Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 04 September 2017

Cersil Kisah Bangau Putih Tamat Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Bangau Putih Tamat Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Siang Cun? Ha-ha-ha, di kuil tua, diperkosa oleh Si Bangau Putih, mungkin sekarang sudah mampus pula,
heh-heh!”
“Bohong! Jahanam itulah yang hendak memperkosanya, akan tetapi untung aku segera datang
mencegahnya... Dia melukainya dengan jarum beracun, akan tetapi sekarang telah selamat!” Tiba-tiba
terdengar suara nyaring dan muncullah Sin Hong.
Mendengar ini, lega rasa hati Bhe Kauwsu dan kini tidak dapat dicegah lagi, pedangnya digerakkan
menusuk dada Phoa Hok Ci! Pada saat yang sama pedang di tangan Ciok Pangcu juga bergerak
membabat ke arah leher orang jahat itu.
Tubuh itu terkulai dengan dada berlubang dan leher putus! Para murid Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bukoan
juga menggerakkan senjata mereka. Dalam sekejap saja tubuh Phoa Hok Ci lantas menjadi korban
puluhan senjata, menjadi hancur tidak karuan lagi bentuknya!
“Sudah cukup!” Tiba-tiba Sin Hong membentak, suaranya amat nyaring sehingga semua orang terkejut dan
melangkah mundur. “Kalian semua adalah orang-orang yang gagah, mengapa sekarang dikuasai nafsu
amarah dan dendam kebencian, kemudian berubah menjadi orang-orang yang demikian kejam?”
Semua orang, termasuk Ciok Kam Heng dan Bhe Gun Ek, tiada yang menjawab, hanya menundukkan
muka dengan rikuh dan malu karena baru sekarang mereka bisa melihat kenyataan itu, alangkah sadis dan
kejamnya mereka tadi karena dibakar oleh dendam kebencian.
“Ayahhh...!” Tiba-tiba terdengar jeritan dan Siang Cun datang berlari-lari, disambut oleh ayahnya. Gadis itu
menubruk dan merangkul ayahnya sambil menangis terisak-isak.
Bhe Gun Ek mengelus-elus rambut kepala puterinya dan menepuk-nepuk pundaknya. “Sudahlah, Siang
Cun, tenanglah. Jahanam keparat itu sudah kami bunuh.”
Siang Cun menghentikan tangisnya, memandang ke kanan kiri dan seperti orang dalam mimpi ia bertanya,
“Mana dia? Mana manusia iblis itu? Akan kubunuh dia...!”
“Dia sudah mati di tangan kami, Siang Cun. Nah, itu dia!” Ayahnya menunjuk ke bawah.
Siang Cun memandang dan seperti terpukau melihat tumpukan daging dan tulang yang sudah menjadi
onggokan tak berbentuk itu. Mendadak ia merampas pedang di tangan ayahnya, kemudian meloncat ke
depan dan hendak membacokkan pedangnya ke arah onggokan daging dan tulang itu, tapi tiba-tiba
lengannya ditangkap orang dari belakang.
“Nona sadarlah. Yang sesat biarlah sesat seperti Phoa Hok Ci itu. Akan tetapi tidak perlu Nona menjadi
sedemikian kejam karena dendam kebencian. Dia sudah mati dan jasmaninya tidak berdosa.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Siang Cun menoleh dan ketika ia melihat bahwa yang menahannya adalah Sin Hong, ia lalu melepaskan
pedangnya dan berlari kepada ayahnya, kembali merangkul ayahnya sambil menangis keras…..
********************
“Tidak, aku tidak ingin hidup lagi, Ayah. Biar pun jahanam itu belum sampai menodaiku, akan tetapi... ahh,
bagaimana aku dapat melupakan aib dan malu itu? Dia... Tan Sin Hong itu, dia... telah melihat aku
bertelanjang bulat, bahkan dia... dia telah...“
Bhe Kauwsu memeluk puterinya. Tadi baru saja dia menyelamatkan puterinya dari maut ketika Siang Cun
menggantung diri di dalam kamarnya!
“Anakku, janganlah mengambil jalan pendek. Bunuh diri merupakan suatu dosa besar, Siang Cun. Apa
yang sudah dilakukan oleh Tan Taihiap padamu? Apa yang sudah dia perbuat?”
Siang Cun bercerita dengan suara terputus-putus tentang pengobatan yang dilakukan oleh Sin Hong
kepadanya. Betapa pemuda itu bukan hanya melihat ia bertelanjang bulat dan terlentang di atas
pembaringan, bahkan pemuda itu sudah mengobatinya dengan menyedot darah dan jarum dari paha
kirinya, ketika ia dalam keadaan telanjang!
“Bagaimana mungkin aku dapat melupakan aib dan malu itu, Ayah? Dia bukan apa-apa, bukan saudara
bukan keluarga, bahkan saudara seperguruan pun bukan! Aib ini hanya dapat dihapus dengan kematianku,
Ayah...“ Gadis itu menangis lagi.
Bhe Kauwsu menarik napas panjang. Dia mengerti akan penderitaan batin puterinya. Kemudian dia
berkata, “Tenanglah, anakku. Ada suatu jalan yang lebih baik dari pada membunuh diri, dan biarlah aku
yang membicarakan urusan ini dengan Tan Taihiap. Mudah-mudahan saja dia tidak keberatan dan mau
menolong kita.”
“Apakah maksudmu, Ayah?”
“Menjodohkan engkau dengan Tan Taihiap, anakku.”
Wajah yang manis itu seketika menjadi merah dan ia menundukkan mukanya. “Memang hanya itulah jalan
satu-satunya untuk menghapus aib dari diriku, Ayah. Jika ia menolak, lebih baik aku mati saja!” Setelah
berkata demikian, Siang Cun menutupi mukanya dan menangis lagi.
Bhe Kauwsu segera menemui Sin Hong yang sedang berkemas di dalam kamarnya bersama Yo Han.
Mereka sudah terlalu lama tinggal di tempat itu dan biar pun mereka diperlakukan sebagai tamu
kehormatan dan merasa senang, namun tidak enak juga jika terus menerus menerima kebaikan orang dan
mondok di tempat itu.
Bhe Kauwsu minta bicara empat mata dengan pendekar itu dan Sin Hong pun segera menyuruh muridnya
keluar dari dalam kamar.
Yo Han pergi ke belakang rumah. Di tempat itu dia sudah bergaul dengan leluasa sekali, menjadi sahabat
dari para murid Ngo-heng Bu-koan dan dia seorang anak yang amat disuka oleh para murid.
Setelah duduk berhadapan berdua, Bhe Kauwsu lalu menyampaikan maksud hatinya untuk menjodohkan
puterinya dengan Tan Sin Hong. Dia berterus terang akan keadaan Siang Cun.
“Biar pun kami sekeluarga akan merasa terhormat dan berbahagia sekali kalau Taihiap sudi menjadi suami
Siang Cun, akan tetapi sesungguhnya sampai bagaimana pun aku tidak akan berani mengemukakan
hasrat hati keluarga kami kepadamu, Taihiap. Akan tetapi, anakku Siang Cun berkeras akan membunuh
diri untuk mencuci aib dan hanya mau melanjutkan hidup kalau dapat menjadi isterimu. Oleh karena itu,
Taihiap, kami sekeluarga yang sudah putus harapan hanya memandang kepadamu sebagai bintang
penolong keluarga kami.”
Tentu saja Sin Hong terkejut bukan main mendengar permintaan itu! Ia menjadi bingung karena sama
sekali tidak menyangka bahwa secara tiba-tiba dia diminta untuk menjadi suami Siang Cun!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tetapi... tetapi... maafkan, Paman. Hal ini... harus kupikirkan dulu karena menyangkut kehidupanku di
masa depan. Aku... minta waktu untuk memikirkannya...,“ katanya agak gagap.
Bhe Kauwsu tersenyum. “Tentu saja, Taihiap. Karena seperti Taihiap pernah bicarakan dengan kami
bahwa Taihiap adalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, maka segala keputusan harus
dipikirkan dulu. Biarlah kami menanti sampai besok agar Taihiap mempunyai waktu sehari semalam ini
untuk memikirkannya.” Bhe Kauwsu lalu mengundurkan diri, meninggalkan Sin Hong yang masih bengong
dan bingung.
Menjadi suami Siang Cun? Pertanyaan ini berdengung terus di dalam kepalanya. Tanpa disengaja, dia pun
mengenang gadis itu. Seorang gadis yang cantik manis, juga gagah perkasa dan terbayanglah tubuh gadis
itu yang pernah dilihatnya dalam keadaan bugil dan polos! Tubuh yang mulus, wajah yang cantik, watak
yang gagah dan kedudukan terhormat. Cukup baik, bahkan terlalu baik untuknya. Dan juga amat baik bagi
Yo Han.
Muridnya itu masih muda sekali, membutuhkan lingkungan dan pergaulan yang baik. Dan Ngo-heng Bukoan
merupakan tempat yang amat baik bagi seorang anak, dapat bergaul dengan murid-murid Ngo-heng
Bu-koan yang gagah dan berjiwa pendekar.
Tiba-tiba terbayang wajah Kao Hong Li! Hatinya berdebar-debar penuh keharuan. Dia mencinta Hong Li!
Sejak pertemuan pertama, dia sudah tertarik dan jatuh cinta kepada puteri suheng-nya itu. Akan tetapi,
bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami Kao Hong Li?
Hong Li adalah puteri Kao Cin Liong, seorang pendekar besar bekas panglima kerajaan, putera tunggal
Naga Sakti Gurun Pasir! Kedudukan keluarga itu amat terhormat, baik di dalam dunia kang-ouw, dunia
persilatan, di masyarakat, bahkan di antara kalangan para pembesar kerajaan.
Sebaliknya dia? Seorang yatim piatu, sebatang kara, miskin dan tidak memiliki apa-apa! Dibandingkan
dengan Hong Li, dia bagaikan seekor burung gagak di samping seekor burung Hong! Belum lagi diingat
bahwa dia adalah susiok (paman guru) Hong Li, walau pun usia mereka sebaya. Tidak, tidak mungkin dia
dapat menjadi suami Hong Li, betapa pun dia mencintanya, bahkan andai kata Hong Li juga mencintanya,
perjodohan antara mereka adalah tidak mungkin.
Kembali dia membayangkan Siang Cun. Seorang gadis yang sangat baik, dinilai dari keadaan wajah,
bentuk tubuhnya, atau pun wataknya. Dan dia pun akan hidup tenang, bisa membantu ayah mertuanya
untuk memajukan Ngo-heng Bu-koan, memimpin para murid Bu-koan (Perguruan Silat) dengan ilmu silat.
Hanya itulah satu-satunya keahliannya. Ilmu silat! Dan dia dapat mempergunakannya di sini. Pekerjaan lain
apakah yang dapat dia lakukan kecuali mengajarkan ilmu silat? Dan Siang Cun seorang calon isteri yang
manis dan molek. Dan Yo Han, muridnya yang dia sayang, akan memperoleh tempat yang baik pula di
Ngo-heng Bu-koan. Dan ayah mertuanya seorang tua yang gagah dan bijaksana. Mau apa lagi?
“Suhu, kenapa Suhu melamun setelah Bhe Kauwsu pergi?” tiba-tiba Yo Han memasuki kamar. Anak ini
baru berani memasuki kamar setelah melihat Bhe Kauwsu tidak lagi berada di kamar gurunya.
Sin Hong keluar dari dunia lamunan, menoleh pada muridnya. Melihat wajah muridnya membayangkan
kekhawatiran, dia lalu merangkul pundak Yo Han. Muridnya ini selalu memperhatikan dirinya. Seorang
murid yang bukan hanya berbakti, akan tetapi juga mencintanya seperti seorang adik kepada kakaknya.
“Yo Han, aku sedang bingung. Bhe Kauwsu mengusulkan perjodohan antara aku dan puterinya.”
Meski Yo Han baru berusia kurang lebih delapan tahun, namun dia tidak menganggap muridnya itu anak
kecil. Sikap dan jalan pikiran Yo Han seperti seorang dewasa saja. Oleh karena itu, tanpa ragu lagi dia
menceritakan persoalan yang dihadapinya.
Yo Han mengerutkan alisnya, “Enci Siang Cun seorang wanita yang gagah perkasa dan cantik, dan Ngoheng
Bu-koan tempat orang-orang gagah, Suhu. Akan tetapi apakah Suhu mencintanya?”
Mendengar kata cinta keluar dari mulut anak itu, mau tidak mau Sin Hong tersenyum geli. “Aih Yo Han,
tahu apa engkau tentang cinta? Dan kenapa kau bertanya demikian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu, menjadi suami isteri berarti hidup berdampingan selama hidup! Kalau Suhu dan enci Siang Cun
saling mencinta, tidak ada masalah apa pun bagi Suhu untuk berjodoh dengannya.”
Sin Hong menggeleng kepalanya. “Aku kagum dan suka kepadanya, akan tetapi tentang cinta... aku masih
belum tahu, Yo Han. Akan tetapi, kalau aku menolak, berarti ia akan mati membunuh diri. Aku akan merasa
berdosa, seolah-olah aku yang membunuhnya.” Kemudian Sin Hong menceritakan mengenai Siang Cun
seperti yang didengarnya dari Bhe Kauwsu tadi.
Yo Han membelalakkan matanya. “Wah, sungguh aneh-aneh pikiran seorang dewasa! Kelihatan telanjang
bulat saja sudah mau bunuh diri jika tidak dikawin! Jadi kalau Suhu mengawininya, berarti Suhu
menyelamatkan nyawanya?”
“Begitulah!”
“Tapi... tapi, Suhu. Bagaimana, dengan enci Hong Li?”
Terkejut rasa nati Sin Hong mendengar ini. Jantungnya berdebar.
“Apa maksudmu? Ada apa dengan Hong Li?”
“Suhu cinta padanya, dan enci Hong Li mencinta Suhu. Kalau Suhu menikah dengan gadis lain...“
“Ah, Yo Han, jangan sebut-sebut lagi namanya. Engkau tidak tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk bisa
bersanding dengan Hong Li. Pertama, dia adalah murid keponakanku sendiri, dan kedua, kedudukan kami
sungguh berbeda bagai bumi dan langit. Agaknya... agaknya, tidak ada lain jalan bagiku kecuali menerima
uluran tangan Bhe Kauwsu...“
“Wah, kionghi (selamat), Suhu!” Yo Han lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan memberi
selamat kepada gurunya.
Dengan muka berubah agak kemerahan Sin Hong merangkul muridnya sambil tertawa. Setelah berpikir
keras semalam suntuk, akhirnya Sin Hong mengambil keputusan untuk menerima uluran tangan Bhe
Kauwsu.
Ada beberapa hal yang mendorong dirinya menerima uluran tangan itu. Terutama sekali untuk mencegah
Siang Cun membunuh diri, mencuci perasaan terhina dan malu. Dan masih banyak segi yang ada
kebaikannya. Dia dapat menyumbangkan kepandaiannya untuk memajukan Ngo-heng Bu-koan dan dapat
hidup berkeluarga yang layak. Selain itu, juga dia dapat menempatkan Yo Han dalam lingkungan yang
baik.
Sebaliknya, kalau dia menolak, besar sekali kemungkinan Siang Cun akan membunuh diri, dan dia
bersama Yo Han akan hidup berkeliaran tanpa tempat tinggal yang tetap, dan terutama sekali, dia akan
selalu merasa berdosa.
Dia tidak dapat terlalu menyalahkan sikap Siang Cun yang berkeras hendak membunuh diri jika tidak
menjadi isterinya. Bagi seorang gadis yang keras hati dan menjaga benar nama dan kehormatannya, maka
peristiwa yang dialaminya itu, ketika ia dalam keadaan telanjang bulat dilihat oleh Sin Hong, bahkan diobati
oleh pemuda itu dengan cara yang melanggar batas kesusilaan, sungguh merupakan suatu hal yang
mendatangkan malu dan aib yang akan ditanggung selama hidupnya.
Kalau Sin Hong menjadi suaminya, maka peristiwa itu dengan sendirinya tidak akan meninggalkan rasa
malu, bahkan mungkin akan menjadi kenangan indah dan mesra bagi keduanya. Dan biar pun Sin Hong
belum dapat memastikan apakah ada perasaan cinta dalam hatinya terhadap Siang Cun, namun dia harus
mengakui bahwa dia kagum dan suka kepada gadis itu, dan harus diakuinya pula secara jujur bahwa dia
tertarik melihat kecantikan wajah dan keindahan tubuh gadis itu!
Pernikahan segera dilangsungkan dengan meriah. Pihak Kim-liong-pang yang kini telah menjadi sahabat
baik lagi dari Ngo-heng Bu-koan, juga datang, bahkan atas usul Ciok Kam Heng atau Ciok Pangcu, ketua
Kim-liong-pang, dia dengan suka rela menjadi wali atas diri Sin Hong yang sudah yatim piatu dan tidak
mempunyai wali itu. Ciok Pangcu merasa berterima kasih kepada pendekar muda ini karena ia telah
berjasa memecahkan rahasia yang mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun Sin Hong tidak berani mengirim undangan kepada suheng-nya, yaitu Kao Cin Liong, karena
sesungguhnya dia tak merasa mengadakan pesta dan bukan pihak tuan rumah, namun dia mengirim surat
kepada suheng-nya, memberi tahu bahwa dia telah melangsungkan pernikahan dengan puteri ketua Ngoheng
Bu-koan di kota Lu-jiang.
Setelah menikah, meski pun dia dan isterinya saling memperlihatkan sikap mesra dan mencinta, akan
tetapi diam-diam Sin Hong sering kali melamun. Terasa benar olehnya betapa dalam hubungan mereka
sebagai suami isteri, terdapat suatu kehambaran atau kehampaan akibat tiadanya pertalian batin atau cinta
kasih antara mereka sebelumnya.
Mereka itu seolah-olah dua orang asing yang baru bertemu dan belum akrab. Hubungan antara mereka
seperti dipaksakan, dan meski pun di luarnya nampak mesra, namun di dalam sudut batinnya, Sin Hong
merasakan suatu kehambaran. Dia pun dapat menduga bahwa perasaan yang sama terdapat dalam batin
isterinya!
Memang harus diakuinya bahwa sikap Siang Cun baik sekali kepadanya dan nampak betapa wanita itu
berusaha keras untuk menjadi seorang isteri yang baik, mencinta, setia dan patuh. Namun tetap saja
terasa olehnya bahwa hubungan di antara mereka bagai dipaksakan, tidak wajar karena tidak adanya
ikatan batin yang berupa cinta kasih.
Segala macam hubungan antara manusia, baik hubungan suami isteri, antara sahabat, orang tua dan
anak, dan sebagainya, pasti akan selalu mendatangkan konflik selama di dalamnya tidak ada dasar cinta
kasih. Cinta kasih ini berarti tidak adanya pementingan diri sendiri. Selama ada pementingan diri sendiri,
cinta kasih tidak akan hadir. Yang ada hanyalah cinta nafsu, dan cinta nafsu ini tidak akan dapat bertahan
lama karena selalu timbul pertentangan antara dua kepentingan yang kadang-kadang saling berlawanan.
Kepentingan si aku bertumbuk dengan kepentingan si kamu dan si dia.
Cinta kasih meniadakan atau setidaknya mengaburkan dan menipiskan kepentingan si aku. Jika sudah
begitu, maka apa pun yang kita lakukan dengan dasar cinta kasih, akan selalu benar dan mendatangkan
kebahagiaan.
Sin Hong mempertahankan keadaan ini dan menutupinya dengan bijaksana, sehingga dia hidup dalam
suasana yang palsu. Pada lahirnya, dia dan isterinya hidup rukun, akan tetapi di dalam hati, keduanya
merasakan suatu kekecewaan, kehilangan sesuatu yang sepatutnya ada dalam kehidupan suami isteri.
Tak seorang pun di luar mereka berdua maklum akan hal ini, kecuali Yo Han!
Anak ini pun tidak tahu dengan jelas, namun dia mengerti dan merasakan dengan jelas, namun dia
mengerti dan merasakan betapa suhu-nya kini sering kali duduk melamun, sering kali duduk sambil
memandang jauh, dengan pikiran melayang-layang dan diam-diam dia merasa kasihan kepada gurunya.
Anak yang berperasaan halus dan berotak cerdas ini dapat menduga bahwa gurunya tidak berbahagia!
Perubahan itu baginya nampak sekali. Ketika gurunya masih hidup menyendiri, hidup berdua dengan dia
dan dalam keadaan serba kekurangan, merantau dengan bebas, gurunya nampak selalu riang. Akan tetapi
setelah menikah, gurunya sering kali duduk melamun.
Dia melihat gurunya seolah-olah seekor burung yang tadinya melayang-layang dengan bebasnya di udara,
kini terkurung di dalam sangkar. Biar pun sangkar itu terbuat dari pada emas, diukir indah dan di dalam
sangkar selalu tersedia makanan dan minuman, namun burung itu tetap saja sering kali mengeluh duka
karena kehilangan kebebasan!
Namun dia tidak dapat berbuat apa pun. Bagi Yo Han, kehidupan di Ngo-heng Bu-koan cukup
menyenangkan. Di sini banyak kawan yang baik, dan dia pun tekun berlatih silat di bawah pimpinan
langsung dari Sin Hong.
Tentu saja Sin Hong membedakan latihan bagi muridnya dengan latihan yang diberikan olehnya kepada
para murid Ngo-heng Bu-koan sebagai usahanya membantu kemajuan perguruan silat mertuanya. Dan
waktu pun meluncur terus, melewati segala suka duka yang menjadi permainan pikiran dan batin
manusia…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Li membaca surat itu dan tidak dapat ditahannya lagi air matanya yang jatuh berderai. Ayah dan
ibunya, Kao Cin Liong dan Suma Hui, duduk di depannya dan suami isteri itu saling pandang, lalu menatap
wajah puteri mereka dengan hati terharu. Mereka berdua sudah lama membujuk Hong Li agar suka
menjatuhkan pilihannya. Sudah terlalu banyak pemuda yang datang meminangnya, akan tetapi gadis itu
selalu menolak.
Walau pun puteri mereka tidak mengaku terus terang, suami isteri itu dapat mengerti bahwa Hong Li
mencinta Sin Hong dan selalu menanti datangnya pemuda yang masih terhitung susiok-nya itu. Dan
karena cintanya itulah maka Hong Li masih belum mau menerima pinangan sekian banyaknya pemuda
pilihan.
Dan pada pagi ini, tiba-tiba suami isteri itu menerima sepucuk surat dari Tan Sin Hong, mengabarkan
bahwa pemuda itu telah menikah dengan puteri ketua Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang. Sesudah
membaca surat ini, mereka bersepakat untuk membiarkan puteri mereka membacanya. Dan pada siang
hari itu, di depan ayah bundanya, Hong Li membaca surat Sin Hong.
Sin Hong telah menikah dengan wanita lain! Begitu membaca surat itu, dunia rasanya gelap bagi Hong Li
dan tanpa dapat ditahannya lagi, air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya setelah ia membaca
surat itu. Surat itu terlepas dari tangannya dan ia menubruk ibunya sambil menangis!
Suma Hui lalu merangkul puterinya, juga berlinang air mata. Ia merasa kasihan sekali kepada puterinya.
Tanpa sepatah pun kata, kedua orang wanita ini saling berangkulan dan sang ibu tahu benar apa yang
dirasakan oleh batin puterinya.
“Sudahlah, anakku. Tenangkan hatimu, tabahkan hatimu. Ada tiga hal dalam hidup ini yang tidak dikuasai
oleh manusia, melainkan diatur oleh Thian sendiri, yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian. Jika dua
orang telah berjodoh, dihalangi bagaimana pun juga akhirnya akan bertemu dan menjadi jodoh. Sebaliknya
kalau memang tidak berjodoh, diusahakan bagaimana pun, akan gagal.”
“Akan tetapi... Ibu..., dia... kenapa dia menikah begitu saja... kenapa tidak memberi tahu lebih dulu
kepadaku... padahal... dia tahu... bahwa aku... aku mengharapkan dia…”
“Sudahlah Hong Li, seorang gagah tidak membiarkan perasaannya hanyut dalam sesal, kecewa dan duka,”
kata Kao Cin Liong dengan sikap tenang. “Agaknya Sin Hong sute merasa bahwa tidak mungkin dia
berjodoh dengan murid keponakannya sendiri, maka dia menikah dengan gadis lain. Segala sesuatu sudah
terjadi dan tidak perlu disesalkan lagi. Sekarang, kuharap engkau berani menghadapi kenyataan dan
pilihlah seorang di antara para peminang yang masih menanti keputusan kita.”
Semangat Hong Li bangkit mendengar ucapan ayahnya. Ia menghapus sisa air matanya dengan ujung
baju ibunya, lalu mundur memisahkan diri dari ibunya, duduk di atas kursi memandang kepada ayah
bundanya, lalu berkata dengan suara yang tenang.
“Ayah dan Ibu ingin sekali agar aku menikah?”
Suami isteri itu saling pandang dan Suma Hui tersenyum. “Anakku, pertanyaanmu itu sungguh lucu.
Engkau adalah anak kami satu-satunya. Engkau adalah seorang anak perempuan dan sekarang engkau
telah lebih dari dewasa. Usiamu sudah dua puluh dua tahun. Ayah dan ibu mana yang tidak ingin melihat
anak perempuannya menikah?”
“Bagaimana dengan Ayah?” tanya Hong Li sambil memandang ayahnya.
Kao Cin Liong batuk-batuk beberapa kali sebelum menjawab. “Aku setuju sekali dengan pendapat ibumu.
Aku sudah ingin menjadi seorang kakek, menimang cucuku, Hong Li.”
Mendengar ucapan ayahnya ini, Hong Li merasa terharu sekali dan ia merasa betapa ia seorang anak
yang tidak berbakti, tidak dapat menyenangkan hati orang tuanya.
“Baiklah, Ayah dan Ibu. Sekarang aku akan menurut, akan tetapi aku tak dapat memilih, Ayah, maka harap
Ayah dan Ibu yang memilihkan untukku. Aku tidak akan menolak lagi...“ Setelah berkata demikian, Hong Li
bangkit, meninggalkan mereka dan memasuki kamarnya lalu melempar tubuhnya di atas pembaringan,
menyembunyikan mukanya di balik bantal.
dunia-kangouw.blogspot.com
Meski pun hati mereka diliputi keharuan dan iba terhadap puteri mereka, namun ada perasaan gembira
bahwa kini Hong Li tidak menolak. Mereka berdua lalu melakukan pemilihan dan akhirnya memilih seorang
pemuda bernama Thio Hui Kong, seorang putera jaksa yang tampan dan juga memiliki ilmu silat yang
cukup kuat di samping ilmu sastra yang cukup baik.
Thio Hui Kong adalah putera tunggal dari Jaksa Thio dan pembesar ini terkenal sebagai seorang jaksa
yang adil dan jujur. Thio Hui Kong itu pun terkenal pula sebagai seorang pemuda yang alim, dan tekun
belajar. Kao Cin Liong dan isterinya merasa yakin bahwa mereka tidak salah pilih. Sudah lama Jaksa Thio
meminang dan selalu mereka minta waktu dan kini dengan gembira mereka menerima pinangan itu.
Pada waktu diberi tahu oleh ayah ibunya bahwa telah ditemukan seorang calon suami untuknya, Hong Li
hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu, akan tetapi di dalam hatinya, dia merasa berduka sekali.
Akan tetapi, dia menahan perasaannya karena dia harus berbakti kepada orang tuanya. Kalau menurut
kehendak hatinya, rasanya ia tidak ingin menikah setelah harapannya terhadap Sin Hong gagal.
Akan tetapi, ia adalah anak tunggal. Jika ia tak dapat menyenangkan hati orang tuanya, berarti dia seorang
anak yang tidak berbakti dan hal itu sungguh tidak diinginkannya. Biarlah ia menerima pilihan orang tuanya
dan menyerahkan diri kepada nasib.
Pernikahan antara Hong Li dan Thio Hui Kong dirayakan secara meriah oleh keluarga Kao. Maklum, Hong
Li adalah anak tunggal dan keadaan orang tuanya memungkinkan untuk merayakan pernikahan itu secara
besar-besaran. Selain itu, juga Thio Hui Kong adalah putera dan anak tunggal Jaksa Thio yang terkenal.
Tidak mengherankan kalau pesta pernikahan itu dirayakan secara besar-besaran dan banyak tamu
diundang untuk menghadiri perayaan itu.
Di antara para tamu, datang pula Tan Sin Hong bersama isterinya. Yo Han tidak diajak walau pun di dalam
hatinya, Yo Han ingin sekali menghadiri pesta pernikahan Hong Li yang sudah dikenalnya dengan baik itu.
Berdebar juga rasa jantung di dalam dada Sin Hong pada saat dia bersama isterinya memasuki ruangan
pesta dengan para tamu lainnya, disambut oleh Kao Cin Liong dan isterinya yang duduk di panggung
sebagai tuan rumah, tidak begitu jauh dengan tempat duduk sepasang mempelai yang berada di tengah
panggung.
Kao Cin Liong dan isterinya hanya dapat menyambut Sin Hong dan isterinya dengan singkat saja karena
banyaknya tamu yang berbondong-bondong datang bersamaan waktunya dengan Sin Hong. Mereka
dipersilakan untuk duduk di ruangan tamu yang sudah disediakan, di depan panggung di mana terdapat
ratusan buah kursi. Lebih dari separuh ruangan itu telah penuh tamu.
Akan tetapi, Sin Hong tidak langsung duduk di ruangan tamu, melainkan mengajak isterinya untuk
menghampiri sepasang mempelai dan memberi selamat. Dia tak merasa kikuk karena bukankah dia masih
termasuk keluarga, walau pun hanya sute dari tuan rumah? Dia sudah memberi penjelasan kepada
isterinya siapa keluarga Kao dan tentu saja dia tak pernah menyinggung soal hubungan batin antara dia
dan mempelai wanita kepada isterinya.
Dari jauh Sin Hong dapat melihat betapa Hong Li nampak cantik jelita dalam pakaian mempelai, namun
wajah Hong Li kelihatan lesu dan tidak membayangkan kegembiraan. Di sampingnya duduk mempelai pria
dan di dalam hatinya, Sin Hong bersyukur melihat betapa gagah dan tampannya mempelai pria itu.
Syukurlah, Hong Li telah memperoleh seorang jodoh yang memang pantas untuk mendampinginya selama
hidup, pikirnya sambil mengajak isterinya melangkah maju perlahan-lahan menghampiri tempat duduk
sepasang mempelai.
“Nona Kao Hong Li, kami mengucapkan selamat atas pernikahanmu, semoga kalian mempelai berdua
hidup berbahagia,” berkata Sin Hong yang mengajak isterinya untuk mengangkat tangan ke depan dada
memberi hormat.
Hong Li memandang dan mata mempelai wanita itu terbelalak ketika ia mengenal Sin Hong. Bedak tebal
yang menutupi wajahnya masih dapat menyembunyikan perubahan mukanya yang langsung berubah
menjadi pucat sekali.
“Kau... kau… Susiok...,“ katanya berbisik. “Dan ini isteri Susiok...?”
Sin Hong mengangguk dan tersenyum. “Benar, ini adalah isteriku.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Li menoleh kepada suaminya dan memperkenalkan. “Ini Susiok Tan Sin Hong dan isterinya, dari kota
Lu-jiang.”
Tadinya Thio Hui Kong mengerutkan alisnya, tetapi ketika mendengar bahwa sepasang orang muda yang
memberi selamat kepada isterinya ini adalah susiok (paman guru) isterinya, kerut di alisnya lenyap dan dia
pun cepat membalas pemberian selamat itu sambil tersenyum. Sin Hong kemudian menggandeng tangan
isterinya, diajaknya pergi meninggalkan sepasang mempelai untuk turut duduk di ruangan yang sudah
disediakan untuk para tamu.
Akan tetapi, baru beberapa langkah saja Sin Hong dan isterinya meninggalkan tempat itu, terdengar Hong
Li mengeluh lalu disusul suara ribut-ribut dari para wanita yang mengerumuni sepasang pengantin untuk
melayani mereka. Ternyata pengantin wanita telah roboh pingsan dalam kursinya!
Tentu saja keadaan menjadi agak sibuk. Kao Cin Liong dan isterinya cepat menghampiri puteri mereka dan
setelah memeriksanya, Kao Cin Liong berkata kepada para tamu yang mendekat bahwa puterinya terlalu
lelah, kurang tidur dan perutnya kosong selama dua hari ini sehingga masuk angin!
Pengantin wanita lalu dipondong masuk ke dalam oleh suaminya dan pesta dilanjutkan tanpa adanya
sepasang mempelai. Keluarga tuan rumah tetap melayani tamu dan memang Kao Cin Liong dan isterinya
tidak mengkhawatirkan keadaan puteri mereka walau pun mereka saling pandang dan maklum bahwa
kehadiran Sin Hong itulah yang membuat puteri mereka mengalami guncangan batin dan menjadi pingsan!
Sementara itu, Sin Hong yang merasa berduka sekali melihat Hong Li roboh pingsan, hal yang menjadi
pertanyaan besar di dalam hatinya, mengajak isterinya ke ruangan yang disediakan untuk para tamu.
Diam-diam dia merasa khawatir sekali.
Hong Li adalah seorang gadis yang keras hati dan tabah, juga gagah perkasa sehingga tidak mudah sakit,
apa lagi masuk angin! Tentu ada sesuatu yang menyebabkan gadis itu pingsan, dan dia merasa khawatir
sekali karena gadis itu pingsan setelah bertemu dengan dia! Agaknya Bhe Siang Cun juga menduga akan
hal ini dan isteri itu cemberut, alisnya berkerut dan terasa betapa tangan dan lengannya kaku ketika
digandengnya menuju ke ruangan tamu.
“Hemmm, kiranya ada apa-apa antara paman dan keponakan! Bagus, ya?” kata Siang Cun dengan suara
berbisik, namun dalam suara itu terkandung penyesalan besar.
“Hushhh, jangan menyangka yang bukan-bukan!” balas Sin Hong, juga berbisik, akan tetapi dia merasa
betapa jurang antara dia dan isterinya menjadi semakin lebar dan kini agaknya tidak ditutupi lagi dengan
kepura-puraan yang manis dan mesra. Isterinya jelas memperlihatkan kekurang senangan hatinya dengan
muka merengut dan pandang mata marah, juga kini isterinya melepaskan tangannya yang digandeng!
“Cun Sumoi...!” Tiba-tiba terdengar seruan seorang pria di antara para tamu.
Siang Cun menoleh dan seketika wajah yang merengut tadi menjadi cerah, berseri dan senyumnya manis
sekali ketika dia mengenal pria muda yang menegurnya itu. Pria itu adalah seorang di antara para suhengnya,
murid ayahnya yang sudah beberapa tahun meninggalkan perguruan.
Suheng-nya itu bernama Ciang Kun, dan ketika ia berusia lima belas tahun, antara ia dan suheng-nya itu
terjalin semacam cinta monyet atau cinta antara dua orang remaja. Cinta itu terputus ketika Ciang Kun
meninggalkan perguruan dan orang tuanya pindah dari kota Lu-jiang ke kota raja. Tak disangkanya di
tempat ini ia akan berjumpa dengan suheng-nya yang pernah disayangnya dan pernah dirindukannya itu.
“Kun-suheng... ! Kau di sini? Mana isterimu?” tanya Siang Cun sambil memandang dan kedua pipinya
berubah kemerahan.
Pemuda yang jangkung dan tampan itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dan menggoyang
tangan kanan, tanda bahwa dia belum menikah. Karena banyak di antara para tamu memandang kepada
mereka, tentu saja mereka tidak dapat leluasa bicara.
“Kun-suheng, datanglah ke Lu-jiang, kami semua sudah rindu padamu!”
Ciang Kun mengangguk. “Baik, aku akan datang berkunjung.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Percakapan itu hanya sampai di situ saja. Mereka harus berpisah sebab terpaksa Siang Cun bersama
suaminya mencari tempat kosong di ruangan yang disediakan untuk para tamu yang berpasangan, yaitu
suami isteri yang datang berdua. Ada tiga ruangan untuk para tamu, yaitu bagian pria, bagian wanita, dan
bagian untuk para tamu yang datang bersama isteri atau suami mereka.
Siang Cun memilih meja yang masih kosong. Meja itu dikelilingi delapan buah bangku dan belum ada
seorang pun tamu yang duduk di situ. Kesempatan duduk berdua ini digunakan oleh Siang Cun untuk
melampiaskan kedongkolan hatinya.
Mereka saling berpandangan, duduk bersanding menghadapi meja bundar. Tak seorang pun di antara
mereka bicara, hanya pandang mata mereka seperti saling menjenguk isi hati mereka.
Kemudian Siang Cun lebih dulu berkata, “Engkau tidak bertanya siapa pria muda yang menegurku tadi?” Ia
sengaja memancing pertengkaran.
Akan tetapi Sin Hong merasa malu kalau harus bertengkar dengan isterinya di tempat pesta itu. Dia
tersenyum dan menjawab halus, “Tanpa bertanya pun aku sudah dapat menduga bahwa dia tentulah salah
seorang suheng-mu yang sudah lama tak bertemu denganmu.”
Mendengar suara suaminya yang lembut dan sikapnya yang tenang, agak berkurang kemarahan Siang
Cun yang bangkit karena cemburu itu. “Dia seorang suheng-ku yang terpandai dan sudah empat atau lima
tahun kami tidak saling berjumpa. Aku gembira sekali dapat bertemu dengan dia di sini! Ketika kita
menikah, ayah tidak dapat mengirim undangan karena tidak tahu di mana dia tinggal.”
Sin Hong tetap tersenyum dan mengangguk. Bagi dia, pertemuan itu sudah sewajarnya kalau
mendatangkan kegembiraan. Dia masih merasa terharu dan tegang mengenang Hong Li yang roboh
pingsan tadi. Pikirannya penuh dengan itu sehingga dia hampir tak memperhatikan keadaan isterinya dan
pertemuan antara isterinya dan suheng isterinya itu pun dilupakannya lagi.
Saat melihat suaminya termenung, Siang Cun segera berkata, “Sebaliknya, pertemuan dengan murid
keponakanmu yang menjadi pengantin itu agaknya sudah menimbulkan kenangan pahit sehingga dia
sampai roboh pingsan. Sebenarnya, ada apakah antara kalian?”
“Tidak ada apa-apa,” berkata Sin Hong sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah diliputi kedukaan.
“Tidak mungkin! Tentu ada hubungan yang istimewa, kalau tidak begitu, tak mungkin ia jatuh pingsan
begitu bertemu dan bicara denganmu!” kata Siang Cun yang meninggikan suaranya sehingga beberapa
buah kepala menoleh ke arah mereka.
Sin Hong mengerutkan alisnya, berbisik, “Tenanglah, di sini bukan tempat untuk ribut-ribut. Nanti saja kita
bicara tentang itu dan aku akan menerangkan segalanya.”
Siang Cun mengangguk, akan tetapi selanjutnya ia bersungut-sungut. Meja itu dipenuhi para tamu yang
berdatangan dan mereka pun mulai pesta makan minum hidangan yang disuguhkan.
Setelah pesta berakhir, para tamu bubaran dan Sin Hong bersama isterinya juga lalu berpamit dari tuan
rumah. Ketika mereka berkesempatan untuk minta diri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, Sin Hong merasa
sepatutnya kalau dia bertanya tentang keadaan Hong Li.
“Suheng, bagaimana dengan kesehatan puterimu? Kuharap dia sudah sehat kembali, Suheng.”
Kao Cin Liong memandang pada sute-nya dengan alis berkerut. Ia tidak menyalahkan sute-nya ini, akan
tetapi hanya menyesali pertemuan antara puterinya itu dengan Sin Hong yang mengakibatkan puterinya
mengalami guncangan batin.
“Ia sudah sehat kembali, terima kasih, Sute.”
Dalam perjalanan pulang ke Lu-jiang, barulah Siang Cun mendapat kesempatan untuk menuntut agar
suaminya suka bicara terus terang mengenai hubungannya dengan Kao Hong Li. Sin Hong menarik napas
panjang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebetulnya, urusannya dengan Hong Li adalah urusan yang hanya dia ketahui sendiri saja, mengenai
perasaan batin antara mereka dan tidak akan diceritakan kepada siapa pun juga. Akan tetapi, tak
disangkanya bahwa kehadirannya dalam pesta pernikahan Hong Li itu membuat Hong Li menderita dan
isterinya menjadi curiga dan cemburu. Kalau dia tidak bicara terus terang, tentu hubungannya dengan
isterinya akan menjadi semakin buruk.
“Sesungguhnya, sama sekali tidak ada apa-apa di antara kami yang perlu dicurigai,” katanya, mencoba
untuk membantah.
“Tidak perlu berbohong. Aku adalah seorang wanita dan aku tahu apa yang telah terjadi. Begitu bertemu
denganmu, ia menderita guncangan hebat. Biar pun mukanya tertutup bedak tebal sehingga tidak nampak,
aku tahu bahwa dia menjadi terkejut, pucat dan matanya membayangkan kedukaan yang amat mendalam.
Suaranya juga menjadi lain, menggetar penuh keharuan. Tidak perlu membohongi aku lagi, ada hubungan.
istimewa apakah antara kalian?”
“Baiklah, Siang Cun, kalau memang engkau ingin sekali mengetahui, aku pun akan berterus terang saja.
Memang tidak dapat kusangkal bahwa dahulu ada pertalian batin antara kami. Kami saling mencinta walau
pun kami tidak pernah menyatakan hal itu dengan kata-kata. Ketahuilah bahwa Hong Li adalah putera
suheng-ku, oleh karena itu kami mengetahui bahwa tidak mungkin menjadi suami isteri. Karena itu, maka
aku lalu pergi meninggalkannya, merantau bersama muridku dan aku tiba di Lu-jiang, lalu terlibat dalam
urusan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang. Sungguh mati, tidak ada hubungan yang buruk dan
cemar di antara kami.”
Siang Cun mendengarkan dengan muka yang berubah agak pucat. “Jadi... jadi itukah sebabnya?” katanya,
seperti kepada diri sendiri.
“Apa maksudmu? Sebab apa?”
“Jadi selama ini, hatimu telah dimiliki orang lain, engkau selama ini tak pernah berhenti mencintanya?
Ahhh, kalau saja aku tahu...,“ Siang Cun mulai menangis. “Pantas kau... kau yang menjadi suamiku tidak
pernah mencintaku...!”
Sin Hong terkejut dan menyentuh lengan isterinya. “Jangan bicara seperti itu, isteriku. Apakah selama
menjadi suamimu aku pernah menyakiti hatimu? Bukankan aku selalu berusaha untuk menjadi seorang
suami yang baik? Aku selalu setia, aku membantu pekerjaan ayahmu, aku tidak pernah bersikap kasar
padamu, aku...“
“Aku tahu! Akan tetapi semua itu palsu, hanya pura-pura. Keramahan dan kemesraan yang dibuat-buat.
Palsu! Engkau tidak pernah cinta padaku!” Siang Cun menangis dan merebahkan kepalanya di atas meja
dalam kamar hotel itu, menyembunyikan muka di dalam lingkaran lengannya.
Sin Hong memandang kepala isterinya itu dengan bingung. Dia seorang laki-laki yang belum
berpengalaman sehingga dia tidak dapat menyelami hati wanita, tidak mengenal watak wanita pada
umumnya.
Wanita selalu haus kasih sayang dari orang lain, terutama kasih sayang pria. Tidak ada kepedihan hati
yang lebih hebat bagi seorang wanita dari pada merasa tidak dicinta pria! Apa lagi bagi seorang isteri!
Yang didambakannya hanyalah kasih sayang suaminya, kasih sayang yang kadang-kadang harus
diperlihatkan melalui pemanjaan!
“Jika memang tak pernah cinta kepadaku, kenapa engkau dulu suka menjadi suamiku? Ahh, engkau hanya
ingin menyiksa hatiku, ingin membuat aku sengsara!” Kembali Siang Cun berkata sambil menangis. Sin
Hong menjadi semakin penasaran ketika masa lalu itu diungkit-ungkit.
“Siang Cun, engkau sungguh bersikap tidak adil sama sekali!” katanya dan walau pun suaranya masih
lembut dan tenang, namun hatinya mulai panas. “Lupakah engkau akan keadaanmu dulu? Engkau hendak
membunuh diri jika tidak kuperisteri, karena merasa malu dan untuk menghapus aib aku harus menjadi
suamimu. Aku kasihan kepadamu, kepada orang tuamu, dan aku melihat engkau adalah seorang calon
isteri yang baik, aku melihat Ngo-heng Bu-koan sebuah tempat dan lingkungan yang baik untuk muridku.
Karena itu aku menerima usul ayahmu dan aku menjadi suamimu. Aku sudah berusaha untuk memupuk
cinta kasih antara kita. Akan tetapi bagaimana mungkin berhasil kalau dari pihakmu tidak ada bantuan?
Engkau sendiri tidak cinta padaku, Siang Cun.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba wanita itu mengangkat mukanya dan muka itu basah air mata, kedua matanya merah. “Tidak
cinta kau bilang? Aku sudah menyerahkan kehormatanku, seluruh diriku, melayanimu tanpa mengeluh, dan
kau masih bilang aku tidak cinta kepadamu?” Siang Cun menangis lagi dan Sin Hong termenung.
Jadi begitukah pendapat isterinya? Karena sudah menyerahkan diri kepadanya, sudah melayaninya, itukah
bukti bahwa isterinya mencintanya? Dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang isterinya
melalui penyerahan diri itu.
Isterinya melakukan hal itu hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang isteri terhadap suami,
lain tidak. Tak ada kasih sayang terkandung dalam pandang matanya, dalam suaranya, atau dalam
sentuhan tangannya.
Agar tidak mendatangkan percekcokan dan pertengkaran yang lebih jauh, dia pun diam saja. Selanjutnya
perjalanan pulang itu dilakukan tanpa kata-kata antara mereka, hanya bicara kalau perlu saja dan
selebihnya hanya gelengan atau anggukan!
Setelah mereka berdua tiba di Lu-jiang, mulai saat itu terdapat suatu keretakan atau kerenggangan di
antara mereka. Mulailah keduanya merasa tersiksa. Terjadi semacam perang dingin di antara mereka,
tidak saling menegur dan hanya bicara seperlunya saja. Tidur pun mereka saling membelakangi, bahkan
akhirnya karena tak tahan menghadapi keadaan seperti itu, Sin Hong tidur di atas lantai, membiarkan
isterinya tidur sendiri di atas pembaringan mereka.
Akan tetapi di luar kamar, terutama di depan Bhe Gun Ek dan isterinya, suami isteri ini memaksa diri
bersandiwara dan bersikap biasa saja. Biar pun demikian, Bhe Kauwsu dan isterinya dapat melihat
perubahan sikap mereka dan menduga bahwa tentu ada sesuatu yang mengganggu keakraban puteri dan
mantu mereka itu.
Kunjungan Ciang Kun, bekas murid Bhe Kauwsu, mendatangkan kegembiraan pada diri Siang Cun. Wanita
muda ini menyambut suheng-nya dengan sikap gembira dan akrab sekali, dan sebaliknya Ciang Kun juga
jelas memancarkan sinar kasih sayang dan birahi dalam pandang matanya terhadap sumoi-nya itu.
Hal ini nampak jelas oleh Sin Hong, akan tetapi dia diam saja dan pura-pura tidak tahu akan hal ini,
bersikap wajar terhadap Ciang Kun. Akan tetapi, kunjungan Ciang Kun ini makin memperlebar jurang
pemisah antara suami isteri muda yang belum ada setahun menjadi suami isteri itu, dan membuat Sin
Hong makin sering melamun seorang diri.
“Suhu, kenapa Suhu kelihatan berduka selalu selama beberapa hari ini? Apa lagi sejak Suhu pulang dari
menghadiri pernikahan enci Hong Li, Suhu nampak semakin berduka saja dan banyak melamun. Ada
urusan apakah, Suhu?”
Sin Hong memaksa diri tersenyum. Ia tak heran melihat ketajaman mata muridnya dan keberanian
muridnya bertanya kepadanya. Muridnya ini memang lebih pantas menjadi adiknya atau keluarga yang
amat dekat, yang amat sayang kepadanya, juga amat setia dan berbakti.
“Tidak ada apa-apa, Yo Han. Ini urusan orang dewasa, keberi tahu pun engkau tidak akan mengerti.”
Anak itu mengamati wajah gurunya beberapa lamanya. Dia sangat hafal akan wajah gurunya yang selalu
diterangi kelembutan itu, maka dia melihat perubahan yang amat besar pada wajah itu. Kini gurunya
nampak seperti orang yang berduka, ada garis-garis di sekeliling kedua matanya dan kerut merut di antara
kedua alisnya. Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada gurunya.
“Suhu, apakah ada sesuatu yang buruk antara Suhu dan Subo?”
Sin Hong terkejut sekali dan dengan alis berkerut dia memandang muridnya. “Yo Han! Omongan apa yang
kau keluarkan itu? Jangan sembarangan bicara kau! Berani kau mengatakan begitu tentang subo-mu (ibu
gurumu)?” Biar pun berlawanan dengan suara hatinya, Sin Hong terpaksa membentak dan menegur
muridnya karena sikapnya ini memang sudah sepatutnya dan Yo Han terlalu berani bicara.
“Suhu, teecu tidak bicara ngawur atau sembarangan saja, melainkan dengan alasan kuat, dan teecu bukan
sekedar ingin tahu, melainkan teecu ingin sedapat mungkin membantu Suhu mengatasi kedukaan Suhu.
Tadi Suhu mengatakan bahwa urusan itu adalah urusan orang dewasa, berarti Suhu mempunyai masalah
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan mertua atau dengan isteri. Tetapi mengingat bahwa Suhu baru saja pergi ke undangan pernikahan
puteri supek di Pao-teng bersama Subo, dan mengingat pula akan hubungan cinta antara Suhu dan enci
Hong Li dahulu, maka teecu menduga bahwa tentu ada sesuatu yang buruk terjadi antara Suhu dan Subo.
Suhu adalah seorang yang bijaksana dan gagah, mengapa Suhu harus tenggelam dalam kedukaan dan
tidak bertindak mengatasi semua masalah sehingga beres?”
Sin Hong diam-diam terkejut dan juga kagum. Muridnya ini memang memiliki kecerdikan yang luar biasa
dan jalan pikirannya sudah demikian dewasa. Apakah hal ini karena gemblengan keadaan hidupnya yang
penuh derita, ataukah memang pembawaan yang dibawa semenjak lahir, dia tidak tahu. Dia menarik napas
panjang, tidak jadi marah mengingat bahwa kelancangan muridnya ini terdorong oleh rasa cintanya
kepadanya, keinginannya untuk membantu.
“Sudahlah, Yo Han. Urusanku ini tidak dapat kuceritakan kepada siapa pun juga, apa lagi kepada engkau
yang masih kecil. Engkau takkan dapat membantu, tak seorang pun di dunia ini akan dapat membantu.
Hanya Thian saja yang akan dapat menjernihkan persoalan ini. Sudah, jangan ganggu aku lebih lama lagi.
Pergilah berlatih, bukankah engkau mengalami kesulitan dengan jurus kedua belas dari Pat-mo Sin-kun
(Silat Sakti Delapan Iblis) itu? Latihlah lagi dengan tekun, akan tetapi di dalam kamarmu, jangan
perlihatkan kepada murid Ngo-heng Bu-koan yang lain.”
“Baik, Suhu, dan maafkan teecu. Akan tetapi ada satu pertanyaan lain mengenai latihan ini. Suhu
mengajarkan Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun kepada teecu, akan tetapi kenapa tidak kepada para
murid lain?”
Sin Hong tersenyum. “Yo Han, engkaulah satu-satunya muridku, oleh karena itu engkau berhak
mempelajari ilmu-ilmu yang kudapatkan dari para penghuni Istana Gurun Pasir. Murid-murid Ngo-heng Bukoan
tentu saja hanya mempelajari ilmu silat yang diajarkan di perguruan ini oleh ayah mertuaku, dan aku
hanya sekedar membantu mereka dalam memperbaiki gerakan mereka saja.”
“Terima kasih, Suhu, sekarang teecu mengerti. Dan maafkan kelancangan teecu tadi, sesungguhnya teecu
hanya ikut merasa prihatin dan ingin sekali membantu.”
“Aku mengerti, sudahlah, kau berlatih sana Yo Han!” kata Sin Hong sambil mengangguk dan tersenyum.
Perih hati Yo Han melihat senyum suhu-nya itu. Tidak begitu senyum suhu-nya dahulu. Dulu suhu-nya
kalau tersenyum, bebas lepas dan memancarkan kebahagiaan hatinya. Kini, senyum itu pahit dan seperti
di luar saja, menutupi sesuatu yang menyedihkan, senyum hiburan saja.
Yo Han merasa penasaran sekali. Ia dapat menduga bahwa tentu ada ‘apa-apa’ antara suhu-nya dan
subo-nya. Ia seorang anak yang cerdik sekali. Ia pun melihat kedatangan Ciang Kun yang disambut
demikian gembira oleh subo-nya.
Sebagai seorang anak yang cerdik dan amat disukai oleh para murid lain di Ngo-heng Bu-koan, akhirnya
Yo Han dapat mengorek keterangan bahwa Ciang Kun adalah murid Ngo-heng Bu-koan yang sudah
beberapa tahun meninggalkan perguruan dan pindah ke kota raja, dan terutama sekali keterangan bahwa
antara Ciang Kun dan subo-nya itu pernah terjalin hubungan cinta pada saat keduanya masih remaja!
Inikah masalah yang menyedihkan hati gurunya?
Akan tetapi, gurunya itu sudah berduka dan berubah lama sebelum Ciang Kun muncul! Bagaimana pun
juga, dia merasa amat penasaran dan karena dia merasa yakin bahwa kedukaan gurunya itu karena ada
sesuatu dengan isteri gurunya, maka dia pun ingin menyelidiki keadaan subo-nya! Hanya itulah yang dapat
dia lakukan dalam usahanya membantu gurunya. Dia akan menyelidiki subo-nya, mendekati subo-nya dan
kalau mungkin memancing keterangan dari subo-nya!
Pada suatu malam yang sunyi. Sejak siang tadi, gurunya pergi dan kepada semua keluarga berpamit
hendak pergi berburu ke dalam hutan di sebelah barat karena banyak penduduk di lembah Yang-ce sekitar
hutan itu yang mengeluh akan adanya gangguan harimau yang mengganas sampai ke dusun-dusun.
Mendengar ini, Sin Hong lalu pergi untuk berburu harimau yang mengganggu penduduk itu, yang kabarnya
bahkan sudah membunuh tiga orang penduduk dusun.
Dia tidak mengajak Yo Han karena maklum bahwa dalam perburuan ini terdapat bahaya besar bagi orang
yang belum memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Yo Han berlatih silat di kamarnya, kemudian setelah
dunia-kangouw.blogspot.com
sunyi dia meninggalkan kamarnya dan berindap pergi ke dalam taman. Dia bermaksud untuk berlatih di
dalam taman itu yang hawanya sejuk dan malam itu malam terang bulan.
Akan tetapi ia harus berhati-hati, keluar dari kamarnya dengan sembunyi-sembunyi agar jangan terlihat
oleh murid lain. Tentu gurunya akan ditegur oleh para murid lain kalau mereka melihat dia berlatih dalam
ilmu silat yang asing, dan mungkin para murid itu lalu menuntut kepada gurunya untuk mengajarkan ilmu
silat itu pula.
Yo Han menyelinap di antara pohon-pohon sehingga akhirnya dia tiba di tengah taman di mana terdapat
sepetak rumput yang amat enak untuk dipakai sebagai tempat berlatih silat. Akan tetapi, baru saja dia
hendak mulai berlatih, tiba-tiba dia meloncat dan sekali bergerak dia sudah menyusup dan mendekam di
balik semak-semak. Dia mendengar suara orang! Karena terkejut, takut kalau latihannya kepergok, maka
dia menyusup dan bersembunyi ke balik semak-semak itu.
Muncullah dua orang yang membuat jantung dalam dada Yo Han berdebar tidak karuan saking tegangnya.
Subo-nya jalan berdampingan dengan Ciang Kun, suheng-nya yang pernah dilihatnya beberapa hari yang
lalu itu. Menurut keterangan yang diperolehnya, Ciang Kun yang telah sepekan berada di Lu-jiang, tinggal
di rumah seorang pamannya. Sungguh janggal sekali melihat subo-nya berjalan-jalan di dalam taman
bersama Ciang Kun, berdua saja pada saat suhu-nya tidak berada di rumah!
Keduanya tiba di tengah taman yang sunyi itu dan Yo Han melihat mereka duduk berdampingan di atas
bangku panjang yang terdapat di situ, tidak jauh dari tempat dia bersembunyi sehingga bukan saja dia
dapat melihat mereka di bawah sinar bulan, juga dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas!
“Suheng, janganlah terlalu menyalahkan aku kalau aku menikah dengan orang lain. Bukan sekali-kali aku
telah melupakanmu, Suheng, ahh, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Aku menikah dengan dia
hanya karena aku harus mencuci aib dan malu akibat perbuatan si jahanam Phoa Hok Ci.”
“Tapi, Sumoi, apakah engkau sekarang berbahagia dengan dia?”
Siang Cun menundukkan mukanya dan menggeleng, “Sama sekali tidak. Dia tidak cinta padaku, Suheng,
dia mencinta wanita lain yang kini menikah dengan orang lain.”
“Ahh, mengapa begitu? Cun-sumoi, engkau tahu bahwa selama ini aku tidak pernah melupakanmu. Aku
tetap cinta padamu, Sumoi...“
“Aku... aku juga, Suheng...“
Dengan mata terbelalak Yo Han yang mengintai melihat betapa subo-nya kini dirangkul oleh Ciang Kun
dan mereka berpelukan, dan berciuman! Agaknya keduanya demikian bergelora dibakar oleh nafsu birahi
sehingga gairah yang memuncak itu membuat kedua orang itu seperti terguling dari atas bangku dan
mereka masih terus berpelukan di atas rumput!
Yo Han sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan
menghampiri mereka yang masih bergelut di atas rumput.
“Subo...!”
Akan tetapi, dua orang yang sedang terbakar oleh nafsu birahi itu, tidak mendengar suara ini dan mereka
masih saling berciuman dan bergulingan di atas rumput seperti dua ekor ular bergelut.
“Subo...!” Yo Han berteriak lebih nyaring lagi.
Sekali ini mereka berdua terkejut. Cepat keduanya meloncat bangkit dan berdiri dengan mata terbelalak
memandang kepada Yo Han. Rambut Siang Cun kusut, pakaiannya juga lusuh dan mukanya agak pucat,
napasnya masih terengah-engah.
“Yo Han...! Kau... kau… kenapa kau bisa ada di sini...?!” bentaknya untuk memulihkan ketenangannya
karena ia merasa terkejut bukan main melihat anak itu tiba-tiba berada di situ dan jelas bahwa anak itu
telah melihat perbuatannya bersama Ciang Kun tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, Yo Han tak gentar ketika dibentak oleh subo-nya. Dia terlalu marah melihat perbuatan subonya
tadi. Meski dia masih kecil, namun dia tahu apa artinya perbuatan subo-nya tadi. Subo-nya telah
menyeleweng! Subo-nya telah bermain cinta dengan pria lain, telah mengkhianati suami sendiri!
Tahulah dia kini mengapa suhu-nya selalu berduka. Kiranya subo-nya ini tidak cinta kepada suhu-nya, dan
agaknya subo-nya tahu bahwa suhu-nya dahulu mencinta wanita lain, yaitu Kao Hong Li. Dan kini subonya
dengan berani sekali telah mencemarkan kesucian rumah tangganya sendiri. Ini berarti suatu
penghinaan besar bagi gurunya!
“Subo! Apa yang sedang Subo lakukan ini? Sungguh tidak tahu malu sekali! Subo telah mengkhianati
suhu! Subo telah menghina suhu-ku!”
“Tutup mulut, keparat!” Siang Cun membentak marah, juga malu karena merasa dimaki oleh anak kecil itu.
Sementara itu, Ciang Kun melangkah maju dan menghardik Yo Han. “Engkau ini anak kecil tahu apa?
Hayo pergi atau akan kupukul kepalamu!”
Melihat sikap ini, Yo Han menjadi semakin marah. “Ciang Kun, engkaulah yang perlu dipukul setengah
mati! Engkau tahu, Subo adalah isteri suhu, dan engkau sudah berani mengganggunya, berani
menggodanya! Engkau ini lelaki macam apa? Tidak tahu malu, merusak kerukunan rumah tangga orang!
Engkau sudah menghina suhu dan engkau layak dihajar!”
“Keparat, bocah bermulut busuk!” Ciang Kun membentak.
Siang Cun yang khawatir kalau Yo Han akan membuat ribut, lalu melanjutkan, “Yo Han, sudahlah engkau
anak kecil yang tidak tahu urusan. Ini adalah urusanku sendiri. Engkau jangan ribut dan jangan
menceritakan kepada siapa saja, nanti kuberi hadiah.”
Yo Han menjadi semakin marah. Janji hadiah asal dia menutup mulut itu merupakan hinaan besar sekali
baginya.
“Subo, aku tidak akan tinggal diam. Akan kuberi tahukan kepada Bhe Kauwsu. Akan kuberi tahukan
kepada siapa saja perbuatan kalian yang tidak tahu malu ini!” Yo Han terengah-engah, dadanya naik turun
saking marahnya. Kemarahan yang timbul karena duka dan prihatin melihat nasib gurunya yang dikhianati
isteri sendiri!
“Bocah gila! Ketahuilah, kami sudah saling mencinta sebelum gurumu datang ke sini!” bentak Ciang Kun.
“Manusia tak tahu malu! Tapi Subo kini telah menjadi isteri orang, menjadi isteri suhu! Butakah matamu,
tulikah telingamu?”
“Anak jahat, engkau bermulut busuk, layak dihajar!” kata Ciang Kun dan dia sudah melangkah maju dan
mengirim tendangan ke arah Yo Han.
Tendangan itu cukup keras dan kalau mengenai tubuh Yo Han, tentu akan membuat anak itu terpelanting
dan menderita luka yang cukup parah. Akan tetapi, tidak percuma selama ini Yo Han mempelajari ilmu silat
dari gurunya dengan tekun. Sambaran kaki itu dapat dielakkannya dengan mudah, dengan miringkan tubuh
dan menggeser kaki ke kanan.
Melihat ini, Ciang Kun menjadi semakin penasaran dan marah. Dia bukan saja murid tingkat pertama dari
Bhe Kauwsu, akan tetapi juga selama beberapa tahun ini di kota raja, dia telah memperdalam ilmu silatnya
dari guru-guru yang lebih pandai lagi. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, ia menyerang lagi, kini
dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala Yo Han, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pundak.
Serangan ini cepat dan kuat sekali. Namun, Yo Han sudah siap dengan gerakan ilmu silat Pat-mo Sin-kun
yang sedang dipelajarinya. Karena setiap hari berlatih ilmu ini, otomatis ketika menghadapi serangan, dia
pun langsung saja menggerakkan tubuhnya sesuai dengan ilmu silat yang dipelajarinya ini.
Kembali kedua kakinya bergeser sambil melangkah mundur dan ketika kedua tangan lawan sudah
menyambar luput, dia pun maju dan membalas dengan pukulan ke arah perut orang! Menurut ilmu silat itu,
pukulan ini ditujukan ke arah ulu hati lawan, akan tetapi karena tubuh lawan jauh lebih jangkung, Yo Han
yang memukul dengan gerakan lurus ke depan itu menyerang perut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciang Kun menggerakkan tangan hendak menangkap lengan anak yang memukul itu. Akan tetapi Yo Han
sudah menarik kembali pukulannya dan ini sesuai dengan jurus itu, dan tiba-tiba sekali tubuhnya sudah
membuat gerakan memutar ke sebelah kiri lawan dan begitu kakinya bergerak, dia sudah menendang ke
arah sambungan lutut.
“Dukkk!”
Lutut Ciang Kun kena ditendang. Tetapi Ciang Kun memiliki kekebalan dan tendangan Yo Han tentu saja
kurang kuat maka tendangan itu hanya membuat Ciang Kun meringis tanpa mampu menjatuhkannya.
Ciang Kun menjadi malu dan marah sekali, dan dia menyerang kalang kabut, terus mendesak Yo Han
sehingga anak ini terpaksa harus berloncatan dan mengelak ke sana-sini.
Sampai sepuluh kali Ciang Kun menyerang bertubi-tubi dan selalu dapat dielakkan oleh Yo Han. Hal ini
membuat Ciang Kun marah bukan main, juga malu karena di depan kekasihnya dia seperti dipermainkan
seorang bocah. Makin gencar dia menyerang dan ketika Yo Han mundur mengelak, kakinya terbentur akar
pohon dan anak itu pun roboh terlentang! Melihat anak itu roboh, Ciang Kun tidak menghentikan
serangannya, bahkan maju dan mengirim tendangan ke arah kepala dengan kuatnya!
“Suheng, jangan!” teriak Siang Cun khawatir melihat tendangan suheng-nya yang dapat membahayakan
nyawa Yo Han kalau mengenai kepala.
Akan tetapi terlambat. Dalam kemarahannya karena merasa dipermainkan oleh seorang anak kecil, Ciang
Kun sudah lupa diri dan biar pun dia tahu bahwa tendangannya itu berbahaya, dia sudah tidak mampu
menarik kembali kakinya.
“Tukkk!”
Sebuah kerikil mengenai sepatu Ciang Kun, demikian kuatnya sehingga Ciang Kun berseru kaget dan
tendangannya tertahan dan meleset sehingga tidak mengenai kepala Yo Han. Sesosok bayangan putih
berkelebat dan Sin Hong sudah berdiri di situ. Dialah yang melempar kerikil tadi menyelamatkan muridnya.
“Pengecut, menyerang seorang anak kecil!” Sin Hong mencela.
Akan tetapi Ciang Kun yang sudah marah, kini melotot kepada Sin Hong, suami dari kekasihnya yang
dianggapnya telah merebut kekasihnya dari tangannya itu. Dia sudah mendengar akan kelihaian Sin Hong,
tetapi justru hal ini yang memanaskan perutnya dan dia ingin sekali menguji kepandaian suami kekasihnya.
Sekarang ada alasan untuk menentangnya.
“Hemm, anak setan ini terlalu kurang ajar, agaknya tak pernah memperoleh pendidikan yang patut dari
gurunya! Memang aku hendak menghajarnya karena gurunya tidak mampu mendidiknya. Kalau gurunya
hendak membelanya, silakan!”
Sin Hong tersenyum pahit. Sebetulnya, sudah semenjak tadi ia pulang dan memergoki penyelewengan
isterinya. Dia melihat pula isterinya bergumul dengan Ciang Kun di atas rumput tadi. Dia kagum melihat
pembelaan muridnya yang begitu berani mati menegur subo-nya untuk membela gurunya.
Dia dapat menebak apa yang berkecamuk di dalam hati pria ini. Agaknya pria ini ingin memperlihatkan di
depan kekasihnya bahwa dia tidak kalah oleh suami kekasihnya!
“Bagus! Kalau aku katakan bahwa bukan muridku yang kurang ajar, melainkan engkau yang tidak tahu diri,
tidak tahu malu dan pengecut, engkau mau apa?”
Ciang Kun terbelalak dan marah sekali. “Keparat, engkau menantang?!” katanya.
Dia sudah menerjang ke depan dengan tangannya digetarkan, dan ketika dibuka maka nampaklah tangan
itu tergetar dan warna telapak tangannya berubah agak kemerahan! Maklumlah Sin Hong bahwa dia
berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu telapak tangan Ang-see-jiu (Telapak Tangan Pasir Merah),
yaitu tangan itu telah dilatih dengan memukuli pasir merah panas yang direndam racun. Pukulan telapak
tangan seperti itu mengandung racun panas yang dapat melumpuhkan otot yang membakar daging kulit!
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam dia marah. Ciang Kun ini adalah murid pertama Bhe Kauwsu dan tentu saja sudah tahu bahwa
dia adalah mantu Bhe Kauwsu. Biar pun ada urusan cinta antara dia dan Siang Cun, namun tidak
sepantutnya kalau sekarang menyerangnya dengan ilmu sekeji itu. Terlintas dalam otaknya untuk
melumpuhkan ilmu itu dan memberi hajaran dengan mematahkan tulang lengan itu.
Akan tetapi dia segera teringat. Orang ini hendak memamerkan kepandaiannya kepada Siang Cun, dan
belum tentu dia menggunakan Ang-see-jiu karena hatinya yang kejam. Mungkin dia sudah mendengar
bahwa yang menjadi lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka agar jangan sampai kalah, kini begitu
menyerang, dia menggunakan ilmu yang diandalkan. Ingatan ini menyabarkan pula hatinya dan dia pun
mengelak ketika pukulan itu lewat.
Untuk menghadapi seorang lawan setingkat Ciang Kun ini, meski memiliki Ang-see-jiu, Sin Hong tidak mau
mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Tangan Putih). Dia bahkan menyambut
hantaman telapak tangan merah itu dengan telapak tangannya sendiri sambil menggunakan Tenaga Inti
Bumi, hanya secukupnya saja untuk mengimbangi kekuatan lawan yang dapat diukurnya dari sambaran
hawa pukulannya.
“Plakkk!”
Dua telapak tangan bertemu dan melekat! Ciang Kun terkejut. Dia memang bukan orang jahat dan sama
sekali tak ingin mencelakai lawan, tetapi hanya untuk mengalahkannya atau mengimbanginya. Kini,
lawannya itu menerima Ang-see-jiu dan telapak tangan mereka melekat. Dia tidak mampu lagi menarik
kembali tangannya.
Akan tetapi, tiba-tiba dia terbelalak. Lawannya sama sekali tidak menderita oleh hawa beracun telapak
tangannya, bahkan dia sendiri yang merasa ada hawa panas masuk dari telapak tangannya itu membuat
lengannya seperti lumpuh.
“Pergilah!” Sin Hong mendorong dan tubuh Ciang Kun terjengkang.
Akan tetapi karena Sin Hong mengukur tenaganya, Ciang Kun tidak terluka dan pemuda ini marah sekali.
Siang Cun menahan jeritnya, kemudian dia menghampiri Ciang Kun dan membantunya bangkit berdiri.
Ciang Kun merasa malu, wajahnya memerah dan dia menjadi nekat. Dalam beberapa gebrakan saja dia
telah jatuh terjengkang, di depan kekasihnya lagi! Hati siapa yang tidak akan merasa malu? Sambil
mengeluarkan bentakan nyaring, dia sudah mencabut pedangnya dan kini dia menyerang Sin Hong
dengan kemarahan memuncak.
“Suheng, jangan...!” Siang Cun berseru, akan tetapi suheng-nya yang sudah nekat itu tidak peduli.
Melihat hal ini, Sin Hong tersenyum mengejek dan dengan mudah saja dia mengelak sampai lima kali
serangan.
“Ciang Kun, hentikan seranganmu, kalau tidak, terpaksa aku akan membuatmu malu dan merobohkanmu!”
kata Sin Hong.
Akan tetapi, Ciang Kun tidak menjawab dan tidak pula menurut, bahkan memutar pedangnya semakin
gencar melakukan serangan bertubi-tubi. Siang Cun yang maklum bahwa kalau dilanjutkan, suheng-nya
yang menjadi kekasihnya itu tentu akan benar-benar roboh oleh suaminya yang ia tahu amat sakti, lalu
maju pula sambil memegang pedangnya.
“Engkau tidak boleh merobohkannya!” bentaknya sambil maju mengeroyok Sin Hong! Melihat ini, Yo Han
terbelalak.
“Sungguh penasaran! Penasaran...!” teriaknya dengan nyaring. Melihat betapa gurunya dikeroyok oleh
isterinya sendiri dan kekasih isteri gurunya, dia sungguh marah bukan main.
Sin Hong sendiri menjadi serba salah. Tentu saja dia tidak gentar, dan biar ditambah beberapa orang lagi
yang mengeroyoknya, dia yakin masih akan mampu mencapai kemenangan. Akan tetapi sungguh tidak
mungkin kalau dia harus menjatuhkan isterinya sendiri, walau pun isterinya telah bersikap tidak patut,
membantu kekasih gelapnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu! Kalau Suhu tak mau memperlihatkan kelihaian, teecu akan merasa malu sekali! Disangkanya Suhu
takut!” berkali-kali Yo Han berseru dan suaranya ini berpengaruh juga.
Sin Hong tadinya hanya mengandalkan kegesitannya untuk mengelak ke sana sini. Tapi, mendengar
seruan muridnya, dia teringat akan pedang Cui-beng-kiam yang selalu disimpan di balik jubahnya. Ada
jalan untuk menghentikan serangan kedua orang itu tanpa melukai mereka, pikirnya.
Sekali tangannya bergerak, nampak sinar yang menyilaukan mata dan ada hawa yang amat menyeramkan
menyambar. Sinar itu bergulung-gulung dan menyambar dua kali, terdengar bunyi nyaring dan dua batang
pedang di tangan Siang Cun dan Ciang Kun yang kena disambar sinar itu menjadi buntung! Ketika mereka
berdua memandang, pedang Cui-beng-kiam di tangan Sin Hong sudah masuk lagi ke dalam sarungnya di
balik baju pemuda berpakaian putih itu!
Wajah Ciang Kun menjadi pucat sekali, akan tetapi dia masih sempat saling berpegang tangan dengan
Siang Cun. Pada saat itu, terdengar suara gaduh dan muncullah Bhe Kauwsu dan para murid Ngo-heng
Bu-koan.
“Apa yang telah terjadi di sini...?” katanya dengan mata terbelalak memandang kepada mantunya lalu
kepada puterinya, kemudian kepada Ciang Kun, dan yang terakhir pada Yo Han, dan pada gagang pedang
buntung di tangan puterinya dan Ciang Kun.
Sin Hong merasa tidak enak sekali. Sama sekali dia tidak ingin membuka rahasia yang akan mencemarkan
nama baik isterinya, apa lagi di situ sedang terdapat banyak murid Ngo-heng Bu-koan yang
mendengarkan.
“Hanya suatu kesalah pahaman saja, Ayah,” kata Sin Hong kepada mertuanya, “Salah paham antara Yo
Han dan Suheng Ciang Kun yang kemudian melibatkan diriku. Tidak ada apa-apa...”
“Suhu! Mengapa Suhu berkata demikian? Inilah saatnya yang terbaik bagi Suhu untuk membebaskan diri
dari sumber kedukaan! Bukankah Suhu mengajarkan teecu supaya selalu jujur dan tidak berbohong?”
“Yo Han...!” Sin Hong membentak, tetapi dia lalu memandang kepada ayah mertuanya. “Sebaiknya kalau
kita bicara di dalam saja, ini urusan keluarga.”
Bhe Kauwsu memandang kepada puterinya yang menangis dan dia pun lalu mengerti, mengangguk dan
membubarkan para murid, kemudian mengajak Sin Hong, Yo Han dan Siang Cun masuk ke dalam.
“Dia bersangkutan dengan perkara ini, hendaknya ikut bicara di dalam,” kata Yo Han sambil menunjuk
kepada Ciang Kun.
Sin Hong diam saja. Bhe Kauwsu yang sudah mengenal Yo Han sebagai anak cerdik yang jalan pikirannya
seperti orang dewasa, lalu menyuruh Ciang Kun ikut.
Pemuda ini ikut masuk ke dalam rumah sambil menundukkan mukanya, hatinya tegang dan khawatir
karena sekarang dia baru sadar, betapa dia telah melakukan hal yang salah sama sekali. Juga dia merasa
gentar kalau mengenang kembali betapa saktinya Sin Hong yang telah membuat dia dan Siang Cun tak
berdaya hanya dalam segebrakan saja. Bahkan kalau Sin Hong menghendaki dia dan kekasihnya itu tentu
sudah tewas di ujung pedangnya.
Begitu tiba di dalam rumah, saat disambut oleh isteri Bhe Kauwsu, Siang Cun menubruk ibunya dan
menangis. “Ibu... Ayah... aku... aku minta agar diceraikan dari dia...“
Mendengar ucapan puterinya itu, tentu saja Bhe Kauwsu terkejut bukan main. Dia dan isterinya memang
sudah menduga bahwa ada ketidak cocokan antara puterinya dan mantunya, akan tetapi tidak menyangka
sampai sehebat itu.
“Siang Cun!” bentaknya marah karena merasa tidak enak dan malu. “Omongan apa yang kau keluarkan
itu?” Karena melihat puterinya hanya menangis tersedu-sedu dalam rangkulan isterinya, Bhe Kauwsu lalu
menoleh kepada mantunya dan bertanya, “Sin Hong, apakah yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa Siang
Cun bersikap seperti itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak perlu kiranya saya bicara terlalu banyak,” kata Sin Hong setelah berpikir secara mendalam dan
mengambil suatu keputusan dalam hatinya. “Ayah dan ibu mertua sudah mendengar sendiri kata-kata
Siang Cun. Dia tidak akan berbahagia kalau terus hidup sebagai isteri saya. Oleh karena itu, satu-satunya
jalan terbaik hanyalah memenuhi permintaannya, yaitu perceraian antara kami berdua.”
Tentu saja Bhe Kauwsu dan isterinya terkejut bukan main. Sampai saat ini ia yakin akan kebijaksanaan
mantunya itu, dan tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka pendekar itu berkata demikian. Dan
perceraian merupakan hal yang akan mencemarkan nama baik keluarganya!
“Tetapi… bagaimana begitu mudahnya membikin putus hubungan perjodohan? Begitu mudahnya kalian
bercerai, padahal belum genap setahun kalian menjadi suami isteri?” Bhe Kauwsu berkata dengan suara
penuh penyesalan.
“Harap maafkan. Siang Cun yang minta cerai dan saya hanya menyetujui usulnya demi kebahagiaan kami
masing-masing, kami akan mengambil jalan hidup sendiri,” kata pula Sin Hong.
Ketika Yo Han memandang kepada gurunya, dia melihat sinar mata gurunya kepadanya dan maklumlah ia
bahwa ia tidak boleh banyak bicara. Diam-diam ia semakin kagum. Gurunya memang seorang laki-laki
sejati, seorang yang berjiwa agung dan tidak mau membikin malu isterinya hanya demi penonjolan
kebenaran diri sendiri saja, walau pun isterinya sudah melakukan hal yang paling menyakitkan bagi
perasaan seorang suami, yaitu penyelewengan.
“Tapi... tapi... ahh, kenapa semudah ini? Anak kami adalah seorang wanita, dan kalau bercerai berarti dia
menjadi janda. Dan kami sebagai orang tuanya tentu saja akan menderita malu dan...“
“Harap Ji-wi (Anda berdua) tenang saja, karena sesungguhnya, ada calon suami yang lebih cocok untuk
Siang Cun, yaitu Ciang Kun inilah. Siang Cun akan hidup berbahagia sebagai isterinya.” Sebelum kedua
orang bekas mertuanya itu menjawab, Sin Hong sudah mendahului mereka. “Terus terang saja, antara
Siang Cun, Ciang Kun, dan saya sendiri telah ada saling pengertian dalam hal ini. Kami akan bercerai
dengan baik, saya akan pergi bersama murid saya untuk mengambil jalan hidup sendiri sedangkan ia akan
menjadi isteri yang saling mencinta dengan Ciang Kun. Ji-wi dapat minta penjelasan mereka sedangkan
saya dan Yo Han akan berkemas karena sekarang juga kami akan pergi dari sini.” Tanpa menanti jawaban,
Sin Hong menggandeng tangan Yo Han untuk membenahi pakaian mereka.
Bhe Kauwsu dan isterinya saling pandang dan mereka yang sudah berusia lanjut dan banyak pengalaman,
sedikit banyak dapat meraba apa yang telah terjadi.
“Siang Cun! Benarkah apa yang dikatakan oleh Sin Hong itu tadi? Bahwa engkau dan dia sudah
bersepakat untuk berpisah, dan hendak melanjutkan hidup di samping Ciang Kun sebagai isterinya?”
Siang Cun yang sejak tadi tidak berani mengangkat muka, kini mengangkat muka yang pucat dan basah
air mata, lalu mengangguk!
“Bagaimana ini, Ciang Kun? Benarkah begitu? Sekarang Siang Cun hendak berpisah dari suaminya dan
kemudian menjadi isterimu?”
Tadi Ciang Kun juga menunduk karena merasa bersalah dan sudah merasa cemas kalau-kalau Sin Hong
mengadukan peristiwa tadi, maka dia merasa semakin terpukul oleh sikap jantan dari Sin Hong, merasa
malu sekali akan tetapi juga berterima kasih kepada Sin Hong. Dia pun mengangguk.
Bhe Kiauwsu maklum apa yang sudah terjadi. Dia merasa menyesal dan malu sekali kepada Sin Hong. Dia
mengepal kedua tangannya, lalu mondar-mandir dalam ruangan itu, membanting-banting kedua kakinya
dan memukul-mukul telapak tangan sendiri.
“Sungguh celaka...! Sungguh celaka...! Dahulu dia bersedia mengawinimu demi untuk menyelamatkan
nyawamu, Siang Cun. Dan sekarang... sekarang... ahh, apa yang telah kalian lakukan ini...?”
Siang Cun merasa khawatir kalau ayahnya akan membuat pengakuan, maka ia pun dengan suara
bercampur isak berkata, “Ayah... dia tidak cinta kepadaku... kami tidak saling mencinta dan dia tidak
menemukan kebahagiaan dalam kehidupan suami isteri...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Cinta...? Huh, apa yang kau maksudkan dengan cinta? Dahulu dia menikahimu demi keselamatan
nyawamu setelah dia menyelamatkanmu dari ancaman mala petaka yang lebih hebat dari maut! Dia
menolongmu tanpa pamrih. Dia menikahimu tanpa dorongan birahi kepadamu! Itukah sebabnya kau
katakan tidak adanya cinta? Dan sekarang... sekarang... dia merelakan engkau hidup berbahagia di
samping pria lain! Apakah sikap ini pun karena tidak cinta?”
Siang Cun tidak dapat menjawab dan diam-diam merasakan betapa mulia hati bekas suaminya itu, yang
menutup mulut padahal telah memergoki sendiri penyelewengannya dengan Ciang Kun!
Pada saat itu, Sin Hong dan Yo Han muncul, masing-masing menggendong sebuah buntalan yang berisi
pakaian mereka.
“Paman Bhe dan Bibi, perkenankan aku dan Yo Han untuk pergi dan maafkan segala kesalahan yang kami
perbuat selama kami tinggal di sini. Kami berterima kasih sekali atas segala kebaikan yang Paman berdua
limpahkan kepada kami, juga kepada semua murid Ngo-heng Bu-koan,” kata Sin Hong dengan suara dan
sikap tenang saja, sama sekali tidak hanyut oleh perasaan hati.
Yo Han juga berdiri dengan semangat. Mulutnya tersenyum pada saat dia mencontoh gurunya memberi
hormat kepada guru silat dan nyonyanya itu.
Tiba-tiba Siang Cun melepaskan diri dari pelukan ibunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sin
Hong! Ia menangis sesenggukan sehingga suaranya sukar ditangkap artinya.
Sin Hong tersenyum dan menunduk, kemudian berkata dengan suara yang lembut dan berwibawa.
“Tenangkan hatimu, Siang Cun. Di manakah sekarang kekerasan hati dan kegagahanmu?”
Suara itu menenangkan Siang Cun, kemudian terdengar suaranya yang lirih bercampur tangis, “Ampunkan
aku... dan terima kasih... terima kasih...”
Tiba-tiba Ciang Kun juga turut menjatuhkan diri berlutut di samping Siang Cun! Hal ini sungguh sama sekali
tidak disangka oleh Sin Hong yang kini memandang dengan mata berseri gembira!
“Taihiap, saya pun berterima kasih sekali dan memohon maaf. Saya tidak akan pernah melupakan
kemuliaan hati Taihiap selama hidup saya.”
Suara Sin Hong terdengar gembira bukan main pada saat dengan kedua tangannya ia mengangkat
bangun Siang Cun dan Ciang Kun supaya bangkit berdiri. “Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak perlu
berterima kasih. Semua ini untuk kebaikan kita masing-masing, dan aku percaya bahwa kalian akan dapat
menemukan kebahagiaan dalam kehidupan kalian sebagai suami isteri yang saling mencinta. Biarlah
sekarang juga aku ucapkan selamat kepada kalian. Nah, selamat tinggal semua, semoga Thian selalu
memberkahi kalian.”
Berkata demikian, Sin Hong membalikkan tubuhnya, menggandeng tangan Yo Han dan pergi
meninggalkan rumah keluarga Bhe dengan hati dan langkah yang ringan…..
********************
Keindahan menerangi seluruh muka bumi bersama dengan sinar matahari pagi yang keemasan.
Keindahan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, karena ada keindahan yang tidak dapat diraba dengan
pandang mata atau dengan alat panca indera lainnya, melainkan hanya dapat dirasakan saja.
Keindahan yang terkandung dalam sinar matahari yang menerobos di antara daun-daun pohon, membuat
garis-garis lurus menyusup dalam kabut pagi, terkandung dalam kicau burung yang saling bersahutan
dalam kesibukan binatang-binatang kecil itu menyiapkan diri untuk mulai mencari makan, dalam gemercik
air Sungai Yang-ce-kiang pada saat air bermain-main dengan batu-batu di tepinya, dalam keharuman bau
tanah yang sedap, tanah yang segar dibasahi embun pagi, keindahan yang terkandung dalam keheningan,
bahkan keheningan itu sendiri menciptakan keindahan. Bukan hening karena sunyi, tapi hening tanpa ada
penyelewengan di dalam pikiran.
Kicau burung, teriakan kanak-kanak, kesibukan para ibu di dapur dan bapak-bapak tani yang mulai
meninggalkan rumah menuju ke sawah ladang, semua itu tidak mengganggu keheningan itu, bahkan
semua itu terserap ke dalam keheningan. Pagi hari yang indah! Hanya dapat dirasakan oleh mereka yang
dunia-kangouw.blogspot.com
memandang semua itu, mendengar semua itu, mencium semua itu, tanpa menilai. Tanpa ingat sedikit pun
bahwa semua itu indah, yang terasa hanyalah kebahagian, karena seperti keheningan adalah keindahan,
maka keindahan adalah juga kebahagiaan. Yang tiga itu tak terpisahkan. Eloknya, ketiganya tidak ada
selama si aku atau pikiran ingin merasakan dan menikmatinya!
Wanita muda yang berjalan seorang diri di atas bukit di tepi sungai itu nampak bersunyi diri. Berjalan
melangkah perlahan-lahan di atas bukit. Ia menjadi bagian dari keindahan maha besar itu. Dari tempat ia
berdiri, nampak Sungai Yang-ce terbentang luas dan panjang, dan sebelum pandang mata tiba di sungai,
melewati pula sawah ladang dan dusun-dusun serta nampak bukit-bukit kecil yang subur di kanan kiri
sepanjang sungai itu.
Warna hijau dan kuning serta perpaduan antara hijau dan kuning nampak bagaikan permadani,
menyelimuti tanah, bermandikan cahaya matahari keemasan. Air sungai nampak berkilau tertimpa sinar
matahari, memantulkan cahaya itu hingga menyilaukan mata.
Dua orang bapak tani memanggul pacul jalan beriringan di pematang sawah sambil bercakap-cakap,
berangkat menuju ke sawah mereka. Seorang di antara mereka, yang di depan, merokok dan asap
rokoknya mengepul ke atas kepala mereka. Seorang anak laki-laki dengan pakaian setengah telanjang,
hanya bercelana saja, memegang cambuk panjang menggembala lima ekor kerbau yang gemuk-gemuk,
tiga ekor besar dan dua ekor masih muda dan beberapa kali dua ekor yang muda ini bergurau dengan
tanduk mereka. Jauh di seberang sana, nampak samar-samar beberapa buah gunung, bagian atasnya
tertutup awan. Cuaca pagi itu cerah bukan main, menjanjikan siang hari yang panas tanpa mendung.
Tetapi, wajah wanita itu sama sekali tidak cerah, bahkan terbayang mendung kedukaan dalam pandang
matanya, ketika mata itu melihat jauh ke depan tanpa mengenal apa yang dilihatnya. Pandang matanya
seperti melayang-layang saja di permukaan bumi di bawah itu, dan ia sama sekali tidak merasakan
kebesaran alam, melainkan kerisauan perasaan hatinya sendiri. Batinnya sedang gundah, kadang-kadang
pandang matanya seperti orang yang bingung atau putus asa, tiada gairah hidup!
Padahal dia adalah seorang wanita yang masih muda, usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun, cantik
jelita dan bentuk tubuhnya ramping dan padat, penuh keindahan dan kesehatan. Wajahnya berbentuk bulat
telur, sepasang matanya lebar dan lincah, sayang saat itu tertutup mendung duka. Pakaiannya yang walau
pun bersih namun kusut itu menunjukkan pula, bahwa ia memang sedang berada dalam keadaan gundah
sehingga tidak mempedulikan keadaan pakaian dan rambutnya yang kusut.
Dia menuruni bukit itu dan ketika dia melihat anak laki-laki setengah telanjang yang menggiring lima ekor
kerbaunya, hatinya tertarik dan ia pun berhenti, melihat bagaimana anak laki-laki itu menggiring lima ekor
kerbaunya masuk ke dalam kubangan air. Lima ekor binatang itu nampak gembira ketika memasuki
kubangan air yang segera menjadi keruh berlumpur. Mereka mendekam sehingga hanya nampak kepala
mereka saja, dan mereka diam tak bergerak, mata mereka merem-melek nampak nikmat sekali.
Wanita itu berdiri, bersandar pada sebatang pohon, melihat betapa anak laki-laki yang bertelanjang dada
dan bertelanjang kaki, tubuhnya hanya mengenakan celana sebatas lutut, celana hitam dari kain kasar, kini
mengeluarkan sebuah bungkusan kertas dan dibukanya. Kiranya sepotong roti gandum kering sebesar
kepalan tangan.
Roti itu digigitnya, akan tetapi roti itu terlalu keras, dan anak itu lalu pergi ke sebuah pancuran air,
membasahi roti itu beberapa saat lamanya, kemudian dia duduk di dekat kubangan air, di atas batu dan
mulai makan roti kering yang kini sudah menjadi basah dan tidak sekeras tadi. Dia tidak melihat wanita
cantik yang sejak tadi memandanginya dan makan dengan enaknya, menggigiti roti yang keras itu sedikitsedikit.
Wanita itu bagai terpesona, sejak tadi jarang berkedip. Penglihatan itu sungguh menarik hatinya. Nampak
olehnya betapa lima ekor kerbau itu demikian tenteram, damai dan agaknya berbahagia, nampak dari mata
mereka yang merem-melek.
Dan bocah itu! Usianya paling banyak sepuluh tahun, melihat pakaiannya tentu seorang anak yang miskin,
dan kini anak itu makan roti kering yang keras, dibasahi air sawah! Dan nampaknya dia makan demikian
enaknya, seolah-olah yang dimakannya bukanlah sepotong roti kering dibasahi air sawah, melainkan
makanan yang lezat dan mahal, dan mata anak itu pun merem-melek, nampaknya dia menikmati makan
roti sambil duduk di atas batu itu! Padahal, ia tahu bahwa makanan itu adalah makanan paling sederhana,
dunia-kangouw.blogspot.com
makanan roti gandum yang dikeringkan agar tahan lama dan kalau akan dimakan harus ditim dulu agar
menjadi empuk.
Akan tetapi roti kering itu digerogoti oleh anak itu begitu saja, hanya dibasahi air sawah! Bisa dibayangkan
betapa miskin keadaan anak itu. Akan tetapi kenapa begitu kelihatan berbahagia? Anak dan kerbau-kerbau
itu demikian bahagia, betapa menjadi kebalikan dari keadaan batinnya. Ia sendiri begini sengsara dan
menderita! Ia merasa penasaran. Ia bangkit dan perlahan-lahan menghampiri anak laki-laki yang baru saja
menghabiskan rotinya itu.
Anak laki-laki itu memandang dengan heran, akan tetapi tetap duduk dan matanya yang lebar memandang
dengan penuh perhatian. Wanita itu duduk di atas batu di depan anak itu. Mereka saling pandang dan anak
itu mulai merasa khawatir, menoleh ke arah kerbau-kerbaunya, lalu memandang lagi kepada wanita di
depannya, wanita yang asing baginya itu.
“Anak yang baik, jangan takut, aku hanya ingin duduk bersamamu dan mengajak bicara. Engkau tadi
makan roti kering kelihatan enak sekali.”
“Memang enak,” jawab anak itu, kini berani tersenyum karena sikap wanita itu yang ramah dan halus.
“Perutku tadi lapar, tetapi sekarang sudah kenyang.” Dia mengelus perutnya yang tidak tertutup baju.
“Apakah ini kerbau peliharaan orang tuamu?” tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah lima ekor kerbau
yang masih mendekam dalam kubangan air lumpur.
Anak itu menggeleng kepala. “Orang tuaku sudah tidak ada. Aku tidak punya ayah atau ibu. Ini kerbau
Paman Ciok, dan aku bekerja padanya.”
Wanita itu memandang heran. “Engkau yatim piatu?”
Anak itu mengangguk.
“Dan kau bekerja menggembala kerbau-kerbau ini?”
Anak itu mengangguk lagi, dan melanjutkan dengan jawaban mulutnya. “Menggembala kerbau, menyabit
rumput dan segala macam pekerjaan lain.”
Bukan main, pikir wanita itu. Anak ini yatim piatu dan sekecil ini sudah bekerja!
“Kau tidak mempunyai sanak keluarga lagi? Hidup sebatang kara di dunia ini?”
Kembali anak itu mengangguk.
Wanita itu menjadi semakin tertarik. Anak sekecil ini, tidak ada orang tua, tiada sanak keluarga, hidup
hanya sebatang kara, bekerja ikut orang dalam keadaan miskin, namun kelihatan begitu berbahagia!
“Berbahagiakah hidupmu, anak baik?”
Anak itu memandang tidak mengerti. “Berbahagia? Apa maksudmu?”
Kini wanita itu yang memandang bingung. Apa sih bahagia itu? Ia sendiri pun tidak tahu! “Ehh, begini, anak
baik. Apakah kau... tidak pernah merasa berduka?”
“Berduka? Kenapa harus berduka?”
“Tidak harus... akan tetapi, engkau hidup sebatang kara, engkau hidup miskin sekali, pakaianmu setengah
telanjang, makananmu roti kering yang keras seperti tadi, apakah engkau tidak merasa sedih?”
“Sedih? Tidak, aku tak pernah sedih, kenapa harus sedih? Setiap pagi aku menggiring kerbau-kerbau ini ke
sini, sarapan apa saja yang ada. Jika Bibi Ciok belum masak apa apa sepagi ini, aku membawa roti kering.
Kemudian aku menggiring kerbau-kerbau ini ke sawah, kepada Paman Ciok yang akan meluku sawah
dengan para pembantunya, dan aku pergi menyabit rumput, sesudah itu membantu pekerjaan paman Ciok
atau isterinya di rumah, menyapu lantai, membersihkan apa saja di rumah, atau menimba air. Tidak, aku
dunia-kangouw.blogspot.com
tidak sedih Bibi, aku memiliki banyak pekerjaan, tidak sempat bersedih-sedih. Lagi pula, mengapa aku
harus sedih?”
Anak itu lalu bangkit dan menggiring kerbaunya keluar dari dalam kubangan air, tanpa bicara lagi
meninggalkan wanita itu yang masih duduk termenung bagai patung! Karena banyak pekerjaan, maka
anak itu tidak sempat bersedih-sedih, dan pula, mengapa dia harus sedih?
Dan dia sendiri? Mengapa dia bersedih? Karena memikirkan keadaan dirinya! Karena pikirannya selalu
melayang-layang memikirkan nasibnya yang dianggap buruk sehingga dia merasa iba diri, kasihan kepada
diri sendiri, lalu menjadi nelangsa, dan timbullah duka.
Ahhh, ia sudah tersesat, membiarkan pikirannya menguasai diri. Dan pikiran celaka ini selalu
membayangkan hal-hal yang dianggapnya buruk! Tidak, dia harus mengisi hidup dengan pekerjaan yang
berguna, seperti anak itu! Dan ia seorang pendekar, mengapa harus menganggur?
“Hong Li, engkau memang wanita tolol!” Demikian wanita itu memaki diri sendiri.
Ia adalah Kao Hong Li, puteri tunggal dari pendekar Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui. Kao Hong Li
adalah cucu tunggal dari mendiang Naga Sakti Gurun Pasir, bukan seorang wanita biasa. Wanita berusia
dua puluh empat tahun ini adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, mewarisi
kepandaian ayah dan ibunya. Ayahnya adalah keturunan Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan ibunya
adalah keturunan Para Pendekar Pulau Es!
Seperti telah kita ketahui, Hong Li telah dijodohkan dengan Thio Hui Kong putera Jaksa Thio yang jujur dan
adil di kota Pao-teng. Hong Li yang menerima berita bahwa Sin Hong telah menikah dengan puteri guru
silat Bhe di kota Lujiang, tak dapat membantah lagi kehendak orang tuanya.
Usianya sudah dua puluh tiga tahun, dan harapannya untuk dapat berjodoh dengan pria yang diam-diam
dicintanya, yaitu Sin Hong yang masih terhitung susiok-nya telah sirna, maka untuk berbakti kepada orang
tuanya, ia menurut saja ketika ayah ibunya memilih Thio Hui Kong menjadi suaminya. Semua orang pun
akan menganggap bahwa pilihan itu sudah tepat sekali.
Thio Hui Kong seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang tampan dan gagah, pandai silat dan
sastra, putera Jaksa Thio yang terkenal sebagai seorang pembesar yang adil dan bijaksana,
kedudukannya tinggi dan dihormati semua orang, juga serba kecukupan walau pun tidak kaya raya. Kurang
apa lagi?
Ternyata memang kurang satu, dan yang satu inilah yang menjadi syarat mutlak bagi kebahagiaan rumah
tangga. Yang kurang itu adalah cinta kasih antara dua orang muda yang dijodohkan.
Hui Kong tadinya girang sekali bahwa dia berhasil mendapatkan gadis yang dijadikan rebutan, gadis gagah
perkasa dan cantik jelita itu. Biar pun ada ganjalan dalam hatinya melihat betapa calon isterinya roboh
pingsan ketika bertemu dengan susiok-nya yang bernama Tan Sin Hong itu, akan tetapi dia ingin
melupakan semua itu dan dia bersikap mesra dan mencinta.
Ia menikmati haknya sebagai seorang suami dan menganggap bahwa Hong Li seorang isteri yang cukup
menyenangkan hatinya. Tetapi hanya sampai di situ saja! Hubungan antara sepasang suami isteri barulah
akan membahagiakan kalau didasari cinta kasih kedua pihak.
Oleh karena Hong Li tidak dapat memusatkan perhatiannya dalam bermesraan dengan suaminya karena
memang tidak ada dasar cinta, maka hal ini terasa oleh Hui Kong. Diam-diam ia merasa penasaran dan
kecewa, akan tetapi ia lalu menghibur diri dengan pergaulan di luar dan pergaulan inilah yang menyeret
Hui Kong ke dalam pengejaran kesenangan yang tidak sehat! Ia mulai berfoya-foya, bermabuk-mabukan,
bahkan mulai suka berjudi dan bermain dengan wanita pelacur!
Hong Li mendengar akan hal ini, bahkan ia melakukan penyelidikan sendiri dan melihat suaminya mabukmabukan
di rumah pelesir. Tentu saja Hong Li menjadi marah dan menegur suaminya. Kekerasan hati
Hong Li inilah yang akhirnya justru membuat Hui Kong memberontak dan melawan!
Dia adalah seorang putera pembesar, dan melihat betapa isterinya marah-marah dan hendak menekannya
tentu saja dia menjadi penasaran. Seorang isteri harus taat, patuh dan hormat kepada suaminya, demikian
dunia-kangouw.blogspot.com
dia memarahi Hong Li. Lalu mulailah terjadi bentrokan dan percekcokan antara mereka. Baru beberapa
bulan menikah sudah mulai cekcok.
Melihat ini, orang tua kedua pihak berusaha keras untuk mendamaikan mereka dengan sikap bijaksana,
yaitu memarahi anak masing-masing. Namun, kedua orang suami isteri muda itu sama-sama keras hatinya
dan karena memang pada dasarnya tidak ada rasa cinta di antara mereka, maka semua usaha orang tua
kedua pihak gagal. Percekcokan makin meningkat.
Melihat bahwa kalau sampai terjadi perkelahian akan membahayakan, akhirnya kedua orang tua masingmasing
bersepakat untuk mengambil jalan keluar yang paling akhir, yaitu perceraian! Hong Li bercerai dari
suaminya setelah menjadi suami isteri selama kurang dari setahun saja. Setelah bercerai secara resmi,
Hong Li lalu pergi merantau. Kedua orang tuanya mengijinkannya karena melihat bahwa hal itu perlu untuk
memberi kesempatan anak mereka melupakan peristiwa duka yang menimpa dirinya.
Demikianlah, Hong Li mulai merantau. Namun, ia tidak pernah dapat membebaskan diri dari duka dan
kecewa. Apa lagi kalau ia membayangkan betapa susiok yang dicintanya, Sin Hong, sekarang hidup
berbahagia dengan isterinya, ia merasa makin terpukul dan berduka.
Sampai pada pagi hari itu, ia bertemu dengan seorang anak penggembala kerbau dan keadaan anak itu
menggugah kesadarannya bahwa selama ini ia membiarkan dirinya tenggelam ke dalam duka yang
diadakan oleh pikirannya sendiri. Ia terlalu memikirkan diri sendiri, terlalu besar rasa iba dirinya sehingga ia
lupa bahwa hidup bukan sekedar merenungkan segala hal yang buruk dalam hidup yang telah dialaminya.
Justru hidup adalah medan di mana pengalaman baik atau buruk terjadi, dan segala peristiwa yang sudah
berlaku itu tidak ada gunanya untuk dikenang dan disedihkan lagi! Yang sudah biarlah sudah. Yang lewat
biarlah lewat! Masih banyak hal-hal lain yang lebih penting dari pada sekedar termenung menyedihi dan
menangisi hal-hal yang telah terjadi, yang telah lewat. Biar pun ia akan menangis dengan air mata darah,
tetap saja hal yang telah berlalu itu tidak akan dapat kembali.
“Kau sungguh cengeng, Hong Li. Lihatlah anak itu! Dia jauh lebih bijaksana dari pada engkau! Dia dapat
menikmati hidupnya, dapat hidup bahagia karena mampu menerima apa adanya dengan penuh gairah.
Hayo, waktunya untuk bangkit, untuk bangun!”
Demikian Hong Li mencela diri sendiri sambil bangkit berdiri. Wajahnya kini berubah. Tidak lagi murung
seperti tadi, melainkan berseri. Sepasang matanya yang lebar itu mulai bersinar-sinar dan mulutnya yang
manis itu mulai dihias senyum.
Tiba-tiba terdengar jerit tangis di depan. Ia cepat melihat dan alisnya berkerut, matanya mengeluarkan
sinar mencorong marah ketika ia melihat apa yang terjadi tak jauh di depan sana. Anak penggembala
kerbau tadi sedang menangis sambil menjerit-jerit dan berusaha untuk menghalangi lima orang laki-laki
yang hendak menuntun pergi lima ekor kerbaunya!
“Jangan...! Jangan ambil kerbau-kerbauku...!” Anak itu menjerit-jerit, akan tetapi seorang di antara mereka
mendorong dada anak itu sehingga dia terlempar dan terjengkang dengan keras.
Hong Li melihat bahwa lima orang itu adalah laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh
tahun, berpakaian ringkas, bukan pakaian orang dusun. Wajah mereka itu memperlihatkan kebengisan dan
kekejian, dan melihat betapa ada senjata golok di punggung mereka, mudah diduga bahwa mereka
tentulah orang-orang yang biasa memaksakan kehendak dengan kekerasan dan kini agaknya hendak
merampas lima ekor kerbau gemuk milik bocah itu.
“Perampok-perampok jahat!” teriak Hong Li dan dengan beberapa kali lompatan saja ia sudah berada di
dekat anak itu. “Jangan takut, adik yang baik, aku akan menghajar mereka dan mengembalikan kerbaukerbaumu!”
Melihat munculnya seorang wanita muda yang cantik jelita, tentu saja lima orang itu tidak menjadi takut,
bahkan mereka tertawa-tawa secara kurang ajar dan seorang di antara mereka berkata, “Aduh, nona
manis. Mari engkau ikut dengan kami. Ketahuilah bahwa ketua kami sedang mengadakan pesta, maka
engkau dapat menyenangkan hati kami! Jangan khawatir, ketua kami orangnya royal dan engkau akan
menerima hadiah yang banyak, ha-ha-ha!”
Wajah Hong Li berubah merah sekali. “Jahanam bermulut busuk!” bentaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, dua orang di antara mereka menerjang ke depan, seperti berlomba hendak menangkap gadis
yang cantik itu, tidak seperti gadis dusun yang sederhana.
Diam-diam Hong Li terkejut juga melihat gerakan mereka. Kiranya mereka ini bukan orang-orang kasar
biasa, bukan para perampok yang lebih mengandalkan kekejaman dan kekerasan serta tenaga besar saja.
Melihat gerakan kedua orang itu, tahulah dia bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian
silat yang cukup tinggi!
Namun tentu saja Hong Li tidak menjadi gentar menghadapi cengkeraman kedua orang yang dilakukan
dari kanan kiri itu. Ia malah menyelinap maju dengan cepat, di antara kedua orang itu, dan membalik
secara tidak terduga, kaki dan tangannya bergerak ke kanan kiri.
“Desss! Plakkk!”
Lima orang di kanan kirinya terkejut bukan main karena yang seorang sudah tertendang perutnya dan
seorang lagi tertampar pipinya! Itulah satu di antara jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat yang amat hebat dari
Istana Gurun Pasir!
Dua orang itu mengaduh. Mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Hong Li, yang seorang
mengelus-elus perutnya yang mendadak menjadi mulas, dan yang ke dua mengusap darah yang mengalir
di sudut bibir yang pecah.
Mereka kini menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang lihai, maka
lenyaplah sikap main-main mereka. Mereka berdua merasa malu sekali dan penasaran bahwa dalam
segebrakan saja mereka telah terpukul dan ditendang oleh gadis itu. Ini merupakan penghinaan besar!
Mereka adalah tokoh-tokoh besar, bukan sembarangan maling atau perampok kecil, dan kini mereka
dihajar oleh seorang gadis!
“Srat! Srattt!” Nampak dua sinar berkilauan saat mereka mencabut golok dari punggung masing-masing.
Tiga orang teman mereka yang lain hanya menonton karena biar pun tadi dua orang teman mereka telah
terkena tamparan dan tendangan gadis itu, namun mereka masih tidak meragukan bahwa dengan golok di
tangan, kedua orang teman mereka tentu akan mampu mengalahkan gadis itu. Terlalu memalukan kalau
sampai mereka berlima harus mengeroyok seorang wanita muda seperti itu!
Sekarang sepasang mata Hong Li mencorong dan kegembiraannya semakin bernyala bersama
semangatnya. Inilah hidup! Inilah sesuatu yang selama ini dia rindukan! Dia kehilangan gairah ini, gairah
seorang pendekar yang menentang kejahatan. Rasanya ia ingin tertawa sepuasnya.
Inilah hidupnya. Inilah dunianya! Inilah kewajibannya, seperti kewajiban yang dikerjakan sehari-hari oleh
anak penggembala itu dengan penuh gairah dan kegembiraan. Sengaja dia tidak mau mencabut
pedangnya karena tadi dia sudah mengukur sampai di mana tingkat kepandaian dua orang itu. Biar pun
mereka bergolok, ia tidak gentar menghadapi mereka dengan tangan kosong saja!
Golok pertama menyambar, mengancam lehernya dari samping kanan. Sambaran itu cukup cepat dan
kuat, mendatangkan sinar panjang serta suara mendesing! Dengan gerakan lincah, hanya menggeser kaki
dan memutar tubuh, golok itu mengenai tempat kosong dan pada saat itu pula, golok ke dua menyambar
dari kiri, membacok ke arah pinggangnya dari samping. Serangan ini berbahaya sekali, datang dengan
cepatnya dan kalau sampai mengenai sasaran, tubuh wanita cantik itu tentu akan terbabat bagian
tengahnya dan akan putus menjadi dua potong!
Akan tetapi tiba-tiba si penyerang mengeluarkan seruan kaget karena melihat wanita itu lenyap atau lebih
tepat terbang ke atas sehingga goloknya menyambar tempat kosong! Kiranya Hong Li sudah
mempergunakan ginkang-nya yang istimewa untuk melompat ke atas, dan dari atas kakinya menendang
ke pundak si penyerang. Kembali ia membalik. Begitu tendangannya mengenai pundak, tubuhnya
menyambar ke belakang. Sebelum orang pertama menyerangkan goloknya, tangan Hong Li sudah
mengetuk lengan orang itu sehingga goloknya terlepas dan orang itu berteriak kesakitan, bersamaan
dengan teriakan orang yang tertendang pundaknya tadi.
“Bibi, tolong...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Li terkejut dan ketika ia melihat betapa bocah penggembala kerbau tadi dikempit di bawah lengan
seorang di antara lima penjahat dan dibawa lari, ia pun mengejar.
“Jahanam busuk, lepaskan anak itu!” teriaknya sambil mengejar.
Akan tetapi, penculik anak itu sudah lari agak jauh dan menghilang ke dalam hutan. Karena khawatir akan
keselamatan bocah itu, Hong Li mempercepat larinya dan terus mengejar. Ternyata orang yang menculik
bocah itu mampu berlari cepat sekali dan agaknya mengenal baik hutan di sepanjang lembah Sungai
Yang-ce itu.
Bocah itu menjerit-jerit terus sehingga mudah bagi Hong Li untuk terus mengejar dan karena memang ia
memiliki ginkang (ilmu meringan tubuh) yang lebih tinggi dan dapat berlari lebih cepat, maka akhirnya ia
dapat menyusul orang itu yang terpaksa berhenti di tepi sungai. Ketika Hong Li muncul di dekat tempat itu,
dia melemparkan tubuh bocah itu ke dalam sungai! Dan tanpa menoleh lagi dia pun melarikan diri.
Tentu saja Hong Li lebih dahulu memperhatikan keadaan bocah penggembala yang dilempar ke sungai.
Bocah ini ternyata pandai berenang dan dapat berenang ke tepi. Akan tetapi karena tepian sungai itu
curam dan anak itu tidak dapat naik, Hong Li lalu menelungkup dan menjulurkan tangannya untuk menarik
anak itu ke atas. Terpaksa ia melepaskan penculik anak itu yang sudah melarikan diri entah ke mana.
“Anak baik, engkau tidak apa-apa, bukan? Apakah orang jahat itu melukaimu?”
Anak itu tidak menangis lagi dan dia memandang kepada Hong Li sambil menggeleng kepalanya. “Tidak,
Bibi, dan terima kasih atas bantuan Bibi. Akan tetapi kerbauku...”
Hong Li teringat. “Mari kita mencari kerbaumu di sana!” katanya.
Dia memondong tubuh anak itu, lalu berlari secepatnya. Anak itu menggigil ketakutan, akan tetapi diam
saja, hanya memejamkan mata ketika merasa betapa dia dilarikan seperti terbang cepatnya.
Akan tetapi ketika mereka tiba di tempat kubangan kerbau, seperti yang telah diam-diam dikhawatirkannya,
lima orang kerbau itu sudah lenyap dan lima orang penjahat itu pun tidak nampak bayangannya lagi. Tentu
saja anak itu lalu menangis.
Hong Li mengepal tinjunya. Celaka, pikirnya. Dia telah tertipu oleh para penjahat itu. Agaknya tadi para
penjahat itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, maka seorang di antara mereka sengaja
melarikan anak itu untuk memancingnya pergi dari situ dan mengejarnya. Kemudian, pada waktu hampir
tersusul, orang yang licik itu melemparkan tubuh si anak ke dalam sungai sehingga kembali Hong Li tidak
dapat melanjutkan pengejaran karena harus menolong bocah penggembala, sementara itu, dengan enak
saja keempat orang kawan penjahat itu telah melarikan lima ekor kerbau yang tidak dijaga!
“Sudahlah, jangan menangis,” Hong Li membujuk. “Aku akan mencari mereka.”
“Tapi... tapi, Bibi. Tentu Paman Ciok dan Bibi Ciok akan marah sekali kepadaku karena kerbau mereka
hilang semua. Lima ekor kerbau itulah milik mereka satu-satunya yang menghidupkan kami semua...”
Hong Li menarik napas panjang. Benar juga, dan mungkin karena duka dan marah, keluarga itu akan
memukul anak ini atau mengusirnya.
“Mari kuantar kau ke dusun. Aku yang akan memberi penjelasan kepada Paman Ciok itu, dan aku yang
akan mengganti kerugian mereka. Hayolah!” Ia menggandeng tangan anak itu yang masih nampak raguragu
dan ketakutan.
Dusun itu kecil saja, hanya ditempati oleh puluhan keluarga yang hidupnya amat miskin, petani-petani
sederhana. Seperti yang dikhawatirkan anak itu, kedua orang suami isteri itu terkejut bukan main ketika
melihat anak itu pulang tanpa membawa lima ekor kerbau mereka, bersama seorang gadis cantik. Mereka
menjadi marah dan berduka mendengar bahwa lima ekor kerbau mereka dirampas orang.
“Anak celaka! Anak tidak mengenal budi, tidak tahu diri...!” Laki-laki she Ciok itu dengan muka merah dan
mata melotot sudah menyambar sebuah gagang cangkul, kemudian menghantamkan kayu yang sebesar
lengan itu ke arah kepala anak penggembala yang ketakutan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Plakkk!”
Kayu pemukul itu tertahan di atas dan si petani terpaksa melepaskan kayu itu karena tangannya terasa
nyeri bukan main ketika pemukul itu tertangkis oleh tangan Hong Li.
“Kau hendak membelanya? Siapakah kau yang berani membela anak durhaka ini? Dia telah membikin
kami bangkrut, membikin kami celaka... ah, kami akan mati kelaparan tanpa lima ekor kerbau itu...!” Petani
itu membentak marah dan mengeluh penuh duka.
Juga isterinya marah sekali dan ia maju mendekati Hong Li.
“Kau ini perempuan siluman dari mana berani mencampuri urusan kami? Anak ini jahat. Sudah kami
pelihara baik-baik, eh, hari ini dia membikin hilang lima ekor kerbau kami. Mungkin dia bersekongkol
dengan pencuri kerbau, anak jahat!” Dan ia pun hendak maju menerkam anak penggembala itu. Hong Li
cepat menangkap lengan wanita itu.
“Sabarlah, Bibi dan kau juga Paman. Ketahuilah bahwa aku menyaksikan sendiri ketika lima ekor kerbau
itu dicuri orang jahat. Mereka adalah lima orang perampok jahat. Bahkan adik kecil ini hampir saja mereka
bunuh, untung aku kebetulan lewat dan dapat menyelamatkannya. Jangan khawatir, aku tahu akan
keadaan kalian yang melarat. Aku akan sungguh-sungguh mencari lima ekor kerbau itu sampai aku dapat
mengambilnya kembali dan menyerahkan kepada kalian. Anak ini tidak bersalah, harap jangan dipukul
atau dihukum.”
“Enak saja!” Petani itu bersungut. “Mudah saja kau berjanji, Nona. Kalau engkau pergi lalu tidak kembali,
tidak membawa kerbau-kerbau itu kembali kepada kami, ke mana kami harus mencarimu? Tetap saja lima
ekor kerbau kami hilang!”
Hong Li tersenyum. “Jangan khawatir, sebelum kerbau-kerbau itu kutemukan biarlah kalungku ini kalian
pegang dulu, dan benda ini sebagai penggantinya kalau lima ekor kerbau itu tidak dapat kukembalikah
kepada kalian.”
Isteri petani itu menerima kalung dan bersama suaminya memeriksa benda itu. Sebuah kalung emas
dengan mainan dari kemala yang indah. Akan tetapi, keduanya adalah penduduk dusun yang tidak pernah
mempunyai perhiasan seperti itu, maka keduanya tidak tahu apakah benda itu cukup berharga untuk
mengganti lima ekor kerbau mereka.
“Tunggu dulu, kupanggil Coan-toako di sebelah, dia tahu tentang harga barang seperti ini!” Tiba-tiba sang
suami berkata dan dia pun lari keluar dari rumahnya.
Isterinya memandang kepada Hong Li dan tersenyum masam. “Kami... kami tidak tahu harga barang
seperti ini...”
Hong Li tersenyum maklum. Ia tahu bahwa harga kalungnya itu dapat dipakai membeli sepuluh ekor
kerbau! Kalau tidak demikian, tidak mungkin dia mau menyerahkannya kepada mereka. Ia bukan seorang
penipu.
Petani itu datang berlari-lari bersama seorang petani lain yang lebih tua. “Coan-toako, tolong kau lihat dan
taksir barang ini, apakah benar tulen dan dapatkah dipergunakan membeli lima ekor kerbau?”
Petani she Coan itu menerima kalung. Dengan sikap seorang ahli, dia memeriksanya, menimbang dengan
tangan, memeriksa kemala yang menjadi mainan kalung, kemudian memandang kepada Hong Li. Dia tadi
sudah mendengar dari petani Ciok tentang lima ekor kerbau yang hilang dan hendak diganti dengan kalung
ini.
“Kalau aku yang menjualnya ke kota, kiranya hanya bisa pas saja untuk membeli lima ekor kerbau.
Sekarang begini saja, dari pada engkau susah-susah, lebih baik barang ini kutukar saja dengan lima ekor
kerbau. Bagaimana pendapat kalian?” tanyanya kepada suami isteri Ciok.
Hong Li mengerutkan alisnya. Ia berhadapan dengan seorang penipu, dan hal ini membuatnya marah.
Sekali sambar, ia sudah merampas kalung itu dari tangan petani she Coan.
“Kau mau menipu, ya? Pergi sana sebelum kutampar kepalamu!” bentaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Petani Coan hendak marah, akan tetapi tuan rumah Ciok yang maklum bahwa gadis itu bukan hanya
menggertak kosong, cepat menarik tangannya diajak ke luar, kemudian dia kembali sambil membungkukbungkuk.
“Sekarang kami percaya, Nona. Baiklah kalung ini kami terima sebagai pengganti lima ekor kerbau kami
yang hilang,” katanya.
“Hemmm, siapa mau memberikan kalung ini kepadamu!” bentak Hong Li. “Kalung ini cukup untuk membeli
sedikitnya sepuluh ekor kerbau. Kukatakan tadi, aku akan mencari kerbau-kerbau kalian itu dan
mengembalikannya kepada kalian. Kalung ini hanya untuk pegangan saja, supaya kalian tidak menyiksa
anak ini. Nanti kalau aku tidak berhasil menemukan kerbau-kerbau itu, barulah aku akan berikan kalung ini
kepada kalian.”
Suami isteri itu tersenyum dengan wajah berseri. “Nona, kami berdua amat mencinta anak ini, kami anggap
seperti anak sendiri. Bagaimana kami akan tega menyiksanya? Jika tadi aku hendak memukul adalah
karena kesedihanku mendengar lima ekor kerbau kami hilang. Kami tidak akan marah kepadanya, Nona.”
Hong Li memandang kepada anak itu dan ia melihat kepala anak itu mengangguk, membenarkan apa yang
diucapkan petani itu. Hatinya menjadi lega dan ia pun berkata, “Baiklah, kalau begitu sekarang juga aku
akan mencari para perampok itu. Jangan kalian kena ditipu orang tadi. Dia penipu. Kalau kelak harus
menjual kalung ini, kalian jual sendiri ke kota, ditukar dengan sedikitnya sepuluh ekor kerbau. Kalian harus
memperlakukan anak ini baik-baik. Awas, kalau aku mendengar kalian menyiksanya, aku tidak akan
memberi ampun.” Setelah berkata demikian, sekali meloncat, tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.
Suami isteri itu melongo. Muka mereka pucat dan mengira bahwa gadis cantik tadi tentulah seorang dewi
atau seorang siluman…..
********************
Percuma saja Hong Li melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya kepada para penghuni di dusundusun
sekitar tempat itu. Mereka semua tidak tahu apakah di daerah itu muncul perampok jahat. Menurut
mereka, tidak pernah ada gangguan perampok dan daerah itu miskin, akan tetapi aman. Para petani hidup
dengan tenteram walau pun keadaan mereka sederhana sekali.
Mendengar keterangan ini, Hong Li berpendapat bahwa tentu para perampok itu adalah orang-orang baru,
gerombolan jahat yang agaknya baru saja berdiam di daerah itu. Ia lalu keluar dari dusun dan mulai
melakukan penyelidikan di daerah pegunungan dan hutan-hutan.
Hong Li adalah seorang pendekar wanita yang sudah sering kali melakukan perantauan dan sudah
berpengalaman. Ia dapat menduga bahwa gerombolan perampok yang baru tiba di suatu daerah yang
sedang mencari sarang baru, tentu bersembunyi di hutan-hutan dan di gunung-gunung yang sunyi. Maka
dia pun mendaki sebuah bukit yang penuh dengan hutan lebat karena dari jauh kelihatan bahwa bukit inilah
yang paling baik untuk tempat persembunyian para penjahat. Juga tadi ia melihat asap mengepul dari
lereng bukit ini, padahal menurut keterangan para penduduk dusun, di bukit itu tidak ada penghuninya.
Ketika Hong Li menyusup-nyusup ke dalam hutan untuk mendaki bukit itu, tiba-tiba saja dia menahan
langkahnya. Dia mendengar suara berkeresekan di sebelah kiri, di balik semak-semak. Hutan itu lebat.
Mungkin saja ada binatang buas sedang mengintai di balik semak-semak itu. Atau orang jahat? Apakah
mungkin perampok-perampok itu?
Tiba-tiba dua bayangan berkelebat dan muncullah dua orang yang sudah menghadang di depannya.
Seorang laki-laki dan seorang wanita. Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari pakaian
mereka yang ringkas, dapat diketahui bahwa mereka bukanlah orang-orang tani atau orang-orang dusun,
dan dari gerakan mereka pun dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.
“Singgg! Singgggg...!”
Dua orang itu sudah mencabut pedang mereka dan dengan pedang di tangan mereka mengamati Hong Li
penuh perhatian. Sebaliknya Hong Li juga memperhatikan mereka dan melihat bahwa dua orang itu
nampak lemas dan lelah, juga pria itu agaknya terluka, karena ada warna merah darah di pakaiannya
bagian pundak dan pinggang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siapakah engkau?” bentak wanita itu sambil melintangkan pedangnya, sikapnya sangat mengancam.
Hong Li tersenyum. “Aku sedang berjalan, kalian yang menghadang. Sepatutnya kalian yang lebih dulu
mengatakan siapa kalian dan kenapa pula menghadang perjalananku!”
Dua orang itu saling pandang, lalu yang pria menjawab. “Nona, apakah engkau anggota gerombolan yang
berada di bukit ini?”
Hong Li berpikir cepat. Kalau dua orang ini anggota gerombolan penjahat yang agaknya bersembunyi di
situ, tidak mungkin mereka bertanya seperti itu. Akan tetapi siapakah mereka dan kenapa pula mereka
berada di tempat sunyi ini? Ia harus menyelidikinya, karena di tempat seperti ini, semua orang harus
dicurigai.
“Kalau benar demikian, kalian mau apa?” Ia balas bertanya.
Mendadak saja keduanya menggerakkan pedang dan langsung menyerangnya. “Kami akan
membunuhmu!” bentak wanita itu.
Hong Li memang sudah menjaga akan segala kemungkinan, maka ia tetap waspada. Begitu dua orang itu
bergerak menyerang dengan pedang mereka, ia sudah meloncat ke belakang mengelak. Kedua orang itu
menyerang dengan semakin dahsyat, pedang mereka berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan
mengeluarkan suara berdesingan dan angin menyambar-nyambar.
Diam-diam Hong Li harus mengakui bahwa ilmu pedang dua orang ini cukup hebat, dan mereka berdua ini
lebih lihai dibandingkan lima orang perampok kerbau itu. Ia lantas menggunakan kegesitannya, dan
dengan Sin-liong Ciang-hoat menghadapi dua batang pedang itu tanpa gentar sedikit pun. Ia bukan hanya
mampu mengelak dan menangkis lengan lawan yang menggerakkan pedang, bahkan ia juga mampu
membalas dengan tamparan atau tendangan yang membuat dua orang itu menjadi repot!
Setelah mengukur kepandaian mereka, Hong Li yang tak ingin membikin mereka malu, lalu meloncat ke
belakang. Dua orang itu mengejar ke depan, dan Hong Li menendang dua batu di depannya. Dua buah
batu itu melesat cepat ke depan, menyambar ke arah dua orang itu. Mereka amat terkejut dan menangkis
dua buah batu itu dengan pedang masing-masing, dan akibatnya mereka berteriak karena tangan mereka
tergetar hebat.
“Cukup!” Hong Li berseru. “Aku bukanlah anggota gerombolan penjahat!”
Mendengar ini, dua orang yang agaknya sudah menjadi gentar terhadap Hong Li, cepat menghentikan
serangan dan mereka memandang kepada Hong Li penuh perhatian dan ada sinar kekaguman pada sinar
mata mereka.
“Nona sungguh lihai!” berkata wanita itu. “Ketahuilah, kami adalah suami isteri Liok Cin yang datang ke sini
untuk mencari puteri kami yang diculik gerombolan penjahat.”
“Ahhh!” Hong Li memberi hormat kepada mereka. “Paman dan Bibi, harap maafkan aku. Tadi aku hanya
ingin menguji kalian karena belum tahu siapa kalian. Aku pun sedang mencari perampok yang sudah
merampas kerbau-kerbau milik petani dusun. Namaku Kao Hong Li dan hanya kebetulan saja aku lewat di
dusun bawah sana, lalu melihat perampokan kerbau, maka untuk menolong pemilik kerbau itu aku mencari
gerombolan perampok. Entah sama tidak orang-orangnya dengan yang menculik puteri kalian itu.”
“Tidak salah lagi, tentu mereka juga!” berkata pria yang bernama Liok Cin itu sambil mengepal tinju.
“Kerbau-kerbau itu tentu untuk keperluan pesta karena mereka hendak merayakan pernikahan kepala
mereka dengan puteri kami yang dipaksa untuk menjadi isterinya!”
Hong Li mengerutkan alisnya. “Ahh, kenapa kalian diam saja di sini kalau begitu?”
“Ahh, engkau tidak tahu, Nona Kao! Mereka itu lihai bukan main, terutama sekali pimpinan mereka yang
berjuluk Ang-I Siauw-mo (Setan Kecil Pakaian Merah).”
“Ang-I...?” Hong Li mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia pernah mendengar nama ini dan ia pun teringat akan Ang-I Mo-pang, gerombolan pakaian merah yang
pernah membantu Tiat-liong-pang memberontak itu! Ahh, kiranya gerombolan pakaian merah itu pula yang
bersembunyi di sini?
“Engkau mengenalnya, Nona?” tanya Liok Cin.
Hong Li menggeleng kepalanya. “Apakah kalian sudah mencoba untuk menyelamatkan puteri kalian itu?”
“Sudah dua kali kami mencoba menyerbu dan menolong anak kami, akan tetapi selalu gagal, bahkan yang
terakhir ini kami hampir celaka kalau tidak cepat dapat melarikan diri dan bersembunyi di sini. Anak kami
itu ditawan dan dikurung dalam sebuah kamar. Ahh, kalau saja… engkau suka membantu kami, Nona,”
kata isteri Liok Cin.
Tentu saja Kao Hong Li berniat membantu mereka. Urusan kerbau hanya merupakan urusan kecil saja
dibandingkan urusan tertahannya seorang gadis yang hendak dipaksa menjadi isteri kepala perampok itu!
Ia mengangguk. “Aku akan membantu kalian membebaskan puteri kalian itu. Tunjukkan jalannya
kepadaku, dan kita masuk ke sarang mereka. Kita coba membebaskan puteri kalian, dan kalau sampai
ketahuan dan kita diserang, serahkan saja kepadaku untuk membasmi mereka!”
Suami isteri itu kelihatan gembira sekali dan mereka cepat menghaturkan terima kasih, kemudian mereka
menjadi penunjuk jalan mendaki bukit menuju ke sarang gerombolan. Dalam perjalanan ini, suami isteri
Liok Cin menjelaskan bahwa gerombolan itu memang masih belum lama menetap di bukit itu. Buktinya,
bangunan yang dijadikan sarang gerombolan itu masih baru dan nampak seperti bangunan darurat.
Hal ini pun sudah dimengerti oleh Hong Li. Tentu mereka terdiri dari para anak buah Ang-I Mo-pang yang
berhasil menyelamatkan diri dari sergapan pasukan pemerintah! Mereka kemudian bersembunyi di bukit ini
dan menjadi perampok. Yang ia tidak tahu, siapakah orang yang mengaku berjuluk Ang-I Siauw-mo dan
yang kini menjadi pimpinan mereka itu, dan mengapa pula para perampok kerbau yang berjumlah lima
orang itu tidak ada yang mengenakan pakaian merah seperti anggota Ang-I Mo-pang?
Dugaan Hong Li memang tidak keliru. Yang kini menjadi pimpinan di sarang gerombolan penjahat di
puncak bukit itu adalah orang-orang Ang-I Mo-pang yang berhasil lolos dari kepungan para pasukan ketika
dulu mereka membantu pemberontakan Tiat-liong-pang. Hanya ada belasan orang yang lolos dan mereka
ini dipimpin oleh tokoh di antara mereka yang berjuluk Ang-I Siauw-mo, seorang laki-laki berusia empat
puluh tahunan yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka yang dapat lolos.
Belasan orang ini lalu menarik belasan orang perampok lainnya untuk menjadi anak buah mereka, dan kini
dalam jumlah kurang lebih tiga puluh orang, mereka membuat sarang di puncak bukit itu, dipimpin oleh
Ang-I Siauw-mo. Karena tahu bahwa mereka menjadi orang-orang buruan pemerintah, maka Ang-I Siauwmo
melarang para anak buahnya mengenakan pakaian merah. Hanya dia seorang yang masih
mengenakan pakaian serba merah, sesuai dengan julukannya.
Ketika akhirnya mereka tiba di sarang gerombolan penjahat yang berada di puncak bukit, matahari mulai
condong ke barat. Dari jauh sudah terdengar suara gaduh para anggota gerombolan yang tengah
mengadakan persiapan untuk pesta pernikahan Ang-I Siauw-mo dengan seorang gadis dusun yang
ditawan mereka. Gadis itu dari dusun sebelah utara bukit sehingga Hong Li tidak pernah mendengar
tentang penculikan itu karena ia datang dari dusun-dusun di sebelah selatan bukit.
Liok Cin dan isterinya dengan hati-hati mengajak Hong Li memasuki sarang itu dari belakang. Dengan
menyusup melalui pohon-pohon dan semak belukar, akhirnya tiga orang itu berhasil masuk pekarangan
belakang sarang gerombolan penjahat itu tanpa diketahui oleh mereka yang kini sedang sibuk mengatur
pesta pernikahan yang akan diadakan pada malam nanti.
Hong Li membayangkan betapa lima ekor kerbau yang dirampas itu kini tentu telah disembelih dan
dagingnya dimasak. Ia merasa mendongkol sekali karena kalungnya tentu akan terpaksa ia berikan kepada
suami isteri petani pemilik kerbau.
“Ssttttt, kita masuk ke dalam melalui pintu belakang itu. Kamar di mana puteri kami ditahan, berada di
ruangan tengah, di kamar yang sebelah kiri,” bisik Liok Cin kepada Hong Li yang mengangguk.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi sebelum mereka membuka daun pintu tembusan di belakang itu, tiba-tiba nampak enam orang
berloncatan dari samping rumah. Tanpa banyak cakap lagi enam orang itu dengan golok di tangan sudah
menyerang Hong Li, Liok Cin, serta isterinya!
Liok Cin dan isterinya sudah mencabut pedang mereka dan melawan, sedangkan Hong Li cepat meloncat
ke samping untuk mengelak dari sambaran dua batang golok! Dan ternyata, melihat dari gerakan mereka,
enam orang ini lihai sekali, tidak kalah lihai dibandingkan Liok Cin dan isterinya! Hong Li mempergunakan
kepandaiannya, ketika ada golok menyambar dari samping, ia miringkan tubuh, tangan kirinya meluncur ke
depan memukul ke arah siku kanan lawan dan kakinya melayang ke depan.
“Desss!”
Paha penyerangnya itu terkena ciuman ujung kakinya dan orang itu pun terpelanting. Agaknya hal ini
mengejutkan yang lain karena kini tiga orang sudah menyerang Hong Li, sedangkan yang jatuh tertendang
tadi sudah meloncat berdiri dan ikut pula mengeroyok! Hong Li dikeroyok empat orang, sedangkan suami
isteri Liok Cin dihadapi dua orang lawan bergolok!
Hong Li marah sekali. Mereka ini harus dirobohkannya dengan cepat, pikirnya. Ia lalu mengerahkan tenaga
Hui-yang Sinkang dan kedua tangannya mengeluarkan hawa panas ketika ia menangkis dan memukul,
membuat empat orang pengeroyoknya tidak mampu dekat. Hawa pukulan yang panas itu membuat
mereka jeri.
Akan tetapi setiap kali Hong Li hendak merobohkan seseorang, ia melihat Liok Cin atau isterinya terancam
golok lawan, maka ia pun terpaksa harus melindungi suami isteri itu lebih dulu sebelum merobohkan para
pengeroyoknya. Ia hanya dapat membuat mereka itu menjauh dengan pukulan jarak jauh dan
tendangannya.
Akhirnya enam orang pengeroyok itu agaknya jeri oleh amukan Hong Li yang biar pun bertangan kosong,
namun terlalu lihai bagi mereka itu, dan mereka lalu melarikan diri.
“Cepat, kita bebaskan puteri kalian sebelum mereka semua datang!” berkata Hong Li sambil menendang
daun pintu terbuka.
Suami isteri Liok Cin lalu mendahului Hong Li, menjadi penunjuk jalan memasuki lorong di dalam bangunan
itu dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar yang daun pintunya tertutup.
“Di sinilah ia disekap,” kata ibu gadis itu.
Hong Li menggunakan kakinya menendang dan daun pintu terbuka. Benar saja, di dalam kamar itu
terdapat seorang gadis yang pakaiannya seperti gadis dusun, namun wajahnya manis sekali, nampak
dibelenggu kaki tangannya di atas sebuah pembaringan dan ia terbelalak ketakutan.
Hong Li dan suami isteri itu berloncatan dan memasuki kamar. Hong Li tetap bersikap waspada, khawatir
kalau di dalam kamar itu dipasangi jebakan. Akan tetapi tidak ada perangkap di situ, hanya ada sesuatu
yang dirasakan sangat ganjil.
Sejenak ia termenung dan memandang ke sekeliling, tidak tahu apakah yang membuat ia merasa ganjil itu.
Kemudian, ia memandang suami isteri itu dan ia pun teringat, dan terkejut, heran dan curiga. Suami isteri
itu melihat pakaian mereka, jelas bukan petani dusun, akan tetapi mengapa puteri mereka ini berpakaian
seperti seorang dusun? Dan pula, mengapa setelah mereka berdua masuk, gadis itu diam saja, bahkan
kelihatan ketakutan, tidak memanggil mereka yang mengaku ayah bundanya itu?
“Kalian... kalian siapakah...?” tanyanya penuh kecurigaan, namun terlambat.
Pada saat itu terdengar suara keras dan pintu yang tadinya terbuka itu kini tertutup terali baja yang kokoh
kuat, yang muncul dari dalam dinding tebal! Hong Li terkejut dan pada saat itu, dari luar nampak beberapa
orang menyemprotkan asap putih ke dalam kamar itu menggunakan alat semprotan!
Hong Li mencoba untuk meloncat dan mendobrak terali baja, tapi belasan ujung tombak menyambutnya,
ditusukkan dari luar terali sehingga terpaksa Hong Li mengurungkan niatnya mendobrak terali. Apa lagi
pada saat itu asap sudah memenuhi kamar. Ia masih dapat bertahan dengan menahan napas, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
akhirnya, asap itu tersedot pula. Ia terbatuk-batuk. Ia mendengar pula gadis itu, juga suami isteri itu batukbatuk
dan ia lalu roboh tak sadarkan diri.
Beberapa orang menggunakan kipas mengebutkan asap putih itu sehingga keluar dari dalam kamar dan
setelah asap itu bersih dari kamar, muncullah seorang laki-laki yang perutnya gendut sekali, kepalanya
botak dan dia mengenakan pakaian serba merah. Inilah Ang-I Siauw-mo, seorang laki-laki yang mukanya
hitam dan kasar, sambil tertawa-tawa dia memasuki kamar itu.
Hong Li menggeletak pingsan di atas lantai, demikian pula halnya Liok Cin dan isterinya, sedangkan gadis
dusun yang terbelenggu itu pun pingsan di atas pembaringannya.
“Ha-ha-ha, gotong Liok Cin dan isterinya keluar, sadarkan mereka. Mereka telah berjasa besar.” Dia lalu
mendekati Hong Li dan melihat betapa gadis itu cantik sekali, kembali dia tertawa senang. “Ha-ha-ha-haha,
dia malah lebih cantik dari perawan dusun itu.” Dia lalu melangkah maju dan menotok kedua pundak
gadis dusun, dan dia berkata kepada anak buahnya yang berkumpul di dalam dan di luar kamar.
“Angkat mereka ke dalam kamarku, siapkan mereka untuk menjadi pengantinku malam ini sehabis pesta.
Ha-ha-ha, sekaligus aku memperoleh dua orang isteri yang manis-manis. Akan tetapi, walau pun sudah
tertotok jalan darahnya, dia ini harus dibelenggu kedua kaki tangannya di atas pembaringanku. Ia lihai
sekali. Gadis dusun itu tidak perlu dibelenggu. Hati-hati, jangan ganggu mereka. Mereka adalah isteriisteriku,
tahu?”
Sambil tertawa, Ang-I Siauw-mo meninggalkan kamar itu dan empat orang wanita yang menjadi anggota
gerombolan itu lalu melaksanakan perintahnya, mengangkat tubuh Hong Li dan gadis dusun yang pingsan,
digotong ke dalam kamar pengantin!
Hong Li menggerakkan pelupuk matanya. Kesadarannya kembali perlahan-lahan. Dia berusaha
menggerakkan kaki tangannya, namun sia-sia. Ia telah ditotok sehingga jalan darahnya terhenti. Ia
membuka matanya dan terkejut, juga marah sekali. Bukan hanya tertotok, bahkan kedua kaki dan
tangannya dibelenggu dengan kaki pembaringan! Dan dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat!
Dia melirik dan melihat bahwa gadis dusun itu pun rebah terlentang bagaikan dirinya, telanjang bulat, di
pinggir yang lainnya dari pembaringan itu. Akan tetapi gadis itu tidak dibelenggu, hanya melihat betapa
gadis itu juga tidak mampu bergerak, jelas bahwa gadis itu pun telah tertotok jalan darahnya.
Ia melirik ke kanan kiri, dan ia masih bisa menggerakkan kepalanya. Ternyata ia berada di atas sebuah
pembaringan yang lebar, di dalam sebuah kamar yang dihias dengan bunga-bunga dan kertas berwarna!
Ada sebuah meja dengan empat buah bangkunya, ada almari pakaian, ada jendela dan pintunya yang
semua dicat baru. Kamar pengantin! Kemarahannya memuncak, akan tetapi dicampuri rasa khawatir!
Jantungnya berdebar tegang.
“Tenanglah, Hong Li, tenanglah engkau...” demikian bisik hatinya.
Ia melihat betapa belenggu kaki tangannya terbuat dari baja yang kuat. Pendeknya, ia tidak berdaya dan
tidak mungkin dapat melepaskan diri mengandalkan kekuatannya. Ia lalu mengenangkan apa yang telah
terjadi.
Tidak salah lagi, pikirnya gemas. Suami isteri Liok Cin itu adalah kaki tangan penjahat yang sengaja
memancing dan menjebaknya masuk ke dalam kamar itu! Suami isteri itu pura-pura saja ketika mereka
dikeroyok oleh enam orang penjahat. Kini teringatlah ia.
Pantas saja suami isteri itu selalu terdesak dan terancam kalau ia hendak merobohkan lawan, kiranya
memang mereka itu sengaja mencegah ia untuk melukai kawan mereka sendiri! Agaknya mereka diutus
oleh kepala mereka untuk memancing dan ini hanya berarti bahwa kepala mereka sudah tahu akan
kelihaiannya!
Tentu saja! Orang-orang Ang-I Mo-pang tentu saja mengenalnya sebagai seorang gadis yang berilmu
tinggi! Dan suami isteri itu bahkan disuruh mengujinya, mengeroyoknya, juga enam orang yang menyerang
itu, disuruh mengujinya. Baru setelah mereka yakin tidak akan mampu mengalahkannya, ia dipancing
masuk kamar oleh suami isteri Liok Cin dan dibuat pingsan dengan semprotan asap pembius!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah jelas bahwa gadis dusun yang diculik ini sama sekali bukan puteri Liok Cin dan isterinya! Mereka itu
orang kota, orang-orang kang-ouw, dan gadis ini gadis dusun yang lemah! Betapa bodohnya dia dapat
memasuki perangkap!
Gadis dusun itu mengeluh, siuman dari pingsannya. Hong Li menoleh kepadanya. Gadis itu pun berusaha
menggerakkan kaki tangannya akan tetapi tidak berhasil. Dan ia sudah membuka kedua matanya dan
kelihatan ketakutan, sepasang matanya terbelalak! Dan ia menangis!
“Ahh, menangis tidak ada gunanya...” kata Hong Li.
Gadis itu menoleh dan baru melihat Hong Li.
“Apa... apa yang telah terjadi...?” tanya gadis dusun itu, “dan siapakah engkau, Nona? Kenapa Nona dapat
berada di sini...?”
Hong Li tersenyum dan merasa heran sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat tersenyum!
“Nanti dulu. Katakan apakah engkau mengenal laki-laki dan perempuan yang datang bersamaku memasuki
kamar di mana engkau terbelenggu itu?”
Ia memang sudah dapat menduga akan jawaban gadis itu. “Tidak, aku tidak mengenal mereka, Nona.”
“Hemmm, sudah kuduga begitu. Mereka adalah kaki tangan penjahat. Aku datang untuk menolongmu,
akan tetapi juga tertawan dan kini kita mempunyai nasib yang sama. Sekarang ceritakan bagaimana
engkau terculik oleh mereka.”
Gadis itu bercerita. Ia tinggal di dusun sebelah utara bukit ini dan ia terkenal sebagai kembang dusundusun
di sekitar daerah itu. Ia sudah ditunangkan dengan putera lurah dusun. Akan tetapi pada hari yang
naas itu, ketika dia mencuci pakaian di sungai, dia terlihat oleh seorang laki-laki gendut yang berpakaian
serba merah.
Ia lalu ditangkap, ditotok sehingga tak mampu berteriak dan dibawa ke sarang penjahat ini, lalu disekap
dalam kamar selama tiga hari. Ia belum diganggu oleh si gendut baju merah, akan tetapi dibujuk untuk
dengan suka rela mau menjadi isteri si gendut. Mereka akan menikah, dan perayaannya dilakukan hari ini,
malam ini!
“Apakah orang tuamu dan para penghuni dusun, juga lurah calon mertuamu itu, tidak mencarimu?”
“Tentu mereka mencari, akan tetapi bagaimana mereka akan mampu melawan para penjahat kejam itu?
Dan ternyata sampai kini, tak ada yang datang menolongku kecuali engkau, Nona. Sayang engkau sendiri
tertangkap...,” dan gadis dusun itu menangis lagi.
“Sudah, jangan menangis. Selagi aku masih hidup, aku akan selalu berusaha untuk menyelamatkan diriku
sendiri dan juga engkau. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi.”
Walau pun mulutnya bicara demikian, namun kalau membayangkan apa yang mungkin terjadi, Hong Li
merasa jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ketakutan. Ia tahu bahwa tentu kepala penjahat itu
akan menggauli ia dan gadis dusun itu dengan paksa! Kepala penjahat itu akan memperkosa mereka
berdua, di atas pembaringan itu! Dalam keadaan tertotok dan terikat, bagaimana dia mampu
membebaskan diri dan mencegah terjadinya penghinaan itu?
Dari kamar itu, Hong Li dapat mendengar suara riuh rendah orang tertawa di ruangan depan. Mereka
sedang berpesta pora, pikirnya. Dan kamar ini sama sekali tidak terjaga! Alangkah akan mudahnya
membebaskan diri kalau saja ia tidak tertotok, terbelenggu lagi! Dan mereka berdua, ia dan gadis dusun
itu, dalam keadaan tak berdaya, bugil dan tidak ada yang dapat menolong mereka!
Tiba-tiba ia mendengar sesuatu di jendela, di luar jendela kamar itu.
“Ssttttt... jangan menangis...,” bisiknya kepada gadis itu yang masih terus tersedu-sedu. “Jangan berisik...!”
Gadis dusun itu memaksa dirinya untuk berhenti menangis, atau setidaknya berhenti mengeluarkan suara
tangis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perhatian Hong Li dicurahkan ke arah jendela kamar. Jelas ada gerakan orang di luar kamar, di luar
jendela, disusul suara seorang laki-laki, berbisik namun terdengar jelas olehnya.
“Yo Han, cepat kau masuk ke dalam dan... selimuti mereka...”
Hong Li merasa betapa jantungnya berdetak keras sekali, terasa benar di telinga dan tenggorokannya,
seolah-olah jantungnya akan meledak! Yo Han! Anak itu...! Dan suara yang bicara itu... siapa lagi kalau
bukan Sin Hong yang bicara kepada Yo Han tadi?
Terbelalak ia memandang ke arah jendela. Daun jendela tiba-tiba terbuka dan seorang pemuda kecil
berusia kurang lebih sepuluh tahun, meloncati jendela itu dan masuk ke dalam kamar! Meski penerangan
dalam kamar itu remang-remang, kemerahan karena lampu meja itu dikerudungi kertas merah, namun
Hong Li masih mengenal Yo Han!
“Yo Han...!”
“Enci Hong Li... jangan khawatir, Suhu datang menolong!” kata anak itu yang cepat menyambar sebuah
selimut yang terlipat di sudut pembaringan, lalu dia menyelimutkan selimut itu di atas tubuh Hong Li dan
gadis dusun itu dari kaki sampai ke leher.
Kemudian, Yo Han menoleh ke arah jendela dan berbisik, “Suhu, dua-duanya sudah teecu selimuti...!”
Bayangan itu berkelebat cepat sekali melompati jendela, dan Sin Hong sudah berdiri di kamar itu! Hong Li
memandang kepadanya, dan Sin Hong juga memandang kepada Hong Li. Dua pasang mata bertemu,
bertaut dalam kemuraman kamar itu, dan perlahan-lahan dua buah mata yang bening dari Hong Li menjadi
basah dan air matanya pun terurai keluar.
“Adik Hong Li...!”
“Sin Hong koko…. ehhh, Susiok...”
Kecanggungan dan kegagapan Hong Li ini cukup sudah untuk membuyarkan keharuan dari batin kedua
orang muda ini. Mereka memang dua orang muda yang tergembleng sehingga memiliki batin yang sudah
amat kuat sehingga keharuan itu hanya merupakan gelombang yang melewat begitu saja. Keduanya
tersenyum.
Seruan itu saja cukup bagi mereka, cukup jelas mengungkap isi hati mereka yang penuh kerinduan dan
kemesraan satu kepada yang lain.
Sin Hong lalu menghampiri Hong Li dan membebaskan totokan dengan menekan kedua pundak Hong Li.
Seketika tubuh Hong Li dapat bergerak. Melihat belenggu rantai baja yang kuat itu, Sin Hong mencabut
Cui-beng-kiam dan empat kali menggerakkan pedang pusaka itu, belenggu kaki tangan Hong Li terlepas.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara tertawa dari luar kamar, “Ha-ha-ha, dua orang isteriku,
pengantinku, bersiaplah kalian. Suamimu datang, ha-ha-ha!”
Mendengar ini, Sin Hong cepat berbisik, “Hong Li, kau pura-pura masih terbelenggu dan tertotok...!”
Dan secepat kilat Sin Hong sudah menyambar tubuh muridnya, sekali meloncat sudah keluar dari dalam
kamar melalui jendela dan menutupkan daun jendela, lalu mengintai dari luar.
Daun pintu kamar terbuka dan masuklah seorang laki-laki berperut gendut berkepala botak yang
pakaiannya serba merah. Diam-diam Hong Li memperhatikan pria itu dan biar pun ia tidak ingat lagi,
namun ia merasa yakin bahwa tentu pria ini seorang bekas anak buah Ang-I Mo-pang yang berhasil
meloloskan diri dari pasukan pemerintah yang menyergap para pemberontak.
Ang I Siauw-mo kembali tertawa bergelak melihat dua orang pengantinnya masih rebah terlentang di atas
pembaringan, yang seorang di pinggir sana dan seorang lagi di pinggir sini. Tadi dia sudah
membayangkan, alangkah nyamannya kalau dia rebah di tengah-tengah, di antara mereka berdua!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, isteri-isteriku yang manis! Kalian sungguh sabar menanti kedatangan suami kalian yang
mencinta. Heh-heh-heh, dan para pelayan itu sungguh sungkan, menutupi tubuh kalian yang mulus dengan
selimut. Tunggulah, sayang, bersabarlah sedikit lagi, suamimu segera akan menemani kalian bersenangsenang,
ha-ha-ha-ha-ha...!” Dia lalu menghampiri pembaringan, agak terhuyung karena terlalu banyak
minum.
Hong Li mencium bau arak dan ia hampir muntah, bukan hanya karena bau itu, tetapi karena muak
menyaksikan tingkah laku orang berperut gendut dan berkepala botak ini. Seluruh urat syaraf di tubuhnya
sudah meregang semua, tubuhnya pun dipenuhi hawa sinkang seperti hendak meledak, akan tetapi ia
menahan diri.
Si gendut botak itu menyingkap selimut dan melihat dua tubuh telanjang bulat itu, dia menyeringai.
Mulutnya mengeluarkan bunyi berdecak sambil mengeluarkan air liur yang menetes di ujung bibirnya. Akan
tetapi pada saat dia mengulur tangan hendak meraba tubuh Hong Li, mendadak saja wanita ini bergerak
memukul dengan kedua tangannya, tangan kiri dengan pengerahan tenaga Hui-yang Sinkang
menghantam kepala botak itu, dan tangan kanan menonjol ke arah dada.
“Desss... prokkk...”
Tubuh Ang-I Siauw-mo terjengkang. Dia tidak sempat lagi mengeluarkan suara karena serangan yang
sangat dahsyat itu sudah membuat kepalanya pecah dan jantungnya tergetar rontok dan dia tewas
seketika sebelum tubuhnya terbanting ke atas lantai!
Hong Li cepat-cepat menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaiannya, kemudian dia membebaskan
pula totokan gadis dusun itu yang juga segera mengenakan pakaian dengan seluruh tubuh menggigil dan
tangan gemetar, mulutnya menahan tangis saking takutnya.
Sin Hong dan Yo Han melompat masuk ke dalam kamar melalui jendela. “Yo Han, kau bawa Enci ini keluar
dari sini dan tunggu kami di hutan belakang sarang ini. Kami akan membasmi gerombolan penjahat,” kata
Sin Hong kepada muridnya.
“Baik, Suhu. Mari, Enci...!” katanya dan Yo Han menggandeng tangan gadis dusun itu yang tidak banyak
tingkah lagi, menurut saja dituntun oleh Yo Han keluar dari dalam kamar melalui jendela dan mereka
berdua menghilang di dalam kegelapan malam.
“Hong Li, mari kita hajar mereka!” kata Sin Hong sambil memandang wanita muda itu dengan sinar mata
berseri.
Hong Li mengangguk dan tersenyum pula. Setelah terbebas dari ancaman mala petaka dan kini sudah
berpakaian lagi, apa lagi, di situ ada Sin Hong di sampingnya, segala sesuatu berubah baginya.
Kegembiraannya serta kegairahan hidupnya, kembali pulih seperti dahulu.
“Mari, Hong-ko!” Ia tidak ragu-ragu menyebut orang muda itu ‘kakanda’, bukan paman guru! Sin Hong
tersenyum dan dia lalu mencengkeram baju di punggung mayat Ang-I Siauw-mo, dan keluar dari dalam
kamar itu melalui pintu.
Para anak buah perampok itu masih berpesta pora mabuk-mabukan di ruangan tengah yang luas, di antara
mereka terdapat pula Liok Cin dan isterinya, dan empat orang anggota wanita. Tiba-tiba mereka semua
dikejutkan oleh sebuah benda merah yang melayang dari luar dan benda itu jatuh terbanting ke atas meja,
membuat mangkok piring berhamburan dan ketika mereka melihat bahwa benda merah itu adalah Ang-I
Siauw-mo, ketua mereka yang sudah tewas dengan kepala pecah, tentu saja mereka semua terkejut bukan
main.
Pada saat itu, nampak dua sosok bayangan berkelebat dan gadis yang tadi ditawan dengan asap pembius
dan akan dijadikan isteri oleh ketua mereka, kini telah berdiri di situ bersama seorang pria muda yang
berpakaian serba putih! Hong Li yang sudah tidak sabar lagi lalu meloncat dan menyerang Liok Cin dan
isterinya.
“Jahanam busuk, kalian tak layak hidup!” bentak Hong Li.
Liok Cin dan isterinya terkejut bukan main. Mereka mencabut pedang dan berusaha melawan, tapi gerakan
mereka terlambat. Hong Li sudah mengirim tamparan-tamparan maut dengan kedua tangannya dan suami
dunia-kangouw.blogspot.com
isteri jahat itu terpelanting, hanya sempat mengeluarkan keluhan pendek dan keduanya tewas dengan
kepala retak-retak!
Gegerlah keadaan di situ. Sin Hong dan Hong Li mengamuk. Biar pun keduanya hanya bertangan kosong,
tapi anak buah penjahat itu mana mungkin dapat menahan amukan mereka? Tadinya para penjahat itu
masih mengandalkan jumlah banyak. Akan tetapi mereka kecelik karena dalam waktu singkat saja,
separuh jumlah mereka sudah roboh dan tewas! Setiap kali tangan atau kaki Sin Hong dan Hong Li
bergerak, tentu ada seorang yang roboh dan tewas.
Melihat ini, sisa para penjahat melarikan diri dan tentu saja Sin Hong dan Hong Li tidak dapat merobohkan
mereka semua karena mereka melarikan diri secara berpencaran. Namun, banyak yang dapat dikejar dan
dirobohkan sehingga tak kurang dari dua puluh orang penjahat malam itu roboh dan tewas di tangan dua
orang pendekar yang sakti itu.
Karena semua sisa penjahat sudah lari entah ke mana, Sin Hong dan Hong Li berdiri di ruangan yang
penuh mayat itu, saling pandang sampai beberapa lamanya. Akhirnya, Hong Li menundukkan mukanya.
“Hong-ko... terima kasih... engkau telah menyelamatkan aku...”
“Aihh, Li-moi, perlukah di antara kita berterima kasih? Saling tolong antara kita sudah menjadi keharusan,
bukan? Apakah kalau engkau melihat aku berada dalam ancaman bahaya, engkau tidak akan mencoba
untuk menolongku?”
“Tentu saja, dengan mempertaruhkan nyawaku, Hong-ko.”
Sin Hong menelan ludah untuk menekan keharuan hatinya. “Demikian pula aku, Li-moi. Nah, mari kita cari
Yo Han.”
Keduanya meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan itu, di mana terdapat banyak mayat
bergelimpangan. Tanpa saling mengetahui, mereka masing-masing merasa amat gembira, begitu bahagia,
begitu lengkap rasanya hidup!
Yo Han menanti bersama gadis dusun itu di dalam hutan. Dia menyambut munculnya dua orang itu dengan
gembira, “Apakah mereka telah terbasmi semua, Suhu dan Enci Hong Li?”
“Ada sebagian yang berhasil melarikan diri,” kata Sin Hong.
Hong Li memegang tangan gadis dusun itu. “Sekarang mari kami antar kau pulang ke dusunmu.”
Pada keesokan harinya, keluarga gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan tangis keharuan dan
kegembiraan. Orang sedusun berduyun datang ketika mendengar bahwa gadis itu telah dapat
diselamatkan orang, dan mereka ingin menjamu kepada Sin Hong dan Hong Li, juga Yo Han untuk
menyatakan terima kasih. Akan tetapi Sin Hong dan Hong Li menolak dan mereka segera berpamit,
meninggalkan tempat itu…..
********************
“Enci Hong Li, bagaimana Enci sampai tertangkap oleh para penjahat itu? Enci hendak ke mana dan
datang dari manakah?” tanya Yo Han ketika mereka menanti Sin Hong yang pergi berburu binatang hutan
untuk mereka makan karena mereka sudah merasa lapar sekali. Mereka duduk di bawah pohon dan
bercakap-cakap.
“Nanti dulu, Yo Han. Kau ceritakan dulu bagaimana engkau dan gurumu dapat datang tepat pada waktunya
dan dapat menyelamatkan aku dan gadis dusun itu. Kalian dari manakah dan bagaimana bisa sampai di
sarang penjahat itu?” Hong Li balas bertanya karena ia pun ingin sekali mendengar tentang keadaan Sin
Hong.
Semenjak pertemuan mereka di sarang penjahat, mengantarkan gadis dusun pulang ke rumahnya dan
melakukan perjalanan bersama sampai di hutan itu, di mana mereka merasa lapar dan Sin Hong pergi
berburu binatang, mereka berdua tidak pernah saling menyinggung keadaan masing-masing sejak
pertemuan mereka yang terakhir kalinya, yaitu ketika Sin Hong bersama isterinya menjadi tamu dalam
pesta pernikahan Hong Li dan Thio Hui Kong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja di dalam hati mereka timbul pertanyaan besar dan keinginan tahu yang mendalam mengapa
mereka, yang sudah beristeri dan bersuami, sekarang melakukan perjalanan bersama, tanpa isteri dan
tanpa suami mereka. Akan tetapi, untuk bertanya, mereka merasa canggung dan malu, apa lagi untuk
menceritakan perceraian mereka, keduanya merasa sangat sungkan.
Kini Yo Han berdua saja dengan Hong Li dan inilah kesempatan baik baginya untuk mencari tahu tentang
keadaan Sin Hong. Sebaliknya, Sin Hong sengaja meninggalkan Yo Han berdua saja dengan Hong Li,
tentu saja mengharapkan murid itu dapat menjadi ‘wakil’ untuk bicara dengan Hong Li. Hal ini dimengerti
sepenuhnya oleh Yo Han, anak yang cerdik itu.
“Enci Hong Li, suhu dan aku sedang merantau. Sudah hampir setahun kami merantau berdua...”
“Ehhh? Bukankah kalian tinggal bersama-sama keluarga isteri gurumu, di perguruan Ngo-heng Bu-koan di
kota Lu-jiang?”
Yo Han menarik napas panjang. Ia sengaja mengulur waktu dalam jawabannya untuk menambah kesan.
“Aihhh, agaknya Enci Hong Li belum tahu, ya? Suhu sudah lama sekali bercerai dari isterinya.”
“Hehhh...? Bercerai...?” Seruan Hong Li seperti sorakan, dan ia nampak terkejut sekali, akan tetapi tidak
berduka. “Mengapa?”
Otak di kepala yang belum dewasa itu bekerja dan Yo Han melihat kesempatan baik untuk ‘mendekatkan’
dua orang yang dia tahu saling mencinta itu. Beberapa kali dia mendengar suhu-nya mengigau memanggilmanggil
nama Hong Li dalam tidurnya!
“Enci Hong Li, apa yang kuceritakan ini rahasia, dan jangan sekali-kali diberi tahukan suhu. Tentu aku akan
mendapat marah besar kalau sampai aku membocorkan rahasia suhu.”
“Baik, aku berjanji akan menyimpan rahasia itu. Ceritakanlah!”
“Begini, Enci Hong Li. Suhu sebetulnya terpaksa ketika menikah dengan Bhe Siang Cun itu. Suhu
menyelamatkannya pada waktu dia akan diperkosa orang, dan suhu bahkan mengobatinya dari racun.
Karena suhu pernah melihat dia dalam keadaan telanjang, gadis itu mengancam akan membunuh diri
kalau tidak dijodohkan dengan suhu karena ia merasa telah mendapat aib dan malu. Nah, terpaksa suhu
menikah dengan wanita yang sama sekali tidak pernah dicintanya.”
“Hemmm, jadi itukah sebabnya mengapa semalam dia tidak berani masuk menolong aku dan gadis dusun
itu?”
“Benar, Enci Hong Li. Suhu tidak berani lagi melihat wanita telanjang, takut kalau terjadi lagi kawin paksa
itu. Akan tetapi suhu bilang, andai kata Enci Hong Li sendiri saja yang berada di kamar itu, tidak bersama
gadis dusun itu, tentu suhu akan langsung masuk!”
“Ehhh?!”
“Tentu saja! Apa Enci tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Semenjak dahulu, suhu hanya mencinta
Enci seorang. Tidak ada wanita lain di dunia ini yang dicinta suhu kecuali Enci Hong Li!”
Sepasang mata itu terbelalak dan menatap wajah Yo Han dengan basah. “Kau... kau yakin benar akan hal
itu?”
“Tentu saja, Enci. Suhu sendiri yang memberi tahu kepadaku.”
“Kalau begitu, kenapa dulu dia tidak melamarku?”
“Suhu ingin sekali, akan tetapi tidak berani, Enci. Suhu tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai guru
lagi dan tidak ada walinya. Apa lagi Enci adalah puteri suheng-nya, dan suhu seorang yang miskin dan
sebatang kara, suhu tidak berani...”
“Hemmm, sudahlah, teruskan ceritamu. Kenapa dia bercerai dengan isterinya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudah kukatakan tadi, suhu tidak cinta kepada isterinya, juga isterinya tidak cinta kepada suhu. Isterinya
hanya ingin dinikah untuk menebus rasa aib dan malu. Akhirnya, isterinya itu bertemu dengan bekas
kekasihnya dan mereka berhubungan kembali. Suhu melihat ini, lalu mengalah, memberikan isterinya
kepada orang yang dicinta isterinya, dan bercerai. Kemudian kami pun pergi merantau.”
Hong Li termenung, pikirannya melayang jauh sekali.
“Enci...”
Hong Li terkejut dan kembali sadar dari lamunannya. “Sekarang ceritakan bagaimana dapat datang ke
sarang penjahat itu.”
“Kami lewat dusun tempat tinggal gadis yang diculik. Suhu mendengar bahwa ada gadis yang diculik
penjahat, maka suhu kemudian melakukan penyelidikan dan akhirnya dapat menemukan sarang penjahat
itu, sama sekali tidak pernah mimpi akan bertemu dengan Enci di sana. Nah, demikianlah ceritanya, Enci
Hong Li. Sekarang, harap Enci juga suka menceritakan tentang diri Enci. Bagaimana Enci dapat berada di
sarang penjahat itu, bahkan menjadi tawanan? Rasanya sangat mustahil Enci sampai dapat tertawan oleh
mereka, mengingat ilmu kepandaian Enci yang sangat tinggi!”
Hong Li menarik napas panjang. “Aku tertipu, Yo Han.”
Lalu ia menceritakan betapa ia hendak menyelidiki penjahat yang merampas lima ekor kerbau milik petani
dusun, dan betapa ia tertipu oleh Liok Cin dan isterinya, anak buah penjahat sehingga ia terperangkap dan
pingsan oleh asap pembius.
“Untunglah suhu-mu datang tepat pada waktunya, Yo Han. Aku berterima kasih sekali padanya.”
“Tapi, Enci Hong Li. Bagaimana Enci melakukan perjalanan sendirian saja, tanpa... ahh, maaf, tanpa suami
Enci Hong Li?”
Hong Li menundukkan mukanya yang berubah merah. Memang tidak sepantasnya jika dia menceritakan
perceraiannya kepada seorang bocah, akan tetapi bocah ini adalah murid Sin Hong dan tentu dia akan
menyampaikannya kepada Sin Hong!
“Aku aku telah bercerai!”
“Wahhhhh...!” Yo Han meloncat dan bersorak.
“Ihhh! Apa kau gila? Kenapa malah bersorak?”
Yo Han duduk kembali di atas rumput. “Maaf, Enci. Aku bersorak karena heran. Kenapa sama benar
dengan keadaan suhu? Maaf, dapatkah Enci menceritakan keadaan Enci, mengapa bercerai? Suhu tentu
akan senang sekali mendengarnya.”
Kembali wajah Hong Li menjadi merah, akan tetapi dia menekan perasaannya. Bagai mana pun juga, Yo
Han ini masih kecil dan belum mengerti ‘urusan’.
“Seperti juga suhu-mu, pada saat itu aku menikah tanpa rasa cinta. Setelah mendengar bahwa gurumu
menikah, aku lalu dinikahkan dengan putera Jaksa Thio di Pao-teng. Akan tetapi, pernikahan itu gagal.
Kami tidak saling cocok, dan akhirnya bercekcok terus hingga aku minta cerai. Lalu aku melakukan
perjalanan merantau untuk menghibur diri, sampai aku terperangkap oleh penjahat itu.”
Yo Han mengangguk-angguk. “Sungguh mati, sama benar nasib Enci dan nasib suhu. Agaknya suhu juga
merasakan hal ini dalam batinnya, maka dia pernah mengatakan kepadaku bahwa suhu tak akan menikah
lagi kecuali dengan satu-satunya wanita yang dicintanya di dunia ini, yaitu Enci Hong Li. Dan suhu bilang
bahwa...” Yo Han diam dan menoleh ke sana-sini seolah-olah yang akan diucapkan itu rahasia besar dan
dia takut terdengar orang lain.
“Dia bilang apa? Cepatlah katakan, Yo Han!” Hong Li tentu saja ingin tahu sekali dan mendesaknya.
“Suhu bilang bahwa suhu akan mencukur rambut kepalanya dan masuk menjadi hwesio kalau dalam tahun
ini dia tidak dapat bertemu dan menjadi suami Enci Hong Li.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh...!” Hong Li tak dapat menahan perasaannya dan ia pun terisak menangis!
“Enci...! Kenapa... kau menangis?”
Hong Li menghapus air matanya. “Yo Han, katakan kepada suhu-mu... jangan... jangan dia menjadi
hwesio...”
Yo Han mengangguk dan pada saat itu, Sin Hong muncul membawa seekor kijang yang sudah mati,
dirobohkannya kijang itu dengan sambitan batu yang mengenai kepalanya. Hong Li sudah dapat
menguasai dirinya lagi dan sekarang Hong Li dan Yo Han sibuk menguliti dan menyayat daging kijang.
“Aku akan mengumpulkan kayu bakar!” kata Sin Hong yang melangkah pergi.
“Mari kubantu, Suhu!” kata Yo Han sambil melompat dan lari mengejar, meninggalkan Hong Li seorang diri
melanjutkan perjalanannya…..
********************
“Suhu, tadi teecu bicara dengan enci Hong Li,” kata Yo Han sambil memunguti ranting-ranting kayu kering.
“Hemmm...?” Sin Hong pura-pura tidak memperhatikan. Bagaimana pun juga, ia merasa malu untuk
memperlihatkan perhatiannya terhadap Hong Li kepada muridnya yang amat cerdik itu.
“Tahukah Suhu bahwa enci Hong Li telah bercerai dari suaminya?”
“Brakkk...!” Sebongkok kayu yang sudah dikumpulkan di tangannya, kini terlepas dan kayu kering itu jatuh
ke depan kakinya.
“Ehhh? Benarkah...?” Sin Hong cepat memunguti lagi kayu-kayu itu untuk menutupi kekagetan dan
kegembiraannya mendengar berita itu. Yo Han tersenyum sendiri.
“Benar, Suhu. Enci Hong Li menikah karena desakan orang tua dan karena enci Hong Li mendengar Suhu
sudah menikah dengan gadis lain. Akan tetapi karena pernikahan itu tanpa cinta, mereka hidup menderita,
selalu cekcok dan akhirnya enci Hong Li minta cerai dari suaminya. Dia lalu pergi merantau untuk
menghibur dirinya sampai akhirnya bertemu dengan Suhu di sarang penjahat itu.”
Yo Han menceritakan dan mengulang kembali apa yang didengarnya. Sin Hong pura-pura tak
memperhatikan, tapi ia membuka kedua telinganya lebar-lebar dan menangkap semua cerita muridnya,
tidak ada sebuah kata pun terlewat.
“Apakah... apakah ia tidak bilang bahwa ia akan menikah lagi?”
“Ia memang mengatakan isi hatinya itu, Suhu, akan tetapi itu rahasia! Teecu mana berani membuka
rahasia hatinya kepada orang lain? Bukankah Suhu mengajarkan agar orang dapat menyimpan rahasia
orang lain?”
“Hushhh! Aku bukan orang lain! Aku gurumu, mengerti? Hayo katakan, aku perintahkan engkau untuk
mengatakan, apa yang diucapkan oleh Hong Li kepadamu!”
Yo Han tersenyum dan berdiri tegak. “Siap, Suhu! Enci Hong Li mengatakan bahwa ia hanya mencinta
seorang pria saja di dunia ini, yaitu Suhu sendiri! Dulu dia menanti lamaran Suhu, akan tetapi Suhu malah
menikah dengan wanita lain. Sekarang, ia hanya mengharapkan supaya dipinang oleh Suhu. Ia hanya mau
menikah dengan Suhu, tidak dengan orang lain dan katanya lagi...” Yo Han berhenti dan memandang ke
kanan kiri.
“Ya? Lalu bagaimana? Katakanlah, tidak ada orang lain yang mendengarkan di sini!”
“Kata enci Hong Li, kalau Suhu tidak meminangnya untuk menjadi isteri Suhu, kalau Suhu sampai berpisah
lagi dengan enci Hong Li tanpa pinangan itu, maka enci Hong Li tidak akan pulang.”
“Tidak pulang? Lalu ke mana?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ia mau langsung saja pergi ke kuil dan mencukur gundul rambut kepalanya!”
“Mencukur kepalanya?”
“Ya, untuk menjadi nikouw (pendeta wanita)!”
“Ahhh...!” Kembali kayu-kayu ranting itu terlepas dan runtuh. “Kau kumpulkan dan bawa kayu ini kesana.
Aku mau bicara dengan Hong Li!”
Sin Hong berlari-lari meninggalkan muridnya! Yo Han berdiri dan tertawa-tawa seorang diri dengan penuh
kebahagiaan, lalu mengumpulkan kayu-kayu kering, tidak tergesa-gesa, bahkan berlambat-lambat!
Sin Hong berlari bagai terbang dan dia mendapatkan Hong Li sudah selesai memotong-motong daging
kijang. Melihat dia datang dengan tangan kosong, kedua mata Hong Li membelalak.
“Ehh, mana kayu keringnya?” tanyanya sambil tersenyum.
Sin Hong berdiri terpesona. Alangkah cantik jelitanya Hong Li, pikirnya, matanya yang lebar indah itu
berseri, mulutnya menahan senyum.
“Hong Li... aku... aku mau bicara denganmu...,” kata Sin Hong gagap sambil melangkah maju
menghampiri.
Hong Li bangkit berdiri. “Tentu saja boleh, Hong-koko. Mau bicara apakah?”
Mereka berdiri berhadapan, dalam jarak dekat, saling pandang dan kembali dua pasang mata bertaut,
melekat dan muncul getaran aneh yang membuat dada mereka laksana diamuk badai.
“Li-moi, aku... aku... meminangmu untuk menjadi isteriku!”
Sepasang mata itu makin terbelalak. Sungguh pun ucapan itu merupakan harapannya semenjak dahulu,
namun begitu tiba-tiba datangnya dan ia benar terkejut bukan main. Wajahnya berubah pucat, lalu menjadi
merah sekali dan ia tidak tahu harus berkata apa.
“Li-moi, maafkan aku... akan tetapi, aku... aku cinta padamu, Li-moi, aku tidak tahan untuk hidup jauh
darimu lagi. Aku... aku ingin menjadi suamimu, selama hidup berada di sampingmu, kau... kau... sudikah
kau menjadi isteriku, Hong Li...?”
Sepasang mata yang terbelalak lebar itu memandang wajah Sin Hong tanpa berkedip, kemudian perlahanlahan
mata itu menjadi basah dan air matanya bercucuran. Hong Li menangis!
“Li-moi, kau... kau menangis...?” Sin Hong melangkah maju, akan tetapi tidak berani menyentuh, hatinya
bingung sekali melihat wanita itu menangis.
Hong Li mengangkat mukanya dan Sin Hong makin heran. Muka itu seperti tersenyum bahagia. Akan
tetapi air mata itu bercucuran!
“Hong-ko... be... benarkah engkau… cinta kepadaku? Benarkah engkau ingin menjadi suamiku? Ahhh,
Hong-ko...!”
Mereka saling merangkul dan dengan penuh kemesraan, penuh kasih sayang, penuh kerinduan yang
sudah menahun, Sin Hong mengangkat muka itu, muka yang basah air mata dan dia pun menciumi muka
itu, mengecup mata, hidung, mulut dengan sepenuh cinta hatinya. Tak ada puasnya dia mencium muka
Hong Li, bagaikan turunnya hujan setelah langit mendung gelap dan tebal. Hong Li menerimanya dengan
pasrah, dengan bahagia, kadang-kadang membalas dengan malu-malu, bagaikan setangkai bunga yang
menjadi segar tersiram air hujan.
Setelah melepaskan kerinduan hati masing-masing, sampai kedua pasang kaki mereka gemetar. Sin Hong
menarik tubuh kekasihnya itu, dipangkunya di atas rumput dan dengan sikap manja Hong Li menyandarkan
mukanya di atas dada Sin Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hong-koko... “
“Hemmm...?”
“Kau... kau jangan menjadi... hwesio...!”
“Jadi hwesio?”
“Katanya, kalau aku tidak mau menjadi isterimu, engkau akan menjadi hwesio...?”
“Kata siapa?”
“Yo Han!”
“Hemmm, tidak, Sayang. Engkau sudah menerima pinanganku, bukan? Kalau engkau menolak, bukan
hanya menjadi hwesio, bahkan aku akan menjadi gila. Dan engkau pun jangan masuk kuil mencukur
rambutmu yang indah ini dan menjadi nikouw!”
“Ehhh? Siapa jadi nikouw?”
“Katanya, kalau aku tidak meminangmu, engkau akan mencukur rambutmu dan menjadi nikouw?”
“Siapa bilang?”
“Yo Han!”
Keduanya tertawa dan kembali mulut mereka saling bertemu dalam sebuah ciuman yang menumpahkan
seluruh curahan kasih sayang dan kerinduan hati mereka. Barulah terasa oleh mereka berdua, betapa
selama ini mereka kehilangan kebahagiaan mereka, kehilangan orang yang mereka cinta dan rindukan.
Yo Han datang perlahan-lahan. Ketika melihat dia, Hong Li hendak menjauhkan diri dari kekasihnya, akan
tetapi Sin Hong memeluknya makin erat, lalu memanggil, “Yo Han, ke sini kau!”
“Ya, Suhu “
Dengan sikap takut-takut Yo Han melangkah maju mendekat dan setelah menurunkan sebongkok besar
kayu kering, dia kemudian menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut karena gurunya duduk di
atas tanah berumput.
“Kau bocah pembohong besar!” Sin Hong membentak. “Apa yang sudah kau katakan kepada Hong Li?”
“Mengatakan apa, Suhu?”
“Tentang menjadi hwesio!”
“Dan apa yang kau katakan kepada suhu-mu tentang menjadi nikouw, Yo Han?” Hong Li juga bertanya.
Yo Han menjadi bingung dan ketakutan. Lalu dia memberi hormat sambil berlutut.
“Teecu... teecu minta maaf, teecu bersalah... teecu siap dihukum...”
“Maju ke sini kau!” bentak Sin Hong.
Yo Han merangkak maju dan setelah dekat, Sin Hong lalu merangkulnya. Juga Hong Li merangkulnya,
bahkan mencium pipi anak itu. Keduanya tertawa-tawa sehingga Yo Han membelalakkan matanya dan ikut
tertawa gembira.
“Kau... kau anak nakal... kami berterima kasih kepadamu, Yo Han. Biarlah aku yang mintakan ampun
kepada suhu-mu untuk kesalahanmu,” kata Hong Li.
Yo Han memberi hormat. “Terima kasih... terima kasih, Subo!” Disebut subo, Hong Li tertawa lagi dan
ketiganya tertawa gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aihhh, perutku lapar sekali!” Sin Hong berkata.
“Aku juga!” kata Hong Li.
“Teecu juga!” sambung Yo Han.
Mereka bertiga segera membuat api unggun untuk memanggang daging kijang itu. Api unggun bernyala
dan berkobar, terang dan indah, seterang dan seindah masa depan mereka…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil