Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 16 Juni 2017

Cersil Terpopuler Istana Pulau Es 6

Cersil Terpopuler Istana Pulau Es 6
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Terpopuler Istana Pulau Es 6
Pada saat itu Siauw Bwee sedang mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya, dan tenaga itu bercampur
dengan tenaga Jit-goat-sinkang dari Ouw-pangcu, maka dahsyatnya bukan kepalang. Tenaga itu seolaholah
melindungi tubuh mereka berdua dan tentu saja penyerang yang kurang kuat sinkang-nya akan mati
seketika seperti yang dialami empat orang sembono itu.
Ang-siucai membawa teman-temannya keluar dan kini pertandingan dilanjutkan di luar. Pihak pengikut
Ouw-pangcu terdesak hebat. Yu Goan masih mengamuk dalam keadaan terkurung dan terdesak karena
pemuda perkasa ini sudah menderita banyak luka. Keadaannya berbahaya sekali, namun Yu Goan sedikit
pun tidak menjadi gentar dan bertekad melawan sampai detik terakhir.
Ouw-pangcu menghela napas panjang, tubuhnya bergerak dan ia berkata dengan suara nyaring, “Terima
kasih, Lihiap. Budimu takkan kulupakan dan ternyata Lihiap tidak kecewa menjadi murid Bu Kek Siansu!”
“Tidak perlu berterima kasih, Pangcu. Lebih baik lekas kita membantu Yu-twako.”
Kedua orang ini meloncat ke luar. Ouw-pangcu masih bertelanjang baju dan tangannya sudah menyambar
goloknya yang tadi tergantung di dinding. Begitu tiba di luar, Siauw Bwee dan Ouw-pangcu mengamuk.
Terutama sekali Ouw-pangcu yang masih sempat menyaksikan Yu Goan menderita banyak luka dan
orangnya banyak yang tewas. Ketua ini mengamuk seperti harimau terluka dan banyak kaum pemberontak
roboh dan tewas di ujung golok atau di bawah telapak tangan kirinya.
Namun, ketika para pemberontak melemparkan senjata dan berlutut minta ampun, di antara mereka tidak
terdapat Ang-siucai dan kawan-kawannya yang telah lebih dulu melarikan diri. Hanya dua orang Han yang
menyerang Siauw Bwee tadi yang tewas, selebihnya telah berhasil melarikan diri semua. Ouw-pangcu
yang merasa penasaran, mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran, namun Ang-siucai
dan teman-temannya lenyap seperti ditelan bumi. Dengan hati penuh penasaran dan duka Ouw-pangcu
memimpin anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan dan mengobati yang terluka.
Yu Goan menderita luka, namun tidak ada yang berbahaya. Setelah mengobati dirinya sendiri, pemuda
perkasa ini lalu sibuk mengobati anak buah Ouw-pangcu yang terluka.
Hati Ouw-pangcu menjadi terharu sekali. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Siauw Bwee dan Yu Goan.
Ketika dua orang itu menolak dan membujuknya untuk berdiri, dia berkata, “Aku tidak mau berdiri kalau Jiwi
tidak suka menjadi anak-anak angkatku!”
Yu Goan dan Siauw Bwee saling pandang dan akhirnya keduanya mengangguk.
“Baiklah, Gihu!”
“Bangkitlah sekarang, Gihu!” kata pula Siauw Bwee yang mencontoh Yu Goan menyebut gihu (ayah
angkat) kepada kakek itu.
Ouw-pangcu melompat bangun, tertawa bergelak dan merangkul pundak kedua orang muda itu,
memandang muka mereka saling berganti penuh kebanggaan. “Ha-ha-ha-ha! Mempunyai dua orang anak
angkat seperti kalian, biar sekarang mati pun aku akan mati dengan senyum bahagia!”
Siauw Bwee dan Yu Goan menjadi terharu sekali dan diam-diam mereka tidak menyesal, bahkan bangga
mempunyai seorang ayah angkat yang demikian gagah perkasa, jujur, dan hidup dalam keadaan wajar.
“Marilah, anak-anakku. Marilah kuajarkan ilmu melatih sinkang untuk memperoleh tenaga inti matahari dan
bulan. Kebetulan bulan sedang purnama malam ini, kau bisa mulai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagi Yu Goan tentu saja ilmu ini merupakan keuntungan besar bukan main dan dengan tekun ia mulai
melatih diri. Bagi Siauw Bwee, sesungguhnya dia memiliki sinkang yang lebih dahsyat dari pada yang
dimililki Ouw-pangcu, akan tetapi ketika dia mempelajari teori pelajaran ini, dia mendapat kenyataan bahwa
kalau orang dapat mencapai tingkat tertinggi dari ilmu ini, bukan saja akan memliiki sinkang yang dahsyat,
juga akan dapat memetik hawa mukjizat dari matahari dan bulan! Maka dia pun lalu mempelajari dengan
teliti dan mulai berlatih bersama Yu Goan.
Ouw Teng, ketua penghuni tebing dan hutan itu bersikap amat baik kepada Yu Goan dan Siauw Bwee.
Kakek ini tidak mempunyai isteri atau anak, dan rasa terima kasih membuat dia berusaha sedapatnya
untuk menyenangkan hati kedua orang anak angkatnya. Dia menceritakan segala hal mengenai keadaan
para penghuni di situ tanpa menyimpan rahasia.
Anak buahnya, yaitu para penghuni tebing dan hutan, tadinya berjumlah seratus orang lebih. Mereka
membentuk keluarga di situ dan beranak bini. Tetapi pemberontakan itu menewaskan belasan orang anak
buahnya, sedangkan yang terbujuk oleh Ang-siucai dan tewas serta melarikan diri ada tiga puluh orang.
Setelah tinggal di tempat itu selama dua bulan, Siauw Bwee dan Yu Goan mendapat kenyataan betapa
orang-orang itu sesungguhnya hidup jauh lebih bahagia dari pada orang-orang kota. Dan sesungguhnya
mereka hidup dengan tenang, tenteram dan penuh damai. Tidak pernah ada percekcokan. Tidak pernah
ada pencurian karena mereka tidak mengenal istilah mencuri. Semua benda yang terdapat di situ adalah
milik mereka bersama dan siapa yang membutuhkan boleh mengambilnya. Tidak ada iri hati karena
keadaan hidup mereka sama, bahkan Ouw-pangcu sendiri hidupnya tidak berbeda dengan mereka.
Melihat keadaan ini, Siauw Bwee diam-diam membenarkan Bu-tek Lo-jin yang menaruh kasihan dan
mengajarkan ilmu kepada mereka. Hidup secara liar seperti itu tentu saja lebih membutuhkan kekuatan
untuk melawan ancaman binatang buas, penyakit yang timbul dari hawa udara dan lain ancaman lagi.
Karena melihat bahwa mereka itu hanya memiliki kekebalan, Siauw Bwee lalu mengajarkan beberapa jurus
ilmu pukulan dan ilmu meringankan tubuh.
Kini ia mendapat kenyataan bahwa ketika malam-malam mereka mengintai dia dan Yu Goan, mereka itu
melenyapkan diri bukan karena memiliki gerakan cepat, melainkan karena mempunyai tempat
persembunyian di hutan-hutan yang tentu saja sudah mereka kenal betul keadaannya. Pula, karena mata
mereka mengeluarkan cahaya mencorong berkat sinkang mereka, maka begitu mereka memejamkan mata
dan mendekam di tempat gelap, Siauw Bwee tidak dapat melihat mereka.
Bagi Siauw Bwee yang sudah mengalami banyak hal aneh, bahkan pernah tinggal di Pulau Es yang sunyi,
kini tinggal di dalam hutan di antara orang-orang yang demikian sederhana hidupnya, ia merasakan
ketenteraman hati yang amat menyenangkan. Ia merasa kerasan di tempat itu, hidup di antara pohonpohon
dan tanaman-tanaman liar, tidak pernah terlihat kemewahan kota, tidak pernah melihat kesibukan
manusia mengejar uang, tidak pernah melihat percekcokan-percekcokan.
Juga Yu Goan, di samping tekun melatih diri dengan Ilmu Jit-goat-sinkang, juga merasa amat senang
tinggal di situ. Akan tetapi, berbeda dengan perasaan Siauw Bwee, pemuda ini maklum bahwa jangankan
tinggal di tempat yang tenang itu, biar tinggal di dalam neraka sekali pun dia akan merasa senang kalau di
situ terdapat Siauw Bwee di sampingnya!
Pemuda ini menyadari sedalamnya bahwa dia telah jatuh cinta kepada dara jelita yang sakti itu. Jatuh
bertekuk lutut, mencinta Khu Siauw Bwee bukan hanya dengan jiwa raganya, melainkan seluruh hidupnya
seakan-akan kini ia tujukan demi cinta kasihnya kepada dara itu! Dia tidak berani mengeluarkan isi hatinya,
akan tetapi setiap pandang matanya, suaranya, gerak-geriknya jelas membayangkan cintanya yang amat
mendalam.
Siauw Bwee sendiri bukan tidak tahu akan perasaan pemuda itu, dan hal ini amat mengganggu hatinya.
Dia suka kepadanya. Yu Goan yang ia tahu adalah seorang pemuda yang amat halus budi pekertinya,
seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, bukan hanya dalam ilmu silat, juga dalam kesusastraan dan
ilmu pengobatan, sopan-santun dan jujur, pendeknya seorang pemuda pilihan. Akan tetapi, hatinya yang
sudah jatuh cinta kepada suheng-nya Kam Han Ki, tidak mungkin mencinta pria lain. Dia merasa kasihan
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada Yu Goan, terharu kalau melihat betapa sinar mata pemuda itu memandangnya penuh kasih. Ia
mengambil keputusan untuk mengakhiri penderitaan pemuda itu dengan satu-satunya jalan yang ia ketahui,
yaitu memisahkan diri dari pemuda itu.
Pagi itu mereka berdua berlatih di waktu matahari mulai naik tinggi, duduk bersila dan melatih sinkang
menerima cahaya matahari dan membiarkan sinar matahari yang mengandung inti hawa panas yang
menjadi sumber segala hawa panas itu meresap ke dalam tubuh mereka. Setelah mereka menghentikan
latihan mereka dan tubuh mereka basah oleh peluh, mereka mengaso di bawah pohon yang teduh sambli
menghapus peluh. Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Bwee untuk mengutarakan keinginan hatinya.
”Yu-twako, kurasa kita sudah cukup memahami cara melatih diri dengan Jit-goat-sinkang. Kini yang penting
hanya tinggal melatih diri yang dapat kita lakukan di mana pun juga. Sudah terlalu lama kita tinggal di
tempat ini.”
Yu Goan menoleh dan memandang dara itu dengan matanya yang lembut. Kemudian ia berkata,
“Ucapanmu benar, Lihiap...”
“Aihh, sudah berapa kali aku minta agar engkau tidak menyebutku dengan lihiap, Twako. Bukankah sejak
lama aku menyebutmu Twako?”
“Terima kasih, ...eh, Bwee-moi. Sesungguhnya engkau baik sekali dan aku merasa amat beruntung
diperbolehkan menyebutmu adik. Akan tetapi, engkau adalah seorang pendekar wanita yang tiada
keduanya di dunia ini, dan aku... aku merasa terlalu rendah untuk menyebutmu adik.”
“Omongan apakah ini? Aku hanya seorang manusia biasa, Twako. Kalau kau tidak menyebutku adik, aku
tidak mau menjawabnya.”
“Baiklah, Bwee-moi. Maafkan aku. Apa yang kau katakan tadi benar bahwa kita sudah memahami Jit-goatsinkang
dan sudah terlalu lama tinggal di sini mengganggu ayah angkat kita. Akan tetapi..., kita akan pergi
ke manakah?”
Inilah yang berat bagi Siauw Bwee dan semua tadi ia ucapkan hanya untuk dipergunakan sebagai alasan
belaka. Maksudnya hanya untuk mencari jalan agar ia dapat memisahkan diri dari pemuda ini.
“Aku akan melakukan perjalananku mencari suci dan suheng, Twako. Kita berpisah di sini, aku melanjutkan
perjalanan dan engkau pun melanjutkan perjalananmu sendiri.”
Dengan hati perih Siauw Bwee melihat betapa wajah yang tampan itu menjadi pucat, mata itu
memandangnya dengan sinar mata penuh permohonan. “Bwee-moi..., mengapa... mengapa kita harus
saling berpisah? Bukankah kita dapat melakukan perjalanan bersama? Aku akan membantumu mencari
suheng dan suci-mu sampai engkau dapat bertemu dengan mereka!”
Siauw Bwee menggeleng kepalanya. “Twako, engkau baik sekali dan percayalah bahwa aku selamanya
tidak akan melupakan engkau sebagai seorang sahabat yang paling baik, bahkan sebagai saudara angkat
karena setelah kita berdua menjadi anak-anak angkat Ouw-pangcu, kita pun menjadi saudara angkat. Akan
tetapi, tidak baik kalau kita melakukan perjalanan bersama, apa lagi aku tidak ingin menyusahkanmu.
Urusan pribadiku masih amat banyak, dan engkau sendiri tentu mempunyai urusan pribadi. Biarlah kita
berpisah di sini dan tentu kelak kita masih akan dapat saling berjumpa kembali.”
Yu Goan menggunakan kedua tangan menutupi mukanya untuk menyembunyikan kedukaan yang
membayang di wajahnya. “Ah, Bwee-moi... aku mohon kepadamu, jangan aku harus berpisah darimu...
jangan kita saling berpisah lagi...”
Siauw Bwee tentu saja sudah menduga akan isi hati pemuda ini, akan tetapi ia mengeraskan hati,
memandang dengan alis berkerut dan bertanya dengan suara nyaring mendesak, “Twako! Apa maksudmu
dengan kata-kata itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yu Goan menurunkan kedua tangannya dan memandang wajah dara itu dengan muka pucat namun sinar
mata membayangkan isi hatinya tanpa disembunyikan lagi. Suaranya menggetar, namun ia memaksa diri
untuk menggunakan saat itu mengeluarkan semua isi hatinya.
“Bwee-moi, dengarlah. Semenjak saat pertama aku melihatmu, kemudian mendengar bahwa engkau
adalah puteri dari mendiang pahlawan Khu Tek San, cucu murid Menteri Kam Liong, kemudian dilanjutkan
melihat sepak terjangmu, menyaksikan kelihaian ilmu kepandaianmu dan watakmu yang amat mulia, aku
telah jatuh cinta kepadamu! Tidak tahukah engkau, Bwee-moi? Aku cinta kepadamu, Bwee-moi, dan aku
tidak akan dapat hidup kalau harus berpisah dari sampingmu. Engkau telah menjadi separuh nyawaku dan
aku...”
“Cukup, Twako!” Siauw Bwee berkata keras, tidak marah, hanya sengaja memperkeras sikapnya untuk
‘mengobati’ penyakit yang menyerang hati pemuda itu. “Aku bukan seorang buta yang tidak melihat tandatanda
itu semua, dari sinar matamu, dari suara dan gerak-gerikmu. Aku tahu bahwa engkau sudah jatuh
cinta kepadaku. Akan tetapi, karena aku tahu pula bahwa amat tidak mungkin bagiku untuk membalas
perasaan hatimu itu, aku mengambil keputusan bahwa kita harus saling berpisah sebelum penyakitmu
menjadi makin berat.”
Yu Goan memandang dengan mata terbelalak kosong, sekosong hatinya yang mengalami pukulan hebat.
Wajahnya yang pucat, matanya yang memandang kosong, mulutnya yang agak terbuka seolah-olah sukar
mengeluarkan suara, merupakan ujung pedang yang menusuk hati Siauw Bwee.
“Meng... mengapa tidak mungkin..., Bwee-moi?” Suara ini lebih mirip rintihan yang membuat Siauw Bwee
memejamkan mata sejenak.
Ketika Siauw Bwee membuka matanya kembali, dua titik air mata menetes turun. Sejenak dia memandang
wajah Yu Goan yang pucat, rambutnya yang mawut, matanya yang sayu, mulutnya yang tertarik derita
hatinya. Ahhh, betapa mudahnya jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti ini, pikiran ini seperti kilat
memasuki kepalanya. Akan tetapi di sana ada Kam Han Ki dan dia tidak mau menukar suheng-nya itu
dengan pria lain yang mana pun juga, betapa tampan dan baik pun!
“Yu-twako, aku suka kepadamu, aku menganggap engkau sebagai sahabat terbaik, bahkan sebagai
saudara, akan tetapi tidak mungkin aku membalas cintamu karena... karena cinta kasihku telah dimiliki pria
lain, Twako.”
Yu Goan terbelalak, kemudian kedua lengannya bergerak ke atas, yang kanan menjambak rambut sendiri,
yang kiri menutupi muka, tubuhnya gemetar dan suaranya menggetar, “Ahhhh... maafkan aku, Bwee-moi...
maafkan aku...!”
Siauw Bwee memegang kedua tangan Yu Goan dan menariknya turun. Ia memandang air mata yang
menetes-netes turun di wajah yang pucat itu, menahan air matanya sendiri dan mengeraskan suaranya,
“Twako! Begini lemahkan engkau? Seorang pemuda gagah perkasa, begini sajakah kekuatan batinmu?”
Yu Goan memandang dara itu, lalu memejamkan mata dan menundukkan mukanya. “Maafkan aku...
maafkan...”
Siauw Bwee mengguncang kedua lengan pemuda itu. “Yu-twako! Engkau mengatakan bahwa engkau cinta
kepadaku, akan tetapi kalau ternyata bahwa engkau menderita batin karena aku tidak bisa membalas
cintamu, berarti bahwa engkau bukan mencinta aku, melainkan mencinta dirimu sendiri!”
Yu Goan mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang terbelalak. “Apa maksudmu, Bwee-moi?”
“Di balik cintamu itu tersembunyi nafsu mementingkan diri sendiri, tersembunyi keinginan untuk
menyenangkan diri sendiri. Kau ingin dicinta, ingin memiliki, itu bukanlah cinta sejati, Twako, melainkan
cinta diri yang bergelimang nafsu. Karena di balik cintamu bersembunyi hal-hal itulah maka engkau
menjadi berduka dengan merasa sengsara ketika mendengar bahwa aku tidak dapat membalas cintamu!
Renungkanlah, Twako, siapakah yang kau cinta itu? Aku ataukah dirimu sendiri?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yu Goan termenung, tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian ia mengangguk.
“Akan tetapi... adakah cinta yang murni, tanpa keinginan untuk tidak berpisah lagi selamanya dari orang
yang dicintanya?”
“Tentu saja ada, Twako. Cinta murni melupakan keinginan hati sendiri, hanya ingin melihat orang yang
dicintanya bahagia. Karena kita yakin bahwa aku tidak mungkin membalas cinta kasihmu, rubahlah
cintamu itu, bersihkan dari pada nafsu birahi. Lihatlah, aku memegang tanganmu, tanpa getaran nafsu,
akan tetapi dengan rasa cinta sepenuhnya, cinta saudara. Dapatkah engkau merasakan itu, Twako?”
Yu Goan memandang tajam, kemudian menghela napas panjang dan mengangguk. “Aku mengerti, Bweemoi.”
Ia lalu meraih tubuh dara itu dan mencium dahinya, ciuman yang lembut dan bersih dari pada nafsu, jauh
dari pada kemesraan kasih sayang lawan kelamin. Siauw Bwee dapat melaksanakan pula hal ini, maka dia
tidak kaget, tidak membantah, dan diam-diam ia merasa bersyukur dan kagum bahwa pemuda itu benarbenar
seorang yang memiliki budi pekerti yang bersih.
Yu Goan menekan keharuannya dan melepaskan pelukannya. Mereka hanya duduk berhadapan, saling
berpegang tangan. Kini terbayang senyum di bibir Yu Goan biar pun pada matanya yang biasanya tajam
penuh kegembiraan itu kini berganti pandang sayu tanda bahwa hatinya terluka oleh ujung anak panah
Dewa Cinta yang beracun.
“Bwee-moi, terima kasih. Aku memang bodoh sekali, bodoh karena mementingkan diri sendiri saja. Bweemoi,
kalau boleh aku bertanya, apakah cinta kasihmu terhadap pria yang berbahagia itu juga murni dan
bersih dari pada nafsu?”
Wajah Siauw Bwee tiba-tiba menjadi merah sekali dan ia menggenggam tangan Yu Goan ketika menjawab,
“Aku... aku juga bodoh seperti engkau, Twako. Aku... aku mencinta dia seperti engkau mencintaku tadi.
Ahhh... sudah mengerti namun tetap tidak dapat mengalahkan perasaan sendiri, betapa lemah dan
bodohnya aku, lebih bodoh dan lebih lemah dari pada engkau, Twako.”
Tiba-tiba Siauw Bwee menangis, teringat akan Han Ki, teringat akan Maya, teringat akan cintanya yang
masih berbelit-belit itu karena dia tidak tahu kepada siapakah sesungguhnya Han Ki mencinta, cinta
seorang pria terhadap wanita, cinta yang tak dapat dibagi-bagi, kepada dia ataukah kepada Maya?
Yu Goan menjadi terharu dan merasa kasihan sekali. Ia merangkul pundak Siauw Bwee, menepuk-nepuk
punggungnya perlahan sambil berkata, “Bwee-moi, kasihan engkau.... Engkau sedang menderita,
ditambah oleh gangguan lagi. Tenanglah, Bwee-moi, aku berjanji takkan mengganggumu lagi dan aku
akan bersembahyang setiap saat kepada Tuhan semoga engkau akan berbahagia dalam cinta kasihmu itu.”
“Terima kasih, Yu-twako, engkau baik sekali.”
Tiba-tiba kedua orang ini tersentak kaget dan meloncat berdiri ketika pada saat itu terdengar suara hirukpikuk
kentongan-kentongan bambu yang dipukul bertalu-talu. Tanpa bicara keduanya melesat
meninggalkan tempat itu, kembali ke perkampungan dan mereka melihat orang-orang lari tergopoh-gopoh
berkumpul di depan pondok Ouw-pangcu.
Ketika melihat dari jauh wajah Ouw-pangcu dan wajah anak buahnya kelihatan tegang, Siauw Bwee dan
Yu Goan tidak mau mengganggu, hanya memandang bengong ketika melihat Ouw-pangcu memimpin
anak buahnya berbondong-bondong lari menuruni bukit memasuki hutan. Siauw Bwee dan Yu Goan saling
berpandangan, kemudian mereka bergerak mengikuti rombongan itu dari belakang.
Sudah lama Siauw Bwee dan Yu Goan mempunyai keinginan bertemu dengan penghuni lembah di bawah,
atau setidaknya ketuanya karena mereka itu adalah orang-orang yang menerima pendidikan langsung dari
Bu-tek Lo-jin. Biar pun mereka mendengar dari Ouw-pangcu bahwa Bu-tek Lo-jin sudah lama sekali
meninggalkan daerah itu, namun menurut Ouw-pangcu, ilmu kepandaian para tokoh penderita kusta itu
amat tinggi dan karena inilah maka Siauw Bwee dan Yu Goan ingin sekali bertemu dan menyaksikan
sendiri keadaan mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi menurut penuturan Ouw-pangcu, tidak ada seorang manusia boleh turun ke lembah, pula tidak
ada jalan menuruninya, kecuali jalan rahasia yang dikuasai oleh orang-orang lembah. Kini melihat
kesibukan itu, dan ketegangan yang tampak pada wajah Ouw-pangcu dan anak buahnya, Siauw Bwee dan
Yu Goan menduga-duga bahwa tentu ada urusan yang menyangkut orang-orang lembah yang penuh
rahasia itu.
Siauw Bwee dan Yu Goan mengikuti rombongan itu memasuki hutan yang belum pernah mereka datangi.
Mereka menerobos ke sana ke mari, melalui hutan yang penuh pohon-pohon raksasa, kemudian melintasi
padang rumput yang tinggi dan tebal, melalui tanaman-tanaman berduri yang agaknya sudah bertahuntahun
tidak dilalui manusia. Dari jauh terdengar suara melengking tinggi dan agaknya ke arah suara itulah
mereka menuju.
Rombongan itu berhenti di dalam sebuah hutan, tak jauh dari sebatang pohon raksasa yang amat besar
dan tua. Di bawah pohon ini tampak sebuah batu besar yang dilihat dari jauh berbentuk sebuah kepala
raksasa. Ouw-pangcu dan anak buahnya menjatuhkan diri berlutut dalam jarak lima meter dari pohon
raksasa itu, berlutut tanpa berkutik seperti menanti sesuatu. Siauw Bwee dan Yu Goan bersembunyi di
balik pohon, mengintai dengan hati tegang karena mereka tidak mengerti apa artinya semua itu dan apa
yang akan terjadi di situ.
Suara melengking yang terdengar dari pohon tua itu berhenti. Keadaan sunyi senyap, sunyi yang
mendebarkan jantung penuh ketegangan. Tiba-tiba Siauw Bwee dan Yu Goan memandang terbelalak ke
arah batu besar itu. Batu itu bergerak perlahan, bergeser dari kanan ke kiri. Dan tampaklah sebuah lubang
di bawah batu itu, seperti sebuah sumur dan batu itu terus menggeser sampai lubang itu tampak semua,
berbentuk bundar dan bergaris tengah satu meter.
Tiba-tiba terdengar suara kelentingan ramai dari dalam lubang, seperti suara banyak kelenengan kecil
dibunyikan berbareng. Keadaan makin tegang dan kalau Ouw-pangcu dan anak buahnya semua berlutut
menundukkan muka tanpa berani memandang, Siauw Bwee dan Yu Goan terbelalak memandang ke arah
lubang sumur itu. Tiba-tiba di depan lubang itu telah berdiri seorang manusia yang amat menyeramkan!
Demikian cepat gerakan orang itu, seolah-olah dia seorang iblis yang muncul dari alam lain, seperti pandai
melenyapkan diri dan tiba-tiba kini menampakkan diri di depan lubang. Hanya pandang mata Siauw Bwee
saja yang lebih tajam dan kuat dari pandang mata Yu Goan dapat melihat berkelebatnya sinar hitam dari
dalam lubang, maka dara sakti ini maklum bahwa orang itu muncul dari dalam lubang dengan gerakan
yang amat ringan dan cepat, tanda bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Akan
tetapi ketika ia memandang orang itu, seperti juga Yu Goan, ia bergidik dan bulu tengkuknya berdiri.
Orang itu benar-benar amat menyeramkan dan keadaan tubuhnya amat mengerikan. Tubuhnya jangkung
kurus, seperti tengkorak terbungkus kulit, badannya tertutup jubah hitam yang sudah butut, dekil kotor dan
robek-robek di pinggir dan ujungnya. Jubah yang panjang sampai menutupi lutut, berlengan lebar panjang,
namun karena robek-robek maka jubah itu tidak dapat menyembunyikan keadaan tubuh yang mengerikan.
Tubuh yang tidak normal, penuh cacat-cacat seperti batang pohon yang dikerokoti kutu. Tangan kiri orang
itu memegang tongkat, karena kelingking dan jari tengahnya sudah hilang, tinggal sisanya sedikit saja.
Tangan kanannya sudah hilang sama sekali, tinggal lengan yang tulangnya menonjol halus merupakan
ujungnya, keluar dari lengan baju secara amat mengerikan, jari-jari kakinya pun tidak utuh. Jari kaki kiri
tinggal dua buah ibu jari dan jari tengah, sedangkan jari kaki kanannya tinggal tiga buah saja. Kulit yang
membungkus kaki pun tidak utuh, sudah pecah-pecah di sana-sini seperti digerogoti rayap.
Ketika Siauw Bwee yang bergidik itu memandang ke arah muka orang itu, ia merasa betapa seluruh bulu
tubuhnya berdiri saking ngerinya! Kepala orang itu ditutup kain hitam yang menyembunyikan seluruh
kepalanya dan bagian muka, yaitu di bagian atas sehingga yang tampak hanya mulai dari alis ke bawah.
Akan tetapi itu pun sudah amat menakutkan!
Kalau kulit kaki hanya sebagian yang lenyap, maka kulit muka itu boleh dibilang sudah hampir habis
dimakan rayap! Tampak tulang-tulang pipi menonjol, dagunya menjadi runcing karena tidak ada kulitnya,
putih mengerikan. Bibirnya habis pula sehingga tampak mulut ompong menonjol panjang. Separuh
dunia-kangouw.blogspot.com
hidungnya hilang sehingga merupakan lubang hitam. Matanya seperti melotot terus karena pelupuknya
tinggal separuh, tidak dapat dipejamkan. Benar-benar amat mengerikan dan melihat sebuah tengkorak
tidak akan sengeri ini. Manusia yang berdiri di depan lubang itu tak patut disebut manusia, akan tetapi juga
tidak atau belum menjadi mayat!
Di samping perasaan ngeri dan serem ini, timbul rasa iba yang besar di hati Siauw Bwee dan Yu Goan
yang sebagai seorang ahli pengobatan maklum betul betapa menderita dan sengsaranya keadaan orang
yang ia tahu menjadi korban penyakit kusta yang dahsyat itu.
Kini muncul dua orang lain dari dalam lubang, keadaan mereka juga mengerikan seperti orang pertama.
Akan tetapi kedua orang ini tidak meloncat seperti orang pertama tadi, melainkan berjalan terpincangpincang
keluar dari lubang dan berdiri di kanan kiri orang pertama yang sudah marah-marah,
mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Siauw Bwee dan Yu Goan. Orang itu
bicara tidak karuan dan karena tidak mempunyai bibir, giginya ompong-ompong dan lidahnya tinggal
sepotong, bicaranya sukar dimengerti.
Akan tetapi agaknya Ouw-pangcu sudah biasa mendengar suara seperti itu, buktinya ketua ini lalu
menjawab dan membela diri, menceritakan tentang peristiwa pemberontakan di perkampungan yang
dipimpinnya. Dari jawaban Ouw-pangcu ini mengertilah Siauw Bwee dan Yu Goan bahwa agaknya Ouwpangcu
dipersalahkan oleh orang-orang lembah tentang peristiwa pertempuran di antara orang-orang
tebing.
“Harap para Locianpwe dari lembah mengetahui bahwa saya dan anak buah saya sama sekali tidak
melakukan pelanggaran. Yang melakukan pelanggaran adalah mereka yang memberontak dan mereka
telah diberi hukuman setimpal. Tolong disampaikan kepada Pangcu di bawah bahwa kami semua tidak
pernah melanggar perintah.”
Orang penderita kusta yang pertama itu kembali bicara ribut-ribut tidak karuan. Ouw-pangcu menjawab,
mukanya memperlihatkan kekagetan dan ketakutan. Ia menggoyang tangan kiri yang diangkat ke atas
sambil berkata, “Tidak bisa, Locianpwe! Saya tidak bersalah, maka tentu saja menolak untuk dibawa turun
menerima hukuman. Pula, siapa pun tidak boleh turun, kalau saya sudah turun, bukankah berarti saya
melanggar? Saya tidak merasa bersalah, maka saya pun tidak mau ikut Locianpwe turun ke bawah!”
Orang kedua yang berdiri di sebelah kanan orang pertama mengeluarkan suara gerengan seperti seekor
binatang terluka, kemudian tubuhnya meloncat maju dengan kecepatan kilat sehingga diam-diam Siauw
Bwee kagum karena orang ini pun memiliki ginkang yang amat luar biasa! Dengan tangan kirinya yang
tinggal empat buah jarinya itu, orang sakit kusta ini mencengkeram pundak Ouw-pangcu.
“Crottt!” Empat buah jari tangan itu menancap di pundak seperti empat buah pisau tajam, akan tetapi tibatiba
orang itu terpental ke belakang karena Ouwpangcu telah mengerahkan Jit-goat-sinkang.
Ketika terpental, orang itu memandang tangan kirinya yang ternyata tertinggal di pundak Ouw-pangcu!
Penyakit kusta membuat buku-buku dan ruas-ruas tangannya lemah dan rapuh, maka tentu saja tidak
dapat melawan aliran sinkang yang demikian kuatnya! Dua buah jari yang tertinggal di pundak Ouwpangcu
juga tercabut ke luar terdorong oleh daya tolak sinkang Ouw-pangcu. Anehnya, biar pun dua buah
jari tangannya putus, orang itu tidak kelihatan menderita nyeri dan tangannya tidak berdarah. Seolah-olah
hanya dua batang kayu saja yang potong!
“Maaf, saya tidak sengaja menyusahkan para Locianpwe,” kata Ouw-pangcu. Diam-diam dia merasa
kasihan sekali karena maklum bahwa penyakit kusta yang hebat itu ternyata membuat orang-orang lembah
ini tidak mungkin lagi dapat menyimpan tenaga Jit-goat-sinkang di tubuh mereka. Hal ini pun dapat diduga
oleh Siauw Bwee dan Yu Goan ketika menyaksikan serangan dan akibatnya tadi.
Si Lengan Buntung, orang pertama tadi, kini sudah mengeluarkan sebuah bendera kecil berwarna hitam
dan menggerak-gerakkan bendera kecil itu di atas kepalanya.
Melihat bendera kecil itu Ouw-pangcu terkejut sekali, berlutut dan memberi hormat ke arah bendera sambil
berkata, “Teecu Ouw Teng telah berdosa. Kalau Locianpwe tadi mengatakan bahwa Pangcu
dunia-kangouw.blogspot.com
memerintahkan saya turun ke lembah dan mengeluarkan benda pusaka itu, tentu saya tidak berani banyak
membantah.”
Si Tangan Buntung itu bicara lagi. Ouw-pangcu bangkit berdiri, kemudian membalikkan tubuh berkata
kepada anak buahnya yang masih berlutut ketakutan.
“Kalian kembalilah dan bekerja seperti biasa. Aku dipanggil menghadap oleh Pangcu di lembah maka
jangan kalian memikirkan aku lagi. Kalau sampai aku tidak kembali untuk selamanya, kalian boleh
mengangkat seorang ketua baru. Tunggu sampai seratus hari, kalau aku tidak kembali berarti aku berhenti
menjadi ketua. Nah, aku pergi. Marilah Sam-wi Locianpwe.” Berkata demikian, Ouw-pangcu mengikuti tiga
orang penderita kusta itu memasuki lubang sumur yang ternyata merupakan lorong di bawah tanah yang
menuju ke lembah jauh di bawah!
Setelah empat orang itu memasuki sumur, batu besar itu tergeser kembali dan menutupi lubang. Keadaan
menjadi sunyi senyap dan kini orang-orang liar anak buah Ouw-pangcu baru berani bergerak. Mereka
bicara dengan muka penuh ketakutan dan kedukaan, akan tetapi tak seorang pun berani mencela tiga
orang lembah tadi.
Setelah anak buah Ouw-pangcu meninggalkan tempat itu, Siauw Bwee dan Yu Goan muncul dari tempat
sembunyi mereka.
“Setan-setan itu! Mengapa kau tadi mencegah aku turun tangan membela ayah angkat kita, Bwee-moi?”
“Gihu ikut dengan mereka secara sukarela, dan menurut ceritanya sendiri, orang-orang lembah itu
memang mempunyai kekuatan lebih besar dan Gihu harus tunduk kepada ketua orang lembah. Kalau kita
turun tangan tadi, berarti kita bertindak berlawanan dengan isi hati Gihu sendiri.”
“Akan tetapi Gihu dibawa mereka. Apakah kita harus membiarkannya saja? Siapa tahu dia akan
mengalami bencana di bawah sana?”
“Tidak, kita tidak akan membiarkan saja. Kita harus menyelidiki ke bawah dan melihat apa yang terjadi.”
“Bagus! Mari kita kejar mereka, biar kugeser batu ini!” Yu Goan meloncat akan tetapi baru saja ia
menyentuh batu besar itu Siauw Bwee sudah melarangnya.
“Jangan, Twako. Kalau kita masuk atau turun melalui jalan ini, tentu kita akan menghadapi perlawanan dan
bahaya. Aku tidak takut menghadapi mereka, akan tetapi membayangkan betapa aku harus bertanding
dengan orang-orang seperti itu... hiiiihhhh, aku bisa mati karena jijik! Pula, kalau kita turun melalui lorong ini,
mungkin kita malah menambah kesalahan Gihu dalam pandangan mereka. Mereka itu menjijikkan, akan
tetapi juga lihai sekali sehingga kita mungkin akan menemui kegagalan di tengah jalan sebelum sampai di
lembah. Lorong yang merupakan jalan satu-satunya ini pasti terjaga kuat oleh mereka.”
Yu Goan mengangguk-angguk dan kagum sekali. “Habis, bagaimana kita bisa turun kembali ke lembah?”
“Perkampungan mereka di bawah itu kelihatan dari atas tebing. Biar pun curam dan sukar, kalau kita
menggunakan besi pengait, pedang dan tambang yang kuat, masa kita tidak dapat turun ke bawah?”
Yu Goan setuju dan mereka segera mencari alat-alat yang mereka butuhkan itu. Kemudian mulailah kedua
orang itu menuruni tebing yang amat curam. Namun dengan kepandaian mereka yang tinggi, dibantu alatalat
itu, dapat juga mereka merayap turun perlahan, menggunakan pedang yang ditancapkan pada dinding
batu karang, melorot turun dengan bergantung kepada tambang. Biar pun sukar sekali, dan tidak dapat
cepat karena mereka harus amat berhati-hati, sekali jatuh berarti nyawa melayang, mereka dapat merayap
ke bawah.
Akan tetapi ternyata oleh mereka bahwa jalan itu benar-benar tidak mudah sama sekali. Biar pun mereka
mempergunakan alat-alat, terpaksa mereka harus mencari jalan memutar beberapa kali kalau menghadapi
jalan buntu, di mana tebing itu berakhir dengan jurang yang tak mungkin dapat dilalui, batunya pecah di
bagian bawah. Terpaksa mereka mencari jalan baru untuk turun dan ada kalanya mereka terpaksa
merayap ke atas lagi untuk mencari jalan lain. Sampai malam tiba, mereka baru dapat mencapai
dunia-kangouw.blogspot.com
sepertiganya saja dalam jarak dari puncak tebing ke lembah dan terpaksa mereka harus melewatkan
malam di dalam goa yang terdapat di dinding batu karang yang licin!
Pada keesokan harinya, setelah cuaca terang barulah kedua orang muda itu berani melanjutkan perjalanan.
Ketika mereka mengambil jalan memutar ke selatan, mereka melihat dataran di tengah-tengah antara
puncak dan lembah. Dinding di bagian ini ternyata menembus ke sebuah dataran yang merupakan dataran
kedua di bawah puncak tebing, sungguh merupakan keadaan yang ajaib! Dataran yang berada di perut
gunung, luasnya paling banyak seribu meter persegi, akan tetapi tanahnya penuh dengan tetumbuhan,
seperti sebuah kampung kecil di puncak, dikelilingi tebing curam, merupakan keadaan yang amat
berlawanan dengan lembah itu yang di kelilingi tebing tinggi!
“Mari kita ke sana, siapa tahu dari dataran itu terdapat jalan yang lebih mudah,” kata Siauw Bwee.
“Baik... heiii, ada rumahnya di sana!” Yu Goan yang merayap di sebelah depan tiba-tiba menuding.
Benar saja, dari lereng tebing itu mereka melihat dua pondok kecil sederhana di dataran itu, tanda bahwa
di sana ada manusianya! Hal ini mendorong semangat mereka dan mereka merayap ke arah dataran itu,
kemudian meloncat turun di atas tanah yang rata. Dengan hati-hati mereka berjalan ke tengah
menghampiri dua buah pondok sederhana yang modelnya sama dengan pondok-pondok tempat kediaman
Ouw-pangcu dan anak buahnya, bahkan dua pondok itu lebih sederhana lagi.
Setelah dekat dan menghampiri pondok dari depan, tiba-tiba mereka berhenti dan cepat menyelinap di
balik pohon. Mereka melihat seorang laki-laki tua sedang keluar dari pondok membawa setumpuk tampah
berisi benda-benda kecil seperti daun-daun kering, akar-akar dan buah-buahan kering. Laki-laki itu usianya
sebaya dengan Ouw-pangcu, hanya rambut dan kumis jenggotnya masih banyak hitamnya. Bajunya
ringkas dan sangat sederhana, tanpa lengan sehingga lengan dan sebagian pundaknya tampak.
Celananya hitam dan di bagian bawahnya digulung sampai ke lutut.
Tiba-tiba kakek itu berhenti di depan pondoknya, kemudian dengan tangan kiri menyangga tumpukan
tampah yang jumlahnya belasan buah itu, dia mengambil tampah teratas dengan tangan kanan dan
sekaligus menggerakkan tangan, tampah itu terlempar ke udara dan berputar-putar seperti hidup tanpa
menumpahkan isinya sedikit pun!
Tampah pertama masih melayang-layang ketika tampah kedua, ke tiga dan ke empat menyusul sehingga
dalam beberapa detik saja belasan buah tampah melayang-layang di udara seperti sekumpulan burungburung
mencari tempat bertengger. Kemudian tampah-tampah itu meluncur turun dan tiba di atas depan
dipan yang dipasang di depan pondok sebagai tempat penjemuran, jatuh dengan lunak tanpa ada isinya
yang terlempar keluar dan dalam keadaan berderet-deret rapi seperti diatur dan diletakkan oleh tangan
yang tidak kelihatan!
“Bukan main...!” Yu Goan berbisik.
Siauw Bwee diam-diam kagum sekali, dan maklum bahwa kakek itu memiliki tenaga sinkang yang sudah
dapat diatur sedemikian rupa sehingga tenaga loncatan tampah-tampah tadi pun di ‘kendalikan’ oleh
tenaga sinkang! Dan dia pun menduga bahwa tentu kakek itu sudah tahu akan kedatangan mereka, karena
demonstrasi tenaga sinkang tadi tentu dikeluarkan hanya dengan satu tujuan, yaitu sengaja diperlihatkan
orang untuk menggertak. Kalau kakek itu tidak tahu bahwa mereka datang dan hendak menggertak orang
asing yang datang, perlu apa main-main dengan tenaga sinkang seperti itu?
Maka ia bersikap waspada dan memandang kakek itu penuh perhatian. Kini di tangan kakek itu tinggal dua
tampah lagi. Tiba-tiba kakek itu mengambil sebuah tampah, mengeluarkan suara bentakan nyaring dan
tampah itu ‘melayang’ berputaran menuju ke arah Siauw Bwee dan Yu Goan dengan kecepatan kilat
seperti seekor burung garuda menyambar dua ekor domba!
“Celaka!” Yu Goan berseru dan pemuda itu sudah mencabut pedangnya.
Akan tetapi Siauw Bwee menyentuh lengan pemuda itu, kemudian dara sakti ini menggerakkan kedua
lengan mendorongkan kedua telapak tangan ke atas, ke arah tampah yang meluncur turun. Dia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
berani mempergunakan Jit-goat-sinkang yang belum dilatih sempurna itu, maka dia mengerahkan seluruh
tenaga sinkang yang ia latih di Pulau Es sesuai dengan ajaran Bu Kek Siansu dan petunjuk suheng-nya.
Tampah yang sudah meluncur turun itu tiba-tiba terhenti, kemudian bergerak lagi, bukan ke arah Siauw
Bwee, melainkan berputaran turun dan hinggap dengan lunaknya ke atas dipan yang masih kosong, persis
seperti lontaran kakek itu tadi, hanya kini tampah itu agak tergetar karena ada dua tenaga sinkang raksasa
yang mengemudikannya dari arah berlawanan!
“Tahan dulu, Locianpwe!” Siauw Bwee sudah berseru dan melompat ke luar dari tempat sembunyinya.
Lompatannya seperti kilat karena dia mempergunakan gerakan kaki kilat sehingga tahu-tahu tubuhnya
sudah muncul di depan kakek itu dalam jarak enam meter, terhalang dipan penjemur obat-obatan di atas
tampah-tampah.
Sejenak kakek itu memandang dengan alis berkerut. Matanya terbelalak penuh keheranan dan agaknya
dia masih tidak mau percaya bahwa yang tadi menahan tampahnya, yang memaksa tampahnya itu
melayang turun, hanyalah seorang dara remaja.
“Bagus! Coba engkau tahan ini!” serunya dan tampah terakhir yang berada di tangannya itu ia lemparkan
ke udara, kini bukan dengan sebelah tangan, melainkan dengan kedua tangan. Kedua tangannya itu tetap
terpentang karena dari kedua telapak tangannya meluncur hawa sinkang yang ‘mengemudikan’ tampah
berisi bahan obat itu.
Siauw Bwee maklum bahwa kakek itu kini mengerahkan tenaga sinkang yang besar sekali karena tidak
hanya tampah itu berputaran di udara, akan tetapi juga isinya ikut berputaran di atas tampah. Dan dengan
menggunakan tampah menyerangnya, dia dapat menduga bahwa kakek itu menganggap dia dan Yu Goan
sebagai orang luar yang lancang masuk, maka kini hendak mengujinya, bukan hendak menyerang dengan
niat jahat, maka ia pun lalu mengerahkan kedua tangan diulur dan dikembangkan ke depan. Hawa sinkang
yang kuat meniup ke luar dari kedua tangannya, membubung ke atas menerima tampah itu.
Tampah yang berpusing di udara itu tiba-tiba berhenti dan mengambang di udara, seolah-olah terpegang
tangan yang kuat, lalu perlahan-lahan tampah itu melayang kembali ke arah pelemparnya. Kakek itu
terkejut sekali, lalu membusungkan dadanya, mengerahkan seluruh tenaga dan Siauw Bwee merasa
betapa dari tubuh kakek itu keluar hawa yang panas sekali. Ia cepat mengerahkan Im-kang yang dingin
untuk melawannya. Tiba-tiba hawa dari kakek itu berubah dingin pula, dan Siauw Bwee yang sengaja
hendak menguji pula, segera merubah sinkang-nya menjadi Yang-kang.
Tampah itu seperti hidup. Sebentar bergerak ke arah Siauw Bwee, akan tetapi hanya sebentar karena
kembali terdorong ke arah Si Kakek. Dorong-mendorong ini terjadi beberapa menit lamanya dan akhirnya
tampah itu terus bergerak perlahan, sedikit demi sedikit menuju ke arah Si Kakek yang makin terkejut dan
memandang terbelalak. Akhirnya ia berseru keras melompat ke kiri dan menurunkan kedua lengannya.
Tampah itu jatuh ke bawah, hancur dan isinya berantakan. Akan tetapi seperti tampah yang hancur
bagaikan diremas-remas itu, isinya juga remuk pecah-pecah dan ada yang gosong seperti terbakar!
“Hebat! Wanita muda, dari mana engkau mempelajari Jit-goat-sinkang?” Pertanyaan ini mengandung
penasaran besar, seolah-olah menuduh Siauw Bwee mencuri ilmu itu.
Siauw Bwee yang kini sudah dapat menduga bahwa kakek ini tentu memiliki Ilmu Jit-goat-sinkang seperti
yang dimiliki Ouw-pangcu, malah lebih kuat, segera menjura dan menjawab, “Untuk menghadapi Jit-goatsinkang-
mu tadi, aku tidak menggunakan sinkang yang sama, orang tua!”
“Tidak mungkin! Sinkang biasa mana mampu menghadapi Jit-goat-sinkang seperti itu?”
Yu Goan kini sudah muncul dan meloncat dekat Siauw Bwee. Dia tadi menyaksikan adu tenaga sinkang itu
dan kekagumannya terhadap Siauw Bwee meningkat. Dengan sabar ia menjura dan mendahului Siauw
Bwee. “Locianpwe, sesungguhnya kami pernah mempelajari Jit-goat-sinkang dari Ouw-pangcu.”
“Ahh, tidak mungkin! Selain Ouw-pangcu tidak akan berani lancang menurunkan ilmunya kepada orang
luar, juga tidak mungkin kalau hanya murid-muridnya mampu mengalahkan kekuatanku. Dia sendiri masih
dunia-kangouw.blogspot.com
jauh di bawahku, ataukah... dia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sehingga muridnya saja
mampu mengalahkan aku? Betapa pun juga, dia melanggar dan harus dihukum!”
Yu Goan terkejut dan cepat membela, “Locianpwe, harap jangan menyalahkan dia karena Ouw-pangcu
adalah Gihu kami. Tiada salahnya menurunkan ilmu kepada anak-anak angkatnya sendiri.”
Wajah yang penasaran dan marah itu berubah. “Aihhhh! Dia menjadi ayah angkat kalian? Betapa anehnya!
Akan tetapi... tenaga sinkang Nona muda ini amat luar biasa, betapa mungkin...”
“Harap Locianpwe tidak menjadi heran karena sesungguhnya, kepandaian Nona Khu ini amat tinggi, jauh
lebih tinggi dari pada kepandaian Gihu sendiri. Dan kalau benar Locianpwe adalah suheng dari Gihu, harap
kau ketahui bahwa kami berdua sedang berusaha menyelamatkan Gihu yang terancam bahaya besar di
lembah di bawah sana.”
“Apa? Apa yang terjadi? Orang muda, duduklah. Dan kau juga, Nona yang amat lihai. Duduklah dan
ceritakan semua. Apa yang telah terjadi di atas tebing, dan di bawah lembah sana?”
Yu Goan dan Siauw Bwee duduk di atas dipan bambu, berhadapan dengan kakek itu lalu Yu Goan
menceritakan semua pengalaman mereka sejak bertemu dengan Ouw-pangcu, mengobati luka ketua itu,
dan tentang pemberontakan di atas tebing yang dipimpin oleh Ang-siucai. Setelah mendengar penuturan
itu sampai habis, kakek tadi menarik napas panjang.
“Hemm, memang banyak resikonya menjadi ketua, tidak sebebas aku yang hidup seorang diri tanpa
dibebani peraturan. Sute telah lancang menerima seorang asing seperti sastrawan she Ang itu, maka dia
memetik buah dari tanamannya sendiri. Akan tetapi siapakah engkau orang muda yang pandai ilmu
pengobatan? Aku sendiri senang dengan ilmu itu, maka kepandaianmu menarik hatiku, dan siapa pula
Nona yang amat lihai ini? Sukakah kalian memperkenalkan diri setelah mengetahui bahwa aku adalah
suheng dari Gihu-mu?”
Yu Goan tidak berani lancang, maka dia menoleh dan memandang Siauw Bwee. Bagi dia sendiri, dia tidak
akan ragu memperkenalkan diri kepada siapa pun juga. Akan tetapi Siauw Bwee adalah penghuni Istana
Pulau Es, dan biar pun dara itu tidak pernah memperingatkannya, dia tahu bahwa gadis itu tentu akan
merahasiakan Pulau Es dan keadaan dirinya. Akan tetapi Siauw Bwee tersenyum dan mengangguk.
Maka Yu Goan lalu berkata, “Karena Locianpwe adalah suheng dari Gihu, maka sepatutnya kalau kami
menyebut Supek kepadamu. Harap Supek ketahui bahwa sahabatku ini bernama Khu Siauw Bwee dan
sebelum dia menjadi anak angkat Gihu dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi karena Bwee-moi ini
adalah... seorang di antara penghuni-penghuni Istana Pulau Es.”
Seperti telah diduganya, kakek itu mencelat dari tempat duduknya, memandang Siauw Bwee dengan mata
terbelalak, kemudian mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil menjura, “Aihhh... mataku seperti
buta tidak mengetahui orang pandai. Maaf...!”
Siauw Bwee cepat berdiri membalas penghormatan itu dan berkata sederhana, “Supek, mengapa begini
sungkan? Yu-twako hanya pandai memuji setinggi langit padahal aku hanyalah seorang muda yang masih
perlu menerima bimbingan orang pandai seperti Supek. Dalam melatih diri dengan Jit-goat-sinkang saja,
dibandingkan dengan tingkat Supek, aku belum ada seper-sepuluhnya!”
“Aihhh! Sudah lihai masih pandai merendah pula. Sungguh menakjubkan! Nona Khu, tanpa Jit-goatsinkang
sekali pun sinkang-mu sudah amat luar biasa dan aku tidak menjadi heran mengingat bahwa
engkau adalah penghuni Istana Pulau Es, murid langsung dari Bu Kek Siansu. Hebat... hebat...! Dan
engkau sendiri, orang muda, siapakah engkau?”
“Aku bernama Yu Goan, ilmu silatku yang kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian Khusiauwmoi
kudapatkan dari ayahku sendiri yang bernama Yu Siang Ki, sedangkan sedikit ilmu pengobatan
kudapatkan dari kakekku, Yok-san-jin Song Hai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali kakek itu mengangguk-angguk kagum. “Aku pernah mendengar nama besar ayahmu itu.
Bukankah dia putera Ketua Khong-sim Kai-pang? Dan Yok-san-jin... Hemmm, siapa yang belum
mendengar namanya? Ahh, sungguh menggembirakan sekali bertemu dengan orang-orang muda
keturunan orang-orang pandai, lebih-lebih lagi menggembirakan mendengar bahwa kalian adalah anakanak
angkat sute-ku. Aihhhh, bukan main beruntungnya Ouw-sute!”
“Akan tetapi sekarang Gihu terancam bahaya, Supek,” kata Siauw Bwee.
Kakek itu mengerutkan alisnya. “Aku heran sekali. Biasanya suheng kami, yaitu ketua lembah, adalah
orang yang amat sabar. Ketahuilah bahwa dahulu, ketika Suhu Bu-tek Lo-jin datang ke tempat ini, dia
mengangkat tiga orang murid. Pertama adalah Lie Soan Hu yang kini menjadi ketua orang lembah setelah
dia terkena pula penyakit kusta yang mengerikan itu. Murid kedua adalah aku sendiri. Namaku adalah Coa
Leng Bu, dan berbeda dengan suheng dan sute, aku lebih senang hidup bersunyi diri di tempat ini,
mengumpulkan obat-obat untuk kuberikan kepada anak buah suheng di lembah dan anak buah sute di
atas tebing. Murid ke tiga adalah Ouw-sute sendiri. Setelah Lie-suheng menderita penyakit kusta, dia
menjadi penyabar sekali, bahkan tidak pernah keluar dari lembah. Sungguh pun amat mengherankan kalau
sekarang dia menyuruh pembantu-pembantunya menangkap Ouw-sute. Apa lagi semua itu dilakukan
tanpa memberi tahu kepadaku....”
“Hemm, benar-benar peristiwa itu mencurigakan sekali dan agaknya perlu kuselidiki sendiri. Kalian jangan
khawatir. Biarlah aku menyertai kalian turun ke lembah dan dari tempat ini memang ada jalan rahasia ke
lembah yang lebih mudah dilalui. Tentu saja dengan kepandaian yang kalian miliki, tanpa melalui jalan
rahasia itu pun kalian akan dapat mencapai lembah, akan tetapi selain hal itu akan makan waktu lama dan
perjalanan yang sukar sekali, juga berarti kalian akan menjadi seorang yang melanggar larangan. Mari kita
pergi sekarang sebelum terlambat, karena aku menduga bahwa seperti halnya di atas tebing, di lembah
sana terjadi sesuatu yang tidak wajar. Sudah terlalu lama aku tidak pernah datang ke lembah atau ke
tebing, obat-obat itu hanya diambil saja oleh anak buah yang disuruh Sute atau Suheng.”
Girang sekali hati kedua orang muda itu. Mereka segera mengikuti Coa Leng Bu pergi meninggalkan
pondok dan menuruni tebing melalui jalan turun yang bukan merupakan jalan, melainkan rangkaian akarakar
dan batu-batu yang sengaja dibuat untuk jalan naik turun. Karena ‘jalan’ ini tertutup oleh tetumbuhan,
maka kalau tidak bersama kakek itu, tentu Siauw Bwee dan Yu Goan tak mungkin akan dapat
menemukannya.
Jalan ini bukanlah jalan mudah bagi orang biasa, akan tetapi bagi mereka bertiga merupakan jalan yang
amat mudah, bergantung sana-sini, melompati sana-sini dan mereka dapat turun dengan cepat sekali. Dua
orang muda itu merasa girang karena perjalanan kali ini jauh lebih mudah dan cepat dari pada yang
mereka lakukan kemarin. Tak lama kemudian mereka sudah mencapai lembah.
Akan tetapi, begitu ketiganya melompat turun, mereka diserbu oleh belasan orang penderita kusta dan
orang-orang penghuni tebing yang tadinya memberontak, juga tampak beberapa orang berpakaian Han
yang ikut menyerbu.
“Merekalah yang memberontak di atas tebing!” seru Yu Goan.
Coa Leng Bu menjadi marah sekali. Ia melompat maju dan membentak, “Mundur semua! Apakah kalian
tidak mengenal aku lagi?”
Akan tetapi orang-orang itu tidak menjawab dan terus menyerangnya!
“Keparat! Setan busuk, mana Suheng? Suruh dia keluar sebelum aku membunuh kalian semua, keparat!”
Akan tetapi orang-orang itu telah menyerbunya dan Coa Leng Bu cepat menggerakkan kaki tangannya
merobohkan dua orang penderita kusta. Akan tetapi mereka tidak mundur bahkan kini menerjang dengan
senjata-senjata mereka.
“Twako, kita berpencar mencari Gihu!” Siauw Bwee berseru sambil melawan pengeroyokan orang yang
menjijikkan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena tidak tahan harus bertanding melawan orang-orang yang begitu mengerikan, setelah mengelak ke
sana-sini, Siauw Bwee melesat jauh dan mulai mencari Gihu-nya yang tertawan. Yu Goan mencabut
pedangnya dan mengamuk bersama Coa Leng Bu. Betapa pun juga, melihat bahwa tukang obat itu tidak
mau menurunkan tangan membunuh orang-orang yang masih murid keponakannya sendiri, Yu Goan juga
menggerakkan pedang secara hati-hati agar tidak sampai membunuh orang.
Namun tingkat kepandaian orang-orang lembah itu tinggi dan dia pun seperti Siauw Bwee, merasa jijik di
samping rasa kasihan. Maka kini melihat Siauw Bwee telah pergi, dia pun memutar pedang mencari jalan
ke luar dari kepungan, lalu melarikan diri ke depan meninggalkan Coa Leng Bu yang masih dikeroyok
murid-murid keponakannya sendiri.
Beberapa orang penderita penyakit kusta mengejarnya, termasuk seorang berpakaian Han yang menjadi
kawan Ang-siucai. Yu Goan marah sekali terhadap orang ini karena dia tahu bahwa biang keladi semua
keributan di tebing mau pun di lembah ini tentulah Ang-siucai dan kawan-kawannya. Dia dapat menduga
bahwa setelah gagal di atas tebing, Ang-siucai membawa kaki tangannya dan orang-orang tebing yang
dipengaruhinya melarikan diri ke lembah. Hanya dia merasa heran, kenapa sastrawan itu dapat pula
menguasai lembah!
Karena marahnya, tiba-tiba dia membalik dan pedangnya menyambar ke arah orang Han yang ikut
mengejarnya. Orang itu menangkis, akan tetapi tiba-tiba ia menjerit keras ketika tangan kiri Yu Goan
berhasil menotoknya, kemudian mengempit lehernya.
“Suruh mereka mundur sebelum kupatahkan batang lehermu!” Yu Goan mengancam dan memperkuat
jepitan lengannya pada leher orang itu.
Orang itu ternyata takut mati dan cepat membentak orang-orang penderita kusta untuk mundur. Di samping
sifat pengecutnya, orang itu pun cerdik sekali. Agaknya semua kawan Ang-siucai cerdik-cerdik belaka.
Orang ini maklum akan kelihaian Siauw Bwee dan Si Tukang Obat, maka dia ingin memancing agar
mereka itu berpencar sehingga lebih mudah dikuasai kawannya.
Setelah semua orang penderita kusta mundur dan mereka membantu pengeroyokan kawan-kawan mereka
terhadap Coa Leng Bu dan sebagian mengejar dan mencari Siauw Bwee yang melarikan diri, orang itu
berkata, “Ampunkan saya, Taihiap...”
“Hemm, manusia busuk! Karena engkau menuruti permintaanku, aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi
kau harus memberi tahu kepadaku di mana Ouw-pangcu ditahan!”
Diam-diam orang itu menjadi girang. “Ahhh, kalau begitu cepat, Taihiap. Engkau bisa terlambat. Mereka...
mereka tadi sedang menggiring Ouw-pangcu ke tempat pembakaran mayat, hendak membakarnya!”
“Apa?” Yu Goan terkejut sekali. “Dia... dia... sudah mati...?”
“Tidak, Taihiap. Belum, akan tetapi tentu akan mati kalau kau terlambat. Mereka hendak membakarnya
hidup-hidup!”
“Keparat! Di mana tempat itu?”
“Mari kutunjukkan padamu.”
“Awas kalau kau menjebakku, aku akan menyayat-nyayat tubuhmu menjadi lebih rusak dari pada orangorang
yang dimakan kusta itu!” Yu Goan mengancam.
“Aku tidak menipumu, Taihiap.”
Yu Goan mengikuti tawanan itu sambil memegang lengannya. Mereka menuju ke bagian belakang lembah
dan tiba di sebuah pintu di mana tampak anak tangga menurun ke bawah. Orang tawanan itu menuruni
dunia-kangouw.blogspot.com
anak tangga, terus diikuti oleh Yu Goan dari belakang. Ketika tiba di sebuah tikungan, dengan kaget Yu
Goan melihat pemandangan mengerikan di bawah anak tangga.
Belasan meter di bawah tempat itu berdiri Ouw-pangcu bersandar tiang, kedua tangannya dibelenggu
rantai baja yang panjang dan yang tergantung pada tiang itu. Kayu-kayu kering ditumpuk di sekitar
tubuhnya dan beberapa orang penderita kusta telah memegang obor, agaknya mereka sudah siap untuk
membakar kayu-kayu kering itu, membakar Ouw-pangcu hidup-hidup!
Cepat tangan Yu Goan bergerak dan tawanan itu berteriak, roboh dengan tulang pundak putus terbabat
pedang. Yu Goan tidak mau melanggar janjinya. Dia tidak membunuh orang itu, hanya merobohkannya
saja dengan mematahkan tulang pundaknya. Andai kata orang itu tidak menunjukkan tempat ini, dan andai
kata tadi dia tidak berjanji, tentu dia akan membunuh orang ini dan kawan-kawannya yang telah
mendatangkan kekacauan di tempat yang tenteram seperti di atas tebing dan di lembah ini.
“Lepaskan Ouw-pangcu!” dengan suara nyaring Yu Goan membentak sambil melangkah turun melalui
anak tangga.
Enam orang penderita kusta itu menengok dan menjadi kaget. Juga Ouw-pangcu menengok dan melihat
Yu Goan, dia berteriak, “Yu-sicu... pergilah tinggalkan tempat berbahaya ini. Jangan memikirkan diriku!”
“Tenanglah, Gihu. Aku dan Bwee-moi, juga Supek Coa Leng Bu telah turun ke lembah untuk menolongmu
dan menghajar pemberontak-pemberontak laknat ini!”
Mendengar bahwa suheng-nya dan kedua orang anak angkatnya datang dan mereka telah tahu akan
pemberontakan yang terjadi pula di lembah, wajah Ouw-pangcu menjadi girang sekali. Ia berteriak keras,
kakinya bergerak dan tumpukan kayu bakar di depannya itu terlempar ke kanan kiri. Tiga orang penderita
kusta yang memegang obor di tangan menyerang Ouw-pangcu yang masih terbelenggu.
Akan tetapi pada saat itu Yu Goan telah meloncat maju dan pedangnya berkelebat cepat membuat tiga
orang itu terpaksa meloncat mundur dan membatalkan niatnya menyerang Ouw-pangcu dengan api obor.
Yu Goan kembali memutar pedangnya, mendesak orang-orang mengerikan itu mundur, kemudian secepat
kilat pedangnya membacok rantai panjang yang membelenggu kedua tangan Ouw Teng.
Terdengar suara nyaring dan belenggu itu putus, rantai panjang itu kini tergantung di kedua tangan kakek
itu yang segera meloncat ke depan dan membantu anak angkatnya menghadapi pengeroyokan enam
orang penderita kusta, Kakek itu mengamuk dan memutar-mutar rantai yang tergantung di kedua
tangannya, sedangkan Yu Goan menggerakkan pedangnya menghadapi enam orang yang bersenjata
golok.
Biar pun enam orang penderita kusta itu memiliki gerakan yang luar biasa cepat dan ringannya, namun
mereka itu tidak dapat lagi mengerahkan sinkang terlalu kuat karena tulang-tulang mereka sudah rusak
dan rapuh. Maka amukan Ouw-pangcu dan Yu Goan membuat dua di antara mereka roboh, sedangkan
empat orang lain terdesak hebat.
“Gihu, kita harus cepat keluar dari sini membantu Supek dan Bwee-moi!”
“Baik, akan tetapi kita robohkan dulu empat orang pengkhianat ini. Mereka ini termasuk orang-orangnya
Sastrawan Ang yang berhasil mempengaruhi lembah dan mengobarkan pemberontakan,” kata Ouwpangcu.
Akan tetapi sebelum mereka berhasil merobohkan empat orang itu, dari atas muncul belasan orang lain,
terdiri dari penderita kusta, beberapa orang bekas anak buah Ouw-pangcu sendiri dan tiga orang Han.
Mereka itu datang dengan cepat lalu langsung mengeroyok Yu Goan dan Ouw Teng. Kakek ketua tebing
itu menjadi marah sekali melihat bekas anak buahnya. Sambil memaki-maki dia lalu mengarahkan dua
potong rantai itu ke arah bekas-bekas anak buahnya sehingga biar pun dia dikeroyok banyak lawan, dia
berhasil merobohkan dua orang bekas anak buah dan juga muridnya itu dengan sambaran dua potong
rantai baja, membikin pecah kepala mereka!
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun pengeroyokan itu benar-benar membuat Yu Goan dan Ouw-pangcu terdesak hebat. Kepandaian
orang-orang penderita kusta itu tinggi, gerakan mereka cepat, dan tiga orang Han itu pun lihai sekali ilmu
pedangnya. Mereka berdua dikeroyok di tempat yang sempit oleh belasan orang dan betapa pun mereka
mengamuk, dan berhasil merobohkan tiga orang lain, namun Yu Goan terkena tusukan pedang di paha
kirinya sedangkan Ouw-pangcu juga terluka oleh bacokan pedang yang dilawan dengan sinkang-nya,
namun tetap saja membuat kulit punggungnya terluka dan mengeluarkan darah.
“Gihu, kita keluar!” Yu Goan berteriak sambil merobohkan seorang pengeroyok lagi dengan sebuah
tendangan yang mengenai pusar.
“Tidak sudi lari sebelum membunuh iblis-iblis ini!” Ouw-pangcu menjawab dan mengamuk lebih hebat.
“Bukan melarikan diri, melainkan mencari tempat luas!”
“Hemm, baiklah!” Sambil berkata demikian, Ouw-pangcu mencontoh perbuatan anak angkatnya, membuka
jalan sambil memutar kedua rantai baja yang sudah berlepotan darah lawan, kemudian bersama Yu Goan
dia lari menaiki anak tangga itu, dikejar oleh sebelas orang lawan, sisa para pengeroyok tadi. Akan tetapi,
baru tiba di tengah-tengah, dari atas muncul pula banyak orang musuh! Kini mereka berada di tengahtengah,
dikepung dari atas dan bawah sehingga keadaan Ouw-pangcu dan Yu Goan menjadi repot!
Sementara itu, Siauw Bwee yang pergi lebih dulu mencari Ouw-pangcu, di mana-mana bertemu dengan
orang-orang penderita kusta yang mengeroyoknya. Diam-diam Siauw Bwee terkejut juga karena tidak
mengira bahwa hampir semua anggota lembah itu agaknya telah dikuasai oleh Ang-siucai dan kawankawannya.
Dia tidak tahu bahwa di antara mereka ada yang belum dapat dibujuk oleh Ang-siucai, akan
tetapi mereka yang masih setia kepada ketuanya juga mengeroyoknya karena kedatangannya sebagai
orang luar ternyata merupakan pelanggaran bagi para penghuni tempat itu, pelanggaran yang harus
dihukum dengan kematian.
Akhirnya Siauw Bwee yang selalu dapat menghindari para pengeroyok itu tiba di depan sebuah pondok
terbesar. Dia menduga bahwa tentu itu pondok ketua orang lembah. Ia pikir lebih baik menemui ketuanya
untuk bicara secara terbuka mengenai hal ini dan minta kepada Si Ketua untuk membebaskan Ouwpangcu
yang dia masih belum temukan ditawan di mana. Kalau ketua lembah menolak, dia akan
memaksanya! Ia pikir bahwa jika dia dapat menawan ketua lembah, tentu dia akan memaksanya
menghentikan perlawanan anak buahnya, memaksanya membebaskan Ouw-pangcu.
Akan tetapi, ketika tiba di depan pondok dia segera dikepung oleh belasan orang penderita kusta. Siauw
Bwee merasa ngeri sekali dan jijik bukan main menyaksikan keadaan para pengeroyoknya. Juga dia tidak
sampai hati kalau harus membunuh orang yang tidak karuan bentuk tubuhnya ini, maka dia hanya
mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dan hanya kalau terpaksa saja dia menggunakan
pedangnya mendesak mundur mereka. Dia takut kalau-kalau dia akan bersentuhan dengan mereka dan
takut kalau ketularan!
Karena rasa jijik, rasa kasihan dan keraguannya ini maka Siauw Bwee tidak dapat segera membebaskan
diri dari kepungan. Kiranya yang mengepungnya kali ini adalah pembantu-pembantu ketua yang memiliki
tingkat kepandaian lebih tinggi dari pada anggota biasa.
“Lihiap, tahan mereka!” tiba-tiba terdengar suara bentakan dan kiranya Coa Leng Bu sudah muncul di
tempat itu.
Kakek ini pun disambut serangan oleh empat orang penderita kusta. Seorang di antara mereka
menggerakkan sebatang cambuk panjang. Cambuk itu mengeluarkan suara meledak, bagaikan seekor ular
hitam yang panjang tahu-tahu telah melibat leher kakek itu.
“Kalian manusia-manusia gila!” Coa Leng Bu membentak, menangkap cambuk dan mengerahkan tenaga
membetot.
Orang yang memegang cambuk berteriak kaget, tubuhnya terbawa oleh sentakan itu dan terbanting ke
atas tanah. Begitu terbanting, tulang-tulangnya yang rapuh tak dapat bertahan, maka dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
mengeluarkan suara berkeretek mengerikan lengan kanannya putus, sambungan pundaknya terlepas dan
lengan itu terpisah dari tubuhnya, tangan kanannya masih mencengkeram gagang cambuk! Coa Leng Bu
menendang lengan itu dan kini cambuk itu berada di tangannya. Dia memutar cambuk, merobohkan tiga
pengeroyok lain lalu ia berlari memasuki pondok.
Siauw Bwee merasa ngeri dan jijik sekali menyaksikan peristiwa itu. Ia lalu meloncat tinggi melampaui
kepala para pengeroyoknya dan berlari cepat memasuki pondok mengejar Coa Leng Bu. Ketika dia dapat
menyusul kakek tukang obat itu, mereka menuruni anak-anak tangga di sebelah dalam pondok dan
tampaklah oleh mereka pemandangan yang amat aneh. Ketua orang lembah berbaring di atas dipan,
memegangi sebatang bambu berbentuk suling dengan tempat tembakau di ujungnya.
Kiranya kakek ketua lembah yang keadaannya mengerikan itu sedang menghisap madat! Bau yang tidak
enak menyambut hidung Siauw Bwee, membuat dara ini berbangkis, muak dan hendak muntah.
Ketua lembah itu sudah tua sekali, rambutnya jarang dan kepalanya botak, matanya cacat karena pelupuk
matanya habis dimakan kusta. Hidungnya tidak berdaging lagi, hanya tampak dua lubang hitam, bibirnya
pletat-pletot. Tubuhnya yang tidak berbaju, hanya bercelana hitam itu kelihatan kurus kering dan tangan
kirinya yang membantu lengan kanan memegangi pipa madat itu hanya tinggal dua buah jarinya!
Di dekat dipan berdiri seorang laki-laki yang bukan lain adalah Si Sastrawan Ang Hok Ci! Ang-siucai yang
menjadi biang keladi segala kekacauan di atas tebing dan di lembah itu. Ang Hok Ci memegang sebatang
golok dan dia membalik cepat ketika mendengar suara Siauw Bwee berbangkis tadi.
“Tarr...!” Cambuk di tangan Coa Leng Bu meledak dan cambuk itu meluncur ke depan, ujungnya membelit
tangan Ang-siucai yang berteriak kaget dan goloknya terlepas dari pegangan.
“Keparat she Ang, mampuslah!” Coa Leng Bu membentak.
“Sute, jangan kurang ajar!” Kakek yang mengisap madat itu berseru, mulutnya menyemburkan asap putih
ke arah muka Coa Leng Bu.
Jarak antara dia berbaring dan tempat Coa Leng Bu berdiri cukup jauh, ada lima meter, akan tetapi asap
itu bergulung-gulung cepat sekali menyambar muka Coa Leng Bu yang menjadi gelagapan dan terbatuk.
Saat itu dipergunakan oleh Ang-siucai untuk menyambar goloknya karena tangannya yang terbelit ujung
cambuk sudah terlepas ketika Coa Leng Bu diserang asap madat yang baunya memuakkan itu.
“Setan tua, kau melindungi pengacau?” Siauw Bwee marah sekali dan sudah akan meloncat maju
menghadapi ketua lembah yang amat lihai itu.
“Lihiap, jangan!” Coa Leng Bu berseru sehingga Siauw Bwee menahan gerakan kakinya.
“Dia... Suheng... telah terbujuk penjahat...” Ia lalu berpaling kepada suheng-nya yang masih rebah di atas
dipan. “Suheng, insyaflah. Dia ini bukan manusia baik-baik. Dia telah mengacau tebing, kini dia mengacau
lembah bahkan tentu dia yang membujukmu untuk mengisap racun itu!”
“Coa Leng Bu, pergilah sebelum kubunuh engkau!” Kakek itu berseru. “Jangan kurang ajar terhadap tamu
dan sahabat baikku. Hayo pergi!”
“Supek, kau hadapi manusia she Ang itu, biar aku yang menundukkan ketua lembah...,” bisik Siauw Bwee.
“Coa Leng Bu, tidak pergi juga engkau?” Kakek itu kini bangkit duduk dan tangannya memegang sebuah
bendera hitam kecil, bendera yang dahulu dilihat oleh Siauw Bwee dipegang penderita kusta untuk
menundukkan Ouw-pangcu.
Melihat bendera itu, tiba-tiba Coa Leng Bu menjatuhkan diri berlutut. “Teecu tidak berani membantah...!”
Tiba-tiba Ang-siucai yang melihat kakek tukang obat itu berlutut dan sama sekali lenyap sikapnya melawan,
menggerakkan goloknya membacok sambil melompat ke depan.
dunia-kangouw.blogspot.com
”Trangggg!” Pedang Siauw Bwee menangkis dan golok itu terpental, sedangkan tubuh siucai itu terhuyung.
“Tolong, Lie-pangcu... perempuan siluman itu lihai sekali!” Ang-siucai berseru minta bantuan ketua lembah.
Akan tetapi Siauw Bwee sudah menyambar lengan Coa Leng Bu dan dibawa lari keluar dari pondok itu.
“Supek, mengapa kau selemah itu melihat bendera itu?”
“Bendera itu adalah peninggalan Suhu. Siapa yang memegangnya mempunyai kekuasaan seperti Suhu
sendiri. Bagaimana aku berani melawan?”
“Hemm, kalau Twa-supek sudah terpengaruh racun dan bujukan manusia she Ang, sebaiknya kita lekas
menolong Gihu dan keluar dari neraka ini.”
“Usulmu baik sekali, Lihiap.” Biar pun menjawab demikian, namun sikap kakek tukang obat itu jelas
membayangkan kedukaan hebat.
Ketika mereka tiba di luar pondok, kembali mereka dikepung oleh para penderita kusta dan kawan-kawan
Ang-siucai. Mereka berdua melawan sambil melarikan diri untuk mencari Ouw-pangcu.
“Tentu dia ditahan dalam ruangan tahanan atau di tempat hukuman! Mari ikut aku!” Coa Leng Bu berkata
sambil melawan para pengeroyok yang selalu menghadang.
Mereka mencari-cari di seluruh perkampungan lembah itu tanpa hasil. Banyak sudah pengeroyok mereka
robohkan, namun diam-diam hati Siauw Bwee khawatir sekali karena selain tidak dapat menemukan Gihunya,
juga tidak kelihatan bayangan Yu Goan!
“Sute benar-benar kurang ajar. Aaahh, tidak kusangka dua orang sute-ku semua menentangku!” Ketua
lembah yang sudah kekenyangan menghisap madat itu duduk sambil memijit-mijit kedua pelipisnya,
tubuhnya bergoyang-goyang seperti orang mabok.
“Pangcu, orang-orang yang memberontak itu harus dihukum. Aku khawatir sekali kalau mereka berhasil
mengacau kemudian merampas kitab-kitab yang amat penting itu. Pangcu berjanji untuk memperlihatkan
kitab-kitab itu kepadaku. Bolehkah sekarang aku melihatnya?” Ang-siucai melangkah menuju ke sebuah
kamar yang daun pintunya tertutup.
“Nanti dulu, Sicu. Tidak boleh orang lain masuk ke kamar itu kecuali aku!” Ketua lembah sudah bangkit
berdiri dan berjalan terpincang-pincang ke kamar itu, diikuti oleh Ang-siucai yang sudah memegang
goloknya lagi.
“Selain kitab-kitab kuno simpananku yang tidak begitu penting bagiku, di sini kusimpan sebuah kitab yang
amat penting dan yang kuanggap sebagai benda pusaka. Kitab itu adalah peninggalan Suhu kepada
kami....”
“Kitab pelajaran Jit-goat-sinkang?” tanya Ang-siucai dan matanya berapi-api penuh gairah.
“Jit-goat-sinkang termasuk ilmu yang berada di dalam kitab itu. Masih ada ilmu-ilmu silat lain yang tidak
dapat diturunkan kepada siapa pun juga. Engkau amat baik kepadaku, Sicu. Maka aku tidak keberatan
kalau engkau melihat kitab itu, akan tetapi tidak boleh dibaca atau dibawa pergi. Karena engkau seorang
sastrawan, maka aku maklum bahwa engkau suka sekali melihat kitab-kitab kuno, mari masuk...”
Ketika memasuki kamar, ketua lembah itu terhuyung-huyung, kelihatannya lemas sekali. Diam-diam Angsiucai
menjadi girang karena dia tahu bahwa kakek ini telah mabok madat dan sebentar lagi, seperti
biasanya, tentu akan tidak kuat bertahan dan jatuh tertidur nyenyak!
“Yang manakah kitab peninggalan Locianpwe Bu-tek Lo-jin itu, Pangcu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu kini sudah lenggat-lenggut dan beberapa kali menguap, kemudian ia hanya dapat menuding ke
arah sebuah kitab yang dibungkus kain kuning, terletak di atas meja di sudut kamar, kemudian ia
merebahkan tubuhnya begitu saja di lantai terus tidur mendangkur!
Ang-siucai girang sekali. Cepat ia menghampiri meja di sudut itu, mengambil bungkusan kain kuning,
membukanya dan setelah mendapat kenyataan bahwa kitab itulah yang dimaksudkan Lie-pangcu, dia
cepat melangkah hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi ketika ia harus melangkahi tubuh Lie-pangcu
yang tidur mendangkur di atas lantai, dia berhenti dan melirik dengan sinar mata tajam.
Dia tahu bahwa kakek ini amat lihai, jauh lebih lihai dari pada Ouw-pangcu, maka kalau nanti terbangun
dan melihat lenyapnya kitab dan mengejarnya, berarti dia akan menambah seorang musuh yang amat
berat. Dia sedang tidur, mengapa tak kubunuh saja? Setelah berpikir demikian, secepat kilat Ang Hok Ci
melangkah mundur, memegang goloknya erat-erat lalu mengayun goloknya itu ke arah leher kakek yang
tidur pulas. Saking gugupnya, bacokannya meleset dan mengenai pundak Lie Soan Hu, ketua lembah.
“Crookk!” Pundak itu putus berikut lengan kanan Si Kakek yang pulas.
Akan tetapi mata Ang-siucai terbelalak dan mukanya menjadi pucat ketika ia melihat betapa luka di pundak
itu tidak mengeluarkan darah dan Si Kakek masih enak-enak tidur mendangkur! Hal ini tentu saja membuat
dia terkejut dan ketakutan, disangkanya kakek itu mempermainkannya, maka segera ia meloncat ke luar
kamar dan memasuki pintu rahasia di sebelah belakang pondok yang sudah dikenalnya, kemudian dia lari
dari tempat itu, tidak mempedulikan lagi Siauw Bwee dan kakek obat yang masih mengamuk di luar.
Pada saat itu keadaan Yu Goan dan Ouw-pangcu sudah payah. Tubuh mereka sudah penuh luka dan
mereka tahu bahwa dikeroyok dari atas dan bawah anak tangga, mereka tidak dapat melarikan diri lagi.
Biar pun banyak pula pengeroyok yang mereka robohkan, namun karena jumlah mereka amat banyak,
kedua orang yang sudah luka-luka ini mulai kehabisan tenaga.
“Jangan bunuh mereka, tangkap hidup-hidup!” Teriakan ini keluar dari mulut Ang-siucai yang sudah tiba di
tempat itu.
Dia tadi menyaksikan betapa Siauw Bwee dan Coa Leng Bu nengamuk dengan hebat, maka ia menjadi
khawatir sekali. Kalau tadinya dia dapat mengharapkan bantuan kakek ketua lembah yang lihai, kini tidak
mungkin lagi. Pula, benda yang dicarinya, yang membuat dia mengadakan pengacauan sampai berbulanbulan
di tebing dan lembah, kini telah tersimpan di balik jubahnya. Tugasnya telah selesai, kini tinggal
mencari jalan untuk keluar dengan selamat. Melihat Ouw-pangcu dan Yu Goan terkepung rapat, dia
melihat jalan ke luar itu, maka segera ia berseru agar menawan dua orang itu hidup-hidup.
Betapa pun juga, seruan ini menyelamatkan nyawa Ouw-pangcu dan Yu Goan. Para pengeroyok
menubruk dengan nekat dan akhirnya mereka ditangkap dan ditotok sehingga lumpuh. Ang Hok Ci lalu
mengumpulkan kawan-kawannya, yaitu orang-orang Han yang datang bersamanya. Dia datang ke daerah
itu seorang diri, tapi diam-diam kemudian disusul oleh dua puluh orang temannya. Akan tetapi sekarang
teman-temannya itu hanya tinggal lima orang saja. Selebihnya sudah tewas, sebagaian besar tewas di
tangan Siauw Bwee dan Coa Leng Bu.
Dengan cepat Ang-siucai mengempit tubuh Yu Goan dan seorang temannya membawa tubuh Ouw Teng,
kemudian mereka berenam meninggalkan tempat itu melarikan diri melalui terowongan yang menembus di
puncak tebing di daerah orang-orang liar anak buah Ouw-pangcu.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu masih mengamuk, tidak tahu bahwa Ouw Teng dan Yu Goan sudah
ditawan dan dibawa lari. Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring,
“Tahan semua senjata! Hentikan semua pertempuran!”
Mereka semua menoleh dan seketika pertandingan berhenti. Tak jauh dari mereka telah berdiri kakek Lie
Soan Hu, ketua lembah yang buntung pundak kanannya. Dengan tangan kiri mengangkat bendera hitam
tinggi-tinggi, kakek itu ternyata tidak kehilangan suaranya seperti para penderita lain, ia berkata, “Ang Hok
Ci manusia jahat... kitab peninggalan Suhu dirampas dan dilarikan...! Sute... lekas kejar...!” Setelah berkata
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian, kakek itu roboh pingsan. Biar pun luka di pundaknya tidak mengeluarkan darah, akan tetapi tentu
saja dia menderita hebat sekali.
Pucat wajah Si Tukang Obat mendengar itu. Dia tahu kitab apa yang dimaksudkan, maka cepat dia
berteriak, “Hai, kalian orang-orang yang telah berdosa! Baru sekarang kalian tahu bahwa kalian telah ditipu
oleh manusia she Ang itu! Siapa di antara kalian yang mengetahui di mana adanya bangsat itu?”
Beberapa orang penderita kusta menjawab sehingga terdengar suara gaduh tidak karuan yang tak
dimengerti oleh Siauw Bwee. Akan tetapi dara ini melihat wajah Si Tukang Obat menjadi terkejut, alisnya
berkerut dan wajahnya membayangkan kekhawatiran hebat.
“Lekas kejar, Lihiap.”
“Apa sih artinya keterangan mereka?”
“Si keparat itu telah merampas kitab peninggalan Suhu, telah menawan Ouw-sute dan Yu-sicu dan mereka
melarikan diri melalui terowongan yang menembus ke atas tebing.”
“Celaka! Mari kita kejar!” Siauw Bwee berseru dan dia cepat meloncat mengikuti Coa Leng Bu yang sudah
lari menuju ke terowongan rahasia yang merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan daerah
lembah terpencil ini ke dunia luar melalui puncak tebing tempat tinggal Ouw-pangcu dan anak buahnya.....
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu terus melakukan pengejaran. Biar pun mereka berdua sudah tertinggal jauh,
namun mereka dapat mengikuti jejak enam orang yang melarikan diri dan menawan Yu Goan dan Ouw
Teng itu. Jejak mereka menuju ke kota Sian-yang. Ketika mereka tiba di luar tembok kota Sian-yang,
mereka melihat Yu Goan duduk termenung menghadapi sebuah kuburan baru!
“Yu-twako...!”
Yu Goan melompat bangun dan memandang Siauw Bwee dan Coa Leng Bu dengan girang. Akan tetapi
segera wajahnya menjadi muram ketika ia berkata, “Bwee-moi, Gihu telah meninggal dunia dan inilah
kuburannya,” ia menunjuk ke arah kuburan baru.
“Keparat! Mereka membunuhnya?” Siauw Bwee berteriak marah.
Yu Goan menggeleng kepala. “Tidak, Bwee-moi, Gihu tewas karena luka-lukanya, terutama sekali karena
penyakitnya yang lama kambuh kembali.”
“Di mana penjahat itu? Bagaimana engkau dapat lolos, Twako?”
“Bwee-moi, Supek, mereka itu ternyata bukanlah penjahat-penjahat, melainkan utusan-utusan rahasia dari
pemerintah. Mereka membebaskan aku di sini untuk mengurus jenazah Gihu. Tadinya mereka menawan
kami berdua hanya untuk menggunakan kami sebagai perisai ketika mereka keluar dari lembah. Mereka
adalah orang-orang pemerintah dan aku sendiri telah melihat surat kuasa dan surat perintah mereka.
Bahkan Ang Hok Ci itu adalah murid dari Bu Kok Tai, koksu negara yang sengaja mengutusnya ke lembah
untuk mengambil kitab peninggalan Bu-tek Lo-jin.”
“Siapa pun dia, jelas dia adalah seorang penipu, pencuri, pembunuh dan pengacau terkutuk!” kata Coa
Leng Bu.
“Yu-twako, di mana mereka?”
“Mereka memasuki kota Sian-yang untuk menghadap Bu-koksu yang kebetulan berada di kota itu. Aku
ditinggalkan di sini untuk mengurus jenazah Gihu. Bwee-moi, setelah kita ketahui bahwa mereka itu adalah
utusan-utusan pemerintah, perlukah kita melibatkan diri?”
“Yu-twako! Aku tidak peduli mereka itu utusan pemerintah atau utusan raja sorga mau pun raja neraka!
Yang jelas, mereka adalah pengacau-pengacau busuk yang telah menimbulkan mala-petaka di atas tebing
dunia-kangouw.blogspot.com
dan di lembah, dan mereka telah menyebabkan kematian Gihu, bahkan telah mencuri kitab peninggalan
Bu-tek Lo-jin! Perbuatan mereka itu cukup bagiku untuk memusuhi mereka, tidak peduli mereka itu orang
macam apa! Bagaimana dengan pendapatmu, Twako?”
Yu Goan mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang. “Bwee-moi, maafkan aku. Ayah bundaku dan
kakekku telah memesan dengan sungguh-sungguh sebelum aku pergi merantau agar aku tidak melakukan
perbuatan yang melawan dan menentang pemerintah, bahkan menganjurkan agar aku membantu
pemerintah, menjadi pahlawan dan patriot demi kepentingan tanah air dan bangsa. Karena itu, mana
mungkin aku menentang mereka yang ternyata tidak membunuhku, malah membebaskan aku dan
memberi surat perkenalan kepada komandan pasukan di Sian-yang? Bwee-moi, harap engkau sadar
bahwa mereka itu pun hanya petugas-petugas belaka, dan kalau kita memusuhi mereka sama artinya
dengan memusuhi pemerintah. Mungkinkan kita memusuhi pemerintah yang berarti memusuhi bangsa
sendiri?”
Siauw Bwee tersenyum pahit. “Twako, banyak orang yang tidak tahu bahwa pemerintah tidaklah sama
dengan bangsa! Jalannya pemerintahan berada di tangan raja dan semua pembantunya, dan justeru
pembantu-pembantunya yang menjadi pelaksana banyak sekali yang tidak benar dan jahat! Demikian jahat
dan liciknya mereka ini sehingga orang-orang yang benar-benar berjiwa pahlawan dapat dianggap
pengkhianat, sedangkan pengkhianat-pengkhianat dan penjahat-penjahat macam orang she Ang itu bisa
saja dianggap pahlawan!”
“Aku akan mengejar ke Sian-yang, harus mendapatkan kembali kitab pusaka dan membunuh orang she
Ang. Apakah Ji-wi mau ikut?” Coa Leng Bu yang merasa tidak sabar mendengar perdebatan itu berkata
dan meloncat ke depan meninggalkan mereka.
“Aku ikut, Supek! Twako, apakah engkau mau pergi juga?”
Yu Goan menggeleng kepala. “Maaf, Bwee-moi, aku tidak boleh melanggar pesan orang tuaku.”
“Sayang sekali, Twako. Nah, selamat berpisah!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Siauw Bwee
telah lenyap dari situ, pergi menyusul Coa Leng Bu yang sudah lari menuju ke pintu gerbang kota Sianyang.
Yu Goan duduk termenung dan berkali-kali menarik napas panjang. Ia merasa seolah-olah semangatnya
terbawa terbang melayang bersama Siauw Bwee. Akan tetapi dia mengerahkan kekuatan batinnya dan
akhirnya dia dapat melihat bahwa memang sebaiknyalah demikian. Dengan perbedaan paham ini, yaitu
tentang pengabdian terhadap pemerintah maka tercipta jarak antara mereka yang akan meringankan
penderitaan hatinya akibat cinta gagal.
Seperginya Siauw Bwee, dia merasa hatinya kosong dan seperti dalam mimpi, Yu Goan mengeluarkan
sebuah sampul surat yang ia terima dari Ang-siucai. Surat perkenalan untuk komandan pasukan pengawal
kota Sian-yang, di mana dia akan bekerja dan mendapat kesempatan membuktikan dirinya untuk
pemerintah seperti yang dianjurkan oleh orang tuanya. Dengan adanya pekerjaan itu, dia akan lebih sibuk
setiap harinya sehingga akan terhibur dari luka hati karena berpisah dari Siauw Bwee.
Setelah hari hampir gelap, barulah pemuda yang patah hati ini bangkit meninggalkan kuburan mendiang
Ouw-pangcu dan melangkah perlahan-lahan menuju ke tembok kota Sian-yang yang sudah tampak dari
situ.
Kota Sian-yang adalah kota yang besar dan ramai, bukan saja merupakan kota dagang, akan tetapi juga
menjadi kota pertahanan yang dikelilingi sebuah benteng yang amat kuat. Dalam keadaan negara kalut
seperti pada waktu itu, musuh mengancam dari pelbagai jurusan, setiap kota besar menjadi benteng
pasukan yang kuat dan Sian-yang tidak terkecuali. Bahkan Sian-yang dijadikan kota benteng yang menjadi
pusat dari daerah di sekitarnya, menjadi sebuah di antara benteng pertahanan jalan yang menuju ke kota
raja.
Penduduk kota Sian-yang yang padat itu setiap hari masih melakukan pekerjaan seperti biasa, pasar-pasar
tetap ramai, tontonan-tontonan masih terus mengadakan pertunjukan, restoran-restoran dan penginapandunia-
kangouw.blogspot.com
penginapan selalu penuh. Pendeknya, seperti biasa, rakyat tidak mau memusingkan pikiran mengenai
perang dan pertempuran. Kalau mereka itu tanpa dikehendaki terlanda perang, rakyat mawut seperti
rombongan semut diusir, namun begitu mereka dapat menetap di suatu tempat dan perang telah lewat
melalui atas kepala mereka yang terinjak-injak, rakyat kembali membiasakan diri dan hidup seperti biasa,
tenang dan tenteram.
Di kota ini banyak terdapat tentara pemerintah yang berkumpul di dalam markas dekat tembok benteng
yang mengelilingi kota. Setiap hari tampak perwira-perwira pasukan berkeliaran di kota, namun rakyat yang
sudah biasa dengan pemandangan ini menganggap biasa saja dan bekerja terus. Karena ini, penghuni
kota itu pun tidak merasa heran ketika dalam beberapa hari ini datang kereta-kereta yang terisi pembesarpembesar
militer dan sipil memasuki kota Sian-yang. Bahkan dikabarkan orang bahwa Koksu sendiri
berkenan datang ke Sianyang untuk memeriksa keadaan dan memperkuat pertahanan, di samping
beberapa orang jenderal yang memegang kedudukan penting.
Biar pun kedatangan orang-orang besar itu tidak mengejutkan penduduk kota, namun seperti biasa, orangorang
suka melebih-lebihkan cerita mengenai jagoan-jagoan yang turut datang ke kota. Maka ramailah
orang membicarakan kehebatan Koksu Negara yang dikabarkan memiliki ilmu kepandaian seperti dewa
berkepala tiga berlengan enam! Masih ada lagi beberapa orang jagoan negara yang kabarnya juga
berkumpul di kota itu, yang memiliki ilmu kepandaian tidak lumrah manusia.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu memasuki kota dan lenyap dalam arus manusia di dalam kota. Mereka
menyewa kamar di sebuah rumah penginapan dan ketika pada sore hari itu mereka makan di restoran,
mereka mendengar percakapan antara pelayan restoran dan beberapa orang tamu.
Dari percakapan inilah Siauw Bwee dan supek-nya mendengar bahwa Koksu telah tiba di kota itu
membawa jago-jagonya yang berkepandaian tinggi, di antaranya yang dipuji-puji oleh pelayan itu adalah
sepasang setan dampit yang kabarnya belum pernah terkalahkan oleh siapa pun juga! Dan mereka
mendengar bahwa pada malam hari itu di dalam gedung kepala daerah akan diadakan pesta menyambut
kedatangan Koksu dan para pembantunya.
Setelah selesai makan dan kembali ke kamar masing-masing, Siauw Bwee berkata kepada Coa Leng Bu,
“Supek, amat sukarlah untuk mencari orang macam Ang Hok Ci itu di dalam kota sebesar ini di antara
puluhan ribu orang lain. Akan tetapi, mengingat bahwa dia adalah murid Koksu seperti yang diceritakan
oleh Yu-twako, maka setelah Koksu sendiri kini datang, tentu mereka akan menghadap Koksu dan si
manusia she Ang tentu akan menyerahkan kitab itu kepada gurunya, karena itu, kurasa sebaiknya kalau
kita pergi menyelidiki ke gedung pertemuan itu. Kalau benar manusia she Ang itu berada di sana, aku akan
menyergapnya!”
Coa Leng Bu mengerutkan alisnya. “Lihiap, ilmu kepandaianmu amat tinggi dan aku percaya bahwa
engkau akan kuat melawan siapa pun juga. Akan tetapi, aku telah mendengar akan kelihaian Bu-koksu dan
para pembantunya. Selain berkedudukan tinggi, mereka adalah orang-orang yang menguasai laksaan
tentara dan juga memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Karena itu kita harus hati-hati sekali dan
kuharap engkau suka menahan sabar, tidak melakukan tindakan sembrono. Kita mengintai dan mengikuti
gerak-gerik Ang-siucai itu saja tanpa melibatkan diri dalam pertentangan melawan para pembesar
pemerintah. Karena hal itu hanya akan mencelakakan diri saja.”
“Baiklah, Supek. Memang tujuan kita ini hanya merampas kembali kitab dan membunuh manusia she Ang
itu, bukan?”
Malam harinya, dengan pakaian ringkas dan membawa pedang yang digantung di punggung, Siauw Bwee
bersama Coa Leng Bu keluar dari rumah penginapan untuk pergi menyelidiki ke gedung kepala daerah
yang menjadi tempat pertemuan para pembesar pada malam hari itu. Seperti biasa, Coa Leng Bu yang
berjiwa sederhana itu hanya mengenakan pakaian yang amat bersahaja, bahkan kedua kakinya tetap
telanjang tak bersepatu!
Dengan gerakan ringan dan lincah bagaikan dua ekor burung, mereka setelah tiba di dekat gedung itu
meloncat ke atas genteng dan berindap-indap mendekati ruangan pertemuan yang terang benderang dan
sekelilingnya terjaga oleh pasukan itu. Untung bahwa malam itu gelap sehingga Siauw Bwee dan Coa
dunia-kangouw.blogspot.com
Leng Bu dapat bergerak tanpa ada yang melihat mereka. Mereka merayap di atas genteng dengan hatihati
tanpa meninggalkan suara dan akhirnya tiba di atas ruangan itu, menggeser genteng dan mengintai ke
bawah.
Siauw Bwee menyentuh lengan supek-nya di dalam gelap ketika ia melihat bahwa orang yang mereka caricari,
Si Sastrawan she Ang yang telah berhasil menimbulkan pemberontakan dan kekacauan di atas tebing
dan lembah, kemudian berhasil merampas kitab pusaka peninggalan Bu-tek Lo-jin, ternyata berada di
dalam ruangan itu, duduk berhadapan dengan seorang tinggi besar yang berpakaian panglima tinggi dan
beberapa orang jenderal lain.
Di ruangan itu terdapat belasan orang panglima dan pembesar setempat yang agaknya sedang
merundingkan siasat-siasat pertahanan dan perang menghadapi musuh yang banyak. Di samping itu
mereka pun saling beramah tamah dan menyambut kedatangan Koksu dengan pesta yang meriah.
Agak janggal memang kehadiran Ang-siucai di meja pembesar tinggi itu. Akan tetapi Siauw Bwee
mengangguk maklum ketika supek-nya berbisik, “Di depannya itulah Bu-koksu... Ah, kiranya sastrawan licik
itu telah bertemu dengan gurunya dan tentu kitab itu telah diserahkan kepada koksu itu!”
Menurut kata hatinya, ingin Siauw Bwee segera meloncat turun membekuk siucai itu dan memaksanya
menyerahkan kembali kitab yang dicurinya. Akan tetapi dia bukanlah seorang yang begitu bodoh dan
lancang karena tanpa peringatan Coa Leng Bu yang pada saat itu menyentuh lengannya sekali pun, dia
tidak akan sembrono melakukan hal itu.
Siauw Bwee cukup maklum bahwa orang-orang di bawah itu tidak boleh dipandang ringan, apa lagi mereka
yang duduk di ujung ruangan, yang tak salah lagi tentulah rombongan jago-jago dari Koksu. Yang amat
menarik hatinya adalah sepasang laki-laki dampit yang duduk bersanding. Sepasang manusia dampit ini
benar-benar menyeramkan, dan mereka kelihatan saling membenci, saling bersungut dan pandang mata
yang saling mereka tujukan satu kepada yang lain memandang nafsu membunuh!
Kalau apa yang ia dengar di restoran itu benar bahwa sepasang manusia dampit ini belum pernah
terkalahkan, tentulah mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Karena inilah maka Siauw
Bwee merasa gatal-gatal tangannya untuk mencoba sampai di mana gerangan kehebatan sepasang orang
dampit yang tentu gerakan mereka akan canggung dan saling merintangi itu.
Manusia-manusia dampit itu tidak memakai pakaian militer, juga dua orang kakek yang duduk bersama
mereka. Akan tetapi dua orang laki-laki tinggi besar dan kelihatan seperti raksasa yang duduk dalam
rombongan ini mengenakan pakaian perang dari baja, membuat gerakan mereka tampak kaku dan berat.
Tiba-tiba Koksu yang tadinya bercakap-cakap dengan Ang-siucai dengan wajah membayangkan kepuasan
hati menoleh ke kanan dan berkata, “Hemm, kau baru muncul? Benar-benar manusia malas!”
Siauw Bwee menoleh ke arah pembesar itu memandang, dan hampir saja ia mengeluarkan jerit kalau tidak
cepat-cepat tangan kirinya menutup mulutnya sendiri. Ia membelalakkan mata, napasnya terengah dan
setelah menggosok-gosok kedua mata dan berkejap-kejap beberapa kali, barulah ia merasa yakin bahwa
orang yang yang tahu-tahu telah duduk di jendela dengan sikap sembarangan, lengan kiri menopang dagu
dengan siku ditunjang paha kiri, kaki kanan menginjak lemari, duduk melamun seenaknya di lubang jendela,
orang yang baru saja datang dan ditegur oleh Koksu, bukan lain adalah Kam Han Ki, suheng-nya yang
amat dirindukannya selama ini!
Sejenak Siauw Bwee hampir tidak percaya akan pandang matanya dan menduga bahwa tentu ada orang
lain yang mirip suheng-nya, yaitu seorang di antara pengawal dan jagoan Koksu. Akan tetapi ia melihat
sesuatu yang tidak wajar. Sikap orang ini benar-benar luar biasa. Kalau menjadi pengawal Koksu,
mengapa sikapnya begitu kurang ajar? Dan bukan hanya Koksu, bahkan semua orang yang menyaksikan
sikapnya duduk di jendela seperti itu, seenaknya seolah-olah di situ tidak ada manusia lainnya, agaknya
tidak mempedulikan orang ini! Ketidak-wajaran yang cocok dengan ketidak-wajaran kalau Kam Han Ki
sekarang membantu Koksu Negara!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam Han Ki suheng-nya itu adalah seorang pelarian, seorang buruan, mana mungkin sekarang menjadi
pengawal Koksu dan pembantu pemerintah yang telah membunuh kakaknya, Menteri Kam Liong, dan yang
telah mengejar-ngejarnya dahulu? Tidak salah lagi, orang itu tentulah Kam Han Ki. Sikapnya yang luar
biasa itu menunjukkan bahwa biar pun orangnya Kam Han Ki, akan tetapi pikirannya bukan! Agaknya telah
terjadi sesuatu yang menimpa diri suheng-nya itu sehingga kehilangan ingatannya!
“Kam-taihiap! Duduklah di sini!” Bu-koksu berkata dengan suara halus mempersilakan.
Akan tetapi pemuda tampan yang duduk di jendela itu, acuh tak acuh menjawab, “Bu-loheng, engkau dan
teman-temanmu enak saja duduk di sini sedangkan di sana itu terdapat dua orang mengintai kalian!”
Mendengar ini semua orang terkejut, akan tetapi Siauw Bwee dan Coa Leng Bu lebih kaget lagi.
“Lari...!” kata Coa Leng Bu yang merasa kaget bahwa pemuda aneh itu tahu akan kehadiran mereka.
Akan tetapi ia menjadi lebih kaget lagi ketika Siauw Bwee bukan hanya tidak menuruti kata-katanya,
bahkan dara perkasa itu kini meloncat ke depan, tepat di atas ruangan itu sambil berseru, “Suheng...!”
Siauw Bwee menjadi gelisah sekali. Jelas bahwa orang itu adalah Kam Han Ki, dan Si Koksu menyebutnya
juga Kam-taihiap. Dia tidak heran kalau suheng-nya yang lihai sekali itu dapat mengetahui kehadirannya
bersama Coa Leng Bu, akan tetapi mengapa suheng-nya tidak mengenalnya?
Pemuda itu masih bertopang dagu, hanya miringkan mukanya dan mengomel, “Siapa menyebutku
suheng?”
“Suheng! Ini aku, Khu Siauw Bwee...!” Siauw Bwee berseru lagi dan semua orang yang berada di ruangan
itu terkejut sekali mendengar bahwa wanita yang suaranya terdengar di atas itu adalah adik seperguruan
pemuda aneh yang mereka semua mengenalnya sebagai pengawal nomor satu dari Koksu!
“Tangkap pengacau itu!” Tiba-tiba Bu-koksu berseru sambil menoleh kepada para pengawalnya yang
duduk di sudut ruangan.
Seorang di antara dua pengawal tinggi besar seperti raksasa yang memakai pakaian perang meloncat
bangun sambil mencabut goloknya, sebatang golok besar yang tajam mengkilap dan kelihatan berat sekali.
Siauw Bwee yang menjadi makin gelisah melihat suheng-nya masih duduk enak-enak dan sama sekali
tidak memperhatikannya itu tak dapat menahan lagi hatinya. Dia meloncat turun dan berjungkir-balik,
tubuhnya meluncur masuk ke ruangan itu melalui pintu belakang. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai,
pengawal raksasa itu sudah menerjang maju dan goloknya menyambar ke arah pinggang Siauw Bwee.
Dara perkasa ini menjadi marah sekali dan dia tidak ingat lagi akan bahaya. Dia merasa gelisah penasaran
dan marah menyaksikan keadaan suheng-nya, marah melihat Ang-siucai, dan kemarahannya memuncak
ketika tiba-tiba saja ia disambut serangan. Bagaikan seekor burung terbang tubuhnya mencelat ke atas
sedemikian cepatnya sehingga sambaran golok itu kalah cepat dan golok menyambar di sebelah bawah
kakinya. Karena Siauw Bwee mempergunakan gerakan kilat, maka tubuhnya seolah-olah lenyap, demikian
cepat gerakannya sehingga ketika pengawal raksasa itu luput menyerang dan cepat hendak membalikkan
goloknya, tiba-tiba kaki Siauw Bwee yang berada di udara itu bergerak ke depan.
“Crot!”
Pengawal raksasa itu mengaduh dan terhuyung ke belakang, tangan kirinya mengusap darah yang
muncrat ke luar dari hidungnya yang pecah dicium telapak sepatu Siauw Bwee. Dia menjadi marah sekali,
lalu menerjang seperti seekor badak terluka, membabi-buta, goloknya yang besar dan berat itu lenyap
menjadi segulung sinar yang menyilaukan mata.
Biar pun hatinya marah sekali bercampur gelisah, Siauw Bwee masih ingat bahwa dia berada di goa
macan, bahkan keadaannya berbahaya sekali kalau sampai dia melakukan pembunuhan. Maka mengingat
bahwa seorang koksu yang suka menggunakan tenaga orang pandai tentu akan menghargai ilmu silat
dunia-kangouw.blogspot.com
tinggi, dia mengambil keputusan untuk mengalahkan para jagoan koksu itu, kemudian atas nama
kegagahan yang dihargai oleh dunia kang-ouw, minta kembali kitab Bu-tek Lo-jin secara baik dan
selanjutnya berurusan dengan suheng-nya dan kalau mungkin, membunuh Ang-siucai.
Keputusan hati ini membuat dia tidak mau mencabut pedangnya, melainkan melawan pengawal raksasa itu
dengan kecepatan gerakan tubuhnya. Betapa pun cepatnya sambaran sinar golok yang bergulung-gulung,
gerakan tubuh dan kaki tangan Siauw Bwee lebih cepat lagi. Sambaran-sambaran golok itu seperti
menyambar asap saja, jangankan mengenai tubuh Siauw Bwee, mencium ujung baju pun tidak pernah!
Siauw Bwee seperti menari-nari di atas lantai, berputaran dan selalu sambaran golok mengenai tempat
kosong. Indah dan aneh sekali gerakan kakinya karena memang dia mempergunakan ilmu gerak kaki kilat
yang dimilikinya berkat ajaran Kakek Lu Gan. Dalam menghadapi serangan-serangan golok ini, Siauw
Bwee masih sempat mengerling ke arah suheng-nya yang masih duduk di jendela, dan betapa gelisah dan
mendongkol hatinya melihat suheng-nya itu masih bertopang dagu dan menundukkan muka, sama sekali
tidak tertarik dan tidak menonton seolah-olah tidak terjadi sesuatu di depan hidungnya!
Pertandingan itu membuat mereka yang hadir di ruangan itu melongo. Pengawal raksasa itu adalah
seorang yang terkenal amat kuat dan amat lihai ilmu goloknya, namun dalam segebrakan saja hidungnya
telah pecah oleh tendangan Si Dara Perkasa, bahkan kini serangannya yang bertubi-tubi itu dihadapi dara
itu seenaknya saja, selalu mengelak tanpa membalas namun belum pernah golok itu menyerempet
sasarannya.
Bu-koksu tentu saja dapat mengenal orang pandai. Ia memandang dengan mata berkilat dan wajah berseri.
Dia merasa beruntung sekali bisa mendapatkan seorang pembantu seperti Kam Han Ki. Kalau kini gadis
jelita yang mengaku adik seperguruan Kam Han Ki itu suka menjadi pembantunya, ahhh, betapa akan
senang hatinya, betapa akan aman dirinya dikawal oleh kakak beradik selihai itu.
Diam-diam ia memberi tanda dan pengawal raksasa kedua yang juga berpakaian perang itu meloncat maju
sambil menyeret tombaknya, tombak gagang panjang yang beratnya tidak kurang dari seratus lima puluh
kati! Begitu sampai di tempat pertempuran, pengawal ini sudah menggerakkan tombak panjangnya dengan
lagak seperti Kwan Kong (tokoh sakti dalam cerita Samkok), membantu kawannya menusuk ke arah pusar
Siauw Bwee.
Dara itu tadi memang sengaja mempertontonkan kelincahannya, bukan hanya untuk menarik hati koksu
agar dapat menghargai kepandaiannya, akan tetapi juga untuk menarik perhatian suheng-nya yang
ternyata disambut dengan sikap tak acuh itu. Dia menjadi marah, apa lagi kini melihat pengawal kedua
sudah maju. Dengan suara melengking panjang dia sudah mencelat tinggi dan tahu-tahu telah berada di
belakang pengawal kedua ini.
Pengawal itu cepat menyodokkan gagang tombaknya ke belakang, menggunakan pendengarannya untuk
mengikuti gerakan lawan tadi karena matanya kalah cepat. Akan tetapi kembali Siauw Bwee sudah
mencelat ke kiri dan melihat golok menyambar, secepat kilat tangannya mengejar punggung golok lawan
dan mendorong punggung golok itu sehingga senjata ini menyeleweng ke arah pengawal kedua yang
memegang tombak panjang.
“Tranggg! Heiii, lihat golokmu, jangan ngawur!” Si Pengawal Bertombak mencela kawannya dan dia
menggerakkan tombaknya menyerang Siauw Bwee setelah tadi menangkis golok kawannya.
Kini Siauw Bwee tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi dengan main kelit dan mempertontonkan
kelincahannya. Tusukan tombak yang menuju ke ulu hati itu diterimanya begitu saja dan hanya setelah
ujung tombak tinggal sejengkal dari dadanya ia mendoyongkan tubuh ke kiri sehingga tombak itu
menembus melalui celah-celah di antara dada dan lengan kanannya. Ia menurunkan lengan menjepit leher
tombak, memegang gagang tombak dengan tangan kanan dan menarik sambil mengerahkan sinkang.
Pengawal itu terkejut sekali, khawatir kalau tombaknya terampas. Maka dengan kedua tangannya ia
membetot gagang tombaknya. Tenaganya memang besar sekali, tenaga gwakang (luar) yang
mengandalkan kekuatan otot.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hekkk!” Tiba-tiba tubuhnya terjengkang karena Siauw Bwee mempergunakan kesempatan selagi lawan
membetot tombak, dia membarengi mendorong dan gagang tombak yang tidak runcing itu tepat menotok
dada pemiliknya sehingga seketika napasnya sesak dan perutnya mulas, terjengkang ke belakang dan
bergulingan mengaduh-aduh.
Tanpa membalikkan tubuhnya, Siauw Bwee menggunakan tombak rampasan itu menangkis golok yang
menerjangnya dari belakang.
“Trangggg!” Bunga api muncrat menyilaukan mata disusul jatuhnya golok yang terlepas dari tangan
pengawal itu yang kini tubuhnya menggigil kedinginan.
Ternyata Siauw Bwee ingin menyudahi pertandingan dengan cepat, maka ketika menangkis tadi ia
membarengi dengan dorongan tenaga Im-kang yang ia latih di Pulau Es, tidak terlalu kuat karena dia tidak
ingin membunuh lawan, namun cukup membuat lawan itu menggigil kedinginan dan lumpuh kaki
tangannya sehingga goloknya terlepas dan orangnya pun terguling roboh!
Setelah melempar tombak itu ke atas lantai, Siauw Bwee memutar tubuh menghadapi Bu-koksu lalu
berkata nyaring, “Koksu, aku mau bicara tentang suheng-ku Kam Han Ki!” Setelah berjumpa dengan Han
Ki, lain urusan tidak ada artinya lagi bagi Siauw Bwee sehingga ia sudah lupa akan maksud
kedatangannya semula.
“Tidak! Kami datang pertama-tama untuk bicara tentang manusia she Ang yang curang!” Tiba-tiba Coa
Leng Bu berteriak dan tubuhnya melayang turun di samping Siauw Bwee.
“Dia itulah Coa Leng Bu, sute ketua lembah, Suhu,” bisik Ang Hok Ci kepada Koksu yang menjadi gurunya.
“Biar pun tidak sesakti gadis ini, akan tetapi dia pun amat lihai!”
Koksu memberi isyarat dengan gerak kepala dan pandang mata kepada dua orang jagonya yang lain
setelah melihat dua orang jagonya yang pertama keok dan kini dengan muka merah kembali ke kursi
masing-masing. Dua orang jagonya yang lebih tinggi tingkatnya itu adalah dua orang pendeta yang aneh.
Yang seorang berpakaian jubah pendeta dengan rambut dipelihara panjang riap-riapan, jubahnya
berwarna hitam dan sikapnya angkuh sekali, seolah-olah dia memandang semua orang dan keadaan di
sekitarnya itu kecil tiada arti. Usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih namun gerakannya ketika ia
bangkit dari kursinya membayangkan kegesitan melebihi seorang muda. Ada pun orang kedua berjubah
kuning seperti seorang tosu, mukanya kelihatan sabar dan sikapnya tenang, namun sinar matanya
membayangkan kecerdikan, usianya sudah mendekati lima puluh tahun.
“Khu-lihiap, minggirlah. Mana ada aturan orang-orang gagah mengeroyok seorang wanita muda? Biarlah
aku yang menghadapi orang-orang berjubah pendeta ini, tua sama tua!” Coa Leng Bu berseru dan
melangkah maju.
“Satu lawan satu!” terdengar Bu-koksu berteriak dan agaknya orang berpangkat tinggi itu mulai gembira
sekali akan menyaksikan jago-jagonya bertanding.
Mendengar perintah ini, tosu baju kuning berkata kepada kawannya, “Biarlah pinto menghadapi petani
kotor itu!” Kawannya yang berambut panjang tertawa mengejek dan melangkah mundur, berdiri di
pinggiran seperti halnya Siauw Bwee yang menuruti permintaan supek-nya.
Kini dua orang itu saling berhadapan tidak segera saling serang karena mereka saling pandang dengan
sinar mata tajam, seolah-olah hendak mengukur tingkat lawan dengan pandang mata, dan hendak saling
mengenal siapa yang menjadi lawannya.
“Majulah, petani busuk!” Tosu itu membentak dan sudah siap dengan pasangan kuda-kuda kakinya.
Karena dia melihat lawannya yang berpakaian sederhana itu bertangan kosong, maka tosu ini pun tidak
mau mengeluarkan senjatanya, namun diam-diam ia membuka gulungan ujung lengan bajunya sehingga
menjadi longgar dan panjang karena kedua ujung lengan bajunya itu baginya merupakan senjata yang
cukup ampuh.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Taijin, kami datang bukan untuk bertanding, akan tetapi kalau Taijin memaksa dan menghendaki kami
memperlihatkan kepandaian, apa boleh buat!” kata Coa Leng Bu dengan suara tenang.
“Tak perlu mencari muka, sambut tanganku!” Tosu itu membentak dan tubuhnya sudah menerjang maju,
kepalan tangan kirinya menampar muka lawan, disusul dengan tusukan jari tangan kiri ke arah perut.
“Plak-plakk!” Coa Leng Bu menangkis dengan gerakan tangkas dan kuat sehingga kedua tangan lawan itu
terpental, kemudian ia melangkahkan kaki telanjang ke depan, langsung menggunakan tangan kirinya yang
menangkis tadi untuk balas memukul dada lawan dengan telapak tangan terbuka.
Tosu itu tadi sudah terkejut sekali karena mendapat kenyataan betapa tangkisan lawan yang dipandang
rendah sebagai petani busuk itu ternyata mengandung sinkang yang amat hebat dan yang membuat kedua
lengannya tergetar. Maka kini dia tidak berani memandang rendah. Ketika dorongan telapak tangan lawan
tiba, ia cepat mengelak dan balas menyerang mengandalkan kecepatan ilmu silatnya. Coa Leng Bu
menghadapi lawan dengan sikap tenang karena ia maklum bahwa dia akan mampu mengalahkan lawan ini,
hanya dia harus dapat menang tanpa membunuh lawan.
Siauw Bwee yang merasa lega karena dalam beberapa gebrakan saja dia pun maklum bahwa supek-nya
itu tidak akan kalah, kini mencurahkan perhatiannya kepada Kam Han Ki yang masih duduk termenung di
jendela. Dia terheran-heran dan hatinya gelisah bukan main. Tidak mungkin kalau suheng-nya sengaja
bersikap seperti itu! Dia sudah mengenal betul suheng-nya, sudah bertahun-tahun tinggal bersama
suheng-nya di Pulau Es.
Suheng-nya adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, seorang laki-laki sejati, seorang yang berhati
mulia. Andai kata suheng-nya itu marah kepadanya sekali pun karena dia melarikan diri dari Pulau Es,
tidak mungkin sekarang suheng-nya mengambil sikap seperti tidak kenal padanya. Ah, tidak mungkin! Pasti
terjadi sesuatu yang amat hebat atas diri suheng-nya dan agaknya hanya koksu itu saja yang
mengetahuinya!
Dugaan yang dikhawatirkan Siauw Bwee memang benar. Laki-laki itu bukan lain adalah Kam Han Ki.
Mengapa ia bersikap seperti itu, seperti tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya dan hanya ada reaksi
kalau ditegur oleh Koksu? Hal ini sebetulnya sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu dan untuk
mengetahui sebab-sebabnya marilah kita mengikuti pengalaman Kam Han Ki semenjak dia menderita
siksa batin melihat bekas kekasihnya, Puteri Sung Hong Kwi, meninggal dunia dalam keadaan sengsara.....
********************
Seperti telah diketahui, tekanan batin membuat Han Ki menjadi seperti gila dan dia mengamuk dan
menyebar maut pada pasukan-pasukan Mancu yang dianggap sebagai biang keladi kematian bekas
kekasihnya itu. Kemudian ia mengalami pukulan batin kedua ketika dalam pasukan Mancu itu dia berjumpa
dengan dua orang murid Mutiara Hitam, bahkan makin hebat lagi pukulan batin ini ketika ia bertemu
dengan sumoi-nya, Maya sebagai seorang Panglima Mancu! Hatinya berduka sekali karena dia tidak
berhasil membujuk Maya untuk meninggalkan kedudukannya sebagai Panglima Mancu.
Memang benar bahwa dia dapat menyelami isi hati Maya yang karena kematian orang tuanya, Raja dan
Ratu Khitan, menaruh dendam yang hebat terhadap Kerajaan Yucen dan Kerajaan Sung, dan bahwa
tindakannya menjadi Panglima Mancu semata-mata untuk dapat membalas dendam itu. Akan tetapi,
alangkah sakit hatinya kalau dia memikirkan betapa sumoi-nya yang tadinya hidup tenang dan tenteram
jauh dari pada segala keruwetan dunia, apa lagi perang besar, bersama dia dan Siauw Bwee di Istana
Pulau Es, kini menjadi seorang panglima perang!
Harapan satu-satunya hanyalah Siauw Bwee. Kalau dia dapat bertemu dengan sumoi-nya yang kedua itu,
agaknya mereka berdua akan mampu membujuk Maya. Dia pun masih bingung sekali mendengar jawaban
Maya yang terang-terangan menyatakan cinta kasihnya kepadanya, tanpa mau dibagi dengan orang lain!
Maya hanya suka ikut dengan dia kembali ke Istana Pulau Es, meninggalkan semua urusan duniawi, akan
tetapi harus hanya mereka berdua, tanpa Siauw Bwee!
dunia-kangouw.blogspot.com
Betapa mungkin dia memenuhi permintaan itu? Betapa mungkin dia mendapatkan Maya dengan
membuang Siauw Bwee? Dia mencinta kedua orang sumoi-nya itu, mencinta dengan kasih sayang besar,
seperti seorang saudara tua, bahkan seperti pengganti guru dan orang tua! Memang, kadang-kadang dia
merasa bahwa ada cinta kasih yang lain dari itu, seperti cinta kasihnya terhadap mendiang Sung Hong Kwi,
cinta kasih yang membuat ia rindu akan kemesraan dengan wanita, akan tetapi dia sendiri tidak jatuh cinta
kepada keduanya sebagai pengganti Sung Hong Kwi! Ah, dia tidak berani membayangkan hal ini yang
dianggapnya terlalu jahat!
Karena tidak dapat memenuhi permintaan Maya, maka sumoi-nya itu pergi membawa pasukannya dan dia
sendiri tidak tahu harus mencari Siauw Bwee ke mana? Kemudian timbul keinginan hatinya untuk mencari
kedua orang enci-nya, kedua orang kakak kandungnya yang semenjak dia dibawa pergi gurunya, Bu Kek
Siansu, belum pernah ia jumpai. Maka pergilah Han Ki ke pegunungan Ta-liang-san, di mana ia dahulu
mendengar bahwa kedua orang enci-nya itu belajar ilmu di bawah pimpinan paman kakek mereka sendiri,
yaitu Kauw Bian Cinjin.
Dengan penuh harapan untuk dapat bertemu dengan kedua orang enci-nya, Han Ki melakukan perjalanan
cepat ke Ta-liang-san. Luka-lukanya yang ia derita ketika mengamuk barisan Mancu hanyalah luka luar
yang biar pun banyak akan tetapi ringan saja. Maka sambil melakukan perjalanan dia mengobati lukalukanya
dan ketika tiba di Ta-liang-san, ia sudah sembuh sama sekali, akan tetapi batinnya tetap tertindih
penuh duka dan kecewa. Betapa pun ia berusaha melupakannya, selalu wajah Hong Kwi yang telah
meninggal dan wajah Maya yang tidak mau ikut dengannya menggodanya dan setiap kali teringat kepada
Hong Kwi, Maya dan juga Siauw Bwee yang belum dapat ditemukannya itu, jantungnya seperti ditusuk
karena duka dan kecewa.
Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika di lereng pegunungan itu, seorang petani menjawab
pertanyaannya tentang tokoh-tokoh Beng-kauw, “Di puncak sana sudah tidak ada orang lagi, yang ada
hanya kuburan-kuburan!”
Mendengar ini Han Ki cepat berlari mendaki puncak dan tak lama kemudian ia berdiri termangu-mangu di
depan pondok yang sudah rusak dan di depan sebaris kuburan yang tidak terawat lagi. Dengan hati
kosong ia melihat nama tokoh-tokoh Beng-kauw di situ, dan di antaranya terdapat nama Kauw Bian Cinjin!
Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan paman kakeknya dan membayangkan wajah paman kakek
ini yang dulu pernah dilihatnya di waktu ia masih kecil.
Kemudian ia meneliti dan memeriksa dengan hati tidak karuan mencari kuburan kedua enci-nya. Akan
tetapi harapannya timbul kembali ketika ia tidak melihat nama Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui di antara
mereka yang terkubur di situ. Kenyataan ini membesarkan hatinya karena berarti bahwa kedua orang encinya
itu tidak ikut mati! Semua kuburan, di bawah nama masing-masing yang terkubur terdapat tulisan
‘Gugur dalam mempertahankan Beng-kauw’. Dia makin bingung karena tidak tahu apakah yang telah
terjadi dengan Beng-kauw? Ia teringat akan petani tadi, maka kini tanpa mempedulikan kelelahan tubuhnya
ia lari lagi menuruni puncak untuk mencari petani tadi.
“Paman, mohon tanya di mana adanya kedua orang wanita yang bernama Kam Siang Kui dan Kam Siang
Hui, yang dahulu tinggal di puncak bersama Kakek Kauw Bian Cinjin?”
Kakek petani itu menghela napas panjang sebelum menjawab. “Kau maksudkan Ji-wi Kam-kouwnio?
Aihhhh... sungguh kasihan mereka. Bagaimana aku tahu di mana mereka itu berada? Semenjak Bengkauw
jatuh ke tangan orang lain, kedua orang kouwnio itu sajalah yang masih hidup, lalu mereka pergi
entah ke mana...” Suara orang itu penuh duka dan keharuan. “Aihh, mereka sungguh orang-orang yang
amat mulia, sungguh aku heran sekali mengapa kadang-kadang Thian tidak memberkahi orang-orang yang
baik hati?”
“Paman, siapakah yang telah menjatuhkan Beng-kauw? Dan di mana sekarang pusat Beng-kauw?”
Kini petani memandang Han Ki penuh kecurigaan. “Engkau ini siapakah, orang muda? Aku mana tahu
tentang Beng-kauw?”
Kam Han Ki yang maklum bahwa orang ini mencurigainya, cepat mengaku terus terang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Namaku Kam Han Ki, ada pun kedua orang Kam-kouwnio itu adalah enciku.”
Tiba-tiba petani itu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Ki dan menangis. Han Ki cepat membangunkan
orang itu yang segera menyusut air matanya dan bercerita....
“Saya dahulu juga seorang anggota Beng-kauw. Ketika itu muncul seorang bernama Hoat Bhok Lama yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dialah orangnya yang menjatuhkan Beng-kauw, merobohkan semua
tokoh-tokohnya kecuali kedua Kam-kouwnio yang berhasil melarikan diri. Anak buah Beng-kauw dipaksa
untuk menjadi pengikutnya, dan hanya beberapa orang saja termasuk saya sendiri yang dapat melarikan
diri karena tidak sudi menjadi anggota Beng-kauw baru yang dipimpin oleh pendeta Lama itu. Ji-wi Kamkouwnio
dan beberapa orang anggota yang setia menguburkan semua jenazah di puncak itu, kemudian
berkali-kali kami mencoba untuk membalas dendam dan merampas kembali Beng-kauw. Namun, pendeta
Lama itu terlalu lihai sehingga makin banyak korban. Akhirnya Ji-wi Kouw-nio pergi entah ke mana,
mungkin mencari bala bantuan dan habislah riwayat Beng-kauw yang sejati. Beng-kauw yang sekarang
berpusat di pegunungan Heng-toan-san adalah Beng-kauw palsu yang dipimpin oleh Hoat Bhok Lama.”
Han Ki menjadi makin berduka, akan tetapi juga marah sekali. “Terima kasih, Paman. Sekarang juga aku
akan mencari Hoat Bhok Lama dan menghancurkan kepala penjahat berkedok pendeta itu!” Sekali
berkelebat Han Ki lenyap dari depan petani itu yang melongo dan mencari dengan pandang matanya.
Ketika tidak dapat menemukan bayangan Han Ki, dia lalu berlutut dan mengangkat kedua tangan ke atas.
“Terima kasih kepada Thian yang agaknya menurunkan cahaya terang untuk mengusir kegelapan ini.
Semoga dia berhasil!”
Tanpa mempedulikan kelelahan, Han Ki terus langsung menuju ke Heng-toan-san, melakukan perjalanan
cepat siang malam dengan hati penuh kemarahan. Ia mengambil keputusan untuk membasmi Hoat Bhok
Lama dan kaki tangannya, membebaskan para anggota Beng-kauw dan baru kemudian mencari kedua
orang enci-nya yang tidak ada kabar beritanya lagi. Biar pun di sepanjang jalan ia bertanya-tanya orang,
agaknya penduduk di sepanjang jalan sungkan untuk bicara sesuatu yang menyangkut Beng-kauw yang
kini berubah menjadi perkumpulan agama yang ditakuti orang.
Akan tetapi ketika Han Ki akhirnya tiba di puncak Heng-toan-san, di lembah Sungai Cin-sha yang dahulu
menjadi markas besar Beng-kauw yang dipimpin oleh Hoat Bhok Lama, kembali ia mendapatkan tempat
yang amat sunyi, hanya tinggal bekas-bekasnya saja, yaitu bangunan-bangunan yang sudah tak terawat.
Beberapa orang yang masih tinggal di situ hidup sebagai petani dan kepada mereka inilah Han Ki bertanya.
“Saudara sekalian, harap suka memberi keterangan kepadaku, di mana aku dapat bertemu dengan Hoat
Bhok Lama?”
Begitu Han Ki mengucapkan kata-kata pertanyaan ini, enam orang petani itu langsung menyerangnya
dengan cangkul mereka. Gerakan mereka gesit dan kuat, tanda bahwa mereka bukanlah petani-petani
biasa, melainkan orang-orang yang pandai ilmu silat.
Tentu saja Han Ki terkejut bukan main. Akan tetapi begitu tubuhnya bergerak cepat, enam orang itu semua
terlempar kembali ke tengah sawah dan terbanting ke dalam lumpur! Untung bagi mereka bahwa Han Ki
tidak menggunakan seluruh tenaga sinkang-nya karena Han Ki masih meragukan apakah mereka ini kaki
tangan Hoat Bhok Lama yang dicarinya. Kalau dia sudah yakin bahwa mereka adalah kaki tangan pendeta
Lama itu, tentu mereka berenam itu sekarang sudah tidak dapat bangkit lagi dan tewas seketika!
“Hemm, mengapa kalian menyerangku? Apakah kalian ini kaki tangan Hoat Bhok Lama yang jahat?”
Mendengar ucapan itu, enam orang yang sudah bangkit kembali itu tiba-tiba merubah sikap. Mereka keluar
dari lumpur dan melempar cangkul, kemudian menghadapi Han Ki sambil memandang penuh perhatian.
Seorang di antara mereka bertanya.
“Maaf..., apakah Taihiap yang gagah perkasa ini bukan sahabat mendiang Hoat Bhok Lama?”
“Sahabatnya? Dan apa kau bilang? Mendiang? Jadi manusia iblis itu sudah mati?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Enam orang itu menarik napas lega. “Uihh, kiranya Taihiap bukan sahabatnya. Maafkanlah kami karena
tadi kami menyangka bahwa Taihiap adalah seorang sahabatnya, maka kami segera menyerang. Memang
dia sudah tewas, juga semua kaki tangannya, Taihiap. Kami bersyukur sekali, dan sebelum kami
melanjutkan cerita, bolehkah kami mengetahui siapa Taihiap ini? Apakah masih sahabat Suma-taihiap,
atau Im-yang Seng-cu, dan kenalkah Taihiap kepada Bu-tek Lo-jin?”
Han Ki sudah mendengar nama besar Im-yang Seng-cu tokoh Hoa-san-pai itu, dan nama besar Bu-tek Lojin
tentu saja sudah didengarnya. Hanya sebutan Suma-taihiap itu membuat ia terkejut karena dia tidak
tahu siapa, sedangkan she-nya mengingatkan dia akan keluarga Suma yang jahat sekali.
“Namaku Kam Han Ki, dan aku mencari kedua orang enci-ku, Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui.”
“Ahhhhh..., mengapa Taihiap datang terlambat...?” Enam orang itu mengeluh dan tiba-tiba mereka
menjatuhkan diri berlutut di depan Han Ki dan menangis! Persis seperti yang dilakukan petani bekas
anggota Beng-kauw di Ta-liang-san itu.
“Bangkitlah, jangan seperti anak kecil. Kalau Hoat Bhok Lama sudah tewas, demikian pula kaki tangannya,
bukankah kalian seharusnya bersuka, mengapa sekarang menangis?”
Orang tertua dari mereka berkata, “Kami adalah bekas anggota-anggota Beng-kauw yang dipaksa menjadi
anak buah Hoat Bhok Lama. Setelah Hoat Bhok Lama dan kaki tangannya dibasmi oleh Bu-tek Lo-jin
dibantu oleh Suma-taihiap dan Im-yang Seng-cu, kami berenam tinggal di sini, sedangkan saudarasaudara
lainnya kembali ke Nan-cao untuk membangun kembali Beng-kauw yang berantakan oleh
perbuatan Hoat Bhok Lama. Akan tetapi... ah... Taihiap... kedua orang kouwnio yang kami hormati dan
cinta itu, mereka... mereka telah menjadi korban dan tewas...”
Seketika pucat wajah Kan Ki, napasnya terasa sesak. Pukulan terakhir ini benar-benar amat hebat baginya,
hampir saja dia roboh pingsan kalau dia tidak mengeraskan hatinya. Dengan bibir gemetar dia berkata
singkat, “Ceritakan...!”
Orang tertua itu lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di situ hampir dua bulan yang lalu. Han Ki
mendengarkan dengan penuh perhatian dan ia berduka sekali ketika mendengar betapa kedua orang encinya
terjebak dan terpendam di bawah tumpukan batu-batu gunung.
“Di mana mereka terpendam? Lekas tunjukkan kepadaku!”
Enam orang itu lalu menuju ke bukit di mana dahulu kedua orang wanita itu teruruk oleh batu-batu yang
amat banyak. Ketika Han Ki tiba di depan gundukan batu seanak gunung itu, tak tertahankan lagi air
matanya bercucuran.
“Pergilah kalian, jangan ganggu aku!” bentaknya.
Enam orang itu cepat menyingkir, saling pandang dan mereka kasihan sekali. Ketika dari jauh mereka
melihat Han Ki mulai membongkari batu-batu itu, mereka menggeleng-geleng kepala dan mengira bahwa
orang itu menjadi gila saking duka. Akan tetapi maklum bahwa Han Ki amat lihai, mereka tidak berani
mendekat, lalu kembali ke sawah mereka dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Memang Han Ki seperti menjadi gila saking hebatnya penderitaan batin yang menghimpitnya. Ia
mengerahkan seluruh tenaganya, membongkari batu-batu itu dan orang akan terbelalak kagum dan
terheran-heran menyaksikan betapa ia melempar-lemparkan batu-batu besar ke dalam jurang seolah-olah
batu sebesar kerbau itu hanya merupakan sebongkah kapas yang ringan saja. Hal ini tidak mengherankan
karena dalam duka dan marahnya Han Ki telah mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya.
Saking tekunnya membongkar batu dan mengerahkan seluruh sinkang, Han Ki tidak tahu betapa dari jauh
terdapat beberapa pasang mata memandang ke arahnya dengan terbelalak dan penuh kekaguman. Juga
ia tidak tahu betapa enam orang tadi kini telah menggeletak di tengah sawah dalam keadaan mati semua!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia terus membongkar batu-batu yang merupakan tumpukan sebesar anak gunung itu dan menjelang
senja, habislah batu-batu itu dibongkarnya, tenaganya hampir habis dan dengan tubuh lemas ia berlutut
memandang dua buah kerangka manusia yang masih berpakaian. Jelas pakaian dua orang wanita, dua
orang enci-nya!
“Aduh, Kui-cici... Hui-cici...!” Ia menangis memeluk dua kerangka manusia itu.
Han Ki kemudian mengumpulkan kerangka itu, memondongnya dan membungkusnya dalam pakaian
mereka, lalu menggali lubang tak jauh dari situ dan mengubur dua kerangka itu menjadi dua gundukan
tanah. Dengan pengerahan tenaga terakhir ia berhasil menggores-gores dua buah batu sebagai batu nisan,
menuliskan nama kedua orang enci-nya dengan goresan jari, kemudian menancapkan batu nisan itu di
depan dua kuburan dan ia menangis tersedu-sedu sampai akhirnya ia roboh terguling dalam keadaan
pingsan!
“Cepat! Dia pingsan, kita dapat turun tangan sekarang! Jangan sampai dia keburu siuman!” Terdengar
orang berkata dan muncullah beberapa orang yang sejak tadi mengintai setelah mereka mendengar
penuturan enam orang bekas anggota Beng-kauw kemudian membunuh mereka begitu saja. Orang-orang
ini adalah Coa Sin Cu yaitu Coa-bengcu yang bermarkas di Pantai Po-hai, isterinya yang cantik bernama
Liem Cun, Pat-jiu Sin-kauw, dan Thian Ek Cinjin.
Kedatangan mereka adalah atas usul Pat-jiu Sin-kauw yang masih terhitung adik seperguruan Hoat Bhok
Lama, yaitu murid Thai-lek Kauw-ong. Pat-jiu Sin-kauw yang tahu bahwa suheng-nya telah merampas
Beng-kauw mengusulkan kepada Coa Sin Cu untuk mengadakan hubungan dengan suheng-nya agar
kedudukan mereka menjadi makin kuat. Kunjungan ke situ selain disertai ketua Pantai Po-hai itu dan
isterinya, juga turut pula Thian Ek Cinjin, tosu pembantu Coa Sin Cu.
Untung sekali bahwa mereka tadi tidak berjumpa dengan Han Ki, melainkan dengan enam orang petani
yang mengira bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Kam Han Ki, maka tanpa curiga mereka
menceritakan keadaan Beng-kauw yang sudah hancur, tentang kematian Hoat Bhok Lama dan tentang
kedatangan Han Ki membongkar batu segunung yang mengubur dua orang enci-nya.
Mendengar nama Han Ki, mereka terkejut karena nama Han Ki sudah amat terkenal sebagai adik Menteri
Kam yang sakti. Mereka lalu membunuh enam orang bekas anggota Beng-kauw itu, kemudian diam-diam
mereka mengintai dan menyaksikan dengan penuh takjub betapa pendekar itu membongkar batu-batu
besar.
Ucapan Pat-jiu Sin-kauw tadi memang benar. Biar pun Han Ki hampir kehabisan tenaga membongkar batubatu
tadi, kalau saja dia tidak pingsan, belum tentu enam orang itu akan mampu menandinginya. Kini
empat orang itu berlompatan mendekati tubuh Han Ki yang pingsan tak bergerak, kelihatan mereka masih
takut-takut kemudian Pat-jiu Sin-kauw hendak menotok tubuh yang pingsan itu.
“Jangan!” Tiba-tiba Liem Cun, isteri Coa Sin Cu, mencegah. “Orang dengan kesaktian seperti dia ini, siapa
tahu tidak akan terpengaruh kalau ditotok. Aku mempunyai akal yang lebih aman bagi kita.” Nyonya yang
cantik dan cerdik, bekas murid Hoa-san-pai yang murtad itu mengeluarkan sebuah bungkusan merah,
mengeluarkan seguci arak, kemudian menuangkan arak ke dalam cawan. Setelah itu bungkusan dibuka
dan dia menjumput sedikit bubuk merah yang ia masukkan ke dalam cawan.
“Buka mulutnya, paksa obat ini masuk ke perutnya!” katanya.
Melihat Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin ragu-ragu.
Coa Sin Cu tertawa. “Ha-ha, percayalah akan kemanjuran racun isteriku itu. Biar dia dewa sekali pun, kalau
minum racun ini dalam waktu sehari semalam dia akan pingsan terus!”
Mulut Han Ki yang sedang pingsan itu dibuka dan arak itu dituangkan ke dalam mulutnya. Karena
masuknya arak ini ke perut dan menyumbat tenggorokan, Han Ki siuman dari pingsannya. Ia meronta dan
melompat bangun sehingga empat orang itu terlempar ke kanan kiri, akan tetapi Han Ki terhuyung-huyung
dunia-kangouw.blogspot.com
dan jatuh lagi, pingsan untuk kedua kalinya, akan tetapi kali ini karena pengaruh racun yang dipaksa
memasuki perutnya.
“Hebat, dia lihai bukan main!” Pat-jiu Sin-kauw mengebut-ngebutkan bajunya yang kotor karena dia tadi
terlempar jatuh.
“Mengapa orang yang berbahaya ini tidak dibunuh saja?” Thian Ek Cinjin berkata sambil mengerutkan
alisnya, merasa ngeri menyaksikan kesaktian pendekar itu.
“Ah, dia tepat sekali bagi kita,” kata Coa Sin Cu. “Dia inilah yang akan menjadi pembuka jalan, menjadi
kunci ke dalam gedung Bu-koksu. Kalau Pat-jiu Sin-kauw dan Totiang berdua datang menghadap Bukoksu
seperti yang kita rencanakan, menghadap begitu saja, aku masih khawatir kalau-kalau Koksu
menjadi curiga dan tidak mau menerima bantuan kalian. Akan tetapi kalau kalian membawa Kam Han Ki
sebagai tawanan, tentu dia percaya karena orang ini adalah seorang buruan, musuh pemerintah. Begitu
muncul kalian membawa tangkapan yang penting ini, berarti telah membuat jasa besar. Tentu Bu-koksu
akan menerima kalian sebagai pengawal dan kalau sudah begitu akan lancarlah usaha kita. Pek-mau
Seng-jin, koksu dari Yucen tentu akan girang sekali mendengar bahwa kalian sudah berhasil menyelundup
ke sana dan menduduki jabatan penting!”
Dua orang kakek itu mengangguk-angguk dan berangkatlah mereka berdua membawa Han Ki yang
pingsan, dan membawa pula bekal obat merah Liem Cun. Setiap sehari semalam, mereka mencekokkan
obat merah dan arak ke dalam perut Han Ki sehingga pendekar ini berada dalam keadaan pingsan terusmenerus
selama sepuluh hari!
Tepat seperti yang diperhitungkan oleh Coa Sin Cu, Bu Kok Tai, koksu negara itu menjadi girang sekali
ketika menerima dua orang pendeta yang membawa Han Ki sebagai tangkapan itu. Otomatis keduanya
diterima dan diangkat menjadi pengawal, akan tetapi koksu yang cerdik itu tidak membunuh Han Ki atau
menyerahkan kepada pengadilan kota raja untuk diadili. Tidak, koksu ini terlalu cerdik untuk membunuh
Han Ki begitu saja.
Dia sudah mendengar akan kelihaian pendekar ini, bahkan sudah mendengar akan sepak terjang Han Ki
ketika membasmi ribuan orang tentara Mancu, dan tahulah dia bahwa amat sukar mencari seorang yang
memiliki ilmu kepandaian seperti Kam Han Ki. Alangkah akan kuat kedudukannya, terjamin keamanannya,
kalau dia dapat memiliki seorang pengawal seperti ini! Apa lagi kalau dipikir bahwa dia dapat memetik ilmuilmu
kesaktian dari pendekar ini.
Akan tetapi tentu saja tidak mungkin membujuk pendekar ini untuk menjadi pengawalnya. Bu Kok Tai tidak
kekurangan akal. Di samping ilmunya yang tinggi, dia juga sudah lama tinggal di daerah Himalaya dan dia
mempunyai bubuk racun dari Himalaya, buatan seorang pendeta aliran hitam, yang disebut I-hun-tok-san.
Bubuk beracun ini dapat dicampurkan dengan makanan atau minuman, dan siapa yang meminumnya akan
kehilangan ingatannya dan seperti dalam keadaan dihypnotis, menurut segala perintah orang yang
menguasainya pada pertama kali.
Demikianlah, dengan menggunakan I-hun-tok-san ini, Bu-koksu memberi minuman racun ini kepada Han
Ki selama tiga hari berturut-turut. Ketika sadar, Han Ki mendapatkan dirinya di sebuah kamar yang amat
bagus dan di dekat pembaringannya duduk Bu-koksu yang dengan ramah-ramah memberitahukan bahwa
koksu itu menolongnya dari keadaan pingsan dan hampir mati.
Han Ki adalah seorang yang memiliki dasar watak pendekar budiman. Seorang pendekar tidak pernah
melepas budi, akan tetapi selalu ingat akan budi orang lain, maka biar pun ingatannya samar-samar dan ia
sudah lupa mengapa dia pingsan di bukit dan hampir mati. Kenyataannya bahwa dia berada di situ dan
terawat baik membuat ia tidak meragukan lagi akan pertolongan orang lain, maka dia menghaturkan terima
kasih.
Demikianlah, dengan amat pandai Bu-koksu mengambil hati Han Ki yang kehilangan ingatannya, bahkan
memanggil taihiap dan menganggapnya sebagai seorang adik sendiri. Han Ki disuruh menyebutnya Buloheng
(Kakak Tua Bu), sebuah sebutan yang amat langka bagi orang lain dan semenjak itu, Han Ki
menjadi pengawal Bu-koksu yang amat setia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun ada hal yang mengecewakan hati Bu-koksu. Biar pun Han Ki tidak kehilangan ilmu kepandaiannya
yang sudah mendarah daging dan tidak membutuhkan ingatan lagi, namun pemuda itu sama sekali tidak
dapat mengajarkan ilmu silat karena pemuda itu sudah lupa sama sekali akan teori ilmu silatnya!
Sebetulnya, agak janggal menyebut Han Ki yang sudah berusia tiga puluh lima tahun itu sebagai pemuda,
akan tetapi karena dia memang belum menikah dan wajahnya masih kelihatan seperti seorang berusia dua
puluh lima tahun, dia masih patut disebut pemuda!
Hal lain lagi yang aneh adalah bahwa Han Ki dalam keadaan tidak sadar itu tidak pernah mau
mempedulikan urusan lain, bahkan tidak tahu akan sopan-santun dan segala peraturan lain. Hanya ucapan
Bu-koksu seoranglah yang ditaatinya dan biar pun tanpa diminta, kalau melihat koksu itu diganggu orang,
tentu dia akan turun tangan melindungi. Seperti keadaan seekor anjing yang terlatih dan amat setia.....
********************
Marilah kita kembali ke dalam ruangan kepala daerah, yang tadinya menjadi tempat pesta pertemuan dan
kini menjadi medan pertandingan menguji kepandaian itu. Han Ki melenggut di atas langkan jendela, tidak
mempedulikan keadaan sekelilingnya. Karena Koksu tidak memberi perintah apa-apa, dan juga tidak ada
bahaya mengancam Koksu, maka Han Ki bertopang dagu lagi dengan pikiran kosong!
Seperti telah diduga Siauw Bwee, pertandingan antara Coa Leng Bu melawan tosu yang bukan lain adalah
Thian Ek Cinjin itu tidak berjalan terlalu lama dan kini supek-nya telah dapat mendesak lawannya sehingga
selalu mundur. Ketika tangan Thian Ek Cinjin terpental bertemu dengan tangan Coa Leng Bu dan
kedudukan kakinya tergeser, Coa Leng Bu cepat menerjang dan melakukan tiga kali pukulan tangan
kosong berturut-turut. Thian Ek Cinjin berusaha mengelak dan menangkis, namun kalah cepat dan pundak
kirinya kena terpukul telapak tangan Coa Leng Bu.
Ia terjengkang dan roboh, meringis kesakitan akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan kini tangan kanannya
memegang sebatang pedang tipis. Coa Leng Bu adalah seorang tokoh yang sudah berpengalaman. Dia
tidak khawatir menghadapi lawan yang bersenjata, akan tetapi karena dia tidak ingin kesalahan tangan
melakukan pembunuhan, maka ia mendahului. Selagi lawan meloncat bangun, cepat ia menggerakkan
tangan memukul dengan sinkang jarak jauh. Thian Ek Cinjin tiba-tiba merasa dadanya dingin sekali,
tangannya menggigil dan ia tidak mampu mempertahankan lagi ketika pedangnya dirampas oleh lawannya!
“Kurasa sudah cukup Totiang!” kata Coa Leng Bu sambil melontarkan pedang itu ke arah pemiliknya. Thian
Ek Cinjin marah sekali, menyambar pedangnya dan hendak meloncat maju lagi. Betapa dia tidak marah
kalau di depan Koksu dia dikalahkan orang seperti itu?
“Mundurlah, Cinjin, biar aku yang melawannya!”
Bentakan ini keluar dari mulut Pat-jiu Sin-kauw yang juga marah melihat kawannya keok. Karena dia
maklum bahwa petani tak bersepatu itu cukup lihai, maka begitu menyerang ia sudah mainkan Soan-hongsin-
ciang, tubuhnya berputar seperti gasing dan angin yang keras bertiup ke arah Coa Leng Bu! Kakek ini
terkejut sekali, terpaksa kini ia mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Jit-goat-sinkang. Kedua lengannya
melindungi tubuh sendiri dan kadang-kadang tangannya mendorong ke depan.
“Ihhhh...!” Pat-jiu Sin-kauw berteriak kaget ketika hawa pukulan yang amat panas menyambarnya dan
membuat gerakan berputar menjadi agak kacau.
Tahulah dia bahwa lawannya itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, maka ia menjadi marah sekali
dan menghentikan gerakan tubuhnya berputaran, lalu kedua lengannya bergerak mendorong atau
memukul dari bawah ke arah lawan. Dari perutnya terdengar bunyi berkokok. Inilah ilmu pukulan Thai-lekkang
yang mengandung tenaga sinkang amat dahsyat!
Menghadapi pukulan-pukulan dahsyat ini, Coa Leng Bu terkejut dan cepat ia pun mengerahkan Jit-goatsinkang,
karena hanya dengan tenaga sinkang ini sajalah ia akan mampu menghadapi lawannya yang
tangguh. Mulailah dua orang kakek itu bertanding secara hebat sekali, gerakan mereka tidak cepat sekali,
dunia-kangouw.blogspot.com
namun setiap gerakan tangan yang memukul atau menangkis mengandung tenaga sinkang yang kuat
sehingga angin menyambar-nyambar di sekitar ruangan itu dan terdengar suara bersuitan.
Siauw Bwee memandang kagum. Dia dapat mengukur Jit-goat-sinkang yang dikuasai supek-nya sekarang.
Terasa betapa di ruangan itu hawanya menjadi berubah-ubah, kadang-kadang panas sekali dan kadangkadang
sejuk dingin. Itulah pengaruh dari kekuatan Jit-goat-sinkang. Akan tetapi ia pun dapat melihat
bahwa supek-nya bukanlah lawan Pat-jiu Sin-kauw yang lihai sekali. Biar pun dengan Jit-goat-sinkang
supek-nya masih dapat menahan serangan-serangan Thai-lek-kang, namun ilmu silat supek-nya masih
kalah jauh. Begitu pendeta rambut panjang berjubah hitam itu mainkan Soan-hong Sin-ciang, supek-nya
terdesak hebat.
Si Sastrawan Ang Hok Ci berbisik kepada gurunya, memberi tahu bahwa Coa Leng Bu mempergunakan
Jit-goat-sinkang. Mendengar ini Koksu berkata sambil tertawa! “Ha-ha-ha, jadi hanya begini sajakah Jitgoat-
sinkang yang terkenal ini? Kalau hanya begini, mengapa mesti susah payah mendapatkannya?”
Mendengar ini, tahulah Siauw Bwee bahwa sastrawan Ang itu hanya memenuhi perintah gurunya untuk
mencari kitab peninggalan Bu-tek Lo-jin untuk mempelajari Jit-goat-sinkang. Kini mendengar koksu itu
mengejek karena memang kepandaian dan kekuatan Coa Leng Bu masih kalah tingkatnya oleh Pat-jiu Sinkauw,
ia merasa mendongkol. Pula dara perkasa ini maklum bahwa kalau dilanjutkan, supek-nya bisa
terluka karena orang macam pendeta rambut panjang itu mana mempunyai pribadi baik dan dapat
dipercaya? Salah-salah supek-nya akan terbunuh!
Tiba-tiba terdengar bentakan Pat-jiu Sin-kauw, “Petani busuk, menggelindinglah kau!”
Ternyata setelah mendesak lawannya dengan hebat, pendeta jubah hitam itu tiba-tiba mengirim serangan
hebat dengan Thai-lek-kang yang tak dapat dielakkan lagi oleh Coa Leng Bu sehingga terpaksa dia
menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan Jit-goat-sinkang. Biar pun tangan mereka tidak
saling sentuh, namun terjadilah pertemuan tenaga sinkang yang amat dahsyat dan tubuh Coa Leng Bu
menggigil, namun dia tetap mempertahankan agar tidak sampai roboh karena dia maklum bahwa kalau dia
mengalah dan sampai roboh ia akan celaka di tangan lawannya yang berhati kejam itu.
“Supek, mundur!” tiba-tiba Siauw Bwee berseru nyaring.
Tubuhnya sudah mencelat ke atas di antara kedua orang yang mengadu tenaga itu dan tiba-tiba dorongan
tangannya dari atas memisahkan tenaga dua orang yang sedang saling dorong, bahkan tubuh mereka
terjengkang ke belakang. Coa Leng Bu yang maklum bahwa dara sakti itu hendak menggantikannya, dan
tahu bahwa dia bukanlah lawan pendeta jubah hitam, segera mundur. Sedangkan Siauw Bwee dengan
sikap tenang menghadapi Pat-jiu Sin-kauw yang sudah meloncat lagi memperbaiki posisinya.
Kakek ini memandang Siauw Bwee dengan mata terbelalak penuh kemarahan, lalu menegur, “Kawanmu
belum kalah, engkau sudah datang mengeroyok. Aturan mana ini?”
Siauw Bwee tersenyum mengejek. “Biar pun belum kau robohkan, Supek sudah mengaku kalah. Apakah
kau belum puas kalau belum melukai atau membunuh? Anggap saja dia mengalah kepadamu dan marilah
kita main-main sebentar kalau memang kau ingin memamerkan kepandaianmu!”
Pat-jiu Sin-kauw adalah seorang yang berilmu tinggi. Di depan orang banyak tentu saja dia merasa
direndahkan kalau harus melawan seorang dara remaja, maka ia membentak nyaring, “Kalau supek-mu
saja sudah kalah olehku, apa lagi engkau keponakan muridnya. Apakah engkau gila hendak melawanku?”
Siauw Bwee menoleh ke arah Bu-koksu dan berkata nyaring, “Koksu, begini sajakah jago-jagomu? Kalau
memang takut melawan aku, mengapa mesti berpura-pura segala? Jagomu ini tidak berani melawanku,
harap Koksu suka mengeluarkan jago yang lebih berani!”
Ejekan ini benar-benar hebat, membuat muka Pat-jiu Sin-kauw menjadi marah. Sebenarnya dia tidak takut,
hanya merasa segan dan direndahkan kalau harus melawan seorang gadis remaja. Mukanya menjadi
makin merah lagi dan matanya terbelalak marah ketika terdengar suara Bu-koksu, “Pat-jiu Sin-kauw,
dunia-kangouw.blogspot.com
apakah engkau takut menghadapi anak perempuan itu?” Ucapan koksu ini disambut suara kekeh tawa di
sana-sini.
“Bocah setan, engkau sudah bosan hidup! Sambutlah ini!”
Dengan gerakan cepat sekali Pat-jiu Sin-kauw menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala Siauw
Bwee. Dia memandang rendah sehingga tidak menggunakan Thai-lek-kang, hanya menampar dengan
sembarangan saja, namun sambil mengerahkan sinkang.
“Plakkk!” Tangan yang besar itu tertangkis oleh tangan yang kecll mungil, dan akibatnya... tubuh Pat-jiu
Sin-kauw terpelanting!
Semua orang berseru kaget, akan tetapi tidak lebih keras dari seruan Pat-jiu Sin-kauw sendiri. Ia cepat
meloncat dan mukanya menjadi pucat saking marahnya, diam-diam ia menyalahkan diri sendiri yang
memandang ringan dara ini. Sambil berteriak keras ia kini menyerang lagi dengan Ilmu Soan-hong-sinciang.
Tubuhnya berputaran seperti gasing, membawa angin yang menyambar dan dari bayangan tubuh
yang berputaran itu, kedua tangannya meluncur ke luar dan memukul dengan pengerahan tenaga Thai-lekkang!
Inilah serangan yang amat hebat dan yang tadi membuat Coa Leng Bu kewalahan. dengan
mengeluarkan dua ilmu ini sekaligus berarti Pat-jiu Sin-kauw sudah marah sekali dan bermaksud
membunuh dara itu.
Semua orang memandang terbelalak, demikian pula Bu-koksu karena pembesar ini sudah mengenal
kehebatan ilmu jagonya dan diam-diam ia khawatir kalau-kalau dara yang demikian cantik jelita itu akan
celaka dan tewas. Maka ia memandang dengan mata penuh perhatian tanpa berkejap seperti juga semua
orang yang berada di situ.
Betapa heran hati mereka yang menonton ketika melihat dara itu sama sekali tidak bergerak dari
tempatnya, hanya berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, dan hanya kedua lengannya saja yang
bergerak amat cepat sehingga dua lengan itu seperti berubah menjadi banyak sekali. Anehnya, semua
pukulan yang dilakukan Pat-jiu Sin-kauw itu terpental, bahkan setiap kali kakek itu memukul dan tertangkis,
tubuhnya terdesak mundur sampai dua tiga langkah!
Tidak ada orang yang dapat mengikuti gerak tangannya, bahkan Koksu sendiri yang lihai juga tidak
mengenal gerak tangan itu karena Siauw Bwee mainkan ilmu gerak tangan kilat dari kaum kaki buntung,
dan sebagai dasar gerakan, tentu saja ia menggunakan sinkang yang dilatihnya di Pulau Es dahulu dan
yang kini, berkat latihan-latihan dan ilmu lain yang dipelajarinya, telah menjadi makin kuat itu. Baik gerakan
tangan ilmu silat mau pun tenaga sinkang Pat-jiu Sin-kauw tentu saja tidak mampu menandingi tingkat
Siauw Bwee, maka biar pun dara itu hanya menangkis saja, semua serangan kakek itu membalik dan
terpental ke belakang.
Pat-jiu Sin-kauw sendiri merasa terkejut dan heran sekali. Dia tidak tahu bagai mana caranya dara itu
menghadapi serangan-serangannya karena dia pun tidak dapat mengikuti kecepatan gerak tangan lawan.
Hanya kenyataannya, setiap kali dia memukul, tangannya terpental kembali dan tubuhnya terdorong oleh
tenaga raksasa yang dahsyat. Ia merasa penasaran sekali dan marah, karena kalau dia tidak dapat
mengalahkan seorang dara remaja seperti itu, tentu namanya akan jatuh dalam pandangan koksu! Maka
sambil berseru keras ia menerjang lagi dengan pengerahan tenaga, siap untuk mengadu tenaga sampai
mati!
Akan tetapi tiba-tiba dara itu lenyap dari depannya. Cepat ia membalik dan mengayun tangan langsung
menyerang setelah pendengarannya menangkap gerakan lawan di belakangnya. Akan tetapi dia hanya
melihat bayangan berkelebat-kelebat dan selalu lenyap dari pandang matanya. Pat-jiu Sin-kauw terkejut
dan terus mengejar ke mana saja bayangan berkelebat dengan pukulan-pukulannya, namun semua
pukulannya luput dan makin lama bayangan Siauw Bwee menjadi makin banyak dan makin cepat
gerakannya, membuat kepala Pat-jiu Sin-kauw menjadi pening.
Bukan hanya Pat-jiu Sin-kauw yang pening kepala dan kabur pandangan matanya, bahkan semua orang
yang menonton pertandingan itu terbelalak memandang ke depan, berusaha mengerahkan pandang mata
untuk dapat mengikuti gerakan kaki Siauw Bwee yang kini berkelebatan dan amat cepatnya seperti
dunia-kangouw.blogspot.com
menghilang itu. Siauw Bwee telah mainkan ilmu gerak kaki kilat dari kaum lengan buntung, maka
gerakannya benar-benar mukjizat dan cepat sekali.
Setelah menganggap cukup memberi pelajaran kepada kakek yang sombong itu, tangan kiri Siauw Bwee
bergerak menepuk pundak, kaki kanan menyentuh lutut dan tanpa dapat dipertahankannya lagi, Pat-jiu
Sin-kauw jatuh berlutut di depan Siauw Bwee!
“Aihh, engkau orang tua terlalu sungkan, mana mungkin aku yang muda berani menerima penghormatan
ini?” Siauw Bwee berkata sambil melangkah mundur, seolah-olah dia sungkan menerima penghormatan
Pat-jiu Sin-kauw yang berlutut di depannya.
Sejenak Pat-jiu Sin-kauw terbelalak, heran sendiri mengapa tahu-tahu dia jatuh berlutut. Ketika mendengar
suara ketawa ditahan di sana-sini, dia marah sekali dan meloncat berdiri, siap untuk menerjang matimatian
mengadu nyawa.
“Pat-jiu Sin-kauw, cukup! Mundurlah, Nona ini benar-benar lihai sekali, terlalu lihai untukmu. Agaknya
hanya Kam-siauwte saja yang tepat menjadi lawannya. Kam-taihiap, harap maju dan kalahkan Nona itu
untukku!”
Pat-jiu Sin-kauw tidak berani membantah dan mengundurkan diri, sedangkan Han Ki yang duduk di jendela,
ketika mendengar perintah itu mengangkat muka memandang kepada Koksu, kemudian menoleh dan
memandang Siauw Bwee. Nona ini masih berdiri dan juga memandang kepadanya. Pandang mata mereka
bertemu dan mulut Siauw Bwee berseru, “Suheng...!”
Akan tetapi ia tahu bahwa sia-sia saja panggilannya ini karena Han Ki memandang kepadanya seperti
pandang mata orang asing, bahkan alisnya berkerut sebagai tanda kalau hatinya tidak senang. Tiba-tiba
tubuh Han Ki melesat dari jendela itu, melayang dan tiba di depan Siauw Bwee!
Kembali mereka berpandangan, kini dari jarak dekat karena mereka berdiri saling berhadapan. Hati Siauw
Bwee terharu sekali. Wajah suheng-nya kini kelihatan muram ditindih duka, sinar matanya kosong, dan
jelas tampak olehnya bahwa suheng-nya itu sama sekali tidak bahagia. Akan tetapi dengan kaget ia pun
dapat melihat bahwa suheng-nya sudah siap untuk menerjangnya.
“Suheng... jangan melawanku...!” Ia berkata dengan hati bingung.
Han Ki memandangnya dengan sinar mata kosong, kemudian terdengar ia berkata, “Bu-loheng menyuruh
aku mengalahkan engkau. Aku akan menangkapmu untuk Bu-loheng!”
“Suheng, ingatlah! Aku Khu Siauw Bwee...! Suheng...!”
Siauw Bwee cepat menghindar ketika tangan kiri Han Ki meluncur dan mencengkeram pundaknya.
“Eh, kau pandai juga!” Han Ki yang cengkeramannya luput itu telah membalikkan tangan dan menyambar
ke arah lengan Siauw Bwee untuk menangkap lengan itu. Akan tetapi kemball tangkapannya luput!
“Kam-siauwte, jangan sungkan-sungkan, pukul roboh dia!” Tiba-tiba Koksu berkata nyaring, “Dia datang
mengacau!”
Han Ki mengerutkan alisnya. “Baik, Loheng!”
Dan kini dia menerjang maju memukul ke arah lambung Siauw Bwee. Tentu saja pukulannya mantap dan
kuat sekali sehingga Siauw Bwee yang maklum bahwa suheng-nya ini tidak main-main cepat mengelak
dan mengibaskan lengan menangkis.
“Plakkk!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tubuh Siauw Bwee terhuyung ke samping karena betapa pun juga, tenaga sinkang-nya masih belum dapat
menandingi tenaga Han Ki. Selagi terhuyung, Han Ki sudah mengejar dengan tendangan ke belakang lutut
dan tumitnya, tendangan beruntun yang amat berbahaya.
Namun tiba-tiba Siauw Bwee mencelat ke atas dan bukan hanya dapat menghindarkan diri dari dua kali
tendangan, bahkan dari atas dia kini membalas dengan tendangan pula ke arah dada Han Ki! Dara itu kini
merasa yakin bahwa suheng-nya kehilangan ingatan, maka dia kini menyerang sungguh-sungguh dengan
niat merobohkan Han Ki dan dapat melarikan suheng-nya itu dari situ!
“Eh, kau lihai!” Kembali Han Ki berseru dan sambil menjengkangkan tubuh ke belakang, tangannya
menyambar dan berusaha menangkap kaki Siauw Bwee yang menendang.
”Plakkk!”
Sebelum tangan Han Ki dapat menangkap kaki yang menendang itu, kaki kedua dari dara itu telah
menghantam tangannya dari samping sehingga kembali tangkapannya meleset. Akan tetapi pertemuan
tenaga itu membuat tubuh Siauw Bwee terlempar lagi. Dara itu berjungkir balik dan dapat turun dengan
tegak di atas lantai.
“Aihhh... bagaimana kau bisa sehebat ini?” Han Ki mulai merasa heran dan kini dia menerjang dan
mengirim serangkaian serangan pukulan yang mendatangkan angin dahsyat.
Siauw Bwee tentu saja mengenal pukulan-pukulan ini dan cepat dia menghadapinya dengan elakan dan
tangkisan. Diam-diam ia merasa terharu dan juga bingung sekali. Menghadapi suheng-nya seperti ini,
teringat ia akan keadaan mereka ketika berlatih di Pulau Es dahulu. Akan tetapi dia tahu bahwa saat ini
suheng-nya bukannya sedang berlatih, melalnkan menyerangnya dengan sungguh-sungguh!
“Hebat, engkau Nona! Sungguh menarik sekali dan menyenangkan dapat berlatih ilmu denganmu!” Ucapan
Han Ki ini membuktikan akan dasar wataknya yang baik, dan bahwa dia tidak akan mempunyai niat kejam
terhadap lawan, karena terpaksa oleh perintah Koksu maka dia berusaha merobohkan dan menangkap
Siauw Bwee. Akan tetapi ucapan yang tidak sengaja itu membuat Siauw Bwee makin terharu dan dua titik
air mata menetes turun.
“Wuuutttt!”
“Aihhh... plakkk!” Hampir saja Siauw Bwee roboh oleh air matanya sendiri.
Karena terharu dan matanya menjadi kabur oleh air mata, totokan tangan kiri Han Ki hampir mengenai
sasarannya, yaitu di lambung kanan. Untung ia masih cepat dapat menggerakkan kakinya yang telah
memiliki ilmu gerak kaki kilat dan dapat pula menangkis totokan ltu dengan tangan kanannya. Kemudian ia
terhuyung dan kini Siauw Bwee terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya, bahkan dia juga
harus menggunakan ilmu gerak kaki tangan kilat untuk mempertahankan diri. Biar pun demikian, dia masih
selalu terdesak dan tidak mampu balas menyerang, sungguh pun sampai sekian lamanya Han Ki belum
dapat merobohkannya!
Coa Leng Bu memandang bingung. Mendengar disebutnya suheng oleh Siauw Bwee dia dapat menduga
bahwa tentu laki-laki yang amat lihai itulah penghuni Istana Pulau Es, murid dari Bu Kek Siansu. Melihat
jalannya pertempuran yang demikian hebatnya, ia maklum bahwa murid keponakannya itu takkan dapat
menang, dan untuk membantu pun ia merasa bahwa kepandaiannya terlampau rendah. Gerakan dua
orang itu amat hebat, amat indah, dan sukar dimengerti karena mengandung keanehan. Kalau sampai
Siauw Bwee tertawan, dia akan mengamuk dan mengorbankan nyawa karena maklum bahwa kalau dara
sakti itu saja masih kalah, apa lagi dia!
Pada saat itu, terdengar suara gaduh sekali di luar gedung. Mula-mula suara itu terdengar dari jauh, makin
lama makin dekat. Terdengar teriakan-teriakan, bahkan tanda bahaya dipukul gencar dan derap kaki kuda
hilir-mudik disambut suara orang-orang berlari-lari bingung. Semua orang yang berada di ruangan itu
menoleh ke arah pintu dengan heran, akan tetapi Han Ki dan Siauw Bwee tetap bertanding dengan hebat.
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Siauw Bwee menghadapi peristiwa itu. Kalau saja Han Ki tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam keadaan kehilangan ingatan seperti itu, kalau saja dalam keadaan wajar suheng-nya itu
menyerangnya, tentu dia akan menyerah dan tidak berani melawan.
Akan tetapi keadaannya sekarang lain lagi. Suheng-nya itu bergerak atas perintah lain orang, bergerak di
luar kesadarannya dan seolah-olah bukan suheng-nya yang menyerangnya, melainkan orang lain, seorang
pengawal dari Koksu! Karena inilah maka Siauw Bwee melawan sekuatnya, mengerahkan seluruh
tenaganya dan kepandaiannya, bukan hanya untuk menjaga diri, melainkan juga kalau mungkin untuk
merobohkan dan menawan suheng-nya untuk melarikannya.
Akan tetapi ternyata olehnya bahwa biar pun Han Ki kehilangan ingatannya, namun sama sekali tidak
kehilangan ilmu kepandaiannya! Dan baru sekarang setelah bertanding benar-benar, bukan main-main dan
bukan latihan, Siauw Bwee mendapat kenyataan betapa hebat kepandaian suheng-nya. Dia yang sudah
merantau dan banyak mempelajari ilmu tambahan yang tinggi-tinggi tingkatnya, terutama ilmu gerakan kilat,
kini berhadapan dengan suheng-nya dia benar-benar tidak berdaya!
Dia hanya mampu mempertahankan diri, mengelak dan menangkis, sama sekali tidak diberi kesempatan
membalas. Bahkan dia mengerti benar bahwa kalau suheng-nya itu tidak memiliki dasar watak yang baik,
kalau suheng-nya kejam dan bermaksud membunuhnya, agaknya pertandingan itu tidak berjalan terlalu
lama! Hanya karena suheng-nya bermaksud menawan tanpa membunuhnya sajalah yang membuat dia
masih dapat bertahan sampai ratusan jurus lamanya!
Seorang perwira pengawal yang bermuka pucat bergegas memasuki ruangan itu menghadap Bu-koksu
dan melapor dengan wajah serius penuh kegelisahan bahwa pada saat itu, Sian-yang telah kebobolan oleh
penyelundup, yaitu mata-mata musuh yang berhasil menyelundup ke dalam kota, bahkan telah berhasil
menyamar sebagai tentara dan mempengaruhi prajurit-prajurit penjaga di Sian-yang sehingga timbul
pemberontakan dan kekacauan.
“Hemm, berapa jumlah mereka?” Koksu bertanya sambil mengerutkan alisnya.
“Menurut hasil penyelidikan, mereka itu hanya terdiri dari belasan orang yang dipimpin oleh dua orang
mata-mata lihai, akan tetapi selain mereka itu terdiri dari orang-orang yang pandai, juga jumlah prajurit kita
yang telah dipengaruhi cukup banyak, ada beberapa losin orang yang sekarang memperlihatkan sikap
memberontak!”
“Ahhh, Si Keparat! Harus kuhajar sendiri!” Koksu lalu bangkit berdiri lalu menoleh kepada Han Ki yang
masih bertanding dengan gadis perkasa itu. “Kam-siauwte, hentikan pertandingan, biar diwakili Si Dampit.
Mari ikut aku keluar! Dampit, dan kau semua pengawal, tangkap dua orang itu!”
Mendengar ucapan ini, Han Ki mencelat ke belakang meninggalkan Siauw Bwee, kemudian mengikuti
Koksu keluar dari dalam ruangan itu. Siauw Bwee hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba bayangan
berkelebat dan empat buah lengan bergerak cepat dan dalam detik yang sama mencengkeram ke arah
tubuhnya dari kanan kiri!
Siauw Bwee cepat mengelak dan ketika ia memandang, ternyata sepasang manusia dampit yang tadi
enak-enak duduk, kini telah menyerangnya dan ternyata selain gerakan mereka itu cepat sekali, juga
mengandung tenaga dahsyat. Kembali Si Dampit menyerang dan Siauw Bwee cepat mengelak lagi,
menggunakan gerak kaki kilat.
Pada saat itu, Coa Leng Bu juga sudah diserang oleh Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin. Tentu saja Coa
Leng Bu melawan mati-matian sungguh pun dalam beberapa jurus saja dia terdesak hebat. Betapa pun ia
berusaha mempertahankan diri, diserang oleh dua orang yang tingkat ilmu kepandaiannya tinggi itu, Coa
Leng Bu masih terkena hantaman tangan kanan Pat-jiu Sin-kauw yang mengandung Thai-lek-kang,
menyerempet pundaknya, membuat kakek ini terpelanting. Pengawal raksasa yang berpakaian perang
telah menubruknya dengan tombak panjang di tangan, menusuk ke arah dada Coa Leng Bu yang sedang
terguling itu. Coa Leng Bu dapat mengelak dan menggulingkan tubuhnya, namun terus dikejar dengan
tusukan bertubi-tubi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar teriakan Coa Leng Bu, Siauw Bwee menoleh dan tahu-tahu dua buah tangan telah menangkap
leher dan pundaknya, dua tangan lagi bergerak menotoknya. Siauw Bwee mengerahkan sinkang-nya,
maklum bahwa dalam keadaan lengah karena menoleh tadi dia telah tertangkap oleh Si Dampit. Dia
menerima totokan kedua tangan itu, akan tetapi dia telah menutup jalan darahnya dan pada detik itu juga,
kedua tangannya bergerak cepat.
“Krakkk! Cusss!”
Tangan kirinya dengan jari terbuka menghantam dada Si Dampit yang berada di kanannya, tepat mengenai
iga dan mematahkan beberapa batang tulang iga, sedangkan tangan kanannya bergerak ke atas menusuk
dengan jari tangannya mengenai leher sehingga leher orang kedua itu tertusuk berlubang dua buah dan
mengucurkan darah. Siauw Bwee meronta, pegangan kedua tangan itu terlepas dan ia mencelat mundur
sambil menendang dengan kedua kakinya.
“Dess! Bukkk!”
Tubuh Si Dampit terpelanting ke belakang dan terjadilah hal yang mengerikan. Mungkin saking nyerinya,
kedua orang dampit yang sebetulnya saling membenci karena keadaan mereka membuat hidup tidak
leluasa dan tidak menyenangkan, kini saling menyalahkan. Kebencian mereka memuncak karena mereka
menganggap bahwa kalau tubuh mereka tidak saling melekat, tentu mereka tidak sampai terluka seperti itu.
Dengan kemarahan meluap, seorang di antara mereka yang terluka lehernya itu mencekik leher
saudaranya sendiri. Orang yang tulang iganya patah tadi juga marah, berusaha melepaskan cekikan, akan
tetapi cekikan sepuluh jari tangan itu bagaikan cakar besi menghujam kulit leher dan makin lama makin
dalam. Yang dicekik menjadi panik, matanya terbelalak dan dalam saat terakhir ia menghantam tangan
kanannya sekuat tenaga tepat mengenal ubun-ubun kepala saudaranya.
“Krekkk!” Seketika pecah kepala itu dan matilah orangnya, namun kedua tangannya sudah mencengkeram
terlalu dalam sampai masuk ke dalam leher dan orang kedua ini pun terbawa roboh dan mati dengan mata
mendelik!
Sungguh mengerikan sekali kematian sepasang manusia dampit itu. Watak sepasang manusia dampit ini
tidaklah aneh, karena memang demikianlah watak manusia-manusia yang belum sadar pada umumnya.
Dalam keadaan terancam bahaya, manusia-manusia merasa senasib sependeritaan dan bersatu.
Persatuan yang sesungguhnya hanya timbul dari sayang diri, merasa diri ada teman sependeritaan.
Pandang mata batin manusia yang belum sadar diselubungi nafsu mementingkan diri pribadi, sehingga
lenyaplah rasa kasih terhadap apa dan siapa pun juga kecuali terhadap tubuh sendiri. Selalu akan merasa
terhibur dari kesengsaraan kalau melihat orang lain sengsara! Sebaliknya, dia akan merasa iri hati kalau
melihat orang lain bahagia. Kalau ada perkara timbul menimpa dirinya, selalu ia mencari sasaran kepada
orang lain untuk menyalahkannya, sama sekali tidak pernah mau menyalahkan diri sendiri.
Demikian pula dengan kedua orang dampit itu. Di waktu mereka menghadapi lawan, mereka dapat bekerja
sama seolah-olah dua tubuh mereka dikendalikan oleh satu nyawa, dapat bekerja sama dengan amat
baiknya. Akan tetapi kalau tidak ada bahaya mengancam mereka berdua, mereka itu saling menyalahkan
sebagai biang keladi keadaan mereka yang tidak menyenangkan. Maka ketika mereka berdua terluka,
mereka saling membenci dan kemarahan membuat mereka seperti gila sehingga terjadilah saling bunuh!
Betapa banyaknya di dunia ini terjadi seperti halnya sepasang manusia dampit itu!
Perang terjadi semenjak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang. Apakah sebabnya? Tiada lain karena
manusia tidak pernah mau mengakui kesalahan pribadi, melainkan melontarkan sebab kesalahan kepada
orang laln. Karena manusia selalu dipenuhi oleh kehendak, dipenuhi oleh keinginan, dipengaruhi oleh
ingatan-ingatan akan kenikmatan duniawi, akan kedudukan tinggi, akan kekayaan, kemakmuran dan lain
sebagainya yang sudah dikenalnya dan didengung-dengungkan orang semenjak dia kecil.
Dari kehendak-kehendak yang demikian banyaknya yang dimiliki oleh seluruh manusia, tentu saja timbul
pertentangan karena masing-masing hendak mendapatkan apa yang dikehendakinya. Pertentangan inilah
dunia-kangouw.blogspot.com
yang menimbulkan permusuhan, melahirkan kebencian, memperebutkan kebenaran masing-masing yang
sesungguhnya hanyalah kebenaran palsu belaka, dan sebagai pelaksanaannya terjadilah perang!
Betapa jahatnya manusia yang belum memillki kesadaran ini, semua manusia termasuk pengarang sendiri!
Untuk kepentingan pribadi, kita melakukan hal-hal yang amat menjijikkan. Untuk kepentingan pemuasan
nafsu badani, kita tidak segan-segan mengotori rohani. Dan semua ini masih dilakukan dengan cara yang
memuakkan, yaitu dengan dalih muluk-muluk dan suci, seperti menutupi kotoran dengan kain putih! Biar
pun di dasar hati, biar pun jiwa kita yang kotor, namun kita makhluk yang mengaku terpandai di antara
segala makhluk, mencari alasan-alasan yang bersih untuk menutupi perbuatan kita yang kotor.
Di dalam perang, misalnya. Manusia sampai-sampai tidak segan untuk menarik TUHAN, untuk
menggunakan nama-Nya sebagai alasan agar dianggap, sedikitnya oleh hatinya sendiri, bahwa perang
yang dilakukannya adalah betul, karena telah diridhoi Tuhan! Dua bangsa yang berlawanan dan saling
berperang, sebelum mengangkat senjata untuk membasmi musuh masing-masing lebih dahulu mohon
berkah dari Tuhan dan masing-masing berangkat perang dengan semangat bernyala untuk menyembelih
sesama manusia karena merasa bahwa Tuhan akan melindunginya!
Mengutuk perang, mengusahakan perjanjian damai, melenyapkan senjata-senjata dan meniadakan
pasukan-pasukan tentara tidak akan mungkin berhasil melenyapkan perang di antara manusia. Karena
perang hanyalah pencetusan dari pertentangan antar kelompok manusia yang dihidupkan oleh
pertentangan di antara manusia-manusia pribadi sendiri. Selama pertentangan antar manusia pribadi ini
masih ada, maka pertentangan antar kelompok atau antar bangsa tak mungkin lenyap. Tidak ada
perbedaan pokok antara perkelahian antar tetangga dengan peperangan antar negara. Satu-satunya
perbedaannya hanyalah dalam bentuk kecil dan besar. Namun bersumber satu, yaitu dari keinginan
mementingkan diri pribadi yang dimiliki kedua pihak sehingga timbul pertentangan.
Setelah menyaksikan kematian mengerikan karena saling bunuh dari Si Dampit, Siauw Bwee bergidik dan
baru ia teringat akan supek-nya. Ia menengok dan terkejut menyaksikan supek-nya bergulingan dan
diancam tusukan tombak bertubi-tubi oleh pengawal berpakaian perang dan kini kawan-kawannya juga
mulai ikut mengejar tubuh yang bergulingan itu.
Karena maklum bahwa keselamatan supek-nya terancam hebat, Siauw Bwee mengeluarkan suara
melengking tinggi yang menggetarkan jantung para lawan yang berada di situ. Kaki tangannya bergerak
dan dalam sekejap mata saja, pengawal bertombak dan Thian Ek Cinjin terpelanting ke kanan kiri dan
tubuh Coa Leng Bu telah lenyap karena disambar Siauw Bwee dan dibawa melesat ke luar dari ruangan itu
melalui jendela!
Gegerlah para pengawal dan perwira yang berada di ruangan itu. Mereka berteriak-teriak dan melakukan
pengejaran, akan tetapi Siauw Bwee dan supek-nya telah lenyap. Ketika semua orang tiba di luar gedung,
perhatian mereka tertarik oleh hal yang lebih menggegerkan lagi. Kiranya kota Sian-yang telah menjadi
kacau dan geger. Di sana-sini terjadi pertempuran-pertempuran antara tentara yang memberontak dan
yang hendak menindas pemberontakan. Pertempuran kacau-balau karena pihak pemberontak hanya ada
kurang lebih seratus orang saja, maka tentu saja mereka kewalahan dan terdesak.
Mereka mundur dan menyebar sehingga pertempuran menjadi kacau, berkembang di seluruh pelosok kota.
Di sana-sini bahkan terjadi kebakaran sebagai siasat para pemberontak yang mengundurkan diri dan
bersembunyi di antara rumah-rumah penduduk yang padat. Tentu saja dengan adanya kebakarankebakaran
itu keadaan menjadi makin kacau.
Penduduk menjadi panik, mengira bahwa pihak musuh telah menyerbu masuk kota. Mereka berbondongbondong
pergi mengungsi, membawa buntalan pakaian dan perhiasan serta barang-barang berharga yang
mudah dibawa, membawa anak-anak mereka hendak keluar dari pintu gerbang kota, mengungsi ke lain
tempat. Akan tetapi para pasukan penjaga melarang mereka dan secepat mungkin berusaha
menenangkan mereka dengan keterangan bahwa tidak ada musuh menyerbu, hanya ada beberapa
pemberontak yang dikejar-kejar.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu berhasil menyelinap di antara banyak orang yang berlari-larian hilir mudik
tidak karuan itu sehingga para pengejar mereka kehilangan jejak mereka. Siauw Bwee mengajak Coa Leng
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu untuk menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi. Akhirnya mereka mendapat keterangan bahwa yang
membikin kacau adalah belasan orang mata-mata Mancu yang menyelundup ke kota Sian-yang dan yang
dapat mempengaruhi beberapa losin orang tentara sehingga memberontak.
Dengan marah Bu-koksu sendiri turun tangan mengatur pasukan-pasukan penjaga untuk melakukan
pembersihan, menjaga tempat-tempat penting. Ke mana pun dia bergerak, Han Ki selalu mengawalnya.
Koksu bersama beberapa orang perwira pembantu, juga Han Ki, menunggang kuda dan berputaran di
dalam kota, mengatur pasukan-pasukan yang melakukan pembersihan. Namun karena malam telah tiba
dan para mata-mata itu melakukan taktik bersembunyi di antara rakyat, keluar masuk gang-gang dan
rumah-rumah rakyat, memancing kekacauan dengan membakar sana-sini, maka Koksu sendiri dan anak
buahnya menjadi kewalahan.
Memang benar bahwa para serdadu yang memberontak telah ditundukkan, sebagian tewas dan sebagian
lagi ditawan, selebihnya menyerahkan diri. Akan tetapi belasan orang mata-mata itu tetap saja tidak dapat
ditemukan biar pun para penjaga telah melakukan penggeledahan di seluruh rumah penduduk kota. Hal ini
adalah karena para mata-mata itu amat cerdik, selalu berpindah-pindah dan bersembunyi ke dalam rumahrumah
yang telah digeledah, dengan mengancam penghuninya dan pura-pura menjadi anggota keluarga
penghuni rumah itu.
Malam itu merupakan malam yang paling ribut di Sian-yang. Para tentara masih sibuk memeriksa dan
mencari ke sana ke mari dan tingkah-polah para anggota tentara yang mencari mata-mata ini menambah
kekacauan penduduk. Mereka bersikap keras dan tidak segan-segan untuk memukuli rakyat yang dicurigai
menyembunyikan para mata-mata musuh. Semalam suntuk terjadi kebakaran di sana-sini, dan setelah
melakukan pembakaran, para mata-mata Mancu yang terdidik itu tentu saja berada di tempat yang jauh
dari kebakaran di mana para tentara melakukan penggerebekan dan pemeriksaan ketat.
Semalam suntuk tidak ada seorang pun penduduk yang dapat tidur dan mereka menanti datangnya pagi
dengan hati berdebar-debar penuh ketegangan. Berada di dalam kota amat menakutkan, akan mengungsi
keluar dilarang oleh para penjaga pintu gerbang.
Paginya, pagi-pagi sekali penduduk tersentak kaget mendengar lonceng tanda bahaya dibunyikan bertalutalu.
Di luar rumah, di jalan-jalan terdengar teriakan-teriakan para anggota tentara yang berlarian menuju
ke benteng. Lonceng itu merupakan tanda bahwa ada pasukan musuh menyerbu ke kota Sian-yang! Para
penduduk gemetar ketakutan dan tidak berani keluar rumah, anak-anak menangis dalam pelukan ibunya
dan orang laki-laki sibuk mengumpulkan senjata untuk melindungi keluarga, menutupi pintu dan jendela
kuat-kuat. Gegerlah seluruh kota Sian-yang.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu menyelinap di antara rumah-rumah penduduk mendekati benteng, hendak
menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka berhasil naik sebuah pohon besar yang tinggi di
dekat benteng dan dari tempat yang terlindung daun-daun lebat ini mereka mengintai ke atas benteng dan
ke luar benteng. Kiranya dari jauh tampak barisan besar yang terpecah menjadi pasukan-pasukan yang
bergerak mengepung kota Sian-yang!
Setiap pasukan mempunyai bendera dan mereka itu dipelopori oleh pasukan berkuda yang gagah. Paling
depan tampak beberapa orang prajurit berkuda membawa bendera-bendera, mengiringkan beberapa
orang pangllma Mancu yang juga menunggang kuda. Dari tempat sembunyinya, Siauw Bwee dan Coa
Leng Bu melihat bahwa di antara para Panglima Mancu itu terdapat seorang panglima wanlta. Jantung
Siauw Bwae berdebar aneh.
Dia menduga-duga dengan penuh keheranan siapa adanya panglima wanita Mancu yang demikian gagah
itu, yang duduk di atas kuda dengan tegak dan majukan kudanya paling depan mendekati benteng, menuju
ke atas pintu gerbang di mana berdiri Koksu dan para panglimanya. Jaraknya terlalu jauh sehingga dia
tidak dapat mengenal wajah panglima wanita itu, hanya melihat rambutnya dikuncir panjang hitam
melambal-lambai tertiup angin. Pakaian para panglima itu gemerlapan ditimpa sinar matahari pagi, dan
senjata-senjata tajam yang dipegang oleh anak buah pasukan itu menyilaukan mata.
Dari tempat sembunyinya yang jauh itu Siauw Bwee dan Coa Leng Bu menyaksikan perang yang dimulai
dengan tantangan pihak Mancu yang diajukan dengan bunyi terompet dan tambur, dan disusul majunya
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang panglima berkuda yang bertubuh tinggi besar dan dengan suara seperti geledek menyambar
panglima itu memberi aba-aba kepada pasukannya yang bergerak maju pula, sebanyak kurang leblh seribu
orang pasukan berkuda dan bergolok panjang yang dikempit dengan lengan kanan.
Melihat ini, Koksu lalu memerintahkan seorang panglimanya untuk menyambut musuh membawa
pasukannya. Panglima ini masih muda, bertubuh tinggi kurus dan mukanya kuning pucat, namun sepasang
matanya tajam dan gerak-geriknya tangkas. Suaranya kecil namun melengking nyaring ketika dari atas
benteng itu dia mengeluarkan aba-aba kepada perwira-perwira pembantunya di bawah. Pasukannya
disiapkan, juga berjumlah seribu orang pasukan berkuda, pintu gerbang dibuka, jembatan gantung
diturunkan dan pasukan keluar dari dalam benteng. Panglima muka kuning itu memberi perintah kepada
pembantunya. Kudanya yang berbulu hitam disiapkan di luar benteng, dan dengan gerakan lincah sekali
panglima muka kuning itu melayang turun dari atas benteng!
“Wah, hebat juga ginkang-nya...!” Coa Leng Bu memuji kagum menyaksikan panglima itu melayang turun
dan tubuhnya tepat tiba di atas kuda hitamnya di luar benteng!
Seorang pembantunya menyerahkan sebuah tombak panjang dan panglima ini lalu membedal kuda ke
depan barisannya dengan sikap gagah. Memang perbuatannya meloncat dari atas tembok benteng itu
bukan semata-mata untuk berlagak, melainkan terutama sekali dimaksudkan untuk mengangkat semangat
pasukannya dan untuk membikin jeri pihak musuh.
Panglima Mancu yang bertubuh tinggi besar itu mengeprak kudanya maju menyeret golok panjangnya
menyambut majunya Panglima Sung yang bermuka kuning. Begitu kuda mereka berhadapan, terdengar
bunyi nyaring berkali-kali beradunya golok dan tombak panjang diiringi ringkik kuda dan sorakan pasukan
kedua pihak.
Pertandingan itu berlangsung seru sekali dan ternyata bahwa kepandaian kedua orang panglima itu
seimbang. Mungkin panglima muka kuning itu lebih gesit, akan tetapi jelas dia kalah tenaga sehingga hal
ini membuat keadaan mereka berimbang dan pertandingan mati-matian itu berjalan makin seru.
Sungguh tidak beruntung bagi panglima muka kuning. Ketika lawannya menghantam sekuat tenaga
dengan golok panjang dan dia menangkis dengan tombak, hantaman yang amat kuat itu membuat
tombaknya hampir terlepas dari pegangan, kudanya meringkik kesakitan karena tertusuk tombak yang
hampir terlepas dan kuda itu berjingkrak. Hal ini membuat panglima muka kuning kehilangan
keseimbangan tubuhnya sehingga ketika golok lawan menyambar dan ia kembali menggerakkan tombak
menangkis, tombaknya menjadi patah. Terpaksa ia mencabut pedang dan dengan senjata yang pendek ia
terdesak hebat oleh lawannya yang bersenjata golok bergagang panjang.
Sorak-sorai pasukan Mancu yang menyambut kemenangan panglimanya disambut serbuan tentara Sung
di bawah pimpinan para perwira pembantu panglima muka kuning. Tentu saja pasukan Mancu tidak tinggal
diam dan menyambut serbuan ini dengan sorak-sorai makian.
Terjadilah perang yang dahsyat antara dua ribu orang perajurlt itu, perang sampyuh di atas kuda yang
menggiriskan hati Siauw Bwee dan Coa Leng Bu. Mereka berdua dapat melihat betapa dua ribu orang itu
saling bunuh, darah muncrat-muncrat, mayat bergelimpangan terinjak-injak kuda, jerit-jerit kesakitan,
teriakan-teriakan kemarahan, tawa dan tangis bercampur-aduk memenuhi udara bercampur debu yang
mengebul tinggi!
Pasukan Mancu itu adalah pasukan yang terlatih baik menurut petunjuk Panglima Wanita Maya, maka
mereka bertanding dengan semangat tinggi. Kuda mereka pilihan dan mereka mempunyai kerja sama yang
lebih baik sehingga akhirnya pasukan dari benteng itu terdesak dan kewalahan. Panglima muka kuning itu
tewas dan beberapa orang perwira pembantunya juga tewas, maka sisa pasukan yang kehllangan dua
ratus orang lebih itu mundur melarikan diri ke benteng, dikejar oleh pasukan musuh.
Koksu yang marah sekali melihat ini, memerintahkan serdadu-serdadu penjaga di benteng menghujankan
anak panah ke arah musuh. Kemudian dia menyuruh muridnya sendiri, Ang-siucai yang kini telah memakai
pakaian panglima, memimpin dua ribu orang prajurit menyerbu ke luar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pasukan pengejar yang dihujani anak panah itu menghentikan pengejaran, kemudian merekalah yang
mengundurkan diri karena ada aba-aba dari belakang agar mereka mundur. Panglima Wanita Maya
melihat keluarnya pasukan baru yang jumlahnya dua ribu orang lalu memerintahkan Kwa-huciang,
pembantu utamanya menyambut serbuan musuh itu dengan membawa tiga ribu orang prajurit.
Kini terjadilah perang yang lebih hebat lagi, sebagian berkuda, sebagian pasukan berjalan kaki dan makin
banyaklah kini darah berhamburan, nyawa melayang dan debu mengebul makin tinggi.
Panglima Maya mempergunakan sisa pasukannya untuk menyerbu ke benteng dan di pihak Sung
mengadakan perlawanan, menghujankan anak panah dari atas tembok yang dibawa oleh pihak penyerbu.
Karena kalah banyak jumlahnya, akhirnya pihak musuh dapat menyerbu masuk. Koksu yang dilindungi
oleh Han Ki membuka jalan darah, melarikan diri dari belakang dengan cara merobohkan pihak penyerbu
yang mengurung kota itu dari belakang pula.
Berkat kelihaian Han Ki, akhirnya Bu-koksu, beberapa orang panglima, Kepala Daerah Sian-yang, dapat
melarikan diri menunggang kuda dan terus lari ke selatan, menuju ke kota Ta-tung di mana terdapat
benteng lebih besar dan kuat lagi sebagai benteng pertahanan dekat kota raja. Pihak pasukan yang
mempertahankan kota Sian-yang, sebagian ada pula yang berhasil menyelamatkan diri ke selatan, akan
tetapi lebih banyak yang roboh dan tewas menjadi korban amukan tentara Mancu yang bergabung dengan
pasukan tentara pemberontak. Penyerbuan kota itu dapat berhasil dengan mudah berkat pengacauan dari
dalam yang dilakukan anak buah Panglima Maya.
Dalam keributan ketika pasukan Mancu menyerbu, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu yang tadinya
bersembunyi di atas pohon itu cepat meloncat turun dan terpaksa melarikan diri memasuki kota dan
bersembunyi di dalam sebuah kuil tua di mana ternyata sudah terdapat banyak orang bersembunyi pula.
Sudah menjadi lajimnya manusia-manusia di dunia ini, perang antara manusia mendatangkan mala-petaka
hebat di mana peri-kemanusiaan sudah diinjak-injak, nyawa manusia tidak ada harganya, nafsu
membunuh, merusak, menyiksa dan kebencian meluap-luap. Di dalam perang biasanya yang menang
seperti harimau haus darah, ingin membunuh sebanyak mungkin, ingin menyiksa sepuas hatinya karena
selalu teringat olehnya bahwa kalau dia kalah, maka dialah yang akan tersiksa dan terbunuh. Soalnya
hanya siapa yang lebih dulu membunuh, dia menang! Kemudian akibat kemenangan ini membuat mereka
yang haus darah menjadi kejam sekali, perampokan terjadi di mana-mana, pembunuhan, penyiksaan dan
perkosaan!
Dengan dalih ‘pembersihan’, bala tentara Mancu memasuki setiap rumah penduduk dan membunuh siapa
saja yang dicurigai, mengambil barang-barang berharga, dan wanita-wanita muda diganggunya, diperkosa
atau dibunuhnya kalau melawan! Jerit tangis membubung tinggi di angkasa, rintihan mohon pengadilan
dan perlindungan. Namun dalam perang, siapakah yang akan mengadili dan melindungi? Semua hak
mutlak berada di tangan yang menang.
Andai kata keadaannya terbalik, pihak yang kalah itu yang menjadi penyerbu dan pemenang, keadaannya
takkan berbeda banyak. Memang sudah menjadi sifat manusia pada umumnya. Jika kalah dan menderita
minta-minta ampun dan mohon perlindungan Tuhan dan semua dewa, kemudian mengandung dendam
kebencian yang hebat. Kalau sedang menang dan jaya lupa akan peri-kemanusiaan, berbuat sewenangwenang,
lupa akan kekuasaan Tuhan dan mabok kemenangan.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu mencari jalan ke luar dari kota itu, namun sia-sia. Atas perintah Panglima
Maya yang cerdik, begitu berhasil merampas dan menduduki kota, pihak Mancu lalu mengatur penjagaan
ketat, menjadikan benteng rampasan itu menjadi benteng pertahanan, tidak memperbolehkan orang keluar
masuk tanpa ijin khusus. Kemudian Panglima Maya dan Pangeran Bharigan yang memimpin langsung
penyerbuan itu menjatuhkan perintah kepada semua prajurit, melarang mereka melanjutkan perbuatannya
merampok, membunuh dan memperkosa. Kalau ada yang dicurigai supaya ditangkap dan akan diperiksa.
Pelanggaran larangan ini akan dijatuhi hukuman berat.
Maya memang cerdik. Pengalamannya ketika ia lari dari Khitan, menyaksikan akibat perang melihat hal-hal
mengerikan sebagai akibat perang membuat dia mengerti bahwa pada saat pasukannya berhasil
menyerbu kota yang dilakukan dengan taruhan nyawa, maka pesta-pora mereka yang kejam itu hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
untuk melampiaskan nafsu yang berkobar-kobar. Tidaklah bijaksana kalau begitu berhasil lalu menjatuhkan
larangan, hal ini akan mengecewakan hati pasukan dan menimbulkan rasa tidak senang sehingga mudah
memberontak. Akan tetapi juga tidak baik kalau dibiarkan berlarut-larut. Maka setelah membiarkan
pasukannya berbuat sesukanya itu, dua hari kemudian, dia mengumumkan perintah ini.
Pengumuman ini membuat rakyat yang tadinya ketakutan setengah mati menjadi tenang kembali.
Penghuni kota diperkenankan bekerja seperti biasa dengan jaminan akan dilindungi oleh pemerintah baru.
Betapa pun juga, pemerasan dan perampokan halus-halusan masih terjadi di sana-sini sungguh pun
prajurit-prajurit itu tidak lagi berani membunuh orang. Pukulan dan hinaan tentu saja masih ada. Terutama
sekali perkosaan yang dilakukan sembunyi-sembunyi dengan ancaman.
Siauw Bwee dan Coa Leng Bu terpaksa meninggalkan kuil ketika kuil itu diserbu belasan orang prajurit
Mancu yang galak-galak. Para pengungsi di dalam kuil terdiri dari dua puluh orang lebih dan mereka
menggigil ketakutan ketika terdengar suara gaduh masuknya belasan orang prajurit itu. Waktu itu
pengumuman dari Panglima Mancu belum ada, maka para prajurit itu segera menyerbu, menendangi
orang dan merampas buntalan-buntalan.
Beberapa orang wanita yang sudah tua dan ikut mengungsi ke situ ditendang roboh dan dirampas buntalan
mereka. Buntalan dibuka dan isinya dibuang ke sana-sini, hanya yang berharga saja yang diambil. Ketika
ada di antara para pengungsi itu hendak mempertahankan barangnya, mereka dibacok roboh. Seorang
wanita tua lehernya sampai hampir putus ketika wanita itu mencakar muka seorang para prajurit yang
merampas buntalannya. Yang lain-lain menjerit dan berusaha lari, akan tetapi mereka roboh oleh sabetan
golok atau tendangan kaki.
Siauw Bwee menjadi merah mukanya dan ia sudah hendak meloncat dan memberi hajaran, akan tetapi
lengannya dipegang Coa Leng Bu yang berbisik, “Jangan mencari bahaya. Mereka bukan lawan kita...”
Kemudian Coa Leng Bu menarik tangan Siauw Bwee, diajak keluar dari kuil tua yang kini menjadi tempat
penyembelihan manusia dan menjadi tempat perbuatan sewenang-wenang itu. Akan tetapi mereka melihat
Siauw Bwee dan segera terdengar seruan-seruan girang.
“Aduhhhh! Ada yang sejelita ini sembunyi di sini! Wah, untung besar kita... ha-ha-ha!”
Seorang perwira Mancu yang agaknya menjadi kepala pasukan kecil ini sudah meloncat menubruk,
matanya bernyala penuh gairah nafsu, mukanya beringas. Coa Leng Bu maklum bahwa kalau perwira itu
sampai mendekati Siauw Bwee, tentu gadis itu takkan membiarkannya dan menerjang ke depan. Segera ia
menyambut perwira itu dengan tendangan yang membuatnya terjengkang!
Melihat betapa supek-nya jelas dengan sengaja tidak mau membunuh orang, Siauw Bwee menjadi sadar.
Dia maklum bahwa kota yang sudah diduduki bala tentara Mancu itu merupakan tempat yang amat
berbahaya. Mereka tidak dapat lolos ke luar dan jika sampai mereka membunuh tentara lalu dikeroyok,
benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya bagi mereka. Maka sambil menahan kemarahan, ia pun
lalu berkelebat merobohkan para prajurit Mancu yang kini datang mengeroyok mereka berdua. Dalam
waktu singkat saja dia dan supek-nya telah berhasil meloloskan diri dari mereka dan cepat melarikan diri,
menyelinap di antara banyak orang dan mencari tempat persembunyian baru.
Tiba-tiba terdengar jerit wanita dan Siauw Bwee bersama Coa Leng Bu cepat menuju ke tempat itu, di balik
sebuah jalan tikungan di mana tampak orang-orang melarikan diri dan prajurit-prajurit Mancu hilir mudik
tertawa-tawa, dan ada yang mabok. Ketika Siauw Bwee dan supek-nya melihat sebuah kereta dikurung
belasan orang serdadu yang tertawa-tawa dan dari dalam kereta itu terdengar jerit wanita-wanita tadi, dara
sakti ini tak mampu mengendalikan kemarahannya lagi.
Tanpa mempedulikan pencegahan supek-nya dia telah menerjang maju, membuat empat orang prajurit
terpelanting ke kanan kiri dan ia cepat membuka tirai yang menutupi kereta. Kiranya ada empat orang
prajurit di dalam kereta, sedang tertawa-tawa dan hendak memperkosa dua orang wanita, yang seorang
masih dara remaja dan seorang pula adalah ibu dara itu, seorang nyonya setengah tua yang cantik dan
berpakaian seperti seorang wanita bangsawan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siauw Bwee menggerakkan tangan empat kali dan tubuh empat orang prajurit itu terlempar ke luar dari
kereta dengan kepala pecah! Melihat ini Coa Leng Bu terkejut sekali. Akan tetapi Siauw Bwee telah
menyambar tubuh ibu dan anak itu, meloncat ke luar dari dalam kereta sambil berseru, “Supek, kita harus
selamatkan mareka!”
“Celaka..., hayo cepat lari!” Coa Leng Bu mengomel, akan tetapi dia tidak dapat menyalahkan Siauw Bwee
karena menyaksikan peristiwa seperti itu, tentu saja dara sakti itu tak mungkin tinggal diam.
Wanita bangsawan itu berkata, “Nona penolong, bawa kami pergi ke ujung selatan kota di sana ada tinggal
seorang adikku, membuka toko obat.”
“Supek, mari kita ke sana!” kata Siauw Bwee.
Dengan cepat mereka itu lenyap menyelinap di antara banyak pengungsi dan akhirnya mereka berhasil
tiba di toko obat dan cepat-cepat mereka disembunyikan di ruangan belakang.
Kiranya nyonya itu adalah isteri seorang pembesar di kota itu. Rumahnya sudah habis dirampok dan
suaminya mati terbunuh, bahkan sekeluarga mereka, hanya nyonya itu dan anak gadisnya yang berhasil
melarikan diri melalui pintu belakang, ditolong oleh kusir mereka yang setia. Akan tetapi sial bagi mereka,
di tengah jalan mereka dihentikan oleh pasukan tadi, kusir mereka dibunuh dan hampir saja mereka
menjadi korban kebuasan prajurit-prajurit Mancu kalau saja tidak tertolong oleh Siauw Bwee.
Nyonya bangsawan itu bersama puterinya berlutut menghaturkan terima kaaih kepada Siauw Bwee, akan
tetapi dara perkasa ini membangunkan mereka sambli berkata, “Dalam keadaan seperti ini, tidak ada
tolong-menolong dan sudah semestinya kalau klta yang senasib saling melindungi. Sekarang pun aku dan
supek-ku minta perlindungan kalian, agar kami diperbolehkan bersembunyi di rumah ini sampai malam.
Menjelang tengah malam, kami akan berusaha menyelundup ke luar kota.”
“Lihiap telah menolong keluarga kami, tentu saja Lihiap boleh sembunyi di sini,” kata adik nyonya
bangsawan pemilik toko obat itu.
Coa Leng Bu dan Siauw Bwee mendapatkan dua buah kamar di ruangan paling belakang. Setelah mengisi
perut dengan hidangan yang hangat, mereka berdua mengaso dan bercakap-cakap.
“Kita baru dapat keluar kalau keadaan sudah gelap sekali. Kita harus dapat melewati tembok kota dan
sebaiknya kalau aku yang lebih dulu mencari jalan ke luar. Tembok kota raja luar terkurung air dan kurasa
penjagaan amat ketat. Engkau akan menimbulkan banyak perhatian, apa lagi para serdadu itu seperti
serigala kelaparan kalau melihat wanita muda. Kau tunggu saja di sini, aku akan menyamar sebagai
seorang pengungsi yang mencari keluarganya yang tercerai dalam keributan dan akan kucari bagian yang
paling lemah untuk diterobos. Kau menanti di sini dan beristirahatlah.”
Siauw Bwee tak dapat membantah. Biar pun dia jauh lebih lihai dari pada supek-nya, akan tetapi dia
adalah seorang wanita muda yang tentu akan menimbulkan banyak kesukaran dalam usaha itu.
“Baiklah, Coa-supek. Akan tetapi harap Supek berhati-hati. Pihak Mancu mempunyai banyak orang pandai
sehingga Koksu sendiri yang dibantu orang-orang sakti sampai dapat dikalahkan dan kota ini diduduki.
Memang aku harus keluar dari sini untuk mengejar Kam-suheng.”
Mendengar ini Coa Leng Bu mengerutkan alisnya dan ia teringat akan pemuda tampan yang lihainya
bukan main itu, lalu ia menghela napas. “Telah kuperhatikan ketika mendengar engkau menyebut suheng
kepada pemuda sakti itu. Sungguh beruntung sekali mataku dapat memandang murid Locianpwe Bu Kek
Siansu, penghuni Istana Pulau Es! Akan tetapi menurut penglihatanku berdasarkan pengalaman, suhengmu
itu berada dalam keadaan yang tidak wajar, Khu-lihiap.”
“Itulah yang membingungkan hatiku, Supek. Dia tidak mengenalku, bahkan melawanku! Bagaimana
mungkin hal seperti itu terjadi? Apakah dia berpura-pura dan terpaksa bersikap seaneh itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Coa Leng Bu menggeleng kepala. “Tidak, Lihiap. Kalau aku tidak salah duga, suheng-mu itu tentu telah
diracuni dengan semacam I-hun-san (bubuk perampas ingatan) sehingga dia lupa akan segala hal yang
lalu dan dijadikan pengawal boneka oleh Bu-koksu.”
“I-hun-san...?” Siauw Bwee memandang dengan mata terbelalak penuh kekhawatiran. “Akan tetapi,
suheng-ku memiliki ilmu kepandaian yang hebat, bagaimana mungkin dia sampai terkena racun...?”
Kakek itu menghela hapas. “Boleh jadi dia lihai sekali. Menyaksikan sepak terjangnya ketika melawanmu,
harus kuakui bahwa selama hidupku belum pernah aku melihat orang sehebat dia. Akan tetapi dia masih
muda, Lihiap, dan mungkin ilmu silat yang demikian tinggi cukup untuk melindungi diri dari pada serangan
yang kasar, namun untuk dapat melindungi dari tipu muslihat halus, benar-benar membutuhkan
pengalaman. Sudahlah, kita akan menyelidikinya kelak, akan tetapi kita harus dapat keluar lebih dulu dari
kota yang menjadi neraka ini. Kemudian kita akan menyusulnya, tentu dia menyelamatkan rombongan
Koksu keluar dari kota ini. Sekarang aku akan melakukan penyelidikan dan mencari jalan untuk keluar dari
tembok kota.”
Siauw Bwee mengangguk dan supek-nya itu lalu meninggalkan rumah tempat persembunyian mereka
melalui jalan atas, meloncat ke atas genteng dan mulailah dia melakukan penyelidikan dan mencari jalan
yang memungkinkan mereka dapat melarikan diri dengan selamat.
Malam itu Siauw Bwee tak dapat tidur, gelisah di atas pembaringannya. Dia sama sekali tidak
mengkhawatirkan diri sendiri yang terkurung di dalam kota itu, akan tetapi dia bingung dan gelisah
memikirkan Kam Han Ki, suheng-nya. Memikirkan suheng-nya yang dicintanya itu, selain gelisah hatinya
juga panas dan kemarahan membuat dia jengkel sekali. Dia tahu bahwa suheng-nya, seperti juga dia
adalah keturunan pendekar-pendekar yang berjiwa pahlawan.
Andai kata tidak terjadi hal-hal yang membuat mereka seolah-olah dimusuhi negara, dianggap orang-orang
pelarian, tentu mereka akan menyumbangkan tenaga untuk kepentingan mereka. Suheng-nya adalah
keturunan keluarga Suling Emas, akan tetapi kini dianggap sebagai pengkhianat negara dan pemberontak,
hanya karena peristiwa hubungan asmara yang tiada sangkut-pautnya dengan kepentingan negara. Dan
sekarang tenaga suheng-nya dipergunakan oleh negara secara pengecut dan keji! Marahlah hati dara ini
dan andai kata saat itu ia berhadapan dengan Bu-koksu, tentu akan diserangnya pembesar tinggi itu.
“Eiiggghhhh...! Toloooongggg...!” Jeritan suara wanita itu terhenti tiba-tiba seolah-olah mulut yang berteriak
itu didekap.
Siauw Bwee tersentak kaget, mencelat turun dari pembaringannya karena jeritan itu terdengar dekat sekali,
dari sebelah depan rumah. Tanpa membuang waktu lagi dia meloncat ke luar kamar dan lari ke depan.
Dapat dibayangkan betapa marahnya ketika ia melihat tiga orang serdadu Mancu sambil tertawa-tawa
membacoki keluarga tuan rumah yang semua sudah menggeletak tewas di atas lantai, termasuk nyonya
bangsawan yang ditolongnya.
“Iblis...!” Ia membentak dan menerjang maju.
Tiga orang serdadu itu terbelalak, kagum memandang dara yang muncul ini. Betapa cantik jelitanya! Akan
tetapi, bagaikan seekor burung menyambar, tubuh Siauw Bwee sudah mencelat ke depan, kaki kirinya
bergerak, tangan kanannya meraih dan tubuh serdadu yang memegang pedang terpental, pedangnya
terampas oleh dara perkasa itu. Sebelum mereka bertiga dapat bergerak, pedang di tangan Siauw Bwee
telah menyambar seperti kilat dan mereka itu roboh dengan tubuh terbabat putus menjadi dua!
Dari bawah sinar lampu Siauw Bwee melihat bahwa seluruh keluarga telah tewas, kecuali gadis cantik
puteri nyonya bangsawan. Mengertilah dia bahwa dara itu tadi yang menjerit, tentu dilarikan serdadu. Dia
terus mengejar ke depan dan memasuki sebuah warung kosong di mana ia mendengar suara serdadu
tertawa. Dengan pedang di tangan kanan ia menerjang masuk melalui pintu dan apa yang dilihatnya
membuat Siauw Bwee seperti hendak meledak dadanya. Matanya mendelik penuh amarah! Dua orang
serdadu sedang memaksa gadis puteri bangsawan itu di atas meja. Baju atas gadis itu telah terbuka sama
sekali dan sekarang, sambil tertawa-tawa, seorang serdadu hendak merenggut lepas pakaian bawah,
sedangkan serdadu kedua memegang lengan gadis itu sambil menampari mulut gadis disuruh diam!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Anjing busuk!” Siauw Bwee memaki, pedangnya berkelebat.
“Singgg...! Crotttt!”
Punggung serdadu yang hendak menelanjangi gadis itu terbelah dari atas ke bawah. Dia tidak sempat
berteriak, hanya matanya saja yang memandang heran, lalu ia roboh mandi darahnya sendiri. Serdadu
kedua terkejut. Cepat ia mencabut pedangnya, namun kembali sinar kilat berkelebat dan serdadu itu pun
roboh dengan leher putus!
Tiba-tiba dari luar warung itu datang belasan orang serdadu berlari-lari. Mereka adalah pasukan-pasukan
yang menjaga daerah ini dan tadi mereka melihat mayat kawan mereka di dalam rumah obat, lalu mereka
mendengar keributan di warung itu.
Melihat munculnya dua belas orang serdadu ini, Siauw Bwee yang sudah marah sekali cepat menyambar
dengan terjangan pedang rampasannya. Gerakan pedang di tangan Siauw Bwee seperti kilat menyambarnyambar.
Terdengar suara nyaring berturut-turut, pedang dan golok beterbangan disusul robohnya enam
orang serdadu Mancu! Yang lain-lain menjadi terkejut dan marah, mereka berteriak-teriak. Siauw Bwee
terus menerjang maju, dalam sekejap mata merobohkan dua orang serdadu lagi sehingga dengan mudah
ia meloncat ke luar.
Akan tetapi, di luar warung telah berkumpul puluhan orang tentara Mancu yang dipimpin oleh empat orang
perwira Mancu yang lihai. Begitu perwira Mancu ini menggerakkan senjata mereka, tahulah Siauw Bwee
bahwa empat orang ini lihai, maka dia pun cepat menggerakkan senjatanya yang berkelebat seperti sinar
kilat, membuat keempat orang itu cepat-cepat menangkis dan mengelak kaget. Mereka segera mengurung
dan memberi aba-aba kepada anak buah mereka. Siauw Bwee dikeroyok dan dikurung ketat, namun dara
ini yang sudah marah sekali mengamuk terus, lupa bahwa dia telah mengamuk di kandang harimau dan
akan menghadapi bala tentara musuh yang jumlahnya ribuan orang!
Sepak terjang Siauw Bwee menggiriskan hati pasukan Mancu dan dalam pertandingan mati-matian itu
kembali Siauw Bwee telah merobohkan belasan orang. Hanya empat orang perwira itu saja yang masih
dapat bertahan, dibantu oleh anak buah mereka yang mengurung dari jarak jauh dan dengan sikap jeri.
Betapa pun juga, dikeroyok oleh empat orang perwira Mancu yang dibantu oleh pasukan yang kini makin
banyak karena bala bantuan datang, Siauw Bwee menjadi lelah dan dia maklum bahwa sukarlah baginya
untuk dapat keluar dari kepungan itu.
“Aku akan mengadu nyawa dengan kalian anjing-anjing Mancu!” bentaknya.
Pedangnya bergerak makin cepat, diikuti tubuhnya yang mencelat ke sana ke mari, sukar diikuti pandang
mata para pengeroyoknya. Namun. ke mana juga tubuh Siauw Bwee berkelebat, dia selalu dihadapi oleh
puluhan orang tentara dan di sebelah luar kepungan masih ada ratusan orang musuh yang bersiap-siap
dan berteriak-teriak mengepungnya.
Tiba-tiba kepungan itu agak kacau, terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya orang-orang yang
mengepung Siauw Bwee. Tadinya dara ini mengira bahwa Coa Leng Bu yang datang membantunya, akan
tetapi betapa herannya ketika ia melihat seorang pemuda tampan yang sama sekali tidak dikenalnya. Di
bawah sinar penerangan lampu-lampu di depan rumah dan obor-obor yang dibawa oleh para pasukan, dia
melihat bahwa pemuda itu tersenyum-senyum, wajahnya tampan pandang matanya tajam, akan tetapi
gerakan kedua tangan pemuda itu lihai bukan main. Yang membuat dia terheran-heran adalah gerakan
yang dikenalnya baik-baik karena itulah ilmu silat yang dia pelajari dari mendiang Ouw-pangcu, yaitu Ouw
Teng ketua kaum liar, dan dia mengenal pula pukulan Jit-goat-sinkang yang dipergunakan pemuda itu,
pukulan-pukulan yang mengeluarkan hawa panas dan kadang-kadang dingin.
“Nona, harap lekas lari melalui pintu gerbang selatan. Cepat, biar aku yang menahan mereka!” Pemuda
tampan itu kini sudah bergerak mendekati Siauw Bwee, berdiri saling membelakangi dengan dara ini dan
menuding ke selatan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun dia tidak mengenal pemuda itu, namun melihat pemuda itu mengamuk dengan gerakan lihai sekali,
dia percaya bahwa pemuda ini tentu bermaksud baik, maka dia hanya berkata, “Terima kasih!”
Tubuhnya cepat meloncat dan menerobos melalui kepungan di sebelah selatan yang sudah terbuka karena
dikacau oleh pemuda itu. Ketika dia lari melewati tubuh pemuda itu, dia merasakan getaran hawa pukulan
Jit-goat-sinkang, dan diam-diam merasa kagum sekali. Hawa pukulan pemuda ini tidak di sebelah bawah
tingkat Coa Leng Bu mau pun mendiang Ouw Teng sendiri! Dan kini pemuda itu telah merampas sebatang
tombak, mainkan tombak itu dengan gerakan yang amat lincah seolah-olah seekor naga yang mengamuk
di antara awan-awan angkasa. Dalam amukannya ini, pemuda itu masih dapat tersenyum memandang
Siauw Bwee, bahkan mengejapkan mata kirinya dengan lucu akan tetapi juga menarik sekali!
Kalau saja pemuda itu tidak terbukti telah membantunya ke luar dari kepungan, tentu Siauw Bwee akan
marah dan menganggapnya kurang ajar. Dia cepat mengerahkan ginkang-nya dan meloncat jauh ke depan,
merobohkan tiga orang serdadu yang menghadapinya. Karena kini empat orang perwira itu dihadapi Si
Pemuda yang sengaja mencegah mereka mengejar Siauw Bwee, maka dara perkasa ini tentu saja dengan
mudah dapat menerobos ke luar karena hanya dihadang dan dihalangi oleh pasukan yang dapat
dibabatnya dengan mudah. Dia lalu berlari cepat ke selatan, dikejar oleh pasukan yang berteriak-teriak.
Ketika tiba di pintu gerbang sebelah selatan, di situ sedang terjadi keributan pula dan dilihatnya supek-nya,
Coa Leng Bu sedang mengamuk, dikeroyok para penjaga pintu gerbang. Melihat ini Siauw Bwee menjadi
girang dan dia terjun ke dalam medan pertempuran sehingga para pengeroyok Coa Leng Bu menjadi
kocar-kacir setelah dalam beberapa gebrakan saja belasan orang di antara mereka roboh oleh pedang
rampasan Siauw Bwee. Coa Leng Bu juga mengamuk dengan hebat. Kedua tangannya menyambari
tubuh-tubuh para pengeroyok dan melempar-lemparkannya ke arah serdadu lain. Di sekeliling tempat itu
sudah penuh dengan tubuh korban yang malang-melintang.
Coa Leng Bu juga girang sekali melihat munculnya Siauw Bwee yang memang sudah dinanti-nantinya,
maka dia cepat berkata, “Syukur engkau tidak terlambat datang. Lekas ikut aku, cepat!”
Siauw Bwee maklum bahwa kalau mereka terus mengamuk di situ, para pasukan musuh tentu akan datang
membanjiri dan kalau pintu gerbang sudah tertutup dan mereka dikurung oleh ratusan orang serdadu, tidak
ada harapan lagi untuk keluar dari kota itu. Apa lagi kalau sampai para panglima Mancu keluar. Baru empat
orang perwira yang mengeroyoknya tadi saja sudah memiliki kepandaian yang lihai, apa lagi kalau para
panglima seperti yang ia saksikan ketika mereka berperang tanding melawan para Panglima Sung!
Kini mereka berdua menerobos kepungan dan berhasil keluar dari pintu gerbang selatan yang terkurung
oleh air yang cukup lebar. Dan jembatan gantung di luar pintu itu tentu saja terangkat naik sehingga tidak
ada jalan ke luar lagi meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana, Supek?” Siauw Bwee bertanya bingung, pedangnya berkelebat merobohkan dua orang
pengejar terdekat.
“Aku sudah siap dengan alat penyeberang di sana itu. Mari!” Kakek ahli obat ini menuding ke kanan.
Siauw Bwee memandang. Di tempat gelap yang terkena cahaya penerangan dari atas benteng, dia melihat
sebatang kayu balok yang panjangnya ada tiga meter. Kiranya supek-nya selain telah mendapatkan jalan
juga telah siap dengan sebatang balok untuk menyeberang! Biar pun tidak sebaik sebuah perahu, namun
cukup untuk menyeberangkan mereka. Maka dia lalu mengikuti supek-nya. Kemudian keduanya meloncat
ke atas balok itu dan dengan tenaga tekanan kaki mereka, balok itu meluncur ke tengah!
Baru saja balok yang mereka injak dan mereka dorong dengan tekanan tenaga kaki itu bergerak,
berserabutan muncul melalui pintu gerbang itu para serdadu sambil berteriak-teriak dan mengacungkan
obor, kemudian mereka berlari mendekati tepi sungai dan mengacung-acungkan senjata.
“Serang dengan anak panah!” terdengar teriakan seorang perwira yang baru datang.
Tak lama kemudian datanglah hujan anak panah dari tepi sungai dan dari atas benteng! Coa Leng Bu yang
tidak memegang senjata sudah menanggalkan bajunya. Dengan baju ini dia menangkis semua anak panah
dunia-kangouw.blogspot.com
yang datang menyerang, memutar bajunya sehingga seluruh tubuhnya tertutup. Siauw Bwee memutar
pedang dan sinar pedangnya bergulung-gulung menjadi perisai tubuhnya. Semua anak panah gagal
mengenai sasaran dan kini balok itu telah tiba di tengah sungai, penuh dengan anak panah yang
menancap di situ.
“Awas perahu-perahu musuh!” Coa Leng Bu berbisik.
Dari kanan kiri meluncurlah perahu-perahu yang ditumpangi oleh serdadu Mancu. Semua ada enam buah
perahu, tiga dari kanan dan tiga dari kiri, setiap perahu dipimpin oleh seorang perwira yang kelihatan lihai.
“Supek, cepat dorong balok ke seberang, biar aku yang menahan mereka,” kata Siauw Bwee. Dia
menyelipkan pedang rampasannya di pinggang, kemudian kedua tangannya sibuk mencabuti anak-anak
panah yang menancap di atas balok, ada puluhan batang banyaknya.
Coa Leng Bu mengerti bahwa murid keponakannya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari
padanya, maka dia mengangguk dan cepat mengerahkan tenaga sinkang ke kaki, mendorong balok itu
dengan tekanan kuat, kemudian malah berjongkok dan membantu dengan kedua tangannya yang
dipergunakan sebagai dayung. Balok itu meluncur cepat sekali menuju ke seberang yang di malam itu
hanya tampak gelap menghitam.
“Wir-wir-wirrr...!” Siauw Bwee kini melontarkan anak-anak panah itu dengan kedua tangannya, menyerang
ke arah perahu-perahu musuh yang meluncur dari kanan kiri.
Terdengar teriakan-teriakan dari atas perahu-perahu itu ketika anak-anak panah yang dilontarkan namun
kecepatannya tidak kalah oleh luncuran anak panah yang terlepas dari gendewa itu membuat beberapa
orang tentara Mancu terjungkal. Tiba-tiba dari atas sebuah perahu yang datang dari kanan, terdengar
suara berdesing nyaring. Siauw Bwee terkejut melihat menyambarnya beberapa batang anak panah. Ia
maklum bahwa anak-anak panah itu dilepaskan oleh orang yang memiliki tenaga kuat, maka ia berseru,
“Coa-supek, awas anak panah!”
Dengan pedangnya dia sudah menangkis, akan tetapi sebatang anak panah melesat dan kalau saja Coa
Leng Bu tidak cepat miringkan tubuh, tentu punggungnya sudah menjadi sasaran. Betapa pun juga, anak
panah yang amat cepat dan kuat luncurannya itu masih mengenai pundak kanannya, menancap di bawah
tulang pundak dari belakang sampai menembus ke depan! Coa Leng Bu tidak mengaduh, hanya menggigit
bibir dan melanjutkan pekerjaannya menyeberangkan balok. Siauw Bwee marah sekali. Dia gerakkan
tangan kirinya yang menggenggam lima batang anak panah, dan lima batang anak panah itu melayang ke
arah perahu dari mana datangnya anak-anak panah yang cepat tadi.
“Trak-trakk!” Siauw Bwee melihat betapa lima batang anak panahnya runtuh dan lenyap ke dalam air.
Tak lama kemudian dari atas perahu yang sudah mendekat itu, tampak berkelebat bayangan yang
meloncat ke arah balok. Karena keadaan gelap, Siauw Bwee hanya melihat tubuh yang langsing dari orang
itu. Seorang wanita, pikirnya heran dan kagum. Gerakan wanita itu benar-benar hebat, seperti seekor
burung terbang saja, akan tetapi yang mengejutkan hati Siauw Bwee adalah pedang di tangan orang itu
karena pedang ini mengeluarkan cahaya kilat yang hebat, juga membawa hawa yang mengerikan hati.
Tentu seorang Panglima Mancu, pikir Siauw Bwee dengan kaget dan heran karena tidak diduganya bahwa
yang melepas anak panah tadi dan yang kini melayang ke arah mereka adalah seorang wanita. Namun dia
tidak sempat terheran terlalu lama karena tubuh orang yang menyambar dari perahu itu telah berjungkirbalik
di udara dan kini menyerangnya dengan pedang yang bersinar kilat dengan tusukan ke arah lehernya!
Siauw Bwee maklum bahwa selain pedang itu amat ampuh, juga tenaga yang mendorong gerakan pedang
itu tentu kuat sekali, maka dia tidak berani memandang ringan, lalu mengerahkan sinkang-nya yang
disalurkan melalui pedang rampasannya, dan berbareng dia menghantam dengan telapak tangan kirinya,
mengerahkan sinkang dan menggunakan pukulan Jit-goat-sinkang!
“Trakkk...! Aiiihhh...!” Jeritan ini keluar dari mulut dua orang wanita, yaitu Siauw Bwee dan wanita yang
menyerangnya, karena keduanya terkejut bukan main akan akibat bentrokan pertama ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedang Siauw Bwee patah menjadi dua ketika bertemu dengan pedang yang bersinar kilat itu, akan tetapi
wanita itu pun terkejut setengah mati ketika pedangnya bertemu dengan pedang lawan, tangan kanannya
tergetar, apa lagi ketika ada pukulan yang amat dingin menghantam dadanya. Cepat wanita itu mencelat
dengan jalan berjungkir-balik di udara, turun ke ujung balok di belakang Siauw Bwee dan ketika Siauw
Bwee cepat membalik dan mendorongkan kedua tangannya, kini dengan pengerahan sinkang yang
dilatihnya di Pulau Es, wanita lawannya yang berpedang kilat itu telah menggenjotkan kakinya pada balok
dan tubuhnya sudah melayang kembali ke atas perahu!
Seorang lawan yang hebat, pikir Siauw Bwee. Namun dia sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan
menanti dengan pandang mata tajam ditujukan ke arah perahu itu. Akan tetapi agaknya wanita yang
berpedang kilat itu pun terkejut dan ragu-ragu untuk menyerang lagi, apa lagi kini balok itu telah tiba di
seberang, sedangkan perahu-perahu yang besar itu tidak dapat mepet di tepi sungai yang dangkal.
Siauw Bwee tentu saja tidak pernah menduga bahwa wanita yang menyerangnya tadi adalah Ok Yan Hwa,
murid Mutiara Hitam! Tentu saja ilmu kepandaiannya hebat, dan pedang itu tentu saja amat ampuh karena
yang dipegangnya adalah sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis!
Seperti telah diceritakan di bagian yang lalu, tadinya kedua orang murid Mutiara Hitam, Can Ji Kun dan Ok
Yan Hwa, setelah bertemu dan dikalahkan oleh Kam Han Ki, menaati pesan Han Ki dan meninggalkan
tentara Mancu. Akan tetapi, di dalam perjalanan mereka ini selalu berselisih. Selain kehidupan yang
mewah dan terhormat di dalam barisan Mancu membuat mereka merasa sengsara setelah berkelana lagi,
juga mereka kurang gembira karena tidak dapat mengamuk dan berlomba membunuh musuh dengan
pedang mereka! Karena itulah ketika mendengar betapa pasukan-pasukan Mancu yang dipimpin Maya
maju terus, mereka kembali lagi dan membantu Panglima Maya menyerbu dan menaklukkan kota Sianyang.
Hati Siauw Bwee dan Coa Leng Bu menjadi lega ketika mereka meloncat ke darat. Untung bahwa malam
itu gelap dan agaknya panglima wanita musuh yang lihai itu menjadi ragu-ragu setelah menyaksikan
kelihaian Siauw Bwee, maka tidak mengejar lagi. Dan memang dugaan Siauw Bwee betul.
Ok Yan Hwa adalah seorang wanita gagah perkasa yang berilmu tinggi. Akan tetapi dia pun bukan seorang
bodoh yang nekat. Ketika tadi bergebrak dengan Siauw Bwee, hatinya penuh keheranan karena dia tahu
bahwa tenaga sinkang-nya jauh di bawah wanita muda itu! Apa lagi ketika menghadapi pukulan dorongan
tangan kiri Siauw Bwee, Yan Hwa benar-benar kaget setengah mati, tidak pernah menyangka bahwa di
samping Maya, masih ada lagi gadis muda yang lebih lihai dari pada dia!
Karena suheng-nya tidak bersamanya, dan di antara pasukan tidak ada yang dapat diandalkan untuk
membantu, maka di dalam kegelapan malam itu dia tidak berani nekat melakukan pengejaran seorang diri
saja, apa lagi dua orang yang melarikan diri itu selain lihai juga berada di luar kota. Baru menghadapi
wanita itu saja belum tentu dia akan menang, apa lagi harus menghadapi dua orang lawan yang sakti. Dia
tidak tahu bahwa sebatang di antara anak panahnya telah berhasil melukai pundak Coa Leng Bu, dan tentu
saja dia pun tidak tahu bahwa kakek itu, yang menurut pendengaran para pasukan adalah supek Si Nona
Lihai, sebetulnya kalah jauh kalau dibandingkan dengan murid keponakannya.
Setelah melihat bahwa pihak pasukan musuh tidak melakukan pengejaran, Siauw Bwee mengajak paman
gurunya berhenti, kemudian dengan hati-hati dia mencabut anak panah yang menancap di pundak Coa
Leng Bu. Sebagai seorang ahli pengobatan, tentu saja Leng Bu dapat mengobati luka di pundaknya yang
untung sekali tidak merupakan luka parah karena anak panah itu hanya menembus daging, tidak merusak
tulang atau urat besar.
Setelah diobati dan dibalut, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke selatan. Biar pun pundaknya terluka,
semalaman itu Leng Bu mengajak Siauw Bwee berjalan cepat terus ke selatan, dan baru pada pagi harinya
mereka memasuki dusun dan berhenti ke dalam sebuah warung untuk makan dan beristirahat.
Di sepanjang jalan malam itu, mereka melewati banyak rombongan orang yang mengungsi, yaitu penduduk
dusun-dusun di sekitar kota Sian-yang yang telah direbut pasukan Mancu. Ketika mereka tiba di dusun itu
pun sebagian besar penduduk telah berkemas dan bersiap untuk lari mengungsi ke selatan. Hanya mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
yang tidak mampu saja, dan mereka yang enggan meninggalkan usaha mereka, seperti tukang warung itu,
yang masih berada di dusun dan tidak tergesa-gesa lari mengungsi.
Warung itu penuh dengan para pengungsi yang ingin beristirahat sambil mengisi perut, dan kedua orang itu
diam-diam mendengarkan percakapan para pengungsi tentang jatuhnya kota Sian-yang. Tiba-tiba Siauw
Bwee yang sedang makan bubur menelan ludah dan hampir saja tersedak. Coa Leng Bu memandang
heran, akan tetapi ketika melihat gadis itu mengerutkan alis dan melirik ke kiri di mana terdapat beberapa
orang tamu pria sedang bercakap-cakap. Leng Bu juga mendengarkan dan melanjutkan makan bubur
dengan sikap tenang.
“Benarkah keteranganmu itu bahwa bala tentara musuh dipelopori oleh Pasukan Maut?” terdengar orang
kedua bertanya sambil berbisik.
“Tidak salah lagi. Keponakanku adalah seorang anggota pasukan pengawal di Sian-yang. Dialah yang
menganjurkan kami sekeluarga meninggalkan kota setelah dia ketahui betapa kuatnya pasukan-pasukan
musuh,” bisik orang pertama.
“Aihhh, pantas saja Sian-yang tak dapat dipertahankan, biar pun Koksu sendiri kebetulan berada di sana!”
kata orang ke tiga. “Aku telah mendengar pula akan kehebatan Pasukan Maut yang kabarnya
beranggotakan tentara yang seperti iblis, tidak takut mati dan berkepandaian tinggi, dipimpin oleh orangorang
sakti. Apa lagi Panglima Pasukan Maut, kabarnya Panglima Wanita Maya itu memiliki kepandaian
seperti iblis dari belum pernah ada yang mampu mengalahkannya!”
“Hemmm, di antara panglima musuh muncul seorang panglima wanita seperti itu, mengingatkan aku akan
ramalan seorang tosu di Kun-lun-san puluhan tahun yang lalu bahwa banyak kerajaan runtuh oleh wanita,
bukan hanya oleh kecantikan mereka, akan tetapi juga oleh kelihaian mereka. Apakah Kerajaan Sung yang
kini makin terpecah dan mundur ke selatan akan roboh pula karena wanita?”
“Stttt, Twako, jangan bicara seperti itu...!” terdengar suara memperingatkan.
Yang mengejutkan hati Siauw Bwee adalah disebutnya nama Panglima Wanita Maya tadi. Apakah suci-nya
yang menjadi Panglima Mancu? Ataukah hanya kebetulan ada persamaan nama belaka? Akan tetapi,
melihat kelihaian panglima wanita itu, tidak akan mengherankan kalau wanita itu adalah suci-nya, apa lagi
kalau diingat betapa wanita dari perahu Mancu malam tadi pun amat lihai, sungguh pun tidak selihai sucinya.
Pula, suci-nya adalah puteri dari Kerajaan Khitan, sedikitnya masih mempunyai hubungan darah
dengan bangsa Mancu, dan dia tahu betapa suci-nya amat membenci Kerajaan Sung karena kerajaan itu
dianggap telah menjadi sebab kesengsaraan dan kemusnahan keturunan keluarga Suling Emas.
Hati Siauw Bwee ingin sekali menjumpai suci-nya, akan tetapi dia telah menimbulkan kekacauan di Sianyang,
bukankah hal ini akan membuat suci-nya makin benci kepadanya? Pula, apa perlunya menjumpai
suci-nya yang telah menjadi Panglima Mancu? Dia tidak ada hasrat bertemu dengan suci-nya itu
sebaliknya dia ingin sekali segera pergi menyusul suheng-nya yang sekarang amat aneh sikapnya dan
menurut dugaan Coa Leng Bu, menjadi korban racun perampas semangat dan ingatan. Keadaan suhengnya
amat mengkhawatirkan dan suheng-nya perlu sekali mendapat pertolongannya.
“Supek, mari kita melanjutkan perjalanan,” katanya lirih kepada Coa Leng Bu.
Kakek itu mengangguk, akan tetapi tiba-tiba dia melihat Siauw Bwee memandang ke luar dengan mata
terbelalak kaget, kemudian dara itu memberi isyarat kepadanya untuk duduk kembali. Coa Leng Bu melirik
ke luar dan melihat serombongan orang memasuki warung.
Mereka terdiri dari sebelas orang, dan yang menjadi pembuka jalan ke warung itu adalah seorang pendek
gemuk yang berkepala botak. Melihat orang ini pemilik warung cepat-cepat menyambut dengan
membongkok-bongkok penuh penghormatan.
“Selamat datang, Koan-taihiap... sungguh menyesal sekali warungku penuh tamu sehingga saya tidak
dapat menyambut dengan sepatutnya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang yang disebut pendekar besar Koan itu menggerakkan matanya yang lebar memandang ke sekeliling,
alisnya berkerut dan dia berkata, “Harus kau sediakan tempat. Tamu-tamuku adalah orang-orang yang
lebih penting dari pada siapa pun juga di sini, dan aku sudah terlanjur memuji warungmu yang dapat
menyuguhkan makanan enak.”
Tukang warung menjadi bingung dan terpaksa dengan kata-kata halus dia mengusir beberapa orang
pengungsi yang sudah lama duduk di situ dan yang sudah selesai makan pula. Dengan muka bersungutsungut
namun tidak berani membantah, beberapa orang meninggalkan warung itu dan meja bangku bekas
mereka dibersihkan oleh tukang warung dan pelayan-pelayannya. Kemudian orang she Koan itu bersama
rombongannya yang masih menanti di luar warung dipersilakan masuk. Orang she Koan dengan sikap
amat ramah, hormat bahkan menjilat, mempersilakan seorang kakek tua yang agaknya menjadi pimpinan
rombongan itu untuk duduk di bangku kepala.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Siauw Bwee ketika mengenal kakek ini dan dia melirik dengan
penuh perhatian. Kakek itu sudah tua sekali, tentu sudah ada delapan puluh tahun usianya. Rambutnya
sudah putih semua, panjang seperti juga jenggotnya, namun matanya masih berkilat-kilat jernih seperti
mata anak kecil dan kulit mukanya masih merah segar seperti orang muda. Pakaiannya seperti seorang
sastrawan dan tangannya menggerak-gerakkan sebatang kipas sutera yang terlukis indah. Dia tersenyumsenyum
lebar ketika memasuki warung itu.
Biar pun sudah bertahun-tahun tak pernah berjumpa, namun Siauw Bwee segera mengenal kakek ini yang
bukan lain adalah Pek-mau Seng-jin, Koksu Negara Yucen yang amat sakti! Juga ia dapat menduga bahwa
dengan adanya Koksu Yucen di situ, tentulah rombongan itu terdiri dari orang-orang penting dari bangsa
Yucen.
Dugaannya memang tidak salah karena rombongan itu adalah tokoh-tokoh pengawal dan Panglima
Kerajaan Yucen, bahkan di antara mereka terdapat Panglima Dailuba yang terkenal, Panglima Besar
Yucen yang pandai sekali akan ilmu perang dan ilmu silat, bertubuh tinggi besar, bermuka lebar dan
mukanya brewok, usianya sudah enam puluh tahun namun masih kelihatan tangkas dan kuat.
Coa Leng Bu sudah bertahun-tahun mengasingkan diri sehingga dia tidak mengenal rombongan itu, akan
tetapi pandang matanya yang tajam dapat mengenal orang pandai. Sekali pandang saja dia dapat
menduga bahwa biar pun disebut pendekar besar, orang she Koan itu hanyalah ahli silat biasa saja, akan
tetapi kakek berambut putih dan rombongannya itu adalah orang-orang yang sakti. Maka dia bersikap
waspada dan memperhatikan wajah murid keponakannya yang jelas kelihatan berubah.
Pek-mau Seng-jin sendiri sekali pandang sudah dapat menduga bahwa wanita muda yang cantik jelita dan
seorang kakek berpakaian sederhana yang duduk menyendiri di sudut itu tentulah bukan orang-orang
sembarangan, dan bukanlah pengungsi-pengungsi biasa. Koksu ini adalah seorang yang sakti dan cerdik.
Pada waktu itu bangsa Yucen mulai berkembang kemajuannya. Melihat penyerbuan-penyerbuan bangsa
Mancu terhadap Kerajaan Sung Selatan, Koksu Yucen sengaja menahan pasukan-pasukannya dan
membiarkan pihak lain saling berperang. Hal ini menguntungkan Yucen karena dapat menyusun kekuatan
yang kelak dapat digunakan memukul kedua bangsa yang tentu menjadi lemah oleh perang.
Kini bangsa Yucen hanya menjadi penonton, menanti saat baik untuk mengalahkan semua musuh yang
sudah lelah karena bertanding sendiri. Kedatangannya di tempat itu selain hendak melihat-lihat keadaan
dengan mata kepala sendiri, juga untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan golongan-golongan
yang kuat untuk membantu gerakan bangsa Yucen kalau waktunya sudah tiba.
Kini melihat Siauw Bwee yang sudah tidak dikenalnya lagi karena telah menjadi seorang dara dewasa yang
amat cantik jelita, dan melihat Coa Leng Bu yang juga tidak dikenalnya, namun yang ia dapat duga tentu
merupakan dua orang yang berilmu tinggi. Diam-diam dia memperhatikan dan timbul keinginan hatinya
menarik kedua orang itu menjadi pembantunya, atau kalau ternyata kedua orang itu berada di pihak musuh,
membasminya di saat itu juga sebelum kelak mereka merupakan penghalang dan pembantu-pembantu
musuh yang lihai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena dia hanya menduga saja kelihaian dua orang itu dari sikap dan kedudukan tubuh mereka, maka dia
ingin menguji. Di atas meja di depannya terdapat taplak meja dari kain. Jari-jari tangan kirinya merobek
ujung taplak, lalu dipelintirnya menjadi dua butir kecil dan dengan telunjuknya, ia menyentil kedua butir kain
itu ke arah Siauw Bwee dan Coa Leng Bu. Dua butir kain itu melesat dengan cepat luar biasa, tidak tampak
oleh pandang mata yang lain, kecuali oleh para panglima yang lihai yang maklum akan niat atasan mereka
dan hanya memandang sambil tersenyum.
Sambaran dua butir gulungan kain itu mendatangkan desir angin yang cukup untuk ditangkap oleh
pendengaran kedua orang itu. Coa Leng Bu terkejut sekali, maklum bahwa ada senjata rahasia
menyambar ke arah lehernya. Cepat dia menjatuhkan sumpitnya dari atas meja dan membungkuk untuk
mengambil sumpit itu, padahal gerakan ini adalah gerakan mengelak sehingga benda kecil itu menyambar
lewat.
Tentu saja Siauw Bwee yang jauh lebih lihai dari pada Leng Bu, maklum pula bahwa Pek-mau Seng-jin
menyerangnya. Dia mengibaskan tangannya mengusir beberapa ekor lalat dari atas meja sambil
mengomel, “Ihhh, banyak benar lalat di sini!”
Bagi orang lain hanya kelihatan dara jelita itu mengusir lalat, akan tetapi lalat-lalat itu terbang ketakutan,
sedangkan di antara jari tangannya terjepit benda kecil yang tadi menyambar ke arah lehernya! Tadinya
Siauw Bwee terkejut dan mengira bahwa Koksu Negara Yucen itu agaknya mengenalnya dan menyerang,
akan tetapi ketika ia menangkap senjata rahasia itu dan mendapat kenyataan bahwa benda itu hanyalah
segumpal kecil kain, dan yang diserang tadi hanyalah jalan darah yang tidak berbahaya dan hanya akan
mendatangkan kelumpuhan tanpa membahayakan keselamatannya, maka tahulah dia bahwa kakek
berambut putih itu hanya mengujinya, ingin membuktikan bahwa dia dan supek-nya adalah orang-orang
yang lihai.
Maka menyesallah Siauw Bwee. Kalau tahu demikian, tentu dia akan membiarkan saja gumpalan kain itu
mengenai lehernya agar jangan menimbulkan kecurigaan. Kini telah terlanjur, maka dia bahkan menjadi
mengkal, menoleh ke arah meja rombongan itu dan diam-diam meremas hancur gumpalan kain menjadi
debu, kemudian dia meniup tangan kirinya dan... debu itu melayang ke arah meja rombongan Pek-mau
Seng-jin.
Para Panglima Yucen terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa dara jelita itu ternyata benar-benar sakti,
dan diam-diam mereka pun kagum akan ketajaman pandang mata Pek-mau Seng-jin. Kalau tidak
menduga bahwa dara itu lihai, tentu koksu itu tidak sudi sembarangan main-main dengan orang!
Pek-mau Seng-jin tersenyum puas. Tak salah dugaannya. Petani sederhana dan dara jelita itu benar-benar
bukan orang sembarangan. Biar pun petani itu hanya pura-pura mengambil sumpit yang jatuh, tidak seperti
gadis itu yang sengaja memperlihatkan kepandaiannya, namun jelas bahwa petani sederhana itu bukan
ahli silat biasa. Sambitannya tadi tidak mengandung tenaga yang mematikan, namun telah disambitkan
dengan kecepatan sentilan jari tangan dan meluncur cepat sekali, tak tampak oleh mata dan karena kecil
ringan maka desir anginnya lirih sekali. Namun telah dapat disambut oleh mereka dengan cara
mengagumkan!
Orang she Koan sebetulnya hanyalah seorang di antara kaki tangan bangsa Yucen untuk daerah itu dan
yang kini bertugas sebagai penunjuk jalan. Ia tidak melihat apa yang baru terjadi. Kini dia disuruh
mendekat, dibisiki oleh Pek-mau Seng-jin. Orang itu mengangguk-angguk dan memandang ke arah Siauw
Bwee dengan alis berkerut dan sinar mata heran. Bayangkan saja, pikirnya. Koksu minta dia
mempersilakan dua orang itu untuk makan bersama sebagai tamu terhormat yang diundang!
Koan Tek, demikian nama orang ini, adalah seorang jago silat yang terkenal di daerah itu, maka dihormati
oleh pemilik warung makan. Dia berwatak kasar dan memandang rendah orang lain dan tentu saja orang
yang suka memandang orang yang dianggap berada di bawahnya dan selalu menjilat kepada orang-orang
atasannya. Mendengar Koksu mengundang dua orang itu yang dianggapnya hanya seorang petani miskin
dan seorang gadis cantik, dia merasa penasaran sekali. Sepanjang pengetahuannya, Koksu Yucen dan
para panglimanya adalah orang-orang peperangan yang gagah perkasa, tak pernah terdengar mereka itu
suka mempermainkan wanita cantik. Apakah sebabnya kini Koksu mengundang kedua orang ini?
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dia tidak berani membantah, dan dengan langkah lebar ia menghampiri meja Siauw Bwee.
Karena kedua orang itu merupakan orang yang diundang Koksu, maka dia menjura dengan sikap hormat
paksaan sambil berkata, “Ji-wi diundang untuk makan bersama dengan rombongan kami.”
Coa Leng Bu yang maklum akan kekerasan hati Siauw Bwee cepat mendahului murid keponakannya itu
dan dia berdiri sambil membalas penghormatan Koan Tek. “Terima kasih atas undangan Sicu. Kami
berdua telah makan dan sudah hendak melanjutkan perjalanan. Harap maafkan kami.” Dia memberi
kedipan mata kepada Siauw Bwee untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, penolakan yang tak disangka-sangka oleh Koan Tek ini membuat dia mendongkol dan marah.
Boleh jadi kedua orang ini tidak mengenal rombongan Koksu dari Yucen, akan tetapi dia yang
mengundangnya, mengapa mereka tidak memandang mata kepadanya?
“Loheng, mungkin karena Ji-wi belum mengenal saya maka tidak suka menerima undangan kami,” katanya
dengan nada agak keras. “Perkenalkanlah, saya Koan Tek, di sini dikenal sebagai Koan-taihiap dan orangorang
yang kami undang bukanlah orang-orang sembarangan, berarti bahwa kami telah menjunjung tinggi
kehormatan Ji-wi. Maka saya ulangi, harap Ji-wi tidak menolak undangan kami untuk berkenalan dan
makan bersama!”
Biar pun kata-kata itu bersifat undangan, namun nadanya yang keras itu mengandung tekanan, paksaan
dan membayangkan ancaman. Hal ini membuat Siauw Bwee makin marah. Hati dara muda ini memang
sudah mengkal dan marah ketika ia melihat Pek-mau Seng-jin yang mengingatkan dia akan perbuatan
koksu itu yang dahulu pernah menawan dia dan Maya kemudian menyerahkan dia dan Maya sebagai
hadiah kepada Coa Sin Cu di pantai Po-hai.
Mengingat akan hal ini saja sudah membuat tangannya gatal untuk membalas dendam, karena sekarang
dia tidak gentar lagi menghadapi koksu yang lihai itu. Kemudian kemarahannya tadi ditambah dengan
penyerangan Pek-mau Seng-jin, biar pun penyerangan itu merupakan ujian dan tidak mengandung niat
jahat. Kini, ditambah oleh kata-kata dan sikap Koan Tek, tentu saja dia tidak mau menaati isyarat mata
supek-nya agar bersabar. Dia sudah bangkit berdiri dan memandang Koan Tek dengan mata berapi.
“Engkau ini mengundang ataukah hendak memaksa orang? Kalau mengundang bersikaplah sebagai
pengundang yang sopan, setelah ditolak dengan alasan tepat segera mundur. Kalau mau memaksa, terus
terang saja, tak usah bersembunyi di balik sikap manis agar aku tidak usah ragu-ragu lagi memberi hajaran
kepada orang yang hendak memaksaku!”
“Ehhh... sudahlah... sudahlah...!” Coa Leng Bu berkata khawatir. Kakek ini cepat berdiri dan menjura
kepada Koan Tek. “Harap sicu suka maafkan, kami hendak pergi saja.”
Akan tetapi Koan Tek sudah marah sekali. Dengan mata melotot ia memandang kepada Siauw Bwee dan
membentak, “Berani engkau kurang ajar kepada Koan-taihiap. Apakah kau sudah bosan hidup?”
Siauw Bwee menudingkan telunjuknya. “Jangankan baru engkau seorang, biar ada seratus orang macam
engkau aku tidak takut! Supek, orang macam dia ini kalau tidak dihajar tentu akan menghina orang lain
saja!”
Koan Tek hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba ada orang menarik lengannya sehingga dia
terhuyung ke belakang. Ketika dia menoleh ternyata yang menariknya adalah seorang kakek tinggi kurus,
berpakaian sastrawan dan dia ini adalah seorang di antara para pembantu Koksu, maka dia segera
melangkah mundur. Kakek itu dengan sikap sopan sekali menjura kepada Leng Bu dan Siauw Bwee
sambil berkata,
“Harap Ji-wi sudi memaafkan Koan-sicu yang bersikap kasar karena memang dia yang jujur selalu bicara
kasar. Harap Ji-wi ketahui bahwa kami mengundang Ji-wi dengan niat bersih hendak berkenalan. Di antara
kita terdapat nasib yang sama yaitu selagi negara kita diserbu bangsa Mancu, sebaiknya kalau orangorang
gagah seperti kita bersatu menghadapi musuh. Karena itulah maka pemimpin kami, Pek-mau Sengjin,
mengharap Ji-wi sudi datang berkenalan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Leng Bu tidak pernah mendengar nama Pek-mau Seng-jin, akan tetapi Siauw Bwee yang tahu bahwa
kakek rambut putih itu adalah Koksu Negara Yucen, segera menjawab, “Kami berdua tidak ada sangkutpautnya
dengan segala urusan perang! Apa lagi harus bersekutu dengan pihak ke tiga. Hemm, kami bukan
pengkhianat, bukan pula penjilat, lebih baik kalian tidak mencari perkara dan membiarkan kami pergi!”
Setelah berkata demikian, Siauw Bwee memegang tangan supek-nya dan diajak pergi.
Akan tetapi baru saja mereka melangkah hendak keluar, terdengar bentakan harus, “Tahan!” Dan tampak
berkelebat bayangan orang, tahu-tahu Pek-mau Seng-jin sendiri telah berdiri menghadang mereka sambil
tersenyum-senyum.
Tadi ketika mendengar ucapan Siauw Bwee yang menyinggung ‘pihak ke tiga’, Koksu itu menjadi kaget
sekali dan ia maklum bahwa dara itu telah mengetahui keadaannya sebagai pihak ke tiga, yaitu bukan
golongan Mancu dan bukan pula golongan Sung. Maka dia menjadi khawatir kalau-kalau gadis itu akan
membuka rahasianya yang akan menyukarkan penyamaran dan penyelidikannya, juga dia menjadi curiga.
“Nona, siapakah engkau? Dan di golongan manakah engkau berdiri?”
Ingin sekali Siauw Bwee memperkenalkan diri dan menyerang Koksu itu, akan tetapi dia masih menahan
diri karena maklum bahwa Koksu ini disertai rombongan orang yang berkepandaian tinggi. Tentu saja dia
tidak takut, hanya dia khawatir akan keselamatan supek-nya yang telah terluka pundaknya.
“Aku dan Supek adalah orang-orang perantauan yang tak perlu berkenalan dengan siapa pun juga, tidak
mempunyai urusan dengan kalian dan tidak mencari perkara. Sudahlah, harap kau orang tua suka minggir
dan membiarkan kami lewat!”
“Ha-ha-ha, benar-benar lantang suaranya! Nona, aku kagum sekali menyaksikan keberanian dan
kelihaianmu. Orang-orang di dunia kang-ouw berkata bahwa sebelum bertanding tidak akan dapat saling
menghargai dan berkenalan. Oleh karena itu, setelah kebetulan sekali kita saling bertemu di sini, aku
menantang Ji-wi untuk saling menguji kepandaian.”
Panaslah hati Siauw Bwee. Betapa pun dia ingin menghindari pertempuran, akan tetapi kalau ditantang
terang-terangan seperti itu, mana mungkin dia mundur lagi?
“Hemm, kalian mengandalkan banyak orang untuk menghina?” tanyanya sambil memandang ke arah
rombongan itu, tersenyum mengejek. Memang Siauw Bwee memiliki wajah yang amat cantik jelita, maka
biar pun dia tersenyum mengejek wajahnya tampak manis dan menarik sekali.
“Ha-ha-ha! Selain tabah dan pandai bicara, juga cerdik sekali. Nona muda, aku akan merasa malu
mengeroyok seorang yang patut menjadi cucuku. Tidak sama sekali, kami bukanlah rombongan pengecut
yang main keroyok, melainkan orang-orang yang dapat menghargai kepandaian orang lain dan melalui
kepandaian itu kami ingin berkenalan dan bersahabat. Bagaimana, Nona? Aku berjanji tidak akan
mengeroyok melainkan menguji kepandaian satu lawan satu!”
“Siapa takut? Majulah!” Siauw Bwee diam-diam merasa girang karena kini dia memperoleh kesempatan
untuk menghajar musuh yang pernah menawannya ini dan tidak takut akan pengeroyokan karena ucapan
yang keluar dari mulut seorang Koksu tentu saja dapat dipercaya.
Pek-mau Seng-jin kembali tertawa. “Hebat! Sebegitu muda sudah memiliki keberanian besar,
mengingatkan aku akan kegagahan mendiang pendekar sakti wanita Mutiara Hitam! Tidak, Nona. Dunia
kang-ouw akan mentertawakan Pek-mau Seng-jin kalau aku melayani seorang muda seperti engkau.
Biarlah aku diwakili oleh...”
“Perkenankanlah hamba menghadapinya!” Tiba-tiba Koan Tek berkata sambil meloncat maju. Dia merasa
penasaran dan marah sekali kepada Siauw Bwee yang tadi memandang rendah serta menghinanya. Dia
bukan seorang kejam yang suka membunuh orang, akan tetapi karena nama besar dan kehormatannya
tersinggung dia ingin memberi hajaran kepada gadis ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pek-mau Seng-jin tersenyum. Orang kasar macam Koan Tek ini perlu juga menerima hajaran, pikirnya,
karena dia yakin bahwa Koan Tek bukanlah lawan kedua orang ini.
“Mundurlah, biar aku yang maju lebih dulu!” Leng Bu berkata kepada Siauw Bwee.
Dia maklum bahwa murid keponakannya itu hendak menyembunyikan nama dan keadaannya, maka dia
tidak menyebut nama. Sebaliknya Siauw Bwee pun maklum mengapa paman gurunya ini hendak maju biar
pun pundaknya sudah terluka. Tentu paman gurunya ini hendak maju lebih dulu sehingga kalau sampai
kalah, Siauw Bwee dapat menggantikannya. Kalau Siauw Bwee yang maju lebih dulu dan sampai kalah,
tentu Leng Bu pun tidak akan berdaya lagi.
Maka Siauw Bwee segera melangkah mundur dan berkata, “Hati-hatilah, Supek. Pundakmu terluka,
mengapa memaksa diri?” dengan ucapan ini Siauw Bwee kembali menghina Koan Tek, seolah-olah dia
hendak menonjolkan kenyataan bahwa biar pun pundaknya terluka, kakek petani itu masih berani maju
menghadapi Koan Tek yang berarti memandang rendah.
“Petani tak tahu diri, kau sambutlah seranganku!” Koan Tek berseru nyaring dan dia sudah maju menerjang
dengan pukulan keras ke arah dada Leng Bu.
Leng Bu tidak dapat terlalu menyalahkan Siauw Bwee yang menyambut tantangan sehingga terpaksa
terjadi pertandingan. Dia sendiri tentu saja masih dapat bersabar dan mundur menghadapi tantangan, akan
tetapi seorang muda seperti Siauw Bwee, tentu sukar untuk mengelakkan tantangan seperti itu. Maka dia
mendahului Siauw Bwee menyambut lawan sehingga seandainya ia dapat menang dan mengatasi hal ini,
tidak akan terjadi persoalan yang lebih hebat. Dia khawatir apa bila Siauw Bwee yang maju, tangan dara
yang ampuh itu akan terlalu keras dan terjadi pembunuhan. Selain itu, andai kata rombongan ini berniat
buruk, kalau sampai dia kalah, masih ada Siauw Bwee yang jauh lebih lihai untuk menghadapi mereka.
Pendeknya, biar pun pundaknya luka, dia hendak maju sebagai pengukur keadaan dan iktikad hati mereka
ini.
Jotosan tangan Koan Tek itu merupakan serangan yang cukup kuat dan cepat. Leng Bu mengenal juga
serangan ini dan tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga kasar yang
besar. Jurus itu adalah jurus Hek-houw-to-sim (Macan Hitam Menyambar Jantung), sebuah pukulan ke
arah dada kirinya dengan kepalan tangan diputar ke kanan kiri ketika lengan itu meluncur dari pinggang.
Pukulan semacam ini dapat menghancurkan batu!
Coa Leng Bu memiliki tingkat lebih tinggi dari pada Koan Tek yang kasar itu. Hanya dengan melangkah ke
belakang saja sudah cukup baginya untuk menghindarkan pukulan itu. Akan tetapi Koan Tek sudah
menyambung serangannya dengan jurus serangan berikutnya, yaitu lengan kirinya meluncur ke depan
berbareng dengan kaki kiri, memasukkan dua jari tangan kiri ke arah leher lawan. Itulah jurus Sian-jin-ci-lou
(Dewa Menunjukkan Jalan), sebuah totokan ke arah kerongkongan yang amat berbahaya dan merupakan
serangan maut. Saking cepatnya dan kuatnya gerakan ini terdengar angin bercuitan!
Kini Leng Bu tidak mau mundur lagi, bahkan melangkah maju memapaki serangan ini! Dengan gerakan
ringan sekali dia miringkan tubuh sehingga tusukan jari tangan itu meleset lewat dekat lehernya, berbareng
dengan itu Leng Bu menggerakkan telapak tangan kirinya mendorong dada lawan. Koan Tek terkejut sekali
dan berusaha menangkis dengan lengan kanan, namun biar pun tertangkis, tenaga dorongan itu tetap saja
membuat tubuhnya terjengkang ke belakang.
Koan Tek cukup lihai. Biar pun tubuhnya terjengkang, dia masih mengangkat kakinya menendang ke arah
bawah pusar! Kembali serangan yang dapat membawa maut. Leng Bu menjadi tak senang menyaksikan
betapa lawannya berusaha untuk membunuhnya. Cepat kakinya digeser dan ketika tendangan itu lewat,
secepat kilat tangannya menyangga kaki itu dan sekali dia membentak dan mendorong tubuh Koan Tek
terlempar ke belakang tanpa dapat dicegahnya lagi. Tubuhnya tentu akan terbanting keras kalau saja
sebuah tangan yang kurus tidak cepat menyambar tengkuknya sehingga dia tidak jadi terbanting.
“Hebat...!” kata pemilik tangan kurus yang bukan lain adalah kakek sastrawan pembantu Koksu Yucen.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, para tamu warung yang sebagian besar terdiri dari para pengungsi, berserabutan lari keluar
dari warung, sedangkan pemilik warung bersama para pelayannya telah bersembunyi di balik meja dan
lemari dengan ketakutan.
“Sungguh mengagumkan sekali dan sepantasnya saya, Tiat-ciang-siucai (Sastrawan Tangan Besi) Lie Bok
berkenalan dan ingin mengetahui siapakah nama Enghiong yang perkasa?” Si Kakek Sastrawan bertanya
dengan muka tersenyum.
Melihat sikap yang sopan ini, Coa Leng Bu merasa tidak enak dan dia cepat menjura. “Namaku yang
rendah adalah Coa Leng Bu dan harap saja Locianpwe suka memaafkan kami dan membiarkan kami pergi
karena sesungguhnya, saya dan keponakan saya tidak ingin bertanding dengan siapa pun juga.”
“Ha-ha, bukan bertanding melainkan menguji kepandaian untuk bahan perkenalan, Coa-enghiong. Marilah
kita main-main sebentar!”
Leng Bu yang maklum bahwa lawannya sekali ini tentu tidak boleh disamakan dengan Koan Tek yang
kasar, cepat menyapu dengan kakinya dan meja kursi di sekeliling tempat itu terlempar ke sudut, disambar
hawa tendangan kakinya sehingga ruangan itu menjadi lega. Hal ini saja membuktikan betapa kuat tenaga
sinkang kakek ini sehingga orang yang berjuluk Tiat-ciang-siucai mengangguk-angguk kagum.
“Bagus sekali! Engkau benar-benar amat berharga untuk menjadi teman berlatih. Nah, sambutlah, Coaenghiong!”
Setelah berkata demikian kakek sastrawan itu melangkah maju, tangan kirinya menampar
kepala dan tangan kanannya dalam detik berikutnya mencengkeram ke arah perut! Itulah jurus Pai-san-tohai
(Menolak Gunung Mengaduk Laut) yang dilakukan dengan tenaga lweekang (tenaga dalam) cukup kuat.
Leng Bu tidak tahu pukulan mana yang merupakan pukulan pancingan dan yang mana yang merupakan
serangan sesungguhnya karena kedua tangan yang bergerak hampir berbareng itu memang dapat
dipergunakan sesuka Si Penyerang, yang satu dipakai memancing, yang kedua baru merupakan pukulan
sesungguhnya. Dia tidak mau terpancing, maka dia menggunakan kedua tangannya menangkis ke atas
dan ke bawah.
”Plakk! Dukkk!”
Tiat-ciang-siucai terdesak mundur dua langkah, sedangkan Leng Bu masih berada di tempatnya, akan
tetapi wajahnya berubah menyeringai karena pundaknya yang terluka tadi terasa nyeri. Jelas bahwa
sinkang-nya lebih kuat, akan tetapi selisihnya hanya sedikit dan luka di pundaknya membuat dia menderita.
Namun dia tidak mau mundur, bahkan membalas menyerang dengan pengerahan tenaga Jit-goat-sinkang!
Terdengar angin menyambar dari kedua tangannya dan hawa di ruangan warung itu tiba-tiba menjadi
panas seolah-olah ada sinar matahari sepenuhnya memasuki ruangan.
Tiat-ciang-siucai berseru kaget dan cepat ia menggunakan kedua tangannya melindungi tubuh, menangkis
bertubi-tubi sehingga dua pasang tangan itu saking cepat gerakannya berubah menjadi banyak. Namun
kakek sastrawan itu terdesak mundur oleh hawa panas. Tiba-tiba Leng Bu yang ingin segera memperoleh
kemenangan itu sudah mengubah gerakannya, ditujukan ke bawah, menyerang tubuh bagian bawah dan
tiba-tiba hawa yang panas itu berubah sejuk. Kembali kakek sastrawan terkejut, dan biar pun dia berhasil
menangkis serangan yang seperti hujan datangnya, namun perubahan itu membuat dia bingung dan
terhuyung ke belakang.
“Heiii! Bukankah itu Jit-goat-sinkang?” Tiba-tiba Pek-mau Seng-jin berseru kaget dan kagum.
Mendengar ini Coa Leng Bu terkejut. Tak disangkanya kakek berambut putih itu mengenal Jit-goat-sinkang
yang selama ini tersembunyi dari dunia kang-ouw. Akan tetapi karena sudah terlanjur dikeluarkan, dia lalu
menerjang maju dan mengerahkan tenaganya. Dari dorongan telapak tangan kanannya keluar hawa
pukulan yang bercuitan ke arah tubuh Tiat-ciang-siucai yang terhuyung. Siucai itu berusaha menahan
dengan kedua tangannya, namun tetap saja dia terdorong dan roboh bergulingan.
Leng Bu menghentikan serangannya, meloncat mundur dan menjura. “Harap maafkan kekasaran saya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiat-ciang-siucai meloncat bangun, matanya terbelalak. “Luar biasa sekali! Saya mengaku kalah!”
Menyaksikan sikap ini, agak lega hati Coa Leng Bu, karena sikap kakek sastrawan itu menunjukkan sikap
seorang kang-ouw yang baik, gagah perkasa dan jujur, berani menerima kekalahan dengan hati tulus.
Pek-mau Seng-jin girang sekali. Biar pun belum dapat dikatakan luar biasa, petani tua bertelanjang kaki itu
dapat dijadikan seorang pembantunya yang lumayan. Maka dia memberi tanda dengan mata kepada
Panglima Dailuba yang tinggi besar, bermata lebar dan bermuka penuh brewok.
“Biarlah aku menguji kepandaianmu, Coa-enghiong!” katanya dengan suaranya yang nyaring besar
mengejutkan.
Panglima ini adalah seorang bangsa Yucen tulen, bertenaga besar dan berkepandaian tinggi. Apa lagi
setelah dia menjadi pernbantu utama Pek-mau Seng-jin yang melatihnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi,
panglima ini benar-benar merupakan seorang lawan yang amat tangguh.
Hal ini dapat diduga oleh Siauw Bwee, maka dia berkata, “Supek, biarkanlah saya yang maju karena
Supek tentu lelah sekali.”
Akan tetapi Coa Leng Bu menggeleng kepala. Sebelum dia kalah, lebih baik gadis itu jangan turun tangan
yang tentu akan menimbulkan persoalan yang lebih berat lagi. Sekali gadis itu turun tangan, dia tidak
berani tanggung apakah lawan masih dapat keluar dari pertandingan dengan hidup-hidup. Pula, agaknya
yang merupakan lawan terberat hanyalah kakek yang bernama Pek-mau Seng-jin itu, maka biarlah kakek
itu nanti bertanding melawan Siauw Bwee.
“Tidak, aku masih belum kalah,” jawabnya dan cepat ia maju sambil berkata, “Sahabat, siapakah nama
besarmu?”
Dailuba tertawa bergelak. “Namaku sama sekali tidak terkenal, Coa-enghiong. Namaku adalah Thai Lu
Bauw, seorang kasar yang hanya mempelajari sedikit ilmu. Mana bisa dibandingkan dengan engkau yang
memiliki Jit-goat-sinkang? Harap kau suka mulai.”
Coa Leng Bu menggeleng kepala. “Bukan kami yang menghendaki pertandingan ini, Thai-sicu. Engkau
majulah!”
“Lihat serangan!”
Gerakan Dailuba berbeda dengan gerakan Tiat-ciang-siucai Lie Bok tadi. Gerakan orang tinggi besar ini
lambat sekali ketika tangan kanannya yang dibuka itu menyerang dengan dorongan ke arah dada Leng Bu.
Akan tetapi, Coa Leng Bu sebagai seorang yang sudah banyak mengalami pertandingan tidak mau
memandang rendah dan dugaannya ternyata tepat karena ketika ia menangkis pukulan itu, dia terdorong
sampai dua langkah, sedangkan lawannya terus melangkah maju dan mengirim dorongan lanjutan dengan
tangan kiri. Ternyata Si Tinggi Besar ini memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya!
Terpaksa Coa Leng Bu menangkis dengan pengerahan tenaga Jit-goat-sinkang sehingga dua tenaga
raksasa bertemu dan keduanya tergoyang. Ketika Leng Bu hendak menarik kembali lengannya, dia kaget
bukan main karena lengannya itu lekat pada lengan lawan, seolah-olah tersedot dan tak dapat dilepas lagi
dan pada saat itu tangan kanan Dailuba telah datang lagi menampar ke arah kepalanya!
Tahulah dia bahwa lawannya ini telah melatih sinkang-nya dengan tenaga menyedot dan menempel, maka
dia cepat miringkan kepala dan mendahului dengan sodokan tangan kiri ke arah perut lawan.
“Plakkk!”
Lengannya yang tertempel itu terlepas, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya hati
Leng Bu ketika merasa betapa sodokannya ke perut yang mengenai sasaran dengan tepat tadi seolah-olah
tidak terasa oleh lawan, bahkan jari tangannya terasa nyeri. Dailuba menggerakkan kakinya yang panjang
dunia-kangouw.blogspot.com
dan besar menyerang kaki lawan. Leng Bu cepat meloncat ke atas, akan tetapi angin yang menyambar
dari kaki Si Tinggi Besar membuat dia hampir terpelanting!
Coa Leng Bu menjadi penasaran sekali, lalu dia menyerang dengan cepat, menggunakan jurus-jurus
simpanan dan mengerahkan tenaga Jit-goat-sinkang. Namun, melihat betapa Dailuba dapat menahan
serangannya dengan gerakan lambat dan seenaknya, kedua lengan besar yang digerakkan lambat itu
telah menciptakan hawa yang merupakan perisai sehingga semua pukulan Leng Bu menyeleweng, maka
tahulah Leng Bu bahwa tingkat kepandaian lawannya ini masih jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya. Maka
dia merasa terkejut dan khawatir, bukan takut kalah, melainkan takut kalau-kalau Siauw Bwee sendiri tidak
akan mampu menanggulangi mereka.
Kalau sampai mereka kalah, tentu mereka terpaksa menerima undangan dan perkenalan mereka, padahal
dia tahu bahwa Siauw Bwee tidak menghendaki hal itu terjadi. Maka dia lalu mempercepat serangannya
dan kini dia menggunakan Im-yang-sinkang.
Sebetulnya Im-yang-sinkang masih kalah setingkat kalau dibandingkan dengan Jit-goat-sinkang yang
merupakan latihan sinkang dengan bantuan sinar sakti matahari dan bulan, akan tetapi karena dalam
latihan ini Leng Bu belum mencapai puncaknya sedangkan Im-yang-sinkang dia sudah mahir sekali, maka
terpaksa dia menggunakan sinkang yang baginya lebih kuat itu. Padahal, untuk menggunakan sinkang ini
mengandalkan seluruhnya dari tenaga dalamnya sendiri sedangkan pundaknya sudah terluka, maka hal ini
merupakan bahaya baginya. Dia sekarang mempergunakannya dalam keinginannya untuk mencapai
kemenangan.
Ketika lawannya membalas serangannya dengan dorongan kedua telapak tangan, dengan pukulan
semacam Thai-lek-sinkang yang amat kuat, dia menghadapinya dengan Im-yang-sinkang.
“Bressss!” Tubuh tinggi besar dari Dailuba terlempar ke belakang dan terguling, akan tetapi Leng Bu sendiri
terjengkang dan dia mengeluh, pundaknya nyeri bukan main.
”Supek...!” Siauw Bwee menghampiri, akan tetapi Leng Bu telah bangun kembali, wajahnya pucat
menahan sakit dan dia memegangi pundaknya yang luka, sebelah lengannya menjadi lumpuh.
Dailuba juga bangkit berdiri, tampak darah dari ujung bibirnya dan dia menjura. “Hebat sekali engkau, Coaenghiong.
Biar pun engkau terluka, engkau masih mampu menahan pukulanku!”
“Ha-ha-ha, karena Coa-enghiong terluka, biarlah kita anggap pertandingan tadi berakhir dengan samasama
dan mudah-mudahan menjadi jembatan perkenalan di antara kita!” kata Pek-mau Seng-jin.
“Tidak,” Siauw Bwee menjawab lantang. “Kami tetap tidak berkeinginan untuk mengikat tali persahabatan.
Kami hendak pergi dan siapa yang menghalangiku, berarti dia hendak memusuhiku!” Dia lalu memegang
tangan supek-nya dan berkata, “Marilah, Supek. Kita pergi dari sini dan jangan melayani mereka yang
mabok kekerasan ini!”
“Ha-ha-ha, nanti dulu, Nona. Kalau kalian tidak memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada kami,
mengapa begini angkuh? Kami hanya ingin berkenalan, kalau engkau menolak berarti engkau menghina
kami,” kata Pek-mau Seng-jin sambil menghadang di depan pintu keluar.
“Kalau engkau menganggap aku menghina, habis kau mau apa?”
“Taijin, bocah ini lancang sekali. Biarlah hamba menundukkannya!” kata Dailuba yang tak dapat menahan
kesabarannya lagi menyaksikan sikap Siauw Bwee demikian berani terhadap orang pertama sesudah Raja
Yucen! Dia sudah melompat maju menghadapi Siauw Bwee.
Dara ini maklum bahwa tanpa memperlihatkan kepandaian, mereka tidak akan mau mundur begitu saja,
maka dia melepaskan tangan Leng Bu dan menghampiri Dailuba.
“Kau kira aku takut kepadamu?” bentaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dailuba tersenyum mengejek. Gadis ini hanyalah murid keponakan Leng Bu. Sedangkan Coa Leng Bu
sendiri tidak mampu mengalahkannya, apa lagi murid keponakannya yang hanya seorang dara muda?
“Nona, aku harus mengaku bahwa aku kagum sekali menyaksikan keberanianmu. Akan tetapi, engkau
bukanlah lawan kami dan sesungguhnya aku sendiri merasa malu kalau harus bertanding melawan
seorang bocah perempuan seperti Nona. Sedangkan supek-mu sendiri yang cukup lihai tidak mampu
mengalahkan aku, bagaimana engkau berani menghadapi aku?”
“Tidak perlu banyak cerewet. Kalau kau berani, majulah!” Siauw Bwee menantang.
Dailuba menjadi marah. Akan tetapi dia adalah seorang panglima besar, tentu saja dia dapat menahan diri
dan tidak mau menuruti nafsu amarah. Maka sambil tersenyum dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Seorang
anak bandel seperti engkau ini tentu belum mau mengerti kalau belum mengenal kelihaianku. Nah, kau
jagalah sentuhan ini!”
Sambil berkata demikian, Dailuba menampar pundak Siauw Bwee dan hanya mempergunakan seperempat
bagian tenaganya saja. Itu pun ia lakukan dengan hati-hati dan perlahan karena khawatir kalau-kalau
tulang pundak nona ini akan remuk terkena tamparannya!
Siauw Bwee menjadi makin marah. Dia tentu saja tahu bahwa lawannya ini tidak sungguh-sungguh
menyerangnya, dan hal ini selain dianggap sebagai sikap memandang rendah, juga merupakan
penghinaan! Cepat sekali tangannya bergerak dan tahu-tahu Dailuba berteriak kaget ketika kedua pundak
dan kedua lututnya telah kena ditotok oleh jari tangan dan ujung sepatu nona itu. Kedua pasang kaki
tangannya menjadi lumpuh dan di saat selanjutnya, tubuhnya sudah dilemparkan oleh dara itu dengan
menyambar tengannya! Tembok warung itu bobol kena bentur tubuhnya, akan tetapi tubuh yang kuat itu
tidak terluka dan begitu dia terbanting, totokan-totokan itu telah punah dan Si Tinggi Besar telah meloncat
bangun. Merah sekali mukanya dan matanya menjadi merah saking marah. Dia telah dihina di depan
Koksu dan para rekannya!
“Keparat! Tak tahu orang mengalah!” bentaknya sambil menubruk maju.
“Siapa minta kau mengalah! Keluarkan semua kepandaianmu!” Siauw Bwee tersenyum mengejek.
Perasaan malu membuat Dailuba lupa diri dan memuncak kemarahannya. Belum pernah selamanya dia
menerima penghinaan seperti itu, apa lagi dilakukan oleh seorang gadis muda di depan Koksu! Dia adalah
orang kepercayaan dan tangan kanan Koksu, dan semua panglima tunduk kepadanya! Mana mungkin dia
menerima saja dipermainkan seorang gadis begitu saja?
Maka begitu ia menubruk maju, dia memukul dengan pengerahan tenaga sekuatnya, tangan kiri
menghantam ubun-ubun kepala dan tangan kanan menyodok ke arah pusar. Kedua tangannya
melancarkan pukulan maut dan jarang ada lawan tangguh yang mampu menghindarkan diri dari serangan
ini. Bahkan Koksu sendiri menjadi terkejut dan menyesal mengapa panglimanya itu hendak membunuh
gadis yang demikian lihai, namun dia dapat mengerti akan kemarahan Dailuba dan memandang penuh
perhatian.
“Mampuslah! Wuushhh... siuuutt!” Bentakan Dailuba disusul angin sambaran kedua tangannya.
“Haaaiiittt... yyaaaahhhh!”
Pek-mau Seng-jin sendiri sampai terbelalak kagum menyaksikan gerakan Siauw Bwee yang asing baginya.
Kedua kaki dara itu bergerak dengan cepat dan aneh, indah sekali seolah-olah kedua kaki dara itu menjadi
roda, bergeser ke sana-sini dengan lincah dan ringan, namun tepat sekali sehingga dua pukulan maut itu
sama sekali tidak mengenai sasaran.
Padahal dua pukulan itu sukar sekali dielakkan dan Koksu sendiri maklum bahwa jalan satu-satunya
menghadapi dua pukulan maut itu hanya menangkis dengan pengerahan sinkang. Betapa mungkin gadis
itu dapat mengelak tanpa meloncat pergi, hanya mengegos ke sana-sini seolah-olah pukulan itu
merupakan pukulan biasa yang dipandang rendah saja?
dunia-kangouw.blogspot.com
Juga panglima tinggi besar itu terkejut, namun rasa marah dan penasaran melampaui kekagetannya dan
kemarahan membuat dia tidak mau melihat kenyataan, tidak menyadarkannya bahwa sesungguhnya dia
menghadapi seorang lawan yang jauh lebih berbahaya dari pada Coa Leng Bu, bahkan lebih berbahaya
dari pada semua lawan yang pernah ia hadapi sebelumnya! Kemarahan dan penasaran membuat dia
menerjang lagi dengan gerakan cepat dan lebih kuat, menggerakkan kedua tangannya menyerang bertubitubi
dan setiap pukulan, tamparan, atau totokan dia tujukan ke arah bagian-bagian yang mematikan!
Siauw Bwee bukan tidak tahu akan hal ini. Dia maklum bahwa lawannya sengaja mengirim pukulanpukulan
maut karena kemarahannya, dan hal ini membuat dia ingin menalukkan orang-orang itu dengan
memperlihatkan kepandaiannya. Dia pun bukan seorang gadis bodoh yang hanya menuruti nafsu amarah.
Dia mengenal Pek-mau Seng-jin sebagai seorang Koksu Negara Yucen, dan sudah mendengar bahwa
bangsa Yucen pada waktu itu merupakan bangsa yang besar dan kuat.
Dia dapat menduga bahwa orang tinggi besar ini tentu bukan orang sembarangan pula, melainkan seorang
yang berkedudukan tinggi di Kerajaan Yucen. Mengingat bahwa mereka yang tadi berhadapan dengan
Coa Leng Bu bersikap gagah dan tidak bermaksud membunuh supek-nya itu, maka kini dia pun hanya
ingin mencari kemenangan dan segera pergi bersama supek-nya melanjutkan perjalanan ke selatan,
terutama sekali untuk menyusul suheng-nya, Kam Han Ki.
Kini melihat betapa lawannya menerjang dengan hebat, Siauw Bwee terus menggunakan ilmu gerak
langkah kilat yang ia pelajari dahulu dari kaum lengan buntung, mengelak ke sana-sini sehingga tubuhnya
berkelebatan ke kanan kiri, menyelinap di antara pukulan-pukulan itu. Makin lama, Dailuba menjadi makin
penasaran dan memukul makin cepat.
Tidak mungkin ada orang hanya main mengelak saja dari hujan pukulannya, padahal baru sambaran angin
pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan. Namun, pandang matanya sampai berkunang
ketika lewat tiga puluh jurus dia menyerang, gadis itu hanya main elak saja dan tak sebuah pun dari
pukulan-pukulannya dapat menyentuh ujung baju gadis itu, apa lagi mengenai tubuhnya! Dia makin
terheran-heran. Supek gadis ini tadi harus mengakui keunggulannya hanya dalam belasan jurus saja.
Bagaimana kini gadis ini menghadapi serangan-serangannya sampai tiga puluh jurus lebih tanpa
membalas sama sekali, mempermainkannya seperti seorang dewasa mempermainkan anak kecil?
Kalau tidak ingat bahwa di situ ada Koksu dan para rekannya yang menjadi penonton, tentu panglima tinggi
besar ini sudah mengeluarkan senjatanya. Akan tetapi hal itu tidak mungkin dia lakukan di bawah
pengawasan Koksu dan para rekannya karena tentu hal itu akan membuat dia menjadi makin rendah dan
malu. Maka kini ia hanya menggigit bibir dan melanjutkan serangan-serangannya dengan tenaga sinkang
Thai-lek-sinkang.
Melihat pukulan-pukulan yang mengandung hawa sinkang ini, Siauw Bwee maklum bahwa sudah cukup
dia memperlihatkan kepandaiannya. Dia meloncat mundur, memasang kuda-kuda dan sengaja menyambut
pukulan kedua tangan lawannya tadi.
Melihat ini Coa Leng Bu terkejut sekali. Dia tahu akan kehebatan ilmu silat murid keponakannya, akan
tetapi menghadapi pukulan-pukulan orang yang bernama Thai Lu Bauw begitu saja, benar-benar amat
berbahaya karena tenaga sinkang Si Tinggi Besar itu amat kuat. Sebaliknya, Dailuba girang sekali melihat
gadis itu berani menerima pukulannya tanpa menggunakan langkah-langkah aneh untuk mengelak seperti
tadi, maka dia mengerahkan seluruh tenaganya dalam dorongan kedua lengannya itu.
Siauw Bwee tidak berniat membunuh lawannya, akan tetapi kalau sampai dia tidak berani menerima
pukulan sinkang ini, tentu orang-orang itu menyangka takut. Oleh karena itu, dia tidak mengelak, bahkan
kini dia mendorongkan kedua lengannya ke depan menyambut datangnya pukulan jarak jauh yang amat
dahsyat ini. Diam-diam dia menggunakan sinkang yang dilatihnya bersama Kam Han Ki dan Maya di Pulau
Es sehingga dari kedua tangannya menyambar hawa dingin sekali yang menyambut hawa pukulan Dailuba.
“Wussshhhh... desss!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka berdiri berhadapan dengan kedua tangan dilonjorkan, jarak antara kedua pasang tangan itu ada
dua kaki, akan tetapi mereka merasa seolah-olah telapak tangan mereka bertemu. Tubuh Dailuba
bergoyang-goyang, kemudian menggigil kedinginan. Tiba-tiba Siauw Bwee mencelat ke atas sambil
menarik kedua lengannya dan... tubuh Dailuba terbawa oleh dorongannya sendiri ketika dia mengerahkan
seluruh tenaganya, jatuh menelungkup!
Kalau Siauw Bwee menghendaki, di saat itu tentu saja dia dapat memukul kepala lawannya dari atas. Akan
tetapi untuk membuktikan kemenangannya, dia hanya merenggut penutup kepala lawannya dan meloncat
turun dengan ringan di belakang Dailuba. Panglima tinggi besar ini terengah-engah, tubuhnya masih
terguncang dan menggigil, kemudian melompat bangun dan memutar tubuh, dengan mata terbelalak
memandang Siauw Bwee yang tersenyum sambil memegangi topi yang tadi berada di atas kepalanya.
“Terimalah kembali penutup kepalamu!” Siauw Bwee berkata sambil melontarkan benda terbuat dari kain
itu ke arah Dailuba. Orang tinggi besar itu menyambar topi dengan tangannya, akan tetapi...
“Wushhhh!” benda itu seperti berubah menjadi burung terbang, mengelak dari sambarannya, melayang ke
atas dan jatuh di atas kepalanya.
“Hebat...! Ahhh, sungguh ajaib! Betapa mungkin kepandaian seorang murid keponakan jauh melampaui
tingkat supek-nya sendiri? Nona, aku kagum sekali dan marilah kita saling menguji kepandaian kita. Aku
akan merasa gembira sekali berkenalan dengan Nona setelah kita saling mengenal kelihaian masingmasing!”
Koksu berkata dan tubuhnya sudah mencelat ke depan Siauw Bwee.
Hemm, biar akan menimbulkan geger, sekali ini dia akan memberi hajaran keras kepada orang yang telah
pernah menawan dia bersama suci-nya, Maya. Pikiran ini membuat Siauw Bwee menjawab lantang.
“Pek-mau Seng-jin, biar pun aku masih muda, sudah banyak aku mendengar namamu yang besar.”
“Apa? Engkau sudah mengenal namaku? Jadi engkau tahu siapa aku ini?” Kakek berambut putih itu
bertanya, alisnya berkerut.
Siauw Bwee tersenyum mengejek sambil mengangguk. Alis putih itu makin berkerut. Celaka, pikir Pek-mau
Seng-jin. Kalau gadis ini sudah mengenalnya, berarti tahu bahwa dia adalah Koksu dari Yucen, rahasia
penyamaran dan perjalanannya telah terbuka! Gadis ini harus ditarik sebagai sekutunya, atau... kalau tidak
mau, harus dienyahkan sebagai musuh yang berbahaya!
Namun, sikap kakek itu masih tenang saja dan dia bertanya, ”Nona, engkau sudah mengenalku. Sudah
sepatutnya kalau aku mengetahui siapakah engkau yang semuda ini telah memiliki kepandaian amat tinggi.”
“Aku seorang perantau. Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun juga. Akan
tetapi kalian memaksa kami untuk bertanding. Kami telah memenuhi permintaan kalian, hanya karena
terpaksa, bukan sekali-kali untuk berkenalan. Nah, kita lanjutkan atau tidak?”
“Ha-ha-ha, pantas saja engkau angkuh dan tinggi hati, karena memang engkau lihai sekali. Biarlah, kita
main-main sebentar dengan taruhan bahwa kalau engkau kalah, biar pun engkau tidak mau menjadi
sahabat kami, engkau harus memperkenalkan namamu kepadaku. Bagaimana?”
“Aku tidak sudi berjanji apa-apa. Dengan pertandingan yang kau paksakan ini, kalau aku kalah, terserah
kepadamu mau berbuat apa. Akan tetapi kalau engkau kalah dan tewas di tanganku, jangan menyalahkan
aku!”
“Aduh sombongnya! Baiklah, Nona. Sudah lama aku tidak ketemu lawan yang setanding. Melihat cara
engkau mengalahkan pembantuku, ternyata engkau cukup berharga untuk menjadi kawanku. Bersiaplah
engkau!”
“Majulah!” Siauw Bwee sudah memasang kuda-kuda dengan kedua kaki tegak, agak terbuka dan kedua
tangannya tergantung lemas di kedua samping tubuhnya, matanya tajam mengawasi lawan dan seluruh
urat syaraf di tubuhnya siap menghadapi serangan yang bagaimana pun juga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat cara persiapan dan kedudukan tubuh dara itu, kembali Pek-mau Seng-jin kagum dan dia tidak
berani memandang rendah. Dara ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali sehingga dapat
bersikap seperti itu, tanpa memasang kuda-kuda teguh seperti yang biasa dilakukan ahli-ahli silat.
“Sambutlah, Nona!”
Pek-mau Seng-jin mulai dengan serangan pertama. Tangan kirinya bergerak menyambar dari samping
menuju ke arah leher Siauw Bwee. Angin pukulan yang panas sekali menyambar, diikuti oleh lengan baju
yang menampar muka, kemudian dalam detik berikutnya disusul pula oleh jari-jari tangan yang melakukan
totokan-totokan ke arah lima jalan darah di kedua pundak kanan kiri leher dan tenggorokan! Bukan main
hebatnya serangan ini yang sekali gerak telah mengandung lima serangan. Baru angin pukulan itu saja
sudah amat berbahaya, tidak kalah bahayanya dengan tamparan ujung lengan baju atau totokan-totokan
itu sendiri yang rerupakan inti serangan!
Namun Siauw Bwee tidak menjadi gentar. Tanpa menggeser kaki, tubuh atasnya meliuk ke belakang dan
lengan kanannya yang kecil menangkap dengan berani.
“Plakk! Brettt...!”
Pek-mau Seng-jin meloncat ke belakang dengan mata terbelalak heran. Dia tidak mengenal gerak tangan
Siauw Bwee tadi yang amat cepat dan hal ini tidak aneh karena dara ini menggunakan ilmu gerak tangan
kilat yang merupakan kepandaian khusus dari kaum kaki buntung! Dengan gerakan kilatnya, sambil
menangkis serangan tadi, jarinya dapat digerakkan dengan pemutaran pergelangan tangan cepat sekali
sehingga dari samping ia berhasil melubangi ujung lengan baju kakek berambut putih itu!
“Kau... apakah engkau dara perkasa yang telah membunuh panglima dampit dari Kerajaan Sung?”
Siauw Bwee terkejut dan kagum. Agaknya Koksu Yucen ini mempunyai banyak mata-mata yang telah
menyelundup ke dalam gedung pembesar Sian-yang sehingga mengetahui pula peristiwa itu.
“Kalau betul demikian, mengapa?” tanyanya dengan tenang.
“Aihh..., Nona yang perkasa! Kita sepaham dan sehaluan! Marilah engkau bekerja sama dengan kami
menghadapi bangsa Mancu yang biadab dan Kerajaan Sung yang sudah hampir roboh!”
“Pek-mau Seng-jin, aku tidak mau mencampuri urusan negara dan perang. Kalau kau tidak ingin
melanjutkan pertandingan gila ini, biarkan aku dan Supek pergi.”
“Engkau keras kepala! Apa kau kira akan mampu menandingi Pek-mau Sengjin? Jaga serangan!”
Kini kakek itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring sekali, seruan yang dikeluarkan dengan tenaga
khikang sehingga melengking tinggi dan mengejutkan semua orang, bahkan para pembantunya hampir
tidak kuat bertahan kalau tidak cepat mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan lengking itu. Pemilik
warung dan para pelayannya yang masih bersembunyi, seketika roboh pingsan!
Namun Siauw Bwee tetap tenang. Melihat kini kakek itu menerjangnya dengan dahsyat, ia cepat mengelak
dengan gerakan kakinya yang lincah sambil balas memukul dari samping dengan pengerahan sinkang
yang mengandung tenaga Im-kang kuat sekali. Pek-mau Seng-jin menangkis.
“Dukkk!” keduanya terlempar ke belakang. Akan tetapi kalau Siauw Bwee tidak merasakan sesuatu, hanya
terpental saking kuatnya lawan, adalah Pek-mau Seng-jin menggoyang tubuhnya mengusir hawa dingin
yang menyusup ke tulang-tulangnya!
Pada saat itu terdengar seruan nyaring. “Tahan! Di antara sahabat sendiri tidak boleh bertanding!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tampak bayangan berkelebat dan Suma Hoat telah berdiri di tempat itu, memandang kepada Koksu dan
Siauw Bwee, kemudian cepat menjura kepada Pek-mau Seng-jin sambil berkata, “Seng-jin, dia adalah Coa
Leng Bu, suheng-ku sendiri. Harap jangan melanjutkan perkelahian!”
Pek-mau Seng-jin tertawa bergelak, “Ha-ha-ha, kau salah sangka, Suma-sicu! Kami bukan berkelahi,
melainkan saling menguji kepandaian dan Nona ini benar-benar luar biasa lihainya. Kiranya masih Coasicu
ini suheng-mu sendiri, dan Nona ini, apakah dia juga murid keponakanmu?”
“Murid keponakan...? Saya tidak mengenalnya, biar pun kami pernah saling berjumpa.”
Sementara itu Siauw Bwee terheran-heran melihat pemuda tarnpan yang pernah menolongnya lari dari
Sian-yang. Jadi pemuda yang lihai dan mahir Ilmu Jit-goat-sinkang itu adalah sute dari Coa Leng Bu? Dia
mengerutkan alisnya dan makin tidak mengerti ketika mendengar pemuda itu disebut Suma-sicu oleh Pekmau
Seng-jin. Pemuda itu bernama keluarga Suma! Apa artinya ini?
Ketika dia menoleh kepada Coa Leng Bu, kakek ini menarik napas panjang dan berkata, “Sute,
sesungguhnya tidak ada perkelahian dan biarkan kami berdua pergi lebih dulu. Kalau engkau mengenal
mereka ini, harap jelaskan bahwa kami bukanlah orang yang suka terlibat dalam urusan negara. Sampai
jumpa, Sute.” Coa Leng Bu lalu mengajak Siauw Bwee pergi dari situ dan sekali ini rombongan Pek-mau
Seng-jin tidak mencegah mereka.
Setelah keluar dari dusun itu, Siauw Bwee tidak dapat menahan hatinya. “Supek, pemuda itu adalah orang
yang menolongku keluar dari Sian-yang. Benarkah dia itu sute-mu?”
“Memang begitulah. Tadinya Suhu Bu-tek Lo-jin hanya mempunyai tiga orang murid, yaitu Twa-suheng Lie
Soan Hu yang menjadi ketua lembah memimpin orang-orang penderita kusta, kedua aku sendiri, dan ke
tiga adalah Sute Ouw Teng. Akan tetapi belum lama ini, Suhu mengangkat seorang murid baru yang biar
pun paling muda, namun memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dia adalah Suma-sute tadi yang sebelum
menerima ilmu Jit-goat-sinkang dan lain-lain dari Suhu, telah memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi
dari pada kami bertiga. Sungguh tidak kuduga bahwa dia mengenal rombongan Pek-mau Seng-jin tadi.
Betapa pun juga, kedatangannya menghentikan bahaya yang mengancam kita. Sekarang aku ingin sekali
tahu, bagaimana engkau mengenal Pek-mau Seng-jin dan siapakah dia sebenarnya?”
“Dia itu bukan lain adalah Koksu Negara Yucen.”
“Aihhhh...!” Wajah Coa Leng Bu berubah pucat. “Pantas saja dia lihai bukan main. Dan Suma-sute agaknya
mengenal balk mereka itu! Apa artinya ini?”
Siauw Bwee menarik napas panjang. “Agaknya aku dapat menduga apa artinya, Supek. Koksu Negara
Yucen itu tentu melakukan penyelidikan dan mencari bantuan orang-orang pandai, mengingat akan
pesatnya gerakan kerajaan itu menyerbu ke selatan. Tadi dia mengajak aku membantunya ketika
mendengar bahwa aku menewaskan Panglima Sung, tentu dia mengira aku memusuhi Sung dan Mancu.
Dan melihat sikap sute-mu tadi, aku tidak akan meragukan kalau dia termasuk di antara orang-orang
gagah yang kena terbujuk untuk bersekutu dengannya.”
Coa Leng Bu mengangguk-angguk. “Hemm, agaknya begitulah. Aku bertemu dengan dia di Sian-yang dan
akulah yang minta dia mencarimu dan memberi tahu bahwa aku menanti di pintu gerbang selatan. Aku
tidak mencampuri urusan pribadinya, namun aku sebagai suheng-nya berhak untuk mengingatkannya
bahwa tidaklah baik membantu bangsa asing memerangi bangsa sendiri.”
Siauw Bwee teringat akan suci-nya, Maya. Mengapa suci-nya itu juga membantu pasukan Mancu? Maka
dia lalu berkata, “Dalam keadaan negara kacau seperti ini, memang banyak orang merasa serba salah,
Supek. Kerajaan Sung makin merosot pamornya, banyak pembesar yang buruk dan jahat. Timbullah
Kerajaan bangsa Yucen dan bangsa Mancu, membuat banyak orang menjadi ragu-ragu dan timbul
harapan baru untuk melihat munculnya kerajaan baru yang akan dapat mengamankan negara dan
memakmurkan kehidupan rakyat. Betapa pun juga, tentu saja aku tidak setuju kalau orang mengharapkan
kemakmuran dari penjajahan bangsa asing!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Cocok, Khu-lihiap! Demlkian pula pendapatku, maka kalau aku bertemu dengan dia, akan kuperingatkan
dia.”
“Supek, siapakah nama sute-mu itu? Aku mendengar tadi disebut Suma-sicu oleh Koksu Yucen.”
“Memang dia she Suma, namanya Hoat.”
“Suma Hoat...?” Siauw Bwee mengerutkan alisnya, mengingat-ingat karena dia seperti pernah mendengar
nama itu.
“Apakah engkau sudah mengenal namanya pula?”
Siauw Bwee mengangguk. “Nama itu tidak asing bagiku... akan tetapi aku lupa lagi...”
Dia benar-benar tidak ingat lagi, akan tetapi dia menduga bahwa tentu pemuda tampan itu masih ada
hubungan dengan Panglima Suma Kiat, musuh besar yang telah menjadi biang keladi tewasnya ayahnya
dan Menteri Kam Liong! Ketika hal ini terjadi, dia masih terlalu muda dan memang dia tidak pernah
memperhatikan atau mendengar keadaan keluarga Suma Kiat sehingga dia tidak tahu bahwa pemuda
berusia tiga puluh tahun yang telah menolongnya itu bukan lain adalah putera tunggal musuh besarnya itu!
Mereka melanjutkan perjalanan dan bermalam di sebuah kota kecil. “Kita menanti Sute di sini. Aku ingin
sekali mendengar apakah betul dia menjadi kaki tangan Kerajaan Yucen.”
Siauw Bwee mengangguk setuju. Dia pun ingin sekali menyelidiki, apakah hubungan sute dari supek-nya
itu, yang mengingat akan kedudukannya terhitung masih susiok-nya (paman gurunya) sendiri, dengan
musuh besarnya, Suma Kiat!
Sementara itu, setelah menyadarkan pemilik warung dan mengganti semua kerusakan dengan hadiah
banyak, rombongan Pek-mau Seng-jin mengajak Suma Hoat keluar dari dusun karena mereka tidak mau
menarik perhatian penduduk yang sudah panik dengan adanya pertandingan di dalam warung tadi. Di
dalam hutan di luar dusun itu mereka bercakap-cakap.
Memang benarlah dugaan Siauw Bwee, Suma Hoat telah menjadi kaki tangan Koksu dari Yucen. Seperti
telah kita ketahui, pemuda yang merasa amat menyesal dan berduka karena dia telah membikin lumpuh
Ketua Siauw-lim-pai yang tidak mau melawannya, kemudian makin menyesal karena dia telah menghina
kedua orang bibinya sendiri, yaitu Kam Siang Hui dan Kam Siang Kui, bersama Im-yang Seng-cu
menyerbu markas besar Hoat Bhok Lama di Pegunungan Heng-toan-san di lembah Sungai Cin-sha. Dia
melihat kedua orang wanita itu tewas dan dia bertemu dengan Bu-tek Lo-jin yang kemudian mengajaknya
membunuh Hoat Bhok Lama dan kaki tangannya, kemudian mengangkatnya sebagai murid.
Hati Dewa Pemetik Bunga ini penuh dengan penyesalan akan semua perbuatannya yang lalu, penyesalan
yang timbul setelah dia membuat lumpuh kedua kaki Ketua Siauw-lim-pai, yaitu Kian Ti Hosiang.
Penyesalan ini membuat dia mengasingkan diri dan tekun berlatih ilmu silat yang ia peroleh dari Bu-tek Lojin
yang hanya beberapa bulan saja mengajarkan ilmu-ilmu silat dan Jit-goat-sinkang kepadanya, kemudian
kakek aneh itu pergi lagi meninggalkannya. Dengan tekun sekali Suma Hoat menggembleng diri dengan
ilmu-ilmu itu sambil berusaha melupakan kesenangannya, yaitu bermain asmara dengan wanita-wanita
cantik yang membuatnya dijuluki Jai-hwa-sian.
Gurunya menceritakan kepadanya bahwa dia mempunyai tiga orang suheng yang tinggal di tebing Lembah
Kaum Kusta. Ketika dia mengunjungi mereka ke sana, dia hanya bertemu dengan Coa Leng Bu, suhengnya
yang kedua, dan dia enggan menjumpai twa-suheng-nya dan sam-suheng-nya ketika mendengar dari
Ji-suheng ini bahwa mereka itu menjadi ketua dari kaum liar dan kaum penderita kusta. Apa lagi karena ia
mendapat kenyataan bahwa biar pun disebut Ji-suheng, kepandaian Coa Leng Bu tidaklah lebih tinggi dari
padanya.
Setelah meninggalkan Ji-suheng-nya, Suma Hoat lalu teringat kepada ayahnya. Benar bahwa dia telah
disakiti hatinya, telah diusir tanpa salah, karena bukankah permainan asmara dengan Bu Ci Goat adalah
karena rayuan ibu tirinya itu? Betapa pun juga, dia adalah anak tunggal, dia harus menghadap ayahnya
dunia-kangouw.blogspot.com
yang sudah tua. Dia harus membantu ayahnya setelah kini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Teringat akan
ayahnya, Suma Hoat merasa dirinya makin berdosa dan semua ini adalah gara-gara wanita! Gara-gara
Ciok Kim Hwa!
Kalau dia tidak patah hati karena Ciok Kim Hwa membunuh diri, tentu dia tidak sampai bentrok dan diusir
ayahnya sehingga kemudian dia membalas dendamnya kepada para wanita dan menjadi seorang
pemerkosa dengan Julukan Jai-hwa-sian! Bahkan kemudian membuat dia melakukan hal yang amat keji,
yaitu membuat Ketua Siauw-lim-pai yang sakti dan berbudi mulia itu menjadi cacat, lumpuh kedua kakinya.
Dia harus menebus semua dosanya itu dengan jalan berbakti kepada ayahnya, berbakti kepada negara,
dan berbakti kepada kemanusiaan.
Dengan pikiran inilah Suma Hoat mencari ayahnya, menahan nafsu birahinya yang kadang-kadang
bergejolak setiap ia melihat wanita cantik, dan akhirnya dia berhasil bertemu dengan ayahnya, Suma Kiat
di kota raja. Akan tetapi, biar pun dia girang sekali mendapat sambutan gembira dari ayahnya dan ibu
tirinya, Bu Ci Goat, di dalam hatinya dia terkejut karena ayahnya segera memberi tahu bahwa ayahnya
diam-diam telah membuat persekutuan dengan Kerajaan Yucen, dan membuat persiapan untuk membantu
Kerajaan Yucen dari dalam untuk menjatuhkan pemerintah lama!
Biar pun di dalam hatinya terasa panas dan tidak setuju, namun dia tidak mau mengecewakan ayahnya
dan akhirnya dia menjalankan tugas yang diperintahkan ayahnya untuk menemui Pek-mau Seng-jin, Koksu
Negara Yucen yang sedang melakukan penyelidikan tentang gerakan tentara Mancu.
Dengan membawa surat ayahnya, Suma Hoat berhasil bertemu dengan Pek-mau Seng-jin, kemudian dia
malah menerima tugas penyelundupan ke dalam kota Sian-yang untuk menghubungi kaki tangan Pek-mau
Seng-jin dan menyelidiki keadaan pasukan Mancu yang menduduki kota itu. Telah ada kata sepakat antara
Suma Kiat dan Pek-mau Seng-jin untuk membiarkan pasukan-pasukan Sung berperang melawan pasukanpasukan
Mancu sehingga kedua pihak itu akhirnya menjadi lemah dan mudah dihancurkan oleh pasukan
Yucen.
Demikianlah, ketika ia menyelundup ke Sian-yang, Suma Hoat bertemu dengan Ji-suheng-nya, Coa Leng
Bu, dan ia disuruh membantu dan memberitahukan jalan ke luar kepada nona yang menjadi murid
keponakan Ji-suheng-nya. Suma Hoat berhasil membantu Siauw Bwee dan begitu bertemu dengan dara
itu, jantung Suma Hoat berdebar keras, sekaligus dia tertarik seperti sebatang jarum tertarik oleh besi
sembrani! Ketangkasan dan kelihaian gadis itu, kecantikannya, bentuk tubuhnya, suaranya, segala-galanya
membuat jantung Suma Hoat seperti akan dicopot.
Dia telah banyak berjumpa dengan wanita cantik, telah banyak mempermainkan wanita, namun belum
pernah dia mengalami getaran jantung seperti ketika bertemu dengan Siauw Bwee, padahal baru dia lihat
sebentar saja di malam itu, di antara sinar obor. Seolah-olah dia bertemu dengan Ciok Kim Hwa, bahkan
lebih lagi karena dalam pandang matanya, Siauw Bwee jauh melampaui daya tarik Kim Hwa!
Dia telah jatuh cinta, bukan cinta birahi seperti kalau dia bertemu wanita-wanita cantik yang dipermainkan
dan diperkosanya, melainkan cinta kasih yang membuat dia ingin selamanya berdampingan dan hidup
berdua dengan gadis itu, menghentikan semua petualangan asmaranya!
Di dalam hutan kecil, Pek-mau Seng-jin dan kaki tangannya berunding. “Biarkan pasukan Mancu yang kuat
itu menyerbu terus ke selatan,” antara lain Pek-mau Seng-jin berkata. “Setelah pasukan-pasukan Mancu
jauh meninggalkan induknya, dan tentara Sung mengalami pukulan hebat, baru kita mengerahkan bala
bantuan untuk memotong jalan, menghancurkan tentara Mancu dan menyerbu terus ke kota raja Sung
Selatan. Suma-sicu, gadis tadi memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Sungguh aku merasa heran
sekali mengapa murid keponakanmu dapat memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebat. Siapakah dia
sebenarnya?”
“Saya sendiri belum mengenalnya, Seng-jin,” jawab Suma Hoat sejujurnya. “Ji-suheng hanya mengatakan
bahwa gadis itu adalah anak angkat dari Sam-suheng karena itulah maka menyebut Ji-suheng sebagai
supek-nya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemm, akan menguntungkan sekali kalau saja dia dapat kita tarik menjadi pembantu. Suma-sicu,
dapatkah kau membujuknya untuk berplhak kepada kita?”
“Akan saya coba, Seng-jin.”
“Baik, kalau begitu harap kau suka menyusulnya. Biarkan dia memilih, langsung membantuku atau
membantu ayahmu. Dengan tenaga-tenaga lihai seperti dia, perjuangan kita akan makin berhasil. Kami
akan kembali dan mempersiapkan pasukan untuk memberi pukulan-pukulan terakhir setelah Mancu dan
Sung berhantam sendiri di selatan.”
Mereka berpisah dan Suma Hoat cepat pergi mengejar Ji-suheng-nya dan gadis jelita yang telah memikat
hatinya. Mendengar betapa dara itu dipuji-puji Pek-mau Seng-jin, dia menjadi makin tertarik. Benar-benar
seorang dara pilihan, pikirnya. Dahulu, dia tergila-gila kepada Ciok Kim Hwa, seorang gadis lemah.
Sekarang dara yang datang bersama Ji-suheng-nya itu, selain memiliki daya tarik lebih hebat dari pada
Ciok Kim Hwa juga memiliki ilmu kepandaian tinggi! Pantas menjadi kawan hidupnya. Untuk mendapatkan
gadis seperti itu sebagai isterinya, dia siap meninggalkan cara hidupnya yang lalu, yang penuh
petualangan dan dosa!
Demikianlah, dapat dibayangkan betapa girang hati Suma Hoat ketika dia bertemu dengan Coa Leng Bu
dan Khu Siauw Bwee yang memang menantinya di kota kecil itu. Kedua orang itu sedang makan pagi di
sebuah warung ketika Suma Hoat datang.
“Ahhh, Ji-suheng! Untung sekali aku dapat menyusul kalian di sini!” katanya sambil menatap wajah Siauw
Bwee dengan jantung berdebar.
Bukan main! Pagi ini gadis itu tampak makin cantik mempesonakan. Biar pun mulut Suma Hoat
mengeluarkan kata-kata gembira seperti itu, namun dia berdiri terpesona memandang Siauw Bwee,
seolah-olah kedua kakinya tidak kuat menaiki anak tangga rumah makan itu!
Menyaksikan sikap pemuda itu, Siauw Bwee mengerutkan alisnya dan tiba-tiba kedua pipinya menjadi
merah. Pandang mata pemuda itu dengan jelasnya memancarkan isi hatinya kepadanya! Siauw Bwee
tidak mampu melawan pandang mata seperti itu lebih lama lagi dan ia menunduk.
Coa Leng Bu yang melihat sikap sutenya ini lalu menegur, “Sute, mari duduklah. Kenapa berdiri saja di
situ?”
Suma Hoat sadar, kedua pipinya menjadi merah, jantungnya berdenyut aneh dan ia merasa heran sekali.
Dia yang sudah bermain cinta dengan banyak gadis cantik dari segala golongan, kenapa sekarang sama
sekali tidak berdaya menghadapi gadis ini? Ia lalu menaiki anak tangga, dan duduk di atas bangku
berhadapan dengan Siauw Bwee, di sebelah kiri suheng-nya.
“Ji-suheng, aku mendengar bahwa kau terluka pundakmu. Bagaimana lukamu? Apakah sudah sembuh?”
“Hanya luka daging, tidak berbahaya, Sute.”
“Suheng, Nona ini adalah yang kau suruh aku bantu di Sian-yang tempo hari. Siapakah dia? Harap Suheng
memperkenalkan.”
Siauw Bwee mengangkat muka dan kini dia menatap wajah orang muda itu penuh perhatian. Wajah yang
tampan, pikirnya, dan sikap yang gagah sekali. Dia sudah hampir lupa lagi bagaimana wajah Panglima
Suma Kiat, akan tetapi dia mendengar bahwa panglima tua itu pun dahulunya seorang yang tampan.
Orang muda di depannya ini memiliki sikap yang gagah perkasa, agaknya tidak patut menjadi seorang
jahat, akan tetapi pandang matanya begitu tajam, seolah-olah pandang mata itu menjenguk ke dalam
hatinya, bahkan seolah-olah pandang mata itu menelanjanginya!
Diam-diam Siauw Bwee bergidik. Laki-laki yang jantan dan berbahaya sekali! Kalau saja cinta kasih di
hatinya tidak sebulatnya tertuju kepada suheng-nya, pria di depannya ini memiliki daya tarik luar biasa dan
tidak anehlah kalau dia tertarik!
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ucapan sutenya, Coa Leng Bu tertawa, “Ahhh, aku sampai lupa memperkenalkan. Sute, Khulihiap
ini adalah puteri angkat dari mendiang Ouw-sute, jadi masih terhitung murid keponakanmu sendiri.
Khu-lihiap, ini adalah Suma-sute, masih susiok-mu sendiri.”
Siauw Bwee bangkit berdiri dan memberi hormat. “Susiok...!” katanya perlahan dan sederhana.
Suma Hoat cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan dara itu sambil berkata, “Aihh, Nona. Harap
jangan menyebut Susiok kepadaku. Kepandaian Nona begitu tinggi, kalau menyebut Susiok kepadaku
hanya membuat aku menjadi malu saja. Nona, namaku adalah Suma Hoat dan kuharap Nona tidak
menyebut Susiok, sebut saja Twako karena kita telah menjadi sahabat, bukan?”
Ucapan dan sikap Suma Hoat demikian ramah dan wajar, sama sekali tidak memperlihatkan sikap kurang
ajar sehingga Siauw Bwee tersenyum. Senyum yang membuat Suma Hoat hampir terjengkang saking
kagum dan girangnya.
“Baiklah, Suma-twako.”
Mereka duduk kembali dan Leng Bu cepat memberi isyarat kepada pelayan untuk menambah hidangan
dan minuman.
“Nona, engkau she Khu akan tetapi belum memperkenalkan diri.”
Sambil tersenyum memandang orang muda yang polos itu, Siauw Bwee menjawab, “Namaku Khu Siauw
Bwee.” Berkata demikian, ia memandang tajam untuk melihat apakah orang muda she Suma itu mengenal
namanya. Kalau dia keluarga Suma Kiat, tentu akan mengenal bahwa dia adalah puteri mendiang
Panglima Khu Tek San!
Akan tetapi tidak tampak perubahan sesuatu pada wajah yang tampan itu dan memang sesungguhnya
Suma Hoat tidak mengenal nama ini. Peristiwa yang menimpa Khu Tek San dan Menteri Kam Liong terjadi
ketika dia sudah meninggalkan kota raja.
Sambil makan minum mereka bercakap-cakap. Beberapa kali Suma Hoat memancing untuk mengetahui
keadaan Khu Siauw Bwee, namun gadis itu seolah-olah hendak menyembunyikan keadaannya.
“Nona, kepandaianmu begitu hebat. Siapakah sebetulnya gurumu?” Akhirnya dia bertanya secara langsung.
“Aku sendiri tidak tahu dan tidak dapat memberi tahu tentang itu, Suma-twako. Aku hanya belajar sedikitsedikit
di sana-sini, dan mula-mula aku belajar di bawah bimbingan suheng dan suci-ku sendiri,” Siauw
Bwee tetap saja mengelak.
“Ahh, kalau begitu, suheng dan suci-mu tentu sakti bukan main! Bolehkah aku mengenal mereka?”
“Maaf, Twako. Suheng dan suci merahasiakan diri mereka sehingga aku tidak boleh menyebut nama
mereka. Harap kau suka memaklumi watak orang-orang aneh seperti mereka itu.”
Suma Hoat kecewa akan tetapi dia mengangguk. Heran sekali gadis ini, sikapnya penuh rahasia. Akan
tetapi biar pun kecewa, dia tidak merasa menyesal! Padahal biasanya dia merasa paling benci kalau
menghadapi gadis yang angkuh.
“Aku mengerti, Nona, dan maafkan kelancanganku bertanya tadi. Bukan maksudku untuk mengetahui
rahasia orang lain, akan tetapi... aku kagum sekali kepadamu, maka timbul keinginanku untuk mengenalmu
lebih baik dengan mengetahui riwayatmu. Maafkan aku.”
“Tidak apa, Twako, akulah yang minta maaf,” kata Siauw Bwee, tidak enak juga hatinya menyaksikan sikap
yang amat ramah, sopan dan baik dari orang muda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sute, sekarang aku ingin sekali bertanya kepadamu. Sesungguhnya karena hal inilah maka aku
menantimu di sini. Bagaimana engkau dapat mengenal Koksu Negara Yucen dan rombongannya?”
Pertanyaan yang tiba-tiba datangnya ini mengejutkan hati Suma Hoat. Tak disangkanya bahwa suhengnya
tahu akan hal itu. Suheng-nya sudah lama mengasingkan diri, tak mungkin mengenal Pek-mau Sengjin
sebagai Koksu Kerajaan Yucen. Tak salah lagi, tentulah Khu Siauw Bwee yang mengenal kakek
berambut putih itu, maka dia menjadi makin kagum dan heran. Dara ini selain berilmu tinggi, juga agaknya
berpemandangan luas dan berpengalaman dalam dunia kang-ouw.
“Jadi Suheng sudah mengenal Koksu Yucen? Terus terang saja, Suheng. Aku bekerja sama dengan
Kerajaan Yucen dan bersekutu dengan Pek-mau Seng-jin.”
Diam-diam Coa Leng Bu kagum akan ketepatan pandangan Siauw Bwee. Dia melirik gadis itu yang
bersikap tidak mengacuhkan, kemudian berkata, “Sute, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan
pribadimu, akan tetapi selagi negara dalam keadaan terancam malah mengadakan persekutuan dengan
bangsa lain, bukankah hal itu dipantang oleh orang-orang gagah?”
Suma Hoat tersenyum. “Untuk memberi pandangan tentang perjuangan bangsa, harus lebih dulu
mengetahui keadaan sesungguhnya. Suheng melihat sendiri betapa kerajaan terancam oleh pasukanpasukan
Mancu yang kuat sekali. Biar pun semua orang gagah membantu Kerajaan Sung, kiranya
kerajaan itu takkan dapat dipertahankan lagi. Jalan satu-satunya yang tepat adalah mengharapkan
bantuan bala tentara Yucen dengan maksud menghadapi Mancu, bukanlah hal itu demi keselamatan
negara kita?”
Diam-diam Siauw Bwee dapat mengerti kebenaran ini, dan Coa Leng Bu hanya menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu tentang politik negara, Sute, hanya kuharap Sute tidak akan menyimpang dari pada garis
yang dilalui orang-orang gagah, jangan sampai kelak dikenal sebagai seorang pengkhianat bangsa.”
“Tidak mungkin, Suheng. Sampai mati pun aku tidak sudi menjadi pengkhianat. Kalau sekarang aku
berbaik dengan Koksu Negara Yucen, hal itu semata-mata untuk menarik pihak Yucen menolong Kerajaan
Sung yang terancam oleh pihak Mancu.”
Keterangan ini memuaskan hati Leng Bu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Suma Hoat untuk
mengajak mereka mencontoh sikapnya. “Kuharap Suheng dan Nona Khu dapat melihat kenyataan itu dan
marilah kalian ikut bersamaku membantu kerajaan dengan bekerja sama dengan Koksu Yucen, dengan
jalan ini kita akan dapat menyelamatkan negara dari ancaman Mancu.”
“Aku tidak mempunyai hasrat untuk melibatkan diri dengan perang, Sute,” jawab Leng Bu dengan suara
dingin.
“Dan bagaimana dengan pendapatmu, Nona?”
“Aku juga tidak suka mencampuri urusan negara, aku benci akan perang! Dan selain itu, aku mempunyai
urusan pribadi yang lebih penting. Biarlah kita mengambil jalan kita masing-masing, Suma-twako. Supek,
marilah kita melanjutkan perjalanan ke selatan.”
Siauw Bwee ingin sekali segera dapat bertemu dengan Kam Han Ki dan Leng Bu yang maklum akan hal
hati dara itu berkata, “Sebaiknya besok pagi-pagi saja kita berangkat. Kota Sian-tan merupakan benteng
kuat dan menjadi pertahanan pasukan Sung, kurasa ke sanalah kita harus menuju. Akan tetapi, mengingat
akan peristiwa di Sian-yang, kita harus berhati-hati memasuki kota itu.”
Siauw Bwee maklum bahwa setelah mereka berdua mengacau di Sian-yang sebelum pasukan Mancu tiba
di sana, tentu mereka akan dimusuhi oleh tentara Sung, dan akan ditangkap oleh Bu-koksu karena dia
telah membunuh panglima dampit. Maka ia mengangguk dan menyatakan setuju.
“Suheng dan Nona Khu. Aku telah mendengar akan sepak terjang kalian di Sian-yang. Bukankah engkau
yang telah membunuh panglima dampit dan menimbulkan kekacauan di sana? Kalau benar demikian, amat
dunia-kangouw.blogspot.com
berbahaya kalau kalian memasuki kota Siang-tan. Pula, bolehkah aku bertanya apa tujuan Nona pergi ke
sana?”
“Aku ingin mencari seseorang, urusan pribadi, Twako. Maaf, aku tidak dapat memberi penjelasan
kepadamu.”
Suma Hoat mengangguk, kembali merasa kecewa akan tetapi tidak menyesal. Bahkan dia ingin sekali
membantu Nona ini karena dia dapat merasa bahwa tentu ada rahasia yang mengganggu hati nona ini. Dia
akan diam-diam menyelidiki dan kalau perlu melindungi dan membantu Nona yang telah menjatuhkan
hatinya ini.
“Kalau begitu aku setuju dengan pendapat Ji-suheng. Lebih baik berangkat besok pagi, dan sedapat
mungkin memasuki kota di waktu malam, menyelinap di antara kaum pengungsi sehingga tidak akan
mudah dikenal.”
Siauw Bwee makin suka kepada pemuda ini. Seorang yang jujur, ramah, sopan dan tahu diri sehingga
tidak terus bertekad mengetahui rahasia orang, bahkan dapat menghargai dan memaklumi rahasia orang.
“Suma-twako, aku pernah mendengar nama besar seorang Panglima Sung yang bernama Suma Kiat.
Tidak tahu apakah persamaan she antara Twako dan dia berarti ada hubungan keluarga?”
Kembali Suma Hoat terkejut, akan tetapi dia dapat menekan hatinya dan tidak memperlihatkan pada
wajahnya. Dia tersenyum dan berkata, “Kebetulan sekali aku adalah puteranya, Nona.”
“Ohhh...!” Siauw Bwee tak dapat menyembunyikan kekagetannya.
Untung dia dapat menahan kemarahannya dengan pendapat bahwa pemuda ini sama sekali tidak ada
sangkut-pautnya dengan perbuatan Suma Kiat. Buktinya, pemuda ini tidak mengenalnya dan agaknya tidak
tahu menahu tentang perbuatan jahat ayahnya yang telah mengakibatkan kematian Khu Tek San dan
Menteri Kam Liong. Betapa pun juga, sukar baginya untuk dapat duduk semeja lagi dengan putera musuh
besarnya, maka ia lalu bangkit dan berkata, “Supek, aku ingin mengaso dulu. Besok pagi-pagi kita
melanjutkan perjalanan.”
Kepada Suma Hoat dia hanya menjura tanpa memandang wajahnya, kemudian meninggalkan mereka dan
pergi memasuki kamarnya di mana dia duduk dan mengatur pernapasan untuk menekan hatinya yang
menggelora karena marah. Dia dapat menyabarkan hatinya ketika mengingat betapa Suma Hoat adalah
seorang laki-laki yang baik, tidak seperti ayahnya. Dia tidak akan mencontoh suci-nya, yang membawabawa
dendam kepada seluruh keluarga, bahkan bangsa! Tidak, dendamnya hanya tertuju kepada Suma
Kiat, dia tidak akan memusuhi Suma Hoat yang sedikit banyak telah menarik hatinya.
Suma Hoat merasa heran akan sikap gadis itu, akan tetapi dia tidak menduga sama sekali akan isi hati
Siauw Bwee. Dia melanjutkan bercakap-cakap dengan suheng-nya, dan di pihak Coa Leng Bu, dia sama
sekali tidak mengenal siapa adanya sutenya ini. Puluhan tahun dia menyembunyikan diri, mengasingkan
diri dan tidak pernah tahu akan keadaan dunia ramai.
Tentu saja dia tidak tahu akan sepak terjang Suma Kiat, bahkan dia tidak tahu bahwa sutenya ini adalah
Jai-hwa-sian, karena nama Jai-hwa-sian pun belum pernah didengarnya. Dia hanya merasa kagum kepada
sutenya yang selain memiliki kepandaian lebih tinggi dari padanya, juga ternyata putera seorang Panglima
Sung! Dia malah merasa malu sendiri bahwa tadi dia telah menegur sutenya, siapa kira sutenya adalah
putera panglima yang tentu saja lebih tahu akan keadaan negara.
Karena Suma Hoat juga hendak melanjutkan perjalanan besok, maka pemuda ini menyewa kamar di
rumah penginapan yang didiami Leng Bu dan Siauw Bwee. Melihat Siauw Bwee tidak pernah keluar lagi
dari kamarnya, Suma Hoat juga siang-siang sudah memasuki kamar, berusaha melupakan Siauw Bwee
namun tak berhasil. Makin dilupa, wajah gadis itu makin jelas kelihatan di depan mata. Setiap gerak-gerik
gadis itu, lirikan mata, gerak bibirnya kalau bicara, kejapan matanya, senyum dikulum, aihh, dia benar
tergila-gila! Harus kunyatakan sekarang, pikirnya. Tidak akan ada kesempatan, lagi. Berhasil atau gagal,
sekarang, malam ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam ini amat sunyi. Suara penduduk kota kecil yang biasanya memecahkan kesunyian, malam itu tidak
terdengar lagi. Dan sudah beberapa malam yang lalu, semenjak pasukan-pasukan Mancu menyerbu ke
selatan, kota kecil ini menjadi sunyi sekali di waktu malam. Sebagian besar penduduknya sudah
mengungsi ke selatan, mencari tempat yang jauh dari kemungkinan dilanda perang, dan sebagian kecil
yang tertinggal, sore-sore sudah masuk tidur, tidur yang tidak pulas karena sedikit suara saja cukup
membuat mereka terbangun dan bersiap-siap melarikan diri jika ada bahaya perang mengancam.
Bulan sepotong menciptakan keindahan ajaib, pemandangan remang-remang antara terang dan gelap,
seakan-akan menambah kesunyian karena tiada yang menikmati dan mengaguminya. Hanya belalang,
jengkerik, kutu-kutu dan burung malam yang dapat menikmati malam sunyi itu. Makin sunyi, makin
menyenangkan bagi mereka. Mereka dapat bebas mengeluarkan suara, mungkin suara rindu si jantan
mengundang si betina, suara untuk melindungi telur atau anak-anak mereka dari bahaya, namun bagi
telinga manusia, suara binatang-binatang itu seolah-olah bernyanyi. Aneh, akan tetapi demikianlah
kenyataannya bahwa suara-suara berirama ini bahkan menambah rasa sunyi dan hening sang malam
yang menciptakan rasa takut dalam hati manusia-manusia yang sudah gelisah oleh bayangan mereka
sendiri itu.
Kesunyian terasa benar oleh Siauw Bwee yang berada di dalam kamarnya. Dia rebah sambil termenung,
gelisah memikirkan suheng-nya. Bagaimanakah kalau benar pendapat Coa Leng Bu bahwa suheng-nya
menjadi korban racun perampas semangat? Bagaimana kalau sampai tak dapat disembuhkan? Ngeri dia
memikirkan bahwa suheng-nya takkan dapat mengenalnya selamanya!
Berkali-kali Siauw Bwee menarik napas panjang dan dia merasa kesunyian, perasaan yang selalu
menggoda hatinya semenjak dia meninggalkan Pulau Es. Kegelisahan dan kesunyian hatinya membuat dia
dapat mendengarkan suara binatang malam dengan jelas. Dalam pendengarannya, suara malam itu
seperti keluh-kesah yang menggema dari lubuk hatinya.
Tiba-tiba dia bangun, duduk di atas pembaringannya. Suara binatang malam terhenti ketika terdengar
suara tiupan suling melengking. Mula-mula suara suling itu rendah seperti keluhan seekor binatang yang
terluka, kemudian makin meninggi dan melagu. Lengking suling yang merdu mengalun, naik turun dengan
lika-liku yang halus, suaranya menggetar seolah-olah hawa yang keluar dari mulut peniupnya mengandung
hati yang merana.
Siauw Bwee terpesona. Seperti juga semua belalang, jengkerik, dan kutu-kutu malam yang semua diam
terpesona, dia pun diam tak bergerak. Seluruh semangatnya seperti terbetot, terbawa melayang-layang di
angkasa, memasuki dunia lamunan. Suara itu mendatangkan perasaan aneh dan penuh rahasia. Seperti
perasaan orang kalau mendengarkan dengan penuh perhatian suara angin bersilir mempermainkan daundaun
pohon. Seperti dendang anak sungai dengan airnya yang bercanda dengan batu-batu sungai, suara
air hujan rincik-rincik menimpa permukaan bumi, suara guntur di angkasa di musim hujan, suara air laut
bergemuruh menghantam karang. Sejenak membuat perasaan pikiran menjadi hampa, sunyi, penuh damai,
bebas dari pada permainan suka duka.
Namun, suara tiupan suling yang melagu itu menghanyutkannya ke lembah keharuan, mengingatkan dia
akan segala kesunyian dan kegelisahannya, membuat Siauw Bwee tanpa disadarinya sendiri berlinang air
mata. Ketika merasa dua titik air hangat mengalir turun di atas pipinya, barulah dia tersadar. Cepat
dihapusnya air matanya, dan ia terheran-heran. Siapakah yang meniup suling seperti itu? Seolah-olah dia
mendengar keluh kesah, rintihan dan ratap tangis bersembunyi di dalam lengking merdu itu.
Siauw Bwee turun dari pembaringan, membereskan pakaian tanpa mempedulikan rambutnya yang awutawutan,
kemudian dia keluar dari kamarnya, terus keluar dari rumah penginapan, menuju ke belakang dari
mana terdengar suara suling itu. Bulan sepotong masih mengambang tinggi di atas kepala, sinarnya
menciptakan cahaya remang-remang, agak kebiruan, agak kekuningan, mendatangkan hawa yang sejuk
dan menimbulkan suasana yang penuh rahasia dan keajaiban. Pohon-pohon yang menjadi permainan
cahaya redup dan kegelapan, seolah-olah kehilangan bentuk aslinya dan berubah menjadi bentuk yang
penuh rahasia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siauw Bwee terus melangkah memasuki sebuah kebun yang kosong, dan tiba-tiba tampaklah olehnya
seorang yang duduk membelakanginya, duduk di atas sebuah batu, meniup suling. Dia adalah seorang
laki-laki, akan tetapi sukar dikenal siapa karena selain membelakanginya, juga laki-laki itu duduk terlindung
dalam bayangan sebatang pohon. Kedua tangan memegang suling, kepalanya agak miring ketika meniup
lubang suling, kedua pundaknya bidang.
Siauw Bwee berhenti melangkah. Setelah keluar dari dalam kamar, kini suara suling terdengar makin
merdu, seolah-olah melayang-layang di angkasa, bermain-main dengan bayangan, membubung tinggi
melalui sinar bulan redup, seperti hendak mencapai bulan. Teringatlah dia kini dan dia mengenal lagu yang
dimainkan suling itu.
Ketika dia masih tinggal bersama orang tuanya di kota raja, Siauw Bwee pernah mempelajari seni suara
dan dia mengenal lagu itu, sebuah lagu kuno yang berjudul ‘Merindukan Bulan’. Bahkan dia masih teringat
akan kata-kata nyanyian lagu itu. Bagaikan dalam mimpi, ketika tiupan suling itu mengulangi lagi nyanyian
itu, dia bernyanyi, perlahan, akan tetapi karena dia memiliki tenaga khikang yang hebat, suara nyanyian
menggetar dan bergelombang sampai jauh, merdu seperti bisikan bulan sendiri melalui cahaya yang
kebiruan.
Bulan...
tunggulah aku wahai bulan
jangan kau tinggalkan aku sendiri!
Bulan...
hanya engkaulah pengganti dia
hanya engkaulah pencermin wajahnya
Bulan...
ke mana engkau lari?
ke mana engkau sembunyi?
Bulan...
kasihanilah aku wahai bulan
jangan kau pergi... jangan...
Tak terasa lagi, kembali dua titik air mata membasahi pipi Siauw Bwee. Dia berhenti bernyanyi, dan suara
suling itu pun melambat, menurun, akhirnya berhenti sama sekali. Sejenak sunyi, tiada sedikit pun suara
menyusul penghentian lengking suling. Kemudian, tiba-tiba, suara binatang malam saling sahut lagi,
seolah-olah mereka itu berseru memuji.
Seperti dalam mimpi, Siauw Bwee melihat penyuling itu bangkit, menghampirinya dan tiba-tiba orang itu
menjatuhkan diri berlutut di depannya.
“Nona... engkau benar-benar datang... terima kasih kepada Thian...! Betapa hatiku menggetarkan suara
merindumu, memanggilmu... dan ternyata engkau dapat menangkap getaran ini... ahhh, Nona, adakah...
adakah harapan di hatiku yang kering ini?”
Siauw Bwee terbelalak memandang ketika sadar kembali dan terbebas dari hikmat keajaiban malam dan
mengenal orang itu yang bukan lain adalah Suma Hoat. Hampir dia menjerit kalau saja tidak cepat-cepat
dia mendekap mulut sendiri dengan telapak tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mendekap dada kiri
seolah-olah menahan debaran jantungnya.
“Ihhh... engkau... engkau... apa maksudmu? Apa artinya semua ini...?”
Suma Hoat yang sudah tergila-gila itu menjatuhkan diri menelungkup dan mencium ujung sepatu Siauw
Bwee. Gadis itu menjadi makin sadar dan cepat melompat ke belakang.
“Suma Hoat! Apakah engkau sudah gila?” bentaknya.
“Nona Khu Siauw Bwee, memang aku sudah gila. Tidak dapatkah engkau menangkap kegilaanku dari
suara sulingku, dari sinar mataku kalau memandangmu, dan debar jantungku kalau mendengar suaramu,
dari...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau... kau gila...!” Siauw Bwee membentak, wajahnya menjadi merah sekali.
“Benar, aku gila, aku tergila-gila kepadamu, Nona. Aku cinta padamu... biarlah kau bunuh aku kalau kau
merasa terhina, aku rela mati di tanganmu, aku cinta padamu, Khu Siauw Bwee,” Suma Hoat berkata
sambil berlutut, hanya sekali ini, tidaklah seperti biasa kalau dia merayu wanita lain. Belum pernah dia
merendahkan diri seperti itu, biasanya dia malah angkuh sekali berhadapan dengan wanita. Dan baru dua
kali ini selama hidupnya dia mengaku cinta dengan setulus hatinya.
Melihat sikap ini, lenyaplah kemarahan dari hati Siauw Bwee. Dia terharu karena sikap laki-laki ini jelas
bukanlah rayuan kosong belaka! Timbul pertentangan di hatinya, antara kasihan yang menimbulkan
keharuan dan kebencian karena mengingat bahwa pria ini adalah putera musuh besarnya.
“Suma Hoat, cukuplah sikapmu yang gila ini. Aku tidak mau menerima cintamu, tidak bisa menerima cinta
siapa pun juga.”
Suma Hoat memejamkan matanya. Aihh, tidak... tidak...” Apakah dia harus kembali mengalami kegagalan
cinta? Cinta yang tulus ihklas, cinta yang bukan terdorong birahi semata, melainkan cinta karena daya tarik
dari seluruh pribadi wanita itu?
“Kau... kau... sudah mencinta orang lainkah...?” tanyanya lemah.
“Bukan urusanmu itu, Suma Hoat. Dengarlah, kalau aku tidak melihat sikapmu yang baik, tentu sudah
sejak kemarin aku mencarimu dan membunuhmu!”
Suma Hoat terkejut bukan main. Dia melompat bangun, memandang gadis itu dengan mata terbelalak
lebar. “Nona, demikian besarkah dosaku? Demikian besarkah dosa seorang pria yang jatuh cinta kepada
seorang wanita seperti Nona? Sehingga timbul kebencianmu dan keinginanmu untuk membunuhku?”
“Bukan karena itu, melainkan karena kenyataan bahwa engkau adalah putera musuh besarku, putera si
keparat Suma Kiat.”
“Ya Tuhan...! Mengapa, Nona? Mengapa engkau memusuhi ayahku?”
“Buka telingamu baik-baik. Suma Hoat! Aku adalah puteri tunggal dari mendiang Khu Tek San! Dan engkau
tahu bahwa ayahku dan Menteri Kam Liong, guru ayahku, tewas gara-gara kekejian ayahmu!”
Suma Hoat makin kaget. Dia tidak melihat peristiwa itu, akan tetapi akhir-akhir ini dia sudah mendengar
akan hal itu. Dengan muka pucat dia memandang gadis itu, lalu berkata lemah, “Sungguh buruk nasibku...
Tuhan mengutukku karena perbuatan ayah... dan... dari perbuatanku sendiri. Nona, kalau begitu, kau
bunuhlah aku, aku takkan melawanmu...”
“Hemmm, kalau aku hendak membunuhmu, apa kau kira engkau mampu melawanku?”
“Khu Siauw Bwee, aku tahu bahwa engkau lihai, akan tetapi harap jangan memandang rendah orang laln.
Dan jangan engkau mencari ayahku, karena selain ayahku berilmu tinggi dan mempunyai banyak pasukan,
juga aku bersedia menebus kesalahan ayah kepadamu. Aku cinta padamu, Nona. Sungguh, aku
bersumpah, aku cinta padamu. Lebih baik engkau membalas dendammu kepadaku dan aku rela mati di
tangan wanita yang kucinta dengan seluruh tubuh dan nyawaku.”
“Engkau gila! Siapa percaya omonganmu? Engkau perayu. Mana mungkin orang baru berjumpa dua kali
sudah menyatakan cinta seperti engkau? Selain itu, aku tidak akan membunuhmu, aku bukan orang yang
membabi buta dalam pembalasan dendamnya. Hanya ayahmu yang bersalah dan ke mana pun dia
bersembunyi, aku akan dapat mencari dan membunuhnya. Kalau tidak, percuma saja aku bertahun-tahun
belajar ilmu di Pulau Es!” Saking marahnya, Siauw Bwee lupa diri dan menyebut Pulau Es.
Suma Hoat makin kaget. “Apa...? Engkau... engkau... penghuni Istana Pulau Es...?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar! Dan kalau engkau hendak membela ayahmu, majulah agar aku mempunyai alasan untuk
menghajarmu!”
Lemas rasa seluruh tubuh Suma Hoat. Bukan lemas karena takut, melainkan lemas karena maklum bahwa
harapan cintanya musnah sama sekali. Gadis jelita ini adalah penghuni Istana Pulau Es, selain memiliki
ilmu kesaktian yang luar biasa, juga agaknya mencintai orang lain, bahkan menjadi musuh ayahnya. Tak
mungkin dara ini sudi membalas cintanya.
“Aku... aku tidak akan melawanmu, Nona. Betapa pun juga, aku tetap mencintamu... dan agaknya sudah
menjadi nasibku untuk selalu kecewa dalam cinta kasih murni, dan hanya dapat mengecap kenikmatan
cinta palsu yang hampa. Maafkan aku, Nona. Hanya sebuah hal yang kumohon kepadamu untuk mengaku.
Benarkah dugaanku bahwa Nona telah mencinta orang lain?”
Menyaksikan sikap yang begitu menderita dan suara yang menggetar seperti hendak menangis, Siauw
Bwee, yang berperasaan halus itu kembali merasa kasihan. “Benar dugaanmu, karena itu aku tidak
mungkin dapat mendengar pernyataan cinta kasih dari pria lain yang mana pun juga!”
Suma Hoat menunduk, jari-jari tangannya meremas.
“Krekkk!” sulingnya hancur berkeping-keping.
“Selamat tinggal, Nona. Betapa pun juga, cintaku takkan pernah padam dan harapanku takkan pernah
musnah. Aku akan menanti, siapa tahu..., Thian akan menaruh iba kepadaku... dan kelak... kelak kita
masih akan dipertemukan kembali dengan harapan baik bagiku... selamat tinggal.”
Tubuh Suma Hoat melesat cepat meninggalkan tempat itu, dan Siauw Bwee berdiri termangu-mangu,
menghela napas panjang. Teringat ia kepada Yu Goan, pemuda tampan gagah perkasa yang juga jatuh
cinta kepadanya dan terpaksa ditolaknya pula. Akan tetapi, hatinya tidak seberat ketika menghadapi
pernyataan cinta kasih Suma Hoat. Diam-diam dia harus mengaku di dalam hatinya bahwa andai kata
Suma Hoat bukan putera Suma Kiat, agaknya tidak sukar baginya untuk memperhatikan pernyataan cinta
kasih pemuda itu! Andai kata....
“Khu-lihiap, apa yang kau lakukan malam-malam di sini? Hawanya begini dingin...”
Siauw Bwee sadar dari lamunannya dan membalikkan tubuh. “Ah, aku tak dapat tidur, Supek.”
“Sebaiknya tidur sekarang, besok kita berangkat pagi-pagi. Aku akan membicarakan rencana kita dengan
Sute karena dia agaknya lebih mengenal keadaan kota Siang-tan agar lebih mudah kita memasuki kota
yang menjadi benteng pertahanan pasukan Sung itu.”
”Dia sudah pergi, Supek.”
“Apa? Siapa maksudmu?”
“Suma-twako, dia sudah pergi.” Setelah berkata demikian, Siauw Bwee kembali ke penginapan dan
memasuki kamarnya.
Coa Leng Bu masih tidak percaya dan membuka pintu kamar sute-nya. Ternyata kamar itu telah kosong.
Dia hanya melongo dan tidak mengerti. Diam-diam ia menghela napas dan menduga bahwa tentu terjadi
sesuatu antara Siauw Bwee dan sute-nya itu, akan tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi dan tidak berani
bertanya. Ia pun lalu memasuki kamarnya dan tidur.
Pasukan Mancu yang menduduki kota Sian-yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Bharigan, dan tentu saja
karena jasa Pasukan Maut yang dipimpin oleh Panglima Wanita Maya maka benteng itu dapat direbut
dengan mudah. Setelah berhasil menduduki kota dan mengamankan keadaan, Pangeran Bharigan
mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan Pasukan Mancu. Jasa Maya dan pembantupembantunya,
terutama kedua orang murid Mutiara Hitam, dipuji-puji oleh Pangeran Bharigan yang biar
pun cintanya ditolak Maya, masih selalu mengharapkan perubahan hati dara itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun keadaan mengharuskan dia bergembira, namun Maya merasa masih belum puas, apa lagi kalau
dia mengingat akan suheng-nya yang tempo hari membantu pasukan Yucen. Dia tidak akan merasa puas
kalau belum menumpas Kerajaan Sung untuk membalas dendam kematian Menteri Kam Liong, kemudian
menumpas bangsa Mongol dan Yucen untuk membalas kematian ayah bundanya, Raja dan Ratu Khitan.
Maka untuk menghentikan puji-pujian itu, dia menjawab, “Kemenangan kita adalah jasa para prajurit dan
kemenangan ini belum ada artinya karena benteng yang berada di depan jauh lebih kuat. Saya mendengar
bahwa benteng musuh di kota Siang-tan amat kuatnya.”
“Menurut para penyelidik memang benar demikian, Li-ciangkun,” kata Pangeran Bharigan. “Oleh karena itu,
kita pun jangan tergesa-gesa melakukan penyerangan. Sambil memberi waktu kepada para anak buah
pasukan untuk mengaso, sebaiknya kalau kita mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan mereka.
Kita harus mengetahui kelemahan-kelemahan mereka di samping kekuatan mereka agar pukulan kita tidak
akan gagal.”
“Sebaiknya demikian, Pangeran. Akan tetapi tidaklah mudah untuk menyelidiki kota besar yang merupakan
benteng kuat itu. Oleh karena itu, saya mohon perkenan Pangeran untuk pergi menyelidiki sendiri dengan
beberapa orang pembantu yang berkepandalan cukup tinggi.”
Pangeran Bharigan mengangguk-angguk. Memang sebaiknya begitu dan kalau panglima wanita yang sakti
itu pergi menyelidiki sendiri, tentu hasilnya akan jauh lebih baik dari pada mengirim penyelidik biasa. Biar
pun hatinya khawatir kalau-kalau wanita perkasa yang menarik hatinya dan diharapkan dapat menjadi
calon isterinya itu mengalami mala-petaka, namun dia tahu bahwa merupakan pantangan bagi Maya untuk
bersikap penakut.
“Saya tidak dapat menolak permintaanmu, Li-ciangkun. Kalau memang kau anggap penting bahwa engkau
sendiri yang pergi, terserah. Silakan memilih pembantu-pembantumu, dan apakah perlu dengan pasukan?”
Maya menggeleng kepala. “Saya hanya memerlukan bantuan Ok Yan Hwa, Can Ji Kun, Kwa-huciang dan
Theng-ciangkun. Kami berlima akan menyamar sebagai pengungsi dan memasuki kota Siang-tan. Besok
pagi-pagi kita berangkat. Kalau Pangeran setuju, kuharap kalian berempat suka bersiap-siap malam ini.”
Pangeran Bharigan menyetujui dan bersiaplah lima orang itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di
waktu cuaca makin gelap, mereka menyelundup ke luar dan berpakaian sebagai penduduk biasa,
membawa buntalan pakaian, kemudian menyelinap di antara rombongan pengungsi yang berbondongbondong
menuju ke Siang-tan. Tidak begitu banyak yang memasuki kota Siang-tan, karena sebagian
pengungsi ada yang berhenti di dusun-dusun dan kota-kota sebelum mencapai Siang-tan.
Perjalanan jauh membuat pakaian dan rambut mereka kusut sehingga kecantikan Ok Yan Hwa, terutama
sekali Maya, tidaklah begitu menonjol, apa lagi mereka sengaja membiarkan sinar matahari membakar kulit
muka dan tangan mereka yang biasanya halus dan putih kuning itu. Kulit mereka menjadi kecoklatan
seperti kulit para wanita petani. Pula, di antara para pengungsi terdapat pula wanita-wanita bangsawan dan
hartawan yang dalam perjalanan mengungsi itu tak pernah lupa untuk bersolek, sehingga dipandang
sepintas lalu, Yan Hwa dan Maya yang membiarkan kulit mereka dihanguskan matahari, membiarkan
pakaian dan rambut mereka kusut, tidak kelihatan cantik luar biasa.
Ketika memasuki pintu gerbang sebelah utara bersama rombongan pengungsi, Maya dan empat orang
pembantunya melihat betapa penjagaan di sepanjang tembok kota amat kuat dan rapi. Para penjaga
berbaris dengan lapisan yang ketat, sedangkan setiap orang pengungsi diawasi dengan cermat, bahkan
kereta-kereta yang masuk diperiksa dan pengungsi yang membawa senjata dirampas.
Diam-diam Maya harus mengakui bahwa penjagaan bagian pintu gerbang di kota Siang-tan ini jauh lebih
kuat dari pada penjagaan di kota Sian-yang dan di atas tembok kota penuh pula dengan pasukan penjaga
yang selalu siap dengan busur dan anak panah mereka. Juga di sekeliling tembok dipasangi jebakanjebakan
dengan barisan-barisan pendam yang tidak tampak dari jauh. Semua ini dicatat dalam hati oleh
Maya. Setelah memasuki kota, Maya dan teman-temannya menyaksikan barisan Sung telah memasang
dunia-kangouw.blogspot.com
persiapan membentuk pasukan-pasukan peronda, sedangkan induk pasukan yang berada di markas, yang
tampak dari luar, kelihatan segar-segar dan penuh semangat.
Banyak sekali rombongan pengungsi yang membanjiri kota ini semenjak beberapa hari yang lalu sehingga
semua rumah penginapan penuh oleh para pengungsi yang beruang. Karena kehabisan kamar, terpaksa
Maya dan teman-temannya bermalam di dalam sebuah gedung besar rumah perkumpulan yang oleh para
dermawan kota itu disediakan untuk menampung para pengungsi yang tidak dapat menyewa kamar, yang
tidak berkeluarga di kota itu, dan yang tidak kebagian kamar penginapan lagi. Saking banyaknya orang
yang memasuki gedung ini, sebagiaan besar mereka terpaksa berjubel di dalam ruangan terbuka yang luas.
Di tempat ini mereka beristirahat. Laki-laki wanita, tua muda, kanak-kanak, ada yang duduk mengobrol,
ada yang tidur di lantai. Di sana-sini terdengar suara anak-anak kecil menangis diiringi suara makian atau
hiburan orang tuanya, ada pula suara keluh-kesah wanita yang teringat akan rumah dan segala miliknya
yang terpaksa ditinggalkan. Di dalam ruangan ini Maya dan empat orang temannya duduk di sudut,
memperhatikan percakapan-percakapan antara para pengungsi karena percakapan-percakapan itu pun
merupakan sumber keterangan yang amat penting bagi mereka.
Menyaksikan sikap para pengungsi, melihat wajah mereka tidaklah sekeruh tadi ketika melakukan
perjalanan, bahkan kini setelah bercakap-cakap mereka tersenyum-senyum dan sama sekali tidak tampak
berduka, diam-diam Maya teringat akan penuturan suheng-nya yang sering kali ketika mereka berada di
Pulau Es membicarakan filsafat yang banyak diketahui suheng-nya itu. Diam-diam dia dapat melihat
kenyataan akan watak manusia pada umumnya seperti yang pernah ia dengar dari suheng-nya.
Di dalam segala macam hal, dalam susah mau pun senang, manusia selalu bergerak dan bersikap di atas
dorongan sifat sayang diri. Betapa pun dukanya hati seseorang karena mengalami derita tertimpa
kemalangan, hatinya yang duka itu akan terhibur apa bila melihat manusia lain menderita pula, apa lagi
kalau penderitaan manusia lain itu lebih besar dari pada penderitaannya sendiri. Dia dapat membayangkan
betapa akan hancur dan sengsara hati setiap orang diri para pengungsi ini andai kata dia seorang yang
mengalami nasib buruk seperti itu! Akan tetapi, bertemu dan berkumpul dengan banyak orang lain yang
senasib, maka mereka itu merasa terhibur!
Sebaliknya, setiap kesenangan dan keuntungan yang datang selalu ingin dikuasai oleh seorang saja
sehingga dijadikan perebutan! Sifat sayang diri dan iba diri inilah yang mengusir cinta kasih antara manusia
jauh-jauh dari hati manusia sehingga di mana-mana, bahkan di dalam hati masing-masing manusia, timbul
pertentangan-pertentangan.
Padahal, dengan cinta kasih yang mendalam, setiap kedukaan akan terasa ringan apa bila dipikul bersama,
sebaliknya di setiap kesukaan akan terasa lebih nikmat apa bila dinikmati bersama. Hal ini akan dapat
dirasakan oleh setiap orang dalam sebuah keluarga yang penuh cinta kasih, di mana setiap kedukaan
menjadi ringan dan setiap kesukaan menjadi besar karena selalu dirasakan oleh seluruh keluarga yang
mengandung cinta kasih di dalam hati masing-masing.
Percakapan antara tiga orang laki-laki tua di sebelah kirinya amat menarik hati Maya dan empat orang
kawannya. Mereka itu bercerita tentang keributan di dalam gedung kepala daerah kota Sian-yang, di mana
Koksu Negara menjadi tamu. Keributan yang ditimbulkan oleh seorang dara perkasa yang bertanding
melawan pengawal-pengawal Koksu, bahkan yang berhasil membunuh pengawal Koksu yang paling
terkenal, yaitu Panglima Dampit.
Maya saling pandang dengan teman-temannya, dan berbisiklah Ok Yan Hwa, ”Tentu dia itu orangnya...”
Maya dan yang lain-lain mengangguk. Mereka sudah mendengar penuturan Ok Yan Hwa betapa ada
seorang gadis lihai bukan main yang hendak kabur keluar dari kota Sian-yang di malam hari dan dalam
pengepungan terhadap dara lihai itu, Yan Hwa sendiri tidak berhasil mengalahkannya. Tadinya Maya juga
terheran, akan tetapi ketika mendengar bahwa Yan Hwa baru bertanding beberapa gebrakan saja melawan
pelarian itu, dia masih belum yakin benar akan ada seorang gadis yang dapat menandingi Yan Hwa.
Akan tetapi ketika sekarang mendengar bahwa gadis itu dapat membunuh Panglima Dampit dalam
pertandingan, Maya benar-benar terkejut bukan main. Dia maklum akan kelihaian Panglima Dampit, yang
dunia-kangouw.blogspot.com
amat terkenal dan sukar dikalahkan itu, dan kini dua orang dampit yang lihai itu tewas di tangan gadis itu.
Diam-diam terbayanglah wajah sumoi-nya, Khu Siauw Bwee di dalam mata Maya. Yan Hwa melihat dara
itu di dalam gelap sehingga tidak dapat menceritakan dengan jelas bagaimana wajah gadis itu.
Akan tetapi melihat keadaannya, di dunia ini sukar sekali didapat seorang gadis cantik yang mampu
mengalahkan Panglima Dampit, bahkan Yan Hwa sendiri belum tentu akan mampu mengalahkan dua
orang dampit itu. Kalau pun ada, agaknya hanya dia sendiri atau Siauw Bwee! Dia lalu berbisik kepada Ji
Kun.
Pemuda ini mengangguk lalu mendekati orang-orang yang sedang bicara tentang peristiwa di gedung yang
ditinggali Bu-ciangkun itu, kemudian bertanya, “Lopek, benarkah Panglima Dampit terbunuh oleh seorang
gadis? Betapa anehnya dan sukar dipercaya. Siapa yang tidak mengenal kelihaian Panglima Dampit?”
Kakek itu memandang Ji Kun dan mengerutkan alisnya. “Memang benar dia lihai sekali. Akan tetapi
menurut penuturan keponakanku yang menjadi pengawal dan pada waktu itu menyaksikan sendiri
pertandingan itu, Panglima Dampit benar-benar tewas dalam keadaan mengerikan di tangan gadis yang
mempunyai kepandaian seperti dewi itu.”
“Aih, sungguh hebat dan menarik sekali. Lopek, untuk melupakan kesengsaraan kita, sukakah kau
menceritakan kejadian itu? Si Dampit adalah panglima, betapa mungkin sampai terbunuh, dan bagaimana
dengan Koksu dan panglima-panglima lainnya?”
Dengan wajah gembira karena mendapat kesempatan menceritakan peristiwa penting yang tidak
sembarangan orang dapat mengetahuinya, kakek itu menghisap huncwe (pipa tembakau) sampai paruparunya
penuh asap, kemudian dengan uluran napas panjang ia mengeluarkan asap tambahan yang
hilang sarinya itu melalui hidungnya, menikmati pandang mata semua orang di sekelilingnya yang
bergantung kepada bibirnya. Barulah dia menjawab,
“Engkau tidak tahu, orang muda. Pertandingan itu memang disengaja oleh Koksu yang hendak menguji
kepandaian gadis perkasa itu. Gadis itu bersama seorang laki-laki tua memasuki ruangan dan entah
mengapa, para pengawal tidak ada yang mengerti, dia mengamuk. Menyaksikan kelihaian gadis itu, Koksu
menyuruh panglimanya maju bergantian, akan tetapi apa yang terjadi? Benar keponakanku yang
mengatakan bahwa gadis itu agaknya bukan manusia biasa melainkan seorang dewi, baik karena
kecantikannya yang luar biasa, tubuhnya yang berbentuk menggairahkan, mau pun kepandaiannya yang
sukar dipercaya. Kalian tahu? Seorang demi seorang para panglima pengawal itu roboh olehnya!”
“Aihhhh...!”
“Ayaaaaaa... lihai sekali!”
“Tsk-tsk-tskk...!”
“Melihat semua panglimanya roboh, Bu-koksu lalu menyuruh adik angkatnya sendiri, pengawal pribadinya
yang penuh rahasia, yang hanya dikenal sebagai Kam-busu untuk maju menghadapi gadis itu!”
“Aihhhh...!” Sekali ini teriakan kaget keluar dari mulut Maya.
Disebutnya nama Kam-busu yang katanya paling lihai di antara para panglima membuat hatinya berdebar
tegang. Seorang she Kam menjadi adik angkat Koksu dan paling lihai di antara para panglima pengawal?
Siapa lagi kalau bukan Kam Han Ki? Ah, akan tetapi sungguh tidak mungkin hal itu terjadi. Suheng-nya
menjadi pengawal pribadi Koksu? Tak masuk akal! Suheng-nya adalah seorang buruan, seorang pelarian
yang dimusuhi Kerajaan Sung, mana bisa sekarang menjadi pengawal pribadi Koksu?
Pula kalau betul dugaannya bahwa dara yang lihai sekali itu adalah sumoi-nya, Khu Siauw Bwee, mana
mungkin bertanding melawan Kam Han Ki? Tentu seorang di antara keduanya itu yang bukan sumoi-nya
atau suheng-nya. Kalau gadis itu betul Siauw Bwee, tentu pengawal itu bukan Han Ki. Sebaliknya, kalau
pengawal itu Han Ki, pasti gadis itu bukan Siauw Bwee. Betapa pun juga, dia hampir yakin bahwa tentu
gadis itu sumoi-nya, sedangkan pengawal itu bukan suheng-nya, biar pun mempunyai she Kam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu melanjutkan ceritanya setelah melotot kepada Maya sebagai teguran karena teriakannya tadi.
“Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa, mengejutkan semua orang dan agaknya sukar ditentukan
siapa di antara mereka itu yang akan menang kalau pertandingan itu dilanjutkan. Sayang, pada saat itu
kota mulai dikacau musuh sehingga Koksu terpaksa meninggalkan ruangan itu dikawal oleh Kam-busu,
dan Koksu memerintahkan Panglima Dampit bersama para panglima lain dan para pengawal untuk
menangkap atau membunuh gadis ini bersama temannya. Dalam pertempuran inilah gadis jelita yang lihai
itu membunuh Panglima Dampit dan banyak pengawal lain. Untung keponakanku hanya mengalami kepala
benjol saja dan tidak mati. Gadis yang sepak terjangnya seperti seekor naga betina itu berhasil lolos dari
kepungan para pengawal, bahkan menolong pula temannya.”
Semua orang tercengang dan cara Si Kakek bercerita yang disertai gerakan kedua tangannya
mendatangkan kesan mendalam terhadap para pendengarnya, terutama sekali kepada Maya dan temantemannya,
tentu saja. Maya merasa yakin kini bahwa gadis itu tentulah Siauw Bwee. Gadis mana lagi di
dunia ini yang memiliki ilmu kepandaian selihai itu? Dia maklum bahwa kepandaian sumoi-nya amat tinggi,
tidak banyak selisihnya dengan dia sendiri, bahkan dia tidak berani memastikan bahwa dia akan dapat
memenangkan sumoi-nya itu!
Selagi dia hendak bertanya kepada kakek itu lebih jelas tentang diri Kam-busu, tiba-tiba terdengar suara
ribut-ribut di sebelah luar gedung itu. Suara teriakan-teriakan orang berkelahi! Mendengar ini, otomatis para
pengungsi menjadi pucat wajahnya. Mereka bergegas menyiapkan barang-barang bawaan, ada yang
segera menggendong anaknya. Tak seorang pun berani membuka suara sehingga keadaan yang sunyi itu
membuat suara gaduh di luar makin terdengar jelas. Tak salah lagi, ada dua orang tengah berkelahi sambil
saling memaki.
“Hendak lari ke mana kau, keparat?” terdengar bentakan disusul gedebak-gedebuknya kaki berlari
memasuki gedung. Kembali terdengar suara perkelahian, di dalam gedung, dekat dengan ruangan itu.
Mendengar suara perkelahian ini makin dekat dengan ruangan itu, seorang kakek yang pucat ketakutan
cepat menutupkan daun pintu yang menembus ruangan itu kemudian bergegas ia duduk kembali. Semua
mata terbelalak memandang kepada pintu yang tertutup itu dan dari balik pintu terdengar suara perkelahian,
kini berdesingnya senjata. Jantung mereka menjadi makin tegang dan berdebar.
“Brakkkkk!” Daun pintu pecah berantakan dan tubuh seorang laki-laki tinggi besar yang tadi terlempar
menubruk daun pintu, jatuh terjengkang di atas daun pintu di sebelah dalam ruangan.
Anak-anak menjerit, juga para wanita, dan semua orang terbelalak memandang, akan tetapi menjadi agak
lega ketika melihat bahwa yang berkelahi bukanlah tentara, berarti bahwa di luar tidak terjadi perang. Yang
berkelahi hanyalah dua orang laki-laki setengah tua. Kini orang yang jatuh cepat mencelat ke samping
ketika lawannya, seorang kakek berjenggot pendek menubruknya.
Kakek berjenggot pendek itu ternyata lihai sekali. Biar pun dia bertangan kosong, ternyata lawannya yang
memegang sebatang golok telah terlempar sampai tubuhnya membobol daun pintu. Kini kakinya melayang
menyusul tubrukannya yang tak berhasil tadi. Lawannya berseru marah, tangannya tertendang sehingga
goloknya terlepas. Dengan gerengan seperti seekor beruang terluka, orang yang memakai topi bulu domba
ini membalas dengan pukulan-pukulan dahsyat dan bertandinglah kedua orang itu di tempat yang amat
sesak dengan para pengungsi itu!
Maya dan teman-temannya tetap duduk dengan sikap tenang. Mereka mendapat kenyataan bahwa kedua
orang yang berkelahi itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Gerakan mereka tangkas sekali dan biar
pun tempat itu penuh sesak dengan pengungsi, mereka dapat bertanding dengan berloncatan ke sana-sini,
melewati kepala orang, bahkan kadang-kadang menggunakan kaki mereka meloncat dari pundak dan
kepala para pengungsi, lalu melesat ke kanan kiri!
Tentu saja para pengungsi menjadi geger dan melihat bahwa yang berkelahi hanya dua orang biasa,
mereka yang kena injak dan yang memiliki kepandaian, melawan dan memukul. Namun dua orang itu lihai
sekali sehingga setiap serangan dari para pengungsi yang marah karena dikacau dua orang itu, dalam dua
tiga gebrakan saja sudah terpukul roboh dan mereka berdua melanjutkan perkelahian mereka!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa sudah marah sekali, hendak meraba pedang yang mereka
sembunyikan di balik baju. Akan tetapi Maya menyentuh lengan mereka, berkedip dan menggoyang kepala
sehingga mereka terpaksa menelan kemarahan mereka terhadap dua orang yang benar-benar tidak
mengenal tempat dan keadaan, berkelahi di antara bagitu banyak orang sehingga menimbulkan kepanikan.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil