Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 21 Mei 2017

Cerita Silat KPH 2 Cinta Bernoda Darah Lanjutan Suling Emas Seri Bukeksiansu

Cerita Silat KPH 2 Cinta Bernoda Darah Lanjutan Suling Emas Seri Bukeksiansu Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat KPH 2 Cinta Bernoda Darah Lanjutan Suling Emas Seri Bukeksiansu
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat KPH 2 Cinta Bernoda Darah Lanjutan Suling Emas Seri Bukeksiansu
Akan tetapi Kim-lun Seng-jin malah menariknya untuk diajak lari cepat sekali menuju ke pinggir kota raja.
Lin Lin tidak dapat melepaskan diri. Dengan gerakan yang luar biasa, Kim-lun Seng-jin sudah membawa
Lin Lin melompati dinding tembok yang mengelilingi kota raja sehingga para pengejar tadi makin tertinggal
jauh.
“Kek, kenapa kita mesti lari-lari seperti dua ekor tikus dikejar kucing? Memalukan sekali!” Lin Lin mencela
ketika mereka sudah turun di luar tembok kota raja dan tangannya dilepaskan oleh Kim-lun Seng-jin.
Kakek itu tertawa. “Bukan takut, melainkan aku tidak mau menyeretmu ke dalam kesulitan. Kau masih
muda, Lin Lin, dan kau keturunan Raja Khitan. Kalau mereka mengetahui akan hal ini, kau akan dikejarkejar
terus dan selanjutnya kau takkan dapat hidup dengan tenteram. Pergilah, lanjutkan usahamu mencari
kakakmu. Kita berpisah di sini. Latih baik-baik Khong-in-ban-kin dan Khong-in-liu-san, dan kau takkan
kecewa kelak. Tentang Suling Emas jangan khawatir. Kalau aku kebetulan bertemu dengannya, akan
kutanyai dia apakah betul dia membunuh orang tua angkatmu. Kalau betul, percayalah, dia akan kuajak
bertempur sampai sepuluh ribu jurus! Sekarang cepat kau pergi, mereka sudah datang!”
“Dan tinggalkan kau seorang diri menghadapi anjing-anjing dari istana itu, Kek? Tidak nanti!” Lin Lin berdiri
tegak, malah segera mencabut pedangnya.
“Wah, keras kepala, seperti Tayami!” Kakek itu bersungut-sungut, lalu tiba-tiba tangannya bergerak dan
tahu-tahu ia telah menotok pundak kiri Lin Lin.
Karena dara ini sama sekali tidak pernah menduga bahwa kakek itu akan menyerangnya tentu saja ia tidak
dapat menghindarkan diri dan seketika ia merasa tubuhnya lemas sekali. Kakek itu tertawa bergelak, lalu
tubuhnya melesat ke depan, menyambut datangnya para pengejar. Lin Lin tidak berdaya. Ingin ia lari
membantu tapi tubuhnya lemas dan ia maklum, kalau bertempur dalam keadaan seperti ini, baru sejurus
saja melawan orang biasa tentu ia akan roboh. Karena itu, ia hanya berdiri diam saja dan mendengar
betapa kakek itu dikepung dan dikeroyok oleh para musuh yang berteriak-teriak.
Agaknya kakek itu sengaja mempermainkan mereka, karena ia berlari-lari membiarkan dirinya dikejar-kejar
dan akhirnya Lin Lin tidak mendengar suara apa-apa lagi. Sunyi di sekelilingnya. Kakek itu sengaja
memancing para musuhnya untuk mengejarnya, menjauhi Lin Lin. Dara itu maklum akan hal ini dan ia
menarik napas panjang. Baru sekarang ia merasa betapa baiknya Kim-lun Seng-jin terhadapnya. Kalau
dekat dengan kakek itu, mereka sering kali cekcok dan berbantahan akan tetapi setelah berpisah, tak
dapat Lin Lin menahan dua air matanya menitik turun.
Tak sampai seperempat jam, totokan pada pundaknya itu buyar dengan sendirinya. Lin Lin lalu
menggerakkan pedang curian, mainkan ilmu silat Khong-in-liu-san. Pedang itu mengeluarkan suara
bercuitan dan sinar kuning bergulung-gulung di malam buta. Ia merasa puas sekali karena pedang yang
tipis dan kecil ringan itu terasa amat enak dimainkan. Amat cocok dengan ilmu pedang yang ia warisi dari
Kim-lun Seng-jin. Ia baru berhenti bermain silat setelah fajar berada di ambang pintu langit timur.
Kegelapan malam sudah terusir, terganti cuaca remang-remang berkabut, berwarna kelabu, ia
memandang pedangnya. Pedang yang amat indah, terbuat dari pada logam yang kekuning-kuningan, akan
tetapi bukan emas.
“Hemmm, Pedang Besi Kuning, pusaka Khitan?” Lin Lin berpikir sambil memandangi pedangnya. “Dan aku
Puteri Khitan? Seperti dongeng saja!”
Melihat bahwa yang aneh pada pedang itu hanyalah ronce-ronce merah yang panjang itu, Lin Lin segera
melepas kedua ronce merah itu dan menyimpannya dalam saku jubahnya. Betapa pun juga, pedang ini
adalah pedang curian, pikirnya. Kalau terlalu menyolok mata dan dilihat orang, tentu sepanjang jalan hanya
akan menimbulkan keributan belaka.
Dengan hati bungah (senang) ia lalu berjalan menjauhi kota raja. Ia ingin menanti munculnya kedua orang
kakaknya, yang tentu akan menuju ke kota raja pula. Untuk kembali ke kota raja sekarang terlalu
berbahaya. Memang tidak ada seorang pun yang melihat dia memasuki istana, akan tetapi keadaan di kota
raja tentu sedang kacau, penjagaan diperkuat dan orang-orang yang datang dari luar tentu dicurigai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jangan-jangan pedangnya akan dikenal dan ia akan mengalami kesukaran kalau masuk kota raja. Lebih
baik menanti munculnya kedua orang kakaknya itu di luar kota.
Di sebelah barat kota raja terdapat sebuah hutan yang kecil tapi amat indah. Pohon-pohon di situ tampak
subur dan seakan-akan teratur. Memang hutan ini adalah hutan tempat para anggota istana menghibur diri
kalau keluar kota. Lin Lin tidak tahu akan hal ini dan girang hatinya ketika memasuki hutan ini. Ia berjalan
seenaknya memasuki hutan, mendengarkan kicau burung yang menyambut datangnya pagi.
Lin Lin memang memiliki watak periang. Kegembiraannya timbul melihat suasana indah dan mendengar
kicau burung yang berloncatan di cabang-cabang dan ranting-ranting pohon. Kadang-kadang ia terkekeh
ketawa melihat seekor kelinci muncul dari belukar, menggerak-gerakkan sepasang telinga yang panjang
dan mainkan bola mata yang bening lebar. Ada kalanya ia berloncatan gembira meniru burung kecil yang
berloncatan di daun-daun sambil berkicau.
Tiba-tiba Lin Lin terkejut mendengar suara orang tertawa. Karena ia amat gembira dan memperhatikan
burung-burung di atas pohon, tidak diketahuinya bahwa sejak tadi ada dua orang laki-laki
memperhatikannya. Dua orang laki-laki itu kini menghadang di depannya sambil tertawa. Ketika Lin Lin
memandang, kiranya mereka adalah dua orang pendeta yang berkepala gundul. Dua orang hwesio yang
masih muda, pakaian pendetanya bersih, gundul kepalanya kurang bersih, karena sudah mulai ditumbuhi
rambut baru, sikap mereka riang dan wajah mereka berseri gembira, sama sekali tidak patut menjadi wajah
pendeta yang biasanya serius dan alim. Lin Lin tersenyum melihat bahwa yang tertawa adalah dua orang
pendeta. Pendeta-pendeta tidak perlu ditakuti, dan kegembiraannya timbul kembali.
“Selamat pagi, Ji-wi Suhu (Bapak Pendeta Berdua)!” serunya riang. “Pagi yang indah sekali, bukan?”
Dua orang hwesio itu saling pandang, dan tertawa lebar. Seorang di antara mereka, yang alis matanya
tebal, maju selangkah. “Selamat pagi. Memang pagi yang indah sekali, agaknya karena ada Nona yang
cantik manis maka suasana begini menyenangkan. Siapakah nama Nona? Kami berdua senang sekali
dapat berkenalan dengan Nona cantik jelita. Bukankah begitu, Suheng (Kakak Seperguruan)?”
Hwesio kedua mengangguk-angguk dan mulutnya menyeringai, memperlihatkan gigi besar-besar berwarna
kuning. “Memang betul, dan hari ini kita tidak perlu tergesa-gesa kembali ke kelenteng, lebih senang mainmain
dengan Nona ini di sini.”
Seketika keriangan Lin Lin lenyap, terganti oleh kemarahan yang membuat kedua pipinya menjadi merah.
Sepasang matanya yang bening seakan-akan mengeluarkan sinar berapi. “Ihhh, kalian ini dua orang
bajingan yang menyamar sebagai pendeta, ataukah pendeta-pendeta yang kemasukan iblis? Bagaimana
dua orang gundul berpakaian pendeta begini kurang ajar? Minggir, biarkan aku lewat, aku tidak sudi bicara
dengan kalian lagi!”
“Ho-ho-hooo, nanti dulu, Manis!” Si Alis Tebal cepat membentangkan kedua lengannya menghadang di
tengah jalan. “Bukan kebetulan kita saling bertemu di sini, agaknya memang antara kita bertiga sudah ada
jodoh! Kalau tergesa-gesa mau pergi juga, harus memberi ciuman dulu kepada kami, seorang tiga kali.
Bukankah begitu, Suheng?”
“Ya-ya, betul itu! Di tempat sunyi begini, tak usah malu-malu, Nona!” kata Si Gigi Kuning.
“Jahanam bermulut busuk!” Lin Lin membentak. Tubuhnya berkelebat dan sekali kedua tangannya
mendorong dengan jurus dari ilmu silatnya Khong-in-liu-san, dua orang hwesio itu terjengkang roboh ke
kanan kiri. Kini Lin Lin yang mendapat giliran tertawa nyaring bernada penuh ejekan. “Hi-hik, kiranya kalian
hanyalah dua ekor monyet gundul yang hanya pandai pentang mulut menghina wanita!”
Dua orang hwesio muda itu kaget sekali, sama sekali tidak pernah mengira bahwa dara remaja itu dapat
melakukan penyerangan yang sedemikian dahsyat dan tiba-tiba. Mereka marah sekali dan lenyaplah
keinginan hati mereka untuk mempermainkan Lin Lin. Kini dengan mata merah mereka meloncat bangun,
penuh nafsu menyakiti gadis ini. Gerakan mereka cepat dan tahu-tahu mereka telah melolos sebatang
cambuk dari ikat pinggang. Cambuk hitam yang panjang dan melihat gerakan cambuk di tangan, dapat
diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli bermain cambuk yang mahir sekali.
“Bocah setan, berani kau main gila terhadap pinceng (aku)?” seru si Alis Tebal.
“Sute, kita cambuki pakaiannya sampai ia telanjang bulat!” kata si Gigi Kuning dengan nada gemas.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tar-tar-tar-tar!” dari depan dan belakang dua batang cambuk itu mengeluarkan bunyi dan menyambarnyambar
di atas kepala Lin Lin. Namun seujung rambut pun gadis ini tidak menjadi gentar. Malah
kemarahannya memuncak.
“Hemmm, monyet-monyet gundul tak tahu diri. Hajaran tadi masih belum cukup bagi kalian, ya? Manusiamanusia
berwatak kotor macam kalian kalau tidak dibasmi, hanya akan mengotorkan dunia dan
mengganggu wanita saja!” Setelah berkata demikian Lin Lin menggerakkan tangan kanan dan....
“Srattt!” tampak sinar kuning menyilaukan mata karena Pedang Besi Kuning sudah berada di tangannya.
“Bagus, kau berani melawan? Rasakan cambukan ini!”
Cambuk dari depan menyambar, disusul cambuk dari belakang dan di lain saat tubuh Lin Lin sudah
terkurung dua batang cambuk yang menyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular hidup. Kiranya dua orang
hwesio muda itu tidak terlalu menyombong. Permainan cambuk mereka memang hebat, cepat dan kuat
sekali.
Namun kali ini mereka bertemu dengan Lin Lin yang baru saja mewarisi Ilmu Khong-in-ban-kin, ilmu yang
membuat ia dapat mengerahkan ginkang yang hebat sehingga tubuhnya berubah ringan dan cepat laksana
gerakan seekor burung walet. Betapa pun cepatnya dua batang cambuk itu melecut dan menyambar,
tubuh Lin Lin lebih cepat lagi bergerak, berkelebat di antara sambaran cambuk diselimuti gulungan sinar
kuning dari pedangnya.
Memang hebat sekali Lin Lin setelah ia mewarisi ilmu dari Kim-lun Seng-jin. Apa lagi di tangannya
sekarang ada sebatang pedang pusaka terbuat dari pada besi aji yang amat ampuh. Dengan sinar yang
menyilaukan mata pedangnya berkelebat dan... dua orang hwesio muda itu berteriak kesakitan ketika
cambuk-cambuk di tangan mereka itu putus semua berikut ujung lengan baju dan sebagian dari kulit dan
daging lengan mereka, semua terbabat oleh sinar pedang yang menyilaukan dan berhawa dingin itu! Tentu
saja mereka terkejut dan ketakutan, lalu melarikan diri sambil memegangi kepala seakan-akan merasa
khawatir kalau-kalau kepala mereka pun akan terbabat putus!
“Bagus sekali. Benar-benar kiam-hoat (ilmu pedang) yang amat indah dan lihai!”
Lin Lin cepat menengok. Kiranya tak jauh dari tempat pertempuran itu tampak seorang laki-laki muda
duduk di atas punggung kudanya. Pemuda ini berusia dua puluh tahun lebih, bermuka bundar dengan jidat
lebar. Sepasang matanya lebar dan menyinarkan kejujuran, alisnya tebal, hidungnya agak pesek, mulutnya
membayangkan keramahan.
Biar pun bukan wajah yang dapat disebut tampan, namun ia tidak buruk rupa, bahkan wajahya yang
sederhana ini menyenangkan hati orang. Pakaiannya pun sederhana dan bersih, rambutnya digelung ke
atas dan dibungkus sutera berkembang. Gagang sebuah pedang yang tampak menandakan bahwa ia pun
seorang yang tidak asing akan senjata tajam. Juga bentuk tubuhnya yang kekar membayangkan tenaga
besar.
Lin Lin masih marah. Sehabis bertemu dengan dua orang hwesio muda yang bermulut kotor dan lancang
tadi, ia mempunyai prasangka buruk terhadap pemuda ini. Kalau laki-laki yang sudah menjadi hwesiohwesio
saja seperti tadi kurang ajarnya, apa lagi yang masih muda seperti ini! Dengan muka merah dan
mulut cemberut ia membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu, lalu menghardik. “Memang kiam-hoatku
indah dan lihai, juga pedangku ini cukup tajam untuk memenggal leher setiap orang laki-laki ceriwis dan
kurang ajar! Kau mau apa ikut campur?”
Ada semenit pemuda itu melongo. Matanya yang lebar itu makin melebar ketika ia memandang Lin Lin.
Pada matanya terbayang kekaguman luar biasa dan sesungguhnya. Ia memang kagum sekali setelah dara
ini sekarang menghadapinya. Wajah Lin Lin seakan-akan menyihirnya, membuat jantungnya jungkir balik
dan kepalanya puyeng, matanya berkunang-kunang. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang
dara seperti ini, dan belum pernah ia mengalami guncangan seperti ini pula menghadapi seorang gadis.
Lin Lin makin tidak sabar. Agaknya laki-laki ini kurang ajar pula, duduk di atas punggung kuda dan
memandangnya tanpa berkata apa-apa, memandangnya tanpa berkedip. Ia membanting kaki dan memaki,
“Apa kau kira aku ini barang tontonan maka matamu melotot terus memandangku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda itu tersenyum. “Bukan barang tontonan, Nona, akan tetapi tidak ada tontonan yang lebih indah,
lebih mempesona, lebih....”
“Kau lebih kurang ajar lagi!” bentak Lin Lin dan tubuhnya sudah melesat ke depan sambil mengirim
serangan dengan pedangnya.
“Uiiihhhhh, ganas...!” pemuda itu cepat sekali membuang diri dari atas punggung kuda, berjumpalitan
beberapa kali dan ketika kedua kakinya sudah berdiri di atas tanah, ternyata ia telah mencabut pedangnya
yang berkilauan seperti perak. “Baiklah, Nona. Kalau kau ingin mencoba kepandaian, mari kulayani.
Agaknya kau murid orang pandai dan patut menjadi lawanku bertanding pedang.” Ia melambaikan tangan
kiri menantang.
Gerakan pemuda tadi amat mengagumkan hati Lin Lin. Gadis ini pun maklum bahwa lawannya kali ini
bukanlah seorang sembarangan, bukan macam dua orang hwesio tadi. Akan tetapi ia tidak takut! Dan
perasaannya ini ia keluarkan melalui bibirnya yang merah, “Biar ada sepuluh orang macam engkau, aku
tidak gentar!”
“Ha-ha-ha, ada satu saja orang macam aku sudah terlalu repot bagimu, apa lagi ada sepuluh orang!”
pemuda itu berkelakar, akan tetapi ia harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis karena
gadis itu sudah menerjangnya dengan gerakan seperti seekor burung walet.
“Trang-trang-tranggggg...!” tiga kali pedang mereka saling beradu, menimbulkan bunga api yang muncrat
ke sana-sini.
Keduanya cepat menarik pedang masing-masing dan lega hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa
pedang mereka tidak rusak oleh pertemuan keras lawan keras tadi. Masing-masing kagum dan juga kaget.
Apa lagi Lin Lin. Tadi ia sudah mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin, dan ia maklum bahwa tenaga yang
terdapat dalam ilmu ini luar biasa besarnya. Tadi ia gunakan sedikit saja untuk menghadapi dua orang
hwesio, sekali babat saja cambuk-cambuk itu putus semua. Sekarang ia pergunakan tenaga ilmu ini dalam
mengadu pedang, sedangkan di tangannya adalah pedang pusaka pula, mengapa pedang lawannya tidak
menjadi rusak dan tidak terpental?
Ini hanya menjadi bukti bahwa pemuda pesek ini selain memiliki pedang yang ampuh juga memiliki
kepandaian tinggi, dapat melawan terjangan tenaga Khong-in-ban-kin. Apakah kakek gundul pelontos Kimlun
Seng-jin yang membohonginya dan membual tentang kelihaian Khong-in-ban-kin? Kakek itu bilang
bahwa jarang ada lawan yang akan dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan tenaga dalamnya kalau
ia mengerahkan Khong-in-ban-kin. Akan tetapi sekarang, baru saja bertemu dengan seorang pemuda
pesek, ilmunya itu seakan-akan tiada artinya lagi.
Di lain pihak, si Pemuda juga kaget dan tercengang di samping kekagumannya yang menjadi-jadi. Tadinya
ia mengira bahwa dara lincah itu hanya memiliki gerakan yang amat cepat dan ilmu pedang yang tinggi
saja, maka dengan mudah dapat mengalahkan dua orang hwesio
kurang ajar tadi. Siapa kira dalam
pertemuan pedang tadi ia mendapat kenyataan bahwa dalam hal tenaga gadis itu tidak usah mengaku
kalah terhadapnya, juga pedang di tangannya itu adalah pedang ampuh yang dapat menahan pusakanya
sendiri. Padahal pusakanya ini adalah pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) yang jarang
bandingannya, pedang pusaka pemberian suhu-nya.
“Wah karena pedangmu ampuh kau jadi sombong, ya? Awas lehermu!” Lin Lin membentak dan segera
gadis ini mainkan Khong-in-liu-san untuk menerjang lawannya. Hebat terjangannya ini, pedangnya berubah
menjadi sinar kuning bergulung-gulung, makin lama makin tebal merupakan segunduk awan bergerak
perlahan mengurung diri pemuda itu dari segala jurusan.
Pemuda itu mengeluarkan seruan tertahan. Benar-benar tak disangkanya gadis ini sedemikian lihainya. Ia
pun lalu bersilat dengan pedangnya, ilmu silat yang aneh, gerakan-gerakannya lucu dengan tubuh megalmegol
seperti seorang pelawak beraksi di atas panggung wayang. Hampir saja Lin Lin tak dapat menahan
ketawanya menyaksikan gerakan aneh dan lucu ini. Akan tetapi ia pun terheran-heran karena ke mana pun
juga pedangnya menyambar, selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda yang gerak-geriknya aneh
ini. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah, hanya mempertahankan diri dari pada
serangan-serangannya yang dahsyat, tidak berusaha membalas sungguh-sungguh. Memang pemuda itu
tidak ingin merobohkan Lin Lin, kekagumannya terhadap gadis itu membuat ia mengalah dan hanya ingin
menguji kepandaian orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hebat..., hebat... kiam-hoat yang luar biasa!” berkali-kali pemuda itu memuji.
Akan tetapi, makin dipuji makin marahlah Lin Lin karena pujian itu ia anggap sebagai ejekan. Mana bisa
ilmu pedangnya dipuji kalau sama sekali tidak mampu mendesak lawan? “Balaslah! Seranglah! Kau kira
aku takut? Kalau kau bisa mengalahkan aku, baru kau laki-laki sejati!” Ia menantang. Ia berbesar hati
karena ia memiliki ilmu Khong-in-ban-kin dan dengan ilmu ini ia dapat menggunakan ginkang yang
sempurna sehingga ia tidak khawatir akan termakan pedang lawan.
Seperempat jam sudah mereka bertanding. Kuda tunggangan pemuda itu menjadi gelisah, berkali-kali
meringkik ketakutan. Pemuda itu gemas juga. Gadis ini amat menarik hatinya, dan ia tidak tega untuk
merobohkan atau mengalahkannya. Akan tetapi kalau tidak ‘diberi rasa’, tentu tidak tahu akan
kelihaiannya, demikian ia pikir. Bangkit harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
“Baiklah, Nona, lihat pedangku!” Ia memutar pedangnya cepat sekali dan mengerahkan tenaga untuk
mendesak dan menindih gulungan sinar pedang lawan.
Memang hebat pemuda ini. Amat kuat tenaga desakan hawa dan sinar pedangnya, mengejutkan hati Lin
Lin. Namun cepat gadis ini menggunakan Khong-in-ban-kin. Tubuhnya bergerak begitu cepat seakan-akan
serupa sebuah bayangan, dengan lincahnya ia menyelinap di antara sinar pedang. Sungguh pun harus ia
akui bahwa semua serangannya sekarang gagal dan buyar, tidak ada kesempatan lagi, namun ia tetap
dapat mempertahankan diri dari pada desakan lawan. Makin keras pemuda itu menekan, makin lincah
gerakan Lin Lin sehingga pemuda itu selain kaget juga heran dan bingung. Tahulah ia sekarang bahwa
dara lincah ini adalah murid seorang sakti, karena hanya beberapa orang saja di dunia kang-ouw, boleh
dihitung dengan jari jumlahnya, yang akan dapat menghindarkan diri dari tekanan pedangnya seperti ini.
Pada saat itu, terdengar bentakan keras, “Susiok (Paman Guru), inilah iblis betina liar itu!”
“Hemmm, hemmm, agaknya mengandalkan kecantikannya. Lihat pinceng menangkapnya!”
“Mari kita berlomba, Sute, aku pun timbul kegembiraan hendak menangkap gadis liar ini!” sambung suara
kedua.
“Hee, Sicu (Orang Gagah), harap mundur. Biarkan pinceng berdua main-main dengan budak ini!”
Biar pun masih saling gempur, pemuda itu dan Lin Lin kini otomatis mengendurkan gerakan dan melirik.
Kiranya yang datang adalah dua orang hwesio muda yang tadi, yang berdiri agak jauh. Akan tetapi kini
mereka datang bersama dua orang hwesio setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan keduanya
memegang sebatang tongkat hwesio yang panjang dan terbuat dari pada baja. Kedua orang hwesio ini
sombong sekali lagaknya dan agaknya mereka memandang rendah kepada pemuda itu dan Lin Lin.
Tanpa memberi kesempatan lagi, dua orang hwesio setengah tua itu menerjang maju dari kanan kiri
mengeroyok Lin Lin! Benar-benar tak tahu malu, pikir Lin Lin. Suaranya saja hendak berlomba untuk
menangkapnya, kiranya mereka itu hanya ingin mengeroyok mengandalkan senjata yang panjang dan
berat. Mana ada orang yang hendak ‘menangkap’ menggunakan tongkat yang begitu panjang dan berat?
Akan tetapi ketika ia mengayun pedang dengan putaran lebar, sekaligus menangkis dua batang tongkat itu,
terdengar suara keras, bunga api berpijar dan Lin Lin merasa betapa telapak tangannya tergetar. Ia kaget
dan diam-diam ia mengeluh. Kiranya di samping kesombongan mereka, dua orang hwesio ini memiliki
tenaga lweekang yang hebat! Cepat ia menggerakkan tubuh dan dengan mengandalkan kelincahannya,
kini ia menghadapi dua orang pengeroyoknya, lupa bahwa lawan lamanya, pemuda itu, kini berdiri
menonton dan tidak menyerangnya lagi.
“Tahan senjata! Melihat gerakan, Ji-wi Suhu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim. Betulkah?”
Dua orang hwesio setengah tua itu melompat mundur, menahan tongkat mereka lalu memandang pemuda
itu. Lin Lin tidak peduli, akan tetapi ia pun tidak sudi menyerang orang yang menarik senjatanya, maka
dengan pedang melintang di depan dada, ia hanya memandang, sikapnya gagah.
“Kami memang betul hwesio-hwesio Siauw-lim. Kau siapakah, Sicu, dan apa yang hendak kau katakan
kepada kami?”
Pemuda itu mengerutkan keningnya. “Siauw-lim-pai adalah partai persilatan yang selalu menjunjung
dunia-kangouw.blogspot.com
kebenaran dan keadilan, yang selalu bersih dan terkenal sebagai pusat orang-orang beribadat yang
berilmu tinggi. Akan tetapi mengapa Ji-wi Suhu datang-datang menyerang seorang wanita?”
“Gadis liar ini menghina murid-murid keponakan kami!”
“Hemmm, pemutar-balikan fakta yang menjijikkan! Adalah dua orang hwesio itulah yang kurang ajar,
mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terhadap wanita terhormat. Dari pada menyerang orang yang
tidak berdosa, Ji-wi Suhu justru akan membersihkan nama partai kalau sekarang juga memberi hukuman
kepada murid-murid sendiri.”
“Orang muda, kau siapakah berani bicara lancang memberi kuliah kepada kami?”
Pemuda itu tersenyum. “Aku she Lie bernama Bok Liong, orang biasa saja. Akan tetapi aku mengenal baik
Cheng Han Lo-suhu, dan pedangku Goat-kong-kiam ini selalu menghendaki kebenaran dibela oleh orangorang
gagah.”
Cheng Han Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai, maka mendengar disebutnya nama ini, kedua orang
hwesio itu menjadi kaget sekali. Mereka khawatir kalau-kalau pemuda ini akan mengadu. Memang akhirakhir
ini banyak sekali anak buah para hwesio yang tersesat, mabuk oleh kesenangan duniawi dan
mempergunakan kesempatan selagi negara kacau dan ketua dari pusat tidak sempat melakukan
pengawasan, mereka mengumbar nafsu jahatnya.
Keadaan memalukan dan buruk ini terutama sekali ditimbulkan oleh para penjahat dan pelarian yang
menyembunyikan diri dengan jalan mencukur rambutnya dan memakai jubah pendeta, tinggal bersembunyi
di kelenteng-kelenteng. Merekalah yang menjadi ‘guru’ dan menyeret para hwesio muda yang belum teguh
batinnya dan masih lemah imannya ke jalan sesat. Dua orang hwesio ini hanya merupakan kepala dari
sebuah kelenteng kecil, sudah terlalu lama berkecimpung di dalam keduniaan, maka hanya pada lahirnya
saja seperti pendeta, namun batinnya sudah menjadi penjahat-penjahat hamba nafsu buruk.
“Keparat, kau benar-benar kurang ajar! Kau kira kami takut padamu? Sute, kau hajar dia ini, biar pinceng
menangkap Nona liar. Kalau tidak diberi hajaran, tidak akan kapok orang-orang muda kepala batu ini!”
Dua orang hwesio Siauw-lim-pai itu terlalu memandang rendah orang muda. Mereka mengandalkan
kepandaian yang tinggi dan senjata tongkat yang berat, pula, memang ilmu tongkat atau ilmu toya dari
Siauw-lim-pai amat terkenal kuat. Namun pemuda itu adalah murid orang sakti, juga Lin Lin telah menerima
gemblengan dari seorang sakti yang tingkatnya sejajar dengan ketua Siauw-lim-pai pusat sendiri! Maka
kalau mau dibuat perbandingan, tingkat dua orang hwesio itu masih jauh di bawah.
“Aku tidak ingin kau bantu!” seru Lin Lin sambil menggerakkan pedang menghadapi serangan seorang
hwesio.
“Siapa membantumu, Nona? Aku pun diserang oleh hwesio palsu ini!” jawab pemuda yang bernama Lie
Bok Liong itu sambil menggerakkan pedang pula menandingi lawannya.
Pertempuran seru terjadi, terpecah menjadi dua. “Nona, adu ilmu antara kita boleh ditentukan sekarang.
Siapa yang lebih dulu mengalahkan lawan, dia yang lebih unggul antara kita!” pemuda itu berseru.
“Baik, seorang laki-laki tidak melanggar janjinya!” seru Lin Lin girang.
Gadis ini sebentar saja dapat melihat kelemahan lawan dan ia yakin akan dapat merobohkannya dalam
waktu cepat, maka usul pemuda itu diterimanya dengan girang. Melihat tongkat itu menyodok ke arah
dadanya, Lin Lin sengaja berlaku lambat, membiarkan lawan lengah dan kegirangan. Beberapa senti meter
sebelum ujung tongkat mengenai dadanya, tiba-tiba ia miringkan tubuhnya, menggunakan jurus Pek-wanhian-
ko (Lutung Putih Berikan Buah) dari ilmu silat ayahnya, tangan kirinya menangkis dengan jari-jari
terbuka, dan pedangnya bergerak cepat ke depan. Inilah gerakan susulan dari Khong-in-liu-san yang tidak
terduga dan amat cepat datangnya. Hwesio lawannya itu menjerit kesakitan, tongkatnya terlepas dan
pangkal lengannya terobek pedang sampai kelihatan tulangnya.
Sambil tersenyum manis tapi penuh ejekan, Lin Lin membalikkan tubuh memandang ke arah pemuda
pesek itu, siap untuk mengejek dan berbangga akan kemenangannya. Akan tetapi tiba-tiba wajahnya
berubah merah sekali. Apa yang dilihatnya? Pemuda itu ternyata sudah lebih dulu merobohkan lawannya,
hwesio lawan pemuda itu sudah rebah dengan pundak berdarah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi pemuda itu berkata, “Nona, kita berhasil dalam waktu yang sama. Hayo kita berlomba
merobohkan dua orang hwesio ceriwis itu!”
Lin Lin melihat betapa hwesio muda yang dua orang tadi telah melarikan diri tunggang-langgang melihat
betapa kedua orang paman guru mereka telah roboh! Karena dua orang hwesio muda itu yang menjadi
biang keladi pertempuran, dan dua orang hwesio itu yang sebenarnya amat kurang ajar, Lin Lin menjadi
marah sekali dan tubuhnya berkelebat melakukan pengejaran. Ia melihat sesosok bayangan dengan cepat
juga berkelebat di sampingnya.
Tahu bahwa pemuda pesek itu tidak mau kalah, Lin Lin mengerahkan ginkang-nya dan di lain saat ia
sudah tiba di belakang dua orang hwesio itu. Pedangnya menyambar dan dua orang hwesio itu menjerit,
roboh terguling. Dua orang hwesio muda itu terluka pahanya. Karena menganggap bahwa dua orang
hwesio itu jahat sekali, Lin Lin kembali menggerakkan pedang hendak membunuh mereka.
“Tranggg!” bunga api berpijar ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Lie Bok Liong.
“Nona, harap jangan bunuh mereka. Mereka adalah hwesio-hwesio Siauw-lim!”
“Hwesio Siauw-lim atau hwesio-hwesio langit, siapa takut? Mereka ini jahat, kalau hwesio-hwesio tua
Siauw-lim-pai membela mereka, berarti mereka pun jahat!”
“Omitohud... kasar akan tetapi harus diakui kebenarannya...,” terdengar seruan suara halus dan tahu-tahu
di depan mereka telah berdiri seorang hwesio tua yang putih semua jenggotnya, akan tetapi mukanya
masih segar kemerahan seperti seorang muda. Hwesio ini berjubah kuning, memegang sebuah tongkat
pendeta dan sinar matanya berpengaruh penuh wibawa. Melihat hwesio ini, Lie Bok Liong segera
mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.
“Cheng Hie Lo-suhu! Kebetulan sekali Lo-suhu datang. Kami dua orang muda telah berselisih faham
dengan beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai, harap Lo-suhu memberi kebijaksanaan.”
Hwesio tua itu tertawa perlahan. “Lie-sicu tak perlu bersikap sungkan. Pinceng (aku) yang tua sudah
melihat dan mendengar semua. Memang sudah pinceng dengar kenakalan empat orang anak murid ini,
akan tetapi baru sekarang pinceng melihat buktinya.” Kemudian ia mengalihkan pandang mata kepada Lin
Lin dan berkata, “Nona, kepandaianmu hebat bagi seorang semuda Nona. Memang pantas sekali Pedang
Besi Kuning berada di tanganmu! Dua orang anak murid Siauw-lim-pai yang durhaka ini telah melakukan
kesalahan kepadamu, harap Nona sudi memberi maaf, biar pinceng nanti yang akan menghukum mereka.”
Lin Lin kaget bukan main. Hwesio tua ini dapat mengetahui segalanya, bahkan tahu pula tentang
pedangnya, pedang curian dari gudang istana. Tentu seorang yang berilmu tinggi, pikirnya. Ia memang
marah kepada dua orang hwesio yang kurang ajar itu, akan tetapi sekarang hatinya puas karena sudah
ada pentolan Siauw-lim-pai yang mengurus dan hendak menghukum.
“Terserah kepada Lo-suhu. Aku percaya Lo-suhu akan benar-benar memberi hukuman berat, kalau tidak,
berarti Losuhu
membantu orang jahat!”
Muka hwesio tua itu berubah agak pucat, akan tetapi ia hanya tertawa dan menjura. Lie Bok Liong lalu
mengajak Lin Lin pergi, “Marilah, setelah ada Cheng Hie Lo-suhu, tentu mereka akan mendapat bagian
mereka. Cheng Hie Lo-suhu terkenal sebagai pengawal tindak-tanduk dan sepak terjang para anak murid
Siauw-lim-pai dan dunia kang-ouw mengenal belaka kebijaksanaan dan keadilannya. Lo-suhu,
perkenankan kami pergi.”
Cheng Hie Hwesio menggerakkan tangannya, mengangguk-angguk. “Pergilah... pergilah dengan hati-hati,
orang-orang muda. Doa restu dan berkahku mengiringi kalian berdua...”
Lin Lin tercengang, hendak marah kepada pemuda pesek itu. Enak saja, pikirnya, ajak-ajak seakan-akan
dia itu memang teman seperjalanan. Kenal pun tidak! Akan tetapi melihat sikap hwesio yang amat halus
dan baik itu, tak enak hatinya menimbulkan ribut di depannya. Ia pun mengangguk dan berjalan pergi
bersama Lie Bok Liong yang menuntun kudanya.
Sampai lama mereka jalan berendeng, diam saja tidak berkata-kata, juga saling lirik saja tidak. Seakanakan
mereka saling tidak ingat lagi bahwa di sebelah mereka berjalan seorang lain. Tentu saja tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian hal yang sebetulnya. Bok Liong sekaligus terbetot semangatnya oleh gadis lincah ini, dan ia
berjalan sambil merenung, terheran-heran atas perubahan di dalam hatinya sendiri. Mengapa ia
merasakan hal yang aneh ini, hal yang selama ia hidup belum pernah ia rasakan? Ada pun Lin Lin, ia
sedang mengumpul-ngumpulkan kata-kata untuk menyerang pemuda pesek lancang ini nanti setelah
mereka jauh dari hwesio tua tadi.
Setelah mereka keluar dari dalam hutan dan berada di jalan yang sunyi sekali, tiba-tiba Lin Lin berhenti dan
berkata ketus, “Nah, sekarang tidak ada siapa-siapa yang akan menghalangi kita membuat perhitungan!”
Pemuda itu seakan-akan baru sadar dari alam mimpi. Ia menengok dan memandang dengan kaget.
“Perhitungan? Perhitungan apa, Nona?”
“Perhitungan apa? Pura-pura tanya lagi. Kau tadi mengajak adu cepat berlomba merobohkan dua orang
hwesio ceriwis. Siapa yang menang? Aku! Lalu hwesio tua Siauw-lim-pai tadi memuji-muji dan minta maaf.
Memuji siapa dan minta maaf kepada siapa? Aku! Tapi kau memerintah aku ikut denganmu! Sombong!”
Bok Liong cepat menjura, sikapnya sungguh-sungguh. “Nona, harap kau tidak main-main lagi. Maafkanlah
kalau sikap dan kata-kataku pernah menyinggungmu. Aku Lie Bok Liong adalah seorang laki-laki sejati,
dan kulihat sepak terjangmu membuktikan bahwa kau seorang pendekar wanita yang mengagumkan. Oleh
karena itu terimalah hormatku, Nona, dan sampai mati aku tidak nanti berani mengangkat senjata
terhadapmu lagi. Aku mengaku kalah dan menyerah.”
Watak Lin Lin memang aneh. Dalam segala hal ia selalu tidak mau kalah. Kalau orang bersikap keras
terhadapnya, ia tidak mau kalah keras, kalau orang galak, ia akan lebih galak lagi. Kini Bok Liong bersikap
merendah dan mengalah dengan suara sungguh-sungguh dan wajah serius, ia pun tidak mau kalah!
“Nah, kau sih yang sombong tadinya. Padahal aku juga tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan
orang seperti kau ini. Aku tahu kau bukan orang jahat, tapi kalau aku tidak bersikap keras, orang takkan
mengetahui kelihaianku. Nah, kau pun kuminta maklum saja kalau tadi aku bersikap kaku. Betapa pun
juga, kau telah membantuku menghadapi hwesio-hwesio kotor tadi.”
Jantung Bok Liong berdebar-debar. Alangkah girangnya melihat bahwa nona yang lincah galak ini kiranya
dapat juga bicara dengan baik. Ia menahan senyumnya dan berkata lagi. “Nona, terima kasih atas
pengertianmu. Kita menjadi sahabat, hal yang amat kuinginkan semenjak aku melihat kau menghajar
hwesio-hwesio ceriwis di hutan itu. Sekali lagi, namaku Lie Bok Liong, biar pun bukan seorang tokoh besar
di dunia kang-ouw, akan tetapi aku mengenal hampir semua tokoh kang-ouw, kecuali tokoh-tokoh besar
yang masih muda seperti kau. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu? Terus terang saja, aku
yang banyak mengenal ilmu silat, tahu akan dasar-dasar gerakan ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai,
Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan banyak partai persilatan lain lagi, tapi sama sekali buta akan ilmu silatmu
yang luar biasa tadi, Nona.”
Lin Lin merasa diayun-ayun di atas awan saking bangga dan girangnya mendengar kata-kata pujian yang
keluar sejujurnya dari mulut pemuda itu. Setelah ia pandang-pandang, pemuda berhidung pesek ini
wajahnya menarik dan menyenangkan hati juga, sikapnya jujur dan sopan tapi tidak bermuka-muka atau
menjilat, sikap sewajarnya dari seorang yang memasang isi hati pada wajahnya.
Timbul rasa suka di hatinya disertai kepercayaan besar. Apa lagi tadi ia mendengar bahwa Bok Liong ini
mengenal hampir semua tokoh kang-ouw. Siapa tahu pemuda ini bisa memberitahu kepadanya tentang
Suling Emas, atau mungkin juga tentang kakaknya, Bu Song. Wajahnya seketika berseri, matanya
bersinar-sinar, bibirnya yang manis itu tersenyum sehingga pemuda itu merasa betapa tiba-tiba kedua lutut
kakinya lemas dan gemetar!
Memang hebat daya pengaruh asmara yang mulai menggerogoti jantung seorang pemuda. Hanya si
pemuda yang bersangkutan sendiri yang dapat merasakannya. Kalau seorang pemuda sedang bercinta,
terutama sekali kalau mulai jatuh cinta, segala sesuatu pada diri dara yang dicintainya tampak hebat luar
biasa. Kerling mata yang tajam melebihi pedang pusaka langsung menusuk dada menembus punggung!
Senyum sepasang bibir merah membasah bagaikan seribu manis dari madu yang memabukkan dan
membuat kepalanya pening tujuh keliling dengan mata berkunang-kunang! Kilauan gigi putih berderet rapi
yang hanya tampak sekilas di balik sepasang bibir segar, lebih ampuh dari pada sinar petir yang langsung
menyambar kepala memasuki tubuh menyelusup ke seluruh tulang sumsum!
Tidaklah terlalu
mengherankan apabila
Bok Lieng berdiri dengan kedua lutut gemetar ketika ia menghadapi wajah Lin Lin
yang berseri-seri itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau kira aku seorang yang buta?” demikian Lin Lin mulai kata-katanya yang kini terdengar manis, hilang
sama sekali ketusnya. “Aku pun sekali bertemu saja tahu bahwa kau bukan orang jahat, akan tetapi aku
harus yakin dulu. Twako... ya, lebih baik kusebut kau Twako (Kakak), karena kau tentu lebih tua dari pada
Sin-ko (Kakak Sin). Eh, berapa sih usiamu?”
Mau tak mau Bok Liong tersenyum. Setelah gadis ini bersikap jenaka seperti ini, ia merasa betapa sinar
matahari menjadi lebih terang dari pada tadi. “Usiaku hampir dua puluh dua tahun.”
“Nah, betul dugaanku. Sin-ko baru dua puluh tahun, aku sendiri baru tujuh belas. Sampai di mana aku tadi?
Oya, tentang nama. Namaku Lin Lin, she... Kam.”
“Kam Lin Lin... indah benar namamu, Nona.”
“Wah, kalau kau masih menyebut nona-nonaan segala, aku pun akan menyebutmu dengan tuan-tuanan.
Bagaimana pendapatmu, Tuan Besar?”
Bok Liong tertawa bergelak, kemudian terheran. Seingatnya baru kali inilah ia dapat tertawa sampai begitu
keras sampai basah kedua matanya. Benar-benar mengherankan. Apa yang terjadi dengan dirinya?
“Habis, aku harus menyebut bagaimana? Ah, kau betul. Kau menyebutku Twako, kalau begitu kau adikku,
Moi-moi.”
“Nah, begitu baru enak bicara. Terhadap seorang tuan mana aku sudi mengobrol begini? Lain lagi kalau
terhadap seorang kakak....”
“Maksudmu, terhadap seorang sahabat baik seperti kakak sendiri,” potong Bok Liong.
“Sama saja, apa bedanya? Twako, kulihat tadi ilmu silatmu juga hebat sekali. Siapakah gurumu?”
Kalau orang lain yang menanyakan hal ini, tentu Bok Liong takkan mau menerangkannya. Selama ia
berkecimpung di dunia kang-ouw, hanya beberapa orang tokoh besar saja yang tahu murid siapa pemuda
lihai ini. Akan tetapi terhadap Lin Lin yang sekaligus sudah merobohkan jantung menawan hatinya, ia tidak
berani berbohong, apa lagi tidak menjawab. Ia takut kalau-kalau gadis yang sekarang sudah ‘jinak’ dan
baik kepadanya ini akan mengamuk lagi dan memusuhinya. Tidak ada malapetaka baginya di saat itu yang
akan lebih besar dan hebat dari pada dimusuhi Lin Lin.
“Nona... eh, Lin-moi (Adik Lin). Guruku terkenal dengan namanya yang sederhana sekali, malah
sesungguhnya, orang lain termasuk aku sendiri tak pernah mengenal namanya karena ia hanya
memperkenalkan she (nama keturunan) yaitu she Gan. Karena inilah maka di dunia kang-ouw ia dikenal
sebagai Gan-lopek (Empek Tua Gan)!”
Senyum di bibir Lin Lin melebar. “Gan-lopek? Hi-hik! Badut tak pernah mandi yang pantatnya besar, kumis
dan jenggotnya dijadikan sarang semut, paling takut melihat cacing dan ular? Hi-hi-hik, geli hatiku kalau
mengenangkan dia!” Lin Lin menutupi mulut dengan tangan kiri untuk menyembunyikan tawanya.
Bok Liong membelalakkan kedua matanya yang lebar, “Apa? Kau pernah melihat Suhu?”
Lin Lin menggeleng kepala, menahan kekehnya. Agak lama baru dia dapat bicara. “Aku hanya mendengar
ceritanya dari kakek gundul pacul. Wah, kakek dan aku tertawa-tawa sampai perutku menjadi keras dan
kakek jatuh terguling dari atas cabang pohon,” kembali Lin Lin tertawa terkekeh-kekeh.
Diam-diam Bok Liong menjadi tak senang hatinya karena merasa betapa suhu-nya, orang yang ia anggap
paling hebat di dunia ini, menjadi buah tertawaan, sungguh pun ia cukup mengenal suhu-nya sebagai
orang yang luar biasa anehnya dan kadang-kadang membuat lelucon yang luar biasa.
“Hemmm, kau pernah mendengar cerita tentang Suhu? Dan kakek gundul pacul yang menceritakan itu,
apakah dia jatuh dari cabang pohon terus mati?”
Tiba-tiba suara ketawa Lin Lin terhenti. “Dia? Mati jatuh dari cabang? Ah, Twako, kau benar-benar tidak
mengenal dia. Dialah yang menurunkan ilmu Serba Kosong kepadaku. Dia orang sakti seperti dewa, mana
bisa mati jatuh dari cabang?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bok Liong benar-benar tidak mengerti. Luar biasa sekali dara ini, pikirnya. Kalau kakek gundul pacul itu
mengajar ilmu, berarti kakek itu guru si nona. Akan tetapi kenapa nona ini menyebutnya gundul pacul,
sebutan yang seakan-akan mengejek dan memandang rendah?
“Ah, kalau begitu beliau seorang sakti? Siapakah beliau itu, atau kau juga tidak tahu namanya?”
“Tentu saja aku tahu. Dia disebut Kim-lun Seng-jin... eh, kenapa kau, Liong-twako (Kakak Liong)?” Lin Lin
heran melihat pemuda itu meloncat seperti dipagut ular dan matanya menjadi amat bundar dan lebar.
“Kim-lun Seng-jin? Beliau itu gurumukah?” tanya Bok Liong.
Kembali Lin Lin menggeleng kepala. “Bukan! Bukan guruku. Dia sahabat baikku.”
Makin heranlah Bok Liong. Masa kakek sakti yang amat terkenal di dunia ini, yang tingkatnya sekelas
dengan gurunya, menjadi sahabat baik gadis ini?
“Tapi kau bilang tadi bahwa kau menerima ilmu darinya. Kan itu berarti bahwa dia gurumu.”
“Bukan! Hanya kenalan biasa saja. Tapi ilmunya Serba Kosong memang boleh juga.” Lin Lin bersikap
seakan-akan hal itu merupakan hal yang ‘bukan apa-apa’ baginya, sikap ini sengaja ia ‘pasang’ karena
melihat betapa Bok Liong terheran-heran dan agaknya amat menjunjung tinggi Kim-lun Seng-jin!
“Serba kosong! Aneh sekali nama ilmu itu. Tapi, Lin-moi, aku percaya bahwa ilmu yang diturunkan oleh
Kim-lun Seng-jin tentulah hebat bukan main. Ah, maafkan kalau tadi aku bersikap kurang hormat. Siapa
mengira bahwa kau adalah mur... eh, sahabat baik Kim-lun Seng-jin Locianpwe (Orang Tua Gagah)?
Pantas saja beliau bisa bercerita tentang Suhu-ku.”
Senang sekali hati Lin Lin, kebanggaannya bukan main sehingga ia mengangkat dadanya yang sudah
membusung. Karena senangnya, ia ingin memberi sekedar hiburan kepada Bok Liong dengan kata-kata
manis. “Tapi kakek berkata bahwa biar pun Gan-lopek itu orangnya lucu dan merupakan seorang badut
besar, namun kepandaiannya hebat. Maka sekarang, melihat kepandaianmu, aku percaya akan
kesaktiannya.”
Sekarang Bok Liong teringat akan matanya menatap ke arah pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin.
Tadi ia amat terkejut ketika mendengar ucapan Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning. Ia
mendengar pula tentang lenyapnya pedang pusaka itu dari gudang pusaka istana, dan ia tadi masih
terheran-heran bagaimana pedang itu bisa terjatuh ke tangan Lin Lin.
Betapa pun pandainya Lin Lin, kiranya bukanlah hal yang mudah untuk dapat memasuki istana dan
mencuri sebuah pedang pusaka. Akan tetapi sekarang terbukalah rahasia itu. Kalau gadis itu pergi
bersama seorang sakti seperti Kim-lun Seng-jin, soal memasuki istana dan mencuri pedang pusaka
bukanlah merupakan hal yang aneh lagi. Akan tetapi, ia mulai mengenal watak Lin Lin dan karenanya ia
tidak mau bertanya-tanya akan hal pedang itu, takut kalau-kalau Lin Lin akan menjadi curiga dan marah
kepadanya. Sebaliknya ia lalu bertanya.
“Lin-moi, setelah kita menjadi sahabat dan kenalan sekarang, bolehkah aku mengetahui apa yang kau
kehendaki sehingga kau seorang diri sampai berada di tempat ini? Hendak pergi ke manakah kau?”
Ini memang merupakan pertanyaan yang dinanti-nanti Lin Lin. Gadis ini sudah mengambil keputusan untuk
minta bantuan Bok Liong. Kakek gundul Kim-lun Seng-jin biar pun telah mewariskan ilmu dan mengajaknya
ke kota raja, malah ke dalam istana dan mencuri pedang, namun tidak berhasil menolong dia mendapatkan
musuh besarnya, juga kakak angkatnya.
Setelah mendengar tentang sangkaan Kim-lun Seng-jin mengenal asal-usulnya dengan bangsa Khitan,
makin besar keinginan hatinya untuk bertemu dengan Bu Song, karena dialah satu-satunya orang yang
boleh diharapkan akan dapat menceritakan asal-usulnya, karena ketika ia diambil anak oleh Jenderal Kam,
tentu Bu Song sudah besar dan dapat mengingat semua peristiwa di waktu itu.
“Liong-twako, sebelum aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, lebih dulu kau jawablah. Apakah kau
akan suka membantuku?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu saja! Dengan segala senang hati aku akan membantumu. Apakah yang dapat kulakukan untukmu,
Moi-moi?”
“Tanpa syarat?”
“Eh... tanpa syarat bagaimana? Tentu saja, aku harus mendengar dulu apa urusanmu itu dan apa yang
harus kulakukan.”
Bibir manis itu cemberut, tapi bagi Bok Liong malah tampak makin manis.
“Kalau begitu, tak usah kau membantuku. Ucapanmu itu menyatakan bahwa tidak sepenuh hatimu kau
berniat membantuku. Kalau sepenuh hati suka membantu, tentu tidak akan bertanya-tanya lagi, apa saja
urusannya, tetap akan suka membantu.”
Merah muka Bok Liong mendengar celaan ini, dan diam-diam ia harus akui bahwa ucapan gadis ini, biar
pun terdengar seperti mencari menang sendiri, namun ada benarnya juga. “Baiklah, aku akan
membantumu. Akan tetapi, Moi-moi, kau tentu tahu bahwa biar pun untuk kau sendiri, terpaksa aku tidak
mau melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebenaran. Ringkasnya, aku tidak mau membantu pihak
yang melakukan kejahatan....”
Bok Liong terpaksa menghentikan kata-katanya karena seketika Lin Lin menjadi marah sekali. Gadis ini
berdiri tegak, mengedikkan kepala, kedua tangan di pinggang, pandang matanya keras. “Sudahlah, kita
tidak jadi bersahabat. Aku tidak sudi bersahabat dengan orang yang tidak percaya kepadaku sedangkan
aku amat percaya kepadamu!” Tubuhnya membalik dan berkelebat pergi.
Bukan main kagetnya hati Bok Liong. Ia pun cepat mengerahkan ginkang-nya untuk mengejar, “Nanti dulu,
Non... eh, Moi-moi. Tunggu...! Mari kita bicara...!”
Akan tetapi Lin Lin tidak mempedulikannya, terus lari kencang. Karena ia mempergunakan ginkang dari
Khong-in-ban-kin, tentu saja larinya cepat sekali, mengalahkan kuda betina yang kabur dikejar kuda jantan.
Dan Bok Liong sampai berkeringat karena harus mengerahkan seluruh tenaga mengejar.
“Lin-moi... tunggu dulu...! Aku percaya padamu...!”
Lin Lin mendengar derap kaki kuda. Kiranya Bok Liong yang melihat betapa gerakan Lin Lin amat gesit dan
cepat kembali ke tempat tadi, meloncat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda tunggangnya
itu, melakukan pengejaran. Tapi ilmu lari cepat yang dipergunakan Lin Lin benar-benar luar biasa sekali.
Kalau gadis itu sudah matang dalam melatih Khong-in-ban-kin, kiranya pemuda itu biar pun berkuda takkan
mampu menyusulnya. Sekarang pun sukar sekali Bok Liong dapat menyusul.
Setelah berkejaran hampir dua jam dan mereka tiba di luar kota Pao-teng sebelah selatan kota raja,
barulah Lin Lin tersusul. Hal ini pun hanya karena gadis itu kehabisan napas, terpaksa ia berhenti dengan
napas memburu. Sepasang pipinya menjadi merah seperti buah tomat karena darahnya bergerak cepat
setelah berlari selama itu.
Bok Liong cepat-cepat melompat turun dari atas kudanya dan menghadapi Lin Lin yang berdiri cemberut.
Bok Liong kembali mengangkat kedua tangan memberi hormat dan suaranya benar-benar penuh bujuk
rayu, “Adikku yang baik, Moi-moi yang baik budi, maafkanlah aku yang tolol. Aku sungguh tidak mengerti
mangapa kau marah-marah kepadaku. Kalau kau suka menjelaskan, biarlah aku akan membunuh diri
kalau memang aku berbuat dosa terhadapmu.”
Di dalam hatinya Lin Lin tertawa geli dan mengira pemuda itu membadut. Akan tetapi karena ia masih
mendongkol, ia menjawab ketus, “Kau sudah tidak percaya kepadaku, mengapa masih memperlihatkan
sikap bersahabat?”
“Siapa bilang aku tidak percaya, Lin-moi? Aku percaya seribu prosen kepadamu. Percaya mati-matian dan
bulat-bulat!” Bok Liong sengaja bersikap jenaka dan benar saja, dara yang memang pada dasarnya
berwatak jenaka gembira itu sebentar saja sudah hilang marahnya.
“Kau bilang percaya hanya di mulut tapi di hati kau menyangka aku akan melakukan hal-hal jahat dan akan
menyeretmu ke dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kebenaran. Bagus, ya? Lain di mulut
lain di hati, berani sumpah tak berani mati!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini tiba giliran Bok Liong yang tertawa geli di dalam hatinya. Entah dari mana dara ini memungut kata-kata
sindiran yang merupakan istilah dalam panggung sandiwara itu untuk mengukur watak laki-laki.
“Wah, benar aku telah bersalah, Lin-moi, akan tetapi sungguh mati bukan maksudku untuk tidak percaya
kepadamu.”
“Nah, sekarang bunuh dirilah. Aku ingin sekali lihat!” kata Lin Lin sambil duduk di atas tanah, dibawah
pohon. Peluhnya yang membasahi jidat dan leher diusapnya dengan sapu tangan sutera.
“Bunuh diri...? Apa maksudmu...?”
“Eh, pakai tanya lagi! Kan kau sendiri yang tadi berjanji hendak bunuh diri kalau berdosa kepadaku. Nah,
kau bunuh dirilah. Atau memang kau pun termasuk golongan yang berani sumpah tak berani mati?”
“Waduh-waduh, masa kesalahan begitu saja dianggap dosa besar yang harus ditebus dengan nyawa? Linmoi,
harap jangan main-main. Biarlah, aku mengaku salah dan tidak akan banyak tanya lagi. Aku akan
membantumu tanpa syarat dan tanpa tanya-tanya lagi. Sekarang katakan, apa yang dapat kulakukan untuk
membantumu? Apakah kesukaranmu?” kata Bok Liong sambil duduk pula di atas tanah, berhadapan
dengan Lin Lin. Kudanya yang juga tampak lelah itu beristirahat sambil makan rumput gemuk hijau di
pinggir jalan, ekornya dikebut-kebutkan ke kanan kiri mengusir lalat, kelihatan girang dan lega kuda itu
setelah tadi berlomba lari.
Kini wajah Lin Lin tampak sungguh-sungguh. Memang ia tadi mendongkol, akan tetapi tidak mendalam dan
puaslah ia sudah dapat balas menggoda Bok Liong. Kini dengan suara serius ia berkata. “Liong-twako,
sebetulnya pikiranku amat bingung. Aku mencari musuh besar tidak bertemu, mencari kakak angkatku juga
tidak berhasil, malah-malah Kakak Bu Sin dan Enci Sian Eng pun sampai sekarang tidak bertemu kembali
denganku, entah lenyap ke mana mereka itu!”
Tahulah sekarang Bok Liong bahwa gadis ini adalah seorang dara remaja yang hilang dalam arti kata
terpisah dari dua orang kakaknya. Ia tidak memotong, melainkan menanti gadis itu melanjutkan
penuturannya.
“Kami bertiga pergi meninggalkan dusun kami di kaki Gunung Cin-ling-san dengan niat mencari musuh
besar kami, juga mencari kakak angkatku yang semenjak kami lahir tak pernah kami temui. Celakanya,
kami bercerai-berai dan aku mencari sendiri, dibantu oleh kakek gundul Kim-lun Seng-jin. Namun hasilnya
sia-sia belaka. Kakek gundul itu ternyata tidak becus membantuku, tak dapat membawaku kepada kakak
angkatku, juga tidak tahu di mana adanya musuh besarku. Nah, sekarang aku minta bantuanmu, Liongtwako,
bantulah aku mencari mereka itu.”
Bok Liong tertawa. Hatinya lega bukan main. “Ah, Lin-moi, kau ini memang suka bikin orang bingung.
Kalau tadi-tadi kau bilang hanya bantuan seperti ini saja, tentu aku seribu kali setuju. Akan kubantu
engkau, Moi-moi. Akan tetapi, tentu saja aku harus tahu lebih dulu siapakah gerangan mereka yang kau
cari. Siapakah musuh besarmu itu?”
“Aku sendiri juga tidak tahu, akan tetapi menurut dugaan kami, dia adalah si Suling Emas.”
Tiba-tiba Bok Liong meloncat sampai satu meter lebih. Mukanya berubah dan ia memandang kepada Lin
Lin dengan bengong. Lin Lin juga meloncat dan membanting kakinya.
“Nah-nah-nah, kau kumat lagi! Apakah semua laki-laki memang pengecut sehingga begitu mendengar
nama Suling Emas lantas menjadi ketakutan macam ini? Kau dan kakek gundul sama saja. Menjemukan
benar!”
“Wah, kau yang kumat, bukan aku,” demikian suara hati Bok Liong. Akan tetapi mulutnya segera berkata,
“Jangan salah sangka, Lin-moi. Aku tidak takut, hanya terheran-heran. Kau agaknya tidak tahu orang
macam apa dia itu maka begitu mudah kau menuduh dia sebagai musuh besarmu. Lin-moi, Suling Emas
adalah seorang pendekar sakti yang dipandang tinggi oleh para tokoh bersih di dunia kang-ouw. Masa dia
membunuh ayah bundamu?”
Lin Lin cemberut. “Biar dipandang tinggi oleh semua orang di dunia atau dipandang tinggi oleh para dewa
sekali pun, aku tidak takut! Ihhh, semua orang takut kepada Suling Emas. Sampai bagaimana sih
dunia-kangouw.blogspot.com
kepandaiannya? Ingin aku bertemu dengan dia dan mengajak dia duel (adu ilmu) sampai selaksa jurus!”
Bok Liong meraba-raba bawah hidungnya yang tidak berkumis untuk menahan tawa. “Baiklah, Lin-moi. Aku
akan membantumu dan kurasa kalau diusahakan benar, bukan tidak mungkin aku akan dapat
memperjumpakan kau dengan Suling Emas.”
Wajah yang cemberut itu seketika berseri dan kembali Bok Liong merasa dadanya tergetar. Sekarang
demikian hebat ia terpengaruh sehingga jantung di dalam rongga dadanya berloncatan ke atas kemudian
jatuh kembali di tempatnya dalam keadaan terbalik! Mulutnya sampai ternganga ketika ia memandang
wajah Lin Lin, sinar matanya sayu penuh keharuan. Baru kali ini ia menyaksikan sesuatu yang demikian
indahnya sampai mengharukan.
Akan tetapi Lin Lin mana memperhatikan hal ini? Ia sudah terlampau girang. Cepat ia menyambar tangan
Bok Liong, di guncang-guncangnya. “Betul, Liong-twako? Kau bisa mencari dia? Ah, kakek gundul itu saja
tidak becus. Di mana adanya Suling Emas, Liong-ko? Jauh atau dekat? Hayo kita segera pergi ke sana,
ingin kupaksa dia mengaku tentang pembunuhan itu!”
Kembali Bok Liong tersenyum. Kini ia berani tersenyum dan ini memudahkan ia menahan tawanya
mendengar kata-kata dan melihat sikap yang lucu ini. Benar-benar seorang dara lincah jenaka yang seperti
seekor burung baru belajar terbang, tidak tahu tingginya gunung lebarnya lautan!
“Tidak begitu mudah, Lin-moi. Orang macam dia itu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan
tetapi aku akan bertanya-tanya kepada tokoh kang-ouw. Aku mempunyai banyak kenalan di dunia kangouw,
dan dari mereka kurasa akhirnya kita akan dapat berjumpa dengan Suling Emas. Sekarang soal
kedua, tentang kakakmu itu. Siapa dia dan bagaimana mungkin seorang kakak tidak pernah bertemu
dengan adik-adiknya selamanya?”
“Kakak angkatku itu bernama Kam Bu Song, akan tetapi ketika ia mengikuti ujian di kota raja empat belas
tahun yang lalu, ia memakai she Liu. Apakah kau bisa mencari keterangan tentang dia?”
“Kam... Liu Bu Song? Tak pernah aku mendengar nama ini, akan tetapi kalau empat belas tahun yang lalu
dia di kota raja, tentu saja aku tidak ingat lagi. Tentu aku masih kanak-kanak waktu itu. Akan tetapi aku
dapat mencari keterangan di kota raja tentang dia. Sekarang, kau hendak mencari yang mana lebih dulu?
Kalau mencari kakakmu lebih dulu, kita kembali ke kota raja. Kalau mencari Suling Emas, tidak perlu kita
ke kota raja.”
Lin Lin termenung. Kedua orang itu sama pentingnya. Akan tetapi pertemuan dengan Kim-lun Seng-jin dan
cerita tentang ‘Puteri Khitan’ amat menarik hatinya dan membuat ia ingin sekali segera mendengar
pemecahan rahasia ini. Pula, kalau ia mencari Bu Song di kota raja, ada keuntungannya, yaitu sambil
menanti datangnya Bu Sin dan Sian Eng. Mereka berdua itu pasti akan datang ke kota raja pula.
“Biar kita ke kota raja mencari Kakak Bu Song lebih dulu,” akhirnya ia berkata. “Sekalian menanti
munculnya Sin-ko dan Enci Sian Eng. Liong-twako, kau baik sekali. Perlu kau kuperkenalkan dengan Sinko
dan terutama dengan Eng-cici. Wah, dia itu gagah perkasa, ilmu pedangnya hebat dan dia cantik sekali,
Twako!” Setelah berkata demikian ia tertawa-tawa gembira.
Merah muka Bok Liong. “Hush, kau bicara apa ini? Kenapa kau bilang kepadaku tentang Cici-mu? Apa
perlunya?”
“Ihhh, kalau aku memuji kecantikan Enci-ku di depanmu, apa sih salahnya?” Ia tertawa-tawa lagi dan
matanya menggoda.
Bok Liong tersenyum masam, hatinya mengeluh. “Engkaulah yang cantik, tidak ada wanita kedua di dalam
dunia ini yang dapat menggerakkan hatiku seperti engkau,” demikian suara hatinya.
“Baiklah, kita kembali ke kota raja. Akan tetapi sarung pedangmu itu harus diganti. Biar nanti kucarikan
gantinya.”
“Sarung pedang? Mengapa?” Lin Lin meraba pedangnya.
“Moi-moi, tadi aku mendengar dari kata-kata Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning yang hilang
dari istana dan berada di tanganmu. Lebih baik sarungnya yang istimewa itu diganti, sehingga tidak akan
dunia-kangouw.blogspot.com
dikenal orang.”
Lin Lin tersenyum. “Memang inilah pedang itu, kakek gundul dan aku yang mengambilnya. Wah, kalau kau
ikut tentu senang sekali, Liong-twako. Kami berdua menyikat habis semua masakan di dalam dapur istana.
Wah, enak-enak, pendeknya, selama hidup belum pernah kau merasakannya. Sampai sakit perutku, terlalu
kenyang dan perut kakek itu menjadi busung. Dan kami... kami menyamar seperti kucing...” Lin Lin
terkekeh gembira, menutupi mulutnya dan dengan suara terputus-putus diseling tawa ia menceritakan
pengalamannya di istana.
Bok Liong kagum bukan main. Kagum akan kehebatan Kim-lun Seng-jin, juga kagum akan manisnya mulut
yang bergerak-gerak bicara itu. Kemudian mereka berdua memasuki kota Pao-teng dan di sebuah toko
senjata, Bok Liong membeli sebuah sarung pedang untuk pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin. Kini
pedang itu, tanpa ronce-ronce dan dengan sarung lain, tiada bedanya dengan pedang biasa, maka tentu
tidak akan ada yang tahu bahwa itulah Pedang Besi Kuning, pedang pusaka rampasan dari bangsa Khitan
yang lenyap dari dalam gudang pusaka istana.
Di kota Pao-teng, Bok Liong mengajak Lin Lin memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan
bersih. Hari menjelang senja dan perut mereka telah lapar. Tanpa sungkan-sungkan Lin Lin menyetujui dan
seorang pelayan segera menyambut mereka dengan hormat, apalagi
ketika melihat pedang yang
tergantung di punggung Bok Liong dan di punggung Lin Lin.
Bok Liong bertanya, “Kau hendak makan apa, Moi-moi?”
“Apa sajalah. Setelah makan eh... anu... semua itu, kiranya tidak ada makanan yang cukup enak bagiku.”
Ia mengernyitkan hidung. Bok Liong maklum bahwa yang dimaksudkan Lin Lin tentu masakan-masakan di
dapur istana itu. Pelayan yang menanti pesanan mereka tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan
oleh nona yang cantik jelita dan gagah perkasa ini.
Bok Liong memesan arak wangi, nasi putih, bakmi, bakso dan beberapa macam sayur-mayur lagi.
Pesanan itu dilayani dengan cepat sehingga beberapa menit kemudian mereka telah mulai makan minum.
Kelahapan Bok Liong dan perutnya yang sudah amat lapar itu membuat Lin Lin dapat makan dengan enak
juga, malah tidak kalah enaknya dengan masakan-masakan dapur istana ketika ia sudah kekenyangan.
Bukanlah masakannya yang menjadi syarat mutlak untuk kelezatan, melainkan perut lapar. Perut lapar
menyedapkan setiap makanan yang paling sederhana seakali pun!
Suara orang bercakap-cakap riuhrendah
memasuki restoran itu tidak menarik perhatian Lin Lin dan Bok
Liong yang sedang enak makan, juga ketika beberapa orang tamu memesan masakan dengan suara
parau, mereka tidak menengok dan terus makan. Akan tetapi karena tiga orang laki-laki yang baru datang
itu duduknya di meja yang berhadapan dengan Lin Lin, mau tak mau Lin Lin dapat melihat mereka.
Mendadak gadis ini meletakkan sumpit dan mangkoknya, kemudian ia bangkit dari tempat duduk dengan
mata berapi. Bok Liong melihat keadaan gadis ini sambil menghirup kuah dari mangkok, menoleh lalu
mengerutkan keningnya. Kiranya yang bercakap-cakap dan duduk mengelilingi meja itu adalah tiga orang
laki-laki yang pakaiannya ditambal-tambal, pakaian pengemis jembel!
“Sssttttt, Lin-moi, tenang dan duduklah. Tak baik membuat ribut di restoran orang, bikin kacau dan rusak
barang orang saja,” bisiknya.
Lin Lin sadar, menekan perasaannya dan duduk kembali. Seorang pelayan yang sedang bersiap untuk
mengambilkan pesanan tiga orang pengemis itu memandang penuh kekhawatiran dan curiga kepada Lin
Lin. Akan tetapi ketika melihat gadis ini duduk kembali, ia cepat-cepat pergi ke dapur. Tidak mengherankan
apa bila Lin Lin kaget dan marah melihat tiga orang laki-laki itu, karena mereka ini adalah tiga orang di
antara para pengemis yang malam-malam mengeroyok dia dan dua orang saudaranya.
Sebaliknya tiga orang pengemis itu agaknya tidak mengenal Lin Lin, dan hal ini pun tidak aneh. Mereka
baru satu kali saja melihat Lin Lin, ini pun di waktu malam dan dalam pertempuran. Apa lagi ketika itu Lin
Lin ditemani oleh Bu Sin dan Sian Eng, sedangkan sekarang hanya berdua dengan Bok Liong.
“Mereka adalah pengemis-pengemis yang dulu ikut mengeroyok kami,” bisik Lin Lin.
Bok Liong mengangguk-angguk. Gadis itu sudah bercerita tentang perselisihannya dengan para pengemis
yang dipimpin oleh si Raja Pengemis It-gan Kai-ong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mereka itu tokoh-tokoh Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang) dan agaknya
mereka datang sebagai tamu. Wilayah mereka bukanlah di Pao-teng sini. Lin-moi, mari kita ke luar.” Bok
Liong memanggil pelayan, membayar dan mengajak Lin Lin keluar dari restoran.
“Lin-moi, malam ini kita sebaiknya bermalam di sini. Pengemis-pengemis itu mencurigakan. Pengemispengemis
Hui-houw-kai-pang merupakan orang-orang kepercayaan It-gan Kai-ong, mereka itu bekerja
untuk Kerajaan Wu-yue. Kalau datang ke dekat kota raja tentu ada maksud-maksud tertentu, sebagai
matamata.
Aku akan membayangi mereka.”
“Liong-ko, kenapa kau akan lakukan hal ini? Apa hubunganmu dengan urusan itu?”
Bok Liong memandang dengan sinar mata penuh perasaan ketika ia berkata. “Lin-moi, seorang warga
negara harus setia kepada negaranya. Demikian pula aku, harus setia kepada Kerajaan Sung. Kalau aku
melihat persekutuan yang membahayakan negara dan aku diamkan saja bukankah itu berarti bahwa aku
menjadi seorang pengkhianat? Tidak Moi-moi, takkan kudiamkan saja kalau orang-orang Hui-houw-kaipang
ini mempunyai niat melakukan sesuatu yang membahayakan negara.”
Kagum hati Lin Lin. Sebagai anak angkat Jenderal Kam, seorang patriot sejati yang rela mengorbankan diri
dan kebahagiaan demi negara, tentu saja ia tahu akan hal ini, dan ia dapat menghormati sikap ini.
Malam hari itu Bok Liong dan Lin Lin membayangi tiga orang pengemis yang memasuki sebuah rumah
gedung kecil di sebelah timur kota Pao-teng. Rumah ini jauh dari tetangga, pekarangannya lebar dan
kelihatannya sunyi. Sebuah rumah kuno yang modelnya seperti rumah pesanggrahan bangsawan yang
hanya ditinggali sewaktu-waktu saja. Bagi para penduduk Pao-teng, rumah gedung mungil ini terkenal
dengan sebutan ‘Gedung Merah’ karena memang cat rumah itu serba merah.
Orang-orang hanya tahu bahwa rumah itu milik seorang bangsawan muda dari An-sui yang kadang-kadang
saja datang ke rumah ini, di mana ia mempunyai beberapa orang wanita penghibur yang menjadi selirselirnya.
Kalau bangsawan muda itu datang, barulah tampak kesibukan di gedung merah ini. Tukangtukang
masak pandai dipanggil, rombongan penghibur, penari dan penyanyi, diundang dan sering kali
diadakan pesta oleh bangsawan itu bersama selir-selirnya, kadang-kadang ditemani beberapa orang tamu.
Bangsawan muda itu bukan lain adalah Suma Boan, putera Pangeran Suma Kong. Memang dia seorang
pemuda penghambur nafsu dan uang. Sebetulnya hanya kelihatannya saja Suma Boan merupakan
seorang kongcu hidung belang yang menghabiskan waktunya dengan pelesir dan bersenang-senang.
Padahal sebetulnya dia seorang muda yang penuh cita-cita. Tidak sia-sia ia menjadi murid orang sakti Itgan
Kai-ong, karena tidak saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun juga memiliki cita-cita setinggi
langit.
Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw ia hubungi, dan ia menghimpun tenaga untuk sewaktu-waktu
bergerak melaksanakan tujuan dan cita-citanya, yaitu menggulingkan kedudukan kaisar dan mengangkat
diri sendiri menjadi penggantinya! Tentu saja cita-citanya ini masih merupakan rahasia dalam hatinya dan
kiranya hanya gurunya dan pembantu-pembantunya yang paling setia saja yang tahu. Orang lain hanya
menganggap bahwa Suma Boan adalah seorang bangsawan, putera pangeran, masih sanak dengan
kaisar, kaya raya dan royal di samping memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.
Maka dari itu Bok Liong menjadi heran sekali ketika ia mengintai dari atas genteng gedung merah bersama
Lin Lin, ia melihat bahwa tiga orang pengemis itu mengadakan pertemuan dengan Suma Boan. Hal ini
sama sekali tak pernah diduganya. Suma Boan putera pangeran yang tinggai di An-sui itu berada di sini?
Benar-benar di luar dugaannya yang sejak dahulu berkelana. Bok Liong mengenal siapa adanya Suma
Boan, murid It-gan Kai-ong yang lihai.
Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu akan rahasia putera pangeran ini. Ia tidak menjadi heran karena
Suma Boan berhubungan dengan pengemis, karena guru pemuda bangsawan itu adalah raja pengemis
sendiri! Akan tetapi yang membuat ia terheran-heran adalah munculnya pemuda bangsawan itu di gedung
merah, karena tadinya ia mengira bahwa tiga orang pengemis itu hendak mengadakan persekutuan atau
pertemuan rahasia dengan musuh-musuh Kerajaan Sung. Maka ia kecewa dan memberi isyarat kepada
Lin Lin untuk pergi dari situ.
Akan tetapi, sebaliknya wajah Lin Lin menegang ketika ia mengenal Suma Boan. Ia malah memberi isyarat
kepada Bok Liong untuk mendengarkan percakapan mereka di bawah, lalu mendekatkan mulut pada
telinga Bok Liong sambil berbisik. “Di rumah dia itulah aku berpisah dengan kedua kakakku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini hati Bok Liong tertarik dan ia segera mendekam dan mendengarkan percakapan empat
orang itu.
Terdengar Suma Boan bertanya. “Mana Suhu? Kenapa tidak datang dan bagaimana hasilnya dengan surat
yang dirampas Hek-giam-lo?”
“Kai-ong-ya tidak berhasil merampas kembali, tapi memberi tahu bahwa surat itu agaknya sudah terampas
kembali oleh Siang-mou Sin-ni dari tangan Hek-giam-lo. Sekarang Ong-ya berkenan pergi sendiri
menyelidik ke Yu-nan.”
“Apa? Suhu mendatangi wilayah Nan-cao?”
“Betul, Kongcu. Pada pertengahan bulan depan, tepat pada bulan purnama, di sana diadakan pesta
menyambut hari raya kaum Agama Beng-kauw, sekalian memperingati hari wafat ke seribu dari Kauw-cu
(Ketua Agama) yang telah meninggal dunia. Dalam kesempatan ini tentu saja Kai-ong-ya dapat menghadiri
karena para tokoh hitam dan putih semua diterima dengan tangan terbuka oleh Beng-kauw.”
“Bagus!” Suma Boan kelihatan girang sekali. “Hanya sayang sekali, kalau Suhu memberi tahu, tentu aku
akan ikut ke sana, untuk melihat dan menambah pengalaman.”
“Kai-ong-ya berpesan agar Kongcu suka menanti kedatangan Tok-sim Lo-tong yang sudah berjanji akan
datang mengunjungi dan sudah siap memberi bantuan untuk menghadapi Suling Emas.”
“Hemmm, si keparat itu apakah sudah dapat diketahui Suhu di mana tempatnya kalau ia datang ke kota
raja?”
“Menurut Kai-ong-ya, sering kali ia berada di dalam gedung perpustakaan istana.”
“Heeeee! Apa itu?” Tubuh Suma Boan berkelebat, diikuti tiga orang pengemis itu yang sudah melompat ke
luar dan langsung melayang ke atas genteng.
Kiranya tadi ketika mendengar percakapan di bawah, Bok Liong dan Lin Lin menjadi tertarik sekali. Apa lagi
ketika nama Suling Emas disebut-sebut, Lin Lin menjadi begitu bernafsu sehingga ia bergerak untuk
membuat lubang lebih besar. Karena kurang hati-hati dan hatinya tegang, gerakannya mengeluarkan bunyi
dan terdengar oleh telinga Suma Boan yang tajam.
“Keparat, berani kalian main-main di depan Lui-kong-sian?!” bentak Suma Boan sambil menerjang maju.
Lui-kong-sian atau Dewa Geledek adalah julukannya.
Bok Liong maklum akan lihainya lawan, maka cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis. Dua lengan
yang sama kuatnya bertemu dan akibatnya, keduanya terpental melayang dan tentu akan roboh terguling
di atas genteng kalau tidak cepat-cepat mereka meloncat turun.
Lin Lin yang tahu bahaya juga mendahului meloncat turun sambil mencabut pedangnya. Baru saja kakinya
menginjak tanah, tiga orang pengemis itu sudah menerjangnya dengan tongkat, gerakan mereka cepat dan
kuat. Namun Lin Lin sudah memutar pedangnya, tampak sinar kuning bergulung-gulung dari pedang itu
menyambut datangnya tiga bayangan tongkat.
Ada pun Suma Boan ketika tertangkis oleh lengan Bok Liong, terkejut bukan main dan ia menjadi
penasaran. “Siapakah kau? Apa perlunya kau malam-malam datang seperti pencuri?” bentaknya ketika ia
sudah berhadapan dengan lawannya di atas tanah. Sayang, keadaan agak gelap sehingga ia tidak dapat
mengenal siapa pemuda yang lihai di depannya ini.
“Suma-kongcu, suruh orang-orangmu mundur, dan kami akan segera pergi, tidak akan mengganggumu
lagi,” kata Bok Liong sambil memandang ke arah pertempuran. Akan tetapi ia tidak khawatir akan
keselamatan Lin Lin karena tiga orang pengemis itu telah terdesak hebat oleh sinar pedang kuning yang
bergulung-gulung dahsyat.
“Enak saja bicara, berani kau datang untuk memerintahku? Ke neraka kau!” Suma Boan cepat menerjang
dengan pukulan-pukulan maut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keistimewaan pemuda bangsawan ini adalah ilmu pukulan tangan kosong. Tenaganya kuat dan ia memiliki
banyak tipu muslihat, juga memiliki beberapa pukulan yang mengandung tenaga beracun. Namun kali ini ia
menghadapi lawan yang tangguh, murid seorang sakti pula, maka semua pukulannya dapat dihalau oleh
Bok Liong. Karena dia seorang pendekar yang gagah dan memang suka mengadu ilmu, apa lagi sudah
lama mendengar akan nama besar Lui-kong-sian Suma Boan, Bok Liong juga tidak mau mencabut
pedangnya dan melayani lawannya dengan tangan kosong pula. Keduanya sama kuat, sama cepat dan
masing-masing mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi.
Keadaan Lin Lin dan para pengeroyoknya tidak seramai dua orang jago muda ini. Dalam sekejap mata
saja, pedangnya telah merobohkan dua orang pengeroyok dan pengemis yang ketiga lari ketakutan
menjauhkan diri! Diam-diam Lin Lin menjadi girang dan juga bangga. Ia pernah dikeroyok orang-orang
seperti ini ketika bersama Bu Sin dan Sian Eng dahulu, dan mereka bertiga amat repot menghadapi
pengeroyokan banyak pengemis. Akan tetapi sekarang, biar pun yang mengeroyoknya hanya bertiga,
namun dengan pedang curian itu dan dengan ilmu warisan Kim-lun Seng-jin, terasa betapa lemahnya tiga
orang pengeroyoknya dan betapa mudah ia merobohkan mereka! Lin Lin menoleh dan melihat Bok Liong
masih bertanding hebat dengan pemuda jangkung yang sombong itu.
“Liong-twako, jangan takut, pedangku akan mencabut nyawanya!” seru Lin Lin dan cepat ia menerjang.
Sinar kuning berkelebat dan Suma Boan mengeluh sambil membuang diri ke kiri lalu berjungkir balik. Pucat
wajahnya karena hampir saja ia menjadi korban sinar pedang yang mengandung hawa dingin seperti es. Ia
tadi terlalu memandang rendah. Kiranya selain pemuda lawannya itu hebat, juga gadis itu amat lihai dan
ganas ilmu pedangnya.
Lin Lin hendak menerjang lagi, akan tetapi tangannya disambar Bok Liong, lalu ditarik dan pemuda itu
berkata, “Moi-moi, mari kita pergi, jangan bikin kacau rumah orang!”
Lin Lin baru teringat bahwa sebetulnya bukan menjadi kehendak mereka bertempur dengan orang-orang
itu. Tadi ia terpaksa merobohkan lawan karena ia dikeroyok. Sekarang, apa perlunya bertanding terus? Ia
tidak bermusuhan dengan pemuda bangsawan itu. Malah pemuda itu telah berjasa dalam menyebutnyebut
Suling Emas tadi. Ia tahu sekarang ke mana harus mencari Suling Emas, musuh besarnya. Ke kota
raja. Di dalam gedung perpustakaan istana! Hatinya girang mengingat akan hal ini dan ia cepat meloncat
pergi bersama Bok Liong, menghilang ke dalam gelap.
Suma Boan tidak mengejar. Pemuda bangsawan ini cukup cerdik dan hati-hati. Dua orang itu lihai, dan
belum ia kenal siapa mereka. Tiga orangnya telah roboh, mengapa ia harus mengejar tanpa bantuan yang
kuat?
Setelah berlari jauh meninggaikan kota Pao-teng, Bok Liong dan Lin Lin berhenti untuk mengatur napas.
“Wah, untung kebetulan It-gan Kai-ong tidak berada di sana bersama Suma-kongcu. Kalau ada, bisa
berbahaya tadi. Sama sekali tidak kuduga bahwa gedung merah itu milik Suma Boan,” kata Bok Liong.
“Aku tidak takut! Biar ada jembel tua bangka setengah buta itu aku tidak takut dan akan melawannya matimatian!”
seru Lin Lin dengan suara gagah.
“Kau memang hebat, Lin-moi. Memang tenaga kita digabung menjadi satu, belum tentu si tua dapat
berbuat sekehendak hatinya. Tapi Suma Boan itu pun tak boleh dipandang ringan. Dia lihai....” Bok Liong
menggeleng-geleng kepala.
Ia maklum bahwa kata-katanya ini hanya untuk mencegah agar Lin Lin tidak menjadi marah. Padahal ia
tahu benar bahwa mereka berdua bukanlah lawan It-gan Kai-ong. Melawan Suma Boan saja
kepandaiannya baru seimbang. Pemuda bangsawan itu harus ia akui amat hebat ilmu pukulannya. Tadi
pun ia sudah kewalahan dan hampir mencabut pedangnya kalau saja Lin Lin tak segera maju
membantunya.
“Liong-ko, sekarang kita harus kembali ke kota raja. Suling Emas berada di sana, di dalam gedung
perpustakaan istana. Wah, kali ini dia tidak akan dapat terlepas dari tanganku!”
Bok Liong mengangguk-angguk. “Memang kurasa kali ini kita akan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi
sebelumnya, kuminta kepadamu, Lin-moi. Jangan kau terburu nafsu dan lancang menyerangnya kalau kita
bertemu dengannya. Aku yang akan bicara dengannya, dan aku dapat mengajukan pertanyaan yang akan
memaksanya mengaku apakah dia membunuh orang tua angkatmu ataukah tidak. Tak boleh sembrono
dunia-kangouw.blogspot.com
dan lancang terhadap seorang seperti dia.”
“Aku tidak takut!”
“Memang kau tidak takut, Moi-moi, akan tetapi bagaimana kalau penyeranganmu itu salah alamat?
Bagaimana kalau ternyata dia itu tidak berdosa? Bukankah kau menyerang orang yang tidak bersalah
kepadamu dan kalau terjadi demikian maka berarti kaulah yang bersalah kepadanya.”
“Baiklah, baiklah. Aku akan menutup mulut dan mau menyerahkan urusan kepadamu. Asal aku segera
bertemu dengannya dan mendapat kepastian, baru aku puas, Twako.”
Bok Liong tersenyum. Ia khawatir kalau-kalau sahabat barunya ini marah dan mengambul. “Marilah, Moimoi.
Kau suka melakukan perjalanan malam begini?”
“Biar malam tapi udara terang, lihat bulan tersenyum di atas tuh!”
Akan tetapi Bok Liong tidak memandang bulan, melainkan memandang wajah yang tengadah, wajah yang
baginya lebih indah dari pada bulan sendiri!
“Kau tidak lelah dan ngantuk nanti?”
Lin Lin menggeleng kepala. Maka berangkatlah dua orang muda itu, berjalan kaki di bawah sinar bulan,
berendeng mereka berjalan. Bagi Lin Lin, hal ini adalah biasa saja dan tidak mendatangkan perasaan apaapa.
Ia merasa seperti berjalan di samping Bu Sin. Terhadap Bok Liong ia mempunyai perasaan
persaudaraan yang tebal dan menganggap pemuda ini seperti kakaknya sendiri.
Tentu saja tidak demikian apa yang berkecamuk di dalam rongga dada Bok Liong. Suasana romantis ini
mendorong-dorong hasratnya, menekan-nekan hatinya dan membakar darahnya, membuat ia ingin sekali
menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin menyatakan cinta kasihnya yang berkobar-kobar
menghanguskan jiwanya. Ingin ia memegang jari-jari tangan yang kecil halus itu. Ingin ia mendekap kepala
dengan wajah cantik dan rambut hitam halus harum itu ke dadanya, ingin membisikkan sumpah cinta, ingin
ia... ingin....
“Plakkk!”
“Eh, ada apa, Twako?” Lin Lin berhenti dan menoleh ke samping, memandang heran kepada pemuda yang
baru saja menempeleng kepalanya sendiri itu.
Bok Liong sadar, kaget dan gugup. “Oh... eh... tidak ada apa-apa, ada nyamuk tadi menggigit pelipisku,”
jawabnya. Untung bayang-bayang pohon menyembunyikan sinar bulan dari mukanya yang menjadi merah
sekali.
“Kau bikin kaget orang saja. Masa menepuk nyamuk di pelipis sendiri begitu kerasnya?” Lin Lin mengomel
karena tadi ia dikagetkan dari lamunannya.
Sambil berjalan ia pun melamun, teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin akan keadaan dirinya. Betulkah ia
seorang Puteri Khitan? Ia seorang puteri, keturunan langsung dari Raja Khitan? Inilah yang ia lamunkan
dan ia seperti melihat dirinya dengan pakaian puteri yang indah sekali, berada di dalam gedung istana
seperti yang pernah ia lihat bersama Kim-lun Seng-jin, disembah-sembah ribuan orang! Apa lagi kalau ia
yang menjadi ratu dari bangsa Khitan, ia akan... akan apakah dia? Inilah yang baru ia pikir-pikir dan
rencanakan dalam alam lamunannya ketika tiba-tiba Bok Liong menempeleng kepala sendiri dan
mengagetkannya serta menariknya turun dari angkasa ke alam sadar.
“Sayang tidak ada kuda. Kalau kudaku masih ada, kau dapat naik kuda dan tidak terlalu lelah, Lin-moi.”
“Kenapa kau jual kudamu kalau begitu?”
Bok Liong menghela napas. “Perlu dijual... perlu sekali... saku sudah kosong, apa daya?”
Lin Lin menggerakkan tangan, sejenak menyentuh lengan pemuda itu. “Aku tahu. Kau terpaksa menjualnya
untuk membelikan sarung pedangku ini dan untuk makan dan sewa kamar, untuk biaya-biaya perjalanan,
bukan? Liong-ko, kau orang baik.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hati Bok Liong berdenyut-denyut girang, akan tetapi ia pura-pura mendengus. “Ah, yang begitu saja, mana
patut diomongkan? Pula, dua orang melakukan perjalanan hanya dengan seekor kuda, canggung sekali.
Kita berdua sudah sejak kecil berlatih ilmu lari cepat, untuk apa? Kalau kita mau, kita tidak akan kalah oleh
larinya seekor kuda.” Mereka tertawa dan melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap.
********************
Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Lie Bok Liong yang melakukan perjalanan malam menuju ke kota raja
karena Lin Lin sudah tidak sabar lagi menanti untuk segera dapat bertemu dengan orang yang dianggap
musuh besarnya, yaitu Suling Emas. Mari sekarang kita menengok keadaan Sian Eng, gadis yang
mengalami hal yang amat menyeramkan hatinya itu.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Eng tadinya berhasil melarikan diri dari tempat rahasia di
bawah kuburan yang menjadi tempat tinggai Hek-giam-lo, yaitu pada saat Hek-giam-lo bertempur melawan
Siang-mou Sin-ni yang datang menyerbu untuk minta dikembalikannya surat rahasia. Akan tetapi malang
baginya. Di dalam sebuah hutan, selagi ia merasa lega dan mengira telah terlepas dari pada cengkeraman
iblis itu, tiba-tiba si iblis itu sendiri muncul di depannya. Hek-giam-lo telah berada di situ, seakan-akan telah
lebih dulu datang dan sengaja menanti kedatangannya.
Ia berusaha menyerang, namun apa dayanya terhadap Hek-giam-lo yang sakti? Di lain detik ia sudah
pingsan dan dipondong Hek-giam-lo, kemudian dibawa lari secepat terbang! Kali ini si kedok iblis itu
berlaku amat teliti, tak pernah memberi kesempatan sedikit pun juga kepadanya untuk dapat melepaskan
diri dari pengawasannya. Hek-giam-lo bersikap amat menghormat kepadanya, menyebutnya tuan puteri,
akan tetapi di samping sikap menghormat ini terbayang sifat memaksa yang tak dapat dibantah lagi.
Memaksa agar Sian Eng ikut dengannya dan mentaati segala permintaannya.
Akhirnya gadis ini maklum bahwa tak mungkin ia mampu membebaskan diri lagi, maka ia juga tidak lagi
mencoba. Selama iblis ini tidak mengganggunya dan memperlakukannya dengan sikap menghormat dan
baik-baik, ia pun menurut saja dan hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan ke mana ia akan
dibawa.
“Hek-giam-lo, sudah berkali-kali kunyatakan bahwa aku bukanlah puteri raja seperti yang kau sebut-sebut.
Aku she Kam, namaku Sian Eng. Kau salah lihat, karena itu harap jangan ganggu aku, biarkanlah aku
pergi.” Berkali-kali gadis itu mencoba dengan bujukannya ketika mereka berjalan melalui sebuah bukit yang
sunyi.
Hek-giam-lo memang pendiam dan ia tak banyak bicara selama dalam perjalanan, sungguh pun ia amat
memperhatikan keperluan Sian Eng dan tak pernah terlambat untuk mencarikan makanan dengan
pelayanan penuh hormat. Permintaan berkali-kali dari Sian Eng hanya dijawabnya singkat, “Paduka puteri
raja kami memang sejak kecil diambil anak oleh Jenderal Kam.” Hanya demikian jawabnya dan selanjutnya
ia tidak mau bicara lagi.
Melalui perjalanan yang amat cepat, kadang-kadang Hek-giam-lo memondong dan membawanya lari
seperti terbang setelah minta maaf lebih dulu, mereka menuju ke arah timur laut dan pada suatu hari
tibalah mereka di daerah yang jauh dari kota, daerah penuh hutan yang amat liar. Kemudian, di tengahtengah
daerah ini, tibalah mereka di sebuah rumah perkampungan dengan rumah-rumah yang kelihatan
baru. Inilah perkampungan baru yang dijadikan pusat suku bangsa Khitan, terletak dalam sebuah hutan liar
dikelilingi hutan-hutan kecil di antara gunung-gunung di perbatasan Mancuria!
Dapat dibayangkan betapa heran dan berdebar hati Sian Eng ketika Hek-giam-lo berteriak-teriak dalam
bahasa yang ia tidak mengerti, lebih heran lagi ketika melihat para penyambut menjatuhkan diri berlutut di
sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Tengoklah, Tuan Puteri, rakyat kita memberi hormat kepada Paduka,” kata Hek-giam-lo, nada suaranya
gembira.
Sian Eng melihat orang-orang kasar yang bertubuh tegap dan kuat, wanita-wanita cantik tapi sederhana,
juga terdapat sifat-sifat gagah pada para wanita yang berlutut di pinggir jalan itu.
“Kita sekarang ke mana, Hek-giam-lo?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mari menghadap Sri Baginda, Paman Paduka.”
“Pamanku?” Sian Eng tidak mendapat jawaban, terpaksa ia berjalan mengikuti Hek-giam-lo yang menuju
ke sebuah rumah besar di tengah-tengah perkampungan itu.
Di depan rumah besar ini terdapat banyak penjaga, laki-laki berpakaian perang yang kelihatan gagah dan
kuat, dengan tombak di tangan dan golok besar di pinggang. Mereka berbaris rapi dan memberi hormat
dengan tegak ketika Hek-giam-lo dan Sian Eng lewat. Juga di dalam rumah, di sepanjang lorong, berbaris
pasukan pengawal. Kiranya dalam rumah besar itu yang dari luar kelihatan sederhana, sebelah dalamnya
amat mewah. Bendera-bendera kecil berkibar di mana-mana, bermacam-macam warnanya. Ketika mereka
sampai di ruangan sebelah dalam, pasukan pengawal berganti, kini pasukan wanita yang cantik-cantik dan
gagah serta bersinar mata tajam! Namun baik pasukan laki-laki mau pun wanita, semua kelihatannya amat
takut dan menghormat Hek-giam-lo.
Melalui pelaporan seorang penjaga yang seperti raksasa wanita, besar dan bengis, mereka diperkenankan
memasuki ruangan besar di mana telah menanti seorang laki-laki tampan berpakaian indah, duduk di atas
sebuah kursi atau singgasana terbuat dari pada gading. Laki-laki ini usianya kurang lebih empat puluh
tahun, berwajah tampan bermata tajam.
Hek-giam-lo yang menuntun Sian Eng masuk, berkata singkat, “Tuan Puteri, harap memberi hormat
kepada Sri Baginda, Paman Paduka.” Ia sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar suaranya
nyaring.
“Hamba datang menghadap. Dengan berkah Sri Baginda hamba berhasil mendapatkan Tuan Puteri yang
sekarang ikut menghadap Sri Baginda.”
Laki-laki itu ternyata adalah Raja suku bangsa Khitan yang bernama Kubukan. Ia memandang wajah Sian
Eng penuh perhatian. Sian Eng yang tidak sudi berlutut mengira bahwa raja yang tampan ini tentu akan
marah karena ia tidak mau memberi hormat, akan tetapi kiranya tidak demikian. Raja itu memandang
dengan sinar mata kurang ajar, kemudian tertawa bergelak dan berkata kepadanya dalam bahasa Han
yang cukup lancar.
“Nona, marilah mendekat, biarkan aku memeriksa cermat apakah kau benar keponakanku ataukah palsu.”
Sian Eng melangkah maju sampai berada dekat dengan raja itu sambil berkata, “Hek-giam-lo tahu bahwa
aku bukan keponakanmu. Sudah kuberitahukan berkali-kali tapi ia nekat saja membawaku ke sini. Siapa
pun adanya kau, harap kau suka berlaku murah dan bebaskan aku.”
Raja itu memandang lagi penuh perhatian, kemudian tertawa sekali lagi. Dari mulutnya berhamburan bau
arak yang keras. “Ha-ha-ha, semua orang mengaku keponakanku, ha-ha. Alangkah inginku dapat memeluk
keponakanku, dapat meraba lehernya yang halus. Untung kau bukan keponakanku, Nona, kau cukup
cantik jelita. Ha-ha, untung...!” Sian Eng terkejut sekali dan ia sudah merasa ngeri ketika kedua tangan raja
yang berbulu lengannya itu bergerak hendak merabanya.
Akan tetapi pada saat itu Hek-giam-lo berkata dalam bahasa Khitan yang tak dimengerti Siang Eng, “Sri
Baginda, kali ini tidak bisa salah lagi. Dia itu adalah anak Jenderal Kam. Sayang Jenderal Kam sendiri
sudah mampus ketika hamba sampai di sana. Hamba mendengar bahwa anak-anaknya pergi ke kota raja,
maka hamba menyelidiki dan berhasil menangkap anak perempuannya ini. Tak salah lagi, dia adalah puteri
mendiang Tuan Puteri Tayami.”
“Hek-giam-lo, apa yang menyebabkan kau yakin benar bahwa dia ini betul-betul keponakanku? Sudah ada
dua orang gadis yang dibawa datang dan perwira-perwira yang membawanya bersumpah bahwa mereka
adalah keponakanku. Tapi ternyata bukan. Kau boleh lihat mereka. Biar pun mereka berdua itu jauh lebih
cocok menjadi keponakan yang kucari-cari dari pada gadis ini, toh mereka itu bukan keponakanku!”
Raja memberi tanda dengan tepukan tangan dan tak lama kemudian dua orang gadis digiring masuk. Dua
orang gadis yang cantik jelita akan tetapi wajah mereka pucat dan di kedua pipi yang halus tampak bekas
air mata. Mereka ini berdiri di depan raja dan menundukkan muka.
“Ha-ha-ha, mereka ini keponakanku? Akan tetapi biar pun bukan, kedatangan mereka sedikit banyak
menyenangkan hatiku, biar pun hanya untuk beberapa malam. Hek-giam-lo, gadis yang kau bawa ini
bukanlah puteri Kakak Tayami.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi Sri Baginda....”
“Kau mau bukti? Dengar, ketika masih bayi, pernah kulihat keponakanku itu. Pada punggungnya terdapat
sebuah tanda merah. Coba kita periksa bersama!” Ia memberi isyarat dan tiba-tiba Hek-giam-lo
menggerakkan tangannya. Tahu-tahu ia telah memegang senjatanya yang hebat, yaitu sabit bengkok yang
amat tajam itu.
Sinar berkilauan menyambar-nyambar, Sian Eng menjerit ngeri karena merasa betapa tubuhnya dikurung
sinar berkilauan. Kemudian, hampir ia roboh pingsan ketika mendapat kenyataan bahwa pakaiannya telah
terbang ke kanan kiri disambar sinar itu dan beberapa detik kemudian ia telah menjadi telanjang bulat!
Dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya Sian Eng. Ingin ia berlaku nekat dan menerjang mengadu
nyawa, akan tetapi rasa malu karena keadaannya yang telanjang itu membuat ia kehilangan tenaga, malah
ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan setengah bertiarap di atas lantai untuk menyembunyikan tubuhnya.
Tentu saja dengan berbuat demikian, punggungnya tampak jelas dan raja bersama Hek-giam-lo melihat
jelas kulit punggung yang putih bersih tiada cacad sedikit pun!
“Ha-ha-ha-ha, kau lihat, Hek-giam-lo? Dia bukan keponakanku, sayang seribu kali sayang. Tapi lumayan
juga, dia cantik manis!”
“Ampun, Sri Baginda. Hamba telah berlaku ceroboh.” terdengar Hek-giam-lo berkata, suaranya gemetar
penuh sesal.
“Tidak apa, kau carilah lagi. Gadis ini pasti akan menyenangkan hatiku. Eh, Nona, kau berdirilah.”
Sian Eng terkejut sekali ketika merasa betapa pundaknya diraba orang yang hendak menariknya berdiri. Ia
mengangkat muka memandang dan kiranya raja itulah yang sudah turun dari singgasana untuk
membangunkannya, matanya bersinar-sinar penuh nafsu. Saking ngeri, malu, dan marahnya, Sian Eng
tidak ingat apa-apa lagi. Bagaikan seekor harimau betina, ia melompat dan menerkam ke depan, memukul
dengan kedua tangannya ke arah dada dan perut raja itu!
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terpental ke samping, roboh menumbuk dinding. Raja itu sendiri pucat
mukanya dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah. Hampir saja ia celaka kalau tidak ada Hek-giamlo
yang cepat menolongnya tadi. Marahnya bukan main. Lenyap keinginannya untuk mempermainkan Sian
Eng, terganti rasa benci yang meluap-luap.
“Hek-giam-lo, kuserahkan dia kepadamu. Hukum dia, juga dua orang puteri palsu ini. Muak aku kepada
mereka. Kubur mereka hidup-hidup, jadikan tontonan, biar rakyatku melihat dan berkesempatan menghina
mereka yang menyebalkan hati rajanya!” Setelah berkata demikian, raja itu mendengus marah, lalu pergi
memasuki kamarnya, diiringi oleh dayang-dayang cantik jelita dan muda-muda.
Sian Eng sudah bangun kembali dan cepat menyambar pakaiannya yang robek menjadi beberapa potong.
Sedapat-dapat ia membungkus tubuhnya dengan pakaian itu dan untung bahwa pakaiannya terbuat dari
pada kain yang lebar dan panjang sehingga biar pun robek-robek namun masih cukup untuk menutupi
tubuhnya yang telanjang.
Akan tetapi Hek-giam-lo tak memberi kesempatan lagi kepadanya. Dengan pekik mengerikan, iblis ini
bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap Sian Eng dan dua orang gadis pucat itu, membawa mereka
bertiga seperti orang membawa tiga ekor ayam saja, kemudian melangkah lebar ke luar dari gedung itu.
Malam itu terang bulan, namun di luar perkampungan itu, di pinggir hutan, keadaan amat menyeramkan.
Apa lagi kalau orang melihat ke arah kiri, di mana terdapat tempat terbuka dan sinar bulan menyorot
langsung tidak terhalang ke atas tanah. Orang itu pasti akan bergidik melihat apa yang tampak di sana.
Tiga buah kepala orang berada di atas tanah. Kepala tiga orang wanita yang masih hidup! Yang dua buah
adalah kepala dua orang wanita cantik bermuka pucat dan terdengar mereka ini menangis terisak-isak
dengan air mata bercucuran. Akan tetapi, kepala yang berada di kiri, kepala Sian Eng, biar pun tampak
agak pucat juga, namun sama sekali tidak menangis, malah sepasang matanya bersinar-sinar penuh
kemarahan.
Memang hebat dan mengerikan sepak terjang Hek-giam-lo, si manusia iblis yang mentaati perintah rajanya
dunia-kangouw.blogspot.com
itu. Ia menggali tiga buah lubang-lubang yang sempit dan dalam macam sumur kecil, memasukkan tiga
orang gadis tawanan itu ke dalam sumur dan mengubur mereka sebatas leher. Seluruh tubuh tiga orang
gadis ini tidak tampak, hanya kepala mereka sebatas leher yang keluar dari tanah. Kemudian iblis ini
memasang benderanya di atas pohon dekat tempat itu. Dengan adanya tanda ini, tidak ada seorang pun
manusia di perkampungan itu berani mencoba menolong gadis-gadis bernasib malang ini. Siapakah berani
melawan Tengkorak Hitam yang menjadi tangan kanan raja?
Setelah Hek-giam-lo pergi, Sian Eng berpikir. Ia mengenang kata-kata Raja Khitan terhadapnya dan
teringatlah ia akan Lin Lin. Adiknya itu bukanlah anak kandung ayah bundanya, melainkan anak angkat.
Ayahnya tidak pernah bicara tentang orang tua Lin Lin, akan tetapi adik angkatnya itu wataknya aneh
sekali. Ketika ia tadi melihat pengawal-pengawal dan dayang-dayang wanita di dalam gedung Raja Khitan,
alangkah besar persamaan Lin Lin dengan para wanita itu. Terutama sekali bulu mata dan hidungnya.
Jantungnya berdebar. Jangan-jangan Hek-giam-lo salah ambil, mengira dia adalah Lin Lin. Dan besar
kemungkinan Hek-giam-lo menduga bahwa Lin Lin adalah keponakan raja. Betulkah ini?
Tangis kedua orang gadis di sebelah depan dan belakangnya mengganggunya dari lamunan. Ia menengok
dan perasaan kasihan memenuhi hatinya melihat dua buah kepala yang tidak berdaya dan sedang
menangis terisak-isak itu, sama sekali lupa bahwa keadaannya sendiri pun tiada bedanya dengan mereka
berdua. Ia tahu bahwa dia dan mereka akan menghadapi kematian yang mengerikan dan penuh sengsara.
Dipendam sebatas leher dan dibiarkan sampai mati. Mungkin besok hari menerima penghinaan dari para
penyiksanya sebelum mati kelaparan.
Tiba-tiba terdengar suara mengaum dari jauh. Dua orang gadis itu makin keras menangis dan Sian Eng
sendiri bergidik. Tak salah lagi, itulah suara harimau yang mengaum dari dalam hutan. Bagaimana kalau
raja hutan itu datang dan menyerang mereka? Dengan hanya kepalanya di atas tanah, Sian Eng dapat
membayangkan betapa harimau itu akan makan kepala mereka seenaknya tanpa mereka dapat membalas
atau pun melarikan diri. Siapa di antara mereka bertiga yang lebih dulu akan digerogoti harimau?
“Hu-hu-huk, Ayah... Ibu... tolong...!” Gadis yang berada di sebelah belakang Sian Eng menjerit-jerit.
“Aku... aku... takut... ya Tuhan cabutlah nyawaku...!” Gadis cantik di sebelah depan Sian Eng mengeluh
dan menangis.
Sian Eng mengerutkan keningnya, penuh iba hati. Ia tak menyalahkan dua orang gadis itu. Tentu saja
mereka ketakutan. Mereka adalah gadis-gadis biasa yang lemah. Oh, alangkah sengsaranya mati dalam
keadaan ketakutan seperti itu.
“Enci berdua, tenangkanlah hati kalian. Manusia hidup memang hanya untuk menghadapi kematian yang
sewaktu-waktu pasti akan tiba, cepat atau pun lambat. Mengapa takut? Mati adalah biasa, semua manusia
akan mati, hanya waktu saja soalnya.”
Dua orang gadis itu menengok kepadanya, terheran-heran melihat Sian Eng sama sekali tidak menangis
dan sama sekali tidak nampak takut.
“Aku... aku tidak takut mati... aku... aku lebih baik mati. Yang kutakuti adalah kengerian ini dan... dan
penghinaan... ah, lebih baik aku mati, tapi jangan... jangan mati dimakan harimau...,” kata gadis di
depannya terisak-isak.
“Sebelum hayat meninggalkan badan, tak boleh berputus asa,” kata pula Sian Eng. “Enci berdua harap
tenang saja, kalau belum waktunya kita mati, percayalah, kita takkan mati. Kalau sudah tiba waktunya mati,
ah, jangankan sudah setua kita, kanak-kanak pun bisa saja mati.”
Hiburan dan kata-kata Sian Eng yang keluar dengan suara penuh ketabahan itu ternyata ada hasilnya juga.
Dua orang gadis itu berhenti menangis dan anehnya, auman binatang buas dari dalam hutan tidak
terdengar lagi. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sian Eng untuk mengajak dua orang teman ‘senasib
sependeritaan’ itu untuk bercakap-cakap.
Dari mereka dia memperoleh keterangan bahwa seperti juga dia, dua orang itu diculik oleh tokoh-tokoh
Khitan karena disangka sang puteri! Akan tetapi begitu tiba di depan raja, mereka ditelanjangi dan
diperiksa punggung mereka, karena katanya puteri itu mempunyai tanda merah di punggungnya. Tentu
saja, seperti juga Sian Eng, mereka tidak memiliki tanda seperti itu karena memang mereka bukanlah
puteri Khitan. Kemudian dengan air mata bercucuran dua orang gadis itu bercerita betapa selama tiga hari
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka menjadi permainan raja yang kejam.
Sian Eng menjadi panas hatinya. Jiwa pendekar dalam hatinya bergolak. Kalau saja ia mendapat
kesempatan, tentu akan dibunuhnya Raja Khitan itu. Ia tidak dapat bicara banyak menghadapi penderitaan
dua orang gadis itu. Akan tetapi setidaknya percakapan mereka itu juga merupakan hiburan yang lumayan
untuk melewatkan malam yang mengerikan ini. Tentu saja semalam suntuk mereka tak mampu tidur
semenit pun juga dan menjelang pagi, karena teringat bahwa para penyiksa itu tentu akan menghabisi
nyawa mereka dengan siksaan-siksaan keji, dua orang gadis itu mulai menangis lagi. Sian Eng tidak
mampu lagi menghibur mereka. Gadis ini mengambil keputusan bahwa kalau ia diberi kesempatan satu
kali saja terbebas dari kuburan itu, ia akan mengamuk sampai mati!
Terdengar derap kaki kuda dari jauh, makin lama makin dekat. Dua orang wanita itu menoleh ke arah Sian
Eng dan air mata mereka bercucuran.
“Adik Sian Eng, selamat berpisah...,” kata gadis di depan Sian Eng.
“Mudah-mudahan kematian segera datang menjemputku...,” kata gadis di belakang Sian Eng, menyambut
ucapan gadis di depan.
Sian Eng terharu, akan tetapi ia malah memaksa diri tersenyum, “Enci, kalau seorang di antara kita mati,
tentu yang dua akan mati pula. Bagaimana bisa bilang selamat berpisah? Kita takkan pernah berpisah
kurasa, mati pun akan bersama-sama. Bukankah itu menyenangkan sekali? Kita akan selalu ada teman,
biar di alam sana pun.”
Derap kaki kuda sudah dekat sekali, datang dari arah belakang mereka. Tiga orang gadis itu dapat
menoleh ke kiri kanan, akan tetapi tentu saja tidak mungkin menengok ke belakang, karena tubuh mereka
yang terpendam tanah itu sama sekali tidak dapat digerakkan. Oleh karena itu, biar pun hati mereka ingin
sekali, namun mereka tidak dapat memandang dan tidak tahu siapa gerangan penunggang kuda yang
datang ini.
Tak lama kemudian seekor kuda yang besar dan kuat berlari congklang dan berhenti dekat mereka.
Seorang laki-laki berpakaian serba hitam melompat turun. Dua orang gadis itu hanya mengerling sebentar
dan segera menutup mata dan menangis lagi. Pakaian orang ini sama dengan Si Iblis Hitam, mengerikan.
Akan tetapi Sian Eng menoleh ke kiri dan memandang dengan mata tajam dan kening berkerut. Darahnya
berdenyut-denyut, jantungnya berdebar, membuat ia merasa dadanya sesak sekali. Si Jubah Hitam itu
sama sekali bukan Hek-giam-lo, melainkan seorang laki-laki muda yang berwajah gagah sekali, tampan
dan memiliki sepasang mata yang sayu di bawah lindungan sepasang alis yang tebal, hitam dan berbentuk
panjang gompyok. Seorang laki-laki yang tampan dan tinggi besar.
Yang membuat Sian Eng berdebar tidak karuan hatinya adalah jubah hitam itu, mengingatkan ia akan lakilaki
yang pernah ia lihat punggungnya yang berjubah hitam dan topinya, topi pelajar yang mempunyai ekor
dua buah, yaitu tali hitam yang melambai ke bawah. Dan gambar pada baju di dada itu. Suling Emas!
Celaka, pikirnya. Kiranya musuh besar ayah bundanya yang datang ini? Orang yang sudah membunuh
ayah bundanya, sudah tentu mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya.
Dan orang itu semenjak melompat turun dari kudanya, terus memandangnya dengan sinar mata yang
tajam penuh selidik! Akan tetapi laki-laki itu segera melompat dekat, tangannya mencabut sebuah benda
panjang kuning mengkilap. Sebuah suling! Tak salah lagi, dialah Suling Emas, karena yang dipegangnya
itu apa lagi kalau bukan suling terbuat dari pada emas?
Dengan gerakan cepat ia mendekati Sian Eng, sinar kuning berkelebat dan sebentar saja tanah di
sekeliling Sian Eng terbongkar. Setelah Sian Eng dapat membebaskan kedua tangannya, ia menekan
tanah di pinggirnya dan meronta, terus meloncat ke atas, sama sekali tidak ingat bahwa pakaiannya tidak
karuan macamnya karena pakaian itu sudah robek-robek dan hanya ia pakai sekedar menutupi tubuhnya
saja. Begitu melompat dan berdiri, baru ia melihat keadaan dirinya, maka cepat-cepat ia menggerakkan
kedua lengan menutupi dada!
Pemuda itu menyumpah, “Keparat...!”
Cepat ia membuka jubahnya yang hitam lebar itu, melemparnya ke arah Sian Eng. Kain jubah itu tepat
sekali menimpa Sian Eng dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki! Kini Sian Eng berdiri terlongong,
dunia-kangouw.blogspot.com
memandang pemuda itu yang kini tampak lebih gagah dengan pakaian dalam yang ringkas berwarna putih.
Akan tetapi laki-laki itu tanpa menoleh lagi sudah mengerjakan sulingnya, membongkar dari menggali
tanah untuk membebaskan dua orang gadis itu. Kembali ia menyumpah karena kedua orang gadis itu
malah dimasukkan ke dalam sumur dalam keadaan hampir telanjang bulat.
“Benar-benar setan!” ia menyumpah dan dengan gemas ia merenggut kain bendera besar tanda Hek-giamlo,
merobeknya menjadi dua dan menyerahkannya kepada dua orang gadis itu yang merasa berterima
kasih sekali dan terus saja mengerobongkan robekan kain hitam itu ke atas tubuh mereka.
“Lekas, kalian naik ke atas kuda ini dan cepat pergi. Amat berbahaya di sini.” Ia menoleh kepada Sian Eng,
tersenyum sedikit dan berkata, “Nona, kau yang terkuat di antara kalian bertiga, kau di depan dan cepat
larikan kuda ini keluar wilayah Khitan.”
Semenjak tadi Sian Eng hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa. “Kau... kau... Suling Emas...?”
akhirnya dapat juga ia mengucapkan kata-kata.
Wajah tampan dan mata sayu itu menjadi agak muram, tapi ia mengangguk. “Bukan waktunya bercakapcakap,
lekas pergi lebih baik,” katanya.
Akan tetapi pada saat itu terdengar jerit ngeri dan dua orang gadis itu roboh terguling. Kain hitam yang
menyelubungi tubuh mereka terbuka dan... kulit tubuh yang putih bersih itu sekarang berubah menghitam,
mata mereka mendelik dan bibir yang tadinya merah segar kini menjadi kering membiru!
“Ah, gobloknya aku...!” Suling Emas menarik napas panjang.
“Ihhh, mereka kenapa?” Sian Eng berseru, cemas dan ngeri.
Suling Emas menunding ke arah robekan kain hitam tanda Hek-giam-lo. “Kain itu mengandung racun yang
jahat. Mereka sudah mati. Agaknya lebih baik begitu. Nah, mari kita pergi.”
Sian Eng tak sempat menjawab apa lagi membantah, karena tahu-tahu tangannya telah kena dipegang
dan disendal. Sentakan ini demikian kuat sehingga tak tertahankan olehnya dan tubuhnya melayang ke
atas punggung kuda! Pada detik berikutnya, kuda itu telah lari cepat sekali dan Suling Emas telah duduk di
belakang Sian Eng.
“Tapi... jenazah mereka itu...?” Sian Eng berseru sambil menoleh ke arah mayat dua orang gadis senasib
yang menggeletak di atas tanah dan ditinggalkan begitu saja.
“Mereka sudah mati, mau diapakan lagi?” jawab Suling Emas tak acuh dan ia mengeluarkan kata-kata
asing dari mulutnya kepada kuda itu yang meringkik keras lalu membalap seperti terbang cepatnya.
Tidak karuan rasa hati Sian Eng. Memang ia telah terlepas dari pada ancaman bahaya maut di tangan
orang-orang Khitan, maut yang amat mengerikan. Akan tetapi ia terlepas dari bahaya yang satu untuk jatuh
ke dalam tangan yang lain. Ia kini terjatuh ke dalam tangan Suling Emas! Apakah kehendak orang aneh
ini? Sikapnya mencurigakan, wataknya juga aneh. Ada kalanya tampak baik dan suka menolong, akan
tetapi di lain saat bisa berhati keras dan kejam. Jenazah dua orang gadis itu dibiarkan begitu saja!
Ingin ia dapat memandang muka Suling Emas, akan tetapi ia duduk di depan dan orang itu duduk di
belakang. Sedikitnya ia merasa lega bahwa Suling Emas agaknya bukan laki-laki yang ceriwis. Tidak ada
bukti-bukti yang membayangkan watak kotornya terhadap wanita. Sekarang pun biar mereka duduk berdua
di atas punggung kuda, namun Suling Emas duduknya agak jauh di belakang sehingga tidak
menyentuhnya. Kalau saja tidak tampak kedua tangan orang itu di kanan kirinya memegangi kendali kuda,
tentu ia mengira bahwa Suling Emas sudah tidak berada di belakangnya lagi.
Ketika ia diculik Hek-giam-lo dan dibawa ke utara, Sian Eng mengalami perjalanan yang amat aneh,
dengan Hek-giam-lo sebagai pelayan dan juga pengawasnya yang jarang mengeluarkan suara, dengan
maksud yang masih merupakan rahasia baginya. Sekarang dalam perjalanan kembalinya menuju ke
selatan bersama Suling Emas, Sian Eng mengalami perjalanan yang aneh pula. Seperti juga Hek-giam-lo,
tokoh ini jarang sekali membuka mulut. Biar pun wajah yang tampan itu kelihatan selalu sayu dan muram,
namun membayangkan sesuatu yang mengerikan bagi Sian Eng, tidak kalah seramnya oleh muka Hekgiam-
lo, muka iblis tengkorak itu. Bagaimana takkan ngeri dan seram kalau melihat orang ini diam saja, tak
pernah memandangnya, tak pernah bicara, pendeknya, tidak pernah apa-apa seperti patung hidup!
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam itu Suling Emas terpaksa menghentikan kudanya. Malam amat gelap sehingga tak mungkin
melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti di sebuah lereng bukit, di pinggir jalan. Kuda hitam belang putih
itu tidak diikat, dibiarkan terlepas begitu saja. Suling Emas lalu mengumpulkan ranting dan daun kering,
membuat api unggun di bawah pohon besar.
Kemudian ia mengambil roti kering dan tempat minum dari kantung yang tergantung di punggung kuda, lalu
duduk di dekat api unggun. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menoleh ke arah Sian Eng dan sinar matanya
saja yang mengajak gadis itu duduk mendekati api. Sian Eng mendekat, lalu duduk di atas rumput kering
dekat api unggun. Tanpa berkata sesuatu, Suling Emas memberi roti kering dan tempat minum.
Sian Eng menghela napas, akan tetapi menerima roti dan makan roti itu karena perutnya terasa amat
lapar. Sehari suntuk mereka menunggang kuda, tak pernah berhenti sebentar pun juga, tidak makan tidak
minum. Sudah lama Sian Eng tidak pernah menunggang kuda dan sekarang, sekali naik kuda sehari
penuh. Punggungnya terasa kaku dan seluruh badan sakit-sakit!
Mereka makan roti kering dan minum air tawar tanpa bicara. Sesudah makan, Sian Eng melihat betapa
Suling Emas hanya duduk termenung memandang api yang bernyala-nyala, duduk tak bergerak dan mata
itu bersinar-sinar, hilang kesayuannya. Wajah yang tampan dan aneh itu pun tidak muram lagi, malah agak
berseri. Keindahan api itukah yang mendatangkan semua ini? Ataukah karena di dalam nyala api ia melihat
atau teringat akan sesuatu? Diam-diam Sian Eng menatap wajah itu dari samping. Wajah yang tampan,
dengan guratan-guratan yang membayangkan penderitaan hidup, guratan kematangan jiwa. Tidak terlalu
muda lagi biar pun tak mungkin mengatakan bahwa dia itu sudah tua. Sukar menaksir usianya. Akhirnya
Sian Eng tak dapat menahan lagi kegelisahannya.
“Kau hendak membawaku ke mana?”
Suling Emas agaknya terkejut mendengar suara ini. Tadinya ia melamun dan seakan-akan telah lupa
bahwa di dekatnya terdapat seorang manusia lain. Suara Sian Eng seperti menyeretnya turun dari dunia
lamunan dan ia menoleh sambil gagap bertanya, “Apa...?”
Mendongkol juga hati Sian Eng. Orang ini terlalu memandang remeh kepadanya, pikirnya. Dengan ketus ia
bertanya. “Dengan maksud apa kau menolongku, dan ke mana kau hendak membawaku pergi?”
“Dengan maksud apa?” Agaknya pertanyaan ini membuat Suling Emas kembali melamun sebentar,
mengingat-ingat setelah mengulang pertanyaan itu, kemudian ia menjawab, “Tentu saja agar kau bebas
dari ancaman bahaya, dan tentu saja membawamu pergi dari daerah yang dikuasai orang-orang Khitan.”
Sian Eng tak dapat berkata apa-apa lagi. Memang alangkah bodohnya pertanyaannya tadi. Tentu saja
begitulah tujuan Suling Emas menolongnya, tanpa bertanya pun seharusnya ia mengerti. Akan tetapi
Suling Emas ini bukan orang biasa, melainkan musuh besarnya! Kembali berdebar jantungnya dan dia
memandang wajah yang sudah menoleh dan kembali menatap api unggun.
“Kurasa bukan itu maksudmu,” ia berkata dengan suara tegas dan ketus. “Suling Emas, kau telah
membunuh ayah bundaku! Sekarang kau pura-pura menolongku, tentu dengan maksud tertentu yang...
yang tidak baik!”
Suling Emas mengangguk-angguk, tetap memandang api, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri,
agaknya ia gembira sekali mendengar ini. “Hemmm... itukah sebabnya mengapa kalian bertiga mencaricari
Suling Emas? Pantas saja kalian menghujankan senjata rahasia kepadaku di hutan itu....”
Sian Eng terkejut. Jadi orang ini sudah tahu bahwa dia dan dua orang saudaranya mencari-carinya, malah
tahu pula akan penyerangan di dalam hutan itu! Benar-benar orang aneh dan lihai sekali. Akan tetapi ia
tidak takut.
“Memang betul. Biar pun kau berkepandaian tinggi, karena kau membunuh ayah bunda kami, kami hendak
menuntut balas. Malah sekarang juga aku menantangmu untuk bertempur. Kau harus menebus kematian
orang tuaku dengan nyawamu, atau aku yang akan mengorbankan nyawa dalam menuntut balas dendam!”
Sian Eng meloncat bangun dan memasang kuda-kuda, mengambil keputusan untuk mengadu nyawa
dengan musuh besarnya walau pun ia cukup maklum bahwa kepandaiannya sama sekali tidak ada artinya
kalau dibandingkan dengan tokoh aneh ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suling Emas tetap tidak menoleh, malah menggunakan sebatang ranting untuk mengorek api unggun
sehingga nyala api membesar, menerangi wajahnya yang tampan dan yang kini berkerut-kerut di bagian
jidatnya itu.
“Hemmm, kalian bodoh. Aku tidak membunuh orang tua kalian, tahu pun tidak aku siapa mereka dan siapa
kalian bertiga. Mana bisa aku membunuh orang yang tak kuketahui siapa dan di mana tempat tinggalnya?”
Sian Eng ragu-ragu dan bimbang. Ketegangan yang sudah memenuhi tubuhnya tadi mengendur, “Tapi...
tapi... sebelum meninggal, Ibu bilang... tentang pembunuh itu... menyebut-nyebut tentang suling....”
“Jangan bodoh. Duduklah dan ceritakan yang jelas. Kalau aku membunuh orang, siapa pun dia itu, aku
takkan menyangkal. Suling Emas tidak biasa menyangkal perbuatannya, tidak biasa bersikap pengecut,
berani berbuat harus berani bertanggung jawab.”
Biar pun Suling Emas tidak menengok dan masih memandang api, namun terasa oleh Sian Eng bahwa
ucapannya itu ke luar dari lubuk hati. Kemarahannya melunak dan ia lalu duduk lagi dekat api, melirik ke
arah orang itu dengan bingung.
“Kalau bukan engkau, siapa...?” pertanyaan ini keluar dari bibirnya tanpa ia sadari, seakan-akan suara
hatinya yang terdengar melalui bibirnya.
“Bukan aku!” jawab Suling Emas pasti. “Kalau kau mau, ceritakanlah tentang pembunuhan itu.”
Sian Eng percaya. Andai kata orang ini yang membunuh orang tuanya, kiranya tak perlu menyangkal
memang. Kepandaiannya tinggi dan dia sendiri akan dapat berbuat apakah terhadap Suling Emas? Dan
hatinya menjadi agak lega. Syukur kalau bukan Suling Emas. Pertama, karena kalau benar dia
pembunuhnya, tentu sukar sekali membalas dendam. Kedua, ia sudah ditolongnya terlepas dari pada
bahaya maut di tangan orang-orang Khitan. Ketiga, ia ingat sekarang, dan tahu bahwa dia bersama dua
orang saudaranya dahulu itu pun dibebaskan dari pada bahaya maut di tangan It-gan Kai-ong oleh Suling
Emas. Kalau Suling Emas pembunuh orang tua mereka dan sekaligus penolong mereka, bukankah hal itu
akan menimbulkan hal yang amat membingungkan?
“Ah, kalau begitu maafkan kami. Kami selalu mengira kaulah musuh besar kami. Ah, kalau begitu benar
dugaan Lin-moi....”
“Lin-moi? Siapa?”
“Adikku...”
“Ahhh, begitu? Kalau tidak keberatan, ceritakan tentang pembunuhan itu.”
Sian Eng berpikir sejenak. Apa salahnya menceritakan hal itu kepada Suling Emas yang sekarang bukan
lagi merupakan musuh, malah menjadi penolong? Siapa tahu dari tokoh ini ia akan dapat mengetahui siapa
gerangan pembunuh ayah bundanya.
“Kami adalah keluarga Kam, tinggal di dusun Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san. Ayah kami....”
“Jenderal Kam.”
Sian Eng terkejut dan kembali ia menjadi curiga. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Masih tetap merenung dan memandang api, Suling Emas menjawab tak acuh. “Banyak tokoh kukenal.
Jenderal Kam bukanlah orang yang tidak ternama. Teruskanlah.”
Sian Eng melanjutkan penuturannya, semenjak munculnya Giam Sui Lok sampai dengan terbunuhnya
Kam Si Ek suami isteri dan juga Giam Sui Lok dalam keadaan mengerikan. Ia menceritakan semuanya,
malah urusan kakaknya, Kam Bu Song yang harus mereka cari itu pun ia ceritakan kepada Suling Emas.
Panjang ceritanya, memakan waktu seperempat jam untuk menceritakan semua dengan jelas. Dan selama
itu, Suling Emas duduk menghadapi api tanpa bergerak. Tak pernah menoleh kepadanya, tak pernah pula
memotong ceritanya sehingga kadang-kadang Sian Eng meragu apakah ia didengar orang. Ia merasa
seperti bercerita kepada sebatang pohon atau kepada sebuah patung!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Begitulah, kami bertiga berangkat meninggalkan kampung halaman, pergi menuju ke kota raja untuk
mencari musuh besar kami dan juga kakak kami Kam Bu Song. Akan tetapi, belum tercapai maksud kami
dan belum selesai tugas kami, musuh belum terdapat, kakak belum bertemu, kami sudah cerai-berai
tertimpa malapetaka.”
Dengan ringkas Sian Eng menceritakan betapa adiknya, Lin Lin, lenyap di atas gedung keluarga
bangsawan Suma di An-sui. Kemudian betapa dia dan kakaknya, Bu Sin, yang mendatangi keluarga Suma
untuk bertanya tentang kakak mereka, diserang dan ditangkap oleh Suma Boan.
“Tak tahu aku bagaimana akan nasib Sin-ko.” Ia mengakhiri ceritanya dengan suara penuh kegelisahan.
“Tak perlu gelisah. Dia selamat.”
“Bagaimana kau tahu?” Sian Eng bertanya, nada suaranya gembira dan lega bukan main. Tadinya ia
mengira bahwa kakaknya itu mungkin sekali tewas dalam tangan putera pangeran yang jahat dan lihai itu.
“Ah, tentu kau telah menolongnya pula, bukan?”
Suling Emas menunduk, lalu berkata perlahan, “Menolong sih tidak, hanya aku melihat dia diikat, luka-luka
oleh anak panah Suma Boan. Tak dapat aku membiarkan dia mati begitu, kuambil dia dan sekarang dia
sudah bebas dari bahaya. Kalian bertiga sungguh tak tahu diri....”
Sian Eng mengerutkan kening. Kalau saja ia tidak ingat bahwa orang ini sudah menolongnya, juga sudah
menyelamatkan Bu Sin, tentu ia akan marah sekali. Kata-kata yang tidak hanya mencela, akan tetapi juga
sifatnya memandang rendah, bahkan menghina.
“Kau sudah menolong kami, patut aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, mengapa kau melakukan
semua ini? Mengapa kau menolong kami? Apa pula maksud kata-katamu tadi bahwa kami adalah tiga
orang yang tak tahu diri?”
Suling Emas bangkit berdiri untuk mengumpulkan ranting di sekitar tempat itu, kemudian ia membanting
ranting-ranting kering itu dekat api unggun dan berkata, suaranya seperti orang marah, “Kalian bertiga
dengan kepandaian yang tidak berarti begitu berani mati melakukan perantauan untuk mencari musuh
besar yang belum diketahui siapa! Sungguh menyia-nyiakan usia muda. Apa yang kalian dapat lakukan
kalau bertemu dengan orang-orang jahat? Bagaimana seandainya bertemu dengan orang yang membunuh
ayah bundamu?”
Sian Eng maklum akan maksud kata-kata Suling Emas, tahu bahwa kepandaian mereka bertiga memang
masih jauh jika dibandingkan dengan kepandaian beberapa orang tokoh besar dalam dunia kang-ouw.
Akan tetapi tadinya ketika mereka melakukan perantauan, mereka sama sekali tidak mengira akan hal ini,
sama sekali tidak pernah mengira bahwa di dunia ini begitu banyaknya orang pandai, orang aneh dan
orang jahat. Betapa pun juga, ia tetap tidak menjadi jeri.
“Kalau bertemu, biar kepandaiannya setinggi langit, aku akan melawannya dan mengajaknya bertanding
mati-matian!” Sian Eng menjawab dengan suara lantang.
Suling Emas mendengus. “Huh, mudah saja bicara. Kau anak kecil...”
Sian Eng mau marah, tapi tidak dapat. Betapa pun juga ia memang merasa seperti anak kecil di depan
pemuda yang aneh ini, yang bersikap begitu alim, pendiam dan serius.
“Memang aku anak kecil, biarlah, memang tidak setua engkau,” kata-kata ini untuk melampiaskan
kemendongkolan hatinya.
Suling Emas menoleh, agak tersenyum. Dan aneh sekali, mendadak saja kemarahan Sian Eng lenyap dan
ia merasa seakan-akan sudah lama mengenal orang ini, sudah sering kali bertemu. Hal yang tidak
mungkin. Barangkali bertemu dalam alam mimpi!
“Dan kenapa kau menolongku, menolong Sin-ko?”
“Siapa menolong siapa? Aku tidak menolong siapa-siapa, hanya melakukan kewajiban sebagai manusia.
Kesembronoan kalian bertiga sudah membawa korban. Adikmu yang paling kecil itu hilang. Kau bilang tadi
ia meninggalkan surat dan menyatakan bahwa ia dibawa pergi Kim-lun Seng-jin? Untung bertemu dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim-lun Seng-jin. Kalau yang membawa itu seorang di antara Thian-te Liok-koai (Enam Setan), apakah
tidak celaka sekali?”
Sian Eng memandang heran. Orang ini tidak mau disebut menolong, sikapnya acuh tak acuh, tidak peduli,
akan tetapi kadang-kadang bisa marah-marah. Memang aneh sekali, membuat ia bingung. Ah, kalau saja
ada Lin Lin di sini, pikirnya, tentu kau akan tahu rasa. Lin Lin wataknya tidak kalah anehnya, dan adiknya
itu pandai sekali bicara, pandai berdebat dan andai kata di situ ada Lin Lin, agaknya keadaannya akan
berubah. Suling Emas ini tentu akan menjadi gelagapan dan gagap gugup menghadapi serangan bicara
Lin Lin.
“Tak perlu kau marah-marah kepadaku,” akhirnya ia berkata. “Kau mau menolong atau tidak, terserah.
Juga kau mau memberi tahu kepadaku, kalau kau mengetahuinya, siapa adanya pembunuh ayah bundaku
dan di mana pula adanya kakakku Bu Song, terserah.”
Suling Emas kembali membuang muka memandang api unggun. Wajahnya yang tadi agak berseri dan
tampak sekali ketampanannya, sekarang kembali menjadi suram-muram seperti wajah patung mati.
Setelah menarik napas beberapa kali dan menambah ranting pada api, ia berkata. “Siapa yang membunuh
ayah bundamu, aku tidak tahu. Terang bukanlah aku. Akan tetapi karena kau dan saudara-saudaramu
menuduhku, aku akan berusaha mendapatkan siapa pembunuh itu. Tentang pelajar bernama Bu Song itu,
setahuku dia sudah mampus!”
Kaget sekali hati Sian Eng mendengar berita terakhir ini, apa lagi Suling Emas kelihatannya tidak senang
ketika bicara tentang kakaknya, Bu Song. “Bagaimana kau bisa tahu? Kenalkah kau dengan kakakku Bu
Song? Bagaimana matinya? Harap kau suka bercerita kepadaku.”
Suling Emas menggeleng kepalanya. “Tidak ada yang dapat diceritakan tentang diri pemuda tolol itu.
Kenyataan bahwa dia meninggalkan ayahnya dan tak pernah kembali atau memberi kabar membuktikan
bahwa dia tidak berharga untuk dipikirkan lagi. Mengapa kau bersama saudara-saudaramu bersitegang
hendak mencarinya?”
Sian Eng tidak menjawab dan mendengar bahwa kakak sulung yang sedang dicari-cari itu telah meninggal
dunia, tak dapat ditahannya lagi ia menangis terisak-isak.
Suling Emas membiarkan ia menangis sampai lama. Baru kemudian terdengar ia berkata. “Sudahlah,
ditangisi air mata darah sekali pun tiada gunanya. Lebih baik kau memikirkan keadaan saudara-saudaramu
yang masih ada. Kakakmu Bu Sin selamat dan tentu berada di tempat tidak jauh dari kota raja. Besok kita
pergi ke sana dan aku akan mengantarmu sampai di kota raja. Kemudian, kalau aku dapat bertemu
dengan orang aneh Kim-lun Seng-jin, akan kupesan agar dia mengembalikan adikmu yang bernama Lin
Lin itu. Kemudian kalian bertiga lebih baik pulang ke Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san. Sekarang kau
tidurlah.” Setelah berkata demikian, Suling Emas duduk menjauhi Sian Eng, kembali merenung dekat api
unggun.
Sian Eng maklum bahwa percuma mengajak bicara orang aneh ini, maka ia pun membaringkan tubuh.
Sampai jauh malam masih terdengar beberapa kali ia mengisak. Akan tetapi kelelahan dan kedukaan
membuat ia tertidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Eng sudah terbangun dan alangkah herannya ketika ia
melihat pakaian terletak di dekatnya. Ia cepat bangkit duduk. Suling Emas telah menggosok-gosok tubuh
kudanya dan tak jauh dari situ terdapat api unggun. Sian Eng tertegun memandang. Orang aneh yang telah
menolongnya itu sedang bersenandung. Entah apa yang dinyanyikannya karena terlalu perlahan untuk
dapat ditangkap pendengarannya, akan tetapi Sian Eng mendengar suara yang menggetar penuh
perasaan dalam lagu sedih yang disenandungkan itu. Bau hangus membuat ia cepat memandang api
unggun dan kiranya di atas api itu terpanggang sepotong besar daging.
“Daging hangus...!” Otomatis Sian Eng melompat, menutupkan jubah hitam yang terbuka di bagian dada,
lari menghampiri daging itu dan membaliknya.
Suara senandung menghilang. “Wah, aku lupa...! Rusakkah dagingnya?” Suling Emas sudah mendekat.
“Tidak, hanya hangus sedikit. Pakaian itu... punya siapa?”
“Kau pakailah. Malam tadi kudapatkan dari dusun di sana.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, Suling Emas meninggalkan Sian Eng, kembali pada kudanya dan melanjutkan
menggosok-gosok tubuh kudanya, berdiri membelakangi gadis itu. Sian Eng memandang wajahnya agak
merah, dadanya berdegup aneh. Orang yang selama ini disangkanya musuh besar pembunuh ayah
bundanya, kiranya seorang penolong dan seorang yang amat baik, orang yang menarik hatinya.
Tak mungkin! Sian Eng membantah di dalam hatinya, dia jauh lebih tua dariku, dia orang aneh. Gadis ini
mengusir perasaan tertarik di hatinya, bersembunyi di belakang sebatang pohon besar untuk mengganti
pakaian. Beberapa menit kemudian ia telah bersalin pakaian. Jubah hitam milik Suling Emas ia lipat baikbaik,
kemudian ia menghampiri daging panggang yang sudah masak.
“Dagingnya sudah matang!” ia berteriak pada punggung yang lebar itu.
Suling Emas membalikkan tubuhnya, memandang dan tersenyum sedikit melihat Sian Eng telah berganti
pakaian. Sian Eng yang mengharapkan datangnya ucapan pujian dari mulut Suling Emas kecewa karena
orang itu tidak berkata sesuatu.
“Ini jubahmu, terima kasih,” Sian Eng mengembalikan lipatan jubah hitam. Suling Emas menerimanya
tanpa berkata sesuatu, terus jubah itu dipakainya.
“Kita sarapan daging panggang lalu berangkat ke kota raja,” katanya singkat. Sian Eng hanya mengangguk
dan keduanya lalu makan daging panggang dan kue kering yang menjadi bekal Suling Emas.
Setelah selesai makan, Suling Emas berkata, suaranya serius, “Jangan menyangka yang bukan-bukan.
Kau harus membonceng kuda di depanku agar perjalanan dapat dilakukan lebih cepat. Mudah-mudahan
sesampainya di kota raja, kau akan dapat bertemu dengan kakakmu Bu Sin. Silakan!”
Kalau saja kata-kata itu tidak diucapkan demikian serius dan wajah Suling Emas yang tampan itu kelihatan
angker, tentu Sian Eng akan menjadi malu dan mungkin tak sudi ia berboncengan di atas seekor kuda
dengan orang ini. Akan tetapi karena ia ingin segera bertemu kembali dengan saudaranya, ia tidak mau
membantah. Dengan ringan ia bergerak, tubuhnya meloncat ke atas punggung kuda. Tiba-tiba kuda itu
melonjak dan berlari cepat sekali seperti terbang.
Sian Eng terkejut. Di mana Suling Emas? Apakah ia dibawa kabur kuda dan Suling Emas tertinggal di
belakang? Dalam gugupnya ia menengok dan... hampir saja dia beradu hidung dengan orang yang duduk
di belakangnya! Kiranya Suling Emas sudah duduk di belakangnya, agak di belakang sehingga tubuh
mereka tidak bersentuhan. Agaknya orang ini demikian ringan gerakannya sehingga ia sama sekali tidak
tahu bahwa dia sudah berada di belakangnya tadi.
Cepat Sian Eng membalikkan mukanya yang menjadi merah sekali dan diam-diam ia amat kagum akan
kehebatan kepandaian orang ini, juga kagum akan kesopanannya. Biar pun ia duduk berboncengan seperti
itu, namun ia tidak merasa kikuk karena Suling Emas benar-benar berlaku sopan, duduknya agak jauh di
belakang.
Memang benar ucapan Suling Emas. Kuda itu luar biasa larinya, cepat seperti terbang dan andai kata
mereka melakukan perjalanan tanpa kuda, tentu akan lebih melelahkan, juga lambat. Suling Emas
melakukan perjalanan cepat dan terus-menerus, hanya berhenti dua kali sehari. Bahkan kadang-kadang di
malam hari mereka melanjutkan perjalanan.
Makin lama, Sian Eng makin percaya kepada orang aneh ini. Di dekat Suling Emas, ia merasa aman
tenteram, kecurigaannya lenyap sama sekali dan ia memandang orang ini sebagai seorang pendekar
besar yang amat mengagumkan. Yang ia sayangkan, Suling Emas orangnya pendiam, tak pernah mau
bicara kalau tidak ditanya. Menjawab pertanyaan pun hanya singkat-singkat seperlunya saja. Hal ini
mengecewakan hati Sian Eng karena gadis ini ingin sekali mendengar riwayat hidup orang aneh yang
mengagumkan hatinya ini.
Ketika memasuki pintu gerbang kota raja pagi hari itu, banyak orang memandang mereka dengan kagum
dan heran. Kagum karena melihat kuda besar bagus ditunggangi sepasang orang muda yang elok dan
gagah. Agaknya Suling Emas hendak menyembunyikan dirinya karena ia telah menggunakan sehelai sapu
tangan untuk menutupi gambar suling di dadanya. Namun telinga Sian Eng masih dapat menangkap
beberapa orang di pinggir jalan berbisik, “Dia... Suling Emas...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suling Emas menghentikan kudanya di dalam pekarangan lebar sebuah kelenteng, mengajak Sian Eng
turun. Di ruangan depan mereka disambut oleh beberapa orang hwesio (pendeta Buddha) yang segera
memberi hormat kepada Suling Emas.
“Harap para Lo-suhu (Bapak Pendeta) sudi menerima Nona Kam ini sebagai tamu terhormat dan
membantunya dalam usahanya menjumpai saudaranya di kota raja.”
“Omitohud... tentu saja, Taihiap (Pendekar Besar)! Silakan masuk, Nona, dan... anggaplah di sini sebagai
tempat tinggalmu sendiri,” kata hwesio tua itu dengan ramah tamah. “Apakah Taihiap tidak keberatan untuk
singgah dulu dan minum teh?”
Suling Emas menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, Lo-suhu. Saya masih mempunyai banyak urusan.”
Kemudian ia menoleh kepada San Eng dan berkata. “Di kelenteng ini, kau berada di tempat yang aman.
Dengan bantuan para Lo-suhu di sini, kalau saudaramu berada di kota raja, tentu kau dapat bertemu
dengannya. Ingat, kalau kalian bertiga sudah saling bertemu dan berkumpul, satu-satunya hal terbaik bagi
kalian adalah kembali ke Ting-chun. Nah, selamat berpisah.” Suling Emas memberi hormat kepada
pendeta kepala, lalu meloncat di atas punggung kudanya yang lari cepat meninggalkan tempat itu.
Sian Eng berdiri bengong, tak dapat berkata sesuatu. Apa yang dapat ia katakan? Berkumpul dengan
orang itu, melakukan perjalanan bersama beberapa hari, telah membuktikan keluhuran budi Suling Emas,
kesopanannya, akan tetapi juga keanehannya. Agaknya ada sesuatu yang menekan perasaan orang itu,
ada sesuatu yang dideritanya di dalam batin, yang membuatnya tampak pendiam, tidak pedulian, dan
wajahnya yang tampan selalu muram seperti matahari yang selalu tertutup mendung di musim hujan. Tibatiba
ia menoleh kepada pendeta kepala, hwesio yang gendut peramah itu.
“Lo-suhu, dia itu... Suling Emas itu... orang macam apakah dia?” pertanyaan yang aneh ini keluar begitu
saja dari mulut Sian Eng, langsung sebagai peluapan hatinya. Untung yang diajak bicara adalah seorang
hwesio tua, kalau orang lain tentu akan memalukan sekali.
Hwesio itu hanya tertawa, kemudian menjawab, “Bukan hanya kau yang mengajukan pertanyaan seperti
ini, Nona. Banyak orang, di antaranya pinceng (aku) sendiri! Tapi, siapa dapat menjawab? Kalau pinceng
yang menjawab hanya begini, dia itu seorang pendekar besar yang berwatak aneh. Kalau sedang
menolong orang, dia bijaksana seperti dewa, kalau menghadapi lawan, dia ganas seperti iblis. Itulah Suling
Emas, dan tidak pernah ada orang yang dapat menceritakan siapa dia. Tapi bagi kami, sudah cukup kalau
mengetahui bahwa dia itu seorang yang baik, selalu berpihak kepada yang benar biar pun kadang-kadang
amat sulit untuk dimengerti. Nona, kami menerima perintahnya, harus kami kerjakan baik-baik. Silakan
masuk, Nona, ada sebuah kamar yang bersih untukmu. Tentang saudaramu, nanti kita bicarakan dan tentu
para murid di sini siap untuk membantumu mencarinya, kalau betul dia itu berada di dalam kota raja.”
Lega hati Sian Eng, sungguh pun keterangan tentang diri Suling Emas itu membuat hatinya makin
penasaran dan ingin tahu. Ia memasuki kelenteng dan memang benar, para hwesio melayaninya penuh
penghormatan dan kesopanan sehingga Sian Eng tidak ragu-ragu untuk mengajak mereka itu
merundingkan tentang kedua saudaranya yang berpisah darinya. Ia memberi gambaran tentang diri Bu Sin
dan Lin Lin dan memesan agar para hwesio yang melihat kedua orang ini di kota raja, segera memberi
tahu kepadanya.
Para hwesio itu tampak bersemangat sekali membantu Sian Eng, dan gadis ini maklum bahwa semangat
ini timbul karena keyakinan bahwa membantu Sian Eng berarti membantu Suling Emas dengan
melaksanakan perintahnya! Makin kagumlah hatinya terhadap orang rahasia yang sanggup membikin
orang-orang alim seperti hwesio-hwesio ini demikian tunduk dan setia. Tentu saja dia tidak tahu bahwa
para hwesio itu, juga banyak sekali orang-orang di kota raja, telah berhutang budi besar kepada Suling
Emas.
********************
Di bagian depan telah kita ketahui bahwa Lin Lin yang ditemani Lie Bok Liong, dengan penuh harapan
melakukan perjalanan ke kota raja. Hatinya girang sekali karena ia memang amat ingin bertemu dengan
Suling Emas yang disangka menjadi pembunuh dari Jenderal Kam Si Ek dan isterinya. Untung ia
mendengar percakapan antara Suma-kongcu dan para tokoh pengemis yang menyatakan bahwa Suling
Emas berada di gedung perpustakaan istana. Kita ikuti kembali perjalanan mereka berdua.
Mereka telah berhasil melarikan diri dari gedung keluarga Suma di An-sui sebelah barat kota raja dan
dunia-kangouw.blogspot.com
melanjutkan perjalanan di malam hari terang bulan. Mereka berjalan seenaknya, bercakap-cakap gembira.
Begitu gembira, begitu aman seakan-akan tidak ada bahaya sesuatu yang mengintai.
Memang Lin Lin seorang gadis remaja yang gembira dan masih belum berpengalaman, maka ia pun enak
saja melakukan perjalanan dan bercakap-cakap bersama Lie Bok Liong. Gadis yang masih hijau ini sama
sekali tidak tahu akan bahaya yang mengancam. Ada pun Lie Bok Liong, dia adalah seorang pendekar
muda yang sudah kenyang pengalaman, biasanya amat hati-hati, waspada dan berpandangan luas dan
jauh, berwatak jujur dan berhati mulia. Akan tetap pada malam hari itu, hatinya rusak, kacau-balau oleh
juwita di sampingnya. Sudah dua kali ia menempeleng jidatnya sendiri karena timbul pikiran yang bukanbukan
terhadap Lin Lin.
Malam terlalu indah, bulan terlalu terang, dan gadis di sampingnya terlalu cantik jelita. Bok Liong berjalan di
samping Lin Lin dengan hati dan perasaan mawut (berantakan), maka ia pun tidak dapat terlalu disalahkan
kalau dia sendiri menjadi kurang hati-hati, hilang kewaspadaannya. Di samping Lin Lin, dunia menjadi
terlampau indah baginya sehingga sementara itu ia lupa akan bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan
dari segenap penjuru.
Biar pun Suma Boan atau Suma-kongcu sendiri tidak mengejar karena ia maklum bahwa menghadapi dua
orang muda yang lihai itu seorang diri saja ia tidak akan menang, namun sudah tentu saja Suma-kongcu
tidak membiarkan penghinaan terjadi di rumahnya begitu saja. Ia diam-diam menitah seorang pengawal
untuk menghubungi para ketua kai-pang dan tak lama kemudian, para tokoh perkumpulan pengemis yang
kebetulan berada di situ dan dapat dihubungi sudah mengatur rencana penghadangan terhadap Lin Lin
dan Bok Liong. Ada tiga orang pengemis lihai yang kebetulan dapat dihubungi Suma-kongcu dan yang
segera membawa teman-temannya melakukan pengejaran.
Yang pertama adalah ketua dari perkumpulan pengemis Hui-houw-kai-pang (Harimau Terbang). Hui-houwpangcu
ini sudah tua, usianya kurang lebih enam puluh tahun, rambutnya sudah putih semua dan
senjatanya sebatang tongkat baja. Selain lihai sekali ilmu tongkatnya, juga ia amat terkenal dengan senjata
rahasia yang ia sebut bulu harimau. Sebetulnya senjata ini adalah jarum-jarum halus yang diberi racun,
siapa terkena akan menjadi gatal-gatal yang menjalar ke seluruh tubuh dan berakhir dengan kematian
yang mengerikan.
Hui-houw-pangcu pergi melakukan pengejaran bersama barisannya yang paling ia banggakan, yaitu Huihouw-
tin (Barisan Macan Terbang).
Barisan ini terdiri dari tiga belas orang tokoh pengemis yang
berkepandaian tinggi dan yang khusus dilatih untuk membentuk Hui-houw-tin. Besarlah hati Hui-houwpangcu
mengajak barisannya ini. Biar pun ia mendengar dari Suma-kongcu bahwa dua orang muda itu
lihai, namun ia yakin bahwa Hui-houw-tin akan dapat mengalahkan mereka dan dapat menawan mereka
seperti yang diminta oleh Suma-kongcu.
Lewat tengah malam, Lin Lin dan Bok Liong menunda perjalanan karena mereka merasa lelah dan
mengantuk. Bok Liong yang sudah beberapa kali melakukan perjalanan lewat daerah ini tahu, bahwa di
luar hutan terdapat sebuah kuil kuno yang kosong dan tidak terpakai lagi. Mereka lalu menuju ke kuil itu
dan girang hati Lin Lin dapat mengaso di tempat yang terlindung sehingga hawa tidak terlalu dingin. Bok
Liong segera membuat api unggun dan mereka duduk di ruangan depan yang agak bersih setelah
keduanya menyapu lantai dengan daun-daun kering.
“Kau mengaso dan tidurlah, Lin-moi, biar aku menjaga di sini.”
“Mana bisa aku tidur kalau dijaga orang? Twako, jangan kira aku seorang yang mau enak sendiri, tidur
pulas membiarkan kau digigiti nyamuk dan mengantuk. Tidak, kalau kau tidak tidur, aku pun tidak mau
tidur.”
Bok Liong tersenyum lebar, dalam hati amat bersyukur bahwa gadis ini memiliki watak yang demikian baik.
Memang, kalau orang sedang bercinta, segala yang dilakukan orang yang dicintanya selalu baik, setiap
gerak-gerik menyenangkan. Ia maklum bahwa kalau ia bersitegang, gadis yang keras hati ini tentu betulbetul
tidak mau tidur.
“Baiklah, aku pun akan tidur di sini, kau tidur di situ. Besok pagi-pagi kita bangun melanjutkan perjalanan
ke kota raja.”
“Nah, begitu baru adil namanya,” kata Lin Lin melihat pemuda itu merebahkan diri telentang dekat api
unggun. Ia pun lalu merebahkan diri miring, membelakangi api unggun yang menyilaukan mata, berbantal
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan. Melihat ini Bok Liong lalu melempar bungkusan pakaiannya.
“Nih, pakailah untuk bantal, lumayan.”
Lin Lin tidak membantah, memberi hadiah senyum terima kasih lalu meramkan matanya. Bok Liong tentu
saja tidak mau tidur, maklum bahwa kalau tertidur keduanya di tempat itu, akan berbahaya sekali. Yang
paling berbahaya adalah ular, karena ada beberapa macam ular yang tidak takut akan api. Juga kalau api
unggun padam tidak ada yang tahu. Ia tadi merebahkan diri hanya untuk memanaskan hati Lin Lin agar
nona itu mau tidur. Karena gadis itu rebah membelakanginya, dengan leluasa ia dapat memandang
belakang tubuh Lin Lin dan pikirannya melamun jauh, mata dan bibirnya membayangkan gelora hati yang
penuh kasih dan rindu. Inilah yang menjauhkannya dari pada kewaspadaan. Ia tidak tahu bahwa belasan
pasang mata sedang mengintai dari tempat gelap!
Tiba-tiba, selagi Bok Liong melamun muluk-muluk, tampak sinar-sinar kecil berwarna putih berkelebatan
menyambar. Bok Liong, seorang pendekar muda yang terlatih dan sudah banyak makan asam garamnya
pengalaman di dunia kang-ouw, terkejut bukan main. Bukan sinar-sinar putih yang menyambar ke arah
dirinya yang ia kejutkan, melainkan sinar yang menyambar ke arah diri Lin Lin yang sudah pulas!
Tanpa berpikir panjang lagi, semata-mata untuk melindungi diri gadis itu dari pada bahaya maut, ia
membuang dirinya ke depan Lin Lin sambil mengebutkan kedua lengan bajunya. Cepat sekali gerakannya
sehingga gerakan ini membuat beberapa batang jarum halus yang tadinya menyambar ke arahnya,
terbang lewat dan menancap ke dalam dinding. Ia berhasil pula menyelamatkan Lin Lin, akan tetapi dua
batang jarum tak berhasil dikebut runtuh dan langsung menancap pada pangkal lengannya sebelah kiri.
“Twako... ada apa...?” Lin Lin melompat bangun dan secepat kilat ia melompat lagi mendahului Bok Liong.
Sebagai seorang ahil silat tinggi, begitu sadar dari pada tidurnya Lin Lin sudah berada dalam keadaan siap
siaga dan sedetik ia mengira bahwa Bok Liong secara kurang ajar telah mendekatinya. Selagi ia hendak
memaki sambil mencabut pedangnya tiba-tiba ia melihat Bok Liong merintih-rintih dan menggaruk-garuk
pangkal lengan kirinya. Pada saat itu tampak sinar putih menyambar-nyambar pula. Maklumlah Lin Lin
bahwa mereka diserang oleh lawan dengan senjata rahasia, maka cepat ia memutar pedangnya, melompat
ke depan Bok Liong dan sinar kuning pedangnya merupakan gulungan yang memukul runtuh sinar-sinar
putih bersambaran itu.
“Jangan gerak, cabut jarum gosokkan ini!” tiba-tiba terdengar suara dari jauh, hanya gemanya saja yang
terdengar, akan tetapi tahu-tahu ada sebuah benda kecil melayang jatuh dekat Bok Liong. Ternyata benda
itu adalah sebuah bungkusan kecil.
Bok Liong tadinya merasa gatal-gatal bukan main pada pangkal lengannya sehingga biar pun ia tahu
bahwa menggaruknya merupakan pantangan yang berbahaya, namun ia tidak kuat menahan. Mendengar
suara itu ia terkejut, akan tetapi juga girang melihat datangnya bungkusan. Apa lagi melihat bahwa Lin Lin
tidak terluka, bahkan gadis ini sekarang berdiri melindunginya.
Cepat ia merobek bajunya pada lengan tangan, menggunakan penerangan api unggun yang masih
bernyala besar untuk mencabut keluar dua batang jarum yang hampir amblas semua ke dalam daging.
Bungkusan itu ia buka, ternyata isinya bubuk berwarna kuning. Tanpa ragu-ragu lagi Bok Liong
menggosok-gosokkan bubuk kuning ini pada kedua luka kecil di pangkal lengan kiri. Hebat! Seketika
lenyap rasa gatal-gatal. Dengan kemarahan meluap Bok Liong mencabut pedangnya, melompat berdiri di
samping Lin Lin dan berseru.
“Penjahat berhati binatang berwatak pengecut! Kalau memang ada kepandaian, keluarlah dan mari kita
bertempur secara orang gagah!”
Terdengar suara ketawa mengejek. “Sudah lama kami berada di sini, buka matamu baik-baik, pemuda
sombong!”
Bok Liong dan Lin Lin membalikkan tubuh. Kiranya penyerang gelap itu telah berpindah tempat, kini berada
di belakang mereka. Meremang bulu tengkuk mereka memikirkan betapa bahayanya keadaan mereka tadi.
Kalau penyerang gelap ini menyerang dengan jarum-jarum halus lagi dari belakang, bukankah amat
berbahaya?
Jarum-jarum itu demikian halusnya sehingga tidak terdengar sambarannya. Hanya berkat sinar api unggun
dunia-kangouw.blogspot.com
maka jarum-jarum putih itu kelihatan berkelebat sehingga mereka tadi dapat menyampok runtuh. Kiranya
yang berada di situ bukan hanya seorang saja, melainkan empat belas orang yang kesemuanya
berpakaian pengemis. Tahulah mereka bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan tiga orang yang
dirobohkan Lin Lin di gedung Suma-kongcu.
“Hemmm, kiranya kalian adalah ahli-ahli pula dalam senjata rahasia. Aku kagum dan mengaku kalah dalam
hal ilmu senjata rahasia. Akan tetapi, kami tantang kalian untuk menghadapi Barisan Macan Terbang (Huihouw-
tin). Kalau tidak berani, lebih baik kalian menyerah untuk kami tawan. Kalau kalian dapat menangkan
Hui-houw-tin, barulah aku Hui-houw-pangcu mengaku kalah.”
Diam-diam Bok Liong dan Lin Lin terkejut dan heran sekali. Bagaimana pengemis tua ini bicara begitu
aneh, menyatakan kagum dan mengaku kalah dalam ilmu senjata rahasia? Padahal mereka itu sama
sekali tidak melepaskan senjata, juga dalam menghadapi penyerangan jarum-jarum tadi, biar pun Bok
Liong berhasil menyampok runtuh dan Lin Lin juga berhasil menggunakan pedang menggagalkan
penyerangan kedua, namun Bok Liong telah terluka. Hal ini tentu saja sama sekali tak boleh dianggap
bahwa mereka berdua telah menang bertanding senjata rahasia!
Tentu saja kedua orang ini tidak tahu bahwa di dalam gelap tadi, setelah Lin Lin memutar pedang
menyampok runtuh jarum-jarum itu, masih beterbangan lagi jarum-jarum bertubi-tubi dan susul-menyusul
dengan cara berpindah-pindah dari pelbagai jurusan, sering kali dari arah belakang kedua orang muda itu.
Ini adalah akal Hui-houw-pangcu yang menyerang mereka dari tempat gelap secara berpindah-pindah.
Akan tetapi semua jarum-jarum yang menyambar dari tempat tersembunyi itu runtuh semua bertemu
dengan benda-benda kecil yang melayang-layang dari segala jurusan dan ternyata bahwa yang
meruntuhkan jarum-jarum itu adalah daun-daunan, bunga dan buah-buahan kecil yang secara aneh datang
dari jurusan yang berlawanan sehingga Hui-houw-pangcu tentu saja mengira bahwa benda-benda itu
dilepas oleh dua orang muda yang diserangnya!
Akan tetapi, sudah tentu Bok Liong dan Lin Lin tidak mau menyatakan keheranan ini. Dengan marah
mereka lalu melangkah maju menghadapi barisan yang sudah tersusun di depan kuil kuno yang ruangan
depannya terbuka itu.
Tiga belas orang pengemis dengan tongkat-tongkat baja di tangan telah memasang Barisan Harimau
Terbang. Tiga orang sebagai kepala, masing-masing dua orang sebagai sayap kanan kiri, empat orang
sebagai empat buah kaki dan dua orang sebagai ekor.
Bok Liong dan Lin Lin yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja tidak merasa gentar. “Saling
membelakangi menghadapi mereka, mencegah penyerangan gelap dari belakang,” bisik Bok Liong. Lin Lin
kagum dan segera menurut nasihat ini karena memang itulah cara terbaik bagi mereka sehingga dalam
pengeroyokan mereka dapat mengerahkan seluruh perhatian ke depan tanpa takut penyergapan gelap.
Akan tetapi dugaan ini keliru dan terpaksa rencana Bok Liong ini tak mungkin dipertahankan. Kiranya tiga
belas orang itu sama sekali tidak mengurung mereka sebagaimana biasanya barisan kalau mengepung
lawan yang sedikit jumlahnya. Mereka itu langsung menerjang dari depan dengan teratur seperti gerakan
seekor harimau terbang, sehingga ketika mereka menerjang maju hanya Lin Lin yang dihujani serangan
sedangkan Bok Liong tidak menghadapi seorang pun lawan.
Lin Lin tidak gentar dan cepat memutar Pedang Besi Kuning di tangannya, akan tetapi ia kaget sekali
karena senjata tongkat lawan yang terbuat dari baja tulen itu datangnya susul-menyusul dengan teratur,
sehingga ia sama sekali tidak sempat melakukan serangan balasan karena repot melayani datangnya
bayangan tongkat yang seperti hujan menimpanya dari atas, kanan, kiri dan bawah!
Melihat cara penyerangan mereka ini, tentu saja Bok Liong khawatir kalau-kalau Lin Lin celaka di tangan
barisan aneh itu. Apa lagi hatinya amat tidak enak kalau barisan itu hanya menerjang Lin Lin dan
membiarkan ia menganggur menjadi penjaga punggung Lin Lin belaka. Ia berseru keras dan membalik lalu
menerjang, membantu Lin Lin. Akan tetapi ia masih tetap waspada, menjaga agar mereka jangan terlena
dan tertipu.
Memang Bok Liong sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran. Ia cukup maklum akan kelihaian
pedang Lin Lin, juga ia mengerti bahwa gadis ini kalau marah kepada lawan bisa menjadi ganas sekali.
Secara langsung mereka berdua tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan para pengemis, maka ia
pun menganggap tiada perlunya menurunkan tangan besi kepada mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lin-moi, kau menahan serangan mereka, biarkan aku yang membalas!”
“Baik!” jawab Lin Lin, kembali kagum karena maklum bahwa hanya cara itulah yang memungkinkan
mereka dapat balas menyerang, yaitu yang seorang bertahan, yang seorang pula menyerang.
Segera ia memutar pedangnya menjadi segulung sinar kuning yang berkilauan membungkus dirinya. Di
lain pihak Bok Liong melompat ke belakang Lin Lin, membiarkan semua tongkat menyerang gadis itu,
kemudian dari samping ia menerjang. Hasilnya baik sekali, terdengar teriakan kesakitan dan seorang di
antara tiga orang yang merupakan bagian kepala, roboh terguling terluka pahanya oleh ujung pedang Bok
Liong.
Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu sinar putih bersambaran dari belakang. Inilah yang dikhawatirkan Bok
Liong. Baiknya pemuda ini sudah waspada sejak tadi. Melihat sinar putih menyambar, cepat ia memutar
pedang sambil melompat ke belakang Lin Lin dan runtuhlah semua jarum tersampok sinar pedangnya. Hati
Bok Liong menjadi khawatir juga.
Berabe juga kalau begini caranya mereka melakukan pengeroyokan. Ia melirik dan melihat betapa
pertahanan Lin Lin amat kuat dan kokoh seperti benteng baja. Biar pun gadis itu tidak akan mendapat
kesempatan untuk balas menyerang, namun dengan pertahanan macam itu, biar ada dua barisan Huihouw-
tin, kiranya belum tentu akan dapat membobol pertahanannya dalam waktu satu dua jam!
“Lin-moi, tahan terus, aku menangkap kepalanya!” bisiknya kembali.
Lin Lin sudah percaya betul akan kecerdikan kawannya. “Baik,” jawabnya tanpa ragu-ragu lagi.
Bok Liong melompat dengan tiba-tiba, gerakannya cepat sekali. Dengan hanya beberapa lompatan ia
sudah tiba di balik gerombolan pohon dari mana jarum-jarum itu tadi menyambar. Dan... apa yang
dilihatnya? Ia berdiri bengong memandang Hui-houw-pangcu yang roboh terlentang dengan tubuh kaku,
kedua tangan masih menggenggam jarum-jarum beracun! Ternyata pengemis tua ini telah ditotok jalan
darahnya yang membuat tubuhnya kaku tak dapat bergerak untuk beberapa jam lamanya. Siapa yang
melakukan hal ini? Tak salah lagi, pikir Bok Liong, tentu dia yang tadi telah menolongnya dengan
pemberian obat pemunah racun!
Akan tetapi ia tidak ada waktu untuk mengherankan soal ini karena di sana Lin Lin masih menghadapi
pengeroyokan barisan Hui-houw-tin yang biar pun sudah roboh seorang, masih amat kuat dan cukup
berbahaya. Hatinya lega karena dengan robohnya ketua Hui-houw-pang yang suka main jarum beracun ini,
ia tidak khawatir lagi akan serangan gelap dari belakang. Cepat ia membalikkan tubuh dan melompat ke
tempat pertempuran, serta merta menerjang dari samping. Karena kegembiraan dan kelegaan hati melihat
penyerang gelap itu tak berdaya lagi, pemuda ini menyerang penuh semangat dan pedangnya merobohkan
dua orang pengeroyok!
Akan tetapi, biar pun berkurang tiga orang, ternyata barisan Hui-houw-tin ini malah mengamuk lebih hebat.
Inilah keistimewaan Hui-houw-tin, seperti seekor harimau kalau terluka akan lebih hebat sepak terjangnya.
Hal ini adalah karena kalau barisan itu masih lengkap tiga belas orang, ruang gerak penyerangan mereka
amat sempit dan terbatas. Makin berkurang jumlahnya, makin leluasa mereka bergerak sehingga
tampaknya makin buas. Namun malang bagi mereka, kini yang mereka keroyok adalah murid-murid orang
sakti yang telah mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, jauh melebihi tingkat mereka.
Setelah kini merasa yakin bahwa dari belakang takkan ada yang menyerang dengan senjata rahasia,
dengan enaknya Bok Liong membabati lawan seorang demi seorang secara cepat sehingga tak sampai
seperempat jam, para pengeroyok itu tinggal empat orang lagi yang cepat melempar tongkat dan berlutut
mohon diampuni! Lin Lin gemas sekali, lengannya bergerak hendak membabat dengan pedangnya, akan
tetapi lengannya disentuh Bok Liong.
“Sudahlah, Lin-moi. Mereka hanya menjalankan perintah. Kita tidak mempunyai permusuhan pribadi
dengan mereka. Mari kita pergi!”
Pengalaman dalam pertempuran ini membuka mata Lin Lin bahwa kawannya adalah seorang pemuda
yang selain lihai ilmu silatnya, juga cerdik dan berpengalaman. Kalau saja ia tadi seorang diri menghadapi
para pengemis ini, agaknya ia akan terancam bahaya hebat. Mengingat ini, biar pun hatinya tidak puas
karena tidak boleh membunuh para pengeroyoknya, namun ia tidak membantah dan bersama Bok Liong
mereka melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Bulan purnama sudah condong ke
dunia-kangouw.blogspot.com
barat, akan tetapi sinarnya masih menerangi jagat. Peristiwa tadi mengusir kantuk dan mereka berjalan
terus memasuki hutan.
Malam telah menjelang fajar ketika bulan yang sudah turun itu tertutup puncak gunung dan sinarnya
menjadi suram. Keadaan yang gelap ditambah hawa yang amat dingin memaksa dua orang muda itu
kembali berhenti di dalam hutan, memilih tempat terbuka di antara pohon-pohon besar dan mereka
berjongkok menghadapi api unggun yang mendatangkan hawa hangat nyaman.
“Liok-twako, kau tadi meninggalkan aku untuk menangkap Hui-houw-pangcu, bagaimana hasilnya? Belum
kau ceritakan padaku.”
Bok Liong menarik napas panjang. Tadi ia memang sengaja tidak bercerita, karena khawatir kalau-kalau
gadis yang aneh ini bersikeras hendak mencari penolong itu. Seorang penolong yang tidak mau
memperlihatkan diri tak perlu dipaksa muncul, dan biasanya hanya orang-orang sakti yang bersikap seperti
itu.
“Lin-moi, dalam pertempuran tadi, kita berdua hanya dapat keluar dengan selamat berkat pertolongan
seorang sakti.”
Lin Lin mengangguk-angguk. “Sudah kuduga, malah tadinya kusangka gurumu yang melempar obat
kepadamu, Twako.”
“Bukan Suhu, melainkan orang lain, entah siapa. Obat pemunah racunnya amat manjur, dan ilmu
kepandaiannya hebat sekali.”
“Bagaimana kau bisa tahu, Twako?”
“Tak ingatkah kau akan ucapan Hui-houw-pangcu yang mengaku kalah bertanding senjata rahasia dengan
kita? Padahal kita sama sekali tidak pernah melepaskan senjata rahasia. Bagaimana dia bisa mengaku
kalah bertanding am-gi (senjata gelap)? Tidak bisa lain, tentu penolong kita yang telah menundukkanya,
mungkin dengan cara menggempur jarum-jarumnya dengan am-gi lain yang amat lihai. Dan tahukah kau
apa yang terjadi ketika aku meninggalkanmu untuk menghajar ketua Hui-houw-pang yang curang itu? Ia
telah roboh kaku, siapa lagi kalau bukan penolong kita yang menotoknya. Di kedua tangannya masih
penuh jarum-jarum beracun yang belum sempat ia sambitkan kepada kita.”
Benar saja, Lin Lin amat tertarik hatinya. “Siapakah dia Twako? Ah, setelah ia menolong kita, kenapa tadi
kau diam saja? Mengapa tidak memanggil-manggil supaya dia muncul? Aku ingin sekali berkenalan
dengan dia, Twako, ingin...”
“Ingin apa?” Bok Liong sendiri terheran mendengar suaranya yang berbeda dari biasa, dan lebih heran lagi
merasa betapa dadanya sesak dan perasaannya tidak senang. Cemburu! Tapi ia tidak sadar akan hal ini.
“Ingin mengajak ia bertanding, menguji kepandaiannya!”
Jawaban ini membuat Bok Liong melengak heran, akhirnya ia tertawa. Gadis pujaan hatinya ini benarbenar
aneh, lucu, manis dan hebat!
“Lin-moi, kalau seorang sakti tidak menghendaki dilihat orang, jangan harap akan dapat bertemu
dengannya. Terang bahwa dia membantu kita dengan sembunyi, itu hanya berarti bahwa dia tidak mau kita
melihatnya, maka jalan terbaik hanya membiarkan dia melanjutkan sikap itu. Memaksa dia muncul sama
dengan menentang kehendaknya dan ini bukanlah pernyataan terima kasih yang baik.”
Lin Lin tidak suka akan keangkuhan. “Huh, siapa memaksa dia menolong kita? Aku sendiri sih tidak butuh
akan pertolongannya. Kalau memang dia merasa diri begitu tinggi dan begitu mulia sehingga menganggap
tidak berharga mengadakan pertemuan dengan kita, mengapa dia menolong kita tanpa kita minta? Uh, aku
belum percaya apakah benar-benar dia itu seorang sakti, lebih tidak percaya lagi apakah dia bermaksud
baik dengan pertolongannya itu.”
“Ssstttt... Lin-moi, kenapa kau bilang begitu...?”
Lin Lin melompat berdiri. “Biar! Aku tetap tidak percaya bahwa dia bermaksud baik. Kau boleh takut
kepadanya, Liong-twako, akan tetapi aku tidak takut. Kalau dia betul orang baik-baik, kenapa main rahasiadunia-
kangouw.blogspot.com
rahasiaan? Siapa sudi main kucing-kucingan dengan orang yang tidak kita kenal? Orang begitu hanya
menonjolkan keangkuhan dan kesombongannya, merasa lebih tinggi dari pada orang lain!”
Bok Liong kebat-kebit hatinya. Celaka, pikirnya. Gadis ini sudah kumat, dan ia dapat menyelami perasaan
gadis ini yang membuatnya mau tak mau hanya makin mengaguminya. Terang bahwa Lin Lin wataknya
aneh, tapi polos, tidak takut kepada siapa pun juga, tidak suka akan orang yang plin-plan dan palsupalsuan.
Akan tetapi betapa pun juga, hatinya merasa amat tidak enak terhadap penolongnya. Bagaimana
kalau penolong itu mendengar ucapan Lin Lin ini?
“Ahhhhhh...!”
Bok Liong melompat bangun, memandang ke kanan kiri.
“Eh, kau mengapa, Twako?”
“Lin-moi, apakah kau tidak mendengar tadi? Terang ada orang yang menghela napas panjang, dekat
sekali....”
Lin Lin ikut memandang ke kanan kiri, terheran-heran. “Aku tidak mendengar apa-apa. Ah, Twako, kau jadi
seperti anak kecil mendengar dongeng mengerikan sehingga menjadi ketakutan dan di mana-mana
kelihatan setan. Hi-hik!”
Merah muka Bok Liong, lalu ia duduk kembali. “Lin-moi, belum lama kau terjun di dunia kang-ouw, kau
belum tahu banyak tentang orang-orang sakti...”
Sebelum Lin Lin sempat menjawab, tiba-tiba terdengar desis keras dan Lin Lin menjerit, “Ular...!” Ia seperti
sebagian banyak wanita, merasa jijik dan geli melihat ular, akan tetapi, sebagai seorang pendekar wanita,
tentu saja ia tidak takut. Cepat sinar kuning berkelebat dan di lain saat tubuh ular telah buntung menjadi
dua potong!
Mata Bok Liong terbelalak ketika ia memandang bangkai ular itu. “Wah, celaka, kita agaknya berhenti di
daerah ular api! Ular macam ini tidak takut api dan amat beracun. Racunnya panas dan membuat tubuh
korbannya hangus seperti dimakan api, maka ia disebut ular api. Eh... awas Lin-moi...!” Bok Liong sudah
mencabut pedangnya. Dua kali ia mengelebatkan pedangnya dan dua ekor ular roboh dengan leher putus.
Ternyata itu adalah dua ekor ular yang menyambar dari atas ke arah Lin Lin.
“Wah... ular api tak mungkin dapat melayang, tentu ada yang melemparkannya...! Lin-moi, awas, agaknya
ada musuh menyerang...”
“Aku tidak takut! Segala pengecut curang, kalau berani muncul akan kupenggal batang lehernya!” teriak Lin
Lin dengan marah sekali karena semalam itu selalu diganggu orang-orang yang tidak mau menyerang atau
membantu dengan terang-terangan.
Jawaban teriakan Lin Lin ini adalah suara ketawa yang disusul munculnya seorang laki-laki tua berpakaian
pengemis. Kaki kiri kakek pengemis ini buntung, sebagai penggantinya ia memegang sebatang tongkat
panjang, tongkat yang bengkak-bengkok seperti tubuh ular. Pakaiannya yang penuh tambalan itu serba
lorek dan belang-belang seperti kulit ular. Ketika Lin Lin memandang penuh perhatian, baginya muka orang
itu pun mirip muka ular!
“Hemmm, kiranya Sin-coa-kai (Pengemis Ular Sakti) yang main-main dengan kami!” kata Bok Liong
dengan suara mengejek.
Ia sudah mendengar tentang pengemis ini yang merupakan kepala atau pimpinan dari serombongan
pengemis yang suka mengumpulkan racun ular dan menjualnya pada toko-toko obat. Sebagai ahli
menangkap ular berbisa, tentu saja pengemis ini amat lihai, malah julukannya juga Pengemis Ular Sakti!
Akan tetapi, ia pun sudah mendengar akan praktek-praktek jahat yang dilakukan pengemis ini dan
rombongannya, yaitu menjual racun-racun ular pada penjahat-penjahat untuk maksud-maksud keji. Maka
ia memandang rendah dan mengejek.
Pengemis buntung itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, orang muda bermata tajam, kiranya mengenal pula
Sin-coa-kai! Ha-ha, kalau sudah mengenal nama dan mengetahui kelihaianku, lebih baik menyerah agar
kuserahkan kalian kepada Suma-kongcu. Heh, pantas saja Suma-kongcu berusaha keras untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
menangkap kalian, kiranya ada bidadari ini yang begini denok dan can....”
“Swinggggg...!” Pengemis itu berteriak kaget dan menjatuhkan diri bergulingan ke atas tanah ketika tibatiba
pedang di tangan Lin Lin menyambar, merupakan sinar kuning yang secepat kilat membabat leher
pengemis itu.
“Lin-moi, awas belakang...!” Bok Liong memperingatkan, khawatir kalau gadis itu terlalu bernafsu dan
marah mengejar si Pengemis Buntung.
Betul saja dugaannya, si Buntung itu tidak datang sendiri, melainkan bersama tujuh orang pembantunya.
Pada saat itu, dari tempat-tempat gelap melompat bayangan orang dan terdengar suara mendesis-desis
dari semua penjuru. Lin Lin kaget dan terpaksa menunda pengejarannya kepada Sin-coa-kai. Sepasang
matanya yang tajam itu terbelalak ketika melihat puluhan ekor ular api merayap datang dari depan dan
belakang, digiring oleh Sin-coa-kai dan teman-temannya.
“Lin-moi, serbu...!” Bok Liong sambil memutar pedangnya dan menerjang maju.
Lin Lin mengikuti sepak terjang Bok Liong dan dua orang muda itu dengan gagah menghadapi ular-ular
yang telah menjadi nekat karena telah diberi obat perangsang oleh Sin-coa-kai. Dalam beberapa detik saja
bangkai ular bergelimpangan diterjang pedang Lin Lin dan Bok Liong.
Akan tetapi kini Sin-coa-kai dan teman-temannya mulai menyerang dari lain jurusan, menggunakan
tongkat-tongkat ular yang panjang seperti toya. Lin Lin dan Bok Liong tentu saja tidak gentar, melawan
dengan hebat. Akan tetapi mereka menjadi sibuk juga karena ular-ular itu kini menjadi makin banyak,
merayap-rayap mengerikan.
“Lin-moi, ikuti aku, ke atas pohon!” kembali Bok Liong memberi tahu temannya.
Sambil memutar pedang untuk menjaga diri dari sambaran tongkat lawan, mereka mengerahkan ginkang
dan melayang ke atas pohon. Akan tetapi terdengar suara ketawa Sin-coa-kai disusul teriakan kaget kedua
orang muda itu yang cepat-cepat melayang turun kembali karena pohon itu pun penuh dengan ular hijau
yaitu ular daun yang biar pun tidak beracun namun cukup menjijikkan dan galak!
“Ha-ha-ha-ha, apakah kalian tidak menyerah saja?”
“Menyerah kakimu!” bentak Lin Lin sambil menerjang penuh amarah. Terjangannya hebat sekali, biar pun
si Buntung berhasil menghindarkan bahaya dengan jalan menggulingkan diri, namun seorang
pembantunya terbabat pedang sehingga putus lengan kirinya!
Sin-coa-kai memaki marah, lalu bersuit keras. Hebat akibatnya. Ular-ular itu seperti menjadi gila
mendengar suitan ini dan menyerbu lebih ganas dari pada tadi. Kewalahan juga Lin Lin dan Bok Liong
menghadapi ular-ular kalap itu, apa lagi tongkat-tongkat para pengemis masih selalu mengancam dan
mencari kesempatan baik.
Pada saat itu tampak asap tipis dan tercium bau yang pedas. Seketika kedua mata Lin Lin dan Bok Liong
mengeluarkan air mata! Inilah semacam asap beracun yang dilepas oleh Sin-coa-kai! Terbuat dari pada
daun-daun dicampur racun ular lalu dibakar. Asap dari pada ramuan ini merupakan asap beracun yang
akan membuat setiap orang lawan mengeluarkan air mata, semacam ‘gas air mata’ model kuno! Para
pengemis sendiri tentu saja sudah memakai obat pemunah sehingga mereka tidak terpengaruh.
“Celaka...!” teriak Bok Liong. “Lin-moi, kita membuka jalan darah!”
Mereka berusaha sedapat mungkin untuk membuka kedua mata yang terus bercucuran air mata, pedang
di tangan mereka gerakkan otomatis menjaga tubuh. Akan tetapi, teringat akan ular-ular yang menyerang
kaki mereka, kedua orang muda itu menjadi bingung, tidak berani melangkah ke luar dari tempat itu.
Tiba-tiba terdengar pekik Sin-coa-kai marah, “Heeeiiiii, bedebah! Siapa berani main-main dengan ularularku?”
Akan tetapi bentakan ini disusul rintihan si Buntung itu. Asap yang memerihkan mata juga tidak
menyerang lagi.
Lin Lin dan Bok Liong masih terus memutar pedang menjaga diri. Setelah mata mereka tidak pedas lagi
dan dapat dibuka, barulah mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan mereka itu amat lucu. Di depan
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak ada musuh, bangkai ular bertumpuk-tumpuk di sana-sini, dan mereka tadi masih terus bersilat
memutar pedang!
Muka Bok Liong menjadi merah sekali. “Wah, alangkah tolol kita. Sudah ada orang sakti menolong, ularular
mati dan semua pengemis diusir pergi, dan kita masih terus main pedang seperti wayang tanpa
penonton!”
Lin Lin membanting-banting kakinya. “Lagi-lagi penolong tak diundang! Kalau memang sudah menolong,
kenapa tidak mau memberi tahu sehingga kita menjadi tontonan yang mentertawakan? Benar-benar dia
memandang rendah!”
“Eh, Lin-moi. Berkali-kali dia menyelamatkan nyawa kita, kenapa kau malah marah-marah? Mana bisa kita
menjadi tontonan kalau di sini tidak ada siapa-siapa yang akan menonton kita? Sebaliknya kita harus
berterima kasih kepada pendekar sakti dan menol....”
“Siapa bilang tidak ada penonton? Apa kau kira dia itu tidak sedang terkekeh-kekeh mentertawakan kita
yang bersilat sendiri melawan angin? Benar-benar kau tolol dan dapat dipermainkan orang, Twako!”
Bok Liong tersenyum. Baru berkenalan sebentar saja, sikap gadis ini sudah amat intim, tidak ragu-ragu
mengecapnya tolol segala! “Jadi kau tidak berterima kasih kepadanya, Moi-moi?”
“Tidak! Aku tidak minta dia tolong, perlu apa berterima kasih?”
“Habis, andai kata dia muncul di depanmu, kau mau apa terhadapnya?”
“Mau apa? Menebus penghinaan ini di ujung pedang, apa lagi?”
“Penghinaan?”
“Dia menolong tanpa diundang, bergerak secara sembunyi, ini berarti mempermainkan kita dan amat
memandang rendah, apakah yang begini masih belum patut dikatakan penghinaan?”
Tiba-tiba Bok Liong meloncat ke kiri, menyingkap alang-alang sambil berseru, “Harap Locianpwe (Orang
Tua Gagah) sudi menjumpai kami...!” Akan tetapi ia kecewa karena di belakang alang-alang itu tidak ada
siapa-siapa.
“Eh, apa kau masih terus bermain sandiwara setelah bertanding pedang angin tadi, Twako? Siapa yang
kau ajak bicara?”
Bok Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jelas benar tadi kulihat bayangan orang di sini! Malah
ketika aku melompat sampai di sini, masih kudengar helaan napasnya! Heran benar....”
“Sudahlah, Twako. Kau lagi-lagi melihat serta mendengar setan.”
“Benar, Lin-moi. Kalau dia tidak mau menemui kita, dicari juga sia-sia. Mari kita lanjutkan perjalanan, siapa
tahu Suma-kongcu masih mempunyai banyak kaki tangan yang hanya akan mengganggu kita. Lebih cepat
sampai di kota raja lebih baik. Kota raja sudah dekat dan sekarang pagi.”
Keduanya lalu berlari meninggalkan tempat itu. Lin Lin bergidik melihat bangkai banyak ular menggeletak
di sana-sini, anehnya, sebagaian besar bangkai-bangkai itu pecah kepalanya. Padahal ia tahu benar
bahwa pedangnya dan pedang Bok Liong tak mungkin bisa membikin kepala ular remuk, paling-paling
membuntungi leher. Diam-diam ia kagum juga akan kepandaian orang yang telah menolong mereka, akan
tetapi hatinya tetap tidak puas. Orang itu sombong, pikirnya.
Dugaan Bok Liong memang benar. Yang memenuhi permintaan Suma Boan untuk mencoba menangkap
dua orang muda itu ada tiga rombongan. Pertama adalah rombongan Hui-houw-kai-pang, rombongan
kedua adalah rombongan Sin-coa-kai-pang. Ada pun ketiga hanya terdiri dari seorang saja. Orang ini
adalah seorang tokoh perkumpulan pengemis dari daerah barat yang bemama Hek-i Lo-kai (Pengemis Tua
Baju Hitam).
Kepandaian ilmu silatnya tidaklah terlalu tinggi biar pun ia cukup lihai dibandingkan dengan tokoh-tokoh
lain, akan tetapi yang membuat ia amat terkenal adalah kelicikan dan kecurangannya. Ia pandai bicara,
dunia-kangouw.blogspot.com
pandai bersandiwara dan selain ini ia pun memiliki kepandaian membuat obat peledak yang sukar dapat
dilawan oleh seorang ahli silat tinggi sekali pun. Obat peledak itu mengandung racun dan pecahanpecahan
besi berkarat yang amat berbahaya. Semacam granat model kuno! Mengandalkan kecerdikannya,
Hek-i Lo-kai ini beroperasi sendirian saja, tidak suka ramai-ramai main keroyokan. Ketika mendengar
perintah Suma Boan, ia tergesa-gesa melakukan pengejaran. Karena mendengar bahwa dua orang muda
itu lihai dan sedang menuju ke kota raja, ia tidak mau berlaku sembrono seperti dua rombongan yang telah
gagal itu, melainkan mendahului pergi ke kota raja dan menanti di luar tembok kota raja.
Demikianlah, ketika Lin Lin dan Bok Liong tiba di luar kota raja, hari telah menjelang siang. Di luar pintu
gerbang mereka melihat seorang kakek pengemis duduk bersila di atas tanah di dekat jalan raya, matanya
yang meram terus itu agaknya buta, kedua tangannya ditelentangkan di depan dada dan mulutnya tiada
hentinya minta-minta kepada orang yang lewat di jalan itu. Beberapa potong uang tembaga telah
diperolehnya, bertebaran di depannya.
Melihat seorang pengemis, Bok Liong curiga. Ia menyentuh tangan Lin Lin dan memberi isyarat dengan
matanya. Lin Lin menoleh dan tersenyum. “Twako, kau benar-benar seperti seekor burung yang hampir
terkena anak panah, menjadi ketakutan pada bayangan sendiri. Masa setelah gangguan para pengemis
itu, sekarang kalau melihat setiap orang pengemis kau lalu mencurigainya? Hi-hik, lucu! Dia itu benarbenar
seorang jembel. Lihat, dia betul-betul minta-minta, wajahnya pucat matanya buta. Eh... lihat... dia
sakit, Twako...!”
Benar kata-kata Lin Lin itu. Pengemis tua berbaju hitam kotor itu merintih-rintih, memegangi perutnya,
mukanya menjadi pucat sekali, matanya yang buta mendelik tampak putihnya saja. “Ahhh... auuuhhhhh...
aduh, mati aku...,” keluhnya perlahan, keringat besar-besar memenuhi mukanya.
Seorang pedagang tahu yang memikul tahang (keranjang kayu) yang sedang kosong dan sedang menuju
pulang ke desanya di luar kota, berhenti di depan pengemis itu, memandang penuh iba. “Lopek, kau
kenapakah?”
Pengemis itu mengeluh dan meringis kesakitan, nyata amat sukar ia mengeluarkan suara menjawab.
“Aduhhh... napasku... sesak... terpukul... kumat lagi... sesak... auuughhh!” Kakek pengemis itu muntahkan
darah segar! Si penjual tahu kaget dan makin iba.
“Wah, kau sakit berat, Lopek. Ah, bagaimana baiknya?” Beberapa orang yang kebetulan lewat, hanya
menengok lalu melanjutkan perjalanan mereka. Siapa mau peduli akan nasib seorang jembel tua?
Pedagang tahu itu merasa kasihan karena ia sendiri pun seorang miskin, tentu saja ia dapat merasakan
penderitaan jembel ini.
Sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, tentu saja Lin Lin dan Bok Liong maklum apa artinya keadaan kakek itu.
Kakek itu menderita luka dalam dan keadaannya amat berbahaya. Lukanya mengeluarkan darah dan tentu
akan menutup pernapasannya kalau tidak dihentikan. Cara menghentikannya tentu dengan menotok jalan
darah di punggung dan mengurut urat di dada dan leher.
Lin Lin adalah seorang gadis remaja yang wataknya polos dan juga aneh. Ia mudah tersinggung,
perasaannya halus, mudah marah mudah gembira, mudah kasihan mudah membenci. Dengan langkah
lebar ia menghampiri kakek itu, tidak peduli lagi akan pencegahan Bok Liong.
“Kakek, kau terluka di dalam, biar kutolong kau...” kata Lin Lin.
“Auhhhhh... oohhh... terima kasih....”
Lin Lin segera menghampiri punggung kakek itu, menotoknya dengan dua jari tangannya. Gerakannya
gesit sekali dan kedua jarinya amat kuat sehingga sekali menotok saja ia berhasil. Kakek itu meringis
kesakitan dan napasnya bertambah sengal-sengal. Lin Lin menjadi gugup, cepat ia mengulur tangan
hendak meraba leher dan mengurut dada. Tiba-tiba tangan kakek itu yang tadinya menekan-nekan
perutnya, bergerak cepat dan tampak sinar berkilat ketika tangan yang telah mencabut pedang pendek ini
menusuk ke arah dada Lin Lin!
“Keparat!” Bok Liong yang sudah waspada cepat menerjang maju dan mengirim tendangan, sedangkan Lin
Lin yang menjadi kaget sekali namun tak kehilangan akal segera membuang diri ke belakang sambil
berjungkir-balik. Tendangan Bok Liong keras sekali, membuat tubuh kakek pengemis itu terpental dan
bergulingan sampai sepuluh meter jauhnya, pedang pendeknya terlempar entah ke mana. Akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
kakek pengemis yang sekarang sudah tidak buta lagi itu, mengeluarkan dua buah benda sebesar kepalan
tangan.
Pada saat itu, dari barat datang seekor kuda membalap cepat. Penunggangnya seorang pemuda
berpakaian hitam, jubah panjang berwarna hitam menutup celana sutera putih. Tepat sekali kudanya
datang lewat ketika kakek pengemis yang bukan lain adalah Hek-i Lo-kai itu melontarkan dua buah
granatnya ke arah Lin Lin dan Bok Liong.
“Tiarap semua...!” Nyaring sekali suara ini dan tubuh jangkung di atas kuda itu menyambar ke arah dua
buah alat peledak, sekali sambar dua buah benda berbahaya itu telah berhasil ia tangkap! Bukan main
hebatnya gerakan ini, terlihat oleh Lin Lin dan Bok Liong yang otomatis sudah rebah di atas tanah. Kuda itu
berhenti sebentar dan penunggangnya menoleh ke arah Hek-i Lo-kai yang berdiri dengan muka pucat dan
kedua kaki menggigil.
“Am... pun... ampunkan...”
“Hek-i Lo-kai, kali ini tidak ada ampun!” Tampak sinar hitam dari cambuk di tangan penunggang kuda itu
bergerak, terdengar suara “tar-tar-tar” tiga kali dan robohlah Hek-i Lo-kai! Penunggang kuda itu membedal
kudanya, tanpa bicara sesuatu kudanya membalap memasuki pintu gerbang. Akan tetapi, setibanya di
pintu gerbang, penunggangnya menoleh ke arah Lin Lin.
Lin Lin dan Bok Liong melompat bangun dan menghampiri Hek-i Lo-kai yang merintih-rintih dan mencoba
bangun. Alangkah kaget dan ngeri hati Lin Lin dan Bok Liong melihat betapa punggung kakek itu telah
melengkung dan di situ tampak tiga garis melintang berwarna hitam, menembus baju, kulit dan daging
sampai tampak tulangnya!
“Aduh... ampun... Suling Emas....”
Mendengar ini, Lin Lin dan Bok Liong terkejut. Terutama Lin Lin. Jadi penunggang kuda yang gagah
perkasa, seorang laki-laki yang belum tua, tampan dan gagah, dia tadi Suling Emas?
“Jembel tua jahat, kau bilang dia Suling Emas? Betulkah itu?” Lin Lin bertanya.
“Sul... Suling Emas... tak kenal... ampun....” Kakek ini roboh lagi, muntah darah dan tanpa berkelojotan lagi
ia menghembuskan napas terakhir!
Melihat terjadi peristiwa pembunuhan, si pedagang tahu cepat-cepat mengangkat pikulannya dan pergi
meninggalkan tempat itu, juga mereka yang menyaksikan peristiwa itu segera pergi dari situ setelah
mendengar disebutnya nama Suling Emas. Nama ini meyakinkan mereka bahwa kakek jembel yang tadi
pura-pura buta dan mengemis tentulah seorang penjahat besar.
“Berbahaya...” kata Bok Liong. “Dia ini kiranya Hek-i Lo-kai dan tentulah dua buah benda tadi adalah dua
senjata peledak yang kalau tadi tidak disambar Suling Emas, tentu menghancurkan tubuh kita berdua.
Hebat...!”
Tiba-tiba seorang hwesio muda menghampiri mereka dan memberi hormat. Hwesio muda inilah satusatunya
orang yang tidak pergi dan sejak tadi ia menatap wajah Lin Lin. “Maaf kalau pinceng (aku)
mengganggu. Apakah Lihiap (Pendekar Wanita) yang bernama Kam Lin Lin?”
Lin Lin menengok, tercengang dan Bok Liong sudah mengerutkan kedua alisnya yang tebal, siap
menghadapi segala kemungkinan. Dalam keadaan seperti itu ia menaruh curiga kepada setiap orang.
“Maaf,” kata hwesio itu lagi. “Tentu Lihiap merasa heran, akan tetapi pinceng mencari Lihiap atas suruhan
Nona Kam Sian Eng. Menurut gambarannya, Lihiap tentu yang bernama Kam Lin Lin, hanya entah, apakah
Sicu ini yang bernama Kam Bu Sin...”
Lenyap kecurigaan kedua orang muda itu. Malah Lin Lin berjingkrak gembira sambil bertanya, “Di manakah
Enci Siang Eng?”
“Silakan Ji-wi ikut pinceng, dia berada di kelenteng kami.”
“Bagaimana dia? Selamatkah? Dan di mana Sin-ko? Bagaimana Enci Sian Eng bisa berada di
dunia-kangouw.blogspot.com
kelentengmu?”
Diberondong pertanyaan-pertanyaan ini, hwesio itu hanya tersenyum, lalu menjawab. “Tidak leluasa kita
bicara di tengah jalan. Marilah, nanti di kelenteng tentu Ji-wi akan mendengar sejelasnya dari Nona Sian
Eng sendiri.”
Mereka bertiga segera memasuki kota raja dan menuju ke kelenteng. Lin Lin yang sudah tidak sabar itu lari
saja memasuki kelenteng hampir menabrak seorang hwesio tua yang menyapu lantai sehingga hwesio itu
menggeleng-geleng kepalanya dan mulutnya bersungut-sungut, “Omitohud... cantik liar, jangan-jangan
siluman musang...!”
Pada saat itu, Sian Eng keluar dari ruangan dalam. Melihat siapa orangnya yang berlari-lari datang dari
luar, ia berteriak girang dan lari menyambutnya. Di lain saat enci adik itu sudah saling rangkul dan saling
cium sambil tertawa-tawa gembira.
“Lin Lin, bocah nakal kau!” Siang Eng berseru sambil menciumi adiknya.
“Enci Eng, kau tahu siapa yang kutemui di jalan tadi? Sampai mati kau tentu tidak akan dapat menduga,”
bisik Lin Lin dengan wajah tegang, “dia bukan lain adalah Suling Emas!”
Akan tetapi Lin Lin keliru dan kecewa. Kiranya enci-nya sama sekali tidak kelihatan terkejut, hanya
menggumam perlahan, “Hemmm, ya?” kemudian Sian Eng melihat seorang pemuda berdiri termangumangu
dan canggung menghadapi pertemuan enci adik yang mesra itu. “Lin Lin, kau maksudkan dia itukah
Suling Emas?” Tentu saja Sian Eng bertanya dengan suara berbisik agar tidak terdengar pemuda itu.
“Hi-hik, bukan... bukan dia. Dia itu sahabat baikku, orangnya baik, kepandaiannya lihai, tapi dia bukan
Suling Emas, dia Lie Bok Liong Koko. Oya Liong-twako, mari sini! Mari kuperkenalkan dengan Enci-ku
yang lihai dan cantik!”
Bok Liong menjadi merah wajahnya, apa lagi melihat betapa Sian Eng dan Lin Lin tadi kasak-kusuk dan
sekarang enci itu mencubit adiknya yang tersenyum-senyum nakal. Akan tetapi karena Lin Lin
melambaikan tangan memanggilnya dan enci adik itu memandang kepadanya, tidak enak kalau ia tidak
menghampiri. Dengan jantung berdebar ia menghampiri mereka lalu mengangkat kedua tangan memberi
hormat sambil menundukkan muka, tidak berani menatap wajah Siang Eng karena merasa sungkan dan
malu.
“Liong-twako, betul tidak kataku? enci-ku cantik jelita dan... aduhhh! Galaknya yang tidak nguati (tak
tertahankan)!” Kemudian sambil tertawa ia berkata kepada Sian Eng, “Enci Eng, Liong-twako ini baik
sekali, menemaniku sepanjang jalan, mengantarku sampai di sini, malah di jalan membantu aku
menghadapi pengemis-pengemis jahat. Orangnya jujur, sopan, tidak kurang ajar, dan...”
“Hushhh, terlalu kau, Lin Lin!” Sian Eng membentak adiknya, lalu mengangkat kedua tangan di depan dada
membalas penghormatan Bok Liong sambil berkata halus, “Harap Lie Bok Liong Taihiap (Pendekar Besar)
sudi memaafkan adikku yang nakal dan suka menggoda orang ini. Terima kasih saya haturkan atas
kebaikan Taihiap terhadap adikku...”
“Wah-wah-wah, apa-apaan ini? Taihiap-taihiapan segala macam! Aduh, bisa mekar hidung Liong-twako
kau sebut Taihiap. Sebut saja Twako, mengapa sih? Terhadap sahabat baik masih banyak sungkan dan
peraturan, itu palsu namanya!”
“Eh... oh... maaf, Nona... eh, saya...”
“Nah-nah-nah, Taihiap dan Nona, Tuan dan Nyonya, jemu aku mendengarnya! Liong-twako, dia ini Enci
Siang Eng, Enciku
sendiri, tahu kau? Kalau kau menyebut aku Lin-moi, Moi-moi, kadang-kadang Siauwmoi,
mengapa kepada enci-ku kau menyebut Nona? Kalau begitu kau pun harus menyebut aku Nona
Besar dan aku akan menyebutmu Tuan Besar. Hayo, bagaimana?”
Memang nakal sekali Lin Lin. Ia tidak peduli akan segala perasaan sungkan, bingung dan malu yang
dirasakan oleh Bok Liong di saat itu. Sian Eng merasa kasihan terhadap korban kenakalan adiknya ini.
Hemmm, pikirnya, pemuda ini agaknya pendiam dan baik, tentu saja bukan lawan Lin Lin. Teringat ia akan
Suling Emas yang aneh wataknya dan tidak pedulian itu. Rasakan kau nanti Suling Emas, kalau sampai
jumpa dengan adikku Lin Lin, bisa mati berdiri kau dipermainkan! Tiba-tiba ia teringat akan pemberitahuan
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin Lin tentang Suling Emas tadi, wajahnya berubah serius.
“Lin Lin, jangan mengganggu orang. Kita masih harus bicara banyak. Sin-ko sampai sekarang belum juga
datang.”
Lin Lin sadar lalu menoleh kepada Bok Liong. “Liong-twako, jangan marah, ya? Aku juga berterima kasih
padamu, lho! Kau memang baik sekali kepadaku. Sekarang aku sudah bertemu dengan Enci Sian Eng,
hanya tinggal kakakku Bu Sin yang masih belum kami ketahui berada di mana. Apakah kau suka
menolongku mencarinya, Twako?”
“Aku akan girang sekali kalau dapat membantumu mencari kakakmu, Lin-moi. Tentu akan kutanyatanyakan
kepada kenalanku, harap jangan khawatir.”
“Kalau begitu, aku dan Enci Sian Eng akan menanti di sini beberapa hari, menanti berita darimu tentang
Sin-ko.”
“Lin Lin, Lie Bok Liong Ta...”
“... Twako...!” Lin Lin memotong.
Siang Eng merah mukanya dan memandang tamunya, kebetulan Bok Liong juga memandang. Terpaksa
dua orang muda yang menjadi malu dan jengah ini tersenyum dan seketika suasana menjadi lebih wajar,
rasa malu menipis.
“Baiklah! Liong-twako masih lelah, baru saja datang masa sudah kau serahi tugas lagi. Jangan keterlaluan,
dumeh (mentang-mentang) orang suka menolong kau lalu menekan.”
“Ah, tidak... sama sekali tidak!” Bok Liong cepat membantah. “Ji-wi Moi-moi (Adik Berdua) tak usah
sungkan. Aku sudah mendengar semua dari Lin-moi dan aku pasti akan berusaha sedapat mungkin untuk
mencari berita tentang kakak kalian. Harap saja dalam waktu dua pekan ini kalian tidak pergi dari tempat
ini, atau andai kata pergi dan pindah juga, memberi tahu kepada para Lo-suhu di sini sehingga kalau aku
datang, aku akan dapat tahu ke mana harus menjumpai kalian untuk menyampaikan hasil usahaku
mencari kakak kalian. Sekarang aku pamit dulu.”
Melihat Bok Liong memberi hormat lalu mundur dan hendak pergi, Lin Lin cepat berseru. “Twako, nanti
dulu!”
“Ada apa?” Terlalu cepat Bok Liong membalikkan tubuh dan sinar yang memancarkan kasih mesra
terlepas dari pada pandang mata yang awas.
“Aku pesan... kalau kau bertemu dengan jembel-jembel jahat itu....”
“Ya, lalu bagaimana?”
“Aku titip tiga pukulan atau sekali tusukan pedang.”
Bok Liong tertawa dan mengangguk-angguk.
“Dan jangan lupa, kalau kau berjumpa dia di jalan katakan...”
“Dia siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Suling Emas? Katakan bahwa aku menanti di kelenteng ini dan sampaikan
tantanganku kepadanya!”
Sian Eng terkejut bukan main akan tetapi ia masih sempat melihat betapa wajah pemuda itu
membayangkan ketidaksenangan
hati. Akan tetapi Bok Liong kembali mengangguk-angguk, lalu berkata,
“Baiklah, Lin-moi, dan kau... kau yang baik-baik menjaga diri... selamat berpisah sampai jumpa lagi.” Ia
melompat dan pergi dari situ.
Sian Eng memperkenalkan Lin Lin kepada para hwesio kepala di kelenteng itu, kemudian mengajak
adiknya masuk kamar untuk bercakap-cakap. Begitu memasuki kamar, Sian Eng menegur adiknya. “Lin
dunia-kangouw.blogspot.com
Lin, kau terlalu sekali terhadap pemuda itu. Tak tahukah kau betapa dia amat mencintamu? Tapi kau selalu
mempermainkan dia. Terlalu!”
“Liong-ko? Mencintaku? Tentu saja! Aku pun mencintanya, dia seperti kakakku sendiri.”
“Hush, bukan begitu. Dia mencintamu, hal ini kuyakini benar. Tapi kau... ah, kau masih anak-anak, adikku.
Sudahlah, kelak kau mengerti sendiri. Eh, kau tadi bilang bertemu dengan Suling Emas. Betulkah itu? Di
mana?”
“Di dekat pintu gerbang kota. Dia naik kuda, jubahnya hitam, orangnya tinggi besar, tampan dan gagah,
tapi sombong!”
“Sombong?”
“Ya, sombongnya setengah mati! Agaknya dia yang telah berkali-kali menolong aku dan Liong-twako, akan
tetapi dengan sembunyi-sembunyi, tidak sudi menemui kami. Uhhhhh, sombong sekali agaknya
mengandalkan kepandaian dan memamerkan tampannya!”
Tiba-tiba Siang Eng memegang lengan Lin Lin. “Adikku, kau bilang dia telah menolongmu berkali-kali, akan
tetapi kau memaki-maki dia dan kau malah menantangnya berkelahi? Adakah yang lebih gila dari ini?
Jangan begitu, Lin Lin, pula... kau menantang seorang yang berilmu tinggi seperti Suling Emas, apamukah
yang kau andalkan? Lin-moi, ketahuilah, dahulu kita mengira bahwa kita sudah memiliki kepandaian silat,
kiranya sekarang kenyataan membuktikan bahwa apa yang kita miliki tidak ada artinya sama sekali.”
“Wah-wah, jangan merendah, Enci Eng! Aku tidak takut kepada Suling Emas. Ya, aku akan mencarinya,
menantangnya berkelahi sampai seribu jurus. Aku tidak akan kalah. Lihat, Enci, aku bukanlah Lin Lin yang
dahulu lagi!” Lin Lin menggerakkan tangan kirinya seperti melambai ke arah sebuah patung batu.
Sebetulnya ia mengerahkan Khong-in-ban-kin dan melakukan jurus pukulan jarak jauh dan... patung itu
terjengkang ke belakang seperti didorong oleh tenaga raksasa yang tidak tampak.
“Lihat, Enci, apa kau bisa mengikuti gerakanku?”
Sian Eng melongo menyaksikan adiknya merobohkan patung tanpa menyentuhnya, dan menjadi makin
terheran-heran ketika melihat tubuh Lin Lin berkelebatan di dalam kamar yang luas itu, demikian cepat
sehingga bayangannya lenyap terbungkus sinar kuning yang bergulung-gulung! Ia masih melongo dan
tidak dapat mengucapkan kata-kata ketika Lin Lin sudah selesai bermain pedang dan berdiri di depan encinya
sambil tersenyum bangga.
“Kau lihatlah, Enci. Adikmu ini sekarang tidak takut lagi menghadapi Suling Emas, biar pun ia berkepala
tiga berlengan enam!”
“Astaga, Lin Lin, dari mana kau peroleh kepandaian itu?”
Lin Lin merangkul enci-nya dan sambil duduk berendeng di atas pembaringan, berceritalah Lin Lin tentang
pertemuannya dengan Kim-lun Seng-jin yang ia sebut si gundul pacul, kemudian tentang pertemuannya
dengan Lie Bok Liong sampai akhirnya bertemu dengan Sian Eng di kota raja. Sian Eng mendengarkan
dengan penuh kekaguman, kemudian merangkul Lin Lin sambil berkata.
“Ah, aku girang sekali, Lin-moi. Kiranya orang sakti yang menolongmu telah mewariskan ilmu
kepandaian hebat kepadamu! Dan kau memperoleh pula seorang sahabat yang setia dan perkasa seperti
Lie Bok Liong. Syukurlah. Akan tetapi, aku masih tidak setuju akan sikapmu terhadap Suling Emas.
Ketahuilah, dia itu bukan musuh kita, bukan pembunuh ayah bunda kita, malah dialah yang telah menolong
Sin-ko dan aku sendiri, bahkan menurut ceritamu, dia telah pula menolong engkau dan Liong-twako.”
“Dia menolongmu dan Sin-ko? Bukan pembunuh ayah bunda kita? Coba ceritakan semua, Eng-cici!”
Sian Eng lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak mereka berpisah di atas gedung Pangeran
Suma. Lin Lin merasa ngeri ketika mendengar cicinya bercerita tentang Hek-giam-lo dan ‘istana’ di bawah
kuburan. Akan tetapi ia membelalakkan kedua matanya, wajahnya berubah dan meremang bulu
tengkuknya ketika ia mendengar pengalaman Siang Eng di antara bangsa Khitan, betapa Sian Eng
disangka Puteri Khitan. Jantungnya berdebar-debar dan tulang punggungnya terasa dingin.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa yang kau alami di sana, Enci Eng? Ceritakanlah yang jelas!” desaknya dengan suara gemetar. Dan ia
mendengar penuturan yang membuat degup jantungnya mengeras dan membuat hatinya yakin siapa
sebetulnya dirinya, dan bahwa semua kata-kata Kim-lun Seng-jin adalah benar belaka.
“Mereka itu orang-orang yang kelihatan gagah perkasa, akan tetapi kasar dan liar, adikku. Dan anehnya...
banyak wanitanya, terutama yang berada di istana rajanya, mirip... mirip dengan kau! Aku mereka sangka
seorang Puteri Khitan dan... dan aku ditelanjangi untuk diperiksa punggungku, katanya Puteri Khitan
mempunyai tanda di pung.... astaga, Lin Lin!” Sian Eng menjadi pucat sekali dan melompat berdiri,
memandang wajah adiknya dengan mata terbelalak. “Kau... kau... punggungmu...”
“Tenanglah, Enci Eng, dan duduklah. Kau berceritalah baik-baik dan sejelasnya. Memang ada tanda tahi
lalat merah di punggungku, dan agaknya, memang akulah Puteri Khitan yang mereka cari-cari itu. Aku
sudah mendengar dari Kim-lun Seng-jin, tadi sengaja tidak kuceritakan kepadamu akan hal ini karena
kuanggap masih rahasia. Akan tetapi, setelah mendengar ceritamu, jelas siapa yang mereka maksudkan
dengan Puteri Khitan. Agaknya dahulu Ayah memungutku dari keluarga Khitan, agaknya Ibuku Puteri
Mahkota Khitan yang tewas dalam perang melawan Ayah, lalu aku dipungut anak. Nah, sederhana sekali,
bukan? Lanjutkanlah.”
Untuk beberapa lama Sian Eng tak dapat bicara. Dipandangnya wajah Lin Lin, kemudian dirangkul dan
diciuminya adiknya itu sambil berlinang air mata. “Kau bukan seorang di antara mereka. Kau adikku! Ah,
mereka begitu kejam, begitu kasar dan liar....”
Lin Lin tertawa. “Kau lihat aku baik-baik. Aku memang berbeda denganmu, Cici. Aku juga kasar dan liar,
seringkali kau katakan begitu, akan tetapi aku tetap adikmu. Jangan khawatir dan teruskan ceritamu.”
Sian Eng melanjutkan ceritanya sampai ia dikubur hidup-hidup sebatas leher dan ditolong oleh Suling
Emas, melakukan perjalanan dengan Suling Emas sampai ke kelenteng di kota raja ini.
Lin Lin amat tertarik dan beberapa kali ia menarik napas panjang. “Ah, alangkah senangnya melakukan
perjalanan bersama orang aneh itu. Dia orang macam apa, Enci Eng? Ramahkah dia? Atau galak?
Sombongkah dia seperti yang kusangka? Dan kepandaiannya bagaimana?”
Diam-diam Siang Eng terkejut. Nada suara adiknya ini demikian penuh perhatian. Ada apakah gerangan?
Ia merasa khawatir kalau-kalau adiknya ini nekat saja menuduh Suling Emas membunuh ayah bunda
mereka dan nekat mencari dan menentangnya bertempur.
“Dia memang orang aneh, Lin Lin. Aneh sekali dan sepak terjangnya tidak seperti manusia biasa.
Kepandaiannya sukar diukur sampai di mana tingginya karena aku tidak dapat mengikuti gerak-geriknya.
Ia pendiam, tak pernah bicara kalau tidak menjawab pertanyaan, itu pun singkat saja, hanya ya atau tidak.
Wajahnya sering kali suram-muram seperti ada sesuatu yang menekan batinnya, ia sama sekali tidak
ramah. Aku tak pernah melihat ia tersenyum, apa lagi tertawa. Ada satu kali dia bersenandung, suaranya
cukup baik tapi menggetar penuh kesedihan. Ia tidak pernah mengajak aku bicara tentang dirinya, akan
tetapi harus kunyatakan bahwa dia adalah sesopan-sopannya lelaki.”
Lin Lin amat tertarik dan matanya sayu merenung, bibirnya bergerak seperti bicara kepada diri sendiri,
“Wajahnya tampan dan gagah, sikapnya angkuh... seperti raja saja dia....”
“Kau bilang apa, Lin Lin? Mengapa seperti raja?”
Lin Lin sadar dan tersenyum, “Enci Eng, bagaimana tentang Sin-ko? Katanya juga ditolong Suling Emas,
tapi mana Sin-ko sekarang?”
“Menurut Suling Emas, Sin-ko berada dalam keadaan selamat, bebas dari tangan Suma Boan yang jahat.
Katanya Sin-ko tentu akan ke kota raja, maka aku disuruh menanti di kelenteng ini. Tapi sampai sekarang
Sin-ko belum juga muncul, malah kau yang muncul lebih dulu.”
“Mudah-mudahan Sin-ko selamat dan kita bertiga dapat berkumpul pula. Eh, bagaimana tentang kakak
sulung kita, Enci Eng? Apakah kau sudah mendengar tentang dia?”
Sian Eng mengerutkan kening dan menarik napas panjang. “Berita yang kudengar tentang Kakak Bu Song
tidak baik. Ketika aku dan Sin-ko diserang di rumah Suma Boan, putera pangeran itu agaknya dahulu
bermusuhan dengan kakak sulung kita itu dan kemarahannya kepada kakak sulung kita ia tumpahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada aku dan Sin-ko. Dan menurut Suling Emas, Kakak Bu Song itu sudah... sudah mati, katanya. Akan
tetapi ia pun tidak mau bicara dengan jelas, hanya ia kelihatan seperti seorang yang membenci Kakak Bu
Song.”
Lin Lin mengerutkan keningnya. “Hemm, pesan Ayah itu harus kita penuhi. Bagaimana pun juga kita harus
dapat bertemu dengan Kakak Bu Song. Kalau Suma Boan membenci kakak kita itu dan membalas dendam
kepada kau dan Sin-ko, berarti dia tidak tahu di mana adanya Kakak Bu Song sekarang. Sebaliknya, Suling
Emas bisa mengatakan bahwa kakak kita itu mati, berarti dia tahu di mana adanya Kakak Bu Song, atau
kalau memang betul sudah mati, bagaimana matinya dan di mana kuburnya. Aku akan mencarinya dan
bertanya tentang kakak kita, Enci Eng.”
“Apa? Kau hendak menjumpai Suling Emas? Tak seorang pun, juga semua hwesio di sini yang
memujanya, tak seorang pun tahu di mana adanya Suling Emas. Mana kau bisa mencarinya, Lin-moi? Dia
seorang yang luar biasa sekali, kalau dia tidak menghendaki, tak seorang pun dapat menemuinya.”
“Wah-wah, apa dia itu melebihi raja dan malaikat? Enci Eng, kita tidak boleh mendewa-dewakan siapa pun
juga. Biar seribu kali dia menolong kita kalau dia menghendaki dipuja-puja karena pertolongannya, aku
tidak sudi ditolong. Kalau dia manusia biasa, kurasa aku akan dapat mencarinya!”
Sian Eng merasa khawatir sekali. Ia percaya bahwa adiknya ini sekarang telah memiliki kepandaian tinggi,
jauh lebih tinggi dari pada dia atau Bu Sin sekali pun, akan tetapi karena malam itu Lin Lin memaksa
hendak pergi mencari Suling Emas, timbullah rasa khawatir di hatinya. Ia cukup mengenal watak Lin Lin
yang aneh dan angin-anginan. Bagaimana kalau adiknya ini kambuh gilanya dan melakukan hal yang
bukan-bukan andai kata benar dapat berjumpa dengan Suling Emas? Siapa tahu Lin Lin akan
menantangnya, akan menghinanya! Akan tetapi, mencegah pun ia tahu akan sia-sia belaka, apa lagi
sekarang Lin Lin sudah demikian lihainya.
“Enci Eng, jangan gelisah. Aku tentu akan dapat bertemu dengannya. Kalau berjumpa, akan kusampaikan
kepadanya betapa kau memuja-mujanya seperti dewa! Dan pesanku, kalau sebelum aku pulang Liongtwako
datang berkunjung, sambutlah dia dan ajak ia bercakap-cakap. Dia baik sekali, Eng-cici, kiraku jauh
lebih baik dari pada Suling Emas.”
“Ihhhhh, kau bicara apa itu, Lin-moi? Apa perlunya kau membanding-bandingkan dua orang laki-laki itu?
Cih, tak bermalu!”
“Hik-hik, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Tapi aku tahu, Enci-ku yang manis ayu, setiap detik
kau membayangkan Suling Emas yang gagah perkasa!”
“Idihhhhh, genit kau!” Sian Eng mengejar hendak mencubit, akan tetapi sekali berkelebat Lin Lin lenyap di
atas genteng. Hanya suaranya terdengar dari tempat gelap di atas.
“Enci Sian Eng, aku pergi dulu!”
Siang Eng menjatuhkan diri di atas pembaringan, duduk termenung. Ucapan Lin Lin yang menggodanya
tadi menikam jantungnya. Benarkah bahwa dia memuja Suling Emas? Ah, bocah itu terlalu lancang,
menduga yang bukan-bukan. Tentu saja ia amat kagum, dan bolehlah dikatakan ia setengah memujanya,
akan tetapi hal ini adalah karena pengaruh pribadi Suling Emas yang memang hebat ditambah lagi karena
ia melihat betapa seisi kelenteng memujanya. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa dia... eh, tergila-gila
kepada Suling Emas. Dan ia merasa betapa dalam godaan Lin Lin tadi, oleh adiknya itu ia dianggap tergilagila
dan jatuh cinta kepada Suling Emas. Gila benar!
Bukan laki-laki luar biasa, aneh dan kadang-kadang menyeramkan itu yang menjadi pria idamannya. Suling
Emas terlalu tinggi, seperti manusia setengah dewa, bukan... bukan pria macam itu yang dapat merampas
kasih sayangnya. Tiba-tiba muka Sian Eng menjadi merah sekali, kedua pipinya terasa panas. Pikirannya
membayangkan adegan ketika ia bertemu dengan Suma Boan, ketika ia tertawan... dan tiba-tiba Siang Eng
menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu!
********************
Kita tinggalkan Sian Eng yang menangis tergoda rahasia perasaannya sendiri dan mari kita ikuti Lin Lin
yang lincah, jenaka, dan tak kenal arti takut itu. Siang tadi ia melihat Suling Emas menunggang kuda
memasuki kota raja dan ia merasa yakin bahwa tentu Suling Emas berada di dalam gedung perpustakaan
dunia-kangouw.blogspot.com
istana, seperti yang ia dengar dari percakapan Suma Boan dan kaki tangannya bahwa kalau berada di kota
raja, Suling Emas biasanya bersembunyi di dalam gedung perpustakaan istana.
Pengalamannya dengan Kim-lun Seng-jin ketika memasuki istana menyerbu dapur dan gedung pusaka
merupakan pelajaran yang sekarang amat berguna bagi Lin Lin karena sekarang ia telah tahu jalan masuk
yang paling aman, yaitu melalui pohon tinggi yang tumbuh di luar pagar tembok. Berkat latihan yang tak
kenal lelah kini ia telah memperoleh kemajuan hebat semenjak ia menyerbu istana dengan Kim-lun Sengjin.
Oleh karena itu dengan amat mudahnya Lin Lin melompati pagar tembok dan berada di daerah istana
kaisar yang amat luas itu. Ia menyelinap di dalam gelap, lalu menyusup di antara bangunan-bangunan
besar.
Beberapa lama ia berputaran di antara gedung-gedung besar dan ia menjadi bingung. Teringatlah ia
bahwa ia sama sekali tidak tahu di mana adanya gedung perpustakaan. Kompleks istana ini begitu luasnya
sehingga untuk mencari dapur dan gedung pusaka yang dahulu pernah ia kunjungi pun sekarang ia tak
sanggup lagi, sudah lupa! Celaka, pikirnya. Mengapa begini luasnya dan begini banyaknya gedung-gedung
besar? Tak mungkin ia harus memeriksa setiap gedung! Apa lagi kalau diingat bahwa di daerah istana ini
terdapat banyak sekali pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi seperti pernah ia dengar dari Kimlun
Seng-jin.
Karena kebingungan, akhirnya secara ngawur Lin Lin melompati sebuah pagar tembok yang tidak terlalu
tinggi. Ketika ia tiba di sebelah dalam, kiranya di belakang tembok itu merupakan sebuah taman bunga
yang amat indah, di mana-mana tergantung lampu-lampu teng beraneka warna, seperti kalau orang
merayakan hari raya musim semi saja. Taman yang penuh bunga beraneka warna, harum semerbak
baunya dan lampu-lampu itu diatur secara nyeni (artistik) sekali. Ada yang menempel pada pohon, ada
yang berbentuk burung hijau hinggap di atas cabang, ada yang seperti bulan sabit tergantung di awangawang.
Jumlahnya banyak sehingga taman itu tampak terang dan indah. Di tengah-tengah taman bunga
terdapat sebuah kolam ikan yang dihias bunga teratai merah putih. Air yang menyembur keluar di tengahtengah
kolam itu pun seakan-akan berwarna karena tertimpa sinar dari sekelilingnya, sinar lampu warna
pelangi!
Lin Lin berdiri terpaku di atas tanah, terbelalak kagum, merasa seakan-akan berada di alam mimpi. Melihat
taman itu sunyi tanpa ada seorang pun manusia di situ, ia berjalan perlahan menoleh ke kanan kiri,
mengagumi keindahan yang luar biasa ini. Setiap tanaman diatur baik-baik, bahkan batu-batu yang
menghias jalan kecil di taman, semua merupakan hasil seni yang hebat. Menghadapi keindahan ini, Lin Lin
lupa akan maksud kunjungannya ke kompleks istana, malah ia lalu duduk termenung menghadapi kolam
ikan, terkikik-kikik ketawa sendirian melihat tingkah polah ikan-ikan yang ekornya mekar dan berenang
dengan gerakan megal-megol lucu sekali. Ia melihat seekor ikan emas merah mengejar-ngejar seekor ikan
emas betina berwarna kuning. Ke mana-mana dikejarnya dan mereka itu berkejaran dengan megal-megol.
“Hi-hik, renangmu begitu kaku, mana mampu menyusulnya?” Ia tertawa-tawa menggunakan jari-jari
tangannya yang runcing mungil untuk menggerak-gerakkan air sehingga bayangannya sendiri yang tampak
di air menjadi kacau dan bergoyang-goyang. Pemandangan ini mendatangkan rasa geli di hatinya dan
kembali ia tertawa.
“Kau... siapakah?”
Teguran ini halus, akan tetapi membuat Lin Lin terkejut bukan main. Ia melompat dan membalik. Seorang
laki-laki yang berpakaian amat indah, berusia tiga puluh lebih, wajahnya tampan gerak-geriknya halus,
berdiri di depannya sambil memandang penuh perhatian. Belum pernah selamanya Lin Lin melihat seorang
pria berpakaian seindah ini. Bahkan Suma Boan putera pangeran itu pun tidak seindah ini pakaiannya,
seperti pakaian anak wayang hendak main sandiwara di panggung. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan
wajahnya pucat, hatinya berdebar. Agaknya orang ini kaisar!
Laki-laki itu menjadi makin kagum melihat Lin Lin berdiri dengan sepasang matanya yang lebar terbelalak.
Senyumnya melebar dan kembali ia bertanya. “Kau siapakah? Belum pernah aku melihatmu. Apakah kau
seorang dayang baru?”
“Kau... kau...?” Lin Lin balas bertanya dengan gagap.
Laki-laki itu tertawa, suara ketawanya nyaring dan bening. “Bukan, aku bukan Kaisar, hanya Thaicu (Putera
Mahkota).”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhhhh...!” Lin Lin mundur selangkah.
“Kenapa kaget? Kau siapa?” kembali pangeran itu bertanya, kini perhatiannya makin terpikat karena gadis
ini sama sekali tidak menjatuhkan diri berlutut setelah mendengar bahwa dia adalah putera mahkota. Ini
benar-benar aneh sekali!
“Kau... kau Pangeran yang kelak mengganti Kaisar? Kau calon Kaisar?” Sepasang mata jeli itu menjadi
bundar, bening mengeluarkan sinar seperti bintang timur.
Pangeran itu tersenyum dan mengangguk, masih terheran-heran menyaksikan sikap gadis aneh ini.
“Ohhh...!”
“Kenapa?” Hampir pangeran itu meledak ketawanya yang ditahan-tahan melihat sikap dan mendengar
mulut kecil mungil itu ah-ah-oh-oh seperti itu.
“Aku... aku salah masuk... aku... apakah aku harus berlutut di depanmu? Kalau diharuskan, lebih baik kau
lekas minggir, biarkan aku pergi saja karena tidak biasa aku berlutut di depan orang lain kecuali ayah
bundaku yang... yang sudah tiada...”
Sepasang mata pangeran itu bersinar-sinar penuh kegembiraan. Baru kali ini selama hidupnya ada orang
bersikap begini ‘biasa’ kepadanya, dan hal ini menggembirakan sekali. Ia sudah jemu dan kadang-kadang
muak akan sikap menjilat-jilat, sikap menghormat melewati batas yang setiap hari dilimpahkan terhadap
dirinya. Sekarang menghadapi seorang gadis yang tak dikenalnya, gadis remaja cantik jelita dan betulbetul
masih asli belum bau kepalsuan tata krama istana yang menjemukan, ia menjadi tertarik bukan main.
“Ah, tak usah berlutut. Kita sama-sama manusia, kan? Kau tadi bilang siapa namamu dan dari mana
datangmu?”
Lin Lin menggeleng-geleng kepalanya. “Aku belum pernah bilang tentang itu kepadamu.”
Pangeran itu tersenyum geli. Cerdik juga bocah ini, pikirnya, tidak berhasil pancingannya. “Betul juga.
Bolehkah aku mengetahui namamu?”
“Namaku Lin Lin.”
“Wah, nama yang indah sekali! Kau datang dari mana? Mencari siapa di sini?”
“Sebetulnya aku mau mencari gedung perpustakaan, tapi tidak tahu di mana adanya gedung itu, aku
tersesat ke mari dan terpesona oleh keindahan taman ini. Apakah ini tamanmu, Pargeran?”
Bukan main! Pangeran mahkota gembira sekali. Alangkah murni dan polosnya anak ini. Segar dan
menyenangkan sekali. “Betul, ini memang tamanku. Kau senang melihat ikan emas? Yang di dalam
pagoda itu lebih indah, di dalam bak kaca, kau dapat melihat ikan-ikan emas pilihan yang bermain-main di
dalam air dengan jelas sekali. Mari, mau lihat?”
Sikap dan suara pangeran itu amat ramah dan manis, lagi wajar sehingga Lin Lin yang masih mempunyai
sifat kekanak-kanakan itu tidak dapat menahan keinginan hatinya. Akan tetapi kenyataan bahwa ia
berhadapan dan bicara dengan putera mahkota calon kaisar masih membuat ia gugup, maka ia tidak
menjawab hanya mengangguk.
Dengan langkah tenang perlahan pangeran itu mengajak Lin Lin menuju ke sebuah bangunan pagoda
yang kecil dan indah di sebelah kiri kolam ikan, seakan-akan berjalan di dalam taman bersama seorang
gadis yang sama sekali tidak memperlakukannya sebagai pangeran mahkota ini merupakan hal biasa,
seakan-akan Lin Lin memang merupakan sahabatnya yang bebas dari pada segala aturan protokol.
Pangeran mahkota memang mempunyai ‘hobby’ taman bunga yang indah berikut peliharaan ikan-ikan
emasnya. Kalau ia berjalan-jalan menikmati keindahan taman, baik siang mau pun malam, ia tidak mau
diganggu oleh para pelayan. Peraturan ini ia jalankan keras sekali karena ia paling pantang diganggu
ketenteramannya bersunyi diri dan minum arak atau menulis sajak di taman sehingga pada saat itu pun tak
seorang pun pelayan berani muncul di taman itu.
Begitu memasuki pagoda yang oleh pangeran mahkota disebut ‘Pagoda Ikan’, Lin Lin membelalakkan
dunia-kangouw.blogspot.com
kedua matanya dan mulutnya tiada hentinya berseru kagum. Pangeran itu tersenyum gembira karena
kekaguman gadis ini wajar dan sungguh-sungguh, sama sekali berbeda dengan kekaguman para tamu
yang pernah diajak ke situ, yaitu kekaguman yang lebih banyak bersifat membangkitkan kesenangan dan
kebanggaan hati pangeran mahkota.
Memang indah di dalam pagoda itu. Di sekelilingnya terdapat aquarium atau tempat-tempat ikan terbuat
dari pada kaca, di atas dan belakangnya diterangi lampu beraneka warna sehingga di dalam air itu berubah
menjadi dunia mimpi yang luar biasa. Ada pondok kecilnya, ada rumpun bambu, ada alang-alang, bahkan
ada patung kecil merupakan kakek-kakek yang sedang memancing ikan. Adapun ikan-ikan emas dengan
sisik beraneka warna, hilir mudik bermain-main, sisik mereka berkilauan tertimpa sinar lampu. Lin Lin
sampai ternganga memandangi itu semua.
Pangeran itu menjatuhkan diri duduk di atas sebuah kursi di pojok dan ia pun menikmati pemandangan
baru yang baginya tak kalah menariknya dari pada ikan-ikan di dalam kaca yang setiap malam sudah
dilihatnya itu. Ia melihat keadaan gadis remaja, masih murni dan bebas lepas setengah liar, gadis yang
terpesona oleh keindahan isi pagoda, tanpa sadar bahwa dirinya sendiri merupakan keindahan tersendiri
yang pada saatnya akan lebih menggairahkan dari pada isi pagoda.
Setelah Lin Lin puas memandangi semua ikan, mengikuti gerak-gerik mereka sampai lebih dari satu jam
lamanya, barulah ia berpaling kepada pangeran itu, menarik napas panjang melampiaskan kekagumannya
dan berkata, “Hebat sekali! Aku merasa seakan-akan berada di dasar lautan!”
Pangeran itu tertawa. Perumpamaan yang tepat dan hebat. Bagus untuk permulaan sajak! Dan teringat
akan pengakuan Lin Lin yang tadi hendak mencari gedung perpustakaan, tiba-tiba timbullah kecurigaan
dan keheranannya. Dengan suara ramah ia bertanya, “Nona Lin Lin, kau tadi bilang bahwa kau hendak
mencari gedung perpustakaan istana! Mau apakah kau mencari gedung itu? Apakah kau termasuk seorang
kutu buku?”
Lin Lin cemberut. “Kutu? Aku dianggap kutu? Kalau kutunya saja besarnya seperti aku, bukunya sebesar
apa?”
“Ha-ha-ha-ha-ha! Ah, Nona yang lucu, masa kau tidak tahu apa yang kumaksudkan? Kutu buku adalah
sebutan bagi seorang yang hobby-nya membaca buku. Jangan kau bilang bahwa kau buta huruf.”
“Tentu saja aku bisa membaca dan menulis, akan tetapi aku tidak suka banyak baca. Terlalu lama
membaca kepalaku pusing. Aku mencari perpustakaan bukan untuk membaca buku, melainkan....” Lin Lin
menjadi ragu-ragu.
“Melainkan apa? Hendak mencari kitab rahasia?”
Lin Lin menganggap putera mahkota ini amat baik orangnya, maka ia pikir tidak ada salahnya mengaku
terus terang, sekalian melihat apa sikap putera kaisar ini kalau tahu bahwa Suling Emas suka bersembunyi
di dalam gedung perpustakaan istana kalau berada di kota raja. “Bukan, Pangeran. Sebetulnya, aku
hendak mencari Suling Emas yang kurasa berada di gedung perpustakaan istana.”
Betul saja dugaan Lin Lin, pangeran itu terkejut. Akan tetapi bukan terkejut mendengar bahwa Suling Emas
berada di istana, melainkan terkejut mendengar bahwa gadis ini mencari tokoh aneh itu. “Kau mencari...
dia? Ah, kiranya kau seorang gadis petualang dari dunia kang-ouw! Hemmm, betul juga, kau membawa
pedang. Tentu kau lihai sekali, Nona, kalau kau mengenal Suling Emas. Ya, kiranya tak perlu diragukan
lagi. Kau dapat memasuki istana ini saja sudah menjadi bukti akan kelihaianmu....”
Tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Thaicu, saat kematianmu tiba!” tampak sinar menyilaukan mata
menyambar ketika orang berpakaian hitam ini menerjang maju dengan pedang di tangan, langsung
menyerang pangeran mahkota!
“Jangan takut!” Lin Lin berseru dan sinar kuning bergulung-gulung menyambut pedang orang itu.
Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika kedua pedang bertemu dan orang itu memekik, pedangnya
patah menjadi dua bertemu dengan Pedang Besi Kuning, disusul robohnya orang itu dengan dada
tertembus pedang Lin Lin!
Pangeran itu membungkuk, memungut pedang buntung penyerangnya tadi sambil berkata perlahan,
“Menjemukan benar....” Ia melangkah ke luar dan saat tangannya bergerak, buntungan pedang itu
dunia-kangouw.blogspot.com
meluncur ke dalam taman, lenyap di balik gerombolan bunga. Terdengar pekik kesakitan di tempat yang
gelap itu.
Lin Lin terkejut dan sekali melompat ia sudah sampai di tempat itu. Apa yang dilihatnya? Seorang laki-laki
berpakaian hitam, agaknya teman penyerang tadi, sudah menggeletak tewas dengan tenggorokan
ditembus buntungan pedang yang disambitkan oleh pangeran mahkota!
Ketika Lin Lin kembali ke dalam pagoda, pangeran itu masih berdiri, keningnya berkerut. “Tidak enaknya
menjadi keluarga istana,” katanya ketika melihat Lin Lin kembali, “sejak jaman dahulu sampai kini, selalu
terjadi perebutan kekuasaan, selalu muncul pengkhianat-pengkhianat, muncul pembunuh-pembunuh gelap
macam ini. Uhhh, menjemukan sekali!”
“Tapi dengan kepandaian seperti yang kau miliki, tak usah kau takut, Pangeran. Wah, kiranya kau pun
amat lihai, sungguh tak kusangka!” Lin Lin memuji.
Pangeran mahkota memandang tajam. “Dan kiranya kau adalah gadis yang melakukan pencurian pedang
di gedung pusaka, juga sama sekali tak kusangka!”
Lin Lin kaget. Pedang Besi Kuning yang belum ia sarungkan tadi digenggamnya erat-erat, dan ia menatap
wajah pangeran itu penuh selidik. Pangeran itu tersenyum akan tetapi senyumnya mengandung kepahitan.
“Nona Lin Lin, terus terang saja, pertemuan ini mendatangkan kegembiraan besar yang belum pernah
kurasai selama hidupku. Kau baik sekali, kau bagaikan bunga mawar hutan yang belum terjamah tangan
dan masih segar oleh embun. Kalau saja kau dapat menjadi sahabatku selamanya. Tapi... aaah, tak
mungkin itu. Kalau kau berada di sini, tentu kau pun akan menjadi seperti mereka. Karena itu, lebih baik
begini saja, kita asing satu kepada yang lain. Hanya harapanku, semoga kelak kita akan masih dapat
bertemu seperti sekarang ini.”
Lin Lin mendengarkan ucapan yang baginya tidak karuan ini dengan bingung. Ia tidak mengerti dan ia tidak
ingin lebih lama lagi berada di tempat itu setelah pangeran itu berubah sikapnya. Ia mulai curiga.
“Lin Lin, pertemuan ini telah menjalin persahabatan kita. Sebagai sahabat yang akan sering kali
mengenangmu, aku bebaskan kau. Apakah artinya sebuah pedang dibandingkan dengan persahabatan
sejati? Kuhadiahkan pedang itu kepadamu! Akan tetapi, sebagai seorang Pangeran Mahkota yang harus
menjaga kehormatannya, aku tidak dapat bertindak lebih jauh dan lebih banyak dari pada ini. Kau harus
dapat keluar sendiri dari lingkungan Istana dengan selamat. Akan tetapi jangan harap hal itu akan mudah
karena kurasa para pengawal istana sekarang sudah tahu akan kehadiranmu. Nah, selamat malam.”
“Tapi... tapi... aku hendak ke gedung perpustakaan. Di mana itu...?”
Pangeran itu tersenyum. “Kau tidak takut? Benar-benar besar nyalimu. Gedung perpustakaan berada di
sebelah kiri taman ini, melalui tiga bangunan. Atapnya dari kayu besi berwarna putih, kau cari saja, tentu
dapat.”
Lin Lin menyarungkan pedangnya. “Pangeran, kau seorang yang baik sekali. Sekarang berubah
pendapatku bahwa semua pangeran adalah jahat belaka model Suma Boan....”
“Kau kenal Suma Boan?”
“Pedangku yang akan mengenalnya, dia musuhku!”
Pangeran itu mengangguk-angguk dan memandang dengan termenung sampai bayangan Lin Lin lenyap di
balik pagar tembok. Ia lalu menoleh kepada ikan-ikannya dan berbisik. “Mudah-mudahan ia selamat!”
Pertemuan antara putera mahkota dan Lin Lin tanpa disengaja ini diceritakan di sini karena hal yang
kelihatan remeh inilah yang menjadi sebab mengapa kelak setelah pangeran ini menjadi kaisar,
permusuhan antara pemerintahnya dan Kerajaan Khitan berhenti dan berubah menjadi persahabatan.
Lin Lin melompati pagar tembok taman itu dan menyelinap ke dalam gelap. Ia segera mendekam di balik
sebatang pohon ketika melihat berkelebatnya dua bayangan orang.
“Ke mana mereka...?” bisik sesosok bayangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Memasuki taman Putera Mahkota...!”
“Ha-ha, mereka mencari penyakit. Kepandaian mereka belum begitu tinggi, berani mengganggu Thaicu.
Mari kita masuk untuk mengambil mayat mereka.”
“Hush, jangan sembrono kau. Kalau belum ada tanda panggilan Thaicu, siapa berani masuk taman? Minta
mampus? Biar kita menanti di sini saja.”
Lin Lin bergerak menjauhi dua orang pengawal itu. Hatinya kebat-kebit. Benar kata pangeran, banyak
pengawal pandai di sini. Dua orang itu saja sudah tahu akan adanya dua orang pembunuh itu, dan
agaknya mereka sengaja membiarkan dua orang penjahat memasuki goa harimau! Lin Lin bergerak ke kiri
dan akhirnya ia melihat bangunan atap putih. Hatinya berdebar, apakah Suling Emas berada di dalam
gedung ini? Kelihatannya gedung itu sunyi dan gelap. Ia mendekat lagi.
“Berhenti! Siapa kau berani mencuri masuk taman Thaicu dan berkeliaran di istana? Hayo menyerah!”
Lin Lin sudah mendahului orang itu, menerjang dan berhasil mendorongnya roboh. Orang itu lihai dan
cepat sudah melompat bangun. Tadi ia dapat dirobohkan karena sama sekali tidak mengira akan diserang,
apa lagi ketika ia terlongong keheranan melihat bahwa yang ditegurnya adalah seorang gadis remaja yang
cantik dan cara gadis itu menerjang adalah luar biasa dahsyatnya. Hal ini tidak aneh karena memang Lin
Lin tadi menggunakan tenaga Khong-in-ban-kin.
“Gadis liar, jangan lari!” pengawal itu membentak dan menubruk.
Akan tetapi cepat seperti seekor burung walet membalik, gadis itu sudah menyelinap ke kiri dan begitu
tangannya bergerak, kembali orang itu roboh, kini robohnya malah dengan terhempas dan bergulingan.
Barulah ia kaget setengah mati. Kakinya salah urat dan tanpa dapat bangun kembali ia hanya bisa bersuit
keras memberi tanda bahaya.
Lin Lin cepat menjauhkan diri, melompat ke dekat gedung perpustakaan. Ia tidak ingin melibatkan diri ke
dalam pertempuran dengan para pengawal sebelum ia bertemu dengan Suling Emas, karena memang
itulah maksud kedatangannya. Akan tetapi tiba-tiba berkelebatan bayangan orang dan di lain saat ia telah
terkepung oleh lima orang pengawal istana yang berpakaian indah dan gagah, masing-masing memegang
sebatang pedang dengan sikap mengancam. Di pihak para pengawal, mereka sejenak tercengang, sama
sekali tidak pernah menyangka bahwa mereka akan mengurung seorang gadis jelita! Tentu saja mereka
menjadi ragu-ragu karena pengawal-pengawal istana yang gagah perkasa seperti mereka, masa harus
mengeroyok seorang gadis muda?
Melihat betapa lima orang pengawal itu memegang pedang dan sikap mereka mengancam, Lin Lin cepat
mencabut pedangnya dan sinar kuning berkilau. Melihat ini, lima orang pengawal itu terkejut.
“Eh, kiranya kau pencuri pedang? Nona cilik, lebih baik kau menyerah saja dari pada kami harus
menggunakan kekerasan. Malu kami kalau harus....”
“Banyak cerewet!” Lin Lin sudah menerjang maju dan sinar pedangnya bergulung-gulung seperti awan
kuning. Para pengawal kaget dan cepat menangkis. Di lain saat Lin Lin sudah dikurung. Maklum bahwa
gadis ini berkepandaian tinggi, para pengawal itu tidak malu-malu lagi untuk mengeroyok, bahkan mereka
terdesak hebat oleh pedang yang dimainkan secara dahsyat itu.
Khong-in-lui-san adalah ilmu silat yang sakti, apa lagi sekarang dimainkan dengan menggunakan pedang
pusaka yang ampuh. Hebatnya bukan main. Segera Lin Lin berhasil melukai leher seorang pengeroyok,
akan tetapi pada saat seorang lawan ini roboh, terdengar suara berkali-kali dan dari jauh berdatangan
pengawal-pengawal lain!
Lin Lin bingung juga. Harus ia akui bahwa kepandaian para pengawal ini tidak rendah, apa lagi kalau
mereka melakukan pengeroyokan. Bisa-bisa tenaganya habis dan akhirnya ia tentu akan tertawan. Ia pikir
lebih baik melarikan diri dulu, keluar dari istana ini. Urusan dengan Suling Emas dapat dilakukan besok
atau lusa malam. Ia berseru keras, pedangnya meluncur, merupakan sinar yang panjang mengancam.
Empat orang lawannya kaget dan terpaksa menangkis sambil melompat ke belakang. Kesempatan ini
dipergunakan oleh Lin Lin untuk lompat menjauh. Akan tetapi kini para pengawal yang datang membanjiri
tempat itu sudah tiba di situ dan kembali Lin Lin dihadang dan dikurung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gemaslah Lin Lin. Ia menggigit bibirnya lalu memaki. “Aku datang bukan bermaksud bikin kacau. Aku tidak
ingin berkelahi. Kenapa kalian memaksa? Mundur semua, tinggalkan aku! Awas jangan bikin aku hilang
sabar!”
Biar pun maklum akan kelihaian nona ini, namun mendengar kata-kata besar ini para pengawal tertawa.
Gadis itu hanya seorang diri, dan sekarang di situ telah berkumpul belasan orang pengawal, bagaimana
gadis liar ini masih berani membuka mulut besar?
“Dia pencuri pedang pusaka! Tangkap!”
Melihat dirinya dikurung rapat, Lin Lin tahu bahaya. Cepat ia mengerahkan tenaga, memutar pedangnya
mendesak ke sebelah kiri. Pengurungan di sebelah ini segera terdesak mundur dan kesempatah ini ia
pergunakan untuk melompat ke atas atap putih dari gedung perpustakaan. Akan tetapi pada saat ia
melayang itu, seorang pengawal tua yang bertubuh tinggi kurus melontarkan sesuatu yang hanya tampak
sebagai sinar hitam melayang-layang ke arah tubuh Lin Lin. Gadis ini kaget bukan main ketika melihat
bahwa benda itu adalah sehelai tali yang dapat bergerak-gerak seperti ular hidup, mengancam hendak
melibat tubuhnya! Ia maklum bahwa penggeraknya tentu bukan seorang biasa, maka ia segera membabat
dengan pedangnya.
“Iiihhhhh!” Lin Lin berseru kaget.
Pedangnya yang dipakai membacok malah terlibat tali hitam itu. Kalau ia mengerahkan tenaga menahan
pedangnya, tubuhnya yang masih melayang di udara itu tentu akan jatuh ke bawah! Terpaksa, dengan hati
bingung dan marah, ia melepaskan pedangnya sehingga tubuhnya dapat terus melayang ke atas gedung
itu. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak atap putih tiba-tiba ia terjeblos dan tubuhnya melayang ke
bawah, ke dalam gedung itu!
Para pengawal girang. Dipimpin oleh pengawal kurus yang lihai tadi, mereka melompat ke atas atap. Akan
tetapi tiba-tiba mereka berdiri tertegun dan tidak berani bergerak, memandang kepada sebuah sapu tangan
hitam yang berkibar seperti bendera di ujung atap. Sapu tangan hitam yang ada gambarnya suling
berwarna kuning!
“Dia... dia di sini...” bisik seorang pengawal dan kini para pengawal itu memandang penuh pertanyaan,
menanti komando pengawal kurus yang menjadi pimpinan pasukan.
“Dia di sini, tak boleh kita mengganggu. Mundur! Lakukan saja penjagaan sekeliling ini dan baru bergerak
kalau gadis itu keluar, tangkap dia!”
Para pengawal melompat turun lagi, kemudian meninggalkan tempat itu yang menjadi sunyi kembali.
********************
Kita tinggalkan dulu Lin Lin yang terjungkal ke sebelah dalam gedung perpustakaan. Agar jalannya cerita
menjadi lancar, mari kita menengok keadaan Bu Sin yang sudah terlalu lama kita tinggalkan.
Telah kita ketahui betapa Bu Sin yang tadinya disiksa oleh Suma Boan dan digantung di atas kayu
bersilang, dapat ditolong orang sakti yang tidak ia ketahui siapa adanya. Ia ditinggalkan di dalam hutan,
luka di tubuhnya akibat anak panah Suma Boan telah sembuh sama sekali oleh obat ajaib yang tahu-tahu
telah berada di luka-lukanya, tentu oleh penolongnya itu. Karena maklum bahwa kalau sampai tertawan
lagi oleh Suma Boan ia akan celaka, Bu Sin lalu melarikan diri dari hutan itu dan beberapa hari lamanya ia
terus menyusup-nyusup hutan, tidak berani menampakkan diri di tempat ramai.
Sepekan kemudian, menjelang senja ia tiba di sebuah tanah kuburan yang amat sunyi menyeramkan. Ia
tidak tahu bahwa ia berada di sebelah utara kota raja, dan juga tidak tahu bahwa penduduk sekitar tempat
itu tidak berani mendekati kuburan ini di waktu malam karena sudah terkenal bahwa kuburan itu berhantu!
Akan tetapi Bu Sin yang berusaha sembunyi dari kejaran Suma Boan dan orang-orangnya, merasa aman
berada di tempat sunyi itu. Ia segera mencari sebuah tempat yang enak, di bawah pohon besar, duduk
termenung memikirkan nasibnya. Dari jauh terdengar kokok ayam hutan yang agaknya hendak mengantar
kepergian matahari, hendak menyambut sang bulan?
Malam itu bulan purnama. Di tempat sunyi ini, sambil makan buah-buah yang tadi ia petik di tengah jalan
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam hutan, Bu Sin menikmati bulan yang muncul dari timur, tampak besar bundar kemerahan, amat
indahnya. Akan tetapi ia tidak bergembira, ia malah berduka teringat akan kedua orang adiknya yang
masih belum ia ketahui bagaimana nasibnya. Juga kakaknya yang dicarinya, Kam Bu Song. Amatlah tipis
harapan untuk dapat dijumpainya, karena menurut pengakuan Suma Boan, agaknya kakaknya itu pun
mengalami kesengsaraan dan sedikit saja harapan bahwa kakaknya itu masih hidup. Kakaknya seorang
pelajar yang lemah, apa dayanya mempunyai musuh seperti Suma Boan yang lihai? Dia sendiri yang sejak
kecil belajar ilmu silat, tidak berdaya menghadapi putera pangeran itu. Bu Sin makin sedih mengingat akan
hal ini dan berkali-kali ia menarik napas panjang.
Tiba-tiba napasnya terhenti, wajahnya pucat dan matanya terbelalak memandang ke depan. Dikejapkejapkannya
kedua mata itu, kemudian digosok-gosoknya, akan tetapi tetap saja pemandangan di depan
itu tidak berubah. Bulu tengkuknya berdiri satu-satu. Jantung berdebar-debar dan Bu Sin merasa ngeri. Dia
bukanlah seorang penakut, bahkan ia terkenal tabah, akan tetapi siapa orangnya takkan merasa ngeri
melihat betapa di sebuah kuburan sunyi, di dalam terang bulan, mendadak di depan batu nisan yang tua
berdiri seorang wanita yang rambutnya panjang riap-riapan sampai ke kaki?
Wanita itu berdiri membelakanginya, akan tetapi melihat bentuk tubuhnya yang langsing, kedua lengan
yang diangkat ke atas itu dari jauh kelihatan halus putih dan jari-jarinya mungil, rambutnya pun hitam halus
mengkilap, dapat diduga bahwa wanita itu masih muda. Dari mana dia datang? Mengapa Bu Sin tidak
melihatnya ia datang? Dan apa yang dilakukannya di tempat itu?
Kuntilanak! Siluman! Tak salah lagi, pikir Bu Sin dengan jantung berdebar-debar. Otomatis tangannya
meraba gagang pedang, dan ia tidak malu mendapat kenyataan bahwa tangannya menggigil. Ia
membayangkan bahwa muka kuntilanak ini tentulah mengerikan, muka pucat seperti muka mayat, mata
terbelalak tinggal putihnya saja, mulut bertaring. Iiihhhhh! Lebih baik ia pergi, menjauhi tempat setan ini,
pikirnya dengan hati-hati dan perlahan-lahan Bu Sin bangkit berdiri lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Akan tetapi baru lima enam langkah ia berjalan, tiba-tiba ada angin menyambar dan terdengar bentakan
yang merdu, nyaring dan halus, “Berhenti! Siapa itu?”
Tengkuk dan punggung Bu Sin serasa tebal saking ngerinya. Suara itu sudah berada tepat di belakang
punggungnya, seakan-akan siluman itu telah hinggap di atas punggung. Ia mengeraskan hatinya dan
sambil mengepal tinju ia membalik, siap menghadapi wajah yang mengerikan.
Ia membalik tiba-tiba dan... Bu Sin ternganga menatap wajah yang cantik jelita, wajah yang amat manis
dengan sepasang mata lebar bersinar-sinar, hidung kecil mancung dan mulut kecil dengan bibir merah
yang selalu tersenyum mengejek. Bentuk tubuh langsing, padat, rambut yang hitam halus panjang terurai
melalui punggung, pundak, dan dada. Lebih hebat lagi, bau yang amat harum semerbak menusuk hidung
membuat Bu Sin terpesona. Sama sekali bukan siluman mengerikan. Andai kata siluman juga, inilah
siluman cantik!
Siluman! Teringat akan ini, Bu Sin sadar dan kekagumannya akan kecantikan wajah wanita muda ini
berubah menjadi kecurigaan dan otomatis ia meraba lagi gagang pedangnya.
Wanita itu tertawa, manis seperti madu bibirnya kalau tertawa, akan tetapi suara ketawanya mengerikan,
hampir seperti tangis! “Hi-hik, kau tampan dan gagah. Siapa kau?”
“Nama saya Bu Sin, Kam Bu Sin. Nona... eh, Nyonya siapakah?”
Wanita itu tertawa, giginya berderet putih rapi, sama sekali tidak ada taringnya! “Bagus sekali! Kau she
Kam? Suaramu seperti orang selatan. Apamukah Jenderal Kam Si Ek?”
Bu Sin terkejut dan memandang heran. “Dia... dia adalah mendiang Ayahku.”
Sepasang mata yang indah lebar itu terbelalak, lalu wanita itu tertawa lagi. “Hi-hi-hik, pantas saja tampan
dan gagah. Betul, sekarang aku melihat persamaannya. Kau jauh lebih muda, lebih tampan. Hi-hik, kau
tadi bertanya siapa aku? Aku Siang-mou Sin-ni, dahulu pernah menjadi sahabat baik Ayahmu. Karena kau
puteranya, kau sekarang akan mampus di tanganku!”
Bu Sin makin kaget, dan kini ia menduga bahwa wanita ini tentulah miring otaknya. Kalau tidak gila, masa
mengaku sahabat baik ayahnya tapi akan membunuh puteranya? Ia merasa tidak perlu banyak bertanya
lagi, cepat tangannya bergerak mencabut pedangnya. Ia hendak menggertak dan mengusir wanita gila ini
dunia-kangouw.blogspot.com
agar jangan mengganggunya lagi.
Akan tetapi wanita itu tertawa dan tiba-tiba rambut panjang terurai itu bergerak, melibat pedang dan
tubuhnya dan....
“Krak! krak!” pedangnya telah patah-patah menjadi tiga potong sedangkan tangan, kaki dan pinggangnya
sudah dibelit-belit rambut halus dan harum, membuat ia tak dapat berkutik sama sekali! Bu Sin berusaha
meronta dan mengerahkan lweekangnya, namun hal ini hanya mendatangkan rasa sakit karena rambutrambut
itu menekan lebih keras seakan-akan hendak mengiris kulitnya!
“Hi-hi-hik! Mau apa kau sekarang? Dengar baik-baik. Aku Siang-mou Sin-ni dahulu pernah dibikin sakit hati
oleh Ayahmu, jenderal yang angkuh dan sombong itu. Mentang-mentang dia seorang jenderal yang tinggi
kedudukannya, ia berani menolak aku! Hi-hik, dan sekarang kau puteranya jatuh ke tanganku. Apa yang
akan kulakukan denganmu? Kau akan kujadikan korban yang keempat puluh! Aku sedang menggembleng
diri dengan Ilmu Sin-yang Hoat-lek (Ilmu Gaib Sin-yang) dan untuk keperluan itu aku membutuhkan hawa
murni dan darah hidup jejaka-jejaka murni sebanyak-banyaknya! Dan kau masih muda remaja dan murni.
Hi-hik, kau menjadi orang keempat puluh, dan kau putera Kam Si Ek. Bagus sekali, tentu darahmu bersih,
darah satria. Inilah yang kucari!” Wanita itu tertawa-tawa.
Bu Sin bergidik. Terang wanita ini gila. Ataukah dia bukan manusia? “Pergi kau! Lepaskan aku!” teriaknya.
“Kau bohong! Usiamu takkan lebih tua dari pada aku, mana bisa kau mengenal Ayah.”
Siang-mou Sin-ni menggunakan telapak tangannya mengelus-elus pipi dan dagu Bu Sin yang tak
berambut. “Terima kasih, orang bagus! Pujianmu bikin aku tak tega membunuhmu. Kau betul-betul melihat
aku lebih muda dari padamu? Hi-hik, usiaku hampir dua kali usiamu. Akan tetapi, inilah hasil pertama dari
Sin-yang Hoat-lek! Aku takkan pernah menjadi tua, aku takkan... takkan bisa mati! Nah, kau bersiaplah,
sudah kemecer (berliur) mulutku, darahmu tentu manis dan hangat!” Setelah berkata demikian wanita itu
mendekatkan mukanya ke muka Bu Sin.
Pemuda ini bergidik dan meremang bulu tengkuknya. Hendak apakah perempuan ini? Ia mengira hendak
dicium, akan tetapi wajah berkulit halus yang harum itu menunduk dan... hidung dan mulut yang basah
hangat itu menempel pada tenggorokannya! Bu Sin merasa ngeri bukan main. Mampus aku sekarang,
pikirnya dan ia meramkan mata menahan sakit, siap menanti maut karena sama sekali tidak dapat berkutik.
Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengangkat mukanya, kedua tangannya meraba-raba muka Bu Sin,
membelai-belainya. “Kau tampan... gagah, seperti Ayahmu... sayang kalau dibunuh!”
Sejenak Bu Sin merasa betapa wajah yang halus kulitnya itu menempel pada pipinya. Ia tak berani
membuka mata karena ngeri. Tiba-tiba rambut yang mengikat kaki tangan dan tubuhnya terlepas. Ia
membuka mata.
Siang-mou Sin-ni berdiri di depannya, mata wanita itu bersinar-sinar, bibirnya tersenyum manis sekali. “Kau
tampan dan ganteng, kau pemberani seperti Ayahmu. Bu Sin... eh, Kanda... kau sembuhkanlah luka di
hatiku yang disebabkan Ayahmu dahulu. Kau perbaikilah apa yang telah dirusak Ayahmu. Kau tentu mau,
Koko (Kanda) yang ganteng?” Siang-mou Sin-ni mendekat lagi, mepet-mepet dengan lagak genit dan
mengambil hati.
Bu Sin merasa tenggorokannya tercekik, mulutnya kering dan jantungnya berdebar tidak karuan. “Apa
maksudmu? Apa kehendakmu?”
Siang-mou Sin-ni mengangkat muka, lalu dengan lagak genit mencubit dagu Bu Sin. “Hi-hik, kau benarbenar
masih hijau! Tentu saja maksudku agar kau suka menjadi suamiku!”
Kalau saja pada saat itu ada gunung meletus, kiranya Bu Sin takkan sekaget ketika mendengar kata-kata
ini. Wajahnya menjadi pucat dan seketika ia membentak, “Kau perempuan gila! Pergi, jangan dekat-dekat
denganku! Aku tidak sudi menjadi suamimu. Huh, tak bermalu, lebih baik kau bunuh aku!” Sambil berkata
demikian Bu Sin mengerahkan tenaga lalu menerjang wanita itu dengan pukulan. Ia mengerahkan semua
tenaganya dalam pukulan ini karena ia amat benci dan hendak membunuh wanita itu.
“Bukkk!” kepalan tangan Bu Sin tepat menghantam dada, bertemu dengan daging lunak, akan tetapi
akibatnya, tubuh Bu Sin yang terlempar ke belakang! Sebelum pemuda ini tahu apa yang terjadi, tiba-tiba
tubuhnya sudah menjadi lemas, jalan darahnya tertotok dan di lain saat tubuhnya yang lemas itu sudah di
dunia-kangouw.blogspot.com
panggul dan dibawa pergi oleh Siang-mou Sin-ni dari tempat kuburan itu!
Sambil berjalan di malam terang bulan, Siang-mou Sin-ni bernyanyi-nyanyi, kadang-kadang mengomel
panjang pendek, “Celaka, kenapa hatiku tertarik kepada bocah ini? Lebih celaka lagi. Dia menolak dan
memaki-maki, keparat!”
Ia berhenti di sebuah anak sungai yang jernih airnya dalam sebuah hutan, menurunkan tubuh Bu Sin yang
ia lempar ke atas rumput. “He, Kanda Bu Sin, bagaimana sekarang? Maukah kau?”
“Tidak sudi dan jangan sebut aku Kanda, perempuan hina dan gila!”
“Hi-hik, seperti Ayahnya!” tiba-tiba rambutnya bergerak dan tahu-tahu tubuh Bu Sin sudah dilibat rambut,
lalu tubuh pemuda itu terlempar ke dalam air di depan Siang-mou Sin-ni!
Bu Sin gelagapan, akan tetapi tak mampu berenang karena kedua tangan dan kakinya dibelenggu rambut.
Ia gelagapan dan minum air, sedangkan tubuhnya menggigil kedinginan. Siang-mou Sin-ni mengangkat
muka pemuda itu ke atas air, tapi tubuhnya masih terendam.
“Jawab, mau tidak kau?!”
“Tidak sudi!” Bu Sin membentak. Dan kembali ia dilelapkan ke dalam air, berkali-
kali sampai sukar
bernapas dan perutnya kembung kemasukan banyak air.
“Apakah kau masih bandel tidak mau?” Siang-mou Sin-ni kembali bertanya ketika muka pemuda itu
diangkat agar dapat bernapas.
Bu Sin tak dapat mengeluarkan suara lagi. Ia setengah pingsan, akan tetapi ia masih cukup kuat untuk
menggeleng-geleng kepalanya tanda tidak sudi!
“Bandel!” Siang-mou Sin-ni berteriak marah dan melelapkan kepala Bu Sin sampai pemuda ini menjadi
pingsan, baru ia angkat tubuh itu ke atas daratan, memegangi punggungnya dan membalikkan kepala Bu
Sin ke bawah, menepuk perutnya sehingga dari mulut pemuda itu keluar banyak air!
Ketika Bu Sin sadar dari pingsannya, ternyata ia telah berada di tempat yang amat tinggi, di atas pohon
yang tingginya lebih dari sepuluh meter! Pakaiannya sudah kering kembali dan ternyata ia digantungkan di
sebuah cabang patah, bajunya digantung dari belakang sehingga tubuhnya tergantung menempel batang
pohon yang kasar. Ia berusaha menggerakkan kaki tangan, namun sia-sia. Kiranya ia telah tertotok pula,
tak mampu bergerak. Baju dalamnya sudah tidak ada, agaknya disobek oleh perempuan iblis itu sehingga
ketika bajunya tergantung pada cabang pohon, perut dada serta lehernya telanjang.
Perempuan itu duduk di atas sebatang dahan kecil di depannya. Luar biasa sekali. Bagaimana seorang
manusia, dapat duduk enak-enak di atas ranting demikian kecilnya seperti seekor burung saja? Bagaimana
kalau ranting itu patah? Siang-mou Sin-ni duduk merangkapkan jari-jari tangan, kakinya bergoyang-goyang
tergantung. Rambutnya riap-riapan, hitam halus mengkilap, matanya meram melek ketika ia menatap
wajah Bu Sin. Nampaknya wanita itu terheran-heran, kagum, juga jengkel dan kehilangan akal.
“Bu Sin Koko, kau buka matamu dan pandang baik-baik. Apakah aku tidak cantik molek? Lihat kulitku
begini putih kemerahan dan halus, lihat rambutku begini panjang hitam, halus dan harum. Tubuhku padat
dan denok. Semua orang bilang wajahku cantik seperti bidadari. Apakah kau menganggap aku kurang
cantik?”
Bu Sin mendongkol sekali. Benar-benar wanita iblis dan ia lebih senang seribu kali mati dari pada harus
menjadi suami iblis macam ini. “Huh, Siang-mou Sin-ni, kau kira aku Kam Bu Sin seorang laki-laki macam
apakah? Kau memang cantik jelita, akan tetapi apa artinya cantik jelita kalau wataknya busuk dan jahat
seperti iblis? Apa artinya buah yang tampak indah dan lezat kalau di dalamnya tersembunyi banyak ulatnya
yang menjijikkan? Kecantikan hanya terbatas pada kulit belaka, di bawahnya hanya daging dan darah yang
lekas membusuk dan di dalam sendiri hanya tengkorak yang menjijikkan! Aku tidak butuh kecantikanmu,
dan aku muak melihat kejahatanmu!”
“Ck-ck-ck... semuda ini sudah bisa bicara tentang jahat dan baik! Hi-hik, kau seperti anak kecil yang
muntah-muntah melihat tahi, tidak tahu bahwa di dalam perutnya sendiri penuh tahi. Hi-hi-hik, kau kira aku
tak dapat menundukkanmu? Masih banyak jalan.” Ia lalu berkelebat pergi, tapi belum lebih lima menit ia
dunia-kangouw.blogspot.com
telah kembali, membawa daun lebar penuh madu lebah. Ia lalu memercik-mercikkan madu itu pada muka,
leher, dada, perut dan kedua lengannya, kemudian sambil tertawa-tawa ia melempar daun itu dan duduk
kembali seperti tadi.
Bu Sin tidak mengerti apa kehendak wanita ini. Ia maklum bahwa wanita ini kejam sekali dan ia sudah siap
menanti datangnya siksaan, akan tetapi apa maksudnya memercik-mercikkan madu kepadanya? Apakah
madu ini mengandung racun sehingga sebentar lagi aku akan merasakan akibatnya? Bermacam-macam
dugaan Bu Sin, akan tetapi baru sepuluh menit kemudian ia mengerti apa artinya madu dipercikkan itu dan
ia bergidik penuh kengerian.
Kiranya semut-semut besar mulai berdatangan melalui batang, cabang, ranting dan daun-daun, dan tak
lama kemudian semut-semut itu telah merayap di seluruh tubuhnya, menggigitnya! Bu Sin menggeliatgeliat,
geli dan gatal. Bukan main hebatnya siksaan ini. Tadi ketika ia dilelapkan di dalam air yang dingin,
sebentar saja ia tidak kuat dan pingsan. Kalau pingsan, tidak ada derita lagi, tidak terasa. Akan tetapi
sekarang lain lagi. Semut-semut ini menggigit, mendatangkan rasa gatal-gatal dan geli yang bukan main
hebat penderitaannya. Akan tetapi yang paling hebat di antara segala adalah kenyataan bahwa ia tidak
akan menjadi pingsan karenanya! Ia akan terus sadar untuk merasakan penderitaan ini, yang membuat
seluruh urat syarafnya tegang dan terganggu, membuat perasaannya tersiksa mati tidak hidup pun tidak.
Tak tertahankan lagi oleh Bu Sin, ia mulai berteriak-
teriak menahan perasaan yang tak dapat dilukiskan
lagi penderitaannya!
“Hayo bilang bahwa kau mau menjadi suamiku dan aku akan membebaskanmu!” Berkali-kali Siang-mou
Sin-ni berkata membujuk.
Hanya kata-kata inilah yang kadang-kadang menjadi penguat semangat Bu Sin, karena ia lalu memakimakinya
dan untuk sementara melupakan penderitaannya. Akan tetapi kalau wanita itu diam saja dan
duduk menonton, ia tersiksa lagi. Akhirnya Bu Sin tertawa-tawa, lalu menangis, tertawa lagi seperti orang
gila karena penderitaannya yang tak tertahankan. Kalau diteruskan beberapa jam lagi, ia tentu akan
menjadi gila benar-benar.
Agaknya Siang-mou Sin-ni memaklumi hal ini, maka ia lalu mengusir semut-semut itu, memanggul tubuh
Bu Sin dan melompat turun dari atas pohon, lalu berlari cepat sekali pergi dari situ. Bu Sin meramkan
matanya, merasa seperti dibawa terbang oleh wanita sakti yang berhati iblis ini. Ia tidak putus asa selama
nyawanya belum melayang, akan tetapi ia bertekad lebih baik mati dari pada dijadikan suami seorang iblis
betina yang demikian keji dan jahatnya. Ia seorang laki-laki sejati dan nama baik serta kehormatannya jauh
lebih berharga dari pada selembar nyawanya. Demikianlah tekad hati pemuda jantan ini.
Akan tetapi Bu Sin adalah seorang pemuda yang masih hijau dan belum berpengalaman. Ia sama sekali
tidak tahu sampai di mana jahat, keji, dan lihainya seorang tokoh besar dunia hitam seperti Siang-mou Sinni
yang terkenal sebagai seorang di antara enam tokoh Thian-te Liok-koai (Enam Iblis Dunia)!
Selama menjadi tawanan wanita iblis ini, beberapa hari kemudian, ia telah berubah menjadi seorang yang
kehilangan semangat, menjadi seorang yang tak ingat apa-apa lagi, menjadi penurut seperti binatang
peliharaan, disuruh apa saja oleh Siang-mou Sin-ni, akan ditaatinya tanpa mempedulikan nyawanya
sendiri, tidak ingat lagi akan nama dan kehormatan, bahkan nama sendiri pun ia tak ingat lagi. Bu Sin telah
menjadi korban kekejian Siang-mou Sin-ni setelah diberi minum racun yang disebut racun perampas
semangat! Dan iblis betina itu tercapai maksud hatinya yang kotor, menjadikan Bu Sin sebagai seorang
kekasihnya, suatu hal yang hanya merupakan siksaan dan hukuman karena ia tetap tidak dapat merampas
cinta kasih Bu Sin, tidak dapat memiliki Bu Sin yang sebenarnya, seperti yang diinginkannya.
Bersama Bu Sin yang menjadi tawanan dan kekasihnya, yang menuruti segala kehendaknya seperti
patung hidup, Siang-mou Sin-ni pergi ke selatan. Ia hendak mengunjungi Nan-cao negeri di selatan yang
mengadakan persekutuan dengan Hou-han. Biar pun Siang-mou Sin-ni seorang tokoh dunia hitam, namun
bagi Kerajaan Hou-han yang kecil itu ia merupakan seorang tokoh yang patriotik dan ia bekerja untuk
kerajaan ini. Oleh karena itu, tentang persekutuan dengan Kerajaan Nan-cao, Siang-mou Sin-ni sudah
mendapat wewenang dan tugas untuk mengurusnya. Kini ia pergi mengunjungi, selain untuk tugas ini, juga
untuk menghadiri perayaan yang diadakan di Nan-cao berhubung dengan peringatan seribu hari wafatnya
kauwcu (ketua agama) dari Beng-kauw yang mempunyai kedudukan tinggi di Kerajaan Nan-cao, juga
bertepatan dengan hari ulang tahun berdirinya perkumpulan Agama Beng-kauw.
Siang-mou Sin-ni di dunia persilatan terkenal sebagai seorang di antara keenam iblis Thian-te Liok-koai,
akan tetapi di negerinya sendiri, yaitu daerah Kerajaan Hou-han, orang akan menjadi terheran-heran
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat ia dihormati semua orang, juga ditakuti dan ia keluar masuk istana seperti keluar masuk rumahnya
sendiri saja! Dia merupakan seorang tokoh yang selain keji dan kejam, juga amat luar biasa anehnya,
penuh diliputi rahasia dan kepandaiannya luar biasa hebatnya. Inilah yang membuat dia menjadi seorang
di antara keenam Liok-koai (Enam Iblis), sifat-sifat yang harus dimiliki seorang tokoh untuk disebut iblis
dunia. Banyak orang jahat, akan tetapi ia tidak sakti dan tidak luar biasa anehnya, maka ia tidak bisa
disamakan dengan Thian-te Liok-koai. Keenam orang tokoh ini disebut Iblis Dunia karena memang mereka
terlalu amat jahat, kejam dan tinggi ilmunya.
Alangkah buruk nasib Bu Sin, terjatuh ke dalam cengkeraman seorang iblis betina seperti Siang-mou Sinni.
Agaknya akan lebih baik kalau ia dibunuh, karena nasib yang menimpa dirinya memang lebih hebat dari
pada kematian. Ia menjadi seorang manusia yang kehilangan segala-galanya. Bu Sin sama sekali tidak
ingat lagi akan diri sendiri, juga ia tidak tahu ke mana ia dibawa pergi oleh Siang-mou Sin-ni. Satu-satunya
yang ia ketahui adalah bahwa ia harus taat kepada segala kehendak Siang-mou Sin-ni!
********************
Nan-cao adalah sebuah negeri kecil, atau lebih tepat lagi sebuah kerajaan kecil yang berada di daerah Yunan.
Di antara kerajaan-kerajaan di daerah selatan dan barat, Kerajaan Nan-cao yang kecil ini terhitung
kerajaan yang paling kuat dan paling gigih menentang dan tidak mau tunduk kepada Kerajaan Sung. Lainlain
kerajaan seperti Kerajaan Nan-ping di Hu-pei dan Kerajaan Su di Se-cuan, suka mengakui Kerajaan
Sung dan pemimpin mereka oleh Kaisar Sung malah diganjar pangkat dan kedudukan. Akan tetapi Nancao
tidak mengakui kedaulatan Kaisar Sung.
Yang memperkuat kedudukan Kerajaan Nan-cao sesungguhnya adalah Agama Beng-kauw. Agama ini
dipimpin oleh orang-orang sakti dan karena kaisarnya sendiri juga termasuk pemeluk Agama Beng-kauw,
maka boleh dibilang para pemimpin agama ini adalah keluarga raja di istana.
Apakah sebetulnya yang disebut Agama Beng-kauw? Mari kita mengenalnya dari catatan sejarah. Bengkauw
yang berarti Agama Terang aslinya disebut Manicheism, yaitu menurut nama penemunya yang
bernama Mani. Mani seorang berbangsa Persia (Iran), putera seorang bangsawan. Pada hahekatnya,
Agama Manicheism atau Beng-kauw ini merupakan perkawinan antara Agama Kristen dan Agama
Zoroastrianism yang dianut oleh sebagian besar bangsa Persia.
Agama ini mendasarkan filsafatnya pada filsafat kuno tentang Im Yang (Positive & Negative). Menurut
ajaran agama ini, segala kejahatan lahir dari pada kegelapan yang merupakan sebuah Kerajaan Gelap
yang dirajai setan. Oleh karena inilah, Mani menamakan diri sendiri sebagai Duta Terang, dan ini pula yang
menyebabkan mengapa agama ini disebut Agama Terang atau Beng-kauw. Segala macam kotoran harus
dibersihkan, segala macam kegelapan harus dikalahkan dan diusir oleh Terang.
Agaknya karena banyak orang berilmu tinggi dan memiliki kesaktian mendukung lahirnya agama ini, maka
sebentar saja Beng-kauw menjadi sebuah agama yang besar dan dianut manusia secara luas. Seperti juga
dengan agama-agama lain, Agama Beng-kauw tersebar luas setelah penemunya, Mani meninggal dunia
(dihukum mati pada tahun 274 Masehi). Agama ini meluas sampai jauh ke barat, menurut catatan sampai
ke Perancis, dan pada tahun 694 Masehi mulailah agama ini masuk ke Tiongkok yang oleh para
penganutnya lalu disebut Beng-kauw (Agama Terang). Dua abad lebih kemudian, biar pun di Tiongkok
Agama Beng-kauw sudah amat menurun pengaruhnya, namun masih berpusat dan bersisa di selatan, di
negara Nan-cao.
Puluhan tahun ketua Beng-kauw adalah seorang tokoh yang amat terkenal akan kesaktiannya, bernama
Liu Gan yang berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Tangan Delapan). Hebat kepandaian ketua Beng-kauw
ini dan orang-orang, terutama para pemeluk agama itu, percaya bahwa tokoh ini adalah seorang yang tidak
bisa mati! Usianya pun katanya lebih dari seratus lima puluh tahun. Agaknya hal kedua ini mungkin sekali
karena semua tokoh kang-ouw yang paling tua tidak ada yang tidak mendengar nama besarnya yang
berarti bahwa Pat-jiu Sin-ong ini sudah amat lama tersohor di dunia kang-ouw. Akan tetapi agaknya tidak
benarlah desas-desus yang mengatakan bahwa ia tidak bisa mati karena buktinya bulan depan ini di sana
akan diadakan sembahyangan untuk memperingati dan menghormati seribu hari wafatnya Pat-jiu Sin-ong!
Pernah disebut dalam cerita ini bahwa Pat-jiu Sin-ong Liu Gan mempunyai seorang puteri bernama Liu Lu
Sian yang berjuluk Tok-siauw-kui (Iblis Cilik Berbisa)! Tiga puluh tahun yang lalu, Liu Lu Sian merupakan
seorang tokoh besar pula di dunia kang-ouw, amat tersohor karena kecantikannya yang seperti bidadari,
kecantikan yang aneh dan asing karena darahnya adalah darah campuran antara Tiongkok dan Persia.
Matanya agak kebiruan, kulitnya yang putih agak kemerah-merahan. Tidak hanya kecantikannya yang luar
dunia-kangouw.blogspot.com
biasa itu saja yang membuat ia terkenal, akan tetapi juga kepandaiannya yang tinggi, yang ia warisi dari
ayahnya dan terutama sekali ia tersohor karena keganasannya. Inilah agaknya yang membuat ia dihadiahi
julukan Setan Cilik Berbisa!
Seperti banyak sekali wanita di waktu itu, Liu Lu Sian juga tergila-gila kepada jenderal muda Kam Si Ek
yang terkenal tampan dan gagah perkasa. Sebaliknya, Jenderal Kam juga jatuh hati terhadap puteri ketua
Beng-kauw ini. Sungguh pun Jenderal Kam cukup sadar akan keadaan gadis ini yang terkenal ganas dan
merupakan seorang tokoh yang bernama buruk, namun cinta selalu mengalahkan perasaan dan kesadaran
hati manusia muda. Ia menikah dengan Liu Lu Sian, hal yang amat menggemparkan dunia kang-ouw di
waktu itu. Perkawinan ini mendatangkan seorang putera, yaitu Kam Bu Song.
Sayang sekali, mungkin karena perbedaan watak, pernikahan itu tak dapat dipertahankan terlalu lama dan
jiwa petualang Liu Lu Sian tak dapat dikekang lagi. Akhirnya wanita ini pergi meninggalkan suaminya
setelah mereka bercekcok. Bu Song yang ditinggalkan ibunya itu baru berusia empat tahun dan
selanjutnya telah kita ketahui bahwa anak ini pun akhirnya meninggalkan ayahnya, agakya darah ibunya
mengalir di tubuhnya mewariskan jiwa petualang yang besar.
Pengganti Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang telah wafat adalah adiknya sendiri, bernama Liu Mo yang usianya
juga sudah amat tua. Sukar diketahui berapa usia ketua baru ini. Tubuhnya sama dengan kakaknya, tinggi
besar dengan kulit hitam dan mata agak biru. Ia pendiam, namun kabarnya juga amat sakti. Beng-kauwcu
(Ketua Agama Beng) Liu Mo ini tidak mempunyai julukan yang menyeramkan, namun seperti juga
kakaknya, ia mempunyai pengaruh yang amat besar di negara Nan-cao dan menjabat kedudukan sebagai
koksu (guru/penasehat kerajaan) yang agaknya menentukan keputusan yang diambil oleh raja. Seperti
juga mendiang kakaknya, biar pun dia sendiri sudah tua dan usianya tak ada yang mengetahui berapa,
namun ia masih kuat dan mempunyai empat orang isteri muda-muda dan cantik! Akan tetapi, hanya
seorang saja di antara isterinya itu yang mempunyai anak, seorang anak perempuan yang pada saat itu
sudah berusia dewasa, sedikitnya sembilan belas tahun. Gadis remaja ini diberi nama Liu Hwee.
Demikianlah sedikit tentang keadaan negara Nan-cao dan Agama Beng-kauw yang selain berpengaruh
besar di sana, juga agaknya yang membuat negara ini angkuh dan biar pun kecil merupakan negara yang
kuat juga. Para penghuni istana, dari raja sampai para pengawal semua merupakan pemeluk dan penganut
Agama Beng-kauw yang setia.
Pada waktu itu semua penghuni Kerajaan Nan-cao sibuk dengan persiapan mengadakan pesta besarbesaran
untuk merayakan tujuh abad lahirnya Beng-kauw, juga untuk memperingati seribu hari wafatnya
mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Semua orang bergembira, kota raja dihias indah dan di dekat istana
dibangun ruangan besar untuk menyambut para tamu agung yang pasti akan memenuhi tempat itu.
Seperti biasa di waktu menghadapi perayaan besar, para pimpinan Beng-kauw dan keluarga raja bekerja
sama karena sebetulnya para pimpinan Beng-kauw adalah keluarga raja juga. Malah kedua orang saudara
Liu yang berturut-turut menjadi ketua Beng-kauw adalah paman dari Raja Nan-cao. Akan tetapi, seperti
telah terjadi belasan tahun sampai saat itu, keluarga bangsawan ini dalam kegembiraan persiapan pesta
merasa kecewa kalau teringat akan Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang belum pernah pulang ke Nan-cao.
Bahkan semenjak wanita ini meninggalkan suaminya, Jenderal Kam, ia tak pernah muncul lagi, dan tak
seorang pun tahu di mana adanya Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, tak tahu pula apakah ia masih hidup.
********************
Kita tinggalkan dulu Kerajaan Nan-cao yang sedang sibuk membuat persiapan untuk menyambut
datangnya para tamu dari empat penjuru untuk menghadiri perayaan kerajaan dan Agama Beng-kauw.
Perlu kita kembali dan ikuti pengalaman Lin Lin agar jalan cerita menjadi lancar.
Dengan hati ngeri, Lin Lin merasa betapa tubuhnya terjeblos dan melayang ke bawah, ke dalam gedung
perpustakaan yang amat gelap itu. Cepat ia mengerahkan ginkang-nya, akan tetapi karena ia tidak tahu
berapa tingginya tempat itu, tetap saja ia berada dalam ancaman bahaya terbanting keras. Akan tetapi tibatiba
ada tenaga yang mendorongnya dari bawah, mengurangi kecepatan tubuhnya yang meluncur ke
bawah bahkan kemudian tenaga yang sama pula mendorongnya sedemikian rupa sehingga ia tahu-tahu
telah berdiri di atas lantai yang halus licin! Lin Lin membuka matanya yang tadi ia tutup saking ngeri.
Kiranya ia berada di ruangan yang amat lebar dan di balik tikungan ada sinar penerangan menyorot
sehingga ruangan itu menjadi remang-remang. Di depannya berdiri seseorang, entah laki-laki entah wanita
karena hanya tampak bayangannya yang hitam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bayangan itu mengeluarkan seruan kaget dan heran, kemudian melangkah maju, berbisik dengan suara
menggetar, “Aahhh... kaukah ini...? Kau datang menyusulku...? Dan tikus-tikus itu berani
mengganggumu...? Jangan takut, Kanda akan melindungimu... ah, betapa rinduku kepadamu....”
Saking bingung dan herannya Lin Lin sampai tak dapat berkutik ketika tiba-tiba bayangan itu merangkul
dan memeluknya. Baru setelah bayangan itu menciumnya, yang membuat ia merasa seakan-akan lantai
yang diinjaknya amblong ke bawah dan membuat matanya melihat ribuan bintang berjoget di depannya, ia
meronta dan tangannya melayang ke depan.
“Plak-plak!” kedua telapak tangan Lin Lin bertemu dengan pipi yang keras.
“Kurang ajar kau... monyet celeng keparat kau! Kubunuh kau, binatang kurang ajar! Berani kau me... me...!”
Seperti hiu betina mencium darah, Lin Lin menerjang maju, memukul mencakar menendang!
Semua pukulan dan tendangannya tepat mengenai sasaran seperti tamparannya tadi. Bayangan itu sama
sekali tidak mengelak, akan tetapi sedikit pun tidak tampak bahwa pukulan dan tendangan itu terasa
olehnya. Hanya terdengar ia menggumam. “Ah, celaka... aku sudah gila... maaf Nona...”
Lin Lin penasaran setengah mati. Pukulan dan tendangannya tadi bukan main-main akan tetapi mengapa
yang dipukul dan ditendang tidak apa-apa, sebaliknya malah telapak tangannya panas-panas dan gares
(tulang kering) kakinya linu dan seperti mau patah-patah? Ia marah sekali, kini mengerahkan tenaga sakti
Khong-in-ban-kin dan menyerang lagi. Kalau tadi ia tidak mengeluarkan tenaga ini adalah karena ia masih
belum begitu marah, hanya terlalu kaget saja. Sekarang kemarahannya memuncak. Biar pun, andai kata
orang ini telah menolongnya tidak terbanting jatuh, akan tetapi dosanya terlalu besar. Dosa tak berampun.
Memeluk dan menciumnya, kemudian menerima pukulan tendangan dan tamparan tanpa merasakan sakit
sedikit pun juga.
“Uhhh, apa ini? Dari mana kau dapatkan ini?” Bayangan itu agaknya terkejut menghadapi jurus lihai dan
tenaga sakti itu, cepat ia mengelak dan sekali melompat ia telah lenyap di tikungan depan.
Lin Lin mengejar, matanya silau karena kini ia berada di sebuah ruangan yang terang sekali, diterangi
lampu besar yang tergantung di setiap ujung dan di tengah-tengah ruangan. Dinding tertutup lemari yang
penuh dengan buku. Dan di tengah-tengah ruangan, di bawah lampu berdirilah seorang laki-laki tampan
berjubah hitam dengan gambar suling di depan dada.
Sejenak kedua orang itu berdiri terpaku, saling pandang. Wajah laki-laki itu penuh ketegangan, matanya
tak berkedip menatap wajah Lin Lin. Sukar menduga apa yang berada di balik sinar mata itu. Ada kagum,
ada gembira, tapi juga kecewa, duka, dan terharu. Di lain pihak, Lin Lin merasa seakan-akan sudah terlalu
sering ia melihat wajah seperti ini. Di alam mimpi. Ya, di dalam mimpi yang menjadi rahasia hatinya. Wajah
ini! Ia tahu bahwa orang ini tentulah Suling Emas, dan tahu pula bahwa selama hidupnya, baru kali ini ia
bertemu muka. Akan tetapi wajah ini... dan tadi ia diciumnya. Mendadak wajahnya menjadi merah dan
terasa panas, matanya mengembang air mata, jantungnya berdenyar-denyar seakan-akan hendak
meledak, dadanya bergelora dan... kedua kakinya gemetar.
“Kau...? Kau tentu Suling Emas...! Biar pun kau Suling Emas, suling bambu mau pun suling bobrok, aku
tidak takut. Kau harus mampus!” Lin Lin sudah mencelat ke depan, menerjang dengan pukulan-pukulan
dahsyat dari jurus Ilmu Silat Khong-in-liu-san!
“Eh, eh, nanti dulu... salah faham... salah duga, maafkan. Kita bicara.”
“Bicara apa?” Lin Lin makin ‘menyala’ karena pukulan-pukulannya yang bertubi-tubi itu hanya mengenai
angin belaka, agaknya amat mudah Suling Emas mengelak.
“Kau... kau kurang ajar...!”
Suling Emas kembali mengelak. “Aku salah mengenal orang... tentu saja kau jauh lebih muda. Kau masih
kanak-kanak, tapi... tapi... wah hebat. Dari mana kau mendapatkan jurus-jurus sehebat ini?”
Makin cepat Lin Lin menyerang, makin cepat pula Suling Emas mengelak, sambil memuji-muji jurus yang
dimainkan Lin Lin. Dara ini sendiri merasa terheran-heran akan perasaan hatinya. Ia merasa bangga sekali
akan pujian-pujian itu, akan tetapi di samping kebanggaan ini, ia juga gemas dan mendongkol. Jurusdunia-
kangouw.blogspot.com
jurusnya dipuji lihai, akan tetapi tidak sekali pun mengenai sasaran!
“Huh, kalau pedangku berada di tangan, jangan harap kau bisa enak-enakan menyelamatkan diri, sayang
terampas pengawal curang!” katanya sambil menyerang lagi.
“Inikah pedangmu?” Suling Emas tiba-tiba mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya, dipegang
dengan terbalik sehingga gagangnya disodorkan kepada Lin Lin.
Dara ini memandang dan terkejut bukan kepalang. Memang pedang itu adalah pedangnya yang tadi
terampas pengawal kurus!
“Eh, betul bagaimana bisa berada padamu?”
Suling Emas berkilat pandang matanya. “Bukan soal, coba pergunakan pedangmu!”
Kata-kata ini merupakan perintah sehingga kalau menuruti wataknya, Lin Lin tentu tak sudi menurut. Akan
tetapi ia sudah terlalu mendongkol dan ingin ia memperlihatkan kelihaiannya. Cepat tangannya merenggut,
karena ia mengira bahwa Suling Emas akan mempermainkannya dan pura-pura saja mengembalikan
pedang. Hampir ia terjengkang ke belakang, karena kiranya pedang itu sama sekaii tidak dipertahankan
oleh Suling Emas sehingga ketika ia mencabut sekuat tenaga, ia terdorong oleh tenaga tarikannya sendiri.
“Lihat pedang!” teriaknya, lebih mendongkol dan marah lagi karena hampir terjengkang. Sinar kuning
berkelebat dan bergulung-gulung merupakan gelombang lingkaran yang menerjang diri Suling Emas.
“Bagus!” Suling Emas berkelebat lenyap dan berubah menjadi bayangan yang selalu luput dari pada
bacokan mau pun tusukan pedang. “Wah, jadi kau yang mencuri Pedang Besi Kuning? Hemmm, tentu
dengan Kim-lun Seng-jin. Heiiiii, ilmu pedang ini, apakah kau bukan murid Kim-lun Seng-jin?”
Makin marahlah Lin Lin, karena biar pun ia sudah berpedang, mana mungkin ia dapat merobohkan
bayangan? Manusia ini tulenkah atau setan?
“Aku bukan murid si Gundul Pacul! Hayo kau keluarkan kepandaianmu, hayo kau pergunakan pedangmu,
kita bertanding selaksa jurus sampai salah seorang menggeletak mandi darahnya sendiri!” tantangnya.
Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas menarik napas panjang dan seketika wajahnya berubah, muram dan tak
acuh. Tadi ia bersikap gembira dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri. Agaknya sekarang ia
teringat akan keadaannya yang ‘tidak wajar’ itu, dan kembalilah ia pada sikapnya seperti yang sudahsudah,
murung dan dingin. Ia membalikkan tubuh, menghampiri meja dan duduk menghadapi kitab yang
sudah sejak tadi terbuka di atas meja itu. Sama sekali ia tidak mau mempedulikan lagi kepada Lin Lin.
“Heeiiiii, hayo bangkit. Kita bertanding!” Lin Lin membentak. Akan tetapi Suling Emas seakan-akan tidak
mendengar bentakannya dan terus saja membaca kitab. Bibirnya umak-umik (komat-kamit) dan tampaknya
asyik benar.
“Tak sempat dan tiada nafsu bertanding...,” tiba-tiba Suling Emas berkata lirih dan mulutnya komat-kamit
lagi membaca kitabnya.
“Monyet, celeng, kadal, bunglon, tikus...!” Lin Lin menyebut semua binatang yang dianggapnya paling
menjijikkan, dilontarkannya semua nama binatang itu kepada Suling Emas untuk memancing perhatian dan
kemarahannya. “Kau bunuh Ayahku, hayo kita bikin perhitungan sampai lunas!”
Tanpa menoleh Suling Emas berkata lagi, “Sialan, semua orang bilang aku membunuh Ayahnya. Kalau
benar begitu, tentu Ayahmu patut dibunuh.”
“Apa kau bilang? Berani kau memaki Ayahku? Hayo bangun, lawan aku!” Lin Lin mengayun-ayun
pedangnya di belakang leher Suling Emas. Akan tetapi yang diancam tak bergerak dan Lin Lin bukanlah
seorang yang sudi menyerang orang yang tak melawan.
“Kau bocah kecil banyak bertingkah, pergilah jangan ganggu orang baca!” Biar pun kata-katanya mulai
ketus, tapi Suling Emas tetap duduk menghadapi kitab dan sama sekali tidak mau menoleh.
“Iblis, setan, siluman...!” Lin Lin memaki-maki, kini menyebut nama semua golongan setan dan jin, “Hadapi
dunia-kangouw.blogspot.com
aku! Aku mau bicara denganmu!”
Akan tetapi Suling Emas tetap diam saja, melirik pun tidak. Lin Lin makin marah dan jengkel, mencakmencak
dan membanting-banting kaki dengan pengerahan tenaga Khong-in-ban-kin sehingga lantai
menjadi bolong-bolong dihantam kakinya yang kecil seperti digali dengan linggis saja. Kemudian ia
melompat ke depan Suling Emas di seberang meja. Namun laki-laki itu tetap duduk menunduk,
membenamkan matanya pada kitab. Lin Lin menggebrak meja, namun sia-sia.
“Betul kata Enci Sian Eng, kau seperti patung, kau aneh dan tidak pedulian. Akan tetapi aku tidak mau kau
perlakukan seperti Enci Sian Eng. Kau harus bangkit dan melawanku!” Sambil berkata demikian, Lin Lin
melompat naik ke atas meja itu dan membanting-banting kaki sehingga meja itu berloncatan. Tentu saja
kitab di depan Suling Emas juga ikut berloncatan sehingga tak mungkin lagi membaca!
Akan tetapi bukan ini yang menyebabkan Suling Emas kini bangkit dan memandang heran, melainkan
kata-kata Lin Lin. “Apa kau bilang? Enci Sian Eng? Kau adiknya? Jadi kau... kau ini... ah, ingat aku
sekarang. Kau yang berada di pintu gerbang, kau bersama murid Gan-lopek. Ah, kau Lin Lin!”
Lin Lin merenggut dan melompat turun dari meja, pedangnya masih dipegang erat-erat. “Enaknya
menyebut nama orang. Lan Lan Lin Lin, memangnya aku ini apamu? Huh, laki-laki kurang ajar, penghina
kaum wanita. Memangnya aku ini apamu... berani... berani mencium...” Muka Lin Lin menjadi merah sekali
dan ia tidak berani mengangkat muka!
“Hemmm, maafkan, aku tidak sengaja. Tapi... ah, hal itu tidak apa, tak usah kau sebut-sebut lagi.
Percayalah, aku menyesal sekali...”
Tiba-tiba Lin Lin mengangkat muka, mereka berpandangan dan... Lin Lin menangis. Aneh memang! Tak
biasa gadis ini menangis. Dia bukan tergolong cengeng, tapi kali ini mengapa air matanya terus saja
membanjir tak dapat dibendung?
“Lin... eh, Nona Lin Lin, tentu kau sudah mendengar dari enci-mu bahwa aku bukanlah pembunuh Ayahmu.
Mengapa kau datang ke sini? Memasuki istana bukanlah hal mudah dan bagaimana kau bisa tahu bahwa
aku berada di gedung perpustakaan?”
“Aku... aku tahu kau bukan pembunuh Ayah. Aku mendengar percakapan Suma Boan bahwa biasanya kau
di sini. Aku... aku mencarimu hanya untuk bertanya di mana adanya Kakak Kam Bu Song. Kau tentu tahu
karena kau bisa bilang kepada Enci Sian Eng bahwa Kakak Bu Song sudah meninggal dunia. Bagaimana
matinya dan di mana kuburnya? Akan tetapi... sekarang aku tidak perlu tanya-tanya lagi dan persoalan
sekarang hanya bahwa kau harus melawan aku sampai mati untuk menebus dosamu.”
“Dosa...?”
“Tadi itu...!”
“Eh...? Oh, itu...? Dengar, Lin... eh, Nona Cilik. Kau masih kanak-kanak, dan aku sudah tua. Ciuman tadi
tidak kusengaja, dan aku sudah amat menyesal. Maafkanlah dan anggap saja ciuman itu dari seorang
paman atau kakak terhadap adiknya. Bagaimana?”
Seperti seorang anak kecil manja Lin Lin membanting kaki dan menggeleng-geleng kepalanya dengan
keras. “Tidak bisa! Mana ada aturan begitu? Masa seorang paman atau kakak mencium... di sini...?” Ia
menuding bibirnya.
Suling Emas menjadi merah mukanya dan ia kewalahan betul menghadapi dara yang keras hati, keras
kepala dan keras kemauan, pendeknya keras segala-galanya dan serba nekat ini, “Habis, bagaimana? Tak
mungkin kutarik kembali....”
“Tarik kembali hidungmu!” Lin Lin memaki-maki. Suling Emas memandang dengan mata terbelalak dan
otomatis ia meraba-raba hidungnya yang disinggung-singgung oleh dara nakal itu. “Satu-satunya cara
menebus dosa hanya mencabut pedang dan mari lawan aku sampai mampus seorang di antara kita!
Penghinaan yang memalukan ini harus ditebus dengan nyawa!”
Suling Emas merasa bohwat (kehabisan akal) benar-benar. “Masa begitu saja dianggap penghinaan yang
memalukan? Mana bisa menghina karena tidak sengaja? Dan bagaimana bisa disebut memalukan, kan
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak ada yang lihat? Nona cilik, sekali lagi aku minta maaf dan untuk menebus dosa, aku sanggup
melakukan apa saja asal jangan... bertanding sampai mati.”
Lin Lin menahan senyumnya. Gembira benar dia, serasa kepalanya menjadi melar (membesar) saking
bangga dan besar hati. Kulit hidungnya yang tipis otomatis mekar. Bukankah ucapan Suling Emas itu
otomatis mengakui kelihaian dan kehebatannya?
Bukankah itu berarti Suling Emas, pendekar besar yang ditakuti semua orang, yang dicap seorang
pendekar aneh dan tiada taranya di kolong langit, yang dipuji-puji setinggi langit oleh Lie Bok Liong, Kimlun
Seng-jin, dan Sian Eng, juga yang amat ditakuti oleh Suma Boan dan kaki tangannya termasuk It-gan
Kai-ong. Sekarang memperlihatkan enggan dan takut bertanding mati-matian melawannya? Kalau tidak
takut, sedikitnya tentu kagum menyaksikan ilmu kepandaiannya! Tentu saja ia sama sekali tidak sadar
bahwa satu-satunya yang membuat laki-laki luar biasa itu ‘ngeri’ terhadapnya adalah wataknya yang liar
dan sukar dilawan itu.
“Suling Emas, apakah kau seorang laki-laki sejati?”
Pertanyaan yang diajukan dengan sinar mata menusuk-nusuk langsung ke jantung ini membuat pendekar
aneh itu terbelalak dan alisnya yang hitam tebal itu bergerak-gerak. Baru sekarang selama hidupnya ia
merasa bingung dan tak dapat menebak apa gerangan maksud di balik kata-kata pertanyaan besar itu.
Akan tetapi, melihat wajah dan sikap dara remaja itu terang tidak bermaksud menghina.
“Apa maksudmu?” Ia toh bertanya karena benar-benar tidak mengerti.
“Apakah kau tergolong laki-laki yang suka menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkan?”
Sepasang mata Suling Emas berkilat seperti mengeluarkan cahaya berapi sehingga Lin Lin menjadi
terkejut sekali dan agak takut juga. Seperti mata harimau marah, pikirnya.
“Nona kecil, apakah kau main-main ataukah hendak menghina aku? Awas kau...!”
Lin Lin cemberut. “Siapa main-main? Awas... awas... tentu saja aku awas, kalau tidak mana aku bisa
melihat? Main ancam, apa dikira aku takut? Hayo, mau apa?”
“Kalau kau tidak main-main, apa maksudnya pertanyaanmu yang bukan-bukan itu? Tentu saja aku laki-laki
sejati. Suling Emas lebih menghargai nama baik dari pada selembar nyawanya!”
“Dan sekali keluarkan sepatah kata, empat ekor kuda takkan mampu menarik kembali?”
“Jangankan empat ekor kuda, nyawa terancam maut sekali pun takkan dapat menarik kembali kata-kata
yang sudah kukeluarkan dari mulutku!” Panas perut Suling Emas dan ia terheran-heran karena belum
pernah ia bisa ‘dibakar’ orang selama ini.
“Bagus, kalau begitu nyata kau seorang Enghiong (Pendekar) sejati, seorang satria tulen tidak campuran.
Aku percaya omonganmu. Nah, dengarkan sekarang penebusan dosamu. Aku pun tidak suka bertanding
sampai mati denganmu, karena aku juga maklum bahwa kau lihai sekali. Akan tetapi karena kau yang
menolak bertanding sampai mati dan kau pula yang berjanji akan melakukan apa saja asal jangan
bertanding, aku mengajukan tiga buah permintaan kepadamu.”
Hemmm, celaka aku sekali ini, pikir Suling Emas dan ia sudah menyesal mengapa tadi ia memberi janji
segala macam. Jangan-jangan gadis liar ini akan menyeretnya untuk melakukan hal yang bukan-bukan.
Diam-diam ia gemas sekali dan ingin rasanya ia menangkap bocah ini, menelungkupkannya di atas
pangkuan dan menghajar pantatnya sampai matang biru!
Akan tetapi Lin Lin yang cerdik pura-pura tidak melihat mata yang melotot kepadanya itu, melainkan ia
cepat-cepat menyambung kata-katanya. “Pertama, kau tidak boleh bercerita kepada siapa pun juga di
dunia ini, kepada isterimu pun tidak...”
“Aku tidak punya isteri!”
“Masa...?” Lin Lin duduk menunjang dagu dengan kedua tangan dan memandang tajam. Mereka sudah
sejak tadi duduk berhadapan lagi, terhalang meja. “Kenapa sih? Usiamu sudah lebih dari pada cukup.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kurasa tiga puluh tahun sudah ada....”
Suling Emas menarik napas panjang, sejenak memandang wajah Lin Lin, kemudian menunduk dan
menggerakkan kedua pundaknya yang bidang. “Aku takkan punya isteri... siapa akan sudi padaku...?”
Tiba-tiba pandang mata Suling Emas merenung dan tampak sedih sekali.
“Akan tetapi kelak kau tentu akan mengubah pendirian ini dan kelak kau tentu akan punya seorang isteri
yang cantik jelita dan baik....”
Suling Emas menggebrak meja dan... keempat kaki meja itu amblas sampai belasan sentimeter ke dalam
lantai yang keras. Tiba-tiba meja menjadi pendek. “Apa-apaan semua ini? Melantur-lantur urusan isteri dan
pernikahan segala macam?”
Lin Lin sadar, menurunkan kedua tangannya, keningnya berkerut-kerut, mengingat-ingat, “Ah, oh... sampai
di mana aku tadi? Oya, permintaan pertama, kepada siapa pun juga di dunia ini, juga tidak kepada... calon
isterimu, kau tidak boleh bercerita tentang yang tadi itu. Sanggupkah?”
Lega bukan main hati Suling Emas. Kiranya hanya macam begini saja permintaan dara gila ini. Saking
gembiranya dan lega hatinya mendengar bahwa permintaan yang belum apa-apa sudah ia janji
menyanggupi itu ternyata bukan permintaan yang bukan-bukan, timbul kegembiraannya untuk menggoda.
Ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Tentu saja aku sanggup kalau hanya untuk tutup mulut, tapi
harus dijelaskan, tidak boleh bercerita tentang apa?”
“Tentang tadi itu, lho.”
“Tentang tadi? Ada apa sih tadi? Tentang kau datang ke istana dan bertempur melawan para penjaga?”
“Bukan... bukan...! Kalau tentang itu saja boleh kau ceritakan kepada setiap orang yang kau jumpai. Bukan
itu, tapi tentang... eh, tentang antara kita tadi itu.”
Suling Emas menarik muka bodoh, longang-longong seakan-akan ia benar-benar tidak mengerti. “Eh,
tentang pertandingan kita tadi? Baik, aku akan tutup mul...”
“Kau buka sehari semalam juga peduli amat kalau tentang itu. Wah, tidak nyana bahwa Suling Emas yang
namanya lebih tinggi dari puncak Thai-san, kiranya hanya seorang laki-laki yang amat bodoh. Itu lho,
tentang kekurang-ajaranmu tadi, kau peluk aku dan kau... kau....”
Melihat betapa wajah itu di bawah sinar lampu yang terang menjadi amat merah, Suling Emas merasa
kasihan juga. Ia mengangguk-angguk. “Baik-baik, aku mengerti sudah. Aku sanggup untuk tutup mulut
tentang hal itu.”
Lin Lin menarik napas panjang. Ia merasa lega dan hal itu akan merupakan rahasia antara mereka berdua
saja. “Dan kau akan membantu usaha kami mencari Kakak Kam Bu Song dan pembunuh ayah bunda
kami.”
“Sanggup!” tanpa banyak pikir lagi Suling Emas menjawab sambil mengangguk.
“Dan kau akan membawa aku bersamamu dalam usaha mencari Kakak Kam Bu Song dan musuh besarku.
Sanggup?”
“Wah... ini... ini...” Suling Emas meragu.
Lin Lin tersenyum mengejek dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah hidung Suling Emas. “Nah...
nah, janjinya menyanggupi segala macam permintaan, baru begitu saja sudah menolak...”
“Menolak sih tidak, tapi... mencari orang yang tidak tentu tempatnya membutuhkan waktu yang tidak dapat
diduga berapa lamanya. Pula, besok aku akan pergi ke Nan-cao mengunjungi perayaan Agama Bengkauw....”
tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. “Ah, di sana berkumpul semua tokoh kang-ouw, kurasa akan
dapat bertemu dengan pembunuh ayah bundamu di sana.”
“Nah, kalau begitu bawalah aku ke sana.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi... pembunuh ayah bundamu tentulah seorang yang amat lihai lagi jahat!”
“Takut apa? Kau kira aku takut? Lagi pula, aku tidak minta perlindunganmu! Aku hanya minta kau
mengajak aku dalam usaha mencarinya. Nah, bagaimana jawabnya?”
Suling Emas mengerutkan kening, berpikir-pikir, lalu mengangguk-angguk. “Perlu juga seorang bocah
seperti kau ini menghadapi banyak pengalaman. Di Nan-cao kau akan melihat dan mendengar banyak.
Baiklah, aku sanggup. Besok aku akan menjemputmu di kelenteng itu.”
Bukan main girangnya hati Lin Lin. Ia dapat membayangkan sudah betapa enci-nya akan membuka
matanya yang jeli itu lebar-lebar memandangnya kalau mendengar akan janji-janji Suling Emas kepadanya!
“Sebuah permintaan lagi, kau harus memperkenalkan nama aslimu kepadaku dan aku pasti akan
merahasiakannya kalau memang kau kehendaki itu.”
Suling Emas tampak terkejut sekali, akan tetapi ia segera mengangkat telunjuknya ke atas dan berkata
ketus, “Anak nakal, sekali ini aku takkan menyanggupi apa-apa lagi. Kau minta aku memegang teguh katakata
yang sudah keluar, akan tetapi kau sendiri mengapa hendak melanggar omongan sendiri?”
“Aku? Melanggar omonganku sendiri? Mana bisa...?”
“Kau tadi bilang hendak mengajukan tiga macam permintaan. Pertama, aku tidak boleh bercerita kepada
orang lain bahwa aku sudah memeluk dan menciummu. Kedua, aku akan membantumu mencari kakakmu
dan musuh besarmu. Ketiga, aku akan membawamu serta ke Nan-cao. Nah, sudah cukup tiga, bukan? Tak
boleh diberi embel-embel lagi!”
Lin Lin menyesal bukan main. “Wah, aku salah. Kalau begitu boleh ditukar. Permintaan pertama itu kutukar
dengan permintaan ini dan....”
“Cukup! Aku tidak mau bicara lagi. Sekarang kau kembali ke kuil dan besok aku akan menjemputmu, kita
bersama berangkat ke Nan-cao!” Setelah berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan... tiba-tiba
semua lampu penerangan di dalam ruangan itu padam.
“Ikuti aku keluar...” Bayangan hitam itu berkata perlahan.
Lin Lin terpaksa mengikuti dan ternyata mereka keluar dari pintu samping yang ditutup kembali oleh Suling
Emas dari luar. Orang aneh itu sekali bergerak sudah melompat tinggi dan ternyata ia menyambar
benderanya di atas genteng, lalu melayang turun lagi. Gerakannya demikian ringan dan cepat laksana
seekor burung garuda terbang melayang saja, membuat Lin Lin kagum bukan main. Suling Emas bergerak
lagi dan Lin Lin mengikuti terus.
Dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya hati Lin Lin ketika Suling Emas membawanya keluar dari
lingkungan istana itu dengan enak saja, berjalan melalui jalan di antara gedung-gedung besar, kemudian
menerobos ke luar dari pintu gerbang. Para penjaga yang berada di situ, terang melihat mereka berdua,
akan tetapi jangankan mengganggu, berkata sepatah pun tidak seakan-akan Suling Emas dan Lin Lin
merupakan dua sosok bayangan yang tidak tampak oleh mereka!
Setibanya di luar, Suling Emas berkata, “Nah, selamat malam. Besok kujemput di kuil,” Begitu habis katakatanya
orangnya pun lenyap!
Bukan main, pikir Lin Lin. Lebih hebat lagi, ia sudah berhasil ‘menundukkan’ orang luar biasa macam itu!
Mulai besok, dia akan melakukan perjalanan jauh bersama Suling Emas! Lin Lin berjingkrak-jingkrak dan
berlari-lari cepat sekali. Ingin ia lekas-lekas sampai di kuil untuk menceritakan hal yang amat
membanggakan hatinya itu kepada enci-nya. Betapa akan terlongong heran enci Sian Eng, bisik debar
jantung Lin Lin.
Akan tetapi alangkah heran dan kemudian bingung hatinya ketika ia tiba di kuil, Sian Eng ternyata tidak
berada di situ. Para hwesio yang ditanyainya menerangkan bahwa enci-nya itu pergi meninggalkan kuil
tidak lama setelah Lin Lin pergi petang tadi.
“Pinceng semua tidak tahu ke mana perginya, dia tidak meninggalkan pesan dan pinceng (saya) tidak
berani bertanya.” Memang para hwesio di kuil itu amat menghormati Sian Eng dan hal ini adalah karena
dunia-kangouw.blogspot.com
yang membawa datang gadis itu adalah Suling Emas.
Tergesa-gesa Lin Lin memasuki kamar di sebelah belakang kuil itu. Kamar itu kosong dan hatinya tidak
enak sekali rasanya ketika melihat bahwa bukan hanya Sian Eng yang lenyap dari kamar itu, melainkan
bungkusan pakaian encinya,
juga pedangnya, turut lenyap. Hal ini hanya berarti bahwa enci-nya memang
sengaja pergi dari situ. Bukan pergi dekat-dekatan saja, melainkan pergi melakukan perjalanan jauh,
karena kalau tidak demikian, apa perlunya membawa-bawa bekal pakaian? Akan tetapi, kalau benar
demikian, mana bisa jadi? Masa enci-nya pergi jauh tanpa memberi tahu kepadanya? Hanya satu hal yang
melegakan hatinya. Agaknya enci-nya itu tidak diculik orang atau dibawa pergi orang dengan kekerasan,
karena kalau demikian hainya, tentu enci-nya tidak membawa serta pakaiannya.
Semalaman Lin Lin tak dapat tidur. Baru saja bertemu dengan enci-nya, sekarang ia ditinggal pergi lagi
dengan aneh. Sekali lagi ia berpisah dari Bu Sin dan Sian Eng, tanpa mengetahui di mana adanya mereka
berdua. Diam-diam Lin Lin mendongkol sekali. Mengapa Sian Eng meninggalkannya begitu saja? Ada
rahasia apakah di balik perbuatan yang amat ganjil ini? Hatinya baru tenteram dan kebingungannya
berkurang banyak kalau ia teringat akan Suling Emas.
Orang itu hebat, kepandaiannya seperti setan. Sekarang ia sudah dapat ‘bersahabat’ dengan Suling Emas,
tentang lenyapnya Sian Eng, apa sih sukarnya bagi Suling Emas? Besok aku akan minta dia mencari Sian
Eng lebih dulu, pikirnya. Akan tetapi segera ia teringat betapa aneh dan sukar watak Suling Emas. Belum
tentu ia mau menuruti permintaannya, buktinya, ditanya nama sesungguhnya saja tidak mau memberi tahu.
Lin Lin bersungut-sungut dan duduk termenung di dalam kamarnya tak dapat tidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali seorang hwesio pelayan memberi tahu bahwa ada seorang tamu
mencarinya. Lin Lin meloncat dari pembaringan, langsung keluar dari dalam kamar. Dengan rambut kusut
dan wajah gelisah ia berlari ke luar untuk menyambut Suling Emas dan cepat bercerita tentang lenyapnya
Sian Eng. Akan tetapi wajahnya berubah ketika ia melihat bahwa laki-laki yang duduk di ruangan depan itu
sama sekali bukan Suling Emas yang diharap-harap kedatangannya, melainkan Lie Bok Liong! Akan tetapi,
hanya sebentar saja rasa kecewa ini menekan hatinya, karena ia segera meraih harapan bahwa sahabat
ini berhasil mendapat tahu tentang di mana adanya Bu Sin kakaknya.
“Liong-twako, bagaimana dengan Sin-ko? Sudah tahukah kau di mana adanya Sin-ko?”
Sejenak Bok Liong menatap wajah dengan rambut kusut itu dengan hati berguncang. Selama dua hari
berpisah dari Lin Lin, makin terasalah ia betapa ia tak mungkin dapat terpisah dari gadis ini. Yang dua hari
itu ia merasakan siksaan batin yang kosong dan sunyi, akibat dari pada kebahagiaan yang selama ini ia
rasai di dekat Lin Lin telah direnggutkan dari padanya. Betapa rindunya kepada dara itu, akan tetapi ia
menguatkan hati dan dengan tekun ia mencari keterangan tentang diri kakak nona itu sampai ke luar kota
raja.
********************
Harus diakui bahwa pemuda ini mempunyai hubungan yang amat luas dan di sekitar kota raja, boleh
dibilang di setiap dusun dan kota ia tentu mengenal seorang tokoh. Inilah sebabnya mengapa dalam waktu
dua hari saja ia telah berhasil dalam penyelidikannya dan dengan hati girang pagi-pagi itu ia menuju ke
kuil. Selama dua hari ini ia tidak pernah beristirahat dan dalam hal wajah dan rambut kusut agaknya ia
tidak usah kalah oleh Lin Lin! Mendengar pertanyaan membanjir keluar dari mulut dara pujaan hatinya itu,
ia tersenyum girang. Namun hanya sebentar saja ia tersenyum karena ia segera teringat bahwa biar pun ia
sudah berhasil mendapatkan berita tentang Bu Sin, namun bukanlah berita baik yang dapat disampaikan
kepada Lin Lin dengan senyum gembira!
“Lin-moi, aku sudah berhasil mendengar berita tentang kakakmu itu, akan tetapi sebelumnya kuharap kau
akan tenang dan percayalah kepadaku bahwa aku selalu akan membantumu mencari dan menyusul
kakakmu, biar pun untuk itu aku harus menyeberangi samudera api....”
“Aku tahu kau akan membantuku, tapi bukan itu yang ingin kudengar. Lekas katakan, bagaimana dengan
Sin-ko?” Lin Lin memotong, habis sabar.
Dengan muka duka Bok Liong berkata. “Menurut kabar yang kudapat, agaknya kakakmu itu terjatuh ke
dalam tangan Siang-mou Sin-ni, si Iblis Betina yang amat lihai. Tapi percayalah, kakakmu tidak dibunuh.
Aku sudah cukup mengenal watak iblis betina itu. Dia sedang meyakinkan sebuah ilmu hitam yang amat
ganas dan syaratnya adalah menghisap darah jejaka hidup-hidup. Banyak sudah yang menjadi korbannya
dunia-kangouw.blogspot.com
dan aku yakin bahwa kakakmu tidak menjadi korbannya karena biasanya ia meninggalkan mayat laki-laki
yang dihisapnya sampai mati. Kakakmu lenyap dan jejaknya menyatakan bahwa dia dijadikan tawanan
Siangmou
Sin-ni. Menurut keterangan yang kukumpulkan, aku tahu bahwa iblis itu pergi ke Nan-cao untuk
menghadiri perayaan Agama Beng-kauw. Maka, tenanglah dan mari kau ikut denganku ke Nan-cao, kita
kejar siluman itu dan dengan tenaga kita berdua, kiraku kita akan dapat merampas kembali kakakmu.”
Mendengar cerita Bok Liong, Lin Lin terkejut sekali. Akan tetapi otaknya bekerja dan ia segera menjawab,
“Liong-twako, kau benar-benar baik sekali. Terima kasih atas pertolonganmu. Karena sudah jelas bahwa
Sin-ko ditawan Siangmou
Sin-ni dan dibawa ke Nan-cao, biarlah aku sendiri yang akan mengejar iblis itu
dan merampas Sin-ko.”
“Wah, kau tidak tahu! Siang-mou Sin-ni
adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai, seorang di antara
Enam Iblis yang kepandaiannya luar biasa sekali, tidak di sebelah bawah tingkat It-gan Kai-ong!”
“Apakah lebih sakti dari pada Suling Emas?” tanya Lin Lin dengan sikap dingin, seakan-akan ucapan Bok
Liong tadi ‘bukan apa-apa’ baginya.
“Kalau dengan dia... ah... sukar dikatakan...”
“Nah, menghadapi Suling Emas saja aku tidak takut. Apa lagi segala macam manusia iblis seperti Siangmou
Sin-ni? Liong-twako, harap kau jangan banyak membantah. Bukankah kau sudah bilang bahwa kau
suka sekali membantu dan menolongku?”
“Tentu saja! Karena itulah aku akan mengantarmu mengejarnya.”
“Tidak, Twako. Kau tidak tahu. Kita membagi tugas sekarang. Ketahuilah bahwa Enci Sian Eng juga
lenyap! Baru malam tadi ia lenyap.”
“Apa...?!” Bok Liong berseru kaget dan memandang dengan mata terbelalak, lalu menggaruk-garuk
belakang telinga yang tidak gatal. Benar-benar tiga saudara ini orang-orang yang aneh sekali, selalu
lenyap seperti barang kecil berharga saja. Apakah mereka itu tidak mampu menjaga diri sendiri sehingga
mudah hilang?
“Karena itulah, Twako. Aku minta bantuanmu sekarang, kuminta sungguh-sungguh agar supaya kau suka
mencari jejak Enci Sian Eng. Kalau kau sudah dapat menemukannya dan dia dalam keadaan selamat,
barulah kau boleh menyusulku. Aku akan mengejar jejak Sin-ko yang diculik iblis betina itu.”
Sebenarnya Bok Liong kecewa sekali, akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menolak, apa lagi dara pujaan
hatinya itu mengajukan permintaan dengan suara penuh permohonan dan sinar mata mengharap. “Baiklah,
aku akan cepat mencari dan menemukannya, kemudian aku akan menyusulmu ke Nan-cao. Kuharap saja
kau tidak akan berjumpa dengan Siang-mou Sin-ni sebelum aku berada di dekatmu untuk membantu.”
Bok Liong berpamit dan keluar dari situ, akan tetapi sampai di pintu ia menengok dan suaranya menggetar
ketika ia berkata, “Lin-moi, kau melakukan perjalanan seorang diri mengejar orang sejahat iblis, kau
berhati-hatilah, jaga dirimu baik-baik.”
Lin Lin tersenyum. Ia menganggap pemuda ini baik sekali kepadanya, seperti kakak sendiri. Tentu saja ia
tidak dapat menduga bahwa suara tadi keluar dari lubuk hati dan mengandung rasa kasih yang besar dan
mendalam.
“Oya, Twako, kau lupa. Kalau kau bertemu dengan Enci Sian Eng, kau harus ajak dia sekalian
menyusulku. Sekali lagi terima kasih, Liong-twako. Kau seorang yang amat baik dan aku takkan melupakan
budimu.”
Tentu saja hati Bok Liong menjadi girang bukan main. Dara pujaannya itu takkan melupakan budinya!
Bukankah ini merupakan sebuah janji tersembunyi! Sama sekali pemuda yang jujur ini tidak tahu bahwa di
dalam hati Lin Lin, gadis ini mengharapkan terangkapnya hati encinya
dengan pemuda yang amat baik
dan gagah ini!
Baru saja Bok Liong pergi, terdengar suara, “Dia telah bersikap baik sekali, tapi yang dibaiki tidak tahu diri!”
Lin Lin cepat menengok dan... Suling Emas telah berdiri di situ. Seketika kegelisahan yang membayangi
dunia-kangouw.blogspot.com
wajah cantik itu lenyap terganti cahaya berseri pada matanya dan warna merah pada kedua pipinya.
“Apa kau bilang? Liong-twako memang baik sekali orangnya dan siapa bilang aku tidak tahu diri?”
Suling Emas menarik napas panjang, menyembunyikan gelora dadanya yang aneh sekali baginya.
Mengapa melihat wajah gadis cilik ini di waktu pagi, mengingatkan ia akan setangkai bunga mawar dalam
hutan yang masih basah oleh embun pagi dan yang selalu mendatangkan rasa aman tenteram di hatinya?
Lalu katanya acuh tak acuh agar gelora hatinya terselimut, “Dia cinta padamu dan menghendaki kau pergi
bersamanya. Ah, kau suka menyiksa hati orang....”
Sepasang pipi itu menjadi makin merah dan jantung Lin Lin berdebar. Seperti dibuka kedua matanya oleh
ucapan Suling Emas ini. Lie Bok Liong mencintanya? Ucapan tentang cinta ini membuat ia memandang
Suling Emas lebih teliti lagi, karena perasaan wanitanya membuka rahasia hatinya sendiri. Bok Liong boleh
seribu kali mencintanya, akan tetapi ia hanya dapat mencinta seorang saja, yaitu... Suling Emas! Lin Lin
terkejut dan sekuat tenaga batinnya menolak perasaan ini, membantah, namun ia hanya berhasil
melawannya pada lahirnya belaka, ada pun hatinya makin erat terpikat dan terikat, makin hebat terlihat
jaring cinta kasih!
“Siapa peduli tentang... cin... cinta? Bagaimana kau menuduh secara buta tuli bahwa aku menyiksa hati
orang? Hanya Liong-twako yang kupercaya penuh untuk mencari Enci Sian Eng yang lenyap....”
“Lenyap...?” Suling Emas memandang tajam.
“Hemmm, kau tidak tahu. Enci Eng pergi tanpa pamit, entah ke mana. Pakaian dan pedangnya dibawa,
tentu pergi jauh. Aku minta tolong kepada Liongtwako
untuk pergi mencarinya karena aku sendiri hendak
pergi mengejar jejak Bu Sin Koko yang diculik oleh Siang-mou Sin-ni.”
“Apa...?” Kali ini Suling Emas mengerutkan keningnya, “Dari mana kau tahu?”
“Liong-twako memang baik dan hebat!” Lin Lin sengaja memuji-muji di depan Suling Emas. “Dalam dua
hari saja ia berhasil mendapat keterangan bahwa Sin-ko telah dibawa pergi oleh seorang iblis betina
berjuluk Siang-mou Sin-ni dan dibawa ke Nan-cao. Karena itu, kebetulan sekali bahwa kita pun akan pergi
ke Nan-cao sehingga kita dapat mengejar iblis itu dan sekalian mencari tahu tentang Kakak Bu Song dan
musuh besarku.”
Wajah Suling Emas kelihatan serius sekali, “Non...”
“Wah, kau canggung benar. Repot aku kau sebut nona-nona segala macam. Sebut saja namaku, kau kan
sudah tahu namaku? Aku sendiri karena tidak tahu siapa namamu, akan menyebut kau Suling Emas begitu
saja, atau... si Suling saja karena kau memang tinggi janggung seperti suling.”
Kembali sepasang mata itu berkilat dan untuk beberapa detik wajah yang serius itu berseri. Akan tetapi
hanya sebentar dan kembali wajahnya muram. “Lin Lin, kali ini kau jangan main-main. Kau tidak tahu, tidak
mengenal Siang-mou Sin-ni. Dia benar-benar iblis yang jahat, malah dia seorang di antara Thiante
Liokkoai.
Kakakmu terjatuh di dalam tangannya, berbahaya sekali....”
“Maka kita harus lekas mengejarnya. Hayo kita berangkat... eh, nanti dulu, aku belum berganti pakaian dan
cuci muka... bersisir....”
“Apa kau kira kita akan pergi ke pesta? Begitu saja sudah cukup. Ambil bekalmu dan kita berangkat!”
“Tapi... tapi....” Lin Lin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Suling Emas sudah memutar tubuh dan
keluar dari kuil itu.
Terpaksa ia tergesa-gesa memasuki kamarnya, menyambar buntalan pakaian yang sudah ia persiapkan,
membawa pedangnya dan berjalan cepat ke luar. Ia berpamit kepada pimpinan kuil sambil menghaturkan
terima kasih, kemudian ia berlari ke luar. Kiranya Suling Emas tidak menantinya dan sudah berjalan pergi
beberapa ratus meter jauhnya.
“Heeeiiiii, tunggu...!” teriaknya sambil berlari mengejar.
Suling Emas berjalan terus tanpa menengok. Dari belakang tampaknya orang aneh itu hanya berjalan
dunia-kangouw.blogspot.com
biasa, kedua kakinya bergerak melangkah lambat-lambat. Akan tetapi anehnya, betapa pun cepatnya
kedua kaki kecil Lin Lin bergerak lari sipat kuping, tetap saja jarak antara mereka tiada perubahan, kira-kira
tiga ratus meter jauhnya!
“Hemmm, kini kau akan menguji ilmu lari cepat?” Lin Lin mengomel gemas, lalu ia mengerahkan seluruh
tenaga ginkang dan menggunakan tenaga kesaktiannya, yaitu Khong-in-ban-kin yang dapat membuat ia
bergerak laksana burung walet terbang cepatnya.
Diam-diam Suling Emas terkejut dan juga kagum. Kemudian ia pun mempercepat gerakannya. Lin Lin
terus mengejar, penasaran bukan main ketika dari belakang Suling Emas tetap saja kelihatannya seperti
orang berjalan biasa. Lebih dua jam mereka berkejaran ini sampai lewat puluhan li jauhnya. Setelah Lin Lin
bermandi keringat dan napasnya mulai memburu barulah ia dapat menyusul. Suling Emas berhenti dan
memandangnya, pandang mata yang jelas membayangkan kekaguman.
“Huh... huh... kau kira aku tidak mampu mengejarmu? Huh... huh... semua orang boleh menganggapmu
hebat... tapi... huh... huh... bagiku biasa saja...” Di antara napasnya yang senin-kemis itu Lin Lin mengejek
dan menyombong.
Suling Emas memandang tajam. Dia ini sama sekali tidak nampak lelah. Wajahnya biasa saja, tidak
tampak setetes pun peluh dan napasnya juga panjang-panjang biasa, “Lin Lin, ilmu yang kau warisi dari
Kim-lun Seng-jin ini hebat. Sayang sekali....”
“Sayang? Apanya yang sayang?”
“Sayang kau tidak menghargainya sehingga kau menjadi tolol dan sombong!”
Lin Lin menggigit bibirnya, kedua tangannya dikepal dan sudah gatal-gatal tangannya untuk menerjang dan
menyerang untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya. Sepasang matanya bersinar-sinar seakan
hendak menelan orang di depannya itu hidup-hidup. Akan tetapi ia menahan perasaannya karena ingin
sekali ia mendengar arti pernyataan yang tak dimengertinya itu.
“Kalau benar aku tolol dan sombong, mengapa sayang? Apa pedulimu dan apa hubungannya dengan ilmu
yang kupelajari dari Kim-lun Seng-jin?”
“Seorang anak-anak yang goblok tidak akan tahu akan harganya sebuah mustika dan akan
menganggapnya batu biasa saja dan dipakai main-main. Kau pun tidak dapat menghargai ilmu warisan dari
Kim-lun Seng-jin sehingga kau main-main dengan ilmu itu, maka kau tolol. Orang yang menganggap diri
sendiri sudah hebat tiada bandingnya, dia adalah seorang sombong dan kau juga selalu mau menang
sendiri, tidak menghargai orang lain maka kau sombong juga. Sayang ilmu yang hebat itu jatuh ke tangan
orang tolol dan sombong. Kalau tidak, dengan melatihnya secara tekun dan mendalam, agaknya takkan
mudah lagi kau mengalami penghinaan dari orang lain.”
“Siapa berani menghina aku kecuali kau? Putera Mahkota sendiri menganggap aku sederajat dan setingkat
dengannya, mengajak aku bercakap-cakap seperti sahabat. Tapi kau... huh, kaulah yang sombong!”
“Putera Mahkota? Betulkah kau bertemu dengan Putera Mahkota? Yang mana, jangan-jangan hanya
dengan seorang bangsawan muda macam Suma Boan.”
“Huh, apa aku tidak bisa membedakan mana Pangeran Mahkota dan Pangeran Brengsek biasa? Aku
memasuki taman bunganya ketika mencari gedung perpustakaan, dan aku bercakap-cakap dengannya.
Dia suka sekali akan ikan emas, mempunyai sebuah pagoda yang penuh dengan tempat-tempat ikan dari
kaca! Bagus bukan main!”
Sepasang mata Suling Emas terbelalak. Makin heranlah ia menghadapi dara remaja ini, “Kau benar-benar
telah bertemu dengan Pangeran? Tahukah kau bahwa beliau itu adalah adik Sri Baginda dan merupakan
calon pengganti Sri Baginda?”
“Tentu saja aku tahu, aku sudah mengobrol dengan dia seperti sahabat, tapi kusangka dia itu tadinya
putera Kaisar.”
Suling Emas menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal. Benar-benar hampir tak mungkin dapat
dipercaya seorang gadis liar seperti ini bercakap-cakap seperti sahabat dengan pangeran mahkota! Akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi biar pun ia belum lama bertemu dengan Lin Lin, sudah dapat merasa yakin bahwa bocah seperti ini
tidak bicara bohong, dan percaya pula bahwa di depan pangeran mahkota, malah di depan kaisar sendiri
agaknya tidak mau bersikap merendah dan menganggap mereka itu orang-orang biasa seperti dia!
“Kau benar-benar seorang gadis hebat!” Inilah suara hatinya, akan tetapi tanpa disadari keluar pula dari
mulutnya.
Berkembang lubang hidung Lin Lin mendengar ini dan sekaligus kemengkalan hatinya karena dimaki tolol
dan sombong tadi lenyap seperti embun terusir sinar matahari. Ia tersenyum manis sekali dan berkata
dengan mata tajam mengerling. “Kau pun seorang laki-laki yang hebat!”
Terkejutlah Suling Emas, seakan-akan ditampar mukanya. Pipinya menjadi merah dan ia cepat
memalingkan muka, menghindarkan diri dari sambaran kerling setajam gunting dan senyum semanis
madu. Tapi jantungnya berdenyut aneh dan dengan batinnya yang sudah terlatih, matang dan teguh itu ia
cepat dapat mengusir perasaan yang tidak semestinya itu.
“Marilah kita lanjutkan perjalanan. Perjalanan ini masih jauh, di samping itu kita harus berusaha menyusul
Siang-mou Sin-ni, kalau saja belum terlambat....”
Ucapan ini sekaligus menyadarkan Lin Lin yang tadinya terayun kebungahan hati yang ditimbulkan oleh
pujian Suling Emas yang mengatakan dia gadis hebat.
“Apa... apakah kau anggap Bu Sin Koko berada dalam bahaya?”
“Hemmm, sukar dikatakan. Akan tetapi yang jelas, Siang-mou Sin-ni adalah seorang wanita yang kejam
seperti iblis.”
“Akan kubunuh dia! Kalau Sin-ko dia ganggu, akan kubunuh dia!” Lin Lin berteriak marah dengan
semangat menggelora.
Biar pun diam-diam Suling Emas menganggap pernyataan ini amat menggelikan mengingat lihainya Siangmou
Sin-ni dan ‘mentahnya’ Lin Lin, namun ia maklum bahwa pernyataan ini terdorong oleh keberanian
yang luar biasa. Ia percaya bahwa Lin Lin pasti akan membuktikan ancamannya, biar pun untuk itu harus
berkorban nyawa. Ia sudah menyaksikan ketabahan hati Sian Eng ketika dikubur hidup-hidup oleh Hekgiam-
lo, akan tetapi agaknya adiknya ini lebih tabah dan berani lagi, mendekati nekat!
“Kita lihat saja nanti, mudah-mudahan kakakmu masih selamat. Mari!”
Tanpa mengenal kasihan Suling Emas mengajak Lin Lin berlari lagi cepat-cepat, agaknya ia tidak peduli
bahwa gadis itu sudah kelihatan amat telah. Lin Lin juga tidak sudi menyerah mentah-mentah, malu untuk
mengaku bahwa ia lelah dan kehabisan napas tadi. Kini setelah lelahnya berkurang karena sudah
mengaso, ia mengerahkan Khong-in-ban-kin lagi dan berlari secepat terbang. Ia sama sekali tidak sadar
bahwa perbuatan Suling Emas ini sama sekali bukan karena kejam, melainkan karena disengaja, yaitu
bahwa orang sakti itu hendak memaksa ia melatih Khong-in-ban-kin tanpa sengaja.
Dengan berlari-lari seperti itu, perjalanan dilakukan cepat sekali. Lin Lin ingin sekali mengajak teman
seperjalanan ini bercakap-cakap, ingin ia tahu lebih banyak tentang diri Suling Emas, akan tetapi ia tidak
diberi kesempatan dan ia pun seorang gadis yang berhati keras. Malu dan pantang mundur, dengan nekat
ia berlari terus mengimbangi kecepatan Suling Emas.
********************
Pada malam hari itu setelah Lin Lin pergi meninggalkannya seorang diri di dalam kuil, Sian Eng duduk
termenung. Adiknya telah membayangkan tuduhan bahwa dia cinta kepada Suling Emas. Alangkah jauh
menyimpang tuduhan itu. Memang ia merasa amat kagum terhadap pendekar sakti yang aneh itu, akan
tetapi pribadi Suling Emas sama sekali tidak menarik cinta kasihnya, melainkan menimbulkan rasa seram,
enggan, dan segan. Berpikir tentang cinta kasih dan pria mana yang menarik hatinya, Sian Eng termenung
dan terkenang kepada... Suma Boan! Jantungnya berdebar, mukanya terasa panas dan ia menjatuhkan diri
di atas pembaringan sambil menangis!
Memang aneh dan tak masuk di akal agaknya kalau asmara sudah main-main dengan hati manusia muda.
Dewi Asmara yang ganas dan kadang-kadang kejam itu menyebar anak panah berbisa secara membabidunia-
kangouw.blogspot.com
buta agaknya sehingga banyak peristiwa terjadi dan cerita terlahir sebagai akibat dari pada bisa anak
panah asmara yang menjadi sumber segala kebahagiaan atau sebaliknya sumber kesengsaraan bagi
orang-orang muda.
Sian Eng adalah seorang gadis puteri seorang jenderal. Sedikit banyak hatinya terpengaruh oleh
perbedaan antara orang biasa dan bangsawan, dan biar pun tidak berterang, ia menganggap diri sendiri
sebagai seorang yang berdarah bangsawan. Atau, mungkin juga di dalam hatinya terdapat cita-cita untuk
mengangkat kembali derajat keluarganya yang sudah runtuh ketika ayahnya meninggalkan kedudukan
sebagai seorang bangsawan tinggi. Atau juga memang karena kejahilan asmara sehingga begitu bertemu
dengan putera Pangeran Suma itu, seketika ia merasa tertarik sekali.
Tentu saja ia tidak dapat melupakan kenyataan betapa Suma Boan pernah menawannya dan menurut
penuturan Suling Emas, hampir membunuh Bu Sin. Akan tetapi hati kecilnya membisikkan alasan bahwa
untuk perbuatan itu tentu Suma Boan mempunyai sebab-sebab yang kuat. Agaknya putera bangsawan itu
pernah dibikin sakit hati oleh kakaknya, Bu Song, sehingga ketika bertemu dengan mereka timbul
kemarahannya dan berusaha membalas dendam. Aku akan bertanya kepadanya, hal ini harus dibikin
terang, pikirnya dalam hati. Akan tetapi bagaimana ia dapat berjumpa dengan Suma Boan?
Tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap di ruangan tengah kuli itu. Lapat-lapat ia mendengar
suara hwesio kepala yang menjawab dengan suara lemah ketakutan atas pertanyaan orang yang suaranya
nyaring dan galak. Sian Eng tertarik, juga curiga. Cepat ia menyambar pedangnya dan keluar dari kamar.
Dari balik pintu yang menembus ke ruangan itu, ia mendengarkan dan jantungnya berdebar ketika ia
mengenal suara Suma Boan!
“Pinceng tidak berani membohong, Kongcu. Sesungguhnya mereka telah pergi lagi, entah ke mana
pinceng tidak berani bertanya dan tidak diberi tahu.”
“Bukankah Suling Emas sering kali datang ke kuil ini?” terdengar pula Suma Boan bertanya.
“Jarang sekali dia datang, sungguh pun pinceng mengenalnya baik, tapi dia tidak pernah bermalam di sini.
Siapakah bisa mengetahui di mana adanya?”
“Hemmm, aku percaya semua keterangan Lo-suhu. Akan tetapi ketahuilah dua orang yang kucari itu
adalah orang-orang berbahaya yang belum lama ini mengacau rumahku, maka terpaksa aku akan
melakukan penggeledahan, siapa tahu mereka itu sudah kembali lagi ke dalam kuil tanpa setahu Lo-suhu.”
“Silakan, silakan...”
Mendengar ini Sian Eng terkejut dan tak terasa lagi ia bergerak. Suara kakinya cukup bagi pendengaran
Suma Boan yang tajam. Pemuda bangsawan ini melompat, mendorong daun pintu dan... ia berhadapan
dengan Sian Eng!
Dengan kedua alis terangkat Suma Boan berseru, “Eh, kau di sini pula...?” Lalu ia melanjutkan katakatanya
dengan nada girang. “Syukur kau telah bebas dari cengkeraman iblis Hek-giam-lo, Nona!”
Merah muka Sian Eng. Ia balas memandang, lalu menjawab marah. “Karena gara-gara kau menawanku,
maka aku terjatuh ke tangan Hek-giam-lo. Baiknya ada dia yang menolongku dan membawaku ke kuil
ini....”
“Suling Emas? Kau ditolong olehnya...?”
“Siapa lagi kalau bukan dia yang menolongku? Suma-kongcu, kami dulu itu dengan maksud baik datang
kepadamu untuk bertanya tentang kakakku yang hilang, mengapa kau lalu menawanku dan hampir
membunuh kakakku Bu Sin? Mengapa kau membenci kakakku Kam Bu Song yang lenyap? Permusuhan
apakah yang membuat kau membencinya?”
Suma Boan tersenyum, lalu menoleh kepada hwesio kepala dan menjura. “Maaf, Lo-suhu, bahwa aku tadi
menaruh curiga kepadamu. Kiranya semua ceritamu benar belaka dan kedua orang muda itu tidak berada
di sini. Akan tetapi siapa kira, aku bertemu dengan Nona kenalanku ini. Harap kau orang tua suka memberi
kesempatan kami bicara berdua saja.”
Hwesio tua itu mengangguk dan mengundurkan diri dengan sikap tenang dan sabar. Suma Boan lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
menghadapi Sian Eng. Pemuda yang sudah banyak pengalamannya dengan wanita ini sekali pandang
saja dapat menjenguk isi hati Sian Eng, bahwa sedikitnya gadis ini tidak marah dan tidak benci kepadanya.
Dan memang ia pernah amat tertarik hatinya oleh gadis ini, maka pertemuan yang tak sengaja dan tak
tersangka-sangka ini tentu saja mendatangkan rasa girang di hatinya.
Tadi ia menyelidik tentang pemuda dan pemudi yang mengacau rumahnya dan yang jejaknya menuju ke
kuil ini. Ia telah menyiapkan orang-orangnya di sekeliling kuil, bahkan Tok-sim Lo-tong, seorang tokoh
kang-ouw sahabat baik It-gan Kai-ong, sudah datang pula dan kini ikut menjaga di luar kuil untuk
menghadapi dua orang muda yang amat lihai itu, juga kalau sekiranya perlu, menghadapi Suling Emas!
Suma Boan maklum bahwa Suling Emas takkan mau mengganggunya, hal ini ada rahasianya, akan tetapi
dia sendiri selalu berusaha untuk menangkap dan kalau mungkin membunuh orang yang amat dibencinya
itu. Karena adanya Tok-sim Lo-tong inilah maka Suma Boan berbesar hati dan berani memasuki kuil di
kota raja. Sahabat suhu-nya yang berjuluk Tok-sim Lo-tong (Anak Tua Berhati Racun) memiliki kepandaian
yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
“Nona Liu...”
“Aku bukan she Liu, melainkan she Kam,” bantah Sian Eng.
Suma Boan tercengang. “Lho, dahulu kau dan kakakmu mengaku sebagai adik-adik dari Liu Bu Song....”
Mengertilah sekarang Sian Eng mengapa tadi pemuda bangsawan ini menyebutnya nona Liu. Ia tersenyum
manis dan hati Suma Boan makin berdebar. Tak salah lagi, bocah ini bukan saja tidak membenciku, malah
agaknya... ah, manis sekali wajah itu!
“Sesungguhnya dia kakakku, kakak sulung. Akan tetapi bukan aku yang berganti nama keturunan,
melainkan dia. Sebetulnya dia bernama Kam Bu Song. Suma-kongcu, kau agaknya kenal baik dengan
kakakku, bolehkah aku mendengar di mana adanya Kakak Bu Song sekarang ini dan apakah urusannya
maka kau agaknya bermusuhan dengan dia?”
“Apakah kau betul-betul hendak bertemu dengan dia, Nona? Sayang bahwa pertemuan pertama antara
kita ternoda oleh permusuhan sehingga aku khawatir kalau-kalau kau takkan dapat percaya kepadaku
lagi.” Suma Boan menarik napas panjang penuh penyesalan.
“Aku... aku percaya kepadamu. Ayahmu seorang pangeran. Sebagai puteri seorang bekas jenderal besar,
aku tahu bahwa kita menjaga nama baik leluhur kita yang sudah banyak membuat jasa kepada negara.”
Suma Boan membelalakkan kedua matanya. “Ah, kiranya kau seorang gadis bangsawan, Nona? Ayahmu
seorang jenderal? Mengapa... mengapa Bu Song memakai she Liu dan tidak pernah bilang bahwa dia
putera seorang jenderal besar? Ah, kalau saja ia dahulu mengaku secara terus terang, kiraku takkan timbul
permusuhan ini....”
“Apakah yang telah terjadi? Dan di mana dia sekarang?”
“Nona, kurasa bukan di sini tempat kita bicara. Ceritanya panjang dan agaknya perlu kuperlihatkan buktibuktinya
kepadamu agar kau dapat percaya. Ada pun untuk dapat bertemu dengan kakak sulungmu itu,
kurasa membutuhkan perjalanan jauh yaitu ke negara Nan-cao. Maukah kau ikut denganku ke Nan-cao?
Kutanggung kau akan dapat bertemu dengan kakakmu di sana karena dia pasti akan hadir pada pesta
yang diadakan oleh Agama Beng-kauw.”
Sian Eng menjadi bingung. Ia tahu bahwa antara Lin Lin dan Suma Boan terdapat permusuhan seperti
yang telah diceritakan oleh Lin Lin kepadanya. Dan agaknya Suma Boan sekarang ini pun datang untuk
mencari Lin Lin dan Bok Liong. Kalau Lin Lin pulang dan bertemu dengan Suma Boan, agaknya tentu akan
terjadi hal yang hebat karena Lin Lin sukar diurus. Ia harus dapat mengambil keputusan tepat.
“Baiklah, Suma-kongcu. Aku percaya kepadamu. Tunggu kuambil buntalan pakaianku sebentar.” Sian Eng
cepat memasuki kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawa buntalan pakaiannya.
Ia tidak meninggalkan pesanan sesuatu untuk Lin Lin karena ia maklum bahwa kalau ia meninggalkan
pesan, tentu Lin Lin akan mengejarnya. Karena ini pula, sengaja ia tidak berpesan sesuatu kepada para
hwesio, dan Suma Boan sudah memberi ingat kepada para hwesio agar tidak memberitahukan siapa pun
dunia-kangouw.blogspot.com
juga tentang kedatangannya malam hari itu.
Di luar kuil, para anak buah Suma Boan menjaga sambil bersembunyi. Hanya Tok-sim Lo-tong yang
muncul menjumpainya. Sian Eng memandang dengan mata terbelalak dan hatinya merasa ngeri. Orang
yang muncul seperti bayangan setan ini, tidak dapat ia mengikuti gerakannya dan dari mana datangnya,
adalah seorang laki-laki yang bentuknya seperti anak kecil bodoh, tapi tubuhnya sudah tinggi melebihi
tingginya orang biasa. Kepalanya gundul plontos, tubuhnya kurus sekali. Laki-laki ini sudah tua, buktinya
wajahnya yang kurus penuh keriput dan mulutnya yang selalu terbuka itu dihias gigi-gigi ompong.
Hebatnya, orang ini tidak berpakaian, atau lebih tepat, hanya memakai cawat, yaitu kain panjang yang
dilibatkan di sekeliling pinggang dan paha untuk menyembunyikan anggota rahasia saja. Kakinya pun tidak
bersepatu.
Akan tetapi, biar pun orang ini lebih pantas disebut orang gila yang terlepas dari neraka, atau sebangsa
siluman yang tersesat keluar dari neraka, ternyata Suma Boan bersikap amat hormat. Dengan suara
seperti orang sakit napas, orang yang seperti bocah cacingan ini bertanya tak acuh, “Mana Suling Emas?”
Belum habis pertanyaannya ia sudah menguap dengan suara memuakkan!
“Harap Locianpwe sudi maafkan. Dugaan teecu keliru, ternyata dia tidak berada di sini, malah dua orang
musuh teecu juga sudah kabur. Teecu persilakan Locianpwe bersama teecu malam ini mengaso di rumah
adik teecu di kota raja. Besok pagi-pagi kita berangkat ke Nan-cao.”
“Suruh aku tidur di rumah gedung? Huh-huh, tak sudi! Aku tidur di kolong jembatan di luar kota, besok kita
bertemu di luar tembok kota!” Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Suma Boan
untuk menjawab, ia menoleh ke kiri dan mulutnya mengeluarkan suara seperti cecak.
Hampir Sian Eng meloncat kaget dan jijik ketika tiba-tiba terdengar suara mendesis dan seekor ular
sebesar paha dan panjangnya dua meter lebih merayap dari tempat gelap, langsung merayap melalui kaki
yang kurus panjang itu, terus melingkar dengan enaknya pada pinggang, dada dan leher. Kemudian,
alangkah kaget dan herannya Sian Eng ketika sekali menggerakkan kaki-kakinya yang panjang, si
Jangkung itu telah lenyap seperti amblas ke dalam bumi saja! Sian Eng menjadi kagum, heran, ngeri, jijik
dan takut. Ia merasa seperti berhadapan dengan seorang iblis lain, yaitu Hek-giam-lo!
Suma Boan tersenyum melihat Sian Eng berdiri dengan muka pucat dan mulut setengah terbuka itu. “Nona
Kam, tidak aneh melihat kau terheran-heran. Beliau tadi bukanlah seorang biasa, melainkan seorang sakti
yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Julukannya adalah Tok-sim Lo-tong dan nama besarnya tidak kalah
oleh Suhu It-gan Kai-ong sendiri. Beliau adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai, kesaktiannya tak
perlu dibicarakan lagi. Dengan beliau sebagai teman seperjalanan, aku tidak takut kepada siapa pun juga,
dan kita akan melakukan perjalanan dengan aman ke Nan-cao.”
“Kau maksudkan kita kita akan melakukan perjalanan bersama... dia tadi?”
Suma Boan tertawa dan giginya yang putih berkilau tertimpa sinar bulan, “Tidak usah kau takut, Nona. Dia
tidak akan mengganggumu, malah menjadi pelindung kita. Pula eh, perlu kunyatakan bahwa dengan
adanya aku di sampingmu, tak perlu kau takut apa pun juga!” Biar pun tidak secara langsung agar tidak
membuat kaget gadis yang masih hijau ini, Suma Boan mulai dengan rayuannya.
Kemudian ia mengajak Sian Eng berjalan menuju ke tengah kota di mana terdapat sebuah gedung yang
mentereng dan bagus, gedung seorang pangeran! Sambil berjalan, mulailah Suma Boan bercerita. Secara
singkat ia telah menceritakan hal ini kepada Bu Sin, akan tetapi kalau kepada Bu Sin ia bercerita dengan
penuh kebencian, tidaklah demikian kali ini.
“Kakakmu Liu Bu Song itu dahulu adalah seorang pelajar miskin yang datang ke kota raja untuk mengikuti
ujian. Melihat wajahnya yang tampan dan bakatnya yang baik dalam kesusastraan, Ayahku yang pada
masa itu kepala pengawas ujian, menaruh kasihan. Apa lagi karena kakakmu gagal dalam ujian. Ayah lalu
menolongnya, memberi pekerjaan sebagai tata usaha di gedung perpustakaan yang juga menjadi
pegangan Ayah. Ia rajin dan pekerjaannya dilakukan dengan baik sehingga Ayah makin sayang dan
percaya kepadanya. Kadang kala kakakmu itu disuruh melakukan pekerjaan tulis-menulis di gedung kami.
Malah ia bersahabat baik denganku, karena usia kami memang sebaya dan aku tidaklah demikian lancar
dalam pelajaran sastra. Ia banyak membantuku dalam hal itu.” Pemuda bangsawan itu berhenti dan
menarik napas panjang. Sian Eng senang sekali mendengar cerita ini. Ah, kiranya dia ini sahabat baik
kakakku?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ceritamu itu baik sekali. Tapi, mengapa lalu terjadi permusuhan, Kongcu?”
“Nona, amatlah tidak enak mendengar suaramu yang merdu lewat mulutmu menyebutku Kongcu...”
“Akan tetapi, kau seorang putera pangeran....”
“Dan kau pun puteri seorang goan-swe (jenderal). Setelah kuketahui bahwa kau ini adik Bu Song yang
pernah menjadi sahabat baikku, perlukah kita saling bersikap sungkan? Apa lagi kita akan mengadakan
perjalanan jauh bersama, alangkah tidak enaknya kalau kau menyebut Kongcu (Tuan Muda) dan aku
menyebut Siocia (Nona).”
Jantung dalam dada Sian Eng bergelora, membuat mukanya terasa panas. Biar pun mereka berjalan di
bawah sinar bulan yang remang-remang karena terhalang awan sehingga mukanya takkan tampak, namun
Sian Eng menunduk, khawatir terlihat wajahnya yang membayangkan gelora hatinya. “Habis...
bagaimana...?” katanya setengah berbisik.
Suma Boan menatap wajah yang tunduk itu, hatinya girang bukan main. Gadis ini cantik manis, biar pun
kepandaiannya hanya lumayan saja, namun wataknya gagah berani, dan puteri jenderal besar pula, lebih
penting lagi, dia ini adik Bu Song!
“Karena kau terlalu sungkan tadi, aku sendiri sampai takut menanyakan nama. Bolehkah aku mengetahui
namamu dan selanjuthya kupanggil kau adik, sedangkan kau menyebutku kakak?”
Makin panas kedua pipi Sian Eng. Tiba-tiba kakinya tersandung batu dan ia hampir terguling. Suma Boan
cepat-cepat menangkap lengannya untuk mencegah gadis itu jatuh. “Hati-hati...!” serunya. Agak lama juga
baru lengan ini dilepas kembali. Padahal, seorang dengan kepandaian seperti Sian Eng, tak mungkin bisa
jatuh hanya karena tersandung batu kakinya! Hal ini keduanya cukup maklum.
“Namaku Kam Sian Eng...”
“Nama yang indah. Adik Sian Eng, kau tentu sudi menyebutku kakak, bukan?”
Dengan suara lirih dan kepala tetap tunduk Sian Eng menjawab. “Tentu saja, akan tetapi, kita baru saja
berkenalan... dan... aku masih belum tahu apakah kau ini terhitung sahabat ataukah musuh...”
“Ha-ha-ha-ha, kau lucu...! Tapi benar juga, memang ceritaku tadi belum selesai. Nah, kau dengarlah. Bu
Song bekerja pada Ayah sampai lebih dari tiga tahun. Pada suatu malam... ah, malam celaka itu...
kakakmu tertangkap basah sedang berduaan dengan adikku perempuan bernama Suma Ceng....”
Hening sejenak dan terdengar Sian Eng memprotes, “Ah... tapi... tapi tentu adikmu... eh, suka kepadanya.”
Suma Boan menarik napas panjang. “Itulah soalnya! Kiranya sudah lama juga agaknya, lebih setahun,
mereka itu saling mencinta di luar tahu semua orang. Akan tetapi kau tahu sendiri, tak mungkin Ayah
menyetujui hal ini. Pertama, adikku itu sudah ditunangkan dengan Pangeran Kiang. Kedua, kakakmu yang
mengaku she Liu itu memperkenalkan diri sebagai seorang sebatang-kara yang tak berayah ibu lagi,
bahkan katanya datang dari sebuah dusun kecil, sama sekali tidak berdarah bangsawan. Maka tadi
kukatakan, sayang kami tidak tahu bahwa dia itu putera seorang jenderal!”
“Kemudian bagaimana? Lalu kakakku itu... diapakan dia?” Suara Sian Eng mengandung waswas, juga
berada di pinggir jurang kemarahan dan dendam. Tentu saja seorang yang cukup berpengalaman macam
Suma Boan tahu akan hal ini dan ia sudah berhati-hati.
“Aku tidak dapat menyalahkan Ayahku dalam hal ini. Ayah marah dan malu bukan main. Kalau tidak
kucegah, agaknya adikku itu sudah dibunuhnya malam hari itu juga. Baiknya dapat kudinginkan hatinya,
adikku diampuni dan Bu Song dimasukkan dalam penjara. Sebagai seorang yang dianggap tak kenal budi,
sudah ditolong oleh Ayah sampai tiga tahun lebih, kiranya membalas dengan penghinaan yang
mencemarkan nama baik keluarga. Ayah tak dapat mengampuninya, lalu menyerahkan kepadaku untuk
membunuh Bu Song....”
“Ahhhhh...!” Sian Eng menghentikan langkahnya, membalik dan memandang wajah Suma Boan dengan
mata berapi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Boan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Adik Sian Eng. Jangan kau sangka bahwa aku mau begitu
saja membunuh seorang yang sudah tiga tahun menjadi sahabat baikku. Tidak! Tentu saja di depan Ayah
aku tidak berani membantah, karena aku pun dapat menyelami perasaan Ayah dan secara jujur aku harus
membenarkan hukuman itu. Namun betapa pun juga, aku tidak tega untuk melakukan perintah Ayah. Aku
lalu mendatangi Bu Song di kamar tahanan, dan berunding dengannya. Aku hendak menjalankan siasat,
menyuruh teman-teman dari luar kota yang pandai untuk tiga hari kemudian, malam-malam menyerbu dan
membebaskan Bu Song. Dengan akal demikian Bu Song akan tertolong dan aku sendiri tidak disalahkan
Ayah karena memang tahanan diserbu penjahat-penjahat pandai.” Kembali pemuda bangsawan itu
berhenti, menjadi ragu-ragu.
“Kemudian bagaimana... Koko?” Diam-diam Suma Boan tersenyum girang karena jalan ceritanya telah
membuat hati gadis itu kembali mesra terhadapnya, sehingga menyebutnya koko (kanda) dengan suara
demikian merdu dan mesra. Tentu saja Sian Eng takkan berani menyebutnya koko kalau saja ia tidak
mendahului menyebut gadis itu adik.
“Untuk memudahkan rencanaku itu, pada malam hari ketiganya, di depan Ayah aku mencambuki Bu Song
dan mengikatnya pada balok bersilang....”
“Seperti yang kau lakukan terhadap kakakku Bu Sin itu? Apakah kau juga menyiksa kakak Bu Song
dengan anak panahmu?”
Bukan main kagetnya hati Suma Boan mendengar pertanyaan ini. Hampir saja ia melompat menjauhi,
seakan-akan pertanyaan itu merupakan seekor ular berbisa yang menyerangnya tiba-tiba. Akan tetapi
melihat sikap Sian Eng masih biasa, hanya pada suaranya terkandung kegetiran, ia dapat menguasai
perasaannya dan berkata.
“Dari mana kau bisa tahu tentang kakakmu Bu Sin? Apakah kau sudah berjumpa dengannya?”
“Belum. Akan tetapi aku mendengar dari Suling Emas....”
“Ahhh! Kiranya dia pula yang telah membawa pergi Bu Sin? Heran sekali...!”
“Mengapa heran? Dia seorang pendekar yang sakti.”
“Aneh sekali... dia benar-benar orang aneh...” Suma Boan berkata lirih kepada diri sendiri.
“Memang dia aneh, akan tetapi sakti dan kalau tidak ada dia, agaknya aku dan Kakak Bu Sin tentu telah
tewas.”
“Kau tidak tahu akan urusannya, Moi-moi. Dengarlah baik-baik, dan kau akan mengerti mengapa aku
menjadi marah dan benci kepada Bu Song sehingga ketika kau dan Bu Sin muncul, aku tidak dapat
menahan kemarahanku. Telah kuceritakan tadi, aku menyiksa Bu Song hanya untuk main sandiwara di
depan Ayah saja. Terang saja aku hanya mencambukinya agar Ayah percaya. Lalu aku dan Ayah pergi
meninggalkan Bu Song terikat di taman dan aku mengerti bahwa menjelang tengah malam, tentu temantemanku
yang sudah siap akan datang menyerbu dan membawanya lari keluar kota. Akan tetapi, apa yang
terjadi? Teman-temanku benar menyerbu, akan tetapi... Bu Song sudah tidak ada lagi di sana! Kegagalan
ini membuka rahasiaku sehingga Ayah marah bukan main kepadaku dan hampir aku diusirnya kalau saja
Ibu tidak turut campur. Nah, karena melanggar janji dalam rencana itulah aku menjadi benci kepada Bu
Song. Apa lagi setelah beberapa tahun kemudian, adikku sudah menikah dengan pangeran tunangannya,
Bu Song secara sembunyi muncul lagi dan bahkan berani mengunjungi taman adikku, mengadakan
pertemuan di sana!”
“Apa...?!” Sian Eng berseru dengan hati tidak karuan. Heran, penasaran, juga terharu sekali. Demikian
besarkah cinta kasih kakaknya terhadap Suma Ceng sehingga kakaknya tidak melihat kenyataan bahwa
kekasihnya itu sudah menjadi isteri orang lain?
Suma Boan mengangguk-angguk. “Itulah sebabnya mengapa aku tidak dapat menahan sabar lagi ketika
melihat kau dan Bu Sin muncul dan mengaku sebagai adik dari Bu Song. Apa lagi terhadap Bu Sin yang
ketika kuceritakan hal ini malah membela kakaknya sehingga kemarahanku menjadi-jadi. Baiknya aku
masih ingat dan tidak membunuhnya, dan bukan main bingung hatiku ketika melihat kau lenyap. Syukur
kau telah tertolong dari tangan Hek-giam-lo yang mengerikan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu... agaknya... Kakak Bu Song memang keterlaluan. Kalau kekasihnya, adikmu itu sudah
menjadi isteri orang lain, tidak semestinya ia datang mengunjunginya. Akan tetapi, bagaimana kau bisa
tahu bahwa kita akan dapat bertemu dengan dia di Nan-cao?”
Suma Boan tersenyum penuh rahasia. “Dia mempunyai hubungan dengan Kerajaan Nan-cao, kita pasti
akan bertemu dengannya di sana. Kau percayalah kepadaku Adik Sian Eng.”
“Kalau aku tidak percaya kepadamu, masa aku suka ikut?”
Mereka memasuki pekarangan sebuah gedung indah. Beberapa orang penjaga segera maju menghadang,
akan tetapi mereka cepat memberi hormat ketika melihat Suma Boan membuka pintu depan dan seorang
di antara mereka berlari-lari ke dalam untuk melaporkan kedatangan mereka. Suma Boan mengajak Sian
Eng terus ke dalam, malah dengan ramah ia menggandeng tangan gadis itu.
Di ruangan tengah mereka disambut oleh seorang wanita yang cantik sekali dan mengenakan pakaian
mewah. Sejenak Sian Eng tercengang dan kagum. Wanita itu lebih tua beberapa tahun dari padanya,
wajahnya yang cantik jelita membayangkan keagungan, rambutnya yang panjang hitam itu digelung indah
dan dihias permata mutu manikam. Sepasang matanya yang bersinar-sinar, dagunya yang runcing dan
tubuhnya yang langsing padat mengingatkan ia akan Lin Lin. Akan tetapi, tentu saja berlainan sekali
karena Lin Lin mempunyai kecantikan yang asing, sedangkan wanita ini adalah seorang yang cantik seperti
dewi dalam gambar. Ia cepat-cepat menjura dengan hormat ketika wanita itu berkata, suaranya halus
dengan gerak-gerik yang lemah gemulai.
“Twako (Kakak), malam-malam begini kau datang mengunjungiku, dari manakah dan ada keperluan apa?
Dan adik ini, siapakah?”
Sian Eng kini memandang sekali lagi, dengan penuh perhatian setelah mengerti bahwa inilah kiranya
wanita yang menjadi kekasih hati kakaknya. Ah, pantas saja kakak sulungnya tergila-gila, karena memang
wanita ini hebat. Diam-diam ia menaruh kasihan kepada kakaknya, juga kepada wanita ini yang ternyata
telah gagal dalam percintaan.
“Ceng-moi (Adik Ceng) aku mempunyai urusan di kota raja sehingga agak terlambat datang ke sini. Besok
pagi-pagi aku akan berangkat ke selatan, menghadiri pesta Agama Beng-kauw di Nan-cao bersama Nona
Sian Eng ini. Maafkan kalau aku mengganggu, tapi mana suamimu?”
Pandang mata Sian Eng yang tajam menangkap wajah yang tiba-tiba muram itu, dan suaranya yang halus
merdu tadi berubah tergetar membayangkan batin yang tertekan, “Ah... dia tidak berada di rumah,
semenjak sore tadi pergi bersama teman-temannya...,” kemudian suaranya meninggi, wajahnya berseri lagi
seakan-akan ia memaksa diri melupakan hal itu dan mengubah percakapan. “Adik ini tentu lihai sekali ilmu
pedangnya. Adik, kau murid siapakah? Twako, biarkan dia tidur bersamaku agar kami dapat bercakapcakap,
kau sendiri pakailah kamar di sebelah timur. Akan kuperintahkan pelayan membereskannya.”
Suma Boan tersenyum. “Baiklah.” Ia lalu meninggalkan dua orang wanita itu. Akan tetapi sebelum lenyap di
ruangan lain, terdengar suaranya. “Asal kau tahu saja bahwa Adik Sian Eng adalah adik dari Bu Song.”
Suma Ceng menahan seruannya dengan menaruh tangan kiri di depan mulut, matanya terbelalak
memandang Sian Eng, wajahnya menjadi pucat! Sian Eng makin kasihan melihat ini dan maklumlah ia
bahwa biar pun wanita ini sudah bersuamikan orang lain namun tetap mencinta kakaknya.
Sian Eng cepat memegang tangan Suma Ceng dan berkata, “Enci, harap kau jangan kaget. Pertemuan ini
tidak kusengaja, hanya kebetulan saja. Baru saja aku mendengar tentang kakakku dan kau. Selama
hidupku belum pernah aku bertemu dengan Kakak Bu Song dan sekarang aku sedang mencarinya. Sumakongcu
menyatakan bahwa kalau aku ikut dengannya ke Nan-cao, pasti aku akan dapat bertemu dengan
Kakak Bu Song di sana.”
Suma Ceng menarik tangan Sian Eng. “Adik Sian Eng, marilah kita bicara di dalam kamarku...!” Dari
suaranya, tahulah Sian Eng bahwa wanita itu menahan isak, agaknya menjadi amat terharu. Maka ia pun
mengikutinya dengan hati berdebar karena ia merasa yakin bahwa dari mulut yang mungil ini ia akan dapat
mendengar banyak tentang diri kakaknya.....
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
“Heeeiiiii! Dengar kalian semua! Aku si Suling Emas selamanya tidak pernah bermusuhan dengan orangorang
Nan-ping mau pun Nan-han dan kerajaan-kerajaan di selatan lainnya. Mundurlah dan biarkan kami
lewat, kami sedang menuju ke Nan-cao untuk menghadiri perayaan Beng-kauw di sana. Mundur, aku tidak
suka membunuh kalian!”
Biar pun teriakan Suling Emas itu bagaikan halilintar dan sulingnya digerakkan menjadi segulungan awan
kuning yang hebat, ditambah pula di sebelahnya terdapat Lin Lin yang juga menggerakkan pedangnya
sehingga gulungan sinar kuning yang lebih muda menyilaukan mata dan mengandung hawa dingin
mengancam para pengurung, namun puluhan orang yang mengurung mereka itu tidak mau mundur, malah
mendesak makin hebat.
“Jangan kira aku takut, tikus-tikus tak tahu diri!” Suling Emas membentak dan terdengarlah bunyi senjata
yang patah-patah ketika sulingnya bergerak membabat pedang dan golok yang malang-melintang di
depannya. “Lin Lin, serang dan robohkan mereka, tapi jangan bunuh!”
Akan tetapi jumlah pengeroyok makin banyak dan mereka berteriak-teriak, “Bunuh anjing pengkhianat!
Jangan percaya omongan anjing penjilat Sung Utara!”
Dalam perjalanan mereka ke Nan-cao, Suling Emas dan Lin Lin tiba di luar kota Ban-in di pinggir Sungai
Yang-ce-kiang. Di tempat inilah mereka dihadang kemudian dikeroyok oleh banyak sekali orang yang
kesemuanya mahir ilmu silat dan membawa senjata. Hal ini saja cukup membayangkan bahwa mereka ini
memang sudah berjaga di situ, dan bahwa pencegatan terhadap Suling Emas dan Lin Lin memang sudah
diatur lebih dulu.
Biar pun puluhan orang pengeroyok itu adalah orang-orang yang melihat gerakan-gerakannya, ternyata
pandai mainkan senjata tajam, namun mereka bukanlah lawan Lin Ling apa lagi Suling Emas. Sebentar
saja golok-golok dan pedang-pedang berpelantingan, dan tubuh-tubuh terluka roboh saling tindih. Tiba-tiba
terdengar suara gerengan yang menggetarkan bumi. Agaknya suara ini merupakan komando karena para
pengeroyok makin nekat dan mendesak, kemudian muncullah di antara para pengeroyok itu dua orang
yang hebat-hebat.
Mereka adalah dua orang laki-laki tua yang hampir telanjang. Hanya cawat dan celana yang menutupi
tubuh mereka. Biar pun keduanya sama menjijikkan seperti binatang atau manusia hutan yang liar, namun
keadaan mereka jauh berbeda. Yang seorang bertubuh gemuk dan di tengkuknya terdapat daging punuk
yang besar seperti punuk di punggung sapi jantan. Kedua lengannya panjang berbulu, kelihatan kuat
sekali, sedangkan sepuluh jari tangannya berkuku panjang dan kotor. Kepalanya gundul, mata dan
mulutnya membayangkan kebuasan yang mengerikan.
Orang kedua tinggi kurus, juga tak berbaju, hanya bercawat, juga gundul dan mukanya sama buas dan
mengerikan. Kita pernah bertemu dengan yang tinggi kurus itu, karena ia bukan lain adalah Tok-sim Lotong,
sahabat baik It-gan Kai-ong yang melakukan perjalanan bersama Suma Boan. Ada pun yang gendut
itu juga bukan tokoh sembarangan, karena dia adalah kakak Si Tinggi Kurus, berjuluk Toat-beng Koai-jin
(Manusia Aneh Pencabut Nyawa)! Seperti juga Tok-sim Lo-tong, Toat-beng Koai-jin ini termasuk seorang
di antara Thian-te Liok-koai Si Enam Jahat.
Melihat munculnya dua orang kakak beradik ini, kagetlah Suling Emas, akan tetapi ia pun menjadi marah
sekali. “Aha, kiranya Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong dua manusia buas yang berdiri di belakang
semua ini? Kalian mau apa?”
“Heh-heh, Suling Emas, menyerah kau dan gadis itu!” Toat-beng Koai-jin menggeram, air liurnya menetes
dari pinggir mulut. Lin Lin mengkirik penuh kengerian.
“Suling Emas, menyerahlah menjadi tawananku kalau mau selamat!” si Tinggi Kurus Tok-sim Lo-tong
mengeluarkan suaranya yang tak enak didengar.
Tiba-tiba Suling Emas tersenyum lebar dan Lin Lin yang menoleh kepadanya menjadi bengong. Baru kali
ini ia melihat Suling Emas tersenyum lebar. Wajahnya berubah sekali, kemuraman lenyap, wajah itu
berseri-seri menjadi amat tampan. Alangkah inginnya dapat melihat Suling Emas seperti itu selalu!
“Kalian kira aku manusia macam apa, bisa kalian ancam untuk menyerah?”
“Heh-heh, aku tahu kau tentu melawan. Lebih baik lagi, tinggal menyeret bangkaimu kubawa pulang!” Toatdunia-
kangouw.blogspot.com
beng Koai-jin terkekeh lalu menerjang maju, menubruk Lin Lin. Gerakannya kelihatan lambat, tubuhnya
begitu besar dan kaku akan tetapi entah bagaimana, tubrukan ini hampir tak terhindarkan oleh Lin Lin!
Baiknya ia cepat mengayun pedang yang menjadi sinar kuning berkelebat di depan tubuhnya, merupakan
senjata yang amat kuat dan agaknya Toat-beng Koai-jin maklum pula akan keampuhan pedang pusaka ini
maka ia menggeram dan mengubah gerakan menubruk menjadi gerakan mencengkeram dari samping
bawah!

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil