Kamis, 19 April 2018

Cersil Dewasa Jaka Lola 3

---
Sebetulnya apakah yang telah terjadi di puncak Liong-thouw-san? Sayang tak ada yang dapat bercerita
kepada kedua orang muda itu. Akan tetapi andai kata ada yang dapat bercerita, agaknya malah akan
membuat mereka menjadi makin gelisah saja karena baru tiga hari yang lalu, di puncak itu terjadi hal hebat
seperti yang dikhawatirkan oleh Lee Si.
Pada suatu senja, tiga hari yang lalu, selagi Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta bersama isterinya, Kwee Hui
Kauw, duduk di dalam pondok bercakap-cakap sesudah Hui Kauw menyalakan api penerangan dan Kun
Hong tengah makan masakan sayur yang disajikan isterinya sambil bercakap-cakap, tiba-tiba saja
terdengar suara bentakan keras dari luar pondok.
"Kwa Kun Hong, keluarlah dan pertanggung jawabkan kebiadaban anakmu!!"
Sepasang sumpit yang menyumpit sayur dan sudah berada di depan mulut itu terhenti. Kun Hong
miringkan kepalanya, keningnya berkerut dan perlahan-lahan dia menurunkan kembali sumpit serta
mangkoknya. Telinganya mendengar gerakan isterinya menyambar pedang di dinding, dan pada saat
isterinya hendak melayang keluar pintu, dia berkata lirih,
"Tahan dulu, jangan terburu nafsu. Serasa mengenal suaranya..."
"Tak peduli dia siapa, dia telah menghina kita dan anak kita!"
"Manusia bisa keliru, mungkin salah paham..."
"Kwa Kun Hong, lekas kau keluar sebelum kuhancurkan pondokmu!" kembali terdengar bentakan dari luar.
Dengan tongkat di tangan, Pendekar Buta bergerak keluar dari pintu pondoknya, diikuti oleh Hui Kauw
yang masih memegang sebatang pedang dengan muka kereng. Alangkah kaget dan herannya nyonya ini
pada saat melihat bahwa yang berdiri di depan pondok, dengan tegak dan dua kaki dipentang, sikap
mengancam, wajah bengis, adalah seorang laki-laki tinggi besar dan gagah yang bukan lain adalah Tan
Kong Bu.
Keadaan jago tua Min-san ini menyeramkan sekali. Sepasang matanya yang tajam itu bersinar-sinar penuh
kemarahan, rambutnya agak awut-awutan, mukanya merah padam, tangan kiri dikepal-kepal dan tangan
kanan meraba gagang pedang. Suaranya nyaring menggeledek ketika dia melihat Kun Hong dan isterinya
keluar dari pondok.
"Kwa Kun Hong, kalau kau tidak lekas mempertanggung jawabkan kebiadaban anakmu, sekarang juga
seorang di antara kita harus mampus di sini!"
Wajah Pendekar Buta penuh kerut-merut, akan tetapi dia tetap tenang dan sabar. Tapi sebaliknya, biar pun
Hui Kauw adalah seorang wanita yang berperangai halus dan amat sabar, namun sekarang, sebagai
seorang ibu yang mendengar anak tunggalnya dimaki biadab, darahnya seketika menjadi naik. la
menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Kong Bu dengan tangan kanan melintangkan pedang di
depan dada.
"Tan Kong Bu! Isterimu terhitung sebagai murid keponakan suamiku, jadi kau ini boleh juga dikatakan
keponakan kami. Akan tetapi sikapmu ini sungguh-sungguh tidak patut. Ada urusan boleh diurus, ada soal
boleh dibicarakan, segala sesuatu boleh dirundingkan baik-baik, tidak seperti kau ini yang bersikap kasar
dan menghina!"
"Siapa menghina? Ha-ha-ha-ha, bicara tentang penghinaan, anakmu yang biadab itulah yang telah
menghina kami! Penghinaan melewati batas takaran, penghinaan yang hanya dapat dicuci dengan darah
dan nyawa, nyawa Kun Hong atau nyawaku! Jika kau hendak maju sekalian, boleh, aku tidak takut demi
untuk membela nama baik anakku, soal mati bukanlah apa-apa!"
Setelah berkata demikian, agaknya kepanasan hatinya menjadi semakin berkobar oleh kata-katanya. Kong
Bu menggerakkan tangan dan…
"Srattt!" la telah mencabut sebatang pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Hui Kauw menjadi makin marah, dia merasa ditantang. "Hemmm, manusia sombong. Kau kira
aku takut kepadamu? Kau sangka hanya engkau seorang di dunia ini yang gagah dan tidak takut mati,
yang ingin membela anak? Tiada hujan tiada angin kau memaki-maki anak kami, memaki-maki kami, kalau
kau menantang bertempur, majulah. Aku lawanmu." Hui Kauw melompat ke depan siap dengan
pedangnya.
Pada dasarnya Tan Kong Bu memang seorang yang berwatak keras serta berangasan, maka mendengar
omongan ini apa lagi melihat sikap Hui Kauw, kemarahannya terhadap Swan Bu memuncak. Wanita ini
adalah ibu Swan Bu patut bertanggung jawab pula. Dia memekik keras, mengeluarkan suara melengking
tinggi dan tubuhnya bergerak maju.
"Bagus, kau atau aku yang mampus!"
Pedangnya menyambar ganas, dipenuhi dengan tenaga Yang-kang sehingga sambaran pedang itu
mengandung hawa panas yang amat berbahaya.
Namun Hui Kauw adalah isteri Pendekar Buta. Sebelum menjadi isteri Pendekar Buta ia telah memiliki
kepandaian tinggi, tapi mungkin pada waktu itu tidak akan dapat menahan serangan Tan Kong Bu putera
Si Raja Pedang.
Akan tetapi sekarang, dia bukan Hui Kauw dua puluh tahun yang lalu. Ilmu kesaktiannya mengalami
kemajuan pesat di bawah bimbingan suaminya. Melihat datangnya serangan hebat ini, dia mengelak
sambil membabat dari samping, menghantam pedang lawan.
"Tranggg!"
Bunga api berpijar merupakan kilat-kilat kecil menerangi cuaca yang saat itu sudah mulai remang-remang.
Keduanya terpental muncur.
"Bagus, terimalah ini!"
Tan Kong Bu menerjang lagi, lebih ganas dan lebih kuat. Kembali Hui Kauw menangkis dari samping dan
kini saking hebatnya tenaga dalam mereka, kedua pedang itu saling tempel tanpa mengeluarkan bunyi!
Pada saat itu, berkelebat bayangan merah, disusul suara keras dan dua batang pedang yang saling tempel
itu terpental ke belakang, malah Hui Kauw dan Kong Bu terhuyung-huyung tiga langkah. Kiranya Kun Hong
sudah turun tangan, ia menggunakan tongkatnya untuk memisahkan dua pedang itu.
"Ahhh, apa perlunya semua ini? Hui Kauw, kau mundurlah. Kong Bu, marilah kita bicara baik-baik. Apa
sebenarnya yang sudah terjadi? Kau agaknya marah-marah kepada anak kami. Kesalahan apakah yang
diperbuat oleh Swan Bu? Kau ceritakan kepada kami agar kami bisa mengetahui dan mempertimbangkan.
Di antara kita, masa harus menggunakan kekerasan?"
Akan tetapi Kong Bu yang sudah mendidih darahnya itu tak dapat dibikin sabar. Dengan suara tetap
lantang dan penuh kemarahan dia berkata,
"Kun Hong, mana bisa kita bicara baik-baik lagi setelah penghinaan yang dilakukan oleh anakmu? Akan
tetapi agar kalian tidak penasaran, dengarlah apa yang sudah dilakukan oleh anakmu yang biadab itu, agar
terbuka mata kalian betapa kalian tidak becus dalam mendidik anak. Anakmu Kwa Swan Bu itu telah
menawan Lee Si anakku dan melakukan perbuatan terkutuk, dia... dia berani mencemarkan... dia berani
menodai Lee Si, terkutuk dia! Karena dia lari, sekarang aku datang ke sini untuk minta pertanggungan
jawabmu. Kun Hong, penghinaan ini terlalu besar, kau sebagai ayahnya harus menebus dengan nyawamu
atau aku sebagai ayah Lee Si mencuci noda dengan darahku!"
"Bohong...!" tiba-tiba Hui Kauw menjerit marah. "Di mana terjadinya? Siapa yang menjadi saksi? Apa
buktinya?
"Huh, siapa yang bohong? Aku sendiri yang menjadi saksi! Lee Si ditawannya, tertotok tak berdaya dan
ditawan ke dalam kuil tua di kota Kong-goan..."
"Bohong! Aku tidak percaya, tidak mungkin anakku melakukan perbuatan itu. Kau yang bohong!" kembali
Hui Kauw berteriak.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mulut bisa bohong, akan tetapi mata tidak! Dan mataku melihat sendiri kejadian itu, dan mataku tidak buta
seperti mata Kun Hong! Hanya mata buta yang tidak mau melihat kebiadaban putera sendiri dan
melindunginya!"
"Keparat, tak sudi aku menerima penghinaanmu ini!"
Hui Kauw yang sekarang menerjang maju dengan pedangnya. Kong Bu mendengus dan menangkis,
kemudian kedua orang ini kembali sudah bertanding dengan seru.
Ada pun Kwa Kun Hong berdiri termangu-mangu setelah mendengar penjelasan Kong Bu. Mana mungkin
ada kejadian semacam itu? Swan Bu melakukan perbuatan terkutuk terhadap Lee Si? Apakah mungkin
puteranya itu sedemikian hebatnya dikuasai nafsu sehingga membuatnya seperti gila? Agaknya tidak
mungkin.
la tahu bahwa puteranya itu memiliki dasar watak yang amat keras dan tidak mau kalah, akan tetapi cukup
dia dasari gemblengan batin yang membentuk watak satria, pantang akan perbuatan-perbuatan maksiat,
apa lagi perbuatan terkutuk seperti itu. Tentu fitnah!
la cukup mengenal pula watak Kong Bu yang keras serta jujur, tegak seperti baja yang sukar ditekuk,
sehingga tidak mungkin pula seorang seperti Kong Bu ini membohong dan mengada-ada. Pemecahan
satu-satunya menghadapi dua ketidak mungkinan hanyalah hasut atau fitnah. Agaknya ada fitnah terselip
dalam urusan ini.
Suara beradunya pedang dan lengking tinggi dari mulut Kong Bu menyadarkannya. Kun Hong merasa
khawatir sekali. Dari gerakan yang terdengar oleh telinganya, tahulah dia bahwa pertandingan itu akan
dapat menjadi hebat sekali dan mati-matian karena tingkat mereka berimbang dan pertandingan dilakukan
dengan penuh hawa amarah oleh kedua pihak. Kalau dia tidak segera turun tangan, tentu seorang di
antara mereka akan tewas atau setidaknya akan terluka parah.
"Kalian berhentilah!" Kembali dia menengahi dan karena maklum betapa keduanya tak boleh dipandang
ringan, begitu ‘masuk’ Kun Hong menggunakan gerakan yang ampuh.
Tongkatnya berputar membentuk lingkaran-lingkaran yang membikin mati gerakan Kong Bu, sedangkan
tangan kirinya berhasil mendorong pundak isterinya sehingga nyonya itu terhuyung ke belakang.
Biar pun hatinya penasaran, namun Hui Kauw yang sudah hafal akan watak suaminya, tahu apa yang
dikehendaki suaminya ini. Maka dia hanya berdiri mengepal tinju kiri dan melintangkan pedang di depan
dada, tidak mau maju lagi.
Akan tetapi Kong Bu tidak mau mundur sama sekali. Bahkan di dalam kemarahannya, pertimbangannya
menjadi miring dan dia mengira bahwa Pendekar Buta ini takut kalau isterinya kalah maka sekarang maju
sendiri.
Memang sebetulnyalah, orang yang tengah ditunggangi dan dipermainkan nafsu amarah, pandang
matanya menjadi gelap, pertimbangannya rusak dan yang disangkanya hanya yang buruk-buruk saja. Oleh
karena itu, sangat tidak baiklah kalau orang dikuasai oleh hawa nafsu amarah, lebih baik lekas-lekas
singkirkan musuh besar pribadi ini dari dalam hati.
"Kun Hong, kau atau aku yang menggeletak tak bernyawa di sini!" Seruan ini disusul serangan dahsyat
sekali.
Dalam kemarahan dan kemaklumannya bahwa yang dihadapi kini adalah seorang yang memiliki kesaktian
hebat, Kong Bu telah menerjang sambil mengerahkan seluruh tenaga serta memainkan Ilmu Pedang Yangsin
Kiam-sut yang dahulu dia warisi dari mendiang kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun. Hebat bukan main
terjangan Kong Bu ini karena dipenuhi tenaga Yang-kang yang sangat kuat memancar keluar dari
gerakannya. Maka, sebatang pedangnya seakan-akan menjadi sebatang besi merah, panas menyalanyala!
"Ahhh, saudaraku Kong Bu yang baik..." Hanya sampai di sini ucapan Kun Hong karena Pendekar Buta ini
harus cepat-cepat mengelak sambil memainkan langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun sehingga
dengan mudah dia mampu menyelamatkan diri dari pedang Kong Bu yang berubah menjadi tangan-tangan
dunia-kangouw.blogspot.com
maut itu.
Kong Bu penasaran bukan main. Setiap kali pedangnya menyambar, seakan-akan tubuh Kun Hong
mendahului gerakannya, berubah kedudukannya, tidak lagi berada di tempat semula. Ataukah pedangnya
yang selalu menyeleweng apa bila mendekati tubuh Kun Hong? Tak mungkin dapat melakukan hal itu.
Rasa penasaran merupakan bensin yang menyiram api yang membakar dadanya, maka sambil
mengeluarkan suara melengking keras jago Min-san ini mendesak makin hebat.
Namun, dengan ketenangannya yang luar biasa, Kun Hong dapat mengatasi keadaan. Langkah-langkah
ajaib yang dia lakukan sangat tepat dan teratur sehingga sinar pedang Kong Bu tak pernah dapat
menyentuhnya.
"Dengarlah, Kong Bu sadarlah..., anak-anak kita tentu kena fitnah... percayalah, Swan Bu tidak mungkin
melakukan kebiadaban itu, mari kita selidiki baik-baik..."
Akan tetapi tiba-tiba Kong Bu berseru keras. Selagi Kun Hong bicara tadi, Kong Bu telah menerjangnya
dengan nekat, pedang di tangan ketua Min-san-pai itu melakukan tusukan maut dengan ujungnya
digetarkan menjadi tujuh sinar!
Meski pun Kun Hong menguasai Kim-thiauw-kun dan dapat menggerakkan tubuh secara ajaib untuk
mengelak setiap serangan, namun dia maklum bahwa jurus sakti seperti ini yang menimbulkan getaran
hawa pedang sedemikian dahsyatnya, tak mungkin dielakkan lagi. la tidak suka bermusuhan dengan Kong
Bu dan dapat menduga bahwa orang keras hati ini telah makan fitnah.
Dia suka mengalah, akan tetapi tentu saja dia tidak mau menerima tusukan pedang yang tak boleh
dipandang ringan. Oleh karena itu, pada waktu berseru kaget tadi, tongkatnya berkelebat menjadi sinar
merah dan sekaligus tongkat itu telah diputar berbentuk payung, menangkis pedang lawan sedangkan
tangan kirinya dengan pengerahan separuh tenaga didorongkan ke depan.
Jika saja Kong Bu tidak sedang dikuasai kemarahan yang membuat dia buta dan lengah, kiranya tidak
akan mudah bagi Kun Hong untuk mengalahkannya dalam waktu singkat, sungguh pun harus diakui bahwa
tingkat kepandaian Kong Bu tidak setinggi Kun Hong. Akan tetapi pada saat itu, Kong Bu sedang marah
sekali, begitu marahnya sehingga dia seperti orang nekat, hasrat hatinya hanya ingin menyerang dan
merobohkan lawan tanpa mempedulikan penjagaan tubuhnya sendiri.
Karena inilah maka pedangnya terkena ‘libatan’ tongkat Kun Hong yang lihai, terlibat dan terputar hingga
pedangnya ikut pula terputar. Sebagai seorang gagah, Kong Bu merasa pantang melepaskan pedang,
malah dia memegang makin erat sehingga tubuhnya yang terpelanting oleh hawa putaran yang amat kuat
itu.
Pada saat itulah dorongan tangan kiri Kun Hong yang kelihatan lambat itu tiba. Seketika tubuh Kong Bu
terjengkang ke belakang dan tubuh itu bergulingan sampai belasan meter jauhnya!
"Ahhh... maaf, saudara Kong Bu....,” Kun Hong memburu, tetapi tangan kirinya segera dipegang oleh Hui
Kauw yang menahannya.
Kong Bu melompat bangun dengan nafas terengah-engah, dadanya serasa sesak dan kepalanya pening.
la tidak terluka, namun nanar dan maklumlah dia bahwa melanjutkan dengan nekat hanya akan
menghadapi kekalahan yang memalukan.
"Kun Hong, kau lebih pandai dari pada aku. Akan tetapi kalau aku tidak dapat membunuh anakmu yang
biadab, aku tak akan mau berhenti berusaha. Tidak ada tempat bagi aku dan dia di kolong langit!"
"Kong Bu, tunggu...!" teriak Kun Hong, akan tetapi jago Min-san-pai itu sudah melompat pergi dan lari
cepat meninggalkan puncak itu.
"Biarkanlah dia pergi. Orang berhati kaku dan mau menang sendiri itu," kata Hui Kauw sambil memegang
lengan suaminya.
Kun Hong menarik nafas panjang. "Hui Kauw, kau lekas berbenah, bawa bekal yang kita perlukan di
perjalanan. Kita berangkat sekarang juga mencari Swan Bu dan menyelidiki ke Kong-goan. Ingin sekali aku
tahu apa sih yang terjadi di kuil tua di kota Kong-goan itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Begitulah, pada malam itu juga suami isteri pendekar sakti ini berangkat meninggalkan puncak Liongthouw-
san. Dan ini pulalah sebabnya mengapa ketika Yo Wan dan Lee Si tiba di puncak Liong-thouw-san
tempat ini sunyi tidak tampak seorang pun manusia…..
********************
Swan Bu terhuyung-huyung, baru beberapa puluh langkah pandang matanya gelap. Dia berusaha
menahan diri, tetapi kepalanya terlalu pening dan akhirnya dia jatuh terguling. Dia merasa tubuhnya panas
sekali, kepalanya berputaran, maka dia meramkan kedua matanya.
"Siu Bi... ah, Siu Bi... hemmm, apakah aku sudah gila? Kenapa Siu Bi saja yang teringat dan terbayang?"
Swan Bu bangkit dan duduk, beberapa kali dia menampar kepalanya sendiri dan bibirnya berbisik-bisik,
"Siu Bi... gadis iblis itu, aku harus benci kepadanya... harus!" Akan tetapi rasa panas membakar kepalanya
dan dia roboh lagi, kini pingsan.
Tak jauh dari tempat itu, Siu Bi berdiri terisak-isak. Dari jauh ia melihat Swan Bu jatuh bangun, melihat
pemuda itu terhuyung-huyung kemudian roboh, juga melihat pemuda itu menggerak-gerakkan bibir akan
tetapi dia tidak dapat mendengar kata-katanya, melihat pemuda itu memukul kepalanya sendiri lalu
terguling, tak bergerak-gerak.
"Swan Bu...!" Siu Bi menjerit kecil, hatinya serasa ditusuk-tusuk.
Dan ia lalu lari menghampiri, menubruk dan berlutut di dekat tubuh yang tak bergerak. Air matanya
bercucuran membasahi muka Swan Bu yang kini menjadi merah sekali dan panas. Ketika tangan Siu Bi
menyentuh leher pemuda itu, gadis ini terkejut dan menarik tangannya.
"Panas sekali! Ahh, kau terserang demam..."
Sebagai puteri angkat The Sun dan cucu murid Hek Lojin, serta biasa hidup di puncak gunung yang sunyi
sehingga sudah biasa menghadapi penyakit, Siu Bi maklum bahwa demam panas ini adalah akibat dari
luka di lengannya. Tanpa ragu-ragu lagi Siu Bi lalu memondong tubuh Swan Bu yang pingsan itu, lalu
dibawa lari dengan maksud mencari tempat peristirahatan yang baik agar dia dapat merawatnya.
Entah bagaimana, setelah ia berhasil membuntungi lengan kiri putera Pendekar Buta ini, semua rasa benci
lenyap dan timbullah rasa cinta kasih yang memang telah bersemi di dalam hatinya. Siu Bi malah merasa
sangat bersalah dan untuk menebus kesalahannya terhadap Swan Bu, ia hendak merawatnya, kalau
mungkin, untuk selamanya! Malah ia bersedia menghabiskan permusuhannya dengan orang tua pemuda
ini, asal Swan Bu mau memaafkannya dan mau ia ‘rawat’ selamanya.
Tiba-tiba saja telinganya mendengar suara gerakan dan alangkah kagetnya ketika ada bayangan
berkelebat dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang gadis cantik jelita yang ia kenal sebagai Cui Sian!
Hanya satu kali Siu Bi bertemu dengan puteri Raja Pedang ini, yaitu di Ching-coa-to, tetapi pertemuan
yang sekali itu cukup baginya untuk mengetahui bahwa puteri Raja Pedang itu amat tinggi kepandaiannya.
Di lain pihak, Cui Sian juga tercengang melihat Siu Bi. Tadinya dari belakang ia melihat seorang wanita
mempergunakan ilmu lari cepat yang tinggi berlari mendukung seorang pria. Dia menjadi curiga dan
mengejar, menyusul lalu menghadang untuk melihat siapa mereka dan apa yang terjadi.
Maka dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia mengenal Siu Bi, gadis liar yang bersumpah
hendak membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya, gadis liar yang menimbulkan cemburunya
karena sikapnya terhadap Yo Wan. Akan tetapi gadis ini pula yang telah menyelamatkan nyawanya ketika
ia dikeroyok di Ching-coa-to!
"Kau...?!" Saking heran dan kagetnya Cui Sian menegur.
"Hemmm, puteri Raja Pedang. Mau apa kau menghadangku?" balas Siu Bi ketus.
Pandang mata Cui Sian menyelidiki lelaki yang sedang dipondong Siu Bi, terkejut melihat lengan kiri yang
buntung sebatas siku, ujungnya dibungkus dan masih terdapat tanda darah dari luka yang baru.
"Ehh, siapa dia?" tanyanya, penuh kecurigaan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dia siapa peduli apakah engkau? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu..."
"Aahhh...!" Cui Sian melangkah maju selangkah, wajahnya pucat dan matanya terbelalak lebar. "Dia... dia...
Swan Bu...! Bukankah dia Swan Bu...?"
Sudah kerap kali ia bertemu dengan Swan Bu, akan tetapi yang terakhir kali adalah pada waktu Swan Bu
berusia empat lima belas tahun. Kalau sekarang tidak melihat pemuda itu buntung lengan kirinya dan
dipondong Siu Bi, agaknya ia akan pangling juga. Karena lengannya buntung, sedangkan Siu Bi pernah
menyatakan hendak membuntungi lengan Pendekar Buta sekeluarga, dan pemuda yang buntung
lengannya ini wajahnya seperti Swan Bu, maka mudah baginya untuk menduga dan hal ini membuat ia
kaget dan ngeri.
Kebetulan sekali pada saat itu Swan Bu tersadar, mengerang dan mengeluh, membuka matanya dan tepat
dia memandang Cui Sian. Agaknya dia dapat mengenal pula, karena bibirnya berbisik perlahan, "...Bibi
Guru..."
Kini hati Cui Sian tidak ragu lagi. Memang dahulu Swan Bu disuruh menyebut ‘sukouw’ (bibi guru)
kepadanya karena Pendekar Buta tetap menganggap ayahnya sebagai guru. Dengan suara lantang ia
membentak,
"Dia benar Swan Bu! Siapa membuntungi lengannya?" la tidak dapat bertanya kepada Swan Bu karena
pemuda itu sudah pingsan lagi.
Siu Bi mendongkol sekali. Ia seorang gadis yang berwatak aneh luar biasa. Hatinya yang keras bagai baja
mentah itu agaknya hanya dapat dicairkan oleh kehalusan. Menghadapi kekerasan, dia akan menjadi
semakin keras. Suara Swan Bu menyebut ‘bibi guru’ dan perhatian Cui Sian terhadap pemuda itu,
mendatangkan kedongkolan hatinya.
"Kau mau membelanya? Nah, terimalah keponakanmu ini!" teriaknya sambil melempar tubuh Swan Bu ke
arah Cui Sian.
Gadis Thai-san-pai ini cepat-cepat menerima tubuh itu dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat
kenyataan betapa tubuh itu panas sekali. Cepat ia menurunkan tubuh Swan Bu dengan hati-hati ke bawah
pohon yang teduh, kemudian memeriksanya.
Keadaan Swan Bu tidak berbahaya, kecuali kalau darahnya keracunan oleh luka lengan buntung itu. Maka
dia lalu menotok beberapa jalan darah sambil mengerahkan sinkang dengan tangan kiri yang ia tempelkan
di punggungnya. Kemudian ia berdiri, meloncat ke depan Siu Bi yang masih berdiri tegak dengan muka
marah.
"Siu Bi, siapa yang membuntungi lengannya?"
Siu Bi mengedikkan kepala, membusungkan dada. "Aku! Dia anak Pendekar Buta musuh besarku!" Meski
mulutnya hanya berkata demikian, akan tetapi pandang matanya seolah menantang, "Kau mau apa?"
Cui San menenangkan hatinya yang menggelora, lalu bertanya, "Kau telah membuntungi lengannya,
mengapa dia kau dukung? Hendak kau bawa kemanakah dia?"
Tiba-tiba wajah Siu Bi menjadi merah sekali, "dia... dia demam, aku harus merawatnya... ehhh, kau
cerewet amat, mau apa sih?"
Kemarahan Cui Sian tidak sanggup ditahannya lagi. Sekali tangannya bergerak ia telah mencabut Liongcu-
kiam. Pedang itu berkeredepan saking tajamnya dan diam-diam Siu Bi bergidik. la cukup maklum akan
kelihaian puteri Raja Pedang ini dan tahu pula bahwa ia tak akan mampu menang melawannya. Akan
tetapi untuk menjadi takut, nanti dulu! Dengan hati penuh kemarahan ia juga siap bertempur mati-matian.
"Siu Bi, kau bocah iblis! Aku tahu bahwa pada dasarnya kau bukanlah orang jahat, akan tetapi karena kau
hidup di lingkungan iblis-iblis kejam, hatimu menjadi kejam dan ganas. Manusia macam engkau ini perlu
diberi hajaran!"
"Cerewet kau!" bentak Siu Bi dan pedangnya menyambar-nyambar, merupakan sinar hitam, disusul
dunia-kangouw.blogspot.com
pukulan tangan kirinya yang ampuh, yaitu pukulan Hek-in-kang.
Cui Sian cepat mengelak dari pukulan dan menangkis pedang lawan, kemudian dengan sama hebatnya ia
balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh Siu Bi. Sebentar saja kedua orang dara perkasa ini sudah
bertanding dengan seru.
Siu Bi bertempur dengan nekat, mengerahkan semua kepandaian dan tenaganya hingga mau tidak mau
membuat Cui Sian menjadi kewalahan. Bila mana puteri Raja Pedang ini menghendaki, dengan jurus-jurus
mematikan dari ilmu pedangnya yang hebat, agaknya ia akan dapat merobohkan lawannya dalam waktu
yang tidak terlalu lama.
Akan tetapi Cui Sian adalah seorang gadis yang ingat budi. la pernah ditolong oleh Siu Bi ketika terjadi
pengeroyokan di Ching-coa-to, maka tiada niat di hatinya untuk membunuh gadis liar itu. Dia hanya marah
melihat Swan Bu dibuntungi lengannya dan berusaha untuk menangkap gadis ini kemudian menyerahkan
keputusan hukumannya pada Swan Bu sendiri. Inilah yang membuat agak sulit ia menangkan Siu Bi, sama
sulitnya dengan menangkap seekor harimau hidup-hidup, tentu lebih mudah membunuhnya.
Betapa pun juga, Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam masih tetap merupakan raja di antara sekalian ilmu
pedang, sedangkan pedang di tangan Cui Sian juga merupakan pedang pusaka yang amat ampuh karena
Liong-cu-kiam adalah pedang kuno yang hebat.
Liong-cu-kiam ada sepasang, maka disebut Liong-cu-kiam (Sepasang Pedang Mustika Naga) dan menjadi
senjata suami isteri ketua Thai-san-pai. Yang panjang dipegang Raja Pedang, yang pendek dipegang
isterinya.
Akan tetapi sekarang yang pendek berada di tangan puteri mereka, Cui Sian. Dengan pedang ampuh ini di
tangan sambil mainkan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam, lewat lima puluh jurus, Siu Bi menjadi pening dan
kabur pandang matanya. Apa lagi, sebetulnya ia masih belum sembuh benar dari luka di dalam dadanya.
Yang membuat ia amat penasaran adalah cara Cui Sian bertempur. Puteri Raja Pedang itu seolah-olah
mempermainkannya, buktinya setiap kali pedang berkeredepan itu sudah hampir mengenai tubuhnya,
ditarik atau diselewengkan sehingga tidak mengenai dirinya.
Dia sama sekali tidak menduga bahwa Cui Sian melakukan itu dengan sengaja karena tak ingin
membunuhnya. Siu Bi malah mengira bahwa gadis Thai-san-pai itu memandang rendah dan
mempermainkannya. Hal ini membuatnya mendongkol dan marah sekali.
Dia sampai lupa akan luka di dalam dadanya dan mengerahkan Hek-in-kang sekuatnya untuk menyerang.
Sambil berteriak nyaring, tangan kirinya memukul dan uap hitam pun menyambar.
Cui Sian sangat kaget. Hebat sekali pukulan ini. Akan tetapi ia tidak mau kalah. Cepat ia menggeser kaki
ke kanan dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kiri Siu Bi itu lalu ia gempur dengan tangan kiri terbuka
sambil mengerahkan sinkang-nya.
"Dukkk!"
Siu Bi mengeluarkan pekik dan tubuhnya terlempar ke belakang, roboh, pedangnya juga terlepas dari
tangan kanan. la merintih-rintih. Ada pun Cui Sian berseru kaget karena ia merasa seakan-akan tangannya
dimasuki hawa yang mengandung api sedang ia sendiri terhuyung-huyung ke belakang.
la terlampau memandang rendah Hek-in-kang dan kalau saja sinkang di tubuhnya belum kuat benar, tentu
ia pun akan terluka hebat. Cepat gadis kosen ini menahan nafas dan menyalurkan sinkang untuk
memulihkan tenaga dan melindungi isi dadanya. Kemudian ia menghampiri Siu Bi dan menotok jalan darah
yang membuat Siu Bi lemas.
"Wanita sial!" Siu Bi yang sudah tidak dapat menggerakkan kaki tangan itu memaki. Dua matanya
memandang dengan melotot. "Kau bunuhlah aku, aku tak takut mampus. Hayo, kalau kau gagah, bunuh
aku!"
"Cih, perempuan iblis. Sudah selayaknya kau dibunuh atas perbuatan kejimu terhadap Swan Bu. Akan
tetapi, aku berhutang nyawa kepadamu, terpaksa sekarang kuampuni kau..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Keparat, siapa memberi hutang kepadamu? Siapa sudi menerima ampunanmu? Hayo, gunakan
pedangmu itu membunuhku, jangan banyak cerewet"
"Kau yang cerewet!"
"Kau cerewet, kau bawel, kau nenek-nenek bawel!" Siu Bi memaki-maki.
Akan tetapi Cui Sian tidak mau pedulikan gadis galak itu lagi karena dia sudah sibuk menghampiri dan
memeriksa keadaan Swan Bu. Lega hatinya bahwa pemuda itu tidak menderita luka-luka lain yang
berbahaya kecuali lengannya yang buntung.
Hatinya ngeri juga ketika ia membuka lengan buntung yang dibalut itu dan melihat lengan buntung sebatas
siku. Darahnya sudah mulai kering, akan tetapi ujung yang buntung itu agak membengkak.
Ini berbahaya, pikirnya. Cepat ia mengeluarkan sebungkus obat dari saku baju sebelah dalam. Dia
menggunakan obat itu pada luka dan membalut luka dengan sehelai sapu tangan bersih.
"... jangan bunuh dia... Sukouw..."
Hati Cui Sian tertegun. Apa maksud Swan Bu? Tidak boleh membunuh Siu Bi? Gadis itu sudah
membuntungi lengannya dan pemuda ini masih minta supaya dia jangan dibunuh? Atau mungkinkah bukan
Siu Bi yang dimaksudkan? Swan Bu sedang terserang demam panas dan biasanya dalam keadaan begini,
orang suka mengigau.
"Swan Bu, siapa yang kau maksudkan? Jangan bunuh siapa?"
"Siu Bi... di mana kau..., ahh, Siu Bi, sudah puaskah hatimu sekarang? Alangkah cantik engkau... cantik,
liar dan ganas..."
Cui Sian merasa jantungnya tertusuk.
Ah, tidak salah lagi, ada terselip sesuatu antara dua orang muda ini, pikirnya. Celaka, Siu Bi gadis liar dari
Go-bi-san itu tidak hanya menimbulkan bencana karena kekejiannya, akan tetapi juga karena
kecantikannya. Teringat ia akan Yo Wan, dan hatinya menjadi panas. Dia tahu bahwa Swan Bu dalam
keadaan setengah sadar, akan tetapi saking panasnya hati, ia menjawab,
"Jangan pedulikan dia lagi, Swan Bu."
Akan tetapi Swan Bu tentu saja tidak mendengar karena ia kembali mengigau perlahan, tubuhnya panas
sekali.
"Sian-moi...!"
Panggilan ini mengagetkan Cui Sian. Cepat ia melompat sambil membalikkan tubuhnya. Seketika
wajahnya menjadi merah dan jantung di dadanya berdebar tidak karuan ketika matanya mendapat
kenyataan bahwa ia tadi tidak keliru mengenal suara itu, suara Yo Wan!
Akan tetapi kegembiraan hatinya itu ternoda kekecewaan ketika dilihatnya kedatangan pemuda itu
bersama seorang dara remaja yang cantik jelita.
"Yo-twako, kebetulan kau datang...," katanya halus.
Akan tetapi Yo Wan sudah melompat ke dekat Swan Bu, memandang dengan mata terbelalak. "Dia ini...
bukankah dia sute Kwa Swan Bu?"
Cui Sian mengangguk dan Yo Wan sudah berlutut di dekat tubuh Swan Bu, memandang lengannya yang
buntung. Ada pun Lee Si begitu melihat lengan Swan Bu yang kiri buntung, hampir saja ia terguling
pingsan. Matanya serasa kabur, kepalanya nanar, bumi yang dipijaknya serasa berputaran. Cepat ia
menahan pekik yang hendak meluncur dari mulutnya sehingga hanya terdengar seperti orang mengeluh
dan ia pun berlutut di dekat Yo Wan.
"Oh... ahhh..." hanya inilah yang keluar dari mulutnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sedangkan Yo Wan cepat memeriksa tubuh Swan Bu. Seperti juga Cui Sian tadi, dia merasa lega bahwa
Swan Bu tidak menderita luka lain yang berbahaya.
"Sian-moi, siapa yang membuntungi?" Ia menahan kata-katanya dan jantungnya serasa berhenti berdetak
ketika Yo Wan teringat akan Siu Bi. Siapa lagi kalau bukan Siu Bi?
"Itulah orangnya!" kata Cui Sian menuding ke arah Siu Bi yang rebah miring tak jauh dari situ.
Dua orang muda yang baru datang ini tadi tidak melihat Siu Bi dan sekarang mereka menoleh. Lee Si
sudah meloncat sambil mengeluarkan seruan marah. Sedangkan Yo Wan hanya memandang dengan
muka berubah agak pucat.
Dengan kemarahan meluap-luap Lee Si menyambar tubuh Siu Bi, dijambak rambutnya dan ditariknya
berdiri.
"Plak-plak!"
Dua kali tangan kirinya menampar, dan tanda jari-jari merah menghias kedua pipi Siu Bi yang tersenyumsenyum
mengejek.
"Hi-hik-hik, perempuan tak tahu malu. Beraninya kalau aku sudah tidak berdaya. Hayo bebaskan totokan
ini dan lawan aku secara orang gagah!"
Akan tetapi Lee Si tidak mempedulikan omongannya, malah dia menarik lepas rambut kepala Siu Bi dan
menggantungkan Siu Bi pada cabang pohon, mengikatkan rambutnya yang panjang pada cabang pohon
itu. Cabang itu rendah saja sehingga kedua kaki Siu Bi tergantung hanya belasan senti meter dari tanah.
"Siapakah gadis itu?" Cui Sian bertanya kepada Yo Wan yang masih saja memandang dengan mata
terbelalak dan muka agak pucat.
"Dia Lee Si, puteri kakakmu Tan Kong Bu...," jawab Yo Wan, suaranya menggetar dan lemah.
Karena keadaan tegang, Cui Sian tidak memperhatikan hal ini dan ia pun memandang. Kiranya gadis
remaja itu adalah keponakannya sendiri!
"Iblis betina jahat! Hayo kau ceritakan mengenai fitnah keji yang kalian rencanakan, tipu muslihat rendah
yang kalian jalankan untuk merusak nama baik Swan Bu dan aku!"
"Tipu muslihat yang mana? Berlaku galak terhadapku setelah aku berada dalam keadaan tertotok, barulah
dapat disebut tipu muslihat! Aku tidak biasa melakukan fitnah dan tipu muslihat!" Siu Bi menjawab
seenaknya, sepasang matanya yang bening itu memandang penuh ejekan kepada Lee Si.
"Plak! Plak!" kembali tangan Lee Si menampar kedua pipi Siu Bi.
"Kalau kau tidak mau mengaku, akan kusiksa sampai mampus!" Lee Si melompat dan mematahkan
sebatang ranting pohon. "Hayo kau mengakulah bahwa Ang-hwa-pai telah mengatur siasat untuk
mengelabui mata ayahku agar ayahku mengira Swan Bu dan aku sudah melakukan perbuatan hina!"
"Hi-hi-hik, kaulah yang ingin melakukan perbuatan hina. Swan Bu mana mau? Hi-hi-hik, tak tahu malu!"
kembali Siu Bi mengejek, diam-diam hatinya panas dan penuh cemburu.
la mencinta Swan Bu, mencinta dengan seluruh jiwa raganya, hal ini amat terasa olehnya setelah ia
membuntungi lengan pemuda itu. Karena itu, teringat bahwa gadis ini pernah berdekatan dengan Swan Bu,
hatinya penuh cemburu.
Mendengar ejekan Siu Bi, Lee Si benar-benar makin marah. Ranting pohon di tangannya lantas
menyambar dan mencambuki muka, leher dan tubuh Siu Bi yang tetap tersenyum-senyum dan memakimaki.
Biar pun dalam keadaan marah, Lee Si masih teringat untuk menahan diri sehingga pukulanpukulannya
dengan ranting pohon itu tidak akan sampai menewaskan Siu Bi.
"Apakah yang dia maksudkan?" kembali terdengar Cui Sian bertanya kepada Yo Wan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Wan menarik nafas panjang. Hatinya tidak karuan rasanya melihat keadaan Siu Bi demikian itu. Akan
tetapi kalau teringat betapa lengan Swan Bu dibuntungi, dia sendiri pun menjadi sakit hati dan marah.
Maka biar pun di lubuk hatinya dia merasa tidak tega melihat Siu Bi dicambuki seperti itu, namun dia tidak
mau mencegah Lee Si. la pun maklum akan keadaan perasaan hati Lee Si yang penuh dendam karena
merasa pernah dihina dan dipermainkan Ang-hwa-pai, di mana Siu Bi juga menjadi anak buah atau kawan.
"Lee Si bersama Swan Bu pernah tertawan oleh Ang-hwa-pai yang menotok mereka dan menggunakan
mereka untuk mengadu domba." Dengan singkat dia lalu menuturkan apa yang dia dengar dari Lee Si dan
muka Cui Sian menjadi merah sekali.
"Hemmm, keji sekali. Gadis liar ini memang patut dihajar. Kalau saja aku tidak ingat dia dahulu pernah
menolongku, tadi pun aku sudah membunuhnya. Sekarang Lee Si yang memuaskan dendamnya, biarlah."
Mereka berhenti bicara dan kembali memperhatikan Lee Si yang masih memaksa Siu Bi mengakui tipu
muslihat keji dari Ang-hwa-pai. Muka dan leher Siu Bi telah penuh dengan jalur-jalur merah bekas sabetan,
juga bajunya sudah robek sana-sini dan kulit tubuhnya matang biru.
"Kau masih tak mau mengaku? Keparat, apakah kau benar-benar ingin mampus?" Lee Si membanting
ranting pohon yang sudah setengah hancur, lalu menginjak-injak ranting ini.
Sebagai puteri dari ayah bunda yang keras hati, tentu saja Lee Si memiliki dasar watak berangasan dan
keras pula, walau pun gemblengan ayah bundanya membuat ia jarang sekali meluapkan kekerasannya
dan menutupinya dengan sikap yang tenang, sabar dan halus budi.
Tiba-tiba Siu Bi tertawa, suara ketawanya nyaring dan bening, sangat mengejutkan dan mengherankan hati
Cui Sian serta Yo Wan. Dua orang ini diam-diam harus mengagumi ketabahan gadis liar itu, yang dalam
keadaan tertawan dan tersiksa masih dapat tertawa seperti itu, tanda dari hati yang benar-benar tabah dan
tidak kenal takut.
"Hi-hi-hik-hik, Lee Si, kau sungguh lucu! Kau tahu bukan aku orangnya yang melakukan segala tipu
muslihat curang, akan tetapi kau terus memaksa-maksa aku mengaku. Apa kau kira aku tidak mengerti isi
hatimu yang tak tahu malu? Hi-hi-hik, kau marah-marah dan benci kepadaku karena aku membuntungi
lengan Swan Bu, betul tidak? Ihhh, tak usah kau pura-pura membelanya, kau bisa dekat dengannya hanya
karena diusahakan orang. Tetapi dia cinta padaku, dengarkah kau? Dia cinta padaku, ahhh... dan aku cinta
padanya..." Suara ketawa tadi kini terganti isak tertahan.
Wajah Lee Si sebentar pucat sebentar merah. Mendadak dia mencabut pedangnya dan membentak,
"Perempuan rendah, perempuan hina, kau memang harus mampus!" lantas pedangnya diangkat dan
dibacokkan ke arah leher Siu Bi.
"Tranggg...!"
Lee Si menjerit dan cepat meloncat ke kiri karena pedangnya telah tertangkis dan hampir saja terlepas dari
tangannya. la memandang heran kepada Yo Wan dan sempat melihat pemuda itu menyimpan pedang
dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, hampir tidak tampak.
"Yo-twako... kenapa kau...?”
"Adik Lee Si, sabarlah. Tidak baik membunuh lawan dengan darah dingin secara begitu, apa lagi dia sudah
tertawan dan tadi kau sudah lepaskan amarahmu kepadanya. Siu Bi, kau tutuplah mulutmu, jangan
menghina orang."
"Hi-hi-hik, kau Jaka Lola, Yo Wan yang berhati lemah. Alangkah lucunya! Setiap bertemu gadis cantik kau
menjadi pelindung, laki-laki macam apa kau? Hayo kau bunuh aku kalau memang jantan!"
Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya. "Sayang kau terjerumus begini dalam, Siu Bi, sungguh sayang...!
Aku takkan membunuhmu, kau boleh pergi dan jangan mengganggu kami lagi..." Yo Wan melangkah maju,
tangannya meraih hendak membebaskan Siu Bi dari cabang pohon.
"Yo-twako, tahan dulu...!" Tiba-tiba Cui Sian melangkah mendekat. "Apakah kau hendak membebaskannya
dunia-kangouw.blogspot.com
begitu saja? Itu tidak adil namanya!"
Yo Wan menoleh dan alangkah herannya melihat sinar mata gadis cantik ini luar biasa tajam
menentangnya, seolah-olah sinar mata itu mengandung hawa amarah kepadanya. la benar-benar tidak
mengerti, dengan pandang matanya dia berusaha menyelidik isi hati Cui Sian dan tiba-tiba wajah Yo Wan
berseri.
Mungkinkah ini? Mungkinkah Cui Sian merasa cemburu kepada Siu Bi? Ahh, alangkah sulit dipercaya. Tak
mungkin matahari terbit dari barat, tak mungkin puteri Raja Pedang... cemburu dan marah melihat dia
membebaskan Siu Bi yang dapat dianggap tanda cinta kasih.
Sepasang pipi halus itu tiba menjadi merah. Cui Sian nampak gugup ketika melanjutkan kata-katanya
setelah beradu pandang tadi. "Dia... dia telah membuntungi lengan tangan Swan Bu! Sebaiknya kita
serahkan kepada Swan Bu sendiri bagaimana keputusannya terhadap gadis liar itu. Bukankah kau pikir
begitu seadilnya, Twako?"
Yo Wan mengangguk-angguk, mengerutkan alisnya yang hitam. "Betapa pun juga, kalau Sute kehilangan
lengannya dalam sebuah pertempuran, aku akan menasehatinya agar jangan dia membalas secara begini.
Bukan perbuatan gagah."
Terdengar Swan Bu mengerang dan mereka bertiga segera menghampiri pemuda itu. Girang hati mereka
karena kini tubuh Swan Bu tidak begitu panas lagi dan pemuda itu sudah siuman, menyeringai kesakitan
ketika menggunakan lengan kiri untuk menunjang tubuhnya.
"Auhhh... hemmm, bibi Cui Sian, dan..." wajahnya menjadi merah sekali. "...dan kau, Lee Si Moimoi..." la
tertegun menatap wajah Yo Wan yang berdiri dan tersenyum kepadanya. Sampai lama mereka
berpandangan, kemudian Swan Bu melompat berdiri.
"Kau... kau...?"
Yo Wan mengangguk-angguk dan tersenyum, hatinya terharu. "Sute..."
"Kau Yo Wan... ehh, Yo-suheng!" Dan keduanya berangkulan.
Pada waktu mereka berangkulan itu, Swan Bu langsung melihat ke arah Siu Bi yang tergantung di cabang
pohon, yang kebetulan berada di sebelah belakang Yo Wan.
"Ehh... dia... dia kenapa...?" berkata gagap sambil merenggut diri dari rangkulan Yo Wan.
"Aku tadi telah menangkapnya, Swan Bu, dan kami menanti keputusanmu. Setelah dia membuntungi
lenganmu dan dia sekarang sudah tertawan, apa yang akan kita lakukan kepadanya?" kata Cui Sian.
Swan Bu melangkah maju tiga tindak seperti gerakan orang linglung, matanya menatap tajam kepada Siu
Bi. Tanpa bertanya dia maklum apa yang telah terjadi, melihat muka dan leher gadis itu penuh dengan
jalur-jalur merah, rambutnya terlepas dan diikatkan di cabang pohon, pakaiannya robek-robek bekas
cambukan.
Hatinya trenyuh, ingin dia lari memeluknya, cinta kasihnya tercurah penuh kepada gadis itu. Akan tetapi dia
teringat akan kehadiran Lee Si, Cui Sian, dan juga Yo Wan. Suatu ketidak mungkinan besar bila dia
memperlihatkan cinta kasih kepada gadis musuh besar yang baru saja membuntungi lengannya! Tak
mungkin!
"Swan Bu," kata Cui Sian melihat sikap pemuda itu seperti orang linglung yang ia kira tentu karena demam,
”katakan, apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Lenganmu ia bikin buntung secara bagaimana? Kalau
dia berlaku curang, sepatutnya bila ia dihukum dan..."
"Tidak, Bibi, bebaskan dia! Aku terbuntung dalam pertempuran. Bebaskan dia, aku tidak ingin melihatnya
lebih lama lagi!"
Yo Wan yang memang mengharapkan Siu Bi dibebaskan, segera bergerak dan dalam waktu beberapa
detik saja, rambut itu sudah terlepas dari cabang, dan jalan darah Siu Bi sudah normal kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siu Bi membiarkan rambutnya terurai, dan berdiri seperti patung, menatap wajah Swan Bu. Air matanya
menitik turun berbutir-butir, tapi bibirnya tersenyum,
"Swan Bu, selamanya aku akan menantimu..." Setelah berkata demikian, gadis itu lalu membalikkan
tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, tidak lupa menyambar pedang Cui-beng-kiam yang
menggeletak di situ.
"Ahhh...!" Swan Bu mengeluh dan dia tentu akan terguling kalau saja Cui Sian tidak cepat menangkapnya.
Ternyata Swan Bu sudah pingsan kembali!
Cui Sian dan Lee Si mengira bahwa keadaan pemuda ini karena demam dan lukanya. Akan tetapi diamdiam
Yo Wan mengeluh dalam hatinya. Dia dapat menduga sedalam-dalamnya.
Tidak mungkin seorang gadis seperti Siu Bi dapat mengalahkan Swan Bu dalam sebuah pertempuran, apa
lagi membuntungi lengannya. Akan tetapi, Swan Bu sengaja mengaku bahwa lengannya buntung dalam
pertempuran! Ini saja sudah membuka rahasia bahwa Swan Bu jatuh cinta kepada Siu Bi.
"Hemmm, seyogyanya gadis liar seperti itu tidak boleh dibebaskan...," Cui Sian berkata sambil menidurkan
Swan Bu ke atas tanah.
"Sian-moi, tadi kau dengar sendiri Swan Bu menghendaki demikian dan kurasa sekarang yang terpenting
bukan hal itu. Aku dan adik Lee Si sudah naik ke Liong-thouw-san, akan tetapi suhu dan subo ternyata
tidak berada di sana, agaknya baru beberapa hari pergi meninggalkan puncak, tidak tahu ke mana mereka
itu pergi. Urusan yang menyangkut nama baik adik Lee Si dan sute bukan hal main-main, kurasa
kemarahan Tan Kong Bu Lo-enghiong takkan mudah dipadamkan jika tak ada bukti yang membuka
rahasia fitnah dan tipu muslihat kaum Ang-hwa-pai. Karena itu, harap Sian-moi suka merawat Swan Bu
dan sekarang juga aku akan mengantarkan adik Lee Si ke Kong-goan, hendak kucoba mencari Ang-hwa
Nio-nio dan menundukkannya, memaksanya untuk membuka rahasia itu, jika mungkin di depan Tanloenghiong
sendiri, atau setidaknya di depan orang-orang tua kita."
Cui Sian mengangguk-angguk sambil mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang melengkung
indah. "Aku tahu watak Kong Bu koko sangat keras. Kata ayah seperti baja. Akan tetapi dia juga tidak
dapat disalahkan jika sekarang marah-marah karena apa yang dilihatnya memang merupakan penghinaan
yang tiada taranya bagi seorang gagah."
"Itulah yang amat menggelisahkan hatiku, Bibi." kata Lee Si. "Pada waktu itu aku berada dalam keadaan
tertotok, tak dapat bergerak, sudah kucoba memanggil ayah, akan tetapi dia terlalu marah dan musuh yang
menjalankan tipu muslihat terlampau pandai. Memang nasibku yang buruk..."
Lee Si menangis dan tak seorang pun tahu bahwa tangisnya ini sebagian besar karena menyaksikan sikap
Siu Bi tadi. Terutama sekali karena Swan Bu malah membebaskan dan seakan-akan mengampuni gadis
yang telah membuntungi lengannya!
"Sudah, tenanglah, Lee Si. Dengan didampingi twako yang akan mengurus penjernihan persoalan ini,
kurasa segalanya akan berhasil baik."
"Sian-moi, kau lebih mengerti mengenai pengobatan dari pada aku, kalau tidak demikian agaknya akulah
yang seharusnya merawat sute dan kau menemani adik Lee Si. Akan tetapi sungguh aku tidak mengerti
bagaimana harus merawatnya sampai sembuh, kalau salah perawatan bisa berbahaya..."
"Tidak apa, Yo-twako. Sudah sepatutnya aku merawat Swan Bu. Kau berangkatlah."
Yo Wan sebetulnya merasa berat untuk segera berpisah setelah pertemuan yang tidak terduga-duga ini.
Akan tetapi tugas lebih penting dari pada perasaan pribadi, maka dia pun lalu berangkatlah bersama Lee
Si.
Dengan gadis ini di sampingnya, tentu saja perjalanan tak dapat dilakukan secepat bila dia pergi seorang
diri. Baiknya Lee Si bukan gadis lemah, dan ilmu lari cepatnya boleh juga sehingga tidaklah akan terlalu
lambat.
Tidak demikian dengan Cui Sian. Setelah Swan Bu siuman kembali, ia segera mengajak pemuda ini
melakukan perjalanan perlahan dan lambat, mencari sebuah dusun atau kota di mana mereka akan dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
beristirahat dan ia dapat mencarikan ramuan obat untuk pemuda itu.
Swan Bu jarang bicara, kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan Cui Sian. Pemuda ini kelihatan
termenung, akan tetapi sama sekali tidak memikirkan lengannya yang buntung. Untuk kedua kalinya, Cui
Sian mendengar cerita seperti yang ia dengar dari penuturan Yo Wan, yaitu tentang tipu muslihat dan
fitnah yang dilakukan oleh Ang-hwa-pai di kota Kong-goan.
"Kong Bu koko tentu marah sekali. Dia terlalu polos untuk dapat menduga bahwa semua itu hanya fitnah
yang sengaja diatur dan direncanakan oleh musuh." Cui Sian menarik nafas panjang.
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan perlahan-lahan, keluar dari dalam hutan setelah melakukan
perjalanan sepekan lamanya. Selama itu, mereka hanya melalui gunung dan hutan, tidak pernah melihat
dusun. Atas kehendak Swan Bu, walau pun lambat, mereka melakukan perjalanan menuju ke Kong-goan
menyusul Yo Wan dan Lee Si.
"Itulah yang menggelisahkan hatlku, Sukouw. Paman Kong Bu pasti akan marah sekali, dan mendengar
suaranya pada saat itu, aku yakin bahwa dia tidak akan ragu-ragu untuk melaksanakan ancamannya, yaitu
membunuhku. Kalau sampai aku bertemu dengan dia dan paman Kong Bu bersikeras hendak
membunuhku, bagaimana aku berani melawan dia? Aku cukup maklum betapa pedihnya urusan ini
baginya... dan aku tidak tahu bagai mana harus mengatasinya."
“Jangan khawatir. Kurasa betul Yo-twako, bahwa jalan satu-satunya hanya memaksa mereka yang
melakukan fitnah untuk mengaku di depan Kong Bu koko, dan aku percaya betul Yo-twako akan dapat
membereskan hal ini."
Biar pun keadaannya seperti itu, diam-diam Swan Bu tersenyum dan mengerling ke arah wajah gadis di
sampingnya itu. "Sukouw, hebat betulkah kepandaian Yo-suheng? Dulu ketika aku masih kecil, dia sudah
amat hebat akan tetapi jika aku ingat betapa dulu aku pernah memanahnya, ahhh... dan sekarang dia matimatian
hendak membela namaku, sungguh aku merasa malu!"
"Kau... memanahnya?"
Swan Bu tersenyum masam. "Aku masih kanak-kanak dan sangat manja, kurasa tidak ada orang yang
dapat melawanku ketika itu."
la lalu menceritakan kejadian pada waktu dia masih anak-anak dan dengan orang tuanya berada di puncak
Hoa-san. Lalu datang ketua Sin-tung Kaipang yang hendak mencari perkara, dan muncullah Yo Wan yang
biar pun sudah terpanah pundaknya oleh Swan Bu, namun masih berhasil mengusir semua musuh.
Cui Sian kagum bukan main dan semakin besarlah perasaan mesra terhadap Yo Wan bersemi di hatinya.
"Hebat dia," katanya tanpa menyembunyikan perasaannya, "dan dia sama sekali tidak marah ketika itu!
Sekarang pun dia sama sekali tidak menaruh dendam, malah berusaha untuk membersihkan namamu.
Swan Bu, aku percaya, seorang gagah seperti dia pasti akan mampu membereskan urusanmu ini."
"Mudah-mudahan, Sukouw. Akan tetapi, apakah paman Kong Bu mau menerima begitu saja, entahlah.
Keadaan adik Lee Si ketika itu memang... memang... ahhh, kasihan dia, tentu saja sebagai seorang gadis
terhormat ia merasa amat terhina."
Cui Sian termenung, lalu tiba-tiba ia berkata, "Memang sukar menghapus luka itu, baik dari hati Lee Si mau
pun dan hati Kong Bu koko, kehormatan mereka tersinggung hebat dan kiranya hanya ada satu jalan untuk
menebusnya Swan Bu."
"Jalan apakah itu, Sukouw?"
"Tiada lain, kau menikah dengan Lee Si!"
Wajah pemuda itu seketika menjadi merah sekali, dan dia kaget bukan main.
"Tidak... tidak mungkin..."
Cui Sian sudah berhenti melangkah dan sekarang mereka berdiri berhadapan. Swan Bu menundukkan
dunia-kangouw.blogspot.com
mukanya.
"Swan Bu, aku tahu bahwa kau mencinta Siu Bi, bukan?" Suaranya amat tajam, seperti juga pandang
matanya.
Swan Bu mengangkat muka, tak tahan melihat pandang mata tajam penuh selidik itu dan dia menunduk
kembali, hatinya risau. Ingin mulutnya membantah, akan tetapi tak dapat dia mengeluarkan kata-kata
karena tahu bahwa apa bila dia memaksa bicara, suaranya akan sumbang dan gemetar, juga akan
bohong, tidak sesuai dengan suara hatinya.
"Swan Bu, aku tak akan menyalahkan orang mencinta, sungguh pun harus diakui bahwa cintamu tidak
mendapatkan sasaran yang benar kalau kau memilih Siu Bi. Dia seorang gadis liar yang rusak oleh
pendidikan keliru, dan dia sudah membuntungi lenganmu!"
Dengan suara datar dan lirih Swan Bu berkata, "Dia hanya memenuhi sumpahnya untuk membalas
dendam kakeknya."
Cui San menarik nafas panjang. "Betapa pun juga, dunia kang-ouw akan mentertawakan engkau kalau kau
memilih Siu Bi, dan hal ini akan berarti merendahkan derajat orang tuamu. Dengan mengawini Lee Si, tidak
saja kekeluargaan akan menjadi semakin erat, juga kau membersihkan nama Kong Bu koko, orang tuamu
tentu bangga, orang tua Lee Si bangga, dan segalanya berjalan baik serta semua orang menjadi puas.
Swan Bu, seorang satria sanggup mengorbankan apa saja demi untuk kehormatan keluarga dan demi
membahagiakan semua orang. Lee Si adalah seorang dara yang cantik jelita, dan kiraku tidak kalah oleh
Siu Bi, juga dalam ilmu kepandaian, kurasa tidak kalah jauh. Aku bersedia menjadi perantara karena aku
adalah bibi dari Lee Si."
Swan Bu terdesak hebat oleh kata-kata Cui Sian yang memang tepat. "Baiklah hal itu kita bicarakan lagi
kelak, Sukouw. Kalau memang tak ada jalan lain, aku tidak merasa terlalu tinggi untuk menjadi suaminya,
apa lagi... apa lagi melihat lenganku yang telah buntung. Apakah adik Lee Si tidak jijik melihat seorang
yang cacat seperti aku?"
Sebelum Cui Sian sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi. Suara itu terdengar
lapat-lapat dari tempat jauh.
"Ada pertempuran di sana!" kata Cui Sian. "Biar kulihat!" la segera melesat dengan cepat sekali, berlari ke
arah suara tadi.
Swan Bu yang sudah agak mendingan, berlari mengejar. Akan tetapi karena dia belum berani
mengerahkan ginkang, dia berlari biasa dan tertinggal jauh. Suara melengking tadi sudah tak terdengar
lagi, maka Swan Bu hanya berlari ke arah menghilangnya bayangan Cui Sian yang memasuki sebuah
hutan kecil.
Beberapa menit kemudian, dia tiba di sebuah lapangan rumput dan alangkah kagetnya ketika dia melihat
Cui Sian berlutut sambil menangisi tubuh seorang laki-laki yang rebah tak bergerak, sebatang pedang
terhujam di dadanya sampai tiga perempat bagian. Jelas bahwa laki-laki itu sudah tewas, terlentang dan
mukanya tertutup tubuh Cui Sian yang berguncang-guncang menangis. Hati Swan Bu berdebar tidak
karuan, dia mempercepat larinya mendekati.
"Paman Kong Bu...!" Swan Bu berseru keras dan cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat Cui Sian.
"Sukouw, apa yang terjadi...?"
Dengan suara mengandung isak, Cui Sian menjawab, "Aku tidak tahu... tadi aku datang terlambat, dia
sudah menggeletak seperti ini... tidak tampak orang lain... ah, koko... tidak dinyana begini nasibmu..."
Tiba-tiba Swan Bu menjerit kemudian melompat bangun. Cui Sian kaget dan cepat-cepat memandang. la
melihat pemuda itu berdiri dengan muka pucat, mata terbelalak lebar dan tangan kanannya menutupi
depan mulut, akan tetapi tetap saja mulutnya mengeluarkan kata-kata terputus-putus, "... tak mungkin ini...
tak mungkin... pedang... Kim-seng-kiam..."
Cui Sian mengerutkan kening dan memandang ke arah pedang yang menancap di dada kakaknya. Pada
gagang pedang itu tampak ukiran sebuah bintang emas, agaknya sebab itulah maka namanya Kim-sengkiam
(Pedang Bintang Emas).
dunia-kangouw.blogspot.com
"Swan Bu, kau mengenal pedang itu, pedang siapakah?" tanyanya, suaranya kereng dan sekarang
tangisnya sudah terusir pergi, yang ada hanya kepahitan dan rasa penasaran terbungkus kemarahan.
"Kim-seng-kiam... pedang ibuku..., tapi tak mungkin ibu..."
Dagu yang manis runcing itu mengeras, sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar berapi. "Hemm,
hemm, apanya tidak mungkin? Kakakku menemui ayah bundamu, minta pertanggungan jawab, salah
paham dan bercekcok terus bertanding, kakakku mana bisa menangkan ayah bundamu? Hemmm,
hemmm betapa pun juga, aku adiknya hendak mencoba-coba, mereka tentu belum pergi jauh!” Setelah
berkata demikian, Cui Sian lalu berkelebat pergi sambil menghunus pedangnya.
"Sukouw...!" Akan tetapi Cui Sian tidak menjawab.
"Sukouw, tunggu dulu! Tak mungkin ibu..." Akan tetapi kini Cui Sian sudah lenyap dari pandang matanya.
Swan Bu sendiri dengan hati berdebar-debar terpaksa harus mengaku bahwa dia sendiri kini merasa raguragu,
apakah benar ibunya tidak mungkin melakukan pembunuhan ini? Ibunya penyabar, akan tetapi jika
paman Kong Bu memaki-maki sesuai dengan wataknya yang keras dan kasar, tentu ibunya akan marah
pula, mereka bertempur memperebutkan kebenaran anak masing-masing dan... ahhh, mungkin saja
berakibat begini.
"Ah, paman Kong Bu, mengapa begini...?" la memeluk tubuh yang sudah menjadi mayat itu dan menangis
saking bingungnya.
Kemudian, sambil menekan kedukaan hati, Swan Bu mengerahkan seluruh tenaganya, sedapatnya dia
menggali lubang mempergunakan pedang Kim-seng-kiam yang ia cabut dari dada jenazah pamannya.
Kemudian, sesudah bekerja setengah hari dengan susah payah, dia berhasil mengubur jenazah itu yang
dia beri tanda tiga buah batu besar di depannya.
Dan akhirnya, dengan tubuh lelah dan hati hancur, pemuda ini menyeret kedua kakinya berjalan terhuyunghuyung.
Pedang Kim-seng-kiam masih di tangannya…..
********************
Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, menuruni Liong-thouw-san dengan hati gelisah. Mereka
melakukan perjalanan cepat, akan tetapi karena perjalanan itu amat jauh dan mereka di sepanjang jalan
mencari keterangan tentang putera mereka, maka lama juga baru mereka sampai di luar kota Kong-goan.
Kota itu kira-kira berada dalam jarak lima puluh li lagi saja, dan karena hari amat panas, maka keduanya
beristirahat dalam hutan pohon liu yang indah dan sejuk hawanya. Kun Hong bersandar pada sebatang
pohon. Hatinya yang risau oleh urusan puteranya itu dia tekan dengan duduk bersiulian menghilangkan
segala macam pikiran keruh.
Hui Kauw tak pernah dapat melupakan puteranya semenjak mereka turun gunung, dan pada saat itu ia pun
duduk termenung dalam bayangan pohon. Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan memandang ke depan. Dari
depan ada orang datang, seorang wanita muda yang jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Hui Kauw tertarik sekali. Ia menahan seruannya ketika melihat gadis itu terguling! Cepat Hui Kauw
melompat-lompat ke arah gadis itu dan kembali ia menahan seruannya.
Gadis ini masih muda, lagi cantik jelita. Akan tetapi muka dan lehernya penuh jalur-jalur bekas cambukan,
pakaiannya banyak yang robek, juga bekas terkena cambuk. Agaknya gadis ini baru saja mengalami
siksaan.
"Kasihan..." Hui Kauw berkata.
Tanpa ragu-ragu dia lalu memondong tubuh itu dan membawanya kembali ke tempat semula. Dia dapat
menduga bahwa gadis ini bukan orang lemah, terbukti dari sebatang pedang yang tergantung di belakang
punggungnya.
"Siapakah dia?" Kun Hong bertanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Entahlah, seorang wanita muda, tubuhnya penuh luka bekas cambukan, dia pingsan," jawab Hui Kauw.
Tanpa diminta Kun Hong menjulurkan tangan meraba dahi, pundak, dan pergelangan tangan.
"Luka-lukanya tidak ada artinya, hanya luka kulit, akan tetapi dia terserang hawa nafsu kemarahan dan
kedukaan sehingga mempengaruhi limpa dan hati, membuat hawa Im dan Yang di dalam tubuh tidak
berimbang, hawa Im membanjir. Karena itu, kau bantulah dengan Yang-kang pada punggungnya."
Hui Kauw sebagai isteri Pendekar Buta tentu saja sedikit banyak sudah tahu akan ilmu pengobatan dan
sudah biasa dia membantu suaminya. Mendengar ini, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menempelkan telapak
tangan kanan di punggung gadis itu dan mengerahkan Yang-kang disalurkan ke dalam tubuh si sakit
melalui punggungnya.
Tepat cara pengobatan ini. Tak sampai seperempat jam, gadis itu sudah siuman kembali dan jalan
pernafasannya tidak memburu seperti tadi, malah akhirnya ia membuka kedua matanya, menggerakkan
kepala memandang ke kanan kiri.
"Tenang dan kau berbaring saja, Nak. Biar kuobati luka-lukamu," kata Hui Kauw sambil mengeluarkan
sebungkus obat bubuk.
Gadis itu meringis kesakitan, akan tetapi membiarkan Hui Kauw mengobatinya.
"Mula-mula memang perih rasanya, akan tetapi sebentar pun akan sembuh," kata Hui Kauw. Memang
ucapannya ini betul karena hanya sebentar gadis itu merintih, kemudian kelihatan tenang.
"Terima kasih, cukuplah. Kau baik sekali, Bibi..." Gadis itu bangkit duduk dan pada waktu dia menoleh ke
kiri memandang Kun Hong, wajahnya berubah dan dia nampak kaget.
"Siapa dia...?"
Hui Kauw tersenyum. "Jangan khawatir, dia itu hanya suamiku. Kau kenapakah, tubuhmu bekas dicambuki
dan kau kelihatan berduka, marah, dan mudah kaget. Siapakah kau?"
Gadis itu menengok ke kanan kiri seakan-akan ada yang dicari dan ditakuti, kemudian ia berkata, "Aku
belum tahu siapakah kalian ini, bagaimana aku berani bicara mengenai diriku?"
Kembali Hui Kauw tersenyum, dia sama sekali tidak marah melihat kecurigaan gadis itu. Agaknya gadis ini
telah banyak menderita dan menjadi korban kejahatan hingga mudah menaruh curiga terhadap orang lain.
"Jangan khawatir, anak manis. Kami bukanlah orang jahat, dia itu suamiku bernama Kwa Kun Hong dan
aku isterinya... he, kenapa kau...?" Hui Kauw terheran-heran melihat gadis itu melompat dan mukanya
pucat.
"Aku... aku takut kalau... kalau mereka mengejar..."
"Jangan takut, apa bila ada orang jahat mengganggumu, kami akan membantumu," Kun Hong berkata,
suaranya halus, tetapi diam-diam hatinya menduga-duga. "Kau siapakah dan siapa pula mereka yang
mengancam keselamatanmu?"
Gadis itu duduk kembali, memandang bergantian kepada Kun Hong dan isterinya. "Aku Ciu Kim Hoa, dan
mereka itu musuh-musuhku."
"Siapa mereka dan apakah yang terjadi? Mengapa kau bermusuhan dengan mereka?" tanya Hui Kauw.
Sekarang gadis itu terlihat tenang. la duduk dan menarik nafas beberapa kali, kemudian ia bercerita,
suaranya perlahan dan agaknya keraguannya lenyap. "Aku seorang yang yatim piatu, hidup sebatang kara.
Keluargaku habis dengan meninggalkan musuh besar, musuh keturunan yang harus kubalas. Aku
mencarinya dan bertemu, tapi... tapi... aku tidak dapat benci kepadanya, betapa pun juga... aku harus
melaksanakan balas dendam. Baru saja berhasil sebagian, aku lalu dikeroyok... dan ditawan, dicambuki
serta disiksa. Akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan lari sampai di sini." Dia menengok lagi ke sana
ke mari, tampak ketakutan. "Aku tahu mereka tentu akan mengejarku, dan aku tidak berani pergi seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
diri..."
Hui Kauw mengerutkan kening. Di dunia ini banyak sekali terjadi permusuhan, banyak terjadi pertandingan
dan darah mengalir, semuanya hanya karena dendam mendendam yang tiada habisnya.
"Kau perlu menenangkan hati dan memulihkan tenaga, Kim Hoa. Biarlah semalam ini kau bersama kami
agar kami dapat mencegah musuh-musuhmu mencelakaimu. Bila sampai besok tidak ada yang
mengejarmu, baru kau melanjutkan perjalanan."
"Terima kasih, Bibi. Kau baik sekali."
Gadis itu masih kelihatan gelisah, akan tetapi ia tidak banyak bicara. Hanya menjawab kalau ditanya, itu
pun singkat saja. la pun tidak menolak ketika Kun Hong dan Hui Kauw memberi roti kering dan minum
kepadanya, dan juga tidak membantah ketika matahari sudah agak menurun, suami isteri itu mengajaknya
melanjutkan perjalanan.
Atas pertanyaan, gadis itu menjawab bahwa hendak pergi ke kota raja di mana katanya berdiam seorang
pamannya. Karena jalan menuju ke kota raja melewati kota Kong-goan, maka Hui Kauw mengajak gadis itu
melakukan perjalanan bersama.
Akan tetapi tentu saja Hui Kauw tak menghendaki gadis ini mengetahui urusan apa yang sedang
diselidikinya di Kong-goan. Oleh karena itu, pada sore harinya ia dan suaminya mengajak gadis itu berhenti
di sebuah gubuk di tengah sawah, di luar kota Kong-goan. Jika besok pagi tidak terjadi sesuatu, ia akan
menyuruh gadis ini melanjutkan perjalanan sendiri.
Malam itu hawanya amat dingin, jauh berbeda dengan siang tadi. Gubuk atau pondok itu adalah pondok
yang didirikan oleh tuan tanah untuk menampung hasil panen tiap tahun, hanya berupa sebuah pondok
bambu yang berlantai batang padi kering. Bagi mereka yang lelah, tempat ini amatlah nyaman untuk
beristirahat melewatkan malam yang dingin. Batang-batang padi kering itu hangat dan empuk, dinding
bambu meski pun reyot dapat menahan sebagian angin yang bertiup dingin.
Kegelisahan hati, kelelahan, ditambah dengan dinginnya hawa membuat Pendekar Buta dan isterinya tidur
nyenyak menjelang tengah malam. Orang yang berhati gelisah, atau susah menjadi lelah sekali, dan
memang sukar tidur, apa bila tidur sudah menguasainya, dia akan nyenyak sekali dan agaknya dalam
ketiduran inilah segala kegelisahan, segala kelelahan, lenyap tanpa bekas.
Suami isteri ini tidur pulas di salah satu sudut pondok bambu. Kun Hong tidur telentang, nafasnya panjangpanjang
berat, sedangkan Hui Kauw tidur miring menghadapi tubuh suaminya, nafasnya halus tidak
terdengar.
"Bibi...!" Hening tiada jawaban.
"Paman...!" Juga kesunyian mengikuti panggilan ini.
Siu Bi bangkit perlahan. Dia tadi rebah di sudut lain, tanpa pernah meramkan matanya. Setelah duduk,
kembali ia memanggil suami isteri itu, menyebut mereka paman dan bibi, malah kali ini suaranya agak
dikeraskan. Akan tetapi sia-sia, tidur mereka agaknya amat nyenyak sehingga tidak mendengar
panggilannya.
la menahan nafas lalu bangkit berdiri dan mengerahkan seluruh tenaga ke arah matanya untuk
memandang. Bulan di luar pondok bersinar cemerlang, cahayanya yang redup dan dingin menerobos di
antara celah-celah atap dan dinding yang tak rapat, memberi sedikit penerangan ke dalam pondok. Siu Bi
dapat melihat suami isteri itu tidur.
Pendekar Buta telentang, isterinya miring menghadapinya. Jantungnya lantas berdebar keras dan tangan
kanannya bergerak meraba gagang pedang. Kesempatan yang amat baik, pikirnya. Kesempatan baik
untuk melaksanakan sumpahnya, menuntaskan dendam kakeknya! Sepasang matanya beringas dan
nafasnya agak terengah.
Mudah sekali. Hanya datu kali bacok selagi mereka tidur nyenyak dan... lengan mereka akan buntung!
Benar-benar suatu hal yang sama sekali tak pernah dia mimpikan bahwa akhirnya dia akan dapat bertemu
dengan musuh-musuh ini dalam keadaan sedemikian menguntungkannya. Agaknya arwah kakeknya
dunia-kangouw.blogspot.com
sendiri yang menuntunnya sehingga dia dapat bertemu dengan mereka, dapat tidur sepondok dan
mendapat kesempatan begini baik.
"Singgg…!" Pedang Cui-beng-kiam telah dicabutnya.
Siu Bi kaget sendiri mendengar suara ini. Cepat-cepat dia memandang ke sudut itu dan telinganya
mendengarkan. Akan tetapi, suami isteri itu tidak bergerak, juga pernafasan mereka masih biasa, tidak
berubah.
Dia berpikir sebentar. Salah, pikirnya dan pedang itu dia masukkan kembali ke sarung pedang. Dia tak
bermaksud membunuh mereka, melainkan membuntungi lengan mereka yang kiri.
Akan tetapi dia teringat bahwa biar pun lengan mereka sudah buntung, agaknya kalau mereka sadar, dia
tidak mungkin dapat menghadapi mereka yang memiliki kesaktian luar biasa. Membuntungi seorang di
antara mereka tentulah menimbulkan pekik dan mereka terbangun, lalu dialah yang akan celaka di tangan
mereka. Tidak, bukan begini caranya! Harus lebih dulu membuat mereka tidak berdaya.
Ada sepuluh menit Siu Bi berdiri termangu-mangu, memeras otak mencari keputusan yang tepat.
Tubuhnya tadi agak menggigil karena tegang, akan tetapi sekarang ia sudah berhasil menekan
perasaannya dan menjadi tenang. la amat memerlukan ketenangan ini, karena apa yang akan ia lakukan
adalah soal mati hidup.
la menghadapi suami isteri yang terkenal sebagai orang-orang sakti di dunia persilatan. Nama Pendekar
Buta menggegerkan dunia kang-ouw, bahkan orang-orang sakti seperti Ang-hwa Nio-mo dan kawankawannya
merasa gentar menghadapi Pendekar Buta dan harus menghimpun banyak tenaga sakti untuk
menghadapinya. Dan sekarang, sekaligus dia menghadapi suami isteri itu dalam keadaan yang amat
menguntungkan!
Siu Bi membiasakan dulu pandang matanya di dalam pondok yang remang-remang itu. Baiknya sinar
bulan makin bercahaya, agaknya angkasanya amat cerah, tidak ada awan menghalangi. Perlahan-lahan
Siu Bi melangkah menghampiri sudut di mana mereka tidur nyenyak.
Dadanya berdebar lagi, terasa amat panas, sukar baginya untuk bernafas. Punggungnya terasa dingin
sekali, akan tetapi sekarang kaki tangannya tak menggigil lagi. la menahan nafas yang disedotnya dalamdalam,
lalu melangkah lagi. Matanya tertuju ke arah Hui Kauw.
Nyonya itu tidurnya miring sehingga memudahkan dirinya untuk menotok jalan darah di punggung yang
akan melumpuhkan kaki tangan. Pendekar Buta tidur telentang, lebih sukar untuk membuatnya tidak
berdaya dengan sekali totokan. Oleh karena inilah maka Siu Bi mengincar punggung Hui Kauw dan maju
makin dekat.
Setelah dekat sekali dan matanya bisa memandang dengan jelas, Siu Bi menahan nafas mengerahkan
tenaga dalam. Tangan kanannya bergerak dan dua buah jari tangannya yang kanan menotok punggung
Hui Kauw. Dia merasa betapa ujung jari-jarinya dengan tepat menemui jalan darah di bawah kulit yang
halus.
Hui Kauw tanpa dapat melawan telah kena ditotok jalan darahnya di punggungnya dan pada detik
berikutnya, Siu Bi sudah menotok jalan darah di leher yang membuat nyonya itu menjadi gagu untuk
sementara. Hui Kauw mencoba untuk menggerakkan tubuh, tapi sia-sia dan tubuhnya yang miring itu
menjadi telentang, matanya terbelalak akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.
Siu Bi yang merasa takut bukan main kalau-kalau Pendekar Buta bangun, cepat-cepat menggerakkan
kedua tangannya menotok kedua jalan darah di pundak kanan kiri, kaget sekali karena ujung jari-jari
tangannya bertemu dengan kulit yang amat lunak, lebih lunak dari pada kulit punggung Hui Kauw tadi.
Pendekar Buta mengeluh dan tubuhnya bergerak miring. Melihat ini, cepat-cepat Siu Bi menotok pada
punggungnya dan... tubuh Pendekar Buta yang sakti itu kini tidak dapat bergerak lagi kaki tangannya,
lumpuh seperti keadaan isterinya! Akan tetapi karena jalan darah pada lehernya tidak tertotok, dia dapat
mengeluarkan suara yang terheran-heran,
"Ehh... ehh... apa-apaan ini? Siapa melakukan ini? Hui Kauw, apa yang terjadi...?" Akan tetapi Hui Kauw
tidak dapat menjawab karena nyonya ini selain lumpuh kaki tangannya, juga tak dapat mengeluarkan
dunia-kangouw.blogspot.com
suara!
Saking tegangnya, Siu Bi terengah-engah dan jatuh terduduk. Dalam melakukan totokan-totokan tadi, dia
sudah mengerahkan tenaga dalamnya, ditambah dengan suasana yang menegangkan urat syaraf, maka
setelah kini berhasil, ia menjadi terengah-engah, lemas tubuhnya dan... ia menangis terisak-isak.
"Ehh, anak baik, Kim Hoa... apa yang terjadi? Mengapa engkau menangis, dan Bibimu kenapa?" Kun Hong
bertanya.
Siu Bi merasa betapa nafasnya sesak dan hawa udara tiba-tiba menjadi panas baginya. Dia melompat
berdiri, kedua tangannya menyambar leher baju dua orang yang sudah lumpuh itu dan diseretnya mereka
keluar pondok!
"Eh-ehh-ehhh, kaukah ini, Kim Hoa? Apa yang kau lakukan ini?"
Siu Bi menyeret mereka keluar dan melepaskan mereka di depan pondok. Dia sendiri berdiri menengadah,
menarik nafas dalam-dalam. Hawa malam yang dingin, angin yang bersilir dan sinar bulan membuat
nafasnya menjadi lega. Dia tidak gelisah lagi.
"Pendekar Buta, ketahuilah, aku yang menotokmu dan menotok isterimu." la tersenyum dan tangannya
bergerak membebaskan totokan pada jalan darah di leher Hui Kauw.
Nyonya ini terbatuk, mengeluh perlahan lalu berseru, "Bocah, kau siapa? Mengapa kau menyerang kami
secara membuta?"
Siu Bi tersenyum lagi. "Dengarlah baik-baik. Namaku Siu Bi dan aku melakukah hal ini karena aku hendak
membalaskan dendam kakekku, Hek Lojin. Pendekar Buta, ingatkah kau ketika kau membuntungi lengan
kakekku? Nah, kini aku akan memenuhi sumpahku, membalas kalian dengan membuntungi lengan kiri
kalian seperti yang dulu kau lakukan terhadap kakek!" Siu Bi mencabut pedangnya.
"Singgg…!"
Lalu ia mendongakkan mukanya ke angkasa berseru perlahan, "Kakek yang baik, kaulah satu-satunya
orang di dunia ini yang menyayangiku... sekarang kau sudah tiada lagi... tapi kesayanganmu tidak sia-sia,
kakek... lihatlah dari sana betapa saat ini cucumu telah melunasi semua hutang, harap kau beristirahat
dengan tenang..."
Setelah berkata demikian dalam keadaan seperti terkena pengaruh gaib atau kemasukan roh jahat yang
berkeliaran di malam terang bulan itu, Siu Bi menggerakkan pedangnya, dibacokkan ke arah lengan kiri
Kun Hong.
"Crakkk!"
Sebuah lengan terbabat putus, darah muncrat-muncrat dan Siu Bi menjerit sambil lompat ke belakang. Di
hadapannya, entah dari mana datangnya, sudah berdiri seorang laki-laki yang buntung lengan kirinya!
"Kakek...!" Siu Bi memekik penuh kengerian, mengira bahwa roh kakeknya yang muncul ini.
Akan tetapi ia melihat betapa lengan kiri yang baru buntung itu masih meneteskan darah segar ada pun di
atas tanah tergeletak buntungan tangan. Pendekar Buta dan isterinya masih rebah terlentang. Siu Bi cepat
mengalihkan pandang matanya yang terbelalak ke arah orang di depannya, wajahnya pucat sekali.
"Siu Bi... anakku..." Orang itu berkata, biar pun lengannya sudah buntung dan wajahnya pucat serta
keringatnya memenuhi muka menahan sakit yang hebat, akan tetapi bibirnya tersenyum. Wajahnya yang
setengah tua dan tatapannya dibayangi kedukaan hebat.
"Kau... kau..." Siu Bi berbisik lirih ketika mengenal bahwa orang itu, orang yang datang menangkis
pedangnya tadi dengan lengan kirinya sehingga bukan lengan Pendekar Buta yang buntung, melainkan
lengannya, adalah The Sun ayah tirinya!
"Aku ayahmu, Siu Bi... lama sekali dan susah payah aku mencarimu..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bukan, kau bukan ayahku! Pergi...!"
The Sun menggeleng kepalanya. "Tidak boleh, Siu Bi, anakku. Kau tak boleh menambah dosa yang sudah
bertumpuk-tumpuk, dosa yang dibuat mendiang kakekmu dan aku..."
"Kau... kau sudah membunuh kakek, kau bukan ayahku... sa... salahmu sendiri... kau menangkis
pedangku..."
"Memang sepatutnya lenganku yang buntung, bukan lengan Kun Hong! Biar pun lengan suhu buntung oleh
pedang Kun Hong, akan tetapi akulah yang berdosa, dan karenanya sudah sepatutnya aku pula yang mesti
menanggung hukumannya. Siu Bi, kau tidak tahu betapa jahatnya kakekmu Hek Lojin, betapa jahatnya
pula aku dahulu. Kakekmu dan aku yang dulu menyerbu dan bermaksud membunuh Pendekar Buta, kami
bersekutu dengan orang-orang jahat di dunia kang-ouw. Kami haus akan kemuliaan, akan kedudukan dan
harta, karena itulah kami memusuhi Pendekar Buta dan Raja Pedang. Akan tetapi kami semua kalah,
kakek gurumu juga kalah, baiknya Pendekar Buta masih menaruh kasihan, hanya membuntungi lengan,
tidak membunuhnya...! Aku bertemu dengan ibumu, ibumu yang mengandungmu karena dipermainkan
majikan-majikannya. Aku membelanya, kami menjadi suami isteri, dan kau... kau anakku juga, Siu Bi. Aku
sudah berusaha menebus dosa, mengasingkan diri di Go-bi-san, siapa kira... penebusan dosa yang siasia,
dirusak kakekmu... dia mendidikmu untuk membalas dendam...,, akhirnya dosaku bertambah, dia
tewas di tanganku... dan kini, Tuhan menghukum hambaNya, kau sendiri membuntungi lenganku. Ahhh,
aku puas... seharusnya beginilah..."
Tiba-tiba Siu Bi menjerit dan menutupi mukanya, menangis terisak-isak. la teringat akan Swan Bu yang
sudah dia buntungi lengannya. Pada saat itu suami isteri yang tadinya rebah lumpuh, bersama-sama
melompat bangun.
“The Sun, hukum karma tak dapat dielakkan oleh siapa pun juga," kata Kun Hong.
The Sun tercengang dan membalikkan tubuhnya. Ada pun Siu Bi menurunkan tangannya dan memandang
bengong.
"Kau... kau... sudah kutotok kalian...," katanya gagap.
Hui Kauw melangkah maju dan…
"Plak! Plak!"
Dua kali kedua pipi Siu Bi ditamparnya, membuat gadis itu terpelanting dan bergulingan beberapa kali.
Ketika ia berhasil melompat bangun, kedua pipinya menjadi bengkak.
"Bocah yang dididik menjadi binatang liar dan sangat keji!" kata nyonya ini, senyumnya mengejek. "Kau
kira akan dapat membikin lumpuh Pendekar Buta? Kalau dia mau, tadi sudah dengan mudahnya
merobohkanmu. Sengaja dia hendak menanti apa yang akan kau lakukan. Pada saat kau membacok tadi,
dia telah siap menangkis dan membuatmu roboh. Kiranya The Sun muncul dan mewakilinya dengan
berkorban lengan. Dia benar, Tuhan menghukum hamba-Nya!"
Siu Bi kaget, malu, menyesal dan segala macam perasaannya bercampur aduk di dalam dadanya. Kembali
ia menjerit lalu ia melarikan diri di malam gelap karena bulan sudah menyembunyikan diri di dalam awan.
"Siu Bi... tunggu...!" The Sun lari mengejar, terhuyung-huyung dan darah berceceran dari lengannya.
Kun Hong memegang tangan isterinya. Memang betul apa yang dikatakan Hui Kauw tadi. Ketika Siu Bi
menotoknya, ia kaget akan tetapi dengan sinkang-nya yang luar biasa, dia dapat memunahkan totokan itu
dan sengaja dia berpura-pura lumpuh dan diseret keluar menurut saja. Malah ketika Siu Bi mencabut
pedang, dia tetap diam saja, hanya siap untuk melakukan serangan balasan merobohkan gadis itu. Pada
waktu The Sun muncul, dengan mudahnya dia membebaskan totokan isterinya.
"Hebat...," bisiknya. "Jadi itukah bocah yang dikabarkan mengancam kita? Heran sekali, siapakah
sebetulnya yang telah menangkapnya dan menyiksanya...? Anak itu sebetulnya tidak jahat... dan syukurlah
bahwa The Sun telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan berubah menjadi manusia baik-baik."
"Hemmm, suamiku. Kau selalu mengalah, sabar, dan menilai orang lain dari segi-segi baiknya saja. Gadis
dunia-kangouw.blogspot.com
demikian kejam dan liar, tidak kenal budi, ditolong malah membalas dengan ancaman membuntungi
lengan, kau bilang sebetulnya tidak jahat? Dan The Sun itu, terang dialah gara-gara semua perkara ini, dan
kau bilang sudah menjadi manusia baik-baik?"
Hui Kauw sendiri terkenal seorang yang sabar hatinya. Akan tetapi dibandingkan dengan suaminya,
kadang kala ia merasa bahwa suaminya itu terlalu lemah dan terlalu sabar.
"Aku tidak mau menilai orang dari kebodohannya, isteriku. Kalau menilai orang harus dari segi-segi
baiknya. Bila ia melakukan, itu hanya karena ia lupa dan terseret oleh sesuatu yang membuat ia
menyeleweng dari kebenaran. Gadis itu pada dasarnya baik, hanya ia dimabukkan oleh rasa dendam
untuk membalas sakit hati kakeknya. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis yang terdidik ilmu silat di
pegunungan yang sunyi? Ada pun The Sun, mendengar suaranya, ternyata dia sudah mendapatkan
kemajuan pesat dalam hatinya. Agaknya kalau kali ini kita menghadapi tentangan-tentangan, tentu bukan
dari The Sun datangnya dan... hee, ada orang di pondok!"
Cepat bagaikan kilat tubuh Pendekar Buta ini sudah mencelat ke arah pondok, disusul isterinya. Akan
tetapi Hui Kauw hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menghilang di balik pondok itu.
Ketika mereka memeriksa, ternyata buntalan pakaian mereka masih ada, juga tongkat Kun Hong masih
ada. Akan tetapi pedang Kim-seng-kiam, pedang Hui Kauw, lenyap dari tempatnya semula, yaitu tadinya
disandarkan pada bilik.
"Pedangku hilang! Mari kita kejar...!" seru Hui Kauw, akan tetapi Kun Hong memegang lengannya.
"Jangan, percuma saja. Tentu dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Biarlah, kelak tentu kita akan
bertemu dengan pencurinya. Bukan tidak ada maksudnya orang mencuri pedangmu...”
"Ahh, tentu gadis iblis tadi... atau mungkin The Sun! Memang mereka jahat...!"
Kun Hong menggeleng-gelengkan kepalanya dan alisnya berkerut. "Bukan mereka... The Sun terluka
parah, lengannya buntung, tak mungkin dia melakukan hal ini, juga puterinya tidak. Mereka takkan senekat
itu. Ehh, bagaimana kau lihat orang tadi, ataukah kau tidak sempat melihatnya?"
"Hanya bayangan berkelebat cepat, kurasa lebih cepat dari pada gerakan Siu Bi, entah laki-laki entah
wanita, akan tetapi kalau laki-laki, tentu dia seorang bertubuh kurus kecil. Mungkin wanita."
"Hemmm, isteriku. Bila tak meleset dugaanku, orang yang mencuri pedangmu dan orang yang melakukan
fitnah kepada diri anak kita sehingga membuat Kong Bu marah, adalah orang yang sama. Entah siapa dia,
tetapi yang jelas dia atau mereka adalah pengecut-pengecut yang tiada berharga, tidak berani menghadapi
kita secara langsung melainkan dengan cara mengadu domba dan melakukan fitnah. Kita harus cepat ke
Kong-goan dan menyelidiki ke kuil tua. Sekarang juga kita berangkat.”
Mengingat keadaan anaknya yang tertimpa fitnah, juga pentingnya urusan ini untuk cepat diselesaikan, Hui
Kauw amat setuju dengan pendapat suaminya. Maka, sepasang suami isteri ini segera berangkat menuju
Kong-guan…..
********************
Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan diri Tan Kong Bu, pendekar dari Min-san itu? Pedang Kimseng-
kiam milik Hui Kauw telah lenyap dicuri orang dari pondok itu, bagai mana tahu-tahu bisa menancap
di dada Kong Bu yang mayatnya ditemukan oleh Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu seperti telah dituturkan di
bagian depan?
Untuk mengetahui hal ini, mari kita mengikuti pengalaman mendiang Kong Bu, jago tua yang berhati
sekeras baja dan berwatak jujur dan terbuka itu.
Dapat dibayangkan betapa malu, sedih, menyesal yang semuanya menimbulkan amarah besar di dalam
hati Tan Kong Bu ketika dia menyaksikan puteri tunggalnya yang terkasih, mendapat penghinaan dari Kwa
Swan Bu. Biar pun Swan Bu putera Pendekar Buta yang dia kagumi dan dia sayang pula, tetapi perbuatan
pemuda itu melebihi segala batas dan jalan satu-satunya hanya memberi hukuman mati kepadanya!
Lebih sakit hatinya saat dia mendaki puncak Liong-thouw-san bertemu dengan Pendekar Buta suami isteri,
dunia-kangouw.blogspot.com
terjadi percekcokan dan dia tak mampu menandingi suami isteri sakti itu. Hal ini sangat menyakitkan
hatinya dan dia segera kembali menuju ke Kong-goan untuk mencari jejak Swan Bu lagi dan dia takkan
mau berhenti sebelum bertemu dengan pemuda itu dan mengadu nyawa dengannya!
Pada suatu pagi yang naas baginya, dia memasuki sebuah hutan kecil. Di tengah hutan itu, di atas
lapangan rumput yang luas, dia melihat tiga orang berdiri memandangnya, seakan-akan mereka sengaja
menunggu dan mencegat perjalanannya.
Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Kong Bu dapat menduga niat mereka itu, maka dia pun
bersiap-siap sambil memandang tajam penuh selidik. Akan tetapi ternyata bahwa dia tidak mengenal
orang-orang itu, meski pun dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang di dunia kang-ouw
yang berkepandaian tinggi.
Salah seorang di antara mereka adalah nenek tua yang berkulit kehitaman, pakaiannya berkembang
merah, di punggungnya tergantung sebatang pedang. Orang kedua adalah seorang kakek pendek gendut,
mukanya terlihat seperti orang dari utara, tidak membawa senjata apa pun.
Sedangkan orang ketiga adalah seorang kakek yang mulutnya selalu tersenyum-senyum mengejek, juga
pakaiannya serba merah sehingga kelihatan lucu sekali dan aneh, seperti seorang gila, tangannya
memegang sebatang tongkat panjang. Melihat kakek ketiga ini, Kong Bu mengerutkan keningnya, serasa
dia pernah melihat muka ini, tetapi lupa lagi kapan dan di mana.
Dia hendak berjalan terus, tanpa menoleh, hanya melirik dari sudut matanya. Apa bila mereka tidak
mengganggunya, dia pun tidak akan mencari perkara selagi perkara sendiri yang cukup gawat belum
selesai. Namun dia maklum bahwa ketiga orang itu bukanlah tokoh baik-baik, maka dia bersikap waspada.
"Bukankah dia itu jago Min-san? Kenapa berkeliaran sampai di sini?" tiba-tiba terdengar suara parau dari
kakek pendek gendut.
"Aha, apa kau tidak tahu, Sianjin? Anak perempuannya sudah dihina orang, akan tetapi dia tidak berani
berkutik karena yang menghina adalah putera Pendekar Buta!" jawab si nenek.
"Aih..aih..aihhh... yang begitu mana patut disebut pendekar? Pengecut besar dia...," kata kakek berpakaian
merah.
Akan tetapi kakek ini terpaksa menghentikan kata-katanya dan cepat dia melempar diri ke kiri sambil
menggerakkan tongkatnya menangkis ketika ada seberkas sinar cemerlang menyambarnya. Sinar itu
adalah sinar pedang di tangan Kong Bu yang sudah datang menerjangnya dengan kecepatan kilat
menyambar.
"Swiiinggg...!"
Sinar pedang menyambar, merupakan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin tajam!
"Hayaaaaa...!" Kakek berpakaian merah berseru kaget dan cepat membanting tubuh ke kiri, berjungkir balik
dan tongkatnya sudah diputar melindungi tubuhnya.
Pada lain detik Kong Bu sudah berdiri dengan kaki terpentang lebar, pedang melintang di depan dada,
mata memandang tiga orang itu dengan sinar bernyala-nyala.
"Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghina orang lewat tanpa sebab?"
Nenek itu tertawa mengejek. "Hik-hik-hik, kau bilang tanpa sebab? Apakah kau hendak menyangkal betapa
puterimu di kuil tua di Kong-goan tidur di samping putera Pendekar Buta yang telanjang...? Hi-hi-hik, dan
kau tidak berani..."
Nenek itu cepat-cepat menghentikan tawanya karena Kong Bu sudah melangkah maju setindak, mukanya
beringas, pedang di tangannya tergetar.
"Bagaimana kau bisa tahu? Ahh... tahulah aku sekarang. Agaknya kalian inilah manusia-manusianya yang
sengaja mengatur itu... ah, betapa bodohku! Dan kau..." la menuding muka kakek berpakaian merah
dengan pedangnya. "Kau Ang Mo-ko. Ya, sekarang aku ingat, kau bekas pengawal kaisar muda. He, Ang
dunia-kangouw.blogspot.com
Mo-ko, apa kehendakmu menghadang dan menghinaku? Dan dua orang ini siapa?"
Nenek itu melangkah maju, pedangnya sudah tercabut dan berada di tangannya, pedang yang
mengeluarkan sinar keemasan.
"Kau putera Raja Pedang kan? Hi-hi-hik, Raja Pedang dan Pendekar Buta musuh-musuh kami, keluarga
mereka pun musuh kami. Memang kamilah yang mengatur di kuil tua di Kong-goan. Hi-hi-hik, Tan Kong
Bu, kau mau mengenal kami? Aku Ang-hwa Nio-nio, Kui Ciauw..."
"Ahh, kau sisa dari Ang-hwa Sam-cimoi? Bagus, kiranya musuh besar!" bentak Kong Bu.
"Dan sahabatku ini adalah Bo Wi Sianjin, sute dari mendiang Ka Chong Hoatsu..."
"Hemmm, semua adalah musuh-musuh besar ayah. Pantas, pantas... heee, Ang-hwa Nio-nio, apa yang
telah kalian lakukan terhadap anakku? Kalau memang kalian memiliki dendam, mengapa tidak langsung
menghadapi ayah atau aku, tua lawan tua. Mengapa mesti mengganggu bocah? Tak tahu malu engkau!"
Ang-hwa Nio-nio tertawa terkekeh. "Kami tawan anakmu dan anak Pendekar Buta, kami menotok mereka
dan menjajarkan di dalam kuil, memancing kau masuk. Ihh, kiranya kau begitu goblok, tidak dapat
membunuh putera Pendekar Buta, atau... kau tidak berani?"
"Keparat" Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Pedangnya sudah berkelebat menyambar dengan sebuah tusukan kilat ke arah dada Ang-hwa Nio-nio.
Serangan ini hebat sekali, didorong oleh tenaga Yang-kang yang luar biasa, tak mungkin dapat dielakkan
lagi saking cepatnya.
Kalau bukan Ang-hwa Nio-nio yang diserang, tentu telah tembus dadanya oleh pedang. Akan tetapi wanita
tua ini bukan orang lemah dan ia pun maklum bahwa mengelak berarti menghadapi bahaya maut. Maka
sambil menjatuhkan diri ke kanan, pedangnya bergerak menangkis, berubah menjadi sinar keemasan.
"Tranggggg...!"
Tangan Kong Bu tergetar dan dia cepat-cepat menarik kembali pedangnya. Diam-diam dia mengakui
kelihaian nenek ini, akan tetapi yang membuat dia lebih bingung dan kaget adalah ketika dia melihat
pedang bersinar keemasan di tangan si nenek.
Dia mengenal pedang ini, serupa benar dengan pedang isteri Pendekar Buta yang baru beberapa pekan
lalu dihadapinya. Ketika bertanding dengan Hui Kauw, nyonya itu pun menggunakan pedang ini. Apakah
pedang mereka memang kembar?
"Iblis, pedang yang siapa kau pakai?" bentak Kong Bu sambil melanjutkan serangannya. Akan tetapi
pedangnya bertemu dengan tongkat panjang dan kiranya Ang Mo-ko sudah maju pula mengeroyok.
"Hi-hi-hik, mau tahu? Ini pedang nyonya Pendekar Buta, dan sebentar lagi pedang ini yang akan
mengambil nyawamu!"
Kong Bu seorang yang jujur, akan tetapi dia bukan orang bodoh. Pertemuannya dengan tiga orang ini telah
cukup baginya untuk membuka matanya, untuk memecahkan rahasia itu. Tahulah dia sekarang bahwa
peristiwa antara Swan Bu dan Lee Si adalah peristiwa buatan mereka ini, musuh-musuh besar ayahnya
dan musuh-musuh Pendekar Buta pula.
Mereka sengaja memancing kemarahannya supaya dia bermusuhan dengan Pendekar Buta. Agaknya
melihat bahwa ia belum dapat membunuh Swan Bu, mereka tidak sabar dan sekarang mereka hendak
turun tangan sendiri, membunuhnya dan kembali mereka hendak menjalankan siasat mengadu domba,
yaitu hendak membunuhnya menggunakan pedang isteri Pendekar Buta yang entah bagaimana bisa
terjatuh ke tangan Ang-hwa Nio-nio.
"Jangan kira gampang!" la membentak.
Segera ketua Min-san-pai ini menggerakkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat yang
ampuh. Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan lebar
dunia-kangouw.blogspot.com
melibat-libat dan melayang-layang seperti seekor naga di angkasa yang mengamuk dan bermain-main di
antara awan putih.
"Kok-kok-kok!" Bo Wi Sianjin si kakek gendut pendek telah berjongkok dan melancarkan pukulan Katak
Saktinya.
Pada saat itu baru saja Kong Bu menangkis pedang Ang-hwa Nio-nio dan melompat ke kanan
menghindarkan diri dari tongkat Ang Mo-ko yang menyapu pinggangnya. Kagetlah dia ketika tiba-tiba
mendengar suara aneh itu dari belakang dan mendadak menyambar angin pukulan yang amat dahsyat.
Melihat sikap dan kedudukan kakek itu aneh sekali, Kong Bu tak berani menghadapinya dengan
kekerasan, melainkan mengelak sambil berjongkok. Angin pukulan menyambar lewat di atas kepalanya
dan betapa kagetnya ketika kain pembungkus kepalanya hancur berkeping-keping. Baru diserempet hawa
pukulan itu saja sudah begitu hebat akibatnya, dapat dibayangkan betapa akibatnya kalau pukulan aneh itu
tepat mengenai perutnya!
Pendekar ini segera maklum bahwa di antara tiga orang lawannya, kakek pendek yang bertangan kosong
inilah yang paling berbahaya. Karena itu, Kong Bu segera mengubah siasat. la sengaja bergerak dan
melayang cepat, sengaja dia menjauhkan diri dari Bo Wi Sianjin, atau dia sengaja mengambil posisi
sedemikian rupa agar kakek pendek itu selalu terhalang oleh Ang Mo-ko atau Ang-hwa Nio-nio sehingga
dia tidak berani melancarkan pukulan jarak jauh yang mukjijat tadi sebab jika demikian, tentu ada
bahayanya memukul kawan sendiri.
Setelah pertempuran berlangsung seperempat jam lamanya belum juga mereka dapat merobohkan Kong
Bu, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran sekali. Nenek ini mengeluarkan pekik nyaring,
kemudian tubuhnya meloncat laksana seekor burung walet, pedangnya diputar menerjang Kong Bu dari
atas, serta tangan kirinya mengirim pukulan Ang-tok-ciang yang tak kalah berbahayanya.
"Cring-cring-cring...!" Tiga kali pedang Kong Bu menangkis serangan beruntun itu.
Serangan Ang-hwa Nio-nio memang amat aneh dan hebat. Begitu pedangnya tertangkis, pedang itu
terpental bukan ke belakang, namun menyeleweng dan terus menjadi gerak serangan susulan yang makin
lama makin hebat.
Terpaksa Kong Bu memainkan Yang-sin Kiam-hoat bagian pertahanan sesudah melihat betapa tiga kali
tangkisannya tidak membuyarkan rangkaian serangan lawan. Sekarang pedangnya diputar seperti payung
sehingga jangankan baru serangan pedang Ang-hwa Nio-nio, walau pun hujan deras menyiramnya, tidak
setetes pun air akan dapat mengenai bajunya.
Kong Bu tidak berani menerima langsung pukulan tangan kiri Ang-hwa Nio.nio. Ia dapat melihat betapa
tangan nenek itu menjadi merah, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat. la hanya
menggeser kaki miringkan tubuh sambil menangkis dari samping. Sebagai ahli Yang-sin Kiam-hoat, tentu
saja Kong Bu mempunyai tenaga Yang-kang istimewa kuatnya, maka benturan ini membuat nenek tadi
terhuyung-huyung dan serangannya otomatis gagal.
Ang Mo-ko menunggu kesempatan baik. Selagi kedua pedang tadi berkelebatan beradu cepat, dia tidak
berani sembrono menggunakan tongkatnya, karena selain hal ini dapat mengacaukan permainan pedang
Ang-hwa Nio-nio, juga salah-salah tongkatnya itu akan kena benturan pedang kawannya.
Sekarang melihat betapa libatan sinar-sinar pedang itu sudah terlepas dan Kong Bu juga terhuyung ke
kanan akibat benturan tenaga tadi, cepat laksana kilat tongkatnya lantas menyelonong maju, digetarkan
sehingga ujungnya berubah menjadi belasan batang yang semuanya menyerang dengan totokan-totokan
maut ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya.
Ilmu tongkat Ang Mo-ko memang amat hebat. Tongkatnya mencecar bagian tubuh yang berbahaya dimulai
dari ubun-ubun kepala terus ke bawah dalam jarak sejengkal tangan, yaitu dari ubun-ubun ke mata,
kemudian telinga, tenggorokan, pundak, ulu hati, ke pusar dan seterusnya. Anehnya, ujung tongkat yang
hanya satu ini, setelah dia getarkan begitu kuatnya, seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan
menyerang semua bagian berbahaya itu sambil mengeluarkan suara mendengung-dengung!
Melihat serangan yang luar biasa ganasnya ini Kong Bu mengeluarkan suara melengking tinggi dari
kerongkongannya. Inilah pengerahan sinkang yang sangat istimewa, disertai suara melengking, sebuah
dunia-kangouw.blogspot.com
ilmu kesaktian yang sudah dia warisi dari mendiang kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung!
Bunyi lengking tinggi ini selain menambah daya pemusatan sinkang, juga mengandung tenaga yang
menggetarkan jantung lawan. Sambil melengking-lengking Kong Bu lantas menggerakkan pedangnya yang
menerobos di antara bayangan ujung tongkat.
Terdengar suara keras pada saat tongkat di tangan Ang Mo-ko patah-patah menjadi lima potong dan
disusul pekik mengerikan karena tanpa dapat dielakkan lagi oleh Ang Moko, pedang di tangan Kong Bu
sudah menancap tenggorokannya sampai tembus dan sekali Kong Bu merenggut ke kanan, leher itu
hampir putus!
Tubuh Ang Mo-ko roboh miring, kepala yang lehernya hampir putus tertindih paha. Darah menyemburnyembur
dan kaki tangannya berkelojotan, kaku kejang seakan-akan tubuh yang rusak lehernya oleh
pedang itu masih tidak tega berpisahan dengan nyawa!
"Keparat, terimalah pukulanku!" terdengar bentakan dari belakang Kong Bu disusul suara "kok-kok-kok!"
seperti tadi.
Kong Bu maklum bahwa kakek pendek itu sekarang mendapat kesempatan melancarkan pukulannya yang
aneh dan mukjijat. Cepat dia memutar tubuhnya, berusaha mengelak sambil mengerahkan sinkang di
kedua lengannya, mendorong ke depan untuk menahan gelombang serangan tenaga yang tidak tampak.
Nampak pukulan Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin ini bukan main hebat dan kuatnya.
Kong Bu merasa betapa tubuhnya seperti ditembus angin taufan yang tidak tertahankan, dorongannya
membalik sehingga tubuhnya melayang bagai layang-layang putus talinya! Pada saat itu, pedang Ang-hwa
Nio-nio meluncur dan membabat pinggangnya.
Baiknya Kong Bu adalah seorang jagoan yang sudah matang kepandaiannya, maka biar pun tubuhnya
melayang di udara, dia cepat dapat menguasai dirinya lagi. Oleh sebab itu, melihat sinar pedang
berkelebat mengancam pinggang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya sekuat tenaga menangkis.
"Tranggggg...!"
Tubuh Kong Bu melompat sambil jungkir-balik, membuat salto sampai tiga kali sebelum kedua kakinya
menginjak bumi. Akan tetapi kagetlah dia saat melihat bahwa pedangnya telah patah di dekat gagangnya.
Dengan hati geram dia membanting gagang pedang, lalu melolos sarung pedang yang dipegang di tangan
kanannya, juga melepaskan ikat pinggang yang terbuat dari sutera kuning. Walau pun tidak sehebat
pedangnya yang patah, namun dengan sarung pedang dan ikat pinggang di tangan, Kong Bu masih
merupakan lawan yang amat tangguh!
Kembali Ang-hwa Nio-nio menyerang, dan kali ini nenek itu memperlihatkan ginkang-nya. Sekali kedua
kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang seperti terbang ke arah Kong Bu, pedangnya diputar-putar di
depannya, berubah menjadi segulung sinar bulat, diiringi suara seruannya yang nyaring.
Kong Bu maklum keampuhan pedang di tangan nenek itu, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan.
Dia maklum pula bahwa kalau dia menangkis dengan sarung pedang, tentu senjatanya akan terbabat
putus. Maka dia lalu membentak keras, ikat pinggangnya di tangan kiri bergerak bagaikan seekor ular
menyambar, ujungnya menyambut pedang lawan dengan maksud melibat pedang atau lengan yang
memegang pedang.
Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio juga bukan seorang ahli silat sembarangan. Dia tidak mau mengadu
pedangnya dengan benda lemas itu. la lalu menarik pedangnya, turun ke atas tanah dan mengubah
serangannya, menusuk dan membabat bertubi-tubi, tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya.
Kong Bu melengking keras ketika dari belakang terdengar suara kokok, pukulan mukjijat dari Bo Wi Sianjin.
Terpaksa dia menghindar ke kiri, akan tetapi di sini dia disambut oleh tusukan pedang yang masih mampu
ditangkisnya dari samping dengan sarung pedang. Ikat pinggangnya dikelebatkan ke belakang menyerang
kaki Bo Wi Sianjin.
Serangan ini kelihatannya sepele, akan tetapi kiranya akan celakalah kakek pendek itu bila kakinya sampai
kena terlibat ikat pinggang! Bo Wi Sianjin tertawa mengejek, sambil melompat tinggi, kemudian turun dan
dunia-kangouw.blogspot.com
melancarkan pukulan Katak Sakti lagi yang juga dapat dielakkan oleh Kong Bu, walau dengan susah
payah.
"He-heh-heh, ada apa ini ribut-ribut?” terdengar suara yang kaku dan ganjil, suara orang asing.
Kong Bu melirik dan melihat seorang kakek asing berkulit hitam, tinggi besar bersorban, telinganya
memakai anting-anting, jalan mendatangi bersama seorang hwesio yang juga tinggi besar akan tetapi
sudah amat tua, hwesio yang berpakaian sederhana dan bajunya dibuka lebar di bagian dada. Mereka itu
bukan lain adalah Maharsi dan Bhok Hwesio.
"Ji-wi Losuhu mengapa baru datang? Ang Mo-ko tewas oleh keparat ini!" teriak Ang-hwa Nio-nio, setengah
menyesal akan tetapi juga girang.
"Dia mampus pun salahnya sendiri sebab kepandaiannya masih rendah," jawab Maharsi seenaknya.
"Inikah jago Min-san putera Raja Pedang? Heh-heh-heh, ingin kucoba!"
Kong Bu kaget sekali. la masih sibuk menghadapi desakan pedang Ang-hwa Nio-nio dan pukulan mukjijat
Bo Wi Sian-jin. Sekarang tiba-tiba pendeta India yang tinggi itu berjalan miring-miring mendekati dirinya,
lengan tangannya bergerak dan lengan itu seperti mulur, tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kepalanya,
didahului angin pukulan yang tak kalah mukjijatnya oleh angin pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin.
Kong Bu cepat menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan. Hanya dengan cara ini dia tadi dapat
terbebas dari bahaya maut. Saking marahnya, Kong Bu lalu mengeluarkan lengking tinggi bersambungsambung,
melompat bangun dan mengamuk.
Akan tetapi pihak lawan terlalu banyak dan terlalu tangguh. Pada suatu saat dia berhasil menghindar dari
pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin, akan tetapi tak dapat mengelak dari pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi.
Punggungnya kena dorongan dahsyat ini, dia terbanting roboh, nafasnya sesak dan setengah pingsan.
Pada saat itulah Ang-hwa Nio-nio melompat dekat dan menusukkan Kim-seng-kiam ke dadanya. Pedang
ini imblas sampai setengahnya lebih, tepat menghunjam dada kiri dan menembus jantung sehingga jagoan
sakti pendekar Min-san ini tewas pada saat itu juga tanpa dapat mengeluh lagi.
Dan demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu dari jauh
mendengar lengking tinggi dari Kong Bu, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, hanya melihat mayat
Tan Kong Bu dengan pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya.
Melihat pedang ini yang oleh Swan Bu diakui sebagai pedang ibunya, Cui Sian marah bukan main. Dia
dapat menduga bahwa kakaknya yang berdarah panas dan berwatak keras itu tentu telah tewas di tangan
isteri Pendekar Buta.
Dia pun maklum bahwa tentu kakaknya itu marah-marah kepada Pendekar Buta suami isteri dan menuduh
Swan Bu melakukan perbuatan hina terhadap Lee Si, dan mungkin suami isteri itu pun lantas merasa
marah karena puteranya dimaki-maki sehingga timbul percekcokan. Akan tetapi, kalau sampai membunuh
kakaknya, ini keterlaluan namanya dan ia tidak akan menerima begitu saja!
Jangankan Cui Sian, sedangkan Swan Bu sendiri diam-diam juga menduga demikian. Mana bisa lain orang
yang membunuh Kong Bu kalau pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Pedang itu tak mungkin
terlepas dari tangan ibunya!
Swan Bu gelisah sekali, bingung serta berduka. Akan tetapi ada satu kenyataan yang amat menghibur
hatinya, yakni bahwa pedang itu masih tertancap di dada Kong Bu dan ditinggalkan begitu saja.
Jika benar ibunya yang membunuh Kong Bu, mungkinkah ibunya meninggalkan pedang itu tertancap di
dada lawannya? Apakah karena mendengar kedatangannya bersama Cui Sian tadi, ibunya lalu tergesagesa
pergi sehingga tak sempat mencabut pedangnya? Ah, sukar dipercaya kemungkinan ini. Apa
sukarnya mencabut pedang, apa lagi bagi ibunya!
Agaknya lebih patut kalau ada orang yang SENGAJA meninggalkan pedang itu di dada Kong Bu. Dan
siapa pun orangnya, tak mungkin orang itu ibunya! Jadi, tentu ada orang lain yang kembali melakukan
fitnah, dan kali ini untuk memburukkan nama ibunya. Akan tetapi bagaimana orang itu dapat menggunakan
pedang Kim-seng-kiam…..?
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Swan Bu berjalan terhuyung-huyung. Kesehatannya masih belum pulih seluruhnya, kini hatinya terhimpit
perasaan yang tidak karuan, jiwanya tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang hebat. la berjalan perlahan
memandangi pedang ibunya di tangan.
"Ahhh, Kim-seng-kiam... kalau saja kau bisa berbicara... tentu kau akan dapat bercerita banyak...,"
keluhnya.
"Swan Bu...!"
Pemuda itu tersentak kaget. Suara itu!
Cepat dia membalikkan tubuh dan sejenak wajahnya yang tampan dan pucat itu berseri. Dilihatnya gadis
yang selama ini mengaduk-aduk hatinya, yang mendatangkan derita, bahagia, kecewa dan harapan di
hatinya, Siu Bi, berdiri hanya beberapa meter jauhnya di depannya! Gadis itu mukanya pucat, rambutnya
awut-awutan, pakaiannya kusut, sinar matanya sayu dan pipi yang masih berbekas air mata itu kini kembali
digenangi air mata yang mengalir turun.
"Siu Bi...," Swan Bu berbisik, tanpa sengaja melirik ke arah lengan kirinya yang buntung dan ujungnya
dibalut.
Lirikan ke arah lengan buntung inilah yang agaknya telah memecahkan bendungan yang menahan gelora
di hati Siu Bi yang ditahan-tahan. Gadis ini menjerit, lalu berlari maju, menjatuhkan diri berlutut di hadapan
Swan Bu, memeluk kedua kaki pemuda itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Swan Bu... Swan Bu... kau ampunkan aku... Swan Bu... ampunilah aku..."
Tak kuat hati Swan Bu menahan air matanya yang turun bertitik-titik ketika dia menunduk memandang
kepala Siu Bi yang kusut rambutnya. Kedua kakinya terasa lemas dan dia pun berlutut pula.
"Siu Bi, selalu aku memaafkanmu..."
Mereka berpandangan melalui tirai air mata, kemudian bagaikan besi tertarik semberani, keduanya
berangkulan, bertangisan dan berpelukan. Dengan air mata saling membasahi muka mereka masingmasing,
dalam ciuman-ciuman yang digerakkan oleh hati penuh kasih sayang, penuh iba dan haru.
Setelah gelora hati mereka mereda, Siu Bi menyembunyikan mukanya ke dada Swan Bu dan mereka
terhenyak duduk di atas tanah, tak bergerak, seluruh tubuh lemas, tenaga habis oleh letupan gelora hati
tadi, terasa nikmat penuh damai di hati. Dengan tangan kanannya Swan Bu membelai dan mengelus-elus
rambut hitam yang awut-awutan itu.
"Siu Bi aku selamanya mengampunkan engkau, karena aku cinta padamu, Siu Bi, karena aku tahu apa
yang mendorongmu melakukan semua itu...," bisik Swan Bu.
Siu Bi mengangkat mukanya dari atas dada Swan Bu dan memandang. Kedua muka itu berpandangan,
dekat sekali, masih basah oleh air mata.
"Swan Bu aku... aku tidak turut dalam tipu muslihat busuk itu... aku juga bukan sekutu Ang-hwa Nio-nio..."
Swan Bu mendekap muka yang kelihatan begitu pucat dan penuh kekhawatiran itu. "Siu Bi jiwaku... tidak,
aku tidak percaya itu, kau tidaklah jahat seperti mereka..."
Siu Bi menarik nafas panjang, hatinya lega dan dia kembali membaringkan kepalanya di atas dada Swan
Bu, sepasang matanya dimeramkan.
"Aku memang jahat, Swan Bu, tetapi... tetapi... untuk menyenangkan hatimu, hati orang yang kucinta
dengan seluruh jiwa ragaku, aku... aku mau belajar baik! Kau bimbinglah aku, Swan Bu, ajarilah aku
bagaimana bisa menjadi orang baik..."
Swan Bu tersenyum. "Kau adalah orang baik, Siu Bi..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa kalau terpisah dari padamu, Swan Bu. Jangan kita berpisah lagi,
aku... aku takut hidup sendiri. Aku ingin ikut denganmu..." Tiba-tiba ia memegang lengan yang buntung itu,
memandangnya dan kembali ia menangis tersedu sedu, menciumi ujung lengan yang dibalut. "Ahhh... aku
tak dapat mengganti lenganmu, Swan Bu... biarlah… biar kuganti dengan seluruh tubuhku, dengan
nyawaku... aku... aku selamanya akan mendampingimu, melayanimu...”
Dengan mesra Swan Bu memeluk dan menciuminya, kemudian pemuda ini teringat akan sesuatu dan
menarik nafas panjang. "Tak mungkin...," katanya lirih dengan nada sedih.
Siu Bi tampak kaget, "Apa katamu? Apa yang tak mungkin?"
"Siu Bi, kau tahu bahwa aku mencintamu, dan takkan ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada selalu
berada di sampingmu selama hidup. Akan tetapi agaknya hal ini hanya lamunan kosong... karena... karena
apa pun yang terjadi, apa lagi setelah paman Kong Bu tewas... agaknya jalan satu-satunya bagiku hanya...
mengawini Lee Si."
"Apa...?!" Siu Bi merenggutkan dirinya dan memandang dengan mata terbelalak.
Swan Bu menunduk sedih, tidak tahan menatap pandang mata yang penuh keperihan hati itu. Dia menarik
nafas panjang lagi, lalu berkata, "Siu Bi, kau sendiri mengerti betapa tipu muslihat dan fitnah yang
dilakukan oleh Ang-hwa Nio-nio itu menimbulkan kejadian yang amat hebat. Ayah Lee Si, yaitu paman
Kong Bu, marah sekali dan tentu saja marah kepadaku dan kepada orang tuaku. Dan tadi... aku
mendapatkan paman Kong Bu telah tewas, terbunuh orang di dalam hutan. Peristiwa di Kong-goan ini akan
merusak nama Lee Si untuk selamanya, kecuali jika... jika aku... mengawininya. Hanya itu satu-satunya
jalan, dan demi menjaga kerukunan kedua keluarga, demi mencuci bersih nama Lee Si yang tidak berdosa,
agaknya... agaknya... jalan itulah satu-satunya..."
"Swan Bu... tapi kau... kau cinta padaku kan?"
"Aku cinta padamu, Siu Bi."
Siu Bi menubruk dan memeluknya lagi. “Cukup bagiku. Kau boleh mengawininya, kalau itu kau anggap
penting. Bagiku, asal kau cinta padaku, asal aku boleh menebus dosaku kepadamu dengan jiwa ragaku,
asal..."
Tiba-tiba saja Siu Bi bangun, juga Swan Bu bangkit berdiri. Keduanya sudah mencabut pedang dan
memandang ke arah seorang pemuda yang jalan mendatangi, pemuda yang bukan lain adalah Ouwyang
Lam!
Ouwyang Lam memandang sambil tersenyum kepada Siu Bi, kemudian dia memandang Swan Bu, ke arah
lengannya yang buntung, dan tertawalah dia, "Ha-ha-ha, Bi-moimoi, agaknya kau sudah berhasil dalam
usahamu membalas dendam. Ha-ha-ha, kalau anjing buntung ekornya hanya kelihatan tidak pantas, tetapi
kalau manusia buntung tangannya, benar-benar canggung sekali! Eh, Kwa Swan Bu, ayahmu buta
sedangkan kau anaknya buntung, cocok sekali. Numpang tanya, dengan tangan kirimu buntung, kalau kau
ada keperluan di belakang, apa kau menggunakan tangan kananmu pula? Ha-ha-ha-ha-ha!"
Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, tetapi kemarahannya ini amat merugikan,
karena kepalanya langsung menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar
karenanya.
"Tutup mulutmu yang kotor!" Siu Bi membentak sambil melompat ke depan menghadapi Ouwyang Lam.
Pemuda Ching-coa-to ini kaget sekali, memandang dengan mata terbelalak. "Eh… ehh... ehhh, Moimoi...”
"Aku bukan moimoi-mu! Cih, tak tahu malu! Ouwyang Lam manusia rendah, ketahuilah bahwa
dibandingkan dengan Swan Bu, kau hanya patut menjadi sepatunya! Maka tidak boleh kau menghinanya
dan lekas pergi dari sini kalau tidak ingin mampus di tanganku!"
Saking heran dan bingungnya, Ouwyang Lam hanya berdiri melongo saja. Mukanya yang berkulit putih
menjadi merah sekali, dan mulutnya yang biasanya pandai bicara, kini sulit mengeluarkan kata-kata saking
kaget dan herannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siu Bi... apa artinya ini...?"
"Artinya, tutup mulutmu yang busuk dan lekas enyah kau dari sini!"
Ouwyang Lam mulai marah. Dia memang tergila-gila kepada gadis cantik ini, tergila-gila akan
kecantikannya sesuai dengan wataknya yang mata keranjang. Akan tetapi kalau gadis ini mulai
menghinanya, tentu saja timbul kebenciannya.
"Tapi... kenapa kau membelanya? Bukankah kau membuntungi lengan..."
"Bukan urusanmu! Lekas pergi!"
Ouwyang Lam adalah seorang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tentu saja timbul
kemarahannya. Dia mengangkat dadanya yang bidang. Walau pun tubuhnya agak pendek, tapi dadanya
bidang dan tegap.
"Siu Bi, aku menantang Swan Bu, jangan turut campur! Ataukah putera Pendekar Buta ini kini telah
menjadi seorang pengecut nomor satu di dunia sehingga dia menyembunyikan diri di belakang pantat
wanita?"
"Ouwyang Lam keparat, mulutmu kotor...!" Siu Bi menggerakkan pedangnya.
"Siu Bi, tunggu dulu!"
Suara Swan Bu menahan Siu Bi yang menarik pedangnya kembali dan menoleh kepada kekasihnya itu.
"Siu Bi, aku bukan pengecut dan biar pun tidak kau bantu, aku masih tak akan mundur menghadapi
tantangan siapa pun juga!" la melangkah maju menghadapi Ouwyang Lam lalu tersenyum mengejek.
"Ouwyang Lam, setelah melihat keadaanku terluka, kau berani membuka mulut besar, ya? Hmmm, kau
benar-benar gagah sekarang. Majulah!"
Ouwyang Lam tertawa mengejek. Pemuda ini memang cerdik sekali, sekilas pandang dia maklum bahwa
lengan Swan Bu yang baru saja buntung membuat pemuda itu lemah dan menderita, karena itu tentu saja
dia berani menantang dan sengaja dia membangkitkan kemarahan Swan Bu agar lawannya ini melarang
Siu Bi membantunya.
Sekarang dengan pedang terhunus, Ouwyang Lam menyerbu, menggeser kaki dengan langkah-langkah
pendek seperti harimau kelaparan. Pedangnya dimainkan dengan Ilmu Pedang Hui-seng-kiam yang lihai,
mulutnya berseru, "Lihat serangan!"
Swan Bu bersikap tenang sekali, meski pun keadaannya sebetulnya tidak membenarkan untuk melayani
pertandingan, apa lagi menghadapi lawan berat. Tetapi, sebagai seorang berjiwa pendekar, lebih baik
menantang maut dari pada mandah dicap pengecut!
Melihat gerakan pedang Ouwyang Lam menyambar ganas serta mengeluarkan suara bersuitan, dia
mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya, menunggu sampai pedang lawan mendekat, lalu tiba-tiba dia
menghantamkan pedang ibunya menangkis dengan harapan akan dapat mematahkan pedang lawan
dalam segebrakan.
Ouwyang Lam kaget bukan main, tak sempat menarik kembali pedangnya. Terpaksa dia mengerahkan
tenaga pula dan membiarkan pedangnya bertemu dengan pedang Swan Bu yang bersinar keemasan.
"Cringgg...!"
Bunga api memancar ke arah muka kedua orang muda itu sehingga mereka menjadi silau. Ouwyang Lam
merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi Swan Bu yang tenaganya lemah karena lukanya,
juga terhuyung mundur.
Kagetlah dia melihat betapa pedang pendek pemuda tampan itu tidak patah. Malah kini Ouwyang Lam
sudah menerjang lagi dengan ganasnya, sepasang matanya kemerahan, mulutnya yang menyeringai
mengeluarkan suara mendesis, wajahnya diliputi bayangan kekejaman dan kebuasan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Swan Bu harus berloncatan ke sana-sini sambil memutar pedangnya menangkis. Akan tetapi makin lama
pandang matanya makin kabur, kepalanya pening dan lengan kirinya yang terluka terasa panas dan nyeri.
"Sraaattttt…!"
Pundak kanan Swan Bu tergores ujung pedang! Baiknya dia masih dapat menggulingkan diri sehingga
pedang di tangan Ouwyang Lam tidak sampai membabat buntung pundak kanannya itu.
Dengan gerakan terlatih Swan Bu bergulingan, mengelak dari bacokan-bacokan pedang Ouwyang Lam
yang tidak mau memberi kesempatan lagi. Tiga kali bacokan pedangnya mengenai tanah dan sebelum dia
sempat menyerang lagi, tubuh yang bergulingan cepat itu telah meloncat berdiri.
Swan Bu sudah bersiap kembali dan memutar pedang melindungi tubuhnya. Akan tetapi melihat betapa
keningnya berkerut-kerut, keringat membasahi mukanya yang pucat, jelas bahwa pemuda itu menderita
sekali, malah matanya beberapa kali dimeramkan.
"Ha-ha-ha, Swan Bu. Lebih baik kau membuang pedangmu dan menyerah kalah, aku sudah puas. Tak
akan kubunuh engkau asal mengaku kalah, ha-ha-ha!" Memang pandai sekali Ouwyang Lam. Melihat
lawannya sudah kepayahan, dia telah mendahului dengan ejekan ini untuk memancing kemarahan.
"Tidak sudi!" jawab Swan Bu, tepat seperti yang diharapkan Ouwyang Lam. "Lebih baik mati dari pada
menyerah. Ouwyang Lam manusia sombong, jangan kira kau akan dapat mengalahkan aku. Majulah!"
"Swan Bu...! Mundurlah dan biarkan aku memberi hajaran kepada anjing busuk ini!" Siu Bi berseru, pedang
di tangannya sudah gatal-gatal hendak menerjang Ouwyang Lam.
Hatinya sudah gelisah tadi melihat pundak kekasihnya tergores pedang sehingga kini mengucurkan darah
membasahi bajunya. Tentu saja ia tidak mau turun tangan sebelum Swan Bu mundur, karena betapa pun
juga, di lubuk hati Siu Bi tersimpan sifat gagah dan ia merasa malu kalau harus mengeroyok, apa lagi ia
maklum bahwa tingkat kepandaian Swan Bu amatlah tinggi, masih jauh lebih tinggi dari pada tingkat
kepandaian Ouwyang Lam atau dia sendiri.
"Tidak, Siu Bi, aku masih kuat menghadapi kesombongannya!" kata Swan Bu.
Ucapan Swan Bu ini tidak bohong, juga bukan bualan belaka. Sebagai putera tunggal Pendekar Buta yang
sakti, tentu saja dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Sekarang kepalanya sudah
pening, pandang matanya kabur dan tubuhnya lemas seakan-akan tidak bertenaga lagi, akan tetapi
kepandaiannya masih ada.
Maklum bahwa dia tidak akan dapat menghadapi lawan dengan tenaga, Swan Bu segera mengubah
gerakannya. Sekarang tahu-tahu dia telah terhuyung-huyung, jongkok berdiri, berloncatan dan kadangkadang
bagaikan orang menari, kadang-kadang seperti orang mabuk. Dalam ilmu langkah ajaib ini sama
sekali dia tidak perlu mempergunakan tenaga, akan tetapi hasilnya, semua serangan Ouwyang Lam
mengenai angin kosong!
Makin cepat Ouwyang Lam yang penasaran dan marah ini menghujankan serangannya, semakin aneh
pula gerakan Swan Bu. Kadang-kadang ada kalanya dia merebahkan diri sehingga Siu Bi hampir menjerit
ketika Ouwyang Lam menubruk tubuh yang rebah itu dengan tikaman maut. Akan tetapi di lain detik tubuh
yang rebah itu sudah bergulingan dan berdiri lagi, enak-enakan menari aneh. Andai kata Swan Bu tidak
demikian lelah dan lemahnya, satu dua kali balasan serangannya tentu akan merobohkan Ouwyang Lam.
Akan tetapi Swan Bu sudah terlalu lemah sehingga dia hanya mampu menghindarkan diri dari serangan
lawan tanpa mampu membalasnya. Karena tenaganya makin lemah, maka gerakannya mulai kurang gesit
sehingga dia mulai terdesak.
Empat penjuru angin telah dikuasai oleh sinar pedang Ouwyang Lam, tidak ada jalan lari lagi bagi Swan Bu
kecuali menggunakan ilmu langkah ajaibnya untuk menghindar dari setiap tusukan atau bacokan, akan
tetapi serangan hanya serambut saja selisihnya!
Siu Bi mulai kecut hatinya. Dia gelisah setengah mati dan sudah mengambil keputusan untuk nekat
menerjang maju ketika tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Keparat, mundur kau!" bayangan itu berseru keras.
"Cringgg...! Crakkk!"
Siu Bi menjerit ketika melihat betapa bayangan itu dalam menangkis pedang Ouwyang Lam, sudah kalah
tenaga. Pedangnya terlepas dan pedang Ouwyang Lam membacok dadanya! Siu Bi mengenal orang itu
yang bukan lain adalah The Sun!
Dengan jerit tertahan Siu Bi cepat-cepat menerjang maju karena Swan Bu juga sudah terhuyung-huyung
kelelahan. Pedangnya berkelebat mengirim tusukan dibarengi tangan kirinya mengirim pukulan Hek-inkang!
Bukan main hebatnya serangan Siu Bi yang dilakukan dengan penuh kemarahan ini. la menggunakan
jurus-jurus lihai dari Cui-beng Kiam-hoat dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kirinya mengeluarkan
uap hitam.
Ouwyang Lam yang tertawa-tawa bergelak-gelak karena girangnya dan sombongnya itu mana mampu
menghadapi serangan yang tak diduga-duganya ini? la terkejut sekali dan berusaha menangkis, namun
terlambat. Pukulan Hek-in-kang sudah membuat dadanya serasa meledak dan sebelum dia tahu apa yang
terjadi, pedang Cui-beng-kiam telah dua kali memasuki lambung dan dadanya, membuat dia terkulai dan
roboh tak bernyawa lagi.
"Ayah...!" Siu Bi menubruk The Sun yang terengah-engah, dan dengan tangan kanannya meraba luka di
dada ayah tirinya yang mengeluarkan banyak darah.
The Sun yang duduk itu tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar, wajahnya yang pucat berseri penuh
bahagia. "Ahh, anakku... anakku... Siu Bi, kau menyebut apa tadi...?"
Dada Siu Bi penuh keharuan. Orang tua ini, yang baru-baru ini sangat dibencinya, telah kehilangan lengan
untuknya, kini menghadapi maut juga untuknya. Orang ini menolong Swan Bu, berarti menolongnya juga.
Seketika lenyap semua bencinya, terganti dengan kasih sayang yang dulu, kasih sayang seorang anak
perempuan yang dimanja ayahnya.
"Ayah...!" Siu Bi merangkul dan menangis.
The Sun mendongak ke atas, pipinya basah air mata. "Terima kasih atas ampunanMu, bahwa di saat
terakhir ini harapan hambaMu masih terkabul. Siu Bi anakku...!" The Sun mendekap kepala gadis itu dan
mencium dahinya, rambutnya, penuh kebahagiaan. "Siu Bi, dengar baik-baik. Orang ini banyak kawannya,
mereka tentu akan datang. Lekas kau pergilah bersama Swan Bu. Aku tahu, dia putera Pendekar Buta,
bukan? Ahhh, Siu Bi, harapanku terakhir, semoga kau dapat hidup bahagia bersama dia. Ya, ya... sejak
kau kecil, kutimang-timang engkau supaya kelak menjadi isteri seorang pendekar keturunan Raja Pedang
atau Pendekar Buta. Ha-ha-ha, pengharapanku terkabul kiranya. Pergilah, bawa dia pergi, dia terluka
parah... biar aku di sini menghadang teman-temannya yang hendak mengejar."
Setelah berkata demikian, dengan sikap gagah The Sun lalu bangkit berdiri, memungut pedangnya yang
tadi terlempar dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.
Siu Bi menengok, melihat Swan Bu dengan nafas memburu berdiri bersandar pohon, "Tapi Ayah, kau...
kau terluka hebat..."
The Sun menggerakkan lengannya yang buntung, penglihatan ini menyayat hati Siu Bi. "Aku sudah tua,
aku juga penuh dosa, jangan kau renggut kenikmatan pengorbanan dan penebusan dosa ini, anakku. Kau
berhak hidup bahagia, berhak hidup bersih dari semua dosaku. Penjahat-penjahat itu dahulu bekas kawankawanku,
biarlah sekarang kutebus dengan darahku, melawan mereka untuk membersihkan engkau dari
kekotoran ini. Kau pergilah, jaga baik-baik ibumu, dan... dan... jangan lepaskan Swan Bu... itu harapanku..."
Ucapan terakhir ini dilakukan dengan suara terisak.
"Ayah... selamat tinggal...," kata Siu Bi karena tidak melihat jalan lain.
la maklum juga bahwa kedatangan Ouwyang Lam tentu disusul yang lain. Bila Ang-hwa Nio-nio, Maharsi,
Bo Wi Sianjin, apa lagi Bhok Hwesio sampai muncul di situ, tentu dia, Swan Bu, dan ayahnya akan tewas
dunia-kangouw.blogspot.com
semua secara konyol. la dapat menduga pula bahwa luka ayahnya amat berat, maka ayahnya menjadi
nekat, berkorban untuknya.
Dengan air mata bercucuran ia menghampiri Swan Bu, lalu digandengnya lengan kanan pemuda itu dan
ditariknya. "Mari kita berangkat, Swan Bu."
"Sebentar, anakku..." The Sun dengan langkah lebar menghampiri mereka, memandang dengan penuh
keharuan, tiba-tiba merangkul Swan Bu dan mencium dahi pemuda itu, merangkul Siu Bi dan mencium
dahi gadis ini, lalu melepaskan mereka. "Pergilah, lekas... pergilah, selamat berbahagia!"
la masih berdiri dengan air mata bercucuran memandang ke arah lenyapnya dua orang muda itu ketika
muncul Ang-hwa Nio-nio yang berlari-lari ke tempat itu. Terdengar nenek itu menjerit, lalu menubruk
jenazah Ouwyang Lam dan menangis tersedu-sedu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera
meloncat bangun dan berdiri menghadapi The Sun yang sudah membalikkan tubuh karena sadar dari
lamunan sedih oleh tangis dan jerit Ang-hwa Nio-nio tadi.
Ang-hwa Nio-nio hampir gila oleh marah dan sedihnya melihat murid atau kekasihnya telah tewas. Dengan
mata mendelik ia memandang kepada The Sun dan berteriak penuh kemarahan,
"Katakan, siapa yang membunuhnya? Dan kau ini siapa?"
The Sun yang telah dapat menguasai keharuan hatinya, kini tersenyum duka. "Kui-toanio (nyonya Kui),
agaknya kau sudah lupa lagi padaku. Dua puluh tahun yang lalu, aku dan guruku Hek Lojin bukankah
menjadi kawan seperjuangan dengan Ang-hwa Sam-cimoi?"
Nenek itu memandang heran ke arah lengan yang buntung, akan tetapi sekarang ia telah teringat. "Aahhh,
kau The Sun... ehhh, gadis itu, Siu Bi... dia puterimu?"
Sebelum The Sun menjawab, nenek itu yang ingat lagi akan mayat pemuda kekasihnya. Cepat dia
bertanya, dan suaranya berubah tidak semanis tadi, "The Sun, siapakah yang membunuh Ouwyang Lam?
Siapa?"
Setelah sekarang Siu Bi dan Swan Bu pergi, baru The Sun merasa betapa dadanya sakit bukan main, juga
lengannya yang buntung. Rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum dan ke jantung, membuat
matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan tubuhnya menggigil.
Akan tetapi The Sun menggigit bibirnya, mengerahkan seluruh daya tahan yang ada di tubuhnya untuk
melawan rasa nyeri ini agar dia dapat menghadapi Ang-hwa Nio-nio.
"Dia ini hendak mengganggu anakku dan... mantuku, oleh karena itu aku turun tangan membunuhnya!"
Ang-hwa Nio-nio kelihatan amat kaget dan heran, akan tetapi kemarahannya memuncak mengalahkan
perasaan-perasaan lain. Dia mundur tiga langkah, mengeluarkan jerit aneh setengah menangis setengah
tertawa, lalu menubruk ke depan melakukan penyerangan dahsyat, pedangnya menubruk perut, tangan
kirinya melancarkan pukulan Ang-tok-ciang!
The Sun adalah seorang jago kawakan yang tentu saja sudah maklum betapa lihainya nenek ini. Apa lagi
dia dalam keadaan terluka hebat, lengan buntung dan dada tergores pedang. Andai kata dia dalam
keadaan sehat dan segar bugar sekali pun, dia maklum bahwa nenek ini bukan lawannya yang seimbang.
Mendiang gurunya, Hek Lojin, kiranya baru merupakan lawan setanding.
Maka dia bukan tidak tahu bahwa pertempuran ini akan berakhir dengan kekalahannya. Namun dia tidak
takut, tidak gentar. Apa lagi karena apa yang dia idam-idamkan sudah tercapai, yaitu menarik Siu Bi
kembali padanya, sebagai anaknya. la terlalu cinta kepada anak itu yang semenjak kecil dia anggap anak
sendiri.
Ketika Siu Bi pergi, dia sudah mengalami penderitaan batin yang lebih hebat dari pada penderitaan apa
pun juga, lebih hebat dari pada kematian. Bahkan sebelum dia bertemu dengan Siu Bi, hanya tubuhnya
yang masih hidup untuk menghadapi segala kepalsuan hidup, sedangkan batinnya sudah hampir mati.
Baru setelah Siu Bi menyebutnya ayah, mengaku ayah padanya, jiwanya segar kembali dan The Sun
merasakan kebahagian dan kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia. la puas, dia lega, dan dia bahagia
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga menghadapi bahaya maut di tangan Ang-hwa Nio-nio disambutnya dengan senyum!
Betapa pun juga, darah jagoan tidak membiarkan dia mati konyol begitu saja. la seorang ahli silat yang
berkepandaian tinggi, meski pun tingkatnya tidak setinggi tingkat Ang-hwa Nio-nio. Namun dia harus
memperlihatkan bahwa selama puluhan tahun belajar ilmu silat tidaklah sia-sia. la harus melawan matimatian.
Tangan kanannya yang memegang pedang bergerak melindungi tubuh. Dia menggeser kakinya ke
belakang terus ke kiri, membabatkan pedangnya ke tengah-tengah gulungan sinar pedang di tangan Anghwa
Nio-nio.
"Trang-trang-tranggg...!"
Mereka berdua terpental mundur, masing-masing tiga langkah. Hal ini aneh.
Sesungguhnya dalam hal kepandaian mau pun tenaga dalam, The Sun kalah jauh oleh Ang-hwa Nio-nio.
Apa lagi dia dalam keadaan terluka dan tubuhnya sudah lemah sekali. Akan tetapi, mengapa tiga kali
pedangnya dapat menangkis pedang lawan dan dia dapat mengimbangi tenaga Ang-hwa Nio-nio?
Bukan lain karena rasa bahagia dan ketabahan yang luar biasa, yang membuat The Sun tidak peduli lagi
akan mati atau hidup. Perasaan ini lalu mendatangkan tenaga mukjijat kepadanya.
Memang, di dalam tubuh manusia ini tersimpan tenaga mukjijat yang rahasianya belum diketahui oleh si
manusia sendiri. Kadang-kadang saja, di luar kesadarannya, tenaga ini menonjolkan diri, membuat orang
dapat melakukan hal yang tidak mungkin dilakukannya dalam keadaan normal.
Rasa takut yang berlebih-lebihan, rasa marah yang melewati batas, rasa cinta mau pun gembira yang
mendalam, kadang-kadang dapat menarik tenaga mukjijat di dalam diri ini sehingga timbul dan
memungkinkan orang melakukan hal yang luar biasa, hal-hal di atas kemampuannya yang normal.
Demikian pula agaknya dengan The Sun pada saat itu. Secara aneh sekali, perasaan bahagia yang amat
mendalam membuat dia tak gentar menghadapi apa pun juga. Mati atau hidup baginya sama saja,
pokoknya dia sudah diterima sebagai ayah oleh Siu Bi dan inilah idam-idaman hatinya.
Perasaan inilah yang membangkitkan tenaga mukjijat sehingga dia mampu menangkis sambaran pedang
Ang-hwa Nio-nio sambil mengelak dari pukulan Ang-tok-ciang. Akan tetapi, karena memang kalah tingkat
dan pula tangan kirinya tak dapat dia gunakan lagi sehingga keseimbangan tubuhnya dalam bersilat juga
terganggu, maka ketika Ang-hwa Nio-nio terus menerus mendesaknya dengan kemarahan meluap-luap,
The Sun hanya mampu mempertahankan dirinya saja.
"Singgg…!"
Pedang Ang-hwa Nio-nio menyambar, hampir saja mengenai kepala The Sun kalau saja dia tidak cepatcepat
membanting dirinya ke belakang dan terhuyung. Pada waktu itu, Ang-hwa Nio-nio sudah
menyusulkan pukulan Ang-tok-ciang. Dalam keadaan terhuyung-huyung ini, tentu saja The Sun tidak
mampu lagi mengelak.
"Uhhh...!"
Dada The Sun serasa ditumbuk palu godam, tergetar seluruh isi dadanya dan tubuhnya terlempar sampai
tiga meter lebih. The Sun roboh dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Pada saat itu pula Ang-hwa
Nio-nio sambil terkekeh-kekeh mengerikan sudah melompat datang dengan pedang terangkat.
Akan tetapi The Sun sama sekali tidak gentar, juga tak mau menyerah. Dalam keadaan setengah rebah ini,
dia masih mampu mengangkat pedangnya dan menangkis bacokan pedang lawan.
"Tranggg...!"
Pedang di tangan The Sun patah menjadi dua, ujungnya menancap di dadanya sendiri dan gagangnya
mencelat entah kemana. The Sun menggulingkan tubuhnya ke depan dan tangan kanannya dikepal
melancarkan pukulan sambil menendang. Hebat serangan ini, dan tidak terduga-duga lagi. Siapa bisa
menduga orang yang sudah terluka seperti itu masih dapat melakukan serangan begini dahsyat?
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ihhh...!" Ang-hwa Nio-nio berteriak kaget dan marah.
Biar pun dia dapat menghindar, namun ujung kaki The Sun menyambar pipinya, dekat hidung. Dia
mencium bau sepatu yang amat tidak enak dan hal ini dianggap merupakan penghinaan yang melewati
takaran.
"Keparat, mampus kau!" bentaknya, pedangnya membacok lagi sekuat tenaga.
"Crakkk!"
Lengan kanan The Sun yang menangkis bacokan ini seketika terbabat buntung! Darah muncrat bagaikan
air pancuran. Akan tetapi The Sun masih melompat bangun, kedua kakinya bergerak seperti kitiran angin
melakukan tendangan berantai.
"Wah, gila...!" Ang-hwa Nio-nio merasa seram juga.
The Sun sudah bermandikan darah, juga pakaiannya ternoda darah yang mancur dari lengannya, akan
tetapi tendangannya masih amat berbahaya. Dengan sangat marah dan penasaran Ang-hwa Nio-nio
mengayun pedangnya memapaki kaki yang menendang.
"Crokkk!"
Kaki kanan The Sun putus sebatas lutut dan tubuhnya terguling. Namun hebatnya, tidak satu kali pun
jagoan ini mengeluarkan suara keluhan. Dia rebah dengan mata melotot memandang Ang-hwa Nio-a nio,
mulutnya tersenyum penuh ejekan.
"Setan kau!"
Ang-hwa Nio-nio menubruk maju dan pedangnya dikerjakan laksana seorang penebang pohon memainkan
kapaknya. Terdengarlah suara crak-crok-crak-crok dan dalam waktu beberapa detik saja tubuh The Sun
tercacah hancur! Mengerikan sekali!
Ang-hwa Nio-nio mengangkat mayat Ouwyang Lam dan dibawanya lari pergi. Terdengar lengking
tangisnya sepanjang jalan. Ada pun mayat The Sun yang sudah tak karuan lagi bentuknya itu menggeletak
di atas tanah di dalam hutan.
Sunyi sekali di situ. Tiada suara apa-apa kecuali suara burung hutan yang bersembunyi mengintai di atas
pohon. Yang kelihatan bergerak hanya binatang-binatang hutan yang bersembunyi di dalam gerumbulan,
menanti saat untuk menikmati hidangan daging dan darah yang disia-siakan itu. Kematian seorang
manusia yang sangat mengerikan, juga menyedihkan.
Patut dikasihani manusia seperti The Sun itu, sungguh pun kematiannya itu tidaklah mengherankan apa
bila kita mengingat dan menilai perbuatan-perbuatannya di waktu dia masih muda. Telah ditumpuknya
dosa, dan sekarang agaknya dia harus menebusnya. Sayang, amat terlambat dia insyaf.
Di waktu muda dahulu, kedudukan, kekuasaan, kekuatan, dan harta benda membuat dia takabur.
Membuatnya sewenang-wenang, seakan-akan di dunia ini tidak ada kekuasaan yang dapat melawannya,
yang dapat mengadili perbuatan-perbuatannya. Pada waktu itu dia lupa bahwa di atas segala kekuasaan
yang tampak di dunia ini, masih ADA kekuasan tertinggi, kekuasaan Tuhan yang tak terlawan, yang maha
adil, yang takkan membiarkan kejahatan lewat tanpa hukuman.
Setiap perbuatan merupakan sebab dan tiap sebab mempunyai akibat. Nasib di tangan Tuhan? Betul,
karena Tuhanlah yang mengatur lancarnya akibat-akibat ini seadil-adilnya maka Maha Adillah DIA.
Nasib di tangan manusia sendiri? Juga betul, karena sebenarnya, manusia itu sendirilah yang menjadi
sebab dari akibat yang disebut kemudian sebagai nasib! Perbuatan baik tentu berakibat baik, sebaliknya
perbuatan busuk pasti akan berakibat buruk, maka baik buruknya akibat atau nasib sesungguhnya adalah
di tangan si manusia itu sendiri.
Bagi mereka yang berbuat kejahatan tapi belum menerima hukuman dari Tuhan, jangan terlalu keras
ketawa gembira. Yakinlah, bahwa akibat perbuatanmu pasti akan tiba pula! Tuhan Maha Adil…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Kuil tua di kota Kong-goan semakin sunyi keadaannya. Semenjak kuil tua itu dijadikan semacam markas
oleh Ang-hwa Nio-nio dan sekutunya, penduduk menganggap tempat itu sebagai tempat terlarang, tempat
yang sangat seram dan berbahaya sehingga kuil ini seakan-akan terasing. Apa lagi di waktu malam, tidak
ada orang berani lewat dekat kuit ini.
Cukup banyak pula penduduk Kong-goan yang menganggap kuil itu sebagai tempat yang angker, sebagai
rumah setan dan iblis! Hal ini tidaklah aneh kalau mereka pernah melihat berkelebatnya bayangan yang
dapat ‘menghilang’ dan kadang-kadang dapat ‘terbang’ ke atas genteng, bahkan sering pula melihat
cahaya berkelebatan di atas kuil.
Akan tetapi pada malam hari itu, dua sosok bayangan orang dengan langkah perlahan dan tenang
menghampiri kuil tua ini, tanpa ragu-ragu memasuki pekarangan kuil yang gelap. Mereka ini bukan lain
adalah suami isteri sakti dari Liong-thouw-san, Pendekar Buta dan isterinya!
"Sunyi sekali, agaknya kosong," berkata Hui Kauw setelah meneliti keadaan di sekeliling tempat itu dengan
pandang matanya.
"Memang kosong," kata Kun Hong yang juga meneliti keadaan dengan pendengarannya, ”akan tetapi
mungkin nanti atau besok mereka akan kembali. Tempat ini belum lama ditinggalkan orang, hawa manusia
masih bergantung tebal di ruangan ini."
Setelah melakukan pemeriksaan dan yakin bahwa kuil tua itu tidak ada penghuninya, Kun Hong dan Hui
Kauw lalu duduk bersila di ruangan belakang yang lantainya bersih. Mereka melewatkan malam di tempat
itu, sambil menunggu dan bersikap waspada.
Di tempat inilah Kong Bu melihat putera mereka yang didakwa melakukan perbuatan jahat terhadap Lee Si,
puteri pendekar Min-san itu. Dengan demikian berarti bahwa putera mereka itu terkena fitnah di tempat ini.
Maka, dengan hati penuh kekhawatiran mereka menduga-duga apakah yang telah terjadi di sini dan siapa
gerangan yang melakukan perbuatan curang mengadu domba itu.
Akan tetapi malam itu tak terjadi apa-apa. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali baru terdengar
langkah-langkah kaki di luar kuil tua itu. Kun Hong dan isterinya tentu saja mendengar suara ini dan
mereka sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan. Mereka bangkit berdiri dan tanpa kata-kata
keduanya seperti sudah bermufakat, berjalan perlahan keluar menuju ke ruangan depan untuk menyambut
datangnya musuh.
Sesudah mereka tiba di luar, Hui Kauw melihat seorang gadis cantik dan gagah berdiri dengan tegak dan
pandang mata marah.
"Siapakah dia?" bisik Kun Hong kepada isterinya.
Hui Kauw memandang penuh selidik, mengingat-ingat di mana dan bila mana ia pernah melihat wajah
cantik yang serasa telah amat dikenalnya ini. Gadis itu balas memandang kepadanya, penuh selidik pula.
Dua orang wanita ini saling pandang, agaknya masing-masing menanti ditegur terlebih dulu.
Melihat betapa sikap gadis itu seolah-olah sedang menahan kemarahan besar, Hui Kauw mengalah dan
menegur lebih dulu.
"Nona, siapa kau dan siapa yang kau cari di tempat ini?" Hui Kauw bertanya hati-hati karena ia belum tahu
apakah gadis ini termasuk sekutu pihak lawan ataukah bukan.
"Kalian ini bukankah Pendekar Buta dan isterinya?" Gadis itu balas bertanya.
Hui Kauw dapat menduga bahwa gadis ini pada dasarnya memiliki suara yang halus dan sopan, akan
tetapi karena sedang marah maka terdengar ketus.
"Kalau betul demikian, kenapa?" dia balas bertanya, sabar dan tersenyum.
"Sudah kuduga," Gadis itu berkata perlahan seperti kepada diri sendiri, "sepasang suami isteri yang sakti,
dunia-kangouw.blogspot.com
berilmu tinggi dan menganggap di dunia ini mereka yang paling pandai."
"Ehh, kau siapakah dan apa sebabnya bicara begitu?" Kun Hong bertanya, keningnya berkerut karena
pendengarannya tadi menangkap keperihan hati yang sakit dan penuh dendam.
Namun gadis itu tidak menjawab, melainkan kembali bertanya kepada Hui Kauw sambil matanya
memandang tajam, "Bibi yang gagah perkasa, bolehkah aku bertanya di mana kau menyimpan pedangmu
Kim-seng-kiam?"
Berubah wajah Hui Kauw dan Kun Hong mendengar ini. Bangkit kemarahan di hati Hui Kauw. Pedangnya
lenyap dicuri orang, dan pencurinya hanya tampak bayangannya saja yang bertubuh ramping dan tidak
seorang pun tahu akan kejadian itu. Gadis ini bertubuh ramping dan tahu akan pedangnya yang hilang.
Tentu gadis ini yang telah mencurinya, atau setidaknya tahu akan pencurian pedang itu. Mudah saja
menduganya, seperti dua kali dua sama dengan empat!
"Ehh, bocah nakal! Kiranya kau yang mencuri pedangku? Hayo katakan, sekarang di mana kau
sembunyikan pedangku itu dan apa sebabnya kau mencurinya?" la melangkah maju dua tindak
menghadapi gadis itu.
Kun Hong tetap berdiri, telinganya mengitari segala gerakan dan suara.
"Hemmm, tidak kusangka, isteri Pendekar Buta yang sakti itu pandai pula berpura-pura. Siapa yang berani
dan mampu mencuri pedang dari tangan isteri Pendekar Buta? Lebih baik berterus terang saja bahwa
pedang itu tertinggal di dada ketua Min-san-pai. Kalian mengandalkan kepandaian sendiri, dengan pedang
Kim-seng-kiam membunuh Tan Kong Bu, apakah sekarang masih hendak berpura-pura lagi?"
Kun Hong menahan seruannya, kerut-merut di antara kedua matanya yang buta menjadi makin dalam.
"Kong Bu terbunuh dengan Kim-seng-kiam? Ahhh..., kau siapakah, Nona? Dan apakah yang kau
kehendaki setelah kau menceritakan itu kepada kami?"
"Lebih dulu kalian mengakulah bahwa kalian yang membunuh Tan Kong Bu. Orang yang berani
bertanggung jawab akan perbuatannya barulah orang gagah, dan hanya kepada orang gagah aku mau
memperkenalkan diri. Kalau kalian menyangkal padahal pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya,
berarti kalian walau pun terkenal sakti ternyata hanyalah pengecut dan aku tidak sudi banyak bicara lagi,
karena pedangku yang akan mewakili aku bicara!"
Hui Kauw tidak dapat menahan sabarnya lagi. la melangkah maju lagi beberapa tindak sehingga kini dia
sudah berhadapan dengan gadis itu. Sepasang matanya yang bening memandang tajam seakan berkilat,
alisnya saling berdekatan, urat lehernya menegang.
"Bocah lancang! Besar mulutmu! Kami tak pernah mengagulkan diri sebagai orang-orang sakti dan gagah,
akan tetapi kami juga tak sudi dimaki pengecut! Pedang Kim-seng-kiam memang pedangku, kau mau tahu
namaku ataukah sudah mengenalku? Aku Kwee Hui Kauw. Pedangku itu beberapa hari yang lalu lenyap
dicuri orang. Hal ini tidak ada yang tahu, kecuali aku, suamiku, dan si pencuri. Sekarang kau muncul dan
bicara tentang ini, siapa lagi orangnya kalau bukan kau yang mencuri pedangku? Dan sekarang setelah
kau menggunakan pedang itu untuk membunuh Kong Bu, kau datang ke sini menuduh kami? Keparat,
kiranya kau ini biang keladi semua urusan!" Setelah berkata demikian Hui Kauw menerjang ke depan,
menyerang gadis itu.
Gadis itu bukan lain adalah Tan Cui Sian. Melihat datangnya serangan, dia cepat-cepat mengelak dan
meloncat ke kiri.
"Singgg…!"
Pedang Liong-cu-kiam sudah dicabutnya. Pedang ini mengeluarkan cahaya berkilat yang menyilaukan
mata sehingga Hui Kauw yang dapat mengenal pedang pusaka ampuh, ragu-ragu untuk menyerang lagi
dengan tangan kosong, apa lagi tadi dia melihat betapa gerakan gadis itu amat ringan dan gesit.
"Huh, ganas!" bentak Cui Sian. "Tak kusangka Pendekar Buta dan isterinya hanya begini! Mengandalkan
diri dan kepandaian sendiri untuk menjagoi serta membunuh orang. Aku tahu, pada saat bertemu dengan
kalian tentu Tan Kong Bu telah menuduh bahwa putera kalian menghina puterinya sehingga terjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
percekcokan dan pertempuran. Akan tetapi kalau kalian membunuhnya, hal ini keterlaluan sekali dan aku
tak akan mendiamkannya begitu saja. Hayo, Pendekar Buta, majulah! Kwee Hui Kauw, karena pedangmu
telah kau tinggalkan menancap pada dada Tan Kong Bu, kau boleh mencari senjata lainnya untuk
menghadapiku!"
Bukan main heran dan kagetnya hati Pendekar Buta dan isterinya mendengar ucapan ini. Bagaimana gadis
ini tahu akan urusan Kwa Swan Bu dan Lee Si? Dan tahu pula bahwa Kong Bu telah bentrok dengan
mereka berdua? Siapakah gadis ini?
Perlu diketahui bahwa Hui Kauw belum pernah bertemu dengan Cui Sian, dan Kun Hong pun tak pernah
bertemu semenjak Cui Sian berusia lima tahun. Ketika Swan Bu dalam usia belasan tahun pergi ke Thaisan,
dia ditemani oleh kakeknya, Kwa Tin Siong.
"Kau... kau anak Kong Bu?” Hui Kauw bertanya.
Cui Sian tersenyum mengejek. Gadis ini tidak mau memperkenalkan namanya, karena kalau ia melakukan
hal ini, agaknya akan sukar baginya untuk bersikap seperti ini. Untuk dapat membalas kematian kakaknya,
ia harus bersikap kasar dan bermusuhan. Melihat betapa tadi Hui Kauw telah menyerangnya, ia makin
merasa yakin bahwa Kong Bu tentu tewas di tangan nyonya ini, dan agaknya dibantu oleh Pendekar Buta
karena ia menaksir bahwa kepandaian kakaknya itu tidak kalah oleh kepandaian Kwee Hui Kauw.
"Tak peduli aku siapa, kematian Tan Kong Bu tak boleh kudiamkan saja. Pendekar Buta, kau terkenal
sebagai seorang pendekar yang sakti. Awas, pedangku menyerangmu!" Dengan gerakan kilat Cui Sian
menerjang Pendekar Buta dengan pedang Liong-cu-kiam!
Gadis ini semenjak kecil tak pernah lagi bertemu dengan Pendekar Buta akan tetapi ia sudah mendengar
banyak sekali tentang Kun Hong. Mendengar betapa ayahnya banyak memuji-muji kepandaiannya dan
pernah mendengar pula dari ibunya betapa Kwa Kun Hong menjadi buta karena urusan cinta kasih dengan
mendiang enci-nya yang bernama Tan Cui Bi dan yang tak pernah ia lihat. (baca Rajawali Emas)
Mendengar cerita mengenai kematian enci-nya yang membunuh diri, diam-diam Cui Sian sudah
mempunyai rasa tak senang pada Pendekar Buta, sebab dia menganggap bahwa kematian enci-nya itu
adalah gara-gara Kwa Kun Hong. Apa lagi sesudah mendengar bahwa Kwa Kun Hong tidak setia kepada
enci-nya yang sudah mengorbankan nyawa demi cinta kasihnya, yaitu bahwa Kun Hong sudah menikah,
maka diam-diam dia pun merasa cemburu demi enci-nya, kepada Kwee Hui Kauw.
Puji-puji ayahnya tentang kelihaian Pendekar Buta juga telah membangkitkan penasaran di hatinya. Dulu ia
sering kali melamunkan untuk mengadu kepandaian dengan Pendekar Buta yang sudah mengakibatkan
enci-nya membunuh diri, dan yang dipuji-puji setinggi langit oleh ayahnya.
"Singgg...!"
Pedang Liong-cu-kiam mengeluarkan suara mendesing ketika digerakkan oleh tangan kanan Cui Sian
yang terlatih dan yang gerakannya mengandung tenaga sinkang murni, seketika berubah menjadi seberkas
cahaya kilat meluncur cepat ke arah leher Pendekar Buta!
Biar pun kedua matanya buta, sebagai pengganti kekurangan ini, telinga Pendekar Buta amatlah tajam
pendengarannya, sehingga dengan pendengarannya dia dapat mengikuti gerakan Cui Sian dengan
pedangnya. Alangkah heran dan kaget hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan yang amat
jelas dari Im-yang Sin-kiam murni! Siapa yang dapat memainkan Im-yang Sin-kiam begini indah dan murni
kecuali dia sendiri, dan tentu saja, Raja Pedang Tan Beng San?
la mendiamkan saja tusukan pedang ke arah lehernya ini, tidak ditangkis dan juga tidak dielakkannya. la
tahu bahwa gadis ini menusuknya dengan jurus Sian-li Cui-siauw (Dewi Meniup Suling), sebuah jurus yang
tergolong Im-sin-kiam, memiliki sebutan yang sifatnya ‘Im’ sedangkan sian-li atau dewi termasuk wanita
maka banyak dipakai untuk jurus-jurus Im-sin-kiam. Sebaliknya, dalam Yang-sin-kiam banyak digunakan
sebutan yang sifatnya ‘Yang’.
Kun Hong yang telah mewarisi ilmu pedang sakti ini dari Raja Pedang, tentu saja tahu akan perubahanperubahannya
dan dia tahu pula bahwa tusukan ke arah leher ini, biar pun ujung pedangnya sudah
menyentuh kulit leher lawan, dapat saja dibelokkan apa bila memang si penyerang tak ingin membunuh
lawannya. Oleh karena ini maka dia sengaja tidak mengelak atau menangkis, namun tentu saja siap untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
menghancurkan lawan bila serangan ini diteruskan.
Dugaannya tepat. Pada waktu Cui Sian melihat betapa orang buta itu sama sekali tidak menangkis mau
pun mengelak sehingga pedangnya meluncur terus mengarah leher, dia menjerit tertahan dan cepat dia
menggerakkan pergelangan tangannya mengubah arah pedang. Namun karena dia sedang marah,
gerakan serangannya tadi hebat sekali, apa lagi dia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga. Inilah
yang membuat dia kurang cepat mengubah arah pedang sehingga ujung pedangnya masih menyambar
pundak kiri Kun Hong sehingga robeklah baju pada pundak berikut kulit dan sedikit daging sehingga darah
bercucuran dari luka di pundak.
"Kau... Cui Sian...!” Kun Hong seakan-akan tidak merasakan perihnya luka di pundak.
"Ohhh... kau bocah kurang ajar!" bentak Hui Kauw setelah mendengar seruan suaminya.
Kemarahannya bangkit. Kalau anak ini Cui Sian, berarti dia adik tirinya Tan Kong Bu dan sungguh pun
wajar kalau ia marah atas kematian Kong Bu, akan tetapi tidak seharusnya berlaku begitu nekat dan
menuduh mereka tanpa penyelidikan lagi. Apa lagi sekarang berani menyerang dan melukai suaminya
yang nyata-nyata tidak melawan!
Di lain pihak, Cui Sian yang sudah dikenal, kemudian berdiri dengan pedang melintang di depan dada,
tangan kiri bertolak pinggang. Dia seorang gadis yang berpengetahuan dan berpemandangan luas, akan
tetapi walau pun demikian, dia tetap seorang wanita yang berperasaan halus, mudah tersinggung sehingga
dia bersikap seperti itu karena teringat akan mendiang enci-nya yang membunuh diri karena Kun Hong
ditambah pula kematian kakaknya yang tewas tertikam pedang milik isteri Pendekar Buta.
"Betul, aku Tan Cui Sian! Pendekar Buta, dulu sebelum aku lahir, kau sudah menggoda enci-ku Cui Bi
dengan ketampanan wajahmu, akan tetapi kemudian kau tak bertanggung jawab sehingga menyebabkan
enci-ku tewas membunuh diri. Sekarang, pedang isterimu membuat kakakku Kong Bu tewas pula, tetapi
kembali kalian tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan kalian. Apakah ini perbuatan orang gagah?.
Hayo lawan aku, untuk membereskan perhitungan lama dan baru!"
"Ihhh, sungguh lancang mulutmu!" Hui Kauw berteriak marah sekali.
"Ssttttt, sabarlah isteriku, dia masih anak-anak," kata Kun Hong untuk menyabarkan hati isterinya.
Akan tetapi bagi Cui Sian, ucapan itu merupakan bensin yang menyiram api di dadanya. Dia tadi disebut
anak-anak! Akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut menyatakan kemarahannya, Pendekar Buta
telah mendahuluinya berkata,
"Cui Sian, alangkah sedih hatiku menghadapi kau seperti ini. Teringat aku betapa dahulu, ketika kau masih
kecil, berusia lima enam tahun..."
"Cukup! Tak perlu menggali-gali urusan lama!"
Kun Hong tersenyum, "Kau yang mulai menggali tadi, anak baik. Kau ketahuilah, apa yang dikatakan
isteriku tadi tidak bohong. Pedangnya memang sudah dicuri orang dan kami berdua tidak tahu-menahu
tentang kematian kakakmu Korig Bu. Tentu saja berita ini amat mengagetkan dan menyedihkan..."
"Sudahlah, siapa bisa percaya omongan seorang yang sudah biasa melanggar sumpah sendiri?"
"Apa maksudmu?!" Kun Hong membentak, suaranya kereng.
"Enci-ku membunuh diri demi cinta kasih, memperlihatkan kesetiaannya kepadamu, lebih baik mati dari
pada dijodohkan dengan orang lain. Akan tetapi, belum juga dingin jenazah enci-ku, kau... kau sudah
menikah dengan perempuan lain. Apakah aku sekarang harus percaya omonganmu?"
"Bocah kurang ajar! Jangan kau menghina dia!" Hui Kauw berseru marah sekali.
Tahu-tahu ia sudah merenggut tongkat suaminya, meloloskan pedang dari dalam tongkat itu, pedang yang
mengeluarkan sinar merah, pedang Ang-hong-kiam!
"Hui Kauw, jangan….!” Kun Hong mencegah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dengan pedang Ang-ho-kiam di tangan Hui Kauw sudah melompat maju dan menghadapi Cui
Sian. Kemarahan hebat membuat kedua pipinya menjadi merah sekali. Pedangnya berkelebat dan dengan
cepat ia telah mengirim serangan hebat kepada gadis itu.
"Tranggg!"
Liong-cu-kiam bertemu dengan Ang-ho-kiam, digerakkan oleh dua buah lengan wanita yang memiliki
tenaga sakti. Bunyi nyaring itu diikuti pula dengan bunga api yang muncrat seperti kembang api.
"Bagus!" kata Cui Sian. "Memang Kim-seng-kiam yang tertancap di dada kakakku adalah pedangmu, maka
sudah sepatutnya jika kau mempertanggung jawabkan keganasanmu. Ini bukan berarti aku takut kalau kau
mengandalkan suamimu Si Pendekar Buta..."
"Tutup mulutmu! Lihat pedang!" Hui Kauw membentak lagi sambil memutar pedang.
Segulung sinar merah berkelebatan di udara, membentuk lingkaran-lingkaran lebar yang bergelombang,
kemudian bagaikan seekor naga berwarna merah gulungan sinar pedang itu menyambar ke arah kepala
Cui Sian. Cepat bukan main sambaran sinar pedang ini, cepat dan anginnya begitu tajam mendesing
sehingga ketika Cui Sian menggerakkan kaki menekuk pinggang ke bawah, sinar pedang itu menyambar
lewat di atas kepalanya, meninggalkan bunyi berdesing yang menyeramkan.
Namun Cui Sian sendiri adalah seorang ahli pedang yang sudah tergembleng matang di puncak Thai-san.
Tidak percuma kiranya ia menjadi puteri seorang pendekar sakti yang berjuluk Raja Pedang.
Ibunya pun seorang ahli pedang, malah puteri tunggal dari Raja Pedang Tua Cia Hui Gan, pewaris Ilmu
Pedang Sian-li Kiam-sut yang tidak ada taranya sebelum muncul Tan Beng San dengan Ilmu Pedang Imyang
Sin-kiam yang sebetulnya satu sumber dengan Sian-li Kiam-sut. Dengan latar belakang keturunan
seperti ini, tentu saja Cui Sian adalah seorang ahli pedang yang sakti, biar pun ia hanya seorang gadis
yang berusia dua puluh empat tahun.
Begitu sinar merah yang berdesing itu lewat di atas kepalanya, Cui Sian tidak menanti sampai lawannya
menyerangnya kembali. la maklum bahwa menghadapi seorang lawan tangguh seperti isteri Pendekar
Buta ini, dia tidak boleh sekali-kali berlaku sungkan atau menghemat serangan, harus dapat membalas
serangan demi serangan, bahkan sedapat mungkin memperbanyak serangan dari pada pertahanan.
Pedangnya digerakkan cepat dan sesosok sinar putih menyilaukan mata, laksana kilatan halilintar,
menyelonong dari bawah masuk ke arah dada Hui Kauw.
Pedangnya tidak hanya berhenti sampai di sini karena ujungnya tergetar dan hal ini menyatakan bahwa
setiap saat pedangnya ditangkis atau dielakkan lawan, ujung pedang akan dapat melanjutkan serangan
dengan jurus yang lain. Tangan kiri gadis itu ditarik ke belakang, lurus dan telapak tangannya dibalik
menghadap ke atas.
Indah sekali gerakannya, dengan ujung kaki kanan menotol tanah, tumit diangkat, lutut agak ditekuk ke
depan. Inilah gerakan indah seperti gerak tari yang bernama jurus Sian-li Hoan-eng (Sang Dewi Menukar
Bayangan), yaitu sebuah jurus dari Sian-li Kiam-sut yang mengandung tenaga Im-yang Sin-hoat, maka
hebatnya bukan kepalang!
Pada waktu tadi menyerangkan pedangnya ke arah kepala lawan dan dapat dielakkan, otomatis dada Hui
Kauw terbuka. Sebagai isteri Pendekar Buta, tentu saja ia maklum akan kedudukan yang lemah ini.
Memang setiap kali menyerang berarti membuka satu bagian yang tidak terlindung. Akan tetapi kalau
sudah menguasai kelemahannya sendiri, tentu saja dapat menjaga diri.
Hui Kauw pernah mewarisi ilmu silat tinggi dari sebuah kitab kuno yang dia temukan. Kemudian oleh
suaminya, ia dibimbing dan mewarisi beberapa jurus Kim-tiauw-kun yang amat hebat, yang lalu ia gabung
dengan ilmu silatnya sendiri sehingga kini memiliki ilmu pedang gabungan yang amat kuat dan dahsyat.
Seperti yang telah ia duga, kekosongan yang terbuka dalam posisinya digunakan lawan. Melihat sinar
pedang putih mengancam dada, pedang ia balikkan ke bawah lengan dan dengan pengerahan tenaga
sinkang ia cepat menarik lengan yang ditamengi pedang ini ke bawah.
"Criinggg...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kembali sepasang pedang bertemu di udara. Sinar pedang putih yang amat lincah itu begitu kena
ditangkis, membalik dan tahu-tahu sudah berubah menjadi sabetan ke arah kaki!
Inilah kelihaian Sian-li Hoan-eng tadi. Begitu ditangkis dan ditindas dari atas oleh lengan Hui Kauw yang
dilindungi pedang dibalik, pedang Liong-cu-kiam terpukul ke bawah, akan tetapi pukulan ini malah
merupakan landasan tenaga untuk dipergunakan membabat kaki dengan kecepatan kilat!
"Aiiiiihhh...!" Nyonya Pendekar Buta menjerit lirih.
Tahu-tahu kakinya menjejak bumi sehingga tubuhnya mumbul ke atas bagai dilontarkan. Begitu hebat
ginkang-nya hingga lompatannya lebih cepat dari pada sambaran pedang. Sinar putih itu hanya beberapa
senti meter saja lewat di bawah kakinya, nyaris sepasang kaki nyonya ini terbabat buntung!
"Bagus...!" Cui San memuji saking kagumnya menyaksikan gerakan yang sangat indah dan cepat ini.
Itulah gerakan dari Kim-tiauw-kun yang disebut jurus Sin-tiauw-coan-hong (Rajawali Sakti Terjang Angin).
Jurus ini tak hanya dapat dipergunakan untuk menyelamatkan serangan di tubuh bagian bawah dengan
cara melompat lurus ke atas dengan jalan menotolkan ujung kaki ke tanah, melambung ke atas sambil
mengembangkan kedua lengan seperti sayap rajawali sakti, namun lebih dari itu, jurus ini dapat
dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara yang dilakukan seekor rajawali.
Dan hal ini pun dilakukan oleh Hui Kauw, karena tiba-tiba saja tubuhnya dari atas telah berjungkir-balik dua
kali sehingga tubuh itu mencelat semakin tinggi, kemudian turunnya tepat melayang ke arah lawan,
pedangnya menusuk dada, tangan kiri mencengkeram muka, sedangkan dua kakinya masih melakukan
tendangan udara. Benar-benar seperti rajawali yang menyerang dengan sepasang sayap dan sepasang
cakarnya!
Cui Sian sangat kaget melihat perubahan ini. la tadinya agak terpesona oleh keindahan gerakan lawan,
tidak tahu bahwa di dalam keindahan itu tersembunyi bahaya maut yang kini mengancamnya! la sadar
akan kehebatan penyerangan ini setelah lawan tiba dekat sekali, bahkan angin pedang yang bersinar
merah itu sudah lebih dahulu meniup.
"Hayaaaaah!" Cui Sian berseru.
Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih melingkar di depan dada menangkis sinar pedang
merah, kemudian sambil menggunakan tenaga benturan ini ia membanting tubuhnya ke belakang.
Orang lain tentu akan celaka apa bila melakukan gerakan ini. Sedikitnya, kepala akan terbanting pada
tanah atau batu di belakangnya. Akan tetapi tidak demikian dengan Cui Sian. Gerakan inilah yang disebut
jurus Sian-li-loh-be (Gerakan Membalik Seorang Dewi) yang selain menegangkan, juga amat indah karena
digerakkan oleh tubuh yang ramping, manis dan lemah-gemulai.
Biar pun tadinya kepala yang berambut hitam panjang halus harum itu seperti terbanting ke belakang dan
ke bawah, namun bukan menghantam tanah di belakang, melainkan terayun terus ke bawah seiring
dengan terangkatnya kedua kaki ke depan dan ke atas, lantas tubuh itu membuat salto sampai tiga kali ke
belakang! Membuat salto ke depan adalah mudah dan agaknya dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau
melatihnya. Akan tetapi membuat salto ke belakang berturut-turut tiga kali tanpa ancang-ancang dan dalam
keadaan terjepit seperti itu, kiranya hanya dapat dilakukan oleh akrobat-akrobat tingkat tinggi saja!
Diam-diam Hui Kauw kaget dan kagum sekali. Serangannya tadi dengan jurus Sin-tiauw Coan-hong tadi
sangat hebat dan jarang sekali tak membawa hasil baik karena serangan itu selain tidak terduga-duga
datangnya, juga amat sukar ditangkis atau dielakkan sebab sekaligus kedua tangan dan kedua kakinya
menyerang.
Akan tetapi ketika tadi gadis itu tubuhnya berputar-putar seperti kitiran angin ke belakang menjauhinya,
otomatis serangannya gagal mutlak, karena tubuhnya yang melayang dari atas tak mungkin dapat ‘terbang’
mengikuti gerakan lawan. Terpaksa ia turun kembali ke atas tanah dan pada saat kedua kakinya menginjak
tanah, lawannya yang muda belia itu sudah berdiri pula dengan tegak.
Kini mereka berdiri agak berjauhan karena gerakan salto Cui Sian tadi. Jarak di antara mereka ada lima
meter. Masing-masing berdiri dengan pedang di tangan, melintang di depan dada. Dua kaki agak
dunia-kangouw.blogspot.com
terpentang, tangan kiri di atas pinggul kiri, bibir agak terbuka serta nafas sedikit memburu karena
pengerahan tenaga sinkang tadi dicampur dengan ketegangan, sepasang mata menyinarkan api berkilatkilat,
sepasang pipi merah jambu. Bagaikan dua ekor singa betina mereka saling pandang, seakan-akan
hendak menaksir kekuatan lawan sambil mengasah otak untuk mengeluarkan jurus-jurus pilihan agar bisa
segera merobohkan lawan yang tangguh.
Sejak tadi, kerut-merut di antara kedua mata Kun Hong tampak nyata, nafasnya agak terengah dan
beberapa kali dia membanting kaki kiri ke atas tanah. Bingung sekali dia. la maklum bahwa di antara
mereka terjadi kesalah pahaman yang amat besar dan amat berbahaya, akan tetapi bagaimana dia dapat
mencegah mereka bertanding? Keduanya telah tersinggung perasaan dan kehormatan, masing-masing
membela kebenaran sendiri dan satu-satunya jalan untuk menghentikan kesalah pahaman ini hanya
mengemukakan fakta-fakta.
Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tak mungkin dia dapat memperlihatkan bukti untuk membuka tabir
rahasia ini. Kong Bu terbunuh orang, pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Tentu saja adik tirinya
ini, Cui Sian, menjadi marah dan menuduh mereka berdua yang melakukan pembunuhan itu.
"Hui Kauw... Cui Sian... hentikanlah pertempuran yang tak ada gunanya ini... dengarkan aku..."
Akan tetapi dia melanjutkan kata-katanya dengan helaan nafas panjang sebab pada saat itu kedua orang
singa betina itu sudah saling terjang lagi dengan lebih hebat dari pada tadi. Kini mereka saling menguji
lawan dengan gerakan cepat, atau jelasnya, masing-masing hendak mengandalkan kecepatan untuk
mencapai kemenangan.
Gerakan mereka bagai sepasang burung walet, sulit sekali diikuti pandangan mata biasa. Pedang mereka
lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulung sinar merah dan putih yang berkelebatan ke sana ke mari,
saling belit, saling tekan, saling dorong dan saling kurung sehingga menimbulkan pemandangan yang
ajaib, indah, tapi penuh ketegangan karena di antara semua keindahan itu mengintai maut!
Segera ternyata oleh kedua orang wanita jagoan itu bahwa dalam ilmu ginkang, nyonya Pendekar Buta
dengan gerakan Kim-tiauw-kun masih lebih unggul sedikit. Akan tetapi keunggulan ini dapat ditutup oleh
puteri Raja Pedang dengan kelebihannya dalam tenaga Iweekang yang merupakan penggabungan atau
kombinasi dari Im-kang dan Yang-kang dari Im-yang Sin-hoat.
Ketika Hui Kauw melakukan serangan dengan jurus Kim-tiauw Liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air),
pedangnya membacok dari atas ke bawah dengan dua kali kelebatan, mirip seperti orang menulis huruf Z.
Cui Sian yang menjadi silau matanya saking hebatnya serangan ini, cepat menggerakkan pedang Liongcu-
kiam menangkis, dilanjutkan dengan serangan menusuk dada. Dalam menangkis ini, Cui Sian
menggunakan jurus Yang-sin Kiam-hoat yang disebut Jit-ho Koan-seng (Api Matahari Menutup Bintang).
Pedangnya diputar menjadi gulungan sinar bulat yang digerakkan hawa panas sehingga tangan Hui Kauw
yang memegang pedang serasa akan pecah-pecah telapak tangannya. Kemudian, sinar pedang yang bulat
seperti bentuk matahari ini mendadak mengeluarkan kilatan meluncur ke depan ketika jurus dari Yang-sinkiam
itu diubah mejadi jurus Im-sin-kiam yang disebut Bi-jin Sia-hwa (Wanita Cantik Memanah Bunga).
"Hui Kauw... awas...!” terdengar Kun Hong berseru kaget. Pendengarannya yang luar biasa tajam itu dapat
mengikuti pertandingan ini seakan-akan dia dapat melihat saja.
Tanpa seruan ini pun Hui Kauw sudah kaget setengah mati karena sama sekali tidak disangkanya bahwa
pedang lawan yang diputar untuk menangkis itu tahu-tahu dapat diubah menjadi serangan yang
mengeluarkan hawa dingin. Pedangnya sendiri pada detik itu berada di atas karena tangannya terpental
oleh tangkisan tadi, maka untuk menangkis tidak ada kesempatan lagi.
Agaknya pedang lawan akan menancap di dadanya. Dan mungkin ini yang dikehendaki Cui Sian untuk
membalas kematian kakaknya dengan serangan yang sama, menikam dada!
Akan tetapi Hui Kauw bukan seorang wanita sembarangan yang akan putus asa dalam menghadapi
terkaman maut. Dengan nekat dia hendak mengadu nyawa. Tubuhnya dia tekuk ke bawah menjadi
setengah berjongkok dan pedangnya membabat miring ke arah kaki lawan. la maklum bahwa ia tidak akan
dapat terhindar dari tusukan maut itu, akan tetapi agaknya pedangnya sendiri pun akan mendapat korban
dua buah kaki!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aiihhh...!" Cui Sian berseru, kagum dan kaget.
Tapi ia cepat melompat ke atas sehingga pedang Hui Kauw menyambar lewat di bawah kedua kakinya,
hanya beberapa senti meter saja selisihnya. Akan tetapi karena tubuh Hui Kauw merendah dan dia sendiri
terpaksa melompat, pedangnya berubah arah dan tidak jadi menancap dada melainkan menyerempet
pundak kiri Hui Kauw.
Nyonya Pendekar Buta itu mengeluh perlahan. Daging di pundaknya robek dan darah mengalir banyak. la
terhuyung ke belakang, pandang matanya nanar.
"Hui Kauw...!"
Sekali kakinya bergerak, Kun Hong sudah melayang ke dekat isterinya dan merangkul tubuhnya. Cepat
jari-jari tangannya mencari dan mendapatkan luka di pundak. Hatinya lega, luka itu besar akan tetapi hanya
luka daging saja, tidak berbahaya. la menotok dua jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah dan
mengurangi rasa nyeri.
"Cu Sian, kau terlalu mendesak kami...," katanya kemudian sambil menyuruh isterinya duduk beristirahat di
pinggir. Pedang Ang-hong-kiam sudah dia masukkan kembali ke dalam tongkatnya.
Cui Sian melangkah maju, suaranya lantang dan ketus dengan nada penuh tantangan, "Pendekar Buta,
untuk membalaskan kematian kakakku yang sama sekali tidak berdosa, pembunuhnya harus kubunuh
pula!"
Setelah berkata demikian, Cui Sian tiba-tiba melompat cepat sekali dengan maksud agar orang buta itu tak
sempat menghalanginya. la melompat ke dekat Hui Kauw yang duduk bersila sambil meramkan mata,
mengumpulkan kembali tenaga dan memulihkan lukanya. Dengan gerakan cepat ia mengangkat
pedangnya, menusuk ke arah dada Hui Kauw.
"Tranggggg...!"
Cui Sian hampir jatuh jungkir-balik saking kerasnya tangkisan ini, yang lantas membuat lengannya
kesemutan dan membuat ia cepat melompat ke belakang. Matanya terbelalak marah ketika melihat bahwa
yang menangkis pedangnya tadi adalah tongkat di tangan Kun Hong yang entah kapan telah berada di
dekat isterinya.
"Bagus, kau telah membelanya? Awas pedang!"
la sudah menerjang maju dan sekarang dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena maklum bahwa ia
berhadapan dengan seorang yang sakti.
Hampir saja Cui Sian berdiri melongo paking herannya kalau saja ia tidak didorong oleh kemarahan dan
sakit hati. Pendekar Buta itu hanya terus berdiri tegak dengan tongkat di tangan, kulit di antara kedua
matanya kerut-merut, mulut setengah tersenyum setengah menangis membayangkan keperihan hati, akan
tetapi sama sekali tak melayani ancaman serangan Cui Sian yang sudah kembali menggerakkan pedang
sehingga gulungan sinar putih bergerak-gerak mengurung tubuhnya dari atas ke bawah!
Cui Sian adalah puteri seorang pendekar besar, tentu saja tidak sudi menyerang orang yang tidak
melawannya.
"Pendekar Buta, tak perlu kau menghina orang dengan kepandaianmu! Hayo kau lawan pedangku kalau
kau membela isterimu yang membunuh kakakku!" teriak Cui Sian sambil menodongkan ujung pedangnya
di depan dada Kun Hong.
Akan tetapi Pendekar Buta tersenyum pahit dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku bukan orang gila, Siauw-moi (Adik Kecil)! Mana bisa aku melawanmu berkelahi? Isteriku tidak
membunuh Kong Bu, aku berani sumpah..."
"Sumpahmu tidak ada harganya!" bentak Cui Sian yang teringat akan mendiang cici-nya. "Mungkin kau
tidak membunuh Kong Bu koko, akan tetapi isterimu adalah puteri Ching-coa-to, sejak kecil tergolong
keluarga penjahat! Aku bunuh dia!" Sambil berkata demikian Cui Sian melompat cepat sekali sambil
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerang Hui Kauw yang masih duduk bersila mengumpulkan tenaga.
"Tranggg!"
Kembali Cui Sian terhuyung mundur ketika pedangnya tertangkis tongkat di tangan Kun Hong. Namun
gadis ini menjadi semakin marah dan dengan nekat mengirim serangan bertubi-tubi, dengan jurus-jurus
terlihai dari Im-yang Sin-kiam.
Betapa pun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, semua sinar pedangnya terpental mundur oleh
tangkisan tongkat yang merupakan sinar merah. Sinar merah itu jauh lebih kuat dari pada sinar putih
pedangnya, agaknya Pendekar Buta hafal betul akan semua gerak-geriknya sehingga ke mana pun juga
pedangnya berkelebat dalam serangannya terhadap Hui Kauw, selalu pedang itu membentur tongkat,
seakan-akan tubuh Hui Kauw terkurung benteng baja yang tak tertembuskan!
Oleh karena semua serangannya selalu tertangkis, Cui Sian menjadi makin marah dan penasaran. Kalau
saja Pendekar Buta melawannya dan ia dikalahkan, hal itu tidak akan mendatangkan rasa penasaran.
Namun orang buta itu hanya menangkis dan melindungi isterinya, sama sekali tidak membalas sehingga ia
merasa dipermainkan dan dipandang rendah, hanya dianggap anak-anak saja! Apa lagi karena telapak
tangannya yang memegang pedang terasa perih dan panas. Hampir Cui Sian menangis saking jengkelnya.
Pada dasarnya Cui Sian adalah seorang yang berpemandangan luas dan tidak mudah dipengaruhi
kemarahan. Akan tetapi karena ia memiliki hati yang keras pula, sekarang ia hampir tak bisa
mengendalikan kesabaran. Saking gemasnya, ia lalu mulai mengalihkan serangannya kepada Kun Hong
sendiri!
Di lain pihak, diam-diam Kun Hong mulai merasa tidak senang. Gadis ini tidak tahu diri, pikirnya. Tidak tahu
bahwa dia mengalah terus. Tentu saja tak mungkin dia membiarkan isterinya dibunuh! Siapa pun juga
orangnya yang akan mengganggu isterinya, akan dia lawan mati-matian. la akan rela mengorbankan
nyawanya untuk membela isterinya yang tercinta.
"Sian-moi, kau tak tahu diri!" bentaknya sambil menangkis agak keras sehingga Cui Sian terhuyung dan
terpental sampai beberapa meter jauhnya.
"Memang aku tidak tahu diri!" Dalam kemarahannya Cui Sian berteriak-teriak. "Kakakku dibunuh isterimu,
seharusnya aku diam saja dan minta ampun kepada isterimu. Begitu, bukan? Kenapa aku marah-marah
dan hendak menuntut balas? Memang aku tidak tahu diri, nah, gunakanlah tongkatmu untuk melawanku
dan membunuhku pula!"
Ucapan ini ditutup dengan serangan kilat, serangan dengan jurus yang disebut Pat-sian Lo-hai (Delapan
Dewa Kacau Lautan), merupakan sebuah jurus Yang-sin Kiam-hoat dan hebatnya bukan main. Sambaran
angin pedang Liong-cu-kiam menjadi panas bagaikan mengandung api dan serangannya menyambar
datang dari delapan penjuru angin. Inilah jurus yang paling hebat dari ilmu pedang Cui Sian yang sengaja
dipergunakan oleh gadis itu secara nekat untuk menghadapi Pendekar Buta yang jauh lebih lihai dari
padanya itu.
Terkejut sekali hati Kun Hong ketika pendengarannya menangkap desir angin serangan jurus yang ampuh
ini. la menyesal sekali dan juga makin tak senang. Jurus ini dikenalnya baik dan dia beranggapan bahwa
bila orang sudah menggunakan jurus macam Pat-sian Lo-hai ini, berarti orang itu hendak mengadu nyawa
dan sudah nekat.
Dia mengeluarkan suara melengking keras. Tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah laksana darah.
“Cringg! Cringg!” terdengar bunyi delapan kali dan...
Cui Sian terlempar sampai lebih dari lima meter jauhnya, terbanting ke atas tanah diikuti pedangnya yang
melayang ke atas dan menancap di dekatnya! Seketika gadis itu nanar dan bumi di sekelilingnya serasa
berputaran!
"Bocah tak tahu diri!" kembali Kun Hong mengomel.
"Sian-ji (anak Sian), engkau benar-benar tidak tahu diri, berani melawan Pendekar Buta. Tentu saja kau
kalah...," tiba-tiba terdengar suara halus dan dalam.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ayah...!" seru Cui Sian girang dan mengandung isak. “Ayah… kau balaskan kematian... kematian... Kong
Bu koko...." Dan gadis ini menangis terisak-isak.
Kakek tua yang secara tiba-tiba berdiri di situ memang bukan lain adalah ayah Cui Sian, Bu-tek Kiam-ong
Tan Beng San Si Raja Pedang, ketua dari Thai-san-pai! Seorang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun,
tubuhnya tinggi tegap, rambutnya sudah banyak yang putih, jenggotnya panjang, sepasang matanya amat
tajam berpengaruh, sikapnya tenang berwibawa.
"Tenanglah, Sian-ji, tadi aku sudah mendengar semuanya. Aku tidak percaya Kun Hong membunuh Kong
Bu, akan tetapi entah kalau isterinya. Betapa pun juga, kau tidak boleh terburu nafsu, anakku, sebelum ada
bukti."
Sementara itu, bukan main kagetnya hati Kun Hong pada saat mendengar suara Raja Pedang tadi, apa
lagi ucapan pertama yang keluar dari mulut Raja Pedang tadi sedikit banyak mengandung sindiran
terhadap dirinya! Serta merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan Raja Pedang sambil berkata,
"Locianpwe, sekali-kali saya tidak akan berani menghina adik Cui Sian, akan tetapi dia mendesak terus.
Kami berdua tidak merasa membunuh Kong Bu, tentu saja tidak dapat mengaku. Kalau betul isteri saya
membunuh Kong Bu, biarlah Lo-cianpwe turun tangan membunuh kami, kami takkan melawan. Harap
Locianpwe sudi mempertimbangkan dan memeriksa, karena tuduhan itu hanya fitnah belaka.”
"Hemmm, Kun Hong, berdirilah. Kau cukup mengenal watakku yang selamanya tak akan mudah
mendengar keterangan sepihak saja. Betapa pun juga, kiranya Cui Sian tak akan sudi melakukan fitnah,
akan tetapi aku pun tahu bahwa kau bukanlah orang yang suka menyangkal perbuatan sendiri. Sian-ji,
tidak boleh kita menuduh secara buta tuli tentang pembunuhan atas diri Kong Bu sebelum melihat bukti
dan melakukan pemeriksaan. Mari antarkan aku ke tempat kau menemukan jenazah kakakmu. Kun Hong,
kau dan isterimu ikut agar kita bersama dapat membuktikan sendiri."
"Ayah, yang menemukan jenazah Kong Bu koko adalah aku bersama Swan Bu. Karena marah, aku segera
pergi untuk mencari Pendekar Buta dan isterinya, sedangkan Swan Bu masih berada di sana, tentu
jenazah itu sudah dikuburnya."
"Biarlah kita melihat ke sana."
Mendengar bahwa Swan Bu berada di tempat pembunuhan itu, Kun Hong dan isterinya segera bangun
dan tanpa banyak cakap lagi segera mengikuti Cui Sian dan ayahnya. Hati mereka berempat diliputi
pelbagai dugaan dan perasaan tegang, maka di sepanjang jalan mereka berempat tidak banyak bicara.
Ada sesuatu yang merenggangkan mereka dan membuat mereka merasa tidak enak dan tidak suka satu
kepada lain.
Karena melakukan perjalanan cepat mempergunakan ilmu mereka, akhirnya mereka tiba di dalam hutan
kecil di mana Cui Sian menemukan jenazah Kong Bu. Mereka berempat berdiri di depan kuburan baru
yang ditandai tiga buah batu besar.
"Di sini tempatnya. Tentu ini kuburannya, dibuat oleh Swan Bu," kata Cui Sian dan air matanya sudah
mengucur.
"Mana Swan Bu...? Mana anakku...?" terdengar Hui Kauw berkata perlahan.
"Diamlah, baik sekali dia melakukan penguburan ini. Tentu saja dia telah pergi," kata Kun Hong sambil
meraba-raba kuburan.
"Kun Hong, kita sekarang berhadapan dengan kenyataan. Kong Bu sudah terbunuh dan menurut
kesaksian Cui Sian, pedang isterimu menancap di dadanya. Akan tetapi hal itu biar pun sudah merupakan
bukti bahwa Kong Bu terbunuh oleh pedang isterimu, masih belum meyakinkan. Sekarang kita harus
bongkar kuburan ini, biar aku melihat mayat Kong Bu, mungkin aku akan dapat menemukan pemecahan
rahasianya."
"Ayah... kasihan Kong Bu koko... baru beberapa hari dikubur, masa harus dibongkar...?"
"Diamlah, Sian-ji. Orang yang sudah mati tidak perlu dikasihani lagi, karena sebenarnya yang masih hidup
dunia-kangouw.blogspot.com
inilah yang patut dikasihani oleh si mati. Kau bantulah aku!" Setelah berkata demikian, pendekar tua ini
lantas menggunakan tangannya membongkar tanah kuburan, dibantu oleh Cui Sian yang bekerja sambil
mencucurkan air mata.
Akhirnya terbongkarlah kuburan itu dan tampak mayat yang sudah mulai berbau busuk akan tetapi masih
utuh. Utuhkah? Sama sekali tidak karena kedua matanya bolong dan lehernya putus, kepalanya terpisah
dari tubuh.
Terdengar Cui Sian menjerit dan roboh pingsan dalam pelukan ayahnya. Raja Pedang mengeluarkan
suara, gerengan hebat berkali-kali seperti seekor harimau marah.
"Apa yang terjadi? Ada apa...?" Kun Hong bertanya-tanya sambil erat-erat memegang lengan isterinya.
Hui Kauw sendiri berdiri memandang ke arah mayat dengan muka berubah pucat sekali. Jelas bahwa
selain dada mayat itu tertusuk pedang dan menyebabkan kematiannya, juga dua matanya sudah dibikin
buta orang dan lehernya dipenggal pedang! Saking kagetnya, nyonya ini hanya tertegun, tak dapat
menjawab pertanyaan suaminya.
Cui Sian siuman kembali dan menangis tersedu-sedu. "Ahhh, kasihan Kong Bu koko... kenapa begini?
Ayah... pada waktu aku menemukannya, kedua matanya tidak rusak dan lehernya tidak putus... ahhh,
apakah Swan Bu... dia... dia..."
Tiba-tiba gadis itu melompat sambil mencabut pedangnya, wajahnya beringas ketika dia memandang
kepada Pendekar Buta dan isterinya.
"Jelas sekarang! Pendekar Buta yang selama ini dipuji-puji Ayah, ternyata mempunyai seorang isteri
berhati iblis dan memiliki anak berwatak siluman! Ayah, ini tentu perbuatan Swan Bu si bocah iblis! Ahh,
aku tertipu olehnya. Ia bilang kena fitnah, ditawan musuh bersama Lee Si dan dalam keadaan tertotok
berdua Lee Si berada sekamar, terlihat oleh Kong Bu koko yang menjadi marah karena Kong Bu koko
menyangka bahwa bocah itu berbuat kurang ajar terhadap Lee Si. Kiranya memang demikianlah. Anak
Pendekar Buta tak bisa dipercaya! Pantas saja dia tidak menjadi sakit hati biar pun lengannya dibuntungi
oleh gadis liar itu, kiranya memang segolongan!"
Dengan kemarahan yang meluap-luap Cui Sian menceritakan semua itu dengan cepat sehingga sukarlah
bagi tiga orang itu mengikutinya. Akan tetapi wajah Hui Kauw menjadi lebih pucat ketika ia berkata sambil
terisak,
"Anakku... anakku... Swan Bu... lengannya kenapa...?"
Memang pada saat itu Cui Sian telah seratus prosen menuduh akan kejahatan keluarga Pendekar Buta.
Tadinya dia percaya akan kebenaran Swan Bu tentang fitnah itu, namun sekarang, sesudah melihat mayat
kakaknya dirusak, dia memiliki pendapat lain. Agaknya memang Swan Bu adalah seorang pemuda
berwatak jahat, mempermainkan Lee Si dan merusak mayat Kong Bu.
Tadinya ia percaya karena sikap Lee Si yang seakan-akan membenarkan tentang fitnah, seakan-akan
membenarkan bahwa Swan Bu dan ia kena fitnah sehingga Lee Si hampir membunuh Siu Bi. Akan tetapi
sekarang Cui Sian mengerti bahwa Lee Si melindungi niat baik Swan Bu, dan... tentu saja nama baik Lee
Si sendiri. Hal ini hanya dapat terjadi karena puteri kakaknya itu sudah jatuh cinta kepada Swan Bu yang
tampan dan gagah! Sekarang dia mengerti semua dan kemarahannya memuncak.
"Wanita iblis, kau memang keturunan Ching-coa-to yang jahat! Setelah kau membunuh Kong Bu koko dan
anakmu merusak mayatnya, kau mau bilang apa lagi? Kau harus menebus dosa!" Gadis itu membentak
lalu berteriak nyaring dan tubuhnya melayang ke depan dalam serangannya yang hebat kepada Hui Kauw.
Nyonya ini masih tercengang dan menangis sedih mendengar lengan puteranya buntung, masih bingung
sehingga ia tidak dapat mengelak atau menangkis menghadapi serangan Cui Sian yang dahsyat ini.
"Trang... plak...!"
Kembali Kun Hong yang turun tangan menangkis dan Cui Sian terlempar dan roboh. Kini gadis itu tidak
dapat segera bangkit karena pundaknya tadi ditampar Kun Hong sehingga tulang pundaknya terlepas dan
lengan kanannya menjadi lumpuh, tak dapat digunakan sementara waktu untuk memainkan pedang lagi!
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedang Liong-cu-kiam menggeletak di sampingnya.
Sementara itu, Raja Pedang Tan Beng San yang menyaksikan puteranya telah menjadi mayat yang mulai
berbau busuk dan dirusak sedemikian rupa, berdiri laksana patung setelah mengeluarkan teriakan nyaring
tadi. la berdiri seperti patung dan baru bergerak setelah Cui Sian terlempar dan roboh.
la melangkah perlahan menghampiri pedang Liong-cu-kiam pendek yang menggeletak di situ. Kemudian,
tanpa mempedulikan Cui Sian yang dilihatnya hanya menderita terlepas tulang yang tidak membahayakan
nyawanya, kakek sakti ini membalikkan tubuhnya dan menghadapi Kun Hong, sikapnya penuh ancaman,
tapi wajahnya tenang, hanya pandang matanya dingin seperti salju.
"Kwa Kun Hong, bagus sekali sikapmu. Kau sekarang membela yang salah, walau pun yang salah itu
adalah anak dan isterimu sendiri. Sekarang pilihlah, kau sendiri yang akan menghukum isterimu ataukah
aku yang harus turun tangan? Kun Hong... betapa hancur hatiku karena kekecewaan. Entah dosa apa
yang kau perbuat dalam kehidupanmu dulu sehingga dalam kehidupan sekarang harus kau tebus dengan
nasib yang sangat buruk. Tak patut kau yang memiliki watak mulia, mendapatkan isteri yang curang dan
palsu, dan mendapatkan putera yang jahat dan keji. Kun Hong, demi hubungan baik di antara kita, kau
hukumlah orang yang bersalah, meski pun orang itu isterimu sendiri, agar aku tidak usah menyentuh
isterimu."
Ucapan Raja Pedang Tan Beng San terdengar tenang, tapi penuh dengan penyesalan dan keharuan
tercampur duka. Betapa pun juga, terasa amat dingin yang menjadi selimut dari kemarahan besar.
Kun Hong berdiri tegak seperti patung. Kerut-merut di antara kedua matanya yang buta amat dalam,
membuat wajahnya yang tampan itu kelihatan tua sekali. Rambut-rambut di pelipisnya seketika berubah
menjadi putih. Kiranya saat ini merupakan saat yang paling perih baginya, saat yang paling menusuk di
hati, di mana pelbagai perasaan bercampur aduk.
Dia yakin, seyakin-yakinnya, bahwa isterinya tidak membunuh Kong Bu. Dan dia yakin pula bahwa
puteranya tidak akan melakukan perbuatan demikian hina, merusak mayat Kong Bu. Dia maklum bahwa
semua ini fitnah belaka, dilakukan oleh orang-orang jahat.
Akan tetapi dia pun maklum bahwa Raja Pedang dan Cui Sian yang tengah dipengaruhi duka cita besar
menyaksikan mayat Kong Bu yang kini mulai membusuk, menjadi miring pertimbangannya dan gelap
pandangannya, tentu sulit diajak berunding, kecuali bila ada fakta-fakta yang mutlak sehingga dapat
membuka mata hati mereka.
Selain keyakinan akan kebersihan anak isterinya, ada rasa duka yang membuat hatinya serasa ditusuktusuk
jarum berbisa pada waktu dia mendengar bahwa lengan puteranya buntung. Semua perasaan ini
ditambah dengan rasa penasaran kenapa Cui Sian begitu mendesak dengan tuduhan-tuduhan membuta,
dan mengapa pula Si Raja Pedang yang selama ini dia anggap sebagai seorang yang paling bijaksana di
dunia ini tidak sanggup melawan kedukaan hati dan memihak Cui Sian tanpa pikir panjang lagi.
Keyakinannya akan kebersihan isterinya, ditambah cinta kasihnya yang mendalam, membuat Kun Hong
mengambil keputusan untuk melindungi isterinya dari gangguan siapa pun juga.
Sampai lama dia tidak menjawab ucapan Raja Pedang tadi. Keduanya berdiri saling berhadapan dalam
jarak tiga meter, sama-sama tegak dan sama-sama tak bergerak. Cui Sian masih duduk bersila menahan
sakit dan memulihkan tenaganya yang seakan-akan habis. Tangkisan Pendekar Buta tadi hebat bukan
main. Juga Hui Kauw menjatuhkan diri di atas tanah duduk sambil menangis, menutupi mukanya dengan
kedua tangan. la amat sedih, marah, dan penasaran, akan tetapi semua itu terkalahkan oleh kepedihan
hatinya mendengar lengan anaknya menjadi buntung.
Suasana sunyi sepi, sunyi yang menyeramkan. Udara diracuni bau mayat membusuk. Dua jagoan yang
dianggap paling sakti di dunia persilatan, sekarang saling berhadapan dengan perasaan saling
bertentangan. Keduanya memiliki ilmu silat tingkat tinggi, yaitu Im-yang Sin-hoat.
Tongkat besi Ang-hong-kiam sudah gemetar di tangan kanan Kun Hong, ada pun kedua tangan Raja
Pedang telah memegang sepasang Liong-cu-kiam yang berkilauan. Tadi dia mengambil Liong-cu-kiam
pendek dari puterinya dan sekarang tangan kanannya sudah mencabut Liong-cu-kiam panjang. Dengan
sepasang Liong-cu Siang-kiam di tangannya, Raja Pedang kini seakan merupakan seekor harimau yang
diberi sayap!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kwa Kun Hong, sekali lagi, apa bila kau tidak mau menghukum isterimu, aku akan turun tangan sendiri!"
kembali suara Raja Pedang itu menggema di antara pohon-pohon yang tumbuh di sekeliling tempat itu.
"Locianpwe, isteri saya tidak berdosa. Harap Locianpwe jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan
sebelum urusan ini jelas benar. Tak mungkin saya membolehkan siapa juga mengganggu isteri saya yang
tidak bersalah."
"Hemmm, tidak nyana, bukan hanya matamu yang menjadi buta. Hatimu pun sudah buta terhadap
kenyataan dan keadilanmu goyah karena cinta kasih. Hui Kauw, kau terimalah hukumanmu!"
Dua sinar putih berkilau seperti dua bintang terbang menyambar dibarengi suara bercuit panjang dan angin
berdesir menyambar. Tubuh Raja Pedang sudah lenyap memanjang seperti dua sutera putih.
"Hyiiiaaaaattt!" Pekik nyaring melengking ini keluar dari mulut Kun Hong.
Tampak sinar merah gemilang menyilaukan mata menggantikan tubuhnya yang lenyap pula digulung sinar
pedangnya sendiri. Maklum bahwa Raja Pedang melakukan gerakan maut untuk membunuh isterinya, Kwa
Kun Hong Si Pendekar Buta juga mengeluarkan jurus simpanannya karena hanya dengan jurus inilah dia
akan mampu menandingi Raja Pedang.
Hebat sekali pemandangan pada saat itu. Cui Sian dan Hui Kauw lupa akan keadaan diri sendiri, masingmasing
terbelalak memandang ke depan. Memang luar biasa dan indah pula. Dua sinar yang amat terang
dan panjang berwarna putih seperti perak, melayang di udara dan dari jurusan yang bertentangan
meluncur sinar merah yang amat terang pula. Kemudian sinar-sinar itu beradu di udara, mengeluarkan
suara keras laksana ledakan, membuat bumi serasa berguncang dan daun-daun pohon rontok
berhamburan.
Cui Sian dan Hui Kauw tidak sanggup menahan hawa pukulan sakti itu, masing-masing menggigil
tubuhnya dan otomatis mereka bertiarap sambil menutup mata. Ketika mereka membuka mata lagi
memandang, ternyata Pendekar Buta dan Raja Pedang telah berdiri lagi di atas tanah, tegak berhadapan
dalam jarak tiga meter. Di atas tanah, antara dua pendekar itu, tiga batang pedang menancap di atas
tanah, sepasang Liong-cu-kiam dan sebatang Ang-hong-kiam yang sudah keluar dari tongkat yang hancur
berkeping-keping!
Ternyata pertemuan sepasang Liong-cu-kiam dengan tongkat berisi Ang-hong-kiam tadi begitu hebatnya
sehingga membuat tongkat yang membungkus Ang-hong-kiam hancur, akan tetapi juga membuat tiga
batang pedang itu terlepas dari pegangan kedua orang jago sakti dan menancap di atas tanah, amblas
hampir sampai ke gagangnya.
"Locianpwe, saya tidak berani melawan Locianpwe, tapi jangan Locianpwe mengganggu isteri saya yang
tak berdosa." Terdengar suara Kun Hong memecah kesunyian, suaranya gemetar bercampur isak
tertahan.
Si Raja Pedang menarik nafas panjang. "Hebat kau, Kun Hong. Dengan kepandaianmu seperti ini,
seharusnya aku si tua bangka takluk. Akan tetapi, jelas isterimu membunuh Kong Bu dan anakmu
menghina mayatnya sedemikian rupa. Orang-orang seluruh dunia akan mentertawakan aku sebagai berat
sebelah bila tidak memberi hukuman. Kalau kau hendak melindungi isterimu, terserah, itu adalah hakmu,
biar pun hal itu mengecewakan hatiku karena berarti kau melindungi orang yang bersalah. Hui Kauw,
awas! Terimalah pukulanku!"
Seluruh tubuh Raja Pedang tergetar, terutama kedua tangannya ketika dia mengerahkan tenaga Im Yang.
Kemudian dia melangkah maju tiga kali, lantas menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Hui
Kauw yang masih duduk di atas tanah.
"Jangan... Locianpwe...!" Kun Hong melompat dan menghadang di antara isterinya dan Raja Pedang, tentu
saja sambil mengerahkan sinkang untuk menahan hantaman hawa pukulan Im Yang yang sedemikian
hebatnya itu.
"Werrrrr...!"
Bagai sehelai daun kering tertiup angin, tubuh Kun Hong terlempar oleh hawa pukulan, menabrak isterinya
dan keduanya terguling-guling sampai tiga meter lebih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong melompat bangun, wajahnya berubah merah, akan tetapi ia tidak terluka. Ada pun Hui Kauw,
biar pun tadi sudah teriindung olehnya dan pukulan itu hampir seluruhnya menimpa dirinya, akan tetapi
saking hebatnya hawa pukulan, nyonya ini menjadi sesak dadanya dan wajahnya pucat. Cepat-cepat ia
duduk bersila mengerahkan sinkang untuk mengusir pengaruh hawa pukulan dahsyat itu.
Kening Raja Pedang berkerut-kerut. Tentu saja dia merasa sangat tidak senang harus melakukan ini, tapi
demi keadilan untuk menghukum yang bersalah, dia melangkah maju lagi beberapa tindak sambil berkata,
"Menyesal sekali, Kun Hong, namun aku terpaksa harus turun tangan!"
Kembali Raja Pedang menggerakkan kedua tangannya melakukan dorongan dari jarak jauh sambil
mengerahkan tenaga Im Yang.
"Locianpwe, jangan terburu nafsu...!" Kun Hong mencegah.
Namun Raja Pedang melanjutkan pukulannya ke arah Hui Kauw. Sekali lagi Kun Hong meloncat, kini ia
langsung menghadapi Raja Pedang sehingga dorongan itu sepenuhnya menghantam dadanya. Sekali lagi
Pendekar Buta terlempar dan untuk menjaga supaya isterinya jangan diserang lagi, terpaksa dia menabrak
dan menyeret Hui Kauw sehingga bergulingan di atas tanah.
Kun Hong bangkit berdiri perlahan-lahan, tapi Hui Kauw tidak dapat bangun, nyonya ini dalam keadaan
setengah pingsan! Kun Hong sendiri selain rambutnya kusut, pakaiannya kotor penuh debu, juga dari ujung
kiri mulutnya mengalir darah. Dia tidak terluka dalam, namun pengerahan tenaganya tak berhasil menahan
pukulan maha dahsyat itu sehingga dia terbanting dan mulutnya berdarah. Wajahnya sebentar pucat
sebentar merah ketika dia melangkah maju menghadapi Raja Pedang.
"Locianpwe, benar kata orang bahwa tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang tanpa cacat. Tiap
orang memiliki kelemahan dan kebodohannya sendiri-sendiri. Mungkin saya mempunyai banyak
kelemahan dan kebodohan, namun ternyata Locianpwe sendiri pun memiliki cacat ini. Karena sayang
putera, karena duka cita, karena rasa sesal dan kecewa, pertimbangan Locianpwe menjadi miring."
"Aku bukan anak kecil, tak perlu kau memberi kuliah, Kun Hong. Kau minggirlah!" bentak Raja Pedang,
sedikit banyak merasa penasaran juga karena dua kali pukulannya untuk menghukum Hui Kauw dapat
digagalkan oleh Pendekar Buta.
"Aku tidak akan minggir, Locianpwe, dan kalau kau hendak membunuh isteriku, terpaksa aku akan
mencegah!" jawab Pendekar Buta.
Dengan hati geram Raja Pedang tersenyum pahit. "Bagus, sudah kuduga akan begini jadinya. Nah, aku
akan memukul isterimu lagi, terserah kau hendak berbuat apa!"
Sesudah berkata demikian, Raja Pedang menggerakkan kedua lengannya dan sekali ini terdengar suara
berkerotokan pada kedua lengan itu. Kun Hong kaget bukan main sebab maklum bahwa sekali ini
pendekar sakti itu menggunakan seluruh tenaganya, tenaga Im dan Yang. Tenaga yang saling
bertentangan itu hendak digunakan sekaligus sehingga mengeluarkan bunyi berkerotokan.
Sungguh pun kedua tenaga itu bertentangan, namun kalau dipergunakan bersama, akan menjadi tenaga
mukjijat yang sukar dilawan. Isterinya pasti akan binasa oleh pukulan ini, biar hanya terkena sedikit saja.
"Tahan, Locianpwe!" bentak Kun Hong dengan suara keras.
Tubuhnya merendah. Ketika dia menekuk kedua lututnya, kedua lengannya dia luruskan ke depan,
kemudian dengan pengerahan sinkang ia pun mendorong ke depan, langsung menyambut hawa pukulan
dahsyat dari Raja Pedang.
Luar biasa sekali! Keduanya hanya tampak meluruskan kedua lengan dan mendorong ke depan, jarak di
antara mereka masih ada tiga meter. Namun keduanya seperti tertahan, seakan-akan tertumbuk pada
sesuatu yang tak tampak namun amat kuatnya. Keduanya menarik kembali kedua lengan, membuat
gerakan menyimpang lalu kembali mendorong, hampir berbareng, atau lebih tepat, Raja Pedang yang
mendorong dulu karena dia yang menyerang, disusul dorongan lengan Kun Hong yang menyambutnya.
Berkali-kali mereka saling dorong dengan pukulan jarak jauh, makin lama jarak di antara mereka semakin
dunia-kangouw.blogspot.com
dekat.
"Kun Hong, hebat kau... aku atau kau penentuannya...," kata Raja Pedang terengah, namun wajahnya
berseri gembira, kegembiraan seorang jagoan besar yang menemukan tanding yang seimbang.
"Terserah, Locianpwe...," kata Kun Hong agak terengah pula, sambil menggeser kedua kaki secara
berbareng ke depan.
Kini ketika keduanya mengulurkan lengan, kedua pasang tapak tangan itu saling tempel. Kun Hong terkejut
sekali karena kalau tadi tenaga dorongan Raja pedang merupakan tenaga yang keluar sehingga tiap kali
dia tangkis maka dua tenaga bertentangan saling menendang, adalah sekarang dua telapak tangan Raja
Pedang itu mengandung tenaga menyedot dan menempel!
Terpaksa dia mengerahkan seluruh tenaganya mempertahankan sehingga kedua orang itu kini berdiri
setengah berjongkok dengan kedua lengan lurus ke depan, telapak tangan mereka saling tempel dan
melekat. Dua tenaga raksasa saling betot dan kadang-kadang saling dorong melalui telapak tangan itu,
dan keduanya terkejut karena ternyata tenaga mereka seimbang.
Kun Hong menjadi duka dan bingung sekali pada saat mendapat kenyataan bahwa Raja Pedang agaknya
sudah dihinggapi penyakit yang selalu menular pada ahli-ahli silat, yaitu bila menemui lawan seimbang
timbul kegembiraannya dan sebelum ada ketentuan siapa lebih unggul, tak akan merasa puas.
la maklum bahwa Raja Pedang sudah menggabungkan tenaga Im Yang, maka dia pun terpaksa
melakukan hal yang sama karena tidak ada kekuatan lain dapat menghadapi tenaga gabungan ini selain
juga menggabungkan tenaga Im Yang di tubuhnya.
Namun dia maklum pula bahwa dengan cara mengadu tenaga seperti ini, mereka takkan dapat mundur
lagi. Siapa mundur berarti celaka, karena andai kata dapat menghindarkan tenaga serangan lawan, namun
tetap akan terpukul oleh tenaga sendiri dan menderita luka yang bisa membawa maut. Pengerahan tenaga
gabungan Im Yang seperti ini hanya dapat disurutkan secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, tetapi
tidak mungkin ‘ditarik’ sekaligus tanpa mendatangkan luka hebat di dalam tubuh sendiri.
Kedua orang jago sakti itu seperti dua buah arca, sama sekali tidak tampak bergerak. Uap putih mengepul
dari kedua pasang lengan dan makin lama uap itu makin banyak, terutama kini keluar dan kepala. Ini
adalah tanda bahwa pengerahan sinkang mereka sudah memuncak dan keadaan menjadi kritis sekali.
Keduanya maklum bahwa seorang di antara mereka pasti akan tewas.
Hui Kauw sudah sadar kembali. Seperti halnya Cui Sian, ia duduk dengan muka pucat. Sebagai orangorang
yang tahu akan ilmu silat tinggi, keduanya maklum apa yang terjadi di depan mata mereka. Baik Cui
Sian mau pun Hui Kauw maklum bahwa dua orang itu sedang berada di ambang maut dan mereka maklum
pula sepenuhnya bahwa mereka tidak dapat membantu, tidak dapat memisah karena tenaga sinkang
mereka jauh lebih rendah. Turun tangan mencampuri ‘pertandingan’ yang aneh ini berarti mengirim nyawa
secara sia-sia belaka.
Melihat betapa suaminya setengah berjongkok, dua matanya yang bolong itu terbelalak, kerut-merut di
seluruh mukanya yang penuh keringat dan amat pucat, tiba-tiba Hui Kauw tidak dapat lagi menahan
hatinya. Suaminya sedang berjuang dengan maut, dan hal itu dilakukan suaminya untuk menolong dan
melindungi dirinya. Tak tertahankan lagi nyonya ini menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan diri di atas
tanah. la menangis seperti anak kecil hatinya penuh iba, penuh kegelisahan, dan penuh kasih sayang
kepada suaminya.
Melihat keadaan Hui Kauw ini, Cui Sian tidak mampu pula menahan air matanya yang bercucuran keluar.
la pun tahu apa artinya pertandingan ini dan timbullah rasa sesal di dalam hatinya. Bagaimana kalau
ayahnya kalah dan tewas? Tentu selama hidupnya dia akan memusuhi Pendekar Buta suami isteri dan
anaknya. Sebaliknya bagaimana kalau Pendekar Buta yang tewas dan kemudian ternyata bahwa suami
isteri itu tidak berdosa? Cui Sian menjadi bingung dan tangisnya menjadi-jadi.
Keadaan yang amat menyeramkan dan menyedihkan. Di sana menggeletak mayat Kong Bu yang mulai
membusuk sehingga mengotori kebersihan hawa udara hutan itu. Dan di sana dua orang jago sakti sedang
mati-matian mengadu tenaga dan ilmu secara aneh. Tak jauh dari mereka, dua orang wanita menangis
tersedu-sedu! Luar biasa!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sunyi di hutan itu, kecuali sedu-sedan dua orang wanita dan dari jauh terdengar rintihan burung yang
memanggil-manggil pasangannya yang tidak kunjung datang, serta suara bercicit anak monyet di
gendongan induknya minta susu.
Beberapa menit kemudian, suara burung dan monyet tiba-tiba terhenti setelah terdengar kelepak sayap
burung-burung beterbangan dan teriakan monyet-monyet melarikan diri bersembunyi. Inilah tanda bahwa
ada sesuatu yang mengejutkan mereka.
Hanya saja kedua orang wanita itu masih menangis penuh kegelisahan sehingga mereka tidak
memperhatikan keadaan sekeliling. Maka betapa kaget hati Cui Sian dan Hui Kauw ketika tiba-tiba muncul
banyak sekali orang-orang yang mengurung tempat itu. Sedikitnya ada dua puluh lima orang, dipimpin oleh
seorang nenek berpakaian serba merah yang memegang sebatang pedang telanjang.
Nenek ini bukan lain adalah Ang-hwa Nio-nio yang datang sambil tertawa-tawa gembira dan mulutnya tiada
hentinya berkata, "Bagus... bagus... sekarang dua ekor binatang ini sudah masuk perangkap, tinggal
menyembelih saja, hi-hi-hik!"
Di sebelahnya tampak seorang pendeta bertubuh tinggi bersorban, telinganya memakai anting-anting,
kulitnya agak hitam, sedang hidungnya mancung sekali. Itulah dia pendeta Maharsi, pertapa dari barat
yang masih terhitung suheng (kakak seperguruan) Ang-hwa Nio-nio. Pendeta barat ini didatangkan oleh
Ang-hwa Nio-nio untuk dimintai bantuannya membalas dendam atas kematian kedua orang saudaranya.
Juga tampak Bo Wi Sianjin, tokoh dari Mongol yang bertubuh pendek dan gendut, tokoh sakti yang
memiliki Ilmu Pukulan Katak Sakti, dan yang turun dari pegunungan di Mongol untuk mencari Raja Pedang
dan membalaskan kematian suheng-nya, Ka Chong Hoatsu.
Di samping tokoh-tokoh itu semua, dengan sikap yang tenang sekali dan amat dihormati oleh tokoh-tokoh
lainnya, adalah seorang hwesio tinggi besar, usianya tua sekali, kedua matanya selalu meram, mukanya
pucat tak berdarah seperti muka mayat dan bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dada yang
bidang serta berbulu di tengahnya, hwesio yang sangat sakti karena dia ini bukan lain adalah Bhok Hwesio,
yaitu tokoh dari Siauw-lim-pai yang murtad!
Munculnya orang-orang ini mendatangkan rasa gelisah bukan main di hati Cui Sian dan Hui Kauw. Raja
Pedang dan Pendekar Buta sedang bersitegang, tak dapat dipisah begitu saja, dan orang-orang yang
datang ini jelas merupakan tokoh-tokoh ahli silat tinggi yang agaknya tahu pula akan keadaan dua orang
itu.
Bagaikan mendengar komando, dua wanita yang telah terluka ini meloncat, menyambar pedang yang
menancap di atas tanah. Hui Kauw mencabut Ang-hong-kiam sedangkan Cui Sian mencabut Liong-cukiam
pendek, lalu keduanya bersiap membela suami dan ayah masing-masing.
Mata tajam terlatih Ang-hwa Nio-nio dan tiga orang temannya tentu saja dapat melihat bahwa nyonya
Pendekar Buta itu telah terluka, bahkan puteri Raja Pedang memegang pedang dengan tangan kiri akibat
tangan kanannya setengah lumpuh. Nenek berpakaian serba merah ini tertawa sambil berkata mengejek,
"Wah, ternyata betina-betina ini masih galak! Kalian lihat betapa kami akan membunuh dan menyiksa
kedua orang musuh besar kami, kemudian datang giliran kalian berdua. Kong Bu sudah mampus, anak
Pendekar Buta cucu Raja Pedang sudah rusak nama dan kehormatannya. Hi-hi-hik, alangkah nikmatnya
pembalasanku!"
Tiba-tiba Hui Kauw berseru keras, "Kau yang mencuri Kim-seng-kiam!"
"Hi-hi-hik, dan kau bersama suamimu yang buta itu tidak tahu..."
Sekarang Hui Kauw maklum siapa yang melakukan semua fitnah itu. Dengan teriakan nyaring ia lalu
menerjang maju, tidak mempedulikan betapa kesehatannya belum pulih. Teriakannya ini disusul oleh
bentakan Cui Sian yang sekaligus juga dapat menduga apa yang sesungguhnya terjadi.
Kiranya semua kejadian itu diatur oleh musuh-musuh yang bekerja secara curang untuk membalas
dendam kepada ayahnya dan kepada Pendekar Buta. Oleh karena itu, saking marahnya, dia melupakan
sambungan tulang pundaknya yang terlepas dan menyerang dengan pedang di tangan kiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ho-ho-ho, galaknya!" Pendeta Maharsi menggerakkan tangannya yang panjang dan...
Hui Kauw yang lemah akibat terluka itu berseru kaget, tahu-tahu pedangnya telah dapat dirampas dan ia
roboh terguling. Kiranya kakek ini telah memperlihatkan kepandaiannya membantu sumoi-nya dengan Paisan-
jiu, merampas pedang sekaligus merobohkan Hui Kauw. Andai kata Hui Kauw tidak sedang terluka
dan gelisah memikirkan suaminya, kiranya pendeta barat itu tidak akan begitu mudah mengalahkannya,
sungguh pun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi.
Ada pun Cui Sian yang menyerang dengan pedang di tangan kiri, dihadapi oleh Ang-hwa Nio-nio yang
sudah menghunus Hui-seng-kiam. Ilmu pedang Cui Sian sudah amat tinggi tingkatnya, maka biar pun
lengan kanannya tak dapat dipergunakan, dengan tangan kiri dan pedang Liong-cu-kiam di tangan ia
masih merupakan lawan yang berat.
Akan tetapi keadaan tubuhnya yang terluka itu tentu saja amat mengganggu gerakannya dan sebentar saja
sinar pedang di tangan Ang-hwa Nio-nio telah mengurungnya. Dengan sekuat tenaga Cui Sian terus
mempertahankan diri.
“Kok-kok-kok!” mendadak terdengar suara berkokok.
Pada detik itu pula Cui Sian lantas terlempar ke belakang sambil mengeluh, pedangnya terlepas dari
tangan. la roboh dan pingsan, terkena pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin yang membantu
Ang-hwa Nio-nio.
Sekarang Ang-hwa Nio-nio dengan sikap beringas bagai harimau betina kelaparan, maju menghampiri
Pendekar Buta dari belakang, dengan pedang di tangan. Di lain pihak, Bo Wi Sianjin yang hendak
membalas dendam atas kematian suheng-nya, yaitu Ka Chong Hoatsu, menghampiri Raja Pedang.
Keduanya melihat kesempatan yang sangat baik, selagi dua orang musuh besar itu saling libat dengan
tenaga sinkang yang sukar dilepas begitu saja, untuk melakukan balas dendam mereka.
"Tan Beng San, mungkin kau tidak mengenalku. Aku adalah Bo Wi Sianjin dari Mongol, sengaja datang
mencarimu untuk membalaskan kematian suheng Ka Chong Hoatsu."
"Tunggu dulu, Sianjin," Ang-hwa Nio-nio berkata sambil tertawa mengejek. "Kita harus bergerak berbareng,
biarkan aku bicara dulu kepada musuhku, si buta sombong ini. Heh, Kwa Kun Hong, kau tentu masih ingat
akan Ang-hwa Sam-cimoi, bukan? Nah, aku Kui Ciauw. Saat engkau menyusul arwah kedua orang
saudaraku telah tiba." Setelah berkata demikian, Ang-hwa Nio-nio memberi isyarat kepada Bo Wi Sianjin
untuk turun tangan.
"Curang!" Hui Kauw memaksakan diri meloncat dan menerjang Ang-hwa Nio-nio dengan pukulannya.
Akan tetapi tenaganya sudah lemah sedang bekas pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi tadi masih setengah
melumpuhkan kaki tangannya, maka serangannya ini tidak ada artinya bagi Ang-hwa Nio-nio. Dengan
mengibaskan tangan kirinya, Ang-hwa Nio-nio berhasil menangkis dan sekaligus menampar, tepat
mengenai leher Hui Kauw sehingga nyonya ini terjungkal dan pingsan, tak jauh dari Cui Sian yang masih
tak sadarkan diri.
Kembali Ang-hwa Nio-nio memberi isyarat. Betapa pun juga, agaknya dia masih memiliki rasa malu untuk
menyerang Kun Hong dari belakang dengan pedangnya, tahu bahwa Pendekar Buta sedang dalam
keadaan tidak berdaya sama sekali. Apa lagi Bo Wi Sianjin yang menyerang Raja Pedang juga bertangan
kosong. Maka dia menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga memukul ke arah jalan darah pusat di
punggung Kun Hong. Juga Bo Wi Sianjin mengerahkan tenaga memukul tai-hui-hiat Raja Pedang.
Pada saat kedua orang ini melakukan serangan curang dari belakang, terdengar Bhok Hwesio tertawa
mengejek, bukan seperti orang tertawa biasa melainkan seperti suara seekor kerbau mendengus.
"Desssss...!" Pukulan yang disertai saluran tenaga Iweekang tinggi itu mengenai sasaran.
Terdengar jerit mengerikan dari mulut Ang-hwa Nio-nio dan pekik nyaring dari mulut Bo Wi Sianjin. Kedua
orang ini tadi tepat memukul punggung kedua orang sakti yang sedang bertanding itu, akan tetapi
akibatnya malah tubuh mereka yang terlempar ke atas dan ke belakang, kemudian terbanting roboh dalam
keadaan tidak bernyawa lagi. Dari telinga, mulut, dan hidung mereka keluar darah merah!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Hong dan Tan Beng San juga terguling-guling ke belakang. Ketika mereka berhasil bangkit berdiri,
muka mereka pucat sekali dan nafas mereka terengah-engah, menggigit bibir menahan rasa nyeri. Mereka
tadi telah tertolong dengan adanya penyerangan dari belakang.
Sejak orang-orang itu muncul dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka, Raja Pedang menjadi kaget dan
menyesal bukan main, juga marah bukan main. Demikian pula Kun Hong. Namun mereka tidak mungkin
dapat saling membebaskan diri dari libatan-libatan tenaga sinkang mereka yang sudah saling betot dan
saling gempur itu.
Apa bila secara mendadak mereka merenggut lepas tenaga mereka, tentu mereka akan mengalami luka
hebat yang berakibat maut. Keduanya lalu mengikuti gerak-gerik Bo Wi Sianjin dan Ang-hwa Nio-nio.
Bagaimana pun hancur hati mereka mendapat kenyataan betapa Hui Kauw dan Cui Sian jatuh bangun,
mereka tetap tidak mampu membantu. Akhirnya mereka memiliki harapan yang sama, yaitu diserang lawan
dari belakang. Baiknya dua orang lawan itu menyerang dengan tangan kosong.
Inilah kesempatan bagi mereka. Begitu merasa datangnya pukulan pada punggung, baik Kun Hong mau
pun Raja Pedang masing-masing menerima tenaga dorongan lawan dan menggunakan tenaga ini untuk
disalurkan ke belakang lewat punggung sekaligus tenaga itu mereka dapat saling gunakan untuk
menghantam pukulan lawan dari belakang. Akibat adanya gangguan tenaga luar ini, mereka dapat saling
membebaskan diri karena tenaga serangan masing-masing telah disalurkan oleh lawan dan mendapatkan
sasaran berupa penyerang-penyerang itu.
Kesaktian macam ini tak dapat dilakukan oleh sembarang orang, dan biar pun Pendekar Buta dan Raja
Pedang sendiri, sungguh pun berhasil merobohkan Ang-hwa Nio-nio dan Bo Wi Sianjin yang sakti sampai
tewas dengan pukulan mereka sendiri, namun keduanya tidak luput dari luka dalam yang hebat!
Baik Ang-hwa Nio-nio mau pun Bo Wi Sianjin sama sekali tidak menyangka akan hal ini, bahkan Maharsi
sendiri pun tak mengerti. Hanya Bhok Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang lihai itu tahu akan hal ini dan sudah
menduganya, maka tadi dia mendengus mengejek kepada dua orang penyerang gelap itu.
Pada saat itu, dua puluh orang lebih para pengikut Ang-hwa Nio-nio marah bukan main melihat pemimpin
mereka tewas. Dengan senjata pedang dan golok, mereka menerjang maju. Melihat Pendekar Buta serta
Raja Pedang sudah terluka hebat, mereka menjadi besar hati dan menyerang kalang-kabut.
Akan tetapi, biar pun gerakan-gerakannya sudah amat lambat dan tenaga mereka sudah terbuang
setengahnya lebih, namun menghadapi segala orang kasar ini tentu saja kedua pendekar sakti itu masih
jauh lebih kuat. Setiap kali mereka berdua menggerakkan kaki atau tangan, tentu ada pengeroyok yang
roboh dengan dada pecah atau kepala remuk.
Dalam kemarahan mereka, Pendekar Buta dan Raja Pedang mengamuk hebat sekali, tidak memberi
ampun lagi kepada lawan-lawan mereka. Hal ini adalah tidak sewajarnya. Biasanya kedua orang pendekar
sakti itu amat murah hati dan tidak mau sembarangan membunuh lawan. Sebabnya adalah karena mereka
menyangka bahwa isteri dan anak mereka sudah tewas terbunuh musuh, maka kedukaan dan kemarahan
yang bercampur aduk dengan penyesalan besar serta sakit hati membuat mereka menjadi ganas.
"Losuhu, kau tadi sudah tahu bahwa dua teman kita akan celaka. Mengapa kau hanya mendengus tetapi
tidak mencegah mereka?" Sementara itu Maharsi bertanya penasaran kepada Bhok Hwesio, tidak
mempedulikan anak buah Ang-hwa Nio-nio yang bagaikan sekelompok laron menyerbu api itu.
"Hemmm, mereka tolol, juga curang. Sudah sepantasnya mampus," jawab Bhok Hwesio.
la seorang tokoh besar dari Siauw-lim-pai, biar pun dia tersesat dalam kejahatan, namun dia tetap seorang
hwesio yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan amat percaya akan kepandaian sendiri. Oleh karena itu
Bhok Hwesio memandang rendah orang-orang yang berwatak curang.
Semenjak Ang-hwa Nio-nio menggunakan siasat mengadu domba keluarga Raja Pedang dengan keluarga
Pendekar Buta, dia sudah memandang rendah Ang-hwa Nio-nio. Akan tetapi seperti biasa, karena bukan
urusannya, Bhok Hwesio tidak peduli.
Maharsi luar biasa mendongkol. Akan tetapi karena dia tahu bahwa menghadapi hwesio tinggi besar yang
selalu meram ini dia tidak akan mampu berbuat apa-apa untuk dapat melampiaskan kegemasan hatinya,
dunia-kangouw.blogspot.com
dia hanya merengut saja dan memandang ke arah dua orang musuhnya. Diam-diam dia kaget dan juga
kagum.
Jelas bahwa dua orang itu sudah terluka hebat, malah besar kemungkinan takkan dapat hidup lagi. Akan
tetapi seperti orang mencabuti rumput mudahnya, dua puluh tiga orang pengeroyoknya itu roboh malangmelintang
bertumpang-tindih dan mati semua. Sebentar saja tidak ada lagi seorang pun pengeroyok yang
masih hidup!
Raja Pedang melompat ke arah puterinya sedang Pendekar Buta menghampiri isterinya, tangannya
meraba-raba untuk mencari-cari. Akhirnya ia menemukan tubuh isterinya dan segera melakukan
pemeriksaan seperti yang dilakukan Raja Pedang terhadap puterinya.
"Syukurlah kau selamat, Hui Kauw...," terdengar suara Kun Hong terharu, kemudian dia menoleh ke arah
Raja Pedang. "Bagaimana keadaan Cui Sian, Locianpwe?"
"Dia pun selamat, hanya terluka dan pingsan. Kun Hong, kita menghadapi dua orang lawan yang sangat
tangguh... entah bagaimana aku akan dapat melawan mereka... aku terluka hebat..."
Raja Pedang tersedak dan cepat dia duduk bersila untuk mengatur nafas dan berusaha mengembalikan
tenaganya. Akan tetapi dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa tenaganya lenyap setengahnya lebih
dan dadanya terasa amat sakit. Terang bahwa tak mungkin dia dapat bertempur menghadapi lawan berat.
Sedangkan dia tahu betul betapa saktinya Bhok Hwesio. Dalam keadaan sehat saja belum tentu dia
mampu menandingi hwesio itu, apa lagi dalam keadaan terluka hebat seperti ini.
"Saya... saya pun terluka... Locianpwe..."
Kun Hong juga merasa dadanya sakit sekali, akan tetapi dia segera menghampiri Raja Pedang, lalu
menempelkan tangannya pada punggung orang tua itu untuk memeriksa. Hatinya amat kaget mendapat
kenyataan bahwa Raja Pedang benar-benar terluka hebat. Tanpa ragu-ragu lagi dia segera mengerahkan
sisa tenaga sinkang-nya untuk disalurkan melalui punggung dan membantu Si Raja Pedang.
Hawa hangat menjalar dari tangan Kun Hong sehingga rasa panas memenuhi dada Raja Pedang. Rasa
sakit di sekitar jantungnya mendingan dan dia lalu menolak tangan Kun Hong dengan halus.
"Cukup, Kun Hong. Terima kasih... kau sendiri lemah, jangan mengerahkan tenaga lagi. Kun Hong, kau...
kau maafkan aku... sungguh-sungguh aku telah terburu nafsu seperti katamu..."
"Sudahlah, Locianpwe. Yang perlu sekarang bagaimana kita harus menghadapi mereka."
Raja Pedang lalu melompat bangun, memaksa diri bersifat gagah ketika dia melempar-lemparkan mayat
para pengeroyok yang menghalang di depan kakinya. Dengan langkah tegap dia menghampiri Bhok
Hwesio dan Maharsi, kemudian berdiri tegak dan bertanya dengan suara berwibawa.
"Bhok Hwesio, sesudah segala kecurangan digunakan oleh pihakmu, sekarang kau mau apa lagi?" Pada
ucapan yang sederhana ini terkandung nada menantang dan mengejek.
Mendengar suara menantang dan sikap yang gagah ini sejenak Bhok Hwesio tercengang dan ia membuka
matanya untuk menatap penuh perhatian, mengira bahwa Raja Pedang itu telah dapat memulihkan
tenaganya maka dapat bersikap segagah itu. Akan tetapi pandang matanya segera mendapat kenyataan
bahwa orang di depannya ini masih terluka hebat dan tenaganya tinggal sedikit lagi. la menghela nafas dan
diam-diam merasa kagum sekali.
"Tan Beng San, segala macam urusan kotor yang dilakukan Ang-hwa Nio-nio tidak ada sangkut-pautnya
dengan pinceng (aku). Pinceng datang mencarimu untuk membereskan perhitungan lama."
"Bhok Hwesio, dua puluh tahun yang lalu kau tersesat kemudian datang Thian Ki Losuhu yang menjadi
suheng-mu dan membawamu kembali ke Siauw-lim-pai. Apakah selama dua puluh tahun ini kau belum
juga dapat mengubah kesesatanmu?"
"Tan Beng San, kau sungguh bermulut besar. Karena kau, pinceng menderita puluhan tahun. Tapi
sekarang kau telah terluka, sayang sekali. Tidak enak melawan orang sudah terluka parah, akan tetapi
tidak bisa pinceng melepaskanmu begitu saja. Raja Pedang, hayo kau lekas berlutut dan minta ampun
dunia-kangouw.blogspot.com
sambil mengangguk tiga kali di depanku, baru pinceng mau melepaskanmu dan memberi waktu padamu
untuk menyembuhkan lukamu, setelah itu baru kita bertanding melunasi perhitungan lama."
Tiada penghinaan bagi seorang pendekar silat yang lebih hebat dari pada menyuruhnya mengaku kalah
dan berlutut minta ampun! Kalah atau menang dalam pertandingan bagi seorang pendekar adalah lumrah.
Raja Pedang sendiri tentu tak akan merasa penasaran kalau memang dia kalah dalam pertandingan
melawan musuh yang lebih pandai. Akan tetapi mengaku kalah sebelum bertanding, apa lagi berlutut minta
ampun? Lebih baik mati!
Perasaan marah yang datang karena mendengar penghinaan ini menyesakkan dada Tan Beng San yang
terluka, membuatnya sulit bernafas. Oleh karena itu, dia tidak menjawab ucapan Bhok Hwesio, melainkan
membalikkan tubuhnya membelakangi hwesio tua itu dan duduk bersila, meramkan mata.
"Tan Beng San, kau berjuluk Raja Pedang, ketua Thai-san-pai. Mana kegagahanmu? Hayo kau lawan aku!
Kalau tidak berani, lekaslah berlutut minta ampun!" bentak Bhok Hwesio pula.
Namun Raja Pedang tidak menjawab, tetap meramkan mata sambil duduk bersila tanpa bergerak seperti
patung. la maklum bahwa nyawanya berada dalam genggaman musuh. Kalau musuh menghendaki, dia
dan Kun Hong pasti akan tewas karena untuk melawan mereka tidak mampu lagi.
"Bhok-losuhu, kenapa tidak pukul pecah saja kepalanya? Manusia-manusia sombong ini harus dihajar,
baru kapok. Hee, manusia buta, hayo kau lawan aku, Maharsi yang tidak terkalahkan. Kau sudah
membunuh ketiga orang Sam-cimoi yang merupakan adik-adik seperguruanku, juga sahabatku Bo Wi
Sanjin sudah tewas. Karena itu, untuk menebus kematian mereka, kau harus mati empat kali."
Maharsi menghampiri Kun Hong yang juga sedang duduk bersila sambil memusatkan perhatiannya untuk
mengobati luka dalam yang amat berat. Seperti juga Raja Pedang, dia maklum bahwa melawan akan siasia
belaka karena lukanya amat hebat. Lebih baik berusaha untuk memulihkan tenaga saktinya dari pada
melawan dan sudah pasti kalah.
Melawan berarti kalah dan mati. Kalau tidak melawan ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin lawan
akan membunuhnya pula, akan tetapi kalau terjadi hal demikian, berarti lawan melakukan kecurangan
besar yang akan merupakan hal yang mencemarkan nama mereka sendiri.
Kemungkinan kedua, lawan akan cukup memiliki kegagahan sehingga segan menyerang orang yang
terluka hebat dan sedang bersemedhi mengobati lukanya sehingga dia akan terbebas dari kematian dan
kekalahan. Akan tetapi dia juga yakin bahwa hal kedua ini sukar akan dia dapatkan dari lawan yang jahat,
maka keselamatan nyawanya berada di dalam genggaman lawan dan dia menyerahkan nasib kepada
Tuhan.
"Maharsi," Pendekar Buta berkata perlahan, "aku tidak kenal padamu dan tidak tahu kau manusia macam
apa. Akan tetapi aku tahu bahwa hanya seorang rendah budi, seorang pengecut yang curang, seorang
yang sama sekali tiada harganya saja yang menantang lawan yang sedang berada dalam keadaan luka
parah. Mungkin engkau termasuk orang rendah macam itu, atau mungkin juga tidak, aku tidak tahu."
"Keparat! Kau sudah membunuh adik-adikku, sekarang mengharapkan ampunan dariku? Tidak mungkin!
Kaulah yang rendah dan hina! Adik-adikku yang lemah kau bunuh, dan sekarang karena kau merasa tidak
akan menang menghadapi aku, kau lalu beraksi luka parah!" Setelah berkata demikian, Maharsi
menendang.
Tubuh Kun Hong terguling-guling sampai lebih dari empat meter, akan tetapi tetap dalam keadaan bersila,
dan setelah berhenti terguling-guling dia masih juga tetap duduk bersila. Hal ini saja membuktikan bahwa
biar pun keadaannya terluka parah, Pendekar Buta itu benar-benar amat lihai.
Diam-diam Maharsi terkejut juga. Dengan langkah lebar dia menghampiri, dua lengannya digerak-gerakkan
sebab dia tengah mengerahkan sinkang untuk digunakan menghantam dengan Pai-san-jiu, yaitu ilmu
pukulannya yang paling dia andalkan.
"Kau ingin mampus? Kau kira aku, Maharsi tidak mampu sekali pukul menghancurkan kepalamu? Batu dan
pohon remuk oleh pukulanku ini, tahu?"
Tiba-tiba saja dia menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah sebatang pohon di sebelahnya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
terdengar suara keras, batang pohon itu remuk dan tumbanglah pohon itu. Maharsi tertawa bergelak.
"Kau melihat Itu? Eh... matamu buta, kau tidak pandai melihat. Kau tentu mendengar itu, bukan? Nah,
apakah kepalamu lebih keras dari pada batang pohon?"
Kun Hong tersenyum dan berkata, nadanya mengejek, "Kasihan sekali kau, Maharsi. Bila menilik suaramu,
kau seorang tua bangka yang kembali seperti anak-anak. Dengan ilmu pukulanmu itu, kau seperti kanakkanak
mendapat permainan baru dan menyombong-nyombongkannya, padahal kelak kau akan menyadari
bahwa ilmu itu tidak ada gunanya sama sekali, seperti kanak-kanak yang telah bosan pada permainan
yang sudah butut. Menumbangkan pohon, apa sukarnya? Segala sifat merusak mudah dilakukan, bahkan
anak kecil pun bisa. Apa anehnya?"
Maharsi marah sekali dan kakinya mencak-mencak. "Setan, kau akan kubunuh sedikit demi sedikit, jangan
disangka kau akan dapat memanaskan hatiku sehingga aku akan membunuhmu begitu saja! Kau
memanaskan hatiku supaya aku membunuhmu seketika sehingga kau tidak menderita? Ho-ho-ho, aku
tidak sebodoh itu. Kau akan kusiksa lebih dahulu, kubunuh sekerat demi sekerat untuk membalaskan sakit
hati adik-adikku!"
Pendeta barat itu kini melangkah maju, tangannya yang berlengan panjang itu diulur ke depan, bersiap
mencengkeram tubuh Kun Hong dan menyiksanya. Pendekar Buta hanya tersenyum dan bersila, sikapnya
tenang.
Kebetulan sekali Cui Sian sadar lebih dulu dari pingsannya. Gadis ini berada cukup dekat dengan Maharsi
yang melangkah maju. Melihat sikap yang mengancam dari pendeta itu terhadap Kun Hong yang tidak
mampu melawan, Cui Sian marah sekali.
Cui Sian juga sudah terluka, namun tidak sehebat Kun Hong lukanya. Sambungan tulang pundak kanan
terlepas, ada pun dadanya agak sesak akibat pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin
kepadanya.
Melihat Kun Hong terancam maut, dan mengingat bahwa ia dan ayahnya telah menuduh secara keliru
sehingga terjadilah mala petaka ini, Cui Sian melompat dengan nekat dan menyerang Maharsi untuk
menolong Kun Hong.
Walau pun keadaannya terluka, namun serangan Cui Sian yang nekat ini cukup hebat. la menggunakan
jurus Sian-Ii Siu-goat (Dewi Sambut Bulan), dan tentu saja ia hanya bisa memukul dengan tangan kiri,
maka ia sengaja menggunakan pukulan yang mengandung tenaga lemas untuk menyesuaikan
keadaannya yang terluka.
Namun pukulan yang halus ini merupakan jangkauan tangan maut karena yang diserang adalah bagian
yang mematikan di ulu hati. Biar pun penyerangnya hanya seorang gadis jelita yang sudah terluka parah,
akan tetapi kalau Maharsi berani menerimanya tanpa mengelak mau pun menangkis, maka jurus puteri Si
Raja Pedang ini masih cukup kuat untuk menamatkan riwayat Maharsi!
Tentu saja sebagai seorang berilmu tinggi, Maharsi dapat membedakan mana serangan ampuh dan mana
yang bukan. la tahu bahwa selama itu, gadis puteri ketua Thai-san-pai ini masih amat berbahaya dan
serangannya tak boleh dipandang ringan.
Dia mengeluarkan suara ketawa mengejek, kemudian kedua lengannya yang panjang itu menyambut,
menangkap lengan Cui Sian dan dengan sentakan kuat dia melemparkan tubuh Cui Sian ke arah ayahnya!
Karena nadi pergelangan tangannya sudah dipencet, Cui Sian kehabisan tenaga dan ia tentu akan
terbanting pada tubuh ayahnya yang duduk bersila kalau saja orang tua sakti itu tidak mengulur tangan dan
menyambutnya. Biar pun Tan Beng San sudah terluka hebat dan parah, namun menyambut tubuh
puterinya ini masih merupakan hal yang mudah baginya.
Cui Sian memeluk ayahnya dan menangis, "Ayah... kita harus tolong Suheng..."
Beng San menggelengkan kepala. "Keadaanku tidak mengijinkan untuk menolong orang lain mau pun
menolong diri sendiri, Sian-ji. Kun Hong hebat sekali tadi sehingga luka di tubuhku sangat parah. Biarlah,
mari kita menonton orang-orang gagah perkasa tewas di tangan orang-orang pengecut rendah dan hina!"
Ucapan ini keluar dengan suara nyaring dari mulutnya sehingga Bhok Hwesio menjadi merah sekali
mukanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ketua Thai-san-pai, aku bukanlah pengecut yang suka membunuh lawan yang terluka. Akan tetapi untuk
menebus dosamu dan untuk mencegah perjalananku tidak sia-sia, kau harus berlutut minta ampun kepada
pinceng. Baru pinceng mau melepaskanmu untuk bertanding di lain hari," katanya marah.
"Hwesio sesat, kau mau bunuh boleh bunuh, apa artinya mati? Yang harus dikasihani adalah kau yang
pada lahirnya merupakan seorang hwesio, namun di sebelah dalam kau bergelimang dengan kesesatan!"
"Pinceng tidak akan membunuhmu. Kalau kau tidak mau berlutut minta ampun, pinceng hanya akan
mencabut kesaktianmu agar selanjutnya pinceng dapat hidup tenteram, tidak memikirkan soal balas
dendam lagi," jawab Bhok Hwesio, nada suaranya seperti orang kesal.
Diam-diam Beng San dan puterinya terkejut bukan main. Mereka maklum apa artinya mencabut kesaktian.
Berarti bahwa kakek gundul itu akan melumpuhkan kaki dan tangan Raja Pedang sehingga tak akan
mungkin melakukan gerakan silat lagi. Perbuatan seperti itu malah lebih menyiksa dari pada membunuh.
Lebih ringan dibunuh dari pada dijadikan seorang tapa daksa yang hidupnya tiada gunanya lagi.
“Ha-ha-ha-ha. Losuhu benar sekali! Mengapa aku tidak berpikir sampai di situ?" Maharsi tertawa bergelak
mendengar ini. "Alangkah akan begitu menyenangkan melihat musuh besar menjadi seorang yang hidup
tidak mati pun tidak. Orang buta, aku juga tidak akan membunuhmu, aku akan membikin kau beserta
isterimu menjadi orang-orang tiada guna, ho-ho-ha-ha!" Sambil berkata demikian, Maharsi melangkah maju
mendekati Hui Kauw yang masih setengah pingsan. Sekali meraih dia telah menyambar tubuh nyonya itu
dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Ho-ho-ho, Pendekar Buta, kau dengarkan baik-baik betapa aku akan membuat isterimu menjadi seorang
tapadaksa selama hidupnya dan kau boleh menyesalkan perbuatanmu membunuh adik-adik
seperguruanku!"
Muka Kun Hong pucat sekali. Telinganya dapat mengikuti setiap gerakan Maharsi dan tahulah dia bahwa
keadaan isterinya tidak akan dapat ditolong lagi. Suaranya terdengar dalam dan menyeramkan ketika dia
berkata, "Maharsi, kau benar-benar gagah perkasa, menghina seorang wanita yang tidak berdaya lagi.
Kalau memang kau laki-laki gagah, jangan ganggu wanita dan kau boleh berbuat sesuka hatimu terhadap
aku!"
"Ha-ha-ho-ho-ho… ngeri hatimu, Pendekar Buta? Ada bermacam cara membikin orang kehilangan
kepandaiannya, di antaranya adalah dengan cara memutuskan otot-otot dan menghancurkan tulangtulang.
Isterimu cantik, biar sudah setengah tua masih cantik dan kau tidak bermata, tiada bedanya bukan?
Biar kupatahkan tulang-tulangnya, tulang kaki tangan dan punggung. Ha-ha-ha... tentu menjadi bengkokbengkok
kaki tangannya, dan punggungnya menjadi bongkok! Pendekar Buta, sebentar lagi kau dapat
mendengarkan patahnya tulang-tulang tubuh isterimu...!"
Kun Hong diam saja, hanya berdoa semoga isterinya tewas saja dalam penghinaan itu. Mati adalah jauh
lebih ringan. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Keadaan sudah amat kritis dan agaknya tidak ada
yang dapat menolong isteri Pendekar Buta dari mala petaka yang hebat itu.
Tiba-tiba terdengar suara orang berkata-kata. Akan tetapi tak ada yang mengerti artinya, karena suara itu
berkata-kata dalam bahasa asing. Kecuali Maharsi yang agaknya dapat mengerti maknanya, karena tibatiba
saja dia menurunkan tubuh Hui Kauw dan tidak jadi menggerakkan tangan memukul. Matanya
terbelalak menoleh ke arah suara.
Betapa dia tidak akan kaget sekali mendengar kata-kata dalam bahasa Nepal, dan justru kata-kata itu
merupakan sumpah di depan gurunya dahulu yang berbunyi, "Tidak akan mempergunakan kepandaian
untuk melakukan kejahatan."
Alangkah herannya ketika dia melihat di situ muncul seorang pemuda berpakaian putih sederhana, yang
memandangnya dengan sepasang mata penuh wibawa.
"Siapa kau? Apa yang kau katakan tadi?" Dia membentak, tubuh Hui Kauw masih di tangan kiri,
dicengkeram pada baju di punggungnya.
"Maharsi, setelah gurumu tidak ada lagi, kau hidup tersesat. Guruku yang mulia, pendeta Bhewakala sudah
dua kali memberi ampun padamu, mengingat bahwa kau masih murid sute-nya. Akan tetapi tidak ada
dunia-kangouw.blogspot.com
kejahatan yang bisa diampuni sampai tiga kali. Kalau kau melanjutkan perbuatanmu yang biadab ini,
mempergunakan kepandaian untuk menghina wanita yang tak berdaya, aku akan mewakili guruku
memberi hukuman kepadamu!"
Pemuda itu bukan lain adalah Yo Wan. la belum pernah berjumpa dengan Maharsi, akan tetapi melihat
pendeta jangkung ini dia segera teringat akan cerita mendiang gurunya di Himalaya, mengenai pendeta
Nepal yang murtad dan sesat, yaitu Maharsi yang masih terhitung murid keponakan gurunya itu.
la tiba di situ bersama Lee Si dan gadis ini serta merta lari dan memeluk Cui Sian sambil bertanya apa
gerangan yang terjadi. Ketika dia melihat jenazah ayahnya menggeletak dalam lubang kuburan, Lee Si
menjerit, menubruk dan roboh terguling, pingsan. Cui Sian segera memeluk dan memondongnya ke dekat
ayahnya, menjauhi jenazah.
Ada pun Yo Wan ketika melihat subo-nya (ibu guru) berada dalam cengkeraman Maharsi dan terancam
mala petaka hebat, segera dia mempergunakan kata-kata dalam bahasa Nepal untuk mengalihkan
perhatian Maharsi dan kini menyerangnya dengan kata-kata.
Sementara itu, Maharsi yang tadinya sangat terkejut, kini tertawa mengejek, akan tetapi dia melepaskan
tubuh Hui Kauw dan melempar nyonya itu ke arah Pendekar Buta.
"Huh, boleh kutunda sebentar permainan dengan Pendekar Buta. Kau ini bocah lancang sombong. Apakah
kau bocah yang pernah kudengar diambil murid oleh supek (uwa guru) Bhewakala, seorang bocah yatim
piatu dari timur?"
"Benar, Maharsi. Aku Yo Wan, murid Bhewakala."
"Dengan maksud apa engkau mencegah perbuatanku? Apakah kau hendak membela Pendekar Buta dan
Raja Pedang?"
"Aku hanya akan membela yang benar. Aku mencegah perbuatanmu karena tidak ingin melihat kau
melakukan perbuatan sesat, mengingat bahwa kau masih ada hubungan perguruan dengan aku."
"Ho-ho-ha-ha-ha, bocah masih ingusan berani memberi petunjuk kepadaku? Yo Wan, kau sombong seperti
supek! Aku... benar dua kali aku mengalah terhadapnya, mengingat dia seorang tua. Akan tetapi terhadap
kau aku tidak sudi mengalah. Hayo pergi sebelum timbul marahku dan menghajarmu!"
"Maharsi, kalau kau lanjutkan kesesatanmu, terpaksa aku yang akan memberi hukuman kepadamu,
mewakili mendiang guruku."
Keduanya sudah saling menghampiri sehingga keadaan menjadi tegang. Pendekar Buta, Hui Kauw yang
sudah sadar, Raja Pedang, Cui Sian, dan Lee Si merasa betapa jantung mereka berdebar penuh
ketegangan.
Sekarang Yo Wan merupakan pemuda harapan mereka, satu-satunya orang yang dapat diharapkan
menolong mereka keluar dari jurang mala petaka yang mengancam hebat. Akan tetapi diam-diam mereka
sangsi, dapatkah pemuda itu melawan Maharsi yang amat lihai?
Dan di situ masih ada lagi Bhok Hwesio yang berdiri seperti patung, atau agaknya seperti sudah pulas
sambil berdiri karena kedua matanya meram. Hanya Cui Sian seorang yang penuh percaya akan kesaktian
Yo Wan. Diam-diam gadis ini merasa terharu.
Satu-satunya pria yang ia kagumi, yang ia harapkan, yang menimbulkan debar aneh di jantungnya, kini
muncul di saat yang amat berbahaya untuk menolong dia sekeluarga. la menjadi girang sekali sungguh
pun kegirangan itu bercampur dengan rasa khawatir juga.
"Ha-ha-ha, Yo Wan. Kalau sekarang gurumu masih hidup, ingin aku mencobanya dengan ilmuku yang
baru. Akan tetapi karena dia sudah mampus, maka kaulah penggantinya. Ha-ha-ha, apa bila dulu aku
sudah mempunyai ilmu ini, kiranya dia tidak akan mampu menundukkan aku. Kau terimalah ini!"
Tubuh yang miring-miring itu tiba-tiba bergerak dan tangannya yang panjang mengirim pukulan Pai-san-jiu
sampai tiga kali berturut-turut. Hebat bukan main pukulan ini. Angin pukulannya berdesir menimbulkan
suara bersiutan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang kali ini Maharsi sengaja mengerahkan seluruh tenaganya untuk pamer. Juga dalam
kegemasannya untuk segera merobohkan murid supek-nya yang mengganggu ini, sekaligus membalas
sakit hatinya karena dahulu sampai dua kali dia dirobohkan dan ditekan oleh Bhewakala ketika dia
mengganggu seorang gadis dusun, dan kedua kalinya ketika dia berusaha merampas sebuah kuil untuk
tempat dia bertapa dari tangan pertapa lain.
Melihat hebatnya pukulan dengan tubuh miring ini, Yo Wan tidak berani memandang ringan. Dia cukup
maklum betapa hebatnya ilmu pukulan dari Nepal yang disertai tenaga mukjijat dari latihan kekuatan batin.
Tetapi, tanpa menahan pukulan dengan tangkisan, dia juga tidak akan dapat mengukur sampai di mana
kehebatan tenaga pukulan lawan itu. Oleh karena inilah, maka setelah menggunakan langkah ajaib dari Sicap-
it Sin-po untuk menghindarkan dua pukulan, dia lalu mengangkat tangan menangkis pukulan ketiga.
"Desssss!"
Dua telapak tangan bertemu dan Maharsi melanjutkan dengan cengkeraman, akan tetapi bagaikan belut
licinnya, telapak tangan pemuda itu sudah terlepas pula, karena Yo Wan cepat menariknya ketika tubuhnya
terpental dan terhuyung-huyung ke belakang.
"Heh-heh-heh, mana kau mampu menahan pukulanku, bocah?" Maharsi mengejek dan seperti seekor
kepiting, tubuhnya yang miring itu merayap maju untuk menerjang lagi.
Karena yakin bahwa pemuda itu tidak akan sanggup menahan serangan-serangannya, Maharsi lalu
melancarkan serangan beruntun dengan ilmu pukulan Pai-san-jiu yang amat lihai. Yo Wan tetap
menghindarkan semua pukulan itu dengan Si-cap-it Sin-po, sehingga tampaknya dia selalu terhuyunghuyung
dan terdesak hebat, sungguh pun tidak pernah ada pukulan yang menyentuh tubuhnya.
"Hebat pemuda itu...," Raja Pedang Tan Beng San memuji perlahan.
"Ayah, dia terdesak... bagaimana kalau dia kalah...?" Cui Sian berkata lirih, tapi bernada penuh
kekhawatiran.
Mendengar suara anaknya ini, Beng San menoleh dan memandang aneh, kemudian dia tersenyum. "Sianji,
kau kenal dia?"
Dalam keadaan terluka seperti itu, kedua pipi halus Cui Sian masih sempat memerah. Maklum bahwa
ayahnya sedang menatapnya, dia tidak berani balas memandang, takut kalau-kalau sinar matanya akan
bercerita sesuatu tentang isi hatinya.
"Aku pernah bertemu dengan dia, Ayah. Dia Yo Wan, murid Kwa-suheng..."
Raja Pedang mengangguk-angguk. "Pantas... pantas langkah-langkah itu terang adalah langkah ajaib yang
dimiliki Kun Hong. Tapi dia tadi mengaku murid Bhewakala..."
"Ayah, pendeta itu begitu lihai, bagaimana kalau Yo-twako kalah...?" kembali Cui Sian menyatakan
kekhawatirannya ketika ia memandang ke arah pertempuran.
"Dia tidak akan kalah," jawab Raja Pedang.
Sementara itu Lee Si sadar dari pingsannya dan gadis ini menangis tersedu-sedu. "Siapa membunuhnya,
Bibi? Siapa? Kongkong (Kakek), ayah dibunuh orang, kenapa Kongkong diam saja?"
Raja Pedang Tan Beng San tak menjawab, hanya menghela nafas panjang. Pertanyaan cucunya ini
mengingatkan dia akan kecerobohannya, menuduh Pendekar Buta sehingga dia dan Pendekar Buta
terluka parah, sehingga tidak mampu menghadapi lawan-lawan tangguh.
Akan tetapi Cui Sian merangkul Lee Si dan berkata lirih, "Tenanglah Lee Si. Kami semua kini terluka parah
sebagai akibat membela kematian ayahmu. Pembunuh ayahmu adalah Ang-hwa Nio-nio, dia sudah tewas.
Akah tetapi masih ada Maharsi serta Bhok Hwesio yang lihai, sedangkan kami semua terluka. Mudahmudahan
Yo twako dapat menolong kita, kalau tidak..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku tidak terluka, biar aku membantunya!" Lee Si melompat bangun.
"Lee Si, duduklah! Jangan ganggu dia!" tiba-tiba Raja Pedang mencegah.
Gadis itu kecewa sekali, akan tetapi suara kakeknya demikian berwibawa sehingga dia tidak berani
membantah, lalu menjatuhkan diri lagi duduk di atas rumput dekat Cui Sian yang memeluknya. Lee Si
menangis lagi sambil melihat ke arah lubang di tanah, di mana menggeletak jenazah ayahnya.
Kemudian dia menengok ke sekeliling dan melihat sangat banyak mayat-mayat orang malang-melintang
memenuhi tempat itu. Biar pun Lee Si puteri suami isteri berilmu tinggi dan ia sendiri adalah seorang
pendekar wanita yang lihai, ia bergidik juga menyaksikan penglihatan yang sangat menyeramkan itu. Ada
dua puluh lima sosok mayat yang rebah malang-melintang di tempat itu!
Sementara itu, Hui Kauw juga memegang lengan suaminya dan menekannya erat-erat ketika melihat
munculnya Yo Wan tadi. Kun Hong tentu saja sudah mendengar suara muridnya, dan jantung Pendekar
Buta ini pun berdebar tegang.
Tanpa disengaja, Hui Kauw menyatakan kekhawatiran hatinya yang serupa betul dengan kekhawatiran Cui
Sian tadi. "Dia belum belajar apa-apa darimu, bagaimana kalau dia kalah...?"
Dan seperti juga Raja Pedang dalam menjawab puterinya, kini Pendekar Buta berkata kepada isterinya,
"Tenanglah, dia tidak akan kalah."
Jawabannya mantap dan penuh keyakinan. Biar pun kedua matanya tak dapat melihat lagi, tetapi
pendengaran Pendekar Buta yang sangat tajam dapat membedakan gerakan Yo Wan dan gerakan
Maharsi, malah dia juga dapat menduga bahwa Yo Wan sengaja berlaku murah kepada murid keponakan
Bhewakala itu.
Dugaan Pendekar Buta dan dugaan Raja Pedang memang tepat sekali. Pada waktu pertemuan tenaga
tadi, Yo Wan sudah mengukur kekuatan lawan dan tahulah dia bahwa pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi itu
mengandung tenaga mendorong dan menekan dari hawa sakti Yang-kang.
Yo Wan maklum bahwa pukulan semacam itu sangat berbahaya bagi orang-orang yang menghadapi
Maharsi dengan tenaga keras, akan tetapi sesungguhnya hilang bahayanya apa bila dihadapi dengan
tenaga halus. Oleh karena itu dia sengaja memainkan langkah-langkah ajaib dari Si-cap-it Sin-po sehingga
semua pukulan dahsyat itu hanya sekedar menyambar-nyambar dan menimbulkan angin pukulan yang
berputar-putar seperti angin puyuh yang berpusingan.
"Maharsi, sekali lagi, atas nama mendiang suhu Bhewakala, aku memberi kesempatan kepadamu untuk
insyaf dan sadar dari kesesatan, kembali ke jalan benar. Kembalilah ke barat dan jangan ikat dirimu
dengan segala macam permusuhan yang tiada gunanya," terdengar Yo Wan berkata dengan sabar.
Maharsi tertawa sampai terkekeh-kekeh. "Ho-ho-ha-ha, bocah sombong! Kau betul-betul tak tahu diri.
Kematian sudah di depan mata, sejak tadi kau tak mampu balas menyerang dan sekali menangkis kau
hampir roboh, tapi kau masih berani membuka mulut besar? Hah-hah-hah. Sungguh tak tahu malu dan tak
tahu diri..."
"Kau sendiri yang mencari penyakit. Kau yang memutuskan, nanti jangan sesalkan aku!" Yo Wan menutup
kata-katanya ini dengan lecutan cambuknya yang mengeluarkan suara bergeletar, lantas disusul sinar
cambuk Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) warisan Bhewakala.
Menyaksikan cambuk ini, kagetlah Maharsi. Cambuk inilah yang dahulu ketika berada di tangan Bhewakala
telah menghajarnya sampai dua kali. Tetapi sekarang kepandaiannya sendiri sudah meningkat tinggi
sedangkan pemegang cambuk hanya seorang pemuda! Tentu saja dia tidak menjadi jeri. Sambil
mengeluarkan seruan aneh, pendeta jangkung itu menyerbu lagi, tangan kiri mencengkeram ke arah
cambuk, tangan kanan mengirim pukulan Pai-san-jiu ke arah lambung Yo Wan.
Akan tetapi pemuda ini sudah siap. Kakinya melangkah mundur lalu ke kanan, sehingga serangan itu
sekaligus dapat dia hindarkan, kemudian dengan langkah-langkah aneh seperti tadi, seperti orang
terhuyung-huyung ke depan, dia maju lagi.
Maharsi gemas dan juga girang. Cepat dia memapaki tubuh Yo Wan dengan serangan kilat yang dia yakin
dunia-kangouw.blogspot.com
akan mengenai sasaran. Akan tetapi kembali dia tertipu karena secara aneh dan tiba-tiba tubuh Yo Wan
lenyap ketika pemuda itu menyelinap di antara kedua lengannya. Sebelum Maharsi sempat mengirim
susulan serangannya, terdengar suara keras di pinggir telinganya.
"Tarrr…!"
Keringat dingin membasahi muka Maharsi. Ujung cambuk tadi meledak tepat di pinggir telinganya, dekat
sekali. Kalau tadi mengenai jalan darah atau kepalanya, agaknya dia sudah akan roboh. Rasa penasaran
dan malu membuatnya marah dan dengan geraman hebat dia lantas menubruk maju, mengirim pukulan
Pai-san-jiu dengan hebat. Pukulan ini merupakan pukulan jarak jauh yang amat lihai, disusul dengan
cengkeraman yang dapat menghancur lumatkan batu karang.
Namun sekali lagi dia menubruk dan memukul angin, karena Yo Wan sudah menyelinap pergi, dan sekali
dia menggerakkan tangan kanan, cambuknya melecut bagaikan seekor ular hidup, sekali ini diam-diam
tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga, akan tetapi tahu-tahu ujung cambuknya sudah membelit
pergelangan tangan kanan Maharsi!
Pendeta itu terkejut sekali, cepat-cepat mengerahkan tenaganya untuk merenggut lepas tangannya yang
terbelit cambuk. Namun sia-sia belaka, karena pada saat itu, dia telah dibetot oleh tenaga luar biasa
melalui cambuk. Betapa pun dia mempertahankan dirinya dengan mengerahkan tenaga pada sepasang
kakinya, Maharsi tidak mampu menahan dan dia terhuyung ke depan.
Tiba-tiba cambuk terlepas dari tangannya. Hampir saja Maharsi roboh terguling apa bila dia tidak cepat
melompat ke samping untuk mematahkan tenaga dorongan tadi.
"Maharsi, sekali lagi kuberi kesempatan. Pulanglah ke barat!" Yo Wan berkata lagi nada suaranya kereng.
Maharsi termenung, ragu-ragu. Baru saja dia mendapat kenyataan bahwa pemuda murid uwa gurunya itu
benar-benar lihai bukan main. Permainan cambuknya tidak saja sudah menyamai Bhewakala, malah lebih
aneh dan hebat karena gerakan langkah kaki pemuda itu benar-benar membingungkannya.
Gerakan cambuk Bhewakala masih dapat dikenalnya sedikit, akan tetapi langkah kaki itu benar-benar amat
sukar dia ikuti sehingga dia tidak dapat menduga dari mana datangnya serangan cambuk. Dia menjadi
serba salah. Jelas bahwa pemuda itu masih memandang hubungan perguruan dan memberi kesempatan
kepadanya.
Akan tetapi rasanya sangat memalukan apa bila harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda. Tetapi
kalau terus melawan, dia pun agak jeri, khawatir kalau-kalau sekali lagi dia akan menderita kekalahan, kali
ini malah dari murid uwa gurunya, Bhewakala.
"Sungguh memalukan menjadi seorang pengecut..!" tiba-tiba terdengar suara.
Yo Wan menengok dan mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi dia hanya melihat hwesio tua
dengan mata meram itu berdiri agak jauh. la menduga bahwa hwesio tua itu yang berbicara, akan tetapi
hwesio itu tidak menggerakkan mulut dan dia tidak mengenal siapa adanya hwesio tinggi besar itu.
Akan tetapi bagi Maharsi, suara ini mengembalikan keberaniannya. la tadi lupa bahwa di situ masih ada
Bhok Hwesio yang kesaktiannya sudah dia ketahui. Dengan keberadaan hwesio itu di situ, takut apakah?
"Bocah sombong, Maharsi bukanlah seorang pengecut!"
Sesudah membentak keras, pendeta jangkung ini melompat ke depan sambil mengirim serangan yang
lebih dahsyat dari pada tadi. Yo Wan menjadi gemas bukan main. Ia lalu mengerahkan tenaganya,
menyalurkan sinkang pada sepasang lengan lalu sengaja dia menerima serangan itu dengan dorongan
kedua lengan.
Sekarang sepasang lengan bertemu telapak tangannya dan bagaikan diterbangkan angin puyuh, tubuh
pendeta itu segera terjengkang ke belakang dan roboh. Kiranya kali ini dia menggunakan jurus rahasia
Pek-in-ci-tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat), yaitu jurus yang paling ampuh dari empat puluh delapan jurus
Liong-thouw-kun yang dahulu dia pelajari dari mendiang Sin-eng-cu.
Pada waktu dia masih kanak-kanak dahulu, dia sudah mewarisi jurus-jurus yang khusus dipergunakan oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin-eng-cu untuk menghadapi Bhewakala, juga dari pihak Bhewakala dia mewarisi jurus-jurus sebaliknya.
Oleh karena itu, dia sudah hafal betul akan ilmu silat dari barat dan tahu pula akan kelemahankelemahannya.
Demikian pula dia dapat segera mengetahui kelemahan Ilmu Pukulan Pat-san-jiu dari Maharsi. Maka untuk
menghadapinya, dia menggunakan Pek-in-ci-tiam yang sekaligus sudah berhasil baik sekali karena
Maharsi yang terbanting roboh itu tidak dapat bangun lagi. Tenaga Yang-kang telah membalik ke dalam
tubuh pendeta itu sendiri, merusak isi dada dan memecahkan jantung sehingga nyawanya melayang.
Yo Wan menyesal sekali melihat Maharsi tewas. Tetapi hanya sebentar dia mengerutkan kening. Pendeta
itu sudah mencari kematian sendiri. Sudah beberapa kali dia memberi kesempatan tadi. Dengan cepat dia
lalu menghampiri Kun Hong dan berlutut di depan Pendekar Buta dan isterinya.
"Suhu dan Subo, maafkan teecu datang terlambat sehingga Ji-wi (kalian) mengalami luka..."
Untuk sejenak Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, kemudian dia berkata, "Bangkitlah dan
kau wakili Thai-san-ciangbunjin (ketua Thai-san-pai) yang juga terluka parah untuk menghadapi Bhok
Hwesio. Hati-hati, dia adalah tokoh Siauw-lim-pai, lihai sekali. Jangan lawan dengan keras, gunakan Sicap-
it Sin-po, hindarkan adu tenaga dan biarkan dia lelah karena usia tuanya."
Yo Wan kaget bukan main. Kiranya orang tua gagah perkasa yang duduk bersila di sana dengan muka
pucat tanda luka dalam itu adalah Si Raja Pedang atau ketua Thai-san-pai yang sangat terkenal! Dan jago
tua yang luka itu adalah ayah Cui Sian! Mengapa Raja Pedang bisa terluka? Dan kenapa Pendekar Buta,
gurunya yang sakti itu juga terluka? Juga subo-nya, dan agaknya Cui Sian juga, semua terluka?
Tiada waktu untuk bicara tentang ini, karena dia mendengar hwesio itu bertanya kepada Raja Pedang
dengan nada mengejek sekali.
"Tan Beng San, kau beserta kawan-kawanmu berhasil menghabiskan musuh-musuhmu. Bagus sekali!
Akan tetapi pinceng tetap tak sudi melawan orang luka. Sekali lagi pinceng memberi kesempatan
kepadamu. Kau berlutut dan mengangguk tiga kali minta maaf dan pinceng akan memberi waktu satu
bulan kepadamu untuk memulihkan kesehatan dan tenaga sebelum pinceng datang mengambil nyawamu
di Thai-san. Kalau tidak, terpaksa pinceng akan membuat kau menjadi seorang bercacat seumur hidup."
"Bhok Hwesio, mengapa mesti banyak bicara lagi? Sekali lagi dengarlah, dalam keadaan terluka begini aku
tidak mampu melayani bertanding. Akan tetapi bukan berarti aku kalah atau takut padamu. Mau bunuh
boleh bunuh, tetapi jangan harap aku sudi minta maaf kepadamu. Nah, aku tidak mau bicara lagi!"
Bhok Hwesio melebarkan matanya dan keningnya berkerut. "Hemmm, manusia keras kepala, kau mencari
sengsara sendiri" Hwesio tua itu melangkah maju, cahaya matanya membayangkan kemarahan.
Yo Wan melompat cepat dan tubuhnya melayang ke depan Bhok Hwesio. "Losuhu, tidak layak seorang
hwesio berhati kejam, dan sungguh memalukan bagi seorang sakti kalau menyerang lawan yang terluka
parah."
Bhok Hwesio berhenti melangkah, lalu tertawa mengejek. "Raja Pedang, apa kau hendak mewakilkan
bocah ingusan ini untuk melawanku? Kau tahu, dia bukan lawanku!"
Yo Wan cukup maklum bahwa tokoh-tokoh sakti semacam Raja Pedang dan Pendekar Buta, tak mungkin
suka mengharapkan bantuan orang lain untuk mewakili mereka dalam suatu pertandingan. Bagi seorang
pendekar besar, hal seperti itu merupakan pantangan dan dipandang hina. Dia dapat menduga bahwa
pertanyaan seperti yang telah diajukan oleh Bhok Hwesio itu tentu akan disangkal oleh Raja Pedang.
Oleh karena inilah dia sengaja cepat-cepat mendahului Raja Pedang dan menjawab, suaranya lantang,
"Hwesio tua, para Locianpwe seperti Raja Pedang dan Pendekar Buta tidak memerlukan wakil dalam
pertandingan. Kalau beliau-beliau itu tidak dalam keadaan terluka parah, tentu sejak tadi sudah melayani
kesombonganmu. Aku maju bukan untuk mewakili mereka, melainkan untuk mencegah kau melakukan
perbuatan pengecut dan mengganggu mereka yang terluka."
"Omitohud...!" Bhok Hwesio mengeluarkan pujian. "Dunia telah terbalik, anak kecil berani menantang
pinceng! Sungguh memalukan. Hehh, Raja Pedang, pinceng juga tidak sudi melayani segala bocah,
kecuali kalau kau menganggap dia adalah wakilmu!" Memang tidak mengherankan kalau Bhok Hwesio
dunia-kangouw.blogspot.com
merasa sungkan melawan Yo Wan.
Bhok Hwesio adalah seorang tokoh besar di dunia persilatan, dia menduduki tingkat teratas di Siauw-limpai,
dan seorang dengan kedudukan seperti dia tentu saja tidak sudi melayani lawan yang tidak setingkat
kedudukannya. Jika dia mau melayani orang-orang muda seperti Yo Wan, apa lagi di depan tokoh-tokoh
seperti Pendekar Buta dan Raja Pedang, sama artinya dengan merendahkan diri dan menjadikan dirinya
sebagai bahan tertawaan belaka. Kecuali bila orang muda itu memang diangkat oleh lawannya menjadi
wakil, hal itu tentu saja lain lagi sifatnya.
Raja Pedang maklum akan hal ini. Ia pun tidak begitu rendah untuk mewakilkan seorang muda
menghadapi tokoh seperti Bhok Hwesio, kecuali jika dia benar-benar yakin bahwa orang muda itu berpihak
kepadanya dan memiliki kepandaian yang cukup. Biar pun Yo Wan adalah murid Pendekar Buta, akan
tetapi dia murid Bhewakala pula, dan dia tidak mengenal pemuda itu. Selagi dia ragu-ragu, terdengar Kun
Hong berkata,
"Locianpwe, Yo Wan sama dengan saya sendiri, saya harap Locianpwe sudi mengijinkan dia mewakili
Locianpwe."
Raja Pedang menarik nafas panjang, masih meragu.
"Ayah, biarlah Yo-twako mewakili Ayah. Dia cukup berharga untuk menjadi wakil Ayah," kata Cui Sian
perlahan.
Kata-kata puterinya ini membuat wajah Beng San berseri-seri. Akhirnya! Hatinya menjadi terharu. Akhirnya
gadisnya yang selalu menolak pinangan dan tidak mau dijodohkan itu kini mendapatkan pilihan hati!
Sebagai orang yang berpengalaman matang, ucapan Cui Sian tadi saja cukup baginya untuk menjenguk isi
hati anaknya.
"Yo Wan, ke sinilah sebentar," ujarnya.
Yo Wan cepat menghampiri dan berlutut di depan Raja Pedang. "Maaf, Locianpwe, saya tidak berani
lancang mewakili Locianpwe, akan tetapi..."
Raja Pedang mengangguk-angguk. "Aku sudah menyaksikan gerakan-gerakanmu tadi. Kau cukup baik,
akan tetapi tidak cukup untuk menghadapi Bhok Hwesio. Apakah kau tahu bahwa dengan mewakili aku
menghadapinya, keselamatan nyawamu bisa terancam bahaya?"
"Locianpwe, dalam membela kebenaran, berkorban nyawa merupakan hal yang mulia."
Raja Pedang tersenyum gembira. Ucapan ini saja cukup membuktikan bagaimana mutu pemuda yang
menjadi pilihan hati Cui Sian, dan dia puas.
"Baiklah, kau hadapi dia, akan tetapi tenang dan waspadalah, dia amat lihai dan kuat. Seberapa dapat kau
ulur waktu pertempuran, mengandalkan nafas dan keuletan. Mudah-mudahan aku atau Kun Hong sudah
dapat memulihkan tenaga selama kau menghadapi dia."
"Saya mengerti, Locianpwe."
"He, Bhok Hwesio. Kuanggap bocah ini cukup berharga, bahkan terlalu berharga untuk menghadapimu dan
menjadi wakilku. Bhok Hwesio, aku menerima tantanganmu dan aku mengajukan Yo Wan, kalau dia kalah
olehmu, kau boleh melakukan apa saja terhadap diriku dan aku akan menurut!"
Bhok Hwesio tertawa masam. "Sialan memang, harus melawan seorang bocah! Akan tetapi karena kau
mengangkatnya sebagai wakil, apa boleh buat. Hee, bocah sombong, mari!"
Yo Wan memberi hormat kepada Raja Pedang dan bangkit sambil mengerling ke arah Cui Sian yang
memandangnya dengan air mata berlinang.
"Yo-twako... kau hati-hatilah..."
Yo Wan tersenyum dan mengangguk. Mulutnya tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pandang matanya
jelas menghibur dan minta supaya gadis itu tidak khawatir.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maklum akan kehebatan lawan, hingga Pendekar Buta dan Raja Pedang sendiri memberi peringatan
padanya, Yo Wan tak berani memandang rendah. Sambil menghampiri Bhok Hwesio dia mengeluarkan
cambuk Liong-kut-pian.
Cambuk ini peninggalan Bhewakala. Biar pun disebut Cambuk Tulang Naga, tentu saja bukan terbuat dari
tulang naga, melainkan dari kulit binatang hutan yang hanya terdapat di Pegunungan Himalaya.
Cambuk ini lemas, tapi amat ulet dan berani menghadapi senjata tajam yang bagaimana pun juga. Oleh
karena sifatnya yang lemas inilah maka bagi seorang ahli silat yang tinggi tingkatnya, senjata ini dapat
digunakan secara tepat sebab bisa menampung penyaluran tenaga sakti melalui tangan yang
memegangnya.
Cambuk Liong-kut-pian dipegang oleh Yo Wan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya
mengeluarkan pedangnya. Bukan pedang Pek-giok-kiam pemberian Hui Kauw dahulu, tetapi pedang
Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dibuat dari semacam kayu cendana yang tumbuh di
Himalaya. Dengan sepasang senjata di tangannya ini, Yo Wan seakan-akan menjelma menjadi dua orang
tokoh sakti, yaitu Sin-eng-cu (Bayangan Garuda) di tangan kanan dan Bhewakala di tangan kiri!
Yo Wan adalah seorang yang jujur dan polos, sederhana dan dia belum banyak memiliki pengalaman
bertempur, maka dia pun berkata, "Hwesio tua, harap kau suka keluarkan senjatamu."
Kalau saja dia tidak demikian jujur, tentu dia tidak akan mengeluarkan kata-kata ini, tidak akan merasa
sungkan berhadapan dengan lawan bertangan kosong, karena lawannya ini bukanlah tokoh sembarangan.
Kata-kata yang jujur dan berdasarkan rasa sungkan melawan orang bertangan kosong ini diterima oleh
Bhok Hwesio sebagai penghinaan. la merasa dipandang rendah!
"Bocah sombong, melawan cacing macam engkau saja, mana perlu aku menggunakan senjata? Terimalah
ini!"
Sepasang lengan hwesio tua itu bergerak dan dari kanan kiri lantas menyambar angin pukulan dahsyat
mendahului ujung lengan baju yang lebar. Yo Wan terkejut sekali ketika tiba-tiba diserang oleh angin
pukulan dari dua jurusan, akan tetapi melihat betapa kedua lengan kakek itu bergerak lambat, dia melihat
kesempatan baik sekali.
Diam-diam dia heran sekali, mengapa kakek itu memandangnya terlalu ringan sehingga melancarkan
penyerangan begini bodoh, serangan yang tidak berbahaya, dan sebaliknya malah membuka diri sendiri ini
menjadi sasaran.
Cepat dia menggerakkan kedua tangannya. Cambuk di tangan kirinya melecut ke arah urat nadi tangan
kanan lawannya, sedangkan Pedang Kayu Wangi di tangan kanannya memapaki lengan kiri lawan dengan
tusukan ke arah jalan darah dekat siku. Semacam tangkisan yang sekaligus merupakan serangan
mematikan, sebab bila kedua senjatanya itu mengenai sasaran, kedua lengan kakek itu sedikitnya akan
lumpuh untuk sementara!
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Yo Wan dan sekaligus dia melihat kenyataan akan
tepatnya peringatan Pendekar Buta dan Raja Pedang kepadanya tadi, ketika tiba-tiba cambuk dan pedang
kayunya terpental oleh hawa pukulan sakti, kembali menghantam dirinya sendiri! Demikian kuatnya hawa
pukulan sakti yang menyambar dari kedua lengan kakek itu sehingga selain kedua senjatanya terpental
kembali, juga angin pukulan itu masih dengan dahsyatnya menghantam dirinya.
"Lihai...!!" Yo Wan berseru keras.
Segera dia melempar diri ke belakang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah, kemudian dia
membalik dan cepat-cepat menggunakan langkah ajaib untuk keluar dari pengurungan hawa pukulan yang
dahsyat tadi. Dengan terhuyung-huyung dia melangkah ke sana ke mari, akhirnya berhasillah dia keluar
dari kurungan hawa pukulan!
Hwesio tua itu tersenyum mengejek, hidungnya mendengus seperti kerbau, kemudian lengannya kembali
bergerak-gerak mengirim pukulan. Gerakan kedua tangannya lambat-lambat saja, jari tangannya terbuka
dan dari telapak tangan itulah keluar hawa pukulan yang dahsyat tadi, sedangkan ujung lengan bajunya
dunia-kangouw.blogspot.com
berkibar-kibar merupakan sepasang senjata kuat.
Sepasang ujung lengan baju inilah yang tadi menangkis serta membentur cambuk dan pedang, membuat
kedua senjata itu terpental kembali. Dari peristiwa ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa tenaga sinkang
kakek Siauw-lim-pai ini luar biasa hebatnya.
Setelah mengalami gebrakan pertama yang hampir saja mencelakainya, wajah Yo Wan sebentar pucat
sebentar merah. Dia merasa malu sekali. Tadinya dia mengira kakek itu terlalu memandang rendah
padanya, kiranya perkiraan itu malah sebaliknya. Dialah yang tadi terlalu memandang rendah,
menganggap gaya gerakan kakek itu sembarangan dan ceroboh.
Sekarang dia dapat melihat dengan jelas dan dapat menduga bahwa agaknya inilah Ilmu Silat Lo-han-kun
dari Siauw-lim-pai, yang dimainkan oleh seorang tokoh tingkat tertinggi sehingga bukan merupakan ilmu
pukulan biasa, melainkan lebih mirip ilmu gaib karena biar pun digerakkan begitu lambat seperti gerakan
kakek-kakek lemah tenaga, namun di dalamnya mengandung hawa pukulan yang bukan main kuatnya.
Sekaligus terbukalah mata Yo Wan dan diam-diam dia harus mengakui kewaspadaan Pendekar Buta dan
Raja Pedang yang tadi memesan kepadanya agar dia tidak mengadu tenaga, namun lebih baik
menghadapi kakek tua renta yang sakti ini dengan permainan kucing-kucingan, berusaha menghabiskan
nafas kakek renta itu sambil menanti pulihnya tenaga Raja Pedang atau Pendekar Buta.
Setelah kini yakin bahwa kakek yang dihadapinya ini benar-benar luar biasa lihainya, dia tidak berani
berlaku ceroboh lagi. Begitu kakek ini menyerangnya dengan pukulan lambat yang mendatangkan angin
keras, dia cepat mengelak dengan langkah-langkah ajaibnya. Akan tetapi Yo Wan tidak mau mengalah
begitu saja, karena biar pun dia maklum akan kelihaian lawan, dia merasa penasaran kalau tidak
membalas.
Pedang kayunya lalu menyambar-nyambar, mainkan Liong-thouw-kun yang empat puluh delapan jurus
banyaknya, sedangkan cambuk Liong-kut-pian di tangan kirinya melecut dan melingkar-lingkar saat ia
mainkan Ngo-sin Hoan-kun (Lima Lingkaran Sakti), berubah menjadi segulung awan menghitam yang
melingkar-lingkar dan sambung-menyambung, sedangkan pedang kayunya kadang-kadang menyambar
keluar seperti kilat menyambar dari dalam awan hitam!
"Omitohud... bocah ini berilmu iblis...!" Bhok Hwesio berseru memuji, akan tetapi dengan kata-kata
mengejek.
Diam-diam dia merasa kagum bukan main dan sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu memiliki ilmu
yang demikian aneh dan dahsyatnya. Selain ini, juga dia merasa amat penasaran karena tidak seperti
biasanya, pukulan-pukulannya yang penuh dengan hawa sinkang itu kali ini tak pernah mengenai sasaran.
Setelah mainkan ilmu gabungan yang indah dan dahsyat itu selama hampir seratus jurus tahulah Yo Wan
bahwa menghadapi kakek ini benar-benar dia tidak berdaya. Jurus-jurus simpanannya dia keluarkan dan
beberapa kali ujung cambuk dan ujung pedang kayunya berhasil menyentuh tubuh Bhok Hwesio.
Akan tetapi semua itu sia-sia saja karena begitu menyentuh kulit kakek itu, senjatanya lantas membalik ada
pun telapak tangannya serasa panas dan sakit. Malah ada kalanya, ketika senjatanya terbentur hawa
pukulan kakek itu, senjatanya bahkan membalik hampir menghantam tubuhnya sendiri.
Yo Wan maklum apa artinya ini. Ternyata dia jauh kalah kuat dalam adu kekuatan dan menghadapi
seorang yang sinkang-nya jauh lebih kuat, tentu saja sukar baginya untuk dapat merobohkan. Sebaliknya,
andai kata dia tidak dapat mainkan Si-cap-it Sin-po, yaitu Empat Puluh Satu Langkah Ajaib, sekali saja
terkena pukulan Bhok Hwesio, sukar untuk menolong keselamatan nyawanya!
Oleh karena ini, penyerangan-penyerangannya lalu dia ubah sama sekali. Kini dia hanya menyerang apa
bila mendapatkan kesempatan yang sangat baik dan sasarannya hanya tempat-tempat yang tidak mungkin
dilindungi oleh Iweekang, seperti mata dan ubun-ubun kepala.
Bhok Hwesio makin penasaran. Dia, seorang tokoh tinggi Siauw-lim-pai yang hanya bisa dijajari tingkatnya
oleh ketua Siauw lim-pai, kini menghadapi seorang pemuda tak dapat mengalahkannya dalam seratus
jurus lebih! Alangkah aneh serta memalukan! Bukan itu saja, bahkan sekarang pemuda itu mengarahkan
serangannya ke mata dan ubun-ubun kepala, membuat dia terpaksa harus mengelak atau menangkisnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Oleh karena rasa penasaran inilah dia segera mempercepat gerakannya. Makin lama dia bersilat makin
cepat untuk mengimbangi kecepatan Yo Wan dan untuk dapat cepat-cepat merobohkan bocah itu.
Namun Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po benar-benar luar biasa sekali, karena tak pernah pukulan Bhok
Hwesio dapat mengenai sasaran. Hal ini sebetulnya tidak mengherankan. Ilmu langkah itu didapat oleh Yo
Wan dari Pendekar Buta dan pendekar ini mendapatkan dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Padahal Kim-tiauwkun
yang diciptakan oleh Bu-beng-cu di puncak Liong-thouw-san (Bu-beng-cu merupakan suheng dari Sineng-
cu) dan kemudian ditemukan Kun Hong, bersumber pada Ilmu Silat Im-yang Bu-tek Cin-keng yang
menjadi raja dari segala ilmu silat tinggi dan sudah menjadi pegangan Pendekar Sakti Bu Pun Su ratusan
tahun yang lalu! Tidaklah mengherankan kalau langkah ajaib ini sekarang dapat membuat seorang tokoh
besar Siauw-lim-pai menjadi tidak berdaya.
Di lan pihak Yo Wan adalah seorang pemuda yang cerdik. Setelah menjadi yakin bahwa terhadap Bhok
Hwesio dia tidak akan sanggup menggunakan ilmunya untuk mencapai kemenangan, dia sepenuhnya
menjalankan pesan Pendekar Buta dan Raja Pedang. Dia mainkan langkah ajaib dengan cermat sekali dan
setiap kali ada kesempatan, dia segera mengancam mata atau ubun-ubun kepala lawan.
Selain ini, dia sengaja berloncatan menjauhkan diri menggunakan ginkang-nya, sehingga lawannya yang
makin bernafsu itu mengejarnya lebih cepat. Ini memerlukan pergerakan cepat, sehingga makin lama
mereka bergerak makin cepat sampai lenyap bentuk tubuh mereka berubah menjadi dua bayangan yang
berkelebatan.
Betapa pun saktinya Bhok Hwesio, dia hanyalah seorang manusia juga. Manusia yang mempunyai darah
daging, otot-otot dan tulang. Manusia yang tidak akan mampu, betapa pun sakti dia, melawan kekuasaan
dan kesaktian usia tua.
Usia kakek ini sudah amat tinggi, mendekati sembilan puluh tahun. Boleh jadi dia matang dalam
kepandaiannya, amat kuat dalam tenaga sinkang. Namun harus diakui bahwa usia tua telah menggerogoti
daya tahannya.
Tanpa dia sadari, setelah terus mengejar-ngejar Yo Wan laksana orang mabuk mengejar bayangan dirinya
sendiri, setelah lewat tiga ratus jurus, nafasnya mulai kempas-kempis. Mukanya penuh peluh serta pucat,
sedangkan dari kepalanya yang gundul itu mengepul uap putih tebal!
Dapat dibayangkan bila seorang kakek berusia sembilan puluh tahun main kejar-kejaran dengan gerakan
secepat itu selama tiga jam! Ini masih ditambah oleh rasa amarah dan penasaran yang tentu saja
menambah sesak nafasnya.
Saking marahnya Bhok Hwesio, ketika untuk ke sekian kalinya, bagaikan ujung ekor ular mempermainkan
kucing cambuk Yo Wan menyambar ke arah sepasang matanya, Bhok Hwesio menggeram, tidak
mengelak akan tetapi menangkap cambuk ini dengan kedua tangannya! la berhasil menangkap cambuk,
lalu merenggut keras.
Yo Wan terkejut, tapi dia mempertahankan cambuknya. Terjadi betot-membetot. Tentu saja pengerahan
tenaga menarik jauh bedanya dengan tenaga mendorong.
Mendorong merupakan tenaga yang dipaksakan, dan dalam hal ini Yo Wan tidak berani menerima
dorongan lawan karena kalah kuat. Akan tetapi dalam adu tenaga menarik, tidak ada bahayanya kalau
kalah, paling-paling harus melepaskan cambuk. Karena itulah maka Yo Wan tidak mau menerima kalah
begitu saja. Dia memegang gagang cambuk erat-erat dan mengerahkan tenaganya untuk menahan.
Ada sedikit keuntungan baginya. Dia memegang gagang cambuk yang tentu saja lebih ‘enak’ dipegang dari
pada ujung cambuk yang kecil dan terasa menggigit kulit tangan. Keuntungan inilah agaknya yang
membuat Yo Wan dapat menebus kekalahannya dalam hal tenaga sehingga tidak mudah bagi Bhok
Hwesio untuk dapat merampas cambuk itu cepat-cepat.
Cambuk Liong-kut-pian peninggalan Bhewakala ini luar biasa kuatnya. Ditarik oleh dua orang yang memiliki
tenaga sakti itu, benda ini mulur panjang, kadang-kadang mengkeret kembali seperti karet. Lama dan
ramailah adu tenaga ini, seperti dua orang kanak-kanak main adu tambang. Hanya penasaranlah yang
membuat Bhok Hwesio bersitegang tidak mau menyudahi betot-membetot yang lucu dan tidak masuk
dalam kamus persilatan ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Wan mengangkat muka memandang. Hwesio itu mukanya pucat sekali, seperti tidak berdarah atau
agaknya semua darah pada mukanya sudah terkumpul di kedua matanya yang menjadi merah
mengerikan. Keringat sebesar kacang kedelai memenuhi muka dan leher, juga kepala, dadanya kembangkempis
secara cepat.
Melihat ini, Yo Wan mengerahkan tenaganya serta mempertahankan cambuknya. Bukan karena dia terlalu
sayang akan cambuknya, namun dengan jalan ini dia dapat menguras dan memeras habis tenaga lawan.
Dalam hal ilmu silat dan tenaga dalam dia kalah, namun dia harus mencari kemenangan dalam keuletan
dan pernafasannya, mencari kemenangan mengandalkan usianya yang jauh lebih muda. Dia sendiri juga
mandi keringat, akan tetapi agaknya tak sehebat kakek itu.
Bhok Hwesio semakin penasaran, menahan nafas dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik.
Tubuhnya seakan-akan membesar, otot-otot di lehernya mengejang dan menonjol ke luar.
"Krekkkkk!"
Cambuk itu putus di tengah-tengah! Yo Wan terbanting ke belakang, terus bergulingan seperti bola, ada
lima meter jauhnya. Tanpa disengaja, dia terguling ke dekat Cui Sian dan agaknya akan menabrak gadis
itu kalau saja Cui Sian tidak mengulurkan tangan dan menahannya sehingga mereka seperti berpelukan!
Cepat-cepat Cui Sian menjauhkan diri dan mukanya menjadi merah sekali!
"Ahh... ehhh... maaf, Sian-moi...," kata Yo Wan yang juga merah mukanya.
Akan tetapi Cui Sian segera dapat mengatasi hatinya. "Waspadalah, Yo-twako, dia lihai bukan main. Kau
usap peluhmu itu..." Sambil berkata demikian, Cui Sian menyerahkan sehelai sapu tangan sutera.
Yo Wan menerimanya, dan ketika teringat akan lawannya, cepat dia melompat bangun dan berdiri sambil
mengusapi peluh di mukanya. Bau sedap dari sapu tangan itu terasa menyegarkan semangatnya sehingga
dia lupa akan cambuknya yang amat disayangnya, cambuk yang kini sudah putus menjadi dua.
la melihat kakek itu juga berdiri tegak, sepasang matanya yang biasanya meram itu kini terbelalak, merah
menakutkan. Jelas sekali kakek itu tak dapat menahan nafasnya yang terengah-engah.
"Hwesio tua, kalau kau mau mengaso, mengasolah dulu. Nafasmu perlu diatur, jangan-jangan putus nanti
seperti cambukku..." Yo Wan sengaja mengejek, karena dia khawatir kalau kakek itu mengaso dan
mendapatkan kembali tenaga serta nafasnya, tentu akan lebih berbahaya.
"Iblis cilik, sekarang pinceng akan menghancurkan kepalamu!" Sambil berkata demikian, Bhok Hwesio
menerjang maju lagi.
Yo Wan meloncat dan menghindar. Sekarang tangan kirinya telah memegang sebatang pedang yang
berkilauan putih sebagai pengganti cambuknya yang putus. Itulah pedang Pek-giok-kiam pemberian Hui
Kauw dahulu.
"Tidak mudah, Hwesio, jika kepandaian yang kau bawa dari Siauw-lim-pai hanya seperti ini..."
Terdengar teriakan ngeri ketika Bhok Hwesio melompat maju seperti harimau menerkam. Teriakan ini
keluar dari mulut Cui Sian saking kaget dan gelisahnya. Terkaman itu hebat bukan main. Tubuh Bhok
Hwesio melayang bagaikan terbang di angkasa dan tampaknya kedua kakinya ikut pula menyerang, persis
seperti seekor harimau yang menerjang.
Yo Wan melompat lagi menghindar, akan tetapi tubuh Bhok Hwesio terus mengikutinya, bagai seekor
kelelawar besar mengancam dari atas. Melihat jari-jari tangan yang gemetar dan mengeluarkan bunyi
berkerotokan itu, wajah Yo Wan menjadi pucat. Sekali kena dicengkeram, akan hancurlah dia. Jangankan
kena dicengkeram, kena sentuh jari-jari itu saja cukup untuk membuat orang roboh!
Melihat betapa tubuh di udara itu laksana terbang dapat mengikutinya, Yo Wan menjadi nekat. Sekuat
tenaga ia lalu menggerakkan kedua pedangnya, pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) di tangan
kanannya dan pedang Pek-giok-kiam (Pedang Kumala Putih) di tangan kiri, menyerang dengan tusukantusukan
maut ke arah tenggorokan dan bawah pusar!
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun kakek yang melayang itu menggerakkan kedua tangannya, langsung menerima pedang-pedang itu
dengan cengkeramannya.
"Krakkk-krekkk!" terdengar bunyi ketika pedang kayu Siang-bhok-kiam hancur berkeping-keping
sedangkan pedang Pek-giok-kiam patah-patah menjadi tiga potong!
Akan tetapi terjangan ini membuat tubuh hwesio itu terpaksa turun kembali dan ternyata tangan kanannya
yang mencengkeram Pek-giok-kiam tadi mengeluarkan darah karena terluka!
Bhok Hwesio mengeluarkan suara gerengan keras, lalu mendadak berlari menerjang Yo Wan dengan
kepala di depan. Gerakan ini luar biasa sekali, aneh dan lucu, bagai seekor kerbau gila mengamuk. Seekor
kerbau tentu saja mengandalkan tanduknya yang kuat dan runcing, akan tetapi hwesio tua itu kepalanya
gundul licin, masa hendak digunakan sebagai andalan serangan?
Karena Yo Wan memang kurang pengalaman, dia melihat gerakan hwesio ini dengan hati geli. Walau pun
dia sudah kehilangan cambuknya, kehilangan Siang-bhok-kiam dan Pek-giok-kiam, namun dia tidak
menjadi gentar karena dengan mengandalkan Si-cap-it Sin-po dan ilmu silat-ilmu silatnya yang tinggi, dia
masih mampu mempertahankan dirinya sampai hwesio tua ini kehabisan nafasnya.
"Yo Wan, awaaasss...!!" Seruan ini hampir berbareng keluar dan mulut Raja Pedang dan Pendekar Buta.
Kagetlah hati Yo Wan. Tadinya dia menganggap gerakan Bhok Hwesio itu gerakan nekat yang pada
hakikatnya hanyalah gerakan bunuh diri karena dengan kepala menyeruduk macam itu, alangkah mudah
baginya untuk mengirim pukulan maut ke arah ubun-ubun kepala hwesio itu. Maka dapat dibayangkan
betapa kaget hatinya mendengar seruan dua orang sakti itu.
Cepat dia menggerakkan kaki mengatur langkah cepat karena tadinya tidak menganggap serangan itu
berbahaya. Dia hanya merasa tekanan hawa yang luar biasa panas serta membawa getaran aneh, lantas
tubuhnya terjengkang.
Kepala mau pun tubuh hwesio itu sama sekali tidak menyentuhnya. Serangan kepala itu boleh dibilang
tidak mengenai dirinya karena tubuh Bhok Hwesio menyambar lewat saja, namun hawa pukulannya
demikian hebat sehingga Yo Wan terjengkang, terbanting dan merasa betapa dadanya sesak!
Cepat dia menekan perasaan ini dengan mengerahkan sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia tidak dapat
mencegah tubuhnya terbanting dan bergulingan. Pada saat itu pula, Bhok Hwesio sudah mengejar maju,
dan secara bertubi-tubi mengirim pukulan dengan kedua tangannya, pukulan jarak jauh yang tidak kalah
ampuhnya oleh pukulan toya baja yang beratnya ratusan kati!
Raja Pedang memandang cemas. Demikian pula Pendekar Buta yang mengepal tangan, hatinya tegang,
kepalanya agak miring untuk dapat mengikuti semua gerakan itu dengan baik melalui pendengarannya.
Yo Wan melihat bahaya maut datang. Cepat dia kembali bergulingan sehingga pukulan-pukulan jarak jauh
itu hanya mengenai tanah, membuat debu beterbangan dan batu-batu terpukul hancur.
Dengan gemas Bhok Hwesio menyambar pedang Pek-giok-kiam yang tadi sudah patah dan menggeletak
di atas tanah, dilontarkannya pedang buntung itu ke arah dada Yo Wan yang masih bergulingan di atas
tanah.
Yo Wan mendengar bersiutnya angin. Cepat-cepat dia menekankan dua tangan di atas tanah, tubuhnya
melejit ke atas dan…
"Syyyuuuuttt!" pedang buntung itu lewat di samping tubuhnya, merobek baju kemudian menancap sampai
amblas di dalam tanah!
Yo Wan sudah berhasil melompat bangun, agak terhuyung-huyung dia karena pengaruh angin pukulan
sakti tadi masih membuat dadanya sesak. Keadaannya berbahaya sekali karena setelah sekarang
bertangan kosong dan terluka di sebelah dalam, biar pun tidak parah akan tetapi cukup akan mengurangi
kelincahannya, agaknya dia akan roboh oleh kakek hwesio yang luar biasa tangguhnya itu.
Ada pun Bhok Hwesio sudah kembali menggereng dan kepalanya menunduk, tubuhnya merendah, siap
menerjang seperti tadi, terjangan dengan kepala laksana seekor kerbau mengamuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Omitohud, Bhok-sute, banyak jalan utama, mengapa memilih jalan sesat? Selagi masih ada kesempatan,
mengapa tidak mencuci noda lama dan kembali ke jalan benar?"
Ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus dan tenang penuh kasih sayang ini amat mengagetkan
semua orang, terutama sekali Bhok Hwesio. Dia cepat mengangkat muka yang tadi ditundukkan itu,
memandang dan alis matanya yang sudah putih itu bergerak-gerak, keningnya berkerut-kerut.
Kiranya di depannya telah berdiri seorang hwesio tua yang tinggi kurus, usianya sudah sangat tua,
kepalanya gundul mengkilap, alis, jenggot dan kumisnya yang jarang sudah putih semua. Tubuhnya dibalut
jubah kuning bersih dan tangannya memegang sebatang tongkat hwesio.
Melihat hwesio tua ini, Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut sekali. Juga Pendekar Buta miringkan
kepalanya. Hanya Cui Sian dan Lee Si yang tak mengenal siapa adanya kakek itu, juga Yo Wan tidak
mengenalnya.
Tentu saja Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut karena mengenal kakek itu sebagai Thian Seng Losu,
ketua Siauw-lim-pai. Kalau kakek ini datang dan membantu Bhok Hwesio yang terhitung sute-nya sendiri,
maka celakalah mereka semua. Baru menghadapi Bhok Hwesio seorang saja sudah repot, apa lagi
ditambah suheng-nya yang tentu saja sebagai ketua Siauw-lim-pai memiliki ilmu yang hebat. Mana Yo Wan
akan sanggup menahan?
"Suheng, harap jangan ikut-ikutan, ini urusanku sendiri!" Bhok Hwesio mendengus marah ketika melihat
ketua Siauw-lim-pai itu.
"Bhok-sute, segera insyaf dan sadarlah. Bukan saatnya bagi orang-orang yang mencari penerangan
seperti kita ini melibatkan diri pada karma yang tiada berkesudahan. Kenapa sudah baik-baik kau bertapa,
diam-diam kau pergi, Sute? Kalau kau masih ingin terikat karma, bukan begitu caranya. Lebih baik kau
melakukan bakti terhadap negara. Pinceng mendengar bahwa sekarang kaisar kembali memimpin sendiri
pasukan ke utara, dan kabarnya di luar tembok besar, orang-orang Mongol mengganas dan mempunyai
banyak orang-orang sakti dari barat. Kalau memang hatimu belum puas dan ingin terikat pada dunia,
kenapa kau tidak menyusul ke utara dan membantu kaisar?"
"Suheng, sekali lagi, jangan ikut-ikutan. Raja Pedang adalah musuh besarku, dia harus menebus!"
"Omitohud! Pinceng melihat Bu-tek Kiam-ong ketua Thai-san-pai yang terhormat sudah terluka parah dan
tidak melawanmu. Mengapa kau sekarang bermain-main dengan anak muda?"
"Bocah ini mewakili Raja Pedang, terpaksa aku harus membunuhnya, Suheng, kemudian aku akan
membikin musuh besarku ini menjadi tapa daksa, baru aku akan ikut dengan Suheng kembali ke kelenteng
dan bertapa mencari jalan terang."
"Ahh... ahhh... menumpuk dosa dulu baru bertobat? Mengganas dalam kegelapan untuk mencari jalan
terang. Mana bisa, Sute. Kau tersesat jauh sekali. Marilah kau ikut dengan pinceng secara damai..."
"Nanti sesudah kurobohkan bocah ini!" Setelah berkata demikian, kembali Bhok Hwesio merendahkan
tubuhnya, menundukkan muka dan siap untuk menerjang Yo Wan dengan ilmunya yang dahsyat.
"Jangan, Sute..." Tiba-tiba tubuh kakek tua itu melayang bagaikan sehelai daun kering. Dia tiba di depan
Yo Wan, menghadang di antara pemuda itu dan Bhok Hwesio. "San-jin Pai-hud (Kakek Gunung
Menyembah Buddha) bukanlah ilmu untuk membunuh manusia!"
"Suheng, minggir!" bentak Bhok Hwesio.
"Jangan, Sute. Pinceng tidak membolehkan kau melakukan pembunuhan, sayang akan pengorbananmu
yang selama puluhan tahun menderita dalam hidup. Apakah kau ingin mengulanginya lagi dalam keadaan
yang lebih sengsara? Insyaflah."
"Suheng, sekali lagi. Minggirlah!" Bhok Hwesio membentak marah sekali.
"Tidak, Sute..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau begitu terpaksa aku akan membunuhmu lebih dahulu!"
"Omitohud, semoga kau diampuni..."
Bhok Hwesio mengeluarkan suara menggereng keras dan tubuhnya segera menerjang maju. Kepalanya
mengeluarkan uap kekuningan dan bagaikan sebuah pelor baja kepala gundul itu menubruk ke arah perut
Thian Seng Losu yang kurus. Ketua Siauw-lim-pai ini hanya berdiri diam, tidak mengelak, juga tidak
menangkis.
"Desssss!!!"
Kepala gundul itu bertemu dengan perut. Tubuh Thian Seng Losu terpental kemudian tak bergerak lagi!
Sedangkan Bhok Hwesio bangkit berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, lalu maju terhuyung-huyung.
Yo Wan melompat marah. "Hwesio jahat! Iblis kau, telah membunuh suheng sendiri!" Yo Wan hendak
menerjang Bhok Hwesio dengan penuh amarah, akan tetapi terdengar Kun Hong berseru.
"Yo Wan, mundur...!"
"Yo Wan, tak perlu lagi, pertempuran sudah habis...," kata Raja Pedang pula.
Yo Wan terkejut dan alangkah herannya ketika dia melihat tubuh Bhok Hwesio menggigil keras, lalu roboh
miring.
Ketika dia mendekat, ternyata hwesio tinggi besar ini telah tewas, kepalanya retak-retak! Dan pada saat dia
menengok, matanya terbelalak memandang Thian Seng Losu sudah bangkit perlahan, wajahnya pucat dan
matanya sayu memandang ke arah Bhok Hwesio. Kemudian dia menghampiri jenazah sute-nya, perlahanlahan
dia mengangkat jenazah itu, dipanggulnya, dan sambil menarik nafas panjang dia menoleh ke arah
Yo Wan.
"Orang muda, kepandaianmu hebat. Tapi apa gunanya memiliki kepandaian hebat kalau hanya untuk
saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri? Di pantai timur bajak laut dan penjahat merajalela, di
utara orang-orang liar mengganas, di dalam negeri sendiri para pembesar menyalah gunakan wewenang,
para menteri durjana berlomba mencari muka sambil menggerogoti kekayaan negara. Sungguh kasihan
kaisar yang bijaksana, pendiri kota raja baru, sampai di hari tuanya bersusah payah menghadapi musuh
demi keamanan negara. Apa bila orang-orang muda yang berkepandaian seperti kau ini hanya berkeliaran
di gunung-gunung, saling serang dan saling bunuh dengan bangsa sendiri, bukankah hal itu sia-sia dan
sangat mengecewakan?" Kembali kakek itu menarik nafas panjang dan melangkah hendak pergi dari
tempat itu.
"Thian Seng Losuhu, harap maafkan bahwa saya tidak dapat menyambut kedatangan Losuhu. Menyesal
sekali urusan pribadi antara kami dan Bhok Hwesio membuat Losuhu terpaksa bertindak dan
mengakibatkan tewasnya sute dari Losuhu," kata Raja Pedang dengan suara menyesal dan mengangkat
kedua tangan memberi hormat sambil duduk bersila.
Kakek itu menengok kepadanya, memandang sejenak, lalu memutar pandang matanya ke arah mayat
bertumpuk-tumpuk di tempat itu. Kembali dia menarik nafas panjang lalu berkata, "Bunuh-membunuh,
dendam-mendendam, apakah hanya untuk ini orang hidup di dunia mempelajari bermacam-macam
kepandaian? Bu-tek Kiam-ong, sayang kau yang memiliki kepandaian tinggi memihak kepada sifat
merusak, alangkah baiknya kalau kau memihak kepada sifat membangun."
Setelah berkata demikian, kakek itu melanjutkan langkahnya, dibantu tongkat, dan mayat Bhok Hwesio
tersampir di pundaknya. Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara orang
memanggilnya.
"Losuhu!"
Thian Seng Losu menengok dan memandang kepada Kun Hong yang memanggilnya tadi. Pendekar Buta
ini melanjutkan kata-katanya.
"Losuhu, perbuatan yang sifatnya merusak amatlah diperlukan di dunia ini, bahkan amat dipentingkan
karena tanpa adanya sifat merusak, maka sifat membangun juga tidak akan sempurna. Merusak bukanlah
dunia-kangouw.blogspot.com
selalu jahat, asalkan orang pintar memilih, apa yang harus dirusak, apa yang harus dibasmi, kemudian apa
yang harus dibangun serta dipelihara. Petani yang bijaksana tak akan ragu-ragu mencabuti dan membasmi
semua rumput liar yang akan mengganggu kesuburan padi. Seorang gagah yang bijaksana juga tidak akan
ragu-ragu untuk membasmi para penjahat yang mengganggu ketenteraman hidup rakyat. Semua baik-baik
saja dan sudah tepat kalau masing-masing mengetahui kewajibannya, lalu melaksanakannya tanpa pamrih
dan kehendak demi keuntungan pribadi. Mengenai membunuh dan dibunuh... ahhh, Losuhu yang mulia
dan waspada tentu lebih maklum bahwa hal itu sudah ada yang mengaturnya dan kita semua hanyalah alat
belaka..."
Wajah kakek tua yang tadinya muram itu kini berseri-seri, bahkan mulutnya yang ompong membentuk
senyum lebar.
"Omitohud... semua ucapan peringatan sama nilainya dengan air jernih dingin bagi orang yang kehausan!
Bukankah Sicu adalah pendekar Liong-thouw-san yang terkenal dijuluki Pendekar Buta? Hebat... kau
gagah sekali, Sicu, gagah lahir batin! Betul kata-katamu, kita semua hanyalah alat yang tidak berkuasa
menentukan sesuatu, tetapi... sama-sama alat, bukankah akan lebih menyenangkan menjadi alat yang baik
dan berguna? Dan kita berhak untuk berusaha ke arah pilihan yang baik, Sicu. Ha-ha-ha, sungguh
pertemuan yang amat menyenangkan. Pinceng akan merasa bahagia sekali kalau Cu-wi (Tuan-tuan
sekalian) sewaktu-waktu sudi mengunjungi Siauw-lim-sie untuk melanjutkan obrolan kita ini. Nah, selamat
tinggal!"
Bagaikan segulungan awan, kakek itu bergerak dan seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak bumi.
Begitu hebat ginkang dan ilmu lari cepatnya. Biar Raja Pedang sendiri sampai menjadi kagum dan menarik
nafas panjang. Tidak kelirulah apa bila orang-orang kang-ouw menganggap bahwa Siauw-lim-pai adalah
gudangnya orang-orang sakti yang menjadi murid-murid Buddha.
Sunyi di tempat itu setelah ketua Siauw-lim-pai pergi. Masing-masing merenung dan baru terasa betapa
hebat akibat dari pada pertempuran itu. Raja Pedang masih duduk bersila, berulang kali menarik nafas
panjang. Pendekar Buta juga duduk bersila, berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kesehatannya
secepat mungkin. Hui Kauw dan Cui Sian saling pandang dengan sinar mata terharu karena mereka telah
menjadi korban fitnah sehingga hampir saja saling bunuh.
Yo Wan masih berdiri seperti patung, merasakan betapa hebatnya kakek Siauw-lim yang tadi menjadi
lawannya. Hanya Lee Si yang kini terisak kembali.
Isak tangis ini menyadarkan mereka. Raja Pedang Tan Beng San berkata kepada Lee Si, "Lee Si, hentikan
tangismu. Ayahmu tewas sebagai seorang laki-laki gagah, tidak perlu disedihkan. Lebih baik sekarang kita
urus jenazahnya."
Kun Hong yang juga sudah sadar dari keadaan termenung dan merasa perlu segera bertindak, segera
berkata kepada Yo Wan, "Wan-ji (anak Wan), hanya kau yang tidak terluka. Jangan takut lelah, kau galilah
lubang untuk semua mayat-mayat ini dan kubur mereka baik-baik."
Yo Wan menyanggupi. Pemuda ini segera menggunakan patahan pedang Pek-giok-kiam untuk menggali
lubang yang besar. Melihat pemuda ini mengerahkan tenaga bekerja, tanpa diminta lagi Lee Si bangkit dan
membantunya, juga Cui Sian dan Hui Kauw, biar pun terluka, segera membantu sedapatnya.
Pertama-tama mereka mengubur jenazahnya Tan Kong Bu dengan sikap hormat akan tetapi sederhana
tanpa upacara, hanya diiringi tangis Lee Si yang sampai tiga kali jatuh pingsan saking sedihnya, dihibur
oleh Cui Sian dan Hui Kauw yang juga ikut menangis. Kemudian mereka menggali lubang besar untuk
mengubur semua jenazah itu sekaligus, jenazah Ang-hwa Nio-nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, dan anak buah
Ang-hwa Nio-nio.
Setelah lebih setengah hari mereka bekerja, selesailah penguburan itu. Pada waktu itu, Kun Hong yang
mengerti akan ilmu pengobatan sudah berhasil menyembuhkan lukanya sendiri, bahkan dia membantu
penyembuhan luka yang diderita Raja Pedang. la bersila di belakang Raja Pedang dan menempelkan
tangan kiri di punggung ketua Thai-san-pai itu sambil mengurut jalan darah pada pundak dengan jari-jari
tangan kanannya.
"Cukuplah, Kun Hong. Sekarang tidak berbahaya lagi." Akhirnya Raja Pedang berkata dan mereka berdua
bangkit berdiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Lee Si berlari menghampiri Raja Pedang dan berlutut di depan kakinya sambil menangis tersedusedu.
“Sudahlah, Lee Si." Tan Beng San mengangkat bangun cucunya. "Kehendak Thian tidak dapat dibantah
oleh siapa pun juga. Aku hanya bingung memikirkan bagaimana cara kita harus menyampaikan berita ini
kepada ibumu..."
Mendengar ini, Lee Si makin keras tangisnya.
"Betapa pun juga, pembunuh ayahmu telah kita ketahui, dan dia sudah tewas pula."
Akan tetapi Lee Si masih menangis dan Raja Pedang berkali-kali menghela nafas karena dia dapat
menduga bahwa kali ini Lee Si menangis karena mengingat keadaan dirinya sendiri. Betapa pun juga,
gadis ini telah mengalami hinaan dan fitnah yang merusakkan namanya. Maka dia membiarkan cucunya
menangis.
Ada pun Hui Kauw yang mendekati Cui Sian, dengan wajah pucat bertanya, "Sian-moi, kau tadi bilang
tentang Swan Bu... bagaimanakah dia? Siapa yang sudah membuntungi lengannya?"
Jelas nyonya ini mengeraskan hati dan menggigit bibir untuk menahan tangisnya. Cemas dan ngeri hatinya
membayangkan puteranya itu menjadi buntung lengannya.
Cui Sian memeluk Hui Kauw. "Maafkan aku, Cici. Kau... kau sudah mengalami tekanan batin berkali-kali,
difitnah dan dituduh, lalu sekarang puteramu menjadi korban lagi. Akan tetapi, hal-hal yang sudah terjadi
tak perlu melemahkan hati dan semangat kita, bukan? Swan Bu telah dibuntungi lengannya oleh gadis liar
yang bernama Siu Bi..."
"Ahhh...!" Hui Kauw menahan seruannya.
Pendekar Buta yang juga mendengarkan penuturan ini, mengerutkan kening. Diam-diam dia merasa
menyesal sekali bahwa dulu dia telah menanam bibit permusuhan yang tiada berkesudahan. Terbayang
dia akan musuh lamanya, The Sun, yang agaknya sekarang menimbulkan bencana hebat, bukan langsung
olehnya sendiri, tetapi oleh keturunannya.
"Aku sudah menangkapnya, menghajarnya, bahkan Lee Si hampir membunuhnya. Akan tetapi... Swan Bu
sendiri yang dibuntungi lengannya oleh iblis betina itu mencegah, dan malah minta supaya Siu Bi
dibebaskan."
Berdebar jantung Hui Kauw. Sungguh aneh! Adakah suatu rahasia di balik itu, ataukah Swan Bu menjadi
seorang pemuda yang berwatak aneh dan kadang kala penuh welas asih seperti watak ayahnya. Orang
telah membuntungi lengannya, dan orang itu hendak memusuhi ayah bundanya, akan tetapi dia malah
membebaskannya!
Teringat dia akan wajah Siu Bi. Gadis yang cantik jelita tetapi berwatak iblis, hampir saja berhasil
membunuh dia serta suaminya. Mendadak dia merasa khawatir. Jangan-jangan kecantikan gadis itu telah
melemahkan hati puteranya.
"Di mana dia sekarang, Sian-moi?"
"Aku tidak tahu, Cici. Ketika dia dan aku menemukan jenazah Kong Bu koko aku lalu meninggalkan dia di
sini. Agaknya dia yang menguburkan jenazah Kong Bu koko, yang kemudian, tentu saja dibongkar kembali
oleh penjahat-penjahat itu untuk dirusak dalam usaha mereka mengadu domba antara kita. Ada pun Swan
Bu sendiri, entah ke mana dia pergi."
Tak dapat ditahan lagi Hui Kauw menangis karena dia membayangkan puteranya dalam keadaan buntung
lengannya itu masih bersusah payah untuk mengubur jenazah Kong Bu! Pendekar Buta menghampiri
isterinya dan menghiburnya.
"Tahan air matamu. Swan Bu tidak apa-apa. Dia tentu akan pulang ke Liong-thouw-san. Sedikit banyak dia
mengerti mengenai ilmu pengobatan, luka pada lengannya pasti akan sembuh."
Amarah Hui Kauw bangkit mendengar sikap suaminya yang begitu dingin, seakan-akan soal buntungnya
dunia-kangouw.blogspot.com
lengan Swan Bu ‘bukan apa-apa’ bagi suaminya. la ingin membentak, menyatakan kemarahannya dan
menyatakan kehendaknya untuk mencari Siu Bi untuk dibuntungi kedua lengan berikut kakinya!
Akan tetapi, begitu dia mengangkat muka dan melihat sepasang mata suaminya, hatinya menjadi tertusuk
dan kekerasan amarahnya mencair seketika. la tadi sampai lupa saking marahnya, lupa bahwa suaminya
sendiri adalah seorang yang cacat, seorang yang buta kedua matanya, namun tetap menjadi pendekar
yang tak terkalahkan, menjadi Pendekar Buta yang terkenal. Apakah artinya buntung lengan kirinya apa
bila dibandingkan dengan buta kedua matanya? Masih ringan, hanya cacat yang kecil tak berarti. Itulah
sebabnya Pendekar Buta tadi mengatakan ‘tidak apa-apa dan akan sembuh’.
"Tetapi... tapi... dia terlunta-lunta melakukan perjalanan dalam keadaan terluka, tidak ada yang
merawatnya..."
Yo Wan yang mendengar percakapan ini segera menghampiri mereka, dan dia berkata, "Suhu dan Subo,
harap tenangkan hati. Biarlah teecu yang akan pergi mencari Swan Bu dan menemaninya pulang ke Liongthouw-
san."
Girang hati Pendekar Buta mendengar ini. Memang tidak ada orang yang lebih dapat dia percaya untuk ini
kecuali Yo Wan. la melangkah maju dan tangan kanannya merangkul pundak pemuda itu.
"Yo Wan, kau anak baik. Kau tahu betapa besar rasa syukur di hati kami terhadapmu. Wan-ji, kau carilah
Swan Bu dan ajak dia pulang bersama." Suara Kun Hong terdengar menggetar penuh keharuan sehingga
tanpa terasa lagi dua titik air mata membasahi bulu mata Yo Wan. Cepat dia mengusapnya, memberi
hormat kepada suhu dan subo-nya.
"Teecu berangkat sekarang juga," katanya.
Kemudian dia memberi hormat kepada Raja Pedang yang memandangnya dengan sinar mata kagum.
Sungguh di luar sangkaannya sama sekali bahwa murid tunggal Pendekar Buta ternyata begini hebat, kuat
menghadapi seorang tokoh besar seperti Bhok Hwesio yang kepandaiannya sangat luar biasa sehingga
dia sendiri pun belum tentu akan dapat mengalahkannya. Diam-diam dia tertarik dan kagum, dan makin
gembiralah di dalam hati kakek perkasa ini ketika Yo Wan menjura kepada Cui Sian dan berkata halus,
"Adik Cui Sian, selamat berpisah, semoga kita dapat saling bertemu kembali."
Wajah gadis itu menjadi merah. Kerling matanya terang membayangkan hati yang gugup dan jengah saat
ia balas menghormat. "Yo-twako, semoga kau lekas dapat menemukan Swan Bu."
Yo Wan kemudian berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata yang mengandung
bermacam perasaan.
"Kun Hong, muridmu itu... hemmm, ajaklah dia ke Thai-san sekali waktu. Aku perlu sekali bicara denganmu
tentang dia." Ucapan Raja Pedang Tan Beng San ini terdengar jelas dan artinya pun mudah ditangkap
sehingga Cui Sian makin merah mukanya. Cepat-cepat gadis ini menundukkan mukanya untuk
menyembunyikan debar jantungnya.
Kwa Kun Hong mengangguk-angguk. Dia pun tentu saja mengerti bahwa pendekar tua itu bermaksud
menjajaki kemungkinan terikatnya jodoh antara Cui Sian dengan Yo Wan. Akan tetapi sebagai seorang
yang berperasaan halus, dia tidak berkata apa-apa supaya jangan membuat Cui Sian menjadi malu.
"Kongkong (Kakek), saya tak berani pulang sendiri, tak berani menyampaikan kematian ayah kepada ibu.
Harap Kongkong suka memperkenankan bibi Cui Sian menemani saya ke Min-san," kata Lee Si.
"Tidak hanya Cui Sian yang menemanimu, aku sendiri akan ke sana untuk menghibur ibumu. Malah kalau
kalian tidak keberatan, Kun Hong dan isterimu, lebih baik kita semua pergi ke Min-san. Selain tempat itu
paling dekat dari sini sehingga kita dapat beristirahat dan memulihkan kesehatan di sana, juga dengan
hadirnya kalian berdua, kurasa akan mengurangi kedukaan ibunya Lee Si."
"Bukan itu saja, kuharap Suheng dan Cici ikut ke Min-san untuk membicarakan hal yang amat penting,"
tiba-tiba Cui Sian berkata.
"Hal penting apakah?" tanya Pendekar Buta dan Raja Pedang hampir berbareng.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku sudah ceritakan hal itu kepada cici Hui Kauw yang telah menyetujui pula. Marilah kita berangkat, nanti
di dalam perjalanan aku akan ceritakan hal itu kepada Ayah, biar cici Hui Kauw menceritakannya kepada
Kwa-suheng," jawab Cui Sian dan kali ini Lee Si yang menundukkan mukanya karena gadis ini sudah
dapat menduga apa yang akan dikemukakan oleh Cui Sian itu.
Diam-diam ia amat berterima kasih kepada Cui Sian, karena ia pun tadi, biar pun kurang jelas, bisa
mendengar percakapan antara Cui Sian dan Hui Kauw. Dan ia pun maklum sedalam-dalamnya bahwa
satu-satunya jalan untuk mencuci bersih namanya, dan untuk menghapus kesalah pahaman antara
mereka, untuk mencuci habis kejadian yang hampir merusak hubungan di antara mereka, hanya satu itulah
yaitu ikatan jodoh antara dia dan Swan Bu! Dan ia sudah setuju seratus prosen di dalam hatinya yang telah
tercuri oleh Swan Bu yang gagah dan tampan, biar pun ada satu hal yang merupakan ganjalan dan
merupakan duri dalam daging, yaitu Siu Bi!
Sesungguhnya tidaklah terlalu sukar mencari keterangan tentang Swan Bu. Tidak banyak terdapat seorang
pemuda tampan dengan tangan kiri buntung. Namun karena tidak tahu ke jurusan mana pemuda itu pergi,
Yo Wan harus menjelajahi semua dusun di sekitar tempat itu.
Sesudah berkeliling sampai sehari lamanya, di sebuah dusun kecil dia baru mendengar keterangan tentang
Swan Bu. Di dusun ini orang melihat pemuda tampan berlengan kiri buntung yang berjalan menuju ke
utara.
Yo Wan segera mengejar ke utara dan terpaksa dia bermalam di sebuah dusun karena terhalang malam.
Pada keesokan harinya, dia melanjutkan pengejarannya sambil terus bertanya-tanya. Keterangan yang dia
peroleh kemudian sungguh-sungguh membuat dia mengerutkan alisnya.
Orang melihat Swan Bu melakukan perjalanan bersama seorang wanita cantik jelita yang merawat luka
pemuda itu. Dari keterangan yang didapat, Yo Wan dapat menduga bahwa gadis itu adalah Siu Bi! Swan
Bu agaknya bertemu dengan Siu Bi kemudian melakukan perjalanan bersama!
Hatinya amat gelisah. Tak salah dugaannya, Swan Bu saling mencinta dengan gadis itu, gadis yang telah
membuntungi lengannya. Dia sudah menduga akan perasaan Swan Bu ini ketika dahulu Swan Bu minta
agar Siu Bi yang membuntungi lengannya dibebaskan.
Akan tetapi tadinya dia tidak tahu bahwa Siu Bi pun ternyata membalas cinta kasih itu. Baru sekarang,
mendengar gadis itu mengawani Swan Bu dan merawat lukanya dalam perjalanan yang mereka lakukan
berdua, dia dapat menduga akan hal itu. Akan tetapi, mengapa Siu Bi membuntungi lengan Swan Bu?
Yo Wan benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi dia cukup mengenal watak Siu Bi yang aneh dan liar dan
tentu saja gadis seperti itu dapat melakukan hal yang aneh-aneh dan tak masuk akal, seperti misalnya
membuntungi lengan orang yang dicintanya.
Yang membuat Yo Wan mengerutkan keningnya adalah karena dia merasa tidak senang bila benar-benar
mereka berdua saling mencinta. Menurut pendapatnya, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si. Gadis
yang malang itu selain kehilangan ayahnya, juga sudah difitnah dan dicemarkan nama baiknya. Swan Bu
harus mengambil Lee Si sebagai isteri, karena jalan inilah satu-satunya untuk mencuci noda pada nama
baiknya. Kalau Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, hal ini akan menimbulkan banyak akibat yang tidak baik
dan tentu saja orang tua pemuda itu akan menentangnya.
Di dunia ini memang terjadi hal aneh-aneh. Cinta memang aneh, seperti anehnya sikap Cui Sian tadi!
Terang bahwa hatinya sudah bertekuk lutut dan mencinta puteri Raja Pedang itu. Akan tetapi tentu saja dia
tidak berani nekat. la mengenal diri sendiri, seorang yatim piatu yang bodoh dan miskin, dan dia cukup
mengenal pula siapa Cui Sian, Puteri tunggal Raja Pedang, ketua Thai-san-pai!
Betapa pun juga, dia tak dapat menahan gelora di hatinya dan tak dapat menghapuskan harapan hampa di
hatinya bahwa gadis itu akan membalas cintanya, harapan bahwa kelak gadis itu akan menjadi jodohnya.
Betapa pun gila harapan-harapan itu! Akan tetapi sikap Cui Sian tadi ahhh, siapa tahu, cinta memang
aneh. Ataukah orang-orang yang terjerat cinta lalu menjadi sinting dan melakukan hal-hal aneh?
Di dalam perjalanannya mencari Swan Bu, Yo Wan mendengar banyak hal yang selama ini tak pernah
menjadi perhatiannya. Hal-hal mengenai keadaan. Agaknya ucapan ketua Siauw-lim-pai telah mengukir
dunia-kangouw.blogspot.com
kesan mendalam dalam hatinya, membuat dia sadar bahwa selama ini hidupnya hampa, tidak ada isinya,
karena dia sudah lalai akan kewajibannya sebagai seorang anak bangsa. Kesan inilah yang membuat dia
menaruh perhatian akan berita yang didengarnya di sepanjang jalan.
Sejak Kaisar Yung Lo, pendiri kota raja utara (Peking), memegang tampuk pemerintahan, keadaan di
dalam negeri boleh dikata menjadi tenteram. Kaisar yang semenjak mudanya menjadi panglima perang ini
memerintah dengan tangan besi. Sayangnya bahwa pada waktu itu, kerajaannya masih mengalami banyak
gangguan dari luar, terutama sekali dari bangsa Mongol dan suku bangsa lain di utara, yang berusaha
keras menebus kekalahan bangsanya setengah abad yang lalu.
Selain ini, para bajak laut di pantai timur yang terdiri dari bangsa Jepang merupakan gangguan pula. Akan
tetapi tentu saja gangguan para bajak laut ini tidaklah sebesar gangguan dari utara. Oleh karena inilah
Kaisar Yung Lo mencurahkan perhatiannya ke arah utara.
Tembok besar yang melintang di utara itu dia betulkan dengan mengerahkan ratusan ribu tenaga manusia.
Tadinya, sebagian tembok besar ini boleh dibilang sudah runtuh, atau sengaja diruntuhkan di jaman
Kerajaan Mongol berkuasa, karena bagi Kerajaan Mongol tentu saja tidak perlu adanya tembok besar yang
memisahkan negara jajahan dengan negara asal mereka.
Sesudah Kerajaan Mongol runtuh dan Kerajaan Beng-tiauw berdiri, tembok besar yang seakan-akan
menjadi tanggul pencegah banjirnya serbuan lawan dari utara itu dibangun kembali. Dan ketika Yung Lo
menjadi kaisar, pembangunan ini dipergiat, juga Kota Raja Peking dibangun dengan hebatnya.
Akan tetapi, semua pembangunan ini oleh kaisar diserahkan kepada para pembantunya, karena kaisar
sendiri, sebagai seorang bekas panglima perang yang berpengalaman, sibuk memimpin pasukan-pasukan
menyerbu ke utara untuk memerangi bangsa Mongol yang selalu merupakan ancaman itu.
Agaknya karena terlalu sering kaisar meninggalkan istana untuk memimpin barisannya berperang itulah
yang mengakibatkan merajalelanya kaum koruptor, golongan-golongan pembesar yang menyalah gunakan
kedudukan dan wewenangnya, terjadi pertentangan dalam perebutan kekuasaan antara para penjilat dan
para penentang, antara pangeran yang mencalonkan diri menjadi pengganti kelak bila kaisar meninggal
dunia. Terjadilah perpecahan, terjadi beberapa golongan yang berdiri di belakang pangeran yang menjadi
calon atau jago aduan masing-masing, dengan mereka sebagai ‘botoh-botohnya’.
Yo Wan mendengar betapa banyak orang gagah pergi ke utara dan menjadi barisan suka rela membantu
kaisar memerangi orang-orang Mongol. Ternyata bahwa musuh dari utara itu tidak boleh dipandang ringan.
Biar pun mereka tidak pernah berhasil menyerbu ke selatan melalui tembok besar, akan tetapi perlawanan
yang mereka lakukan di utara cukup sengit sehingga di pihak tentara kerajaan banyak jatuh korban.
Orang-orang Mongol memiliki panglima-panglima yang pandai, malah kabarnya dibantu oleh orang-orang
yang memiliki kepandaian tinggi. Bantuan dari orang-orang sakti inilah yang lalu menarik banyak orang
kang-ouw menjadi suka relawan, karena sudah menjadi semacam penyakit pada ahli-ahli silat kelas tinggi
untuk mencoba-coba ilmu mereka apa bila mereka mendengar tentang musuh yang berilmu tinggi pula.
Penyakit macam ini terdapat pula dalam diri Yo Wan. Ketika suatu hari dia mendengar dongeng dari
seorang bekas suka relawan akan adanya seorang jagoan Mongol yang sekaligus menewaskan enam
orang jagoan kerajaan hanya dalam sebuah pertempuran, dia menjadi penasaran sekali.
Kemudian pada saat mendengar akan kegagahan kaisar yang memimpin setiap perang tanding besarbesaran
dengan gagah perkasa, ikut pula mengayun pedang dan memutar tombak sebagai panglima yang
tidak hanya mengomando dari belakang dan dari tempat yang aman saja, hati Yo Wan ikut bergelora
penuh semangat dan amat tertarik. Alangkah senangnya ikut berjuang di bawah pimpinan seorang kaisar
segagah itu, pikirnya, dan ucapan dari ketua Siauw-lim-pai makin jelas berdengung di telinganya.
"Apa gunanya memiliki kepandaian kalau hanya untuk saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri?"
demikian ucapan ketua Siauw-lim-pai yang berdengung di telinganya.
Diam-diam Yo Wan merasa heran ketika jejak Swan Bu terus menuju ke utara, bahkan agaknya ke kota
raja. la telah mengeluarkan kepandaiannya untuk menyusul, akan tetapi ternyata selalu dia tertinggal di
belakang.
Soalnya adalah karena kedua orang itu agaknya melakukan perjalanan secara sembunyi sehingga kadangdunia-
kangouw.blogspot.com
kadang mereka lenyap, tidak dapat dia mendengar keterangan. Kalau akhirnya dia mendapatkan lagi
keterangan tentang Swan Bu dan Siu Bi, ternyata mereka itu sudah mengambil jalan memutar secara
diam-diam, seakan-akan mereka memang sengaja menghilangkan jejak agar jangan mudah disusul orang.
Inilah yang membuat Yo Wan kewalahan dan sampai sekian lamanya belum juga dapat menyusul. Akan
tetapi, hatinya lega selama dia masih dapat mendengar berita tentang Swan Bu. Ke mana pun juga dia
akan mengejar sampai dapat bertemu.
Pada suatu hari sampailah dia ke kota Leng-si-bun, sebuah kota kecil di sebelah timur Cin-an, di lembah
Sungai Huang-ho. Kota raja baru berada di sebelah utara daerah ini, tidak begitu jauh lagi, paling jauh dua
ratus li. Laut timur, yaitu Lautan Po-hai, tidak jauh pula dari tempat ini, hanya, terpisah seratus li kurang
lebih.
Ramai di kota Leng-si-bun ini, karena tempat ini merupakan pelabuhan bagi perahu-perahu yang
mengangkut barang hasil bumi yang hendak dilayarkan ke laut timur. Yo Wan memasuki kota Leng-si-bun
karena dua hari yang lalu dia mendengar keterangan bahwa pemuda lengan buntung dan gadis cantik
yang dicarinya menuju ke kota ini.
Hari telah siang ketika dia memasuki kota itu. Dimasukinya sebuah rumah makan yang cukup besar, yang
berada di tengah-tengah kota. Ia merasa amat lelah dan juga kecewa karena di kota ini pun dia tidak
melihat Swan Bu, biar pun dia tadi sudah berputar-putar di sepanjang jalan yang panas berdebu.
Rumah makan itu mempunyai sepuluh buah meja, meja-meja bundar lebar dan dikelilingi delapan buah
bangku tiap meja. Akan tetapi pada saat itu hanya ada tiga buah meja saja yang dihadapi tamu. Sebuah
meja di sudut luar dikelilingi enam orang lelaki yang minum arak sambil makan mie dan bersendau-gurau
dengan suara parau. Agaknya mereka itu adalah juragan-juragan perahu bersama pedagang-pedagang.
Yo Wan mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan dengan suara keras
itu, karena percakapan ini kotor dan cabul. Mereka membicarakan pengalaman mereka dengan
perempuan-perempuan lacur di kota itu sambil percakapan mereka diseling tertawa terkekeh-kekeh.
Tentu saja Yo Wan tidak akan mempedulikan mereka kalau saja dia tidak mengerling ke arah meja kedua
yang dihadapi tamu. Di meja sebelah dalam, duduk dua orang muda, seorang gadis dan seorang laki-laki
muda.
Tadi pada saat dia lewat di depan restoran ini, hatinya berdebar tegang karena mengira bahwa mereka
adalah Swan Bu dan Siu Bi. Akan tetapi setelah dia masuk, dia mendapat kenyataan bahwa sepasang
orang muda itu bukanlah orang-orang yang dia cari.
Si pemuda mengenakan jubah biru muda dengan ikat pinggang dan ikat kepala berwarna kuning. Pemuda
itu berwajah tampan dan gagah, sikapnya tenang dan umurnya paling banyak dua puluh dua tahun.
Si gadis berpakaian serba merah muda, cantik jelita, antara dua puluh tahun usianya, di punggungnya
tampak menonjol gagang pedang. Gadis ini kelihatan kereng dan angkuh. Keduanya sedang makan mie
dan masakan daging sambil minum arak, sama sekali tidak bicara mau pun memperhatikan keadaan
sekelilingnya.
Akan tetapi karena Yo Wan duduk menghadap ke arah gadis yang kebetulan juga duduk menghadap ke
arahnya, dia dapat mencuri pandang dan melihat betapa sepasang mata gadis itu menyambar-nyambar
dari sudut mata, mengerling dengan ketajaman bagaikan gunting. Namun sikapnya tenang sekali.
Dengan hadirnya seorang gadis di situlah yang membuat Yo Wan merasa mendongkol dan tidak senang
hatinya mendengar kelakar enam orang laki-laki kasar itu, yang sama sekali tidak tahu sopan, bicara kotor
dan cabul di dekat seorang wanita muda. Hati Yo Wan semakin mendongkol ketika melihat betapa orangorang
kasar itu kadang-kadang menengok ke arah si gadis baju merah sambil menyeringai memperlihatkan
gigi kuning.
Akan tetapi diam-diam dia kagum melihat betapa gadis itu tetap tenang dan sama sekali tidak
memperlihatkan perasaan apa-apa. Juga si pemuda tetap makan dengan tenang-tenang saja.
Salah seorang di antara mereka, yang bermuka lonjong dan pipinya sebelah kiri cacat, agaknya sudah
setengah mabuk. Dengan kepala bergoyang-goyang dia berkata kepada laki-laki pendek muka kuning
dunia-kangouw.blogspot.com
yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu.
"He-heh-heh, Pui-twako, yang kau dapatkan hanya kembang-kembang mawar kota yang sudah layu, yang
tiada durinya sama sekali. Itu sih membosankan! Lain lagi kalau bisa memperoleh mawar hutan yang liar,
yang harumnya semerbak asli, yang berduri runcing, yang segar..."
"Ha-ha-ha-ha!" sambung seorang yang matanya sipit hampir meram dengan ketawanya yang kasar. "Puitwako
tentu saja berhati-hati, apa lagi menghadapi mawar merah yang selain berduri, juga dijaga siang
malam oleh tukang kebunnya! Jangan-jangan tangan akan tertusuk pedang dan kepala akan dikemplang
tukang kebun! Ha-ha-ha!" Si mata sipit mengerling ke arah meja muda-muda itu.
"Ahh, mana Pui-twako takut akan semua itu? Pedang itu hanya untuk berlagak supaya harganya naik
menjadi mahal, apa lagi tukang kebunnya kecil kurus, bisa berbuat apa terhadap Pui-twako? Tak percuma
Pui-twako dijuluki Tiat-houw (Macan Besi), siapa yang tidak mengenal Harimau dari Huang-ho?"
Orang yang disebut Pui-twako dan berjuluk Harimau Besi itu hanya tersenyum-senyum dan mengerling ke
arah meja muda-mudi itu. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya pendek
tetapi tegap dan kelihatan kuat. Sikapnya seorang jagoan asli, tersenyum-senyum mengejek dengan
pandangan mata acuh tak acuh dan memandang rendah segala di sekelilingnya. Mukanya yang
kekuningan itu kini menjadi merah oleh pengaruh arak dan jelas sekali dia menjadi bangga mendengar
pujian-pujian teman-temannya.
"Aku bukan termasuk laki-laki rendah yang suka mengganggu wanita baik-baik," katanya dengan suara
lantang, agaknya sengaja dikeluarkan agar supaya didengar oleh gadis di seberang itu.
Yo Wan mengenal orang macam ini. Seorang dengan hati palsu dan mulut pandai bicara, pandai berlagak
dan pandai pura-pura menjadi seorang gagah dan seorang yang baik hati. Akan tetapi ucapan ini
dikeluarkan berlawanan dengan isi hatinya, hanya dengan maksud agar supaya dia kelihatan ‘berharga’
dalam pandang mata wanita itu. Yo Wan tahu betul akan hal ini, karena suara dan pandang mata orang
she Pui itu berlawanan, seperti bumi dengan langit.
"Ahhh, Pui-twako. Siapa yang tidak tahu bahwa engkau adalah seorang gagah perkasa? Mengganggu
sama sekali beda dengan mengajak berkenalan. Gagah sama gagah, dari pada berkenalan dengan segala
macam cacing busuk yang lemah, lebih baik berkenalan dengan Harimau Besi, sedikit banyak bisa
ketularan kegagahannya!" kata si muka cacat sambil mengerling ke arah meja muda-mudi itu penuh arti.
Yo Wan makin mendongkol. Alangkah kurang ajar dan beraninya enam orang itu. Terang bahwa si
pemuda yang diejek dan dihina, karena memang sikap dan pakaian pemuda itu seperti seorang pelajar
yang pada masa itu sering kali diejek dengan sebutan kutu buku atau cacing buku.
Akan tetapi muda-mudi yang dijadikan bahan percakapan atau bahan ejekan itu masih saja makan dengan
lambat dan tenang, sama sekali tak menghiraukan mereka berenam. Hanya terdengar gadis itu berkata,
suaranya halus dan perlahan, seakan-akan berbicara pada diri sendiri, tanpa melirik ke arah enam orang
itu.
"Hemmm, banyak lalat-lalat kotor menjemukan di sini. Sayang... meski bukan gangguan besar, sedikitnya
mengurangi selera makan..."
"Biarlah, Sumoi... biasanya dekat sungai besar memang banyak lalat kotor. Tapi mereka tidak ada
artinya...," kata pemuda itu menghibur.
Yo Wan hampir tak dapat menahan ketawanya. Bagus, pikirnya. Kiranya mereka adalah kakak beradik
seperguruan, dan tepat sekali sindiran mereka itu yang diam-diam memaki enam orang kasar itu sebagai
lalat-lalat hijau yang kotor.
Tentu saja enam orang itu mengerti pula akan sindirian ini. Si pipi cacat bangkit berdiri menepuk meja.
"Pui-twako, masa diam saja dihina orang? Kalau suheng-nya kutu buku, tentulah pedang sumoi-nya itu
hanya hiasan belaka, untuk menakut-nakuti orang supaya dianggap pendekar-pendekar jempolan. Hayo
minta maaf pada..."
"Sssttttt, Gong-lote, jangan mencari gara-gara di sini!" tiba-tiba si Harimau Besi berkata tajam dan si pipi
cacat itu segera duduk kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Pui-twako, orang-orang bilang singa-singaan batu di restoran ini beratnya lebih dari tiga ratus kati dan
tidak pernah ada yang kuat mengangkat. Dasar orang-orang lemah, siapa bilang tidak ada yang kuat
angkat? Harap Pui-twako suka membantah kabar itu dengan membuktikan kepada mereka!"
Si Harimau Besi hanya tersenyum-senyum saja. "Ahh, kalian ini ada-ada saja," katanya ketika temanteman
yang lain juga membujuknya.
"Hee, pelayan-pelayan, ke sinilah!" teriak si mata sipit.
Lima orang pelayan berlarian menghampiri mereka sambil tertawa-tawa. Agaknya enam orang itu memang
langganan mereka.
"Apakah betul selama ini tidak ada orang yang mampu mengangkut singa-singaan batu di depan itu?" si
sipit bertanya sambil menuding ke arah sebuah singa-singaan batu yang terukir kasar dan diletakkan di
depan pintu restoran sebagai hiasan.
"Betul, Loya. Singa itu berat sekali. Empat orang baru sanggup mengangkatnya, itu pun harus orang-orang
kuat dan menggunakan bantuan tambang," jawab seorang pelayan yang kurus.
"Ahh, dasar orang-orang tiada guna. Lihat, Pui-twako akan mengangkatnya seorang diri tanpa bantuan
siapa pun juga!" kata si mata sipit sambil memandang kepada orang she Pui.
"Ahhh, harap Loya jangan main-main! Singa itu beratnya lebih dari tiga ratus kati! Jangan kata
mengangkat, jika hanya sendiri, menggeser saja tak ada yang mampu melakukan!"
Si mata sipit melotot, akan tetapi tetap sipit, karena memang lubang pelupuk matanya sempit.
"Menggeser? Huh, dasar kalian ini gentong-gentong kosong. Lihat!"
la melangkah lebar menghampiri singa-singaan batu. Dua lengannya memegang kepala singa-singaan itu
dan dia pun berseru,
"Hiyaaahhh!"
la berhasil menggeser singa-singaan itu beberapa dim jauhnya!
"Wah, Loya kuat sekali!" lima orang pelayan itu memuji dan memandang kagum.
Si mata sipit mengangkat dadanya yang tipis dan yang bersengal-sengal.
"Ini belum!" Dia menyombong. "Tapi Pui-twako yang di sana itu, dia mampu mengangkat singa-singaan ini.
Kalian tidak tahu siapa itu Tiat-houw Pui-enghiong, Harimau Besi dari Huang-ho! Aku sendiri, tenagaku
tidak sebesar Pui-twako, akan tetapi sepasang golokku ini siapa yang berani melawan Huang-ho Siang-to
(Sepasang Golok Huang-ho), inilah dia orangnya! Dan saudaraku di sana itu…" Ia menudingkan
telunjuknya ke arah pipi cacat, "siapa tidak pernah mendengar nama Huang-ho Sin-piauw (Piauw Sakti dari
Huang-ho)? Kami bertiga sudah malang melintang di sepanjang Huang-ho, akan tetapi baru sekarang
berkesempatan memperkenalkan diri di Leng-si-bun."
Mendengar ucapan ini, lima orang pelayan itu segera menjura dengan muka berseri-seri, “Kiranya Sam-wi
(Tuan Bertiga) tiga orang gagah juragan-juragan perahu yang terkenal itu? Maaf, kami tidak tahu dan
kurang hormat. He, teman-teman, lekas sediakan arak wangi, untuk menghormati tamu-tamu besar!"
Melihat sikap para pelayan yang sangat menghormat terhadap mereka, diam-diam Yo Wan
memperhatikan. Kiranya mereka itu adalah tiga orang juragan perahu yang terkenal juga. Dan agaknya
yang tiga lagi adalah pedagang-pedagang langganan mereka.
"Pui-twako, sesudah kita memperkenalkan diri, harap suka turun tangan sedikit supaya cacing-cacing buku
tidak tertutup matanya!" kata pula Huang-ho Siang-to yang bermata sipit.
"Bhe-lote, apa sih artinya angkat-angkat batu macam ini? Tidak ada artinya bagiku!" kata orang she Pui.
Akan tetapi dia melangkah juga ke arah singa-singaan batu, membungkuk, memegang dengan kedua
dunia-kangouw.blogspot.com
tangannya lantas sekali dia berseru keras, singa-singaan batu itu sudah terangkat ke atas kepalanya!
Tepuk tangan menyambut demonstrasi ini, tepuk tangan para pelayan dan kelima orang teman-teman si
Harimau Besi. Ketika singa-singaan batu itu sudah diturunkan kembali, si Harimau Besi tidak kelihatan
tersengal nafasnya, hanya mukanya yang kuning berubah merah.
Yo Wan yang memandang dari sudut matanya tentu saja tak merasa heran menyaksikan demonstrasi itu
dan dia sekaligus maklum bahwa si Harimau Besi ini adalah seorang ahli gwakang yang bertenaga besar.
Ketika dia melirik ke arah muda-mudi itu, dia melihat si gadis tersenyum mengejek.
Diam-diam Yo Wan terkejut juga. Bila gadis itu masih berani tersenyum mengejek setelah menyaksikan
demonstrasi ini, tentu saja gadis itu mempunyai andalan dan menganggap demonstrasi itu bukan apa-apa.
Mulailah dia menaruh perhatian, dan kalau tadi dia agak mengkhawatirkan keselamatan muda-mudi itu, kini
perhatiannya terbalik dan dia malah mengkhawatirkan keselamatan enam orang itu. Dia sempat melihat
kilatan mata yang penuh ancaman di atas bibir yang tersenyum mengejek.
"Dasar manusia-manusia tak tahu diri," diam-diam Yo Wan berpikir, "benar-benar seperti rombongan
monyet berlagak, mencari penyakit sendiri."
Ahli golok bermata sipit she Bhe itu cengar-cengir, kini terang-terangan memandang ke arah meja si mudamudi
sambil berkata, "Kalau si kutu buku dan sumoi-nya sanggup mengangkat batu ini, biarlah kami tidak
akan banyak bicara lagi. Akan tetapi kalau tidak sanggup, si kutu buku harus membiarkan sumoi-nya yang
cantik manis untuk menemani kami minum beberapa cawan arak."
Sungguh keterlaluan si mata sipit ini, kekurang ajarannya kini sudah memuncak. Yo Wan ingin sekali
memberi tahu supaya muda-mudi itu pergi saja meninggalkan restoran dan menjauhi keributan. Akan tetapi
muda-mudi itu enak-enak saja makan, lalu terdengar si gadis berkata mengomel,
"Suheng, makin lama lalat-lalat hijau busuk itu makin membosankan. Bagaimana kalau aku tepuk mampus
binatang-binatang hina itu?"
"Ihhh, apa perlunya melayani segala macam lalat bau, Sumoi? Biarkan saja, memang biasanya lalat-lalat
hijau itu hanya berkeliaran di tempat-tempat kotor, lalu menimbulkan suara ribut dan menyebarkan
penyakit. Biarkan saja, mereka tentu akan mampus sendiri kelak."
Muda-mudi itu tertawa geli sambil melanjutkan makan minum. Muka tiga orang jagoan itu kelihatan marah
sekali, juga si pendek yang mengangkat batu tadi. Mukanya yang kuning menjadi merah, matanya melotot.
la lalu mengangkat lagi singa-singaan batu, mengerahkan tenaga kemudian melontarkan singa-singaan itu
ke atas, ke arah meja si muda-mudi. la sudah memperhitungkan bahwa kedua orang muda itu tentu akan
mengelak dan melompat pergi sehingga singa-singaan batu akan menimpa dan menghancurkan meja dan
mereka akan dapat mentertawakan dua orang itu.
Batu besar itu berputaran ke atas, lalu menyambar ke arah meja si muda-mudi itu yang masih enak-enak
saja makan minum seakan-akan tidak melihat datangnya bahaya! Akan tetapi setelah singa-singaan batu
itu melayang di atas kepala mereka dan agaknya akan menimpa mereka berdua dan meja di depan
mereka, si nona cantik itu menggerakkan tangan kiri, dengan jari-jari terbuka, jari-jari tangan yang kecil
meruncing dan halus itu hanya menyentuh batu itu tampaknya, akan tetapi batu itu tiba-tiba terputar di
udara dan melayang kembali ke arah meja enam orang itu!
"Wah, celaka, lariii...!" teriak si mata sipit.
Karena tiga orang saudagar yang menjadi langganan mereka itu tak pandai silat, maka si mata sipit, si
pendek, dan si pipi cacat masing-masing menarik tangan seorang saudagar dan dibawa meloncat pergi
dari dekat meja.
Terdengar suara hiruk-pikuk ketika singa-singaan batu jatuh menimpa meja. Meja pecah, keempat kakinya
patah-patah, mangkok piring hancur berantakan, sumpit beterbangan dan cawan-cawan arak tumpah.
"Ha-ha-ha!" Si pemuda tertawa.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hi-hi-hik!" Si pemudi mengikutinya.
Akan tetapi mereka tetap saja makan minum tanpa pedulikan ketiga orang jagoan yang melotot marah dan
tiga orang saudagar yang menjadi pucat mukanya. Ada pun Yo Wan yang masih duduk tenang,
memandang kagum, akan tetapi juga merasa betapa gadis itu agak terlalu ganas. Enak saja bermain-main
dengan batu seberat itu. Bagaimana kalau tadi menimpa kepala orang? Tentu akan remuk dan mati
seketika juga.
"Kurang ajar!" Tiat-houw atau si Harimau Besi berseru marah.
Dengan muka merah dia menarik singa-singaan batu dari atas meja yang sudah ringsek, mengangkatnya
tinggi-tinggi di atas kepala dan kini dia melontarkan batu itu sekuatnya ke arah si nona manis.
"Kau terimalah ini!"
Kali ini singa-singaan batu itu tidak melayang seperti tadi yang hanya dilontarkan ke atas ke arah meja si
muda-mudi, melainkan langsung menyambar ke arah nona itu sehingga merupakan sambitan keras dan
berbahaya. Namun, seperti juga tadi, nona itu dengan amat tenang masih terus asyik makan minum,
bahkan pada waktu singa-singaan batu sudah menyambar dekat sekali, nona itu dengan tangan kirinya
mengangkat cawan arak dan meminumnya!
Para pelayan memandang dengan muka pucat, bahkan ada yang meramkan mata, tidak sampai hati
menyaksikan nona cantik jelita yang sedang minum itu remuk kepalanya oleh singa-singaan batu. Hanya
Yo Wan yang bisa menduga apa yang akan terjadi, maka dia pun enak-enak minum araknya.
Tepat seperti dugaan Yo Wan, nona itu dengan tangan kanannya mengangkat sepasang sumpitnya, dan
secara mudah dan enak saja ia ‘menerima’ batu itu dengan sumpit. Batu besar berbentuk singa itu
terputar-putar di ujung sumpit, kemudian sekali menggerakkan lengan kanan, singa batu itu terbang dari
ujung sumpitnya, kembali ke alamat pengirim. Semua ini dilakukan dengan cawan arak masih menempel di
bibir!
"Aiiihhhhh...!" Orang she Pui yang berjuluk Harimau Besi itu berteriak kaget sekali ketika melihat singasingaan
batu itu tiba-tiba menyambar ke arahnya.
Dia tidak sempat lagi mengelak, terpaksa dia menggerakkan kedua lengannya menerima singa-singaan
batu itu. Sambil mengerahkan tenaganya dia menerima, namun alangkah kagetnya ketika singa-singaan
batu itu ternyata berlipat kali lebih berat dari pada tadi. Hal ini adalah karena batu itu dilontarkan dengan
tenaga sinkang.
Si pendek sombong berusaha menahan, akan tetapi dia terhuyung-huyung ke belakang, singa batu
menghimpit dadanya dan sesudah terhuyung-huyung sampai lima meter ke belakang dan menabrak meja,
barulah dia berhenti.
Singa-singaan batu itu dia lemparkan ke sebelah kanannya dan dia batuk-batuk. Ketika dia batuk-batuk itu
darah segar tersembur keluar dari mulutnya, kemudian dengan lemas dia menjatuhkan diri ke atas kursi,
nafasnya terengah-engah, mukanya pucat, matanya meram. Jelas bahwa ia telah menderita luka di
sebelah dalam dadanya, luka yang cukup hebat!
Kini terbukalah mata si mata sipit dan si pipi cacat bahwa gadis yang mereka sebut-sebut tadi sebagai
bunga hutan liar itu benar-benar liar dan tentang durinya, jangan tanya lagi! Melihat teman mereka terluka
hebat, si pipi cacat yang berjuluk Huang-ho Sin-piauw dan she Gong menjadi sangat marah.
Dengan gerakan yang tidak dapat diikuti pandangan mata saking cepatnya, tahu-tahu dia telah mengayun
dua tangannya secara bergantian ke arah muda-mudi itu dan terdengar teriakannya.
"Bocah-bocah mau mampus, makanlah ini!"
Sinar hitam berkelebat menyambar ke arah meja muda-mudi itu ketika beberapa batang piauw
menyambar. Tidak heran bila si pipi cacat ini berjuluk Piauw Sakti dari Huang-ho. Kiranya dia pandai sekali
memainkan piauw dan dapat menyambitkan senjata rahasia itu dengan gerakan yang cepat. Agaknya
orang akan kalah cepat apa bila harus berlomba mencabut dan menggunakan senjata rahasia dengan si
pipi cacat yang bermuka lonjong buruk itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Menjemukan!" seru si gadis, matanya yang bening dan indah itu memancarkan cahaya kemarahan.
"Biarlah, Sumoi...!" kata si pemuda yang mendului sumoi-nya, menggerakkan sumpitnya. Sumpit itu
bergerak-gerak seperti tergetar.
“Cring-cring-cring…!"
Terdengarlah suara beberapa kali disusul berkelebatnya sinar-sinar hitam ke atas, lalu…
"Cap-cap-cap-cap-cap!" empat batang piauw sudah menancap pada langit-langit di atas pemuda itu!
Si pemuda yang wajahnya masih belum terlihat oleh Yo Wan karena pemuda itu duduk membelakangi Yo
Wan, kini bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa, minum araknya kemudian berdongak ke atas dan
dari mulutnya tersembur arak lembut seperti uap yang terus menyambar ke langit-langit. Terdengar suara
nyaring dan... empat batang piauw yang menancap pada langit-langit itu rontok dan runtuh semua ke
bawah!
"Hebat...!"
"Luar biasa...!"
"Bagus sekali...!"
Demikian teriakan para pelayan yang menjadi amat gembira menyaksikan kesudahan-kesudahan dari
serangan-serangan yang tadinya amat mengkhawatirkan itu.
Yo Wan masih enak-enakan minum araknya. Semua ini sudah diduganya dan dia tidak heran, hanya dia
merasa kagum terhadap sikap muda-mudi yang begitu tenang. Timbul keinginan keras di hatinya untuk
mengenal mereka.
Akan tetapi yang paling marah adalah si Piauw Sakti! Bagaimana julukannya Piauw Sakti akan dapat
bertahan terus kalau permainan piauw-nya diperlakukan bagaikan lalat-lalat menyambar oleh pemuda tak
terkenal itu? Timbul pikiran yang licik dalam benaknya.
Tadi si gadis mendemonstrasikan tenaga yang hebat ketika menghadapi singa-singaan batu. Kini yang
menghadapi piauw-nya adalah si pemuda, agaknya hal ini membuktikan bahwa si gadis tidaklah sehebat si
pemuda dalam menghadapi piauw. Untuk menebus kekalahannya, si pipi cacat kembali mengayun senjatasenjata
rahasianya, dan sekali ini sekaligus dia menyambitkan enam batang piauw yang kesemuanya
menyambar ke arah si gadis, bahkan menyambar ke enam bagian tubuh yang berbahaya.
"Suheng, kali ini jangan larang aku!” terdengar si gadis berkata halus.
Mendadak dia meloncat bangun dan sepasang sumpit telah berada di kedua tangannya. Dengan gerakan
yang amat cepat kedua tangan yang memegang sumpit itu menangkis. Terdengarlah suara nyaring berkalikali
dan sinar-sinar hitam itu menyambar kembali ke arah penyerangnya!
Si pipi cacat kaget sekali. Cepat dia mengelak, namun dia hanya dapat menghindarkan diri dari empat
batang piauw, sedangkan yang dua batang lagi telah menancap di pundak dan pahanya. Dia memekik dan
roboh, termakan oleh senjatanya sendiri seperti keadaan kawannya si pendek tadi!
Melihat perkembangan peristiwa itu menjadi pertandingan yang mengakibatkan luka dan darah, para
pelayan yang tadi amat gembira menyaksikan demonstrasi kepandaian yang mengagumkan, sekarang
menjadi bingung dan ketakutan. Mereka ingin melerai, mereka ingin minta agar supaya orang keluar dari
restoran kalau hendak berkelahi, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka berani bicara. Karena itu
mereka hanya lari ke sana ke mari dan saling pandang dengan muka pucat, tak tahu harus berbuat apa
seperti ayam hendak bertelur.
Kini tinggallah seorang jagoan lagi, yaitu si mata sipit yang berjuluk Huang-ho Siang-to. Orang she Bhe ini
melihat dua orang kawannya sudah terluka, diam-diam merasa gentar juga. Ia maklum bahwa ternyata
mereka bertiga yang selama ini menjagoi daerah lembah Sungai Huang-ho di bagian Leng-si-bun, kiranya
hari ini telah tersandung batu!
dunia-kangouw.blogspot.com
la maklum bahwa kedua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi
melihat dua orang kawannya terluka, tak mungkin dia diam saja. Ke mana dia akan menyembunyikan
mukanya kalau dia tidak maju membela? Nama besarnya tentu akan menjadi bahan ejekan orang. Maju
dan kalah oleh lawan yang lebih lihai bukanlah hal memalukan, akan tetapi mundur teratur tanpa melawan,
benar-benar tidak mungkin dapat dia lakukan.
"Bocah-bocah sombong, siapakah kalian berani bermain gila di daerah ini? Hayo layani sepasang golok
dari Huang-ho Siang-to, kalau sanggup mengalahkan sepasang golokku, barulah boleh disebut gagah!"
Pemuda itu hanya tersenyum, akan tetapi si pemudi mendengus dengan sikap mengejek. "Suheng,
agaknya tukang cacah daging bakso ini sudah sinting, mau apa dia bawa-bawa golok pencacah bakso?
Biar kuhabiskan saja dia..."
"Ssttt, jangan. Biarkan, kita lihat mau apa tikus ini...," kata si pemuda.
Tentu saja si mata sipit tahu bahwa dirinya yang dimaki tukang cacah bakso dan tikus, maka
kemarahannya memuncak. Matanya menjadi semakin sipit dan mukanya merah sekali.
"Keparat, kalian yang akan kujadikan bakso...!" Sambil berkata demikian, dia mengayun dan
menggerakkan sepasang goloknya di atas kepala. Sepasang golok itu berkelebatan mengeluarkan sinap
berkeredepan.
Mendadak gerakannya terhenti dan si mata sipit terkejut serta heran karena dia merasa betapa sepasang
goloknya terhenti di tengah udara, di belakang kepalanya seakan-akan tersangkut sesuatu. Betapa pun dia
berusaha membetotnya, tapi sia-sia.
Cepat dia membalikkan tubuh dengan bulu tengkuk meremang dan terpaksa melepaskan kedua goloknya.
Apa yang dilihatnya? Ketika dia membalikkan tubuh, di depannya telah berdiri seorang laki-laki bertubuh
pendek, berkepala botak.
Laki-laki ini mengangkat kedua tangannya dan ternyata kedua goloknya itu telah dijepit oleh jari tengah dan
telunjuk yang ditekuk. Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga orang ini, karena hanya dengan dua jari
menjepit sebuah punggung golok, tetapi si mata sipit tak mampu membetotnya!
Ketika si mata sipit melihat bahwa di belakang orang pendek ini masih terdapat tujuh orang pendek lainnya,
semuanya berdiri tegak dan angker, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan dia berkata gagap,
"Ki... kipas... Kipas Hitam..." Mendengar suara ini, para pelayan berserabutan lari melalui pintu belakang
restoran dan sebentar saja mereka tidak tampak lagi.
Diam-diam Yo Wan memperhatikan hal ini dan dia dapat menduga bahwa nama Kipas Hitam tentu sudah
terkenal dan ditakuti orang. Cepat dia memandang penuh perhatian.
Lelaki yang tadi menjepit sepasang golok dengan jari tangannya itu, benar-benar pendek tubuhnya, pendek
gempal dan tegap, sepasang lengannya yang juga pendek itu tampak amat kuat. Di pinggangnya
tergantung sarung pedang yang panjang dan agak bengkok, sedangkan di ikat pinggang depan terselip
sebuah kipas berwarna hitam. Tujuh orang di belakangnya juga seperti itu dandanannya, hanya bedanya,
orang yang berdiri di depan itu sarung pedangnya lebih indah.
Agaknya kipas-kipas hitam yang berada di pinggang mereka itulah yang menjadi tanda bahwa mereka
adalah anggota-anggota Kipas Hitam. Dan lucunya, mereka semua, yaitu delapan orang ini kepalanya
dicukur botak tinggal di atas kedua telinga dan di sebelah belakang saja.
Laki-laki pendek yang menjepit golok itu kemudian berkata, suaranya terdengar kaku dan asing, "Tiga ekor
cumi-cumi banyak tingkah!"
Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan entah bagaimana, tahu-tahu tubuh si mata sipit sudah melayang
keluar dari restoran dan baru jatuh lagi ke tanah sesudah melalui jarak belasan meter. Dua orang jagoan
lainnya, si pipi cacat dan si pendek muka kuning yang sudah terluka, tahu-tahu sudah melarikan diri diikuti
oleh ketiga orang saudagar. Mereka inilah yang mengangkat si golok sakti dan setengah diseret pergi dari
tempat itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang Yo Wan dapat menduga. Agaknya rombongan Kipas Hitam adalah perampok-perampok atau
lebih tepat agaknya bajak-bajak laut, mengingat akan makiannya tadi. Hanya orang-orang yang biasa
berlayar saja agaknya yang akan menggunakan nama binatang laut cumi-cumi untuk memaki orang, Apa
lagi orang pendek ini suaranya kaku dan asing. Mereka inilah bajak laut-bajak laut Jepang seperti yang
pernah didengar Yo Wan dari percakapan orang-orang di sepanjang perjalanan!
Sementara itu, sepasang muda-mudi yang tadinya kelihatan tenang-tenang saja itu, kini bangkit dari
tempat duduk mereka. Agaknya sebutan Kipas Hitam tadi yang membuat mereka serentak bangkit dan
memandang tajam kepada delapan orang yang baru tiba.
Kini Yo Wan dapat melihat bahwa si pemuda juga sangat tampan dan gagah, tubuhnya tegap dan biar pun
tidak nampak, Yo Wan dapat mengetahui bahwa pemuda itu sudah menyembunyikan sebatang pedang di
balik jubahnya, jubah seorang pelajar.
Pandang mata yang luar biasa tajam dari pemuda itu satu kali melirik ke arahnya, dan tercenganglah hati
Yo Wan. Walau pun hanya melirik satu kali, namun pandang mata itu tajam menembus hati, seakan-akan
si pemuda itu sudah dapat menilainya hanya dengan sekali lirikan saja!
"Hemmm, bukan pemuda sembarangan. Harus hati-hati menghadapi orang seperti ini...," pikirnya.
Kini keadaan di restoran itu tegang. Para pelayan sudah lari menyingkir, juga di depan restoran tampak
sunyi. Agaknya orang-orang di situ sudah mendengar akan kedatangan delapan orang pendek-pendek
rombongan Kipas Hitam.
Muda-mudi itu sudah berdiri berhadapan dengan pemimpin rombongan, saling pandang bagai lagak jagojago
mengukur pandang dan saling menaksir lawan. Akhirnya si pendek itu bertanya, suaranya ketus,
kasar dan kaku,
"Kalian berdua yang membunuhi teman-teman kami di pantai Laut Po-hai seminggu yang lalu?"
Gadis itu melangkah maju dan dengan sikap menantang ia berkata nyaring, "Kalau betul, kalian mau apa?
Kalian inikah bajak laut Kipas Hitam? Apakah kau kepalanya?"
Kepala rombongan itu mengeluarkan suara makian dalam bahasa asing, sikapnya amat mengancam.
"Kami tidak diberi perintah untuk membunuh kalian, hanya diperintah untuk mengajak kalian ikut
menghadapi kongcu (tuan muda) kami.”
"Mau apa dia? Siapa kongcu kalian itu?" tanya si gadis, lalu terdengar bisiknya kepada suheng-nya,
"Suheng, kau awasi tikus di belakang kita itu, dia mencurigakan..."
Si pemuda membalikkan tubuhnya dan sekali lagi Yo Wan tercengang pada saat melihat sinar mata tajam
menyambarnya di samping senyuman mengejek. Ia tahu bahwa dirinya dicurigai, maka untuk
menyembunyikan wajahnya, dia menenggak araknya dan berkata seperti orang sinting, “Ahhh... arak habis
malah para pelayan pergi semua. Ke manakah orang-orang tolol itu?"
Sementara itu, si pendek menerangkan dengan suara kaku, "Kongcu adalah pemimpin kami, sekarang
kongcu menunggu di pantai. Kalian harus ikut dengan kami menghadap kongcu."
"Mau apa dia?"
"Nanti kalian bicara sendiri dengan kongcu, kami hanya diperintah untuk mengajak kalian secara baik-baik,
harap kalian jangan membantah lagi..."
"Kalau kami tidak mau?" tanya pultt si gadis.
"Hemmm... hemmmmm... mudah-mudahan jangan begitu. Mau tidak mau kalian harus menghadap kongcu.
Kongcu bilang bahwa kalian bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi pemimpin
Kipas Hitam."
"Aku tidak mau! Persetan dengan kongcu kalian! Pergi dari sini, kalian mau apa kalau aku tidak mau?!"
tantang si gadis dengan sikap menantang, sedangkan si pemuda tetap tenang saja, kadang-kadang melirik
dunia-kangouw.blogspot.com
ke arah Yo Wan yang dicurigai.
Si pendek itu sejenak memandang dengan mata mengancam, kemudian menarik nafas panjang. "Sayang,"
katanya, "Sudah lama aku tidak bertemu lawan yang pandai. Segala macam cumi-cumi seperti juraganjuragan
perahu tadi hanya menjemukan saja. Betapa senangnya apa bila dapat mengadu ilmu dengan
kalian yang kabarnya lihai. Sayangnya, kongcu tidak mengijinkan kami mengganggu kalian. Kongcu
mengundang kalian dengan baik-baik, untuk diajak bercakap-cakap entah urusan apa. Kalau saja tak ada
pesan dari kongcu, sudah sejak tadi samuraiku bicara!" Sambil berkata begitu dia menepuk-nepuk pedang
panjang yang tergantung di pinggangnya sambil berkata, "Cakar Naga, jangan kecewa, mereka bukan
musuh..."
"Sumoi, jika orang yang mereka sebut kongcu itu hendak bicara, mari kita pergi menemui dia. Kita
bukanlah pengecut, takut apa bertemu dengan pemimpin Kipas Hitam?" kata si pemuda, agaknya tertarik
juga menyaksikan sikap orang Jepang itu.
"Wah, tidak ada alasan untuk bersikap murah dan mengalah, Suheng. Kalau memang ingin bicara,
mengapa yang menyebut dirinya kongcu itu tidak datang sendiri menemui kita? Heee, orang pendek.
Pedangmu kau sebut Cakar Naga, tentu kau pandai bermain pedang. Dengarlah! Bila kau dapat
mengalahkan aku dengan pedangmu, baru kuanggap kau cukup pantas menjadi utusan untuk
mengundang kami. Kalau tidak mampu, jangan banyak cerewet lagi!"
Orang Jepang itu mengangkat muka, keningnya berkerut lalu dia menepuk dada dengan tangan kirinya.
"Aku Kamatari tak pernah mundur menghadapi tantangan siapa pun juga, akan tetapi aku taat kepada
perintah kongcu. Nona, mungkin kau berkepandaian, akan tetapi harap kau jangan memandang rendah
samurai Cakar Naga di tanganku. Lihatlah betapa saktinya Cakar Naga!" Sambil berkata demikian,
Kamatari menggunakan kakinya menendang sebuah bangku kayu yang berada di dekatnya.
Bangku itu terlempar ke atas dan pada saat bangku melayang turun, tiba-tiba tampak sinar berkeredepan
berkelebat beberapa kali.
“Crak-crak!” terdengar suara perlahan.
Dalam sekejap mata, sinar berkeredepan itu lenyap dan... bangku yang sudah terbelah menjadi tiga potong
itu runtuh ke bawah. Anehnya, yang sepotong melayang ke arah meja Yo Wan, menimpa atas meja dan
membikin pecah mangkok serta menggulingkan cawan arak!
Yo Wan tak berkata apa-apa, hanya berdiri sebentar, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena percikan
arak, kemudian duduk kembali dengan tenang. la maklum bahwa orang Jepang yang lihai ilmu pedangnya
dan besar tenaga dalamnya itu agaknya mencurigai dirinya dan sengaja mementalkan sepotong kayu
bangku ke arahnya untuk memancing.
Tentu saja dia dapat melihat betapa tadi orang pendek itu mencabut pedang samurainya dengan gerakan
yang betul-betul cepat serta mengandung tenaga yang hebat. Demikian cepat gerakan Kamatari sehingga
bagi mata orang biasa, orang pendek ini sama sekali tidak berbuat apa pun, karena sebelum potonganpotongan
bangku itu jatuh ke tanah, samurainya sudah kembali ke sarungnya. Seperti main sulapan saja!
Kamatari mengerling sekejap ke arah Yo Wan, lalu kembali dia menghadapi nona itu, wajahnya
membayangkan kepuasan dan harapan bahwa kali ini gadis itu akan menjadi jeri dan suka menurut. Akan
tetapi dugaannya meleset jauh.
Gadis itu berpaling pada suheng-nya dan berkata, "Suheng, bukankah lucu sekali badut pendek ini?"
"Sumoi, jangan main-main. Agaknya dia jujur dan mari kita menemui kongcu itu, kita lihat apa
kehendaknya," jawab suheng-nya yang agaknya tidak ingin mencari keributan.
"Suheng, sesudah dia mengeluarkan pedang cakar ayamnya, apa bila kita menurut saja, bukankah orang
akan menganggap kita ini tidak becus apa-apa? Biarkan aku main-main sebentar dengannya."
Si pemuda menghela nafas, kemudian jawabnya lirih, "Sesukamulah, akan tetapi jangan menimbulkan
gara-gara."
Si gadis tersenyum manis. "Aku hanya ingin main-main, siapa yang ingin menimbulkan gara-gara?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian dia menghampiri Kamatari dan berkata, "Namamu Kamatari dan pedangmu yang bengkok
adalah pedang cakar ayam, ya?” Sengaja dia mengganti Cakar Naga dengan cakar ayam.
"Bagus, aku pun punya pedang yang saat ini kuberi nama pedang penyembelih ayam. Boleh kau cobacoba
layani pedangku ini, Kamatari. Sekali lagi kunyatakan bahwa kalau kau tidak bisa memenangkan
pedangku ini, aku tidak sudi bertemu dengan kongcu-mu!" Setelah berkata demikian, gadis itu mencabut
sebatang pedang dengan perlahan.
Orang-orang Jepang yang berada di belakang Kamatari semuanya tertawa ketika melihat sebatang pedang
pendek dengan ukuran kurang lebih dua puluh cun (satu cun ±2 senti meter), warnanya hitam sama sekali
tidak mengkilap, bahkan warna hitamnya hitam kotor seperti tanah. Dari jauh tampak seperti pedang
terbuat dari tanah lempung saja. Tentu saja semua orang Jepang yang terkenal dengan pedang-pedang
samurai mereka yang terbuat dari baja tulen dan berkilauan saking tajamnya itu tertawa mengejek
menyaksikan pedang si nona yang begitu buruk dan pendek.
Akan tetapi diam-diam Yo Wan kagum. Ia maklum bahwa pusaka yang ampuh tampak sederhana, seperti
juga orang pandai kelihatan bodoh dan air dalam kelihatan tenang.
Kamatari juga tertawa. Suara ketawanya pendek-pendek susul-menyusul dan kepalanya bergoyanggoyang,
kemudian dia menoleh kepada teman-temannya yang masih berdiri seperti barisan dengan tubuh
tegak di belakangnya.
"Kalian mendengar sendiri, dia yang memaksaku bermain-main, harap kalian nanti dapat melaporkan
kepada kongcu agar aku tidak dipersalahkan." Setelah berkata demikian, dia melangkah maju menghadapi
gadis itu sambil berkata, lagaknya sombong.
"Aku sudah siap Nona!"
Nona itu tersenyum mengejek, akan tetapi alisnya yang hitam kecil itu bergerak-gerak. "Cabut pedangmu,
orang sombong!"
"Cakar Naga tak pernah meninggalkan sarungnya kalau tidak perlu. Nona boleh mulai menyerang."
"Cih, siapa sudi? Aku bukan orang yang suka menyerang orang tak memegang senjata. Kalau kau
mengajak kami menemui kongcu-mu, kau harus menyerang dan mengalahkan pedangku. Habis perkara!"
"Begitukah? Nah, lihat pedangku!"
Kamatari tiba-tba mengeluarkan pekik yang sangat menyeramkan. Tubuhnya menerjang maju dengan
didahului sinar berkilauan. Bagi mata orang biasa, gerakan mencabut dan mempergunakan pedang
samurai tidak akan tampak, yang kelihatan hanya sinar pedang yang menyilaukan mata. Akan tetapi gadis
itu agaknya dapat melihat jelas karena sekali menggeser kaki ia telah mengelak ke kiri.
"Crakkk!" terdengar suara kayu terbelah.
Kamatari sudah berdiri tegak lagi, tangan kiri dengan jari terbuka melindungi dadanya dan tangan kanan
tergantung di pinggang, dekat gagang pedang, akan tetapi pedangnya sendiri sudah bersarang di dalam
sarung pedangnya lagi. Meja yang tadi berada di dekat gadis itu, meja yang kosong, bergoyang-goyang,
tidak kelihatan disentuh, tidak kelihatan rusak, akan tetapi perlahan-lahan miring lalu roboh menjadi dua
potong. Begitu tajamnya samurainya, seakan-akan meja itu terbuat dari agar-agar saja!
"Hi-hi-hik, kenapa kau berhenti, Kamatari? Kalau hanya membelah meja, anak kecil pun bisa!"
"Jagalah ini. Haiiiiittttt!" Kamatari sudah menerjang lagi, didahului sinar samurainya yang berkelebatan
menyambar-nyambar.
Sambaran pertama dihindarkan oleh gadis itu dengan melejit ke kanan, sambaran kedua yang
menyerampang kakinya dia hindarkan dengan satu loncatan indah ringan ke atas melalui meja. Sedangkan
serangan ketiga yang luar biasa sebat dan berbahayanya, dia tangkis dengan pedang hitamnya.
"Cring... tranggggg...!!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua kali samurai tajam mengkilat bertemu dengan pedang pendek hitam buruk. Bunga api berpijar
menyilaukan mata dan tampak Kamatari terhuyung ke belakang sedangkan gadis itu berdiri dengan tangan
kiri bertolak pinggang dan tersenyum.
"Kenapa berhenti lagi? Kau mau merusak pedangku?" Gadis itu mengejek.
Kini Kamatari mengurangi lagaknya. Pedang samurai tidak dimasukkan ke dalam sarung pedangnya,
melainkan dipegang di tangan kanan. la tadi terkejut setengah mati karena selain pedang buruk lawannya
itu dapat menahan samurainya, juga telapak tangannya terasa hendak pecah-pecah dan kuda-kuda
kakinya tergempur hebat. Tahulah dia bahwa gadis di depannya ini sama sekali tak boleh dipandang
ringan.
Kini dia tidak main-main aksi-aksian lagi, namun menyerang dengan sungguh-sungguh. Terdengar
mulutnya mengeluarkan pekikan berkali-kali, pekik serangan, dan samurainya menyambar-nyambar
menjadi gulungan sinar memanjang. Gerakannya penuh tenaga dan gesit, samurainya selalu membalik
dan mengikuti gerakan si gadis yang mengelak ke sana ke mari. Akan tetapi dia seakan-akan menyerang
bayangannya sendiri. Ke mana pun dia menyabet, selalu samurainya membelah angin belaka.
Diam-diam Yo Wan kaget dan matanya terbelalak, jantungnya berdebar-debar. Baginya, pemandangan di
depan mata ini mengejutkan. Betapa tidak? Ia mengenal baik gerakan dara ini, gerakan mengelak sambil
berloncatan, terhuyung-huyung, jongkok, berdiri.
Biar pun ada beberapa perbedaan, namun tidak salah lagi, itulah gerakan-gerakan yang mirip sekali
dengan Si-cap-it Sin-po, yaitu empat puluh satu jurus langkah ajaib yang dia pelajari dan suhu-nya,
Pendekar Buta. Memang gaya dan perkembangannya berbeda, namun dasarnya mempunyai persamaan
yang tidak dapat diragukan lagi tentu dari satu sumber. Keduanya memiliki ciri-ciri yang khas dari gerakan
seekor burung, atau jelasnya, gerakan seekor burung rajawali.
Setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus lamanya, mendadak gadis itu membuat gerakan aneh,
tubuhnya meloncat ke atas bagaikan hendak menubruk. Kamatari berseru heran, pedangnya menyambar
memapaki tubuh itu, akan tetapi secara indah dan sangat mengagumkan kaki kiri gadis itu menendang dari
samping hingga sekaligus mengancam pergelangan tangan lawan sedangkan pedang hitamnya berkelebat
tepat di depan muka Kamatari.
Sebelum jago Jepang itu dapat menyelami jurus yang aneh ini, tiba-tiba saja dia merasa pundaknya sakit
dan terhuyunglah dia ke belakang. Kiranya pundak kirinya sudah terluka oleh ujung pedang hitam,
membuat tangan kirinya serasa lumpuh!
Segera dia menyimpan samurainya dan menutupi lukanya, lalu menjura sampai dalam. "Ilmu pedang Nona
sungguh hebat...”.
Pada saat itu pula berkelebat bayangan putih, cepat dan tak terduga gerakannya, seperti seekor burung
dara melayang memasuki restoran itu.
"Sumoi, awas...!" seru si pemuda yang sudah melompat maju.
Gadis itu cepat mengangkat pedangnya, akan tetapi dia tertahan dan tertegun pada saat melihat bahwa
yang meloncat masuk ini adalah seorang pemuda berpakaian serba putih berkembang-kembang kuning
yang indah sekali, sebuah muka yang tampan luar biasa, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti
bintang pagi, sepasang bibir yang merah dan tersenyum amat tampannya!
Begitu kaki pemuda ini menginjak tanah, tangannya bergerak dan dua bayangan putih melayang ke depan,
langsung sinar ini menyambar mengarah leher si gadis. Gadis itu berseru keras dan mengelak ke
belakang, tetapi tiba-tiba sinar putih kedua menyambar pedangnya dan pada lain saat pedang itu sudah
terlibat sesuatu kemudian terampas dari tangannya!
"Kembalikan pedang, Sumoi!" Si pemuda menerjang maju, gerakannya cepat dan amat kuat sehingga
diam-diam Yo Wan kagum melihatnya.
Akan tetapi lebih kagum lagi hati Yo Wan menyaksikan gerakan pemuda baju putih yang baru masuk,
karena sekali menjejakkan kedua kaki, tubuh pemuda baju putih itu sudah melayang keluar restoran,
meninggalkan dua sinar putih menyambar yang diikuti dengan teriakannya yang nyaring, "Awas senjata
dunia-kangouw.blogspot.com
rahasia!"
Si pemuda kaget sekali, apa lagi ketika melihat dua sinar putih berkilauan menyambar ke arah jalan darah
yang berbahaya di tubuhnya. Cepat dia mengibaskan lengan baju dan runtuhlah kedua senjata rahasia itu.
Anehnya, senjata rahasia itu ternyata hanyalah dua potong uang perak!
Uang perak digunakan sebagai senjata rahasia benar-benar merupakan hal yang langka. Pemboros mana
yang menghamburkan uang perak begitu saja? Ketika kemudian dia memburu keluar, pemuda baju putih
itu sudah lenyap!
Marahlah si pemuda. Sekali dia bergerak, dia sudah menangkap Kamatari, menjambak baju pada
punggungnya dan mengangkatnya ke atas seperti orang mengangkat seekor kelinci saja!
"Tikus busuk! Apa bila kami menghendaki, apa susahnya mencabut nyawamu yang tidak berharga? Hayo
katakan, siapa bangsat tadi!"
Kamatari kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa si pemuda begini galak dan begini kuat. Tentu saja
dia tidak sudi diperlakukan seperti ini, maka dia membentak, "Lepaskan bajuku!" dan tangannya memukul.
Akan tetapi tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi kaku. Dua lengannya yang tadi bergerak hendak memukul
seakan-akan berubah menjadi dua batang kayu kering!
"Keparat, jangan banyak lagak kau! Hayo bilang, siapa dia tadi?!"
Tahulah kini Kamatari bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang luar biasa. Percuma untuk berkeras kepala
lagi, maka dengan suara merintih dia berkata,
"Dia adalah kongcu kami. Baiknya kongcu masih tidak berniat memusuhi kalian. Apa bila kalian memiliki
kepandaian, boleh datang merampas pedang di pantai Po-hai di dusun Kui-bun, cari gedung Yo-kongcu!"
Dengan sekali gerakan, pemuda itu melempar tubuh Kamatari ke belakang. Jago Jepang ini menabrak
kawan-kawannya dan roboh terguling, kemudian ditolong teman-temannya. Akhirnya mereka pergi dari
tempat itu dengan cepat.
Si pemuda teringat akan Yo Wan, segera dia melompat dan membalikkan tubuh. Akan tetapi pemuda
tenang yang mencurigakan hatinya tadi sudah lenyap dari sana. Di atas mejanya tergeletak beberapa
potong uang perak, agaknya untuk membayar makanan dan minuman. Makin curigalah pemuda itu.
"Sumoi, kita harus mengejar si baju putih she Yo itu."
"Mari, Suheng. Aku pun gemas sekali terhadap manusia itu. Kalau dia tidak menyerang secara menggelap,
jangan harap dia dapat merampas pedangku Hek-kim-kiam (Pedang Emas Hitam)!"
Walau pun mulutnya berkata demikian, diam-diam hatinya berdebar. Matanya terbayang wajah yang
tampan itu dan ia sendiri merasa sangsi apakan ia akan mampu menandingi pemuda luar biasa itu.
Dengan suara nyaring pemuda itu memanggil pelayan. Seorang pelayan segera datang berlari-larian,
diikuti oleh empat orang temannya. Agaknya para pelayan yang sejak tadi sibuk bersembunyi, sekarang
sudah berani keluar lagi setelah keadaan menjadi reda dan pertempuran berhenti.
"Hitung semua, termasuk pengganti kerusakan-kerusakan di sini akan saya bayar."
Pelayan itu lalu membungkuk-bungkuk sambil bibirnya tersenyum-senyum penuh hormat. "Harap Kongcu
jangan repot-repot, semua sudah dibayar lunas."
"Siapa yang membayar?" Pemuda itu mengangkat alisnya.
"Yang membayar adalah pemberi benda ini kepada Kongcu, semua sudah dibayarnya dan meninggalkan
benda ini yang harus saya serahkan kepada Kongcu." Sambil berkata demikian, pelayan itu menyerahkan
sebuah kipas dari sutera hitam.
Pemuda itu mengerutkan kening, akan tetapi menerima juga kipas itu sambil bertanya, "Siapa dia?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapa lagi kalau bukan yang terhormat pangcu (ketua) dari Hek-san-pang (Perkumpulan Kipas Hitam)
yang tersohor? Kiranya Kongcu dan Siocia (Tuan Muda dan Nona) adalah sahabat-sahabat Hek-san
Pangcu, maaf kalau kami berlaku kurang hormat..."
Pemuda itu mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala lalu meninggalkan restoran itu bersama
sumoi-nya.
"Benar-benar manusia aneh. Apa artinya dia membayari semua hidangan, lalu mengganti semua
kerusakan dan memberi kipas hitam ini kepada kita? Apakah ini semacam hinaan lain lagi? Keparat!"
"Kurasa kalau orang itu membayar makan minum kita dan memberikan kipasnya, hal itu bukanlah berarti
penghinaan, Suheng. Coba kau buka kipasnya, barang kali ada maksud di dalamnya."
Pemuda itu membuka kipas sutera hitam itu. Benar saja, kipas sutera hitam yang amat indah dan berbau
semerbak harum itu ditulisi dengan tinta putih, merupakan huruf-huruf bersyair yang halus indah gayanya,
Berkawan sebatang pedang menjelajah laut bebas
sunyi sendiri merindukan kawan dan lawan seimbang
hati mencari-cari...
"Bagus...!" tak terasa lagi ucapan ini keluar dari mulut mungil gadis itu.
Si pemuda cepat menoleh dan memandang sehingga kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali. la merasa
seolah-olah sajak itu ditujukan khusus kepadanya. Pemuda yang aneh luar biasa, tampan dan
berkepandaian tinggi, merasa sunyi dan merindukan kawan yang memiliki kepandaian seimbang! Dan
pedangnya dirampasnya, dengan maksud supaya ia datang ke sana!
"Pemuda sombong, atau cengeng..." Si pemuda malah mencela.
Sumoi-nya hanya diam saja, takut kalau-kalau tanpa disadarinya mengucapkan sesuatu yang membuka
rahasia hatinya. Mereka segera melakukan perjalanan cepat menuju ke timur, melalui sepanjang lembah
Sungai Kuning, menuju ke pantai Po-hai.
Pemuda dan sumoi-nya itu bukan pendekar-pendekar biasa, bukan petualang-petualang biasa di dunia
kang-ouw. Si pemuda adalah putera tunggal dari pendekar besar Tan Sin Lee.
Seperti telah kita ketahui, pendekar besar putera Raja Pedang ini tinggal di Lu-liang-san, bersama isterinya
yang bernama Thio Hui Cu murid Hoa-san-pai. Pemuda inilah putera sepasang suami isteri pendekar itu
yang bernama Tan Hwat Ki, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, seorang pemuda yang sejak kecil
sudah digembleng oleh orang tuanya dan mewarisi ilmu silat tinggi.
Ada pun sumoi-nya, gadis jelita itu, bernama Bu Cu Kim. Pendekar besar Tan Sin Lee memiliki murid
sepuluh orang jumlahnya, termasuk putera mereka. Akan tetapi di antara para murid, yang paling menonjol
kepandaiannya adalah Bu Cui Kim.
Cui Kim adalah anak yatim piatu, ayah bundanya sudah meninggal dunia akibat penyakit yang merajalela
di dusunnya. Karena kasihan kepada anak yang bertulang baik ini, Tan Sin Lee lalu mengambilnya sebagai
murid, bahkan karena mereka tidak mempunyai anak perempuan sedangkan Cui Kim semenjak kecil
kelihatan sangat rukun dengan Hwat Ki, Cui Kim lalu dianggap sebagai anak sendiri.
Demikianlah, sejak kecil Cui Kim seakan-akan menjadi adik angkat Hwat Ki dan bersama putera suhu-nya
itu mempelajari ilmu silat tinggi.
Pada suatu hari, puncak Lu-liang-san menerima kunjungan seorang tamu yang tidak lain adalah Bun Hui,
putera Bun-goanswe yang tinggal di Tai-goan. Boleh dibilang, di antara pendekar-pendekar keturunan Raja
Pedang, Tan Sin Lee inilah yang tempat tinggalnya paling dekat dengan Tai-goan dan kota raja.
Lu-liang-san terletak di sebelah barat kota Tai-goan, bahkan dari kota itu sudah kelihatan puncaknya.
Sebab itu, begitu menghadapi kesulitan, Bun-goanswe teringat akan sahabat baiknya ini dan menyuruh
puteranya mengunjungi Tan Sin Lee.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di dalam suratnya, Bun-goanswe minta bantuan Tan Sin Lee dan para muridnya untuk membantu negara
yang sedang menghadapi banyak gangguan. Di dalam surat itu, dia ceritakan betapa gangguan dari pihak
Mongol di utara masih makin menghebat sehingga kaisar sendiri berkenan memimpin barisan untuk
menumpas perusuh-perusuh dari utara itu.
Diceritakan pula betapa bajak-bajak laut di laut timur kini juga telah menjadi pengganggu-pengganggu
keamanan, tidak saja bagi para nelayan di laut, akan tetapi juga di daratan sepanjang pesisir Laut Po-hai.
Demikian besar gangguan ini sehingga kaisar sendiri telah memerintahkan kepada Bun-goanswe untuk
mengerahkan tenaga menumpas para bajak laut itu kalau mereka berani mendarat.
Sebenarnya Bun-goanswe sudah melakukan usaha ini, tetapi ternyata bahwa para bajak laut Jepang itu
bersama-sama bajak laut bangsa sendiri, memiliki banyak orang-orang yang berilmu tinggi sehingga
banyak sudah perwira dari kota raja yang tewas di tangan para bajak laut. Karena inilah Bun-goanswe
mengharapkan pertolongan Tan Sin Lee dan murid-muridnya. Dan inilah pula sebabnya maka pendekar
Lu-liang-san itu lalu menyuruh puteranya sendiri ditemani oleh Cui Im, turun gunung melakukan
penyelidikan ke pantai Po-hai.
Sepasang orang muda ini sengaja menyewa perahu berlayar di sepanjang pantai Po-hai. Betul saja, pada
suatu hari perahu itu diganggu bajak laut yang menggunakan bendera Kipas Hitam. Akan tetapi kali ini
para bajak laut menemui hari naas karena mereka itu kocar-kacir dan banyak yang tewas di tangan
sepasang pendekar dari Lu-liang-san ini.
Kemudian karena mendengar bahwa banyak bajak mengganas pula di sepanjang Sungai Huang-ho, Hwat
Ki bersama sumoi-nya lalu pergi ke kota Leng-si-bun di pinggir Sungai Huang-ho, memasuki rumah makan
dan terjadi peristiwa dengan anak buah Kipas Hitam seperti yang telah dituturkan di bagian depan.
Tentu saja Hwat Ki dan Cui Im menjadi girang karena mereka mendapatkan jejak ketua perkumpulan Kipas
Hitam yang merupakan gerombolan bajak laut yang paling terkenal, di samping bajak-bajak laut lainnya
yang banyak mengganas di sepanjang pantai timur.
Hari telah menjadi hampir malam ketika kedua orang pendekar muda dari Lu-liang-san ini tiba di dusun
Kui-bun. Dusun ini bukanlah dusun besar, hanya didiami oleh para nelayan yang tidak lebih dari tiga puluh
buah keluarga banyaknya.
Di setiap rumah nelayan itu nampak jala-jala dibentangkan, dan di pinggir rumah banyak terdapat bekasbekas
perahu dan tiang-tiang layar. Di ujung yang paling jauh dari pantai, terlihat sebuah rumah gedung
besar yang kelihatan ganjil karena jarang terdapat gedung sedemikian besarnya di dusun sekecil itu.
Di pantai laut itu sendiri banyak terdapat para nelayan besar kecil sibuk bekerja, agaknya mereka itu
sedang memasang atau pun menarik jaring dari pantai. Biasanya kalau hari mulai gelap itulah mereka
menarik jaring dan apa bila untung mereka baik, mereka akan menarik banyak ikan di dalam jaring.
Hwat Ki dan Cui Kim segera tertarik oleh rumah gedung itu.
"Kiranya tidak akan salah lagi, tentu gedung ini sarang mereka," Hwat Ki berkata kepada sumoi-nya.
"Akan tetapi sebaiknya kalau kita mencari keterangan lebih dulu, Suheng. Di tempat yang asing ini,
sungguh tak baik kalau kita keliru memasuki rumah orang."
Hwat Ki mengangguk, menyuruh adik seperguruannya itu menanti di tempat gelap, lalu dia sendiri
melangkah cepat menuju ke pantai. Dengan lagak bagai sudah mengenal baik orang yang dicarinya, dia
bertanya dengan lantang kepada seorang nelayan,
"Sahabat, ingin saya bertanya. Di manakah tempat tinggal seorang bernama Yo-kongcu? Apakah rumah
gedung itu?"
Mendadak sekali orang-orang yang tadinya sibuk bekerja itu berhenti bergerak kemudian memandang
kepada Hwat Ki. Melihat ini, pemuda itu dapat menduga bahwa agaknya mereka ini pun anak buah
pimpinan Kipas Hitam itu, atau setidaknya tentu teman-teman baik, maka cepat-cepat dia menyambung,
"Saya adalah sahabat baiknya, belum pernah datang ke sini, tidak tahu di mana rumahnya. Apakah gedung
besar itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Seorang nelayan setengah tua mengangguk pendek. "Betul."
Kemudian dia memberi aba-aba kepada kawan-kawannya untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Hwat Ki
lega hatinya, cepat dia kembali ke tempat Cui Kim menanti.
"Sudah kuduga bahwa orang she Yo itu tentu berkuasa di sini. Orang-orang itu agaknya takut kepadanya.
Sumoi, mari kita ke sana."
Keduanya lalu berjalan menghampiri gedung besar. Di sekitar gedung itu sangat gelap, akan tetapi tampak
sinar lampu-lampu menerangi sebelah dalam gedung yang dikelilingi oleh tembok setinggi satu setengah
tinggi orang. Hwat Ki dan adiknya mengelilingi luar tembok dan mendapat kenyataan bahwa pintu satusatunya
hanyalah pintu depan yang tertutup rapat.
"Kita ketuk saja pintunya," kata Cui Kim.
"Hemmm, tidak akan ada gunanya. Mengunjungi tempat lawan tidak perlu banyak aturan. Mengetuk pintu
berarti membuat mereka siap untuk menjebak kita. Mari!"
Pemuda itu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melayang naik ke atas tembok, diikuti oleh Cui
Kim. Bagaikan dua ekor burung walet mereka sudah meloncat dan berdiri di atas tembok.
Terang sekali di sebelah dalam tembok. Ruangan depan rumah gedung itu pun sangat terang dan bersih,
akan tetapi sunyi tidak tampak ada orangnya.
"Orang she Yo! Kami datang untuk minta kembali pedang!" Tan Hwat Ki berteriak dengan suara lantang.
Sedangkan Cui Kim berdiri di dekatnya dengan tegak, siap menghadapi segala kemungkinan.
Sunyi sepi menyambut suara teriakan Hwat Ki yang sedikit bergema di dalam gedung itu. Kemudian
terdengarlah suara halus dan nyaring, "Silakan masuk, pintu tidak dikunci dan kami menanti di ruangan
tengah!"
"Hati-hati, Suheng, jangan-jangan musuh mengatur perangkap!" bisik Cui Kim.
"Tak usah takut, marilah!" kata Hwat Ki yang melayang turun ke ruangan depan.
Dengan gerakan lincah sekali Cui Kim mengikutinya, melompat turun ke atas lantai ruang depan yang licin
dan bersih itu tanpa mengeluarkan suara. Sejenak keduanya berdiri dan memandang ke sekeliling dengan
sikap waspada. Ruangan ini, yang merupakan ruangan depan menyambung halaman, amat bersih dan
indah.
Ketika mereka memandang ke dalam, di sebelah kiri dinding ruangan itu penuh dengan tulisan-tulisan
bersajak. Mereka kemudian melangkah ke dalam melalui pintu besar yang memang tidak tertutup.
Ruangan tengah itu luasnya ada lima belas meter persegi, juga terhias lukisan-lukisan indah. Di tengah
ruangan terdapat sebuah meja bundar dikelilingi bangku-bangku terukir burung hong. Tampak empat orang
duduk mengelilingi meja dan seorang di antaranya adalah kongcu yang berpakaian serba putih.
Melihat pemuda baju putih ini duduk di kepala meja, dapatlah diduga bahwa dia menjadi pemimpinnya.
Tiga orang yang lain adalah dua orang laki-laki setengah tua dan seorang wanita berusia empat puluh
tahun yang rambutnya sudah berwarna dua dan di gelung tinggi-tinggi di atas kepala. Melihat sikap
mereka, tiga orang setengah tua ini tentu bukan orang sembarangan pula.
Seorang di antara dua laki-laki itu bertubuh pendek gemuk, modelnya seperti Kamatari, juga di pinggang
orang ini tergantung pedang samurai. Mudah diduga bahwa dia seorang Jepang. Tubuh dan mukanya tidak
bergerak-gerak, akan tetapi sepasang matanya lincah bergerak ke kanan kiri.
Yang seorang lagi bertubuh tinggi kurus. Bajunya lebar dengan lengan baju panjang dan kumisnya tipis
panjang sehingga bertemu dengan jenggotnya yang menutupi dagu serta leher. Mereka berempat
sekarang memandang kepada sepasang orang muda yang baru datang.
Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang lembut dari pemuda baju putih, tiba-tiba
saja jantung Cui Kim terasa berdebar tidak karuan. Akan tetapi begitu dia melihat pedang hitamnya terletak
dunia-kangouw.blogspot.com
di atas meja depan pemuda itu, timbul kemarahannya. Seketika sinar matanya berapi-api dan dia berteriak
dengan nyaring.
"Dengan muslihat curang kau telah merampas pedangku. Orang she Yo, kalau memang kau jantan,
kembalikan pedangku dan kita boleh bertanding sampai seribu jurus!"
Pemuda itu tersenyum, cepat bangkit dari bangkunya kemudian memberi hormat dengan membungkuk
dalam-dalam.
"Bukan salahku...!" jawabnya sambil tersenyum ramah. "Aku sudah mengutus orang dan mengundang
kalian baik-baik, kalian tidak datang malah menyerang orangku. Kalau tidak merampas pedang, mana bisa
aku memancing kalian datang pada malam ini?" Berkata demikian, pemuda baju putih itu menatap wajah
Hwat Ki dengan tajam, dengan pandang mata penuh selidik.
Hwat Ki tetap tenang, memang pemuda ini semenjak kecil memiliki sikap yang tenang. la maklum bahwa
bersama sumoi-nya dia telah memasuki goa harimau, akan tetapi sedikit pun dia tidak gentar.
"Setelah kami datang untuk minta kembali pedang, apa lagi yang hendak kau bicarakan dengan kami?"
tanyanya.
Pemuda baju putih itu kembali tersenyum lebar sehingga tampaklah deretan giginya yang putih dan rapi.
Hwat Ki harus mengakui bahwa wajah orang ini memang amat tampan.
"Banyak yang ingin kami bicarakan. Akan tetapi, kalian berdua adalah tamu-tamu kami, silakan duduk.
Sebelum menjamu tamu terhormat, mana bisa bicarakan urusan penting? Silakan duduk, atau... barang
kali kalian takut kalau-kalau kami menipu? Apakah kalian tidak berani duduk?"
Hwat Ki tersenyum mengejek. "Takut apa?"
Dia lalu melangkah maju, diikuti sumoi-nya. Keduanya kemudian duduk di atas bangku, berhadap-hadapan
dengan empat orang itu. Tiga orang setengah tua itu pun berdiri dan mengangguk, dibalas oleh Hwat Ki
dan Cui Kim yang merasa heran dan aneh, karena sama sekali tak menyangka mereka akan diterima
sebagai tamu. Hanya adanya pedang Hek-kim-kiam di atas meja itu yang membikin suasana menjadi kaku.
Agaknya tuan rumah merasakan hal ini. Dipungutnya Hek-kim-kiam dan disodorkannya pedang itu kepada
Cui Kim sambil berkata, "Silakan, Nona. Inilah pedangmu, maaf atas kelancanganku tadi."
Cui Kim menerima pedangnya dengan dua pipi merah dan kembali jantungnya berdebar tak karuan.
Semangatnya serasa terbetot oleh senyum dan pandang mata yang menarik itu. Sesudah menyimpan
pedang ke dalam sarung pedangnya, kembali ia duduk dengan muka tunduk.
Si pemuda baju putih bertepuk tangan tiga kali. Segera bermunculan lima orang pelayan wanita yang
muda-muda serta cantik-cantik. Mereka sibuk membawa datang hidangan-hidangan lezat dan arak wangi
yang mereka tuangkan ke dalam cawan enam orang itu dengan gerakan dan gaya yang manis. Si pemuda
baju putih itu dengan ramah-tamah mempersilakan kedua orang tamunya makan dan minum arak.
Memang sehari itu Hwat Ki dan sumoi-nya baru makan sekali, yaitu di rumah makan kota Leng-si-bun
sebelum tengah hari, tentu saja pada saat itu mereka sudah merasa lapar. Hwat Ki yang tahu bahwa pihak
tuan rumah menguji ketabahan mereka, tentu saja tidak sudi memperlihatkan kekhawatiran. Dengan wajar
dan tenang dia mulai makan minum menemani tuan rumah dengan enaknya.
Hanya Cui Kim yang merasa agak canggung. Sebagai seorang gadis, ia berbeda dengan gadis biasa. Bagi
dirinya yang sudah biasa merantau di dunia kang-ouw, makan bersama orang-orang lelaki bukanlah hal
yang menyulitkan. Akan tetapi entah bagaimana, ketika berhadapan dengan tuan rumah she Yo yang
muda, tampan dan luar biasa itu, membuat hatinya bergoncang dan sepasang sumpit yang dipegangnya
agak gemetar!
"Nona, mengapa sungkan-sungkan? Marilah, harap kau suka mencoba masakan ini. Ini masakan sirip ikan
Hiu Harimau, Nona pasti belum pernah mencoba masakan ini, bukan? Silakan!"
Pemuda Yo itu mengangkat mangkok masakan itu dan menawarkannya kepada Cui Kim. Dengan sangat
ramah dia menawarkan beberapa macam masakan, malah menuangkan arak memenuhi cawan gadis itu
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga si gadis menjadi makin canggung dan jengah.
Diam-diam Hwat Ki mendongkol sekali. Tuan rumah yang masih muda dan tampan ini, meski pun amat
ramah, akan tetapi agaknya terlalu manis sikapnya terhadap Cui Kim. la diam-diam menduga bahwa orang
she Yo ini tentulah seorang pemuda hidung belang, seorang kongcu yang gila akan wanita cantik. Buktinya
para pelayannya tadi pun semua muda-muda cantik-cantik dan lagaknya menarik, membayangkan
pendidikan cukup.
la takkan heran kalau para pelayan itu pandai bernyanyi, menari dan main musik untuk menghibur hati
sang kongcu hidung belang. Oleh karena dugaan ini Hwat Ki lalu bersikap lebih waspada dan berhati-hati.
Siapa tahu, pancingan ini pada hakekatnya hanya untuk menjadikan sumoi-nya yang cukup cantik sebagai
korban!
Sikap pemuda she Yo itu makin manis kepada Cui Kim, selalu tersenyum dan mengajak Cui Kim bercakapcakap.
Malah kelancangannya makin menjadi-jadi ketika dia bertanya sambil tersenyum manis dan
mengerling tajam.
"Nona, agaknya lebih patut aku menyebutmu adik. Aku berani bertaruh bahwa usia kita sebaya, akan tetapi
lebih enak aku menyebut adik. Berapakah usiamu tahun ini dan eh... betul juga, aku belum mengetahui
namamu. Namamu tentu indah, sama manis dengan orangnya.”
Muka Cui Kim menjadi merah sekali, sampai ke telinga dan lehernya. Karena sikap yang manis dan
pembicaraan yang manis tadi dia sampai lupa akan kewaspadaan dan agak terlalu banyak minum arak.
Mungkin inilah yang membuat dia sekarang merasa betapa badannya panas dingin dan jantungnya
berdegup hampir meledak mendengar kata-kata itu.
Biasanya ia akan marah dan memukul, atau paling sedikitnya memaki orang yang berani bersikap begini
lancang terhadap dirinya. Akan tetapi entah mengapa, kali ini ia hanya menundukkan muka dan mulutnya
berkata gagap,
"Aku... namaku... Bu Cui Kim dan... dan..."
"Sumoi, tak perlu memperkenalkan diri pada orang yang belum kita ketahui keadaannya!" tiba-tiba saja
Hwat Ki memotong, kemudian menarik bangkunya agak mundur dari meja, menggunakan ujung lengan
baju menghapus bibirnya, lalu dia berkata, suaranya tenang dan penuh wibawa,
"Sahabat, kami berdua sudah menerima undanganmu, juga sudah makan serta minum hidanganmu,
semua ini kami lakukan untuk melayanimu seperti lazimnya kebiasaan di dunia kang-ouw. Sebagai orang
yang mengundang, berarti kau yang mempunyai urusan dengan kami, maka sudah selayaknya apa bila
kau yang harus memperkenalkan dirimu kepada kami dan menyatakan secara terus terang apa yang
tersembunyi dalam hatimu terhadap kami."
Begitu melihat sikap suheng-nya dan mendengar ucapan ini, sadarlah Cui Kim. Dia pun segera menarik
bangkunya menjauhi meja, mukanya masih merah akan tetapi sekarang pandang matanya berkilat dan
penuh curiga!
Pemuda berbaju putih itu tersenyum lebar, sebelum berbicara dia menggunakan sehelai sapu tangan putih
bersih menghapus mulutnya. Agak keras ia menggosok-gosok bibirnya yang berlepotan minyak masakan
itu sehingga ketika dia menurunkan sapu tangan itu, sepasang bibirnya menjadi merah bagai dipulas gincu.
Makin tampan wajahnya sehingga kembali Cui Kim harus menekan perasaan hatinya yang bergelora.
Selama hidupnya baru kali ini Cui Kim mengalami hal seaneh ini ketika melihat seorang pemuda. Akan
tetapi, memang pemuda ini luar biasa tampannya!
"Sayang, kalian masih belum percaya bahwa aku mengandung maksud hati yang baik. Padahal kalau
dipikir-pikir, kau telah membunuhi belasan orang-orang kami, bahkan kau tadinya tak mengindahkan
undangan kami. Baiklah aku memperkenalkan diri. Aku adalah keturunan campuran antara bangsamu
dengan darah Jepang, namaku Yosiko atau boleh juga diubah menjadi Yo Si Kouw." la tersenyum.
Dengan masih berdiri dan sikapnya angker, Hwat Ki berkata, pandang matanya tajam menyelidik,
"Jadi kau bernama Yosiko dan menjadi ketua dari perkumpulan bajak Kipas Hitam yang mengganggu
dunia-kangouw.blogspot.com
keamanan Laut Po-hai dan muara Sungai Kuning. Terus terang saja, kami berdua kakak beradik
seperguruan memang ditugaskan untuk membersihkan daerah ini dari gangguan bajak! Karena itulah
ketika anak buahmu mengganggu, maka kami bunuh mereka. Nah, sekarang kau mengundang kami, ada
keperluan apakah?"
Ucapan Hwat Ki ini merupakan tantangan langsung. Akan tetapi Yosiko sama sekali tak menjadi marah,
bahkan tersenyum dan memandang kagum.
"Kau sungguh gagah berani! Apa kau kira mudah saja membasmi kami? Apa kau berani menghadapi kami
yang berjumlah banyak, sedangkan banyak perwira kerajaan tewas di tangan kami?"
"Orang she Yo, kalau tadi aku sudah berani mengaku terus terang di depanmu, berarti kami tidak takut
menghadapi kalian! Akan tetapi karena sikapmu berbeda dengan para bajak yang kasar, bahkan sudah
mengundang kami dan menjamu sebagai tamu, biarlah kunasehatkan agar kau cepat-cepat kembali ke
tempat asalmu dan jangan melanjutkan pekerjaan kotor menjadi bajak di daerah ini. Aku sudah bicara dan
jika tidak menghargai saranku, baiklah, terpaksa aku melupakan semua kebaikanmu dan akan
menganggapmu sebagai musuh!"
Yo-kongcu tertawa, giginya yang putih berkilat. "Ahh, alangkah gagahnya! Kau tentu she Tan, bukan?
Bukankah kau putera dari ketua Lu-liang-pai dan ayahmu bernama Tan Sin Lee?"
Hwat Ki tak menjadi heran. Sebagai seorang kepala bajak, tentu saja kepala bajak muda ini mempunyai
banyak kaki tangan dan penyelidik sehingga dapat mengetahui keadaan dirinya.
"Memang aku Tan Hwat Ki dan ayahku bernama Tan Sin Lee, ketua dari Lu-liang-pai. Setelah tahu akan
hal itu, lebih baik kau menerima saranku, hentikanlah pembajakan-pembajakan di daerah ini."
"Ahhh, benar dugaanku. Orang sendiri! Ehh, Tan Hwat Ki, enak saja kau menyuruh orang menghentikan
pekerjaan. Kalau aku tidak mau mundur, bagaimana?"
"Pedangku akan membereskan segalanya!" kata Tan Hwat Ki sambil menepuk gagang pedangnya. Dia
maklum bahwa menghadapi kepala bajak yang aneh dan lihai ini, perlu sikap tegas, karena mereka berdua
sudah berada di sarang harimau.
"Tapi... tapi aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"
Kini Cui Kim yang merasa tidak enak kalau diam saja, menjawab. "Kalau kau tidak ingin bermusuhan, lebih
baik menerima saran suheng-ku, sebelum terlambat dan pedang kami membasmi kalian!"
"Wah… wah… wah, galaknya!" Yo-kongcu mengeluh. "Tan Hwat Ki, dengarlah sekarang maksud hatiku.
Aku sengaja mengundang kau dan Sumoi-mu ke sini dengan maksud baik. Ketahuilah bahwa telah lama
aku mendengar nama besar jago-jago di daratan, di antaranya jago dari Lu-liang-san. Aku mempunyai
seorang adik perempuan yang sedang mencari jodoh, namun sukarnya, dia menghendaki jodoh seorang
pemuda yang mampu mengalahkan aku! Kulihat kau cukup hebat, maka aku ingin mencoba
kepandaianmu." Sesudah berkata demikian, Yo-kongcu yang aneh ini melolos sehelai sabuk sutera putih
dan sebatang pedang yang kecil panjang.
Merah sekali wajah Hwat Ki, juga dia menjadi semakin marah. "Ucapanmu tidak karuan, orang she Yo!
Siapa sudi melayani ucapan gila-gilaan itu? Hayo lekas kau memilih, mau mengundurkan diri dari wilayah
ini dengan aman atau harus makan pedangku!"
"Bagus, Tan Hwat Ki, lekas kau majulah. Memang aku hendak menguji kepandaianmu!" tantang ketua
Hek-sin-pang (Perkumpulan Kipas Hitam) itu.
"Suheng, biarkan aku maju menghadapi bajak ini!" tiba-tiba saja Cui Kim meloncat maju dengan pedang
Hek-kim-kiam di tangan.
Pemuda tampan baju putih itu tersenyum, membuat wajahnya menjadi ganteng sekali.
"Aha, adik yang manis. Apakah kau juga hendak memasuki sayembara?"
"Apa... apa maksudmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Agaknya kau sama dengan adik perempuanku, hendak mencari jodoh dengan menguji kepandaian
pemuda yang disukainya. Kau hendak menguji kepandaianku?"
Wajah Cui Kim menjadi merah sekali.
"Setan kau...!"
"Sumoi, tunggu! Laki-laki ceriwis ini tidak perlu kau layani, serahkan kepadaku. He, orang she Yo! Apa bila
kau memang laki-laki sejati, jangan mengganggu wanita dengan ucapan kotor. Hayo kau tandingi
pedangku!"
"Sraattttt!"
Tampak sinar berkilauan ketika pemuda Lu-liang-san ini mencabut pedang. Pedangnya pendek saja, akan
tetapi pedang ini mengeluarkan sinar menyilaukan dan mengandung hawa dingin.
Inilah pedang yang terbuat dari logam putih yang sudah terpendam di dalam salju ribuan tahun lamanya,
maka diberi nama Swat-cu-kiam (Pedang Mustika Salju). Karena logam putih itu tidak tersedia cukup
banyak, maka hanya bisa dibuat menjadi sebatang pedang pendek saja. Logam putih itu didapatkan oleh
Tan Sin Lee di puncak gunung yang selalu tertutup salju, dibuat menjadi pedang pendek dan diberikan
kepada puteranya.
Pada saat itu, dari pintu samping melompat masuk seorang pemuda. Pemuda ini pendek tegap tubuhnya,
kelihatan kuat sekali, mukanya agak hitam karena sering terbakar sinar matahari. Pakaiannya ringkas
sedang kepalanya dicukur botak semodel dua orang kakek yang duduk di sana. Tangannya memegang
pedang samurai dan matanya berkilat-kilat penuh kemarahan.
"Yosiko... eh, Yo-kongcu, tak ada laki-laki yang cukup berharga menandingimu sebelum menangkan
Shatoku!"
Yo-kongcu kelihatan kaget dan membentak, "Shatoku, mundur...!"
"Maaf, dia harus mengalahkan aku lebih dulu!"
Sesudah berkata demikian, pemuda Jepang yang bernama Shatoku itu menerjang ke depan, ke arah Hwat
Ki sambil memekik keras,
"Haaaiiiiittt!"
Pedang samurainya berkelebat bagai halilintar menyambar, amat kuat dan cepat bukan main, jauh lebih
kuat dan lebih cepat dari pada gerakan samurai di tangan Kamatari.
Menyaksikan gerakan ini, Hwat Ki tidak berani memandang ringan. Dia dapat menduga apa yang terjadi.
Tentu pemuda Jepang yang bernama Shatoku ini adalah seorang yang mencinta atau tergila-gila pada
gadis adik ketua Kipas Hitam dan kini menjadi cemburu.
Diam-diam dia mendongkol sekali terhadap orang she Yo itu, juga dia marah kepada pemuda Jepang ini
yang datang-datang langsung menerjangnya dengan mati-matian. la harus perlihatkan kepandaiannya.
Cepat dia mempergunakan langkah-langkah Kim-tiauw Sin-po (Langkah Ajaib Rajawali Emas) yang dia
warisi dari ayahnya.
Begitu dia mainkan langkah-langkah ini, sinar samurai yang menyambar-nyambar seperti halilintar itu
selalu mengenai tempat kosong. Pemuda Jepang Shatoku itu menjadi sangat penasaran.
Dia seorang yang terkenal paling hebat di antara para pemuda bangsanya yang menjadi anggota Kipas
Hitam. Masa sekarang dia tidak sanggup merobohkan seorang pemuda kurus yang kelihatan lemah?
Samurainya diputar secepatnya dan sekarang serangannya mengeluarkan bunyi berdesingan selain
menciptakan gulungan sinar yang melibat-libat di sekitar tubuh Hwat Ki.
Setelah mainkan Kim-tiauw Sin-po sampai tiga puluh jurus sambil terus memperhatikan gerakan lawan,
sekarang tahulah Hwat Ki akan rahasia dan kelemahan ilmu silat pedang lawannya yang aneh itu. Ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
pedang itu hanya mengandalkan tenaga dan kecepatan tanpa ada variasi atau kembangan, juga tenaga
yang diandalkannya hanya tenaga kasar.
Memang harus diakui sangat cepat dan andai kata dia tidak mempunyai Ilmu Kim-tiauw Sin-po, agaknya
serangan kalang-kabut seperti hujan badai itu sedikitnya akan membuat dia gugup dan kacau.
Setelah mempelajari gerakan lawan, tiba-tiba saja Hwat Ki mengeluarkan seruan nyaring. Tubuhnya
berkelebat dan bagi pandangan Shatoku, tiba-tiba lawannya sudah lenyap dari pandangan matanya.
Kemudian dia mendengar angin di belakangnya, cepat samurainya dia kelebatkan ke belakang. Akan tetapi
hanya mengenai angin belaka dan tahu-tahu, sebelum dia sempat menjaga karena tidak tahu lawan
menyerang dari mana, Shatoku merasa betapa dadanya dimasuki oleh sesuatu yang sangat dingin
sehingga membuat dia menggigil.
Samurainya terlepas dari tangan, dia terhuyung-huyung lalu roboh miring. Dari dadanya mengucur keluar
darah karena dada itu sudah ditebusi pedang Swat-cu-kiam!
"Yosiko...," bibirnya berbisik, sedangkan matanya yang sudah mulai pudar cahayanya itu ditujukan ke arah
ketua Kipas Hitam.
Orang she Yo itu membuang muka dan berkata, "Salahmu sendiri, Shatoku. Kau tidak tahu diri, seperti si
cebol merindukan bulan. Matilah dengan tenang, kau roboh di tangan seorang pendekar gagah!"
Mata Shatoku tertutup dan matilah pemuda Jepang itu. Atas isyarat Yo-kongcu, empat orang laki-laki
muncul dan membawa pergi jenazah itu, sedangkan para pelayan wanita cepat membersihkan sisa-sisa
darah di lantai dengan kain dan air. Cepat pekerjaan ini dilaksanakan dan sebentar saja keadaan sudah
bersih kembali seperti semula.
"Tan Hwat Ki, kepandaianmu cukup untuk menandingi aku. Hayo majulah!" Yo-kongcu berseru, pedangnya
tegak lurus ke atas di depan keningnya, sabuk sutera putih di tangan kiri digulung. Gaya kuda-kuda ini
indah dipandang, akan tetapi juga aneh dan asing.
"Orang she Yo, sekali lagi kunasehatkan supaya kau mundur dan menarik semua bajak dari daerah ini,
segera kembalilah ke tempat asalmu. Contohnya orangmu tadi, terpaksa kurobohkan karena secara
kurang ajar dia menyerangku tanpa sebab. Aku sungguh tidak ingin membunuh orang yang baru saja
menjamu kami."
"Tak perlu banyak cakap lagi, Tan Hwat Ki. Kalau kau dapat menangkan aku, kau akan menjadi jodoh
adikku, kalau tidak, terpaksa kami memberi hukuman atas kelancanganmu membunuh banyak orang
anggota Kipas Hitam."
"Bagus, kau lihat baik-baik pedangku!"
Hwat Ki segera menikam dengan jurus Kim-tiauw Liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air). Mula-mula jurus ini
digerakkan dengan lambat, akan tetapi secara mendadak berubah cepat dan dahsyat sekali, yang
dijadikan sasaran sekaligus adalah tiga tempat, yaitu ulu hati, pusar dan tenggorokan! Ujung pedangnya
tergetar menjadi tiga, biar pun menusuk secara berturut-turut, akan tetapi saking cepatnya seakan-akan
merupakan tiga batang pedang menusuk sekaligus.
"Bagus!" Yo-kongcu memuji dalam bahasa Jepang. Sepasang kakinya dengan cekatan melangkah ke
samping dan sekaligus terhindarlah dia dari pedang lawan.
"Ehhh...!" Hwat Ki berseru kaget melihat cara lawannya menghindarkan diri.
Cepat Hwat Ki menerjang lagi bertubi-tubi dengan tiga jurus dirangkai sekaligus tanpa memberi
kesempatan lawan balas menyerang. Pancingannya berhasil karena Yo-kongcu melanjutkan langkahlangkahnya
untuk menghindar. Lincah sekali gerakan pemuda itu dan tiga jurus yang dilancarkan dengan
cepat ini dapat dihindarkan dengan baik.
"Tahan!" teriak Hwat Ki yang tak dapat menahan keheranan hatinya lagi. "Orang she Yo, dari mana kau
mencuri langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun?"
Yo-kongcu tertawa mengejek, mempermainkan sabuk sutera putih di tangan kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tan Hwat Ki, apa kau kira hanya engkau sendiri yang mampu mainkan langkah-langkah Kim-tiauw-kun?
Ihhh.., kau terlampau memandang rendah kepadaku. Lihat seranganku!"
Dengan cepat sekali seberkas cahaya putih menyambar ke arah Hwat Ki. Pemuda ini mengenal sinar putih
yang siang tadi telah merampas pedang Hek-kim-kiam dari tangan sumoi-nya. la tidak menjadi gentar,
segera memutar tangan kirinya dan mendorong ke depan.
"Plakkk!"
Ujung sinar putih atau lebih tepat ujung sabuk sutera putih itu terpental kembali ketika bertemu dengan
tangan kiri Hwat Ki yang pada waktu didorongkan mengeluarkan cahaya kehijauan itu. Kagetlah Yokongcu.
Pukulan tangan kiri Hwat Ki tadi jelas adalah pukulan jarak jauh yang luar biasa sekali. Memang
sesungguhnya demikianlah. Hanya ada satu macam ilmu pukulan jarak jauh di dunia ini yang dilakukannya
dengan cara memutar-mutar lengan kiri seperti itu, yaitu Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang (Tangan Racun
Hijau)!
Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang ini diwarisi Hwat Ki dari ayahnya, sebab ilmu ini merupakan peninggalan
neneknya, ibu dari Tan Sin Lee. Karena ilmu ini sifatnya ganas dan liar, lebih tepat dipergunakan oleh
golongan hitam, maka Tan Sin Lee tidak mengajarkannya kepada murid-muridnya yang lain kecuali kepada
putera tunggalnya, dengan pesan agar ilmu ini jangan dipergunakan kalau tidak perlu. Biar pun ilmu ini
merupakan ilmu ganas, namun karena merupakan peninggalan ibunya, terpaksa dia wariskan kepada
puteranya.
Akan tetapi pemuda she Yo yang tangkas itu hanya sebentar saja terkejut karena selain dia segera dapat
mengatasi kekagetannya, juga sekarang pedangnya sudah menerjang dengan gerakan yang sangat ganas
dan cepat. Sifat gerakan pedangnya jauh berbeda kalau dibandingkan dengan gerakan samurai di tangan
Shatoku, pemuda Jepang tadi.
Gerakan samurai cepat bertenaga, akan tetapi tenaganya adalah tenaga kasar, ada pun kecepatannya
wajar. Karena itu sifatnya sangat berbeda dengan ilmu silat pedang yang lebih banyak mengandalkan
kecepatan ginkang, tenaga dalam dan gerak-gerak tipu dan pancingan-pancingan yang berbahaya.
Hwat Ki menjadi heran dan kagum juga. Pemuda Jepang darah campuran ini ternyata memiliki ilmu
pedang yang hebat dan aneh sekali, karena gerakan-gerakannya biar pun masih jelas merupakan ilmu
pedang yang pilihan, juga tercampur gerakan silat Jepang. Ginkang-nya cukup tinggi, tenaga sinkang-nya
juga sangat kuat, sedangkan pedang di tangannya itu pun terbuat dari bahan baja pilihan karena setiap kali
bertemu dengan Swat-cu-kiam di tangannya, lantas mengeluarkan warna seperti perak dan mempunyai
tenaga getaran tanda logam pusaka.
Di sampng ini, pemuda peranakan Jepang itu benar-benar lincah sekali menggunakan langkah-langkah
bersumber Kim-tiauw-kun. Dia pernah mendengar dari ayahnya bahwa Kim-tiauw-kun merupakan sumber
banyak macam ilmu langkah ajaib, di antaranya yang terhebat adalah Si-cap-it Sin-po dan yang kedua
adalah Ilmu Langkah Hui-thian Jip-te (Terbang di Langit Masuk ke Bumi).
Berbeda dengan Si-cap-it Sin-po yang mempunyai empat puluh satu langkah, Hui-thian Jip-te mempunyai
dua puluh empat langkah. Agaknya, pemuda she Yo ini menggunakan Hui-thian Jip-te karena langkahlangkahnya
tidak terlalu banyak macamnya namun cukup untuk menghindarkan diri dari seranganserangan
berbahaya.
Yang lebih berbahaya adalah sabuk sutera putih ini berkelebatan menjadi gulungan sinar putih yang
menyilaukan mata, kadang kala bergulung-gulung menjadi lingkaran-lingkaran besar kecil yang selain
dapat digunakan untuk menotok jalan darah lawan, juga sering digunakan untuk berusaha melibat pedang
lawan dan merampasnya.
Akan tetapi Tan Hwat Ki tidak selemah sumoi-nya. Ilmu pedangnya mantap, gerakannya penuh tenaga
dalam, sikapnya tenang dan pertahanannya pun kokoh kuat. Sama sekali sabuk sutera putih itu tidak
membuat hatinya gugup, malah secara pelan-pelan dengan dorongan-dorongan Ching-tok-ciang dan
tekanan pedang Swat-cu-kiam di tangan kanan, dia mulai mendesak lawannya setelah pertandingan
berlangsung lebih dari seratus jurus dengan amat serunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang tua yang masih duduk menghadapi meja, dan juga Bu Cui Kim, memandang penuh
kekaguman. Diam-diam Cui Kim semakin kagum terhadap pemuda Jepang yang tampan sekali itu.
Tadinya dia menganggap bahwa di antara semua pemuda di dunia ini, sukarlah mencari tandingan
suheng-nya yang mempunyai kepandaian luar biasa. Siapa kira, kini pemuda peranakan Jepang yang
tampan sekali itu mampu menandingi Hwat Ki sampai lebih dari seratus jurus dalam pertandingan yang
seru dan seimbang. Hatinya makin kagum dan ia memandang penuh perhatian.
Sesudah melihat betapa pelan-pelan pemuda peranakan Jepang itu mulai terdesak oleh lingkaranlingkaran
sinar pedang suheng-nya, diam-diam Cui Kim menaruh kekhawatiran kalau-kalau kakak
seperguruannya itu akan menurunkan tangan besi dan membunuh si pemuda Jepang seperti yang
dilakukannya terhadap Shatoku, pemuda Jepang tadi.
Memang Hwat Ki tidak mau memberi kesempatan lagi kepada Yosiko. la pikir lebih baik melenyapkan
ketua Kipas Hitam ini karena kalau ketuanya sudah tewas, tentu akan lebih mudah membasmi gerombolan
bajak laut yang mengganggu keamanan wilayah Po-hai. Maka dia makin hebat mendesak dengan jurusjurus
pilihan dari ilmu pedangnya.
Ada pun Yo-kongcu yang terdesak itu, berkali-kali mengeluarkan seruan kagum atas ilmu kepandaian
lawan. la tidak kelihatan gelisah, meski terdesak dan tertekan, seruan-seruan kagum dari mulutnya
mengandung kegembiraan.
"Hebat, kau patut menjadi jodohnya..." demikian berkali-kali dia berseru. "Ilmu pedangmu hebat!"
"Tidak usah banyak cakap, bersiaplah untuk mampus!" bentak Hwat Ki dan pedangnya menyambarnyambar
seperti tangan maut mencari korban.
Mendadak dia mendengar suara Cui Kim berseru keras, "Suheng, celaka... kita tertipu...!"
Hwat Ki kaget dan menengok. Ternyata adik seperguruannya itu terhuyung-huyung lalu roboh pingsan di
atas lantai! la tidak tahu apa yang terjadi atas diri sumoi-nya, cepat dia meloncat ke arah adik
seperguruannya itu, akan tetapi mendadak dia merasa kepalanya pening, pandang matanya berkunangkunang.
Tahulah dia sekarang. la, seperti juga sumoi-nya, terkena racun! Agaknya tadi karena dia bertanding dan
mengerahkan sinkang, racun itu belum begitu terasa olehnya. Apa lagi memang sinkang yang dimiliki
sumoi-nya tidak sekuat sinkang-nya.
Dengan penuh kemarahan Hwat Ki menengok. Dilihatnya Yosiko atau Yo-kongcu (tuan muda Yo) itu
tersenyum, berdiri memandang kepadanya seperti orang mengejek.
"Keparat! Kau... curang! Kau meracuni kami...!" Hwat Ki menguatkan diri dan memaki.
Senyum itu melebar, akan tetapi kini pandangan mata Hwat Ki sudah remang-remang dan kurang jelas,
hanya kelihatan gigi putih berkilat, kemudian terdengar suara pemuda Jepang kepala bajak itu berkata,
terdengar oleh telinganya seperti suara yang datang dari jauh sekali,
“Tan Hwat Ki, kau belum mengenal kelihaian Kipas Hitam. Jika tadi kau kalah bertanding denganku, kau
dan adikmu tentu sekarang sudah mati, sebab kau tidak ada harganya. Untung kau menang, maka kau dan
adikmu harus menjadi tawananku. Jangan khawatir, kami tidak akan membunuh kalian, racun itu hanya
beberapa menit saja membuat kalian pingsan..."
Apa yang diucapkan selanjutnya tak dapat terdengar lagi oleh Hwat Ki yang telah roboh pingsan di
samping adik seperguruannya.
"Siauw-pangcu... (Ketua Muda), untuk apa menawan mereka? Lebih baik lekas dibunuh saja agar tidak
menimbulkan keruwetan di belakang hari," berkata seorang di antara dua kakek itu, yang bertubuh kurus
kering.
"Pauw-lopek (uwa Pauw), mereka itu masih orang sendiri, tidak mungkin aku membunuh mereka, kecuali...
hemmm kecuali jika mereka tidak mau menurut memihak kita," jawab Yosiko dengan suara tegas.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus sekali! Kipas Hitam kiranya hanya perkumpulan bajak busuk yang dipimpin oleh seorang wanita
curang!" tiba-tiba terdengar suara orang.
Kaget bukan main hati Yosiko, serentak dia meloncat dan siap, demikian pula tiga orang tua itu. Entah dari
mana datangnya, tahu-tahu di sana sudah muncul seorang pemuda berpakaian serba putih yang
sederhana, dengan wajah yang tenang dan penuh wibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Yo Wan!
Seperti kita ketahui, secara kebetulan sekali Yo Wan berada di rumah makan di dusun Leng-si-bun dan
menyaksikan peristiwa yang terjadi antara muda-mudi Lu-liang-san itu dengan orang-orang Kipas Hitam.
Pada saat muncul Yosiko yang mengaku she Yo dan memiliki gerakan yang sangat hebat, dia kaget dan
heran sekali, juga ingin tahu karena bagaimana ketua Kipas Hitam itu memiliki she (nama keturunan) yang
sama dengan dia?
Diam-diam dia menyelinap pergi sambil meninggalkan uang pembayaran makan minum, lantas
membayangi si pemuda ketua Kipas Hitam itu ke dusun Kui-bun di pantai Po-hai. Dengan kepandaiannya
yang luar biasa, Yo Wan berhasil membayangi terus sampai di gedung tempat kediaman ketua Kipas
Hitam itu dan bersembunyi.
la dapat menduga bahwa muda-mudi yang dirampas pedangnya itu pasti akan menyusul ke Kui-bun.
Maka, diam-diam dia bersembunyi sambil memasang mata, siap menolong muda-mudi itu bila mereka
terancam bahaya.
Kalau muda-mudi itu bertentangan dengan golongan bajak laut yang telah mengganggu ketenteraman
penghidupan para nelayan dan saudagar di tepi laut, tentu saja dia akan memihak mereka. Apa lagi karena
timbul dugaan di dalam hatinya bahwa muda-mudi itu sedikit banyak tentu mempunyai hubungan dengan
gurunya, Pendekar Buta.
Ketika dugaannya terbukti dengan munculnya muda-mudi di ruangan besar gedung itu, dia mendapat
kenyataan yang menggirangkan, juga mengherankan hatinya. Pemuda itu ternyata bernama Tan Hwat Ki,
putera Tan Sin Lee ketua Lu-liang-pai. Kini tidak heranlah dia mengapa pemuda itu dan sumoi-nya
demikian lihai dan mempunyai gerakan langkah Kim-tiauw-kun. Tentu saja dia girang dan niatnya
menolong atau membantu mereka lebih mantap lagi.
Akan tetapi, hal yang amat mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat kenyataan pula bahwa
pemuda baju putih yang disebut Yosiko atau Yo-kongcu dan menjadi ketua Kipas Hitam itu ternyata adalah
seorang wanita! Pandang matanya yang tajam segera dapat membuka rahasia ini ketika Yosiko mulai
bersilat melawan Hwat Ki. Ada gerakan-gerakan otomatis pada kaki dan lengan seorang wanita, yang
sangat berbeda dengan gerakan otomatis kaki tangan pria.
Dalam menggerakkan lengannya, seorang wanita otomatis tidak mau membuka pangkal lengannya
menjauhi dada, hal ini adalah sifat pembawaan tiap wanita. Tentu saja dalam mainkan ilmu silat, hal ini
tidak mengikat benar, namun dalam ilmu silat pun tercampur dengan gerakan otomatis yang menjadi dasar
menurut pembawaan masing-masing.
Melihat gerak ini, kemudian melihat wajah yang terlalu tampan itu, kulit yang terlalu halus untuk pria,
mudah saja Yo Wan menduga bahwa pemuda tampan itu adalah seorang gadis cantik yang menyamar
pria!
Keheranan ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan keheranan ketika dia melihat betapa gadis
peranakan Jepang ini menggerakkan kakinya dalam langkah-langkah ajaib yang sangat dikenalnya. Itulah
inti sari ilmu langkah ajaib yang dahulu pernah dia pelajari dari suhu-nya, Pendekar Buta!
Hanya bedanya, yang dia pelajari adalah lebih lengkap berjumlah empat puluh satu jurus, sedangkan yang
dikuasai gadis Jepang itu adalah dua puluh empat jurus Hui-thian Jip-te! Benar-benar amat luar biasa dan
hal ini membuat hatinya menjadi ragu untuk memusuhi apa lagi membasmi ketua Kipas Hitam ini.
Demikianlah, ketika dia melihat Hwat Ki telah mendesak hebat, seperti juga Cui Kim, dia khawatir kalaukalau
dalam kemarahannya Hwat Ki lantas membunuh ketua Kipas Hitam itu, maka dia bersiap-siap untuk
menghentikan pertandingan mati-matian itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat Cui Kim roboh pingsan,
disusul oleh Hwat Ki dan mendengar ucapan Yosiko, dia mengerutkan kening. Gadis peranakan Jepang itu
benar-benar lihai, berani, juga liar dan curang, maka sambil mengejek dia lalu menampakkan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Marahlah hati Yosiko ketika melihat munculnya seorang asing secara mendadak. Cepat dia bertepuk
tangan tiga kali dan muncullah enam orang pendek-pendek yang ternyata bukan lain adalah Kamatari
bersama lima orang temannya.
Si Pedang Cakar Naga ini bersama lima orang temannya menjura dalam-dalam sampai jidat mereka
hampir menyentuh tanah di depan Yosiko.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Postingan Cersil Terbaru