Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 22 Mei 2017

Cinta bERNODA dARAH 6 Tamat Cerita Silat Kho Ping Hoo

Cinta bERNODA dARAH 6 Cerita Silat Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cinta bERNODA dARAH 6 Cerita Silat Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
Cinta bERNODA dARAH 6 Cerita Silat Kho Ping Hoo
Alangkah sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas. Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini memang
sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk memamerkan kepandaian mereka. Memang harus diakui bahwa
demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sinkang mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal
akan rasa panas mau pun dingin. Perbuatan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang
memiliki kesaktian, yang tenaga sinkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi sungguh suatu
cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau kepandaian seperti ini dibuat pamer, apa
lagi terhadap dia!
Karena merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian kepadanya maka terpaksa
Suling Emas harus melayani mereka. Ia mendekati kakek putih yang berendam di dalam air sebatas leher
itu. “Ah, Locianpwe, memang kau benar, hawanya amat panas, membuat orang ingin mandi terus. Akan
tetapi aku tidak ada kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku!” Setelah berkata demikian, Suling
Emas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya dari dalam air sampai lama
sekali!
Biar pun perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang setingkat kalau
dibandingkan dengan kakek putih yang biar pun tubuhnya terendam air, akan tetapi hanya sebatas leher,
kepalanya tidak. Dan merendamkan kepala ke dalam air sedingin itu, apa lagi sampai lama sekali, tentu
lebih sukar dari pada merendam tubuh saja.
Ketika mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya. Ia maklum bahwa
pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan terancam bahaya luka di
dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelombang itu. Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air
yang tingginya hanya sebatas pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu memandang
dengan mata marah.
Akan tetapi Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan segera menghapus muka dan kepalanya yang
basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api unggun dan main-main air mendidih.
“Kau kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api unggun!”
Sambil berkata demikian Suling Emas menghampiri api dan memasukkan kedua tangannya ke dalam api
yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu bernyala menjilat leher dan mukanya!
“Bocah sombong! Berani kau memamerkan kepandaian kepada kami?!” Kakek putih membentak marah
dari dalam sungai.
“Huah-hah-hah, orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang
kami?”
“Ji-wi Locianpwe, aku hanya mengimbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud pamer. Aku bukan
penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian ganggu dengan cara keji melukai banyak
orang.”
“Huah-hah-hah, ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan
mereka?” kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun.
“Kailan dua orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan pembunuhan keji
hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya orang-orang itu dan apa pula
kesalahan Yok-ong yang selalu menolong orang tanpa pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw
dunia-kangouw.blogspot.com
ini yang tidak menaruh sayang dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah
mempermainkannya.”
“Heh, bocah lancang! Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?” bentak si kakek putih.
“Ha-hah, apa peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?” kata pula kakek
merah. “Kau siapakah, bocah lancang?”
“Orang mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas!”
“Suling Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh tahun,
masih bocah! Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu mengenal kami. Akan tetapi kalau
kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong (Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek
Sian-ong (Dewa Kutub Utara)! Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus!” Si
kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan... bagaikan bintang-bintang
beterbangan, lidah-lidah api itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas!
Suling Emas kaget sekali. Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi hanyalah
demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah kepadanya. Akan tetapi serangan
yang dilakukannya kali ini, benar-benar hebat luar biasa, merupakan ‘pukulan berapi’ yang luar biasa,
mengandung sifat panas melebihi api sendiri. Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan
mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas menggunakan
kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari.
Api menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang didorong oleh tenaga pukulan jarak jauh.
Begitu terkena dikebut, arahnya menyeleweng dan karena kakek itu terus melakukan pukulan sedangkan
Suling Emas terus mengibas sambil mengelak, tampaklah pemandangan yang indah. Api-api itu
beterbangan, merah menyala dan padam apa bila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang
dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi!
“Serahkan dia padaku!” seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang sinar-sinar putih
berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa dingin yang menembus kulit menyelinap ke
tulang-tulang.
Kagetlah ia dan maklum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti. Inti tenaga Im yang dimiliki kakek itu
sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air sungai dikepal menjadi salju atau es dan
dilontarkan merupakan peluru-peluru yang mengandung hawa pukulan dingin mematikan! Seperti juga
serangan api tadi, kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan tenaga,
maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan es itu. Sebentar saja Suling
Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan api dari kanan, sulingnya menangkis hujan peluru es
dari kiri!
Ada pun kedua orang kakek itu agaknya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau menggunakan cara
lain untuk menyerang. Berkali-kali terdengar mereka berseru kaget dan kagum. “Aneh, dia dapat bertahan!”
disusul seruan-seruan tak percaya, “Masa semua tidak mengenai sasaran?”
Agaknya karena penasaran inilah mereka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan Suling Emas terusmenerus
menangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan diri tanpa mampu balas menyerang.
Namun ginkang-nya memang sudah hebat dan gerakan kaki tangannya sudah sempurna, maka biar pun
dihujani api dan es dari kanan kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri. Sementara itu, senja
sudah mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya. Bulan bundar dan penuh, kebetulan
tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka keadaan menjadi terang benderang.
“Suling Emas...! Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?” terdengar teriakan yang bergema,
datangnya dari arah puncak.
Suling Emas sibuk sekali. Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat meninggalkan
mereka. Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang berada di puncak. Kalau mereka tahu
bahwa ada dua orang kakek asing yang amat sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan
kesempatan baik ini untuk memukul roboh padanya. Maka ia pun diam saja.
“Huah-hah-hah, agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita beri
dunia-kangouw.blogspot.com
kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun tangan, takkan terlambat.”
“Baiklah, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh jaman
sekarang!”
Seketika hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas memandang, kedua orang kakek itu
sudah lenyap dari tempat itu! Ia menarik napas panjang, menyusut peluhnya dan berkata seorang diri,
“Berbahaya...! Mereka benar lihai. Apa maksud kedatangan mereka di dunia ramai? Nama mereka tidak
dikenal di dunia kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun
menyembunyikan diri. Mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu Kim-sim Yok-ong?”
Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin melihat gerakan ilmu silat mereka untuk
mencoba-coba menerka, dari golongan manakah kakek merah dan kakek putih itu. Tingkat tenaga inti dari
Im dan Yang sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai persilatan
besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun.
“Suling Emas! Apakah kau tidak berani muncul?” kembali terdengar seruan suara parau yang
menggunakan khikang.
Suling Emas mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khikangnya, berseru
keras. “Aku Kim-siauw-eng datang!”
Tubuhnya berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu. Bulan purnama bersinar terang, dan
Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini sehingga ia hafal akan jalannya, maka di
bawah penerangan bulan purnama, sebentar saja ia sudah sampai di puncak.
Ternyata mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi rumput hijau.
Lengkap hadir para anggota Thian-te Liok-koai yang kini hanya tinggal lima orang itu. It-gan Kai-ong,
Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong. Mereka sudah tidak
sabar lagi menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul.
“Anggota Thian-te Liok-koai selalu berlomba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan mengadu
kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan, anggota macam apa ini?” Toatbeng
Koai-jin mendengus dan marah-marah.
“Memang dia tidak patut menjadi anggota Thian-te Liok-koai! Cuhhh!” It-gan Kai-ong meludah dengan
sikap menghina sekali.
“Sudah menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggota-anggotanya terdiri dari pada orang-orang
gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah! Akan tetapi dia ini tidak gagah berani,
melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong
orang-orang!”
Mendengar ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan. Diam-diam Suling
Emas mengeluh di dalam hatinya. Memang, baik dan jahat, gagah dan pengecut, semua hanya sebutan
manusia, dan karenanya baik atau pun busuk, gagah atau pun pengecut, sepenuhnya tergantung dari pada
orang yang mengatakannya, yaitu berdasarkan pandangannya.
Iblis-iblis berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi mereka tidak
sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka, pandangan mereka itu pun benar
pula! Dari jaman dahulu sampai kini banyak terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup
dan kotor sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari.
Perbuatan ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan,
mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurang-ajaran, semua perbuatan ini mereka anggap
sebagai perbuatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti bahwa mereka ini gagah berani dan
mereka bahkan menjadi bangga karena perbuatan-perbuatan itu. Sebaliknya, orang-orang yang
menghindari perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya,
mengulurkan tangan menolong sesamanya, dianggap sebagai tanda dari watak penakut dan pengecut!
“Hi-hi-hik!” Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia mendekati
Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata, “Betapa pun juga, kepandaiannya cukup
lumayan untuk membuat ia patut menjadi anggota Thian-te Liok-koai. Tentang sifat-sifat gagah berani itu,
dunia-kangouw.blogspot.com
biarlah kelak aku sendiri yang akan membimbingnya. Aku akan membuat hatinya lebih kuat dari pada hati
kalian, aku akan mengajarnya menjadi seorang yang paling gagah dan paling berani di dunia ini!” Kembali
iblis betina itu terkekeh dan dari rambutnya tercium semerbak bau wangi. Tentu saja yang dimaksudkan
dengan ‘hati kuat’ adalah hati yang kejam dan ganas, sedangkan ‘gagah berani’ adalah suka melakukan
perbuatan yang paling jahat dan mengerikan.
Ketika Siang-mou Sin-ni mengulurkan tangan hendak menggandengnya, Suling Emas melangkah mundur
sambil mengelak.
“Eh, Suling Emas, mengapa kau mundur? Bukankah tadi kita sudah main-main dan permainan bersama
kita menghasilkan perpaduan yang sedap didengar? Percayalah, kalau kau dan aku bersatu, kelak kita
akan mempunyai seorang putera yang akan menjadi raja yang menguasai seluruh jagad!”
Suling Emas melangkah maju dan berkata, suaranya keren, “Dengarlah kalian berlima! Aku datang bukan
dengan maksud hendak menjadi anggota Thian-te Liok-koai, oleh karena itu tidak perlu kalian menilai diriku
apakah aku patut atau tidak menjadi rekan kalian! Aku datang mewakili mendiang ibuku yang ditantang
oleh It-gan Kai-ong untuk ikut dalam adu ilmu di antara Thian-te Liok-koai, dan di samping itu, aku hendak
minta kembali tongkat pusaka Beng-kauw dari tangan Hek-giam-lo, juga sekalian aku memang mempunyai
perhitungan dengan kalian semua. It-gan Kai-ong harus mengembalikan kitab yang dirampasnya dari
tangan Locianpwe Bu Kek Siansu, juga Hek-giam-lo, sedangkan Siang-mou Sin-ni harus mengembalikan
yang-khim. Ada pun Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong yang kena dibujuk It-gan Kai-ong untuk
menjadi kaki tangan Suma Boan, sebaiknya kembali saja ke tempat asal kalian di pulau-pulau kosong!”
“Wah-wah, dia cukup berani! Memaki-maki kita, mengusir kami berdua! Biarkan dia ikut dalam adu
kepandaian!” kata Toat-beng Koai-jin. Memang tokoh-tokoh hitam ini paling suka melihat orang yang
berani, apa lagi yang kejam, karena watak ini cocok dengan selera mereka.
“Baiklah, kita mulai dan kali ini kita harus bersungguh-sungguh untuk dapat menentukan urutan tingkat
dalam Thian-te Liok-koai, siapa yang paling pandai disebut twako (kakak tertua), yang kedua ji-ko (kakak
kedua) dan seterusnya. Yang mampus dalam adu ilmu ini takkan dikubur, bangkainya akan menjadi
makanan binatang buas dan burung gagak, tulang-tulangnya akan diperebutkan anjing-anjing hutan!” kata
It-gan Kai-ong sambil meludah-ludah.
“Bagus, kita mulai!” teriak Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo berbareng.
Lima orang itu serentak meloncat mundur, masing-masing melompat mundur kira-kira dua tombak jauhnya
dan kini mereka memasang kuda-kuda, mata mereka melirik-lirik mencari korban. Karena maklum bahwa
mereka ini adalah orang-orang sakti yang aneh, Suling Emas juga tidak mau menjadi sasaran di tengahtengah
dan ia pun melompat mundur. Kini enam orang itu merupakan lingkaran yang menghadap ke
dalam, menanti saat untuk merobohkan lawan dalam pertandingan campuran itu, di mana tidak ada kawan,
semua adalah lawan yang harus dikalahkan, kalau perlu dibunuh!
“Siapa berani menyerangku?” It-gan Kai-ong mengejek.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tok-sim Lo-tong yang menerjangnya dari samping kiri sambil
mengeluarkan senjatanya yang berupa seekor ular hidup. Terjangan ini dibarengi pekik nyaring yang tidak
menyerupai pekik manusia lagi, melainkan lebih pantas keluar dan mulut seekor binatang buas atau
agaknya begitulah suara iblis.
Memang aneh sekali watak orang-orang ini. Tok-sim Lo-tong bersama kakaknya, Toat-beng Koai-jin
tadinya dapat diperalat It-gan Kai-ong dan bekerja sama dengan raja pengemis itu. Akan tetapi dalam
pertemuan di puncak Thai-san ini, di mana mereka hendak memperebutkan kedudukan sebagai saudara
tua yang paling lihai di antara mereka, lenyaplah segala persahabatan, segala hubungan, satu-satunya
nafsu yang menguasai mereka adalah menang sendiri dan menjadi jagoan nomor satu!
Serangan Tok-sim Lo-tong ini hebat sekali, tangan kirinya yang mencengkeram ke depan mengeluarkan
sambaran angin pukulan yang mengeluarkan bunyi seperti suara tikus, bercicitan, sedangkan ular yang ia
pegang dengan tangan kanan itu meluncur ke depan menggigit dan mengeluarkan racun dari semburan
mulutnya!
Jangan dipandang rendah racun ular itu karena binatang yang dijadikan senjata ini adalah ular beracun
yang amat berbahaya, yang mempunyai bisa disebut ‘racun api’ karena racun itu dapat membakar hangus
dunia-kangouw.blogspot.com
apa saja yang disentuhnya. Juga cengkeraman tangan kiri Bocah Tua Hati Racun (Tok-sim Lo-tong) ini
mengandung tenaga dalam yang penuh dengan racun dingin, merupakan racun yang berlawanan dengan
ular di tangan kanannya, namun tidak kalah hebatnya karena sekali saja pukulan tangan kirinya mengenai
sasaran, dapat membikin beku jantung dan darah.
Namun Tok-sim Lo-tong boleh jadi berbahaya bagi lawan manusia biasa, menghadapi It-gan Kai-ong ia
menemukan tanding. Dengan suara ketawa terbahak raja pengemis ini menyambut serangan Tok-sim Lotong
dengan sama dahsyatnya. Kakek mata satu ini mengangkat tongkat bututnya, ditusukkan ke arah
mulut ular sedangkan dia sendiri meludah tiga kali berturut-turut yang ditujukan ke arah tiga jalan darah di
sepanjang lengan kiri lawan yang menyerangnya. Jadi serangan Tok-sim Lo-tong itu dibalas serangan pula
oleh It-gan Kai-ong!
“Uh-uh!” Lo-tong menjerit marah dan tentu saja ia menggerakkan kedua lengannya, yang kanan untuk
menghindarkan ularnya dari tusukan maut sedangkan yang kiri untuk menghindari sambaran air ludah
yang lebih berbahaya dari pada senjata rahasia beracun. Kemudian ia mendesak lagi dengan memutar
ularnya seperti kitiran angin cepatnya, sedangkan tangan kirinya tetap melakukan pukulan sebagai
selingan.
“Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong tertawa mengejek dan ia pun memutar tongkatnya mengimbangi lawan dan
di lain saat keduanya sudah berhantam dengan seru.
Biar pun tongkat di tangan It-gan Kai-ong itu hanya tongkat butut, namun kalau sudah ia mainkan seperti
itu dapat melawan senjata baja yang bagaimana keras dan tajam pun. Sebaliknya, senjata hidup di tangan
Tok-sim Lo-tong juga demikian. Kecuali bagian lemah yang terletak di mulut dan mata ular itu, tubuh ular
telah dilindungi kulit yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Pertandingan antara dua orang tokoh
iblis dunia ini hebat sekali. Angin yang berputar-putar seperti angin puyuh membuat pohon-pohon di sekitar
tempat itu bergoyang-goyang dan daun-daun pohon banyak yang rontok!
Sementara itu, Hek-giam-lo, orang kedua yang sama licik dan curangnya dengan It-gan Kai-ong, segera
menggerakkan senjata sabitnya yang mengerikan dan tajam seperti pisau cukur itu. Tanpa peringatan lagi
ia menerjang Toat-beng Koai-jin yang berdiri di sebelah kirinya. Mengapa ia memilih lawan Toat-beng Koaijin?
Inilah kecerdikan setan hitam itu. Menurut perhitungannya, dibandingkan dengan Siang-mou Sin-ni,
apa lagi dengan Suling Emas, Toat-beng Koai-jin ini adalah lawan yang lebih empuk, maka ia tidak menyianyiakan
waktu terus saja meniilih Toat-beng Koai-jin sebagai lawannya yang ia yakin akan dapat ia
jatuhkan dalam waktu singkat.
Toat-beng Koai-jin si manusia liar bertelanjang baju yang gendut berpunuk seperti kerbau itu menggereng
seperti binatang beruang luka, kemudian kedua tangannya mencakar-cakar dengan kuku-kukunya yang
panjang runcing. Di lain saat sudah ada tiga buah batu besar dan dua batang pohon menyambar ke arah
Hek-giam-lo. Iblis Hitam ini tentu saja dapat mengelak cepat, akan tetapi ketika ia menerjang lagi, si punuk
liar itu sudah memegang sebatang pohon besar, dipergunakan sebagai senjata, mengamuk dan menerjang
Hek-giam-lo!
Repot juga Hek-giam-lo diterjang dengan senjata pohon yang penuh cabang ranting dan daun-daun itu. Ia
membabat dengan sabitnya dan beterbanganlah daun-daun dan ranting pohon itu bagaikan hujan.
Sebentar saja pohon di tangan Toat-beng Koai-jin sudah tinggal batangnya saja yang dipergunakan oleh
Toat-beng Koai-jin sebagai senjata tongkat besar. Tongkatnya yang sebesar balok bergaris tengah tiga
puluh senti itu ia putar-putar di atas kepala sehingga sinar bayangannya menyelimuti seluruh tubuhnya.
Segera kedua orang iblis ini sudah saling terjang dan terlibat dalam pertandingan yang tidak kalah serunya
dengan pertandingan antara It-gan Kai-ong dan Tok-sim Lo-tong. Hanya bedanya, pertandingan ini
mengakibatkan batu-batu kecil beterbangan ke atas dan tanah menjadi debu bergulung-gulung
menyuramkan pandangan mata yang hanya diterangi sinar bulan purnama.
Suling Emas sudah siap siaga ketika ia melihat orang terakhir, Siang-mou Sin-ni melangkah dan
menghampirinya dengan langkah seperti harimau lapar, dengan pinggul digoyang-goyang, lenggang
dibuat-buat, disertai senyum manis dan sepasang mata berkilat-kilat memantulkan sinar bulan. Deretan gigi
putih berkilauan mengintai dari balik bibir mengulum senyum, Suling Emas bersikap makin waspada dan
siap, karena ia cukup mengenal iblis betina ini. Makin manis sikapnya, makin berbahayalah iblis ini.
Diam-diam ia harus mengakui kecantikan Siang-mou Sin-ni. Seorang wanita yang sudah masak, yang
sukar dicari cacatnya dari rambut yang halus hitam panjang berbau harum itu sampai kepada wajah cantik
dunia-kangouw.blogspot.com
jelita dan bentuk tubuh yang ramping padat dan sepasang kaki tangan yang kecil menarik. Patut
disayangkan seorang wanita yang berdarah bangsawan Kerajaan Hou-han ini tersesat menjadi seorang
manusia iblis yang keji.
Kalau Suling Emas teringat akan perbuatan-perbuatan jahat Siang-mou Sin-ni, lenyaplah rasa sayang dan
kasihannya. Entah berapa banyak manusia dan kanak-kanak tidak berdosa tewas di tangan iblis wanita ini,
dihisap darahnya hidup-hidup untuk dijadikan obat kuat! Mengingat akan kekejaman ini, ia bergidik dan
timbul niatnya untuk membasmi wanita iblis ini agar lenyap sebuah ancaman bagi keselamatan manusia.
Akan tetapi wanita itu tidak segera menyerangnya seperti yang disangka oleh Suling Emas, bahkan
mendekatinya sambil tersenyum-senyum dan matanya mengerling tajam.
“Suling Emas, biarkan si goblok itu saling gempur sendiri. Kita tidak begitu goblok untuk bunuh-membunuh
di malam seindah ini, bukan? Lihat, betapa indahnya bulan, betapa cemerlang dan sejuknya hawa udara.
Suling Emas, kita biarkan mereka itu saling gebuk dan saling bunuh, nanti dengan mudah kita bereskan
mereka semua anjing-anjing busuk itu. Sekarang mari kita menonton mereka sambil mengobrol di bawah
sinar bulan purnama, asyik dan nikmat, kan? Aku merindukan dirimu semenjak pertama kita di sini dahulu.
Marilah, sayang!” Sambil berkata demikian, dengan bibir tersenyum dan mata setengah terkatup wanita itu
mengembangkan kedua lengannya seperti hendak memeluk Suling Emas.
Suling Emas melangkah mundur, mengibaskan lengan bajunya dengan marah. “Siang-mou Sin-ni,
simpanlah bujuk rayumu untuk orang lain. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kau kehendaki. Lebih baik
kau insyaflah, tebus dosa-dosamu dengan bertapa dan membersihkan batin. Kalau tidak, mungkin aku
sendiri yang akan mengantar kau kembali ke alam asalmu!”
Tiba-tiba sepasang mata yang tadi setengah terkatup bersinar mesra itu terbuka lebar dan sinarnya kini
penuh kekejian. Mulut itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan kebencian yang
memuncak. Kemudian, tiba-tiba wanita itu menjerit dan menubruk maju, didahului rambutnya yang panjang
menyambar hendak menangkap Suling Emas. Wanita yang tadinya seperti seorang puteri jatuh cinta, yang
gerakannya lemah gemulai dan penuh bujuk rayu itu, kini tiba-tiba berubah menjadi siluman betina yang
haus darah!
“Kalau begitu, mampuslah kau!” teriaknya mengikuti serbuannya.
Suling Emas cepat menggerakkan kipasnya mengebut pergi rambut itu dan sulingnya berkelebat menjadi
sinar keemasan menotok ke arah leher Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi wanita sakti ini dapat mengelak dan
melanjutkan serangannya dengan dahsyat dan penuh kebencian. Kini tangan kirinya memegang sebuah
yang-khim sebagai senjata dan bertempurlah mereka berdua dengan seru dan mati-matian.
Tempat yang indah dan romantis, puncak Thai-san yang biasanya sunyi hening dan yang tentu akan
menarik perhatian kaum pertapa sebagat tempat suci itu kini menjadi medan pertandingan mati-matian
yang mengerikan. Enam orang yang sedang bertempur itu kesemuanya memiliki kesaktian yang tinggi.
Angin pukulan mereka membuat daun-daun rontok, semua batu-batu pecah berhamburan dan debu
mengebul tinggi. Suara angin pukulan mereka berciutan mengerikan dan dalam jarak belasan meter
batang-batang pohon yang terlanda angin pukulan berguncang-guncang seperti didorong oleh tenaga
raksasa.
Dasar lima orang manusia iblis itu berwatak aneh dan liar, maka dalam melakukan pertandingan untuk
menentukan siapa yang paling unggul, sama sekali tidak dipergunakan aturan sehingga pertempuran itu
menjadi kacau-balau dan penuh nafsu membunuh. Dan memang masing-masing memiliki keistimewaan
sendiri maka tidaklah mudah bagi yang seorang untuk mengalahkan yang lain.
Betapa pun juga, menghadapi It-gan Kai-ong yang luar biasa dan yang telah memiliki sebagian dari pada
kitab rampasan dari Bu Kek Siansu, lambat-laun Tok-sim Lo-tong terdesak hebat. Karena merasa
penasaran bahwa Tok-sim Lo-tong selalu dapat menahan serangannya sungguh pun ia sudah
mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya It-gan Kai-ong memekik keras dan mulailah ia menggerakkan
tongkatnya menurut ilmu barunya yang ia pelajari dari kitab rampasannya yang hanya setengahnya itu.
Namun hasilnya sudah hebat sekali. Serangkum angin pukulan berpusing menyerbu ke arah Tok-sim Lotong.
Iblis ini mengeluarkan seruan kaget, cepat ia memutar pula ularnya.
“Prakkk!” ujung tongkat It-gan Kai-ong tepat sekali menghantam kepala ular sehingga kepala ular itu pecah
berantakan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tok-sim Lo-tong menjerit marah dan ia menyambitkan bangkai ular ke arah lawannya. Namun sekali
menangkis, bangkai ular itu terlempar ke samping, ke arah gerombolan pepohonan di sebelah kiri.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh seseorang yang tak dikenal terguling-guling roboh, sebagian dari
tubuh ular itu masuk ke dalam dadanya. Demikian hebatnya sambitan itu! Kiranya orang yang terkena
sambitan itu adalah seorang tosu yang tadinya menonton sambil bersembunyi.
Pada saat berikutnya terdengar Siang-mou Sin-ni terkekeh genit. Rambutnya menyambar ke kanan dan di
saat berikutnya rambutnya telah ‘menangkap’ seorang hwesio yang tak mampu melepaskan diri, biar pun
sudah meronta-ronta sekuat tenaga. Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan tubuh hwesio itu
terangkat lalu diputar-putar seperti kitiran, dijadikan senjata melawan Suling Emas!
“Iblis keji! Lepaskan dia!” seru Suling Emas yang terpaksa mengelak ke sana-sini karena tidak mau
menangkis yang akibatnya tentu menewaskan hwesio penonton yang tak bersalah itu.
Akan tetapi Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh dan terus menerjang makin hebat. Dengan menggunakan
ginkang-nya, Suling Emas mendahului meloncat ke atas dan dari atas sulingnya bergerak menghantam
rambut yang mengikat hwesio itu, sedangkan tangan kirinya merampas tubuh si hwesio. Hwesio itu dapat
terampas dan terlepas, akan tetapi alangkah kaget hati Suling Emas melihat bahwa hwesio itu sudah
tewas, lehernya hampir putus oleh jiratan rambut tadi! Ia melemparkan mayat itu ke samping lalu
menerjang maju penuh kemarahan. Wanita iblis itu menyambutnya sambil terkekeh mengejek.
Agaknya sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh kang-ouw yang cukup tabah untuk menonton pertandingan
hebat ini, yang memang sudah tersiar luas di dunia kang-ouw. Celakanya, ketabahan ini harus dibayar
mahal sekali sehingga dalam waktu beberapa detik saja, dua orang sudah menjadi korban. Lebih hebat
lagi, agaknya hal ini menimbulkan kegembiraan hati orang-orang yang buas dan liar itu, karena terdengar
It-gan Kai-ong tertawa-tawa, untuk sementara mengurangi desakannya pada Tok-sim Lo-tong dan ia
meludah sejadi-jadinya ke kanan kiri.
Terdengar teriakan-teriakan dan beberapa orang sudah terluka oleh ludah-ludah itu. Sibuklah kini di balik
pepohonan itu karena orang-orang yang tadinya menonton mulai jeri, beramai-ramai mengundurkan diri
sambil membawa teman-teman yang tewas atau terluka. Akan tetapi tampak sinar terang berkelebat dan
dua orang di antara mereka terjungkal tanpa kepala lagi. Kiranya Hek-giam-lo tidak mau ketinggalan dan
berpesta dengan senjata sabitnya. Hal ini ditambah dengan hujan batu besar dan pohon-pohon yang
dilontarkan oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong!
Setelah para penonton yang tak diundang itu kalang-kabut pergi menjauhi tempat maut itu, pertandingan
dilanjutkan, lebih gembira dan lebih dahsyat dari pada tadi. Tok-sim Lo-tong kini sudah meniru kakaknya,
menggunakan sebatang pohon untuk menghadapi It-gan Kai-ong. Akan tetapi karena keistimewaannya
adalah senjata ular hidup, ia tidaklah begitu cekatan seperti kakaknya. Beberapa belas jurus kemudian,
tongkat It-gan Kai-ong yang gerakannya berpusing aneh itu berhasil mengetuk tangannya sehingga sambil
berteriak kesakitan Tok-sim Lo-tong terpaksa melepaskan senjatanya sambil bergulingan ke kiri, dikejar Itgan
Kai-ong yang tertawa-tawa.
Ketika Tok-sim Lo-tong terguling di dekat Hek-giam-lo, mendadak iblis hitam ini meninggalkan Toat-beng
Koai-jin dan mengayun sabitnya membacok ke arah kepala Tok-sim Lo-tong! Iblis gundul kurus kering ini
cepat mengelak sambil meloncat berdiri sehingga sabit itu luput makan lehernya dan amblas ke dalam
tanah sambil mengeluarkan api ketika terbentur batu-batu yang terbabat seperti agar-agar saja!
Terdengar teriakan keras dan pohon besar di tangan Toat-beng Koai-jin menyambar ke arah Tok-sim Lotong
yang baru saja terbebas dari maut di tangan Hek-giam-lo. Tok-sim Lo-tong meloncat tinggi
menghindari serangan kakaknya sendiri, akan tetapi ia terhuyung-huyung oleh sambaran angin pukulan
dengan batang pohon ini. Hebatnya, Siang-mou Sin-ni agaknya melupakan Suling Emas dan kini wanita itu
pun menerjang Tok-sim Lo-tong yang sudah terhuyung-huyung, menggunakan rambutnya yang panjang
mengirim serangan maut!
Suling Emas berdiri bengong. Lima orang itu memang patut dijuluki iblis. Mereka begitu licik dan curang
sehingga dalam pertandingan menentukan kedudukan ini, mereka tidak segan-segan untuk menggunakan
serangan-serangan maut mengeroyok Tok-sim Lo-tong yang terdesak hebat. Bahkan Toat-beng Koai-jin,
kakak Tok-sim Lo-tong sendiri, ikut pula mengeroyok seakan-akan lupa bahwa yang dikeroyok itu adalah
adiknya sendiri! Adakah manusia yang lebih ganas dari pada mereka ini?
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun kepandaian Tok-sim Lo-tong boleh dipuji. Biar pun ia tadi terhuyung-huyung, namun menghadapi
serangan Siang-mou Sin-ni, ia masih dapat menggerakkan kedua tangan mengirim pukulan-pukulan
dengan sinkang sehingga gumpalan rambut yang menyambar ke arahnya itu dapat tertahan oleh hawa
pukulannya, malah kini tangannya membentuk cakar setan untuk mencengkeram rambut itu!
Pada saat itu tampak berkelebatnya sabit Hek-giam-lo yang membabat ke arah tangannya sehingga
terpaksa Tok-sim Lo-tong menarik kembali tangannya. Tongkat It-gan Kai-ong menyambutnya dari
belakang dan batang pohon di tangan Toat-beng Koai-jin juga sudah menyambar pula dari depan! Tok-sim
Lo-tong sibuk mengelak dan menggunakan ilmunya menggelinding seperti bola ke sana ke mari, gesit dan
cepat sekali. Namun empat orang pengeroyoknya tidak memberi ampun dan pada saat ia meloncat bangun
menghindarkan bacokan Hek-giam-lo, pundaknya keserempet tongkat It-gan Kai-ong. Si gundul kurus
kering ini memekik kesakitan dan membalikkan tubuh hendak mengamuk. Namun cabang-cabang pada
batang pohon yang menyambarnya telah menyapu kakinya sehingga ia roboh terguling.
“Tranggggg!” Sinar kuning emas menangkis sabit yang membacok kepala Tok-sim Lo-tong dan menangkis
pula tongkat It-gan Kai-ong, bahkan kipasnya mengebut rambut-rambut Siang-mou Sin-ni.
Kiranya Suling Emas yang menolong Tok-sim Lo-tong. Pendekar ini tak dapat tinggal diam saja
menyaksikan pertandingan yang berat sebelah dan tidak adil. Mana ada aturan mengeroyok orang yang
sudah terdesak? Benar-benar mereka itu tidak mengenal watak gagah, tidak mau peduli akan normanorma
yang berlaku pada tokoh-tokoh kang-ouw.
Sungguh pun golongan hitam yang terdiri dari para penjahat, biasanya mereka masih enggan melakukan
perbuatan yang memalukan dan bersifat pengecut. Akan tetapi iblis-iblis ini benar-benar tak tahu malu dan
terpaksa Suling Emas turun tangan membantu Tok-sim Lo-tong yang dikeroyok oleh empat orang rekanrekannya
para anggota Thian-te Liok-koai, termasuk kakaknya sendiri Toat-beng Koai-jin!
Campur tangan Suling Emas membuat pertandingan menjadi kacau-balau dan secara otomatis mereka itu
masing-masing memilih lawan terdekat dan di lain saat It-gan Kai-ong sudah bergebrak melawan Hekgiam-
lo, Siang-mou Sin-ni bertanding dengan Toat-beng Koai-jin, sedangkan Tok-sim Lo-tong yang kini
sudah menyambar sebatang pohon itu kini menyerang mati-matian kepada Suling Emas yang baru saja
membebaskannya dari pada ancaman maut! Semua keadaan yang tidak tahu aturan, tidak mengenal budi,
dan liar ganas seenaknya sendiri ini berjalan tanpa kata-kata.
Diam-diam Suling Emas menjadi bingung juga. Ia tidak mau terlalu mendesak Tok-sim Lo-tong karena ia
tahu bahwa begitu si gundul kurus kering ini ia desak, tentu yang lain-lain akan turun tangan mengeroyok
Tok-sim Lo-tong! Oleh karena inilah maka ia hanya mempertahankan diri sambil memperhatikan jalannya
pertandingan antara pasangan-pasangan lain. Juga ia sempat melihat bahwa banyak juga tokoh kang-ouw
yang masih bersembunyi menonton, akan tetapi mereka kini tidak berani terlalu mendekati tempat itu,
melainkan nonton dalam jarak yang cukup aman.
Mendadak terdengar suara ‘cring-cring-cring’ yang amat nyaring dan menggetarkan jantung. Suling Emas
kaget sekali, mengenal suara itu yang ternyata keluar dari alat musik yang-khim di tangan Siang-mou Sinni!
Betul saja, karena bertanding melawan Siang-mou Sin-ni, Toat-beng Koai-jin yang terserang suara ini
tidak kuat melawan pengaruh suara yang mengikat semangat ini, ilmu yang dicuri oleh Siang-mou Sin-ni
menggunakan yang-khim milik Bu Kek Siansu.
Kakek berpunuk yang liar itu tiba-tiba menjadi pucat dan terhuyung-huyung ke belakang. Tahu-tahu kedua
kakinya sudah terkena sambaran rambut Siang-mou Sin-ni yang menariknya sehingga kakek liar itu
terjengkang ke belakang. Seperti tadi ketika Tok-sim Lo-tong terdesak, kini mereka berempat, Hek-giam-lo,
It-gan Kai-ong, dan Tok-sim Lo-tong bersama Siang-mou Sin-ni serentak menyerang Toat-beng Koai-jin
yang sudah roboh!
“Pengecut, tahan!” seru Suling Emas melompat untuk membantu Toat-beng Koai-jin.
Namun Suling Emas terlambat karena ketika ia tiba di dekat kakek itu, sabit di tangan Hek-giam-lo telah
membacok kepala, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong sudah menusuk dada dalam detik hampir berbareng,
sedangkan rambut Siang-mou Sin-ni yang terbagi menjadi dua merobek tubuh kakek itu dengan menarik
kedua kaki ke kanan kiri disusul oleh hantaman balok pohon oleh Tok-sim Lo-tong. Betapa pun saktinya
Toat-beng Koai-jin, tubuhnya seketika menjadi remuk dan terobek-robek, hancur!
“Kejam! Kalian iblis-iblis ganas!” bentak Suling Emas yang segera mengamuk dengan sulingnya. Saking
dunia-kangouw.blogspot.com
hebatnya gerakan Suling Emas, Tok-sim Lo-tong tak dapat menghindarkan dirinya dan sekali dadanya
terkena totokan suling, kakek ini pun roboh dengan nyawa putus, rohnya melayang menyusul kakaknya.
“Heh-heh-heh, Toat-beng Koai-jin menjadi anggota ke enam karena dia mampus lebih dulu. Tok-sim Lotong
menjadi anggota kelima, setingkat lebih tinggi dari pada kakaknya. Lucu!” kata It-gan Kai-ong tertawatawa.
Hek-giam-lo hanya mendengus dan Siang-mou Sin-ni cekikikan. Kini tinggal empat orang yang masih
hidup dan otomatis mereka berdiri di empat sudut, memasang kuda untuk memperebutkan kemenangan.
“Kalian iblis-iblis ganas, malam ini aku Suling Emas bersumpah hendak membasmi kalian bertiga!” seru
Suling Emas. Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat sekali dan dia sekaligus sudah
membagi-bagi serangan kepada tiga orang lawannya secara beruntun.
Karena maklum bahwa tiga orang lawannya ini merupakan orang-orang terlihai dari Thian-te Liok-koai,
maka dalam serangannya ini Suling Emas mengeluarkan ilmunya berdasarkan Hong-in-bun-hoat yang
dahulu ia terima dari Bu Kek Siansu. Tidak saja gerakannya berdasarkan ilmu silat huruf yang hebat ini,
juga ia mengerahkan tenaga Kim-kong Sin-im sehingga ketika bergerak sulingnya mengeluarkan bunyi
yang dahsyat dan menggetarkan isi dada ketiga orang lawannya.
Hebat sekali gerakan Suling Emas ini. Sulingnya berubah seperti halilintar menyambar, sinarnya
menyilaukan mata para lawannya. Apa lagi dibarengi suara melengking tinggi itu, benar-benar
mengejutkan lawan yang sambil memekik mereka melompat mundur dengan gerakan mempertahankan
diri. Mereka selamat dari penyerangan pertama ini, namun tidak urung mereka merasa gentar juga dan
jantung mereka berdebar-debar.
Tiga orang iblis ini adalah orang-orang yang cerdik dan licik. Maklumlah mereka bahwa pendekar muda ini
benar-benar tak boleh dibuat main-main, kepandaiannya meningkat hebat semenjak pertemuan terakhir.
Oleh karena itu kini pendirian mereka pun berubah. Mereka tidak mau saling serang antara kawan sendiri
dan bermaksud menggabungkan tenaga tiga orang untuk menghadapi Suling Emas. Tanpa kata-kata, tiga
orang iblis ini sudah bersepakat dalam hal ini, maka otomatis mereka melakukan gerakan menyudut dan
mengurung Suling Emas dari sudut segi tiga.
Rambut yang hitam halus dan panjang dari Siang-mou Sin-ni melebar tegak lurus seperti duri landak,
penuh tenaga dan siap dipergunakan, sedangkan alat musik khim yang berada di tangan kanannya
diangkat ke atas kepala, digerak-gerakkan perlahan untuk mengubah-ubah posisi, mencari kesempatan
yang baik. Wanita yang cantik ini sekarang kelihatan mengerikan dan agaknya pantas kalau mulutnya yang
menyeringai itu diberi tambahan caling di kanan kiri seperti gambar siluman betina yang haus akan darah
manusia.
Hek-giam-lo juga berdiri dengan siap. Kedua kakinya terpentang lebar, kokoh kuat, mukanya yang
berkedok tengkorak amat mengerikan karena dari lubang di bagian matanya berjelalatan. Sabit yang tajam
berkilau diangkat tinggi ke atas, terkena sinar bulan berkeredepan menyilaukan, sedangkan tangan kirinya
dengan jari-jari terbuka didorong lurus ke depan, seperti tangan setan hendak mencengkeram korbannya.
Yang paling menjijikkan adalah It-gan Kai-ong. Kakek raja pengemis ini berdiri agak terbongkok dengan
kedua kakinya ditekuk rendah bagian lututnya. Tongkat bututnya melintang di depan dada, matanya yang
tinggal sebelah itu merah terbelalak tak pernah berkedip, mulutnya agak terbuka dan air liurnya menetesnetes
dari ujung kanan.
Suling Emas yang terkurung di tengah-tengah tampak tenang-tenang saja. Lenyap sudah kerut merut
kemarahan dari mukanya. Memang pendekar sakti ini sudah berhasil menghalau nafsu marah di hatinya
dan inilah syarat utama bagi seorang pendekar silat, yaitu tidak boleh sekali-kali dipengaruhi nafsu
perasaan di hatinya. Ia berdiri dengan kuda-kuda biasa, kaki kiri diangkat ke atas dengan lutut ditekuk, kaki
kanan berdiri di ujung jari kaki.
Suling di tangan kanannya melintang di depan kening, tangan kiri memegang kipas biru yang bergerakgerak,
tertutup terbuka, perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi. Sepasang matanya tidak memandang
ke mana-mana, seakan-akan memandang ujung hidungnya sendiri seperti keadaan seorang dalam
semedhi, namun seluruh urat syarafnya telah ‘dipasang’ dan panca inderanya mengikuti gerak-gerik tiga
orang lawannya.
Sunyi hening di saat itu. Empat orang itu seperti patung-patung mati, bahkan pernapasan mereka pun tidak
terdengar. Jengkerik dan walang yang biasanya ramai berdendang menghias kesunyian puncak, kini
dunia-kangouw.blogspot.com
berhenti seakan-akan mereka ikut nonton dengan penuh ketegangan dan kecemasan, seperti para tokoh
kang-ouw yang sembunyi sambil menonton di sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba empat ‘patung’ itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata biasa, disertai
suara-suara mengejutkan.
“Hiaaaaattttt!” sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar cepat sekali, seperti kilat dan hanya tampak
cahayanya saja.
“Siuuuttttt!” hanya satu sentimeter saja selisihnya dari leher Suling Emas yang dengan mudah miringkan
tubuh membiarkan sabit menyambar di dekatnya.
“Huah-ha-ha-ha... wuuuuttttt!” Tongkat It-gan Kai-ong melakukan serangan tusukan maut dari samping
selagi Suling Emas miringkan tubuh, disusul pada detik berikutnya oleh sambaran yang-khim di tangan
Siang-mou Sin-ni yang menghantam pusar dengan gerakan kuat-kuat sehingga yang-khim mengeluarkan
bunyi berdesing.
Namun dengan amat cekatan, seakan-akan berubah menjadi segulung asap, Suling Emas sudah bergerak
menyelinap di antara gulungan sinar senjata lawan dan tak sebuah pun di antara hujan senjata lawan dan
tak sebuah pun di antara lembaran rambut Siang-mou Sin-ni yang mengirim serangan susulan dapat
menyentuhnya!
Namun Hek-giam-lo sudah menerjang lagi, sabitnya menyambar-nyambar laksana burung hantu dari
udara. Sedangkan tongkat It-gan Kai-ong juga bergerak-gerak seperti ular hitam menotok pelbagai jalan
darah mematikan, dibantu oleh hantaman-hantaman yang-khim dan sambaran-sambaran rambut yang
mengeluarkan suara berciutan. Suling Emas memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Ia meloncat,
mendekam, memutar tubuh, berjungkir-balik.
Setelah lewat lima menit mereka berempat bergerak-gerak sedemikian cepatnya sehingga bayangan
mereka campur aduk menjadi satu, tampak Suling Emas meloncat tinggi sekali dan tahu-tahu sudah berdiri
sejauh empat meter di depan tiga orang lawannya. Kembali seperti tadi, mereka berempat tak bergerak,
saling pandang penuh rasa benci dan penasaran. Kini Suling Emas tidak terkurung lagi, melainkan
menghadapi mereka bertiga yang berada di depannya.
Perlahan-lahan tiga orang itu melangkah maju dan otomatis membentuk barisan segi tiga. Namun Suling
Emas tidak mau terkurung lagi. Ia ingin membalas, tidak mau dijadikan umpan serangan mereka tanpa
mendapat kesempatan membalas sama sekali. Ia maklum bahwa kecepatan mereka itu amat hebat dan
kalau ia sudah terkurung seperti tadi, serangan mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan keadaan
demikian itu tentu saja amat berbahaya dan tidak menguntungkan. Ia tersenyum mengejek, lalu berkata.
“Bagus, tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai! Menghadapi aku saja dengan tiga lawan satu, kalian gentar, apa
lagi mau menghadapi mendiang Ibuku! Eh, apakah kalian takut? Kalau takut....”
“Sssrrr... srrr... srrrrr...!”
“Cuiiiiittttt...!”
“Sing... sing... singgg!”
Suling Emas tentu saja sudah waspada. Malah ini yang ia kehendaki, maka ia tadi sengaja mengejek untuk
memanaskan hati mereka. Pancingannya berhasil karena secara beruntun mereka melepas senjata
rahasia.
Pertama-tama Siang-mou Sin-ni yang melontarkan jarum-jarum beracun dari arah kiri, sebanyak tujuh
belas yang kesemuanya menuju ke jalan-jalan darah utama. Kemudian disusul oleh senjata rahasia It-gan
Kai-ong yang menjijikkan namun tak kalah jahatnya, yaitu air ludahnya, menyerang dari arah kanan dan
paling akhir Hek-giam-lo telah menggunakan pisau-pisau terbangnya menyerang dari depan langsung
dengan kecepatan luar biasa.
Biar pun orang sesakti Suling Emas, andai kata ia lengah, tentu akan sukar melepaskan diri dari ancaman
bahaya maut dari tiga penjuru ini. Baiknya ia memang sudah waspada dan sudah menduga lebih dulu,
maka begitu tampak sinar melayang dari tiga jurusan, ia telah mendahului mereka, tubuhnya mendadak
dunia-kangouw.blogspot.com
mumbul ke atas seperti terbang, lebih cepat dari pada sambaran senjata-senjata rahasia itu, dan kini dia
melayang di atas senjata-senjata rahasia itu.
Langsung ia menerjang tiga orang lawannya dari atas dengan serangan sulingnya dalam jurus-jurus
rahasia dari Hong-in-bun-hoat. Kini giliran tiga orang iblis itulah yang kaget setengah mati ketika tiba-tiba
ada suara mendengung-dengung dan melengking di atas kepala mereka, disusul oleh sinar keemasan
yang menyilaukan mata. Mereka sama sekali tidak menduga akan terjangan Suling Emas sehebat itu.
Karena tiga orang iblis itu memang sakti dan berilmu tinggi, biar pun terkejut dan terdesak hebat oleh
serangan Suling Emas dari atas yang dahsyatnya bagaikan sambaran halilintar di musim hujan itu, namun
mereka bertiga dapat juga menyelamatkan diri. It-gan Kai-ong berhasil menjatuhkan diri ke belakang
sambil memutar-mutar tongkatnya melindungi dirinya, sehingga ia berhasil memecahkan sinar bergulunggulung
yang menyambarnya dan hanya pakaiannya saja yang sebagian besar robek oleh sambaran sinar
suling lawannya.
Hek-giam-lo juga berhasil melompat ke belakang sambil berteriak nyaring dan menangkis dengan sabitnya.
Terdengar suara keras dan ujung senjatanya itu patah, akan tetapi ia selamat tidak terluka. Hanya Siangmou
Sin-ni yang kurang beruntung karena ketika dalam kagetnya ia menggerakkan rambutnya menangkis,
rambutnya itu terbabat sinar kuning emas dan putuslah rambutnya yang hitam panjang sehingga tinggal
sampai ke pundaknya saja! Wanita ini menjerit ngeri dan menangis.
Akan tetapi tidak hanya sampai di situ Suling Emas menyerang. Kini tubuhnya sudah berada di atas tanah
dan tanpa membuang waktu lagi ia melanjutkan serangannya, bertubi-tubi ia menyerang tiga orang
lawannya sambil tetap mainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat luar biasa itu.
It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terdesak, mereka maklum akan kelihaian ilmu ini maka mereka main
mundur menjauhkan diri. Tidak demikian dengan Siang-mou Sin-ni yang menjadi marah sekali karena
rambut yang menjadi kebanggaan dan menjadi senjata ampuhnya itu telah ‘berondol. Dengan nekat wanita
ini menyambut serangan Suling Emas dengan kekerasan. Ia mainkan yang-khim di tangannya dan
menyambut pukulan dengan pukulan pula.
Betapa pun juga, Siang-mou Sin-ni terpaksa mengakui kehebatan Hong-in-bun-hoat karena belum sampai
sepuluh jurus, ia sudah terdesak dan terancam hebat. Dengan gerakan nekat tanpa mempedulikan
keselamatan dirinya, Siang-mou Sin-ni menjerit dan menghantamkan yang-khim pada saat suling lawannya
bergulung-gulung mengitari dirinya.
Suling Emas kaget sekali, tidak menyangka lawannya akan berlaku nekat mengadu nyawa. Tiada waktu
lagi untuk mengelak, maka ia menggerakkan kipasnya yang sudah tertutup untuk menangkis.
“Brakkkkk!” keras sekali suara ini terdengar dan yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni pecah menjadi
empat potong, tetapi kipas biru di tangan Suling Emas juga patah menjadi dua.
Detik amat berbahaya itu dipergunakan Suling Emas dengan baiknya karena sulingnya sudah meluncur ke
depan dan tiga kali sulingnya berhasil menotok tiga jalan darah yang berbahaya dari Siang-mou Sin-ni.
“Aihhhh...!” Siang-mou Sin-ni menjerit.
Sisa yang-khim yang berada di tangannya ia lemparkan ke bawah, berbareng dengan kipas Suling Emas
yang juga dibuang ke bawah. Kemudian tiba-tiba wanita itu tertawa nyaring dan... sinar merah menyambar
dari mulutnya ke arah muka Suling Emas.
Pendekar sakti ini kaget sekali, maklum apa artinya sinar merah yang mengeluarkan bau busuk
memabukkan itu. Wanita iblis itu telah mempergunakan ilmunya yang terakhir, yaitu Tok-hiat-hoat-lek, ilmu
menyemburkan darah beracun yang amat berbahaya. Kipasnya sudah tidak ada padanya, padahal kipas
itulah yang paling tepat untuk menghadapi serangan dahsyat mengerikan ini. Terpaksa ia lalu melempar
tubuhnya ke belakang.
Namun, biar pun ia tidak terkena semburan darah beracun, hawa beracun dari darah yang mengeluarkan
bau busuk melebihi mayat busuk ini telah mempengaruhinya dan mendatangkan pusing pada kepalanya
dan pandang matanya berkunang-kunang. Ia cepat mengerahkan sinkang dan setelah tubuhnya terlempar
ke belakang, segera ia berjungkir-balik dan melompat jauh ke kanan. Baiknya ia seorang yang hati-hati dan
gesit, karena benar seperti yang ia khawatirkan, semburan darah itu tadi mengejarnya. Kalau saja ia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
cepat-cepat berjungkir-balik dan melompat, tentu ia akan menjadi korban.
Kini ia melihat wanita iblis itu terhuyung-huyung dan tertawa-tawa. Hal ini membuat Suling Emas diamdiam
mengagumi Siang-mou Sin-ni. Totokannya tiga kali tadi hebat sekali dan kesemuanya mendatangkan
maut. Seorang yang bagaimana pandai dan kuatnya tentu akan roboh dan tewas seketika. Akan tetapi
Siang-mou Sin-ni masih mampu mengeluarkan ilmunya yang terakhir, mampu tertawa-tawa dan hanya
terhuyung-huyung. Hebat! Wanita itu sambil tertawa memuntahkan darah yang beracun, lalu berlari-larian
seperti orang gila dan akhirnya terdengar jeritnya melengking ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang
tak jauh dari situ. Agaknya ia seperti gila dan buta oleh luka-lukanya dan lari tanpa melihat lagi sehingga
terjungkal memasuki jurang yang ratusan kaki dalamnya.
Tiba-tiba Suling Emas berteriak keras dan tubuhnya melesat ke kanan kiri sambil memutar sulingnya.
Secara serentak ia diserang hebat oleh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo. Karena pandang matanya masih
berkunang-kunang dan kepalanya masih pening, ia hanya dapat mengelak sambil menjaga diri dengan
suling. Agaknya keadaannya ini diketahui pula oleh dua orang manusia iblis itu, yang terus mendesaknya
dengan serangan-serangan kilat.
Setelah dua orang iblis ini mengeroyok berdua saja, mereka mendapat kenyataan yang mengagumkan,
yaitu bahwa ilmu silat yang mereka mainkan untuk mengeroyok Suling Emas kini menjadi berlipat ganda
ampuhnya. Ilmu silat mereka itu saling mengisi kekosongan yang ada dan dimainkan bersama-sama dapat
menjadi semacam daya serang yang luar biasa! Insyaflah mereka akan hal ini, karena memang
sesungguhnya ilmu silat baru mereka itu adalah bagian-bagian dari pada sebuah ilmu yang kitabnya
mereka rampas dari tangan Bu Kek Siansu. It-gan Kai-ong dalam perebutan berhasil mendapatkan kitab
bagian depan sedangkan Hek-giam-lo bagian belakang.
Suling Emas juga kaget karena terasa olehnya betapa hebat desakan kedua orang ini. Ia berusaha
menghalau hawa beracun yang mendesak di dadanya dan ke otaknya, akan tetapi kedua orang lawannya
tidak memberi kesempatan kepadanya. Terpaksa ia harus mengandalkan sulingnya untuk melindungi
tubuh sehingga suling itu berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyelimuti dirinya, tak
memungkinkan sabit dan tongkat menyentuhnya. Mereka seakan-akan hanya mengadu tenaga dan
keuletan. Akan tetapi berapa lama ia akan dapat bertahan?
Dalam ilmu silat, menyerang lebih menguntungkan dari pada bertahan, kecuali kalau pertahanan itu dapat
diubah cepat menjadi penyerangan balasan. Dalam hal ini, Suling Emas sama sekali tidak mendapat
kesempatan untuk membalas. Hal ini adalah karena ia masih berada dalam pengaruh hawa beracun Tokhiat-
hoat-lek dari Siang-mou Sin-ni tadi, dan kedua karena penggabungan ilmu silat kedua orang iblis itu
benar-benar memperlipat ganda kehebatan daya serang mereka.
It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo adalah tokoh-tokoh kawakan yang sudah matang ilmunya, maka tentu saja
dalam hal ilmu silat mereka merupakan orang-orang yang banyak pengalaman dan cerdik sekali. Setelah
mainkan bagian ilmu rampasan kitab Bu Kek Siansu bersama-sama, segera mereka menarik kesimpulan
bahwa apa bila kedua ilmu mereka itu digabungkan, maka akan merupakan ilmu yang hebat sekali.
“Kiri buka, atas tekan!” tiba-tiba It-gan Kai-ong berseru.
Hek-giam-lo mendengus dan berteriak. “Kanan tutup, bawah dorong!”
Kiranya yang diucapkan It-gan Kai-ong adalah merupakan sebagian dari pada ilmu pukulan yang paling
hebat, akan tetapi karena ia hanya dapatkan setengahnya, maka selama ini merupakan rahasia baginya
dan tak dapat ia pergunakan. Ada pun ucapan Hek-giam-lo sebagai imbangannya adalah lanjutan dari
pada jurus itu, maka keduanya segera bergerak.
It-gan Kai-ong lebih dulu lari disambung oleh Hek-giam-lo. Bukan main dahsyatnya terjangan ini, sebuah
jurus rahasia yang kini dimainkan secara bersambung oleh dua orang! Begitu otomatis gerakan mereka,
ganti-berganti sehingga merupakan serangkaian serangan yang serba sulit dihadapi.
Suling Emas kaget sekali. Hampir saja ia terkena bacokan sabit setelah ia berhasil menghindarkan tusukan
maut tongkat It-gan Kai-ong. Akan tetapi begitu sabit itu lewat sedikit di atas pundaknya, secara aneh
sekali tongkat kakek raja pengemis sudah menyambar, ujungnya tergetar menjadi lima dan menyerang ke
arah lima bagian tubuhnya dari sebelah atas, disambung dengan sambaran sabit bertubi-tubi dari bawah!
Suling Emas sudah berusaha menyelamatkan diri dengan memutar sulingnya, namun karena ia masih
dunia-kangouw.blogspot.com
pusing dan sulingnya hanya merupakan senjata pendek yang sukar menghadapi senjata-senjata panjang
yang menyerang dari atas dan bawah secara aneh dan bertubi-tubi, ketika tubuhnya melompat miring,
pundaknya terkena hantaman tongkat It-gan Kai-ong.
“Brukkk!” Hantaman ini keras sekali. Batu karang juga akan hancur terlanda pukulan ini. Suling Emas
sudah mengerahkan lweekangnya ke arah pundak, namun tetap saja ia terbanting dan bergulingan di atas
tanah!
“Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong tertawa gembira dan mukanya beringas ketika ia mengejar dengan tongkat
terangkat, siap memberi tusukan terakhir.
“Mampus kau!” Hek-giam-lo mendengus dan berlomba dengan kakek pengemis itu untuk berusaha
mendahuluinya membacokkan sabitnya ke arah tubuh Suling Emas yang bergulingan dan kelihatannya tak
berdaya lagi itu. Hampir berbareng, tongkat dan sabit itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas.
Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang getarannya seakan-akan mencopot jantung It-gan Kaiong
dan Hek-giam-lo. Suara ini adalah suara yang ditiup Suling Emas dalam keadaan bahaya itu. Sejenak
Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong tertegun dan gerakan mereka terhenti beberapa detik. Namun beberapa
detik ini cukuplah bagi pendekar sakti seperti Suling Emas yang sudah melompat bangun dan
menggerakkan sulingnya.
“Trang-trang... duk... duk...!” Tubuh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terlempar dan melayang bagaikan
layang-layang putus talinya, sedangkan sabit dan tongkat mereka patah-patah! Kemudian robohlah dua
orang iblis sakti itu, mengeluh dan dari mulut mereka muntah darah segar. Mereka telah terluka hebat.
Akan tetapi di lain pihak, Suling Emas berdiri dengan terhuyung-huyung. Ia berusaha mengusir kepeningan
kepalanya akibat hawa beracun Siang-mou Sin-ni tadi, karena luka di pundaknya akibat gebukan tongkat
It-gan Kai-ong tidaklah amat parah baginya kalau dibandingkan dengan hawa beracun itu.
“Huah-hah-hah, anjing muda boleh juga!”
“Semua sudah roboh, tinggal dia yang harus roboh!” Sambung suara kedua dan muncullah kakek putih dan
kakek merah.
Keduanya menggerakkan tangan, kakek merah dari depan Suling Emas sedangkan kakek putih dari
belakangnya karena munculnya kedua orang kakek itu berpencar. Suling Emas yang sudah berkurang
tenaganya karena pusing, juga karena luka di pundaknya, cepat miringkan tubuh dan mementangkan
kedua lengannya, didorong ke arah kanan kiri untuk menghadapi serangan dua orang kakek itu. Ia kaget
sekali ketika menerima dorongan tenaga sakti yang berlawanan, dari kanan tenaga kakek merah panas
seperti api, sedangkan dari kiri tenaga kakek putih dingin seperti salju!
Inilah hebat, pikirnya. Tak mungkin ia mengerahkan dua macam tenaga untuk menghadapi serangan maut
ini, akan tetapi Suling Emas bukanlah seorang sakti yang sudah kenyang akan gemblengan hebat kalau ia
menjadi panik atau gentar. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, semua hawa murni ia kerahkan untuk
menahan gelombang serangan itu, sepasang matanya meram, dari balik kain kepalanya mengepul uap
putih. Gelombang tenaga makin dahsyat dari kanan kiri, tubuh Suling Emas sudah gemetar, hampir tak
kuat lagi.
“Orang-orang tak tahu malu, pengecut! Mengeroyok kakakku yang sudah terluka!” Tiba-tiba seorang
pemuda meloncat ke depan. Dia ini bukan lain adalah Bu Sin! Pemuda ini mencabut pedangnya. Sesosok
bayangan lain berkelebat dan cepat menarik tangannya.
“Bu Sin, jangan...! Tiarap...!” Dengan sentakan keras bayangan yang ternyata adalah seorang nikouw
(pendeta wanita Buddha) ini berhasil membuat Bu Sin roboh terguling. Akan tetapi ia hanya berhasil
menyelamatkan Bu Sin saja karena sekali kakek merah mengibaskan tangan kirinya ke arahnya, nikouw
yang bukan lain adalah Kui Lan Nikouw, bibi guru Bu Sin ini, roboh terguling sambil mengeluh.
Pada saat itu, Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong sudah merangkak bangun. Terdengar It-gan Kai-ong
terkekeh biar pun napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan Hek-giam-lo
mendengus aneh, juga napasnya terengah-engah. Kedua orang kakek ini lalu dengan langkah terhuyunghuyung
menghampiri Suling Emas yang berdiri dengan kedua lengan terpentang kaku, tangan mereka
memegang sisa senjata yang sudah patah lebih setengahnya. Jelas bahwa mereka hendak menurunkan
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan maut terhadap Suling Emas yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.
Mereka ini sudah terluka berat di sebelah dalam tubuhnya akibat totokan suling, akan tetapi nafsu mereka
masih besar untuk membunuh Suling Emas yang sudah berada dalam keadaan ‘terjepit’ antara dua tenaga
raksasa yang amat dahsyat. Biar pun keadaan dua orang iblis itu sudah terluka dan lemah namun karena
mereka adalah orang-orang sakti, tentu saja tanpa perlawanan Suling Emas, sekali pukul dengan senjatasenjata
sepotong itu sudah akan cukup untuk membunuh perdekar ini. Mereka kini sudah berada dekat
sekali dan sabit serta tongkat sudah diangkat, siap untuk dipukulkan.
“Plakkk!” Dua sosok bayangan manusia berkelebat cepat, sebatang pedang bersinar kuning menangkis
sabit membuat sabit itu kini terpotong tinggal gagangnya saja, sedangkan sebuah tengan yang kecil halus
menangkis tongkat sehingga tongkat itu terpental. Kiranya yang muncul adalah dua orang gadis, Lin Lin
dan Sian Eng yang muncul di saat yang bersamaan dari dua jurusan!
Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong terkejut dan terhuyung mundur. Lin Lin sambil berseru keras mengayun
pedangnya menyerang Hek-giam-lo. Iblis hitam ini tentu saja tidak takut menghadapi Lin Lin, akan tetapi
oleh karena ia telah terluka hebat dan senjatanya yang ampuh sudah musnah, ditambah lagi karena dalam
tangkisan tadi ia mendapat bukti bahwa Lin Lin telah memiliki ilmu dan tenaga mukjijat, Hek-giam-lo
mendengus marah lalu melompat jauh, menghilang di tempat gelap. Juga It-gan Kai-ong yang sudah
terluka parah ketika menerima tangkisan lengan Sian Eng, kaget setengah mati karena tangannya terasa
panas dan gatal-gatal. Ia maklum bahwa keadaannya yang sudah terluka itu tidak menguntungkan dirinya,
maka ia pun lalu melompat dan lenyap di tempat gelap.
Lin Lin dan Sian Eng saling pandang gembira.
“Enci Sian Eng...!” seru Lin Lin gembira.
Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan Lin Lin melihat betapa wajah enci-nya yang tersinar cahaya
bulan itu aneh sekali. Sian Eng seakan-akan tidak mempedulikannya, malah kini Sian Eng dengan tangan
kosong menerjang kakek putih yang berjuluk Pek-kek Sian-ong. Dari mulutnya terdengar lengking yang
amat aneh, yang membuat bulu tengkuk Lin Lin serasa berdiri karena ia teringat akan lengking yang keluar
dari si mayat hidup Cui-beng-kwi!
Akan tetapi ia pun segera sadar bahwa Suling Emas terancam bahaya, maka dengan pedang terhunus ia
lari menghampiri Lam-ek Sian-ong kakek muka merah, lalu menerjang dengan ilmu pedangnya
berdasarkan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam tongkat pusaka Beng-kauw!
Melihat dua orang gadis yang gerakan-gerakannya ganas sekali menerjang, baik Lam-kek Sian-ong mau
pun Pak-kek Sian-ong terkejut sekali dan sama sekali mereka tidak menduga-duga terjadinya hal ini. Tadi,
melihat betapa dua orang gadis muda remaja itu sekali tangkis dapat membuat It-gan Kai-ong dan Hekgiam-
lo yang sudah mereka saksikan kelihaiannya lari tunggang-langgang saja sudah membuat mereka
terheran-heran.
Maka mereka berbareng lalu mengerahkan tenaga mendesak Suling Emas. Karena keadaannya memang
sudah payah, Suling Emas yang ‘dijepit’ seperti itu tak dapat menahan lagi, ia mengeluh panjang dan roboh
terguling dalam keadaan pingsan dan mukanya pucat sekali seperti sudah mati!
Sian Eng dan Lin Lin memuncak kemarahannya. Lin Lin memutar pedangnya dan menyerang kalang-kabut
sambil memaki-maki, “Kakek tua bangka mau mampus! Kau berani mencelakai dia? Kucukur jenggotmu
kutabas hidungmu kupenggal lehermu!” Ia memaki-maki sambil menyerang.
Serangannya hebat bukan main karena dalam keadaan marah itu ia mengeluarkan jurus-jurus paling hebat
dari ilmu silat barunya yang sudah ia latih lagi atas petunjuk Gan-lopek. Ada pun Sian Eng yang juga
menyaksikan keadaan Suling Emas, kini memaki-maki dan melengking-lengking secara aneh, namun
gerakan-gerakan kedua tangannya ketika menerjang kakek muka putih dahsyat bukan main, mengeluarkan
angin yang mengeluarkan bunyi bersuitan. Lin Lin dan Sian Eng yang marah melihat Suling Emas roboh
dan menyerang kedua orang kakek itu, tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat cepat sekali,
menyambar tubuh Suling Emas dan dibawa lari dengan kecepatan seperti terbang.
“Eh, siapa kau dan hendak kau bawa ke mana kakakku? Berhenti!” Bu Sin yang tadinya bingung berlutut di
dekat tubuh bibi gurunya yang terluka, kini meloncat ketika melihat seorang wanita cantik baju hijau
melarikan Suling Emas yang masih pingsan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bodoh! Kubawa dia ke pondok Kim-sim Yok-ong agar diobati!” wanita itu membentak Bu Sin sambil terus
lari.
Bu Sin yang mengejarnya sebentar saja kehilangan bayangan wanita itu yang bukan lain adalah Tan Lian,
gadis yang memiliki ginkang luar biasa itu dan yang tentu saja tak dapat dikejar oleh Bu Sin. Karena
mengkhawatirkan keadaan bibi gurunya dan kedua orang adiknya, apa lagi karena mendengar bahwa
wanita tadi hendak mengobatkan Suling Emas, terpaksa Bu Sin kembali ke tempat pertandingan.
Memang harus diakui bahwa di luar kesadaran, bahkan diluar kehendak mereka atau tidak disengaja, baik
Lin Lin mau pun Sian Eng telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat luar biasa, yang secara mukjijat telah
mendatangkan tenaga sinkang yang amat kuat. Namun ilmu itu baru saja mereka dapatkan dan belum
mereka latih masak-masak. Kini mereka menghadapi tokoh-tokoh seperti dua orang kakek sakti yang aneh
itu, sudah tentu saja bukan lawan mereka. Tadi pun ketika menghadapi Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong,
mereka dapat dan kuat menangkis hanya karena kedua orang iblis itu sudah menderita luka dan kehabisan
tenaga. Kalau dua orang iblis itu dalam keadaan sehat dan segar, tentu saja Lin Lin dan Sian Eng takkan
mampu menandingi mereka.
Sepasang kakek yang aneh itu, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, juga hanya sebentar saja
merasa heran dan kaget, akan tetapi setelah menghadapi Lin Lin dan Sian Eng, maklumlah orang-orang
sakti ini bahwa dua orang gadis itu sungguh pun mewarisi ilmu mukjijat, namun ternyata masih ‘mentah’.
Segera terdengar mereka tertawa-tawa. Begitu kedua orang kakek ini menggerakkan kedua tangan
mereka, tubuh Lin Lin dan Sian Eng ‘tersedot’ dan ‘hanyut’ dalam arus hawa pukulan yang berputaran
seperti angin puyuh! Lin Lin dan Sian Eng berusaha mempertahankan diri, namun sia-sia, mereka terputarputar
seperti kitiran angin oleh dua orang kakek sakti.
Bu Sin bingung sekali. Bibi gurunya masih pingsan dengan muka pucat. Melihat kedua orang adiknya
terputar-putar seperti itu, hatinya ingin menolong, akan tetapi ia pun maklum bahwa tenaga dan
kepandaiannya jauh dari yang diharapkan untuk bisa menolong adik-adiknya. Betapa pun juga, pemuda ini
sudah siap menerjang kedua orang kakek itu. Dengan gerakan nekat ia meloncat dan membentak.
“Dua orang kakek siluman, lepaskan adik-adikku!” Akan tetapi begitu meloncat, segera ia terbanting roboh
ke belakang dekat bibi gurunya, terdorong oleh sebuah tenaga ajaib yang datang tiba-tiba.
Tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang kakek lain, kakek tua yang berjenggot panjang, yang berdiri
tersenyum memandang kepadanya, akan tetapi yang cukup membuat Bu Sin terhenyak kaget ketika
mengenal kakek itu sebagai kakek sakti yang pernah menolongnya dan melatihnya di bawah pancuran air.
“Mereka bukan lawanmu,” terdengar kakek itu berkata lirih.
“Locianpwe, tolonglah adik-adikku....”
Akan tetapi kakek itu yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu, sudah melangkah maju dan berkata,
suaranya lirih namun suara ini menembus seluruh udara, mendatangkan gema yang nyaring berpengaruh.
“Sayang... puluhan tahun bertapa ternyata tak mampu mengendalikan nafsu!” Ia mengangkat kedua
lengannya, digerakkan perlahan ke depan dan... dua orang gadis itu seakan-akan tertarik dan bebas dari
pada pusaran hawa pukulan kedua kakek, terhuyung-huyung dan roboh dengan kepala pening namun
tidak menderita sedikit pun juga.
Si kakek merah dan si kakek putih terdesak mundur oleh hawa halus yang keluar dari gerakan tangan Bu
Kek Siansu sehingga kuda-kuda mereka terbongkar. Mereka kaget sekali, memandang Bu Kek Siansu
dengan penasaran.
“Siapa kau?!” hardik Lam-kek Sian-ong si muka merah.
“Berani kau menentang kami?!” Pak-kek Sian-ong juga membentak.
“Damai di bumi...,” Bu Kek Siansu berbisik lirih, lalu menarik napas panjang dan balas memandang dengan
wajah berseri dan mulut tersenyum. “Pak-kek Sian-ong, siapa adanya aku bukanlah soal yang perlu
diributkan karena aku tiada bedanya dengan kalian berdua atau orang lain. Aku manusia biasa, tiada
bedanya dengan kalian. Hanya sayang kalian....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau mengenal nama kami?” seru Pak-kek Sian-ong terheran-heran karena puluhan tahun mereka berdua
merupakan tokoh tersembunyi dan tak seorang pun tokoh kang-ouw mengenal mereka, apa lagi yang barubaru.
“Kau siapa?!” bentak Lam-kek Sian-ong. “Kau yang berani menentang kami, apakah kau begitu pengecut
untuk menyembunyikan nama?”
Bu Kek Siansu tersenyum, “Aku sama sekali tidak menentang kalian.”
“Kau bilang tidak menentang akan tetapi kau turun tangan terhadap kami dan menolong dua orang bocah
itu!”
“Aku memang turun tangan,” jawab kakek sakti itu dengan penuh kesabaran, “akan tetapi sama sekali
dasarnya bukan untuk menentang kalian!”
“Lalu, apa dasarnya?”
“Pertama, karena aku sayang kepada kalian, sayang akan jerih payah kalian bertapa sampai puluhan
tahun dan kini tak dapat mengendalikan nafsu hendak membunuh dua orang anak perempuan ini. Kedua,
aku merasa sayang, kalau bocah-bocah yang masih muda remaja, yang atas kehendak Thian telah
mewarisi ilmu-ilmu tinggi, yang masih akan melanjutkan riwayat hidupnya dan meramaikan dunia ini
dengan perbuatan-perbuatan mereka, kalian habiskan riwayatnya sampai di sini saja. Pula, memang
agaknya sudah menjadi kehendak Thian bahwa dua orang anak ini tidak semestinya tewas pada saat ini,
maka kebetulan sekali aku lewat....”
“Manusia sombong!” bentak si muka merah.
“Betulkah mereka takkan tewas setelah kau datang? Heh, manusia besar mulut, kalau sekarang kami turun
tangan membunuh mereka, kau bisa berbuat apa?”
Bu Kek Siansu menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang, akan tetapi wajahnya tetap tenang,
sabar, dan ramah. “Penentuan mati hidup berada sepenuhnya di tangan Yang Menghidupkan! Hanya
manusia yang buta hati saja yang tidak melihat kenyataan mutlak ini. Membunuh? Terbunuh? Tak seorang
pun mampu menentukan hal-hal rahasia ini. Kalau Tuhan menghendaki seseorang meninggalkan raganya,
biar pun seribu dewa takkan mampu menunda atau membatalkannya. Sebaliknya kalau Tuhan
menghendaki seseorang tetap hidup di dunia, biar pun seribu setan takkan mampu menewaskan orang itu.
Hanya orang-orang sesat saja yang mengira bahwa dia, dengan kekuasaannya, dengan kekuatannya,
dapat menentukan mati hidup orang lain, berlawanan dengan kehendak Tuhan, karena dengan
perkiraannya itu, berarti dia hendak menentang kekuasaan Tuhan!”
“Tua bangka besar mulut! Apakah kau anggap kami ini anak-anak kecil dan kau seorang pendeta yang
hendak memberi wejangan tentang kebatinan? Huh, lamunan kosong belaka semua kata-katamu itu. Yang
Maha Kuasa, Thian, hanya menuruti kehendak yang menang, yang berkuasa dan kuat. Mau bukti?
Sekarang juga kami sanggup membunuh dua orang gadis itu, juga kau sendiri!” bentak si muka merah
yang agaknya lebih berangasan dari pada si muka putih yang mendengarkan dan mengangguk-angguk
membenarkan.
“Damai... damai....” Kakek itu bersabda, lirih seperti orang berbisik. Kemudian ia memandang tajam dan
dengan wajah masih berseri ia berkata lagi.
“Alangkah kosong rasa hati mendengarkan ucapan, Saudara. Dan hebatnya, apa yang kau katakan itu
justru menjadi anggapan sebagian besar manusia, dan tak dapat dibantah lagi, perkembangan di dunia
memang sejalan dengan pikiranmu itu. Anugerah paling suci yang diberikan kepada manusia, yaitu akal
budi, yang dapat membuat manusia mengungkap segala rahasia alam, yang membuat manusia
merupakan makhluk yang terpandai, ternyata oleh manusia sendiri disalahgunakan.
Anugerah ini malah
dipergunakan untuk menentang Sang Pemberi. Makin pandai manusia, makin gila dia. Makin pandai
manusia, makin kacau dunia. Semua ini adalah akibat dari pada jalan pikiran yang telah kau ucapkan tadi.
Wewenang dipakai mencari menang. Kekuasaan menjadi alat penindas. Kepandaian dipergunakan
sebagai alat pemuas nafsu. Ya Tuhan, turunkanlah kiranya kekuasaanmu untuk menyapu bersih segala
kotoran yang menutup dan menyuramkan api suci dalam jiwa manusia....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tua bangka. Pendeta kepalang tanggung, tosu bukan hwesio bukan. Mau apa kau banyak mulut?” Lamkek
Sian-ong.
“Eh, sahabat, kami berdua sengaja turun dari pertapaan untuk mencari tanding di seluruh permukaan
bumi!” kata Pak-kek Sian-ong.
“Hemmm, menandingi diri sendiri saja masih belum mampu, menandingi orang lain? Saudaraku yang baik,
kau kalahkan dulu dirimu sendiri dan kau akan menaklukkan dunia,” jawab Bu Kek Siansu.
“Kami akan bunuh dua orang gadis ini. Lihat, kau dapat berbuat apa?” Lam-kek Sian-ong membentak dan
diturut oleh Pak-kek Sian-ong, dia sudah bergerak maju.
Lin Lin dan Sian Eng yang sejak tadi mendengarkan dengan heran, kini bersiap untuk menjaga diri. Akan
tetapi Bu Kek Siansu mengangkat tangan kanannya ke atas dan entah bagaimana, isyaratnya ini agaknya
mempunyai pengaruh untuk menyetop kedua orang kakek jagoan itu untuk sementara.
“Mengapa kalian begini bernafsu untuk memukul orang? Dari pada memukul anak-anak, kalian boleh
memukul aku dan aku takkan melawan.”
“Sombong! Kau tahu bahwa Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong semenjak turun dari pertapaan tak
pernah menemui tanding? Tua bangka, jangan kau sombong, sekali pukul kami mampu membikin tubuhmu
separuh hangus separuh beku!” teriak si muka merah yang merasa dipandang rendah.
“Biarlah kalau Thian menghendaki demikian. Aku hanya ingin mewakili dua orang anak itu dari pukulanpukulanmu.”
“Ang-bin-siauwte, mengapa banyak bicara melayani kakek gila ini? Mari kita pukul dia, hendak kulihat
bagaimana macam mayatnya nanti,” kata Pak-kek Sianong.
Keduanya lalu melangkah maju setindak dan dengan gerakan berbareng mereka memukul dengan pukulan
jarak jauh. Biar pun tidak mengeluarkan suara apa-apa, namun dari tangan kedua orang kakek itu dengan
jelas sekali tampak menyambar dua macam cahaya putih dan merah. Yang merah mendatangkan hawa
panas sekali sedangkan yang putih mendatangkan hawa dingin. Dua cahaya itu bagaikan dua gulung asap
menyambar ke arah tubuh Bu Kek Siansu dan... tidak terjadi apa-apa!
Tubuh tua itu masih tetap berdiri di situ, wajahnya tetap berseri, matanya membayangkan keterangan,
kesabaran dan cinta kasih terhadap sesama hidup, sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa Bu Kek
Siansu merasakan pukulan jarak jauh yang dahsyat itu. Dua orang kakek muka merah dan muka putih,
tetap berdiri sambil menggerak-gerakkan kedua tangan, agaknya mengerahkan tenaga dan memperkuat
daya pukulannya.
Namun Bu Kek Siansu tidak mempedulikan mereka, bahkan ia menghampiri Kui Lan Nikouw yang masih
rebah pingsan. Pada saat gulungan cahaya kemerahan dan keputihan menyambar punggungnya, Bu Kek
Siansu menggerakkan kedua tangannya ke arah tubuh Kui Lan Nikouw dan pendeta wanita itu mengeluh,
bergerak, lalu bangkit duduk!
Kiranya Kui Lan Nikouw yang pingsan karena sambaran hawa pukulan kedua orang kakek sakti ketika ia
menyelamatkan Bu Sin, sekarang oleh Bu Kek Siansu diobati dengan hawa pukulan yang sama, yaitu
kakek sakti ini ‘memindahkan’ hawa pukulan dua orang kakek aneh itu ke tubuh Kui Lan Nikouw dan
karenanya pendeta wanita ini segera sembuh kembali. Setelah menyembuhkan Kui Lan Nikouw, Bu Kek
Siansu lalu bangkit berdiri dan menghadapi dua orang kakek aneh itu kembali.
“Cukupkah kalian memukul? Belum puaskah nafsumu?”
Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong saling pandang dengan mata terbelalak. Apakah ilmu mereka
mendadak melempem seperti kayu bakar terendam air? Mereka merasa yakin bahwa pukulan mereka
mengandung tenaga sepenuhnya, hal ini terasa benar. Akan tetapi mengapa kakek yang punggungnya
membawa alat yang-khim ini seperti tidak merasakan sesuatu.
“Belum, belum cukup!” Pak-kek Sian-ong membentak.
“Rasakan ini!” Lak-kek Sian-ong menyambung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka lalu serentak maju dan kini mereka menyerang Bu Kek Siansu. Pukulan mereka ini hebat sekali.
Batu hawa pukulannya saja mampu merobohkan lawan, bahkan Suling Emas sendiri, seorang pendekar
sakti, tadi juga digencet oleh hawa pukulan mereka. Apa lagi kalau pukulan itu langsung mengenai kulit
lawan, dapat dibayangkan bahayanya!
Akan tetapi, tepat seperti yang dikatakannya tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak melawan, tidak
menangkis mau pun mengelak. Ia berdiri tenang dan tegak, memandang dengan sinar mata orang tua
yang menghadapi kenakalan kanak-kanak.
“Buk-buk-plak!” beberapa kali secara bertubi-tubi telapak tangan kedua orang kakek aneh itu mengenai
tubuh Bu Kek Siansu.
Namun seperti juga tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak bergeming. Bahkan kedua orang kakek itu yang
menjadi pucat dan mundur-mundur dengan jeri karena ketika menampar dan mendorong tadi, mereka
merasa bahwa tubuh kakek sakti itu ‘kosong’ sehingga pukulan-pukulan mereka seperti batu-batu berat
yang tenggelam ke dalam laut dan tidak meninggalkan bekas.
“Mengapa kalian mundur? Sudah puaskah sekarang kalian memukulku? Kalau belum puas, boleh
ditambah lagi kelak dengan mencari aku di puncak-puncak gunung. Cari saja di mana adanya Bu Kek
Siansu....” Tiba-tiba kakek sakti ini lenyap dari depan dua orang kakek aneh yang tiba-tiba terbelalak
matanya ketika mendengar nama Bu Kek Siansu itu, dan biar pun sudah lenyap bayangannya, namun
masih terdengar suara kakek sakti itu melanjutkan kata-katanya. “Bahagialah orang yang sadar akan
kekurangan, kelemahan dan kebodohan sendiri....”
Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sejenak tertegun seperti patung, kemudian mereka mengeluh
panjang dan sekali berkelebat mereka lenyap dari tempat itu.
“Omitohud... pinni (aku) merasa bahagia sekali mendapat kesempatan untuk bertemu kakek sakti Bu Kek
Siansu dan mendengar suaranya...,” Kui Lan Nikouw merangkap sepuluh jari di depan dada dan memujimuji
sebentar, kemudian ia membuka mata memandangi ketiga orang keponakannya sambil berkata. “Dan
amat menggirangkan hatiku bertemu dengan Sian Eng dan Lin Lin pula di sini. Hal yang tak terduga-duga
sama sekali. Akan tetapi di manakah adanya Bu Song? Benarkah dia tadi Bu Song?”
Agaknya saking tertarik oleh peristiwa munculnya kakek sakti Bu Kek Siansu tadi, Lin Lin dan Sian Eng
juga begitu terpesona sehingga mereka seakan-akan melupakan Suling Emas. Baru sekarang mereka
kelihatan kaget setelah menoleh dan mencari-cari dengan pandang matanya. Lebih-lebih Lin Lin yang
menjadi bingung sekali. Bu Song? Kakak tirinya yang sulung? Mengapa bibi guru ini menyebut-nyebut
nama Bu Song?
Tiba-tiba muncul banyak orang dari balik gerombolan pepohonan, yaitu tokoh kang-ouw yang sengaja
datang hendak menonton pertandingan puncak antara tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai dan bahkan ada
beberapa orang di antara mereka yang tewas. Dari dalam gelap berkelebat bayangan orang mendekati Lin
Lin sambil berkata.
“Suling Emas diculik seorang wanita baju hijau, kulihat lari ke arah sana!”
Mendengar ini, bagaikan kilat menyambar cepatnya, Lin Lin berkelebat mengejar ke arah itu. Hatinya
panas bukan main. Bukankah wanita baju hijau itu wanita yang dipukulnya di tanah kuburan, yang
kemudian dibawa pergi oleh Suling Emas? Dia tadi mati-matian membantu dan membela Suling Emas,
akan tetapi wanita siluman itu malah yang sekarang menggondol kekasihnya!
“Tunggu, Lin-moi...! Aku tahu...,” akan tetapi Lin Lin sudah tak mendengarnya karena sudah lari terbang
cepat sekali.
Sian Eng yang kini berada dalam keadaan ‘normal’ memegang tangan kakaknya dan bertanya, “Apa yang
kau ketahui, Sin-ko?”
“Tadi ada wanita baju hijau memondong Bu Song Koko. Ketika kukejar, dia bilang hendak menolong Koko,
membawanya kepada Kim-sim Yok-ong untuk diobati.”
“Ah, mari kita kejar...!” dan tiba-tiba saja Bu Sin merasa tangannya dipegang adiknya dan di lain detik
dunia-kangouw.blogspot.com
tubuhnya telah terseret seperti terbang cepatnya, mengagetkan dan mengherankan hati Bu Sin yang
benar-benar tidak mengerti bagaimana adiknya ini sekarang memiliki tenaga dan ginkang begini hebat.
Seperti mereka, para tokoh kang-ouw yang tadinya menjadi ‘penonton’ kini mengelilingi Kui Lan Nikouw
dan ramai membicarakan dan memuji-muji Lin Lin dan Sian Eng yang demikian berani dan gagah. Juga
mereka tiada habisnya membicarakan Bu Kek Siansu yang selama hidup mereka baru sekali itu mereka
lihat dan buktikan kesaktiannya yang tak dapat diukur lagi tingkatnya.
Ketika mereka membicarakan Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, timbul kekhawatiran besar di hati
para tokoh ini. Mereka maklum kalau Suling Emas saja tidak mampu mengalahkan mereka berdua, siapa
lagi yang akan dapat menahan mereka kalau mereka mengacau di dunia kang-ouw? Satu-satunya
manusia yang dapat menghadapi mereka kiranya hanya Bu Kek Siansu, akan tetapi kakek sakti ini bukan
manusia biasa dan tadi pun tidak mau menurunkan tangan keras terhadap kedua kakek iblis itu.
“Harap Cu-wi jangan khawatir akan hal itu,” akhirnya Kui Lan Nikouw berkata dengan suaranya yang halus
dan tenang, “Betapa pun tingginya uap air terbang ke angkasa, akhirnya akan runtuh kembali ke bumi
menjadi hujan. Betapa pun pandai dan jahatnya manusia menyeleweng dari pada kebenaran, akhirnya ia
pun akan runtuh dan pasti ada yang mengalahkannya. Kita serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.
Maafkan, Cu-wi sekalian, pinni tidak dapat melayani Cu-wi (Anda sekalian) lebih lama bercakap-cakap
karena pinni harus menyusul dan mencari keponakan-keponakan pinni tadi.” Kui Lan Nikouw lalu menjura
dengan hormat dan meninggalkan orang-orang yang masih ramai membicarakan peristiwa hebat tadi
sampai pagi hari.
********************
“Nona, lepaskan aku....”
Tan Lian kaget dan juga girang. Ia tadinya lari memondong tubuh Suling Emas yang pingsan. Mendengar
kata-kata ini, ia segera menurunkan Suling Emas dengan hati-hati di atas rumput. Kemudian ia sendiri
berlutut dam memegangi lengan pendekar itu.
“Kau tidak apa-apa? Ah syukur kepada Tuhan. Aku... aku tadi khawatir sekali... kalau... kalau kau mati...
aku pun tidak mau hidup lagi...” Gadis ini lalu menelungkupkan mukanya di atas dada Suling Emas sambil
menangis!
Suling Emas dengan gerakan halus mendorong pundak gadis itu, lalu ia bangkit duduk, malah terus berdiri.
“Nona Tan, harap kau suka sadar dan ingat! Insyaflah bahwa kau terseret oleh nafsu perasaan yang tidak
benar. Ah, mengapa kau selemah ini?”
Tan Lian kaget, seakan-akan disiram air dingin kepalanya. Ia pun meloncat berdiri dan menghadapi Suling
Emas. Untung sinar bulan agak kemerahan sehingga menyembunyikan warna merah pada sepasang
pipinya. “Apa... apa maksudmu?”
Suling Emas menarik napas panjang. Berat rasa hati dan lidahnya untuk bicara, akan tetapi ia maklum
bahwa betapa pun juga akibatnya, ia harus bicara secara terus terang kepada nona ini. Pura-pura tidak
tahu hanya akan menambah berat penanggungan batin nona yang patut dikasihani itu.
“Nona,” suaranya perlahan dan agak tersendat, “terus terang saja, aku telah tahu akan semua isi hatimu
yang kau curahkan di depan Kim-sim Yok-ong. Aku tahu akan semua persoalanmu dan tahu pula akan niat
hatimu. Aku merasa terhormat sekali, Nona, dengan maksudmu untuk... untuk mengubah ikatan
permusuhan orang tua kita dengan ikatan... ikatan jodoh antara kita. Akan tetapi hal itu tidak mungkin,
Nona. Bukan sekali-kali karena aku tidak menghargai perasaan hatimu, akan tetapi... aku... aku tidak dapat
menerima itu dan... dan hendaknya kau ingat pula akan tunanganmu! Mana mungkin kita akan demikian
tidak mengenal aturan sehingga mementingkan kesenangan diri sendiri dengan mengesampingkan
perasaan orang lain yang terluka? Nona, kau kembalilah kepada tunanganmu, dan antara kita... biarlah kita
tetap menjadi sahabat atau saudara. Kita lenyapkan permusuhan antara orang tua kita dengan kesadaran,
bukan dengan... dengan ikatan jodoh....”
Selama bicara, Suling Emas tidak berani menentang muka nona itu. Dan memang hebat akibat kata-kata
ini yang tiap kata merupakan ujung pisau beracun yang menikam jantung Tan Lian. Dengan muka pucat
dan tubuh gemetar nona itu beberapa kali membuka mulutnya tanpa ada suara yang keluar. Akhirnya ia
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat memaksa mulutnya bertanya.
“Kau... kau menolakku...?” Tidak ada tikaman yang lebih hebat dan parah akibatnya bagi seorang gadis
dari pada tikaman berupa penolakan cinta kasih oleh seorang pemuda!
“Bukan begitu, Nona. Aku menolak karena tidak mungkin melaksanakan maksud hatimu itu. Aku... aku
tidak mempunyai niat untuk berumah tangga, di samping itu, kita harus ingat kepada tunanganmu....”
“Cukup...! Kau... kau dua kali menghancurkan hatiku, membasmi harapanku...! Ahhh...!” Gadis itu lalu lari
sejadi-jadinya sehingga tidak melihat adanya sebatang pohon yang ditabraknya begitu saja. Ia roboh
terguling, merangkak bangun dan lari lagi sambil menangis.
Seluruh urat syaraf di tubuh Suling Emas bergerak mendorongnya hendak mengejar dan menghibur,
namun ia mengeraskan hati. Lebih baik begini, pikirnya. Lebih baik dia membenciku dari pada aku harus
memberi harapan yang kelak akan lebih menghancurkan hatinya. Biarlah ia pergi dengan marah, karena
hanya jalan inilah yang akan mengurangi kepatahan hati gadis itu agaknya. Biarlah dia membenciku,
pikirnya. Akan tetapi segera terasa dadanya sesak dan cepat-cepat ia mengerahkan tenaga untuk
menahan rasa nyeri yang menyesak dada, kemudian ia lalu berlari cepat menuju ke pondok Kim-sim Yokong.
“Wah, kau terluka berat...!” seru Kim-sim Yok-ong dan begitu Suling Emas merebahkan dirinya di atas
bangku panjang, tabib sakti itu cepat-cepat membuka baju atas pendekar itu dan memeriksanya.
“Aiiihhh! Dua orang kakek iblis itu lagi-lagi yang menurunkan tangan kejamnya!” serunya kaget. “Dua
macam tenaga Im dan Yang menyerangmu. Hebat... ganas! Baiknya tenaga sinkang dalam tubuhmu cukup
kuat, Kim-siauw-eng. Mudah-mudahan aku akan berhasil menolongmu. Tunggulah sebentar, aku
membakar jarum-jarumku.”
Suling Emas telentang dan mengatur napasnya. Dadanya makin sesak dan ia harus mengakui kehebatan
bekas tangan kedua orang lawannya. Ia menjadi penasaran sekali, karena ia diam-diam merasa bahwa
andai kata ia tidak terpengaruh oleh racun jahat Siang-mou Sin-ni, kiranya belum tentu ia akan terluka oleh
pukulan jarak jauh Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Rasa sesalnya ini merugikannya, karena
dadanya makin sesak dan untuk kedua kalinya Suling Emas roboh pingsan setelah mengeluh panjang.
Kim-sim Yok-ong mendengar keluhan dan menengok. Ia cepat menghampiri dan memeriksa, mencium
pernapasan Suling Emas, lalu menggeleng-geleng kepalanya, “Luar biasa sekali. Sepantasnya ini hasil
kerja Siang-mou Sin-ni, racun darah yang luar biasa jahatnya. Hemmm, pendekar yang begini gagah tak
boleh mati sebelum iblis-iblis berupa manusia itu lenyap dari muka bumi.”
Ia kembali kepada jarum-jarumnya. Dengan tekun tabib sakti itu membuat persiapan-persiapan dengan
jarumnya dan sementara itu, malam sudah berganti pagi. Matahari mulai menyinar, menerobos masuk
melalui jendela ruangan yang dibukanya lebar-lebar.
Mendadak berkelebat sesosok bayangan orang dan Lin Lin sudah memasuki pondok itu. Begitu melihat
Suling Emas telentang di atas bangku panjang dengan muka pucat dan mata meram, ia loncat mendekat.
Kemudian ia melihat kakek yang sedang membakar jarum, dan melihat banyak bahan-bahan obat di situ.
Seketika harapannya timbul dan ia segera menegur.
“Kakek yang baik, bagaimana dengan dia...? Ah, tolonglah dia, Kek... kau sembuhkan dia dan aku akan
berlutut seribu kali kepadamu...”
Sepasang mata Kim-sim Yok-ong bersinar-sinar. “Nona cilik, tanpa kau minta aku pun memang sedang
berusaha mengobatinya. Upah berupa penghormatanmu sampai seribu kali itu terlalu melelahkan. Aku
tidak pernah minta upah untuk usahaku mengobati orang.” Setelah berkata demikian, Kim-sim Yok-ong
melanjutkan pekerjaannya membakari jarum.
Lin Lin dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tabib pandai, akan tetapi ia diam-diam merasa
curiga. Tadi ia mendengar dari seorang di antara penonton pertandingan bahwa Suling Emas dibawa lari
seorang gadis berbaju hijau, akan tetapi mengapa sekarang ia temukan di dalam pondok ini dalam
keadaan pingsan? Kemana perginya gadis baju hijau? Siapa tahu, kakek ini masih ada hubungannya
dengan gadis baju hijau itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Berpikir begini, Lin Lin segera memasuki ruangan dan kamar lain, mencari-cari dan melakukan
pemeriksaan! Hatinya lega ketika mendapatkan kenyataan bahwa pondok itu memang tidak
menyembunyikan si nona baju hijau. Ketika ia kembali ke ruangan pengobatan, kakek itu masih sibuk
dengan jarum-jarumnya sedangkan wajah Suling Emas dalam pandangan Lin Lin makin pucat saja! Mulai
bingunglah Lin Lin.
“Kek, lekaslah, Kek... mengapa kau berlambat-lambat benar? Jangan-jangan dia takkan dapat kau tolong
lagi. Lihat, dia begini pucat...!” Lin Lin meraba-raba muka Suling Emas dengan jari-jari tangannya, merabaraba
dadanya dan ingin ia menangis di atas dada itu.
Ketika Kim-sim Yok-ong menengok dan menyaksikan keadaan Lin Lin demikian itu, ia segera bertanya,
“Nona, apamukah Suling Emas?”
“Bukan apa-apa, akan tetapi kalau aku hidup dia harus hidup pula, sebaliknya kalau dia mati aku pun tidak
mau hidup lagi. Kek, kau harus tahu, kalau kau dapat menyembuhkan dia, kau pun akan hidup, sebaliknya
kalau dia mati, kau pun akan ikut kami!”
Sejenak sepasang mata kakek ini terbelalak, kemudian ia menggeleng-geleng kepalanya. Wah, bocah ini
memiliki sifat liar, pikirnya, akan tetapi tak dapat disangsikan lagi, dia mencinta Suling Emas. Teringat ia
akan Tan Lian yang juga mencinta pendekar itu. Kembali Yok-ong menghela napas. Sungguh ruwet likuliku
cinta kasih dan diam-diam ia merasa kasihan kepada Suling Emas. Dicinta dara-dara ‘nekat’ macam
Tan Lian dan apa lagi Lin Lin, benar-benar berabe!
Setelah selesai membakari jarum-jarumnya, Kim-sim Yok-ong lalu berjalan menghampiri Suling Emas dan
mulailah ia menusuk-nusukkan jarum-jarum emas dan peraknya ke dada, leher, pundak dan bagian pusar.
Lin Lin hanya menonton dari pinggir dengan hati penuh ketegangan, pandang matanya tak pernah
meninggalkan wajah Suling Emas yang masih pucat. Akan tetapi, sepuluh menit kemudian terdengar
pendekar ini mengeluh panjang dan wajahnya mulai merah. Diam-diam Lin Lin girang bukan main.
Pada saat itu terdengar suara di luar pondok, “Ah, di sini agaknya!”
Ketika Lin Lin menengok, makin girang hatinya karena yang datang adalah Sian Eng bersama Bu Sin. Dua
orang ini tersenyum girang dan hendak menegurnya dengan kata-kata. Akan tetapi Lin Lin cepat menaruh
telunjuk di depan mulut, mencegah mereka mengeluarkan suara berisik. Bu Sin dan Sian Eng ketika
melihat tanda ini dan melihat seorang kakek sedang mengobati Suling Emas dengan tusukan-tusukan
jarum, segera melangkah maju dengan hati-hati dan tidak mengeluarkan suara.
Tiga orang muda itu segera berdiri mengelilingi Suling Emas yang terlentang di atas meja, sedangkan Kimsim
Yok-ong membungkuk dan mulai mencabuti jarum-jarumnya. Setiap kali jarum dicabut, Suling Emas
mengeluh dan setelah jarum terakhir di lehernya dicabut, mulailah ia membuka kedua matanya. Ia mulamula
memandang wajah Kim-sim Yok-ong, lalu memandang Lin Lin, kemudian Sian Eng dan Bu Sin. Ia
mengejap-ngejapkan kedua matanya sejenak, lalu mengeluh lagi, “Kepalaku... ah, pusing....”
“Bagus, itu tandanya dua hawa pukulan yang bertentangan itu sudah mulai bergerak ke luar. Lekas kau
menelungkup. Bagian belakang tubuhmu mendapat giliran ditusuk!” kata Kim-sim Yok-ong dengan
wajah
berseri.
Tanpa diperintah dua kali Suling Emas segera menelungkup di atas bangku itu, dikelilingi adik-adiknya dan
si tabib sakti yang memegang jarum dengan jepitan telunjuk dan ibu jari tangan kiri, siap menusukkan ke
jalan darah tertentu.
Sian Eng yang keadaannya normal kembali tiba-tiba teringat akan pelajaran yang ia baca di dalam goa di
bawah tanah. Tiba-tiba ia berseri-seri, sepasang matanya bersinar-sinar dan tangannya diangkat ke atas.
Jari-jarinya bergerak-gerak lalu meluncur ke atas punggung Suling Emas, menotoknya secara aneh sampai
tiga kali beruntun, mendahului jarum di tangan Kim-sim Yok-ong! Totokan aneh itu dengan jitu mengenai
pusat jalan darah di tengkuk, punggung dan pinggang.
“Auuuhhhhh...!” Suling Emas mengeluh dan membalikkan kepala menoleh.
“Hebat...! Luar biasa...!” Kim-sim Yok-ong berseru.
“Enci Sian Eng...!” Lin Lin berseru, terkejut dan marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eng-moi, apa yang kau lakukan...?!” Bu Sin juga membentak.
Akan tetapi secara tiba-tiba keadaan Sian Eng sudah berubah. Kini ia menoleh ke arah jendela yang
terbuka, matanya liar, mukanya merah padam dan mendadak ia mengeluarkan lengking aneh sekali yang
seolah-olah menggetarkan seisi ruangan itu, disusul tubuhnya yang berkelebat melayang ke luar jendela.
“Enci Eng...!” Lin Lin loncat mengejar.
“Sian Eng..., tunggu...!” Bu Sin juga mengejar.
Sementara itu Kim-sim Yok-ong berdiri terbelalak keheranan melihat Suling Emas sudah dapat meloncat
turun dan hendak mengejar pula. Akan tetapi Suling Emas ingat bahwa ia berada dalam keadaan setengah
telanjang, maka ia tidak jadi lari mengejar, melainkan cepat-cepat ia menyambar baju dan memakainya.
“Hebat, gadis itu... ia memiliki tenaga dan ilmu mukjijat! Im-yang Tiam-hoat (Ilmu Menotok Im Yang) seperti
itu hanya dimiliki ketua Siauw-lim-si...,” kata si tabib sakti itu.
“Dia adikku, harus kukejar. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi...,” kata Suling Emas dan ia pun melompat
ke luar jendela. Akan tetapi ia mengeluh dan melompat masuk lagi, lalu duduk bersila mengerahkan
sinkang. Ketika melompat tadi, dadanya kembali sesak rasanya.
“Kau sudah sembuh sama sekali oleh totokan Im-yang Tiat-hoat tadi, akan tetapi luka di dalam dadamu
belumlah sembuh benar. Tak boleh kau bergerak mengeluarkan tenaga dalam sebelum istirahat dan
minum obat,” kata Kim-sim Yok-ong.
Suling Emas menarik napas panjang. Hebat memang akibat pukulan dua orang kakek itu. Ia sudah
sembuh, akan tetapi sekali mengeluarkan tenaga sinkang atau lweekang, lukanya akan terasa nyeri.
Sedikitnya ia harus beristirahat dua hari sehingga lukanya sembuh betul.
Sementara itu, Lin Lin yang mengejar dengan cepat ternyata tidak dapat melihat bayangan Sian Eng.
Begitu cepatnya dan begitu anehnya gerakan Sian Eng sehingga dalam sekejap mata saja lenyaplah encinya
itu. Namun Lin Lin tetap mengejar dengan hanya mengira-ngirakan arah yang dapat ditempuh encinya.
Karena pengejaran yang dilakukan secara kira-kira ini, maka jurusan yang diambil Lin Lin berbeda
dengan jurusan yang diambil oleh Bu Sin. Dalam mengejar saudara mereka itu kedua orang muda ini
berpencar.
Setelah melalui dua buah hutan di lereng Thai-san tanpa menemukan jejak Sian Eng, Lin Lin tiba-tiba
teringat akan keadaan Suling Emas dan ia menghentikan pengejarannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi
dengan diri Suling Emas. Sudah sembuhkah dia? Ataukah totokan Sian Eng, yang aneh tadi malah
membahayakan keselamatan nyawanya?
Lin Lin merasa khawatir sekali dan akhirnya ia berlari kembali menuju ke pondok Kim-sim Yok-ong. Kiranya
ia telah menghabiskan waktu beberapa jam dalam pengejaran itu dan karena ia belum hafal akan daerah
hutan-hutan gunung Thai-san ini, ia mulai menjadi bingung ke mana ia harus mencari pondok Kim-sim Yokong!
Lin Lin mengingat-ingat jalan yang ditempuhnya tadi dan beberapa kali ia meloncat naik ke puncak
pohon tinggi untuk mencari-cari pondok si tabib sakti.
********************
“Locianpwe... tolonglah...! Selamatkan dia!”
Suara setengah menangis ini membangunkan Suling Emas dari semedhinya. Ia membuka mata dan
bangkit berdiri. Kim-sim Yok-ong sedang sibuk mencari daun-daun dan akar-akar obat di sebelah
belakang, maka agaknya tidak mendengar suara orang di depan pondok itu. Suling Emas melangkah ke
luar pintu pondok dan melihat seorang pemuda kurus pucat berlutut di depan pintu pondok sambil
menangis. Karena memang Suling Emas mengintai dari tempat jauh ketika pemuda ini untuk pertama kali
datang ke pondok, maka ia mengenal bahwa pemuda ini adalah tunangan Tan Lian, pelajar yang bernama
Thio San itu.
“Apakah yang terjadi? Ceritakan!” Suling Emas bertanya, di dalam hatinya ia merasa amat tidak enak dan
kasihan karena ia merasa dirinya menjadi ‘gara-gara’ kesengsaraan hati pemuda ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thio San, pemuda itu mengangkat muka dan ia agak bingung melihat seorang laki-laki gagah yang tak
dikenalnya. Ia mengharapkan pertolongan tabib sakti, bukan orang muda ini.
“Jangan ragu-ragu, sahabat. Aku tahu bahwa kau adalah tunangan Nona Tan Lian. Saudara Thio San,
apakah yang terjadi? Aku adalah sahabat baik tunanganmu itu. Ceritakanlah apa yang terjadi, aku akan
menolongmu.”
Pada saat itu, Kim-sim Yok-ong berjalan mendatangi dari belakang. Melihat kakek itu muncul, Thio San
menangis lagi dan berkata, “Locianpwe, tolonglah dia! Dia... dia hendak menjadi nikouw, hendak
menggunting rambutnya, dan hendak bunuh diri! Saya tidak kuasa menahannya...!”
Mendengar ini, Suling Emas cepat menyambar tangan pemuda itu dan menariknya pergi. “Cepat, antarkan
aku kepadanya!”
Jantung Suling Emas berdebar-debar tegang, dan ia merasa khawatir sekali. Sedikit pun tak pernah ia
menyangka bahwa hati Tan Lian akan sekeras itu, tak mengira bahwa gadis itu akan menempuh jalan
nekat. Tak berani ia berlari cepat. Sambil berjalan setengah berlari biasa, pikiran Suling Emas
membayangkan keadaan Tan Lian.
Mula-mula gadis itu bersumpah hendak membalaskan dendam ayahnya, kemudian gadis itu kecewa
karena tidak mampu mengalahkannya, bahkan lebih celaka lagi, gadis itu jatuh cinta kepadanya.
Kemudian, di depan makam ayahnya, Tan Lian bersumpah hendak memusuhi anak isteri Suling Emas,
kemudian melihat kenyataan bahwa Suling Emas tidak beristeri, lalu timbul kembali cinta kasihnya dan
berhasrat menghabiskan permusuhan dengan perjodohan. Akan tetapi kembali harapan ini buyar ketika
Suling Emas dengan terus terang menyatakan tak dapat menerimanya.
Ia dapat membayangkan betapa hancur hati gadis itu, kecewa, menyesal, malu, merasa terhina. Gadis
yang tadinya merupakan seorang pendekar wanita, keturunan pendekar besar mendiang Hui-kiam-eng Tan
Hui, anak berbakti, kini telah mengambil keputusan nekat untuk menjadi nikouw, bahkan hendak
membunuh diri. Dan semua ini dialah yang menjadi gara-garanya.
Kalau Tan Lian berhasil membunuhnya, atau kalau dia mau menerimanya sebagai isterinya, tentu takkan
terjadi hal-hal ini. Akan tetapi itu bukanlah merupakan jalan keluar yang baik. Apa lagi menerima gadis itu
menjadi isterinya. Bukankah itu berarti merebut hak orang lain? Dan dia pun tidak ada rasa kasih terhadap
Tan Lian! Sayang, seorang gadis yang baik, seorang anak yang berbakti!
Berbakti! Kata-kata ini mendatangkan ilham bagi Suling Emas. Inilah agaknya senjata yang dapat ia
pergunakan untuk memecahkan persoalan Tan Lian ini.
“Mari cepat, di mana dia?”
“Di depan itu, di balik gunung-gunungan batu, di tepi jurang!” kata Thio San, suaranya gemetar penuh
kegelisahan.
“Dia ini calon suami yang amat baik,” pikir Suling Emas. Dengan hati penuh cinta kasih murni, pemuda ini
akan dapat mendatangkan bahagia di hati Tan Lian.
Benar saja, ketika mereka memutari gunung-gunungan batu, tampaklah Tan Lian duduk menangis,
berlindung dari teriknya matahari di bawah batu yang menonjol, jurang curam yang luas terbentang tak
jauh di depan.
“Lian-moi...!” Thio San berseru dengan isak tertahan.
Tan Lian mengangkat mukanya dan ia meloncat karena kaget melihat Suling Emas datang bersama
tunangannya. Ada pun Suling Emas berdiri seperti patung, hatinya serasa tertusuk melihat gadis itu. Muka
gadis itu pucat sekali, kedua pipinya basah air mata, matanya kemerahan dan kepalanya gundul plontos.
Rambut yang tadinya gemuk hitam dan panjang, yang ia lihat diurai ketika gadis itu bersumpah
di depan
makam ayahnya, kini lenyap sama sekali. Wajah itu tetap cantik, dan kegundulan kepalanya sama sekali
tidak mengakibatkan lucu, melainkan mendatangkan rasa iba.
“Kau... kau bawa dia datang bersamamu? Kau... kalian terlalu menghinaku! Apa gunanya hidup lagi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu lalu berlari cepat menuju ke tepi jurang, siap hendak meloncat.
“He, tunggu dulu, Nona! Dengar dulu omonganku...!” Suling Emas berlari maju dan Thio San juga lari
mengejar dengan kedua lengan dikembangkan, wajahnya makin pucat.
Di tepi jurang Tan Lian menoleh, kedua tangannya sudah berkembang siap meloncat ke dalam mulut maut
yang ternganga lebar di bawah kakinya. “Jangan dekat! Aku akan meloncat dan tak seorang pun dapat
mencegahku. Mau bicara apa, boleh bicara, tapi jangan mendekat!”
Dengan hati tegang terpaksa Suling Emas menghentikan langkahnya. Ia maklum bahwa kalau ia mendekat
lagi, gadis nekat ini akan meloncat turun tanpa mendengarkan lagi kata-katanya. Hatinya perih melihat titiktitik
air mata menetes dan sepasang mata yang lebar dan jeli itu memandang kepadanya penuh sesal.
“Nona Tan, ingat dan sadarlah. Pikirlah masak-masak. Apa kau tidak kasihan kepada Saudara Thio San,
tunanganmu ini? Dia amat mencintamu, mencinta dengan murni, dengan sepenuh jiwa raganya. Nona, dia
bersedia melupakan segala-galanya, bersedia menerimamu dan melanjutkan perjodohan kalian. Tak
seorang pun laki-laki di dunia ini yang dapat mencintamu seperti dia....”
Sepasang mata itu terbelalak memandangnya. Bibir yang gemetar itu berkata lemah, “Dia... dia...?”
Tertusuklah hati Suling Emas oleh pandang mata dan kata-kata ini. Ia maklum apa artinya itu. Pandang
mata dan dua kata itu merangkai pertanyaan tak berbunyi, “Mengapa dia dan dia saja, mengapa bukan
engkau?”
“Sudahlah, pergilah kalian. Atau... barangkali kalian ingin melihat aku terjun?” Kembali Tan Lian siap untuk
terjun ke depan.
“Lian-moi...! Kalau kau bertekad hendak mati, biarlah aku menemanimu ke alam baka!” teriak Thio San.
Teriakan ini agaknya meragukan Tan Lian.
Melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk menghalangi maksud gadis keras hati itu, tiba-tiba suling Emas
berkata keras. “Nona Tan Lian, kau ternyata adalah seorang anak yang paling murtad dan tidak berbakti di
dunia ini! Arwah ayahmu pasti akan merasa malu sekali!”
Cepat sekali Tan Lian membalikkan tubuhnya. Matanya memandang penuh kemarahan kepada Suling
Emas. “Suling Emas! Tutup mulutmu! Kau sudah menghinaku, apakah kau juga hendak menghina ayah?
Tak boleh kau sebut-sebut nama ayah, dan aku... karena baktiku kepada ayah maka sampai begini!”
Suling Emas sengaja tersenyum mengejek. “Huh, orang seperti engkau ini masih mengaku berbakti
kepada ayah? Kau durhaka dan tidak berbakti. Orang seperti Saudara Thio San ini, barulah bisa disebut
setia dan berbakti. Ia berbakti dan menjunjung tinggi perintah ayahnya untuk menjadi jodohmu dan ia setia
kepadamu sampai mati. Akan tetapi engkau? Huh, kau durhaka terhadap ayah, masih pura-pura merasa
diri berbakti? Memalukan!”
“Jahanam, tutup mulutmu! Buktikan apa yang kau katakan tidak berbakti itu. Kalau kau tidak dapat
membuktikan, hemmm... aku akan mengadu nyawa denganmu!”
Suling Emas tertawa memanaskan hati. “Kau sudah bersumpah membalaskan dendam ayahmu, tidak
terlaksana. Hal itu masih bisa dimengerti karena ibuku yang hendak kau balas sudah meninggal dunia.
Pula untuk membalas dendam itu kepadaku, memang kau tidak mampu menangkan aku. Akan tetapi
ayahmu telah memilih Thio San menjadi jodohmu. Perintah ayahmu ini bukan tak dapat kau penuhi, karena
Thio San masih ada dan pemuda itu mencintamu. Mengapa kau mengingkarinya? Mengapa kau hendak
melanggar janji perjodohan yang ditentukan ayahmu? Bukankah dengan demikian berarti kau menyeret
ayahmu ke jurang kehinaan sebagai orang yang mengingkari janji ikatan jodoh? Huh-huh, kukira kalau kau
sekarang meloncat terjun ke dalam jurang itu dan mampus, arwahmu akan disambut penuh kemarahan
dan kebencian oleh arwah ayahmu. Nah, kau loncatlah, biar kulihat!” Suling Emas berdiri tegak sambil
memangku tangan.
“Kurang ajar!” Thio San berteriak sambil berlari menghampiri Suling Emas. Kemarahannya membuat wajah
pemuda ini merah padam, “Kau kurang ajar sekali berani mengeluarkan kata-kata menghina seperti itu
kepada Lian-moi. Biar pun kau seorang pendekar yang pandai ilmu silat, biarlah aku yang mengadu nyawa
denganmu untuk mencuci penghinaanmu!” Setelah berkata demikian Thio San menggerakkan kedua
dunia-kangouw.blogspot.com
tangannya, bertubi-tubi memukuli muka dan dada Suling Emas yang menerima semua pukulan itu tanpa
melawan dan dengan mata tidak berkedip.
“San-koko... jangan...!”
Thio San yang tadinya sudah merasa betapa sia-sia memukuli ‘manusia baja’ yang seperti tidak
merasakan pukulannya dan yang sebaliknya malah membuat kedua tangannya sakit itu, tercengang dan
cepat menengok mendengar sebutan ‘koko’ dari tunangannya. Ia melihat tunangannya itu menangis
tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangan.
“Lian-moi, dia kurang ajar!”
“... tidak... dia benar... Ya Tuhan... ayah, ampunkan anakmu ini, ayah...!”
Thio San cepat maju memeluk tubuh tunangannya yang terhuyung-huyung hendak roboh. Gadis itu makin
tersedu-sedu di atas dada tunangannya. “Koko... kau... pun maafkanlah aku...,” isaknya.
Thio San hanya dapat mengusap pundak gadis pujaan hatinya dengan air mata bercucuran. Ketika ia
menengok, ia melihat Suling Emas sudah melangkah pergi dari situ dengan wajah berseri dan bibir
tersenyum. Thio San mengejap-ngejapkan matanya menahan haru yang menguasai hatinya. Ia takkan
melupakan pendekar itu selama hidupnya. Tahulah ia sekarang bahwa sesungguhnya nyawa Tan Lian
tertolong oleh Suling Emas, bukan hanya nyawa Tan Lian, melainkan juga nyawanya, kebahagiaan
hidupnya! Cepat-cepat ia lalu memapah dan merangkul Tan Lian, diajak pergi meninggalkan jurang yang
tetap menganga dan sunyi, seakan-akan merenungi peristiwa itu tanpa perasaan apa-apa.
Suling Emas berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia mengerti betul bahwa sungguh pun tadi ia
berhasil mencegah Tan Lian membunuh diri, bukan itu saja, juga menemukan kembali dua buah hati dan
mempersatukan dua kasih yang tadinya menyeleweng. Namun semua hasil ini dibeli dengan pengorbanan
yang cukup besar. Karena biar pun ia berhasil membelokkan cinta kasih Tan Lian kepada tempat yang
wajar, kepada orang yang berhak, namun sebagai imbangannya ia membangkitkan kembali dendam gadis
itu sebagai pelaksanaan dari pada kebaktian terhadap ayahnya. Sumpah di depan kuburan yang tadinya
terselimut oleh rasa cinta, kini muncul kembali berupa ancaman terhadap keluarga Suling Emas!
Berkali-kali Suling Emas menarik napas panjang dan karena perjalanan ini sedikit banyak mempergunakan
tenaga, ia merasa dadanya sakit kembali. Dalam keadaan melamun dan nelangsa ini ia tidak tahu bahwa
dirinya dibayangi orang, juga tidak tahu bahwa udara yang tadinya terang menjadi gelap oleh mendung dan
angin mulai bertiup. Ia baru sadar dan merasa kaget setelah ada daun-daun gugur yang tertiup angin keras
menghantam mukanya, dan kain kepalanya hampir terlepas terbang dari kepalanya. Ternyata cuaca sudah
menjadi agak gelap dan udara yang tadinya tenang menjadi liar karena angin bertiup keras. Sebentar lagi
turun hujan, pikirnya. Ia lalu membelok ke arah gunung batu di mana terdapat banyak goa-goa batu untuk
berlindung.
“Suling Emas...!”
Di dalam goa ia membalikkan tubuh. Kiranya Lin Lin yang memanggilnya dan kini gadis yang berlari cepat
itu sudah masuk goa, serta-merta gadis ini merangkul dan menangis, membenamkan muka ke dadanya!
Suling Emas memejamkan dan mendongak ke atas, sekuat tenaga berusaha menekan guncangan hatinya,
namun sia-sia.
“Ah, betapa gelisah dan khawatir hatiku tadi. Aku sedang mengejar Enci Sian Eng ketika aku teringat akan
keadaanmu. Aku hendak kembali ke pondok namun sesat jalan. Aku... aku gelisah dan melihat kau
berjalan dengan muka pucat bersama pemuda itu, aku heran dan mengikuti... pertemuanmu dengan gadis
baju hijau yang aneh. Ah, Suling Emas, betapa khawatir hatiku. Dia... dia mencintamu dan... ah syukurlah.
Kini aku bahagia. Kiranya kau hanya mencinta aku seorang, seperti juga aku hanya mencinta engkau
seorang di dunia ini...!”
Suling Emas tidak menjawab, tidak mampu menjawab karena jantungnya yang berdebar-debar seakanakan
hendak pecah itu mencekik tenggorokannya. Karena itu ia hanya dapat menggelengkan kepalanya
keras-keras. Gerakan ini agaknya terasa oleh Lin Lin yang segera mengangkat muka memandang. Suling
Emas menunduk, muka mereka berdekatan, dua pasang mata saling pandang. Kembali Suling Emas
menggeleng kepala dan pandang matanya sayu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin Lin memeluk lebih erat lagi. “Kenapa kau menggeleng kepala? Apa maksudmu hendak menyangkal?
Suling Emas, betapa pun kau hendak berpura-pura, hatimu tidak akan dapat menipuku, tidak akan
menipumu. Debar jantungmu meneriakkan betapa kau mencintaku. Ah, jangan kau goda aku...!” Kembali
Lin Lin membenamkan mukanya pada dada yang bidang itu.
Sejenak Suling Emas tenggelam ke dalam alam perasaan indah dan nikmat yang membuat ia membelaibelai
rambut hitam halus dan menciuminya penuh nafsu. Biar pun mereka tak berkata-kata, dengan muka
Lin Lin terbenam di dada Suling Emas dan muka Suling Emas terbenam di rambut Lin Lin, namun
keduanya sama-sama tenggelam dalam kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang
terbuai asmara. Mereka tidak menghiraukan bahkan tidak tahu betapa angin makin keras mengamuk di
luar goa.
“Koko (kanda)... sebetulnya siapakah namamu?” Lin Lin berbisik lirih.
Akan tetapi bagi Suling Emas, bisikan lirih ini seakan-akan merupakan halilintar menyambar kepalanya
yang menghancurkan semua mimpi indah dan menyeretnya kembali kepada kenyataan. Dengan halus
akan tetapi pasti ia memegang kedua pundak Lin Lin dan mendorong gadis itu sehingga terlepas dari
padanya kemudian ia melangkah mundur dan memutar tubuhnya membelakangi Lin Lin sambil berseru
keras, “Tidak... tidak mungkin...!”
Tentu saja Lin Lin terkejut sekali dan memandang dengan muka pucat dan hati khawatir. “Ada apakah?
Apa yang tidak mungkin...?” katanya sambil memegang lengan Suling Emas. Akan tetapi pendekar ini tetap
membuang muka dan kedua matanya dipejamkan.
“Tak mungkin kita lanjutkan kegilaan ini. Lin Lin, aku... betapa pun perih rasa hatiku, aku... aku tak mungkin
begitu gila untuk menerima perasaanmu yang murni. Tak mungkin!” Kata-kata terakhir ini keluar dari mulut
Suling Emas seperti keluhan dengan suara gemetar dan parau.
Lin Lin tersentak bagaikan disambar petir. Dua titik air mata meloncat turun di atas pipinya yang pucat dan
sepuluh jari tangannya bergerak-gerak saling remas, membayangkan hati yang bingung, perih dan gelisah.
“Kenapa...? Kenapa...? Suling Emas, bukankah kau mencintaiku? Sejak pertama kali kita bertemu di kota
raja... sikapmu selama ini... pengakuanmu di depan gadis tadi... bukankah itu semua membuktikan bahwa
kau pun mencintaiku seperti aku mencintamu? Ataukah... aku telah salah duga? Suling Emas, katakanlah.
Sebagai seorang laki-laki yang gagah, katakanlah, apakah kau menolak kasihku? Apakah kau tidak... tidak
mencintaku seperti yang kuduga?”
Suling Emas bersedakap memangku lengan, ia masih membuang muka dengan mata terpejam karena
tidak kuasa ia memandang wajah gadis yang bicara dengan suara begitu tergetar memilukan. Akhirnya ia
dapat menjawab, suaranya lirih dan tersendat-sendat menahan goncangan hati.
“Adik Lin Lin, semata-mata bukan aku menolak cinta kasihmu, bukan pula membencimu, akan tetapi justru
aku sangat menyayangkan nasibmu kelak apa bila kau menjadi jodohku. Lin Lin, engkau cantik jelita, muda
remaja, engkau berhak memperoleh seorang suami yang lebih segala-galanya dari pada aku. Masih
banyak kesempatan bagimu untuk bertemu jodoh yang tampan dan gagah perkasa, seorang satria sejati
yang tepat menjadi teman hidupmu selamanya. Aku... ah, aku sudah tua untukmu, Lin Lin!”
Di belakang punggungnya, Suling Emas mendengar isak tangis Lin Lin. Ia mengeraskan hatinya. Apa yang
ia ucapkan tadi adalah suara hatinya. Lin Lin adalah adiknya, sungguh pun bukan adik kandung dan
berasal dari orang lain, namun gadis ini sudah menggunakan she (keturunan) ayahnya, bernama Kam Lin,
adik Kam Bu Song, dia sendiri!
Ayahnya sudah meninggal dunia, berarti dia sebagai putera sulung menjadi pengganti ayahnya. Dia adalah
kakak Lin Lin, juga wakil ayah Lin Lin. Dia yang berkewajiban mencarikan jodoh untuk adiknya ini, jodoh
yang tepat. Mana mungkin dia sendiri terlibat cinta kasih dengan Lin Lin? Mana mungkin dia memperisteri
Lin Lin, mengambilnya sendiri menjadi jodohnya? Dunia akan mentertawakannya, arwah ayahnya akan
mengutuknya, Thian akan menghukumnya. Kalau saja Lin Lin bukan bernama Kam Lin, bukan adik
angkatnya, agaknya ia akan membuka kedua lengannya, karena hanya pada Lin Lin ia melihat pengganti
Suma Ceng!
“Tidak...! Kau tidak tua bagiku. Aku tidak sudi menjadi jodoh orang lain. Aku hanya mencintaimu seorang!
Suling Emas, apakah cinta kasih murni mengenal usia? Ah, Suling Emas, aku yakin betul akan cinta
dunia-kangouw.blogspot.com
kasihmu, mengapa kau harus berpura-pura menipu diri sendiri? Mengapa kau hendak merenggut pertalian
kasih antara kita, rela merobek hatimu sendiri dan menghancurkan hatiku, hanya karena alasan usia? Tak
tahukah engkau bahwa sikapmu ini mengakibatkan hati kita robek-robek berdarah, dan selama hidup akan
menyiksa kita sendiri? Aku hanya mencinta engkau seorang, dan kau pun cinta kepadaku... ah, aku mohon
kepadamu... jangan patahkan ikatan suci ini... Suling Emas...!” Lin Lin menangis sesenggukan dan tiba-tiba
ia berlutut dan merangkul kedua kaki Suling Emas!
“Jangan...! Jangan begitu...!” Suling Emas berseru kaget sambil melangkah mundur.
“Biarlah! Kau lihat. Demi cinta kasihku kepadamu, aku berlutut dan bermohon kepadamu! Aku
merendahkan diri, aku bersikap hina, karena... karena cintaku. Kau telah mengenalku, kalau bukan demi
cintaku, lebih baik aku mati dari pada merendahkan diri seperti ini...!”
Tiba-tiba Lin Lin mengangkat mukanya dan berteriak, “Suling Emas...!” Akan tetapi pendekar itu sudah
lenyap, tidak berada di dalam goa lagi.
Dengan isak tertahan Lin Lin melompat ke luar, disambut angin dan air hujan. Matanya sukar dibuka dan
lebih sukar lagi melakukan pengejaran dalam keadaan seperti itu.
“Suling Emas...!” Berkali-kali ia menjerit, memanggil-manggil dan lari ke sana ke mari mencari pendekar itu
sambil menangis. Air matanya bercucuran menyaingi air hujan. Beberapa jam kemudian tubuh Lin Lin
menggeletak pingsan di antara siraman air hujan.
********************
“Lin-moi...!” Bu Sin terkejut bukan main ketika melihat tubuh Lin Lin yang seperti telah tak bernyawa lagi itu
di atas rumput. Cepat-cepat ia memondong tubuh adiknya dan berlari kembali ke pondok Kim-sim Yok-ong.
“Locianpwe... tolonglah... tolonglah adikku ini...! Kudapatkan dia seperti ini di dalam hutan...!” Bu Sin
berkata dengan suara gugup kepada kakek tabib yang sedang duduk di ruangan dalam.
Kim-sim Yok-ong menghampiri Lin Lin yang rebah di atas bangku panjang di mana tadinya Suling Emas
berbaring. Wajah Lin Lin pucat sekali seperti mayat, dadanya tidak bergerak seakan-akan sudah tak
bernapas lagi. Hal inilah yang membuat Bu Sin kebingungan. Setelah menyentuh nadi pergelangan tangan
gadis itu, Yok-ong menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang, diawasi oleh Bu Sin
yang menjadi amat gelisah.
“Hemmm... di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh! Entah mengapa adikmu ini sekaligus dapat terserang
perasaan malu, kecewa dan duka secara berbareng. Padahal kulihat dia tadi demikian lincah gembira.
Akan tetapi jangan khawatir, dia tidak apa-apa.”
Bu Sin lega hatinya, namun ia sendiri terheran mendengar keterangan itu. Lin Lin merasa malu, kecewa
dan berduka? Apa sebabnya? Ia memang sudah terheran-heran melihat Lin Lin. Adiknya ini tiba-tiba
memiliki kepandaian yang hebat, demikian pula Sian Eng. Apakah yang terjadi dengan kedua orang
adjknya? Ia belum mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap. Kini Sian Eng secara aneh sekali telah
pergi entah ke mana, dan Lin Lin... mengapa bisa begini?
“Tak usah kau khawatir, Yok-ong bilang dia akan sembuh dua tiga hari setelah beristirahat!” Tiba-tiba
terdengar suara orang dan Bu Sin segera menengok, kiranya bibi gurunya, Kui Lan Nikouw yang berada di
situ.
Kui Lan Nikouw memang tiba di pondok Yok-ong setelah orang-orang muda itu pergi. Sebagai seorang
beribadat, melihat keadaan Yok-ong, Kui Lan Nikouw menjadi kagum sekali dan tanpa diminta ia lalu
membantu merajang akar dan daun obat di sebelah belakang pondok sambil menanti kembalinya para
keponakannya.
Nikouw ini biar pun ilmu silatnya tidak sangat tinggi, namun ia merupakan tokoh yang terkenal pula di Cinling-
san dan tubuhnya masih kuat, biar pun ia hanya berdiam di Cin-ling-san, bertapa dan mengajarkan
ilmu batin menurut pelajaran Agama Buddha. Akan tetapi setelah lama ketiga orang murid keponakannya
meninggalkan Ting-chun, ia merasa khawatir juga, lalu pada suatu hari ia meninggalkan Cin-ling-san,
mencari keponakan-keponakannya ke kota raja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Secara kebetulan sekali di tengah perjalanan ia bertemu dengan Bu Sin yang hendak mengunjungi Cinling-
san untuk memberi laporan kepada bibi gurunya tentang mereka bertiga, juga sekalian untuk
membicarakan rencana perjodohannya dengan Liu Hwee, puteri dari Beng-kauwcu (ketua Beng-kauw).
Girang hati nikouw ini mendengar tentang rencana perjodohan, akan tetapi di samping kegirangannya, ia
pun merasa gelisah memikirkan Sian Eng dan Lin Lin, maka ia menegur keponakannya ini, “Sin-ji (anak
Sin), mengapa kau tidak menanti adik-adikmu sehingga dapat pulang bersama mereka? Kau benar-benar
terlalu memikirkan kepentingan sendiri. Kurasa yang dapat menolong kita mendapatkan adik-adikmu
hanyalah Bu Song yang kini ternyata menjadi Suling Emas, pendekar besar yang namanya sampai
bergema di Cin-ling-san. Pinni (aku) mendengar pula tentang pertandingan besar antara Thian-te Liok-koai
di Thai-san. Kurasa Suling Emas akan hadir pula di sana, maka sebaiknya kita langsung ke sana
menemuinya. Setelah kita berjumpa dengan Sian Eng dan Lin Lin, baru kita beramai pergi kepada Bengkauwcu
untuk meminang puterinya.”
Demikianlah, secara kebetulan sekali Kui Lan Nikouw dan Bu Sin muncul ketika terjadi pertandingan hebat
di puncak Thai-san, di mana Kui Lan Nikouw roboh oleh hawa pukulan dua orang kekek sakti karena
hendak menyelamatkan Bu Sin, akan tetapi secara mukjijat nikouw ini ditolong oleh Bu Kek Siansu.
Nikouw ini tadinya gembira sekali karena tepat seperti dugaannya, ia dapat bertemu dengan Suling Emas
di puncak Thai-san, bahkan bukan hanya dengan keponakannya yang telah lama hilang ini, juga malah
bertemu pula dengan Sian Eng dan Lin Lin yang telah memiliki kepandaian yang ajaib sekali. Akan tetapi
kegembiraannya hanya sebentar saja karena sekarang kembali kedua orang keponakannya itu telah
lenyap, bahkan kemudian Bu Sin kembali dengan Lin Lin yang berada dalam keadaan pingsan, bahkan
seperti telah mati. Baiknya ada Kim-sim Yok-ong yang memberi jaminan bahwa Lin Lin tidaklah berbahaya
keadaannya.
Sampai dua hari dua malam Lin Lin tidak sadarkan diri. Tak pernah membuka mata dan kadang-kadang ia
mengigau tentang hal-hal yang tak dimengerti sama sekali oleh Kui Lan Nikouw mau pun Bu Sin yang
dengan hati-hati menjaganya. Ia sering kali mengigau tentang usia tua, tentang cinta yang bernoda darah,
tentang ratu-ratu dan puteri-puteri. Sering kali ia menjerit, “Bukan karena tua, akan tetapi karena kau
mencinta wanita lain!”
Hanya sedikit bubur encer yang memasuki perutnya, disuapkan ke dalam mulutnya oleh Kui Lan Nikouw.
Tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat sekali, dan biar pun kedua matanya meram, akan tetapi
banyak air mata keluar dari sepasang matanya.
Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali ia membuka matanya, menengok ke kanan kiri, tampaknya bingung.
“Sin-ko...! Sukouw...!” Akhirnya ia berseru ketika mengenal dua orang yang duduk di pinggir dipan. Ia
bangkit duduk dan menubruk bibi gurunya sambil menangis.
Kui Lan Nikouw mengelus-elus rambutnya, penuh kesabaran. “Kau berbaringlah saja, anak baik. Kau
sudah sembuh, hanya perlu beristirahat.”
“Lin-moi, aku mendapatkan kau rebah pingsan di dalam hutan. Apakah gerangan yang terjadi?”
Kui Lan Nikouw memberi isyarat dengan matanya kepada Bu Sin, akan tetapi pemuda ini sudah terlanjur
bicara, maka nenek ini menoleh kepada Lin Lin dengan khawatir. Menurut anggapannya, tidak tepat
saatnya untuk bicara tentang itu selagi Lin Lin baru saja sadar. Akan tetapi Lin Lin hanya mengerutkan
kening, menggeleng kepala, matanya sayu. Ini pun hanya sebentar karena tiba-tiba matanya mengerling
kepada Kui Lan Nikouw dan kembali merangkulnya.
“Ah, girang sekali bertemu denganmu, Sukouw. Bagaimanakah Sukouw bisa muncul di sini? Seperti dalam
mimpi saja!”
Lega hati Kui Lan Nikouw. Kiranya Lin Lin masih biasa seperti dulu, ramah dan lincah. “Nanti kuceritakan,
Lin Lin. Sekarang kau rebahlah, kata Kim-sim Yok-ong kau perlu beristirahat.”
“Ah, Si Raja Obat itukah yang menolongku? Benar-benar dia patut disebut Raja Obat, dan tentang hatinya
emas atau bukan, perlu diselidiki dulu.” Ia tersenyum dan sudah mendapatkan kegembiraannya kembali.
“Aku tidak merasa sakit apa-apa, Sukouw, hanya... lemas dan... dan lapar sekali! Kalau begini rasanya aku
sanggup menghabiskan nasi sepanci dan ayam gemuk tiga ekor, bakmi dua kati!” Gadis ini tertawa dan Kui
dunia-kangouw.blogspot.com
Lan Nikouw juga tertawa.
“Bocah nakal! Dua hari ini kau bikin hatiku penuh kekhawatiran saja.” Nikouw ini girang bukan main.
Akan tetapi biar pun mulutnya tersenyum, di dalam hatinya Bu Sin tidak puas. Ia terlampau kenal watak Lin
Lin yang memang mudah sekali berduka dan gembira, mudah menangis mudah tertawa semenjak
kecilnya. Akan tetapi kini ia melihat betapa di balik wajah berseri dan senyum melebar itu terdapat awan
gelap yang membayang dari kesayuan mata adik angkatnya ini, mata sayu lesu yang hanya dapat timbul
karena kedukaan yang menindih hati. Maka diam-diam ia merasa prihatin dan kasihan kepada Lin Lin,
namun ia tidak berani bertanya karena ia mengenal watak Lin Lin yang takkan mau bercerita kalau tidak
atas kehendaknya sendiri.
Ditemani oleh Kim-sim Yok-ong, Lin Lin bersama kakaknya dan bibi gurunya lalu makan masakan tanpa
daging yang dimasak oleh Kui Lan Nikouw. Selesai makan mereka bicara tentang peristiwa yang lalu
terutama sekali tentang keadaan dan sikap Sian Eng yang amat aneh.
“Sungguh aku merasa heran sekali melihat Enci Sian Eng. Mengapa ia melarikan diri dan apakah yang
terjadi atas dirinya maka ia berubah seaneh itu?” kata Lin Lin.
“Kau sendiri pun aneh, Lin-moi. Kulihat kau telah memiliki ilmu yang hebat sehingga berdua dengan Sian
Eng kau mampu melawan tokoh-tokoh iblis. Bagaimana kau bisa mendapatkan kemajuan dalam waktu
singkat dan memiliki ilmu yang luar biasa?”
Lin Lin tersenyum. “Ah, kebetulan saja aku mendapatkan warisan ilmu yang tak dapat kuceritakan dari
mana asalnya. Enci Sian Eng lebih hebat, dan menjadi begitu aneh, seakan-akan aku melihat sinar yang
tidak sewajarnya dari mukanya.”
“Sayang sekali, Bu Song juga ikut pergi dan tidak kembali sampai sekarang. Belum sempat aku bercakapcakap
dengan keponakanku itu. Ah, kurasa dia lebih mengetahui akan keadaan Sian Eng yang aneh,” kata
Kui Lan Nikouw.
“Siapa katamu, Sukouw? Kakak Bu Song...? Di mana dia...? Siapa...?” Lin Lin bertanya dengan muka
terheran-heran. Sudah dua kali ia mendengar disebutnya nama kakaknya yang sampai kini belum ia lihat
itu.
Bu Sin tertawa. “Kasihan kau, Lin-moi. Sampai sekarang pun kau belum tahu dan belum dapat menduga?
Aku dan Sian Eng sudah tahu. Yah, mungkin karena kau selalu terpisah dariku, maka kau tidak tahu akan
rahasia ini. Suling Emas, pendekar itu, dialah sebetulnya kakak Kam Bu Song yang kita cari-cari!”
“Prakkk!” pecahlah cangkir yang berada di tangan Lin Lin.
Gadis ini bangkit berdiri, matanya terbelalak lebar ketika ia memandang kepada Bu Sin dengan sinar mata
tak percaya. Kemudian ia memandang Kui Lan Nikouw dengan mata bertanya. “Dia...? Kakakku...?”
Bu Sin tertawa gembira melihat keheranan dan kekagetan Lin Lin ini. Akan tetapi Kui Lan Nikouw
memandang dengan kening berkerut, karena sekarang nenek inilah yang dapat melihat bahwa gadis itu
tidak hanya heran dan kaget saja. Ia segera berkata menerangkan.
“Tentu saja dia kakakmu, Lin Lin! Bu Song adalah putera sulung ayahmu dengan Liu Lu Sian. Kemudian
Bu Sin dan Sian Eng adalah anak-anak ayahmu yang kedua dan ketiga, dari ibu mereka yaitu Souw Bwe
Hwa sedangkan kau sendiri adalah....”
“Anak pungut! Aku hanya anak angkat!” Lin Lin berseru keras.
Kini Bu Sin memandang kaget. “Biar pun anak angkat, akan tetapi kau seperti anak ayah ibu sendiri, Linmoi.
Kau adik kami...!”
“Adik angkatnya! Sebetulnya orang lain!” Lin Lin kembali bersitegang sambil menggigit bibirnya yang
gemetar.
“Hushhh! Mengapa kau bicara begitu?” Kui Lan Nikouw menegur. “Lin Lin, kau juga puteri ayahmu, biar
pun anak angkat akan tetapi kau sah menjadi keluarga Kam. Kau she (bernama keturunan) Kam dan
dunia-kangouw.blogspot.com
namamu Lin...”
“Bukan!” Lin Lin sudah meloncat sekarang, dan sinar keemasan berkilauan ketika ia mencabut pedangnya.
Pedang Besi Kuning!
Melihat ini Bu Sin dan Kui Lan Nikouw juga bangkit berdiri dengan muka pucat. Hanya Kim-sim Yok-ong
yang tetap duduk tenang, hanya melirik sedikit ke arah Lin Lin, agaknya kejadian seperti ini sama sekali
tidak aneh baginya karena ia telah mengetahui dasar-dasarnya.
“Bukan! Aku bukan apa-apa kalian, bukan apa-apanya Bu Song! Aku tidak punya she Kam, dan namaku
adalah Yalin! Puteri Mahkota, Puteri Khitan, yang mulia Puteri Yalin! Aku bukan apa-apa kalian. Aku bukan
adiknya, bukan adiknya...!” Tiba-tiba Lin Lin meloncat dan lari ke luar dari dalam pondok, pedangnya
berkilauan.
“Lin-moi...!” Bu Sin hendak mengejar akan tetapi lengannya dipegang Kui Lan Nikouw.
“Takkan ada gunanya, Sin-ji. Sejak dulu aku sudah menduga bahwa sewaktu-waktu ia akan memenuhi
panggilan darahnya. Memang dia berdarah bangsawan Khitan. Kau tidak lihat sikapnya tadi? Begitu agung
seperti puteri! Biarkanlah, hatinya keras sekali dan kepandaiannya juga luar biasa, percuma saja dihalangi
kehendaknya.”
“Korban asmara lagi...,” Kim-sim Yok-ong bicara perlahan seperti orang bicara kepada dirinya sendiri.
“Penyakit orang muda yang amat sukar diobati. Percuma saja aku disebut Raja Obat, terhadap penyakit
yang satu ini aku benar-benar angkat tangan...,” lalu ia menarik napas panjang dan meninggalkan meja,
memasuki kamarnya untuk mengaso.
Bu Sin hanya dapat saling pandang dengan bibi gurunya, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Raja
Obat itu. Yang paling bingung dan sedih adalah Bu Sin. Kembali ia harus berpisah dari Sian Eng dan Lin
Lin. Perpisahan yang amat aneh dan luar biasa. Sian Eng lenyap tak meninggalkan bekas sehingga sukar
baginya untuk mencarinya. Akan tetapi Lin Lin biar pun pergi secara aneh dan tidak sewajarnya, dapat ia
duga bahwa adiknya, adik angkat yang luar biasa ini, besar sekali kemungkinannya pergi ke Khitan! Hanya
Suling Emas yang dapat ia harapkan! Suling Emas, atau kakaknya, Kam Bu Song seoranglah yang dapat
ia harapkan bantuannya untuk mencari kedua orang adiknya itu. Akan tetapi, Suling Emas juga lenyap tak
berbekas, ke mana ia harus mencarinya?
Sementara itu, Lin Lin berlari-lari seperti orang gila, tidak peduli ke mana kakinya bergerak membawanya,
berlari sambil mengulang kata-kata, “Dia bukan kakakku... dia bukan kakakku...!”
Sampai malam gelap tiba, gadis ini terus berlari meninggalkan pegunungan Thai-san dan akhirnya tibalah
ia di sebuah hutan di kaki gunung bagian utara. Malam yang gelap tidak memungkinkan ia melanjutkan
larinya. Ia menjatuhkan diri di atas rumput dan duduk termenung. Tidak menangis lagi, namun beberapa
kali ia masih terisak, sedu-sedan menyelingi napasnya yang terengah-engah karena berjam-jam lari cepat
tadi melelahkannya. Pikirannya penuh dengan bayangan Suling Emas, penuh dengan persoalan Suling
Emas.
Lin Lin merenung sambil menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon. Ia merasa yakin benar bahwa
Suling Emas mencintanya. Hal ini jelas dapat ia tangkap dari pandang mata, dari kata-kata, mau pun dari
gerak dan belaiannya kemarin. Ia tahu bahwa Suling Emas memaksa diri menjauhinya, memaksa diri
memutus rasa cinta kasih. Apakah sebabnya? Inilah yang menjadi bahan pemikirannya. Karena mereka
masih bersaudara?
Hanya namanya saja saudara! She Kam yang ia pakai bukanlah she-nya yang asli. Ia tidak berdarah Kam!
Tidak dari ayah, juga tidak dari ibu, tidak menghubungkan pertalian darah antara dia dan Suling Emas.
Apakah karena Suling Emas betul-betul merasa telah tua? Ini pun tidak betul, karena biar pun ada selisih
usia antara dia dan Suling Emas, namun pendekar itu belumlah tua, baru tiga puluh tahun lebih. Lalu, apa
sebabnya dia menolaknya. Karena di sana ada wanita lain! Tapi... ia yakin bahwa Suling Emas
mencintanya.
Tiba-tiba ia teringat dan meloncat bangun! Mengapa ia hanya mengingat akan Suling Emas sehingga ia
lupa akan Kam Bu Song? Ah, sekarang tahulah dia. Pernah ia mendengar tentang hubungan asmara
antara kakaknya itu, Kam Bu Song pernah bercinta dengan puteri bangsawan adik Suma Boan. Dan Kam
Bu Song adalah Suling Emas! Ah, mengapa ia begini tolol? Teringat ia sekarang akan perjumpaannnya
dunia-kangouw.blogspot.com
yang pertama kali dengan Suling Emas.
Di dalam gedung perpustakaan di istana kaisar. Perjumpaan pertama di tempat yang agak gelap itu, di
mana serta-merta Suling Emas memeluk dan menciumnya, kemudian kaget dan minta maaf, bukankah ini
jelas membuktikan bahwa Suling Emas menyangka dia wanita lain, wanita yang menjadi kekasihnya, yang
biasa dipeluk-ciumnya dan biasa mengadakan pertemuan rahasia dengannya? Ah, mengapa ia begitu
bodoh? Terang bahwa Suling Emas mencinta wanita lain, tak salah lagi, wanita itu tentulah adik Suma
Boan!
Berpikir sampai di sini, muka Lin Lin menjadi merah padam. Alangkah memalukan! Ia mencinta orang yang
selama ini dicari-carinya sebagai kakaknya! Dan ia bertepuk sebelah tangan. Orang yang dicintanya sama
sekali tidak membalas, karena telah mencinta orang lain. Benar-benar ia telah merendahkan diri sampai
sehina-hinanya. Ia merasa malu sekali.
“Aku harus pergi jauh. Aku harus kembali ke Khitan. Aku takkan mau bertemu muka dengan dia lagi,
kecuali kalau aku sudah menjadi ratu di Khitan! Baru aku suka bertemu dengan dia, sebagai ratu bukan
sebagai adiknya, apa lagi sebagai... kekasihnya. Tapi sebelum ke Khitan... aku harus melenyapkan wanita
itu, wanita yang berani menolak cinta kasih Suling Emas, wanita yang berani merampas hati Suling Emas,
wanita yang menjadi penghalang kebahagiaannya!” Berpikir demikian, hati panas membuat Lin Lin lupa
akan kelelahannya dan bangkitlah ia, lalu melanjutkan perjalanan di waktu malam, keluar masuk hutan.
Tiba-tiba Lin Lin menghentikan kakinya dan kepalanya dimiringkan. Ia mendengar suara aneh. Lengking
tinggi berkali-kali menggema di malam gelap. Hatinya berdebar. Suara sulingkah itu? Ia ragu-ragu. Ia tidak
sudi bertemu kembali dengan Suling Emas sebelum ia menjadi ratu di Khitan. Akan tetapi... sebelum ia
pergi jauh, apa salahnya satu kali lagi saja melihat wajahnya? Keraguan meliputi hati Lin Lin, akibat dari
pada dua macam perasaan yang bertentangan. Namun akhirnya kakinya melangkah, seakan-akan di luar
kesadarannya, menuju ke arah suara melengking-lengking. Pedang Besi Kuning sudah berada di dalam
tangannya.
Ketika tiba di tempat itu Lin Lin tertegun. Di sebuah tempat terbuka, di bawah sinar bintang-bintang yang
remang-remang, ia melihat pertempuran yang hebat dan ia tersentak kaget. Siang-mou Sin-ni agaknya
yang sedang bertanding, melawan seorang kakek bongkok yang bukan lain adalah It-gan Kai-ong! Akan
tetapi mana mungkin? Bukankah Siang-mou Sin-ni sudah tewas, terjerumus ke dalam jurang, mati di
tangan Suling Emas?
Dan suara melengking-lengking itu keluar dari mulut Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi, biar pun wanita itu
bertanding dengan rambut terurai, rambut itu tidak sepanjang Siang-mou Sin-ni dan wanita ini bertanding
tanpa menggunakan rambutnya seperti keistimewaan Siang-mou Sin-ni! Apakah wanita baju hijau? Pernah
ia melihat wanita baju hijau itu rambutnya berurai ketika bersumpah di depan makam ayahnya. Akan tetapi
wanita itu baru-baru ini ia lihat tidak berambut lagi, sudah gundul seperti seorang nikouw! Siapakah
gerangan wanita ini?
Ia mendekati dan melihat betapa wanita itu gerakan-gerakannya dahsyat dan aneh luar biasa. It-gan Kaiong
merupakan lawan yang berat, tongkatnya menyambar-nyambar mendatangkan angin keras. Akan
tetapi gerakan kakek itu lamban, dan teringatlah Lin Lin bahwa kakek pengemis mata satu ini pun sudah
terluka parah. Kalau tidak terluka, agaknya wanita itu bukan lawannya. Lin Lin makin mendekat dan
alangkah kaget dan marahnya ketika ia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Sian Eng!
“Enci Sian Eng, jangan takut. Kubantu kau menghajar mampus iblis ini!” Setelah berkata demikian,
tubuhnya berkelebat ke depan, didahului sinar kuning emas pedangnya yang sudah menerjang It-gan Kaiong
dengan ganas.
Maklum akan kelihaian lawan, serta-merta Lin Lin mainkan jurus-jurus yang ia pelajari dari ilmu rahasia
dalam tongkat pusaka Beng-kauw. Hebat gerakannya itu, biar pun belum matang sekali namun karena
jurus-jurus itu adalah jurus sakti yang khusus diciptakan oleh mendiang pendiri Beng-kauw, Pat-jiu Sin-ong,
maka hebatnya bukan main.
Begitu pedangnya bergerak, It-gan Kai-ong berseru, “Uhhhhh!” dan kakek ini terhuyung ke belakang,
hampir saja perutnya termakan ujung pedang.
“Bagus, Lin-moi adikku! Mari bantu aku bikin mampus anjing ini!” teriak Sian Eng dengan gembira dan
kedua tangannya melakukan serangan hebat, dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke arah dada kakek
dunia-kangouw.blogspot.com
itu.
Lin Lin tertegun karena melihat betapa kedudukan kaki dan gerakan tangan enci-nya itu mirip sedikit
dengan ilmu barunya! Hal ini sebenarnya tidak aneh karena sebuah di antara kitab yang dipelajari Sian Eng
di dalam goa adalah kitab ilmu silat Beng-kauw peninggalan Tok-siauw-kui yang tentu saja dasarnya sama
dengan ilmu yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong. Karena ini ia menjadi gembira dan mainkan pedangnya.
Secara aneh sekali, gerakan mereka seimbang dan setelah mereka menyerang bersama, maka serangan
itu merupakan rangkaian yang cocok dan daya serangannya hebat bukan main. It-gan Kai-ong yang sudah
terluka parah dalam pertandingannya melawan Suling Emas beberapa hari yang lalu menjadi terkejut
sekali. Biar pun dua orang gadis itu sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa, namun andai kata
ia tidak terluka parah, agaknya tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkannya.
Akan tetapi, apa hendak dikata, ia terluka hebat dan luka itu belum sembuh, maka sekarang ia menghadapi
keroyokan ini dengan berat. Beberapa kali ia terhuyung dan pada saat ia menangkis Pedang Besi Kuning
dengan tongkat yang ia buat dari dahan pohon, kedua senjata itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi.
Inilah saat yang celaka bagi It-gan Kai-ong karena pada detik berikutnya, pukulan tangan kanan Sian Eng
dengan hebat menghantam lambungnya.
“Blukkk...!”
It-gan Kai-ong memekik aneh dan mulutnya menyemburkan darah segar, lalu tubuhnya terjengkang ke
belakang. Pedang Besi Kuning yang sudah terlepas dari tempelan tongkat, menyambar dan sebuah
bacokan membuat pundak kiri It-gan Kai-ong hampir putus. Kakek itu roboh dan pingsan seketika.
“Adikku, pinjamkan pedangmu sebentar!” kata Sian Eng dengan suara bersorak, kemudian ia menerima
Pedang Besi Kuning itu dan... sambil tertawa-tawa seperti orang gila Sian Eng lalu menghujani tubuh It-gan
Kai-ong dengan bacokan dan tusukan sehingga dalam sekejap mata saja tubuh kakek itu hancur tidak
karuan macamnya lagi.
“Sudah, Enci Eng...!” Lin Lin merasa ngeri dan memalingkan mukanya. Ia merasa ngeri dan heran
mengapa enci-nya menjadi begitu ganas. “Cukup! Dia sudah mati...!”
Akan tetapi Sian Eng terus membacok-bacok sambil tertawa-tawa sampai tubuh itu tidak merupakan tubuh
manusia lagi, melainkan merupakan daging cacahan yang mengerikan. Tiba-tiba ia berhenti
membacok,
melempar pedangnya ke atas tanah lalu... gadis ini menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis
tersedu-sedu, sedih sekali.
Lin Lin sejenak terkesima. Kemudian ia mengambil pedangnya, membersihkannya dengan rumput dan
menyarungkannya. Setelah itu ia mendekati Sian Eng, berlutut, merangkulnya dan membujuk.
“Sudahlah, Enci Eng. Mengapa kau agaknya begitu membencinya? Mengapa pula kau melarikan diri
secara aneh? Ada rahasia apakah yang terjadi padamu? Ceritakanlah kepada adik...,” sampai di sini Lin
Lin teringat dan menyambung, “ceritakan kepadaku, apa yang kau susahkan.”
Mendengar ini, Sian Eng menangis makin keras sampai tubuhnya berguncang-guncang sesenggukan
ketika ia membenamkan mukanya pada rangkulan Lin Lin. Akhirnya tangisnya mereda dan ia dapat bicara,
“Lin Lin, aku menangis saking girang hatiku dapat membunuh anjing ini. Dapat membunuh... gurunya dan
sekarang aku akan mencarinya. Sebelum aku dapat membunuhnya, aku tidak mau berhenti!”
Lin Lin belum dapat mengerti. “Membunuh siapa, Enci Eng?”
“Siapa lagi kalau bukan murid anjing ini?”
Lin Lin terkejut, terheran. Setahunya murid It-gan Kai-ong adalah Suma Boan. Memang mereka semua
membenci Suma Boan, akan tetapi mengapa agaknya enci-nya membenci secara luar biasa?
“Kau maksudkan, Suma Boan?”
Tiba-tiba meledak lagi tangis Sian Eng. “Betul! Anjing biadab itu! Keparat jahanam Suma Boan, kau
tunggulah pembalasanku!” Ia berteriak-teriak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Lin Lin girang. Dia sendiri bermaksud mencari adik perempuan Suma Boan yang ia anggap
telah merampas kekasihnya. Akan tetapi di samping kegirangannya mendapat teman enci-nya pergi ke
kota raja, ia pun merasa heran bukan main.
“Enci Sian Eng, memang Suma Boan itu bukan manusia baik-baik dan sudah sepatutnya kita
membencinya. Akan tetapi, kau sebut-sebut tentang pembalasan. Apakah artinya itu?”
Sian Eng merangkul Lin Lin. Pada saat itu ia telah kembali normal. Lin Lin merapikan rambut enci-nya,
mengatur dan menyanggulkannya kembali.
“Lin-moi, dia... dia... ah, tadinya aku... aku telah gila. Aku... aku mencintanya....”
“Hemmm...?” Tapi Lin Lin menindas keheranannya, “Apa anehnya dengan itu? Wajar, Enci. Memang hati
ini tidak dapat dikuasai kalau sudah menjatuhkan pilihannya.”
“Tapi dia menipuku! Dia mengkhianatiku! Ah... Lin-moi, pilihanku keliru...!”
Sambil menangis Sian Eng lalu menceritakan semua pengalamannya, mulai dia diperalat oleh Suma Boan
mencari ilmu warisan Tok-siauw-kui sampai peristiwa di dalam perahu di mana ia dinodai oleh pemuda
bangsawan yang berwatak kotor itu.
Berdiri sepasang alis Lin Lin. Ia mempertemukan giginya dengan penuh kegemasan sambil berkata,
“Bedebah! Dia patut dibasmi! Mari kubantu kau, Enci Sian Eng. Kita cari dia di kota raja dan kita bunuh
anjing itu. Setelah itu, kita langsung pergi ke istana karena aku pun harus membunuh adik perempuan
Suma Boan.”
Kini Sian Eng yang memandangnya dengan mata terbelalak heran. Saking kaget dan herannya, Sian Eng
lupa akan tangisnya dan dengan mata merah dan pipi masih basah air mata ia menatap wajah adiknya,
lalu bertanya, “Suma Ceng? Mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Aku pernah bertemu
dengannya. Dia itu biar pun adik dari Suma Boan, namun wataknya baik sekali, berbeda dengan kakaknya.
Pula, dia adalah bekas kekasih kakak Kam Bu Song yang sampai sekarang masih mencintanya.”
“Justru itulah sebabnya mengapa aku harus membunuhnya!”
“Apa? Karena ia mencinta kakak Bu Song?”
“Karena ia berani mencinta Suling Emas!”
“Eh, Lin-moi. Bagaimana itu? Apa salahnya itu? Mengapa kau marah melihat Suma Ceng mencinta....”
“Karena aku mencinta Suling Emas!” ucapan Lin Lin ini terdengar keras.
Sian Eng melongo dan sejenak tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kemudian ia memegang lengan
adiknya dan mengguncang-guncang, seakan-akan ia hendak membangunkan adiknya dari pada tidur dan
mimpi buruk.
“Lin-moi...! Gilakah kau? Suling Emas adalah Kam Bu Song!”
“Aku tahu!” jawabnya dingin.
Sian Eng makin bingung. “Kau tahu dan kau bilang mencintanya? Suling Emas atau Kam Bu Song adalah
kakakmu...”
“Bukan! Sekali lagi bukan kakakku! Pertalian apakah yang mengikat persaudaraan kami? Dia itu kakak
tiriku, memang betul. Kalian seayah lain ibu. Akan tetapi aku? Aku adalah Yalin, Puteri Yalin, Puteri
Mahkota Khitan! Dia itu, juga kau, dengan aku adalah orang lain, berlainan darah. Mengapa aku tidak
boleh mencinta Suling Emas?”
Hening sejenak. Agaknya Sian Eng terpukul mendengar kenyataan yang benar-benar mengguncangkan
hatinya ini. Sama sekali tak pernah disangkanya akan terjadi keruwetan cinta kasih semacam ini. Tadinya
ia mengira bahwa dialah orang paling tidak beruntung di dunia ini, yang menjatuhkan hati secara keliru.
Kiranya sekarang terjadi pertalian asmara yang lebih aneh pada diri Lin Lin.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, begitukah? Kau mencinta Suling Emas. Lalu, mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng?
Dia sudah bersuami orang lain, sudah mempunyai anak, mengapa diganggu lagi? Bagaimana sikap Suling
Emas terhadap cintamu?”
Ditanya begini, tiba-tiba Lin Lin menangis! Keadaan menjadi terbalik sama sekali. Sekarang Lin Lin yang
menangis dan Sian Eng memeluknya, menghiburnya. Kemudian di antara isak tangisnya Lin Lin
menceritakan pengalamannya, betapa secara aneh Suling Emas menolak cintanya dengan alasan sudah
tua, alasan yang sama sekali tidak dipercayanya karena ia yakin bahwa kakak angkatnya itu juga
mencintanya.
“Tentu karena gara-gara Suma Ceng itulah maka ia tidak membalas cintaku, atau lebih tepat ia memaksa
diri memutuskan pertalian asmara denganku. Enci Sian Eng, biar pun kita bukan saudara sedarah, namun
semenjak kecil kita berkumpul. Aku akan membantumu membunuh Suma Boan, kemudian kau membantu
aku membunuh Suma Ceng. Setelah itu, aku akan pergi ke Khitan untuk merampas kedudukan ratu yang
menjadi hakku. Nah, bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku? Aku akan tetap menganggapmu
sebagai kakakku sendiri. Biarlah kita yang menderita karena asmara ini bersama-sama menghadapi segala
hal, sehidup semati.”
Sian Eng terharu, merangkulnya dan kedua orang gadis itu bertangisan. Kemudian mereka meninggalkan
tempat itu, tempat yang amat menyeramkan karena di situ terdapat onggokan daging, tulang dan darah Itgan
Kai-ong yang sudah tidak dapat disebut mayat lagi, dan tak lama setelah kedua orang gadis itu pergi,
burung-burung liar beterbangan datang untuk menyantap hidangan yang lezat bagi mereka ini!
********************
Sementara itu, terjadi perubahan besar di kota raja Kerajaan Sung. Kaisar Sung Thai Cu, Kaisar Kerajaan
Sung pertama telah menyerahkan tahta kerajaan kepada adiknya sendiri yang berjuluk Kaisar Sung Thai
Cung. Kaisar baru ini juga melanjutkan politik pemerintahan kakaknya, namun dibandingkan dengan Sung
Thai Cu kaisar kedua ini lebih berhasil. Kaisar Sung Thai Cung berani mempergunakan tangan besi
terhadap para pejabat tinggi yang melakukan penyelewengan, tidak mudah dijilat oleh sikap memuji-muji,
dan di samping ini, memperkuat pasukan kerajaan dalam persiapan menggempur kerajaan-kerajaan kecil
yang sampai saat itu belum juga mau tunduk dan belum mengakui kekuasaan Kerajaan Sung.
Berbeda dengan jaman kerajaan yang sudah-sudah, terutama di jaman Kerajaan Tang yang sering kali
terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara di kala tahta kerajaan berpindah tangan, pemindahan
kekuasaan dan penggantian kaisar kali ini terjadi dengan aman dan tidak terjadi sesuatu keributan. Hal ini
adalah karena kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cu yang dalam hal ini melaksanakan anjuran ibunya, yaitu
menyerahkan kekuasaan dan mengangkat adiknya sendiri sebagai penggantinya. Andai kata ia tidak
bijaksana dan memaksa untuk mewariskan tahta kerajaan kepada putera-puteranya yang kurang
pengalaman, pasti hal ini akan menimbulkan kekeruhan, mendatangkan perebutan kekuasaan dan perang
saudara seperti yang sudah-sudah.
Kaisar yang baru, Sung Thai Cung, adalah seorang yang luas pandangan dan bijaksana. Namun
tindakannya yang pertama, yaitu membersihkan petugas-petugas negara yang korup dan nyeleweng,
sedikit banyak menimbulkan keributan pula dari para pembesar yang melakukan perlawanan. Betapa pun
juga, mereka ini semua dapat ditundukkan dan diseret ke dalam penjara, bahkan banyak di antaranya yang
diberi hukuman mati. Biar pun peristiwa pembersihan ini melegakan hati rakyat, namun mengubah suasana
di kota raja.
Karena terlalu banyak pembesar korup dibunuh, dan juga karena memang hampir semua petugas tadinya
menyeleweng, banyak di antara mereka yang melarikan diri sebelum tertangkap. Mereka yang masih
berani tinggal di kota raja dengan harapan takkan diketahui dosa-dosa mereka yang lalu, tidak pernah
berani keluar rumah, takut ada jari telunjuk menudingnya. Inilah yang membuat kota raja menjadi sunyi.
Tidak ada lagi pembesar, lama mau pun baru, yang berani berfoya-foya dan berpelesir seperti yang sudahsudah.
Keadaan di kota raja ini mempengaruhi pula keadaan kota-kota besar lain, terutama sekali yang
berdekatan dengan kota raja, seperti kota An-sui. Kota ini pun menjadi sepi dan banyak pembesarnya
melarikan diri atau ditangkap.
Gedung besar Pangeran Suma Kong tetap berdiri megah dan pangeran tua ini tidak mau melarikan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang ia dahulu terkenal sebagai seorang pangeran yang korup dan banyak makan uang negara. Akan
tetapi sudah bertahun-tahun ia tidak memegang tugas lagi karena dipecat dan tidak diperbolehkan
bertempat tinggal di kota raja oleh kaisar pertama.
Selain merasa bahwa dia sekarang sudah ‘bersih’, juga dengan adanya Suma Boan yang amat terkenal,
tentu saja keluarga bangsawan Suma ini tidak merasa takut. Bahkan Suma Boan mengumpulkan anak
buahnya, yaitu para buaya dan tukang pukul yang memiliki kepandaian untuk menjaga gedungnya siang
malam. Di luar gedung, di setiap pintu, di atas genteng di sebelah kanan kiri dan belakang, semua terjaga
dengan kuat siang malam sehingga gedung Pangeran Suma itu seakan-akan berubah menjadi sebuah
benteng.
Setiap hari para penjaga yang bertugas menjaga di pekarangan depan yang luas dari gedung itu
melewatkan waktu menganggur dengan latihan-latihan ilmu silat atau olah raga lain yang. Selain untuk
berlatih maksudnya juga sebagai ‘pamer kekuatan’ untuk membangun ketabahan sendiri dan untuk
mengecilkan hati golongan yang hendak memusuhi Pangeran Suma. Di situ terdapat delapan belas
macam senjata dan juga besi-besi dan batu-batu besar yang mereka angkat dan lempar-lemparkan ke atas
untuk mendemonstrasikan tenaga mereka. Penjagaan yang amat ketat ini dilakukan siang malam sehingga
keluarga itu seakan-akan mempunyai barisan sendiri yang terdiri dari seratus orang lebih yang melakukan
penjagaan secara bergiliran.
Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa belasan orang penjaga di pekarangan depan itu bermain-main di
pekarangan, mengangkat besi dan melempar-lempar batu, ada pula yang bermain silat dengan pelbagai
senjata. Di antara mereka, yang mempunyai bentuk tubuh kuat dan menjadi ahli gwakang (tenaga luar),
sengaja membuka baju untuk memamerkan otot-otot yang besar melingkar-lingkar di tubuh mereka.
Kelebatan senjata tajam menyilaukan mata. Para penjaga yang bertugas di atas rumah juga ikut menonton
sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.
Munculnya Sian Eng di depan pintu pekarangan itu sekaligus menghentikan semua kegiatan olah raga.
Semua mata mengincar keluar dan senyum lebar menghias semua mulut para penjaga itu, senyum dan
pandang mata kurang ajar karena memang pemandangan di pagi hari ini menyedapkan mata. Pakaian
Sian Eng yang ringkas membungkus tubuh yang langsing padat, wajah yang cantik jelita dengan hiasan
rambut yang hitam halus disanggul ke atas, gerakan yang lemah gemulai, semua ini merupakan daya
penarik yang mengagumkan hati semua laki-laki.
Sudah lazim di dunia ini, apa bila melihat seorang wanita cantik, timbul kegembiraan di hati pria. Kalau pria
itu hanya sendirian, tentu tidak berani ia mengumbar kekurang-ajarannya dan akan menyimpan
kekagumannya dalam pandang mata dan senyum. Kalau pria itu memang berwatak bersih, ia hanya akan
menyimpan kekagumannya di dalam hati. Akan tetapi kalau banyak laki-laki yang memang wataknya kasar
sedang berkumpul, tentu akan timbul kekurang-ajaran mereka dan mulailah para penjaga ini tertawa-tawa.
“Aduhhhhh... cantiknya...!”
“Wahai... siapakah begitu bahagia memiliki bidadari ini?”
Demikian bermacam-macam teriakan yang terdengar dari mulut mereka, bahkan di antara mereka ada
yang mulai pula melempar-lempar batu dan mengangkat-angkat besi berat untuk pamer dan berusaha
menarik perhatian gadis cantik ini. Namun Sian Eng tidak pedulikan itu semua, kakinya langsung
melangkah masuk dengan tenang.
Melihat gadis itu betul-betul memasuki pekarangan, kegembiraan mereka memuncak dan seorang di
antara mereka, komandan jaga, segera melangkah maju bertanya, suaranya digagah-gagahkan, “Nona,
kau hendak mencari siapakah? Siapa di antara kita yang hendak kau jumpai? Heee, teman-teman! Adakah
di antara kalian yang mengenal Nona ini?” kata-kata ini diteriakkan si komandan jaga dengan nada tidak
percaya.
“Aku...!”
“Aku kenalannya!”
“Ah, akulah sahabat baiknya!”
“Heee, jangan mengacau! Dia tentu memilih aku!” teriak pula seorang penjaga yang bertugas di atas
dunia-kangouw.blogspot.com
genteng.
“Pilihlah aku, Nona. Habis bulan semua gajiku akan kuserahkan padamu seluruhnya!” teriak pula seorang
yang tubuhnya tinggi besar.
“Ha-ha, jangan percaya! Tentu sebagian sudah ia selundupkan ke tangan isterinya yang pertama!”
Ramailah suara para penjaga, bahkan banyak di antaranya yang mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak
sopan. Akan tetapi Sian Eng tetap tenang tidak mempedulikan mereka, bahkan tersenyum sedikit, senyum
yang sebenarnya merupakan senyum sedih. Akan tetapi karena memang ia manis sekali kalau tersenyum,
maka senyum ini mendatangkan teriakan-teriakan baru yang lebih riuh. Sian Eng menanti sampai hirukpikuk
itu reda, baru ia berkata.
“Aku ingin bertemu dengan Suma Boan.”
Semua suara sirap seketika dan semua mata memandang penuh curiga, penuh selidik. Semua penjaga ini
mengenal belaka kongcu mereka dan mengenal pula wanita-wanita yang mempunyai hubungan dengan
putera pangeran itu. Akan tetapi mereka belum pernah melihat Sian Eng, oleh karena itu mereka menjadi
curiga.
“Mengapa mencari Suma-kongcu? Apakah kau kenal dia?” tanya si komandan matanya memandang
penuh selidik.
Sian Eng mengangguk, “Aku kenal dia, harap suka panggil dia keluar.”
Seorang penjaga yang bertelanjang dada, yang tubuhnya tegap dan kuat, melangkah maju. “Nona cantik,
mengapa mencari Kongcu? Apakah kita ini tidak cukup hebat? Kau tinggal pilih. Lihatlah aku, hemmm,
kalau kau menjadi kekasihku, kau akan aman. Lihat betapa kuatnya aku!”
Ia lalu membungkuk, kedua lengannya bergerak mengangkat sebuah batu besar. Otot-otot di tangannya
melingkar-lingkar dan menonjol keluar ketika ia melemparkan batu itu ke atas, disambut dan dilemparkan
lagi berkali-kali, seakan-akan seorang anak kecil bermain-main dengan sebuah bola karet yang ringan.
Akhirnya ia membanting batu seberat seratus kati lebih itu ke atas tanah, ke depan Sian Eng, sambil
mengangkat dada dengan penuh kebanggaan.
Sejak tadi sebetulnya hati Sian Eng sudah panas dan marah, akan tetapi ditahan-tahannya. Pikirannya
sedang normal maka ia dapat mempergunakan kesabarannya, apa lagi memang kedatangannya ini sudah
ia rencanakan bersama Lin Lin. Mereka sudah beberapa malam mengitari gedung akan tetapi tidak melihat
jalan aman untuk memasuki gedung. Demikian ketat penjagaan di situ dan mereka berdua maklum bahwa
menghadapi Suma Boan saja sudah berat, apa lagi kalau dikeroyok banyak penjaga dan siapa tahu di
dalam gedung itu bersembunyi pula orang-orang sakti yang membantu Suma Boan.
Akan tetapi menyaksikan lagak orang-orang ini, Sian Eng hampir tidak kuat menahan kesabaran hatinya. Ia
melangkah maju mendekati tempat itu, kaki kirinya bergerak dan... batu besar itu terlempar ke arah
penjaga bertelanjang dada yang sedang membusungkan dadanya itu.
“Uhhhhh...!” orang itu berseru kaget.
Terpaksa menerima batu itu, namun ia tidak kuat menahan dan tubuhnya terlempar ke belakang sampai
beberapa meter. Untung batu itu segera ia lempar ke samping sehingga tidak menimpa dadanya, namun
hantaman tadi cukup membuat ia terengah-engah dan dari mulutnya keluar darah!
Ributlah para penjaga itu. Makin curiga mereka karena ternyata bahwa gadis cantik ini memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Akan tetapi Sian Eng segera berkata dengan suara ketus. “Aku adalah kenalan baik
Suma Boan, apakah kalian masih berani main-main? Tunggu saja kalau Kongcu kalian melihat
kekurangajaran
kalian, aku akan minta dia memenggal kepala kalian seorang demi seorang!”
Kata-kata ini berpengaruh sekali. Mereka segera mundur dengan muka pucat dan komandan jaga segera
mengedipkan mata kepada kawan-kawannya, kemudian ia sendiri berkata, “Maaf, karena kami tidak
mengenal Nona, maka berani bersikap kasar. Harap Nona tunggu sebentar, saya akan melaporkan kepada
Suma-kongcu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Eng hanya mengangguk, kemudian ia menghampiri penjaga yang masih duduk terengah-engah. “Kau
tidak lekas berlutut?!” bentaknya.
Penjaga yang sial ini sudah mendengar juga tadi pengakuan gadis lihai ini sebagai kenalan baik Sumakongcu,
maka dengan menahan rasa sakit dan hati penuh rasa takut akan kemarahan majikannya, ia
segera berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Tiba-tiba mereka semua, para penjaga
itu, menjadi ngeri dan merasa seram karena gadis cantik itu tertawa meleking aneh dan terdengar bukan
seperti suara ketawa manusia.
“Pergilah!” kaki Sian Eng bergerak dan penjaga itu terlempar beberapa meter jauhnya, bergulingan seperti
sebuah bola ditendang. Anehnya, ia merasa dadanya tidak sesak lagi, maka cepat ia meloncat berdiri,
mengangguk dengan hormat dan mengundurkan diri!
“Moi-moi...!” Pada saat itu Suma Boan muncul dari pintu samping. Ketika menerima laporan bahwa
seorang gadis cantik yang amat lihai datang mencarinya, Suma Boan menjadi curiga dan mengintai
dengan jalan memutar dari pintu samping. Akan tetapi begitu melihat bahwa yang datang adalah Sian Eng,
hatinya berdebar keras. Tentu saja ia menjadi curiga dan menyangka buruk. Akan tetapi karena Sian Eng
hanya datang seorang diri, timbul ketabahan hatinya, dan pula memang ia merasa suka kepada gadis
cantik yang ia tahu amat mencintanya ini. Maka dengan hati berdebar dan sikap waspada, pemuda ini lalu
muncul dan memanggil dengan suara penuh kasih sayang, wajah berseri, akan tetapi sinar matanya penuh
selidik menatap wajah yang cantik jelita dan agak pucat itu.
“Koko...!” Sian Eng juga berseru dengan suara tertahan, seakan-akan ia merasa girang dan terharu,
mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti orang malu dan jengah. “Aku... aku ingin bicara penting
denganmu...!”
Berdebar-debar jantung Suma Boan. Akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, ingin ia
menjenguk isi hati gadis itu. Ia tahu bahwa Sian Eng mencintanya, akan tetapi tahu pula bahwa gadis itu
bisa mendendam kepadanya dan bisa membenci karena perbuatannya terhadap gadis itu di dalam perahu.
Tentu saja ia tidak mencinta dengan setulus dan sejujurnya hati terhadap Sian Eng, melainkan
mencintanya karena gadis itu memang cantik jelita. Bagi seorang laki-laki semacam Suma Boan, ia selalu
jatuh cinta kepada wanita cantik, berapa pun banyaknya. Cinta yang berdasarkan nafsu birahi, cinta yang
berdasarkan ingin menyenangikan diri sendiri. Di samping kecantikan Sian Eng, juga gadis ini telah
menemukan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui yang amat ia inginkan.
Namun Suma Boan adalah seorang laki-laki yang sudah banyak pengalamannya, pula ia terkenal cerdik,
maka ia masih saja menaruh curiga. Tentu saja ia cukup percaya akan kepandaian sendiri, tahu bahwa
Sian Eng seorang diri saja takkan mampu berbuat buruk terhadapnya. Akan tetapi ia sudah membuktikan
keadaan aneh gadis ini yang seakan-akan telah menemukan ilmu dan memilikinya secara hebat, sungguh
pun belum sempurna benar.
“Koko, aku mau bicara tentang... kitab...”
Seketika wajah Suma Boan berseri. Keinginannya mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui
amat besar. Apa lagi pada waktu sekarang setelah keadaan pemerintahan di kota raja terjadi perubahan
dan ia merasa betapa kedudukan keluarga ayahnya terancam. Ia ingin sekali mendapatkan kitab-kitab itu
dan mewarisi kepandaian yang akan membuat ia menjadi seorang jagoan nomor satu yang ditakuti semua
lawan.
“Moi-moi..., aku girang sekali kau datang. Marilah kita bicara di dalam...!” Ia melangkah maju, memegang
lengan Sian Eng dan menggandengnya.
Sian Eng menurut saja dan berjalanlah mereka bergandengan tangan menuju ke ruangan dalam, melewati
pagar penjaga yang berdiri tegak tanpa berkedip. Suma Boan yang menggandeng dan merapatkan
tubuhnya merasa betapa jantung di dalam dada gadis itu berdebar-debar keras. Diam-diam ia merasa
bahagia sekali karena mengira bahwa gadis ini terlalu girang bertemu dengannya.
Setelah mereka memasuki ruangan sebelah dalam, Suma Boan segera menarik gadis itu ke dalam sebuah
kamar tamu yang indah, tiba-tiba ia memeluk Sian Eng dan menciuminya. Sejenak Sian Eng menurut saja,
kemudian perlahan ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pelukan Suma Boan yang makin merasa yakin
bahwa gadis ini tidak marah atau benci kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Moi-moi, kekasihku yang tercinta,” bisik Suma Boan, masih memegangi kedua tangan gadis itu, “alangkah
rinduku kepadamu! Kau datang seperti seorang bidadari dari sorga yang turun ke dunia untuk menghibur
hatiku. Moi-moi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, jangan kau pergi meninggalkan aku lagi. Mari kita
hidup bahagia di rumahku ini!”
“Suma-koko, kau sudah mengenal hatiku. Perkara itu belum waktunya kita bicarakan. Kedatanganku ini
membawa urusan yang amat penting. Lepaskan tanganmu dan mari kita bicara baik-baik.” Sian Eng
menarik tangannya.
Suma Boan tersenyum dan sengaja menekan jantungnya yang berdebar saking girangnya, karena di
depan gadis ini ia harus menyembunyikan perasaannya bahwa ia jauh lebih ‘cinta’ pada kitab-kitab pusaka
peninggalan Tok-siauw-kui dari pada diri gadis ini.
“Marilah, Adik Sian Eng, kita duduk di sana.” Ia menarik Sian Eng dan keduanya lalu duduk di atas dipan
yang terdapat di kamar itu. Suma Boan tetap tidak melepaskan gadis itu, duduk di sampingnya sambil
memeluknya. Sian Eng tidak menolak lagi dan ia berkata perlahan.
“Koko, kau tentu maklum akan perasaan seorang gadis. Saking kaget dan duka hatiku, ketika di dalam
perahu dahulu...,” suaranya tersendat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, “secara tidak sadar aku
menyerangmu dan kemudian melarikan diri. Baru kemudian aku merasa betapa... aku tak dapat hidup
terpisah dari padamu, maka... maka aku datang ke sini....”
Girang sekali hati Suma Boan. Ia mengelus-elus rambut kepala gadis itu lalu berkata, “Aku tahu, Moi-moi.
Aku... aku lupa daratan waktu itu saking besarnya cintaku kepadamu. Tentang kitab-kitab itu... eh,
bukankah kau tadi bilang mau bicara tentang kitab?”
Wajah Sian Eng berseri dan ia tersenyum lebar. “Kitab-kitab? Ah, belum kuceritakan kepadamu bahwa
setelah aku pergi dari perahu, aku memasuki lagi goa rahasia dan mengambil semua kitab peninggalan
Tok-siauw-kui. Kau tahu kitab-kitab apa yang kudapatkan? Kitab rahasia dari Siauw-lim-pai, kitab ilmu
pedang dari Kun-lun, kitab rahasia tentang ilmu kesaktian Beng-kauw, ada pula kitab yang mengajarkan
ilmu-ilmu mukjijat tentang melawan maut, malah ada kubaca sepintas lalu judul sebuah kitab yang
mengajarkan ilmu menghilang dan terbang!”
Seperti seorang kelaparan mendengar cerita tentang makanan-makanan lezat, Suma Boan menelan ludah.
Akan tetapi sebagai seorang yang cerdik ia menahan gelora hatinya ini dan cepat memeluk Sian Eng. “Ah,
kekasihku yang baik. Sesungguhnya, soal kitab itu bagiku hanya soal kecil. Yang penting, yang selalu
kurindukan, yang selalu kuimpikan, adalah dirimu, Adik Sayang! Akan tetapi aku khawatir sekali karena kau
sudah mendapatkan kitab-kitab itu, tentu kau menjadi incaran orang-orang dunia kang-ouw. Akan lebih
aman kalau kau tinggal bersamaku di sini, beserta kitab-kitab itu yang boleh kita pelajari bersama. Kita
kelak akan menjadi suami isteri yang paling hebat di kolong langit! Di manakah sekarang kitab-kitab itu?
Mari kita ambil dan bawa ke sini, Moi-moi.”
Sian Eng tersenyum manis, biar pun hatinya penuh kebencian ketika pemuda yang ia cinta akan tetapi
yang menghancurkan cinta kasihnya dengan pengkhianatan itu menciuminya mesra. “Itulah sebabnya aku
datang, Koko. Kitab-kitab itu kusembunyikan di tempat rahasia. Akan tetapi aku tidak berani mengambilnya
sendiri dan membawanya ke sini. Kau benar, kalau sampai ketahuan orang kang-ouw, tentu mereka akan
berusaha merampasnya. Marilah kau ikut denganku ke tempat itu, tidak jauh, kita bersama mengambil
kitab-kitab itu dan membawanya ke sini. Akan tetapi... apakah betul kau akan tetap setia kepadaku?” Sian
Eng pura-pura memandang penuh curiga.
“Ah, Sian Eng, kekasihku, apakah kau masih tidak percaya kepadaku?” Tiba-tiba pemuda itu berlutut di
depan Sian Eng, merangkul kedua kakinya!
Sejenak sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi. Alangkah inginnya ia menggerakkan
tangan, sekali pukul ubun-ubun kepala yang tunduk di depannya itu ia akan dapat membunuh Suma Boan.
Akan tetapi ia teringat akan banyaknya penjaga dan ia tentu akan terkurung dan berada dalam bahaya.
“Mari kita pergi sekarang, Koko.”
“Sekarang? Mengapa tergesa-gesa? Pula, berbahaya sekali mengambilnya di waktu siang. Lebih baik
malam nanti kita pergi, Adikku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena tahu bahwa kalau ia mendesak, Suma Boan pasti akan menaruh curiga, gadis itu terpaksa
menyetujui. Pula, memang lebih baik pergi di waktu malam untuk melaksanakan rencananya yang sudah ia
atur dengan Lin Lin ini. Ia harus berani berkorban, demi maksud hatinya membalas dendam. Hatinya perih
dan makin sakit, akan tetapi Sian Eng rela menjadi permainan Suma Boan sebelum ia mendapat
kesempatan menghancurkan orang yang telah membasmi kebahagiaan hatinya.
Ia terpaksa menuruti kehendak Suma Boan terpaksa ia menyerah dan menahan-nahan kemuakan hatinya
ketika Suma Boan membuktikan ‘cinta kasihnya’, yang sesungguhnya bukan lain hanya terdorong nafsu
semata-mata. Makin bencilah hati Sian Eng, dan ketika hari terganti malam Suma Boan menggandeng
tangannya keluar dari gedung, hampir Sian Eng tak kuat menahan kebenciannya. Baru setelah mereka
berjalan di dalam gelap, gadis ini mencucurkan air mata yang cepat-cepat ia usap dengan ujung lengan
bajunya.
Suma Boan kini percaya betul kepada Sian Eng. Siang tadi, gadis ini menyerah ikhlas kepadanya, tanda
bahwa gadis ini benar-benar datang karena cintanya. Penyerahan gadis inilah menjadi bukti baginya
bahwa di balik kedatangan Sian Eng tidak ada rahasia apa-apa. Kalau tadinya ia menaruh curiga dan
menyangka akan adanya jebakan, maka dengan penyerahan diri Sian Eng kepadanya, maka kecurigaan
itu lenyap sama sekali. Kini ia yakin bahwa Sian Eng benar-benar mencintanya, benar-benar datang
hendak menyerahkan diri sambil membawa kitab-kitab yang berharga. Maka dapat dibayangkan betapa
bahagia rasa hati putera pangeran ini.
Mereka memasuki hutan yang letaknya di sebelah barat kota An-sui. Hutan yang tidak terlalu luas akan
tetapi cukup gelap karena pohon-pohon besar memenuhi hutan itu.
“Baik sekali kau tidak mengajak pengawal, Koko. Urusan ini lebih baik tidak diketahui orang lain.”
“Memang betul, Moi-moi. Kalau saja kau tidak membuktikan cinta kasihmu yang besar siang tadi, tentu aku
akan mengajak pengawal-pengawal. Maklumlah, bukan aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi
perubahan di kota raja membuat musuh-musuhku mencari kesempatan untuk menghancurkan aku. Di
manakah goa itu, Adikku?”
“Di sebelah sana, sudah dekat. Mari!” Di dalam gelap itu, dengan ‘mesra’ Sian Eng menggandeng tangan
Suma Boan dan diajaknya berlari menuju ke tengah hutan. Tak lama kemudian mereka berhenti di depan
sebuah goa yang depannya tertutup oleh rumput alang-alang. Sian Eng menarik tangan Suma Boan, diajak
memasuki goa yang gelap itu sambil menyingkap alang-alang yang tinggi menyembunyikan goa.
“Mari masuk, kusembunyikan di dalam situ.” Mereka lalu memasuki goa yang cukup besar itu dengan jalan
berindap-indap.
Suma Boan mulai curiga dan bersikap
waspada, akan tetapi karena tidak mendengar suara apa-apa, ia
ikut dengan Sian Eng melangkah masuk ke dalam goa. Setelah mereka melangkah maju sejauh lima
meter, mereka bertemu dengan dinding goa.
“Di mana kitab-kitabnya?” Suma Boan berbisik.
Akan tetapi tiba-tiba Sian Eng merenggutkan tangannya sehingga Suma Boan amat kaget. Goa itu gelap,
ia melihat bayangan Sian Eng menjauhkan dirinya.
“Moi-moi... di mana kau? Mana kitabnya...?”
Tiba-tiba matanya silau oleh sinar api yang dibuat orang dari luar dan beberapa detik kemudian, Lin Lin
yang membawa obor di tangannya telah meloncat masuk, obor di tangan kiri, pedang bersinar kuning di
tangan kanan! Juga Sian Eng menyambar sebuah obor, dinyalakannya dan menaruh obor itu di sudut goa.
Keadaan menjadi terang menyeramkan.
Suma Boan berdiri terbelalak. Matanya mencari-cari dan ternyata goa itu kosong sama sekali. Luasnya
lima meter persegi. Di depannya kini berdiri dua orang gadis berdampingan dan menutup jalan ke luar. Lin
Lin dengan pedang bersinar kuning di tangannya. Sian Eng dengan kedua tangan terbuka, jari tangannya
menegang, matanya terbelalak penuh kebencian. Diam-diam Suma Boan merasa ngeri juga, akan tetapi
karena ia seorang laki-laki yang tabah dan berilmu tinggi, ia dapat menekan perasaannya dan pura-pura
tidak dapat menduga kehendak mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Moi-moi... adikku Sian Eng yang manis, mengapa tiba-tiba adikmu ini muncul? Dan manakah kitab-kitab
yang kau janjikan?”
“Suma Boan manusia iblis! Kematian sudah di depan mata, masih pura-pura tidak tahu akan dosadosamu?”
bentak Sian Eng dengan suara gemetar saking menahan kemarahan yang meluap-luap,
kemarahan dan kebencian yang selama ini memenuhi dadanya, yang selalu ditahan-tahan dan ditutupi
sikap kasih sayang untuk dapat memancing dan menipu Suma Boan.
“Apa...? Eng-moi... apakah maksudmu? Bukankah kau juga mencintaku seperti aku mencintamu?
Bukankah tadi... kau menyerahkan diri sepenuhnya dengan rela dan suka kepadaku?”
“Tutup mulutmu yang kotor!” bentak Sian Eng sambil melangkah maju penuh ancaman. “Ooooohhh, betapa
bencinya aku! Makin benci mendengar kata-katamu. Suma Boan manusia berhati binatang, perbuatanmu
yang biadab terhadap diriku di dalam perahu telah menodai cinta kasihku, telah merobek-robek hatiku,
telah mengubah cintaku menjadi benci yang sebesar-besarnya. Aku ingin mengganyang jantungmu, ingin
kuhirup darahmu dan kukeluarkan isi perutmu!”
Suma Boan kaget bukan main, merasa ngeri dan gentar. Mulai menyesallah hatinya mengapa ia terburuburu
menodai gadis ini yang ternyata tadinya benar-benar mencintanya. Akan tetapi semua itu telah
terlanjur dan melihat bahwa yang menentangnya hanya dua orang gadis ini, tentu ia segera dapat
mengusir rasa jerinya. Ia tersenyum mengejek dan berkata.
“Hemmm, Sian Eng. Dengan kepandaianmu dan dibantu adikmu, apa kau kira akan mudah saja
mengalahkan aku? Kau tahu, tingkat ilmu kepandaianku jauh melebihimu. Juga jauh melebihi kepandaian
adikmu. Insyaflah akan hal ini dan kalian ini nona-nona manis, sayang sekali kalau sampai tewas di
tanganku. Lebih baik kalian hayo ikut denganku, hidup penuh kesenangan di istanaku sambil
memperdalam ilmu silat....”
“Laki-laki ceriwis...!” Lin Lin membentak dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning, menyambar ke arah
leher Suma Boan.
Pemuda ini terkejut. Tak disangkanya gerakan Lin Lin demikian cepatnya, maka ia segera mengelak
dengan meliukkan tubuh ke bawah sambil mendorong dengan tangannya ke arah siku yang memegang
pedang ketika pedang itu lewat di atas kepalanya. Namun Lin Lin yang bersilat dengan ilmu saktinya yang
baru, yaitu Cap-sha Sin-kun, segera dapat merubah letak pedangnya yang kini membalik ke bawah,
menyambar dengan gerakan pergelangan tangan sehingga tangan Suma Boan yang tadinya hendak
mencengkeram siku, kini berbalik disambar mata pedang!
“Aaaiiihhh!” Suma Boan yang sudah menarik lengannya itu kini menjerit sambil melompat ke atas dan
berjungkir balik ke belakang karena kembali sinar pedang Lin Lin yang tadi dapat dielakkannya itu sudah
berubah menjadi segulungan sinar kuning yang berpusing di sekitar dada dan lehernya! Hanya dengan
cara berjungkir balik seperti tadi maka ia selamat.
“Bersiaplah menerima hukuman!” bentak Sian Eng.
Kembali Suma Boan terkejut sekali karena tiba-tiba angin menyambar berputaran dari arah Sian Eng ketika
gadis itu menerjangnya dengan pukulan yang gerakan-gerakannya aneh sekali. Suma Boan baru saja
terbebas dari ancaman maut pedang Lin Lin, kini ia cepat menggerakkan tubuhnya miring ke kiri sambil
mengibaskan tangannya dengan tenaga sinkang sepenuhnya untuk menangkis.
“Wuuuttt! Wuuuttttt!” Angin pukulan kedua pihak yang disertai tenaga sinkang itu saling sambar dan
baiknya Suma Boan adalah seorang jagoan yang terlatih, maka biar pun ia merasa tergetar oleh hawa
pukulan mukjijat dari Sian Eng, namun tidak membuatnya roboh dan tangkisannya tadi berhasil.
“Singgg...!” Kembali sinar kuning pedang Lin Lin menyambar, disusul pukulan Sian Eng yang tidak kalah
mengerikan dari pada sambaran pedang. Kedua orang gadis itu menerjangnya susul-menyusul dan
bertubi-tubi dengan kecepatan yang luar biasa dan gerakan yang amat aneh.
“Kalian hendak mengadu nyawa? Boleh!” Akhirnya Suma Boan memekik marah karena ia tidak melihat
jalan ke luar lagi.
Betapa pun juga, dalam hal ilmu silat ia lebih banyak pengalaman kalau dibandingkan dengan dua orang
dunia-kangouw.blogspot.com
gadis ini. Maka cepat ia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari
beberapa orang guru pandai, di antaranya terutama sekali It-gan Kai-ong. Bertahun-tahun putera pangeran
ini menjagoi daerah An-sui, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja, ditakuti orang dan pengaruhnya
besar sekali.
Saking lihainya, ia sampai mendapat julukan Lui-kong-sian atau Dewa Geledek karena pukulan tangannya
selalu ampuh dan sekali pukul cukup untuk mengantar nyawa lawan ke akherat. Entah berapa banyaknya
lawan yang sudah terbunuh oleh pukulannya. Ketenaran namanya dan kehebatan ilmunya inilah yang
membuat Suma Boan menjadi manusia sombong, memandang rendah orang lain, dan ke mana pun ia
pergi, ia tidak pernah membawa senjata karena ia menganggap bahwa kedua pukulannya sudah cukup
untuk mengalahkan musuh yang bagaimana pun juga.
Di antara banyak macam kepandaiannya menggunakan tangan kosong, yang paling hebat adalah ilmu
pukulan yang ia pelajari dari It-gan Kai-ong yaitu yang disebut Ho-tok-ciang (Tangan Racun Api). Kalau
dipergunakan pukulan ini hebatnya bukan kepalang karena dapat membuat badan lawan yang terpukul
menjadi hangus! Jarang sekali Suma Boan menggunakan ilmu pukulan ini, karena sungguh pun hebat
akibatnya kalau mengenai tubuh lawan, juga merugikan diri sendiri. Pengerahan sinkang di tubuhnya yang
dibarengi dengan penggunaan racun yang panas seperti api dapat merangsang dirinya sendiri sehingga
dapat mendatangkan luka pada kedua lengannya.
Menghadapi pengeroyokan Lin Lin dan Sian Eng yang mempunyai gerakan-gerakan aneh mukjijat itu,
mula-mula Suma Boan menggunakan semua ilmu silat yang ada untuk melawan. Namun baru dua puluh
jurus lewat saja ujung pedang Lin Lin sudah menggurat pahanya dan pukulan Sian Eng yang ditangkisnya
meleset mengenai pundak sehingga membuatnya terhuyung-huyung. Kagetlah Suma Boan dan tahulah ia
sekarang bahwa ia berada dalam bahaya. Kiranya dua orang gadis ini bukanlah Lin Lin dan Sian Eng
setahun yang lalu, jauh selisihnya. Dua orang gadis ini mainkan ilmu silat yang amat aneh, ganas dan
selain itu, tenaga mereka secara ajaib telah menjadi berpuluh kali lebih kuat dari pada dahulu.
“Hiaaattt!” Ketika Sian Eng menerjang lagi, Suma Boan memekik dan meloncat ke kanan sampai mepet
dinding goa.
Secepat kilat pemuda ini mengeluarkan racun dari sakunya. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkan
dengan racun bubuk itu sehingga bubuk itu hancur memasuki telapak tangannya. Ketika ia membuka
kedua lengannya, telapak tangan itu kelihatan menyala! Menyala dan mengeluarkan asap seperti arang
dibakar. Hawa panas segera memenuhi goa.
“Awas tangannya, Enci!” Lin Lin berseru
dengan kaget.
Akan tetapi gadis ini tidaklah menjadi gentar sungguh pun lawan menggunakan ilmu yang begitu aneh.
Malah khawatir kalau-kalau Sian Eng celaka oleh tangan api itu, Lin Lin sudah menerjang maju lebih dulu,
memutar pedangnya dan sekaligus ia menggunakan jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Mengeluarkan
Kilat), sebuah di antara tiga belas jurus ilmu saktinya.
Sian Eng juga mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat ke atas dan dari atas ia
menyambar turun dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti hendak mencengkeram kepala
lawannya.
Di antara kedua orang pengeroyoknya, Sian Englah yang amat dibuat ngeri oleh Suma Boan. Ia maklum
bahwa gadis ini menaruh kebencian besar kepadanya, menaruh dendam yang hanya dapat diredakan oleh
darah dan nyawa. Oleh karena itu, begitu melihat datangnya serangan mereka yang demikian dahsyatnya,
Suma Boan segera mendahului menggempur Sian Eng yang menyambar turun dari atas dengan dorongan
kedua tangannya yang mengandung tenaga Ho-tok-ciang.
Melihat ini, Sian Eng nekat. Ia segera mengerahkan tenaga menurut ajaran kitab-kitab yang ia temukan di
goa rahasia bawah tanah, lalu memekik tinggi. Belum juga kedua pasang tangan itu bertemu, hawanya
sudah menyusup ke tulang sumsum. Sian Eng merasa betapa hawa panas memasuki kedua lengannya,
sebaliknya Suma Boan kaget sekali karena serasa kedua lengannya dingin dengan mendadak.
Tiba-tiba mata Suma Boan menjadi silau oleh cahaya kuning. Ia menjerit dan cepat mempergunakan
tangan kiri untuk mencengkeram pedang Lin Lin yang menyambar. Kalau tangannya sudah dimasuki
tenaga Ho-tok-ciang macam itu, ia tidak takut untuk menangkis atau mencengkeram senjata tajam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gerakan inilah yang mencelakakan Suma Boan. Andai kata ia menggunakan seluruh tenaganya
menyambut Sian Eng, tentu gadis itu akan kalah kuat dan celaka oleh hebatnya hawa pukulan Ho-tokciang.
Atau andai kata ia menggunakan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk
menyambut pedang Lin Lin, tentu pedang itu akan terampas dan Lin Lin akan menemui bahaya maut. Akan
tetapi setelah Suma Boan membagi perhatian dan tenaga, juga membagi kedua tangannya, kini berbalik ia
yang kalah kuat.
Terdengar jerit mengerikan ketika mereka bertiga itu dalam detik yang sama saling berbenturan. Siang Eng
terhuyung mundur, juga Lin Lin terhuyung mundur, akan tetapi Suma Boan terlempar ke belakang, dan
hanya dapat berdiri sambil bersandar dinding goa. Tangan kanannya lumpuh, tangan kirinya luka berdarah
dan hilang dua buah jarinya. Sejenak ia tertegun, akan tetapi tiba-tiba rasa sakit dari kedua tangannya tak
tertahankan lagi.
Tangan kanannya yang kalah kuat ketika bertemu dengan kedua tangan Sian Eng membuat tenaga
beracun Ho-tok-ciang membalik dan kini rasa panas berselubung rasa dingin akibat hawa pukulan Sian
Eng memasuki dan menjalar perlahan-lahan dalam lengannya. Bukan main nyerinya, sampai seperti
menusuk-nusuk jantung. Ada pun tangan kirinya yang termakan Pedang Besi Kuning juga terasa perih dan
gatal. Pedang Besi Kuning adalah pedang pusaka yang tidak beracun, akan tetapi mengandung khasiat
anti racun. Karena lengan kiri Suma Boan tadinya penuh hawa beracun, begitu termakan oleh pedang ini,
maka hawa yang anti racun itu memerangi racun di tangan itu, maka mendatangkan rasa nyeri yang luar
biasa.
“Aduh... aduh... mati aku... aduh tanganku...!” Suma Boan tidak kuat menahan. Tubuhnya terguling, ia
merintih-rintih lalu bergulingan ke sana ke mari seperti cacing kepanasan, mengaduh-aduh dan mintaminta
ampun. Pakaiannya robek semua ketika ia bergulingan, mukanya menjadi kotor dan matanya
mendelik serta mulutnya berbusa.
“Lin-moi, pinjam pedangmu!”
Lin Lin merasa ngeri dan ragu-ragu untuk memberikan pedangnya. Ia pernah menyaksikan kekejaman hati
Sian Eng ketika mereka membunuh It-gan Kai-ong. Akan tetapi mendadak tangan kiri Sian Eng
mencengkeram ke arah mukanya dengan ganas. Lin Lin terkejut sekali dan mengelak, akan tetapi pada
detik selanjutnya Pedang Besi Kuning sudah terampas dari tangannya. Terpaksa ia hanya dapat berdiri
memandang dengan hati ngeri.
“Eng-moi... jangan... ampunkan aku!”
“Ampun? Hi-hi-hik, ampun kau bilang?” Pedang itu berkelebat dan....
“Crok! Crok!” dua kali pedang menyambar dan putuslah kedua lengan Suma Boan sebatas pundak!
“Aduhhh...!” Suma Boan menjerit dan bergulingan. Darah bercucuran keluar dari kedua pundaknya yang
buntung. Celaka baginya, pemuda bangsawan ini telah melatih diri sedemikian rupa sehingga daya tahan
tubuhnya amat kuat. Lain orang tentu sudah roboh pingsan dan takkan merasakan sakit lagi. Akan tetapi
dia tidak pingsan dan dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang ia rasakan.
“Hi-hi-hik! Kau jadi buntung! Hayo coba kulihat apakah kau masih mampu berbuat keji kepada wanita!”
Sambil tertawa-tawa menyeramkan kembali Sian Eng menggerakkan pedangnya membacok Suma Boan
yang ketakutan itu.
Muka Suma Boan pucat penuh peluh. Ia masih mampu menggulingkan ke sana ke mari untuk
membebaskan diri dari pada bacokan pedang. Namun pedang itu membayanginya terus dan akhirnya....
“Crok! Crok!” disusul jeritan panjang dari mulut Suma Boan.
“Aduh... ampun... ampun...!” Biar pun kedua kakinya sudah terbacok putus sebatas paha, tubuh Suma
Boan masih mampu bergerak-gerak dan sepasang matanya melotot seakan-akan hendak meloncat ke luar
dari dalam rongga matanya.
“Hi-hi-hi-hik! Kau begitu ingin menjadi jago nomor satu di dunia dan untuk itu kau rela menipuku? Nah,
setelah kaki tanganmu buntung, apa kau masih ingin menjadi jagoan?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eng... moi..., ampun...,” Suma Boan masih dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara serak.
Akan tetapi agaknya sebutan terhadap dirinya ini menambah keganasan Sian Eng karena kembali
pedangnya menyambar dan terbukalah perutnya. Tangan kiri Sian Eng menyusul, cepat membetot ke luar
jantung yang basah oleh darah sehingga tangan kirinya berlepotan darah. Tubuh Suma Boan berkelojotan
sebentar lalu diam terkulai.
Sian Eng tertawa-tawa lagi sambil menjilati darah di tangannya, kemudian ia makan jantung itu. “Hi-hik,
kuminum darahmu, kuganyang jantungmu...!”
“Enci Sian Eng...!” Lin Lin menjerit penuh kengerian sambil melompat mendekati, tangannya merampas
pedang. “Enci Eng, apakah kau telah menjadi gila? Kau kejam dan liar!”
Jantung itu sudah memasuki perut Sian Eng. Kini ia menunduk, memandang tubuh Suma Boan yang
sudah tidak karuan macamnya, kaki tangan buntung, perut robek dan isinya berceceran ke luar. Tiba-tiba
Sian Eng menubruk dan menangis sambil memeluk Suma Boan.
“Suma-koko... kenapa kau menyia-nyiakan cintaku...?” Ia menangis menggerung-gerung, membuat Lin Lin
berdiri tertegun dengan bulu roma berdiri. Hatinya tidak karuan rasanya. Jelas bahwa enci-nya ini tidak
beres lagi otaknya.
“Enci Sian Eng, ingatlah! Dia memang jahat, akan tetapi kita sudah berhasil membunuhnya. Mari kita pergi
dari sini!”
Tiba-tiba Sian Eng mengangkat mukanya yang basah air mata, lalu membentak, “Pergi dari sini? Tak
tahukah kau bahwa aku tak dapat meninggalkan kekasihku? Dialah satu-satunya pria yang kucinta. Kau
pergilah, jangan ganggu kami!”
Lin Lin menggeleng kepalanya. Watak enci-nya sudah amat berubah dan kalau ia menggunakan
kekerasan tentu enci-nya akan mengamuk. Ia ngeri memikirkan akibatnya kalau mereka berdua sampai
bentrok. Biar pun ia menguasai ilmu silat tinggi, namun enci-nya juga mewarisi ilmu yang biar pun sama
halnya dengan dia sendiri, belum masak latihannya, namun harus ia akui bahwa enci-nya memiliki ilmu
yang aneh mukjijat. Pertempuran antara mereka akan hebat sekali akibatnya. Maka dengan perasaan ngeri
dan apa boleh buat ia meninggalkan tempat itu, cepat lari menuju ke kota raja. Biarlah, kalau enci-nya
sudah kumat penyakit gilanya, ia akan pergi sendiri mencari Suma Ceng, wanita yang menjadi kekasih
Suling Emas, yang menghalangi pertalian kasih antara dia dan Suling Emas.
Karena Lin Lin melakukan perjalanan cepat sekali maka pada keesokan harinya pada senja hari ia telah
tiba di kota raja. Sungguh pun kini kaisar yang memegang tampuk kerajaan sudah diganti, namun keadaan
di kota raja tampaknya biasa saja, tidak ada perubahan. Bahkan Lin Lin melihat bahwa di dalam kota tidak
tampak berkeliaran anggota-anggota pasukan seperti keadaan dulu.
Hal ini memang satu-satunya perubahan yang diadakan oleh kaisar yang baru, yaitu Sung Thai Cung.
Setelah kaisar baru ini menggantikan kedudukan kakaknya, ia memperkuat keadaan pasukannya dan
memperkuat penjagaan tapal batas atau wilayah Kerajaan Sung, mengerahkan seluruh bala tentara yang
ada untuk menjaga di perbatasan dan mencegah gangguan dari kerajaan tetangga.
Malam hari itu, dengan menggunakan ilmunya Lin Lin berkelebat di atas genteng rumah gedung besar
Pangeran Kiang, suami Suma Ceng. Mudah saja bagi Lin Lin mendapatkan rumah Pangeran Kiang karena
ketika ia bertanya tentang rumah ipar dari Suma Boan, tidak ada orang di kota raja yang tidak tahu. Seperti
juga dahulu, rumah gedung ini masih indah dan mewah. Akan tetapi keadaannya sunyi, padahal waktu itu
malam baru saja tiba dan bulan hampir penuh menghias angkasa menciptakan malam indah.
Tiba-tiba Lin Lin yang berada di atas genteng rumah itu mendengar suara anak-anak yang bermain-main
sambil tertawa-tawa. Cepat ia melompat ke arah belakang dan ternyata dalam sebuah taman tampak tiga
orang anak sedang bermain-main, diasuh oleh dua orang pelayan. Ada pun di dekat kolam ikan duduk
seorang wanita cantik yang termenung memandang bayangan bulan di dalam air. Hanya kadang-kadang
saja wanita ini menoleh ke arah anak-anak yang bermain-main dengan gembira, akan tetapi segera ia
tenggelam pula dalam lamunannya.
Dari atas genteng Lin Lin memperhatikan wanita itu. Lampu taman yang diselubungi kertas berwarna-warni
menjatuhkan cahayanya pada wajah yang ayu dan tubuh yang bentuknya ramping, gerak gerik yang halus.
dunia-kangouw.blogspot.com
Makin panas hati Lin Lin. Kalau benar inilah wanita yang bernama Suma Ceng, pantas jika Suling Emas
jatuh cinta. Wanita ini cantik dan memiliki sikap agung seperti biasa dimiliki puteri bangsawan. Tentu saja
Suling Emas lebih memilih wanita ini dari pada dia. Dia seorang gadis kang-ouw yang kasar dan liar! Makin
dipandang, makin panas hati Lin Lin dan tiba-tiba tubuhnya sudah melayang turun dan langsung ia lari ke
depan wanita itu.
Wanita itu memang betul Suma Ceng adanya. Semenjak peristiwa dengan Suling Emas yang menyerang
suaminya dan ia membela suaminya mati-matian, sering kali wanita ini duduk melamun. Kadang-kadang ia
menyesali perbuatannya, karena sesungguhnya harus ia akui di dalam hati bahwa cintanya terhadap
pendekar itu tak pernah lenyap, tak pernah luntur dari hatinya, maka perlawanannya terhadap Suling Emas
untuk membela suaminya itu tentu saja menghancurkan hatinya. Ia maklum bahwa perbuatannya itu tentu
merupakan tusukan yang menyakitkan hati terhadap bekas kekasihnya.
Akan tetapi pikiran ini segera ia usir dengan kesadaran bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan
terbaik baiknya. Lebih baik membiarkan Suling Emas pergi dan membencinya, tidak akan kembali lagi
selamanya agar pendekar itu dapat melupakannya, tidak tersiksa lagi hatinya. Juga dia sendiri dapat
menjaga nama baik sebagai seorang isteri yang setia kepada suaminya. Dan yang jelas, semenjak
peristiwa itu terjadi, suaminya, Pangeran Kiang bersikap manis dan baik kepadanya.
Ketika Suma Ceng melihat berkelebatnya orang dan secara tiba-tiba melihat seorang gadis berdiri di
depannya, ia kaget sekali dan cepat bangkit berdiri. Tadinya ia kaget dan mengira Suling Emas yang
datang lagi, akan tetapi setelah melihat bahwa yang datang seorang gadis, ia terheran-heran. Akan tetapi
ketabahannya kembali ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis muda yang cantik sekali.
Dengan senyum tenang Suma Ceng bertanya.
“Siapakah kau dan apa kehendakmu datang secara begini?”
Lin Lin meraba gagang pedang, sejenak ia menentang pandang mata wanita itu sehingga dua pasang
mata yang sama jeli dan sama tajam itu saling tatap penuh selidik. Kemudian Lin Lin bertanya, suaranya
lantang.
“Apakah kau yang bernama Suma Ceng?”
Suma Ceng mengerutkan keningnya. Sebagai seorang nyonya yang selalu menjunjung tinggi nama
suaminya, segera ia menjawab, “Aku adalah Nyonya Pangeran Kiang dan siapakah kau?”
“Tapi dulu sebelum menikah bernama Suma Ceng?” Lin Lin mendesak lagi.
Terpaksa Suma Ceng mengangguk. “Betul, dahulu aku bernama Suma Ceng, dan kau mau apakah tanyatanya
nama kecil orang lain?”
“Srettt!” Pedang Besi Kuning sudah berada di tangan Lin Lin.
“Mau membunuh engkau!” bentak Lin Lin dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning yang menyambar
ke arah leher Suma Ceng. Gerakan ini demikian cepat dan tidak terduga sehingga nyonya muda itu biar
pun pandai silat tak sempat untuk menyelamatkan diri lagi, hanya berdiri terkesima dengan mata terbuka
lebar. Pedang Besi Kuning menyambar ganas!
“Tranggggg!”
Lin Lin terpental ke belakang, berputar-putar sampai lima kali putaran baru ia dapat menghentikan kakinya
ketika pedangnya bertemu dengan sesuatu yang amat hebat tenaganya, membuat pedangnya itu terpental
dam membawa pula dirinya berputaran. Ia kaget dan marah sekali, namun tidak gentar karena ia memang
sudah siap untuk bertempur mati-matian dalam usahanya membunuh wanita yang dibencinya. Cepat ia
meloncat dan membalikkan tubuh, siap dengan pedang di depan dada. Tapi mendadak tubuhnya gemetar,
wajahnya pucat dan tangan yang memegang pedang menggigil. Kiranya yang menangkis pedangnya, yang
kini berdiri tegak di depan Suma Ceng dengan suling di tangan, yang memandangnya dengan kening
berkerut dan mata sayu, adalah... Suling Emas!
“Lin Lin, terlalu sekali engkau... hendak membunuh orang yang tidak bersalah apa-apa?” Suling Emas
menegur sambil menggeleng-geleng kepalanya, wajahnya yang tampan itu kelihatan sedih sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Teguran ini meledakkan gunung berapi kemarahan yang mendesak di hati Lin Lin. Tiba-tiba saja air
matanya keluar bercucuran dan ia menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. “Kau...! Kau...! Kau yang
telah menghinaku... kini membela dia...! Ah, aku benci padamu! Benci...!” Sambil terisak menangis Lin Lin
meloncat dan lari pergi secepatnya.
“Lin Lin, tunggu...!” Suling Emas mengejar.
Di taman itu tinggal Suma Ceng yang berdiri terlongong, sedangkan anak-anaknya ketakutan dan dua
orang pelayan sibuk menghibur mereka dengan muka pucat karena takut pula.
“Mari kita masuk, dan jangan ceritakan kepada siapa pun juga tentang peristiwa tadi,” akhirnya Suma Ceng
berkata, kemudian ketika berada di dalam kamarnya, tak tertahankan lagi nyonya ini menjatuhkari diri di
atas pembaringan dan menelungkup sambil menangis.
“Lin Lin, tunggu...!” Suling Emas berteriak dan mempercepat pengejarannya.
Lin Lin seperti orang gila, berlari cepat sekali karena ia mengerahkan ilmu lari berdasarkan tenaga yang ia
peroleh dari latihan ilmunya yang baru di bawah petunjuk Empek Gan. Betapa pun juga latihannya yang
masih belum masak itu tidak memungkinkan ia dapat melarikan diri dari pada pengejaran Suling Emas.
Akhirnya, jauh di luar kota raja ia dapat disusul oleh Suling Emas yang mendahuluinya dan membalik,
menghadang di tengah jalan.
“Lin-moi, berhenti sebentar, mari kita bicara baik-baik....”
Dengan air mata membasahi pipinya, Lin Lin melintangkan pedangnya di depan dada dan matanya yang
tajam menatap wajah pendekar itu sambil berkata ketus, “Bicara apa lagi? Kau sudah puas menghinaku
dua kali! Kau menyusul aku apakah hendak menghina lagi dan melihat aku mampus?” air matanya makin
deras bercucuran.
Dengan suara sedih Suling Emas berkata, “Lin Lin... Lin-moi, mengapa kau berkata demikian? Tidak
sekali-kali aku berani menghinamu. Ah, Lin Lin, tidak tahukah kau betapa hancur hatiku menghadapi
semua ini? Kau agaknya tahu sekarang, bahwa... bahwa aku adalah kakakmu sendiri. Tidak saja aku jauh
lebih tua darimu, tapi juga aku... aku adalah kakakmu, Lin Lin. Aku tidak menghina....”
“Cukup!” Lin Lin membentak di antara isak tangisnya, “Katakanlah bahwa kau memandang aku sebagai
seorang gadis yang tak tahu malu, seorang gadis yang rendah! Kau bukan kakakku, ini kau pun tahu jelas.
Aku seorang puteri Khitan, aku hanya anak pungut ayahmu, aku bukan she Kam! Kita bukan sedarah
daging, bukan seketurunan. Tentang usia... sudahlah, tentu saja kau menganggap aku seorang gadis tak
berharga! Kau... kau mencinta Suma Ceng yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, mengapa kau
tidak bunuh saja aku?” Kembali Lin Lin menangis.
Suling Emas menarik napas panjang. “Kau betul. Memang aku pernah mencintanya, mencintanya sebelum
ia menikah dengan Pangeran Kiang. Namun kami tidak beruntung, dan dia sudah bahagia di samping
suaminya, aku... aku sudah melupakan perhubungan kami yang lalu. Karena inilah Lin-moi... karena aku
merasa bahwa aku sudah pernah mencinta orang lain, ditambah lagi kenyataan bahwa kau sejak kecil
menjadi puteri ayahku, diperkuat dengan kenyataan bahwa aku jauh lebih tua dari padamu, bagaimana pun
juga... tak mungkin aku mau merusak hidupmu. Kau masih muda, jelita, dan perkasa, lagi pula kau Puteri
Khitan. Di dunia ini banyak pria yang jauh melebihi aku segala-galanya, menantimu....”
“Cukup! Kau hendak menambah luka di hatiku? Kau sengaja menghancurkan hatiku yang sudah sakit ini?
Alangkah kejamnya kau! Alangkah bencinya aku kepadamu!” Lin Lin menggerakkan pedangnya dengan
ancaman hendak menusukkan senjata ini di dada Suling Emas.
“Bagus begitu... kau tusuklah dada ini! Lebih baik begitu, Lin-moi. Untuk apa aku hidup lebih lama lagi
kalau hidupku hanya mendatangkan sengsara bagi banyak orang?” Suling Emas berhenti sejenak,
meramkan matanya membayangkan wajah Suma Ceng, juga wajah Tan Lian yang menjadi korban
asmara, kemudian ia membuka lagi matanya. “Sudah kupenuhi kewajibanku mewakili ibu menghadapi
Thian-te Liok-koai, sudah kupenuhi kewajibanku bertemu dengan adik-adikku seperti pesan ayah. Kau
tusuklah dadaku!”
Karena Lin Lin memegang pedangnya dengan gerakan menusuk, maka ketika Suling Emas menubruk ke
depan, tak dapat dicegah lagi pedangnya menusuk dada Suling Emas. Lin Lin terkejut dan membuang
dunia-kangouw.blogspot.com
muka sambil menutupinya dengan tangan kiri. Tangannya yang memegang pedang gemetar sehingga
pedang itu menyeleweng, menggores kulit dada kemudian ujung pedang menancap di pundak kanan
Suling Emas!
Ketika merasa betapa pedangnya menusuk daging, Lin Lin menjerit kecil dan menarik pedangnya, berdiri
terbelalak dengan muka pucat. Suling Emas masih berdiri, mulutnya tersenyum sedih, darah mengucur ke
luar membasahi bajunya.
“Mengapa kepalang tanggung, adikku? Tusuklah lagi, yang tepat... ini dadaku, aku rela mati untuk
membebaskanmu dari derita....”
Makin besar mata Lin Lin terbelalak, kemudian ia menjerit lagi dan terisak lari meninggalkan tempat itu.
Suling Emas terhuyung-huyung kemudian roboh pingsan.
********************
“Berhenti! Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!” terdengar bentakan keras dan belasan orang
berloncatan ke luar dari balik pohon dan segera mereka mengurung Lin Lin yang berdiri tenang. Sekali
pandang tahulah Lin Lin bahwa ia dikurung oleh para prajurit Khitan, bahkan di antaranya ada yang ia
kenal sebagai perwira-perwira yang pernah ikut rombongan ke Nan-cao menghadiri perayaan Beng-kauw.
Dan di belakang belasan orang ini muncul pula rombongan yang merupakan pasukan berjumlah lima puluh
orang lebih, lengkap dengan senjata tajam. Sikap mereka rata-rata galak dan tangkas, dan memang suku
bangsa Khitan terkenal sebagai orang-orang yang berjiwa gagah perkasa, sudah biasa akan kesulitan
hidup yang membuat mereka kuat lahir batin.
Namun menghadapi pengurungan banyak orang itu Lin Lin tidak menjadi gentar. Di dalam hatinya timbul
perasaan bahwa mereka ini adalah orang-orangnya, bukan musuh. Maka sambil berdiri tegak dan bertolak
pinggang ia menghardik. “Kalian ini mau apa? Mengapa hendak menawan aku? Tidak tahukah siapa aku?
Aku adalah Puteri Yalin, puteri mahkota yang berhak akan mahkota Kerajaan Khitan!”
Sikapnya yang agung dan kata-katanya yang mantap ini meragukan para prajurit. Akan tetapi seorang
komandan berkata keras, biar pun kata-katanya tidak kasar. “Kami hanya menerima perintah dari Lociangkun,
bahwa apa bila Nona muncul di wilayah ini, kami harus menawan Nona.”
Lin Lin tahu siapa yang dimaksudkan dengan Lo-ciangkun (panglima tua) itu. Ia tersenyum mengejek.
“Hemmm, siapa takut iblis Hek-giam-lo? Kalian ini bangsa Khitan yang terkenal gagah perkasa, yang sejak
dahulu setia kepada nenek moyangku, menjadi abdi-abdi setia dari kakekku, raja besar Kulukan, mengapa
sekarang bersikap pengecut dan tunduk kepada perintah seorang iblis seperti Hek-giam-lo?”
“Kami bukan pengecut!” bantah komandan itu dengan muka merah. “Akan tetapi kami harus tunduk
terhadap perintah Lo-ciangkun yang menjadi kepercayaan Sri Baginda. Kalau kami tidak melakukan
perintah, tentu kami dihukum mati. Sudah banyak contohnya pembangkang yang dihukum mati secara
mengerikan. Oleh karena itu, selain kami takut dihukum, juga kami sayangkan kalau sampai Nona
menerima hukuman dari Lo-ciangkun.”
“Hemmm, siapa takut? Kalian tahu betapa kejamnya iblis Hek-giam-lo, kejam dan menjadi tokoh penjahat
di dunia yang hanya menodai nama besar Khitan! Apakah dahulu kakekku, raja besar Kulukan sekejam
itu? Baru sekarang terjadi kekejaman-kekejaman, setelah paman tiriku Kubakan menjadi raja dan dibantu
Hek-giam-lo. Hek-giam-lo adalah pengkhianat. Dahulu juga seorang panglima kakekku, akan tetapi karena
berdosa kepada mendiang ibuku, maka mukanya menjadi seperti iblis, dan dia membantu paman tiriku
yang tidak berhak akan kedudukan raja. Lihat, kalau aku yang mewarisi mahkota yang menjadi hakku, aku
tidak akan berlaku kejam. Kalian sudah menghinaku, hendak menawanku, akan tetapi aku tidak akan
membunuh kalian.”
Mau tidak mau komandan itu tersenyum. “Nona, Lo-ciangkun mengandalkan kepandaiannya yang setinggi
langit. Nona hendak mengandalkan apa untuk melakukan kekejaman?”
“Eh, kau memandang rendah? Keparat! Lihat baik-baik!”
Dengan kecepatan kilat Lin Lin menggerakkan tubuhnya, melakukan jurus sakti memukul dan menendang
ke depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan... enam orang Khitan berikut komandan tadi berjungkirbalik
dan jatuh tumpang tindih, tanpa mereka ketahui mengapa mereka dapat jatuh bangun seperti itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nah, kau kira aku tidak dapat menyiksa kalian dan membunuh kalian secara kejam kalau kukehendaki?
Akan tetapi biar pun kalian keterlaluan, aku tetap memaafkan kalian karena kalian adalah bangsaku dan
orang-orangku. Bangunlah!”
Enam orang itu meringis-ringis dan bangun, akan tetapi kesetia-kawanan mereka membuat pasukan itu
bergerak dan merapatkan pengepungan. Melihat enam orang kawan mereka dirobohkan Lin Lin, mereka
yang tidak mendengar kata-kata Lin Lin tadi kini maju mendesak dan siap untuk mengeroyok gadis itu
dalam kepungan itu.
Melihat ini Lin Lin membentak. “Mundur kalian! Benar-benarkah kalian ini akan melupakan darah nenek
moyangku dan membantu pengkhianat? Belum cukupkah bukti tadi bahwa aku cukup kuat akan tetapi tidak
mau membunuh kalian yang kusayang sebagai rakyatku? Awas, kalau memang kalian ini hanya terdiri dari
orang-orang yang hanya tunduk kalau diperlakukan kejam, jangan salahkan aku terpaksa menggunakan
kekerasan!”
Akan tetapi orang-orang Khitan itu tidak mengenal takut. Mereka mendesak makin dekat dan sikap mereka
mengancam. Tiba-tiba mata mereka menjadi silau oleh sinar kuning terang yang bergulung-gulung ketika
Lin Lin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkannya dengan cepat di atas kepalanya.
“Mundur! Kalian tidak melihat ini? Pedang pusaka Besi Kuning, pedang mendiang ibuku Puteri Tayami,
siapa berani melawan ini? Hayo maju, siapa maju akan kupenggal kepalanya!”
Semua orang Khitan mengenal belaka pedang ini. Mereka yang masih muda dan belum pernah
menyaksikan pedang ini, setidaknya pernah mendengar dongeng bermacam-macam tentang pedang ini
yang katanya dahulu adalah pemberian raja dewa kepada nenek moyang Raja Khitan. Mereka serentak
mundur dan muka mereka menjadi pucat.
“Kalian tahu, hanya pedang pusaka inilah yang menjadi tanda. Siapa memegangnya dialah yang patut
menjadi raja di Khitan. Dahulu pedang ini terlepas dari tangan Kubakan, terampas oleh Kaisar Sung. Raja
macam apa dia itu sehingga melepaskan pusaka kerajaan? Dia tidak patut menjadi raja dan dia hanyalah
anak dari selir kakek Kulukan. Ibukulah puteri mahkota, dan karena aku anaknya, maka akulah keturunan
langsung dari kakek Kulukan, dan aku, Puteri Yalin, yang berhak memakai mahkota Kerajaan Khitan.
Hayo, siapa berdiri di pihakku dan siapa berani menentangku?”
Sambil berkata Lin Lin mengacungkan pedangnya ke atas, berdiri tegak dan sikapnya gagah dan agung.
Anehnya, biar pun belum banyak ia mempelajari bahasa Khitan ketika ia ditawan Hek-giam-lo, namun kini
dia dapat bicara dengan lancar dalam bahasa itu. Memang panggilan darah agaknya yang membuat ia
merasa tidak asing dengan suku bangsa dan bahasa Khitan. Apa lagi ia adalah keturunan dari orang-orang
yang berdarah Kerajaan Khitan.
Pada saat orang-orang Khitan itu ragu-ragu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini,
tiba-tiba di bagian kiri orang-orang itu bergerak minggir, memberi jalan kepada rombongan yang datang. Di
antara mereka ada yang berkata dengan suara membayangkan kelegaan hati.
“Bagus, Pek-bin-ciangkun tiba! Hanya dialah yang dapat memberi keputusan, kita ini prajurit biasa yang
tunduk perintah!”
Lin Lin cepat menengok dan ia melihat bahwa yang datang betul adalah Panglima Khitan yang terkenal itu,
yang dahulu mewakili Kerajaan Khitan ketika datang pada pesta Beng-kauw. Panglima yang berwajah
putih ini datang bersama belasan orang perwira pembantunya dan mereka semua memandang ke arah Lin
Lin dengan pandang mata penuh selidik dan wajah kereng. Namun Lin Lin tidak menjadi gentar dan ia
cepat menghadapi Pek-bin-ciangkun dengan sikap agung dan gagah. Sengaja ia tidak mengucapkan katakata
seakan-akan sikap seorang puteri yang menerima laporan dari panglimanya!
Pek-bin-ciangkun tentu saja mengenal siapa Lin Lin dan panglima ini sudah pula mendengar tentang asalusul
gadis ini. Maka ia bersikap hormat sungguh pun ia tidak merendahkan diri. Tadi ia sudah menerima
laporan lengkap, bahkan ucapan Lin Lin yang terakhir tadi didengarnya pula. Hal ini mengejutkan hatinya.
Terang bahwa gadis keturunan langsung dari raja lama ini menuntut haknya dan kalau gadis ini berhasil
menghasut, pasti akan terjadi perang saudara!
“Nona, kami sudah mendengar semua laporan dan mendengar pula ucapan Nona yang amat berbahaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketahuilah, Nona. Kami hanya menjalankan tugas kami, taat kepada perintah raja besar kami. Lebih baik
Nona menurut saja kami bawa menghadap raja dan percuma membujuk kami yang semenjak dahulu
merupakan prajurit-prajurit setia sampai mati terhadap junjungan kami.” Ucapan yang bersemangat dan
gagah ini berhasil menggugah semangat para prajurit dan menghilangkan keraguan mereka.
Lin Lin melihat hal ini menjadi gemas. Dengan sinar mata tajam ia menentang wajah Pek-bin-ciangkun dan
berkata lantang. “Pek-bin-ciangkun! Melihat usiamu yang sudah lanjut, tentu kau dahulu pernah mengenal
ibuku. Tahukah kau siapa mendiang ibuku?”
Sambil menunduk hormat panglima itu menjawab. “Ibunda Nona yang mulia adalah mendiang Puteri
Mahkota Tayami yang gagah perkasa.”
“Dan kau tentu tahu pula siapakah kakekku, ayah dari ibuku?”
Kembali panglima itu membungkuk lebih hormat lagi, “Beliau adalah mendiang raja terbesar kami yang
amat mulia, yaitu mendiang Kulukan yang besar!”
“Hemmm, agaknya ingatanmu masih baik. Dan kau tahu, rajamu yang sekarang itu, Raja Kubakan, dia itu
terhitung apa dengan aku...?”
“Dengan Nona, beliau terhitung paman tiri, karena Sri Baginda adalah putera mendiang Maha Raja
Kulukan dari seorang selir.”
“Hemmm, paman tiri, namun masih ada hubungan darah, masih sama-sama keturunan kakek Raja
Kulukan, sungguh pun ibuku puteri permaisuri dan dia hanya putera selir. Akan tetapi tahukah kalian
semua apa maksud hati paman tiriku itu hendak menangkapku? Aku hendak dipaksanya menjadi isterinya!
Bukankah amat gila ini? Tidakkah jelas menunjukkan betapa bejat moral Kubakan yang kini menjadi raja
kalian, raja yang tak berhak?”
“Kami tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain, apa lagi urusan pribadi raja kami yang kami
junjung tinggi,” bantah Pek-bin-ciangkun sambil mengerutkan keningnya.
“Bagus!” Lin Lin berseru marah sambil melintangkan pedangnya. “Kau juga tidak memandang pedang
pusaka ini?”
Pek-bin-ciangkun menghela napas panjang. “Tentu saja kami menaruh hormat kepada pedang pusaka
yang sudah banyak berjasa terhadap bangsa kita itu. Akan tetapi, sebagai kepala pasukan pengawal raja
kami harus mentaati perintah yang diberikan atasan kami, yaitu yang terhormat Lo-ciangkun. Menyerahlah
Nona, kami akan memperlakukanmu dengan hormat dan baik.”
Lin Lin mengedikkan kepalanya, matanya bersinar-sinar marah. “Kalau kalian tunduk dan menjadi kaki
tangan Hek-giam-lo si iblis jahanam, biarlah sekarang mengeroyok dan membunuhku. Aku tidak takut!”
“Ah, Nona Muda. Sesungguhnya kami bukan tidak tahu bahwa kau adalah tuan puteri, keturunan langsung
dari Yang Mulia Kulukan. Kami merasa sayang dan segan untuk memusuhimu. Akan tetapi apakah daya
seorang anak perempuan muda seperti kau ini? Apakah artinya melawan dengan kekerasan? Siapa tidak
tahu bahwa Lo-ciangkun memiliki kesaktian yang tak terlawan? Kuharap saja kau dapat menyadari hal ini
dan mari ikut kami menghadap raja. Mungkin hubungan darah kekeluargaan akan menyelamatkan dirimu.”
“Aku tidak takut terhadap Hek-giam-lo si iblis! Aku tidak takut kepada si muka buruk Bayisan itu, seorang
perwira yang berani menghina mendiang ibuku. Suruh dia datang, biar kami mengadu nyawa di sini!”
teriaknya nekat.
“Bayisan...? Apa maksudmu, Nona?” tanya Pek-bin-ciangkun dengan suara kaget.
“Siapa lagi kalau bukan Hek-giam-lo? Dia adalah Bayisan, apakah kalian masih pura-pura tidak tahu
bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan yang dahulu adalah perwira kakek Raja Kulukan yang berani menghina
ibuku?”
“Aaahhh...!” Jelas sekali kelihatan Pek-bin-ciangkun kaget bukan main, wajahnya yang putih itu mendadak
menjadi merah dan matanya terbelalak tak percaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bukan panglima ini saja yang terkejut, juga semua perwira yang mengiringkannya kelihatan kaget dan para
prajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh karena mereka kini saling bicara
sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam.
Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya.
“Nona, semenjak kecil Nona terpisah dari lingkungan kami, bagaimana Nona bisa mengatakan bahwa lociangkun
adalah... Bayisan?” Panglima yang sudah banyak pengalaman ini tidak mau percaya begitu saja.
Sebaliknya, menyaksikan sikap mereka yang kaget dan mendengar pertanyaan Pek-bin-ciangkun yang
demikian sungguh-sungguh, diam-diam Lin Lin menjadi heran tak mengerti. Mengapa mereka semua tidak
tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan seperti yang ia dengar dari iblis itu sendiri, dan mengapa pula hal
itu membuat mereka kaget? Tentu ada rahasia hebat yang ia tidak ketahui. Dengan hati berdebar penuh
harapan Lin Lin bergantung kepada kesempatan ini, lalu ia bercerita dengan suara sungguh-sungguh.
“Pek-bin-ciangkun, memang tadinya aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ketika aku menjadi tawanan Hekgiam-
lo dan kutanya mengapa dia begitu membenciku, dia membuka kedok iblisnya, memperlihatkan muka
yang lebih buruk mengerikan dari pada kedoknya sendiri, muka yang rusak sama sekali. Hanya sebentar
dia memperlihatkan mukanya yang rusak sambil mengaku bahwa namanya Bayisan, dan bahwa di waktu
mudanya dahulu ia jatuh cinta kepada ibuku, akan tetapi ibu menolaknya. Menurut cerita dia, ibu malah
menyiram mukanya dengan racun yang membuat mukanya menjadi terbakar dan rusak. Akan tetapi aku
dapat menduga bahwa tentu ia bermaksud hendak kurang ajar terhadap ibu, maka ibuku melakukan hal itu
kepadanya.”
Kembali suasana menjadi gaduh. Dan akhirnya Pek-bin-ciangkun berkata, suaranya berubah lunak dan
panggilannya juga berubah, “Tuan Puteri Yalin, kami mohon maaf atas kekasaran kami tadi dan mulai saat
ini, hamba dan sekalian anak buah hamba berdiri di belakang Paduka untuk menggempur pengkhianat
Bayisan beserta raja paman tiri Paduka yang ternyata telah menipu kami semua, mempergunakan
pengkhianat untuk membunuh ayah sendiri dan merampas tahta kerajaan.”
Setelah berkata demikian, Pek-bin-ciangkun menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin. Para perwira
lainnya juga ikut berlutut, sedangkan para prajurit sambil berteriak, “Hidup Tuan Puteri Yalin. Puteri
Mahkota Khitan!”
Sejenak Lin Lin berdiri tegak. Pedang Besi Kuning di tangan kanan, tangan kiri bertolak pingang, kepala
dikedikkan, dada dibusungkan dan matanya menyambar-nyambar ke kanan kiri penuh wibawa. Kemudian
ia berkata lantang, “Harap kalian suka berdiri. Syukurlah bahwa kalian dapat memilih pihak yang benar
untuk bersama menghancurkan pihak yang salah. Aku minta Pek-bin-ciangkun suka mengumpulkan para
perwira untuk mengatur siasat bersamaku.”
Pek-bin-ciangkun bangkit berdiri, diturut oleh semua anak buahnya yang ternyata berjumlah seratus orang
lebih. Kini mereka berkumpul dan berdiri di sekeliling tempat itu dengan harapan baru. Sudah terlalu lama
mereka bekerja di bawah tekanan yang menakutkan dari Hek-giam-lo yang mempunyai kekuasaan
tertinggi, agaknya malah lebih tinggi dari pada raja sendiri. Pek-bin-ciangkun mengajak perwira yang
semua ada enam belas orang untuk mengadakan perundingan dengan Lin Lin di bawah pohon-pohon yang
rindang daunnya, setelah ia memperkenankan para anak buahnya untuk beristirahat sambil berjaga-jaga.
“Ciangkun, terus terang saja, aku tidak tahu mengapa setelah Ciangkun dan semua saudara mendengar
bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, Ciangkun lalu tiba-tiba menyatakan mendukung aku? Ada rahasia
apakah di balik semua ini?”
Pek-bin-ciangkun menarik napas panjang. “Tuan Puteri tidak tahu, memang sepantasnya tidak tahu karena
hal itu terjadi sewaktu Paduka masih amat kecil dan ibu Paduka belum meninggal dunia. Bayisan
dahulunya adalah seorang Panglima Khitan yang terkenal gagah perkasa. Seperti telah ia akui di depan
Paduka, dia tergila-gila kepada Puteri Mahkota Tayami, tetapi ditolaknya dan seperti kenyataannya, ibunda
Paduka telah menikah dengan seorang perwira rendahan yang gagah perkasa. Nah, agaknya ia menaruh
dendam, apa lagi karena Maha Raja Kulukan sendiri tidak menyetujui niatnya mengawini Puteri Tayami.
Diam-diam ia lalu melakukan pengkhianatan dan pada suatu malam, Sri Baginda Kulukan meninggal dunia
dalam kamarnya. Oleh puteranya, Sri Baginda Kubakan yang sekarang, ketika itu masih seorang
pangeran, dikabarkan bahwa sri baginda tua meninggal karena penyakit. Akan tetapi hamba dan para
perwira yang tahu akan ilmu silat tinggi, mengerti bahwa meninggalnya Sri Baginda karena pukulan jarak
jauh yang beracun. Kami sudah menduga bahwa hal itu tentu dilakukan oleh Bayisan, akan tetapi ketika
kami mencarinya, ia telah lenyap tak meninggalkan jejak. Kiranya pada malam hari itu juga ia berani mati
dunia-kangouw.blogspot.com
hendak mengganggu Puteri Tayami sehingga disiram racun pada mukanya. Karena itulah kami sekalian
mengira bahwa dia pergi takkan kembali lagi, karena malu dan takut akan pembalasan kami.”
Lin Lin mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa tidak sabar ketika panglima itu berhenti
sebentar untuk mengingat-ingat peristiwa yang telah puluhan tahun terjadi itu (baca cerita Suling Emas).
“Sementara itu, bangsa kita selalu mengadakan perang dengan Kerajaan Hou-han, dan yang menjadi
calon ratu bukan lain adalah Puteri Mahkota Tayami. Akan tetapi, ibunda Paduka tewas di medan
pertempuran secara aneh karena anak panah yang membunuhnya kami kenal sebagai anak panah yang
biasa dipergunakan oleh Bayisan yang menghilang! Dan beberapa tahun kemudian, setelah paman tiri
Paduka, Kubakan menjadi raja, muncullah Hek-giam-lo yang kami sebut lo-ciangkun, menjadi panglima
tertinggi yang amat berkuasa. Karena dia sakti, dan raja amat percaya kepadanya, maka kami tidak berani
bertanya-tanya siapa adanya Hek-giam-lo. Siapa kira, dia adalah Bayisan yang berkhianat!” Pek-binciangkun
tampak marah sekali.
Akan tetapi lebih hebat adalah kemarahan Lin Lin. Kiranya Hek-giam-lo adalah pembunuh ibunya! Makin
besarlah hasrat hatinya hendak membasmi Hek-giam-lo dan merampas tahta Kerajaan Khitan, “Hemmm,
bagus sekali! Kalau begitu mari kita serbu kerajaan dan bunuh Hek-giam-lo si pengkhianat!”
“Sabarlah, Tuan Puteri. Hek-giam-lo amat sakti. Bagaimana kita mampu melawannya?”
“Jangan takut, percayalah kepadaku. Aku mampu menandinginya, dan andaikata
aku kalah dan tewas,
berarti aku sudah berjasa, mati untuk bangsaku dalam usaha membasmi pengkhianat!” jawab Lin Lin
dengan gagah.
Pada saat itu terdengar suara terompet dan gaduh. Ternyata muncul serombongan pasukan yang dipimpin
oleh seorang pemuda yang bermuka putih, pemuda yang tampan dan gagah sekali. Begitu dekat, pemuda
yang membawa golok besar ini dari atas kudanya berseru, “Hei, kaum pemberontak. Menyerahlah kalian
sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan atas nama Sri Baginda!”
Semua orang terkejut, lebih-lebih Pek-bin-ciangkun yang melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah
Kayabu, puteranya dan juga anak tunggalnya. Kayabu ini juga memakai nama bangsa Han, dan ia memilih
nama Liao yang kelak menjadi nama Kerajaan Khitan. Liao Kayabu ini seorang pemuda berusia dua puluh
lima tahun, gagah perkasa dan tampan, ahli main golok dan anak panah, semenjak muda digembleng
ayahnya, malah dalam perantauannya ia belajar ilmu silat tinggi dari para pertapa di sepanjang
pegunungan utara.
“Kayabu, apa artinya ini? Tak tahukah kau bahwa ayahmu berada di sini?” bentak Pek-bin-ciangkun
dengan suara lantang.
Pemuda gagah itu sejenak memandang ayahnya, kemudian ia melompat turun dari atas kudanya, berlari
menghampiri Pek-bin-ciangkun dan menjatuhkan diri berlutut. “Ayah, sebagai anakmu, aku menghormat
dan menjunjung tinggi padamu. Sebagai anakmu, aku harap hendaknya Ayah suka sadar dan insyaf,
bahwa Ayah telah terseret oleh bujukan orang untuk turun berkhianat. Ayah, semenjak kecil aku mendapat
didikan Ayah yang terutama menekankan agar supaya aku menjadi seorang gagah yang selalu mencinta
bangsa dan setia kepada rajanya. Pelajaran Ayah ini sudah berakar di dalam hatiku. Untuk membela
bangsaku dan bersetia kepada bangsaku, aku siap menerima kematian, siap mengorbankan apa pun juga.
Akan tetapi hari ini aku mendengar laporan bahwa Ayah berkumpul dengan orang-orang yang hendak
memberontak, yang berarti mengkhianati bangsa dan raja. Ayah, sekali lagi, sebagai puteramu aku mohon
Ayah suka sadar dan menarik diri keluar dari persekutuan jahat ini!”
Muka Pek-bin-ciangkun sebentar pucat sebentar merah, sedangkan Lin Lin memandang dengan hati
tegang.
“Kayabu, kau tidak mengerti. Ayahmu tetap seorang yang selalu setia terhadap bangsa dan kerajaan.
Ketahuilah bahwa gerakan yang akan diadakan oleh ayahmu adalah justru gerakan membasmi
pengkhianat yang semenjak puluhan tahun merajalela dan baru sekarang diketahui dan akan diberantas.
Ketahuilah, bahwa lo-ciangkun sebetulnya adalah si pengkhianat Bayisan, dan Sri Baginda yang sekarang
ini malah mempergunakan tenaganya. Karena itu, tak dapat diragukan lagi bahwa kematian Sri Baginda
tua mau pun Puteri Tayami adalah hasil pengkhianatannya yang dibantu oleh Bayisan.”
Para prajurit dalam pasukan yang baru datang, menjadi gaduh mendengar ini, pasukan tak dapat diatur
dunia-kangouw.blogspot.com
lagi dan mereka saling bicara sendiri dengan ramai. Liao Kayabu bangkit berdiri dan suaranya nyaring
mengatasi suara gaduh lainnya.
“Pek-bin-ciangkun! Aku sekarang bicara sebagai seorang hamba Kerajaan Khitan yang setia! Aku tidak
tahu dan tidak ambil peduli akan dongeng tentang pengkhianatan jaman dahulu. Akan tetapi kenyataannya
sekarang, aku bekerja sebagai panglima di dalam Kerajaan Khitan, karena itu aku harus setia kepada raja
dan bangsa. Siapa pun juga yang mempunyai niat memberontak, dia adalah musuhku. Pemberontakan
berarti pengkhianatan, baik terhadap raja mau pun terhadap bangsa, karena itu sudah menjadi
kewajibanku untuk membasminya dengan taruhan nyawa!”
Dengan golok melintang di depan dada, Kayabu berdiri tegak menentang pandang mata ayahnya dan juga
Lin Lin. Gadis ini diam-diam kagum sekali. Pemuda ini benar-benar gagah perkasa, pikirnya, dan
kesetiaannya terhadap Kubakan bukanlah kesetiaan karena dorongan perasaan pribadi, bukan pula
dengan pamrih mencari kemuliaan duniawi, melainkan kesetiaan yang jujur dan bersih dari seorang
panglima yang gagah perkasa terhadap negara dan bangsanya. Akan tetapi, Pek-bin-ciangkun marah
sekali.
“Anak durhaka! Kau hendak melawan ayahmu sendiri?” Orang tua ini sudah melangkah maju dan
mencabut pedangnya yang panjang. “Sejak kau kecil aku mendidik dan membangunmu, biarlah sekarang
aku sendiri yang membasmimu!”
“Ciangkun, tahan dulu!” tiba-tiba Lin Lin berseru dan sekali tubuhnya berkelebat ia sudah melewati
Panglima Muka Putih ini dan berkata, “Puteramu ini seorang panglima sejati yang gagah, harus dihadapi
dengan kegagahan pula. Biarlah aku yang menghadapinya. Setujukah kau?”
Pek-bin-ciangkun mengerutkan keningnya, akan tetapi karena ia menganggap Lin Lin sebagai junjungan
baru calon ratu di Khitan, tentu saja ia merasa tidak enak kalau membantah. Ia menunduk dan menjawab,
“Terserah kepada kebijaksanaan Tuan Puteri. Akan tetapi harap Paduka berhati-hati karena bocah ini
kepandaiannya cukup tinggi sehingga hamba sendiri pun belum tentu dapat mengalahkannya.”
Biar pun dalam ucapan ini Pek-bin-ciangkun memberi peringatan agar junjungannya berhati-hati, namun
mengandung pula kebanggaan seorang ayah terhadap puteranya.
Lin Lin mengangguk, tersenyum manis. “Aku mengerti.” Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapi
Kayabu yang masih berdiri tegak dengan sikap menantang.
“Kayabu, kau seorang panglima yang dipercaya dan setia kepada Sri Baginda Kubakan agaknya. Apakah
ini berarti bahwa kau adalah kaki tangan Hek-giam-lo si iblis busuk?”
“Aku seorang prajurit, seorang ksatria, tidak ada sangkut-pautnya dengan lo-ciangkun, melainkan
mengabdi kepada negara dan bangsa!”
“Bagus! Karena kalau kau kaki tangan Hek-giam-lo, biar pun dengan hati menyesal karena kau putera Pekbin-
ciangkun,
tentu kau akan kubunuh. Ketahuilah, aku adalah Puteri Mahkota Yalin, dan Sri Baginda yang
sekarang adalah paman tiriku yang merampas tahta kerajaan dengan cara yang curang dan jahat. Akan
tetapi kau tentu tidak peduli akan hal itu semua. Sekarang, sebagai musuh, melihat ayahmu berada di
pihakku, apakah kau tidak mau menakluk?”
“Aku seorang prajurit sejati. Sebelum kalah atau mati takkan menakluk!”
Lin Lin tersenyum. “Hemmm, bagaimana seandainya aku mengalahkan kau dan golokmu itu?”
Pemuda itu nampak terkejut, lalu menggelengkan kepala. “Tak mungkin!” Lalu ia menyambung. “Di antara
kalian semua, kiranya hanya ayahku yang akan mampu menandingi aku. Nona, lebih baik kau pergilah
jauh-jauh dari Khitan dan hentikan semua niat memberontak ini agar ayahku jangan terseret-seret.”
“Haiii... Kayabu, kau benar-benar memandang rendah kepadaku! Majulah, kutanggung paling lama tiga
belas jurus aku akan mampu mengalahkan kau!”
Terbelalak mata Kayabu dan ributlah semua prajurit mendengar ini. Kayabu terkenal sebagai seorang ahli
golok yang pandai. Biar pun kepandaiannya tidak sehebat Hek-giam-lo, namun ia terhitung Panglima
Khitan yang pilihan. Mengalahkan panglima ini dalam waktu tiga belas jurus agaknya sama sukarnya
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan merobohkan sebuah gunung.
Diam-diam Pek-bin-ciangkun sendiri mengerutkan keningnya. Ia bersimpati kepada Puteri Yalina dan mau
membantu karena ingin pula menumpas Bayisan yang menjadi Hek-giam-lo serta mengakhiri
pengkhianatan Kubakan. Akan tetapi kalau yang ia bela adalah seorang puteri muda yang begini sombong,
yang bersumbar akan mengalahkan puteranya dalam waktu tiga belas jurus, benar-benar keterlaluan dan
kelak gadis ini tentu akan menjadi seorang ratu yang sembrono sekali.
Melihat puteranya sambil tersenyum-senyum melangkah maju menghadapi Lin Lin dengan sikap hendak
bersungguh-sungguh, panglima tua ini berseru, “Kayabu, jangan kurang ajar kau terhadap Sang Puteri
Yalin!”
“Aku ditantang, dan memang musuhnya. Mengapa kurang ajar? Sudah semestinya musuh saling
menantang dan siapa kalah harus tunduk. Nona, agaknya kaulah yang mengepalai pemberontakan ini, dan
kau pula yang mempengaruhi ayahku dan teman-teman untuk memberontak. Setelah sekarang
menantangku, hendak merobohkan aku dalam waktu tiga belas jurus, marilah kita membuat janji. Kalau
betul kau mampu mengalahkan aku dalam waktu tiga belas jurus, aku akan menyerah tanpa syarat! Akan
tetapi, bagaimana kalau dalam waktu itu kau tidak mampu mengalahkan aku?”
“Kalau kau tidak menipu, akulah yang akan menyerah tanpa syarat dan akan menghentikan niatku
membasmi Hek-giam-lo dam Kubakan!”
“Tuan Puteri...!” Pek-bin-ciangkun berseru kaget.
Hebat janji yang keluar dari mulut Lin Lin itu, karena sekali berjanji, kalau betul tidak mampu mengalahkan
Kayabu dalam tiga belas jurus, akan hancurlah semua cita-cita tadi.
“Kayabu mundur kau! Kalau kau lanjutkan, aku takkan mengakuimu sebagai anak lagi!” Saking
khawatirnya, Pek-bin-ciangkun berkata demikian.
“Ciangkun, biarkanlah. Pula, kalau kau dan teman-teman yang lain tidak menyaksikan kepandaianku, mana
kalian bisa percaya atas bimbinganku?”
“Tidak, Tuan Puteri. Biarlah hamba yang menghadapi anak hamba yang durhaka ini! Kalau dia kalah, akan
hamba bunuh, dan kalau hamba yang kalah, hamba rela mati dalam tangan anak kandung yang durhaka.
Kayabu, hayo lawan bapakmu sendiri!”
Pek-bin-ciangkun sudah meloncat ke depan akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana, tubuhnya itu mundur
sendiri seakan-akan ada tenaga tak tampak yang menariknya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Lin
Lin tersenyum. Kiranya gadis itu yang tadi menariknya dengan penggunaan tenaga jarak jauh yang amat
hebat!
“Ciangkun, tak tahukah kau bahwa majuku ini karena aku sayang kalau kalian ayah dan anak saling
gempur? Anakmu seorang gagah perkasa, tidak semestinya dimusnahkan. Minggirlah!”
Mendengar kata-kata ini dan melihat bukti betapa lihainya Lin Lin yang mendemonstrasikan tenaga
saktinya tadi, terpaksa Pek-bin-ciangkun mengundurkan diri dan menonton dari samping dengan hati
cemas.
“Kayabu, kau majulah dan hitunglah jurus-jurus yang kupergunakan. Awas seranganku!”
Lin Lin merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya dalam tiga belas jurus. Tentu saja yang ia
maksudkan dengan tiga belas jurus itu adalah jurus-jurus sakti yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong! Kalau ia
mengandalkan ilmu silat biasa, tentu saja tiga belas jurus merupakan waktu yang terlampau sedikit untuk
mengalahkan seorang panglima muda yang kelihatannya begitu gagah perkasa.
Namun, ia amat percaya akan keampuhan tiga belas jurus sakti peninggalan Pat-jiu Sin-ong, maka ia
sengaja menantang untuk memperlihatkan kelihaiannya sehingga para pengikutnya akan percaya
kepadanya. Apa lagi kalau diingat bahwa dia tadi sudah menyatakan sanggup menghancurkan Hek-giamlo
si iblis sakti, kalau ia tidak mendemonstrasikan kepandaian yang sakti, tentu mereka itu takkan mau
percaya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku sudah siap!” jawab Kayabu dengan suara lantang.
Pemuda ini merasa penasaran dan juga marah. Kalau saja ia tidak menghadapi pemberontakan yang
serius dan yang harus diberantasnya dengan segera, tentu ia tidak sudi menerima tantangan yang amat
menghina ini. Dia, Liao Kayabu, seorang jagoan besar di Khitan, hanya ‘dihargai’ semahal tiga belas jurus
saja oleh seorang gadis muda jelita? Benar-benar penghinaan yang amat hebat!
Kali ini baginya juga merupakan ujian. Ia harus memperlihatkan kepandaiannya terhadap gadis yang amat
cantik jelita ini, yang agaknya adalah puteri keponakan sri baginda sendiri yang baru muncul sekarang.
Bukankah kalau ia sanggup bertahan sampai tiga belas jurus, pemberontakan itu sekaligus dapat
dipadamkan tanpa pertumpahan darah lagi? Ia harus dapat bertahan, tidak saja bertahan sampai tiga belas
jurus, bahkan ia harus berbalik dapat menangkap gadis cantik ini.
“Awas serangan pertama...! Lin Lin berseru sambil menggerakkan Pedang Besi Kuning yang berubah
menjadi gulungan sinar keemasan.
Hampir saja Kayabu tertawa menyaksikan serangan jurus pertama itu. Itu sama sekali bukan merupakan
serangan, mengapa dimasukkan sebagai jurus serangan? Ia melihat gadis itu menggerakkan pedang ke
depan dada dan tangan kiri merangkap tangan kanan merupakan sembah di depan dada, kemudian kedua
lengan dikembangkan ke atas kepala dengan pedang dibalik masuk ke belakang lengan kanan, seperti
gerakan orang yang menengadah dan memohon berkah dari Thian Yang Maha Kuasa. Inikah jurus
serangan? Akan tetapi sesungguhnyalah, inilah jurus pertama atau jurus pembukaan dari tiga belas jurus
ilmu sakti yang oleh Lin Lin disebut Co-sha Sin-kun.
Tiba-tiba Kayabu berseru keras dan terkejut bukan main. Cepat-cepat ia mengubah kedudukan kakinya
dan memasang kuda-kuda yang amat kuat karena dari arah Lin Lin datang hawa pukulan yang seperti
angin gunung bertiup perlahan. Bukan merupakan serangan langsung, akan tetapi benar-benar
mengejutkan sekali karena hawa pukulan atau angin ini timbul hanya karena gadis itu menggerakkan
lengan ke atas. Baru bergerak seperti itu saja sudah mengandung hawa pukulan yang terasa dalam jarak
tiga meter, apa lagi kalau dipergunakan untuk memukul! Kayabu sama sekali tidak tahu bahwa jurus
pertama ini memang bukan jurus serangan, melainkan jurus untuk mengumpulkan hawa murni dan
mengerahkan sinkang!
“Jurus kedua...!” kembali Lin Lin berseru.
Dan kembali Kayabu menjadi geli karena jurus kedua ini dimainkan dengan amat lambat sehingga Pedang
Besi Kuning itu jelas sekali bergerak menusuk ke arah pundak kirinya. Kayabu tidak mau memandang
rendah biar pun merasa geli menyaksikan jurus-jurus yang lucu dan tidak ada bahayanya sama sekali ini.
Dia seorang pemuda yang cukup hati-hati dan banyak pengalamannya dalam pertandingan, maka
menghadapi tusukan lambat ke arah pundaknya ini ia cepat menggerakkan golok besarnya.
Tentu saja mudah baginya untuk mengelak. Akan tetapi menurut pengalamannya, biasanya serangan yang
lambat itu hanyalah merupakan pancingan dan serangan sesungguhnya baru akan datang setelah yang
diserang mengelak. Inilah sebabnya sengaja Kayabu tidak mau mengelak, melainkan ia menggerakkan
goloknya untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena ia berniat mengakhiri
pertempuran tak seimbang ini dengan memukul runtuh pedang gadis itu.
“Cringgg...!”
Kayabu mengeluh dan meloncat ke belakang. Sabetan goloknya tadi keras sekali, akan tetapi ia merasa
betapa telapak tangannya seperti dibeset kulitnya oleh gagang goloknya sendiri. Kiranya dengan sinkang
yang mukjijat, gadis itu telah membuat Pedang Besi Kuning yang ditusukkan dengan lambat itu tergetar
amat kuat dan halus sehingga tidak tampak. Maka begitu golok lawan membentur pedangnya, getaran kuat
ini menjalar melalui golok dan sampai ke gagang, membuat telapak tangan lawan menjadi panas dan sakitsakit.
Makin keras Kayabu menangkis, makin keras pula telapak tangannya terkena getaran. Pemuda
Khitan itu cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan siap-siap menghadapi serangan selanjutnya. Kini
ia tidak berani memandang ringan sama sekali, bahkan timbul rasa ngeri dan khawatir di hatinya.
“Awas jurus ketiga...!” Lin Lin berseru dan pandang mata Kayabu berkunang-kunang karena tiba-tiba gadis
itu lenyap sama sekali, terbungkus oleh gulungan sinar pedang kuning yang mendatangkan angin
berpusing-pusing.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu seakan-akan telah berubah menjadi angin puyuh yang berputar-putar makin mendekatinya!
Kayabu tidak tahu bahwa Lin Lin telah mengeluarkan jurus yang amat hebat dari ilmu sakti Cap-sha Sinkun,
yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat). Karena tidak tahu harus
bagaimana menghadapi gulungan sinar kuning yang berpusing itu, Kayabu lalu mengeluarkan seruan
keras dan goloknya berkelebat membacok ke depan.
“Wesss... wesss...!” Aneh sekali, sinar goloknya membabat gulungan sinar, seakan-akan membabat
bayangan saja, tidak mengenai apa-apa. Dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar kuning itu menyambar
ujung Pedang Besi Kuning seakan-akan kilat cepatnya.
“Aiiihhhhh!” Kayabu menjerit dan goloknya terlepas karena kulit tangannya tergores pedang dan sebelum ia
tahu apa yang terjadi, lutut kakinya terkena totokan ujung sepatu Lin Lin dan tak tertahankan lagi ia roboh
tertelungkup!
Pek-bin-ciangkun dan para perwira lainnya memandang dengan bengong. Kejadian itu bagi mereka
teramat aneh. Para prajurit yang merasa simpati kepada Lin Lin bersorak gemuruh, sedangkan Kayabu
bangkit berdiri dengan muka merah.
“Bagaimana, Kayabu? Sudah puaskah kau ataukah kau hendak melanjutkan percobaanmu?”
“Aku bukanlah seorang yang buta dan nekat. Aku tahu bahwa kepandaian Nona amat tinggi dan aku bukan
lawan Nona. Setelah aku kalah, silakan Nona gerakkan pedang itu membunuhku!”
“Tidak, Kayabu. Aku tidak akan membunuhmu, malah aku minta sukalah kau membantuku menumbangkan
kedudukan paman tiriku yang dibantu oleh iblis Hek-giam-lo untuk melepaskan bangsa kita dari pada
penindasan si lalim.”
Sepasang mata pemuda itu seakan-akan mengeluarkan kilat. “Aku adalah seorang prajurit sejati, bagiku
tidak ada pilihan lain, mati dalam perjuangan atau menang. Tak perlu kau membujukku, setelah kalah, mati
bukan apa-apa bagiku!” Sambil berkata demikian, pemuda ini menggerakkan goloknya ke arah lehernya
sendiri.
“Kayabu...!” Pek-bin-ciangkun memekik penuh kekhawatiran.
Sebagai seorang pendekar gagah, ia tidak khawatir atau ngeri melihat putera tunggalnya menghadapi
maut, akan tetapi ia benar-benar akan merasa hancur hatinya kalau puteranya itu tewas membunuh diri,
suatu perbuatan yang dianggap pengecut dan rendah. Sama sekali ia tidak menyangka puteranya akan
melakukan perbuatan itu sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Pek-bin-ciangkun untuk mencegahnya.
Akan tetapi, sinar kuning menyambar dari tangan Lin Lin, terdengar suara keras dan golok di tangan
Kayabu patah-patah dan terlempar sampai jauh. Pemuda itu mencelat mundur dengan muka pucat.
Pek-bin-ciangkun melangkah maju dan melayangkan tangannya menampar pipi puteranya dua kali
sehingga pipi itu menjadi merah dan dari ujung bibirnya keluar sedikit darah.
“Huh, anak durhaka! Apakah kau hendak meninggalkan aib pada ayahmu dengan cara pengecut?
Membunuh diri? Ihhh, Kayabu, sampai hatikah kau melakukan hal itu di depan ayahmu?” Suara orang tua
ini menjadi serak dan dari matanya yang melotot lebar itu keluar beberapa butir air mata.
Kayabu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki ayahnya. “Ayah, ampunkan anakmu yang lupa dan gila
karena kekecewaan. Bukan hanya kecewa karena anak tidak dapat memenuhi tugas sebagaimana
mestinya, melainkan terutama melihat ayah sebagai junjungan dan pujaanku ternyata hendak menjadi
pengkhianat dan membantu pemberontak. Ayah, di manakah kegagahan kita dan bagaimana kita kelak
dapat mempertanggung-jawabkannya di depan nenek moyang kita?”
Pek-bin-ciangkun memegang pundak anaknya dan ditariknya berdiri. Mereka berhadapan muka. Ayah dan
anak yang sama tingginya ini saling bertentang pandang sampai beberapa lama, kemudian si ayah
berkata, “Kau keliru. Yang kau tuduhkan itu sesungguhnya kebalikan dari pada kenyataan. Sekarang ini
ayahmu bukan berdiri di pihak pemberontak atau pengkhianat, bahkan sebaliknya dari pada itu. Ketahuilah,
Kayabu, yang selama ini kita bela, sesungguhnya adalah pihak pengkhianat. Kita terpaksa membela
pengkhianat karena dia yang berhak telah melenyapkan diri. Dan sekarang, Tuan Puteri Mahkota Yalina
yang berhak akan tahta kerajaan telah muncul kembali. Aku dahulu adalah panglima dari kakeknya,
kemudian ibunya. Setelah kedudukan terampas oleh paman tirinya dan dia sendiri lenyap, terpaksa aku
dunia-kangouw.blogspot.com
membantu pengkhianat. Sekarang tiba waktunya untuk membasmi para pengkhianat.” Selanjutnya
panglima tua itu menceritakan puteranya tentang semua peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu,
juga tentang Hek-giam-lo yang sesungguhnya
adalah Bayisan, panglima pengkhianat yang melarikan diri.
(baca cerita Suling Emas).
Terbukalah mata Kayabu. Mulai ia dapat melihat siapa sesungguhnya gadis cantik jelita yang berpakaian
seperti gadis Han, yang memiliki kesaktian yang luar biasa itu. Tahulah ia sekarang mengapa Panglima
Khitan yang paling dipercaya oleh raja, yang merupakan orang terkuat dan boleh dibilang paling berkuasa
di Khitan, dijadikan pembantu oleh raja padahal orang itu terkenal sebagai seorang iblis yang jahat. Hekgiam-
lo berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap bangsanya sendiri, akan tetapi maklum betapa
saktinya Hek-giam-lo, dia tak dapat berbuat sesuatu selain mengadu kepada ayahnya yang hanya
menggeleng kepala, bahkan melarangnya menentang Hek-giam-lo yang sakti dan jahat.
Pemuda yang dapat berpikir panjang ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin sambil berkata,
“Maafkan hamba yang tidak mau melihat kenyataan dan telah bersikap tidak pantas terhadap Tuan
Puteri....”
“Awasss...!” Tiba-tiba kaki Lin Lin menendang pundak Kayabu, membuat pemuda itu terlempar bergulingan
sampai enam meter lebih jauhnya.
Semua orang kaget sekali, terutama Kayabu sendiri dan juga Pek-bin-ciangkun. Mereka terkejut dan
kecewa, mengira bahwa Lin Lin tiada bedanya dengan Hek-giam-lo yang berwatak ganas dan kejam, tak
dapat memberi ampun kepada orang lain. Akan tetapi keraguan dan kekecewaan ini segera lenyap terganti
kekaguman dan kegirangan ketika Lin Lin membungkuk dan memungut tiga batang benda hitam yang
menancap di atas tanah, tepat di mana tadi Kayabu berlutut. Ternyata itu adalah tiga buah pisau hitam
yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ tanpa terlihat orang lain, tentu saja kecuali Lin Lin
yang telah berhasil menyelamatkan Kayabu.
“Kebetulan sekali, belum dicari sudah datang! Hek-giam-lo iblis busuk, keluarlah terima binasa!” teriak Lin
Lin sambil melompat ke kiri dengan pedang di tangan dan tangan kirinya bergerak menyambitkan tiga
batang pisau hitam tadi ke semak-semak.
Akan tetapi tiga batang pisau itu lenyap ke dalam semak-semak tanpa mendatangkan akibat apa-apa. Hekgiam-
lo memang hebat. Baru saja ia menyambitkan pisau-pisaunya dari semak-semak itu untuk
membunuh Kayabu, tahu-tahu ia sudah lenyap dari situ dan tiba-tiba keadaan sebelah kanan menjadi ribut.
Ketika Lin Lin meloncat ke bagian ini, wajahnya menjadi merah saking marahnya karena tanpa ada yang
tahu apa yang menjadi sebab, dua belas orang prajurit telah menggeletak mati dengan muka hitam
seluruhnya, tanda terkena racun yang amat jahat!
“Keparat Hek-giam-lo! Pengecut kau! Hayo keluar dan bertanding seribu jurus melawanku!”
Akan tetapi terpaksa Lin Lin cepat memutar pedangnya ketika telinganya menangkap desir angin senjata
rahasia dari arah belakang. Terdengar bunyi denting yang riuh ketika pedangnya berhasil menyampok
pergi belasan batang jarum hitam, akan tetapi kembali ada enam orang prajurit terjungkal roboh dan mati
seketika!
Lin Lin makin marah. Gadis ini berkelebatan ke sana ke mari untuk mencari tempat persembunyian
musuhnya, namun Hek-giam-lo benar-benar jahat dan licin. Agaknya iblis ini sengaja hendak
mempermainkan Lin Lin dan para pengikutnya. Berturut-turut roboh para prajurit dan sebagian dari pada
para perwira. Setiap kali roboh tentu enam orang dan dalam waktu beberapa menit saja sudah tiga puluh
enam orang roboh binasa dalam keadaan mengerikan!
“Berpencar...! Masing-masing berlindung...!” Kayabu berteriak nyaring dan bersama ayahnya yang banyak
pengalaman dalam pertempuran, pemuda ini mengatur sisa orang-orangnya.
Dalam sekejap mata saja para prajurit yang tadinya kebingungan dan kacau-balau kehilangan pimpinan itu,
berserabutan dan lenyap dari pandangan mata, berlindung dan bersembunyi di balik pohon-pohon dan
semak-semak. Tinggal Lin Lin seorang diri yang masih tinggal berdiri tegak di situ sambil memaki-maki dan
menantang-nantang.
Tiba-tiba dari arah depan terdengar deru angin senjata rahasia dan cepat gadis ini memutar pedangnya.
Hujan senjata rahasia berupa pisau-pisau dan jarum-jarum beracun itu dengan gencar menyambar datang,
dunia-kangouw.blogspot.com
namun semua dapat ditangkis oleh gulungan sinar kuning yang merupakan benteng sinar yang melindungi
tubuh Lin Lin. Sambil menangkis, Lin Lin memaki-maki.
“Hek-giam-lo iblis jahanam! Hayo keluarlah kau kalau memang laki-laki! Inilah anak tunggal Puteri Tayami.
Aku Puteri Mahkota Yalin, hayo kau lawanlah kalau memang gagah. Jangan main sembunyi dan melepas
senjata rahasia seperti seorang pengecut rendah!”
Akan tetapi tidak pernah ada jawaban dan hujan senjata rahasia pun berhenti. Tiba-tiba kesunyian itu
terpecah oleh lengking tinggi dan kagetlah Lin Lin karena pendengarannya yang tajam menangkap
suara
angin pukulan. Desir angin pukulan seperti itu hanya dapat terdengar kalau ada tokoh-tokoh sakti mengadu
kepandaian. Cepat gadis ini melompat dari tempat itu menuju ke arah suara.
Benar saja dugaannya, tak jauh dari situ, terhalang oleh pohon-pohon rindang, tampak tiga orang tengah
bertanding hebat. Dan Lin Lin kaget bukan main ketika mengenal mereka. Yang sedang bertanding hebat
itu bukan lain adalah Hek-giam-lo yang dikeroyok oleh dua orang, Gan-lopek dan Lie Bok Liong!
Hek-giam-lo memang hebat sekali. Sebetulnya iblis ini masih belum sembuh dari lukanya yang hebat ketika
ia bertanding menghadapi Suling Emas di puncak Thai-san. Luka akibat pukulan Suling Emas yang bagi
lain orang tentu akan mengakibatkan maut itu, bagi Hek-giam-lo hanya mendatangkan luka sebelah dalam
yang amat hebat dan membutuhkan pengobatan dan istirahat lama. Namun, keadaannya yang terluka
hebat ini tidak mengurangi keganasannya sehingga ketika ia mendengar tentang maksud pemberontakan
orang-orang Khitan yang dipimpin oleh Lin Lin, iblis ini segera keluar dan turun tangan, berhasil dengan
jarum-jarum hitamnya membunuh sampai tiga puluh enam orang banyaknya.
Bahkan ketika dia menghujankan senjata rahasia kepada Lin Lin dan tiba-tiba muncul Gan-lopek dan Lie
Bok Liong yang menyerangnya, iblis ini masih sanggup untuk melakukan perlawanan yang hebat. Ganlopek
tokoh kang-ouw kawakan yang selalu bergembira dan lucu itu, sebagaimana diceritakan di bagian
depan, berpisah dari Lin Lin ketika mereka tiba di pucak Thai-san karena Lin Lin membantu Suling Emas
dan bertemu dengan saudara-saudaranya.
Merasa bahwa dia adalah ‘orang luar’, kakek ini menjauhkan diri. Akan tetapi kemudian ia berjumpa
dengan muridnya, Lie Bok Liong, dan alangkah kecewa dan menyesal hatinya ketika melihat muridnya
yang terkasih itu menderita batin. Apa lagi ketika ia mendengar pengakuan Lie Bok Liong tentang
penolakan kasih sayang Lin Lin, kakek ini tidak mau mengerti.
“Ah, tak mungkin!” bantahnya. “Lin Lin suka kepadamu, ini aku tahu benar!”
“Suka tidak sama dengan cinta, Suhu...”
“Apa bedanya? Dari suka menjadi cinta. Hayo, mana dia? Mana gadis liar itu?”
“Teecu (murid) khawatir bahwa dia sudah berangkat ke Khitan, Lin-moi memiliki hasrat besar untuk
menuntut kembali haknya atas mahkota Kerajaan Khitan.”
“Wah-wah, bocah lancang dia! Mana dia mampu menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan
seorang diri? Dia bisa celaka. Hayo, Bok Liong, kita harus menyusulnya.”
Demikianlah, guru dan murid ini muncul di Khitan. Kebetulan sekali pada hari itu mereka menyaksikan Hekgiam-
lo secara pengecut menyerang Lin Lin dari tempat sembunyi dengan senjata-senjata rahasia. Tanpa
banyak cakap lagi Gan-lopek lalu menerjang iblis itu dengan senjatanya yang istimewa, yaitu Hek-pekmou-
pit (Pensil Bulu Hitam dan Putih). Terjadilah pertandingan hebat dan mati-matian antara dua orang
sakti.
Hek-giam-lo memang menderita luka dalam. Namun gerakannya masih hebat ketika menyambut terjangan
Gan-lopek. Senjatanya yang mengerikan, sabit tajam panjang itu, menyambar-nyambar seperti seekor
naga siluman mengamuk di angkasa raya. Menyaksikan kehebatan iblis ini, Bok Liong tidak mau tinggal
diam, lalu mencabut Gwat-kong-kiam dan menyerbu dengan hebat. Karena maklum akan keganasan dan
kelihaian si iblis hitam, apa lagi karena ia maklum pula akan isi hati Bok Liong yang tidak mau ketinggalan
dalam usaha membantu dan menolong Lin Lin, maka Gan-lopek tidak melarangnya melakukan
pengeroyokan terhadap Hek-giam-lo.
Melihat Bok Liong, Lin Lin merasa tertusuk hatinya. Terharu sekali ia melihat pemuda ini yang pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
secara terus terang menyatakan cinta kasihnya kepadanya, dan dengan tegas ia menolaknya. Entah
berapa kali sudah pemuda gagah perkasa ini menolongnya, membelanya, membantunya tanpa
menghiraukan keselamatannya sendiri. Betapa mulianya hati pemuda ini, betapa gagahnya sehingga tidak
takut-takut menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya untuk menolongnya, sungguh pun pemuda itu
cukup maklum bahwa kepandaiannya tidak akan mampu dipakai menghadapi Hek-giam-lo. Cinta kasih
murni yang amat mengharukan hatinya. Dan kini pemuda itu muncul lagi, membelanya lagi, malah
bersama gurunya.
Lin Lin berdiri terbelalak kagum. Tak tahu ia bagaimana ia harus berbuat. Ia maklum bahwa Gan-lopek
adalah seorang tokoh sakti dan kini menghadapi Hek-giam-lo dengan bantuan muridnya sendiri. Apakah ia
harus pula bantu mengeroyok? Pengalamannya selama merantau dan bergalang-gulung dengan para
tokoh kang-ouw yang sakti mendatangkan pengertian bahwa membantu seorang tokoh sakti bertanding
dapat diartikan menghinanya!
Pertandingan itu hebat sekali. Hek-giam-lo agaknya mengerahkan seluruh tenaganya, terbukti dari bunyi
lengking yang panjang bersambung-sambung dari kerongkongannya, sedangkan senjata sabitnya
menyambar-nyambar cepat sekali dan mengeluarkan angin bercuitan. Akan tetapi permainan sepasang
pena bulu di tangan Gan-lopek amat kokoh kuat dan tenang, sungguh pun sinar senjata sabit yang gilanggemilang
itu seakan-akan mengurung dan menyelimutinya, bahkan menekannya. Bok Liong juga mainkan
pedangnya dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Mengagumkan sekali
betapa guru dan murid ini dapat main bersama. Gerakan mereka begitu mirip dan biar pun senjata mereka
berbeda, namun kerja sama mereka amat baik, isi mengisi, bantu-membantu.
Hek-giam-lo memang amat sakti. Andai kata ia tidak menderita luka dalam, apa lagi kalau Bok Liong tidak
membantu, agaknya Gan-lopek sendiri tak dapat bertahan melawannya. Kini keadaannya yang terluka dan
ditambah pengeroyokan Bok Liong yang sudah memiliki kepandaian tinggi, membuat pertandingan itu
menjadi seimbang, malah boleh dikata Hek-giam-lo banyak tertekan sungguh pun sabitnya kelihatan
garang dan amat berbahaya.
Melihat ini, Lin Lin menjadi tidak sabar. Ia ingin terjun ke dalam gelanggang pertandingan, ingin ia dengan
tangannya sendiri membunuh iblis yang dahulu pernah membunuh kakeknya, menghina ibunya dan
mencemarkan nama baik bangsa Khitan. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, tiba-tiba terdengar
bunyi terompet dan disusul sorakan keras.
“Basmi pemberontak! Hancurkan pemberontak!” Dari arah utara muncullah banyak sekali pasukan Khitan
dengan senjata di tangan menyerbu.
“Pasukan siaaaaappp! Dengan darah dan jiwa kita bela Puteri Yalin, keturunan langsung Raja Besar
Kulukan! Basmi pengkhianat Bayisan dan Kubakan!” demikian terdengar teriakan-teriakan keluar dari mulut
Kayabu dan ayahnya, Pek-bin-ciangkun yang sudah mempersiapkan pasukannya pula.
Terjadilah perang tanding hebat antara mereka. Melihat ini Lin Lin tidak jadi membantu Gan-lopek,
melainkan ia sendiri memimpin para pendukungnya menghadapi penyerbuan tentara pengawal kerajaan.
Hebat sepak terjang gadis ini. Tubuhnya lenyap terbungkus sinar kuning emas dan ke mana pun juga sinar
ini menyambar, terdengar teriakan-teriakan dan senjata terlempar dari tangan disusul robohnya tentara
musuh yang terluka tangan atau kakinya. Akan tetapi tak seorang pun yang tewas di tangan Lin Lin, karena
gadis ini merasa tidak tega membunuhi tentara bangsanya sendiri.
Jumlah pasukan pengawal yang berpihak Hek-giam-lo sebetulnya lebih besar. Maklum, karena memang
tadinya semua pasukan Khitan merupakan anak buah Hek-giam-lo, suka atau pun tidak. Akan tetapi ketika
pasukan itu melihat bahwa ‘pemberontak’ itu dipimpin oleh Pek-bin-ciangkun dan Kayabu, dua orang tokoh
yang mereka hormati, mereka menjadi ragu-ragu. Tak seorang pun di antara mereka yang suka kepada
Hek-giam-lo, kecuali beberapa orang perwira dan pasukan yang memang dipergunakan oleh Hek-giam-lo
dan yang mengenyam pula hasil kejahatan dan kekejaman iblis ini.
Oleh karena itu timbullah kekacauan yang hebat ketika sebagian dari tentara ini membalik dan malah
membantu gerakan Pek-bin-ciangkun. Lebih-lebih setelah mereka menyaksikan sepak terjang Lin Lin yang
mereka dengar adalah Puteri Mahkota Yalina yang sejak kecil lenyap dan disangka mati. Sepak terjang Lin
Lin yang hebat itu selain mendatangkan rasa gentar juga mendatangkan rasa kagum dan suka karena
ternyata bahwa tak seorang pun yang roboh di bawah tangan gadis ini tewas.
Melihat keadaan berbalik untuk keuntungan pihaknya, Lin Lin segera teringat kepada Hek-giam-lo yang
dunia-kangouw.blogspot.com
masih bertanding melawan pengeroyokan Gan-lopek dan Bok Liong. Hampir gadis ini menjerit ketika
memandang ke arah pertempuran itu. Terjadi perubahan hebat dan pertandingan itu kini menjadi
pergulatan mati-matian. Kiranya dengan gerakan yang hebat bukan main Hek-giam-lo yang cerdik itu telah
mendesak Bok Liong, berniat merobohkan dulu lawan yang lebih lemah ini agar ia dapat memusatkan
kepandaian dan tenaganya untuk mengalahkan Gan-lopek.
Pada saat Bok Liong menangkis sebuah sambaran maut sabit, pedang pemuda yang bersinar kuning itu
bertemu sabit dan... terus menempel lekat tak dapat ditarik kembali. Bok Liong merasa tiba-tiba lengannya
panas dan kejang. Terpaksa ia hendak melepaskan gagang pedangnya, namun alangkah kagetnya ketika
ia mendapatkan kenyataan bahwa hal ini pun tidak mungkin. Telapak tangannya seakan-akan sudah lekat
pula dengan gagang pedangnya, seakan-akan gagang pedang itu sudah ‘berakar’ ke dalam tangannya.
Rasa panas dan sakit makin menghebat sehingga pemuda itu mengeluh.
Melihat ini, Gan-lopek kaget sekali. Ia maklum bahwa iblis hitam itu lihai bukan main, memiliki hawa sakti
yang telah dilatih dengan racun sehingga setiap serangannya kalau mengenai sasaran merupakan tangan
maut. Ia maklum bahwa muridnya terancam bahaya maut dan terlambat sedikit saja usaha pertolongan,
tentu takkan tertolong lagi. Oleh karena itu sejenak ia melupakan Hek-giam-lo dan cepat ia memindahkan
mouw-pit putih ke tangan kanan, tangan kirinya yang kosong memegang pangkal lengan muridnya sambil
mengerahkan sinkang untuk melawan penyaluran hawa serangan Hek-giam-lo, sedangkan tangan kanan
yang memegang sepasang pena bulu itu ia hantamkan ke arah sabit.
“Cringgggg... Plakkk...!”
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja. Dengan bantuan tenaga sinkang suhu-nya, Bok Liong
berhasil melepaskan gagang pedangnya dan terlepas dari bahaya maut. Ada pun hantaman sepasang
pena bulu itu tepat mengenai sabit, demikian hebatnya sehingga baik sepasang pena bulu mau pun
senjata sabit itu patah-patah.
Akan tetapi agaknya Hek-giam-lo yang cerdik menggunakan saat yang tepat itu untuk menggerakkan
tangan kirinya, mengerahkan tenaga yang mengandung penuh Hek-in-tok (Racun Uap Hitam) memukul
punggung Gan-lopek dengan telapak tangan. Pada saat tepukan itu mengenai punggung, dari dalam
lengan bajunya yang kiri melayang sebatang hui-to (pisau terbang)
yang menancap sampai ke gagangnya
di punggung Gan-lopek pula!
Gan-lopek kelihatan terkejut, terhuyung dan memandang Hek-giam-lo, lalu tertawa bergelak dan roboh
terguling!
“Iblis keparat!” Lin Lin menerjang maju, menyesal mengapa tidak sejak tadi ia turun tangan. Ada pun Bok
Liong yang menyaksikan gurunya roboh, cepat memungut pedangnya dan menerjang lagi dengan nekat.
Biar pun ia telah berhasil merobohkan Gan-lopek, Hek-giam-lo harus menebusnya dengan mahal. Ia
menderita luka dalam yang hebat, kini ia harus mengerahkan tenaga sinkang dari dalam tubuhnya yang
membutuhkan pengerahan sekuatnya, maka luka di dalam dadanya menjadi menghebat, membuat ia
merasa darah naik ke dalam kerongkongannya dan tak tertahankan lagi ia muntah darah.
Pada saat itu Lin Lin datang menerjangnya. Karena Hek-giam-lo sudah bertangan kosong, cepat ia
menggerakkan lengan kiri. Belasan batang hui-to atau pisau terbang menyambar ke depan, sebagian
besar ke arah Lin Lin dan beberapa buah ke arah Bok Liong, namun semua dapat dipukul runtuh oleh
kedua orang muda itu. Sinar kuning bergulung-gulung menyambarnya. Hek-giam-lo yang sudah lemah dan
berkunang-kunang matanya itu mengangkat lengan kanan menangkis.
“Crakkk!” Putuslah lengan itu dan darah menyembur dari pangkal lengan yang putus.
Lin Lin mendesak terus. Kembali Hek-giam-lo menangkis dengan tangan kiri, dan sekali lagi putuslah
lengan kirinya. Ia mendengus-dengus aneh, akan tetapi tak seorang pun tahu apa yang ia ucapkan karena
pada saat itu gulungan sinar pedang kuning emas sudah membabatnya dan robohlah Hek-giam-lo dengan
dua tusukan di dadanya dan sebuah babatan pada lehernya membuat leher itu hampir putus pula!
Para prajurit yang dipimpin Pek-bin-ciangkun bersorak gembira. Ada pun para prajurit yang menjadi anak
buah Hek-giam-lo menjadi kecil hati dan melawan sambil mundur. Saat itulah dipergunakan Pek-binciangkun
untuk berseru lantang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Orang-orang gagah bangsa Khitan, dengarlah baik-baik! Yang mampus itu, Hek-giam-lo si iblis kejam
adalah pengkhianat yang puluhan tahun kita benci, kita cari-cari dan kita sangka sudah binasa. Dia adalah
Bayisan! Bersama Kubakan, dia membunuh Sri Baginda Tua Kulukan dan merampas kedudukan sebagai
raja. Kalau kalian membelanya berarti kalian membela pengkhianat bangsa. Sudah semestinya kita
membantu Puteri Mahkota Yalina untuk menumbangkan kekuasaan jahat membangun Kerajaan Khitan
yang kuat dan besar seperti dahulu!”
Ucapan yang nyaring ini ternyata besar sekali pengaruhnya. Banyak di antara para pasukan itu yang
segera membuang senjata dan menggabungkan diri. Memang ada yang masih setia kepada Raja
Kubakan, namun kekuatan mereka tidak ada artinya lagi dan pertempuran dilanjutkan dalam keadaan berat
sebelah.
Lin Lin untuk sejenak tidak mempedulikan semua itu. Bersama Bok Liong ia berlutut di dekat tubuh Ganlopek
yang sudah payah. Muka kakek ini perlahan-lahan sudah berubah kehitaman, akan tetapi kakek sakti
ini masih dapat tersenyum-senyum.
Bok Liong pendekar muda yang gagah itu kali ini tak dapat menahan diri menangisi gurunya karena ia
maklum bahwa tak mungkin suhu-nya tertolong lagi. Dengan lengan kiri menyangga leher suhu-nya, ia
hanya dapat berbisik-bisik menyebut nama suhu-nya dengan putus harapan.
“Eh, mengapa kau menangis, muridku? Apa kau kira kelak kau sendiri takkan mati juga? Kalau kau
menangisi orang mati, berarti kau menangisi dirimu sendiri. Eh, Lin Lin bocah nakal! Kau benar-benar
tidak percuma hidup, sudah banyak menimbulkan geger. Sebelum aku mati, kau bilanglah dulu secara
jujur, apakah kau suka dan sayang kepada muridku Bok Liong ini?”
Lin Lin juga berlinang air mata. Mendengar pertanyaan ini, tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Tentu saja aku
sayang dan suka kepada Liong-twako!”
“Ha-ha-ha! Nah, apa kataku, Bok Liong? Dia suka padamu!” Gan-lopek terbatuk-batuk karena ketika
tertawa tadi dadanya terasa sesak sekali, kemudian ia menggigit bibir menahan rasa nyeri yang secara
mendadak terasa di seluruh tubuhnya. Tadi ia dapat menahan rasa nyeri karena ia mengerahkan sinkangnya,
akan tetapi setelah bicara, ia lupa akan ini dan serentak pengaruh racun membuat ia kesakitan.
“Tapi... tapi...” Bok Liong kebingungan, sebagian karena kata-kata itu, sebagian pula karena melihat
keadaan suhu-nya.
“Heh...” Gan-lopek menghela napas. “Kau masih penasaran? Lin... Lin... jawab lagi..., apakah... apakah
kau... suka menjadi... isteri muridku ini...?” Gan-lopek tak dapat bicara dengan baik lagi, sudah tersendatsendat
dan sukar.
Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar pertanyaan ini. Tak disangkanya sama sekali bahwa kakek
ini akan bertanya tentang perjodohan. Tentu Bok Liong sudah bercerita kepada gurunya tentang
penolakannya. Sebetulnya ia merasa tidak tega terhadap Gan-lopek yang sudah mendekati kematiannya
ini, tidak tega mengecewakan hatinya. Akan tetapi, tidak mungkin ia dapat berbohong dalam menjawab
tentang perjodohan, apa lagi Bok Liong sendiri berada di situ. Pemuda itu menundukkan mukanya yang
pucat seperti orang terdakwa menanti dijatuhkannya keputusan hukuman. Ia harus berterus terang
sehingga urusan yang tidak menyenangkan ini segera selesai.
“Tidak, Empek Gan, aku tidak suka menjadi isterinya karena kuanggap Liong-twako seperti kakakku
sendiri.”
Bok Liong tidak heran mendengar ini, akan tetapi sepasang mata Gan-lopek yang tadinya sudah meram itu
mendadak terbuka lagi dan memandang dengan melotot lebar. “Apa...? Kau... kau tidak mau...? Kau
nakal... sebelum aku mati... hayo bilang laki-laki mana yang kau harapkan menjadi suamimu...?”
Sambil menundukkan mukanya Lin Lin menjawab, perlahan akan tetapi cukup jelas untuk Gan-lopek,
bahkan merupakan halilintar menyambar ke dalam telinga Bok Liong, “Suling Emas...!”
“Suhu... Suhu...!” Bok Liong tiba-tiba memeluk gurunya yang sudah putus napasnya dengan mata masih
terbelalak lebar.
Lin Lin menahan isaknya, hatinya terharu dan penuh iba. Akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Liong-twako, dia sudah meninggal, biar kusuruh atur pemakamannya...,” katanya perlahan.
Akan tetapi Bok Liong menggeleng-geleng kepala, membungkuk dan memondong jenazah gurunya,
bangkit berdiri, memandang sejenak kepada Lin Lin dengan air mata bercucuran, kemudian ia
membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Gadis itu pun memandang dengan air mata berlinang akan
tetapi ia menguatkan hati dan tidak menahan karena maklum bahwa inilah yang terbaik. Ia merasa kasihan
sekali kepada Bok Liong dan berjanji dalam hatinya bahwa selamanya ia akan menganggap Bok Liong
sebagai kakaknya sendiri. Ia hanya mengharapkan mudah-mudahan kelak akan tiba saat dan kesempatan
baginya untuk membalas budi kebaikan Bok Liong terhadap dirinya.
Sementara itu pertempuran sudah selesai. Sebagian besar pasukan istana menyerah dan takluk, sebagian
pula melarikan diri. Lin Lin segera mengumpulkan pasukannya, kemudian memerintahkan kepada Pek-binciangkun
untuk melakukan penyerbuan ke istana.
“Kalau Paman tiriku mau menyerah dengan baik-baik, jangan ganggu dia. Aku akan memberi kesempatan
kepadanya untuk memilih, pergi dari Khitan atau menjadi seorang tahanan selamanya dengan perlakuan
baik. Akan tetapi kalau dia melawan, kita gempur!”
Dengan sorak gemuruh pasukan pendukung Lin Lin berangkat menuju istana. Di sepanjang jalan pasukan
ini bertambah besar jumlahnya karena pasukan lain yang mendengar tentang pemberontakan ini dan
tentang tewasnya Hek-giam-lo yang ternyata adalah pengkhianat Bayisan, ikut bergabung. Apa lagi
pasukan di bawah perwira-perwira tua yang mengenal Bayisan, tentu saja bersimpati kepada Puteri Yalin,
anak dari Puteri Tayami yang mereka kagumi.
Tidak ada perlawanan berarti di sepanjang jalan. Baru setelah pasukan tiba di depan istana, dari halaman
istana para pasukan pengawal mengadakan perlawanan. Segera terjadi pertempuran hebat, namun tidak
lama pula jalannya pertempuran karena hanya beberapa orang saja pihak musuh yang melakukan
perlawanan sungguh-sungguh, yaitu mereka yang masih terhitung keluarga raja sendiri. Ada pun para
perwira lain juga hanya setengah hati saja melakukan perlawanan.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan barisan depan menjadi kacau. Barisan tengah
mendesak ke belakang dan kelihatan beberapa orang prajurit dengan muka pucat melarikan diri.
“Ada setan...!” terdengar teriakan.
“Iblis sendiri membantu Sri Baginda, kita celaka!” disusul teriakan lain.
Lin Lin kaget sekali. Selagi ia hendak berlari ke depan, tiba-tiba ia terhenti dan terbelalak memandang ke
depan. Kayabu datang sambil memondong tubuh ayahnya, Pek-bin-ciangkun telah terluka hebat sekali.
Dari mata, hidung, mulut, telinga keluar darah segar!
“Ahhh, siapa melukainya?” teriak Lin Lin terkejut.
“Tuan Puteri, kita terjebak!” kata Kayabu gelisah. “Sri baginda mendatangkan bala bantuan dua orang iblis
yang luar biasa sekali kepandaiannya. Dari jauh mereka memukul-mukul dan barisan kita kocar-kacir. Ayah
sendiri terkena pukulan jarak jauh dan beginilah akibatnya.”
Dengan pedang di tangan Lin Lin berseru keras dan tubuhnya sudah berkelebat lenyap karena secepat
kilat ia sudah berlari ke depan. Ia melihat barisannya sudah mundur ketakutan sehingga halaman istana itu
kosong kembali, kecuali barisan pengawal yang berjaga di kiri, sedangkan di tengah terbuka tidak terjaga.
Ketika Lin Lin berlari dekat, ia melihat bahwa di bagian tengah ini berdiri dua orang kakek. Dapat
dibayangkan betapa kaget hatinya ketika mengenal mereka. Bukan lain mereka ini adalah Pak-kek Sianong
dan Lam-kek Sian-ong, dua orang kakek sakti yang belum lama ini juga telah mendatangkan geger di
puncak Thai-san!
Lin Lin adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia tahu betul bahwa dua orang kakek itu adalah
orang-orang sakti yang sukar dikalahkan. Di puncak Thai-san, hanya setelah Bu Kek Siansu muncul saja
dua orang kakek ini dapat diusir. Akan tetapi, mengingat betapa dua orang kakek ini hampir saja
menewaskan Suling Emas, ia menjadi marah dan memandang penuh kebencian.
“Kalian iblis tua bangka!” bentaknya sambil menudingkan pedang. “Mau apa kalian muncul di Khitan?
Apakah kau sudah menjadi kaki tangan paman tiriku si pengkhianat?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lam-kek Sian-ong si muka merah tertawa. “Ha-ha-ha, kita bertemu lagi dengan si gadis liar yang berilmu
aneh, Pek-bin Twako (Kakak Muka Putih)!”
“Hemmm, menyebalkan sekali, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah), bereskan saja bocah itu!”
“Ha-ha-hah, jangan, Twako. Sayang! Lihat, alangkah cantik dan agungnya. Siapa kira, dia berdarah Raja
Khitan! Kalau kita menjadi sepasang raja di sini, dan dia menjadi pelayan kita, bukankah hebat?”
Lin Lin tak dapat menahan kemarahannya lagi. “Kalian ini dua iblis tua bangka bermulut kotor, lekas pergi
dari sini sebelum pedangku bicara dan sebelum kukerahkan barisanku untuk membasmi kalian!”
Akan tetapi baru saja Lin Lin berhenti bicara, dari dalam istana berlari-lari keluar pengawal raja sendiri
sambil membawa senjata dan langsung mereka ini menerjang dua orang kakek itu sambil berteriak-teriak.
“Pembunuh raja! Kepung...! Tangkap...!”
Dua orang kakek itu saling pandang, lalu tertawa dan sekali mereka menggerakkan kedua lengan, para
pengawal raja itu terlempar dan roboh tak dapat bangun lagi. Bagaikan nyamuk menyerbu api, para
pengawal itu roboh bergelimpangan dan tumpang-tindih. Dua orang kakek itu dengan sikap acuh tak acuh
merobohkan mereka dan dengan kaki, mereka itu menendangi mayat-mayat itu ke arah halaman depan.
Lin Lin terkejut dan heran. Tadinya ia menyangka bahwa paman tirinya mempergunakan dua orang kakek
sakti ini. Siapa kira, paman tirinya malah agaknya sudah terbunuh oleh mereka. Jelas sekarang bahwa
mereka ini hendak merampas kedudukan raja di Khitan! Kemarahan meluap di hati Lin Lin dan dengan
gerakan cepat ia nekat menyerbu ke depan sambil berteriak, “Iblis-iblis busuk, mampuslah!”
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang berpusing dengan jurus Soan-hong-ci-thian itu tahu-tahu tertahan oleh
dorongan tenaga sakti dari Lam-kek Sian-ong yang menggerakkan kedua tangannya ke depan dada,
kemudian kakek itu membuat gerakan memutar dengan kedua lengannya dan tubuh Lin Lin ikut pula
terputar-putar seperti kitiran angin! Gadis yang kurang pengalaman itu ternyata terlambat melihat sehingga
ia membiarkan dirinya ‘terlibat’ hawa pukulan yang luar biasa itu.
“Ang-bin-siauwte, mengapa main-main dengan dia? Habiskan saja agar lekas beres!” Si Muka Putih
mencela.
“Ha-ha-ha, tidak, Twako. Aku sayang kepadanya!”
“Apa...? Setua kau ini masih....”
“Ah, tidak, Twako. Jangan salah sangka. Aku hanya suka melihat dia ini, patut menjadi muridku, murid kita.
Begitu garang, begitu galak dan tabah!”
“Kau takkan menurunkan kepandaian kepada orang lain. Biar kuhabiskan dia!” bentak si muka putih dan
ketika tangannya bergerak, sinar putih seperti perak yang berhawa dingin sekali menyambar ke arah tubuh
Lin Lin yang masih berputar-putar di bawah pengaruh kekuatan tangan si muka merah.
“Dua iblis tua bangka mengeroyok gadis remaja, sungguh tak tahu malu!” tiba-tiba terdengar bentakan
keras.
“Lin-moi, jangan takut, aku datang membantumu!” terdengar suara lain.
Kiranya yang muncul adalah empat orang, yaitu Kauw Bian Cinjin, Suling Emas, Bu Sin, dan Liu Hwee!
Begitu tiba, Suling Emas cepat menyambar dengan sulingnya menangkis sinar perak yang mengancam
nyawa Lin Lin. Terdengar suara keras dan sinar perak itu runtuh ke bawah, ternyata itu adalah sebutir batu
putih yang dingin. Sementara itu Kauw Bian Cinjin sudah memutar pecutnya yang menyambar sambil
mengeluarkan suara keras mengancam kepala Lam-kek Sian-ong!
“Bagus, bagus! Makin banyak lawan tangguh, makin menggembirakan!” Lam-kek Sian-ong si muka merah
tertawatawa
dan terpaksa ia melepaskan Lin Lin yang cepat menggerakkan Pedang Besi Kuning
membantu Kauw Bian Cinjin mendesak kakek sakti itu. Liu Hwee juga tidak mau tinggal diam. Cepat ia
memutar senjatanya berupa joan-pian berujung bola baja, mengeroyok Lam-kek Sian-ong setelah
memesan kepada tunangannya Bu Sin, agar tidak ikut mengeroyok kakek sakti itu karena terlampau
dunia-kangouw.blogspot.com
berbahaya mengingat bahwa tingkat kepandaian Bu Sin masih belum tinggi benar.
Sementara itu Suling Emas sudah berhantam melawan kakek muka putih, Pak-kek Sian-ong. Pertempuran
yang sunyi, tidak bersuara, namun hebat bukan main. Kakek muka putih ini telah memegang sebatang
pedang yang putih pula, berkilauan dan mengeluarkan hawa dingin. Namun suling di tangan Suling Emas
bergulung-gulung seperti naga kuning emas bermain di angkasa, sedikit pun tidak mau mengalah terhadap
gulungan sinar putih.
Memang Suling Emas mendongkol sekali kepada kedua orang kakek ini. Teringat ketika ia dipermainkan,
dikeroyok dua dan hampir saja ia binasa. Kini terbuka kesempatan baginya untuk mengadu satu lawan
satu, maka ia mengerahkan segenap tenaganya dan mainkan ilmu silatnya yang paling aneh dan hebat,
yaitu gabungan dari tiga macam ilmu silat sakti, yaitu Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa), Lohai-
san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan)
dua macam ilmu yang ia warisi dari gurunya, yaitu Kim-mo
Taisu, dan digabung dengan ilmu sakti yang ia warisi dari Bu Kek Siansu, yaitu Hong-in-bun-hoat (Ilmu
Silat Huruf Angin dan Awan). Dengan permainan gabungan yang luar biasa ini, biar pun Pak-kek Sian-su
merupakan tokoh yang sukar dicari bandingannya pada jaman itu, namun ia menjadi sibuk juga dan
akhirnya hanya dapat mempertahankan diri dengan jurus-jurus sakti yang dikerahkan untuk
menyelamatkan diri saja.
Kakek muka merah, Lam-kek Sian-ong menghadapi pengeroyokan yang berat, yaitu Lin Lin, Liu Hwee, dan
Kauw Bian Cinjin. Dua orang tokoh Beng-kauw ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, apa lagi
Kauw Bian Cinjin. Akan tetapi tingkat mereka berdua sesungguhnya masih kalah kalau dibandingkan
dengan Lam-kek San-ong yang memang betul-betul sakti itu, dengan dasar tenaga Yang-kang sehingga
setiap pukulannya membawa hawa yang amat panas.
Namun kedua orang tokoh ini menjadi kaget dan terheran-heran bahwa masuknya Lin Lin yang mainkan
pedang Besi Kuning itu seakan-akan menjadi pelengkap dari pada kekurangan atau kekalahan mereka
terhadap Lam-kek Sian-ong. Mereka terkejut mengenal dasar gerakan Lin Lin yang sama dengan ilmu silat
Beng-kauw, bahkan gerakan pedang itu demikian hebatnya sehingga mereka berdua, biar pun
bersenjatakan dua macam senjata, seakan-akan terseret dan terpengaruh oleh gerakan pedang Lin Lin
dan membuat mereka terpaksa bergerak menurut gulungan sinar pedang itu yang seolah-olah ‘memimpin’
mereka. Tentu saja mereka menjadi heran dan juga girang, akan tetapi Lam-kek Sian-ong yang menjadi
kaget setengah mati! Seperti halnya Pak-kek Sian-ong yang terdesak oleh Suling Emas, ia sendiri pun
terdesak oleh pengeroyokan tiga orang itu dan hanya mampu menangkis saja!
Lewat seratus jurus, dua orang kakek sakti itu maklum bahwa tiada harapan lagi bagi mereka, apa lagi
kalau diingat bahwa di situ terdapat ratusan orang prajurit yang sudah siap untuk melakukan pengeroyokan
begitu menerima komando. Lin Lin memang sengaja tidak mau mengerahkan pasukan karena maklum
bahwa biar pun hal ini akan mendatangkan kemenangan, namun prajurit-prajurit itu tentu banyak yang
akan menjadi korban.
Tiba-tiba kedua orang kakek itu dengan berbareng mengeluarkan bentakan keras sekali, bentakan yang
dilakukan dengan pengerahan tenaga khikang. Beberapa orang prajurit terjungkal, bahkan yang terlalu
dekat roboh tak dapat bangkit lagi! Suling Emas mengeluarkan bunyi melengking tinggi dan memperhebat
desakannya, akan tetapi Kauw Bian Cinjin tampak terhuyung mundur karena Lamkek
Sian-ong sengaja
melakukan pukulan hebat yang khusus ia tujukan kepada kakek Beng-kauw ini. Melihat Kauw Bian Cinjin
terhuyung, Lin Lin menerjang dengan jurus ampuh dari ilmu Cap-sha-sin-kun. Pedangnya tertangkis
pedang merah di tangan Lam-kek Sian-ong, namun masih dapat menyerempet pundak kakek itu.
“Twako, mari pergi...!” Lam-kek Sin-ong berseru, tubuhnya melesat dan sekaligus ia menerjang Suling
Emas yang mendesak saudaranya.
Tentu saja Suling Emas maklum betapa bahayanya dikeroyok dua orang kakek ini. Baru seorang Pak-kek
Sian-ong saja ia hanya mampu mendesak belum mampu mengalahkan, apa lagi kalau Lam-kek Sian-ong
datang mengeroyok. Terpaksa ia melompat mundur sambil memutar sulingnya. Kesempatan baik ini
dipergunakan oleh kedua orang kakek sakti untuk berkelebat pergi dari tempat itu.
Dalam kemarahannya, Lin Lin yang tidak kenal takut itu meloncat pula melakukan pengejaran. Akan tetapi
tibatiba
ia berhenti, tangannya ada yang memegang. Ketika ia cepat menoleh, kiranya yang memegang
pergelangan tangganya adalah Suling Emas!
“Lin-moi, jangan mengejar mereka, berbahaya sekali. Biarlah aku membantumu....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin Lin mengibaskan tangannya terlepas dari pegangan Suling Emas. Matanya terbelalak penuh
kemarahan karena munculnya pendekar ini mengingatkan ia akan segala pengalamannya yang pahit dan
mematahkan hatinya, terutama sekali ketika Suling Emas membela Suma Ceng. Tak tertahankan lagi
tangan kirinya bergerak menampar pipi kanan Suling Emas yang tidak mengelak dan hanya memandang
dengan mata sedih.
“Plakkk!” tangan kiri Lin Lin meninggalkan tapak tangan kemerahan pada pipi Suling Emas.
“Lin Lin! Gila engkau?” Bu Sin membentak marah sambil lari menghampiri.
“Pergi...! Pergi...!” Lin Lin berteriak-teriak sambil melarikan diri. Air matanya mulai bercucuran membasahi
pipinya.
“Lin Lin, tunggu...!” Bu Sin mengejar. Sedangkan Suling Emas, setelah berdiri dengan muka pucat dan
seperti kehilangan semangat, akhirnya ikut pula mengejar di belakang Bu Sin.
Lin Lin berlari secepatnya ke arah utara, tidak peduli betapa daerah ini makin sukar dilalui, merupakan
padang rumput yang makin lama makin jarang pohonnya, hanya rumput-rumput belaka dan di sanasini
mulai tertutup pasir. Karena tempat ini terbuka, mulailah terasa angin bertiup keras dari arah depan,
menyesakkan napas. Namun Lin Lin tidak merasakan ini semua dan berlari terus mendaki bagian yang
menanjak.
Ah, mengapa dia datang? Mengapa aku mesti berjumpa kembali dengan dia? Aku benci dia! Ah, aku benci
dia...! Keluhnya sambil menangis, karena betapa ia mengeraskan hati memaksa diri mengaku benci,
perasaannya tahu bahwa ia membohongi dirinya sendiri. Ia mencinta Suling Emas, demikian mencintanya
sehingga ia menjadi benci karena Suling Emas tidak membalas cinta kasihnya!
“Lin-moi, tunggu!” Kembali Bu Sin berteriak keras dengan napas terengah-engah karena ia harus
mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk dapat mengejar Lin Lin yang lari seperti terbang, apa lagi
angin mulai mengamuk di padang rumput itu, membawa terbang butiran-butiran pasir.
“Lin-moi, mari kita bicara! Inilah Kakak Bu Song yang kita caricari!
Berhentilah dulu!”
Mendengar ini makin deras air mata Lin Lin mengucur di sepanjang pipinya, dan makin cepat pula kedua
kakinya berlari menjauhi dua orang itu. Bukan kakakku, pikirnya sedih. Bukan karena aku adiknya. Apa
artinya adik angkat, lain ibu lain ayah? Aku orang lain. Hanya karena dia... dia mencintai wanita yang
sudah punya suami dan anak-anak! Ah, alangkah benciku!
Sementara itu, Suling Emas sudah memegang lengan Bu Sin dari belakang. “Sin-te (Adik Sin), kau
kembalilah. Biarkan aku membereskan urusan ini. Percayalah kepadaku!”
Karena memang merasa tidak sanggup menyusul Lin Lin dan juga merasa ragu apakah ia akan dapat
mengatasi watak adik angkatnya yang kukoai (luar biasa) itu, Bu Sin berhenti dan tidak mengejar lagi.
Suling Emas lalu mengerahkan kepandaiannya dan bagaikan terbang ia lari mengejar, mendaki jalan
tanjakan. Angin makin hebat bertiup, merontokkan daun-daun beberapa batang pohon yang sudah
setengah gundul. Rumput tebal yang tinggi bergerak-gerak menyabet kaki seperti lecutan cambuk.
Akhirnya Suling Emas dapat menyusul Lin Lin di puncak bukit itu, puncak yang gundul tidak ada pohonnya
sama sekali sehingga angin bertiup kencang membuat mereka sukar bernapas, membuat pakaian mereka
berkibar-kibar.
“Lin Lin, untuk terakhir kali, mari kita bicara. Kalau kemudian kau masih penasaran kau boleh bunuh aku di
sini juga!” Suling Emas menangkap lengan Lin Lin dan tidak mau melepaskannya lagi.
Gadis itu membalikkan tubuh, tangannya meraba gagang pedang, mukanya penuh air mata. Sejenak
mereka bertemu pandang, kemudian dengan terisak Lin Lin merangkul pinggang dan membenamkan
mukanya di dada Suling Emas! Pendekar ini menahan napas, berdongak sambil meramkan mata. Tak
terasa lagi pendekar sakti yang berhati baja ini menitikkan dua butir air mata.
Baju di bagian dada Suling Emas sudah basah oleh air mata Lin Lin dan rambut gadis itu tertiup angin
melambai-lambai dan menyapu-nyapu muka pendekar itu. Suling Emas memeluk pundaknya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
membelai rambutnya.
“Lin Lin, dengarlah baik-baik. Tiada guna kita lanjutkan semua ini. Kau tahu bahwa tidak mungkin kita
berjodoh....”
Lin Lin mengangkat mukanya yang basah. “Kenapa tidak mungkin...? Kita... kita saling mencinta.
Katakanlah bahwa kau tidak mencintaku! Katakanlah! Kalau kau tidak mencintaiku, baru aku menerima
nasib, akan tahu diri...!”
Suling Emas menggeleng-geleng kepalanya. Tentu saja mudah bagi mulutnya untuk mengatakan hal ini,
akan tetapi kalau ia katakan bahwa ia tidak mencinta Lin Lin maka itu berarti bahwa ia membohong,
membohongi Lin Lin dan membohongi diri sendiri!
“Lin-moi, kau tahu bahwa aku pun mencintamu, adikku. Aku mencintaimu walau pun cinta kasihku ini tidak
ada harganya. Sudah terlampau banyak aku menimbulkah peristiwa duka oleh cintaku. Cinta kasihku
bernoda darah, Lin-moi. Aku tidak mau menyeretmu ke dalam kutukan ini, karena... karena besarnya
cintaku kepadamu. Aku tahu bahwa kau tidak peduli tentang usia, dan aku tahu bahwa cintamu kepadaku
murni. Namun... betapa pun besar aku mencintamu, aku tetap tak dapat menerimanya, adikku. Dunia kongouw
memusuhiku, hidupku selalu terancam bahaya, dan mereka semua sudah tahu bahwa kau adalah
Kam Lin, adik angkatku. Mana mungkin kakak mengawini adik angkat sendiri? Alangkah akan hinanya
nama kita, nama keluarga kita. Kau akan sengsara lahir batin kalau menjadi jodohku. Selain itu, kau pun
harus ingat. Kau seorang puteri mahkota, bahkan kau calon ratu Khitan. Kau harus ingat akan tugas suci
ini, ingat akan bangsamu. Jauh lebih mulia bagi seorang manusia untuk berbakti kepada bangsanya dari
pada menuruti nafsu hatinya.”
Biar pun angin menderu keras, namun karena Suling Emas mempergunakan khikang dalam suaranya, Lin
Lin dapat mendengar jelas. Ia makin terharu. Semua kata-kata itu menikam ulu hatinya dan mau tak mau ia
harus mengakui kebenarannya. Matanya serasa terbuka oleh kata-kata itu, mata hati yang selama ini
seperti buta oleh cinta. Akan tetapi, teringat akan Suma Ceng ia masih meragu.
“Apakah... apakah semua itu bukan hanya kau gunakan untuk menghiburku? Apakah tidak tepat kalau
kau... tak dapat menerima persembahan hatiku karena kau sudah mencinta orang lain, mencintai Suma
Ceng?”
Suling Emas memegang dagu gadis itu, diangkatnya mukanya agar menentang mukanya sendiri. “Kau
pandanglah mataku, Lin-moi. Adakah mataku membayangkan kebohongan? Memang, dahulu aku pernah
mencintai Suma Ceng, akan tetapi cinta itu tercabut akarnya meninggalkan luka di hati setelah ia menikah
dengan orang lain. Banyak sudah hatiku terluka karena cinta gagal, dan aku tidak mau mengorbankan
dirimu hanya untuk mengobati hatiku. Aku... aku amat mencintamu, adikku. Karena itulah aku rela
berkorban patah hati sekali lagi dan kali ini yang paling parah. Dengarlah, aku bersumpah takkan menikah
dengan gadis lain, aku ingin mengikuti jejak mendiang suhu Kim-mo Taisu dan jejak locianpwe Bu Kek
Siansu. Aku hanya memujikan semoga engkau mendapatkan seorang jodoh yang baik, adikku.”
“Ah... Suling Emas... aku mencintamu. Aku tidak akan menikah dengan orang lain aku bersump....”
Tiba-tiba Suling Emas menutup bibir yang akan bersumpah itu dengan tangannya, kemudian ia tersenyum
dan mencium dahi Lin Lin dengan mesra dan penuh kasih sayang. “Tak perlu bersumpah, adikku. Dan aku
percaya akan cintamu seperti engkau percaya pula akan cintaku. Biarlah perasaan kita ini menjadi rahasia
kita dan membahagiakan kita bahwa betapa pun juga, kita saling mencinta. Nah, keringkanlah air matamu,
adikku, dan bersiaplah engkau memimpin bangsamu. Lihat, mereka datang menjemputmu.”
Sekali lagi Suling Emas mencium gadis itu, lalu melepaskan pelukannya. Lin Lin terisak dan menengok.
Betul saja, dari bawah tampak rombongan pasukan Khitan yang dipimpin oleh Kayabu. Mereka itu berkuda,
kelihatan kereng dan garang. Tampak pula Kauw Bian Cinjin, Liu Hwee dan Bu Sin di antara rombongan
ini. Lin Lin merasa bangga hatinya dan diam-diam ia menghapus air matanya, lalu bergandengan tangan
dengan Suling Emas menuruni puncak bukit. Ketika mereka saling lirik, keduanya tersenyum dan di dalam
kerling mata mereka terbayang haru dan bahagia.
Kayabu segera meloncat turun dari kudanya, diikuti semua pasukan dan mereka memberi hormat dengan
membungkuk di depan Lin Lin. “Hamba melapor bahwa pasukan kita berhasil menang dan menduduki
Istana. Kini para panglima menanti Paduka untuk menerima perintah selanjutnya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin Lin mengangguk dengan sikap agung, lalu meloncat ke atas kuda yang sengaja dibawa untuknya.
Suling Emas juga mendapatkan seekor kuda. Beramai-ramai mereka menuruni bukit itu. Lin Lin di depan
bersama Suling Emas, Bu Sin dan Liu Hwee. Kauw Bian Cinjin agak di belakang. Di tengah perjalanan, Lin
Lin bercakap-cakap dengan Bu Sin tentang Sian Eng. Ternyata Sian Eng menghilang tanpa meninggalkan
jejak. Tak seorang pun tahu ke mana perginya gadis itu yang sudah berubah menjadi seorang yang aneh.
Pengangkatan Puteri Yalina sebagai Ratu Khitan dilakukan dengan suasana meriah sekali. Suling Emas,
Bu Sin, Liu Hwee, dan Kam Bian Cinjin merupakan tamu-tamu agung yang menghadiri perayaan ini. Ratu
Yalina mengangkat Kayabu sebagai panglima tertinggi, menggantikan kedudukan Pek-bin-ciangkun yang
tewas dalam pertempuran. Atas petunjuk Kayabu, Yalina mengangkat pula banyak panglima-panglima
Khitan, diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian masing-masing. Sekali lagi Khitan menjadi bangsa
yang kuat di bawah pimpinan seorang ratu yang bijaksana dan mencinta bangsanya, terlepas dari
kekejaman dan kelaliman seorang raja murka seperti Kubakan yang ternyata tewas oleh Pak-kek Sian-ong
dan Lam-kek Sian-ong.
Setelah upacara pengangkatan selesai, para tamu agung minta diri. Kauw Bian Cinjin mendapatkan
kembali tongkat Beng-kauw. Tidak disebut-sebut tentang isi tongkat, yaitu rahasia peninggalan Pat-jiu Sinong.
Rahasia ini hanya diketahui oleh Lin Lin dan Suling Emas belaka, karena catatan-catatan itu sudah
terlanjur dimusnahkan Lin Lin.
Dengan menahan keharuan hatinya, Lin Lin mengantar keberangkatan para tamu agung itu. Ketika
pandang matanya bertemu dengan pandang mata Suling Emas, tak terasa lagi bulu matanya menjadi
basah oleh air mata. Akan tetapi bibirnya tersenyum membayangkan kebahagiaan akan rahasia yang
tersimpan di dalam hatinya dan hati Suling Emas, bahwa mereka saling mencinta dengan kasih sayang
yang murni, dengan pengorbanan.
Lin Lin yang kini menjadi Ratu Yalina dengan pakaian indah dan Pedang Besi Kuning menghias
pinggangnya, berdiri mengantar tamunya sampai derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi, setelah lama
bayangan mereka tak tampak. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan dengan bangga melihat
pasukannya berdiri siap di depannya, siap menanti setiap perintahnya. Ia berjanji akan memimpin
bangsanya ke arah kemuliaan dan kebesaran.
Demikianlah, kisah CINTA BERNODA DARAH ini berakhir sampai di sini dengan catatan bahwa di antara
tiga saudara yang turun dari Cin-ling-san, hanya Kam Bu Sin seoranglah yang berhasil dalam
perjodohannya. Beberapa bulan kemudian, Kam Bu Sin melangsungkan pernikahannya dengan Liu Hwee
puteri ketua Beng-kauw, dilakukan dengan upacara yang amat meriah. Hanya sayangnya bagi Bu Sin, di
antara saudaranya, hanya Suling Emas saja yang menghadiri perayaan itu. Sian Eng tetap tak pernah
muncul, sedangkan Lin Lin yang sibuk dengan tugasnya yang baru, hanya mengirim barang-barang
berharga sebagai sumbangan.
Setelah Bu Sin menikah, Suling Emas juga melenyapkan diri dari dunia ramai. Hanya kadang-kadang saja
ia muncul di Nan-cao, akan tetapi sebentar saja lalu pergi lagi tanpa ada yang tahu ke mana perginya dan
di mana tempat tinggalnya yang tetap.
Apakah hanya berakhir sampai di sini saja riwayat tokoh-tokoh seperti Lin Lin, Suling Emas, dan Sian Eng?
Berakhir dengan menyedihkan karena mereka gagal dalam asmara dan menderita? Pembaca budiman,
selama manusia ini masih berada di atas tanah, belum masuk ke dalam tanah, takkan pernah peristiwa
berhenti mengejarnya. Cerita mengenai diri manusia, selama manusia itu masih hidup, takkan pernah
habis dan barulah riwayat manusia benar-benar tamat kalau dia sudah masuk ke dalam tanah.
Oleh karena itu, riwayat tentang diri Suling Emas, tentang diri Lin Lin, tentang Sian Eng dan juga Lie Bok
Liong, sekali waktu akan dapat anda nikmati pula apa bila pengarangnya telah siap dengan rangkaian
cerita lain yang merupakan sambungan dari pada cerita CINTA BERNODA DARAH. Tunggulah saatnya,
dan anda pasti akan berjumpa pula dengan mereka dan... dalam keadaan yang lebih menyenangkan.....
>>>>> T A M A T <<<<<

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil