Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 18 Mei 2017

Suling Emas 1 Lanjutan Bu Kek Siansu

Suling Emas 1 Lanjutan Bu Kek Siansu serial ke 2 bu kek siansu Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Suling Emas 1 Lanjutan Bu Kek Siansu
kumpulan cerita silat cersil online
Suling Emas 1 Lanjutan Bu Kek Siansu
Pada jaman lima wangsa (tahun 907-960), kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi Yu-Nan
sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain, juga oleh
kerajaan Sung yang kemudian di bangun.
Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun (semi) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal di dunia
kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut di sebut
pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, datang membanjiri Nan-cao. Apakah gerangan
yang menarik para kelana dan petualang itu mendatangi Nan-cao? Apa pula hal yang menarik mereka
berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh?
Pertama adalah pengangkatan Beng-kauwcu (Ketua Agama Beng-kauw) sebagai Koksu (Guru Negara)
Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang sudah amat
terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan
berjuluk Pat-jiu Sin-ong (Raja Sakti Berlengan Delapan) itu?
Pada masa itu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya,
jarang menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri
Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidak mengherankan apabila kini tokoh-tokoh dari
partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain mengirim utusan untuk
menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan Nan-cao.
Ada pun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru
dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong hendak
mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh! Tentu saja hal ini
menggegerkan dunia kaum muda, menggerakkan hati mereka untuk ikut datang mempergunakan kesempatan
baik mengadu untung. Siapa tahu!
Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis
yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis
jelita ini telah berani menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera
para ketua perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan!
Tentu saja para pemuda ini pun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana wujud rupa dan
bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang di antara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang pernah
bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutama sekali tentang kecantikannya yang menjadi
buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi Liu Lu Sian.
Rambutnya halus licin laksana sutera.
harum melambai, meraih cinta asmara!
Mata indah, kerling tajam menggunting jantung,
bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung!
Hidung mungil, halus laksana lilin diraut,
cuping tipis bergerak mesra menambah patut!
Hangat lembut, merah basah juwita.
Gendewa terpentang berisi sari madu Puspita!
Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah
melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian
seorang dara jelita.
dunia-kangouw.blogspot.com
Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak), namun ilmu silatnya amat tinggi.
Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya sayang
bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa kasih sayang
ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak aneh, riang gembira,
lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa saja, tidak mau tunduk
kepada siapa pun juga.
Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri ketua
Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak gunung yang
amat tinggi dan sukar didapatkan. Dara itu puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja
menghendaki seorang mantu pilihan, baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, mau pun tingkat
kepandaiannya. Bahkan kabarnya dara itu hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu
mengalahkan dirinya! Namun, para muda yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang
tertarik oleh harum dan manisnya madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biar pun bahaya
mengancam nyawa.
Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya, menyatakan
harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam di rumah-rumah penginapan di kota raja sambil menanti saat
dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu Sin-ong beberapa hari lagi,
dimana selain hendak ikut memberi selamat, mereka pun berharap akan dapat menyaksikan kehebatan dara
yang mereka percakapkan dan yang menjadi kembang mimpi mereka setiap malam.
Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi bahan
percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu, ia sengaja
mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya mengelilingi kota raja!
Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua pipinya yang bagaikan pauh
dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum. Rambutnya yang hitam gemuk
digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung di belakang punggung, halus melambai tertiup
angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali hingga agaknya dapat dilingkari jari-jari tangan,
terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan kuning emas, ketat mencetak bentuk tubuh
yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak kecil.
Pengait baju terbuat dari pada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang bergerakgerak
bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan sepasang kaki
indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lengkungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam yang berlapis
perak. Cantik tak terlukiskan! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah gemulai dan elok.
Akan tetapi rangka pedang yang tergantung di pinggangnya membuat ia lebih patut menjadi seorang Dewi
Kwan Im Pouwsat!
Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan, namun ujung matanya
menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama waktu kudanya lewat di depan rumah-rumah penginapan di
mana para tamu muda berjajar di depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga, terpesona mengagumi
dewi yang baru lewat.
Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda taruna itu. Makin parah penyakit asmara
menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang si Cantik Manis. Rindu dendam dan harapan
mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka dapat
menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak mengecewakan
pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka setelah Lu Sian
lewat di atas kudanya.
"Aduh..., mati aku...! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama lagi...!"
seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas panjang.
"Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa!" sambung pemuda ke dua.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini. Menurut perhitungan peramal, jodohku seorang gadis bermata bintang.
Dan matanya...! Ah, matanya..., kalah bintang kejora!" kata pemuda lain.
"Mulutnya yang hebat! Amboooiii mulutnya... ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan berkenalan
dengan bibir itu. Aduhhh...!"
Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati masing-masing
yang menggelora. Sudah lazim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka lebih berani
manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan kadang-kadang
terdengar kata-kata yang kurang sopan. Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini
adalah orang-orang kang-ouw, pemuda-pemuda kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi,
cukup sudah dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secantik Lu
Sian. Melampaui semua kembang mimpi.
Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar muda
dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas bersahabat dan
selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka tiada habisnya
memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan. Setelah Lu Sian lewat di
depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara tentang Lu Sian dan masing-masing
menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan
masing-masing.
"Sebagai puteri Beng-kauw tentu kepandaiannya amat tinggi, dan belum tentu aku mampu menandinginya.
Akan tetapi ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru memiliki keindahan yang
melebihi keindahan seni tari mana pun juga. Siapa tahu, keindahan seni permainan golokku akan menawan
hatinya!" kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung penuh harapan, dan di depan matanya
terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang tadi tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi
buah apel!
"Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan aku pun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis baca.
Akan tetapi, biar pun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh diukur
dengan tenaga siapa pun juga," kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.
"Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid kecil
Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya," kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah, tujuh orang
pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan terpilih.
Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak dapat
tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar ada tamu baru
datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan melihat tamu
seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki ruang dalam.
"Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut untuk
Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau di antara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat membagi
kamarnya...." Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah tujuh pemuda
yang sudah keluar dari kamar masing-masing
Tujuh orang muda itu memandang si pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti orang
terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat. Otomatis ketujuh
orang pendekar muda itu memandang rendah.
Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan
bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata mereka,
maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata dengan penuh
kesopanan.
"Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang muda).
Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada di antara para Cu-wi
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudi membagi kamar...." Ia berhenti bicara ketika melihat mereka mengerutkan kening, kemudian menanti
jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia pun tersenyum.
"Saudara siapakah dan dari golongan mana? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-lo-cianpwe (Orang Tua
Gagah she Liu Ketua Beng-kauw)?" tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.
"Siauwte she Kwee bernama Seng. Orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf kuno
tidak dari golongan mana-mana, dan siauwte hanya pelancong biasa."
“Hmm, maaf, kamarku sempit sekali," jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian.
"Kamarku juga sempit." jawab orang ke dua.
"Aku tidak biasa tidur berteman," kata orang ke tiga.
"Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek. Kau tadi bilang tentang kamar yang
patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut?" Kwee Seng menoleh ke arah pengurus penginapan,
sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan menutupkan daun pintunya.
"Ah, ada... Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu menjadi kamar
pelayan. Tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu...."
Kwee Seng tersenyum. "Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di penginapan lain
pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu."
Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah
lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini kecil,
hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.
"Ah, cukup baik!" seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. "Tidak usah
kau tinggal lampumu, Lopek. Aku biasa tidur gelap." Dia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang
mengeluarkan bunyi berkereotan.
Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala,
saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya
menyentuh pembaringan. Ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.
Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur. Yang
terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain
terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi pemuda-pemuda
ini selalu merindukan Lu Sian!
Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli silat,
pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih tepat
indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.
Ketika meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya lenyaplah
semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah jendela kecil
kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki jangkung yang
berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui jendela dengan
gerakan ringan dan sikap tenang saja.
"Siapa kau?! Mau apa...."
"Mau membunuhmu. Manusia macam kau yang berani menyebut-nyebut puteri Beng-kauwcu harus mampus!"
berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun merasa kaget sekali, pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar. Pedangnya berkelebat
dan sinarnya bergulung-gulung di depan dada. Dia hanya bermaksud melindungi dirinya saja terhadap orang
yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan-akan tertahan oleh
tenaga yang tak tampak. Sebelum sempat bersuara, pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika!
Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar tidurnya
mendengkur, sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di sebelah kamar
murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatnya terbangun dan curiga.
Karena pada tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela
dan... seperti kilat cepatnya ia meloncat ke luar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan jendela
murid Kun-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar berhasil
mencekik leher orang itu.
"Hayo mengaku, siapa kau dan...uuhhh!" Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan kepalanya
miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu!
"Apa yang kau lakukan? Penjahat...!"
Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya pemuda
yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang merobohkan temannya
yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti gerakan pita dan selendang
para bidadari sedang menari-nari.
Namun dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok. Dan belum juga empat jurus
si pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya, roboh untuk selamanya karena
nyawanya melayang.
Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun belum
sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan mengepungnya. Mereka
lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat betapa dua orang temannya
sudah menggeletak pula tak bernyawa.
"Kalian harus mampus semua...!"
Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap di antara sambaran empat buah
senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini.
Empat orang pemuda yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah
terdidik dalam ilmu silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi
Besar atau si Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak.
Lawan yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong yang tak mungkin dapat tersinggung
senjata mereka.
Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan....
“Plak-plak-plak-plak!” empat orang pemuda itu pun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika!
Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar. Ia
mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. "Ha-ha-hah! Alangkah lucunya! Orang-orang macam ini
mengharapkan seorang dewi seperti dia! Ha-ha-hah!"
Kemudian, mendengar suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia
sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa
menimbulkan suara. Akan tetapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena
genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah
penginapan itu dan membuka genteng, kemudian mengintai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya di situ terdapat seorang pemuda yang lagi enak tidur telentang. Sebatang lilin kecil menyala di atas
meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga bayangan itu
mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main denganku. Akan
tetapi siapa tahu? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya bergerak, melesatlah
sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda yang tidur telentang.
Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengeluh seperti orang
mengigau dalam tidurnya, lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak bergerak-gerak
lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke delapan, maka ia bangkit
berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap!
"Tolong...! Pembunuhan... pembunuhan...!!" suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di waktu
fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar dan
sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu dipasang
sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa tujuh orang
pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.
Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara orang banyak itu, ikut menjenguk dan
melihat pemuda-pemuda taruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang
lengannya dan berkata. "Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan)! Seandainya
Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah... tentu akan bertambah seorang lagi korban pembunuh kejam ini!"
Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal
keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andai kata ia diterima bermalam dengan mereka, belum tentu
iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.
Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam tadi pun
hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si penjahat yang
mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian depan
penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.
Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun bakatnya
lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa tujuan. Namun
ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan. Selain ia telah mempelajarinya
dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa dengan manusia
dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.
Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik, tulang
pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana asalnya dan
di mana tempat tinggalnya yang tetap.
Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke
kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya sudah
lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.
Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia sembunyikan.
Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti muda ini, malah
diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (Pendekar Setan Emas).
Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di sebut
emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan keadilan,
pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun hanya kalangan terbatas saja pernah mendengar nama ini, di
dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.
Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu bahwa
ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak mempunyai niat
untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguh pun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing baginya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan
kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita tentang
putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambut pun tiada niat di hatinya untuk ikut-ikutan
memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.
Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak benar
atau menyimpang dari kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda yang baru berusia
dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu berdebar-debar apabila melihat
seorang gadis cantik.
Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis, suka akan keindahan, suka akan tamasya
alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang dara jelita.
Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia tetap tenang.
Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya. Ia mendengar
keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon-calon pengikut sayembara untuk
meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah kegilaan akan Nona Liu Lu
Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat di depan rumah penginapan.
Karena ini, diam-diam Kwee Seng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena mereka
itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa yang menjadi
dasar pembunuhan, entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari pembunuhnya ia harus
datang menjadi tamu Beng-Kauw! Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan
bersama dengan para tamu lainnya, ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.
********************
Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan tamu.
Di bagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi dari pada ruangan depan, kini dipergunakan untuk
tempat tuan rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.
Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini
diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam panggung
tempat main silat. Panggung semacam ini memang lazim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan
sesuatu, karena perayaan di antara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan
mentertawakan.
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan belum tampak di luar. Para tamu disambut oleh tiga orang sute-nya (adik
seperguruannya). Yang pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri. Liu Mo berusia empat puluh tahun
lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh)
dan berwibawa. Biar pun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam
Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia
merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk segala
urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.
Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biar pun usianya baru
tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah dan
wataknya keras, kepandaiannya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat. Segala macam
pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat dahsyat. Berbeda dengan
Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini menyambut tamu dengan wajah gelap dan
tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada para tamunya.
Orang ke tiga dari para wakil ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi wajahnya
terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia menggunakan
sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala. Di punggungnya terselip
sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur binatang gembalaannya! Memang
murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima
para tamu dengan sikap hormat sekali. Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda
dunia-kangouw.blogspot.com
dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Biar pun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan
dipandang rendah kepandaiannya, dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang
ampuh!
Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan ‘harga diri’. Tidak sembarangan orang
dapat menjumpainya dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau diperlukan sekali barulah ia
sendiri muncul menemui tamunya. Demikian pula Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ia pun menahan harga dirinya.
Ketika seluruh para tamu sudah berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang, baru tokoh besar ini muncul
di ruangan tuan rumah. Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.
Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal. Tubuhnya lebih tinggi dari pada
perawakan seorang laki-laki biasa, kekar dan berdiri tegak. Dadanya lebar membusung, pakaiannya indah,
pandang matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.
Ketua Beng-Kauw ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu, lalu duduk. Para tamu
juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang keluar
bersama Pat-jiu Sin-ong. Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani
menarik logam. Liu Lu Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang
emas dan renda-renda merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!
Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang
menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda terpesona itu
tetap duduk dengan tegak, dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi banyak pula yang
memandang dengan hati ngeri. Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di
dalam rumah penginapan, di mana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh
secara aneh.
Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong menghaturkan
selamat, diikuti tamu-tamu lain dari ruangan depan. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil
tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.
Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong
berdiri dari bangkunya. Ia memandang ke luar dan berseru keras. "Aha, saudara muda Kwee Seng! Kau
datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau mau duduk
bersamaku?"
Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu
menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira itu?
Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw. Akan tetapi alangkah
heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang melangkah masuk ke ruangan
itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah seperti ini bagaimana bisa
mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh dan tidak memandang mata
kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?
Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya. Di antara
sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ini adalah Pat-jiu Sin-ong, karena
Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua Siauw-lim-pai, Kian Hi
Hosiang yang sakti, yang memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung pula! Inilah sebabnya
maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng. Biar pun belum membuktikan sendiri kehebatan pemuda ini, ia
sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh Ketua Siauw-lim-pai, yang
malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat sambil
berkata, "Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang mengganggu secawan dua cawan arak.
Terus terang saja, saya kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini saya pun ingin menonton.
Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak keruwetan, dan
makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan memperebutkan
kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak permusuhan. Akan tetapi
aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku yang dipimpin oleh keluargaku
sendiri. Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Aku pun tidak butuh pemberian
selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih baik
yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!"
Dengan gembira tuan rumah menggandeng tangan Kwee Seng, diajak duduk semeja dan segera Liu Gan
memerintahkan pelayan mengambil arak terbaik dari cawan perak untuk Kwee Seng.
"Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini...."
"Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian. Perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!" Ketua Bengkauw
itu dengan bebas berteriak kepada puterinya.
Liu Lu Sian sejak tadi memang memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya. Biar
pun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian dapat
menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan kedua
tangannya. "Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!" katanya dengan suara merdu dan bebas,
gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis biasa.
Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu terdapat gadis
puteri Liu Gan yang kecantikannya telah membuat banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya yang telah
menjadi sebab dari pada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin. Mendengar suara merdu ini
ia menengok dan... pemuda itu berdiri terpesona.
Sejenak ia tidak dapat berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh
tubuhnya, tak dapat bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan
seorang wanita seperti saat itu. Mata itu! Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang,
kerling tajam menggores jantung, kedip mesra membuat bingung. Bulu mata lentik berseri bagai rumput
panjang di pagi hari, sepasang alis hitam kecil melengkung menggeliat-geliat malas di kedua ujung!
"Kwee-kongcu...," kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli bukan
main.
"A... oh..., Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini...!" jawabnya gagap sambil
cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan
gadis yang dirangkap di depan dada itu. Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan
cukup membuat ia terjungkal dan terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang
dalam sedetik telah membuat perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya,
menguasai seluruh cintanya, ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!
Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng merasa
jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun kekaguman yang
bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua tangannya yang membalas
penghormatan.
"Aiiihhh...! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!" kata Liu Lu
Sian yang berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan sinkang di
kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.
Gadis ini sambil tersenyum manis. Ia menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah
cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
anehnya arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir ke luar. Permukaan arak melengkung ke atas
berbentuk telur.
Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata, "Kehadiran Kwee-kongcu
merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak ini sebagai tanda terima kasih kami."
Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga memiliki
kepandaian hebat. Sinkang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa tentu merupakan
perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir. Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia
menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak
sepenuh itu tidak memiliki sinkang yang tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti
akan tumpah semua begitu gadis ini melepaskan pegangannya?
"Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya..." Kwee Seng menerima cawan sambil
mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap
melengkung di atas cawan tanpa tumpah sedikit pun juga.
Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras. Ketika ia menerima cawan tadi, jari tangannya bersentuhan
dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu hidungnya mencium bau harum semerbak yang luar
biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia terlampau terpesona
oleh kecantikan Lu Sian. Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya
tidak menyentuh jari gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan juga, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja
menyentuhkan tangannya!
Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak, timbul
hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang berlagak ini. Ia
segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan menuangkannya.
Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam mulut! Arak itu seakanakan
sudah membeku di dalam cawan!
"Ah, maaf... maaf... saya memang tidak bisa minum arak baik!" kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi
cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba meluncur
arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki mulutnya hingga cawan itu menjadi
kering!
"Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk penghormatan
kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!" kata pula Lu Sian sambil
menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh dari pada tadi, lalu memberikannya kepada
Kwee Seng.
Seketika terbelalak mata Kwee Seng. Kedua pipinya menjadi merah dan sinar matanya berkilat. Lenyap
seketika pesona yang menguasai dirinya. Gadis ini benar-benar terlalu liar, aneh, dan ganas! Ia melihat betapa
tadi dari tangan gadis itu berkelebat sinar putih memasuki cawan dan sebagai seorang pendekar sakti, ia
maklum apa artinya itu. Arak kali ini dicampuri semacam obat bubuk yang biar pun sedikit sekali, namun ia
dapat menduga tentu amat hebat akibatnya kalau terminum olehnya. Ia tahu bahwa gadis ini tidak sengaja
mencelakakannya, hanya untuk menguji, akan tetapi cara ujian yang amat berbahaya!
"Nona terlalu menghormat...!" jawabnya dan ia menerima cawan itu. Begitu cawan diterimanya, ia berseru, "Ah,
nona terlalu banyak mengisi araknya...!" dan tiba-tiba, biar pun cawan itu dipegangnya lurus-lurus, isi cawan
berhamburan ke luar dan tumpah semua sampai habis. Anehnya, tangan Kwee Seng yang memegang cawan
sama sekali tidak basah karena arak itu tumpahnya ‘melayang’ ke depan dan sebaliknya malah membasahi
sebagian celana dan sepatu si jelita!
"Ah, maaf.. maaf..!" kata Kwee Seng sambil menjura penuh hormat.
"Kwee-kongcu terlalu merendah...!" Sepasang pipi Lu Sian menjadi merah sekali dan kilatan matanya
membayangkan kemarahan ketika ia menjura dan mengundurkan diri kembali ke bangkunya sambil mengusap
noda arak dengan sapu tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Peristiwa aneh ini hanya disaksikan oleh beberapa orang tamu kehormatan yang duduk berdekatan, akan
tetapi para tamu yang jauh tidak melihat jelas, dan hanya mengira bahwa pemuda pelajar itu amat canggung
sehingga menumpahkan arak yang disuguhkan orang kepadanya. Namun banyak yang merasa iri hati melihat
betapa Si Bidadari sampai dua kali memberi suguhan arak kepada pemuda lemah itu.
"Ha-ha-ha, lama tak jumpa, kau makin hebat, Kwee-hiante! Mari, mari kita minum sampai mabok!"
Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong mengajak pemuda itu menghadapi meja penuh
hidangan.
"Liu-enghiong tentu maklum bahwa aku tidak biasa minum arak lebih dari tiga cawan," bantah Kwee Seng.
"Ha-ha-ha! Ocehan burung yang tak patut didengar! Aku percaya, biar pun habis tiga guci, orang macam kau
mana bisa mabok? Ha-ha-ha marilah, tak usah sungkan. Kita orang sendiri!"
Karena sikap tuan rumah ini setulus hatinya, Kwee Seng terpaksa melayani. Ia maklum betapa suara tuan
rumah yang keras ini terdengar semua orang dan ia sudah melihat sinar mata iri dilempar orang ke arahnya,
terutama kaum mudanya. Ia memang tidak suka minum arak terlalu banyak, akan tetapi kali ini hatinya sedang
rusak dan kacau.
Harus ia akui bahwa ia tertarik oleh kecantikan Liu Lu Sian yang luar biasa, dan ia tahu bahwa hatinya sudah
siap mengaku cinta. Seorang dewa sekali pun akan jatuh hati berhadapan dengan Lu Sian! Akan tetapi di
samping perasaan yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya, terselip rasa nyeri yang membuat hatinya
perih, yaitu kenyataan bahwa gadis yang menjatuhkan hatinya ini memiliki watak yang liar dan ganas, sama
sekali berlawanan dengan pendiriannya.
Karena perasaan yang bertentangan antara perasaan cinta dan benci inilah maka Kwee Seng menjadi seperti
orang nekat dan ia menerima terus setiap kali Pat-jiu Sin-ong menyuguhkan arak. Sebentar saja ia sudah
minum arak tua belasan cawan banyaknya!
"Lu Sian, hayo kau gembirakan hati para tamu kita dengan tarian pedang!" tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong berseru
memerintah puterinya sambil tertawa-tawa karena tokoh ini pun sudah terpengaruh hawa arak.
Lu Sian tersenyum mengangguk, lalu bangkit berdiri dan dengan lenggang yang dapat mengayun hati para
muda yang memandangnya, gadis ini ini berjalan menuju ke tengah panggung terbuka. Tepuk tangan riuh
gemuruh menyambutnya. Lu Sian menjura dengan hormat sambil berseru, suaranya merdu nyaring mengatasi
keriuhan tepuk tangan itu.
"Permainanku masih amat dangkal, harap cu-wi jangan metertawakan!" Setelah berkata demikian, Lu Sian
menggerakan tangannya dan.... dalam pandangan mereka yang ilmu silatnya kurang tinggi, gadis itu tiba-tiba
lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan ke sana ke mari dibungkus sinar putih berkilauan
bergulung-gulung dan berkilat-kilat.
Dari sana-sini terdengar seruan kagum, yang muda-muda kagum akan keindahan ilmu silat pedang yang
benar-benar merupakan tarian luar biasa itu, ada pun golongan tua kagum karena mereka melihat di dalam
gerakan yang indah ini tersembunyi kekuatan yang dahsyat. Setiap kelebatan pedang yang begitu indah
tampaknya sebetulnya mengandung jurus maut yang tidak mudah dilawan. Dengan bukti kehebatan gadis ini
makin tunduklah mereka akan kelihaian dan nama besar Pat-jiu Sin-ong.
Lu Sian sengaja mainkan Hwa-kiam-hoat (Ilmu Pedang Kembang) yang indah untuk memamerkan kepandaian
dan kecantikannya. Ia bersilat sampai lima puluh jurus dan ketika berhenti di tengah panggung sambil berdiri
tegak, ia tampak gagah dan cantik jelita, dengan sepasang pipi kemerahan karena denyut darahnya agak
kencang setelah bersilat tadi. Bibirnya tersenyum-senyum, matanya yang tajam berseri-seri menyambut tepuk
tangan yang seakan-akan hendak merobohkan panggung buatan itu. Akan tetapi begitu Lu Sian kembali duduk
di tempatnya, berkelebatlah bayangan orang dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun sudah berdiri di
atas panggung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan bahwa ia seorang yang berkepandaian tinggi,
sedangkan pakaian dan cara ia menggelung rambut ke atas menyatakan bahwa ia seorang pendeta To atau
yang disebut tosu. Di punggungnya tergantung sebuah pedang. Tosu ini terdengar lantang suaranya setelah
keadaan tadi kembali sunyi karena terhentinya tepuk tangan.
Sambil menjura ke arah Pat-jiu Sin-ong, tosu itu berkata, "Kauwcu (Ketua Agama), pinto (aku) Ang Sin Tojin
dari Kun-lun-pai, merasa kagum akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong, dan sengaja pinto diutus oleh ketua
kami memberi selamat. Akan tetapi tidak nyana bahwa Kawcu dengan puteri Kauwcu menimbulkan hal-hal
yang tidak baik! Kauwcu memamerkan kepandaian dan kecantikan puteri Kauwcu. Ada kabar hendak
menggunakan kesempatan ini mencarikan jodoh bagi puteri Kauwcu, hal ini sudah sewajarnya. Akan tetapi
mengapa banyak pemuda tidak berdosa yang tergila-gila kepada puteri Kawcu menemui kematian yang penuh
penasaran?....”
“Sekarang Kauwcu tidak menyelidiki dan membikin terang perkara itu, malah Kauwcu menambah pengaruh
agar para pemuda makin tergila-gila. Apakah sesungguhnya kecantikan yang gilang-gemilang seperti puteri
Kauwcu? Kecantikan hanyalah timbul dari kelemahan batin melalui pandang mata, sesungguhnya palsu
adanya. Kecantikan hanya terbatas sampai di kulit, namun siapa tahu isi hati yang tersembunyi di balik
kecantikan. Pat-jiu Sin-ong, Pinto kehilangan seorang anak murid Kun-lun yang terbunuh secara tidak wajar,
terpaksa mohon penjelasan!"
Seketika tegang keadaan di situ. Terang bahwa tosu ini menuntut kematian muridnya, dan sekaligus mencela
keadaan Beng-kauw dengan adanya kematian tujuh orang pemuda dan mencela pula pameran kecantikan dan
kepandaian Liu Lu Sian! Keadaan seketika menjadi sunyi karena semua orang menanti dengan hati berdebar.
Sambil tersenyum Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya, akan tetapi tidak mendekati Ang Sin To Jin. Sambil
bertolak pinggang ketua Beng-Kauw yang tinggi besar ini bertanya, "Tosu, Kau ini apanya Ang Kun Tojin?"
"Beliau adalah Suhengku dan Pinto hanyalah murid kedua dari Suhu."
Pat-jiu Sin-ong tiba-tiba tertawa sambil menengadahkan mukanya ke atas. "Heh, Tosu mentah! Kau kira
kematian bocah-bocah tolol itu adalah perbuatanku atau perbuatan anakku?"
"Pinto tak berani menuduh siapa pun juga, akan tetapi setidaknya peristiwa maut itu terjadi karena Kauwcu
berhasrat memilih mantu karena kecantikan putrimu dan tentu dilakukan oleh seorang dari Beng-kauw! Karena
itu ketuanya harus bertanggung jawab!"
"Ha-ha, bertanggung jawab bagaimana?"
"Kauwcu harus dapat menangkap pembunuh itu dan menghukumnya mati di depan kami semua. Kemudian
Kauwcu lakukan pemilihan calon mantu yang tepat dan tidak banyak menimbulkan korban. Pilihlah mantu yang
cocok, dan karena ini adalah urusan Kauwcu, terserah caranya, asal tidak dengan cara sekarang ini yang
membikin gila banyak orang muda tak berdosa."
"Wah, lagaknya! Kalau aku tidak menuruti permintaanmu itu, bagaimana?"
"Hmmmmm, kalau begitu, berarti Kauwcu tidak peduli akan kematian murid Kun-lun-pai yang menjadi tamu di
sini, dan hal itu tentu saja Pinto tidak dapat tinggal diam saja!"
"Habis, kau mau apa, Tosu mentah?"
"Pinto terpaksa menuntut balas atas kematian murid, dan melupakan kebodohan, minta pelajaran dari Bengkauwcu
Pat-jiu Sin-ong!" Dengan tegak berdiri, Tosu itu siap menghadapi pertandingan.
"Tosu sombong, berani kau menghina ketua kami?" tiba-tiba Ma Thai Kun yang bertubuh jangkung kurus
sudah melompat ke atas panggung, tangannya begerak memukul ke arah Ang Sin Tojin. Gerakan Ma Thai Kun
cepat sekali sehingga kejadian yang tak tersangka-sangka itu tidak dapat ditunda lagi. Pukulannya hebat,
mengeluarkan angin bersiutan dan menuju ke arah dada tosu Kun-lun-pai itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ang Sin Tojin adalah murid kedua dari ketua Kun-lun-pai, Kim Gan Sianjin, tentu saja ilmu kepandaiannya
sudah amat tinggi dan karena itu pula ia tadi berani mengeluarkan tantangan terhadap ketua Beng-kauw. Kini
melihat seorang tinggi kurus bermuka hitam telah berada di depannya dan mengirim pukulan maut, ia pun
cepat menggerakkan tangannya menangkis, sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).
"Dukkkkk!" dua tangan mengandung tenaga sakti bertemu.
Ma Thai Kun masih berdiri setengah membungkuk, tubuhnya tidak bergoyang. Akan tetapi akibat benturan
kedua lengan itu membuat Ang-sin Tojin terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah. Diam-diam tosu
Kun-lun-pai ini terkejut bukan main. Harus diakui tenaga sakti Si Muka Hitam ini hebat sekali. Sungguh pun
tidak sampai menyebabkan ia terluka parah, namun cukup menggempur kuda-kudanya dan membuat ia
terhuyung-huyung.
"Ji-sute (Adik Seperguruan ke Dua), mundurlah! Siapa yang mencari perkara dengan aku dan anakku, biarlah
aku menghadapinya sendiri!" Pat-jiu Sin-ong menegur adiknya.
Ma Thai Kun mendengus marah, lalu mengundurkan diri.
"Ang Sin Tojin, apakah kau masih tidak mau menarik kembali tuntutanmu?"
"Seorang laki-laki sekali bicara dipegang sampai mati!" jawab tosu itu dengan suara ketus.
"Ah, ah, benar-benar tosu Kun-lun-pai keras kepala. Eh, tosu mentah, kau tadi bilang kecantikan puteriku
sebatas kulit. Apa artinya?"
"Pinto mengakui bahwa puteri Kauwcu cantik jelita dan pandai. Akan tetapi semua itu hanya sampai dikulit,
hanya akibat pandangan mata lahir. Mata batin takkan dapat ditipu dan takkan silau oleh kecantikan. Mata
batin mencari sampai ke dalam batin pula, mencari kebenaran yang sering tertutup oleh kepalsuan."
Merah muka Pat-jiu Sin-ong, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. "Anakku memang cantik, ini semua orang
tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekali pun, yang salah bukan dia, melainkan matanya! Tosu mentah,
lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan di sini."
"Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!" kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia tadi
sudah membuktikan betapa hebat sinkang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik seperguruan ketua
Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia mengira akan dapat
mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoat-nya (ilmu pedangnya).
"Kau menantangku?" Liu Gan bertanya, masih tersenyum.
"Pinto siap!"
"Nah, terimalah ini!" Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya itu
sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat julukan
Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang oleh delapan
pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan memutar
pedangnya melindungi diri.
"Plakk! Tranggg... aduhhh...!"
Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu sendiri tidak tahu, pergelangan
tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan
mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan
dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan
pelupuk mata kanannya pun robek!
"Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat Suhu-mu, Kim
Gan Sianjin ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan matamu
dunia-kangouw.blogspot.com
yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini membuka matamu bahwa Bengkauw
tidak boleh dibuat main-main oleh siapa pun juga! Nah, pergilah!"
Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti di depannya ini bukan lawannya, bahkan suhu-nya, ketua Kun-lun-pai
sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa banyak cakap ia
memungut pedangnya, menjura dan berkata, "Pinto hanya dapat melaporkan kepada Suhu bahwa pinto gagal
dalam tugas." Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.
Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan
lalu tertawa dan menghadapi para tamunya. "Cu-wi yang terhormat, harap maafkan gangguan tadi. Nah,
karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami akui bahwa hal
itu memang tidak salah. Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di
antara para muda gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya.
Mereka yang dapat mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara
mereka yang lulus, kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku. "Ha-ha-ha!" setelah berkata demikian
dan menjura, ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.
"Eh, saudara muda Kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?"
"Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!" kata Kwee Seng.
"Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!"
Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.
Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di atas
meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa mempergunakan
senjata.
Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah
suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk
menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri. Dan sekarang, setelah melihat Liu
Lu Sian, hampir semua pemuda yang hadir di situ tergila-gila dan tak seorang pun yang tidak ingin memetik
tangkai bunga segar mengharum ini. Akan tetapi, menyaksikan ilmu kepandaian Lu Sian dan kehebatan
ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan tidak berani mencoba-coba.
Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin malam,
mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapa pun juga, di
antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin tidak dapat menahan hatinya yang sudah runtuh oleh
kecantikan Lu Sian.
Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah lebar
dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas panggung
berhadapan dengan Lu Sian. Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya
mulutnya lebar membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan
di depan dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang. "Aku bernama Han Bian
Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai Min-kiang, ingin mencoba-coba
kepandaian nona Liu yang gagah."
Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut yang
agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau coba-coba,
pikirnya. Apanya sih yang diandalkan? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan loncatannya, juga
tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.
"Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!" katanya dengan suara dingin.
Han Bian Ki orangnya memang agak tinggi hati, mengandalkan kepandaian sendiri, dan ia amat ingin dapat
menangkan nona manis yang semalam membuat ia tak dapat tidur pulas ini. Maka mendengar tantangan
dunia-kangouw.blogspot.com
orang, ia segera berseru keras dan menggerakkan tangannya, yang kiri mengirim pukulan ke arah lambung,
pukulan pancingan karena yang benar-benar menyerang adalah tangan kanannya yang cepat mencengkeram
ke arah pundak kiri Lu Sian dengan maksud menangkap gadis itu dan mencapai kemenangan dalam
segebrakan saja.
Akan tetapi dengan gerakan indah sekali gadis itu mengelak tanpa menangkis. Gerakannya indah dan
kelihatan lambat, namun toh serangan dua tangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Han Bian Ki merasa heran. Cepat ia mengirim pukulan bertubi-tubi dengan ke dua tangannya dengan maksud
agar si nona suka menangkis. Andai kata ia tidak dapat menangkan nona ini, sedikitnya ia harus dapat
merasakan kehalusan dan kehangatan lengan Si Gadis ketika menangkis pukulan-pukulannya! Sambil
memukul bertubi-tubi ia mendesak dengan langkah-langkah cepat. Kali ini dia harus menangkis, pikirnya, kalau
tidak tentu akan terdesak ke pinggir panggung.
Akan tetapi benar-benar Lu Sian tidak mau menangkis. Pukulan-pukulan keras yang mengeluarkan angin itu ia
hindarkan dengan gerakan-gerakan pinggangnya, ke kanan kiri dan terpaksa ke dua kakinya melangkah
mundur karena Si Pemuda terus mendesaknya. Benar seperti dugaan Han Bian Ki, akhirnya Lu Sian terdesak
sampai ke pinggir panggung dan mundur tiga langkah lagi tentu akan terjengkang. Pemuda ini sudah menjadi
girang. Sekali Si Gadis terjengkang ke bawah panggung, berarti ia menang! Cepat ia memperhebat pukulanpukulannya
sambil mengeluarkan seruan panjang.
Tiba-tiba gadis itu tertawa dan Han Bian Ki kebingungan karena ia tidak melihat gadis itu lagi. Tadi ia hanya
melihat bayangan orang berkelebat dan bau harum menusuk hidung, membuat hatinya terguncang. Memang
semenjak naik ke panggung ia mencium bau harum keluar dari arah gadis itu. Akan tetapi ketika melihat
bayangan orang berkelebat, bau harum itu makin keras tercium dan sekarang tiba-tiba Lu Sian lenyap. Apakah
sudah terjengkang ke bawah? Ia melangkah maju dan menjenguk ke bawah, akan tetapi tidak tampak apaapa.
Ketika ia mendengar gelak tawa para tamu, cepat-cepat ia membalikkan tubuh dan terlihat olehnya sang
dara jelita sedang tersenyum mengejek!
Seorang yang rendah hati dan tahu diri tentu saja sadar bahwa ia kalah jauh dari gadis itu, akan tetapi Han
Bian Ki yang tinggi hati tidak merasa demikian. Malah sebaliknya ia merasa penasaran sekali. Sambil berseru
keras ia menerjang maju dengan serangan lebih hebat, kini malah menyelingi pukulan tangannya dengan
tendangan kilat!
Lu Sian tertawa dan tubuhnya melejit-lejit seperti ikan di darat, berputar-putar seperti gasing namun semua
pukulan dan tendangan lawan mengenai angin belaka. Seperti tadi, tiba-tiba gadis itu lenyap dengan cara
melompati atas kepala lawannya yang kembali menjadi kebingungan. Watak Liu Lu Sian adalah manja dan
gadis ini pun memiliki kesombongan, suka memandang rendah orang lain. Apalagi pemuda itu yang terang
kalah jauh olehnya, segera menimbulkan rasa angkuh dan sombong dalam hatinya.
Setelah melompati kepala lawannya, gadis ini hinggap dan berdiri di tengah panggung. Sambil menanti
lawannya yang kebingungan mencari-carinya, ia berkata, "Uhh, begini saja pemuda yang hendak mencoba
kepandaianku? Kalau masih ada yang seperti dia, harap maju saja sekalian! Jangan khawatir, aku takkan
tuduh kalian mengeroyok. Yang menang di antara kalian tetap dianggap menang. Hayo maju, agar aku tidak
lelah, melayani kalian!"
Dua orang pemuda menyambut seruan Liu Lu Sian ini. Mereka ini adalah seorang pemuda yang tinggi besar
dan berwajah buruk, seorang lagi adalah pemuda kurus kering, berwajah kekuningan seperti orang
berpenyakitan. Dari dua jurusan mereka melompat ke atas panggung. Agaknya mereka ini menganggap
bahwa sekarang terbuka kesempatan bagus bagi mereka untuk mencapai kemenangan!
"Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!" kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik atau
kehabisan napas.
Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang ia
sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka seorang
demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu
cepat ditundukkan sekaligus.
Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula baginya
untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau beradu
lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biar pun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia
memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring.
Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan serangan-serangan
mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu akan lebih banyak
memungkinkan hasil baik.
"Menjemukan...!" Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik.
Tiga orang pemuda itu menyerang dari tiga jurusan. Serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka
Kuning Bhong Siat yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam.
Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah tangan
dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.
Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang
berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua puluh
jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu ‘terbang’ dari atas
panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh tunggang-langgang dan
berusaha untuk merangkak bangun.
"Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!" terdengar suara keras membentak di belakang
mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh mereka seorang
demi seorang terlempar ke luar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang melemparkan mereka
ke luar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung.
Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang tadinya
ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat hatinya, menghibur
hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona yang amat lihai itu!
Akan tetapi ternyata masih seeorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri
panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak panggung,
Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki lweekang yang cukup
hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia merasa kecewa.
Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakaiannya sederhana. Mukanya membayangkan kerendahan hati dan
kejujuran, namun sama sekali tidak tampan. Matanya lebar dan alisnya bersambung, sedangkan hidungnya
terlalu pesek!
"Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk memasuki
sayembara, akan tetapi karena sudah sampai di sini dan saya amat tertarik dan kagum menyaksikan
kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri." Kata-katanya merendah
akan tetapi jujur dan sederhana.
Lu Sian tersenyum mengejek. "Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini
merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!"
"Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan," jawab Lie
Kung.
"Hemm, kalau begitu sambutlah ini!"
Secara tiba-tiba Liu Lu Sian menyerang, pukulannya amat cepat, gerakannya indah akan tetapi bersifat ganas
karena pukulan itu mengarah bagian berbahaya di pusar, merupakan serangan maut! Lie Kung berseru keras
dunia-kangouw.blogspot.com
dan kaget. Tak disangkanya nona yang demikian cantiknya begini ganas gerakannya. Maka cepat ia melompat
mundur dan mengibaskan tangan, lalu menangkis dengan kecepatan penuh.
Lu Sian tidak sudi beradu lengan. Ia menarik kembali tangannya dan menyusul dengan pukulan tangan miring
dari samping mengarah lambung. Sungguh merupakan terjangan maut yang amat berbahaya. Lie Kung
ternyata gesit sekali karena dengan jungkir balik ia segera dapat menyelamatkan diri!
Tepuk tangan menyambut gerakan ini karena sekarang para tamu merasa mendapat suguhan yang menarik,
tidak seperti tadi di mana tiga orang pemuda sama sekali tidak dapat mengimbangi permainan Liu Lu Sian
yang gesit. Pemuda pesek ini benar-benar cepat gerakannya, walau pun tampaknya lambat dan tenang.
Setelah diserang selama lima jurus dengan hanya mengelak, mulailah Liu Lu Sian mengembangkan
gerakannya untuk balas menyerang. Telah ia duga bahwa pemuda ini merupakan seorang ahli lweekang, dan
ternyata benar. Pukulan pemuda ini berat dan antep, hanya sayangnya pemuda ini berlaku sungkan-sungkan,
buktinya yang diserang hanya bagian-bagian yang tidak berbahaya.
Marahlah Lu Sian. Sikap pemuda yang hanya mengarahkan serangan pada pundak, pangkal lengan dan
bagian-bagian lain yang tidak berbahaya itu, baginya diterima salah. Dianggap bahwa pemuda ini terlampau
memandang rendah padanya, seakan-akan sudah merasa pasti akan menang sehingga tidak mau membuat
serangannya berbahaya.
Setelah lewat tiga puluh jurus mereka serang-menyerang, tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara melengking
tinggi yang mengejutkan semua orang. Gerakannya tiba-tiba berubah lambat dan aneh, pukulannya
merupakan gerakan yang melingkar-lingkar.
"Bagaimana kau lihat pemuda itu?" Pat-jiu Sin-ong bertanya ketika ia melihat Kwee Seng menoleh dan
menonton pertandingan, tidak seperti tadi ketika tiga orang pemuda mengeroyok Lu Sian.
Kwee Seng memandang acuh tak acuh. "Lumayan juga. Bakatnya baik dan kalau ia tidak terlalu banyak
kehendak, ia dapat menjadi ahli lweekeh yang tangguh."
"Ha-ha, kau lihat. Puteriku sudah mulai mainkan Sin-coa-kun ciptaanku yang terakhir. Pemuda itu takkan dapat
bertahan lebih dari sepuluh jurus!"
Diam-diam Kwee Seng memperhatikan. Ilmu silat Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti) memang hebat, mengandung
gerakan-gerakan ilmu silat tinggi yang disembunyikan dalam gaya kedua tangan yang gerakannya seperti ular
menggeliat-geliat dan melingkar-lingkar. Namun dalam ilmu silat ini terkandung sifat yang amat ganas, dan
kembali sepasang alis pemuda ini berkerut saking kecewa. Sungguh sayang sekali, kecantikan seperti bidadari
itu, dirusak sifat-sifat liar dan ganas, diisi ilmu yang amat keji.
Untuk mengusir kekecewaan yang menggeregoti hatinya, pemuda ini menuangkan arak sepenuhnya dan
mengangkat cawan. "Minum biar puas!" lalu sekali tenggak habislah arak itu.
Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak dan minum araknya pula.
Ramalan Pat-jiu Sin-ong ternyata terbukti. Tepat sepuluh jurus setelah pemuda she Lie itu terdesak dan
bingung menghadapi dua lengan halus yang seperti sepasang ular mengamuk, lehernya kena dihantam
tangan miring. Ia mengaduh dan terhuyung-huyung ke belakang. Akan tetapi tepat pada saat lehernya
dihantam, ia dapat mengibaskan tangannya hingga mengenai lengan Lu Sian.
“Plakk!” gadis itu menyeringai kesakitan, lengannya terasa panas sekali.
Biar pun ia sudah tahu bahwa pukulannya mengenai leher lawan dengan tepat, karena lengannya tertangkis
tadi, Lu Sian menjadi marah dan cepat ia maju lagi mengirim pukulan yang agaknya akan menamatkan riwayat
pemuda itu.
"Cukup...!!" tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke atas panggung dan dengan cepat menangkis tangan Lu
Sian yang mengirim pukulan maut.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dukkk!" dua buah lengan tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.
Dengan kemarahan meluap-luap Lu Sian memandang orang yang begitu lancang berani menangkis
pukulannya tadi. Ia membelalakkan matanya dan... tiba-tiba ia merasa seakan-akan jantungnya diguncang
keras, kemarahannya lenyap dan ia terpesona. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang pemuda
yang begini ganteng!
Rambutnya hitam tebal diikatkan ke atas dengan sehelai sutera kuning. Pakaiannya indah dan ringkas,
membayangkan tubuhnya yang tegap berisi, dadanya yang bidang. Alisnya berbentuk golok, hitam seperti
dicat, hidung mancung, mulut berbentuk bagus membayangkan watak gagah dan hati keras. Pendeknya,
wajah dan bentuk badan seorang jantan yang tentu akan meruntuhkan hati setiap orang gadis remaja!
Seketika Lu Sian jatuh hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan lancang pemuda ini, untuk menjaga harga
dirinya, ia menegur juga, hanya tegurannya tidak seketus yang dikehendakinya. "Kau siapa, berani lancang
turun tangan mencampuri pertandingan?"
Pemuda itu menuntun Lie Kung sampai ke pinggir panggung, menyuruhnya mengundurkan diri. Lie Kung
menjura ke arah Liu Lu Sian lalu melompat turun, terus pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah itu baru pemuda yang membawa sebuah golok disarungkan dan digantungkan pada pinggangnya itu
membalikkan tubuh menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata. "Maaf, Nona. Memang saya tadi berlaku lancang.
Akan tetapi sekali-kali bukan dengan maksud hati yang buruk, hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan
darah. Sudah terlalu banyak jiwa melayang.... Ah, sayang sekali. Kunasehatkan kepadamu, Nona. Hentikan
cara pemilihan suami seperti ini. Tiada guna! Dan kasihan kepada yang tidak mampu menandingimu. Nah,
sekali lagi maafkan kelancanganku tadi!" Ia menjura dan hendak pergi.
"Eh orang lancang! Bagaimana kau bisa pergi begitu saja setelah menghinaku? Hayo maju kalau kau memang
berkepandaian!" Lu Sian sengaja menantang karena hatinya sudah jatuh dan ingin ia menguji kepandaian lakilaki
yang menarik hatinya ini. Kalau memang benar seperti dugaannya, bahwa laki-laki ini memiliki kepandaian
tinggi seperti terbukti ketika menangkisnya tadi, ia akan merasa puas mendapat jodoh setampan dan segagah
ini.
Kwee Seng memang tampan pula, tetapi terlalu tampan seperti perempuan, kalah gagah oleh pemuda ini. Dan
biar pun ia tahu ilmu kepandaian Kwee Seng mungkin hebat, akan tetapi sikap pemuda itu terlalu halus, terlalu
lemah lembut, kurang ‘jantan’!
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, kembali menjura kepada Lu Sian sambil berkata dengan suara perlahan.
"Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang... akan tetapi... bukan beginilah caranya.
Maafkan, Nona. Biarlah aku mengaku kalah terhadapmu!" Sambil melempar pandang tajam yang menusuk hati
Lu Sian, pemuda itu hendak mengundurkan diri.
"Apakah engkau begitu pengecut, berani berlaku lancang tidak berani memperkenalkan diri? Siapakah kau
yang sudah berani... menghinaku?”
Dimaki pengecut, pemuda itu menjadi merah mukanya. "Aku bukan pengecut! Kalau Nona ingin benar tahu,
namaku adalah Kam Si Ek dari Shan-si." Setelah berkata demikian, pemuda gagah bernama Kam Si Ek itu lalu
meloncat turun dari panggung dan cepat-cepat lari ke luar dari halaman gedung.
Sampai beberapa saat lamanya Liu Lu Sian berdiri bengong di atas panggung, merasa betapa semangatnya
seakan-akan melayang-layang mengikuti kepergian pemuda ganteng itu.
"Pat-jiu Sin-ong, kau baru saja kehilangan seorang calon mantu yang hebat!" Kwee Seng berkata sambil
menyambar daging panggang dengan sumpitnya.
"Kau maksudkan bocah ganteng tadi? Siapakah dia? Namanya tidak pernah kudengar," jawab Pat-jiu Sin-ong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha! Kam Si Ek adalah panglima muda di Shan-si dan hanya karena adanya pemuda itulah maka Shansi
terkenal sebagai daerah yang amat kuat dan membuat gubernurnya yang bernama Li Ko Yung terkenal.
Cocok sekali dia dengan puterimu. Puterimu menjadi perebutan pemuda-pemuda, sebaliknya entah berapa
banyaknya gadis di dunia ini yang ingin menjadi istrinya! Ha-ha-ha!" Terang bahwa Kwee Seng sudah mulai
terpengaruh arak.
Memang sebetulnyalah kalau pemuda itu tadi mengatakan bahwa dia tidak bisa minum arak banyak-banyak.
Akan tetapi karena kerusakan hatinya menghadapi cinta terhadap Liu Lu Sian berbareng kecewa, ia sengaja
nekat minum terus tanpa ditakar lagi.
"Huh, apa artinya panglima bagiku? Dia memang tampan. Akan tetapi kalau disuruh memilih, aku memilih kau,
Kwee Seng!"
Liu Lu Sian tersentak kaget dan membalikkan tubuh, masih berdiri di tengah panggung. Juga para tamu
mendengar percakapan yang dilakukan dengan suara keras itu. Kini mereka memandang ke arah dua orang
itu, terutama sekali Kwee Seng yang menjadi pusat perhatian.
Pemuda ini sudah bangkit berdiri, cawan arak di tangan kanannya. Hatinya berguncang keras ketika ia
mendengar ucapan ketua Beng-kauw itu. Betapa tidak? Jelas bahwa Ketua Beng-kauw ini agaknya suka
memilih dia sebagai mantu. Dan dia sendiri pun sudah jelas mencintai gadis jelita itu, hal ini tidak dapat ia
bantah, seluruh isi hati dan tubuhnya mengakui.
Mau apa lagi? Tinggal mengalahkan gadis itu, apa sukarnya? Akan tetapi di balik rasa cinta, di sudut
kepalanya di mana kesadarannya berada, terdapat rasa tak senang yang menekan kembali rasa cinta
kasihnya dengan bisikan-bisikan tentang kenyataan betapa keadaan gadis itu dan keluarganya sama sekali
tidak cocok, bahkan berlawanan dengan pendirian dan wataknya. Ia jatuh cinta kepada seorang dara yang
berwatak liar dan ganas, sombong dan tinggi hati, licik dan keji, gadis yang menjadi puteri tunggal Ketua Bengkauw
yang sakti, aneh dan sukar diketahui bagaimana wataknya. Gadis yang menjadi sebab kematian banyak
pemuda yang tak berdosa!
Kesadarannya membisikkan bahwa betapa pun ia mencintai gadis itu, cintanya hanya karena pengaruh
kejelitaan gadis itu dan kalau ia menuruti cintanya yang terdorong nafsu, kelak akan tersiksa hatinya. Akan
tetapi perasaannya membantah. Kalau ia boleh membawa pergi gadis itu bersamanya, mungkin ia bisa
membimbingnya menjadi seorang isteri yang baik dan cocok dengan sifat-sifat dan wataknya.
"Lo-enghiong, jangan main-main!"
"Ha-ha, siapa main-main? Kwee-hiantit hanya kaulah yang agaknya pantas bertanding dengan puteriku. Hayo
kau kalahkan dia, kalau tidak, anakku itu akan makin besar kepala saja dan para tamu tentu akan mengira aku
hendak menang sendiri! Ha-ha-ha!"
"Hemmm, puterimu berkepandaian tinggi. Terus terang saja, aku pun ingin sekali menguji kepandaiannya.
Akan tetapi... hemm, Lo-enghiong, harap jangan salah sangka. Dengan jujur aku mengaku bahwa puterimu
telah menarik hatiku. Akan tetapi, perjodohan melalui pertandingan memang kurang tepat, yang perlu hati
masing-masing. Bagaimana kalau aku naik ke panggung, tapi bukan untuk memasuki sayembara pemilihan
jodoh, hanya sekedar main-main menguji kepandaian belaka?" Ucapan ini dilakukan perlahan tidak terdengar
orang lain.
Akan tetapi Ketua Beng-kauw itu tertawa keras dan menjawab dengan suara keras pula. "Ha-ha-ha-ha! Aku
mengerti, kau memang seorang yang teliti dan cermat, terlalu berhati-hati! Kalau menyalahi peraturan, berarti
melanggar dan siapa melanggar harus didenda!"
Kwee Seng tertawa pula dan menenggak sisa araknya. "Dendanya bagaimana?”
“Kau harus menurunkan ilmu pukulan yang kau pergunakan untuk mengalahkan puteriku itu kepadanya."
"Aku tidak keberatan. Tapi dia harus ikut denganku ke mana aku pergi."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Boleh. Nah, orang muda, kau cobalah!"
Hati Liu Lu Sian sudah mendongkolkan sekali mendengarkan percakapan antara ayahnya dan pemuda pelajar
yang kelihatan lemah lembut itu. Apalagi ketika ia melihat Kwee Seng berjalan menghampirinya dengan
langkah sempoyongan dan mukanya yang berkulit putih halus itu kelihatan merah sekali, tanda-tanda seorang
mabuk!
"Apakah Kwee-kongcu juga tidak mau ketinggalan dalam lomba pameran kepandaian?" Liu Lu Sian menegur
dengan kata-kata dingin. Ternyata gadis ini masih mendongkol mengingat betapa tadi di depan ayahnya, Kwee
Seng sudah membikin basah pakaiannya dengan arak, merupakan bukti bahwa dalam adu tenaga secara
diam-diam itu pemuda ini sudah menang setingkat dari padanya.
"Cuma kali ini Kongcu sedang mabuk, tidak enak kalau aku mencari kemenangan dari seorang yang mabok!"
dengan kata-kata ketus ini Liu Lu Sian hendak menebus rasa malunya tadi.
Kwee Seng tersenyum dan diam-diam mengagumi wajah yang demikian eloknya. Mulut yang biar pun
menghamburkan kata-kata pedas dan pahit, namun tetap manis didengar. Matanya yang agak mabok itu
seakan-akan lekat pada bibir itu. Sejenak Kwee Seng terpesona, tak dapat berkata apa-apa, tak dapat
bergerak memandang ke arah mulut dara jelita di depannya. Ia hanya berdiri melamun....
Bibir merah basah menantang
Bentuk indah gendewa terpentang
Hangat lembut mulut juita
Sarang madu sari puspita
Senyum dikulum bibir gemetar
Tersingkap mutiara indah berjajar
Segar sedap lekuk di pipi
Mengawal suara merdu sang dewi!
"Heh, kenapa kau melongo saja?" tiba-tiba Lu Sian membentak, lenyap sikapnya yang menghormat karena ia
tak dapat menahan kejengkelan hatinya.
Kwee Seng sadar dari lamunannya. "Eh..., ohh... Nona, kau tahu, aku sebetulnya tidak ingin memasuki
sayembara... dan aku... aku lebih suka bertanding dengan si pemilik tangan maut!" Sambil berkata demikian ia
menoleh, matanya mencari-cari.
"Cukup! Tak perlu banyak bicara lagi Kwee-kongcu. Aku sudah mendengar bahwa kalau aku kalah, aku harus
menjadi muridmu dan ikut pergi bersamamu!" kata pula Lu Sian dengan senyum mengejek. "Akan tetapi
jangan kira akan mudah mengalahkan aku!" Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat cepat dan tahutahu
ia sudah lari menyambar pedangnya yang terletak di atas meja dan secepat itu pula berkelebat kembali
menghadapi Kwee Seng.
Pemuda itu tersenyum, senyum yang mengandung banyak arti, setengah mengejek dan setengah kagum.
Begitu cepatnya gadis itu bergerak dan menyarungkan pedangnya dengan gerakan indah.
Lu Sian merasakan ejekan ini. Dengan gemas ia berkata," Menghadapi seorang sakti seperti engkau ini, Kweekongcu,
tidak bisa disamakan dengan segala cacing tanah tadi. Aku mengharapkan pelajaran darimu dalam
menggunakan senjata!" Sambil berkata demikian gadis ini mencabut pedangnya dan tampaklah sinar
berkelebat, putih menyilaukan mata.
"Lu Sian, mundurlah! Manusia ini terlalu sombong, biar aku mewakilimu memberi hajaran!" Tiba-tiba bayangan
tinggi kurus melayang ke depan Kwee Seng dan sebuah lengan menyambar ke arah dada pemuda itu.
"Wutttt!" Kwee Seng miringkan pundaknya dan pukulan yang hebat itu lewat cepat.
"Hemm, aku senang sekali melayanimu!" kata Kwee Seng dan jari telunjuknya menotok ke arah pergelangan
tangan yang lewat di sampingnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi secepat itu pula Ma Thai Kun sudah menarik kembali lengannya sehingga dalam dua gebrakan ini
mereka berkesudahan nol-nol atau sama cepatnya.
"Ji-sute, mundur kau!" kembali Liu Gan berseru keras, matanya melotot marah.
Ma Thai Kun tidak berani membantah perintah suheng-nya dan ia mundurkan diri dengan kemarahan di tahantahan.
“Orang She Kwee, kau terlalu sombong. Lihat pedangku!" bentak Liu Lu Sian sambil menggerakan pedangnya
dengan cepat.
Pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang membuat lingkaran-lingkaran lebar, makin lama
lingkaran itu makin lebar mengurung tubuh Kwee Seng. Namun pemuda ini hanya menggerakkan sedikit
tubuhnya dan selalu ia terhindar dari kilat yang berpencaran ke luar dari sinar pedang itu.
"Lu Sian, jangan pandang ringan dia! Gunakan Toa-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Badai)!" seru Liu Gan
dengan suara gembira, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
Begitu gebrakan pertama dan selanjutnya secara cepat berlangsung, Lu Sian sudah mengerti bahwa Kwee
Seng ini benar-benar amat lihai. Pedangnya yang menyambar-nyambar seperti hujan cepatnya itu ternyata
dapat dielakkan secara aneh dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa, seakan-akan semua gerakannya ini
masih terlampau lambat bagi Kwee Seng.
Oleh karena ini, begitu mendengar seruan ayahnya, ia segera mengerahkan tenaga dan berlaku hati-hati.
Cepat ia mainkan ilmu pedang ajaran ayahnya, yaitu Toa-hong Kiam-hoat. Gadis ini mengerti bahwa kali ini ia
tidak saja harus menjaga harga dirinya, melainkan juga menjaga muka ayahnya.
Diam-diam Kwee Seng kaget dan kagum melihat perubahan ilmu pedang gadis itu yang kini menderu-deru
seperti angin badai mengamuk. Tidak percuma ketua Beng-kauw mendapat julukan Pat-jiu Sin-ong, dan tidak
percuma pula gadis itu menjadi puteri tunggalnya karena ilmu pedang ini amat cepat, hebat dan berbahaya
sehingga tak mungkin dihadapi mengandalkan kecepatan belaka.
Pemuda sakti ini maklum pula bahwa Pt-jiu Sin-ong seorang yang amat licik dan aneh. Tentu sekarang Ketua
Beng-kauw itu menyuruh anaknya mengeluarkan ilmu pedang simpanan agar terpaksa ia mengeluarkan
ilmunya yang sejati pula untuk mengalahkan Lu Sian. Kwee Seng maklum pula bahwa janji untuk menurunkan
ilmunya yang mengalahkan Lu Sian, adalah janji yang amat licik dari Pat-jiu Sin-ong, yang membayangkan
sifat loba seorang ahli silat yang ingin sekali menguasai seluruh ilmu yang paling sakti di dunia ini.
Melalui puterinya, ketua Beng-kauw ini hendak memancing-mancing ilmu silatnya untuk menambah
perbendaharaan ilmu Pat-jiu Sin-ong! Karena tidak ingin menggunakan ilmu simpanannya untuk mengalahkan
Lu Sian agar ia tidak usah menurunkan ilmu itu pada gadis ini, kembali Kwee Seng mengandalkan ginkang
(ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi dari pada kepandaian gadis itu untuk melesat ke sana ke mari,
menyelinap di antara sambaran pedang Lu Sian yang seperti badai mengamuk itu. Akan tetapi belum lima
belas jurus Lu Sian mainkan Ilmu Pedang Toa-hong-kian, ayahnya sudah berseru lagi.
"Lu Sian, pergunakan Pat-mo Kiam-hoat!"
Ilmu pedang Pat-mo-kiam (Pedang Delapan Iblis) ini sengaja diciptakan oleh Pat-jiu Sin-ong untuk
mengimbangi Ilmu Pedang Pat-sian-kiam (Pedang Delapan Dewa) yang pernah ia hadapi dahulu. Hebatnya
bukan kepalang.
Lu Sian kembali menurut perintah ayahnya dan gerakan pedangnya berubah lagi. Kini pedangnya tidak
mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mendasarkan serangan pada penggunaan tenaga sinkang (tenaga
sakti). Setiap tusukan atau bacokan mengandung tenaga mukjijat sehingga anginnya saja sudah cukup untuk
merobohkan lawan yang kurang kuat.
Kembali Kwee Seng kaget dan kagum. Seperti juga sifat Pat-sian-kiam yang ia kenal, ilmu pedang ini rapi
sekali, seakan-akan dimainkan oleh delapan orang, namun Pat-mo-kiam mengandung sifat yang lebih ganas
dunia-kangouw.blogspot.com
dan keji. Mendadak ia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Biar pun Pat-mo-kiam diciptakan untuk
menghadapi Pat-sian-kiam, namun ilmu silat hanya sekedar teori atau peraturan gerakan belaka, yang
terpenting adalah orangnya. Karena tingkatnya lebih tinggi dari pada tingkat Lu Sian, maka ia merasa sanggup
mengalahkan Pat-mo-kiam yang dimainkan gadis ini dengan ilmu pedang Pat-sian-kiam.
Ia berseru keras dan tahu-tahu tangannya sudah mencabut ke luar sebuah kipas yang disembunyikan di dalam
bajunya. Cepat ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian-kiam. Kipasnya mengeluarkan angin yang kuat sekali
sehingga gulungan sinar pedang putih terdesak dan tiba-tiba Lu Sian berseru keras karena siku kanannya
terkena totokan gagang kipas. Seketika tangannya kejang dan hampir saja ia melepaskan pedang, baiknya
dengan gerakan yang cepat bukan main Kwee Seng sudah memulihkan totokan lagi sehingga gadis itu dapat
menyambar pedangnya yang sudah terlepas tadi. Dasar gadis yang tak dapat menerima kekalahan, begitu
pedangnya terpegang lagi ia terus menyerang dengan hebat!
"Aiihh...!" Kwee Seng berseru dan tubuhnya berkelebat.
Terpaksa ia mempergunakan ilmunya yang hebat, yaitu Pat-sian Kiam-hoat yang sudah ia gabung dengan
Ilmu Kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Kipasnya mengebut pedang lawan, dan selagi
pedang itu miring letaknya, gagang kipasnya menotok dan... kini seluruh tubuh Lu Sian menjadi kaku tak dapat
digerakkan lagi! Kwee Seng cepat menempel pedang lawan dengan kipasnya, merampas pedang itu di antara
kipas sambil jari tangan kirinya membebaskan totokan!
Lu Sian dapat bergerak lagi, akan tetapi pedangnya sudah terampas. Gadis itu marah bukan main, siap
menerjang dengan tangan kosong berdasarkan kenekatan.
"Lu Sian, cukup! Haturkan terima kasih kepada calon suami atau gurumu! Ha-ha-ha!" teriak Pat-jiu Sin-ong
sambil melompat ke atas panggung.
Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Kwee Seng ini, sedangkan Lu Sian lari ke dalam tanpa menoleh
lagi.
Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong berkata lantang kepada para tamunya. "Sahabat
mudaku Kwee Seng telah menang mutlak atas puteriku dan dia berhak menjadi calon mantuku. Akan tetapi,
karena dia pun seorang aneh, tidak kalah anehnya dengan aku sendiri, hanya dia yang dapat menentukan
apakah perjodohan ini diteruskan atau tidak. Betapa pun juga, ia sudah berjanji akan menurunkan ilmunya
yang tadi mengalahkan puteriku kepada Liu Lu Sian. Suami atau guru, apa bedanya? Ha-ha-ha-ha-ha!"
Orang tua itu menggandeng tangan Kwee Seng untuk di ajak minum sepuasnya. Sedangkan para tamu mulai
menaruh perhatian dan mempercakapkan pemuda pelajar yang tampaknya lemah-lembut itu. Beberapa orang
tokoh tua segera mengenal Kwee Seng sebagai Kim-mo-eng dan mulai saat itu, terkenallah nama Kim-mo-eng
Kwee Seng.
Tiga hari kemudian, Kwee Seng dan Lu Sian kelihatan menunggang dua ekor kuda keluar dari kota raja
Kerajaan Nan-cao. Seperti telah ia janjikan, setelah memenangkan pertandingan ia akan mengajarkan ilmu
kepada Lu Sian dan gadis itu harus menyertai peraturannya sampai menerima pelajaran itu.
Pat-jiu Sin-ong memberi dua ekor kuda yang baik, berikut seguci arak kepada Kwee Seng karena selama tiga
hari di tempat itu, pemuda ini siang malam hanya makan minum dan mabuk-mabukan saja, manjadi seorang
peminum yang luar biasa. Betapa pun juga, melihat mereka naik kuda berendeng, memang keduanya
merupakan pasangan yang amat setimpal.
Wajah Lu Sian nampak berseri, karena betapa pun juga, menyaksikan sikap Kwee Seng, gadis ini dapat
menduga bahwa sebetulnya pemuda yang tampan dan sakti ini jatuh hati kepadanya. Pandang mata pemuda
itu dapat ia rasakan dan diam-diam merasa girang sekali. Memang sudah menjadi watak Lu Sian, makin
banyak pria jatuh hati kepadanya makin giranglah hatinya, apalagi kalau kemudian ia dapat mematahkan hati
orang-orang yang mencintainya itu!
"Kwee-koko (Kakanda Kwee), ke manakah kita menuju?" tanya Lu Sian dengan suara halus dan manis,
bahkan mesra.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Seng memeluk guci araknya dan menoleh ke kiri. Melihat wajah ayu itu menengadah, mata bintang itu
menatapnya dan mulut manis itu setengah terbuka, hatinya tertusuk dan cepat-cepat ia membuang muka
sambil memejamkan matanya. "Ke mana pun boleh!" jawabnya tak acuh, lalu menenggak araknya sambil
duduk di punggung kuda tanpa memegangi kendalinya.
"Eh, bagaimana ini? Kau yang mengajak aku. Biarlah kita ke timur, sampai ditepi sungai Wu-kiang yang indah.
Bagaimana koko?"
"Hemm, baik. Ke lembah Wu-kiang!" jawab Kwee Seng.
Lu Sian membedal kudanya dan Kwee Seng masih tetap duduk sambil minum arak, akan tetapi kudanya
dengan sendirinya mencongklang mengikuti kuda yang dibalapkan Lu Sian. Tak lama kemudian mereka sudah
keluar dari daerah kota raja, memasuki hutan. Kembali Lu Sian menahan kudanya, dan kuda Kwee Seng juga
ikut berhenti.
"Kwee-koko, mengapa kau hanya minum saja? Kita melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap, kan
menyenangkan? Apa kau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku? Kwee-koko, hentikan minummu, kau
pandanglah aku!" Mulai jengkel hati Lu Sian yang merasa diabaikan atau tidak diacuhkan.
Kwee Seng menoleh lagi ke kiri, makin terguncang jantungnya dan kembali ia menenggak araknya! "Nona,
tidak apa-apa, aku senang melakukan perjalanan ini. Ah arak ini wangi sekali!"
Lu Sian cemberut dan tidak menjalankan kudanya. "Uh, wangi arak yang menjemukan! Masa kau tidak bosanbosan
minum setelah tiga hari tiga malam terus minum bersama ayah? Kwee-koko, aku pernah disebut ayah
bunga kecil harum, dan orang-orang di sana semua mengatakan bahwa ada ganda harum sari seribu bunga
keluar dari tubuhku. Apakah kau tidak mencium ganda harum itu?"
Kwee Seng tersentak kaget. Alangkah beraninya gadis ini! Alangkah bebasnya dan genitnya! Mengajukan
pernyataan dan pertanyaan macam itu kepada seorang pemuda. Dia sendiri yang mendengarnya menjadi
merah wajahnya, akan tetapi secara jujur ia berkata, "Memang ada aku mencium bau harum itu, Nona.
Semenjak kita bertanding ganda harum itu tidak eh, tidak pernah terlupa olehku. Eh, bagaimana ini?!" Ia
tergagap, dan untuk menutupi malunya kembali ia menenggak araknya.
Lu Sian menahan tawanya dan hatinya makin gembira. Kiranya laki-laki ini tiada bedanya dengan yang lain,
makhluk lemah dan bodoh, canggung dan kaku kalau berhadapan dengan gadis ayu! Alangkah akan senang
hatinya dapat mempermainkan laki-laki ini, mempermainkan pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, yang
kesaktiannya menurut ayahnya ketika membisikkan pesan tadi, tidak berada di sebelah bawah tingkat
ayahnya!
"Kwee Seng, berhenti!!" tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang pada saat Kwee Seng sedang minum
araknya sambil di awasi oleh Lu Sian.
Gadis itu terkejut karena mengenal suara bentakan. Cepat ia membalikkan tubuh di atas punggung kudanya.
"Ma-susiok (Paman Guru Ma)! Ada keperluan apakah Susiok menyusul kami?"
Biar pun masih duduk di atas kudanya membelakangi mereka yang baru datang, Kwee Seng tahu bahwa yang
datang adalah dua orang. Kemudian ia merasa heran juga ketika mendengar suara Ma Thai Kun berubah
sama sekali saat menjawab pertanyaan Lu Sian.
"Lu Sian, kau menjauhlah dulu. Urusan ini adalah urusan antara Kwee Seng dengan aku, Percayalah,
tindakanku ini sesungguhnya demi kebaikan dirimu."
Kwee Seng adalah seorang pemuda yang amat halus perasaannya. Ia maklum orang macam bagaimana
adanya sute ke dua dari Pat-jiu Sin-ong ini, seorang kasar dan pemarah, sombong dan tinggi hati. Mengapa
tiba-tiba terkandung getaran halus yang amat berlawanan dengan wataknya itu ketika bicara terhadap Lu
Sian? Tiba-tiba ia teringat akan semua peristiwa di Nan-cao dan keningnya berkerut. Tahulah ia sekarang
dunia-kangouw.blogspot.com
sebabnya dan sekaligus terbongkar sudah olehnya semua rahasia pembunuhan di Beng-kauw. Hal ini
mendatangkan marah di hatinya.
“Nona, lebih baik kau menuruti permintaan susiok-mu. Kau minggirlah, dan biar aku bicara dengannya,” ujar
Kwee Seng.
Liu Lu Sian tersenyum dan menjauhkan kudanya dengan wajah berseri. Hal inilah yang tidak dimengerti oleh
Kwee Seng. Mengapa gadis itu malah tersenyum seperti orang bergembira padahal jelas bahwa paman
gurunya mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya? Ia tidak peduli, lalu meloncat turun dari atas kudanya
dengan guci arak masih di tangan kiri, sambil membalik sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia
sudah berhadapan dengan Ma Thai Kun dan seorang laki-laki muda yang sikapnya sungguh-sungguh tenang,
berpakaian sederhana memakai caping dan punggungnya terhias sebatang cambuk. Ma Thai Kun merah
mukanya, alisnya berkerut dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.
“Ma Thai Kun, katakanlah kehendak hatimu sekarang.”
“Kwee Seng, kau seorang yang telah menghina Beng-kauw! Kau tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh
Beng-kauw, mengandalkan kepandaian mengalahkan seorang wanita muda, mengandalkan mulut manis
mengelabui seorang tua. Twa-suheng boleh saja kau kelabui, akan tetapi aku Ma Thai Kun takkan membiarkan
kau pergi menggondol keponakanku begitu saja untuk melaksanakan niatmu yang kotor!”
“Wah-wah! Hatimu dan pikiranmu sendiri belepotan noda, kau masih bicara tentang niat kotor orang lain.
Bagus sekali mengenal tangan mautmu yang telah kau pergunakan untuk membunuh tujuh orang pemuda di
rumah penginapan dan tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Nona Liu Lu Sian!”
“Ma-susiok! Betulkah itu?” Tiba-tiba Lu Sian yang mendengar kata-kata ini bertanya dengan suara terdengar
gembira. Benar-benar Kwee Seng tidak mengerti dan sekali lagi ia terheran-heran atas sikap Lu Sian ini.
Merah wajah Ma Thai Kun. “Memang betul aku membunuh mereka. Cacing-cacing tanah itu tak tahu malu dan
berani mengharapkan yang bukan-bukan. Orang-orang macam mereka mana patut memikirkan Lu Sian? Aku
membunuh mereka apa sangkut-pautnya dengan kau, Kwee Seng?”
“Suheng...! Kenapa kau lakukan kekejaman itu? Bukankah Ji-suheng sudah melarang kita...,” orang muda
bertopi runcing itu bertanya, suaranya penuh kekhawatiran.
“Sute, tak usah kau turut campur! Kau anak kecil tahu apa!”
Kwee Seng tertawa bergelak. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa orang muda yang menjadi adik
seperguruan Ma Thai Kun ini seorang yang jauh bedanya dengan saudara-saudara seperguruannya, jauh lebih
bersih batinnya.
“Ma Thai Kun, memang urusan dengan pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi
pembunuhan keji itu tak boleh kudiamkan saja tanpa menegurmu. Apalagi kau masih menitipkan sebuah
benda kepadaku, apakah kau tidak ingin memintanya kembali?” Sambil berkata demikian, Kwee Seng
mengeluarkan sebatang jarum merah dari saku bajunya. “Kau mengenal ini? Kau menghadiahkan ini kepadaku
selagi aku tidur, dan untuk kebaikan hati itu aku belum membalasnya,” Kwee Seng menyindir.
Berubah wajah Ma Thai Kun. “Kau... kaukah jahanam itu...?” bentaknya dan tanpa memberi peringatan lagi ia
sudah menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya mengirim serangan maut dengan pukulanpukulan
yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya.
“Aii... aiih... inikah tangan maut yang mengandung racun merah itu?” Kwee Seng mengelak sambil mengejek.
Tiba-tiba dari dalam guci arak itu melesat ke luar bayangan merah dari arak yang muncrat dan menyerang
muka Ma Thai Kun. Biar pun hanya benda cair, karena arak itu digerakkan oleh tenaga lweekang maka terasa
seperti tusukan jarum. Ma Thai Kun cepat mengibaskan tangannya dan hawa pukulannya membuat arak itu
pecah bertebaran. Akan tetapi mendadak sebuah guci arak yang sudah kosong melayang ke arah kepalanya.
Ma Thai Kun menangkis dengan tangan kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Brakkk!” guci itu pecah pula berkeping-keping.
Namun Kwee Seng sudah merasa puas. Serangannya yang mendadak dapat memecahkan rahasia gerakan
Ma Thai Kun, maka ia sudah dapat menyelami dasarnya. Maka ketika Ma Thai Kun menerjangnya lagi, ia
menyambut dengan gerakan kedua tangan yang sama kuatnya. Kwee Seng tidak mengeluarkan senjata
melihat lawannya juga bertangan kosong.
Memang di antara para saudara seperguruannya, Ma Thai Kun terkenal seorang ahli silat tangan kosong yang
tak pernah menggunakan senjata. Namun kedua tangannya merupakan sepasang senjata yang mengandung
racun, menggila dahsyatnya dan ampuhnya! Jarang ia menemui tandingan, apalagi kalau lawannya juga
bertangan kosong. Baru beradu lengan dengannya saja sudah merupakan bahaya bagi lawan.
Namun kali ini Ma Thai Kun kecelik. Lawannya biar pun masih muda, namun telah memiliki tingkat kepandaian
yang sangat tinggi sekali. Tanpa diisi lweekang pun, kedua lengannya itu telah kebal terhadap hawa-hawa
beracun yang betapa ampuhnya juga. Ketika ia merantau dan berguru kepada pertapa-pertapa di pegunungan
Himalaya, ia telah melatih dan menggembleng kedua lengannya dengan obat-obat mukjijat, juga di dalam
pertempuran berat ia selalu ‘mengisi’ kedua lengannya dengan hawa sakti dari dalam tubuhnya.
Pertandingan itu hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan mau pun kaki, membawa angin dan
menimbulkan getaran. Bahkan tanah yang mereka jadikan landasan serasa tergetar oleh tenaga-tenaga dalam
yang tinggi tingkatnya. Beberapa kali Ma Thai Kun menggereng dalam pengerahkan tenaga racun merah,
disalurkan sepenuhnya ke dalam lengan yang beradu dengan lengan lawan. Namun akibatnya, dia sendiri
yang terpental dan merasa betapa hawa panas di lengannya membalik. Makin merahlah ia dan terjangannya
makin nekat.
“Ma Thai Kun, manusia macam kau ini semestinya patut dibasmi. Akan tetapi mengingat akan persahabatan
dengan Pat-jiu Sin-ong, melihat pula muka nona Liu Lu Sian yang masih terhitung murid keponakan dan
melihat muka adik seperguruanmu yang bersih hatinya, aku masih suka mengampunkan engkau. Pergilah!”
Sambil berkata demikian, tiba-tiba Kwee Seng merendahkan tubuhnya, setengah berjongkok dan kedua
lengannya mendorong ke depan. Inilah sebuah serangan dengan tenaga sakti yang hebat. Tidak ada angin
bersiut, akan tetapi Ma Thai Kun merasa betapa tubuhnya terdorong tenaga yang hebat dan dahsyat. Ia pun
merendahkan diri, mendorongkan kedua lengannya untuk bertahan. Namun akibatnya, terdengar bunyi
berkerotokan pada kedua lengannya dan tubuhnya terlempar seperti layang-layang putus talinya, lalu ia roboh
terguling dan kedua lengannya menjadi bengkak-bengkak.
“Orang she Kwee, kau melukai suhengku, terpaksa aku membelanya!” kata orang muda bertopi runcing sambil
melepaskan cambuknya dari punggung.
“Saudara yang baik, siapakah namamu?” Kwee Seng bertanya, suaranya halus.
"Aku bernama Kauw Bian, saudara termuda dari Twa-suheng Liu Gan.”
“Hemm, kulihat kau seorang yang jujur dan baik. Mengapa engkau hendak membela orang yang menyeleweng
dari pada kebenaran?”
“Tindakan Sam-suheng memang tidak kusetujui, akan tetapi sebagai sute-nya, melihat seorang suheng-nya
terluka oleh lawan, bagaimana aku dapat diam? Kewajibankulah untuk membelanya! Orang she Kwee, hayo
keluarkan senjatamu dan lawanlah cambukku ini!” Setelah berkata demikian, Kauw Bian menggerakkan
cambuknya keatas dan terdengar bunyi bergeletar nyaring sekali.
Diam-diam Kwee Seng kagum sekali. Cambuk itu biar pun kelihatan seperti cambuk biasa, namun di tangan
orang ini dapat menjadi senjata yang ampuh sekali. Dan ia kagum akan isi jawaban yang membayangkan
kejujuran budi dan kesetiaan yang patut dipuji. Maka Kwee Seng segera menjura dan berkata. “Kauwenghiong,
sikapmu membuat aku lemas dan aku mengaku kalah terhadapmu. Maafkanlah, aku tidak mungkin
mengangkat senjata melawan seorang yang benar, dan aku pun percaya kau tidak seperti Suheng-mu untuk
menyerang seorang yang tidak mau melawan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berkata demikian, Kwee Seng melompat keatas kudanya, menoleh kepada Lu Sian sambil berkata,
“Nona, terserah kepadamu ingin melanjutkan perjalanan bersamaku atau tidak.” Lalu ia melarikan kudanya
pergi dari situ.
Liu Lu Sian tercengang sejenak. Gadis ini lalu tersenyum dan membedal kudanya pula, mengejar kuda
pemuda yang sudah cukup jauh. Tinggal Kauw Bian yang masih memegang pecut, tidak tahu harus berbuat
apa dan hanya dapat memandang dua buah bayangan yang makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap itu.
“Kauw Bian-sute! Adik macam apa kau ini? Kenapa tidak kau serang dia?”
Kauw Bian terkejut dan cepat menoleh. Kiranya Ma Thai Kun sudah berdiri di belakangnya, meringis kesakitan
dan ke dua lengannya masih bengkak-bengkak.
“Tidak mungkin, Suheng. Dia tidak mau melawanku, bagaimana aku bisa menyerang orang yang tidak mau
melawan?”
“Uhhh, dasar kau lemah....”
Mendadak Ma Thai Kun menghentikan omelannya karena tiba-tiba bertiup angin dan sesosok tubuh tinggi
besar melayang turun. Kiranya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang datang. Jelas bahwa tokoh ini marah, sepasang
matanya melotot memandang Ma Thai Kun dan begitu kakinya menginjak tanah, ia lalu membentak.
“Ma Thai Kun! Bagus sekali perbuatanmu, ya? Kau layak dipukul seperti anjing!” Tangan kiri Liu Gan bergerak
dan....
“Plakkk, plakkk!” telapak dan punggung tangan Pat-jiu Sin-ong sudah menampar cepat sekali mengenai
sepasang pipi Ma Thai Kun yang terhuyung-huyung ke belakang. Pucat muka Ma Thai Kun dan matanya
menyipit bercahaya ketika berdongak memandang.
“Twa-suheng, apa kesalahanku?”
“Masih bertanya tentang kesalahannya lagi? Anjing hina kau! Kau, tua bangka, kau berani menaruh hati cinta
kepada puteriku, keponakanmu? Penghinaan besar sekali ini, tidak dapat diampunkan!”
“Suheng, apa buktinya?”
“Setan alas! Kau kira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu? Sebelum kau membunuhi pemuda-pemuda itu,
pada malam hari itu kau membujuk-bujuk Lu Sian dengan kata-kata merayu, kau menyatakan cintamu dan
minta kepada Lu Sian agar jangan mau diadakan pemilihan jodoh. Huh, tak malu! Dan kau begitu cemburu dan
membunuhi para pemuda yang tergila-gila kepada Lu Sian, malah engkau membunuh tiga orang pemuda yang
sudah kalah oleh Lu Sian. Kemudian sekarang kau berani mampus menghadang Kwee Seng sehingga
dikalahkan dan karenanya menampar mukaku. Keparat!!”
Mendengar ini semua, Kauw Bian mukanya sebentar merah sebentar pucat saking heran, terkejut, dan
bingung mendengar kelakuan Sam-suheng (Kakak Seperguruan ke Tiga). Namun Ma Thai Kun malah
tersenyum.
“Twa-suheng, semua itu memang benar! Akan tetapi, apa salahnya kalau aku mencinta Lu Sian? Dia wanita
dan aku laki-laki! Agama kita tidak melarang akan hal ini, tidak melarang perjodohan antar keluarga, apalagi
antara kita hanya ada hubungan keluarga seperguruan. Twa-suheng, memang aku mencinta Lu Sian dengan
sepenuh jiwaku. Lu Sian sendiri tidak marah mendengar pengakuanku, mengapa Suheng marah-marah?”
Gemertak bunyi gigi dalam mulut Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. “Jahanam hina! Apa kau kira menjadi tanda bahwa
dia membalas cintamu? Huh, goblok dan hina! Lu Sian selalu akan gembira mendengar orang laki-laki jatuh
cinta kepadanya, karena ia ingin menikmati kelucuan badut-badut itu! Kau sama sekali tidak memandang
mukaku, maka kau harus binasa sekarang juga!” Liu Gan sudah bergerak maju, akan tetapi ia menarik kembali
tangannya ketika melihat Kauw Bian melompat ke tengah menghalanginya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau... Kauw Bian Sute, mau apa??”
“Maaf, Twa-suheng. Terus terang saja siauwte sendiri tidak setuju perbuatan Ma-suheng itu. Akan tetapi, Twasuheng,
betapa pun besar kesalahannya, kiranya tidaklah baik kalau Twa-suheng menjatuhkan hukuman mati
kepada Ma-suheng. Pertama, mengingat akan saudara seperguruan, ke dua hal itu akan menjadi buah
tertawaan dunia kang-ouw dan merendahkan nama besar Twa-suheng, malah menyeret pula nama Bengkauw
yang kita cintai. Betapa dunia kang-ouw akan gempar kalau mendengar bahwa ketua Beng-kauw
membunuh adik seperguruannya sendiri.”
Liu Gan mengerutkan kening, menarik napas panjang dan memeluk sute-nya yang paling muda dan memang
paling ia sayangi itu. “Ah, Siauw-sute! Kau masih begini muda namun pandanganmu luas, pikiranmu sedalam
lautan. Untung ada engkau yang dapat menahan kemarahanku. Eh, Ma Thai Kun, minggatlah kau! Mulai detik
ini, aku tidak sudi lagi melihat mukamu. Dan kalau kau berani muncul di depanku, hemmm, aku tidak peduli
lagi, pasti aku akan membunuhmu!”
Ma Thai Kun menjura dalam-dalam lalu membalikkan tubuh dan lenyap di antara pohon-pohon. Kauw Bian
menarik napas panjang dan mengusap dua titik air matanya dari pipi.
“Kau menangis, Sute?” Liu Gan bertanya heran.
Dengan suara serak Kauw Bian menjawab, masih membalikkan tubuh memandang ke arah perginya Ma Thai
Kun. “Perbuatan manusia selalu mendatangkan kebaikan dan keburukan, Twa-suheng. Kalau kita mengingat
yang buruk-buruk saja memang dapat menimbulkan benci. Akan tetapi saya teringat akan kebaikan-kebaikan
Ma-suheng selama menjadi kakak seperguruan, dan bagaimana hati saya takkan sedih melihat dia pergi untuk
selamanya? Betapa pun juga, beginilah agaknya yang paling baik. Dengan penuh duka adikmu ini melihat
betapa pun juga Ma-suheng pergi membawa serta dendam dan kebencian yang hebat, yang tentu akan
membuatnya nekat dan melakukan hal-hal yang berbahaya. Akan tetapi karena Twa-suheng mengusirnya,
berarti bahwa semua perbuatannya tiada sangkut-pautnya dengan Beng-kauw.”
Mendengar kata-kata ini, berkerut kening Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. “Hemmm, agaknya benar lagi pendapatmu
tentang baik buruk yang lekat pada perbuatan manusia. Kwee Seng kelihatan seorang yang pilihan, akan
tetapi siapa tahu sewaktu-waktu sifat buruknya akan menonjol pula. Kauw Bian Sute, kau kembalilah dan
bantulah Suheng-mu Liu Mo menjaga Beng-kauw dan beri laporan kepada Sri Baginda bahwa aku akan
merantau selama dua tiga bulan.”
“Twa-suheng hendak membayangi perjalanan Kwee Seng dan Lu Sian? Itu baik sekali, Twa-suheng, karena
perjalanan bersama antara seorang pria dan wanita, sungguh merupakan bahaya besar yang bahayanya lebih
banyak mengancam si wanita dari pada si pria.”
“Sute, kau benar-benar berpemandangan tajam. Nah, aku pergi!” Pat-jiu Sin-ong Liu Gan berkelebat, angin
menyambar dan ia sudah lenyap dari depan Kauw Bian. Pemuda yang berpakaian sederhana seperti
pengembala ini menarik napas panjang saking kagumnya, kemudian ia pun melangkah pergi dari hutan itu.
Musim dingin telah tiba, dan melakukan perjalanan pada musim dingin bukanlah hal yang menyenangkan atau
mudah. Apalagi kalau hanya menunggang kuda tanpa ada tempat untuk berlindung dari serangan hawa dingin
yang menusuk tulang, tidak mengenakan baju bulu yang tebal, tentu perjalanan itu akan mendatangkan
sengsara dan juga bahaya mati kedinginan. Namun, tidak demikian agaknya bagi Kwee Seng dan Liu Lu Sian.
Dua orang muda ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan pendekar-pendekar yang sudah gemblengan yang
dengan ilmunya telah dapat menyelamatkan diri dari pada serangan hawa dingin tanpa bantuan benda luar
seperti baju tebal dan selimut. Mereka melakukan perjalanan seenaknya dan hanya mengaso kalau kuda yang
mereka tumpangi sudah lelah dan kedinginan.
Pada siang hari itu, mereka mengaso di pinggir Sungai Wu-kiang yang mengalirkan airnya perlahan-lahan ke
jurusan timur. Airnya tampak tenang dan sedikit pun tidak bergelombang, membayangkan bahwa sungai itu
amat dalam. Lu Sian menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dua ekor kuda mereka, juga
dengan bantuan api, mereka merasa nikmat dan hangat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kwee-koko, sudah dua pekan kita melakukan perjalanan, akan tetapi belum juga kau penuhi dua
permintaanku,” Lu Sian berkata sambil mengorek-orek kayu membesarkan nyala api.
“Nona....”
“Nah, yang dua belum dipenuhi, yang satu dilanggar pula. Berapa kali sudah kukatakan supaya kau jangan
menyebut Nona kepadaku? Wah, pelajar apakah kau ini, begitu pikun dan kurang perhatian? Mana bisa maju
mempelajari sastra yang begitu sulitnya!”
Kwee Seng menarik napas panjang. Gadis ini memang hebat. Tidak saja benar-benar mempunyai kecantikan
yang asli dan gilang-gemilang, yang cukup meruntuhkan hatinya, namun juga memiliki watak yang kadangkadang
membuat ia bertekuk lutut karena ia jatuh hatinya. Watak yang berandalan, namun seakan-akan dapat
menambah terangnya sinar matahari, menambah merdu kicau burung, menambah meriah suasana dan
menjadikan segala apa yang tampak berseri-seri. Akan tetapi, juga makin yakin hatinya bahwa di balik segala
keindahan, segala hal-hal yang menjatuhkan hatinya ini, tersimpan sifat-sifat lain yang amat bertentangan
dengan hatinya. Sifat kejam dan ganas, tidak mempedulilkan orang lain, terlalu cinta kepada diri sendiri, dan
tidak mau kalah, ingin selalu menang dan berkuasa saja.
“Memang aku seorang pelajar yang gagal, tidak lulus ujian.” Ia menjawab, kemudian menambahkan. “Kau
minta aku menceritakan riwayatku, apakah gunanya? Aku tidak ada riwayat yang pantas menjadi cerita. Aku
seorang sebatang kara, yatim piatu, miskin dan gagal. Apalagi? Tentang permintaanmu ke dua mempelajari
ilmu silat yang sedikit-sedikit aku bisa, nantilah, belum tiba saatnya.”
“Wah, kau jual mahal, Koko!” Lu Sian mengejek dan mengisar duduknya mendekati pemuda itu. Memang
demikianlah selalu sikap Lu Sian, terhadap siapapun juga. Jinak-jinak merpati, tampaknya jinak tapi tak mudah
didekati! “Hawa begini dingin, kalau ditambah sikapmu, bukankah kita akan menjadi beku? Eh, Kwee-koko,
kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah seorang ahli silat yang lihai, kau ini pelajar gagal dan murung
mengingatkan aku akan seorang penyair yang sama segalanya dan sama murungnya dengan engkau... hi
hik...!” Gadis ini menutup mulutnya dengan tangan, akan tetapi matanya jelas mentertawakan Kwee Seng.
“Penyair mana yang kau maksudkan?” Biar pun tahu gadis itu hanya menggodanya, namun bicara tentang
syair dan menyair selalu menimbulkan kegembiraan bagi Kwee Seng.
“Siapa lagi kalau bukan Tu Fu! Pernah aku mendengar ayah bicara tentang syair-syairnya, mengerikan!”
“Mengapa mengerikan kalau dia selalu mencurahkan isi hatinya berdasarkan kenyataan dan terdorong oleh
rasa kasihan kepada sesamanya?”
“Bukan rasa kasihan kepada sesamanya, Koko, Melainkan rasa kasihan kepada diri sendiri! Karena
keadaannya miskin terlantar, dia pandai bicara tentang kemiskinan. Coba dia itu kaya raya, atau andai kata
tidak kaya harta benda, sedikitnya kaya akan cinta kasih kepada alam seperti penyair yang seorang lagi... eh,
siapa itu yang suka memuji-muji alam, yang suka... mabok-mabokan, gila arak seperti kau pula....”
“Kau maksudkan penyair Li Po?”
“Ya, dia itulah. Kalau Seperti Li Po yang memandang dunia dari segi keindahan, tentu dalam kemiskinannya
Tu Fu takkan begitu pahit dan pedas sajak-sajaknya. Wah, aku seperti mengajar itik berenang! Kau tentu lebih
tahu dan pandai. Aku paling ngeri mendengar syair Tu Fu tentang anggur, daging dan tulang. Bagaimana
bunyinya, Kwee-koko?”
Kwee Seng meramkan mata, menengadahkan mukanya yang tampan ke atas lalu mengucapkan syair ciptaan
Tu Fu dengan suara bersemangat, terpengaruh oleh isi sajak yang memaki-maki keadaan pada waktu itu.
Di sebelah dalam pintu gerbang merah,
hangat indah serba mewah,
anggur dan daging bertumpuk-tumpuk,
sampai masam rusak membusuk!
Di sebelah luar pintu gerbang merah,
dunia-kangouw.blogspot.com
dinding kotor serba miskin,
berserakan tulang-tulang rangka mereka,
yang mati kedinginan dan kelaparan!
“Iiiihhh! Itu bukan sajak namanya!” Lu Sian mencela, kelihatan jijik dan ngeri, “Tidak enak benar mendengarkan
sajak seperti itu.”
“Memang sajak itu keras dan tegas, agak berlebihan, namun mengandung kegagahan yang tiada bandingnya,
Non... eh, Moi-moi.”
Sepasang bibir indah merah terbelah memperlihatkan kilatan gigi seperti mutiara ketika Lu Sian mendengar
sebutan moi-moi (dinda) itu. Diam-diam ia mentertawakan Kwee Seng di dalam hatinya. Katakanlah kau
menang dalam ilmu silat, boleh kau mengira dirimu gagah perkasa dan tampan, namun alangkah mudahnya
kalau aku mau menjatuhkanmu, membuatmu bertekuk lutut di depan kakiku! Demikianlah nona ini berkata
dalam hatinya.
“Eh, apakah dia itu pun pandai ilmu silat seperti kau, Kwee-koko?”
“Biar pun aku juga hanya seorang bodoh, akan tetapi sedikit banyak mengerti ilmu silat, sedangkan mendiang
Tu Fu benar-benar seorang sastrawan yang tak tahu bagaimana caranya memegang gagang pedang, tahunya
hanya memegang gagang pensil.”
“Kalau begitu dia orang lemah. Bagaimana gagah tiada bandingnya?”
“Moi-moi, kau tidak tahu. Biar pun orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali pada waktu itu, tak mungkin
ia berani melontarkan kata-kata yang seperti bunyi sajak itu, karena dapat dicap sebagai pemberontak dan di
hukum mati!”
“Tapi aku lebih kagum kepada penyair Li Po. Masih teringat aku akan sajaknya yang benar-benar
membayangkan kegagahan, kalau tidak salah begini:
Alangkah inginku dapat terbang dengan pedang sakti di tangan,
menyebrangi samudera untuk membunuh ikan paus pengganggu nelayan!
Ketika mengucapkan sajak ini, Lu Sian bangkit berdiri. Kedua kakinya terpentang, tubuhnya tegak, dada
membusung penuh semangat, serta kelihatan gagah dan cantik jelita. Suaranya bersemangat, merdu dan
penuh perasaan sehingga Kwee Seng melihat dan mendengar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!
Ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru tersipu-sipu membuang muka ketika Lu sian memandangnya
dan bertanya.” Kau kenapa, Koko?”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa... kau pandai membaca sajak, Moi-moi...,” kata Kwee Seng gagap.
Akan tetapi terdengar gadis itu terkekeh tertawa, suara ketawa yang mengandung banyak arti. Gadis itu masih
tersenyum-senyum dan sinar matanya mengerling tajam penuh ejekan ketika mereka bangkit berdiri dan
berhadapan. Lu Sian menggerakkan kakinya perlahan mendekati, sampai dekat benar, sampai terasa benar
oleh hidung Kwee Seng keharuman yang luar biasa keluar dari tubuh gadis itu. Wajah jelita itu dekat sekali
dengan wajahnya, wajah yang berseri dengan mata bersinar-sinar dan bibir terbuka menantang dikulum
senyum. Serasa terhenti detak jantung Kwee Seng, bobol pertahanannya dan dengan nafsu yang
memabokkan pikirannya didekapnya pundak Lu Sian dalam rangkulan dan ditundukkannya mukanya untuk
mencium.
Akan tetapi tiba-tiba Lu Sian menundukkan mukanya sehingga yang tercium oleh Kwee Seng hanyalah
rambutnya, rambut yang harum menyengat hidung. Tiba-tiba terdengar gadis itu bertanya, suaranya dingin
aneh, penuh cemooh. “Hai, Kwee Seng pendekar muda yang sakti, pertapa belia tahan tapa dan si teguh hati,
apakah yang akan kau perbuat ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Seng gelagapan, seakan mukanya disiram air salju. Mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah.
Dilepaskannya dekapan tangannya dan ia membuang muka, lalu menundukkannya. “Maaf... ah, maafkan aku.
Seperti sudah gila aku tadi... ah, Nona Liu, maafkan aku. Kenapa kau begitu... begitu jelita dan... dan... keji...?”
Liu Lu Sian tertawa. Suara tawanya merdu sekali, akan tetapi juga penuh dengan ejekan. “Kwee-koko, kau
ingatlah. Agaknya kemuraman penyair Tu Fu menularimu. Mari kita lanjutkan....”
Tiba-tiba Kwee Seng mendorong gadis itu, yang segera meloncat bermodal tenaga dorongan Kwee Seng.
Pemuda itu sendiri juga sudah meloncat ke belakang dengan gerakan cepat. Sambil mengeluarkan bunyi
berciutan menyambarlah lima batang senjata piauw (pisau terbang) dan menancap ke dalam batang pohon.
Tidak hanya berhenti di situ saja penyerangan gelap ini karena dari tiga penjuru menyambarlah bermacammacam
senjata rahasia menghujani tubuh Kwee Seng dan Lu Sian.
Akan tetapi kini dua orang muda yang berilmu tinggi itu kini sudah siap sedia dan waspada, dengan mudah
mereka menyelamatkan diri. Lu Sian sudah mencabut pedangnya dan dengan putaran pedangnya secara
indah dan cepat, semua piauw jarum dan senjata rahasia paku beracun dapat ia pukul runtuh. Ada pun Kwee
Seng sendiri hanya dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya saja. Ujung lengan bajunya mengeluarkan
angin pukulan, cukup membuat semua senjata rahasia menyeleweng dan tidak mengenai dirinya.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, dan ternyata dua ekor kuda mereka telah dilarikan orang.
”Keparat hina dina!” Lu Sian melompat, pedangnya berkelebat dan dua orang yang menunggang kuda mereka
terjungkal, tak bernyawa lagi!
“Ah, Moi-moi, kenapa begitu ganas?” Kwee Seng menegur penuh sesal sambil memegangi kendali kudanya
yang terkejut dan akan memberontak.
“Penjahat rendah yang telah menyerang secara pengecut, lalu hendak mencuri kuda, sudah sepatutnya
dibunuh,” kata Lu Sian dengan suara dingin sambil menyarungkan kembali pedangnya.
Kwee Seng membungkuk sambil memeriksa dua orang itu. Pakaian mereka tidak menunjukkan orang-orang
miskin, juga rapi tidak seperti maling-maling kuda biasa. Akan tetapi, bekas tusukan pedang Lu Sian hebat
sekali, mereka itu sudah mati dan tak dapat ditanya lagi.
“Justru karena mereka mengandalkan banyak orang dan secara menggelap menyerang kita, perlu kita ketahui
apa latar belakangnya. Dua ekor kuda kita, biar pun merupakan kuda pilihan, kiranya belum patut
menggerakkan hati orang-orang kang-ouw untuk merampasnya. Tentu saja ada apa-apa di belakang semua
ini, namun sayang, mereka sudah mati tak dapat ditanya lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan. Dua mayat ini
tentu akan diurus oleh teman-temannya. Melihat datangnya senjata-senjata rahasia tadi, kurasa mereka tidak
kurang dari lima orang banyaknya. Kau hati-hatilah, Moi-moi, kurasa orang-orang yang memusuhi kita takkan
berhenti sampai di sini saja.”
Lu Sian mengangkat kedua pundak, memandang rendah sekali kepada ancaman musuh, lalu melompat ke
atas punggung kudanya. Dua orang muda itu segera menjalankan kuda ke timur mengikuti sepanjang lembah
sungai Wu-kiang.
Melihat Kwee Seng naik kuda dengan wajah muram dan alis berkerut, diam saja tanpa mengeluarkan katakata
dan sama sekali tak pernah menoleh kepadanya, Lu Sian bertanya, “Koko, apakah kau masih marah
kepadaku?”
Tanpa menoleh Kwee Seng berkata lirih, “Kenapa marah? Tidak!”
Diam pula sampai lama. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang berjalan congklang. Dari jauh tampak
tembok sebuah kota. Itulah kota Kwei-siang yang terletak di tepi sungai.
“Kwee-koko....”
“Hemm, ada apakah...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau lihat aku. Tidak enak bicara dengan orang yang tunduk saja. Apa kau tidak sudi memandang mukaku
lagi?”
Mau tidak mau Kwee Seng menoleh. Wajahnya seketika menjadi merah ketika ia melihat wajah gadis itu
berseri-seri, sepasang matanya mengeluarkan cahaya yang bersinar tajam menembusi jantungnya, yang
seakan-akan mengandung penuh pengertian, yang menjenguk isi hatinya sehingga Kwee Seng merasa seperti
ditelanjangi, seperti telah terungkapkan semua rahasia perasaan dan hatinya.
“Sian-moi, (adik Sian), kau mau bicara apakah?” Kwee Seng mengeraskan hatinya, menekan perasaan.
“Kwee-koko, kau telah jatuh hati kepadaku, bukan? Kau mencintaiku sepenuh hatimu!”
Sejenak Kwee Seng menjadi pucat wajahnya. Bukan main, pikirnya. Gadis ini benar-benar berwatak siluman!
Pertanyaan macam ini benar-benar tak mungkin diajukan oleh gadis mana pun juga. Ia tahu bahwa pertanyaan
ini disengaja oleh Lu Sian, dan ia maklum pula bahwa gadis ini, sepeti seekor kucing, hendak
mempermainkannya seperti seekor tikus. Ia merasa betapa jantungnya tertusuk, akan tetapi Kwee Seng
adalah pemuda gemblengan. Cepat ia dapat memulihkan ketenangannya dan mukanya berubah merah
kembali.
“Tak perlu aku menyangkal, Moi-moi. Aku memang jatuh hati kepadamu. Kau terlalu cantik jelita, pribadimu
mengeluarkan daya tarik seperti besi sembrani yang tak dapat kulawan. Kini aku balas bertanya, apakah kau
tidak mencintaiku?”
Lu Sian kelihatan gembira dan senang sekali. Gadis ini menggerak-gerakkan kepalanya, matanya bersinarsinar
dan ia tertawa sambil menengadahkan muka ke atas. “Aku? Mencintaimu? Ah, aku tidak tahu, Koko. Aku
takkan begitu tergesa-gesa seperti engkau mengambil keputusan tentang cinta. Belum cukup lama aku
mengenalmu. Kau terlalu lemah lembut, terlalu muram. Biarlah aku mempelajarimu lebih dulu. Bukankah ayah
telah memberi kesempatan kepadamu untuk mengawiniku, mengapa kau menolak dan malah berjanji akan
menurunkan ilmu kepadaku?”
“Aku memang cinta kepadamu, Sian-moi, akan tetapi tentang kawin... ah, terlalu banyak aku melihat kekejiankekejian
di Beng-kauw, terlalu banyak aku melihat keganjilan-keganjilan yang mengerikan. Dan kau sendiri...
ah, kurasa takkan mungkin kau bisa mencinta pria secara lahir batin. Aku cinta pribadimu, tapi mungkin aku
tidak menyukai watakmu dan keluargamu!”
Kembali Lu Sian tertawa sambil menutupi mulut dengan tangannya. Kwee Seng makin heran. Benar-benar
gadis yang aneh. Aneh dan berbahaya sekali. Ia tadi sengaja berterus terang untuk membalas agar gadis ini
merasa terpukul. Akan tetapi kiranya gadis itu malah mentertawakannya!
“Hi-hik, kau lucu, Kwee-koko. Aku pun belum percaya akan cintamu kalau kau belum buktikan dengan berlutut
menyembah-nyembah kakiku!” Setelah berkata demikian, gadis itu berseru keras dan menyendal kendali
kudanya sehingga binatang itu terkejut dan membalap ke depan.
Kwee Seng terheran-heran, lebih heran dari pada terhina oleh ucapan aneh itu. Akan tetapi ia merasa lega
bahwa gadis itu mengakhiri percakapan yang menyakiti hatinya, maka ia pun lalu membedal kudanya
mengejar, memasuki kota Kwei-siang.
Hari telah menjelang senja ketika mereka berdua memasuki kota Kwei-siang. Mereka mencari sebuah rumah
penginapan yang juga membuka rumah makan di bagian depan. Seorang pelayan penginapan tergopoh-gopoh
menyambut mereka, merawat kuda dan memberi dua buah kamar yang mereka minta. Setelah ke dua orang
muda ini membersihkan diri dari debu dan keringat, berganti pakaian bersih, mereka lalu mengambil tempat
duduk di rumah makan dan memesan makanan. Kwee Seng yang masih belum lenyap rasa tekanan hatinya,
lebih dulu memesan seguci arak yang paling baik.
“Wah, kau mau mabok-mabokan lagi Koko? Benar-benar menjengkelkan! Aku malam ini ingin sekali bercakapcakap
denganmu sampai semalam suntuk!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil menuangkan arak pada cawannya, Kwee Seng menjawab, memaksa senyum, karena kadang-kadang,
seperti sekarang ini sikap Lu Sian yang kekanak-kanakan mengelus dan menghibur hatinya, melenyapkan
rasa sakit akibat ucapan-ucapan yang menusuk dari gadis itu pula.
“Biar pun minum arak bukan kebiasaanku dan baru saja hinggap padaku semenjak aku berjumpa denganmu,
Moi-moi, akan tetapi aku tak akan begitu mudah mabok. Bercakap-cakap sambil minum kan dapat juga.”
“Ihhh, siapa bilang? Biar kau tidak mabok, akan tetapi kau lebih mencurahkan perhatianmu pada arak, dan...
eh, Koko, lihat mereka itu....”
Tiba-tiba Lu Sian menghentikan kata-katanya ketika melihat beberapa orang laki-laki muncul seorang demi
seorang dari pintu depan dengan gerak-gerik mencurigakan sekali. Yang pertama masuk adalah seorang lakilaki
yang berwajah muram, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di punggungnya terselip
sebatang golok telanjang, usianya kurang lebih empat puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan kaki
ringan seperti seekor kucing, dan ketika memasuki pintu, matanya mengerling ke arah tempat duduk Kwee
Seng dan Lu Sian.
Karena Kwee Seng duduk membelakangi pintu, maka Lu Sian yang berhadapan dengannya lebih dulu melihat
dan tertarik. Apalagi ketika berturut-turut masuk lima orang laki-laki lain di belakang Si Pembawa Golok. Dua
orang berpakaian tosu (pendeta To), seorang laki-laki setengah tua yang tampan dengan rambut digelung ke
atas, kemudian seorang pemuda tampan yang pakaiannya seperti pelajar akan tetapi di pinggangnya
tergantung pedang, kemudian yang terakhir adalah seorang hwesio (pendeta Buddha) berkepala gundul yang
membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam orang ini terang bukanlah orang-orang sembarangan
karena gerak-gerik mereka ringan dan gesit.
“Koko, kau lihat mereka…” bisik pula Lu Sian.
“Moi-moi, mari kita minum, hal-hal lain tidak perlu dihiraukan,” kata Kwee Seng yang sikapnya tetap tenang
seakan-akan tidak ada apa-apa.
Kemudian pemuda ini minum araknya dari cawan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tahu-tahu
sudah mengeluarkan kipas yang diletakkannya di atas meja. Liu Lu Sian tersenyum dan kembali
memperhatikan makanan yang tersedia di atas meja tanpa menghiraukan orang-orang itu. Ia maklum bahwa
tanpa ia peringatkan, Kwee Seng juga sudah tahu akan masuknya enam orang itu dan sudah siap sedia. Ia
kagum akan sikap ini dan mendapat pelajaran bahwa menghadapi segala macam ancaman, lebih baik
bersikap tenang sehingga dapat menentukan sikap dengan tepat.
Betapa pun juga, Lu Sian tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat dengan kerling sudut matanya
ke arah orang-orang itu. Ternyata mereka sekarang memperlihatkan sikap yang cukup jelas. Orang pertama
sudah mencabut golok, Si Hwesio mengangkat tongkatnya sedangkan yang lain juga sudah bersiap seperti
orang hendak bertempur. Jelas bahwa enam orang itu hendak mencari perkara karena pandang mata mereka
semua kini terarah kepadanya! Dengan gerakan penuh ancaman enam orang itu kini makin mendekat dan
akhirnya mereka mengurung meja yang dihadapi Kwee Seng dan Lu Sian.
Namun Kwee Seng tetap tenang sambil minum araknya, melirik pun tidak ke arah mereka. Lu Sian juga
bersikap tenang, namun hatinya berdebar. Tidak biasanya ia bersikap seperti yang diambil Kwee Seng ini.
Biasanya, begitu ada orang memusuhinya, ia segera menurunkan tangan besi. Baginya, lebih cepat
merobohkan lawan, lebih baik.
Para pengurus rumah makan sudah lari ketakutan menyaksikan enam orang itu mengeluarkan senjata.
Beberapa orang tamu yang tadinya sedang menikmati hidangan juga cepat-cepat membayar harga makanan
dan segera pergi. Semua orang sudah melihat gelagat tidak baik, hanya Kwee Seng yang seakan-akan tidak
tahu akan semua kesibukan itu dan masih enak-enak minum.
“Siluman betina! Kau harus mengganti nyawa puteraku!” tiba-tiba Si Pemegang Golok yang berwajah muram
itu membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Lu Sian.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis ini mendongkol bukan main, akan tetapi ia tetap duduk dan tersenyum mengejek, kemudian dengan
mata berseri-seri memandang kepada pemuda tampan yang membawa pedang. Pandang mata Lu Sian yang
tajam, sekali lihat sudah tahu bahwa pemuda tampan itu sejak tadi memandang kepadanya penuh rasa
kagum, dan hal inilah yang membuat matanya berseri dan senyumnya mengejek. Sengaja ia mengedipngedipkan
mata kirinya lebih dulu kepada pemuda tampan itu sebelum menjawab.
“Siapakah puteramu dan siapa engkau? Mengapa pula aku harus mengganti nyawa puteramu?”
“Setan betina! Masih kau hendak berpura-pura tidak tahu sedangkan tadi dengan kejam kau membunuh pula
dua orang pembantuku?”
“Aihhh... aihhh... jadi kalian ini golongan pencuri-pencuri kuda? Sungguh sayang...,” gadis ini menggelenggelengkan
kepalanya sambil memandang kepada pemuda tampan yang tiba-tiba menjadi merah mukanya
karena Lu Sian seakan-akan menunjukkan kata-kata ‘sayang’ itu kepadanya.
“Siluman sombong! Puteraku dengan baik-baik memasuki sayembara karena dia begitu bodoh tergila-gila pada
kecantikanmu. Andai kata di dalam pertandingan itu dia kalah, apakah salahnya? Kenapa dia masih harus
dibunuh secara penasaran? Apakah tiap laki-laki yang gagal mengalahkanmu harus mati seperti anakku Lauw
Kong itu?”
Teringatlah kini Lu Sian akan tiga orang pemuda yang mengeroyoknya di atas panggung. Memang seorang di
antara mereka bernama Lauw Kong, yang bermuka hitam dan mengaku datang dari kota Kwi-san yang
letaknya tidak jauh dari kota Kwei-siang ini.
“Ah, Si Muka Hitam itukah puteramu? Memang aku sudah mengalahkannya, akan tetapi aku tidak
membunuhnya!”
“Kau... setan betina! Siluman cantik! Banyak pemuda terbunuh karena engkau tapi kau masih pura-pura,
dasar... perempuan... ren....”
“Cukup, ayah. Dengan maki-makian urusan takkan beres!” pemuda tampan yang membawa pedang itu
mencela dan maju ke depan menghadapi Lu Sian. Wajahnya yang tampan itu kurang menarik ketika ia bicara,
dan setelah mendekat Lu Sian melihat bahwa mata pemuda itu agak kuning.
“Nona, kami tahu bahwa kau adalah nona Liu Lu Sian puteri Ketua Beng-kauw. Aku adalah Lauw Sun, dan
kakakku Lauw Kong telah mencoba memenangkan sayembara beberapa pekan yang lalu. Memang dia kalah
oleh nona, dan bukan nona pula yang membunuhnya. Akan tetapi ternyata ia terbunuh dengan pukulan
beracun dan hal ini tentu saja sepengetahuan nona. Karena itu, ayah dan kami minta pertanggungjawabanmu!”
Muak rasa perut Lu Sian, dan ia mendongkol sekali melihat Kwee Seng masih enak-enak minum arak saja,
seolah-olah tidak perduli dirinya dimaki-maki orang. Hemm, pikirnya, apakah tanpa kau aku tidak mampu
membereskan buaya-buaya ini?
Tiba-tiba kakinya menghentak lantai dan tubuhnya sudah melayang ke belakang, kedua kakinya hinggap di
atas sebuah meja yang masih penuh sisa hidangan dan arak bekas para tamu tadi, yang tidak sempat
dibersihkan oleh para pelayan yang sudah lari ketakutan. Dengan gerakan indah ringan Lu Sian meloncat ke
belakang dan kedua kakinya sama sekali tidak menyentuh mangkok cawan, kini ia berdiri di atas kedua ujung
kakinya, pedangnya sudah berada di tangan kanan melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar,
mulutnya tersenyum mengejek ketika ia berkata.
“Orang She Lauw, menghadapi orang-orang kasar macam kalian ini aku tidak sudi banyak bicara. Kalau kalian
hendak mengeroyokku, inilah aku Liu Lu Sian! Kalau aku tidak berhasil membikin mampus kalian berenam
tanpa turun dari meja ini, jangan sebut lagi aku puteri Ketua Beng-kauw!”
Ucapan ini benar-benar membayangkan keangkuhan dan kesombongan. Akan tetapi diam-diam Kwee Seng
maklum bahwa ucapan itu sama sekali bukan kesombongan kosong. Ia tahu, kalau enam orang itu nekat
mengeroyok, takkan sukar bagi Lu Sian untuk membuktikan ancamannya. Ia dapat menduga mereka bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka itu adalah jago-jago dari kota Kwi-san. Bahkan agaknya orang she Lauw ini dalam usahanya menuntut
balas atas kematian puteranya telah minta bantuan seorang hwesio dan dua orang tosu, agaknya tokoh-tokoh
dalam kuil di kota itu.
“Bagus! Kau harus menebus nyawa anakku dan dua orang temanku!” seru si Pemegang Golok dan dengan
gerakan cepat ia bersama enam orang temannya menyerbu ke arah meja di mana Lu Sian berdiri.
Gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek. Tiba-tiba sekali gadis itu menggerakkan
kakinya tanpa terlihat hingga cawan arak, mangkok dan piring beterbangan ke arah enam orang dibarengi
bentakan Lu Sian. “Nih, makanlah sebagai tebusan senjata rahasia kalian tadi!”
Hebat sekali serangan Lu Sian ini. Gadis itu dengan sinkang-nya yang sudah amat kuat hanya menggunakan
ujung kakinya menyentil barang-barang di atas meja, dan beterbanganlah mangkok dan cawan berikut isinya,
yaitu masakan dan arak, ke arah enam orang lawannya. Demikian cepatnya sambaran benda-benda ini
sehinngga enam orang itu sama sekali tidak berhasil menghindarkan diri dan setidaknya pakaian mereka
menjadi kotor tersiram kuah sayur dan arak, bahkan muka si Hwesio terkena hantaman mangkok penuh
masakan daging! Tentu saja hwesio itu gelagapan karena sebagai seorang yang selamanya pantang makanan
berjiwa, kali ini masakan daging menghantam muka dan banyak kuah memasuki mulutnya, membuat ia hampir
muntah!
Sebetulnya melihat gerakan ini saja, kalau enam orang itu tahu diri, mereka sudah akan maklum bahwa gadis
itu bukan lawan mereka. Akan tetapi agaknya kemarahan meluap-luap membuat mereka mata gelap dan
segera menggerakkan senjata masing-masing, mengepung meja itu dan menyerang dari semua jurusan.
Lu Sian tertawa mengejek, tidak bergerak dari atas meja, melainkan pedangnya kadang-kadang menyambar
untuk menangkis senjata pengeroyok yang terlalu dekat. Kadang-kadang ia hanya mengangkat sebelah kaki
menghindarkan golok yang menyambar atau merendahkan tubuh untuk membiarkan tongkat melayang melalui
atas kepalanya. Gadis ini hanya menanti kesempatan baik untuk membuktikan ancamannya, yaitu membunuh
mereka tanpa turun dari meja.
Mendadak saja, enam orang itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kaget dan senjata mereka semua runtuh
ke atas lantai. Tanpa mereka ketahui sebabnya, tahu-tahu tangan mereka yang memegang senjata menjadi
kejang yang menyebabkan mereka terpaksa melepaskan senjata masing-masing. Tercium oleh mereka bau
arak dan tepat pada jalan darah di siku lengan mereka basah. Dengan kaget dan heran mereka saling
pandang dan terdengarlah suara Kwee Seng yang masih saja duduk minum arak.
“Menyerang orang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk membunuh sudah termasuk perbuatan
pengecut, sekarang mengeroyok seorang gadis mengandalkan tenaga enam orang laki-laki, sungguh amat
memalukan. Apakah kalian masih belum mau insyaf dan tidak tahu diri, menantang maut yang sudah
membayang di depan mata? Lekas pungut senjata dan pergi, barulah perbuatan orang yang berakal sehat!”
Tahulah enam orang itu sekarang bahwa yang membuat mereka semua terpaksa melepaskan senjata adalah
pemuda pelajar yang duduk minum arak dengan tenangnya, sahabat puteri Ketua Beng-kauw itu. Tentu saja
hal ini membuat mereka menjadi gentar. Nona itu sendiri sudah cukup berat untuk dikalahkan, apalagi dengan
adanya seorang yang demikian saktinya, yang tanpa bergerak dari tempat duduknya, tanpa menghentikan
keasyikannya minum arak, sudah mampu mengalahkan mereka dan melucuti senjata mereka!
Orang she Lauw tadi memungut goloknya, diturut oleh teman-temannya, lalu ia menjura ke arah Kwee Seng.
“Siauw-enghiong (Pendekar Muda), kepandaianmu membuka mata kami yang bodoh, membuat kami terpaksa
menelan hinaan dan menderita kekalahan. Bolehkah kami mengetahui siapa nama dan julukan Siauwenghiong
yang gagah?”
Kwee Seng menarik napas panjang, kemudian ia berdiri dengan cawan penuh arak di tangan kanan,
diangkatnya tinggi lalu ia bernyanyi dengan lagak seorang mabok.
Angin kipas mengusir lalat dan menyegarkan diri
Suara suling mengusir harimau dan menentramkan hati
Nama, harta, kepandaian tiada artinya
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang penting adalah pelaksaan kebenaran dalam hidupnya!
Enam orang itu hanya saling pandang, tidak dapat mengenal pemuda ini karena mereka pun tidak pernah
mendengar nyanyian itu.
Lu Sian tertawa dan dari atas meja itu ia berkata nyaring. "Sebangsa cacing macam kalian ini mana
mengenalnya? Dia bersama Kwee Seng, para lo-cianpwe mengenalnya sebagai Kim-mo-eng. Hanya dia
seoranglah yang mampu menandingi aku. Biar pun begitu, masih belum tentu ia bisa menjadi jodohku! Apalagi
orang-orang macam anakmu hendak memperisteri aku. Cih! Bukankah itu lucu sekali?”
Enam orang itu kelihatan kaget. Tanpa bicara apa-apa lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Pelayanpelayan
mulai muncul kembali, memandang takut-takut ke arah Kwee Seng dan Lu Sian. Setelah Kwee Seng
menyatakan kesanggupannya membayar harga barang-barang yang rusak, mereka kelihatan senang dan
melayani sepasang orang ini dengan kehormatan berlebihan.
Lu Sian juga kelihatan senang dan gembira sekali. Mulutnya selalu tersenyum, matanya bersinar-sinar,
wajahnya berseri dan tiada hentinya ia menatap wajah Kwee Seng dengan sikap menggoda. Sebaliknya Kwee
Seng sama sekali tidak kelihatan gembira. Pemuda ini sudah tidak makan lagi, akan tetapi melihat cara ia
berkali-kali memenuhi cawan arak dan meminumnya habis sekali tenggak, terang bahwa perasaan hatinya
amat terganggu.
Memang demikianlah. Hati pemuda ini tidak karuan rasanya, hampir ia meloncat bangun untuk lari
meninggalkan gadis ini. Ia merasa betapa gadis ini sengaja menggodanya, sengaja hendak
mempermainkannya. Ucapan Lu Sian tadi benar-benar menikam jantungnya. Gadis itu di depan orang banyak
mengakui bahwa hanya Kwee Seng yang mampu menandinginya, namun betapa pun juga, pemuda itu belum
tentu bisa menjadi jodohnya! Ia merasa makin tak senang, muak dan benci menyaksikan sikap Lu Sian,
apalagi mengingat betapa tadi gadis itu sudah pasti akan membunuh enam orang lawannya kalau saja ia tidak
cepat-cepat turun tangan. Ia makin benci, akan tetapi juga makin cinta! Makin lama ia berdekatan dengan
gadis ini, makin besar pula daya tarik gadis itu menguasai hatinya.
“Kwee-koko, dalam nyanyianmu tadi kau menyebut-nyebut tentang kipas dan suling. Tentang kipasmu, aku
sudah melihatnya dan sudah tahu kelihaiannya. Akan tetapi tentang suling, adakah kau mempunyai suling?
Dan pandaikah kau meniup suling dan mempergunakannya sebagai senjata?”
“Aku seorang bekas pelajar gagal, biasanya hanya berkipas-kipas mendinginkan kepala panas lalu menghibur
diri dengan suara suling. Memang tadinya aku memiliki sebuah suling, akan tetapi benda itu hancur ketika aku
bertemu dengan Ban-pi Locia (Dewa Locia Berlengan Selaksa) di telaga See-ouw (Telaga Barat).”
Terbelalak sepasang mata yang indah itu, penuh perhatian dan ingin tahu. “Apa? Kau betul-betul bertemu
dengan Ok-hengcia (pendeta jahat) itu? Aku pernah mendengar dari ayah bahwa pendeta perkasa itu amat
cabul dan keji, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ayah sendiri pernah bentrok dengan Banpi
Lo-cia, bertempur sampai dua hari dua malam tidak ada yang kalah atau menang. Hanya karena khawatir
kalau pertandingan dilanjutkan keduanya akan tewas, maka mereka menghentikan pertandingan. Dan kau...
kau bertemu dengannya? Bertanding? Dan sulingmu hancur olehnya? Ah, Kwee-koko, apakah kau kalah
olehnya?”
Kwee Seng mengipas-ngipas lehernya yang terasa panas oleh pengaruh arak. “Dia memang hebat, akan
tetapi juga jahat bukan main. Secara kebetulan saja aku bertemu dengannya ketika aku berpesiar di telaga
See-ouw.” Pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya seperti berikut.
********************
Beberapa bulan yang lalu, dalam perantauannya yang tidak mempunyai tujuan tertentu, tibalah Kwee Seng di
telaga See-ouw. Telaga Barat ini amatlah terkenal semenjak dahulu, karena luasnya, karena indahnya, dan
karena segar nyaman hawanya.
Air berkeriput biru sehalus beludru
tilam pembaringan berkasur bulu
dunia-kangouw.blogspot.com
Bunga teratai aneka warna
penghias indah dicumbu rayu
Ikan-ikan emas berwarna cerah
Berperahu di telaga barat
mandi sinar bulan minum arak
sesudah itu mati pun tak penasaran!
Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu mereka untuk para
pelancong. Pelancong yang tergolong miskin cukup merasa puas dengan berjalan-jalan di sekitar telaga, yang
tergolong cukup beruang merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak. Akan tetapi
bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam-macam. Yang sudah pasti mereka itu akan menyewa
perahu besar yang mempunyai bilik yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat
mewah, kemudian memanggil pula pelacur-pelacur untuk melayani mereka makan minum sambil
mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi menabuh yang-khim dan bernyanyi. Pesta macam ini
hampir diadakan setiap malam di waktu musim tiada hujan, sehingga keadaan Telaga Barat amat meriah.
Ketika Kwee Seng tanpa disengaja tiba di telaga See-ouw, keadaan di situ sedang meriah sekali karena musim
panas telah tiba. Di waktu musim panas mengamuk, banyak orang-orang kaya dan pembesar-pembesar
merasa tidak betah tinggal di kota dan banyak yang mengungsi untuk beberapa hari atau pekan lamanya ke
Telaga See-ouw, di mana mereka dapat menghibur tubuh dan pikiran, dan baru ingat pulang kalau uang sudah
habis dihamburkan!
Begitu melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian pelajar yang cukup rapi datang seorang diri, segera
para tukang perahu merubungnya, menawarkan perahu mereka.
"Mari, Kongcu (Tuan Muda), perahu saya bersih dan kosong!”
“Saya pesankan arak Hang-ciu yang paling baik!”
“Kongcu perlu hidangan yang paling lezat? Restoran Can-lok....“
“Atau rombongan penyanyi? Anak buah Bibi Cong... cantik-cantik, muda dan bersuara emas....”
“Atau Kongcu suka... ehmm... ditemani bidadari jelita? Tinggal pilih menurut selera Kongcu...”
Demikianlah, ribut mereka menawarkan perahu sampai pelacur. Kwee Seng tersenyum dan menggerakgerakkan
tangan menyuruh mereka agar jangan bicara sambung-menyambung membikin bising.
“Dengar baik-baik, jangan ribut sendiri!” katanya tertawa. “Aku hanya membutuhkan sebuah perahu kecil yang
dapat dipakai duduk berdua, tanpa pendayung. Perahu kecil yang bersih dan tidak bocor, terbuka tanpa bilik.
Kemudian, boleh sediakan arak dan dua cawannya, beberapa macam masakan yang panas-panas dan
kemudian boleh panggil seorang pelacur yang pandai bicara, pandai main yang-khim dan meniup suling,
pandai bernyanyi dan pandai bermain catur.”
“Wah, mengajak pelesir seorang bidadari, mengapa pakai perahu kecil terbuka, Siangkong (Tuan Muda)?
Saya mempunyai yang besar, ada biliknya yang bersih dan enak, tidak terganggu dari luar....”
Kembali Kwee Seng tersenyum dan kedua pipinya agak merah. Pemuda ini tidak pantang bersenang-senang
dengan wanita, akan tetapi hanya sampai pada batas mengobrol dan bercakap-cakap gembira, bersendagurau
dan main catur atau mendengarkan si cantik bernyanyi atau menabuh yang-khim dan meniup suling
saja.
“Aku ingin menyewa perahu kecil terbuka tanpa pendayung, ada tidak?”
“Ada! Ada! Jangan khawatir, Kongcu. Perahu saya kecil bersih, dicat biru dan tanggung tidak bocor. Lima belas
cin saja untuk semalam suntuk!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dan perempuan yang kukehendaki itu ada tidak? Pandai bicara, pandai main musik, bernyanyi dan pandai
main catur, tidak menolak minum arak!”
“Wah, wah... yang sepandai itu agaknya, hanyalah Ang-siauw-hwa (Bunga Kecil Merah) seorang... seorang
bidadari yang tercantik dan termahal di sini!”
“Bagus! Kau panggil Ang-siauw-hwa untukku,” kata Kwee Seng, senang hatinya.
“Ah, tidak mungkin, Kongcu. Biarlah saya memanggil si Kim-bwe (Bunga Bwee Emas) yang juga pandai segala
biar pun tidak secantik Ang-siauw-hwa....”
“Atau si Kim-lian (Teratai Emas) yang pandai meniup suling dan cantik jelita, akan tetapi tidak pandai main
catur dan tidak suka minum arak....”
Hati Kwee Seng sudah kecewa. “Tidak, aku menghendaki Ang-siauw-hwa itu. Mengapa tidak mungkin
memanggil dia? Berapa harganya? Aku sanggup bayar!”
Orang-orang itu menggeleng kepala. Seorang yang setengah tua berkata, suaranya perlahan seperti takut
terdengar orang lain, “Kongcu, kau tidak tahu. Ang-siauw-hwa amat terkenal di sini. Setiap ada pembesar
pesiar, tentu dia dipesan. Aneh memang, biar pun Ang-siauw-hwa merupakan kembangnya semua wanita
disini, namun dia bukanlah pelacur sembarangan. Dia hanya mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur
atau minum arak, bahkan mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang-siauw-hwa mau diajak
yang bukan-bukan....”
“Bagus, dialah pilihanku! Panggil dia!” Kwee Seng tertarik sekali.
Akan tetapi orang-orang itu menggeleng kepala. “Sekarang dia berada di perahu Lim-wangwe (Hartawan Lim)
yang perahunya kelihatan di sana itu.” Ia menuding ke arah tengah telaga di mana tampak sebuah perahu.
“Lim-wangwe sendiri yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi tamunya. Sejak
pagi tadi Ang-siauw-hwa berada di sana, mungkin sampai semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu
suara suling tiupan Ang-siauw-hwa.”
Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee Seng tiupan suling yang merdu
dan halus.
“Lebih baik jangan panggil dia, Kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu pilih sendiri. Ang-siauw-hwa
hanya mendatangkan ribut belaka.”
“Eh, kenapa?” Kwee Seng terheran.
Beberapa orang memberi isyarat, akan tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata, “Pagi tadi
timbul keributan karena dia. Lo Houw (Macan Tua), seorang tukang pukul yang terkenal di daerah ini memaksa
hendak mengajak Ang-siauw-hwa biar pun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim-wangwe. Lo Houw
tidak mau peduli dan hendak merampas Ang-siauw-hwa, bahkan mengeluarkan kata-kata memaki Limwangwe.
Kemudian ia mendatangi Lim-wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa khawatir.
Kami mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami sayang kepada Lim-wangwe yang berbudi halus
dan suka menolong kami yang miskin. Akan tetapi, apa yang terjadi? Lo Houw menyerang ke sana dengan
perahu, akan tetapi ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!”
Orang itu tertawa dan yang lain juga tertawa, biar pun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan takut
kalau-kalau mereka terlihat orang.
“Eh, apa yang tejadi?” Kwee Seng makin tertarik.
“Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo Houw meloncat ke perahu besar
dan memaki-maki. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang di antara tamu Lim-wangwe dan dalam beberapa
gebrakan saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha, dia harus berenang ke tepi!” kata seorang lain.
Kwee Seng tersenyum. Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan peristiwa
pertempuran yang lebih hebat lagi. “Biarlah, kalau ia sedang melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi
mengajaknya menemaniku. Beri saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak dan cawannya
bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih uangnya, lebihnya boleh kau miliki.”
Kwee Seng mengeluarkan dua potong uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok-bongkok oleh
tukang perahu setengah tua itu yang merasa kejatuhan rejeki.
“He, tukang perahu jembel! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak wangi, lima kati daging, lima macam
sayur, mi lima kati dan nona-nona manis lima orang yang cantik-cantik dan muda-muda! Eh, kembang pelacur
yang kalian obrolkan tadi, siapa namanya?”
Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan nyaring ini. Ketika melihat
orangnya, ia tertegun. Bukan hanya Kwee Seng yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang
dengan mata terbelalak tanpa seorang pun yang menjawab.
Pembicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi dari pada orang umum yang
berukuran tinggi. Melihat pakaiannya yang sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul,
orang tentu mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha). Akan tetapi yang meragukan, kalau
benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging, arak, bahkan pelacur? Anehnya pula, dia itu seorang
diri, mengapa memesan demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar? Mengapa juga
memesan lima orang perempuan lacur? Pertanyaan-pertanyaan inilah agaknya yang membanjiri pikiran para
tukang perahu sehingga sampai lama mereka terheran-heran tak mampu menjawab.
“Heh! Jembel-jembel busuk, mengapa kalian diam saja? Apakah kalian tuli dan gagu?” Laki-laki tinggi besar
gundul yang usianya tentu lima puluh tahun itu membentak.
Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawa-tawa. “Maaf... eh, Lo-suhu... tapi...
tapi yang Lo-suhu pesan begitu banyak....”
Hwesio itu menyeringai dan melirik ke arah Kwee Seng yang berdiri dengan tenang sambil menaksir-naksir
dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan hwesio aneh ini.
“Heh-heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan membayar arak, apakah kau kira aku
seorang perantau lain tidak mempunyai uang?”
Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah lengannya kekar kuat penuh bulu. Ia
merogoh ke balik jubahnya dan keluarlah sebuah pundi-pundi berisi penuh uang. Dibukanya tali pundi-pundi itu
dan... hwesio itu memperlihatkan potongan-potongan uang emas dan perak! Para tukang perahu memandang
melotot dan menelan ludah. Belum pernah selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.
“Ah... maaf, maaf, Lo-suhu. Bukan sekali-kali saya meragukan Lo-suhu takkan dapat membayar. Hanya, Losuhu
seorang diri, pesanannya begitu banyak, apalagi pakai lima orang bidadari....”
“Heh... heh, goblok! Apa salahnya? Malah kembangnya pelacur itu harus pula melayani aku, berapa pun
biayanya akan kubayar.”
“Tapi, Lo-suhu, Ang-siauw-hwa telah disewa Lim-wangwe di perahu mewah yang berada di sana...” tukang
perahu itu menunjuk.
Hwesio tinggi besar itu memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek. “Biarlah nanti kujemput
sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua. Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi-bagi!”
Hwesio itu mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang perahu seperti orang
melempar sampah saja.
Gegerlah para tukang perahu. Benar-benar hari itu mereka kejatuhan rejeki besar. Seperti berlumba mereka
lari kesana-kemari untuk memenuhi pesanan hwesio aneh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya. Begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil
yang sudah terisi makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah telaga tanpa
mempedulikan lagi hwesio tadi. “Hemmm... Menjemukan sekali,” pikirnya. “Kalau para pembesar negeri suka
mencuri uang negara dan makan sogokan seperti anjing-anjing kelaparan, kalau para pendetanya melanggar
pantangan, minum arak, makan daging dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan
negara?” berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali.
Akan tetapi pemandangan telaga itu benar-benar indah sehingga kekecewaannya terobati. Hari menjelang
senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam ke dalam air telaga, kemerah-merahan dan indah sekali.
Kwee Seng mulai makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit. Ia memang tidak begitu
suka minum arak.
Makin gelap cuaca, tanda malam telah tiba. Telaga See-ouw terlihat makin indah. Bulan muncul dengan
cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikit pun awan. Permukaan air telaga
bermandikan cahaya bulan, berkilauan seakan-akan terbakar menjadi emas. Angin bersilir membuat air emas
itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok di sana-sini mulailah menari-nari
menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri. Perahu-perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai
memasang lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning, menambah indahnya
pemandangan di telaga itu.
Tiba-tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup sampai, suaranya mengalun tinggi
rendah sesuai dengan gerak air. Kwee Seng tertarik dan mendayung perahunya ke arah suara. Ternyata suara
suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng dapat mendengar suara suling
dengan jelas sekali.
Akan tetapi ia segera menjadi kecewa. Suara itu tadi indah kedengarannya karena dipermainkan oleh angin.
Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa biar pun peniupnya menguasai lagu dan irama,
namun tiupannya kurang tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya. Akan tetapi di
samping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan jantungnya.
Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim-wangwe yang sedang menyambut lima orang tamunya
dan mungkin sekali suling itu ditiup oleh Ang-siauw-hwa seperti yang diceritakan oleh para tukang perahu tadi!
Hemm, kalau benar wanita itu yang meniupnya, lumayan juga! Setidaknya, kalau seorang pelacur saja dapat
meniup suling seperti itu, benar-benar dia seorang pelacur yang luar biasa. Ketika suling berhenti ditiup,
terdengar tepuk tangan dan tertawa-tawa memuji dari dalam perahu, tanda bahwa orang-orang yang berada di
dalam perahu itu gembira dan kagum.
Tak lama kemudian, kembali suling itu berbunyi, kini mainkan lagu yang menjadi kegemaran Kwee Seng, yaitu
‘Bulan Mengembara Cari Kekasih’. Kalau tadi Kwee Seng hanya kecewa mendengar tiupan suling yang
dianggapnya kurang baik, kini telinganya terasa sakit mendengar betapa lagu kesayangannya ‘dirusak’ orang.
Karena tidak dapat menahan lagi, pemuda yang sudah terpengaruh oleh hawa arak itu mengeluarkan
sebatang suling dari dalam bajunya, dan tak lama kemudian melengkinglah suara sulingnya melayang-layang
di permukaan telaga, mendesak suara suling pertama yang keluar dari perahu besar. Karena suara suling
Kwee Seng luar biasa sekali kuatnya, maka suara pertama tenggelam dan tak terdengar lagi.
“Sahabat, alangkah indah bunyi sulingmu!”
Kwee Seng yang baru saja menghabiskan bait terakhir cepat memandang. Seorang wanita dengan pakaian
serba indah berwarna merah muda berdiri di pinggiran perahu dan kelihatan seperti seorang dewi telaga. “Ah,
kalau saja aku bersayap, aku akan terbang membebaskan diri dari sini untuk belajar meniup suling darimu
sahabat....”
Kwee Seng tercengang. Inikah pelacur yang berjuluk Ang-siauw-hwa? Pantas saja terkenal menjadi
kembangnya sekalian pelacur di daerah Telaga Barat ini, pikirnya sambil memandang kagum. Tentang
kecantikannya, tak dapat ia menilai teliti karena keadaan yang remang-remang itu tidak cukup menerangi
wajah si gadis. Akan tetapi, selain pandai meniup suling juga kata-katanya begitu halus dan teratur, dari
ucapannya itu saja mudah diduga bahwa nona ini tentu pandai bersyair.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan hati tertarik Kwee Seng mendayung maju perahu kecilnya untuk mendekati perahu besar dan agar ia
dapat memandang lebih jelas. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara memanggil dari bilik perahu besar.
Nona berpakaian serba merah muda itu membalikkan tubuh dan lenyap ke dalam perahu besar.
Kwee Seng sadar dari pada kebodohannya. Perempuan itu sudah disewa hartawan pemilk perahu besar, mau
apa ia mendekat? Ah, mengapa ia begitu tertarik kepada seorang wanita pelacur? Kwee Seng sadar akan
kebodohannya sendiri dan menggerakkan dayung untuk menjauhi perahu besar.
Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah perahu meluncur cepat ke arah perahu besar dan di dalam perahu
ini terdapat seorang hwesio tinggi besar bersama lima orang wanita pelacur yang sedang minum-minum dan
tertawa cekikikan seperti segerombolan kuntilanak. Kwee Seng cepat mendayung perahunya menyelinap dan
bersembunyi di belakang perahu besar untuk mengintai karena ia merasa curiga menyaksikan gerak-gerik
hwesio tinggi besar yang aneh itu.
Dari balik perahu besar itu Kwee Seng melihat jelas betapa hwesio tinggi besar itu sekali menggerakkan kaki
telah melayang naik ke atas papan dek tanpa menimbulkan guncangan sedikit pun juga. Kwee Seng kaget dan
kagum. Hwesio ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Ketika ia memandang ke perahu hwesio tadi, ia
merasa muak. Lima orang wanita pelacur yang memakai bedak tebal itu dalam keadaan setengah telanjang
dan awut-awutan rambutnya, tertawa cekikikan dan bersenda gurau, agaknya sudah mabok semua!
Perahunya yang tidak di kuasai oleh hwesio telah oleng ke kanan kiri tanpa diketahui lima orang pelacur
mabok. Karena merasa muak, Kwee Seng tidak mempedulikan mereka dan ia kembali memandang ke arah
hwesio yang berdiri kokoh seperti batu karang di atas papan dek perahu besar.
“Heh, hartawan she Lim!” Hwesio itu berseru dan suaranya yang parau keras itu menembus desir angin.
“Lekas serahkan Ang-siauw-hwa kepadaku, kutukar dengan lima orang yang berada di perahuku!”
Tiba-tiba dari pintu bilik perahu besar itu meloncat seorang laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian
ringkas dan punggungnya terhias sebatang golok. Gerakan laki-laki ini ringan dan cepat, tahu-tahu ia sudah
berdiri di depan hwesio itu dengan mata berkilat. “Eh, eh, hwesio jahat dari mana berani mengganggu
kesenangan kami? Apakah kau sahabat dari si jahanam Lo Houw yang kulempar ke dalam air?”
Hwesio itu memandang sejenak lalu tertawa. “Heh-heh-heh, aku tidak tahu itu Lo Houw, dan tidak kenal pula
tikus kecil macammu. Aku hanya datang untuk mengambil Ang-siauw-hwa, kutukar dengan lima pelacur itu.
Wanita macam Ang-siauw-hwa yang disebut-sebut kembang pelacur di telaga ini patut mengawaniku
bersenang-senang. Lekas suruh dia keluar dan berikan kepadaku sebelum perahu ini kubikin tenggelam
berikut semua penumpangnya!”
“Hwesio sesat! Pergilah!” si Jangkung Kurus menerjang maju dengan gerakan kilat. Cepat sekali gerakannya
dan Kwee Seng yang menonton tahu bahwa si jangkung itu memiliki ilmu silat tangan kosong yang cukup
hebat.
“Hwesio ini mencari penyakit,” pikirnya. “Penghuni perahu besar itu ternyata bukan orang-orang lemah.”
Pukulan si jangkung itu selain cepat, juga jelas mengandung tenaga yang besar, tampak gerakannya begitu
mantap dan sekali pukul, kedua tangan si jangkung itu secara berbareng menyerang dada dan lambung.
Anehnya, hwesio tinggi besar itu masih tertawa, sama sekali tidak mengelak.
“Celaka,” pikir Kwee Seng. “Betapa pun lihainya, mana hwesio itu akan dapat menahan pukulan yang
mengandung tenaga dalam itu?”
“Buk! “Buk!” dua buah pukulan itu tepat mengenai dada dan lambung.
“Ha-ha-ha-ha!” si hwesio malah tertawa bergelak, sedikit pun tidak terpengaruh dua pukulan itu.
Sejenak si jangkung terbelalak kaget, kemudian tampak sinar bergulung ketika ia mencabut goloknya dan
membacok dengan cepat ke arah leher si Hwesio.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Celaka…!” kata Kwee Seng, akan tetapi kali ini ia menyebut celaka bukan untuk si hwesio karena segera ia
maklum bahwa hwesio itu benar-benar memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat tinggi dan pencabutan golok
oleh si jangkung itu hanya akan berarti celaka bagi si jangkung.
Memang tidak berlebihan penafsiran Kwee Seng ini. Hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, si hwesio sudah
mampu mengelak. Sebelum si jangkung sempat menyerang lagi, tubuhnya sudah tertangkap dan sekali
melontarkan tangkapannya sambil tertawa, hwesio tinggi besar itu sudah melempar lawannya jauh ke luar
perahu!
“Byurrrr!” air muncrat tinggi dan si jangkung megap-megap dalam usahanya menyelamatkan diri.
“Hwesio keparat, berani kau memukul Sute-ku (adik seperguruanku)?!”
Kini muncul seorang pendek gemuk dengan sebatang toya (tongkat panjang) melintang di tangan. Tanpa
menanti jawaban, si gemuk ini sudah menggerakkan toyanya menghantam leher hwesio itu. Sebagai kakak
seperguruan si jangkung tadi, dapat di bayangkan betapa hebat serangan si gemuk pendek ini. Batu karang
yang kuat agaknya akan pecah terkena pukulan toya baja itu. Namun, si hwesio sama sekali tidak mengelak,
hanya miringkan tubuh dan menerima hantaman toya itu dengan pangkal lengannya.
“Bukkk!”
Si hwesio masih tertawa-tawa dan kedua lengannya bergerak. Tahu-tahu si gemuk memekik keras dan
tubuhnya terlempar ke luar perahu. Kembali terdengar air menjebur dan tubuh gemuk itu tenggelam timbul,
agaknya lukanya lebih parah dari pada sute-nya.
“Hebat…!” Diam-diam Kwee Seng terkejut dan kagum.
Perhatiannya kini tertuju pada hwesio itu sambil mengingat siapa gerangan hwesio yang demikian lihainya itu.
Terang bahwa kepandaian dua orang yang dikalahkannya secara mudah tadi cukup tinggi dan hanya seorang
sakti saja yang dapat mengalahkan mereka dengan sekali gebrakan. Akan tetapi kalau memang hwesio ini
seorang tokoh sakti, mengapa sikap dan kelakuannya begitu gila-gilaan? Sama sekali tidak patut dilakukan
oleh seorang tokoh sakti yang terkenal. Merampas seorang pelacur! Benar-benar mengherankan sekali!
Sementara itu, dari dalam bilik perahu sudah berloncatan tiga orang laki-laki. Usia mereka rata-rata empat
puluh tahun lebih, dan ketiganya memegang pedang. Gerakan-gerakan mereka pun cepat dan ringan, malah
agaknya lebih cekatan dari pada dua orang yang sudah kalah oleh si hwesio. Begitu keluar, mereka serentak
mengurung dan menyerang hwesio itu dengan pedang mereka.
Kwee Seng melihat hwesio itu tertawa, akan tetapi segera perhatiannya tertarik oleh kejadian lain. Ia melihat
seorang wanita berpakaian merah muda berlari-lari ke pinggir perahu besar itu lalu... wanita itu meloncat ke air!
“Byurrr!” air muncrat tinggi dan tubuh wanita itu lenyap!
“Celaka...!” Untuk ketiga kalinya selama beberapa menit itu Kwee Seng menyebut celaka, akan tetapi ia cepat
mendayung perahunya ke arah terjunnya si pakaian merah tadi. Selagi ia hendak menyelam, tiba-tiba wanita
itu muncul dan legalah hati Kwee Seng melihat bahwa wanita itu ternyata pandai berenang! Ah, benar-benar
pelacur yang aneh sampai berenang pun pandai! Pelacur itu memang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa yang
kini berenang cepat ke arah perahu Kwee Seng.
“Kongcu yang pandai bersuling, kau tolonglah aku yang bernasib malang...,” katanya sambil berusaha
mengangkat tubuh memegang pinggir perahu. Akan tetapi beberapa kali usahanya tak berhasil karena
pinggiran perahu itu terlampau tinggi dari permukaan air.
Kwee Seng lalu mengulur tangannya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam perahunya. Ia memandang
kagum. Memang patut dikagumi wanita ini. Pakaiannya basah kuyup, dan karena pakaian ini terbuat dari pada
sutera tipis dan halus, maka kini tercetaklah tubuhnya membayangkan bentuk tubuh yang padat ramping,
dengan lekuk lengkung sempurna, tubuh seorang wanita muda yang sudah masak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa kau meloncat ke air?” Kwee Seng bertanya, menekan gelora jantungnya yang membuat darah
mudanya bergerak lebih cepat dari pada biasanya.
“Ah, hwesio itu demikian hebat. Kalau aku dirampasnya bagaimana nasibku? Lim-wangwe yang sudah tua dan
pendekar-pendekar itu semua bersikap sopan kepadaku, akan tetapi belum tentu hwesio itu begitu baik
sikapnya. Ah, Kongcu, kau tolonglah aku... biarlah aku akan mengerjakan apa saja yang kau kehendaki untuk
membalas budimu ini....” Sambil berkata demikian, Ang-siauw-hwa mendekat dan bau harum menerjang
hidung Kwee Seng yang tertegun melihat wanita itu tersenyum manis dan mengerling penuh arti.
“Aku... aku bersedia menolong, tapi... tapi aku tidak menghendaki apa-apa darimu...,” jawabnya gagap sambil
menggerakkan dayung.
Wanita di belakangnya menarik napas panjang. “Ahhh... sudah kuduga, kau seorang pelajar yang sopan dan
penuh susila, mana mungkin mau berkenalan dengan seorang tuna susila macam Ang-siauw-hwa?” Suaranya
mulai terisak. “Beginilah nasibku, Kongcu. Hanya orang-orang rendah budi saja yang suka berkenalan
denganku, dengan maksud yang kotor, akan tetapi orang baik-baik selalu menjauhkan diri dariku.”
Kwee Seng menoleh, agak terharu juga. Memang demikianlah nasib wanita yang terperosok ke lumpur
kehinaan. “Bukan begitu, Nona. Tadi pun aku hendak memesanmu menemaniku minum arak, menikmati
keindahan telaga sambil bersuling dan bernyanyi atau mengarang syair. Akan tetapi karena kau telah disewa
hartawan itu, aku berperahu seorang diri. Hanya perlu kau ketahui bahwa aku sekali-kali bukan menolongmu
karena hendak minta upah. Nih, kau pakai jubah luarku untuk menahan dingin dan angin. Kita harus pergi
cepat-cepat dari sini.” Setelah melemparkan jubah luarnya untuk dipakai berselimut Ang-siauw-hwa, Kwee
Seng cepat mendayung perahunya.
Akan tetapi di atas perahu besar terdengar suara berkerontangan, disusul pekik-pekik kesakitan dan berturut
turut tubuh tiga orang jago silat itu pun terlempar ke dalam telaga. Bahkan orang ke tiga terlempar ke arah
perahu Kwee Seng disusul bentakan hwesio itu yang parau dan nyaring.
“Eh, Ang-siauw-hwa kembang pelacur! Kau hendak lari ke mana? Tak boleh lari sebelum melayaniku sampai
puas!”
Melihat menyambarnya tubuh orang ke arah perahunya, Kwee Seng menggerakkan dayung sehingga
perahunya menyeleweng mengelak dan tubuh orang itu terbanting ke dalam air, hanya tiga kaki dari kepala
perahunya. Air muncrat membasahi bajunya.
“Ah, celaka kita, Kongcu...!” Ang-siauw-hwa berseru ketakutan, tubuhnya yang sudah dingin itu kini ditambah
rasa takut mulai menggigil.
“Tak usah takut, kita akan minggir lebih dulu dari pada dia,” jawab Kwee Seng sambil mengerahkan tenaga
mendayung sehingga perahunya meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Ang-siauw-hwa menengok dan melihat betapa hwesio yang menakutkan itu sudah meloncat ke dalam
perahunya sendiri. Sekali ia menghentakkan perahu, lima orang pelacur yang mabok-mabokan di dalam
perahu itu terlempar ke dalam air pula! “Menjemukan! Tinggallah kalian di air!” kata hwesio itu sambil tertawa
bergelak dan mulailah ia mendayung perahunya mengejar perahu Kwee Seng.
Sementara itu, para penghuni perahu sibuk menolong lima orang jago silat dan juga lima orang pelacur yang
menjerit-jerit dan gelagapan seperti lima ekor anak ayam terlempar ke air.
“Kongcu, dia... dia mengejar....” Ang-siauw-hwa memeluk pinggang Kwee Seng dari belakang.
Bau harum dan kelunakan tubuh yang merapat di punggungnya membuat Kwee Seng meramkan matanya dan
menahan napas. Diam-diam hatinya mengeluh. Usianya sudah dua puluh dua dan belum pernah ia berdekatan
begini dengan seorang wanita. Getaran yang menggelora di jantungnya melemahkan tenaga sakti sehingga
kurang cepat ia mendayung perahu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“He, orang muda tolol! Apakah kau bosan hidup? Berhenti dan berikan gadis itu kepadaku!” Suara hwesio itu
melengking di telinganya.
Akan tetapi Kwee Seng tidak peduli dan cepat ia mengerahkan tenaga mendayung perahunya.
“Kau ingin mampus!” Suara ini disusul oleh desir angin ke arah kepala Kwee Seng.
Maklum bahwa ada benda menyambar, Kwee Seng mengibaskan tangannya dan dari ujung lengan bajunya
menyambar angin yang memukul runtuh benda itu yang ternyata adalah sekepal kayu, agaknya gagang
dayung yang diremas hancur oleh hwesio hebat itu!
Kwee Seng maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh, mungkin lawan paling tangguh
yang pernah ia hadapi selama hidupnya. Dengan adanya Ang-siauw-hwa di dalam perahu, tentu saja hal ini
berarti melemahkan kedudukannya sendiri apabila terjadi pertandingan melawan hwesio kosen itu, apalagi
kalau diingat bahwa hwesio itu memang bermaksud merampas Ang-siauw-hwa. Selain itu juga, bertanding di
atas perahu amatlah berbahaya. Kepandaiannya di atas air hanya terbatas, sekali jatuh ke dalam air, takkan
ada gunanya lagi. Inilah sebabnya maka Kwee Seng segera mengerahkan tenaga sekuatnya sehingga
perahunya meluncur lebih cepat lagi meninggalkan perahu hwesio yang mengejarnya.
Sesampainya di pinggir telaga, Kwee Seng cepat menarik lengan Ang-siauw-hwa dan diajaknya melompat ke
darat, lalu berkata lirih, “Nona, cepatlah, kau lari dari sini!”
“Tapi... tapi kau... bagaimana, Kongcu...?”
“Jangan pikirkan aku, lekas lari!”
Kwee Seng mendorong wanita itu dalam gelap, kemudian ia meloncat lagi ke dalam perahunya dan
mendayung ke bagian lain dari tepi telaga itu untuk menyesatkan perhatian si hwesio terhadap Ang-siauw-hwa.
Usaha dan akalnya ini berhasil baik, karena perahu hwesio itu terus mengikutinya. Setelah mendekat,
kemudian terdengar hwesio itu berseru keras.
“Bocah setan, sekali ini aku tidak akan memberi ampun kepadamu!”
Akan tetapi karena ia sudah terbebas dari pada keselamatan Ang-siauw-hwa kini Kwee Seng tidak melarikan
diri lagi. Ia berdiri di kepala perahunya, berkipas-kipas diri sambil menanti dekatnya perahu si hwesio. Setelah
dekat ia berkata, “Lo-suhu, seorang beribadat seharusnya mengekang nafsu memupuk kebajikan agar menjadi
contoh bagi orang banyak. Mengapa Lo-suhu malah mengejar-ngejar seorang pelacur, hendak merampasnya
dengan paksa dan memukul orang mengandalkan kepandaian?” Suara Kwee Seng sopan dan halus akan
tetapi di dalamnya mengandung teguran pedas.
“Heh he he he, bocah yang masih bau susu ibu! Macam engkau ini hendak memberi kuliah kepada Ban-pi Locia?
Heh he he!” Ucapan diselingi tawa ini lalu diikuti bunyi keras seperti petir menyambar-nyambar di atas
kepala Kwee Seng dan tampaklah sinar hitam melecut-lecut di udara.
Kiranya kakek itu sudah mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang bermain-main di atas kepala Kwee Seng
seperti seekor ular hidup yang ganas. Kwee Seng kaget setengah mati mendengar disebutnya nama Ban-pi
Lo-cia (Dewa Locia Berlengan Selaksa)! Nama ini adalah nama seorang tokoh yang tak pernah atau jarang
sekali muncul di dunia kang-ouw, namun yang terkenal sebagai tokoh yang amat jahat, keji dan memiliki
kesaktian hebat. Kabar tentang tokoh ini yang ia dengar paling akhir adalah bahwa Ban-pi Lo-cia menghilang
di utara, di daerah Khitan, karena memang ada berita bahwa dia mempunyai darah bangsa Khitan. Bagaimana
tokoh ini dapat muncul secara tiba-tiba di tempat ini?
Kekagetan dan keheranan hati Kwee Seng inilah agaknya yang membuat ia lengah. Ketika ada gulungan sinar
hitam menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya dan tahu-tahu pinggangnya sudah telibat cambuk yang
bergerak seperti ular. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakan tangan kanannya, tubuh Kwee Seng melayang
seperti terbang, terbawa oleh ujung cambuk! Kwee Seng terkejut, namun ia dapat menenangkan hati dan
mencari akal. Dengan kipas di depan dada untuk melindungi diri, ia mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk
menahan tekanan ujung cambuk yang melilit pinggangnya, kemudian ia membiarkan dirinya terlempar
dunia-kangouw.blogspot.com
melayang ke arah Ban-pi Lo-cia yang berdiri di atas perahu sambil menyeringai! Orang gendut itu ternyata
amat memandang rendah terhadap Kwee Seng yang dianggapnya seorang pelajar yang tahu sedikit akan ilmu
silat, maka ia bermaksud mempermainkannya.
Akan tetapi alangkah kaget hati raksasa gundul ini ketika tubuh Kwee Seng sudah sudah melayang ke
dekatnya. Tiba-tiba angin pukulan yang hebat bertiup dari kipas disusul totokan kilat yang menuju ke jalan
darah di lehernya, dilakukan oleh gagang kipas itu. Begitu cepatnya gerakan ini sehingga hampir saja jalan
darah Tiong-cu-hiat di lehernya tertotok! Ketika raksasa itu mengelak ke belakang, tahu-tahu kaki Kwee Seng
sudah menotol pundaknya. Dengan menggunakan pundak raksasa ini sebagai batu loncatan, Kwee Seng
mengerahkan tenaganya dan melompat sambil mengerahkan tenaga pada pinggang untuk membebaskan diri
dari pada libatan ujung cambuk.
Usahanya berhasil. Ban-pi Lo-cia berseru heran dan tubuh Kwee Seng sudah melayang kembali ke atas, tepat
tiba di gerombolan pohon kembang di pinggir telaga yang cepat disambarnya. Dengan ayunan indah tubuh
pemuda itu sudah berada di darat, berdiri dengan tenang dan dengan kipas di tangan sambil memandang ke
arah lawan yang masih berada di atas perahunya!
“He he he, kau boleh juga, bocah!” Ban-pi Lo-cia berseru setengah marah setengah kagum, cambuknya
bergerak cepat mengeluarkan ledakan-ledakan keras.
Ternyata cambuk itu memukul air di pinggir perahu dan... bagaikan didorong tenaga gaib, perahunya meluncur
cepat sekali ke pinggir telaga, kemudian sekali meloncat raksasa itu sudah melayang dan tiba di depan Kwee
Seng! Dua orang ini kini berhadapan dan saling memandang penuh perhatian. Bulan bersinar terang bersih,
indah sekali. Akan tetapi di dalam keindahan itu tersembunyi kengerian yang di timbulkan oleh pandang mata
kedua orang yang saling bertentangan ini. Pinggir telaga sudah sunyi, karena mereka yang mendengar tentang
hwesio tinggi besar yang mengamuk sudah melarikan diri cepat-cepat. Akan tetapi ada pula beberapa orang
yang bersembunyi dan melihat dua orang itu berhadapan dari jauh.
“Ban-pi Lo-cia, sudah lama sekali aku mendengar namamu, dan ternyata keadaanmu cocok benar dengan
namamu!” kata Kwee Seng yang kini sudah mengeluarkan suling bambu yang tadi ditiupnya. Ia memegang
suling itu di tangan kanannya, sedangkan kipasnya ia pegang di tangan kiri. Ia maklum bahwa menghadapi
seorang sakti seperti ini ia harus di bantu sulingnya, karena hanya dengan kipas saja kiranya belum tentu ia
akan dapat mencapai kemenangan.
“Heh, kau mengenalku? Dan kau bilang cocok seakan-akan kau telah mengenalku baik-baik. Orang muda
lancang, keadaanku yang bagaimana kau sebut cocok dengan namaku?”
“Kau terkenal sebagai tokoh sakti yang aneh, kejam keji dan memuja kejahatan mengandalkan kepandaian.
Nah, bukankah cocok benar dengan perbuatanmu sekarang?”
“Wah, sombong! Bocah bermulut lancang, siapa namamu?”
“Aku Kwee Seng, datang tidak menonjolkan nama, pergi tidak meninggalkan nama, hanya suling dan kipas ini
yang kubawa.”
“Heh-heh, kata-kata muluk! Kau berlagak sopan dan terpelajar, akan tetapi bukankah kau sendiri juga
memperebutkan kembang pelacur telaga ini? He-heh, orang muda, tiada bedanya antara engkau dan aku,
hanya aku lebih suka secara terbuka dan terang-terangan, sebaliknya engkau suka sembunyi-sembunyi dan
berkedok kesopanan. Aku paling jemu melihat segala yang palsu ini, maka kau bersiaplah mampus di tangan
Ban-pi Lo-cia!” Berbareng dengan habisnya ucapan itu, sinar hitam bergulung-gulung ke depan dibarengi
ledakan-ledakan seperti petir menyambar kepala.
Hebat bukan main kalau Ban-pi Lo-cia mainkan cambuknya, cambuk sakti yang terkenal dengan nama Luikong-
pian (Cambuk Halilintar). Gerakan cambuk ini mengandung getaran penuh dari sinkang yang sudah
mencapai tingkat tinggi.
Jangankan terkena pukulan cambuk, baru mendengar bunyinya saja membuat lawan menjadi pening
kepalanya, melihat sinarnya membuat mata lawan kabur, dan hawa pukulan yang mendahului datangnya ujung
dunia-kangouw.blogspot.com
cambuk cukup kuat untuk menjungkalkan lawan yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya! Cambuk ini
kelihatannya hanya sebatang benda lemas dan licin, akan tetapi senjata ini jangan dipandang ringan.
Bahannya saja terbuat dari pada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat dilihat belasan tahun sekali di
lautan utara, di antara gunung-gunung es. Di tangan Ban-pi Lo-cia, cambuk ini benar-benar menjadi halilintar.
Bisa lemas melebihi sutera, bisa kaku keras melebihi baja, dan hebatnya, tidak ada sebuah senjata pun di
dunia yang mampu membabatnya putus.
Menyaksikan gerakan ini Kwee Seng maklum bahwa ia berhadapan lawan yang benar-benar sakti dan
berbahaya, maka ia pun tidak berani main-main, segera ia menggerakkan suling dan kipasnya untuk
menghadapi permainan cambuk halilintar yang dahsyat itu. Karena tahu bahwa ilmu cambuk halilintar adalah
ilmu sakti yang sukar dilawan dan harus dilawan dengan ilmu sakti lagi, maka Kwee Seng segera mainkan
suling di tangan kanan menurut ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipasnya ia mainkan dengan ilmu
kipas Lo-hai San-hoat.
Ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat (Delapan Dewa) dan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Mengacau Lautan) telah
menjadi ilmu silat yang sakti dan hebat setelah ia menerima petunjuk-petunjuk dari seorang manusia dewa,
yaitu Bu Kek Siansu, beberapa tahun yang lalu di puncak pegunungan Himalaya. Setelah itu dan hingga saat
ini, Kwee Seng tak pernah bertemu tanding yang dapat mengalahkannya. Dan sekarang menghadapi Ban-pi
Lo-cia yang demikian sakti, terpaksa ia mengeluarkan dua ilmunya yang dimainkan dengan lincah dan penuh
mengandung tenaga sinkang.
Sulingnya ketika ia gerakkan mengeluarkan bunyi melengking tinggi, lengking yang dapat memecahkan anak
telinga lawan dan tepat sekali dipergunakan untuk melawan pengaruh suara cambuk yang menggelegar. Ada
pun kipasnya mengeluarkan angin amat kuat yang menyembunyikan totokan-totokan maut oleh ujung gagang
kipas yang dua buah banyaknya. Sesungguhnya, kipas inilah yang merupakan senjata penyerang Kwee Seng
sedangkan sulingnya lebih banyak menjadi senjata penahan atau pelindung dengan suaranya yang menahan
pengaruh suara cambuk dan gerakannya yang menangkis datangnya ujung cambuk.
Kalau Kwee Seng tidak merasa heran menyaksikan kehebatan ilmu cambuk lawannya, sebaliknya Ban-pi Locia
kaget dan heran bukan main menyaksikan gerakan lawan. Raksasa gundul ini tadinya memandang rendah
kepada Kwee Seng yang masih muda dan bersikap seperti seorang pelajar. Sama sekali ia tidak menyangka
bahwa pemuda itu demikian hebat. Tangkisan suling pemuda itu sanggup menggetarkan cambuknya,
sedangkan hawa pukulan kipas itu selalu mengancam jalan darahnya sehingga terpaksa ia harus berlaku hatihati
dan mengelak dengan bantuan gerakan ujung lengan baju kiri untuk menyelamatkan diri. Padahal ia
mengenal betul bahwa suling itu memainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipas itu mainkan
ilmu silat Lo-hai San-hoat. Akan tetapi alangkah bedanya dengan permainan orang lain.
Permainan pemuda ini telah membuat dua macam ilmu silat itu menjadi ilmu yang amat dahsyat, yang biar pun
sudah ia kenal gerakan-gerakan dan perubahannya, namun masih sukar untuk dihadapi! Diam-diam Ban-pi Locia
harus mengakui pendapat umum di dunia persilatan bahwa kehebatan seseorang bukan semata-mata
tergantung kepada ilmu silatnya, melainkan kepada si orang itu sendiri, kematangan dan kesempurnaannya
memepelajari ilmu itu. Pula benar kalau orang mengatakan bahwa dalam menghadapi lawan, orang harus
berlaku hati-hati terhadap pertapa, yang kelihatan tua dan lemah, terhadap pelajar yang kelihatan halus dan
terhadap wanita yang biasanya digolongkan orang lemah!
“Wuuuttt... tar-tar-tar!!” sekali serang cambuk itu sudah menyambar secara berturut-turut hanya selisih
beberapa detik saja ke arah ubun-ubun kepala, leher, lalu pusar.
Kwee Seng menggerakkan suling menangkis serangan pada ubun-ubunnya, kemudian ia memiringkan tubuh
mengubah kedudukan kaki untuk menghindar dari serangan pada leher. Ada pun pecutan pada pusarnya ia
tangkis lagi dengan sulingnya sambil menggerakan kipasnya ke depan menotok jalan darah pada siku lawan.
Kalau totokan ini mengenai sasaran, tentu lawannya akan terpaksa melepaskan cambuk.
“Aaiihhh!” Ban-pi Lo-cia berseru keras, mengerahkan sinkang dan ujung cambuknya terus melibat suling
sedangkan totokan pada siku kanannya ia tangkis dengan ujung lengan sebelah kiri.
“Brettt!” robeklah ujung lengan baju oleh ujung kipas, akan tetapi totokan itu meleset tidak mengenai sasaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Seng terkejut karena tak mampu menarik kembali sulingnya yang terlibat. Maka ia menggerakkan kaki
maju setengah langkah, mencondongkan tubuh ke depan dan melanjutkan gerakan kipasnya, kini menusuk
lambung lawan disusul kaki kanan menendang ke arah pusar!
Diserang secara hebat ini, Ban-pi Lo-cia kembali berseru keras dan tubuhnya meloncat ke belakang. Ia
berhasil menyelamatkan diri dari bahaya. Namun di saat bersamaan Kwee Seng mengerahkan tenaga, dengan
sekali renggut ia membuat suling yang terlibat lepas dari ujung cambuk! Kwee Seng menahan rasa sakit pada
telapak tangan yang memegang suling, terasa panas dan kesemutan.
“Hebat! Kau orang muda aneh dan hebat. Tapi rasakan kini tangan maut Ban-pi Locia!” seru raksasa itu
dengan suara gembira dan wajah berseri. Memang raksasa gundul ini mempunyai dua macam kesukaan, yaitu
wanita-wanita muda yang cantik dan berkelahi! Makin kuat lawannya, makin gembira hatinya dan makin muda
cantik seorang wanita, makin tergila-gila dia sebelum mendapatkannya!
Kini Dewa Locia Berlengan Selaksa itu menjauhkan diri dari lawannya. Cambuknya digerakkan dan lenyaplah
cambuk itu, berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil, lingkaran
yang telan-menelan sehingga membingungkan pandangan mata. Juga diselingi bunyi nyaring seperti halilintar
menyambar-nyambar di waktu hujan gerimis. Dengan cambuknya yang panjang, raksasa ini dapat menyerang
Kwee Seng dari jarak jauh tanpa bahaya diserang kembali oleh lawan yang hanya menggunakan dua senjata
pendek. Sambil menghujani lawan dengan lecutan cambuk yang merupakan jari-jari maut itu, Ban-pi Lo-cia lari
mengelilingi Kwee Seng.
Kagetlah hati pemuda ini. Tak disangkanya tokoh sakti yang terkenal ini selain sakti, juga amat licik dan
curang, tidak segan-segan menggunakan akal pengecut untuk mengalahkan lawan. Ia maklum bahwa
kedudukannya berbahaya karena dia berada dalam lingkaran, dan dibutuhkan ketenangan sepenuhnya untuk
menghadapi serangan seperti itu. Maka ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri dengan kuda-kuda kaki
sejajar di kanan kiri, tubuhnya agak merendah, suling diangkat tangan kanan tinggi melintang di atas kepala
sedangkan kipas terbuka di tangan kiri melindungi bagian bawah.
Anehnya, Kwee Seng malah meramkan kedua matanya, akan tetapi seakan-akan dapat melihat jelas. Ia
menggeser kaki setiap kali lawannya berada di belakang tubuhnya. Serangan-serangan membanjir datang dari
belakang, kanan dan kiri namun semua itu dapat ia tangkis dengan suling dan dapat ia kebut dengan kipas.
Hebat bukan main pertandingan ini, namun merupakan pertandingan yang berat sebelah karena Ban-pi Lo-cia
selalu menyerang sedangkan Kwee Seng selalu melindungi diri tanpa mampu balas menyerang.
Mengapa Kwee Seng meramkan kedua matanya? Apakah ia memandang rendah lawannya? Bukan, sama
sekali bukan! Karena kehebatan lawannyalah maka ia terpaksa meramkan matanya. Untuk menghadapi hujan
serangan itu, ia membutuhkan ketenangan dan pengerahan panca inderanya, pencurahan perhatian
sepenuhnya. Kalau ia membuka mata, maka bayangan yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil itu
akan menyilaukan mata dan mengacaukan perhatiannya. Biar pun kedua matanya meram, namun sepasang
telinganya cukup untuk menangkap gerakan lawan.
Dan mengapa pula pendekar sakti yang muda ini rela mengalah dan mempertahankan diri saja tanpa mencari
kesempatan balas menyerang? Ini pun merupakan siasat baginya, karena dengan cara ini, ia tidak
mengeluarkan banyak tenaga, sebaliknya lawannya akan cepat lelah karena harus banyak bergerak dan larilari
mengitarinya. Dengan penjagaannya yang kokoh dan kuat ia mampu mempertahankan diri.
Orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa yang diam itu lebih kuat dari pada yang bergerak. Gentong air
yang penuh tak berbunyi, yang kosong berbunyi nyaring. Orang yang mengerti pendiam, yang bodoh
penceloteh. Air yang diam dalam, yang bergerak dangkal.
Demikian pula dalam dunia persilatan, terutama bagi mereka yang sudah tinggi tingkatnya, terdapat keyakinan
bahwa si penahan lebih kuat kedudukannya dari pada si penyerang. Setiap penyerang berarti membuka
pertahanan sendiri yang menjadi lemah dan juga lengah, sebaliknya si penahan akan selalu menutup diri
mempertahankan diri dengan kokoh dan kuat. Karena bernafsu sekali ingin mengalahkan Kwee Seng dengan
cepat, untuk beberapa jam lamanya Ban-pi Lo-cia lupa akan hal ini dan terus menerus menghujankan
serangannya yang selalu sia-sia karena dapat ditangkis lawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun diam-diam Kwee Seng juga mengerti bahwa lawan yang sekali ini bukan lawan yang biasa, dan tidak
dapat diharapkan cepat-cepat menjadi lelah. Juga dalam tingkat ilmu silat dan tenaga, Ban-pi Lo-cia benarbenar
sudah hebat sekali dan ia tidak berani mengaku sudah lebih pandai dari pada lawan ini. Sulingnya sudah
retak-retak dan kedua tangannya sudah mulai lelah dipakai menangkis semua serangan itu. Diam-diam Kwee
Seng menggerakkan ujung jari kakinya, mengerahkan tenaga menjebol sepatunya sendiri sehingga ibu jari
kaki kanannya tampak keluar dari sepatunya.
Ia mencari kesempatan baik. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakkan cambuk ke atas kepala membuat lingkaranlingkaran
baru untuk memulai serangkaian serangan dahsyat, tiba-tiba ibu jari itu menyentil ke depan.
Segumpal tanah melayang cepat sekali ‘memasuki’ lubang pertahanan Ban-pi Lo-cia yang terbuka dan cepat
menghantam jalan darah di bawah lengan Si Raksasa.
“Ayaaaa….!” Ban-pi Lo-cia terhuyung-huyung mundur dan tangan kanannya menjadi setengah lumpuh,
matanya melotot heran dan kaget.
Tentu saja Kwee Seng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia meloncat ke depan dan menerkam
bagaikan seekor singa, menggerakkan suling dan kipasnya menghantamkan serangan-serangan maut. Namun
Ban-pi Lo-cia adalah seorang tokoh yang banyak pengalaman dan tubuhnya sudah kebal. Serangan segumpal
kecil tanah tadi hanya membuat ia terhuyung-huyung sejenak, dan kini tangan kirinya sudah cepat menyambar
cambuknya sendiri dari tangan kanan yang agak lumpuh, kemudian cambuk itu melecut-lecut dengan bunyi
keras, membentuk benteng sinar bergulung di depan tubuhnya sehingga suling dan kipas Kwee Seng dapat
ditangkisnya. Dalam menangkis ini, Si Raksasa mengerahkan lweekang-nya. Terdengar suara keras ketika
cambuk beradu dengan suling dan kipas, akibatnya.... keduanya terlempar ke belakang sampai tiga empat
meter dan keduanya jatuh bergulingan di atas tanah!
Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi mukanya, raksasa gundul itu duduk di atas tanah
sambil memandang dengan muka berseri. “Heh-heh-heh, kau hebat orang muda!”
Kwee Seng juga sudah bangkit duduk dan mengatur napas memulihkan tenaganya. “Dan kau jahat, Ban-pi Locia!”
jawabnya.
Kembali Si Raksasa gundul tertawa. “Aku pernah mendengar sayup-sayup sampai tentang seorang tokoh
berjuluk Kim-mo-eng yang tingkat kepandaiannya sudah masuk hitungan. Agaknya kaukah orangnya?”
“Tidak salah, para Lo-cianpwe memberi sebutan Kim-mo-eng kepadaku.”
“Heh-heh-heh, masih muda sudah sombong, ya? Kau kira Ban-pi Lo-cia kalah olehmu? Kita masih seri, belum
ada yang menang atau kalah. Mari kita lanjutkan!” Raksasa itu berdiri, cambuknya terayun-ayun di tangan
kanan yang sudah pulih kembali.
Kwee Seng juga bangkit berdiri. “Aku selau melayani kalau kau memang hendak berkelahi, dan aku selalu
akan menghalangimu kalau kau hendak melakukan hal-hal jahat!”
Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak lalu menerjang maju dan memaksa lawannya melakukan pertandingan jarak
dekat yang lebih berbahaya. Ia hendak mengadu tenaga! Dalam pertemuan tenaga tadi si raksasa ini dapat
menduga bahwa ia menang setingkat dalam hal tenaga dalam.
Dan hal ini memang harus diakui oleh Kwee Seng. Pemuda itu kini mendapat kesempatan balas menyerang,
namun ia sedapat mungkin menghindarkan adu tenaga karena hal ini akan banyak merugikannya. Sulingnya
sudah retak, tentu akan hancur kalau terus-menerus diadu dengan cambuk, sedangkan cambuk lawannya
sama sekali tidak mengalami kerusakan apa-apa. Kwee Seng mengerahkan ginkang (meringankan tubuh) dan
menggunakan kegesitannya untuk menghadapi serangan dengan balasan serangan pula. Ia lebih muda,
tubuhnya lebih kecil dan karenanya ia lebih gesit dari pada lawannya yang tua dan tinggi besar.
Kini Kwee Seng benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia
pelajari, namun tetap saja ia tidak mampu mendesak lawan. Sebaliknya, tidaklah mudah bagi Ban-pi Lo-cia
untuk mengalahkan lawan yang amat kuat ini. Dalam benturan ke dua yang sama dahsyatnya dengan tadi,
keduanya kembali terjengkang sampai beberapa meter jauhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertandingan telah berlangsung setengah malam dan kini fajar mulai menyingsing, sinar merah mengambang
di ufuk timur. Mereka saling pandang, muka berpeluh, uap putih mengepul dari ubun-ubun kepala masingmasing.
“Wah, kau ini orang muda luar biasa. Selama hidup baru sekali ini bertemu orang muda seperti kau. Baru dua
kali selama hidupku benar-benar gembira melakukan pertandingan. Pertama melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan,
ke dua dengan kau inilah! Heh-heh-heh! Orang muda, aku pernah mendengar kau ini diambil murid Bu Kek
Siansu. Manusia dewa itu katanya paling sakti, akan tetapi mengapa muridnya hanya seperti kau ini, manusia
biasa yang dapat kulawan?”
“Aku tidak mendapat kehormatan sebesar itu menjadi murid beliau, aku hanya pernah beruntung menerima
petunjuknya. Tak usah kau membawa-bawa nama suci Bu Kek Siansu. Kalau memang hendak bertanding,
mari kita lanjutkan.” Kwee Seng kini bangkit lebih dulu. Ia mulai penasaran menghadapi lawan yang begini
tangguh dan ulet.
“Heh-heh-heh, sampai mati, bocah sombong!” Ban-pi Lo-cia menerjang maju.
Kini ia membekuk cambuknya lalu menghantam dengan gerakan ilmu silat toya. Pukulan yang hebat ini tak
mungkin dielakkan lagi. Terpaksa Kwee Seng menangkis dengan sulingnya, berbareng menyodokkan
kipasnya.
“Prakkk!! Uh-uh...!”
Kwee Seng terhuyung mundur, sulingnya hancur! Akan tetapi Ban-pi Lo-cia juga terhuyung mundur, perutnya
kena ditotok ujung kipas sehingga mendadak perut itu menjadi mulas! Kalau orang lain terkena totokan ujung
kipas yang mengandung tenaga sinkang, tentu akan tembus perutnya atau rusak isi perutnya dan mati
seketika. Akan tetapi Ban-pi Lo-cia yang sudah kebal itu hanya merasakan perutnya mulas seperti orang
terlalu banyak makan lombok saja!
“Serrr.. serrr... serrr...!” belasan batang anak panah menyambar ke arah Ban-pi Lo-cia.
Cepat kakek itu mengibaskan lengan bajunya dan anak-anak panah itu runtuh berhamburan. Dari kanan kiri
berlompatan ke luar belasan orang yang bersenjata lengkap.
“Inilah hwesio jahat itu! Serbu...! Keroyok...!”
Kiranya belasan orang ini adalah lima orang jago silat bersama teman-temannya, sedangkan di belakang
mereka masih tampak puluhan orang yang merupakan regu penjaga keamanan. Agaknya peristiwa di tengah
telaga itu telah dilaporkan oleh hartawan Lim yang minta bantuan yang berwajib, sedangkan lima orang jago
silat itu sudah mengundang teman-temannya untuk membantu.
Kwee Seng maklum bahwa sekian banyaknya orang itu bukanlah lawan Ban-pi Lo-cia, maka ia cepat
menerjang lagi si raksasa gundul dengan kipasnya. Ban-pi Lo-cia juga maklum bahwa Kwee Seng merupakan
lawan seimbang, kalau sekarang dibantu oleh puluhan orang, ia bisa celaka. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, ia
melompat dan sekali lompat ia telah melampaui kepala mereka yang mau mengeroyok. Mendadak tujuh orang
pengeroyok jatuh berturut-turut dan mati seketika karena kepala mereka telah kena disambar hawa pukulan
Ban-pi Lo-cia yang menerjang sambil melompat pergi. Dari jauh terdengar suaranya.
“Heh, Kwee Seng. Belum selesai pertandingan kita, lain kali kita lanjutkan!”
“Sekarang pun boleh!” Kwee Seng juga melompat dan mengejar karena ia makin penasaran, apalagi melihat
raksasa itu pergi sambil membunuh tujuh orang.
Akan tetapi beberapa lama ia mengejar, tak tampak bayangan raksasa itu. Kwee Seng tidak mau kembali ke
tempat tadi, tidak suka ia bertemu dengan mereka yang tentu hanya akan merepotkannya saja. Ia lalu
mengambil jalan sunyi menjauhi telaga. Ia merasa menyesal bahwa sulingnya telah hancur, tak dapat dipakai
menyuling, apalagi sebagai senjata. Dengan lesu ia melempar sulingnya yang hancur dan terasa betapa
dunia-kangouw.blogspot.com
tubuhnya basah semua oleh peluh. Ia perlu beristirahat memulihkan kekuatannya. Ia hendak mencari tempat
yang sunyi agar tidak terganggu orang lain.
“Kongcu...!” kalau suara ini parau dan kasar, agaknya Kwee Seng takkan mengacuhkannya. Akan tetapi justru
tidak demikian. Suara itu halus dan merdu, dan inilah yang membuat ia bagaikan terpagut ular dan cepat ia
berpaling ke kiri.
Dia berdiri di situ! Siapa lagi kalau bukan Ang-siauw-hwa! Pakaiannya masih serba merah muda, dari pita
penghias rambut sampai sepatunya. Akan tetapi terang bukan pakaian yang semalam, karena pakaian ini
selain kering juga bersih sekali. Rambutnya digelung indah terhias perhiasan burung Hong dari emas dan
permata. Sepasang pipinya kemerahan, matanya bersinar-sinar, bibirnya tersenyum manis. Akan tetapi wajah
yang cantik itu kelihatan berbayang menjadi dua tiga oleh pandangan mata Kwee Seng yang berkunangkunang.
Pertandingan setengah malam suntuk itu ternyata hebat pula akibatnya bagi pemuda ini.
“Kongcu, kau kenapa...? Kau terluka...?”
Kwee Seng memaksa diri tersenyum dan menggeleng kepala.
Akan tetapi wanita itu sudah maju mendekat dan memegang tangannya. “Ah, kau tentu terluka. Hwesio itu
jahat sekali. Kau kelihatan lemah dan lelah, Kongcu. Aku sengaja menunggumu di sini dan kebetulan kau lewat
di sini. Bukankah ini jodoh namanya?”
“Jo...doh...?” tanya Kwee Seng lemah, kata-kata ini mengejutkan dan mengherankan hatinya.
Ang-siaw-hwa menarik lengannya. “Tentu saja jodoh. Kongcu. Marilah ikut Ang-siauw-hwa. Kau perlu
beristirahat, biarlah Ang-siauw-hwa merawatmu....” Dengan kata-kata yang mesra dan merdu ini wanita itu
menggandeng tangan Kwee Seng dan dituntunnya pergi.
“Kenapa... kenapa kau begini baik kepadaku...?” Kwee Seng masih mencoba menolak.
Akan tetapi Ang-siauw-hwa menarik tangannya dan diguncang-guncangnya. “Kenapa? Karena kau telah
menolong nyawaku, menyelamatkan kehormatanku. Kongcu. Karena... karena aku ingin belajar menyuling
darimu....“
“Me... nyuling...?” akan tetapi keadaan Kwee Seng makin lemas.
Pertemuan ini mengganggu hati dan pikirannya dan amat merugikannya. Seharusnya ia dapat beristirahat
memulihkan tenaga dalam yang banyak dikerahkan dalam pertempuran. Bagaikan seorang mimpi dan linglung
ia membiarkan dirinya digandeng dan dituntun Ang-siauw-hwa dan ia hampir tidak sadar ke mana ia dibawa
oleh wanita itu.
Ketika Kwee Seng membuka matanya, ia telah rebah di atas pembaringan yang hangat, bersih dan berbau
harum. Kamar itu indah sekali dan di pinggir pembaringan ia melihat Ang-siauw-hwa duduk memijiti pundak
dan lengannya. Melihat betapa di atas meja ada lilin tertutup sutera biru, ia heran dan tahu bahwa saat itu hari
telah malam. Akan tetapi melihat wanita cantik itu duduk begitu dekat dengannya dan hanya mengenakan
pakaian yang tipis, ia meramkan matanya kembali.
“Ambilkan bubur dan sayur itu, kemudian kalian pergi tinggalkan kamar ini, aku hendak melayani Kongcu
makan,” terdengar Ang-siauw-hwa berkata perlahan.
Dari balik bulu matanya Kwee Seng melihat dua orang wanita pelayan yang tadinya duduk di bawah lalu
bangkit berdiri. Tak lama kemudian mereka datang lagi membawa baki terisi hidangan untuknya.
“Kongcu, kau harus makan dulu. Sudah sehari penuh kau tidur,” kata Ang-siauw-hwa sambil menyingkapkan
selimut yang menutupi tubuh Kwee Seng.
Pemuda ini bangkit duduk, memandang ke sekeliling lalu berkata penuh kegugupan dan malu-malu, “Ah,
agaknya aku tak sadar tertidur di sini, menyusahkan Nona saja. Biarkan aku pergi....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Ang-siauw-hwa merangkulnya. “Mengapa begitu, Kongcu? Tidak sudikah Kongcu menerima
pembalasan budi dariku? Apakah Kongcu seperti orang-orang lain memandang rendah kepadaku, seorang...
pelacur?” Wanita itu masih memeluknya sambil menangis!
Kwee Seng menarik napas panjang. Ia suka kepada nona ini, yang selain cantik jelita juga halus tutur sapanya,
baik budinya. Akan tetapi tentu saja ia tidak suka melibatkan dirinya dalam perhubungan dengan seorang
pelacur.
“Sudahlah, Nona. Aku sekali-kali tidak memandang rendah kepadamu. Kau baik sekali.”
Nona itu mengangkat mukanya. Biar pun air mata masih membasahi pipinya, ia tersenyum gembira. “Marilah
makan, Kongcu,” katanya merdu.
Kwee Seng tidak menolak lagi, perutnya amat lapar. Tidur sehari itu amat bermanfaat baginya, memulihkan
sebagian tenaganya. Setelah makan yang dilayani amat mesra oleh Ang-siauw-hwa, ia merasa tubuhnya
segar kembali. Ang-siauw-hwa menepuk tangannya dan dua orang pelayan datang dan segera diperintahnya
untuk membersihkan mangkok piring, lalu menyuruh mereka pergi lagi. Kemudian dengan gerakan lemah
gemulai dan mesra, tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi Ang-siauw-hwa lalu menghampiri Kwee Seng dan...
duduk di atas pangkuannya!
“Eh, Nona... ini... ini... bagaimana...?” Kwee Seng tergagap.
“Kongcu, budimu terlalu besar. Tak tahu aku dengan apa aku harus membalas budimu selain dengan
penyerahan diriku menjadi hambamu, menjadi budakmu dan melakukan apa saja untuk membalas budimu.
Kongcu, bolehkah aku mengetahui namamu?”
Tidak karuan rasa hati Kwee Seng, kepalanya sampai terasa pening. Dengan halus ia mendorong tubuh nona
itu dari atas pangkuannya. “Nona, duduklah yang betul dan mari kita bicara. Kau mau tahu namaku? Aku
adalah Kwee Seng, seorang pelajar gagal yang tiada tempat tinggal, miskin dan tak berharga.”
“Ah, Kwee-kongcu mengapa bicara begitu? Kau seorang budiman, gagah perkasa dan amat berharga. Kalau
mau bicara tentang orang tak berharga, akulah orangnya....”
Kembali nona itu menangis dan ia kini duduk di atas kursi dan menutupi muka dengan kedua tangannya. Kwee
Seng melihat air mata menetes dari celah-celah jari tangan yang putih, halus dan kecil meruncing itu.
“Nona, kulihat kau bukan orang sembarangan. Kau terpelajar dan tidak kelihatan seperti gadis bodoh.
Mengapa kau sampai... sampai....” tidak kuasa ia melanjutkan kata-katanya menyebut pelacur.
“Sampai menjadi pelacur?” Ang-siauw-hwa menurunkan tangannya dan mukanya menjadi merah sekali. Air
mata menetes di sepanjang kedua pipinya yang halus kemerahan. “Ah, panjang ceritanya, Kwee-kongcu.
Ketahuilah, di waktu kecilku aku adalah seorang berdarah bangsawan. Ayahku seorang pangeran dari
Kerajaan Tang...”
Kaget seperti disambar petir rasa hati Kwee Seng. “Ahhh! Mengapa sampai begini...?”
Nona itu dengan suara pilu bercerita. Ayahnya memang seorang pangeran bernama Khu Si Cai yang
mempunyai sepasang puteri kembar. Ketika kerajaan Tang runtuh, sekeluarga pangeran ini menjadi korban
pula, semua tewas kecuali sepasang anak kembar itu yang berhasil di bawa lari oleh seorang pelayan. Akan
tetapi di tengah jalan mereka terhalang oleh keributan dan perang sehingga seorang di antara dua anak
kembar itu terlepas dari gandengan tangan dan hilang. Yang hilang bernama Khu Gin In, Sedangkan yang
masih dapat diselamatkan oleh pelayan itu adalah Khu Kim In. Anak ini lalu dipelihara pelayan itu, akan tetapi
karena keadannya yang amat miskin, hampir saja mereka berdua mati kelaparan.
Akhirnya pelayan itu terjerat oleh cengkeraman seorang pemilik sarang pelacuran bernama bibi Cang yang
mau membantu mereka karena melihat betapa cantiknya anak perempuan bernama Khu Kim In. Makin lama
dunia-kangouw.blogspot.com
hutang mereka bertumpuk dan akhirnya, setelah Khu Kim In berusia lima belas tahun, terpaksa Khu Kim In
‘dijual’ kepada bibi Cang sebagai pembayar hutang.
“Demikianlah, Kwee-kongcu. Akulah Khu Kim In. Tak dapat aku melepaskan diri dari cengkeraman bibi Cang.
Akan tetapi baiknya aku disayang oleh hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar sekitar tempat ini
sehingga aku dapat mempengaruhi bibi Cang dan aku agak bebas. Aku boleh memilih sendiri laki-laki mana
yang akan kulayani. Dan karena aku banyak mendatangkan hasil sehingga bibi Cang menjadi kaya, maka aku
pun ia perlakukan dengan baik serta mendapat kebebasan, malah aku mempunyai pelayan dan tempat tinggal
menyendiri. Akan tetapi semua ini kulakukan dengan pengorbanan besar, Kongcu. Ayah bundaku tewas, Adik
Gin In entah ke mana, dan aku... aku harus mengorbankan kehormatan, menjadi perempuan hina yang
dipandang rendah oleh orang-orang terhormat seperti kau....” kembali Ang-siauw-hwa menangis.
Bukan main terharu hati Kwee Seng. Alangkah buruknya nasib gadis ini. Rasa haru dan kasihan membuat ia
memegangi pundak wanita itu dengan halus dan menghibur. “Sudahlah, Nona. Aku tidak memandang rendah
kepadamu dan aku berjanji akan menebusmu dari bibi Cang, kemudian aku akan mencarikan orang tua yang
baik yang suka memungutmu sebagai anak. Ada pun tentang nona Khu Gin In, biarlah perlahan-perlahan
kucarikan untukmu.”
“Ah, Kwee-kongcu... kau menumpuk budi kebaikan padaku....”
Ang-siauw-hwa menubruk Kwee Seng dan menangis sambil mendekap dada pemuda itu dengan mukanya.
Kini Kwee Seng tidak menolaknya. Ia mengusap-usap rambut wanita itu dengan penuh perasaan kasihan dan
sayang. Seorang puteri pangeran sampai begini, pikirnya. Karena ia yakin bahwa semua sikap nona ini bukan
pura-pura, melainkan keluar dari setulusnya hati yang amat berhutang budi kepadanya, maka ia pun tidak tega
untuk menolak pernyataan kasih sayangnya, apalagi memang ia amat tertarik oleh nona yang memiliki
kecantikan yang jarang keduanya ini.
Setelah reda menangis, tanpa melepaskan pelukannya Ang-siauw-hwa berkata dengan suara mesra dan
manja, “Aku tertarik sekali oleh bunyi sulingmu, Kwee-koko, kuharap kau suka mengajarku....”
Hati Kwee Seng berdebar. Sebutan Kongcu (Tuan Muda) kini berubah menjadi Koko (Kakanda). “Sulingku
remuk oleh si Hwesio jahanam,” jawabnya sambil tetap masih mengagumi rambut hitam halus panjang dan
harum itu.
“Di sebelah barat telaga ada penjual suling yang baik, biarlah kusuruh pelayan membeli untukmu.”
“Tak usah, biarlah kubeli sendiri besok. Memilih sebuah suling bukanlah sembarangan, harus dicoba dulu.”
Malam itu merupakan malam yang amat mesra bagi Kwee Seng, akan tetapi juga malam yang menimbulkan
kasihan di hatinya terhadap Ang-siauw-hwa, rasa kasihan yang tentu dengan mudah akan menggelimpang
menjadi rasa cinta kalau saja ia tidak teringat bahwa nona ini adalah seorang pelacur!
Di lain pihak, sama sekali tidaklah aneh kalau Ang-siauw-hwa Khu Ki In jatuh cinta kepada Kwee Seng.
Selama hidupnya baru sekarang ia bertemu dengan pemuda yang tidak memandangnya sebagai seorang
pelacur yang hina. Biasanya laki-laki yang mana pun juga hanya akan menganggap ia sebagai barang
permainan, yang datang kepadanya dengan kandungan nafsu dan mengharapkan kesenangan dan hiburan
dari padanya. Akan tetapi Kwee Seng ini berbeda sekali. Pemuda tampan ini menolongnya tanpa pamrih,
menganggapnya manusia terhormat, maka sekaligus hatinya jatuh dan tidak mengherankan kalau dia dengan
rela menyerahkan jiwa raga kepada Kwee Seng dan mengharapkan untuk dapat melayani pemuda itu selama
hidupnya!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwee Seng berpamit kepada Ang-siauw-hwa yang masih setengah
tidur di atas pembaringan. “Moi-moi, aku pergi dulu hendak mencari suling yang baik.”
Dengan mata masih setengah meram, Ang-siauw-hwa mengembangkan kedua lengannya yang berkulit putih
halus ke arah Kwee Seng, lalu berkata dengan suara mesra dan penuh cinta kasih, “Kwee-koko... jangan kau
tinggalkan aku lagi....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee Seng merasa terharu sekali. Ia merasa yakin akan perasaan cinta wanita ini kepadanya. Untuk sejenak
jari-jari tangan mereka saling cengkeram, lalu Kwee Seng melepaskannya dan berkata sambil tersenyum.
“Jangan khawatir, Moi-moi. Aku takkan meninggalkanmu begitu saja sebelum kau pandai bersuling!”
Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, pagi itu Kwee Seng merasa gembira sekali. Lenyap sudah rasa lelah dan
lemah sebagai akibat pertandingan mati-matian melawan Ban-pi Lo-cia. Sinar matahari pagi yang menyoroti
permukaan air telaga dan pohon-pohon di sekitarnya tampak amat indah menyegarkan. Suara kicau burung
pagi amat sedap, tidak seperti biasanya. Dan pemuda ini tersenyum, matanya bersinar-sinar, dan kedua
pipinya menjadi kemerahan. Bibirnya tersenyum aneh kalau ia teringat pada Ang-siauw-hwa! Ia harus mencari
suling yang baik, tidak saja yang baik suaranya, akan tetapi juga yang memenuhi syarat untuk menjadi senjata.
Bambu pilihan yang tua dan kering betul.
Benar seperti dikatakan Ang-siauw-hwa, di sebelah barat telaga itu terdapat seorang penjual suling buatannya
sendiri. Akan tetapi Kwee Seng kecewa melihat bahwa biar pun pembuatannya amat halus, namun bahannya
terbuat dari pada bambu biasa saja.
“Saya mempunyai sebatang bambu berbintik hitam yang biasa disebut bambu berbintik hitam, Kongcu. Bambu
itu saya beli mahal dari seorang perantau di Lembah Huang-ho. Akan tetapi karena mahalnya, sampai
sekarang belum saya bikin suling, takut tidak akan ada yang berani membelinya.” Akhirnya si tukang pembuat
suling itu berkata.
Kwee Seng girang sekali. Ia mengenal bambu naga hitam sebagai bambu yang kuat dan lurus, maka amatlah
baik untuk dijadikan suling dan dibuat senjata.
“Mana bambu itu? Kenapa tidak dari tadi kau bilang? Keluarkan, biar aku melihatnya.”
Setelah bambu itu dikeluarkan, Kwee Seng menjadi girang sekali. Benar bambu naga hitam yang amat baik,
tua dan sudah kering betul. Mereka tawar-menawar, kemudian Kwee Seng berkata, “Jadilah. Harap kau
buatkan suling dari bambu ini sekarang juga, aku akan menunggunya.”
Setengah hari lebih Kwee Seng berada di rumah pembuat suling itu. Akhirnya lewat tengah hari, suling itu pun
jadi. Setelah mencobanya dan mendapat kenyataan bahwa ukuran lubang-lubangnya memang sudah tepat,
Kwee Seng membayar harga suling yang lima puluh kali lebih mahal dari pada harga suling biasa. Ia membeli
pula sebuah suling biasa dan meninggalkan tempat itu. Ia girang sekali, mempercepat larinya menuju ke
rumah mungil yang menurut cerita Ang-siauw-hwa menjadi tempat istirahatnya yang tak jauh dari telaga.
“Moi-moi, kau lihatlah suling ini!” di depan pintu rumah Kwee Seng sudah berseru memanggil, rindu akan
senyum manis dan pandang mata mesra yang pasti akan menyambutnya.
Akan tetapi sunyi saja di sebelah dalam. Kwee Seng mendorong daun pintu dan... dapat dibayangkan betapa
kagetnya Kwee Seng saat melihat dua sosok tubuh malang-melintang di belakang daun pintu. Ketika ia
membungkuk dan memeriksa, ternyata itu adalah dua orang pelayan wanita yang sudah tak bernyawa lagi
tanpa menderita luka yang kelihatan. Kwee Seng menjadi pucat mukanya.
“Moi-moi…!” serunya.
Mendengar ada suara perlahan dari dalam kamar, sekali meloncat ia sudah menerjang daun pintu kamar dan
masuk ke dalam kamar. Apa yang dilihatnya? Memang Ang-siauw-hwa berada di situ, akan tetapi dalam
keadaan yang jauh bedanya dengan malam tadi. Gadis itu telentang di atas pembaringan, pakaiannya hampir
telanjang, rambutnya terlepas dari ikatan dan menutupi sebagian leher dan dada. Bajunya yang berwarna
merah muda itu robek-robek dan penuh darah yang keluar dari dadanya, di mana tampak menancap sebuah
gunting!
Kwee segera menubruknya. Akan tetapi sekali pandang maklumlah ia bahwa nyawa gadis ini tak dapat
ditolongnya lagi karena gunting itu tepat menancap di ulu hati. Ia diam-diam heran, mengapa Ang-siauw-hwa
tidak mati seketika dengan tusukan seperti itu?
“Moi-moi... siapa melakukan ini...?” Ia mengguncang-guncang pundak wanita itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ang-siauw-hwa membuka matanya yang sudah layu dan tiba-tiba gadis itu tersenyum lemah. “Kwee-koko...
kau datang terlambat... tapi lebih baik begini... tak mungkin aku dapat melihat mukamu setelah apa yang
terjadi... lebih baik aku akhiri hidupku....”
“Apa katamu? Kau membunuh diri? Tapi... tapi mengapa, Moi-moi...?
“Koko... pada saat kau pergi... datang hwesio iblis itu.... Ah, dua orang pelayanku dibunuhnya dan aku...
aku....” Wanita itu menangis dan napasnya terengah-engah. “Setelah bertemu dengan engkau... setelah aku
bersumpah setia hanya padamu seorang... kebiadaban hwesio itu membuat aku... tak mungkin dapat
melihatmu lagi di dunia ini... aku... aku... Ah... Koko, aku cinta padamu... kau carikan saudaraku Gin In....”
“Moi-moi.....!” akan tetapi Ang-siauw-hwa atau Khu Lim In yang bernasib malang itu telah menghembuskan
napas terakhir dalam pelukan Kwee Seng.
Pada saat itu dari luar terdengar suara perempuan memanggil. “Ang-siauw-hwa...!” Kenapa kau dua hari tidak
kembali ke kota? Aku menanti-nantimu, banyak tamu menanyakan kau...!” Lalu terdengar jerit wanita.
Kwee Seng maklum bahwa tentu wanita yang datang itu Bibi Cang yang sudah melihat dua orang pelayan
yang tewas. Maka untuk tidak melibatkan diri dalam urusan pembunuhan ini, cepat ia merebahkan tubuh Angsiauw-
hwa di atas pembaringan, menunduk dan mencium bibir yang mulai layu itu. Secepat kilat ia melompat
ke luar kamar melalui jendela sambil membawa jubahnya yang kemarin dipinjam Ang-siauw-hwa, dan
meninggalkan sulingnya di dekat tubuh pelacur itu....
********************
“Demikianlah, Sian-moi, pertemuanku dengan Ban-pi Lo-cia yang mengakibatkan sulingku hancur!” Kwee
Seng mengakhiri ceritanya kepada Liu Lu Sian.
Tentu saja dalam cerita itu ia tidak menjelaskan hubungannya dengan Ang-siauw-hwa secara jelas. Dalam
pandangannya, dibandingkan dengan Ang-siauw-hwa, Liu Lu Sian menang segala-galanya. Kalau Ang-siauwhwa
diumpamakan setangkai bunga, maka pelacur itu adalah bunga botan yang tumbuh di lapangan rumput,
tiada pelindung dan mudah dilayukan sinar matahari dan dirontokkan angin besar. Akan tetapi Liu Lu Sian
merupakan setangkai bunga mawar hutan yang semerbak harum, indah terlindungi pohon besar, di samping
itu sukar dipetik karena tertutup duri-durinya yang runcing.
“Kwee-koko, mengapa ketika kau bercerita tentang dicemarkannya pelacur itu oleh Ban-pi Lo-cia, matamu
berkilat marah? Seorang perempuan lacur macam Ang-siauw-hwa itu, mana ada harganya untuk dibela?”
Memang ini termasuk sebuah di antara watak Lu Sian yang aneh. Kalau ada laki-laki menyatakan suka atau
tertarik oleh wanita lain, biar pun laki-laki itu bukan apa-apanya, ia akan merasa iri hati dan cemburu!
Di lain pihak, Kwee Seng adalah seorang pemuda yang sama sekali belum berpengalaman tentang wanita dan
asmara, maka ia tidak tahu dan tidak mengerti akan sikap ini. Ia malah merah mukanya karena jengah
mendengar teguran Lu Sian.
“Ah, mengapa kau bilang begitu, Sian-moi? Pelacur atau bukan, dia hanya seorang lemah yang diperkosa oleh
seorang jahat yang kuat. Sudah menjadi kewajibanku untuk membelanya, dan sudah semestinya kalau aku
marah melihat kejahatan Ban-pi Lo-cia. Aku mengharapkan perjumpaan sekali lagi dengan pendeta iblis itu!”
Makin tak senang hati Lu Sian karena dianggapnya bahwa kematian pelacur itu membuat Kwee Seng sakit hati
dan ini menandakan bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada si pelacur.
“Koko, apakah kau mencinta perempuan hina itu?” tiba-tiba ia bertanya, matanya memandang tajam.
Kwee Seng juga memandang. Melihat sinar mata bening tajam itu bertambah kagumlah hatinya. “Tidak, aku
hanya kasihan kepadanya,” jawab Kwee Seng, suaranya jelas menyatakan isi hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi agaknya Liu Lu Sian belum puas. Gadis ini mengerutkan keningnya dan mendesak lagi.
“Pernahkah kau jatuh cinta? Adakah seorang wanita yang kau cinta di dunia ini?”
Muka Kwee Seng menjadi makin merah ketika bertemu dengan pandang mata tajam bening penuh selidik itu.
Sebelum menjawab ia menggigit bibir menekan perasaan, kemudian katanya, “Selama ini aku tidak pernah
jatuh cinta. Hanya... hanya setelah bertemu dengan engkau, Sian-moi... ah, entahlah. Agaknya kalau ini yang
dinamakan cinta, berarti aku jatuh cinta kepadamu!”
Mendengar kata-kata ini, Lu Sian hanya tertawa, tertawa senang sekali. Kemudian ia bangkit dari tempat
duduknya dan berkata. “Kwee-koko, mari kita melanjutkan perjalanan.”
“Apa? Hampir tengah malam begini?”
Akan tetapi Lu Sian sudah melangkah ke kamarnya, dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawa buntalan
pakaian dan memanggil pelayan dengan suara nyaring. Ketika pelayan berlari-lari datang, ia cepat
memerintahkan pelayan untuk menuntun dua ekor kuda mereka dan menyiapkannya di depan rumah
penginapan.
“Mengapa tidak, Koko? Apa salahnya melakukan perjalanan malam? Setelah keributan tadi, aku tidak senang
di sini, ingin lekas-lekas pergi saja. Aku ingin berada di tempat bebas dan udara terbuka untuk mendinginkan
kepala agar aku dapat enak memikirkan.”
“Memikirkan sesuatu saja harus pergi tengah malam di tempat terbuka?” Kwee Seng mengomel karena
sesungguhnya ingin ia mengaso. “Memikirkan apa saja, sih?”
Liu Lu Sian tersenyum manis. “Memikirkan pernyataan cintamu tadi itu!”
Kwee Seng melongo dan pipinya menjadi merah. Akan tetapi cepat-cepat ia pun mengambil pakaian dan
keduanya lalu keluar dari rumah penginapan, melompat ke atas kuda dan meninggalkan pelayan-pelayan yang
memandang dengan mata terbelalak, terheran-heran menyaksikan dua orang muda yang lihai dan royal itu,
yang meninggalkan hadiah tidak sedikit di tangan mereka sebelum pergi.
Begitu keluar dari kota, Lu Sian membalapkan kudanya. Kwee Seng terpaksa mengikutinya dengan perasaan
heran. Alangkah anehnya gadis ini, pikirnya. Hatinya berdebar kalau ia teringat betapa tadi ia telah
mengucapkan pengakuan cintanya kepada Lu Sian. Akan tetapi ternyata gadis ini melakukan perjalanan
setengah malam suntuk tanpa bicara. Kwee Seng yang masih marasa malu karena pengakuan cintanya juga
tidak berani bicara apa pun, hanya mengiringkan gadis itu dari belakang.
“He, paman tukang perahu! Mari kau seberangkan aku dan kudaku ke sana! Berapa biayanya akan kubayar!”
Tukang perahu yang kurus dan bermata sipit serta memakai topi lebar itu segera meminggirkan perahunya,
perahu yang cukup besar. Ternyata ia seorang nelayan karena di atas dek perahu tampak alat-alat pancing
dan jaring. Di bagian belakang perahu duduk seorang anak tanggung memegang dayung bambu panjang.
“Naiklah, nona. Memang setiap hari kerjaku hanya menyeberangkan orang yang lari mengungsi. Akan tetapi
dari seberang sana ke sini. Sungguh heran sekali pagi-pagi buta begini nona malah hendak menyeberang ke
sana,” kata si tukang perahu dengan suara penuh keheranan.
Lu Sian menuntun kudanya dan mengajak kuda itu melompat ke atas dek perahu, sedangkan Kwee Seng
mengikutinya tanpa banyak bicara. Dalam keadaan remang-remang kini ia dapat melihat wajah gadis itu,
masih berseri-seri gembira dan cantik sekali. Kali ini Lu Sian melirik kepadanya dan tersenyum-senyum manis,
akan tetapi juga tidak bicara apa-apa.
“Eh, Paman, kau tadi bilang apa?” ketika perahu sudah meluncur ke tengah, Lu Sian bertanya. “Orang-orang
mengungsi dari sana? Ada terjadi apakah di seberang sana?”
Si tukang perahu memandang, keningnya berkerut. “Apakah Nona belum tahu? Daerah Shan-si mulai geger.
Sejak gubernur Li Ko Yung berkuasa dan kerajaan Tang ditumbangkan belum pernah terjadi kehebohan di
dunia-kangouw.blogspot.com
kalangan rakyat. Akan tetapi setelah Jenderal Muda Kam menentang kekuasaan gubernur dan tidak setuju
dengan pemberontakan melawan kerajaan, keadaan menjadi geger karena jenderal Kam mempunyai banyak
pengikut. Malah sesungguhnya rakyat banyak yang menyokong jenderal muda gagah perkasa itu. Banyaklah
dilakukan penangkapan-penangkapan oleh gubernur dengan tuduhan memberontak....”
“Ah…! Dan bagaimana dengan jenderal itu? Apakah ditangkap juga? Dan di mana dia sekarang?”
Lu Sian agaknya tertarik sekali, akan tetapi Kwee Seng mendengar semua itu dengan hati dingin. Memang
sama sekali ia tidak ada perhatian terhadap keributan negara yang tiada hentinya, semenjak pemberontakan
yang terjadi puluhan tahun yang lalu terus menerus, sampai tumbangnya Kerajaan Tang dan tanah air menjadi
pecah-pecah karena diperebutkan.
Entah berapa banyaknya sekarang raja-raja dan raja-raja muda atau bekas-bekas gubernur yang mengangkat
diri sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling curiga-mencurigai. Seakan-akan sekelompok
anjing, masing-masing mendekap sebatang tulang. Ia muak dengan itu semua, muak melihat manusiamanusia
yang demi mencari kemuliaan dan kedudukan duniawi, berebutan tak tahu malu, mempergunakan
rakyat yang dipecah-belah untuk memihak demi kepentingan masing-masing tanpa menghiraukan korban
berjatuhan di kalangan rakyat jelata yang selalu hidup miskin dan bodoh!
“Mana bisa Jenderal Kam ditangkap? Biar gubernur sendiri takkan berani menangkapnya, hanya berani
menangkapi rakyat yang tak berdaya! Pula, tanpa adanya jenderal yang gagah perkasa dan dicinta rakyat itu,
bagaimana mungkin Shan-si akan dapat bertahan terhadap serangan dari luar?”
“Paman yang baik, bukankah jenderal itu bernama Kam Si Ek?”
“Betul, bagaimana Nona dapat mengenal nama jenderal kami itu sedangkan tadi Nona tidak tahu apa-apa
tentang keributan di daerah Shan-si?”
Kini Kwee Seng mulai memperhatikan, apalagi ketika disebut nama Kam Si Ek. Ia sudah mendengar akan
kehebatan sepak terjang Jenderal Muda itu. Bahkan belum lama ini Kam Si Ek muncul pula di pesta Bengkauw
dan telah memperlihatkan sikap dan wataknya yang memang gagah perkasa ketika mencegah Lu Sian
menjatuhkan tangan maut kepada seorang pengagumnya. Seorang pemuda gagah yang berwatak satria, tidak
melayani tantangan Lu Sian padahal pemuda yang menjadi jenderal itu belum tentu kalah oleh gadis puteri
Beng-kauwcu ini. Laki-laki yang tidak tunduk oleh wajah cantik! Tidak seperti aku, demikian Kwee Seng
memaki diri sendiri.
“Eh, Sian-moi. Kau menyeberang sungai ini, apakah hendak melakukan perjalanan ke utara? Mau ke
manakah? Ingat, perjalanan ini adalah perjalananku, kau hanya ikut denganku,” kata Kwee Seng setelah
tukang perahu itu pergi ke kepala perahu untuk membantu penyeberangan karena air mulai agak deras
alirannya dan tidak amanlah kalau hanya mengandalkan tenaga pembantunya yang masih anak-anak.
Dengan kerling tajam Lu Sian mencibirkan bibirnya yang merah. Jantung Kwee Seng serasa ditarik-tarik.
Manisnya gadis ini kalau begitu!
“Kwee-koko, seorang suami saja tidak boleh membawa kehendak sendiri, ada kalanya harus menghormati dan
menuruti keinginan si isteri. Sedangkan kita, tunangan pun bukan. Bagaimana aku harus selalu menuruti
kehendakmu? Kau bukan suamiku, bukan tunanganku, juga bukan atau belum menjadi guruku karena kau
belum menurunkan apa-apa seperti yang telah kau janjikan kepada ayah. Aku ingin ke utara. Terserah kalau
kau hendak mengambil jalan lain tanpa menurunkan kepandaian kepadaku yang berarti kau melanggar janji.”
Kwee Seng mengeluh di dalam hatinya. Terlalu sekali gadis ini menggodanya. Ia tertawa dengan sabar. “Adik
yang baik, kata-katamu seperti ujung pisau tajamnya. Aku sih tidak mempunyai tujuan tertentu, ke mana pun
boleh. Akan tetapi kalau di utara terjadi keributan perang, mengapa kau hendak ke sana?”
Lu Sian tertawa dan giginya yang putih berkilau terkena matahari pagi yang mulai muncul dan sinarnya
menembus celah-celah daun pohon. “Justru karena ada perang aku ingin ke sana. Aku hendak menonton
keramaian! Kwee-koko, ada tontonan bagus, mengapa kita lewatkan begitu saja? Pula, melakukan perjalanan
bersamaku, biar pun menempuh bahaya, bukankah amat menyenangkan bagimu?” Gadis itu mengerling
dunia-kangouw.blogspot.com
manis sekali dan Kwee Seng menahan napasnya. Sinar matahari pagi jatuh pada kepala gadis itu, membuat
sekeliling kepala seperti dilingkungi sinar keemasan!
“Kau... cantik sekali, Moi-moi...,” katanya perlahan, penuh kekaguman.
Lu Sian tertawa. “Gadis di pagi hari belum berhias, mana bisa cantik? Ihhh, kau sudah mabok lagi, Koko, kini
bukan mabok arak, melainkan mabok asmara...! Lu Sian tertawa-tawa menggoda, lalu berjongkok di pinggir
perahu, tangannya menyambar air yang jernih dan mulailah ia mencuci mukanya, digosok-gosoknya sehingga
seluruh kulit mukanya menjadi kemerahan dan segar laksana bunga mawar merah tersiram embun pagi.
Digoda secara terang-terangan seperti itu, Kwee Seng menjadi lemas dan selanjutnya ia tidak mau banyak
bicara lagi karena setiap godaan gadis itu merupakan tusukan di hatinya. Mengapa ia tiba-tiba menjadi begini
lemah? Mengapa ia tidak pergi saja meninggalkan gadis ini? Ke mana perginya keangkuhannya yang selama
ini ia banggakan? Ah, ia masih mengharap. Ia masih menanti. Lu Sian telah mendengar pengakuan cintanya,
dan gadis ini sukar sekali diraba isi hatinya. Kadang-kadang begitu mesra seakan-akan gadis itu pun
mencintainya sungguh pun ternyata ingin memperlihatkan kebalikannya, akan tetapi mengapa kadang-kadang
begitu kejam menyerangnya dengan kata-kata sindiran?
Setelah menyeberang, kembali Lu Sian membalapkan kudanya. Kwee Seng mengikuti dari belakang dan
sebentar saja mereka sudah memasuki sebuah hutan. Benar saja seperti yang dikatakan tukang perahu,
setelah agak siang tampaklah berbondong-bondong orang mengungsi ke selatan. Karena jalan mulai ramai
dengan rombongan pengungsi, Lu Sian dan Kwee Seng mengambil jalan hutan yang kecil akan tetapi sunyi.
“Mengapa mengungsi saja harus beramai-ramai seperti itu? Memenuhi jalan saja!” Lu Sian mengomel karena
jalan hutan yang dilalui sempit dan seringkali pohon-pohon kecil berduri mengganggunya.
“Rakyat sudah terlalu banyak mengalami tindasan dan kekerasan, Sian-moi. Mereka tahu bahwa mengungsi
pun tidak terlepas dari intaian bahaya gangguan orang jahat atau binatang buas, maka mereka merasa lebih
aman untuk melakukan pengungsian beramai-ramai. Pada perang sekacau ini biasanya orang-orang jahat
suka mempergunakan kesempatan merampok.”
“Wah, kau benar, Koko dan agaknya kita yang akan menjadi korban. Kau dengar itu?”
Kwee Seng mengangguk. “Derap kaki banyak kuda dari belakang! Akan tetapi belum tentu perampokperampok
yang mengejar kita, Moi-moi.”
Mereka berdua berhenti dan menoleh ke belakang. Tak lama kemudian derap kaki kuda berbunyi lebih jelas
dan muncullah tiga orang penunggang kuda yang membalapkan kuda mereka cepat sekali. Tiga ekor kuda
tunggangan mereka itu besar-besar dan ternyata merupakan kuda pilihan, malah lebih besar dan baik dari
pada kuda tunggangan Kwee Seng dan Lu Sian. Sedangkan tiga orang penunggangnya adalah wanita-wanita
muda yang cantik-cantik dan berpakaian mewah akan tetapi ringkas. Pedang berukir indah bergantung di
punggung mereka, tangan kiri memegang kendali kuda, tangan kanan memegang cambuk.
Melihat kesigapan mereka menunggang kuda, mudah diduga mereka itu adalah wanita-wanita yang pandai
ilmu silat, apalagi pedang mereka membayangkan pedang pusaka yang baik. Yang terdepan paling tua
usianya, antara dua puluh lima tahun, pakaiannya serba merah, yang ke dua berusia dua puluh tahun,
pakaiannya serba kuning dan yang ke tiga baru delapan belas tahun berpakaian serba hijau.
Melihat raut muka mereka, dapat diduga bahwa mereka itu kakak beradik, dan sukar dikatakan mana yang
paling cantik di antara mereka. Semua cantik dan pandang mata mereka tajam. Akan tetapi wajah yang
berkulit halus itu diperbagus lagi dengan bedak dan yanci (pemerah bibir / pipi) sehingga menimbulkan kesan
di hati Kwee Seng bahwa tiga orang wanita ini adalah gadis-gadis pesolek, seperti Ang-siauw-hwa. Berbeda
dengan Liu Lu Sian yang ia lihat tak pernah memakai bedak dan yanci, sungguh pun hal ini memang tidak
perlu karena kulit muka Lu Sian sudah terlalu putih halus dan bibirnya selalu merah membasah, pipinya
kemerahan seperti buah apel masak.
“Minggir! Minggir!” tiga orang gadis itu berseru nyaring tanpa mengurangi kecepatan lari kuda mereka. Padahal
jalan itu sempit sekali. Terpaksa Kwee Seng menarik kendali kudanya, dipinggirkan. Melihat Lu Sian tetap
dunia-kangouw.blogspot.com
membiarkan kudanya menghadap jalan, Kwee Seng tidak mau membiarkan keributan terjadi, ia meraih kendali
kuda tunggangan Lu Sian dan menarik binatang itu minggir pula.
Dua ekor kuda tunggangan pertama dan kedua lewat cepat sekali dan tercium bau harum minyak wangi. Kuda
ke tiga yang ditunggangi gadis termuda melambat dan gadis ini mengerling ke arah Kwee Seng, lalu melempar
senyum! Setelah melirik penuh arti barulah gadis ke tiga ini membalapkan kudanya lagi.
Kwee Seng cepat menggerakkan tangannya menangkap pergelangan tangan Lu Sian. Gadis ini
menggenggam jarum-jarum yang merupakan senjata rahasia dan yang tadinya hendak ia sambitkan kepada
tiga orang gadis itu!
“Moi-moi, mengapa mencari gara-gara dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal dan tidak ada
permusuhan dengan kita?”
Lu Sian menjebirkan bibirnya, kebiasaan yang selalu membetot jantung Kwee Seng, lalu menyimpan kembali
jarum-jarum rahasianya. “Menjemukan! Koko, apakah kau selalu menjadi lemah hati dan siap menolong setiap
orang perempuan cantik?”
Merah kedua pipi Kwee Seng. “Bukan begitu, Moi-moi. Aku hanya suka menolong kepada orang yang perlu
ditolong, tak peduli dia perempuan atau laki-laki. Akan tetapi mereka itu tadi tidak mempunyai salah apa-apa,
mengapa hendak kau serang?”
“Tidak salah apa-apa? Ihh, kenapa matanya lirak-lirik seperti tukang copet?”
Kwee Seng tertawa geli mendengar ini. “Tukang copet? Ha-ha, perumpamaanmu sungguh tak tepat. Masa
gadis cantik menjadi tukang copet? Dan lagi, aku Si Miskin ini apanya yang patut di copet?”
Lu Sian tersenyum juga. “Apalagi kalau bukan hatimu yang akan dicopet?”
Kwee Seng membelalakkan matanya memandang, akan tetapi gadis itu hanya mentertawakannya tanpa
menutupi mulut, memperlihatkan deretan gigi putih dan lubang mulut kemerahan. Kwee Seng merasa
ditertawakan, hatinya sebal dan sakit.
“Mari kita lanjutkan perjalanan!” akhirnya ia berkata agak marah, akan tetapi Lu Sian tetap tertawa-tawa ketika
membedal kudanya di belakang pemuda itu.
“Eh, kau terburu-buru amat. Apakah hendak mengejar pencopet dan menyerahkan hatimu? Dia manis sekali,
Kwee-koko! Kerlingnya tajam dan mengundang tantangan!” Berkali-kali Lu Sian menggoda, akan tetapi Kwee
Seng tidak menjawab dan terus membalapkan kudanya.
Akan tetapi agaknya tiga orang gadis tadi pun melarikan kuda cepat sekali, buktinya sampai tiga hari mereka
berdua belum juga dapat menyusul tiga orang gadis itu. Pada hari ke empatnya, setelah bermalam di dalam
hutan yang dingin, Kwee Seng dan Lu Sian melanjutkan perjalanan. Di persimpangan jalan mereka melihat
banyak orang pengungsi pula, akan tetapi anehnya mereka itu bukan berjalan ke selatan, sebaliknya mereka
menuju ke utara! Bukan hanya Lu Sian yang merasa heran, juga Kwee Seng terheran-heran sehingga pemuda
ini menanya kepada seorang pengungsi laki-laki yang sudah tua.
“Lopek, kalian semua hendak mengungsi ke manakah?”
“Ke mana lagi kalau tidak ke benteng Naga Emas? Hanya di sanalah tempat yang aman bagi kami, karena
Kam-goanswe (Jenderal Kam) berada di sana.”
“Mengapa di lain tempat tidak aman Lopek? Apakah yang mengancam keselamatan kalian?” Kwee Seng mulai
tertarik sedangkan Lu Sian juga mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mendengar pertanyaan ini kakek itu memandang heran. “Kongcu datang dari manakah sehingga tidak tahu
keadaan di sini? Di mana-mana terdapat manusia-manusia serigala, bala tentara gubernur merajalela
mengganggu penduduk, merampok harta dan memperkosa wanita dengan alasan membasmi pemberontak!
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang takut menentang Gubernur Li, hanya Kam-goanswe seorang yang berani melindungi kami.
Kongcu dan Nona sebagai orang-orang asing sebaiknya jangan melakukan perjalanan di daerah ini,
berbahaya.” Setelah berkata demikian, kakek itu melanjutkan perjalanan bersama rombongan pengungsi yang
terdiri dari tiga puluh orang lebih itu.
“Lopek, masih jauhkah benteng itu dari sini?” tiba-tiba Lu Sian bertanya sambil mengajukan kudanya.
Kakek itu menoleh dan memandang, akan tetapi keningnya berkerut, tidak mau menjawab, malah lalu berjalan
lagi.
Timbul kemarahan Lu Sian, dan ia membentak, “Eh, Kakek! Apakah kau tuli dan bisu?”
Kakek itu cemberut, menoleh lagi dan mengomel. “Tidak ada wanita baik di jaman edan ini!”
Tentu saja Lu Sian makin marah. Melihat ini Kwee Seng khawatir kalau-kalau Liu Sian akan turun tangan,
maka ia cepat menggeprak kudanya, maju ke depan Lu Sian dan berkata kepada kakek itu.
“Lopek, sahabatku ini bertanya baik-baik, mengapa kau tidak mau menjawab? Harap jangan salah melihat
orang, sahabatku ini seorang pendekar wanita yang berhati mulia.”
Lenyap kemarahan Lu Sian dan ia tersenyum-senyum mendengar pujian ini. Ada pun kakek itu lalu
membalikkan tubuh, memandang ragu kepada Lu Sian lalu menjura.
“Harap Nona suka maafkan. Baru pagi tadi di sini lewat pula tiga orang gadis seperti Nona, akan tetapi mereka
itu kasar bukan main. Bahkan lima orang kami mereka pukul dengan cambuk karena kurang cepat minggir
untuk mereka lewat dengan kuda mereka yang besar-besar. Kalau Nona hendak mengetahui, benteng itu tidak
jauh lagi, kurang lebih tiga li lagi dari sini.”
Setelah rombongan itu bergerak lagi, dan Kwee Seng mulai menggerakkan kendali untuk melanjutkan
perjalanan, Lu Sian menyentuh lengannya dan berkata, “Kwee-koko, kita berhenti di sini, mencari tempat
mengaso sampai nanti malam.”
“Eh, mengapa begitu? Hari masih siang, dan perjalanan masih jauh. Ada keperluan apa sehingga harus
berhenti di sini?”
“Keadaan benteng itu, Jenderal Kam itu, dan tiga orang gadis yang agaknya juga pergi ke sana, menarik hatiku
untuk menyelidiki. Malam nanti aku hendak menyelidiki ke sana, melihat keadaan dan mencari tahu apakah
sebenarnya yang terjadi.”
“Ah, Moi-moi, mengapa kau mencari urusan yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita? Urusan
Jenderal Kam adalah urusan negara, dan selama orang menyangkutkan diri dengan urusan negara, maka tak
boleh tidak ia mempunyai cita-cita yang kotor. Tak perlu kita mencampurinya, Moi-moi.”
Akan tetapi Lu Sian sudah memutar kudanya dan mencari tempat yang enak untuk mengaso dan bermalam.
Akhirnya ia berhenti di bawah pohon yang besar, lalu turun dari kudanya. Terpaksa Kwee Seng mengikutinya.
“Sudahlah, Koko, aku lapar karena terlalu banyak bicara. Biar kucarikan daging untuk teman roti kering kita.”
Gadis itu meloncat dan lenyap memasuki hutan yang gelap. Tak lama kemudian ia tertawa-tawa sambil
memegang dua ekor kelinci gemuk pada telinganya. Kwee Seng tidak berkata apa-apa, hanya membantu
gadis itu menguliti kelinci dan membakar dagingnya. Setelah mereka makan kenyang, Lu Sian merebahkan diri
di atas rumput yang gemuk empuk. Tak sampai sepuluh menit kemudian gadis itu sudah tidur nyenyak,
mukanya miring berbantal tangan, napasnya panjang teratur, pipinya kemerahan, bulu matanya yang merapat
kelihatan panjang, membentuk bayangan pada pipi.
Berjam-jam Kwee Seng hanya duduk sambil memandangi tubuh yang rebah miring di depannya. Pikirannya
melayang-layang. Alangkah cantiknya gadis ini. Rambutnya yang hitam itu agak kacau, sebagian rambut yang
terlepas dari ikatan menutupi pipi dan kening. Dahi yang halus putih itu agak basah oleh peluh karena hawa
dunia-kangouw.blogspot.com
memang panas menjelang senja itu. Kwee Seng melihat ini lalu memadamkan api unggun yang tadi dipakai
memanggang daging kelinci. Kemudian ia duduk lagi menghadapi Lu Sian sambil menikmati wajah ayu itu.
Lu Sian bergerak sedikit dalam tidurnya, bibirnya tersenyum, tangannya menyibakkan rambut yang menutup
pipi dan kening, lalu tubuhnya bergerak terlentang. Terdengar bisikan Lu Sian, “Kwee-koko....”
Berdebar keras jantung Kwee Seng. Gadis ini mengigau dan menyebut-nyebut namanya dalam tidur!
Bukankah itu berarti bahwa Lu Sian juga menaruh hati kepadanya?
Ia memandang lagi. Mulut yang manis itu masih tersenyum. Tiada bosannya ia memandang wajah ini,
bagaikan orang memandang setangkai bunga mawar segar. Terpesona Kwee Seng memandangi rambut
hitam panjang yang kini awut-awutan itu, mengingatkan ia akan syair tentang keindahan rambut yang pernah
di bacanya:
Halus licin laksana sutera
Hitam mulus melebihi tinta
Gemuk panjang berikal mayang
Mengikat kalbu menimbulkan sayang
Harum semerbak laksana bunga
Melambai meraih cinta asmara
Sinom berikal di tengkuk dan dahi
Pembangkit gairah dendam birahi!
Setelah kenyang pandang matanya menikmati keindahan rambut di kepala, lalu pandang mata itu menurun,
berhenti di alis dan mata yang terlindung bulu mata panjang melengkung, sejenak ia terpesona oleh bukit
hidung.
Kecil mungil mancung dan patut
Halus laksana lilin diraut
Cuping tipis bergerak mesra
Mengandung seribu rahasia!
Makin berdebar jantung Kwee Seng, hampir tak tertahankan lagi, serasa hendak meledak. Melihat rambut itu,
bulu mata, hidung yang agak berkembang-kempis cupingnya, mulut manis yang tersenyum-senyum dalam
tidur, pipi yang putih kemerahan, teringatlah ia akan Ang-siauw-hwa.
Bukan gadis pelacur itu yang terbayang, melainkan pengalaman mesra penuh asyik yang pada saat itu
mendorong semua gairah birahi memenuhi hati dan pikirannya bagaikan awan mendung hitam menggelapkan
kesadarannya. Dengan tubuh gemetar menggigil, Kwee Seng lalu membungkuk ke arah wajah ayu itu dan
mencium bibir dan pipi Lu Sian sepenuh kasih hatinya.
Suara ketawa gadis itu mengejutkannya, membuyarkan sebagian awan mendung yang menutupi
kesadarannya. Terkejutlah Kwee Seng, mukanya pucat dan ia cepat-cepat menjauhkan diri. Jantungnya
berdebar keras dan barulah lega hatinya ketika ia melihat bahwa Lu Sian masih tidur. Suara ketawa tadi pun
agaknya hanya dalam keadaan mimpi. Akan tetapi ciumannya tadi membuat ia makin dalam terjatuh ke jurang
asmara!
Lewat senja, setelah matahari mulai bersembunyi, Lu Sian menggeliat dan membuka matanya. “Ahhh,
alangkah sedapnya tidur di sini. Eh... Kwee-koko, kau masih duduk di situ sejak tadi? Tidak mengaso?”
Gadis itu kini bangkit duduk dan membereskan rambutnya. Duduk seperti itu benar-benar merupakan
pemandangan indah. Kedua kaki di tekuk ke belakang, tubuh tegak dada membusung, kedua lengan
dikembangkan karena sepuluh buah jari tangannya sibuk menyanggul rambut di belakang kepala.
“Hemm, kalau saja aku pandai melukis, alangkah indahnya gadis ini dilukis dalam keadaan begini,” pikir Kwee
Seng, demikian terpesona sehingga ia seakan-akan tidak mendengar akan kata-kata Lu Sian.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hih! Kwee-koko, apakah kau sudah berubah menjadi arca? Apa sih yang kau lihat?” tegur Lu Sian,
senyumnya lebar dan sepasang matanya berkedip-kedip mengandung ejekan.
“Eh... oh... kau bilang apa tadi, Moi-moi...?” Kwee Seng tergagap.
Kini Lu Sian tertawa. “Kukira kau tidak mengaso, kiranya kau agaknya malah tidur. Kwee-koko, aku ingin sekali
mandi. Kalau saja ada anak sungai di sini....”
“Kudengar suara air gemericik di sebelah kiri sana, Sian-moi. Mungkin ada anak sungai atau air terjun di sana.”
“Bagus, mari kita ke sana, Koko.” Seperti seorang anak kecil, Lu Sian menyambar tangan Kwee Seng dan
menariknya berlari-lari ke arah kiri.
Benar saja dugaan Kwee Seng. Di situ terdapat sebatang sungai kecil yang amat jernih airnya, pula tidak
dalam, hanya semeter kurang lebih. Batu-batu licin di dasar tampak beraneka warna menambah keindahan
dan kesejukan air.
“Wah, dingin dan segar, Koko!” teriak Lu Sian kegirangan ketika memasukkan tangannya ke dalam air di
pinggir sungai.
“Koko, aku hendak mandi! Kau jangan melihat ke sini sebelum aku masuk ke dalam air. Awas, kalau kau
menengok, kumaki kau kurang sopan dan kusambit kau dengan batu!”
Kwee Seng tertawa, terseret oleh kenakalan dan kegembiraan gadis itu. “Siapa ingin melihat?” serunya sambil
membalikkan tubuh berdiri membelakangi sungai.
Ia hanya mendengar gerakan gadis itu, suara pakaian dilepas, kemudian mendengar gadis itu turun ke dalam
air. Semua yang didengarnya ini menimbulkan bayangan yang amat menggodanya sehingga ia meramkan
kedua matanya seakan-akan hendak mengusir bayangan itu dari depan mata.
“Sudah, Kwee-koko. Kau sekarang boleh saja melihat ke sini, aku sudah aman tertutup air. Ah, enak benar,
Koko. Kau mandilah, segar bukan main.”
Kwee Seng membalikkan tubuhnya dan ia terpaku di tempat ia berdiri. Kedua kakinya menggigil dan matanya
berkunang-kunang. “Aduh, Lu Sian! Apakah benar-benar kau sengaja ingin menggodaku?” demikian keluhnya
dalam hati.
Ketika ia menengok, ia melihat pakaian gadis itu bertumpuk di pinggir sungai, di atas sebuah batu besar,
semua pakaian berikut sepatu dan pita rambut. Kemudian, apa yang dilihatnya di tengah sungai itu benarbenar
membuat ia berkunang dan lemas. Memang gadis itu merendamkan tubuhnya di dalam air sehingga
yang tampak dari luar air hanya leher dan kepalanya. Akan tetapi agaknya Lu Sian lupa bahwa air itu amat
jernih! Ataukah memang sengaja?
Air itu demikian jernihnya sehingga batu-batu di dasarnya tampak. Apalagi tubuh yang duduk di atasnya!
Pemandangan aneh tampak oleh Kwee Seng. Tubuh padat berisi, sempurna lekuk-lekungnya, bergoyanggoyang
bayangannya oleh air. Cepat-cepat ia menundukkan mukanya. “Kuatkan hatimu! Ah, kuatkan hatimu
sebelum kau kemasukan iblis!” Demikianlah dengan kaki gemetar Kwee Seng berdiri menundukkan mukanya,
mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan dorongan nafsu.
“Moi-moi....” Ia berhenti karena suaranya kedengaran aneh.
“Hemm...? Kau mau bilang apa, Koko?”
Kwee Seng menarik napas panjang dan mulai tenanglah gelora isi dadanya. “Sian-moi, aku tidak mandi. Kau
mandilah yang puas, biar kunanti kau di sana. Aku khawatir kalau-kalau kuda kita dicuri orang.”
Tanpa menanti jawaban Kwee Seng lalu membalikkan tubuhnya dan lari ke tempat semula, di mana ia
menjatuhkan diri duduk termenung memikirkan Lu Sian. Gadis yang aneh! Ia harus mengaku bahwa hatinya
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah jatuh betul-betul. Ia memuja Lu Sian, memuja kecantikannya. Padahal ia maklum sedalam-dalamnya
bahwa watak gadis itu sama sekali tidak cocok dengan wataknya, bahwa kalau ia mempunyai isteri seperti Lu
Sian, hidupnya akan banyak menderita. “Aku harus dapat menahan diri, semua ini godaan iblis,” pikirnya. “Aku
sejak semula tidak menghendakinya sebagai isteri. Hanya karena sudah berjanji dengan Pat-jiu Sin-ong untuk
menurunkan ilmu yang mengalahkannya, maka sekarang mengadakan perjalanan bersama.”
Ah, mengapa ia menjanjikan hal itu? Ia kena diakali Pat-jiu Sin-ong yang tentu saja ingin menguras ilmunya.
Kalau sudah menurunkan ilmu, aku harus cepat-cepat menjauhkan diri dari Lu Sian, pikirnya. Akan tetapi,
teringat akan perbuatannya mencuri ciuman tadi, kembali gelora di dadanya membuat Kwee Seng meramkan
mata. Gila! Kau sudah gila! Tiba-tiba Kwee Seng yang masih meram itu menampar kepalanya sendiri!
“Heee! Apakah kau sudah gila?!” teguran ini membuat Kwee Seng terkejut dan meloncat bangun berdiri!
Kiranya Lu Sian sudah berdiri di depannya. Biar pun cuaca sudah mulai gelap, masih tampak gadis itu segar
dan berseri-seri, makin cantik setelah mandi. Gadis itu tertawa geli. “Kwee-koko, kukira kau tadi menjadi gila.
Apa-apaan itu tadi kau menampar kepalamu sendiri?”
“Aku...? Ah... kau tidak melihat tadi? Banyak nyamuk di hutan ini. Mengiang-ngiang di atas telinga, kucoba
menepuk mampus nyamuk-nyamuk itu.”
Baiknya Lu Sian percaya alasan ini. “Kwee-koko, sekarang aku hendak pergi. Kau menanti di sini saja, ya?”
“Kemana, Sian-moi?”
“Ke benteng itu. Meyelidik!”
“Ah, apakah perlunya? Jangan mencari perkara....”
“Sudahlah! Kau seperti nenek bawel saja. Kalau tidak suka, kau tidak usah ikut. Aku tahu kau tidak suka, maka
aku akan pergi sendiri. Biarlah kau menanti di situ bersama... eh, nyamuk-nyamuk itu. Aku pergi dulu, Koko!”
Setelah berkata demikian, Lu Sian mempergunakan kepandaiannya meloncat dan lari cepat, sebentar saja
lenyap dari situ.
Kwee Seng mengerutkan keningnya. Gadis aneh. Ia takkan berbahagia hidup di samping gadis itu sebagai
suaminya. Akan tetapi... ah, mengapa hatinya seperti ini? Mengapa timbul kekhawatirannya kalau-kalau Lu
Sian menghadapi mala-petaka? Biarlah kalau ia tertimpa bencana. Salahnya sendiri. Mencari perkara.
Mencampuri urusan orang lain! Kwee Seng mengeraskan hatinya dan mulai membuat api unggun untuk
mengusir nyamuk yang memang banyak terdapat di hutan itu. Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak enak.
Terjadi perang di dalam hatinya antara membiarkan atau pergi menyusul Lu Sian.
Dengan pengerahan ginkang dan ilmu lari cepatnya, sebentar saja Lu Sian telah tiba di luar tembok benteng.
Tembok benteng itu cukup tinggi, pintu gerbangnya berada di tengah, terjaga kuat oleh belasan orang prajurit.
Pintu belakang juga terjaga, malah tertutup rapat. Sedangkan di atas tembok itu, pada setiap ujungnya
terdapat bangunan kecil di mana tampak pula penjaga yang bersenjata lengkap. Beberapa menit sekali,
penjaga-penjaga meronda di sekeliling tembok. Pendeknya, benteng itu terjaga rapat sekali. Untuk melompat
tembok, terlampau tinggi dan andai kata dapat juga, pasti akan tampak oleh para penjaga di empat penjuru.
Akan tetapi Lu Sian adalah seorang gadis yang banyak akal, berani dan lihai. Ia memilih bagian yang agak
sepi, menanti sampai peronda lewat, kemudian cepat sekali ia menggunakan pedangnya membongkar
tembok! Pedangnya bukanlah pedang biasa, melainkan pedang pusaka, pedang buatan daerah Go-bi yang
terbuat dari logam baja biru. Oleh ayahnya pedang itu diberi nama Toa-hong-kiam (Pedang Angin Badai)
karena Pat-jiu Sin-ong memberikan pedang itu kepada puterinya ketika menurunkan Ilmu Pedang Toa-hong
Kiam-sut.
Pedang baja biru ini dapat dipergunakan untuk memotong besi dan baja. Apalagi tembok yang terbuat dari
pada bata itu, dengan mudah saja dapat ditembusi Toa-hong-kiam. Belum lima menit, Lu Sian telah berhasil
membuat lubang yang cukup dimasuki tubuhnya. Di lain saat tubuhnya berkelebat menyelinap masuk dan
dunia-kangouw.blogspot.com
bagaikan seekor kucing ia sudah berloncatan cepat menghilang di antara kegelapan malam, mendekam di
tempat gelap sambil memperhatikan keadaan di dalam benteng.
Benteng itu cukup luas, kiranya cukup untuk menampung ribuan orang bala tentara. Di dalamnya selain
terdapat lapangan luas untuk berlatih para prajurit, juga terdapat bangunan-bangunan kecil berjajar yang
agaknya menjadi tempat bermalam para prajurit. Ada pula bangunan terbuka yang dipakai sebagai dapur, lalu
kandang-kandang kuda dan gudang-gudang perlengkapan. Di tengah sendiri terdapat empat buah bangunan
besar yang bentuknya kembar. Tak salah lagi, di sinilah tempat para perwiranya.
Maka tanpa ragu-ragu Lu Sian lalu berindap-indap menghampiri empat bangunan ini karena memang
kedatangannya ini terdorong oleh rasa hatinya ingin mengintai dan menyelidiki keadaan... Jenderal Muda Kam
Si Ek! Di sudut lubuk hatinya memang ia tak pernah melupakan Kam Si Ek, pemuda gagah perkasa dan
ganteng yang pernah menggetarkan hatinya di atas panggung adu ilmu. Sayangnya pemuda itu tidak mau
melayaninya mengadu kepandaian. Namun sikapnya yang gagah dan keras, wajahnya yang membayangkan
kejantanan, telah menggerakkan hati Lu Sian sehingga ketika dalam perjalanan ini ia mendengar disebutnya
nama Kam Si Ek, sekaligus bangkit hasrat hatinya untuk menemuinya dan mempelajari keadaannya, kalau
perlu mencoba kepandaiannya!
Hati Lu Sian berdebar melihat bendera tanda pangkat jenderal di depan sebuah di antara empat gedung. Ia
menyelinap ke belakang gedung ini, kemudian menggerakkan tubuhnya melayang naik ke atas genteng
sebelah belakang, dan dengan hati-hati ia merayap di atas genteng menuju ke bagian tengah. Ketika ia melihat
sinar api penerangan yang besar dan mendengar suara orang, ia membuka genteng dan mengintai ke bawah.
Betapa girang hatinya ketika ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu Kam Si Ek sendiri, berada di dalam
sebuah ruangan besar di bawahnya!
Biar pun seorang jenderal, Kam Si Ek ternyata berpakaian biasa, mungkin karena tidak sedang dinas.
Pakaiannya serba biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat sutera kuning. Tubuhnya yang tegap itu
kelihatan gagah dan penuh tenaga. Ia duduk menghadapi meja besar yang penuh hidangan.
Yang membuat hati Lu Sian kaget dan tak senang adalah ketika ia melihat tiga orang gadis cantik yang pernah
di lihatnya. Kini tiga orang gadis itu mengenakan pakaian yang lebih mewah lagi, biar pun warna pakaiannya
tetap sama, yaitu yang pertama serba merah, yang kedua serba kuning dan yang ketiga serba hijau. Rambut
mereka digelung rapi dan dihias emas permata mahal. Muka mereka dilapisi bedak, bibir dan pipi ditambah
warna merah dan bau minyak wangi mereka sampai tercium oleh Lu Sian yang mendekam di atas genteng!
Pada saat itu, dengan sikap gagah dan suara tegas Kam Si Ek berkata. “Tidak bisa! Siauwte (aku) bukanlah
seorang penghianat! Sejak dahulu, nenek moyangku adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan,
yang rela mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa, yang menduduki kedudukan tinggi di dalam
ketentaraan tanpa pamrih untuk pribadinya, melainkan semata untuk berbakti kepada negara dan bangsa!
Kedatangan Sam-wi Lihiap (Pendekar Wanita Bertiga) saya terima dengan penuh kehormatan, akan tetapi
kalau Sam-wi mengajak siauwte sekongkol dengan Cu Bun, terpaksa saya menolak keras!”
Dengan suara manis sekali Si Pakaian Merah yang tertua di antara mereka bertiga, berkata halus, “Kami
bertiga enci adik sudah cukup mengenal kegagahan dan kesetiaan keluarga Kam. Kami mana berani
membujuk Goanswe (Jenderal) untuk bersekongkol dengan penghianat atau pemberontak? Akan tetapi,
bukankah bekas Gubernur Cu Bun kini telah menjadi raja dari kerajaan Liang yang sudah berdiri belasan tahun
lamanya? Kini terjadi perebutan kekuasaan, dan raja tidak dapat membiarkan mereka yang memisahkan diri,
tidak mau tunduk kepada kekuasaan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Liang yang menggantikan Kerajaan Tang.
Karena itu, kami mengajak kepada Goanswe untuk berjuang bersama, menghalau para pemberontak,
terutama sekali bangsa buas dari luar yang hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengganas.”
“Maaf, siaute terpaksa membantah. Memang benar bahwa Gubernur Cu Bun berhasil menumbangkan
Kerajaan Tang belasan tahun lalu. Akan tetapi, berhasil atau tidaknya sebuah kerajaan baru tergantung dari
pada dukungan rakyat. Dan untuk mendapat dukungan rakyat, terutama sekali rakyat harus diberi kehidupan
yang tenteram, penghasilan yang wajar dan sumber hidup yang layak. Akan tetapi apakah buktinya? Rakyat
selalu menjadi korban. Di mana-mana timbul kejahatan, perebutan kekuasaan, kehidupan rakyat tidak aman,
masih ditekan pajak, diperas oleh lintah-lintah darat yang berupa raja-raja kecil di dusun-dusun, masih
diganggu oleh para tentara kerajaan yang buas melebihi perampok. Buktinya? Sam-wi dapat melihat betapa
dunia-kangouw.blogspot.com
banyaknya penduduk dusun mengungsi, bingung mencari tempat aman sehingga di dalam benteng ini saja
kami terpaksa menampung seratus orang lebih pengungsi. Bukankah ini sudah membuktikan bahwa Kerajaan
Liang tidak didukung rakyat? Dan selama pemerintahan tidak mendapat dukungan rakyat, saya yakin takkan
berhasil dan lekas runtuhlah pemerintahan itu.” Muka jenderal muda itu menjadi merah, bicaranya penuh
semangat dan wajahnya yang tampan gagah itu mengeluarkan wibawa seperti seekor harimau yang
menakutkan.
“Kam-goanswe yang perkasa,” kata nona kedua yang berpakaian kuning. “Bolehkah saya bertanya, Goanswe
ini sebetulnya mengabdi kepada siapakah? Dahulu keluarga Goanswe mengabdi kepada Kaisar Tang yang
terakhir. Setelah kaisar jatuh, Goanswe mengabdi kepada siapa? Kalau Goanswe tidak mengakui kekuasaan
Raja Liang, apakah Goanswe mengabdi kepada gubernur Li?”
Kam Si Ek kini berdiri dari bangkunya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu seakan-akan makin besar. Ia mengepal
tinjunya dan berkata. “Aku hanya mengabdi kepada tanah air dan bangsa! Siapa saja yang mengganggu
rakyatku, akan kulawan! Bangsa apa saja yang berani memasuki tanah airku akan kuhancurkan! Aku tidak
mengabdi kepada Raja Liang, dan terhadap Gubernur Li Ko Yung yang menjadi teman seperjuanganku
dahulu. Dia tetap teman baik asal saja dia tidak menyeleweng dari pada jalan benar.”
Nona paling muda yang berbaju hijau mengedipkan matanya kepada kedua orang encinya, lalu bangkit berdiri
menghampiri Kam Si Ek. Ia menuangkan arak dan menjura kepada jenderal muda itu sambil berkata, suaranya
halus merdu penuh rayuan.
“Maaf, maaf... Kam-goanswe. Harap maafkan kedua enciku yang seakan-akan lupa bahwa saat ini bukanlah
saat untuk bicara tentang urusan negara yang berat-berat. Kasihan sekali suasana menjadi begini panas,
sebaliknya masakan menjadi dingin. Kam-goanswe, mari kita lanjutkan makan minum sambil membicarakan
hal-hal yang menyenangkan. Sudilah kau menerima secawan arak dariku sebagai cawan minta maaf!” Ia
melangkah maju.
Tergopoh-gopoh Kam Si Ek balas menjura dan ia pun tersenyum. “Lihiap benar, maaf. Aku sampai lupa diri.” Ia
menerima cawan itu dan sekali tenggak habislah isinya.
Si Baju Hijau tersenyum manis dan menuangkan arak lagi. “Untuk kedua kalinya kuharap kau suka menerima
secawan sebagai tanda persahabatan....”
Dengan sikap yang amat mesra ia menyerahkan cawan dan dalam kesempatan ini jari-jarinya yang halus
menyentuh tangan Kam Si Ek. Pemuda itu kelihatan bingung dan kikuk. Alisnya yang berbentuk golok dan
hitam itu bergerak-gerak, agaknya ia ragu-ragu bagaimana harus menghadapi wanita yang tiba-tiba berubah
sikap ini.
“Cukup... cukup...,” katanya dan merenggut cawan arak itu agar tidak terlalu lama tangannya terpegang jari-jari
halus mungil.
“Ah, Kam-goanswe, masa tidak mau menerima penghormatanku?” Si Baju Hijau berkata manja dan berdiri
makin mendekat sehingga sebagian tubuhnya merapat, dadanya sengaja menyentuh lengan kiri Kam Si Ek.
Hampir saja pemuda ini meloncat pergi. Akan tetapi sebagai tuan rumah ia masih mempertahankan diri, hanya
mengisar kaki menjauhi, lalu berkata, “Baiklah, kehormatan yang diberikan Lihiap kuterima!” Ia minum lagi arak
dari cawannya.
Akan tetapi alangkah terkejut dan kikuknya ketika ia melihat nona muda cantik berpakaian hijau ini tidak
kembali ke bangkunya di seberang, melainkan menyeret sebuah bangku dan duduk di sampingnya! Ini
dilakukan sambil tersenyum-senyum, matanya mengerling tajam penuh arti.
“Dari pada berdebat yang bukan-bukan, yang sebetulnya tidak ada artinya sama sekali, bukankah lebih baik
kita berteman? Kam-goanswe, kami sudah lama mendengar nama besarmu, sudah lama mengagumi Jenderal
Muda Kam Si Ek yang gagah perkasa dan menjadi idaman setiap orang wanita di propinsi Shan-si! Kami
bertiga enci adik tidak mempunyai niat buruk terhadap jenderal, melainkan hendak membantu usahamu,
dunia-kangouw.blogspot.com
hendak menyerahkan jiwa raga mengabdi kepadamu, Kam-goanswe!” Sambil berkata demikian, dengan lagak
genit si baju hijau ini menggeser bangkunya sampai mepet dengan bangku Kam Si Ek.
Si Baju Merah dan si Baju Kuning segera tertawa-tawa dan mengitari meja, menarik bangku dan mengisi
cawan arak. “Betul sekali kata adikku yang bungsu. Kam-goanswe. Kami menyerahkan jiwa raga asal kau suka
kami temani!” kata yang tertua sambil menyerahkan secawan arak dan tangan kirinya memegang pundak
pemuda tampan itu.
“Percayalah, kami bertiga sanggup mengangkatmu menjadi yang dipertuan di daerah ini,” kata si Baju Kuning
yang memeluk leher Kam Si Ek dari belakang!
Dirayu dan dikeroyok tiga orang gadis-gadis cantik yang berbau harum ini, sejenak Kam Si Ek tertegun saking
kaget dan herannya. Kemudian ia serentak bangkit dari bangkunya, melangkah mundur tiga tindak, mukanya
merah sekali dan ia berkata, suaranya keren. “Sam-wi ini apa maksudnya bersikap seperti ini?”
“Maksud kami sudah jelas, masa Goanswe tidak tahu? Sudah lama kami kagum dan sekarang begitu
berjumpa kami jatuh cinta, apakah kau tidak menghargai perasaan suci kami ini?” kata Si Baju Merah tanpa
malu-malu lagi.
“Kam-goanswe, ribuan orang pemuda tergila-gila kepada kami dan semua kami tolak. Sekarang melihatmu,
kami bertiga sekaligus jatuh hati. Bukankah ini jodoh yang baik sekali?” kata Si Baju Kuning.
“Dengan kepandaian kami bertiga digabung kepandaianmu, apa sukarnya merampas kedudukan raja di waktu
orang pandai sedang memperebutkan kekuasaan ini? Goanswe mempunyai tentara yang cukup banyak dan
kuat,” kata Si Baju Hijau.
“Gila…!!” Kam-goanswe berseru marah. “Pergilah kalian! Pergi dan jangan ganggu aku lagi. Pergi!” Kam Si Ek
marah bukan main, akan tetapi kemarahan ini agaknya belum menyamai kemarahan Liu Lu Sian yang
mengintai di atas genteng.
Gadis ini marah sekali kepada tiga orang perempuan yang dianggap tak tahu malu itu. Juga di samping
kemarahannya ia pun kagum kepada Kam Si Ek! Sungguh jantan! Sungguh gagah dan keras hati, tidak tunduk
oleh gadis-gadis cantik yang tergila-gila kepadanya.
“Singgg!!” tampak kilatan tiga batang pedang yang dicabut berbareng oleh tiga orang gadis jelita itu.
“Pilihan kami hanya dua. Kau menerima kerja sama dengan kami atau kau serahkan kepalamu untuk kami
hadiahkan kepada Raja Muda Kerajaan Liang!”
“Bagus!” Kam Si Ek melangkah mundur dua tindak dan mencabut goloknya yang berkilauan saking tajamnya.
Telunjuk tangan kirinya menuding dan ia berkata bengis, “Kalian tiga orang wanita muda tak tahu malu. Kalian
datang mengaku sebagai See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat), berlagak pendekar wanita yang
bermaksud membantu karena melihat kesengsaraan rakyat dalam jaman perang perebutan kekuasaan. Aku
menerima kalian dengan baik dan hormat. Kiranya kalian mengandung maksud hati yang kotor dan hina. Kalau
aku memberi tanda, alangkah mudahnya anak buahku yang ribuan orang banyaknya datang menangkap
kalian untuk dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi aku Kam Si Ek seorang laki-laki sejati, tidak mengandalkan
jumlah orang banyak. Majulah, dan sudah sepatutnya golokku mengakhiri riwayat kalian yang tersesat ke
dalam jurang kenistaan!”
"Manusia sombong!" Si Baju Merah meloncat, dan bagaikan kilat menyambar pedangnya menusuk, berikut
tubuhnya yang melayang ke depan, benar-benar seperti seekor naga menyambar.
Hebat serangan ini, akan tetapi Kam Si Ek yang sudah siap dengan goloknya menangkis keras.
"Tranggg!!"
Wanita baju merah itu terpental ke samping, akan tetapi dengan gerakan indah ia membuat loncatan salto dua
kali. Ada pun kedua orang adiknya juga sudah menerjang maju dengan loncatan-loncatan tinggi dan
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerang dengan pedang selagi tubuh mereka masih di udara. Kam Si Ek terkejut sekali. Tiga orang wanita
ini benar-benar patut dijuluki Naga Barat, karena gerakan mereka benar-benar lincah dan cepat laksana naga
menyambar. Ia cepat mengelak sambil memutar golok sehingga berhasil menangkis tusukan pedang dari
kanan kiri.
Akan tetapi tiga orang enci adik itu sudah mendesaknya dengan serangan pedang bertubi-tubi. Kam Si Ek
cepat memutar goloknya dan mainkan ilmu silat keturunan keluarga Kam. Pertahanannya kuat sekali, namun
didesak oleh tiga batang pedang yang bekerja sama baik sekali, ia hanya mampu menangkis sambil
berloncatan ke sana ke mari, sebentar saja terdesak hebat. Namun sebagai seorang jantan, Kam Si Ek
berpegang kepada kata-katanya. Ia tidak mau berteriak minta bantuan para penjaga yang berada di luar
gedung itu dan tetap mempertahankan diri dengan goloknya.
Sewaktu pedang si Baju Merah menusuk tenggorokan dan ia menangkis dengan golok, pedang si Baju Kuning
sudah membabat pinggangnya. Cepat ia bergerak dengan jurus Burung Walet Membalikkan Tubuh, membuat
gerakan memutar untuk mengelak sambil memutar goloknya melindungi tubuh belakang. Ia berhasil mengelak
dan sekaligus menangkis babatan pedang si Baju Hijau tepat pada waktunya. Akan tetapi kembali pedang si
Baju Merah sudah menerjang datang, disusul dua buah pedang yang lain!
Karena ketiga orang gadis lihai itu kini menghujankan serangan di tiga bagian, yaitu bawah, tengah dan atas,
maka sibuk jugalah Kam Si Ek. Dengan ilmu golok emasnya yang diputar merupakan benteng melindungi
tubuhnya, ia hanya dapat melindungi bagian atas dan tengah saja, sehingga menghadapi penyerangan
pedang di bagian bawah, ia harus meloncat-loncat yang membuat gerakan pemutaran goloknya terganggu.
Setelah lewat tiga puluh jurus, pemuda ini mulai berputar-putar dan terdesak ke sana ke mari, semua jalan ke
luar telah dihadang oleh tiga orang gadis yang tertawa-tawa mengejek.
"Jenderal sombong, dari pada mati di ujung pedang, bukankah lebih baik kau memeluk tiga orang gadis jelita?
Ah, alangkah goblok engkau! Mana bisa engkau melawan See-liong-sam-ci-moi? Kami benar-benar
mencintaimu, Kam-goanswe!"
"Lebih baik aku mati!" teriak Kam Si Ek ganas.
Melihat kesempatan selagi si Baju Merah bicara, golok emasnya menyambar dengan pembalasan serangan
dahsyat. Namun tiga batang pedang sudah menangkisnya dan kembali ia terkepung tiga gulungan sinar
berkilau yang mematikan semua jalan ke luar itu.
Liu Lu Sian yang menonton dari atas genteng segera mengetahui, bahwa biar pun Kam Si Ek memiliki tenaga
yang cukup kuat, namun di bidang ilmu silat agaknya belum dapat diandalkan benar, jauh di bawah tingkat tiga
orang gadis itu. Kemarahannya memuncak dan kekagumannya terhadap Kam Si Ek juga memuncak.
Ia segera mengambil jarum-jarum rahasianya dan tiga kali tangannya bergerak disertai pengerahan sinkang
yang sepenuhnya. Senjata rahasia jarum ini adalah ajaran ayahnya, penggunaannya amat sukar karena jarumjarum
itu kecil dan ringan sekali, harus disambitkan dengan sinkang tertentu baru dapat meluncur cepat
melebihi anak panah. Dan sekali jarum-jarum ini meluncur, sama sekali tidak mendatangkan suara, kalau pun
ada, suara itu halus sekali sukar ditangkap telinga.
Hebat sekali kesudahannya. Terdengar jerit melengking dan tiga orang gadis iti seperti disambar petir. Si Baju
Merah melepaskan pedangnya dan berputar-putar seperti mabok, disusul si Baju Kuning yang melemparkan
pedang dan mencekik lehernya sendiri, kemudian si Baju Hijau terjungkal dan melingkar-lingkar di atas lantai.
Tiga orang gadis itu berkelojotan di atas lantai, dan beberapa menit kemudian tak bergerak lagi. Si Baju Merah
kemasukan jarum tepat di ubun-ubunnya, si Baju Kuning terkena lehernya dan si Baju Hijau terserang
dadanya. Jarum-jarum itu mengandung racun kelabang yang gigitannya menewaskan seketika, maka bukan
main hebatnya.
Kam Si Ek berdiri dengan golok melintang di depan dada, matanya terbelalak lebar. Pada saat itu berkelebat
bayangan memasuki pintu dan muncullah seorang wanita berpakaian serba putih, wajahnya cantik dan terang,
usianya sebaya dengan Kam Si Ek. Wanita ini memegang sebatang pedang dan tangan kirinya menjambak
rambut dua orang laki-laki berpakaian tentara, lalu ia mendorong dua orang itu sehingga terguling di atas lantai
dan terus berlutut di situ dengan tubuh menggigil.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Eh, Sute siapa mereka ini? Ah, bukankah ini See-liong-sam-ci-moi yang menjadi tamu kita? Dan... ah, mereka
sudah tewas dan... kau memegang golok! Apa yang terjadi, Sute?"
Kam Si Ek menggunakan tangan kirinya menggosok mata, lalu menyusut peluh di dahinya dan menggelenggeleng
kepala. "Bukan aku yang membunuh mereka, Suci. Tapi mereka patut tewas, mereka mempunyai niat
busuk terhadap aku. Akan tetapi... agaknya ada orang pandai membantuku dan membunuh mereka."
Wanita itu membanting-banting kakinya. "Celaka! Mereka adalah tamu-tamu kita, mana patut tewas di sini?
Kalau ada orang yang membunuh mereka secara bersembunyi, belum tentu berniat baik. Kita harus cari dia
untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya!" Wanita baju putih itu meloncat ke luar lagi.
"Nanti dulu, Suci. Dua orang ini... ada apakah?"
"Hemm, sialan benar. Dia dan lima orang lain melakukan pemerasan kepada beberapa orang pengungsi,
malah mengganggu wanita. Yang lima kulukai, yang dua ini pemimpinnya, kubawa ke sini untuk kau adili."
"Jahanam!" Kam Si Ek menggerakkan kakinya menendang dan dua orang yang sial itu terlempar, kepala
mereka membentur tembok, pecah dan tewas seketika.
Beginilah watak Kam Si Ek yang benci akan penyelewengan-penyelewengan. Akan tetapi kakak
seperguruannya, wanita baju putih itu sudah meloncat pergi ke luar untuk mencari pembunuh See-liong-samci-
moi. Kam Si Ek juga cepat lari ke luar setelah menyambar gendewa dan anak panahnya. Dalam ilmu silat
boleh jadi dia kurang pandai, akan tetapi ilmu panahnya terkenal di seluruh Shan-si, di samping ilmunya
mengatur siasat perang dan ilmu menunggang kuda.
Ketika Kam Si Ek tiba di luar gedung, ia melihat para penjaga sudah ribut-ribut memandang ke atas. Ketika ia
berdongak, ia melihat bahwa suci-nya telah bertanding pedang dengan hebatnya melawan seorang gadis yang
gerakannya lincah sekali. Bulan malam itu menerangi jagat, akan tetapi dari bawah ia tidak dapat melihat siapa
adanya gadis yang bertanding melawan enci seperguruannya itu.
"Goblok!" terdengar wanita itu memaki, suaranya nyaring dan merdu, melengking menembus kesunyian
malam. "Beginikah kalian membalas pertolongan orang?"
"Kau harus menyerah, tak boleh sembarangan membunuh orang di tempat kami," jawab suci-nya dengan
suaranya yang tegas.
Pada saat itu, entah mengapa, tiba-tiba suci-nya kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung di atas
genteng dan sesosok bayangan yang bergerak seperti terbang telah menyambar tubuh wanita itu.
Lu Sian kaget melihat wanita baju putih itu yang menjadi lawannya itu tiba-tiba menghentikan penyerangannya
dan terhuyung. Kemudian ia lebih kaget lagi ketika tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan tahu-tahu ia telah
disambar orang dan dipanggul pergi! Ketika melihat bahwa yang memanggulnya adalah Kwee Seng, ia
meronta-ronta, namun tidak berhasil melepaskan diri. Ingin ia menusukkan pedangnya pada punggung
pemuda ini, namun totokan tadi membuat tubuhnya terlalu lemas.
Kam Si Ek sudah sejak tadi merasa berhutang budi kepada wanita yang ternyata telah menolongnya. Kalau
tidak segera ditolong, rasanya ia takkan mampu menangkan See-liong-sam-ci-moi. Tadinya ia sudah hendak
meloncat naik mencegah suci-nya menyerang wanita itu. Sekarang melihat seorang laki-laki muda berpakaian
pelajar memondong wanita itu, ia menyangka bahwa tentulah pemuda itu seorang jahat. Cepat ia memberi
aba-aba untuk menyerang pemuda itu dengan anak panah, sedangkan ia sendiri pun lalu mementang
gendawanya.
Akan tetapi pemuda itu hanya menengok sambil tersenyum. Wajah yang tampan itu tersinar bulan dan hati
Kam Si Ek tercengang. Pemuda itu tampan bukan main dan senyumnya manis sekali! Tentu sebangsa jai-hwacat
(penjahat cabul) yang hendak melarikan gadis dengan maksud kotor dan rendah!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lihat panah!" bentaknya dan sekali gendawanya menjepret, lima batang anak panah menyambar ke arah
tubuh belakang Kwee Seng!
"Bagus!" Kwee Seng yang masih menengok itu tersenyum lebar dan memuji, karena kepandaian melepas
panah itu benar-benar hebat. Lima anak panah itu menuju ke lima bagian jalan darah di punggung dan kakinya
dengan kecepatan yang luar biasa!
Cepat tangan kirinya mencabut kipasnya dan ia harus mengerahkan lweekang-nya untuk mengebut dan
meruntuhkan anak-anak panah itu. Akan tetapi kini para prajurit panah sudah pula ikut melepaskan anak
panah, sedangkan Kam Si Ek dengan kecepatan luar biasa sudah pula menghujankan anak panahnya.
Terpaksa Kwee Seng kembali mengebut sambil mengerahkan sinkang-nya, lalu sekali berkelebat tubuhnya
sudah meloncat jauh. Setelah tubuhnya melayang turun segera ia berlari cepat, dan sekali menggerakkan
kakinya, ia telah meloncat ke atas tembok benteng.
Terjadi hujan anak panah lagi dari kanan kiri, namun pelepasan anak panah oleh para prajurit itu tentu saja
tidak begitu di hiraukan oleh Kwee Seng. Sekali kipasnya mengebut, angin kebutannya sudah membuat semua
anak panah menyeleweng arahnya atau runtuh ke bawah. Kemudian ia meloncat ke luar tembok dan lenyap!
"Suci...! Dimana kau...?" Kam Si Ek berseru, akan tetapi ia tidak melihat kakak seperguruannya itu.
Namun Kam Si Ek sedang mempunyai banyak pekerjaan, maka ia tidak mencarinya lagi, melainkan cepat
mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan yang lebih kuat dan memerintah orang-orang untuk
mengurus lima buah mayat yang menggeletak di lantai ruangan gedung. Malam itu juga ia mengadili lima
orang lain yang dilukai encinya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengancam para tentara dengan
hukuman berat apabila ada yang berani melakukan penyelewengan.
Setelah mengatur semuanya, Kam Si Ek lalu masuk ke dalam kamarnya dan duduk termenung. Ia maklum
bahwa tidak semua anggota bala tentaranya setia kepadanya, karena sesungguhnya ia tidak mampu memberi
belanja yang cukup kepada mereka. Banyak di antara mereka yang diam-diam ingin rupanya dia mengabdi
kepada Raja Liang atau kepada Gubernur Li yang juga sudah mengangkat diri sendiri sebagai raja muda di
Shan-si.
"Tidak!" bantah suara hatinya. "Sebelum muncul pemimpin yang betul-betul akan membuat rakyat Shan-si
khususnya hidup aman tenteram dan makmur, aku tidak akan mengabdi kepada siapa pun juga!"
Sementara itu, Lu Sian terus meronta-ronta, kedua kakinya di gerak-gerakkan dan akhirnya Kwee Seng
menurunkannya di dalam hutan tempat mereka tadi beristirahat sambil membebaskan totokannya.
Dengan pedang di depan dada, Lu Sian meloncat maju dan membentak. "Kwee Seng, kali ini kau terlalu!
Mengapa kau mengganggu urusanku? Apakah kau hendak pamer kepandaianmu?"
"Eh, Sian-moi..., aku hanya hendak mencegah kau menimbulkan keributan di tempat orang, aku... aku hanya
bermaksud menolongmu...."
"Siapa butuh pertolonganmu? Siapa sudi? Kwee Seng, agaknya di samping kelemahan hatimu, kau juga
memiliki kesombongan memandang rendah orang lain. Apa yang kulakukan, kau peduli apakah?"
"Sian-moi, mengapa kau berkata demikian? Bagaimana aku dapat tidak mempedulikan apa yang kau lakukan?
Sian-moi... kau sudah tahu akan perasaan hatiku, tak perlu kusembunyikan lagi. Aku cinta padamu! Nah,
sekarang terlepaslah sudah ganjalan hatiku. Aku mencintaimu, tentu saja aku tak dapat membiarkanmu
terancam bahaya atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kam Si Ek seorang patriot sejati, seorang
gagah perkasa, tak boleh diganggu..."
"Cukup! Biar seribu kali kau mencintaku, kau belum berhak untuk mengurusi persoalanku. Aku bukan apaapamu,
tahu? Kau boleh mencintaku sampai mampus, akan tetapi aku tidak mencintaimu! Dengar baik-baik,
Kwee Seng. Aku tidak cinta kepadamu! Kau memang tampan, kau memang gagah perkasa, memiliki kesaktian
tinggi melebihi aku, akan tetapi kau lemah! Kau bukan laki-laki sejati, hatimu lemah, mudah jatuh. Kau kira aku
cinta kepadamu? Ihh! Aku suka ikut bersamamu karena mengharapkan kepandaianmu yang kau janjikan
dunia-kangouw.blogspot.com
kepadaku di depan ayah. Nah kau dengar sekarang? Setelah kau ketahui pendirianku, apakah kau kini hendak
menarik janjimu lagi seperti layaknya seorang pengecut?"
Bukan main hebatnya serangan ini bagi Kwee Seng, seakan-akan ribuan batang jarum berbisa menusuknusuk
jantungnya. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigil, matanya
sayu dan dua butir air mata membasahi pipinya. Kemudian ia menggertak gigi mengeraskan perasaan,
menguatkan hatinya, mengepal tangan dan berkata sambil menengadahkan muka ke langit.
"Bagus sekali! Memang kau patut menjadi puteri Pat-jiu- Sin-ong! Aku yang bodoh. Ha-ha-ha, aku yang tolol.
Orang macamku mana berharga menjatuhkan hati padamu? Tidak, Liu Lu Sian, aku tidak menarik janjiku!
Kapan saja kau minta, akan kuturunkan ilmuku yang kupakai mengalahkan kau di panggung Beng-kauw ketika
itu. Memang aku cinta kepadamu, dan kau tidak mencintaiku sama sekali. Ha-ha-ha, biarlah, biar dirasakan
oleh hati yang rakus ini, oleh pikiran yang pendek dan tak tahu diri ini, Si Cebol merindukan bulan, ha-ha-ha!"
Senang bukan main hati Liu Lu Sian. Memang beginilah watak gadis puteri Beng-kauwcu ini. Mungkin karena
semenjak kecil terlalu dimanja, atau memang memiliki watak aneh keturunan ayahnya yang terkenal sebagai
tokoh aneh di dunia kang-ouw, gadis ini suka sekali melihat sebanyak-banyaknya laki-laki jatuh hati
kepadanya. Suka ia menggoda, menonjolkan kejelitaannya agar mereka makin dalam terperosok, kemudian
akan ia kecewakan mereka, akan ia permainkan mereka. Dan ketika melihat mereka menderita, ia akan
mentertawakannya!
"Untung engkau masih belum terlalu rendah untuk menarik kembali janjimu. Kwee Seng, aku menuntut janjimu
itu pada besok malam, tepat tengah malam, di sini juga. Aku akan menjumpaimu di sini dan...."
"Tidak, Liu Lu Sian. Tempat ini kurang sepi, mungkin ada orang lewat dan akan melihat kita. Kau lihat bukit di
sana itu. Tampaknya sukar didatangi, terjal dan liar. Jangan kira mudah menerima ilmu. Aku hanya mau
menurunkan ilmuku kepadamu di puncak bukit itu. Besok malam tengah malam tepat, aku menantimu di sana!"
Lu Sian menengok ke arah timur. Matahari mulai muncul dan tampaklah bayangan sebuah bukit yang tak
berapa jauh dari tempat itu. Bukit yang bentuknya aneh, puncaknya mencuat tinggi, bentuknya seperti kepala
naga atau kepala makhluk aneh.
"Baik, besok malam aku akan berada di puncak itu!" Setelah berkata demikian, Lu Sian meloncat ke atas
kudanya dan melarikan kuda itu pergi meninggalkan Kwee Seng.
Pemuda itu berdiri tegak seperti patung, mendengarkan derap kaki kuda yang makin lama makin jauh, lalu ia
meramkan matanya. Serasa perih hatinya, serasa jantungnya dirobek dan serasa semangatnya terbang
melayang mengikuti suara derap kaki kuda yang membawa lari Lu Sian, gadis yang selama ini memenuhi
hatinya. Tiba-tiba ia tertawa dan menampar kepalanya sendiri.
"Ha-ha-ha, tolol! Gila perempuan!!" Kwee Seng lalu mengambil guci araknya dan minum dari guci itu tanpa
takaran lagi. Arak menggelogok memasuki kerongkongannya.
Tiba-tiba ia berhenti minum dan menengok memandang ke arah gerombolan pohon kembang kecil yang belum
kebagian sinar matahari pagi karena masih gelap. Biar pun perasaannya terganggu, batinnya terpukul hebat,
namun telinga pemuda ini masih amat tajam, perasaannya masih amat peka terhadap bahaya. Ia mendengar
gerakan orang di situ, maka dia menegur, "Siapakah mengintai di situ?"
Sesosok bayangan putih berkelebat ke luar dari belakang pohon-pohon dan seorang gadis berdiri di hadapan
Kwee Seng dengan muka merah dan sinar mata membayangkan rasa malu. Gadis ini cepat menjura dengan
hormat sambil berkata, "Harap Taihiap sudi memaafkan. Sesungguhnya bukan maksud saya untuk mengintai,
akan tetapi keadaan tadi membuat saya tidak berani untuk keluar memperkenalkan diri."
Kwee Seng cepat membalas penghormatan gadis yang memakai pakaian serba putih ini. Gadis bermata
jernih, bermuka terang dan bersikap gagah, yang belum pernah ia kenal. Akan tetapi ia segera teringat bahwa
gadis inilah agaknya si Bayangan Putih yang bertempur melawan Lu Sian di atas genteng benteng tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, kalau sudah lama Nona mengintai, agaknya tak perlu lagi memperkenalkan diri. Tentu Nona sudah
mengetahui segalanya!" kata Kwee Seng dengan hati mengkal karena adegan dengan Lu Sian yang tadi amat
memalukan, amat merendahkan dirinya.
"Sekali lagi maaf, Taihiap. Sesungguhnya saya melihat dan mendengar semua dan sekarang tahulah saya
bahwa gadis lihai yang secara aneh mendatangi benteng adik seperguruanku itu bukan lain adalah Nona Liu
Lu Sian puteri Beng-kauwcu yang amat terkenal. Sungguh merupakan hal yang tidak pernah kami duga. Andai
kata dia datang memperkenalkan diri secara wajar, sudah pasti kami akan menyambutnya dengan segala
kehormatan. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur dan saya merasa bersalah terhadap Kwee-taihiap yang
amat saya kagumi karena kesaktiannya. Oleh karena itu saya persilakan Kwee-taihiap sudi singgah di benteng
kami untuk mempererat persahabatan dan untuk menambahkan pengetahuan kami yang dangkal."
Diam-diam Kwee Seng kagum. Biar pun hanya seorang wanita, seorang gadis muda, namun nona ini benarbenar
jauh bedanya dengan wanita-wanita yang ia temui. Nona ini membayangkan otak tajam, pandangan
luas, sopan-santun dan hati-hati, seperti sikap orang yang sudah banyak pengalaman. Ia lalu teringat bahwa ia
belum menanyakan nama, dan sebagai seorang yang begitu luas pandangannya seperti nona ini, tentu saja
tak mungkin akan memperkenalkan nama kalau tidak ditanya.
"Terima kasih, Nona baik sekali. Setelah Nona mengetahui namaku, agaknya boleh juga aku mengenal nama
Nona yang terhormat."
"Saya yang bodoh bernama Lai Kui Lan, sedang membantu perjuangan Kam-sute (Adik Seperguruan Kam).
Saya murid tunggal dari mendiang ayah Kam-sute, akan tetapi saya yang bodoh tak dapat mewarisi
sepersepuluhnya dari ilmu silat keluarga Kam."
Kembali jawaban yang mengagumkan hati Kwee Seng. “Ah, kalau saja Liu Lu Sian mempunyai watak dan
sikap seperti nona baju putih ini,” pikirnya.
"Sekali lagi terima kasih atas undangan Nona Liu yang manis budi. Akan tetapi, sebetulnya saya tidak ingin
mengganggu ketenteraman Nona dan Kam-goanswe. Tadi pun saya hanya bermaksud mencegah terjadinya
hal-hal yang mendatangkan kekacauan, maka maafkan kalau tadi saya melakukan kesalahan turun tangan
terhadap Nona, karena maksud saya hanya menghentikan pertandingan."
Kui Lan menundukkan mukanya dan pipinya merah sekali. Akan tetapi ia menjawab dengan sikap sederhana
dan merendah, "Ilmu kepandaian Kwee-taihiap telah membuka mata saya. Saya ulangi lagi, atas nama Kamsute
juga, kami persilakan Kwee-taihiap untuk singgah dan menerima penghormatan kami."
"Tidak bisa, Nona Lai. Terima kasih. Saya harus pergi sekarang juga." Setelah berkata demikian, Kwee Seng
mengangkat kedua tangan memberi hormat, lalu melompat ke atas kudanya dan meninggalkan guci araknya
yang sudah kosong. Hatinya yang penuh rasa nelangsa itu agaknya membuat ia tidak pedulian, sehingga guci
arak kosong tidak pula dibawanya.
Setelah pemuda itu pergi, Lai Kui Lan berdiri termenung di tempat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang,
kemudian pandang matanya bertemu dengan guci arak. Ia melangkah maju, membungkuk dan mengambil
guci arak itu. Tanpa ia sadar, ia menekankan guci arak kosong itu pada dadanya, dan ia meramkan matanya
seakan-akan guci arak yang tadi ia lihat diminum oleh Kwee Seng itu mewakili diri pemuda sakti yang telah
membuat jantungnya menggetar-getar itu. Kalau Lu Sian memandang rendah dan menghina Kwee Seng,
sebaliknya Lai Kui Lan ini sekaligus jatuh cinta saking kagumnya melihat Kwee Seng dalam segebrakan
merobohkan dia!
Memang aneh-aneh di dunia ini, apa lagi kalau menyangkut asmara yang mengamuk di hati orang-orang
muda. Lai Kui Lan yang berwatak gagah dan polos ini sekali jumpa langsung jatuh hati dan mencintai Kwee
Seng, akan tetapi yang dicintanya tidak tahu akan hal ini karena Kwee Seng kegilaan Liu Lu Sian. Sebaliknya
Lu Sian tidak mau membalas cinta kasih Kwee Seng dan gadis liar ini kagum kepada Kam Si Ek!
Ketika Lai Kui Lan sadar kembali akan keadaan dirinya, mukanya menjadi makin merah dan beberapa butir air
mata terlontar ke luar dari pelupuk matanya. Teringat akan keadaan Kwee Seng ia bergidik. Kasihan sekali
pendekar itu. Jatuh cinta kepada puteri Beng-kauwcu. Ia sudah mendengar akan Liu Lu Sian puteri Bengdunia-
kangouw.blogspot.com
kauwcu, gadis jelita dan perkasa yang sudah menjatuhkan hati entah berapa banyak pemuda. Ia mendengar
pula tentang para muda yang menjadi korban di Beng-kauw. Dan kini agaknya pendekar sakti Kwee Seng
menjadi korban pula.
Kemudian ia teingat akan sute-nya, Kam Si Ek. Ada persamaan antara Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Sute-nya
itu pun menjadi rebutan para gadis, membuat banyak gadis tergila-gila, akan tetapi sute-nya tetap tidak mau
menerima cinta seorang di antara mereka. Banyak pula yang menjadi korban asmara, di antaranya tiga orang
enci adik See-liong-sam-ci-moi-itu!
Teringat pula akan janji Kwee Seng untuk menurunkan ilmu pada besok tengah malam di puncak bukit sebelah
timur, segera ia merasa ngeri. Bukit itu terkenal dengan nama Liong-kui-san (Bukit Siluman Naga). Biar pun
bukan sebuah di antara gunung-gunung besar, namun di daerah itu amat terkenal sebagai bukit yang sukar
didatangi orang, seram dan dikabarkan banyak setannya.
Kam Si Ek sendiri melarang anak buahnya naik gunung itu karena memang keadaannya amat berbahaya, dan
harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat puncak bukit itu kelihatan aneh. Banyak jurang-jurang yang
tak terukur dalamnya, dan di sana mengalir pula sungai yang deras airnya, sungai yang sumbernya dari dalam
gunung dan kemudian menggabung dengan sungai Wu-kiang. Sungai ini pun oleh penduduk diberi nama
Liong-hiat-kang (Sungai Darah Naga), karena pada saat tertentu sinar matahari membuat sungai itu kelihatan
kemerahan seperti darah!
Kemudian Lai Kui Lan mengeluh dan berjalan dengan langkah gontai sambil mendekap guci arak.
Semangatnya seolah-olah melayang pergi mengikuti bayangan Kwee Seng, Si Pendekar Muda yang sakti dan
tampan!
Kwee Seng yang merana hatinya oleh pengakuan Liu Lu Sian yang tidak membalas cinta kasihnya,
membalapkan kudanya menjauhi letak benteng Jendral Kam Si Ek. Karena teringat akan janjinya kepada Liu
Lu Sian, ia lalu membelokkan kudanya ke arah timur. Hatinya lega ketika memasuki sebuah dusun tak jauh
dari kaki gunung, sebuah dusun yang cukup ramai, bahkan di situ terdapat sebuah rumah penginapan
sederhana yang membuka pula sebuah restoran. Untung baginya, rumah penginapan itu dalam keadaan
kosong tiada tamu sehingga keadaan sunyi dan ia tidak banyak menunggu.
Kwee Seng menjual kudanya dengan perantaraan pengurus hotel, kemudian ia minum mabok-mabokan sambil
bernyanyi-nyanyi untuk mengusir pergi kerinduan dan kesedihan hatinya. Sebentar saja para pelayan hotel
memberinya nama Sastrawan Pemabok! Dalam maboknya Kwee Seng menyanyikan sajak-sajak romantis
ciptaan penyair terkenal Li Tai Po.
Pada senja hari itu Kwee Seng berdiri di ruangan belakang rumah penginapan, memandang sinar matahari
yang mulai lenyap, hanya tampak sinar merah kekuningan menerangi angkasa barat. Tangan kanannya
memegang sebuah tempat arak terbuat dari pada kulit labu kering. Ia bersandar kepada langkan, memandangi
angkasa barat yang berwarna indah sekali sambil sesekali meneguk arak dari tempatnya. Teringat ia akan
sajak karangan Li Tai Po, maka sambil mengangkat muka dan menggerak-gerakkan tempat arak di depannya,
Kwee Seng lalu menyanyikan sajak itu.
Kunikmati arak hingga tak sadar akan datangnya senja
Rontokan daun bunga memenuhi lipatan bajuku
Mabok kuhampiri anak sungai mencerminkan bulan
Ohhh, burung terbang pergi, sunyi dan rawan
Kwee Seng berhenti bernyanyi dan meneguk araknya. Biar pun hawa arak sudah memenuhi kepalanya,
membuat kepalanya serasa ringan dan hendak melayang-layang, namun sebagai seorang ahli silat yang sakti,
telinganya menangkap suara langkah kaki orang. Sambil minum terus dan arak menetes-netes dari bibirnya,
Kwee Seng melirik ke sebelah kanan. Ia masih berdiri bersandarkan langkan.
"He-he-he, matahari pergi tentu terganti munculnya bulan...," ia berkata-kata seorang diri, akan tetapi diamdiam
ia memperhatikan orang-orang yang baru datang. Mengapa ada orang datang dari belakang rumah
penginapan?
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda dan seorang gadis, ia tidak berani memandang
langsung, melainkan mengerling dan memperhatikan dari sudut matanya. Alangkah herannya ketika ia
mengenal wanita itu. Bukan lain adalah gadis baju putih, Lai Kui Lan, suci (kakak seperguruan) dari Jenderal
Kam Si Ek! Pakaiannya masih sutra putih seperti pagi tadi, wajahnya masih terang dan manis seperti tadi,
akan tetapi ada keanehan pada diri gadis ini.
Kalau pagi tadi Lai Kui Lan amat peramah dan sinar matanya bening terang, kini gadis itu sama sekali tidak
menengok ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya atau tidak melihatnya, padahal tak mungkin tidak
melihatnya karena di tempat itu tidak ada orang lain. Dan sinar mata gadis itu seperti kehilangan semangat,
tidak sewajarnya! Apalagi lengan kiri gadis itu digandeng dengan erat oleh Si Pemuda yang memandang
penuh curiga kepadanya.
Kwee Seng membalikkan tubuh, menggoyang-goyang kepalanya seperti seorang pemabokan dan mengangkat
tempat arak ke arah pemuda itu dengan gerakan menawarkan. Akan tetapi diam-diam ia memperhatikan Si
Pemuda.
Seorang pemuda sebaya dengannya, berwajah cukup tampan akan tetapi membayangkan keanehan dan
kekejaman, sepasang alisnya yang tebal hitam itu bersambung dari mata atas kiri ke atas mata kanan.
Kepalanya kecil tertutup kain penutup kepala yang bentuknya lain dari pada biasa. Pada muka itu terbayang
sesuatu yang asing, seperti terdapat pada wajah orang-orang asing. Tubuhnya tidak berapa besar, namun
membayangkan kekuatan tersembunyi yang hebat, sedangkan sinar matanya pun membayangkan tenaga
dalam yang kuat. Diam-diam Kwee Seng terkejut dan menduga-duga siapa gerangan pemuda ini, dan
mengapa pula Lai Kui Lan ikut dengan pemuda ini dengan sikap seolah-olah seekor domba yang dituntun ke
penjagalan.
Seekor domba yang dituntun ke penjagalan! Kalimat ini seakan-akan berdengung di telinga Kwee Seng,
membuatnya termenung lupa akan araknya. Ketika dua orang itu sudah memasuki kamar tengah, terdengar
suara Si Pemuda yang berat dan parau minta kamar yang dijawab oleh pengurus rumah penginapan.
Kemudian, masih lupa akan araknya, Kwee Seng berjalan perlahan menuju ke kamarnya sendiri. Kalimat tadi
masih terngiang di telinganya. Mungkin, bisik hatinya. Mungkin sekali Lai Kui Lan menjadi domba dan pemuda
itu kiranya patut pula menjadi seorang penyembelih domba, seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul). Kalau tidak
demikian, mengapa sikap Lai Kui Lan begitu aneh seperti orang terkena sihir? Seperti seorang yang melek
akan tetapi tidak sadar?
Makin gelap keadaan cuaca di luar hotel, makin gelap pula pikiran Kwee Seng menghadapi teka-teki itu.
Hatinya penasaran, biar pun beberapa kali ia meyakinkan hatinya bahwa kehadiran Lai Kui Lan bersama
seorang pemuda itu sama sekali bukan urusannya dan bahwa tidak patut mengintai keadaan muda-mudi yang
mungkin sedang di lautan madu asmara. Namun kecurigaannya mendesak-desaknya sehingga tak lama
kemudian, di dalam kegelapan malam, Kwee Seng sudah melayang naik ke atas genteng hotel dan melakukan
pengintaian. Hal ini ia lakukan dengan guci arak masih di tangan, karena untuk melakukan pekerjaan yang
berlawanan dengan kesusilaan ini ia harus menguatkan hati dengan minum arak.
Akan tetapi, hampir saja ia terjengkang saking marah dan kagetnya ketika ia mengintai ke dalam kamar dua
orang itu. Tak salah lagi apa yang dikhawatirkan hatinya! Ia melihat Lai Kui Lan terbaring telentang di atas
pembaringan dalam keadaan lemas tak dapat bergerak, mukanya yang pucat itu basah oleh air mata. Terang
bahwa gadis itu tertotok hiat-to (jalan darah) di bagian thian-hu hiat dan mungkin juga jalan darah yang
membuat gadis itu menjadi gagu! Akan tetapi air mata itu menceritakan segalanya! Menceritakan bahwa
keadaan gadis seperti itu bukanlah atas kehendak si gadis sendiri, melainkan terpaksa dan karena tak
berdaya. Ada pun pemuda tadi duduk di tepi pembaringan sambil berkata lirih membujuk-bujuk.
"Nona yang baik, mengapa kau menangis?" Dengan gerakan halus dan mesra pemuda itu mengusap-usap
kedua pipi yang penuh air mata. "Aku tertarik oleh kecantikanmu, dan andai kata aku tidak tahu bahwa kau
adalah suci dari Jenderal Kam Si Ek, tentu aku tidak akan berlaku sesabar ini! Aku ingin kau menyerahkan diri
kepadaku berikut hatimu, ingin kau membalas cintaku dan kau akan kuajak ke Khitan, menjadi isteriku, isteri
seorang panglima! Dengan ikatan ini, tentu adik seperguruanmu akan suka bersekutu dengan kami. Nona, kau
tinggal pilih, menyerah kepadaku dengan sukarela, ataukah kau ingin menjadi orang terhina karena aku
menggunakan kekerasan? Kau tidak ingin dinodai seperti itu, bukan? Aku Bayisan, panglima terkenal di
dunia-kangouw.blogspot.com
Khitan, tidak kecewa kau menjadi kekasihku..." Pemuda itu menundukkan mukanya hendak mencium muka
gadis yang tak berdaya itu.
Tiba-tiba pemuda yang bernama Bayisan itu meloncat bangun, membatalkan niatnya mencium karena
tengkuknya terasa panas dan sakit. Matanya jelalatan ke sana ke mari, cuping hidungnya kembang kempis
karena ia mencium bau arak. Ia meraba tengkuknya yang ternyata basah, dan ketika ia mendekatkan
tangannya ke depan hidung, ia berseru kaget.
"Keparat, siapa berani main-main dengan aku?"
"Penjahat cabul jahanam! Di tempat umum kau berani melakukan perbuatan biadab, sekarang bertemu
dengan aku tak mungkin kau dapat mengumbar nafsu iblismu!" terdengar suara Kwee Seng dari atas genteng.
Bayisan bergerak cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela kamar dan beberapa
detik kemudian ia sudah meloncat naik ke atas genteng. Akan tetapi ia tidak melihat orang di atas genteng
yang sunyi itu! Bayisan celingukan, napasnya terengah-engah karena menahan amarah, sebatang pedang
sudah berada di tangan kanannya.
"Heeeei! Jahanam cabul, aku di sini. Mari kita keluar dusun kalau kau memang berani!" Tahu-tahu Kwee Seng
sudah berada agak jauh dari tempat itu, melambai-lambaikan guci araknya ke arah Bayisan.
Tentu saja orang Khitan ini makin marah dan sambil berseru keras ia mengejar. Kwee Seng lari cepat dan
terjadilah kejar-kejaran di malam gelap itu, menuju ke luar dusun. Di luar dusun inilah Kwee Seng menantikan
lawannya.
Mereka berhadapan. Kwee Seng bersikap tenang. Ketika lawannya datang ia sedang meneguk araknya.
Bayisan marah sekali, mukanya merah, matanya jalang, pedang di tangannya gemetar. Ketika mengenal
pemuda pelajar pemabokan itu, ia makin marah.
"Eh, kiranya kau, pelajar jembel tukang mabok! Kau siapakah dan mengapa kau lancang dan mencampuri
urusan pribadi orang lain?" Bayisan membentak menahan kemarahannya karena ia maklum bahwa yang
berdiri di depannya bukan orang sembarangan sehingga ia harus bersikap hati-hati dan mengenal keadaan
lawan lebih dulu. Bayisan terkenal sebagai seorang pemuda yang selain tinggi ilmunya, juga amat cerdik dan
keji. Di Khitan ia terkenal sebagai seorang panglima muda yang tangguh dan pandai.
Kwee Seng tertawa. "Aku orang biasa saja, tidak seperti engkau ini, Panglima Khitan merangkap penjahat
cabul! Aku mendengar tadi namamu Bauw I San? Belum pernah aku mendengar nama itu! Pernah aku
mendengar nama Kalisani sebagai tokoh Khitan yang dipuji-puji, akan tetapi nama Bouw I San (Bayisan)
tukang petik bunga (penjahat cabul), aku belum pernah!"
"Hemm, manusia sombong! Aku memang bernama Bayisan, Panglima Khitan. Kau mendengarnya atau belum
bukan urusanku. Aku suka gadis itu dan hendak mengambilnya sebagai kekasih, kau mau apa? Apakah kau
iri? Kalau kau iri, apakah kau tidak bisa mencari perempuan lain? Tak tahu malu engkau, hendak merebut
perempuan yang sudah menjadi tawananku!"
"Heh-heh-heh, Bayisan hidung belang! Jangan samakan aku dengan engkau! Kau suka mengganggu wanita,
aku tidak! Kau penjahat cabul, aku justru membasmi penjahat cabul! Aku Kwee Seng selamanya tidak
memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!" kalimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan
diam-diam Kwee Seng meringis karena ia teringat akan Liu Lu Sian yang tidak cinta kepadanya.
Di lain pihak, Bayisan kelihatan terkejut dan marah mendengar disebutnya nama ini. "Akhh, keparat! Jadi kau
ini Kwee Seng, pelajar jembel tak tahu malu itu? Kau telah terlepas dari tangan maut Suhu-ku Ban-pi Lo-cia,
sekarang kau tak mungkin terlepas dari tanganku!"
Setelah berkata demikian, Bayisan menyerang hebat dengan pedangnya. Pedang itu digerakkan ke atas akan
tetapi dari atas menyambar ke bawah dengan bacokan ke arah kepala, kemudian disusul gerakan menusuk
dada. Hebat serangan ini, karena sekaligus dalam satu gerakan saja telah menjatuhkan dua serangan yaitu
membacok kepala dan menusuk dada!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Kwee Seng menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh dua meter
sambil meneguk araknya. Sekaligus dua serangan itu gagal sama sekali! "Aih... aihhh... jadi kau ini murid Banpi
Lo-cia? Pantas... pantas.... Gurunya hidung belang, muridnya pun mata keranjang!"
Akan tetapi dengan gerakan kilat Bayisan telah menerjang maju. Permainan pedangnya benar-benar hebat.
Kiranya Bayisan bukanlah sembarang murid dari Ban-pi Lo-cia, agaknya sudah menerima gemblengan dan
mewarisi ilmu silat bagian yang paling tinggi, di samping ilmu silat yang dipelajarinya dari orang-orang pandai
di daerah utara dan barat. Pedang di tangannya berkelebatan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan
angin yang ditimbulkan mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan.
Diam-diam Kwee Seng kagum juga. Sayang sekali, pikirnya. Jarang ada orang muda dengan ilmu kepandaian
sehebat ini, maka amatlah sayang kepandaian begini baik jatuh pada diri seorang pemuda yang bermoral
rendah. Orang dengan kepandaian seperti ini tentu akan dapat menjunjung tinggi nama besar suku bangsa
Khitan yang memang terkenal sejak dulu sebagai suku bangsa yang kuat dan pengelana yang ulet.
Menghadapi pedang Bayisan yang tak boleh dipandang ringan ini, terpaksa Kwee Seng mengeluarkan
kipasnya. Dengan kipas di tangan kiri barulah ia bisa menghalau semua ancaman bahaya dari pedang itu.
Sebaliknya Bayisan kaget sekali. Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw muncul jago muda
bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-mo-eng, akan tetapi gurunya tidak bicara tentang kehebatan pemuda
itu. Maka sungguh kagetlah ia ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan kipas di tangan mampu
menghadapi pedangnya, malah kini semua jalan pedangnya serasa buntu, lubang untuk menyerang tertutup
sama sekali!
“Celaka!” pikirnya.
Walau pun ia amat meragukan, namun andai kata pun ia dapat menangkan sastrawan muda itu, tentu akan
makan waktu lama sekali. Pertandingan melawan sastrawan ini tidak penting baginya, lebih penting lagi diri Lai
Kui Lan yang ia tinggalkan dalam kamar hotel. Pengaruh totokannya tidak akan tahan lama, apalagi gadis itu
memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah. Kalau ia terus melayani sastrawan ini dan Lai Kui Lan dapat
membebaskan diri dari totokan, tentu akan terlepas dan lari. Kalau sudah lari kembali ke benteng, sukarlah
untuk menangkapnya lagi. Ia akan menderita rugi dua kali, pertama kehilangan calon korban yang begitu
menggiurkan, dan yang kedua, rencananya menarik Jenderal Kam Si Ek sebagai sekutu Khitan akan gagal
sama sekali.
Berpikir demikian, pemuda Khitan yang cerdik ini lalu mengeluarkan seruan keras dan tinggi, hampir
merupakan suara lengking yang memekakkan telinga. Pedangnya kemudian bergerak menusuk-nusuk seperti
datangnya belasan batang anak panah.
Kwee Seng terkejut. Lengking tadi hampir mencapai tingkat yang dapat membahayakan lawan. Kalau pemuda
Khitan ini tekun berlatih dan menerima bimbingan orang pandai, tentu akan berhasil memiliki ilmu pekik
semacam Sai-cu-ho-kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan hanya dengan pengerahan suara
saja! Apalagi lengking itu disusul serangan pedang sehebat itu. Benar-benar pemuda Khitan ini mengagumkan
dan berbahaya.
Kwee Seng cepat memutar kipasnya. Karena khawatir kipasnya akan rusak menghadapi hujan tusukan itu, ia
mengalah dan meloncat ke belakang. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Bayisan untuk
menggerakan tangan kirinya. Benda-benda hitam menyambar dan Kwee Seng mencium bau yang amat tidak
enak ketika ia mengelak hingga jarum-jarum hitam itu lewat di depan mukanya. Jarum-jarum beracun yang
lebih jahat dari pada jarum beracun milik Liu Lu Sian! Untuk menghilangkan bau tidak enak, ia meneguk
araknya.
Melihat kesempatan yang terbuka itu Bayisan meloncat pergi sambil berkata, "Jembel busuk, Tuanmu tidak
ada waktu lagi untuk...." Hanya sampai di sini kata-kata Bayisan karena tiba-tiba ia terguling roboh dan
tubuhnya lemas!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya secepat kilat Kwee Seng tadi telah menyemburkan arak dari mulutnya dan menyusulkan sebuah
totokan dengan ujung kipasnya. Gerakannya melompat seperti kilat menyambar sehingga tidak terduga-duga
oleh Bayisan yang lebih dulu sudah tersembur arak pada punggungnya. Robohlah tokoh Khitan itu, terguling
telentang. Ia berusaha bangkit, namun tak berhasil dan roboh lagi. Di lain saat Kwee Seng sudah berdiri di
dekatnya dan menudingkan gagang kipas pada dadanya.
Kini suara Kwee Seng kereng berpengaruh. "Bayisan? Kau terhitung apa dengan Kalisani?"
Bayisan orangnya cerdik sekali. Kalau perlu ia sanggup bersikap pengecut untuk menyelamatkan diri. Seketika
ia mengerti bahwa nyawanya tergantung pada jawabannya ini. Tanpa ragu-ragu ia berkata, "Dia kakak
misanku, tunggu saja kau akan pembalasannya karena kau berani menghinaku!"
Kwee Seng tertawa bergelak dan melangkah mundur. "Ho-ho-ha-ha! Kau hendak menggunakan nama Kalisani
untuk menakut-nakuti aku? Aha, lucu! Justru karena engkau saudara misannya, justru karena memandang
mukanya, aku mengampuni jiwamu yang kotor, bukan sekali-kali karena aku takut kepadanya. Huh, manusia
rendah yang mencemarkan nama besar orang-orang gagah Khitan!" Kwee Seng meludah, mengenai muka
Bayisan, lalu pemuda ini meninggalkan Bayisan, berlari cepat ke dusun.
Ketika memasuki kamar lewat jendela, ia melihat Lai Kui Lan masih telentang di atas pembaringan. Air
matanya bercucuran, akan tetapi kini gadis itu sudah mulai dapat bergerak-gerak lemah. Kwee Seng cepat
menggunakan ujung kipasnya menotok jalan darah dan terbebaslah Kui Lan.
Gadis ini meloncat bangun, mukanya membayangkan kemarahan besar. Ia bersikap seperti orang hendak
bertempur, kedua tangannya yang kecil mengepal, matanya berapi-api memandang ke sana ke mari, mencaricari.
"Mana dia? Mana jahanam terkutuk itu? Aku hendak mengadu nyawa dengan jahanam itu!"
"Tenanglah, Nona. Bayisan sudah pergi. Aku pancing dia keluar dusun dan sekarang dia terbaring di sana,
tertotok gagang kipasku. Untung bahaya sudah lewat, Nona, dan kiranya tak baik menimbulkan gaduh di hotel
ini sehingga memancing banyak orang datang dan akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang amat tak baik bagi
nama Nona...."
Tiba-tiba Lai Kui Lan memandang Kwee Seng dan menjatuhkan diri di depan pemuda itu sambil menangis.
Kwee Seng kebingungan dan menyentuh pundak gadis itu dengan halus. "Ah, apa-apaan ini, Nona? Mari
bangkit dan duduklah. Kalau hendak bicara, lakukanlah dengan baik, jangan berlutut seperti ini."
Lai Kui Lan menahan isaknya, lalu bangkit dan duduk di atas kursi. Kwee Seng tetap berdiri dan menenggak
araknya yang tidak habis-habis itu.
"Kwee-taihiap, kau telah menolong jiwaku...."
"Ah, kau tidak terancam bahaya maut, bagaimana bisa bilang aku menolong jiwamu?"
"Kwee-taihiap, bagaimana bisa bilang begitu? Bahaya yang mengancamku di tangan jahanam itu lebih hebat
dari pada maut...." Gadis itu menangis lagi, kemudian cepat menghapus air matanya dengan sapu-tangan.
"Sampai mati aku Lai Kui Lan tidak dapat melupakan budi Taihiap..." Tiba-tiba sepasang pipinya menjadi
merah dan sinar matanya menatap wajah Kwee Seng penuh rasa terima kasih.
Melihat sinar mata itu, Kwee Seng membuang muka dan menenggak araknya lagi. "Lupakanlah saja, Nona,
dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kejahatan pasti selalu akan hancur."
"Ah, di mana dia? Aku harus membunuhnya! Dia tertotok di luar dusun?" Setelah berkata demikian, gadis itu
cepat ke luar dan berlari di dalam gelap.
Kwee Seng menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Bayisan patut di bunuh, akan tetapi ia merasa tidak
enak kepada Kalisani, tokoh Khitan yang dikagumi semua orang dunia kang-ouw. Maka ia tidak menghendaki
nona itu membunuh Bayisan, dan diam-diam ia mengikuti Lai Kui Lan dari jauh. Akan tetapi hatinya lega ketika
ia melihat bahwa ketika Lai Kui Lan tiba di luar dusun, Bayisan sudah tak tampak lagi bayangannya. Kembali ia
dunia-kangouw.blogspot.com
merasa kagum. Pemuda Khitan itu benar-benar luar biasa, dapat membebaskan diri dari totokan sedemikian
cepatnya.
Ketika dengan hati kecewa Kui Lan kembali ke kamar itu, ia tidak lagi melihat Kwee Seng, hanya melihat
sehelai kertas bertulis di atas meja. Ia memungutnya dan membaca tulisan yang rapi dan bagus.
Para pelayan telah melihat nona datang bersama dia, tidak baik bagi nona tinggal lebih lama di tempat ini,
lebih baik cepat kembali.
Surat itu tak bertanda tangan, akan tetapi Kui Lan maklum siapa orangnya yang menulisnya. Dengan helaan
napas panjang, ia lalu meloncat ke luar lagi dan berlari-lari menuju benteng sute-nya. Gadis ini tidak tahu
bahwa diam-diam dari jauh Kwee Seng mengikutinya untuk menjaga kalau-kalau gadis ini bertemu lagi dengan
Bayisan. Setelah gadis itu memasuki benteng, barulah ia berjalan perlahan kembali ke hotelnya, memasuki
kamar lalu tidur dengan nyenyak.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil