapi... betapa aku akan kehilangan dan kesepian lagi... ah, betapa inginku
selamanya tinggal di sampingmu tak pernah berpisah lagi. Agaknya aku rela meninggalkan kedudukanku
sebagai Ratu....”
“Lin-moi, tidak mungkin begitu, belum tiba waktunya. Engkau harus ingat akan nasib bangsamu dan kulihat
putera kita Talibu amat cakap menjadi calon raja. Apa bila ia sudah cukup masak dan kau angkat menjadi
penggantimu memimpin bangsanya, barulah tepat rasanya kalau engkau ingin menghabiskan masa hidup
di sampingku. Aku pun sudah bosan menghadapi segala macam urusan dunia ramai. Setelah putera kita
menjadi raja, marilah ikut bersamaku ke puncak gunung berdua dan menghabiskan sisa hidup di sana.
Akan tetapi sekarang kita berdua masih menghadapi tugas berat. Engkau menuntun Talibu memimpin
rakyatmu, dan aku akan pergi ke Nan-cao sekalian mencari puteri kita, Kwi Lan atau Mutiara Hitam.”
Mendengar kalimat terakhir ini, berserilah wajah Ratu Yalina. “Mutiara Hitam... alangkah seramnya julukan
Anakku..., Song-ko, jahatkah dia?”
“Kurasa tidak jahat, hanya aneh seperti gurunya.”
Tak lama kemudian berangkatlah Suling Emas, berangkat dengan diam-diam meninggalkan istana Khitan,
diantar oleh peluk cium penuh kasih sayang Ratu Yalina dan pandang mata berlinang air mata sampai
bayangannya lenyap di balik kesuraman fajar. Dengan kepandaiannya yang luar biasa, mudah saja bagi
Suling Emas untuk pergi tanpa diketahui seorang pun penjaga.
Pada keesokan harinya, Panglima Talibu memberi tahu para panglima bahwa kepala pengawal Bu Beng
Lojin semalam berpamit dan pergi. Karena semua panglima mengenal Bu Beng Lojin sebagai seorang
yang aneh, mereka tidak menjadi heran, hanya kagum karena kepergian kakek itu seperti iblis saja, tak
terlihat oleh seorang pun penjaga. Di antara para panglima tentu saja hanya Loan Ti Ciangkun dan Hoan Ti
Ciangkun yang tahu bahwa kakek aneh itu sebetulnya adalah Suling Emas, kakak angkat Sang Ratu.
********************
Ruangan itu lebar dan indah. Dindingnya terhias lukisan-lukisan yang amat indah dan kuno. Mereka duduk
menghadapi sebuah meja bundar yang lebar, masing-masing duduk di atas sebuah bangku berukir naga.
Kiang Liong tampak tenang, sungguh pun diam-diam ia mencari akal untuk dapat meloloskan diri. Kalau ia
tidak ingat akan Kam Han Ki, tadi setelah Siang Kui dan Siang Hui dibebaskan, tentu ia sudah
memberontak dan lari pula. Akan tetapi dia sudah mengambil keputusan untuk menolong Kam Han Ki.
Di sebelah depannya, terhalang meja itu, duduk Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni. Bouw Lek
Couwsu juga nampak tenang namun sepasang matanya bersinar gembira, mulutnya tersenyum-senyum.
Wajahnya yang masih tampan membayangkan kecerdikan. Ada pun Siang-mou Sin-ni yang duduk di
sampingnya memandang Kiang Liong dengan bibir tersenyum dan matanya kadang-kadang memandang
kagum akan ketampanan dan kemudaan pemuda itu, akan tetapi juga kadang-kadang dengan penuh
kebencian kalau ia teringat bahwa pemuda ini adalah murid Suling Emas musuh bebuyutan yang
dibencinya.
“Kiang-kongcu, kami telah mendengar bahwa kau adalah putera pangeran, berarti engkau adalah seorang
pemuda bangsawan tinggi. Juga engkau adalah murid Suling Emas, berarti kepandaianmu juga amat lihai.
Karena kedua kenyataan itulah maka pinceng tidak mau bermusuhan denganmu dan rela membebaskan
dua orang gadis tawanan. Kiang-kongcu, sebagai seorang pemuda bangsawan, apakah engkau tidak
bercita-cita untuk memiliki kedudukan yang paling tinggi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiang Liong memandang tajam penuh selidik. “Apa maksudmu?” tanyanya tenang.
“Heh-heh-heh, Kiang-kongcu yang cerdik pandai masa belum dapat menduga maksud pinceng? Kerajaan
Sung adalah amat buruk pemerintahannya dan amat lemah, hal ini sudah jelas dan Kongcu tentu
mengetahuinya. Terhadap kekuasaan Khitan dan Nan-cao yang kecil saja tidak mampu melawan.”
“Bukan tidak mampu melawan, melainkan karena kedua kerajaan itu adalah kerajaan sahabat,” Kiang
Liong membantah sungguh pun diam-diam di hatinya ia membenarkan omongan pendeta itu.
“Ha-ha-ha! Mana bisa bersahabat dengan orang-orang Khitan dan dengan Nan-cao yang kecil dan
mengganggu? Kerajaan Sung sering kali dipaksa membayar upeti kepada Kerajaan Khitan, hal itu jelas
menandakan bahwa Sung hanya dapat menghadapi lawan dengan sogokan. Dan untuk memperoleh harta
benda sogokan itu tentu saja caranya memeras rakyatnya. Kiang-kongcu, hal itu sudah pinceng ketahui
jelas berdasarkan penyelidikan bertahun-tahun, tak perlu Kongcu menyangkal pula.”
“Andai kata benar pendapatmu bahwa Kerajaan Sung lemah, habis apakah yang kau kehendaki?”
Pertanyaan Kiang Liong masih tenang, padahal di dalam hatinya ia berdebar keras. Inilah merupakan inti
dari pada tugasnya diutus Kaisar, menyelidiki keadaan tentara Hsi-hsia dan sekarang ia bahkan
berhadapan muka dengan pemimpin Hsi-hsia, bicara tentang politik Hsi-hsia terhadap Sung!
“Pinceng harap Kiang-kongcu bijaksana dan dapat memilih mana yang menguntungkan bagimu. Pinceng
menawarkan kerja sama denganmu, kita gempur bersama Kerajaan Sung! Pinceng bergerak dari luar dan
engkau bergerak dari dalam!”
Kiang Liong mengangguk-angguk. Dari ucapan ini saja ia tahu bahwa Bouw Lek Couwsu belum
mengadakan hubungan dengan pengkhianat-pengkhianat di dalam kerajaan dan hatinya menjadi lega. Hal
ini merupakan salah satu hal yang ia selidiki. Dengan suara tenang ia bertanya, “Dan balas jasaku...?”
“Ha-ha-ha-ha! Engkau benar-benar seorang yang cerdik, Kiang-kongcu! Benar, urusan besar ini harus
dirundingkan masak-masak. Bagaimana kalau engkau menjadi Raja Kerajaan Sung, Kiang-kongcu?”
Sikap Kiang Liong masih tenang, namun jantungnya seperti meloncat ke atas saking kagetnya mendengar
janji yang amat muluk ini. Sampai beberapa lama ia tidak dapat menjawab, hanya memandang wajah
Bouw Lek Couwsu dengan mata terbelalak.
Melihat sikap pemuda ini, Bouw Lek Couwsu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, apakah balas jasa itu kurang
besar, Kongcu?”
Kiang Liong dapat menentramkan hatinya lagi dan ia tersenyum lebar. “Cukup hebat dan muluk, Couwsu.
Seorang muda dan bodoh seperti aku, mana bisa menjadi Raja? Harap kau jangan main-main.”
“Mengapa tidak? Raja Sung yang sekarang ini bisa apakah? Engkau jauh lebih pandai, lebih gagah dan
lebih cakap menjadi Raja. Pinceng tidak main-main, Kiang-kongcu. Kalau kau suka membantu dari dalam
dan gerakan kita berhasil menundukkan Kerajaan Sung, engkaulah yang akan menjadi pengganti Raja
Sung. Bagaimana?”
Kiang Liong mengangguk-angguk. “Hemm, memang muluk dan enak sekali kalau hanya dibicarakan begini
saja. Akan tetapi, apakah engkau tahu sampai di mana hebatnya kekuatan Kerajaan Sung, Bouw Lek
Couwsu? Apakah yang kau andalkan untuk dapat menaklukkan Sung?” Dengan cerdik sekali, berkedok
kesangsiannya akan hasil persekutuan itu, ia ingin mengetahui rahasia kekuatan barisan Hsi-hsia!
Kembali pendeta itu tertawa bergelak dan mengangkat cawan araknya. “Mari kita minum dulu dan
bersiaplah untuk bergembira mendengar keteranganku yang membesarkan hati, Kongcu!”
Kiang-kongcu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum mengangkat cawan dan minum araknya. Bahkan
Siang-mou Sin-ni agaknya gembira juga melihat pemuda itu suka menjadi sekutu mereka. Kalau pemuda
ini menjadi sekutu, tentu saja ia tidak menganggapnya sebagai musuh dan memang sejak tadi ia
memandang kagum, membayangkan betapa akan senang hatinya kalau ia dapat ‘bersahabat’ dengan
pemuda tampan dan gagah ini. Selama ini, ia hanya dapat bermesra dengan pemuda-pemuda lemah
seperti kucing kalau dibanding dengan pemuda ini yang seperti singa!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kiang-kongcu, jangan kau kira bahwa pinceng tidak tahu akan keadaan dan kekuatan Kerajaan Sung.
Sudah bertahun-tahun pinceng melakukan penyelidikan. Raja Sung yang gila kesenangan dan kesenian itu
hanya mengerahkan sebagian besar tentaranya di perbatasan utara, menjaga penyerbuan bangsa-bangsa
di utara yang sejak dahulu mengancam Sung. Sebagian pula untuk menjaga perbatasan di selatan,
sedangkan sebagian kecil tersebar di pantai timur menjaga kerusuhan yang ditimbulkan bajak laut. Akan
tetapi bagian barat hanya dijaga oleh pasukan-pasukan kecil karena daerah pegunungan yang sambungmenyambung
sukar diadakan penjagaan kecuali dengan pasukan besar. Pula Raja Sung tidak
menganggap akan datang ancaman dari barat. Inilah keuntungan kita, Kongcu. Jika pinceng menyerbu dari
barat, dibagi menjadi tiga empat barisan besar menyerbu, tentu dengan mudah akan dapat kami hancurkan
penjagaan di perbatasan itu dan kami akan terus menyerbu Kerajaan Sung dari tiga jurusan, terbesar dari
barat, yang lainnya dari utara dan selatan kami kepung kota raja. Sementara itu, engkau bergerak dari
dalam dengan pasukan yang dapat kau kumpulkan. Dengan begini, apa susahnya menjatuhkan Kaisar
boneka itu? Ha-ha!”
Diam-diam Kiang Liong terkejut sekali. Hebat rencana pimpinan Hsi-hsia ini. Ia sudah mendapat
keterangan dari para penyelidik bahwa barisan Hsi-hsia tidak kurang dari seratus ribu orang banyaknya.
Dan memang tepat apa yang dikatakan Bouw Lek Couwsu. Keadaan penjagaan Kerajaan Sung memang
seperti yang diutarakannya tadi. Kalau siasat itu dipergunakan oleh pimpinan Hsi-hsia ini, agaknya akan
besar bahaya kehancuran mengancam Kerajaan Sung! Dan ia harus mencegahnya. Satu-satunya jalan
untuk mencegahnya, ia harus dapat meninggalkan tempat ini, kembali ke kerajaan dan melaporkannya
kepada Kaisar agar dapat diatur siasat untuk menghadapi bala tentara Hsi-hsia. ia harus berlaku cerdik
dan tiada cara lain kecuali menerima usul persekutuan Bouw Lek Couwsu!
“Hebat! Rencana yang kau atur itu benar-benar mengagumkan, Couwsu. Kalau siasat itu dijalankan, apa
lagi ada bantuan yang kuat dari dalam, akan mudahlah merebut singgasana!” Ia sengaja memasang muka
berseri-seri dan sepasang matanya berkilat penuh harapan.
“Akan tetapi... bagianku dalam rencana ini amat berbahaya! Kalau ketahuan rencanaku, tentu akan
ditangkap sebagai pengkhianat dan dihukum mati! Akan sepadankah balas jasa untukku? Apakah engkau
kelak tidak akan melanggar janjimu tadi?”
Bouw Lek Couwsu menenggak araknya lalu tertawa. “Ha-ha-ha pinceng Bouw Lek Couwsu adalah
pemimpin besar bangsa Hsi-hsia, juga ketua para pendeta jubah merah. Tak nanti akan menarik kembali
janji. Kalau berhasil usaha kita, pasti engkau yang akan menduduki singgasana Kerajaan Sung! Pinceng
tidak ingin menjadi raja di Kerajaan Sung. Cukup bagi pinceng asal Kongcu pun mengenal budi membagi
keuntungan dan menghadiahkan setengah wilayah kerajaan bagian barat kepada bangsa Hsi-hsia,
bukankah ini adil?”
Bukan main gemasnya hati Kiang Liong kepada pendeta yang licik ini, akan tetapi wajahnya tidak berubah,
tetap gembira penuh harapan. “Aku menerima usulmu, Bouw Lek Couwsu, dan aku akan berusaha
menghubungi para panglima pasukan yang merasa tidak puas dengan Kaisar. Percayalah, banyak di
antara para panglima adalah sahabat baik ayahku, Pangeran Kiang.”
“Ha-ha-ha, mari kita minum arak untuk persekutuan kita ini!”
Mereka bertiga kembali minum arak dan pada saat itu, seorang pelayan wanita datang berlari-lari dan
berlutut di depan Siang-mou Sin-ni sambil berkata gugup. “Mohon maaf kalau hamba mengganggu. Akan
tetapi hamba melaporkan bahwa bocah yang ditawan itu tahu-tahu sudah berada di dalam kamar Paduka
dalam keadaan pingsan, sedangkan penjaganya kedapatan tewas di kamar tahanan.”
Siang-mou Sin-ni mengeluarkan suara melengking panjang dan pelayan yang melapor itu sudah mencelat
beberapa meter dan roboh pingsan karena ditendang, sedang tubuh Siang-mou Sin-ni sendiri sudah
mencelat seperti terbang meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya! Seorang pelayan pria lalu
mengangkat pelayan wanita yang pingsan itu, membawanya ke ruangan belakang.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kiang Liong mendengar laporan tadi. Tak salah lagi, pikirnya, bocah
yang dimaksudkan itu tentulah Han Ki. Pantas ia tidak berhasil menemukan anak itu, kiranya pingsan di
kamar Siang-mou Sin-ni!
“Bouw Lek Couwsu,” katanya menahan getaran hati dan suaranya tetap tenang, “Setelah kita menjadi
sekutu dan orang sendiri, apakah engkau tidak mau memandang mukaku membebaskan Kam Han Ki itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Betapa pun juga, Kam Bu Sin adalah Paman guruku sehingga amat tidak enak bagiku kalau anak itu tidak
kubawa pulang. Tentu akan mencurigakan orang dan menduga bahwa aku berbaik denganmu.”
Bouw Lek Couwsu mengangguk-angguk dan bangkit berdiri. “Masuk akal pula omonganmu ini. Akan tetapi
karena anak itu merupakan tawanan Sin-ni, sebaiknya aku membujuknya. Harap Kongcu menunggu di
sini.” Setelah berkata demikian, Bouw Lek Couwsu lalu meninggalkannya, masuk menyusul Siang-mou
Sin-ni dengan langkah lebar.
Kiang Liong terhenyak di atas bangkunya seperti patung. Ketika ia melirik, ternyata bangunan itu terkurung
ratusan orang Hsi-hsia yang agaknya diam-diam telah menerima perintah untuk menjaga dan mencegah
dia melarikan diri! Ia menghela napas dengan perasaan tegang. Berhasilkan bujukan Bouw Lek Couwsu?
Kalau berhasil dan dia boleh membawa Han Ki, alangkah untungnya! Tentang persekutuan dan janjinya
kepada Bouw Lek Couwsu, janji itu hanya ia adakan bukan sekali-kali untuk semata-mata menyelamatkan
dirinya, melainkan terutama sekali untuk menyelamatkan Kerajaan Sung. Karena andai kata ia berkeras
menolak sampai tewas di situ, bukankah rencana Bouw Lek Couwsu tadi akan dijalankan tanpa
sepengetahuan Kerajaan Sung sehingga terjadi mala-petaka hebat?
Tiba-tiba ia menyeringai dan menahan napas. Rasa yang amat nyeri menusuk perutnya, rasa nyeri yang
hampir tak tertahankan. Ia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya, mengerahkan sinkangnya diarahkan
ke perut sambil menarik napas panjang. Rasa nyeri lenyap seketika, namun hatinya menjadi gelisah.
Tahulah ia bahwa ia telah terluka oleh pukulan Siang-mou Sin-ni tadi, luka yang aneh karena entah di
bagian mana. Rasanya di perut, akan tetapi begitu dilawan sinkang rasa nyeri itu hilang. Ia tidak tahu
bahwa pukulan tadi adalah pukulan yang meracuni darahnya dan tentu saja yang pertama-tama terasa
adalah bagian yang tadi terpukul.
Tak lama kemudian dari ruangan dalam muncul keluar Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni. Jantung
Kiang Liong serasa berhenti berdetik ketika melihat Siang-mou Sin-ni mendukung seorang anak laki-laki. Ia
tidak mengenal Han Ki karena ketika ia mengunjungi pamannya dahulu Han Ki masih seorang bayi. Akan
tetapi ia dapat menduga bahwa anak berusia sebelas tahun itu tentulah Han Ki. Anak itu sudah sadar akan
tetapi melihat keadaannya yang tak dapat bergerak dan lemas, Kiang Liong maklum anak itu tentu tertotok.
Menurutkan kata hatinya, ingin ia meloncat dan merampas bocah itu untuk kemudian dibawa lari. Akan
tetapi, pikirannya yang cerdik melarang ia melakukan hal itu. Kalau ia lakukan berarti ia mencari mati dan
Han Ki juga takkan tertolong. Yang lebih hebat lagi, Kerajaan Sung akan terancam bencana hebat! Biar
pun hatinya seperti ditusuk ia tetap bersikap tenang dan ketika mereka berdua sudah datang dekat, ia
bertanya.
“Bagaimanakah, Couwsu dan Sin-ni, apakah persekutuan kita cukup berharga untuk Ji-wi (Kalian)
mengampuni anak itu dan memberikannya kepadaku?”
Tiba-tiba Bouw Lek Couwsu membentak keras, “Kiang Liong! Apakah hatimu palsu dan kau tidak
menghargai perjanjian kita?” Sikap kakek ini jelas mencurigai dan menentang.
Kiang Liong terkejut. Ia harus berhati-hati. Kakek gundul ini amat cerdik. “Eh, apa alasannya engkau
menyangka seperti itu, Couwsu?”
“Kalau engkau memang jujur, mengapa kau ingin benar menolong anak ini? Sepatutnya sebagai tanda
persahabatan engkau merelakan anak ini kepada Sin-ni. Urusan kita amatlah besar. Urusan anak ini tidak
ada artinya. Apa artinya nyawa seorang bocah seperti ini? Nah, jawablah bagaimana pikiranmu? Kalau kau
mementingkan anak ini, berarti kau tidak sungguh-sungguh hendak bersekutu dengan kami!”
Kiang Liong terkejut dalam hatinya. Tak disangkanya kakek gundul ini sedemikian cerdik. Ia memutar otak
mencari siasat, namun tidak melihat jalan lain kecuali berpura-pura tidak mengerti dan mengalah.
“Aku hanya ingin menolong karena dia putera Paman guruku, akan tetapi sama sekali bukan berarti aku
melupakan persekutuan kita. Habis, bagaimanakah kehendakmu dengan anak ini, Couwsu? Beritahulah
dan aku tentu saja akan menerima usulmu asalkan demi kebaikan kita bersama, terutama sekali tentu saja,
demi berhasilnya usaha besar kita.” Sengaja Kiang Liong menekankan usaha besar karena ia maklum
bahwa kepala gundul ini amat membutuhkan bantuannya untuk menghimpun tenaga yang akan bergerak
dari dalam kota raja.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hi-hi-hik, alasanmu dibuat-buat, Kiang-kongcu. Kalau memang benar kau begitu mementingkan
persekutuan di antara kita mengapa kau hendak merampas anak ini dari tanganku? Susah payah anak ini
kupelihara, kubebaskan dari kematiannya di rumahnya, kemudian kubikin gemuk sehat untuk keperluanku
yang amat penting, menyempurnakan ilmu yang sedang kulatih. Kalau aku berkeras tidak mau
menyerahkan anak ini kepadamu, kau mau apa, Kiang-kongcu? Apakah kau akan membatalkan
persekutuan kita hanya karena anak ini?”
Dapat dibayangkan betapa bingung dan gelisah rasa hati Kiang Liong. Ia menghadapi jalan buntu.
Membatalkan persekutuan berarti kematian baginya dan membahayakan Kerajaan Sung, kalau tidak mana
mungkin ia membiarkan anak itu dijadikan korban secara mengerikan? Dari Po Leng In ia sudah
mendengar betapa iblis betina ini hendak melakukan I-kin-hoan-jwe, untuk kesempurnaan ilmunya Hunbeng
Toh-wat, dan untuk keperluan inilah Han Ki ditawan. Ia sendiri belum tahu secara jelas bagaimana
orang melakukan I-kin-hoan-jwe mengambil sumsum dan darah putih dalam urat, akan tetapi dapat
membayangkan bahwa hal itu tentu mengerikan dan kejam sekali.
“Jadi engkau akan membunuhnya. Siang-mou Sin-ni?”
Melihat keraguan pemuda itu Bouw Lek Couwsu lalu memandang tajam. Pendeta ini adalah seorang yang
cerdik. Kalau tidak, tentu saja ia tidak menjadi pemimpin bangsa Hsi-hsia. Ia melihat betapa Siang-mou
Sin-ni dan pemuda itu saling berhadapan, saling siap untuk bertanding. Hal ini tidak ia inginkan karena ia
benar-benar mengharapkan bantuan pemuda ini yang telah terpikat karena dijanjikan kedudukan raja.
Maka cepat-cepat ia melangkah maju dan berkata.
“Antara orang sendiri tak perlu ribut-ribut, kalau memang kita semua beritikad baik.” Ia memandang Siangmou
Sin-ni penuh arti kemudian melanjutkan. “Kiang-kongcu, pinceng telah bicara panjang lebar dengan
Sin-ni. Memang Sin-ni membutuhkan anak ini untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi pinceng yang
menanggung bahwa anak ini tidak akan dibunuhnya. Biarlah kita sama lihat. Kalau kelak engkau dapat
memegang janjimu dan mengerahkan tenaga bantuan dari dalam kota raja, pinceng berjanji akan
menyerahkan anak ini dalam keadaan hidup kepadamu!”
Diam-diam Kiang Liong menyumpahi pendeta yang amat licik ini di dalam hatinya. Ia mengerti bahwa Han
Ki dijadikan ‘barang tanggungan’ untuk menguji kesetiaannya dalam persekutuan itu. Tidak ada pilihan lain.
Kalau kelak pasukan Hsi-hsia menyerbu, Kerajaan Sung akan mengatur penjebakan yang menghancurkan
barisan musuh dan dia sendiri akan mengumpulkan tenaga, bahkan gurunya sendiri tentu akan
membantunya untuk menangkap Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, dan kalau tidak terlambat akan
menolong Han Ki.
“Akan tetapi awaslah kalian,” kutuknya dalam hati, “kalau anak ini kalian bunuh, jangan harap kalian dapat
terlepas dari hukumanku!”
Ia mengangkat kedua bahunya dan duduk kembali. “Apa boleh buat, kalau kau tidak percaya penuh
kepadaku, boleh saja anak ini kau tahan, Bouw Lek Couwsu. Betapa pun juga, urusan besar itu tentu saja
jauh lebih penting.”
“Bagus! Mari kita minum arak untuk saling pengertian yang baik ini!” Kembali mereka mengangkat cawan
arak dan meminumnya.
Siang-mou Sin-ni tersenyum, lalu cekikikan. “Hi-hi-hik! Siapa tahu hati manusia? Memang aku tidak akan
membunuh anak ini, akan tetapi aku harus mengambil sedikit darahnya, sedikit-sedikit tiap hari dan kuganti
dengan obat agar darahnya pulih. Sekarang pun akan kubuktikan caranya agar hati Kiang-kongcu tidak
ragu-ragu lagi!”
Setelah berkata demikian, Siang-mou Sin-ni meletakkan tubuh Han Ki di atas meja bundar yang besar itu.
Anak itu telentang di atas meja, matanya yang lebar memandang Siang-mou Sin-ni dan Bouw Lek Couwsu
penuh kebencian. Ketika melirik ke arah Kiang Liong, dia hanya memandang sekilas karena tidak
mengenal siapa pemuda itu yang agaknya tidak sepenuh hati hendak menolongnya.
Kiang Liong kagum bukan main dan hatinya diliputi keharuan. Bocah itu amat tampan, dan sedikit pun tidak
tampak sinar takut dalam sepasang matanya yang bening, dan lebar. Biar pun ia tidak dapat bergerak dan
tak dapat mengeluarkan kata-kata, namun jelas pandang matanya menyinarkan kebencian dan sakit hati
terhadap Siang-mou Sin-ni dan Bouw Lek Couwsu yang telah membasmi keluarganya. Anak yang luar
biasa dan mengagumkan, pikirnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Siang-mou Sin-ni sudah mengeluarkan sebatang jarum emas yang panjangnya kurang lebih
dua dim dan di sepanjang batang jarum itu berlubang. Dengan jarum di tangan kanan, sambil tersenyum
dan mengerling ke arah Kiang Liong, ia menghampiri bocah yang telentang di atas meja itu.
Terjadi perang di dalam hati Kiang Liong. Kalau mengingat akan tugasnya sebagai penyelidik, teringat
akan kewajiban sebagai seorang yang setia dan mencinta pemerintahannya, ia harus membiarkan Siangmou
Sin-ni melanjutkan apa yang hendak dilakukan kepada Han Ki. Akan tetapi kalau menurutkan
perasaan dan wataknya sebagai seorang pendekar gagah, tak mungkin ia mendiamkan saja. Ia dapat
menduga kini apa yang dilakukan Siang-mou Sin-ni. Jarum emas itu akan ditusukkan di bagian tubuh yang
tidak membahayakan nyawa anak itu, sampai mengenai dan menembus tulang, kemudian dari lubang
jarum akan disedot sumsum dari dalam tulang anak itu!
Bouw Lek Couwsu menyeringai lebar dan Siang-mou Sin-ni tersenyum manis. Matanya berkilat-kilat penuh
nafsu, ketika tersenyum bibirnya tampak merah seperti berlepotan darah dalam pandangan Kiang Liong,
gigi yang berderet rapi dan putih itu seakan-akan bercaling.
“Hanya sedikit darah dan sumsum untukku, tidak akan mematikan anak ini!” katanya sambil membalikkan
tubuh anak itu menelungkup di atas meja. Sekali tangan kirinya bergerak, ia sudah merobek baju atas dan
tampaklah punggung Han Ki yang putih dan sehat.
Kini wajah Siang-mou Sin-ni tampak buas oleh nafsu yang menggelora. Tangannya agak menggigil.
Setelah jari-jari tangan kirinya meraba-raba punggung atas di bawah tengkuk, tangan kanannya yang
memegang jarum emas mulai bergerak perlahan, menempelkan ujung jarum ke kulit punggung anak itu,
siap untuk menusuk.
Meledaklah rasa penasaran dan kemarahan di hati Kiang Liong. Tanpa dapat terkendalikan lagi, tubuhnya
berkelebat ke depan dan mulutnya membentak, “Iblis betina, lepaskan dia!”
Hebat bukan main gerakan Kiang Liong ini karena saking marahnya ia langsung menerjang Siang-mou
Sin-ni dengan ilmu silat Lo-hai Kun-hoat (Ilmu Silat Pengacau Lautan) yang sifatnya paling dahsyat di
antara ilmu silat yang ia pelajari dari Suling Emas. Biar pun Siang-mou Sin-ni amat lihai, namun saat itu
sebagian besar perhatiannya sedang tertuju kepada Han Ki dan nafsunya sedang melonjak-lonjak, Karena
terjangannya ini tidak tersangka-sangka, maka ia kurang cepat menghindar. Memang benar ia dapat
meloncat ke samping, namun hawa pukulan Kiang Liong tetap saja mengenai bahu kanannya sehingga
bahu kanan itu terasa lumpuh dan jarum emasnya terlempar!
“Keparat!” Siang-mou Sin-ni mengumpat, rambutnya kini sudah bergerak menyambar ke pinggang Kiang
Liong. Namun pemuda itu dengan sigapnya menghindar dan dengan cepat tangan kirinya meraih ke arah
meja hendak menyambar tubuh Han Ki.
“Perlahan dulu, orang muda!” Suara ini keluar dari mulut Bouw Lek Couwsu dan sinar yang amat kuat
menangkis ke arah lengan tangan Kiang Liong yang meraih tubuh Han Ki. Untung Kiang Liong maklum
akan bahaya dan cepat menarik kembali lengannya. Kalau tidak tentu lengannya akan patah bertemu
dengan tongkat yang berat dan digerakkan tenaga hebat pula.
Dari arah kanan menyambar hawa pukulan yang dingin. Kiang Liong cepat miringkan tubuh dan menangkis
dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga sinkang. Akan tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit
sekali sehingga begitu lengannya terbentur lengan Siang-mou Sin-ni yang memukul dari kanan, ia terpental
ke belakang. Kiang Liong terhuyung-huyung dan sambaran tongkat Bouw Lek Couwsu tak dapat ia
elakkan, dan jalan satu-satunya hanya menangkis dengan telapak tangan.
“Plakk!!” tongkat terpental, akan tetapi Kiang Liong merasa betapa kenyerian dari perutnya naik ke dada,
terus ke tenggorokannya dan ia menyemburkan darah dari mulutnya. Tahulah ia bahwa ia terluka hebat,
maka tanpa pedulikan apa-apa lagi ia lalu duduk bersila di atas lantai, mengatur pernapasan dan
mengerahkan hawa murni melawan luka dan racun yang mengamuk di perut.
Siang-mou Sin-ni terkekeh dan sudah menggerakkan tangan untuk memberi pukulan terakhir. Tangannya
penuh dengan hawa beracun dari Ilmu Tok-hiat-hoat-lek dan sekali mengenai kepala Kiang Liong yang
dijadikan sasaran, tak dapat dihindarkan lagi pemuda itu tentu akan menggeletak tak bernyawa lagi. Ketika
tangan Siang-mou Sin-ni menyambar, Kiang Liong sedang siulian (semedhi) untuk mengerahkan hawa
murni di tubuhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Plakk!” Tangan yang halus namun keji dari Siang-mou Sin-ni bertemu dengan ujung tongkat Bouw Lek
Couwsu. Wanita itu membelalakkan matanya dan memandang marah. Akan tetapi Bouw Lek Couwsu
berkedip kepadanya, kemudian mendekatinya dan berbisik-bisik di dekat telinga Siang-mou Sin-ni.
“Ia terluka oleh pukulanmu Tok-hiat-hoat-lek yang tadi,” bisiknya. “Berapa lamakah ia akan dapat bertahan
untuk hidup?”
Siang-mou Sin-ni yang belum dapat menangkap maksud pendeta itu menjawab ragu. “Dia lihai dan kuat,
tentu dapat bertahan sampai tiga bulan. Namun darahnya sudah keracunan dan ia tidak dapat tertolong
lagi.”
“Bagus,” bisik pendeta itu. “Kita tak perlu membunuhnya. Kita lanjutkan rencana, biarkan dia kembali dan
menyusun kekuatan di kota raja membantu kita dengan janji kalau dia tidak melanggar janji, selain anak ini
kelak kita kembalikan, juga kau janjikan obat penawar pukulanmu Tok-hiat-hoat-lek! Dengan tanggungan
nyawa anak ini dan nyawanya sendiri, agaknya tidak ada jalan lain baginya untuk mengkhianati kita.”
Siang-mou Sin-ni tersenyum dan mengangguk-angguk. “Tok-hiat-hoat-lek ilmuku itu akibatnya luar biasa.
Di dunia ini tidak akan ada yang dapat mengobatinya kecuali aku sendiri. Ilmu yang baru ini belum dikenal
orang, biar Suling Emas sendiri tak mungkin dapat menyembuhkan muridnya, hi-hik!” Ia lalu mengambil
jarum emas yang tadi terlempar di atas lantai, kemudian menghampiri Han Ki yang masih tertelungkup di
atas meja.
Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk di luar, suara sorak-sorai gemuruh disusul suara jeritjerit
mengerikan, suara senjata-senjata bertemu dan banyak sekali orang bertempur.
Pintu kamar itu terpentang lebar dari sebelah luar dan dua orang Hsi-hsia berteriak, “Barisan Beng-kauw
menyerbu...!” Mendadak mereka roboh terjungkal dan di punggung mereka menancap dua buah hui-to
(golok terbang)!
“Tar-tar-tar...!” Suara meledak-ledak ini adalah suara lecutan cambuk yang berada di tangan seorang
kakek bertopi lebar. Ke mana pun cambuknya menyambar, di situ tentu ada beberapa orang musuh
terjungkal tewas.
Di sampingnya tampak seorang laki-laki gagah berusia lima puluh lima tahun yang mengamuk pula dengan
sebatang pedang berhawa dingin dan bersinar kuning terang. Masih ada lagi seorang kakek tinggi kurus
berjenggot panjang bermata tajam yang mengamuk dengan tangan kosong, akan tetapi setiap pukulan
atau tendangan kakinya tentu merobohkan seorang lawan.
Di samping tiga orang kakek luar biasa ini tampak Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui, dua orang gadis
yang telah dibebaskan, mengamuk pula dengan pedang mereka. Selain mereka, ratusan orang anggota
Beng-kauw sedang menyerbu dan melakukan penyembelihan terhadap orang-orang Hsi-hsia dengan hati
penuh kemarahan karena penyerbuan ini adalah pembalasan dendam mereka terhadap para pendeta
jubah merah dan orang-orang Hsi-hsia.
Kakek bertopi lebar bersenjata cambuk yang luar biasa lihainya itu bukan lain adalah Kauw Bian Cinjin.
Usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan dialah satu-satunya tokoh Beng-kauw yang lolos dari
kematian. Kauw Bian Cinjin adalah sute (adik seperguruan) ketua Beng-kauw yang tewas, akan tetapi
dalam hal kepandaian, kakek ini melebihi suheng-nya. Sudah bertahun-tahun ia mengundurkan diri dari
Beng-kauw dan bertapa di puncak Ta-liang-san.
Pada beberapa hari yang lalu, selagi Kauw Bian Cinjin bercakap-cakap dengan dua orang kakek yang
menjadi tamunya, datang seorang anggota Beng-kauw yang sambil menangis melaporkan tentang malapetaka
yang menimpa Beng-kauw. Tentu saja Kauw Bian Cinjin menjadi marah sekali. Dua orang kakek
yang menjadi tamunya itu juga menawarkan tenaga bantuan mereka. Mereka ini bukan orang-orang
sembarangan. Yang bersenjata pedang dan bertubuh gagah adalah ketua penghuni Ang-san-kok di
Gunung Heng-tuan, bernama Lie Bok Liong.
Pembaca CINTA BERNODA DARAH tentu masih ingat akan nama ini, nama seorang pemuda yang
mencinta Lin Lin atau Puteri Yalina akan tetapi tidak terbalas sehingga ia mengasingkan diri dan tetap
tinggal membujang sampai tua sambil memperdalam ilmu silatnya. Ada pun kakek kedua yang kurus
dunia-kangouw.blogspot.com
berjenggot panjang dan amat lihai kaki tangannya itu adalah seorang sahabat baiknya yang tinggal di Angsan-
kok, bernama Ong Toan Liong.
Demikianlah, dengan disertai bantuan dua orang sahabat yang menjadi tamunya, Kauw Bian Cinjin
bergegas turun gunung, mengumpulkan para anggota Beng-kauw sejumlah empat lima ratus orang
kemudian mengadakan penyerbuan ke Lembah Nu-kiang di Kao-likung-san. Kebetulan sekali di lereng
gunung itu Kauw Bian Cinjin berjumpa dengan Siang Kui dan Siang Hui yang malam itu dibebaskan karena
pertolongan Kiang Liong. Dengan cepat dan singkat dua orang gadis ini menceritakan pengalamannya,
tentang Kiang Liong dan tentang adiknya yang masih tertawan. Penyerbuan dilanjutkan dengan cepat dan
begitu tiba di markas Bouw Lek Couwsu, terjadilah perang yang hebat dan berat sebelah.
Biar pun para hwesio jubah merah rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun jumlah orang-orang Bengkauw
yang menyerbu terlalu banyak. Apa lagi di sebelah depan dipimpin oleh tiga orang kakek yang
demikian lihai, terutama sekali yang bercaping dan bersenjata cambuk, amat mengerikan. Dengan cepat
dan mudahnya, Kauw Bian Cinjin yang diikuti oleh Lie Bok Liong, Ong Toan Liong, dan kedua orang gadis
cucunya itu menyerbu terus sampai ke bangunan terbesar yang menjadi tempat kediaman Bouw Lek
Couwsu.
Lecutan cambuk Kauw Bian Cinjin menghancurkan pintu kamar Bouw Lek Couwsu dan mereka menyerbu
ke dalam. Akan tetapi kamar itu kosong! Tidak tampak Bouw Lek Couwsu mau pun Siang-mou Sin-ni. Juga
tidak tampak Kiang Liong mau pun Kam Han Ki. Kedua orang gadis yang pernah menjadi tawanan di
tempat ini segera menjadi penunjuk jalan, menggeledah dan mencari di seluruh bangunan yang berada di
situ, namun sia-sia saja. Dua orang musuh besar yang menjadi biang keladi penghancuran Beng-kauw,
dua orang tawanan yang hendak mereka tolong, tak tampak bayangannya.
Mereka mengamuk dan membunuh semua pelayan dan orang-orang Hsi-hsia. Ketika mereka keluar lagi,
ternyata perang kecil itu sudah selesai. Di mana-mana bertumpuk mayat orang-orang Hsi-hsia dan ada
juga beberapa korban orang-orang Beng-kauw, tetapi ketika diperiksa, hanya terdapat tujuh orang mayat
pendeta jubah merah. Ternyata bahwa semua orang Hsi-hsia yang bertugas di situ, sejumlah kurang lebih
seratus orang tewas. Akan tetapi para hwesio jubah merah agaknya sebagian besar melarikan diri dan
sudah terang bahwa Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni juga melarikan diri. Yang menyusahkan hati
Kauw Bian Cinjin terutama sekali Siang Kui dan Siang Hui adalah lenyapnya Kiang Liong dan Kam Han Ki.
Ke manakah perginya dua orang tawanan itu?
Ketika tadi mendengar laporan tentang penyerbuan orang-orang Beng-kauw dan melihat sekelebatan
bahwa jumlah penyerbu jauh lebih besar, Siang-mou Sin-ni sudah menyambar tubuh Han Ki dan lari
secepat terbang melalui belakang bangunan, turun gunung melalui jurusan lain. Dia seorang cerdik, tidak
mau kehilangan Han Ki dan tidak mau pula mempertaruhkan nyawanya menghadapi penyerbuan orangorang
Beng-kauw yang kini jauh lebih kuat.
Bouw Lek Couwsu juga bukan seorang bodoh. Ia memang menerjang ke luar dan merobohkan beberapa
orang penyerbu, akan tetapi melihat dari jauh akan kelihaian tiga orang kakek yang mengamuk dan melihat
pula betapa banyaknya orang-orang Beng-kauw yang menyerbu, diam-diam ia memberi tanda rahasia
kepada para muridnya untuk melarikan diri. Sebagai perisai, mereka meninggalkan orang-orang Hsi-hsia
yang memang bodoh akan tetapi penuh keberanian itu.
Bouw Lek Couwsu teringat akan Kiang Liong yang tadi masih duduk bersila di dalam kamarnya. Hatinya
bimbang. Pemuda itu sudah mengetahui rahasia pergerakannya. Bagaimana kalau mengkhianatinya? Di
samping kebimbangan ini, ia pun merasa betapa pentingnya bantuan pemuda itu. Akan tetapi ketika ia
memasuki kamarnya, Kiang Liong sudah tidak ada lagi di situ! Ia yakin benar pihak musuh belum ada yang
menyerbu kamarnya! Siang-mou Sin-ni memang sudah pergi membawa lari Han Ki, akan tetapi tadi Kiang
Liong masih duduk bersila di situ. Ke manakah perginya pemuda itu?
Karena keadaan sudah amat mendesak dan melihat betapa murid-muridnya sudah tersebar melarikan diri,
Bouw Lek Couwsu juga berkelebat pergi turun gunung dari sebelah belakang.
Kini setelah perang selesai, tinggallah Kauw Bian Cinjin berulang kali menghela napas panjang. Alangkah
menyesal hatinya bahwa ia terpaksa harus membunuh begitu banyak manusia, padahal selama bertahuntahun
ia hidup aman di pertapaan. Namun, betapa mungkin ia tinggal diam saja mendengar pimpinan
Beng-kauw terbasmi? Di sampingnya, Siang Kui dan Siang Hui menangis karena dua orang ini
mengkhawatirkan nasib adik mereka Kam Han Ki. Setelah mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka turun
dunia-kangouw.blogspot.com
dari gunung itu dengan hati gelisah. Kemenangan mereka itu tidak memuaskan hati karena yang hendak
mereka tolong terutama Han Ki lenyap dilarikan musuh.
********************
Kamar itu amat terang dan hawanya bersih sejuk karena jendela dan pintunya terbuka lebar menerima
masuknya hawa dan sinar matahari pagi. Hawa pegunungan amat sejuk memasuki ruangan.
Yu Siang Ki yang rebah telentang di atas dipan mengeluh perlahan, lalu mengerang kesakitan. Tujuh belas
bagian tubuhnya telah ditusuk jarum emas dan perak oleh kakek kurus yang melarikannya dari dalam
kerangkeng, dan baru saja jarum-jarum itu dicabut kembali.
“Aduhh....” Ia menggerak-gerakkan pelupuk mata dan kaki tangannya yang lemas.
“Siang Ki, syukur kau telah tertolong...”
Siang Ki membuka matanya dan pandang matanya bertemu dengan wajah ayu, wajah Kwi Lan! Gadis ini
dengan senyum lebar dan wajah berseri saking girangnya melihat Siang Ki tertolong nyawanya,
memegang sebuah cangkir, lalu mendekatinya.
“Siang Ki, kau minumlah obat ini.”
“Kwi Lan...! Bagaimana kita bisa berada di sini...? Bukankah kita berdua tertawan...?” Saking herannya
Siang Ki memegang tangan Kwi Lan, menahannya meminumkan obat.
Kwi Lan tertawa. “Tiga hari tiga malam kau pingsan terus, kusangka mati! Kau minum dulu ini baru bicara.”
Tanpa menanti jawaban ia membawa cangkir itu ke bibir Siang Ki yang terpaksa meminum obat yang pahit
dan harum itu.
“Kwi Lan, bagaimana...?”
“Hush, kau tertolong Song Yok San-jin (Orang Gunung Ahli Obat she Song), dan puterinya, Enci Goat yang
cantik manis!” Berkata demikian, Kwi Lan menudingkan telunjuknya ke sebelah kiri dipan.
Siang Ki cepat menoleh. Barulah tampak olehnya seorang kakek kurus berjenggot jarang sedang
memeriksa sesuatu dalam dua tabung kaca dan seorang gadis yang cantik manis bergelung tinggi berada
di depan kakek itu.
“Hemmm, tak salah dugaanku. Racun Peluru Bintang itu adalah racun jamur laut yang terdapat di selatan.
Ah, sungguh keji orang-orang Thian-liong-pang. Tentu mendapat racun ini dari datuk mereka, Siauw-bin
Lo-mo. Biar pun racun ini ganas, namun pemunahnya tidak sukar. Jalan darahnya telah kututup, racun
tidak menjalar. Goat-ji (Anak Goat), kau ambillah batu penghisap dan bubukan biji delima putih.”
Setelah gadis cantik itu pergi untuk melakukan perintah ayahnya, kakek itu membalikkan tubuhnya dan
membuang darah dalam kedua tabung itu ke luar pintu, lalu menaruh tabung ke dalam jambangan air yang
berada di sudut. Barulah ia menghampiri dipan dan bertanya ramah. “Siauw-pangcu (Ketua) sudah sadar?
Syukurlah...“
Siang Ki cepat melompat turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil
berkata, “Locianpwe (Orang Tua Gagah) adalah penyelamat nyawa kami berdua orang muda, harap
jangan bersungkan kepada saya. Terimalah hormat dan terima kasih saya Yu Siang Ki.”
Kakek itu tertawa sambil berdongak ke atas, mengelus jenggotnya yang jarang. “Ha-ha-ha! Pangcu muda
dari Khong-sim Kai-pang benar-benar tidak mengecewakan menjadi putera sahabatku Yu Kang Tianglo!
Jangan banyak sungkan, kita di antara orang sendiri. Bangkitlah!” Sambil berkata demikian kakek itu
mengangkat bangun Yu Siang Ki dan pemuda ini mendapat kenyataan betapa di balik telapak tangan yang
halus itu tersembunyi tenaga yang amat kuat sehingga ia menjadi amat kagum dan segera bangkit berdiri.
“Locianpwe mengenal mendiang ayah saya sebagai sahabat, sungguh merupakan kehormatan dan
kebahagiaan besar bagi saya,” katanya, akan tetapi tiba-tiba Siang Ki memejamkan kedua mata karena
kepalanya terasa pening.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siauw-pangcu harap rebahan dulu karena racun masih belum lenyap dari tubuhmu,” kata ahli pengobatan
itu. Tanpa diperintah kedua kalinya, juga karena Kwi Lan memegang dan mendorong pundaknya, pemuda
itu kembali merebahkan diri telentang di atas dipan.
Gadis cantik berambut hitam panjang yang disanggul tinggi itu muncul dengan langkah kakinya yang
ringan, membawa obat dan batu penghisap yang tadi diminta ayahnya. Kakek itu menerima obat dari
tangan puterinya, kemudian berkata kepada Kwi Lan dan puterinya itu, “Kalian keluarlah dulu dari kamar ini
karena aku akan menyedot hawa beracun dari luka-lukanya.”
Song Goat, gadis cantik itu menggandeng lengan Kwi Lan dan ditariknya gadis itu ke luar. Kwi Lan menurut
saja karena memang ia ingin bicara dengan gadis ini yang mempunyai jarum-jarum hijau persis senjata
rahasianya. Setelah dua orang gadis itu keluar, Song Hai yang berjuluk Yok-san-jin itu lalu menggulung
kedua lengan jubahnya, kemudian mulai menanggalkan pakaian Yu Siang Ki.
Luka-luka karena senjata rahasia Peluru Bintang dari tokoh-tokoh Thian-liong-pang itu tampak kebiruan,
bahkan ada yang sudah menghitam. Dengan tangan kanannya kakek itu memegang batu penghisap,
sebuah batu yang berwarna putih dan banyak lubang-lubang kecil, seperti batu bintang yang terdapat di
dasar laut. Kemudian tangan kirinya dengan jari-jari yang panjang halus itu memijit di sekitar luka sambil
menekan batu itu pada lukanya.
Yu Siang Ki meringis kesakitan, akan tetapi pemuda ini lalu menggigit bibir menahan rasa nyeri sehingga
tidak sedikit pun keluhan keluar dari mulutnya. Hanya keringat yang besar-besar berkumpul di dahinya. Tak
lama kemudian batu yang berwarna putih itu menjadi hijau lalu hitam! Kakek itu menunda pekerjaannya
menghisap hawa beracun lalu memasukkan batu yang menghitam itu ke dalam air yang sudah dicampuri
obat. Seketika warna hitam itu luntur, batu menjadi putih kembali akan tetapi airnya yang berubah agak
kehitaman seperti dimasuki tinta bak! Lalu penghisapan itu dilakukan lagi pada semua luka sampai lukaluka
itu kelihatan merah. Usaha pembersihan hawa beracun ini amat nyeri, perih dan seperti ditusuk-tusuk
rasanya, dan baru selesai setelah satu jam lebih. Barulah kakek itu membantu Siang Ki mengenakan
pakaiannya kembali.
“Aman sudah. Tinggal minum obat ini dan dalam beberapa hari lagi Siauw-pangcu akan pulih kembali
kesehatannya seperti biasa.”
Kakek itu lalu menuangkan obat bubuk delima putih, ditaburkan pada luka dan terasalah oleh Siang Ki
betapa keperihan dan kenyerian pada luka-lukanya lenyap seketika, terganti oleh rasa dingin dan
menyenangkan. Tanpa disadarinya, ia sudah memejamkan mata menarik napas lega dan pulas seketika!
Kakek itu tersenyum, lalu mencuci kedua tangannya dan duduk di atas bangku dekat pembaringan.
Sementara itu, setelah berada di luar pondok kecil itu, Kwi Lan segera menangkap tangan Song Goat dan
berkata, “Cici yang baik, hampir mati aku menahan sabar untuk mendengar semua keteranganmu. Hayo
lekas ceritakan, pertama-tama, mengapa kau menggunakan jarum-jarum hijauku untuk membunuhi para
hwesio itu, kemudian menggunakan juga ketika kau menolong kami? Dari mana kau mendapatkan jarumjarum
hijau itu?”
Song Goat tersenyum dan dua buah lekuk kecil muncul di sepasang pipinya dekat mulut sehingga ia
tampak manis sekali. “Adik yang baik, bukankah engkau yang berjuluk Mutiara Hitam? Kenapa kau tak
dapat menebak sendiri? Hi-hik!”
“Eh, eh, jangan jual mahal, Enci yang baik. Lekas ceritakan, kalau tidak...“
“Hemm, anak ganas, kalau tidak kuceritakan kepadamu apakah kau akan memaksaku dengan pedangmu
yang lihai?” Song Goat yang ternyata pandai berkelakar itu menggoda, sepasang matanya disipitkan ketika
mengerling.
“Aihhh! Kalau tidak mau, kucubit pipimu yang manis ini!” Kwi Lan tertawa dan mengancam dengan jari-jari
tangannya yang kecil.
“Aduh, ampun... kau anak ganas!” Song Goat tertawa, menutupi kedua pipinya. “Mari kita duduk di sana
dan kau dengarkan ceritaku.”
Dua orang gadis remaja yang cantik jelita itu lalu duduk di atas batu-batu besar tidak jauh dari pondok itu.
Song Goat mengeluarkan dua buah kantong dari saku bajunya. “Kau lihat ini, yang sekantong terisi jarumdunia-
kangouw.blogspot.com
jarum biasa, dan kantong kedua terisi jarum-jarum hijau beracun. Jangan kira bahwa aku mencuri jarumjarummu,
Adik Kwi Lan. Kau tentu mengerti bahwa ayahku adalah seorang yang ahli dalam hal segala
macam racun, dan agaknya secara kebetulan saja jarum-jarum kita menggunakan racun hijau yang sama.
Akan tetapi ada perbedaannya di antara kita.”
“Apa bedanya?”
“Kau selalu menggunakan jarum hijau beracun, akan tetapi aku hanya menggunakan jarum biasa tanpa
racun, kecuali kalau harus merobohkan orang jahat yang patut dibunuh.”
“Seperti yang kau lakukan kepada hwesio-hwesio dalam kuil itu? Kau mau bilang bahwa pendeta-pendeta
itu adalah orang-orang jahat?” Kwi Lan mengejek.
“Lebih jahat dari pada penjahat biasa, Adik manis! Penjahat biasa memang penjahat, akan tetapi penjahatpenjahat
keji itu berkedok di balik Agama Buddha yang suci, benar-benar menjemukan sekali! Apa kau
belum dapat menduga bahwa mereka itu adalah sekutu orang-orang Thian-liong-pang dan perampokperampok
di bawah pengaruh Siauw-bin Lo-mo? Apakah kau tidak tahu bahwa kedatangan orang-orang
Thian-liong-pang yang menginap di rumah mereka itu mengorbankan belasan orang gadis baik-baik yang
mereka tangkap untuk disuguhkan kepada orang-orang Thian-liong-pang? Kebetulan Ayah dan aku tahu
akan hal ini, maka kami turun tangan membunuh mereka membebaskan gadis-gadis itu. Para tamu, orangorang
Thian-liong-pang itu, segera bubar melarikan diri. Karena sepak terjangmu bersama... eh, Pangcu
itu, Ayah mengajak aku diam-diam mengikuti karena khawatir kalau-kalau kalian terjebak oleh orang-orang
Thian-liong-pang yang lihai dan curang. Dugaan Ayah ternyata terbukti. Kami tak dapat segera turun
tangan karena tidaklah mudah membebaskan kalian dari tangan dua belas orang tokoh Thian-liong-pang
itu, apa lagi setelah ternyata mereka itu berkumpul dengan Siauw-bin Lo-mo si iblis tua...”
Tiba-tiba Kwi Lan meloncat bangun, diikuti Song Goat yang pendengarannya masih kalah tajam oleh
Mutiara Hitam. Dua orang gadis ini membalikkan tubuh sambil mencabut pedang dan di depannya telah
berdiri seorang kakek yang tertawa-tawa, kakek kurus yang bukan lain adalah Siauw-bin Lo-mo!
“Ha-ha-ha-ha, bocah manis, ini aku si Iblis Tua sudah datang. Jadi engkaukah yang telah berani main-main
dan menculik tawananku? Ha-ha-ha, bagus sekali. Bouw Lek Couwsu tentu akan senang hatinya
mendapat tambahan hadiah seorang dara lagi secantik engkau. Mari, kalian ikut bersamaku!” Sambil
berkata demikian, Siauw-bin Lo-mo menerjang maju, dua lengannya bergerak aneh hendak
mencengkeram dua orang gadis itu.
“Siauw-bin Lo-mo iblis tua! Rasakan pembalasanku!” Kwi Lan sudah berseru keras dan marah sekali,
pedang Siang-bhok-kiam di tangannya berubah menjadi sinar hijau bergulung panjang membabat kedua
lengan kakek itu.
“Aiihhh...!” Siauw-bin Lo-mo mengeluarkan seruan panjang saking kagetnya dan cepat menarik kembali
kedua lengannya.
Ia tadi terlalu memandang rendah kepada dua orang gadis itu, apa lagi Kwi Lan yang pernah tertawan oleh
Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang, anak buahnya. Tak disangkanya gadis ini dapat menyambutnya sehebat
itu dan ia maklum bahwa gadis remaja yang galak ini ternyata benar-benar lihai dan hebat ilmu pedangnya,
sesuai dengan kegalakannya ketika memaki-maki di dalam kerangkeng. Baru sekarang ia mengerti
mengapa orang-orangnya menawan gadis ini di dalam kerangkeng dan menjaganya ketat, kiranya gadis ini
benar-benar amat berbahaya.
Song Goat juga membantu Kwi Lan menggerakkan pedangnya. Biar pun gadis puteri ahli obat ini tidak
seganas dan sehebat Kwi Lan ilmu pedangnya, namun juga termasuk seorang muda yang berilmu tinggi.
“Ha-ha-ha-ha, memang Bouw Lek Couwsu bernasib baik! Ha-ha, kiranya selama hidup dalam
petualangannya dengan wanita, belum pernah ia mendapatkan dua orang gadis cantik yang begini lihai!”
Biar pun maklum bahwa dua orang gadis lawannya bukan lawan lunak, namun Siauw-bin Lo-mo sebagai
seorang tokoh besar dunia persilatan tentu saja tidak menjadi gentar. Sehabis tertawa lebar, ia lalu
menerjang maju dengan kedua tangan kosong menghadapi dua orang lawannya yang bersenjata pedang.
Dan Kwi Lan mengeluarkan seruan tertahan. Hebat memang kakek kurus ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Gerakannya demikian aneh dan ringan sehingga setiap kali pedangnya hendak mengenai sasaran, bagian
tubuh kakek itu seperti terdorong lebih dulu dan selalu dapat mengelak, bahkan beberapa kali gagang
pedangnya hampir kena dirampas! Saking marahnya, Kwi Lan lalu berseru nyaring dan pedangnya kini
mainkan ilmu pedang yang tiada keduanya dalam soal keanehan di dunia ini.
Siauw-bin Lo-mo yang memandang rendah ilmu pedang Song Goat karena segera mengenal ilmu pedang
gadis ini yang bersumber pada ilmu pedang Kun-lun-pai, kini terbelalak heran menghadapi ilmu pedang
yang dimainkan Kwi Lan. Dalam gerakan ilmu pedang ini ia mengenal jurus-jurus campuran yang mirip ilmu
pedang dari Hoa-san-pai, tusukan-tusukan jalan darah seperti ilmu silat Siauw-lim, pengerahan tenaga
berdasarkan ilmu dari Go-bi-san! Repot juga untuk sementara kakek ini menghadapi ilmu pedang Kwi Lan.
Akan tetapi oleh karena tingkatnya memang jauh lebih tinggi dan ia sudah memiliki pengalaman banyak
dalam pertempuran, segera ia dapat menyesuaikan diri dan kini ia malah berhasil mengirim tendangan ke
arah tangan Song Goat yang memegang pedang. Pedang gadis itu terlepas dan ia sendiri terhuyung.
“Ha-ha-ha!” Siauw-bin Lo-mo sambil tertawa-tawa melesat dari depan Kwi Lan ke dekat Song Goat untuk
merobohkan gadis ini, akan tetapi tiba-tiba ia terdorong oleh hawa pukulan dari belakang yang
membuatnya terhuyung-huyung dan berseru heran dan kaget.
Sebagai seorang ahli, Siauw-bin Lomo mengerti betapa hebatnya hawa pukulan itu, maka cepat ia
menggulingkan dirinya sambil mengerahkan hawa sakti dan akibat pukulan jarak jauh itu dapat
dipunahkan. Ia selamat dari bahaya akan tetapi mengalami malu karena ternyata ia hampir celaka dalam
tangan seorang gadis remaja, hanya karena pukulan jarak jauh tangan kiri Kwi Lan. Ia tidak tahu bahwa
gadis itu disamping ilmu pedangnya yang luar biasa, juga menguasai ilmu pukulan Siang-tok-ciang
(Tangan Racun Wangi).
Song Goat yang tidak terluka mendapat kesempatan untuk mengambil pedangnya kembali dan kini ia
sudah maju lagi membantu Kwi Lan yang sudah menerjang kakek lihai itu. Namun kini Siauw-bin Lo-mo
sudah bersikap hati-hati sekali dan gerakan yang aneh dari kedua lengannya membuat Kwi Lan dan Song
Goat menjadi pening! Lebih celaka lagi, dua orang gadis itu melihat betapa kini bermunculan dua belas
orang yang bukan lain adalah Thai-lek-kwi Ma Kiu ketua Thian-liong-pang bersama sebelas orang adik
seperguruannya! Akan tetapi Cap-ji-liong ini hanya berdiri di pinggir menonton, tidak berani bergerak
mengganggu datuk mereka yang yang sedang mempermainkan dua orang gadis remaja itu!
Pada saat itu, dari dalam pondok melompat ke luar Yok-san-jin Song Hai si ahli obat. Ia sudah memegang
sebatang pedang. Melihat betapa Kwi Lan dan Song Goat terdesak hebat dan mengenal kakek kurus itu, ia
berseru. “Siauw-bin Lo-mo, tidak malu engkau melawan anak-anak?”
Siauw-bin Lo-mo menoleh dan tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya tukang obat Song yang berada di sini. Ah,
kiranya gadis ini anakmu? Ha-ha, majulah kau sekalian, dikeroyok tiga pun aku tidak takut!”
Akan tetapi, dua belas orang Cap-ji-liong sudah maju pula menghadang kakek ahli obat itu yang segera
mengurungnya dengan senjata di tangan. Melihat ini, Song Hai segera memasang kuda-kuda dan bersikap
waspada karena dapat menduga bahwa dua belas orang tokoh Thian-liong-pang ini tentulah bukan orangorang
lemah.
“Ha-ha-ha-ha! Song Hai tukang obat, sebelum main-main dengan aku, kau rasakanlah dulu kelihaian anak
buahku!” Ucapan Siauw-bin Lo-mo ini merupakan perintah bagi Cap-ji-liong dan lenyaplah keraguan
mereka. Segera mereka menerjang maju secara teratur, mengurung kakek tukang obat itu dengan barisan
yang terkenal kuat.
Kwi Lan menggigit bibir dan mengeluarkan semua kepandaiannya. Betapa pun juga kakek itu terlampau
kuat untuknya. Biar pun ia dibantu Song Goat yang juga lihai ilmu pedangnya, namun tetap saja dua orang
gadis ini terdesak hebat dan akhirnya terhuyung oleh bayangan kedua tangan Siauw-bin Lo-mo yang
seolah-olah berubah menjadi puluhan banyaknya. Song Goat yang lebih dulu merasa pening dan sebuah
tamparan membuat ia terhuyung ke belakang kembali terlepas dari tangan. Tamparan yang mengenai
pundak kanan itu membuat tangan kanannya serasa lumpuh!
Kwi Lan berseru marah dan menusuk pinggang lawan yang sedang miring tubuhnya. Siauw-bin Lo-mo
terkekeh dan berjungkir balik, kemudian menyambut pukulan tangan kiri Kwi Lan dengan tangkisan tangan
kanan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Plakk...!” Siauw-bin Lo-mo terhuyung mundur, akan tetapi Kwi Lan harus berjungkir balik beberapa kali
untuk mencegah terguling. Ketika gadis ini sudah berdiri lagi, ia diserang secara bertubi-tubi di antara
suara ketawa lawannya. Ia berusaha untuk membalas, namun karena sudah terdesak dan kalah dulu, ia
tidak mendapat kesempatan dan hanya dapat mengelak dan menggerakkan pedang membabat tangan
yang hendak menangkap dan menotoknya.
Pada saat Kwi Lan terdesak hebat, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang tidak hanya
mengejutkan hati Siauw-bin Lo-mo, akan tetapi juga amat mengagetkan Song Hai dan dua belas orang
pengeroyoknya. Lengking yang menggetarkan jantung dan menulikan telinga itu seketika membuat mereka
semua menghentikan pertandingan dan Kwi Lan menjadi girang sekali ketika menoleh ke arah datangnya
suara melengking yang tentu saja ia kenal baik ini.
Bagaikan bayangan setan, tiba-tiba saja di situ sudah berdiri seorang wanita bertubuh ramping berpakaian
serba putih dan mukanya dikerudungi sutera jarang seperti rajut berwarna hitam. Kam Sian Eng guru Kwi
Lan!
“Siauw-bin Lo-mo, kau berani menyerang muridku, berarti engkau tidak memandang mata kepadaku!”
Siauw-bin Lo-mo mengenal wanita ini dan tertawa, akan tetapi suara ketawanya canggung karena hatinya
merasa tidak enak. “Eh... Sian-toanio (Nyonya Sian), jadi gadis yang ganas dan lihai ini muridmu? Pantas
begitu hebat. Aku tidak tahu bahwa dia muridmu, Sian-toanio karena dia pun tidak mengatakan apa-apa
kepadaku.”
“Sekarang kau tahu Siauw-bin Lo-mo, apakah kau masih akan melanjutkan pertempuran?” tanya Kam Sian
Eng, suaranya kaku.
“Ha-ha-ha, tentu saja aku tidak mau mengganggu keponakan sendiri! Bouw Lek Couwsu akan cukup puas
kalau aku membawa nona puteri tukang obat ini. Hayo engkau ikut bersamaku!” Sambil berkata demikian,
tubuh kakek kurus ini melesat ke depan, ke arah Song Goat untuk menyambar tubuh gadis ini yang tentu
saja sama sekali bukan lawan Siauw-bin Lo-mo.
Akan tetapi tiba-tiba sinar hijau berkelebat dan kakek itu harus menarik kembali kedua tangannya karena
Kwi Lan telah membabat ke arah kedua tangan yang hendak menerkam Song Goat itu. Kini gadis ini
dengan pedang di tangan berdiri menghadang di depan Song Goat, sikapnya menantang, matanya
mendelik marah.
“Ha-ha-ha-ha, keponakanku yang baik, apakah kau hendak menantang aku? Sian-toanio apakah begini
kau mengajar muridmu?”
“Kwi Lan! Mundur kau! Mau apa kau mencampuri urusan orang lain? Sejak kapan kau begini usil dan
lancang?” Kam Sian Eng membentak, suaranya dingin seperti suara dari lubang kubur membuat Cap-jiliong
yang terkenal gagah sekali pun menggigil dan merasa seram.
“Bibi, aku tidak suka mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi Enci Goat ini dan ayahnya, Songlocianpwe,
telah menyelamatkan nyawaku ketika aku menjadi tawanan tua bangka iblis ini!” Ia menuding ke
arah Siauw-bin Lo-mo. “Bagaimana mungkin aku sekarang membiarkan iblis tua ini mencelakai Enci
Goat?”
Kam Sian Eng adalah seorang yang memiliki watak aneh sekali karena memang jiwanya sakit, ingatannya
terganggu oleh peristiwa hebat di waktu mudanya. Ia tidak mengenal budi, tidak mengenal apa itu baik atau
jahat, namun terhadap diri Kwi Lan ada perasaan kasih sayang di hatinya. Maka melihat sikap dan
mendengar pembelaan Kwi Lan, ia menarik napas panjang dan menoleh kepada Siauw-bin Lo-mo, berkata
singkat. “Lo-mo, pergilah. Tidak ada urusan apa-apa lagi di sini. Setahun kemudian kelak kita bertemu
kembali.”
Siauw-bin Lo-mo tertawa masam. Ia menjadi serba salah. Ia tidak takut kepada Kam Sian Eng, akan tetapi
juga tidak menghendaki nama Bu-tek Ngo-sian menjadi pecah hanya karena urusan seorang gadis! Selain
itu, juga otaknya yang cerdik bekerja cepat. Kalau terjadi pertempuran karena ia kukuh, pihaknya tentu
rugi. Dia sendiri melawan Sian-toanio ini masih merupakan keadaan setengah-setengah, belum tentu siapa
yang akan menang atau kalah. Akan tetapi, dua belas orang Cap-ji-liong itu kalau harus menghadapi kakek
tukang obat Song bersama puterinya dan si Mutiara Hitam, agaknya akan terancam bahaya kehancuran.
Maka ia lalu tertawa dan agar jangan terlalu kehilangan muka ia berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha-ha! Melihat muka Sian-toanio yang menjadi saudaraku sendiri, tentu saja aku tidak akan
meributkan soal seorang gadis! Hanya sayang sekali, saudaraku yang menjadi seorang di antara Bu-tek
Ngo-sian, ternyata harus tunduk kepada muridnya. Ha-ha-ha! Hayo, kita pergi!” Ia berseru kepada Cap-jiliong
yang tanpa banyak cakap tidak berani membantah dan segera mengikuti datuk mereka pergi dari
dalam hutan.
Biar pun perangainya aneh dan otaknya tidak waras, namun Kam Sian Eng adalah seorang wanita yang
memiliki watak angkuh dan tinggi hati. Oleh karena itu, ejekan yang keluar dari mulut Siauw-bin Lo-mo tadi
sedikit banyak telah meracuni hatinya, membuat keningnya berkerut dan sepasang matanya mengeluarkan
sinar dingin menakutkan. Melihat betapa sepasang mata Sian Eng memandangnya seperti itu, tahulah Kwi
Lan bahwa gurunya atau bibinya ini sedang marah sekali. Maka ia menjadi khawatir dan bersikap
waspada.
Pada saat itu nampak bayangan berkelebat keluar dari pondok. Ternyata dia adalah Yu Siang Ki yang
sudah sembuh, hanya belum pulih tenaganya. Namun karena tadi ia terbangun dari tidurnya dan
mendengar suara melengking nyaring, ia segera mengerahkan tenaga, menyambar tongkat dan setelah
tubuhnya tidak begitu lemah lagi, kini ia meloncat ke luar, siap membantu Song Hai dan puterinya,
terutama sekali Kwi Lan jika ada bahaya mengancam. Ketika ia melihat mereka itu berhadapan dengan
seorang wanita yang memakai kerudung, yang sikapnya aneh, yang matanya menyinarkan keseraman
yang mengerikan, ia meloncat dan sudah berada di samping Kwi Lan. Gerakannya tidaklah sekuat biasa,
namun pemuda ini tidak kehilangan kelincahannya.
“Siapa jembel ini?” Suara Kam Sian Eng dingin sekali, membuat Siang Ki meremang bulu tengkuknya, dan
sinar mata yang menyambar ke arah mukanya seperti tangan dingin menyentuh leher. Ia bergidik.
Song Hai atau Yok-san-jin yang semenjak tadi memandang kepada Kam Sian Eng dengan penuh rasa
kagum dan heran, segera melangkah maju dan menjura sebagai penghormatan, lalu berkata, “Kouwnio,
orang muda ini bukan lain adalah kai-pangcu (ketua perkumpulan pengemis) dari Khong-sim Kai-pang,
putera mendiang Yu Kang Tianglo yang gagah perkasa.”
Sian Eng melirik ke arah kakek berjenggot itu. Hatinya senang mendengar dirinya disebut kouwnio (nona).
Tentu saja kakek itu merasa tepat menyebut nona kepada wanita berkerudung ini karena ia jauh lebih tua
dan memang Sian Eng kelihatan masih muda, baik dipandang pada wajah di balik kerudung itu mau pun
bentuk tubuh yang langsing padat.
Akan tetapi kalau hati Sian Eng merasa senang dengan sebutan kouwnio, ia mengerutkan kening
mendengar bahwa pemuda ini adalah Ketua Khong-sim Kai-pang, putera Yu Kang Tianglo yang
merupakan seorang di antara lawan golongan sesat yang dipimpin Bu-tek Ngo-sian. Dia tentu saja tidak
mau memusuhi orang-orang seperti Suling Emas, akan tetapi ia sama sekali tidak ada hubungan dengan
Yu Kang Tianglo atau pun puteranya. Maka kalau ia hendak mengumpulkan jasa untuk mengalahkan
empat orang yang lain dari Bu-tek Ngo-sian, ia boleh mulai dengan putera Yu Kang Tianglo yang menjadi
ketua Khong-sim Kai-pang ini.
“Hemm, jembel muda ini ketua Khong-sim Kai-pang? Begini muda menjadi pangcu? Hendak kulihat sampai
di mana kemampuannya!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba tangan kanan Kam Sian Eng bergerak,
secepat kilat tangan itu sudah menampar dengan jari tangan terbuka ke arah dada Yu Siang Ki!
“Bibi...!” Kwi Lan menjerit, mengenal pukulan itu yang bukan lain adalah Siang-tok-ciang! Di tangan
gurunya, Siang-tok-ciang ini hebat bukan main karena ketika berlatih, kalau dia dengan pengerahan tenaga
seluruhnya hanya mampu memukul pohon menjadi layu daun-daunnya, adalah gurunya ini sekali pukul
membuat pohon itu mati seketika karena hangus sebelah dalamnya!
Yu Siang Ki bukanlah seorang muda yang bodoh. Dia cukup waspada dan tahu betapa hebat dan
berbahayanya pukulan itu yang meniupkan hawa panas dan bau yang wangi. Cepat ia mengelak dengan
jalan melempar tubuhnya ke belakang. Betapa pun cepat gerakannya mengelak ini, namun hawa pukulan
dari tangan Kam Sian Eng tetap saja menyerempet pundaknya, membuat tubuh pemuda itu bergulingan
akan tetapi ia terbebas dari pada bahaya maut.
Bibir Kam Sian Eng tersenyum dan makin gelisah hati Kwi Lan. Ia tentu saja mengenal senyum gurunya ini,
senyum maut karena senyum ini berarti bahwa gurunya merasa tersinggung dan marah sekali melihat
dunia-kangouw.blogspot.com
betapa pukulannya dapat dielakkan. Ia melangkah maju dan kembali tangannya bergerak hendak memukul
dengan Siang-tok-ciang yang lebih hebat.
“Bibi, jangan...!”
Akan tetapi pukulan sudah dilancarkan dan terpaksa Kwi Lan berkelebat maju sambil mengangkat
tangannya menangkis.
“Plakk!!” dan tubuh gadis itu bergulingan sampai lima meter jauhnya, dan ketika ia meloncat bangun,
wajahnya agak pucat, akan tetapi tidak terluka. Sian Eng sejenak berdiri seperti patung memandang
muridnya, sinar matanya makin dingin, senyumnya melebar.
“Bibi, kau tidak boleh membunuh Yu Siang Ki. Dia tidak bersalah apa-apa, mengapa dibunuh?”
“Dia... apamu?” tanya Sian Eng, suaranya penuh kemarahan yang ditahan-tahan.
“Dia sahabat baikku, Bibi. Banyak kualami suka duka, kualami bahaya maut di sampingnya, dia pernah
menolongku dan....”
Sejak tadi Sian Eng memang sudah merasa kecewa dan marah kepada Kwi Lan, yaitu ketika ia diejek oleh
Siauw-bin Lo-mo bahwa dia tunduk kepada muridnya. Kini kejengkelan hatinya itu makin menjadi-jadi
seperti api disiram minyak oleh perbuatan Kwi Lan yang dengan nekat berani menangkis pukulannya dan
menghalangi dia turun tangan terhadap Yu Siang Ki. Marah dan kecewa, apa lagi melihat betapa tukang
obat dan gadisnya memandang dengan muka jelas berpihak kepada Kwi Lan.
Watak Sian Eng memang aneh dan ganas, makin ditentang makin ganas dan kini kemarahan hatinya
membuat gilanya kumat dan ia tidak peduli atau tidak ingat lagi bahwa Kwi Lan adalah muridnya, juga
keponakannya. Ia kini maju mendekati Kwi Lan dan membentak. “Setan cilik! Berani kau menentang aku?
Dua kali kau menghina Gurumu sendiri, tahukah kau apa hukumannya untuk itu?”
Kwi Lan menjatuhkan dirinya berlutut. Ia seorang pemberani, tidak takut mati dan tidak takut melawan
siapa pun juga. Akan tetapi tak mungkin ia mau melawan gurunya yang mendidiknya sejak ia masih kecil.
Ia pun tahu bahwa sekali gurunya marah seperti ini, biar pun ia melawan juga tidak ada gunanya, lari pun
percuma.
“Bibi, kebaikanmu tidak cukup kubalas dengan nyawa. Kalau kau menghendaki, aku bersedia menerima
hukuman apa pun juga, bahkan kematian tidak akan membikin aku menyesal. Silakan!”
Sian Eng tercengang. Dia berwatak aneh, keras dan ganas. Akan tetapi melihat betapa Kwi Lan
menantang maut dengan sikap sedingin dan setenang ini, ia terkejut juga, terkejut dan kagum. Akan tetapi
hanya untuk sesaat karena kemarahannya kembali memuncak.
“Kau sudah berani menangkis pukulanku, nah, kau cobalah tangkis ini!” Tangan kanannya bergerak
menyambar ke arah kepala Kwi Lan yang menunduk.
“Wuuuutttt... prakkkk...!” Hancur luluh tongkat di tangan Yu Siang Ki ketika ia pergunakan untuk menangkis
tangan Siang Eng dalam usahanya menolong Kwi Lan yang terancam bahaya maut. Ia sendiri terhuyung
ke belakang. Akan tetapi pemuda ini sudah melompat maju lagi, membusungkan dada menantang kepada
Sian Eng.
“Cianpwe, tidak semestinya membunuh Kwi Lan karena dia tidak berdosa. Kalau dia menolong saya
dianggap salah oleh Cianpwe, maka kesalahannya adalah karena saya dan saya bersedia menerima
hukumannya, sekali-kali bukan Kwi Lan yang harus menanggung.”
Kam Sian Eng tercengang. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pengemis muda ini begini nekat,
berani menangkis pukulannya dan melindungi Kwi Lan. Ia makin marah. Akan tetapi keheranannya melihat
pembelaan pemuda itu kepada muridnya, membuat ia ragu-ragu untuk turun tangan dan sebaliknya ia
membentak.
“Mengapa kau membela dia? Dia apamu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yu Siang Ki tersenyum duka dan menggeleng kepalanya. “Memang bukan apa-apa, Cianpwe. Akan tetapi
saya siap untuk mempertaruhkan nyawa untuknya.”
Terdengar isak tertahan yang keluar dari kerongkongan Song Goat. Gadis ini ternyata telah menangis
perlahan sambil menutupi mukanya. Ayahnya sudah berdiri di sampingnya dan merangkul pundak
puterinya, wajah kakek ini pun diliputi kedukaan.
“Hemm...! Kau... kau mencinta Kwi Lan?”
Kwi Lan sendiri memandang dengan mata terbelalak. Semua orang memandang kepada Siang Ki dan
keadaan di situ hening oleh ketegangan menanti jawaban Siang Ki yang ditanya secara terus terang oleh
wanita berkerudung yang menyeramkan itu.
“Benar! Saya mencinta Kwi Lan dan siap mati untuknya!” jawab Siang Ki kemudian dengan suara tenang.
Kembali Song Goat terisak, kini menangis tersedu-sedu dan meronta dari rangkulan ayahnya, terus
melarikan diri sambil menangis.
“Goat-ji (Anak Goat)...!” Song Hai kakek ahli obat itu lalu lari mengejar puterinya setelah ia memandang ke
arah Yu Siang Ki dengan sinar mata mengandung penyesalan.
“Bibi, apakah Bibi masih berkeras hendak membunuh kami? Silakan!” Kwi Lan berkata, nada suaranya
marah dan ia menantang dengan nekat sedangkan Yu Siang Ki memandang dengan sikap tenang.
Kam Sian Eng ragu-ragu, “Hemm, kau mencinta Kwi Lan? Eh, Kwi Lan, apakah kau juga mencinta pemuda
jembel ini?” Orang yang dicinta Kam Sian Eng dahulu adalah seorang putera pangeran, maka tentu saja ia
memandang rendah kepada Yu Siang Ki yang biar pun tampan namun berpakaian jembel.
“Cinta...?” Kwi Lan menggeleng kepala. “Aku tidak tahu..., aku tidak mencinta siapa-siapa, akan tetapi
Siang Ki amat baik kepadaku dan pernah menolongku. Yang sudah jelas, dia adalah sahabat baikku, Bibi.”
Sinar mata kemarahan di balik kerudung itu berseri sebentar. Di sudut benaknya, wanita aneh ini tentu saja
tidak ingin mendengar Kwi Lan mencinta laki-laki lain karena sudah ia harapkan untuk menjadi isteri
puteranya!
“Bagus, biarlah kuampunkan nyawa jembel muda ini. Akan tetapi kau harus segera menyusul Suheng-mu.”
Biar pun sejak kecil sering cekcok dengan Suma Kiat putera tunggal gurunya, akan tetapi karena sejak
kecil menjadi teman bermain, Kwi Lan gembira mendengar ini. “Di mana adanya Suma-suheng?”
“Di kota raja Kerajaan Sung. Kau lekaslah menyusul ke sana. Awas kalau kau tidak berada di sana dalam
waktu dua bulan.” Setelah berkata demikian tubuh wanita berkerudung ini berkelebat dan lenyap dari situ.
Kwi Lan dan Siang Kwi saling pandang. Baru saja mereka terlepas dari bahaya maut yang sudah
mengancam hebat. Siang Ki yang tadinya amat tegang, kini menarik napas panjang. “Hebat... Gurumu
hebat...,” katanya dan terasalah kini oleh pemuda itu betapa tubuhnya masih amat lemah, biar pun rasa
nyeri sudah hilang.
“Ah, ke mana perginya Enci Goat tadi? Siang Ki, kau mengasolah di pondok, biar aku mengejar mereka!”
Tanpa menanti jawaban Siang Ki, Kwi Lan lalu melompat jauh dan mengerahkan ginkang dan berlari
secepat larinya kijang memasuki hutan di mana tadi ia melihat Song Goat melarikan diri kemudian dikejar
ayahnya.
Jauh di dalam hutan, Kwi Lan mendapatkan kakek Song itu berdiri seperti arca, mukanya pucat dan diliputi
awan kedukaan, bahkan ada bintik-bintik air mata di kedua pipinya!
“Song-lopek! Ada apakah? Mana Enci Goat?”
Kakek itu tidak menjawab, hanya menudingkan telunjuk kanannya ke batang pohon di depannya. Kwi Lan
memandang dan ternyata di pohon itu terdapat sehelai sapu tangan sutera putih yang tertusuk jarum
keempat ujungnya dan sapu tangan itu ada tulisannya, agaknya ditulis dengan ranting pohon dengan tinta
getah pohon.
dunia-kangouw.blogspot.com
‘Ayah, biarkan anak merantau melupakan duka. Sampai jumpa’.
“Eh, apa artinya semua ini, Lopek? Adakah ini sapu tangan Enci Goat? Tulisannya?” tanya Kwi Lan yang
masih belum mengerti.
Song Hai mengangguk dan menarik napas panjang. “Kalau aku mau, tentu saja aku akan dapat
mengejarnya sampai tersusul. Akan tetapi apa gunanya? Sejak kecil dia berkeras hati. Dan dia tulis sampai
jumpa, berarti kelak ia akan kembali kepada ayahnya...” Muka yang tua itu kelihatan berduka sekali.
“Biarlah aku menunggu..., menunggu dan mengharap... dan berdoa semoga Thian Yang Maha Adil akan
memberi jalan kepada Anakku....“
“Akan tetapi... mengapa Enci Goat melarikan diri? Mengapa kalian berduka?”
Tiba-tiba kakek itu membalikkan tubuh memandangnya dengan tajam sambil bertanya, suaranya tegas,
“Nona apakah... maaf, apakah kau mencinta Yu Siang Ki?”
Kwi Lan melongo dan wajahnya menjadi merah. Untung ia teringat bahwa kakek ini telah menolong dia dan
Siang Ki, kalau tidak, tentu pertanyaan itu akan dianggapnya kurang ajar. Ia hanya terheran mengapa
kakek ini bertanya demikian, lebih heran lagi karena baru saja gurunya pun bertanya demikian.
“Aku tidak tahu, Lopek. Aku suka kepadanya tentu saja karena dia seorang yang baik, dia seorang
sahabatku. Akan tetapi cinta...? Ah, aku sendiri tidak tahu apakah itu cinta, kurasa aku tidak mencinta
siapa-siapa.”
Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira dan ia memegang tangan Kwi Lan. “Ah, alangkah lega dan girang
hatiku, Nona. Tapi... tapi... ah, apa bedanya? Dia tetap saja mencintamu.”
“Kalau begitu mengapa, Lopek? Mengapa pernyataan cinta Siang Ki kepadaku begini mendukakan hati
Enci Goat dan kau?”
Kembali kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya. “Dahulu, ayah pemuda itu adalah
sahabat baikku. Yu Kang Tianglo pernah melihat Goat-ji di waktu anakku berusia satu tahun dan puteranya
juga berusia satu tahun. Dan pada waktu itu, Yu Kang Tianglo mengikat jodoh antara kami, Goat-ji dan
Siang Ki. Sudah bertahun-tahun aku membawa anakku merantau, mencari tunangannya. Akhirnya kami
mendengar bahwa Yu Siang Ki telah menjadi Ketua Khong-sim Kai-pang. Kami menyusul ke sana akan
tetapi dia sudah pergi. Kami mengikuti jejaknya terus sampai dapat berjumpa, bahkan menolongnya. Akan
tetapi tadi pemuda itu menyatakan bahwa dia mencintamu dan tentu saja kau mengerti betapa hancur dan
malu rasa hati Goat-ji....”
“Ahhh...!” Kwi Lan berseru kaget. “Kasihan sekali Enci Goat! Kenapa Siang Ki begitu tidak tahu aturan dan
tidak mengenal budi?”
Melihat gadis itu kelihatan marah-marah, Song Hai memegang tangannya. “Jangan kau persalahkan
sahabatmu itu, Nona. Yu-pangcu agaknya sama sekali tidak tahu akan tali perjodohan yang ditentukan
mendiang ayahnya itu. Karena melihat sikapnya yang berbudi, kurasa kalau dia tahu tentu dia tidak akan
melakukan hal yang begitu menyakitkan hati Goat-ji. Sudahlah, urusan ini tidak perlu dipersoalkan, soal
jodoh berada di tangan Thian. Manusia tidak berkuasa memaksakan. Selamat berpisah, Nona.”
Kakek itu membalikkan diri meninggalkan Kwi Lan. Akan tetapi baru saja berjalan beberapa langkah, ia
membalik dan berkata, “Oh ya, tolong kau sampaikan gurumu. Kepadanya tadi aku tidak berani bicara
karena khawatir menyinggungnya, akan tetapi mengingat engkau, Nona, maka wajib kuberitahukan agar
kau sampaikan kepada gurumu. Agar dia cepat-cepat menghilangkan semua tenaga sinkang,
menghentikan latihan dan tidak mengerahkan tenaga lagi agar nyawanya dapat tertolong.”
“Heee? Kenapa, Lopek?”
“Dia... telah salah berlatih. Aku melihat cahaya maut di wajahnya, tanda bahwa hawa sakti yang terhimpun
secara keliru di dalam tubuh meracuni darah dan merusak bagian dalam tubuhnya. Dan... dan kau sendiri,
Nona, karena kau masih muda dan kau kuat maka belum tampak tanda-tanda itu. Hanya mengingat
keadaan gurumu, bukan tidak mungkin engkau kelak akan terancam oleh bahaya yang sama. Maka lekas
kau mencari guru yang sakti dan minta petunjuknya. Dalam hal ini, aku sendiri tak dapat memberi petunjuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ilmu silatku belum setinggi itu.” Setelah berkata demikian, kakek itu membalikkan tubuh dan kali ini ia tidak
menengok lagi sampai lenyap di balik pohon-pohon besar.
Kwi Lan tergesa-gesa kembali ke pondok. Ia melihat Yu Siang Ki telah berdiri di luar pondok, agaknya
menanti-nanti kedatangannya. Begitu melihat munculnya gadis itu, Siang Ki tersenyum gembira dan
berkata, “Kwi Lan, kita harus cepat-cepat pergi dari sini, siapa tahu kalau-kalau iblis itu kembali lagi dan....”
Pemuda itu menghentikan kata-katanya karena melihat wajah gadis itu merah sekali dan sinar matanya
seakan-akan dua batang pedang ditodongkan ke ulu hatinya. “Eh... eh..., ada apakah...?”
Kwi Lan berdiri di depan pemuda itu, tangan kiri bertolak pinggang, lengan kanan diulur ke depan dengan
telunjuk ditudingkan hampir menyentuh hidung Yu Siang Ki, suaranya ketus ketika kata-katanya keluar
menghambur dari bibir yang merah.
“Kau ini seorang yang sangat bo-ceng-li!”
“Hah...?” Siang Ki memandang bengong, benar-benar kaget, heran dan tidak mengerti, mengapa tiada
hujan tiada angin gadis ini marah-marah seperti kilat menyambar-nyambar, mengatakan ia bo-ceng-li (tak
tahu aturan)!
“Kau tidak setia, tidak mengenal budi, dan berhati kejam!” Kembali Kwi Lan menyerang dengan
hardikannya tanpa mempedulikan keheranan dan kebingungan pemuda itu.
“Aahhh...?”
“Semenjak berusia setahun, kau telah ditunangkan dengan Enci Goat oleh mendiang ayahmu!”
“Ehhh...?”
“Enci Goat dan ayahnya bertahun-tahun mencarimu, setelah bertemu mereka telah menyelamatkan
nyawamu. Akan tetapi, apa yang kau lakukan kepadanya? Di depan Enci Goat, kau secara bo-ceng-li
sekali menyatakan bahwa kau mencintaku!”
“Ohhhh...?”
“Huh! Bisanya cuma ah-eh-oh! Laki-laki macam apa kau ini? Tidak setia, tidak mengenal budi, malah
menghancurkan hati Enci Goat yang begitu baik! Kalau tidak ingat engkau sahabatku, sekarang juga sudah
kutusuk dadamu, kukeluarkan hatimu!”
“Eeee-eeeh, nanti dulu Kwi Lan. Apa artinya semua ini? Tentang tunangan itu, dalam usia setahun,
bagaimana pula ini? Sungguh aku tidak mengerti...”
“Benar kau tidak mengerti? Kau tidak tahu? Berani kau bersumpah bahwa kau tidak tahu akan ikatan jodoh
antara kau dan Enci Goat? Bersumpahlah kalau kau berani menyangkal!”
“Sungguh mati aku tidak tahu seujung rambut pun. Kalau aku tahu dan menyangkal, biarlah aku disambar
geledek!”
“Huh, enak saja laki-laki bersumpah. Di hari terang seperti ini, tiada hujan tiada angin, mana mungkin ada
geledek?”
Siang Ki menahan senyum di hatinya yang perih. Ah, Kwi Lan, kau tidak tahu betapa miripnya kau dengan
sinar kilat menyambar-nyambar ketika datang-datang marah tiada ujung pangkalnya, indah gemilang
seperti kilat, namun amat berbahaya dan sambarannya kini sudah terasa nyeri jantungnya.
“Sungguh Kwi Lan. Mendiang ayahku tidak pernah bicara sesuatu mengenai hal itu. Bagaimana kau bisa
tahu akan pertunanganku itu? Siapa yang memberitahu kepadamu?”
Melihat sinar mata pemuda itu, Kwi Lan percaya bahwa memang benar Siang Ki belum tahu akan tali
perjodohan yang mengikatnya, maka dengan suara yang lebih sabar ia lalu menceritakan pertemuannya
dengan Song Hai dan tentang cerita kakek itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Karena mendiang ayahmu sendiri yang menentukan ikatan jodoh, tentu saja sejak kecil Enci Goat sudah
menganggap dirinya calon isterimu, demikian pula Song-lopek tidak memandang lain pemuda karena
menganggap kau sebagai calon mantu.”
“Ah..., akan tetapi mengapa mereka tidak mau memberitahu kepadaku? Sungguh mati, Kwi Lan. Andai
kata aku tahu, betapa pun hancur hatiku, kiranya aku tidak akan begitu keji untuk menyatakan cinta
kasihku kepadamu di depan mereka. Aduh, Kwi Lan, aku menjadi bingung sekali, aku menjadi malu
kepada mereka. Katakanlah, Kwi Lan, engkau yang sudah tahu rahasia hatiku, engkau satu-satunya wanita
yang pernah kucinta, apakah yang harus kulakukan sekarang?” Dengan lemas Siang Ki menjatuhkan diri,
duduk di atas tanah dengan wajah muram.
Betapa pun juga, di dalam hatinya Kwi Lan amat suka kepada pemuda yang ia tahu amat baik ini. Agaknya
tidak akan sukar baginya untuk memperdalam rasa suka ini menjadi rasa cinta, kalau saja dia diberi waktu
dan kesempatan. Akan tetapi pengertian bahwa pemuda ini adalah ‘hak milik’ Song Goat, tentu saja
menghapus semua bibit-bibit cinta dari hatinya. Ia merasa kasihan, lalu duduk pula di atas tanah,
menyentuh lengan pemuda itu sambil berkata, suaranya halus.
“Siang Ki, ke mana perginya sifat gagahmu? Mungkinkah seorang pendekar muda seperti engkau, seorang
ketua Khong-sim Kai-pang, menjadi begini lemah hanya oleh urusan yang menyangkut perasaanmu
sendiri? Hayo usirlah semua kebingungan dan kedukaanmu. Lihat baik-baik, Siang Ki. Aku tidak
mencintamu, aku tidak mungkin bisa cinta kepadamu, kecuali sebagai seorang adik. Seorang gagah
seperti engkau sudah sepatutnya menjunjung tinggi nama ayahmu dan memenuhi janji ayahmu, juga harus
kau jaga masa depan Enci Goat yang tentu saja selamanya tidak akan sudi menikah dengan orang lain
karena sejak kecil sudah merasa menjadi jodohmu. Sekarang Enci Goat melarikan diri dalam keadaan
duka dan merana. Kewajibanmulah untuk mencarinya dan menyambung kembali ikatan yang kau putus
tanpa kau ketahui.”
“Ke mana... aku harus mencarinya?”
“Entahlah, aku sendiri akan pergi ke kota raja, memenuhi pesan Bibi Sian.”
“Aku sedang mencari Paman Suling Emas. Apakah kau tidak jadi pergi ke Khitan?”
“Tentu jadi nanti, setelah selesai urusanku memenuhi pesan Bibi Sian di kota raja.”
“Kalau begitu, kita dapat melakukan perjalanan bersama!”
Kwi Lan memandang pemuda itu dengan kening berkerut karena melihat seri gembira pada wajah itu. “Yu
Siang Ki! Masih belum sadarkah engkau dari lamunanmu yang kosong? Engkau adalah calon suami Enci
Goat, jangan kau harap untuk aku... aku...”
Siang Ki tersenyum duka dan menggeleng kepala. “Betapa pun perih hatiku, aku harus membenarkan
pendapatmu dan aku tidak akan bertindak bodoh menurutkan hati dan perasaan, Kwi Lan. Tidak, aku
hanya ingin melakukan perjalanan bersamamu, pertama karena dengan demikian kita akan lebih kuat
menghadapi musuh-musuh yang lihai. Kedua, kalau sampai kita dapat berjumpa dengan... Nona Goat,
hanya engkaulah yang dapat menolongku untuk menerangkannya tentang... eh, tentang kebodohanku.
Kalau bukan kau yang.menjelaskannya, tentu ia tidak percaya kepadaku.”
Kwi Lan berpikir sebentar lalu mengangguk. “Alasanmu memang kuat. Baiklah, kita melakukan perjalanan
bersama. Akan tetapi, awas dan ingat, aku hanya seorang sahabat dan kita saling mencinta seperti kakak
beradik.”
Kemudian Siang Ki menarik napas panjang melepaskan kedukaan hatinya. “Sejak detik ini kau sudah
kuanggap seorang gi-moi (adik angkat karena ikatan budi).”
“Baiklah, kau menjadi gi-heng (kakak angkat). Mari kita berangkat, sedapat mungkin kita kejar Enci Goat.”
Tanpa menjawab Siang Ki lalu meloncat bangun dan pergilah dua orang muda itu meninggalkan hutan.....
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah menuliskan pesan pada sapu tangan putih yang ia pasang di batang pohon, Song Goat terus
melarikan diri sambil menangis. Jantungnya serasa ditusuk-tusuk. Teringat ia betapa dengan susah payah
ayahnya membawanya merantau sampai bertahun-tahun, dan betapa hatinya berdebar tegang penuh
perasaan puas dan gembira ketika akhirnya ia melihat pemuda yang dijodohkan dengannya, pemuda yang
tampan dan gagah perkasa. Bahagia terasa di hatinya ketika ia dan ayahnya, dengan jalan menempuh
bahaya maut, berhasil merampas Siang Ki dari tangan orang-orang Thian-liong-pang kemudian bahkan
mengobatinya dan menyelamatkan nyawa calon suaminya itu. Rasa malu dan jengah tertutup oleh sinar
cinta kasih yang mekar di lubuk hatinya ketika ia melihat calon suaminya ini.
Akan tetapi, alangkah besar kedukaan dan kekecewaan hatinya mendengar orang yang sejak kecil
dijodohkan dengan dirinya itu di depannya, dan di depan ayahnya, secara terang-terangan mengaku cinta
kepada, Kwi Lan! Ia merasa dikhianati, merasa dicurangi dan hatinya sakit sekali.
Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw meminangnya, namun semua ditolak ayahnya yang memegang
teguh janjinya dengan mendiang Yu Kang Tianglo, sahabatnya. Dan lebih banyak lagi dia sendiri
menangkap sinar kagum dan mesra penuh kasih dari pandang mata banyak pemuda-pemuda tampan,
namun ia selalu tidak sudi melayani mereka oleh karena hatinya sudah penuh dengan keyakinan dan
kesetiaan bahwa dia adalah jodoh putera Yu Kang Tianglo!
Song Goat berjalan terus tanpa tujuan. Hatinya yang pedih membuat kakinya bergerak menempuh jalanjalan
yang paling sukar. Pandang matanya muram tertutup air mata dan wajahnya agak pucat. Setelah hari
menjadi gelap, barulah ia terpaksa berhenti karena tak mungkin melanjutkan perjalanan yang amat sukar
itu di malam gelap.
Betapa pun nelangsa hatinya, Song Goat sama sekali tidak mempunyai niat untuk bunuh diri. Pendidikan
ayahnya tentang kebatinan sudah mendalam sehingga perbuatan ini merupakan pantangan besar baginya.
Ayahnya sebagai ahli pengobatan berpendirian bahwa manusia harus menjaga diri harus memelihara
tubuh dan mempertahankan nyawa sekuatnya, menentang maut sedapat mungkin karena hal ini
merupakan satu dari pada kewajiban hidup. Bunuh diri merupakan perbuatan yang paling hina dan
pengecut.
Tidak, dia tidak mau membunuh diri, dan melanjutkan perjalanan dalam gelap melalui jurang-jurang
berbatu-batu itu yang sama halnya dengan usaha bunuh diri. Rasa lapar di perutnya menambah
kesengsaraannya, namun sambil menggigit bibir Song Goat menahan lapar lalu mencari tempat di antara
batu-batu besar yang merupakan dinding tinggi di sebelah kirinya untuk tempat berlindung melewatkan
malam.
Tempat di lereng gunung ini amat sunyi. Tiada terdengar sesuatu, tiada terlihat sesuatu yang hidup. Hanya
penuh batu-batu dan goa-goa batu. Mula-mula sebelum datang malam, tidak tampak sesuatu yang
menandakan bahwa di sekitar tempat itu ada manusia lain. Akan tetapi setelah cuaca menjadi gelap, dari
tempat ia mengaso, Song Goat dapat melihat cahaya menyorot ke luar dari goa-goa batu sejauh
sepelepasan anak panah. Cahaya yang menyorot ke luar di antara celah-celah batu itu bergerak-gerak,
tanda bahwa itu adalah cahaya api yang menyala dan bergerak-gerak terhembus angin.
Ia merasa heran dan curiga. Siapakah orangnya menjadi penghuni tempat yang sunyi dan liar ini?
Keinginan tahu yang besar menyelubungi hatinya dan membuat ia bangkit. Perlahan-lahan ia menunduk
dan menyelinap di antara batu-batu besar menghampiri goa itu. Dari celah-celah batu di luar goa yang
diterangi sinar api unggun itu ia mengintai dan... otomatis tangan kiri Song Goat menutup mulutnya untuk
mencegah suara keluar dari mulut itu, matanya terbelalak dan mukanya menjadi merah saking jengah.
Ia tentu akan segera membuang muka dan mundur agar tidak melihat lagi pemandangan yang tidak sopan
itu kalau saja pengertiannya tentang cara pengobatan tidak membuat ia sadar dan maklum bahwa dua
orang di dalam goa itu tengah melakukan latihan untuk penyembuhan luka di dalam yang amat hebat. Dua
orang sedang duduk bersila, saling berhadapan, kedua pasang tangan saling menempel pada telapakan,
mata meram dari kepala mereka tampak uap mengebul ke atas. Yang membuat ia malu dan jengah adalah
keadaan mereka yang telanjang bulat dan mereka itu adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis
cantik!
Song Goat banyak belajar ilmu pengobatan dari ayahnya. Biar pun belum pernah ayahnya melakukan cara
pengobatan seaneh yang dilakukan dua orang di dalam goa, namun gadis itu pernah mendengar tentang
pengobatan dengan cara menyalurkan hawa sakti di dalam tubuh ke tubuh orang lain yang diobati. Ia
bahkan tahu pula cara menyalurkan ini dapat pula ia membantu seorang yang terluka di bagian dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
tubuhnya dengan penyaluran tenaga melalui telapak tangan. Akan tetapi dalam keadaan telanjang bulat
seperti itu! Benar-benar baru kali ini ia melihatnya! Tentu ini merupakan cara pengobatan kaum sesat
pikirnya. Karena ingin tahu, ia melawan perasaan malu dan jengah serta terus memandang keadaan dua
orang muda yang ia anggap tidak tahu akan susila itu.
Setelah pandang matanya mulai terbiasa dengan sinar api unggun yang bergerak-gerak itu, ia mengenal
wanita cantik yang telanjang bulat itu. Kiranya wanita itu adalah gadis berpakaian merah yang memimpin
para hwesio Tibet menyerang Siauw-bin Lo-mo, gadis yang mengaku sebagai murid Siang-mou Sin-ni! Ah,
pantas saja mereka melakukan cara pengobatan macam ini, pikirnya. Tidak salah lagi, pemuda tampan ini
pun tentu seorang anggota kaum sesat.
Berpikir demikian, Song Goat menjadi muak dan hendak menyelinap pergi, akan tetapi ia urungkan niatnya
ketika melihat berkelebatnya bayangan empat orang tinggi besar memasuki goa itu. Ia mengintai dan
melihat bahwa empat orang ini adalah hwesio-hwesio berjubah merah, anak buah Bouw Lek Couwsu!
Hemmm, kiranya tempat ini menjadi tempat berkumpul kaum sesat ini, pikirnya dengan hati berdebar. Kini
tahulah ia bahwa ia tersesat ke sarang harimau, ke tempat musuh dan kalau sampai ia diketahui orang,
tentu akan celaka. Baru murid Siang-mou Sin-ni saja sudah amat hebat dan tinggi tingkat kepandaiannya,
tidak terlawan olehnya. Apa lagi ditambah hwesio-hwesio itu dan pemuda tampan tak tahu malu ini! Dia
harus cepat pergi meninggalkan tempat berbahaya ini, malam ini juga.
Akan tetapi, kembali Song Goat menahan gerakan kakinya yang sudah melangkah hendak pergi dan
matanya terbelalak memandang ke dalam goa. Hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya terjadi.
Empat orang hwesio jubah merah itu mencabut golok dan pedang masing-masing, lalu serempak
menyerang pemuda yang masih duduk bersila tak bergerak sambil meramkan mata! Hampir saja Song
Goat berseru kaget melihat gemerlapnya empat batang senjata tajam itu melayang ke arah si Pemuda.
Juga kini baru tampak oleh Song Goat bahwa tubuh pemuda tampan itu dari leher ke bawah berwarna
kehitaman. Tadi ia tidak sampai hati memandang tubuh telanjang bulat itu, kini dalam sekilas pandang
karena pemuda itu terancam bahaya, baru ia melihatnya dan tahulah ia bahwa pemuda itu telah keracunan
secara hebat sekali. Melihat betapa tubuh wanita itu putih bersih dan kemerahan membayangkan
kesehatan, ia kini tahu bahwa si Wanita itulah yang sedang menyalurkan hawa sakti untuk membantu dan
mengobati si Pemuda. Dan kini pemuda itu diserang hebat dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.
Song Goat melihat betapa wanita cantik murid Siang-mou Sin-ni itu membuka mata, terbelalak, lalu tangan
kanannya yang tadinya menempel pada telapak tangan pemuda itu terlepas, dan secepat kilat tangan itu
mendorong ke depan melalui atas kepala pemuda itu, empat kali berturut-turut mendorong ke arah empat
orang hwesio jubah merah yang tidak memperhatikannya. Dari tangan kanan itu meluncur hawa pukulan
yang jelas tampak bersinar merah ke arah empat orang hwesio jubah merah dan... empat orang hwesio itu
mengeluarkan pekik mengerikan, senjata mereka terlepas dan mereka terjengkang ke belakang dengan
mata terbelalak dan tewas seketika!
Akan tetapi tubuh wanita cantik itu sendiri tergetar hebat, tangan kirinya menggigil kemudian tubuhnya
sendiri terjengkang, telentang, seluruh tubuhnya kini menjadi menghitam napasnya terengah-engah.
Anehnya tubuh si Pemuda yang tadinya menghitam itu kini menjadi putih bersih dari leher sampai ke
pinggang, dan warna kehitaman hanya tampak dari pinggang ke bawah.
“Celaka...!” seru Song Goat dalam hatinya. Melihat wanita cantik itu menolong si Pemuda dan
mengorbankan diri sendiri, timbul rasa simpatinya dan ia dapat menduga bahwa wanita itu kini terluka
hebat sekali, sebaliknya si Pemuda itu sudah terobati sebagian besar dan masih ada harapan tertolong
nyawanya.
Setelah kedua telapak tangannya terlepas dari kedua tangan wanita itu, si Pemuda tubuhnya bergoyanggoyang,
kemudian ia membuka matanya. Melihat wanita itu telentang dengan tubuh menghitam dan di
sekelilingnya rebah empat orang hwesio jubah merah yang sudah tewas semua, pemuda itu meloncat dan
menubruk wanita cantik itu mengangkat kepalanya dan dipangkunya kepala itu.
“Leng In... ah, Leng In...,” pemuda itu berbisik, penuh perasaan terharu dan khawatir.
Po Leng In, wanita itu, membuka mata dan tersenyum, senyum yang membayangkan maut, senyum yang
amat menyedihkan, kedua lengannya bergerak seperti hendak merangkul leher, akan tetapi rebah kembali
dengan lemas, bibirnya bergerak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“...aku puas... dapat mengakhiri hidup dalam keadaan begini... aku bahagia... dapat menolongmu,
kekasihku...“ Po Leng In masih berusaha menggerakkan tubuh, agaknya ingin sekali bicara banyak, akan
tetapi ia menjadi lemas. Tubuhnya tiba-tiba kejang dan kemudian lemas, tak bernyawa lagi.
“Leng In !” Pemuda itu mempererat pelukannya, membenamkan muka pada rambut yang hitam halus itu
menahan sedu sedan yang naik ke tenggorokannya. Melihat ini Song Goat terharu.
Siapa pun pemuda itu, betapa pun ia menjadi sekutu murid Siang-mou Sin-ni, menjadi kekasih wanita
sesat itu dan terang juga seorang sesat, namun melihat pemuda itu berduka dan terharu, ia ikut merasakan
kedukaannya. Ia dapat merasa betapa perih hati ditinggali orang yang dicintanya. Dan ia pun merasa
seolah-olah ia dipaksa berpisah dari orang yang dicintanya, dari calon suaminya. Tak tertahankan lagi, ia
pun terisak, namun ditahan-tahannya.
Tiba-tiba tubuh pemuda yang telanjang bulat itu mencelat keluar dari goa. Terbuktilah kelihaian pemuda itu.
Suaranya menahan isak yang begitu lirih ternyata didengar pemuda itu dan gerakan pemuda itu meloncat
bukan main ringannya, tahu-tahu sudah berada di depannya dengan sikap mengancam dan bengis, siap
hendak menyerang.
Akan tetapi agaknya pemuda itu kaget, heran, ragu dan jengah ketika melihat bahwa yang mengintai
adalah seorang gadis cantik, bukan seorang hwesio jubah merah. Dan wajah yang tampan dan penuh
keheranan dan kedukaan itu tiba-tiba menyeringai menahan sakit tubuhnya terguling dan ia roboh pingsan
di depan kaki Song Goat.
Keinginan pertama yang memenuhi hati Song Goat adalah cepat-cepat pergi meninggalkan tempat yang
mengerikan itu. Akan tetapi watak yang dibentuk ayahnya semenjak kecil, watak yang ingin menolong
orang yang sedang menderita sakit, watak yang ingin melawan segala macam penyakit yang hendak
merenggut nyawa orang siapa pun adanya orang itu, membuat ia menekan perasaannya, memperbesar
nyalinya dan ia segera meloncat ke dalam goa.
Ia membungkuk dan memeriksa nadi serta dada Po Leng In, hanya untuk mendapat keyakinan bahwa
wanita itu tak dapat ditolong lagi, sudah tewas akibat racun yang menerobos melalui telapak tangan
pemuda itu. Hawa beracun itu menerobos memasuki tubuhnya karena wanita ini tadi mengerahkan semua
tenaga untuk merobohkan empat orang hwesio jubah merah.
Dengan sendirinya, tubuhnya menjadi lemah dan kosong, tidak ada daya tahan sehingga penyaluran hawa
sakti dari pemuda itu menerobos dan membawa sebagian besar hawa beracun pindah ke dalam tubuhnya!
Ketika Song Goat melirik ke arah empat orang hwesio jubah merah, tanpa memeriksa lagi ia sudah yakin
bahwa mereka semua tewas dengan mata mendelik, mata terbuka lebar namun sama sekali tidak bergerak
dan tidak ada cahayanya, mata orang-orang mati.
Ia menghela napas panjang. Tidak ada yang dapat ia kerjakan lagi di dalam goa yang menjadi kuburan
lima orang itu, maka ia lalu menyambar tumpukan pakaian warna putih di dekat tumpukan pakaian warna
merah, membawa pakaian itu keluar dan ia membungkuk lalu memeriksa detik nadi dan dada pemuda
tampan itu. Benar seperti diduganya, pemuda ini tertolong dari pinggang ke atas sudah bebas hawa
beracun, akan tetapi di bagian bawah tubuhnya masih menghitam. Kalau tidak cepat mendapat
pertolongan yang tepat, nyawa pemuda ini pun masih terancam bahaya maut.
Sebagai puteri tunggal Yok-san-jin, ia maklum bahwa hawa beracun yang meracuni pemuda ini aneh dan
jahat bukan main. Dan sudah menjadi watak ayahnya apa bila menghadapi penyakit atau racun yang amat
jahat, makin jahat makin tertariklah hatinya, makin besar semangatnya untuk melawan dan mengalahkan
penyakit atau racun itu!
Ia lalu mengenakan pakaian pemuda itu sedapatnya dengan perasaan jengah dan seberapa dapat tanpa
melihat tubuh pemuda itu sehingga cara ia mengenakan pakaian itupun tidak karuan, seolah-olah tubuh
pemuda itu hanya ia bungkus saja dengan pakaian putih itu. Kemudian ia mengempit tubuh pemuda itu,
dikempit bagian pinggangnya dan pergilah Song Goat meninggalkan goa yang mengerikan tadi.
Ia harus cepat ditolong, kalau tidak, menurut taksirannya, dalam waktu kurang dari tiga puluh enam jam
tentu sukar ditolong pula. Dan ia membutuhkan banyak benda, air mendidih, beberapa daun obat. Mulailah
Song Goat merayap dan berjalan perlahan menuruni lereng dari atas, mencari-cari dengan pandang
matanya dan akhirnya ia melihat cahaya penerangan dari sekelompok rumah-rumah, tentu sebuah dusun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dipercepatnya jalannya dan menjelang fajar ia sudah memasuki sebuah dusun yang cukup besar. Ia
mencari-cari kemudian mengetuk pintu sebuah kedai makan di sudut dusun. Tak lama kemudian daun
pintu dibuka dan seorang laki-laki gemuk setengah tua muncul. Dia pemilik kedai dan selalu bangun pagipagi
untuk mempersiapkan kedainya. Kini ia memandang dengan heran melihat seorang gadis cantik jelita
sepagi ini sudah datang berkunjung sambil mengempit tubuh seorang laki-laki yang pingsan.
“...ehh..., Nona siapakah...? Mau apa...? Dan... dia ini...?”
“Paman, aku seorang ahli pengobatan, sahabatku ini sakit keras. Hari ini kusewa kedaimu, atau setidaknya
dapurmu.”
“Tapi... tapi... mana bisa...?”
“Tidak ada tapi, Paman. Demi nyawa orang ini, kau harus menolongku. Hanya sehari kusewa kedai dan
dapurmu. Pula, adakah kedaimu dapat menghasilkan sebanyak ini dalam sehari? Song Goat
mengeluarkan sebuah gelang emas dan melemparkannya ke atas meja. Kau terimalah gelang itu, untuk
sewa kedai sehari.”
Tukang kedai itu dengan bingung dan ragu-ragu memandang Song Goat, kemudian memandang wajah
pemuda yang sakit, lalu melirik ke arah gelang emas di atas meja. Kalamenjingnya naik turun. Sudah amat
lama ia sebagai duda tergila-gila kepada seorang janda muda di dusun itu, akan tetapi belum juga berhasil
memikatnya. Dengan gelang emas seindah itu agaknya... hemm, akan tetapi ia harus hati-hati.
“Orang ini... bagaimana kalau mati di tempatku?”
“Tidak, Paman. Ia akan hidup dan ini tergantung pertolonganmu juga. Lekas kau nyalakan perapian di
dapur dan adakah Paman mempunyai sebuah ember besar yang cukup besar dimasuki orang ini?”
“Haaah?" Si Gendut itu terbelalak, heran akan tetapi mengangguk-angguk dan ia segera memasuki dapur
diikuti Song Goat setelah merapatkan kembali daun pintu depan.
Tanpa banyak cakap lagi Song Goat lalu memilih sebuah tempat masak air yang amat besar, dengan
gantungan kawat yang kuat. Juga ia melihat bahwa tempat perapian cukup besar. Memang kedai itu
adalah kedai makanan. Hatinya puas.
“Paman, harap kau tolong isi panci besar itu dengan air dan persiapkan perapian. Aku hendak mencari
beberapa daun obat di hutan,” kata Song Goat sambil menurunkan dan merebahkan tubuh pemuda itu di
atas sebuah bangku panjang yang terdapat di ruangan belakang.
Pemuda itu mengeluh lalu membuka matanya, menoleh ke kanan kiri. Ia terheran ketika melihat dirinya
rebah di atas bangku dalam sebuah kamar yang tidak begitu bersih. Lebih-lebih lagi keheranannya ketika
ia melihat seorang gadis cantik bersanggul tinggi berdiri di dekatnya, dan dengan gerakan serta tangan
berkulit halus menahan dadanya, mencegahnya untuk bangkit.
“Kau keracunan hebat. Aku berusaha mengobatimu. Kau akan sembuh dan bebas dari bahaya maut kalau
mentaati pesanku. Kalau kau membangkang kau akan mati. Kau rebah saja di sini, jangan turun dan
banyak bergerak. Aku akan pergi mencari daun obat di hutan. Tak perlu bercerita apa-apa dengan Paman
pemilik kedai yang sibuk di dapur.” Sikap Song Goat kasar dan ketus. Makin ketus dan kasar sikapnya
ketika melihat bahwa laki-laki muda ini benar-benar amat tampan dan sepasang matanya mengeluarkan
sinar lembut tapi tajam menembus jantung. Terhadap seorang pemuda sesat sahabat dan kekasih murid
Siang-mou Sin-ni tak perlu ia bersikap halus pikirnya.
Pemuda itu kini sudah membuka mata lebar-lebar dan bibirnya tersenyum ketika dapat mengenal sikap
kasar dan ketus yang dibuat-buat itu. Ia sudah terlampau masak dalam pengalamannya untuk mengenal
sifat wanita-wanita cantik seperti ini!
“Ah, kiranya aku diselamatkan oleh seorang dewi dari kahyangan. Apakah engkau Kwan Im Pouwsat (Dewi
Kasih Sayang), Nona?”
Merah muka Song Goat. Selama hidupnya belum pernah Ia dirayu laki-laki, apa lagi kalau laki-laki itu
setampan dan segagah ini, dengan kata-kata merayu yang halus tapi menyenangkan hati. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
kembali ia teringat bahwa pemuda ini adalah seorang pemuda sesat, maka ia memaksa diri cemberut dan
pandang matanya galak. Bahkan ia tidak menjawab, hanya sibuk mempersiapkan sebuah bungkusan
kuning dari saku dalam bajunya, lalu menuang isi bungkusan yang berwarna merah ke dalam tekoan
(tempat teh) itu. Kemudian juga masih cemberut tanpa bicara, ia menghampiri pemuda itu dan dengan jarijari
tangannya ia memeriksa dan menekan jalan darah di di dekat mata kaki kanan.
Pemuda itu terus mengikuti semua gerakan gadis itu dengan senyum dan mata memandang kagum.
“Nona, kau hebat. Kalau bukan penjelmaan Kwan Im Pouwsat, entah siapa dan entah dewi dari kahyangan
mana...”
“Kau diamlah. Simpan kelakarmu itu untuk orang-orang segolonganmu! Aku Song Goat... hemm, aku puteri
Song Yok-san-jin. Engkau dalam keadaan setengah hidup setengah mati. Kalau kau mau kuobati, kau
diam saja. Aku mau pergi mencari beberapa daun obat.”
Pada saat itu, si Gendut pemilik kedai muncul dari dapur dan Song Goat segera berkata kepadanya,
“Paman, aku pergi sekarang mencari obat. Kau godok obat bubuk ini dengan air setekoan penuh, dan
sisakan setengah mangkok, kemudian suruh diminum sampai habis.”
Setelah berkata demikian, dengan sikap marah tanpa menoleh lagi sedikit pun kepada pemuda itu, Song
Goat berkelebat dan bayangannya lenyap menerobos lubang jendela. Pemilik kedai memandang melongo
sampai lama, tercengang keheranan, juga pandang matanya membayangkan rasa ketakutan. Ketika ia
memandang pemuda yang sakit itu, ia makin heran karena pemuda itu tersenyum lebar, agaknya sama
sekali tidak heran melihat betapa gadis cantik tadi terbang begitu saja keluar jendela seperti seekor burung!
“Kau kenapa, Paman Gedut?” pemuda itu menegurnya sambil tertawa.
“Kau tanya kenapa, orang muda? Tidakkah kau melihat semua keanehan ini? Gadis cantik itu datang di
waktu fajar mengempit tubuhmu, lalu menyewa kedaiku dengan bayaran tinggi, kini ia menghilang begitu
saja melalui jendela. Biar disambar geledek aku kalau hal ini bukan aneh namanya! Mimpikah aku? Atau...
setan... eh, bidadarikah dia? Dan kau, orang muda, kau benar-benar sakitkah?”
Pemuda itu tertawa dan memang amat mengherankan seorang yang katanya sakit terancam maut bisa
tertawa dan bersikap setenang itu. “Paman, dia itu tadi seorang bidadari. Lebih baik aku dan Paman
mentaati semua perintahnya agar mendapat berkahnya!”
Pemilik kedai itu menjulurkan lidahnya, menggeleng-geleng kepala kemudian bergegas memasuki dapur
membawa tekoan berisi obat untuk dimasaknya sesuai dengan perintah si Dewi tadi.
Setelah si Gendut itu pergi, pemuda itu lalu bangkit, duduk bersila dan meramkan mata, mengumpulkan
hawa murni di tubuh untuk menekan racun yang masih mengotori separuh tubuhnya agar jangan menjalar
makin luas. Ia tentu saja pernah mendengar akan nama Song Yok-san-jin si ahli obat, dan sama sekali
tidak pernah menyangka bahwa kakek ahli obat itu mempunyai seorang puteri yang demikian cantik jelita,
lebih-lebih lagi tak pernah menyangka bahwa ia akan tertolong oleh seorang gadis cantik lain yang jauh
bedanya dengan Po Leng In.
Teringat akan Po Leng In, ia menarik napas panjang. Patut dikasihani wanita itu. Memang harus diakui
bahwa Po Leng In bukan wanita baik-baik dan sudah terlalu banyak dosanya. Akan tetapi ia harus berani
mengakui pula bahwa Po Leng In amat baik kepadanya dan ia berhutang budi, bahkan berhutang nyawa
kepada murid Siang-mou Sin-ni itu! Teringat akan itu semua, ia tidak dapat mengosongkan pikirannya
maka cepat-cepat ia menggunakan kekuatan batin untuk mengusir bayangan-bayangan itu.
Setelah kamar belakang ini diterangi sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela, barulah Song
Goat muncul dengan cara seperti tadi, yaitu melompat masuk melalui lubang jendela. Wajahnya yang
cantik itu kemerahan karena sepagi itu sudah bekerja keras dan berlari-lari, tangannya menggenggam
beberapa daun obat dan lehernya berkeringat. Melihat pemuda itu duduk bersila dan bersemedhi dengan
cara yang bersih, ia terheran. Sudah ia ketahui bahwa pemuda itu amat lihai, akan tetapi cara bersiulian
(bersemedhi) seperti itu benar benar di luar dugaannya. Pemuda itu pun membuka mata dan melihat Song
Goat ia lalu berkata.
“Nona, terus terang saja, apakah kau anggap keadaanku masih ada harapan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Song Goat menggerakkan kedua pundaknya, Gerakan yang lucu bagi scorang gadis muda dan cantik
seperti dia, gerakan yang ia tiru dari ayahnya. Lucu akan tetapi manis! “Entahlah, kalau dapat akan kucoba
menyembuhkannya. Sayangnya, aku tidak tahu pasti racun apa yang menyerangmu. Setelah minum obat
bubuk yang kutinggalkan tadi, bagaimana rasanya dalam perutmu?”
“Tidak terasa apa-apa. hanya dingin.”
“Tidak ada rasa gatal-gatal di sekitar pusar?”
“Tidak.”
“Aneh, kalau terkena pukulan beracun biasanya obat bubukku tadi tentu akan menimbulkan rasa gatal.
Hmm, mudah-mudahan saja usahaku menolongmu berhasil.”
“Nona Song, mengapa begini keras benar kau berusaha untuk menolongku?”
Gadis itu memandang, dua pasang mata bertemu pandang dan si Gadis menjadi marah. “Huh, apa lagi
kalau bukan karena kebetulan aku puteri ayahku seorang ahli obat? Sudah menjadi kewajiban kami untuk
berusaha menyembuhkan siapa saja.” Ia berhenti dan cepat menyambung, “Tentu saja kalau si sakit suka
diobati!”
Pemuda itu tersenyum. Gadis ini sebenarnya halus dan baik budi, akan tetapi entah mengapa terhadap dia
berpura-pura galak. “Kalau begitu, biarlah kubantu usahamu dengan keterangan yang mungkin berguna
bagimu. Luka yang meracuni tubuhku adalah luka dalam akibat pukulan Tok-hiat Hoat-lek dari Siang-mou
Sin-ni. Lambungku kena pukul Siang-mou Sin-ni.”
Song Goat tercengang. Hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya. Mengapa pemuda ini yang jelas
adalah sahabat dan kekasih murid Siang-mou Sin-ni, terluka hebat karena pukulan iblis betina itu?
Teringatlah ia kini betapa pemuda ini diserang oleh empat orang hwesio jubah merah, anak buah Bouw
Lek Couwsu!
“Hemmm, mengapa kau dipukul Siang-mou Sin-ni?”
“Mengapa? Karena aku musuhnya.”
“Musuh...?” Song Goat terheran. Ini sama sekali tidak pernah disangkanya. “Engkau musuh Siang-mou
Sin-ni?”
Pemuda itu tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya yang masih duduk bersila. “Nona Song, maaf,
seharusnya engkau mengenal siapa yang kau tolong ini. Aku she Kiang bernama Liong. Aku tadinya
berusaha menolong cucu-cucu Beng-kauw yang tertawan oleh Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni,
akan tetapi aku dicurangi mereka dan terkena pukulan Tok-hiat Hoat-lek.”
“Hemmm...,” Song Goat masih ragu-ragu. “Kalau kau musuh mereka, kenapa kau dan murid iblis betina
itu....”
“Ah, kau maksudkan Po Leng In?” Kiang Liong mengerutkan keningnya. “Dia memang murid Siang-mou
Sin-ni akan tetapi dia telah menolongku, menyelamatkan nyawaku, bahkan... ia telah mengorbankan
nyawanya untukku. Dia seorang gadis yang patut dikasihani. Nona Song, aku berterima kasih sekali atas
kebaikanmu yang berusaha mengobatiku, akan tetapi pukulan Siang-mou Sin-ni hebat sekali, apakah
kiranya masih dapat diobati?”
Agak lega hati Song Goat mendengar keterangan Kiang Liong. Ternyata ia tidak menolong orang jahat
bahkan menolong bekas lawan kaum sesat. Juga kini ia tahu bahwa Po Leng In mencinta pemuda ini dan
mengorbankan nyawa, mengkhianati guru sendiri. Ah, Po Leng In lebih bahagia dari pada aku, pikirnya
duka. Orang sesat macam dia saja mempunyai kekasih yang patut dicinta dan dibela dengan pengorbanan
nyawa!
“Akan kucoba dan agaknya sebagian besar tergantung dari pada sinkang di tubuhmu sendiri. Obat-obatku
ini harus dicampur dengan air panas dan kau harus merendam diri dalam air panas itu, lebih panas lebih
baik kiranya. Akan tetapi, kalau sifat sinkangmu berlawanan, mungkin akan berbahaya. Bolehkah aku
mengetahui siapa gurumu agar aku dapat mengira-ngira tentang hawa sakti di tubuhmu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau bukan engkau yang tanya, Nona, aku segan mengaku. Akan tetapi karena kau penolongku dan
keterangan ini mungkin berguna, ketahuilah bahwa Suhu adalah Kim-siauw-eng...”
“Suling Emas...?” Song Goat memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia memandang pakaian yang
membungkus tubuh Kiang Liong. “Dan kau... jadi kau adalah... Kiang-kongcu yang terkenal itu?”
Kini wajah Kiang Liong yang menjadi merah, “Ah, kau berlebihan, Nona. Nona, ayahmu Song-cianpwe
barulah nama yang terkenal. Aku Kiang Liong hanya seorang yang... pada saat ini menggantungkan nyawa
kepadamu.”
Mau tak mau Song Goat tersenyum. Jantungnya berdebar aneh. Kiranya pemuda yang disangkanya
pemuda sesat, adalah Kiang-kongcu yang menjadi buah bibir dunia persilatan, murid tunggal pendekar
sakti Suling Emas! Bukan hanya dunia persilatan yang membicarakan sepak terjang pemuda perkasa ini,
juga gadis-gadis banyak yang menyebut-nyebut namanya dengan wajah berseri-seri dan senyum dikulum.
“Kalau begitu aku boleh dua kali menarik napas lega.”
Kiang Liong adalah seorang pemuda yang wataknya romantis. Pandai sekali ia bergaul dengan wanita!
Agaknya watak ini ia dapatkan dari ibunya! Kini melihat betapa nona penolongnya sudah tidak kelihatan
galak dan ketus, ia tersenyum dan mendapatkan kembali kelincahannya.
“Wah, penarikan napas lega seorang gadis sehebat engkau tentu ada alasannya yang amat kuat. Bolehkah
aku mengetahui alasannya, Nona Song?”
Kini gadis itu pun tersenyum. Berhadapan dengan Kiang Liong yang pandai bicara dan jenaka, timbul pula
kegembiraannya. “Tentu saja boleh, memang bukan hal yang perlu dirahasiakan. Pertama, dengan
kepandaianmu tentu saja engkau akan dapat mengatasi cara pengobatan ini dan tentu hawa beracun yang
mengeram di tubuhmu dapat diusir dalam waktu singkat. Kedua, aku tidak perlu khawatir lagi karena
ternyata kau bukan seorang pemuda sesat seperti yang tadinya kusangka.”
“Aduh, hal yang pertama itu membuat aku menjadi besar kepala karena kau puji-puji, akan tetapi hal kedua
membuat aku amat tidak enak hati, Nona. Kenapa kau mengira aku seorang sesat?”
Merah wajah Song Goat teringat akan keadaan pemuda ini dan Po Leng In yang berhadapan dalam
keadaan telanjang bulat. “Karena... karena... kau dan wanita murid Siang-mou Sin-ni itu....“
Kiang Liong menepuk kepalanya. “Benar juga! Tentu saja kau akan menganggap begitu. Memang Leng In
yang berusaha menyembuhkan aku secara itu. Dia adalah murid Siang-mou Sin-ni dan aku terluka oleh
pukulan gurunya, maka ia berusaha menyembuhkan aku dengan cara gurunya pula.”
Pada saat itu, si Gendut, pemilik kedai muncul dan seperti lagak seorang prajurit ia berkata, “Perapian dan
air sudah siap!”
Song Goat mengangguk, dan ketika si Gendut itu pergi lagi, ia berkata kepada Kiang Liong. “Kiang-kongcu,
maafkan aku. Cara pengobatan ayahku mengharuskan engkau berendam di air sepanas-panasnya
dicampur daun-daun obat ini. Silakan kau masuk dulu ke dapur membuka... membuka pakaian dan
merendamkan diri di dalam air di atas perapian. Nanti aku menyusulmu setelah kau siap. Suruh saja
Paman Gendut itu memberi kabar kepadaku.”
Setelah Kiang Liong keluar dari kamar itu pergi ke dapur. Song Goat lalu memasukkan daun-daun obat ke
dalam tekoan (cerek teh). Dari situ ia dapat mendengar suara Kiang Liong yang halus dan tenang diseling
seruan heran pemilik kedai. Song Goat tersenyum geli. Tentu saja bagi pemilik kedai yang belum melihat
cara pengobatan seperti ini, apa yang akan mereka lakukan ini amat mengejutkan dan mengherankan.
Akan tetapi ia yakin betul bahwa hanya inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Kiang Liong dari
pada pengaruh hawa beracun yang mengotori darah itu. Menurut ajaran ayahnya, semua pukulan yang
mengandung hawa beracun dan selalu menjadi sumber kelihaian kaum sesat, jika pukulan itu meracuni
darah, maka tentu didasari hawa pukulan yang bersifat dingin. Tok-hiat Hoat-lek, pukulan Siang-mou Sin-ni
yang melukai Kiang Liong ini pun seperti dinyatakan namanya, meracuni darah dan betapa pun hebatnya,
jelas didasari pukulan dingin karena hanya hawa dingin saja yang dapat meracuni darah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar langkah kaki berat dan pemilik kedai sudah muncul pula di pintu, matanya melotot lebar dan
wajahnya merah sekali, “Siocia (Nona), apakah yang akan Nona lakukan? Mau... mau... rebus dia...?”
“Kau diam dan jangan mencampuri urusan kami,” Song Goat menegur kesal. Percuma saja menerangkan
kepada orang yang sama sekali tidak mengerti. “Apakah Kongcu (Tuan Muda) sudah siap?”
“Sudah... sudah..., dan api sudah saya nyalakan.” Si Gendut itu menggerakkan pundak menyatakan rasa
ngerinya. Tanpa banyak cakap lagi Song Goat lalu membawa tekoan memasuki dapur diikuti oleh Si
Gendut yang mengeluarkan suara seperti ayam biang memanggil anaknya dengan bibirnya yang tebal
memberengut.
Kiang Liong sudah duduk bersila di dalam tahang penuh air itu, tergantung di atas perapian yang mulai
menyala apinya. Air dalam tahang hampir penuh, meredam pemuda tubuh pemuda yang duduk bersila itu
sampai atas pinggang. Untuk menjaga agar gadis penolongnya tidak merasa jengah, ia sengaja duduk
membelakangi meja, menghadap ke jendela dapur. Topi pelajar masih menutupi kepalanya, akan tetapi
bagian tubuh lain semua telanjang bulat. Tubuh bagian atas tampak berkulit putih bersih dan berisi otot-otot
kekar.
“Kiang-kongcu, kalau terlalu panas harap katakan agar aku dapat mengecilkan apinya atau memadamkan
sama sekali,” kata gadis itu sambil mengisi tekoan dengan air dan menaruhnya pula di atas api.
Kiang Liong hanya mengangguk dan berkata lirih, “Sama sekali tidak panas, boleh kau besarkan apinya.”
Dengan tongkat pengorek api, Song Goat membuka-buka arang dan kayu di perapian dan makin besarlah
nyala api. Tak lama kemudian tekoan yang isinya daun obat dan sedikit air itu mendidih, maka
dituangkanlah isi tekoan ke dalam tahang air. Api makin membesar dan hawa di dapur mulai panas, air di
dalam tahang pun makin lama makin mendekati mendidih.
Makin lama sepasang mata tukang kedai makin melebar pula, kemudian ia tak dapat menahan
perasaannya lagi dan berseru, “Nona, sungguh mati! Kalau Nona hendak merebus daging manusia, saya
tidak mau ikut campur! Saya bukan tukang masak orang, bukan pembunuh!” Ia hampir berteriak-teriak
saking tegang dan ngerinya.
Air di tahang sudah mulai mendidih, uap mengepul dari seluruh tubuh Kiang Liong. Dengan hati penuh
ketegangan dan kegirangan Song Goat melihat betapa air di tahang itu sudah mulai berubah warnanya,
tidak sebening tadi. Maka ia menjadi gemas sekali melihat sikap si Gendut itu dan mendengar teriakannya.
“Diam dan keluarlah dari dapur ini! Kalau tidak, kau pun akan kurebus hidup-hidup!”
Muka Si Gendut menjadi pucat, matanya terbelalak dan bagaikan seekor anjing digebuk ia lalu berlari ke
luar dari dapur itu, kedua tangan memegangi kepalanya!
Song Goat tersenyum geli, lalu berkata halus dari belakang punggung Kiang Liong, “Kiang-kongcu,
agaknya berhasil usaha kita....”
Kian Liong mengangguk, “Syukurlah, dan makin besar terima kasihku kepadamu, Nona Song”
“Tak perlu berterima kasih kepadaku, Kongcu. Lebih tepat kau berterima kasih kepada gurumu yang telah
menurunkan ilmu yang hebat kepadamu sehingga sinkang-mu begini kuat menahan panasnya air
mendidih. Apakah tidak terlalu panas?”
“Tidak, boleh kau tambah apinya agar lebih panas. Bukankah kau bilang tadi lebih panas lebih baik?”
“Betul, makin panas makin cepat hawa beracun dibersihkan.”
“Kalau begitu, lekas besarkan apinya, Nona. Tidak enak terlalu lama begini, dianggap babi rebus oleh
tukang kedai!”
Song Goat tersenyum dan dari belakang ia memandang kagum. Bukan main! Dia sendiri biar pun akan
dapat bertahan dalam air mendidih, namun harus ia kerahkan seluruh lweekang-nya, menggunakan hawa
sinkang di tubuh melawan panas dan untuk ini tentu saja ia tidak sanggup untuk bicara. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
pemuda ini tidak hanya menyuruh besarkan api, malah masih dapat enak-enak bicara dan berkelakar!
Pemuda hebat!
Sementara itu, pemilik kedai yang gendut dan merasa amat gelisah itu tak dapat menahan hatinya lagi dan
bahkan tidak berani berada di dalam kedainya. Ia keluar dan sebentar saja banyak kenalan dan
langganannya datang bertanya. Saking tak dapat menahan kegelisahannya, ia menceritakan kejadian aneh
di dalam dapur kedainya dan ramailah mereka bercakap-cakap dan berbisik-bisik di luar kedai. Ibu-ibu
yang mendengar bahwa ada orang merebus daging manusia, menjadi pucat dan berlarilah mereka
ketakutan mencari anak-anak masing-masing, melarang mereka bermain di luar rumah dan
menyembunyikan mereka ke dalam kamar. Setan pemakan daging manusia tentu lebih suka akan anakanak
yang dagingnya masih lunak!
“Tentu dia perempuan siluman rase!” bisik seorang kakek sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh
keyakinan.
“Tapi... Kongcu itu menurut saja direbus,” kata si Gendut pemilik kedai.
“Uuuhh, kau tahu apa? Siluman rase tentu saja pandai ilmu hitam. Sekali senyum dan sekali kerling, lakilaki
akan terpikat dan disuruh apa pun juga takkan membantah,” kata pula si Kakek yang tahu segala.
“Memang dia cantik sekali, cantik jelita dan muda dan... galak.”
“Wah, tak salah lagi. Tentu siluman rase, pandai memikat hati pria, suka makan daging manusia. Ihhh...!”
kata si Kakek.
“Ihhh...!” kata yang lain.
“Celaka, dia harus dibinasakan. Mari kita serbu, jangan sampai dia lolos dan merebus anak-anak kita!” seru
seorang laki-laki tinggi besar yang ingat akan dua orang anaknya yang gemuk-gemuk.
“Betul, hayo serbu!”
“Cari senjata!”
“Panggil Lo-suhu di kelenteng, minta jimat!”
Ramailah kini para penduduk dusun itu dan sebentar saja mereka semua, termasuk seorang hwesio tua
kurus berpakaian butut, berdiri di depan kedai dengan segala macam senjata di tangan. Ada yang
membawa golok penyembelih babi, ada yang membawa palang pintu, cangkul, linggis dan sebagainya.
Bahkan beberapa orang wanita yang cukup pemberani, karena mendengar bahwa setan itu setan betina,
ikut pula datang membawa pisau dapur atau besi pengorek api!
Mereka bersemangat untuk menangkap siluman, akan tetapi juga ngeri dan takut karena mendengar
penuturan tukang kedai betapa siluman rase itu pandai terbang menghilang! Dipimpin oleh tukang kedai
yang diikuti kakek yang mengenal siluman dan hwesio yang dianggap suci serta ditakuti siluman,
rombongan penduduk dusun ini memasuki kedai berindap-indap dan tak berani mengeluarkan suara.
Bahkan yang nyalinya kecil dan memilih tempat di ujung belakang hampir tak berani bernapas.
Di luar pintu dapur, hwesio tua sudah mulai kemak-kemik membaca mantera dan doa pengusir setan.
Mendengar suara ini semua orang meremang bulu tengkuknya, termasuk si Kakek yang mengenal
siluman. Kakek ini melirik ke belakang dan melihat betapa semua mata ditujukan kepadanya, ia menahan
napas dan menerobos maju ke pintu sambil membentak.
“Siluman jahat! Kami sudah mengenalmu, kau siluman rase, hayo menyerah kalau tak ingin kami bunuh!”
Akan tetapi sambil maju ia menarik lengan si Hwesio karena kakek ini mempunyai keyakinan bahwa
selama ia berdampingan dengan pendeta suci, siluman itu tidak akan mampu mengganggunya. Mereka
kini masuk ke dalam dapur dan... semua mata melongo karena di dalam dapur itu tidak tampak seorang
pun manusia!
“Eh, mana dia...?” tanya suara meragu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Tukang Kedai melihat bahaya dalam suara ini, bahaya bahwa semua orang nanti akan mengira dia
membohong. Maka ia lalu lari ke jendela, memandang ke luar, kemudian kembali menghampiri tahang isi
air yang masih mendidih!
“Lihat...!” Suaranya gemetar, telunjuknya menggigil menuding ke arah air di dalam tahang. “Lihat air ini...!”
Semua orang memandang. Air itu kehitaman dan mendidih, akan tetapi tidak ada daging manusia seperti
yang tadi diceritakan si Gendut tukang kedai. Betapa pun juga, bukti bahwa benar ada tahang air direbus
dengan airnya menghitam, membuat mereka masih percaya bahwa di dalam dapur ini tadi ada siluman
rase.
“Tentu ia menghilang, membawa korbannya yang sudah matang untuk dimakan dalam goa,” kata si
Tukang Kedai.
“Omitohud...! Memang ada hawa busuk ditinggalkan di kamar ini..., pinceng harus membuat
sembahyangan malam ini, harap saudara sekalian sudi mengumpulkan perbekalan dan keperluan
sembahyang...,“ kata si Hwesio.
Terdengar semua orang mengeluarkan keluhan perlahan karena ucapan hwesio ini berarti bahwa mereka
harus mengeluarkan sebagian milik mereka yang tidak banyak, menambah beban hidup mereka yang
sudah berat. Akan tetapi mereka tidak berani membantah pada saat itu karena ketika mereka menciumcium
dengan hidung, memang tercium bau yang tidak enak, tanda bahwa ucapan hwesio itu benar. Dan
keluarlah mereka perlahan-lahan, termasuk dia yang cepat-cepat menyelinap pergi agar tidak ketahuan
rahasianya bahwa saking takutnya, ia sampai menjadi mulas secara mendadak dan tak tertahankan lagi
mencret di dalam celana. Dialah pencipta bau siluman!
********************
Siang-mou Sin-ni berhasil melarikan diri ketika orang-orang Beng-kauw menyerbu markas Bouw Lek
Couwsu di Kao-likung-san. Wanita ini memang licik dan cerdik. Dengan meminjam tangan Bouw Lek
Couwsu dan orang Hsi-hsia, ia berhasil membinasakan ketua Beng-kauw dan juga Kam Bu Sin bersama
isterinya dan banyak tokoh Beng-kauw lainnya. Kemudian, melihat keadaan bahaya, mana ia mau bersetia
kawan kepada Bouw Lek Couwsu si hwesio tua itu? Apa lagi ia ingin sekali membawa lari Han Ki untuk
menyempurnakan ilmunya yang baru, menyedot hawa murni dan darah bocah ini. Maka tanpa
mempedulikan nasib sahabatnya itu, ia mendahului lari sambil memondong tubuh Han Ki, melarikan diri
melalui belakang gunung.
Sebagai seorang yang berpengalaman, ia maklum bahwa Kauw Bian Cinjin dan orang-orang Beng-kauw
lainnya tentu akan mencarinya dalam usaha mereka merampas kembali Han Ki, cucu ketua Beng-kauw.
Maka ia tidak mau berhenti dan terus melakukan perjalanan melalui Sungai Yang-ce-kiang dan sampai di
kaki Gunung Ta-liang-san ia mendarat, lalu membawa anak itu ke Puncak Ta-liang-san di mana ia
membuat pondok bambu dalam sebuah hutan penuh bunga. Tempat ini sunyi dan indah, membuat ia
merasa aman. Tak mungkin ada orang Beng-kauw yang akan menduga bahwa dia bersembunyi di Puncak
Ta-liang-san. Kalau ia sudah menyempurnakan ilmu Hun-beng-to-hoat dengan mengorbankan nyawa Han
Ki baru ia akan turun gunung dan hendak ia lihat siapa orangnya yang akan mampu melawannya lagi!
Han Ki biar pun masih kecil maklum akan bahaya maut yang mengancam dirinya. Akan tetapi anak ini tidak
pernah menangis dan selalu membangkang tidak sudi menurut perintah Siang-mou Sin-ni. Disuruh makan
ia tidak mau, diajak bicara ia memaki-maki dan setiap kali ia dibebaskan dari totokan, ia lalu mengamuk
dan berusaha melawan mati-matian!
Siang-mou Sin-ni adalah seorang yang semenjak muda berkecimpung dalam dunia persilatan.
Menyaksikan sikap anak kecil ini, ia merasa amat kagum di dalam hatinya. Kagum akan ketabahan yang
luar biasa, akan kekerasan hati dan akan daya tahan anak ini. Akan tetapi di samping rasa kagumnya, ia
pun merasa jengkel.
“Kau makanlah, apa kau ingin mati kelaparan?” bentaknya sambil menyodorkan makanan yang sudah ia
campur obat karena selama beberapa pekan dalam perjalanan, tubuh anak ini menjadi agak kurus.
“Tidak sudi! Kau makanlah sendiri, iblis betina tak tahu malu!” Han Ki menjawab sambil memandang
dengan mata melotot.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah begitu, mau tak mau terpaksa Siang-mou Sin-ni memaksa anak itu menelan makanan dengan
menotok leher, membuat Han Ki kehilangan tenaga sehingga mudah saja mulutnya dibuka dan makanan
dijejalkan masuk melalui kerongkongannya. Anak ini hanya bisa memandang penuh kemarahan.
Pagi hari itu Siang-mou Sin-ni tampak gembira di dalam pondok. Han Ki rebah miring di atas dipan. Sinar
matahari pagi menyorot masuk melalui jendela pondok yang terbuka lebar. Pagi yang cerah, akan tetapi
bukan ini yang membuat wajah Siang-mou Sin-ni berseri. Ia gembira melihat Han Ki sekarang tampak
sehat dan segar dan pagi ini ia mengambil keputusan untuk memulai dengan I-kin-hoan-jwe, menyedot
darah dan sumsum Han Ki untuk penyempurnaan ilmunya yang mukjijat, yaitu ilmu Hun-beng-to-hoat!
Sambil bersenandung kecil seperti seorang dara remaja yang bahagia, iblis betina ini mempersiapkan
jarumnya yang panjang, kemudian dengan sinar mata penuh nafsu binatang, ia mulai menanggalkan
pakaian Han Ki. Tubuh anak ini sungguh mengagumkan, kulitnya putih bersih dan di bawah kulit, penuh
daging yang gempal dan padat. Warna kemerahan membuktikan akan kesehatan yang amat baik sehingga
Siang-mou Sin-ni menjadi ngilar dibuatnya. Biar pun matanya melotot penuh perlawanan, namun Han Ki
yang ditotok itu tidak mampu bergerak, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Ada juga rasa takut dan
ngeri menyerang hati anak ini, namun sungguh luar biasa, anak ini dapat mengatasinya dan sama sekali
tidak tampak sinar takut di wajahnya!
Han Ki rebah telentang. Matanya bersinar-sinar penuh api menatap wajah wanita itu. Kembali Siang-mou
Sin-ni menjadi amat kagum. Anak ini memang hebat bukan main, memiliki ketabahan yang luar biasa.
Teringatlah ia akan ayah anak ini, Kam Bu Sin, yang juga amat tabah dan betapa pun dahulu ia pernah
menyiksanya.
Kam Bu Sin sama sekali tidak pernah mau menyerah tidak mau menurutkan keinginannya. Bahkan ia
dahulu menggantungkan tubuh Kam Bu Sin di dahan pohon, membiarkan tubuhnya dikeroyok dan digigiti
semut, namun tetap saja laki-laki gagah ini tidak mau menyerah sehingga akhirnya ia terpaksa
menggunakan obat bius dan perangsang yang merampas ingatan Kam Bu Sin. Dan sekarang, anak ini
memperlihatkan ketabahan dan sikap pantang menyerah yang hebatnya melebihi ayahnya!
Teringat akan ayah anak ini, makin menggelora nafsu iblis di tubuh Siang-mou Sin-ni. Pandang matanya
yang penuh nafsu itu menjadi haus dan perlahan ia membalikkan tubuh Han Ki menelungkup di atas dipan.
Jari-jari tangan kirinya yang panjang-panjang meraba punggung di bawah tengkuk, kemudian tangan
kanannya menusukkan jarum panjang ke dalam punggung Han Ki.
Han Ki yang tak dapat bergerak itu dapat merasa nyeri dan perih di punggungnya, namun ketika ia
mengerahkan tenaga untuk melawan, tenaganya tak dapat disalurkan. Anak ini lalu meramkan mata dan
mengumpulkan semua semangat, berusaha mengerahkan tenaga yang berkumpul di dalam pusarnya. Ia
merasa betapa di dalam pusarnya terjadi pertentangan antara panas dan dingin yang amat hebat, demikian
hebatnya rasa nyeri dalam pusar, kadang-kadang seperti terbakar dan kadang-kadang seperti membeku
sehingga ia tidak merasakan lagi tusukan pada punggungnya.
Siang-mou Sin-ni sudah duduk bersila di dekat Han Ki. Jarum sudah ia tusukkan sampai menembus tulang
punggung. Wajahnya berkilat saking girang dan dikuasai nafsu. Ia lalu menahan napas dan menekan
gelora nafsunya, menenteramkan hati dan mengendorkan semua tenaga.
Dalam melakukan I-kin-hoan-jwe ini ia harus ‘mengosongkan’ diri dan karena inilah maka ia sengaja
menjejalkan obat yang sifatnya panas yang sesuai dengan keadaan dirinya sewaktu kosong sehingga tidak
ada bahaya terhadap tubuh bagian dalamnya yang kosong dan tidak terlindung hawa sakti. Darah dan
sum-sum yang akan disedotnya itulah yang akan menjadi ‘bahan bakar’ bagi penyempurnaan ilmunya Hunbeng-
to-hoat yang sedang dilatihnya, dan kalau ia berhasil, ia akan mampu melawan orang sakti mana pun
juga di dunia ini!
Setelah keadaan dirinya sudah kosong benar, Siang-mou Sin-ni lalu menundukkan tubuhnya ke depan,
mulutnya menggigit ujung jarum yang menancap di punggung Han Ki lalu menghisap!
Hawa di dalam pusar Han Ki bergulung-gulung antara hawa panas dan dingin. Hawa panas luar biasa
adalah akibat obat-obat Siang-mou Sin-ni yang di jejalkan kepadanya, sedangkan hawa dingin adalah
akibat obat minuman Bouw Lek Couwsu yang diminumnya di dalam kamar Bouw Lek Couwsu. Sejak kecil
anak ini memang sudah digembleng ayah bundanya dan telah memiliki dasar penggunaan hawa sakti di
dalam tubuh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun ia belum dapat memelihara dan menghimpun hawa sakti, namun ia tahu bagaimana cara
menghimpunnya. Kini merasa betapa pusarnya bergerak-gerak dan di dalamnya bergulung-gulung hawa
yang amat kuat, anak ini tidak mempedulikan lagi punggungnya dan tidak mempedulikan apa yang akan
terjadi kepadanya, melainkan mencurahkan seluruh perhatiannya ke pusar dan berusaha mengerahkan
tenaga untuk menguasai hawa yang bergulung-gulung itu.
Bagaikan seorang penghisap madat, Siang-mou Sin-ni menghisap jarum panjang itu. Terasa segar dan
manis darah yang memasuki mulutnya. Ia menyedot makin kuat dan... jeritan ngeri keluar dari dadanya,
wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak. Ia begitu kaget sehingga tanpa disadari lagi ia sudah
menarik mukanya ke belakang sehingga jarum yang digigit pada ujungnya itu ikut terarik, keluar dari
punggung Han Ki.
Anak itu sendiri tiba-tiba dapat bergerak meloncat bangun, mukanya merah seperti dibakar, akan tetapi
tubuh bagian bawah menggigil kedinginan. Seperti seorang yang mabok Han Ki memandang ke depan,
melihat betapa Siang-mou Sin-ni duduk bersila dengan mata meram, muka pucat, tubuh bergoyanggoyang
dan napas terengah-engah. Ketika melihat jarum panjang menggeletak di atas dipan, depan kaki
Siang-mou Sin-ni yang bersila. Han Ki menjadi kalap. Ia menyambar jarum panjang itu lalu dengan gerakan
penuh kebencian ia menusukkan jarum itu ke dada Siang-mou Sin-ni.
“Blessss...!” Jarum panjang itu amblas menembus dada langsung menusuk dan menembus jantung!
Siang-mou Sin-ni terbelalak kaget mengeluarkan jerit melengking tinggi, tangan kirinya bergerak
menghantam ke arah dada Han Ki.
“Krakk...!” Tubuh anak itu terpental jauh, terbanting dalam keadaan pingsan dan beberapa tulang iganya
patah-patah!
Namun Siang-mou Sin-ni sekarang sudah berkelojotan. Betapa pun sakti dan kuatnya, namun jarum
panjang yang menembus jantungnya itu membuat ia tidak dapat menahan lagi. Dari lehernya keluar jeritanjeritan
melengking mengerikan, ia terguling dari atas dipan, berkelejotan, menjambak-jambak rambutnya,
kemudian menggeliat-geliat dan akhirnya dia tak bergerak lagi. Siang-mou Sin-ni yang dahulu terkenal
sebagai seorang di entara Enam Iblis, tewas di tangan seorang anak kecil berusia sebelas tahun!
Apakah yang telah terjadi? Ternyata ketika Siang-mou Sin-ni melakukan penyedotan, bukan hanya darah
dan sumsum yang disedotnya, melainkan juga hawa yang bergelombang di tubuh anak itu. Dan hawa itu
bukan hanya hawa panas yang amat dibutuhkan Siang-mou Sin-ni, melainkan bercampur dengan hawa
dingin yang amat kuat. Hal ini sama sekali tidak diduga oleh Siang-mou Sin-ni yang sedang dimabok nafsu
sehingga ia yang sedang dalam keadaan kosong, itu sekaligus terpukul hebat oleh hawa dingin yang
menyerang dalam tubuhnya.
Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, reaksi pertama dari tubuhnya tentu saja serentak bangkit dengan
pengerahan sinkang dan menolak atau melawan hawa dingin ini. Dan inilah kekeliruannya yang dilakukan
dalam keadaan tak sadar. Kalau ia tidak melawan ia hanya akan luka ringan oleh hawa dingin ini yang biar
pun kuat, namun tidak ada pendorongnya, mengingat Han Ki belum pandai menggunakan hawa ini dan
dalam keadaan tertotok pula.
Akan tetapi begitu ia melawan, ia yang tadi dalam keadaan kosong terpukul oleh pengerahan tenaganya
sendiri membuat ia pening dan hampir pingsan. Bukan itu saja akibatnya, bahkan pengerahan hawa
saktinya itu melalui jarum menjalar kedalam tubuh Han Ki dan seakan-akan merupakan bantuan yang tak
disangka-sangka oleh anak ini. Han Ki sedang berusaha mengerahkan tenaga untuk menguasai
peperangan hawa di dalam pusar. Kini tiba-tiba hawa panas memasuki tubuhnya dan tenaga ini amat kuat
sehingga mendadak menerobos jalan darahnya, melenyapkan pengaruh totokan dan membuatnya dapat
bergerak lagi.
Akan tetapi, pengaruh dua hawa yang berlainan tadi masih membuat ia pening dan seperti mabok. Betapa
pun juga, karena dia masih kanak-kanak dan berdarah bersih, ia lebih dulu sadar dari pada Siang-mou Sinni
dan anak kecil ini berhasil membunuh musuh besarnya dengan jarum si Iblis Betina itu sendiri! Namun
karena Siang-mou Sin-ni lihai luar biasa, biar pun jantungnya sudah tertembus jarum, pukulan jari-jari
tangannya masih mampu mematahkan beberapa tulang iga anak itu.
Sunyi di dalam pondok itu. Hawa pagi yang sejuk menerobos masuk diantar angin yang menggerakkan
ujung atap daun di atas jendela yang terbuka. Suara burung berkicau di antara dahan-dahan pohon yang
dunia-kangouw.blogspot.com
tadinya riang gembira, kini seolah-olah menjadi tangis duka, agaknya menangisi kelakuan manusia yang
saling menyakiti dan saling membunuh tanpa sebab yang penting. Sinar matahari pagi yang tadinya
menerobos masuk melalui jendela menjadi agak suram mengurangi seri wajah bumi yang tadinya cerah.
Akan tetapi, lengking maut yang tadi keluar dari kerongkongan Siang-mou Sin-ni dalam kemarahan,
kesakitan dan pergulatan melawan maut, agaknya bukan tidak ada yang mendengar sama sekali. Kecuali
burung-burung dan binatang-binatang hutan yang mendengarnya, juga terdengar oleh seorang kakek tua
renta yang berjalan perlahan di dalam hutan. Kini kakek tua renta yang berpakaian serba putih bersih dan
sederhana, berjenggot dan berambut panjang juga sudah putih semua dan halus seperti sutera, masih
kelihatan berjalan, melangkah seenaknya. Akan tetapi yang hebat, biar pun ia kelihatan melangkah biasa,
tubuhnya berkelebat laksana burung terbang saja dalam waktu singkat telah memasuki pondok yang sunyi
itu.
Sejenak kakek itu berdiri memandang mayat Siang-mou Sin-ni dan tubuh Han Ki yang keduanya
menggeletak tak bergerak. Kemudian kakek ini menarik napas panjang, berdongak dan mengelus jenggot
putihnya sambil berbisik halus.
“Aahhhhh... yang pintar mau pun yang bodoh, yang kaya atau yang miskin, yang menang mau pun yang
kalah, akan berakhir dalam keadaan yang sama. Mati! Kehidupan apakah yang takkan disusul kematian?
Semua orang tahu akan saat terakhir baginya yang pasti datang menjemputnya, akan tetapi... mengapa
selagi hidup banyak tingkah, tidak mengisi dengan hal yang berguna, baik, bagi orang lain mau pun bagi
diri sendiri? Manusia...!” Kakek tua renta itu maju, membungkuk dan mengangkat tubuh Han Ki,
memeriksanya sebentar lalu memondongnya keluar dari pondok. Ia masih melangkah biasa, namun kini
lebih cepat lagi dari pada tadi, pergi menghilang ke dalam rimba. Dilihat dari belakang, tampak sebuah alat
musik yang-khim butut tergantung di punggungnya.
Kakek ini bukanlah manusia biasa. Jarang sekali ada manusia dapat bertemu dengan kakek ini. Dia bukan
lain adalah Bu Kek Siansu! Kakek sakti dan dianggap manusia dewa oleh dunia persilatan, yang saking
tuanya tidak ada lagi yang dapat menaksir berapa usianya. Kalau Tuhan menghendaki, maka pagi hari itu
Han Ki dapat tertolong oleh kakek sakti ini, seperti ayahnya pada belasan tahun yang lalu juga ditolong Bu
Kek Siansu. Hanya bedanya, kalau mendiang Kam Bu Sin hanya menerima sedikit petunjuk dari kakek ini
yang membuat dia menjadi seorang pendekar, adalah Kam Han Ki dibawa terus oleh Bu Kek Siansu dan
sampai belasan tahun tidak seorang pun manusia tahu ke mana anak ini dibawa pergi. Maka dalam cerita
ini, kita tidak akan berjumpa kembali dengan Kam Han Ki yang kelak akan muncul di dalam cerita lain.
Beberapa pekan kemudian, mayat Siang-mou Sin-ni ditemukan beberapa orang tukang kayu yang
kebetulan sampai di puncak Tai-liang-san. Mereka itu segera mengubur mayat yang tinggal tulang-tulang
itu. Dan sejak saat itu, Siang-mou Sin-ni lenyap dari dunia persilatan tanpa ada yang mengetahui ke mana
perginya dan di mana tempat kuburnya.....
********************
Kota Lok-yang adalah sebuah kota yang besar dan ramai, terletak di sebelah barat kota raja Kerajaan
Sung. Selain menjadi kota indah yang banyak dikunjungi pelancong dan pelajar dari daerah-daerah yang
ingin memperdalam ilmu kesusasteraan di kota ini, juga Lokyang ramai dikunjungi pedagang. Bahkan di
kota ini banyak terdapat pengunjung dari utara, yaitu bangsa-bangsa Khitan, Mongol, dan lain-lain yang
datang untuk berdagang kulit dan bulu dan berbelanja kebutuhan-kebutuhan hidup yang tak dapat mereka
temukan di utara. Ada pula yang datang untuk sekedar mengunjungi kota besar ini yang namanya sudah
terkenal sampai ke pedalaman di utara. Tentu saja bangsa Khitan yang paling banyak datang berkunjung,
karena memang pada waktu itu, Kerajaan Sung bersahabat dengan Kerajaan Khitan.
Akan tetapi pada pagi hari itu, penduduk kota Lok-yang dibikin kagum oleh sepasang orang muda yang
berpakaian serba indah gemerlapan, menunggang dua ekor kuda yang besar dan diberi pakaian indah
pula, dikawal oleh dua losin tentara Khitan. Si Pemuda berusia sembilan belas tahun, amat tampan dan
gagah, alisnya tebal hitam, pandang matanya tajam berkilat, senyumnya manis akan tetapi penuh wibawa,
pakaiannya seperti seorang panglima muda dengan pedang panjang berukir indah tergantung di pinggang.
Topinya dihias naga emas berkliauan dan anehnya, di pinggang pemuda ini terselip sebatang suling!
Ada pun dara remaja yang menunggang kuda di sebelahnya amatlah menarik perhatian orang saking
cantik jelitanya. Wajahnya khas orang Khitan, dengan sepasang mata lebar, senyum terbuka dan antingantingnya
besar, manis bukan main. Pinggangnya ramping, tubuhnya padat berisi dan dari cara ia
dunia-kangouw.blogspot.com
menunggang kuda, jelas tampak bahwa gadis ini pun bukan orang sembarangan serta memiliki
ketangkasan yang mengagumkan.
Semua orang yang melihat sepasang orang muda ini bertanya-tanya dan menduga bahwa dua orang muda
itu tentulah bangsawan-bangsawan tinggi di Kerajaan Khitan. Dugaan mereka itu memang tidak keliru,
akan tetapi jarang di antara mereka dapat mengenal bahwa si Pemuda itu bukan lain adalah Putera
Mahkota Kerajaan Khitan, yaitu Pangeran Talibu. Ada pun dara remaja berusia tujuh belas tahun yang
amat cantik jelita itu adalah Puteri Mimi. Puteri dari Panglima Kayabu yang sudah dikenal sebagai adik
kandung Sang Pangeran oleh seluruh rakyat Khitan.
Semua orang Khitan tahu bahwa Putera Mahkota itu sesungguhnya adalah putera kandung Panglima
Kayabu, atau kakak kandung Sang Puteri itu, yang semenjak berusia lima tahun diangkat putera oleh Sang
Ratu. Akan tetapi semenjak beberapa pekan yang lalu Pangeran Talibu sendiri tidak mempunyai anggapan
demikian. Ia telah mengetahui rahasia dirinya dan dengan hati girang kini ia memandang wajah Puteri Mimi
yang cantik jelita, dengan pandang mata yang lain dari pada biasanya. Sikapnya lebih mesra dan sungguh
pun hal ini amat mengherankan hati Mimi, namun puteri itu pun menjadi gembira karena sesungguhnya ia
amat mencinta kakak kandungnya yang menjadi pangeran mahkota ini.
Talibu meninggalkan Khitan beberapa hari setelah Suling Emas pergi. Keinginannya untuk pergi ke selatan
untuk mencari adik kembarnya tak dapat ditahan lagi oleh Ratu Yalina. Akhirnya berangkatlah pangeran ini
bersama Mimi yang berkeras hendak ikut, dikawal oleh dua losin tentara pengawal pilihan. Ratu Yalina
membolehkan puteranya pergi karena selain ia tahu akan kelihaian puteranya yang tentu dapat menjaga
diri, juga karena kerajaannya bersahabat dengan Kerajaan Sung sehingga kiranya tidak ada bahaya
mengancam keselamatan puteranya. Selain dikawal oleh dua losin pengawal pilihan, Mimi sendiri juga
seorang puteri yang memiliki kepandaian tinggi. Biar pun perjalanan Pangeran itu tidak resmi, akan tetapi
di sepanjang jalan, mereka dielu-elukan oleh penduduk dan pembesar setempat yang mengenal mereka.
Pagi hari itu rombongan Pangeran Talibu tiba di kota Lok-yang. Pangeran itu bersama Puteri Mimi
menahan kuda di depan sebuah losmen yang sudah dipesan lebih dulu oleh kusir pasukan pengawal.
Beberapa orang pengawal membantu dua orang muda bangsawan itu menahan kuda mereka yang besarbesar.
Dengan wajah gembira Talibu melompat turun. Matanya yang berpemandangan tajam itu melihat
empat orang laki-laki berpakaian pengemis yang berteduh di bawah sebuah rumah butut di pinggir losmen.
Seperti juga terdapat di lain-lain kota, di Lok-yang terdapat banyak rumah-rumah kecil butut di samping
rumah-rumah besar dan megah, seperti rumah kecil dan buruk ini di sebelah kanan losmen yang besar.
Talibu maklum bahwa empat orang pengemis itu bicara tentang dia. Mata mereka semua ditujukan
kepadanya, bahkan seorang di antara mereka yang berjenggot menudingkan telunjuknya secara terangterangan
kepadanya.
Talibu tersenyum ramah kepada mereka. Biar pun ia seorang Pangeran Khitan, namun ia banyak tahu
akan kehidupan kang-ouw di selatan ini. Ibunya banyak bercerita tentang orang-orang kang-ouw yang
aneh-aneh di selatan yang akan ia temui di antara rombongan pengemis kotor, pendeta dan pelajar.
Melihat gerak-gerik empat orang pengemis itu, Talibu dapat menduga bahwa mereka bukanlah pengemispengemis
biasa. Akan tetapi ia heran melihat betapa pandang mata mereka itu mengeluarkan sinar
kebencian atau kemarahan. Ketika senyumnya tidak dibalas, ia lalu tak mengacuhkan mereka, apa lagi
pada saat itu Mimi sudah melompat turun pula dari atas kuda. Sambil bercakap-cakap dan tersenyumsenyum
kedua orang muda bangsawan ini memasuki losmen, disambut oleh pemilik losmen dan anak
buahnya.
Ketika mendengar akan kunjungan Putera Mahkota Khitan, pembesar di Lok-yang menjadi kaget dan sibuk
sekali, serta-merta mengirim undangan makan malam. Akan tetapi Talibu menolak dengan halus, mengirim
pesan bahwa dia dan Puterl Mimi melakukan kunjungan tidak resmi, hanya ingin melancong dan
karenanya minta supaya diperlakukan sebagai pelancong biasa, bukan sebagai tamu. Biar pun merasa
tidak enak hati dan takut kalau-kalau terdengar oleh Kaisar dan mendapat teguran, namun para pembesar
itu tidak dapat berbuat apa-apa, hanya diam-diam memperingatkan semua penduduk dan pedagang agar
bersikap ramah dan hormat kepada tamu agung ini.
Penyambutan penduduk dan pembesar Lok-yang ini membuat Talibu menjadi jengkel sekali. Ia ingin
bebas, ingin merantau seperti burung di udara dalam usahanya mencari adik kembarnya. Ia ingin mencari
adiknya dan menghadapi pengalaman-pengalaman tegang seperti yang sering ia dengar dari penuturan
ibunya. Akan tetapi penyambutan dan sikap penduduk yang selalu membungkuk-bungkuk dan
dunia-kangouw.blogspot.com
menghormatinya secara berlebih-lebihan itu membuat ia merasa tidak leluasa dan tidak enak. Malam itu
juga ia memanggil komandan pengawalnya dan memberi perintah.
“Mulai saat ini, aku tidak mau dikawal lagi. Aku akan melakukan perjalanan seorang diri dan besok pagi
kalian harus mengawal Sang Puteri kembali ke Khitan.”
Tentu saja komandan pengawal itu kaget sekali. “Akan tetapi Pangeran...“
“Tidak ada tapi! Ini perintahku, mengerti? Mau membantah?”
Komandan itu tentu saja tidak berani membantah, mengangguk-angguk lalu diperkenankan keluar untuk
membubarkan pengawalan mulai saat itu juga. Talibu sama sekali tidak tahu bahwa perintahnya ini diamdiam
terdengar oleh Puteri Mimi dari balik jendela ketika puteri ini hendak mengunjungi kamarnya. Puteri
Mimi yang mendengar perintah ini terkejut, cepat kembali ke kamarnya dan termenung. Akan tetapi puteri
yang remaja dan lincah ini lalu tersenyum dan mengangguk-angguk seorang diri, sudah mengambil
keputusan sendiri.
Malam hari itu juga Talibu sudah melepaskan pakaian pangerannya, mengenakan pakaian biasa,
menyamar sebagai seorang pelajar. Dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, ia dapat lolos dari dalam
losmen, melompat ke luar dari jendela dan pergi melalui genteng rumah. Pada keesokan harinya, para
pengawal tidak saja kehilangan Sang Pangeran, bahkan dengan kaget mereka tidak lagi melihat adanya
Puteri Mimi yang sudah lenyap pula dari dalam kamarnya.
Ketika memeriksa ke seluruh kota, sama sekali tidak ada jejak Sang Puteri. Tentu saja para pengawal
menjadi bingung dan gelisah, akan tetapi mereka tak dapat berbuat lain kecuali berusaha mencari.
Komandan pengawal sudah cepat menyuruh dua orang anak buahnya kembali ke Khitan menyampaikan
laporan tentang hilangnya Puteri Mimi dan tentang perintah Sang Pangeran yang melarang mereka
mengawal karena Sang Pangeran berkenan melakukan perjalanan seorang diri
Talibu adalah seorang pemuda yang amat berani dan ilmu kepandaiannya bukan lemah. Ia menerima
gemblengan langsung dari ibunya sendiri, yaitu Ratu Yalina yang di waktu mudanya mewarisi ilmu
kesaktian yang amat rahasia, simpanan tokoh pendiri Beng-kauw, yaitu ilmu silat yang hanya terdiri dari
tiga belas jurus bernama Cap-sha Sin-kun (Kepalan Sakti Tiga Belas Jurus). Biar pun hanya tiga belas
jurus, akan tetapi kalau Ratu Yalina yang mainkan, kiranya tokoh-tokoh kang-ouw jarang yang akan dapat
menandinginya.
Talibu tentu saja tidak sematang dan sekuat ibunya, namun dengan ilmu ini ia pun menjadi orang muda
paling lihai di seluruh kerajaan ibunya. Dengan bekal ilmu kepandaiannya, kini pemuda bangsawan yang
merupakan orang paling penting sesudah ratu ini sekarang melakukan perjalanan seorang diri, diam-diam
meninggalkan losmen, lolos dengan pakaian seorang pelajar.
Ketika tubuhnya berkelebat ke luar dari pintu gerbang kota sebelah timur, karena ia bermaksud pergi ke
kota raja yang berada di sebelah timur Lok-yang, ia melihat berkelebatnya bayangan beberapa sosok
tubuh di sebelah belakangnya. Talibu boleh jadi gagah perkasa, namun ia kurang pengalaman dan tidak
mengenal keadaan dunia kang-ouw. Maka ia tidak menaruh curiga dan dengan lapang ia melanjutkan
perjalanan keluar dari kota Lok-yang.
Malam itu amat indah dengan bulan bersinar penuh tanpa gangguan awan. Ia kini tidak lari lagi melainkan
berlenggang seenaknya melalui jalan yang sunyi di tepi sawah ladang. Suara banyak katak membentuk
perpaduan musik yang indah dan amat menarik hatinya. Sambil tersenyum-senyum Pangeran ini berjalan,
pertama kali selama hidupnya merasa sebagai seorang yang benar-benar bebas, tidak terikat oleh segala
macam peraturan, tidak terganggu oleh hadirnya para pengawal. Ia pada saat itu merasa benar-benar
sebagai seorang pendekar muda perantau seperti yang sering ia dengar didongengkan ibunya. Sambil
tersenyum ia meraba gagang pedangnya.
“Berhenti...!“ Bentakan ini membuat Talibu menahan kaki dan memasang kuda-kuda. Ia dapat mencium
bahaya, apa lagi ketika ia mengenal empat orang berpakaian pengemis yang pagi hari tadi memandangnya
dengan pandang mata penuh kemarahan ketika ia turun dari atas kudanya di depan losmen. Kini empat
orang pengemis yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih ini berdiri menghadapinya dengan sikap
mengancam!
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun Talibu memiliki keberanian yang luar biasa. Tidak percuma ia menjadi putera Ratu Yalina yang di
waktu mudanya merupakan seorang wanita seperti naga betina yang tak pernah mengenal takut! Ia
bersikap tenang, namun sedikit pun tidak merasa takut. Bahkan bibirnya yang merah itu tersenyum ketika
ia bertanya.
“Kalian ini siapakah? Apakah golongan orang gagah dari kai-pang? Dan apa kehendak kalian malammalam
mengganggu perjalanan orang?”
“Menyerahlah menjadi tawanan kami dan kami takkan menggunakan kekerasan,” kata seorang di antara
empat pengemis ini, yaitu pengemis yang berjenggot panjang.
“Eh-eh, apakah kalian tidak salah mengenal orang? Aku adalah seorang pelajar yang melakukan
perantauan, sama sekali tidak pernah mempunyai permusuhan dengan orang lain, apa lagi dengan
golongan kai-pang. Mengapa tanpa sebab kalian hendak menawan aku?”
“Harap kau tidak banyak membantah. Kami tahu bahwa kau adalah Pangeran Mahkota dari Khitan.” kata si
Jenggot Panjang.
Talibu membusungkan dadanya. “Kalau sudah tahu aku Pangeran Mahkota Khitan, mengapa
menggangguku? Kerajaan Khitan bersahabat dengan negara ini dan tak tahukah kalian bahwa jika kalian
menggangguku maka hal ini bukan hanya membikin marah Negara Khitan, bahkan juga negara kalian
sendiri? Apakah kalian ini pengkhianat-pengkhianat kerajaan yang memusuhi kerajaan?” Sebagai Putera
Mahkota Khitan, tentu saja Talibu maklum akan keadaan kedua kerajaan itu. Ucapannya yang tepat dan
bengis membuat empat orang pengemis itu berubah.
Akan tetapi kelirulah kalau Talibu mengira bahwa ucapannya akan mengundurkan mereka. Tidak sama
sekali, mereka itu malah maju mengurung dan si Jenggot berkata, “Kami hanya menjalankan perintah.
Harap Sang Pangeran suka menyerah saja!”
“Hemm, penjahat-penjahat rendah. Kalian kira aku Talibu takut menghadapi empat ekor tikus seperti
kalian?”
Empat orang pengemis ini menubruk maju, akan tetapi mereka disambut tendangan dan pukulan tangan
yang membuat mereka roboh terguling-guling. Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian akan tetapi
begitu Talibu menggerakkan kaki tangannya, mereka sudah roboh jatuh bangun. Hal ini adalah karena
empat orang pengemis baju bersih ini sama sekali tidak menduga bahwa seorang pangeran bangsa Khitan
yang mereka anggap sebagai bangsa kasar akan dapat bergerak sebagai seorang ahli silat pilihan! Mereka
menjadi marah dan kini mereka sudah mencabut keluar senjata mereka, yaitu tongkat berbentuk ular yang
berwarna hitam. Senjata ini menandakan bahwa mereka ini adalah tokoh-tokoh perkumpulan pengemis
Hek-coa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Ular Hitam).
“Bagus, kalian hendak mencoba kelihaianku. Majulah!” Pangeran Talibu mencabut pedangnya dan tampak
sinar gemerlapan ketika pedang pusaka yang panjang itu tertimpa sinar bulan purnama. Pedang itu
mengeluarkan cahaya kemerahan. Itu bukanlah pedang biasa, melainkan sebuah pedang pusaka dari
Kerajaan Khitan!
Begitu empat orang pengeroyoknya menyerbu, Talibu menggerakkan pedangnya membabat. Sinar merah
menyilaukan mata dan angin sambaran pedang membuat dua orang pengemis cepat menarik kembali
tongkatnya. Akan tetapi dua pengemis yang sudah terlanjur menyerang tak dapat menghindarkan
bentrokan senjata.
“Trang... trang...!”
Dua orang pengemis ini mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur, tongkat mereka tinggal
sepotong karena tengahnya terbabat buntung oleh pedang bersinar merah! Marahlah mereka dan segera
mereka mengurung dari empat penjuru, kini menjaga agar tongkat mereka tidak bentrok lagi dengan
pedang si Pangeran. Biar pun tongkat mereka tinggal sepotong, namun dua orang pengemis itu masih lihai
gerakannya.
Talibu mewarisi ilmu dari ibunya sendiri, oleh sebab itu ilmunya hebat. Sayang sekali bahwa pemuda ini
kurang pengalaman. Kalau ia sudah matang ilmunya, agaknya dalam sepuluh gebrakan saja ia akan
mampu merobohkan empat orang lawannya tanpa pedang. Sesungguhnya ilmunya tangan kosong Capdunia-
kangouw.blogspot.com
sha Sin-kun merupakan ilmu yang jarang bandingnya, akan tetapi pemuda yang belum berpengalaman ini
merasa ngeri untuk menghadapi pengeroyokan empat lawan bersenjata dengan tangan kosong. Justru
karena ia berpedang, maka ia malah tidak dapat merobohkan lawan dalam waktu singkat.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil