Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 04 September 2017

Kopinghuo Kisah Si Bangau Putih 5

Kopinghuo Kisah Si Bangau Putih 5 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
-
“Benar, Ciu Piauwsu, aku puteri majikan Ban-goan Piauwkiok!”
Ciu Hok Kwi mengangguk-angguk dan tersenyum simpul, lalu mendekat, untuk dapat mengamati wajah
cantik itu lebih jelas lagi. “Ahhh, kiranya puteri Kwee Piauwsu! Dan mengapa pula engkau sampai tertawan
di sini?”
Ci Hwa, gadis yang sebetulnya masih hijau itu, kini telah menjadi matang oleh musibah yang menimpa
dirinya, membuatnya menjadi wanita yang amat cerdik dan pandai sekali bersandiwara. Mudah saja
baginya kini untuk menekan batinnya sehingga air matanya mengalir turun dari kedua matanya ketika ia
mendengar pertanyaan Ciu Hok Kwi itu.
“Aih, Ciu Piauwsu, harap engkau suka menaruh kasihan padaku dan suka menolongku, mengingat bahwa
kita sama-sama datang dari Ban-goan. Nasibku sungguh malang... dan di tempat asing ini, siapa lagi yang
dapat kumintai tolong kecuali engkau seorang? Tolonglah aku, selamatkan aku dan... aku akan berterima
kasih sekali, aku berhutang budi dan aku akan membayarmu dengan apa saja, Ciu Piauwsu...“
Kembali Ciu Hok Kwi melihat sikap yang menantang dan penuh janji manis itu, dari sepasang mata yang
basah air mata, dari mulut yang setengah terbuka, dari tonjolan dada yang ditekan pada jeruji besi.
“Bagaimana aku dapat menolongmu? Aku tidak berani membebaskanmu, nona Kwee, karena para
pemimpin sendiri yang menawanmu.”
“Tidak usah membebaskan aku, asal aku... jangan sampai terbunuh... katakan kepada mereka bahwa aku
ini adalah calon isterimu atau apa saja, asal aku dapat terhindar dari bahaya maut...“
Berdebar rasa jantung Ciu Hok Kwi. Dia memang belum menikah, dan sukar ditemukan seorang gadis
yang demikian manis seperti Ci Hwa menawarkan diri seperti ini!
“Akan tetapi ceritakan lebih dulu bagaimana engkau sampai tertawan? Apakah engkau memusuhi Tiatliong-
pang?”
“Mana aku berani? Aku akan bercerita terus terang saja kepadamu, Ciu-toako, dan hal ini baru kepadamu
saja kuceritakan,” Ci Hwa berbisik-bisik.
Ciu Hok Kwi semakin tertarik karena gadis itu menyebutnya toako, bukan Piauwsu lagi, sebutan yang lebih
akrab.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku meninggalkan rumah orang tuaku, engkau tentu mengerti, sebagai seorang gadis yang ingin
meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan. Ketika tiba di dekat tempat ini, aku diganggu lima
orang pemburu, aku dikeroyok dan kalah, dan hampir aku diperkosa oleh mereka berlima. Aku sudah
ditelanjangi, empat orang memegang kaki tanganku dan orang ke lima sudah siap untuk memperkosa aku
yang masih perawan...“ Entah dari mana Ci Hwa memperoleh kemampuan untuk bercerita seperti itu,
sengaja menggambarkan keadaan yang dapat merangsang pendengarnya.
Dan usahanya berhasil. Mendengar cerita itu, sepasang mata Ciu Hok Kwi seakan-akan menelanjanginya,
meraba-raba tubuhnya sebab piauwsu muda itu lalu menggambarkan keadaan Ci Hwa seperti yang
diceritakannya itu. Dan Ci Hwa sengaja berhenti untuk memancing reaksi dari pendengarnya.
“Lalu bagaimana...? Lanjutkan ceritamu...!” kata Ciu Hok Kwi agak terengah-engah dan mukanya yang
biasanya pucat itu sekarang menjadi agak kemerahan, matanya tetap menggerayangi lekuk lekung tubuh
Ci Hwa dengan lahap.
“Aku sudah putus asa, hendak menjerit namun mulutku dibungkam. Aku hanya dapat meronta-ronta
sekuatku, akan tetapi sia-sia karena keempat orang itu memegangi kaki tanganku. Dan pada saat terakhir,
muncullah Siangkoan Kongcu! Dengan gagahnya dia menghajar lima orang pemburu itu sampai mereka
terbunuh semua dan mayat mereka dilempar ke dalam jurang. Lalu Siangkoan Kongcu menghampiri aku
yang masih belum sempat berpakaian...”
Kembali ia berhenti dan melihat dengan kegembiraan yang disembunyikan betapa laki laki itu berkeringat
dan menjilati bibirnya sendiri seperti seekor anjing kelaparan melihat daging segar yang membangkitkan
selera dan menambah rasa lapar.
“Kemudian... bagaimana...?” Suara Ciu Hok Kwi lirih dan parau.
“Aku adalah seorang yang mengenal budi. Kalau sudah ditolong orang, maka aku mau membalas budi itu
dengan apa saja. Dan Siangkoan Liong seorang laki-laki muda yang tampan, seperti... engkau ini, Ciutoako,
dan aku dalam keadaan telanjang. Kami saling tertarik dan aku lalu menyerahkan diri bulat-bulat,
menyerahkan segalanya dengan suka rela. Segala yang tadinya hendak diminta secara paksa oleh kelima
orang pemburu itu, kuberikan kepada Siangkoan Kongcu dengan senang hati, apa lagi karena dia berjanji
hendak mengawini aku yang selamanya belum pernah berdekatan dengan pria.”
“Lalu... lalu bagaimana...?”
Kembali Ci Hwa menangis dan suaranya tersendat-sendat ketika ia melanjutkan. “Akan tetapi dia... dia
mengingkari janji... aku lalu pergi, hendak membunuh diri... aku yang masih perawan telah menyerahkan
kehormatanku, dan dia ingkar janji...! Ketika sedang membunuh diri, aku dicegah oleh seorang pendekar
yang bernama Gu Hong Beng itu. Dia mencegah aku bunuh diri dan menasehati aku kemudian dia hendak
membelaku, hendak menuntut pertanggungan jawab Siangkoan Kongcu. Akan tetapi kami kalah dan
tertawan...“
“Hemmm, salahmu sendiri, sungguh tidak tahu diri. Bagaimana berani hendak menuntut Siangkoan
Kongcu?”
“Begini, Ciu-toako. Kalau tadinya dia tidak berjanji akan mengawiniku, tentu aku tidak menuntut. Tapi aku
tahu bahwa itu tidak tahu diri, karena itu, aku mohon kepadamu, Ciu-toako yang baik, tolonglah aku,
selamatkanlah aku dan aku akan berhutang budi kepadamu...“ Kembali pandang mata Ci Hwa menantang.
Ciu Hok Kwi yang sudah terangsang oleh cerita gadis itu tadi, sekarang tersenyum dan kembali mengelus
dagunya, “Dan dengan apa engkau hendak membalas budiku itu?” Pertanyaannya ini disertai kerling tajam,
mengandung kegenitan yang jelas.
“Ciu-toako, sudah kukatakan bahwa aku adalah seorang gadis yang suka membalas budi. Aku pasti akan
mau melakukan apa saja yang kau kehendaki dariku!” Jawabannya demikian meyakinkan dan
melenyapkan keraguan hati Ciu Hok Kwi.
“Engkau mau kalau malam ini engkau menemani aku tidur di kamarku?” tanya murid pertama Siangkoan
Lohan itu dengan tegas, tanpa malu-malu lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mau tidak mau, wajah Ci Hwa menjadi merah dan ia merasa betapa mukanya panas sekali, akan tetapi
gadis ini memaksa diri tersenyum malu-malu.
“Tentu saja aku mau, Ciu-toako. Apa lagi engkau nampaknya jauh lebih jujur dari pada Siangkoan Kongcu.”
“Tapi aku tidak berjanji bahwa kelak aku akan mengawinimu!”
Ci Hwa tersenyum semakin cerah. “Baik, memang benar bahwa engkau jauh lebih jujur dari pada
Siangkoan Kongcu. Kalau engkau tidak menjanjikannya, aku pun kelak tidak akan menuntut, Toako.”
Sepasang mata Ciu Hok Kwi, yang tajam seperti mata kucing itu bersinar-sinar. Namun, dia bukan orang
bodoh. Dia tak akan mau percaya demikian saja sebelum ada buktinya. Rasanya terlampau mudah, aneh
dan tidak masuk di akal kalau seorang gadis baik-baik seperti Kwee Ci Hwa ini, puteri Kwee Piauwsu yang
gagah perkasa di Ban-goan itu, begitu saja menyodorkan dirinya kepadanya!
“Kalau begitu, marilah ikut denganku,” katanya sambil mengeluarkan seuntai kunci-kunci dari saku bajunya,
lalu membuka daun pintu kamar sel itu.
Melihat banyak kunci itu, diam-diam Ci Hwa girang sekali. Tidak keliru dugaannya, Ciu Hok Kwi ini menjadi
kepala jaga di sini dan dialah yang memegang semua kunci pintu kamar-kamar tahanan! Ia pun keluar dari
kamar tahanan itu dan membiarkan dirinya dirangkul dan dipandangi oleh Ciu Hok Kwi, bahkan dia pun
dengan sikap malu-malu melingkarkan lengannya pada pinggang laki-laki tinggi kurus itu.
“Jaga di sini baik-baik, aku mau bicara penting dengan Nona ini!” katanya kepada para anak buahnya yang
lalu berkedip-kedip sambil tersenyum simpul melihat atasan mereka menggandeng seorang tahanan
wanita yang manis, hal yang tidak asing lagi bagi mereka. Sudah menjadi hak Ciu Hok Kwi agaknya, untuk
melakukan apa saja terhadap para tahanan, membawa tahanan wanita cantik ke kamarnya, menyiksa,
atau bahkan membunuh tahanan!
Setelah tiba di dalam kamarnya, Ciu Hok Kwi yang masih sangsi dan belum dapat percaya benar kepada
Ci Hwa, segera minta bukti dari gadis itu untuk melayaninya! Barulah dia percaya benar setelah gadis itu
menyerahkan diri dengan pasrah, bahkan dengan sikap gembira dan manis seolah-olah gadis itu menyukai
dan menikmati pula apa yang terjadi antara ia dan Ciu Hok Kwi.
Orang she Ciu ini sama sekali tidak tahu betapa di dalam batinnya, gadis itu menangis dan menjerit,
betapa tersiksa dan sakit rasanya badan dan batinnya ketika ia harus pasrah saja digeluti oleh orang yang
dibencinya itu! Ya, dia membenci Ciu Hok Kwi, pertama-tama karena pernah Ciu Hok Kwi menantang
ayahnya dan akhirnya orang ini dikalahkan oleh ayahnya. Kedua, sebab melihat piauwsu ini ternyata
adalah kaki tangan pemberontak, dan kini bahkan terpaksa ia menyerahkan diri kepadanya.
Akan tetapi biarlah! Ia sudah tidak memiliki harapan untuk bisa hidup terus, setelah apa yang dialaminya,
setelah ia terhina, direnggut kehormatannya oleh Siangkoan Liong. Ia harus mati untuk menebus aib, tetapi
sebelum mati, ia harus dapat menyelamatkan Gu Hong Beng.
Pemuda itu telah menolongnya, bahkan sudah memberi penerangan batin kepadanya. Dan sekarang
pemuda itu, karena hendak membelanya telah terjatuh ke tangan musuh! Ia harus menyelamatkannya,
dengan jalan apa pun juga. Dan kini telah ia laksanakan cara yang paling menyakitkan, baik badannya mau
pun batinnya. Ia telah melayani Ciu Hok Kwi, melayani dengan sikap manis pula!
Setelah memperoleh bukti berulang kali dari pelayanan manis Kwee Ci Hwa, akhirnya Ciu Hok Kwi mulai
percaya. Ketika mereka mengaso dan rebah bersanding di dalam kamarnya, Ciu Hok Kwi tanpa ragu-ragu
lagi menceritakan kepada Ci Hwa yang kini telah dianggapnya sebagai kekasihnya. Menceritakan bahwa
dia sesungguhnya adalah Tiat-liong Kiam-eng, murid pertama dan terpandai dari Siangkoan Lohan, juga
adalah pembantu utama Siangkoan Lohan!
“Akan tetapi, Ciu-toako yang baik...,” Ci Hwa bertanya sambil memeluk dengan sikap merayu, “bagaimana
engkau yang menjadi murid utama Siangkoan Lohan, bisa bekerja sebagai seorang piauwsu di Bangoan...?”
Ciu Hok Kwi tertawa dan mencium gadis itu, “Itu adalah siasatku. Kami membutuhkan penghubung yang
baik untuk keluar masuk perbatasan Tembok Besar tanpa dicurigai, supaya lebih mudah bagi kami
dunia-kangouw.blogspot.com
berhubungan dengan orang-orang Mongol yang akan membantu gerakan kami. Karena itulah, di Ban-goan
tempatnya untuk mengatur semua itu dengan kedok perusahaan Piauwkiok.”
“Tapi… bukankah engkau menjadi piauwsu pembantu dari Tan-piauwsu yang kabarnya terbunuh di utara
itu?”
“Ha-ha-ha, benar, memang benar. Itulah siasatku yang sangat cerdik. Tanpa disangka orang, aku kini
menguasai piauwkiok itu, sehingga terbukalah jalan bagi gerakan kami untuk berhubungan dengan kawankawan
di luar Tembok Besar...”
“Ahh, jadi kematian Tan-piauwsu itu termasuk rencana siasatmu? Engkau sungguh lihai sekali, Koko!” Ci
Hwa balas mencium meski di dalam hatinya ia ingin muntah karena jijik mendengar bahwa pembunuhan
atas diri Tan-piauwsu itu adalah perbuatan orang ini. “Kalau begitu, yang membunuh Tan Piauwsu...”
“Ha-ha-ha, akulah orangnya!” kata Ciu Hok Kwi sambil tertawa.
Sepasang mata Ci Hwa terbelalak dan ia mengamati wajah laki-laki itu yang di bawah sinar lilin itu cukup
tampan, akan tetapi juga menyeramkan. “Dan orang berkedok yang membunuh Lay-wangwe...”
“Aku juga orangnya! Ehh, bagaimana engkau bisa tahu...? Ah, kiranya engkaukah yang mencoba untuk
menangkap aku itu, Manis? Ha-ha-ha! Untung saat itu hanya kutendang lututmu…!”
Ci Hwa terkejut dan juga marah bukan main, akan tetapi ia memaksa dirinya untuk ikut tertawa, kemudian
merangkul dan mencium laki-laki itu sambil memuji. “Wah, kiranya engkaukah orang itu? Aku sudah
merasa amat kagum karena kelihaiannya! Dan engkau pernah pula menantang ayahku? Bagaimana
engkau dapat dikalahkannya jika ternyata engkau selihai itu?”
Ciu Hok Kwi balas merangkul dan mencium. “Siasat, Manisku, siasat! Aku harus pura pura mengalah
supaya tidak mendatangkan kecurigaan putera Tan-piauwsu itu. Engkau tentu telah mengenalnya.”
“Ya, Tan Sin Hong itu bukan? Dia menuduh ayah yang mengatur pembunuhan terhadap ayahnya, maka
aku ingin mencuci nama baik ayahku dengan membantunya menangkap pembunuh. Kiranya engkau
orangnya dan sekarang engkau malah menjadi kekasihku, orang yang akan menyelamatkan aku dari
bahaya di sini.”
Kembali Ci Hwa melayani Ciu Hok Kwi dengan sikap manja, mesra dan manis sehingga Ciu Hok Kwi
menjadi tergila-gila, tenggelam dalam nafsunya dan akhirnya, setelah lewat tengah malam, dia pun tidur
pulas kelelahan.
Ci Hwa yang tadinya sudah pura-pura tidur pulas lebih dahulu, segera membuka kedua matanya. Dengan
hati-hati ia melepaskan lengan dan kaki pria itu yang merangkulnya, lalu melepaskan diri dan sejenak
duduk di atas pembaringan sambil mengamati muka dan pernapasan laki-laki itu.
Sudah tidur nyenyak, dapat di ketahuinya dari pernapasannya dan dengkurnya. Sekali pukul saja ia akan
dapat membunuh laki-laki ini! Akan tetapi, ia tidak berani melakukan hal ini, karena kalau sampai ia gagal,
kalau sampai Ciu Hok Kwi tidak mati oleh sekali pukul dan sempat berteriak, akan gagallah usahanya
menolong Gu Hong Beng! Yang terpenting adalah menyelamatkan pemuda itu lebih dulu, pikirnya.
Rasanya tangannya telah gatal hendak menyerang dan membunuh orang yang sedang tidur ini. Apa lagi
kalau diingatnya betapa ia tadi digeluti dan menderita siksaan lahir batin yang bagi seorang gadis tidak
tertandingi oleh penderitaan yang bagaimana pun juga.
Akan tetapi, Ci Hwa dapat menekan perasaannya. Dengan hati-hati dia pun mengambil baju Ciu Hok Kwi
yang tadi ditanggalkan dan dilemparkan ke sudut pembaringan. Jari jari tangannya gemetar pada saat ia
mencari-cari dan akhirnya ia menemukan seuntai kunci-kunci dan matanya bersinar-sinar.
Dia lalu mengenakan pakaiannya, dan sepatunya, kemudian turun perlahan-lahan dari atas pembaringan.
Ciu Hok Kwi masih mendengkur pulas. Melihat sebatang pedang tergantung di dinding kamar itu,
dicabutnya pedang itu dan dibawanya keluar kamar bersama kunci-kunci tadi. Berindap-indap ia
menghampiri tempat tahanan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ci Hwa menyelinap di balik dinding yang gelap dan mengintai. Jalan menuju ke kamar tahanan itu melalui
sebuah lorong dan ada tiga orang penjaga bercakap-cakap di mulut lorong itu. Penjaga-penjaga lainnya
entah pergi ke mana. Di situ terdapat belasan orang penjaga dan agaknya mereka merasa aman, maka
diadakan pergantian penjagaan. Mungkin yang lainnya sedang tidur dan mereka berjaga dengan bergiliran.
Kenyataan bahwa yang berjaga di situ hanya tiga orang, jantung dalam dada Ci Hwa berdebar tegang dan
juga gembira. Jika hanya tiga orang, tentu saja tak berat baginya untuk membunuh mereka, apa lagi
keadaan tiga orang itu kini nampak mengantuk. Malam telah amat larut, lewat tengah malam dan mereka
bertiga kini tidak bercakap-cakap lagi, melainkan duduk melenggut.
Ci Hwa kemudian memungut batu kerikil yang dilontarkan ke depan. Suara kerikil jatuh menggelinding di
lantai ini cukup membuat salah seorang di antara tiga orang penjaga itu terkejut dan memandang dengan
curiga. Dia mencabut goloknya dan bangkit dari tempat duduk, lalu melangkah perlahan ke arah pilar yang
agak gelap, di mana tadi dia mendengar suara kerikil jatuh.
Baru saja kakinya menginjak di sudut dinding, mendadak nampak sinar berkelebat dan penjaga itu
tersentak kaget. Dua matanya terbelalak ketika sebatang pedang menempel jantungnya dan mulutnya tak
sempat bersuara karena ada tangan mendekap mulutnya. Dia pun roboh tanpa mengeluarkan suara,
kemudian tubuhnya diseret Ci Hwa ke tempat gelap.
Kembali Ci Hwa melempar kerikil, lebih keras dari tadi. Kini, dua orang penjaga yang mengantuk itu terkejut
dan bangkit, memandang ke kanan kiri, mencari kawan mereka dan keduanya kemudian melangkah
perlahan-lahan ke depan, mencari-cari. Tadi ketika kawan mereka bangkit dan memeriksa keadaan, mata
mereka sudah terlalu mengantuk sehingga tidak memperhatikan.
Ci Hwa menanti mereka dengan hati tegang. Ia harus dapat sekaligus merobohkan dua orang ini tanpa
menimbulkan banyak kegaduhan, pikirnya, bersiap dengan pedangnya yang sudah bersih dari darah
karena ia mengusapkannya ke tubuh korban pertamanya. Ketika dua orang penjaga itu tepat tiba di sudut
dinding, dua kali pedang di tangan Ci Hwa berkelebat, menyambar ke arah tenggorokan kedua orang itu.
Hanya terdengar suara mengorok seperti babi disembelih ketika dua orang itu terkulai roboh mandi darah
dan berkelojotan tanpa mengeluarkan teriakan karena tenggorokan mereka hampir putus! Ci Hwa tidak
membuang banyak waktu lagi. Ia meloncati mayat dua orang penjaga itu dan berlari memasuki lorong.
Pertama-tama ia menghampiri pintu kamar di mana Gu Hong Beng ditahan.
Hong Beng sedang duduk bersila menghimpun tenaga. Dia tentu saja, seperti yang lain, tidak dapat tidur.
Melalui ketukan pada dinding, ia telah mengadakan hubungan dengan Kun Tek yang ditahan di kamar
sebelah kirinya, bahkan mereka berdua dapat bicara sambil berbisik, mengerahkan khikang untuk dapat
saling tangkap. Dari suara bisik-bisik ini, dia dan Kun Tek sudah sepakat untuk bersiap-siap menghimpun
tenaga dan pada keesokan harinya atau kapan saja ada kesempatan, mereka akan menggunakan tenaga
dan kekerasan untuk mengamuk.
Dengan bisikan-bisikannya, Hong Beng dan Kun Tek telah berjanji masing-masing akan menghubungi Ci
Hwa dan Li Sian. Cu Kun Tek bertugas menghubungi Li Sian yang berada di sebelah kamarnya,
sedangkan Gu Hong Beng akan menghubungi Ci Hwa.
Akan tetapi, setelah beberapa kali mencoba, Hong Beng tidak menerima jawaban dari Ci Hwa sehingga dia
merasa gelisah sekali. Apa lagi kalau dia teringat akan perjumpaan mereka pertama kali. Gadis itu hampir
saja mati membunuh diri tanpa dia tahu akan sebabnya. Bagaimana kalau sekarang gadis itu mengulang
kembali usahanya untuk membunuh diri dalam sel tahanannya karena putus asa? Kini takkan ada lagi
yang dapat menghalanginya!
Akan tetapi, satu-satunya cara membunuh diri dalam sel itu, apa lagi setelah mereka semua dilucuti
senjatanya, hanyalah dengan jalan membenturkan kepala sampai pecah pada dinding kamar tahanan. Dan
sejak tadi, dia memperhatikan dengan hati gelisah dan tidak pernah mendengar suara mengerikan dari
pecahnya kepala terbentur pada dinding.
Akan tetapi kenapa gadis itu tidak menjawabnya? Sudah beberapa kali dia mengetuk-ngetuk dinding, juga
melalui jeruji besi itu dia pun ‘mengirim’ suaranya dengan kekuatan khikang ke dalam kamar tahanan Ci
Hwa di sebelah, namun semua usahanya itu sia-sia belaka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak pernah ada jawaban dari kamar sebelah, bahkan dia tak mendengar ada suatu gerakan. Tadi
memang dia tahu bahwa ada rombongan penjaga yang mendekati pintu kamar tahanan Ci Hwa, bahkan
mereka bercakap-cakap, akan tetapi karena ada pula penjaga berdiri di depan pintu kamar tahanannya, dia
pun tidak dapat mendekati dan mencoba untuk mendengarkan. Kemudian para penjaga itu pergi dan
suasana menjadi sunyi dan sejak itu, dia tidak dapat mendengar sesuatu dari kamar Ci Hwa.
Di lain pihak, Kun Tek yang mencoba untuk menghubungi Li Sian, ternyata memperoleh hasil baik.
Ketukannya pada dinding dibalas oleh Li Sian, dan ketika Kun Tek mendekati pintu, ternyata gadis di
kamar sebelah itu pun sudah mendekati ke pintu.
“Maaf, Nona, apakah aku mengganggu? Aku adalah Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman, dan datang
ke sini untuk menentang Tiat-liong-pang yang bersekutu dengan kaum sesat untuk melakukan
pemberontakan. Jika tidak berkeberatan, maukah Nona memperkenalkan diri kepadaku?”
Mendengar suara bisikan yang dikirim dengan khikang yang cukup kuat ini, Li Sian kagum. Tadi ia sudah
melihat kemunculan pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu, bahkan dia sudah mendengar
pengakuan Kun Tek kepada Siangkoan Lohan. Ia pernah mendengar nama besar Lembah Naga Siluman
dan ada rasa kagum terhadap pemuda itu.
“Namaku Pouw Li Sian,” dia pun berbisik dan mendorong bisikan itu dengan khikang sehingga dapat
terdengar jelas oleh Kun Tek yang juga menjadi kagum. Dia tadi sudah melihat kehebatan Li Sian yang
bertanding melawan Siangkoan Liong, dibantu Ci Hwa. “Aku seorang yatim piatu, mendiang guruku adalah
Bu Beng Lokai. Aku mempunyai permusuhan pribadi dengan Siangkoan Liong, putera Siangkoan Lohan,
tetapi karena mereka semua adalah penjahat-penjahat yang licik, curang dan kejam, aku menentang
mereka.”
Kun Tek mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada Li Sian, terutama sekali
ketika mendengar betapa suara bisikan gadis itu tadi gemetar pada saat mengatakan bahwa ia adalah
seorang yatim piatu. Agaknya gadis itu teringat akan keadaan dirinya yang yatim piatu dan menjadi sedih,
pikir Kun Tek dengan hati terharu. Biar pun baru beberapa kali saja dia mendapat kesempatan mengamati
wajah gadis itu, dia masih teringat akan seraut wajah yang cantik dan anggun, dengan sinar mata tajam
namun lembut, dengan mulut yang membayangkan kehalusan watak.
“Kalau begitu, kita mempunyai kepentingan yang sama, Nona. Apakah Nona sudah mengenal dua orang
kawan lain yang tertawan di sebelah?”
“Belum, aku belum mengenal mereka berdua. Apakah engkau telah mengenal mereka?”
“Aku belum mengenal gadis itu, akan tetapi laki-laki gagah perkasa itu adalah seorang sahabat lamaku,
sahabat baik sejak bertahun-tahun yang lalu. Dia bernama Gu Hong Beng dan dia murid seorang anggota
keluarga Pulau Es yang terkenal.”
“Ahhh...!”
Mendengar seruan Li Sian, Cu Kun Tek menjadi heran. Dalam seruan itu, bukan hanya terkandung rasa
kaget atau kagum, melainkan lebih mengandung keheranan.
“Kenapakah, Nona?”
“Mendiang guruku, Bu Beng Lokai, adalah mantu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!”
“Ahhh...!” Kini Kun Tek yang berseru, seruan kaget, heran dan kagum menjadi satu. “Kalau begitu, tentu
engkau mengenal Gu Hong Beng karena ada hubungan perguruan antara dia dan engkau, Nona.”
“Aku belum pernah mengenalnya. Saudara Cu Kun Tek, apa yang dapat kita lakukan sekarang? Mereka itu
ternyata memiliki banyak orang pandai, terutama sekali siucai tua yang tinggi kurus itu, yang merobohkan
kita. Dia sungguh mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan lihai bukan main.”
“Benar, Nona. Tadi aku sudah bicara dengan Hong Beng dan kami bersepakat untuk malam ini
menghimpun tenaga, bersiap-siap untuk memberontak apa bila kesempatan tiba. Meski pun kakek itu lihai,
kalau kita bertiga, berempat dengan nona yang seorang lagi itu, kurasa kita akan dapat menghadapi kakek
lihai itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka menghentikan percakapan, kemudian duduk bersila di tengah kamar tahanan masing-masing
untuk menghimpun tenaga. Dalam hati Li Sian terasa agak lega setelah ia dapat bercakap-cakap dengan
Cu Kun Tek, pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu. Mendengar suara yang berat dan tegas itu,
hatinya menjadi lebih tenang dan ia menghadapi segala kemungkinan dengan penuh semangat.
Diam-diam ia mengingat kembali tiga orang yang tidak dikenalnya itu, yang berdatangan membantunya
dalam perkelahian sehingga akhirnya mereka semua menjadi tawanan. Ia merasa terharu kalau teringat
akan nasib Bi-kwi dan suaminya. Yo Jin, suami wanita lihai itu, tewas seperti seorang yang gagah perkasa
walau pun pria itu tidak pandai silat, dan Bi-kwi tewas sebagai seorang isteri yang amat mencinta
suaminya.
Ketika ia teringat akan sikap gadis yang menjadi tawanan di sebelah, ia merasa heran sekali. Gadis itu
begitu muncul, memaki Siangkoan Liong dan menyerang mati-matian, walau pun tingkat kepandaian silat
gadis itu masih jauh di bawah tingkat Siangkoan Liong. Gadis itu demikian nekat dan agaknya sangat
membenci Siangkoan Liong. Ada dendam apa antara gadis itu dan Siangkoan Liong? Ia menduga-duga,
dan mengingat akan dendamnya sendiri, dia menduga bahwa agaknya gadis itu pun menjadi korban
rayuan Siangkoan Liong.
Ingin rasanya ia menampar pipinya sendiri jika teringat betapa ia telah menyerahkan dirinya dengan suka
rela kepada pemuda biadab itu! Ia telah terpikat dan memang telah jatuh cinta pada pemuda tampan itu,
tak tahu bahwa pemuda itu selain menggunakan rayuan maut, juga menggunakan minuman yang
merangsang, dan juga pengaruh ilmu sihir untuk menjatuhkannya!
“Keparat! Aku harus membunuhmu!” Ia mengepal tinju, tetapi lalu mengusir gangguan pikiran ini yang akan
melenyapkan ketenteraman hatinya dan juga akan menggagalkan usahanya untuk menghimpun tenaga
dalam.
Lewat tengah malam, tiba-tiba Hong Beng dikejutkan dengan munculnya Ci Hwa di luar pintu kamar selnya
dan gadis itu malah membuka daun pintu kamarnya dengan kunci, dengan hati-hati sekali.
“Adik Ci Hwa...! Bagaimana engkau dapat keluar dari kamar selmu...?”
“Sssttttt...!” Ci Hwa memberi isyarat agar pemuda itu tidak membuat gaduh, dan ia pun masuk ke dalam
kamar itu.
Hong Beng melompat bangun dan ketika Ci Hwa lari merangkulnya, dia pun memeluk dengan hati yang
cemas dan amat girang. Akan tetapi dia melihat Ci Hwa menangis sesenggukan di dadanya, dan dia
menjadi semakin heran. Dia tentu saja tidak tahu betapa Ci Hwa menangis karena teringat akan
pengorbanannya, telah membiarkan dirinya diperhina sesuka hati oleh Ciu Hok Kwi, demi untuk
menyelamatkan Hong Beng.
Namun hanya sebentar saja Ci Hwa dipengaruhi kesedihannya. Ia segera melepaskan pelukannya dan
berbisik, “Cepat bebaskan teman-teman yang lainnya. Ini kunci-kunci kamar tahanan, cepat dan larilah
kalian semua dari sini selagi masih ada kesempatan!” Berkata demikian, Ci Hwa menyerahkan kunci-kunci
itu kepada Hong Beng, kemudian melompat keluar.
“Hwa-moi...!” Hong Beng berseru lirih memanggil, akan tetapi gadis itu tidak menoleh lagi dan menghilang
dalam kegelapan malam.
Hong Beng hanya tertegun, tidak tahu kemana gadis itu pergi. Akan tetapi dia segera melangkah keluar
dari dalam kamar tahanan itu, dan dengan kunci-kunci itu ia berhasil membebaskan Pouw Li Sian dan Cu
Kun Tek yang tentu saja menjadi girang sekali.
“Bagaimana engkau dapat keluar membebaskan kami?” bisik Kun Tek.
“Kita sudah ditolong oleh adik Kwee Ci Hwa. Dialah yang tadi membebaskan aku dan menyerahkan kuncikunci
ini,” jawab Hong Beng.
“Di manakah dia sekarang?” Li Sian bertanya sambil memandang wajah pemuda yang menurut keterangan
Kun Tek adalah murid keluarga Pulau Es itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hong Beng juga memandang wajah Li Sian dan menggeleng kepala dengan khawatir. “Entahlah, setelah
menyerahkan kunci-kunci ini, ia terus melompat pergi.”
“Ah, berbahaya sekali jika begitu. Kita harus mencarinya, dan bersama-sama mencoba untuk meloloskan
diri dari tempat ini!” kata Kun Tek.
Li Sian dan Hong Beng mengangguk tanda setuju dan mereka bertiga lalu berindap-indap keluar melalui
lorong kecil itu.
Akan tetapi, pada saat itu para penjaga telah menemukan mayat ketiga orang kawan mereka. Begitu
muncul tiga orang tawanan ini, belasan orang penjaga sudah langsung mengepung dan mengeroyok
mereka. Terjadilah perkelahian yang seru di mulut lorong, di mana tiga orang muda itu mengamuk hanya
dengan tangan kosong saja menghadapi belasan orang penjaga yang semuanya bersenjata tajam.
Sementara itu, Ci Hwa sudah berhasil kembali ke dalam kamar Ciu Hok Kwi yang masih tidur mendengkur.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan karena kini dia memasuki kamar itu hanya dengan satu tujuan,
yaitu membunuh Ciu Hok Kwi dengan pedang di tangannya. Oleh karena ketegangan ini, Ci Hwa menjadi
agak gugup dan tidak tenang sehingga tubuhnya melanggar bangku, membuat bangku itu roboh dan
mengeluarkan bunyi gaduh.
Suara ini menggugah Ciu Hok Kwi. Dia membuka mata dan tubuhnya bergerak untuk duduk. Pada saat itu,
nampak sinar pedang berkelebat dan pedang di tangan Ci Hwa menyambar, membacok ke arah leher Ciu
Hok Kwi dengan cepat dan kuat!
Ciu Hok Kwi adalah murid pertama dari Siangkoan Lohan. Ilmu kepandaiannya sudah tinggi, bahkan dia
dijuluki Tiat-liong Kiam-eng (Pendekar Pedang Naga Besi), seorang ahli pedang yang amat lihai. Oleh
karena itu, biar pun dia baru saja bangun tidur dan belum sempat mempersiapkan diri, lalu tiba-tiba
diserang dengan bacokan pedang ke lehernya, dia tidak kehilangan akal dan dengan cepat dia
melemparkan tubuhnya yang masih telanjang bulat itu ke bawah pembaringan, lalu bergulingan di lantai.
Untung dia bergulingan sehingga pedang di tangan Ci Hwa yang mengejarnya hanya bisa melukai pundak
kiri, merobek kulit dan sedikit dagingnya sehingga darah bercucuran keluar.
“Heh, apakah engkau mendadak menjadi gila?!” bentaknya marah sambil meloncat dan menyambar
pakaiannya, dikenakan pakaian itu sedapatnya karena pada saat itu Ci Hwa sudah menyerangnya lagi.
Dengan tangan kiri memegang bangku yang disambarnya, Ciu Hok Kwi menangkisi serangan Ci Hwa,
sedangkan tangan kanan sibuk mengenakan pakaian pada tubuhnya. Bajunya terbalik-balik, celananya
sampai robek bagian bawahnya, tetapi setidaknya kini tubuhnya tidak lagi telajang bulat dan dia dapat
menghadapi Ci Hwa dengan tenang.
“Ci Hwa, mengapa engkau melakukan semua ini? Bukankah tadi kita saling mencinta dan kau...”
“Tutup mulutmu yang bau busuk dan bersiaplah untuk mampus!” bentak Ci Hwa yang merasa menyesal
sekali bahwa ia telah gagal membunuh orang yang amat dibencinya ini. Ia tahu bahwa tingkat
kepandaiannya masih kalah jauh, maka kini ia dengan nekat menyerang terus.
Ciu Hok Kwi mulai marah, apa lagi pada waktu dia meraba saku bajunya dan tidak mendapatkan untaian
kunci-kunci itu. Dia juga seorang yang cerdik, maka tahulah dia bahwa gadis ini sengaja menyerahkan diri
untuk membuat dia terlena dan tertidur, lalu mencuri kunci-kunci kamar tahanan itu.
Celaka, pikirnya, tentu tahanan-tahanan itu telah dikeluarkan oleh gadis ini! Dan tiba-tiba dia pun
mendengar suara ribut-ribut orang berkelahi, maka tahulah dia bahwa para tawanan lain itu telah keluar
dan kini berkelahi melawan anak buahnya.
“Perempuan jahanam! Jadi engkau hanya menipu aku, ya? Kalau begitu, mampuslah kamu!”
Ciu Hok Kwi menyerang dengan patahan bangku, yang disambut oleh Ci Hwa dengan serangan
pedangnya, penuh kebencian dan kenekatan, dan terjadilah perkelahian mati-matian di dalam kamar itu.
Hanya karena kenekatan Ci Hwa saja maka dia mampu mengadakan perlawanan mati-matian, karena
sesungguhnya, tingkat kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan lawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, tiga orang pendekar perkasa, Gu Hong Beng, Cu Kun Tek, dan Pouw Li Sian, tanpa banyak
membuang waktu dan tenaga, telah merobohkan belasan penjaga itu. Mereka bertiga merampas masingmasing
sebatang pedang dan berloncatan untuk mencari Ci Hwa.
Akan tetapi, sebelum mereka berhasil menemukan gadis itu tiba-tiba muncul Siangkoan Lohan, Siangkoan
Liong, dan Ouwyang Sianseng! Di samping tiga orang sakti ini, masih nampak belasan orang tokoh sesat
yang menjadi kaki tangan mereka, mengepung tiga orang muda yang baru saja merobohkan belasan orang
penjaga itu.
Siangkoan Lohan dan puteranya mengerutkan alis dan memeriksa para penjaga yang malang melintang itu
dengan pandang mata mereka.
“Di mana Ciu Hok Kwi...?” Siangkoan Lohan berseru.
“Mana Kwee Ci Hwa?” Siangkoan Liong juga berseru heran.
Ayah dan anak ini masih merasa heran mengapa tiga orang tawanan ini dapat lolos dan tidak adanya Ciu
Hok Kwi dan Kwee Ci Hwa membuat mereka merasa curiga. Namun, tiga orang pendekar itu yang maklum
bahwa tidak perlu lagi banyak bicara dengan para pimpinan pemberontak yang lihai ini, sudah cepat
menggerakkan pedangnya masing-masing untuk membuka jalan berdarah dan meloloskan diri dari tempat
berbahaya itu.
Akan tetapi mereka bertiga segera dikeroyok. Bahkan Ouwyang Sianseng sendiri, juga Siangkoan Lohan
turun tangan. Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi pemimpin pemberontakan itu juga
sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu huncwe emas. Ouwyang Sianseng juga sudah
menggerakkan kipasnya, juga Siangkoan Liong sudah menggunakan pedangnya untuk ikut mengepung.
“Tangkap mereka kembali, jangan dibunuh!” terdengar Ouwyang Sianseng berseru.
Kakek ini sedang berusaha untuk memberontak untuk membalas dendamnya terhadap kerajaan. Dia
membutuhkan bantuan orang-orang muda ini, maka dia merasa sayang kalau mereka dibunuh begitu saja.
Alangkah akan menguntungkan kalau tiga orang ini dapat dibujuk untuk membantu gerakan mereka.
Sementara itu, dalam kamar Ciu Hok Kwi masih terjadi perkelahian mati-matian antara Ci Hwa dan Ciu Hok
Kwi. Meski Ci Hwa mengamuk dengan nekat, namun ia bukanlah lawan Tiat-liong Kiam-eng Ciu Hok Kwi.
Setelah lewat tiga puluh jurus, kayu potongan bangku di tangan Hok Kwi berhasil melukai pergelangan
tangan gadis itu.
Ci Hwa berteriak kesakitan. Pedangnya terlepas, di lain saat pedang itu telah dirampas oleh Ciu Hok Kwi
dan kini, dengan pedang di tangannya, Ciu Hok Kwi dengan beringas memandang gadis itu. Dia sudah
marah sekali karena maklum bahwa dia telah ditipu oleh Ci Hwa, mempergunakan keindahan wajah dan
tubuhnya, memikatnya sehingga kini tawanan yang lain telah keluar dari kamar-kamar mereka. Dia akan
membunuh Ci Hwa, menyiksanya, untuk melampiaskan kemarahannya.
“Wuuuttt...!”
Pedangnya menyambar dan karena dia memang ahli pedang, gerakan pedangnya itu cepat sekali.
Ci Hwa meloncat ke belakang, tetapi tetap saja paha kirinya terserempet ujung pedang. Celananya robek
dan kulit paha berikut sedikit dagingnya robek pula. Darah menetes keluar. Ci Hwa menyambar sebuah
bangku lain dari sudut kamar dan ia dengan nekat menyerang lawan itu dengan bangku. Akan tetapi,
kembali sinar pedang berkelebat dan pangkal lengannya robek terluka!
Ci Hwa menyerang terus mati-matian tanpa mempedulikan dirinya dan dalam belasan jurus saja, dia sudah
menderita belasan luka yang tidak parah namun cukup merobek pakaian dan kulit tubuhnya, membuat
darah berlepotan membasahi seluruh tubuhnya. Mengerikan sekali keadaan gadis itu, dan Hok Kwi
menyeringai puas.
“Akan kubunuh engkau, perempuan setan!” desisnya berkali-kali setiap kali pedangnya mengenai sasaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia sengaja hanya melukai dengan ujung pedang karena tidak ingin segera membunuh gadis itu. Setelah
gerakan Ci Hwa semakin lemah karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Hok Kwi baru melakukan
serangan yang sesungguhnya.
“Cappp...!” Pedangnya menancap ke lambung Ci Hwa, agak lebih dalam dan gadis itu pun terhuyung, lalu
roboh.
“Mampuslah kau...!” Ciu Hok Kwi menggerakkan pedangnya untuk dibacokkan ke arah leher, namun
mendadak sebuah tangan menyambar dan mengetuk pergelangan tangan kanannya.
“Dukkk! Ahhhhh...!”
Ciu Hok Kwi terkejut sekali, seketika tangannya lumpuh dan pedangnya terlepas. Ketika dia mengangkat
muka, ternyata di situ telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian serba putih, bersama seorang gadis
yang cantik jelita dan bersikap gagah sekali. Makin terkejutlah dia ketika mengenal bahwa pemuda itu
bukan lain adalah Tan Sin Hong!
“Paman Ciu Hok Kwi! Apa… apa yang kau lakukan ini dan mengapa engkau berada di sini?” tanya Sin
Hong yang juga terkejut dan heran sekali melihat bahwa orang yang hampir membunuh Kwee Ci Hwa itu
bukan lain adalah Ciu Hok Kwi atau Ciu Piauwsu, bekas pembantu mendiang ayahnya!
Hok Kwi nampak kebingungan, lalu menjawab gagap, “Aku... aku...,” dan tubuhnya lalu meloncat keluar
kamar dan melarikan diri!
“Biar kukejar dia!” kata Suma Lian, gadis yang datang bersama Sin Hong.
“Jangan,” kata Sin Hong. “Gadis ini terluka parah, kita harus menyelamatkan dia dan keluar dulu dari sini.”
Mereka berdua lalu keluar dari dalam kamar. Sin Hong memondong tubuh Ci Hwa yang berlumuran darah
dan gadis itu dalam keadaan pingsan. Karena pada waktu itu para tokoh sesat sedang sibuk mengeroyok
Hong Beng, Kun Tek, dan Li Sian, maka dua orang muda perkasa ini dapat melarikan diri keluar dari
perkampungan Tiat-liong-pang dengan aman.
Sementara itu, dengan amat ketakutan Ciu Hok Kwi meninggalkan kamarnya dan tiba di tempat di mana
tiga orang pendekar muda itu dikeroyok. Perkelahian ini tidak seimbang. Tiga orang muda itu memang lihai
bukan main, akan tetapi, mereka dikeroyok dan di antara para pengeroyok mereka terdapat orang-orang
yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada mereka, seperti Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan
terutama sekali Ouwyang Sianseng.
Apa lagi tiga orang pendekar ini telah kehilangan senjata mereka, hanya menggunakan pedang biasa saja,
hasil rampasan dari para penjaga tadi. Tentu saja pedang-pedang biasa itu tidak ada artinya ketika
bertemu dengan senjata-senjata pusaka di tangan para pengeroyok mereka.
Ketika mereka terdesak, kembali dengan gagang kipasnya, Ouwyang Sianseng berhasil menotok roboh
mereka satu demi satu. Tiga orang muda itu lalu dibelenggu dan kembali dilempar ke dalam sebuah
tahanan yang besar, sekali ini disatukan dan dirantai pada dinding kamar sehingga mereka bertiga tidak
akan mampu berkutik lagi!
Ciu Hok Kwi mengajak teman-temannya lari ke kamarnya untuk menghadapi Tan Sin Hong dan wanita
cantik itu, akan tetapi ketika mereka tiba di sana, Sin Hong dan Suma Lian telah lenyap, bahkan Ci Hwa
yang tadi telah roboh juga tidak nampak di situ.
“Hok Kwi, apa yang telah terjadi?” Siangkoan Lohan menegur muridnya, suaranya tegas dan kereng.
“Bagaimana mereka bisa keluar?”
Wajah Hok Kwi berubah pucat. Dia tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi dia seorang yang cerdik dan
dalam waktu beberapa detik itu dia telah dapat mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba dia
menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.
“Harap Suhu sudi memaafkan, teecu mengaku telah melakukan kesalahan, telah lalai.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Siangkoan Lohan amat menyayang muridnya ini, karena muridnya ini selain merupakan murid paling lihai,
juga cerdik sekali dan selama ini membuat jasa besar untuk kemajuan gerakan pemberontakannya. Melihat
muridnya berlutut minta maaf dan mengaku salah, kesabarannya telah datang kembali.
“Sudahlah, ceritakan saja apa yang telah terjadi! Engkau yang memimpin anak buahmu melakukan
penjagaan terhadap para tawanan itu, bagaimana mereka dapat keluar dan membuat ribut, bahkan telah
membunuh banyak penjaga?”
“Maaf, Suhu. Memang teecu sudah bersalah dan teledor, akan tetapi kalau tidak ada si keparat Tan Sin
Hong, putera Tan Piauwsu dari Ban-goan itu, tentu tidak akan terjadi pelepasan para tawanan. Harap Suhu
ketahui bahwa gadis itu, yang bernama Kwee Ci Hwa, adalah puteri Kwee Piauwsu di Ban-goan dan sudah
mengenali teecu. Teecu... teecu tergoda dan membawanya ke kamar teecu, karena teecu merasa yakin
bahwa para tawanan takkan mungkin dapat lolos dengan adanya penjagaan ketat. Akan tetapi, tiba-tiba
saja terjadi kegaduhan dan tiga orang tawanan itu lolos, ternyata dilepaskan oleh Tan Sin Hong itu
bersama seorang temannya. Karena marah, Kwee Ci Hwa lalu teecu lalu bunuh. Tan Sin Hong dan
temannya itu datang, dan terpaksa teecu melarikan diri karena tidak mampu menandingi mereka. Dan
ternyata dia sudah pergi bersama temannya itu, dan agaknya membawa pergi mayat Kwee Ci Hwa.”
Cerita ini dapat diterima oleh Siangkoan Lohan. “Sudahlah, sekarang jagalah baik-baik, awas kalau sampai
mereka terlepas lagi. Kecerobohanmu tadi membuat kita kehilangan belasan anak buah!”
“Maaf, Suhu. Teecu akan menjaga dengan taruhan nyawa,” kata Ciu Hok Kwi.
Sementara itu, Sin Hong dan Suma Lian berhasil keluar dari sarang Tiat-liong-pang dan memasuki sebuah
hutan di lereng bukit. Matahari pagi telah mulai mengirim cahayanya mengusir kegelapan malam ketika
mereka berhenti di atas padang rumput dalam hutan itu. Dengan hati-hati Sin Hong merebahkan tubuh Ci
Hwa ke atas rumput.
Tadi, dalam perjalanan, dia telah menghentikan beberapa jalan darah untuk menahan keluarnya terlalu
banyak darah. Akan tetapi, keadaan Ci Hwa sudah sangat payah dan lemah, disebabkan oleh luka di
lambungnya yang dalam, dan juga karena terlampau banyak keluar darah.
Ci Hwa membuka matanya dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal wajah Sin Hong yang berlutut di
dekatnya. “Hong-ko... syukurlah... aku dapat bertemu denganmu...”
“Ci Hwa, tenanglah, aku akan berusaha mengobatimu...“
Ci Hwa menggelengkan kepala. Di dalam hatinya ia berkata bahwa ia tidak ingin hidup lagi, setelah
penghinaan yang dideritanya dari Siangkoan Liong, juga dari Ciu Hok Kwi.
“Hong-ko, dengarlah baik-baik. Ciu Hok Kwi itu..., dialah yang mengatur semua... yang membunuh
ayahmu, membunuh Tang Piauwsu... dan dia pulalah orang bertopeng yang membunuh orang she Lay
itu...“
Sin Hong terkejut bukan main. Dia memandang wajah Ci Hwa dengan sinar mata tidak percaya dan
mengira bahwa karena keadaannya yang payah, gadis itu telah berbicara tidak karuan.
“Tapi, Hwa-moi, dia... dia itu pembantu mendiang ayahku...“
Ci Hwa menggeleng kepalanya. “Dia murid pertama Siangkoan Lohan..., mereka ingin memberontak,
mereka menguasai Piauwkiok ayahmu... agar dapat mengatur hubungan dengan luar Tembok Besar...
dengan orang-orang Mongol. Semua itu siasat belaka untuk menguasai Piauwkiok milik ayahmu... dia telah
mengaku semua ini kepadaku...“
“Keparat...!” Sin Hong terbelalak, baru dia tahu mengapa ayahnya dibunuh, kiranya ada hubungannya
dengan pemberontakan.
Pantas saja orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang. Kiranya Tiat-liong-pang yang mengatur, dan Ciu
Hok Kwi adalah murid kepala ketuanya. Sikap Ciu Hok Kwi yang marah-marah dan menyerbu rumah Kwee
Piauwsu, lalu dia dikalahkan Kwee Piauwsu, semua itu hanya siasat belaka!
“Hong-ko... engkau telah tahu sekarang siapa musuh besarmu. Aku... aku...“
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba gadis itu berusaha untuk bangkit duduk, namun tidak kuat dan ia tentu akan rebah kembali kalau
saja Sin Hong tidak cepat membantunya. Mata gadis itu terbelalak, mukanya membayangkan kemarahan
dan kebencian, dan telunjuk kanannya menuding ke depan, seolah-olah ada orang yang dibencinya berada
di situ.
“Siangkoan Liong! Keparat busuk kau...! Engkau sudah menodaiku... engkau... kubunuh engkau...
ahhhhh...!” Tubuhnya terkulai dan nyawa gadis yang bernasib malang itu pun melayang pergi
meninggalkan tubuhnya.
Sin Hong merebahkan gadis itu, menutupkan mulut dan matanya, kemudian meletakkan kedua tangan di
depan dada. Suma Lian yang melihat semua ini, mengerutkan alisnya. Ia melihat betapa Sin Hong duduk
tepekur, seperti tenggelam ke dalam lamunan yang menyedihkan.
“Hong-ko, siapakah adik yang malang ini?” Suma Lian memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya.
Sin Hong yang sedang melamun sedih itu terkejut dan seolah-olah terseret kembali ke dalam kenyataan. Ia
menoleh, memandang wajah Suma Lian kemudian menarik napas panjang. Hubungannya dengan Suma
Lian, semenjak mereka berdua meninggalkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun dan menuju ke sarang
Tiat-liong-pang itu, menjadi lebih akrab dan mereka saling menyebut kakak dan adik.
“Namanya Kwee Ci Hwa,” katanya menjelaskan. “Dia adalah puteri dari Kwee Piauwsu di Ban-goan, kota
kelahiranku. Tadinya aku sudah terbujuk oleh Ciu Piauwsu tadi untuk mencurigai Kwee Piauwsu sebagai
dalang pembunuhan ayahku. Agaknya Ci Hwa lalu menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri
sampai ke sini ketika ia dan aku memperoleh jejak bahwa Tiat-liong-pang ada hubungannya dengan
pembunuh ayahku dan beberapa orang lain. Ternyata setelah sampai di sini dia justru mengalami hal-hal
yang lebih menghancurkan kehidupannya, walau pun dia sudah berjasa untukku, telah mengetahui rahasia
pembunuhan ayahku.”
“Hemmm, agaknya ia telah diperkosa oleh Siangkoan Liong. Bukankah Siangkoan Liong adalah putera
Siangkoan Lohan, pemimpin pemberontak seperti keterangan yang kita dapatkan di sepanjang perjalanan
itu? Sungguh jahat. Kita harus segera masuk ke sana dan menghajar mereka!”
“Harap sabar dan tenang, Lian-moi. Kurasa tidak semudah itu. Di sana kini berkumpul banyak sekali orang
pandai, apa lagi karena mereka sedang menyusun kekuatan untuk memberontak. Dari keterangan yang
kita peroleh, baru anak buah mereka saja sudah tiga ratusan orang, belum lagi anak buah Sin-kiam Mo-li
yang merupakan pembantu utama mereka. Ang-I Mo-pang yang menjadi anak buah Sin-kiam Mo-li itu
tentu lima puluh orang lebih jumlahnya. Dan masih banyak tokoh sesat yang berada di sarang mereka. Apa
artinya tenaga kita berdua?”
Suma Lian bisa membenarkan pendapat Sin Hong. “Lalu, bagaimana baiknya sekarang, apa yang harus
kita lakukan?”
“Kita rawat dulu jenazah Ci Hwa, kita kubur saja di bukit ini dengan baik-baik. Kemudian kita melakukan
penyelidikan kembali. Kabarnya banyak orang gagah yang tertawan oleh mereka. Kalau saja kita dapat
menyelundup dan mampu menolong mereka, alangkah baiknya.”
Suma Lian hanya menyetujui dan mereka berdua lalu mengurus pemakaman jenazah Ci Hwa dengan
sederhana akan tetapi cukup khidmat. Sin Hong meletakkan sebuah batu besar di depan makam itu dan
menuliskan nama Kwee Ci Hwa di atas batu.
Kemudian, setelah memberi penghormatan terakhir, dua orang muda perkasa itu mulai melakukan
penyelidikan kembali ke sarang Tiat-liong-pang, dengan hati-hati sekali…..
********************
Pouw Li Sian, Gu Hong Beng, serta Cu Kun Tek kini ditahan di dalam sebuah kamar tahanan yang baru,
kamar tahanan yang luas sekali. Kaki mereka bertiga dirantai pada besi di dinding yang kuat sekali.
Setelah terbebas dari totokan, mereka dapat duduk bersila dan dapat bercakap-cakap karena mereka
berada dalam satu kamar tahanan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kun Tek yang sadar lebih dahulu, memandang kepada Pouw Li Sian dengan penuh iba. Gadis itu pun
mulai dapat bergerak kembali, lalu membereskan pakaiannya yang agak kusut, dan duduk bersila, di
sebelah kanan Kun Tek. Hong Beng duduk bersila pula di sebelah kiri Kun Tek yang berada di tengahtengah.
Jarak di antara mereka hanya dua meter, namun mereka tidak dapat saling menghampiri karena
rantai yang mengikat kaki mereka.
“Nona, sungguh aku merasa menyesal bahwa Nona mengalami bahaya seperti ini,” kata Kun Tek karena
tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam keadaan seperti itu.
“Kenapa menyesalkan aku, saudara Cu Kun Tek? Bukankah engkau dan saudara Gu Hong Beng ini pun
mengalami nasib yang sama dengan aku? Kita sama-sama tertawan, sama-sama terancam bahaya maut!”
Li Sian menatap wajah pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu sambil menahan senyumnya, senyum
sedih karena gadis ini masih menderita tekanan batin akibat dendamnya terhadap Siangkoan Liong yang
sedalam lautan dan setinggi langit!
“Ucapan Kun Tek memang benar, Nona. Aku pun merasa menyesal sekali bahwa Nona sampai menjadi
tawanan seperti kami. Walau pun kami sendiri tertawan, namun kami adalah laki-laki. Jika saja kami dapat
melakukan sesuatu untuk membebaskanmu,” kata pula Hong Beng.
Sekarang Pouw Li Sian mamandang kepada Hong Beng, dan ia pun bertanya, “Menurut keterangan
saudara Cu Kun Tek, engkau adalah murid seorang keluarga Pulau Es. Bolehkah aku mengetahui siapa
nama besar gurumu, saudara Gu Hong Beng?”
Biar pun Hong Heng tidak pernah membanggakan nama gurunya, namun mendengar pertanyaan ini,
terpaksa dia mengaku dengan sikap rendah hati. “Suhu bernama Suma Ciang Bun.”
Li Sian mengangguk-angguk. “Pernah aku mendengar nama besar suhu-mu. Bukankah beliau itu masih
cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Ketahuilah, saudara Hong Beng bahwa mendiang guruku
adalah mantu dari Pendekar Super Sakti...“
“Aihhh...! Apakah beliau kakek guru Gak Bun Beng...?”
“Benar, akan tetapi namanya sudah berubah menjadi Bu Beng Lokai.”
“Kalau begitu, Nona adalah saudara seperguruan dari nona Suma Lian?”
“Benar sekali! Engkau mengenal suci-ku? Ahh, sungguh semakin sempit saja dunia ini!” Untuk sejenak, Li
Sian melupakan kedukaannya dan ia tersenyum gembira sekali.
Kun Tek ikut gembira melihat hal ini. “Sungguh menyenangkan sekali. Kiranya engkau masih ada
hubungan keluarga seperguruan yang sangat dekat dengan Hong Beng, dan dia adalah sahabat lamaku
yang amat baik. Kita ternyata masih orang segolongan yang berhubungan dekat. Sayang kita saling
berjumpa dalam keadaan seperti ini.”
Li Sian teringat kembali akan keadaan mereka, teringat kembali akan keadaan dirinya. Ia membayangkan
kemungkinan mengerikan yang akan menimpa dirinya. Kini ia tahu betapa kejam dan kejinya hati
Siangkoan Liong dan para pimpinan pemberontak itu.
Ada bahaya yang lebih mengerikan dari pada sekedar kematian mengancam dirinya. Hong Beng dan Kun
Tek memang benar kalau tadi mengkhawatirkan keselamatannya karena ia seorang wanita.
Membayangkan semua ini, ia teringat akan keadaan dirinya yang sudah ternoda dan ia pun mengepal
tinjunya.
“Benar apa yang telah dilakukan enci Ciong Siu Kwi itu! Kalau mendapat kesempatan lagi, aku akan
melawan dan mengadu nyawa dengan mereka. Lebih baik aku mati dari pada sampai tertawan kembali!”
Wajah gadis itu menjadi pucat dan sepasang matanya seperti bernyala.
“Jangan khawatir, Nona. Aku Cu Kun Tek bersumpah akan membelamu sampai mati,” tiba-tiba Kun Tek
berkata dengan suaranya yang dalam dan mantap.
Mendengar ini, Li Sian menoleh dan menatap wajah pendekar muda yang gagah itu dan keduanya saling
pandang. Sinar mata mereka bertemu dan berpaut, dan dalam saat beberapa detik itu, Li Sian melihat
dunia-kangouw.blogspot.com
betapa sinar mata pemuda itu penuh dengan cinta kasih yang ditujukan kepadanya. Hal ini membuat ia
terharu dan wajahnya yang pucat tadi berubah kemerahan, lalu sinar matanya menunduk dan kedua
matanya menjadi basah.
Melihat keadaan mereka berdua itu, timbul kekhawatiran di dalam hati Hong Beng. Dia sudah mengenal
watak Kun Tek yang keras dan pantang mundur, gagah perkasa dan berani menentang kematian sehingga
watak ini kadang-kadang bahkan membuat dia menjadi agak sembrono. Dia tahu bahwa kalau kedua
orang muda itu nekat mengadu nyawa, hal itu hanya berarti bahwa mereka berdua akan membunuh diri
saja, atau mati konyol. Bagaimana pun juga, mereka bertiga tidak akan mungkin mampu mengalahkan
musuh yang jumlahnya demikian banyak dan memiliki banyak orang yang lebih lihai dari pada mereka.
“Nona Li Sian dan Kun Tek, dengarkan kata-kataku baik-baik. Kita bertiga mengalami nasib yang sama,
menjadi tawanan tak berdaya di sini. Bagaimana pun juga, kita harus dapat meloloskan diri dan kurasa
untuk itu, tak mungkin kalau kita hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan saja. Kita harus
menggunakan akal dan kuharap kalian suka mengikuti apa yang akan kulakukan, demi keselamatan kita.
Kalian harus ingat, kalau aku menggunakan akal, hal itu bukan berarti aku pengecut dan takut mati. Sama
sekali bukan. Hanya supaya kita dapat lolos lebih dahulu dari sini, untuk kemudian mengatur siasat
bagaimana agar dapat menghancurkan mereka, jika perlu dengan bala bantuan.”
“Menggunakan akal? Apa yang kau maksudkan, Hong Beng?” tanya Kun Tek.
“Kita harus mengakui bahwa kalau hanya menggunakan kenekatan, kita takkan mampu mengalahkan
mereka yang jauh lebih banyak jumlahnya, dan akhirnya kita tidak akan mampu lolos dan akan mati konyol
di sini.”
“Aku tidak takut, apa lagi untuk melindungi nona Li Sian!” kata Kun Tek dengan sikap gagah.
Hong Beng tersenyum dan diam-diam dia teringat akan masa lampau. Pemuda tinggi besar yang gagah
perkasa itu kalau sudah jatuh cinta memang kelihatan nekat sekali!
“Kita semua tidak takut mati, saudaraku yang baik. Akan tetapi mati konyol seperti itu bukanlah perbuatan
gagah namanya, namun perbuatan yang bodoh sekali. Bukankah begitu? Tidak, untuk keadaan kita yang
dalam perimbangan lebih lemah ini kita harus menggunakan akal. Kalau perlu, aku akan bermain
sandiwara dan pura-pura takluk...“
“Takluk kepada mereka? Tidak sudi! Aku akan melawan!” teriak Kun Tek.
“Saudara Kun Tek, harap suka mendengarkan dulu perjelasan saudara Hong Beng. Dia benar, kalau tidak
ada harapan menang dengan menggunakan kekerasan, kenapa tidak menggunakan akal mengalah?
Mengalah untuk akhirnya menang?”
Aneh sekali, demikian pikir Hong Beng. Mendengar ucapan gadis itu, Kun Tek kelihatan sabar kembali dan
mengangguk, lalu berkata, “Bagaimana akalmu, coba katakan Hong Beng.”
Hemmm, raksasa ini sudah menjadi jinak agaknya, di bawah sinar mata lembut gadis hebat ini, demikian
Hong Beng berkata dalam hatinya.
“Begini. Mereka itu jelas musuh kita. Akan tetapi, setelah kita memberontak terhadap mereka atas bantuan
Ci Hwa tadi, dan setelah kita membunuh belasan orang anak buah mereka, kini kita ditawan kembali. Kita
tidak mengalami siksaan, juga tidak dibunuh. Hal ini bukan tidak ada artinya sama sekali. Kalau kita terus
dibunuh, hal itu sudah jelas. Akan tetapi tidak, kita tidak dibunuh dan ini hanya berarti bahwa mereka itu,
setidaknya pemimpinnya, dan kurasa kakek berkipas itu sendiri, tidak menginginkan kita mati. Dan
alasannya tentu hanya satu, yaitu dia menghendaki agar kita membantu pemberontakan mereka.”
“Tidak sudi! Aku...“ Kun Tek langsung menghentikan teriakannya ketika melihat betapa Li Sian menolehkan
kepala dan memandang padanya dengan alis berkerut. “Teruskan, Hong Beng...,“ akhirnya dia berkata
lirih.
Hong Beng menahan kegelian hatinya melihat sikap Kun Tek, lalu melanjutkan dengan suara bisik-bisik.
“Tentu saja kita takkan bersekutu dengan kaum sesat seperti mereka. Akan tetapi, dalam keadaan terjepit
dan tak ada pilihan lain, kita boleh memperlihatkan sikap seakan-akan kita setuju untuk bersama mereka
menentang pemerintah. Bagai mana pun juga, bukankah kita sendiri juga tidak senang melihat pemerintah
dunia-kangouw.blogspot.com
penjajah menguasai tanah air kita? Jadi, sikap kita setuju menentang pemerintah penjajah bukan
merupakan suatu kepura-puraan belaka. Hanya sikap mau untuk bekerja sama itu yang menjadi permainan
sandiwara kita. Nah, kalau sudah begitu, tentu muncul kesempatan bagi kita untuk membebaskan diri
kelak. Bagaimana pendapat kalian?”
Kun Tek masih hendak membantah. Pemuda ini merasa betapa memalukan kalau dia harus
memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada tokoh-tokoh sesat itu. Akan tetapi, melihat betapa Li Sian
mengangguk-angguk menyambut pendapat Hong Beng itu dan nampaknya setuju, dia pun... mengangguk
pula beberapa kali dan menutup mulutnya!
Mereka bertiga sekarang terpaksa menutup mulut karena mendengar suara orang dan langkah kaki
menuju ke kamar tahanan itu, dan ternyata yang muncul adalah Ouwyang Sianseng bersama Siangkoan
Liong! Hong Beng bertukar pandang dengan Kun Tek, memberi isyarat bahwa agaknya apa yang
diduganya akan terjadi. Buktinya Ouwyang Sianseng yang lihai sekali itu, kini datang mengunjungi mereka!
Apa lagi kalau bukan untuk membujuk mereka agar suka bekerja sama?
Akan tetapi, Hong Beng melihat betapa Li Sian memandang kepada Siangkoan Liong dengan sinar mata
memandang penuh kebencian sehingga dia terkejut. Pandang mata seperti itu tidak dapat menipu, yang
hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang amat benci karena dendam sakit hati! Apakah yang telah
dilakukan pemuda tampan putera ketua Tiat-long-pang itu sehingga membuat Li Sian demikian
membencinya?
Di belakang kedua orang ini nampak tiga belas orang yang keadaan tubuhnya sangat menyeramkan.
Tinggi besar seperti raksasa, dengan tubuh bagian atas telanjang hingga nampak dada dan pundak lengan
yang berotot melingkar-lingkar dan juga berbulu!
Mereka itu bagai segerombolan orang hutan. Mata mereka sempit kemerahan dan mulut mereka lebar
menyeringai. Nampak gigi yang tidak terpelihara baik-baik dan kekejaman yang buas nampak pada wajah
mereka. Usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun dan celana mereka hitam dengan kaki
bersepatu kulit tebal.
Ketika Siangkoan Liong dan gurunya membuka pintu kamar tahanan dan memasukinya, tiga belas raksasa
Mongol itu tinggal di luar. Akan tetapi mereka menjenguk ke dalam melalui jeruji-jeruji besi dan mata
mereka semua memandang kepada Li Sian seperti segerombolan serigala kelaparan, dengan mulut
menyeringai, dan di antara mereka ada yang tak dapat menahan air liur yang mengalir keluar melalui ujung
bibir mereka. Li Sian membuang muka karena merasa ngeri dan jijik.
Dua orang anak buah Tiat-liong-pang membawa dua buah bangku dan memberikannya kepada guru dan
murid itu, kemudian keluar lagi. Siangkoan Liong dan gurunya duduk di dekat pintu, memandang kepada
tiga orang tawanan yang kini sudah bangkit berdiri, seperti dua orang yang menonton tiga ekor binatang
buas yang diikat pada dinding.
Cu Kun Tek memandang kepada mereka dengan mata melotot marah. Kalau saja kaki kirinya tidak
dibelenggu rantai baja dan terikat pada dinding, ingin rasanya ia menerjang kedua orang itu! Hong Beng
berdiri dengan sikap tenang saja, sedangkan Li Sian yang juga sudah berdiri, sekarang menundukkan
pandang matanya karena ia tidak sudi lagi memandang kepada Siangkoan Liong lebih lama lagi.
“Sian-moi, sungguh aku merasa bersedih dan menyesal sekali bahwa engkau sudah terkena hasutan Bi
Kwi sehingga engkau memusuhi aku. Sian-moi, tidak dapatkah kita berbaik kembali? Lupakah engkau
akan hubungan antara kita?”
Kalau tadinya Li Sian sudah dapat menenangkan batinnya, kini mendengar ucapan itu, seakan-akan api
yang sudah mengecil itu disiram minyak sehingga berkobar kembali, mengingatkan dia akan kematian
kakaknya dan akan dirinya yang sudah ternoda oleh pemuda perayu ini.
Ketika ia mengangkat mukanya, sepasang mata Li Sian berkilat memandang Siangkoan Liong penuh
kebencian. “Siangkoan Liong, tidak perlu banyak bicara lagi! Omonganmu yang beracun tidak perlu
kudengarkan lagi. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kita kecuali hubungan dendam dan permusuhan
yang hanya akan dapat dicuci dan dihapus dengan darah!”
Seperti juga Hong Beng, kini Kun Tek memandang dan menekan keheranan hatinya. Dia juga dapat
merasakan kebencian yang mendalam dari gadis itu terhadap Siangkoan Liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum Siangkoan Liong menjawab atau berbicara lagi, Ouwyang Sianseng sudah mencegahnya dengan
mengangkat tangan kanan ke atas dan kini terdengar kakek itu bicara, suaranya halus dan penuh wibawa,
sikapnya tenang sekali dan sikapnya seperti dia sedang bicara kepada para muridnya saja.
“Tidak perlu berbantahan lagi, lebih baik kalau nona Pouw Li Sian mengetahui duduknya persoalan yang
sebenarnya. Nona Pouw Li Sian, bukankah engkau merasa penasaran dan mendendam sakit hati karena
kakak kandungmu terbunuh? Nah, ketahuilah bahwa memang sesungguhnyalah kalau dia itu dibunuh oleh
kami sendiri! Lebih baik berterus terang agar engkau tahu duduknya persoalan.”
Li Sian mengangkat muka memandang wajah kakek itu. Matanya terbelalak dan tentu saja ia mau
mendengarkan karena kakek itu agaknya kini berterus terang dan mengakui secara jujur.
“Akan tetapi, mengapa dia dibunuh? Apa kesalahannya?” tanyanya sambil mengamati wajah kakek itu
penuh selidik.
“Ia telah mengkhianati perjuangan kami! Ia hendak melaporkan kegiatan kami ke kota raja. Kalau dia tidak
dibunuh, kami semua bisa celaka.”
“Bohong! Aku tidak percaya!” kata Li Sian, walau pun di sudut hatinya dia meragukan bantahannya sendiri.
Bukankah kakaknya itu sudah memperlihatkan sikap aneh, seolah-olah terkejut dan sama sekali tak setuju
melihat ia membantu gerakan perjuangan yang dipimpin Siangkoan Lohan itu? “Bukankah kakakku itu
anak buah Coa Tai-ciangkun yang sudah bergabung dengan Tiat-liong-pang?”
“Itulah sebabnya mengapa kami harus bertindak tegas. Pengkhianatannya itu diketahui oleh perwira lain
dan ketika dia ditegur, terjadi perkelahian di antara mereka. Kakakmu menang, perwira itu dibunuhnya,
akan tetapi pada saat itu kami mengetahuinya dan kami lalu membunuhnya pula. Nah, engkau sudah
mendengar sekarang, dan memang demikianlah keadaannya. Oleh karena itu, harap engkau suka
menyadari kekeliruanmu memusuhi muridku ini, nona Pouw.”
Pouw Li Sian hampir terbujuk, akan tetapi ia teringat kembali akan kematian Yo Jin dan Bi Kwi yang
mengerikan, dan perasaan tidak suka sudah mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap Siangkoan Liong
yang tadinya berhasil menjatuhkan hatinya.
“Tidak, aku masih belum percaya! Ini semua tentu tipu muslihat kalian!” katanya.
“Memang kami hendak memperlihatkan bukti kebenaran omongan kami,” kata kakek itu sambil memberi
isyarat ke luar kamar tahanan yang luas itu.
Terdengar suara gaduh, dan masuklah seorang anak buah Tiat-liong-pang menyeret lengan seorang
wanita yang wajahnya pucat dan pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan. Namun masih dapat
nampak jelas bahwa wanita yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu berwajah cantik dan memiliki
tubuh yang montok menggairahkan. Wanita itu terhuyung lalu jatuh berlutut di depan kaki Ouwyang
Sianseng.
“Nah, Nyonya Pouw Ciang Hin, sudahkah engkau pikir baik-baik? Kalau engkau ingin agar kami dapat
mengampunimu, ceritakan dengan terus terang tentang suamimu yang menjadi pengkhianat itu!” kata
Ouwyang Sianseng dengan sikap lembut namun kereng.
Li Sian merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ia mengamati wajah wanita itu. Kiranya
mendiang kakaknya telah memiliki seorang isteri dan kini isterinya telah menjadi tawanan dari gerombolan
ini pula!
Wajah pucat itu diangkat memandang kepada Ouwyang Sianseng dengan sinar mata mohon dikasihani.
“Sudah berulang kali kuceritakan semuanya, dan suamiku bukanlah seorang pengkhianat...“
“Bohong!” bentak Siangkoan Liong marah. “Dia mengkhianati Coa Tai-ciangkun, dan dia mengkhianati
gerakan perjuangan kami. Dia setia kepada pemerintah penjajah Mancu dan dia merencanakan
pengkhianatan dengan laporan ke kota raja. Hayo ceritakan, siapa saja sekutunya dalam pengkhianatan
ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kongcu... sudah berulang kali kunyatakan bahwa aku tidak tahu... dia seorang yang baik dan tidak
mungkin menjadi pengkhianat... Ahhh, Kongcu, aku telah menceritakan segalanya dan engkau masih
belum juga percaya? Kalau begitu, bunuh saja aku agar aku dapat menyusul suamiku...“ Wanita itu
menangis.
Siangkoan Liong bertukar pandang dengan gurunya dan Ouwyang Sianseng kemudian mengangguk.
Siangkoan Liong lalu memanggil ke luar kamar. “Hei, seorang dari kalian masuklah ke sini!”
Pada saat pemuda itu menunjuk kepada mereka, tiga belas orang raksasa Mongol itu menyeringai dan
mereka saling berebut hendak masuk, bahkan dorong mendorong dan tarik menarik. Siangkoan Liong
menghardik dan mereka pun segera diam, lalu seorang di antara mereka yang paling besar, dengan tubuh
yang berbulu seperti seekor gorila, melangkah masuk. Dua tangannya tergantung panjang sampai ke lutut,
mulutnya yang lebar menyeringai dan matanya yang sipit kemerahan itu ditujukan kepada wanita yang
masih berlutut itu, dan kini memandang dengan mata terbelalak ngeri kepada manusia monyet itu.
Raksasa itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan Siangkoan Liong, dan suaranya terdengar parau dan
besar pada saat dia bertanya, “Kongcu, apakah yang harus saya lakukan?” Karena logat bicaranya asing,
maka terdengar lucu dan juga menyeramkan.
“Engkau Okatou, kau boleh melakukan apa saja terhadap wanita tawanan ini agar ia mau mengakui semua
pengkhianatan suaminya. Akan tetapi jangan bunuh!”
Raksasa itu lalu menyeringai dan menoleh kepada isteri mendiang Pouw Ciang Hin. “Heh-heh-heh,
Kongcu. Boleh saya melakukan apa saja terhadapnya, di sini?”
“Ya, bahkan kalau perlu kau boleh memperkosanya agar ia mau mengaku!” kata pula Siangkoan Liong.
Mendengar ini, wajah Kun Tek, Hong Beng dan Li Sian menjadi merah karena marah. Akan tetapi mereka
tak berdaya dan hanya dapat menonton dengan hati yang tegang. Sementara itu, dua belas orang raksasa
lain di luar kamar, menonton dari balik jeruji. Mereka tertawa-tawa dan menyeringai dengan mulut berliur,
agaknya mereka sangat iri terhadap kawan mereka yang dianggap mujur itu.
Raksasa bernama Okatou itu kini bangkit dan menghampiri isteri Pouw Ciang Hin yang terbelalak dengan
muka pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia pun bangkit berdiri. Karena keadaan terhimpit, ia pun
agaknya hendak berlaku nekat dan memasang kuda-kuda. Agaknya sedikit banyak wanita ini pernah
belajar silat dari suaminya. Melihat ini, Okatou tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang besar-besar
dan kotor.
“Cui Bi, mengakulah saja sebelum dia menjamah tubuhmu,” terdengar Siangkoan Liong berkata.
Mendengar betapa pemuda ini menyebut nama kecil nyonya itu, mudah diduga bahwa dia sudah akrab
dengannya. Dan memang demikianlah semenjak suaminya meninggal, nyonya ini diboyong ke dalam
kamar Siangkoan Liong dan dengan cara halus, dengan bujuk rayu dan permainan cinta, pemuda itu sudah
berusaha untuk membuat wanita itu mengakui semua kegiatan suaminya. Karena tidak berhasil walau pun
nyonya itu telah menyerahkan diri dengan terpaksa, maka diambil jalan ini, untuk memaksa nyonya itu
mengaku, juga sekalian untuk membuat Li San dan kedua orang pemuda tawanan itu menjadi jeri dan
tunduk.
Nyonya itu menggelengkan kepala berkali-kali. “Tidak... tidak... ohhh… jangan lakukan ini, Kongcu... ahhh,
bunuh sajalah aku...”
Raksasa Okatou itu sambil menyeringai telah menubruk dengan kedua lengannya yang panjang. Wanita itu
lalu mengelak dan mencoba untuk menendang dari samping. Akan tetapi, sekali sambar, raksasa itu telah
menangkap kaki dan menendang.
“Ahhh... lepaskan kakiku... Lepaskan aku...! Nyonya yang bernama Cui Bi itu meronta-ronta, namun
percuma saja, kaki kanannya seperti terjepit besi.
Kini tangan kiri raksasa itu menyambar ke depan dan di lain saat tubuh wanita itu telah dirangkulnya dan
ditariknya mendekat, didekapnya dan sambil tersenyum menyeringai, raksasa Mongol itu itu menciumi
muka Cui Bi! Wanita ini berusaha memutar kepalanya ke kanan kiri untuk mengelak, namun kini tangan kiri
dunia-kangouw.blogspot.com
Okatou menjambak rambutnya, memaksa kepala itu untuk diam dan dengan lahapnya dia mencium pipi
dan mulut Cui Bi dengan ciuman yang mengeluarkan bunyi.
Dua belas orang raksasa Mongol lainnya menonton dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan air liur.
Sementara itu, Li Sian menarik-narik rantai di kakinya. Dia sudah marah sekali dan kalau saja dia dapat
melepaskan diri dari rantai itu, tentu dia akan menerjang raksasa Mongol yang sedang menghina kakak
iparnya itu! Akan tetapi rantai itu telalu kuat.
Kun tek juga mengepal tinju dan berteriak. “Jahanam busuk, lepaskan ia!”
Akan tetapi, Okatou yang hanya mentaati perintah Siangkoan Liong, tentu saja tidak mau memperdulikan
semua itu.
“Brettttt! Brettttt...!”
Kini kedua tangan raksasa itu merobek-robek dan merenggut pakaian Cui Bi. Bagaikan kertas saja, kain
pakaian itu robek dan tanggal sehingga kini tubuh wanita yang malang itu menjadi telanjang bulat! Dan jarijari
tangan yang besar berbulu itu, tanpa rikuh atau malu-malu di depan banyak orang, menggerayangi
bagian tubuh dengan penuh nafsu.
Okatou dan kawan-kawannya, yang menjadi pasukan khusus dan anak buah Siangkoan Liong, datang dari
luar Tembok Besar. Mereka itu memang merupakan manusia liar yang buas. Mereka sudah biasa
melakukan penyiksaan atau pembunuhan, perkosaan begitu saja di depan banyak orang tanpa merasa
rikuh sedikit pun juga.
Cui Bi, wanita yang malang itu, hampir pingsan ketika dirinya didekap, diciumi dan kini pakaiannya telah
tanggal semua. Akan tetapi ia masih ingat untuk nekat menggigit pipi raksasa Mongol itu sekuat tenaga.
“Aughhh...!”
Okatou mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas dan dia mendorong tubuh Cui Bi dengan
keras sehingga gigitan itu terlepas dan tubuh Cui Bi terlempar ke arah Li Sian. Raksasa itu meraba pipinya
yang kulitnya robek berdarah oleh gigitan Cui Bi. Kini matanya makin merah memandang ke arah Cui Bi
yang tentu akan terbanting kalau saja Li Sian tidak menyambutnya dengan tangan kirinya.
“He-he-heh...“ dalam kemarahannya, Okatou menyeringai dan terkekeh, lalu melangkah perlahan-lahan
menghampiri wanita yang telanjang itu. Sinar matanya penuh ancaman mengerikan.
“He-he-heh, engkau kuda betina binal... he-he-heh, mari sini manis...“ Okatou tiba-tiba melompat ke depan,
tangannya terulur untuk menangkap rambut Cui Bi yang kini terurai karena terlepas dari sanggulnya. Akan
tetapi, sebuah kaki menyambutnya.
“Dukkk...!”
Tubuh Okatou langsung terjengkang keras oleh tendangan yang dilakukan Li Sian untuk melindungi Cui Bi.
Tubuh Okatou terbanting keras dan Li Sian berkata kepada Cui Bi, “So-so (Kakak Ipar), engkau
bersembunyilah di belakangku. Aku akan melindungimu, aku adalah adik perempuan suamimu.”
Pada saat itu Cui Bi merangkak ke belakang Li Sian. Okatou sudah bangkit lagi dan dengan kemarahan
meluap, Okatou sudah menubruk ke depan, kali ini bukan menubruk ke arah Cui Bi, melainkan ke arah Li
Sian, wanita tawanan yang berani menendang sehingga dadanya terasa nyeri dan sesak napas itu.
Li Sian yang sudah amat marah dan membenci raksasa ini, sudah mempersiapkan diri, mengumpulkan
tenaga sinkang pada seluruh tubuhnya. Ia menanti sampai penyerang itu dekat, lalu ia mendahului dengan
luncuran tangan kirinya, dengan dua jari mencuat, yaitu telunjuk dan jari tengah, agak direnggangkan dan
dua buah jari itu meluncur dan menghujam ke arah kedua mata raksasa itu.
“Creppp...!”
Dua batang jari itu seperti sumpit baja menusuk dan masuk ke dalam rongga mata Okatou. Tubuh Okatou
menggigil dan gerengan aneh keluar dari mulutnya, kemudian dia terjengkang. Akan tetapi pada saat itu,
kaki kanan Li Sian menyusul dengan sebuah tendangan maut.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Desssss...!”
Sekarang tubuh itu terbanting keras dan tidak mampu bergerak lagi. Kedua matanya berlumuran darah dan
di bagian tengah celananya juga berlepotan darah. Jika tusukan dua jari tangan itu membutakan matanya,
maka tendangan tadi sudah menghancurkan selangkangnya dan membuat nyawa raksasa buas itu
melayang!
“Soso, jangan takut, aku melindungimu,” kata pula Li Sian kepada wanita telanjang yang masih berlutut di
belakangnya.
Akan tetapi, Cui Bi terbelalak memandangnya, kemudian berkata dengan suara lantang. “Hemmm, kiranya
engkau adik suamiku yang bernama Pouw Li Sian? Cihhh, sungguh tidak tahu malu engkau! Kakakmu
dibunuh orang dan engkau malah menyerahkan diri dan kehormatanmu kepada Siangkoan Kongcu!”
Wajah Li Sian tiba-tiba menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah dan pada saat itu, Siangkoan Liong
yang juga tidak mengira wanita itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu, menghardik, “Cui Bi, ke sini
engkau!”
Bagaikan seekor anjing yang takut mendengar panggilan majikannya, Cui Bi berjalan menghampiri
Siangkoan Liong, berusaha menggunakan kedua tangan menutupi bagian tubuh atas dan bawah, lalu ia
berlutut di depan pemuda itu.
“Kongcu, jangan siksa aku seperti ini. Ampunkan atau bunuh saja aku,” ratapnya.
Ketika menyaksikan semua peristiwa yang tidak diduganya itu, Ouwyang Sianseng lalu mengerutkan
alisnya. “Hemmm, Siangkoan Kongcu, apakah engkau masih menyayang dan membutuhkan wanita ini?”
tanyanya kepada Siangkoan Liong.
Pemuda itu menggelengkan kepala dan mendengus dengan pandang mata menghina. “Tidak, Suhu, saya
sudah bosan padanya.”
“Kalau begitu, suruh bunuh saja ia supaya jangan mendatangkan keributan lagi,” kata Ouwyang Sianseng.
Siangkoan Liong memandang kepada Cui Bi, lalu menoleh kepada wajah dua belas orang raksasa Mongol
di luar yang masih terbelalak memandang ke arah tubuh wanita telanjang itu seperti serigala-serigala
kelaparan, lalu dia pun berkata, “Tidak Suhu. Biar untuk mereka saja! Nih, dia kuberikan kepada kalian.
Bawa pergi ke belakang sana!”
Siangkoan Liong tiba-tiba melakukan gerakan dengan kakinya, menendang tubuh Cui Bi yang terlempar
keluar dari pintu kamar. Di luar, sambil mengeluarkan suara teriakan-teriakan liar, dua belas orang itu telah
menyambut dan jerit melengking yang keluar dari mulut Cui Bi mengatasi semua suara gaduh.
Li Sian melihat tubuh berkulit putih mulus menjadi rebutan, di antara tangan-tangan yang berbulu dan
berotot, lalu tubuh wanita itu diangkat pergi oleh dua belas orang raksasa itu. Yang terdengar hanya
lengking tangis. Li Sian lalu menundukkan mukanya dan mematikan pendengarannya agar ia tidak lagi
mendengar jeritan kakak iparnya.
Sementara itu, Kun Tek sudah duduk bersila dan matanya menatap ke arah Siangkoan Liong, bagaikan
mencorong dan mengeluarkan api. Di dalam hatinya, pemuda ini telah mengambil keputusan untuk kelak
membunuh pemuda tampan itu. Bukan hanya untuk menebus perbuatannya yang keji terhadap Cui Bi,
melainkan juga karena Li Sian! Kini dia mulai mengerti mengapa gadis perkasa itu demikian penuh
kebencian terhadap Siangkoan Liong!
Setelah anak buah Tiat-liong-pang membawa pergi mayat Okatou, Ouwyang Sianseng lalu memandang
kepada tiga orang tawanan itu. Dia menarik napas panjang kemudian berkata, “Ahhh, perang memang
kejam. Di dalam perjuangan, kadang-kadang memang harus menggunakan kekerasan terhadap musuh.
Apa lagi kaum pengkhianat memang harusnya dibasmi. Kami mengenal Sam-wi (kalian bertiga) sebagai
orang-orang gagah, keturunan para pendekar sakti, yang sudah tentu mempunyai jiwa patriot dan
membenci pemerintah penjajah Mancu. Kami sedang berusaha untuk menumbangkan penjajah, dan
membebaskan rakyat dari penjajahan. Oleh karena itu, kami yakin bahwa sebagai pendekar-pendekar
gagah yang biasa membela tanah air dan rakyat, Sam-wi tentu akan berpikir panjang. Membantu
dunia-kangouw.blogspot.com
perjuangan kami atau terpaksa kami lenyapkan Sam-wi sebagai lawan-lawan yang sangat berbahaya.
Kami memberi waktu untuk mengambil keputusan sampai besok pagi.”
Setelah berkata demikian, Ouwyang Sianseng mengajak muridnya keluar dari kamar itu dan memesan
kepada para anak buah untuk menyuguhkan hidangan yang hangat dan baik kepada mereka bertiga.
Dengan cerdik Hong Beng diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ouwyang Sianseng. Dia tahu bahwa
batin Kun Tek dan Li Sian masih terguncang menyaksikan kekejaman yang tak berperi kemanusiaan tadi,
maka mereka berdua itu pasti akan menentangnya kalau dia menyambut dengan lembut. Apa lagi kakek itu
memberi waktu sampai besok. Masih banyak waktu bagi mereka bertiga berunding…..
********************
Suma Ceng Liong dan isterinya, biar pun tinggal di dusun Hong-cun di luar kota Cin-an yang jauh dari
keramaian, jauh pula dari urusan para pendekar di dunia persilatan, tapi ada saja kenalan yang
memerlukan singgah di dusun itu untuk mengunjungi suami isteri terkenal ini dan menyampaikan
penghormatan mereka. Oleh karena itu, berita tentang gerakan orang-orang kang-ouw yang memberontak
di perbatasan utara, dipimpin oleh Siangkoan Lohan sebagai ketua Tiat-liong-pang, dapat pula mereka
dengar dan hal ini mengejutkan hati mereka.
“Sungguh mengherankan sekali berita itu,” kata Suma Ceng Liong kepada Kam Bi Eng, isterinya. “Padahal,
sudah lama nama Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan sebagai ketua Tiat-liong-pang amat terkenal.
Perkumpulan itu bahkan pernah berjasa terhadap pemerintah Mancu, dan kalau tidak salah, aku pernah
mendengar bahwa Siangkoan Lohan dihadiahi seorang puteri dari keluarga kaisar untuk menjadi isterinya.
Bagaimana sekarang tersiar berita bahwa dia memimpin orang-orang kang-ouw untuk mengadakan
pemberontakan? Sungguh aneh.”
“Hal seperti itu mungkin saja terjadi,” berkata isterinya. “Bagaimana pun juga, sebagai seorang pendekar
yang gagah, tentu Lohan juga merasa kurang puas melihat betapa bangsa dan tanah air dijajah oleh
orang-orang Mancu. Kalau sekarang dia mengadakan gerakan perjuangan untuk menentang pemerintah
penjajah, apakah anehnya hal itu?”
“Kalau dia menggerakkan orang-orang gagah dan rakyat yang tertindas untuk berjuang menentang
penjajahan Mancu, hal itu tidaklah aneh dan tidak mengkhawatirkan. Akan tetapi, menurut berita yang kita
dengar itu, dia menggerakkan orang-orang kang-ouw (sungai telaga), golongan hitam dan sesat. Ini amat
berbahaya karena perjuangan itu jelas bukan demi rakyat, bukan untuk bangsa dan tanah air, melainkan
mengandung pamrih untuk golongan itu dan celakalah rakyat jelata kalau hal itu terjadi. Mereka, kalau
menang, bahkan akan lebih jahat dan kejam dari pada pemerintah penjajah sendiri.”
Kam Bi Eng memegang lengan suaminya. “Sudahlah, kenapa kita harus memusingkan kepala turut
memikirkan urusan pemberontakan? Itu urusan pemerintah dan bukankah pemerintah mempunyai pasukan
yang kuat untuk memberantasnya? Bukan urusan kita untuk mencampurinya. Hanya, aku teringat kepada
anak kita. Ke mana perginya Lian-ji? Engkau tahu, watak anak itu masih sangat keras sehingga kalau ia
mendengar tentang persekutuan golongan hitam itu, tentu ia akan maju menentangnya.”
Suma Ceng Liong mengangguk. “Itulah yang kukhawatirkan. Ia memang telah memiliki ilmu kepandaian
yang cukup untuk membela diri, namun kalau ia sampai mencampuri urusan pemberontakan itu dan ia
turut menentang Tiat-liong-pang, sungguh berbahaya. Tingkat kepandaian Siangkoan Lohan amat tinggi,
belum tentu anak kita yang kurang pengalaman itu akan mampu menandinginya. Apa lagi kalau diingat
bahwa Siangkoan Lohan mengumpulkan banyak tokoh sesat seperti yang beritanya kita dengar.”
Kam Bi Eng mengerutkan alisnya. “Lalu bagamana baiknya? Kita harus menyusulnya dan melindunginya!”
Suaminya mengangguk-angguk. “Tapi tidaklah mudah mencari anak kita itu. Sebaiknya kita pergi
berkunjung ke pertapaan kanda Suma Ciang Bun. Tentu dia sudah tiba di tempat itu untuk menyampaikan
pesan kita, dan dari sana kita bisa mengikuti jejaknya, karena tentu Bun-ko tahu kemana anak itu pergi
setelah meninggalkan tempatnya.”
Karena mengkhawatirkan keadaan anak tunggal mereka yang tercinta, sepasang suami isteri perkasa ini
lalu berkemas dan meninggalkan rumah mereka menuju ke Tapa-san di mana Suma Ciang Bun bertapa,
untuk mulai mencari jejak puteri mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suami isteri yang sakti ini sudah lama tidak pernah memasuki dunia ramai, apa lagi ikut mencampuri
urusan dunia persilatan. Belasan tahun lamanya mereka hidup dengan tenang dan tenteram di dusun
Hong-cun. Dan kini, begitu meninggalkan rumah, apa lagi setelah mereka tiba di luar dusun, timbul
kegembiraan dalam hati mereka.
Jiwa petualangan mereka bangkit kembali. Di waktu muda, mereka adalah orang-orang yang suka
bertualang, menghadapi banyak macam bahaya sebagai pendekar-pendekar yang setiap saat siap
menentang kejahatan. Kegembiraan itu jelas nampak pada wajah mereka yang berubah cerah.
Bagaikan suami isteri yang sedang bertamasya saja mereka berjalan perlahan menuruni bukit kecil,
menuju ke padang rumput di kaki bukit yang menjadi permulaan sawah dan ladang yang amat luas,
dengan warna hijau menguning menyedapkan mata. Bau tanah dan tanaman gandum yang harum
memasuki hidung mereka, bersama hawa udara yang amat segar dan nyaman.
Akan tetapi, tiba-tiba mata mereka yang sudah terlatih dan amat tajam melihat sesuatu yang menarik
perhatian mereka. Jauh di sana, di luar padang rumput yang membatasi padang rumput dengan sawah
ladang, nampak ada beberapa orang manusia bergerak-gerak. Dari tempat jauh mereka itu nampak kecil
sekali, akan tetapi gerakan-gerakan mereka itu dapat dikenal suami isteri ini sebagai gerakan orang-orang
berkelahi dengan ilmu silat tinggi.
“Di sana ada orang-orang berkelahi!” berkata Kam Bi Eng kepada suaminya. “Seorang dikeroyok oleh tujuh
lawan!”
“Benar,” kata suaminya, seolah-olah suami isteri ini sedang mengadu ketajaman mata mereka. “Yang
seorang itu agaknya wanita, sedangkan pengeroyoknya seorang wanita dan enam orang pria.”
Mendengar ucapan suaminya itu, Kam Bi Eng mengerahkan tenaganya memandang dan ia pun berseru
membenarkan.
“Hayo cepat kita ke sana!” teriak wanita sakti itu.
Tanpa menanti jawaban suaminya, Kam Bi Eng sudah meloncat ke depan dan berlari secepat angin
menuruni bukit. Suma Ceng Liong juga segera mempergunakan ilmunya berlari cepat, mengejar isterinya.
Karena keduanya mempergunakan ilmu berlari cepat yang hebat sekali, maka tak lama kemudian mereka
berdua pun sudah tiba di tempat perkelahian itu. Memang penglihatan Suma Ceng Liong dari jauh tadi
tidak keliru.
Nampak seorang gadis cantik manis berusia kurang lebih dua puluh satu tahun sedang dikeroyok oleh
seorang wanita setengah tua dan enam orang laki-laki. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi, namun gadis muda itu pun hebat sekali ilmu silatnya.
Melihat betapa gadis cantik manis itu memainkan ilmu pedang yang aneh, namun yang tidak asing
baginya, Suma Ceng Liong segera berkata kepada isterinya. “Mari kita bantu gadis itu, bubarkan para
pengeroyoknya sebelum ia celaka!”
Memang pada saat itu, gadis berpedang itu sudah terdesak hebat karena memang para pengeroyoknya
memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan wanita setengah tua itu agaknya jauh lebih menonjol tingkat
kepandaiannya dibanding para pengeroyok lain.
Sesungguhnya, tidak mengherankan jika para pengeroyok itu amat lihai, karena wanita setengah tua itu
bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li, tokoh sesat yang menjadi pembantu utama dari Siangkoan Lohan! Dan
selain Sin-kiam Mo-li, di antara mereka terdapat pula Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek yang menjadi
rekan dan juga kekasihnya, dan lima orang lain yaitu kaki tangan Tiat-liong-pang yang sedang
mengadakan pemberontakan. Ada pun gadis cantik manis yang sedang dikeroyok itu adalah Hong Li!
Seperti telah kita ketahui, gadis perkasa ini memang sedang menuju dusun Hong-cun di luar kota Cin-an di
Propinsi Shantung, di lembah Huang-ho untuk berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong seperti yang
dipesan oleh ayah ibunya. Ketika tiba di padang rumput di kaki bukit itu, tiba-tiba ia bertemu dengan
seorang laki-laki setengah tua pesolek yang genit dan ceriwis sekali. Pria itu adalah Toat-beng Kiam-ong
Giam San Ek.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah menjadi watak atau ciri khas dari tokoh sesat yang berjulukan Raja Pedang ini untuk tidak
melewatkan setiap kesempatan bertemu dengan wanita cantik. Selalu saja dia mengganggu dan berusaha
mendapatkan wanita itu dan kalau hatinya tertarik, dia tidak peduli lagi siapa wanita itu, isteri orang atau
anak gadis orang. Dia akan berusaha menundukkannya, mungkin dengan bujuk rayu mengandalkan
kegantengannya, kalau tidak, dia akan menggunakan kepandaiannya untuk mendapatkannya. Dia tidak
pantang mempergunakan kekerasan memperkosa wanita itu.
Melihat seorang gadis melakukan perjalanan seorang diri di tempat sunyi itu, apa lagi gadis itu cantik manis
sekali, segera hati Giam San Ek terpikat dan ia pun menghadang sambil cengar-cerigir menyeringai untuk
memikat. Baru beberapa hari dia dan Sin-kiam Mo-li bersama beberapa orang kaki tangan mereka tinggal
mondok di dusun berdekatan dalam tugas mereka menghimpun tenaga bantuan untuk gerakan yang
dilakukan oleh Tiat-liong-pang.
“Selamat pagi, Nona Manis! Dari mana hendak ke manakah? Dan bolehkah kutemani Nona yang berjalan
sendirian saja supaya tidak kesepian?” demkian tegur Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek kepada Kao
Hong Li.
Wajah yang bulat telur itu menjadi merah dan mata yang jeli lebar itu mengeluarkan sinar berapi. Hong Li
adalah seorang gadis yang cantik dan manis sekali dan sudah lama melakukan perjalanan seorang diri,
maka sudah tidak aneh baginya melihat sikap pria yang mencoba untuk menggodanya. Dan setiap kali
digoda pria secara kurang ajar, dia pasti turun tangan menghajar pria yang sama sekali tidak menyangka
bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang lihai sekali. Kini melihat sikap pria setengah
tua yang amat ceriwis itu, Hong Li yang juga pandai bicara lalu tersenyum simpul, menahan kemarahannya
yang membuat kedua pipinya kemerahan itu.
“Hemmm, orang tua, pernahkah engkau bercermin?”
Melihat gadis itu tersenyum simpul yang membuat wajahnya makin manis, dan melihat kedua pipi yang
halus itu kemerahan yang disangkanya gadis itu malu-malu kucing, Giam San Ek tidak marah mendengar
gadis itu menyebutnya orang tua. Dia meraba rambutnya, dan meneliti pakaiannya apakah ada yang kusut,
lalu menjawab.
“Tentu saja, Nona Manis! Aku selalu membawa cermin ke mana pun aku pergi. Lihat!” Dan seperti bermain
sulap saja, tangan kirinya yang bergerak itu telah mengeluarkan sebuah cermin kecil dari saku bajunya.
Melihat betapa ucapannya tadi itu dianggap benar-benar dan orang itu benar-benar pula mengeluarkan
sebuah cermin, Kao Hong Li tak dapat menahan ledakan ketawanya.
“Hemmm, manusia tak tahu diri! Kalau engkau sering bercermin, apakah engkau belum juga melihat
betapa engkau ini sudah tua? Akan tetapi engkau masih pesolek, genit dan suka menggoda gadis muda
seperti aku. Tidak malukah engkau?”
Mana mungkin orang macam Giam San Ek memiliki perasaan malu? Teguran Hong Li ini hanya
dianggapnya main-main saja, bahkan disangka sebagai tanda bahwa gadis itu menanggapi godaannya.
“Ha-ha-ha, Nona Manis. Betapa pun tuanya seorang laki-laki, kalau melihat gadis manis sepertimu ini,
siapa yang tidak menjadi tergila-gila? Hayolah, tak usah malu-malu, mari ikut dengan aku bersenangsenang!”
Berkata demikian, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mengulurkan tangannya untuk mencubit
dagu gadis itu.
Tentu saja Kao Hong Li menjadi marah melihat sikap orang ini makin berkelanjutan, bahkan makin berani
hendak mencolek dagunya. Dengan mudah ia mengelak dengan mundur selangkah, dan tangannya
menampar keras sekali ke arah muka orang.
Giam San Ek sama sekali tidak mengira bahwa gadis manis itu berani menamparnya, maka ia cepat
mengelak. Akan tetapi karena memandang rendah, dia bergerak kurang cepat sehingga walau pun
mukanya tidak kena ditampar, pundaknya masih terserempet ujung tangan gadis itu. Dia terkejut, baru tahu
betapa tamparan itu mengandung tenaga yang sangat kuat, maka dia pun melangkah mundur sambil
memandang dengan alis berkerut.
“Ehh? Engkau hendak membalas keramahan orang dengan pukulan?” bentaknya, kini kurang ramah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Keramahanmu hanyalah kekurang ajaran, dan aku adalah seorang gadis yang tidak sudi kau permainkan.
Pukulanku adalah pukulan untuk menghajar laki-laki kurang sopan macam kalian ini!” Dan sekarang Kao
Hong Li sudah menerjang ke depan, mengirim tamparan bertubi-tubi. Gerakannya tentu saja cepat dan
kuat sekali!
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mengelak dan menangkis dua kali.
“Dukkk! Plak!”
Pertemuan dua tangan mereka membuat keduanya terkejut. Hong Li juga kaget karena ternyata dalam
tangkisan tangan lawan itu terkandung tenaga sinkang yang amat kuat, sedangkan Giam San Ek tentu saja
kaget sekali karena pertemuan lengan itu membuat tubuhnya hampir terjengkang kalau saja dia tidak dapat
meloncat ke belakang. Kini dia memandang gadis itu penuh perhatian, dan baru tahu bahwa dia
berhadapan dengan seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga dalam yang kuat.
“Ahh, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, pantas sikapmu jual mahal!” bentak Giam San Ek dan
dia pun sudah menerjang lagi dengan cepat dan ganas, menyerang dengan sungguh-sungguh, bukan
sekedar ingin memegang atau mencolek.
Akan tetapi, sekali ini dia kecelik dan bukan hanya gadis itu mampu menghindarkan diri dari semua
terkamannya, bahkan membalas tidak kalah dahsyatnya sehingga membuat Toat-beng Kiam-ong itu
terdesak mundur. Kalau dilanjutkan perkelahian tangan kosong itu, tentu dia akan kalah, karena Kao Hong
Li adalah cucu Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, ahli silat tangan kosong dengan ilmu silat Sin-liong
Ciang-hoat, dan juga isterinya ahli silat tangan kosong Han-tok-ciang (Silat Tangan Selaksa Racun).
Kedua ilmu silat ini telah diwarisi Hong Li dari ayahnya, yaitu Kao Cin Liong. Juga dari ibunya, cucu
Pendekar Super Sakti Pulau Es gadis bermata lebar ini telah mewarisi ilmu-ilmunya. Maka, tidaklah
mengherankan kalau Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek terdesak hebat setelah mereka berkelahi selama
belasan jurus saja.
“Singgg...!”
Nampak sinar berkelebat ketika Giam San Ek yang berjuluk Raja Pedang Pencabut Nyawa itu menghunus
pedangnya dan mengelebatkan pedang itu di depan tubuhnya. Melihat ini, Hong Li juga mencabut
pedangnya. Giam San Ek yang berwatak tekebur itu tertawa mengejek, memandang rendah.
“Ha-ha-ha, Nona Manis. Dengan tangan kosong memang aku sama sekali tidak berhasil mengalahkanmu,
akan tetapi ketahuilah dengan siapa engkau berhadapan! Aku Giam San Ek, terkenal dengan julukan Toatbeng
Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa), sungguh sangat disayangkan bahwa seorang gadis jelita
seperti engkau terpaksa harus tercabut nyawanya oleh pedangku!”
“Tak perlu banyak cakap, lihat pedangku!” bentak Hong Li dan ia pun sudah memutar pedangnya dan
menyerang dengan dahsyatnya.
“Haaaiiitt!”
Dengan lagak mengejek Giam San Ek menangkis serangan, membuat putaran dengan pedangnya dan
membalas dengan tusukan ke arah dada Hong Li. Akan tetapi, gadis itu bukan hanya tangguh dalam ilmu
silat tangan kosong, juga dia sangat lihai dengan pedangnya. Dia memainkan Ban-tok Kiam-sut dan biar
pun ilmu pedang ini paling tepat dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam milik neneknya, akan tetapi
dengan pedang di tangannya pun yang tidak beracun, ilmu pedang itu tetap hebat.
Kalau tadinya Giam San Ek masih mengejek dan memandang rendah, makin lama dia menjadi makin
kaget mendapat kenyataan betapa lihainya gadis itu dengan pedangnya. Apa lagi mencari kemenangan
dengan mudah, baru mempertahankan dirinya agar tidak sampai terkena pedang lawan saja sudah
merupakan hal yang tidak mudah baginya! Bahkan makin lama Si Raja Pedang yang sombong ini menjadi
semakin terdesak.
Selagi Giam San Ek semakin kebingungan, muncullah bala bantuan baginya yang amat membesarkan
hatinya karena yang muncul itu bukan lain adalah kekasihnya, Sin-kiam Mo-li yang lebih lihai darinya dan
lima orang anak buahnya, yaitu tiga orang anggota Ang-I Mo-pang dan dua orang murid Tiat-liong-pang
yang semuanya memiliki ilmu silat yang sudah boleh diandalkan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat betapa kekasih dan rekannya itu terdesak oleh seorang wanita muda yang lihai sekali, Sin-kiam
Mo-li segera mengeluarkan pedang dan kebutannya, lalu ikut terjun ke dalam pertempuran. Lima orang
kawannya juga segera mengeluarkan senjata masing-masing dan kini Hong Li harus menghadapi
pengeroyokan tujuh orang lawan tangguh!
Akan tetapi, gadis perkasa ini tidak menjadi gentar meski pun kini ia terkepung, terhimpit dan terdesak
karena fihak para pengeroyoknya memang amat kuat, jauh lebih kuat dari padanya. Namun, dengan
putaran pedangnya, dibantu tangan kirinya yang mendorong disertai tenaga Swat-im Sinkang, satu di
antara ilmu dari Pulau Es yang sangat hebat karena dorongan tangan itu mengeluarkan hawa dingin yang
amat kuat, ia melindungi dirinya.
Ketika Suma Ceng Liong melihat dorongan tangan kiri ini, yakinlah dia bahwa gadis itu tentulah keluarga
Pulau Es, anggota dari keluarganya sendiri. Siapa lagi gadis itu kalau bukan puteri dari enci-nya, Suma
Hui, yang bernama Kao Hong Li? Dia lupa lagi akan wajah keponakannya itu, apa lagi karena bertahuntahun
tidak pernah berjumpa, akan tetapi pukulan itu bagaimana pun juga akan dikenalnya dengan baik!
“Jangan takut, kami datang membantumu!” kata Ceng Liong yang semenjak tadi sudah menganjurkan
isterinya untuk membantu gadis yang dikeroyok.
Kini tubuhnya berkelebat menerjang ke depan, dan melihat betapa yang paling lihai di antara para
pengeroyok itu adalah wanita yang berpedang dan memegang kebutan, maka dia pun lalu menerjang
wanita itu dengan totokan Coan-kut-ci! Coan-kut ci (Jari Penembus Tulang) adalah suatu ilmu yang
dahsyat sekali, yang dipelajari Suma Ceng Liong dari Hek-I Mo-ong, gurunya yang juga seorang datuk
kaum sesat yang dahulu amat terkenal.
Terdengar suara mencicit dibarengi angin yang kuat bukan main menyambar ke arah Sin-kiam Mo-li.
Wanita ini terkejut bukan main, cepat menyambut dengan kebutannya. Akan tetapi, begitu bertemu dengan
jari tangan Ceng Liong, bulu kebutan itu rontok dan wanita itu merasa betapa lengannya yang memegang
kebutan tergetar hebat.
Ia membalas dengan tusukan pedang, namun didahului oleh tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin
Badai) yang cepat dari Ceng Liong, membuat wanita itu cepat-cepat melempar diri ke belakang. Nyaris
perutnya tertendang dan kini Sin-kiam Mo-li benar-benar kaget bukan main, tidak menyangka akan
bertemu dengan lawan sehebat ini! Ia kemudian berkemak-kemik sambil menudingkan pedangnya ke arah
Suma Ceng Liong, mengerahkan kekuatan sihirnya dan membentak.
“Engkau yang berani melawan aku, berlututlah!”
Akan tetapi laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu malah tertawa bergelak. Tentu saja sihir itu tidak
dapat mempengaruhi Ceng Liong karena pendekar ini pun telah mempelajari ilmu sihir dari ibunya sendiri,
yaitu mendiang nenek Teng Siang In. Sambil tertawa, Ceng Liong juga mengerahkan kekuatan sihirnya
dan tiba-tiba saja Sin-kiam Mo-li juga tertawa bergelak, tidak dapat menahan geli hatinya karena terseret
oleh suara ketawa Ceng Liong!
Sambil tertawa, Ceng Liong sudah melakukan gerakan-gerakan mendorong dengan dua tangannya silih
berganti, yang kanan dengan Hwi-yang Sinkang mengeluarkan hawa panas, dan yang kiri mengeluarkan
hawa dingin dengan Swat-im Sinkang.
Sin-kiam Mo-li sedang terkejut bukan main karena melihat dirinya tertawa tanpa dapat dikuasainya. Cepat
dia mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh tawa itu. Dan pada saat itu, lawannya sudah
menyerangnya dengan dua ilmu yang hebat dari Pulau Es. Tentu saja ia menjadi kaget bukan main dan
hanya dengan melempar tubuh ke belakang kemudian bergulingan saja, wanita ini dapat terhindar dari
pukulan lawan yang dahsyat.
Sementara itu, Kam Bi Eng juga sudah mencabut suling emasnya dan kini suling itu mengaung-ngaung
ketika ia mainkan ilmu pedang gabungan antara Koai-long Kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut! Ilmu ini pun
merupakan satu di antara ilmu-ilmu tertinggi pada waktu itu, dan yang diserang oleh Kam Bi Eng adalah
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek.
Orang ini terkejut, mencoba untuk memutar pedangnya. Akan tetapi tangkisannya tidak dapat menahan
suling itu yang terus menerobos di antara sinar pedangnya sehingga mengancam ulu hatinya. Giam San
dunia-kangouw.blogspot.com
Ek berteriak kaget dan melempar tubuh ke samping, lalu meloncat agak jauh dengan keringat dingin
membasahi tubuhnya! Nyaris dia celaka oleh suling wanita cantik dan gagah itu!
Meski ia pangling dan tidak mengenal suami isteri perkasa yang datang membantunya, akan tetapi begitu
menyaksikan gerakan-gerakan mereka, apa lagi melihat Kam Bi Eng memainkan suling emas, Kao Hong Li
segera dapat menduga siapa adanya mereka.
“Paman Liong dan bibi Eng, terima kasih kalian sudah datang membantuku!” teriaknya dan tendangantendangannya
langsung membuat kelima orang pengeroyoknya menjadi kalang kabut.
Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong adalah dua orang yang cerdik dan licik. Melihat kehebatan musuh,
mereka berdua tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, diikuti oleh lima orang anak buah mereka yang
juga menjadi ketakutan! Kao Hong Li meloncat untuk mengejar, akan tetapi Suma Ceng Liong
mencegahnya.
“Musuh yang lari jangan dikejar!” kata pendekar ini. Dia maklum betapa lihainya lawan, dan tentu licik
sekali sehingga mengejar mereka amatlah berbahaya. Siapa tahu mereka itu lari ke tempat kawan-kawan
mereka.
Kao Hong Li mentaati cegahan pamannya, tetapi ia mengerutkan alisnya memandang ke arah
menghilangnya tujuh bayangan orang itu dan berkata, “Sayang, seharusnya mereka itu ditumpas, terutama
sekali wanita itu!” Lalu, seperti baru teringat bahwa baru saja ia berjumpa dengan paman dan bibinya,
gadis itu memberi hormat dan berkata, “Saya segera mengenal Paman dari gerakan Paman, dan
mengenal Bibi setelah melihat suling emas itu!”
“Kami pun mengenalmu setelah melihat gerakan silatmu, Hong Li,” kata Kam Bi Eng sambil mengamati
wajah yang cantik manis itu.
“Hong Li, siapakah wanita tadi? Ia kelihatan lihai sekali, dan melihat senjatanya pedang dan kebutan,
mengingatkan aku akan seorang iblis betina...”
“Dugaan Paman benar. Ia adalah Sin-kiam Mo-li!”
“Ahhh!” Suami isteri itu terkejut.
“Agaknya ia tidak mengenal saya lagi, Paman, karena ketika ia menculik saya, ketika itu usia saya baru
tiga belas tahun. Akan tetapi, saya tidak akan pernah dapat melupakan iblis itu dan tadi, begitu bertemu,
saya segera mengenalnya. Padahal, saya memang sengaja hendak mencari dan membunuhnya!” kata
gadis itu penuh semangat.
Ia teringat akan pengalamannya ketika berusia tiga belas tahun. Pernah ia diculik oleh iblis betina itu,
bahkan kemudian diakui sebagai anak angkat dan murid, akan tetapi ia kemudian tahu bahwa sikap baik
iblis betina itu hanya siasat belaka. (baca kisah Suling Naga).
Suma Ceng Liong menatap tajam wajah Kao Hong Li, diam-diam merasa heran kenapa gadis ini seolaholah
diracuni dendam, padahal, dia mengenal benar pribadi ayah dan ibu gadis ini, orang-orang yang
berjiwa pendekar dan tidak mudah dikuasai dendam.
“Hong Li, kenapa engkau ingin membunuhnya dan nampaknya engkau amat membenci wanita itu? Apakah
karena ia dahulu menculikmu?” tanya Ceng Liong tak puas.
Hong Li menarik napas panjang. “Memang saya sedang menuju ke rumah Paman untuk menceritakan hal
ini. Saya tidak mendendam karena ia pernah menculik saya, Paman. Akan tetapi karena ia dan kawankawannya
telah menyerbu ke rumah kakek dan nenek di Gurun Pasir. Mereka mengeroyok dan berhasil
membunuh kakek, nenek dan juga locianpwe Wan Tek Hoat, bahkan membakar Istana Gurun Pasir.”
“Ihhh...!” Kam Bi Eng berseru kaget.
Suma Ceng Liong juga terkejut sekali. “Apa?! Bagaimana mungkin ia dapat membunuh locianpwe Kao Kok
Cu, isterinya, dan bahkan locianpwe Wan Tek Hoat?” Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang mampu
membunuh tiga orang sakti itu, apa lagi kalau orang itu hanya wanita tadi dan kawan-kawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayah, ibu dan saya sendiri tadinya juga merasa amat terkejut, heran dan tidak percaya, Paman. Akan
tetapi pembawa berita itu adalah murid dari ketiga orang tua sakti itu sendiri.” Hong Li lalu mengulang
cerita tentang peristiwa di Istana Gurun Pasir itu seperti yang didengarnya dari Tan Sin Hong.
Suami isteri perkasa itu mendengar dengan penuh perhatian. Wajah mereka dibayangi duka mendengar
akan kematian tiga orang tua yang sakti itu. Setelah Hong Li selesai bercerita, Kam Bi Eng tidak sabar lagi
bertanya.
“Tiga orang tua yang sakti itu tewas semua, akan tetapi bagaimana mungkin murid mereka itu dapat hidup
dan dapat menceritakan peristiwa itu kepada keluargamu?”
“Kami juga berpendapat demikian dan dengan penasaran menanyakan hal itu kepada Tan Sin Hong. Dan
ternyata bahwa pada saat penyerbuan terjadi, murid itu sama sekali tidak berdaya. Ia baru saja menerima
pengoperan tenaga sakti dari tiga orang gurunya dan selama satu tahun dia pantang mempergunakan
tenaga sakti karena hal itu berarti akan membunuh dirinya sendiri. Oleh karena itulah maka dia tidak dapat
melakukan perlawanan, karena sekali mengerahkan tenaga, dia akan mati konyol.”
Mendengar ini, Ceng Liong menarik napas panjang. “Aihh, sungguh menyedihkan. Akan tetapi bagaimana
pun juga, tiga orang locianpwe itu sudah tua sekali dan mereka tewas sebagai orang-orang gagah, gugur
dalam menghadapi orang-orang sesat. Heran sekali nasib mereka sama benar dengan nasib kakek dan
nenek-nenekku di Pulau Es! Gugur dalam menghadapi penyerbuan tokoh-tokoh sesat. Sekarang aku
paham. Tentu setelah mengoper tenaga sakti kepada murid mereka itu, ketiga orang locianpwe itu
mengalami kekurangan tenaga dan pada saat itu, para tokoh sesat datang menyerbu. Bagaimana pun
juga, hampir semua penyerbu itu tewas, dan ini membuktikan bahwa ketiga orang locianpwe yang sudah
berusia tinggi sekali itu memang masih luar biasa hebat. Nyawa manusia di tangan Tuhan! Kalau Tuhan
sudah menghendaki, maka ada saja penyebab kematian seseorang. Kita tidak mungkin dapat
mengelakkan kehendak Tuhan!”
“Beruntung sekali bahwa saya dapat bertemu dengan Ji-wi di sini sehingga bukan saja Paman dan Bibi
dapat menyelamatkan saya dari tangan orang-orang jahat itu, tetapi juga saya tidak kecelik berkunjung ke
rumah Paman dan Bibi yang kosong. Sebenarnya, ke manakah Paman dan Bibi hendak pergi, maka
kebetulan berada di sini?”
“Kami memang sengaja meninggalkan rumah karena sudah mendengar akan gerakan pemberontakan
yang kabarnya dilakukan oleh Tiat-liong-pang dibantu oleh para tokoh sesat. Karena anak kami Suma Lian
juga sedang merantau, maka kami merasa sangat khawatir dan ingin mencarinya.”
“Ahh, Paman! Kebetulan sekali belum lama ini saya bertemu dengan adik Suma Lian!”
Hong Li segera bercerita mengenai pertemuan dirinya dengan Suma Lian yang diawali perkelahian karena
kesalah pahaman ketika Hong Li mengejar seorang laki-laki yang menculik seorang anak laki-laki.
“Pertemuan itu singkat saja, Paman. Kami lalu berpisah, saya pergi berkunjung kepada Paman, sedangkan
adik Lian terus melanjutkan pengejaran terhadap laki-laki penculik anak-anak itu.”
“Di mana terjadi peristiwa itu?”
“Di kota Ban-koan.”
“Kalau begitu, kami akan cepat mencari jejaknya di sana,” kata Ceng Liong.
Mereka kemudian berpisah. Ceng Liong dan Bi Eng segera menuju ke kota Ban-koan, sedangkan Hong Li
mencoba untuk mencari jejak Sin-kiam Mo-li yang tadi melarikan diri bersama kawan-kawannya. Ia kini
bersikap lebih berhati-hati, maklum bahwa Sin-kiam Mo-li mempunyai banyak kawan yang lihai.
Menghadapi wanita itu sendiri, ia tak gentar, akan tetapi kalau dikeroyok banyak orang seperti tadi, ia bisa
celaka.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di kota Ban-koan, tentu saja suami isteri pendekar itu sama sekali tidak
dapat menemukan lagi jejak puteri mereka. Tiada seorang pun tahu tentang Suma Lian, apa lagi mengenai
penculik anak-anak, oleh karena memang kedua orang ini meninggalkan kota itu secara diam-diam, di
waktu malam pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dari tempat ini, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu pergi ke Pegunungan Tapa-san untuk mengunjungi
pondok tempat tinggal Suma Ciang Bun. Sebelum pergi, Suma Lian telah mereka pesan untuk berkunjung
ke rumah pamannya itu dan membujuk Suma Ciang Bun yang hidup sebatang kara untuk tinggal bersama
mereka di dusun Hong-cun. Tentu Suma Ciang Bun akan dapat memberi keterangan ke mana selanjutnya
puteri mereka itu pergi setelah berkunjung ke sana.
Dugaan mereka yang juga menjadi harapan mereka memang tidak keliru. Di tempat kediaman Suma Ciang
Bun, mereka memperoleh keterangan yang banyak. Suma Ciang Bun menyambut mereka dengan gembira
sekali dan pendekar ini merangkul adiknya dengan sepasang mata basah. Dia telah merasa rindu sekali
kepada Suma Ceng Liong dan pertemuan ini sungguh membuat dia terharu dan juga gembira.
“Bagaimana, Bun-ko, engkau tentu sehat-sehat saja, bukan? Engkau nampak sehat dan segar.”
“Engkau juga semakin gagah saja, Liong-te. Dan isterimu ini juga semakin gagah dan cantik!” kata Suma
Ciang Bun.
Kam Bi Eng tertawa, mukanya berubah agak kemerahan. “Ah, Bun-koko ini bisa saja. Orang sudah
semakin tua, mana mungkin semakin cantik?”
Seorang anak laki-laki muncul. Usianya baru tujuh tahun lebih, tetapi keadaan anak ini sungguh
mengagumkan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Anak itu mempunyai wajah yang tampan dengan
sepasang mata yang tajam bersinar penuh semangat dan keberanian, juga mengandung kecerdikan.
“Ah, Bun-ko telah memiliki seorang murid yang baru? Dia baik sekali, Bunko...”
Suma Ciang Bun tersenyum. “Anak ini hanya titipan, yang menitipkannya di sini adalah puteri kalian!”
Tentu saja suami isteri itu terkejut dan girang sekali. “Suma Lian, anak kami?” keduanya hampir berbareng
bertanya.
Suma Ciang Bun mengangguk, kemudian dia mengajak mereka semua duduk di dalam pondoknya yang
tidak besar namun karena mempunyai banyak jendela maka terbuka dan sejuk hawanya. Lalu dia
menceritakan tentang kunjungan Suma Lian dan Tan Sin Hong dan tentang Yo Han yang dititipkan
kepadanya oleh dua orang muda itu.
“Bun-ko, apakah yang kau maksudkan Tan Sin Hong murid dari Istana Gurun Pasir itu?” tanya Ceng Liong
memotong cerita kakaknya.
“Benar, engkau sudah mendengar akan mala petaka yang terjadi di sana?”
“Sudah, dari Kao Hong Li yang kami jumpai di jalan.”
“Dan tahukah engkau siapa anak ini? Anak ini adalah putera dari Ciong Siu Kwi dan suaminya, Yo Jin,”
kata Suma Ciang Bun.
“Ciong Siu Kwi...? Bi...” Suma Ceng Liong yang tadinya hendak mengatakan Bi Kwi, menahan ucapannya
teringat akan kehadiran anak itu.
Suma Ciang Bun maklum dan dia mengangguk, lalu diceritakannya semua yang pernah didengarnya dari
Suma Lian tentang anak itu, betapa ayah dan ibu anak itu menjadi tawanan para tokoh sesat yang
bergabung dengan Tiat-long-pang.
Mendengar semua cerita itu, Suma Ceng Liong saling pandang dengan isterinya, lalu dia menghela napas
panjang. “Kami sudah mengkhawatirkan bahwa tentu Lian-ji akan terlibat dalam urusan pemberontakan
Tiat-liong-pang. Jika ia mendengar akan gerakan kaum sesat mendukung pemberontakan, tentu ia akan
menentangnya. Kami justru amat mengkhawatirkan hal itu, Bun-ko. Oleh karena itu, kami tidak akan
berlama-lama tinggal di sini. Kami akan segera berangkat untuk mencari puteri kami dan membantunya jika
dia menentang Tiat-liong-pang.”
Suma Ciang Bun lalu mengangguk-angguk. “Memang sebaiknya begitu, Liong-te. Kaum muda itu memang
amat berani, dan kadang-kadang terlalu berani sehingga tidak lagi memakai perhitungan. Aku juga
mendengar bahwa gerakan Tiat-liong-pang sekali ini didukung oleh tokoh-tokoh sesat yang sangat lihai,
dunia-kangouw.blogspot.com
bahkan kabarnya Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ikut pula mendukung, belum lagi pasukan pemerintah yang
berkhianat dan orang-orang Mongol.”
Suami isteri itu lalu berpamit. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari puteri mereka.
Sekali ini, tujuan mereka sudah jelas, yaitu perkumpulan Tiat-liong-pang yang pusatnya berada di lereng
bukit di kota Sang-cia-kou di utara…..
********************
Di benteng pasukan-pasukan pemerintah Ceng yang berada di perbatasan utara terjadi peristiwa yang
menggegerkan. Selama beberapa minggu ini sudah ada belasan orang perwira menengah dan perwira
tinggi secara mendadak saja hilang tanpa meninggalkan jejak! Mereka yang hilang itu semua adalah para
perwira yang setia kepada pemerintah.
Karena sebuah pasukan tidak mungkin tanpa pimpinan, maka beberapa pasukan yang kehilangan
pimpinan lalu dikuasai oleh Coa Tai-ciangkun, seorang di antara panglima yang bertugas di perbatasan
utara. Coa Tai-ciangkun lalu mengangkat perwira-perwira baru untuk memimpin pasukan-pasukan yang
telah kehilangan pemimpinnya.
Keadaan seperti itu mencemaskan hati para perwira yang setia kepada pemerintah dan yang masih hidup.
Ada beberapa orang di antara mereka nyaris diculik oleh orang-orang berkedok yang berkepandaian tinggi.
Mereka ini merasa cemas melihat ada beberapa rekan-rekan mereka yang lenyap dan kini kekuasaan Coa
Tai-ciangkun atas pasukan-pasukan di utara semakin besar.
Padahal, mereka sudah mendengar desas-desus bahwa Coa Tai-ciangkun disangsikan kesetiaannya
karena kabarnya mengadakan hubungan dengan kekuatan-kekuatan di luar pasukan. Maka, diam-diam di
antara para perwira itu mengirim utusan dengan cepat ke selatan, ke kota raja untuk melaporkan peristiwa
yang mencemaskan itu.
Pada suatu pagi yang cerah, di atas puncak sebuah bukit tak jauh dari Tembok Besar nampak dua orang
menuruni bukit itu perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah dari puncak
bukit. Memang indah bukan main pemandangan dari situ. Tembok Besar buatan manusia yang sudah
mengorbankan mungkin jutaan orang manusia dalam pembuatannya dan perbaikan-perbaikannya itu,
nampak seperti seekor naga di antara bukit-bukit, naik turun dan berkelok-kelok, sehingga membuat dua
orang itu kadang-kadang berhenti melangkah untuk lebih menikmati pemandangan itu.
Mereka adalah seorang nenek dan seorang kakek. Kakek itu usianya sudah kurang lebih tujuh puluh tahun,
berpakaian sastrawan yang sederhana, bertubuh tinggi agak kurus, namun wajahnya masih
membayangkan ketampanan dan tubuh itu masih tegak. Gerak-geriknya halus, dan pandang matanya
lembut, meski kadang-kadang mencorong penuh wibawa.
Sementara nenek itu belasan tahun lebih muda, baru lima puluh tahun lebih. Bentuk tubuhnya masih
ramping, serta gerak-geriknya masih lincah dan cekatan. Keduanya menggendong sebuah buntalan
pakaian di punggung dan keduanya nampak gembira, mungkin karena hawa udara yang sejuk nyaman dan
pemandangan alam yang amat indahnya itu menyeret mereka ke dalam suasana gembira.
Manusia adalah sebagian dari alam, merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Oleh karena itu, walau
pun manusia mabuk oleh nafsu duniawi yang membuat mereka selalu tenggelam dalam kesibukan mencari
uang, mengejar kesenangan, hiburan atau urusan rumah tangga, keluarga, atau juga masyarakat dan
Negara, sekali waktu akan timbul rindunya kepada alam.
Dan setelah manusia jenuh dari pada segala keduniawian dengan tata kehidupan yang serba mengejar
kesenangan ini, misalnya dia berada di tepi samudera atau di puncak bukit, dia akan tenggelam ke dalam
kesyahduan alam, ke dalam keheningan yang amat menghanyutkan, yang mendatangkan ketenangan dan
kedamaian di dalam batin.
Timbul suatu pertanyaan masing-masing, dalam batin masing-masing, yaitu: Dapatkah kita bebas dari
pada segala kebisingan pikiran sewaktu kita berada di dalam masyarakat ramai sehingga kita memperoleh
keheningan ketenangan dan kedamaian seperti kalau kita berada seorang diri di puncak gunung atau di
tepi samudera?
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun kakek dan nenek itu kelihatan seperti orang-orang biasa saja, namun kalau ada yang mengenal
mereka, tentu si pengenal akan terkejut sekali mendapatkan mereka berdua di situ. Mereka bukanlah
orang biasa, melainkan pasangan pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan
ilmu mereka yang tinggi!
Kakek itu bernama Kam Hong. Puluhan tahun yang lalu ia pernah menggegerkan dunia persilatan dengan
ilmunya yang sangat tinggi dan dijuluki Pendekar Suling Emas karena ilmunya mengingatkan dunia
persilatan akan kehebatan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari seorang pendekar ratusan
tahun yang lalu yang juga berjuluk Suling Emas. (baca kisah Suling Emas Naga Siluman).
Ada pun nenek itu adalah isterinya yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya,
bernama Bu Ci Sian. Isterinya ini, yang belasan tahun lebih muda dari sang suami, juga masih sumoi dari
suaminya itu, karena mereka berdualah yang telah menemukan kitab ilmu yang amat tinggi dan keduanya
mempelajari ilmu itu. Disamping ilmu memainkan suling emas, juga nenek Bu Ci Sian ini memiliki ilmu
menaklukkan ular, dan di samping itu, juga pernah menerima gemblengan ilmu gabungan sinkang Im dan
Yang dari pendekar Suma Kian Bu, putera Pendekar Super Sakti Pulau Es.
Sudah puluhan tahun kedua suami isteri ini tak pernah terjun ke dunia persilatan, hidup aman tenteram di
istana kuno yang dulu pernah menjadi pusat perkumpulan Khong-sim Kai-pang, yaitu di puncak bukit
Nelayan di Pegunungan Tai-hang-san, sebelah selatan kota Pao-teng. Bagaimana kini mendadak suami
isteri tua yang sakti itu bisa berada di pegunungan utara dekat Tembok Besar?
Sebulan yang lalu, nenek Bu Ci Sian merasa rindu sekali kepada puterinya, yaitu Kam Bi Eng yang sudah
menjadi isteri Suma Ceng Liong. Juga dia ingin sekali melihat dunia luar setelah bertahun-tahun berdiam di
rumah saja.
Ia lalu mengajak suaminya untuk meninggalkan istana tua itu dan berkunjung ke tempat kediaman puteri
mereka di dusun Hong-cun. Akan tetapi, setelah sampai di tempat itu, ternyata Suma Ceng Liong dan Kam
Bi Eng tidak berada di rumahnya dan menurut keterangan para pembantu rumah tangga, suami isteri itu
meninggalkan rumah untuk pergi mencari nona Suma Lian yang telah pergi lebih dahulu dari rumah. Para
pembantu rumah tangga itu tidak dapat memberi keterangan ke mana majikan mereka pergi.
Kakek dan nenek itu tentu saja merasa kecewa dan mereka hanya tinggal semalam saja di rumah puteri
mereka yang kosong. Mereka telah mendengar berita tentang gerakan Tiat-liong-pang yang dibantu oleh
banyak tokoh sesat, maka kakek Kam Hong menduga bahwa tentu puteri, mantu dan cucu mereka itu pergi
ke sana untuk menentang gerakan kaum sesat.
Maka, mereka berdua lalu pergi ke utara untuk melihat-lihat keadaan dan mencari puteri dan menantu
mereka. Di sepanjang perjalanan mereka mencari keterangan dan makin kuat dugaan mereka bahwa
puteri mereka tentu pergi ke utara setelah mendengar bahwa memang banyak pendekar yang melakukan
perjalanan ke utara sehubungan dengan berita gerakan kaum sesat di utara yang dipimpin oleh Tiat-liongpang
itu.
Demikianlah, pada pagi hari itu, kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian tiba di puncak bukit, menuruni
bukit sambil menikmati pemandangan alam yang amat indah, kadang-kadang berhenti dan memandang ke
empat penjuru dengan penuh kagum.
“Eh, lihat di sana itu!” Tiba-tiba nenek itu berseru sambil menuding ke arah selatan, ke bawah. “Bukankah
itu sebuah kereta?”
Kakek Kam Hong cepat memandang ke arah yang ditunjuk isterinya dan mengamati. “Benar, sebuah
kereta dikawal oleh belasan orang.”
“Dan para pengawal itu mengenakan pakaian seragam!” sambung Bu Ci Sian.
“Juga di kereta itu ada benderanya, tidak jelas dari sini, akan tetapi seperti bendera tanda pangkat.
Agaknya orang berpangkat yang duduk di dalam kereta itu.”
“He, lihat! Dari sebelah kanan itu! Dua orang itu seperti hendak menghadang kereta!”
“Siancai...! Benar katamu, dan lihat, mereka sudah bertempur!” kata kakek Kam Hong. “Ah, dua orang itu
bukanlah lawan para pengawal, mari kita cepat ke sana untuk melihat apa yang telah terjadi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek dan nenek itu bagaikan terbang cepatnya menuruni bukit dan berkat ilmu berlari cepat mereka yang
tinggi, tak lama kemudian mereka tiba di tempat pertempuran.
Ketika mereka tiba di tempat itu, belasan orang berpakaian seragam telah rebah malang melintang tanpa
nyawa lagi! Hanya tinggal empat orang berpakaian perwira yang masih terus melindungi kereta itu. Dengan
pedang di tangan, keempat orang itu repot sekali melindungi dirinya di depan kereta, menahan seranganserangan
seorang pemuda yang juga memainkan pedang, tetapi permainan pedangnya sedemikian
hebatnya sehingga empat orang perwira itu terdesak hebat dan agaknya takkan lama lagi mereka dapat
bertahan.
Sementara itu, orang ke dua yang menghadang kereta, seorang kakek yang usianya sudah mendekati
tujuh puluh tahun, berpakaian seperti seorang sastrawan, tinggi kurus, dengan gerakan ringan sekali
meloncat ke dekat kereta dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan kereta itu
pecah berantakan. Dua ekor kudanya yang terkejut meronta lepas dan melarikan diri.
Dari dalam kereta meloncat ke luar seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan, berpakaian
sebagai seorang panglima besar dengan tanda pangkatnya di pundak dan dada. Dengan gerakan cukup
sigap panglima ini meloncat turun sehingga dia tidak ikut terbanting dengan pecahnya kereta.
Melihat panglima itu, sastrawan tua tersenyum mengejek sambil mengeluarkan sebuah kipas dan
mengipasi tubuhnya.
“Hemmm, kiranya engkau yang disebut Panglima Besar Liu, yang datang dari kota raja untuk menyelidiki
keadaan di benteng utara? Jangan harap akan dapat menyelidiki apa pun, karena engkau akan mati di sini
seperti yang dialami anak buahmu. Nah bersiaplah untuk mati!”
Panglima Besar yang bertubuh tinggi besar itu tidak kelihatan takut, bahkan mencabut pedangnya, bersiap
untuk membela diri sedapat mungkin biar pun dia tahu bahwa bela dirinya tidak akan ada gunanya, melihat
betapa para pengawalnya yang lihai saja kini nampak repot menghadapi penyerang muda itu.
“Bagus, kini aku mengerti mengapa terjadi geger di benteng utara dan banyak perwira kami yang kabarnya
lenyap diculik orang. Kiranya ada musuh yang sengaja bersekutu dengan pengkhianat dan kalau aku tidak
keliru, tentu engkau ini yang disebut Ouwyang Sianseng atau Nam San Sianjin seperti yang sudah
dikabarkan oleh orang-orang kami. Engkau sudah bersekutu dengan Tiat-liong-pang untuk mengadakan
pemberontakan, dan membujuk beberapa orang panglima dan perwira kami untuk berkhianat.”
Ouwyang Sianseng menudingkan kipasnya. “Tidak keliru, Liu Tai-ciangkun. Sekarang bahkan tiba
giliranmu untuk mati di tanganku!”
“Tahan...!” Tiba-tiba nampak dua bayangan orang berkelebat.
Tahu-tahu di depan Ouwyang Sianseng telah berdiri seorang kakek tua yang bukan lain adalah Kam Hong
sedangkan Bu Ci Sian berkelebat ke arah pemuda yang mendesak empat orang pengawal itu,
mengelebatkan suling emasnya. Nampak sinar terang sekali dan disusul suara berdentang nyaring ketika
pedang yang dipergunakan oleh Siangkoan Liong untuk mendesak empat orang lawannya itu bertemu
dengan sinar kuning emas.
Siangkoan Liong terkejut dan meloncat mundur ketika merasa betapa benturan senjata itu membuat
tangan kanannya tergetar hebat. Maklum bahwa ada lawan tangguh yang muncul, Siangkoan Liong cepat
menghampiri gurunya.
Bu Ci Sian juga menghampiri suaminya dan kini suami isteri tua itu berdiri berhadapan dengan Ouwyang
Sianseng dan Siangkoan Liong.
Ouwyang Sianseng mengamati kakek dan nenek di depannya itu, mengerutkan alisnya dan bertanya
kepada muridnya, “Tahukah engkau siapa mereka ini?”
Siangkoan Liong juga memandang penuh perhatian, kemudian dia menggeleng kepala sebagai jawaban.
Ouwyang Sianseng kini menatap wajah Kam Hong dengan penuh perhatian dan diam-diam hatinya diliputi
kekaguman.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek di depannya ini sebaya dengan dia, dan memiliki sikap yang halus berwibawa. Mengertilah dia
bahwa kakek yang pakaiannya juga seperti sastrawan amat sederhana ini adalah seorang yang berilmu
tinggi dan merupakan lawan yang tangguh. Ouwyang Sianseng lalu menjura dengan sikap hormat.
“Selamat berjumpa, Sobat,” katanya dengan suara yang halus, “boleh aku mengetahui, siapakah Ji-wi dan
apa pula alasan Ji-wi hendak mencampuri urusan kami yang sedang menentang penjajah Mancu?”
Kam Hong mengerutkan alisnya. Harus diakuinya bahwa sikap ramah dan halus dari orang ini membuat
dia waspada karena sikap itu hanya menunjukkan bahwa dia tengah berhadapan dengan orang yang sama
sekali tak boleh dipandang ringan. Apa lagi orang ini dengan cerdiknya menempatkan dia di posisi yang
buruk, seakan-akan orang itu adalah pejuang dan patriot, sedangkan dia dan isterinya merupakan orangorang
yang membela kaum penjajah!
Dengan tenang dia pun tersenyum dan balas menjura dengan hormat, diikuti pula oleh isterinya karena tadi
ketika Ouwyang Sianseng menjura, pemuda tampan itu pun ikut pula memberi hormat.
“Maaf, Sobat,” jawabnya dengan halus pula. “Memang di antara kita tidak pernah saling mengenal, juga
tidak ada hubungan apa pun. Penjajah Mancu sudah menguasai tanah air semenjak hampir seratus tahun
dan kami kira panglima ini bukanlah biang keladi penjajahan, melainkan hanya seorang petugas! Kami
melihat betapa Ji-wi membunuhi para pengawal dan menyerang kereta, maka hal ini sudah merupakan
urusan pribadi, bukan lagi pertempuran dalam perjuangan melawan penjajah! Dan kami tidak biasa
membiarkan saja manusia saling bunuh, apa lagi melihat yang lebih kuat membunuh yang lemah tanpa
sebab.”
Ouwyang Sianseng masih bersikap sabar. “Kami adalah pejuang-pejuang yang berjiwa patriot. Kami
hendak menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu, dan kami mulai dari utara ini dengan cara
melenyapkan para perwira dan panglima. Barulah kami akan bergerak ke selatan, menyerang ke kota raja
dan merampas tahta kerajaan!”
Ketika berkata demikian, sinar mata Ouwyang Sianseng mencorong penuh nafsu dan dendam. Juga
pemuda yang berdiri di sampingnya, yang bukan lain adalah Siangkoan Liong, memandang dengan muka
berseri penuh semangat.
“Kami percaya bahwa Locianpwe berdua tentulah dua orang berilmu tinggi yang berjiwa patriot pula. Oleh
karena itu kami akan merasa gembira sekali jika Ji-wi sudi membantu perjuangan kami untuk menentang
pemerintah penjajah Mancu!” kata Siangkoan Liong.
Kam Hong tersenyum, diam-diam memuji kecerdikan pemuda itu, dan dia menjawab dengan cerdik, “Kami
mendengar akan gerakan pemberontakan yang dipelopori oleh Tiat-liong-pang, tidak tahu apakah Ji-wi ini
ada hubungannya dengan Tiat-liong-pang?” Kemudian disambungnya, “Kami pernah mendengar bahwa
Siangkoan Tek, ketua dari Tiat-liong-pang, adalah seorang yang gagah.”
“Dia adalah ayah saya!” kata Siangkoan Liong dengan cepat, girang bahwa kakek itu mengenal ayahnya
dan menyebut ayahnya orang gagah.
Kam Hong mengangguk-angguk dan memandang kepada isterinya, kemudian berkata, seolah-olah bicara
pada isterinya, “Sungguh aneh sekali. Sepanjang pendengaran kita, sekarang Tiat-liong-pang sedang
bersekutu dengan orang-orang golongan sesat, bagai mana bisa begitu?”
Bu Ci Sian mendengus. “Huh, kalau perjuangan sudah dikotori dengan masuknya kaum sesat, jelas bahwa
perjuangan itu tidak bersih lagi, hanya merupakan pemberontakan yang berpamrih demi kepentingan
pribadi atau golongan. Aku tak bisa percaya dengan gerakan macam itu!”
“Maaf, maaf...!” kata Ouwyang Sianseng. “Dalam gerakan perjuangan tidak terdapat istilah golongan jahat
atau golongan baik, kaum hitam atau kaum putih. Yang penting kita haruslah mengumpulkan seluruh
kekuatan dari rakyat jelata untuk bersama-sama menentang pemerintah penjajah. Dan yang paling penting,
tujuan kita adalah baik, yaitu menumbangkan penjajahan, ada pun caranya dapat menggunakan cara apa
saja agar berhasil.”
Kam Hong tertawa, merasa bahwa lawannya terjebak. “Ha! Sobat yang baik, bagaimana mungkin cara
yang kotor bisa menghasilkan tujuan yang bersih? Yang penting bukanlah tujuannya, melainkan caranya
itulah! Jikalau caranya kotor, maka kami pun tidak ingin mengotorkan tangan untuk membantunya, bahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah menjadi kewajiban kami untuk menentangnya. Jika kalian telah bersekutu dengan kaum sesat untuk
membunuhi para perwira dan panglima, maka terpaksa kami akan menentang kalian!”
Habislah kesabaran Ouwyang Sianseng. Kalau tadi dia bersikap sabar hanya karena dia menghargai
kakek dan nenek itu, dan kalau mungkin dapat menarik orang-orang pandai sebanyak mungkin untuk
membantu gerakannya. Kini, mendengar ucapan Kam Hong, dia pun maklum bahwa akan percuma saja
membujuk kakek dan nenek itu untuk ikut bekerja sama kalau pendiriannya seperti itu.
“Bagus! Kalau begitu ternyata kalian adalah pengkhianat penjual negara kepada orang Mancu dan sebab
itu layak mati di tanganku!” berkata demikian, Ouwyang Sianseng lalu menggerakkan kipasnya, melakukan
totokan bertubi dengan cepat sekali ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian tubuh atas depan dari
lawannya.
Melihat gerakan serangan ini, diam-diam Kam Hong terkejut dan dia pun maklum bahwa lawannya ini
sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, melihat betapa gurunya menyerang kakek lawan, Siangkoan Liong juga menggerakkan
pedangnya, menerjang ke arah nenek yang semenjak tadi memandang penuh perhatian. Bu Ci Sian tidak
terkejut melihat datangnya serangan pedang secepat kilat itu. Begitu tangannya bergerak, nampak sinar
keemasan berkelebat dan tangannya telah memegang sebatang suling emas, tak sebesar milik suaminya,
akan tetapi cukup panjang untuk menjadi sebuah senjata yang dapat digerakkan seperti pedang.
Siangkoan Liong terkejut ketika mendadak saja matanya silau oleh sinar kuning emas yang mengeluarkan
suara mendengung mengerikan, dan tahu-tahu dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang
menyambar-nyambar ke arahnya. Dia harus memutar pedangnya secepatnya untuk menarik serangan dan
mengubah gerakannya menjadi gerakan pertahanan, membentuk gulungan sinar seperti payung yang
menjadi perisai dan pelindung tubuhnya.
“Trang…! Cringgg...!”
Kembali Siangkoan Liong terkejut karena tangannya tergetar dan pada saat itu, tangan kiri nenek itu telah
mendorong dan keluarlah hawa panas sekali ke arahnya. Siangkoan Liong adalah seorang pemuda
perkasa, dengan ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Maka menghadapi pukulan jarak jauh yang mengandung
sinkang panas ini, dia pun cepat mengelak dan mengibaskan lengan kirinya menyampok dan menangkis,
lalu pedangnya berkelebat membalas serangan nenek itu dengan tusukan yang dahsyat.
Nenek itu juga maklum akan datangnya tusukan maut, maka dengan amat lincahnya tubuh nenek itu sudah
meliuk dan menghindar, lalu dari samping membalas dengan ujung suling yang menotok tiga kali bertubitubi
ke arah leher, pundak, lalu lambung!
Repot juga Siangkoan Liong menghadapi totokan yang berbahaya ini. Ia hanya mampu menghindarkan diri
dengan keadaan terhimpit dan terdesak, lalu memutar pedangnya dan membalas dengan gerakan dahsyat
dan sengit karena dia merasa penasaran dan marah sekali.
Ketika Ouwyang Sianseng melakukan totokan ke arah tubuh atas Kam Hong dengan gagang kipasnya,
mendadak saja kipasnya bertemu dengan sebatang kipas lain yang dipegang oleh tangan kiri Kam Hong.
Ouwyang Sianseng amat terkejut, akan tetapi juga kagum dan gembira. Kiranya lawannya ini pun agaknya
pandai mempergunakan kipas sebagai senjata!
Ouwyang Sianseng kemudian mengeluarkan kepandaiannya. Kipasnya bergerak-gerak dengan cepatnya.
Kipas itu bagaikan seekor kupu-kupu raksasa, beterbangan, kadang-kadang terbuka sayapnya, kadangkadang
tertutup. Dan kalau terbuka sayapnya, kipas menyambar mendatangkan angin yang kuat, dan
kalau tertutup sayapnya, gagang kipas meluncur dengan totokan-totokan maut!
Diam-diam Kam Hong kagum sekali dan dia pun menggerakkan kipasnya dan mainkan ilmu kipas Lo-hai
San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) yang hebat dan kuat. Dengan ilmu itu, Kam Hong juga ingin
menguji ilmu kepandaian lawan.
Ouwyang Sianseng juga kagum. Ternyata lawannya ini memiliki ilmu permainan kipas yang kuat dan
tangguh, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya, membantu kipasnya dengan pukulanpukulan
tangan miring yang menjadi demikian kuatnya, tiada ubahnya sebatang pedang, membabat dan
mengeluarkan suara bercuitan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terkejutlah Kam Hong. Sungguh seorang lawan yang amat tangguh. Sudah lama sekali dia tidak pernah
bertemu lawan setangguh ini, maka ia pun cepat menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar
kuning emas bergulung-gulung, dibarengi suara suling yang melagu seperti ditiup saja. Padahal suling itu
mengeluarkan suara hanya karena digerakkan oleh Kam Hong. Sinar terang menyambar bagaikan kilat
dari atas mengarah kepala Ouwyang Sianseng.
Orang ini terkejut, menangkis dengan kipasnya dan akibatnya, ia terhuyung-huyung! Ia segera meloncat ke
belakang.
“Tahan!” serunya kaget dan dia memandang penuh perhatian.
Kam Hong menghentikan gerakannya, tersenyum menanti, suling emas di tangan kanan sedangkan kipas
di tangan kiri, sikapnya halus namun gagah sekali, membuat Ouwyang Sianseng merasa gentar juga.
“Kau… kau… Pendekar Suling Emas...?” Ouwyang Sianseng bertanya, suaranya agak gemetar saking
tegangnya.
Kam Hong tersenyum, bukan senyum bangga, tetapi merasa betapa lucunya segala macam julukan itu,
seperti kanak-kanak manja yang ingin dipuji saja!
“Dulu orang menyebut aku seperti itu, akan tetapi sekarang aku hanyalah seorang tua bangka yang
sebetulnya tidak ingin lagi mempergunakan senjata, kalau tidak terpaksa. Serangan-seranganmu
berbahaya, engkau seorang yang mempunyai kepandaian tinggi sehingga terpaksa aku harus
mengeluarkan kedua senjataku ini.”
Biar pun belum berkelahi dengan sungguh-sungguh, namun Ouwyang Sianseng merasa gentar. Dia sudah
mendengar akan nama besar Pendekar Suling Emas, dan sudah mendengar pula betapa isteri pendekar
itu pun merupakan adik seperguruan yang lihai.
Ketika dia melirik, dia melihat betapa Siangkoan Liong repot bukan main menghadapi gulungan sinar
kuning emas dari suling di tangan nenek itu, maka dia pun membentak, “Siangkoan Liong, mundur dan
jangan kurang ajar di depan orang pandai!”
Mendengar bentakan suhu-nya, Siangkoan Liong merasa heran, akan tetapi juga lega dan dia pun cepat
meloncat mundur mendekati gurunya. Dia sudah terdesak hebat dan kini dia dapat menghentikan
perkelahian itu tanpa merasa meninggalkan gelanggang karena dia dilarang gurunya! Jadi dia berhenti
sebelum kalah.
Melihat lawannya mundur, Bu Ci Sian yang sekarang telah berubah wataknya menjadi penyabar seperti
suaminya, lalu tersenyum sambil berdiri di samping suaminya. Kalau mengingat wataknya ketika gadis
dahulu, tentu ia tidak akan berhenti sebelum lawannya kalah dan akan mendesak terus!
Ouwyang Sianseng berkata kepada muridnya, sekedar untuk membuyarkan suasana penuh pertentangan
tadi, “Ketahuilah, bahwa Locianpwe ini bukan lain adalah Pendekar Suling Emas dan isterinya yang
namanya sudah amat terkenal di seluruh dunia sebagai pendekar-pendekar yang berbudi dan gagah
perkasa.”
Lalu dia pun menjura kepada Kam Hong dan isterinya, diikuti pula oleh Siangkoan Liong yang sudah cepatcepat
menyimpan kembali pedangnya.
“Saudara yang perkasa,” berkata Ouwyang Sianseng, “kami sudah mendengar bahwa saudara dan isteri
saudara adalah pendekar-pendekar perkasa. Oleh karena itu, dengan segala kehormatan kami
mengundang Ji-wi untuk bekerja sama dengan kami, bersama-sama menentang pemerintah penjajah dan
membasmi mereka untuk menyelamatkan tanah air dan bangsa...”
“Cukup,” kata Kam Hong dengan alis berkerut. “Sudah kami katakan tadi, kalau gerakan kalian itu didukung
oleh para tokoh sesat, maka itu merupakan suatu pemberontakan berpamrih demi kepentingan golongan
sendiri, dan kami sudah pasti tidak akan suka bekerja sama, bahkan akan menentangnya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouwyang Sianseng tersenyum pahit. “Terserah kalau demikian penilaianmu! Sudahlah, Siangkoan Liong,
mari kita pergi!” katanya dan sekali meloncat, dia pun sudah lenyap. Demikian cepatnya gerakan kakek ini.
Siangkoan Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar gurunya yang sudah berada jauh di depan.
Kam Hong menarik napas panjang. “Hebat sekali kepandaian orang itu!”
“Orang muda itu pun lihai sekali!” kata pula isterinya.
Panglima yang tadi hampir celaka di tangan guru dan murid yang lihai itu, sekarang menghampiri mereka
dan di depan Kam Hong, dia lalu memberi hormat dengan hati terharu.
“Kalau bukan Ji-wi Taihiap yang muncul dan menolong, tentu kami semua telah tewas di tangan Ouwyang
Sianseng dan Siangkoan Liong itu. Kami menghaturkan terima kasih kepada Ji-wi Taihiap dan mohon
tanya nama besar Ji-wi. Kami sendiri adalah Panglima Liu, utusan dari kota raja yang hendak menyelidiki
peristiwa aneh yang belakangan ini terjadi di benteng pasukan pemerintah di utara.”
Kam Hong dan Bu Ci Sian membalas penghormatan itu dengan sederhana. Bagaimana pun juga, mereka
berdua tidak memiliki perasaan bersahabat dengan para pembesar pemerintah Mancu yang menjajah
tanah air mereka. Akan tetapi Kam Hong tertarik juga untuk menyelidiki keadaan para pemberontak yang
kini bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat.
“Liu Tai-ciangkun, sebenarnya apakah yang sudah terjadi? Mengapa kedua orang tadi menghadang
rombongan Ciangkun di sini dan membunuh?” tanya Kam Hong.
“Di perbentengan utara terjadi kehebohan karena banyak sekali perwira-perwira dan panglima yang setia
kepada pemerintah tiba-tiba lenyap, dan kedudukan mereka diganti oleh orang-orangnya Coa-ciangkun
yang memimpin sebagian besar pasukan di utara. Menurut laporan yang baru kami terima, Coa-ciangkun
dicurigai mengadakan hubungan dengan Tiat-liong-pang yang akan memberontak. Maka, kami diutus
dengan wewenang penuh dari raja untuk melakukan penyelidikan dan menangkap mereka yang bersalah
dan berkhianat. Kami pun sudah mendapat laporan lengkap tentang Tiat-liong-pang dan tentang hubungan
Coa-ciangkun dengan para pemberontak. Oleh karena itu, kami tahu bahwa dua orang tadi adalah
Ouwyang Sianseng atau juga dikenal dengan nama Nam San Sianjin, dan yang muda itu adalah
Siangkoan Liong, putera dari Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang. Mereka hendak membunuh kami
karena mudah diduga bahwa Tiat-liong-pang atau para pemberontak yang bersekutu dengan Coaciangkun
itulah yang sudah menculik dan membunuhi para perwira dan panglima yang setia kepada
pemerintah, untuk diganti dengan kaki tangan mereka sendiri supaya pasukan mudah dikuasai untuk
membantu gerakan pemberontakan.”
Kam Hong mengerutkan alisnya. Meski dia sendiri tentu saja sama sekali tidak berniat untuk membantu
tegaknya pemerintah penjajah Mancu, namun gerakan Tiat-liong-pang yang didukung para tokoh dunia
hitam ini amatlah berbahaya bagi keselamatan rakyat jelata dan dia harus ikut menentangnya. Bukan untuk
membantu pemerintah, melainkan untuk membasmi para tokoh sesat yang tentu hendak memancing di air
keruh itu.
“Kalau begitu berbahaya sekali. Biar pun Ciangkun sudah terhindar dari bahaya di sini, akan tetapi kedua
orang itu tentu akan menghubungi panglima yang menjadi sekutunya dan sebelum Ciangkun tiba di
benteng, tentu akan dihadang dan dibunuh.”
Panglima Liu mengangguk-angguk, lalu saling pandang dengan empat orang pengawal pribadinya yang
tadi sudah mati-matian mempertahankan keselamatan atasan mereka dari serangan guru dan murid itu.
“Baiklah, kita mencari jalan bagaimana baiknya. Mari, silakan duduk di sana, karena kami hendak mohon
bantuan Ji-wi untuk mencari jalan keluar yang terbaik, sementara keempat orang pengawalku ini biar
mengubur jenazah belasan orang anggota pasukan pengawal itu.”
Panglima besar Liu mengajak Kam Hong dan Bu Ci Sian bercakap-cakap di bawah pohon, sedangkan
keempat orang pengawal itu mulai menggali sebuah lubang besar untuk mengubur belasan orang rekan
mereka yang tewas dalam pertempuran tadi.
Sambil duduk di bawah pohon, panglima besar Liu bercakap-cakap dengan kakek dan nenek pendekar itu,
minta pendapat dan nasehat mereka. Setelah mendengar semua penjelasan panglima itu, Kam Hong lalu
dunia-kangouw.blogspot.com
mengajukan siasat, yaitu agar Liu Tai-ciangkun dan empat orang pengawal pribadinya bersembunyi dulu di
dalam hutan, ditemani dan dilindungi oleh Bu Ci Sian.
Sedangkan Kam Hong sendiri akan membawa surat dari panglima itu untuk menemui Pouw-ciangkun,
yaitu perwira yang sudah mengirimkan laporan kepada para pembesar di kota raja. Kam Hong lalu akan
mengajak perwira Pouw itu keluar dari benteng dan menjumpai Liu Tai-ciangkun, dan kemudian baru akan
diatur rencana sebaiknya untuk menyambut kedatangan panglima besar itu agar supaya bisa memasuki
benteng tanpa gangguan dari pihak pengkhianat dan pemberontak. Setelah masuk ke dalam benteng,
dikawal oleh Kam Hong dan isterinya, maka panglima dan perwira yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang
dapat diringkus sebelum mereka dapat melakukan gerakan.
Setelah penguburan itu selesai, Kam Hong dan isterinya mengajak Panglima Liu masuk ke dalam hutan
dan memilih tempat yang baik untuk bersembunyi, yaitu di sebuah goa. Kemudian, Kam Hong
meninggalkan mereka untuk menyelundup ke dalam benteng. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tak
sukar bagi Kam Hong untuk menyelundup ke dalam benteng tanpa diketahui para penjaga, melompati
pagar tembok benteng dan mencari perwira Pouw!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira Pouw yang sedang tidur dalam kamarnya seorang diri ketika
tiba-tiba saja ada orang yang mengguncang tubuhnya. Pada waktu ia terbangun, ia melihat seorang kakek
sastrawan sudah berdiri di dekat pembaringannya. Akan tetapi kakek itu memberi isyarat agar dia tidak
mengeluarkan suara.
“Tenanglah, Pouw-ciangkun, aku datang bukan dengan niat buruk. Aku adalah utusan dari panglima besar
yang datang dari kota raja.”
Wajah Pouw-ciangkun yang tadinya sudah pucat itu menjadi agak kemerahan kembali. Tadinya dia
mengira bahwa tentu orang ini masuk ke kamarnya untuk menculik dan membunuhnya, seperti yang telah
terjadi pada belasan orang rekannya yang lenyap tanpa meninggalkan bekas. Mendengar kata-kata itu, dia
terkejut dan heran, lalu bangkit duduk, masih belum lenyap kekhawatirannya.
Kam Hong maklum akan kegelisahan perwira itu, maka cepat dia mengeluarkan sebuah sampul yang ada
cap dari Panglima Besar Liu, dan menyerahkannya kepada perwira itu.
“Nah, inilah surat dari beliau untukmu, Pouw-ciangkun.”
Perwira itu menerima sampul, memeriksanya dan hatinya menjadi semakin lega ketika dia melihat bahwa
memang benar cap pada sampul itu adalah cap dari Panglima Besar Liu yang dikenalnya sebagai seorang
panglima yang jujur dan adil, juga bertangan besi terhadap para pemberontak.
“Akan tetapi, mengapa Liu Tai-ciangkun tidak langsung saja datang bersama pasukan pengawalnya ke
sini? Kenapa harus mengutus Locianpwe?”
Pouw-ciangkun menggunakan sebutan penghormatan ini karena dia maklum bahwa dia berhadapan
dengan seorang kakek yang berilmu tinggi sehingga malam itu dapat tiba-tiba saja muncul di dalam
kamarnya bagaikan setan. Bagaimana pun juga, dia masih sangsi karena peristiwa ini terlalu aneh baginya.
Kam Hong maklum akan keraguan perwira itu. “Liu-ciangkun dan pasukan pengawalnya sudah dihadang
oleh Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong di dalam perjalanan dan belasan orang pasukan
pengawalnya tewas semua. Hanya beliau dan keempat orang pengawal pribadinya yang masih hidup
ketika aku dan isteriku datang membantunya. Karena kami maklum bahwa nyawanya masih terancam,
maka akulah yang datang mengantar suratnya, dan isteriku melindunginya di tempat persembunyian.”
Mendengar ini, terkejutlah Pouw-ciangkun. Kini dia percaya dan surat itu cepat dibuka dan dibacanya.
Ternyata Liu Tai-ciangkun memanggilnya, sekarang juga agar dia ikut dengan kakek yang sakti ini. Tanpa
banyak cakap lagi Pouw-ciangkun lalu diam-diam memanggil tiga orang rekannya, yaitu para perwira lain
yang setia kepada pemerintah.
Tiga orang perwira itu pun amat terkejut melihat Kam Hong. Akan tetapi ketika mereka mendengar
keterangan dari Pouw-ciangkun, mereka kemudian mengatur siasat dengan Pouw-ciangkun.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Malam ini aku akan pergi menghadap Liu Tai-ciangkun bersama Locianpwe ini. Kalian harus dapat
merahasiakan kepergianku ini. Aku akan mengambil jalan rahasia kita, dan mungkin besok malam aku
baru kembali.” kata Pouw-ciangkun.
Para rekannya dapat menyetujui dan demikianlah, Pouw-ciangkun lalu pergi bersama Kam Hong, melalui
jalan rahasia yang ada di belakang benteng. Tanpa diketahui orang lain, mereka berdua pergi
meninggalkan benteng dan lewat tengah malam, mereka tiba di dalam hutan di mana Liu Tai-ciangkun
bersembunyi di dalam goa dijaga oleh empat orang pengawal pribadi dan juga nenek Bu Ci Sian.
Pouw-ciangkun cepat memberi hormat kepada atasannya itu dan mereka bersama Kam Hong dan Bu Ci
Sian, segera mengadakan perundingan dan mengatur siasat. Pouw-ciangkun menceritakan betapa
keadaan sudah amat berbahaya karena kekuasaan Coa Tai-ciangkun kini menjadi semakin besar. Ada tak
kurang dari dua puluh orang perwira yang menjadi bawahannya dan yang menyetujui persekutuan dengan
Tiat-liong-pang, termasuk mereka yang diangkat untuk menggantikan para perwira setia yang diculik.
“Bagaimana dengan pasukannya sendiri?” tanya Liu-ciangkun, terkejut juga mendengar akan hal itu.
“Sudah saya selidiki, Tai-ciangkun. Para anggota pasukan agaknya belum tahu akan niat Coa-ciangkun
yang bersekutu dengan para pemberontak. Akan tetapi, pasukan yang bertugas di utara adalah pasukan
istimewa yang selalu mentaati perintah atasan tanpa banyak bertanya. Jadi, jika para perwiranya telah
dapat dikuasai Coa-ciangkun, maka dengan sendirinya pasukannya juga akan taat akan segala
perintahnya. Mereka takkan mundur walau pun diperintah untuk menyerbu pasukan pemerintah sendiri!”
“Berapa jumlah seluruh pasukan yang berjaga di tapal batas utara?”
“Yang sudah siap di benteng adalah pasukan-pasukan inti yang jumlahnya kurang lebih selaksa orang.
Pasukan cadangan berada di benteng sebelah selatan, tetapi mereka itu biasanya kurang siap dan kurang
kuat karena merasa jauh dari bahaya, tidak seperti pasukan inti yang berada di tapal batas.”
“Dan berapa banyak yang telah dipengaruhi Coa-ciangkun?”
“Melihat jumlahnya perwira, kurang lebih separuh yang telah dikuasainya. Yang separuh lagi, sebagian
masih setia kepada kerajaan, dan ada pula sebagian yang bimbang dan gelisah karena adanya
penculikan-penculikan itu.”
Liu-ciangkun mengangguk-angguk. “Kembalilah engkau ke benteng dan hubungi para rekan yang setia,
agar mereka siap siaga. Lalu aturlah agar terdapat pasukan khusus yang menyambut kedatanganku yang
akan dikawal oleh kedua Locianpwe ini. Dengan adanya penyambutan pasukan khusus yang cukup besar
jumlahnya, apa lagi adanya kedua Locianpwe ini, tentu para penjahat itu tidak berani turun tangan.
Kemudian, di sana aku akan memanggil semua perwira dan para panglima untuk berkumpul dan
mengadakan rapat. Nah, pada saat itu pulalah aku akan mengumumkan penangkapan terhadap mereka.
Juga engkau harus sudah mempersiapkan pasukan yang setia untuk mengepung tempat pertemuan itu
sehingga mereka tidak akan mampu lolos. Kemudian, akan kuangkat perwira-perwira baru yang setia.
Semua gerakan ini harus dirahasiakan, jangan sampai bocor agar jangan diketahui oleh pihak Tiat-liongpang.
Selanjutnya akan kuatur lagi nanti.” Demikianlah Liu Tai-ciangkun mengambil keputusan setelah
berunding dengan Kam Hong dan Bu Ci Sian.
Untuk menjaga keselamatannya supaya semua rencana dapat berjalan dengan lancar, ketika kembali ke
benteng Pouw-ciangkun kembali ditemani Kam Hong, juga melalui jalan rahasia di belakang benteng.
Setelah melihat betapa Pouw ciangkun telah kembali dengan selamat tanpa diketahui siapa pun, Kam
Hong lalu kembali dan mereka semua menanti datangnya pasukan yang akan mengadakan penyambutan.
Pouw-ciangkun berunding dengan para rekannya, kemudian mengumumkan bahwa Liu Tai-ciangkun akan
datang berkunjung ke banteng. Maka ia beserta para rekannya lalu mempersiapkan dua ratus orang
pasukan khusus untuk keluar benteng dan melakukan penyambutan.
Tentu saja diam-diam Coa Tai-ciangkun sudah mendengar dari para sekutunya akan datangnya Lui-taiciangkun
dari kota raja yang pangkatnya lebih tinggi darinya, bahkan yang membawa surat kuasa dari para
penguasa di kota raja. Dia tidak berdaya untuk menghalangi kunjungan ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi karena merasa bahwa kekuasaannya di benteng sangat besar, dia tidak merasa khawatir.
Bahkan oleh Ouwyang Sianseng dianjurkan untuk menerima utusan kota raja itu di dalam benteng. Nanti
kalau gerakan dimulai, akan mudah menyergap Liu Tai-ciangkun, demikian pendapat Ouwyang Sianseng.
Andai kata pasukan penyambut tidak begitu besar, tentu Coa Tai-ciangkun dan para rekannya akan turun
tangan menghadang dan membasmi pasukan penyambut serta membunuh utusan kota raja itu. Akan
tetapi pasukan yang dikumpulkan dan dikerahkan Pouw-ciangkun itu berjumlah dua ratus orang dan
merupakan pasukan khusus, maka tentu saja hal ini akan sukar dilaksanakan tanpa terjadi pertempuran
besar yang tentu akan mengguncangkan benteng itu dan akan memecah belah pasukan sehingga akan
terjadi perang saudara sendiri yang akan menghancurkan seluruh pasukan!
Ketika pasukan khusus itu memasuki hutan, muncullah Liu Tai-ciangkun bersama empat orang pengawal
pribadi, ditemani pula oleh kakek dan nenek itu yang selalu siap siaga, menjaga segala kemungkinan.
Akan tetapi, penyambutan itu berjalan lancar dan dengan kehormatan, Liu Tai-ciangkun dikawal oleh
pasukan itu memasuki benteng.
Begitu memasuki benteng dan disambut oleh semua perwira dan panglima, dengan suara lantang Liu Taiciangkun
berkata, “Kami datang membawa perintah dari kota raja! Kami akan mengadakan rapat rahasia
dengan seluruh pimpinan di benteng ini. Tidak ada seorang pun dari luar, kecuali kedua Locianpwe ini,
yang boleh berada di dalam benteng. Pintu benteng harus ditutup dan dijaga ketat agar tidak ada orang
luar dapat masuk. Kuperingatkan pasukan yang menjemputku tadi supaya dibagi dan melakukan
penjagaan membantu para penjaga di semua pintu benteng! Sekarang, kuperintahkan agar semua perwira
dan panglima berkumpul di ruangan rapat pusat!”
Karena utusan dari kota raja itu memperlihatkan pula surat kuasa yang dibawanya dari kota raja, maka tak
seorang pun perwira berani membantah, bahkan Coa Tai-ciangkun tidak membantah. Dia merasa lega
karena sikap panglima tinggi dari kota raja itu sama sekali tidak memperlihatkan kecurigaan kepadanya,
dan tidak ada tanda-tanda bahwa utusan itu akan melakukan tindakan-tindakan. Maka dia pun memberi
isyarat rahasia kepada para kaki tangannya untuk mematuhi perintah itu, untuk terlebih dahulu melihat
perkembangan selanjutnya sebelum dia mengambil keputusan untuk bergerak.
Semua perwira kemudian berkumpul di dalam ruangan rapat yang luas itu. Diam-diam pasukan khusus
yang sudah disiapkan oleh Pouw-ciangkun dan para rekannya seperti yang telah direncanakan oleh Liu
Tai-ciangkun, mulai mengepung ruangan rapat itu.
Ada lima ratus orang pasukan dikerahkan, mengepung rapat tempat itu bukan hanya untuk mencegah
mereka yang berada di dalam menerobos keluar, juga untuk menjaga kalau-kalau ada kaki tangan
pemberontak yang menyerbu untuk membebaskan mereka yang berada di dalam ruangan rapat! Dan
semua ini berlangsung diam-diam tanpa keributan seperti yang diperintahkan Liu Tai-ciangkun sehingga
tidak ada seorang pun di antara para perwira yang mengetahui bahwa tempat itu sudah dikepung dengan
ketat oleh pasukan. Tentu saja yang mengetahui hanya Liu Tai-ciangkun, Pouw-ciangkun dan para rekanrekannya
yang melaksanakan siasat itu.
Suasana dalam rapat itu tenang setelah semua orang mengambil tempat duduk. Ada lebih dari tiga puluh
orang perwira menengah dan perwira tinggi, dan semua kursi diatur menghadap ke arah panggung di
mana duduk Liu Tai-ciangkun yang hanya dikawal oleh kakek dan nenek yang duduk tenang di
belakangnya itu. Tak ada anggota pasukan pengawal menjaga panglima tinggi ini. Dan kakek nenek itu
kelihatannya sudah tua dan lemah, bahkan sama sekali tidak nampak membawa senjata.
Setelah menghitung jumlah perwira. Liu Tai-ciangkun membuka persidangan itu dengan pertanyaan.
“Mengapa yang hadir hanya ini? Di mana lagi yang lain? Bukankah di sini terdapat perwira-perwira yang
jumlahnya ada lima puluh orang?” Lalu dia memandang ke arah Coa Tai-ciangkun yang duduk di deretan
paling depan. “Coa-ciangkun, setelah dua orang panglima lainnya tak hadir, maka engkaulah perwira yang
pangkatnya paling tinggi di sini. Nah, sekarang aku ingin mendengar laporanmu di mana adanya belasan
orang perwira lainnya itu dan mengapa pula mereka tidak hadir!”
Wajah Coa Tai-ciangkun berubah merah. Dia merasa heran mengapa utusan kota raja ini masih berpurapura.
Dia yakin bahwa tentu ada di antara para perwira yang melapor ke kota raja dan tentu di dalam
laporan itu sudah disebutkan akan lenyapnya belasan orang perwira secara aneh. Mengapa Liu Taiciangkun
masih berpura-pura bodoh dan bertanya kepadanya?
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun, dengan sikap tenang dia lalu bangkit berdiri, memberi hormat secara militer dan melapor dengan
suaranya yang lantang. “Lapor kepada Liu Tai-ciangkun! Empat belas orang perwira dan panglima yang
pada hari ini tidak hadir, sudah lenyap dalam waktu selama dua bulan ini. Mereka lenyap secara aneh dan
walau pun kami sudah mencari-carinya, namun tidak berhasil menemukan di mana mereka berada, sudah
mati ataukah masih hidup!”
Liu Tai-ciangkun mengerutkan alis. “Hemmm, mana mungkin ada belasan orang perwira bisa lenyap begitu
saja dari dalam benteng tanpa diketahui orang sama sekali ke mana perginya?”
“Kami semua sudah berusaha mencari dan menyebar penyelidik, namun tidak berhasil. Kami telah
menunjuk perwira-perwira pengganti untuk sementara, dan karena mereka belum dilantik dan disahkan,
maka tidak kami hadirkan di tempat ini.”
“Hemmm, sungguh kacau balau dan menyedihkan! Kehilangan belasan orang perwira tanpa dapat
diketahui ke mana mereka pergi, ini hanya menunjukkan kelemahan para pemimpin yang menguasai
benteng ini. Karena itu harus segera diadakan perombakan seperlunya! Sekarang kami hendak
mengadakan pemilihan, dan perwira yang namanya kami sebut, harap suka berdiri di bagian kiri ruangan
ini!”
Mendengar suara Liu Tai-ciangkun yang penuh wibawa, semua perwira yang hadir di sana saling pandang
dan merasa tegang, bahkan Coa Ciangkun sendiri merasa tidak enak. Akan tetapi dia tidak tahu apa yang
akan dilakukan selanjutnya oleh utusan kota raja itu, maka dia pun tidak dapat berbuat sesuatu kecuali
saling pandang dengan para anak buahnya. Selagi masih kebingungan karena tidak tahu harus berbuat
apa, tiba-tiba terdengar suara Liu Tai-ciangkun yang lantang memanggil namanya!
“Panglima Coa Seng! Silakan berdiri di bagian kiri sana!”
Tentu saja Coa Tai-ciangkun semakin kaget. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat lain kecuali bangkit berdiri
dari tempat duduknya dan memandang ke sekeliling, kemudian kepada Liu Tai-ciangkun yang dengan
tangannya mempersilakan dia pergi ke bagian kiri ruangan itu, di mana sudah ada bangku-bangku kosong
menunggu. Dengan senyum menghias bibirnya dan sikap yang tenang karena dia percaya akan
kekuasaannya, Coa Tai-ciangkun yang bernama Coa Seng itu lalu melangkah, kemudian duduk di bangku
terdepan dari tempat yang ditunjuk itu.
“Perwira Song Pun Ki!”
Disebutnya nama yang ke dua ini membuat jantung Coa Tai-ciangkun berdebar tegang. Mengapa
kebetulan sekali yang disebut sebagai orang ke dua adalah Song-ciangkun, perwira berkumis tebal yang
menjadi tangan kanannya dalam persekutuannya dengan pihak Tiat-liong-pang? Apakah ini hanya
kebetulan saja?
Akan tetapi, seperti juga dia, Song-ciangkun tidak dapat membantah dan dia pun lalu bangkit, kemudian
berjalan dengan langkah lebar, lalu duduk di dekat Coa Tai-ciangkun. Sejenak mereka saling pandang,
akan tetapi tentu saja tidak sempat untuk bicara.
Nama demi nama dipanggil dan keadaan menjadi makin menegangkan karena ternyata bahwa namanama
yang dipanggil oleh Liu Tai-ciangkun berikutnya adalah nama-nama para perwira yang menjadi anak
buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang sudah setuju untuk melakukan pemberontakan bersama
Tiat-liong-pang!
Setelah dua puluh dua orang perwira dipanggil dan berkumpul di bagian kiri ruangan itu, panggilan
dihentikan oleh Liu Tai-ciangkun dan panglima tinggi ini lalu bangkit berdiri. Sambil memandang ke arah
para perwira yang duduk di ruangan sebelah kiri, dengan suara lantang Panglima Liu itu lalu berkata
dengan tegas.
“Panglima Coa Seng dan semua perwira yang sudah berkumpul di sebelah kiri, semua sebanyak dua puluh
dua orang, atas nama Kaisar, dengan wewenang yang ada pada kami selaku utusan yang berkuasa
penuh, maka kami menangkap dan menahan kalian dengan tuduhan memberontak!”
Coa-ciangkun, Song-ciangkun dan rekan-rekannya serentak bangkit berdiri, bahkan ada pula yang
mencabut pedang. Akan tetapi pada saat itu nampak bayangan dua orang berkelebat cepat sekali. Tahudunia-
kangouw.blogspot.com
tahu, kakek Kam Hong dan isterinya, nenek Bu Ci Sian, sudah meloncat ke arah sekumpulan perwira yang
hendak ditangkap itu.
Pada saat itu, Coa-ciangkun dan Song-ciangkun bersama rekan-rekannya sudah siap memberontak dan
memberi tanda kepada para anak buah mereka yang berada di luar. Bahkan beberapa di antara mereka
sudah mencabut pedang masing-masing. Namun, tiba-tiba saja Coa-ciangkun roboh terkulai karena
panglima ini sudah terkena totokan jari tangan kakek Kam Hong. Sedangkan Song-ciangkun demikian
pula, roboh tertotok oleh nenek Bu Ci Sian!
Para perwira lainnya segera menyerang dan hendak memberontak di ruangan itu, maka kakek Kam Hong
dan nenek Bu Ci Sian bergerak cepat merobohkan beberapa orang. Pada saat itu, pasukan yang sudah
siap di luar dan mengepung tempat itu, menerjang masuk dan dengan mudahnya, tanpa banyak
menimbulkan kegaduhan, apa lagi karena dibantu oleh Kam Hong dan Bu Ci Sian, dua puluh dua orang
perwira pemberontak itu dapat dilumpuhkan, kedua tangan mereka diborgol dan dijadikan tawanan! Semua
ini berlangsung tanpa diketahui orang luar.
Liu Tai-ciangkun lalu memerintahkan supaya menjaga ketat benteng itu dan melarang semua anggota
pasukan keluar dari dalam benteng. Ternyata perintahnya ini membawa hasil dengan ditangkapnya
puluhan orang anak buah pasukan, perwira-perwira rendah yang hendak melarikan diri keluar benteng.
Mereka adalah anak buah Coa Tai-ciangkun yang mendengar akan penangkapan-penangkapan itu dan
hendak melarikan diri untuk melapor kepada Tiat-liong-pang.
Namun, berkat kesiap siagaan sesuai dengan perintah Liu Tai-ciangkun, mereka semua tertangkap dan
selanjutnya, dengan memaksa para tawanan ini, dengan mudah rekan-rekan mereka ditangkapi. Ternyata
jaringan itu sudah cukup luas karena jumlah orang tawanan ada seratus orang lebih!
Liu-ciangkun segera mengangkat perwira-perwira baru yang setia terhadap pemerintah untuk
menggantikan para pemegang pimpinan di dalam benteng itu dan membersihkan semua unsur
pemberontakan. Para tawanan dikawal dengan sangat ketat oleh pasukan khusus, kemudian dikirim ke
kota raja untuk diadili. Semua ini terjadi tanpa kebocoran sehingga pihak Tiat-liong-pang sama sekali tidak
mengetahuinya.
Setelah penumpasan para perwira pemberontak dalam benteng itu selesai, kakek Kam Hong dan isterinya,
nenek Bu Ci Sian, segera meninggalkan benteng untuk melakukan penyelidikan ke Tiat-liong-pang. Mereka
kini menduga bahwa besar sekali kemungkinan puteri mereka juga berada di antara para pendekar yang
kabarnya juga bergerak untuk menentang para tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-long-pang untuk
melakukan pemberontakan, seperti yang mereka dengar dari para penyelidik pasukan yang masih setia
kepada pemerintah.
Liu-ciangkun mengucapkan terima kasih. Ketika panglima ini hendak memberi hadiah berupa barang
berharga dan emas, tentu saja kakek dan nenek itu menolak secara halus dan sekali berkelebat keduanya
pergi tanpa pamit lagi…..
********************
Pengalamannya yang pahit ketika bertemu dengan kakek sakti Kam Hong dan isterinya itulah yang
membuat Ouwyang Sianseng tidak mau membunuh tiga orang pendekar yang tertawan itu begitu saja. Dia
tahu betapa di antara para pendekar terdapat banyak sekali orang sakti, dan bahwa dia harus bisa
mendapatkan lebih banyak pembantu yang memiliki kepandaian tinggi, karena jika tidak, hanya
mengandalkan pasukan saja, akan sukarlah gerakan mereka itu akan berhasil dengan baik.
Para pendekar yang menentang gerakannya harus dapat dihadapi dengan kekuatan yang memiliki ilmu
silat tinggi pula. Maka, melihat betapa Hong Beng, Kun Tek dan Li Sian ketiganya adalah orang-orang
muda yang mempunyai ilmu silat tinggi, Ouwyang Sianseng merasa sayang jika harus membunuh mereka
begitu saja. Oleh karena itu, dia berusaha sedapat mungkin untuk membuat mereka bertiga tunduk dan
takluk, kemudian suka membantu gerakan ‘perjuangan’ mereka menjatuhkan pemerintah Mancu.
Setelah memperlihatkan hukuman yang amat mengerikan terhadap Cui Bi atau Nyonya Pouw Ciang Hin
untuk membuat hati mereka bertiga itu ngeri, Ouwyang Sianseng pergi meninggalkan mereka dan memberi
waktu sehari semalam untuk memilih, yaitu mereka bertiga menakluk dan membantu gerakan perjuangan
Tiat-liong-pang, atau dibunuh!
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Liong meninggalkan mereka bertiga, ketiga orang muda itu
saling pandang. Pouw Li Sian bergidik mengenang nasib yang menimpa diri bekas kakak iparnya tadi.
Akan tetapi dia dapat membayangkan apa yang terjadi pada diri kakak iparnya itu setelah kakaknya
terbunuh.
Agaknya Siangkoan Liong sudah menyuruh tangkap wanita itu. Dengan kepandaiannya merayu dan
ditambah ketampanan dan kegagahannya, Siangkoan Liong telah berhasil menundukkan wanita yang
agaknya tidak mampu mempertahankan kehormatannya dan menyerahkan diri menjadi kekasih atau
permainan Siangkoan Liong! Tadi hal ini mudah dilihat ketika kakak iparnya itu mencela dan memakinya,
dan sikap wanita itu terhadap Siangkoan Liong.
Sungguh pemuda berhati iblis! Ia sendiri telah menjadi korban rayuan pemuda jahat itu! Li Sian merasa
menyesal sekali dan diam-diam ia bersumpah untuk membunuh pemuda itu sebelum ia mati.
Tiba-tiba terdengar suara Gu Hong Beng, halus namun penuh kesungguhan, ditujukan kepada dirinya dan
Kun Tek. “Bagaimana pendapat kalian dengan pilihan yang mereka ajukan tadi?”
Mendengar pertanyaan ini, Li Sian meragu untuk menjawab, akan tetapi Cu Kun Tek, dengan suaranya
yang besar dan lantang, segera menjawab tanpa banyak pikir lagi. “Pilihan yang mana? Bagiku tidak ada
pilihan lain! Lebih baik mati dari pada harus takluk kepada mereka! Menyerah dan membantu
pemberontakan mereka? Huh, biar mereka membunuh aku seratus kali, aku tetap tidak akan sudi untuk
menakluk!”
“Hemmm, jadi engkau memilih mati konyol di tangan mereka, Kun Tek? Lalu bagaimana dengan
pendapatmu, nona Pouw?”
Diam-diam Li Sian merasa kagum sekali melihat sikap Kun Tek. Pemuda tinggi besar ini tidak hanya gagah
wajah dan tubuhnya, akan tetapi juga wataknya amat gagah perkasa. Sungguh seorang pendekar perkasa
sejati! Ia memandang kagum kepada pemuda itu dan mendengar pertanyaan Hong Beng, ia pun menoleh
kepadanya.
“Bagi aku pun tidak ada pilihan lain. Aku tidak sudi menyerah dan menakluk kepada mereka!”
“Bagus sekali! Ha-ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona. Kita berdua tidak sudi menakluk, biarlah kalau Hong
Beng takut mati dan ingin menakluk. Aku akan menemanimu sampai kita berdua dibunuh, kemudian
nyawaku akan menemani nyawamu sampai selamanya. Jangan khawatir, nona Pouw, sekali bicara, aku
akan selalu memegang teguh janjiku, disaksikan Langit dan Bumi!”
Mendengar ini, wajah Pouw Li Sian menjadi agak pucat dan ia memandang kepada Kun Tek dengan mata
terbelalak. Hatinya seperti ditusuk dan merasa terharu sekali.
“Saudara Cu Kun Tek... engkau... mengapa engkau berkata demikian? Mengapa...?”
Dia bertanya agak gagap karena dia benar-benar merasa terkejut, heran dan bingung mendengar ucapan
Kun Tek tadi. Akan tetapi Hong Beng hanya menahan senyumnya, karena pemuda ini sudah dapat
menjenguk isi hati Kun Tek dan tahu bahwa Kun Tek telah jatuh hati kepada Pouw Li Sian.
Kun Tek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur dan dalam hal cinta mencinta, dia dapat dikatakan
masih hijau. Selama hidupnya, pernah dia satu kali jatuh cinta, yaitu kepada seorang gadis bernama Can
Bi Lan yang kini sudah menjadi isteri Pendekar Suling Naga. (baca kisah Suling Naga).
Ketika cintanya gagal karena ternyata dia hanya bertepuk tangan sebelah, dia merasa jera untuk
mendekati gadis lagi sehingga sampai sekarang dia tidak pernah lagi mau bergaul dengan seorang gadis,
sampai kini dia bertemu dengan Li Sian dan tergila-gila karena jatuh cinta! Saking jujurnya, maka di depan
Hong Beng dia pun tidak merasa ragu-ragu lagi untuk membuat pengakuan itu, apa lagi kalau mengingat
bahwa mereka menghadapi ancaman maut yang agaknya takkan terelakkan lagi itu.
“Nona Pouw Li Sian, aku kagum padamu, aku kasihan kepadamu, dan aku... aku cinta padamu! Nah,
legalah rasanya hatiku setelah pengakuan ini. Kita akan mati bersama-sama, dan memang sebaiknya
sebelum aku mati engkau mengetahui bahwa aku cinta padamu dan bersedia mati untukmu. Apa lagi dapat
mati bersamamu, merupakan suatu kebahagiaan bagiku, Nona. Dan jangan khawatir, sampai mati pun,
dunia-kangouw.blogspot.com
nyawaku pasti akan tetap mendampingimu, karena kata orang-orang bijaksana, cinta kasih tidak akan mati
bersama badan!”
Kini wajah Li Sian berubah merah sekali, lalu berubah pucat lagi, dan merah lagi. Dia merasa begitu
terharu sampai tak dapat membendung lagi turunnya air matanya yang deras. Betapa luhur budi pemuda
ini, pikirnya, dan betapa jauh dibandingkan Siangkoan Liong! Cinta pemuda ini demikian murni dan agung,
bukan sekedar nafsu terselubung kata-kata manis penuh rayuan, melainkan pernyataan cinta yang tulus
dan bersih.
Melihat gadis itu mendadak menangis dengan air mata bercucuran, seketika wajah Kun Tek menjadi pucat
sekali. Dia khawatir kalau pernyataan cintanya yang terang-terangan itu malah menyinggung hati gadis ini
yang ternyata tidak cinta padanya! Ingin rasanya dia memukul kepalanya sendiri!
Dengan suara gemetar ia lalu berkata, “Aih, nona Pouw mohon kau maafkan aku... ahh, mulutku lancang
sekali, aku sudah membuatmu menangis. Tentu engkau tersinggung. Barangkali aku sudah gila,
bagaimana mungkin seorang kasar seperti aku berani mati mengaku cinta kepada seorang gadis seperti
engkau? Maafkanlah aku, Nona...”
“Tidak, bukan begitu maksud tangisanku, saudara Cu Kun Tek! Ah, aku berterima kasih sekali, aku terharu
sekali. Aku menangis karena... karena terharu dan bahagia. Seorang pendekar gagah perkasa seperti
engkau, Cu-taihiap (Pendekar Besar Cu), mencinta seorang gadis seperti aku? Aih, Taihiap, apakah
engkau tidak keliru pilih?”
Kalau tadi wajah Kun Tek keruh dan berduka, kini seolah-olah ada sinar mencorong dari dalam, terutama
sekali sepasang matanya yang bersinar-sinar.
Kun Tek tertawa-tawa, suara ketawanya bebas lepas dan keluar langsung dari dalam perutnya,
melepaskan semua keraguan dan kedukaan, dan menjadikannya gembira luar biasa sehingga segala
sesuatu nampak indah.
“Ha-ha-ha, ahh, nona Pouw, pertama-tama kumohon padamu, janganlah menyebut aku taihiap! Selain itu,
jangan engkau merendahkan dirimu. Engkau sendiri seorang gadis perkasa dan tentang ilmu silat, belum
tentu aku akan mampu menang darimu! Engkau membuat aku malu saja dengan menyebutku taihiap. Aku
tidak keliru, Nona, karena aku mengenal suara hatiku sendiri. Aku cinta padamu!”
“Tetapi... Toako (Kakak), aku tidak berharga mendapatkan cintamu. Aku... aku adalah seorang gadis yang
hina, yang ternoda... aku... aku telah...” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena duka telah
menyergap perasaannya lagi ketika ia teringat betapa ia telah menjadi korban kebiadaban Siangkoan
Liong.
“Aku sudah tahu, Nona,” kata Kun Tek, suaranya tenang saja seolah-olah yang mereka bicarakan itu tak
ada artinya baginya. “Aku telah mendengar apa yang dikatakan wanita itu, dan aku dapat menduga bahwa
engkau tentu sudah menjadi korban dari pemuda yang bernama Siangkoan Liong itu.”
Li Sian kini mengusap air matanya, memandang kepada Kun Tek.
“Benar...!” katanya tegas. “Biarlah engkau mendengarnya, Cu-toako, dan juga saudara Gu Hong Beng ini
mendengarnya. Tak perlu aku menutupi lagi peristiwa itu karena kita semua akan mati. Dengarlah baik-baik
pengakuanku. Ketika aku tiba di sini, aku telah terbujuk oleh mereka untuk dapat menemui kakak
kandungku yang kemudian mereka bunuh tanpa sepengetahuanku. Dan pada saat aku berduka karena
kematian kakakku, kesempatan itu dipergunakan oleh manusia iblis Siangkoan Liong itu, untuk merayuku.
Terdorong oleh kelemahanku saat itu, juga dengan bantuan obat-obat, kekuatan sihir, dan rayuannya,
akhirnya aku menyerah. Aku menyerahkan diriku kepadanya, kemudian akhirnya aku dapat melihat
kepalsuannya, bahwa dia menyuruh bunuh kakakku, bahwa dia hanya mempermainkan aku... nah, engkau
telah tahu sekarang, Toako, bahwa aku memang gadis yang sudah ternoda, bukan perawan lagi, aku
seorang gadis hina yang tidak berharga untuk mendapatkan cintamu...” Li Sian menangis lagi.
Kalau saja tidak ada rantai yang menghalanginya, tentu Kun Tek sudah menghampiri untuk merangkul dan
menghibur gadis itu. Dia menggerak-gerakkan rantai panjang itu sehingga mengeluarkan bunyi
berkerontangan, lalu berkata dengan suara tegas.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nona Pouw Li Sian, jangan berkata demikian! Aku cinta padamu, aku semakin kasihan padamu. Dan yang
kucinta adalah engkau seluruhnya, bukan keperawananmu! Engkau sekarang inilah yang kucinta, bukan
engkau sebelum engkau menjadi korban kejahatan pemuda itu karena ketika itu aku belum mengenalmu.
Akulah yang akan membalas sakit hatimu, Nona. Meski pun andai kata aku dibunuh, nyawaku masih akan
berusaha untuk membalas kejahatan pemuda itu!”
Kata-kata ini seperti sebuah nyanyian merdu bagi Li Sian. Bukan sekedar menghibur, akan tetapi juga
mengangkatnya, dan juga membersihkannya! Ia tidak lagi merasa kotor dan hina rendah dalam pandangan
pemuda itu atau bahkan orang lain!
“Terima kasih, Cu-koko..., terima kasih! Aku akan berbohong kalau sekarang mendadak mengaku cinta
padamu. Akan tetapi aku kagum padamu, aku berterima kasih padamu, dan aku berjanji bahwa kalau kita
berhasil lolos dari maut, kelak aku akan siap untuk menjadi isterimu yang setia, atau kalau kita mati, aku
ingin mati bersamamu, dan aku akan girang kalau nyawamu mendampingi nyawaku...”
Cu Kun Tek terbelalak. Ingin rasanya dia bersorak, ingin dia berjingkrak-jingkrak saking girang hatinya.
Akan tetapi karena tidak mungkin hal itu dia lakukan, kini matanya yang lebar itu hanya mengamati wajah
Li Sian, dan perlahan-lahan ada dua butir air mata besar menggelinding keluar dari kedua matanya,
menuruni pipinya!
Melihat ini Li Sian terharu sekali. Bahkan Hong Beng juga merasa terharu dan maklum bahwa cinta
pemuda itu memang murni dan hebat! Dia membiarkan saja kedua orang itu saling mencurahkan cinta
kasih mereka melalui pandang mata, kemudian ia menarik napas panjang dan berkata, seperti kepada diri
sendiri.
“Ah, betapa anehnya kalian ini. Saling mencinta dalam menghadapi maut, dan rela mati konyol...! Sungguh,
ke manakah larinya kegagahan kalian?”
Mendengar ucapan ini, Kun Tek memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata marah. “Gu Hong
Beng, sudahlah engkau jangan mengeluarkan suara karena tiap kali engkau bicara, engkau hanya
membuat hatiku muak saja! Sepantasnya pertanyaanmu itu kau ajukan pada dirimu sendiri, bukan kepada
kami. Ke mana larinya kegagahanmu? Aku dulu mengenalmu sebagai seorang pendekar gagah perkasa,
akan tetapi sekarang engkau hanya seorang pengecut yang takut mati!”
“Kun Tek, engkau bicara tanpa dipikir lebih dahulu. Aku bukan pengecut, bukan pula takut mati. Akan tetapi
aku bukan orang tolol yang ingin mati seperti seekor babi, mati konyol tanpa melawan. Kalau toh kita harus
mati, sepatutnya kita mati sebagai harimau, mati dalam perlawanan. Akan tetapi, kalau kita dibelenggu
seperti ini, bagaimana kita mampu melawan? Kita mati konyol begitu saja!”
“Karena tidak ada pilihan, perlu apa takut mati? Jauh lebih baik mati dibunuh lawan dari pada harus
menyerah dan takluk! Dan engkau ingin takluk kepada lawan? Bukankah itu hanya untuk menyelamatkan
nyawamu dan itu berarti engkau seorang pengecut?” tanya Kun Tek penasaran.
“Hemmm, nekat dan mati konyol bukan perbuatan gagah perkasa, melainkan perbuatan tolol! Dan
menyerah karena keadaan belum tentu pengecut, melainkan perbuatan yang cerdik dan mempergunakan
perhitungan.”
“Sudahlah, aku tak sudi mendengar omonganmu lagi. Terserah engkau mau takluk, mau menjilati sepatu
para pemberontak itu, mau masuk menjadi anggota golongan sesat. Akan tetapi, aku dan Pouw-moi lebih
suka memilih mati!” kata Kun Tek.
Semenjak tadi Li Sian hanya mendengarkan saja. Kini, melihat percekcokan dua orang gagah yang tadinya
menjadi sahabat itu, ia lalu berkata, “Cu-koko, kurasa ada benarnya juga apa yang dikatakan saudara Gu
Hong Beng. Biarkan dia bicara mengemukakan pendapatnya dan jangan dibantah dulu sebelum dia selesai
bicara.”
Kun Tek mengerutkan alisnya, akan tetapi melihat sinar mata Li Sian yang lembut dan senyum manis
ditujukan kepadanya, dia pun mengangguk dan menoleh kepada Hong Beng sambil berkata, “Nah,
bicaralah!”
Gu Hong Beng menahan senyumnya karena baginya, sikap Kun Tek itu nampak lucu sekali. “Begini, Kun
Tek dan nona Pouw. Memang sepintas lalu tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mati sebagai orang-orang
dunia-kangouw.blogspot.com
gagah yang tidak sudi menyerah. Namun, kurasa jalan itu amat bodoh karena apa untungnya kalau kita
mati konyol? Mereka itu akan melanjutkan gerakan pemberontakan mereka, sehingga rakyat banyak yang
akan menderita dan mati pula, juga sakit hati nona Pouw takkan dapat dibalas sama sekali! Dan mereka itu
memberi kesempatan kepada kita, sebab mereka membutuhkan tenaga kita. Nah, kenapa kita tidak mau
berlaku cerdik? Tentu saja aku sendiri tidak sudi untuk benar-benar membantu mereka! Akan tetapi,
kenapa kita tak menggunakan kelemahan mereka, yaitu membutuhkan tenaga kita, untuk berusaha
meloloskan diri? Kita boleh pura-pura menyerah, dan kita melihat perkembangan selanjutnya. Yang
penting, kalau kita dapat bebas dari belenggu-belenggu ini, kita dapat bergerak leluasa. Andai kata kita
akan mengamuk juga, sebelum kita mati, kita akan dapat menewaskan banyak lawan sebelum kita mati
konyol! Bukankah itu jauh lebih baik dari pada mati konyol seperti babi-babi dalam kandang?”
Kun Tek bukan seorang bodoh. Mendengar pendapat Hong Beng ini, dia pun mulai mengangguk-angguk
dan melihat kebenarannya. Dia tadi terlalu terburu nafsu menduga bahwa kawannya itu ketakutan lalu ingin
menyerah agar selamat. Kini dia tahu bahwa kalau mereka menakluk, hal itu hanya sebagai siasat untuk
mencari kesempatan agar dapat memberontak dan menghantam musuh dengan leluasa. Dan tentu saja
dia setuju sekali!
“Cu-koko, kurasa pendapat saudara Gu Hong Beng ini ada benarnya juga. Kalau aku diberi kesempatan,
tentu akan kukerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk bisa menyerang dan membunuh si keparat
Siangkoan Liong!” kata Li Sian.
Kun Tek mengangguk-angguk. “Memang benar juga. Aku pun setuju jika kita menyerah pura-pura saja,
hanya untuk mencari kesempatan lolos dan menghantam mereka. Akan tetapi terserah kalian yang bicara,
kalau aku yang disuruh berbicara dengan mereka, kiranya aku hanya dapat memaki dan mencaci mereka!”
“Serahkan saja kepadaku,” kata Hong Beng gembira.
“Aku akan membantu saudara Gu Hong Beng,” sambung Li Sian dan Kun Tek diam saja, namun setuju
sepenuhnya.
Jika mereka dapat berhasil lolos, kemudian menghajar para pemberontak, dan akhirnya mereka dapat
bebas, dan dia bersama Li Sian tidak mati, alangkah akan bahagianya. Ia akan dapat hidup berdua dengan
gadis pujaannya itu, menjadi suami isteri! Bayangan ini saja mendatangkan semangat kepada Kun Tek!
“Sekarang lebih baik kita memperkuat tubuh. Kita menerima hidangan yang mereka suguhkan dan makan
sekenyangnya, kemudian malam ini kita bersemedhi menghimpun tenaga baru. Besok, barulah kita
menghadapi mereka dan aku sudah mengatur siasat untuk menghadapi mereka. Harap kalian jangan
heran dan menyangka yang bukan-bukan kalau aku bersikap ramah kepada mereka. Mengertikah kalian,
terutama engkau, saudara Kun Tek?”
Kun Tek mengangguk, setelah melihat Li Sian mengangguk.
“Aku akan sekuat tenaga menahan kemarahanku kalau melihat muka mereka!” katanya.
Li Sian menghadiahinya dengan sebuah senyuman manis. “Aku percaya engkau akan kuat, Cu-koko.
Seorang gagah harus kuat segala-galanya, terutama sekali menekan perasaannya sendiri, bukan?”
Senyum itu cukup sudah bagi Kun Tek. Dia mau menebus apa saja untuk memperoleh senyuman seperti
itu.
“Jangan khawatir, Moi-moi, demi engkau, aku mampu melakukan apa saja!” katanya bangga dan sekali ini
kedua pipi Li Sian menjadi agak merah karena ia melihat betapa ada senyum mengembang di bibir Hong
Beng.
Demikianlah, ketiga orang muda ini mulai memperlihatkan sikapnya yang suka bekerja sama ketika mereka
menerima hidangan yang disuguhkan, dan mereka melihat bahwa pihak lawan memang agaknya ingin
sekali menarik mereka sebagai pembantu. Sebagai bukti, hidangan yang disuguhkan selain banyak, juga
masih panas dan cukup mewah, seperti hidangan di rumah makan besar saja!
Mereka bertiga lalu makan sampai kenyang, akan tetapi hanya minum arak sedikit saja. Mereka lebih
banyak minum air teh yang mereka minta dari petugas yang menyuguhkan makanan dan minuman.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah itu, semalaman suntuk mereka duduk bersila sambil bersemedhi, menghimpun tenaga murni
untuk memulihkan kekuatan dan melenyapkan kelelahan mereka.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ouwyang Sianseng sudah datang berkunjung. Dia datang tanpa
diikuti oleh Siangkoan Liong. Ouwyang Sianseng cukup cerdik untuk lebih dulu menjauhkan pemuda itu,
mengingat betapa Li Sian mendendam kepadanya. Sebaliknya, dia datang bersama Siangkoan Lohan!
Dua orang paling tinggi kedudukannya dalam persekutuan pemberontakan itu, datang mengunjungi tiga
orang tawanan muda itu! Hal ini saja sudah meyakinkan hati Hong Beng bahwa mereka itu benar-benar
mengharapkan kerja sama, dan hal ini amat baik.
Setelah mengucapkan selamat pagi dengan sikap lembut seperti biasanya, Ouwyang Sianseng dan
Siangkoan Lohan kemudian duduk di atas bangku yang berada di kamar tahanan itu, menghadapi tiga
orang tawanan yang masih duduk bersila. Kun Tek dan Li Sian hanya mengangguk sebagai jawaban, akan
tetapi Hong Beng membalas ucapan selamat pagi itu dengan suara yang cukup ramah.
“Bagaimana, orang-orang muda yang gagah. Apakah Sam-wi (Kalian bertiga) sudah mengambil keputusan
dan pilihan yang tepat?”
Hong Beng menjawab dengan suara yang cukup tenang. “Ouwyang Sianseng, aku telah mendapat
kepercayaan dua orang kawanku ini untuk menjadi wakil pembicara mereka. Sebelum kami menjawab,
harap jelaskan lagi apakah pilihan yang harus kami pilih itu?”
Ouwyang Sianseng tersenyum. Sikap pemuda itu saja sudah melegakan hatinya, tidak seperti kemarin di
mana mereka bertiga itu memperlihatkan sikap bermusuhan dan tidak ada kompromi.
“Hanya ada dua pilihan sederhana saja. Kalian sanggup bekerja sama dengan kami dan membantu kami
berjuang melawan pemerintahan penjajah Mancu, atau kalian menolak, dan terpaksa kami akan
membunuh kalian sebagai musuh yang berbahaya. Nah, bagai mana keputusan kalian bertiga...?”
“Nanti dulu, Locianpwe,” kata Hong Beng, kini menyebut locianpwe untuk menghormati orang tua yang
memang sakti itu. “Jika kami menolak, hal itu tak perlu dibicarakan lagi. Akan tetapi, kalau kami menerima,
lalu bagaimana? Apakah yang harus kami lakukan? Bukankah sekarang belum terjadi perang antara
pasukan yang Locianpwe pimpin dan pasukan pemerintah?”
“Lohan, coba jelaskan mengenai kedudukan dan rencana kita kepada mereka ini,” kata Ouwyang
Sianseng, suaranya ramah dan halus akan tetapi jelas bernada memerintah dan hal ini saja menunjukkan
bahwa kedudukan kakek ini masih lebih tinggi dari pada ketua Tiatliong-pang itu.
Siangkoan Lohan yang dulunya ialah seorang yang terkenal sebagai ketua perkumpulan orang gagah yang
pernah membantu Kerajaan Mancu sehingga dia dihadiahi seorang puteri, dapat mengerti akan siasat
rekannya untuk membujuk orang-orang muda berilmu tinggi ini supaya mau bekerja sama membantu
mereka. Maka dia pun menarik napas panjang dan berkata dengan suara tenang setelah mengisap huncwe
emasnya dan mengepulkan asap yang berbau tembakau harum.
“Memang menggemaskan sekali kalau mengingat betapa penjajah Mancu yang dulunya kita semua
harapkan akan mampu memimpin bangsa kita ke arah kemakmuran, kini ternyata malah menindas bangsa
kita dan mendatangkan banyak kesengsaraan kepada rakyat, sedangkan mereka sendiri hidup serba
berkelebihan! Hal inilah yang membuat kami semua merasa penasaran untuk berjuang menumbangkan
kekuasaan penjajah Mancu! Kalian tiga orang muda yang perkasa, tentu mempunyai jiwa patriot, siap
untuk mengusir penjajah dan menyelamatkan bangsa dan tanah air kita. Dalam usaha untuk
menumbangkan kekuasaan Mancu yang besar, tentu saja kita membutuhkan bantuan semua tenaga para
patriot dan terus terang saja, kami terpaksa menerima pula uluran tangan dari dunia hitam. Kita
membutuhkan tenaga mereka, dan karena itu, kami tidak pedulikan perasaan pribadi, yang terpenting
menghimpun tenaga untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Tentu saja, kami akan merasa gembira
sekali kalau para pendekar dan patriot, seperti kalian, suka membantu perjuangan ini.” Dia berhenti
sebentar untuk melihat reaksi dari tiga orang muda itu.
Kun Tek yang diam-diam tidak percaya, kalau menurutkan gairah hatinya, ingin memaki-maki dan
mengatakan bohong, akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, demi Li Sian tentu saja, dan dia hanya
menundukkan mukanya agar jangan nampak isi hatinya melalui sikap dan pandangan matanya. Li Sian
lebih mampu menguasai perasaannya, maka dia pun mendengarkan seolah-olah merasa tertarik.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi, Pangcu.” kata Hong Beng dengan sikap hormat. “Walau pun semua yang Pangcu katakan itu
benar belaka, akan tetapi bagaimana Pangcu akan bisa melakukan perlawanan terhadap kekuasaan
pemerintahan yang mempunyai banyak bala tentara? Baru pasukan yang berjaga di tapal batas utara ini
saja sudah banyak sekali! Dan tiga orang seperti kami ini, dapat berbuat apakah terhadap pasukan
pemerintah yang besar jumlahnya?”
Siangkoan Lohan tersenyum bangga. Ia dan Ouwyang Sianseng memang telah sepakat untuk
menceritakan segalanya kepada tiga orang muda itu. Andai kata mereka menolak, bukankah mereka akan
dibunuh dan semua rahasia itu akan terkubur bersama mereka? Dan jika mereka suka bersekutu, berarti
mereka adalah orang-orang sendiri yang layak mengetahui keadaan mereka.
“Hemmm, tentu kalian memandang rendah kepada kami. Akan tetapi ketahuilah, kami sudah lama
mengadakan persiapan untuk gerakan perjuangan ini. Kami sendiri sudah mengumpulkan orang-orang
yang menjadi anggota kami, yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus orang. Selain itu, kami
mengadakan kontak dengan pimpinan bangsa Mongol, bahkan keturunan Jenghis Khan yang perkasa.
Mereka sudah bersiap dengan pasukan yang akan dapat melintasi perbatasan dengan mudah berkat
kekuasaan kami yang telah memungkinkan penyeberangan itu tanpa terhalang. Selain itu, kami tak takut
menghadapi pasukan penjaga perbatasan ini, karena mereka itu pun akan membantu kami!”
“Ehhh...?” Hong Beng pura-pura kaget walau pun sudah dapat menduga bahwa tentu orang-orang cerdik
ini berhasil pula mengadakan persekutuan dengan para pimpinan pasukan yang berkhianat terhadap
negaranya. “Ahhh, kalau seperti itu keadaannya, sungguh membesarkan hati. Akan tetapi, kami ingin sekali
tahu, kalau kami menerima uluran tangan Pangcu dan mau bekerja sama, lalu apakah tugas kami? Terus
terang saja, kami bertiga sama sekali tidak mempunyai kepandaian untuk memimpin pasukan dalam
peperangan.”
Ouwyang Sianseng tertawa lembut. Hatinya gembira karena sikap tiga orang muda itu agaknya sudah
condong untuk mau bekerja sama. Bagaimana pun juga, ketiga orang muda itu agaknya merasa ngeri
dengan terjadinya peristiwa kemarin. Mereka tidak ingin mati konyol dan tersiksa, melainkan memilih hidup
dan bekerja sama!
“Ha-ha-ha, orang muda yang gagah. Tentu saja untuk memimpin pasukan, kami sudah mempunyai ahliahlinya.
Tugas kalian sama dengan tugas para orang gagah yang akan membantu kami, yaitu menghadapi
pihak lawan yang mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi sebab pihak pasukan juga tentu mempunyai
banyak jagoan. Akan tetapi, sebelum kami menerima penyerahan diri dari kalian, terpaksa kami harus
menguji kalian lebih dahulu. Apakah kalian bertiga ini benar-benar jujur untuk bekerja sama menentang
pemerintah penjajah, atau hanya siasat saja dan mencari kesempatan untuk kemudian melarikan diri atau
membalik mengkhianati kami.”
Diam-diam tiga orang muda perkasa itu terkejut, dan Hong Beng memuji dalam hatinya. Kakek ini selain
lihai sekali ilmu silatnya, juga ternyata amat cerdik. Dia harus sangat berhati-hati menghadapi kakek ini.
Seketika wajah Hong Beng menjadi merah dan sinar matanya mencorong karena marah.
“Locianpwe terlalu memandang rendah pada kami orang-orang muda!” katanya dengan nada suara marah,
“Kami bukanlah pengkhianat bangsa, kami bukan penjilat penjajah asing. Kami berani bersumpah bahwa di
dalam hati kami selalu menentang penjajahan! Kalau gerakan perjuangan yang Ji-wi pimpin ini bukan untuk
kepentingan pribadi, tetapi demi membebaskan rakyat jelata dari penindasan penjajah asing, maka kami
akan rela membela dengan pertaruhan nyawa sekali pun!”
Hong Beng memang cerdik sekali. Seperti tanpa disengaja, dia menyinggung cita-cita perjuangan itu.
Siapakah orangnya yang mau berterus terang mengemukakan cita-cita pribadinya? Setiap pemimpin
penggerak perjuangan atau pemberontakan sudah pasti menyembunyikan tujuan pribadi, dan menonjolkan
cita-cita yang mulia demi bangsa dan tanah air. Demikian pula dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan
Lohan.
Mendengar ucapan itu, Siangkoan Lohan yang sebenarnya memberontak karena ingin mengangkat
puteranya menjadi kaisar, cepat berseru. “Ahhh, tentu saja! Sudah pasti perjuangan ini demi kepentingan
rakyat!”
Ouwyang Sianseng yang cerdik lalu berkata, “Bagaimana pun juga kami harus melihat bukti kejujuran
kalian. Gu Hong Beng, dari beberapa orang pembantu kami, kami sudah mendengar bahwa semenjak dulu
dunia-kangouw.blogspot.com
engkau adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa, dan sekarang kami ingin melihat bukti
kegagahanmu itu. Kami mempunyai tugas untukmu. Dua orang temanmu ini akan tetap menjadi sandera,
walau pun mereka akan diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, bukan sebagai tawanan. Nah, kalau
tugasmu itu berhasil kau lakukan dengan baik, barulah kami percaya dan kalian bertiga akan kami terima
sebagai pembantu-pembantu yang kami hargai. Dan sebaliknya, kalau engkau bermain curang, ingat
bahwa dua orang temanmu masih berada di sini sebagai sandera.”
Ouwyang Sianseng tentu saja sudah mendengar banyak tentang ketiga orang muda itu dari Sin-kiam Mo-li
dan kawan-kawannya, karena mereka itu merupakan musuh-musuh lama, terutama sekali Hong Beng dan
Kun Tek. (baca kisah SULING NAGA).
Hong Beng saling pandang dengan dua orang temannya, lalu berkata kepada mereka, “Kalian berdua
tenanglah menjadi sandera di sini, karena sudah pasti aku akan mampu melaksanakan tugas itu dengan
baik.”
Kemudian dia menghadapi lagi Ouwyang Sianseng dan berkata, “Baiklah, Locianpwe. Tugas apa yang
diserahkan kepadaku? Akan kulaksanakan dengan baik!”
Hong Beng merasa perlu untuk menenangkan hati dua orang temannya, terutama Kun Tek yang keras hati
itu, agar Kun Tek mengerti bahwa tentu ia akan bisa mencari akal dan jalan yang baik untuk menghadapi
tugas itu! Padahal, tentu saja Hong Beng sendiri belum mengerti bagaimana dia akan dapat keluar dari
ujian ini, karena macam ujian itu pun dia belum tahu.
“Begini, orang muda. Seperti telah kukatakan tadi, kami mempunyai hubungan dengan panglima tinggi
pemimpin pasukan yang berjaga di tapal batas. Komandan itu adalah Coa Tai-ciangkun sedangkan
wakilnya ialah Song-ciangkun. Mereka berdua itulah yang kini memimpin puluhan orang perwira yang
mengepalai pasukan-pasukan pemerintah di perbatasan! Dan mereka sudah siap membantu kami. Oleh
karena itu, engkau kuberi tugas untuk pergi menyelundup ke dalam benteng itu sambil membawa surat
kami untuk disampaikan kepada komandan Coa.”
“Akan tetapi, Locianpwe, jika memang Locianpwe sudah mempunyai hubungan dengan mereka, apa
perlunya lagi aku harus menyelundup ke dalam benteng? Bukankah masuk lewat pintu gerbang pun tak
mengapa? Jika mereka tahu bahwa aku adalah utusan dari Tiat-liong-pang, tentu akan diterima sebagai
sahabat,” bantah Hong Beng yang cerdik.
“Ah, engkau sungguh bodoh, orang muda. Memang komandannya dan para perwiranya sudah bersekutu
dengan kita, akan tetapi karena hal itu berbahaya tentu saja mereka tidak terang-terangan, dan tidak
semua anak buah pasukan tahu akan hal itu. Pasukan hanya mentaati perintah komandannya, maka tidak
perlu mengetahui semua hal, takut kalau-kalau hal itu dibocorkan mereka sebelum gerakan kita berhasil.
Sudahlah, engkau bawalah surat dari kami, malam-malam menyelundup masuk ke dalam benteng dan
menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Sanggupkah?”
Hong Beng tersenyum. “Tugas itu tidak berat, tentu saja aku sanggup!”
“Masih ada kelanjutannya. Jika engkau telah menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song,
engkau harus siap melaksanakan semua tugas yang diserahkan mereka kepadamu! Ingat, membantah
mereka berarti membantah kami pula.”
Hong Beng diam-diam merasa gentar juga, akan tetapi dengan tenang dia mengangguk, “Bagaimana andai
kata aku ketahuan orang di dalam benteng dan aku diserang dan hendak ditangkap? Apakah aku harus
melarikan diri ataukah...”
“Kalau yang melihatmu hanya beberapa orang saja, bunuh mereka. Kalau banyak orang larilah. Akan tetapi
kalau mungkin yakinkan hati mereka bahwa engkau adalah sahabat Panglima Coa. Nah, ini suratnya
sudah kami persiapkan, sekarang juga berangkatlah, dan ini peta petunjuk di mana adanya benteng itu.”
Hong Beng menerima surat dan peta itu, lalu sebelum berangkat dia menoleh kepada dua orang
temannya. “Harap kalian bersabar dan percayalah kepadaku.”
Li Sian merasa terharu. Tentu saja ia percaya kepada pemuda itu. Dia merasa betapa beratnya tugas Hong
Beng, bukan hanya tugas menyerahkan surat itu, terutama sekali karena pemuda itu bertanggung jawab
atas nyawa mereka berdua, seolah-olah nyawa mereka berdua di dalam genggaman tangan Hong Beng.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Berangkatlah dan harap hati-hati, saudara Gu Hong Beng,” katanya.
Kun Tek memandang kepada Hong Beng dan terdengar suaranya yang lantang. “Hong Beng, semenjak
dahulu aku selalu percaya kepadamu, dan sekarang pun kami percaya penuh kepadamu!”
Hong Beng mengangguk. Setelah semua rantai yang membelenggunya dilepas dia pun segera berangkat
meninggalkan sarang pemberontak itu, menuju ke benteng pasukan pemerintah seperti yang ditunjukkan di
dalam peta.
Setelah Hong Beng berangkat, Ouwyang Sianseng memegang janji. Dia pun bersama Siangkoan Lohan
membebaskan belenggu yang mengikat Kun Tek dan Li Sian, lalu mengantar mereka, dikawal oleh
pasukan penjaga, menuju ke dua buah kamar di mana mereka berdua menjadi sandera. Hidup bebas
seperti tamu, akan tetapi selalu dikawal dan dijaga ketat.
Ouwyang Sianseng tidak bodoh, maka yang bertugas menjaga kedua orang sandera ini adalah tokohtokoh
sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, Thian Kek
Sengjin, Ciu Hok Kwi, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit bahkan Siangkoan
Liong sendiri selalu berada di tempat dekat sehingga selalu siap kalau kedua orang sandera itu mencoba
untuk memberontak dan melarikan diri.
Akan tetapi dengan cerdik Siangkoan Liong tidak pernah lagi mencoba untuk menggoda Li Sian, bahkan
dia tidak pernah memperlihatkan diri agar gadis itu tidak menjadi marah. Dia pun tahu akan siasat gurunya,
dan memang dia harus mengakui perlunya banyak tenaga bantuan para ahli silat.
Dia masih ngeri kalau membayangkan kelihaian kakek dan nenek yang telah menolong rombongan utusan
kota raja itu. Dia pun mengerti bahwa kini gurunya mengutus Hong Beng pergi mengunjungi Panglima Coa
juga untuk melihat apa yang sudah terjadi di dalam benteng itu, karena sudah beberapa hari Panglima Coa
tidak pernah mengirim utusan…..
********************
Hong Beng yang melakukan perjalanan seorang diri, dengan hati-hati sekali menyusup-nyusup ke dalam
hutan. Beberapa kali dia berhenti dan menyelinap untuk bersembunyi, kemudian memanjat pohon untuk
meneliti apakah perjalanannya itu diikuti orang atau tidak. Akhirnya dia merasa yakin bahwa pihak
pemberontak tidak mengutus orang untuk membayanginya, maka hatinya menjadi lega.
Dengan hati-hati Hong Beng lalu membuka sampul surat yang diserahkan kepadanya oleh Ouwyang
Sianseng untuk diberikan kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Di dalam keadaan seperti itu, ia tidak
rikuh lagi membuka surat orang, dan dibacanya surat itu. Isinya memang penting sekali.
Dalam surat itu, terang-terangan Ouwyang Sianseng memperkenalkan dirinya sebagai pembantu baru
yang sedang diuji kesetiaannya! Dan Ouwyang Sianseng menanyakan tentang utusan kota raja kepada
Panglima Coa, dan bahwa kalau tidak ada suatu hal yang menjadi penghalang, supaya panglima Coa
mempersiapkan pasukannya karena pasukan mereka akan mulai bergerak ke selatan!
Disebutkan pula bahwa sekarang Tiat-liong-pang telah siap, dengan anak buahnya yang berjumlah hampir
lima ratus orang banyaknya, dengan Ang-I Mo-pang lima puluh orang, dan agaknya orang-orang Mongol di
bawah pimpinan Agakai sudah terkumpul seribu orang! Jika Panglima Coa telah siap, harap membawa
pasukannya berkumpul di sarang Tiat-liong-pang agar supaya pasukan itu dapat dibagi-bagi untuk
melakukan gerakan ke berbagai jurusan!
Hong Beng termenung. Surat ini penting sekali! Dan dia yang menjadi utusan. Bagai mana pun juga, dia
tak dapat mundur, karena di sana ada nyawa dua orang sahabatnya menjadi tanggungan. Dia harus
menyampaikan surat ini, dan kembali. Jika Pouw Li Sian dan Cu Kun Tek sudah dibebaskan, barulah
mereka akan melihat perkembangannya. Sekarang, dia tidak dapat melakukan sesuatu kecuali
menyampaikan surat itu kepada Panglima Coa atau Perwira Song…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin Hong termenung. Malam itu dia dan Suma Lian terpaksa bermalam di hutan lebat, tidak jauh dari
sarang Tiat-liong-pang. Mereka telah melakukan penyelidikan semenjak mengubur jenazah Kwee Ci Hwa,
dan mereka berdua terkejut melihat betapa kekuatan para pemberontak memang besar.
Sekarang, agaknya pasukan Mongol sudah pula berkumpul di tempat itu, dan jumlah orang-orang Mongol
ini banyak sekali, bahkan jauh lebih banyak dari pada orang-orang Tiat-liong-pang sendiri. Pasukan Mongol
yang kelihatan buas ini berkumpul di lapangan luas yang terdapat di sebelah timur sarang Tiat-liong-pang.
Mereka membuat banyak sekali tenda-tenda sementara.
Melihat kenyataan ini, Sin Hong dan Suma Lian terkejut sekali dan tentu saja mereka berdua takkan
mampu melakukan sesuatu terhadap kekuatan yang demikian besarnya. Mereka lalu mengambil
keputusan untuk pergi mencari para pendekar yang kabarnya banyak berkumpul di situ, untuk menentang
para tokoh sesat supaya mereka dapat melakukan gerakan bersama, atau menyampaikan berita tentang
gerakan kaum sesat ini kepada benteng pasukan penjaga perbatasan.
Malam itu terpaksa mereka melewatkan malam di dalam hutan. Karena melihat Suma Lian kelelahan,
setelah mereka makan malam yang terdiri dari roti dan daging kering, Sin Hong mempersilakan gadis itu
untuk beristirahat dan tidur, sedangkan dia berjaga di dekat api unggun yang mereka buat.
Sin Hong melamun setelah melihat gadis itu rebah sambil berkerudung jubah luar yang lebar di dekat api
unggun. Ia terkenang pada Ci Hwa dan keterangan yang dikemukakan gadis itu sebelum tewas. Dan Sin
Hong mengepal tinju.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa pembunuhan terhadap ayahnya itu benar-benar didalangi oleh
Tiat-liong-pang. Sedangkan Ciu Hok Kwi, Ciu Piauwsu yang dulu pernah menjadi pembantu ayahnya,
ternyata adalah tokoh Tiat-liong-pang yang pandai. Bahkan orang she Ciu itu pula yang menjadi pembunuh
bertopeng, pembunuh orang she Lay yang gendut, dan kalau begitu, Ciu Hok Kwi ini pula yang mengatur
segalanya.
Dia telah terkecoh. Pada waktu Ciu Hok Kwi marah-marah dan pergi menantang Kwee Piauwsu, semua itu
ternyata hanya sandiwara belaka! Kini jelaslah sudah semuanya bagi dia.
Tiat-liong-pang memang amat membutuhkan perusahan Piauwkiok itu. Dengan adanya perusahaan itu,
mudah saja bagi Tiat-liong-pang untuk mengadakan hubungan dengan sekutunya, yaitu orang-orang
Mongol di luar Tembok Besar. Tanpa dicurigai pasukan pemerintah yang berjaga di tapal batas utara. Dan
usaha mereka telah berhasil karena buktinya sekarang pasukan Mongol telah dapat diselundupkan ke Tiatliong-
pang dalam jumlah besar tanpa diketahui oleh pasukan pemerintah.
Dan dia tidak tahu bahwa kaum sesat, termasuk Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, tentu membantu
pula gerakan pemberontakan itu. Sin-kiam Mo-li berada di sana, tentu dua orang kawannya yang lihai,
yaitu Thian Kong Cinjin tokoh Pat-kwa-pai dan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-pai, juga berada di sana.
Tiga orang itulah yang masih hidup di antara mereka yang menyerbu Istana Gurun Pasir! Dan dua batang
pedang pusaka Istana Gurun Pasir, yaitu Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam, berada di tangan tiga orang itu
dan dia harus merampasnya kembali.
Dengan demikian, semua persoalan yang harus dibereskan berada di Tiat-liong-pang. Urusan ayahnya,
urusan guru-gurunya, dan juga urusan umum! Bagaimana pun juga ia harus bangkit menentang Tiat-liongpang,
demi orang tuanya, demi guru-gurunya dan demi rakyat karena jika pemberontakan yang dipimpin
para tokoh sesat itu terjadi, tentu banyak rakyat yang menjadi korban keganasan mereka.
Terdengar Suma Lian mengeluh dan Sin Hong melirik. Gadis itu bergerak dan kini tidur terlentang. Seorang
gadis yang hebat, pikirnya. Cantik jelita, gagah perkasa, pemberani, jenaka dan serba menyenangkan,
keturunan keluarga Pulau Es pula! Seorang gadis pilihan dan harus diakuinya bahwa hatinya tertarik sekali
begitu dia bertemu Suma Lian.
Ia merasa kagum bukan main. Dengan mudah sekali ia akan dapat jatuh cinta kepada seorang gadis
seperti Suma Lian ini. Akan tetapi, dia tahu bahwa hal itu tidak mungkin, bahkan tidak boleh sama sekali.
Dia mendengar sendiri percakapan antara Suma Lian dan paman gadis itu, yaitu Suma Ciang Bun. Gadis
jelita ini sudah ditunangkan, telah dijodohkan dengan murid pendekar itu yang bernama Gu Hong Beng!
Tidak, dia sama sekali tidak boleh mengganggu gadis ini! Pantangan besar baginya! Dia tidak akan
mengorbankan orang lain, apa lagi keluarga para pendekar terhormat itu, demi kesenangan dirinya sendiri!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia harus menjauhkan diri dari Suma Lian, secepatnya agar jangan sampai pergaulan mereka menjadi
semakin akrab, sebab ia melihat betapa ada tanda-tanda gadis ini bersikap sangat baik dan manis
kepadanya. Hal ini harus dia cegah!
“Hong-ko, apakah yang kau pikirkan?”
Sin Hong terkejut bukan main mendengar teguran suara halus Suma Lian itu. Dia cepat menoleh. Ternyata
gadis itu yang masih terlentang, sudah membuka sepasang matanya yang indah dan kocak itu dan sedang
memandang kepadanya dengan penuh selidik, sedangkan mulut tersenyum jenaka.
“Apa? Aku… aku tidak memikirkan apa-apa, Lian-moi.”
Suma Lian bangkit duduk. Pita rambutnya terlepas dan rambut yang hitam panjang itu terurai.
Disanggulnya rambut itu dan gerakan kedua lengan ketika menyanggul rambut itu sungguh luwes dan
indah, membuat Sin Hong terpesona sejenak. Akan tetapi dia segera menundukkan mukanya agar tidak
terus melihat pemandangan yang menarik itu. Seorang gadis menyanggul rambutnya, betapa luwes dan
sedap dipandang!
"Hong-ko, tidak perlu kau menyangkal. Semenjak tadi aku melihat engkau melamun, kadang-kadang
mengepal tinju, merentang-rentangkan jari tangan, belasan kali engkau menarik napas panjang dan
engkau memandangi api seolah-olah seluruh semangatmu melayang-layang ke dalamnya. Dan dari
samping aku melihat wajahmu seperti orang berduka. Ada pakah Hong-ko?" Suma Lian selesai
menyanggul rambutnya dan ia duduk berhadapan dengan Sin Hong, terhalang api unggun sehingga
mereka dapat saling melihat wajah masing-masing dengan jelas.
Sin Hong melihat betapa wajah gadis itu kemerahan oleh sinar api, cantik jelita seperti wajah bidadari. Sin
Hong merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kembali dia menundukkan mukanya agar tidak
memandang keindahan yang nampak di depannya itu. Sungguh berbahaya sekali, pikirnya. Betapa
mudahnya aku jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi ia sudah ada yang punya! Ia harus menggunakan akal
untuk menjauhkan jarak di antara hati mereka.
Dia menghela napas panjang. "Ahhh, hati siapa yang takkan berduka kalau kehilangan orang yang amat
disayangnya? Lenyapnya orang yang dikasihi agaknya melenyapkan pula rasa bahagia di hati,
melumpuhkan semangat..."
Suma Lian tertarik sekali dan memandang penuh selidik. Kerut di alisnya menunjukkan bahwa ia terkejut
dan juga kecewa bahwa pemuda di depannya ini sudah mempunyai seorang kekasih. Padahal ia mulai
tertarik sekali!
"Siapakah orang yang kau sayang sedemikian besarnya itu, Hong-ko? Dan mengapa engkau kehilangan?
Kemanakah ia pergi?"
"Baru saja dia meninggal dunia secara amat menyedihkan, Lian-moi."
Sepasang mata Suma Lan memandang penuh selidik, kemudian terbelalak ketika dia teringat.
"Ohhh! Kau maksudkan... gadis yang tewas itu, yang bernama... Kwee Ci Hwa...?"
Sin Hong memang suka kepada Ci Hwa, akan tetapi bukan gadis itu yang menjatuhkan hatinya, melainkan
gadis yang berada di depannya ini. Akan tetapi dia mengangguk. Inilah satu-satunya jalan untuk
menjauhkan diri dari Suma Lian, mengaku cinta kepada gadis yang telah tiada! Tidak ada halangannya.
Kalau dia mengaku cinta kepada gadis yang masih hidup tentu akan mendatangkan kesulitan baru saja.
Suma Lian merasa betapa kekecewaan menusuk hatinya, membuat dia heran sekali. Mengapa dia merasa
kecewa mendengar Sin Hong cinta kepada seorang gadis lain? Dan di samping kekecewaannya, juga
terdapat perasaan lega bahwa gadis yang dicintai Sin Hong itu telah tiada!
"Aih, sungguh aku tidak menyangka, Hong-ko. Kasihan sekali gadis itu."
Sin Hong menarik napas panjang. "Memang patut dikasihani. Ia puteri Kwee Piauwsu yang tadinya
kusangka menjadi biang keladi pembunuhan ayahku. Ci Hwa merasa amat penasaran bahwa ayahnya
dituduh, maka ia lalu meninggalkan rumah untuk membantu mencari siapa adanya pembunuh ayahku,
dunia-kangouw.blogspot.com
bukan hanya untuk membantuku, akan tetapi juga untuk membersihkan nama ayahnya. Dan dia berhasil!
Dia berhasil menemukan bahwa pelakunya adalah Ciu Hok Kwi, piauwsu yang dahulu pernah menjadi
pembantu ayahku, seorang tokoh Tiat-liong-pang yang menyelundup. Dia berhasil mencuci bersih nama
ayahnya, dan berhasil membantuku menemukan pelakunya, tapi dengan tebusan nyawanya!"
Sin Hong tidak berpura-pura kalau dia nampak terharu dan berduka mengingat akan nasib yang menimpa
diri Ci Hwa. Dan diam-diam dia mengepal tinju teringat akan kata-kata terakhir gadis itu yang menyatakan
betapa Siangkoan Liong telah menodainya.
"Ahh, kalau begitu pantas dia mendapatkan cinta dan kasih sayangmu, Hong-ko. Akan tetapi, dia sudah
meninggal dunia, tidak perlu diingat dan disedihkan lagi. Di dunia ini masih banyak terdapat gadis-gadis
cantik yang akan dapat menggantikan Ci Hwa di dalam hatimu."
Sin Hong menggelengkan kepala. "Agaknya tidak mudah, Lian-moi. Seseorang haruslah setia terhadap
perasaan hatinya sendiri. Kematian Ci Hwa telah membuat aku merasa lumpuh lahir batin, tidak akan
memikirkan lagi tentang ikatan batin dengan wanita lain sampai entah kapan."
Kembali Suma Lian merasa betapa hatinya tertusuk kekecewaan yang membuatnya heran. Ucapan
pemuda itu sekaligus mengingatkan dia akan keadaan dirinya yang telah dipertunangkan, dijodohkan oleh
neneknya sebagai pesan terakhir. Dijodohkan dengan Gu Hong Beng! Dan ia pun termenung.
Mendadak Sin Hong meloncat dan menginjak-injak api unggun sehingga padam. Tentu saja Suma Lian
terkejut, akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan suara, Sin Hong sudah menaruh telunjuk di depan
mulutnya.
"Shhhhh, lihat di sana...," bisiknya.
Suma Lian yang juga sudah meloncat berdiri itu cepat membalikkan tubuh memandang ke arah yang
ditunjuk Sin Hong. Bulan sepotong memberi penerangan yang cukup bagi matanya yang berpenglihatan
tajam sehingga ia mampu pula melihat adanya bayangan yang berlari cepat, datang dari arah sarang Tiatliong-
pang.
"Aku mau kejar dia!" kata Sin Hong.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat sekali, melakukan pengejaran. Sejenak Suma Lian tertegun dan
kagum, kemudian dia mengumpulkan buntalan pakaiannya dan buntalan pakaian Sin Hong, dipanggulnya
dua buntalan pakaian itu dan dia pun mengejar.
Bayangan yang berlari cepat meninggalkan sarang Tiat-liong-pang itu bukan lain adalah Gu Hong Beng!
Seperti kita ketahui, pemuda perkasa ini sedang diuji oleh Siangkoan Lohan untuk mengantarkan surat dari
para pimpinan pemberontak itu kepada Panglima Coa, komandan pasukan di benteng pemerintah yang
bertugas di perbatasan utara. Komandan Coa inilah tokoh yang bersekutu dengan pihak pemberotak. Gu
Hong Beng diuji dengan mengadakan hubungan ke benteng itu, mengantar surat dan dua orang temannya,
Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, masih ditahan dan menjadi sandera.
Selagi dia berlari cepat menuju ke perbentengan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan di depannya
berdiri seorang laki-laki muda yang membentak, "Sobat, berhenti dahulu! Siapakah engkau, dari mana dan
hendak ke mana? Aku melihat engkau baru keluar dari perkampungan Tiat-liong-pang!"
Mendengar bentakan ini, dan melihat betapa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi yang dapat dilihat
dari gerakannya yang cepat, Hong Beng mengira bahwa tentu orang ini seorang pandai yang menjadi kaki
tangan pemberontak dan yang menjadi satu di antara mata-mata pemberontak yang banyak disebar di
daerah itu. Agaknya orang ini belum sempat mengenalnya, pikir Hong Beng. Untuk menghindarkan kesalah
pahaman, dia pun langsung saja mengaku.
"Sobat, harap jangan menggangguku. Aku adalah utusan pribadi Siangkoan Pangcu yang melakukan.
tugas rahasia amat penting, maka harap kau suka memberi jalan!"
Tetapi sungguh di luar dugaan Hong Beng. Begitu dia menjawab, pemuda itu langsung saja menyerangnya
dan menotok ke arah dada dan pundaknya, untuk merobohkannya. Hong Beng cepat meloncat ke
belakang sambil menangkis, lalu membalas karena kini dia pun sadar bahwa orang ini berniat buruk
kepadanya. Mungkin saja para pimpinan pemberontak itu memang berniat buruk dan sengaja menyuruh
dunia-kangouw.blogspot.com
kaki tangannya untuk menghadang dan membunuhnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa penghadangnya
ini adalah Tan Sin Hong, yang tentu saja segera menyerang untuk menangkapnya begitu mendengar
bahwa dia adalah utusan pribadi yang membawa tugas rahasia dari ketua Tiat-liong-pang.
"Dukkk!”
Kedua lengan mereka bertemu dan keduanya terkejut. Hong Beng yang terdorong oleh tenaga yang amat
kuat, merasa terkejut karena sama sekali tidak menyangka bahwa penghadangnya ini adalah seorang
yang demikian lihainya. Sebaliknya, Sin Hong juga kagum karena merasa betapa lengannya tergetar oleh
pertemuan dua tenaga sakti itu.
Hong Beng yang maklum bahwa lawannya walau pun di bawah sinar bulan redup itu nampak masih amat
muda, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia tidak mau kalau tugasnya terganggu, dan
mungkin saja orang ini adalah utusan khusus Siangkoan Lohan yang dikirim ke situ untuk sengaja
menghadangnya dan menguji kesetiaannya!
Maka, begitu menyerang lagi, dia sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu Swat-im Sinkang.
Ketika tangan kirinya mendorong ke arah dada Sin Hong, maka hawa yang amat dingin menyambar
dahsyat.
Ketika ia menghadapi pukulan ini, merasakan hawa dingin yang menyengat mendahului pukulan, Sin Hong
mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat dia menghindar dengan loncatan ke kiri.
"Haiiiii! Apakah itu bukan Swat-im Sinkang?" tanyanya heran.
Mendengar pertanyaan ini, Hong Beng juga tertegun. Kiranya lawannya ini sedemikian lihainya sehingga
mengenal pula pukulan dahsyat dari Pulau Es. Pada saat itu, nampak bayangan lain berkelebat dan
ternyata bayangan itu adalah seorang gadis cantik jelita yang menggendong dua buntalan pakaian.
Sejenak Hong Beng menjadi bengong. Meski sudah bertahun-tahun tak saling bertemu dan pada saat dia
bertemu dengan gadis itu, Suma Lian baru berusia tiga belas tahun, akan tetapi dia tidak pernah dapat
melupakan wajah remaja itu, semenjak gadis itu oleh neneknya dijodohkan dengan dia.
Apa lagi setelah dia mengalami kegagalan dalam cintanya kepada gadis bernama Can Bi Lan yang kini
menjadi isteri pendekar Sim Houw, maka wajah Suma Lian selalu terbayang di dalam hatinya. Kini, begitu
bertemu, dia yakin bahwa gadis cantik jelita ini adalah Suma Lian! (baca kisah SULING NAGA)
Di lain pihak, Suma Lian juga mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat. Dia merasa tidak asing dengan
pria yang tadi berkelahi melawan Sin Hong itu.
"Bukankah... bukankah… Nona ini adalah Sumoi Suma Lian...?" Akhirnya Hong Beng berseru, sedangkan
Sin Hong menghentikan serangannya setelah tadi mengenal ilmu dahsyat Swat-im Sinkang (Tenaga Sakti
Inti Salju) dari keluarga Pulau Es.
"Ahhh, suheng Gu Hong Beng kiranya...!"
Suma Lian baru teringat begitu pemuda itu menyebutnya sumoi dan seketika wajahnya berubah
kemerahan. Dia teringat akan pesan pamannya, Suma Ciang Bun bahwa murid pamannya ini telah
dijodohkan dengannya.
"Sumoi, sungguh tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini. Bagaimana engkau bisa berada di sini
dan... dan... saudara ini siapakah?" Dia memandang kepada Sin Hong yang tersenyum.
Kiranya inilah yang bernama Gu Hong Beng, pikir Sin Hong. Tunangan dari Suma Lian! Seorang pria yang
tampan dan gagah, pakaiannya biru sederhana dan bicaranya halus. Juga memiliki ilmu kepandaian tinggi,
pantas jika menjadi suami Suma Lian. Akan tetapi dia teringat akan pengakuan Gu Hong Beng tadi. Utusan
Siangkoan Pangcu, membawa tugas rahasia yang amat penting! Oleh karena itu, timbul kecurigaannya
dan sebelum Suma Lian menjawab, dia sudah mendahului.
"Lian-moi, hati-hati, bagaimana pun juga dia adalah utusan dari Siangkoan Lohan, yang sedang membawa
tugas rahasia yang penting!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan Sin Hong ini mengejutkan hati Suma Lian dan ia memandang kepada pria yang dicalonkan
sebagai suaminya itu dengan pandang mata penuh selidik dan kecurigaan. "Apa? Suheng, benarkah
bahwa engkau kini sudah menjadi kaki tangan pemberontak yang bergabung dengan para tokoh sesat itu?"
Hong Beng menghela napas panjang, lalu memperhatikan sekeliling tempat itu. "Mari kita bicara," bisiknya,
"akan tetapi harus berhati-hati agar tidak terdengar orang lain."
"Mari ikut denganku," berkata Sin Hong yang lalu mengajak Hong Beng dan Suma Lian memasuki hutan di
mana dia dan gadis itu tadi sudah membuat api unggun. Tempat ini memang terlindung pohon-pohon, dan
berada di tempat yang agak tinggi sehingga bisa melihat kalau ada orang datang ke tempat itu.
"Nah, di sini kita bisa bicara dengan aman," katanya.
Hong Beng lalu memandang Suma Lian dan kembali sinar kagum terbayang di matanya melihat gadis ini.
Betapa cantik jelitanya Suma Lian sekarang dan jantungnya berdebar tegang, bukan hanya tegang karena
girang membayangkan gadis ini telah ditunangkan dengan dia, akan tetapi juga tegang melihat betapa
gadis ini sekarang berdua dengan seorang pemuda yang lihai! Biar pun pemuda itu tidak dapat dikatakan
berwajah tampan sekali, namun dia tidak buruk, dan wajahnya cerah, ramah dan menarik.
"Sumoi, apa yang kulakukan ini memang benar, yaitu bahwa aku tengah menjadi utusan Siangkoan Lohan
membawa tugas rahasia yang penting sekali. Tetapi, hal ini kulakukan dengan terpaksa karena aku sedang
bersandiwara untuk menyelamatkan nyawa dua orang sandera. Engkau mengenal baik seorang di antara
mereka, karena ia bukan lain adalah nona Pouw Li Sian...”
“Aihh...!" Tentu saja Suma Lian amat kaget mendengar nama saudara seperguruannya itu. "Apa yang telah
terjadi? Bagaimana Sian-sumoi sekarang dapat menjadi sandera di Tiat-liong-pang?"
Hong Beng kemudian menceritakan semua yang sudah terjadi, betapa tadinya mereka berempat, dia, Cu
Kun Tek, Pouw Li Sian, dan juga Kwee Ci Hwa menjadi tawanan dan terancam nyawa mereka.
Diceritakannya pula betapa Ci Hwa berhasil membebaskan mereka, entah dengan cara bagaimana, akan
tetapi gadis itu lalu lenyap.
"Setelah membebaskan kami, ia pergi entah ke mana..."
"Ia telah tewas!" kata Sin Hong cepat, sengaja untuk memberi kesan kepada Suma Lian bahwa dia
berduka atas kematian gadis yang dicintanya. Lalu diceritakannya kepada Gu Hong Beng tentang peristiwa
itu, ketika dia dan Suma Lian membantu Ci Hwa melarikan diri akan tetapi gadis itu tewas karena lukalukanya.
Mendengar ini, Gu Hong Beng menarik napas panjang. "Ahh, sungguh kasihan sekali gadis bernasib
malang itu..."
Dia lalu melanjutkan ceritanya, betapa mereka bertiga tertangkap lagi karena dikeroyok dan dimasukkan
tahanan. "Ouwyang Sianseng yang menjadi pelopor pemberontakan itu bersama Siangkoan Lohan, lalu
menyuruh kami bertiga mengambil keputusan, memilih satu di antara dua. Membantu pemberontakan
mereka atau dibunuh! Kami tidak takut mati, akan tetapi juga enggan mati konyol. Oleh karena itu, aku
bersandiwara, pura-pura menakluk dan aku diuji dengan tugas ini, tugas khusus menyampaikan surat
penting kepada Panglima Coa yang bersekutu dengan pemberontak. Aku sedang mencari jalan bagaimana
sebaiknya untuk dapat menyelamatkan kedua orang kawan yang dijadikan sandera, dan tiba-tiba saudara
ini menyusul dan menyerangku."
"Gu-suheng, saudara ini adalah Tan Sin Hong. Kami berdua juga sedang melakukan penyelidikan untuk
menentang gerakan yang dipimpin oleh Tiat-liong-pang dan yang bersekutu dengan para tokoh sesat itu.
Kami tidak tahu bahwa engkau dan bahkan juga Sian-sumoi ditawan di sana."
Mendadak Sin Hong berkata, "Lian-moi, harap kau suka membantu saudara Gu Hong Beng
menyampaikan surat dan mencari akal, sedangkan aku sendiri akan menyelundup ke sarang Tiat-liongpang
untuk mencoba kalau-kalau aku akan dapat membebaskan saudara Cu Kun Tek dan nona Pouw Li
Sian itu!" Tanpa menanti jawaban, Sin Hong berkelebat dan lenyap dari tempat itu.
"Hong-ko...!" Suma Lian memanggil, tetapi pemuda itu telah lenyap ditelan kegelapan malam. Diam-diam
Gu Hong Beng kagum bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dia amat lihai...," katanya.
"Tentu saja, Suheng. Dia adalah murid terakhir dari para locianpwe di Istana Gurun Pasir."
"Ahhh...!" Hong Beng terkejut dan kagum sekali, "Pantas saja dia tadi dapat mengenal Swat-im Sinkang
begitu aku mempergunakan ilmu itu."
"Kasihan, dia berduka karena kehilangan kekasihnya, yaitu gadis yang kami tolong dari dalam sarang Tiatliong-
pang itu."
"Kwee Ci Hwa...?"
"Benar. Sudahlah, Suheng. Bagaimana sekarang? Apakah aku dapat membantumu?"
Hong Beng menjawab ragu. "Aku sendiri masih bingung, Sumoi. Kalau tugas ini tidak kulaksanakan, nyawa
Kun Tek dan nona Li Sian terancam bahaya maut. Mereka tentu akan dibunuh kalau aku tidak kembali ke
sana membawa balasan dari Panglima Coa. Akan tetapi kalau aku melanjutkan tugas ini, berarti aku
membantu pemberontakan itu. Isi surat itu amat penting."
Sambil berjalan menuju ke perbentengan, Hong Beng lalu memberi penjelasan kepada Suma Lian agar
gadis itu dapat membantunya mencari akal yang baik.
"Sebaiknya kau lanjutkan itu. Biar aku menanti di luar benteng, siap membantumu jika engkau terancam
bahaya kegagalan. Kalau di dalam surat hanya disebutkan engkau seorang sebagai utusan, tentu akan
menimbulkan kecurigaan kalau aku ikut masuk ke dalam benteng."
Hong Beng membenarkan pendapat itu. Akan tetapi, selagi mereka berjalan sambil bercakap-cakap, tibatiba
saja bermunculan tiga belas orang berpakaian serba merah, dipimpin oleh seseorang yang berpakaian
hijau! Mereka ini segera membuat gerakan mengepung Hong Beng dan Suma Lian, dan orang berpakaian
hijau yang bertubuh kurus sekali itu, dengan suaranya yang parau menudingkan pedangnya ke arah Hong
Beng.
"Hemm, sudah kami duga, tentu engkau akan berkhianat! Baiknya Mo-li menyuruh aku melakukan
penghadangan di sini! Ternyata benar saja, engkau menemui kawanmu ini dan hendak berkhianat kepada
Tiat-liong-pang!"
Hong Beng tidak mengenal orang itu, akan tetapi Suma Lian segera mengenalnya.
"Hei bukankah engkau Tok-ciang Hui-moko Liok Cit, tikus busuk itu?" bentaknya sambil menudingkan
telunjuknya ke arah muka si kurus berpakaian hijau.
Orang itu memang Liok Cit, tangan kanan Sin-kiam Mo-li yang sedang bertugas di situ memimpin tiga
belas orang anggota Ang-I Mo-pang atas perintah Sin-kiam Mo-li yang cerdik dan yang meragukan
kejujuran Hong Beng. Kini dia pun mengenal Suma Lian, dan wajahnya berubah agak pucat.
Celaka, pikirnya. Gadis liar yang amat lihai itu kiranya teman Gu Hong Beng ini! Makin yakinlah dia bahwa
Hong Beng memang bersekutu dengan pihak musuh.
"Tangkap mereka berdua, hidup atau mati!" Perintahnya dengan suara lantang.
Perintah ini berarti bahwa orang-orang Ang-I Mo-pang itu boleh membunuh pemuda dan gadis itu. Maka
ketiga belas orang itu langsung mencabut pedang masing-masing dan membuat lingkaran, membentuk
barisan aneh yang berlari-lari mengelilingi Hong Beng dan Suma Lian.
Gadis ini sama sekali tidak merasa khawatir, bahkan marah sekali. Dicabutnya suling emas dari balik
bajunya, dan ia berkata kepada Hong Beng dengan sikap tenang sekali. "Suheng, kau hadapi barisan
siluman ini dan aku akan menghajar si cacing kurus itu. Biarkan aku menggempur barisan untuk
berhadapan dengan tikus itu!"
Mendengar betapa gadis yang lihai itu menyebut Hong Beng sebagai suheng, makin khawatirlah hati Liok
Cit.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hayo gempur mereka!" bentaknya dari luar barisan.
Tiga belas orang anggota Ang-I Mo-pang ini memang ahli dalam pembentukan barisan yang aneh-aneh.
Walau pun tingkat kepandaian mereka itu kalau maju seorang demi seorang tidak akan ada artinya bagi
para pendekar seperti Hong Beng dan Suma Lian, akan tetapi kalau sudah membentuk barisan, mereka
menjadi kekuatan yang dahsyat, yang bisa bekerja sama dengan baik sekali sehingga seolah-olah
dikendalikan oleh satu pikiran, dengan tiga belas pasang kaki dan tangan, dengan tiga belas batang
pedang!
Barisan itu mulai menyerang sambil tetap berlari mengelilingi gadis dan pemuda itu, bertubi-tubi dan saling
melindungi, susul menyusul, ke arah tubuh Hong Beng dan Suma Lian. Namun Hong Beng yang ketika
berangkat melaksanakan tugas telah memperoleh kembali pedangnya, yaitu sepasang pedang, kini sudah
siap dengan sepasang senjata itu, memutarnya dengan ilmu pedang Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang
Sepasang Iblis) yang hebat. Sedangkan Suma Lian telah menerjang ke depan, memutar suling emasnya
dengan Ilmu Suling Naga Siluman yang mengeluarkan suara melengking-lengking dan membentuk
gulungan sinar kuning emas yang menyilaukan mata.
Hong Beng yang maklum bahwa gadis itu lihai sekali, bahkan dia tahu bahwa gadis itu memiliki tingkat
kepandaian yang lebih tinggi darinya, kini memutar sepasang pedang untuk membendung serangan tiga
belas anggota barisan Ang-I Mo-pang itu, memberi kesempatan kepada Suma Lian untuk menerjang
keluar.
Kesempatan ini memang dipergunakan oleh gadis itu. Dia memutar sulingnya semakin dahsyat sambil
menerjang ke arah kiri. Anggota barisan yang berlari di sebelah kiri cepat-cepat menangkis dengan
pedangnya ketika ada sinar emas mencuat ke arahnya, dibantu pula oleh teman di kanan kirinya yang
menahan serangan Suma Lian dengan tusukan pedang mereka ke arah gadis itu.
Namun Suma Lian memutar sulingnya, menangkis pedang-pedang itu sambil tangan kirinya mengerahkan
tenaga Swat-im Sinkang mendorong ke arah mereka. Hawa dingin menyambar dahsyat ke arah tiga orang
anggota barisan itu, dan mereka mengeluarkan teriakan kaget sambil terhuyung ke belakang, namun
tempat mereka segera diisi oleh tiga orang teman lainnya sehingga jalan keluar bagi Suma Lian tertutup
lagi.
Melihat ini, Gu Hong Beng menerjang pula ke bagian itu. Sepasang pedangnya lantas menyambarnyambar,
akan tetapi segera sepasang pedang itu disambut pula oleh tidak kurang dari enam batang
pedang lawan.
Tiba-tiba Suma Lian mengeluarkan bentakan melengking dan tubuhnya lalu berkelebat meloncat tinggi
melampaui atas kepala para pengepungnya! Ketika barisan itu hendak menghalanginya, ia kembali
mendorong tangan kirinya yang kini mengandung tenaga sakti Hui-yang Sinkang yang panas dan mereka
yang berusaha menghalanginya itu pun terdorong mundur dan berteriak kaget karena merasa betapa hawa
panas menyambar ke arah mereka. Barisan itu menjadi kacau dan Suma Lian sudah tiba di luar barisan.
Tanpa membuang waktu lagi, Suma Lian langsung menyerang Liok Cit dengan suling emasnya.
"Tikus pengecut, sekarang kuantar kau ke neraka!" bentak Suma Lian.
Liok Cit yang menjadi ketakutan cepat menyambut dengan pedangnya. Ia mengerahkan segenap tenaga
dan kepandaiannya untuk membendung serangan suling emas yang sinarnya menyilaukan mata itu.
Sementara itu, Hong Beng juga mengamuk dengan pedangnya. Barisan itu telah kacau karena enam
orang di antara mereka sudah dibikin terhuyung oleh pukulan Swat-im Sinkang dan Hui-yang Sinkang dari
Suma Lian tadi. Kini Hong Beng memainkan ilmu pedangnya dengan dahsyat, mengerahkan tenaganya
sehingga tubuh dan pedangnya bagaikan bola api yang menggelinding ke sana ke mari, dan barisan itu
pun menjadi semakin kacau dan tidak dapat mempertahankan lagi keutuhan atau kerapian gerakan
mereka.
Sementara itu, perkelahian antara Suma Lian melawan Liok Cit terjadi berat sebelah. Liok Cit yang berjuluk
Tok-ciang Hui-moko (Iblis Terbang Tangan Beracun) itu ternyata bukan tandingan Suma Lian. Ia pun tidak
berani mencoba-coba untuk mempergunakan sihirnya, karena hal ini hanya berarti menggugah harimau
tidur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu memiliki kekuatan sihir yang jauh lebih kuat darinya, maka akan percuma saja jika dia
menggunakan sihir. Satu-satunya jalan bagi Liok Cit hanyalah mempertahankan diri dan sedapat mungkin
mencari kesempatan untuk dapat melarikan diri.
Akan tetapi, agaknya Suma Lian tidak mau melepaskan lagi musuhnya ini. Ia teringat akan perbuatan Liok
Cit yang lalu, mencoba untuk menyihirnya, dan menculik Yo Han sehingga mengakibatkan tewasnya ayah
dan ibu anak itu, bahkan dirinya sendiri hampir celaka kalau saja tidak ada Sin Hong yang menolongnya.
Maka, Suma Lian mendesak dengan suling emasnya dan tidak memberi jalan keluar sama sekali.
Liok Cit melawan mati-matian sambil terus mundur. Akhirnya, tanpa dapat dihindarkan lagi, ujung suling
gadis itu menyentuh pelipis kirinya. Tubuh Liok Cit terjungkal dan dia tewas seketika tanpa mengeluarkan
suara lagi!
Setelah merobohkan Liok Cit, Suma Lian lalu membalikkan tubuhnya dan terjun ke dalam pertempuran
membantu Hong Beng yang dikeroyok oleh barisan Ang-I Mo-pang. Barisan itu memang sudah kacau
balau, bahkan telah kehilangan tiga orang anggota barisan yang tadi roboh terkena pedang di tangan Hong
Beng. Maka, begitu Suma Lian masuk, sisa pasukan menjadi semakin kacau dan gentar.
Namun, sepasang pendekar itu agaknya tak mau melepaskan mereka. Hal ini memang sudah semestinya,
karena kalau ada seorang saja di antara mereka lolos dan melapor kepada pimpinan Tiat-liong-pang, tentu
rahasia Hong Beng segera diketahui dan akan celakalah Li Sian dan Kun Tek yang menjadi sandera.
Maka, mereka mengamuk dan sisa barisan yang berusaha menyelamatkan diri itu sia-sia belaka. Akhirnya
mereka roboh seorang demi seorang dan setelah perkelahian itu berhenti, ketiga belas orang anggota Ang-
I Mo-pang dan Liok Cit sudah tewas semua, tubuh mereka malang melintang di antara darah yang
membasahi tanah.
"Bagus, bagus! Orang-orang muda mempergunakan ilmu kepandaian untuk melakukan pembunuhan
terhadap banyak orang, sungguh menyedihkan!"
Hong Beng dan Suma Lian cepat membalikkan tubuh mereka, siap siaga menghadapi lawan baru. Juga
mereka terkejut karena kehadiran orang yang mengeluarkan suara itu sama sekali tidak mereka ketahui,
hal ini saja menunjukkan betapa lihainya orang itu. Dan ketika mereka membalik, mereka melihat dua
orang kakek dan nenek sudah berdiri di situ sikap mereka tenang dan berwibawa.
Kakek itu sudah tua, usianya antara tujuh puluh tahun berpakaian sastrawan sederhana, sikapnya lembut
namun berwibawa, wajahnya masih memperlihatkan ketampanan dan kegagahan. Ada pun nenek itu
belasan tahun lebih muda, usianya sekitar lima puluh empat tahun. Wajahnya masih nampak cantik dan
sepasang matanya bergerak lincah dan penuh semangat.
"Kongkong dan Bobo (Kakek dan Nenek)...!" Suma Lian berseru ketika ia mengenal kedua orang itu.
Mereka berdua itu memang kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian yang baru saja meninggalkan benteng
pasukan pemerintah setelah mereka menolong Panglima Liu, utusan dari kota raja. Kalau Suma Lian
langsung mengenal mereka, kedua orang tua itu tertegun sejenak, akan tetapi mereka pun teringat bahwa
gadis cantik dan gagah yang memegang sebatang suling emas itu bukan lain adalah Suma Lian, cucu
mereka sendiri!
"Hemmm, kiranya engkau, Lian?" Nenek Bu Ci Sian meloncat dekat dan memegang pundak cucunya.
"Sudah begini dewasa, sampai tidak dapat mengenalmu tadi!"
"Dan kini menjadi seorang yang begitu ganas, membunuhi orang seperti membunuh semut saja!" kata pula
Kam Hong dengan alis berkerut karena hatinya merasa tidak puas melihat betapa cucunya tadi membunuh
semua lawannya.
Suma Lian lari menghampiri kakeknya, memegang tangan kakeknya kemudian berkata dengan lagak
manja, "Aih, Kakek ini! Bertahun-tahun tidak saling jumpa, begitu bertemu langsung memarahi aku,
bukannya memberi hadiah! Ketahuilah, Kongkong, terpaksa sekali kami harus membunuh semua orang ini.
Kalau seorang saja kami biarkan lolos, maka nyawa sumoi-ku dan nyawa seorang pendekar lain yang
menjadi sandera tentu akan melayang!"
"Ehhh? Apa maksudmu? Dan siapakah orang muda ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kakek dan Nenek, dia ini adalah suheng-ku sendiri, namanya Gu Hong Beng. Ia murid dari paman Suma
Ciang Bun."
Kakek dan nenek itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Hong Beng dengan kagum. Seorang
pemuda yang perkasa, pikir mereka.
"Bagus, kalau begitu bukan orang lain," kata Bu Ci Sian.
Gu Hong Beng lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada mereka. "Harap Ji-wi Locianpwe
memaafkan kalau saya bersikap kurang hormat," katanya.
"Lian-ji, sebenarnya apakah yang telah terjadi dan apa artinya kata-katamu tadi bahwa kalau kalian tidak
membunuh semua orang ini maka nyawa sumoi-mu dan seorang pendekar lain akan melayang?"
Suma Lian, dibantu oleh Hong Beng, kemudian menceritakan semua yang telah terjadi. Tentang Hong
Beng yang menjadi utusan Siangkoan Lohan untuk menyerahkan surat kepada Coa Tai-ciangkun, tentang
Li Sian dan Kun Tek yang masih menjadi sandera dan betapa mereka tadi diserang oleh orang-orang Ang-I
Mo-pang yang menjadi sekutu Tiat-liong-pang. Hong Beng menceritakan pula akan isi surat rahasia yang
telah sempat dibacanya.
Mendengar cerita mereka, Kam Hong mengerutkan alisnya, "Wah, kalau begitu gawat sekali. Surat itu
harus diperlihatkan kepada Liu Tai-ciangkun secepatnya!"
"Maaf Locianpwe, yang harus menerima adalah panglima she Coa, bukannya she Liu," bantah Hong Beng.
Kakek itu tersenyum, "Engkau belum tahu apa yang terjadi di dalam benteng itu, orang muda.
Beruntunglah bahwa engkau bertemu dengan kami, jika tidak, begitu memasuki benteng tentu engkau
akan ditangkap dan dianggap mata-mata yang sesungguhnya dari kaum pemberontak." Kakek itu lalu
menceritakan apa yang telah terjadi, betapa Coa Tai-ciangkun dan antek-anteknya telah ditangkap dan
kekuasaan di benteng itu telah dipegang oleh pemerintah.
Hong Beng terkejut mendengar keterangan itu. "Wah, jika sudah begini, lalu bagaimana baiknya,
Locianpwe?"
"Kami mengenal Liu-ciangkun dengan baik, mari kalian kami ajak masuk ke benteng menemuinya dan
berunding. Peristiwa yang terjadi di dalam benteng itu dirahasiakan sehingga orang luar tiada yang tahu,
maka pihak pemberontak juga tidak tahu bahwa sekutu mereka yang berada di dalam benteng telah
ditangkap semua."
Mereka berempat lalu kembali ke banteng. Karena para penjaga mengenal baik kakek dan nenek yang
pernah berjasa besar dalam menggulung komplotan yang berkhianat, maka keempat orang ini dapat
memasuki benteng tanpa banyak susah, bahkan segera mereka malam itu juga disambut sendiri oleh
Panglima Liu yang dibangunkan dari tidur dan diberi laporan.
"...Ah, Jiwi Locianpwe datang kembali tentu membawa berita penting," kata panglima itu dengan ramah.
Dia mengamati Hong Beng dan Suma Lian penuh perhatian. "Siapakah Ji-wi yang gagah perkasa ini?"
Kam Hong segera menjawab. "Mereka ini adalah dua orang cucu kami, Tai-ciangkun, dan memang betul
bahwa kedatangan kami membawa berita yang amat penting. Orang muda bernama Gu Hong Beng ini,
bersama dua orang kawannya yang juga pendekar-pendekar yang menentang gerakan Tiat-liong-pang dan
para tokoh sesat, telah tertawan oleh Siangkoan Lohan. Dua orang dijadikan sandera dan dia ini dipaksa
untuk menjadi utusan, mengirim surat untuk Coa-ciangkun. Dia bersedia melakukannya hanya untuk
menyelamatkan dua orang kawannya dan kebetulan sekali dia bertemu dengan kami, maka kami bawa ke
sini."
Hong Beng lalu menceritakan kembali semua yang terjadi di Tiat-liong-pang, kemudian dia menyerahkan
pula surat yang ditulis oleh Siangkoan Lohan untuk diberikan kepada Coa-ciangkun itu kepada Panglima
Liu. Panglima itu membacanya dan dia pun lantas mengerutkan alisnya, lalu memanggil semua perwira
pembantunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam itu juga mereka mengadakan rapat, dihadiri pula oleh Kam Hong, Bu Ci Sian, Gu Hong Beng dan
Suma Lian. Dalam rapat itu lalu diambil keputusan bahwa Gu Hong Beng akan membawa pasukan yang
dianggap ‘sekutu’ pemberontak untuk bergabung. Kesempatan ini akan digunakan oleh pasukan untuk
mengepung Tiat-liong-pang tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga akan memudahkan serangan mereka
kalau saatnya tiba. Sedangkan kakek Kam Hong, nenek Bu Ci Sian dan cucu mereka, Suma Lian, akan
menyelinap ke dalam sarang gerombolan pemberontak dan membantu gerakan pasukan itu dari dalam.
"Jangan khawatirkan nasib adik Li Sian," kata Suma Lian kepada Hong Beng. "Aku akan berusaha sedapat
mungkin untuk menyelamatkan ia dan kawannya lebih dulu!"
Gu Hong Beng menyetujui. Memang itu satu-satunya jalan terbaik. Dia akan kembali dan membawa
pasukan, tentu pihak pemberontak takkan mencurigainya dan pasukan itu akan dapat mengepung
pemberontak dengan leluasa dan tanpa dicurigai. Dia sendiri kalau sudah tiba di dalam akan segera
berusaha membebaskan dua orang kawannya itu, bergabung dengan Suma Lian.
Hatinya lega jika mengingat bahwa Suma Lian ditemani oleh kakek dan neneknya, dua orang yang dia tahu
amat sakti, maka hatinya tak perlu mengkhawatirkan ‘tunangannya’ yang kali ini benar-benar menjatuhkan
hatinya itu! Dia tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada tunangannya sendiri, setelah bertemu dengan
Suma Lian yang sekarang telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik menarik.
Setelah berunding masak-masak, Suma Lian bersama kakek dan neneknya lalu pergi meninggalkan
benteng karena mereka akan bergerak terpisah, bahkan kalau mungkin mendahului menyelundup ke
dalam sarang pemberontak dan membantu pasukan dari sebelah dalam…..
********************
Kao Hong Li terus melakukan pengejaran dan mencari jejak Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Tapi,
sampai di pegunungan dekat dengan sarang gerombolan pemberontak Tiat-liong-pang, gadis ini
kehilangan jejak mereka. Ia pun memasuki hutan, mengambil keputusan untuk menyelidiki Tiat-liong-pang
karena ia tahu bahwa musuh besarnya itu, Sin-kiam Mo-li yang dahulu memimpin rombongan penyerbu ke
Istana Gurun Pasir dan membunuh kakek beserta neneknya, tentu bersekutu dengan para pemberontak
seperti yang telah didengarnya. Pemberontak Tiat-liong-pang itu kabarnya telah mengumpulkan banyak
tokoh sesat sehingga keadaan mereka kuat sekali.
Karena belum mengenal keadaan daerah itu, Kao Hong Li bersikap hati-hati sekali. Ia tidak berani
melakukan perjalanan di waktu malam, maka ia lalu melewatkan malam di dalam hutan, di atas pohon
besar. Ia mengisi perutnya dengan roti dan daging kering yang dibawanya sebagai bekal, minum air putih
jernih yang dibawanya dalam botol.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kao Hong Li sudah membersihkan tubuhnya di sebuah sumber air
kecil di tengan hutan. Ia merasa segar dan tenaganya pulih kembali. Setelah berganti pakaian yang
ringkas, ia melanjutkan penyelidikannya. Dengan hati-hati ia hendak keluar dari dalam hutan itu, menuju ke
bukit di mana sore kemarin dia sudah melihat perkampungan Tiat-liong-pang.
Ketika ia tiba di pinggir hutan, tiba-tiba nampak bayangan beberapa orang berkelebat dan tahu-tahu ia
telah dikepung lima orang laki-laki yang nampaknya gagah.
"Hemm, engkau tentu kaki tangan pemberontak!" seorang di antara mereka membentak dengan sikap
mengancam. "Hayo menyerah untuk kami tawan dari pada kami harus menggunakan kekerasan!"
"Lebih baik menyerah sajalah, Nona. Kami adalah orang-orang gagah yang segan untuk menggunakan
kekerasan terhadap seorang wanita lemah!" kata orang ke dua.
Kao Hong Li adalah seorang gadis yang galak, cerdik dan pandai bicara. Dari sikap dan ucapan mereka, ia
dapat menduga bahwa mereka ini bukanlah penjahat, bukan pula anak buah pemberontak. Kalau bukan
mata-mata pasukan pemerintah, tentu mereka ini pendekar-pendekar yang menentang gerakan
pemberontakan Tiat-liong-pang.
Akan tetapi, ucapan mereka yang memandang rendah padanya memanaskan perutnya dan mendorongnya
untuk menguji kepandaian mereka. Maka ia lalu tersenyum sindir, menghadapi mereka yang
mengepungnya itu dengan sikap tenang saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, andai kata, benar aku ini kaki tangan pemberontak dan tidak mau menyerah, lalu kalian ini mau
apakah? Kalian ini mirip lima ekor anjing hutan yang menggonggong mengancam seekor kucing hutan,
akan tetapi tidak berani menyerang!"
Kucing hutan adalah harimau, maka dengan menyebut dirinya kucing hutan dan mereka itu anjing hutan,
berarti Hong Li meninggikan dirinya dan merendahkan mereka. Salah seorang di antara mereka, yang
berkumis tebal, mengerutkan alisnya.
"Nona, jangan disangka kami hanya menggertak saja. Kami adalah para pendekar yang siap menggempur
para pemberontak, dan kalau engkau mata-mata pemberontak, kami tidak segan-segan menggunakan
kekerasan kalau engkau tidak mau menyerah dengan baik-baik."
Hong Li tersenyum mengejek dan melirik kepadanya, "Hemmm, ingin sekali aku melihat kekerasan yang
bagaimana yang hendak kalian lakukan? Apakah kalian ini lima orang laki-laki hendak mengeroyok aku?
Pendekar macam apa kalau beraninya hanya main keroyokan?"
Muka si kumis tebal menjadi merah. "Kawan-kawan, mundurlah dan biarkan aku yang menangkap wanita
yang sombong ini!"
Teman-temannya yang sudah maklum akan kelihaian jagoan muda murid Kun-lun-pai ini, mundur dan
membiarkan si kumis tebal untuk menghadapi Hong Li. Namun, sebagai seorang pendekar, agaknya si
kumis tebal masih saja sungkan untuk melawan seorang wanita muda.
Dia lalu memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kuda-kuda dari silat Kun-lun-pai yang terkenal indah
gerakannya itu, akan tetapi tidak segera menyerang, melainkan berkata kepada Hong Li. "Nona, silakan
mulai menyerang!"
Hong Li tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri santai saja, bahkan mentertawakan lawannya. "Ehh,
kenapa? Bukankah yang hendak menggunakan kekerasan itu engkau? Kenapa aku yang disuruh
menyerang? Aku tidak bisa menggunakan kekerasan!"
Teman-temannya tertawa sehingga si kumis tebal menjadi semakin kikuk. "Kalau begitu, biarlah aku yang
mulai dulu. Awas, Nona, aku akan bergerak menangkapmu, maaf!"
Dan orang itu, dengan kedua lengan bergerak cepat, menubruk ke depan, maksudnya hendak menangkap
kedua pergelangan tangan Hong Li supaya dia dapat menangkap gadis itu tanpa banyak pergulatan.
"Ihhh...!" Hong Li berseru dan dengan gerakan kaku yang disengaja, ia mengelak, akan tetapi cukup untuk
membuat tubrukan lawan itu mengenai tempat kosong belaka!
"Wah, sayang luput, ya?" Hong Li mentertawakannya sambil melenggang-lenggokkan tubuhnya yang
ramping padat. Kembali terdengar suara ketawa teman-teman si kumis tebal.
"Awas, aku akan menotok dan membuat engkau tidak mampu bergerak, Nona. Maaf!"
Kini si kumis tebal kembali menyerang, bukan sembarangan lagi menubruk, melainkan mengirimkan
totokan dengan dua jari tangan kanan kiri, yang kanan menotok pundak kiri, yang kiri menotok pinggang.
Hong Li yang melihat bahwa tingkat kepandaian lawan ini masih jauh berada di bawah tingkatnya,
menyambut totokan-totokan itu dengan dua pasang jari tangannya pula, jari telunjuk dan jari tengah
dipergunakan untuk menangkap atau menjepit totokan lawan.
"Cuppp! Cappp!"
Si kumis tebal itu terbelalak melihat betapa totokannya itu disambut jepitan jari tangan lawan. Dia berusaha
menarik kembali jarinya, namun sia-sia dan terasa nyeri, seolah-olah jari tangannya telah terjapit oleh
jepitan besi! Tentu saja nampaknya lucu sekali perkelahian itu dan teman-teman si kumis kembali tertawa.
Kaki Hong Li bergerak dan tubuh si kumis tebal itu terpelanting, tidak begitu keras karena Hong Li memang
tidak mempergunakan tenaga besar.
Empat orang kawan si kumis tebal kini menghentikan suara ketawa mereka dan baru mereka sadar bahwa
gadis cantik itu ternyata bukan orang sembarangan, buktinya si kumis tebal yang mereka kenal sebagai
dunia-kangouw.blogspot.com
murid Kun-lun-pai yang cukup kuat, dalam satu gebrakan saja roboh secara aneh! Kini mereka berempat
berloncatan menghadapi Hong Li dan seorang di antara mereka membentak.
"Nona, siapakah engkau? Harap jangan main-main dengan kami dan mengaku terus terang, apakah
engkau seorang mata-mata pemberontak?" Mereka sudah mendengar bahwa gerombolan pemberontak
sudah bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat yang tinggi ilmunya.
"Siapakah main-main dengan kalian?" Hong Li menjawab. "Siapa adanya aku tidak ada hubungannya
dengan kalian. Aku berjalan seorang diri tanpa mengganggu siapa pun juga. Adalah kalian yang
menghadang perjalananku dan andai kata aku benar mata-mata pemberontak, habis kalian mau apa?"
"Tangkap mata-mata ini!" bentak si kumis tebal yang sudah meloncat bangun kembali dan kini lima orang
itu sudah menerjang untuk menangkap Hong Li.
Gadis ini dengan lincah sekali lalu berloncatan mengelak. Gadis ini adalah cucu dalam dari Naga Sakti
Gurun Pasir, juga cucu luar dari Pendekar Super Sakti Pulau Es. Dari ayahnya ia mewarisi ilmu-ilmu dari
Gurun Pasir, dan dari ibunya ia mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es, tentu saja ia lihai bukan main.
Diserang oleh lima orang pendekar yang tingkatnya masih tengah-tengah tentu saja ia seperti menghadapi
pengeroyokan lima orang anak kecil saja. Dengan mudah dia dapat menghindarkan setiap serangan
dengan elakan dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang ditangkisnya tentu terpelanting!
Sungguh mereka itu seperti sekumpulan semut yang mengeroyok jangkrik, beberapa kali terpelanting dan
bangkit kembali. Kalau saja Hong Li menghendaki, tentu dengan mudah ia akan membuat mereka roboh
untuk tidak dapat bangun kembali. Akan tetapi gadis ini pun tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang
baik-baik, dan dia pun hanya ingin main-main saja, menghajar mereka karena mereka memandang rendah
padanya!
Pada saat itu tampak berkelebat bayangan orang, bayangan putih dan seorang pemuda berpakaian serba
putih tiba di situ.
"Tahan...!" serunya kepada kelima orang itu yang segera menghentikan pengeroyokan mereka.
Mereka terengah-engah, dengan tubuh basah oleh keringat dan babak belur. Sedikitnya setiap orang
sudah terpelanting dua kali dalam pengeroyokan itu.
Melihat kehadiran si baju putih, si kumis tebal cepat berseru girang, "Tan Taihiap, cepat bantu kami
menangkap mata-mata musuh yang lihai ini!"
Akan tetapi lima orang itu tertegun ketika melihat betapa orang yang mereka harapkan akan membantu
mereka itu kini berdiri berhadapan dengan gadis itu, saling pandang dan akhirnya pemuda berpakaian
putih itu berseru girang.
"Nona Kao Hong Li...!"
"Ehhh, engkau... ehhh… Susiok...!”
Pemuda berpakaian putih itu bukan lain adalah Tan Sin Hong. Baru kemarin ia bertemu dengan para
pendekar, ketika para pendekar yang jumlahnya kurang lebih lima belas orang itu dikepung dan dikeroyok,
bahkan terancam oleh orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai yang bersekutu dengan para
pemberontak. Sin Hong lantas turun tangan membantu mereka sehingga mereka berhasil mengusir musuh
dari dalam hutan. Dan semua pendekar mengagumi Tan Sin Hong yang mereka sebut Tan Taihiap
(Pendekar Besar Tan).
Para pendekar itu adalah mereka yang berdatangan karena merasa penasaran ketika mendengar bahwa
Tiat-liong-pang melakukan pemberontakan dan bersekutu dengan kaum sesat. Pada waktu itu masih
banyak lagi para pendekar yang berpencaran di sekitar daerah yang dijadikan sarang Tiat-liong-pang,
bersiap untuk menggempur kaum sesat yang berkumpul di atas apa bila saatnya tiba.
Mendengar betapa gadis itu menyebut susiok (paman guru) kepada Sin Hong, tentu saja para pendekar itu
terkejut dan melongo. Sin Hong lalu menoleh kepada mereka. “Aihh, sobat-sobat sungguh kurang cermat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Nona ini adalah nona Kao Hong Li, seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya, bagaimana kalian
sangka ia seorang mata-mata pemberontak?"
Kao Hong Li mengerling ke arah si kumis tebal dan kawan-kawannya sambil tersenyum. "Habis, kalian
tidak memberi kesempatan kepadaku, datang-datang kalian menuduh aku mata-mata musuh sih, jadi aku
menjadi marah dan ingin menguji kalian!"
Si kumis tebal dan teman-temannya menjadi malu, dan dengan muka merah mereka memberi hormat,
dipimpin oleh si kumis tebal yang berkata. "Maaf, maaf, karena tidak mengenal Lihiap (Pendekar Wanita)
maka kami berlaku kurang hormat. Maklumlah, baru kemarin kami diserang oleh gerombolan pemberontak,
maka tadi kami menyangka Lihiap seorang di antara mereka. Maaf!"
"Sudahlah," berkata Hong Li. "Aku yang minta maaf. Susiok, bagaimara engkau bisa berada di sini?"
Sin Hong memandang kepada lima orang itu dan berkata. "Harap kalian suka memberi kesempatan
kepada kami untuk bicara berdua."
Lima orang itu mengangguk maklum. Mereka pun berloncatan masuk ke dalam hutan dan menghilang di
balik batang-batang pohon. Sin Hong lalu menghampiri Hong Li.
"Bagaimana, Nona, apakah selama ini engkau baik-baik saja? Aku harap kedua orang tuamu juga berada
dalam keadaan selamat dan sehat," katanya dengan sikap sopan.
Kao Hong Li cemberut. "Susiok, bagaimana sih engkau ini? Bukankah engkau ini murid kongkong, jadi
engkau adalah sute dari ayahku dan karena itu, engkau ini susiok-ku dan aku masih terhitung
keponakanmu sendiri, murid keponakan! Mengapa engkau masih menyebut aku nona-nona segala?
Lupakah engkau bahwa namaku Hong Li? Kao Hong Li?"
Menghadapi berondongan serangan ini, Sin Hong jadi tersipu. Bagaimana pun juga, ia seorang pemuda
yang tidak biasa berhadapan dengan wanita, apa lagi yang galak dan lincah seperti Hong Li ini. Dalam hal
kelincahan, kejenakaan dan kegalakan, gadis ini rupanya menjadi saingan berat dari Suma Lian!
"Habis, aku harus menyebut apa kalau bukan nona?"
"Memangnya seorang susiok hendak dijadikan bujang maka menyebut nona kepadaku? Sebut saja
namaku!"
"Mana aku berani?"
"Kalau tidak berani, sudahlah. Kita tidak usah bicara. Aku tidak sudi kau sebut nona!" Gadis itu
membalikkan tubuhnya dan cemberut.
Melihat ini, Sin Hong cepat meloncat ke depan gadis itu. "Baiklah, Hong Li. Sebenarnya, aku sendiri pun
merasa tidak enak kalau kau sebut susiok. Usia kita sebaya, dan paling banyak aku lebih tua satu dua
tahun darimu, akan tetapi kau sebut paman guru!"
"Itu kan keharusan! Kalau aku tidak menyebut susiok padamu, tentu ayah akan marah. Sudahlah. Susiok,
engkau belum menjawab. Bagaimana engkau bisa berada di sini?"
"Aku pun heran menjumpaimu di sini, Hong Li. Bukankah engkau berada di rumah orang tuamu ketika aku
pergi dari sana?"
"Kau dulu bercerita, baru aku akan menceritakan pengalamanku," kata Hong Li sambil duduk di atas akar
pohon yang menonjol keluar dari dalam tanah.
Sin Hong lalu mengambil tempat duduk di atas batu besar. Keduanya berhadapan dan saling pandang.
Sin Hong lalu menceritakan pengalamannya secara singkat, dan pertemuannya yang terakhir dengan
Suma Lian. Betapa dia dan gadis itu sudah pernah memasuki sarang Tiat-liong-pang dan berhasil
menolong Kwee Ci Hwa, akan tetapi gadis itu tewas oleh luka-lukanya. Dia pun menceritakan tentang
kemunculan Gu Hong Beng yang kemudian dibantu oleh Suma Lian untuk menyampaikan tugas dari
dunia-kangouw.blogspot.com
pimpinan pemberontakan yang terpaksa harus dilakukannya demi menyelamatkan dua orang kawannya
yang menjadi sandera.
"Aku sendiri ingin menyelundup ke dalam sarang gerombolan itu. Aku hendak mencoba menyelamatkan
dua orang sandera itu. Di tengah hutan ini, kemarin, aku melihat para pendekar diserbu para anggota
gerombolan yang dibantu oleh banyak tokoh sesat yang pandai. Kami berhasil mengusir mereka dan aku
lalu bergabung dengan para pendekar untuk menghadapi para tokoh sesat yang membantu
pemberontakan. Nah, demikianlah pengalamanku sampai aku melihat engkau sedang mempermainkan
beberapa orang teman pendekar itu."
Hong Li menarik napas panjang. "Ah, kiranya semua telah berada di sini! Gu Hong Beng masih suheng-ku
sendiri karena gurunya, paman Suma Ciang Bun adalah adik ibuku. Suma Lian adalah adik misanku
sendiri. Akan ramai nanti di sini kalau begitu dan aku gembira sekali mendengar mereka semua turun
tangan hendak menentang kaum sesat yang bersekutu dengan pemberontak. Aku sendiri, setelah engkau
pergi, Susiok, masih merasa penasaran. Aku lalu pergi dari rumah dengan maksud mencari para penyerbu
Istana Gurun Pasir seperti yang Paman ceritakan itu, terutama Sin-kiam Mo-li. Jejaknya menuju ke sarang
Tiat-liong-pang ini, maka aku sampai pula di tempat ini."
“Memang benar dia merupakan seorang di antara tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang."
Sin Hong lalu menceritakan keadaan Tiat-liong-pang yang sangat kuat, terutama sekali karena ternyata
gerombolan pemberontak itu telah bersekutu dengan panglima pasukan pemerintah yang bertugas jaga di
benteng utara tidak jauh dari situ.
"Ahhh, kalau begitu kebetulan sekali. Aku dapat membantu para pendekar menentang kaum sesat yang
membantu pemberontakan, juga sekalian dapat menuntut balas atas kematian kakek dan nenekku dari
Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya!" kata Hong Li penuh semangat sambil mengepal tinju.
Sin Hong menarik napas panjang. "Hong Li, jangan engkau mengira bahwa aku tidak berduka karena
kematian ketiga orang guruku, akan tetapi justru dari merekalah aku menerima pelajaran, bukan hanya
ilmu silat, akan tetapi gemblengan batin sehingga aku berhasil melenyapkan dendam dari hatiku. Kalau
sekarang aku menentang Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, bukan karena aku mendendam kepada
mereka, melainkan karena mereka adalah orang-orang jahat yang sudah selayaknya ditentang agar tidak
banyak jatuh korban keganasan mereka. Dan juga aku harus dapat merampas kembali Cui-beng-kiam dan
Ban-tok-kiam, dua buah pedang pusaka milik Istana Gurun Pasir yang dirampas mereka, karena selama
pedang-pedang itu berada di tangan mereka, maka kejahatan mereka akan meningkat dan dua buah
pusaka itu tentu hanya akan dipergunakan untuk kejahatan."
Hong Li mengangguk. "Tadinya aku memang merasa penasaran sekali, Susiok. Kedua orang kakek dan
nenekku, juga kakek Wan Tek Hoat tewas di Gurun Pasir, akan tetapi Susiok sebagai murid tunggal dan
terakhir mereka, tetap hidup dan agaknya tidak hendak membalas dendam. Akan tetapi sekarang aku
mengerti, dan aku setuju dengan pendirianmu. Memang aku pun sudah sering kali mendengar dari ayah
dan ibu betapa buruknya membiarkan dendam meracuni batin kita sendiri. Akan tetapi bagi aku, kalau
mengingat betapa jahatnya mereka dan betapa kakek dan nenek yang sudah tua itu mereka serbu dan
mereka bunuh, betapa sukarnya untuk tidak menjadi sakit hati dan membebaskan hati dari dendam."
Sin Hong mengangguk pula. "Aku tidak menyalahkanmu, Hong Li. Memang kelemahan seperti itu adalah
manusiawi, akan tetapi jika kita sudah tahu bahwa hal itu merupakan suatu kelemahan dan kekeliruan,
maka sudah selayaknya kalau kita menghilangkannya, bukan? Aku sendiri kehilangan orang tuaku yang
menjadi korban kejahatan orang lain, dan ternyata pembunuh ayahku juga berada di sini karena
pembunuhan itu dilakukan sebagai akibat dari usaha pemberontakan Tiat-liong-pang pula."
Sin Hong kemudian menceritakan tentang keterangan terakhir Kwee Ci Hwa yang telah dapat membongkar
rahasia pembunuhan Tan-piauwsu. Dua orang muda itu terus saja bercakap-cakap dengan asyik sekali,
seperti dua orang sahabat lama yang baru saja saling bertemu setelah lama berpisah. Barulah mereka
terkejut ketika ada dua orang gagah berlari-larian dari dalam hutan dengan wajah agak pucat dan napas
mereka yang memburu.
"Celaka, Tan Taihiap! Kami diserbu dari arah selatan. Musuh kami lihai bukan main sehingga ada
beberapa orang saudara kita yang sudah roboh! Cepat, harap bantu kami, Tan Taihiap dan Lihiap, kalau
tidak, kami semua akan celaka!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Tanpa menanti keterangan lainnya lagi, tubuh Sin Hong berkelebat diikuti oleh Hong Li. Keduanya berlari
cepat sekali memasuki hutan dan Hong Li hanya mengikuti Sin Hong karena dia masih belum mengenal
jalan sama sekali. Sin Hong berlari cepat menuju ke perkampungan darurat yang dibuat oleh para
pendekar di dalam hutan itu.
Banyak para pendekar dari berbagai kalangan yang berdatangan ke arah daerah utara, tempat
pemberontakan Tiat-liong-pang terjadi. Mereka tertarik bukan untuk mencampuri pemberontakan itu,
karena bagaimana pun juga, tak ada pendekar yang dalam hatinya membela pemerintah penjajah. Mereka
berdatangan untuk menentang kaum sesat yang kabarnya memimpin pemberontakan, karena mereka
semua maklum bahwa jika kaum sesat yang memberontak dan berhasil berkuasa, maka rakyat akan lebih
celaka lagi, lebih sengsara dari pada kalau kekuasaan dipegang penjajah Mancu.
Bukan hanya di hutan itu saja terdapat para pendekar yang membuka perkampungan darurat. Di situ
hanya berkumpul belasan orang pendekar. Di tempat-tempat lain bahkan terdapat lebih banyak
persembunyian para pendekar yang juga saling menggabung dan siap menghadapi para tokoh sesat.
Ketika Sin Hong dan Hong Li yang jauh mendahului kedua orang pendekar itu tiba di perkampungan di
dalam hutan, mereka melihat bahwa belasan orang pendekar sedang dikepung dan dikeroyok oleh dua
puluh lebih orang yang dilihat dari pakaian mereka adalah orang-orang Mongol yang tinggi besar, dan
mereka di pimpin oleh seorang tosu dan seorang nenek bongkok. Kedua orang inilah yang amat lihai.
Tosu itu bertubuh pendek berkepala botak, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dia memainkan
sehelai sabuk kain yang ujungnya dipasangi pisau. Ada pun nenek itu bertubuh bongkok kurus, kulitnya
hitam dengan muka buruk berkeriputan. Usianya juga enam puluh tahun lebih, tangannya memegang
sebuah tongkat hitam butut. Nenek ini tak kalah lihainya dibandingkan tosu itu, dan sepak terjangnya ganas
sekali, membuat para pendekar kocar-kacir dan terdesak hebat.
Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal siapa mereka, akan tetapi maklum bahwa kedua orang itu memang
lihai sekali, dan agaknya, melihat bahwa mereka memimpin orang-orang Mongol yang ganas dan kasar
menyerang para pendekar, mudah diduga bahwa mereka tentulah kaki tangan pemberontak. Memang
dugaan mereka sungguh tepat karena mereka adalah orang-orang yang menjadi pembantu Tiat-liongpang,
sedangkan pasukan kecil Mongol itu adalah sebagian dari lima ratus lebih orang pasukan Mongol
yang dipimpin oleh Agakai dan sudah berkumpul di sarang Tiat-liong-pang.
Kakek itu bernama Hok Yang Cu, seorang tokoh Pat-kwa-pai yang banyak melakukan kejahatan, satu di
antara para tokoh Pat-kwa-pai yang membantu pemberontakan itu. Ada pun nenek itu adalah Hek-sim Kuibo,
seorang datuk sesat yang lihai pula. Dua orang ini memang bersahabat dan pernah kita jumpai mereka
ketika mereka melakukan serangan terhadap keluarga Beng-san Siang-eng di puncak Telaga Warna
Pegunungan Beng-san.
Untunglah pada waktu itu muncul Suma Lian yang lalu membantu keluarga pendekar itu mengusir dua
orang kakek dan nenek ini. Pada waktu itu mereka berdua menyerang keluarga Beng-san Siang-eng bukan
saja untuk mengganggu keturunan keluarga Pulau Es itu, juga karena Hek-sim Kui-bo hendak menculik
Gak Ciang Hun, putera Beng-san Siang-eng yang baru berusia sepuluh tahun.
Melihat kelihaian kakek dan nenek ini, tanpa berunding Sin Hong dan Kao Hong Li telah maklum apa yang
harus mereka lakukan. Mereka melihat sudah ada empat orang pendekar roboh, maka Sin Hong lalu
meloncat ke tengah medan pertempuran, langsung saja dia menghadapi tosu yang amat lihai itu.
Pada saat itu, Hok Yang Cu sedang menggunakan sabuknya untuk mendesak seorang pendekar yang
bersenjata pedang. Sabuk itu berhasil melibat pedang sehingga tidak dapat digerakkan lagi, mereka saling
betot dan saat itu dipergunakan oleh Hok Yang Cu untuk menggunakan tangan kirinya menghantam.
Hantaman ini amat dahsyat karena dia mengerahkan tenaga sinkang-nya sehingga kepala lawannya
terancam.
"Dukkk!"
Tangan terbuka yang dihantamkan ke arah kepala lawan itu bertemu dengan tangan lain dari samping
yang menangkisnya, dan akibatnya, tubuh Hok Yang Cu terhuyung dan sabuknya terpaksa melepaskan
pedang. Pendekar itu pun terhuyung ke belakang, girang bukan main melihat munculnya Sin Hong yang
menyelamatkannya dari ancaman bahaya maut tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebaliknya, Hok Yang Cu terkejut sekali, cepat memandang dan ternyata orang yang menangkisnya dan
membuat ia terhuyung tadi hanyalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih,
berpakaian putih sederhana! Dia merasa penasaran bukan main dan cepat dia memutar sabuknya.
Terdengar suara mendesir saat ujung sabuk yang ada pisaunya itu terbang menyambar ke arah kepala Sin
Hong. Akan tetapi dengan mudahnya, Sin Hong mengelak dan dia mencium bau amis keluar dari pisau di
ujung sabuk. Maka tahulah dia bahwa pisau itu beracun!
Seorang tosu yang keji, pikirnya. Ia pun membalas dengan desakan pukulan jarak jauh, dengan kedua
telapak tangan terbuka yang membuat kakek itu gelagapan sehingga terus menerus mundur karena hawa
pukulan yang keluar dari sepasang telapak tangan pemuda itu bukan main kuatnya!
Sementara itu, Kao Hong Li juga sudah terjun ke dalam kalangan pertempuran dan langsung saja gadis itu
menerjang nenek buruk rupa dan yang lihai sekali permainan tongkatnya itu. Nenek Hek-sim Kui-bo kaget
bukan main ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan ada hawa pukulan yang sangat dahsyat serta
mengandung tenaga sakti yang panas menyambar ke arahnya dari kiri. Dia cepat membalikkan tubuh ke
kiri dan tangan kirinya sengaja menangkis, karena nenek ini memang biasa memandang ringan semua
lawannya.
"Desss...!"
Lengan kiri nenek itu yang hanya tulang terbungkus kulit bertemu dengan lengan kanan Hong Li yang
padat lembut dan berkulit halus. Akibatnya, nenek itu mengeluarkan pekik melengking karena tubuhnya
terdorong ke belakang dan lengannya terasa nyeri. Hong Li juga terhuyung, maka tahulah gadis ini bahwa
lawannya sungguh tak bisa dipandang ringan.
Ketika Hek-sim Kui-bo (Nenek Iblis Berhati Hitam) melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang
gadis muda yang cantik, dia marah dan penasaran sekali. Tongkatnya segera diputar dan nampaklah sinar
hitam yang mengerikan, datang bergulung-gulung dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar hitam itu
menyambar ujung tongkat, menotok ke arah dada Hong Li, merupakan serangan maut!
Namun, Hong Li sudah siap siaga karena dia pun dapat menduga akan kelihaian lawan. Begitu melihat ada
sinar hitam mencuat dan menotok ke arah dadanya, dengan sikap tenang akan tetapi cepat sekali,
tubuhnya miring mengelak. Kakinya membuat gerakan melangkah maju dari samping, tangan kiri menjaga
kemungkinan serangan selanjutnya, sedangkan tangan kanannya dengan jari tangan terbuka membalas
dengan tamparan ke arah kepala nenek itu, mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang yang dipelajarinya
dari ibunya.
Hwi-yang Sinkang adalah tenaga sakti milik keluarga Pulau Es. Baru hawa pukulannya saja sudah
mengandung panas yang luar biasa. Nenek itu merasa adanya hawa panas ini, maka ia pun cepat
meloncat ke belakang sambil memutar tongkat bututnya untuk melindungi dirinya. Diam-diam dia kaget dan
dapat menduga bahwa lawannya tentulah seorang murid atau keturunan keluarga Pulau Es.
Selain kaget dan penasaran, ia pun girang karena keluarga Pulau Es dianggap musuh besarnya, maka
kalau ia dapat merobohkan gadis ini, berarti ia melenyapkan seorang di antara musuh-musuh yang
dibencinya. Maka dia pun mengeluarkan suara melengking lagi dan tongkatnya menyambar-nyambar
ganas, namun dengan sikap tenang, Hong Li dapat mengatasi desakan tongkat itu dengan kecepatan
gerakan badannya dan dapat pula membalas dengan tak kalah dahsyatnya sehingga membuat nenek itu
tak mampu mengembangkan permainan tongkatnya.
Para pendekar juga berkelahi dengan serunya melawan pasukan Mongol. Orang-orang Mongol itu
bertenaga besar dan berkelahi dengan nekat, juga jumlah mereka lebih banyak sehingga para pendekar
yang tiga belas orang itu harus melawan mati-matian.
Sin Hong mulai mendesak lawannya. Ketika pisau di ujung sabuk Hok Yang Cu untuk ke sekian kalinya
menyambar, Sin Hong meloncat ke atas, tinggi dan dari atas, bagaikan seekor burung bangau, tubuhnya
meluncur turun.
Kembali sabuk itu berkelebat menyambar. Tangan kiri Sin Hong, seperti paruh seekor burung bangau,
meluncur ke bawah dan menangkap sabuk di belakang pisau. Demikian cepatnya gerakan jari tangannya,
seperti gerakan leher burung bangau mematuk leher ular. Sabuk itu tidak dapat dipergunakan lagi, dan
tangan kanan Sin Hong menampar ke bawah, ke arah tengkuk lawan. Karena sabuk itu tidak dapat
dunia-kangouw.blogspot.com
ditariknya, dan tamparan orang muda itu amat dahsyatnya mengarah tengkuk, Hok Yang Cu terkejut dan
cepat dia menangkis dengan lengannya.
"Dukkk!"
Pertemuan antara kedua lengan itu sedemikian hebatnya dan akibatnya, Hok Yang Cu terpelanting ke
tanah. Sabuk yang dipegangnya itu pun putus, dengan bagian yang ada pisaunya tertinggal di tangan Sin
Hong! Dia terbanting keras dan cepat menggulingkan tubuhnya menjauhi lawan.
Pada saat itu, Kao Hong Li juga berhasil menendang paha Hek-sim Kui-bo sehingga nenek ini terjengkang.
Namun, dengan bantuan tongkatnya, nenek itu dapat meloncat bangun lagi dan agak terpincang sebab
pahanya terasa nyeri walau pun tulangnya tidak patah serta daging dan kulitnya tidak terluka parah.
Pada saat itu juga, muncullah dua orang tosu. Yang seorang adalah Thian Kong Cinjin, kakek tua renta
yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bertubuh tinggi kurus, dengan sebuah tongkat setinggi
badan berada di tangan kanannya. Thian Kong Cinjin adalah wakil ketua Pat-kwa-pai, mempunyai ilmu
kepandaian tinggi.
Orang ke dua juga seorang kakek yang usianya sebaya dengan Thian Kong Cinjin, yaitu mendekati
delapan puluh tahun. Dia adalah Thian Kek Sengjin, seorang tokoh besar dari Pek-lian-pai, kakek kurus
kering dengan muka merah darah. Dia pun membawa sebatang tongkat naga hitam, dan kakek yang
pandai sihir ini memiliki sepasang mata mencorong seperti mata kucing!
Dengan sudut matanya Sin Hong melihat munculnya dua orang kakek ini. Tentu saja dia mengenal mereka
dengan baik karena kedua orang kakek itu adalah dua di antara tiga orang yang berhasil keluar dengan
selamat dari penyerbuan di Istana Gurun Pasir, yaitu bersama Sin-kiam Mo-li, sedangkan belasan orang
lainnya telah tewas ketika mereka itu mengeroyok tiga orang gurunya. Karena itu, Sin Hong maklum bahwa
di pihak musuh datang dua orang lawan tangguh, maka dia pun cepat meloncat, meninggalkan Hok Yang
Cu dan langsung menerjang dan orang kakek yang baru datang itu tanpa banyak cakap lagi!
Melihat seorang pemuda tahu-tahu berada di depan mereka dan menyerang dengan totokan jari tangan
yang amat dansyat ke arah leher mereka secara bertubi-tubi, kedua orang kakek itu mengeluarkan seruan
dan cepat berloncatan ke belakang. Mereka telah lupa kepada Sin Hong dan biar pun tadi mereka melihat
betapa berbahayanya serangan pemuda itu, mereka masih memandang rendah kepada Sin Hong.
Thian Kek Sengjin yang melihat betapa Hek-sim Kui-bo sedang didesak oleh seorang gadis yang sangat
cantik, segera meloncat ke sana dan menghadapi Hong Li. Begitu Thian Kek Sengjin memutar tongkat
naga hitam menyerang, Hong Li cepat berloncatan ke belakang untuk mengelak. Akan tetapi tongkat itu
mendesak terus, dan terdengar suara ketawa kakek itu.
"Heh-heh-heh, nona cantik, lebih baik engkau menyerah dan menjadi muridku, tanggung engkau akan
mengalami kesenangan, heh-heh-heh!"
Hong Li mendengus marah, lalu menerjang maju dengan nekat. Karena ia tahu bahwa kakek itu sangat
lihai, maka ia pun memainkan Sin-liong Ciang-hoat yang dahsyat dari Gurun Pasir.
Begitu gadis itu mendesak, kakek itu terbelalak heran karena dia mengenal ilmu silat yang aneh dengan
tubuh kadang-kadang direndahkan dan jurus seperti mau bertiarap ini adalah ciri khas ilmu silat dari Istana
Gurun Pasir. Nyaris dia celaka ketika tiba-tiba tubuh gadis itu meluncur dari bawah dengan tangan kiri
menangkis tongkat dan tangan kanannya menusuk ke arah ulu hatinya.
Untung bahwa ia masih sempat melempar tubuh ke belakang, kemudian berjungkir balik dibantu
tongkatnya, dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kalau tidak, tentu gadis itu akan terus
mendesak dan melukainya dengan serangan-serangan dahsyat itu. Kini dia tidak berani main-main lagi,
dengan sekuat tenaga dia memainkan tongkatnya sehingga gadis itu pun tidak dapat mendesaknya lagi.
Sebaliknya, perlahan-lahan Thian Kek Sengjin mulai membuat Hong Li terpaksa harus main mundur,
karena tongkat hitam yang berbentuk naga itu sungguh berbahaya.
Di lain pihak, Sin Hong yang tadi mulai mendesak Hok Yang Cu, kini mendapatkan lawan tangguh, yaitu
Thian Kong Cinjin. Wakil ketua Pat-kwa-pai ini memang lihai, lebih lihai dari pada Thian Kek Sengjin, dan
jauh lebih lihai dari Hok Yang Cu. Dan sekarang, kakek lihai dengan tongkatnya yang ampuh ini masih
dibantu oleh Hok Yang Cu!
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun, Sin Hong tidak gentar. Dengan ilmu silatnya yang hebat, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau
Putih), dan dengan landasan tenaga saktinya yang amat kuat, dia mampu menandingi pengeroyokan
kedua orang ini, bahkan membalas setiap serangan mereka dengan tamparan-tamparan atau tendangan,
juga totokan-totokan yang tidak kalah dahsyatnya, sehingga membuat kedua orang pengeroyoknya sama
sekali tidak mampu mendesaknya.
Akan tetapi, dengan munculnya dua orang kakek itu, keadaan pertempuran berubah. Kini nenek Hek-sim
Kui-bo berani meninggalkan Hong Li untuk dilayani oleh Thian Kek Sengjin sendiri, dan ia pun membantu
para anggota pasukan Mongol untuk mengeroyok para pendekar yang sudah kewalahan. Kini, pihak para
pendekarlah yang terdesak dan kembali ada dua orang yang roboh.
Pada saat yang amat berbahaya bagi para pendekar itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Hong Li,
jangan takut, aku membantumu!"
Terdengar bunyi melengking nyaring seperti suling ditiup ketika sinar kuning emas itu menyambar dan
langsung menyambut tongkat naga hitam di tangan Thian Kek Sengjin yang sedang mendesak Hong Li.
"Takkkkk!"
Thian Kek Sengjin mengeluarkan seruan kaget karena dua tangannya yang memegang tongkat tergetar
hebat ketika bertemu dengan suling emas di tangan wanita cantik dan gagah itu. Kam Bi Eng dan Suma
Ceng Liong segera turun tangan membantu Hong Li dan Sin Hong. Tentu saja Hong Li girang bukan main
melihat betapa bibinya datang membantunya. Dia dan bibinya lantas mendesak Thian Kek Sengjin yang
menjadi sibuk setengah mati.
"Pergilah kau bantu mereka menghadapi orang-orang Mongol," kata Kam Bi Eng.
Hong Li menjawab gembira, "Baiklah, Bibi. Hajar kakek siluman ini, Bibi!"
Hong Li lalu meloncat pergi meninggalkan Thian Kek Sengjin. Langsung dia menerjang Hek-sim Kui-bo lagi
yang sedang mengamuk di antara para pendekar dengan tongkat hitamnya.
Sementara itu, melihat betapa Sin Hong dikeroyok oleh dua orang tosu yang berilmu tinggi, diam-diam
Suma Ceng Liong menjadi kagum sekali. Pemuda berpakaian putih itu sungguh lihai bukan main! Walau
pun dikeroyok oleh dua orang kakek yang demikian hebat permainan tongkatnya, namun pemuda yang
bertangan kosong itu sama sekali tidak terdesak.
Gaya permainannya pun amat menarik, dengan gerak dan sikap seperti seekor burung bangau namun
tidak seperti ilmu silat bangau pada umumnya. Gerakan itu aneh dan kadang-kadang lucu serta sukar
sekali, akan tetapi jelas bahwa pada setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat sehingga pemuda itu
berani menangkis tongkat-tongkat lawan dengan lengan tangannya!
"Paman Ceng Liong, dialah susiok Tan Sin Hong, harap suka bantu dia!" tiba-tiba Hong Li berteriak
kepadanya.
Ceng Liong semakin kagum. Kiranya inilah pemuda yang bemama Tan Sin Hong itu, murid dari istana
Gurun Pasir! Pantas demikian lihainya. Akan tetapi bukankah pemuda bernama Tan Sin Hong itu yang
datang bersama puterinya dan menyerahkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun?
Menurut penuturan Suma Ciang Bun, puterinya dan pemuda itu melakukan penyelidikan ke sarang
pemberontak, tetapi kenapa sekarang pemuda itu berada di sini dan ke mana perginya Suma Lian? Karena
sekarang tidak mungkin menanyakan semua itu, Ceng Liong segera terjun ke dalam pertempuran dan
langsung saja dia menyerang kakek Thian Kong Cinjin yang dia lihat lebih lihai dari pada yang ke dua, yaitu
Hok Yang Cu.
Begitu menerjang maju, dia sudah memainkan ilmu silat Coan-kut-ci, yaitu ilmu totokan penembus tulang
yang dahulu dipelajarinya dari Hek I Mo-ong. Tusukan jari tangannya mengeluarkan suara mencicit dan
terkejutlah Thian Kong Cinjin karena ketika dia coba menangkis, tongkatnya tertusuk jari telunjuk pendekar
itu dan langsung berlubang! Sin Hong girang mendapatkan bantuan ini, dan dia pun lalu mendesak Hok
Yang Cu yang kembali menjadi sibuk bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang keadaannya kembali membalik dengan cepatnya. Pihak pemberontak menjadi terdesak, dan
para tokoh sesat yang kini memperoleh tanding menjadi bingung. Thian Kong Cinjin menemukan tanding
yang amat kuat, yaitu Suma Ceng Liong. Thian Kek Sengjin juga sibuk menghadapi gulungan sinar emas
dari suling di tangan Kam Bi Eng. Hek-sim Kui-bo terdesak hebat oleh Hong Li, sedangkan Hok Yang Cu
hampir tak dapat menahan serangan Sin Hong. Dan pasukan Mongol itu pun repot menghadapi amukan
para pendekar sehingga sudah banyak di antara mereka yang roboh dan terluka.
Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan ini, mendadak terdengar Thian Kek Sengjin
mengeluarkan seruan keras, "Lariiiii...!"
Dia pun melontarkan sebuah benda hitam yang mengeluarkan ledakan keras sehingga nampaklah asap
hitam bergumpal-gumpal, menggelapkan tempat yang menjadi medan perkelahian itu. Sebagai seorang
tokoh besar Pek-lian-pai, tentu saja kakek ini memiliki bahan peledak yang suka digunakan orang-orang
Pek-lian-pai dalam pertempuran, juga merupakan alat untuk mengelabui rakyat.
Suma Ceng Liong sudah mengenal senjata-senjata gelap orang-orang Pek-lian-pai. Ada bahan peledak
yang mengandung asap beracun, maka dia pun cepat berseru supaya semua orang mundur menjauhi
asap. Maka, semua orang segera berloncatan mundur.
Setelah asap hitam itu menipis, ternyata tokoh-tokoh sesat itu sudah lenyap, agaknya sudah melarikan diri.
Juga orang-orang Mongol yang masih belum terluka, sudah lari. Kini hanya tinggal orang-orang Mongol
yang terluka, yang nampak dengan susah-payah menyeret tubuh mereka untuk pergi dari tempat itu.
"Biarkan mereka pergi!" berkata Sin Hong ketika melihat ada di antara pendekar yang hendak mengejar.
"Lawan yang sudah terluka jangan didesak!"
Kembali Ceng Liong kagum sekali melihat sikap Sin Hong ini. Mereka lalu berkumpul dan Hong Li
memperkenalkan Sin Hong kepada paman dan bibinya.
"Susiok, ini adalah paman Suma Ceng Liong beserta bibi Kam Bi Eng. Paman dan Bibi, pemuda ini adalah
susiok Tan Sin Hong, murid terakhir dari mendiang kakek dan nenek di Gurun Pasir."
Sin Hong cepat-cepat memberi hormat kepada suami isteri sakti itu. "Sudah lama saya mendengar nama
besar Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), maka hari ini saya merasa bangga dapat bertemu dengan
Ji-wi, bahkan mendapat bantuan Ji-wi."
Hati Ceng Liong semakin suka kepada pemuda ini. "Orang muda, harap jangan terlalu merendahkan diri.
Kami pun sudah mendengar namamu dan ternyata engkau memang pantas menjadi murid orang-orang
sakti penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, kami juga mendengar dari toako Suma Ciang Bun bahwa
puteri kami, Suma Lian, melakukan perjalanan bersamamu. Di mana ia sekarang? Mengapa kami tidak
melihat ia di sini?"
Sin Hong lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Suma Lian masuk ke dalam sarang Tiat-liongpang
dan menolong Ci Hwa yang akhirnya tewas pula. Kemudian dia bercerita tentang perjumpaan mereka
dengan Gu Hong Beng yang terpaksa menjadi utusan Siangkoan Lohan untuk menghubungi Panglima Coa
yang bersekutu dengan para pemberontak karena ada dua orang kawan yang dijadikan sandera.
"Karena saya ingin mencoba menyelamatkan dua orang sandera itu, maka saya minta kepada Lian-moi
untuk membantu saudara Gu Hong Beng, sedangkan saya sendiri lalu berusaha menyelundup ke Tiatliong-
pang, akan tetapi bertemu dengan para pendekar di sini, dan tadi bertemu pula dengan nona Kao
Hong Li."
Mendengar bahwa puteri mereka membantu Gu Hong Beng, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa
lega dan girang. Selagi mereka bercakap-cakap, seorang pendekar yang baru saja datang berlari
menghampiri Sin Hong. Melihat di situ terdapat banyak orang-orang baru yang tidak dikenalnya, pendekar
ini pun menjadi ragu-ragu.
"Yang berada di sini adalah kawan sendiri," kata Tan Sin Hong, maklum akan keraguan orang itu, "Kedua
Locianpwe ini adalah Locianpwe Suma Ceng Liong dan isterinya."
Mendengar disebutnya nama keluarga Suma, pendekar itu memberi hormat, lalu dia menyampaikan berita
yang amat penting.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dalam pengamatanku, malam tadi aku melihat ada ribuan orang pasukan pemerintah meninggalkan
benteng menuju ke Tiat-liong-pang dan kini mereka agaknya mengepung Tiat-liong-pang dari empat
penjuru!"
Mendengar hal ini, semua orang terkejut dan Sin Hong menarik napas panjang. "Wah, jangan-jangan
saudara Gu Hong Beng terpaksa menyampaikan surat rahasia itu dan kini pasukan yang berkhianat mulai
bergabung dengan pemberontak. Tentu tidak lama lagi mereka akan melakukan gerakan."
"Sebaiknya kita menyelundup ke dalam, kita bebaskan mereka yang tertawan dan kita kacaukan sarang
mereka. Kita serbu para tokoh sesat itu. Jika memang benar pasukan pemerintah itu adalah yang
berkhianat dan akan bergabung dengan para pemberontak, belum terlambat bagi kita untuk
menyelamatkan diri. Sebaiknya yang menyelundup ke dalam hanya yang memiliki ilmu kepandaian cukup
saja," kata Suma Ceng Liong yang merasa khawatir kalau-kalau puterinya yang menemani Gu Hong Beng
itu berada di dalam sarang Tiat-liong-pang pula dan terancam bahaya.
Sin Hong menyetujui saran ini. Jika mereka tidak beramai-ramai dengan bekerja sama menyelundup ke
dalam, akan sukarlah Gu Hong Beng dan teman-temannya itu dapat diselamatkan. Dan jika sudah berhasil
menyelamatkan mereka yang tertawan, barulah mereka kelak akan membantu pasukan pemerintah yang
akan membasmi gerombolan pemberontak.
Lalu dipilih di antara para pendekar yang berkumpul di situ dan hanya ada empat orang yang dianggap
cukup kuat untuk melakukan penyusupan. Tentu saja selain mereka juga Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng,
Kao Hong Li, dan Tan Sin Hong. Empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini ikut pula
menyelundup…..
********************
Gu Hong Beng diterima oleh para penjaga pintu gerbang Tiat-liong-pang. Dia muncul seorang diri di waktu
pagi sekali itu, dan para penjaga yang sudah mengenalnya lalu membiarkan dia masuk. Gu Hong Beng
segera diterima oleh Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan, serta beberapa orang tokoh sesat yang
menjadi kaki tangan mereka yang diandalkan. Dan di antara mereka, tentu saja nampak Siangkoan Liong.
Dengan matanya yang cerdik serta tajam, Hong Beng melihat bahwa tidak ada sinar kecurigaan dalam
pandang mata mereka itu, maka hatinya menjadi lega. Untung bahwa dia dan Suma Lian telah berhasil
membunuh belasan musuh yang menghadangnya itu, karena kalau ada seorang saja yang lolos, tentu dia
tidak akan berani kembali ke sarang ini dan tentu akan celaka nasib Li Sian dan Kun Tek.
"Gu-taihiap, engkau sudah kembali?" Siangkoan Lohan menyambut dengan sikap yang ramah. "Dan
berhasilkah tugasmu?"
Hong Beng mengangguk dan tersenyum. "Berhasil dengan baik, Pangcu."
"Apakah ada balasan surat dari Coa Tai-ciangkun?" tanya Ouwyang Sianseng.
Hong Beng maklum bahwa mereka ini masih bersikap pura-pura, karena mata-mata mereka tentu sudah
menyelidiki dan mereka pun pasti sudah tahu bahwa dia datang bersama pasukan pemerintah! Dia
bersikap seperti yang sudah direncanakan bersama Liu-ciangkun, kakek Kam Hong dan isterinya.
"Coa Tai-ciangkun mengirim salam. Karena beliau masih harus menyelesaikan urusan di dalam benteng,
maka beliau mengirim Pouw-ciangkun dengan pasukan besar untuk bergabung dengan pasukan Pangcu,
siap untuk melakukan gerakan menurut petunjuk Pangcu."
"Pouw-ciangkun? Yang mana...?" Siangkoan Lohan bertanya sambil memandang heran karena sepanjang
pengetahuannya, di antara anak buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang ikut dalam persekutuan
itu, tidak terdapat seorang Pouw-ciangkun.
"Bukankah Pouw-ciangkun termasuk seorang di antara para perwira yang setia kepada kerajaan?" Tibatiba
Siangkoan Liong berkata. Pemuda ini juga hafal akan para perwira di benteng, mana yang berpihak
kepada pemberontak dan mana yang setia kepada kerajaan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Gu Hong Beng terkejut mendengar ini, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan
sesuatu. Dengan tenang dia berkata, "Menurut keterangan yang aku peroleh dari Coa Tai-ciangkun, Pouwciangkun
adalah seorang bawahannya yang sangat baik dan dapat dipercaya. Mungkin saja sudah terjadi
perubahan dan akhir-akhir ini Pouw-ciangkun telah menjadi orang kepercayaannya."
"Suruh Pouw-ciangkun masuk!" tiba-tiba Ouwyang Sianseng berseru kepada pengawal.
Beberapa orang pengawal memberi hormat, kemudian lari keluar. Hong Beng menanti dengan jantung
berdebar. Inilah saatnya yang amat kritis dan dia sudah memperhatikan hal ini dengan teman-temannya
ketika mereka berunding di dalam benteng.
Tidak disangkanya bahwa Ouwyang Sianseng demikian cerdiknya, jauh lebih cerdik dari pada para
pemimpin pemberontak yang lain. Dan dia pun tahu bahwa Pendekar Suling Emas, kakek Kam Hong dan
isterinya, tentu sudah bersiap siaga pula karena mereka berdua yang bertugas menjadi pengawal Pouwciangkun.
Demikian pula Suma Lian. Mereka bertiga sekarang tentu sudah menyelundup masuk ke dalam
sarang itu karena kesempatan untuk itu besar sekali dengan adanya pasukan pemerintah yang sangat
banyak berada di sekitar sarang pemberontak.
Tidak lama kemudian dua orang penjaga yang tadi disuruh memanggil Pouw-ciangkun, telah kembali
bersama Pouw-ciangkun yang diiringkan oleh dua belas orang pengawal. Para pengawal ini adalah
pendekar-pendekar yang menyamar.
Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan para pembantunya bersiap untuk menyambut sekutu yang sangat
diandalkan ini. Akan tetapi tiba-tiba Ouwyang Sianseng meloncat ke depan dan menudingkan telunjuknya
pada Pouw-ciangkun sambil membentak nyaring, "Tangkap dia!"
Tentu saja kejadian ini amat mengejutkan Hong Beng, juga Pouw-ciangkun sendiri. Tak disangkanya sama
sekali bahwa Ouwyang Sianseng akan dapat mengetahui sandiwara mereka!
Padahal, sesungguhnya Ouwyang Sianseng juga belum yakin bahwa Hong Beng telah membohonginya,
tak tahu bahwa telah terjadi perubahan besar di dalam benteng. Kalau mendadak dia menyuruh tangkap
Pouw-ciangkun, hal ini adalah karena kecerdikannya yang luar biasa. Perintah ini sebetulnya hanya
gertakan dan pancingan saja. Di dalam hatinya, dia merasa heran mengapa yang disuruh memimpin
pasukan kerajaan oleh Coa Tai-ciangkun adalah Pouw-ciangkun. Maka ia pun menggertak untuk melihat
reaksi dari pihak Pouw-ciangkun. Gertakan atau pancingannya ini memang berhasil baik.
Pouw-ciangkun yang telah menerima perintah Liu Tai-ciangkun, telah memperhitungkan kemungkinan kecil
bahwa mereka akan dicurigai dan ditangkap, maka begitu Ouwyang Sianseng memerintahkan
penangkapan, Pouw-ciangkun langsung loncat ke belakang, berlindung di balik dua belas orang
pengawalnya yang semua telah mencabut pedang.
Juga Hong Beng yang mengira bahwa perintah Ouwyang Sianseng tadi merupakan bukti bahwa
rahasianya sudah diketahui pihak lawan, cepat meloncat ke dalam untuk menyelamatkan Li Sian dan Kun
Tek. Akan tetapi Thian Kek Sianjin, tokoh besar dari Pek-lian-kauw yang kebetulan berada di tempat paling
dekat dengan Hong Beng, sudah memalangkan tongkat naga hitamya lalu menyambut pemuda itu dengan
hantaman tongkat!
Melihat reaksi ini, Ouwyang Sianseng terbelalak dan mukanya berubah. Tahulah dia bahwa benar seperti
yang dikhawatirkannya, telah terjadi pengkhianatan!
"Bunuh mereka semua! Semua pasukan siap untuk melawan musuh di luar...!"
Akan tetapi, Pouw-ciangkun, tepat seperti yang sudah diatur sebelumnya, sudah berlari keluar dan
memberi isyarat kepada para perwira di luar untuk memulai penyerbuan! Dua belas orang pendekar yang
menyamar sebagai pengawal melindunginya dan langsung menyerang kaki tangan pemberontak yang
hendak mengejar Pouw-ciangkun. Namun tentu saja mereka ini bukanlah lawan orang-orang seperti
Siangkoan Liong, Siangkoan Lohan dan para pembantunya. Dalam waktu sebentar saja, dua belas orang
pengawal itu roboh seorang demi seorang!
"Bunuh pengkhianat ini, aku akan membunuh dua orang kawannya!" teriak Ouwyang Sianseng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dibarengi suara terompet dan tambur, tanda
bahwa pasukan pemerintah mulai menyerbu dari luar, dari empat penjuru! Dan sebelum Ouwyang
Sianseng sempat melompat ke dalam, dari dalam justru muncul beberapa orang yang langsung membuat
wajah Ouwyang Sianseng dan para pimpinan pemberontak berubah pucat!
Dari dalam, dengan sikap gagah dan tenang, nampak kakek Kam Hong, nenek Bu Ci Sian, Suma Ceng
Liong, Kam Bi Eng, Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Lian, dan dua orang muda yang tadinya menjadi
tawanan, yaitu Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian!
Kiranya, kedua rombongan pendekar itu sudah berhasil menyelundup ke dalam sarang pemberontak.
Pertama adalah rombongan yang terdiri dari Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Ceng Liong dan Kam Bi
Eng. Ada pun rombongan ke dua adalah rombongan kakek Kam Hong, Bu Ci Sian dan Suma Lian.
Mereka bertemu di dalam sarang pemberotak, dan tentu saja pertemuan itu sangat menggembirakan hati
mereka walau pun dilakukan secara bersembunyi. Tan Sin Hong lalu berhasil membebaskan Kun Tek dan
Li Sian. Kedua orang muda yang tadinya menjadi tawanan itu lalu bergabung dengan mereka dan begitu
mendengar ribut-ribut di luar, tanda bahwa pasukan mulai bergerak, mereka pun ramai-ramai menerjang
keluar dan berhadapan dengan seluruh pimpinan pemberontak dan para pembantu mereka!
Melihat betapa Hong Beng sudah berkelahi melawan Thian Kek Sengjin yang amat lihai dengan tongkat
naga hitamnya, Suma Lian segera meloncat dan membantunya. Suling emas kecil di tangannya langsung
berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyambar-nyambar ke arah Thian Kek Sengjin.
Kakek Pek-lian-pai ini menjadi terkejut dan juga repot sekali karena Hong Beng yang amat girang melihat
betapa ‘tunangannya’ membantunya, juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak
lawan.
Kakek Kam Hong berhadapan dengan Ouwyang Sianseng.
"Saudara Ouwyang Sianseng, petualanganmu agaknya hanya akan beraknir sampai di sini saja. Sarang
pemberontak ini sudah terkepung oleh pasukan besar!"
Wajah Ouwyang Sianseng pucat, akan tetapi sikapnya masih tenang, bahkan dia masih bisa tersenyum
sambil memandang kakek sastrawan sederhana di depannya itu dengan pandang mata penuh kagum.
Tentu Pendekar Suling Emas ini yang sudah membuat semua rencananya gagal, pikirnya.
"Sungguh membuat orang amat penasaran," katanya lirih, akan tetapi karena suaranya mengandung
khikang yang sangat kuat, maka dapat terdengar jelas oleh semua orang. "Seorang pendekar besar seperti
Pendekar Suling Emas yang konon kabarnya pembela rakyat, penegak kebenaran dan keadilan, kiranya
tidak lain hanyalah seorang budak penjajah Mancu yang tidak segan-segan mengkhianati bangsa sendiri!"
Ejekan yang amat menghina ini diterima oleh kakek Kam Hong dengan senyum. Tangan kiri kakek ini
bergerak, cepat sekali dan hanya lengan kirinya yang bergerak karena seluruh tubuhnya tetap diam, dan
nampaklah bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu, seperti orang bermain sulap saja, tangan kiri kakek
itu telah memegang sebuah kipas, mengebutkan kipas yang terpentang itu perlahan-lahan mengipasi
lehernya seolah-olah dia merasa kegerahan.
Ouwyang Sianseng melihat kipas yang terpentang lebar ini dan dapat membaca tulisan indah dan gagah
pada permukaan kipas yang digerakkan perlahan-lahan.
Hanya yang kosong
dapat menerima tanpa meluap
Hanya yang lembut
mampu menerobos antara yang kasar
Yang merasa cukup
adalah yang sesungguhnya kaya raya!
Tulisan itu sebenarnya adalah motto dari Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong). Guru
kakek Kam Hong, salah satu di antaranya, adalah Sai-cu Kai-ong, keturunan dari pendiri Khong-sim Kaipang,
maka sajak ini disukai oleh Kam Hong dan dijadikan hiasan kipasnya yang merupakan senjatanya
yang ampuh pula, di samping senjata suling emas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Agaknya, dengan membeberkan kipas dan memperlihatkan sajak itu, kakek Kam Hong sudah menjawab
ucapan Ouwyang Sianseng tadi. Ia menyindirnya sebagai orang yang sombong dan kasar yang tak pernah
mengenal puas hingga mengadakan persekutuan pemberontakan.
Akan tetapi, benarlah ujar-ujar kuno yang mengatakan bahwa mengenal kelemahan dan keburukan diri
sendiri merupakan perbuatan yang teramat sukar. Bahkan orang sesakti Ouwyang Sianseng rupanya
masih sukar untuk dapat melakukan pemawasan diri ini. Dia, seperti kebanyakan dari kita, selalu
menganggap diri sendiri paling baik, paling pintar, paling benar dan tanpa cacat.
"Tak perlu mengejek, orang she Kam!" katanya dan sinar matanya mengeluarkan kilatan marah. "Aku
memang memimpin perjuangan melawan penjajah ini, lalu apa salahnya?"
Kini terpaksa Kam Hong berkata, "Ouwyang Sianseng, lupakah engkau ketika engkau memimpin pasukan
Birma melawan pasukan dari tanah air sendiri walau pun pasukan itu adalah pasukan Mancu? Lupakah
betapa engkau melarikan diri dengan membawa banyak harta benda, kembali ke tanah air dan kini
mengadakan pemberontakan? Siapa percaya akan kemurnian gerakan pemberontakan ini jika engkau
malah mengumpulkan tokoh-tokoh sesat untuk membantumu? Bolehlah engkau mengelabui orang lain,
akan tetapi kami para pendekar sudah dapat melihat kebusukan yang tersembunyi di balik pemberontakan
ini!"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil