Minggu, 28 Januari 2018

Suling Pusaka Kumala 2


baca juga
  • Cerita Silat Lepas Kho Ping Hoo : Suling Pusaka Ke...
  • Cersil Si Pedang Kilat Membasmi Iblis Tamat
  • Cersil Si Pedang Kilat Membasmi Iblis 2
  • Si Pedang Kilat Membasmi Iblis (Lanjutan Kisah Si ...
  • Kho Ping Hoo Full Tamat Kisah Si Pedang Kilat 6
  • Komik Kho Ping Hoo Kisah Si Pedang Kilat 5
  • Kisah Si Pedang Kilat 4 Kho Ping Hoo
  • Cerita Silat Kho Ping Hoo Kisah Si Pedang Kilat 3
  • Cersil KPH Kisah Si Pedang Kilat 2
  • Serial KPH Kisah Si Pedang Kilat 1
  • Cersil Lawas Si Pedang Kilat
  • Cersil Lepas Jin Yong : Pedang Gadis Yueh
  • Cersil Pendekar Remaja 6 Tamat
  • Cersil Pendekar Remaja 5


  • Suling Pusaka Kumala 2

    Jilid III
    ANG-BIN-SIAN lalu menghampiri Han Lin dan dia berkata,
    "Han Lin, apa yang kau katakan itu memang benar sekali.
    Untuk apa mempelajari suatu ilmu kalau hanya setengahsetengah?
    Kelak tidak ada gunanya, hanya dipakai untuk
    menyombongkan diri saja seperti gentong gosong yang
    nyaring bunyinya namun tak berisi. Marilah kita keluar dari
    dalam rumah dan engkau akan menilai sendiri sampai di mana
    kepandaian kami!" Dia memegang tangan anak itu dan
    dituntunnya keluar.
    Dengan penuh semangat Han Lin keluar karena dia
    memang hendak melihat apakah tiga orang tua itu pantas
    untuk mengajarkan ilmu silat kepadanya.
    Setibanya di luar rumah, Ang-bin-Man melihat dua batang
    pohon sebesar manusia dan dua buah batu besar
    dipekarangan depan rumah itu. Dia tersenyum.
    "Nah, engkau melihat dua batang pohon dan dua buah
    batu sebesar kerbau itu? Dapatkah orang biasa yang
    bagaiman kuatpun dengan sekali pukul menumbangkan pohon
    itu dan memecahkan batu itu dengan tongkatnya?"
    Han Lin terbelalak dan menggelengkan kepalanya. "Tidak
    mungkin. Pohon itu terlampau kuat dan batu itu terlalu besar
    untuk dipecahkan dengan pukulan tongkat!"
    "Begitukah? Nah, engkau lihat sekarang. Pinto (aku) akan
    merobohkan pohon pohon dan memecahkan batu-batu itu
    dengan tongkat pinto!" Setelah berkata demikian, Ang-bin-sian
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    menggerakkan tongkat bajanya, bersilat di pekarangan itu.
    Tongkat bajanya menyambar-nyambar, mengeluarkan suara
    dahsyat bersuitan, makin lama dia bersilat makin mendekati
    dua batang pohon besar dan dua bongkah batu besar itu. Tak
    lama kemudian tongkatnya menyambar pohon.
    "Krakkk! Krakkk!!" Dua batang pohon itu tumbang terkena
    hantaman tongkat baja. Kakek itu terus bersilat dan kini
    tongkatnya terayun menghantam dua bongkah batu yang
    sebesar perut kerbau.
    "Darrr! DarrrH" Tampak debu mengepul dan dua bongkah
    batu itupun pecah! Ang-bin-sian menghentikan permainan
    silatnya dan Han Lin terbelalak, lalu memuji.
    "Hebat! Hebat sekali!" Dan dia bertepuk tangan dengan
    girangnya.
    It-kiam-sian melangkah maju. "Han Lin, engkau lihatlah
    sekarang aku menggunduli pohon di sana itu dengan
    pedangku!" Setelah berkata demikian, tosu ini mencabut
    pedangnya dan mulai bersilat dengan pedangnya. Pedang itu
    menyambar-nyambar dan berubah menjadi segulungan sinar.
    Ketika tosu ini bersilat semakin cepat, gulungan sinar pedang
    itu melayang ke arah pohon. Bayangan It-kiam-sian hanya
    tampak samar-samar saja dan kini ia meloncat tinggi ke atas
    pohon sambil tetap memutar pedangnya. Gulungan sinar
    pedang ke arah puncak pohon dan tampaklah daun-daun
    pohon dan ranting berhamburan dan dalam waktu singkat saja
    pohon itu telah "dicukur" sehingga bentuk seperti sebuah
    payung besar! Ketika it kiam-sian melompat turun dan
    menyimpan pedangnya, Han Lin yang sejak tadi terbelalak,
    menepuk tangan dengan kagum girang sekali.
    "Hebat sekali!"
    Pek-tim-sian mengebutkan kebutan sambil tertawa. "Anak
    baik, agaknya engkau tidak akan yakin kalau belum melihat
    dengan mata kepala sendiri. Itu kebiasaan yang baik. Jangan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    mudah percaya kalau tidak melihat sendiri, itu sikap orang
    budiman. Sekarang lihatlah ekor burung yang sedang
    berloncatan ranting-ranting pohon itu. Aku akan
    menangkapkan burung-burung itu untukmu."
    Setelah berkata demikian, Pek-tim-sian melompat.
    Tubuhnya amat ringan cepat dan memang tosu ini adalah
    seorang ahli gin-kang (meringankan tubuh) yang hebat. Kalau
    gerakan It-kiam-sian dengan pedangnya tadi masih tampak
    bayangannya, kini gerakan Pek-tim-sian dengan kebutannya
    sama sekali tidak tampak bayangannya, tahu-tahu tubuhnya
    sudah berada di pohon dan dua kali hud him (kebutan dewa)
    di tangannya bergerak, dua ekor burung itu telah digulung
    oleh ujung kebutan dan ditangkapnya. Bagaikan seekor
    rajawali dia melayang turun dari atas pohon, ketika dia tiba di
    depan Han Lin, kedua kakinya sama sekali tidak mengeluarkan
    suara dan dia tertawa. "Ha-ha-ha, pinto tidak mempunyai apaapa,
    hanya dua ekor burung ini pinto akan kepadamu, boleh
    kau perbuat apa yang kau suka."
    Han Lin menerima dua ekor burung itu, mengelus bulunya
    lalu dia melemparkan mereka ke udara sehingga mereka
    terbang ringan cepat sekali.
    "Han Lin, kenapa engkau lepaskan burung-burung itu?"
    Akan tetapi Han Lin sudah menjatuhkan dirinya berlutut
    menghadap tiga tosu dan berkata sambil memberi hormat
    berulang kali. "Teecu (murid) Han Lin mohon diterima menjadi
    murid sam-wi suhu (tiga orang guru) dan sejak saat ini tecu
    akan menaati semua perintah dan tunjuk suhu bertiga." Tiga
    orang tosu itu tertawa senang.
    Memang mereka ingin mengambil murid anak itu sejak tiga
    tahun yang lalu, maka melihat sikap anak itu mereka merasa
    gembira.
    "Han Lin, engkau belum menjawab mengapa engkau
    membebaskan burung-burung tadi?"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Suhu, burung adalah mahluk yang terbang bebas di udara.
    Kasihan sekali kalau mereka ditangkap dan dikurung. Tecu
    tidak suka mengurungnya, maka teecu lepaskannya."
    "Bagus!" kata Ang-bin-sian. "Kecil kecil engkau sudah dapat
    menghargai kebebasan."
    "Sam-wi totiang (Para pendeta bertiga harap suka masuk
    ke dalam pondok untuki bicara. Silakan," kata Chai Li sambil
    memberi hormat.
    Tiga orang tosu itu tersenyum, mengangguk-angguk dan
    melangkah menuju pondok. Ang-bin-sian menggunakan
    tongkat bajanya menowel belakang punggung Han Lin dan
    anak itu terlempar keatas jungkir balik dan jatuh berdiri.
    "Hayo engkau ikut kami."
    Han Lin terkejut akan tetapi tidak menjadi takut, bahkan
    gembira sekali karena dia merasa yakin akan kelihaian tiga
    orang yang akan menjadi gurunya itu.
    Setelah mereka bertiga duduk di ruangan depan, Chai Li
    menghidangkan minuman air teh cair dan ia menceritakan
    tentang keadaan Han Lin.
    "Saya telah memanggil guru untuk mendidik Han Lin dalam
    kesusasteraan, sekarang dia sudah mulai dapat membaca dan
    menulis, dan mempelajari beberapa
    buah kitab agama."
    "Akan tetapi teecu tidak suka akan cara guru-guru itu
    mengajarkan isi kitab, suhu."
    Ang-bin-sian mengerutkan alisnya yang tebal. "Hemm,
    mengapa begitu?"
    "Habis, mereka mengajarkan perbuatan-perbuatan baik
    tanpa mereka sendiri melakukannya! Apa artinya semua
    pelajaran perbuatan baik itu kalau tidak dilaksanakan?" kata
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Han Lin sambil memandang kepada tiga orang gurunya
    dengan matanya yang bersinar-sinar.
    "Ha-ha-ha-ha, sungguh tepat!" kata It-kiam-sian.
    "Engkau hanya mengenal kulitnya tanpa mengetahui
    isinya!" cela Pek tim sian.
    Ang-bin-sian lalu berkata sungguh sungguh. "Memang
    sesungguhnyalah. Pelajaran perbuatan baik adalah untuk
    dilaksanakan, bukan untuk dibicarakan. Akan tetapi kalau tidak
    dibicarakan lebih dulu bagaimana engkau dapat mengerti?
    Perbuatan baik adalah satu perbuatan yang tidak
    direncanakan oleh hati akal pikiran. Semua perbuatan yang
    direncanakan oleh hati akal pikiran tidak mungkin baik, atau
    baik untuk dirinya sendiri saja. Perbuatan begitu tentu
    berpamrih demi diri pribadi. Akan tetapi kalau engkau sudah
    mempelajari nilai-nilai tinggi dalam kehidupan seperti yang
    diucapkan oleh kaum bijaksana di jaman dahulu, maka engkau
    akan memiliki dasar yang baik sehingga apapun yang kau
    lakukan tentu baik."
    Han Lin menjadi bengong, lalu menggaruk-garuk
    kepalanya. "Wah, pelajaran suhu sungguh sulit dimengerti!"
    Tiga orang gurunya tertawa. "Tidak mengapalah. Kelak
    engkau akan mengerti sendiri. Sekarang kami
    memperkenalkan diri," kata Ang-bin-sian. "Kami bertiga
    disebut orang Gobi Sam-sian (Tiga Dewa dari Gobi) karena
    kami memang suka merantau di daerah Gobi. Pinto sendiri
    disebut Ang-bin-sian (Dewa Muka Merah) dan engkau boleh
    menyebut aku twa-hu (guru tertua). Dia itu adalah It-kiamsian
    (Dewa Pedang Tunggal) dan nenjadi ji-suhu (guru kedua)
    bagimu dan yang seorang lagi itu adalah Pek-tim-sian (Dewa
    Kebutan Putih) menjadi sam-suhu (guru ketiga)."
    Han Lin memberi hormat kepada mereka seorang demi
    seorang sambil menyebut "Twa-suhu, ji-suhu dan sam-suhu".
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Sekarang dengar baik-baik, Han Lin. Engkau sudah minta
    kepada kami untuk membuktikan kesanggupan kami untuk
    menjadi gurumu. Oleh karena itu, sekarang kami juga minta
    kepadamu untuk membuktikan kesanggupanmu untuk
    menjadi murid kami!" kata Ang-bin-sian.
    "Toa-suhu, teecu akan melaksanakan semua perintah suhu
    tanpa membantah!" kata Han Lin dengan suara tegas dan
    mantap.
    "Sebaiknya begitu. Ingat, mempelajari bu (silat) berbeda
    dengan mempelajari bun (sastera). Untuk sastera, engkau
    harus mempergunakan pikiran dan perasaanmu, Akan tetapi
    untuk mempelajari ilmu silat harus ada kesatuan antara
    pikiran, perasaan dan gerakan tubuhmu. Oleh karena itu
    engkau sama sekali tidak boleh malas dan harus melakukan
    segala yang kami perintahkan."
    "Teecu mengerti, suhu!"
    "Engkau harus mempelajari sastera, tiga hari dalam
    seminggu dan yang empat hari kami akan melatih silat
    kepadamu. Kami akan mencari tempat bertapa di pegunungan
    ini dan datang kesini setiap waktu untuk mengajarkan silat.
    Akan tetapi sekarang, tugasmu yang pertama adalah
    membersihkan halaman itu, mengampak kayu-kayu itu
    menjadi kayu bakar dan membersihkan semua daun daun
    situ."
    Han Lin terbelalak. Dua batang pohon besar tumbang dan
    banyak sekali ranting dan daun terbabat pedang. Kalau hanya
    mbersihkan daun dan ranting, dalam waktu sehari dua hari
    saja tentu akan selesai. Akan tetapi mengampak batang
    batang kayu itu menjadi kayu bakar yang kecil-kecil? Entah
    berapa lama dia harus bekerja keras! Akan tetapi tanpa ragu
    dia menjawab.
    "Teecu akan melaksanakan tugas itu. baiknya, toa-suhu!"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Chai Li kelihatan gelisah mendengar caranya menerima
    tugas seberat itu dan melihat wajah wanita itu, Ang-bin-sian
    berkata sambil tersenyum. "Nyonya, biarlah puteramu
    mengerjakan semua perintah kami. Keberhasilannya dalam
    ilmu silat akan bergantung sepenuhnya kepada
    ketekunannya."
    Chai Li mengangguk walaupun ia merasa amat kasihan
    kepada puteranya. Dan tiga orang Gobi Sam-sian itu lalu
    berpamit untuk mencari tempat pertapaan yang cocok bagi
    mereka, yang tidak terlalu jauh dari kota Pao-tow. Mereka
    mendapatkan sebuah hutan cemara di lereng bukit dan
    mendirikan sebuah pondok kayu dan bambu di tempat itu
    untuk mereka tinggali dan bertapa.
    Sampai setengah bulan lamanya Han Lin membersihkan
    halaman rumah Nenek janda pemilik rumah menjadi senang
    sekali mendapatkan banyak kayu bakar dan memuji Han Lin
    sebagai anak yang rajin. Memang anak ini mempunyai
    semangat yang luar biasa. Biarpun bukan orang kaya, namun
    dia jarang melakukan pekerjaan berat. Akan tetapi begitu
    menerima perintah suhunya, setiap hari dia mengunakan
    kapak dan golok untuk membelah batang pohon. Dia bekerja
    tanpa mengenal waktu dan kedua telapak tangannya sampai
    lecet-lecet dan akhirnya menjadi tebal.
    Setelah dia mulai dilatih oleh tiga orang tosu itu, dia
    mendapatkan tugas setiap hari yang lebih berat lagi! Pondok
    tiga orang tosu itu agak jauh dari sungai air, dan Han Lin
    bertugas untuk mencari dan memikul air dari sumber air
    dibawa ke pondok. Akan tetapi untuk melakukan pekerjaan
    itu, mula-mula dia harus menggunakan alas kaki dari kayu
    tebal yang kalau dipakai berjalan licin. Beberapa kali ia jatuh
    bangun menggunakan alas kaki kayu itu, air pikulannya
    tumpah sehingga ia harus kembali ke sumber air untuk
    menimba lagi. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu,
    walaupun tidak ada orang menyaksikannya, sebentarpun dia
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    tidak pernah melepas alas kaki itu dan dengan gigih dia
    berjuang sampai akhirnya dia dapat memikul air itu ke pondok
    menggunakan alas kaki! Tampaknya saja ketiga orang
    gurunya tidak perduli, namun sesungguhnya mereka bertiga
    mengamati setiap gerak-gerik murid mereka dan
    mengintainya.
    Mereka sungguh merasa gembira sekali melihat kegigihan
    murid mereka yang masih berusia enam tahun itu.
    Bukan sampai di situ saja "penyiksaan" terhadap diri Han
    Lin yang kecil. Setelah itu mulai lincah dan terampil
    mempergunakan alas kaki sehingga dapat berlari-lari kecil
    sambil memikul airnya, tiga orang gurunya lalu memasang dua
    buah gelang kaki dikedua kakinya. Gelang baja itu masingmasing
    satu kati beratnya. Biarpun 1 kati itu ringan kalau
    diangkat, akan tetapi ketika dia mulai memikul air
    mengunakan alas kaki kayu, gelang itu rasanya lebih dari
    sepuluh kati beratnya! Dan tidak hanya sampai di sini saja.
    Setelah dia mulai terbiasa dengan beban gelang itu, gelangnya
    ditambah dengan yang lebih besar dan berat sehingga dalam
    waktu tiga bulan gelang di kedua kakinya itu masing-masing
    seberat lima kati!
    Dia menaati perintah guru-gurunya tanpa mengeluh. Di
    lubuk hatinya dia tahu bahwa guru-gurunya sedang
    menggemblengnya untuk menjadi orang yang kuat dan dia
    membantu usaha guru-gurunya itu dengan menaatinya.
    Setelah lewat tiga bulan, Ang-bi sian membuat sebuah
    pikulan baru. Pikulan itu terbuat dari rotan-rotan kecil yang
    digabung menjadi sebuah pikulan besar Han Lin diharuskan
    memikul kedua gentung airnya dengan pikulan dari rotan itu.
    Mula-mula dia merasa kaku, karena pikul itu agak lentur. Akan
    tetapi lama kelaman dia terbiasa dan dapat mengatur
    keseimbangannya sedemikian rupa sehingga kalau dia
    memikul air sambil setengah berlari, kedua kaki dan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    tangannya membuat gerakan seperti orang menari untuk
    menjaga keseimbangan badannya.
    Akan tetapi sebulan kemudian, gurunya mengambil dan
    melolos sebatang rotan dari pikulan itu! Dan setiap seminggu
    sekali, pikulan itu dikurangi sebatang rotan sampai menjadi
    kecil dan lentur sekali. Namun, Han Lin dapat menyesuaikan
    diri dan dapat memikul air itu sampai ke pondok.
    Latihan-latihan sambil bekerja macam Itu dilakukan Han Lin
    selama dua tahun! dan dia sama sekali belum diajar ilmu silat!
    Sungguhpun demikian, dengan gerakan mengatur
    keseimbangan badan ketika ia memikul air, dia sudah
    menguasai dasar gerakan kaki dalam ilmu silat. Dia tahu
    bahwa dia belum dilatih ilmu silat, bahkan ibunya mulai
    mengomel kalau bertanya kepadanya apakah dia sudah diajari
    ilmu silat.
    "Belum, ibu. Akan tetapi aku disuruh kerja berat. Lihat ini,
    otot-otot kaki dan tanganku menjadi kokoh. Aku tidak pernah
    masuk angin, aku selalu bangun pagi pagi sekali dan merasa
    tubuhku selalu sehat dan segar. Ini semua berkat pekerjaan
    yang ditugaskan sam wi suhu (guru bertiga) kepadaku dan
    aku berterima kasih sekali!"
    "Akan tetapi apa artinya kepandaian memikul air? Apakah
    engkau kelak akan menjadi tukang pikul air? Engkau harus
    menjadi seorang pendekar, Han Lin, dan karena itu engkau
    harus belajar ilmu silat. Biarlah besok akan kutanyai mereka
    mengapa sampai sekarang engkau belum dilatih ilmu silat,"
    kata ibu yang merasa kecewa itu.
    "Jangan, ibu! Aku sudah senang sekali dengan cara mereka
    mengajar. Di sini aku tidak hanya mendapatkan teori saja
    akan tetapi langsung aku mendapatkan manfaat pada
    tubuhku. Kita harus bersabar, ibu. Bukankah kesabaran itu
    pangkal keberhasilan?"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Han Lin memang pandai bicara da kalau sudah begitu,
    ibunya mengalah "Baiklah, aku tidak akan bertanya secara
    langsung, akan tetapi akan menanyakan sampai di mana
    kemajuanmu. Hal itu boleh saja dan sudah menjadi hakku
    sebagai ibumu, bukan?"
    Han Lin tersenyum. Diapun heran. Apa yang akan dijawab
    oleh ketiga gurunya kalau ibunya menanyakan kemajuannya
    dalam mempelajari ilmu silat?
    Benar saja. Pada keesokan harinya, ketika dengan berjalan
    santai tiga orang tosu itu datang ke rumahnya untuk "melatih"
    silat kepada Han Lin dan yang biasanya berakhir dengan
    membawa Han Lin pergi ke bukit mereka untuk bekerja keras,
    Chai Li bertanya dengan sikap hormat.
    "Selamat pagi, sam-wi totiang (bapak pendeta bertiga).
    Dapatkah sam-wi totiang menjelaskan kepada saya, sampai di
    mana kemajuan ilmu silat yang sam-wi (kalian bertiga) ajarkan
    kepadanya?"
    Tiga orang tosu itu saling pandang, kemudian memandang
    kepada Han Lin yang berdiri di situ sambil menundukkan
    mukanya. Pada saat itu tiba-tiba terdengar-eriakan banyak
    orang. "Tolong cegat! Tolong!"
    "Jangan boleh lari, tahan dia!"
    Mereka semua melihat ke jalan dan ternyata serombongan
    orang sedang mengejar-ngejar seekor kerbau muda yang
    lepas. Kerbau itu agaknya panik dikejar kejar dan diteriaki,
    dan diapun mengamuk. Kalau ada orang hendak
    memegangnya, dia menyerang dengan tanduknya sehingga
    tak seorangpun berani menghalanginya.
    "Han Lin, perlihatkan kepada ibumu bahwa engkau mampu
    menangkap kerbau itu. Cepat lakukan. Hati-hati terhadap
    tanduknya, engkau harus pandai menghindar, rangkul
    lehernya dan puntir kepala nya!" kata Ang-bin-sian.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Tanpa mengucapkan sepatah pun kata,. Han Lin lalu berlari
    ke jalan. Ibunya memandang dengan mata terbelalak dan hati
    gelisah sekali. Orang dewasa saja tidak berani menangkap
    kerbau itu, kini anaknya disuruh menangkap! Dengan jantung
    berdebar penuh kekhawatiran Chai Li berlari keluar
    pekarangan, diikuti oleh tiga orang tosu itu yang berjalan
    dengan santai.
    Kerbau yang mengamuk itu datang. Dengan sigapnya Han
    Lin menyambutnya. anak ini memiliki gerakan yang ringan dan
    cepat bukan main. Hal ini adalah hasil dari gelang-gelang kaki
    baja dan berlarian dengan alas kaki kayu licin sambil memikul
    air itu. Kedua kakinya tidak saja menjadi kokoh kuat kalau
    memasang Bhesi (kuda-kuda) akan tetapi juga amat ringan
    dan lincah. Dia berdiri mengembangkan kedua lengan
    terhadap kerbau itu dan mulutnya mengeluarkan teriakan.
    "Hiuuuhh...... berhenti.....!"
    Kerbau itu menjadi marah. Matanya merah mendelik
    kemerahan, tanda bahwa ia sudah marah sekali. Melihat ada
    seorang anak berani menghadang di depannya, dia lalu
    menurunkan kepalanya ke bawah, kemudian menerjang ke
    depan sambil menggerakkan kepalanya yang bertanduk dua.
    Sekiranya tanduk-tanduk itu mengenai perut atau dada Han
    Lin, mudah digambarkan akibatnya. Tentu dia akan terluka
    parah.
    Namun Han Lin melihat betapa gerakan serangan kerbau
    itu lamban. Dengan cepat kakinya melompat ke samping
    sehingga serudukan kepala kerbau itu lewat samping
    tubuhnya. Secepat kilat dia membalikkan tubuhnya dan
    melompat ke depan merangkul leher kerbau, memegang
    kedua tanduknya dan dengan sekuat tenaga tangannya yang
    biasa memikul air dengan gentung dengan hanya beberapa
    batang rotan, dia memuntir leher kerbau itu bawah. Dan
    kerbau itupun rebah!
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Pemilik kerbau sudah tiba di situ dan cepat orang ini
    memasangkan tali kepada hidung kerbau yang sudah tidak
    berdaya itu. Setelah kerbau dapat dikuasai baru Han Lin
    melepaskannya. Tanpa rasa bangga sedikitpun dan
    menganggapnya sebagai hal yang lumrah dia mengebutngebutkan
    bajunya yang menjadi kotor karena pergulatan
    tadi.
    Chai Li berlari dan merangkul putranya. Baru sekarang
    terdengar tepuk tangan dan seruan memuji kepada Han Lin.
    tiga orang tosu tiba di situ dan mereka hanya tersenyum.
    Melihat dirinya dipuji puji orang, Han Lin segera mengajak
    ibunya kembali ke pondok mereka.
    Chai Li memandang kepada tiga orang tosu itu dan berkata
    dengan suara terharu "Sam-wi totiang, terima kasih sekali.
    atas gemblengan totiang kepada anak saya."
    Mulai hari itu, Han Lin mulai diajarkan dasar-dasar ilmu
    silat. Langkah-langkah ajaib dari It-kiam-sian, ilmu
    merinngankan tubuh yang istimewa dari Pek-ti sian, dan
    penghimpunan tenaga sakti dari Ang-bin-sian. Akan tetapi
    karena dia masih seorang kanak-kanak, tentu saja semua
    pelajaran disesuaikan dengan tubuhnya yang sedang
    bertumbuh dan berkembang.
    Gobi Sam-sian agaknya berusaha sungguh-sungguh untuk
    menurunkan inti dari ilmu-ilmu mereka kepada Han Lin.
    Mereka bahkan menggabungkan ilmu silat tangan kosong
    mereka menjadi semacam ilmu silat yang khusus
    diperuntukkan Han Lin dan ilmu silat tangan kosong ini
    mereka beri nama Sam-sian-kun (Silat Tiga Dewa). Di situ
    terkandung semua unsur terpenting dan terlihai dari ilmu silat
    tangan kosong masing-masing, karena dasar gerak
    langkahnya menggunakan ilmu dari It kiam-sian, keringanan
    tubuh dan kecepatannya menggunakan ilmu dari Pek-tim-sian
    dan tenaga sin-kangnya mengambil dari Ang-bin-sian! Mereka
    menggabungkan tiga macam ilmu silat tangan kosong dan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    bersama-sama mengajarkannya kepada Han Lin. Bahkan
    mereka sendiri tidak mampu kalau disuruh bersilat Sam-sian
    kun, karena tidak memiliki keistimewaan dari rekannya yang
    lain. Selama dua tahun dengan penuh ketekunan Han Lin
    melatih diri dengan Sam-sian-kun. Dia sudah mahir sekali.
    Hanya saja karena dia masih terhitung kanak-kanak, maka
    tentu saja dalam hal tenaga dan kecepatan dia belum dapat
    menggunakan sepenuhnya, hanya setingkat dengan
    perkembangan dan pertumbuhan badannya saja. Akan tetapi
    dia tidak menyia-nyia-kan pesan ibunya. Walaupun dia amat
    suka mempelajari ilmu silat dan melatihnya tanpa mengenal
    lelah, akan tetapi ada waktunya dia belajar sastera, diapun
    mempelajari sastera dan menghentikan latihan silatnya. Dan
    dalam ilmu inipun dia amat berbakat sehingga dua tahun
    kemudian dia sudah dengan mudah membaca kitab-kitab Su-si
    Ngo-keng, bahkan kitab Agama Buddha yang artinya
    mendalam.
    Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Han Lin sudah membaca
    kitab Tiong-yo buah pikiran Nabi Khong-cu. Sebetulnya isi
    kitab ini amat mendalam, namun Han Lin berusaha untuk
    membaca denga mengerti apa yang dibacanya. Hari itu adalah
    hari sastera, maka dia tidak berlatih silat.
    "Han Lin, di mana engkau?" terdengar suara ibunya.
    "Aku di sini, ibu, di kebun'" Han Lin memang paling suka
    berada di kebun, baik kalau sedang berlatih silat maupun
    kalau sedang membaca kitab. Tempat itu selain sunyi, juga
    sejuk karena banyak di tumbuhi pohon.
    Ibunya muncul, membawa rantang tempat makanan dan
    berkata, "Han Lin pergi engkau ke rumah makan dan beli tiga
    macam masakan yang enak-enak." ia menyerahkan rantang
    dan beberapa potong uang kepada anak itu. Han Lin
    terbelalak heran. Tidak pernah ibunya menyuruh dia membeli
    masakan di rumah makan. Harganya mahal dan ibunya dapat
    memasak sayur-sayuran yang tidak kalah lezatnya.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Ada apakah, ibu? Mengapa membeli masakan di rumah
    makan?"
    Ibunya menulis dengan jari tangan di atas meja. "Sudahlah
    jangan banyak bertanya, Han Lin. Lakukan saja apa yang
    kuperintahkan. Nanti setelah makan-makan akan kuceritakan
    semua sejelasnya kepada mu."
    Han Lin tidak membantah lagi dan dia segera pergi ke
    sebuah rumah makan besar di kota Pao-tow. Setibanya di situ,
    seorang pelayan menyambutnya dan dia memesan tiga
    macam masakan "yang paling enak" seperti yang dipesan
    ibunya sambil menyerahkan uang dan tempat masakan.
    Pelayan menyuruh dia duduk menunggu. Han Lin duduk di
    sebuah bangku yang kosong.
    Tiba-tiba hatinya tertarik sekali mendengar percakapan dua
    orang yang duduk semeja, tidak jauh dari situ. Mereka adalah
    dua orang laki-laki berpakaian sastrawan, berusia kurang lebih
    tiga puluh tahun. Tampaknya mereka sudah setengah mabok
    dan mereka bicara lantang.
    "Sim-twako (kakak Sim), aku sungguh tidak mengerti
    melihatmu. Setahuku engkau telah lulus berkali-kali dari
    perguruan Engkau terkenal pandai dan dapat menulis cepat
    dengan indah. Akan tetapi kenapa sampai sekarang engkau
    belum menjadi siucai (sarjana)? Bukankah engkau sudah
    mengikuti ujian di kota raja?" tanya orang yang tinggi kurus.
    Orang yang bermuka merah itu menuangkan araknya ke
    dalam mulut, lalu menghela napas panjang dan berkata
    "Berkali-kali orang mengatakan, kalau tidak beruang jangan
    sekali-kali mempelajari sastra. Apa gunanya? Betapapun
    pandainya engkau dalam kesusasteraan, tanpa uang di saku,
    jangan harap akan lulus ujian negara. Sebaliknya, seorang
    tolol sekalipun dapat lulus dengan baik kalau dia mampu
    menyuap. Sudah lima kali aku mengikuti ujian negara. Semua
    hasil ujian ku baik sekali, namun tetap saja dinyatakan tidak
    lulus. Gagal!"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Benar sekali itu. Aku juga mendengar bahwa Louw Sam
    dari dusun Ki-bun sekali ujian lulus akan tetapi dia harus
    nenghabiskan harta orang tuanya untuk menyuap. Padahal
    waktu belajar dia bodohnya bukan main!"
    "Tentu dia akan menjadi seorang pejabat yang korup untuk
    dapat menarik kembali hartanya yang telah dikeluarkan,
    berikut bunganya. Tidak mengherankan kalau semua pejabat
    sekarang ini melakukan korupsi, karena masuknya menjadi
    pejabat juga menelan biaya yang besar. Ah, orang miskin
    macam kita ini sebaiknya dulu belajar ilmu silat saja. Kalau
    kita pandai silat dan bertubuh kuat, setidaknya kita dapat
    masuk menjadi tentara atau bekerja diluar. Banyak yang
    membutuhkan orang yang kuat dan pandai silat. Akan tetapi,
    sasterawan? Hanya dicemooh orang, dikatakan kutu buku,
    tukang melamun dan sebagainya."
    Masakan yang dipesan Han Lin sudah tiba dan terpaksa
    Han Lin menghentikan perhatiannya terhadap percakapan itu
    dan pulang. Akan tetapi apa yang didengarnya sudah lebih
    dari cukup. Amat berkesan didalam hatinya. Dia tahu bahwa
    para pejabat pengurus ujian bertindak curang korup, makan
    suapan sehingga yang lulus menjadi sarjana hanya anak-anak
    orang kaya saja yang sebenarnya bodoh.
    Mereka kini menghadapi meja makan berdua saja. Chai Li
    dan Han Lin. Ketika Chai Li mengajak Bibi Cu, janda pemilik
    rumah untuk makan bersama, Bibi Cu menolak dan tertawa.
    "Kalian berdua makanlah, aku tidak ingin mengganggu
    kalian ibu dan anak,"
    Chai Li mengajak puteranya maka minum sepuasnya:
    Nyonya itu tampak gembira bukan main, wajahnya yang
    masih tampak cantik dan segar itu bersinar sinar dan berseri
    penuh senyum. Setelah mereka selesai makan, barulah Chai Li
    bicara melalui tulisannya di atas kartu yang telah ia persiapkan
    sebelumnya karena ia hendak bicara banyak kepada anaknya
    itu.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Han Lin, hari ini adalah hari lahirmu yang ke sepuluh!
    Karena itulah engkau kuajak merayakannya dengan makan
    enak. Dan bukan itu saja. Sebagai hadiah ulang tahunmu,
    engkau akan mengetahui semua tentang keadaan dirimu,
    tentang asal usulmu."
    Han Lin menjadi gembira bukan main. sudah sering dia
    bertanya kepada ibunya tentang riwayat hidupnya, tentang
    ayahnya, akan tetapi ibunya selalu mengelak dan menyatakan
    belum tiba waktunya untuk memberi tahu. Dia segera duduk
    dengan baik dan tegak, siap membaca apa yang akan ditulis
    ibunya di atas kertas itu. Chai Li memang sudah
    mempersiapkan kertas dan alat tulis.
    "Han Lin, dahulu ibumu ini adalah seorang Puteri Mongol,
    keponakan dari kepala suku Kapokai Khan Yang Besar, Paman
    kakekmu itu adalah seorang kepala suku yang gagah perkasa,
    bahkan kakekmu pernah menawan Kaisar Cheng Tung yang
    masih muda dari Kerajaan Beng. Kakekmu tidak membunuh
    Kaisar Cheng Tung yang gagah berani itu, bahkan
    menjadikannya tamu agung. Paman Kapokai Khan menyuruh
    aku untuk melayani Kaisar Cheng Tung dengan baik-baik.
    Akhirnya Kaisar Cheng Tung dan aku saling jatuh cinta dan
    kami menjadi suami isteri."
    Han Lin terkejut sekali dan semua pertanyaan sudah
    berada di ujung lidahnya akan tetapi dia menelannya kembali
    ia siap membaca terus apa yang akan ditulis ibunya.
    "Akan tetapi, karena keadaan kerajaan Beng membutuhkan
    Kaisar Cheng Tung untuk kembali, Paman Kapokai Khan, Ia
    membebaskannya dan mengembalikannya ke selatan. Untuk
    sementara aku ditinggalkan dan kelak akan dijemput.
    Kemudian terlahirlah engkau, Han Lin."
    "Ibu, jadi aku ini......."
    "Engkau putera Kaisar Kerajaan Beng anakku. Engkau
    putera Kaisar Cheng Tung. Engkau seorang pangeran dan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    nama aselimu adalah Cheng Lin. Akan tetapi demi
    kcamananmu sendiri, engkau telah memakai nama Han Lin.
    Setelah ayah mu pulang ke selatan, aku menanti nanti. Akan
    tetapi sampai engkau berus tiga tahun, tidak juga ada yang
    datang menjemputku."
    Chai Li kelihatan bersedih dan tangannya mengeluarkan
    sebuah benda dari lipatan bajunya. Benda itu bukan lain
    adalah suling Pusaka Kemala pemberian Kaisar Cheng Tung.
    Dibelainya suling itu, didekapnya ke dada kemudian ia tidak
    dapat menahan perasaannya, ditempelkan suling itu di
    bibirnya dan mengalunlah lagu yang amat indah! Itulah lagu
    Mongol "Suara hati Seorang Gadis" lagu yang dulu sering
    dimainkan dan amat disuka oleh Kaisar Cheng Tung. Dan
    biarpun lidahnya sudah buntung separuh ia masih pandai
    meniup dan melagukan suling itu. Han Lin memandang
    kepada ibunya dengan bengong. Baginya, suara suling itu
    demikian indah dan kini dia memandangi -pada ibunya dengan
    perasaan lain. wanita yang lembut ini, yang selalu tampak
    cantik jelita walaupun tidak dapat bicara dengan jelas, adalah
    seorang Puteri Mongol! Ketika Chai Li berhenti meniup suling
    dan ia memandang kepada puteranya, ia melihat sepasang
    mata Han Lin yang tajam itu basah, Ia lalu merangkul
    anaknya.
    "Cheng Lin....!" terdengar ia menyebut nama itu dengan
    suara bercampur isak dan agak cadel dan ia mencium muka
    anaknya sambil menangis.
    "Ibu...., ibuku.....!" Kini Han Lin tidak dapat menahan
    hatinya lagi, ikut menangis bersama ibunya.
    Setelah tangis mereka mereda, Chai Li lalu memberikan
    suling berbentuk kecil itu kepada Han Lin dan menulis lagi.
    "Terimalah suling ini, anakku. Suling ini adalah pemberian
    ayahmu kepadaku, Suling Pusaka Kemala inilah yang menjadi
    tanda bahwa engkau adalah keturunan Kaisar Cheng Tung.
    Terima dan simpanlah baik-baik."
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Han Lin menerima suling itu bertanya dengan nada suara
    mengandung penasaran. "Ibu, kenapa ibu berada disini dan
    meninggalkan Paman Kakek Kapokai Khan. Kenapa kita tidak
    bersama mereka?"
    Ibunya menjawab dengan tulisan cepat "Masih panjang
    ceritanya, anakku. Ketika engkau berusia tiga tahun, terjad
    malapetaka itu. Seorang yang disangka utusan Kerajaan Beng
    datang untuk membunuh kita berdua."
    Membaca tulisan ini, Han Lin melompat bangun dengan
    kaget dan heran seketika.
    "Apa? Ayah mengutus orang untuk membunuh kita?"
    "Bukan ayahmu, Han Lin. Aku yakin akan hal itu. Ayahmu
    mencintaiku dan ia seorang yang bijaksana. Tentu ada orang
    lain yang mengutus pembunuh itu. mungkin keluarga Kaisar
    yang merasa khawatir kalau-kalau engkau, pangeran yang
    yang berdarah Mongol, kelak akan menggantikan ayahmu
    menjadi kaisar."
    "Hemm, sangat boleh jadi, ibu. Aku jarang mendengar
    pendapat ibu bahwa ayah yang mengutus pembunuh itu untuk
    membunuh kita."
    "Aku berani bersumpah bahwa pasti dia bukan utusan
    ayahmu Kaisar Cheng Tung. Utusan itu bernama Suma Kiang,
    orang yang jahat dan kejam luar biasa. Juga dia seorang yang
    pandai dan cerdik, hampir saja dia dapat membunuh aku,
    menculikmu pergi dari perkampungan mongol." Chai Li lalu
    menceritakan secara panjang lebar dan jelas akan semua
    peristiwa yang terjadi dalam tulisannya, ia ia menceritakan
    betapa ia menggigit putus lidahnya sendiri dalam usahanya
    membunuh diri daripada terjatuh ke dalam cengkeraman
    Suma Kiang yang hendak memperkosanya,
    Han Lin bangkit dari duduknya, berdiri tegak dan
    mengepalkan kedua tangannya
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Aku akan belajar silat sampai kelak dapat membunuh
    Suma Kiang yang jahat itu. Sekarang aku mengerti mengapa
    sering aku bermimpi melihat ibu mengletak dengan muka
    berlepotan darah. kiranya ibu berusaha membunuh diri
    dengan menggigit putus lidah ibu sendiri."
    Chai Li merangkul puteranya, menciumnya lalu menulis lagi
    di atas kertas putih.
    "Pada saat nyawa kita terancam bahaya maut di tangan
    Suma Kiang itu muncul ketiga orang gurumu, yaitu Gobi Samsian.
    Mereka berhasil mengusir Suma Kiang dan
    menyelamatkan kita."
    "Akan tetapi pada waktu itu, kenapa ibu tidak mengajak
    aku kembali ke kampungan Mongol?"
    Chai Li menulis. "Kita sudah dibawa jauh sekali oleh Suma
    Kiang. Aku sudah putus asa dan kecewa. Ternyata bangsaku
    tidak dapat dan telah gagal melindungi kita dari tangan orang
    jahat. Maka aku menyatakan kepada Gobi Sam-sian untuk
    merantau ke selatan dan mohon agar dia suka menjadi
    gurumu agar kelak dapat mencari ayahmu dan dapat
    membalas dendam kepada Suma Kiang dan yang
    mengutusnya. Gobi Sam-sian menerimanya dan demikianlah,
    mereka yang membawa dan mengatur sehingga kita dapat
    tinggal di rumah Bibi Cu ini."
    Han Lin merangkul ibunya dan berbisik di telinganya.
    "Engkau telah mengalami banyak kesengsaraan, ibu. Mudahmudahan
    kelak aku dapat mempertemukan ibu kembali
    dengan ayah."
    Pada saat itu tampak berkelebat tiga sosok bayangan dan
    tahu-tahu Gobi Sam-sian telah berada di depan mereka. Sikap
    tiga orang tosu itu tidak seperti biasanya, tenang dan sabar.
    Kini mereka kelihatan gelisah dan tergesa-gesa. Bahkan
    mereka telah memegang senjata mereka masing-masing,
    sudah siap untuk bertempur.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Sam-wi suhu....!" Han Lin berseru heran sambil
    memandang mereka. Juga Chai Li memandang mereka
    dengan mata terbelalak penuh kekhawatiran.
    Akan tetapi Ang-bin-sian sudah berkata, "Cepat Han Lin
    dan Nyonya! Cepat kalian kumpulkan pakaian yang perlu perlu
    saja dalam buntalan. Kita pergi meninggalkan tempat ini
    sekarang juga!"
    "Akan tetapi, suhu.....?"
    "Jangan banyak membantah! Bahaya maut mengancam
    kalian. Cepat atau kita akan terlambat!"
    Mendengar ucapan ini, Chai Li lebih mengerti keadaan.
    Tanpa bertanya ia dapat menduga apa yang terjadi maka ia
    menarik tangan Han Lin memasuki kamar dan mengeluarkan
    pakaian mereka, membungkus menjadi dua buntalan besar
    dan mereka menggendong buntalan itu. Suling pusaka kemala
    yang masih dipegang oleh Han Lin lalu diselipkan di ikat
    pinggang oleh anak itu.
    "Hayo cepat, ikut kami!" kata Ang-bin-sian dan ia mengajak
    mereka berlari melalui pintu belakang. Han Lin menggandeng
    tangan ibunya dan diajaknya berlari secepatnya mengikuti
    Ang-bin-sian, sedangkan It-kiam-sian dan Pek-tim-sian
    menjaga di belakang mereka.
    "Suhu, kenapa suhu mengajak kami berlari seperti ini?" Han
    Lin sambil berlari minta keterangan dari Ang-bin-sian.
    "Suma Kiang sudah sampai di Pao-tow!" kata Ang-bin-sian.
    Bangkitlah kemarahan Han Lin. "Suhu, tecu (murid) tidak
    takut! Mari kita lawan iblis jahat itu!"
    "Han Lin, dia lihai sekali!" kata Ang-in-sian dan Chai Li
    merangkul Han Lin ambil menggoyang-goyangkan tangan dia
    melarang Han Lin melawan.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Diam-diam Han Lin merasa heran, juga kecewa. Ketiga
    suhunya berada di situ, kenapa harus takut? Bukankah ketiga
    orang gurunya lihai sekali dan dahulu pernah mengalahkan
    manusia iblis Suma Kiang itu? Ibunya tidak menceritakan
    betapa ibunya pernah menghantamkan Suling Pusaka Kemala
    ke ubun-ubun Suma Kiang dan itulah yang menyebabkan
    Suma Kiang di waktu itu tidak kuat menandingi Gobi Sam-sian.
    "Akan tetapi, suhu....." bantahnya.
    "Han Lin, dia lihai sekali. Kami buka tandingannya dan dia
    membawa seorang kawan yang tidak kalah lihainya. Mari kita
    cepat pergi!" kata It-kiam-sian.
    Han Lin menjadi semakin heran. Toa suhunya, Ang-bin-sian
    masih suka bersenda-gurau, akan tetapi ji-suhunya, It kiamsian,
    adalah orang yang kalau bicara kepadanya selalu serius.
    Macam apakah musuh besarnya yang bernama Suma Kiang
    itu?
    Mereka berlari terus naik ke atas bukit. Setelah mereka tiba
    di lereng atas dekat puncak, tiba-tiba terdengar suara tawa
    yang dahsyat sekali.
    "Hua-ha-ha-ha!!!" Suara tawa itu terdengar menggelegar
    dan meledak-ledak seperti halilintar, mengejutkan semua
    orang. Mendengar suara tawa itu. Ang bin-sian mendorong
    Han Lin untuk berlari lebih cepat lagi.
    "Nyonya Chai Li dan Han Lin! Cepat lari ke puncak dan
    bersembunyi di sana!"
    Dia tahu di puncak terdapat hutan yang lebat, tempat
    bersembunyi yang baik kali.
    Kini Han Lin menjadi khawatir juga. Bukan khawatir atas
    dirinya sendiri, melaainkan mengkhawatirkan ibunya.
    Andaikata tidak ada ibunya di situ, dia tentu tidak mau pergi
    meninggalkan tiga orang gurunya. Kini dia harus
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    menyelamatkan bunya. Digandengnya tangan ibunya dan
    ditariknya ke atas, menuju puncak bukit.
    Sementara itu, Gobi Sam-sian berdiri dengan kedua kaki
    terpentang, tegak menanti pemilik suara tawa yang pasti akan
    datang itu. Mereka bersiap siaga. It-kiam-sian sudah
    menyelipkan pedangnya di punggungnya, Pek-tim-sian
    menyelipkan kebutannya di pinggang dan Ang-binn-sian
    memegang tongkat bajanya dengan tangan kanan. Pandang
    mata mereka mencorong, mencari-cari. Biarpun hati terasa
    tegang, namun mereka bersikap tenang sebagai layaknya
    seorang pendekar.
    Tadi ketika mereka berada di kota, tiba-tiba saja mereka
    bertemu dengan Suma Kiang! Datuk Huang-ho itu tampak
    lebih tua namun sama sekali tidak kehilangan pandang
    matanya yang liar dan mencemooh. Begitu melihat tiga orang
    Gobi Sam-sian, dia tersenyum mengejek. Di sebelahnya
    tampak seorang wanita yang cantik dan lembut, dilihat dari
    tubuhnya yang padat dan tampangnya yang cantik, orang
    tentu mengira ia baru berusia tiga puluh tahun, padahal
    usianya sudah lima puluh tahun.
    Seekor anjing besar menggereng dan memperlihatkan
    taringnya kepada wanita cantik itu. Ia mengerutkan alisnya
    dan berkata dengan suara lembut.
    "Tidak ada anjing yang menggereng kepadaku kubiarkan
    hidup!"
    Setelah berkata demikian, tampaknya ia seperti
    menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah anjing itu.
    Anjing itu menguik satu kali lalu berkelojotan dan mati!
    Gobi Sam-sian saja yang agaknya menjadi saksi peristiwa
    itu. Mereka terkejut bukan main.
    "Kita pergi!" kata Ang-bin-sian kabur dan mereka bertiga
    segera pergi dan situ.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Wanita itu...... ia sungguh berbahaya sekali!" Ang-bin-sian
    berkata kepada dua orang rekannya.
    "Nanti dulu!" kata It-kiam-sian, "jari tangannya begitu lihai.
    Tentu mengandung hawa beracun yang mematikan. Siapa lagi
    kalau bukan Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun)?"
    "Ban-tok-ci? Kau maksudkan ia itu Sam Ok (si Jahat ke
    Tiga)?" Pek-it sian bertanya, kaget sekali.
    "Agaknya dugaan It-kam-sian benar. Menghadapi Suma
    Kiang seorang saja sudah berat, apalagi ditambah Sam Ok.
    yang biasanya kalau Sam Ok muncul, maka Ji.Ok (si Jahat ke
    Dua) dan Toa Ok (si Jahat Pertama) akan muncul pula.
    Bagaimana kita akan mampu melindungi Han Lin dan ibunya?
    Kemunculan Suma Kiang tentu ada hubungannya dengan ibu
    an anak itu. Sebelum terlambat sebaiknya mari kita suruh Han
    Lin dan ibunya lari bersembunyi."
    Karena maklum bahwa mereka tidak dapat lari lagi setelah
    mendengar suara tawa yang mengandung hawa sakti amat
    kuatnya itu, Gobi Sam-sian menyuruh Han Lin dan ibunya
    berlari terus dan mereka berhenti di lereng dekat puncak
    untuk menghalangi Suma Kiang melakukan pengejaran
    terhadap ibu dan anak itu.
    Tiba-tiba dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di
    depan mereka telah berdiri dua orang yang ditunggu tunggu
    itu.
    Suma Kiang yang kini telah berumur lima puluh tahun lebih,
    jangkung kurus dengan sepasang matanya yang sipit seperti
    mata ular senduk, mulutnya tersenyum mengejek,
    memandang kepada Gobi Sam-sian dan berkata, suaranya
    menggeledek.
    "Gobi Sam-sian, apakah kalian belum jera dan masih
    hendak melindungi Puteri Mongol dan puteranya itu?"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Mana bocah remaja berdarah mongol itu? Serahkan dia
    kepadaku!" terdengar suara wanita cantik yang kulit mukanya
    agak pucat kehijauan itu.
    Gobi Sam-sian maklum bahwa sekali ini mereka harus
    berjuang mati-mati melawan dua orang manusia iblis itu.
    Sam-sian yang teringat akan watak Ban-lok-ci atau Sam
    Ok, segera tertawa mengejek. "Ha-ha-ha, pinto sering
    mendengar tahwa Ban-tok-ci Sam Ok adalah seorang wanita
    yang gagah perkasa yang tidak suka mencampuri urusan
    orang lain, apa-lagi memihak dan mengeroyok. Apakah
    sikapmu sekarang ini membantah sendiri keebenaran berita
    itu?"
    Sam Ok melirik dengan matanya yang tajam dan genit dan
    ia berkata, "Engkau tosu yang membawa pedang di punggung
    tentu yang berjuluk It-kiam-sian! Aku tidak membantu Suma
    Kiang. Aku datang untuk mendapatkan anak keturunan kaisar
    itu. It-kiam-sian, engkau tentu tahu di mana dia. Hayo berikan
    dia kepadaku kalau engkau ingin tetap hidup!"
    "Pinto tidak tahu di mana dia sekaing berada, akan tetapi
    seandainya pinto tahu, pinto tidak akan memberitahu
    kepadamu atau kepada Suma Kiang yang jahat!"
    "Hi-hi-hik, kalau begitu aku akan menyiksamu sampai
    engkau terpaksa mengatakan di mana dia berada!"
    Setelah berkata demikian, Sam Ok meraba pinggangnya
    dan tampak sinar hitam berkelebat ketika ia memegang
    sebatang pedang pendek berwarna hitam legam.
    "Siancai (damai).......! Hek-kong-kiam (Pedang Sinar
    Hitam)!" kata It-kiam-sia tanpa rasa takut. Diapun sudah
    mencabut pedangnya dan tampak sinar kilat nyambar. Pedang
    milik It-kiam-sian ini amat terkenal di dunia kang-ouw (sungai
    telaga) wilayah utara. Itulah Lui-kong kiam (Pedang Sinar
    Kilat) yang dahsyat. Pedang ini amat tajam dan kuat, dapat
    mematahkan besi dan baja, akan tetapi karena pemiliknya
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    seorang yang bersih, seorang pendekar, pedang itu tidak
    mengandung racun, tidak seperti Hek-kong kiam yang
    mengandung racun berbahaya sekali.
    Sambil tertawa mengejek Sam Ok menerjang maju,
    pedangnya menyambar ganas. "Singgg...... wuuutttt.....!"
    It-kiam-sian tidak berani memandang ringan serangan
    lawan yang tampaknya dilakukan sembarangan saja ini. Dia
    mengunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak
    dan langsung membalas lengan tusukan pedangnya ke arah
    dada anita itu.
    "Ciaaaattt......! Tranggg.....!" Bunga api berpijar ketika Hekkong-
    kiam menangkis dan bertemu dengan Lui-kong-ham.
    "Wuuuttt.....!" Telunjuk tangan kiri Sam Ok menuding ke
    arah dada It-kiam-juan. Melihat serangan jari tangan kiri yang
    kemarin membunuh anjing itu, It-kiam-sian bersikap waspada.
    Dia mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) sekuatnya ke dalam
    ujung lengan baju kirinya dan menyambut serangan Ban-tokci
    (Jari selaksa Racun) itu dengan sampokan ujung lengan
    baju.
    "Hyaaattt.....!" Ketika ujung lengan baju bertemu dengan
    ujung jari tangan, tangan kiri Sam Ok tergetar akan tetapi
    juga ujung lengan baju itu hancur.
    "Ha-ha-ha-hi-hik! Bersiaplah engkau untuk menerima
    siksaanku!" Sam Ok tertawa mengejek.
    Akan tetapi It-kian-sian adalah seorang ahli pedang yang
    memiliki banyak pengalaman di samping ilmu yang tinggi. Dia
    memutar pedangnya dengan dahsyat menyerang sehingga
    Sam Ok terpaksa berhenti mengejek dan mencurahkan
    perhatian untuk melawan tosu itu. Pertandingan pedang
    terjadilah dengan dahsyatnya Pedang mereka lenyap
    bentuknya dan yang tampak hanya sinar hitam dan sinar kilat
    yang menyambar-nyambar dengan ganasnya.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Sementara itu, melihat Sam Ok sudah bertempur melawan
    It kian -sian, Suma Kiang tersenyum mengejek memandang
    kepada Ang-bin-sian dan Pek-tim-sian.
    "Ha-ha, kalian tahu bahwa kalian berdua tidak akan kuat
    menandingi aku, oleh karena itu katakanlah saja di mana ibu
    dan anak itu sebelum aku membunuh kalian!"
    "Suma Kiang, sampai matipun kami tidak akan sudi
    menyerahkan mereka kepadamu!" kata Ang-bin-sian dengan
    suara tegas dan dia sudah melintangkan tongkat bajanya di
    depan dada sedang Pek-tim-sian juga sudah melolos kebutan
    bulu putihnya yang tadi dipakainya sebagai sabuk.
    Marahlah Suma Kiang. Dia mengeluarkan teriakan garang
    dan tubuhnya menerjang ke arah dua orang lawannya dengan
    gerakan tongkat ular hitamnya yang dahsyat. Dua orang tosu
    itu sudah waspada dan mereka segera menyambut dengan
    tongkat baja dari Ang-bin-sian dan kebutan dari Pek-tim-sian.
    "Wuuuttt..... trang-trangg....!" Hebat sekali pertemuan
    senjata itu dan dua orang tosu terdorong ke belakang. Mereka
    terkejut sekali karena merasa betapa tenaga sakti Suma Kiang
    kini lebih kuat dibandingkan tujuh tahun yang lalu! Akan tetapi
    mereka tidak menjadi gentar dan mereka balas menyerang
    dengan hebat.
    Terjadilah pertandingan mati-matian, baik antara Sam Ok
    dan It-kiam-sian ataupun antara Suma Kiang yang dikeroyok
    dua oleh Ang-bin-sian dan Pek-tim-an. Akan tetapi setelah
    lewat puluhan jurus, Gobi Sam-sian mulai terdesak hebat.
    Biarpun mereka sudah mengerahkan seluruh tenaga dan
    mengeluarkan semua kepandaian mereka, namun pihak Suma
    Kiang dan Sam Ok memang lebih unggul maka mereka
    terdesak terus. Terutama sekali It-kiam-sian yang seorang diri
    harus melawan Sam Ok. Dia terus maju mundur dan bertahan
    melindungi dirinya. Namun, ilmu pedangnya memang hebat
    sekali sehingga pedang itu berubah sebagai lingkaran sinar
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    perisai yang menghadang semua serangan lawan, dari
    manapun juga datangnya.
    Sam Ok mengubah ilmu pedangnya Tiba-tiba tubuhnya
    menggelinding kebawah tanah dan sinar pedangnya mencuat
    dari bawah, seperti ular mematuk-matuk arah kaki dan perut
    It-kiam-sian. Tosu ini terkejut bukan main. Dia kibaskan
    pedangnya dan cepat tubuhnya meloncat ke atas, demikian
    ringannya bagaikan seekor burung terbang.
    Akan tetapi Sam Ok tidak tinggal diam. Ia tertawa dan tibatiba
    tubuhnya juga melayang ke atas, bukan melayang biasa,
    melainkan berputar seperti gasing dan dari putaran itu
    pedangnya mencul secara tidak terduga-duga.
    "Kena....!!" la berteriak dan pedangnya bergerak demikian
    cepatnya sehingga tahu-tahu sinar hitam menyambar dan
    lengan kanan It-kiam-sian dekat siku terkena tusukan Hekkong-
    kiam! Lengan kanan itu seketika lumpuh! It-kiam-sian
    maklum bahwa kalau racun pedang lawan sudah menjalar
    sampai ke jantungnya, dia akan mati, tak mungkin tertolong
    lagi. Maka, cepat tangan kirinya mengambil pedang Lui-kongkiam
    dan sekali tangan kirinya bergerak, pedang itu telah
    meyambar lengan kanannya di atas siku sehingga lengan
    kanan itu putus seketika. Darah muncrat. It-kiam-sian
    mengeluh dan roboh pingsan. Sam Ok tertawa dan berpikir
    bagaimana ia dapat menyadarkan It-kiam-sian untuk
    disiksanya agar dia itu mengatakan di mana adanya anak
    Kaisar itu.
    Pada saat itu, tongkat ular hitam di tangan Suma Kiang
    menyambar. Dua orang tosu itu menangkis, akan tetapi sekali
    ini Suma Kiang mengerahkan seluruh tenaganya dan dua
    orang tosu itu terdorong ke belakang, hampir terjengkang.
    Melihat keadaan mereka berdua, dan melihat betapa Itkiam-
    sian juga sudah roboh oleh Sam Ok, Ang-bin-sian
    mendapat akal dan dia berseru nyaring sambil memandang ke
    bawah lereng.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Han Lin! Jangan keluar dari tempat persembunyianmu!"
    Mendengar seruan ini, kembali tongkat Suma Kiang
    menyambar ke arah Ang-bin-sian. Tosu ini, yang sudah
    terengah karena penangkisan tadi, mengerahkan sisa
    tenaganya, mengangkat tongkatnya menangkis.
    "Desss....!!" Ang-bin-sian roboh dan muntah darah. Kaki
    Suma Kiang menyambar dan gerakannya amat cepat,
    dilakukan dengan tubuh setengah terbang. Kakinya meluncur
    cepat dan kuat sekali dan biarpun Pek-tim-sian berusaha
    mengelak, tetap saja pundaknya terkena tendangan itu dan
    diapun roboh muntah darah.
    "Ha-ha-ha! Sam Ok, hayo kita cari anak itu!" kata Suma
    Kiang dan dia segera meloncat dan lari menuju ke puncak.
    "Heii, Huang-ho Sin-liong, " kenapa engkau malah naik?
    Bukankah tosu tadi berseru ke bawah?"
    "Ha-ha-ha, aku bukan seorang kanak kanak yang bodoh,
    Sam Ok! Dan Ang bin-sian juga bukan seorang yang goblok
    untuk berseru ke bawah kalau mereka itu bersembunyi di
    bawah. Hayo kita berlumba mengejar dan menangkap
    mereka!"
    Dua orang manusia iblis itu berlari seperti terbang cepatnya
    menuju ke puncak. Ang-bin-sian melihat ini dengan muka
    pucat. Akan tetapi karena tidak mampu berbuat apa-apa lagi,
    bersama Pek tim-sian dia lalu menghampiri It-kiam sian yang
    menggeletak pingsan dengan lengan kanan buntung sebatas
    atas siku. Dengan sisa tenaga yang masih ada, dua orang tosu
    ini menotok jalan darah untuk menghentikan darah mengalir
    keluar, kemudian mereka berdua menggotong It-kiam-sian
    meninggalkan tempat itu. Mereka tidak dapat berbuat lain
    kecuali berdoa agar dua orang manusia iblis itu tidak akan
    menemukan Han Lin dan ibunya.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Setelah tiba di puncak bukit yang ada hutannya itu, dua
    orang manusia iblis itu berdiri di atas batu besar dan mereka
    tertawa sambil mengerahkan hawa sakti dari perut.
    "Hua-ha-ha-ha!"
    "Hi-hi-hi-hik!!"
    Dua macam suara tawa rendah dan tinggi itu mengandung
    kekuatan sakti, melanda permukaan puncak bukit itu gaikan
    angin badai.
    Dua orang ibu dan anak yang bersembunyi di dalam hutan
    di puncak itu juga tergetar dan menggigil. Jantung mereka
    terasa diguncang dan suara tawa itu seperti terdengar tepat di
    atas kepala mereka.
    "Han Lin, kita harus lari dari sini. Mereka telah datang
    dekat!" Tulis Chai Li dengan jarinya di depan mukanya. Han
    Lin mengikuti gerakan jari tangan itu dan menjawab.
    "Akan tetapi, ibu. Tadi kita mendengar suara suhu Ang-binsian
    yang melarang kita meninggalkan tempat persembunyian
    kita ini," katanya ragu.
    Ibunya menjadi cemas dan menulis lagi. "Itu kan tadi.
    Sekarang buktinya mereka sudah begitu dekat suaranya,
    Kalau kita tidak cepat pergi, tentu kita akan tertangkap.
    Hayolah kita lari ke seberang puncak."
    Karena ibunya lari sambil menarik tangannya, Han Lin
    terpaksa juga mengikuti ibunya meninggalkan guna tertutup
    semak belukar di mana tadi mereka bersembunyi.
    Mereka lari menyeberangi hutan puncak itu dan tiba di
    tempat terbuka yang banyak mengandung batu-batu besar.
    "Ha-ha-ha! Kalian hendak lari ke mana?" tiba-tiba terdengar
    suara nyaring dan dari sebelah kiri tampak Suma Kiang dan
    Sam Ok datang berlari-lari sambil tertawa.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Saking kagetnya, Chai Li terguling roboh. Akan tetapi
    dengan sigapnya Hal Lin menangkap tubuh ibunya sehingga
    tidak sampai jatuh terbanting.
    "Jangan takut, ibu. Aku akan melindungimu " kata Han Lin
    menghibur ibunya.
    "Hayo lari cepat! Mereka mencari engkau, bukan aku! Lari
    dan sembunyi!" Tulis Chai Li di udara.
    Chai Li mendorong-dorong Han Lin dan anak itupun
    terpaksa lari di depan ibunya. Belum jauh mereka lari, dikejar
    dua orang manusia iblis yang tertawa-tawa, mereka berhenti
    dan terbelalak melihat sebuah tebing jurang yang curam
    menghadang di depan mereka.
    "Han Lin, cepat kau lari ke sana!" Chai Li berkata dengan
    suara yang tidak jelas, akan tetapi ia menunjuk-nunjuk ke
    kanan. Han Lin menurut. Dia lari dan tiba di semak belukar.
    Dia menyusup ke dalam semak belukar, mengintai dengan
    mata terbelalak dan napas terengah-engah ketika melihat
    bahwa ibunya tidak ikut lari bersamanya.
    "Huang-ho Sin-Iiong, bunuh saja wanita itu dan biar aku
    yang mengurus anaknya!" kata Sam Ok sambil tertawa.
    "Enak saja engkau bicara, Sam Ok! Akupun membutuhkan
    wanita itu!"
    Sambil tertawa-tawa Suma Kiang menghampiri Chai Li.
    Wanita ini ketakutan dan ia mundur-mundur mendekati jurang
    yang ternganga lebar di belakangnya.
    Suma Kiang tertawa menyering "Hua-ha-ha, Puteri Chai Li!
    Setelah tambah tua, bagaikan bunga engkau lebih mekar
    semerbak, bagaikan buah engki lebih matang menarik!"
    Berkata demikian dia melangkah maju mendekat dan kedua
    lengannya dikembangkan siap untuk merangkul dan
    mendekap.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Chai Li menggeleng-geleng kepalanya kemudian tiba-tiba
    saja wajahnya yang tadinya pucat menjadi kemerahan,
    matanya yang ketakutan berubah menjadi penuh kemarahan,
    bersinar-sinar dan sekali tangan kanannya bergerak, ia sudah
    mencabut sebatang pisau yang tajam dan runcing. Agaknya
    wanita ini telah mempersiapkan senjata sejak meninggakan
    rumah. Kemudian, sambil mengeluarkan suara lengkingan
    yang aneh, ia menyerang Suma Kiang dengan pisaunya. Akan
    tetapi melihat ini sambil tertawa Suma Kiang menggerakkan
    tangan kirinya sekali sampok saja pisau itupun terlempar dari
    tangan Chai Li dan tangan kanannya menyambar ke depan
    untuk menangkap pundak wanita itu. Chai Li meronta dengan
    gerakan liar.
    "Bretttt......!" Sebagian baju di bagian pundaknya robek
    dan tangan kanannya dapat terpegang oleh tangan kanan
    Suma Kiang. Chai Li dengan nekat lalu mendekatkan mukanya
    menggigit tangan yang memegangnya itu.
    "Aduh...!" Suma Kiang mengeluh dan terpaksa melepaskan
    pegangannya.
    Chai Li lalu berlari ke kanan. Akan tetapi Suma Kiang
    menubruknya dan mereka jatuh bergulingan di tepi tebing
    jurang itu. Chai Li meronta-ronta, menendang-nendang
    dengan kedua kakinya se-hingga akhirnya terlepaslah kedua
    buah batunya dan iapun terlepas lagi. Akan tetapi ia sudah
    terkepung. Di depannya yang yang curam, di belakangnya
    Suma Kiang. Untuk lari ke kanan atau ke kiri sudah tidak
    mungkin lagi karena kedua lakinya yang tidak bersepatu amat
    nyeri ketika menginjak batu karang. Ia tidak akan dapat
    terlepas dari tangan Suma kiang, kecuali kalau ia mengambil
    jalan yang satu ini. Dan ia mengambil jalan yang satu ini, yaitu
    melompat ke dalam tebing jurang yang amat curam. Sekali
    melompat, tubuhnya melayang ke bawah dan Suma Kiang
    menggereng ketika melihat calon korbannya melayang turun
    tanpa dia dapat menolongnya.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Aiiiiihhhhh......!" Terdengar teriakan melengking, disusul
    teriakan lain yang datang dari mulut Han Lin! Anak itu melihat
    betapa ibunya melayang jatuh ke dalam jurang. Dia lupa diri
    sendiri dan lupa akan bahaya. Adanya dalam hatin hanya
    kemarahan terhadap Suma Kiang yang dianggap sebagai
    pembunuh ibunya.
    "Jahanaaaammmm....!" Han Lin melompat keluar dan lari
    menerjang Suma Kiang dengan Suling Pusaka Kemala di
    tangan kanannya. Biarpun Han Lin baru dua tahun belajar
    ilmu silat, itupun hanya belajar dasar-dasar dan langkah
    langkahnya saja dan ilmu silat yang sesungguhnya, yaitu Samsian
    Kun-hoat baru dilatihnya kurang dari tiga bulan, namun
    gerakannya sudah mantap, cepat dan tenaga besar.
    Akan tetapi, semua itu bagi Suma Kiang tentu saja tidak
    ada artinya. Hanya saja, Suma Kiang adalah seorang yang
    sombong dan selalu memandang rendah orang lain, apalagi
    seorang anak kecil seperti Han Lin. Melihat Han Lin
    menerjangnya, dia hanya tertawa dan tidak mengelak atau
    menangkis sama ekali. Han Lin menerkamnya dan
    mengangkat suling kemala lalu menghantamkan suling itu
    kepada dadanya dengan sekuat tenaga. Suma Kiang mengira
    bahwa Han Lin adalah seorang anak yang biasa saja, maka dia
    tidak mengelak dan menerima pukulan itu dengan dadanya.
    "Dukkk.....!" Suma Kiang menyeringai.
    Tak disangkanya anak itu memiliki tenaga yang amat kuat
    dan benda yang dipergunakan anak itu untuk memukulnya
    juga ternyata kuat sekali, seolah melebihi baja. Dia merasa
    nyeri pada dadanya, maka cepat tangannya menyambar,
    menotok dan Han Lin terkulai roboh di depan kakinya.
    "Suma Kiang, berikan anak itu kepada ku!" kata Sam Ok
    dan sekali bergerak tubuhnya sudah melayang ke arah Suma
    Kiang.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Suma Kiang mengerutkan alisnya dan memandang kepada
    Han Lin yang rebal di depan kakinya. Anak itu roboh tak
    berdaya, akan tetapi tangan kanannya masih memegang
    suling berbentuk naga kecil, seolah suling itu telah berakar di
    tangannya dan tidak dapat dilepaskan lagi. Kemudian dia
    memandang kepada Sam Ok dan menggeleng kepalanya
    setelah melirik ke arah jurang di mana tadi Chai Li membuang
    dirinya.
    "Tidak bisa, Sam Ok. Aku baru saja telah kehilangan
    ibunya, maka sebagai penggantinya aku harus mendapatkan
    anaknya. Ini perlu sekali untuk menjadi bukti keberhasilanku.
    Aku harus membawanya ke kota raja!"
    "Suma Kiang, kita sudah saling berjanji bahwa engkau akan
    mendapatkan ibu nya sedangkan aku memperoleh anaknya
    Apakah engkau hendak melanggar janji-mu?"
    "Hemm, bagi Huang-ho Sin-liong Suma Kiang, tidak ada
    ikatan yang disebut janji itu. Sewaktu-waktu janji dapat
    diubah menurut keadaan!"
    "Suma Kiang, engkau berani menipuku? Apakah engkau
    sudah bosan hidup?"
    "Sam Ok, siapa yang takut kepadamu? Aku Suma Kiang
    tidak pernah takut pada mu dan kalau sudah ingin mampus,
    majulah dan cobalah untuk merampas anak ini dariku!"
    "Bangsat kau!" Sam Ok berteriak dan mencabut pedang
    Hek-kong-kiam.
    "Sam Ok, sebelum terlambat dan engkau mati olehku,
    biarlah aku menjanjikan sesuatu yang lebih baik bagimu.
    Bagaimana kalau aku mencarikan lima orang anak yang
    montok dan sehat sebagai pengganti anak ini untukmu?
    Engkau akan puas dan kita tidak perlu bermusuhan."
    "Tidak! Aku menghendaki keturunan Kaisar itu, biarpun
    hendak kau ganti dengan sepuluh orang anak, aku tidak dapat
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    menerimanya. Serahkan anak itu kepadaku dan aku akan
    meninggalkan engkau tanpa mengganggu lagi."
    "Kalau begitu mampuslah!" Suma Kiang enjadi marah dan
    tongkat ular hitam-nya menyambar dahsyat.
    "Tranggg.....!" Sam Ok menangkis dengan pedang
    hitamnya dan membal serangan itu dengan tusukan yang
    tidak kalah berbahayanya. Suma Kiang memutar tongkatnya
    menangkis dan kedua orang itu sudah saling serang dengan
    dahsyatnya. Han Lin yang tidak dapat bergerak namun sadar
    itu hanya dapat mengikuti perkelahian itu dengan pandang
    matanya dam dia tidak tahu harus berpihak yang mana karena
    kedua orang itu memperebutkan dirinya dan dia merasa
    bahwa keduanya tidak mempunyai niat baik terhadap dirinya.
    Jilid IV
    BIARPUN tingkat kepandaian Sam Ok sudah tinggi dan ia
    seorang diri mampu mengalahkan It-kiam-sian, namun kini
    menghadapi Suma Kiang ia berhadapan dengan lawan yang
    lebih lihai. Pertahanan tongkat ular hitam dari Suma Kiang
    memang hebat sekali. Terutama tenaga sin-kangnya yang
    amat kuat sehingga setelah lewat lima puluh jurus, Sam Ok
    merasakan kelebihan tenaga awan ini. Pedang hitamnya mulai
    terpental bilamana bertemu langsung dengan tongkat lawan.
    "Sam Ok, kalau engkau tidak cepat pergi, engkau akan
    mampus di tanganku!" Suma Kiang membentak dan
    tongkatnya menyambar lagi dengan dahsyatnya.
    "Tranggg.....!!" Tiba-tiba sinar keemasan menyambar,
    menangkis tongkatnya dan membuat tongkat itu hampir saja
    terlepas dari pegangan. Demikian kuatnya! sinar keemasan itu
    menangkis tongkatnya. Suma Kiang terkejut bukan main dan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    cepat melompat ke belakang. Dia melihat seorang laki-laki
    tinggi besar, berusia sekitar enam puluh tahun, berpakaian
    mewah seperti seorang hartawan atau bangsawan,
    tersenyum-senyum memandangnya dan dia memegang
    sebatang pedang yang berbentuk seekor naga emas yang
    indah sekali.
    Wajah Suma Kiang berubah agak pucat ketika dia
    memperhatikan orang itu. "Hemm, benarkah dugaanku bahwa
    yang berhadapan denganku adalah Thai Ok Toat-beng Kui-ong
    (si Jahat Pertama Raja Iblis Pencabut Nyawa)?"
    Orang tinggi besar itu tertawa bergelak dan wajahnya yang
    tampan itu tampak toapan (berbudi) dan ramah sekali, sama
    sekali tidak menunjukkan bahwa dia memiliki watak yang
    jahat. Akan tetap mengingat julukannya, sukar dibayangkan
    betapa jahat dan kejamnya orang ini Sampai mendapat
    julukan si Jahat Pertama, tentu wataknya luar biasa kejam dan
    jahatnya. Ban-tok-ci yang demikian kejam dan jahat saja baru
    mendapat julukan si Jahat ke Tiga atau Sam Ok! Apalagi yang
    berjuluk Toa Ok atau Thai Ok tentu lebih kejam lagi!
    "Ha-ha-ha, matamu memang tajam sekali, Huang-ho Sinliong!
    Dugaanmu tidak keliru. Akulah yang disebut Toa Ok!"
    "Hcmm, aku mendengar bahwa ketiga Sam Ok adalah
    orang-orang gagah yang pantang berlaku curang dan tidak
    sudi melakukan pengeroyokan. Akan tetapi mengapa sekarang
    engkau membantu Sam Ok dan mengeroyok aku?"
    "Ha-ha-ha, kalau berita sama dengan kenyataannya, untuk
    apa kami disebut si Tiga Jahat? Pula, aku datang bukan untuk
    membantu Sam Ok mengeroyokmu, melainkan aku datang
    untuk mendapatkan anak ini dari tanganmu. Maka, kalau
    engkau masih ingin hidup, pergilah, tinggalkan anak ini
    untukku!"
    "Setan! Untuk apa pula engkau menghendaki anak ini, Toa
    Ok?" teriak Sam Ok penasaran.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Ha-ha-ha, semua orang mempunyai kebutuhan masingmasing,
    Sam Ok. Ak butuh anak ini karena dia merupakan
    harta pusaka yang amat berharga bagi kerajaan Beng!"
    "Toa Ok, anak ini adalah hakku, milik ku. Akulah yang
    diutus oleh kerajaan Beng untuk menangkap dan
    membawanya ke kota raja!"
    "Hemmm, kaukira kami tidak tahu akan hal itu, Suma
    Kiang? Engkau diutus oleh Pangeran Cheng Boan, bukan oleh
    Kaisar. Akan tetapi aku berhak membawanya kepada Kaisar
    yang tentu akan mem beri hadiah yang lebih besar lagi.
    Bahkan kalau aku beruntung, Kaisar akan menghadiahkan
    sebuah kedudukan yang cukup mulia bagiku, ha-ha-ha!"
    "Jahanam, aku yang bersusah payah sejak bertahun-tahun
    yang lalu, sekarang engkau mau enaknya saja!" bentak Suma
    Kiang.
    "Ha-ha-ha, tentu saja dan itu sudah baik dan adil namanya,
    bukan?" jawab Toa Ok seenaknya.
    Suma Kiang tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan
    dia sudah menerjang ke depan dengan tongkat ular hitamnya.
    Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Toa Ok, orang
    pertama dari Tiga Jahat yang tentu saja memiliki ilmu
    kepandaian yang paling hebat diantara ketiganya. Tongkat
    ular hitamnya bertemu dengan sinar emas yang amat kuat
    sehingga kembali tongkatnya terpental begitu bertemu dengan
    Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) dan dia terpaksa
    berlompatan ke belakang agar tidak dikejar senjata lagi.
    pertahanannya goyah.
    "Mampuslah......! Wushhhh.....!" Serangkum hawa
    menyerangnya dari samping dan dia cepat mengelak.
    Ternyata itu adalah jari telunjuk tangan kiri Sam Ok yang
    menyambutnya dengan sebuah serangan tusukan yang amat
    berbahaya karena jari itu mengandung hawa beracun yang
    amat ampuh.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Curang!" Bentak Suma Kiang. Akan tetapi Sam Ok malah
    terkekeh seolah teriakan itu merupakan pujian baginya.
    Serangan pedang Kim -liong-kiam telah datang membalas
    dan serangan itu seperti kilat datangnya. Tidak mungkin bagi
    Suma Kiang untuk mengelak maka terpaksa dia memutar
    tongkatnya untuk menangkis.
    "Trang-trang.....!" Kembali dua kali tongkatnya menangkis
    dan untuk dua kali pula tongkatnya terpental sehingga
    terpaksa dia melompat lagi ke belakang karena kalau lawan
    mendesak dia tentu tidak mampu mempertahankan diri lagi.
    Suma Kiang bukan orang bodoh. Dia maklum bahwa melawan
    Toa Ok seorang saja sukar baginya untuk menang, apa lagi di
    situ terdapat Sam Ok yang mengeroyoknya. Belum lagi kalau
    Ji Ok muncul, tentu dia akan celaka. Maka sambil
    mengeluarkan teriakan panjang karena kesal dan kecewa
    bercampur penasaran dan marah, dia melarikan diri pergi dari
    tempat itu.
    "Toa Ok, untuk apa engkau anak ini? Aku
    membutuhkannya untuk memperdalam latihanku dan
    menghisap sari tenaganya. Anak ini keturunan kaisar, tentu
    hawa sakti di tubuhnya melebihi anak-anak lain. Berikanlah
    kepadaku, Toa Ok!"
    "Hemm, bodoh! Engkau hanya memikirkan dirimu seorang,
    Sam Ok. Ketahuilah, untuk kebutuhan itu di dunia ini masih
    terdapat banyak sekali anak yang baik. Akan tetapi
    kesempatan memetik keuntungan dengan mengembalikan
    anak ini ke kerajaan Beng, hanya ada satu kali ini. Kalau tidak
    kita pergunakan kesempatan ini, sungguh kita amat bodoh!"
    "Akan tetapi, Toa Ok. Kaisar tentu sudah mendengar akan
    nama kita, dan dia tentu akan mengambil sikap bermusuhan
    dengan kita. Jangan-jangan dengan menyerahkan anak ini
    kepadanya, kita malah ditangkap dan dihukum! Aku lebih
    setuju dengan pendapat Suma Kiang. Kita serahkan saja anak
    ini kepada Pangeran Cheng Boan dan minta uang tebusan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    yang besar. Dia pasti akan memenuhi permintaan kita, apalagi
    kalau kita ancam bahwa kalau dia tidak mau memberi uang
    tebusan besar, kita akan berikan anak ini kepada Kaisar Chenp
    Tung!"
    "Hemm, usulmu itu baik sekali!" kata Toa Ok menganggukangguk
    sambil memandang ke arah Hari Lin yang masih
    menggeletak tidak dapat bergerak di atas tanah.
    "Kalau begitu, biar aku yang membawa anak itu dan
    menjaganya agar jangan sampai direbut orang lain." Sam Ok
    segera meloncat ke dekat Han Lin. Dia membebaskan totokan
    Suma Kiang pada anak itu, akan tetapi sebelum Han Lin dapat
    meronta, dengan sikap penuh kasih sayang Sam Ok sudah
    memegang tangan kirinya.
    "Anak yang baik, engkau menurut majalah kepada kami
    dan kami tidak akan bersikap keras kepadamu."
    Han Lin memandang ke arah jurang dan berseru dengan
    suara bercampur tangis. "Ibuuuu.....!" Namun hanya suara
    gema saja yang menjawab, gema yang terdengar mengaung
    aneh dan mengerikan.
    "Ibumu sudah jatuh ke dasar sana dan tentu hancur,
    percuma saja kau panggil dan tangisi. Sudahlah, jadikan aku
    sebagai pengganti ibumu!" kata Sam Ok menghibur dengan
    kata-kata lembut.
    "Tidak, ibuku tidak mati! Ibuku tidak boleh mati!" teriak
    Han Lin dan dia meronta untuk melepaskan diri dari pegangan
    tangan Sam Ok. Ketika merasa betapa pegangan itu erat
    sekali dan dia tidak mampu melepaskan diri, Han Lin lalu
    menggunakan suling yang masih dipegang di tangan
    kanannya untuk memukul.
    Sam Ok menangkap pergelangan tangan kanan itu dan
    sekali tangan kirinya bergerak menotok, Han Lin tidak mampu
    bergerak lagi dan tubuhnya menjadi lemas. Namun tetap saja
    tangan kanannya masih memegang suling kemala. Sam Ok
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    lalu memanggul tubuh yang lemas itu dengan kepalanya di
    depan.
    "Anak baik, engkau menurut saja ke pada ibumu yang
    baru, hidupmu tentu akan senang sekali!" kata Sam Ok dan ia
    mendekatkan mukanya untuk mencium pipi Han Lin.
    Kemudian mulutnya yang berbibir merah itu tiba-tiba berada
    di dekat leher Han Lin dan mulut itu mengecup leher itu.
    "Sam Ok, jangan lakukan itu!" tiba tiba Toa Ok menghardik.
    Sam Ok melepaskan kecupan mulutnya dan di kulit leher
    Han Lin tampak bekas bibirnya. Kulit leher yang dihisap tadi
    tampak kemerahan namun belum terluka.
    "Aih, Toa Ok. Aku hanya hendak mencicipi beberapa tetes
    darahnya!" bantah Sam OK.
    "Lepaskan dia, engkau tidak boleh membawanya. Biar aku
    yang membawanya!" kata Toa Ok.
    "Toa Ok mari kita berlaku adil. Biar kuhisap dulu darahnya
    sampai habis, lalu kita penggal kepalanya dan bawa kepala itu
    ke kota raja untuk minta uang tebusan!"
    "Tidak, kalau dia sudah mati, tidak ada harganya lagi!
    Berikan dia kepadaku!"
    Sam Ok mendekati Toa Ok dan tiba-tiba ia melontarkan
    tubuh Han Lin kepada kakek itu dengan kuat.
    "Terimalah!"
    Tubuh anak itu meluncur dengan cepatnya ke arah Toa Ok.
    Kakek ini menyambut dengan tangan kanannya dan pada saat
    itu, Sam Ok telah menyerangnya dengan Hek-kong-kiam
    disusul tusukan jari telunjuk kirinya yang mengandung hawa
    maut! Demikianlah kelicikan Sam Ok. Akan tetapi Toa Ok tidak
    akan menjadi si Jahat Nomor Satu kalau dia tidak tahu akan
    hal ini. Dia sudah siap siaga menghadapi kelicikan rekannya,
    maka begitu diserang, dia sudah melempar tubuh Han Lin ke
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    atas tanah, lalu memutar Kim-liong-kiam di tangannya untuk
    menangkis pedang Sam Ok. Kemudian tangan kirinya
    membuat gerakan melingkar dan mengeluarkan hawa yang
    menangkis serangan telunjuk kiri Sam Ok.
    "Tranggg...... plakkk.....!" Tubuh Sam Ok terpelanting
    saking kerasnya tangkisan Toa Ok.
    "Ha-ha-ha, agaknya engkau sudah bosan menjadi Sam Ok
    (si Jahat Ketiga) dan ingin menjadi si Jahat Mampus!" Toa Ok
    berseru dan dia pun sudah mengelebat-kan pedang sinar
    emasnya ke arah leher Sam Ok untuk memenggal leher
    rekannya itu.
    "Wuuuttt..... tinggg.....!" Sebuah batu kecil menyambar dan
    menangkis pedang sinar emas itu, akan tetapi hantaman batu
    kecil itu sedemikian kuatnya sehingga pedang itu hampir
    terlepas dari tangan Toa Ok sedangkan kaki Toa Ok terpaksa
    melangkah mundur sampai tiga langkah!
    Tentu saja Toa Ok terkejut bukan main. Dia mengelebatkan
    pedangnya di depan mukanya lalu memandang ke depan.
    Ternyata di situ lelah berdiri seorang kakek yang tubuhnya
    kecil bongkok, rambutnya tidak sependek tubuhnya melainkan
    panjang dan terjurai sampai ke perut, demikian pula jenggot
    dan kumisnya tergantung ke depan dadanya. Rambut yang
    sudah banyak bercampur uban. Sukar menaksir usia kakek itu.
    Kalau melihat rambut yang sudah separuhnya beruban itu,
    tentu usianya sudah enam puluh tahun lebih Akan tetapi kalau
    melihat wajahnya yang segar dan kemerahan seperti wajah
    kanak kanak, dia kelihatan jauh lebih muda. Pakaiannya
    sederhana sekali, dari kain kasar dan potongannya seperti
    yang di pakai para petani sederhana.
    "Heh-heh-heh!" Kakek itu tertawa dan tampak sebelah
    dalam mulutnva yang sudah tidak bergigi lagi. Sudah ompong
    sama sekali! "Toa Ok dan Sam Ok sudah saling serang dan
    berusaha saling membunuh. Ini artinya bahwa Toa Ok dan
    Sam Ok sudah tidak jahat lagi, berubah menjadi orang baik
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    yang hendak menyingkirkan orang jahat! Heh-heh, bagus
    sekali!"
    Toa Ok memandang dengan alis berkerut. Dia tidak
    mengenal kakek itu, akan tetapi dia tidak berani memandang
    rendah. Dari sambitan batu kecil tadi saja dia sudah dapat
    mengukur kekuatan dari tenaga sakti kakek itu yang amat
    dahsyat.
    "Sobat, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan
    kami?"
    Kakek itu memandang ke langit, lalu menjawab dengan
    sikap seperti orang mendeklamasikan sajak. "Nama itu
    sungguh berbahaya, Dapat membuat kepala seseorang
    menggelembung kemudian pecah di udara. Nama dapat pula
    membuat seseorang disanjung-sanjung dan dipuja-puja, dapat
    pula membuat seseorang dikutuk dan diinjak-injak. Nama
    adalah suatu kepalsuan! Karena itu aku merasa ngeri dan
    memilih tidak mempunyai nama. Toa Ok, aku adalah seorang
    tua tanpa nama. Dan tentang mencampuri urusan pribadi itu,
    mana bisa disebut urusan pribadi kalau menyangkut diri orang
    lain? Kalau di sini tidak ada anak yang kalian perebutkan itu,
    engkau dan Sam Ok hendak gempur-gempuran sampai
    matipun aku tidak akan perduli. Akan tetapi melihat anak itu,
    terpaksa aku campur tangan dan aku melarang kalian
    membawa anak itu. Pergilah kalian berdua dengan aman dan
    tinggalkan anak itu. Aku akan mengurusnya baik-baik, tidak
    seperti kalian yang berpamrih untuk] keuntungan diri pribadi."
    "Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tani Nama), lagakmu demikian
    sombong sekali. engkau dapat meruntuhkan gunung dan
    mengeringkan lautan! Apakah kau kira kami takut kepadamu?"
    Tiba-tiba Sam Ok berseru dan tanpa banyak cakap lagi ia
    lalu menyerang dengan pedangnya yang bersinar hitam. Ia
    menyerang dari belakang dan bukan pedangnya saja yang
    menyerang, akan tetapi telunjuk kirinya juga menyerang
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    dengan tusukan yang ngandung hawa beracun ke arah
    punggut kakek pendek itu.
    "Sam Ok, kita bunuh kakek tua bangka bosan hidup ini!"
    Toa Ok juga menyerang dengan pedang sinar emasnya,
    serangannya dahsyat sekali, membarengi serangan Sam Ok
    yang dilakukan dari belakang kakek itu.
    Menghadapi serangan hebat dari depan dan belakang,
    kakek itu tampak tenang saja, sama sekali tidak tampak
    gugup. Karena datangnya serangan Sam Ok dari belakang
    datang lebih dulu, tanpa menoleh dia melompat ke depan
    seperti menyambut serangan Toa Ok. Pedang sinar emas itu
    meluncur ke arah dada kakek itu. Akan tetapi kakek itu
    tenang-tenang saja menggerakkan tangan kirinya menangkis!
    Tusukan pedang pusaka yang demikian ampuh ditangkis
    dengan tangan kosong saja! Agaknya kakek itu mencari
    penyakit.
    Melihat ini Toa Ok tersenyum lebar dan menggetarkan
    pedangnya dengan pengerahan sin-kangnya yang amat kuat.
    Jangankan tangan kosong yang terdiri dari kulit dan daging,
    biar pedang yang kuat menangkis pedangnya yang digetarkan
    seperti ini akan menjadi patah!
    "Plakkkk.....H"
    Tubuh Toa Ok terpelanting keras dan hampir saja dia jatuh
    terbanting. Pedangnya bertemu dengan benda lunak namuir
    lentur sehingga pedang itu membalik seperti tenaganya
    kembali bertemu dengari tenaga yang amat aneh, yang
    membuat seluruh tenaga sin-kangnya membalik dan
    menyerang dirinya sendiri sehingga dia terpelanting.
    Pada saat itu, dari belakang Sam Ok kembali menyerang
    dengan telunjuk kirinya, ditusukkan ke arah lambung kakek
    itu. Kakek tanpa nama itu membalikkan tubuhnya dan melihat
    jari telunjuk itu ditusukkan ke arah lambungnya dan kini
    menuju perutnya, dia tertawa dan membusungkan perutnya,
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    menerima tusukan dengan ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa
    Racun) yang mengandung hawa beracun yang amat jahatnya
    itu.
    "Cusss.....!" Telunjuk kiri itu bukan hanya menyerang
    dengan hawa beracun, bahkan langsung mengenai perut yang
    dibusungkan itu dan telunjuk itu "masuk" ke perut sampai ke
    pergelangan tangan.
    Sam Ok terkejut sekali karena merasa tangannya dingin
    seperti direndam ke dalam es saja. Ia cepat menarik kembali
    jari telunjuknya, akan tetapi tidak dapat ditarik lepas, seolaholah
    telah terjepit ke dalam benda lunak yang amat kuat!
    Selagi ia bersitegang berusaha mencabut telunjuk kirinya,
    tiba-tiba kakek itu me-lembungkan perutnya dan tanpa dapat
    dihindarkan lagi tubuh Sam Ok terdorong ke belakang sampai
    terhuyung-huyung dan dengan susah payah baru ia dapat
    mengatur keseimbangan dirinya sehingga tidak jatuh
    terbanting!
    Kakek itu mencium-cium ke arah perutnya dan
    menyeringai, "Wah, telunjukmu bau, kotor dan jahat sekali!"
    Sam Ok marah bukan main, akan tetapi ia juga terkejut
    sekaligus merasa jerih. Seperti Toa Ok, ia menyadari bahwa ia
    sama sekali bukan lawan kakek tanpa nama itu. Mungkin
    hanya gurunya atau uwa-gurunya saja yang akan mampu
    menandingi kakek pendek ini. la memandang kepada Toa Ok
    dan kebetulan Toa Ok juga sedang memandang kepadanya.
    Keduanya bertukar pandang dan tahulah mereka apa yang
    harus mereka lakukan.
    "Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Nama), kalau kami tidak
    boleh memiliki bocah itu, tidak seorangpun di dunia ini yang
    boleh!" Setelah berkata demikian, Toa Ok dan Sam Ok
    menggerakkan tangan kirinya. Sinar-sinar hitam meluncur dari
    tangan kiri mereka menuju ke arah tubuh Han Lin. Ternyata
    Toa Ok telah menyerang dengan Hek-tok-teng (Paku Beracun
    Hitam) dan Sam Ok menyerang dengan beberapa batang BanTiraikasih
    Website http://kangzusi.com/
    tok-ciam (Jarum Berlaksa Racun), keduanya merupakan
    senjata yang amat ampuh karena mengandung racun yang
    seketika dapat mematikan orang yang terkena am-gi (senjata
    gelap) itu. Akan tetapi, bagaikan segumpal asap saja saking
    ringannya, tubuh kakek tanpa nama telah melayang ke arah
    Han Lin dan sekali mengebutkan lengan bajunya ke arah
    sinar-sinar yang menyambar ke tubut Han Lin, paku-paku dan
    jarum-jarum iti meluncur kembali ke arah pemiliknya. Toa Ok
    terkejut sekali dan terpaksa mereka berloncatan untuk
    menghindarkan diri dari senjata yang hendak makan tuannya
    sendiri itu. Mereka maklum bahwa kalau mereka melanjutkan,
    keadaan mereka berbalik akan terancam bahaya sedangkan Ji
    Ok yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Maka setelah
    saling pandang dan berkedip, tanpa banyak cakap lagi kedua
    orang itu lalu melompat jauh dan melarikan diri dari puncak
    bukit itu.
    Setelah kedua orang itu pergi jauh, kakek itu lalu
    menghampiri Han Lin dan sekali tangannya bergerak, ujung
    lengan bajunya menyambar ke arah pundak dan dada Han Lin
    yang segera dapat menggerakkan kaki tangannya kembali.
    Anak itu tadi telah dapat melihat semua yang terjadi, maka
    begitu ia dapat bergerak, dia sengaja menjatuhkan dirinya
    berlutut di depan kakek itu, membentur-benturkan kepalanya
    di tanah tanpa hentinya.
    "Locianpwe (Orang tua yang gagah), harap jangan
    kepalang tanggung menolong saya. Harap locianpwe suka
    menyelamatkan pula ibu saya yang tadi terjatuh ke dalam
    jurang itu!" Berkata demikian, Han Lin menunjuk ke jurang
    sambil menangis sesenggukan.
    "Han.....? Terjatuh ke jurang itu dan menyelamatkannya?
    Anak yang baik, yang dapat menyelamatkan orang yang jatuh
    ke jurang itu hanyalah Tuhan, dan aku bukan Tuhan. Juga
    bukan burung yang bersayap dan pandai terbang. Bagai mana
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    aku dapat menolong ibumu kalau ia sudah terjatuh ke jurang
    itu?"
    "Ibuuu....! Jadi..... jadi locianpwe berpendapat bahwa tentu
    ibuku sudah tewas .....?" Han Lin bertanya sambil terengahengah
    menahan tangis.
    Kakek itu menggunakan tangannya mengusap kepala Han
    Lin. "Tenanglah, nak. Sudah kukatakan bahwa hanya Tuhan
    yang dapat menolongnya. Kalau Tuhan mengulurkan tangan
    menolongnya, entah melalui jalan apa, tentu ibumu masih
    hidup. Akan tetapi kalau Tuhan tidak menolongnya, biarpun
    seorang yang berilmu setinggi apapun kalau terjatuh ke situ
    tentu akan menemui kematiannya."
    Mendengar ucapan itu, Han Lin lalu menangis tersedusedu,
    membayangkan, ibunya jatuh ke dasar jurang dan
    hancur tubuhnya. Kemudian diapun menjatuhkan dirinya
    berlutut lagi di depan kakek itu.
    "Harap locianpwe tidak kepalang tanggung menolong
    saya......"
    "Ha-ha-ha, permintaan apalagi yang akan kau ajukan
    kepadaku, anak yang baik?"
    "Setelah ibu tidak ada, maka saya hidup sebatang kara di
    dunia ini. Mengingat bahwa banyak orang jahat yang lihai
    mempunyai niat jahat terhadap diri saya dan saya tidak akan
    mampu melindungi diri sendiri, saya mohon sudilah kiranya
    locianpwe menerima saya menjadi murid. Saya akan
    mengerjakan apa saja untuk locianpwe dan akan menaati
    semua perintah locianpwe."
    Kakek itu mengamati wajah Han Lin dengan pandang mata
    tajam, lalu bertanya dengan suara tegas, "Bukankah engkau
    telah memiliki tiga orang guru? Bagaimana engkau dapat tibatiba
    melupakan mereka dan hendak ikut aku?"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Han Lin terkejut sekali. Sama sekali tidak pernah dikiranya
    bahwa kakek ini tahu pula akan Gobi Sam-sian. "Locianpwe,
    memang benar saya telah menjadi murid sam-wi suhu (ketiga
    guru) Gobi Sam-sian. Akan tetapi sam-wi suhu ternyata tidak
    mampu melindungi ibu sehingga ibu meninggal di tempat ini
    dan hampir saja saya juga tewas kalau tidak ditolong oleh
    locianpwe. Keberadaan saya hanya membuat sam-wi suhu
    Gobi Sam-sian mengalami kesulitan harus menentang orang
    jahat seperti Suma Kiang yang lihai sekali. Sama sekali saya
    tidak ingin meninggalkan Gobi Sam-sian, locianpwe, hanya
    saya ingin mempelajari ilmu silat setinggi mungkin agar kelak
    saya mampu menandingi Suma Kiang dan kawan-kawannya."
    "Sejak kecil engkau digembleng oleh Gobi Sam-sian dan
    engkau memperoleh ilmu kepandaian dasar yang kokoh dari
    mereka. Karena itu engkau harus melanjutkan mematangkan
    dasar itu dari mereka. Belajarlah kepada mereka selama lima
    tahun, baru kemudian engkau boleh mencari aku dan menjadi
    muridku."
    "Akan tetapi, locianpwe, ke mana kelak saya dapat mencari
    locianpwe? Dan ke mana sekarang saya harus mencari sam-wi
    suhu Gobi Sam-sian? Tadi mereka berada di lereng bawah
    sana untuk menghadang Suma Kiang dan temannya, akan
    tetapi melihat Suma Kiang dan temannya sudah dapat
    mengejar saya dan ibu ke sini, saya khawatir mereka..."
    "Aku tahu di mana mereka berada. Mari, pegang tanganku
    dan ikut aku."
    Kakek itu lalu memegang tangan kiri Han Lin dan tiba-tiba
    saja Han Lin merasa dirinya meluncur cepat sekali turun dari
    puncak dan dia seolah bergantung kepada tangan kakek itu.
    Melihat pohon di kanan kirinya meluncur cepat dari depan
    seperti hendak menabrak dirinya, Han Lin memejamkan mata
    dan membiarkan dirinya seolah dibawa terbang oleh kakek itu.
    Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan di
    lereng dekat kaki bukit dan ketika kakek itu membawa Han Lin
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    ke tengah hutan di mana terdapat sebuah lapangan rumput,
    mereka melihat Gobi Sarn-sian sudah berdiri saling berdekatan
    dan mereka siap dengan senjata masing-masing. Akan tetapi
    ketika mereka bertiga melihat kakek itu, ketiganya segera
    menyimpan senjata dan cepat berlutut di depan kaki kakek itu.
    "Supek..... (uwa guru)!" Mereka berseru dengan suara
    menunjukkan kejutan besar. Mereka mengenal uwa guru
    mereka ini sebagai seorang manusia setengah dewa yang
    sudah puluhan tahun tidak pernah tampak di dunia ramai
    bahkan mereka mengira bahwa supek mereka yang tidak
    pernah mempunyai nama ini sudah meninggal dunia. Kini tibatiba
    saja muncul menggandeng Han Lin !
    "Ha, bagaimana keadaan kalian?" tanya kakek itu dan dia
    lalu menghampiri Ang-bin-sian, memeriksa kesehatannya
    dengan meraba sana-sini, lalu menghampiri It-kiam-sian,
    memeriksa lengannya yang buntung, kemudian memeriksa
    Pek-tim-sian.
    "Bagus, ternyata kalian dapat mengatasi bahaya dan dalam
    keadaan selamat dan sehat."
    "Supek, teecu bertiga bertemu dengan lawan yang amat
    lihai," kata Ang-bin-sian.
    "Hemm, itu wajar saja. Setinggi-tingginya gunung masih
    ada awan yang melebihi tingginya dan di atas awan masih ada
    langit yang lebih tinggi. Tidak ada sesuatu yang paling tinggi
    di dunia ini, dan wajarlah kalau sekali waktu kita bertemu
    dengan orang lain yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi
    daripada kita. Aku akan memberikan sesuatu kepada kalian
    masing-masing untuk penambah pengetahuan dan kalian
    bertiga harus melanjutkan membimbing anak ini selama lima
    tahun. Setelah lewat lima tahun, bawalah dia kepadaku di
    puncak Thaisan dan aku yang akan menjadi gurunya."
    Setelah berkata demikian, kakek katai ini tinggal bersama
    Gobi Sam-sian di tengah hutan itu selama sebulan dan selama
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    itu dia mengajarkan ilmu silat kepada tiga orang murid
    keponakannya yang membuat mereka bertiga menjadi lebih
    lihai daripada sebelumnya. Bahkan It-kiam-sian yang lengan
    kanannya buntung itu mendapat pelajaran ilmu pedang
    tunggal yang dimainkan dengan tangan kiri yang
    kehebatannya melebihi ketika kedua lengannya masih utuh.
    Juga kakek yang sakti itu mengajarkan cara menghimpun
    tenaga sakti dari alam, menghimpun inti sari tenaga matahari
    dan rembulan sehingga kalau hal ini dilatih terus, dalam waktu
    beberapa tahun saja tenaga sini kang (tenaga sakti) tiga
    orang itu akan memperoleh kemajuan pesat.
    Setelah sebulan memberi gemblengan kepada tiga orang
    murid keponakannya; Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tanpa
    Nama) itu lalu pergi meninggalkan bukit itu.
    Gobi Sam-sian bersikap hati-hati Mereka maklum bahwa
    bukan tidak terjadi Suma Kiang akan muncul lagi karena orang
    jahat itu tentu masih merasa penasaran dan akan mencari
    Hari Lin. Maka mereka lalu mengajak Han Lin pergi dari
    daerah Pao-tow, pindah ke sebuah dusu yang berada di kaki
    Pegunungan Yin san di sebelah utara kota Tai-goan yan telah
    berada di sebelah dalam Tembok Besar, jauh sekali di sebelah
    selatan dari daerah Pao-tow. Mereka tinggal di dusun yang
    sunyi, hidup sebagai petani dan sama sekali tidak
    memperlihatkan diri sebagai orang-orang dunia persilatan.
    Melihat Han Lin selalu tenggelam ke dalam kedukaan, Angbin-
    sian menghiburnya. "Han Lin, tidak ada gunanya bagimu
    untuk menenggelamkan diri ke dalam kedukaan karena
    kematian ibumu. Ingat bahwa manusia hidup sewaktu-waktu
    tentu akan mati juga. Saat kematian setiap orang manusia
    sudah ditentukan oleh Thian. Oleh karena itu tidak perlu
    disesali sampai berlarut-larut. Boleh saja engkau bersedih,
    karena tidak wajar kiranya kalau seorang anak ditinggal mati
    ibunya tidak bersedih, akan tetapi ingatlah bahwa kedukaan
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    yang berlarut-larut hanya akan melemahkan semangat dan
    kalau awak tidak beruntung akan menimbulkan penyakit."
    "Akan tetapi, suhu. Kalau teecu teringat betapa tewasnya
    ibu terlempar ke dalam jurang karena ulah Suma Kiang...!"
    "han Lin," kata It-kiam-sian. "Engkau kehilangan ibumu,
    pinto kehilangan lengan kananku, hal ini sudah merupakan
    takdir yang tidak dapat dibantah pula. Kenyataan ini harus kita
    hadapi dengan tabah dan sama sekali jangan sampai
    kenyataan ini menimbulkan dendam yang hanya akan
    meracuni hati sendiri."
    "Ji-suhu! Apakah suhu hendak mengatakan bahwa teecu
    tidak boleh mendendam kepada Suma Kiang? Apakah kelak
    teecu tidak boleh membalaskan dendam sakit hati karena
    kematian ibu ini kepadanya?"
    It-kiam-sian tersenyum lebar. "Bukan tidak boleh, Han Lin.
    Akan tetapi ketahuilah bahwa ada dua keadaan hati kalau
    engkau kelak menentang Suma Kiang Pertama, engkau
    menentangnya karena engkau membenci orangnya dan ingin
    membalas dendam. Dan kedua, engkau menentangnya karena
    engkau anggap bahwa dia itu orang jahat dan bahwa
    perbuatan jahatnya harus ditentang. Nah yang pertama itulah
    yang tidak benar."
    "Akan tetapi, teecu belum mengerti benar. Apa bedanya
    antara keduanya itu Ji-suhu?"
    Pek-tim-sian kini berkata, "Han Lin diantara kedua yang
    diceritakan ji-suhu mu itu tentu saja terdapat perbedaan besar
    sekali. Kalau hatimu diracuni dendam, engkau membenci
    orang itu dan selalu menganggapnya keliru dan harus dibasmi
    sehingga andaikata Suma Kiang kelak telah berubah menjadi
    orang baik, dendammu akan membuat engkau tetap
    menganggapnya sebagai orang jahat yang harus dibunuh,
    membuatmu menjadi kejam. Sebaliknya kalau engkau
    menentangnya berdasarkan kejahatannya, bukan orangnya,
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    maka engkau akan menghadapinya sesuai dengan
    keadaannya pada waktu itu. Kalau dia jahat, engkau
    menentangnya, menentang kejahattannya. Sebaliknya kalau
    dia berubah menjadi manusia yang baik, engkau tidak akan
    menentangnya lagi dan tidak terdorong oleh nafsu
    dendammu."
    Han Lin terdiam, tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.
    Dapatkah dia bersikap seperti yang dikatakan guru-gurunya
    itu? Dapatkah ia memaafkan seorang seperti Suma Kiang yang
    pernah membuat ibunya sampai menggigit putus lidahnya
    sendiri,kemudian bahkan yang membuat ibunya terjatuh ke
    dalam jurang dan menewaskannya, juga menjadi penyebab
    dia dan ibunya melarikan diri dari perkampungan Mongol?
    Dendamnya bertumpuk, begitu teringat akan Suma Kiang
    kebenciannya meluap. Andaikata kelak Suma Kiang telah
    menjadi seorang baik, mampukah dia melupakan semua sakit
    hati ini dan memaafkannya?
    "Tidak mungkin!" teriaknya. "Tidak mungkin tcecu dapat
    melupakan apa yang pernah dilakukan Suma Kiang terhadap
    ibu!"
    Ang-bin-sian tersenyum dan mengangguk-angguk.
    "Perasaan itu wajar saja; Han Lin. Manusia tidak akan dapat
    terbebas daripada nafsunya sendiri. Akan tetapi kalau kelak
    engkau sudah dewasa dan jiwamu sudah lebih matang,
    engkau akan mengetahui sendiri bahwa membiarkan dendam
    bertengger di hati sama dengan meracuni diri pribadi.
    Sudahlah, sekarang engkau harus mencurahkan seluruh
    perhatianmu kepada latihan silat yang akan kami berikan
    kepadamu. Waktu lima tahun bukan waktu yang panjang
    kalau engkau hendak melanjutkan pelajaran silatmu kepada
    Toa-supek (Uwa Guru Pertama). Beliau adalah seorang sakti
    dan untuk dapat menerima pelajarannya, engkau harus
    memiliki dasar yang kuat. Mudah-mudahan kami akan berhasil
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    mempersiapkan dirimu untuk menerima pelajaran dari su
    pek."
    Demikianlah, semenjak hari itu, Han Lin berlatih silat
    dengan amat tekunnya, diajarkan oleh tiga orang tua itu tanpa
    ada seorang pun di dusun itu mengetahuinya. Han Lin
    memang berbakat sekali dan diapun patuh sehingga apapun
    yang diajarkan ketiga orang gurunya dapat dikuasainya
    dengan cepat dan baik sehingga Gobi Sam-sian menjadi
    girang dan puas sekali.
    Orang-orang bijaksana jaman dahulu mengatakan bahwa:
    Kalau Tuhan menghendaki, apapun dapat terjadi. Dan kalau
    Tuhan tidak menghendaki, apapun dapat terjadi sebaliknya.
    Kata-kata ini bukan sekadar pendapat belaka, melainkan
    diucapkan berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup.
    Banyak sekali terjadi hal-hal yang tidak terjangn kau oleh hati
    akal pikiran manusia tidak terjangkau oleh perhitungan
    manusia. Banyak terjadi perubahan musim yang tidak sesuai
    dengan perhitungan manusia. Banyak sekali terjadi hal-hal
    yang berlawanan dengan perhitungan dan perkiraan, hati akal
    pikiran manusia. Melihat hal-hal ini terjadi, orang-orang
    bijaksana lalu mengatakan bahwa itulah kehendak Thian
    kehendak Tuhan yang tidak dapat diubah oleh siapapun juga.
    Tuhan Maha Kuasa. Jalan yang ditempuh kekuasaan Tuhan ka
    dang tidak terjangkau oleh hati akal pikiran manusia. Bencana
    alam terjadi di mana-mana, musim-musim berubah dari
    perhitungan sehingga mengakibatkan bencana besar. Musim
    kering berkepanjangan, musim hujan berlebihan, semua itu
    mendatangkan bencana bagi manusia, merenggut banyak
    nyawa dan harta benda.
    Dalam hal kematian seseorangpun, tidak pernah
    kepandaian manusia dapat menentukan. Kalau Tuhan belum
    menghendaki kita mati, biar kita dihujani ribuan batang anak
    panah sekalipun, kita akan mampu lolos dan tidak akan mati.
    Sebaliknya kalau Tuhan sudah menghendaki kita mati, biar
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    bersembunyi di lubang semut, maut akan tetap datang
    menjemput. Seorang tentara yang puluhan tahun menjadi
    tentara, hidup di antara kelebatan pedang dan hujan anak
    panah, nyawanya terancam setiap saat oleh maut, akan tetap
    hidup karena Tuhan belum menghendaki dia mati. Akan tetapi
    setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pulang
    kampung, gigitan seekor nyamuk saja sudah cukup untuk
    membuat dia sakit dan mati!
    Mujijat terjadi setiap saat dan di manapun. Namun kita
    tidak percaya karena kita menganggapnya tidak masuk di
    akal, sampai kita menyaksikaan sendiri peristiwa kemujijatan
    itu dan kita mengangguk-angguk mengakui bahwa ada
    kekuasaan yang lebih tinggi yang mengatur segalanya
    sehingga kadang-kadang tidak masuk dalam perhitungan akal
    pikiran kita.
    Orang menyebut kemujijatan yang ter jadi itu sebagai
    Nasib. Namun, betapapun juga, orang tidak boleh
    meninggalkan Ikhtiar, walaupun ikhtiar itu tidak menentukan
    akibatnya. Orang sakit harus berikhtiar berobat, walaupun
    tidak dapat dipastikan bahwa ikhtiar ini akan berhasil. Akan
    tetapi patut kita ketahui bahwa tangan Tuhan menyentuh
    melalui ikhtiar kita ini! Kalau Tuhan hendak menolong kita dari
    penyakit, mungkin saja pertolongan itu terjadi melalui ikhtiar
    pengobatan kita. Walaupun kalau Tuhan menghendaki
    kematian kita, segala macam bentuk ikhtiar itu akan sia-sia
    dan tidak mungkin dapat mengubah kehendakNya. Sebaliknya
    kalau Tuhan menghendaki kita sembuh, mungkin dengan
    secawan air putih saja penyakit kita akan dapat disembuhkan!
    Bagi pendapat manusia pada umumnya, Chai Li yang
    terjatuh ke dalam jurang yang ternganga itu pasti akan mati!
    Agaknya tidak terdapat sedikit pun kemungkinan bagi wanita
    itu untuk lolos dari maut. Namun, apabila Tuhan
    Menghendaki, ada saja jalannya untuk dapat lolos dari
    cengkeraman maut.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Ketika tubuh itu mula-mula meluncur jatuh, Chai Li masih
    sadar dan ia menjerit karena merasa ngeri mendapatkan
    dirinya melayang ke bawah seperti seekor burung. Akan tetapi
    segera jeritannya terhenti dan ia pingsan ketika tubuhnya
    melayang tanpa daya dekat tebing.
    Tiba-tiba tampak seseorang di tengah tebing, di mana
    terdapat celah-celah seperti guha. Orang Ini melihat Chai LI
    yang melayang jatuh dan cepat dia meloloskan ikat
    pinggangnya yang berwarna putih dan terbuat dari kain.
    Dengan cekatan, dia lalu menggerakkan tangan kanannya
    yang memegang ujung sabuk putih itu. Sinar meluncur ke
    depan dan tepat pada saat tubuh Chai Li meluncur ke
    depannya, sabuk itu telah membelit pinggang Chai Li dan
    menarik tubuh yang melayang jatuh itu ke arahnya. Dengan
    tangan kiri dia menyambut tubuh itu dan mengerahkan tenaga
    sin-kangnya sehingga dia mampu menahan tenaga luncuran
    tubuh wanita itu. Tubuh Chai Li terdekap dalam rangkulan
    lengan kirinya yang; kuat.
    Ketika sadar dari pingsannya, Chai Li mendapatkan dirinya
    rebah di atas tanah bertilamkan rumput kering dan tak jauh|
    dari tempat ia rebah, tampak seorang laki-laki duduk di atas
    batu dan memandangnya sambil tersenyum ramah. Laki-laki
    itu tampaknya berusia tiga puluhan tahun, pakaiannya bersih
    dan mewah seperti seorang sasterawan yang kaya.
    Rambutnya digelung ke atas dan dijepit dengan penjepit
    rambut terbuat dari emas. Wajahnya yang bundar itu tampan
    sekali dengan sepasang mata yang bersinar dan senyumnya
    selalu merekah di bibirnya. Kulit mukanya putih. Seorang lakilaki
    yang tampan dan bersikap lembut.
    Chai Li terheran-heran melihat ia rebah di situ. Teringatlah
    ia betapa ia telah terjatuh ke dalam jutang! Tentu tubuhnya
    telah terbanting hancur di dasar jurang. Akan tetapi mengapa
    ia masin hidup, tubuhnya masih utuh dan rebah di tempat ini?
    la bangkit duduk dan mengeluh lirih karena pinggangnya
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    terasa nyeri. Sabuk yang tadi melibat pinggangnya dan
    menahannya dari kejatuhan menbuat pinggangnya terasa
    nyeri. Setelah ia duduk, barulah tampak olehnya tebing jurang
    menganga di depannya dan mengertilah ia bahwa ia telah
    ditolong oleh orang ini, walaupun ia tidak tahu bagaimana
    orang itu dapat menolongnya dari kejatuhan.
    Mendengar Chai Li mengeluh dan melihat ia bangkit duduk,
    orang itupun bangkit dari batu yang didudukinya. Setelah dia
    bangkit baru tampak tubuhnya tinggi tegap dan tegak yang
    membuatnya tampak gagah di samping ketampanannya. Dia
    menghampiri dan bertanya, "Apakah ada yang terasa nyeri,
    nona?" Suaranya tenang lembut dan ramah.
    Chai Li menoleh kepadanya dan wanita ini lalu menulis
    dengan telunjuk kanannya ke atas tanah. Ketika merasa
    betapa tanah itu keras, ia lalu mengambil sebuah batu yang
    runcing dan menulis dengan batu itu.
    "Aku bukan nona, melainkan seorang nyonya dan
    pinggangku terasa nyeri. Apa kah engkau yang
    menyelamatkanku dari kejatuhan tadi?"
    Laki-laki itu tercengang. Tidak menduga sama sekali bahwa
    wanita di depannya itu gagu, akan tetapi tulisannya demikian
    indah, jelas bukan tulisan wanita dusun biasa! Masih belum
    yakin apakah wanita itu tidak gagu dan tuli, dia mengangguk
    dan berkata, "Benar, aku yang telah menolongmu."
    Mendengar ini, Chai Li lalu menjatuh kan dirinya berlutut di
    depan pria itu. Pria itu cepat-cepat memegang kedua pundak
    Chai Li dan membangunkannya dan merasakan dengan jarijari
    tangannya betapa lembut dan halus kulit di bawah baju
    itu. Dia memandang dan mengamati. Wajah itu amatlah
    cantiknya dan memiliki daya tarik yang amat kuat. Terutama
    mata itu. Sepasang mata yang bersinar-sinar seperti sepasang
    bintang kejora!
    "Siapakah suamimu dan engkau tinggal di mana, nyonya?"
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    Chai Li menulis lagi di atas tanah.
    "Saya..... suami saya meninggalkan saya... dan saya tinggal
    bersama seorang anak saya di.... di dusun...."
    Melihat betapa Chai Li menulis dengan ragu-ragu, pria itu
    menjadi semakin tertarik.
    "Siapa namamu, nyonya? Dan siapa pula nama suamimu
    yang meninggalkanmu itu?" tanyanya.
    Chai Li menjadi rikuh dan bingung. Tidak mungkin ia
    mengaku bahwa suaminya adalah Kaisar Cheng Tung! Ia tidak
    mengenal pria ini. Biarpun pria ini sudah membuktikan bahwa
    dia seorang baik-baik yang telah menyelamatkannya, akan
    tetapi ia tidak boleh mempercayai begitu saja dan
    menceritakan kebenaran tentang dirinya, la lalu menulis lagi.
    "Nama saya Chai Li dan suami saya bernama Han Tung. Inkong
    (tuan penolong), tolonglah saya untuk naik ke atas
    tebing dan untuk mencari anak saya."
    Pria itu tersenyum. "Jalan menuju ke puncak tebing tidak
    mudah, nyonya. Untuk itu engkau harus kupondong!"
    Mendengar ini, wajah Chai Li berubah kemerahan dan hal
    ini menambah kecantikannya yang aseli. ia menulis lagi,
    "Terserah kepada in-kong dan sebelumnya saya
    menghaturkan banyak terima kasih dan maaf bahwa saya
    telah merepotkan in-kong."
    "Ha-ha-ha, terlalu banyak terima kasih kau ucapkan, aku
    menghendaki terima kasih dalam perbuatan nyata! Nyonya,
    jawab saja pertanyaanku dengan geleng atau angguk. Apakah
    engkau akan menyatakan terima kasihmu dengan mentaati
    semua kata-kataku?"
    Chai Li mengangguk.
    Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
    "Engkau akan menaati semua kata-kataku, menuruti semua
    permintaanku tanpa membantah dan selanjutnya
    menggantungkan hidupmu kepadaku?"
    Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
    kumpulan cerita silat cersil online
    Share:
    cersil...
    Comments
    0 Comments

    Postingan Cersil Terbaru