Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 17 Mei 2017

Cersil Serial Bu Kek Siansu 1 Kho Ping Hoo

Serial Bu Kek Siansu 1 Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Serial Bu Kek Siansu 1 Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
-Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu
Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi,
menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan
kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman oleh hawa dingin menusuk.
Cahaya kuning emas yang membawa kehangatan, keindahan, dan penghidupan itu mengusir halimun
tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran embun yang kini
menjadi penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bunga-bunga yang beraneka warna itu seperti
dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar dan berseri-seri.
Cahaya matahari yang lembut itu tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan hutan yang rimbun. Namun
kelembutannya membuat cahaya itu dapat juga menerobos di antara celah-celah daun dan ranting
sehingga sinar kecil memanjang yang tampak jelas di antara bayang-bayang pohon meluncur ke bawah, di
sana-sini bertemu dengan pantulan air membentuk warna pelangi yang amat indahnya, warna yang
dibentuk oleh segala macam warna terutama oleh warna dasar merah, kuning dan biru. Indah!
Bagi mata yang bebas dari segala ikatan, keindahan itu makin terasa. Keindahan yang baru dan yang
senantiasa akan nampak baru biar pun andai kata dilihat setiap hari. Sebelum cahaya pertama yang
kemerahan dari matahari pagi tampak, keadaan hutan di lereng itu sunyi senyap.
Yang mula-mula membangunkan hutan itu adalah kokok ayam hutan yang pendek dan nyaring sekali.
Kokok yang tiba-tiba dan mengejutkan, susul-menyusul dari beberapa penjuru. Kokok ayam jantan inilah
yang menggugah para burung yang tadinya diselimuti kegelapan malam, menyembunyikan muka di bawah
selimut tebal dan hangat dari sayap mereka. Kini terjadilah gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar
dan terdengar kicau burung yang sahut-menyahut, bermacam-macam suaranya, bersaing indah dan ramai
namun kesemuanya memiliki kemerduan yang khas.
Sukar bagi telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena suara yang bersahut-sahutan itu
merupakan kesatuan seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang ada pada telinga hanya
indah! Sukar dikatakan mana yang lebih indah, suara burung-burung itu sendiri ataukah keheningan
kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu.
Anak laki-laki itu masih amat kecil, tidak akan lebih dari tujuh tahun usianya. Dia berdiri seperti sebuah
patung, berdiri di tempat datar yang agak tinggi di hutan Gunung Seribu Bunga itu, menghadap ke timur.
Sudah ada setengah jam lebih dia berdiri seperti itu. Hanya matanya saja yang bergerak-gerak, mata yang
lebar yang penuh sinar ketajaman dan kelembutan, seperti biasa mata kanak-kanak yang hidupnya masih
bebas dan bersih, namun di antara kedua matanya, kulit di antara alis itu agak terganggu oleh garis-garis
lurus.
Aneh juga melihat seorang anak kecil seperti itu sudah ada keriput di antara kedua alisnya! Anak itu
pakaiannya sederhana sekali, biar pun amat bersih seperti bersihnya tubuhnya, dari rambut sampai ke
kuku jari tangannya yang terpelihara dan bersih. Wajahnya biasa saja, seperti anak-anak lain dengan
bentuk muka yang tampan. Hanya matanya dan keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada
anak-anak dan membuat dia menjadi seorang anak yang mudah mendatangkan kesan pada hati
pemandangnya sebagai seorang anak yang aneh dan tentu memiliki sesuatu yang luar biasa.
Sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh seri kehidupan ketika dia tadi melihat munculnya bola merah
besar di balik puncak gunung sebelah timur. Bola merah yang amat besar dan yang mula-mula merupakan
pemandangan yang amat menarik hati, akan tetapi lambat laun merupakan benda yang tak kuat lagi mata
memandangnya karena cahaya yang makin menguning dan berkilauan. Maka dia mengalihkan
pandangannya, kini menikmati betapa cahaya yang tiada terbatas luasnya itu menghidupkan segala
sesuatu, dari puncak pegunungan sampai jauh di sana, di bawah kaki gunung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak itu lalu menanggalkan pakaiannya, satu semi satu dengan gerakan sabar dan tidak tergesa-gesa,
tanpa menengok ke kanan-kiri karena selama ini dia tahu bahwa di pagi hari seperti itu tidak akan ada
seorang pun manusia kecuali dirinya sendiri berada di situ.
Dengan telanjang bulat dia lalu menghampiri sebuah batu dan duduk bersila menghadap matahari.
Duduknya tegak lurus, kedua kakinya bersilang dan napasnya masuk keluar dengan halus tanpa diatur,
tanpa paksaan seperti pernapasan seorang bayi sedang tidur nyenyak. Sudah beberapa tahun dia
melakukan ini setiap hari, duduk sambil mandi cahaya matahari selama dua tiga jam sampai semua
tubuhnya bermandi peluh dan terasa panas barulah dia berhenti.
Juga di waktu malam terang bulan, dia duduk pula di batu itu, telanjang bulat, mandi cahaya bulan
purnama selama tujuh malam, kadang-kadang sampai lupa diri dan duduk bersila sampai setengah tidur,
dan barulah dia berhenti kalau tubuh sudah hampir membeku dan bulan sudah lenyap bersembunyi di balik
puncak barat. Anak yang luar biasa!
Memang. Demikian pula penduduk di sekitar pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya Sin Liong (Anak
Ajaib), demikianlah nama anak ini yang diketahui orang. Anak ajaib, anak sakti dan lain-lain sebutan lagi.
Karena semua orang menyebutnya Sin Liong dan memang dia sendiri tidak pernah mau menyatakan siapa
namanya, maka anak itu sudah menjadi terbiasa dengan sebutan ini dan menganggap namanya Sin Liong!
Mengapakah orang-orang dusun, penghuni semua dusun di sekitar lereng dan kaki pegunungan Jeng Hoa
San menyebutnya anak ajaib? Hal ini ada sebabnya, yaitu karena anak berusia tujuh tahun itu pandai
sekali mengobati penyakit dengan memberi daun-daun, buah-buah, dan akar-akar obat yang benar-benar
manjur sekali!
Hampir semua penduduk yang terkena penyakit datang ke lereng Hutan Seribu Bunga, yaitu nama hutan di
mana anak itu tinggal karena di antara sekalian hutan di Pegunungan Seribu Bunga, hutan inilah yang
benar-benar tepat disebut Hutan Seribu Bunga dengan tetumbuhan beraneka warna, penuh dengan
bunga-bunga indah, terutama sekali pada musim semi. Dan anak ini akan memberi daun atau akar obat
dengan hati terbuka, dengan tulus ikhlas, suka rela dan selalu menolak kalau diberi uang! Maka berduyunduyun
orang dusun datang kepadanya dan diam-diam memujanya sebagai seorang anak ajaib, sebagai
dewa yang menjelma menjadi seorang anak-anak yang menolong dusun-dusun itu dari mala-petaka.
Bahkan ketika terjangkit penyakit menular, penyakit demam hebat yang menimbulkan banyak korban tahun
lalu, bocah ajaib inilah yang membasminya dengan memberi akar-akar tertentu yang harus diminum airnya
setelah dimasak. Dengan akar itu, yang sakit banyak tertolong dan yang belum terkena penyakit tidak akan
ketularan.
Ketika orang-orang dusun itu, terutama yang wanita, datang membawa pakaian baru yang sudah dijahit
rapi, anak itu tak dapat menolak, dan menyatakan terima kasihnya dengan butiran air mata menetes di
kedua pipinya. Akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Karena jasa orang-orang dusun
ini, maka anak itu selalu berpakaian sederhana sekali, potongan ‘dusun’.
Siapakah sebetulnya anak kecil ajaib yang menjadi penghuni Hutan Seribu Bunga seorang diri saja itu?
Benarkah dia seorang dewa yang turun dari kahyangan menjadi seorang anak-anak untuk menolong
seorang manusia, seperti kepercayaan para penduduk di pegunungan Tibet sehingga banyak terdapat
Lama yang dianggap sebagai Sang Buddha sendiri yang ‘menjelma’ menjadi anak-anak dan menjadi calon
Lama? Sebetulnya tentu saja tidak seperti ketahyulan yang dipercaya oleh orang-orang yang memang
suka akan ketahyulan dan suka akan yang ajaib-ajaib itu.
Anak itu dahulunya adalah anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-Leng, sebuah kota kecil di sebelah
timur pegunungan Jeng-hoa-san. Dia bernama Kwa Sin Liong, dan nama Sin Liong (Naga Sakti) ini
diberikan kepadanya karena ketika mengandungnya, ibunya mimpi melihat seekor naga beterbangan di
angkasa di antara awan-awan.
Ada pun ayah Sin Liong adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya di kota Kun-leng. Akan tetapi
mala-petaka menimpa keluarga ini ketika malam hari tiga orang pencuri memasuki rumah mereka. Tadinya
tiga orang penjahat ini hendak melakukan pencurian terhadap keluarga kaya ini, akan tetapi ketika mereka
memasuki kamar, ayah dan ibu Sin Liong mempergoki mereka. Karena khawatir dikenal, tiga orang itu lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
membunuh ayah-bunda Sin Liong dengan bacokan-bacokan golok.
Ketika itu Sin Liong baru berusia lima tahun dan di tempat remang-remang itu melihat betapa ayahbundanya
dihujani bacokan golok dan roboh mandi darah, tewas tanpa sempat berteriak. Saking ngeri dan
takutnya, Sin Liong seperti berubah menjadi gagu, matanya melotot dan dia tidak bisa mengeluarkan
suara. Karena ini, tiga orang pencuri itu tidak melihat anak kecil di kamar yang gelap itu. Mereka terutama
sibuk mengumpulkan barang-barang berharga dan mereka itu juga panik, ingin lekas-lekas pergi karena
mereka telah terpaksa membunuh tuan dan nyonya rumah.
Setelah para penjahat itu keluar dari kamar, barulah Sin Liong dapat menjerit, menjerit sekuat tenaganya
sehingga malam hari itu terkoyak oleh jeritan anak ini. Para tetangga mereka terkejut dan semua pintu
dibuka, semua laki-laki berlari ke luar dan melihat tiga orang yang tidak dikenal keluar dari rumah keluarga
Kwa membawa buntalan-buntalan besar.
Segera terdengar teriakan, "Maling…maling!"
Orang-orang itu mengurung tiga penjahat ini. Beberapa orang lari memasuki rumah keluarga Kwa dan
dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat suami-isteri itu tewas dalam keadaan mandi darah.
Sedangkan Sin Liong terlihat menangisi kedua orang-tuanya, memeluki mereka sehingga muka, tangan
dan pakaian anak itu penuh dengan darah ayah-bundanya.
"Pembunuh! Mereka membunuh keluarga Kwa!" orang yang menyaksikan mayat kedua orang itu segera
lari keluar dan berteriak-teriak.
"Manusia kejam! Tangkap mereka!"
"Tidak! Bunuh saja mereka!"
"Tubuh suami-istri Kwa hancur mereka cincang!"
"Bunuh!"
"Serbu...!"
Dan terjadilah pergumulan atau pertandingan yang berat sebelah. Tiga orang itu terpaksa melakukan
perlawanan untuk membela diri, akan tetapi mana mereka itu, maling-maling biasa, mampu menahan
serbuan puluhan bahkan ratusan orang yang marah dan haus darah?
Ketika pengeroyokan di luar rumahnya sedang terjadi, anak laki-laki itu keluar dari dalam, mukanya penuh
darah, kedua tangannya dan pakaiannya juga. Dia melangkah ke luar seperti dalam mimpi, mukanya pucat
sekali dan matanya yang lebar itu terbelalak memandang penuh kengerian.
Dia berdiri di depan pintu rumahnya, matanya makin terbelalak memandang apa yang terjadi di depan
rumahnya. Jelas tampak olehnya betapa para tetangganya itu, seperti sekumpulan serigala buas,
menyerang dan memukuli tiga orang pencuri tadi, para pembunuh ayah-bundanya. Terdengar olehnya
betapa pencuri-pencuri itu mengaduh-aduh merintih-rintih, minta-minta ampun dan terdengar pula suara
bak-bik-buk ketika kaki tangan dan senjata menghantami mereka. Mereka bertiga telah roboh, tapi terus
digebuki, dibacok, dihantam dan darah muncrat-muncrat. Akhirnya tubuh tiga orang itu berkelojotan, dan
suara yang aneh keluar dari tenggorokan mereka.
Akan tetapi orang-orang yang marah dan haus darah itu, yang menganggap bahwa apa yang mereka
lakukan ini sudah baik dan adil, terus saja menghantami tiga orang manusia sial itu sampai tubuh mereka
remuk dan tidak tampak seperti tubuh manusia lagi, patutnya hanya onggokan-onggokan daging hancur
dan tulang-tulang patah! Saat semua orang sudah merasa puas, juga mulai ngeri melihat hasil perbuatan
sendiri, barulah mereka menghentikan pengeroyokan terhadap tiga mayat itu dan kemudian memasuki
rumah keluarga Kwa. Tapi Sin Liong sudah tidak berada di situ!
Kiranya bocah ini, yang baru saja tergetar jiwanya, tergores penuh luka melihat ayah-bundanya dibacoki
dan dibunuh, ketika melihat tiga orang pembunuh itu dikeroyok dan disiksa, jiwanya makin terhimpit, lukaluka
dihatinya makin banyak dan dia tidak kuat menahan lagi. Dilihatnya wajah orang-orang itu semua
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti wajah iblis, dengan mata bernyala-nyala penuh kebencian dan dendam, penuh nafsu membunuh,
dengan mulut terngangga seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan
menghisap darahnya.
Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah berada di antara sekumpulan iblis. Maka sambil menangis tersedusedu
Sin Liong lalu lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota Kun-leng,
terus berlari ke arah pegunungan yang tampak dari jauh seperti seorang manusia sedang rebahan,
seorang manusia dewa yang sakti, yang akan melindunginya dari kejaran iblis itu!
Seperti orang kehilangan ingatan, semalam itu Sin Liong terus berlari sampai pada keesokan harinya.
Saking lelahnya, dia tersaruk-saruk di kaki pegunungan Jeng-hoa-san, kadang-kadang tersandung kakinya
dan jatuh menelungkup, bangun lagi dan lari lagi, terhuyung-huyung dan akhirnya, pada keesokan harinya,
pagi-pagi dia terguling roboh pingsan di dalam sebuah hutan di lereng bagian bawah pegunungan Jenghoa-
san.
Setelah siuman, anak kecil berusia lima tahun ini melanjutkan perjalanannya, dan beberapa hari kemudian
tibalah dia di sebuah hutan penuh bunga karena kebetulan pada waktu itu adalah musim semi. Di
sepanjang jalan mendaki pegunungan, kalau perutnya sudah mulai lapar, anak ini memetik buah-buahan
dan makan daun-daunan, memilih yang rasanya segar dan tidak pahit sehingga dia tidak sampai
kelaparan.
Di dalam hutan seribu bunga itu Sin Liong terpesona, merasa seperti hidup di alam lain, di dunia lain.
Tempat yang hening dan bersih, tidak ada seorang pun manusia. Kalau dia teringat akan manusia, dia
bergidik dan menangis saking takut dan ngerinya. Dia telah menyaksikan kekejaman-kekejaman yang amat
hebat. Bukan hanya kekejaman orang-orang yang merenggut nyawa ayah-bundanya, yang memaksa
ayah-bundanya berpisah darinya dan mati meninggalkannya, akan tetapi juga melihat kekejaman puluhan
orang tetangga yang menyiksa tiga orang itu sampai mati dan hancur tubuhnya, Dia bergidik dan ketakutan
kalau teringat akan hal itu.
Di dalam Hutan Seribu Bunga itulah dia merasakan keamanan, kebersihan, dan keheningan yang
menyejukkan perasaan. Mula-mula Sin Liong tidak mempunyai niat untuk kembali ke kotanya karena ia
masih terasa ngeri, tidak ingin melihat ayah-bundanya yang berlumuran darah, tak ingin melihat mayat tiga
orang pencuri yang rusak hancur.
Ketika dia tiba di hutan Jeng-hoa-san itu dan melihat betapa tubuh dan pakaiannya ternoda darah yang
baunya amat busuk, dia cepat mandi dan mencuci pakaian di anak sungai yang terdapat di hutan itu, anak
sungai yang airnya keluar dari sumber air, jernih dan sejuk sekali. Mula-mula memang dia tidak ingin
pulang karena kengerian hatinya, akan tetapi setelah dua tiga bulan ‘bersembunyi’ di tempat itu, timbul
rasa cintanya terhadap Hutan Seribu Bunga dan dia kini tidak ingin pulang sama sekali karena dia telah
menganggap hutan itu sebagai tempat tinggalnya yang baru!
Di dekat pohon peak yang besar, terdapat bukit batu dan di situ ada goanya yang cukup besar untuk
dijadikan tempat tinggal, dijadikan tempat berlindung dari serangan hujan dan angin. Goa ini
dibersihkannya dan menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan. Demikianlah, anak ini tidak tahu
sama sekali bahwa harta kekayaan orang-tuanya yang tidak mempunyai keluarga dan sanak kadang
lainnya, telah dijadikan perebutan antara para tetangga sampai habis ludes sama sekali!
Dengan alasan ‘mengamankan’ barang-barang berharga dari rumah kosong itu, para tetangga telah
memperkaya diri sendiri. Mereka ini tetap tidak tahu, atau tidak mengerti bahwa mereka telah mengulangi
perbuatan tiga orang pencuri yang mereka keroyok dan bunuh bersama itu. Mereka juga melakukan
pencurian, sungguh pun caranya tidak ‘sekasar’ yang dilakukan para pencuri.
Jika dinilai, pencurian yang dilakukan para tetangga dan ‘sahabat’ ini jauh lebih kotor dan rendah dari-pada
yang dilakukan oleh tiga orang pencuri dahulu itu. Para pencuri itu melakukan pencurian dengan sengaja
dan terang-terangan sebagai pencuri, tidak berselubung apa-apa, dan kejahatannya itu memang terbuka,
sebagai orang-orang yang mengambil barang orang lain di waktu Si Pemilik sedang lengah atau tertidur.
Namun, apa yang dilakukan oleh para tetangga itu adalah pencurian terselubung, dengan kedok
‘menolong’, sehingga kalau dibuat takaran, kejahatan mereka itu berganda. Pertama, jahat seperti Si
Pencuri biasa karena mengambil dan menghaki milik orang lain. Kedua, jahat karena telah bersikap
dunia-kangouw.blogspot.com
munafik, melakukan kejahatan dengan selubung ‘kebaikan’.
Demikianlah sampai dua tahun lamanya anak berusia lima tahun ini tinggal seorang diri di dalam Hutan
Seribu Bunga. Sebagai putera seorang ahli pengobatan, biar pun ketika itu usianya baru lima tahun, sedikit
banyak Sin Liong tahu akan daun-daun dan akar obat, bahkan sering dia ikut ayahnya mencari daun-daun
obat di gunung-gunung.
Setelah kini dia hidup seorang diri di dalam hutan, bakatnya akan ilmu pengobatan mendapat ujian dan
pemupukan secara alam. Dia harus makan setiap hari. Untuk keperluan ini, dia telah pandai memilih dari
pengalaman, mana daun yang berkhasiat dan mana yang enak, mana pula yang beracun dan sebagainya.
Selama dua tahun itu, dengan pakaian cabik-cabik tidak karuan, sering pula dia terserang sakit dan dari
pengalaman ini pula dia dapat memilih daun-daun dan akar-akar obat, bukan dari pengetahuan, melainkan
dari pengalaman. Mungkin karena tidak ada sesuatu lainnya yang menjadikan bahan pemikiran, maka
anak ini dapat mencurahkan semua perhatiannya terhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah
dan kembang yang mengandung obat ini sehingga penciumannya amat tajam terhadap khasiat daun dan
akar obat.
Dengan menciumnya saja dia dapat menentukan khasiat apakah yang terkandung dalam suatu daun,
bunga, buah atau pun akar! Tidak kelirulah kata-kata orang bahwa pengalaman adalah guru terpandai.
Tentu saja kata-kata itu baru terbukti kebenarannya kalau seseorang memiliki rasa kasih terhadap yang
dilakukannya itu. Dan memang di lubuk hati Sin Liong, dia mempunyai rasa kasih yang menimbulkan suka,
dan suka ini menimbulkan kerajinan untuk mempelajari khasiat bunga-bunga dan daun-daun yang banyak
sekali macamnya dan tumbuh di dalam Hutan Seribu Bunga itu.
Selain mempelajari khasiat tumbuh-tumbuhan, bukan hanya untuk menjadi makanan sehari-hari akan
tetapi juga untuk pengobatan, Sin Liong mempunyai kesukaan lain lagi yang timbul dari rasa kasihnya
kepada alam, kasih yang sepenuhnya dan yang mungkin sekali timbul karena dia merasa hidup sebatangkara
dan juga timbul karena melihat kekejaman yang menggores di kalbunya akan perbuatan manusia
ketika ayah ibunya dan tiga orang pencuri itu tewas.
Di tempat itu dia melihat kedamaian yang murni, kewajaran yang indah, dan tidak pernah melihat
kepalsuan-kepalsuan, tidak melihat kekejaman. Rasa kasih kepada alam ini membuat dia amat peka
terhadap keadaan sekelilingnya, membuat perasaannya tajam sekali sehingga dia dapat merasakan
betapa hangat dan nikmatnya sinar matahari pagi, betapa lembut dan sejuk segarnya sinar bulan purnama
sehingga tanpa ada yang memberi tahu dan menyuruh hampir setiap pagi dia bertelanjang mandi cahaya
matahari pagi dan setiap bulan purnama dia bertelanjang mandi sinar bulan purnama.
Tanpa disadarinya, tubuhnya telah menerima dan menyerap inti tenaga mukjijat dari bulan dan matahari,
yang membuat darahnya bersih, tulangnya kuat dan tenaga dalam di tubuhnya makin terkumpul di luar
kesadarannya. Setelah keringat membasahi seluruh tubuh dan beberapa kali memutar tubuhnya yang
duduk bersila di atas batu, Sin Liong turun dari batu itu, menghapus peluh dengan sapu-tangan lebar.
Setelah tubuhnya tidak berkeringat lagi, setelah dibelai bersilirnya angin pagi, dia mengenakan lagi
pakaiannya dan pergi mengeluarkan bunga, daun, buah dan akar obat dari dalam goa untuk dijemur
dibawah sinar matahari. Inilah yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, selain mencangkok, memperbanyak
dan menanam tanaman-tanaman yang berkhasiat.
Menjelang tengah hari, mulailah berdatangan penduduk yang membutuhkan obat. Di antara mereka
terdapat pula beberapa orang kang-ouw yang kasar dan menderita luka beracun dalam pertempuran.
Untuk mereka semua, tanpa pandang bulu, Sin Liong memberikan obatnya setelah memeriksa luka-luka
dan penyakit yang mereka derita. Lebih dari lima belas orang datang berturut-turut minta obat dan yang
datang terakhir adalah seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi besar, di punggungnya tergantung
golok dan dia datang terpincang-pincang karena pahanya terluka hebat, luka yang membengkak dan
menghitam.
"Sin-tong, kau tolonglah aku..." Begitu tiba di depan goa dimana Sin Liong duduk dan memotong-motong
akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki-laki bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar itu menjatuhkan
diri dan merintih kesakitan.
Sin Liong mengerutkan alisnya. Di antara orang-orang yang minta pengobatan, dia paling tidak suka
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat orang kang-ouw yang dapat dikenal dari sikap kasar dan senjata yang selalu mereka bawa. Namun
belum pernah dia menolak untuk mengobati mereka, bahkan diam-diam dia menilai mereka itu sebagai
orang-orang yang berwatak serigala, yang haus darah, yang selalu saling bermusuhan dan saling melukai,
sehingga mereka ini merupakan manusia-manusia yang patut dikasihani karena tidak mengenal apa
artinya ketenteraman, kedamaian, dan kasih antar manusia yang mendatangkan ketenangan dan
kebahagiaan.
"Orang tua gagah, bukankah dua bulan yang lalu kau pernah datang dan minta obat karena luka di lengan
kirimu yang keracunan?" tanyanya sambil menatap wajah berkulit hitam itu.
"Benar, benar sekali, Sin-tong. Aku adalah Sin-hek-houw (Macan Hitam Sakti) yang dahulu terkena senjata
jarum beracun di lenganku. Akan tetapi sekarang aku menderita luka lebih parah lagi. Pahaku terbacok
pedang lawan dan celakanya pedang itu mengandung racun yang hebat sekali. Kalau kau tidak segera
menolongku, aku akan mati, Sin-tong."
Sin Liong tidak berkata apa-apa lagi. Ia menghampiri orang yang di atas tanah itu, memeriksa luka
mengangga di balik celana yang ikut terobek. Luka itu lebar dan dalam, luka yang tertutup oleh darah yang
menghitam dan membengkak, bahkan ketika dipegang seluruh kaki itu terasa panas, tanda keracunan
hebat!
Sin Liong menarik napas panjang. "Lo-eng-hiong, mengapa engkau masih saja bertempur dengan orang
lain, saling melukai dan saling membunuh? Bukankah dahulu ketika kau datang ke sini pertama kali,
pernah kau berjanji tidak akan lagi bertanding dengan orang lain?"
Mata yang lebar itu melotot kemudian pandang matanya melembut. Tak mungkin dia dapat marah kepada
anak ajaib ini. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun dapat bicara seperti itu kepadanya, seolah-olah anak
itu adalah seorang kakek yang menjadi pertapa dan hidup suci!
"Sin-tong, aku adalah Sin-hek-houw, dan jangan kau menyebut Lo-eng-hiong (Orang Tua Gagah)
kepadaku. Aku adalah seorang perampok, mengertikah kau? Seorang perampok tunggal yang
mengandalkan hidup dari merampok orang lewat! Kalau aku tidak butuh barang, aku tentu tidak akan
menganggu orang, dan kalau orang yang kumintai barangnya itu tidak melawan, aku tentu tidak akan
menyerangnya. Akan tetapi, dua kali aku keliru menilai orang....”
“Dahulu, aku menyerang seorang nenek yang kelihatan lemah, dan akibatnya lenganku terluka hebat.
Sekarang, aku merampok seorang kakek yang kelihatan lemah, yang membawa barang berharga, dan
akibatnya pahaku hampir buntung dan kini keracunan hebat. Kau tolonglah, aku akan berterima kasih
kepadamu, Sin-tong. Dan aku datang kali ini juga akan mengabarkan sesuatu yang amat penting bagimu."
"Lo-eng-hiong, aku tidak membutuhkan terima kasih dan balasan. Aku mengenal khasiat tetumbuhan di
sini. Tetumbuhan itu tumbuh di sini begitu saja, mempersilakan siapa pun juga yang mengerti untuk
memetik dan mempergunakannya, tanpa membeli, tanpa merampas dan tanpa menggunakan kekerasan.
Aku hanya memetik dan menyerahkan kepadamu, perlu apa aku minta terima kasih dan balasan? Lukamu
ini hebat. Seluruh kaki sudah panas, berarti darahmu telah keracunan. Untuk mengeluarkan racunnya yang
masih mengeram di sekitar luka, sebaiknya luka itu dibuka agar dapat diobati, tidak seperti sekarang ini,
ditutup oleh darah beracun yang mengering. Dapatkah kau membuka lukamu itu, Lo-enghiong?"
Orang setengah tua itu membelalakan mata dan kembali dia kagum mendengar cara bocah itu bicara.
Akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia teringat bahwa bocah ini adalah Sin-tiong, anak ajaib! Maka
dia lalu menghunus goloknya.
Saat melihat berkelebatnya sinar golok, Sin Liong memejamkan matanya. Terbayang kembali tiga batang
golok yang membacoki tubuh ayah-bundanya, dan banyak golok yang kemudian membacoki tubuh tiga
orang pencuri itu.
Sin-hek-houw menggunakan ujung goloknya untuk menusuk dan membuka kembali luka di pahanya. Dia
mengeluh keras, akan tetapi lukanya sudah terbuka dan darah hitam mengucur ke luar. Dengan siksaan
rasa nyeri yang hebat, Sin-hek-houw melemparkan goloknya dan menggunakan kedua tangannya memijitmijit
paha yang terasa nyeri itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin Liong berlutut, menggunakan jari tangannya yang halus untuk bantu memijat sehingga darah makin
banyak keluar. Darah hitam dan baunya membuat orang mau muntah! Akan tetapi Sin Liong yang
melakukan hal itu dengan rasa kasih sayang di hati, dengan rasa iba yang mendalam dan tidak dibuat-buat
dan tidak pula disengaja, menerima bau itu dengan perasaan makin terharu.
“Betapa sengsara dan menderitanya orang ini,” hanya demikian bisikan hatinya. Dia lalu mengambil
bubukan akar tertentu, menabur bubukan itu ke dalam luka yang mengangga.
"Aduhhhhh... mati aku...!" kakek itu berseru keras ketika merasa betapa obat itu mendatangkan rasa nyeri
seperti ada puluhan ekor lebah menyengat-nyengat bagian yang terluka itu.
"Harap kau pertahankan, Lo-enghiong sebentar juga akan hilang rasa nyerinya. Jangan lawan rasa nyeri
itu, hadapilah sebagai kenyataan dan ketahuilah bahwa bubuk itu adalah obat yang akan mengusir
penyakit ini."
Sambil berkata demikian, Sin Liong lalu menggunakan empat helai daun yang sudah diremas sehingga
daun itu menjadi basah dan layu, kemudian ditutupnya luka itu dengan empat helai daun. Benar saja,
rintihan orang itu makin perlahan tanda bahwa rasa nyerinya berkurang dan akhirnya orang itu menarik
napas panjang karena rasa nyerinya kini dapat ditahannya.
"Harap Lo-enghiong membawa akar ini. Rebuslah dan minum airnya, khasiatnya untuk membersihkan
racun yang masih berada di kakimu. Dengan demikian maka luka itu akan membusuk dan akan lekas
sembuh. Obat bubuk dan daun-daun ini untuk mengganti obat setiap hari sekali, kiranya cukup untuk
sepekan sampai luka itu sembuh sama sekali." Sin Liong berkata sambil membungkus obat-obat itu
dengan sehelai daun yang lebar dan menyerahkannya kepada Sin-hek-houw.
Orang kasar itu menerima bungkusan obat dan kembali menghela napas panjang. "Kalau saja aku dapat
mempunyai seorang sahabat seperti engkau yang selalu berada di sampingku. Kalau saja aku dapat
mempunyai seorang anak seperti engkau, kiranya aku tidak akan tersesat sejauh ini. Terima kasih, Sintong.
Dan aku tidak dapat membalas apa-apa kecuali peringatan kepadamu bahwa engkau terancam
bahaya besar."
Sin Liong mengangkat muka memandang wajah berkulit hitam itu dengan heran.
"Sin-tong, dunia kang-ouw telah geger dengan namamu. Aku dan orang-orang kang-ouw yang telah
menerima pengobatanmu, membawa namamu di dunia kang-ouw dan terjadilah geger karena nama Sintong
menjadi kembang bibir setiap orang kang-ouw. Banyak partai besar tertarik hatinya, menganggap
engkau tentu penjelmaan dewa atau Sang Buddha. Kini telah banyak partai dan orang-orang gagah yang
siap untuk datang ke sini untuk membujukmu menjadi anggota mereka atau menjadi murid orang-orang
kang-ouw yang terkenal. Celakanya, di antara mereka itu terdapat dua orang manusia iblis yang lain lagi
maksudnya, bukan maksud baik seperti tokoh dan partai persilatan, melainkan maksud keji terhadap
dirimu."
Sin Liong mengerutkan alisnya. Sedikit pun dia tidak merasa takut karena memang dia tidak mempunyai
niat buruk terhadap siapa pun di dunia ini. "Lo-eng-hiong, aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu
apa-apa, tidak mempunyai permusuhan dengan siapa pun juga. Siapa orangnya yang akan
menggangguku?"
Kakek itu memandang terharu. "Ahh...kau benar-benar seorang yang aneh dan bersih hatimu. Kalau aku
memiliki kepandaian, aku akan melindungimu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, bukan hanya karena
dua kali kau menolongku, melainkan karena tidak rela aku melihat orang mau merusak seorang bocah
ajaib seperti engkau ini. Akan tetapi dua orang iblis itu..." Sin-hek-houw menggiggil dan kelihatan jeri sekali.
"Siapakah mereka dan apa yang mereka kehendaki dari aku?"
"Di dunia kang-ouw banyak terdapat golongan sesat, manusia-manusia iblis, termasuk orang seperti aku.
Akan tetapi dibandingkan dua orang yang kumaksudkan itu, mereka adalah dua ekor harimau buas
sedangkan orang seperti aku hanyalah seekor tikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian pengemis.
Dia kelihatan seperti orang miskin yang alim, namun dialah iblis nomor satu, ketua Pat-Jiu Kai-pang,
seorang yang memiliki rumah seperti istana dan wajahnya yang biasa dan alim menyembunyikan watak
dunia-kangouw.blogspot.com
yang kejamnya melebihi iblis sendiri! Celakalah engkau kalau sudah berada di tangan kakek ini Sin-tong."
"Hemmm, kurasa seorang kakek seperti dia tidak membutuhkan seorang anak kecil seperti aku. Aku tidak
khawatir dia akan mengangguku, Lo-eng-hiong!"
"Tidak aneh kalau kau berpendapat demikian, karena kau seorang anak ajaib yang berhati dan berpikiran
polos dan murni. Akan tetapi aku khawatir sekali, apa lagi iblis kedua yang tidak kalah kejamnya. Dia
seorang wanita cantik dan tak ada yang tahu berapa usianya. Wajahnya cantik, rambutnya panjang harum
dan selalu membawa sebuah payung, kelihatannya lemah dan membutuhkan perlindungan. Akan tetapi,
seperti iblis pertama, semua kecantikan dan kelemah-lembutannya itu menyembunyikan watak yang
sesungguhnya, watak yang lebih keji dan kejam dari-pada iblis sendiri."
"Lo-enghiong, harap saja Lo-enghiong tidak memburuk-burukkan orang lain seperti itu. Aku tidak percaya."
Kakek itu menarik napas panjang lalu bangkit berdiri. "Aku sudah memberi peringatan kepadamu, Sin-tong.
Dan kalau kau mau, marilah kau ikut aku bersembunyi di tempat aman sehingga tidak ada seorang pun
yang tahu. Setelah keadaan benar aman barulah kau kembali ke sini. Aku mendengar berita angin bahwa
dua iblis itu sedang menuju ke Jeng-hoa-san mencarimu."
Namun Sin Liong menggeleng kepala. "Aku dibutuhkan oleh penduduk pedusunan si sini, aku tidak akan
pergi ke mana-mana, Lo-enghiong."
"Hemmm, sudahlah! Aku sudah berusaha memperingatkanmu. Mudah-mudahan saja benar-benar tidak
terjadi seperti yang kukhawatirkan. Dan lebih-lebih lagi mudah-mudahan aku tidak akan terluka lagi seperti
ini, sehingga kalau kau benar-benar sudah tidak berada lagi di sini, aku payah mencari obat. Selamat
tinggal,Sin-tong, dan sekali lagi terima kasih."
"Selamat jalan, Lo-enghiong. Semoga lekas sembuh."
Orang itu berjalan menyeret kakinya yang terluka. Baru belasan langkah ia menoleh lagi dan berkata,
"Benar-benarkah kau tidak mau ikut bersamaku untuk bersembunyi, Sin-tong?"
Sin Liong tersenyum dan menggeleng kepala tanpa menjawab.
"Sin-tong, siapakah namamu yang sesungguhnya?"
"Aku disebut Sin-tong. Biar pun aku merasa seorang anak biasa, aku tidak tega menolak sebutan itu. Kau
mengenalku sebagai Sin-tong, itulah namaku."
Sin-hek-houw menggeleng kepala, lalu melanjutkan perjalanannya dan masih bergeleng-geleng sambil
mulutnya mengomel, "Anak ajaib... anak ajaib! Sayang...," dan dia mengepal tinju, seolah-olah hendak
menyerang siapa pun yang akan menganggu bocah yang dikaguminya itu.
Beberapa hari kemudian semenjak Sin-hek-houw datang minta obat kepada Sin Liong, makin banyaklah
orang yang datang membisikkan kepada anak itu tentang geger di dunia kang-ouw karena dirinya.
Bermacam-macam berita aneh yang didengar oleh Sin Liong tentang ancaman dan lain-lain mengenai
dirinya, namun dia sama sekali tidak ambil peduli dan tetap saja bersikap tenang dan bekerja seperti biasa,
tidak pernah gelisah, bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan tentang berita yang didengarnya itu.
Beberapa pekan kemudian, pagi hari dari arah timur kaki pegunungan Jeng-hoa-san tampak berjalan
sorang kakek seorang diri. Ia menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah menikmati pemandangan alam di
sekitar tempat itu. Kakek ini usianya tentu sudah enam puluhan tahun, tubuhnya kurus kecil, pakaiannya
penuh tambalan. Wajahnya membayangkan kesabaran, dan mulut yang ompong itu bahkan selalu
menyungging senyum simpul keramahan.
Dia melangkah perlahan-lahan memasuki hutan pertama di kaki pegunungan Jeng-hoa-san. Langkahnya
dibantu dengan ayunan sebatang tongkat butut yang berwarna hitam, agaknya terbuat dari semacam kayu
yang sudah amat tua sehingga seperti besi saja rupanya. Agaknya dia seorang pengemis tua yang
hidupnya serba kekurangan, namun yang dapat menyesuaikan diri sehingga tidak merasa kurang, bahkan
kelihatannya gembira, menerima hidup apa adanya dan hatinya selalu senang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Buktinya ketika dia mendengar kicau burung-burung, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi pula!
Akan tetapi kata-kata dalam nyanyiannya itu tentu akan membuat setiap orang yang mendegarnya
mengerutkan kening, karena selain aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya!
Apa artinya hidup kalau hati tak senang?
Apa artinya hidup kalau segala keinginan tak terpenuhi?
Puluhan tahun mempelajari ilmu, bekal memenuhi segala kehendak
Berenang dalam lautan kesenangan, mati pun tidak penasaran!
Berkali-kali pengemis ini bernyanyi dengan kata-kata yang itu-itu juga. Suaranya halus dan cukup merdu,
dan sambil bernyanyi dia mengatur irama lagu dengan ketukan tongkatnya di atas tanah lunak atau bila
kebetulan mengenai batu yang keras, ujung tongkat itu tentu membuat lubang. Kedua kakinya yang
bersepatu butut itu sendiri tidak meninggalkan jejak seolah-olah dia tidak menginjak tanah, akan tetapi
tongkat itu membuat jejak jelas karena setiap kali melubangi tanah mau pun batu. Ada pun kaki itu sendiri,
Biar pun menginjak tanah basah, sama sekali tidak meninggalkan bekas.
Beberapa menit kemudian setelah kakek aneh ini lewat, tampak berkelebat bayangan orang, juga datang
dari arah timur melalui kaki bukit itu. Mereka itu terdiri dari tiga belas orang laki-laki dari usia tiga puluh
sampai empat puluh tahun, dan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berwajah manis dan
bertubuh bagus dengan pinggang ramping.
Tiga belas orang laki-laki itu kesemuanya kelihatan gagah. Dari pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa
mereka adalah ahli-ahli silat, sedangkan gerakan mereka yang ringan cekatan membuktikan bahwa
mereka bukanlah sembarangan orang kang-ouw, melainkan rombongan orang gagah yang berilmu. Hal ini
memang tidak salah, karena mereka itulah yang terkenal dengan julukan Cap-sha Sin-hiap (Tiga Belas
Pendekar Sakti), murid-murid utama dari partai besar Bu-tong-pai!
"Tahan dulu, para suheng!" tiba-tiba wanita cantik itu mengangkat tangannya ke atas dan memperingatkan
para suheng-nya, kemudian dia menuding ke bawah dan berkata, "Lihat ini...!"
Tiga belas orang ini memperhatikan bekas tusukan tongkat pengemis tadi yang jaraknya teratur dan biar
pun tiba di atas batu, tetap saja tampak batu itu berlubang.
"Siapa lagi kalau bukan dia?" kata gadis itu dengan alis berkerut.
"Tenaga tusukan tongkat yang hebat" kata salah seorang.
"Dan jejak kakinya tidak tampak. Tak salah lagi, Pat-jiu Kai-ong (Raja Pengemis Berlengan Delapan), tentu
telah lewat di sini, dan baru saja. Hayo cepat kita mengejarnya! Jangan sampai dia mendahului kita
memasuki Hutan Seribu Bunga!" kata orang tertua di antara mereka, seorang berusia empat puluh tahun
yang bermuka seperti harimau.
Karena kini merasa yakin bahwa jejak lubang-lubang itu tentu dibuat oleh tongkat Pat-jiu Kai-ong, maka
tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai itu mencabut senjata masing-masing. Tampaklah berkilaunya senjata
tajam itu meluncur ke depan ketika tiga belas orang itu mengerahkan ginkang mereka dan menggunakan
ilmu berlari cepat melakukan pengejaran ke depan, ke arah jejak berlubang itu. Tak lama kemudian
terdengarlah oleh mereka bunyi nyanyian kakek pengemis tadi.
Tiga belas orang ini memperlambat larinya dan satu-satunya wanita di antara mereka mengomel lirih,
"Hemm, dasar manusia iblis. Selama hidupnya mengejar kesenangan dan demi kesenangan dia tidak
segan melakukan hal-hal terkutuk yang kejamnya melebihi iblis sendiri!”
"Sssssttt, Sumoi. Terhadap orang seperti dia kita harus berhati-hati. Semenjak dahulu, Bu-tong-pai tidak
pernah bermusuhan dengan tokoh kang-ouw yang mana pun juga, tidak pula mencampuri urusan mereka.
Maka biarlah nanti kita tanya dia secara baik-baik dan kalau tidak terpaksa sekali lebih baik kita
menghindarkan pertempuran." kata twa-suheng (kakak seperguruan tertua) mereka.
Semua sute-nya mengangguk, akan tetapi sumoi-nya mengomel, "Siapakah yang takut kepadanya?" Dia
melintangkan pedangnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang nona yang bernama The Kwat Lin ini terkenal berhati keras dan pemberani. Ilmu pedangnya
memang hebat, maka tidaklah mengherankan apabila dia terhitung seorang di antara Cap-sha Sin-hiap
yang terkenal di dunia kang-ouw.
"Sumoi, kita harus mentaati perintah Suhu agar tidak membawa Bu-tong-pai menanam bibit permusuhan
dengan golongan lain, baik kaum bersih mau pun kaum sesat. Karena itu, dalam pertemuan ini serahkan
saja kepadaku untuk mewakili kalian semua!"
Karena maklum bahwa dia tidak boleh melanggar perintah gurunya dan bahwa twa-suheng ini selain paling
lihai juga merupakan seorang yang mewakili Suhu mereka, Kwat Lin mengangguk biar pun bibirnya yang
merah tetap cemberut tidak puas. Dia merasa tidak puas melihat sikap jeri yang diperlihatkan para suhengnya.
Cap-sha Sin-hiap mempunyai nama besar di dunia kang-ouw, disegani kawan ditakuti lawan, masa
sekarang berhadapan dengan seorang tokoh sesat saja kelihatan gentar?
Suara nyanyian itu makin keras, tanda bahwa jarak di antara mereka dengan kakek itu makin dekat.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna, tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu dapat
menyusul dan berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan-kiri dan atas, tahu-tahu mereka telah berdiri
menghadap di depan kakek pengemis dengan sikap keren dan gagah sekali.
Kakek pengemis itu masih melanjutkan nyanyiannya sambil berdiri memandang, dan ketika pandang
matanya bertemu dengan wajah Kwat Lin, dia tidak meyembunyikan kekagumannya. Setelah nyanyiannya
berhenti, barulah dia tersenyum dan berkata, "Eh-eh, apakah kalian ini serombongan pemain akrobat yang
hendak menjual kepandaian? Aku seorang pengemis tidak mempunyai uang untuk membayar upah
kalian!"
"Harap Lo-cianpwe tidak berpura-pura lagi. Kami tahu bahwa Lo-cianpwe adalah Pat-jiu Kai-pangcu (Ketua
Perkumpulan Pengemis Delapan Lengan) yang terhormat. Lo-cianpwe adalah tokoh terkenal yang berjuluk
Pat-jiu Kai-ong, bukan?"
Kakek yang mukanya kelihatan sabar dan baik hati itu tersenyum, senyumnya juga simpatik dan ramah.
Tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu yang hanya baru mengenal nama kakek sakti kaum sesat ini,
diam-diam merasa heran bahkan sangsi apakah benar mereka berhadapan dengan Pat-jiu Kai-ong yang
kabarnya kejamnya seperti iblis, karena kakek ini kelihatan halus tutur sapanya dan begitu ramah!
"Ha-ha-ha! Sungguh sukar jaman sekarang ini untuk bersembunyi dan menyembunyikan diri. Orang-orang
muda sekarang amat tajam penciumannya dan penglihatannya, Biar pun belum pernah jumpa sudah
mengenal orang. Orang-orang muda yang gagah dan cantik,” dia memandang Kwat Lin lagi dengan
kagum. "Tidak keliru dugaan kalian aku adalah Pat-jiu Kai-ong, seorang pengemis tua yang hanya memiliki
sebatang tongkat butut ini. Tidak tahu siapakah kalian dan perlu apa kalian menghadang perjalananku?"
"Kami adalah Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai!" kata Kwat Lin, dan karena sudah terlanjur maka percuma
saja twa-suheng-nya mencegahnya dengan pandang matanya.
"Benar, kami adalah murid-murid Bu-tong-pai, Lo-cianpwe," kata twa-suheng itu dengan hati tidak enak.
Sumoi-nya yang lancang itu ternyata telah membuka kartu dan mengaku bahwa mereka dari Bu-tongpai,
berarti membawa-bawa nama perkumpulan mereka.
"Ha-ha-ha, bagus. Memang Bu-tong-pai mempunyai banyak murid pandai, gagah dan cantik sepanjang
kabar yang kudengar. Akan tetapi kalau tidak salah, aku tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai."
Melihat sikap kakek itu masih ramah dan kata-katanya juga halus dan tidak bermusuh, twa-suheng itu
menjadi makin tidak enak. Akan tetapi dia maklum orang macam apa adanya kakek di depannya ini.
Mereka datang ke sini demi Sin-tong yang mereka dengar merupakan seorang anak ajaib yang luar biasa
dan sudah menolong manusia dengan pengetahuan yang tepat mengenai khasiat tetumbuhan yang
mengandung obat. Maka tetap saja dia merasa khawatir akan keselamatan Sin-tong itu kalau sampai
kakek datuk sesat ini bertemu dengan anak itu.
"Apa yang Lo-cianpwe katakan memang benar. Di antara Lo-cianpwe dengan Bu-tong-pai, tidak pernah
ada urusan. Dan sekali ini, kami orang-orang muda dari Bu-tong-pai juga tidak berniat untuk menganggu
dunia-kangouw.blogspot.com
Lo-cianpwe yang terhormat. Hanya kami mendengar berita bahwa di antara banyak tokoh kang-ouw, Locianpwe
juga berminat kepada anak kecil budiman yang terkenal dengan sebutan Sin-tong dan yang
berdiam di dalam Hutan Seribu Bunga. Benarkah ini, dan apakah Lo-cianpwe sekarang sedang menuju ke
hutan itu?"
Mulai berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini. Senyumnya masih ada, akan tetapi sepasang
matanya yang tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya kegembiraannya, dan berubah dengan sinar
kilat yang mengejutkan mereka semua. "Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar aku
hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?"
Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat ‘mencium’ keadaan yang membuat mereka
semua siap siaga. Mereka melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi dan ramah ini mulai
memperlihatkan ‘tanduknya’ atau watak sesungguhnya.
"Lo-cianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon kepada Lo-cianpwe agar tidak mengganggu Sintong."
"Apamukah bocah itu?"
"Bukan apa-apa, Lo-cianpwe. Namun mendengar betapa anak ajaib itu telah banyak menolong orang
tanpa pandang bulu tanpa pamrih, maka sudahlah menjadi kewajiban semua orang gagah di dunia kangouw
untuk menjaga keselamatannya."
Terjadi perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai
penuh sikap mengejek, matanya berkilat-kilat dan suaranya berubah kaku, ketus dan memandang rendah.
"Anak-anak kurang ajar! Apakah Si tua bangka Kui Bhok Sianjin yang mengutus kalian?"
"Guru kami tidak tahu-menahu tentang ini. Kami kebetulan berada di daerah ini dan mendengar akan Sintong
yang terancam bahaya, maka kami melihat Lo-cianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja
kalau Lo-cianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama sekali tidak kurang ajar dan kami mohon
maaf sebanyaknya."
"Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai
Sin-tong?"
Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek ini sudah mulai berterus terang, maka tiada
salahnya kalau mereka bersikap waspada dan berterus terang pula.
"Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong sedang menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiatciang-
hoat-sut (Ilmu Hitam Tangan Darah)?" tiba-tiba Kwat Lin berseru sambil menudingkan telunjuk kirinya
ke arah muka kakek itu.
Para suheng-nya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur dikeluarkan dan memang dalam hati mereka
terkandung tuduhan ini. Ilmu Hiat-ciang-hoat-sut adalah semacam ilmu hitam yang hanya dapat dipelajari
oleh kaum sesat karena ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu menghimpun kekuatan hitam
dengan jalan menghisap dan minum darah, otak dan sumsum anak-anak yang masih bersih darahnya!
Tentu saja bagi seorang yang sedang menyempurnakan ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik yang
luar biasa, karena darah, otak dan sumsum seorang bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari
darah, otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya!
Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar. “Ha-ha-ha, memang benar! Dan satu-satunya bocah yang akan
menyempurnakan ilmuku itu adalah Sin-tong! Dan aku bukan hanya suka minum dan menghisap darah,
otak dan sumsum bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenang-senang dengan perawan
cantik seperti engkau, Nona!"
"Sringgg! Sringgg...!" Tampak sinar-sinar berkilauan ketika pedang yang tiga belas buah banyaknya itu
bergerak secara berbarengan dan tiga belas orang pendekar itu telah mengurung si Kakek yang masih
tertawa-tawa.
"Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda
dunia-kangouw.blogspot.com
harus mati, kecuali nona manis ini. Andai kata Si tua bangka Kui Bhok Sianjin berada di sini sekali pun, dia
juga tentu akan mampus kalau berani menentang Pat-jiu Kai-ong!"
"Serbu dan basmi iblis ini!" Twa-suheng itu berteriak dan mereka sudah menerjang maju dengan
bermacam gerakan yang cepat dan dahsyat.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang dahsyat, pekik yang disusul dengan suara tertawa
menyeramkan. Suara ketawa ini bergema di seluruh hutan, sehingga terdengar suara ketawa
menjawabnya dari semua penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan telah datang oleh
panggilan kakek itu.
Hebatnya, suara pekik dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu seketika seperti berubah
menjadi arca. Gerakan mereka tiba-tiba terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong
memandang kakek itu dengan jantung seolah-olah berhenti berdenyut.
Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera berseru, "Awas, Sai-cu-ho-kang (ilmu
menggereng seperti singa berdasarkan khikang)!"
Seruan ini menyadarkan para sute-nya dan sumoi-nya. Cepat mereka mengerahkan sinkang sehingga
pengaruh Sai-cu-ho-kang itu membuyar, dan pedang mereka pun melanjutkan gerakannya.
"Sing-sing... siuuut... trang-trang-trang...!”
Gulungan sinar pedang-pedang menyambar ke arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, namun dapat
ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para
pendekar Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri
setiap kali pedang mereka tertangkis tongkat. Hal ini menandakan bahwa si kakek benar-benar amat lihai
dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata
terbuat dari logam pilihan sehingga mampu menahan ketajaman pedang di tangan mereka, padahal semua
pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka yang ampuh.
"Ha-ha-ha, inikah Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima Unsur) dari Bu-tong-pai yang terkenal? Haha, tidak
seberapa!" Sambil menggerakkan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang,
kakek itu tertawa dan mengejek.
"Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!" teriak si twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar
amat tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya.
Tiba-tiba tiga belas orang pendekar itu merubah gerakan mereka. Kini mereka tidak lagi menyerang dari
kedudukan tertentu, melainkan mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu. Sambil bergerak
berkeliling mereka menyusun serangan berantai yang susul-menyusul dan yang datangnya dari arah yang
tidak tertentu.
Diam-diam kakek itu terkejut, sejenak dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari
kedudukan tertentu, biar pun gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia sudah dapat
mengenali dasar Ngo-heng-kiam dan dapat menggerakkan tongkat secara otomatis untuk menangkis
semua pedang yang datang menyambar. Akan tetapi sekarang sukar sekali menentukan dari mana
serangan akan datang, dan gerakan mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa pusing.
Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan para
pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin-kiam-tin dia
tahu bahwa kalau dia tidak cepat mendahului mereka, maka dia sendiri bisa terancam bahaya. Tidak
disangkanya bahwa Si tua bangka Kui Bhok Sianjin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan
pedang yang demikian lihainya.
Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah!
"Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!" si twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna
tangan kiri kakek itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, lebih dahsyat dari-pada tadi. Tubuhnya
mendadak membalik, tongkatnya menyambar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan.
"Prak-prak...! Desss!"
Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan
seorang lagi terkena pukulan jarak jauh Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dadanya
tampak ada bekas lima jari merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus. Itulah Hiat-ciang
Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan
betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti
Sin-tong!
Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai yang tersisa terkejut dan marah sekali. Mereka melanjutkan serangan
dengan penuh semangat dan penuh dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil
bergerak menyerang, dan kembali tiga orang lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak
memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk membebaskan diri. Empat kali terdengar dia
memekik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu
tewas semua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup tinggal The Kwat Lin
seorang!
Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong, dan kini sambil tersenyum mengejek dia menghadapi Kwat
Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua belas orang suheng-nya telah tewas semua!
Dua belas orang suheng-nya yang selama ini berjuang sehidup-semati dengannya, kini telah menjadi
mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu mengurung dia dan
Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya.
"Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!" Kwat Lin berseru mengandung isak tertahan.
"Haiiiit....!" tubuhnya melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan dengan kebencian
meluap-luap.
Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping menghantam pedang
yang menusuknya.
"Krekkk!" pedang itu patah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin!
Dara itu membelalakkan matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya. Melihat senyum yang
baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon
besar. Kwat Lin berniat untuk membenturkan kepalanya hingga pecah pada batang pohon itu! Gadis ini
melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan dari-pada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia
tidak akan mampu mengalahkan lawannya, dia mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri dengan
membenturkan kepalanya pada batang pohon.
"Bukkk!" bukan batang pohon yang dibentur kepalanya, melainkan perut lunak dan tubuhnya tahu-tahu
sudah berada dalam pelukan Pat-jiu Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ menghadangnya di
depan pohon!
"Lepaskan aku!" Kwat Lin berteriak, dan tiba-tiba tubuhnya dilontarkan oleh kakek itu hingga jatuh kembali
ke dalam lingkaran mayat-mayat suheng-nya.
Dengan langkah gontai kakek itu tersenyum-senyum memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas
para penggeroyoknya, menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan mata
terbelalak.
Kwat Lin telah tersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan menghadapi seekor harimau yang siap
menerkamnya. Perasaan ngeri yang luar biasa membuat Kwat Lin cepat menggerakkan tangan kanannya,
dengan dua buah jari tangan dia menusuk ke arah ubun-ubun kepalanya sendiri sambil mengerahkan
sinkang. Batu karang saja akan berlubang terkena tusukan jari tangannya seperti itu, apa lagi ubun-ubun
kepalanya.
"Plakkk!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihhh...!" Kwat Lin menjerit ketika tangannya itu tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah
berdiri di depannya dan telah mencegah dia membunuh diri!
"Brettt... brettt...!" tongkat kakek itu bergerak beberapa kali, dan seperti disulap saja seluruh pakaian yang
membungkus tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai, membuatnya menjadi telanjang bulat sama
sekali!
Kwat Lin menjerit, akan tetapi tiba-tiba seperti seekor kucing menerkam tikus, sambil mengeluarkan suara
ketawa menyeramkan, kakek itu telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka berdua bergulingan di
atas rumput yang bernoda darah para korban keganasan kakek itu! Kwat Lin melawan sekuat tenaga,
namun sia-sia belaka. Untuk membunuh diri tidak ada jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan
semua jeritan tangis dan permohonan, serta semua usahanya meronta-ronta tiada gunanya sama sekali.
Semua usaha ini malah menyenangkan hati si kakek. Seolah-olah seekor kucing yang menjadi gembira
dapat mempermainkan seekor tikus yang telah tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya dan
melihatnya tersiksa dan meronta sebelum menjadi mangsanya! Selama tiga hari tiga malam Kwat Lin
menderita siksaan yang amat hebat. Dia diperkosa, dihina, dan diejek.
Pagi-pagi sekali pada hari ketiga, Kwat Lin sudah dalam keadaan lebih banyak mati dari-pada hidup, dalam
keadaan setengah sadar, rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang mendelik
memandang kakek itu. Kwat Lin melihat kakek itu mengenakan pakaian, menyambar tongkatnya dan
tertawa memandang kepadanya yang masih rebah terlentang dalam keadaan telanjang bulat di atas
rumput berdarah.
"Ha-ha-ha! Sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas, dan kalau kau mau membunuh diri, silakan. Ha-haha!"
Biar pun Kwat Lin berada dalam keadaan menderita hebat, kehabisan tenaga, hampir mati karena lelah,
muak, jijik, malu, marah dan dendam tercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, namun kebencian
yang meluap-luap masih memberinya tenaga untuk berseru, "Jahanam, sekarang aku harus hidup! Aku
harus hidup untuk melihat engkau mampus di tanganku!"
"Ha-ha-ha! Manis, kalau sewaktu-waktu kau merasa rindu kepadaku, datang saja ke Hong-san, sampai
jumpa!" Kakek itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Kwat-Lin yang masih
rebah.
Kini wanita yang bernasib malang ini menangis sesenggukan di antara mayat-mayat dua belas suheng-nya
yang sudah mulai membusuk dan berbau! Dapat dibayangkan betapa tersiksa rasa badan wanita muda ini.
Dia dipaksa, diperkosa, dihina di antara mayat-mayat dua belas suheng-nya. Bahkan sewaktu keadaan
mayat-mayat itu mulai membusuk dan menyiarkan bau yang hampir tak tertahankan, kakek itu masih saja
enak-enak mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang kejam melebihi iblis sendiri.
Tiba-tiba Kwat Lin bangkit serentak, seolah-olah ada tenaga baru memasuki tubuhnya yang menderita
nyeri, lelah dan kelaparan karena selama tiga hari tiga malam dia dipermainkan tanpa diberi makan atau
minum oleh kakek iblis itu. Dia berdiri tegak, telanjang bulat, lalu memandang ke arah semua mayat
suheng-nya. Matanya menjadi liar, keluar suara parau dari mulutnya yang pecah-pecah bibirnya oleh
gigitan kakek iblis.
"Suheng sekalian, dengarlah! Aku The Kwat Lin, bersumpah untuk membalaskan kematian suheng
sekalian. Satu-satunya tujuan hidupku sekarang hanyalah untuk membalas dendam dan membunuh iblis
busuk Pat-jiu Kai-ong!"
Tiba-tiba dia terhuyung mundur memandang wajah twa-suheng-nya. Pria inilah sebetulnya yang sudah
sejak dahulu mencuri hatinya.
"Twa-suheng...!" Dia menubruk dan berlutut di dekat mayat yang sudah mulai membusuk itu. "Jangan
berduka, Twa-suheng.... Jangan menangis...." Dia berdiri sesunggukan. "Apa...? Aku telanjang...?
Pakaianmu...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti orang gila yang bicara dengan sesosok mayat, Kwat Lin bertanya, kemudian dia membuka baju
dan celana luar dari mayat yang sudah kaku kejang itu dengan agak susah, lalu mengenakan pada
tubuhnya sendiri. Tentu saja agak kebesaran.
"Hi-hi-hik, pakaianmu kebesaran, Suheng...." Dia memandang wajah mayat twa-suheng-nya dan tertawa
lagi. "Hi-hik. Nah, begitu, tertawalah Twa-suheng, tertawalah para suheng sekalian..., tertawa dan
bergembiralah karena dendam kalian pasti akan kubalaskan! Hi-hi-hik... hu-hu-huuuhhh..."
Dia menangis lagi terisak-isak dan dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan tempat mengerikan itu
setelah mengambil pedang twa-suheng-nya. Pedang itu adalah pedang pusaka terbaik di antara pedang
ketiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu, sebatang pedang pemberian ketua Bu-tong pai sendiri.
Pedang yang di dekat gagangnya ada gambar setangkai bunga bwee merah, maka pedang itu diberi nama
Ang-bwee-kiam (Pedang Bunga Bwee Merah). Dia terhuyung-huyung, pergi tak tentu tujuan, asal
menggerakkan kedua kaki melangkah saja. Langkahnya kecil-kecil dan terhuyung-huyung karena tubuhnya
masih terasa lelah, lapar dan sakit semua.
Kadang-kadang terdengar dia terisak menangis, kemudian terkekeh geli. Kalau ada orang yang bertemu
dengan wanita yang bibirnya pecah-pecah, mukanya penuh debu dan air mata, matanya membengkak dan
merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya terlalu besar ini, tentu orang itu akan merasa seram,
mengira bahwa setidaknya dia adalah seorang wanita gila. Dugaan ini memang tidak meleset terlalu jauh.
Penderitaan lahir batin yang melanda diri Kwat Lin membuat wanita malang ini tidak kuat menahan
sehingga terjadi perubahan pada ingatannya.
Pada hari yang sama ketika Cap-sha Sin-hiap roboh di tangan kakek iblis Pat-jiu Kai-ong di kaki
pegunungan Jeng-hoa-san, terjadi pula peristiwa hebat di bagian lain dari pegunungan itu. Kalau Cap-sha
Sin-hiap roboh di daerah timur pegunungan, maka di daerah barat terjadi pula peristiwa yang hampir sama
sungguh pun sifatnya berbeda.
Pada pagi hari itu, seorang wanita berjalan seorang diri mendaki lereng pertama dari pegunungan Jenghoa-
san sebelah barat. Wanita itu memasuki hutan dengan wajah berseri. Harus diakui bahwa wajah
wanita cantik ini manis sekali, mempunyai daya tarik yang kuat sungguh pun usianya sudah empat puluh
tahun. Tidak ada keriput mengganggu kulit mukanya yang putih halus. Mulutnya yang agak lebar itu
mempunyai bibir yang senantiasa menantang dan seolah-olah buah masak yang sudah pecah.
Akan tetapi kalau orang memperhatikan matanya, mata yang jernih dan bersinar tajam, maka hati yang
kagum akan kecantikannya tentu akan berubah menjadi ragu-ragu, curiga dan ngeri karena sepasang mata
itu tidak pernah, atau jarang sekali berkedip. Mata itu terbuka terus seperti mata boneka!
Dengan langkah-langkah gontai dan lemas, membuat buah pinggulnya menonjol dan bergoyang ke kanankiri,
wanita itu berjalan seorang diri, memutar-mutar sebuah payung yang dipanggulnya. Sebuah payung
hitam yang tertutup, gagangnya melengkung dan ujungnya meruncing. Pakaiannya serba mewah dan
indah, rambutnya panjang sekali, digelung ke atas seperti sebuah menara hitam yang indah, terhias tusuk
sanggul dari mutiara dan emas.
Yang menarik adalah kuku-kuku jari tangannya. Kuku yang panjang terpelihara, diberi warna merah,
panjang meruncing dan agak melengkung seperti kuku kucing atau harimau. Pakaiannya yang mewah itu
dibuat terlalu pas dengan tubuhnya sehingga membungkus ketat tubuh itu, membayangkan lekuk lengkung
yang menggairahkan dari dada sampai ke kaki karena celananya yang terbuat dari sutera merah muda itu
pun ketat sekali!
Biar pun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan genit (tante girang), namun sesungguhnya dia
bukanlah manusia biasa! Dia inilah yang terkenal sekali di dunia hitam kaum penjahat, karena wanita ini
bukan lain adalah Kiam-mo Cai-li (Wanita Pandai Berpayung Pedang), sebuah julukan yang membuat bulu
tengkuk orang yang sudah mengenalnya berdiri saking ngerinya karena wanita yang sebenarnya hanya
bernama Liok Si ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi mengerikan dan kekejaman yang sukar dicari
bandingnya!
Bahkan ia disamakan dengan wanita cantik penjelmaan siluman rase yang biasa mengganggu pria. Setiap
pria yang terjebak dalam pelukannya tentu akan mati kehabisan darah, disedot habis oleh siluman ini!
Tentu saja bagi mereka yang belum pernah berjumpa dengannya, sama sekali tidak akan mengira bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
wanita yang berlenggak-lenggok dengan payung di pundak itulah iblis wanita yang menggeggerkan dunia
kang-ouw dengan perbuatannya yang luar biasa.
Mudah saja diduga mengapa pada hari itu Kiam-mo Cai-li ini mendaki lereng Jeng-hoa-san! Tentu saja dia
pun mendengar berita menggegerkan dunia kang-ouw akan adanya Sin-tong, Si Bocah ajaib. Mendengar
cerita ini, kontan hatinya berdebar-debar keras penuh ketegangan dan penuh birahi!
Dia dapat membayangkan betapa tenaga mukjijat yang dihimpunnya secara ilmu hitam dengan jalan
menghisap sari tenaga ratusan orang pria, akan meningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa menghisap
kejantanan si Bocah Ajaib itu! Maka begitu mendengar akan bocah ajaib di puncak pegunungan Jeng-hoasan
di dalam Hutan Seribu Bunga, dia segera menempuh perjalanan jauh mengunjungi pegunungan itu.
Perjalanan yang jauh karena biar pun sering-kali Liok Si ini pergi merantau namun dia memiliki sebuah
pondok kecil seperti istana mewah yang terletak di tempat yang tidak lumrah dikunjungi manusia, yaitu di
daerah Rawa Bangkai. Rawa-rawa yang liar ini terdapat di kaki pegunungan Lu-liang-san, merupakan
daerah maut karena banyak lumpur dan pasir yang berputar, hingga merupakan perangkap maut bagi
manusia dan hewan. Namun di tengah-tengah rawa-rawa yang tidak dapat dikunjungi oleh manusia lain itu
terdapat sebuah tanah datar, tanah keras semacam pulau. Di atas pulau inilah letaknya istana kecil milik
Liok Si yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, di mana ia tinggal bersama belasan orang pembantu-pembantu yang
sudah menjadi orang-orang kepercayaannya.
Dia disebut Cai-li (Wanita Pandai) karena sebetulnya wanita ini dulunya adalah puteri seorang sasterawan
kenamaan. Sejak kecil Liok Si telah mempelajari kesusasteraan sehingga dia mahir sekali akan sastra,
bahkan dia pernah menyamar sebagai pria menempuh ujian pemerintah sehingga dia lulus dan mendapat
gelar siucai! Akan tetapi penyamarannya ketahuan, dan seorang pembesar tinggi istana yang kagum
padanya lalu mengambilnya sebagai seorang selir.
Selain ilmu sastra, semenjak kecil Liok Si juga digembleng ilmu silat oleh para sahabat ayahnya. Apa lagi
setelah menjadi selir pembesar tinggi di istana, dia mengadakan hubungan dengan kepala-kepala
pengawal, dengan pengawal-pengawal kaisar yang berilmu tinggi, menyerahkan tubuhnya sebagai
pengganti ilmu silat-ilmu silat tinggi yang diperolehnya sebagai ‘bayaran’.
Akhirnya pembesar itu mengetahui akan tabiat selirnya ini yang ternyata adalah seorang wanita yang gila
pria, maka dia diusir dari istana pembesar itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Dia
membunuh Si Pembesar, membawa banyak harta benda yang dicurinya dari istana itu, kemudian minggat!
Belasan tahun kemudian, muncullah nama julukan Kiam-mo Cai-li, namun tidak ada yang menduga bahwa
dia adalah Liok Si yang dahulu menjadi selir bangsawan dan yang membunuh bangsawan itu sehingga
menjadi orang buruan pemerintah.
Liok Si berjalan sambil tersenyum-senyum. Kadang-kadang senyumnya melebar dan tampak giginya yang
putih mengkilat dan di kedua ujungnya terdapat sebuah gigi yang agak meruncing sehingga sekelebatan
mirip gigi caling sihung. Hatinya gembira sekali kalau dia membayangkan betapa akan sedapnya kalau dia
dapat memperoleh bocah ajaib itu.
"Hemmm, aku harus bersikap halus dan hati-hati terhadapnya, menikmatinya selama mungkin. Hemmm...,"
pikirnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba dia terkejut dan menghentikan langkahnya, akan tetapi kembali dia tersenyum manis. Matanya
mengerling tajam penuh kegairahan ketika melihat lima orang laki-laki berdiri di depannya dengan sikap
gagah. Pandang matanya menyambar-nyambar dan terbayang kepuasan serta kekaguman. Memang, hati
seorang wanita gila pria seperti Liok Si tentu saja menjadi berdebar tegang ketika melihat lima orang pria
yang usianya rata-rata tiga puluh tahun lebih bertubuh tegap-tegap dan rata-rata berwajah tampan dan
gagah! Seperti melihat lima butir buah yang ranum dan matang hati!
"Aih-aihh... Siapakah Ngo-wi (Anda berlima) yang gagah perkasa ini? Dan apakah Ngo-wi sengaja hendak
bertemu dan bicara dengan aku?"
Seorang di antara mereka, yang usianya tiga puluh tahun, mukanya bulat dan alisnya seperti golok hitam
dan tebal, berkata, "Apakah kami berhadapan dengan Kiam-mo Cai-li dari Rawa Bangkai?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita itu memainkan bola matanya memandangi wajah mereka berganti-ganti dengan berseri, mulutnya
tersenyum ketika menjawab, "Kalau benar mengapa? Kalian ini siapakah?"
"Kami adalah Kee-san Ngo-hohan (Lima Pendekar dari Gunung Ayam)."
“Tsk-tsk-tsk...,” Kiam-mo Cai-li mengeluarkan bunyi dengan lidahnya tanda kagum. Segera dia menjura
dan berkata manis, "Aih, kiranya lima pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw
sebagai murid-murid utama Hoa-san-pai! Aih, terimalah hormatnya seorang wanita bodoh seperti aku."
"Harap Toanio (Nyonya) tidak mengejek dan bersikap merendah. Kami sudah tahu siapa adanya Kiam-mo
Cai-li, dan karena melihat engkau mendaki Jeng-hoa-san, maka terpaksa kami memberanikan diri untuk
menghadang."
"Ehm...! Maksud kalian?" Senyumnya makin manis dan kerling matanya makin memikat.
"Kami telah mendengar akan berita bahwa tokoh-tokoh kang-ouw sedang berusaha untuk memperebutkan
Sin-tong yang berada di Hutan Seribu Bunga. Kami mendengar pula bahwa Kiam-mo Cai-li merupakan
seorang di antara mereka yang hendak menculik Sin-tong. Karena kami telah berhutang budi, diberi obat
oleh Sin-tong, maka kami hanya dapat membalas budinya dengan melindunginya terutama dari tangan...
maaf, para tokoh kaum sesat yang tentu tidak mempunyai itikad baik terhadap dirinya. Andai kata kami
tidak berhutang budi sekali pun, mengingat bahwa Sin-tong adalah seorang anak ajaib yang telah banyak
menolong orang tanpa pandang bulu, sudah menjadi kewajiban orang-orang gagah untuk melindunginya."
Kembali Kiam-mo Cai-li tersenyum. "Terus terang saja, memang aku mendengar tentang Sin-tong dan aku
ingin mendapatkannya, maka hari ini aku mendaki Jeng-hoa-san. Habis kalian mau apa?"
“Kalau begitu, kami minta dengan hormat agar kau suka membatalkan niatmu itu, Toanio. Kalau kau
memaksa hendak menganggu Sin-tong, terpaksa kami akan merintangimu dan tidak membolehkan kau
melanjutkan perjalanan!"
"Hi-hi-hik, galak amat! Lima orang laki-laki muda tampan dan gagah bertemu dengan seorang wanita cantik
penuh gairah, sungguh tidak semestinya kalau bermain senjata mengadu nyawa!"
"Hemm, habis semestinya bagaimana?" tanya orang pertama dari Kee-san Ngo-hohan. Betapa pun juga ia
merasa jeri mendengar nama besar wanita ini dan mengharapkan wanita itu akan mengalah dan pergi dari
situ tanpa mengganggu Sin-tong.
Mata itu tajam mengerling dan senyumnya penuh arti, bibirnya penuh tantangan. "Mestinya? Mestinya kita
bermain cinta memadu kasih!"
"Perempuan hina!"
"Jalang!"
"Siluman betina"
Lima orang itu telah mencabut senjata masing-masing, yaitu senjata golok besar yang selama ini telah
mengangkat nama mereka di dunia kang-ouw. Kelima orang pendekar ini memang merupakan ahli-ahli
bermain golok dengan Ilmu Hoa-san-to-hoat yang terkenal, dan selain itu juga mereka semua mahir akan
ilmu menotok jalan darah yang bernama Sam-ci-tiam-hoat, yaitu ilmu menotok menggunakan tiga buah jari
tangan.
"Siattt... singg... singg...!"
"Ha-ha-ha, bagus! Kalian memang gagah sekali bermain golok, tentu lebih gagah kalau bermain cinta, hihik!"
Kiam-mo Cai-li mengelak dan tiba-tiba payung hitamnya berkembang terbuka. Payung itu merupakan
senjata isimewa, terbuat dari baja yang kuat dan kainnya terbuat dari kulit badak yang kering dan sudah
dimasak lemas, namun kuatnya luar biasa sehingga dapat menahan bacokan senjata tajam. Ada pun ujung
dunia-kangouw.blogspot.com
payung itu meruncing, merupakan ujung pedang, dan gagangnya yang melengkung itu pun dapat
digunakan sebagai senjata kaitan yang lihai.
"Trang-trang-trang...!" bunga api berpijar ketika golok-golok itu tertangkis oleh payung.
Kini tubuh wanita itu tertutup payung yang berkembang dan berputar-putar, maka sukarlah bagi lima orang
itu untuk menyerangnya dari depan. Mereka lalu berloncatan dan mengurung wanita itu.
"Hi-hik, hayo keroyoklah. Kalau baru kalian lima orang ini saja, masih terlampau sedikit bagiku. Hi-hik,
hendak kulihat sampai di mana kekuatan kalian, apakah patut untuk menjadi lawan-lawanku untuk bermain
cinta!"
"Perempuan rendah!" Orang pertama dari lima pendekar itu marah sekali, goloknya menyambar dahsyat,
tapi tiba-tiba golok itu terhenti di tengah udara karena telah terikat oleh sebuah benda hitam panjang yang
lembut.
Kiranya wanita itu telah melepas gelung rambutnya dan ternyata rambut itu panjangnya sampai ke bawah
pinggulnya, rambut yang gemuk hitam, panjang dan harum baunya. Bahkan bukan itu saja
keistemewaannya, rambut itu dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh, sebagai cambuk yang kini
berhasil membelit golok orang pertama dari Kee-san Ngo-hohan! Sebelum orang ini sempat menarik
goloknya, tangan kiri Kiam-mo Cai-li bergerak menghantam tengkuk orang itu dengan tangan miring.
"Krekk!" laki-laki itu mengeluh dan roboh tak dapat bangkit kembali karena dia telah terkena totokan
istimewa yang membuat tubuhnya lumpuh sungguh pun dia masih dapat melihat dan mendengar.
Empat orang lainnya terkejut dan marah sekali. Mereka memutar golok lebih gencar lagi, bahkan kini
tangan kiri mereka membantu dengan serangan totokan Sam-ci-tiam-hoat yang ampuh!
Namun orang yang mereka keroyok itu tertawa-tawa mempermainkan mereka. Setiap serangan golok
dapat dihalau dengan mudah oleh payung yang diputar-putar, sedangkan ujung rambut yang panjang itu
mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan menyambar-nyambar di atas kepala mereka, tidak
menyerang, hanya mendatangkan kepanikan saja karena memang dipergunakan untuk mempermainkan
mereka.
"Mampuslah!" bentak orang kedua sambil menyerang dengan golok.
Ketika goloknya ditangkis, cepat dia ‘memasuki’ lowongan dan berhasil mengirim totokan. Karena tempat
terbuka yang dapat dimasuki jari tangannya di antara putaran payung itu hanya di bagian dada, maka dia
menotok dada kiri wanita itu. Dalam keadaan seperti itu, menghadapi lawan yang amat tangguh, pendekar
ini sudah tidak mau lagi mempergunakan sopan santun yang tentu tidak akan dilanggarnya kalau keadaan
tidak mendesak seperti itu.
"Cusss...!" tiga buah jari tangan itu tepat mengenai buah dada kiri yang besar, tapi dia hanya merasakan
sesuatu yang lunak hangat.
Wanita itu sama sekali tidak terpengaruh, bahkan mengerling dan berkata, "Ihh, kau bersemangat benar,
tampan. Belum apa-apa sudah main colek dada, hihik!"
Tentu saja pendekar ini menjadi merah sekali mukanya. Dia merasa malu, akan tetapi juga penasaran.
Ilmu totok yang dimilikinya sudah terkenal dan belum pernah gagal. Tadi jelas dia telah menotok jalan
darah yang amat berbahaya di dada wanita itu, tapi mengapa wanita itu sama sekali tidak merasakan apaapa,
bahkan menyindirnya dan dianggap dia mencolek dada? Dengan marah dia menerjang lagi bersama
tiga orang sute-nya.
"Sudah cukup, sudah cukup. Rebah dan beristirahatlah kalian!"
Tiba-tiba payung itu tertutup kembali, berubah menjadi pedang yang aneh dan segulung sinar hitam
menyambar-nyambar mendesak empat orang itu, kemudian dari atas terdengar ledakan-ledakan dan
berturut-turut tiga orang lagi roboh terkena totokan ujung rambut wanita sakti itu. Seperti orang pertama,
mereka ini pun roboh tertotok dan lumpuh, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak namun tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
mampu menggerakkan kaki tangan mereka!
Orang termuda dari mereka kaget setengah mati melihat betapa empat orang suheng-nya telah roboh.
Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan dengan kemarahan dan kebencian meluap dia memaki,
"Perempuan hina, pelacur rendah, siluman betina! Aku takkan mau sudah sebelum dapat membunuhmu!"
"Aihhh... kau penuh semangat akan tetapi mulutmu penuh makian menyebalkan hatiku!"
Golok itu tertangkis oleh payung sedemikian kerasnya sehingga terpental. Sebelum laki-laki itu dapat
mengelak, sinar hitam menyambar dan ujung rambut telah membelit lehernya! Pria itu berusaha sekuat
tenaga untuk melepaskan libatan rambut dari lehernya dengan kedua tangan, akan tetapi begitu wanita itu
menggerakkan kepalanya, rambutnya terpecah menjadi banyak gumpalan dan tahu-tahu kedua
pergelangan lengan orang itu pun sudah terbelit rambut yang seolah-olah hidup seperti ular-ular hitam
yang kuat.
"Nah, ke sinilah, tampan. Mendekatlah, kekasih. Kau perlu dihajar agar tidak suka memaki lagi!"
Laki-laki itu sudah membuka mulut hendak memaki lagi, akan tetapi libatan rambut pada lehernya makin
erat sehingga dia tidak dapat bernapas, kemudian rambut itu menariknya mendekat kepada wanita yang
tersenyum-senyum itu! Kini laki-laki itu sudah berada dekat sekali, bahkan dada dan perutnya telah
menempel pada dada yang membusung dan perut yang mengempis dari wanita itu. Tercium olehnya bau
wangi yang aneh dan memabukkan, akan tetapi karena lehernya terbelit kuat-kuat, dan napasnya tak dapat
lancar, maka dia terpaksa menjulurkan lidahnya ke luar.
"Aihhh, kau perlu diberi sedikit hajaran, tampan!"
Empat orang pendekar yang tertotok melihat dengan mata terbelalak penuh kengerian. Wanita itu kini
mendekatkan muka sute mereka yang termuda, kemudian membuka mulut dan mencium mulut sute
mereka yang terbuka dan lidah yang terjulur ke luar itu. Mereka melihat tubuh sute mereka berkelojot
sedikit seperti menahan sakit. Mata sute mereka terbelalak, namun wanita itu terus mencium dan menutup
mulut pria itu dengan mulutnya sendiri yang lebar.
Tak dapat terlihat oleh empat orang pendekar itu, betapa wanita yang kejam dan keji seperti iblis itu telah
menggunakan giginya untuk menggigit sampai terluka lidah sute mereka yang terjulur ke luar, kemudian
menghisap darah dari luka di lidah itu! Mereka berempat hanya melihat betapa wanita itu memejamkan
mata. Baru sekarang mereka melihat wanita itu memejamkan mata, kelihatan penuh nikmat. Akan tetapi
wajah sute mereka makin pucat dan mata sute mereka yang terbelalak itu membayangkan kenyerian dan
ketakutan yang hebat.
Agaknya wanita itu tidak puas karena darah yang dihisapnya kurang banyak, maka kini dia melepaskan
mulut pemuda itu dan memindahkan ciuman mulutnya ke leher si pemuda. Dapat dibayangkan betapa
kaget empat orang pendekar itu melihat bahwa mulut sute mereka penuh warna merah darah!
"Sute...!!!" mereka berseru, akan tetapi tidak dapat menggerakkan kaki tangan mereka.
Sute mereka meronta-ronta seperti ayam disembelih. Matanya melotot memandang ke arah para suhengnya
seperti orang minta tolong, kemudian tubuhnya berkelojotan ketika wanita itu kelihatan jelas
menghisap-hisap lehernya. Ternyata bahwa urat besar di lehernya telah ditembusi gigi yang meruncing dan
kini dengan sepuasnya wanita itu menghisap darah yang membanjir ke luar dari urat di leher itu! Mata yang
melotot itu makin hilang sinarnya dan pudar, wajahnya makin pucat, dan akhirnya tubuh yang meregangregang
itu lemas. Orang termuda itu pingsan karena kehilangan banyak darah, ketakutan dan ngeri.
Kiam-mo Cai-li melepaskan libatan rambutnya dan tubuh itu terguling roboh, terlentang dengan muka pucat
dan napas terengah-engah.
“Sute...!" kembali mereka mengeluh dan dengan penuh kengerian mereka melihat betapa wanita itu
menggunakan lidahnya yang kecil merah dan meruncing itu untuk menjilati darah yang masih belepotan di
bibirnya yang menjadi makin merah.
Wajahnya kemerahan, segar seperti kembang mendapat siraman, berseri-seri dan ketika dia mendekati
dunia-kangouw.blogspot.com
empat orang itu, mereka terbelalak penuh kengerian. Akan tetapi wanita itu tidak menyerang mereka,
agaknya dia sudah puas menghisap darah orang termuda tadi. Hanya kini kedua tangannya bergerakgerak
dan sekali renggut saja pakaian empat orang itu telah koyak-koyak.
Kemudian dia bangkit berdiri. Dengan gerakan memikat seperti seorang penari telanjang, dia membuka
pakaiannya, menanggalkan satu demi satu sambil menari-nari! Sampai dia bertelanjang bulat sama sekali
di depan empat orang itu yang membuang muka dengan perasaan ngeri dan sebal!
"Kalian layanilah aku, puaskanlah aku, senangkan hatiku dan aku akan membebaskan kalian berlima.
Lihat, bukankah tubuhku menarik? Aku hanya ingin mendapatkan cinta kalian, aku tidak menginginkan
nyawa kalian."
"Cih, siluman betina! Kau anggap kami ini orang-orang apa? Kami adalah murid Hoa-san-pai yang tidak
takut mati. Seribu kali lebih baik mampus dari-pada memenuhi seleramu yang terkutuk melayani nafsu
birahimu yang menjijikan!" kata empat orang itu saling susul dan saling bantu.
Kiam-mo Cai-li tersenyum. "Hi-hik, begitukah? Kalau begitu, baiklah, kalian melayani aku sampai mampus!"
Dia lalu membungkuk dan menarik lengan seorang di antara mereka, kemudian menggunakan kuku jari
kelingking kiri menggurat beberapa tempat di punggung dan tengkuk pria ini.
Orang itu menggigil, menggigit bibir menahan sakit, akan tetapi karena dia tidak mampu mengerahkan
sinkang, dia tidak dapat melawan pengaruh hebat yang menggetarkan tubuhnya melalui luka-luka goresan
kuku beracun dari kelingking itu. Mukanya menjadi merah, juga matanya menjadi merah dan napasnya
terengah-engah.
Tiga orang pendekar yang lain memandang penuh kekhawatiran dan kengerian.
Tiba-tiba wanita itu terkekeh, menggunakan tangan membebaskan totokan sehingga orang itu dapat
menggerakkan kaki tangannya dan terjadilah hal yang membuat tiga orang pendekar yang masih rebah
lumpuh itu terbelalak penuh kengerian. Mereka melihat Sute mereka itu seperti seorang gila menerkam dan
mendekap tubuh wanita itu penuh gairah nafsu!
Dengan mata terbelalak mereka melihat betapa wanita itu menyambutnya dengan kedua lengan terbuka,
bergulingan di atas rumput dan tampak betapa wanita itu membiarkan dirinya diciumi, kemudian
mengalihkan mulutnya yang lebar ke leher Sute mereka! Mereka bertiga terpaksa memejamkan mata agar
tidak usah menyaksikan peristiwa yang memalukan dan terkutuk itu.
Mereka mengerti bahwa Sute mereka melakukan hal terkutuk itu karena terpengaruh oleh racun yang
diguratkan oleh kuku jari kelingking si iblis betina. Mereka tahu pula bahwa Sute mereka yang diamuk
pengaruh jahanam itu tidak tahu bahwa darahnya dihisap oleh wanita itu yang seperti telah dilakukan pada
orang pertama tadi kini juga menghisap darahnya sepuas hatinya.
Dapat diduga lebih dahulu bahwa tiga orang yang lain juga mengalami siksaan yang sama tanpa dapat
berdaya apa-apa, tanpa dapat melawan sama sekali. Hal ini dilakukan berturut-turut oleh Kiam-mo Cai-li,
dan tiga hari tiga malam kemudian dia meninggalkan tempat itu sambil menjilat-jilat bibirnya penuh
kepuasan. Setelah dia melempar kerling ke arah lima tubuh telanjang yang sudah menjadi mayat semua
itu, bergegas dia pergi mendaki Jeng-hoa-san untuk mencari Sin-tong yang amat diinginkan.
Lima orang Kee-san Ngo-hohan itu mengalami kematian yang amat mengerikan. Tubuh mereka kehabisan
darah, kulit mengeriput. Mereka seperti lima ekor lalat yang terjebak ke sarang laba-laba. Setelah semua
darah mereka disedot habis oleh laba-laba, mayat mereka yang sudah kering dan habis sarinya itu
dilemparkan begitu saja.
Kwa Sin Liong, atau yang lebih terkenal dengan nama panggilan Sin-tong, pada pagi hari itu seperti biasa
setelah mandi cahaya matahari, lalu menjemur obat-obatan dan tidak lama kemudian berturut-turut
datanglah orang-orang dusun yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit yang mereka
derita. Sin-tong mendengarkan dengan sabar keluhan dan keterangan mereka tentang sakit yang mereka
derita, menyiapkan obat-obat untuk mereka semua dengan hati penuh belas kasihan.
Semua ada sebelas orang dusun, tua muda laki perempuan yang memandang kepada bocah itu dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
sinar mata penuh kagum dan pemujaan. Baru bertemu dan memandang wajah Sin-tong itu saja, mereka
sudah merasa banyak berkurang penderitaan sakit mereka. Seolah-olah ada wibawa yang keluar dari
wajah bocah penuh kasih sayang itu yang meringankan rasa sakit yang mereka derita. Tentu saja hal ini
sebenarnya terjadi karena kepercayaan mereka yang penuh bahwa bocah itu akan dapat menyembuhkan
penyakit mereka, sehingga keyakinan ini sendiri sudah merupakan obat yang manjur.
Dan bocah ajaib itu memang bukanlah seorang dukun yang menggunakan kemukjijatan dan sulap atau
sihir untuk mengobati orang, melainkan berdasarkan ilmu pengobatan yang wajar. Dia memilih buah, daun,
bunga atau akar obat yang memang mengandung khasiat yang tepat atau daya penyembuh terhadap
penyakit-penyakit tertentu itu.
Tiba-tiba terdengar nyanyian yang makin lama makin jelas terdengar oleh mereka semua. Juga Sin Liong,
bocah ajaib itu, berhenti sebentar mengumpulkan dan memilih obat yang akan dibagikan karena
mendengar suara nyanyian yang aneh itu. Akan tetapi begitu kata-kata nyanyian itu dimengertinya, dia
mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepala.
"Aihh, kalau hidup hanya untuk mengejar kesenangan, apa pun juga tentu tidak akan dipantangnya untuk
dilakukan demi mencapai kesenangan!" kata Sin Liong.
"Ha-ha-ha, benar sekali, Sin-tong! Untuk mencapai kesenangan harus berani melakukan apa pun juga,
termasuk membunuh para tamu-tamu yang tiada harganya ini!" terdengar jawaban dan tahu-tahu di situ
telah berdiri Pat-jiu Kai-ong!
Sebagai lanjutan kata-katanya, tongkatnya ditekankan kepada tanah di depan kaki lalu lima kali ujung
tongkat itu bergerak menerbangkan tanah dan kerikil ke depan. Tampak sinar hitam berkelebat menyambar
lima kali, disusul jerit-jerit kesakitan dan robohlah berturut-turut lima orang dusun yang berada di depan Sin
Liong. Mereka roboh dan berkelojotan, kemudian tewas seketika karena tanah dan kerikil itu masuk ke
dalam kepala mereka!
"Hi-hi-hik, kepandaian seperti itu saja dipamerkan di depan Sin-tong. Lihat ini!"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik yang
bukan lain adalah Kiammo Cai-li! Dia menudingkan payung hitamnya yang tertutup itu ke arah para
penghuni dusun yang berwajah pucat dan dengan mata terbelalak memandang lima orang teman mereka
yang telah tewas.
"Cuat-cuat-cuat...!" dari ujung payung itu meluncur sinar-sinar hitam dan berturut-turut, enam orang dusun
yang masih hidup menjerit dan roboh tak bergerak lagi, leher mereka ditembusi jarum-jarum hitam yang
meluncur ke luar dari ujung payung itu!
Sejenak Sin Liong terbelalak memandang kepada kedua orang itu yang berdiri di sebelah kanan dan
kirinya. Kemudian dia memandang ke bawah, ke arah tubuh sebelas orang dusun yang telah menjadi
mayat. Mukanya menjadi merah, air matanya berderai dan dengan suara nyaring dia berkata sambil
menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai, "Kalian ini manusia atau
iblis? Kalian berdua amat kejam, perbuatan kalian amat terkutuk. Membunuh orang-orang tak berdosa
seolah kalian pandai menghidupkan orang.” Bocah itu memandang kepada sebelas mayat dan
sesenggukan menangis.
"Hi-hi-hik! Sin-tong yang baik, apakah kau takut kubunuh? Jangan khawatir, aku datang bukan untuk
membunuhmu," kata Kiam-mo Cai-li. Ia agak kecewa melihat betapa bocah ajaib itu menangis dan
membayangkannya ketakutan.
Sin Liong mengangkat muka memandang wanita itu. Biar pun air matanya masih berderai turun, namun
pandang matanya sama sekali tidak membayangkan ketakutan. "Kau mau bunuh aku atau tidak, terserah.
Aku tidak takut!"
"Ha-ha-ha! Benar-benar hebat! Sin-tong, kalau kau tidak takut, kenapa menangis?" Pat-jiu Kai-ong
menegur.
"Apa kau menangisi kematian orang-orang yang tidak berharga itu?" Kiam-mo Cai-li menyambung.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Mereka sudah mati, mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan kekejaman yang kalian lakukan. Aku
menangis karena melihat kesesatan dan kekejaman kalian!"
Dua orang tokoh sesat itu terbelalak heran saling pandang. Kemudian mereka teringat kembali akan niat
mereka terhadap anak ajaib ini, maka keduanya seperti dikomando saja lalu tertawa, dan keduanya
dengan kecepatan kilat menyerbu ke depan hendak menubruk Sin-Liong yang berdiri tegak dan
memandang dengan sinar mata sedikit pun tidak membayangkan rasa takut!
"Desss...!"
Karena gerakan mereka berbarengan, disertai rasa khawatir kalau-kalau keduluan oleh orang lain, maka
melihat Pat-jiu Kai-ong sudah lebih dekat dengan Sin-tong, Kiam-mo Cai-li lalu merubah gerakannya. Ia
tidak hendak menangkap Sin-tong karena dia kalah dulu, melainkan melakukan gerakan mendorong
dengan kedua tangannya ke arah Pat-jiu Kai-ong!
Pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh wanita iblis ini dahsyat sekali, membuat Pat-jiu Kai-ong terkejut
ketika ada angin panas menyambar, maka dia cepat menunda niatnya menangkap Sin-tong dan bergerak
menangkis. Keduanya merasakan dahsyatnya tenaga lawan dan terpental ke belakang! Sejenak mereka
saling berpandangan dan Pat-jiu Kai-ong yang lebih dulu dapat menguasai dirinya lalu tertawa.
"Ha-ha-ha! Lama tidak jumpa, Kiam-mo Cai-li menjadi makin gagah saja!"
"Pat-jiu Kai-ong, selama ada aku di sini, jangan harap kau akan dapat merampas Sin-tong dari tanganku!"
wanita itu berkata dan memandang tajam, siap menghadapi kakek yang dia tahu merupakan lawan yang
tangguh itu.
"Aha! Kiam-mo Cai-li, sekali ini kau mengalahlah kepadaku. Aku membutuhkannya untuk
menyempurnakan ilmuku..."
"Hi-hik, Ilmu Hiat-ciang Hoat-sut, bukan? Kau sudah cukup tangguh, Kai-ong, dan betapa mudahnya
bagimu untuk mencari seratus orang anak lagi untuk kau hisap darah, otak dan sumsumnya. Jangan Sintong!"
"Hemmm, kau mau menang sendiri. Apa kau kira aku tidak tahu mengapa kau menghendaki Sin-tong? Dia
masih terlalu muda, Cai-li, tentu tidak akan memuaskan hatimu. Apa sukarnya bagimu mencari orangorang
muda yang kuat dan menyenangkan?"
"Cukup! Kita mempunyai keinginan sama, dan jalan satu-satunya adalah untuk memperebutkannya dengan
kepandaian!"
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Memang aku ingin mencoba kepandaian Wanita Pandai dari Rawa Bangkai!"
Liok Si, Si Wanita Pandai Berpayung Pedang dari Rawa Bangkai sudah tak dapat menahan kemarahannya
melihat ada orang berani merintanginya. Maka sambil berteriak keras dia sudah menerjang maju dengan
senjatanya yang istimewa, yaitu payung hitam yang tangkainya sebatang pedang runcing itu.
"Trakkk!"
Pat-jiu Kai-ong sudah menggerakkan tongkatnya menangkis. Gempuran dua tenaga raksasa membuat
keduanya terpental lagi ke belakang. Pat-jiu Kai-ong cepat meloncat ke depan, tongkatnya berubah
menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar ganas.
"Trakk! Trakkk!!" dua kali senjata payung dan tongkat bertemu di udara dan keduanya terhuyung ke
belakang. Diam-diam mereka berdua terkejut sekali dan maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, kekuatan
mereka berimbang.
Sebelum mereka melanjutkan pertandingan, tiba-tiba mereka melangkah mundur dan memandang tajam
karena berturut-turut ditempat itu telah muncul lima orang kakek yang melihat cara munculnya dapat
diduga tentu memiliki kepandaian tinggi. Mereka muncul seperti setan-setan, tidak dapat didengar atau
dunia-kangouw.blogspot.com
dilihat lebih dahulu, tahu-tahu sudah berdiri di situ sambil memandang ke arah Pat-jiu Kai-ong dan Kiammo
Cai-li dengan bermacam sikap.
Dua orang datuk kaum sesat atau golongan hitam ini melihat dengan penuh perhatian, dan seketika
mereka terkejut sekali. Biar pun di antara lima orang itu ada yang belum pernah mereka jumpai, namun
melihat ciri-ciri mereka, kedua orang datuk golongan hitam ini dapat mengenal mereka yang kesemuanya
adalah orang-orang aneh di dunia kang-ouw yang masing-masing telah memiliki nama besar sebagai
orang-orang sakti.
Sementara itu, Sin Liong menjadi makin berduka ketika melihat dua orang kakek dan nenek tadi bertanding
memperebutkan dirinya. Tak disangkanya bahwa di tempat yang penuh damai ini, di mana dia selama
hampir tiga tahun tinggal penuh ketenteraman dan kedamaian, yang membuat dia hampir melupakan
kekejaman-kekejaman manusia ketika terjadi pembunuhan ayah-bundanya, kini dia menyaksikan
kekejaman yang lebih hebat lagi. Sebelas orang dusun yang sama sekali tidak berdosa dibunuh begitu saja
oleh dua orang itu!
Maka dia lalu duduk di atas batu, bersila dan tak bergerak seperti arca. Hatinya dilanda duka, dan dia
memandang dengan sikap tidak mengacuhkan. Bahkan ketika muncul lima orang aneh itu, dia pun tidak
membuat reaksi apa-apa kecuali memandang dengan penuh perhatian namun dengan sikap sama sekali
tidak mengacuhkan.
Orang pertama adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka
merah seperti tokoh Kwan Kong dalam cerita Sam-kok, kelihatan gagah sekali. Di punggungnya tampak
dua batang pedang menyilang, matanya lebar, alisnya tebal dan suaranya nyaring ketika dia tertawa, "Haha-
ha, kiranya bukan hanya orang gagah saja yang tertarik kepada Sin-tong, juga iblis-iblis berdatangan
sungguh pun tentu mempunyai niat lain!" Dengan ucapan yang jelas ditujukan kepada Kiammo Cai-li dan
Pat-jiu Kai-ong ini, dia memandang dua orang itu dengan terang-terangan.
Orang ini bukanlah orang sembarangan. Namanya sendiri adalah Siang-koan Houw, akan tetapi dia lebih
terkenal dengan sebutan Tee-tok (Racun Bumi). Selain merupakan seorang ahli racun yang sukar dicari
tandingannya, dia juga amat ganas, menghadapi lawan tanpa kenal ampun dan selain itu, juga dia amat
jujur dan blak-blakan, bicara dan bertindak tanpa pura-pura lagi.
Ilmu silatnya tinggi sekali, dan yang paling terkenal sehingga menggegerkan dunia persilatan adalah ilmu
pukulannya yang disebut Pek-lui-kun (Ilmu Silat Tangan Kilat) dan ilmu pedangnya Ban-tok Siang-kiam
(Sepasang Pedang Selaksa Racun)! Tidak ada orang yang tahu di mana tempat tinggalnya karena
memang dia seorang perantau yang muncul di mana saja secara tak terduga-duga seperti kemunculannya
sekarang ini di Hutan Seribu Bunga.
"Huhh, bekas Sute-ku yang tetap goblok!" kata orang kedua. "Masa masih tidak mengerti apa yang
dikehendaki dua iblis ini? Jembel busuk itu tentu ingin menghisap darah dan otak Sin-tong untuk
menyempurnakan ilmu iblisnya Hiat-Ciang Hoat-sut. Sedangkan iblis betina genit ini apa lagi yang dicari
kecuali sari kejantanan Sin-tong? Hayo kalian menyangkal, hendak kulihat apakah kalian begitu tak tahu
malu untuk menyangkal!"
Orang yang kata-katanya amat menusuk ini adalah seorang kakek yang beberapa tahun lebih tua daripada
Tee-tok, bahkan menyebut Tee-tok sebagai bekas sute-nya karena memang demikian. Dia bertubuh
tinggi kurus dan mukanya seperti tengkorak mengerikan. Di ketiaknya terselip sebatang tongkat panjang
dan gerak-geriknya ketika bicara seperti seekor monyet yang tak mau diam, bahkan kadang-kadang
menggaruk-garuk kepala atau pantatnya, matanya liar memandang ke kanan-kiri.
Inilah dia tokoh hebat yang berjuluk Thian-tok (Racun Langit), bekas suheng Tee-tok yang memiliki
kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai dengan nama dan julukannya, juga dia adalah
seorang pemuja Kauw Cee Thian atau Cee Thian Thaiseng, Si Raja Monyet itu. Senjatanya sebatang
tongkat yang dia beri nama Kim-kauw-pang seperti tongkat Si Raja Monyet. Juga dia telah menciptakan
ilmu silat tangan kosong yang meniru gerak-gerik seekor monyet yang diberinya nama Sin-kauw-kun (Ilmu
Silat Monyet Sakti). Seperti juga Tee-tok, dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, dan tidak ada
yang tahu lagi nama aslinya, yaitu Bhong Sek Bin.
"Hemmm, setelah ada aku di sini, jangan harap segala macam iblis dapat berbuat sesuka hati sendiri!" kata
dunia-kangouw.blogspot.com
orang ke tiga. Suaranya kasar dan keras, pandang matanya seperti ujung pedang menusuk.
Orang ini bernama Ciang Ham, julukannya Thian-he Te-it, Sedunia Nomor Satu! Usianya kurang lebih 50
tahun, dan dia adalah ketua dari Perkumpulan Kang-jiu-pang (Perkumpulan Lengan Baja) yang
didirikannya di Secuan. Di tangan kirinya tampak sebatang senjata tombak gagang panjang, dan selain
terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun terkenal memiliki lengan sekuat baja! Pakaiannya
ringkas seperti biasa dipakai oleh seorang ahli silat dan setiap gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia
telah mempunyai kepandaian silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya.
Orang ke empat adalah seorang berpakaian sastrawan, sikapnya halus, usianya 50 tahun tapi masih
tampak tampan. Tubuhnya sedang dan dia sudah menjura ke arah kedua orang datuk golongan hitam itu.
Di pinggangnya terselip sebatang mauw-pit, alat tulis pena panjang.
"Kami berlima dengan tujuan yang sama datang ke tempat ini, tidak sangka bertemu dengan dua orang
tokoh terkenal seperti Ji-wi (Anda berdua), Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li, terutama sekali kepada Caili,
terimalah hormatku."
Pat-jiu Kai-ong sudah segera dapat mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kiam-mo Cai-li tidak
mengenalnya. Hati wanita ini yang tadinya panas mendengar kata-kata menentang dari tiga orang
pertama, merasa seperti dielus-elus oleh sikap dan kata-kata orang berpakaian sastrawan yang tampan ini.
Maka dia pun membalas penghormatannya dan dengan lirikan mata memikat dan senyum simpul manis
sekali dia bertanya.
"Harap maafkan kami, tetapi siapakah saudara yang manis budi dan yang tentu memiliki ilmu kepandaian
bun dan bu (sastra dan silat) yang tinggi ini?"
Laki-laki itu tersenyum dan menjawab halus, "Saya yang rendah dinamakan orang Gin-siauw Siucai
(Pelajar Bersuling Perak), seorang yang suka bersunyi di Beng-san."
Kiam-mo Cai-li kembali menjura. Sambil tersenyum dia berkata, "Aihhh, sudah lama sekali saya telah
mendengar nama besar Cin-siauw Siucai sebagai seorang ahli silat tinggi, terutama sekali sebagai seorang
peniup suling yang mahir. Sudah lama pula saya mendengar akan keindahan tamasya alam di Beng-san.
Mudah-mudahan saja saya akan berumur panjang untuk mengunjungi Beng-san yang indah, menjadi tamu
Gin-siauw Siucai yang ramah dan sopan, tidak seperti kebanyakan pria yang kasar tak tahu sopan santun!"
Ucapan terkhir ini jelas ditujukannya kepada tiga orang tokoh pertama yang kasar-kasar tadi.
Orang ke lima dari rombongan itu adalah seorang tosu berusia enam puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi
kurus dan mukanya pucat, tangan kiri memegang sebuah hudtim (Kebutan Pendeta) dan tangan kanan
memegang sebuah kipas yang tiada hentinya digoyang-goyang mengipasi lehernya seolah-olah dia
kepanasan, padahal hawa di Hutan Seribu Bunga itu sejuk! Kini dia membuka mulut dan terdengarlah
suaranya yang merdu menyanyikan sajak dalam kitab To-tek-kheng, kitab utama dari kaum tosu (Pemeluk
Agama To)!
Amat sempurna, namun tampak tak sempurna,
Tampak tidak lengkap, sungguh pun kegunaannya tiada kurang.
Terisi penuh, namun tampaknya meluap tumpah,
Tampaknya kosong, sungguh pun tak pernah kehabisan.
Yang paling lurus, kelihatan bengkok,
Yang paling cerdas, kelihatan bodoh,
Yang paling fasih, kelihatan gagu,
Api panas dapat mengatasi dingin,
Air sejuk dapat mengatasi panas.
Sang Budiman, murni dan tenang dapat memberkati dunia!
"Huah-ha-ha-ha! Anda tentulah Lam-hai Sengjin (Manusia Sakti Laut Selatan), bukan? Sajak-sajak To-tekkheng
agaknya telah menjadi semacam cap Anda, ha-ha-ha!" kata Pat-jiu Kai-ong sambil tertawa
mengejek.
Tosu itu berkata, "Siancai! Pat-jiu Kai-ong bermata tajam, dapat mengenal seorang tosu miskin dan
bodoh."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ah, jangan merendah, Totiang," kata Kiam-mo Cai-li, "Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa biar pun
Anda seorang yang berpakaian tosu dan kelihatan miskin, namun memiliki sebuah istana dan menjadi
majikan dari Pulau Kura-kura. Ini namanya menggunakan pakaian butut untuk menutupi pakaian indah di
sebelah dalamnya."
"Siancai! Pujian kosong...!" Tosu itu berkata dan mukanya menjadi merah.
Tee-tok Siangkoan Houw mengeluarkan suara menggereng tidak sabar. "Apa-apaan semua kepura-puraan
yang menjemukan ini? Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li, ketika kami berlima datang tadi, kami melihat
kalian sedang memperebutkan Sin-tong dan tentu sebelas orang dusun ini kalian berdua yang
membunuhnya!"
"Tee-tok, urusan itu adalah urusan kami sendiri. Perlu apa kau mencampuri?" Pat-jiu Kai-ong menjawab
dengan senyum dan suara halus seperti kebiasaannya, namun jelas bahwa dia merasa tak senang.
"Bukan urusanku, memang! Akan tetapi ketahuilah, kami berlima mempunyai maksud yang sama, yaitu
masing-masing menghendaki agar Sin-tong menjadi muridnya. Biar pun kami saling bertentangan dan
berebutan, namun kami memperebutkan Sin-tong untuk menjadi murid kami atau seorang di antara kami.
Sedangkan kalian berdua mempunyai niat buruk!" kata pula Tee-tok yang terkenal sebagai orang yang
tidak pernah menyimpan perasaan dan mengeluarkannya semua tanpa tedeng aling-aling lagi melalui
suaranya yang nyaring.
"Tee-tok, jangan sombong kau! Mengenai kepentingan masing-masing memperebutkan Sin-tong, adalah
urusan pribadi yang tak perlu diketahui orang lain. Yang jelas, kita bertujuh masing-masing hendak memiliki
Sin-tong untuk kepentingan pribadi masing-masing tentu saja. Sekarang bagaimana baiknya? Apakah
kalian ini lima orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh sakti dan gagah dari dunia kang-ouw hendak
mengandalkan banyak orang mengeroyok kami berdua. Aku, Kiam-mo Cai-li sama sekali tidak takut biar
pun aku seorang kalian keroyok berlima, akan tetapi betapa curang dan hinanya perbuatan itu. Terutama
sekali Gin-siauw Siucai, tentu tidak begitu rendah untuk melakukan pengeroyokan!" kata Kiammo Cai-li
yang cerdik.
"Perempuan sombong kau, Kiam-mo Cai-li!" Tee-tok membentak marah dan melangkah maju. "Siapa sudi
mengeroyokmu? Aku sendiri pun cukup untuk mengenyahkan seorang iblis betina seperti engkau dari
muka bumi!"
"Tee-tok, buktikan omonganmu!" Kiam-mo Cai-li membentak dan dia pun melangkah maju.
"Eh-eh, nanti dulu! Apa hanya kalian berdua saja yang menghendaki Sin-tong? Kami pun tidak mau
ketinggalan!" kata Pat-jiu Kai-ong mencela.
"Benar sekali! Perebutan ini tidak boleh dimonopoli oleh dua orang saja! Aku pun tidak takut menghadapi
siapa pun untuk memperoleh Sin-tong!" Thian-te Te-it Ciang Ham membentak sambil menggoyang tombak
panjangnya melintang di depan dada.
"Siancai...! Siancai...!" Lam-hai Sengjin melangkah maju, menggoyang kebutannya. "Harap Cuwi (Anda
Sekalian) suka bersabar dan tidak turun tangan secara kacau saling serang. Semua harus diatur seadilnya
dan sebaiknya. Kita bukanlah sekumpulan bocah yang biasanya hanya saling baku hantam
memperebutkan sesuatu. Sudah jelas bahwa kita bertujuan sama, yaitu ingin memperoleh Sin-tong. Akan
tetapi kita lupa bahwa hal ini sepenuhnya terserah kepada pemilihan Sin-tong sendiri. Maka marilah kita
berjanji. Kita bertanya kepada Sin-tong, kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah menjatuhkan
pilihannya, tidak seorang pun boleh melarang atau mencampuri. Bagaimana?"
"Hemm, tidak buruk keputusan itu. Aku setuju!" kata Tee-tok.
"Aku pun setuju!" kata Thian-tok dan yang lain pun tidak mempunyai alasan untuk tidak menyetujui
keputusan yang memang adil ini.
Kemudian Thian-tok melanjutkan dengan kata-kata yang sengaja dibikin keras agar terdengar oleh Sintong.
"Tentu saja semuanya harus jujur dan tidak membohongi Sin-tong akan maksud hati sebenarnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Misalnya yang mau mengambil murid, yang hendak menghisap darahnya atau hendak memperkosa dan
menghisap sari kejantanannya juga harus berterus terang!"
Tentu saja dua orang tokoh golongan hitam itu mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian-tok yang
licik itu.
"Isi hati orang siapa yang tahu? Boleh saja kau bilang hendak mengambil murid, akan tetapi siapa tahu
kalau kau menghendaki nyawanya?" Kiam-mo Cai-li mengejek Thian-tok.
"Kau...! Majulah, rasakan Kim-kauw-pang pusakaku ini!"
"Boleh! Siapa takut?" Wanita itu balas membentak.
"Siancai...!" Lam-hai Sengjin mencela dan melangkah maju. "Apakah kalian benar-benar hendak menjadi
kanak-kanak? Katanya tadi sudah setuju, nah marilah kita mendengar sendiri siapa yang menjadi pilihan
Sin-tong."
Tujuh orang itu lalu menghampiri Sin-tong yang masih duduk bersila seperti sebuah arca. Hatinya penuh
kengerian menyaksikan tingkah laku tujuh orang itu.
"Sin-tong yang baik. Lihatlah, aku satu-satunya wanita di antara kami bertujuh. Lihatlah aku, seorang
wanita yang hidup kesepian dan merana karena tidak mempunyai anak. Aku mendengar bahwa engkau
pun sebatang-kara, tidak mempunyai ayah-bunda lagi. Marilah anakku, marilah ikut dengan aku, maka aku
akan menjadi pengganti ibumu yang mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Mari hidup sebagai seorang
pangeran di istanaku, di Rawa Bangkai, dan engkau akan menjadi seorang terhormat dan mulia. Marilah
Sin-tong, anakku!"
Sin Liong mengangkat muka memandang sejenak wajah wanita itu, kemudian dia menunduk dan tidak
menjawab, juga tidak bergerak. Hatinya makin sakit karena dia dengan jelas dapat melihat kepalsuan di
balik bujuk-rayu manis itu, apa lagi kalau dia mengingat betapa wanita ini dengan tersenyum-senyum dapat
begitu saja membunuh jiwa enam orang dusun yang tidak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat
menjawab.
"Sin-tong, aku adalah ketua dari Pat-jiu Kai-pang di pegunungan Hong-san. Sebagai seorang ketua
perkumpulan pengemis, tentu saja aku kasihan sekali melihat engkau seorang anak yang hidup sebatangkara.
Kau ikutlah bersamaku, Sin-tong, dan kelak engkau akan menjadi Raja Pengemis. Bukankah kau
suka sekali menolong orang? Orang yang paling perlu ditolong olehmu adalah golongan pengemis yang
hidup sengsara. Kau ikutlah dengan aku, dan Pat-jiu Kai-ong akan menjadikan engkau seorang yang paling
gagah di dunia ini!"
Kembali Sin-tong memandang wajah itu dan diam-diam bergidik. Orang yang dapat membunuh lima orang
dusun sambil tertawa-tawa seperti kakek ini sekarang menawarkan kepadanya untuk menjadi Raja
Pengemis! Dia tidak menjawab juga, hanya kembali menundukkan mukanya.
"Anak ajaib, anak baik, Sin-tong, dengarlah aku. Aku adalah Gin-siauw Siucai, seorang sastrawan yang
mengasingkan diri dan menjadi pertapa di Beng-san. Selama hidupku aku tidak pernah melakukan
perbuatan jahat dan selama puluhan tahun aku tekun menghimpun ilmu silat, ilmu sastra dan ilmu meniup
suling. Aku ingin sekali mengangkat engkau sebagai muridku, Sin-tong."
"Ha-ha-ha, kau turut aku saja, Sin-tong. Biar pun aku seorang yang kasar, namun hatiku lemah
menghadapi anak-anak. Aku sendiri memiliki seorang anak perempuan sebaya denganmu. Biarlah kau
menjadi saudaranya, kau menjadi muridku dan kau takkan kecewa menjadi murid Tee-tok. Pilihlah aku
menjadi gurumu, Sin-tong."
"Tidak, aku saja! Aku Bhong Sek Bin, namaku tidak pernah kukatakan kepada siapa pun dan sekarang
kukatakan di depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadamu. Akulah keturunan dari Dewa
Sakti Cee Thian Thai-seng, akulah yang mewarisi ilmu Kim-kauw-pang. Kau jadilah murid Thian-tok dan
kelak kau akan merajai dunia kang-ouw, Sin-tong."
"Lebih baik menjadi muridku. Aku Thian-he Te-it Ciang Ham, di kolong dunia nomor satu dan ketua dari
dunia-kangouw.blogspot.com
Kang-jiu-pang di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon manusia terpandai di kolong langit!"
"Siancai...! Siancai...! Kau dengarlah mereka semua itu, Sin-tong. Semua hendak mengajarkan ilmu silat
dan memamerkan kekayaan duniawi, tidak seorang pun yang hendak mengajarkan kebatinan kepadamu.
Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil murid kepadamu, hendak pinto jadikan engkau seorang
calon guru besar kebatinan. Kau berbakat untuk itu! Siapa tahu kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan
besar seperti Nabi Lo-cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau jadilah murid Lam-hai
Sengjin, Sin-tong!"
Hening sejenak. Semua mata ditujukan kepada bocah yang masih duduk bersila seperti arca dan yang
tidak pernah menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang orang yang membujuknya.
Terdengarlah suara sang bocah yang halus menggetar dan penuh duka. "Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe.
Akan tetapi saya tidak dapat ikut siapa pun juga di antara Cuwi karena di balik semua kebaikan
Cuwi terdapat kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia. Tidak, saya tidak akan turut siapa pun.
Saya lebih senang tinggal di sini, di tempat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian tinggalkan saya, saya akan
mengubur mayat-mayat yang patut dikasihani ini."
"Wah, kepala batu! Kalau begitu, aku akan memaksamu!" kata Tee-tok yang berwatak berangasan dan
kasar.
"Eh, nanti dulu! Siapa pun tidak boleh mengganggunya!" bentak Thian-tok.
"Siancai... sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah ajaib ini tidak mau memilih seorang di antara kita secara
sukarela. Karena itu tentu kita semua ingin merampasnya secara kekerasan. Maka harus diatur sebaik dan
seadil mungkin. Kita bukan kanak-kanak, kita adalah orang-orang yang telah menghimpun banyak ilmu,
maka sebaiknya kalau kita sekarang masing-masing mengeluarkan ilmu dan mengadu ilmu. Siapa yang
keluar sebagai pemenang, tentu saja berhak memiliki Sin-tong," kata Lam-hai Sengjin yang lebih sabar
dari-pada yang lain.
"Mana bisa diatur begitu?" bantah Pat-jiu kai-ong yang khawatir kalau-kalau lima orang itu akan
mengeroyok dia dan Kiam-mo Cai-li. "Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah masuk kotak dan
yang menang harus menghadapi yang lain setelah beristirahat. Begitu baru adil!"
"Tidak!" bantah Kiam-mo Cai-li. Wanita yang cerdik ini dapat melihat kesempatan yang menguntungkannya
kalau terjadi pertandingan bersama seperti yang diusulkan Lam-hai Sengjin. Dalam pertempuran seperti
itu, siapa cerdik tentu akan keluar sebagai pemenang. "Kalau diadakan satu lawan satu, terlalu lama.
Sebaiknya kita bertujuh mengeluarkan ilmu dan saling serang tanpa memandang bulu. Dengan demikian,
satu-satunya orang yang keluar sebagai pemenang jelas dia lebih lihai dari-pada yang lain."
Akhirnya Pat-jiu kai-ong kalah suara. Ketujuh orang itu telah mengeluarkan senjata masing-masing,
membentuk lingkaran besar dan bergerak perlahan-lahan saling lirik, siap untuk menghantam siapa yang
mendekat dan menangkis serangan dari mana pun juga! Benar-benar merupakan pertandingan hebat yang
kacau-balau dan aneh!
Sin Liong yang masih duduk bersila memandang dengan mata terbelalak, dan dia menjadi silau ketika
tujuh orang itu sudah mulai menggerakkan senjata masing-masing untuk menyerang dan menangkis.
Gerakan mereka demikian cepatnya, sehingga bagi Sin Liong yang kelihatan hanyalah gulungan-gulungan
sinar senjata dan bayangan orang berkelebatan tanpa dapat dilihat jelas bayangan siapa.
Memang hebat pertandingan ini karena dipandang sepintas lalu, seolah-olah setiap orang melawan enam
orang musuh dan kadang-kadang terjadi hal yang lucu. Ketika Tee-tok menyerang Pat-jiu Kai-ong dengan
siang-kiam-nya, sepasang pedangnya ini membabat dari kiri kanan. Pat-jiu Kai-ong terkejut karena pada
saat itu dia sedang menyerang Lam-hai Sengjin yang di lain pihak juga sedang menyerang Gin-siauw
Siucai! Akan tetapi terdengar suara keras ketika sepasang pedang Tee-tok itu bertemu dengan tombak di
tangan Thian-he Te-it dan tongkat Thian-tok, sehingga seolah-olah dua orang ini melindungi Pat-jiu Kaiong.
Pertandingan sungguh kacau-balau dan hanya Kiam-mo Cai-li yang benar-benar amat cerdiknya. Dia tidak
melayani seorang tertentu, melainkan berlarian berputar-putar. Ia selalu menghindarkan serangan lawan
dunia-kangouw.blogspot.com
yang mana pun juga dan dia pun tidak menyerang siapa-siapa, hanya menggerakkan pedang payungnya
dan rambutnya untuk membuat kacau dan kadang-kadang juga menekan lawan apabila melihat ada
seorang di antara mereka yang terdesak. Siasatnya adalah untuk merobohkan seorang demi seorang
dengan jalan ‘mengeroyok’ tanpa membantu siapa-siapa agar jumlah lawannya berkurang.
Namun mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tidaklah mudah
dibokong oleh Kiam-mo Cai-li, bahkan lama-lama akalnya ini ketahuan dan mulailah mereka menujukan
senjata kepada wanita ini sehingga mau tidak mau wanita itu terseret ke dalam pertandingan kacau-balau
itu! Terpaksa dia mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan membalas serangan lawan yang
paling dekat dengan kemarahan meluap-luap.
Sin Liong menjadi bengong. Entah kapan datangnya, tahu-tahu dia melihat seorang laki-laki duduk
ongkang-ongkang di atas cabang pohon besar yang tumbuh dekat medan pertandingan itu. Laki-laki itu
memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelalak penuh perhatian, tangan kiri memegang sehelai
kain putih lebar, dan tangan kanan yang memegang sebatang alat tulis tiada hentinya mencorat-coret di
atas kain putih itu, seolah-olah dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan sedang menonton
pemandangan indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong yang terheran-heran itu pun
memperhatikan lebih seksama.
Orang laki-laki itu kurang lebih empat puluh tahun usianya. Pakaiannya seperti seorang pelajar, akan tetapi
di bagian dada bajunya yang kuning muda itu ada lukisan seekor Naga Emas dan seekor Burung Hong
Merah. Indah sekali lukisan baju itu. Wajahnya tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara
baik-baik. Pakaiannya juga bersih dan terbuat dari sutera halus, sepatu yang dipakai kedua kakinya masih
baru atau setidaknya amat terpelihara sehingga mengkilap. Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan
sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia mencorat-coret melukis pertandingan
antara tujuh orang sakti itu.
Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin melukis tujuh orang yang sedang berkelebatan hampir tak
tampak itu? Sin Liong tidak lagi memperhatikan pertandingan, hanya memandang ke arah orang itu. Dia
mendengar bentakan-bentakan nyaring dan tidak tahu bahwa tujuh orang itu telah ada yang terluka.
Thian-he Te-it telah terkena hantaman tongkat Thian-tok di pahanya sehingga terasa nyeri sekali. Pat-jiu
Kai-ong juga kena serempet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di antara Siang-kiam di tangan
Tee-tok, sedangkan Lam-hai Sengjin dan Gin-siauw Siucai juga telah mengadu tenaga dan keduanya
tergetar sampai muntahkan darah, namun berkat sinkang mereka, kedua orang ini tidak sampai mengalami
luka dalam yang parah.
Sin Liong melihat betapa laki-laki di atas pohon itu tersenyum. Orang itu menghentikan coretannya, lalu
menyimpan pensil dan menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon. Setelah memakai
jubah, lelaki itu kemudian mengantongi gambar yang telah digulungnya dan akhirnya tubuhnya melayang
turun.
"Tontonan tidak bagus!" terdengar dia berseru. "Tujuh orang tua bangka gila memperlihatkan tontonan di
depan seorang anak kecil, benar-benar tak tahu malu sama sekali!"
Tujuh orang itu terkejut ketika mendengar suara yang langsung menggetarkan jantung mereka itu.
Mengertilah mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan sinkang yang amat kuat sehingga dapat
mengatur suaranya, langsung dipergunakan untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak
mempengaruhi Sin-tong yang masih duduk bersila. Dengan hati tegang mereka lalu meloncat mundur dan
masing-masing melintangkan senjata di depan dada, memandang ke arah laki-laki gagah yang baru
muncul itu. Namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengenalnya, maka ketujuh orang itu
menjadi marah sekali.
“Bangsat kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan kami dan memaki kami?!" bentak Pat-jiu Kaiong
sambil mengusap pundaknya yang berdarah.
“Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus kecil?" bentak pula Thian-he Te-it yang
masih ngilu rasa pahanya, dan untung bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya.
Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka dengan langkah tegap dan sikap sama sekali tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
takut, bahkan wajahnya itu berseri-seri memandang mereka seorang demi seorang. Setelah berada di
tengah-tengah sehingga terkurung, kemudian dia berkata, " Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada
seorang anak baik terancam oleh perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika tiba di sini dan
melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk karena hatiku memang penasaran menyaksikan gerakan
kalian yang sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat dia itu tentu Pat-mo-tung-hoat yang
berdasarkan Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat," katanya sambil menuding ke arah Pat-jiu Kai-ong.
Raja Pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu tongkatnya. Padahal tadi mereka bertujuh
bertanding dengan kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya?
"Dan ilmu tongkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan
tetapi kaku dan mentah, tidak pantas menjadi gerakan Raja Monyet, pantasnya menjadi gerakan Raja
Tikus!” katanya pula sambil menuding ke arah Thian-tok.
"Brakkk!!" batu besar yang berada di samping Thian-tok hancur berantakan karena dipukul oleh
tongkatnya. Dia marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu.
"Manusia lancang, berani kau menghina Thian-tok?" bentaknya dan tongkatnya sudah diputar hendak
menyerang.
Akan tetapi orang itu membentak, "Berhenti!"
Dan aneh, suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri sampai tergetar dan menghentikan
gerakan tongkatnya.
"Aku melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus namun masih mentah semua. Aku tidak
berbohong, dan kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi seorang. Akan kuperlihatkan
kementahan ilmu silat kalian yang kalian pergunakan dalam pertandingan kacau-balau tadi. Hayo siapa
yang maju lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!"
Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak percaya dari-pada kemarahan. Maka Pat-jiu Kai-ong
melupakan pundaknya yang terluka. Cepat dia sudah meloncat ke depan, melintangkan tongkatnya di
depan dada sambil berseru, "Nah, coba kau buktikan kementahan ilmu tongkatku!"
Setelah berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang. Ia menggunakan tongkatnya untuk menusuk,
kemudian gerakan ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas menghantam kepala. Memang gerakan
tongkatnya adalah gerakan pedang yang dia ambil dari Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah
rahasianya, maka dia heran sekali mendengar orang tampan gagah itu mengenal ilmu tongkatnya dan
sekaligus membuka rahasianya.
Enam orang tokoh yang lain adalah orang-orang yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan
dan menonton untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benar-benar memiliki kepandaian aneh
dan apakah benar-benar selihai mulutnya yang amat sombong itu.
Serangan Pat-jiu Kai-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi tubuh orang itu tiba-tiba saja lenyap! Semua orang
kaget dan bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu telah melayang turun dari atas pohon, di
tangannya terdapat sebatang cabang pohon yang daunnya telah dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi
meloncat sehingga tidak tampak, dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah membikin sebatang
tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu
Kaiong telah menyerangnya dengan kemarahan meluap.
"Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang kau ubah menjadi Pat-motung-
hoat?"
Orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus
demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas menyerang, namun bedanya serangannya jauh
lebih cepat dan tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu juga lebih kuat! Tokoh-tokoh lain hanya
menduga-duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong.
Akan tetapi Raja Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain adalah ilmu tongkat
dunia-kangouw.blogspot.com
yang digubahnya sendiri! Dia menjadi bingung dan heran, apa lagi serangan orang itu cepatnya melebihi
kilat dan dalam belasan jurus saja, tiba-tiba terdengar suara keras. Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong patah
dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting. Mukanya pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawan telah
menyambar dahinya tepat di antara mata, dan kalau dikehendakinya tentu dia telah tewas. Akan tetapi
orang aneh itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian itu robek dan berdarah.
Tahulah dia bahwa ia telah berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh
melampuinya. Ia sadar pula bahwa nyawanya sudah diampuni, maka tanpa banyak cakap dia lalu mundur
dan berdiri dengan muka pucat dan mulut berbisik, "Aku mengaku kalah!"
Tentu saja hal ini mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi dalam pertandingan kacau-balau
telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis. Mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai,
juga tongkat itu sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di samping tenaga
sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku
kalah, tongkatnya patah dan di antara alisnya terluka, sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang
yang baru datang itu hanya meniru-niru ilmu silat Pat-jiu Kai-ong!
"Si Jembel tua bangka memang tolol!"
Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan. Tombaknya melintang di tangan kanannya,
sedangkan tangan kirinya dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan terkenal dengan
sebutan Kang-jiu (Lengan Baja) yang kuat menangkis senjata tajam!
Orang itu tersenyum sabar. “Hemm, jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal?
Heran..., ilmunya masih serendah itu sudah berani malang melintang di Heng-san. Dan kau ini siapakah?
Ginkang-mu cukup lumayan akan tetapi permainan tombakmu belum patut disebut Sin-jio (Tombak Sakti),
dan pukulan itu, tentu yang dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak cocok dengan sebutannya karena
terlalu lemah, hemm, terlalu lemah...!"
Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi kebiasaannya kalau dia lagi
marah, matanya mendelik dan kumisnya yang jarang itu bergoyang-goyang menurutkan bibir atasnya yang
tergetar! "Si keparat sombong! Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Thianhe
Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!"
Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang sudah memperhatikan seluruh gerak-geriknya
melihat bahwa orang itu benar-benar memiliki ginkang yang sukar dipercaya. Hanya dengan mengenjot
ujung kaki, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lalu lenyap ke dalam pohon besar
dan tak lama kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang panjangnya sama dengan
tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah diruncingkan, entah bagaimana caranya!
"Nah, coba mainkan ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajamu yang masih mentah itu," katanya sambil
tersenyum.
Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan keras dia menerjang.
Tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak berubah menjadi belasan banyaknya. Semua mata
tombak itu seolah-olah menyerang bagian-bagian tertentu dari lawannya!
Namun orang itu pun menggerakkan tombak cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahkan mata
‘tombaknya’ berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang menyilaukan mata.
Maka terjadilah pertandingan tombak yang amat aneh karena gerakan mereka sama.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian-he Te-it Ciang Ham. Ilmu tombak itu adalah ciptaannya
sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan kepada siapa pun juga, merupakan kepandaian khasnya
yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia melihat orang ini memainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang
lebih cepat dan lebih kuat! Marahlah dia.
"Setan kau!" dia memaki.
Kini tombaknya membuat lingkaran besar, menyambar-nyambar di atas kepala lawan, sedangkan lengan
kirinya melakukan pukulan maut karena lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang kuat
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali.
"Bagus!" orang itu berseru. Tombaknya bergerak pula menyambut tombak lawan.
“Krekkk!” terdengar suara ketika ujung tombak Thian-he Te-it patah disusul bertemunya dua buah lengan.
"Desss...!"
Thian-he Te-it Ciang Ham mengaduh, melemparkan tombaknya yang patah, menggunakan tangan kanan
mengurut-urut lengan kirinya. Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu, yang berani
menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan berubah menjadi seperti bambu
bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main! Dia pun bukan anak kecil. Seketika tahulah dia
bahwa dia berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi, membuat dia seolaholah
berhadapan dengan gurunya. Maka dia meloncat ke belakang, meringis dan berkata nyaring, "Aku
kalah!"
Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran, hampir tidak dapat percaya akan peristiwa yang
telah terjadi. Biar pun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun rasa penasaran membuat mereka
lupa akan kenyataan bahwa orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah
benar orang aneh ini dapat memainkan ilmu istimewa mereka yang selama ini mengangkat nama mereka
di tempat tinggi di dunia kang-ouw.
"Hayo, siapa lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang masih mentah?" orang itu sengaja menantang
sambil melemparkan tombak cabang pohon yang telah berhasil mematahkan ujung tombak pusaka di
tangan Ciang Ham tadi.
"Aku ingin mencoba!" Thian-tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan
kirinya menggaruk-garuk pantat, tangan kanan memegang tongkat Kim-kauw-pang itu memutar-mutar
tongkatnya.
"Nanti dulu," kata orang itu. "Yang bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal sekali sebagai ketua Kangjiu-
pang di Secuan? Harap Pangcu (Ketua) menjaga agar anak buahmu tidak merendahkan nama Kangjiu-
pang dengan melakukan perbuatan melanggar hukum dan memperbaiki ilmu silatnya."
Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang-goyang karena marahnya.
"Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah memang hendak meniru lagak seekor monyet?
Kalau begitu, tentulah Anda yang berjuluk Thian-tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian,
terkenal dengan Ilmu Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun."
"Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu, manusia sombong?" Thian-tok Bhong Sek Bin
membentak marah. "Ataukah kau tidak berani mengakui namamu dan bersikap sebagai seorang pengecut
tukang mencuri ilmu orang lain?"
Biar pun diserang dengan kata-kata yang menghina itu, orang ini tersenyum saja dan menjawab, "Namaku
tidak ada perlunya kau ketahui. Kalau aku tidak mampu mengalahkan engkau dengan ilmumu sendiri,
barulah aku akan memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukamu terhadap diriku."
Thian-tok lalu mengeluarkan suara memekik nyaring seperti seekor kera marah. Akan tetapi sebelum dia
menyerang, laki-laki aneh itu telah menyambar tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah.
Tombak itu panjang dan sekali dia menggerakkan jari tangannya, ujung tombak cabang yang runcing itu
telah patah dan berubahlah tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya sama dengan Kimkauw-
pang di tangan Thian-tok!
Thian-tok sudah menerjang dengan gerakan lincah sekali. Kim-kauw-pang di tangannya diputar-putar
sedemikian rupa, mulutnya menggeluarkan pekik-pekik dahsyat dan tubuhnya sampai lenyap terbungkus
gulungan sinar tongkat sendiri. Namun dengan enaknya orang itu pun memutar tongkatnya, serupa benar
dengan gerakan Thian-tok, bahkan mulutnya juga mengeluarkan pekik seperti monyet itu.
Terjadilah pertandingan yang aneh dan lucu, seolah-olah bukan sedang bertanding, melainkan Thian-tok
dunia-kangouw.blogspot.com
sedang berlatih silat dengan gurunya. Gerakan mereka sama, akan tetapi gerakan orang itu lebih cepat
dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh jurus terdengar suara keras. Kim-kauw-pang di tangan
Thian-tok patah-patah menjadi tiga potong dan Si Racun Langit itu terhuyung mundur dengan muka pucat
karena tulang pundaknya hampir patah terpukul tongkat lawan!
Melihat betapa bekas suheng-nya kalah, Tee-tok marah sekali. Siang-kiam di punggungnya telah
dicabutnya dan tanpa banyak cakap lagi dia telah meloncat maju. "Keluarkan senjatamu, manusia licik!
Akulah Tee-tok, hayo lawan siang-kiam-ku ini kalau kau memang gagah!"
Orang itu menjura, "Aha, kiranya Tee-tok Siangkoan Houw yang terkenal. Kulihat tadi ilmu pedangmu
adalah pecahan dari Hui-liong-kiamsut, dan kau pandai pula menggunakan Ilmu Silat Pek-lui-kun. Akan
tetapi seperti yang lain, gerakanmu masih mentah."
"Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilmuku!" bentak Tee-tok dengan marah dan dia sudah menerjang maju.
Laki-laki itu mematahkan tongkatnya menjadi dua potong tongkat yang sama dengan pedang-pedang di
kedua tangan Tee-tok. Begitu dia menggerakkan kedua tangannya, tampaklah sinar-sinar bergulung
dengan gerakan yang persis seperti gerakan Tee-tok yang memutar sepasang pedangnya.
Kembali terjadi pertandingan yang hebat, seru dan aneh. Berkali-kali terdengar suara nyaring bertemunya
pedang dengan tongkat, namun anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali tidak dapat terbabat
putus, bahkan kedua tangan Tee-tok selalu terasa panas dan perih setiap kali pedangnya bertemu tongkat!
Dengan teliti Tee-tok memperhatikan gerakan orang dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu
mainkan jurus-jurus ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus ilmu pedangnya, bahkan telah
mendesaknya dengan tekanan yang hebat karena orang itu jauh lebih lincah dan lebih kuat dari-pada dia.
Lewat lima belas jurus Tee-tok berseru, "Aku mengaku kalah!" Dia meloncat mundur, menyimpan
pedangnya dan mengangkat tangan menjura ke arah orang itu sambil berkata, "Harap kau menerima
penghormatanku dengan Pek-lui-kun!"
Kelihatannya saja dia memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada, namun dari
kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan maut yang mendatangkan hawa panas dan yang
dapat membunuh lawan dari jarak tiga empat meter tanpa tangannya menyentuh tubuh lawan! Itulah
pukulan Pek-lui-kun (Kepalan Kilat) yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat!
Orang itu sudah melempar sepasang tongkat pendeknya. Sambil tersenyum dia pun mejura dengan
gerakan yang sama. Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak oleh mata. Di tengah udara, di antara kedua
orang itu terjadi benturan tenaga dahsyat dan akibatnya membuat Tee-tok terpental ke belakang,
terhuyung dan dari mulutnya muntah darah segar! Dia tidak terluka hebat karena tenaganya Pek-lui-kun
membalik, hanya tergetar hebat dan mukanya makin pucat.
"Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!" kata Tee-tok dengan jujur, dan memandang dengan mata
terbelalak penuh kagum dan juga penasaran.
"Engkau luar biasa sekali dan aku amat kagum kepadamu, sahabat!" Gin-siauw Siucai berkata sambil
melangkah maju. "Aku tahu bahwa agaknya aku pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran
sebelum melihat engkau mainkan ilmu-ilmuku yang tentu kau anggap masih mentah pula. Aku adalah Ginsiauw
Siucai dari Beng-san, senjataku adalah suling dan pensil bulu, entah kau bisa memainkannya atau
tidak."
"Gin-siauw Siucai, sudah lama aku mendengar namamu yang terkenal. Jangan khawatir, aku tentu saja
dapat mainkan ilmumu. Dengan ranting pendek ini aku meniru sulingmu, dan aku pun memiliki sebatang
pensil bulu."
Orang itu memungut sebatang ranting yang panjangnya sama dengan suling perak di tangan Gin-siauw
Siucai. Dia juga mencabut ke luar pensil bulu yang tadi dia pergunakan untuk mencoret-coret ketika tujuh
orang tokoh sakti itu sedang saling bertempur. Akan tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin-siauw Siucai
adalah pensil yang dibuat khas, bukan hanya untuk menulis akan tetapi juga dipergunakan sebagai senjata
sehingga gagangnya terbuat dari baja tulen, adalah pensil di tangan orang itu hanyalah sebatang pensil
biasa saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Berkerut alis Gin-siauw Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah kepadanya. Akan tetapi
karena orang itu tersenyum-senyum dan meniru menggerak-gerakkan pensil dan ‘suling’ di tangannya, dia
lalu berkata, "Apa boleh buat, engkau sudah memperoleh kemenangan. Kalau kau kalah, orang akan
menyalahkan aku yang menggunakan senjata lebih kuat. Kalau aku yang kalah, engkau akan menjadi
makin terkenal, sungguh pun kami belum tahu siapa kau. Nah, mulailah!"
Siucai ini cerdik dan dia sengaja menantang agar lawannya bergerak lebih dulu. Akan tetapi orang itu
tersenyum dan sambil menggerakkan kedua senjata istimewa itu berkata, "Lihat baik-baik, Siucai.
Bukankah ini jurus terampuh dari suling dan pensilmu?"
Kedua tangan orang itu bergerak dan Gin-siauw Siucai terkejut mengenal jurus-jurus maut dari kedua
senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk menyerangnya! Tentu saja dia dapat memecahkan jurus
ilmunya sendiri dan berhasil menangkis kedua senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain tadi, dia
merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal sinkang, dia masih kalah jauh.
Gin-siauw Siucai merasa penasaran sekali. Puluhan tahun dia bertapa di Beng-san menciptakan ilmu-ilmu
silat tinggi yang dirahasiakan dan belum pernah diajarkan kepada siapa pun juga. Bagaimana sekarang
telah dicuri oleh orang ini tanpa dia mengetahuinya? Dia melawan mati-matian, mengeluarkan jurus-jurus
paling ampuh dari kedua senjatanya, namun karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung.
Seperti juga yang lain, dia tidak mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus. Terdengar suara keras dan
kedua senjatanya itu, suling dan pensil, patah-patah ketika bertemu dengan senjata lawan yang sederhana
itu. Dia meloncat ke belakang, menjura dan berkata, "Kepandaian Taihiap (Pendekar Besar) memang amat
hebat, aku yang bodoh mengaku kalah."
Orang itu tersenyum dan memuji "Tidak percuma julukan Gin-siauw Siucai karena memang hebat
kepandaianmu."
Ucapan itu dengan jelas menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka Gin-siauw Siucai menjadi makin
kagum dan terheran-heran.
"Sekarang tiba giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat yang gagah. Akan tetapi karena sepasang senjata
pinto adalah hudtim dan kipas, yang tentu saja tidak dapat kau tiru, bagaimana kalau kita bertanding
dengan tangan kosong? Hendak kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto dengan ilmu silat tangan
kosong pinto sendiri?"
Orang itu masih tersenyum, akan tetapi diam-diam ia terkejut. Tak disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia
belum pernah melihat tosu ni mainkan ilmu silat tangan kosong, bagaimana dia akan dapat menirunya?
Akan tetapi dengan tenang dia menjawab, "Tentu saja saya akan melayani kehendak Totiang, akan tetapi
sebelum bertanding, saya harap Totiang tidak keberatan untuk memperkenalkan nama."
"Siancai...! Anda licik, sobat. Semua orang hendak dikenal namanya, akan tetapi engkau sendiri
menyembunyikan nama. Baiklah, pinto adalah Lam-hai Sengjin yang berkepandaian rendah..."
"Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari Pulau Kura-kura? Telah lama mendengar nama Totiang, girang
hati saya dapat bertemu dan bermain-main sebentar dengan Totiang."
"Nah, siaplah!" Lam-hai Sengjin sudah memasang kuda-kuda sambil memandang tajam ke arah lawan
karena dia ingin sekali tahu apakah benar lawan ini akan dapat menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya
sendiri!
Diam-diam orang itu memperhatikan dan tersenyum. Dia pun lalu memasang kuda-kuda yang sama, kudakuda
dari Ilmu Silat Tangan Kosong Bian-sin-kun (Tangan Kipas Sakti), semacam ilmu silat yang
berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya sehingga telapak tangan menjadi halus seperti kapas, namun
mengandung daya pukulan maut yang dahsyat sekali.
"Hiiattt...!!"
Tosu itu sudah menerjang dengan pukulan mautnya. Tampak olehnya lawannya mengelak cepat dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu silatnya. Akan tetapi betapa kagetnya Tosu itu saat melihat
bahwa begitu mengelak lawan itu dalam detik berikutnya sudah menerjangnya dengan jurus yang sama,
jurus yang baru saja dia pergunakan! Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun cepat mengelak untuk
memecahkan ilmunya sendiri, namun harus diakui bahwa elakan orang tadi dengan gerakan aneh jauh
lebih cepat dan bahkan sambil mengelak orang itu dapat balas menyerang!
Kembali Lam-hai Sengjin menyerang dengan jurus lain yang lebih dahsyat, dan seperti juga tadi lawannya
meloncat dan tahu-tahu telah membalasnya dengan serangan dari jurus yang sama! Tentu saja dia dapat
pula menghindarkan diri dan makin lama dia menjadi makin penasaran. Dikeluarkan semua ilmu simpanan,
jurus-jurus maut dari Bian-sin-kun sampai delapan jurus banyaknya. Semua jurus dapat dihindarkan orang
itu dan tiba-tiba orang itu berseru, "Totiang, jagalah serangan Ilmu Silat Bian-sin-kun!"
Dengan gencar kini orang itu menyerangnya dengan jurus-jurus yang tadi sudah dikeluarkannya, delapan
jurus paling ampuh dari Bian-sin-kun. Karena gerakan orang itu cepat bukan main, Lam-hai Sengjin sama
sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang sehingga dia terancam dan terdesak hebat
oleh ilmu silatnya sendiri. Biar pun dia tahu bagaimana untuk memecahkan jurus-jurus serangan dari Biansin-
kun, namun karena kalah tenaga dan kalah cepat, akhirnya punggungnya kena ditampar dan dia
terpelanting, mukanya pucat dan dia harus cepat-cepat mengatur pernapasannya agar isi dadanya tidak
terluka.
"Siancai... engkau benar-benar seorang manusia ajaib...," akhirnya dia berkata sambil bangkit perlahanlahan.
"Lepaskan aku...!" tiba-tiba terdengar seruan halus dan semua orang menengok ke arah Sin-tong dan
melihat betapa anak ajaib itu telah dipondong oleh lengan kiri Kiam-mo Cai-li.
"Hei, lepaskan dia!" Enam orang kakek sakti maju berbareng.
"Mundur!" Kiam-mo Cai-li membentak dan menempelkan ujung payung pedang di tangan kanan itu ke
leher Sin Liong. "Mundur kalian, kalau tidak dia akan mati!"
Melihat ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua.
Laki-laki aneh itu memandang dengan sinar mata berkilat, kemudian dia melangkah maju. Suaranya halus
namun penuh wibawa ketika dia berkata, "Kiam-mo Cai-li, lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!"
"Hi-hik, enak saja kau. Mundur atau dia akan mampus di ujung payungku!" dia menempelkan ujung payung
yang runcing itu ke leher Sin Liong yang tak mampu bergerak dalam pelukan lengan kiri yang kuat itu.
Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang lain, laki-laki itu masih tersenyum dan terus melangkah
maju, membuat Kiam-mo Cai-li mundur-mundur. Sepatah demi sepatah laki-laki itu kemudian berkata,
"Bocah itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Kalau kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi demi
Tuhan, aku akan menangkapmu dan akan memberikan tubuhmu kepada Beruang Es untuk menjadi
makanannya!" sambil berkata demikian, laki-laki itu menanggalkan jubah luarnya.
"Kau... kau... Pangeran Han Ti Ong...."
"Pangeran Han Ti Ong...!" para tokoh kang-ouw itu berteriak.
"Pangeran Pulau Es...?!"
Kiam-mo Cai-li yang tadinya sudah merasa bahwa bocah ajaib itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah
sekali. Dia menjerit dengan lengking panjang. Rambutnya menyambar ke depan, ke arah leher Pangeran
Han Ti Ong, dan pedang payungnya juga meluncur dengan serangan yang dahsyat.
Laki-laki yang disebut Pangeran Han Ti Ong itu tenang-tenang saja, tidak mengelak ketika ujung rambut
yang tebal itu seperti seekor ular membelit lehernya. Akan tetapi ketika pedang payung berkelebat
menusuk, dia menangkap payung itu dan sekali menggerakkan tangan pedang payung itu membabat putus
rambut yang melibat lehernya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tangannya tidak berhenti sampai di situ saja. Selagi Kiam-mo Cai-li menjerit melihat rambut yang
dibanggakan dan andalkan itu putus setengahnya, kedua tangan Pangeran Han Ti Ong bergerak, dan
tahu-tahu tubuh Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih dulu dia menampar punggung wanita iblis itu
sehingga tubuh Kiam-mo Cai-li menjadi lemas dan seperti lumpuh! Dengan Sin Liong dalam pondongan
lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti Ong membalik dan menghadapi tujuh orang itu, tidak mempedulikan
Kiam-mo Cai-li yang mangeluh dan merangkak bangun.
"Apakah masih ada di antara kalian yang hendak mengganggu anak ini? Sekali ini aku tentu tidak akan
bersikap halus lagi!"
"Siancai...!" Lam-hai Sian-jin menjura, "Harap Ong-ya maafkan pinto yang tidak mengenal Ong-ya
sehingga bersikap kurang ajar."
"Maafkan aku, Pangeran."
"Maafkan saya..."
Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya Kiam-mo Cai-li saja yang tidak minta maaf, bahkan wanita
ini berkata, "Pangeran Han Ti Ong, kau tunggu saja. Kiam-mo Cai-li tidak biasa membiarkan orang
menghina tanpa membalas dendam!"
"Hemmm, terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah, pergilah kalian, orang-orang tua yang
tak tahu diri, tega mengganggu seorang bocah."
Dengan kepala menunduk, tujuh orang tokoh kang-ouw yang namanya terkenal itu meninggalkan Hutan
Seribu Bunga. Karena mereka mempergunakan kepandaiannya, maka hanya nampak bayangan-bayangan
mereka berkelebat dan sebentar saja sudah lenyap dari tempat itu.
"Hemmm... berbahaya...." Han Ti Ong melepaskan Sin Liong dan menghela napas panjang sambil
memandang bocah itu yang sudah berlutut di depannya.
"Lo-cianpwe selain sakti dan budiman juga cerdik sekali...," Sin Liong berkata memuji sambil memandang
wajah Pangeran itu dengan kagum.
Han Ti Ong mengerutkan alisnya. "Hemmm, mengapa kau mengatakan demikian, terutama apa artinya kau
mengatakan aku cerdik?"
"Lo-cianpwe mengalahkan mereka, berarti Lo-cianpwe sakti sekali. Lo-cianpwe mengampuni dan
membiarkan mereka lolos, berarti Lo-cianpwe budiman. Dan Lo-cianpwe tadi mencatat gerakan-gerakan
mereka dan kemudian mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri yang sudah Lo-cianpwe catat,
berarti Lo-cianpwe cerdik sekali."
Wajah yang gagah itu berubah. Mata yang tajam itu memandang heran dan kagum, kemudian dia berkata,
"Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat
perlu untuk mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau bahwa tanpa
menggunakan akal budi, memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka dengan ilmu mereka
sendiri, kalau mereka maju bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau sudah
bebas dari bahaya, nah, aku pergi...!"
Melihat orang itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong memandang ke arah mayat
sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ, maka dia berseru, "Lo-cianpwe...."
Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya
untuk mentaati perintah orang kecuali suara ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi ada sesuatu
dalam suara bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan langkahnya. Pangeran Han Ti Ong
lalu menoleh dan bertanya, "Ada apa lagi?"
Dengan masih berlutut Sin Liong berkata, "Lo-cianpwe, sudilah kiranya Lo-cianpwe menerima teecu
sebagai murid."
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak yang masih berlutut itu. "Bocah, siapa namamu?"
"Teecu She Kwa bernama Sin Liong.”
Dengan ringkas Sin Liong lalu menuturkan tentang kematian ayah-bundanya, tentang mengapa dia
melarikan diri dan bersembunyi di hutan itu, dan tentang rasa ngeri dan muak menyaksikan kekejaman
manusia hingga merasa mendapatkan tempat yang tenteram dan damai di tempat itu.
"Hemm, kau ingin menjadi muridku hendak mempelajari apakah?"
"Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Lo-cianpwe dan tentu saja mempelajari ilmu kesaktian."
"Kalau kau hanya ingin belajar silat, mengapa tadi kau menolak ketika para tokoh menawarkan kepadamu
agar menjadi murid mereka? Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian hebat."
"Namun teecu masih melihat kekerasan di balik kepandaian mereka. Teecu kagum kepada Lo-cianpwe
bukan hanya karena ilmu kesaktian, terutama sekali karena sifat welas asih pada diri Lo-cianpwe."
"Tapi kau hendak belajar silat, mau kau pakai untuk apa? Bukankah kau lebih dibutuhkan dan berguna
berada di sini bagi penduduk sekitar Jeng-hoa-san?"
"Maaf Lo-cianpwe. Tidak ada seujung rambut pun hati teecu untuk mempergunakan ilmu kesaktian dalam
tindakan kekerasan. Dan tidak tepat pula kalau kepandaian teecu di sini berguna bagi para penduduk.
Buktinya, teecu hanya bisa mengobati orang sakit, itu pun kalau kebetulan berjodoh. Sedangkan sebelas
orang ini tertimpa bahaya maut sampai mati tanpa teecu dapat mencegahnya sama sekali. Andai kata
teecu memiliki kepandaian seperti Lo-cianpwe, apakah sebelas orang ini akan tewas secara demikian
menyedihkan? Teecu kini melihat bahwa menolong orang tidak hanya mengandalkan ilmu pengobatan,
juga untuk menyelamatkan sesama manusia dari tindasan orang kuat yang jahat, diperlukan kepandaian.
Mohon Lo-cianpwe sudi memenuhi permintaan teecu."
"Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup di sana tidaklah mudah dan enak, tidak seperti di sini. Kau
akan mengalami kesukaran, bahkan menderita di tempat yang dingin itu."
"Kesukaran apa pun akan teecu terima dengan hati rela, karena tiada hasil dapat dicapai tanpa jerih payah,
Lo-cianpwe."
Han Ti Ong tersenyum. Memang dia sudah tertarik sekali melihat bocah yang dijuluki Sin-tong ini. Bocah ini
sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan orang lain yang lemah.
Selain itu pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa bocah ini memang benar-benar bocah ajaib,
memiliki ketajaman otak dan pandangan yang luar biasa. Dan yang paling mengagumkan, bocah ini juga
memiliki darah dan tulang bersih, bakatnya malah jauh lebih besar dari-pada dia sendiri!
Kalau tadinya dia tidak mau menerima bocah ini sebagai murid adalah karena dia merasa malu terhadap
diri sendiri. Kalau dia mengambil anak ini sebagai murid, lalu apa bedanya antara dia dengan tujuh orang
yang dihalaunya pergi tadi? Akan tetapi, memang ada bedanya sekarang setelah Sin Liong sendiri yang
mengajukan permohonan agar diterima menjadi muridnya.
"Kalau memang sudah bulat kehendakmu menjadi muridku, baiklah, Sin-Liong. Mari kau ikut bersamaku,
akan tetapi jangan menyesal kelak. Hayo!" Han Ti Ong kembali membalikkan tubuhnya dan hendak
melangkah pergi.
"Suhu, nanti dulu...!"
Pangeran itu mengerutkan alisnya. Lagi-lagi dia mendengar pengaruh yang luar biasa di balik suara anak
itu yang memaksanya menoleh! Dengan suara kesal dia berkata, "Mau apa lagi?"
"Maaf, Suhu. Teecu mana bisa meninggalkan sebelas buah mayat itu di sini begini saja?"
"Habis, apa maumu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum pergi."
"Kalau aku melarangmu?"
“Teecu tidak percaya bahwa Suhu akan sekejam itu, teecu yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan tetapi
andai kata Suhu benar melarang teecu, terpaksa teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur
mayat-mayat ini."
Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan. Anak berusia tujuh tahun sudah berani memiliki
pendirian seperti batu karang kokohnya. "Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap
membangkang terhadap Guru!"
"Teecu menjadi murid bukan membuta, dan teecu ingin mempelajari ilmu yang baik. Kalau teecu mentaati
saja perintah Suhu yang tidak benar, sama saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan."
Mata Han Ti Ong makin terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat melihat apa yang tersembunyi
di balik ucapan yang kelihatan kurang ajar ini dan dia mengangguk-angguk. "Lakukanlah kehendakmu, aku
akan menunggu."
"Terima kasih! Teecu memang tahu bahwa Suhu seorang sakti yang budiman!"
Dengan wajah berseri Sin Liong lalu menggali lubang. Akan tetapi karena dia hanya seorang anak kecil
dan yang dipergunakan menggali hanyalah sebatang cangkul biasa yang kecil pemberian orang-orang
dusun, dan yang biasa dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar obat, maka tentu saja menggali
sebuah lubang untuk mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan ringan dan mudah!
Mula-mula Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan melirik ke arah muridnya yang bekerja keras itu.
Disangkanya bahwa tentu bocah itu akan kelelahan dan akan beristirahat. Akan tetapi dia kecele. Sin Liong
bekerja terus biar pun kaki tangannya sudah pegal-pegal semua, dan keringat membasahi seluruh tubuh,
menetes dari dahinya dan kadang-kadang diusapnya dengan lengan baju. Akan tetapi dia tidak pernah
berhenti bekerja.
Sudah setengah hari mencangkul, baru dapat membuat lubang yang hanya cukup untuk dua buah mayat
saja. Kalau dilanjutkan agaknya untuk dapat menggali lubang yang cukup untuk semua mayat, ia harus
bekerja selama dua hari dua malam atau lebih!
"Hemm, hatinya lembut tapi kemauannya keras. Benar-benar bocah ajaib," Han Ti Ong mengomel sendiri
dan dia lalu bangkit.
Dirampasnya cangkul dari tangan muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu mencangkul.
Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang mundur dan menonton menjadi kabur pandangan
matanya. Tubuh gurunya seolah-olah berubah menjadi banyak, semuanya mencangkul hingga sebentar
saja telah terbuat sebuah lubang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat itu.
Tentu saja hati Sin Liong girang bukan main. Satu demi satu mayat-mayat itu diangkat, atau lebih tepat
diseretnya, dimasukkan ke dalam lubang dan air matanya bercucuran! Han Ti ong membantu muridnya
menguruk atau menutup lubang itu sehingga di tempat itu, di depan goa tempat tinggal Sin Liong, terdapat
sebuah kuburan yang besar sekali.
"Sudahlah, sudah mati ditangisi pun tidak ada gunanya. Mari kita pergi!"
Sin Liong merasa lengannya dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus memejamkan mata karena
tubuhnya telah ‘terbang’ dengan amat cepatnya meninggalkan gunung Jeng-hoa-san, entah kemana! Akan
tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong berani juga membuka matanya dan dengan penuh kagum dia
melihat bahwa dia dikempit oleh Suhu-nya yang berlari cepat seperti angin saja. Dia mengenal pula tempat
di mana Suhu-nya melarikan diri yaitu ke sebelah timur pegunungan Jeng-hoa-san.
Tiba-tiba dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium sesuatu, maka dia cepat berseru, "Suhu, harap
berhenti dulu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Ti Ong berhenti. "Ada apa?"
"Suhu, di sana itu...," suara Sin Liong tergetar.
Ketika Han Ti Ong menoleh, dia pun merasa jijik sekali. Yang ditunjuk oleh muridnya itu adalah
sekumpulan mayat orang yang sudah menjadi mayat rusak dan bekasnya menunjukkan bahwa mayatmayat
itu tentu diganggu oleh binatang-binatang buas sehingga berserakan ke sana-sini.
"Mau apa kau?!" Han Ti Ong membentak.
"Suhu apakah kita harus mendiamkan saja mayat-mayat itu? Mereka adalah bekas-bekas manusia seperti
kita juga. Kasihan kalau tidak diurus..."
"Wah, kau memang gatal-gatal tangan! Nah, hendak kulihat apa yang akan kau lakukan terhadap
mereka?"
Han Ti Ong menurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk di atas sebuah batu di tempat yang agak
jauh. Dia sungguh ingin tahu apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat yang sudah
demikian membusuk, bahkan dari tempat dia duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya
muntah.
Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri mayat-mayat itu, sedikit pun tidak kelihatan jijik atau segan.
Kemudian, diikuti pandang mata Han Ti Ong yang terheran-heran bocah itu mulai menggali tanah dengan
hanya menggunakan sebatang pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan untuk memotong-motong
daun dan akar dan yang agaknya tak pernah terpisah dari saku bajunya. Anak itu hendak menggali lubang
untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu hanya dengan menggunakan sebatang pisau kecil!
Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga saking girangnya mendapat kenyataan
bahwa muridnya ini benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi luhur dan wajar tanpa
dibuat-buat! Dengan kagum dia meloncat bangun, lari menghampiri Sin Liong yang telah menggali lubang
beberapa sentimeter dalamnya.
"Cukup, Sin Liong. Lubang itu sudah lebih dari cukup untuk mengubur mereka."
"Ehhh...? Mana mungkin, Suhu...?”
"Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baik-baik!"
Han Ti Ong lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku jubahnya. Dengan ujung sepatunya ia mencongkel
mayat-mayat itu menjadi setumpukan barang busuk, lalu dia menuangkan benda cair berwarna kuning dari
dalam botol ke atas tumpukan mayat. Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair, dalam
sekejap mata saja lenyaplah tumpukan mayat itu karena semua, berikut tulang-tulangnya, telah mencair
dan cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin Liong. Benar saja, cairan itu memasuki lubang
dan meresap ke tanah, tentu saja lubang itu sudah lebih dari cukup untuk menampung cairan itu.
Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu menguruk lagi lubang itu dan berlutut di depan kaki
Suhu-nya, "Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu. Suhu sungguh sakti dan budiman."
"Aahhh...!" Muka Han Ti Ong menjadi merah dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa
malunya. Mana bisa dia disebut budiman kalau mengubur mayat-mayat itu bukan terjadi atas
kehendaknya, melainkan dia ‘dipaksa’ oleh muridnya?
"Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekar-pendekar gagah. Sungguh kematian yang
menyedihkan dan entah siapa yang dapat membunuh mereka. Mereka kelihatan bukan orang-orang
sembarangan yang mudah dibunuh. Mari kita pergi, Sin Liong!"
Kembali murid itu dikempitnya dan Pangeran Sakti itu menggunakan ilmu berlari cepat seperti tadi,
melanjutkan perjalanan ke timur menuruni pegunungan Jeng-hoa-san. Tak lama kemudian, kembali Sin
Liong yang dikempit (dijepit di bawah lengan) berseru, "Haiii Suhu, harap berhenti dulu...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga menurunkan bocah itu dari kempitan di bawah
ketiaknya. "Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak penting sekali, aku akan marah!"
"Lihat di sana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong orang yang sengsara itu? Siapa tahu dia juga sudah
mati di sana..."
Tanpa menanti jawaban Suhu-nya, Sin Liong sudah lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di
bawah pohon tak jauh dari situ. Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan tetapi dari tempat ia berdiri, Han Ti
Ong mengerti bahwa orang itu belum tewas, agaknya pingsan atau tertidur saja. Dia tersenyum dan
melihat muridnya sudah menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Betapa kagetnya ketika dia
mendengar teriakan muridnya.
"Eihh, Suhu! Dia seeorang wanita!"
Han Ti Ong terheran. Dia lalu meloncat ke arah muridnya dan melihat betapa tiba-tiba orang yang
disangkanya pingsan itu sudah meloncat bangun dan langsung memukul kepala Sin Liong dengan
kekuatan dahsyat.
"Wuttt... Plakkk! Aughhh...!"
Wanita bermuka kotor yang matanya merah dan rambutnya awut-awutan itu menjerit ketika pukulannya
tertangkis oleh lengan Han Ti Ong yang amat kuat. Dia terhuyung ke belakang, sejenak memandang Han
Ti Ong dan Sin Liong, kemudian menangis tersedu-sedu dan bergulingan di atas tanah, menangis seperti
seorang anak kecil.
"Jangan... aughhh, jangan...! Lepaskan aku... lepaskan...! Jangan bunuh mereka...!"
Sin Liong tertegun dan memandang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu,
maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang berotak miring!
"Toanio (Nyonya), kau kenapakah...?” Sin Liong bertanya sambil melangkah ke depan.
Tiba-tiba wanita itu meloncat bangun. Han Ti Ong sudah siap melindungi muridnya yang sama sekali tidak
kelihatan takut itu. Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba tertawa terkekeh.
"Hi-hi-hi-hikk!"
Aneh sekali! Ketika wanita itu tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis! Wanita itu
adalah seorang gadis muda yang amat cantik, akan tetapi yang entah mengapa telah menjadi gila. Pakaian
yang dipakainya adalah pakaian pria yang terlalu besar. Rambutnya yang hitam panjang itu riap-riapan
tidak diurus, mukanya kotor terkena debu dan air mata, matanya merah dan membengkak.
"Hi-hi-hik, kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku bersumpah akan membunuhmu untuk membalas
kematian dua belas orang Suheng-ku!" Kemudian dia menangis lagi. " Hu-hu-huuuh... Cap-sha Sin-hiap
dari Bu-tong-pai habis terbasmi...."
Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga Belas Orang Pendekar Bu-tong-pai yang amat
terkenal sebagai tiga belas orang pendekar gagah perkasa pembela keadilan dan kebenaran, teringat pula
bahwa mereka terdiri dari dua belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah, saudara termuda.
"Nona, apakah engkau orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai?" tanyanya sambil
melangkah maju menghampiri wanita gila itu.
"Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku lagi!"
Dan tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya. Han Ti Ong menangkis dan menotok. Robohlah
wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi.
"Suhu, mengapa...?" Sin Liong bertanya penasaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bodoh, kalau tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk terus. Coba kau periksa dia, apakah kau bisa
mengobatinya?"
Sin Liong berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot tanpa mampu bergerak. Setelah memeriksa
sebentar, dia menarik napas panjang. "Suhu, dia terkena pukulan batin yang amat berat, membuat dia
menjadi begini, berubah ingatannya. Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat teecu mencarikan
daun penenang untuk mengobatinya."
"Hemm, kau lihatlah gurumu mencoba untuk mengobatinya."
Han Ti Ong megeluarkan sebatang jarum emas dari sakunya. Setelah membersihkan ujungnya dia lalu
menghampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya di tiga tempat, di tengkuk kanan-kiri dan ubunubun!
Sin Liong memandang dengan mata terbelalak. Dia sudah mendengar dari ayahnya tentang
kepandaian orang mengobati dengan tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia menyaksikannya. Wanita itu
hanya mengeluh, lalu tertidur dengan pernapasan yang panjang dan tenang.
Ketika mencabut jarum dan menyimpannya, gurunya berkata, "Coba kau periksa lagi matanya, apakah
sudah ada perubahan?"
Sin Liong membuka pelupuk mata dan melihat bahwa mata wanita itu yang tadinya mengeluarkan sinar
aneh yang liar, kini telah normal kembali. Dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Suhu-nya.
"Suhu, teecu seperti buta, tidak tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula."
"Hemm, dalam hal mengenal tetumbuhan obat, mana aku mampu menandingimu? Akan tetapi aku
mempunyai kepandaian menusuk jarum, kepandaian turunan yang tentu kelak akan kuajarkan kepadamu."
"Suhu, teecu mengajukan sebuah permohonan, harap Suhu tidak keberatan."
"Hemm, apa lagi?"
"Harap Suhu suka menolong wanita malang ini, dan membiarkan dia ikut dengan kita."
"Kau... kau gila...?"
"Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan di sini, lalu datang orang jahat, bagaimana?"
"Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap, ilmu kepandaiannya tinggi.
Siapa berani mengganggunya?"
"Buktinya, dua belas orang suheng-nya tewas dan tentu mereka itu adalah mayat-mayat yang tadi kita
kubur. Agaknya yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong. Selain itu, kalau dia teringat akan peristiwa itu
sebelum sembuh benar, tentu dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega membiarkan dia seperti itu?"
Han Ti Ong memandang wajah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia terheran sendiri
mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu mendatangkan rasa iba yang luar biasa di hatinya?
Mengapa dia merasa tertarik dan ingin sekali menolong wanita muda ini? Apakah dia sudah ‘ketularan’
watak muridnya, ataukah... ataukah...? Dia tidak berani membayangkan. Selama ini hanya isterinya
seoranglah wanita yang menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini,
entah mengapa telah membuat dia tertarik dan kasihan sekali.
"Sudahlah, kau memang cerewet, dan kalau tidak kuturuti, tentu kau rewel terus. Biar kita bawa bersama
ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya." Ucapan terakhir ini seperti ditujukan
kepada hatinya sendiri!
"Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman."
Hati Pangeran Han Ti Ong menjadi mangkel. Ucapan muridnya itu seperti ejekan kepadanya karena dia
mau menolong dara ini sama sekali bukan karena dia budiman, melainkan karena dia kasihan dan
terutama sekali... tertarik hatinya. Dengan kasar dia mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak kanannya,
dan menyambar tubuh Sin Liong di bawah ketiak kirinya, lalu Pangeran yang sakti ini lari secepat terbang
dunia-kangouw.blogspot.com
menuju ke pantai lautan.
Siapakah sebetulnya manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh orang tokoh kang-ouw itu? Siapakah Pangeran
Han Ti Ong yang pada bagian dada bajunya terdapat lukisan burung Hong dan seekor Naga emas itu? Dia
adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau ini merupakan pulau rahasia yang hanya dikenal orang kang-ouw
seperti dalam dongeng.
Tidak pernah ada orang yang berhasil menemukan pulau itu, kecuali beberapa orang nelayan yang
perahunya diserang badai. Mereka ini ditolong oleh manusia-manusia sakti, manusia yang menjadi
penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es di mana terdapat istana indah dan merupakan sebuah kerajaan
kecil penuh dengan orang sakti. Setelah ditolong dan diselamatkan, dan berhasil kembali ke daratan, para
nelayan inilah yang membuat cerita seperti dongeng itu sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di dunia
kang-ouw.
Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang pangeran, ratusan tahun yang lalu. Seorang pangeran
yang amat sakti, seorang pangeran yang dianggap pemberontak karena berani menentang kehendak
kaisar, dan pangeran ini bersama keluarganya menjadi pelarian. Dengan kesaktiannya, dia berhasil
melarikan keluarganya ke pantai timur dan menggunakan sebuah perahu untuk mencari tempat baru.
Tujuannya adalah ke pulau di timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari daratan yang
melarikan diri dan menjadi buronan karena berani menentang pemerintah, yaitu Kepulauan Jepang!
Akan tetapi dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai hebat dan perahunya dibawa jauh ke utara sampai
kemudian perahu itu mendarat di sebuah pulau. Pulau Es! Melihat pulau itu tersembunyi, baik sekali
dijadikan tempat persembunyiannya, dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang tanahnya cukup
subur, maka pangeran pelarian ini mengambi keputusan untuk menjadikan Pulau Es sebagai tempat
tinggalnya.
Dia lalu mengumpulkan orang-orang yang setia kepadanya, membawa mereka ke Pulau Es menjadi
pengikut-pengikutnya. Dibangunnya sebuah istana yang kecil namun indah di pulau itu dan berdirilah
sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini! Berkat kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya dan
keluarga raja hidup aman tenteram dan penuh kebahagiaan di Pulau Es. Para keluarganya hidup rukun
dan para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga penghuni pulau itu berkembang biak.
Karena kesaktian rajanya, dan karena letak pulau itu yang sukar dikunjungi orang luar, maka kerajaan kecil
ini tidak pernah terganggu. Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya, merupakan ilmuilmu
warisan yang hebat, dan tentu saja para pengikut mereka mendapat pula pelajaran ilmu yang tinggi.
Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es.
Pangeran ini berbeda dengan keturunan raja yang sudah-sudah. Kalau semua keturunan raja hidup di
Pulau Es dan hanya meninggalkan pulau kalau mereka ada keperluan di pulau-pulau kosong sekitar
daerah itu untuk mengambil daun obat, sayur-sayuran atau berburu binatang, maka Pangeran Han Ti Ong
tidak betah tinggal di tempat sunyi itu. Dia sering-kali pergi dari pulau dan diam-diam dia melakukan
perantauan di daratan!
Dia adalah orang yang paling banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya sehingga dia adalah orang
terpandai di antara para keluarga raja di Pulau Es. Apa lagi karena dengan kesukaannya merantau di
daratan, dia dapat mengambil banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang lain dari daratan sehingga kepandaiannya
bertambah. Dan gara-gara perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es menjadi makin terkenal dan nama
Pangeran Han Ti Ong sendiri juga menggemparkan dunia kang-ouw, sungguh pun dia jarang sekali
memperkenalkan diri. Melihat bajunya yang terhias gambaran Naga dan burung Hong itu saja sudah cukup
bagi para tokoh kang-ouw untuk mengenal manusia sakti dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi di
Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh besar dunia kang-ouw.
Para Pangeran yang sudah-sudah, selalu mengambil isteri dari keluarga kerajaan sendiri, yaitu saudarasaudara
misan mereka sendiri. Hal ini adalah untuk menjaga agar ‘darah’ kerajaan tetap ‘asli’. Akan tetapi,
berbeda dengan semua kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong jatuh cinta kepada seorang dara puteri
penghuni Pulau Es biasa, berkeras mengambil dara itu sebagai isterinya! Padahal biasanya, dara-dara
yang berdarah ‘biasa’ ini hanya diambil sebagai selir-selir oleh para pangeran dan raja.
Akan tetapi Pangeran Han Ti Ong tidak mau mengambil selir dan hanya mempunyai seorang isteri, yaitu
dunia-kangouw.blogspot.com
anak nelayan yang menjadi pengikut keluarga raja, seorang dara biasa saja, namun yang sesungguhnya
memiliki kecantikan yang mengatasi kecantikan para puteri raja! Dari isteri tercinta ini, Pangeran Han Ti
Ong mempunyai seorang puteri yang pada waktu itu berusia enam tahun. Seorang anak perempuan yang
mungil, cantik, keras hati seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya. Anak ini diberi nama Han Swat Hong
(Angin Salju). Nama ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk menamakan puterinya karena ketika
puterinya terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju yang amat kuat!
Pada pagi hari itu Swat Hong, anak perempuan berusia enam tahun lebih itu, duduk bengong di tepi pantai
Pulau Es. Dia sengaja memilih tempat sunyi yang agak tinggi ini untuk melihat jauh ke selatan, dan hatinya
penuh rindu terhadap ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan itu.
"Hong-ji (Anak Hong)...!"
Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil tadi adalah ibunya. Dia lalu meloncat bangun, lari
menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya dan menangis.
Ibunya tertawa. “Aih-aihhh... anakku yang biasanya periang dan suka tertawa mengapa menangis?
Mengapa bulan yang berseri gembira menjadi suram? Awan hitam apakah yang menghalanginya?"
"Ibu, kau... kau kejam!"
"Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang menyembelih ikan atau ayam. Akan tetapi ibumu tidak kejam
terhadap manusia."
Memang watak Liu Bwee, ibu anak itu, atau isteri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang
menurun pula kepada Swat Hong.
"Ibu kejam, mengapa Ibu tidak berduka? Apakah Ibu tidak rindu kepada Ayah?"
Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali dan tanpa terasa lagi dua titik air mata meloncat turun ke
atas pipinya.
Melihat ini, Swat Hong melorot turun dan bertepuk-tepuk tangan, "Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu
kepada Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!" Memang begitulah watak anak-anak, melihat orang lain
berduka, dia sendiri lupa akan kedukaannya dan merasa terhibur!
Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan tetapi masih bercucuran air mata. Swat Hong yang
tadinya berbalik menggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya seperti juga dia tadi, kini
menjadi terheran dan berkhawatir.
"Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang terjadi? Apakah diam-diam ibu begitu merindukan Ayah dan
menyembunyikannya saja?"
Liu Bwee memaksa diri tersenyum dan menghapus air matanya. Ia mengangguk-angguk sebagai jawaban
karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan suara tanpa terisak menangis. Akan tetapi puterinya itu
adalah seorang anak yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat dibohonginya semudah itu.
"Ibu ada apakah? Harap Ibu beri-tahu kepadaku, siapa yang menyusahkan hati Ibu? Akan kuhajar dia!"
Swat Hong mengepal kedua tinjunya yang kecil seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah
berada di situ dan akan dihantamnya.
Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia menangis lagi, akan tetapi ditekannya
perasaan harunya dan dia tertawa. "Aih, Hong-ji, kalau ada yang kurang ajar kepada ibumu, apakah ibumu
tidak dapat menghajarnya sendiri?"
Swat Hong tertawa. "Memang aku tahu bahwa kepandaian Ibu juga hebat, biar pun tidak sehebat Ayah.
Akan tetapi tidak puas kalau aku tidak menghajar dengan kedua tanganku sendiri kepada orang yang
menyusahkan hati Ibu."
"Anakku yang baik...!" Untuk menekan harunya, Liu Bwee mengangkat tubuh anaknya, dipeluk, diciuminya
dunia-kangouw.blogspot.com
kemudian dia membentak, "Terbanglah!" dan melempar tubuh anak itu ke atas.
Swat Hong bersorak gembira. Itulah sebuah di antara permainan mereka. Dia senang sekali kalau dilempar
ke udara oleh ibunya, terutama kalau ayahnya yang melakukannya karena lemparan ayahnya membuat
tubuhnya ‘terbang’ tinggi sekali. Namun kini lemparan ibunya cukup menggembirakan hatinya, karena biar
pun ibunya tidak sekuat ayahnya, lemparannya cukup membuat tubuhnya melambung tinggi melewati
puncak pohon!
Ketika tubuhnya melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya. Akan tetapi dasar anak nakal, dia
menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya di atas
dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkeram ke arah ubunubun.
Itulah jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncatan ke
atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!
"Haiiit...!!" Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong menjerit sebelum menyerang.
Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi. Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong,
wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat
tinggi, telah digembleng oleh suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi
seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu.
Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat mengelak. Dari samping dia menyambar kedua lengan
anaknya dan dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas! Tubuh itu melayang
tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak girang, "Heiii, Ibu... itu Ayah datang...!!"
Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari ke pinggir tebing tinggi dan memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri,
jantungnya berdebar karena penuh rindu kepada suaminya. Benar saja. Tampak sebuah perahu dan dia
mudah mengenal suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu kecil
meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah.
Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda
yang cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia tidak akan mengikat suaminya, dan sebagai seorang isteri
pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil selir sebanyak-banyaknya.
Akan tetapi entah mengapa, kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik,
mendatangkan rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.
"Ibuuuu...! Tolong dulu aku...!"
Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun.
Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada
puterinya. Sungguh pun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik, akan tetapi meluncur turun
dari tempat tinggi seperti itu ada bahaya kaki patah atau setidaknya salah urat.
Untuk meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting kayu di dekat
kakinya, lalu melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki Swat Hong. Anak ini juga tidak
menyia-nyiakan pertolongan ibunya. Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan
dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat ke bawah
dengan aman.
Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang,
"Ayah datang, Ibu?"
Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu yang makin mendekat
pantai.
"Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak laki-laki bersama ayah di dalam perahu!"
Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidik ke arah perahu.
"Wah, jangan-jangan itu selir dan putera ayah!" Swat Hong yang memang berwatak terbuka itu berkata
dunia-kangouw.blogspot.com
mengomel.
Anak ini sudah tahu akan kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa
heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar Pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang
dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam perahu itu.
Mendengar ucapan Swat Hong yang tanpa disengaja merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu
Bwee menjawab, “Perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, sungguh pun
bukan tidak mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik."
Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya.
Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke arah puterinya dan merasa
menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang penuh cemburu tadi. Segera digandengnya tangan anaknya
dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang, "Ehh, kenapa kita di sini saja? Hayo
kita sambut Ayahmu!"
Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai
pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat
Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi. Sebenarnya hati Liu Bwee memang amatlah girang
melihat kembalinya suaminya, sungguh pun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya
pulang sendirian saja.
Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang
dia maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah
rendah. Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong tidak mau
mengambil selir. Hal ini dianggap oleh mereka bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk mengikat
suaminya! Apa lagi karena Liu Bwee tidak mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin
bertambah. Sudah tentu saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong,
pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!
Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya
takan bertahan lama lagi. Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera
mahkota, yaitu pangeran Han Ti Ong untuk mewariskan singgasana kepada puteranya ini.
Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain dari-pada para pangeran lain, suka merantau, isterinya
orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka Liu Bwee maklum bahwa di
antara keluarga raja terdapat persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja! Hal
inilah yang mendukakan hatinya. Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang bagi suaminya dan
hal inilah yang paling merusak hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya
pulang!
Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut
pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat
kehormatan paling depan dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat ke
luar sambil tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut.
"Ayah...!!"
"Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!" Han Ti Ong menerima puterinya itu dan mengangkatnya tinggitinggi,
lalu melemparkan tubuh anaknya ke udara.
Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya dengan jurus Kakseng-
jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut) seperti yang dilakukannya kepada ibunya tadi.
"Ha-ha-ha, bagus juga!"
Ayahnya tertawa, menyambar kedua lengan yang mencengkeram ubun-ubunnya, lalu memondong
puterinya, dan mencium dahinya. Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang
sudah maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, “Harap kau baik-baik saja
selama aku pergi."
dunia-kangouw.blogspot.com
Liu Bwee memandang suaminya sambil tersenyum, akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti
Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apa lagi ketika mendengar suara istrinya yang lirih.
"Ayahanda raja sedang menderita sakit parah."
Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi hati istrinya. Dia sudah
mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan dia tahu pula bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal
yang menggelisahkan istrinya. Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan asal-usul istrinya yang
datang dari keluarga berdarah ‘rendah’ itu. Dikhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu kelak akan
menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja!
Maka dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat dia berkata, "Ahh,
hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar
sana dia dikenal sebagai Sin-tong."
"Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai di mana keajaibannya!"
"Hong-ji, jangan!" ibunya menegur.
Akan tetapi anak itu telah meloncat ke depan, dan pada saat itu Sin Liong pun sudah turun dari atas
perahu. Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Tahu-tahu
seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda menyambar telah menyerangnya dari
depan, sebuah kaki kecil telah menghantam dadanya.
"Bukk!!" tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan napasnya
sesak.
Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya yang menjadi kotor, lalu memandang anak
perempuan yang lebih muda dari-pada dia itu. Sin Liong menggeleng kepala dan berkata tenang,
"Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan
kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab."
"Aihhh...," Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya yang terdengar tertawa keras. "Ayah, dia
tidak bisa apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!"
"Ha-ha-ha, kau lihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah,
malah menyayangkan dirimu, bukankah itu ajaib?"
"Anak yang luar biasa dia...," terdengar Liu Bwee berkata lirih.
Kini Swat Hong juga memandang Sin Liong. Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata, "Dia
tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!"
"He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?" Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.
Anak ini menggeleng kepala. "Suhu pasti mengerti bahwa teecu tidak takut terhadap apa pun dan siapa
pun."
Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, kemudian menegakkan kepalanya dan
menantang, "Bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo kau lawan aku!" Selesai bicara dia langsung
bersiap memasang kuda-kuda.
Sin Liong menggeleng kepalanya. "Adik yang baik, aku tidak akan menggunakan kepandaian apa pun juga
untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, apa lagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau."
Gadis cilik itu sudah menerjang maju, namun Sin Liong hanya memandang dengan sikap tenang saja,
berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu. Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke
belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.
"Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada Suheng-mu itu!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Swat Hong menoleh. Ia melihat ayahnya tersenyum, ia pun melihat pandang mata semua orang dari
prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong. Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar
pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat Pulau Es tidak boleh
sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan! Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa
sebab apa-apa, padahal Sin Liong adalah murid ayahnya atau suheng-nya (kakak seperguruan).
Biar pun dia berwatak keras dan tidak mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah
berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran. Sambil tersenyum dan dengan
muka ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, "Suheng, harap maafkan aku yang kurang ajar
tehadap murid Ayah."
Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri Suhu-nya! Dia pun menjura dan berkata, “Tidak ada yang perlu
dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu."
"Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!"
Swat Hong lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng tangannya dan diajak lari ke pinggir di
mana dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan. "Siapakah nama lengkapmu, Suheng?
Dari mana kau datang? Bagaimana kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya
kepadamu? Mengapa pula kau disebut Sin-tong?"
Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya
seperti seekor burung garuda, akan tetapi kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini.
Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab
pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada di situ tertarik oleh
keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas perahu.
Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena
mala-petaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian semua orang. Wanita ini memang berwajah
manis dan gagah, apa lagi ketika turun dari perahu itu. Rambutnya yang awut-awutan berkibar tertiup
angin, pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh rahasia. Kwat Lin
turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar menyapu semua orang yang
memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang kepada Liu Bwee yang telah melangkah
menghampirinya.
"Dia ini siapakah?" Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pucat itu sambil
didalam hatinya menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanyaan
itu sesungguhnya diajukan kepada suaminya.
Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin membentak, "Manusia-manusia busuk!
Kubunuh engkau!" Dan dia sudah meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang
dahsyat.
"He, Toanio! Jangan begitu...!!" Sin Liong berteriak mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah
menyerang dengan cepatnya.
Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya
memandang dengan tenang-tenang saja!
"Wuutttt...! Plak-plak...!" tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee dan wanita
ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan.
Hal ini membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat dia melompat
bangun dan menerjang lagi, namun Pangeran Han Ti Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya
sambil berkata, "Tenanglah, Nona,"
Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong. Ternyata dia telah ditotok lemas.
Dengan lambaian tangan, Pangeran itu memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkastangkas.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dia sedang sakit, ingatannya tidak sewajarnya." Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang memandang
marah.
Mendengar ini Liu Bwee mengangguk-angguk dan kemarahan di wajahnya berubah menjadi iba. "Bawa dia
ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik," kata Liu Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera
menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.
Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para pangeran dan pasukan
penghormatan. Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung belaka. Dengan megah
Pangeran itu lalu langsung diantar ke kamar ayahnya, Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama
menanti kedatangan puteranya ini. Sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana
di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.
Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari setelah pulangnya Pangeran Han Ti
Ong, raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya,
merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan betapa tidak puas dan
penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka memanaskan hati
mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu.
Untuk memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu,
pada waktu itu Han Ti Ong merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya diam saja, biar
pun tidak pernah lengah barang sehari pun untuk mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk
menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Liu Bwee yang mereka anggap sebagai biang
keladi dari ‘penyelewengan’ Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!
Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan
pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang
dicari para anak buah Pulau Es atas petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin
menjadi sembuh.
Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di dalam taman istana, taman yang
bukan berisi bunga-bunga hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias
salju dan patung patung kayu. Sudah berhari-hari dia duduk di taman ini dan didiamkan saja karena
menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak boleh
diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan pengawasan karena entah bagaimana, makin lama
dia menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!
Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di belakangnya. Sebagai seorang hali
silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada. Ketika dia membalik, dia melihat
Han Ti Ong yang berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah. The Kwat Lin yang kini
sudah sembuh sama sekali, memandang penuh keheranan lalu menegur, "Siapakah engkau? Dan
mengapa engkau bisa berada di tempat aneh ini?"
Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja Han Ti Ong. Sikap dan
kata-kata itu sudah cukup membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada
keadaan sebelum mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti
mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.
"Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita
belasan hari ini."
"Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu
mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini."
"Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi
apa yang Nona telah alami selama belasan hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan
nasib Ca-sha Sin-siap yang amat malang...."
Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat. "Kau... kau tahu apa yang terjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada kami...?"
Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan hatinya itu dengan senyum
mesra. “Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua belas orang suheng-mu. Aku
dan muridku pula yang menolong membawamu ke sini kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini.
Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja pulau ini dan kau berada di Pulau Es."
Mata yang indah ini terbelalak. "Apa...? Di... di Pulau Es...? Dan aku telah mendengar nama besar
Pangeran Han Ti Ong...."
"Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil tak berarti, Nona. Aku belum
mengetahui namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu."
Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. “Saya menghaturkan banyak terima kasih atas
pertolongan Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat
Lin, orang termuda Cap-sha Sin-hiap, dan... kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin
segera pergi dari sini..., sekarang juga...."
"Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia hati. Ketahuilah, semenjak pertama
kali melihatmu dan melihat penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau
kiranya engkau suka, aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal di dalam istanaku ini
sebagai seorang istriku, istri yang ke dua."
Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian
terus terang menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri! Dia menjadi isteri raja? Dia yang
telah dinodai oleh Pat-jiu Kai-ong?
"Tidak! Maaf... saya... saya harus pergi sekarang juga. Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu
tahu... yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong."
Han Ti Ong mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa
seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan
seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu
mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona. Adanya aku berani meminangmu secara
terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah.
Bagaimana mungkin Nona akan membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap
saja tidak mampu mengalahkannya? Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm...soal membalas
dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan."
Ucapan ini berkesan mendalam, membuat Kwat Lin termangu-mangu. Dia bukan gadis lagi dan tidak
mungkin dia menjadi istri orang. Setelah berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan
mengakhiri noda yang dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain lagi
halnya. Apa lagi kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaanya.
"Apakah... apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya?” tanyanya dan kini dia
mengangkat muka, memandang raja itu. Diam-diam ia harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan
tampan, sungguh pun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.
"Terserah kepadamu. Kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang ingin memperistrimu, maka kau
memiliki dua pilihan. Kau boleh menghendaki dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu
itu dan menyeretnya kedepan kakimu, atau engkau boleh mempelajari ilmu dan aku berani tanggung
bahwa selama setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu."
"Be...benarkah itu?"
"Nona The Kwat Lin, Han Ti Ong bukan orang yang biasa membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan
dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan andai kata engkau menolak sekali pun,
aku tidak akan memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu.
Nah, engkau yang memutuskan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin. Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong.
Tentu saja ia dapat pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan mala-petaka yang menimpa Cap-sha Sinhiap itu
kepada gurunya, ketua Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi gurunya sudah tua sekali, dan belum
tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biar pun murid-muridnya terbunuh sekali pun.
Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya juga akan sukar mengalahkan Pat-jiu Kai-ong.
Yang terutama sekali memperberat hatinya adalah, kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan
tahu tentang mala-petaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. Ke mana
dia akan menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau dia berada
di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan mempunyai
kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu!
Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia
akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu
dengan tangannya sediri. Biar pun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es yang
kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktiannya? Apakah orang ini lebih lihai
dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?
Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang
memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata, "Saya ingin sekali dapat
membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa
dalam setahun saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?"
Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. "Inilah pedang yang
kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu."
Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik, akan tetapi segera dihapusnya. Itulah Angbwe-
kiam, pedang dari twa-suheng-nya!
"Engkau meragu, baiklah. Sekarang kau pergunakan pedangmu dan kau serang aku untuk menguji apakah
aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai dari-pada Pat-jiu Kai-ong."
Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya. Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia
dan dua belas orang suheng-nya. Mereka telah mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan
Sin-kiam-tin ketika mengeroyok kakek iblis itu, namun akhirnya mereka semua kalah, sungguh pun sejenak
kakek itu sempat terdesak. Kini kalau hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran
apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?
"Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti
akan dapat mengalahkan dia. Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong
saja," kata raja itu, seolah-olah dapat membaca isi hati Kwat-lin.
Dara itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia menyerahkan
dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas dendam.
"Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata."
"Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunnya untuk mengalahkan Capsha
Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini." Dia meraih ke bawah dan tangannya sudah
membentuk batu karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!
"Harap Paduka siap!" Kwat Lin berseru. Pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah
leher, sedang tangan kirinya sudah memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan
pukulan tangan kiri ini merupakan jurus ampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.
Sekali tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya, leher
dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin
menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu
dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu.
"Paduka... Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngodunia-
kangouw.blogspot.com
heng-kiam-sut Bu-tong-pai!"
Han Ti Ong tersenyum, "Persis sekali dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali
serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi, bukankah mudah
kau mengalahkan musuhmu?”
Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. "Saya ingin mencoba lagi!"
"Boleh, boleh. Kau seranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan
kukalahkan dengan jurusmu yang sama."
Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi. Akan tetapi setiap
kali selesai menyerang satu jurus, dia lantas menjerit lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh
jurusnya sendiri. Jurus itu digerakkan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat
dan mengandung tenaga mukjijat sehingga biar pun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi
mengelak atau menangkis!
Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia
menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut. "Saya menerima penawaran Paduka!"
Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan
dan saling pandang. Wajah raja itu berseri melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada
kedukaan hebat tersembunyi di balik kemerahan wajah karena malu itu.
Dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih, "Aku tahu, Kwat Lin.
Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap hubungan antara
pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku
akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang
kau ambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari, mari kita
mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia."
Han Ti Ong mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng
tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke ‘taman’ itu.
Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusannya mengambil The
Kwat Lin sebagai istri kedua, sungguhpun hal ini mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati
para penghuni Pulau Es.
Pesta diadakan secara sederhana saja, tetapi cukup meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersukacita
dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini raja akan dikaruniai seorang putera. Juga terjadi
bermacam tanggapan di kalangan keluarga raja. Ada kekecewaan, akan tetapi ada pula harapan. Kecewa
karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil ‘orang luar’ sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena
mungkin melalui istri kedua ini mereka dapat ‘memukul’ Liu Bwee yang mereka benci.
Ternyata kemudian oleh Kwat Lin bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika
meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka. Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini
terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa
raganya Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya, sedemikian besarnya sehingga lambat laun
dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini.
Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan utama dengan mengorbankan dan
menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan
mendalam, mulailah berbalik pikir. Apa lagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir,
dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali.
Kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang sering-kali menghadapi banyak kesengsaraan hidup,
kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benarbenar
memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya! Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat
diri menjadi permaisuri. Dia merasa berhak, karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki?
Selain menjadi permaisuri, ia juga ingin menjadi pewaris semua ilmu kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian, baru dia akan mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis
jembel itu kini menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek itu
mempermainkannya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat menghina, akan tetapi ada
segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat
itu, agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apa lagi menjadi istrinya
dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!
Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama sumoi-nya, Swat Hong yang lincah jenaka. Dan mulai
tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah
ini dan menjadikan Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia memang pantas disebut Sin-tong.
Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bakput-
bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-diam menjadi kagum sekali karena dia harus akui
bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang amat
mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat
luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang
amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya. Benar-benar seorang bocah yang ajaib!
Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biar pun hal ini
merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak-baikan,
terutama di pihak ibu sumoi-nya. Apa lagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar
wanita Bu-tong-pai itu. Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan
yang sama sekali tidak berhak mencampuri ‘urusan dalam’ Suhu-nya, maka tentu saja dia hanya berdiam
diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan hati tidak enak.
Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa ini memang sungguh terjadi. Semenjak
mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula
tidak terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya karena hal ini
dianggapnya lumrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan kewanitaannya
yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya.
Setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau
sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali. Kedatangan Han Ti Ong hanya
untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka! Hati seorang
wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah
jatuh cinta dan mudah pula membenci!
Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak laki-laki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini
mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa tersiksa batinya, merasa kesepian. Rasa rindu yang
makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah
kebenciannya terhadap Kwat Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita yang
gila akan kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunnya
derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan
tetapi Liu Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa
hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disiasiakan oleh suaminya yang telah jatuh di bawah telapak
kaki Kwat Lin.
Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para keluarga raja. Bagi
mereka, biar pun putera raja bukan keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah ‘agung’ seperti
mereka, namun masih lebih baik dari-pada kalau dilahirkan oleh seorang ibu seperti Liu Bwee, hanya anak
seorang nelayan Pulau Es dari kelas rendah! Pula kebencian mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap
Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwat Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu,
disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es sebagai
penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi pangeran mahkota!
Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan
Pulau Es dan kerajaan kecilnya selama tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu. Para penghuninya
masih hidup dengan tenang dan tenteram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang
lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para
penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan banyak! The Kwat Lin kini menjadi
permaisuri, diangkat secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri
selir. The Kwat Lin bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukannya, namun
juga telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan
beberapa tokoh lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong
agaknya telah lenyap sama sekali!
Dia kelihatan hidup bahagia, tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya, dan melihat
puteranya yang kini telah berusia enam tahun menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Biar
pun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak
kanak-kanak.
Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang menakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua
ilmu yang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam
waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoi-nya, dan setelah dia berusia
empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoi-nya. Bukan hanya dalam hal ilmu
silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh Suhu-nya, dengan
tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat
menampung inti sari tenaga im-kang yang amat hebat.
Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh Suhu-nya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin
Liong juga rajin sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat di dalam kamar perpustakaan istana. Dia
dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es, dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin Liong karena
ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno, dan setiap bertemu
huruf baru yang tidak dikenalnya, dia akan mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli itu.
Dengan cara demikian, biar pun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya
perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam
perpustakaan itu. Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya kuno, juga hurufhuruf
itu mengandung arti yang amat mendalam. Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau
itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang.
Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu. Selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno
yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya. Namun semua kitab itu ‘dilalap’ semua oleh
Sin Liong! Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam
sajak-sajak itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan ‘rangka’ terselubung di
dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti itu.
Bahkan dia menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan
tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang
sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus ilmu
silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di Jeng-hoa-san. Kini secara tidak disengaja,
bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu ‘terselip’ dan
terselubung di antara sajak-sajak kuno yang kelihatannya tidak ada gunanya itu.
Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, selama berada di Pulau Es, Sin Liong juga
memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenai daun dan tumbuhan obat dengan jalan
menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es. Dia memang mendapat tugas untuk mencari
bahan-bahan obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es. Dalam kesempatan
melaksanakan tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi
tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia.
Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyak sudah penghuni yang terhindar dari bahaya penyakit. Untuk
ini Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu
pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu. Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja,
juga memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah memiliki ilmu kepandaian
yang sukar dicari tandingannya. Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh
kemajuan masing-masing.
dunia-kangouw.blogspot.com
Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang telah menjadi
permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami mala-petaka yang dianggapnya lebih hebat
dari-pada kematian sendiri, telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra,
kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.
Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir mau pun batin, yaitu Liu Bwee!
Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali
tidak pernah lagi mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak
mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi seorang
pertapa dan biar pun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya
selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan
terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak
pernah terpuaskan.
Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para anggota keluarga
istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini
karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam
yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja dirasakan oleh semua anggota
keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong.
Sering-kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swat Hong yang merupakan ciri khas dara ini. Ketika melihat
dara itu termenung seorang diri, dia menarik napas panjang dan sekali waktu dia menegur, "Eh, Sumoi.
Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu. Sinar matahari
mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!"
Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik napas panjang. "Betapa aku tidak akan muram
menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana, Suheng? Ayah memang masih biasa dan baik
kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah
yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah-tamah dan bersendau-gurau
seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?"
"Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunayi hak untuk bicara mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan
mereka sendiri."
"Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu
kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...."
"Hushh...."
"Aku tidak membohong, Suheng. Sering-kali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan
menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biar pun dia hendak menyembunyikannya dariku,
namun aku tahu betapa Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan
batinnya...." Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi, "Suheng, apa sih perlunya orang
saling mencinta kalau akibatnya hanya mendatangkan rindu dan kecewa?"
"Itu bukan cinta, Sumoi. Ahh, kau takkan mengerti dan semua orang takkan mengerti karena sudah lajim
menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntut kesenangan dan
ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi."
Sumoi-nya terbelalak. "Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam
itu, Suheng?" Karena tertarik, dara ini sudah melupakan kedukaannya dan menjadi riang gembira lagi.
Matanya memandang suheng-nya dengan berseri penuh godaan.
"Dari... hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan apa
artinya filsafat kalau hanya untuk dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulangulang,
dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong. Terlalu
banyak kitab sudah kubaca, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan
kesadaran." Sin Liong menarik napas panjang.
"Suheng, kau tadi mencela aku yang kau katakan murung. Akan tetapi aku juga sering-kali melihat engkau
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?"
"Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini, masyarakat setenteram
ini. Akan tetapi, kalau aku melihat para terhukum yang dibuang ke Pulau Neraka...."
"Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah
dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan urusan kita."
“Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah-bundamu memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan
orang-orang terhukum adalah urusan umum, urusan kita juga. Aku sama sekali merasa tidak senang
dengan adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...."
"Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!"
"Raja pun manusia juga."
"Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku, Suheng."
"Hukum pun buatan manusia. Benda mati!"
Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin
Liong menjadi muram.
"Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang
melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!"
Tangan Sin Liong digandeng oleh Swat Hong yang menariknya ke arah bangunan di samping istana.
Bangunan ini dijadikan ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang
melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ketika mereka tiba di situ, telah banyak penghuni Pulau Es yang
menonton di luar ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang
dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.
Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di
belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi. Di kanan-kiri pada bagian pinggir juga terdapat kursikursi,
sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong.
Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang
kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim. Di kursi kebesaran di sebelah kanannya
tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya
raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya
permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es.
Para pesakitan sudah berlutut di atas lantai di depan meja, jumlahnya ada tiga orang. Seorang adalah lakilaki
tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar, seorang lagi laki-laki muda
yang tampan, dan terakhir ialah seorang wanita yang usianya empat puluhan. Wanita yang masih cantik ini
berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi besar dan si wanita
yang kelihatan tenang-tenang saja.
Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah
berlutut di depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui. “Bouw Tang Kui telah berkali-kali
diperingatkan karena sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan
suka mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian, mengambil batu hijau mustika penyedot
racun ular milik orang lain. Karena kejahatannya membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan
dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya. Selain untuk
memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau."
Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak gemetar, "Bouw Tang Kui, kau
sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri."
Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan
dunia-kangouw.blogspot.com
nyaring berkata, "Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika
batu hijau. Hamba telah menerima banyak budi dari Sri Baginda. Kalau sekarang dianggap berdosa,
hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba."
Hakim berpikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, "Pengadilan memutuskan hukuman
buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui."
Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih hebat dari-pada penggal kepala.
Di antara mereka yang mendengarkan banyak yang menahan napas dengan muka pucat, dan ada pula
yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang Kui.
Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu berkata dengan suara penuh pahit
getir, "Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa
untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!"
"Jadi engkau menerima keputusan hukuman?" hakim bertanya.
"Hamba mene...."
"Nanti dulu!!" tiba-tiba terdengar suara nyaring.
Han Ti Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari
kursinya dan mengeluarkan seruan itu. "Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi
pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap
berdosa dan memang dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu
dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya, siapakah di
antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan?"
"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu
pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan
tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan
yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia
yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan penyelewengan sama saja dengan
seorang yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya
melainkan hatinya. Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman
keji itu sama dengan membunuhnya!"
Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan pembelaannya.
"Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus tunduk kepada
hukum!" kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin
Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena
pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang mengeluarkan suara
membantah.
"Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang
dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya
pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak ada
larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukum itulah yang menciptakan dosa dan pelanggaran.
Hukum itulah yang keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor dari-pada dosa itu sendiri!
Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia menjadi makin
jahat dan mendendam? Andai kata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah
hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu
menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan. Lebih baik menuntut mereka yang tersesat
agar kembali ke jalan benar dari-pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan membuat
mereka menjadi lebih jahat lagi."
“Kwa Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan
persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!" bentak Han Ti
Ong yang merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama ratusan
dunia-kangouw.blogspot.com
tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!
Sin Liong menghela napas dan terpaksa dia duduk kembali.
"Ssttt, kau terlampau berani...." Swat Hong berbisik.
"Hemmm... tiada gunanya...." Sin Liong balas berbisik.
Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, yaitu laki-laki tampan
dan wanita cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan.
"Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinahan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi
istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar
larangan keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu tidak ada pengampunan baginya dan mohon
pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Ada pun Lu Kiat, biar pun masih muda dan belum
beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak.
Kemudian terserah kepada hakim."
Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari
mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja. Ada pun
Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukkan mukanya, kelihatan
gelisah sekali.
"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket
seratus kali kepada Lu Kiat!"
"Hamba tidak menerima!" Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak. "Yang melakukan perjinahan adalah hamba
berdua, maka kalau dibuang pun harus hamba berdua!"
"Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!" teriak pula Lu Kiat.
"Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan bersama-sama menderita andai kata dibuang ke
Pulau Neraka!" Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.
"Diam!!" Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka berdua menjatuhkan diri mohon
pengampunan.
"Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka
sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!" kata Raja itu dengan suara tenang
namun penuh wibawa.
Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah
Lu Kiat menjadi makin pucat.
Kembali Sin Liong bangkit berdiri. "Maaf, Suhu. Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah
melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah
demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu
ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seorang istri sampai
melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa
wanita yang telah bersuami ini sampai berjinah dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat
menahan dorongan nafsu birahi? Tentu ada sebab-sebabnya."
"Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu birahi?!" bentak gurunya.
Han Ti Ong agak tertegun juga karena mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya
itu. Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri menahan senyumnya.
"Teecu... teecu... mengerti dari kitab...."
"Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinahan yang dilakukan orang dewasa tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!" kata
Han Ti Ong.
Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring ke luar untuk dilaksanakan hukuman atas
diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka. Hukuman ini paling mengerikan dan paling di takuti oleh
semua penghuni Pulau Es, karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup
tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!
Peristiwa seperti inilah yang membuat hati Sin Liong memberontak. Dia amat cinta dan kagum kepada
Suhu-nya, akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es ini dianggapnya terlalu kejam. Sebaliknya Han Ti Ong
yang maklum akan kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati
muridnya itu dengan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu setahun lagi saja ilmu
kepandaian pemuda yang berusia lima belas tahun itu menjadi makin hebat. Boleh dibilang dialah orang
satu-satunya yang menjadi pewaris ilmu-ilmu Pulau Es.
Biar pun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu dahsyat, namun dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah
bakat sehingga kalah sempurna gerakannya. Apa lagi dalam hal tenaga sinkang, dia kalah jauh. Hal ini
adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya memiliki batin kuat dan tidak pernah terseret
oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia
diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong.
Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang sudah lama diduga-duga akan terjadi. Hal yang menjadi
akibat dari-pada keadaan yang ditekan-tekan di dalam istana yang dimulai dengan masuknya The Kwat Lin
ke Pulau Es dan kini telah menjadi permaisuri itu....
Pagi hari itu, Sin Liong tengah duduk seorang diri di tempat yang menjadi tempat kesukaannya bersama
Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang paling sunyi. Pantai yang tak pernah tertutup salju karena pasir
berwana putih yang terjadi dari pecahan batu karang dan segala macam kulit kerang dan kepompong itu
seolah-olah selalu mengeluarkan hawa hangat. Selagi dia duduk termenung itu terdengarlah olehnya suara
tambur dipukul gencar, tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan pengadilan yang amat penting.
Sidang ini diadakan kurang lebih tiga bulan semenjak tiga orang pesakitan terakhir itu di buang ke Pulau
Neraka.
Suara tambur itu seolah-olah menghantami isi dada Sin Liong, karena suara itu suara yang paling tidak
disukainya. Suara ini menandakan bahwa akan ada orang lagi yang dihukum! Maka dia tidak bergerak,
mengambil keputusan tidak akan menonton karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal yang
menyakitkan hatinya. Akan tetapi dia meloncat bangun ketika mendengar suara panggilan Swat Hong,
suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara itu mengandung isak tangis yang mengejutkan.
"Kwa-suheng...!!"
Sin Liong terkejut melihat dara itu berlari-lari kepadanya sambil menangis dan dengan wajah yang pucat
sekali.
"Ada apakah, Sumoi?" tegurnya sebelum dara itu tiba di depannya.
"Suheng..., celaka... Ibuku...."
Biar pun hatinya berdebar penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap tenang ketika di memegang kedua
pundak Sumoi-nya dan bertanya, "Ada apakah dengan Ibumu? Tenanglah, Sumoi."
Swat Hong menahan isaknya. "Mereka... mereka menangkap Ibuku dan membawanya ke sidang
pengadilan...."
Sin Liong mengerutkan alisnya. “Sudah keterlaluan ini,” pikirnya.
Rasa penasaran membuat dia berlaku agak kasar. Digandengnya tangan Sumoi-nya, lalu ditariknya dara
itu sambil berkata, "Mari kita lihat!"
Ketika dua orang itu tiba di ruangan pengadilan, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan berlainan
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali dengan sidang pengadilan yang sudah-sudah karena suasana amat sunyi. Tidak ada seorang pun
diperbolehkan mendekati ruangan pengadilan, bahkan ketika Sin Liong dan Swat Hong tiba di situ, mereka
dihadang oleh beberapa orang penjaga.
"Maaf, atas perintah Sri Baginda, tidak ada yang boleh memasuki ruang sidang pengadilan hari ini," kata
mereka.
Dengan kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju. Matanya melotot dan mukanya merah sekali,
"Apa kalian bilang?! Kalian berani melarang aku memasuki ruangan? Apakah kalian sudah bosan hidup?!"
Sin Liong cepat memegang lengan sumoi-nya karena dia maklum bahwa kalau sumoi-nya ini sudah marah,
tentu akan hebat akibatnya. Juga para penjaga itu mundur ketakutan karena mereka mengerti betapa
lihainya Sang Puteri ini.
"Harap Saudara sekalian melaporkan kepada atasan Saudara bahwa kami akan memasuki ruang sidang,"
kata Sin Liong dengan tenang kepada para penjaga.
"Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana kami berani melanggar?" jawab kepala penjaga
dengan muka bingung.
"Aku tahu. Ibuku yang diadili, bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun yang akan terjadi dengan ibuku, aku
harus hadir. Kalau perlu aku akan bunuh kalian semua agar dapat masuk!" kembali Swat Hong
membentak.
"Saudara sekalian harap mundur dan biarkan kami masuk. Akibatnya biarkan kami berdua yang
menanggungnya," kembali Sin Liong berkata dan keduanya memaksa masuk.
Para penjaga tidak ada yang berani melarang, akan tetapi mereka cepat-cepat lari untuk melapor ke
dalam. Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong dan Swat Hong memasuki ruang sidang,
akan tetapi dia hanya mengangguk kepada para penjaga yang kebingungan. Hal ini melegakan hati para
penjaga dan mereka cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar, karena mereka pun
tidak boleh mendengarkan sidang yang sedang mengadili isteri raja!
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Swat Hong melihat ibunya dengan tenang berlutut di depan meja
pengadilan bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sebagai pelayan dalam istana. Hatinya
menduga-duga dan dia merasa ngeri karena melihat ibunya dan pemuda itu berlutut di situ. Dia seolaholah
melihat Sia Gin Hwa dan Lu Kiat, dua orang pesakitan yang saling berjinah itu! Akan tetapi dia tidak
percaya! Tak mungkin ibunya...!
Akan tetapi Swat Hong menjadi lemas dan menurut saja ketika Sin Liong menariknya dan mengajaknya
duduk di deretan kursi pinggiran yang sekali ini sama sekali kosong. Di belakang meja panjang hanya
duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong, permaisurinya, dan Han Bu Ong, bocah berusia delapan tahun yang
mengenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya di dekat ibunya. Mata Han Bu Ong memandang
kearah Sin Liong dan Swat Hong dengan angkuh.
Kemudian terdengarlah suara nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi telinga Swat Hong terdengar seperti
sambaran pedang yang menusuk-nusuk hatinya dan bagi Sin Liong seperti guntur di tengah hari!
"Liu Bwee, sebagai bekas istri Sri Baginda, dari seorang anak nelayan biasa menjadi seorang mulia
terhormat, ternyata kau membalas budi Sri Baginda dengan aib dan noda yang hina. Dia telah ditangkap
karena melakukan perjinahan dengan seorang pelayan muda. Dosa ini amat besar, karena selain
menimbulkan aib dan malu kepada Sri Baginda, juga kalau diketahui dunia luar akan mencemarkan nama
Kerajaan Pulau Es. Oleh karena itu, sepatutnya dia dijatuhi hukuman yang seberat mungkin."
"Bohong...! Ibu tidak mungkin...." Swat Hong menjerit dan hendak melompat maju menyerang jaksa yang
berani mengeluarkan ucapan menuduh ibunya seperti itu, akan tetapi Sin Liong menangkap lengannya
untuk mencegah sumoi-nya bergerak.
"Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?!" terdengar Han Ti Ong membentak dengan penuh
wibawa.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah, tuduhan itu fitnah belaka! Tidak mungkin Ibu melakukan hal yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa
saksinya?" kembali Swat Hong menjerit-jerit.
"Hong-ji, jangan begitu. Ibumu tidak berdosa, akan tetapi kita harus tunduk kepada peraturan dan hukum,
anakku. Tenanglah." Ucapan ini keluar dari mulut Liu Bwee yang menoleh kearah Swat Hong, suaranya
lirih dan jelas, namun mengandung kedukaan yang merobek hati.
"Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu. Apakah pembelaanmu?" terdengar suara hakim
tua itu dengan halus dan lirih seperti biasanya, namun penuh wibawa karena dalam sidang ini dialah orang
yang paling berkuasa.
"Saya tidak akan membela diri. Hanya seperti dikatakan anakku tadi, agar tidak mendatangkan penasaran,
harap suka disebutkan siapa saksinya dan apa buktinya yang memperkuat tuduhan terhadap diriku," kata
Liu Bwee dengan tenang dan suara halus.
Jaksa ini termasuk orang di antara anggota keluarga raja yang tidak senang kepada Liu Bwee karena dia
dahulu pun mengharapkan agar Han Ti Ong memilih anak perempuannya. Segera ia berkata lantang,
"Buktinya? Engkau ditangkap ketika berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah
pelayanmu. Apa lagi yang kalian kerjakan kalau bukan berjinah? Seorang wanita dan seorang laki-laki
yang tidak ada hubungan apa-apa berada di dalam kamar berdua saja! Selain itu, perjinahan kalian juga
telah ada yang menyaksikan."
Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah. Tak dapat dia menahan kemarahannya. Ibunya
dituduh berjinah dengan seorang pelayan!
"Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang menyaksikan, hayo siapa yang menyaksikan?"
teriaknya tanpa mempedulikan cegahan Sin Liong yang masih memegang lengannya karena khawatir
kalau-kalau dara ini mengamuk.
"Akulah saksinya!" tiba-tiba terdengar suara kecil merdu dan Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan
sikap menantang. Mulut anak ini tersenyum mengejek dan matanya bersinar-sinar. "Enci Hong, akulah
yang telah melihat ibumu dan pelayan itu di atas ranjang...."
"Ssttt, diam...!" Permaisuri menarik puteranya.
Akan tetapi hakim telah berkata lagi, "Sudah terbukti kesalahan besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan
paling besar yang dapat dilakukan oleh seorang wanita...."
"Nanti dulu!" dengan muka pucat sekali Swat Hong memotong kata-kata hakim. "Tidak adil kalau begini!
Kita belum mendengar keterangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa engkau seorang manusia yang
menjunjung kegagahan. Tidak mungkin seorang pria penghuni Pulau Es seperti engkau menjatuhkan fitnah
sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo ceritakan, sesungguhnya apa yang terjadi?!" suara Swat Hong
ini nyaring sekali.
Muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya makin menunduk. Suasana menjadi hening dan akhirnya terpecah
oleh suara Raja.
"A Kiu, kau diperkenankan untuk bicara!"
Tubuh itu menggigil. Muka yang tampan itu pucat sekali ketika diangkat memandang Raja, kemudian
melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang dan agung berlutut di sebelahnya. Ketika dia melirik
ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap angkuh memandang kepadanya, A Kiu mengeluh lirih,
kemudian menelungkup dan berkata dengan suara mengandung isak.
"Hamba tidak berdaya... hamba memang berada di kamar itu... tapi... tidak seperti kesaksian Pangeran
Kecil... hamba terpaksa karena...."
"Berani kau mengatakan puteraku bohong?" jeritan ini keluar dari mulut permaisuri dan hawa pukulan yang
dahsyat sekali menyambar ketika permaisuri menggerakkan tangan kirinya ke arah A Kiu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Desss...! Aughhh...!" tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan rebah tak bernyawa lagi, dari mulut, hidung
dan telinganya mengalir darah.
Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan permaisuri itu, tepat mengenai kepala A Kiu yang tentu
saja tidak kuat menahannya. Hakim dan jaksa saling pandang, sedangkan Raja menegur Permaisurinya,
"Kau terlalu lancang...."
"Apakah aku harus diam saja kalau seorang rendah macam dia menghina putera kita?" Permaisuri
membantah dengan suara agak ketus.
Raja diam saja dan menarik napas panjang. Dia merasa bingung dan berduka sekali harus menghadapi
perkara ini. Akhirnya Raja memberi isyarat kepada hakim sambil berkata, "Lanjutkan."
Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata lantang, "Saksi utama yang menjadi pelaku
perjinahan telah terbunuh karena berani menghina Pangeran. Akan tetapi dia mengaku telah berada di
kamar itu, maka sudah jelas dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia harus
dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepadamu!"
"Ibuuu...!!" Swat Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin Liong, meloncat dan menubruk ibunya.
"Ssstt..., tenanglah, Hong-ji...," ibunya terbisik dengan sikap masih tenang saja, sungguh pun wajahnya
kelihatan makin berduka.
"Tenang? Tidak! ibu tidak boleh dihina sampai begini!" Swat Hong lalu bangkit berdiri, menghadapi
ayahnya dan berkata lantang, "Ibuku telah dijatuhi hukuman tanpa bukti dan saksi yang jelas. Akan tetapi
keputusan telah dijatuhkan dan saya tidak rela melihat Ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya sebagai anak
tunggalnya, yang takkan mampu membalas budinya dengan nyawa, saya yang akan mewakilinya, memikul
hukuman itu. Saya yang akan menjadi penggantinya ke Pulau Neraka, maka harap Sri Baginda bersikap
bijaksana, membiarkan ibu yang sudah mulai tua ini menghabiskan usianya di Pulau Es. Ibu, selamat
tinggal!"
"Hong-ji...!" ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong sudah meloncat dan lari ke luar dari tempat itu dengan
cepat.
Sin Liong memandang dengan alis berkerut. Tak disangkanya hal yang sudah dikhawatirkannya akan
terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu yang ternyata akan meledak sehebat ini.
"Hong-ji... ah, Hong-ji, Anakku...!" Liu Bwee tak dapat menahan tangisnya lagi.
Dia maklum tidak mungkin dapat mengejar anaknya karena kepandaian puterinya itu sudah tinggi sekali.
Sebagai seorang pesakitan, dia juga tentu saja tidak berani melanggar hukum dan lari dari tempat itu.
"Aduh, anakku... Swat Hong... Swat Hong... apa yang mereka lakukan atas dirimu...?" ibu yang hancur hati
ini meratap.
Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah Raja, seolah-olah hendak minta keputusan Han
Ti Ong. Raja ini menggigit bibir, jengkel dan marah karena tak disangkanya bahwa urusan akan berlarutlarut
seperti ini. Ketika menerima laporan tentang Liu Bwee, istri pertamanya, yang berjinah dengan
seorang pelayan muda, hatinya panas dan marah sekali. Akan tetapi dia masih hendak membawa perkara
ini ke pengadilan agar diambil keputusan yang seadil-adilnya.
Siapa mengira terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Permaisurinya membunuh pelayan muda,
kemudian kini Swat Hong membela ibunya, bahkan menggantikan ibunya ‘membuang diri’ ke Pulau
Neraka. Maka kini melihat betapa hakim menjadi bingung dan minta keputusannya, dia memukulkan
kepalan kanan ke telapak kiri sambil berkata, "Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi permintaan Swat Hong.
Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan ibunya ke Pulau Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan
Liu Bwe tinggal terus di sini!"
Setelah berkata demikian, dia menggandeng tangan Bu Ong dan permaisurinya, bangkit berdiri dan
hendak meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan itu. Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wanita ini berkata lantang sambil menatap wajah suaminya dengan mata tajam. "Biar pun anakku telah
menebus dosa yang tidak kulakukan, dan aku telah diperbolehkan tinggal di sini, akan tetapi apa artinya
hidup di sini bagiku setelah anakku pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal di sini lagi.
Aku mulai saat ini tidak menganggap diriku sebagai penghuni Pulau Es. Aku juga mau pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi. Setelah dia bukan pesakitan lagi, setelah dia
bukan lagi terhukum, dia berani pergi, bahkan dengan sikap tidak menghormat lagi kepada Raja yang
pernah menjadi suami dan pujaan hatinya selama bertahun-tahun itu.
"Hmm, sesukamulah!' kata Han Ti Ong perlahan dan dengan wajah muram raja ini memasuki istana
bersama permaisuri dan Pangeran Bu Ong.
Sampai ruangan persidangan itu kosong dan mayat A Kiu dibawa pergi, Sin Liong masih duduk di situ. Di
dalam hatinya, dia merasa menyesal melihat sikap Raja Han Ti Ong, gurunya yang dicintainya itu. Tahulah
dia bahwa perubahan pada diri gurunya itu terutama sekali terjadi karena hadirnya The Kwat Lin yang kini
telah menjadi permaisurinya. Diam-diam dia merasa menyesal sekali. Bukankah dia sendiri yang dahulu
minta kepada gurunya membawa pendekar wanita Bu-tong-pai itu ke Pulau Es?
Mula-mula wanita itu menjadi selir gurunya. Setelah itu The Kwat Lin menjadi permaisuri, maka
kebahagiaan ibu Swat Hong menjadi musnah! Bahkan kini berekor seperti ini, dengan larinya Swat Hong
menggantikan ibunya ke Pulau Neraka, sedang ibu dara itu sendiri pergi entah ke mana! Dialah yang
bertanggung-jawab, langsung atau tidak langsung. Akan tetapi tidak mungkin dia menegur gurunya, juga
permaisuri tidak dapat dipersalahkan. Betapapun juga, dia harus memperlihatkan tanggung-jawabnya atas
kerusakan hidup Swat Hong dan ibunya. Kalau dia mendiamkan saja, seolah-olah dia ikut pula
persekutuan untuk merusak hidup ibu dan anak itu.
"Pulau Neraka kabarnya merupakan tempat berbahaya sekali. Aku harus menyusul Swat Hong dan
melindunginya," demikian dia mengambil keputusan dalam hatinya.
Dia tidak lagi berpamit kepada gurunya karena maklum gurunya sedang berada dalam kedukaan dan
kepusingan. Pula Sin Liong sudah biasa meninggalkan pulau itu mencari tetumbuhan obat, maka
kepergiannya meninggalkan Pulau Es dengan sebuah perahu tidak ada yang menaruh curiga. Dengan
tenaganya yang amat kuat Sin Liong mendayung perahunya sehingga perahu meluncur amat cepatnya
menuju ke Pulau Neraka.
Dia sudah tahu di mana letaknya pulau itu dari keterangan yang diperolehnya ketika dia bertanya-tanya
kepada para penghuni Pulau Es. Bahkan diam-diam pernah pula seorang diri mendayung perahu
mendekati Pulau Neraka ini, akan tetapi hanya melihat dari jauh dan dia merasa ngeri sekali. Pulau itu dari
jauh tampak kehitaman seperti pulau yang pantas di huni oleh setan dan iblis. Pantainya penuh dengan
batu-batu karang yang runcing dan tajam, amat berbahaya apa lagi kalau ombak sedang besar. Sama
sekali tidak tampak ada penghuninya.
Ketika itu Sin Liong menduga-duga bahwa orang-orang buangan yang dibuang dari Pulau Es, jika tidak
tewas di jalan, tentu tewas di atas pulau itu. Maka dia menentang keras dalam hatinya kalau melihat di
Pulau Es diadakan pengadilan dan diputuskan hukuman buang ke Pulau Neraka. Baginya, dibuang ke
Pulau Neraka sama dengan menghadapi kematian yang mengerikan, baik di dalam perjalanan menuju ke
pulau itu atau setelah berhasil mendarat.
Kini Swat Hong telah pergi ke Pulau Neraka mewakili ibunya! Dia kagum dan khawatir. Kagum akan
keberanian dan kebaktian sumoi-nya terhadap ibunya, akan tetapi khawatir sekali akan keselamatan
sumoi-nya yang belum dewasa benar itu. Sumoi-nya baru berusia empat belas tahun! Biar pun dia tahu
bahwa ilmu kepandaian sumoi-nya sudah hebat dan cukup untuk dipakai menjaga diri, namun betapa pun
juga sumoi-nya itu masih kanak-kanak! Sin Liong sama sekali tidak ingat bahwa usianya sendiri hanya satu
tahun lebih tua dari-pada usia Swat Hong!
Perjalanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka melalui lautan yang penuh dengan gumpalan-gumpalan es yang
mengapung di permukaan laut. Gumpalan es itu kadang-kadang sebesar gunung, dan celakalah kalau
sampai perahu tertumbuk oleh gumpalan es menggunung itu yang kadang-kadang bergerak, karena
digerakkan oleh angin. Celaka pula kalau sampai terjepit di antara dua gumpalan es, yang begitu saling
dunia-kangouw.blogspot.com
menempel tentu akan melekat dan membuat perahu terjepit di tengah-tengah. Akan tetapi, Sin Liong sudah
banyak mendengar tentang ini maka dia tahu pula caranya menghindarkan perahunya dan tidak mendekat
gumpalan-gumpalan es yang berbahaya, melainkan mencari jalan di celah-celah yang agak lebar.
Kemudian dia tiba di daerah lautan yang penuh dengan ikan hiu. Ratusan ikan hiu yang hanya tampak
siripnya itu berenang di kanan-kiri dan belakang perahunya. Betapa pun tinggi ilmunya, ngeri juga hati Sin
Liong karena dia tahu bahwa sekali perahunya terguling, kepandaiannya tidak akan berguna banyak dalam
melawan ratusan ikan buas itu di dalam air!
Cepat ia mengeluarkan bungkusan yang sudah dibawanya sebagai bekal, membuka bungkusan dan
menaburkan sedikit bubuk hitam di kanan-kiri, serta depan belakang perahunya. Tak lama kemudian, ikanikan
hiu itu berenang pergi dengan cepat seperti ketakutan setelah mencium bau bubukan hitam yang
disebarkan oleh Sin Liong. Pemuda ini sudah mendengar akan bahaya ikan-ikan buas, maka dia telah
membawa bekal racun bubukan hitam yang sering-kali dipergunakan oleh para penghuni Pulau Es untuk
mengusir ikan-ikan buas di waktu mereka mencari ikan.
Beberapa jam kemudian kembali dia menghadapi ancaman ikan-ikan kecil yang banyak sekali jumlahnya,
mungkin laksaan. Ikan-ikan sebesar ibu jari kaki, akan tetapi keganasannya melebihi ikan hiu. Ikan-ikan ini
bahkan berani menyerang orang di atas perahu dengan jalan meloncat dan menggigit. Sekali mulut yang
penuh gigi runcing seperti gergaji itu mengenai tubuh, tentu sebagian daging dan kulit terobek dan terbawa
moncongnya! Apa lagi kalau sampai orang jatuh ke dalam air. Dalam waktu beberapa menit saja tentu
sudah habis tinggal tulangnya akibat dikeroyok laksaan ikan buas ini. Kembali Sin Liong dengan cepat
menyebar obat bubuk hitam beracun itu. Ikan-ikan kecil itu pun lari cerai-berai tidak berani lagi mendekat
sampai perahu meluncur meninggalkan daerah berbahaya itu.
Setelah melalui perjalanan yang amat sulit, menjelang senja akhirnya sampai juga perahu Sin Liong di
pantai Pulau Neraka. Tetapi seperti dugaannya, pulau itu memang mengerikan sekali. Hutan yang terdapat
di pulau itu amat besar dan liar. Pohon-pohon aneh dan menghitam warnanya memenuhi hutan yang
kelihatannya sunyi dan mati. Namun dibalik kesunyian itu, Sin Liong merasakan seolah-olah banyak mata
mengamatinya dan maut tersembunyi di sana-sini, siap untuk mencengkeram siapa pun yang berani
mendarat! Melihat keadaan pulau ini makin berdebar hati Sin Liong, penuh kekhawatiran terhadap
keselamatan Swat Hong. Apakah dara itu sudah berasil mendarat?
Tentu Swat Hong dapat mencapai pulau ini karena dara itu pun tahu jalan ke situ, dan mengerti pula
tempat-tempat berbahaya yang dilaluinya tadi sehingga seperti juga dia, tentu Swat Hong telah membawa
bekal obat pengusir ikan-ikan buas tadi dengan cukup. Akan tetapi dia tidak melihat sebuah pun perahu di
pantai Pulau Neraka. Apakah ada penghuninya? Atau semua orang buangan telah mati terkena racun yang
kabarnya memenuhi pulau ini? Karena khawatir kemalaman sebelum dapat menemukan Swat Hong, Sin
Liong lalu meloncat ke darat dan menarik perahunya ke atas. Kemudian dia membalik dan memasuki
hutan.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar suara berdengung-dengung dan entah dari mana
datangnya, tampak ratusan ekor lebah berwarna putih menyambar-nyambar dan mengeroyoknya! Dari bau
yang tercium olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebah-lebah itu mengandung racun yang amat jahat, maka
tentu saja dia terkejut sekali! Cepat dia lari dari tempat itu, namun lebah-lebah itu mengejar terus,
beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung-dengung yang mengerikan.
Sin Liong cepat menanggalkan jubah luarnya dan memutar jubah itu di sekeliling tubuhnya. Dari putaran
jubah ini menyambar angin dahsyat sehingga lebah-lebah itu terdorong jauh oleh hawa yang menyambar
dari putaran jubah. Sin Liong tidak tega untuk membunuh lebah-lebah itu, maka dia hanya menggunakan
hawa putaran jubahnya untuk mengusir. Namun binatang-binatang kecil itu hanya tidak mampu mendekati
dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tetapi sama sekali tidak terusir, bahkan kini makin banyak dan
terbang mengelilingi Sin Liong dari jarak jauh sehingga tidak terjangkau oleh hawa pukulan jubah.
Melihat ini, Sin Liong kaget. Betapa pun kuatnya tidak mungkin baginya untuk berdiri di situ sambil
memutar jubahnya semalam suntuk, bahkan selamanya sampai lebah-lebah itu terbang pergi! Lalu
teringatlah dia akan senjata yang paling ampuh. Api! Dengan tangan kiri terus memutar jubah melindungi
tubuhnya, Sin Liong lalu mengumpulkan daun kering dan mencari batu yang keras. Dengan pengerahan
tenaganya, dia menggosok dua batu itu sehingga timbul percikan bunga api yang membakar daun kering.
Diambilnya sebatang ranting kering dan dibakarnya ranting ini. Benar saja. Dengan ranting yang ujungnya
dunia-kangouw.blogspot.com
menyala ini dipegang tinggi di atas kepala, tidak ada lebah yang berani mendekatinya.
Sin Liong melanjutkan perjalanan dan terus menerus menyalakan api di ujung ranting yang dikumpulkan
dan dibawanya. Dapat dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika melihat banyak sekali binatang berbisa di
sepanjang jalan. Ular-ular kecil, kalajengking, lebah-lebah dan sebangsanya merayap-rayap lari ketika dia
datang dengan obor di tangan. Untung dia membawa ranting bernyala. Semua binatang berbisa itu takut
terhadap api. Andai kata dia tidak membawa api tentu dia telah dikeroyok oleh binatang-binatang kecil
yang semuanya berbisa itu, dari atas dan bawah!
Lebah-lebah itu terus mengikutinya, akan tetapi dari jarak jauh, terbukti dari suara yang berdengungdengung
itu masih terus berada di belakangnya. Tiba-tiba terdengar suara bersuit panjang dan lebah-lebah
itu beterbangan makin dekat, kembali mengurungnya dan kelihatan seperti marah. Bahkan ada beberapa
ekor yang meluncur dekat sekali, akan tetapi menjauh lagi ketika Sin Liong menggunakan api di ujung
ranting untuk mengusirnya. Suitan terdengar berkali-kali dan lebah-lebah itu makin marah dan mengamuk.
Tampak pula oleh Sin Liong betapa binatang kecil lainnya yang banyak terdapat di hutan itu mulai
mendekatinya, namun masih takut-takut oleh api di ujung ranting.
"Siuuut...!" tiba-tiba tampak benda hitam menyambar kearah ujung rantingnya.
Maklumlah Sin Liong bawa sambitan yang amat kuat itu bermaksud memadamkan api di ujung ranting.
Tentu saja dia tidak mau hal ini terjadi. Maka cepat ia menarik ranting terbakar itu ke bawah, lalu
menggunakan tangan kirinya menyambar benda yang dilontarkan. Kiranya segumpal tanah hitam!
Mengertilah dia bahwa ada orang yang membokongnya dan orang itu agaknya yang besuit-suit tadi. Suitan
yang agaknya merupakan perintah kepada binatang-binatang itu untuk mengeroyoknya!
"Haiii, saudara penghuni Pulau Neraka! Harap jangan menyerang. Aku Kwa Sin Liong datang dengan
maksud baik! Aku hanya mau mencari Sumoi-ku di sini!"
Hening sejenak. Suitan-suitan tidak terdengar lagi dan lebah-lebah itu kembali menjauh, demikian pula
ular, kelabang dan binatang kecil lainnya. Terdengar bunyi tapak kaki menginjak daun-daun kering, dan tak
lama kemudian muncullah belasan orang yang bertelanjang kaki dan berpakaian tidak karuan. Muka
mereka menyeramkan, kotor dan tidak terawat, mata mereka merah dan bergerak liar seperti mata orangorang
gila. Dengan gerakan perlahan dan pandang mata penuh curiga, belasan orang itu menghampiri dan
mengurung Sin Liong.
Pemuda itu tersenyum ramah dan bersikap tenang. Ranting menyala diangkatnya tinggi-tinggi untuk
memperhatikan wajah mereka. "Harap Cuwi (Anda Sekalian) sudi memaafkan kedatanganku yang tiba-tiba
ini. Akan tetapi sesungguhnya aku, Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk terhadap Pulau Neraka, apa lagi
terhadap penghuninya. Aku datang untuk mencari sumoi-ku yang bernama Han Swat Hong, yang mungkin
sudah mendarat di pulau ini."
Seorang di antara mereka melangkah maju, mukanya penuh brewok sehingga yang tampak hanya
matanya dan sedikit hidungnya. Orang ini lalu menegur dengan suaranya parau dan kasar, "Kau dari
mana?"
"Dari Pulau Es...."
Belasan orang itu mendengus dan kelihatan marah sekali. Si Brewok mengangkat tinggi senjata golok
besarnya dan membentak, "Kalau begitu kau harus mampus!"
"Nanti dulu, harap Cuwi bersabar," Sin Liong cepat berseru dan mengangkat tangan kirinya ke atas, "Aku
bukan musuh dari Cuwi. Sudah kukatakan bahwa aku datang bukan untuk bermusuh, mengapa Cuwi
hendak membunuhku?"
Pada saat itu muncul pula lima orang, dan terdengar seruan heran dari seorang di antara mereka yang
bertubuh tinggi besar, "Ehh, bukankah ini Kwa-kongcu dari Pulau Es?"
Sin Liong memandang dan merasa girang sekali ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah Bouw
Tang Kui, penghuni Pulau Es yang dihukum buang ke Pulau Neraka karena telah mencuri batu mustika
hijau!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bouw-lopek!" serunya girang. "Aku datang untuk mencari Swat Hong yang juga sudah dibuang ke sini!"
"Apa?!" Bouw Tang Kui berteriak, lalu berkata kepada Si Brewok yang agaknya menjadi pemimpin
rombongan itu. "Dia adalah seorang yang telah membelaku, membela Lu Kiat dan Sia Gin Hwa ketika
dijatuhi hukuman buang. Dia seorang pemuda yang tak setuju dengan hukum di Pulau Es, biar pun dia
adalah murid Raja Han Ti Ong sendiri."
"Apa...?!" mereka kelihatan terkejut mendengar ini. "Muridnya...?"
"Benar," jawab Bouw Tang Kui. "Dan kita bukanlah lawannya."
Si Brewok meragu. "Kalau begitu, kita bawa dia kepada Tocu (Majikan Pulau)!"
Bouw Tang Kui melangkah maju. "Harap Kongcu menurut saja kami hadapkan kepada Tocu sehingga
Kongcu dapat bicara sendiri dengannya."
Sin Liong terdiam sejenak sambil berpikir. Memang berbahaya sekali menghadapi orang-orang kasar ini
karena mereka sukar diajak bicara. Kalau dia dapat bicara dengan Majikan Pulau yang tentu merupakan
tokoh yang paling pandai, dia akan dapat minta keterangan apakah Swat Hong telah berada di pulau itu.
Akhirnya Sin Liong mengangguk dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu menyalakan obor. Sin
Liong sendiri membuang rantingnya, mengenakan lagi jubahnya dan mengikuti rombongan belasan orang
itu memasuki hutan. Di sepanjang jalan dia melihat tempat-tempat berbahaya. Lumpur-lumpur yang
tertutup rumput tinggi, pasir-pasir berpusing yang dapat menyedot apa saja yang menginjaknya, pohonpohon
yang aneh dengan buah-buah yang kelihatan lezat namun dari baunya dia tahu bahwa buah itu
mengandung racun jahat, dan lain-lain.
“Benar-benar pulau yang amat aneh dan berbahaya,” pikirnya. “Pantas tempat ini disebut Pulau Neraka.”
Diam-diam dia mencela kekejaman Kerajaan Pulau Es yang membuang orang-orang bersalah ke tempat
seperti ini. Dari keadaan orang-orang yang menangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui seorang yang
kelihatan masih normal. Hal ini mungkin karena raksaksa ini baru beberapa bulan saja dibuang ke sini.
Sedangkan yang lain-lain, biar pun dapat mempertahankan hidupnya namun telah berubah menjadi orangorang
liar yang agaknya telah berubah pula watak dan ingatannya!
Selain menjadi orang-orang yang tidak normal agaknya mereka telah menguasai ilmu yang dahsyat dan
mengerikan, yaitu ilmu menguasai binatang-binatang berbisa di pulau itu. Buktinya, biar pun mereka
berjalan di hutan penuh binatang berbisa itu tanpa sepatu, tapi tidak ada seekor pun yang berani
menyerang mereka. Akhirnya dengan menggunakan ketajaman pandang mata dan penciuman hidungnya,
Sin Liong maklum bahwa orang-orang ini telah menggunakan semacam obat yang agaknya digosokgosokan
ke seluruh kaki mereka sehingga binatang itu menyingkir begitu mereka mendekat.
Tak disangkanya sama sekali, ketika mereka tiba di tengah jalan, di situ terdapat tanah lapang yang luas
dan tampak sebuah rumah besar yang dikelilingi pondok-pondok kayu sederhana. Lampu-lampu
dinyalakan terang dan Sin Liong dibawa ke sebuah ruangan yang luas di mana telah menanti ketua pulau
itu yang disebut Tocu (Majikan Pulau).
Ruangan itu luasnya lebih dari sepuluh meter persegi, dikelilingi banyak orang yang memegang bermacam
senjata dan yang sikapnya semua penuh curiga dan permusuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin Hwa, Lu
Kiat dan belasan orang lagi yang belum lama dibuang kesitu sehingga mereka ini mengenal Sin Liong
sebagai murid Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka, bahkan banyak di antara mereka yang pernah
diobati oleh pemuda ini.
"Hayo berlutut di depan Tocu!" kata Si Brewok sambil mendorong Sin Liong ke depan.
Akan tetapi Sin Liong dengan tenang berdiri di depan Tocu itu dan memandang penuh perhatian. Orang ini
sudah tua, sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya. Kepalanya besar sekali, tubuhnya kurus kecil
sehingga kelihatan lucu, seperti seekor singa jantan yang duduk di kursi! Sepasang matanya bersinarsinar,
mulutnya menyeringai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebetulnya wajahnya tampan, akan tetapi karena sikapnya yang ganas itu membuat wajahnya kelihatan
menyeramkan dan menakutkan. Pakaiannya tidak seperti pakaian sebagian besar penghuni Pulau Neraka
yang butut, melainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih. Kursinya terbuat dari tulang-tulang berukir,
dan di kedua lengan kursinya dihiasi dengan rangka ular dengan moncongnya ternganga lebar
memperlihatkan gigi yang runcing melengkung.
Di sebelah kanan ketua Pulau Neraka ini duduk seorang anak perempuan yang tadinya hampir membuat
Sin Liong salah kira. Anak itu usianya sebaya dengan Swat Hong, seorang anak perempuan yang cantik
dan tersenyum-senyum, sikapnya kelihatan gembira. Mungkin karena sebaya maka kelihatannya mirip
dengan Swat Hong. Hampir saja Sin Liong tadi memanggilnya ketika mula-mula memasuki ruangan. Ketika
melihat betapa pemuda tawanan itu memandangnya penuh perhatian, anak perempuan itu tersenyumsenyum.
Melihat Sin Liong tidak mau berlutut di depannya, kakek itu memandang tajam, kemudian berkata perlahan
dengan suara rendah, "Hemmm, kau tidak mau berlutut, ya? Hendak kulihat kalau kedua lututmu patah,
kau berlutut atau tidak?"
Selesai berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu menyambar sebatang toya dari tangan seorang
penjaga. Ia menekuk toya itu sehingga patah tengahnya dan sekali dia menggerakkan tangan, sepasang
potong toya itu menyambar ke arah kedua kaki Sin Liong!
Pemuda itu terkejut, akan tetapi bersikap tenang. Dia maklum bahwa ketua Pulau Neraka itu bermaksud
menggunakan lemparan tongkat untuk membikin sambungan lututnya terlepas. Maka dia cepat
menggerakkan kedua kakinya, meloncat ke atas, kemudian setelah melihat kedua toya berkelebat ke
bawah kaki dia menggunakan kedua kakinya menginjak. Sepasang tongkat pendek itu menancap di atas
lantai dan pemuda itu berdiri di atas kedua ujung tongkat dengan tubuh tegak dan bersikap seolah-olah tak
pernah terjadi sesuatu!
"Waduhhh, dia hebat sekali, Kongkong (Kakek)!" anak perempuan yang tadi tersenyum-senyum itu
bersorak penuh kagum, padahal anak buah Pulau Neraka memandang marah karena mengangap bahwa
pemuda itu mengejek ketua mereka.
"Hebat apa?! Permainan kanak-kanak seperti itu!" kakek berkepala besar itu mendengus marah.
"Kongkong juga bisa? Ajarkan aku kalau begitu!" anak prempuan itu berkata dengan sikap dan suara
manja.
"Hushh! Diamlah kau!" kakek itu membentak. Sejak tadi matanya tidak pernah berpindah dari Sin Liong.
Dibentak seperti itu, anak perempuan itu cemberut dan mukanya merah menahan tangis.
Sin Liong merasa kasihan, lalu meloncat turun dan berkata menghibur, "Adik yang manis, jangan berduka.
Biarlah kalau ada kesempatan aku akan mengajarkannya kepadamu."
Anak perempuan itu memandang Sin Liong dengan mata terbelalak, kemudian lenyaplah kemuraman
wajahnya yang manja menjadi berseri-seri kembali.
"Orang muda yang bersikap dan bermulut lancang! Siapa engkau yang mengandalkan sedikit kepandaian
untuk mengacau Pulau Neraka?" kakek itu membentak, menahan kemarahannya karena dia merasa
direndahkan sekali ketika serangan sepasang tongkatnya tadi gagal dan dihadapi oleh pemuda itu secara
luar biasa.
Sin Liong cepat memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, kemudian dia berkata dengan suara
tenang, "Harap Tocu suka memaafkan kedatanganku ke Pulau Neraka ini. Seperti telah kukatakan kepada
semua penghuni Pulau Neraka, kedatanganku sama sekali tidak mengandung niat buruk atau hendak
bermusuhan. Aku bernama Kwa Sin Liong dan...."
"Dia murid Han Ti Ong!" tiba-tiba Si Brewok berkata lantang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan ini disambut dengan suara berisik dari semua oang yang berada di situ karena mereka sudah
menjadi marah sekali. Semua orang yang berada di situ adalah orang-orang buangan dari Pulau Es
semenjak raja pertama sehingga sudah tinggal di situ selama tiga keturunan. Ada orang buangan baru dan
ada pula yang merupakan turunan dari orang-orang buangan lama, akan tetapi kesemuanya mempunyai
rasa benci dan dendam pada satu nama, yaitu Pulau Es!
Maka begitu mendengar pemuda tampan dan tenang ini adalah murid Han Ti Ong, raja terakhir dari Pulau
Es, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka. Pandang mata mereka yang liar seolah hendak mencabikcabik
dan membunuh pemuda yang dianggapnya seorang musuh besar itu. Andai kata mereka tidak takut
kepada ketua mereka, tentu mereka telah menyerbu untuk melaksanakan niat yang terbayang dalam
pandang mata mereka itu.
"Akan tetapi dia selalu menentang Han Ti Ong, menentang pembuangan ke Pulau Neraka!" terdengar
suara beberapa orang membela, yaitu suara Bouw Tang Kui, Lu Kiat, Sia Gin Hwa dan beberapa orang
buangan baru yang lain.
"Bunuh saja dia!"
"Seret murid Han Ti Ong!"
"Jadikan dia mangsa ular!"
Kakek bekepala besar itu mengangkat kedua lengannya ke atas dan membentak, "Diam...!!"
Sin Liong kembali terkejut. Ketika mengeluarkan suara bentakan tadi, ketua Pulau Neraka agaknya telah
mengerahkan khikang-nya sehingga dia sendiri yang berdiri di depan kakek itu merasa betapa kedua
kakinya tergetar! Mengertilah dia bahwa ketua Pulau Neraka ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian
tinggi dan tahulah dia bahwa dia telah memasuki sarang naga dan berada dalam keadaan terancam.
Namun Sin Liong tidak merasa takut sedikit pun juga karena dia merasa bahwa dia tidak melakukan suatu
kesalahan terhadap mereka ini.
Maka kembali dia menjura kepada ketua Pulau Neraka sambil berkata, "Tocu, sekali lagi kujelaskan bahwa
kedatanganku ini sama sekali tidak mengandung niat buruk. Kalau tidak ada keperluan mendesak pasti aku
tidak akan berani menginjakkan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari sumoi-ku yang bernama Han
Swat Hong puteri Suhu...." Sin Liong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa dia telah
kelepasan bicara, akan tetapi karena sudah terlanjur maka tak mungkin kata-kata itu ditariknya kembali.
"Putera Han Ti Ong...?!" ketua Pulau Neraka berseru keras sekali sampai mengagetkan semua orang.
"Kau mencari puteri Han Ti Ong di sini?!"
Sin Liong berkata, "Benar, Tocu. Karena aku menduga bahwa dia berada di sini maka aku menyusul ke
sini."
"Tangkap puteri Han Ti Ong!"
"Bunuh dia!"
"Gantung puterinya!"
Kini Sin Liong mengangkat kedua lengannya, dan sambil mengerahkan khikang-nya dia beseru, "Harap
Cuwi diam!"
Dan diamlah semua orang. Di antara mereka yang memiliki kepandaian tinggi, termasuk ketua Pulau
Neraka, kagum sekali karena orang muda yang belum dewasa benar ini ternyata memiliki kekuatan
khikang yang amat hebat!
"Harap Tocu tidak salah sangka. Puteri Han Ti Ong itu juga menjadi orang buangan."
Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati semua orang sehingga mereka tidak
dapat mengeluarkan kata-kata, melainkan hanya memandang kepada Sin Liong dengan mata terbelalak.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau bohong!" kakek berkepala besar itu menghardik. "Mana mungkin Han Ti Ong membuang puterinya
sendiri ke Pulau Neraka?"
"Agaknya Tocu telah mengerti akan kerasnya peraturan hukum di Pulau Es. Sebetulnya yang dianggap
melanggar hukum adalah istri suhu sendiri, istri tua, yang aku yakin hanyalah karena fitnah belaka. Suhu
telah menjatuhkan hukuman kepada Subo, dan Sumoi lalu mewakili ibunya untuk membuang diri ke Pulau
Neraka, maka aku menyusul ke sini untuk mengajaknya pulang ke Pulau Es."
Tiba-tiba ketua Pulau Neraka tertawa bergelak, tertawa penuh kegembiraan sampai kedua matanya
mengeluarkan air mata. "Huah-ha-ha-ha! Ha-ha-ha, betapa lucunya! Rasakan kau sekarang Han Ti Ong,
Raja keparat! Rasakan kau betapa perihnya orang tertimpa kesengsaraan karena keluarga berantakan.
Haha-ha!"
Semua orang yang melihat dan mendengar kata-kata ketua Pulau Neraka ini, kontan tertawa-tawa semua,
mentertawakan Raja Pulau Es! Biar pun mereka belum sempat membalas dendam kepada Raja Pulau Es,
mendengar nasib buruk Raja itu sudah merupakan hiburan besar yang amat menyenangkan hati mereka.
Hanya anak perempuan itu saja yang tidak ikut tertawa karena dia agaknya tidak mengerti apa-apa, dan
pada saat itu dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang juga terheran-heran.
"Hei, Kwa Sin Liong! Betapa baiknya ceritamu, akan tetapi aku masih belum percaya kalau tidak melihat
sendiri puteri Han Ti Ong datang ke pulau ini. Kita tunggu dan lihat saja. Setelah aku melihat puteri Han Ti
Ong berada di pulau ini, barulah kita akan bicara lagi. Tangkap dia dan masukan dalam kamar tahanan
sambil menanti munculnya puteri Han Ti Ong!"
Si Brewok dan beberapa orang yang agaknya menjadi pembantu utama ketua Pulau Neraka sudah
melangkah menghampiri Sin Liong dengan sikap mengancam. Pemuda ini maklum, bahwa tidak ada jalan
lain kecuali menyerah sambil menanti munculnya sumoi-nya, karena sebelum dia bertemu dengan sumoinya,
melawan hanya akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada artinya saja.
Maka Sin Liong mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Aku tidak akan melawan, kecuali kalau kalian
menggunakan kekerasan. Aku menyerah dan mau menanti di kamar tahanan sampai sumoi-ku muncul."
Melihat sikap tenang dan ucapan yang berwibawa ini, belasan orang yang mengurung Sin Liong dengan
sikap mengancam tadi kelihatan ragu-ragu.
Akan tetapi Sin Long lalu melangkah ke depan dan berkata, "Marilah bawa aku ke kamar tahanan."
"Jangan ganggu dia. Biar dia mengaso di kamar tahanan dan layani baik-baik sampai puteri Han Ti Ong
mucul. Kalau dia membohong, hemm, baru kita akan berpesta membunuhnya!" ketua Pulau Neraka
berkata sambil terkekeh-kekeh.
Hati ketua Pulau Neraka senang sekali mendengar betapa Han Ti Ong sampai membuang istrinya sendiri
ke Pulau Neraka, kemudian puterinya malah membuang diri ke Pulau Neraka. Biar pun dia belum percaya
benar akan cerita ini sebelum dia menyaksikan buktinya, namun berita itu saja sudah mendatangkan rasa
senang di dalam hatinya.
Dengan sikap gagah dan tenang sekali Sin Liong digiring ke dalam kamar tahanan, diikuti oleh pandang
mata penuh khawatir dari anak perempuan tadi.
Setelah rombongan itu lenyap, anak perempuan itu mencela ketua Pulau Neraka, "Kongkong kenapa dia
ditahan? Dia luar biasa, berani dan pandai sekali!"
"Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti Ong, karena itu dia adalah musuh kita. Mengerti?"
Anak perempuan itu cemberut, lalu meninggalkan kakek itu sambil bersungut-sungut, sedangkan kakeknya
tertawa bergelak dengan hati senang. Dia lalu memberi isyarat memanggil seorang kepercayaannya, lalu
berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum. Pembantunya juga tertawa, mengangguk-angguk lalu pergi.
Kakek ini, ketua Pulau Neraka yang memiliki kepandaian tinggi, sama sekali tidak curiga kepada cucunya
sendiri. Ia tidak tahu bahwa cucunya itu tadi menyelinap dan mendengarkan perintah yang dia berikan
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada orang kepercayaannya.
Sin Liong adalah seorang pemuda yang tidak pernah mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain. Dia
belum banyak mengenal kepalsuan watak manusia, maka biar pun terhadap orang-orang Pulau Neraka,
dia tetap menaruh kepercayaan. Sebab itu dia pun percaya penuh akan kata-kata ketua Pulau Neraka dan
dengan suka rela dia menyerahkan diri, tidak melawan ketika digiring memasuki kamar tahanan!
Setelah berada di dalam kamar bawah tanah yang sempit itu, dengan jendela dari besi, dan ruji baja yang
kuat memenuhi jendela sebagai jalan hawa, dia segera duduk besila. Dia tak menaruh khawatir akan
keadaan dirinya, akan tetapi dia merasa gelisah mengapa sumoi-nya belum tiba di Pulau Neraka? Dia
percaya bahwa ketua Pulau Neraka tidak membohonginya. Kalau benar bahwa Swat Hong telah berada di
Pulau Neraka, tentu tidak seperti ini sikap mereka terhadap dirinya. Kalau begitu, jelas bahwa Sumoi-nya
belum tiba di Pulau Neraka, padahal telah berangkat lebih dahulu. Ke manakah perginya sumoi-nya itu?
Tengah malam telah lewat dan keadaan sunyi sekali dalam kamar tahanan itu. Tidak ada penjaga di luar
pintu atau jendela, akan tetapi dia tahu bahwa di pintu masuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang
penjaga yang selalu siap dengan senjata di tangan.
Tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang marah-marah di sebelah luar dan suara para penjaga
ketakutan. "Kalian berani melarangku masuk?" terdengar suara wanita itu.
"Nona, tahanan ini adalah orang penting! Dan...."
"Dan kau anggap aku bukan orang penting? Kau kira aku mau apa? Aku mau mengejek dan memakinya,
dia adalah musuh besarku. Apakah kau berani melarangku? Coba kau melarang dan aku akan
mengatakan kepada Kongkong bahwa kalian berani kurang ajar kepadaku hendak menggodaku. Aku mau
melihat apakah kepala kalian masih akan menempel di leher?!"
"Ah, tidak... bukan begitu...."
"Maafkan, Nona...."
"Silakan masuk, silakan...."
"Awas kalau ada yang mengikuti aku dan mengintai, berarti dia mau kurang ajar dan akan kuberi-tahukan
kepada Kongkong!"
Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar dan ribut-ribut dengan para penjaga itu, akan
tetapi begitu dara itu muncul di bawah sinar lampu di luar ruji jendelanya, hampir saja dia berteriak
memanggil karena mengira bahwa Swat Hong yang muncul itu. Di bawah sinar lampu yang tidak begitu
terang memang gadis cucu ketua Pulau Neraka ini hampir sama dengan Swat Hong. Setelah melihat jelas
bahwa yang datang adalah cucu ketua Pulau Neraka dan mengingat akan kata-kata gadis ini di luar tadi
bahwa kedatangannya dengan niat mengejek dan memakinya, Sin Liong tetap duduk bersila dan bahkan
memejamkan matanya, pura-pura tidur.
"Sssttt..."
Sin Liong tidak menjawab, bergerak sedikit pun tidak. Perlu apa melayani seorang bocah yang hanya
datang hendak mengejek dan memakinya? Demikian pikirnya, sungguh pun hatinya terasa tidak enak juga
harus mendiamkan saja orang yang susah payah datang sampai ribut mulut dengan para penjaga. Tentu
akan kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan diam-diam dia mengintai dari balik bulu matanya yang
direnggangkanya sedikit.
"Psssttt... kau tidak tidur, bulu matamu bergerak-gerak, jangan kau tipu aku...," anak perempuan itu berkata
lagi dengan suara bisik-bisik dan meruncingkan bibirnya di antara ruji-ruji jendela.
Sin Liong menarik napas panjang dan membuka matanya. "Hah, kau boleh mengejek dan memaki
sesukamu, kemudian pergilah agar aku dapat mengaso benar-benar," katanya.
"Hi-hik!" Gadis itu menahan ketawanya, menutupi mulutnya yang kecil. "Kiranya engkau sama bodohnya
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan para penjaga itu, percaya saja apa yang kukatakan di luar tadi!"
Sin Liong bangkit berdiri dan menghampiri jendela kamar tahanan. Mereka saling berhadapan dan saling
pandang melalui ruji-ruji jendela.
"Apa yang kau maksudkan, Nona?"
Mulut yang tersenyum itu kini cemberut dan terdengar suaranya manja, "Kau tadi menyebutkan Adik yang
manis. Mengapa sekarang menjadi Nona? kau benar pandai mengecewakan hati orang!"
Mau tidak mau Sin Liong tersenyum. Bocah ini manja dan lincah, mengingatkan dia kepada Han Swat
Hong. Banyak persamaan antara kedua orang perempuan itu. “Baiklah, Adik yang manis. Sebenarnya,
mau apa kau datang ke sini kalau bukan untuk mengejek dan memaki aku yang dianggap musuh oleh
kakekmu?"
"Aku datang untuk bercakap-cakap."
"Hemm, waktu dan tempatnya tidak tepat untuk bercakap-cakap. Aku adalah seorang tahanan dan engkau
adalah cucu Tocu di sini. Tempat ini pun kamar tahanan yang kotor dan sempit, sedangkan sekarang
sudah lewat tengah malam. Harap engkau kembali ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. jangan-jangan
kau akan dimarahi Kongkong-mu."
"Aku tidak takut! Aku sengaja datang ke sini untuk bercakap-cakap denganmu. Siapa berani melarangku?"
sikapnya menjadi galak, matanya bersinar-sinar.
Sin Liong menarik napas panjang. Sejak lama dia memperoleh kenyataan betapa ganjilnya watak wanita.
Dia melihat watak-watak yang aneh dan sukar dimengerti yang dilihatnya pada diri Sia Gin Hwa yang
menyeleweng dari suaminya, berjinah dengan Lu Kiat, pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang tadinya
periang lalu berubah pemurung dan berhati begitu sabar dan mengalah terhadap suaminya yang
menyakitkan hatinya, pada diri The Kwat Lin yang juga amat berubah setelah menjadi istri raja, pada diri
Swat Hong yang telah nekad membuang diri ke Pulau Neraka, dan kini dia berhadapan dengan seorang
gadis yang juga berwatak aneh sekali.
"Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu di sini. Kalau kau ingin bercakap-cakap, nah,
bercakaplah dan aku akan mendengarkan."
Gadis itu melongo. "Bercakap apa?"
Diam-diam Sin Liong merasa geli. Benar-benar seorang gadis yang masih seperti kanak-kanak dan
mungkin semua sikapnya tadi, ketika bergembira dan ketika marah, tidaklah setulus hatinya, maka
demikian mudah berubah.
"Bercakap apa saja sesukamu, misalnya siapa namamu, siapa pula nama Kongkong-mu dan keadaan di
pulau ini dan lain-lain."
Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa sesungguhnya banyak sekali bahan untuk
dibicarakan.
"Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu...."
"Namamu indah." Sin Liong memuji untuk menyenangkan hatinya si nona kecil.
Dan memang hati Soan Cu senang sekali mendengar pujian ini. "Benarkah? Benarkah namaku indah?"
Dengan penuh gairah dia lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.
Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu bernama Ouw Kong Ek, bukanlah seorang buangan dari Pulau Es,
melainkan keturunan orang buangan yang semenjak ratusan tahun menjadi ketua di situ karena memiliki
ilmu kepandaian tinggi. Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang berilmu tinggi,
adalah seorang pertama yang menjadi ‘Ketua’ di Pulau Neraka, kemudian menurunkan kedudukan ini
kepada anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouw Kong Ek sendiri mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas pelayan permaisuri Raja
Pulau Es yang dijatuhi hukuman buang karena difitnah akibat dia tidak mau melayani seorang pangeran
yang tergila-gila kepadanya, menjadi istrinya dan mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Ouw
Sian Kok. Akan tetapi istrinya meninggal dunia ketika Ouw Sian Kok menikah dengan seorang gadis Pulau
Neraka dan Ketua Pulau Neraka ini tinggal menduda. Dia mencurahkan pengharapanya kepada putera
tunggalnya yang mewarisi semua ilmunya dan kelak diharapkan akan menggantikan kedudukannya kalau
dia sudah mengundurkan diri.
Namun nasib buruk menimpa keluarga Ouw. Ketika istri Ouw Sian Kok melahirkan seorang anak, yaitu
Soan Cu, ibu muda ini meninggal dunia. Ouw Sian Kok demikian berduka sehingga ingatannya terganggu,
menjadi gila dan melarikan diri dari Pulau Neraka. Tak seorang pun tahu kemana perginya orang gila itu....
"Demikianlah riwayatku yang tidak menggembirakan," Soan Cu mengakhiri ceritanya. “Sejak kecil aku tidak
pernah melihat wajah ibu dan ayahku. Ayah sampai sekarang tidak pulang dan tidak ada yang tahu berada
di mana. Aku dipelihara dan dididik oleh Kongkong yang mengharapkan kelak aku menggantikan
kedudukan ketua di sini. Akan tetapi aku tidak sudi!"
"Mengapa tidak sudi, Soan Cu?"
"Siapa sudi mengurusi orang-orang gila itu! Mereka semua gila dan jahat, karena itu aku suka kepadamu
Sin Liong. Engkau lain dari-pada mereka, engkau berani dan baik. Maka aku datang untuk menolongmu.
Ketahuilah, sebentar lagi kalau kau dikira sudah tidur, engkau akan dibunuh!"
Sin Liong terkejut akan tetapi tetap bersikap tenang. "Benarkah? Mengapa aku dibunuh? Bukankah
Kongkong-mu berjanji bahwa kita akan menunggu sampai sumoi-ku tiba di Pulau Neraka?"
"Uhh, kau percaya kepada Kongkong! Hmm, dia hanya membohong."
"Ah, mengapa begitu? Sebagai seorang ketua tidak sepatutnya kalau dia menipu."
"Membohong dan menipu merupakan pebuatan yang menguntungkan dan bahkan dianggap baik dan layak
di sini! Itu adalah tanda dari kecerdikan seseorang!"
"Pantas kau tadi pun membohongi penjaga." Sin Liong mencela.
"Memang! Kalau tidak membohong, mana bisa aku masuk dengan mudah? Dan kau tentu akan celaka
kalau aku tidak membohong."
"Hmmm..., alasan yang dicari-cari dan ngawur. Jadi mereka hendak membunuhku? Enak saja, apa dikira
aku begitu mudah dibunuh?"
"Kau tidak tahu kecerdikan Kongkong, Sin Liong. Kalau mereka gunakan kekerasan, agaknya kau akan
melawan dan aku sudah melihat kau tadi begitu lihai. Akan tetapi, mereka akan mengerahkan binatangbinatang
berbisa untuk mengeroyokmu dan membunuhmu di kamar sempit ini! Kalau segala macam ular,
kalajengking, kelabang, lebah dan lain binatang berbisa itu datang memenuhi tempat ini dan
mengeroyokmu, apa yang akan dapat kau lakukan untuk menyelamatkan diri?"
"Hemm, aku akan berusaha membela diri. Kalau aku gagal, aku akan mati dan habis perkara. Tidak ada
hal yang menggelisahkan hatiku."
"Kau sombong! Kau tidak mau minta tolong kepadaku?"
"Andai kata aku minta tolong juga, kalau kau tidak mau menolong, apa artinya? Tanpa kuminta sekali pun,
kalau kau mau menolong, bagaimana caranya? Sudahlah, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri
saja, Soan Cu. Betapa pun juga terima kasih atas kedatanganmu dan kebaikan hatimu. Kau seorang dara
yang cantik dan baik budi, sayang kau berada di antara orang-orang liar itu. Pergilah, jangan sampai
kakekmu melihat engkau berada di sini."
Soan Cu mengeluarkan sebuah bungkusan. "Inilah yang akan menyelamatkanmu. Kau pergunakan obat
dunia-kangouw.blogspot.com
bubuk ini untuk menggosok semua kulit tubuhmu yang tampak, dan sebarkan sebagian di sekelilingmu.
Tidak akan ada seekor pun binatang berbisa yang berani datang mendekat, apa lagi menggigitmu. Nah,
sebetulnya kedatanganku hanya untuk menyerahkan ini, akan tetapi kita terlanjur ngobrol panjang lebar.
Selamat tinggal, Sin Liong."
Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari antara ruji jendela dan memegang lengan
dara itu. "Nanti dulu, Soan Cu."
“Ada apa lagi?" gadis itu membalikkan tubuh dan mereka saling berpegangan tangan.
Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia merasa terharu juga oleh pertolongan yang sama sekali tidak
disangka-sangka itu. "Soan Cu, tahukah engkau apa yang akan terjadi padamu kalau sampai Kongkongmu
mengetahui akan perbuatanmu ini?"
"Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan membunuhku!"
"Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan Cu, mengapa kau melakukan ini untukku?
Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawa?"
"Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari-pada semua orang yang kulihat di pulau ini. Aku suka padamu dan
aku tidak ingin mendengar apa lagi melihat engkau mati. Sudahlah, hati-hati menjaga dirimu, Sin Liong!"
Gadis itu meloncat lalu berlari ke luar.
Sin Liong berdiri temenung sejenak, kemudian kembali ke tengah kamar tahanan dan duduk bersila
menenangkan hatinya. Andai kata tidak ada Soan Cu yang datang memberikan obat penawar dan pengusir
binatang berbisa, dia pun tidak akan gentar dan belum tentu akan celaka oleh binatang-binatang itu,
sungguh pun dia sendiri belum mau membayangkan apa yang akan dilakukannya kalau serangan itu tiba.
Apa lagi sekarang ada obat bubuk itu.
Dia teringat betapa penghuni Pulau Neraka dapat menjelajahi hutan yang penuh binatang berbisa dengan
enaknya karena tubuh mereka sudah memakai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar itu. Dia
membuka bungkusan dan melihat obat bubuk berwarna kuning muda yang tidak akan kentara kalau
dioleskan di kulit tubuhnya. Sin Liong bersila dan mengatur pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi.
Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga dia dapat menangkap suara mendesis dan
suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang datang dari jauh, makin lama makin mendekat.
Tahulah dia bahwa apa yang diceritakan oleh Soan Cu memang tidak bohong. Sekali ini agaknya anak itu
tidak membohong! Maka dia lalu membuka bungkusan, menggosok kulit tubuhnya yang tidak tertutup
pakaian dengan obat itu. Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya, digosoknya sampai rata.
Kemudian sambil membawa bungkusan yang terisi sisa obat itu, dia menanti. Tak lama kemudian, suara itu
menjadi makin dekat dan tiba-tiba saja munculah mereka!
Diam-diam Sin Liong bergidik juga. Tentu dia akan melompat kalau saja dia tidak mempunyai obat penolak
itu. Dari bawah pintu, puluhan ekor ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya sebesar ibu
jari, merayap dengan cepat memasuki kamar, berlomba dengan lebah-lebah putih yang beterbangan
masuk melalui jendela. Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di atas lantai, dan
menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebah-lebah yang berterbangan.
Dia tersenyum kagum melihat akibatnya. Semua binatang berbisa itu, dari yang paling kecil sampai yang
paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling terjang dan saling timpa, lari cerai-berai meninggalkan
kamar. Lebah-lebah putih juga terbang dengan kacau, menabrak dinding dan banyak yang jatuh mati, yang
sempat terbang ke luar jendela saling tabrak seperti mabuk, dan sebentar saja suara binatang-binatang itu
sudah menjauh.
Akan tetapi mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara lain yang membuat jantungnya
berdebar, yaitu suara seorang wanita memaki-maki, "Iblis kalian semua! Manusia-manusia gila! Kalau tidak
dapat membasmi kalian, jangan sebut aku Han Swat Hong!"
Sin Liong meloncat ke arah jendela. Kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji
jedela jebol semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari ke luar melalui lorong. Setibanya
dunia-kangouw.blogspot.com
di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Dua orang
anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah, sedangkan belasan orang lain mengurung
gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sumoi-nya memang galak dan pemberani. Bukan main
gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut
pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.
“Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!" Sin Liong sudah meloncat ke depan.
"Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?" Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan
mata mendelik.
"Ehh? Sumoi...? Aku hanya ingin menolongmu."
"Siapa membutuhkan pertolonganmu? Kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan... dengan..." Akan
tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah
mengeroyoknya.
"Wuttt... siuuttt!" tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini.
Selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, Swat Hong juga mengirim serangan-serangan balasan
dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak
cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang
Pulau Neraka, melainkan marah kepada... Sin Liong!
Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu. Ia
menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat
mendengarkan percakapan antara suheng-nya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri tidak tahu
akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suheng-nya bercakapcakap
dengan ramah bersama seorang gadis! Karena itu niatnya untuk menolong suheng-nya menjadi
buyar. Dia hanya menonton saja ketika suheng-nya diserbu binatang berbisa dan akhirnya dapat menolong
diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.
Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es,
dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak membuang
diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada
ayahnya. Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah
jauh meninggalkan Pulau Es, dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang
kabarnya amat berbahaya itu. Akibatnya dia tersesat jalan dan mendarat di pulau-pulau kosong sekitar
Pulau Neraka.
Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang
menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suheng-nya dan merasa khawatir kalau-kalau suheng-nya
itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es. Maka diam-diam ia lalu
mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suheng-nya mendarat di Pulau Neraka. Dengan
menggunakan kepandaiannya, Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka. Dia tidak khawatir akan
serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau
yang dia dapat dahulu dari ayahnya.
Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau. Batu ini amat sukar didapat,
dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu mustika hijau ini
mengandung khasiat yang mukjijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti
binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa.
Maka, dengan batu mustika di tangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa
mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.
Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar. Maka dia menanti sampai larut malam
dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suheng-nya. Akan tetapi tanpa
disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dengan Soan Cu. Inilah yang membuat
hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikeroyok, dia menolak keras
bantuan Sin Liong!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoi-nya dan memandang dengan alis
berkerut dan hati khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan
Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan betapa akan
hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!
"Sumoi, tahan...!" dia meloncat maju.
"Singgg...! Mundur kau!"
Sin Liong terkejut melihat sumoi-nya mencabut pedang!
Pada saat itu terdengar pula bentakan keras, "Siapakah gadis cilik itu berani mengacau di sini? Ahhh, Kwa
Sin Liong, engkau mampu lolos dari tempat tahanan?"
Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka! Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong,
sebaliknya, dara itu pun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan
membentak.
"Siapa kau?! Kalau sudah bosan hidup, majulah!" dengan gerakan gagah dara itu melintangkan pedangnya
di depan dada.
Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya kakek ini. Maka untuk mencegah pertempuran,
dia cepat berkata, "Tocu, jangan salah sangka. Dia adalah sumoi-ku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari
Pulau Es!"
Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak.
Betapa pun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat
ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci
dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka. Hati mereka gentar.
Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, jadi
dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!" perintahnya
kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.
"Tahan dulu!" Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas.
Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapa pun juga mereka maklum
bahwa pemuda ini lihai sekali. Buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di
dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai-berai dan kini pemuda itu sudah
lolos dari dalam penjara.
"Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biar pun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan
tetapi ia menentang ayahnya dan mewakili ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau
Neraka...."
"Ha-ha-ha, apa pun yang kau katakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami
dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!"
"Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke
pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu
bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini."
"Hai, kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk
membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?!"
"Sumoi!" Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, "Tocu, jangan
dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata
kacau-balau tidak karuan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik
dan berkata lantang, "Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?"
"Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila!"
"Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa
hubungannya dengan kau?"
Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biar pun dia
tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.
Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh
semua orang. "Kongkong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita,
Kongkong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah
menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku."
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil