Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 22 Mei 2017

Cinta Bernoda Darah 5 Cersil Kho Ping Hoo

Cinta Bernoda Darah 5 Cersil Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cinta Bernoda Darah 5 Cersil Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
Cinta Bernoda Darah 5 Cersil Kho Ping Hoo
Lin Lin menghela napas panjang dan seketika ia menghampiri pinggir perahu dan pandang matanya
mencari-cari ke tepi pantai. Disebutnya nama pemuda itu mengingatkan ia akan penderitaan Bok Liong
yang mati-matian membelanya.
“Bukan, bukan dia. Liong-twako adalah seorang yang amat baik, gagah perkasa dan ia amat mencintaku.
Akan tetapi bukan dia....” Mulutnya tidak melanjutkan kata-katanya, akan tetapi hatinya berbisik, “Bukan dia
orang yang merampas hatiku, bukan dia orang yang kucinta....”
“Kau mencari dia?” kini suara Hek-giam-lo yang penuh ejekan sehingga Lin Lin terkejut sekali. Selama
setengah bulan ia bersembunyi di dalam perahu saja. Bagaimana jadinya dengan Bok Liong? Janganjangan
pemuda yang nekat itu menyerbu lagi dan dibunuh oleh Hek-giam-lo.
“Di mana dia? Kau apakan Lie Bok Liong Twako?” bentaknya dengan mata terbuka lebar.
“Paduka cukup cerdik, mengapa tidak menduga sendiri?” Kini Hek-giam-lo yang mengejeknya.
Lin Lin membanting-banting kakinya. “Hek-giam-lo, aku tahu kau seorang iblis yang tidak segan-segan
melakukan segala macam kejahatan di dunia ini, akan tetapi aku pun tahu bahwa kau terlalu sombong
untuk bersikap pengecut dan membohong terhadap seorang gadis cilik macam aku! Nah, apakah kau telah
membunuh Lie Bok Liong?”
Hek-giam-lo menggeleng kepalanya. “Orang macam dia, perlu apa kubunuh? Dia sudah mau mampus dan
sekarang tentu sudah mampus kalau saja gurunya, pelukis sinting itu tidak datang dan membawanya
pergi.”
Berseri wajah Lin Lin. “Apa kau bilang? Empek Gan datang? Tentu kau telah dipukulnya? Mengapa dia
tidak membunuhmu?”
Hek-giam-lo mendengus marah. “Badut tolol itu mana berani? Dia datang membawa pergi muridnya,
tergesa-gesa dan ketakutan.”
“Kau bohong, aku tidak percaya!”
Hek-giam-lo hanya mengangkat bahu, lalu membalikkan tubuh meninggalkan Lin Lin ke kepala perahu. Lin
Lin menoleh ke sana ke mari, akan tetapi pandang mata para anak buah perahu yang mentertawakannya
membuat ia gemas dan dengan marah ia kembali memasuki bilik perahu. Hatinya panas dan ingin ia
memberontak dan pergi dari perahu. Akan tetapi ia tidak bodoh. Ilmu baru yang didapatnya belum terlatih
masak-masak, pula di atas perahu tidak berani ia sembarangan bergerak. Sekali perahu digulingkan
sehingga ia terjatuh ke dalam air, ia takkan dapat melawan pula. Ia harus bersabar dan menanti
kesempatan baik.
Dengan makin tekun Lin Lin mulai melatih diri, siang malam ia melatih diri. Bukan main girang hatinya
ketika pada setiap gerakan pukulan terasa ada angin pukulan yang antep dan dahsyat menyambar keluar
dari tangannya yang terbuka. Dinding bilik perahu sampai berguncang dan hal inilah yang membuat Hekgiam-
lo menjadi curiga sekali.
Malam itu, menjelang subuh, mendadak Hek-giam-lo membuka pintu bilik dan menerobos masuk. Baiknya
ketika itu Lin Lin sudah melatih jurus yang ke sembilan. Jurus ini dilakukan dengan duduk, merupakan
pukulan jarak jauh yang dilakukan sambil duduk. Pukulan kedua tangan itu merupakan gerakan lingkaran
sehingga angin pukulannya memutari tubuhnya dapat menghantam lawan yang berada di mana pun juga
tanpa mengubah kedudukan tubuh yang duduk. Untuk melatih jurus ini, Lin Lin duduk di atas
pembaringannya. Maka ketika tiba-tiba pintu biliknya terbuka, ia tidak menjadi gugup, melainkan
menghentikan pukulan-pukulannya dan bersikap seperti orang bersemedhi, sikap yang sudah lajim
dilakukan oleh ahli-ahli silat tinggi, apa lagi waktu menjelang subuh adalah waktu terbaik untuk
bersemedhi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ‘tuan puteri’ itu duduk bersemedhi, sama sekali tidak bergerak, Hek-giam-lo tidak berani
mengganggu. Akan tetapi getaran-getaran pada dinding bilik sekarang berhenti. Makin curigalah iblis itu. Ia
menutup pintu bilik dan melompat ke luar, menyelidik di sekeliling perahu, bahkan ia menyelidiki ke darat.
Akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu.
Kecurigaan Hek-giam-lo ini yang mengganggu latihan Lin Lin. Pada keesokan harinya, secara mendadak
Hek-giam-lo menghentikan perahu, lalu mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke utara
melalui darat! Hek-giam-lo sudah timbul curiga, tidak hanya pada diri Lin Lin, melainkan curiga kalau-kalau
ada orang pandai yang hendak merampas Lin Lin dan tongkat pusaka Beng-kauw dari padanya. Hal ini
mungkin saja, apa lagi setelah muncul Gan-lopek yang membawa pergi muridnya dari pantai.
“Aku tidak mau melakukan perjalanan di darat!” Lin Lin membentak marah. “Lebih enak melalui air, tidak
lelah dan dapat tidur nyenyak!”
“Tidak bisa, Tuan Puteri. Air sungai ini akan membawa kita ke laut, sedangkan Khitan letaknya bukan di
laut. Kita harus mendarat sekarang juga. Jangan khawatir, untuk Paduka hamba akan menyediakan seekor
kuda yang baik.”
Tentu saja keberatan yang diajukan oleh Lin Lin ini hanya pura-pura belaka. Sesungguhnya ia ingin
melakukan perjalanan dengan perahu agar ia leluasa melatih ilmunya. Dengan perjalanan melalui darat, ia
akan kelihatan terus, di bawah pengawasan Hek-giam-lo dan tentu saja tidak akan ada kesempatan untuk
berlatih.
Namun Lin Lin cukup cerdik untuk membantah terus karena hal ini tentu akan menimbulkan kecurigaan.
Selain itu, biar pun ia kini tak mungkin dapat berlatih lagi, namun terbukalah kesempatan baginya untuk
melarikan diri, sungguh pun ia takkan sembrono melakukan hal ini kalau tidak mendapatkan kesempatan
yang baik.
Kesempatan ini tak pernah ia dapatkan karena Hek-giam-lo selalu mengawalnya sendiri dengan hati-hati
dan teliti sekali. Ia diberi seekor kuda pilihan yang baik sedangkan Hek-giam-lo berjalan cepat di
belakangnya. Lin Lin cukup maklum bahwa melarikan kudanya itu akan percuma, tidak saja di situ terdapat
banyak kuda-kuda yang cepat, akan tetapi juga orang sakti macam Hek-giam-lo tak mungkin dapat
ditinggal lari di atas kuda. Untuk nekat melarikan diri dan melawan, akan sia-sia belaka dan akibatnya
hanya membuat perlakuan mereka terhadapnya kurang baik. Kini biar pun ia merupakan seorang setengah
tawanan, namun mereka, bahkan Hek-giam-lo sendiri, selalu bersikap menghormat. Ia selalu diberi
hidangan yang lezat dan selalu diperhatikan keperluannya.
Beberapa pekan kemudian, pada suatu sore, tibalah mereka di perbatasan yang menjadi wilayah bangsa
Khitan. Suku bangsa Khitan adalah bangsa perantauan di sebelah utara, sering kali berpindah wilayah
sesuai dengan keadaan dan musim. Mereka terkenal sebagai bangsa yang gagah berani dan pandai
menunggang kuda, pandai melakukan perang.
Hek-giam-lo menghentikan rombongannya dan menyuruh orang-orangnya mendirikan kemah di tempat itu,
yaitu di sebuah padang rumput yang luas. Ia sendiri lalu menunggang kuda untuk mengabarkan kepada
rajanya tentang kedatangan Puteri Yalin! Pada waktu itu, karena tekun mempelajari bahasa bangsanya,
sedikit-sedikit Lin Lin sudah pandai berbahasa Khitan. Karena memang ada hubungan darah, maka
bahasa ini baginya amat mudah dipelajari. Maka ia mengerti akan perintah Hek-giam-lo dan terbukalah
kesempatan baik baginya. Hek-giam-lo pergi meninggaikan rombongan itu!
Akan tetapi pada saat Hek-giam-lo pergi, datanglah serombongan wanita cantik yang ternyata adalah
dayang-dayang yang serta-merta melayaninya. Mereka ini terdiri dari selosin orang wanita muda yang
cantik, mereka datang membawa makanan asing yang enak, membawa pakaian-pakaian indah dan
perhiasan untuk Sang Puteri Yalin, calon permaisuri!
Memang watak Lin Lin nakal dan ingin sekali ia mencoba pakaian itu. Maka ia hanya menurut saja ketika
didandani. Akhirnya ia tertawa cekikikan sendiri ketika melihat bayangannya di cermin. Ternyata ia telah
menjadi seorang puteri asing yang pakaiannya aneh beraneka warna, bahkan kepalanya ditutup perhiasan
terbuat dari pada emas penuh batu permata!
“Pantaskah aku memakai ini?” tanyanya dalam bahasa Khitan kepada para dayang yang tertawa-tawa
gembira melihat puteri itu cekikikan di depan cermin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka serentak menjatuhkan diri berlutut dan menghujani Lin Lin dengan pelbagai pujian. Lin Lin merasa
bangga sekali. Alangkah senangnya menjadi ratu, pikirnya. Dilayani, dihormati, dan menjadi orang
terpenting di antara bangsa yang mempunyai laki-laki gagah dan wanita cantik ini. Akan tetapi ketika ia
teringat bahwa ia akan dijadikan permaisuri oleh paman tirinya sendiri yang bernama Kubakan dan kini
menjadi Raja Khitan, ia bergidik dan cepat-cepat ia melepaskan pakaian asing itu, mengenakan pakaian
sendiri. Ia tidak mempedulikan protes para dayang itu, bahkan lalu meloncat ke luar dari perkemahan
dengan maksud hendak lari.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selosin orang dayang yang muda-muda dan cantik itu tiba-tiba
mengejar dan mengurungnya dengan pedang di tangan. Mereka ternyata bukanlah dayang biasa,
melainkan gadis-gadis yang terlatih baik dan kini mereka membentuk barisan pedang yang mengurung Lin
Lin dengan gerakan yang cekatan dan sigap.
“Harap Tuan Puteri jangan pergi meninggalkan perkemahan ini. Hamba semua telah menerima perintah Sri
Baginda untuk menjaga Paduka, Lo-ciangkun (Panglima Tua) tadi memesan bahwa kalau perlu hamba
semua harus mempergunakan kekerasan mencegah Paduka pergi,” kata seorang di antara mereka.
“Perempuan rendah! Bukankah aku ini ratumu? Berani kau menghalangi kehendakku?” gertak Lin Lin
dengan marah.
“Ampun, Tuan Puteri. Paduka adalah calon ratu dan hamba sekalian tentu saja mentaati semua perintah
Paduka. Akan tetapi lebih dulu hamba harus mentaati Sri Baginda, kemudian Lo-ciangkun, baru Paduka.”
“Kalian berani? Hemmm, agaknya sudah bosan hidup. Majulah!” tantang Lin Lin, akan tetapi selosin
dayang itu tidak bergerak, hanya tetap mengurung.
“Mana hamba berani menyerang Paduka? Hanya kalau Paduka hendak melarikan diri, terpaksa hamba
sekalian harus mencegah.”
“Oh, begitukah? Nah, aku mau pergi, hendak kulihat kalian bisa berbuat apa!” Sambil berkata demikian Lin
Lin meloncat ke kiri, menerjang dua orang dayang yang menjaga di situ.
Akan tetapi dengan gerakan cepat sekali mereka menggerakkan pedang, merupakan dinding pedang yang
menghalangi perginya. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa dua belas orang dayang ini merupakan
tenaga-tenaga yang terlatih baik dan agaknya mereka betul-betul akan menyerangnya kalau ia bersikeras
melarikan diri dari tempat itu. Dan pada saat itu sudah datang pula para orang Khitan berlari-lari, jumlah
mereka lebih dari dua puluh orang!
Bangkit kemarahan di hati Lin Lin. Sebetulnya ia tidak mempunyai rasa benci kepada orang-orang Khitan
karena setelah ia menjadi tawanan Hek-giam-lo beberapa lamanya, ia mendapat kesan yang amat baik
terhadap orang-orang Khitan. Mereka adalah orang-orang yang berani, jujur, dan amat setia. Mereka
hanya melakukan perintah atasan mereka dan semua tugas mereka jalankan dengan taruhan nyawa.
“He, dengarlah kalian semua!” serunya sambil mencabut pedang dengan tangan kanan sedangkan tongkat
Beng-kauw berada di tangan kirinya. “Aku Puteri Yalina amat suka kepada bangsaku, akan tetapi aku benci
kepada paman tiriku Kubakan yang menjadi raja lalim dan hendak memperisteri aku, keponakannya
sendiri! Aku juga benci kepada Lo-ciangkun Hek-giam-lo yang kejam! Dengarlah, aku bersedia menjadi
ratu kalian kalau kedua orang itu sudah tidak ada. Demi arwah ibuku, Puteri Tayami yang gagah perkasa,
dan demi arwah kakekku, Raja Kulukan yang bijaksana, aku suka menjadi Ratu Khitan asalkan kedua
orang jahat itu sudah tewas! Sekarang terserah kepada kalian, adakah yang masih hendak menangkap
aku? Boleh maju!”
Beberapa orang dayang dan beberapa orang penjaga ketika menyaksikan Lin Lin berdiri sambil
mengucapkan kata-kata ini penuh wibawa, serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Bahkan disebutnya
nama-nama mendiang Kulukan dan Tayami membuat beberapa orang dayang menangis.
“Hamba setia kepada Puteri Yalin!” teriakan-teriakan ini terdengar riuh-rendah.
Akan tetapi tidak semua dayang dan tidak semua penjaga berlutut dan menyatakan setianya, bahkan
sebagian besar merasa lebih taat kepada Raja Kubakan dan lebih takut kepada Hek-giam-lo. Jumlah
mereka yang menentang Lin Lin ini ada dua pertiga bagian dan kini sembilan orang dayang menerjang
dunia-kangouw.blogspot.com
maju dengan pedang-pedang mereka menyerang Lin Lin!
“Trang-cring-trangggg...!” terdengar jerit kesakitan dan pedang-pedang beterbangan ketika Lin Lin
menggerakkan pedang dan tongkat Beng-kauw, diputar untuk menangkis disertai pengerahan tenaga
sinkang.
Tidak hanya pedang sembilan orang dayang itu runtuh beterbangan, juga sebagian ada yang terguling
roboh karena hebatnya tenaga tangkisan Lin Lin, sebagian sisanya meloncat mundur dengan muka pucat.
Lin Lin sendiri terheran-heran. Bagaimana tangkisannya bisa begitu hebat? Sama sekali ia tidak menduga
bahwa semua ini adalah berkat ilmu baru yang didapatkannya, yaitu ilmu dari lembaran-lembaran rahasia
di dalam tongkat Beng-kauw.
Namun seperti juga para petugas lain, sembilan orang dayang itu amat setia kepada tugasnya. Biar pun
pedang mereka sudah hilang dan mereka semua maklum bahwa tuan puteri yang harus mereka cegah
perginya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka. Mereka tidak mundur dan
kini dengan tangan kosong mereka menubruk maju dengan maksud menangkap Lin Lin.
Lin Lin tidak tega untuk menggunakan senjata menghadapi mereka, maka ia cepat menyimpan pedangnya
yang tadi membuat banyak orang Khitan berlutut karena pedang itu adalah Pedang Besi Kuning yang
dahulu menjadi pusaka keramat Kerajaan Khitan, kemudian dengan dorongan tangan kanannya ia
menerima serangan para dayang itu.
“Wuuuttttt...!” Dari tangan kanan Lin Lin menyambar angin pukulan dahsyat karena gadis ini sudah
menggunakan tenaga dari ilmunya yang baru, yang pernah dilatihnya dalam perahu, dan yang angin
pukulannya menggetarkan dinding sehingga pernah membuat Hek-giam-lo menjadi curiga.
Hebat akibatnya. Sembilan orang dayang itu seperti daun-daun kering tertiup angin, mereka terlempar dan
menjerit kesakitan. Ketika mereka terbanting roboh, hanya enam orang saja yang mampu merangkak
bangun dengan muka pucat dan lemah, sedangkan yang tiga orang lagi, yang paling depan, tak dapat
bangun lagi karena mereka telah tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah!
Alangkah kagetnya hati Lin Lin. Ia sampai berdiri melongo dan tercengang, hatinya dipenuhi rasa menyesal
dan rasa girang. Ia menyesal karena tanpa ia sengaja ia telah melukai para dayang, bahkan membunuh
tiga orang di antara mereka, akan tetapi juga girang karena mendapat kenyataan bahwa ilmu mukjijat yang
ia dapat dari dalam tongkat Beng-kauw itu ternyata merupakan ilmu yang ampuh! Hatinya menjadi besar
sekali dan ia kini menghadapi para penjaga yang belasan orang banyaknya itu dengan bentakan nyaring.
“Yang berani kurang ajar terhadapku sudah terhukum! Mundur kalian semua, kalau tidak, calon ratumu
akan turunkan tangan besi. Aku sayang kepada mereka yang taat, akan tetapi aku harus membasmi
mereka yang mencoba menahan kepergianku!”
Sejenak para prajurit Khitan itu tertegun. Mereka terheran-heran melihat betapa gadis yang biar pun
tadinya cukup lihai namun masih dapat mereka atasi ini, kini mendadak memiliki ilmu pukulan yang
demikian dahsyatnya. Sebagai ahli-ahli silat yang mengerti akan ilmu silat tinggi, belasan orang Khitan itu
mengenal ilmu pukulan dahsyat.
Diam-diam mereka menyesal sekali mengapa Hek-giam-lo sudah pergi dari situ. Biar pun mereka dapat
mengandalkan tenaga banyak teman, namun dengan ilmu pukulan sakti seperti itu, agaknya sukar
mencegah gadis ini melarikan diri. Mereka tidak takut terhadap Lin Lin biar pun gadis itu memiliki ilmu
dahsyat, mereka jauh lebih takut dan ngeri kalau sampai gadis ini lenyap, takut akan kemarahan dan
hukuman yang akan dijatuhkan
Hek-giam-lo terhadap mereka!
“Tuan Puteri, hamba sekalian harus mencegah kepergian Paduka dengan taruhan nyawa!” teriak seorang
penjaga dan mereka lalu maju mengurung Lin Lin, merupakan pagar manusia yang tak dapat dilalui begitu
saja tanpa membuka jalan berdarah!
Lin Lin menarik napas panjang. “Kalian keras kepala!”
Setelah berkata demikian Lin Lin kembali mengayun tangan kanannya mengirim pukulan jarak jauh. Kali ini
dua orang laki-laki terguling roboh dan beberapa orang lagi terhuyung-huyung. Akan tetapi dari kanan, kiri
dan belakang mereka mendesak maju, siap untuk merobohkan Lin Lin atau kalau mungkin menangkapnya.
Kembali Lin Lin mengirim pukulan, kini malah tongkat Beng-kauw di tangan kiri ia pergunakan untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
menyapu kaki mereka. Ada beberapa orang lagi roboh, dan dua orang malah patah tulang kaki mereka
terbabat tongkat pusaka Beng-kauw.
“Mundur kalian! Hemmm, apakah kalian sudah bosan hidup?” bentak Lin Lin karena mereka demikian
nekat sudah menyerbu lagi sehingga ia tidak melihat jalan ke luar. Kembali beberapa orang ia robohkan
dan ia sudah menggerakkan kaki meloncat keluar dari kepungan melalui tempat mereka yang sudah roboh
ketika tiba-tiba para pengeroyoknya terpelanting dan terdengar suara orang mendengus marah.
Lin Lin berdiri tegak dan memandang kepada Hek-giam-lo yang sudah berdiri di depannya! Berdebar
jantung gadis ini, akan tetapi ia sama sekali tidak takut, malah ia menentang pandang mata Hek-giam-lo
dengan pandangan menantang.
“Tuan Puteri, Sri Baginda sudah mengirim joli untuk menjemput Paduka, kenapa Paduka membikin ribut di
sini? Apa yang Paduka kehendaki?” Kini suara Hek-giam-lo malah lebih hormat dari pada yang sudahsudah,
agaknya hal ini karena mereka sudah dekat dengan Raja Khitan, akan tetapi di dalam suara ini pun
terkandung kemarahan tertahan.
“Aku mau pergi dari sini! Aku tidak sudi dijadikan isteri paman tiriku! Tua bangka tak tahu malu dia. Dan
kau tidak tahu diri, hendak memaksa aku menjadi isteri seorang kakek. Hemmm, andai kata kakekku masih
hidup, atau ibuku, kau tentu akan dihajar, Hek-giam-lo!”
Kembali iblis hitam itu mendengus. “Tangkap dia!” bentaknya kepada para pembantunya.
Karena Hek-giam-lo sudah hadir di situ, orang-orang itu menjadi lega hatinya. Kalau sebelum iblis itu
datang Lin Lin sampai terlepas dari tangan mereka, pasti mereka akan mengalami hukuman siksa sampai
mati yang amat mengerikan, akan tetapi sekarang Hek-giam-lo berada di situ, berarti iblis itulah yang
bertanggung jawab sepenuhnya. Pula, kehadiran iblis ini membesarkan hati mereka, membuat mereka
tidak takut akan kelihaian sang puteri. Serentak mereka maju mendesak hendak menangkap Lin Lin.
Lin Lin kembali mengayun tangannya, kini ia tidak hendak menyembunyikan lagi ilmunya. Terdengar Hekgiam-
lo mendengus keras dan iblis ini pun menggerakkan tangannya sehingga angin pukulan yang dahsyat
menyambar ke arah Lin Lin, bertemu dengan angin pukulan Lin Lin. Akibatnya, Lin Lin terdorong dan
terjengkang ke belakang, akan tetapi Hek-giam-lo juga terhuyung-huyung.
Hal ini membuat Hek-giam-lo kaget setengah mati. Dari mana tiba-tiba gadis itu memiliki sinkang yang
sedemikian hebatnya? Ia berseru keras dan melompat maju. Ketika itu Lin Lin juga sudah bangkit kembali
dan memutar kedua senjatanya, yaitu Pedang Besi Kuning dan tongkat Beng-kauw.
“Semua mundur, biarkan aku menghadapinya!” Hek-giam-lo membentak ketika tiga orang pembantunya
dalam sekejap mata saja roboh oleh kedua senjata Lin Lin.
Kini Hek-giam-lo sendiri yang maju dan berhadapan dengan Lin Lin yang memandangnya penuh
ketabahan. Lin Lin sama sekali tidak jeri. Kalau sebelum ia mendapatkan ilmu mukjijat saja ia sama sekali
tidak takut, apa lagi sekarang. Ilmu itu membuat ia laksana seekor harimau betina mendapat sayap.
“Hek-giam-lo, kau kira aku takut kepadamu?” katanya dan kini ia menggerakkan kedua senjatanya dengan
gerakan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam gulungan-gulungan kertas.
Dua sinar berkilauan menyambar, bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi bersuitan. Hek-giam-lo
terkejut dan melompat mundur, kedua lengan bajunya bergerak ke depan untuk menangkis.
“Heh, dari mana kau mendapatkan ilmu ini?” bentaknya.
Lin Lin tidak menjawab, hanya tertawa mengejek sambil menerjang maju lagi. Sayang sekali bahwa dia
kurang latihan sehingga biar pun kedua senjatanya mengeluarkan hawa pukulan yang berdesir-desir,
namun ia belum mampu mengerahkan tenaga sepenuhnya dan gerakan-gerakannya masih kaku. Namun
tak dapat disangkal lagi bahwa terjangannya ini dahsyat sekali sehingga diam-diam Hek-giam-lo menjadi
kaget dan kagum. Tokoh sakti ini pun mengerti bahwa jika ilmu gadis ini terlatih baik, tentu gadis ini akan
merupakan lawan yang berat dan sedikitnya setingkat dengan kepandaiannya!
Hek-giam-lo adalah seorang yang cerdik. Ia dapat menduga bahwa ilmu aneh ini tentu didapatkan oleh Lin
Lin selama menjadi tawanan di dalam perahu dan ia teringat akan desir angin pukulan pada tengah malam
dunia-kangouw.blogspot.com
itu di perahu. Kini ia mengerti bahwa pada waktu itu, tentu Lin Lin yang sedang berlatih. Dari mana gadis ini
mendapatkan ilmu itu? Gadis itu tidak bertemu siapa pun juga, tidak pernah meninggalkan perahu. Tongkat
itu? Tongkat pusaka Beng-kauw! Tentu di situlah rahasia ilmu itu.
Dengan gembira karena ingin sekali mendapatkan ilmu aneh ini yang pasti akan dapat menambah
kelihaiannya, Hek-giam-lo mempergunakan ginkang-nya menyelinap di antara sambaran sinar senjata, lalu
mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sabit bergagang panjang yang amat tajam.
“Serahkan tongkat pusaka Beng-kauw!” bentaknya sambil menyerang dengan sabitnya.
Gerakannya hebat, tenaganya mukjijat sekali sehingga Lin Lin terpaksa meloncat mundur karena silau
menyaksikan kelebatan sinar senjata lawan. Namun ia berhasil menangkis senjata lawan dengan
senjatanya sendiri yang membuatnya kembali terhuyung-huyung dan telapak tangannya terasa sakit sekali.
Namun hal ini saja sudah membuat Hek-giam-lo terheran-heran. Hanya ahli silat kelas tinggi saja yang
mampu mempertahankan terjangannya tadi dengan akibat hanya terhuyung-huyung. Tadinya ia
memperhitungkan bahwa sedikitnya gadis itu akan melepaskan sepasang senjatanya!
Karena penasaran, kembali ia menerjang dengan sabitnya. Dalam pertandingan, apa lagi kalau menemui
lawan tangguh, Hek-giam-lo lupa segala. Karena Lin Lin dapat menangkis terjangannya tadi membuat ia
lupa dan bersemangat sehingga kini ia menerjang dengan serangan maut tanpa mempedulikan apakah
gadis calon ratu, calon permaisuri rajanya itu akan mampu menangkisnya.
“Tranggg...!” Lin Lin kembali berhasil menangkis dengan pedangnya, dibantu pula dengan tongkat, namun
kini ia terguling.
Alangkah heran hati Hek-giam-lo karena begitu terguling gadis itu sudah meloncat lagi, malah kini
membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah ganasnya. Ia sampai memekik kaget dan memutar
senjatanya untuk menangkis. Ada pun Lin Lin yang bangkit semangatnya karena hawa sinkang-nya kini
ternyata mampu bertahan terhadap kekuatan lawan yang tersalur dalam setiap serangannya, kini
menerjang dengan tabah dan penuh tenaga.
Namun betapa pun juga, karena ilmu barunya itu baru ia kuasai beberapa bagian saja, sama sekali belum
terlatih, mana ia mampu mengimbangi seorang jago kawakan seperti Hek-giam-lo yang menjadi seorang di
antara Enam Iblis Dunia? Sebentar saja ia sudah sibuk sekali, hanya mampu menangkis ke sana ke mari
tanpa mampu membalas kembali.
Hek-giam-lo mendengus. Setelah sekarang Lin Lin tak dapat menandinginya, ia teringat lagi bahwa gadis
ini adalah calon permaisuri raja, maka gerakan senjatanya tidak lagi merupakan ancaman maut, melainkan
kini ia berusaha menangkap gadis itu.
“Lepaskan tongkat!” bentaknya, senjatanya menyambar ke arah dada.
Lin Lin kaget sekali karena sambaran itu cepat bukan main. Ia menangkis dengan pedangnya dan...
pedangnya menempel pada senjata lawan, lekat tak dapat ditarik kembali. Dengan gemas ia menggunakan
tongkatnya mengemplang kepala lawan, namun tangan kiri Hek-giam-lo menyambut tongkat itu,
menangkap dan membetot. Lin Lin tak kuasa bertahan dan terpaksa tongkatnya berpindah tangan. Akan
tetapi karena Hek-giam-lo membagi tenaga untuk merampas tongkat, gadis itu berhasil
mempertahankankan pedangnya.
“Kembalikan tongkat itu!” Lin Lin berseru keras sambil menusukkan pedangnya.
Akan tetapi kini Hek-giam-lo seperti tidak pedulikan dia lagi. Senjata sabitnya ia pergunakan untuk
menangkis, sedangkan matanya memeriksa tongkat Beng-kauw, mencari rahasianya. Tiba-tiba ia teringat
akan kertas yang dirobek-robek oleh Lin Lin dan disebar di sungai. Ia menggeram keras dan membentak.
“Kertas yang kau robek-robek dahulu itu... surat rahasia apakah itu?” suaranya terdengar penuh
kemarahan dan kini ia hanya menyebut Lin Lin dengan ‘kau’ saja.
“Peduli apa kau?” Lin Lin balas membentak sambil menyerang lagi. Akan tetapi sebuah tangkisan
membuat ia terhuyung ke belakang. Kini Hek-giam-lo yang mendesak maju.
“Serahkan rahasia tongkat Beng-kauw kepadaku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Rahasia apa?” Lin Lin menjawab, kaget.
“Rahasia ilmu yang kau pelajari. Cepat!”
“Tidak... tidak ada...!” Lin Lin gugup karena rahasianya diketahui.
“Jangan bohong! Aku perlu sekali ilmu itu, berikan!” Hek-giam-lo mendesak dan menerjang dengan
sabitnya. Serangan ini kuat sekali sehingga ketika Lin Lin menangkis, pedangnya terlepas dari pegangan
tangannya dan mencelat.
“Ho-ho-ho, Bayisan, aku bisa membiarkan kau merajalela di dunia akan tetapi kalau kau mengganggu
puteri dari Tayami, aku yang akan menghalangimu!” Tiba-tiba terdengar suara orang dan Pedang Besi
Kuning yang mencelat dari tangan Lin Lin tadi telah disambar dan berada di tangan orang ini. Ketika semua
orang memandang, kiranya yang datang adalah seorang laki-laki tua berkepala botak, bertubuh pendek
gemuk, kakinya tidak bersepatu, jenggotnya panjang sampai ke dada.
“Kim-lun Seng-jin...!” Lin Lin berseru girang sekali melihat munculnya kakek ini. Kim-lun Seng-jin mengedipngedipkan
matanya kepada Lin Lin dengan cara yang lucu, kemudian mengangsurkan Pedang Besi
Kuning.
“Anak baik, Tuan Puteri Yalina yang mulia, kau terimalah pedang ini. Pedang ini memang hakmu. Lekas
kau pergi dari sini, belum saatnya kau kembali kepada bangsamu. Biar aku yang menandingi Bayisan yang
dahulu mengganggu ibumu dan sekarang hendak mengganggumu lagi.”
“Kakek yang baik, terima kasih,” kata Lin Lin sambil menerima pedangnya. “Tapi aku tidak mau pergi, aku
mau membantumu menghadapi iblis tengkorak ini.”
“Heh-heh-heh, bukan saatnya. Ilmumu tadi memang aneh, mukjijat dan hebat, akan tetapi masih mentah,
kurang terlatih. Pergilah!” Sambil berkata demikian, Kim-lun Seng-jin menendang dan... karena tidak
menyangka-nyangka, tubuh belakang Lin Lin kena ditendang, membuat tubuh gadis itu terlempar dan
melayang jauh!
Anehnya, Lin Lin tidak merasa sakit dan tahulah ia bahwa kakek itu tidak main-main, melainkan melihat
bahwa perlu sekali ia segera melarikan diri. Karena tadinya memang ingin membebaskan diri dari tangan
orang-orang Khitan, Lin Lin lalu lari secepatnya sambil berseru.
“Kakek botak, terima kasih! Kelak kalau aku menjadi ratu, kau kuangkat menjadi Koksu (Guru Negara)!”
“Heh-he-he! He, Bayisan, tak boleh kau mengejarnya. Akulah lawanmu, tua sama tua, heh-heh!” kata Kimlun
Seng-jin sambil menerjang maju ketika melihat betapa Tengkorak Hitam itu sudah menggerakkan kaki
hendak mengejar Lin Lin. Terjangan kakek botak itu hebat sekali karena ia telah mengeluarkan senjatanya
yang aneh, yaitu sepasang roda emas yang gemilang dan berputar-putar di tangannya.
Hek-giam-lo mendengus dan meloncat ke kiri menghindarkan diri, lalu berkata nyaring, “Kim-lun Seng-jin,
kau orang buangan dari Khitan, pengkhianat dan orang yang tak tahu malu. Raja sendiri sudah tidak
mengakui kau, mau apa kau turut campur?”
“Hueh-heh-heh-heh! Bayisan, kita dahulu sama-sama prajurit, sama-sama berjuang untuk membela suku
bangsa Khitan yang selamanya menjadi bangsa perantau yang disia-siakan dan tak tentu tempat
tinggalnya! Akan tetapi sekarang setelah kau menjadi antek nomor satu dari Kubakan yang berkhianat, kau
banyak tingkah dan membuka mulut besar! Siapa tidak tahu bahwa sebetulnya kedudukan raja atas suku
bangsa Khitan berada dalam hak keturunan Puteri Tayami? Sekarang Puteri Yalin, keturunan Tayami
sudah dapat ditemukan, akan tetapi bukan dia diangkat menjadi ratu, malah akan dikawini oleh paman
tirinya sendiri, si Kubakan? Dan kau berani bilang aku seorang pengkhianat? Heh-heh-heh, tidak lucu!”
“Tutup mulutmu! Kau kira aku takut padamu?”
“Bayisan, dahulu pun antara kita sudah sering terjadi perselisihan faham, dan biar pun kau lebih muda,
tingkat kepandaian kita seimbang. Sekarang setelah kau menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai,
agaknya kepandaianmu sudah banyak maju, sebaliknya aku makin tua dan makin lemah. Akan tetapi, jika
kau hendak mengganggu Puteri Yalin, aku mempersiapkan tulangku yang sudah rapuh dan kulit dagingku
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudah lembek untuk melawanmu.”
“Tua bangka bosan hidup!” Hek-giam-lo berseru keras dan senjatanya yang menyeramkan itu menyambar,
berubah menjadi sinar hitam yang diselingi sinar kilat seperti halilintar menyambar.
Kim-lun Seng-jin maklum akan kesaktian Hek-giam-lo, maka dia pun tidak banyak cakap lagi, segera
menggerakkan kedua tangannya dan sepasang roda emas itu berputar-putar dengan indahnya melindungi
seluruh tubuh. Berkali-kali terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata apa bila
senjata kedua orang jagoan Khitan ini bertemu.
Orang-orang Khitan yang berada di situ melongo, kagum dan tegang. Mereka semua tahu siapa adanya
Kim-lun Seng-jin, seorang tokoh tua bangsa Khitan yang dikabarkan meninggalkan kelompok bangsanya
dan merantau, dianggap musuh oleh raja yang sekarang, akan tetapi merupakan seorang tokoh besar di
masa lalu. Mereka tidak berani membantu karena membantu Hek-giam-lo tanpa diperintah berarti mencari
kematian sendiri karena dianggap menghina Hek-giam-lo. Selain ini, mereka pun berarti mencari mati kalau
mencampuri pertandingan itu karena gerakan kedua orang sakti itu terlalu cepat bagi mereka. Sukar bagi
mereka untuk dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan pandang mata. Yang tampak oleh mereka
hanyalah gulungan sinar hitam menyambar-nyambar di antara dua gulung sinar emas, sedangkan dua
orang tokoh itu tidak tampak bayangannya lagi.
Biar pun usianya sudah sangat tua dan kalah tenaga, namun Kim-lun Seng-jin termasuk seorang tokoh
sakti yang berkepandaian tinggi. Dahulu sewaktu Hek-giam-lo yang masih bernama Panglima Bayisan
masih kecil, Kim-lun Seng-jin sudah menjadi Panglima Khitan yang sukar dicari bandingnya. Bahkan ketika
Bayisan sudah menjadi panglima yang jagoan, Kim-lun Seng-jin masih menjadi tokoh di Khitan sampai
akhirnya kakek ini pergi dari Khitan karena tidak suka melihat perebutan kekuasaan, sedangkan raja
sendiri, ketika itu adalah Raja Kulukan ayah Puteri Tayami (kakek Lin Lin), malah menaruh curiga ketika
Kim-lun Seng-jin memberi nasihat. Ketika itu Kim-lun Seng-jin masih bernama Kalisani (baca cerita Suling
Emas).
Namun kini kakek itu makin lama makin repot juga menandingi Hek-giam-lo. Hek-giam-lo selama ini
memang memperoleh kemajuan hebat, apa lagi belum lama ini ia telah berhasil merampas setengahnya
dari kitab simpanan Bu Kek Siansu, yang setengahnya lagi dirampas oleh It-gan Kai-ong. Dengan separuh
kitab ini ia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sekali sehingga setelah bertempur selama seratus
jurus, mulailah Kim-lun Seng-jin terdesak hebat. Kini sinar senjata sabit berkilat-kilat menyambar dan setiap
gerakan merupakan jangkauan maut yang mengerikan.
Namun anehnya, Kim-lun Seng-jin terdengar tertawa-tawa bergelak, seakan-akan ia merasa gembira sekali
dengan pertandingan ini. Kakek ini memang selalu merasa khawatir kalau-kalau ia sebagai seorang Khitan,
akan tewas di perantauan di tangan jago silat yang banyak terdapat di seluruh penjuru bumi. Akan tetapi
sekarang, nasib membawanya kembali ke perbatasan Khitan dan bahkan bertanding dengan seorang
tokoh Khitan nomor satu di waktu itu. Lebih-lebih kegembiraannya bahwa ia dapat bertahan sampai seratus
jurus lebih, ini saja sudah merupakan kenyataan yang amat menggembirakan hatinya.
“Hueh-heh-heh, Hek-giam-lo. Ternyata namamu kosong melompong! Mana patut bersombong menjadi
seorang di antara Enam Iblis Dunia? Ha-hah, menghadapi seorang kakek yang sebelah kakinya sudah
masuk lubang kubur macam aku saja, sekian lamanya belum juga dapat mengalahkan!”
“Ciuuuuuttttt!” sabit itu menyambar dengan gerakan seperti halilintar.
Saking marahnya, Hek-giam-lo mempergunakan seluruh tenaga. Kim-lun Seng-jin cepat menangkis
dengan roda emas kiri.
“Cringgggg!” Hebat bukan main pertemuan antara kedua senjata ini, tapi Kim-lun Seng-jin yang cerdik
membarengi pertemuan senjata ini dengan melontarkan roda emas kanan ke arah lawan.
Karena pembagian tenaga ini, apa lagi memang ia sudah amat lemah dan tenaganya kalah kuat, maka
roda emas kiri yang bertemu dengan sabit secara hebat menjadi patah, bahkan tangan kirinya terluka oleh
sabit yang sempat menyerempetnya. Akan tetapi di lain pihak, Hek-giam-lo tidak menyangka akan
serangan kilat dari roda emas kanan yang dilontarkan, sebab itu ia tak sempat mengelak dan dadanya
terpukul.
“Desss...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekiranya bukan Hek-giam-lo yang dihantam lontaran roda emas, tentu sudah pecah dadanya. Akan tetapi
Hek-giam-lo sempat mengerahkan sinkang-nya sambil menjerit keras sekali. Roda emas menghantam
sebagian dada dan pundak kirinya, terpental kembali dengan keras dan diterima tangan kanan Kim-lun
Seng-jin yang juga terluka tangan kirinya, mengucurkan darah dan mukanya pucat. Akan tetapi kakek ini
tertawa-tawa gembira sekali.
“Heh-heh-heh, Hek-giam-lo, pecahlah dadamu! Mampuslah, heh-heh-heh!”
Hek-giam-lo muntahkan darah segar, kemudian ia mengeluarkan suara menggereng seperti seekor
binatang buas, lalu menubruk maju dengan gerakan senjata sabitnya. Tampak sinar berkelebat. Kim-lun
Seng-jin berusaha menangkis.
“Tranggggg!” roda emasnya patah lagi, akan tetapi sabit di tangan Hek-giam-lo juga terlepas dari
pegangan.
Namun Hek-giam-lo terus maju dan kedua tangannya seperti dua cepitan baja sudah mencekik leher Kimlun
Seng-jin. Kakek ini tak bergerak lagi, seketika tewas pada saat tangan yang beracun dari Hek-giam-lo
menyentuhnya. Akan tetapi iblis buas itu tidak juga mau melepaskan leher lawannya sebelum leher itu
patah tulangnya, kemudian ia membanting tubuh itu, menyambar sabitnya dan... pada detik-detik
berikutnya tubuh Kim-lun Seng-jin sudah hancur dicabik-cabik sabit! Hanya mukanya yang tidak disentuh
sabit. Dari leher ke bawah hancur sampai kelihatan tulangnya. Anehnya, muka itu tetap saja tersenyum
seakan-akan mentertawakan kelakuan Hek-giam-lo yang seperti gila saking marahnya.
Hek-giam-lo sendiri terluka, patah tulang pundaknya dan terluka sebelah dalam dadanya, akan tetapi tidak
berbahaya. Setelah menelan obat penawar, ia cepat melakukan pengejaran ke arah larinya Lin Lin. Akan
tetapi pertandingan melawan kakek Kim-lun Seng-jin tadi memakan waktu cukup lama, sampai seratus
jurus lebih, dan tentu saja Lin Lin telah lenyap dari situ, sukar untuk dicari jejaknya. Apa lagi gadis ini cukup
cerdik untuk mengambil jalan yang sepi, melalui hutan-hutan dan selalu menghindarkan diri dari pada
pertemuan dengan manusia sehingga Hek-giam-lo yang mengejarnya sama sekali tidak mendapatkan
keterangan ke mana arah larinya Lin Lin.
Biar pun hari telah terganti malam, Lin Lin tidak pernah menghentikan larinya, terus menyusup-nyusup
hutan liar. Untung baginya, malam hari itu sore-sore bulan sudah keluar, biar pun belum bulat penuh,
namun cukup untuk menerangi jalan di dalam hutan. Dengan pedang terhunus di tangan, gadis ini terus
melanjutkan perjalanannya, mengarah selatan karena ia tahu bahwa dirinya saat itu berada di utara. Andai
kata tidak ada bulan muncul, kiranya sukar juga baginya untuk memilih arah.
Lin Lin baru menghentikan larinya setelah lewat tengah malam dan keadaan hutan yang dimasukinya gelap
sekali karena daun-daun pohon raksasa menutupi sinar bulan. Ia naik ke atas sebuah pohon raksasa,
duduk di atas cabang tersembunyi di balik daun-daun, lalu beristirahat. Enak sekali rasanya duduk
beristirahat setelah setengah malam terus berlari dengan hati tegang itu. Kini ia merasa lega, bebas dari
tawanan Hek-giam-lo.
Segera ia duduk bersila sambil melatih semedhi menurut pelajaran ilmunya yang baru dan sebentar saja
lenyaplah semua rasa lelah, tubuhnya terasa segar dan dalam sekejap mata saja ia sudah berhasil
mendiamkan panca inderanya, mengheningkan cipta dan mengumpulkan hawa murni untuk memperkuat
tenaga sakti di tubuhnya.
Lin Lin baru menyudahi semedhinya pada keesokan harinya, setelah matahari mulai mengusir embun pagi
yang membuat hawa udara amat dingin, apa lagi karena suara kicau burung pagi yang menggembirakan
itu tiba-tiba terganggu oleh suara melengking tinggi yang menggetarkan perasaannya. Suara suling!
Jantungnya berdebar tegang. Suara melengking macam itu banyak sudah ia dengar keluar dari mulut
orang-orang sakti, di antaranya pernah pula Hek-giam-lo mengeluarkan suara seperti itu di kala
mengerahkan tenaga saktinya. Jangan-jangan Hek-giam-lo sudah mengejar sampai ke situ!
Tidak takut, pikirnya! Kalau dia datang dan benar-benar dapat menyusulku, aku harus melawannya sampai
mati! Akan tetapi kembali ia mendengarkan dengan teliti. Mengapa suara itu berbunyi terus-menerus? Dan
lengking itu membentuk lagu. Suling! Debaran darahnya makin kencang dan dengan hati-hati ia meloncat
dari cabang ke cabang, dari pohon ke pohon seperti seekor tupai yang gesit, menuju ke arah suara yang ia
tahu tentu amat jauh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang betul dugaannya. Suara itu sebetulnya datang dari tempat yang cukup jauh dan andai kata tidak
kebetulan ia berada di pohon raksasa yang amat tinggi dan tidak dalam waktu pagi yang sunyi dan dingin,
agaknya suara itu tidak akan mencapai pendengarannya. Sudah puluhan batang pohon ia loncati, namun
belum juga ia sampai di tempat dari mana suara suling itu melayang, akan tetapi makin dekat makin
hebatlah getaran suara suling. Lin Lin melompat terus.
“Aaaiiiihhhh...!” tiba-tiba tubuhnya terguling ketika ia meloncat dari sebuah cabang ke cabang lain. Untung
ia masih dapat meraih cabang di bawahnya sehingga tubuhnya tergantung, kemudian dengan hati-hati
sekali ia merosot turun dan akhirnya dapat juga ia mencapai tanah, berdiri dengan muka pucat dan cepatcepat
ia mengerahkan sinkang di tubuhnya sambil duduk bersila!
Apa yang terjadi? Kiranya setelah makin mendekati tempat itu suara suling mempunyai getaran sedemikian
hebatnya sehingga tanpa ia sangka-sangka dan sadari jantungnya tergetar dan tubuhnya tiba-tiba menjadi
lemas sehingga hampir saja ia tadi terjungkal dari atas pohon besar yang amat tinggi. Kalau saja ia tidak
cepat dapat menangkap cabang dan terbanting jatuh, akan celakalah dia.
Setelah mengerahkan sinkang yang disalurkan terutama ke isi dada dan ke arah sepasang telinga, barulah
Lin Lin pulih kembali keadaannya. Ia bangkit berdiri dan maklumlah ia sekarang bahwa suara suling tadi
ditiup dengan pengerahan hawa sakti, semacam ilmu yang luar biasa sekali. Agaknya si peniup suling
sedang menghadapi lawan tangguh, maka sulingnya ditiup seperti itu.
Kini Lin Lin menyelinap dari pohon ke pohon, mendekati arah suara suling yang terdengar amat jelas,
makin dekat, makin terasalah pengaruh suara suling. Biar pun ia sudah menekan perasaan dan
membulatkan kemauan agar jangan memperhatikan, tetap saja ia terseret dan tanpa disadari ia
memperhatikan juga. Suara suling itu amat merdu, mengayun sukma, merayu semangat, namun amat
menyedihkan karena makin lama diperhatikan, makin mengarah suara orang menangis dengan kesedihan
yang luar biasa.
Tiba-tiba Lin Lin merasa betapa tenaganya mulai berkurang, tubuhnya mulai lemas lagi. Cepat-cepat ia
menggerakkan kaki tangan dan mengatur napas menurut ajaran ilmunya yang baru dan heran sekali,
seketika lenyap pengaruh suara suling yang mukjijat itu. Ia menjadi girang dan mulailah ia melangkah maju
dengan gerakan-gerakan ilmu silatnya yang baru.
Akhirnya ketika ia keluar dari gerombolan pohon itu, tampaklah apa yang menimbulkan suara mukjijat ini
dan jantungnya berdebar keras. Hampir ia menjerit girang, akan tetapi kembali ia terkejut karena hal ini
mengguncangkan jantungnya dan membuat ia hampir roboh. Cepat-cepat ia menguasai perasaannya dan
mengerahkan sinkang-nya kembali, berdiri memandang ke depan.
Di sana, hanya beberapa puluh meter di depannya, di sebuah lapangan terbuka di antara pohon-pohon itu,
tampak Suling Emas berdiri tegak dengan kedua tangan memegang dan memainkan suling yang ditiupnya.
Di sekelilingnya berdiri sedikitnya lima belas orang yang sikapnya mengancam, semua membawa senjata
macam-macam, posisi mereka dalam jurus ilmu silat dengan kedua kaki memasang kuda-kuda. Akan
tetapi anehnya, mereka itu sama sekali tidak bergerak menyerang Suling Emas, melainkan berdiri seperti
patung batu dengan mata memandang terbelalak, seolah-olah terpesona oleh Suling Emas yang bermain
suling. Wajah mereka tegang, beberapa orang di antara mereka berhasil bergerak sedikit, akan tetapi tidak
berhasil bergerak terus melanjutkan serangan. Yang lainnya sudah persis patung batu, wajahnya pucat
dan tubuhnya seperti mati kaku!
Lin Lin tertegun. Setelah sekarang dekat benar, ia pun merasakan pengaruh luar biasa dari suara suling itu
yang membuat tubuhnya sebentar lemas sebentar kaku seirama dengan suara suling yang mengalun tinggi
rendah! Kembali ia mengerahkan sinkang-nya menurut ilmunya yang baru. Aneh, kini terasa betapa segar
dan nikmat tubuhnya, betapa suara itu memasuki telinganya seperti musik dari angkasa, merdu merayu
dan amat indahnya. Mungkin hal ini terjadi karena kegembiraan hatinya melihat Suling Emas di tempat itu.
Dengan pandang mata penuh kekaguman Lin Lin melihat betapa pendekar sakti itu dengan tenangnya
terus menyuling. Tiba-tiba suara suling berubah ketika mata Suling Emas mengerling dan dapat melihat Lin
Lin berdiri di situ. Pandang mata itu menjadi berseri dan bersinar-sinar karena sesungguhnya bukan main
girang hati Suling Emas melihat Lin Lin berdiri di tempat itu, padahal disangkanya gadis itu masih tertawan
oleh Hek-giam-lo. Hal yang sama sekali tak pernah disangkanya dan yang tentu saja menggirangkan
hatinya karena ia sampai tiba di tempat itu bukan lain karena hendak mengejar Hek-giam-lo, menolong Lin
Lin dan merampas kembali tongkat pusaka Beng-kauw.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini Suling Emas dengan masih meniup suling melangkah meninggalkan para pengepungnya yang
berubah menjadi patung hidup itu. Inilah pengaruh Ilmu Kim-kong Sin-im (Suara Sakti Sinar Emas) yang ia
pelajari dari Bu Kek Siansu, yang belum lama ini ia perdalam latihannya bersama kakek dewa itu. Melihat
Lin Lin berdiri tegak dan bengong, Suling Emas mengira bahwa Lin Lin tentu, seperti para pengeroyoknya
itu terkena pula pengaruh ilmunya Kim-kong Sin-im, maka ia melepaskan tangan kiri dari sulingnya,
menyuling hanya dengan tangan kanan dan tangan kirinya diulur hendak menangkap Lin Lin dan dibawa
pergi dari situ.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu bergerak dan gadis itu malah yang menangkap
tangan kirinya, digandeng mesra sambil berkata. “Kenapa baru sekarang kau muncul? Hampir saja aku
celaka lagi oleh si iblis Hek-giam-lo, dan kau enak-enak di sini, mainkan suling untuk orang-orang itu.
Mereka siapakah?”
Suling Emas demikian terheran-heran sampai ia menghentikan tiupan sulingnya dan memandang Lin Lin
dengan melongo. Para pengeroyoknya adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang ulung, yang berilmu tinggi,
setidaknya tentu lebih tinggi dari pada ilmu yang dimiliki Lin Lin. Rata-rata sinkang mereka tentu lebih kuat
dari pada Lin Lin. Kalau mereka itu semua terpengaruh oleh suara sulingnya, mengapa Lin Lin enak-enak
saja, agaknya sama sekali tidak merasakan pengaruh Kim-kong Sin-im?
Sebelum Suling Emas sempat bertanya, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Kiranya belasan orang
pengeroyok tadi segera pulih kembali setelah kini suara suling lenyap. Mereka menjadi marah sekali. Tadi
mereka seakan-akan dalam keadaan tertotok oleh pengaruh Kim-kong Sin-im, sekarang mereka berteriakteriak
sambil menyerbu dengan senjata di tangan. Mereka ini terdiri dari pada hwesio-hwesio, tosu-tosu,
dan orang-orang gagah yang berilmu tinggi, maka serbuan mereka bukanlah hal yang boleh dipendang
ringan. Gerakan mereka jelas membayangkan tenaga yang besar dan gerakan kaki mereka amat ringan.
Ketika menengok dan melihat ini, Suling Emas segera menyambar pinggang Lin Lin dengan lengan kirinya,
kemudian ia berkelebat dan melompat naik ke atas pohon, berloncatan seperti burung garuda terbang,
cepat sekali meninggalkan tempat itu. Hujan senjata rahasia datang dari belakangnya. Namun Suling Emas
menggerakkan suling di tangan kanannya ke arah belakang, diputar sedemikian rupa sehingga angin
pukulannya meruntuhkan senjata-senjata rahasia yang datang menyambar. Kembali Suling Emas tertegun
melihat betapa Lin Lin juga menggerakkan tangan, mendorong dan hawa pukulan yang bercuitan keluar
dari tangan gadis yang mendorong itu dan meruntuhkan beberapa anak panah gelap yang menyambar ke
arah mereka!
Akan tetapi karena para pengeroyok itu kini sudah mengejar cepat, bahkan di antara mereka ada pula yang
mengambil jalan seperti Suling Emas, yaitu dengan cara meloncat ke atas pohon dan bagaikan terbang
mengejar dari pohon ke pohon, maka Suling Emas tidak ada waktu lagi untuk bicara dengan Lin Lin. Ia
mempererat kempitannya pada pinggang Lin Lin dan mengerahkan semua tenaga dan ginkang-nya
melarikan diri. Lin Lin merasa seakan-akan tubuhnya dibawa terbang, akan tetapi yang teringat olehnya
sama sekali bukan lain hal kecuali bahwa ia dikempit atau setengah dipondong oleh Suling Emas! Hal
inilah yang mendebarkan hatinya dan sambil meramkan mata ia menempelkan mukanya erat-erat pada
dada laki-laki itu.
Ilmu kepandaian Suling Emas memang hebat sekali. Biar pun para pengejarnya telah mengerahkan
tenaga, semua sia-sia belaka, mereka tertinggal jauh dan sejam kemudian mereka terpaksa menghentikan
pengejaran karena telah kehilangan bayangan Suling Emas. Memang ada di antara mereka yang lebih
hebat ginkang-nya dari pada yang lain, namun untuk mengejar sendiri saja tentu amat berbahaya.
Suling Emas berhenti berlari setelah merasa yakin bahwa para pengejarnya sudah menghentikan
pengejaran mereka. Mereka telah tiba di luar hutan dan matahari telah naik menyinarkan sinar pagi yang
hangat. Akan tetapi alangkah herannya ketika Suling Emas melihat bahwa Lin Lin sudah tidur pulas dalam
pondongan atau kempitannya! Tadinya ia kaget, mengira bahwa ada sesuatu terjadi pada diri gadis ini,
akan tetapi setelah ia tahu betul bahwa gadis ini hanya tidur pulas, mau tak mau Suling Emas tersenyum
lebar.
“Bocah nakal, enak-enakan tidur!” katanya, akan tetapi Lin Lin tidak bangun oleh tegurannya ini.
Memang luar biasa sekali. Ketika tadi berada dalam kempitan Suling Emas, Lin Lin merasa dirinya begitu
aman, begitu senang, dan begitu lega hatinya sehingga kelelahan tubuhnya kembali menyerang dirinya.
Rasa puas dan lega membuat ia mengantuk dan tanpa ia sengaja, ia sudah tidur pulas sambil
menyandarkan muka pada dada Suling Emas!
dunia-kangouw.blogspot.com
Suling Emas meletakkan tubuh gadis yang tidur pulas itu di atas tanah berumput sambil tersenyum dan
menggeleng-geleng kepala. Akan tetapi gerakan ini cukup untuk membangunkan Lin Lin yang membuka
mata dan cepat melompat berdiri sambil mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangan.
Agaknya hanya sejenak ia nanar oleh tidurnya, karena segera ia celingukan dan bertanya.
“Mana mereka? Mana orang-orang jahat itu?”
“Orang jahat? Tidak ada orang jahat di sini.”
Gadis itu memegang tangan Suling Emas, memandang dengan kening berkerut. “Apa kau bilang? Orangorang
yang mengeroyokmu tadi, yang mengejar dan menyerang dengan senjata-senjata rahasia, apakah
mereka itu bukan orang-orang jahat?”
Suling Emas menggeleng kepalanya. “Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa,
di antara mereka malah ada pendeta-pendeta dari Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, dan Go-bi-pai.”
“Apa? Mengapa keledai-keledai itu mengeroyokmu? Dan terang kau tidak akan kalah oleh mereka,
mengapa tidak melawan dan menghajar mereka, sebaliknya melarikan diri seperti orang ketakutan?”
“Ah, panjang ceritanya. Akan tetapi, bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah kau bersama-sama
Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan?”
“Ah, panjang ceritanya...” Lin Lin mengerling dan cemberut.
Suling Emas memandang, lalu tertawa, maklum bahwa gadis ini membalasnya. Adik angkatnya ini
memang benar-benar nakal sekali. “Eh, kau pendendam sekali!”
Lin Lin juga tertawa. “Orang bertanya baik-baik kau bilang panjang ceritanya.” Ia menegur.
Suling Emas menarik napas panjang. “Lin Lin, kau tidak tahu. Amatlah tidak menyenangkan hati untuk
bercerita tentang mereka yang hendak mengeroyokku, yang ingin sekali melihat aku mati. Aku tidak bisa
bercerita tentang itu, harap kau tidak marah.”
“Hemmm, rahasia, ya? Dan mengapa kau menjadi sedih? Sudahlah, aku hanya main-main.”
“Aku sendiri tidak punya rahasia apa-apa, kau boleh dengar semua.”
Gadis itu lalu menceritakan pengalamannya, sejak ia bertemu dengan Hek-giam-lo di Nan-cao, tentang
perintahnya merampas tongkat pusaka, tentang dirinya hendak dijadikan Permaisuri Khitan, kemudian
betapa ia berhasil melarikan diri karena pertolongan Kim-lun Seng-jin.
Suling Emas mendengarkan dengan terheran-heran, sampai berkali-kali ia menggeleng kepala. Gadis ini
benar-benar hebat, luar biasa keberaniannya dan agaknya hanya Lin Lin di antara tiga orang adiknya yang
belum tahu bahwa dia adalah Kam Bu Song.
“Jadi kau kah Puteri Mahkota Kerajaan Khitan? Dan kau yang menyuruh Hek-giam-lo merampas tongkat
pusaka Beng-kauw? Apa maksudmu untuk merampas tongkat, untuk apa?”
Merah muka Lin Lin mendengar pertanyaan ini. Sejenak ia menundukkan muka, tidak berani menentang
pandang mata Suling Emas. Akan tetapi hanya sebentar saja ‘rasa salah’ ini mengganggu hatinya, karena
beberapa detik kemudian ia sudah mengangkat muka lagi memandang wajah Suling Emas dengan
pandang mata menantang dan bibir tersenyum!
“Memang aku Puteri Mahkota Khitan. Ibuku adalah Puteri Tayami yang gagah perkasa dan kakekku adalah
mendiang Sribaginda Kulukan, raja besar Khitan! Namaku sendiri sebetulnya adalah Yalina sampai ibu
yang menggendongku tewas di dalam peperangan dan aku dipungut anak oleh ayah angkatku Jenderal
Kam Si Ek dan diberi nama Kam Lin.”
“Kalau begitu, seharusnya aku menyebutmu Tuan Puteri,” kata Suling Emas, sungguh-sungguh.
“Aku memang ingin merampas kembali tahta kerajaan bangsaku yang jatuh ke tangan pamanku! Aku ingin
dunia-kangouw.blogspot.com
memimpin rakyatku menjadi bangsa yang kuat!” Ketika mengucapkan kata-kata ini, Lin Lin berdiri tegak,
sikapnya agung, sinar matanya tajam bercahaya, penuh semangat.
Suling Emas mengangguk seperti orang memberi hormat. “Tepat, memang begitulah seharusnya Paduka
bersikap sebagai seorang pemimpin yang mencinta bangsanya, Tuan Puteri Yalin.”
Tiba-tiba Lin Lin tertawa dan memegang tangan Suling Emas. “Ihhh, seperti main sandiwara saja! Aku
belum menjadi ratu dan takkan bisa selama paman tiriku dan Hek-giam-lo masih berkuasa di Khitan. Aku
tidak suka kau perlakukan sebagai ratu, dan panggil aku Lin Lin saja seperti biasa.”
Kembali Suling Emas tersenyum dan ia sendiri merasa aneh dan heran mengapa hatinya selalu menjadi
gembira kalau berdekatan dengan gadis ini yang membuat ia mau tak mau menjadi gembira? Ataukah
karena wajah Lin Lin ada persamaannya dengan Suma Ceng?
“Agaknya kau tidak suka kepada Hek-giam-lo. Akan tetapi mengapa kau menyuruh dia merampas tongkat
pusaka Beng-kauw?”
“Kau tidak tahu. Biar kau berjuluk Suling Emas dan menjadi pendekar sakti, agaknya kau tidaklah terlalu
cerdik untuk dapat menyelami apa yang menjadi maksud hatiku.” Ucapan ini langsung keluar dari hati Lin
Lin yang selalu berbisik, “aku mencinta kau, mengapa kau tidak tahu?” dan yang tentu saja tak mungkin
terucapkan mulut itu. “Ketika aku bertemu dengan Hek-giam-lo, biar pun sikapnya menghormat dan ia
menganggap aku junjungannya, akan tetapi aku tahu bahwa diam-diam aku menjadi tawanannya. Karena
itulah aku menyuruh dia merampas tongkat Pusaka Beng-kauw.”
“Mengapa?”
“Masih bertanya lagi? Tentu saja biar kau mengejarnya dan kalau kau mengejarnya, berarti kau akan dapat
menolongku bebas dari pada tawanannya!”
“Ahhh...!” Diam-diam Suling Emas memuji kecerdikan gadis ini. “Tapi kulihat sekarang kau sudah pandai
membebaskan diri sendiri.” Kemudian ia teringat akan sesuatu dan cepat bertanya, “Dan kulihat gerakangerakanmu
tadi hebat sekali. Dulu kau tidak begitu. Dari mana kau memperoleh kepandaian yang aneh itu?
Apakah Hek-giam-lo mengajarmu?”
“Ihhh, orang macam dia mana mau mengajarku? Aku dianggap musuhnya, tahukah kau? Dia... dia buruk
sekali!” Lin Lin bergidik, teringat akan muka Hek-giam-lo ketika iblis itu membuka kedok memperlihatkan
mukanya. “Tahukah kau mengapa mukanya menjadi seperti setan? Karena dia berani mengganggu ibuku
dan ibu menghajarnya dengan bubuk racun pada mukanya! Huh, orang macam dia berani mengganggu
ibuku. Tidak dibunuh pun masih untung dia!”
Suling Emas mengerutkan keningnya. Alangkah banyaknya rahasia penghidupan orang-orang tua yang ia
tidak sangka-sangka dan tidak ketahui. Seperti halnya ibunya yang tentu mempunyai pengalaman hidup
yang luar biasa dan menarik sekali, akan tetapi yang ia tidak tahu sama sekali, agaknya pengalaman hidup
orang tua Lin Lin ini pun tidak kalah hebat dan menariknya (dugaan ini memang benar dan semua
pengalaman itu menjadi cerita SULING EMAS yang menarik).
“Kalau bukan dari dia, dari mana kau mendapatkan ilmu yang aneh itu?”
Lin Lin tersenyum bangga, akan tetapi juga terheran. Ia memang telah mempelajari ilmu mukjijat dari
tongkat pusaka Beng-kauw, akan tetapi seingatnya semenjak bertemu dengan Suling Emas tadi, ia tak
pernah mainkan ilmu baru itu. Bagaimana Suling Emas dapat menduganya?
“Nanti dulu, Suling Emas. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku mempunyai gerakan-gerakan
hebat. Bagaimana kau bisa tahu padahal aku tak pernah melakukan pertempuran sejak tadi?”
“Kau tadi dapat menahan pengaruh Kim-kong Sin-im dari suara sulingku, kemudian dengan pukulan jarak
jauh yang aneh kau meruntuhkan senjata rahasia.”
“Oh, itu?” Diam-diam Lin Lin kagum. Kelihaian Suling Emas dapat diukur dari sini. Sebelum ia
memperlihatkan ilmunya, pendekar sakti ini sudah mengetahuinya hanya melihat hal itu saja. Timbul
kegembiraannya hendak mencoba ilmu barunya terhadap pendekar yang menggugah kasih sayang dan
kekaguman hatinya ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suling Emas, sebelum aku memberi tahu dari mana aku mendapatkan ilmu ini, aku hendak mengujinya
kepadamu. Harap kau suka meneliti dan memberi petunjuk kepadaku.”
Kembali Suling Emas tersenyum. Gadis ini berwatak aneh, akan tetapi jujur dan jenaka. Sudah menjadi
watak semua tokoh kang-ouw untuk menyembunyikan rahasia ilmunya, apa lagi yang belum dilatih masakmasak,
mengeluarkannya saja di depan umum tentu segan karena khawatir kalau-kalau diketahui
rahasianya oleh orang lain. Akan tetapi gadis ini selain hendak membuka rahasia malah ingin mengujinya
terhadap dirinya dan minta petunjuk. Mengapa gadis ini amat percaya kepadanya?
Apa lagi gadis ini belum tahu bahwa dia adalah Kam Bu Song. Apa lagi mengingat betapa dahulu telah
terjadi peristiwa ‘menyeramkan’ di lingkungan istana, atau lebih tepat di gedung perpustakaan istana ketika
ia menyangka gadis ini Suma Ceng dan memeluk serta menciumnya. Karena peristiwa itu pula maka ia
sengaja tidak memperkenalkan diri, biar gadis ini sendiri yang kelak mendengar dari Kam Bu Sin atau Sian
Eng bahwa dia, Suling Emas, laki-laki yang dulu pernah bersikap ‘kurang ajar’ kepada gadis itu, adalah
kakak angkatnya!
Apa lagi, kakak angkat bukanlah hubungan yang amat dekat, jauh bedanya dengan saudara tiri yang masih
seayah lain ibu seperti halnya dia terhadap Bu Sin dan Sian Eng. Kakak angkat pada hakekatnya adalah
orang lain dan bukan apa-apa. Terutama sekali apa bila diingat bahwa gadis ini sebetulnya adalah seorang
puteri bangsa Khitan, semenjak dahulu musuh utama bangsanya, khususnya Kerajaan Hou-han. Akan
tetapi betapa pun juga semenjak kecil gadis ini dipelihara ayahnya, dan mengingat betapa gadis ini bercitacita
besar sekali ingin menjadi Ratu Khitan, tidak ada salahnya kalau ia memberi petunjuk agar Lin Lin
memiliki kepandaian yang boleh diandalkan, terutama sekali untuk menghadapi Hek-giam-lo yang sakti.
“Silakan kau perlihatkan ilmu itu.”
Lin Lin melompat mundur sampai dua meter, berdiri dalam jarak empat meter dari Suling Emas, kemudian
merangkap kedua tangan seperti orang menyembah, ditaruh di depan dada kiri, kemudian terus digerakkan
ke atas dengan sepasang matanya meram. Lambat-lambat gerakan ini, namun makin lama makin tergetar
dan menggigil, kemudian kedua tangan itu mengembang ke atas kepala seperti seorang yang memohon
sesuatu dari pada Tuhan. Beberapa detik sepasang tangannya menggigil di atas kepala, lalu diturunkannya
kembali dan ia membuka matanya. Sikapnya berubah tenang sekali, bibirnya tersenyum, kedua tangannya
tidak menggigil lagi.
“Aku sudah siap, Suling Emas.”
Suling Emas mengikuti semua gerakan Lin Lin itu dengan mata makin lama makin terbelalak. Merangkap
tangan di depan dada itu! Hampir ia tidak percaya. Gerakan merangkap tangan ke depan dada lalu
menggerakkan ke atas kepala dan memohon kepada Thian, itulah gerakan sembahyang dari Beng-kauw!
Akan tetapi ia tahu betul bahwa Lin Lin bukanlah seorang penganut Beng-kauw, dan ia pun dapat menduga
dari kedua tangan yang menggigil mengandung getaran tenaga dahsyat itu bahwa gerakan gadis itu tadi
sama sekali bukan semata-mata gerakan upacara keagamaan, melainkan cara untuk mengerahkan
semacam hawa sakti yang hebat dan luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap gadis itu yang berubah
begitu tenang, terlalu tenang, sebagai tanda seorang yang seluruh tubuhnya sudah disaluri tenaga sinkang
(hawa sakti) yang kuat. Ia pun bersikap waspada dan dengan mata penuh selidik ia berkata.
“Nah, kau mulailah menyerang,” suaranya lirih karena hatinya berguncang.
“Lihat serangan!” Lin Lin berseru dan ia segera melompat maju dan memutar-mutar tubuhnya bagaikan
sebuah gasing!
Inilah jurus ke tujuh dari pada ilmu yang ia pelajari. Menghadapi Suling Emas yang amat lihai, ia tidak mau
mempergunakan jurus-jurus sederhana dan sengaja ia memilih jurus-jurus yang ia anggap paling aneh.
Jurus ini memang hebat dan aneh yang menurut catatan rahasia itu disebut sebagai jurus Soan-hong-citian
(Angin Puyuh Mengeluarkan Kilat)!
Selama tahun-tahun belakangan ini, semenjak ia mendekati Beng-kauw, sudah sering kali Suling Emas
menyaksikan jurus-jurus terlihai dari Beng-kauw. Bahkan dengan Kauw Bian Cinjin yang menjadi sahabat
baiknya sering kali ia bertukar pengalaman dan kritik tentang jurus-jurus sakti. Akan tetapi belum pernah ia
menyaksikan jurus macam ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa jurus ini adalah sebuah di antara tiga belas jurus
istimewa yang khusus diciptakan oleh mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, diciptakan khusus untuk
menghadapi semua isi tiga kitab pusaka yang dicuri oleh puterinya sendiri. Jadi boleh dibilang tiga belas
macam ilmu pukulan sakti ini diciptakan untuk mengatasi seluruh inti sari ilmu kesaktian Beng-kauw yang
telah ada! Tidaklah mengherankan apa bila hebatnya bukan alang kepalang, sehingga agaknya Suling
Emas sendiri tentu akan menemui lawan yang mengejutkannya kalau saja Lin Lin sudah sempurna
berlatih.
Namun biar pun baru beberapa hari Lin Lin berlatih ilmu baru ini, Suling Emas sudah menjadi terheranheran
ketika menghadapi serangan pertama ini. Mula-mula ia tidak terkejut, hanya terheran-heran karena
melihat gerakan serangan yang begitu aneh, bahkan menggelikan. Mana ada jurus ilmu silat yang
menyerang dengan pembukaan seperti itu? Berputar-putar seperti gasing, bagaimana dapat menyerang
dengan baik? Malah boleh dibilang memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang hebat selagi
tubuh berputar-putar seperti itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mempergunakan kesempatan ini untuk
menyerang, karena ia hanya ingin menguji. Ia sendiri tegak menanti sampai gadis itu mendahului
menyerang.
Dan serangan itu datang! Bukan main aneh dan hebatnya! Tiba-tiba, dengan tubuh masih berputaran,
setelah dekat dengan Suling Emas tiba-tiba dari putaran itu menyambar keluar dua buah tangan yang
bergerak tak tersangka-sangka. Tangan pertama, yang kiri, menghantam ke arah kepala Suling Emas, dan
tangan kanan sebagai pukulan kedua sudah menyambar ke arah dada sebelum pukulan pertama
mengenai sasaran. Dua serangan sekaligus yang susul-menyusul dan kecepatannya cukup
membahayakan.
Suling Emas miringkan kepala menghindarkan diri dari pada pukulan pertama dan sengaja ia mengangkat
lengannya menangkis ketika pukulan kedua tiba menyambar dadanya.
“Dukkkkk!” Tubuh Lin Lin terhuyung-huyung seperti melayang-layang, akan tetapi Suling Emas
mengeluarkan seruan heran dan kaget ketika kuda-kudanya tergempur oleh pertemuan lengan itu. Kalau
saja ia tidak cepat mengerahkan sinkang-nya, tentu ia akan terhuyung juga, biar pun tidak sehebat Lin Lin.
Ia cepat meloncat untuk menahan dan menolong Lin Lin, akan tetapi ternyata gadis itu sudah dapat
menguasai dirinya kembali dan sama sekali tidak apa-apa!
“Kenapa kau sungguh-sungguh?” Lin Lin mengomel.
“Wah, hebat sekali! Lin Lin, hebat sekali seranganmu tadi. Mengandung tenaga mukjijat. Sayangnya,
dengan berputaran seperti itu, sebelum kau memukul, kau dapat diserang lawan lebih dulu dan keadaan
berputaran itu tidak menguntungkan.”
Lin Lin tertawa. “Hi-hik, boleh coba! Aku tadi justru mengharapkan kau menyerang lebih dulu. Suling Emas,
di dalam catatan ilmu ini, kelihaian jurus Soan-hong-ci-tian terletak kepada cara berputaran itulah! Dan
jangan kira bahwa berputaran seperti itu melemahkan kedudukanku, iihh, sama sekali terbalik. Itulah
gerakan memancing, malah sengaja begitu biar lawan menyerang lebih dulu. Kehebatan daya serangnya
justru di waktu lawan menyerang, karena lawan memandang rendah dan percaya serangannya akan
berhasil. Mau coba?”
Akan tetapi Suling Emas mengerutkan kening, memikir-mikir. “Soan-hong-ci-tian...? Tak pernah kudengar
jurus ini, melihatnya pun baru sekarang....”
“Hi-hik, masa? Suling Emas yang tersohor sakti, pendekar jagoan itu tidak mengenal jurusku? Lucu!”
“Lin Lin, dari mana kau memperoleh ini? Siapa yang mengajarmu?”
“Sssttt, nanti dulu. Belum habis kan ujian ini? Kau jaga seranganku berikutnya!” Sambil berkata demikian
Lin Lin sudah menerjang lagi mengeluarkan jurus-jurus yang aneh dan lihai. Dari kedua tangannya yang
memukul menyambar angin yang amat kuat sehingga Suling Emas tak berani memandang rendah. Makin
lama Suling Emas makin tertarik, karena jurus-jurus itu betul-betul belum pernah ia melihatnya.
“Pergunakan pedangmu...!” kata Suling Emas gembira. “Lekas cabut pedangmu dan mainkan menurut
jurus-jurusmu...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tadinya Lin Lin sudah merasa kecewa sekali karena biar pun ia menerjang dengan hebat, sama sekali ia
tidak mampu menyentuh bayangan Suling Emas sehingga ia merasa seperti menyerang bayangannya
sendiri dan merasa betapa ilmunya yang baru ini kalau berhadapan dengan lawan sesakti Suling Emas
atau Hek-giam-lo, benar-benar tidak ada gunanya. Akan tetapi mendengar perintah Suling Emas ini, ia
tidak mau membantah, apa lagi dalam suara itu terkandung kegembiraan dan kekaguman.
Sinar kuning emas berkeredepan menyilaukan mata ketika Lin Lin mencabut Pedang Besi Kuning dan
mainkan pedang pusaka ini menurut jurus-jurus ilmu baru. Tiga belas jurus sudah ia mainkan semua dan
pedangnya sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju Suling Emas. Dengan perasaan sebal dan
kecewa Lin Lin menghentikan permainannya dan menyimpan pedangnya, membanting kaki dan berkata.
“Sudahlah! Perlu apa kau permainkan aku? Memang aku tidak becus, dan ilmuku, ilmu picisan!”
“Wah, siapa bilang begitu? Lin Lin, kau benar-benar telah mewarisi ilmu yang luar biasa sekali. Sungguh
mati, kalau kau sudah melatih ilmu itu dengan sempurna, jarang ada tokoh kang-ouw yang akan mampu
menandingimu. Bahkan aku sendiri merasa ragu-ragu apakah aku akan dapat bertahan begitu mudahnya
menghadapimu. Ilmu mukjijat, Lin Lin, hanya kurang terlatih dan ada bagian-bagian yang kau keliru latihan
agaknya. Kau tadi minta petunjuk, bukan? Nah, aku akan memberi petunjuk-petunjuk kalau saja kau suka
berlatih perlahan-lahan. Aku bersumpah takkan mempelajari ilmu itu, dari mana pun datangnya.”
“Jangan pura-pura membesarkan hatiku, padahal kau hanya mengejek. Begitu baik hubunganmu dengan
Beng-kauw, masa pura-pura tidak mengenal ilmu silat yang kutemukan di dalam tongkat pusaka Bengkauw?”
Ucapan Lin Lin ini sewajarnya saja karena memang ia sungguh-sungguh menganggap bahwa
Suling Emas mempermainkan dan mengejeknya yang membuat hatinya mendongkol sekali.
Akan tetapi ternyata ucapan ini mengagetkan Suling Emas yang terang-terangan membelalakkan kedua
matanya dan memandang kepada gadis itu seakan-akan Lin Lin bukan seorang gadis jelita melainkan
seorang siluman yang mengerikan.
Memang bukan main kaget hati Suling Emas mendengar kata-kata ini. Hal ini ada sebabnya. Tadi ketika ia
melayani jurus-jurus istimewa anehnya dari Lin Lin, ia selain kaget dan kagum, juga merasa heran
mengapa jurus-jurus ini mengandung inti sari ilmu Beng-kauw, akan tetapi lebih tinggi dan seakan-akan
mengandung unsur-unsur menekan dan mengatasi inti sari ilmu Beng-kauw. Inilah yang mengagetkan
hatinya ketika mendengar bahwa gadis itu mempelajarinya dari surat warisan yang ditemukan di dalam
tongkat pusaka Beng-kauw.
Otaknya yang cerdik segera dapat menangkap rahasianya. Takkan salah lagi, tentu mendiang Pat-jiu Sinong
yang menciptakan dan menyembunyikannya di dalam tongkat pusaka Beng-kauw dengan maksud
menurunkan atau mewariskannya kepada ketua Beng-kauw. Ada pun ketua Beng-kauw adalah pamannya
sendiri, Liu Mo, yang kelihatan tenang-tenang saja ketika tongkat itu dirampas Hek-giam-lo.
Andaikata
pamannya tahu bahwa di dalam tongkat pusaka itu terdapat surat wasiat mendiang kakeknya
yang mengandung pelajaran ilmu kesaktian yang begitu hebat, sudah tentu pamannya itu akan menjadi
panik sekali dan tak mungkin menyerahkan tongkat begitu saja kepada Hek-giam-lo. Sekali ilmu itu
dipelajari orang luar, berarti Beng-kauw terancam! Hal ini hanya berarti bahwa pamannya belum tahu akan
surat wasiat, berarti pula bahwa surat wasiat itu belum pernah terlihat orang lain dan Lin Lin adalah orang
pertama yang mempelajarinya.
Lin Lin yang kini mendapat giliran kaget sekali ketika Suling Emas menangkap tangannya dan
memegangnya erat-erat.
“Eh-eh, aduuuhhhhh... hendak kau patahkan lenganku?” serunya, agak dibuat-buat manja karena
sesungguhnya, seerat-eratnya Suling Emas memegang, tentu saja tidak sampai mematahkan tulang
lengannya. Apa lagi dia memiliki sinkang yang tidak sembarangan!
“Eh, maaf, eh... Lin Lin, di mana surat wasiat itu? Di mana sekarang?” tanya Suling Emas agak gugup.
Siapa orangnya tidak akan gugup? Kalau surat wasiat itu terjatuh ke tangan orang lain seperti Hek-giam-lo,
tentu Beng-kauw akan terancam bahaya. Takkan ada orang Beng-kauw yang akan dapat melawan musuh
yang memiliki ilmu itu secara mendalam, karena ia tahu bahwa ilmu itu adalah ilmu berinti sari pelajaran
Beng-kauw yang agaknya dicipta untuk mengatasi kepandaian orang-orang Beng-kauw.
“Kenapa sih? Kau yang sudah begitu pandai, yang tadi dengan mudah saja menghadapi ilmu ini, apakah
dunia-kangouw.blogspot.com
kau masih begitu serakah ingin mempelajari ilmu ini pula? Ingat, Suling Emas, kau sudah bersumpah tadi
takkan mempelajarinya. Bukan aku melarang kau mempelajarinya, hanya... aku... aku tidak mau kalau kau
melanggar sumpahmu.”
“Aku takkan mempelajarinya, Lin Lin. Tapi lekas katakan, di mana adanya wasiat pelajaran itu?” Saking
tegang hatinya, penuh kekhawatiran kalau-kalau wasiat itu terampas pula oleh Hek-giam-lo, Suling Emas
sampai lupa untuk melepaskan tangan Lin Lin. Sejak tadi ia masih memegangi tangan itu, sungguh pun kini
tidak ia cengkeram seperti tadi.
Dengan jantung berdebar Lin Lin melirik ke arah kedua tangannya yang digenggam Suling Emas. Ia
tersenyum. “Panggil dulu namaku....”
“Lin Lin....”
“Sebut aku Moi-moi (Adik)....”
“Lin-moi-moi (Adik Lin) yang baik!” kata Suling Emas, biar pun mendongkol merasa geli juga karena
memang gadis ini adik angkatnya, apa salahnya menyebutnya adik?
“Kau menyebut dinda, aku pun menyebut kanda. Koko yang baik, surat wasiat itu sudah kumusnahkan.”
“Kau musnahkan?”
Mereka bertemu pandang, sama-sama menyelidik. Melihat wajah Suling Emas agak berseri
membayangkan kegirangan hatinya, legalah hati Lin Lin.
“Sudah kurobek-robek menjadi sekeping-keping kecil lalu kusebarkan ke dalam sungai.”
“Betul sudah musnah? Apakah Hek-giam-lo tidak melihatnya?” kata Suling Emas agak terburu-buru dan
mukanya menjadi merah karena baru sekarang setelah hilang kekhawatirannya, ia teringat bahwa sejak
tadi ia menggenggam sepasang tangan yang kecil halus itu.
Lin Lin tertawa. “Lucu sekali Hek-giam-lo. Dia goblok. Ada beberapa potongan surat wasiat itu ia ambil,
akan tetapi apa artinya satu dua huruf pada kepingan-kepingan kecil itu! Ia mendesak, curiga dan
bertanya.”
“Dan apa kau jawab?”
“Kukatakan bahwa surat itu dari... dari kekasihku, hi-hik...”
Kembali terpaksa Suling Emas tersenyum, perbuatan yang jarang atau tak pernah ia lakukan. Semenjak ia
terpaksa berpisah dari kekasihnya, Suma Ceng, tersenyum merupakan hal yang sukar dapat dilakukan
Suling Emas karena hatinya sudah terluka dan ia selalu memandang penghidupan dari segi yang murammuram.
Akan tetapi entah mengapa, berdekatan dengan Lin Lin, ia sudah beberapa kali tersenyum
seakan-akan kelincahan dan kegembiraan gadis ini merupakan cahaya terang yang sinarnya mencapai
pojok-pojok hatinya yang gelap.
“Hemmm, anak nakal. Lalu, dia bagaimana? Percayakah?”
“Mula-mula tidak. Ia bertanya siapakah kekasih itu.”
“Dan kau jawab...? Tentu... murid Gan-lopek, ya?” Suling Emas sendiri merasa heran mengapa mendadak
sontak ia melayani kelakar Lin Lin, bahkan mengeluarkan godaan ini. Benar-benar ia menjadi seperti
kanak-kanak, pikirnya dengan wajah merah.
“Iiiihhhhh...!” Tiba-tiba Lin Lin menggunakan kedua tangannya menangkap lengan tangan Suling Emas dan
sepuluh buah jari-jari tangannya mencubiti kulit lengan itu.
“Aduh-aduh... aduh...!” Suling Emas tertawa dan menjerit-jerit karena memang sakit sekali cubitan-cubitan
jari yang berkuku runcing itu. Ia tidak tega tentu saja untuk menggunakan tenaga melawan cubitan karena
selain tak patut main-main dibalas sungguh-sungguh, juga ia khawatir kalau-kalau kuku-kuku jari yang
terpelihara itu akan rusak oleh perlawanannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau menyebalkan! Siapa bilang, hayo, siapa bilang aku punya kekasih murid Gan-lopek si badut tua itu?
Memalukan, menggemaskan...!”
“Sudah... sudah, aduh...!” Suling Emas masih tertawa-tawa. “Lepaskan!”
“Hayo bilang dulu siapa yang mengatakan demikian?”
Kegembiraan Suling Emas timbul, maka ia merasa belum cukup menggoda. Sambil tertawa ia berkata,
“Memang sudah sepantasnya Lie Bok Liong yang tampan dan gagah itu menjadi anumu... ha-ha...
aduhhh!”
Cubitan Lin Lin makin keras. “Anu apa? Hayo bilang, apa yang kau maksudkan dengan anumu...?”
“Aduh, sakit, Lin-moi, lepaskan. Kumaksudkan kekasihmu tentu. Bukankah ia amat mencintamu dan selalu
membelamu?”
Mendadak Lin Lin melepaskan tangannya dan... menangis!
“Eh-eh... mengapa menangis...?” Suling Emas benar-benar terkejut dan heran sekali.
“Kau jahat...! Kau mengejekku, kau menjengkelkan, sengaja bikin aku marah...! Kau tidak punya hati, tak
berjantung!”
“Eh... oh... nanti dulu, Lin-moi! Aku sama sekali tidak mengejekmu, aku... aku hanya main-main. Masa tidak
boleh orang main-main? Maafkan aku, Lin-moi, sungguh mati aku tidak bermaksud membikin kau marah
dan jengkel. Sudahlah, kau maafkan aku.”
Lin Lin mengangkat mukanya yang merah dan basah. “Betul-betul kau tidak mengejek?” tanyanya dan
Suling Emas tidak berani main-main lagi karena suara itu mengandung kesungguhan hati yang
mengherankan dan mengejutkan. Mengapa gadis yang lincah dan suka berjenaka ini begitu sedih ketika
digoda?
“Tidak, aku tidak mengejek, hanya main-main.”
“Bagaimana kau bisa menyangka begitu terhadap Lie Bok Liong Twako? Apa sebabnya kau mengira dia
kekasihku?”
Bingunglah Suling Emas, akan tetapi dengan tenang ia menjawab “Lin-moi, sudahlah, aku tadi hanya mainmain.
Pula, andai kata aku benar timbul persangkaan demikian, bukankah engkau sendiri yang tadi
menceritakan betapa Lie Bok Liong hampir saja mengorbankan nyawa demi untuk membelamu? Hanya
orang yang mencinta dengan sepenuh jiwa raga dapat membela dengan pengorbanan sehebat dia.”
Dengan muka termenung Lin Lin mengangguk-angguk. “Memang dia amat baik hati, dia... agaknya
memang betul bahwa dia amat mencintaku. Liong-twako seorang berbudi. Tapi... tapi bukan dia... aku tidak
mencintanya, aku hanya suka kepadanya sebagai seorang kakak atau sahabat....”
“Hemmm, kasihan dia. Sudahlah, Lin-moi, cukup tentang dia. Terang kalau begitu bahwa bukan dia
kekasihmu, maafkan aku tadi. Kemudian bagaimana dengan Hek-giam-lo tadi? Ketika dia tanya siapa
kekasihmu, bagaimana jawabmu? Apa kau bilang kekasihmu itu ada?”
Suling Emas tak dapat menyembunyikan keheranan yang membayang pada wajahnya ketika melihat
betapa gadis itu kini memandangnya sambil tersenyum dengan wajah cerah. Bukan main! Baru saja
menangis dan marah-marah, kini sudah tersenyum-senyum. Siapa tidak akan heran kalau melihat udara
yang gelap mendung dan hujan tiba-tiba tampak matahari bersinar?
“Tentu saja ada, dan dia percaya!”
“Siapa?”
Lin Lin berdebar jantungnya. Ia seorang gadis yang tabah dan jujur, tidak pemalu, akan tetapi pertanyaan
ini sekarang amat sukar terjawab. Ia terpaksa menyembunyikan mukanya dengan tunduk, lalu menjawab,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suling Emas....”
Suling Emas menjadi begitu kaget sampai ia berdiri kesima tak mampu bergerak atau mengeluarkan katakata.
Ia masih mengira bahwa Lin Lin gadis nakal itu sengaja menyebut namanya untuk
mempermainkannya sebagai pembalasannya tadi. Akan tetapi melihat kepala yang ditundukkan, sikap
yang malu-malu dan bersungguh-sungguh itu, makin gelisahlah dia.
“Lin-moi, harap kau jangan main-main yang bukan-bukan....” Ia masih mencoba untuk melawan
kekhawatirannya.
Lin Lin mengangkat mukanya. Merah sekali muka itu, terutama sepasang pipinya, seolah-olah ketika
menunduk tadi, gadis ini memulas kedua pipinya dengan yanci (pemerah pipi). Tapi kini suaranya
terdengar sungguh-sungguh dan penuh tuntutan.
“Mengapa, Koko? Aku tidak main-main! Bukankah pengakuanku itu benar-benar? Kalau kau sekarang
terheran, kaulah yang pura-pura dan main-main. Yang kau lakukan terhadapku di perpustakaan istana
itu....”
Suling Emas gelagapan. Tentu saja ia tidak dapat melupakan peristiwa itu, pertemuannya pertama kali
dengan Lin Lin. Pada suatu malam di lingkungan istana, ketika itu ia berada di dalam gedung
perpustakaan, sedang melamunkan kekasihnya, Suma Ceng, ketika tiba-tiba muncul Lin Lin yang di dalam
cuaca remang-remang itu bentuk tubuh dan potongan wajahnya mirip benar dengan Suma Ceng.
Pada waktu itu, karena hatinya sedang diliputi penuh rindu dendam terhadap kekasihnya, ia seperti orang
yang sedang bermimpi, mengira Lin Lin adalah Suma Ceng, memeluknya, menciumnya! Agaknya Lin Lin
tak pernah dapat melupakan peristiwa itu pula, hanya bedanya, kalau ia mengenang peristiwa itu, dengan
perasaan jengah dan malu serta merasa bersalah, sebaliknya gadis ini menganggap peristiwa itu sebagai
pernyataan cinta kasih Suling Emas terhadap gadis itu!
“Kenapa? Apakah kau mempermainkan aku ketika itu?” Lin Lin mendesak ketika melihat wajah Suling
Emas menjadi pucat. Gadis ini merasa gelisah sekali, khawatir kalau-kalau dugaan hatinya meleset. Ketika
itu ia merasa yakin benar bahwa Suling Emas mencintanya.
“Sudahlah, Lin-moi. Apakah kau tidak bisa memaafkan kesalahanku? Lekas kau lanjutkan ceritamu.
Bagaimana dengan tongkat pusaka? Di mana tongkat itu sekarang?”
“Dirampas Hek-giam-lo,” jawab Lin Lin pendek, masih bersungut-sungut karena ia merasa betapa Suling
Emas seperti hendak mengingkari perbuatannya di perpustakaan.
“Lin-moi, sekarang juga kau harus ikut aku. Kalau hal ini tidak lekas kuurus, selamanya kau akan dianggap
musuh besar Beng-kauw.”
Ucapan ini begitu mengagetkan Lin Lin sehingga ia melupakan urusan cinta kasih. “Apa? Mengapa?”
“Lin Lin, ketahuilah. Sudah menjadi rahasia yang belum terpecahkan oleh para pimpinan Beng-kauw
bahwa Pat-jiu Sin-ong meninggalkan warisan ilmu yang mukjijat. Mereka mencari-cari, namun belum juga
dapat menemukannya. Kini rahasia wasiat itu terbuka olehmu, bahkan telah kau musnahkan dan kau
pelajari isinya, padahal kau sama sekali bukanlah orang Beng-kauw. Hal ini akan menimbulkan geger di
kalangan Beng-kauw dan kalau mereka tahu, tentu mereka itu akan mencarimu dan membunuhmu.
Rahasia ilmu itu sama sekali tidak boleh diketahui oleh orang luar. Kalau sampai mereka tahu dan
memusuhimu, biar aku sendiri takkan mampu mencegahnya.”
“Aku tidak takut! Aku tidak mencuri ilmu, hanya kebetulan...”
“Hemmm, kau seperti anak kecil yang tidak pedulikan langit ambruk bumi terbalik, Lin-moi. Ketahuilah,
urusan ini amat besar dan gawat. Biar pun secara kebetulan kau menemukan ilmu itu, akan tetapi
bukankah engkau yang menyuruh Hek-giam-lo merampas tongkat pusaka? Dan tahu pulakah kau
mengapa Hek-giam-lo suka merampas tongkat itu? Semata-mata karena taat kepadamu? Tak mungkin.
Dia mempunyai pamrih lain. Ketahuilah bahwa ilmu ciptaan Pat-jiu Sin-ong itu telah terdengar pula oleh
tokoh-tokoh kang-ouw dan Hek-giam-lo termasuk seorang di antara mereka yang ingin sekali mengetahui
dan memiliki ilmu itu. Tentu saja ia tidak menduga bahwa ilmu itu disimpan di dalam tongkat pusaka, akan
tetapi aku berani bertaruh bahwa ia merampas tongkat pusaka untuk ditukar dengan wasiat ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
peninggalan Pat-jiu Sin-ong itu.”
“Wah-wah, bagaimana baiknya? Aku sih tidak takut! Kalau kakek ketua Beng-kauw marah-marah, aku
dapat mengembalikan ilmu ini kepadanya dengan mengajarnya. Bukankah beres begitu?”
Kembali mau tak mau Suling Emas tersenyum. Bocah ini sama sekali belum tahu akan seluk beluknya
dunia kang-ouw. Kalau tahu tentu akan ketakutan sekali, karena urusan ini berarti kematiannya yang sukar
untuk dicegah pula.
“Lin-moi, aku percaya akan ketabahanmu yang luar biasa, sungguh pun aku tahu bahwa tak mungkin kau
mampu menghadapi Beng-kauw. Andai kata ilmu ini sudah kau sempurnakan, agaknya kau memang akan
menjadi penantang Beng-kauw yang berbahaya, akan tetapi kau seorang diri mana mampu menghadapi
Beng-kauw yang mempunyai banyak sekali orang sakti?”
“Termasuk kau?”
“Jangan ngacau! Lin-moi, bukan saatnya kita bicara main-main. Hanya ada satu cara untuk
membebaskanmu dari pada keadaan berbahaya ini.”
“Bagaimana?”
“Kau harus mengunjungi makam mendiang Pat-jiu Sin-ong, bersumpah di depan makam sebagai murid
yang menemukan ilmu itu. Dengan cara demikian, maka kau boleh dibilang sudah menjadi murid Pat-jiu
Sin-ong sehingga biar pun kau bukan anggota Beng-kauw, kau berhak mewarisi ilmunya.”
Lin Lin mengerutkan alisnya yang kecil hitam. “Pergi sendiri? Aku tidak tahu tempatnya!” Tapi hatinya
berkata, “Aku ogah!”
“Aku yang akan membawamu ke sana.”
Seketika wajah gadis itu berseri ketika ia memandang Suling Emas. “Dengan kau? Boleh, mari kita
berangkat!”
Suling Emas menggeleng-geleng kepala, akan tetapi diam-diam hatinya khawatir sekali. Bocah ini baginya
merupakan ancaman bahaya yang jauh lebih hebat dan mengerikan dari pada ujung senjata para
pengeroyoknya tadi.
********************
Beberapa hari kemudian, pagi-pagi sekali di tanah pekuburan kaum Beng-kauw terdapat dua orang muda
yang berjalan perlahan berdampingan. Mereka ini adalah Lin Lin dan Suling Emas yang melakukan
perjalanan cepat ke selatan dan kini telah tiba di tanah pekuburan kaum Beng-kauw di Nan-cao. Inilah
tanah pekuburan para tokoh yang termasuk pimpinan Beng-kauw, selama Beng-kauw didirikan di Nan-cao
oleh Pat-jiu Sin-ong.
Keadaan di situ menyeramkan. Matahari belum tampak, masih tertutup pohon-pohon dan Lin Lin merasa
seakan-akan ia mendatangi sebuah kota orang mati yang penghuninya hanya terdiri dari orang-orang mati
yang pada saat sepagi itu masih belum bangun, masih tidur di dalam rumah yang berupa gundukangundukan
tanah dihias batu nisan itu.
“Di mana makamnya...?” tanya Lin Lin, suaranya agak gemetar.
Hatinya gentar juga setelah tiba di tempat pekuburan itu. Harus diakui bahwa sesungguhnya ia tidaklah
begitu senang untuk bersumpah menjadi murid Pat-jiu Sin-ong yang sudah mati. Ia mempelajari ilmu
ciptaan Pat-jiu Sin-ong bukan disengaja, tapi secara kebetulan dan ia sama sekali tidak tahu sebelumnya
bahwa ilmu itu ciptaan pendiri Beng-kauw.
Kalau dulu ia menurut kepada Suling Emas dan sanggup untuk bersumpah menjadi murid, hal itu hanyalah
karena ia begitu amat inginnya melakukan perjalanan bersama Suling Emas! Dan harus ia akui bahwa
selama beberapa pekan ini, melakukan perjalanan di samping Suling Emas, siang malam selalu berada di
dekatnya, mendatangkan rasa gembira luar biasa dan mempertebal keyakinannya bahwa Suling Emas
juga mencintanya, sebesar ia mencinta pendekar sakti itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di sana makamnya, di bagian yang agak tinggi. Kau lihat, masih baru!” jawab Suling Emas sambil
menudingkan telunjuknya.
Mereka berjalan menghampiri makam Pat-jiu Sin-ong yang besar dan mewah. Bagi Lin Lin tempat ini
menyeramkan sekali, akan tetapi yang lebih menggelisahkan hatinya adalah bahwa ia harus bersumpah
menjadi murid penghuni makam! Amat heran hati Lin Lin melihat betapa Suling Emas serta-merta
menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat di depan makam. Mengapa Suling Emas begini menghormat
ketua Beng-kauw yang sudah meninggal, pikirnya. Padahal seingatnya, Suling Emas duduk sejajar dengan
ketua Beng-kauw yang masih hidup.
“Lin-moi, lekas kau berlutut dan mengucapkan sumpahmu, biar aku menjadi saksi,” terdengar Suling Emas
berkata.
Akan tetapi Lin Lin tetap berdiri tegak, tidak mau berlutut dan tidak mengeluarkan kata-kata.
“Lin-moi, mau tunggu apa lagi?”
Lin Lin tetap diam saja.
“Lin-moi, mengapa kau ragu-ragu? Bukankah sudah jelas kuterangkan kepadamu?”
“Ah, aku... aku tidak bisa. Hal ini seakan-akan suatu paksaan. Suling Emas, bagaimana kau bisa tahu
apakah benar-benar Pat-jiu Sin-ong menghendaki aku menjadi muridnya? Kalau beliau tidak menghendaki,
bukankah berarti kita membikin rohnya menjadi penasaran?”
Suling Emas tertegun, memandang kepada Lin Lin, lalu menoleh ke arah makam. Pada saat itu ia melihat
berkelebatnya bayangan orang. Ketika ia memandang jauh, hatinya berdebar karena ia mengenal laki-laki
tua memakai caping lebar itu. Kauw Bian Cinjin! Celaka, pikirnya. Kalau Kauw Bian Cinjin melihat mereka
di situ tentu akan bertanya dan kalau kakek itu mengetahui duduk perkara sebenarnya, sudah pasti kakek
itu takkan membiarkan Lin Lin hidup!
“Lin-moi, lekas berlutut. Lekas bersumpah sebelum terlambat!” desaknya sambil memegang tangan gadis
itu.
“Tidak, aku tidak bisa lakukan itu... masih ada jalan lain...”
Suling Emas hendak membantah, akan tetapi terlambat. Kauw Bian Cinjin yang bergerak cepat sekali
sudah tiba di situ dan kakek ini biar pun terheran melihat Suling Emas dan Lin Lin berada di makam Pat-jiu
Sin-ong, namun agaknya tidak mempedulikan ini. Malah ia segera berseru.
“Kim-siauw-eng (Suling Emas)! Apakah kau tidak melihat Hwee-ji (Anak Hwee)?” Pertanyaan ini yang
sama sekali tidak tersangka-sangka, tentu saja membuat Suling Emas tercengang.
“Bukankah dia sudah pulang bersama Bu Sin?” Tentu saja ia menjadi tercengang dan heran karena ia
sendiri yang menolong kedua orang muda itu dari ancaman Siang-mou Sin-ni, kemudian ia menyuruh
mereka kembali ke Nan-cao sedangkan ia sendiri pergi mencari Lin Lin dan Sian Eng.
Kauw Bian Cinjin kelihatannya tergesa-gesa sehingga tidak sempat untuk banyak bercerita. “Dia sudah
pulang. Kam Bu Sin sicu (tuan muda gagah) pulang lebih dulu ke Cin-ling-san menemui bibi gurunya. Akan
tetapi malam tadi, entah bagaimana dan mengapa, kelihatan di sini putera pangeran yang jahat itu, Suma
Boan, berkeliaran dan keadaannya seperti orang gila! Hwee-ji mengejarnya, akan tetapi sampai sekarang
keduanya tidak tampak bayangannya, kami menjadi khawatir sekali.”
“Ahhh...!” Suling Emas terkejut. “Biarlah aku mencari mereka!” Sambil berkata demikian, ia menyambar
tangan Lin Lin dan berkata, “Hayo kita pergi dulu dari sini mengejar mereka!”
Lin Lin tidak diberi kesempatan bicara. Pula, gadis ini diam-diam merasa girang dan lega bahwa ada
urusan lain yang membuat penyumpahannya sebagai murid Pat-jiu Sin-ong tertunda. Ia tadi sudah bingung
dan khawatir kalau-kalau Suling Emas menjadi kecewa dan marah oleh penolakannya. Kini Suling Emas
mengajaknya pergi, tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut berlari sambil mengangguk dan tersenyum kepada
Kauw Bian Cinjin yang memandangnya dengan kening berkerut. Mau apa gadis liar ini di sini? Demikian
dunia-kangouw.blogspot.com
pikir Kauw Bian Cinjin. Akan tetapi karena ia tahu bahwa gadis itu adalah adik angkat Suling Emas, ia pun
tidak mau memikirkannya lagi.
“Kim-siauw-eng, kau mencari ke timur aku ke utara!” teriaknya. Suaranya terbawa angin dan karena kakek
ini mengerahkan khikang, dapat juga suara ini mengejar dan sampai ke telinga Suling Emas.
“Baik!” jawab Suling Emas sambil mengerahkan khikang pula karena keduanya sudah terpisah amat jauh,
tidak tampak lagi, namun dengan kesaktian mereka, kedua orang ini masih dapat saling menyampaikan
pesan!
********************
Apakah sebenarnya yang terjadi? Bagaimana Suma Boan, putera pangeran itu, secara mendadak berada
di Nan-cao, dan kata Kauw Bian Cinjin berkeliaran seperti orang gila sehingga kini dikejar-kejar oleh Liu
Hwee?
Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika Sian Eng dan Bu Sin menjadi tawanan Hek-giam-lo di
dalam terowongan rahasia, Bu Sin diculik oleh Siang-mou Sin-ni sehingga akhirnya tertolong oleh Liu
Hwee dan kemudian ditolong pula oleh Suling Emas. Ada pun Sian Eng yang berada dalam keadaan
tertotok, ditolong dan dibawa pergi oleh Suma Boan!
Cinta memang dapat meracuni hati siapa saja tanpa pandang bulu. Dan kalau cinta sudah berkuasa,
banyak terjadi hal-hal aneh dan kadang-kadang pandangan seorang korban cinta jauh berlawanan dengan
pandangan umum. Agaknya seluruh orang di dunia ini yang merasa suka kepada Sian Eng, akan kecewa
dan tidak setuju kalau gadis cantik gagah ini jatuh cinta kepada seorang pemuda bangsawan yang
berwatak buruk macam Suma Boan. Akan tetapi apa hendak dikata. Sejak pertemuan pertama Sian Eng
memang sudah jatuh hati kepada putera pangeran ini! Apa pun yang akan dikatakan orang lain, tak
mungkin masuk di hati seorang yang sudah jatuh cinta.
Demikianlah, ketika dirinya dipondong pergi oleh Suma Boan, diam-diam Sian Eng merasa terharu dan
girang sekali, sungguh pun ada perasaan kecewa dan khawatir di hatinya kalau ia teringat akan kakaknya,
Bu Sin. Suma Boan berlari cepat dan karena ia berada dalam keadaan tertotok, Sian Eng tidak bisa apaapa.
Baru beberapa hari kemudian Suma Boan menurunkannya dari pondongan dan membebaskan
totokannya.
Sian Eng segera menegur, “Suma-koko, kenapa baru sekarang kau bebaskan aku? Kalau tadi-tadi, kan
kita berdua bisa menolong Bu Sin Koko? Ah, bagaimana nasibnya sekarang?”
Suma Boan merangkul pundaknya. “Jangan bodoh, Eng-moi. Kau tahu sendiri, tempat itu adalah tempat
Hek-giam-lo yang lihai. Bagaimana aku bisa sekaligus menolong dua orang? Dan saking takutku kalaukalau
Hek-giam-lo akan mengejar, aku terus saja membawamu lari dan baru sekarang berani berhenti di
sini. Ah, Moi-moi, baru sekarang kita dapat bertemu dan berkumpul. Alangkah gelisah hatiku ketika kita
berpisah di Nan-cao. Eng-moi, mengapa kau bisa berada di terowongan tempat sembunyi Hek-giam-lo itu
bersama kakakmu?”
Dengan halus Sian Eng melepaskan pundaknya dari rangkulan. Biar pun di hutan itu sunyi tidak ada orang
lain, namun ia tidak mau pemuda yang dicintanya itu bersikap terlalu mesra kepada dirinya. Mereka belum
berjodoh, belum pula bertunangan! Akan tetapi ia mengajak pemuda itu duduk mengaso dan berceritalah ia
tentang usaha mereka mencari Lin Lin sehingga mereka berdua terpisah dari Suling Emas dan kena
tangkap Hek-giam-lo.
“Kau agaknya sudah tahu bahwa kakakku yang hilang, Kam Bu Song, adalah Suling Emas. Kenapa
dahulu-dahulu tidak lekas beri tahu padaku?” tegur Sian Eng.
Suma Boan tersenyum dan memegang tangan gadis itu. “Aku belum yakin, hanya baru menduga.
Kakakmu itu saling mencinta dengan adikku, akan tetapi perjodohan mereka gagal karena ayah tidak
setuju. Tidak apa, sekarang ada gantinya engkau. Ayah pasti setuju mempunyai mantu seperti kau.”
Sambil berkata demikian Suma Boan mencoba untuk merangkul lagi.
“Ihhh, jangan begitu...!” Sian Eng melepaskan diri. “Soal perjodohan, bagaimana aku dapat memberi
keputusan? Ada kakak-kakakku, dan terutama sekali ada bibi guruku di Cin-ling-san.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku akan pergi ke sana, akan kulamar kau dari tangan bibimu. Eng-moi, sekarang aku ada urusan penting
sekali. Maukah kau membantuku?”
“Lihat-lihat urusannya!”
“Begini, adikku yang manis. Kita melihat sendiri betapa Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang semenjak belasan
tahun lenyap tak tentu rimbanya, kiranya muncul pada ulang tahun Beng-kauw dan tewas pula di situ. Akan
tetapi ia telah memperlihatkan ilmu yang amat luar biasa. Agaknya ia mempunyai tempat persembunyian di
Nan-cao. Ketahuilah, sewaktu hidupnya, di waktu muda dahulu, Tok-siauw-kui telah mencuri banyak sekali
kitab-kitab rahasia ilmu kesaktian yang jarang bandingnya di dunia ini. Sekarang ia telah mati, akan tetapi
aku percaya bahwa kitab-kitab itu masih ada, ia sembunyikan di tempat di mana ia tadinya sembunyi
sebelum ia muncul dan tewas di tangan ayahnya sendiri. Hiiihhh, mengerikan sekali! Pat-jiu Sin-ong dan
Tok-siauw-kui, ayah dan anak itu benar-benar bukan manusia, melainkan iblis-iblis yang luar biasa.”
Sian Eng mengerutkan keningnya, lalu menggunakan tangan kanannya menutup bibir pemuda itu.
“Hushhh, jangan kau bicara begitu, Suma-koko. Betapa pun juga, dia adalah kakek dan ibu kandung dari
kakakku Kam Bu Song.”
Suma Boan mencekal tangan itu dan menciumi jari-jari yang mungil sampai Sian Eng menariknya kembali.
“Gila!” cela gadis itu dengan muka menjadi merah. “Kau ceritakan semua itu kepadaku, dengan maksud
apakah?”
“Begini, kekasihku. Aku ingin sekali mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui itu dan kuharap
kau suka membantuku....”
“Ihhh!” Sian Eng mengkirik karena merasa seram. “Kau sudah begini lihai, kau menjadi murid It-gan Kaiong
yang sakti, masa masih mau mencari kitab pusaka lagi, untuk apa?”
“Ah, siapa bilang aku lihai? Hanya kau yang mencintaku yang bilang begitu, Eng-moi. Akan tetapi, apakah
kau tidak suka melihat aku menjadi lebih lihai lagi? Begitu lihai, sehingga kalau kelak kau menjadi isteriku,
aku mampu melindungimu dari pada segala macam bahaya, dan kelak kalau kiia mempunyai anak, aku
mampu menurunkan kepandaian kepada anak kita sehingga dia menjadi seorang pendekar nomor satu di
dunia.”
Sian Eng adalah seorang gadis gunung yang sederhana pikirannya. Ucapan manis dan muluk-muluk ini
sudah membuat semangatnya terbang melayang dengan nikmat sekali. Akan tetapi ia memandang Suma
Boan dengan bingung.
“Bagaimana kau bisa menemukan tempatnya? Andai kata bisa... hiiihh, mengerikan sekali!” Gadis ini
merasa takut teringat akan cerita kakaknya, Bu Sin.
“Apa yang mengerikan? Kau akan kuajak ke Nan-cao dan di sana, mengingat bahwa kau adalah adik tiri
Suling Emas, tentu kau akan leluasa bergerak di antara orang-orang Beng-kauw. Nah, kau menjadi
semacam penyelidik dan aku akan bersembunyi di luar kota raja. Setelah kau mendapat keterangan, kau
sampaikan kepadaku dan kita mencari kitab-kitab itu bersama. Bukankah ini bagus? He, kau mau bilang
apa?”
“Aku... aku sudah tahu tempat sembunyi Tok-siauw-kui....”
“Apa...?” Saking kaget, bernafsu dan girang, Suma Boan menarik tangan Sian Eng sehingga gadis ini
tersentak berdiri dan merasa lengannya sakit.
“Auuuhhhhh...” keluhnya. Suma Boan sadar dan cepat ia merangkul, mencium, Siang Eng meronta,
melepaskan diri dan bersungut-sungut.
“Jangan sekali-kali kau berani lagi berbuat seperti ini sebelum kita menjadi suami isteri. Kalau kau berani
ulangi, aku akan membencimu!” Matanya berapi-api dan sikapnya menantang.
Suma Boan adalah searang pemuda yang bangor, yang sudah banyak pengalamannya, maka tiba-tiba ia
menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kaki gadis itu. “Maaf Eng-moi, maafkan aku yang tak kuasa
mengendalikan diri saking besarnya cintaku. Mari kita duduk dan ceritakanlah tentang tempat sembunyi
dunia-kangouw.blogspot.com
Tok-siauw-kui....”
Melihat pemuda bangsawan yang dikasihinya itu berlutut memeluk kakinya dan memohon dengan suara
yang minta dikasihani, luluhlah hati gadis Sian Eng yang masih hijau. Cinta itu buta kata orang. Bukan cinta
yang buta, melainkan orang yang sedang dimabuk cinta seperti buta. Buta dalam arti kata lengah
kehilangan kewaspadaan. Pertimbangannya menjadi miring karena orang yang jatuh cinta selalu melihat
kebaikan memancar ke luar dari orang yang dicinta, tiada tampak cacad celanya sehingga ada
perumpamaan kasar yang berbunyi bahwa tahi pun, kalau tahi kekasih, harum baunya!
Demikian pula Sian Eng yang sudah tercengkeram asmara, segala gerak-gerik pemuda bangsawan ini
selalu menarik, selalu menimbulkan kasihan. Melihat Suma Boan berlutut di depannya, ia lalu menyentuh
pundak pemuda itu dan berkata halus. “Sudahlah, Koko. Aku tidak marah lagi, asal kau jangan sekasar
tadi.”
Girang hati Suma Boan. Gadis ini merupakan korban yang mudah dan lunak baginya. Ia lalu menarik
tangan Sian Eng dan diajak duduk di bawah pohon besar, diminta menceritakan tentang tempat sembunyi
Tok-siauw-kui.
“Aku sendiri belum melihat tempat itu, hanya mendengar dari kakakku Bu Sin.” Ia lalu menceritakan apa
yang pernah ia dengar dari Bu Sin ketika bersama Liu Hwee melarikan diri dari tahanan It-gan Kai-ong
melalui lorong rahasia dan bertemu dengan Tok-siauw-kui.
“Bagus!” Suma Boan berseru girang. “Kiranya Tok-siauw-kui selama belasan tahun menghilang
bersembunyi di negaranya sendiri, di dalam lorong di bawah tanah? Tentu kitab-kitabnya berada di sana
pula karena ketika ia keluar dan tewas, ia tidak membawa kitab-kitab itu. Di manakah jalan ke luar lorong
itu menurut cerita kakakmu?”
“Dia bilang jalan keluar itu merupakan sebuah goa kecil yang tertutup alang-alang dan tidak tampak dari
luar, di sebuah hutan yang berada dekat dengan tanah kuburan para pimpinan Beng-kauw. Entah apa
namanya hutan kecil itu, akan tetapi Sin-ko melihat ada serumpun bambu kuning tumbuh di atas goa.”
Suma Boan mengerutkan keningnya, memutar otaknya, “Tok-siauw-kui muncul dari dalam gedung
sembahyang, tentu lorong rahasia itu ada tembusannya ke ruangan itu. Kalau kita bisa menyelidik ke sana,
kau sebagai adik Suling Emas, tentu mudah menyelidik tanpa dicurigai.”
Sian Eng tidak setuju. “Berbahaya sekali. Tempat itu merupakan tempat keramat bagi Beng-kauw, tentu
terjaga kuat dan merupakan tempat terlarang bagi orang luar. Lebih aman kalau kita mencoba mencari
hutan kecil dan berusaha mendapatkan goa yang atasnya ada serumpun bambu kuning itu.”
Suma Boan menarik tangan Sian Eng dan mereka berdiri. Wajah pemuda bangsawan ini berseri-seri. Ia
gembira sekali karena kalau ia sampai bisa menemukan kitab-kitab itu, ia akan menjadi seorang jagoan
yang hebat!
“Mari kekasihku, mari kita mencari tempat itu! Aku akan berterima kasih selama hidupku kepadamu kalau
kita bisa mendapatkan tempat itu. Mari!”
Berlari-larilah mereka menuju ke tanah pekuburan keluarga Beng-kauw. Tentu saja Suma Boan yang
cerdik sengaja mengambil jalan memutar agar jangan sampai ketahuan oleh orang-orang Beng-kauw. Ia
maklum bahwa sekali mereka itu curiga, biar pun di situ ada Sian Eng, mereka tetap akan mencurigainya
dan kalau sampai terjadi bentrok dengan mereka, biar pun ia tidak takut, namun usahanya ini tentu akan
gagal. Ia sengaja memilih waktu malam untuk menyelundup masuk dan mencari hutan itu yang akhinya
dapat mereka temukan. Sebuah hutan kecil di sebelah utara tanah pekuburan pimpinan Bengkauw.
“Agaknya itulah tempatnya!” akhirnya Sian Eng berseru girang ketika mereka berdiri di depan serumpun
alang-alang dan di atas segunduk gunung-gunungan kecil terdapat pohon-pohon bambu kuning yang
indah.
Waktu itu menjelang pagi dan dengan hati-hati mereka menyingkap alang-alang itu dan... betapa girang
hati Suma Boan ketika melihat bahwa di balik alang-alang tebal itu betul saja terdapat sebuah goa yang
setinggi dua meter lebih, gelap dan menyeramkan seperti mulut seekor naga terbuka lebar.
Suma Boan seorang yang cerdik dan licik. Betapa pun besar nafsunya untuk mendapatkan kitab-kitab
dunia-kangouw.blogspot.com
peninggalan Tok-siauw-kui, namun ia tidak mau menghadapi resiko terlalu besar untuk memasuki goa
terowongan yang menyeramkan dan belum diketahui benar keamanannya itu. Ia maklum bahwa goa itu
merupakan tempat keramat bagi orangorang
Beng-kauw, siapa tahu di sebelah dalamnya terdapat tokohtokoh
Beng-kauw yang lihai.
“Eng-moi, kekasihku, kau tentu suka membantu aku, bukan? Sebetulnya memang aku yang seharusnya
memasuki goa ini dan mencari kitab-kitab itu. Akan tetapi kau tahu sendiri, kalau ada yang melihatku, tentu
terjadi pertempuran matimatian
dan tidak ada harapan bagiku untuk keluar hidup-hidup. Oleh karena itu,
demi cinta kasihmu kepadaku, aku minta dengan sangat sukalah kiranya kau yang mencari ke dalam dan
aku menjaga di luar. Andai kata ada tokoh Beng-kauw melihatmu, bisa saja kau menggunakan alasan
untuk mencari kakakmu Suling Emas, atau dengan dalih bahwa kakakmu Bu Sin pernah memasuki lorong
rahasia ini dan karena kau ingin sekali menyaksikan sendiri, maka kau memasukinya.”
Dengan bujukan-bujukan yang manis dan alasan-alasan yang masuk akal, terutama dengan janji bahwa
setelah mereka menemukan kitab itu, Suma Boan akan membawa Sian Eng pulang ke Cin-ling-san
menemui Kui Lan Nikouw untuk memibicarakan urusan perjodohan mereka, akhirnya Sian Eng tak dapat
membantah lagi.
“Baiklah, Suma-koko, akan tetapi apa pun yang akan terjadi dengan diriku di dalam terowongan ini, kau
jangan meninggalkan tempat ini, dan andai kata aku berhasil kelak mendapatkan kitab-kitab itu, kau harus
memberi kesempatan kepadaku untuk mempelajari ilmunya.”
Suma Boan merangkul pundak Sian Eng sambil tersenyum lebar. “Tentu saja, manisku, masa kau tidak
percaya kepadaku?”
Girang hati Sian Eng dan ia pun tersenyum, lalu mencabut pedangnya dan memasuki goa itu dengan hatihati
sekali. Setelah melihat gadis itu menghilang di dalam kegelapan goa itu Suma Boan lalu menutup dan
merapikan kembali rumpun alang-alang dari sebelah dalam sehingga tidak akan tampak dari luar dan dia
sendiri duduk menanti di mulut goa dengan hati berdebar-debar.
Sian Eng terus melangkah ke depan dengan hati-hati sekali karena di dalam terowongan goa itu amat
gelap. Kakinya melangkah dengan pasangan kuda-kuda untuk menjaga segala kemungkinan, pedangnya
siap di depan dada. Ia merasa agak lega bahwa lantai yang diinjaknya kering dan tidak licin, juga rata
seakan-akan diratakan oleh manusia. Ia maju terus menyusuri terowongan yang agaknya tidak ada
ujungnya itu.
Beberapa kali terowongan itu berbelok dan setelah ia berjalan selama satu jam, keadaan di depannya
mulai terang. Tak lama kemudian Sian Eng dapat melihat keadaan sekelilingnya. Di kanan kiri terlihat
dinding batu karang yang agak basah. Jalan terowongan yang dilaluinya selebar tiga meter, tingginya dua
meter. Sekali lagi ia membelok ke kanan dan tibalah ia di sebuah ruangan selebar empat meter persegi
yang cuacanya terang sekali.
Berbeda dengan terowongan tadi, ruangan ini atasnya terbuka merupakan sumur yang amat dalam dan
cahaya matahari masuk melalui celah-celah di atas. Kiranya sumur yang dalamnya lebih dari lima puluh
meter ini atasnya tertutup batu-batu besar dan celah-celah di antara batu-batu besar inilah yang diterobosi
sinar matahari sehingga tidak hanya ruangan bawah tanah itu yang terang melainkan sebagian lorong juga
mendapatkan cahaya.
Tiba-tiba terdengar suara bercicit dan sesosok bayangan hitam kecil menyambar dari depan ke arah
kepala Sian Eng. Gadis ini kaget sekali, mengira bahwa bayangan itu adalah senjata rahasia karena
anginnya halus dan cepat. Ia miringkan tubuhnya dan melompat ke tengah ruangan. Akan tetapi segera
ternyata olehnya bahwa sebetulnya tak perlu ia mengelak, karena benda itu ternyata adalah seekor
kelelawar yang tentu saja silau matanya ketika melalui ruangan terang itu dan hampir menabrak kepalanya.
Betapa pun juga, karena tubuhnya sudah meloncat, Sian Eng turun ke tengah ruangan untuk dapat
bersikap lebih hati-hati dan dapat memandang keadaan sekelilingnya dengan jelas. Dengan ringan kedua
kakinya turun ke atas lantai.
Akan tetapi begitu kedua kakinya menginjak lantai tepat di tengah-tengah ruangan itu, terdengar suara
hiruk-pikuk di depan dan belakangnya. Sian Eng kaget sekali dan cepat ia memandang. Kiranya pada saat
itu, jalan terowongan di depan dan belakang, mulai tertutup oleh batu besar yang bergerak keluar dari
dalam dinding!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Celaka...!” Sian Eng berseru dan cepat ia melompat ke belakang untuk menerobos keluar kembali dari
ruangan itu.
Akan tetapi terlambat. Batu itu sudah hampir menutup seluruh jalan terowongan. Gadis ini segera
memegang batu yang berbentuk seperti roda dan bergeser maju terus itu, mengerahkan sinkang untuk
menahan atau mendorong kembali batu itu agar ia dapat menerobos keluar. Akan tetapi kagetlah Sian Eng
ketika mendapat kenyataan bahwa batu itu luar biasa beratnya, tak kuasa ia menahan sehingga batu itu
terus bergerak sampai terowongan itu tertutup seluruhnya.
Sian Eng membalikkan tubuh dan meloncat ke sebelah seberang, juga dengan maksud menahan batu
yang di sebelah sana masih belum menutup lorong itu seluruhnya. Akan tetapi kembali ia terlambat dan
tidak kuasa mendorong kembali batu penutup yang dapat bergerak secara aneh itu.
Sian Eng kembali meloncat ke tengah ruangan. Ia telah terkurung kini. Kanan kirinya hanya dinding kasar
batu karang yang agak basah, bawahnya lantai batu karang pula, di depan dan belakang kini tertutup batu
besar yang menutup lorong dan demikian beratnya sehingga ia tidak mampu menggerakkannya. Di
atasnya, lima puluh meter tingginya, tertutup batu-batu besar pula dan hanya celah-celahnya yang cukup
lebar saja dapat diterobos sinar matahari.
Sian Eng bukan seorang gadis penakut, akan tetapi pada saat itu ia merasa ngeri juga. Kembali ia
mendekati batubatu
yang menutup lorong itu, bergantian ia memeriksa dengan teliti kalau-kalau ada cara
untuk membuka sedikit sehingga terdapat lubang untuk diterobosnya. Memang betul di antara dua batu
penutup dan dinding karang terdapat celah-celah yang cukup lebar-lebar untuk dimasuki dua buah
lengannya, karena di antara dinding dan batu itu terdapat bagian-bagian yang tidak rata, akan tetapi tak
mungkin dipergunakan untuk meloloskan diri karena terlampau kecil.
Sian Eng cepat mencabut pedangnya dan membacok bagian yang ada celahnya dengan maksud berusaha
memperlebar celah itu. Akan tetapi pedangnya membalik dan tidak ada sekeping pun batu dapat
dipecahkan pedangnya! Ketika ia memeriksa, ternyata batu hitam itu luar biasa kerasnya, seperti baja!
Setengah hari lebih Sian Eng berusaha mengorek dan membacoki batu. Namun sia-sia. Akhirnya ia
menjadi lelah dan menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan yang mulai gelap, telapak tangannya
berdarah dan perih, bahkan pedangnya menjadi rusak-rusak ujungnya.
Sian Eng menangis! Kemudian ia berteriak-
teriak, menjerit-jerit memanggil nama Suma Boan yang ia tahu
menanti di luar goa.
“Suma-koko! Suma-koko...! Ke sinilah dan tolong aku...!”
Ia menjerit-jerit terus sampai ruangan itu menjadi gelap pekat karena matahari sudah lenyap dari angkasa,
dan ia berhenti setelah suaranya menjadi serak dan habis. Dengan lelah dan lemah lahir batin, Sian Eng
kini duduk bersandar dinding. Mulailah ia menenteramkan hatinya dan memperhatikan sekeliling yang kini
menjadi gelap sekali itu.
Setelah dapat menenangkan hatinya, baru ia tahu bahwa kini banyak sekali kelelawar berseliweran di
dalam ruangan itu. Mulamula
ia merasa heran, dari mana datangnya begitu banyak kelelawar? Kemudian
ia teringat bahwa di antara batu-batu penutup lorong itu terdapat lubang-lubang yang cukup lebar untuk
diterobosi kelelawar-kelelawar itu. Pada saat itu, alangkah inginnya dia menjadi seekor kelelawar!
Semalam suntuk, selama ruangan di bawah tanah itu gelap pekat menghitam membuat Sian Eng merasa
seperti menjadi buta, merupakan saat-saat yang amat menyiksa bagi gadis ini. Bukan hanya tersiksa oleh
keadaan dan tersiksa oleh para kelelawar yang makin memenuhi ruangan itu dan menyambarnya dari
segenap penjuru, juga tersiksa oleh rasa seram dan ngeri, juga takut karena ia tak dapat memikirkan jalan
ke luar sama sekali. Andai kata Suma Boan datang pula menyusulnya, bagaimana pemuda itu dapat
membebaskannya dari kurungan batubatu
yang kokoh kuat ini? Sian Eng tak dapat menangis lagi, air
matanya sudah kering.
Akhirnya, menjelang pagi ia masih berjalan mengelilingi ruangan itu, meraba-raba sepanjang dinding
bagaikan orang yang tidak waras otaknya.
“Aku harus hidup! Aku harus hidup!” terdengar ia berteriak-teriak dan menjerit-jerit, kemudian ketika ada
angin menyambar, ia cepat menggerakkan tangannya untuk menangkap kelelawar itu, namun sia-sia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Binatang kecil ini amat gesit dan berbeda dengan dia yang buta di dalam gelap, binatang ini memiliki
sesuatu sebagai pengganti mata, sesuatu yang merupakan indera rahasia, yang membuat ia mempunyai
perasaan amat peka sehingga sambaran tangan Sian Eng itu dapat dielakkannya. Malah kemudian tibatiba
gadis ini merasa tengkuknya disambar seekor kelelawar dan terasa kulit tengkuknya sakit sekali.
“Kurang ajar!” bentaknya.
Cepat ia mencengkeram ke belakang tengkuknya, namun binatang itu setelah menggigit sudah terbang
pergi lagi. Sian Eng meraba bekas gigitan, berdarah sedikit. Akan tetapi agaknya bau darah ini membuat
binatang-binatang kecil itu menjadi ganas dan liar, karena secara tiba-tiba binatang-binatang itu menyerang
Sian Eng dari segala jurusan.
Sian Eng menggerak-gerakkan kedua tangannya, menampar ke sana-sini, mencengkeram ke sana-sini. Ia
berhasil meruntuhkan beberapa ekor kelelawar, akan tetapi gigitan-gigitan itu mengenai banyak bagian
tubuhnya, leher, lengan, pipi, kaki. Hebatnya, bekas-bekas gigitan itu terasa gatal dan panas dan akhirnya
gadis ini terguling roboh ketika racun-racun dari luka gigitan membuatnya pening. Ketika ia roboh,
binatang-binatang kecil itu masih menyerbu dan menggigitinya, menghisap darahnya!
Suma Boan yang menunggu di luar goa tanpa mengetahui keadaan gadis itu menjadi amat gelisah. Sudah
tiga hari tiga malam ia menanti, belum juga Sian Eng muncul ke luar! Pemuda ini tetap bersembunyi di
mulut goa, di belakang rumpun alang-alang karena ia khawatir kalau-kalau terlihat oleh orang-orang Bengkauw.
Hanya di waktu malam ia meninggalkan tempat sembunyinya untuk mencari makanan. Betapa pun
juga ia percaya penuh akan kesetiaan Sian Eng dan dengan sabar ia menanti.
Akan tetapi setelah lewat dua pekan masih juga belum ada bayangan gadis itu, Suma Boan habis sabar
dan merasa gelisah sekali. Tentu saja ia tidak mengkhawatirkan keadaan Sian Eng, karena pada
hakekatnya pemuda bangsawan ini berhati palsu, sama sekali ia tidak mencinta Sian Eng dengan hati
murni, melainkan hanya suka karena kecantikannya. Baginya, keselamatan Sian Eng sama sekali tidaklah
penting, yang penting adalah kitab-kitab itu. Ia gelisah karena memikirkan kitab-kitab peninggalan Toksiauw-
kui. Apakah Sian Eng tertangkap? Ataukah gadis itu tidak mau memberikan kitab-kitab kepadanya?
Hanya itulah yang ia pikirkan.
Karena khawatir kalau-kalau usahanya mendapatkan kitab-kitab itu gagal, maka pada hari ke enam belas,
pagi-pagi setelah matahari mulai bersinar, Suma Boan memasuki goa itu untuk menyusul Sian Eng.
Dengan pedang di tangan ia melangkah maju dengan hati-hati sekali. Seperti juga halnya Sian Eng, ia
sampai di lorong yang membawanya ke ruangan yang kini tertutup batu. Akan tetapi bedanya, ketika Sian
Eng memasuki lorong ini, ada cahaya terang sinar matahari dari ruangan, kalau sekarang, karena yang
menyorot dari celah-celah batu penutup, maka keadaan hanya remang-remang saja.
Betapa kaget dan bingungnya hati Suma Boan ketika ia tiba di depan batu besar yang menutup lorong.
Jalan itu menjadi buntu! Dicobanya untuk mendorong batu itu, namun sia-sia belaka. Ia merayap pada batu
itu untuk mengintai dari lubang atau celah-celah antara batu dan dinding karang, akan tetapi hanya melihat
lantai batu yang amat terang karena pada saat itu cahaya matahari sudah memasuki sumur itu.
“Eng-moi!” Ia memanggil. Sunyi tiada jawaban, hanya gema suaranya yang terdengar menggereng seperti
suara dari alam lain.
“Sian Eng! Di mana kau?” Kembali ia berseru keras. Tetap sunyi.
Ah, tentu Sian Eng tidak berada di balik batu ini, pikirnya. Kalau dia sendiri tidak mampu mendorong batu
ini, apa lagi Sian Eng? Tentu, seperti juga dia sendiri gadis itu tidak dapat menembus jalan buntu ini dan
menggunakan jalan lain. Tentu ada jalan simpangan di lorong bawah tanah ini, pikirnya. Suma Boan lalu
memutar tubuh dan dengan hati-hati, meraba-raba dinding batu.
Ia kembali dan mencari jalan simpangan. Siapa tahu ada jalan simpangan dan Sian Eng tentu mengambil
jalan simpangan itu. Usahanya berhasil. Memang betul terdapat jalan simpangan ini. Tangannya meraba
lubang di sebelah kiri dinding dan ternyata di situ terdapat lorong kecil yang hanya dapat ia masuki dengan
perlahan karena lebarnya hanya setengah meter saja.
Lorong kecil ini seakan-akan tidak ada ujungnya. Suma Boan maju terus sambil memanggil-manggil nama
Sian Eng. Akhirnya lorong ini menembus pada sebuah ruangan lebar dan Suma Boan berdiri terpaku
saking kaget dan seram. Lorong itu diterangi sinar kehijauan yang entah datang dari mana. Dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika dari tempat gelap tiba-tiba ia dapat melihat, akan tetapi ia
dihadapkan penglihatan yang luar biasa seramnya.
Ruangan itu lebarnya kurang lebih dua tombak, panjangnya tiga tombak. Di tiap ujung berdiri sebuah
rangka manusia yang lengkap dengan rahang terbuka seakan-akan hendak berkata-kata atau hendak
menggigit. Anehnya, empat buah rangka itu semua memegang senjata, sebuah memegang sepasang
pedang, sebuah memegang golok, sebuah memegang joan-pian (semacam cambuk baja), dan yang
sebuah lagi memegang tombak!
Suma Boan bukanlah seorang penakut. Dia murid seorang sakti yang menjadi seorang di antara Enam
Iblis. Gurunya It-gan Kai-ong, agaknya lebih menakutkan dari pada empat buah rangka manusia yang
memegang senjata ini. Apa yang perlu ditakutkan dari empat buah rangka yang sudah mati dan tak dapat
bergerak lagi? Pula, melihat keadaan ruangan yang aneh dan menyeramkan ini, agaknya di situlah
disimpannya kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui! Oleh karena itu, dengan tabah hati Suma Boan
melangkah memasuki ruangan itu dengan pedang di tangan.
Tetapi alangkah kagetnya ketika ia sampai di tengah ruangan. Tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan
empat buah rangka manusia itu bergerak-gerak menyerangnya dari empat penjuru! Suma Boan kaget,
akan tetapi ia tidak merasa takut, cepat ia memutar pedang menangkis. Ia memandang rendah. Jangankan
hanya empat buah rangka mati yang entah bagaimana sekarang dapat bergerak menyerangnya,
sedangkan manusia-manusia hidup saja kalau hanya baru empat orang mengeroyoknya, ia tidak akan
takut! Dipikirnya bahwa sekali memutar pedang menangkis, tentu ia akan dapat membabat putus senjatasenjata
dan tulang-tulang lengan mereka.
Terkejutlah Suma Boan ketika melihat betapa gerakan serangan mereka itu hebat dan aneh sekali. Senjata
mereka tidak bergerak biasa, melainkan dengan gerakan tergetar, ada yang menyerong dan ada yang
berbentuk lingkaran yang sukar sekali diduga ke mana titik yang akan diserang. Inilah gerakan-gerakan
dari jurus ilmu silat yang amat tinggi dan aneh! Ia berusaha menyelamatkan diri dan berhasil menangkis
sepasang pedang dan golok sekaligus, akan tetapi ia tak dapat mencegah serampangan gagang tombak
pada kakinya dan cambukan pada punggungnya! Suma Boan merasa punggung dan kakinya sakit sekali
dan tak dapat tertahankan lagi ia terguling roboh di atas lantai!
Kiranya empat buah rangka itu hanya satu kali saja menyerang karena kini secara otomatis mereka
bergerak mundur dan berdiri mati di tempat masing-masing, yaitu di sudut-sudut ruangan itu. Kemudian
terdengar bunyi mendesis-desis dan muncullah tiga ekor ular dari sebelah depan, tiga ekor ular kelaparan
yang langsung merayap menghampiri Suma Boan.
Sebagai seorang tokoh yang sudah banyak pengalaman, sekali melihat saja tahulah Suma Boan bahwa
ular-ular itu adalah ular-ular kepala putih yang amat berbisa, yang gigitannya sekali saja dapat
mendatangkan maut! Dan ia dapat memperhitungkan pula bahwa rangka-rangka itu digerakkan oleh alat
rahasia yang agaknya akan menggerakkan rangkarangka
itu kalau ia menginjak lantai ruangan, maka
jalan satu-satunya untuk dapat keluar dari ruangan ini hanya dengan jalan merangkak perlahan-lahan.
Akan tetapi kalau hal ini ia lakukan, ia akan terlambat karena ular-ular itu akan menyerangnya.
Punggungnya masih terasa sakit yang membuat gerakannya kurang cepat. Kalau ia menggunakan
pedangnya melawan ular-ular itu, keselamatannya belum tentu terjamin. Pemuda bangsawan yang cerdik
ini tanpa ragu-ragu lagi lalu menggunakan pedangnya, merobek dan memotong sebagian daging betis
kirinya.
Karena pedangnya amat tajam dan gerakan tangannya amat kuat, hampir tidak terasa nyeri ketika ia
memotong betisnya. Gumpalan daging betisnya ia lemparkan ke tengah-tengah ular dan seketika ular-ular
itu saling terjang untuk memperebutkan daging berdarah yang segar itu! Suma Boan mempergunakan
kesempatan ini untuk merangkak pergi, dan begitu ia tiba di lorong, lalu ia menggerakkan kedua kakinya
berdiri dan lari dari tempat itu.
Baru sekarang terasa betapa perih dan sakitnya kaki yang dipotong daging betisnya. Ia berhenti di tempat
gelap, merobek celananya dan membalut luka di betisnya setelah ia beri obat bubuk yang memang
tersedia di saku bajunya. Kemudian ia berjalan lagi sambil berteriak-teriak memanggil Sian Eng.
Mulai gelisah hati Suma Boan. Apakah yang terjadi dengan gadis itu? Terus melalui terowongan besar
tentu tak mungkin karena terhalang batu besar. Memasuki lorong kecil ini pun takkan mungkin karena tentu
akan bertemu ruangan rahasia yang amat berbahaya itu. Lalu ke mana perginya Sian Eng? Jangan-jangan
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis itu telah tertawan oleh orang-orang Beng-kauw, pikirnya. Kalau tewas tentu ia dapat melihat
mayatnya. Tak mungkin tiga ekor ular tadi menghabiskan seluruh badan mayat seseorang apa lagi tiga
ekor ular tadi kelihatan kelaparan, tanda bahwa berbulan-bulan tidak mendapat mangsa.
Dengan tubuh sakit-sakit dan hati kecewa sekali Suma Boan keluar dari terowongan itu. Tiba-tiba ia
merasa kepalanya pening dan napasnya sesak. Cepat ia berhenti di tempat gelap dan mengumpulkan
napas, mengerahkan sinkang-nya. Sebagai murid orang sakti, tahulah ia bahwa ia telah kena hisap hawa
beracun yang kini mulai mempengaruhinya! Kaget bukan main hati Suma Boan. Ia terhuyung-huyung dan
pandang matanya kabur.
Hatinya lega ketika ia melihat sinar terang dari luar goa. Ia telah tiba di mulut goa dan tiba-tiba tampak
olehnya bayangan seorang wanita berkelebat di depan goa itu.
“Moi-moi...! Kekasihku, akhirnya kita bertemu juga...!” teriaknya girang sambil mengerahkan seluruh
tenaganya untuk mengejar ke luar. Pandang matanya agak berkunang dan kabur, akan tetapi ia masih
dapat melihat bahwa yang berdiri di luar alang-alang itu adalah seorang gadis muda. Siapa lagi kalau
bukan Sian Eng?
“Kekasihku...!”
“Tutup mulutmu yang kotor!” tiba-tiba bayangan itu membentak dan sebuah tamparan keras menyambar
muka Suma Boan. Biar pun kepalanya pening, namun Suma Boan belum kehilangan kelihaiannya. Ia cepat
mengelak dan bahkan berusaha mencengkeram lengan tangan gadis itu yang juga dapat menghindarkan
diri.
“Moi-moi... kau hendak mengkhianatiku? Serahkan kitab-kitab itu, di mana kau sembunyikan?” bentak
Suma Boan sambil menubruk lagi hendak memeluk gadis itu.
Dengan teriakan tertahan gadis itu mengelak dan menerjang Suma Boan dengan obor di tangannya.
Kiranya cahaya terang yang kelihatan dari dalam goa oleh Suma Boan tadi adalah sebuah obor yang
dipegang oleh gadis itu, dan ternyata bahwa keadaan waktu itu telah mulai gelap! Suma Boan menjadi
marah sekali dan cepat ia menggerakkan tangan melakukan pukulan jarak jauh dan... padamlah obor itu.
Keadaan sudah menjelang malam, namun masih belum gelap benar, cuaca remang-remang.
Tampak bayangan lain berkelebat datang, “Ada apakah, Hwee-ji (Anak Hwee)?” terdengar bayangan yang
datang ini bertanya.
“Susiok (Paman Guru), dia ini Suma Boan si jahat itu. Dia baru keluar dari goa rahasia! Mari tangkap! Dia
kelihatan seperti gila!” jawab Liu Hwee, gadis itu.
Sementara itu, ketika Suma Boan mendengar percakapan pendek ini, sadarlah ia bahwa ia telah keliru
sangka. Gadis itu sama sekali bukanlah Sian Eng seperti yang dikiranya, melainkan Liu Hwee, puteri ketua
Beng-kauw, dan yang baru datang adalah Kauw Bian Cinjin, orang kedua dari Beng-kauw! Tanpa banyak
cakap lagi ia lalu lari tunggang langgang secepat kedua kakinya bergerak. Liu Hwee juga melompat
mengejar dan terjadilah kejar-mengejar di malam buta.
Kauw Bian Cinjin juga ikut mengejar, akan tetapi hanya sebentar ia kembali lagi. Ia pikir bahwa seorang
lawan macam Suma Boan cukup ditandingi oleh Liu Hwee. Ia khawatir kalau-kalau kedatangan Suma Boan
itu hanya pancingan belaka agar ia ikut pula mengejar, sedangkan siapa tahu kalau-kalau guru pemuda itu,
It-gan Kai-ong yang akan datang beraksi! Karena itu Kauw Bian Cinjin tidak melanjutkan pengejarannya,
melainkan melakukan perondaan di sekitar tanah kuburan Beng-kauw yang berada di atas lorong-lorong
rahasia.
Demikian, seperti kita ketahui di bagian depan cerita ini, Kauw Bian Cinjin
bertemu dengan Suling Emas
dan Lin Lin yang berada di depan kuburan mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Kemudian Kauw Bian Cinjin
minta bantuan Suling Emas untuk mencari-cari Liu Hwee yang belum juga tampak kembali. Suling Emas
mengejar ke timur sedangkan Kauw Bian Cinjin mengejar ke utara.
--- dunia-kanguw.blogspot.com ---
Suling Emas dan Lin Lin mengejar ke timur dengan cepat. Tanpa disadari sendiri oleh gadis itu, kini ia
dapat mengimbangi kecepatan Suling Emas, kemajuan yang luar biasa semenjak ia mempelajari ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
peninggalan Pat-jiu Sinong,
terutama sekali petunjuk-petunjuk cara bersemedhi dan mengatur napas.
Gadis ini tidak menyadari hal itu, akan tetapi Suling Emas dapat menduganya karena dahulu gerakan Lin
Lin tidaklah sehebat ini. Diam-diam pendekar ini menjadi amat khawatir.
Ilmu ciptaan Patjiu
Sin-ong ini hebat sekali, baru satu jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan
Kilat) yang pernah dipergunakan Lin Lin ketika ia mencobanya itu saja sudah luar biasa sekali saktinya.
Kalau sudah terlatih matang, agaknya gadis ini akan menjadi salah satu orang sakti di dunia persilatan. Ia
hanya khawatir kalau-kalau kepandaian sakti itu pada diri seorang gadis seperti Lin Lin akan menimbulkan
keributan kelak. Ia tahu bahwa sesungguhnya kepandaian sebagian anugerah Thian (Tuhan) setelah jatuh
pada diri manusia, menimbulkan dua macam hal bertentangan, yaitu baik dan buruk, tergantung dari pada
si manusia itu sendiri. Dan manusia macam Lin Lin adalah manusia yang amat aneh, sukar sekali
dimengerti.
Sampai sepekan mereka mengejar, belum juga mereka mendapatkan jejak Suma Boan mau pun Liu
Hwee. Pada hari ke tujuh mereka sudah tiba di tapal batas wilayah Kerajaan Wu-yue dan berhentilah
Suling Emas.
“Tiada guna,” katanya ketika mereka mengaso pada tengah hari yang panas itu di bawah pohon dalam
hutan. “Tidak ada jejak mereka ke sini, agaknya bukan ke timur mereka menuju. Pula Kauw Bian Cinjin
sudah melakukan pengejaran, tentu akan dapat menyusul dan menyelamatkan puteri Beng-kauw. Andai
kata tidak dapat menyusulnya, Suma Boan akan bisa berbuat apakah? Kepandaiannya tidak ada artinya
kalau dibandingkan dengan kesombongannya.”
“Apakah kepandaian Liu Hwee itu hebat?” Lin Lin bertanya sambil memandang wajah tampan di sebelah
kanannya. Kembali rasa cemburu menggerogoti hatinya karena ia menyaksikan sendiri betapa akrab
hubungan antara Suling Emas dan Liu Hwee.
“Puteri tunggal ketua Beng-kauw tentu saja mempunyai kepandaian tinggi. Selain berilmu tinggi, juga
pandangannya luas dan ia selalu hati-hati dan waspada,” Suling Emas memuji-muji sambil menganggukanggukkan
kepalanya.
Seketika bibir Lin Lin cemberut. “Sekali waktu aku ingin menandinginya, coba-coba siapa yang lebih lihai
antara dia dan aku!”
Suling Emas yang tadinya duduk seperti melamun menjadi kaget, dan cepat menoleh memandang wajah
gadis itu yang masih cemberut. Mulut dan mata gadis itu jelas membayangkan apa yang sedang bergejolak
di dalam dada Lin Lin. Suling Emas tidak jadi menjawab, hatinya berdebar dan ia menarik napas panjang.
Melihat wajah yang begitu mirip dengan wajah kekasihnya, Suma Ceng, hampir saja pertahanan hatinya
bobol.
Bagaimana ia tidak dapat mencintai gadis yang wajahnya begini mirip Suma Ceng, yang wataknya begini
aneh dan lincah jenaka, yang sudah pasti sekali akan mendatangkan cahaya bahagia di ruang dadanya
yang gelap muram? Bagaimana takkan terobati luka-luka di hatinya, luka yang diakibatkan kegagalan cinta
kasih, apa bila ia menerima uluran hati gadis ini? Namun tidak! Tak mungkin ia menerima cinta kasih Lin
Lin. Ia tahu betul bahwa gadis ini mencintanya, semenjak... semenjak peristiwa di dalam gelap di malam
hari dalam kamar perpustakaan istana dulu!
Semenjak ia memeluk dan mencium gadis itu tanpa disengaja karena mengira Lin Lin adalah Suma Ceng
kekasihnya. Akan tetapi betapa mungkin ia menerima uluran cinta kasih itu betapa pun inginnya? Gadis ini
adalah adik angkatnya. Hal pertama ini sungguh pun bukan merupakan penghalang besar, namun sudah
merupakan penghalang. Kedua, gadis ini masih amat muda kalau dibandingkan dengan dia. Usia Lin Lin
baru delapan belas tahun, sedangkan dia sudah berusia tiga puluh tahun! Tidak, ia harus tahu diri!
“He, mengapa kau diam saja? Bagaimana pendapatmu?” Tiba-tiba Lin Lin menepuk lengan Suling Emas
yang menjadi kaget dan sadar dari lamunannya.
“Apa? Pendapat apa?” tanyanya tersenyum.
“Aku bilang tadi, ingin aku menandingi Liu Hwee untuk menguji kepandaiannya!”
“Hemmm, ada-ada saja kau ini. Tidak ada alasan sedikit pun juga bagimu untuk mencari perkara dengan
puteri Bengkauwcu
(ketua Beng-kauw).”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapa bilang tidak ada?” Sepasang mata yang jeli dan indah itu bersinar-sinar. “Banyak sekali alasannya!”
“Hemmm, apakah kesalahannya? Apa alasannya?” Suling Emas membantah, mengerutkan kening.
“Banyak, terutama sekali karena aku tidak mau kalah olehnya!”
Suling Emas melongo. Dia seorang jagoan yang sudah banyak makan asam garam dunia kang-ouw,
sudah banyak mengenal watak-watak orang aneh seperti iblis-iblis Thian-te Liok-koai. Akan tetapi
sesungguhnya belum banyak pengalamannya dengan wanita, karena semenjak hatinya terluka oleh Suma
Ceng yang dipaksa bercerai dari padanya dan menikah dengan orang lain, seakan-akan merupakan
pantangan bagi Suling Emas untuk mendekati wanita. Karena itu ia sama sekali tidak mengenal watakwatak
wanita dan tidak dapat menyelami lubuk hati Lin Lin. Akan tetapi melihat pandang mata yang begitu
menantang dari gadis ini, pandang mata yang mengandung sinar kemesraan seperti kalau sepasang mata
Suma Ceng memandangnya, Suling Emas segera menundukkan muka.
“Sudahlah,” katanya kemudian setelah menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berdebar
tidak karuan. “Mari kita bicarakan urusan lain yang lebih penting. Lin-moi, kurasa di sini kita harus berpisah.
Kulihat kau tidak rela menjadi murid Pat-jiu Sin-ong, hal ini pun tak dapat kupaksa. Akan tetapi pesanku,
kau tidak boleh mempergunakan jurus-jurus ilmu yang kau dapatkan dari dalam tongkat Beng-kauw,
karena kalau hal itu diketahui tokoh-tokoh Beng-kauw, kau pasti akan dimusuhi, dianggap sebagai pencuri
ilmu peninggalan pendiri Beng-kauw.”
Akan tetapi Lin Lin sama sekali tidak memperhatikan atau pedulikan kalimat terakhir. Matanya terbelalak
dan wajahnya berubah, karena kata-kata ‘berpisah’ itulah yang menggores hatinya.
“Berpisah?” ia tergagap. “Kenapa...?”
Suling Emas tersenyum duka. Kembali sikap gadis yang sewajarnya ini jelas menunjukkan bahwa Lin Lin
tidak ingin berpisah dari padanya. Sama dengan Suma Ceng. Hanya bedanya, kalau Suma Ceng bersikap
lemah dan menerima keadaan, sebaliknya gadis ini bersikap keras, agaknya takkan mau berpisah kalau
tidak ia sendiri yang menghendaki.
“Tentu saja kita harus berpisah, karena jalan kita memang tidak sama. Kau kembalilah ke Cin-ling-san
menyusul kakakmu Bu Sin. Biarkan aku sendiri mencari Sian Eng. Setelah dapat bertemu, tentu dia pun
akan kusuruh menyusul ke Cin-ling-san.”
“Aku ikut! Aku juga hendak mencari Enci Sian Eng sampai dapat. Kita mencari bersama, bukankah lebih
baik? Aku tidak akan menyusahkanmu, biar... biarlah aku mencari makan minumku sendiri!”
Mau tak mau Suling Emas tertawa. Benar-benar gadis ini kadang-kadang mempunyai pendapat dan jalan
pikiran seperti kanak-kanak.
“Bukan begitu, Lin Lin. Banyak sekali urusan besar harus kuhadapi. Bahkan pertandingan puncak antara
Thian-te Liok-koai di Thai-san sudah dekat waktunya, aku pun harus hadir di sana. Selain itu, kau melihat
sendiri bahwa banyak orang kang-ouw memusuhi aku. Setiap langkahku terancam bahaya....”
“Aku tidak takut! Kalau mereka mengganggumu, aku akan hajar mereka! Apa kau kira aku ini seorang
manusia yang tiada gunanya? Aku akan membantumu, juga di Thai-san!”
“Wah, kau mau menandingi iblis-iblis seperti Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong?”
“Aku tidak takut terhadap mereka. Aku akan memperdalam ilmu yang baru kudapatkan.”
“Hemmm, baru saja kupesan supaya kau tidak menggunakan ilmu peninggalan....”
“Kan mereka bukan orang Beng-kauw? Takut apa menggunakan ilmu peninggalan Pat-jiu Sin-ong? Malah
kalau aku dapat mengalahkan mereka dengan ilmu ini, bukankah berarti aku mengangkat nama Bengkauw
dan terutama nama pencipta ilmu ini? Roh Pat-jiu Sin-ong tentu akan tertawa melihat betapa ilmunya
di tangan seorang gadis seperti aku dapat mengalahkan iblis-iblis jahat!”
Suling Emas merasa kalah berdebat. “Tak baik jadinya kalau ikut denganku, Lin Lin. Tidak bisa, kita harus
dunia-kangouw.blogspot.com
berpisah. Atau... kau boleh menanti di Nan-cao, mari kuantar sampai di Nan-cao. Kau tinggal dulu di sana,
menanti sampai aku dapat menemukan Sian Eng, baru kau dan enci-mu pulang bersama.”
“Tidak! Sekali lagi ti....”
Tiba-tiba tangan Suling Emas bergerak dan tahu-tahu mulut Lin Lin sudah didekapnya dengan telapak
tangannya. Lin Lin memandang dengan mata terbelalak kaget dan heran, akan tetapi baru ia mengerti
ketika Suling Emas menaruh telunjuknya di depan mulut dan memberi isyarat agar gadis itu tidak
mengeluarkan suara.
Kini baru Lin Lin melihat bahwa jauh dari depan tampak bayangan manusia berkelebat cepat sekali dan
sebentar saja sudah lewat. Sukar dilihat siapa orang itu, hanya jelas tampak pakaiannya, pakaian wanita,
juga bentuk tubuhnya ramping. Akan tetapi mukanya tidak tampak karena ketika lari menghadapkan muka
ke sebelah sana. Yang mengagumkan adalah kecepatan larinya, seakan-akan kedua kakinya tidak
menginjak tanah.
“Seperti Enci Sian Eng...,” bisik Lin Lin terheran-heran.
Memang bentuk tubuh wanita itu seperti Sian Eng, akan tetapi pakaiannya bukan pakaian seorang ahli silat
yang serba ringkas, melainkan pakaian seorang wanita dusun atau petani yang sederhana. Juga wanita itu
rambutnya panjang terurai. Sungguh pun tidak sepanjang rambut Siang-mou Sin-ni, namun terurai sampai
ke lutut belakang.
“Bukan, mari kita ikuti dia, mencurigakan sekali...!” kata Suling Emas yang sudah melompat dan mengejar.
Lin Lin terpaksa mengejar juga. Dengan sekuat tenaga Lin Lin mengerahkan ginkang dan berusaha lari
mengimbangi kecepatan Suling Emas. Akan tetapi kali ini ia tertinggal karena kini Suling Emas betul-betul
berlari cepat. Baru ia tahu bahwa kepandaiannya dalam berlari cepat masih kalah sedikitnya dua tingkat
oleh pendekar yang dikasihinya itu. Sesungguhnya tidak demikian. Hanya karena belum matang dalam
latihan ilmunya yang baru, maka Lin Lin masih kalah jauh. Namun sudah banyak maju kalau dibandingkan
dengan sebelum ia mendapatkan ilmu itu.
Tiba-tiba Suling Emas berhenti ketika melihat Lin Lin tertinggal jauh. Ketika gadis itu sudah datang dekat, ia
berkata. “Hebat ilmu lari cepat orang itu. Lin-moi, kau pegang tanganku!”
Tak usah menanti diperintah dua kali, Lin Lin menyambar tangan kiri Suling Emas. Kalau boleh ia tak ingin
melepas tangan itu untuk selamanya! Akan tetapi tak sempat ia bermimpi muluk karena segera tubuhnya
tersentak keras ke depan dan di lain saat ia terpaksa harus mengerahkan ginkang-nya lagi karena Suling
Emas sudah membawanya lari seperti terbang cepatnya!
Namun, bayangan wanita di depan itu tetap tak dapat tersusul. Hal ini saja membuktikan betapa ilmu lari
cepat wanita di depan itu betul-betul sudah mencapai tingkat yang luar biasa. Lin Lin merasa kagum sekali
dan ia pun ingin segera melihat siapa sebenarnya wanita itu.
Wanita di depan itu lari menuju ke timur. Setelah tiba di daerah pegunungan yang tandus dan sunyi,
mulailah ia mengurangi kecepatannya dan akhirnya ia hanya berjalan kaki. Suling Emas mengajak Lin Lin
terus mengikutinya dari belakang.
“Kenapa tidak susul dia? Aku ingin sekali melihat mukanya, ingin melihat siapa dia,” bisik Lin Lin.
“Sssttt, apa perlunya? Aku merasa curiga. Ilmu larinya bukan main, tentu dia seorang sakti. Aku ingin tahu
dia hendak ke mana dan hendak berbuat apa. Serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi lupa lagi...,”
kata Suling Emas.
Akan tetapi wanita itu benar-benar kuat sekali. Tak pernah ia berhenti berjalan sampai senja berganti
malam! Lin Lin sudah merasa lelah sekali.
“Aku... aku tidak kuat lagi berjalan...” ia mengeluh. “Kakiku serasa hendak copot sambungan tulangnya.
Mau apa sih mengikuti orang gila? Suling Emas, aku mogok, tidak kuat lagi...” Lin Lin tiba-tiba menjatuhkan
diri duduk di atas tanah.
“Mari kupondong!” Suling Emas yang betul-betul tertarik oleh wanita di depan itu yang luar biasa ilmu lari
dunia-kangouw.blogspot.com
cepatnya, tanpa ragu-ragu membungkuk dan memondong tubuh Lin Lin.
Gadis ini segera merangkul lehernya dan merebahkan kepala di atas pundaknya dengan hati penuh
bahagia dan manja. Suling Emas hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan mengikuti wanita itu.
Ia benar-benar merasa kasihan kepada Lin Lin, gadis aneh yang kadang-kadang menyebut ‘kanda’, ada
kalanya menyebut ‘Suling Emas’ begitu saja kepadanya. Gadis yang bukan sedarah daging dengannya,
lain ayah ibu, gadis berdarah bangsawan, puteri bangsa Khitan yang gagah perkasa.
Malam itu bulan muncul sepenuhnya. Bulan purnama. Lin Lin agaknya sudah lupa akan wanita yang
mereka ikuti. Seluruh perasaannya tenggelam ke dalam laut bahagia dan mesra. Dengan bulan purnama di
angkasa, suasana menjadi romantis sekali. Tidak salah kiranya orang tua yang mengatakan bahwa sinar
bulan purnama mendorong dan merangsang hati muda ke arah kemesraan dan memperkuat pengaruh
asmara.
Lin Lin masih merangkul leher Suling Emas, kepalanya rebah miring di atas pundak pendekar itu dan
matanya ketap-ketip menatap wajah yang mencuri hatinya itu penuh cinta kasih. Sudah lebih tiga jam
Suling Emas memondongnya. Sudah banyak berkurang kelelahan Lin Lin, namun gadis itu tidak sadar
akan hal ini. Dirasanya baru sebentar ia dipondong!
“Koko...,” bisiknya di dekat telinga Suling Emas.
“Hemmm...?” Suling Emas menjawab acuh tak acuh karena perhatiannya tertuju ke depan. Wanita itu
mendaki sebuah bukit kecil di mana terdapat tanah kuburan yang penuh dengan gundukan-gundukan
tanah dan batu nisan!
“... ingin sekali aku selamanya berada di dalam pondonganmu...”
“Huh, kau bukan bayi! Sudah terlalu lama kau kupondong. Turun!” Suling Emas menurunkan Lin Lin dan
baiknya sinar bulan berwarna kemerahan sehingga menyembunyikan muka pendekar ini yang menjadi
merah sekali.
“Koko....”
“Hushhhhh... lihat itu....” Suling Emas menuding ke depan.
Teringatlah Lin Lin akan wanita yang tadi sudah ia lupakan sama sekali. Di dalam pondongan Suling Emas
di malam penuh sinar bulan tadi, ia sudah lupa segala, yang teringat hanya dia dan Suling Emas, dunia ini
hanya ada mereka berdua, ada urusan cinta kasih mereka, yang lain-lain tidak ada lagi! Sekarang ia
teringat dan cepat memandang. Kagetlah hati Lin Lin ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah
berada di daerah kuburan, bahkan Suling Emas dan dia sudah mengintai dari balik sebuah batu nisan, di
bawah sebatang pohon kecil.
Dengan lenggang yang menunjukkan bahwa dia seorang yang masih muda dan berperawakan bagus
sekali, wanita itu berjalan menghampiri sebuah makam, lalu menjatuhkan diri berlutut memeluk batu nisan
sambil menangis tersedu-sedu!
“Ayah..., Ayah yang baik... ampunilah anakmu...,” ratap tangis wanita itu.
Sejenak Lin Lin tercengang, kemudian tak terasa lagi air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya.
Teringatlah ia akan dirinya sendiri yang sudah yatim piatu, tiada ayah bunda lagi, bahkan dibandingkan
dengan wanita di sana itu, dia lebih sengsara. Setidaknya wanita itu dapat menangisi kuburan ayahnya,
sedangkan dia, di mana kuburan ayah bundanya saja tidak tahu!
Timbul rasa simpati dan kasihan kepada wanita yang berlutut dan tersedu-sedu itu, merasa senasib dan ia
ingin mendekati dan menghiburnya. Perasaan ini menggerakkan kakinya dan Lin Lin sudah bangkit berdiri
hendak melangkah maju. Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas memegang lengannya dan menahannya.
Pendekar ini memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut. Lin Lin sadar bahwa mereka sedang
mengintai, maka ia membatalkan niatnya dan menghapus air mata dari pipi, lalu mengintai dan
mendengarkan.
“Ayah... ampunkan aku, Ayah. Anakmu telah gagal membalaskan dendam untukmu... dia terlalu sakti,
bukan lawanku. Banyak tokoh kang-ouw bersamaku mengeroyoknya, tapi tanpa hasil. Ayah... tak mungkin
dunia-kangouw.blogspot.com
aku dapat membalaskan sakit hatimu, tak mungkin aku dapat mengalahkan dia, pula... ampunkan aku,
Ayah... anakmu ini... yang hina dina... tidak akan tega membunuhnya. Mungkin dapat aku memperdalam
ilmu untuk mengalahkannya, akan tetapi... aku... aku cinta padanya. Aku mencinta Suling Emas putera
musuh besarmu...,” kembali gadis itu tersedu menangis, kemudian tiba-tiba bangkit berdiri
mengembangkan kedua lengannya berdongak memandang bulan purnama dan bersumpah.
“Ayah, semoga rohmu mendengarkan sumpahku, disaksikan oleh Dewa Bulan! Biar pun aku tidak akan
dapat membunuh Suling Emas, namun aku bersumpah untuk membunuh semua isterinya kalau dia
beristeri, dan semua anaknya kalau dia mempunyai anak!”
Sampai pucat wajah Suling Emas ketika ia mengenal suara dan wanita ini yang bukan lain adalah Bu-engsin-
kiam Tan Lian, puteri tunggal almarhum Hui-kiam-eng Tan Hui yang tewas di tangan ibunya! Bukan
main hebatnya sumpah ini sehingga biar pun hati Suling Emas sekuat baja, namun ia menjadi pucat dan
gemetar juga karena maklum bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya.
Sementara itu, Lin Lin tadinya juga pucat sekali mendengar ini, akan tetapi timbul kemarahannya
mendengar pengakuan wanita itu yang mencinta Suling Emas dan bersumpah untuk membunuh anak dan
isteri kekasihnya ini, membuat ia tak kuat menahan lagi. Dengan seruan yang merupakan lengking tinggi,
hasil yang tak disadarinya dari pada ilmunya yang baru, ia telah melompat ke depan dan selagi wanita itu
membalikkan tubuh dengan kaget dan heran, Lin Lin secara otomatis sudah melancarkan serangan
berdasarkan ilmunya yang baru. Kedua kepalan tangannya yang kecil halus saling bertumbukan, namun
tepat menghantam tubuh wanita itu secara berbareng.
Wanita itu menjerit dan terpental ke belakang, menabrak batu nisan ayahnya yang menjadi pecah seketika!
Lin Lin sendiri berdiri terbelalak keheranan karena tidak mengira bahwa pukulannya akan sehebat ini, apa
lagi kalau diingat betapa wanita ini memiliki kesaktian, terbukti dari ilmu larinya yang luar biasa.
“Lin-moi, jangan...!” Suling Emas berseru namun terlambat.
Andai kata Suling Emas tidak demikian terpengaruh oleh sumpah Tan Lian, agaknya pendekar sakti ini tadi
masih sempat mencegah. Ia kini berkelebat dan tahu-tahu sudah membungkuk dan berlutut di depan tubuh
Tan Lian yang rebah dengan mata meram dan muka pucat, mulut mengalirkan darah. Cepat Suling Emas
memeriksa dan ia mengeluarkan seruan kaget. Ia sendiri kaget bukan main melihat akibat dari pada
pukulan Lin Lin, karena setelah memeriksa ia mengerti bahwa keadaan Tan Lian parah sekali dan nyawa
wanita ini takkan dapat ditolong lagi.
Pukulan itu telah meracuni darah dan meretakkan tulang-tulang! Kiranya tanpa disadarinya sendiri Lin Lin
telah mewarisi ilmu pukulan dahsyat dari Pat-jiu Sin-ong yang disebut pukulan Tok-hiat-coh-kut (Racuni
Darah Patahkan Tulang)! Suling Emas maklum bahwa pukulan ini mengandung hawa beracun yang hebat
dan satu-satunya jalan untuk menolong Tan Lian hanya membawanya secepat mungkin kepada tabib yang
sakti, karena tabib-tabib biasa saja takkan mungkin mampu menolongnya.
“Bocah lancang!” bentaknya kepada Lin Lin. “Mengapa memukul orang tak berdosa?” Setelah berkata
demikian, Suling Emas menyambar tubuh Tan Lian dan dibawanya lari berkelebat lenyap dari tempat itu.
“Koko... tunggu...!” Lin Lin berseru keras sambil mengejar, akan tetapi Suling Emas tidak menjawab dan
sudah tidak tampak lagi.
Lin Lin memanggil-manggil dan mengejar ke sana ke mari, akhirnya ia menjatuhkan diri di pinggir jalan
dengan napas terengah-engah dan air mata membasahi pipi.
“Dia marah kepadaku...,” pikirnya. “Mengapa marah? Perempuan itu musuhnya. Ah, aku harus mencarinya,
dia harus menjelaskan sikapnya ini kepadaku. Dia akan ke Thai-san, aku pun akan ke sana, biar kunanti
dia di sana.” Pikiran ini menguatkan hati Lin Lin dan menghilangkan kebingungannya, kemudian ia pun
pergi dari tempat itu.
Perjalanan ke Thai-san merupakan perjalanan yang jauh dan sukar, lagi amat berbahaya pada masa itu.
Akan tetapi Lin Lin melakukan perjalanan dengan tekun, sabar, dan penuh keberanian. Apa lagi setelah ia
dengan satu kali pukulan mampu merobohkan seorang yang lihai, seperti wanita di kuburan itu, timbul
kepercayaan besar pada dirinya sendiri, kepercayaan bahwa ia mampu menghadapi siapa pun juga karena
pada dirinya terdapat sebuah ilmu yang ampuh dan sakti.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pikiran ini pula yang membuat Lin Lin makin rajin melatih diri dengan jurus-jurus yang hanya berjumlah tiga
belas dari ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw, serta mempelajari pula petunjukpetunjuk
cara menghimpun tenaga sakti. Karena ia sendiri tidak tahu apa namanya ilmu yang terdiri dari
pada tiga belas jurus itu, Lin Lin lalu menamakannya Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Sakti).
Berpekan-pekan Lin Lin melakukan perjalanan menuju ke Thai-san, bertanya-tanya kepada para penduduk
dusun dan kota yang dilaluinya. Akhirnya pada suatu hari sampailah ia di kaki Gunung Thai-san. Puncak
gunung itu menjulang tinggi, tampak agung dan megah. Hati Lin Lin berdebar. Akan berhasilkah ia bertemu
dengan Suling Emas di puncak itu? Bagaimana kalau dia tidak berada di sana? Dan wanita yang
memusuhi Suling Emas itu, yang roboh karena pukulannya, akan diapakan Suling Emas?
Hatinya tidak enak dan cemburunya makin besar ketika ia teringat betapa wanita itu ternyata masih muda
dan cantik jelita. Serasa terbakar isi dadanya kalau ia teringat betapa wanita itu dipondong oleh Suling
Emas dan entah untuk berapa lamanya! Dan masih marah hatinya kalau ia mengenangkan bentakan
Suling Emas yang marah-marah kepadanya dan memakinya sebagai bocah lancang. Dia lancang?
Memukul seorang wanita yang memusuhi Suling Emas tapi juga mengaku cinta, lancangkah itu?
“Ah, Suling Emas, aku cinta kepadamu... demi cintaku maka aku memukul dia yang tidak kukenal.” Ia
menghela napas dan duduk di pinggir jalan, menghapus keringatnya dengan sapu tangan. Hari itu ia telah
melakukan perjalanan amat jauh dan enak rasanya menyandarkan tubuh pada batang pohon yang tua dan
hampir mati, duduk di atas rumput hijau yang empuk dan ditiupi angin sejuk pada sore hari itu.
Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara derap kaki kuda. Jalan mulai sukar di bagian itu, maka
penunggang kuda itu pun menahan kudanya dan maju perlahan-lahan melalui tanah yang tidak rata.
Penunggangnya seorang laki-laki yang bertubuh tegap, memakai caping lebar seperti caping petani, akan
tetapi dari balik pundaknya tampak gagang pedang. Melihat duduknya yang tegak lurus dan tidak
bergoyang-goyang biar pun si kuda naik turun, Lin Lin mengerti bahwa penunggang kuda ini seorang yang
berkepandaian. Akan tetapi dari jauh ia tidak dapat melihat muka yang tertutup caping itu.
Kuda makin mendekati tempat Lin Lin duduk. Penunggang kuda itu mengangkat muka, dan....
“Liong-twako...!” Lin Lin berseru sambil melompat bangun.
“Lin-moi...!”
Penunggang kuda itu, Lie Bok Liong, melompat dari atas punggung kudanya, lari menghampiri Lin Lin dan
serta merta memeluknya dan mendekap kepala gadis itu pada dadanya. Begitu besar kegirangan hati Bok
Liong sehingga ia lupa diri seperti itu. Sedetik Lin Lin kaget dan jengah, akan tetapi mengingat akan
pengorbanan pemuda ini untuknya ia membiarkan dirinya dipeluk dan mukanya didekap erat-erat pada
dada Bok Liong.
“Lin-moi... ah, Lin-moi... alangkah bahagia hatiku melihat kau, Moi-moi. Syukur kepada Tuhan bahwa kau
selamat, bisa terbebas dari pada tangan Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang jahat!” seru Bok Liong
dengan suara serak dan ketika Lin Lin merenggangkan diri dan memandang, hatinya terharu menyaksikan
betapa pipi pemuda itu basah oleh air mata!
Dengan gerakan halus Lin Lin melepaskan diri dari pelukan itu. Ia tidak marah, tidak merasa terhina,
bahkan terharu karena ia maklum bahwa pemuda ini benar-benar amat gembira dengan pertemuan ini
sehingga berbuat agak melewati batas kesopanan.
“Twako, tenanglah, mari kita bicara yang enak. Aku pun girang sekali melihat kau selamat. Tadinya aku
sudah khawatir sekali, mengira kau tentu tewas oleh kenekatanmu melawan Hek-giam-lo dan orangorangnya.”
Lin Lin menarik tangan pemuda itu, diajak duduk di atas rumput. Sambil berbuat demikian, Lin Lin menoleh
ke sana ke mari, khawatir kalau-kalau ada orang melihat dia tadi dipeluk-peluk pemuda ini. Akan tetapi
tempat itu amat sunyi, tidak ada orang lain, bahkan tidak tampak makhluk lain kecuali kuda Bok Liong yang
kini dengan enaknya makan rumput dengan peluh membasahi tubuh, tanda bahwa kuda itu pun baru saja
melakukan perjalanan jauh.
Bok Liong tertawa, menghapus air matanya. “Ah, maafkan aku, saking girangku sampai tak tahan
mengeluarkan air mata seperti bocah cengeng,” katanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bukan begitu, Twako. Kau terlalu baik hati. Kau telah berusaha berkali-kali untuk menolongku tanpa
menghiraukan keselamatan dirimu. Betapa hancur hatiku ketika melihat kau tersiksa tanpa mampu
menolongmu kembali. Akan tetapi, bagaimana kau dapat selamat? Aku mendengar bahwa kau tertolong
oleh suhu-mu yang lucu itu.”
“Betul, Lin-moi. Suhu yang telah menolongku. Beliau merawatku sampai sembuh dan aku diminta tinggal
bersama Suhu untuk memperdalam ilmu. Dan kau sendiri, yang sudah membuat aku putus asa, yang
membuat aku hari ini tergesa-gesa hendak menemui Hek-giam-lo dan mengadu nyawa kalau tidak mau
membebaskanmu, bagaimana kau dapat bebas dan tahu-tahu berada di sini?”
“Aku ditolong oleh Kim-lun Seng-jin.” Dengan singkat Lin Lin menceritakan pengalamannya dan tentu saja
ia tidak menceritakan penemuannya tentang ilmu di dalam tongkat Beng-kauw, juga ia tidak mau
menyebut-nyebut nama Suling Emas.
“Tapi mengapa kau bisa berada di kaki Gunung Thai-san ini, Lin-moi?” Bok Liong meraba tangan Lin Lin
terus digenggamnya. “Tempat ini berbahaya sekali! Thian-te Liok-koai yang tinggal lima orang, Hek-giamlo,
Siang-mou Sin-ni, It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong, akan bertemu dan mengadu
kepandaian di puncak gunung ini. Kalau sampai bertemu dengan seorang di antara mereka, hal itu amat
berbahaya karena mereka adalah orang-orang yang sudah bukan manusia lagi, jahat seperti iblis.”
Lin Lin tersenyum dan senyum ini menyambar dan menancap di ulu hati Bok Liong, melebihi runcingnya
pedang.
“Twako, justru kedatanganku ini hendak menonton pertandingan mereka. Tentu ramai sekali!”
Bok Liong melongo dan menggaruk-garuk rambutnya dengan sepuluh jari tangannya. “Nonton? Moi-moi,
kau terlalu meremehkan mereka! Ketahuilah, kejahatan mereka sudah tersohor di kolong langit. Kadangkadang
mereka menyiksa dan membunuh orang secara begitu saja, secara sembarangan. Dalam gembira
bisa saja mereka membunuh orang, apa lagi dalam marah atau duka. Pendeknya, sedikit persoalan saja
cukup untuk mereka jadikan alasan menurunkan tangan iblis. Bahkan agaknya mereka berlomba untuk
dapat disebut orang yang paling jahat, karena sebutan ini bagi Thian-te Liok-koai merupakan sebutan
kehormatan, yaitu orang jahat nomor satu di dunia! Moi-moi, mari kita pergi cepat-cepat dari tempat
terkutuk ini!” Kembali Bok Liong memegang tangan gadis itu erat-erat.
Lin Lin kembali merasa tidak enak tangannya dipegang erat oleh pemuda itu, akan tetapi mengingat akan
pengorbanan pemuda itu, ia mendiamkannya saja, lalu menjawab, “Liong-twako, kenapa kau sekarang
berubah begini penakut? Belum lama ini kau bahkan berani menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orangnya,
menyerbu berkali-kali dengan keberanian yang membuat orang sedunia boleh merasa kagum. Kenapa
sekarang kau takut? Dan pula, bukankah kau juga datang ke tempat ini? Andai kata tidak berjumpa
denganku, kau hendak ke manakah?”
“Ah, Lin-moi, sudah kuceritakan kepadamu tadi. Aku sakit hati kepada Hek-giam-lo, mengira bahwa kau
tentu celaka di tangan iblis itu. Oleh karena inilah setelah aku menerima gemblengan dari Suhu, aku
sengaja datang ke sini karena teringat akan janji pertemuan para iblis di sini. Aku pasti akan bertemu
dengan Hek-giam-lo di puncak dan akan kuajak dia bertempur sampai mati kalau dia tidak bisa
mengembalikan kau. Moi-moi, sebelum bertemu denganmu, aku menjadi nekat dan tidak ingin hidup lagi
kalau kau tewas di tangan Hek-giam-lo. Akan tetapi setelah kini melihat kau selamat, aku pun ingin hidup,
Moi-moi!” Ucapan ini terdengar gemetar penuh perasaan dan mata pemuda itu menatap wajah Lin Lin
penuh cinta kasih, membuat Lin Lin terharu dan ia pun membalas pegangan itu dengan mesra.
“Hemmm, kau selalu memikirkan tentang keselamatanku tanpa menghiraukan keselamatanmu sendiri,
Twako. Andai kata aku menuruti kehendakmu tidak jadi naik ke puncak untuk nonton pertandingan hebat,
lalu kau hendak mengajakku ke mana?”
Tiba-tiba Bok Liong berlutut dan memegangi kedua tangan Lin Lin sambil memandang tajam dan suaranya
gemetar, “Lin Lin, Moi-moi... aku... aku akan mengajakmu ke Cin-ling-san, menemui bibi gurumu, aku... aku
akan meminangmu untuk menjadi isteriku....”
Bukan main kagetnya hati Lin Lin. Memang, tentu saja ia tahu bahwa pemuda ini mencintanya, akan tetapi
mendengar bahwa Bok Liong hendak meminangnya dari tangan bibi gurunya, ia benar-benar menjadi
kaget dan wajahnya seketika berubah pucat. Ia menarik kedua tangannya dan bangkit berdiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak... tidak... Liong-twako, aku... menganggapmu sebagai kakak sendiri, seorang kakak yang baik.
Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara... tapi aku tidak... tidak....”
Bok Liong yang masih berlutut memegang kaki kanan Lin Lin, suaranya penuh permohonan, “Lin Lin, dewi
pujaan hatiku... aku cinta kepadamu, Lin Lin. Perlukah ini kujelaskan lagi? Aku mencintaimu semenjak
pertemuan kita yang pertama, aku rela mati untukmu... sudilah kau menerima cintaku, bukan sebagai adik,
melainkan sebagai calon teman hidup selamanya. Aku bersumpah akan membahagiakan hidupmu
selamanya Moi-moi....”
Air mata bercucuran dari sepasang mata Lin Lin. Hatinya amat terharu dan ia yakin bahwa andai kata ia
menjadi isteri pemuda ini, sudah pasti hidupnya akan terjamin dengan kasih sayang yang suci. Akan tetapi
wajah Suling Emas terbayang di depan matanya, membayang di antara air mata dan tak mungkin ia
menerima pinangan pemuda lain selama bayangan wajah ini tidak lenyap dari kenangannya. Ia tahu bahwa
Lie Bok Liong adalah seorang pendekar muda pilihan, seorang gagah perkasa yang berhati emas, satria
sejati. Namun hatinya telah terampas oleh Suling Emas dan ia hanya memiliki sebuah hati untuk diberikan
kepada pria idamannya.
“Tidak, Liong-twako...!”
Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan kakinya terlepas dari pelukan Bok Liong dan tubuhnya
berkelebat cepat meninggalkan pemuda itu, lari seperti terbang mendaki gunung Thai-san!
Sejenak Lie Bok Liong tercengang, mukanya pucat sekali, pandang matanya sayu mengikuti bayangan
gadis pujaannya yang sebentar saja sudah menghilang di balik pepohonan. Ia menghela napas panjang,
meramkan kedua matanya, menggigit bibir kemudian bangkit dan berjalan perlahan, mendaki gunung itu
pula. Ia merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia tidak putus asa. Lin Lin tidak pernah menyatakan bahwa
gadis itu tidak mencintanya, hanya menolak, mungkin karena malu, mungkin karena kaget dan gelisah. Hal
ini memang mungkin sekali, sebagai seorang gadis remaja yang mendengar pengakuan cinta dan
pinangan dari seorang muda. Ia tidak putus asa dan akan berlaku sabar.
Akan tetapi hatinya khawatir bukan main melihat gadis itu mendaki puncak Thai-san yang ia tahu amat
berbahaya pada waktu itu dengan akan hadirnya iblis-iblis itu. Ia harus mengejar, harus menyusul dan siap
untuk membela dan melindungi Lin Lin dari pada marabahaya. Gurunya, Gan-lopek, juga telah menyatakan
bahwa pada hari-hari pertandingan para iblis di puncak
Thai-san, gurunya itu akan datang untuk menonton
pula. Dan agaknya hanya orang-orang sakti yang memiliki kepandaian seperti gurunya itulah yang akan
berani datang untuk menonton pertandingan berbahaya itu. Maka hatinya menjadi besar dan dengan tabah
Lie Bok Liong terus mendaki lereng gunung yang amat curam dan sukar dilalui itu.
Baru sekarang teringat olehnya betapa cepatnya tadi ia menyaksikan gerakan Lin Lin ketika lari dari
padanya mendaki gunung. Padahal ia tahu bahwa ilmu kepandaian gadis itu hanya sebanding saja dengan
tingkatnya, kalau tidak lebih rendah malah. Bagaimana tadi ia melihat Lin Lin berlari seperti terbang
mendaki gunung sedangkan dia sendiri merasa betapa sukar dan berbahayanya sehingga ia harus
bergerak dengan hati-hati dan lambat!
Ketika Lie Bok Liong tiba di daerah gunung itu yang penuh batu besar, di sebuah lereng di punggung
gunung Thai-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang terkekeh ketawa. Kagetnya bukan main karena ia
tidak melihat bayangan orang, mengapa tahu-tahu ada suara ketawa yang menyeramkan ini? Ia menengok
dan memandang ke sana ke mari, namun tidak juga melihat bayangan orangnya.
Bulu tengkuk pemuda ini berdiri. Biar pun ia tidak percaya akan setan yang dapat muncul di siang hari, ia
dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti di tempat itu. Masih untung kalau orang sakti yang baik bagi
Bok Liong, akan tetapi suara ketawa itu bukan muncul dan mulut seorang sakti yang baik, melainkan dari
mulut seorang iblis sakti yang bukan main kejamnya, yaitu It-gan Kai-ong sendiri!
Kini kakek ini muncul dari balik sebuah batu besar dan mukanya lebih buruk dari pada dulu. Punggungnya
makin bongkok, rambutnya yang riap-riapan itu kotor sekali, penuh lumpur dan debu. Mukanya keriputan
begitu dalamnya seperti tersayat, matanya yang tinggal sebelah itu melotot sedangkan mata yang buta
mengeluarkan air lendir, mulutnya terkekeh dan dari ujung bibirnya mengalir air liur. Tangannya memegang
sebatang tongkat butut.
“Heh-heh-ho-hah! Orang muda, pakaianmu seperti seorang kang-ouw, kau membawa-bawa pedang. Apa
dunia-kangouw.blogspot.com
kebisaanmu?”
Di dalam hatinya Bok Liong mendongkol sekali, akan tetapi maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang
iblis sakti yang sama sekali tak boleh dipandang ringan, ia segera menjura dalam-dalam dan menjawab
dengan sikap sopan. “Kai-ong (Raja Pengemis) yang mulia, harap maafkan bahwa saya tidak tahu
Locianpwe (Orang Tua Gagah) berada di sini sehingga terlambat menyampaikan salam.”
“Hua-hah-hah, kau mengenal aku? Akan tetapi aku tidak mengenal kau.”
“Mana mungkin Locianpwe mengenal saya yang tidak ternama dan bodoh ini? Akan tetapi saya kira
Locianpwe sudah mengenal Suhu.”
“Heh-heh, tak perlu kau perkenalkan, aku akan tahu sendiri. Terima ini!” Tiba-tiba tongkat butut di tangan
itu bergerak dan tahu-tahu sudah mengancam jalan darah maut di dada kiri Bok Liong dengan totokannya!
“Aaaiiihhhhh!” Bok Liong terkejut sekali, akan tetapi sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, jurus-jurus
silatnya sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga gerak otomatisnya berjalan dan ia berhasil
mengelak dari totokan ini.
Melihat gerakan itu, terutama sekali bagian tubuh belakang yang megal-megol, It-gan Kai-ong tertawa
sambil menarik kembali tongkatnya. “Heh-heh, kau murid si tukang gambar edan Gan-lopek! Mana
gurumu? Suruh dia muncul!”
“Maaf, Locianpwe. Saya tidak berani memanggil Suhu kalau beliau tidak berkenan muncul atas kehendak
sendiri,” jawaban Bok Liong ini mencerminkan kecerdikannya.
Ia tidak tahu apakah gurunya sudah berada di gunung ini, dan ia pun tidak mau membohong dan
menyombong bahwa gurunya akan melindunginya. Akan tetapi jawaban itu membayangkan bahwa
gurunya mungkin ada dan mungkin tidak, jadi tidak membohong akan tetapi sekaligus merupakan
peringatan bagi It-gan Kai-ong, bahwa Gan-lopek berada di situ maka ia tidak boleh mengganggu murid
orang sakti itu!
Akan tetapi It-gan Kai-ong adalah seorang manusia iblis yang sukar digertak. “Heh-heh-heh, kalau begitu
gurumu tentu belum datang. Sayang sekali, sebetulnya aku hendak membekuk mampus gurumu itu agar
kujadikan bukti bahwa korbanku bukan orang biasa. Akan kagumlah iblis-iblis itu kalau aku berhasil
membawa orang she Gan si tukang gambar ke puncak. Menangkapmu tiada gunanya, kau orang tiada
guna dan tidak berarti. Tapi kau sudah bertemu denganku di Thai-san, maka kau harus mampus!”
Kaget sekali Bok Liong. Ia bersiap-siap. “Locianpwe, di antara Locianpwe dan saya Lie Bok Liong tidak
terdapat pertentangan sesuatu, mengapa Locianpwe hendak membunuhku?” Biar pun ia maklum bahwa
keadaannya amat berbahaya, namun suara pemuda gagah ini sama sekali tidak mengandung rasa takut
dan tidak gemetar.
“Huah-ha-ha! Semua iblis yang datang ke sini akan membunuh siapa saja yang dihadapinya, besar kecil
tua muda laki perempuan.” Kemudian kakek pengemis yang menyeramkan dan menjijikkan ini membuka
mulutnya meludah ke arah Bok Liong. “Cuh-cuh!”
Dua gumpal ludah menyambar bagaikan pelor-pelor baja ke arah muka dan dada Bok Liong. Pemuda ini
sudah waspada, cepat ia mengelak dengan loncatan ke kiri sambil mencabut pedangnya. Berkat kegesitan
dan kewaspadaannya maka dua gumpal ludah itu tidak mengenai dirinya, melainkan lewat cepat dan
amblas masuk ke dalam batu besar di belakangnya!
“Heh-heh-heh, Gan-lopek tidak sia-sia mengajarmu. Boleh juga untuk main-main kau!” Kembali kakek itu
meludah, kini ludahnya merupakan semprotan air yang lebar, namun setiap titik air menuju ke arah jalan
darah dengan kekuatan yang cukup untuk mematikan lawan.
Bok Liong memutar pedangnya dan terbentuklah gulungan sinar pedang merupakan payung bundar di
depan tubuhnya yang menangkis semua percikan air ludah itu. Akan tetapi It-gan Kai-ong kembali
menyerang dengan ludah kental yang menyambar seperti peluru-peluru baja. Bok Liong menangkis
dengan pedangnya dan alangkah kagetnya ketika ia merasa tangannya tergetar hebat dan hampir lumpuh
setiap kali senjatanya itu menangkis gumpalan ludah. Bukan main hebatnya tenaga sinkang yang
terkandung dalam serangan ludah-ludah itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heh-heh-heh-hah-hah-hah, menarilah. Cuh-cuh-cuh!” Kakek itu terus menyerang sambil meludah-ludah.
Bok Liong sibuk sekali dan ia mengerahkan sinkang di tubuhnya lalu mainkan pedangnya dengan cepat. Ia
tidak berani lagi menangkis ludah dari depan karena kalau terus-menerus mengadu tenaga ia akan celaka.
Kini ia menangkis dari samping sehingga ia hanya mengalihkan arah ludah-ludah itu ke samping.
“Biar sampai habis ludahnya, tak mau aku menerima penghinaan ini,” pikir Bok Liong dan menangkis atau
mengelak penuh kelincahan. Betapa pun juga, hanya diserang oleh ludah ini saja sudah cukup membuat
Bok Liong repot menyelamatkan diri dan tidak mampu balas menyerang!
Namun kelincahan Bok Liong yang selalu dapat menghindarkan serangan ludahnya membuat It-gan Kaiong
marah luar biasa. Ia merasa penasaran juga karena biasanya serangan ludahnya sudah cukup untuk
menewaskan lawan yang muda.
“Eh, kau boleh juga. Cukup berharga untuk berkenalan dengan tongkatku!” Tiba-tiba tubuhnya menerjang
maju dan tongkat di tangannya bagi pandang mata Bok Liong sudah berubah menjadi puluhan batang
banyaknya yang sekaligus menerjang ke arah dirinya.
Pemuda ini terkejut dan berusaha untuk memutar pedang menangkis semua bayangan tongkat itu sambil
bergerak mundur dengan loncatanloncatan
lincah. Namun akhirnya ia terpaksa berhenti karena di
belakangnya terdapat sebuah jurang yang curam dan menganga lebar, siap mencaploknya!
“Heh-heh-heh, kau hendak lari ke mana sekarang?” It-gan Kai-ong mengejek, terkekeh-kekeh, dan tongkat
bututnya mendesak makin dahsyat.
Betapa pun dahsyat dan hebatnya ilmu tongkat It-gan Kai-ong yang digerakkan dengan tenaga saktinya,
namun Bok Liong bukanlah seorang pemuda sembarangan. Ia murid terkasih dari Gan-lopek yang sudah
menurunkan ilmunya kepada murid ini, bahkan akhir-akhir ini mendapat tambahan gemblengan lebih
hebat. Maka menghadapi desakan maut di depan dan ancaman maut di belakang, Bok Liong berlaku nekat
dan pedangnya bergerak cepat mengeluarkan suara berdesing. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan
mengeluarkan jurus-jurus pilihan, tidak lagi hanya menjaga diri, malah kini ia balas menyerang dengan
nekat untuk mengadu nyawa! Pertandingan mati-matian terjadi di pinggir jurang ini.
It-gan Kai-ong tidak lagi terkekeh sekarang. Betapa pun juga, balasan serangan pemuda yang sudah nekat
ini tak boleh ia hadapi dengan sembrono kalau ia tidak mau mendapat malu. Kakek ini pun mainkan
tongkatnya lebih hebat, mendesak hebat sehingga tiap kali kedua senjata bertemu, Bok Liong merasa
lengannya seakan-akan serasa patah.
Namun dengan gigih ia melawan terus. Ketika mendapat lowongan, ia menyambar seperti kilat ke depan,
menusukkan pedangnya ke arah perut It-gan Kai-ong. Ia tidak peduli lagi bahwa dalam serangan nekat ini,
ia membiarkan dirinya ‘terbuka’ dan tidak terlindung. Pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) di
tangannya berubah menjadi cahaya redup kekuningan yang mengandung hawa dingin karena memang
ditusukkan dengan pengerahan tenaga Im.
Akan tetapi tiba-tiba pedang itu terhenti gerakannya karena sudah menempel pada tongkat butut di tangan
It-gan Kai-ong. Bok Liong kaget dan berusaha menarik kembali pedangnya namun terlambat. Tenaga Imkang
yang terkandung di pedangnya itu ternyata membuat dia celaka karena tenaga ini memungkinkan
lawannya yang sakti menempel dan ‘menyedot’ sehingga ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas.
Dalam kenekatannya, Bok Liong tidak mau menyerah mentah-mentah. Ia mengerahkan sisa tenaga yang
ada. Tiba-tiba tangan kirinya mengirim pukulan berbareng dengan kedudukan kakinya berubah, melangkah
maju. Pukulan ini mengarah dahi lawan yang kalau mengenai tepat akan membahayakan keselamatan
nyawa. Akan tetapi karena memang kedudukan Bok Liong sudah kalah dan sudah dikuasai, enak saja Itgan
Kai-ong menghadapi pukulan ini. Tangan kirinya menangkis dan sekaligus tongkatnya mendorong,
maka terjengkanglah tubuh Bok Liong ke belakang, rebah terlentang.
“Heh-heh-heh, mampuslah kau, murid orang she Gan!” Tongkat itu diangkat dan siap menjatuhkan pukulan
maut.
Melihat ini, Bok Liong tidak rela mati di tangan kakek iblis itu. Tubuhnya menggelinding ke belakang dan ia
bergulingan cepat sehingga ia terlepas dari pada pukulan tongkat, akan tetapi di lain saat tubuhnya sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
terjungkal ke dalam jurang yang menganga lebar!
Pada saat itu sebuah bayangan berkelebat datang dan kiranya bayangan ini adalah seorang kakek pendek
yang bukan lain adalah Empek Gan, guru Lie Bok Liong.
“He, pengemis iblis picak! Kau apakan muridku? Mana dia sekarang?”
“Heh-heh-heh, tua bangka she Gan, apa kau hendak menyusul muridmu ke dasar jurang sana?” Dengan
tongkatnya It-gan Kai-ong menunding ke arah jurang.
Berubah wajah Empek Gan. Biasanya dia jenaka dan gembira, akan tetapi karena mendengar bahwa
muridnya yang ia sayang terjerumus ke dalam jurang, timbullah kemarahannya. “Jembel busuk berhati
iblis! Tak tahu malu benar engkau, beraninya hanya terhadap orang muda. Kalau memang laki-laki, akulah
lawanmu, tua sama tua!”
“Wah, tutup mulutmu yang busuk. Kau sendiri di Nan-cao telah menghina muridku. Sekarang aku
menghajar muridmu, bukankah sudah pantas?”
“Tak perlu banyak bicara, It-gan Kai-ong. Kau telah membunuh muridku, kau harus dapat membunuhku
pula, kalau tidak, kaulah yang akan mengganti nyawanya!”
“Majulah, siapa takut kepadamu?”
Kedua orang kakek ini memasang kuda-kuda. Keduanya tidak main-main lagi, maklum bahwa lawan yang
dihadapi kini adalah seorang lawan yang amat tangguh. It-gan Kai-ong melintangkan tongkat bututnya di
atas kepala, kaki kanannya ditekuk lututnya dan diangkat ke atas, kaki kiri berdiri di ujung jari, tangan kiri
disodorkan ke depan dan matanya yang tinggal satu itu memandang lurus ke depan dengan tajamnya. Ada
pun Gan-lopek sudah mengeluarkan sepasang senjatanya pula, yaitu senjata yang disebut Hek-pek-moupit
(Sepasang Pena Bulu Hitam Putih), yang hitam di tangan kanan sedangkan, yang berbulu putih di
tangan kiri. Ia berdiri dengan kedua lutut agak ditekuk ke bawah, tubuh belakangnya menonjol dan
bergoyang-goyang, kedua lengannya bersilang.
Ada lima menit mereka hanya berdiri berhadapan macam ini, tidak melakukan penyerangan. Seperti dua
ekor jago aduan yang saling pandang dan saling taksir kekuatan masing-masing sebelum bergebrak.
Kemudian terdengar si raja jembel terkekeh aneh dan tubuhnya sudah menerjang maju didahului tongkat
bututnya. Tongkat ini mengandung tenaga dahsyat dan angin pukulannya sampai menggoyangkan daundaun
pohon di sekitar tempat itu.
“Wesssss!” tongkat butut melayang lewat di dekat kepala Gan-lopek.
Pelukis sakti ini mengerjakan senjatanya, melakukan dua kali totokan maut selagi serangan lawan lewat.
Akan tetapi dengan gerakan tubuh yang tepat raja pengemis itu pun dapat menghindarkan diri. Karena
gerakan keduanya, mereka sekarang bertukar tempat dan kembali mereka berdiri tak bergerak, saling
pandang dengan seluruh urat syaraf di tubuh menegang.
Bagi orang yang belum begitu tinggi ilmu silatnya, mungkin ia lebih suka melakukan penyerangan lebih
dulu dalam pertempuran, karena ia tentu menganggap bahwa dalam pertempuran, siapa lebih cepat atau
lebih dulu menyerang berarti menang kedudukan. Akan tetapi bagi orang-orang sakti seperti Gan-lopek
dan It-gan Kai-ong, malah sebaliknya. Yang menyerang lebih dulu sebetulnya malah lebih lemah
kedudukannya, karena setiap serangan berarti melemahkan pertahanan sendiri dan kadang-kadang kalau
lawan melihat bagiannya yang lemah, terbukalah ‘lubang’ dan hal ini berbahaya.
Inilah sebabnya maka keduanya sekarang sedang menaksir-naksir dan seakan-akan segan untuk mulai
menyerang lebih dulu. Akan tetapi karena tadi It-gan Kaiong
sudah menyerang sebagai pembukaan
pertandingan, Gan-lopek yang tidak mau dianggap takut, kini membalas dengan penyerangannya. Ia
berseru keras dan tubuhnya bergerak ke depan, sepasang mou-pit di tangannya berubah menjadi dua
gulung sinar putih hitam yang kecil tapi terang menyambar-nyambar ke depan mengancam tubuh It-gan
Kai-ong bagian atas dan bawah.
Biar pun sepasang pena bulu itu menotok bertubi-tubi ke arah tujuh belas jalan darah, It-gan Kai-ong dapat
menghindarkan diri dengan gerakan tongkatnya yang menjadi gulungan sinar melingkarlingkar
dan seperti
seekor ular yang melindungi seluruh tubuhnya. Kemudian tiba-tiba tongkatnya membalas dengan babatan
dunia-kangouw.blogspot.com
ke bawah, mengancam kedua kaki Gan-lopek.
Tubuh kakek ini, dengan pantatnya tetap megal-megol seperti ikan emas berenang, tiba-tiba mumbul ke
atas sehingga babatan tongkat hanya lewat di bawah kedua kakinya. Dari atas Gan-lopek meluncur turun
didahului pena bulu hitam menotok leher, ketika lawan menangkis, pena bulu putih menerjang dan
sasarannya kini adalah pusar! Hebat bukan main sepak terjang kakek pelukis ini sehingga It-gan Kai-ong
harus menggunakan segala kepandaiannya untuk menghindarkan diri. Gerakan Empek Gan gesit dan
aneh, apa lagi dengan gerakan khusus pantatnya yang megal-megol ini membingungkan lawannya.
Namun It-gan Kai-ong adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai. Tentu saja kepandaiannya sudah amat
tinggi dan betapa pun lihainya Empek Gan, kiranya tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah dan
paling-paling hanya dapat mengimbanginya saja. Begitu rapat dan kuat pertahanan masing-masing
sehingga setelah saling serang dan saling keluarkan ilmu-ilmu simpanan selama seratus jurus, belum juga
ada yang tampak terdesak.
Memang harus diakui bahwa pihak Empek Gan lebih banyak menyerang, namun serangan-serangannya
yang lihai selalu gagal! Di lain pihak, It-gan Kai-ong juga merasa penasaran sekali. Ia telah mengeluarkan
ilmu-ilmu simpanannya yang pilihan, bahkan telah mengerahkan sinkang-nya yang simpanan, namun tetap
tak mampu ia mendesak kakek pelukis itu, apa lagi menjatuhkan! Karena penasaran, ia menjadi marah dan
tiba-tiba ia meludah, menggunakan senjatanya yang kotor dan licik ke arah muka Empek Gan.
“Heh, jembel busuk!” Empek Gan memaki, pena bulunya mengebut dan... air itu menyambar balik, kembali
ke arah tuannya.
Akan tetapi It-gan Kai-ong memang tidak bermaksud menggunakan ‘ilmu’ meludah ini yang ia tahu takkan
ada gunanya terhadap seorang lawan seperti Empek Gan. Ia tadi meludah hanya untuk melampiaskan
hatinya yang gemas. Kini ia berteriak nyaring, suaranya melengking tinggi dan tiba-tiba gerakan tongkatnya
berubah sama sekali. Angin dari empat penjuru menyambar dan berputar-putar seperti angin puyuh yang
menyerang ke arah Gan-lopek.
“Ayaaa...!” Gan-lopek berseru terkejut.
Baru kali ini ia menyaksikan daya serangan sehebat dan seaneh ini. Ia memaksa diri untuk menangkis dan
mengerahkan lweekang-nya, namun tetap saja ia ikut terputar oleh daya serang tongkat yang menimbulkan
kekuatan seperti angin puyuh ini sehingga tubuhnya berpusing tak tertahankan lagi! Ia tidak tahu bahwa
inilah ilmu yang telah dipelajari oleh It-gan Kai-ong dari kitab rampasannya dari tangan Bu Kek Siansu,
yaitu kitab yang separuh terampas olehnya sedangkan separuhnya lagi terampas oleh Hek-giam-lo.
Tadinya It-gan Kai-ong tidak ingin mengeluarkan ilmu ini sebelum ia berada di puncak Thai-san dan
berhadapan dengan anggota-anggota Thian-te Liok-koai yang lain, hendak menggunakannya sebagai ilmu
simpanan untuk senjata terakhir. Akan tetapi karena Gan-lopek merupakan lawan yang ampuh dan ulet
bukan main, saking mendongkolnya, It-gan Kai-ong segera mengeluarkannya dan hasilnya bukan main!
Sayang bagi It-gan Kai-ong, ilmu itu hanya sebagian saja ia miliki, sedangkan bagian lain berada di tangan
Hek-giam-lo, maka ia seperti kenal kepala tidak kenal buntut, tahu awal tidak tahu akhir. Lawannya sudah
‘tertawan’ oleh daya serangannya, sudah ikut berpusing, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana untuk
melanjutkan ilmunya dan merobohkan lawan. Betapa pun juga, dalam keadaan berpusing seperti itu
banyak lowongan terdapat dalam kedudukan Gan-lopek. Dengan terkekeh-kekeh beringas It-gan Kai-ong
menggerakkan tongkathya untuk memberi pukulan maut kepada lawannya ini. Tongkatnya sudah
berkelebat menusuk ke arah lambung!
“Trakkkkk...!” tiba-tiba segulung sinar kuning menyambar dan menangkis tongkat It-gan Kai-ong yang
menusuk lambung Gan-lopek, disusul ucapan nyaring. “Gan-lopek, jangan takut, biarkan kutusuk matanya
yang sebelah dan kau coret-coret mukanya dengan tinta hitam putih!”
It-gan Kai-ong kaget sekali karena tangkisan pedang itu membuat kakinya tergeser. Tidak hebat tenaga
orang yang baru datang ini, akan tetapi gerakannya benar-benar luar biasa sekali. Ia terbelalak heran dan
matanya yang tinggal satu itu mengeluarkan sinar berapi ketika ia mengenal bahwa yang datang menolong
Gan-lopek ini ternyata hanya seorang gadis remaja yang bukan lain adalah Lin Lin.
Lebih-lebih kaget dan herannya ketika Lin Lin sudah mengerjakan pedangnya, Pedang Besi Kuning
menerjang dengan gerakan-gerakan yang luar biasa sekali. Karena tadinya ia memandang rendah,
dunia-kangouw.blogspot.com
menyangka bahwa gadis ini masih seperti dulu yang tidak seberapa kepandaiannya, It-gan Kai-ong tadinya
berlaku lambat. Siapa tahu kesalahan menduga ini hampir mencelakakannya. Tahu-tahu pedang itu
dengan gerakan melingkar sudah mendekati tenggorokan dan ketika ia mengelak, tahu-tahu ujung pedang
sudah dekat sekali dengan matanya yang tidak buta, merupakan serangan yang luar biasa sekali dan
agaknya matanya akan benar-benar ditusuk!
Baiknya It-gan Kai-ong memiliki kepandaian yang amat tinggi. Dalam keadaan berbahaya ini, menangkis
atau mengelak sudah tak keburu, ia meludah dan... air ludahnya muncrat ketika bertemu pedang. Kekuatan
air ludah ini hebat karena ternyata sudah dapat menahan pedang sehingga ia berhasil menggerakkan
tongkatnya menangkis pedang yang datang agak terlambat karena tangkisan air ludah tadi.
“Wah, kotor! Keparat busuk, manusia jorok! Pedangku kena ludahnya! Celaka...!” Lin Lin melompat mundur
dan menggosok-gosokkan pedangnya pada batang pohon untuk menghapus air ludah yang menempel di
situ!
Ada pun It-gan Kai-ong yang merasa kaget sekali menyaksikan gerakan pedang Lin Lin, maklum bahwa
kalau ia dikeroyok, akan berbahaya baginya. Ia seorang sakti, akan tetapi sebagai seorang manusia iblis
tentu saja ia tidak segan-segan menggunakan kecurangan dan kelicikan. Melihat bahwa keadaan dirinya
berada di pihak lemah, selagi Lin Lin ribut membersihkan pedang, ia cepat menggunakan kesempatan
untuk melesat pergi sambil berseru.
“Gan-lopek, kegembiraanku lenyap dengan datangnya gangguan seorang bocah. Lain kali kita lanjutkan!”
“Dia curang, dia licik, main kotor!” Lin Lin memaki-maki, kemudian menoleh kepada Gan-lopek dan berkata,
“Gan-lopek, apakah kau juga datang hendak menonton pertandingan para iblis itu?”
Sejenak, seperti juga It-gan Kai-ong tadi, Gan-lopek tertegun, dan tercengang menyaksikan gerakan
pedang Lin Lin. Akan tetapi ia segera tertawa. “Ha-ha-ha, si iblis mata satu itu kiranya jeri menghadapi
seorang nona!” Lalu kegembiraannya mereda ketika ia teringat akan muridnya.
“Nona yang baik, muridku terjerumus ke dalam jurang. Kau sahabat baiknya, bukan? Mari bantu aku
mencarinya, mudah-mudahan dia masih hidup!”
Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar ini dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut kakek itu
menuruni jurang dengan hati-hati melalui jalan memutar yang tidak begitu terjal. Jurang itu amat curam dan
betapa pun pandainya seorang manusia biasa yang tidak pandai terbang seperti burung tak mungkin dapat
menuruninya tanpa memilih jalan memutar. Oleh karena jalan memutar inilah maka sejam lebih kemudian
baru mereka berdua dapat sampai ke dasar jurang dan mulai mencari-cari. Namun tidak ada jejak mau pun
bayangan Lie Bok Liong!
Ke manakah pemuda yang tadi terjungkal masuk ke dalam jurang itu? Apakah tubuhnya sudah hancur
lebur terbanting dari tempat yang amat tinggi sehingga tidak ada bekasnya lagi? Agaknya akan begitulah
kalau tidak terjadi hal yang kebetulan dan aneh, dan yang menyelamatkan nyawanya.....
Ketika tubuhnya terjungkal dan melayang turun dengan kecepatan mengerikan, Bok Liong sudah yakin
bahwa ia tentu akan tewas. Namun sebagai seorang yang berjiwa gagah, ia menggigit bibirnya dan
menahan diri agar tidak berteriak ketakutan. Bahkan kedua tangannya lalu mencengkeram sana-sini,
mencari pegangan. Tentu saja ia tidak dapat mencari apa yang akan dipegang atau disambarnya, karena
ia hanya melihat bayangan-bayangan batu terbang ke atas di sampingnya, amat cepat memusingkan
kepala. Akhirnya, tubuhnya yang melayang terlampau dekat dengan batu menonjol terbentur pada batu itu.
Karena yang terbentur itu adalah pundaknya dan kepalanya juga sedikit menyerempet batu, Bok Liong
merasa kepalanya seolah-olah pecah dan seketika pandang matanya dan pikirannya menjadi gelap, ia
pingsan tapi masih melayang terus ke bawah.
Ia tidak tahu betapa sebelum tubuhnya menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba berkelebat bayangan
yang berseru aneh, lalu bayangan ini melesat ke arah ia akan jatuh, menggerakkan kedua tangannya dan
tubuhnya terayun naik lagi. Karena kekuatan luncuran tubuhnya tadi amat keras, kini oleh bayangan itu
dibelokkan dan membalik ke atas lagi, maka ada empat lima meter tubuhnya melayang ke atas, lalu turun
kembali dan disambut oleh kedua tangan bayangan itu.
Hanya sebentar Bok Liong pingsan. Ketika ia membuka kedua matanya, ia merasa kepala dan lehernya
basah semua. Ia gelagapan dan membuka matanya, seketika ingat bahwa ia tadi melayang jatuh. Ketika ia
dunia-kangouw.blogspot.com
bangun, kiranya ia sudah duduk di atas batu. Dan tak jauh dari situ ia melihat seorang wanita muda
berjalan pergi. Melihat tubuhnya tidak hancur, biar pun ada luka-luka sedikit dan pundaknya sakit, Bok
Liong menjadi heran dan mengira bahwa dia tentu sudah mati. Inikah neraka? Ia menjadi bingung dan
melihat wanita muda itu cepat ia memanggil.
“Heeeiii, Nona, tunggu...!”
Gadis itu menengok sebentar, akan tetapi lalu lari pergi.
“Eh, kau Sian Eng...!” Bok Liong begitu heran sampai ia meloncat berdiri, tidak mempedulikan rasa nyeri di
pundaknya dan melompat lari mengejar. Biar pun hanya sekali menoleh, ia mengenal wajah itu, wajah Sian
Eng! Akan tetapi dalam sekejap mata saja bayangan gadis itu sudah lenyap dan kecepatan yang luar biasa
ini membuat Bok Liong berhenti termangu-mangu.
“Aku tentu sudah mati... dan agaknya Sian Eng juga sudah mati... tentu ini alam baka...,” pikirnya sambil
kembali duduk di atas batu.
Akan tetapi sedikit demi sedikit pikirannya menjadi terang kembali. Ia masih dapat merasa, tubuhnya masih
lengkap, pikirannya masih utuh dan ia tahu bahwa ia berada di dalam jurang, bahwa It-gan Kai-ong berada
di atas jurang sana dan kakek itulah yang membuat ia terguling ke dalam jurang. Entah bagaimana ia tidak
terbanting remuk. Agaknya Sian Eng yang telah menolongnya, betapa tidak mungkinnya hal ini terjadi.
Sian Eng cukup ia kenal. Tidak hanya orangnya, malah ia kenal pula kepandaiannya, tidak lebih tinggi dari
pada tingkatnya, malah jauh lebih rendah. Bagaimana gadis itu mau menolongnya? Bagaimana caranya?
Dan andai kata benar Sian Eng gadis itu tadi, dan Sian Eng menolongnya, mengapa tadi terus pergi dan
mengapa ada bayangan yang begitu aneh pada wajah gadis yang biasanya halus peramah itu?
Ketika teringat lagi bahwa It-gan Kai-ong masih di atas dan mungkin sekali kakek itu akan mencari jalan ke
bawah dan melihatnya masih hidup, Bok Liong segera menguatkan diri, berdiri dan pergi cepat-cepat dari
tempat itu. Untung pundaknya tidak patah tulangnya, hanya luka kulit dan daging di bahu saja.
Inilah sebabnya mengapa Lin Lin dan Gan-lopek tidak dapat menemukan Bok Liong, bekas-bekasnya pun
tidak. Hal ini membuat Gan-lopek terheran-heran, akan tetapi Lin Lin segera menjatuhkan diri di atas batu
dan menangis tersedu-sedu.
“Eh-eh, mengapa kau menangis?” Gan-lopek bertanya heran.
Lin Lin tidak menjawab, tetapi terus menangis keras dan akhirnya dengan kata-kata bercampur isak ia
berkata, “Kasihan... Liong-twako... tentu telah hancur lebur... ah, Liong-twako kau orang yang amat baik...
mengapa mengalami nasib begini buruk? Mati pun tidak ada kuburnya... ah, Liong-twako...!” Lin Lin
menangis makin keras karena memang gadis ini merasa kasihan dan berduka.
“Hush, bocah tolol, kenapa kau bicara yang bukan-bukan? Siapa bilang Bok Liong sudah mati?”
Seketika terhenti tangis Lin Lin dan ia berdongak memandang wajah kakek itu dengan mata merah. Diamdiam
si kakek girang sekali melihat bahwa gadis ini betul-betul menangisi Bok Liong muridnya, tanda
bahwa gadis ini betul-betul mencinta muridnya.
Melihat pandang mata Lin Lin penuh pertanyaan seakan-akan heran mendengar kata-katanya tadi, Ganlopek
segera tertawa dan berkata, “Ha-ha-ha, anak baik, tenangkan hatimu dan bergembiralah. Bok Liong
belum mati. Kalau tubuhnya terbanting ke dasar ini, biar pun akan hancur berantakan, sedikitnya kita tentu
akan menemukan daging atau tulangnya, atau tentu ada tanda-tanda darahnya. Akan tetapi tidak terdapat
tanda-tanda itu, hal ini hanya bisa berarti bahwa Bok Liong telah selamat, entah bagaimana cara Tuhan
menyelamatkan seorang yang membela kebenaran, akan tetapi percayalah, aku yakin bahwa Bok Liong
pasti masih hidup dan selamat di saat itu.”
Bukan main girangnya hati Lin Lin. Kegirangan luar biasa yang tidak dibuat-buat. Seketika ia melompat
bangun dan merangkul kakek itu dan... menangis lagi.
“Eh-eh, bagaimana ini? Kenapa kau begini cengeng, hah?” Akan tetapi diam-diam Gan-lopek
mengangguk-angguk dan hatinya sudah setuju seratus prosen kalau muridnya berjodoh dengan gadis ini.
Ia tahu betul betapa besar cinta kasih Bok Liong terhadap Lin Lin. Hal ini diucapkan sendiri oleh Bok Liong
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam keadaan tidak sadar ketika ia merawat muridnya itu setelah menyelamatkannya dari tangan Hekgiam-
lo. Dan sekarang, melihat sikap Lin Lin, agaknya muridnya tidak bertepuk sebelah tangan, cinta kasih
muridnya terhadap Lin Lin bukan tiada terbalas.
Tiba-tiba Lin Lin mengundurkan diri dan tertawa. Gan-lopek membelalakkan matanya, tapi kemudian ia pun
tertawa, girang bukan main karena ternyata calon ‘mantu murid’ ini memiliki watak yang aneh. Keduanya
tertawa-tawa di dasar jurang, seperti dua orang yang sama-sama menonton dagelan (badut) di panggung.
Akan tetapi kalau ada orang lain melihat mereka, tentu mengira mereka berdua itu sudah menjadi gila atau
mungkin juga mereka disangka iblis-iblis penjaga jurang!
“Eh, nanti dulu. Kenapa kau tertawa?” Akhirnya Gan-lopek berhenti dan bertanya karena merasa betapa
suara ketawanya kalah merdu oleh nona itu. Ia seakan-akan merasa seorang penyanyi yang merasa kalah
indah suaranya.
Lin Lin akhirnya dapat menghentikan ketawanya pula. Sambil tersenyum dan mengusap air matanya
dengan ujung lengan baju, gadis ini berkata, “Banyak sekali hal yang patut membikin aku tertawa, Kek,”
tanpa ragu-ragu ia menyebut kakek kepada Gan-lopek.
“Apa itu? Kukira kau tertawa saking bahagia mendengar Bok Liong belum mati.”
“Itulah yang pertama kali memang. Aku girang sekali bahwa Liong-twako belum mati. Benar sekali
dugaanmu, Kek, agaknya memang Liong-twako tertolong secara ajaib dan belum tewas. Hal ini amat
menggirangkan hatiku, karena muridmu itu seorang yang amat baik terhadap aku, sehingga kalau ia mati
aku akan merasa sedih sekali.”
“Hemmm, lalu hal apa lagi yang membikin kau tertawa selain hal yang kau sebutkan tadi?”
Kembali Lin Lin tertawa dan tak segera menjawab. Ia ketawa geli terpingkal-pingkal sambil menudingkan
telunjuknya ke arah Gan-lopek. Kakek ini tercengang keheranan, memandang ke sana ke mari, berputaran
berkeliling untuk mencari apa yang menyebabkan Lin Lin tertawa. Agaknya perbuatannya ini makin
menggelikan hati Lin Lin yang makin terpingkal-pingkal. Akhirnya kakek itu juga tertawa menandingi Lin
Lin.
Gadis ini terkejut dan tentu ia akan segera berhenti tertawa saking kagetnya karena suara ketawa kakek itu
kali ini bukanlah suara ketawa wajar, melainkan suara ketawa yang mengandung khikang dan yang
membuat ia hampir terjengkang karena suara itu mendebarkan jantungnya dan membuatnya seperti
lumpuh. Akan tetapi, gadis nakal ini tidak menghentikan suara ketawanya, bahkan kini pun ia mengerahkan
khikang dan sinkang-nya, disalurkan ke dalam suara ketawanya untuk menandingi Gan-lopek.
Maka terjadilah hal aneh dan terdengarlah hal aneh pula. Suara ketawa mereka, yang satu merdu tinggi
yang lain rendah parau, terbahak-bahak dan bergema dari dasar jurang membubung naik sampai keluar
jurang, suara yang tentu akan dianggap orang yang tak melihat mereka sebagai suara ketawa raja iblis dan
kuntilanak sendiri! Lebih aneh lagi melihat keadaan tubuh mereka. Tidak seperti orang bergirang tertawa
karena keduanya berdiri tegak, lutut sedikit ditekuk seperti orang memasang kuda-kuda, wajah sama sekali
tidak seperti orang kegirangan, melainkan sungguh-sungguh dan seperti orang mengerahkan tenaga ketika
sedang buang air dan sukar keluar!
“Stop...! Stop...!” Akhirnya Gan-lopek berseru sambil meloncat ke atas.
Lin Lin hampir terjengkang dan hal ini adalah karena Empek Gan telah mengerahkan seluruh tenaganya
untuk ‘mendorong’ gadis itu dalam ‘pergulatan’ tenaga suara yang kalau dilanjutkan akan berbahaya itu.
Setelah berhasil mendorong, ia melompat dan terbebaslah mereka dari pada pertandingan khikang yang
hebat itu. Kini Gan-lopek memandang dengan bengong, hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa
mengeluarkan suara sehingga kumis dan jenggotnya saja yang bergerak-gerak.
Lin Lin juga mengerahkan hawa murni untuk mengembalikan tenaga, kemudian ia memandang dan
berkata, “Kau hebat, Kek!”
Si tua menarik napas panjang, mengelus-elus jenggot dan mengangguk-angguk. “Siapa bilang aku hebat?
Tidak, anak baik, aku tua bangka dan tiada gunanya lagi. Akan tetapi engkau... ah, hampir aku tidak
percaya bahwa kau memiliki khikang yang begitu hebat. Hampir aku tidak kuat menahannya. Kau anak
nakal, apa kau tadi bermaksud membunuh aku si tua bangka, yang biar pun jelek-jelek masih guru Bok
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong?”
Lin Lin kaget. “Ah, mana mungkin aku mencelakakanmu, Kek? Andai kata ada maksud yang buruk itu, tak
mungkin aku mampu. Menghadapi seorang sakti seperti kau ini, Kek, aku tiada ubahnya seekor semut
melawan gajah!”
“Huh-huh, kadang-kadang si semut berhasil memasuki telinga gajah dan si gajah tua bangka mampus
sendiri! Anak baik, aku pernah melihatmu, pernah mendengar dari Bok Liong, akan tetapi kepandaianmu
tidak seperti yang kau perlihatkan tadi. Anak nakal, kau memiliki ilmu begini hebat, mengapa berpura-pura
bodoh?”
Kini Lin Lin benar-benar merasa heran. Akan tetapi segera ia menjadi girang sekali karena ia dapat
menduga bahwa ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat Pusaka Beng-kauw itulah agaknya yang tadi
mendatangkan khikang luar biasa yang membuat Empek Gan kaget setengah mati dan keheranan. Akan
tetapi, teringat akan nasihat Suling Emas, Lin Lin tidak mau membuka rahasia ini dan ia hanya berkata.
“Kakek Gan, kau orang tua harap jangan mengejek orang muda. Kepandaian apa yang kupunyai? Dari
pada mengejek dan membikin panas perut orang muda, lebih baik kau orang tua memberi petunjukpetunjuk
sehingga ilmuku yang mentah akan menjadi matang dan berguna!”
Empek Gan tertawa. “Wah, boleh... boleh... memang aku tahu bahwa kalau ilmumu sudah matang, aku si
tua mana mampu menandingimu? Tapi, kau tadi bicara tentang perut panas, tidak demikian dengan
perutku. Perutku perih sekali!” Tiba-tiba terdengar ‘ayam berkokok’ dari dalam perut kakek itu sehingga Lin
Lin tertawa geli.
“Tunggulah, Kek. Betapa pun juga, aku adalah seorang wanita dan aku tahu bagaimana caranya
menyembuhkan perut perih.” Setelah berkata demikian, gadis ini berlari memasuki hutan dan tak lama
kemudian ia sudah kembali membawa seekor kelinci yang gemuk sekali.
Di dalam hatinya, Lin Lin girang dan gembira karena ia mendapat jalan untuk menyempurnakan ilmu yang
baru ia dapat, yaitu dengan minta petunjuk-petunjuk Empek Gan pada bagian yang sulit. Maklum bahwa
kakek ini seorang sakti, maka ia segera menggunakan kecerdikannya untuk ‘mengambil hati’ melalui perut
lapar Kakek Gan.
********************
Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Empek Gan, dan mari kita selidiki siapakah gerangan gadis yang telah
menolong Bok Liong secara aneh itu? Menurut pandangan Bok Liong, gadis itu mirip benar dengan Sian
Eng, akan tetapi tidak mau berhenti ketika ia dipanggil.
Siapakah gadis itu sesungguhnya? Pandang mata Bok Liong yang tajam memang tidak salah. Gadis itu
adalah Sian Eng! Akan tetapi kita tahu bahwa ilmu kepandaian Sian Eng tidaklah amat tinggi, dan
sebaliknya, cara menolong Bok Liong yang melayang jatuh dari atas jurang itu hanya akan dapat dilakukan
oleh orang yang memiliki kesaktian luar biasa. Untuk mengetahui rahasia ini, mari kita ikuti perjalanan dan
pengalaman Sian Eng.
Telah kita ketahui bahwa Sian Eng dapat dibujuk oleh laki-laki yang dikasihinya, Suma Boan, untuk
memasuki lorong rahasia di bawah tanah bekas tempat sembunyi Tok-siauw-kui yang belasan tahun
lamanya bertapa dan bersembunyi di tempat ini. Dan kemudian betapa Sian Eng terjebak ke dalam
ruangan di bawah tanah oleh alat-alat rahasia yang agaknya telah dipasang orang sehingga ia terkurung
oleh empat dinding batu tanpa dapat mencari jalan ke luar karena jalan ke luar satu-satunya hanya
mendorong batu yang menutup lorong, padahal batu itu beratnya ribuan kati dan ternyata Suma Boan
sendiri dari luar ruangan itu tak mampu menggerakkan batu ini!
Di bagian depan cerita ini, kita tinggalkan Sian Eng dalam keadaan roboh dan dikeroyok oleh kelelawarkelelawar
kecil beracun yang menyerangnya dengan gigitan, lalu menyedot darahnya. Setelah roboh dan
merasa betapa kelelawar-kelelawar itu menyerbunya, Sian Eng diserang rasa takut dan ngeri yang
bercampuran dengan sakit di seluruh tubuhnya. Gigitan binatang-binatang kecil itu mendatangkan rasa
panas, gatal dan perih. Ia bergulingan ke sana ke mari, menjerit-jerit seperti orang gila, kemudian di dalam
gelombang kengerian dan ketakutan itu timbullah suatu kenekatan yang luar biasa, kemarahan yang
secara aneh membuat ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan baru.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Eng meloncat bangun, kedua tangannya mencengkeram kelelawar-kelelawar yang masih menempel
di tubuhnya, membanting, menginjak, bahkan ia lalu menggigit kepala binatang-binatang kecil itu,
meremukkan kepala dan menghisap darahnya. Rasa sakit yang amat hebat membuat gadis ini seperti tidak
ingat lagi akan keadaan sekitarnya, yang ada di dalam ingatan hanya membalas, membunuh, mengamuk!
Pergulatan menyeramkan di gelap ini, seandainya terjadi di tempat terang dan kelihatan orang lain tentu
akan membuat orang merasa ngeri dan seram. Gadis itu sudah tidak karuan lagi pakaiannya, robek sanasini,
rambutnya terurai awut-awutan. Juga tingkah lakunya seperti orang gila. Ia bergulingan, kadangkadang
meloncat berjingkrak-jingkrak, kadang-kadang tertawa, lalu menangis, semua ini karena
penderitaan rasa nyeri yang hebat ditambah rasa takut dan ngeri. Akan tetapi tiada hentinya ia membunuh
kelelawar dan bahkan mulai makan dagingnya dan minum darahnya.
Semalam suntuk Sian Eng bergulat. Bangkai kelelawar bertumpuk-tumpuk di ruangan itu dan entah sudah
berapa banyak darah yang diminumnya, daging yang ditelannya. Akhirnya malam pun berakhir berganti
pagi dengan ditandai seberkas cahaya memasuki ruangan. Cahaya ini membantu Sian Eng mengusir
kelelawar-kelelawar. Akan tetapi Sian Eng juga kehabisan tenaga, menggeletak terlentang pingsan di atas
bangkai-bangkai kelelawar! Pakaiannya robek-robek, kulitnya penuh bintik-bintik merah dari darah yang
keluar dari luka-lukanya.
Sehari penuh Sian Eng menggeletak di atas bangkai-bangkai kelelawar di dalam ruangan di bawah tanah
itu, setengah pingsan setengah tidur, atau seperti telah mati. Akan tetapi setelah matahari tenggelam dan
ruangan itu menjadi gelap, kelelawar-kelelawar kecil mulai beterbangan kemudian menyerangnya. Sian
Eng seperti dibangunkan dan seakan-akan seekor hantu betina atau kuntilanak yang hanya ‘hidup’ di
waktu malam, ia bangkit lagi dan seperti malam kemarin, kembali terjadi pertandingan dengan kelelawarkelelawar
kecil yang menyerang dan mengeroyoknya secara ganas sekali.
Kembali Sian Eng menjadi korban gigitan, akan tetapi anehnya gerakan-gerakannya lebih tangkas dan
lebih ganas dari pada kemarin. Kini lebih banyak lagi kelelawar yang mati, dan lebih banyak lagi yang
darah dan dagingnya memasuki perut Sian Eng! Kembali semalam suntuk terjadi perang kecil yang ganas
mengerikan di dalam ruangan gelap, akan tetapi kali ini Sian Eng kelihatannya makin kuat saja sehingga
menjelang pagi, binatang-binatang itu mulai gentar dan hanya satu dua ekor yang berani menerjangnya.
Namun sekali sambar, Sian Eng menangkapnya, merobeknya menjadi dua dan mengisap darah yang
menyembur ke luar. Agaknya rasa darah, sakit hati, dan ditambah lapar dan haus membuat Sian Eng
berubah seperti seorang kuntilanak! Anehnya, begitu sinar matahari menerangi ruangan, Sian Eng baru
merasa lemas dan letih, lalu terguling dan menggeletak telentang setengah telanjang di atas ‘kasur’ yang
terbuat dari bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk.
Seperti juga kemarin, sehari penuh Sian Eng tidur setengah pingsan. Luka-luka kecil di kulitnya yang putih
kuning dan halus, yang kemarin tampak berbintik-bintik merah, kini mulai menghilang, akan tetapi tubuhnya
sebentar terasa panas membara, sebentar kemudian dingin seperti salju!
Memang terjadi sesuatu yang hebat pada diri gadis ini. Kelelawar-kelelawar itu ternyata adalah sebangsa
kelelawar yang beracun, yang biasanya sekali menggigit orang tentu meninggalkan racun yang akan cukup
merampas nyawa orang itu dalam waktu dua tiga hari. Sedangkan Sian Eng telah menerima gigitan yang
bertubi-tubi dari kelelawar-kelelawar itu, gigitan ganas yang disertai kemarahan sehingga racun yang jahat
dan berbahaya banyak sekali memasuki tubuh dan meracuni darahnya.
Akan tetapi, secara kebetulan sekali keadaan yang mengerikan itu membuat Sian Eng menggila dan
mengganas, membuat ia marah dan makan daging kelelawar serta minum darahnya. Justru inilah yang
menjadi obat penawar, obat penawar yang tiada keduanya di dunia ini! Di luar pengetahuan dan
kesadarannya sendiri, selain dapat mengisi perut untuk menahan lapar dan haus, Sian Eng telah
mengobati dirinya sendiri. Tidak saja mengobati dan menghalau bahaya dari racun gigitan kelelawarkelelawar,
bahkan jauh lebih dari itu, ia telah memasukkan sumber tenaga yang amat hebat, karena racun
kelelawar itu mengandung hawa panas yang biasanya akan menghanguskan jantung, mengeringkan
darah, sebaliknya, racun penawar yang terdapat dalam daging dan darah kelelawar itu mengandung hawa
dingin.
Kini mulailah kedua racun yang bertentangan itu bekerja, bertempur mati-matian di dalam tubuh Sian Eng,
membuat gadis ini dalam keadaan tidak sadar, sebentar kepanasan sebentar kedinginan. Kalau Tuhan
Yang Maha Kuasa menghendaki seseorang harus masih hidup, tidak akan kekurangan jalan, betapa pun
aneh dan tak mungkin tampaknya jalan itu di mata manusia. Demikian pula dengan halnya Sian Eng.
Nyawanya tergantung di ujung sehelai rambut. Hanya Tuhan saja yang mampu menolongnya, hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
Tuhan yang memutuskan mati hidupnya.
Dua macam racun yang memasuki tubuhnya, yang satu lewat luka-luka gigitan yang kedua lewat mulut,
adalah racun-racun yang amat berbahaya dan terlalu banyak masuk ke tubuhnya. Kini kedua macam racun
yang mempunyai kekuatan bertentangan itu saling bertanding, saling dorong untuk menguasai tubuh Sian
Eng yang akan berakhir dengan maut jika satu di antara kedua racun itu kalah! Hawa panas dan dingin
saling desak, kuasa-menguasai. Sedikit saja selisih kekuatan kedua hawa ini, akan tamatlah riwayat hidup
Kam Sian Eng, gadis yang bernasib malang ini.
Namun, seperti sudah disebutkan tadi, Tuhan belum menghendaki riwayat gadis ini tamat, karenanya
secara ajaib sekali, kedua macam racun itu kebetulan memiliki kekuatan seimbang! Mereka saling
bercampur dan lenyaplah daya merusak, bahkan sebaliknya, di dalam tubuh Sian Eng, kedua macam
racun itu bercampur dan lahirlah semacam daya tenaga mukjijat yang membuat sinkang (hawa sakti) di
tubuh gadis ini naik beberapa puluh kali lipat!
Tidaklah mengherankan apa bila saat gadis itu bergerak bangun setelah hari kembali menjadi gelap, yaitu
pada malam ketiga, gadis itu merasa tubuhnya ringan dan nyaman sekali, sama sekali tidak ada rasa sakit
lagi, yang ada hanya rasa hangat yang menyenangkan. Selain ini lenyap pula rasa takut dan rasa ngeri.
Bahkan ia tertawa-tawa ketika mendengar sambaran kelelawar-kelelawar yang untuk ketiga kalinya kini
mulai hendak menyerbu musuh yang ulet itu.
Sian Eng merasa betapa sambaran binatang-binatang itu amat lambat dan lemah. Dengan mudahnya ia
menyentil dengan kuku-kuku jarinya. Sekali sentil saja remuklah kepala kelelawar yang menyambar ke
arahnya. Ketika banyak sekali binatang itu mulai menyerbu, Sian Eng kewalahan juga dan terpaksa
membiarkan satu dua ekor menggigit tubuhnya yang setengah telanjang itu.
Akan tetapi terjadilah keanehan. Gadis ini sama sekali tidak merasakan nyeri ketika tergigit, sebaliknya,
kelelawar yang menggigitnya itu melepas gigitan, jatuh dan berkelojotan terus mati! Tentu saja hal ini tidak
tampak oleh Sian Eng, akan tetapi sejam kemudian, tidak ada seekor pun kelelawar yang menyerangnya
lagi. Binatang-binatang itu hanya beterbangan dan bercuit-cuit ketakutan, seakan-akan mereka kini
mengakui bahwa manusia yang tiga malam berturut-turut dikeroyoknya itu tak terkalahkan dan patut
menjadi ratu mereka.
Sian Eng terbebas dari ancaman maut oleh racun-racun berbahaya itu. Akan tetapi agaknya pengaruh
racun-racun itu mempengaruhi juga otaknya. Setidaknya tentu mengubah kesempurnaannya, mengganggu
dan membuat Sian Eng menjadi orang aneh. Kadang-kadang ia tertawa sendiri kalau menangkap
kelelawar untuk dimakan, kadang-kadang ia menangis karena teringat akan Suma Boan. Malam ketiga itu
diisi dengan tawa dan tangis berganti-ganti.
Pada keesokan harinya, Sian Eng dapat bergerak dengan gesit dan pikirannya juga menjadi terang.
Teringatlah ia bahwa ia terkurung di situ, terkubur hidup-hidup. Pikiran ini menggerakkan semangatnya dan
ia menghampiri batu penutup lubang. Dicobanya tenaganya untuk membongkar batu itu, untuk
mondorongnya kembali. Ia merasa betapa dalam tubuhnya bergolak hawa yang amat kuat, yang terasa
panas sekali. Ia mengerahkan tenaga, hawa panas meningkat, batu bergoyang, akan tetapi tiba-tiba hawa
panas itu berubah menjadi hawa dingin dan... Sian Eng roboh pingsan dan batu itu kembali menutup
lubang!
Setelah siuman kembali, Sian Eng mencoba dan berkali-kali ia pingsan hanya karena perubahan hawa di
dalam tubuhnya. Akhirnya ia maklum bahwa di dalam tubuhnya terdapat hawa yang aneh, yang kadangkadang
panas, kadang-kadang dingin, akan tetapi yang demikian hebat sehingga ia tidak mampu
menguasainya dan kalau ia memaksa terus mengerahkan tenaga yang aneh itu, tentu akhirnya ia akan
mati terpukul sendiri. Karena inilah Sian Eng lalu mencari jalan lain. Ia memeriksa seluruh dinding, seinci
demi seinci, diperiksanya teliti sekali. Namun hasilnya sia-sia dan sementara itu, karena ia belum dapat
menguasai dua macam hawa di tubuhnya, berkali-kali Sian Eng roboh pingsan.
Akan tetapi pada suatu hari, kurang lebih lima hari semenjak ia terkurung di situ, usahanya berhasil. Ia
mulai memeriksa lantai. Satu per satu batu-batu lantai ditelitinya dan akhirnya ketika ia mendongkel sebuah
batu di sudut kiri, terbongkarlah lubang yang lebarnya ada dua kaki persegi. Mendadak dari dalam lubang
itu meluncur keluar seekor ular yang kepalanya putih. Bagaikan kilat menyambar, ular itu menerjang ke
atas dan tanpa dapat dielakkan lagi, lengan kiri Sian Eng kena digigit.
Sian Eng menjerit dan mengerahkan tenaga. Karena ia belum menguasai dua macam tenaga di tubuhnya,
dunia-kangouw.blogspot.com
ia mengerahkan sekenanya saja dan kebetulan pada saat itu hawa dingin di tubuhnya yang lebih kuat,
maka seketika pengerahan tenaga ini membuat lengannya yang tergigit ular itu terasa seperti berubah
menjadi es! Dan hebatnya, ular itu lalu melepaskan gigitannya, melingkar-lingkar menggeliat-geliat dan tak
bergerak lagi, mati! Sian Eng menjadi tertarik sekali. Inikah tempat persembunyian kitab-kitab Tok-siauwkui?
Tanpa ragu-ragu lagi ia memasuki lubang itu, dan ternyata setelah ia melompat turun, ia berada di sebuah
ruangan lain, ruangan atas dan tepat berada di bawah ruangan yang penuh bangkai kelelawar itu. Dan
cahaya matahari masuk melalui lubang dua kaki tadi, cukup membuat ruangan itu menjadi terang. Di sudut
ruangan, terdapat sebuah meja batu atau lebih tepat sebuah bangku batu yang permukaannya legok
(cekung) dan menggambarkan bentuk pantat dan kaki orang yang bersila. Agaknya tempat ini dahulunya
dipakai duduk bersila orang yang bertapa di sini. Benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali,
bagaimanakah sebuah bangku batu sampai cekung seperti itu hanya karena diduduki orang saja. Hanya
bangku itulah yang terdapat di dalam kamar itu, dan tidak ada apa-apa lagi.
Saking besarnya rasa kecewa dan menyesalnya, Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan bangku
itu dan menangis. Ia melihat betapa tapak kaki bersila itu kecil mungil, menggambarkan kaki seorang
wanita, maka ia merasa yakin bahwa tentu bangku ini menjadi tempat bersila dan bertapa semedhi Toksiauw-
kui Liu Lu Sian, ibu dari Suling Emas. Ia menangis karena teringat akan hubungannya dengan Toksiauw-
kui.
Tok-siauw-kui dahulunya adalah isteri ayahnya, Jenderal Kam Si Ek, yang kemudian pergi meninggalkan
suaminya sehingga ayahnya itu menikah lagi dengan ibunya. Agaknya Tok-siauw-kui demikian benci
kepada ibunya sehingga kini biar pun sudah meninggal, Tok-siauw-kui masih melampiaskan sakit hatinya
dan menghukum anak dari wanita yang merebut suaminya!
“Bibi Liu Lu Sian... mengapa kau begini kejam? Mengapa aku yang kau siksa, padahal aku tidak berdosa
kepadamu? Bibi... betapa pun juga aku adalah anak tirimu... kau pernah mencinta ayah kandungku.... Demi
mendiang ayahku... harap kau tunjukkan jalan ke luar bagiku, Bibi...!” Ia menangis dan masih berlutut di
depan bangku batu itu. Kemudian ia teringat akan ayahnya dan menangis makin sedih.
“Ayah... Ayah, kau tentu sudah berkumpul dengan Bibi Liu Lu Sian... bujuklah dia agar supaya anakmu ini
diberi petunjuk keluar dari neraka ini!” sambil menangis Sian Eng membentur-benturkan kepalanya di atas
lantai depan bangku.
Tiba-tiba terdengar bunyi perlahan. Ternyata setiap kali Sian Eng membenturkan jidatnya di atas lantai,
bangku batu itu bergeser ke kiri, makin lama makin ke kiri sehingga akhirnya tampaklah sebuah lubang di
bawah bangku batu itu. Sian Eng terkejut dan memandang dengan heran karena di situ terdapat sehelai
kain kuning yang menutupi sesuatu dan ditulisi dengan huruf-huruf besar berbunyi: WASIAT
PENINGGALAN LIU LU SIAN.
Jantungnya berdebar keras dan tangannya sudah digerakkan untuk meraih dan membuka kain kuning itu,
untuk segera melihat wasiat dari wanita sakti itu. Akan tetapi ia segera ingat bahwa benda-benda di bawah
kain kuning itu adalah milik Liu Lu Sian, dan bahwa wasiat wanita ini mustahil ditinggalkan untuk dirinya. Ia
tidak berani melanjutkan niatnya. Ia tidak berhak! Akan tetapi selagi ia termenung, ia teringat akan
tugasnya, teringat akan kekasihnya, Suma Boan. Timbullah pertentangan dalam batinnya.
Ia adalah keturunan seorang gagah. Ayahnya, Kam Si Ek semenjak muda terkenal sebagai seorang satria
utama yang menjunjung tinggi kegagahan dan tidak sudi melakukan sesuatu yang tercela. Semenjak ia
masih kecil, ayahnya sudah menjejalinya dengan budi pekerti orang gagah. Akan tetapi di lain pihak, cinta
kasihnya terhadap Suma Boan juga terasa berat menekan di hati.
Akhirnya kembali Sian Eng berlutut di depan bangku batu tempat bersemedhi Tok-siauw-kui,
membenturkan jidatnya di lantai sambil berkata, “Bibi Liu Lu Sian, mohon perkenan bibi untuk mengambil
sebuah dua buah kitab peninggalan demi memenuhi kehendak kekasih. Mohon bibi sudi memberi
ampun....” Tiba-tiba Sian Eng menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, dari dalam lubang tadi
melayang keluar tiga batang anak panah yang menyambar ke atas.
Anak-anak panah itu lewat di depan mukanya dan peninglah kepala Sian Eng mencium bau yang wangi
memabukkan. Terang bahwa anak-anak panah itu mengandung racun yang dahsyat dan andai kata ia tadi
melanjutkan niatnya membuka kain kuning, tentu anak-anak panah itu akan tepat mengenai muka dan
lehernya. Ia mendongak ke atas dan melihat anak-anak panah itu menancap pada dinding batu,
dunia-kangouw.blogspot.com
gagangnya bergoyang-goyang.
Sian Eng bergidik ngeri dan ketika ia memandang ke arah lubang tadi, ternyata kain kuningnya telah
tersingkap dan di bawahnya hanya terdapat alat-alat rahasia yang tadi menggerakkan tiga anak panah.
Kiranya ketika ia membenturkan kepala di lantai depan bangku batu yang kini sudah pindah ke kiri, ada alat
rahasia yang menggerakkan anak-anak panah itu sehingga ia selamat. Seorang yang begitu saja
membuka kain kuning tadi karena bernafsu memiliki wasiat, betapa pun pandainya, pasti akan menjadi
korban anak panah karena anak-anak panah itu menyambar tak terduga-duga dan jaraknya amat dekat.
Sian Eng memandang lebih teliti dan ternyata selain alat-alat yang menggerakkan anak panah, juga di situ
terdapat tulisan yang terukir pada dasar lubang. Seperti tulisan di atas kain kuning, tulisan yang terukir
pada batu di dasar itu pun besar-besar, dan jelas, berbunyi : YANG TAHU AKAN SOPAN SANTUN PATUT
MENJADI MURIDKU. DUDUKLAH BERSEMEDHI DI ATAS BANGKU, HANYA YANG BERJODOH AKAN
BERHASIL.
Sian Eng bukan bermaksud hendak menjadi murid Tok-siauw-kui, melainkan bermaksud untuk mencari
kitab peninggalan wanita sakti itu, untuk diberikan kepada kekasihnya. Karena bukankah kitab-kitab ini
akan menyenangkan Suma Boan dan seperti dijanjikan oleh kekasihnya itu, setelah ia berhasil
menemukan kitab-kitab itu mereka akan pergi ke Cin-ling-san untuk merundingkan urusan perjodohan
mereka dengan bibi gurunya? Selain itu tadinya ia tidak memiliki keinginan lain.
Akan tetapi setelah kini ia terkurung dan tidak mampu keluar, timbullah keinginannya untuk mempelajari
ilmu-ilmu peninggalan Tok-siauw-kwi, sungguh pun hal ini hanya dimaksudkan untuk membuat ia mampu
keluar dari neraka ini. Karena itulah maka tanpa ragu-ragu lagi Sian Eng lalu naik ke atas bangku batu dan
duduk bersila.
Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan betapa lekuk-lekuk di atas permukaan batu cocok benar
dengan ukuran tubuh belakang dan kakinya, seakan-akan sudah dicetak untuk dirinya. Kemudian ia
teringat akan Tok-siauw-kui yang muncul dan menggemparkan perayaan Beng-kauw. Memang ada
persesuaian dalam bentuk tubuh wanita sakti itu dengan dirinya. Mulailah Sian Eng mengheningkan cipta,
bersiulian (bersemedhi) di atas bangku itu yang ternyata amat enak diduduki.
Akan tetapi sama sekali di luar dugaannya bahwa hal ini akan membawa ia kepada hal-hal baru yang akan
mengubahnya menjadi seorang manusia lain! Ia tekun bersiulian seperti yang diajarkan ayahnya, duduk
diam tak bergerak sedikit pun juga, mematikan raga. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk seperti itu selama
setengah hari!
Tiba-tiba terdengar suara keras dan kagetlah Sian Eng karena ia merasa tubuhnya terjatuh ke bawah.
Ketika ia membuka matanya, benar saja, bangku batu itu sudah nyeplos ke bawah dan ia sudah berada di
dalam ruangan lain, di bawah ruangan yang tadi. Ia segera turun dan melihat betapa di ruangan ini
terdapat dipan untuk tidur, terdapat meja dan bangku, sedangkan di atas meja terdapat akar-akar dan
buah-buah obat, juga di sana-sini bertumpuk kitab-kitab kuno. Sedangkan di sudut kiri terdapat sebatang
pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang telanjang yang menancap pada dinding batu karang
sampai setengahnya!
Dengan hati berdebar-debar tidak karuan Sian Eng memperhatikan cara bagaimana ia tadi dapat merosot
ke bawah bersama bangku yang didudukinya. Setelah mengadakan pemeriksaan, kiranya bangku tadi
dipasangi alat-alat yang halus sekali dan ternyata kehangatan tubuhnya melepaskan minyak-minyak beku
dan menggerakkan alat-alat yang bergerak otomatis. Kalau saja tubuh orang yang bersemedhi tidak cocok
dengan lekuk-lekuk di permukaan batu tadi, kiranya alat itu takkan dapat berjalan. Terang bahwa Toksiauw-
kui memang menghendaki seorang yang bentuk tubuhnya menyamainya, yang tentu saja seorang
wanita, untuk menjadi ahli warisnya! Dan kini kitab-kitab pelajaran yang serba rahasia, yang dicari penuh
kerinduan oleh orang-orang di seluruh dunia kang-ouw, terletak di depan Sian Eng, tinggal memilih saja!
Akan tetapi Sian Eng tidak membutuhkan semua ilmu itu! Ia hanya ingin mempelajari ilmu untuk
menghimpun tenaga sakti agar ia dapat menggerakkan batu-batu penutup lubang, agar ia dapat keluar dan
ia akan membawa sebuah dua buah kitab ilmu untuk diberikan kepada kekasihnya yang berada di luar goa.
Karena kitab-kitab itu banyak sekali macamnya, akhirnya ia dapat juga menemukan sebuah kitab yang
mengajarkan ilmu Ban-kin-pek-ko-chiu (Ilmu Keraskan Tangan Selaksa Kati) dan I-kin-swe-jwe (Ganti Otot
Cuci Sumsum). Ilmu ini mengajarkan cara bersemedhi dan bernapas, menghimpun tenaga sakti dan
menguasainya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Segera Sian Eng bersemedhi dan berlatih menurut petunjuk kitab ini. Sama sekali ia tidak mengira bahwa
kalau bagi orang lain harus memakan waktu berbulan-bulan untuk memetik buah latihan ilmu ini, baginya
hanya membutuhkan beberapa hari saja oleh karena di dalam tubuhnya sudah terdapat dua macam hawa
panas dan dingin yang amat hebat berkat racun dari kelelawar.
Berhari-hari Sian Eng tekun berlatih dan apa bila ia merasa lapar, ia menangkapi kelelawar untuk dimakan
dagingnya. Untuk minum tidaklah sukar karena dinding batu-batu karang itu mengandung air, dan di sanasini
terdapat air jernih menetes-netes dari atas. Tentang akar-akar dan buah-buah obat di atas meja, tidak
ia perhatikan ketika ia membaca keterangan di sampingnya bahwa obat-obat itu adalah obat untuk
pelbagai luka pukulan dan korban racun.
Demikianlah, tidak mengherankan apa bila dua pekan kemudian semenjak ia memasuki goa, Sian Eng
sama sekali tidak mendengar teriakan-teriakan Suma Boan yang menyusulnya dan berteriak-teriak dari
luar batu penutup lubang. Di waktu itu ia sedang tekun bersemedhi menyempurnakan sinkang yang sudah
terasa memenuhi tubuhnya. Dengan girang Sian Eng mendapat kenyataan bahwa tenaga panas dan
dingin yang kadang-kadang menguasainya, yang membuatnya berkali-kali pingsan, kini dapat ia kuasai
sepenuhnya dengan cara yang diberikan oleh kitab itu.
Sian Eng menghentikan latihannya setelah merasa bahwa ia dapat menguasai tenaga mukjijat itu, dan
pada saat itu barulah ia melihat gambaran di dinding, gambaran yang ada tanda-tanda huruf kecil terukir. Ia
segera memperhatikan dan bukan main girang hatinya karena gambaran-gambaran itu merupakan tandatanda
rahasia cara membuka dan menutup pintu-pintu rahasia dan alat-alat rahasia lain yang dipasang di
dalam istana di bawah tanah ini. Cepat ia mencari rahasia batu besar yang menutup terowongan dan
kiranya rahasianya terletak pada batu itu sendiri. Di ujung kanan atas dari batu itu terdapat bagian yang
menonjol dan bagian inilah yang harus dipukul tiga kali ke dalam.
Dengan hati amat girang Sian Eng melompat melalui lubang itu ke bagian atas, kemudian sekali lagi ia
menerobos ke bagian paling atas melalui lubang. Ia tidak sadar bahwa gerakannya melompat melalui
lubang ini hebat dan ringan sekali, jauh bedanya dengan keadaan dirinya sebelum memasuki tempat ini.
Begitu memasuki ruangan paling atas, hidungnya disambut bau yang amat busuk dari bangkai-bangkai
kelelawar yang bertumpuk-tumpuk di situ selama beberapa hari. Sian Eng menutupi hidungnya dan dengan
menahan napas ia lalu menghampiri batu penutup terowongan. Betul saja, di bagian atas ujung kanan batu
itu terdapat bagian yang menonjol. Ia mengepal tangannya dan menghantam tiga kali.
Terdengarlah suara berkerotokan dan... dapat dibayangkan rasa gembira hati gadis itu melihat batu besar
itu bergerak dan masuk ke dalam dinding membuka jalan terowongan itu seperti sedia kala! Saking
girangnya Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia teringat
kembali kepada Suma Boan, maka cepat ia melompat dan berlari-lari ke luar melalui terowongan sambil
tertawa-tawa gembira. Tadi ketika keluar dari dalam kamar rahasia, ia telah mengambil dua buah kitab
kuno yang ia kira tentu akan memuaskan hati kekasihnya, karena kitab-kitab itu adalah kitab ilmu pedang
dan ilmu silat. Kini dua buah kitab kuno itu berada di balik baju dalamnya.
Akan tetapi ketika ia tiba di luar goa, di situ sunyi sekali tidak kelihatan bayangan Suma Boan. Pada waktu
itu hari telah berganti malam, keadaan di luar goa gelap gulita.
“Suma-koko!” Sian Eng memanggil, menyangka bahwa kekasihnya tentu sedang beristirahat di suatu
tempat setelah menanti-nanti dirinya keluar dengan hati kesal. Tentu kekasihnya itu merasa khawatir
sekali, mungkin sudah putus asa.
“Suma-koko!” berkali-kali ia memanggil sambil melangkah ke luar, namun tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan dari jauh. Sian Eng cepat menggerakkan kakinya mengejar. Juga
kali ini ia tidak sadar bahwa gerakan kakinya cepat dan ringan bukan main, dan bahwa ia telah berlari
cepat sekali! Ini adalah berkat hawa sakti di tubuhnya yang kini mulai dapat ia kuasai setelah ia memiliki
Ilmu Ban-kin Pek-ko-chiu. Sama sekali ia tidak tahu bahwa Suma Boan baru saja keluar dari dalam goa,
dan bahwa pemuda itu hampir celaka oleh Liu Hwee dan Kauw Bian Cinjin.
Setelah melakukan pengejaran dengan kecepatan mengagumkan, akhirnya ia dapat menyusul dua
bayangan yang berkejaran itu. Segera ia mengenal Liu Hwee yang mengejar Suma Boan! Ia tidak
mengenal apa sebabnya, maka diam-diam ia hanya mengikuti mereka.
Ketika tiba di luar hutan, Liu Hwee mulai menyerang Suma Boan dengan senjata rahasia jarum perak,
dunia-kangouw.blogspot.com
kemudian karena pemuda itu terhalang larinya ketika mengelak, gadis puteri ketua Beng-kauw ini cepat
menerjangnya dengan senjatanya yang hebat, yaitu sepasang cambuknya yang diganduli dua buah bola
baja.
“Suma Boan manusia busuk, kau hendak lari ke mana?!” bentak Liu Hwee.
Melihat bahwa gadis ini hanya mengejar sendirian saja, Suma Boan menjadi marah dan timbul kembali
keberaniannya. Tadi ia melarikan diri karena gadis itu berdua dengan Kauw Bian Cinjin, merupakan lawan
yang amat berat. Sekarang melihat gadis itu sendirian saja, ia lalu membalikkan tubuh dan melawan sambil
memaki.
“Bocah sombong, kau bosan hidup!”
Seperti biasa, pemuda bangsawan ini melawan dengan tangan kosong saja. Menghadapi lawan muda, biar
pun lawan bersenjata, biasanya ia selalu mendapatkan kemenangan karena sebagai murid It-gan Kai-ong
tentu saja ia memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi kali ini ia berhadapan dengan puteri Bengkauw!
Pula Liu Hwee memegang senjata aneh yang amat berbahaya. Di samping ini, baru saja Suma Boan
mengalami hal-hal yang melelahkan dan menakutkan, sedangkan betisnya yang ia potong dagingnya juga
masih terasa sakit. Oleh karena semua inilah maka sebentar saja ia terdesak hebat dalam pertandingan
mati-matian itu.
Cuaca remang-remang karena hanya diterangi bintang-bintang di langit, dan dua orang ini bertanding
mengandalkan ketajaman telinga, karena ketajaman pandangan mata tidaklah dapat dipercaya dalam
keadaan setengah gelap itu.
Betapa pun Suma Boan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, ia tidak dapat mengimbangi
kecepatan senjata cambuk di tangan Liu Hwee dan pada saat sebuah di antara bola-bola baja itu
menyambar pundaknya, Suma Boan mengeluh panjang dan terhuyung-huyung. Ia sudah mengerahkan
tenaga untuk menolak pukulan itu, namun tetap saja karena yang diarah adalah jalan darah yang lemah, ia
menderita luka yang biar pun tidak parah namun cukup membuat kedudukannya menjadi makin lemah.
“Siapa berani mengotori tempat suci Beng-kauw, harus mati!” seru Liu Hwee dan senjatanya kembali
menyambar, kini mengarah kepala dan yang sebuah lagi menotok pusar. Serangan maut yang agaknya
sukar untuk dapat dihindarkan oleh Suma Boan yang sudah terhuyung-huyung.
Akan tetapi tiba-tiba menyambar angin pukulan yang amat dahsyat dari samping, yang membuat sepasang
bola di ujung cambuk itu meleset arahnya, bahkan tampak bayangan orang yang cepat menyambar
cambuk itu dan sekali merenggut, cambuk itu terampas dari tangan Liu Hwee! Gadis ini kaget sekali karena
sama sekali tidak menyangka-nyangka sehingga senjatanya kena dirampas orang. Ia mengira bahwa yang
datang tentulah It-gan Kai-ong, atau setidaknya tentu kawan Suma Boan yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi, maka ia meloncat mundur dan siap-siap menghadapi lawan tangguh dengan tangan kosong.
Akan tetapi bayangan itu sudah menyambar tubuh Suma Boan dan dibawa lari dari tempat itu! Lie Hwee
menjadi penasaran sekali. Biar pun ia maklum bahwa lawan amat tangguh dan ia harus berhati-hati,
namun ia diam-diam mengikuti dan mengejar ke arah lenyapnya bayangan yang membawa lari senjata dan
juga membawa lari Suma Boan itu. Sayang baginya, malam yang gelap membuat ia kehilangan jejak
lawannya sehingga akhirnya Lie Hwee hanya melanjutkan pengejarannya dengan kira-kira saja, untunguntungan.
Sementara itu, bayangan tadi membuang jauh-jauh senjata rampasannya, dan terus membawa lari Suma
Boan. “Suma-koko... kau terluka...?” katanya sambil lari.
Sejenak Suma Boan tak mampu menjawab. Tadi ketika ia sudah terancam bahaya maut di tangan Liu
Hwee, ia merasa girang dan heran karena tertolong oleh bayangan yang belum ia ketahui siapa dia. Akan
tetapi ketika tubuhnya disambar dan dibawa lari, ia tahu bahwa orang ini adalah seorang gadis yang
pakaiannya robek-robek tidak karuan, akan tetapi yang memiliki kepandaian hebat sekali.
Karena kehebatan gerak inilah maka ia tidak mengenal Sian Eng, karena mana mungkin Sian Eng memiliki
kepandaian sehebat ini? Pula, keadaan yang gelap membuat ia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan
baik. Baru sekarang setelah gadis itu membuka mulut bicara, ia tahu bahwa penolongnya bukan lain
adalah Sian Eng! Tentu saja ia menjadi bengong dan tak mampu menjawab. Pikirannya bekerja. Tentu
terjadi sesuatu yang hebat kepada diri Sian Eng, dan tentu selama dua pekan itu, Sian Eng telah
dunia-kangouw.blogspot.com
mempelajari ilmu yang sakti.
Suma Boan memang seorang yang cerdik, akan tetapi juga hatinya kotor oleh syakwasangka dan penuh
tipu muslihat. Ia mulai curiga. Tentu gadis ini mengkhianatinya, setelah mendapatkan ilmu lalu dimilikinya
sendiri!
“Suma-koko... hebatkah lukamu?” kembali Sian Eng bertanya sambil melanjutkan larinya, karena gadis ini
merasa khawatir kalau-kalau ada yang mengejar mereka.
Suma Boan pura-pura mengeluh panjang, “Cukup hebat... mengapa kau begitu lama baru muncul, Moimoi?
Dan bagaimana hasilnya, dapatkah kau menemukan kitab-kitab itu?”
“Dapat... dapat... jangan khawatir, Suma-koko. Aku membawa dua buah kitab untukmu.” Tiba-tiba gadis ini
tertawa
dan berdirilah bulu tengkuk Suma Boan. Suara ketawa ini tidak sewajarnya, pikirnya. Akan tetapi
diam-diam ia girang bukan main.
“Mana kitab-kitab itu? Biarlah aku yang membawanya!” katanya menahan suaranya agar tidak gemetar.
“Nanti saja, kita lari dulu, takut kalau-kalau dikejar musuh.”
“Katakan saja di mana, aku yang akan ambil.” tangan Suma Boan mulai meraba-raba.
Kembali Sian Eng tertawa geli, “Ihhh, jangan begitu. Kusimpan di balik... baju dalam dan....” Tiba-tiba
suaranya terhenti dan gadis itu roboh lemas.
Kiranya Suma Boan telah menotoknya dengan tiba-tiba. Karena yang ditotok adalah tong-cu-hiat di
belakang leher dan thian-hu-hiat, maka seketika Sian Eng roboh lemas dan tak dapat mengeluarkan suara
lagi. Terpaksa ia hanya dapat melihat dan merasa betapa Suma Boan meraba-raba dadanya dan
mengeluarkan dua buah kitab yang disimpannya di situ. Terdengar pemuda itu berseru girang,
mengantongi dua buah kitab itu lalu menyambar tubuh Sian Eng dan kini gadis itulah yang dibawa lari oleh
Suma Boan, dipondong di atas pundak!
Sian Eng menjadi kecewa dan juga bingung. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan
melakukan perbuatan seperti ini. Saking marahnya, ketika ia berusaha untuk mengerahkan tenaga, jalan
darahnya yang berhenti itu membuat hawa sakti menyerang dirinya sendiri dan ia pingsan seketika!
Ketika Sian Eng siuman dari pingsannya, ia mengerang perlahan dan tubuhnya tidak karuan rasanya. Ia
memandang ke kanan kiri dan mendapatkan dirinya berbaring telentang di atas sebuah dipan di dalam
kamar perahu yang oleng ke kanan kiri, agaknya sebuah perahu besar yang berlabuh di pinggir. Melihat
kamar yang bersih dan indah ini, tentu ia berada di sebuah perahu yang mewah.
Sinar matahari yang memasuki jendela kamar perahu menandakan bahwa malam telah berganti pagi dan
hawa pagi itu sejuk menyegarkan. Namun Sian Eng tidak merasa segar bahkan merasa tidak enak sekali.
Kagetlah ia ketika menengok dirinya. Ternyata pakaiannya yang robek-robek semalam telah diganti
pakaian indah bersih, pakaiannya sendiri yang buntalannya dibawa Suma Boan ketika ia memasuki goa.
Seketika wajahnya menjadi merah. Ia dapat menduga bahwa tentu Suma Boan yang mengganti
pakaiannya. Serentak ia bangkit dan ia menyeringai. Badannya terasa sakit-sakit. Kemarahannya bangkit
ketika ia teringat akan kelakuan Suma Boan semalam, yang secara khianat telah menotoknya. Kemudian
kecurigaannya timbul ketika ia menyaksikan keadaan dirinya di pagi ini.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dari luar dan masuklah Suma Boan. Pemuda ini berpakaian indah bersih
pula, wajahnya berseri-seri dan ia memandang kepada Sian Eng dengan senyum lebar yang menambah
ketampanan wajahnya. “Isteriku yang manis, kau sudah bangun?”
Bagaikan disambar petir Sian Eng memandang terbelalak. Ucapan ini memperkuat kekhawatiran hatinya.
“Apa... apa kau bilang...?”
Kemudian, pandang mata Suma Boan seakan-akan menceritakan semuanya, membuat Sian Eng gemetar
seluruh tubuhnya. “Kau... kau telah melakukan....”
Suma Boan melangkah maju dan memeluknya mesra. “Isteriku, kau isteriku yang tercinta. Sian Eng, kita
telah menjadi suami isteri dan... aduhhh...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Boan terlempar ke sudut kamar karena dengan tenaga yang dahsyat sekali Sian Eng telah
mendorongnya. Sian Eng kini bangkit berdiri, matanya merah menyala-nyala, pipinya seperti terbakar
rasanya. “Keparat biadab! Kau... kau berani....”
Suma Boan terkejut bukan main, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi ia tidak terluka. Ia
melangkah maju lagi dan membujuk dengan suara manis.
“Eng-moi-moi, kau kenapakah? Bukankah kau mencintaku? Bukankah kau tahu bahwa aku pun
mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku, dan bahwa kita toh akan menjadi suami isteri juga kelak? Aku...
saking bahagia hatiku semalam melihat besarnya cinta kasihmu sehingga kau rela melakukan tugas
berbahaya, kemudian melihatmu aku tak tahan lagi. Ah, Sian Eng, apa sebabnya kau menjadi marahmarah?”
“Keparat busuk!” Sian Eng memaki dan bagaikan seekor singa betina ia menerjang maju.
Suma Boan tentu saja tidak mau membiarkan dirinya diserang, cepat ia mengelak, malah kemarahannya
kini bangkit. Memang sesungguhnya di hati putera pangeran ini tidak ada cinta kasih murni terhadap Sian
Eng, yang ada hanya cinta berdasarkan nafsu binatang belaka yang dibangkitkan oleh kecantikan gadis itu.
Perlakuannya terhadap Sian Eng memang ia sengaja, merupakan siasatnya karena ia menafsir bahwa
Sian Eng telah mewarisi ilmu yang hebat dan jika sudah menjadi ‘isterinya’ tentu Sian Eng akan membuka
rahasia ilmu itu kepadanya. Tentu saja di samping ini, juga kelemahan batinnya terhadap kecantikan Sian
Eng merupakan sebab yang kuat pula sehingga di malam itu ia melakukan perbuatan biadab seperti
binatang.
Kini dalam marahnya, Suma Boan balas menyerang. Memang ilmunya lebih tinggi dari pada kepandaian
Sian Eng, maka sekali ia mengeluarkan jurus yang sulit, tangannya berhasil memukul pundak Sian Eng,
membuat gadis itu terjungkal.
“Kau hendak berlagak, ya? Mulai sekarang kau harus mentaati segala perintahku, kalau tidak, kau akan
kusiksa sampai mampus! Perempuan tak tahu diri, diperlakukan baik-baik kau tidak mau terima!” Sambil
berkata demikian, dalam kebesaran hatinya sudah berhasil merobohkan Sian Eng, Suma Boan melangkah
maju.
Sian Eng rebah miring dan menoleh. Matanya terbelalak. Peristiwa ini hampir membuatnya menjadi gila.
Rasa menyesal, kecewa, marah, malu, dan sakit hati memenuhi kepalanya, membuat kepalanya
berdenyut-denyut, membuat tubuhnya sebentar panas sebentar dingin. Tak disangkanya sama sekali
bahwa orang yang dicintanya, yang dipujanya, yang diharapkan menjadi suaminya kelak, memperlakukan
dia seperti ini.
Tiba-tiba kemarahannya memuncak, ia mengerahkan tenaga Ban-kin-pek-ko-chiu dan ketika Suma Boan
sudah melangkah dekat, ia siap-siap. Benar saja, Suma Boan yang bermaksud hendak ‘menundukkan’
Sian Eng mengangkat kakinya menendang. Pada saat itu Sian Eng menyambar kaki itu dan ia melompat
berdiri. Suma Boan tidak bisa berkutik, tubuhnya jungkir-balik dan Sian Eng mengayun-ayun tubuh itu,
diputar-putarnya di atas kepala!
“Kuhancurkan kepalamu! Kukeluarkan jantungmu! Binatang kau, jahanam keparat!” Sian Eng memaki-maki
sambil menangis dan air matanya bercucuran.
Suma Boan takut setengah mampus. Ia berusaha untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri, namun
kakinya yang dicengkeram tangan Sian Eng itu serasa hancur dan ia tidak mampu meronta. Ia mulai
merintih-rintih dan dari dalam saku bajunya meluncur keluar dua buah kitab kuno. Melihat ini Sian Eng
mendadak tertawa-tawa!
“Hi-hi-hi-hik! Untuk dua kitab ini kau tega merusak diri dan hatiku! Kau tega menghancurkan harapan
hidupku, membuyarkan cita-citaku, membanting remuk kasih sayangku. Hanya untuk dua buah kitab kuno,
hi-hi-hik!”
Makin takutlah Suma Boan. “Sian Eng... Moi-moi... kau ampunkanlah diriku... Eng-moi, ingatlah... aku cinta
kepadamu, sungguh mati, biar aku bersumpah...!” Akan tetapi kata-katanya tenggelam dalam suara ketawa
Sian Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu terdengar suara wanita nyaring di luar bilik perahu. Suara Liu Hwee yang menantang,
“Bangsat Suma Boan! Keluarlah kalau kau laki-laki!”
Sian Eng terkekeh makin geli. “Dia memang laki-laki, akan tetapi laki-laki seperti anjing. Nah, terimalah!” Ia
mengayun tubuh Suma Boan dan melemparkannya ke luar dari pintu.
Baiknya Suma Boan dapat mengerahkan ginkang-nya sehingga ia dapat mengatur keseimbangan
tubuhnya dan dapat jatuh berdiri di luar kamar. Alangkah kagetnya ketika ia melihat Liu Hwee yang berdiri
di situ dengan sikap menantang. Mula-mula ia khawatir kalau-kalau Liu Hwee datang bersama orang lain.
Akan tetapi setelah mendapat kepastian bahwa gadis puteri Beng-kauw ini hanya seorang diri, apa lagi
tidak bersenjata, melainkan bertangan kosong dan bertolak pinggang di situ, hatinya menjadi besar. Ia
merasa malu sekali. Kalau tadi Liu Hwee atau orang lain menyaksikan keadaannya, benar-benar hal itu
akan membuat ia malu dan merasa terhina oleh Sian Eng. Karena itulah maka kini kemarahannya ia
tumpahkan kepada Liu Hwee.
“Perempuan keparat! Kau mau apa?!” bentaknya.
“Suma Boan mata-mata busuk. Mau menghukummu, apa lagi?!”
Suma Boan berseru keras dan cepat menyerang. Akan tetapi dengan mudah Liu Hwee mengelak dan
balas menyerang. Suma Boan menyeringai karena merasa betapa kakinya yang tadi dicengkeram Sian
Eng terasa sakit dan kaku, membuat gerakannya kacau. Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, dalam hal
kematangan ilmu silat, kiranya Suma Boan lebih tinggi sedikit dari pada Liu Hwee. Ia sudah mewarisi
banyak macam ilmu dan sudah lebih banyak pengalamannya bertempur.
Akan tetapi pada saat itu Suma Boan sedang merasa gelisah memikirkan keadaan Sian Eng. Selain itu ia
pun masih menderita luka di betisnya, luka yang terasa perih, ditambah lagi cengkeraman Sian Eng pada
pergelangan kakinya tadi serasa meremukkan tulang kakinya. Oleh karena merasa kakinya kaku dan sakitsakit,
segera Suma Boan mengeluarkan ilmunya yang paling ia andalkan, yaitu Tok-ci-ciang-hoat (Ilmu
Silat Jari Beracun).
Ilmu silat ini ia warisi dari It-gan Kai-ong, hebatnya bukan main. Untuk mainkan ilmu silat ini, ia hanya
menggunakan jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya, dipakai menyerang secara menusuk.
Namun jangan dipandang remeh jari-jari ini, karena ketika ditusukkan, jari-jari ini mengandung hawa
pukulan beracun yang sekali mengenai tubuh lawan dapat mengakibatkan maut datang menjemput.
Melihat datangnya serangan yang mengeluarkan angin berciutan serta melihat uap hitam yang mengepul
dari jari-jari itu, Liu Hwee sebagai puteri ketua Beng-kauw yang sakti maklum dan dapat menduga bahwa
lawannya mempergunakan ilmu pukulan jahat dan ganas. Ia tidak berani menghadapi pukulan-pukulan keji
ini, cepat menggunakan ginkang dan kegesitan tubuhnya untuk mengelak ke sana ke mari mencari
kesempatan membalas. Ia maklum bahwa kalau tangannya sampai terbentur jari-jari itu, ia akan terluka
oleh racun berbahaya.
Suma Boan menjadi makin penasaran. Melihat lawannya tampak takut menghadapi jari-jarinya, ia menjadi
makin ganas. Serangannya makin gencar dan ia mengejar terus ke mana pun juga Liu Hwee mengelak.
Baik bagi Liu Hwee bahwa kaki Suma Boan terluka sehingga pemuda itu kehilangan kegesitannya. Andai
kata tidak demikian, agaknya tidak mudah bagi Liu Hwee untuk dapat menyelamatkan diri.
Pertandingan ini berjalan setengah jam lebih dan Suma Boan mulai tampak lelah. Memang ia sudah lelah
sekali, dan kakinya makin sakit. Namun berkat ilmu pukulannya yang dahsyat dan keji, Liu Hwee belum
sempat membalas dan selalu menyelamatkan diri. Hal ini dimengerti oleh Suma Boan, maka sambil
mengeluarkan suara gerengan seperti harimau ia mendesak terus, mengerahkan seluruh tenaganya dan
tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya. Liu Hwee kaget sekali. Ia betul-betul terdesak dan hanya mampu
mengelak sambil main mundur. Akhirnya ia terdesak sampai di ujung perahu dan agaknya tidak ada jalan
ke luar lagi baginya.
“Ha-ha-ha, bocah sombong. Ke mana lagi kau akan lari?” Suma Boan mengejek, lalu menerjang maju
dengan tusukan kedua jari tangan kanannya sambil memekik.
“Hiaaaaattttt!” Hebat bukan main serangan ini.
Liu Hwee sudah berada di pinggir perahu, kalau ia melompat ke belakang tentu ia akan jatuh ke dalam air.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun gadis yang tenang dan gesit gerakannya ini dapat melihat bahwa betapa pun hebat dan
berbahayanya serangan lawan ini, ia dapat melihat bahwa Suma Boan sudah kehilangan kecepatannya.
Maka dengan tenang dan tabah ia miringkan tubuh secepat kilat setelah ujung kedua jari berbahaya itu
sudah mendekati dadanya.
Kedua ujung jari itu lewat hampir mengenai bajunya dan cepat Liu Hwee menggerakkan tangan kirinya
mencengkeram pergelangan tangan kanan Suma Boan. Sebelum Suma Boan hilang kagetnya
menyaksikan gerakan nekat Liu Hwee ini, puteri Beng-kauw yang perkasa itu telah mengerahkan tenaga,
serentak menarik dengan lweekang sepenuhnya sambil menggerakkan dan melepaskan lengan itu.
Suma Boan memang sudah lelah dan tenaganya banyak berkurang. Apa lagi ia tidak mengira sama sekali
bahwa gadis yang sudah ia desak hebat itu akan melakukan perbuatan ini. Maka begitu ia disentakkan
secara tiba-tiba dan kuat, tubuhnya tak dapat ia pertahankan lagi. Tubuh yang ketika menusukkan jari tadi
memang sudah condong ke depan dengan kaki kanan yang juga terangkat ke depan itu terlempar dan....
“Byurrrrr!” air sungai muncrat tinggi ketika tertimpa tubuh Suma Boan yang cukup berat.
Liu Hwee yang memang curiga bahwa putera bangsawan ini mengambil sesuatu dari Beng-kauw, cepat
memasuki bilik perahu. Akan tetapi bilik itu kosong, tidak tampak seorang pun manusia. Ia memeriksa
cepat dengan pandang matanya, namun tidak mendapatkan sesuatu yang penting. Lalu ia melompat ke
luar lagi, juga tidak melihat Suma Boan. Agaknya pemuda jahat itu sudah tenggelam ke dalam sungai.
Gadis ini lalu menggerakkan kedua kakinya melompat ke darat, lalu lari menuju pulang. Ia pun merasa
lelah sekali karena semalam suntuk ia melakukan pengejaran, sedangkan pertandingan tadi sudah
memeras banyak tenaganya.
Tentu saja tidak benar dugaan Liu Hwee bahwa Suma Boan mati tenggelam di dasar sungai. Pemuda
bangsawan ini terlalu cerdik dan licin untuk dapat ditewaskan secara begitu mudah. Karena maklum bahwa
dalam keadaan terluka dan lelah seperti itu tak mungkin ia dapat melakukan perlawanan lagi, pula karena
khawatir kalau-kalau Liu Hwee menanti di pinggir perahu dan siap menyerangnya dengan serangan maut
apa bila ia hendak kembali ke perahu, Suma Boan lalu menyelam dan bersembunyi di bawah perahu
dengan hanya mengeluarkan hidung dan mulutnya di permukaan air.
Dari bawah ia melihat perahu itu bergoyang-goyang sedikit, tanda bahwa di atasnya terdapat orang
berginkang tinggi sedang bergerak. Tadinya ia mengharap Sian Eng membelanya dan menyerang Liu
Hwee. Akan tetapi goyangan perahu itu hanya sebentar saja, lalu diam dan sama sekali tidak bergerak.
Maka Suma Boan lalu naik ke perahu melalui tambang yang tergantung ke bawah. Dengan hati-hati ia
melompat naik ke atas perahu, takut kalau-kalau ada bahaya mengancam. Terhadap Liu Hwee ia tidak
begitu takut, akan tetapi ia ngeri memikirkan sepak terjang Sian Eng.
Namun di perahu itu sunyi saja, tidak terdapat seorang pun manusia. Suma Boan berindap-indap
memasuki kamar perahu, menjenguk hati-hati. Kosong! Hatinya serasa tertusuk, penuh kekecewaan,
penasaran, dan kemarahan. Tak perlu ia mencari lagi. Terang bahwa dua buah kitab kuno yang dibawa
Sian Eng dan kemudian ia rampas, ketika tadi jatuh dari dalam saku bajunya, telah diambil kembali oleh
Sian Eng yang sekarang telah pergi entah ke mana!
“Perempuan laknat!” Suma Boan menyumpah-nyumpah sambil menanggalkan pakaiannya yang basah
untuk diganti dengan yang kering. Kemudian ia duduk di atas dipan dan termenung.
Sian Eng telah ia nodai dan ada dua akibat yang mungkin menjadi ekor peristiwa ini. Pertama, gadis itu
akan merasa menjadi isterinya walau pun tidak sah dan inilah yang ia harapkan ketika ia melakukan
perbuatan terkutuk itu. Apa bila begini akibatnya, tentu Sian Eng kelak akan hilang marahnya dan akan
datang menyerahkan diri. Kalau sudah begitu, boleh saja ia pura-pura mengawininya dengan sah agar
kitab-kitab itu, dan terutama ilmu aneh yang dimiliki Sian Eng dalam waktu dua pekan, terjatuh ke dalam
tangannya. Akan tetapi akibat kedua mengerikan hatinya. Mungkin sekali akibatnya sebaliknya sama
sekali, dan gadis itu akan merasa sakit hati kepadanya lalu memelihara dendam kesumat yang tiada
habisnya terhadap dirinya. Suma Boan bergidik memikirkan akibat kedua ini.
“Dua buah kitab itu telah kulihat sepintas lalu, yang sebuah adalah kitab ilmu silat dan yang sebuah lagi
ilmu pedang. Akan tetapi Sian Eng telah memiliki tenaga kecepatan dan gerakan yang luar biasa anehnya
yang tak mungkin ia pelajari dari dua buah kitab itu, apa lagi hanya dalam waktu dua pekan. Agaknya
banyak rahasia aneh di dalam goa itu. Aku harus memberi tahu suhu... ah, tidak, kalau suhu yang
menemukan semua itu, tentu takkan diberikan kepadaku....” Demikianlah, Suma Boan melamun dan
dunia-kangouw.blogspot.com
memeras pikirannya.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari kesempatan baik dan kalau kesempatan ini terbuka, ia
sendiri yang akan menyelidiki ke dalam goa. Akan tetapi untuk itu ia harus membuat persiapan. Sebelum
melakukan tugas penting ini, lebih dulu ia harus menemui gurunya dan kebetulan gurunya akan membuat
pertemuan di puncak Thai-san. Maka berangkatlah Suma Boan ke arah Thai-san.
Ada pun Sian Eng, setelah melempar ke luar Suma Boan, sambil terisak-isak lalu menyambar dua buah
kitab. Selagi Suma Boan bertanding melawan Liu Hwee, ia mempergunakan kesempatan itu untuk melesat
ke luar dari jendela bilik perahu, terus melompat ke darat dan melarikan diri sambil menangis tersedu-sedu
sepanjang jalan. Akan tetapi kadang-kadang ia tertawa dan memaki-maki diri sendiri.
Mulai saat itu, apa bila teringat akan nasibnya, teringat kepada Suma Boan, keadaan Sian Eng menjadi
berubah tidak normal lagi, suka menangis dan tertawa berganti-ganti. Akan tetapi apa bila ia dalam
keadaan tenang, ia hanya menangis perlahan dan termenung-menung, akan tetapi sifat liar itu lenyap. Kini
tujuan hatinya hendak mencari kakaknya, Suling Emas, untuk mengadukan semua hal ihwalnya ini, untuk
mengadukan penasarannya dan mohon kepada kakak tirinya untuk membalaskan dendamnya. Dengan
cepat Sian Eng yang pernah mendengar tentang niat Suling Emas mewakili ibunya ke Thai-san juga
menyusul ke Thai-san untuk bertemu dengan Suling Emas.
Demikianlah, setelah tiba di lereng Thai-san, secara kebetulan sekali ia yang berada di bawah jurang
melihat orang jatuh meluncur dari atas. Betapa pun berubahnya watak Sian Eng, tak dapat ia berpeluk
tangan melihat orang terancam maut ini, timbul sifat satria keturunan ayahnya. Ia lalu mempergunakan
tenaga Ban-kin-pek-ko-chiu dan ternyata ia berhasil menolong Bok Liong. Ketika melihat bahwa yang ia
tolong adalah Lie Bok Liong, seketika timbul rasa malu di hatinya karena ia merasa bahwa ia telah menjadi
seorang yang terhina, maka tanpa banyak cakap ia lari meninggalkan pemuda yang ditolongnya itu dan
terus ia mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa.
********************
“Bagus, bagus sekali! Heh-heh-heh-heh!” Suara ini disusul ketawa bergelak yang mengumandang di lain
bagian dari lereng gunung Thai-san, keluar dari sebuah hutan yang penuh pohon pek. Hutan kecil ini
merupakan hutan yang paling kaya akan tumbuh-tumbuhan obat-obatan yang tumbuh liar di bawah pohon
pek itu.
“Bagus, wah-wah-wah! Kalau kita pergi ke pasar dan kau main seperti ini, aku memukul tambur dan
canang, tentu kita mendapat banyak uang, heh-heh-heh-heh!” Suara itu berteriak-teriak lagi kegirangan.
Ternyata suara ini keluar dari mulut seorang kakek yang pendek lucu, yang bukan lain adalah Gan-lopek.
Dia berdiri menari-nari kegirangan, mengangkat ibu jari menyatakan jempolnya sambil memandang ke arah
Lin Lin yang sedang bermain-main di atas sebatang balok yang melintang diikatkan pada dua batang
pohon di kanan kiri. Tadinya Lin Lin berloncat-loncatan dan bersilat di atas balok yang tingginya dua meter
lebih itu, bersilat dengan gesit dan dengan pengerahan ginkang yang luar biasa. Kini gadis itu dengan
kedua kakinya dikaitkan pada balok melintang, tubuhnya berayun-ayun dan berputar-putar seperti balingbaling
pesawat terbang!
Mendengar ucapan terakhir dari Gan-lopek, Lin Lin yang tadinya merasa bangga dan girang akan pujianpujian
itu, tiba-tiba tubuhnya melayang dan tahu-tahu ia berdiri di depan Gan-lopek sambil bertolak
pinggang dan mulutnya cemberut.
“Apa kau bilang, Kek? Kau mau anggap aku seperti komedi monyet, ya? Terlalu sekali!” Tiba-tiba gadis ini
memasang kuda-kuda yang aneh, kedua kakinya jinjit (berdiri di ujung jari) sambil berkata lagi, “Hayo kau
layani hasil latihanku, Kek!” Setelah berkata demikian, dengan gerak langkah perlahan Lin Lin bertindak
maju dan kedua tangannya diangkat seperti orang memberi hormat, kemudian tiba-tiba didorongkan ke
depan, mengarah dada Gan-lopek.
“Ehhh, jangan...!” Gan-lopek kaget setengah mati dan cepat ia membuang diri ke belakang dan bergulingan
ketika mendengar desir angin yang dahsyat keluar dari pukulan gadis itu. Hawa pukulan yang amat
berbahaya itu menyambar terus ke depan dan....
“Kraaakkkkk!” patah dan tumbanglah batang pohon yang berdiri di belakang Gan-lopek tadi!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eh, ganas! Eh, keji!” Gan-lopek melompat-lompat. “Apakah kau hendak membunuh diriku, bocah liar?”
Sejenak Lin Lin sendiri tertegun menyaksikan betapa hebat akibat pukulannya, akan tetapi kemudian ia
menjadi girang sekali, menghampiri dan merangkul pundak si kakek sambil tertawa-tawa.
“Masa aku hendak membunuhmu, Kek? Andai kata aku mau, mana mampu? Jangan kau main-main!”
“Heh-heh-heh-heh, kaulah yang main-main. Lin Lin, pukulan-pukulanmu hebat, jurus-jurusmu luar biasa
dan kau sudah berhasil. Selamat, selamat....”
“Kek, banyak terima kasih. Kaulah yang memberi petunjuk caraku berlatih sehingga aku dapat menguasai
tenaga sinkang yang selalu mendesak di dalam diriku semenjak aku melatih ilmu-ilmu pukulan ini.”
“Hemmm, entah iblis mana yang sudah menurunkan ilmu iblis ini kepadamu. Biar pun kau tidak memberi
tahu dan aku pun tidak tertarik untuk mengetahui, namun jurus-jurus yang kau latih ini adalah jurus-jurus
iblis yang hanya sejajar dengan ilmu-ilmu yang dimiliki Thian-te Liok-koai. Mengerikan!” Tiba-tiba empek ini
meloncat dan memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Wah-wah-wah, keenakan bersenang-senang dengan gadis cantik di hutan ini sampai lupa bahwa
waktunya telah tiba. Hayo kita ke puncak, jangan-jangan kita akan terlambat menonton pertunjukan yang
terhebat di kolong langit!” Setelah berkata demikian, ia menggandeng tangan gadis itu dan diseretnya
diajak lari cepat.
Akan tetapi sambil tertawa-tawa Lin Lin merenggut lepas tangannya dan berkata, “Kakek Gan, hayo kita
berlomba lari cepat ke puncak!”
Maka berlari-larilah kakek dan gadis itu seperti dua orang iblis beterbangan, cepat bukan main, berloncatloncatan
sambil tertawa-tawa. Diam-diam kakek ini kagum bukan main, mulailah ia meragu apakah pilihan
muridnya ini tepat, karena ia melihat sifat-sifat liar dan tak mau ditundukkan dalam diri Lin Lin, sedangkan
muridnya, Lie Bok Liong, adalah seorang pemuda yang sabar dan tidak berandalan.
Sementara itu dalam benak Lin Lin timbul pikiran lain dari pada yang dipikirkan Gan-lopek. Gadis ini
memikirkan Suling Emas. Selama ini memang ia selalu memikirkan Suling Emas dengan hati mengandung
bermacam-macam perasaan. Ia marah dan penasaran karena Suling Emas meninggalkannya dan seperti
marah-marah kepadanya, padahal ia memukul roboh seorang perempuan yang menjadi musuh besar
Suling Emas.
Mengapa Suling Emas marah-marah kepadanya? Mengapa Suling Emas menolong perempuan yang
hampir mampus terkena pukulan saktinya itu? Bukankah perempuan itu bersumpah hendak membunuhi
isteri dan anak-anak Suling Emas? Bukankah perempuan yang keji itu di depan kuburan ayahnya
menyatakan cintanya kepada Suling Emas? Perempuan macam itu harus dibunuh! Berani mencinta Suling
Emas! Dan berani bersumpah hendak membunuh isteri Suling Emas. Padahal isteri Suling Emas, kalau
kelak ada tentu... dirinya!
Berpikir sampai di sini, merahlah kedua pipi Lin Lin dan ia menarik napas panjang. Pandang matanya
mesra teringat akan peristiwa di gedung perpustakaan kaisar ketika ia dipeluk dan diciumi Suling Emas.
Akan tetapi wajahnya menjadi muram karena seketika ia teringat bahwa perbuatan itu dilakukan Suling
Emas karena salah duga, mengira dia orang lain! Panaslah perutnya memikirkan hal ini.
Selain marah dan penasaran terhadap pendekar yang dipujanya itu, ia pun merasa khawatir dan gelisah.
Oleh karena itu ingin sekali ia lekas-lekas bertemu dengan Suling Emas. Maka setelah Gan-lopek
mengajaknya ke puncak, ia seakan-akan hendak terbang agar dapat cepatcepat
sampai ke puncak dan
bertemu dengan pujaan hatinya. Sama sekali ia tidak peduli akan pertandingan antara Thian-te Liok-koai
yang oleh Gan-lopek disebut sebagai pertunjukkan terhebat di kolong langit itu.
--- dunia-kangouw.blogs;pot.com ---
Baik kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Gan-lopek yang berlari-larian cepat menuju puncak itu untuk sejenak
menengok keadaan Suling Emas yang sudah lama kita tinggalkan.
Ketika Suling Emas menyaksikan dan mendengar sumpah yang diucapkan oleh Bu-eng-sin-kiam Tan Lian
di depan kuburan mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui, ia sampai pucat saking tergetarnya perasaannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Benar-benar hidupnya telah menimbulkan banyak hal-hal yang merupakan mala-petaka besar. Persoalan
antara ayah gadis itu dan ibunya sudah dibentangkan oleh Bu Kek Siansu dan merupakan persoalan
antara mereka sendiri yang sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan Tan Lian dan dia.
Akan tetapi agaknya kini timbul lagi hal lain yang mencelakakan, yaitu kenyataan pahit bahwa gadis baju
hijau, ahli pedang itu, ternyata jatuh cinta kepadanya! Celaka dua belas! Dan Tan Lian bersumpah di depan
kuburan ayahnya untuk membunuh isteri dan anak-anaknya!
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Suling Emas, betapa duka dan menyesalnya. Akan tetapi
percobaan yang menimpa hatinya ini menjadi lebih hebat ketika Lin Lin tiba-tiba muncul dan menyerang
Tan Lian tanpa ia mampu mencegahnya. Pukulan yang dahsyat itu tak bisa lain adalah hasil mempelajari
ilmu pukulan peninggalan Pat-jiu Sin-ong, hebatnya bukan kepalang dan sekali memeriksa saja tahulah
Suling Emas bahwa ia tidak mampu menolong keselamatan nyawa Tan Lian. Tak seorang pun di dunia ini
akan mampu, kecuali tentu saja di Raja Obat di lereng Thai-san.
Maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu memondong tubuh Tan Lian. Setelah menegur Lin Lin, ia melesat
pergi meninggalkan gadis itu. Ada tiga hal yang membuat ia sengaja meninggalkan Lin Lin sambil
memondong tubuh Tan Lian yang terluka hebat, yaitu pertama-tama untuk pergi mencari Yok-ong (Raja
Obat) di lereng Thai-san, kedua untuk mewakili mendiang ibunya bertemu dan menguji ilmu dengan para
anggota Thian-te Liok-koai. Dan hal yang ketiga adalah karena ia sengaja hendak menjauhi Lin Lin! Ia
merasa betapa besar bahayanya kalau ia terus melakukan perjalanan bersama gadis itu.
Gadis remaja itu secara jelas sekali membayangkan kasih sayang kepadanya, membayangkan cinta birahi
dan agaknya mempunyai keyakinan bahwa ia pun membalas cinta kasih Lin Lin. Dan inilah yang amat ia
khawatirkan. Dekat dengan Lin Lin sama dengan dekat dengan setangkai bunga yang indah jelita, yang
semerbak mengharum, yang mendatangkan rasa suka di hati, mendatangkan rasa gembira. Beratlah
rasanya untuk mempertahankan hati. Lebih berat dari pada menghadapi seratus orang lawan tangguh.
Ia maklum bahwa lambat-laun ia akan jatuh pula, tak mungkin seorang laki-laki yang normal takkan runtuh
hatinya menghadapi seorang gadis yang begitu cantik jelita, dengan muka yang mirip dengan muka bekas
kekasihnya, Suma Ceng, dengan watak yang demikian jenaka, gembira, lincah dan dengan hati yang putih
bersih tak ternoda sedikit pun kekotoran duniawi. Kalau dilanjutkan pergaulannya dengan Lin Lin, akhirnya
sifat egonya (mementingkan diri sendiri) akan mengalahkannya, dan kalau sudah terjadi demikian, mau tak
mau ia akan mengisi kekosongan hatinya dengan Lin Lin, sebagai pengganti Suma Ceng.
Akan tetapi bukanlah demikian dasar perasaan Suling Emas. Ia tidak ingin merusak hidup Lin Lin. Gadis itu
masih seorang remaja, sedangkan dia sudah cukup dewasa, terlalu tua untuk Lin Lin. Hatinya telah terlalu
kering untuk bermain cinta. Apa lagi setelah timbul peristiwa semacam sumpah Tan Lian, ia tidak ingin
menyeret orang lain, apa lagi Lin Lin yang ia sayang, ke dalam rantai dendam yang mengerikan itu.
Demikianlah, dengan batin menderita Suling Emas berlari cepat membawa Tan Lian ke Thai-san. Harus ia
akui bahwa perjalanan beberapa hari bersama Lin Lin cukup membuat ia kini merasa rindu, merasa
kehilangan sehingga ia maklum betapa besar bahayanya kalau perjalanan bersama itu dilakukan lebih
lama lagi. Suling Emas yang berpandangan luas, tidak marah kepada Lin Lin karena gadis itu memukul
Tan Lian secara demikian ganas.
Sebagai seorang yang berpengalaman ia dapat mengerti mengapa Lin Lin melakukan hal itu dan hal ini
menambah keyakinannya bahwa tidak salah, Lin Lin mencintanya! Inilah yang membuat Lin Lin memukul
Tan Lian. Bukankah Lin Lin ikut pula mendengar sumpah itu? Sumpah yang menjelaskan bahwa Tan Lian
mencinta Suling Emas dan akan membunuh isteri dan anak-anaknya? Inilah sebabnya mengapa Lin Lin
memukul Tan Lian, karena hendak membelanya, karena... cemburu pula.
Ketika berhenti sebentar di pinggir sebuah sungai kecil di luar hutan, untuk sekedar menyegarkan tubuh
dan minum, Tan Lian mengerang perlahan dan membuka matanya. Gadis itu dibaringkan oleh Suling
Emas di atas rumput hijau, Suling Emas segera menghampiri.
“... kau...?” Tan Lian terbelalak memandang, kemudian menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan,
seakan-akan meragukan pandang matanya, serasa dalam mimpi.
Suling Emas menggerakkan tangannya, mencegah gadis itu bangkit. Akan tetapi sebetulnya tak perlu ia
lakukan ini karena begitu bergerak, Tan Lian menyeringai kesakitan dan tidak kuat bangun.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau terluka hebat, harap jangan bergerak! Aku sedang membawamu ke Thai-san, untuk minta
pertolongan Kim-sim Yok-ong (Raja Obat Berhati Emas). Kau tenanglah, Tan-siocia (Nona Tan), kurasa
Yok-ong akan mampu menyembuhkanmu.”
Tan Lian nampak gelisah. “Kau... kau mendengar semua...?”
Suling Emas dapat menduga apa yang digelisahkan gadis ini. Ia menarik napas panjang, mengangguk dan
berkata halus. “Aku mendengar semua, akan tetapi sekarang juga sudah lupa lagi apa yang kudengar,”
jawabannya ini berarti bahwa hal-hal yang ia dengar diucapkan gadis itu tidak dipikirkannya dan ia
menjamin takkan ia ceritakan kepada orang lain.
Biar pun Tan Lian maklum akan arti jawaban ini, namun tak dapat dicegah lagi, ia merasa berduka dan
malu. Air matanya mengucur ke luar dan ia menangis terisak-isak.
Suling Emas menarik napas panjang lagi. Ia tahu apa yang menyebabkan gadis ini menangis, maka ia tak
dapat bicara banyak. Diam-diam ia merasa kasihan sekali kepada gadis baju hijau yang gagah perkasa ini.
Ia maklum bahwa Tan Lian adalah seorang pendekar wanita yang tinggi ilmu silatnya, jauh lebih tinggi dari
pada Lin Lin. Kalau saja Lin Lin tidak mempergunakan ilmunya yang ia dapat dalam tongkat pusaka Bengkauw,
tak mungkin Lin Lin mampu merobohkan Tan Lian, apa lagi hanya dengan sekali pukul. Ilmu yang
dimiliki Lin Lin itu benar-benar hebat dan berbahaya sekali, lagi ganas dan dahsyat. Kalau ilmu itu sudah
terlatih baik oleh Lin Lin, jangankan Tan Lian, dia sendiri tidak akan mudah dapat mengalahkannya.
Pat-jiu Sin-ong tidak percuma terkenal sebagai tokoh besar puluhan tahun yang lalu. Ilmu yang ia ciptakan
itu merupakan inti sari dari pada semua kepandaian yang menjadi ilmu pusaka Beng-kauw!
“Tenanglah, Nona. Memang nasib kita yang buruk, terseret oleh gelombang yang disebabkan oleh orangorang
tua kita, terikat oleh karma yang buruk. Akan tetapi, baik ayahmu mau pun ibuku sudah meninggal
dunia, mengapa kita tidak mengubur riwayat mereka bersama jenazah mereka? Mengapa kita harus
mengikatkan nasib kita dengan riwayat dan urusan mereka? Ah, Nona Tan, kuharap kau tidak
berpandangan sesempit itu....”
Tan Lian menghentikan tangisnya, memandang dengan mata merah dan ia menahan isak ketika berkata,
“Berpandangan sempit? Kau... kau tidak merasakan, tentu saja pandai mencela! Di dunia aku hanya hidup
berdua dengan ayah. Kematian ayah karena dibunuh ibumu membuat aku sebatang-kara. Kau salahkan
aku kalau aku bersumpah mendendam dan hendak membalas kematian ayah? Akan tetapi Thian tidak
menaruh kasihan kepadaku. Aku terlambat!” Suaranya terisak.
“Setelah aku berlatih dengan susah payah selama bertahun-tahun, setelah aku rela tinggal seorang diri...,
tidak mau menikah... menjadi perawan tua... semua ini hanya untuk satu tujuan, yaitu membalas sakit hati.
Setelah aku merasa sudah cukup kuat dan hendak mencari ibumu, aku mendengar berita tentang
kematiannya dan tentang keturunannya, yaitu engkau. Apa yang dapat kulakukan lagi selain menimpakan
dendam kepadamu? Tapi... aku tidak becus... aku... aku tidak mampu mengalahkanmu...” Sampai di sini
Tan Lian menangis lagi.
Suling Emas mengerutkan keningnya. Ia dapat membayangkan penderitaan batin yang selama ini
menimpa diri Tan Lian. Memang benar hebat dan berat sekali. Diam-diam ia memuji kebaktian Tan Lian
yang demi untuk berbakti kepada ayahnya sampai berkorban sedemikian rupa, menyia-nyiakan
kebahagiaan hidupnya sendiri, rela menjadi seorang gadis yang sudah agak terlambat usianya, kurang
lebih tiga puluh tahun. Padahal gadis ini cantik dan gagah, kalau saja ayahnya tidak meninggal terbunuh
oleh ibunya, tentu dalam usia tujuh belas atau delapan belas sudah menjadi isteri orang!
“Tan-siocia harap kau jangan berduka tentang kekalahan. Ilmu kepandaian tak dapat diukur sampai di
mana puncaknya. Siapa yang mengejar kepandaian untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, ia akan
gagal karena pasti akan menemui yang lebih tinggi lagi. Andai kata ibuku masih hidup, agaknya kau pun
takkan mampu menandinginya, karena biar pun kau telah menggembleng dirimu belasan tahun lamanya,
ibuku pun terus memperdalam ilmunya selama puluhan tahun!”
“Lebih baik kalau aku tewas dalam usahaku membalas ibumu, dari pada seperti sekarang ini...,” ia terisak.
“... tidak saja aku tak mampu mengalahkanmu, juga kau... kau tidak membunuhku, malah menolongku! Aku
tidak kuat menanggung penghinaan ini, lebih baik kau bunuh aku!”
“Nona, di antara kita tidak ada permusuhan pribadi, mengapa aku harus membunuhmu? Tidak, aku, tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
akan berpemandangan begitu picik. Dan kuharap kau pun dapat sadar akan hal ini, bahwa di antara kita
tidak ada urusan pribadi yang membuat kita saling benci dan saling bermusuhan.”
“Akan tetapi..., aku sudah bersumpah... untuk membunuh isterimu....”
“Jangan khawatir, aku tidak beristeri,” kata Suling Emas tersenyum.
“Tapi wanita yang memukulku itu? Ah, dia tentu tunanganmu!”
Suling Emas kembali menggelengkan kepalanya, tapi kini keningnya berkerut.
“Tapi, jelas dia mencintamu!”
Suling Emas kaget bukan main mendengar pernyataan ini. Bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa Lin Lin
mencintanya?
“Hemmm, mengapa kau berkata demikian?” katanya, suaranya tenang saja padahal jantungnya berdebar
keras.
“Dia cemburu kepadaku... eh, kumaksudkan....” Tan Lian menjadi gugup sekali karena tanpa ia sengaja
atau sadari, ia sendiri sudah membuka rahasia hatinya.
“Tak mungkin, Nona. Dia adalah adik tiriku!”
Tan Lian tercengang dan entah mengapa, tiba-tiba wajahnya berseri gembira! Akan tetapi hanya sebentar,
karena ia lalu menghela napas dan berkata dengan lirih dan berat, “Aku sudah bersumpah memusuhimu,
tak perlu kau berlaku baik kepadaku, tiada gunanya. Lebih baik aku mati saja, tak perlu kau carikan orang
pandai untuk berobat.”
“Hemmm, mengapa kau begini putus harapan, Nona? Kau masih muda, kau berhak hidup...”
“Muda, katamu? Seorang wanita sudah berusia... seperti aku, kau bilang masih muda? Aku adalah
perawan tua. Tiada harapan lagi. Untuk apa hidup hanya menjadi bahan ejekan? Sebatang-kara, tiada
keluarga, tugas pun terbengkalai tak terpenuhi, apa artinya hidup? Aku sudah tua!” kembali air matanya
mengalir turun.
“Kau masih muda, Nona Tan. Muda dan cantik jelita lagi gagah perkasa. Kurasa, dia yang merasa dirinya
pandai dan tampan, satria-satria di dunia kang-ouw, akan berebutan untuk mendapatkan perhatianmu, dan
akan merasa bahagia sekali kalau menjadi pilihanmu.”
Sepasang pipi gadis itu tiba-tiba menjadi merah, matanya memandang lebar-lebar ke arah Suling Emas
seakan-akan hendak menyelidiki apakah ucapan itu keluar dari hati yang jujur. Melihat sepasang mata
Suling Emas memandang sungguh-sungguh dan membayangkan kejujuran, Tan Lian menjadi begitu
girang sehingga ia tergagap. “Be... betulkah...?”
Suling Emas lega hatinya. Ia mengangguk meyakinkan, lalu membungkuk dan memondong tubuh Tan Lian
lagi sambil berkata, “Mari kita lanjutkan perjalanan agar kita segera sampai di Thai-san. Tak baik bagi
kesehatanmu terlalu banyak bicara seperti ini.”
Di dalam pondongan pemuda itu, Tan Lian termenung-menung. Dia masih belum beristeri, usianya sudah
lanjut pula, tentu lebih tua beberapa tahun dari pada dia sendiri! Permusuhan antara orang tua tentu saja
akan hapus kalau mereka menjadi suami isteri! Dia begitu baik, begini gagah perkasa, dan bukankah dia
tadi memuji-muji bahwa aku cantik jelita dan gagah? Bukankah pujian yang keluar dari mulut seorang lakilaki,
pujian yang bukan hanya kosong, yang keluar dari hati sejujurnya, menjadi bayangan dari pada cinta
kasih? Makin muluk-muluk lamunan Tan Lian sehingga akhirnya ia tertidur nyenyak di dalam pondongan
Suling Emas.
Di lereng Thai-san yang agak tersembunyi, di bagian yang paling sunyi karena hanya penuh dengan hutanhutan
belukar, terdapat sebuah pondok sederhana dan bersih, mempunyai banyak jendela sehingga di
dalam pondok itu hawanya sejuk segar. Inilah tempat tinggal Kim-sim Yok-ong, seorang kakek yang rambut
dan jenggotnya sudah putih semua akan tetapi wajahnya tetap segar berseri dan kemerahan seperti wajah
seorang pemuda remaja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sepasang matanya bersinar-sinar dan bentuknya indah seperti mata wanita cantik. Jari-jari tangannya
halus dan runcing seperti tangan seorang terpelajar. Gerak-geriknya halus, tutur sapanya ramah dan
sopan, pakaiannya sederhana dan dari kain murah, akan tetapi bersih sekali, sebersih kuku-kukunya dan
rambutnya. Inilah dia Kim-sim Yok-ong yang namanya terkenal di seluruh jagat, yaitu nama sebutannya,
bukan nama aslinya karena nama aslinya tidak ada yang tahu. Ia dijuluki Kim-sim (Hati Emas) karena
kakek ini menolong kepada siapa saja yang perlu ditolong, tidak pilih kasih, tidak pandang bulu, tanpa
pamrih, tanpa syarat, seolah-olah hatinya terbuat dari pada emas yang amat berharga penuh dengan cinta
kasih akan sesamanya.
Di samping ini ia disebut Yok-ong (Raja Obat) karena ilmu pengobatan yang ia miliki benar-benar luar
biasa sekali sehingga banyak orang bilang bahwa tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak bisa diobati dan
disembuhkan oleh Kim-sim Yok-ong! Karena kebaikan hatinya yang tidak pandang bulu dan tidak pilih
kasih inilah agaknya maka semua orang di dunia ini, termasuk mereka yang memiliki watak kasar dan
buruk, semua segan dan tidak berani mengganggunya. Bukan tidak berani terhadap Kim-sim Yok-ong
sendiri yang tak pernah dilihat orang bermain silat, akan tetapi tidak berani karena sekali dia mengganggu
Kim-sim Yok-ong, tentu ia akan berhadapan dengan seluruh tokoh di dunia kang-ouw, baik tokoh kanan
mau pun kiri, tokoh putih mau pun hitam, para pendekar mau pun penjahat! Agaknya Kim-sim Yok-ong
sudah menjadi ‘milik’ semua orang yang akan membelanya mati-matian!
Akan tetapi, tidaklah sering raja obat ini dikunjungi orang yang hendak berobat. Pertama karena tempat
tinggalnya sering kali berpindah-pindah dan selalu ia memilih lereng-lereng gunung yang tinggi dan
mempunyai tetumbuhan yang mengandung obat. Kedua, kepandaiannya yang istimewa adalah khusus
untuk mengobati orang-orang terluka oleh pukulan-pukulan, oleh senjata-senjata rahasia atau oleh racunracun.
Dalam hal inilah ia memang memiliki kepandaian istimewa. Ada pun kepandaiannya mengobati
orang-orang sakit biasa tidaklah istimewa, sama dengan tabib-tabib yang banyak terdapat di kota-kota.
Oleh karena itu pula maka hanya para anggota dunia kang-ouw saja yang selalu mencari dan minta tolong
kepada Kim-sim Yok-ong. Dan justru ini pula yang membuat namanya terkenal di antara para tokoh kangouw.
Bahkan tak boleh disangkal lagi, enam iblis Thian-te Liok-kai yang kini tinggal lima orang saja itu sengaja
memilih puncak Thai-san sebagai tempat mengadu ilmu karena pada waktu itu Kim-sim Yok-ong berada di
gunung itulah. Hal ini penting sekali karena mereka maklum bahwa pertandingan adu ilmu di antara
mereka tentu sedikitnya akan mengakibatkan luka-luka yang parah dan mengerikan, dan hanya Kim-sim
Yok-ong saja yang akan mampu mengobati.
Pada pagi hari itu, selagi Kim-sim Yok-ong mengatur akar-akar obat di atas genteng depan rumah untuk
dijemur, datanglah Suling Emas yang memondong tubuh Tan Lian. Sudah dua hari dua malam gadis itu
berada dalam keadaan pingsan, maka Suling Emas tidak pernah berhenti, berlari cepat siang malam
sehingga ketika ia tiba di situ keadaan pendekar ini lesu dan lemah, tubuhnya lelah sekali, tangannya kakukaku
dan kakinya gemetar.
“Ayaaaaa...! Kiranya Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) yang datang! Ah, lagi-lagi kau melupakan
kesehatan sendiri, sedikitnya dua hari dua malam tak pernah berhenti berlari untuk menolong seseorang.
Kim-siauw-eng, orang seperti engkau ini amat diperlukan dunia, dan berbahagialah engkau karena
hidupmu telah kau isi dengan kemanfaatan bagi dunia. Bawalah dia masuk, sebentar aku menyusul!”
Suling Emas mengangguk. “Terima kasih, Locianpwe.” Lalu ia melangkah memasuki pondok dan
merebahkan tubuh Tan Lian di atas sebuah pembaringan di sudut ruangan.
Sedikit gelisah juga hati Suling Emas menyaksikan keadaan Tan Lian yang sudah pucat sekali mukanya,
tubuhnya dingin dan kaku seakan-akan sudah mati. Hanya napasnya yang lemah saja yang membuktikan
bahwa gadis itu masih hidup. Diam-diam Suling Emas berdoa semoga gadis itu tidak mati oleh pukulan
maut Lin Lin, karena kalau hal ini terjadi, ia akan merasa berdosa dan makin menyesal mengingat bahwa
semua ini adalah akibat dari pada perbuatan ibu kandungnya yang lalu.
Tak lama kemudian Raja Obat itu memasuki pondok dengan langkah perlahan dan tenang sekali. Suling
Emas sudah mengenal watak Raja Obat ini, maka ia pun diam saja dan menanti sampai orang tua itu
melakukan pemeriksaan.
Kim-sim Yok-ong menghampiri sebuah tempayan air di sudut luar, mencuci kedua tangannya, kemudian
menyusutnya dengan kain bersih. Barulah ia menghampiri Tan Lian tanpa menoleh ke arah Suling Emas
dunia-kangouw.blogspot.com
yang masih berdiri di dekat pembaringan. Tabib sakti itu membungkuk, memandangi Tan Lian dengan
kening berkerut, mengulur tangan kiri menekan nadi tangan gadis itu dan tangan kanannya meraba-raba
pundak dan leher.
“Uhhhhh...!” katanya, agak tercengang. “Aku mendengar berita bahwa Pat-jiu Sin-ong sudah meninggal
dunia! Bagaimana nona ini bisa terkena pukulannya beberapa hari yang lalu?”
Suling Emas tidak merasa heran mendengar ini, sungguh pun ia menjadi makin kagum saja. Tidak ada
akibat pukulan yang bagaimana hebat pun di dunia ini yang tidak dikenal oleh Kim-sim Yok-ong!
“Bukan, Locianpwe. Pat-jiu Sin-ong memang sudah meninggal dunia dan tidak melakukan pukulan
terhadap nona ini.”
Kakek itu memandang dan tahulah ia bahwa Suling Emas tidak ingin bicara tentang pemukul nona ini. Ia
menarik napas panjang dan berkata, “Siapa pun juga pemukulnya, sudah pasti bukan Beng-kauwcu Liu
Mo, juga bukan Kauw Bian Cinjin. Kalau bukan Pat-jiu Sin-ong, entah siapa yang mampu melakukan
pukulan ini. Hemmm, siapa pun juga, dia menggunakan pukulan Beng-kauw dan aneh sekali bahwa kau
yang membawanya ke sini untuk kuobati.”
Ucapan ini tidak langsung, namun diam-diam Suling Emas mengerti bahwa kakek itu sudah tahu
segalanya, sudah mendengar bahwa dia adalah putera Tok-siauw-kui dan cucu Pat-jiu Sin-ong. Alangkah
cepatnya berita tersiar, tidak heran bahwa tokoh-tokoh kang-ouw mencari dan hendak mengeroyoknya.
Apa lagi kalau diingat bahwa banyak tokoh kang-ouw mengunjungi kakek ini untuk minta obat.
“Kau keluarlah dulu, Kim-siauw-eng, biar kucoba untuk mengobati nona ini.”
Suling Emas mengangguk, lalu melangkah keluar dan duduk di atas sebuah batu hitam yang terdapat di
depan pondok itu. Memang di depan pondok terdapat sekumpulan batu-batu besar yang beraneka warna.
Inilah sebuah di antara kesukaan Kim-sim Yok-ong, yaitu mengumpulkan batu-batu yang licin halus dan
aneh-aneh macam serta warnanya.
Lebih dua jam Suling Emas menanti, belum juga ada berita dari dalam. Ia melamun dan bermacam pikiran
menggodanya, terutama sekali pikiran tentang diri Lin Lin! Ia merasa amat sayang dan kasihan kepada
gadis remaja itu, malah hampir ia jatuh cinta! Berulang kali Suling Emas menarik napas panjang, bukan
sekali-kali menyesali nasibnya, melainkan menyesal mengapa setelah ibunya menjadi sebab kegegeran
dunia, kini dia pula menjadi sebab kegegeran hati gadis-gadis cantik.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti suara katak di musim hujan. Suling Emas cepat mengangkat
muka dan kaget serta herannya bukan main ketika ia melihat dua orang kakek sudah berdiri dalam jarak
lima meter di depannya, masing-masing kakek itu memegang leher baju seorang penduduk gunung. Yang
membuat Suling Emas kaget dan heran adalah betapa kedua orang kakek itu dapat datang tanpa ia
ketahui sama sekali, tahu-tahu sudah berada di situ. Terlalu dalamkah ia tadi tenggelam dalam
lamunannya sehingga ia tidak mendengar kedatangan mereka? Ataukah mungkin mereka itu luar biasa
saktinya? Akan tetapi sepanjang ingatannya, hanya Bu Kek Siansu saja yang pandai datang dan pergi
tanpa ia ketahui!
Ia memandang penuh perhatian. Seorang di antara dua kakek itu rambut dan jenggotnya panjang
berwarna putih seperti perak, bahkan alis matanya juga putih, jubahnya panjang dan putih pula.
Pendeknya, tidak ada warna lain terdapat pada diri kakek ini, malah kulitnya kalau diperhatikan juga luar
biasa putihnya, seakan-akan tidak ada darah di bawah kulit itu. Diam-diam Suling Emas kaget. Orang ini
membayangkan tenaga sinkang yang mukjijat, akan tetapi bagaimana seorang dengan kepandaian
sehebat ini belum pernah ia jumpai dan tidak ia kenal sama sekali?
Kemudian perhatiannya teralih kepada orang kedua. Dia ini juga seorang kakek tua, rambutnya awutawutan,
kumis dan jenggotnya tebal panjang. Akan tetapi berbeda dengan kakek pertama yang rambutnya
serba putih, kakek ini rambut dan jenggotnya kemerah-merahan, juga pakaiannya serba merah, sepatu
rumputnya merah, kulit badannya juga kemerahan seakan-akan setiap hari dibakar matahari!
Yang membuat Suling Emas diam-diam terkesiap hatinya adalah ketika ia melihat mata kedua orang kakek
itu. Kakek pertama matanya putih hampir tidak kelihatan bagian hitamnya, akan tetapi kakek kedua
matanya merah dan hampir tidak tampak bagian putihnya. Benar-benar dua orang kakek yang luar biasa
sekali. Jangankan bertemu mereka, mendengar tentang mereka pun belum pernah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua orang kakek itu masih tertawa-tawa, dan kedua orang penduduk gunung yang dicengkeram leher
bajunya itu kelihatan ketakutan sekali.
“Hah, beruang busuk, benar inikah rumah Kim-sim Yok-ong?” tiba-tiba si kakek putih bertanya kepada
orang yang dicengkeramnya.
Orang itu mengangguk-angguk dengan tubuh gemetar. Biar pun mulutnya bergerak-gerak, namun tidak
ada suara yang keluar dari bibirnya.
“Huah-hah-hah, si tabib memelihara anjing untuk menjaga pondok agaknya!” kata si kakek merah sambil
menudingkan telunjuk ke arah Suling Emas. “Biar kuusir dulu anjing itu, menyebalkan benar!” Setelah
berkata demikian, kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya seperti orang mendorong ke
arah Suling Emas yang masih duduk di atas batu hitam.
Terdengar suara bercuitan menyambar ke arah Suling Emas. Pendekar ini kaget dan kagum juga
menyaksikan pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat, akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Dengan
tenang Suling Emas yang biasa menghormat kaum tua sengaja tidak mau menangkis, melainkan dalam
keadaan tubuhnya masih bersila, ia melayang ke atas, mengelak pukulan dan seperti seekor burung,
tubuhnya yang masih duduk bersila itu hinggap pada batu lain di sebelah kiri.
Pukulan jarak jauh itu tidak mengenai dirinya, akan tetapi terdengar suara keras dan... batu hitam tempat
duduk Suling Emas tadi pecah-pecah dan di antara muncratnya batu itu tampak cahaya berapi yang panas
luar biasa!
“Anjing penjaga yang baik...!” seru kakek putih dan dengan mulut menyeringai memperlihatkan deretan
giginya yang putih berkilauan, kakek ini pun menggerakkan tangan kanannya mendorong ke arah Suling
Emas.
Pendekar ini masih belum hilang kagetnya menyaksikan akibat pukulan jarak jauh si kakek merah yang
benar-benar dahsyat itu, pukulan yang mengandung tenaga raksasa penuh hawa panas membakar yang
sekali mengenai tubuh manusia akan membuat tubuh itu tidak hanya remuk akan tetapi juga terbakar! Kini
melihat datangnya pukulan jarak jauh yang sama sekali tidak bersuara namun membuat rumput-rumput di
atas tanah yang dilalui seketika menjadi layu, ia cepat-cepat menggerakkan tubuhnya melompat tinggi dan
kemudian turun berdiri dengan keadaan siap siaga.
Ia melihat betapa batu yang didudukinya bergoyang-goyang sedikit, akan tetapi tidak pecah seperti tadi,
malah tampaknya tidak apa-apa. Tadinya ia mengira bahwa kepandaian kakek putih itu kalah jauh oleh
kakek merah, akan tetapi tiba-tiba si kakek merah berseru.
“Wah-wah, agaknya kau berusaha keras mengalahkan aku. Huah-hah-hah!”
Suling Emas kaget dan melihat lagi. Matanya terbelalak ketika ia melihat batu besar yang disangkanya
tidak apa-apa itu kini mulai bergerak-gerak, tak lama kemudian runtuh dan kiranya sudah hancur menjadi
debu! Diam-diam ia kaget sekali. Dua orang kakek ini benar-benar merupakan orang-orang paling sakti
yang pernah ia jumpai atau dengar, kecuali tentu saja Bu Kek Siansu yang memang tidak boleh
disejajarkan dengan manusia biasa.
Cepat ia menjura penuh penghormatan sambil berkata, “Mohon maaf sebesarnya bahwa karena teecu
(murid) tidak mengenal siapa adanya Ji-wi Locianpwe (Dua Kakek Sakti), maka terlambat untuk
mengadakan penyambutan. Teecu juga hanya seorang tamu dari tuan rumah Kim-sim Yok-ong yang kini
sedang sibuk mengobati orang sakit. Harap Ji-wi (Tuan berdua) sudi menunggu, biarlah teecu menyingkir
kalau kehadiran teecu tidak menyenangkan hati Ji-wi.”
Biar pun maklum bahwa dua orang kakek itu sakti luar biasa, akan tetapi tentu saja Suling Emas tidak
merasa takut. Ucapannya yang sopan dan mengalah bukanlah bayangan dari pada rasa takut, melainkan
bayangan dari pada sikapnya yang menghormat orang asing yang lebih tua. Apa lagi karena ia juga
sedang menghadapi tugas penting mewakili ibunya menghadapi anggota-anggota Thian-te Liok-koai, maka
dia tidak mau mencari perkara lain yang akan mengacaukan tugasnya.
“Huah-hah-hah, orang muda ini boleh juga. Heh, orang muda, kami datang karena mendengar nama besar
Kim-sim Yok-ong yang menjulang tinggi sampai ke langit. Akan tetapi kami tidak percaya kalau tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
membuktikan sendiri sampai di mana kepandaiannya. Kata orang, tabib sombong ini dapat menghidupkan
lagi orang mati terkena racun!”
Diam-diam Suling Emas mendongkol. Dua orang kakek ini boleh jadi sakti, akan tetapi sikap mereka
berandalan. “Saya rasa berita itu tidak benar, Locianpwe. Sepandai-pandainya orang, bagaimana bisa
menghidupkan orang yang sudah mati? Akan tetapi memang benar bahwa Kim-sim Yok-ong pandai sekali
mengobati korban-korban segala macam pukulan dan senjata beracun yang bagaimana parah sekali pun!”
“Huh, huh!” si kakek putih bersungut. Berbeda dengan si kakek merah yang selalu tertawa mengejek, kalau
bicara si kakek putih selalu bersungut-sungut. “Siapa mau percaya? Coba dia sembuhkan akibat pukulanku
ini!” Setelah berkata demikian kakek putih ini melemparkan tawanannya ke atas tanah dan tangan kirinya
bergerak. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh orang gunung itu tidak berkutik lagi, kaku kejang seperti
sebatang balok.
“Huah-hah-hah, bagus! Memang tanpa diuji mana mau percaya? Andai kata dia bisa menyembuhkan dia
itu, tak mungkin dia bisa menyembuhkan orang ini!” Ia pun mendorong tawanannya ke depan dan
memukul. Kembali terdengar jerit keras dan orang gunung kedua ini berkelojotan di atas tanah.
Suling Emas kaget dan marah, akan tetapi dua orang kakek itu sudah berkelebat dan lenyap dari situ.
Hanya gema suara ketawa kakek merah yang masih terdengar. Ingin Suling Emas mengejar dan menegur
kakek itu, bahkan ia pun siap untuk mengadu kepandaian dengan dua orang kakek yang kejam itu. Akan
tetapi karena kedua orang penduduk gunung yang tak berdosa itu berada dalam keadaan luka hebat dan
maut mengancam nyawa mereka, Suling Emas membatalkan niatnya mengejar, kemudian cepat ia
menghampiri dua orang korban untuk memeriksa keadaannya.
Tercenganglah Suling Emas ketika menyaksikan keadaan dua orang itu. Mereka sama sekali tidak terluka,
akan tetapi keadaan mereka sungguh mengerikan. Korban kakek putih masih tetap kaku kejang, seluruh
tubuhnya mulai berubah warna menjadi keputih-putihan dan biar pun masih bernapas, namun ketika diraba
terasa dingin seperti salju! Sebaliknya, korban kakek merah berkelojotan, tubuhnya mulai kemerahanmerahan,
bahkan dari lubang-lubang tubuhnya mulai keluar asap tipis dan kalau diraba darahnya panas
seperti api!
Melihat keadaan mereka ini, cepat-cepat Suling Emas lari memasuki pondok untuk memanggil Kim-sim
Yok-ong. Ia maklum bahwa kakek itu sedang mengobati Tan Lian dan biasanya ia pun tidak berani
mendesak atau mengganggu si raja obat. Namun karena keadaan memaksa, terdorong rasa kasihan
terhadap dua orang penduduk gunung yang tak berdosa ini, Suling Emas segera berseru dari pintu.
“Locianpwe, harap lekas keluar, di sini ada dua orang korban yang membutuhkan pertolongan Locianpwe!”
Akan tetapi sebetulnya tidak perlu dia berteriak-teriak karena pada saat itu kebetulan sekali Kim-sim Yokong
keluar dari dalam ruangan pengobatan sambil tersenyum. Begitu melihat kakek ini, teringatlah Suling
Emas akan keadaan Tan Lian maka cepat ia bertanya, “Bagaimana dengan keadaan nona itu,
Locianpwe?”
“Nona itu terluka amat parah..., tapi kau tak perlu khawatir, dia akan sembuh....”
Lega hati Suling Emas. Setelah mendengar bahwa Tan Lian tertolong, ia teringat kembali kepada dua
orang korban di luar. “Locianpwe, di luar ada dua orang korban yang keadaannya amat berbahaya, harap
Locianpwe sudi monolong orang-orang yang tak berdosa itu.”
Tanpa banyak cakap lagi Kim-sim Yok-ong lalu melangkah cepat ke luar pondok. Melihat dua orang
menggeletak di pekarangan rumahnya, yang seorang berkelojotan dan yang kedua diam tak bergerak
kaku, ia cepat menghampiri dan memeriksa. Keningnya berkerut-kerut dan ia menggeleng-gelengkan
kepala, kadang-kadang mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran dan kaget.
“Kim-siauw-eng, apakah yang terjadi di sini tadi?” tanpa menoleh kepada Suling Emas ia bertanya sambil
memeriksa tubuh korban kakek putih yang makin lama makin dingin tubuhnya itu.
Dengan singkat Suling Emas menuturkan tentang dua orang kakek aneh yang tadi datang. Mendengar ini,
tabib sakti itu mengeluarkan seruan aneh, bangkit berdiri dan memandang Suling Emas dengan mata
terbelalak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Agaknya mereka itu bukan manusia!” serunya kaget. “Kalau mereka manusia, tokoh dari golongan mana
pun juga, tentu pernah kulihat atau setidaknya kudengar nama dan keadaannya. Akan tetapi selama
puluhan tahun aku hidup, belum pernah mendengar tentang seorang kakek putih dan seorang kakek
merah. Lebih hebat lagi, aku tidak mengenal pula pukulan-pukulannya terhadap dua orang ini!” Ia menarik
napas panjang. “Gunung Thai-san ini boleh dibilang tinggi, namun puncaknya masih kalah tinggi oleh
awan. Sungguh segala sesuatu di dunia ini tak dapat diukur batasnya. Mereka itu agaknya sengaja
menantangku dan hendak menguji. Hemmm, orang-orang sesat, nyawa manusia dibuat main-main!
Butakah mereka sehingga tidak melihat bahwa mati hidupnya seseorang bukan sekali-kali tergantung dari
pada kepandaianku mengobati, melainkan tergantung sepenuhnya pada kehendak Thian? Kim-siauw-eng,
bawalah mereka masuk. Aku akan coba menolong sungguh pun aku merasa ragu-ragu untuk dapat
menyelamatkan mereka.”
Suling Emas cepat mengempit dua orang itu dan membawanya masuk ke dalam pondok. Atas permintaan
tabib sakti itu, ia membaringkan mereka di atas bangku-bangku kayu yang berada di ruangan belakang.
Kemudian seperti yang diminta oleh Kim-sim Yok-ong, Suling Emas menanggalkan pakaian kedua orang
itu, pakaian bagian atas sehingga tubuh mereka bagian atas telanjang. Ngeri sekali keadaan mereka.
Tubuh mereka itu kini yang seorang sudah berubah putih, yang kedua menjadi merah, persis warna kulit
kedua orang kakek aneh itu.
Sementara itu, Kim-sim Yok-ong sibuk membakar ujung jarum-jarum perak dan emas di atas api lilin.
Kemudian ia menghampiri korban kakek putih yang tubuhnya kaku dan berwarna putih itu. Dengan
gerakan hati-hati sekali namun tidak ragu-ragu, ia menancapkan jarum-jarum emas pada jalan-jalan darah
tertentu di dada, leher dan pusar! Kemudian ia menggunakan jarum-jarum perak untuk menusuk jalan-jalan
darah pada tubuh orang kedua yang menjadi korban kakek merah. Setelah pada masing-masing tubuh
kedua orang korban itu tertancap tujuh batang jarum, Kim-sim Yok-ong mengeluarkan sebatang pisau yang
tajam lalu melukai kedua telapak tangan mereka dengan ujung pisau.
Aneh! Dari luka di telapak tangan korban kakek putih segera mengucur keluar darah yang keputih-putihan
sedangkan dari luka di telapak tangan korban kakek merah mengucur darah yang kehitaman! Lambat laun
berubahlah warna pada wajah kedua orang itu, kembali menjadi normal dan napas mereka pun mulai
tenang. Akhirnya mereka bergerak-gerak mengeluh panjang. Kim-sim Yok-ong menarik napas panjang,
kelihatan lega hatinya. Akan tetapi agaknya ia tadi telah mengerahkan tenaga dan mencurahkan seluruh
perhatiannya sehingga ia tampak lelah, dan sambil menghapus keringatnya, ia mulai mencabuti jarumjarum
yang menancap di tubuh kedua orang itu.
“Siapa pun kedua iblis itu, dia tidak mungkin dapat mengalahkan kekuasaan Thian,” kata Kim-sim Yok-ong
perlahan. “Inilah buktinya! Karena agaknya Thian belum menghendaki kedua orang tak bersalah ini tewas,
kebetulan sekali aku dapat menyembuhkan luka-luka mereka yang hebat, akibat pukulan aneh yang belum
pernah kusaksikan sebelumnya. Betapa pun juga, pukulan kakek merah itu mengandung unsur panas
sedangkan pukulan kakek putih mengandung pukulan dingin. Di dunia ini hanya terdapat dua macam unsur
tenaga, Im dan Yang, sungguh pun berbeda ragam dan caranya, namun bersumber sama.”
Suling Emas menyaksikan dan mendengarkan dengan hati penuh kekaguman. Akan tetapi pada saat itu
terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya.
“Huah-hah-hah, Kim-sim Yok-ong! Jangan bergembira dulu dan merasa senang! Cobalah kau punahkan
akibat pukulan-pukulan kami ini!”
Bagaikan kilat menyambar, Suling Emas sudah berkelebat keluar pondok, siap untuk menghadapi dua
orang iblis asing yang hendak menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong dengan cara buas, yaitu melukai
orang-orang tak bersalah itu, main-main dengan nyawa orang seakan-akan mereka itu hanya binatangbinatang
kelinci saja. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba di pekarangan depan, ia tidak melihat dua
orang kakek itu melainkan empat orang dusun lain yang sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah.
“Celaka! Keji benar mereka!” serunya sambil membungkuk untuk memeriksa.
“Jangan pegang mereka! Biarkan aku memeriksa lebih dulu!” seru Kim-sim Yok-ong sambil berlari-lari ke
luar.
Hebat sekali keadaan empat orang itu. Mereka adalah korban baru. Ada yang tulangnya patah-patah
sampai menjadi puluhan potong! Ada yang tulangnya remuk-remuk. Ada yang seluruh tubuhnya keluar
bintik-bintik merah dan orang keempat mengeluarkan darah dari semua lubang di tubuhnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kejam...!” Seru Yok-ong. “Kim-siauw-eng, bantulah aku. Mereka harus cepat-cepat ditolong!”
Maka bekerjalah Suling Emas mengangkat orang-orang itu ke dalam pondok dan ia girang melihat dua
orang dusun pertama sudah dapat bangun. Segera Yok-ong menyuruh mereka pulang sanibil membawa
obat-obat minum kepada kedua orang itu. Akan tetapi selanjutnya ia sibuk mengobati empat orang yang
menderita luka-luka hebat sekali. Suling Emas hanya membantu, memasakkan obat, mengambilkan daun
ini dan akar itu, sambil mengagumi cara tabib sakti itu menolong para korban. Cekatan dan terampil, hatihati
dan tepat sehingga kembali empat orang itu dapat diselamatkan nyawanya.
Akan tetapi, secara berturut-turut pekarangan depan pondok itu kebanjiran para korban dua orang kakek
iblis yang aneh itu, yang selalu meninggalkan korban mereka di pekarangan pondok sehingga dalam waktu
setengah hari saja di situ berkumpul tiga puluh orang lebih yang terancam nyawanya dengan pelbagai
macam luka-luka hebat, dari racun-racun yang paling ganas sampai pukulan-pukulan yang paling keji yang
selamanya belum pernah terbayangkan oleh Suling Emas, bahkan banyak di antaranya yang membuat si
tabib sakti agak bingung! Akhirnya si tabib sakti terpaksa mengakui kehebatan dua orang kakek itu karena
menjelang senja, sudah ada empat orang yang tewas, karena ia tak mampu menyembuhkannya!
Hebatnya, malam itu masih bertambah lagi jumlah korban sehingga seluruhnya menjadi lima puluh orang
korban tangan maut kakek merah dan kakek putih yang luar biasa ini! Suling Emas memuncak
kemarahannya, namun ia tidak dapat melakukan pencegahan atau pun pengejaran karena tenaganya amat
dibutuhkan untuk membantu Kim-sim Yok-ong. Baiknya Tan Lian siuman menjelang malam dan
keadaannya sedemikian baiknya sehingga gadis ini mampu bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri
dengan keheran-heranan karena ia melihat seorang kakek tua dibantu oleh Suling Emas sibuk mengurus
dan mengobati puluhan orang. Biar pun yang sembuh telah disuruh pulang oleh tabib sakti itu, namun di
dalam rumah masih terkumpul tiga puluh orang dan enam orang mayat!
“Ahhh... apa yang terjadi? Di mana aku...?” Gadis itu bertanya, penuh kengerian hati.
Suling Emas segera menghampiri dan giranglah hatinya melihat gadis itu sudah sembuh sama sekali,
tampak dari wajahnya yang segar.
“Syukur kau telah tertolong, Nona. Akan tetapi kau harus beristirahat di sini barang tiga hari menurut pesan
Yok-ong Locianpwe. Akan tetapi celaka, hari ini terjadi hal hebat. Dua orang iblis yang tidak terkenal
mengamuk dan melukai banyak orang hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong.” Secara singkat
Suling Emas menceritakan keadaan itu, sedangkan Yok-ong sama sekali tidak ambil peduli dan tetap sibuk
mengurusi mereka yang luka.
Tan Lian menjadi heran dan terharu menyaksikan kebaikan hati tabib itu. “Apa? Aku harus beristirahat saja
melihat begini banyaknya orang yang perku ditolong? Tidak, Locianpwe, aku siap membantumu!” Ia
meloncat turun dari pembaringan dan biar pun kepalanya masih agak pening, namun gadis ini dengan
cekatan lalu mulai membantu dengan masak air dan lain-lain.
Kim-sim Yok-ong mengangguk-angguk dan memandang sebentar. “Boleh, kau boleh membantu. Yang tak
boleh kau lakukan hanya pengerahan tenaga dalam. Bagus hari ini aku bersusah-payah menolongmu
bukan tiada gunanya. Nona kau ambilkan bungkusan dari atas lemari itu, kemudian kau bakar ujung semua
jarum ini sampai terasa panasnya pada ujung gagangnya.”
Demikianlah, tiga orang itu semalam suntuk sibuk menolong orang dan baiknya dua orang iblis tua itu
agaknya sudah cukup ‘menguji kepandaian’ Kim-sim Yok-ong, buktinya tidak ada lagi orang terluka mereka
antarkan.
Pada keesokan harinya, menjelang tengah hari barulah selesai pekerjaan itu. Sebanyak empat puluh lebih
orang telah sembuh dan boleh pulang, akan tetapi ada delapan orang yang tak dapat tertolong dan kini
rebah menjadi mayat di dalam pondok. Kim-sim Yok-ong tampak lelah sekali, jauh lebih lelah dari Tan Lian
yang juga bekerja keras dalam keadaan belum pulih tenaganya. Kakek ini tampak duduk di atas bangku,
bersila dan wajahnya keruh, keningnya berkerut-kerut dan agak pucat. Ia berkali-kali menarik napas
panjang dan memandangi mayat-mayat yang berjajar di situ.
“Locianpwe, harap Locianpwe tidak merasa berduka. Sudah cukup hebat kepandaian Locianpwe dan
delapan orang korban ini agaknya memang sudah dikehendaki Thian untuk mati. Apakah yang harus
disesalkan? Biarlah saya mengubur mayat-mayat ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim-sim Yok-ong menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang, “Bukan itu yang
menyusahkan hatiku, orang muda. Kau tidak mengerti, apa kehendak dua orang aneh itu dengan
perbuatan mereka?”
“Apa lagi kalau tidak hendak menguji kepandaian Locianpwe? Kalau memang mereka itu orang-orang yang
mempunyai sedikit saja peri-kemanusiaan, tentu mereka akan menyesali perbuatan mereka dan akan
mengakui keunggulan Locianpwe dalam hal melawan dan memunahkan akibat pukulan-pukulan beracun
mereka!”
“Bukan..., bukan demikian. Ketahuilah, Kim-siauw-eng, mereka itu sengaja melakukan bermacam-macam
pukulan dengan penggunaan racun yang berbahaya, tak lain hendak mempelajari caraku memberi obat.
Mereka memaksaku mengeluarkan ilmu pengobatan dan agaknya mereka memang sengaja hendak
mempelajarinya. Ilmu pengobatan memang amat baik dan boleh saja diketahui semua orang, akan tetapi
kurasa bukan dengan niat baik kedua orang itu mempelajarinya, buktinya cara mereka mempelajari sudah
cukup ganas dan keji. Aku khawatir sekali....”
“Siapakah iblis-iblis itu?” Tan Lian berseru. “Kalau sudah pulih kembali kesehatanku, akan kucari mereka
dan kuajak mereka bertanding. Membasmi mereka atau mati di tangan mereka merupakan tugas seorang
yang menjunjung kegagahan!”
Suling Emas memandang kagum dan kakek itu menghela napas. “Nona, bukan sekali-kali aku memandang
rendah kepadamu. Akan tetapi kepandaian dua orang itu, biar pun Thian-te Liok-koai sendiri belum tentu
dapat menandinginya!”
Suling Emas kaget. Ia harus percaya omongan tabib dewa ini yang tentu dapat menilai kepandaian orang
melihat akibat pukulan-pukulannya. Diam-diam ia bergidik dan makin kuat niatnya untuk menggempur dua
orang kakek itu.
“Biarlah saya mengubur mayat-mayat ini dan setelah itu, aku akan mencari mereka berdua untuk minta
pertanggungan jawab mereka!”
Dengan dibantu oleh Tan Lian, Suling Emas mengubur delapan mayat itu disaksikan oleh Kim-sim Yok-ong
yang merasa prihatin sekali. Baru kali ini selama ia mendapat julukan Raja Obat, ia gagal menyembuhkan
delapan orang yang meninggal dunia di depan matanya. Ia merasa terhina sekali.
Setelah delapan buah mayat itu dimasukkan lubang di tanah dan mereka mulai menguruk dengan tanah,
tiba-tiba terdengar suara ketawa dari arah barat, suara ketawa kakek merah bersama suara ejekan kakek
putih yang sudah dikenal baik oleh Suling Emas.
“Huah-hah-hah, kiranya hanya begini saja kepandaian si Raja Obat!” terdengar suara kakek merah.
“Kau tidak patut dan tidak berhak menggunakan sebutan Yok-ong (Raja Obat) lagi!” seru suara kakek
putih.
“Locianpwe, biarkan saya memberi hajaran kepada mereka!” Suling Emas berseru marah, dan hendak lari
ke barat dari mana suara-suara itu datang. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang orang. Ia menoleh
dan ternyata Tan Lian yang memegang tangannya, wajah gadis itu pucat dan memandang dengan penuh
kekhawatiran.
“Ada apa, Nona Tan?” tanya Suling Emas merasa terganggu.
Merah wajah Tan Lian dan gadis ini segera melepaskan pegangannya. “Tidak apa-apa, hanya... mereka itu
benar-benar sakti, mari kubantu engkau....”
“Terima kasih. Tidak perlu, karena kau sendiri masih belum boleh mengeluarkan tenaga, harus beristirahat
sampai sembuh.” Suling Emas lalu berkelebat dan lari untuk mencari dua orang kakek iblis itu.
“Kau... berhati-hatilah...!” seru Tan Lian dan sampai lama gadis ini berdiri bengong memandang ke arah
barat, ke arah perginya pendekar yang sudah menundukkan hatinya itu. Sampai lama ia berdiri seperti
patung, tidak tahu bahwa pekerjaan menguruk kuburan masih menanti dan juga bahwa si kakek tabib
memandanginya dengan tarikan napas panjang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Anak yang baik, mayat-mayat itu menunggu untuk diuruk selekasnya!” Tiba-tiba tabib itu berkata.
Sadarlah Tan Lian dari lamunannya dan segera ia mengerjakan tanah galian untuk menguruk lubanglubang
kuburan itu bersama Kim-sim Yok-ong. Kemudian tabib itu mengajak Tan Lian ke pondok dan
mereka membersihkan pondok dari darah yang berceceran. Kim-sim Yok-ong menyiram-nyiramkan obat
pemunah hawa beracun dan membakar akar wangi, kemudian ia memanggil gadis itu untuk duduk di
depannya.
“Tak usah kau merasa khawatir. Biar pun kedua orang iblis itu lihai sekali, namun biar pun masih muda
Suling Emas adalah seorang pendekar yang sakti dan waspada. Kurasa tidak akan mudah mencelakakan
Suling Emas,” kata kakek itu dengan suara menghibur.
“Mudah-mudahan begitulah, Locianpwe,” jawab Tan Lian yang kemudian menjatuhkan dirinya berlutut di
depan kakek itu. “Saya berhutang nyawa kepada Locianpwe, apa bila dalam hidup ini saya tidak mampu
membalas, biarlah dalam penjelmaan lain saya akan menjadi binatang peliharaan Locianpwe untuk
membalas budi.” Dan tiba-tiba dengan sedih nona ini menangis.
Kim-sim Yok-ong tertawa, mengelus-elus jenggotnya dan membangunkan gadis itu. “Jangan begitu, kau
duduklah. Jangan kau ikat aku dengan belenggu karma. Semua yang kulakukan bukanlah untuk menanam
budi, juga bukan bermaksud menolong, melainkan karena sudah menjadi kewajibanku. Anak yang baik,
kalau orang sudah setua aku ini, seharusnya melakukan segala sesuatu tanpa pamrih, hanya berdasarkan
kewajiban dan sebagai pujaan kepada kebesaran Thian. Nona, kau telah terpukul oleh seorang yang
memiliki pukulan dasar dari ilmu silat Beng-kauw, pukulan dahsyat dan yang tadinya kuanggap hanya
mampu dilakukan oleh Pat-jiu Sin-ong seorang. Siapakah yang memukulmu dan mengapa? Bagaimana
pula Suling Emas yang membawamu ke sini? Kalau kau tidak keberatan, harap kau ceritakan kepadaku
karena aku merasa kasihan kepadamu dan ingin memberi sekedar nasehat.”
Makin sedih tangis Tan Lian mendengar pertanyaan ini. Ia hidup sebatang-kara, selama ini tidak ada orang
lain yang memperhatikan nasibnya kecuali, tentu saja, Thio San. Thio San adalah seorang pemuda,
tunangannya sejak kecil. Akan tetapi ia telah menyia-nyiakan pertunangannya dengan Thio San dan selalu
menghindari pemuda itu karena besarnya tekad dan cita-citanya selama ini untuk membalas dendam.
Selain ini, di lubuk hatinya, ia pun tidak puas dengan tunangan ini, tunangan yang dipilih ayahnya
semenjak ia masih kecil karena Thio San adalah putera sahabat baik ayahnya.
Ia tidak puas karena Thio San, sungguh pun merupakan seorang pemuda yang tampan dan baik, dan yang
ternyata amat setia dan amat mencintanya pula, hanya seorang pemuda terpelajar yang lebih tekun
mempelajari kesusastraan sehingga dalam pandangannya Thio San adalah seorang pemuda lemah yang
tidak mengerti ilmu silat. Tidak sesuai dengan keadaannya sendiri sebagai puteri mendiang Hui-kiam-eng
Tan Hui yang terkenal sebagai seorang pendekar besar.
“Locianpwe, banyak terima kasih atas perhatian Locianpwe terhadap diri saya yang bernasib malang ini.
Sesungguhnya secara terus terang saya mengakui bahwa yang memukul saya adalah adik tiri Suling
Emas, sedangkan Suling Emas adalah... adalah musuh besar saya.”
“Apa? Musuh besarmu? Akan tetapi dengan susah payah dia membawamu ke sini!”
“Itulah yang memberatkan hati saya, Locianpwe, dan saya mohon petunjuk. Sebetulnya bukan dia musuh
saya, melainkan ibunya, Tok-siauw-kui yang sudah membunuh ayah saya.”
“Siapakah ayahmu?”
“Mendiang ayah adalah Hui-kiam-eng Tan Hui...”
“Ahhh...! Tentu saja aku kenal dia. Lalu bagaimana? Teruskanlah dan jangan ragu-ragu, mendiang ayahmu
dahulu adalah sahabat baikku, dia seorang pendekar besar.”
Mendengar ini, makin deras air mata mengucur keluar dari sepasang mata gadis itu. Setelah dapat
meredakan tangisnya ia menyambung ceritanya, “Kematian ayah membuat saya menjadi seorang yang
hidup sebatang-kara, tidak ada cita-cita lain di hati kecuali mencari Tok-siauw-kui dan membalas dendam.
Akan tetapi karena Tok-siauw-kui amat lihai sehingga ayah sendiri kalah olehnya, saya melewatkan waktu
sampai belasan tahun untuk memperdalam ilmu silat. Akan tetapi, Locianpwe, alangkah malang nasib
dunia-kangouw.blogspot.com
saya. Begitu saya merasa bahwa sudah tiba saatnya saya pergi mencari Tok-siauw-kui yang kabarnya
berada di Nan-cao, bersembunyi di sana dan saya segera berangkat, di tengah jalan saya mendengar
berita bahwa Tok-siauw-kui baru saja tewas! Ah, hancur hati saya karena saya tidak berhasil membalas
dendam....” Tan Lian berhenti sejenak, mengambil napas panjang baru kemudian melanjutkan.
“Akan tetapi, kemudian saya mendengar dari It-gan Kai-ong bahwa Tok-siauw-kwi adalah ibu dari Suling
Emas. Tentu saja saya ikut bersama tokoh-tokoh kang-ouw lain untuk membalaskan sakit hati itu kepada
putera musuh besar saya. Kembali saya kecewa, Locianpwe, karena... karena... saya tidak mampu
mengalahkan Suling Emas, malah... malah... ketika saya bersumpah di depan makam ayah untuk
membalaskan dendam itu kepada isteri dan anak-anak Suling Emas, saya dipukul roboh oleh adik tirinya
dan... dia malah menolong saya....” Gadis itu kembali menangis sedih.
“Hemmm... hemmm... tidak hanya kau kalah oleh Suling Emas, malah hatimu pun roboh oleh asmara. Kau
mencinta Suling Emas?”
Seketika berhenti tangis Tan Lian dan ia melonjak kaget, memandang kakek itu dengan muka pucat dan
mata terbelalak. Kakek itu tetap tersenyum sabar.
“Bagaimana... bagaimana... Locianpwe bisa tahu...?” Akhirnya Tan Lian bertanya dengan suara gagap.
Senyum kakek itu melebar, “Aku pernah muda, anak baik, dan sudah banyak kusaksikan di dunia ini.
Sudah banyak dongeng dan peristiwa terjadi karena cinta. Kalau tidak karena cinta, agaknya tidak akan
terjadi urusanmu dengan Suling Emas, tidak akan terjadi permusuhan yang terpendam di hatimu. Ayahmu
pun menjadi korban cinta. Karena itu, kau percayalah kepadaku, anak baik. Buang jauh-jauh perasaan itu
karena kulihat bahwa kau berbakat untuk menjadi muridku. Tadinya aku tidak ada niat memiliki murid, akan
tetapi setelah dua iblis itu mengakaliku dan mencuri banyak pengetahuanku, aku harus menurunkan
kepandaianku. Kaulah yang cocok untuk menjadi muridku, tidak saja kau berbakat, akan tetapi kau pun
anak sahabatku.”
Tan Lian menjatuhkan diri lagi berlutut di depan kakek itu. “Ohhh, Locianpwe, saya merasa seakan-akan
bertemu dengan ayah saya. Locianpwe, tolonglah saya. Saya sudah bersumpah hendak membunuh isteri
dan anak-anak Suling Emas, akan tetapi... dia tidak punya isteri dan... dan memang betul saya jatuh cinta
kepadanya. Locianpwe, sudilah Locianpwe menolong saya, mewakili orang tua saya yang sudah tiada,
harap suka usahakan perjodohan saya dengan Suling Emas. Kalau hal ini tidak terjadi, saya merasa sia-sia
hidup di dunia, dendam ayah tak terbalas, hasrat hati hendak memunahkan dendam dengan ikatan jodoh
tak tercapai....”
Kakek itu termenung sejenak. “Suling Emas termasuk seorang di antara tokoh-tokoh aneh di dunia ini. Aku
khawatir kalau-kalau maksud hatimu akan gagal, Nak. Mengapa tidak kau batalkan saja dan hidup
mencapai kebahagiaan penuh damai dari pada kesunyian seperti aku? Aku tanggung bahwa kebahagiaan
itu akan jauh lebih sempurna dari pada kebahagiaan duniawi.”
“Cobalah dulu, Locianpwe. Belum tentu dia tidak setuju, agaknya... agaknya dia pun bukan tak suka
kepada saya...”
Akhirnya kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas. “Baiklah... baiklah, akan tetapi jangan kau
lalu membunuh diri kalau dia menolak. Berjanjilah dulu, tanpa janjimu aku takkan mau menerima
permintaanmu.”
“Saya berjanji takkan membunuh diri kalau... dia menolak.”
“Dan akan suka menjadi muridku,” sambung kakek itu.
“... dan akan suka menjadi murid Locianpwe....”
“Bagus!” Kakek itu tampak girang, “Nah, kau beristirahatlah, kita menanti sampai dia kembali.”
Akan tetapi pada saat itu di luar pondok terdengar langkah kaki orang. Tergopoh-gopoh Tan Lian berlari
ketuar, hatinya sudah tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Suling Emas. Ia harus cepat melihat
dengan mata sendiri bahwa pendekar itu kembali dalam keadaan selamat. Ketika ia melangkah ke luar dari
pintu pondok, tiba-tiba ia tercengang dan berdiri seperti patung, memandang laki-laki muda yang berdiri di
pekarangan rumah itu dengan mata terbelalak. Pemuda itu, yang berpakaian sederhana seperti seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
pelajar, kelihatan lelah sekali, berwajah tampan dan keningnya lebar, juga memandang kepadanya, mata
yang sayu kelelahan itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri.
“Lian-moi (Adik Lian)...!” Akhirnya ia berseru dan tersaruk-saruk ia melangkah maju.
“Kau...? Kenapa kau datang ke sini?”
“Kenapa? Lian-moi, tentu saja hendak mencarimu, menyusulmu! Lian-moi, hampir gila aku mencarimu,
mengikuti jejakmu. Lian-moi, mengapa kau di sini dan dengan siapakah kau....” Orang muda yang bukan
lain adalah Thio San itu tiba-tiba berhenti karena melihat munculnya seorang kakek yang bersikap tenang
dan bermata tajam muncul di pintu, di belakang tunangannya.
“Thio San! Sudah berapa kali kujelaskan kepadamu bahwa di antara kita sudah tidak ada ikatan dan tidak
ada urusan apa-apa lagi. Kenapa kau begini tak tahu malu dan masih berani menyusulku dan mengikutiku
selalu? Pergilah!”
“Tapi....”
“Pergilah, sebelum aku habis sabar dan terpaksa bertindak kasar!”
“Tapi, Lian-moi, kita bertunangan....”
“Hemmm, kalau tidak ingat akan hubungan itu, sudah dulu-dulu aku mengenyahkanmu dengan kekerasan.
Thio San, sejak dua belas tahun yang lalu, di depan engkau dan orang tuamu, bukankah aku sudah
menyatakan pembatalan ikatan itu? Bukankah sudah kujelaskan secara terang-terangan apa yang menjadi
sebabnya? Thio San, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah, cukup, kau pergilah!” Karena hampir
tidak kuat menahan air matanya, Tan Lian lalu membalikkan tubuhnya dan lari memasuki pondok.
Pemuda itu berdiri dengan muka pucat, sinar matanya menjadi makin sayu, wajahnya makin muram,
tubuhnya bergoyang-goyang seperti sebatang pohon terlanda angin, agaknya ia mengerahkan seluruh
tenaganya agar tidak roboh.
“Orang muda,” Kim-sim Yok-ong berkata, suaranya halus menghibur. “Aku tidak berhak mencampuri
urusanmu, akan tetapi biarlah kuperingatkan kau bahwa perjodohan yang dipaksakan oleh sepihak takkan
membentuk rumah tangga yang berbahagia. Syarat utama perjodohan adalah kesediaan, kerelaan dan
cinta kasih kedua pihak. Karena itu, seorang laki-laki harus dapat menguatkan hati dan rela berkorban
perasaan demi mencegah dirinya sendiri terperosok ke dalam neraka rumah tangga yang tidak bahagia.”
Suara orang lain yang memasuki telinganya menyadarkan pemuda itu dari keadaan yang memelas
(menimbulkan iba) itu. Ia mengangkat dadanya dan menegakkan kepalanya, memandang tajam kepada
kakek itu ketika menjawab.
“Orang tua, aku tidak mengenal siapakah engkau, akan tetapi karena ucapanmu bermaksud baik, aku
berterima kasih sekali kepadamu. Namun, kalau aku harus membenarkan pendapatmu itu, lalu ke mana
nanti perginya kesetiaan dan kebaktian? Jodoh yang sudah dipilihkan orang tua semenjak kecil, harus
diterima dengan rela, itu bakti namanya! Satu kali orang bertunangan, harus ditunggu sampai mati, itu setia
namanya! Betapa pun juga, kau betul, orang tua. Dia tidak suka kepadaku dan aku tidak dapat
memaksanya. Dia seorang ahli silat yang lihai, hatinya penuh dendam yang belum terbalaskan, hidupnya
bagaikan seekor naga yang melayang-layang di angkasa dengan bebas beterbangan di antara awan dan
petir! Sedangkan aku... aku....”
“Dan kau seorang muda yang penuh filsafat, yang mabuk akan ujar-ujar kuno, yang hidup menurunkan
garis-garis dalam kitab, yang buta akan kenyataan bahwa betapa pun mengecewakannya, manusia yang
belum mau melepaskan diri dari kehidupan ramai, berarti belum mungkin terlepas dari pada nafsu-nafsu
duniawi! Kau tidak mau mengerti bahwa orang seperti Tan Lian hanya tunduk kepada nafsu yang
menguasai hatinya, sebaliknya kau hanya tunduk kepada peraturan tanpa mau menjenguk keadaan orang
lain. Orang muda, aku kasihan kepadamu. Kau seorang yang baik, berbakti dan setia, akan tetapi kau
lemah! Bukan lemah jasmani saja, juga lemah batinmu karena kau malu akan kenyataan bahwa juga
engkau telah dikuasai nafsu yang mendorong cinta nafsumu terhadap Tan Lian, akan tetapi kau tidak
berterus terang, malah kau hendak menutupi cintamu dengan dalih setia dan berbakti! Sayang....”
Tiba-tiba dua titik air mata membasahi pipi pemuda itu yang menundukkan mukanya dan berkata, “Orang
dunia-kangouw.blogspot.com
tua, kau betul. Aku cinta padanya, tapi dia menolakku. Namun, aku akan menanti dengan sabar, seperti
yang sudah kulakukan belasan tahun lamanya, karena kulihat dia masih sendiri. Kalau dia sudah
bersuamikan orang lain, barulah aku akan mundur. Maafkan aku, orang tua.” Setelah berkata demikian,
pemuda itu menjura dan membalikkan tubuh, lalu berjalan dengan langkah-langkah gontai meninggalkan
pondok.
Sampai lama Kim-sim Yok-ong berdiri memandang dari depan pintu pondoknya sambil menggoyanggoyang
kepala dan menghela napas. “Sampai sekarang, entah sudah berapa juta orang muda menjadi
korban penyakit asmara ini. Sungguh memalukan, aku yang berjuluk Yok-ong belum juga dapat
menemukan obatnya!” Sambil menggeleng-geleng kepala ia memasuki pondoknya dan melihat Tan Lian
menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangan, kakek ini tidak mau bertanya-tanya
lagi. Ia maklum bahwa gadis ini tentu merasa menyesal, berduka, dan malu karena urusan pribadinya telah
terdengar orang lain.
“Locianpwe..., aku... aku malu sekali. Ah, Locianpwe tentu akan memandang rendah kepadaku... seorang
gadis yang sudah ditunangkan sejak kecil akan tetapi berani minta tolong kepada Locianpwe untuk
menguruskan perjodohan dengan pria lain...! Kalau Locianpwe merasa bahwa aku terlalu hina dan rendah,
biarlah aku pergi dari sini dan tidak berani mengganggumu lagi....”
“Hemmm, aku tahu keadaan hatimu, Nak, dan tidak biasanya aku mencampuri urusan pribadi orang lain.
Aku tidak memandang rendah dan aku tetap akan memegang janjiku.” Mendengar ucapan ini, Tan Lian
berlutut dan merangkul kaki Yok-ong sambil menangis.
********************
Dengan gerakan yang cepat sekali sehingga dari jauh terlihat bagaikan terbang saja, pendekar sakti Suling
Emas lari mendaki puncak Thai-san. Ia sengaja mencari tempat-tempat tinggi, bahkan kadang-kadang ia
meloncat naik ke atas pohon untuk melihat keadaan sekitar pegunungan itu dalam usahanya mencari jejak
dua orang iblis tua yang telah mengacau pondok Kim-sim Yok-ong. Namun sudah sehari semalam ia
mencari, hasilnya sia-sia belaka.
Pada harti kedua, pagi-pagi sekali ia sudah tiba di puncak paling tinggi dan selagi ia meneliti keadaan
sekelilingnya, tiba-tiba ia mendengar tetabuhan khim yang nyaring, merdu dan halus. Sejenak kagetlah
Suling Emas karena ingatannya melayang-layang, mengira bahwa Bu Kek Siansu berada di tempat ini.
Akan tetapi ketika ia memperhatikan, ia segera mengerutkan keningnya. Suara alat musik yang-khim yang
ditabuh ini, sungguh pun cukup nyaring dan merdu, namun memiliki gaya yang liar dan iramanya
merangsang. Betapa pun juga harus ia akui bahwa tenaga yang keluar dari suara khim ini cukup hebat,
menimbulkan rangsang yang mendebarkan jantung dan bagi orang yang kurang kuat tenaga batinnya,
tentu akan roboh di bawah pengaruh suara itu.
Kemudian Suling Emas tersenyum dan teringatlah ia akan Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te
Liok-koai yang dapat mainkan yang-khim seganas ini. Ia ingat bahwa dahulu wanita iblis ini telah
merampas alat musik yang-khim dari tangan Bu Kek Siansu dan agaknya ia telah mempelajari alat musik
itu, disesuaikan dengan ilmu untuk menyerang orang, baik melalui suara yang-khim mau pun dengan cara
mempergunakan alat musik itu sebagai senjata.
Diam-diam Suling Emas menghitung-hitung dan memang hari itu sudah tiba saatnya perjanjian para
anggota Thian-te Liok-koai mengadakan pertemuan untuk mengadu ilmu di puncak Thai-san. Karena suara
yang-khim dari Siang-mou Sin-ni itu merupakan panggilan atau tantangan, untuk sementara Suling Emas
menunda urusannya mencari dua orang asing dan kini ia mencabut sulingnya, meniup dan melagukannya
sambil melangkah lebar ke arah datangnya suara.
Sungguh ajaib suara yang terdengar di hutan-hutan gunung Thai-san pada saat itu. Kalau ada orang
mendengar suara ini tentu akan mengira bahwa suara itu bukan sewajarnya, mungkin para iblis hutan
sedang berpesta. Suara suling mengalun, bergelombang turun naik mengelus perasaan, menyegarkan
akan tetapi juga memabukkan karena memiliki daya seret yang menghanyutkan. Suara ini mengiringi atau
diiringi suara berkencringnya yang-khim yang diseling dengan ‘melody’ yang jelas satu-satu dan nyaring,
namun bukan main hebatnya suara ini karena setiap bunyi denting dari sehelai kawat yang disentil jari,
cukup kuat daya serangnya untuk membuat jantung lawan putus! Perpaduan suara musik yang aneh dan
bergema di seluruh hutan, menari-nari di puncak pohon, bahkan menembus dasar jurang yang paling
dalam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertandingan jarak jauh yang dilakukan dengan ‘suara’ itu benar-benar amat menarik. Kini Suling Emas
tidak melangkah lagi, melainkan berhenti dan berdiri tegak. Mukanya agak merah dan dari belakang
kepalanya tampak uap putih tipis. Ini menandakan bahwa Siang-mou Sin-ni sudah memperoleh kemajuan
pesat sehingga untuk menghadapi suara yang-khim itu, Suling Emas tak boleh bersikap sembarangan dan
harus pula mencurahkan perhatian dan mengerahkan tenaga sinkang.
Akan tetapi, begitu pendekar sakti ini memusatkan tenaganya, suara yang-khim makin menjadi lemah
seakan-akan terdesak suara suling yang makin melengking tinggi itu. Anehnya, daun-daun pohon yang
masih hijau segar, yang tumbuh di atas kepala dan di dekat Suling Emas meniup sulingnya, tiba-tiba rontok
satu demi satu, melayang-layang ke bawah dengan gerakan aneh dan lucu seakan-akan daun-daun itu
menari-nari mengikuti bunyi irama suling!
Akhirnya suara yang-khim itu berhenti dan terdengar keluhan, lalu disusul suara Siang-mou Sin-ni dari
jauh. Suara itu terdengar lamat-lamat akan tetapi cukup jelas. “Suling Emas, saat mengadu kepandaian
adalah malam nanti, kalau bulan sudah muncul. Aku hanya main-main, kenapa kau sungguh-sungguh?”
Suling Emas juga menghentikan tiupan sulingnya dan ia menarik napas panjang lalu tersenyum. Kata-kata
itu tak perlu dia menjawabnya. Ia tahu bahwa untuk menghadapi malam pertemuan bulan lima tanggal lima
belas, yaitu malam nanti di mana akan diadakan pertandingan untuk menentukan tingkat masing-masing,
Siang-mou Sin-ni berusaha untuk ‘mengukur keadaannya’ dengan suara yang-khim tadi. Dan menurut
pendapatnya bahwa biar pun ia tidak kalah oleh Siang-mou Sin-ni dalam penggunaan sinkang di dalam
suara, namun kemajuan wanita iblis itu tak boleh dipandang ringan begitu saja dan malam nanti akan
merupakan lawan yang tangguh.
Setelah Siang-mou Sin-ni pergi, Suling
Emas teringat kembali akan dua orang kakek yang dicarinya. Ia
lalu melanjutkan usahanya mencari jejak kedua orang itu.
“Dua Locianpwe yang muncul di pondok Kim-sim Yok-ong, silakan keluar, saya mau bicara!” Demikianlah
berkali-kali ia berteriak dengan pengerahan khikang-nya sehingga suaranya bergema sampai jauh. Namun
hasilnya sia-sia, tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri.
Ia melangkah terus dan tiba di sebuah puncak lain. Di sini ia pun berdiri dan meneriakkan panggilannya
seperti tadi. Oleh karena suaranya memang keras, apa lagi dengan pengerahan khikang, suara itu
bergema dan burung-burung yang tadinya enak-enak hinggap dan mengaso di atas cabang-cabang pohon,
berlindung dari panasnya matahari di antara daun-daun, menjadi kaget dan beterbangan sambil bercuwitcuwit.
Sekelompok burung yang kebetulan berada di pohon dekat Suling Emas berdiri, kaget dan kelepak
sayapnya terdengar gaduh. Suling Emas mengangkat muka memandang sambil tertawa.
Akan tetapi suara ketawanya terhenti ketika ia melihat sinar hitam seperti asap menyambar ke atas dan
burung-burung yang jumlahnya belasan ekor itu runtuh ke bawah dan berjatuhan di depan kaki Suling
Emas. Ketika ia memandang teliti, ternyata burung itu semua telah mati dan kulit mereka berubah menjadi
hitam sedangkan bulu-bulunya rontok! Tahulah ia bahwa bukan hanya Siang-mou Sin-ni saja yang sudah
hadir di Thai-san, dan agaknya para anggota Thian-te Liok-koai mulai mendemonstrasikan kelihaiannya.
“Hek-giam-lo iblis keji. Tak perlu kau memperlihatkan kekejamanmu di hadapanku, kalau kau mau mulai
bertanding, keluarlah!”
Tidak ada jawaban kecuali suara dengus mengejek yang disusul oleh sambaran sinar hitam yang cepat
bagaikan kilat gerakannya. Diam-diam Suling Emas kagum dan mengerti bahwa kepandaian Hek-giam-lo
dalam hal melepas senjata rahasia Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam) telah maju dan jauh lebih
berbahaya dari pada dahulu ketika pertandingan di puncak Thai-san ini (baca jilid pertama).
Karena ini Suling Emas tidak mau memandang rendah. Cepat tangannya sudah mencabut ke luar kipas
birunya dan dengan gerakan yang diisi lweekang sepenuhnya ia mengibas ke depan. Runtuhlah jarumjarum
hitam itu, semua lenyap ke dalam tanah. Akan tetapi sinar hitam kedua menyusul, malah lebih besar
dan lebih kuat. Ketika Suling Emas mengibaskan kipasnya lagi, sinar itu membalik, tapi hanya kurang lebih
dua meter, lalu terdorong maju lagi, mendesak terus, bahkan kini mulai berpencar menjadi tiga bagian yang
menerjang tubuh Suling Emas dari atas, tengah, dan bawah!
Suling Emas terkejut karena pada saat itu, di belakang sinar hitam yang sudah pecah menjadi tiga bagian
tampak belasan sinar berkilauan menyambar pula ke depan. Itulah barisan hui-to (golok terbang), senjata
rahasia dari Hek-giam-lo yang ampuh sekali di samping senjata rahasia jarum-jarum beracunnya. Dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
cara luar biasa sekali, iblis hitam itu dapat menyambitkan tiga belas batang golok kecil (belati) sekaligus
dan tiga belas batang pisau terbang itu secara tepat mengancam tiga belas bagian tubuh yang
kesemuanya mematikan!
“Hek-giam-lo, terlalu kau!” seru Suling Emas dengan marah.
Tangan kanannya sudah mencabut sulingnya dan bagaikan terbang tubuhnya sudah mencelat ke atas.
Ketika sinar-sinar hitam itu mengejar, ia mengibaskan kipasnya dan berbareng ia memutar sulingnya
merupakan lingkaran besar di depan tubuhnya. Ketika belasan pisau terbang itu tiba, pisau-pisau itu
‘tertangkap’ oleh lingkaran sinar suling, terus ikut berputar-putar merupakan bundaran sinar berkilauan
yang indah sekali.
“Terimalah kembali!” bentak Suling Emas yang sudah turun ke bawah. Sulingnya digerakkan seperti
mendorong dan tiga belas batang pisau terbang yang tadinya beterbangan memutar-mutar di depan Suling
Emas, kini seperti belasan ekor burung terbang kembali ke sarangnya!
Seperti juga Siang-mou Sin-ni, tahu-tahu terdengar suara Hek-giam-lo dari jauh, “Malam nanti kita
bertanding!”
Suling Emas mendongkol sekali, akan tetapi ia tidak mau mengejar karena memang saat yang dijanjikan
adalah malam nanti kalau bulan purnama sudah muncul menyinari bumi. Ia berjalan terus mencari dua
orang kakek sakti yang aneh dan kejam. Diam-diam ia merasa khawatir juga. Dari peristiwa tadi ia
mendapat kenyataan bahwa Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo sudah memperoleh kemajuan pesat dan
jauh lebih berbahaya dari pada dahulu. Tentu iblis-iblis yang lain, It-gan Kai-ong dan kakak beradik Toatbeng
Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong juga telah memperdalam ilmu-ilmu mereka. Dia tidak gentar
menghadapi mereka, akan tetapi siapa tahu, kalau dua orang kakek asing yang baru muncul mengacau di
pondok Kim-sim Yok-ong itu membantu para iblis, sukarlah untuk mencapai kemenangan.
“Aku harus menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te Liok-koai,”
pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari. Hari telah menjelang senja ketika ia makin
mendekati puncak di mana pertandingan antara Thian-te Liok-koai akan diadakan.
Makin tinggi orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara. Suling Emas juga sudah mulai merasa
dingin, apa lagi menjelang senja itu, puncak Thai-san diliputi hailmun yang cukup tebal. Ketika ia memasuki
sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan banyak pohon tumbang, malah ia
lalu terpaksa berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang pohon
yang beterbangan ke arahnya!
Suling Emas cepat menyelinap sambil meloncat ke sana-sini, kemudian tahulah ia bahwa yang ‘main-main’
dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong! Agaknya mereka berdua
juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa dan semua batang pohon dan batu-batu besar yang
mereka permainkan itu kini menimpa ke arah Suling Emas! Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan
kegesitannya.
Biar pun ada ‘hujan’ pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyelinap dan mengelak ke
sana-sini. Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya saja tak pernah tergores cabang
pohon yang menimpanya bertubi-tubi.
“Dua iblis liar, beginikah cara kalian menandingiku?” Suling Emas membentak dan sudah siap untuk balas
menyerang. Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau
mengejar mereka. Ia melanjutkan perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan
hawa udara makin dingin.
Puncak tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya. Ia sudah mulai putus asa untuk bisa
mendapatkan dua orang kakek aneh itu karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari mereka. Ia
harus pergi ke puncak untuk menemui dan menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu
kandungnya yang dulu ditantang oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia melihat
pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari sumbernya.
Dua orang kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata tanpa diduga-duga kini berada di
depannya! Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai, tenggelam sampai sebatas lehernya. Bukan
main! Hawa udara begitu dinginnya menyusup tulang, dan air sungai itu pun dinginnya melebihi salju, akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi kakek ini duduk bersila merendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah sedang semedhi
dengan tenangnya! Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau bersemedhi karena mulutnya mengomel
panjang pendek, “Wah, panasnya, tak enak, sialan benar!” Hawa udara begitu dingin, berendam di air
gunung lagi, masih mengeluh kepanasan!
Ada pun kakek merah tidak kalah anehnya. Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di atas tanah,
dikelilingi api unggun yang menyala besar. Jarak antara tubuh kakek itu dengan api yang mengelilinginya
kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya yang sudah merah itu menjadi makin merah. Di depannya
terdapat sebuah periuk terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih. Dapat dibayangkan betapa
panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah menggigil kedinginan dan kedua
tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air
panas itu ke mukanya. “Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu... dingin...!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil