Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Agustus 2017

Kisah Si Bangau Putih 2 Kho Ping Hoo

Kisah Si Bangau Putih 2 Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kisah Si Bangau Putih 2 Kho Ping Hoo 
kumpulan cerita silat cersil online
-
Akan tetapi, terdapat keraguan pula di dalam hati ketua Cin-sa-pang ini. Pemuda yang berpakaian serba
putih itu kelihatan demikian lemah lembut, dan sejak tadi pun belum mengeluarkan tanda bahwa dia pandai
ilmu silat. Hanya sikapnya saja yang demikian tenang, bahkan menghadapi Sin-kiam Mo-li yang sudah
dikenalnya, nampak demikian tenang dan berani pula mencela.
“Awass...!” Tiba-tiba Ciok Kim Bouw berteriak memperingatkan Sin Hong karena ketika pemuda itu sedang
menoleh kepadanya, pada saat itu dia melihat Sin-kiam Mo-li telah menggerakkan pedangnya menusuk ke
arah lambung pemuda berpakaian putih itu!
Akan tetapi, biar pun dia sedang menoleh ke arah Ciok Kim Bouw, tentu saja Sin Hong sudah tahu akan
serangan gelap itu. Pada waktu itu, tingkat ilmu kepandaiannya telah mencapai titik yang tinggi sekali
berkat penggabungan tenaga sinkang yang diterimanya dari tiga orang gurunya dan berkat gemblengan
ilmu-ilmu yang sudah mendarah daging di tubuhnya.
Dia tahu akan tusukan yang datang menuju lambungnya dan tanpa menoleh, ketika tusukan tiba, tubuhnya
sudah bergeser dan mengelak tanpa banyak kesulitan sehingga tusukan pedang Sin-kiam Mo-li mengenai
tempat kosong!
Sin-kiam Mo-li yang merasa penasaran dan bangkit kebenciannya kepada pemuda yang membuatnya
tergila-gila namun yang berani menolak cintanya itu, sudah melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi
dengan kebutan dan pedangnya. Demikian cepat dan bersambungan datangnya serangan-serangan ini.
Akan tetapi semua itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Sin Hong, hanya dengan
menggerakkan kedua tangannya ke depan seperti menolak. Setiap kali telapak tangannya mendorong, ada
kekuatan dahsyat yang meniup pergi bulu-bulu kebutan, bahkan telapak tangan itu berani menampar
pedang itu sehingga tertangkis.
Ciok Kim Bouw yang tadinya sudah siap untuk membantu dengan goloknya yang akan dimainkan dengan
tangan kiri, tidak jadi bergerak dan kini dia berdiri melongo. Jika tadi ada seorang pemuda yang halus dan
lembut gerak-geriknya menghadapinya dengan tangan kosong dan dia dikalahkan, kini ada lagi seorang
pemuda lain yang juga dengan tangan kosong bahkan berani melawan kebutan dan pedang di tangan Sinkiam
Mo-li! Jika tidak melihat sendiri, tentu dia tidak akan percaya bahwa ada orang, apa lagi masih begitu
muda, berani menghadapi Sin-kiam Mo-li hanya dengan kedua tangan kosong saja.
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek juga merasa heran dan amat kagum melihat betapa pemuda berpakaian
serba putih itu berani melawan Sin-kiam Mo-li dengan tangan kosong. Akan tetapi dia percaya sepenuhnya
bahwa kekasihnya tentu akan menang dan dalam waktu singkat merobohkan pemuda itu. Dia pun tidak
akan membunuh Ciok Kim Bouw, khawatir kalau kekasihnya merasa tersinggung dan marah. Biarlah Sinkiam
Mo-li yang melaksanakannya sendiri.
Tetapi, betapa kagetnya Kiam-ong ketika tiba-tiba Sin-kiam Mo-li mengeluarkan jeritan tertahan dan
sebagian dari bulu kebutan itu rontok berhamburan ketika bertemu dengan jari-jari tangan Sin Hong yang
mencengkeram! Melihat Sin-kiam Mo-li terhuyung ke belakang, tentu saja Giam San Ek cepat melompat
maju dan lantas menyerang dengan pedangnya.
“Tranggg...!”
Pedang itu ditangkis oleh golok Ciok Kim Bouw. Si muka hitam ini menjadi gembira sekali dan timbul
semangatnya melihat betapa pemuda berpakaian putih itu benar-benar mampu menahan Sin-kiam Mo-li,
bahkan dalam belasan jurus saja sudah merontokkan bulu kebutannya. Maka, melihat majunya Toat-beng
Kiam-ong, dia pun maju membantu Sin Hong.
“Mundurlah!” Sin Hong membentak sambil mendorongkan kedua tangan bergantian ke arah Giam San Ek.
Si Raja Pedang ini loncat meninggalkan Ciok Kim Bouw untuk menghadapi Sin Hong, namun dia bertemu
dengan tenaga dorongan amat kuat, yang merupakan tenaga tidak nampak, seperti angin yang
dunia-kangouw.blogspot.com
menahannya dan membuatnya terhuyung. Tentu saja dia terkejut bukan main dan pada saat itu Sin-kiam
Mo-li berseru keras.
“Kiam-ong, mari kita pergi!” Wanita itu pun sudah meloncat dan melarikan diri!
Melihat ini, tentu saja Kiam-ong terkejut dan tanpa bertanya lagi dia pun membalik dan mengambil langkah
seribu menyusul temannya. Melihat ini, Ciok Kim Bouw menjadi semakin kagum kepada Sin Hong. Dia
cepat menghadapi pemuda itu dan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk
memberl hormat.
“Pendekar muda gagah perkasa sudah menyelamatkan nyawaku yang tidak berharga. Aku adalah Ciok
Kim Bouw, ketua dari Cin-sa-pang. Tidak tahu siapakah nama Taihiap (Pendekar Besar) yang mulia?”
Sambil memandang wajah laki-laki tinggi besar itu. Sin Hong berkata, “Maaf, Pangcu. Pertemuan antara
kita hanya kebetulan saja dan saya tidak ingin dikenal, yang paling penting adalah supaya Paman
mengetahui bahwa Paman telah menderita luka pukulan beracun yang amat berbahaya.”
“Ahhh...!” Ciok Kim Bouw berseru kaget, lalu menyingkap lengan bajunya yang kanan, memperlihatkan
tanda merah kehitaman sebesar jari di bawah sikunya. “Memang luka ini mendatangkan rasa gatal dan
nyeri sekali...“
“Hemmm, itulah tanda bekas totokan jari beracun yang sangat keji, Pangcu,” kata Sin Hong. “Biar saya
mencoba untuk mengobatinya.”
“Terima kasih, Taihiap, dan silakan,” berkata ketua Cin-sa-pang itu sambil menyodorkan lengan kanannya.
Sin Hong memegang lengan itu, kemudian menggunakan jari tangannya menotok jalan darah di atas siku,
lalu mengurut luka itu. Terasa nyeri bukan main oleh Ciok Kim Bouw, namun ketua ini menahan rasa nyeri.
Sin Hong kemudian mencengkeram bagian yang berwarna merah kehitaman, menggunakan hawa sakti di
tubuhnya melalui tapak tangan untuk ‘membakar’ hawa beracun itu. Rasa nyeri dan panas membuat wajah
ketua itu berpeluh, akan tetapi rasa panas itu semakin lama makin berkurang dan rasa nyeri pun lenyap.
Setelah Sin Hong melepaskan tangannya, warna merah itu sudah lenyap dan rasa nyerinya pun lenyap.
“Sudah baik kembali, Pangcu, dan saya harus melanjutkan perjalanan saya,” berkata demikian, Sin Hong
lalu meloncat dengan cepat.
Ciok Kim Bouw hendak memanggil, namun diurungkan niatnya karena pemuda itu telah berkelebat cepat
dan sudah jauh sekali. Dia hanya berdiri mengikuti bayangan itu yang makin mengecil akhirnya lenyap,
berulang kali menarik napas panjang, kemudian dia pun melarikan diri dari tempat berbahaya itu.
Sehari bertemu dengan dua orang muda yang demikian lihainya cukup bagi ketua ini membuka matanya
bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh dari pada cukup untuk dipakai malang melintang di dunia kangouw.
Dia merasa rendah diri dan semenjak itu, dia lebih sering tinggal di pusat perkumpulan Cin-sa-pang
untuk giat melatih diri, serta memperdalam ilmu silatnya…..
********************
Sementara itu, di ruangan paling dalam yang terletak di belakang gedung perkumpulan Tiat-liong-pang,
Siangkoan Lohan menjamu beberapa orang tamunya. Para tamu lain telah pulang dan sekarang hanya
mereka yang menjadi sekutunya sajalah yang duduk semeja dengannya. Mereka adalah Sin-kiam Mo-li,
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Agakai kepala suku Mongol, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-pai
dan Thian Kek Sengjin tokoh besar Pek-lian-pai.
Masih ada beberapa orang lagi, di antaranya terdapat tiga orang berpakaian perwira yang agaknya baru
datang karena mereka ini tidak nampak dalam pesta perayaan ulang tahun siang tadi. Ada pula terdapat
seorang laki-laki, yang tentu akan membuat Sin Hong terheran heran kalau dia melihatnya. Laki-laki ini
bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan bermata tajam sekali.
Kini mereka tengah bercakap-cakap dengan sikap yang serius, dipimpin oleh Siangkoan Lohan. Pada
ketika itu, Siangkoan Lohan sedang menyatakan penyesalannya kepada Sin-kiam Mo-li.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sungguh sayang sekali engkau tidak dapat menemukan ketua Cin-sa-pang itu, Mo-li. Padahal semua
orang yang lain telah dapat dibasmi. Akan tetapi sudahlah, kukira dia tidak akan banyak bercerita. Aku
mengundang kalian hadir dalam pesta ulang tahun sebagai sesama kaum persilatan, tidak ada bukti apaapa
tentang gerakan kita.”
Sin-kiam Mo-li memang hanya menceritakan bahwa ia dan Toat-beng Kiam-ong tidak berhasil mengejar
Ciok Kim Bouw. Ia merasa malu kalau harus menceritakan bahwa ia dan Raja Pedang itu lari ketakutan
karena bertemu dengan seorang pemuda dari Istana Gurun Pasir.
Hanya kepada Toat-beng Kiam-ong dia terpaksa menceritakan siapa adanya pemuda berpakaian putih
yang amat lihai itu. Pada saat mereka melarikan diri meninggalkan Sin Hong, Raja Pedang itu bertanya
siapa adanya pemuda yang memiliki kepandaian hebat itu. Terpaksa Sin-kiam Mo-li kemudian
menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda itu saat ia dan kawan-kawannya melakukan
penyerbuan ke Istana Gurun Pasir sehingga akhirnya berhasil membunuh tiga orang tua sakti di istana itu,
dan kemudian membakar istana kuno itu. Akan tetapi ketika itu, si pemuda masih merupakan pemuda
lemah. Ia pun tidak tahu bagaimana pemuda itu muncul sebagai seorang yang demikian lihainya.
“Lain kali harap Siangkoan Pangcu lebih berhati-hati,” salah seorang di antara ketiga orang berpakaian
perwira tinggi itu berkata. “Jangan sampai menimbulkan kecurigaan, terutama sekali kepada pemerintah
sehingga kita akan terbentur dan mengalami banyak rintangan. Nah, sekarang harap Pangcu ceritakan
dengan jelas segala hasil usaha yang telah dilakukan dan rencana selanjutnya.” Perwira ini nampaknya
berwibawa dengan kumisnya yang tebal dan sikapnya yang agaknya sudah biasa memerintah dan ditaati.
“Harap Song-ciangkun jangan khawatir. Kami sengaja sudah mengundang tokoh-tokoh kang-ouw yang
kenamaan dan memiliki kepandaian untuk bisa menarik mereka sebagai pembantu dan buktinya, sebagian
besar dari mereka boleh diharapkan akan membantu kita. Ada pun mereka yang berani menentang telah
kami singkirkan. Lolosnya seorang di antara mereka, yaitu ketua Cin-sa-pang itu tidak ada artinya. Hasil
besar usaha kami terutama sekali pembasmian Istana Gurun Pasir dan penghuninya, walau pun untuk
hasil itu kami kehilangan banyak sekali kawan dan untuk itu, biarlah diceritakan sendiri oleh ia yang telah
berjasa, Sin-kiam Mo-li. Mo-li, ceritakanlah pengalamanmu di Gurun Pasir dua tahun yang lalu itu.”
Sin-kiam Mo-li tadi sudah diperkenalkan kepada tiga perwira itu dan ia maklum bahwa Song-ciangkun itu
adalah utusan panglima perang Kerajaan Ceng yang berkuasa di perbatasan utara dan yang telah
bersekutu dengan Siangkoan Lohan. Dua orang perwira lain adalah pembantu-pembantunya.
Memang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Siangkoan Lohan untuk memberontak itu sudah
direncanakan sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Penyerbuannya ke gurun pasir merupakan satu
di antara usaha persekutuan itu untuk memperlicin jalan.
Istana Gurun Pasir dan para penghuninya dianggap sebagai suatu bahaya besar, sebab mereka semua
maklum belaka bahwa keluarga Istana Gurun Pasir, seperti juga halnya keluarga Pulau Es, selalu
menentang pemberontakan walau pun mereka bukan orang-orang yang menghambakan diri kepada
pemerintah Mancu. Oleh karena itu, juga akibat terdorong oleh perasaan benci karena permusuhan
semenjak dulu, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai melakukan
penyerbuan ke Istana Gurun Pasir.
“Penyerbuan kami yang berhasil baik namun mengorbankan banyak kawan itu terjadi kurang lebih dua
tahun yang lalu. Kami kehilangan empat belas orang kawan, akan tetapi berhasil membunuh tiga orang
penghuni istana yang amat lihai, juga kami telah membakar habis istana itu.”
Sin-kiam Mo-li kemudian menceritakan peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu itu, didengarkan dengan
penuh perhatian oleh ketiga orang perwira tinggi itu, dan mereka mengangguk-angguk kagum dan juga
senang. Lenyapnya Istana Gurun Pasir dan para penghuninya bagi mereka merupakan lenyapnya satu di
antara bahaya yang mungkin akan menyusahkan mereka dan menghalangi rencana mereka.
Setelah Sin-kiam Mo-li selesai bercerita, Song-ciangkun lalu berkata kepada Siangkoan Lohan. “Bagus
sekali dan jasa itu cukup besar, akan kami catat. Sekarang, bagaimana dengan usaha menghimpun
kekuatan dari luar tembok? Sampai di mana hasilnya?”
“Hal itu ditangani sendiri oleh saudara Agakai yang juga hadir di sini dan yang akan dapat menceritakan
dengan jelas,” jawab Siangkoan Lohan sambil memandang kepada kepala suku Mongol itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepala suku Mongol yang mengaku putera mendiang Tailucin dan keturunan Jenghis Khan itu, yang
usianya sudah lima puluh tiga tahun, mengangkat dadanya yang bidang dan dengan sikap yang agung
karena yakin akan kemampuan dirinya, dia kemudian menceritakan hasil usahanya yang telah dicapai. Dia
menceritakan bahwa dia sudah mendapat banyak kemajuan dalam membangkitkan kembali kekuasaan
dan kebesaran Mongol, untuk membangun kembali Kerajaan Mongol yang pernah menguasai seluruh
daratan Cina dan negeri-negeri di sekitarnya.
“Jangan khawatir,” dia menutup ceritanya. “Biar pun suku terbesar belum dapat saya bujuk, tetapi
kelompok-kelompok suku yang kecil-kecil, terutama mereka yang terdesak dan keadaan hidupnya
kekurangan, telah menyatakan persetujuan mereka dan apa bila saatnya tiba, kami dapat mengerahkan
tidak kurang dari seratus ribu orang.”
Song-ciangkun dan dua orang kawannya kelihatan gembira sekali mendengar laporan Agakai itu. Bagus,
pikir Song-ciangkun yang sudah tahu akan siasat yang dipergunakan oleh atasannya, yaitu Panglima Coa
yang berkuasa sebagai komandan pasukan yang bertugas jaga di perbatasan utara.
Panglima Coa memang berniat untuk melaksanakan pemberontakan setelah berhasil dibujuk dan dihasut
oleh Siangkoan Lohan. Dan dia berpendapat bahwa tanpa bantuan dari pasukan lain yang besar dan kuat,
akan sukarlah diharapkan untuk dapat berhasil menggempur pasukan pemerintah. Tetapi, kalau suku
bangsa Mongol mau membantu, mengingat akan kemampuan tempur mereka, tentu akan lain jadinya.
Pula, pasukan yang dipimpin Panglima Coa dapat terus minta tambahan pasukan untuk memperkuat
posisinya, dengan dalih bahwa bangsa-bangsa liar dari luar tembok terus mengadakan gangguan serta
pemberontakan. Dan pihak pasukan pemberontak yang dipimpin Panglima Coa akan membiarkan Agakai
bermimpi bahwa gerakan itu adalah demi kepentingan pembangkitan kembali kekuatan serta kekuasaan
Mongol! Dengan demikian, kedua pihak diam-diam hanya akan saling mempergunakan demi keuntungan
sendiri!
Dan Siangkoan Lohan tahu akan hal ini. Maka diam-diam dia pun ingin mempergunakan kesempatan itu
untuk keuntungan diri sendiri atau lebih tepat, keuntungan dan masa depan puteranya! Kalau gerakan itu
berhasil, kalau saja mereka berhasil menggulingkan pemerintah Mancu, Panglima Coa sudah setuju untuk
mengangkat Siankoang Liong menjadi kaisar kerajaan baru yang mereka bangun, dan Coa-ciangkun tentu
saja akan menjadi orang ke dua setelah kaisar!
“Dan bagaimana dengan pusat kedudukan di perbatasan untuk penyebaran mata-mata dan utusan
melewati Tembok Besar seperti yang Pangcu pernah ceritakan kepada Coa Tai-ciangkun?” Tanya pula
Song-ciangkun.
Siangkoan Lohan tersenyum gembira. “Itu sudah beres, Ciangkun! Rencana yang kita jalankan delapan
tahun yang lalu kini telah matang. Piauwkiok di Ban-goan itu telah kita kuasai sepenuhnya sehingga
dengan menyamar sebagai para piauwsu, maka utusan-utusan dan mata-mata kita bisa dengan mudah
hilir mudik menyeberangi Tembok Besar tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali. Dan untuk
pengurusan dalam keperluan itu, telah kami serahkan kepada murid-murid kami sendiri yang boleh
dipercaya.”
Persekutuan ini lalu berunding sambil makan minum, dan agaknya tiga orang perwira utusan Coa-ciangkun
itu merasa gembira sekali dengan hasil pertemuan malam itu. Apa lagi ketika pertemuan itu selesai.
Mereka diantarkan ke dalam kamar masing-masing, sebuah kamar yang indah mewah dan bersih. Dan
yang lebih hebat lagi, masing-masing disambut senyum manis dan gaya memikat dari seorang wanita
muda yang siap sedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hati para tamu agung itu.
Siangkoan Lohan memang pandai mengambil hati orang. Untuk itu dia tak segan-segan memerintahkan
selir-selirnya untuk menghibur tamu agung!
Ambisi merupakan ladang subur pertumbuhan si aku. Kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita
miliki, tidak pernah merasa senang dengan keadaan kita sendiri. Kita selalu memandang keadaan orangorang
lain, kemudian membanding-bandingkan.
Keadaan orang yang lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, lebih pintar, lebih terhormat dan sebagainya
membuat kita selalu merasa diri sendiri rendah, kurang dan serba tidak memuaskan! Dari sinilah timbul
ambisi! Ingin yang lebih dari pada keadaan sekarang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan mulailah kita melakukan pengejaran terhadap bayangan indah berupa cita-cita atau ambisi itu.
Bagaikan bayangan, yang kita kejar itu tidak pernah berhenti, makin didapat, semakin kurang dan semakin
haus. Sekali tidak mampu menikmati keadaan sekarang, sampai kapan pun tak akan pernah mampu
menikmati keadaan diri sendiri karena mata selalu memandang keadaan orang lain yang serba lebih, dan
mata selalu memandang untuk mengejar yang di depan.
Cita-cita atau ambisi ini makin dikejar makin membesar dan semakin menjauh sehingga tidak akan
habisnya kita mengejar, sampai mati! Kita dibius oleh kata-kata yang indah seperti cita-cita, kemajuan, dan
sebagainya lagi.
Lalu apakah kita kemudian menjadi layu, melempem, tak bergairah dan tak melangkah, statis dan acuh,
mati kutu? Bukanlah demikian bagi orang yang bijaksana dan waspada akan keadaan diri pribadi setiap
saat.
Kewaspadaan ini akan menuntun ke arah perbuatan dan langkah yang benar. Hati yang tak dibebani
keinginan-keinginan, iri hati, membanding-bandingkan. Hati yang demikian itu bersih dan mampu
menampung datangnya sinar bahagia, dapat menikmati keadaan yang bagaimana pun juga. Batin yang
kosong dari segala macam nafsu sajalah yang mengenal apa artinya cinta kasih dan hidup penuh sinar
cinta kasih adalah bahagia.
Ambisi atau pengejaran keinginan selalu mengakibatkan perbuatan yang menyeleweng! Segala cara
dilakukan orang untuk mencapai tujuan. Tujuan menghalalkan segala cara karena tujuanlah yang
terpenting bagi orang yang ambisius. Namun sebaliknya, caralah yang paling penting bagi orang yang
waspada, karena cara inilah kehidupan sehari-hari, langkah-langkah hidup, sedangkan tujuan hanyalah
bayangan, khayalan yang sedang dikejar-kejar.
Pengejaran akan sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kebahagiaan membuat kita buta. Dalam
mengejar itu kita tidak peduli lagi apakah kita melangkahi orang atau menendang orang yang kita anggap
menghalangi di depan. Pengejaran kesenangan ini sesungguhnya yang menciptakan segala macam
tindakan kemaksiatan!
Hal ini jelas nampak di sekeliling kita kalau saja kita mau membuka mata. Pengejaran kesenangan melalui
uang menimbulkan perampokan, pencopetan, pencurian, penipuan, korupsi, penyuapan, penyelundupan
dan sebagainya lagi. Banyak cara yang dihalalkan untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh uang secara
mudah dan banyak, termasuk di antaranya perjudian. Pengejaran kesenangan sex menimbulkan
perkosaan, perjinahan dan pelacuran. Pengejaran kesenangan melalui kedudukan mengakibatkan
perebutan kekuasaan, pertentangan pemberontakan, dan perang!
Apakah kalau begitu kita tidak boleh menikmati kesenangan? Sebaliknya malah! Orang yang bebas akan
pengejaran kesenangan akan menikmati setiap keadaan, sedangkan pengejaran kesenangan
melenyapkan kenikmatan dari keadaan yang sudah ada! Tanpa keinginan memperoleh minuman lain,
segelas air putih akan terasa nikmat, sedangkan hati yang dipenuhi keinginan minum bir, diberi limun sekali
pun takkan dapat menikmati limun itu!
Ada yang berkata bahwa orang takkan menjadi kaya raya tanpa pengejaran! Benarkah ini? Boleh kita lihat
buktinya di sekeliling kita! Kita semua ini adalah pengejar-pengejar uang sejak kecil, siapa di antara kita
yang kaya raya? Semua masih merasa kurang dan tak seorang pun merasa dirinya kaya raya! Namun,
lihatlah dia yang makan demikian lahap dan nikmatnya walau pun hanya dengan sayur asam dan sambal,
lihatlah dia tidur demikian nyenyaknya walau di atas tikar, dia yang mampu tertawa lahir batin, dia yang
menikmati keadaannya. Dia itulah orang kaya raya!
Cita-cita atau ambisi yang dimiliki Siangkoan Lohan adalah melihat putera tunggalnya, Siangkoan Liong,
menjadi pengganti kaisar! Cita-cita yang tak kepalang besarnya, yang muncul dalam benaknya bukan
tanpa sebab. Sebab itu terjadi kurang lebih sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Ketika itu, Siangkoan
Liong baru berusia delapan tahun lebih.
Anak ini memang berbakat sekali dan suka akan ilmu silat sehingga Siangkoan Lohan dengan penuh
semangat menggembleng puteranya itu. Pada waktu itu, sedikit pun dia tak memiliki keinginan untuk
memberontak. Dia adalah seorang yang dianggap keluarga oleh istana, bahkan isterinya yang telah
meninggal, yaitu ibu kandung Siangkoan Liong, adalah seorang puteri dari istana yang dihadiahkan oleh
kaisar kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siangkoan Lohan yang bernama Siangkoan Tek itu selalu merasa berterima kasih dan setia kepada
Kerajaan Ceng. Di dalam hatinya, sedikit pun dia tidak pernah mempunyai hati untuk memberontak.
Pada suatu hari, selagi Siangkoan Lohan melatih ilmu silat kepada puteranya di kebun belakang yang
sunyi, tiba-tiba saja terdengar seruan halus memuji, “Ilmu silat bagus...!”
Siangkoan Lohan cepat-cepat menghentikan gerakannya saat memberi contoh kepada puteranya, dan
menengok. Kiranya yang mengeluarkan seruan pujian itu ialah seorang laki-laki berusia kurang lebih enam
puluh tahun yang berdiri tegak di atas pagar tembok kebun itu. Diam-diam Siangkoan Lohan terkejut. Ada
orang meloncat ke dalam pagar tembok demikian dekat dan dia sama sekali tidak tahu atau
mendengarnya!
Tetapi laki-laki itu agaknya tidak mempedulikan padanya karena sedang memandang ke arah Siangkoan
Liong dan kembali dia memuji.
“Anak yang memiliki bakat yang amat baik untuk menjadi kaisar sekali pun!”
Tentu saja ucapan ini membuat Siangkoan Lohan menjadi terkejut bukan main, apa lagi mendengar betapa
kata-kata yang keluar dari mulut orang itu logatnya asing walau pun halus dan teratur rapi. Dia memandang
penuh perhatian.
Seorang laki-laki yang tinggi kurus dan mengenakan pakaian bersih yang sangat rapi bagai pakaian
seorang pelajar, seorang siucai. Rambutnya tersisir rapi dan segala yang nampak pada dirinya, meski pun
tidak mewah namun bersih dan rapi. Siangkoan Lohan yang dapat menduga bahwa tentu orang ini bukan
orang biasa, cepat memberi hormat dari bawah tembok.
“Sahabat yang baik terlalu memuji ilmu silat kami yang tak ada artinya dan memuji pula puteraku yang
bodoh. Silakan turun dan menikmati secawan arak denganku.”
Orang itu tersenyum mengangguk, “Tidak salah pendengaranku. Ketua Tiat-liong-pang memang seorang
laki-laki gagah perkasa dan peramah, dapat menghargai orang lain. Sayang kurang semangat!” Setelah
berkata demikian, dia meloncat turun.
Cara dia meloncat turun ini yang mengejutkan hati Siangkoan Lohan karena tubuh itu sama sekali tidak
membuat gerakan keseimbangan, melainkan meluncur begitu saja seperti balok jatuh. Akan tetapi ketika
tiba di atas tanah, sama sekali tak mengeluarkan suara dan kedudukan kaki dan anggota tubuh lain masih
seperti tadi.
Juga ia teringat betapa para anggota Tiat-liong-pang selalu melakukan penjagaan ketat diluar pagar
tembok. Bagaimana orang ini bisa enak-enak begitu saja memasuki taman tanpa ada muridnya yang
mengetahuinya?
“Harap maafkan jika kami belum mengenal nama besar sahabat yang baru datang dan sebaliknya engkau
sudah mengenalku. Siapakah engkau, Sobat, dan dari mana engkau datang, ada keperluan apa pula
datang berkunjung secara ini?”
Sikap orang itu terlalu halus sehingga Siangkoan Lohan juga tidak mempunyai alasan untuk marah. Apa
lagi orang itu tadi memuji-muji puteranya, memuji ilmu silatnya, dan memuji dirinya sebagai ketua Tiatliong-
pang.
Kembali orang itu tersenyum, bahkan senyumnya saja senyum yang amat sopan!
“Semua orang menyebutku Ouwyang Sianseng (Tuan Ouwyang). Aku harus bercerita panjang lebar untuk
dapat memberi tahu dari mana aku datang, dan sebetulnya aku tak mempunyai keperluan khusus, hanya
kebetulan lewat dan karena mendengar kalian berlatih silat, aku lalu ingin menonton. Puteramu ini sungguh
hebat. Jika dididik dengan benar, kelak akan menjadi orang besar, bahkan patut menjadi kaisar!”
Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya. Orang ini agak keterlaluan bicaranya, pikirnya. Bagaimana
mungkin puteranya menjadi kaisar? Dan dia seorang yang setia terhadap kerajaan!
“Ouwyang Sianseng, harap jangan berlebihan memuji puteraku. Aku hanyalah seorang ketua perkumpulan,
bagaimana mungkin puteraku menjadi kaisar?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouwyang Sianseng tersenyum. “Semenjak kecil aku mempelajari kesusastraan dan ilmu perbintangan. Aku
melihat bahwa puteramu ini memang pantas untuk menjadi kaisar, Pangcu. Bukankah dia memiliki darah
bangsawan istana pula? Tidak percuma orang menjuluki aku Nam-san Sianjin (Manusia Dewa Gunung
Selatan) kalau aku tidak dapat melihat arti garis-garis pada wajah anak ini,” katanya tanpa bernada
menyombongkan diri, bahkan pandangan matanya terhadap Siangkoan Liong jelas membayangkan rasa
kagum, “Namun tentu saja ia harus dididik sebaiknya, dan pendidikanmu hanya menjadi pendidikan dasar
saja, Pangcu. Jika nanti aku yang melanjutkan pendidikannya, barulah kemungkinan dia menjadi kaisar
semakin besar.”
Mendengar ucapan terakhir ini, tentu saja Siangkoan Lohan mengerutkan alis. Hatinya merasa tidak
senang. Alangkah sombongnya orang ini, pikirnya, berani mengeluarkan ucapan yang sangat
meremehkannya, seolah-olah kepandaiannya masih amat rendah tingkatnya dibandingkan tingkat
kepandaian orang itu!
“Nanti dulu, Sobat!” katanya sambil tertawa, akan tetapi ketawanya agak masam karena biar pun orang ini
datang memuji puteranya dan bermaksud untuk mendidik puteranya agar menjadi kaisar, namun nada
suara orang ini amat memandang rendah. “Tidak ada orang lain boleh mendidik puteraku kecuali kalau
orang itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dariku. Kelak dia menjadi orang besar atau tidak,
hal itu terserah kepada nasibnya, akan tetapi untuk pendidikannya, ada aku di sini yang mendidiknya,
bukan orang lain. Tentu saja boleh dia berguru kepadamu kalau memang ada buktinya bahwa
kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada aku.”
Kembali kakek yang halus tutur sapanya itu tersenyum. “Siangkoan Pangcu, namamu sebagai ketua Tiatliong-
pang sudah terkenal di empat penjuru, dan semua orang tahu bahwa engkau memiliki ilmu silat yang
hebat, tendangan maut dan tenaga luar dalam yang sukar dicari tandingannya! Akan tetapi untuk dapat
mendidik murid seperti aku, engkau masih harus belajar lebih banyak. Tentu saja kepandaianku lebih tinggi
darimu, Pangcu. Aku hanya bicara seadanya saja, bukan bermaksud menyombongkan diri.”
Memang demikian, ketua Tiat-liong-pang itu pun kini melihat betapa orang di depannya itu tidak
menyombong, bicara dengan suara seakan-akan menerangkan sesuatu yang sudah pasti. Karena sikap
orang itu tidak sombong dan tidak mengandung iktikad buruk terhadapnya, maka dia tidak marah, hanya
merasa penasaran sekali.
Sementara itu, Siangkoan Liong yang semenjak tadi mendengarkan percakapan antara kedua orang tua
itu, kini dia pun merasa penasaran.
“Ayah, buktikan bahwa Ayah tidak kalah olehnya, agar dia cepat-cepat pergi dan tidak mengganggu kita
lagi.”
Orang yang mengaku bernama Ouwyang Sianseng atau berjuluk Nam-san Sianjin itu tersenyum gembira
memandang Siangkoan Liong.
“Bagus, anak ini sudah memiliki sifat terbuka dan gagah. Majulah, Pangcu, dan mari kita sama
membuktikan kebenaran omonganku tadi. Jika engkau tak mampu mengalahkan aku, kelak setelah engkau
selesai mengajarkan ilmu-ilmu dasar kepada puteramu, aku akan melanjutkan pendidikannya. Sebaliknya,
kalau engkau dapat mengalahkan aku, aku akan minta maaf dan langsung aku pergi dan tidak akan
mengganggu kalian lagi.”
Tantangan ini diucapkan dengan suara halus dan sama sekali tidak mengandung nada permusuhan, maka
Siangkoan Lohan lalu melangkah maju menghadapi kakek itu.
“Baik. Mari kita memulai perkenalan kita dengan saling menguji kepandaian, Ouwyang Sianseng. Dengan
cara bagaimanakah engkau hendak mengadu kepandaian?” Sebagai seorang ketua yang berwibawa dan
sadar akan kedudukannya, Siangkoan Lohan tentu saja bersikap mengalah dan mempersilakan calon
lawan untuk menentukan cara.
Akan tetapi, kakek berpakaian rapi dan bersikap sopan, itu menjura dengan hormat dan tersenyum.
“Senjata yang paling ampuh berada di dalam diri, bukan di luar diri. Hal ini tentu telah kau ketahui pula,
Pangcu. Aku sudah mendengar akan kelihaian pukulan dan tendanganmu, dan bahwa dengan kaki tangan
dan tenagamu saja, engkau lebih lihai dari pada puluhan orang bersenjata. Kebetulan aku sendiri pun
seorang yang paling tidak suka melihat orang mempergunakan senjata dalam perang, membunuhi sesama
dunia-kangouw.blogspot.com
manusia seperti orang membunuh binatang saja. Nah, bagaimana kalau kita main-main sebentar dengan
mengandalkan kaki tangan saja, senjata-senjata pemberian Tuhan sejak kita lahir?”
Hati Siangkoan Lohan tertarik sekali. Tentu saja dia akan merasa beruntung sekali jika ternyata benar
bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya darinya, untuk menjadi guru
puteranya. Bagaimana pun juga, dia meragukan akan hal ini.
Dia mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, dan agaknya hanyalah keturunan para pendekar
Pulau Es dan Gurun Pasir saja yang akan mampu menandinginya di antara para pendekar, dan hanya
datuk-datuk sesat yang sudah terkenal seperti dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai saja yang setingkat
dengan kepandaiannya. Akan tetapi orang ini sama sekali tidak terkenal biar pun mengaku berjuluk
Manusia Dewa Gunung Selatan (Nam-san Sianjin)!
“Baiklah Ouwyang Sianseng. Aku mengharapkan petunjuk darimu,” berkata Siangkoan Lohan sambil
menggerakkan dua lengannya, saling berputaran dengan jari-jari tangan membentuk cakar naga. Kedua
lengan itu menggetar dan terdengar suara berkerotok ketika tenaga yang amat kuat mengalir ke dalam
kedua tangan itu.
Melihat ini, Ouwyang Sianseng tersenyum mengangguk-angguk.
“Memang bukan nama kosong, hebat Ilmu Liong-jiauw-kang (Tenaga Cakar Naga) itu. Mulailah, Pangcu,
aku siap menyambut seranganmu!”
“Awas pukulan!” tiba-tiba ketua Tiat-liong-pang itu membentak sebagai isyarat bahwa dia mulai menyerang.
Angin menyambar dahsyat ketika lengan kirinya meluncur dari samping dan mengirim cakaran ke arah
telinga kanan lawan, sedangkan tangan kanan juga bergerak dalam detik berikutnya menyusul serangan
pertama itu dengan cengkeraman ke arah perut.
Dua tangan dengan jari-jari tangan yang membentuk cakar naga ini luar biasa kuatnya. Jangankan bagian
tubuh manusia, bahkan batu karang pun akan hancur bila terkena cengkeraman itu! Perlu diketahui bahwa
tingkat kepandaian Siangkoan Tek yang sudah terkenal dengan sebutan Siangkoan Pangcu (Ketua
Siangkoan) atau Siangkoan Lohan ini sudah amat tinggi.
Siangkoan Lohan memiliki tenaga yang dahsyat, yaitu tenaga Liong-jiauw-kang (Cakar Naga), sedangkan
ilmu silatnya yang dinamakan Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga Berekor Besi) amat tangguh pula. Di samping
itu, ketua Tiat-liong-pang ini masih memiliki ilmu andalan yang disebut Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa
Kati). Juga dia adalah seorang ahli ilmu gulat dari bangsa Mongol, maka, kedua tangan yang membentuk
cakar naga itu, selain dapat digunakan untuk memukul, menampar dan cengkeraman, juga dapat diubah
menjadi jari-jari tangan seorang jago gulat yang tangkapannya membahayakan lawan!
Menghadapi cengkeraman ke arah kepala dan perutnya sekaligus, Ouwyang Sianseng tidak nampak
gugup. Kakinya melangkah ke belakang dan dua tangannya, dengan jari tengah dan jari telunjuk tegak,
menyambut kedua tangan lawan dengan totokan ke arah telapak tangan!
Melihat ini Siangkoan Lohan terkejut. Kalau orang itu berani menotok telapak tangannya yang penuh
dengan tenaga Liong-jiauw-kang, berarti bahwa orang itu tentu mempunyai sinkang yang amat kuat. Dia
tidak berani mencoba mengadu tenaganya, karena kalau hal itu terjadi, telapak tangannya menyambut
totokan jari tangan lawan, tentu seorang di antara mereka akan dapat terluka parah.
Maka dia pun cepat menarik kembali kedua tangannya dan tiba-tiba saja kedua kakinya melakukan
tendangan, mula-mula yang kanan lalu disusul yang kiri, kemudian kanan lagi. Tendangan bertubi-tubi itu
selain amat cepat, juga tenaganya bahkan lebih dahsyat dari pada cengkeraman tadi sehingga debu dan
tanah mengebul tinggi seolah kedua batang kaki itu menjadi kitiran yang mendatangkan angin besar
menerbangkan debu dan daun kering.
Melihat betapa tendangan itu semakin lama semakin kuat, Ouwyang Sianseng yang mengelak ke kanan
kiri dan ke belakang itu mengeluarkan suara pujian.
“Ilmu tendangan yang berbahaya!” katanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini selain mengelak, kedua tangannya yang dimiringkan juga beberapa kali menyambut tendangan
dengan tangkisan. Terdengar suara berdebuk-debuk ketika tangan bertemu kaki, dan keduanya terdorong
mundur.
Kembali Siangkoan Lohan terkejut. Tangan itu mampu menahan tendangannya! Bukan main, kakek ini
benar-benar memiliki sinkang yang amat hebat. Dia pun lalu menyerang dengan desakan, mengeluarkan
jurus-jurus terampuh dari Ilmu Silat Tiat-wi Liong-kun. Tubuh ketua ini lalu bergerak cepat bagaikan seekor
naga sakti, dengan kedua tangan membentuk cakar dan dua kakinya menyabet-nyabet seperti seekor
naga yang sedang mengamuk.
Namun, Ouwyang Sianseng mengimbangi kecepatannya dengan gerakan-gerakan aneh dan lincah sekali.
Kadang-kadang kakek ini berloncatan, atau seperti merak terbang, kedua tangannya digerakkan seperti
sayap, kedua kakinya itu berloncatan dan sambil meloncat, kakinya itu menendang, atau jari tangannya
membentuk kerucut atau paruh burung untuk menotok dari atas. Gerakannya mirip seekor merak dan
memang ilmu silat yang dimainkan adalah ilmu silat merak yang aneh dan indah, juga lihai sekali. Memang
ilmu silat yang aneh dan tidak pernah dikenal oleh Siangkoan Lohan, dan ilmu silat dari selatan ini disebut
Kong-ciak Sin-kun (Ilmu Silat Merak).
Karena sampai puluhan jurus dia tak mampu mendesak lawan, bahkan kadang-kadang gerakannya
menjadi kacau oleh keanehan gerakan lawan. Siangkoan Lohan menjadi makin penasaran. Dia
menggereng keras dan tiba-tiba cengkeraman tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan
kiri lawan.
Selagi dia hendak menggunakan ilmu gulat untuk membanting, tiba-tiba saja kakek itu mendekat, memutar
tubuhnya dan siku lengan dari tangan yang tertangkap itu sudah menyerang ke arah dada Siangkoan
Lohan. Cepat dan hebat serangan ini, sehingga terpaksa pegangannya dilepaskan dan pada saat itu,
kedua tangan lawan dengan jari tangannya yang lihai telah menghujankan totokan kearah jalan darah di
bagian tubuh depan sebanyak tujuh kali!
Tentu saja dia terkejut dan menjadi repot untuk mengelak dan menangkis, dan terpaksa harus loncat ke
belakang karena dia merasa terdesak. Rasa penasaran membuat ketua Tiat-liong-pang ini mengerahkan
sinkang, kemudian mengirim serangan dari jarak jauh dengan mendorong kedua tangan dengan telapak
tangan terbuka ke arah lawan.
Melihat ini, Ouwyang Sianseng tersenyum. Ia pun menyambut dengan dorongan kedua telapak tangannya.
Segera dua tenaga dahsyat yang tidak nampak bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Siangkoan Lohan
terdorong ke belakang sampai terhuyung.
Tahulah Siangkoan Lohan bahwa lawannya itu benar-benar lebih tangguh darinya. Jika lawan itu
menghendaki, ia tentu telah roboh dan kalah! Hal ini di samping menimbulkan keheranan dan kekaguman,
juga membuat dia merasa girang bukan main dan mulailah dia percaya akan omongan orang ini bahwa
puteranya berbakat untuk menjadi kaisar! Dia pun menghentikan gerakannya dan menjura dengan sikap
hormat.
“Nam-san Sianjin, sungguh baru sekarang saya harus mengakui keunggulan seseorang yang ternyata
lebih pandai dari pada saya. Saya persilakan Sianjin untuk menjadi tamu kami agar perkenalan kita
menjadi lebih akrab dan saya ingin minta petunjuk tentang putera kami kepada Sianjin.”
Kakek itu mengangguk-angguk. “Baiklah, Pangcu. Terima kasih atas kepercayaanmu.”
Sementara itu, Siangkoan Liong yang mendengar pengakuan ayahnya bahwa kakek itu lebih lihai dari
pada ayahnya, menjadi bengong. Kemudian anak yang cerdik ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan
Ouwyang Sianseng atau Namsan Sianjin.
“Locianpwe berjanji akan mengambil teecu (murid) sebagai murid, oleh karena itu mulai sekarang,
Locianpwe (Orang Tua Gagah) adalah Suhu (Guru) bagi teecu.” Dan dia pun memberi hormat sebanyak
delapan kali sambil menyebut ‘suhu’.
Kakek itu tersenyum gembira, kemudian membangunkan anak itu, meraba-raba pundak, lengan dan
kakinya sambil mengangguk-angguk.
“Sudah kuduga, bertulang baik sekali. Pantas menjadi muridku, pantas menjadi seorang calon kaisar!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini, hati Siangkoan Lohan menjadi girang bukan main. Ia pun lalu mengajak tamunya masuk ke
dalam, dan mengadakan pesta untuk menyambut dan menghormati tamunya. Dalam kesempatan ini,
Siangkoan Lohan lebih banyak mengenal tamunya dan kakek itu pun dengan singkat menceritakan siapa
dia sebenarnya.
Nam-san Sianjin adalah seorang bekas pembesar tinggi di negara Birma! Dia seorang bangsa Han yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sejak muda dia suka merantau untuk memperdalam ilmunya.
Perantauannya membawanya ke Birma dan di sana dia, berkat kelihaiannya, memperoleh kepercayaan
dari raja, diberi kedudukan dan karena jasa-jasanya, dia bahkan kemudian diangkat menjadi penasehat
raja.
Dialah yang berjasa besar dalam menghadapi penyerbuan bala tentara Mancu yang berkali-kali menyerbu
ke selatan, namun tidak pernah dapat menguasai Birma berkat pertahanan Birma yang kokoh kuat, di
bawah pimpinan Nam-san Sianjin! Dia amat setia kepada Birma, apa lagi karena oleh raja, dia telah
dihadiahi seorang puteri istana untuk menjadi isterinya. Juga dia menentang keras pasukan Mancu karena
dia tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa yang menjajah Cina, dari mana dia berasal.
Akan tetapi, terjadi mala petaka menimpa keluarganya ketika berkobar perang melawan bala tentara
Mancu. Dalam suatu penyerbuan, ada pasukan yang berhasil menerjang kota dan menyerbu gedungnya,
dan isteri bersama tiga orang anaknya tewas dibantai mereka!
Wajah yang tadinya halus lembut dan gembira itu berubah menjadi pucat dan matanya memancarkan sinar
berapi ketika dia bercerita sampai di bagian itu. Dia mengepal tinju. “Mereka sudah membasmi anak
isteriku. Keparat Mancu! Aku kemudian mengamuk, membunuh sebanyak mungkin orang-orang yang
sudah menyerbu rumah kami itu, dan akhirnya aku terpaksa lari dari Birma...“
Siangkoan Lohan mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia pun ikut merasa prihatin. “Tapi... mengapa
engkau harus lari dari sana, Sianjin?” tanyanya hati-hati melihat orang itu seperti marah-marah.
“Aku dikatakan gila! Yang mengatakan adalah salah seorang menteri. Kubunuh dia dan setelah melakukan
pembunuhan terhadap seorang menteri, aku menjadi buronan dan terpaksa melarikan diri dari Birma. Pula,
aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga di sana, untuk apa lebih lama tinggal di sana? Aku lalu
membawa simpanan hartaku dan melarikan diri, dan kini tinggal di bukit selatan menjadi pertapa. Orangorang
di sekitar daerah itu menyebut aku Nam-san Sianjin.”
Siangkoan Lohan merasa kagum sekali mendengar riwayat hidup kakek yang memiliki ilmu kepandaian
sangat tinggi itu. Tentu saja Nam-san Sianjin tidak menceritakan apa yang menjadi cita-citanya.
Dia mendendam kepada Kerajaan Mancu yang dianggap telah membasmi keluarganya dan merusak
kebahagiaan hidupnya. Oleh karena itu, dia bersumpah untuk membalas dendam, untuk menghancurkan
Kerajaan Mancu. Inilah yang menjadi cita-cita terakhir dari hidupnya.
Inilah sebabnya, saat melihat Siangkoan Lohan dan puteranya, ia merasa tertarik sekali. Melalui
perkumpulan Tiat-liong-pang yang dia tahu amat berpengaruh dan kuat ini dia akan dapat mengumpulkan
kekuatan untuk menentang Kerajaan Mancu. Dan dia dapat menggerakkan hati Siangkoan Lohan dengan
memuji-muji puteranya yang dikatakan berbakat besar untuk menjadi calon kaisar. Tentu saja dia sudah
menyelidiki keadaan keluarga Siangkoan Lohan ini dan tahu bahwa mendiang ibu anak itu adalah seorang
bangsawan tinggi dan masih anggota keluarga Kerajaan Mancu.
Dan dia pun berhasil menggerakkan hati Siangkoan Lohan, seperti ternyata kemudian betapa Siangkoan
Lohan yang kini mempunyai ambisi agar puteranya menjadi kaisar, mulai mengadakan persekutuan untuk
memberontak dan menjatuhkan Kerajaan Mancu supaya puteranya mendapat kesempatan menjadi kaisar
seperti yang diramalkan oleh Nam-san Sianjin!
Selama beberapa tahun, kadang-kadang Nam-san Sianjin datang berkunjung. Dalam percakapan mereka,
kakek ini menanam dan menyebar bibit-bibit pemberontakan dalam hati Siangkoan Lohan demi masa
depan puteranya sehingga ketua Tiat-liong-pang yang tadinya terkenal sebagai seorang yang amat setia
kepada Kerajaan Ceng, kini berubah dan ingin mengadakan persekutuan untuk memberontak!
Sementara itu, Siangkoan Liong digemblengnya dengan sangat keras sehingga setelah dia berusia
delapan belas tahun, pemuda itu telah berhasil mewarisi dan menguasai ilmu-ilmu silat dari ayahnya. Juga,
dunia-kangouw.blogspot.com
menurut nasehat Nam-san Sianjin, Siangkoan Lohan lalu mengundang guru-guru sastra untuk mengajar
puteranya, karena menurut nasehat Nam-san Sianjin, seorang calon kaisar haruslah menguasai ilmu
tentang sastra dengan baik.
Pada waktu Siangkoan Liong berusia delapan belas tahun, pada suatu pagi muncullah Ouwyang Sianseng
atau Nam-san Sianjin. Dia pun mengatakan bahwa kini tiba saatnya bagi Siangkoan Liong untuk
digemblengnya.
“Dia akan kuajak ke tempat tinggalku di Nam-san. Aku mengundang Siangkoan Pangcu untuk datang
berkunjung pula agar hatinya menjadi tenteram karena dia tahu bahwa puteranya berada di suatu tempat
yang dikenalnya.”
Giranglah hati Siangkoan Lohan. Biar pun sekarang dia sudah menjadi kenalan baik Si Manusia Dewa,
namun belum pernah dia mengetahui di mana tempat tinggal pertapa itu sehingga tentu saja hatinya akan
selalu diliputi kesangsian dan kekhawatiran melepas puteranya untuk mengikuti gurunya ke tempat
tinggalnya. Dan kini ia diajak berkunjung, maka tentu saja dia merasa girang dan pada hari itu,
berangkatlah dia dan puteranya mengikuti kakek sakti itu.
Pegunungan di daerah selatan tidak setinggi pegunungan di bagian utara, akan tetapi hutan-hutannya lebih
lebat dan pohon-pohonnya lebih beraneka ragam. Di atas sebuah puncak di antara bukit-bukit itu terdapat
sebuah hutan lebat dan di tempat inilah tinggal Nam-san Sianjin.
Selama ini, Siangkoan Lohan sudah menyuruh beberapa orang anggotanya menyelidiki keadaan kakek
pertapa yang menjadi guru puteranya. Dia mendengar hasil penyelidikan orang-orangnya bahwa kakek itu
sering mengulurkan tangan menolong para penghuni dusun di sekitar pegunungan itu. Bukan hanya
menolong dengan pengobatan, akan tetapi juga sering kali menolong mereka yang kekurangan dan
kelaparan dengan bahan makanan, pakaian atau bahkan uang secara royal sekali.
Tidaklah mengherankan kalau kakek itu dinamakan Manusia Dewa oleh para penghuni dusun. Bukan
hanya karena dermawan sekali dan pandai mengobati, akan tetapi juga karena kakek itu datang dan pergi
seperti menghilang saja. Tak pernah ada yang dapat berhubungan langsung dengan kakek pertapa itu,
tetapi melalui para pelayan kakek itu yang kabarnya juga memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi,
semua murid dan anggota Tiat-liong-pang gagal ketika berusaha mencari tempat tinggal Nam-san Sianjin!
Setelah mereka tiba di tengah hutan di puncak bukit itu, Siangkoan Lohan sendiri lalu terheran-heran.
Tidak nampak ada sebuah pun rumah di puncak itu, akan tetapi guru puteranya itu mengatakan bahwa dia
tinggal di puncak bukit yang penuh hutan itu! Dan mengertilah dia mengapa anak buahnya gagal semua
menemukan tempat tinggal Si Manusia Dewa, karena tempat tinggalnya amat rahasia dan tidak nampak!
“Kita sudah sampai,” kata Nam-san Sianjin seperti dapat membaca kesangsian dalam hati Siangkoan
Lohan.
Tiba-tiba saja nampak berlompatan tiga orang lelaki berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun,
kesemuanya berpakaian indah seperti pelayan-pelayan pembesar dan mereka segera memberi hormat
kepada Nam-san Sianjin sambil berlutut!
“Siapkan hidangan untuk menyambut para tamu kita,” kata Nam-san Sianjin kepada tiga orang pelayannya
itu. “Siangkoan Pangcu menjadi tamu kita hari ini dan Siangkoan Kongcu (Tuan Muda Siangkoan) ini mulai
hari ini tinggal di sini sebagai muridku, jadi sediakan kamar untuknya.”
“Baik,Taijin (Orang Besar),” kata mereka dan mereka lalu menyelinap di antara semak belukar di tepi
jurang dan lenyap! Terkejutlah Siangkoan Lohan melihat cara mereka menghilang itu.
“Pangcu, jangan heran. Semak-semak dan jurang itulah pintu gerbang menuju tempat tinggalku. Mari,
silakan,” kata Nam-san Sianjin dan dia pun mendahului ayah dan anak itu, menyelinap di antara semak
belukar, diikuti oleh Siangkoan Lohan dan puteranya.
Ketika mereka menyusup di antara semak belukar, ternyata di balik semak-semak itu terdapat anak tangga
yang menuruni jurang! Pantas tidak ada di antara anak buahnya yang dapat menemukan tempat tinggal
kakek ini! Siapa yang menduga bahwa di balik semak belukar, di dalam jurang, merupakan tempat tinggal
kakek itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak tangga itu tidak terus menuju ke dasar jurang, melainkan berhenti hanya sampai di pertengahan
dinding jurang dan kiranya di situ terdapat sebuah goa yang tersembunyi dan tidak dapat kelihatan dari
atas. Akan tetapi mulut goa yang berada di dinding jurang ini menghadap ke timur sehingga memperoleh
penerangan sinar matahari yang cukup.
“Di sinilah tempat tinggalku, pangcu. Silakan masuk,” berkata Nam-San Sianjin sambil melangkah masuk
ke dalam goa.
Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya dan ikut masuk bersama puteranya. Diam-diam dia merasa
kecewa. Puteranya harus tinggal di tempat seperti ini?
Akan tetapi, setelah memasuki goa itu, ia terbelalak dan menjadi bengong! Goa itu lebar dan nampak biasa
saja ketika dia mulai memasukinya, akan tetapi setelah masuk ke sebelah dalam, dia jadi terpesona. Di
dalam goa itu ternyata amat luas, seperti rumah gedung besar, dan keadaan di dalamnya tidak kalah
dengan gedung tempat tinggalnya sendiri, bahkan jauh lebih mewah. Keadaan goa ini sungguh tiada
ubahnya keadaan di dalam gedung istana!
Terdapat banyak kamar, dan setiap ruangan dihias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah. Setiap
perabot rumah amat indah dan halus buatannya, dan keadaan di dalam goa itu luar biasa sekali.
Sedemikian luasnya, dengan sebagian atasnya berlubang dan terbuka sehingga nampak sinar matahari.
Bahkan di tengah-tengah ruangan itu terdapat pula sebuah taman kecil penuh bunga!
Tak nampak pelayan wanita di situ. Agaknya kakek Ouwyang hanya hidup bersama tiga orang pelayan
laki-laki yang tadi menyambut. Mereka itulah yang membersihkan tempat tinggal mewah itu, memasak, dan
melayani Nam-san Sianjin serta melakukan pekerjaan lainnya.
Setelah membiarkan tamunya mengagumi isi goa itu, Nam-san Sianjin mempersilakan mereka memasuki
sebuah ruangan yang paling luas, yang berada di sebelah dalam.
“Ruangan itu kujadikan sebagai ruangan tamu, juga ruang duduk dan sekaligus ruangan untuk berlatih
silat. Dan kadang-kadang, seperti sekarang ini, bisa juga menjadi ruangan makan, walau pun baru
sekarang aku menjamu seorang tamu.”
Siangkoan Lohan merasa terhormat sekali dan segera bermunculan tiga orang pelayan tadi yang datang
membawa hidangan yang lalu mereka atur di atas meja. Akan tetapi perhatian Siangkoan Lohan tertarik
kepada hiasan aneh yang terdapat di dekat dinding, di sebelah rak senjata.
Di situ terdapat sebuah rak panjang dengan tombak-tombak yang berdiri berjajar. Akan tetapi, di atas
tombak itu tertancap masing-masing sebuah kepala manusia, ada belasan buah banyaknya! Yang
mengerikan sekali, kepala manusia itu seperti dalam keadaan hidup. Matanya terbuka dan hanya mukanya
yang nampak pucat, namun segalanya masih utuh seperti hidup.
“Itu... itu... apa maksudnya?” tanya Siangkoan Lohan sambil menuding dan Siangkoan Liong juga terkejut
melihat kepala yang berjajar itu.
“Aahhh, itu?” berkata tuan rumah sambil menarik napas panjang dan alisnya berkerut, seolah-olah dia
teringat akan hal yang tidak menyenangkan. “Itulah kepala beberapa orang yang memimpin penyerbuan.
Mereka yang menyebabkan matinya semua anak isteriku. Aku berhasil mencari dan membunuh mereka,
kepalanya kuawetkan dengan ramuan obat dan kupasang di sini agar mendinginkan hatiku setiap kali
teringat kepada anak isteriku.”
Siangkoan Lohan diam-diam bergidik. Orang yang amat lihai ini ternyata dapat berlaku amat sadis dalam
pembalasan dendamnya. Dia tidak tahu sama sekali bahwa memang dendam telah membuat Ouwyang
Sianseng menjadi seperti gila, dan karena dianggap gila itulah maka dia dipecat dari kedudukannya dalam
istana raja Birma! Dia dianggap berbahaya dan bahkan kemudian dia membunuh seorang menteri dan
menjadi buronan pemerintah Birma.
Sebaliknya dari ayahnya, Siangkoan Liong merasa kagum sekali kepada gurunya, yang dianggapnya telah
menebus kematian yang membuat penasaran dari keluarganya dan telah membuktikan kesetiaannya
kepada keluarganya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah dijamu dengan masakan yang cukup lezat dan lengkap sehingga terlihat aneh masakan seperti itu
bisa dihidangkan di tempat itu, Siangkoan Lohan lalu meninggalkan puteranya di situ dan kembali ke
perkampungan Tiat-liong-pang. Dia harus berjanji tak akan memberi tahukan pada siapa pun juga tentang
tempat tinggal Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sianjin ini. Dan kemudian ternyata bahwa kakek ini pun
tidak pernah berhubungan dengan orang lain kecuali Siangkoan Lohan dan puteranya.
Siangkoan Liong lalu menerima gemblengan di tempat rahasia itu oleh kakek bekas penasehat Raja Birma
sehingga dalam waktu dua tahun ia telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Setelah lewat dua tahun
dan kembali ke rumah orang tuanya, dia melihat betapa ayahnya kini telah mengadakan persekutuan
dengan tokoh-tokoh lihai.
Karena girang melihat puteranya telah tamat belajar dan mempunyai kepandaian yang tinggi, bahkan
mungkin lebih tinggi dari tingkatnya sendiri, Siangkoan Lohan kemudian mengadakan pesta, sekalian untuk
merayakan hari ulang tahunnya yang keenam puluh tahun. Dia lalu mengundang tokoh-tokoh, baik dari
golongan hitam mau pun putih dan seperti kita ketahui, di dalam pesta itu terjadilah keributan.
Siangkoan Liong maklum bahwa ayahnya sedang bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang ingin
menggulingkan pemerintah Mancu. Meski dia sendiri, dalam keangkuhannya merasa diri jauh lebih tinggi,
tak suka bergaul dengan orang-orang kang-ouw itu, namun dia tidak menghalangi usaha ayahnya karena
dia maklum bahwa usaha pemberontakan itu cocok dengan apa yang dicita-citakan oleh gurunya, yaitu
menggulingkan pemerintah Ceng dan dialah yang kelak dicalonkan menjadi kaisar kalau usaha itu
berhasil…..
********************
Setelah menyelamatkan Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang yang hampir saja tewas di tangan Sin-kiam
Mo-li, dan mengobati luka beracun di tangan ketua itu, Tan Sin Hong segera pergi dengan cepat tanpa
memperkenalkan diri lagi. Dia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain dan dia juga tidak mengenal
siapa orang yang nyaris tewas di tangan Sin-kiam Mo-li itu. Kalau dia turun tangan membantu orang itu
hanyalah karena orang itu terancam maut di tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah dia ketahui kejahatannya.
Sin Hong melanjutkan perjalanannya dengan secepatnya menuju ke kota raja. Dia harus menemukan
orang kaya yang disebut Lay Wangwe (Hartawan Lay) itu, karena agaknya hanya kalau dia menemukan
Lay Wangwe, maka dia akan melanjutkan penyelidikannya tentang kematian ayahnya yang penuh rahasia
itu. Dia percaya bahwa tidak akan sukar mencari orang itu karena ciri-cirinya. Pertama, nama keturunannya
Lay, kaya raya dan kepalanya botak perutnya gendut. Tentu tidak banyak orang yang sekaligus memiliki
ciri-ciri itu.
Akan tetapi, setelah kurang lebih sepekan dia melakukan penyelidikan di kota raja, dia tidak berhasil
menemukan orang yang dicari-carinya. Ada hartawan Lay, bahkan ada beberapa orang yang kaya dan she
Lay di kota raja, akan tetapi kepalanya tidak botak walau pun ada yang gendut. Kalau ada yang kepalanya
botak dan gendut, namanya bukan Lay, juga tidak kaya raya. Namun, tetap saja dia menyelidiki orang kaya
yang she Lay, botak atau tidak. Namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang pernah mengirim
seratus kati emas dari Ban-goan ke Tuo-lun.
Akhirnya Sin Hong mengambil kesimpulan bahwa nama Lay Wangwe itu mungkin sekali palsu, hanya
untuk pancingan saja. Bahkan mungkin peti yang katanya berisi seratus tail emas itu pun bohong dan
sengaja digunakan untuk selain membunuh Tan-piauwsu, juga menyita perusahaannya untuk mengganti
rugi!
Dan siapa lagi yang membutuhkan kejatuhan Peng An Piauwkiok kecuali saingannya? Saingan terbesar
dari Peng An Piauwkiok adalah Ban-goan Piauwkiok yang dikepalai Kwee Tay Seng! Selain saingan dalam
urusan perusahaan, juga saingan dalam urusan wanita! Siapa yang tahu kalau Ciu-piauwsu ternyata benar
dalam tuduhannya bahwa Kwee-piauwsu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, baik terhadap
ayahnya mau pun terhadap Tang-piauwsu.
Pertama karena dendam atas kekalahannya memperebutkan wanita, dan ke dua karena persaingan dalam
urusan perusahaan. Memang kini, setelah penyelidikannya terhadap orang bernama Lay Wangwe gagal,
satu-satunya orang yang dapat dicurigai adalah Kwee-piauwsu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Maka dia pun memutuskan untuk segera kembali ke kota Ban-goan untuk melakukan penyelidikan
terhadap Kwee-piauwsu dan menunda niatnya berkunjung kepada Kao Cin Liong, suheng-nya yang tinggal
di Pao-teng, di sebelah selatan kota raja…..
********************
Malam itu bulan purnama. Langit amat bersih, hanya ada awan putih tipis yang amat mengganggu sinar
bulan sehingga cuaca amat bersih dan cukup terang. Suasana amat menggembirakan.
Tapi bersama dengan sinar bulan yang indah datang pula angin dingin yang memaksa orang-orang yang
tadinya menikmati keindahan sinar bulan di luar rumah, memasuki rumah yang lebih hangat. Hawa yang
sangat dingin membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar tidur dan menjelang tengah malam
suasana di kota Ban-goan sudah amat sunyi. Sebagian besar penduduknya sudah tidur nyenyak.
Ban-goan Piauwkiok juga nampak sunyi, walau pun setiap malam ada saja anggota piauwkiok yang
melakukan penjagaan secara bergilir di dalam gardu penjagaan di sudut luar. Perusahaan itu berkantor di
depan, sedangkan rumah tinggal Kwee-piauwsu ada di bagian belakang.
Pekerjaan sebagai pimpinan suatu piauwkiok (perusahaan pengawal barang) tentu saja memiliki banyak
musuh, yaitu para penjahat, para perampok yang suka mengganggu pengawalan barang. Oleh karena
itulah maka semua pimpinan perusahaan piauwkiok selalu berhati-hati dan kantor bersama tempat tinggal
mereka selalu dijaga oleh anak buah secara bergilir.
Malam itu terlampau dingin bagi empat orang piauwsu yang bergilir jaga di dalam gardu penjagaan.
Tadinya mereka masih berusaha melewatkan waktu dengan bermain kartu, akan tetapi hawa dingin
membuat mereka mengantuk sekali dan kini keempat orang itu duduk berhimpit di dalam gardu jaga,
menghangatkan tubuh dengan membuat unggun di luar gardu.
Apalagi dalam keadaan kedinginan dan bersembunyi di dalam gardu, andai kata mereka itu berada di luar
gardu, berjaga dengan waspada sekali pun, tak mungkin mereka akan dapat melihat bayangan orang yang
berkelebat dengan amat cepatnya, hanya nampak berkelebat bagai bayangan burung yang terbang di
udara. Dengan kecepatan luar biasa bayangan itu telah melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah
besar itu dan telah menyelinap-nyelinap ke dalam taman di sebelah kanan rumah. Setelah melihat dengan
teliti dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada penjaga di situ, juga di atas genteng nampak sunyi saja,
bayangan itu kemudian melayang naik ke atas genteng rumah.
Bayangan itu adalah Tan Sin Hong yang sedang melakukan penyelidikan di rumah keluarga Kwee, tidak
tahu dengan jelas apa yang akan dilakukan dan bagaimana harus memulai dengan penyelidikannya itu.
Dia merasa yakin bahwa dalam hawa sedingin itu, tidak mungkin ada orang berjaga di atas genteng dan
mau menentang hembusan angin malam yang amat dinginnya. Bulan masih tampak cemerlang di atas,
dan suasana sunyi sekali.
Sejenak Sin Hong termenung. Dia mengingat kembali ketika Ciu-piauwsu mendatangi rumah ini kemudian
menantang Kwee-piauwsu. Teringat betapa gagah dan tenangnya Kwee-piauwsu dan betapa piauwsu itu
sudah menyangkal bahwa dia telah membunuh Tan-piauwsu, atau pun Tang-piauwsu. Dia menjadi raguragu.
Apa yang harus dicarinya dan bagaimana dia harus memulai penyelidikannya?
Ahhh, siapa tahu Tuhan akan membantunya dan mungkin saja dia akan melihat atau mendengar sesuatu
yang akan dapat membantu penyelidikannya. Maka dari itu, setelah mempelajari keadaan dalam gedung
itu dari atas, dia pun lalu melayang turun lagi, kini ke sebelah dalam dan dia turun dekat lapangan terbuka,
di antara deretan kamar dan lorong menuju ke ruangan besar.
Dengan penuh keyakinan bahwa semua penghuni rumah itu telah tidur pulas, dia pun melangkah dengan
hati-hati memasuki ruangan yang nampak gelap sekali karena tidak memperoleh sinar bulan, sedangkan
dalam ruangan itu tidak ada lampunya.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melangkah masuk, tiba-tiba saja terdengar
bentakan suara wanita, “Pencuri jahat, berani engkau mencuri ke sini?”
Dari angin yang menyambar di tempat gelap, tahulah Sin Hong bahwa ada sebatang pedang menyambar
ke arah dadanya! Cepat dia meloncat keluar kembali dan membuka pintu kamar. Kalau dia mau meloncat
dan melarikan diri pada saat itu, kiranya tidak akan terlambat. Akan tetapi Sin Hong tidak melakukan hal ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia maklum bahwa dia telah ketahuan orang dan disangka pencuri. Kalau dia melarikan diri dan ketahuan
siapa dirinya, tentu hal ini amat tidak baik bagi namanya dan dia akan disangka sebagai penjahat.
Mengapa tidak menghadapi saja mereka dengan secara terang-terangan dan mengajak Kwee-piauwsu
bicara tentang kematian ayahnya dan Tang-piauwsu? Dari sikap dan kata-kata Kwee-piauwsu dalam
percakapan itu, dia akan dapat menduga apa sebenarnya peran piauwsu itu dalam urusan ini.
Maka, dia pun tidak mau meloncat pergi, melainkan menanti saja di luar ruangan itu dan wajahnya dapat
kelihatan jelas karena selain cahaya lentera dan lampu yang tergantung di situ menerangi wajahnya, juga
sinar bulan membuat tempat itu cukup terang.
Orang pertama yang melompat keluar dari dalam ruangan itu adalah seorang gadis berusia kurang lebih
delapan belas tahun yang manis sekali. Gadis ini bertubuh sedang, dengan sepasang kaki nampak
panjang, tubuh yang padat dan ranum, tubuh seorang dara yang mulai dewasa. Rambutnya hitam lebat
dan panjang sekali, dikuncir menjadi dua diikat dengan pita merah. Dua kuncir itu bergantungan sampai ke
pinggulnya.
Pinggangnya ramping ketika ia bergerak meloncat ke luar dengan pedang di tangan kanan dan sebuah
lentera besar dan baru saja dinyalakan di tangan kiri. Dari cahaya lampu ini, nampak jelas oleh Sin Hong
wajah gadis itu.
Kulitnya agak hitam, namun manis bukan main, terutama sekali mulutnya. Sepasang bibirnya berbentuk
indah seperti gendewa terpentang, dengan garis yang jelas dan bibir itu penuh dan merah basah, sedikit
terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih seperti mutiara dan sepasang matanya tajam memandang Sin
Hong penuh selidik.
Agaknya gadis itu tertegun dan agak heran melihat betapa ‘maling’ yang mampu mengelak dari
serangannya tadi tidak melarikan diri, melainkan berdiri di situ menanti. Dan tak disangkanya bahwa
penjahat itu seorang laki-laki muda yang berpakaian serba putih, wajahnya biasa saja, akan tetapi sinar
matanya demikian lembut dan mulutnya terhias senyum ramah dan menarik! Sama sekali bukan wajah
seorang pencuri atau penjahat yang kejam dan ganas, melainkan wajah seorang pemuda yang ramah dan
baik hati.
Akan tetapi karena ia merasa curiga melihat munculnya pemuda tak di kenal, di tengah malam, memasuki
ruangan gelap di mana ia tadi berlatih semedhi, ia pun kini mendekati dan menodongkan pedangnya
dengan sikap mengancam.
“Menyerahlah sebelum pedangku yang bicara!” Pedangnya menodong dada dan lampu di tangannya
diangkat menerangi muka Sin Hong.
“Tahan, jangan serang dia!” Tiba-tiba terdengar suara memerintah.
Mendengar suara ayahnya, gadis itu melangkah mundur dan menurunkan pedangnya, namun sikapnya
masih mengancam.
“Ayah, dia sudah memasuki ruangan lian-bu (latihan silat). Lagaknya seperti seorang pencuri!” bantahnya.
Kwee Tay Seng atau Kwee-piauwsu tidak menjawab, hanya melangkah menghampiri Sin Hong. Sejak tadi
dia menatap wajah itu dan kini dia sudah berhadapan dengan Sin Hong, matanya masih terus mengamati
wajah pemuda berpakaian putih yang berdiri di situ dengan sikap tenang dan juga sedang memandangnya.
“Kau... kau seperti pernah melihatmu... ah, engkau mirip sekali dengannya...! Bukankah engkau ini putera
mendiang Tan-piauwsu?”
Sin Hong merasa heran mendengar ini, akan tetapi dia pun teringat akan hubungan pria yang gagah ini
dengan mendiang ibunya, dan dia tahu bahwa wajahnya memang mirip dengan wajah ibunya.
“Ayah, kalau dia benar putera Tan-piauwsu, jelas bahwa dia datang bukan dengan niat baik. Tadi dia
meloncat turun dari atas genteng dan menyelinap masuk seperti pencuri. Aku yang tadi berada di dalam
ruangan gelap dapat melihat dengan jelas. Begitu dia melangkah masuk, aku sudah menyerangnya, akan
tetapi dia meloncat keluar lagi,” Kwee Ci Hwa, puteri Kwee-piauwsu itu, berkata lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Orang muda, aku mengenal mendiang ayahmu sebagai seorang gagah, dan engkau tentu seorang
pemuda yang gagah pula. Marilah kita bicara secara jantan dan terbuka, dari pada engkau harus datang
secara gelap begini. Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam.”
Sin Hong merasa malu sendiri dan dia pun mengangguk, lalu mengikuti tuan rumah itu memasuki ruangan
tadi, diikuti oleh Ci Hwa yang membawa lampu. Ternyata ruangan itu luas dan bersih, hanya terdapat
beberapa buah bangku di dekat dinding dan sisanya kosong karena ruangan itu adalah sebuah tempat
berlatih silat.
Ci Hwa menaruh lampu itu di atas meja kecil, dan dinyalakan lagi tiga buah lentera lain yang digantungkan
di dinding sehingga kini ruangan itu menjadi terang. Kwee-piauwsu mempersilakan Sin Hong duduk di atas
bangku, kemudian dia sendiri beserta puterinya duduk menghadapinya.
“Orang muda, katakanlah siapa engkau sebenarnya,” kata Kwee-piauwsu.
“Tidak salah dugaanmu tadi, Paman Kwee. Aku adalah Tan Sin Hong, putera dari Tan Piauwsu, dan yang
menyebabkan aku malam ini datang menyelundup seperti seorang pencuri adalah karena aku hendak
menyelidiki tentang kematian ayahku dan kematian paman Tang Lun.”
“Sungguh aneh,” kata Ci Hwa yang sejak tadi diam saja. “Menyelidiki kematian mereka, kenapa harus
mencari di sini? Apakah pembunuh mereka berada di sini?”
Kwee-piauwsu mengeluh panjang. Pada saat itu terdengar suara berisik dan ternyata ada beberapa orang
anggota piauwkiok yang meronda dan agaknya mereka merasa heran dan curiga melihat betapa ada suara
orang tengah bicara di lian-bu-thia yang juga nampak terang.
“Ci Hwa, engkau keluarlah dan tenangkan mereka. Aku hendak bicara berdua dengan Tan Sin Hong.”
Biar pun gadis itu memandang kecewa karena ia pun ingin sekali mengetahui kelanjutan dari munculnya
pemuda itu, namun dia tidak membantah ayahnya, dan dia pun segera keluar dan tak lama kemudian, para
anggota piauwkiok pergi meninggalkan tempat itu, melanjutkan perondaan.
“Sin Hong, sudah dua kali ini orang mencurigai aku sebagai pembunuh ayahmu dan Tang-piauwsu.
Padahal, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang peristiwa itu. Ketahuilah, bahwa dahulu persaingan
yang terjadi antara aku dengan ayahmu adalah persaingan sehat dua orang yang memiliki perusahaan
yang sama. Kami sama-sama bersaing untuk mendapat kepercayaan langganan dengan pelayanan
sebaiknya, bukan persaingan dengan cara saling menjatuhkan. Pernah Ciu Hok Kwi, piauwsu muda yang
belum lama menjadi piauwsu itu pun menuduh aku yang membunuh Tang-piauwsu sehingga dia datang ke
sini dan mendatangkan keributan. Dan sekarang engkau sendiri, putera Tan-piauwsu datang ke sini tentu
mempunyai dugaan pula bahwa aku yang telah membunuh ayahmu dan Tang-piauwsu. Sungguh membuat
aku merasa penasaran sekali!” Kakek itu mengeluh dan mengepal tinju.
“Tidak kusangkal bahwa aku dan ayahmu bersaingan dalam memajukan perusahaan masing-masing, akan
tetapi aku, Kwee Tay Seng, selama hidupku belumlah demikian rendah untuk menggunakan cara-cara
kotor, apa lagi sampai melakukan pembunuhan dengan curang!”
Sejak tadi Sin Hong menatap wajah kakek itu dengan penuh perhatian dan melihat sikap dan suara Kweepiauwsu,
memang sukar dipercaya orang segagah ini melakukan kecurangan seperti itu, membunuh
dengan sembunyi-sembunyi. Akan tetapi masih ada sesuatu yang membuat Sin Hong penasaran, maka
dengan terus terang dia berkata, “Paman Kwee, selain persaingan dalam perusahaan, aku juga pernah
mendengar dari Tang-piauwsu bahwa dahulu, antara mendiang ibuku dan engkau...“
“Aihh...!” Kwee Tay Seng menghela napas panjang dan mengangguk-angguk, mukanya berubah lesu.
“Inilah sebabnya mengapa aku menyuruh Ci Hwa pergi meninggalkan kita. Aku memang hendak
membicarakan hal ini, karena aku sudah menduga bahwa tentu ini merupakan satu di antara sebab
mengapa aku yang dicurigai. Tadi pun, ketika melihatmu, aku sudah dapat menduga bahwa engkau
tentulah putera Bwee Hwa. Wajahmu demikian mirip dengannya. Sin Hong, tidak perlu kusangkal lagi.
Memang di waktu kami muda, terdapat pertalian cinta antara aku dan ibumu, akan tetapi sungguh sayang,
orang tua kedua pihak tidak setuju sehingga kami terpaksa saling berpisah. Namun, kemudian aku melihat
betapa ia, ibumu yang dulu pernah menjadi kekasihku itu, hidup dengan bahagia bersama Tan Hok,
ayahmu. Aku cinta kepada ibumu, maka, lebih tak masuk di akal lagi kalau aku ingin membikin ia sengsara
dengan membunuh suaminya! Aku belumlah gila, dan cintaku adalah cinta suci, bukan cinta nafsu belaka
dunia-kangouw.blogspot.com
yang menimbulkan iri. Tidak, Sin Hong, aku tak akan mengganggunya, seujung rambut pun, tetapi aku
mendengar bahwa ketika menyusul suaminya ke utara, rombongannya dihadang perampok dan ia
meninggal...“
Sunyi sejenak dan Sin Hong termangu-mangu. Sedikit pun ia tak meragukan kebenaran Kwee-piauwsu.
Yang melakukan penghadangan terhadap rombongan ibunya, kemudian mencelakakan dia dan ibunya,
juga orang-orang berkedok. Tak mungkin Kwee-piauwsu yang memimpin penghadangan itu dan membikin
celaka ibunya, wanita yang dicintanya.
Keterangan dan perasaannya itu melegakan hatinya, akan tetapi juga mendatangkan rasa kecewa dan
penasaran. Hatinya lega karena dia yakin orang tua gagah ini bukan pembunuh ayahnya dan Tangpiauwsu,
akan tetapi dia penasaran dan kecewa karena kini putuslah sudah jalur penyelidikannya. Setelah
Kwee-piauwsu terlepas dari daftar orang yang dicurigai, maka tidak ada lagi orang yang dapat dicurigainya!
Pada saat itu terdengar suara Ci Hwa dari luar.
“Ayah, bolehkah aku masuk?” Gadis itu masih ingin melihat bagaimana kelanjutan dari urusan dengan
pemuda she Tan itu.
Karena cerita tentang Bwee Hwa, ibu Sin Hong, sudah mereka bicarakan dan tidak akan diulang lagi, maka
Kwee Tay Seng lalu menjawab.
“Masuklah, Ci Hwa.”
Gadis itu masuk dan duduk di dekat ayahnya. “Bagaimana urusannya dengan dia ini, Ayah?”
Sin Hong memandang kepada gadis itu dan membungkuk. “Nona, akulah yang salah. Ayahmu tidak tahu
apa-apa tentang kematian ayahku dan Paman Tang, dan karena itu maafkan aku. Paman Kwee, maafkan
aku...“
Melihat sikap pemuda itu yang nampak kecewa, Kwee-piauwsu berkata, “Sin Hong, aku dapat merasakan
kekecewaanmu. Engkau kehilangan ayah ibu, tentu saja engkau ingin membalas dendam kepada mereka
yang telah membunuhnya.”
“Ibu bukan dibunuh orang, melainkan meninggal karena badai di gurun pasir, Paman.”
Dengan singkat dia pun lalu menceritakan betapa rombongan ibunya yang dikawal oleh mendiang Tangpiauwsu
diserang oleh orang-orang berkedok. Dia bersama ibunya lalu menunggang onta dan melarikan
diri memasuki gurun pasir sampai akhirnya ibunya meninggal di gurun pasir.
Sampai di sini dia menghentikan ceritanya karena dia tidak ingin bercerita tentang guru gurunya, hanya
menyambung dengan kata-kata yang tegas. “Dan aku sama sekali tidak ditekan dendam, Paman. Kalau
aku mencari pembunuh-pembunuh itu, bukan terdorong dendam pribadi, tetapi karena perbuatan yang
sedemikian jahatnya itu harus kuselidiki. Apa sebabnya ayah dibunuh, dan kalau pembunuhnya memang
melakukannya karena kejahatan, maka kejahatan itu harus ditentang dan dihukum, Paman.”
Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. “Tapi, sampai sejauh mana penyelidikanmu? Aku ingin
membantumu, orang muda, karena aku pun merasa penasaran sekarang, apa lagi karena akulah yang
dituduh melakukan perbuatan kejam itu.”
Suara Kwee-piauwsu terdengar penuh kesedihan. Memang dia merasa berduka sekali mendengar tentang
kematian Bwee Hwa, bekas kekasihnya. Dan biar pun Bwee Hwa tidak mati dibunuh, namun sama saja,
ada orang yang menyebabkan ia sampai lari ke gurun pasir dan menemui kematiannya di sana.
Dengan singkat Sin Hong lalu bercerita tentang penyelidikannya terhadap Lay-wangwe, orang yang dia
curigai karena hartawan itulah yang mula-mula menemui ayahnya dan mengirim barang berharga itu.
“Kurasa hanya ialah satu-satunya orang yang mengetahui persoalan ini, Paman, karena ia yang mengirim
emas itu, dan ia pula yang menuntut ganti rugi sehingga perusahaan ayah berikut rumah dan seisinya
disita. Akan tetapi, penyelidikanku gagal. Di kota raja tak pernah ada seorang Lay-wangwe yang berkepala
botak dan berperut gendut seperti itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. “Aku juga sudah mendengar tentang penyitaan itu dan menurut anak
buahku, kini Peng An Piauwkiok telah menjadi perusahaan pengawal yang baru, dengan rumah dan
kantornya sudah dibetulkan menjadi cukup megah. Dan kabarnya, Ciu-piauwsu yang kini menjadi
pengurusnya.”
Sin Hong mengangguk. “Memang benar, Paman. Paman Ciu telah mencarikan seorang sahabat, atau
keluarganya yang kaya untuk memberi pinjaman uang untuk membayar sebagian kerugian itu, dan kini
karena perusahaan mundur dan tak mampu membayar pinjaman, semua rumah dan kantor terjatuh ke
tangan orang yang memberi pinjaman uang. Agaknya perusahaan itu diperbarui, dilanjutkan dan Ciupiauwsu
yang menjadi pemimpinnya, mengingat bahwa majikannya adalah keluarganya.”
“Orang yang kau sebutkan tadi, Lay-wangwe itu, pernah datang ke sini...“
“Ah, benarkah, Paman? Harap Paman ceritakan...!” Sin Hong memotong, mendapatkan harapan baru.
“Hal itu terjadi beberupa hari sebelum dia menyerahkan angkutan barang berharga yang harus dikawal ke
Tuo-lun itu kepada ayahmu. Dia datang dan membawa peti besar yang tertutup rapat, minta kepadaku
untuk mengawal ke Tuo-lun dengan janji upah besar. Aku menerimanya dengan syarat bahwa isi peti itu
harus dibuka dan dihitung lebih dulu. Dia menolak dan marah-marah karena aku dianggap tak percaya
kepadanya. Akhirnya aku mendengar dia mengirim barangnya itu melalui pengawalan Peng An Piauwkiok.”
“Akan tetapi, apakah Paman mengetahui di mana dia tinggal?”
Seperti yang telah dikhawatirkannya, piauwsu itu menggeleng kepala. “Kami semua tak ada yang tahu,
akan tetapi karena ada beberapa orang anak buahku pernah melihatnya, biarlah aku membantumu dengan
menyebar mereka agar suka mencarinya. Seorang di antara mereka, baru dua hari yang lalu pernah
mengatakan kepadaku bahwa si gendut botak itu nampak berkeliaran di kota ini.”
Sin Hong merasa girang sekali dan anak buah itu segera dipanggil.
“Memang saya melihatnya dua hari yang lalu. Lagaknya masih seperti dahulu, seperti seorang hartawan
besar, dengan pakaian mewah dan royal dengan uangnya.”
“Sekarang juga, engkau ajak teman-temanmu yang pernah melihatnya untuk melakukan pencarian secara
berpencar dan kalau menemukannya, cepat memberi kabar ke sini!”
Setelah orang itu pergi, Kwee Ci Hwa juga bangkit berdiri. “Aku dulu juga melihatnya, biar aku juga
membantu mencarinya!”
Tanpa menanti jawaban, gadis itu sudah meloncat keluar. Sin Hong merasa tidak enak sekali.
“Ah, aku ternyata selain membikin ribut di sini, juga membikin repot saja, Paman Kwee.”
“Jangan berkata begitu, Sin Hong. Sudah semestinya dalam hal seperti ini kita saling bantu.”
“Akan tetapi sampai nona...ehhh, adik Kwee sendiri ikut repot...“
“Aku mengerti isi hatinya. Tentu ia merasa tidak enak karena tadinya aku yang disangka sehingga ia ingin
sekali membantu untuk membersihkan nama ayahnya. Engkau tunggu saja di sini malam ini sampai ada
berita dari mereka tentang hasil penyelidikan mereka.”
“Terima kasih, Paman. Akan tetapi aku tidak berani mengganggu lebih lama lagi malam ini. Biarlah besok
pagi saja aku datang ke mari lagi untuk mendengar keterangan hasil penyelidikan itu. Sekarang saya lebih
baik pergi saja dulu.”
“Tidak ada yang terganggu, Sin Hong. Setelah terjadinya peristiwa ini, aku pun tidak akan dapat tidur lagi.
Biarlah kita bercakap-cakap di sini sambil menanti mereka. Karena kota ini kecil saja kiranya tidak akan
lama mereka mencari.”
Karena ditahan-tahan, Sin Hong merasa tidak enak juga kalau tidak mau menerimanya dan ketika mereka
bercakap-cakap, dia mendengar kenyataan bahwa orang she Kwee ini memang memiliki sikap yang amat
dunia-kangouw.blogspot.com
menyenangkan. Dia gagah dan jujur dan Sin Hong merasa tertarik sekali, juga semakin percaya karena
orang seperti ini tak mungkin melakukan kejahatan yang keji dan curang.
Juga Kwee Tay Seng mempunyai pengalaman yang luas di dunia kang-ouw, mengenal tokoh-tokoh kangouw
yang pandai. Dalam ilmu kepandaian, pernah dia melihat ketika Kwee-piauwsu menghadapi amukan
Ciu Hok Kwi dan dia tahu bahwa dalam hal ilmu silat, agaknya sukar mencari orang di daerah Ban-goan
yang akan mampu menandingi piauwsu ini.
Karena mereka asyik bercakap-cakap, tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan menjelang pagi,
muncullah Kwee Ci Hwa dan dua orang anak buah piauwkiok.
“Ayah, kami telah menemukan dia!” kata gadis itu.
Sin Hong merasa berterima kasih sekali, apa lagi sesudah melihat betapa gadis itu nampak kedinginan dan
lelah.
“Ahh, terima kasih! Dia berada di mana, Nona?”
“Sin Hong, anakku yang hanya satu ini bernama Kwee Ci Hwa, harap engkau jangan sungkan-sungkan
dan menyebut nona kepadanya,” kata Kwee-piauwsu yang diam-diam merasa suka kepada pemuda yang
sederhana itu.
“Maaf, adik Ci Hwa, akan tetapi aku ingin sekali tahu di mana adanya si gendut botak she Lay itu.”
“Dia... dia... Gu-toako, engkau saja yang menerangkan,” kata gadis itu dan mukanya berubah merah.
Anak buah piauwkiok itu lalu menerangkan dengan jelas. “Orang she Lay yang gendut botak itu sudah
beberapa hari berada di Ban-goan dan agaknya memang hanya kalau malam saja dia baru berkeliaran
keluar, kalau siang entah bersembunyi di mana. Kami menemukan jejaknya dan kini dia berada di rumah
pelesir di ujung timur kota. Selama beberapa hari ini memang dia langganan di situ dan menurut
penyelidikan kami, dia amat royal dengan uangnya, dan di sana pun dia dipanggil Lay-wangwe (Hartawan
Lay) yang royal memberi hadiah kepada para pelacur.”
Kini mengertilah Sin Hong mengapa gadis itu malu untuk menceritakan, dan dia sendiri sungguh pun
kelahiran kota itu, namun tidak tahu di mana letaknya rumah pelesir atau rumah pelacuran itu.
“Di manakah rumah itu? Ujung timur kota? Jauhkah dari jembatan merah?”
“Tepat di sebelah timur jembatan itu,” kata Kwee-piauwsu, “Hanya terhalang dua buah rumah. Rumah
pelesir itu bercat merah, besar dan di depannya tumbuh sekelompok mawar.”
“Kalau begitu, aku akan pergi ke sana sekarang juga!” kata Sin Hong sambil bangkit berdiri dan menjura
kepada Kwee-piauwsu, puterinya dan beberapa orang piauwsu yang tadi mencari jejak Lay-wangwe.
“Terima kasih atas segala kebaikan Paman, juga engkau adik Ci Hwa, dan para saudara piauwsu yang
telah membantuku.”
“Nanti dulu, Sin Hong,” kata Kwee piauwsu, “Engkau... apa yang hendak kau lakukan terhadap orang
gendut botak itu?”
“Akan kutangkap dia dan kupaksa mengaku tentang peristiwa yang terjadi.”
“Sin Hong, engkau tidak boleh memandang rendah pada mereka yang telah melakukan pembunuhanpembunuhan
terhadap ayahmu dan Tang-piauwsu itu. Mereka itu lihai dan berbahaya, dan siapa tahu
kalau-kalau dugaanmu benar dan di belakang Lay-wangwe itu terdapat gerombolan jahat itu. Engkau harus
berhati-hati...“
“Biarlah aku yang menemaninya, Ayah! Tan-toako, mari kutunjukkan engkau tempatnya dan aku akan
membantumu kalau muncul orang-orang jahat itu!” kata Ci Hwa dengan gagah.
Tentu saja Sin Hong merasa semakin tidak enak. Melihat keraguannya, Kwee-piauwsu berkata, dengan
suara yang tegas.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ci Hwa benar, Sin Hong. Engkau boleh mengandalkan ia yang sudah memiliki ilmu silat cukup tinggi untuk
membela diri dan juga membantumu. Nah, kalian pergilah, akan tetapi berhati-hatilah dan jangan bertindak
sembrono.”
Sin Hong tidak dapat menolak lagi dan terpaksa dia bersama Ci Hwa lalu keluar dari rumah keluarga Kwee.
Mereka berjalan berdampingan. Malam menjelang pagi itu dingin dan sunyi bukan main, juga agak gelap
karena kini bulan sudah lenyap, tinggal tersisa bintang-bintang yang suram cahayanya.
“Siauw-moi (adik kecil), sungguh aku hanya membikin repot engkau saja,” Sin Hong berkata, karena dia
merasa tidak enak oleh sikap gadis itu yang diam saja.
“Ah, tidak, Toako. Bagaimana pun juga, aku merasa berkewajiban untuk ikut membantu menangkap
penjahat itu, yang telah membunuh ayahmu dan Tang-piauwsu, karena aku harus membersihkan nama
ayah yang tadinya ternoda oleh dugaan bahwa ayah yang melakukan kejahatan itu.”
Sin Hong tidak bicara lagi, diam-diam dia kagum kepada gadis ini. Seorang gadis yang tidak banyak bicara,
akan tetapi memiliki semangat besar, keberanian dan kegagahan.
“Nah, itulah rumahnya,” kata Ci Hwa menunjuk ke sebuah rumah yang cukup besar dan bercat merah, di
halaman depan tumbuh bunga-bunga mawar. Semua daun pintu dan jendela rumah itu masih tertutup dan
suasananya sunyi sekali.
“Aku akan segera mengetuk pintu dan minta bicara dengan Lay-wangwe,” berkata Sin Hong sambil
melangkah lebar untuk menghampiri pintu depan.
“Nanti dulu, Toako. Kalau engkau datang begitu saja ingin menemuinya, tentu dia curiga dan kalau dia
melarikan diri, engkau akan kehilangan dia dan akan sukar kalau harus mencari orang yang sembunyisembunyi.
Sebaiknya kalau aku berjaga-jaga di bagian belakang agar dia tidak dapat melarikan diri. Kalau
dia lari dari pintu belakang, aku akan menahannya.”
Sin Hong merasa semakin kagum. Dibandingkan gadis ini, dia kalah jauh dalam hal pengalaman dan
kecerdikan. “Baiklah, Hwa-moi, engkau benar sekali.”
Gadis itu lalu berkelebat dan dengan cepat berlari memutari rumah itu untuk mengintai dan berjaga di
belakang rumah. Setelah menunggu beberapa lamanya untuk memberi kesempatan kepada Ci Hwa tiba di
belakang rumah dan mencari tempat pengintaian yang tepat, Sin Hong kemudian menghampiri pintu
depan. Dia tidak ingin menimbulkan keributan dengan masuk sebagai seorang pencuri. Dia mengetuk pintu
depan beberapa kali.
Tak lama kemudian daun pintu terbuka dan seorang kakek berusia enam puluh tahun muncul sambil
menggosok-gosok mata dengan punggung tangan. Dia nampak masih mengantuk, juga ketika pintu
terbuka, dia agak menggigil kedinginan oleh angin pagi yang menerpa masuk.
“Ah, Kongcu, sungguh merupakan waktu yang aneh untuk mengunjungi rumah pelesir!” Dia terkekeh.
“Kongcu datang terlalu pagi atau justru terlalu malam. Anak-anak manis itu masih tidur pulas semua, nanti
kurang lebih jam sepuluh mereka baru akan bangun. Apakah Kongcu menghendaki seorang di antara
mereka? Dengan tambahan istimewa, kiranya ia mau dibangunkan pagi-pagi begini.”
Wajah Sin Hong berubah merah. Sialan, pikirnya, dia disangka ingin melacur!
Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak, Lopek. Aku bukan datang untuk pelesir, melainkan
mencari seorang tamu, yaitu Lay-wangwe.”
Mendadak pandang mata orang itu berubah, penuh kecurigaan dan alisnya berkerut. “Tidak ada yang
bernama Lay-wangwe di sini,” katanya ketus.
Sin Hong tidak mau mempergunakan kekerasan yang akan meributkan suasana dan membikin takut Laywangwe.
“Lopek, aku tahu bahwa Lay-wangwe bermalam di sini. Ketahuilah, aku adalah seorang sahabat baiknya
yang perlu sekali bicara dengan dia sekarang juga. Amat penting!” Sin Hong mengeluarkan sepotong perak
dan menyerahkannya kepada pelayan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat berkilaunya perak, pandang mata kakek itu silau dan sikapnya berubah walau pun dia masih raguragu.
“Akan tetapi aku tidak mengenal siapa Kongcu, dan selain itu tamu yang sedang tidur nyenyak tentu akan
marah sekali jika kuganggu dan kuketuk pintunya. Apa yang harus kukatakan kalau dia terbangun dan
marah-marah kepadaku karena gangguanku?”
Uang itu sudah diterima dan lenyap ke dalam saku baju pelayan itu. Sin Hong sudah merasa menang,
namun dia pun harus berhati-hati dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Dia tahu bahwa Laywangwe
pasti telah memesan kepada para pelayan di tempat itu untuk merahasiakan kehadirannya di
rumah itu.
“Kalau dia sudah terbangun dan marah-marah, katakan saja bahwa aku adalah seorang sahabatnya yang
datang untuk memberi tahu padanya bahwa ada bahaya mengancam dirinya, dan dia harus cepat pergi
bersamaku kalau ingin selamat.”
Mendengar ini, pelayan itu terbelalak.
“Wah, kalau begitu gawat!” katanya dan dia pun lari masuk ke dalam rumah besar itu setelah menutup
kembali pintu depan.
Sin Hong menanti sambil mendekatkan telinganya ke daun pintu agar dapat mendengar lebih baik. Dia siap
untuk mempergunakan kekerasan kalau jalan halus ini gagal. Akan tetapi siasatnya tadi berhasil baik.
Pada saat pelayan itu mengetuk daun pintu kamar di mana Lay-wangwe masih tidur mengorok sambil
merangkul dua orang wanita pelacur yang mengapitnya, dia terbangun dan tentu saja dia marah-marah
karena merasa terganggu.
“Lay-wangwe, ada keperluan penting sekali, harap bangun!” demikian suara pelayan yang mengetuk pintu
kamar itu.
Dua orang pelacur terbangun lebih dahulu dan mereka segera menutupi tubuh mereka dengan selimut,
sementara itu Lay-wangwe bangkit dan duduk dengan sukar karena perutnya amat gendut. Dia pun
menutupi tubuhnya dengan selimut dan mengomel.
“Keparat, siapa berani menggangguku?” Kepada seorang di antara dua orang pelacur itu dia memberi
isyarat untuk membuka daun pintu.
Ketika daun pintu terbuka dan dengan takut-takut pelayan tua itu terbungkuk-bungkuk masuk. Lay-wangwe
membentak marah.
“Apa kau sudah bosan hidup, berani mengganggu aku sepagi ini?”
“Maafkan saya, Lay-wangwe, tetapi di luar sudah datang seorang tamu yang mengaku sahabat baik
Wangwe. Dia mengatakan bahwa ada bahaya mengancam diri Wangwe dan kalau Wangwe menghendaki
supaya selamat, Wangwe harus cepat-cepat pergi bersama dia sekarang juga.”
Laki-laki pendek gendut itu terbelalak, wajahnya berubah pucat dan cepat-cepat dia meraih pakaiannya
secepat mungkin.
“Bagaimana orangnya? Masih mudakah? Atau sudah tua? Dan siapa namanya?” Dia bertanya sambil
mengenakan pakaiannya.
“Dia belum sempat mengaku siapa namanya, akan tetapi orangnya masih muda dan dia ramah sekali, baik
sekali, Lay-wangwe. Dan dia nampaknya bersungguh-sungguh...“
“Kalau begitu aku harus cepat pergi dari sini!” katanya sambil melemparkan beberapa potong uang perak
kepada dua orang pelacur itu.
Dia keluar dari kamar dan melihat betapa beberapa buah kamar yang berderet di situ juga nampak terbuka.
Agaknya ribut-ribut itu sudah membangunkan tamu-tamu lain. Hal ini sebenarnya biasa saja, namun orang
dunia-kangouw.blogspot.com
she Lay yang sudah ketakutan itu sekarang memandang penuh kecurigaan, seakan-akan bahaya yang
disebutkan tadi datang dari kamar-kamar itu. Dia pun cepat-cepat melangkah keluar, tidak tahu betapa
beberapa buah kancing bajunya salah memasuki lubangnya serta kedua matanya kemerahan dan
ujungnya dihias kotoran mata.
Setelah membuka pintu depan dia berhadapan dengan Sin Hong! Sekali lihat saja Sin Hong sudah tahu
bahwa dia sedang berhadapan dengan orang yang dimaksudkan oleh Tang-piauwsu dan Ciu-piauwsu,
yaitu orang gendut botak yang terkenal dengan nama Lay-wangwe, si pengirim emas yang mengakibatkan
tewasnya ayahnya dan membuat perkara menjadi berlarut-larut sampai kematian Tang-piauwsu itu.
Akan tetapi, dia belum yakin benar bahwa si gendut ini hanya merupakan umpan untuk menjebak ayahnya.
Bagaimana kalau dia ini benar-benar pengirim emas, sama sekali tidak bersalah?
“Siapa... siapakah engkau...? tanya Lay-wangwe dengan sangsi ketika melihat seorang pemuda yang
sama sekali tidak pernah dikenalnya.
Akan tetapi, Sin Hong melangkah maju. “Apakah engkau yang bernama Lay-wangwe?”
Karena tak mengenal pemuda itu, muncul lagak Lay-wangwe yang memandang rendah orang lain. Apa lagi
orang ini mengganggunya dan dia tidak melihat adanya gangguan dan dia tidak melihat adanya bahaya
mengancam seperti yang dikatakan pelayan tadi.
“Benar, akulah Lay-wangwe. Engkau siapa dan mau apa?” Kemudian dia menoleh ke kanan kiri dan
menyambung, “Engkau bilang ada bahaya? Engkaulah yang mengatakan ada bahaya tadi, dan di mana
bahaya itu?”
Sin Hong tersenyum. “Lay-wangwe, di sinilah letaknya bahaya kalau engkau tidak mau bicara terus terang
padaku. Ketahuilah, aku adalah putera dari mendiang Tan-piauwsu, pemimpin Peng An Piauwkiok yang
dahulu mengangkut emasmu ke Tuo-lun! Ingatkah engkau? Engkau datang kepada ayah, mengirim peti
berisi emas ke Tuo-lun, kemudian di tengah jalan, ayah dibunuh orang dan engkau menuntut ganti
kerugian dan menyita rumah beserta perusahaan ayah. Lalu terjadi pembunuhan pula atas diri Tangpiauwsu
belum lama ini. Nah, katakanlah, apa yang kau ketahui tentang semua pembunuhan itu?”
Lay-wangwe terbelalak memandang kepada Sin Hong, kemudian dia tersenyum lebar, mengejek. “Orang
muda, hanya untuk itu engkau berani mengganggu aku? Memang akulah yang mengirim emas itu, dan
karena hartaku hilang, aku lalu menyita rumah dan perusahaan ayahmu. Aku sudah menderita kerugian
besar dan engkau masih hendak menggangguku? Aku tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu!” Ia pun
membalikkan tubuhnya hendak masuk lagi.
“Tunggu dulu!” Sin Hong berseru dengan suara keras.
Lay-wangwe membalik dan kini matanya menjadi semakin merah dan alisnya berkerut karena dia sudah
marah sekali.
“Engkau mengaku sebagai seorang hartawan di kota raja, akan tetapi ternyata engkau bukan hartawan
kota raja karena di sana tidak ada seorang pun yang mengenalmu! Dan pada waktu engkau hendak
mengirim peti berisi emas itu melalui Ban-goan Piauwkiok, engkau menolak ketika petinya hendak dibuka
dan isinya diperiksa, bahkan engkau lalu membatalkan pengiriman itu, dan mengirimkannya tanpa
membuka peti melalui ayahku. Siapakah engkau ini sebenarnya dan apa maksudmu memancing ayah
dengan umpan kiriman emas itu untuk menjebaknya?”
“Bocah kurang ajar! Berani engkau menyelidiki keadaanku? Engkau patut dihajar!”
Dan tiba-tiba saja orang yang gendut itu bergerak cepat sekali, menyerang Sin Hong dengan pukulan dua
tangannya secara bertubi-tubi! Orang akan terkejut sekali melihat betapa ‘hartawan’ Lay itu tiba-tiba saja
menjadi seorang laki-laki yang ganas dan dapat melakukan penyerangan secepat dan sekuat itu, padahal
tubuhnya bulat dengan perut yang gendut.
Sin Hong tentu saja tidak gugup, akan tetapi dia pun agak terkejut karena tidak mengira bahwa Laywangwe
itu ternyata bisa menyerangnya, bukan hanya dengan cepat sekali, tapi juga dia dapat melihat
betapa pukulan-pukulannya mengandung tenaga yang cukup kuat! Kiranya si gendut ini bukan orang
sembarangan dan tentu saja kecurigaannya semakin bertambah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, kiranya engkau seorang tukang pukul!” katanya sambil miringkan tubuhnya.
Pada saat kedua tangan Lay-wangwe yang melancarkan pukulan bertubi-tubi itu lewat, tangan Sin Hong
bergerak menotok dan robohlah tubuh yang berperut gendut itu, tidak mampu bangkit lagi karena tubuh itu
terasa lemas oleh totokan Sin Hong! Kini muka orang itu nampak ketakutan karena baru dia tahu bahwa
dia berhadapan dengan lawan yang luar biasa lihainya, yang dapat merobohkannya dalam satu gebrakan
saja! Sulit untuk dipercaya, akan tetapi kenyataannya demikianlah dan dia mulai merasa ngeri dan takut.
“Nah, sekarang ceritakan yang sebenarnya. Siapa yang dulu mengatur pancingan dan jebakan itu? Siapa
pula yang sudah membunuh ayahku dan Tang-piauwsu? Katakan sebetulnya kalau tidak ingin aku
terpaksa menggunakan kekerasan memaksamu!”
Sin Hong sengaja menekankan jari tangannya ke pundak orang gendut itu dan orang itu pun menyeringai
kesakitan. Penekanan pada jalan darah di pundaknya itu membuat seluruh tubuh bagian atasnya demikian
nyeri seperti ditusuki ribuan jarum dan keringat dingin membasahi muka dan lehernya.
“Aku... aku tidak tahu siapa pembunuhnya... aku hanyalah anak buah saja...,“ katanya dengan suara
terputus-putus saking hebatnya rasa nyeri yang dideritanya. Sin Hong melepaskan jarinya.
“Lalu siapa pemimpinmu? Siapa yang mengutusmu? Jawab!”
“...Tiat... Tiat-liong-pang...!” Tiba-tiba dia menjerit dan berkelojotan.
Sin Hong terkejut bukan main. Pada saat orang itu tadi mulai membuat pengakuan, ada belasan jarum dan
paku beracun menyambar ke arahnya dari depan. Ia cepat mengelak dengan loncatan ke samping dan
tangannya mendorong sehingga sisa senjata rahasia itu terpukul angin dorongannya sehingga runtuh.
Akan tetapi ketika dia memandang, dia melihat orang gendut itu sudah berkelojotan dengan muka membiru
dan mata melotot.
Dia melihat bayangan orang berkelebat lari ke dalam rumah itu. Sudah terlambat untuk menyelamatkan si
gendut dan dia pun cepat meloncat dan mengejar ke dalam rumah. Bayangan yang kelihatan berpakaian
hitam itu ternyata mempunyai gerakan yang amat cepat.
Terdengar jeritan-jeritan para wanita ketika Sin Hong berlari cepat memasuki rumah itu. Ternyata wanitawanita
pelacur yang keluar dari kamar masing-masing, terkejut dan ketakutan melihat kejar-kejaran itu, apa
lagi yang dikejar adalah seorang yang memakai pakaian hitam dan kedok hitam pula!
Dengan penuh semangat Sin Hong melakukan pengejaran. Dia merasa yakin bahwa orang berpakaian
hitam itulah yang menjadi kunci rahasia pembunuhan-pembunuhan itu, setidaknya orang itu tentu yang
sudah membunuh Tang-piauwsu. Maka dia harus dapat menangkapnya!
Orang itu menerjang pintu belakang dan terus melompat ke dalam kegelapan pagi yang masih remangremang
itu. Tetapi tiba-tiba ada orang menyambutnya dengan bentakan nyaring.
“Berhenti!” Bentakan itu dibarengi munculnya Kwee Ci Hwa dengan pedang telanjang di tangan.
Melihat betapa ada seorang gadis berpedang menghadang di depannya, orang itu tidak berhenti, bahkan
menerjang dan menyerang Ci Hwa! Tentu saja Ci Hwa terkejut akan kenekatan orang itu dan ia pun
menyambut dengan tusukan pedangnya! Akan tetapi, orang itu menangkis dengan tangan kiri dan tangan
kanannya tetap saja mencengkeram ke arah dada Ci Hwa!
“Plakkk!”
Pedangnya tertangkis oleh tangan kosong itu begitu saja sampai hampir terlepas dari pegangannya dan
dadanya terancam cengkeraman. Terpaksa Ci Hwa melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik,
kemudian ia membalikkan tubuhnya. Tapi terlambat!
Orang yang ternyata luar biasa lihainya itu sudah menendang lututnya sehingga Ci Hwa terguling. Orang
itu menubruk lagi dengan hantaman tangan kanannya ke arah kepala Ci Hwa yang sudah tidak sempat
untuk mengelak atau menangkis lagi!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dukkk!”
Pukulan hebat dari orang berkedok hitam itu tertangkis oleh tangan Sin Hong yang datang tepat pada saat
nyawa Ci Hwa terancam bahaya itu.
Orang itu mengeluarkan seruan kaget, kemudian menyerang dengan kedua tangan didorongkan ke arah
dada Sin Hong. Pukulan jarak jauh! Ini membuktikan bahwa orang berkedok itu memang lihai bukan main.
Sin Hong menyambut dengan dorongan penuh tenaga sinkang sehingga orang itu terjengkang!
Kembali dia mengeluarkan seruan kaget dan terus meloncat jauh dan menghilang ke dalam kegelapan
pagi buta itu. Sin Hong tidak mengejar karena dia mengkhawatirkan keselamatan Ci Hwa melihat kelihaian
orang itu. Siapa tahu masih ada kawanan penjahat di situ yang akan mencelakai Ci Hwa.
“Engkau terluka, Hwa-moi (adik Hwa)?” tanyanya sambil memegang pundak gadis itu.
Ci Hwa menggelengkan kepala, lalu bangkit berdiri. Kakinya tidak terluka parah, hanya agak terpincang.
“Mari kita kejar dia!” kata Sin Hong dan sambil memegang tangan gadis itu, dia pun meloncat sehingga Ci
Hwa merasa seolah-olah tubuhnya diangkat dan dibawa terbang! Sampai beberapa lamanya Sin Hong dan
Ci Hwa mencari-cari, namun si kedok hitam itu sudah lenyap.
“Sayang, dia telah pergi...!” kata Sin Hong yang terpaksa menghentikan larinya.
Gadis itu mengangkat muka memandangnya dengan sinar mata penuh rasa kagum, lalu ia merunduk dan
merasa malu sekali untuk bertemu pandang dengan pemuda itu.
“Hong-ko...“
“Ya. Kenapa, Moi-moi, engkau tidak terluka parah, bukan?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, dan aku tadi terbebas dari maut, berkat pertolonganmu,
Hong-ko.”
“Aih, sudahlah, hal itu tidak perlu disebut-sebut lagi. Sayang jahanam itu dapat lolos. Dia tentu tahu banyak
tentang rahasia pembunuhan-pembunuhan itu.”
“Siapakah orang berkedok yang lihai itu, Hong-ko?”
“Aku tidak tahu. Aku berhasil bertemu dengan Lay-wangwe yang gendut itu dan ketika aku mulai
mengancamnya untuk mengaku, mendadak dia diserang senjata rahasia dan tewas. Penyerangnya adalah
orang berkedok itu maka aku mengejarnya.”
“Ahhh...!” Tentu saja Ci Hwa terkejut mendengar bahwa orang she Lay itu tewas pula oleh orang berkedok
tadi.
“Sungguh aku merasa malu dan menyesal sekali, Hong-ko. Aku memandang rendah padamu, mengira
engkau tidak sedemikian pandainya sehingga aku ikut membantumu, ternyata bahkan sudah
menghalangimu menangkap orang berkedok itu. Kiranya engkau memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa
tingginya.”
“Sudahlah, Hwa-moi, jika tidak ada engkau yang menghadangnya, tentu aku tak sempat bentrok
dengannya dan ia telah lebih dulu menghilang. Mari kita pulang dan melaporkan hal ini kepada ayahmu
sebab tadi aku memperoleh keterangan yang cukup penting dari Lay-wangwe. Menurut pengakuannya
sebelum dia terbunuh, dia hanya diperalat oleh Tiat-liong-pang.”
“Tiat-liong-pang? Perkumpulan apa itu dan di mana?”
“Aku tidak tahu, sebaiknya kalau kita tanyakan hal itu kepada ayahmu, mungkin dia lebih tahu.”
Benar saja, ketika Kwee-piauwsu mendengar bahwa si gendut Lay itu diperalat oleh Tiat-liong-pang, dia
terkejut bukan main. “Tiat-liong-pang? Perkumpulan besar di bawah pimpinan Siangkoan Lohan! Sungguh
aneh sekali! Perkumpulan itu terkenal amat kuat, dan Siangkoan Lohan adalah seorang yang mempunyai
dunia-kangouw.blogspot.com
ilmu kepandaian sangat tinggi. Perkumpulannya terkenal kuat pula dan dia memiliki hubungan dekat
dengan istana, bahkan kabarnya dihadiahi puteri dari istana yang menjadi isterinya karena dia banyak
berjasa terhadap kerajaan. Apa artinya ini? Mengapa suatu perkumpulan besar seperti Tiat-liong-pang tibatiba
ada hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan ayahmu dan Tang-piauwsu, bahkan kini
membunuh Lay-wangwe, kaki tangannya sendiri untuk menutup mulutnya? Apa yang dikehendaki
perkumpulan macam Tiat-liong-pang di sini? Sungguh aneh dan sukar dipercaya keterangan orang she
Lay itu!”
“Bagaimana pun juga, keterangan itu sudah mendatangkan jejak baru dan saya akan melakukan
penyelidikan ke sana, paman Kwee. Sayang bahwa orang berkedok itu bisa lolos, karena dia pasti tahu
akan semua peristiwa pembunuhan itu, bahkan mungkin sekali dialah yang melakukan pembunuhan
terhadap ayah dan paman Tang.”
Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. “Memang tidak ada jalan lain untuk melakukan penyelidikan setelah
orang she Lay itu terbunuh. Akan tetapi berhati-hatilah, Sin Hong, karena Tiat-liong-pang adalah sebuah
perkumpulan yang amat kuat dan berpengaruh, juga bukan perkumpulan penjahat.”
“Baik, Paman dan terima kasih atas semua nasehat dan bantuan Paman.”
Pada hari itu juga, Sin Hong meninggalkan rumah keluarga Kwee, dan setelah pemuda itu pergi, wajah Ci
Hwa nampak murung dan sinar matanya suram. Ayahnya melihat hal ini dan diam-diam merasa heran.
Akan tetapi, belum sempat dia bertanya, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali dia mendapatkan bahwa
puterinya itu telah pergi meninggalkan rumah tanpa pamit! Hanya terdapat surat di atas meja dalam
kamarnya yang memberi tahukan ayah ibunya bahwa ia pergi untuk membantu menyelidiki pembunuh Tanpiauwsu
dan Tang-piauwsu, untuk mencuci nama ayahnya yang tadinya disangka menjadi pembunuh.
Nyonya Kwee menangis dan merasa khawatir sekali, membujuk suaminya agar mencari dan mengajak
kembali Ci Hwa. Akan tetapi suaminya menghiburnya.
“Ia sudah dewasa dan sudah mempunyai bekal kepandaian silat yang cukup kuat untuk menjaga diri
sendiri. Biarlah ia mencari pengalaman selagi masih bebas.” Demikian dia berkata kepada isterinya.
Akan tetapi diam-diam dia mengharapkan puterinya itu dapat bertemu dan bekerja sama dengan Sin Hong
karena Kwee-piauwsu merasa suka sekali kepada Sin Hong yang mirip ibunya, wanita yang pernah
dikasihinya itu. Ia berharap untuk dapat menjodohkan puterinya dengan pemuda itu!
Sementara itu, setelah meninggalkan rumah keluarga Kwee, Sin Hong tidak langsung pergi ke luar kota
untuk menyelidiki Tiat-liong-pang, melainkan singgah di bekas rumah orang tuanya. Dia melihat betapa
bangunan itu, baik kantor piauwkiok mau pun rumah tinggalnya, telah diperbaiki sehingga kelihatan baru
dan dicat baru pula. Hampir dia tak mengenali lagi tempat di mana dia tinggal sejak lahir sampai berusia
belasan tahun.
Ciu-piauwsu menyambutnya dengan wajah gembira. “Tan Sin Hong, engkau baru saja datang? Bagaimana
dengan hasil penyelidikanmu?” tanyanya langsung setelah pemuda itu dipersilakan masuk.
Karena Ciu-piauwsu adalah satu-satunya orang dari pihak ayahnya yang mengetahui akan semua
urusannya itu, Sin Hong lalu menceritakan dengan singkat tentang semua hasil usahanya. Betapa dia
sudah gagal menemukan Lay-wangwe di kota raja, betapa dia kemudian menyelidiki keluarga Kweepiauwsu
dan atas bantuan keluarga itu dia lalu berhasil menemukan Lay-wangwe di Ban-goan dan kembali
ada pembunuhan, yaitu terhadap diri si gendut itu, lagi-lagi oleh seorang berkedok.
“Sayang aku tak dapat menangkap orang berkedok itu,” dia mengakhiri ceritanya. “Akan tetapi Lay-wangwe
sudah meninggalkan suatu pengakuan yang dapat merupakan jejak baru dalam penyelidikanku, paman
Ciu.”
“Ahhh, benarkah? Apa saja yang diakuinya?” Ciu-piauwsu mendesak.
“Menurut pengakuannya sebelum dia tewas oleh senjata rahasia orang berkedok itu, dia hanya diperalat
oleh Tiat-liong-pang.”
“Ohhhh...!” Wajah Ciu-piauwsu berubah dan matanya terbelalak. Dia nampak terkejut bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kenapa, Paman?”
“Celaka, tentu orang gendut botak itu telah membohongimu. Mana mungkin semacam Tiat-liong-pang
mencampuri urusan ini? Tiat-liong-pang adalah sebuah perkumpulan besar dan kuat dipimpin oleh
Siangkoan Lohan, seorang kakek yang gagah perkasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mana mungkin
melakukan kejahatan? Tentu si gendut itu membohongimu!”
“Kurasa tidak, Paman. Betapa pun juga, setidaknya kini terdapat jejak baru sehingga aku dapat
melanjutkan penyelidikanku.”
“Aku lebih condong untuk menyelidiki Ban-goan Piauwkiok. Orang she Kwee itu lebih mencurigakan...“
“Tidak, Paman. Dugaan kita sudah keliru. Paman Kwee Tay Seng sama sekali tidak bersalah...“
“Ahhh, jangan engkau sampai tertipu oleh sikap manisnya!”
“Tidak, Paman. Aku yakin bahwa ia tak bersalah dan aku akan melakukan penyelidikan terhadap Tiat-liongpang.”
Ciu-piauwsu mengangguk-angguk. “Terserah kepadamu, Sin Hong. Akan tetapi berhati hatilah. Jangan
sampai engkau menuduh pihak yang tidak berdosa dan Tiat-liong-pang merupakan perkumpulan yang kuat
sekali, bahkan mempunyai hubungan dekat dengan istana karena ketuanya masih termasuk keluarga
kerajaan!”
Pada hari itu, Sin Hong meninggalkan Ban-goan setelah menerima banyak nasehat dari Ciu-piauwsu agar
berhati-hati jika menyelidiki Tiat-liong-pang. Dia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota San-cia-kou
karena perkumpulan itu terletak di lereng sebuah bukit di luar kota itu…..
********************
Sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Beng-san disebut Puncak Telaga Warna karena di puncak
itu terdapat sebuah telaga kecil yang amat indah. Telaga itu dikelilingi pohon-pohon dan karena airnya
jernih dan tenang, maka bayangan terpantul amat jelasnya dan membuat air telaga seolah-olah berwarnawarni.
Puncak ini amatlah indahnya. Hawanya selalu sejuk, bahkan kadang-kadang teramat dingin. Karena hawa
yang terlalu dingin inilah maka penduduk tinggal di lereng bawah atau kaki puncak. Akan tetapi, di antara
pohon-pohon besar dekat telaga itu nampak sebuah bangunan terselip di antara pohon-pohon raksasa.
Sebuah bangunan yang kokoh kuat dan sedang saja besarnya. Rumah itu tidak memiliki tetangga dan
nampak sunyi, namun melihat betapa pekarangannya selalu bersih, dan di belakang rumah terdapat taman
bunga dan kebun sayur dan pohon-pohon buah, dapat diketahui bahwa rumah ini dihuni orang.
Memang demikianlah, dan penghuni rumah itu bukanlah orang sembarangan, karena orang biasa saja
tentu tidak akan tahan tinggal terlalu lama di tempat yang sunyi dan hawanya amat dingin itu. Penghuninya
adalah dua orang kakek kembar. Mereka berusia kurang lebih lima puluh delapan tahun, dan mereka amat
terkenal di dunia kang-ouw dengan sebutan Beng-san Sian-eng (Sepasang Garuda dari Beng-san).
Dua orang kakek ini serupa benar wajah dan bentuk tubuh mereka mirip satu sama lain sehingga sukarlah
bagi orang luar untuk membuat perbedaan di antara mereka. Orang-orang kang-ouw jarang ada yang
mengetahui bahwa mereka sesungguhnya adalah cucu-cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.
Mereka adalah putera kembar dari kakek Gak Bun Beng yang kini berjuluk Bu Beng Lokai.
Biar pun orang luar sukar untuk mengenal mana yang bernama Gak Jit Kong dan mana yang Gak Goat
Kong, tapi tentu saja isteri mereka dengan mudah dapat membedakan mereka. Isteri mereka berdua hanya
seorang, yaitu bekas murid dan anak angkat mereka sendiri yang bernama Souw Hui Lian. Dua orang
kembar ini telah jatuh cinta kepada murid mereka sendiri, dan Souw Hui Lian juga mencinta mereka. Maka
kedua orang kakek kembar ini pun menikahlah dengan bekas murid mereka walau pun ayah mereka
sebenarnya tidak setuju mendengar kedua orang putera kembarnya itu menikah dengan seorang wanita
saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Peristiwa pernikahan itu membuat hati ayah mereka, Gak Bun Beng, menjadi kecewa dan berduka. Kakek
ini sudah berduka karena ditinggal mati isterinya yang bernama Milana, puteri Pendekar Super Sakti dan
Puteri Nirahai.
Dalam keadaan berduka, lalu menghadapi kekecewaan karena kedua orang puteranya yang dianggap
tidak begitu berbakat dalam ilmu silat sekarang bahkan menikah dengan seorang wanita saja, maka
pergilah kakek Gak Bun Beng meninggalkan Puncak Telaga Warna. Dia hidup merana, bahkan terluntalunta
sebagai Bu Beng Lokai, sampai dia kemudian menemukan Suma Lian, cucu keponakannya sendiri
yang kemudian menjadi muridnya dan pertemuan ini memulihkan kembali gairah hidupnya.
Semenjak ditinggal pergi ayah mereka, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong hidup di Puncak Telaga Warna,
bersama isteri mereka, Souw Hui Lian dan kini mereka telah mempunyai seorang anak laki-laki yang
mereka beri nama Gak Ciang Hun yang kini sudah berusia kurang lebih sepuluh tahun.
Tentu saja mereka berdua pun merasa berduka bahwa ayah mereka tidak merestui pernikahan mereka,
bahkan meninggalkan mereka. Mereka sudah berusaha mencari ayah mereka, namun tidak pernah
berhasil sehingga akhirnya mereka putus asa dan menanti saja di Puncak Telaga Warna dengan penuh
keprihatinan kalau mereka teringat kepada ayah mereka yang sudah amat tua itu.
Adanya Gak Ciang Hun, putera mereka, merupakan hiburan terbesar bagi mereka dan mengurangi rasa
dosa terhadap ayah mereka karena bagaimana pun juga, pernikahan mereka dengan Hui Lian kini telah
menghasilkan seorang putera. Bukankah itu berarti bahwa Tuhan memberkahi mereka dan memberkahi
pernikahan itu?
Pada suatu pagi yang sejuk dan indah, karena matahari pagi mulai mengusir kegelapan dan memandikan
puncak Telaga Warna itu dengan cahaya keemasan setelah semalam suntuk puncak itu diselimuti kabut
yang menciptakan embun pagi, Gak Ciang Hun telah berada di dalam taman bunga. Anak ini memang
suka sekali bangun pagi dan bermain main seorang diri di dalam taman. Sepasang matanya penuh
kebahagiaan memandang burung-burung pagi berloncatan dan beterbangan dari dahan ke dahan, sambil
berkicau penuh keriangan.
Anak ini baru berusia sepuluh tahun dan dia hanya hidup bersama dua orang ayahnya dan seorang ibunya.
Memang kadang-kadang ayahnya atau ibunya membawa dirinya menuruni puncak pergi ke dusun-dusun,
atau ke pasar dusun untuk membeli segala keperluan rumah tangga mereka dan menjual hasil kebun atau
buruan mereka sehingga anak ini beberapa kali sebulan dapat bertemu dengan banyak orang di dusundusun.
Namun karena setiap harinya hanya bermain-main sendiri saja maka tentu anak ini merasa
kesepian dan mencari hiburan dengan bermain-main sendiri di tempat-tempat indah, di mana dia dapat
melihat binatang-binatang dan mendengarkan suara mereka.
Pagi hari itu, selain menikmati kicau burung yang ramai menyambut datangnya pagi, dia pun melihat
banyak kupu-kupu kuning. Sebetulnya untuk kupu-kupu itulah maka sepagi itu dia sudah duduk di taman.
Semenjak beberapa hari ini, sampai kurang lebih sebulan, taman itu akan penuh kupu-kupu kecil kuning.
Sedang musimnya.
Indah sekali kupu-kupu yang puluhan ribu banyaknya itu, membuat taman itu menjadi lebih cerah, seakanakan
taman itu sedang penuh dengan bunga-bunga kuning yang sedang berkembang. Karena ingin segera
menikmati keindahan pagi itu, Ciang Hun hanya sebentar saja berlatih silat di kebun belakang tadi.
Di kebun belakang, tak jauh dari taman itu, oleh orang tuanya dibuatkan sebuah petak rumput yang luas
dan tempat ini dipergunakan keluarga itu untuk berlatih silat. Memang setiap pagi Ciang Hun harus berlatih
silat, akan tetapi pagi ini hanya sebentar saja dia berlatih dan dia segera berlari-lari memasuki taman
setelah melihat kupu-kupu kuning mulai beterbangan.
Tiba-tiba ada beberapa ekor burung beterbangan dari atas pohon, meluncur turun dan menyambari kupukupu
kuning kecil itu. Melihat ini, Ciang Hun lalu menjadi marah. Dia meloncat dan menggunakan kedua
tangannya untuk mengusir burung-burung itu sambil mengeluarkan teriakan-teriakan sehingga burungburung
itu terbang ketakutan.
Akan tetapi, tidak lama kemudian ada saja beberapa ekor yang menyambar turun lagi sehingga Ciang Hun
segera mengambil batu-batu kecil untuk menyambiti dan mengusir mereka, melindungi kupu-kupu kuning
kecil. Setelah dia menggunakan batu-batu kecil, barulah burung-burung itu terbang pergi, tentu saja untuk
menyambari kupu-kupu yang beterbangan jauh dari taman itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciang Hun duduk kembali di atas bangku taman dan merasa lega. Sekarang kupu-kupu kuning itu
beterbangan bebas, di antara bunga-bunga, bahkan ada yang terbang tinggi ke atas pohon tanpa diganggu
burung-burung itu!
Memang sejak kecil anak ini telah digembleng oleh orang tuanya sehingga dalam usia sepuluh tahun,
selain dia menguasai dasar-dasar ilmu silat, juga di dalam batinnya telah bersemi watak yang gagah dan
tak rela melihat yang lemah dijadikan korban keganasan yang kuat. Sudah bersemi watak seorang
pendekar, watak membela golongan lemah yang tertindas.
“Indah sekali kupu-kupu itu!” Tiba-tiba terdengar suara halus.
Ciang Hun cepat menoleh dan dia melihat seorang wanita muda telah berdiri di situ sambil memandangi
kupu-kupu kuning kecil yang beterbangan kian kemari. Anak itu merasa heran sekali dan perhatiannya kini
beralih dari kupu-kupu ke arah gadis itu.
Seorang gadis yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Sekali pandang saja tahulah Ciang Hun bahwa
gadis itu tidak pernah dikenalnya dan bukanlah seorang gadis dari dusun di lereng bawah. Bukan gadis
dusun! Pakaiannya amat berbeda, juga sikapnya berbeda.
Gadis ini mengenakan pakaian yang aneh sekali. Pakaian yang penuh tambal-tambalan! Seperti pakaian
pengemis saja. Akan tetapi, kalau pakaian pengemis tambal-tambalan dan kotor sekali, sebaliknya pakaian
yang menutupi tubuh gadis ini, tambal-tambalan tapi amat bersih! Juga potongannya tidak seperti pakaian
gadis dusun yang kebesaran, namun ringkas dan ketat membungkus tubuh gadis itu sehingga nampak
pinggangnya yang ramping kecil, seperti pinggang lebah.
Sepatunya yang kecil terbuat dari kulit berwarna hitam dan nampak kuat. Rambutnya juga berbeda
lipatannya dengan rambut para gadis dusun. Rambut itu hitam lebat dan panjang, sekarang digelung ke
atas secara aneh, ditusuk dengan tusuk konde panjang sederhana, seperti sebatang sumpit merah. Kedua
mata gadis itu seperti mencorong, dan mulutnya tersenyum-senyum ketika ia membalas pandangan Ciang
Hun.
“Adik yang baik, engkau benar sekali. Burung-burung itu memang jahat dan perlu diusir! Mereka itu
menyambari dan membunuh kupu-kupu yang tidak berdosa!” kata pula gadis itu dan pandang matanya
nampak ramah sekali.
Ciang Hun mengerutkan alis, lalu menjawab, “Aku mengusir burung-burung itu bukan karena menganggap
mereka jahat, melainkan karena tidak tega melihat kupu-kupu itu dimakan. Burung-burung itu pun tidak
jahat!”
Gadis itu melebarkan matanya, nampak heran mendengar jawaban itu. “Akan tetapi, bukankah mereka itu
memakani kupu-kupu yang tidak berdosa?”
“Kita pun suka makan ayam, babi, kelinci dan binatang lain yang tidak berdosa, apakah kita pun menjadi
jahat?” Anak itu membantah. “Agaknya kupu-kupu itu memang menjadi makanan burung, jadi burungburung
itu pun tidak bersalah. Tidakkah begitu?”
Kini gadis itu yang nampak heran dan bingung, lalu mengangguk-angguk.
“Wah, agaknya benar juga engkau.” Lalu ia tertawa cerah, suara ketawanya nyaring dan merdu sekali.
“Adik kecil, engkau sungguh cerdik sekali. Jawabanmu itu membikin aku takluk dan mengaku kalah! Siapa
sih engkau ini? Siapa namamu?”
“Namaku Ciang Hun.”
“Apakah ada hubunganmu dengan Beng-san Siang-eng?”
“Mereka itu adalah ayahku! Aku bernama Gak Ciang Hun.”
Gadis itu kelihatan girang bukan main. “Aihhh, pantas engkau cerdik dan pintar sekali! Kiranya adik ini
putera dari Beng-san Siang-eng? Engkau harus menyebut enci (kakak perempuan) padaku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun Ciang Hun jarang bergaul dengan orang asing, namun dia bukan seorang anak pemalu. Ia lalu
menghampiri. Agaknya dia senang melihat gadis yang berwajah manis, kalau tersenyum muncul lesung
pipit di kedua pipinya, dan pandang matanya ramah sekali itu.
“Enci, engkau siapakah?”
“Namaku Suma Lian dan engkau boleh memanggil aku enci Lian.”
Anak itu terbelalak memandang pada Suma Lian, pandang matanya penuh kekagetan, keheranan dan
kekaguman.
“Suma...? Enci, she-mu sama dengan she dari kakek buyut. Kata ayah, kakek buyutku bernama Suma Han
adalah seorang pendekar sakti, penghuni Istana Pulau Es yang tidak ada lawannya di dunia ini!”
Suma Lian tersenyum dan membelai kepala anak itu. “Tidak salah keterangan ayahmu, adik Ciang Hun.
Kakek buyutmu bernama Suma Han itu juga kakek buyutku, karena itu kita adalah enci dan adik sendiri.”
Gadis bernama Suma Lian itu adalah puteri dari pendekar Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng yang tinggal
di dusun Hong-cun, di dekat kota Cin-an. Meski pun ayah ibunya merupakan pendekar-pendekar yang
sakti, namun gadis ini semenjak berusia dua belas tahun, telah menjadi murid Bu Beng Lokai, paman
kakeknya sendiri. (baca cerita SULING NAGA)
Pada saat itu berkelebat tiga bayangan orang. Gerakan mereka cepat sekali namun Suma Lian dapat
melihat mereka. Seorang di antaranya menyambar ke arah Ciang Hun dan dua orang yang lain menerjang
dan menyerang Suma Lian!
Gadis itu terkejut, tidak menyangka bahwa dirinya akan diserang secara tiba-tiba oleh dua orang itu, maka
cepat dia pun mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh), meloncat menjauhi dua orang
penyerangnya. Ketika ia turun dan menengok, ternyata Ciang Hun telah dirangkul dan dilindungi seorang
wanita cantik, sedangkan dua orang penyerangnya tadi adalah dua orang laki-laki berusia hampir enam
puluh tahun yang kembar dan keduanya nampak gagah perkasa!
Kini kedua orang kakek kembar itu, yang juga terkejut dan penasaran melihat betapa serangan mereka tadi
dengan sangat mudah dihindarkan lawan yang ternyata hanyalah seorang gadis muda, sudah siap untuk
menyerang lagi.
“Tahan dulu, kedua paman Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong! Aku bukan orang lain dan tidak berniat
buruk!” seru Suma Lian melihat mereka sudah hendak menyerangnya lagi itu karena sekali lihat pun ia
dapat menduga bahwa ia tentu berhadapan dengan dua orang putera kembar gurunya, dan tentu wanita itu
ibu dari Ciang Hun.
“Ia adalah enci Suma Lian, cucu buyut dari kakek buyut Suma Han!” teriak Ciang Hun kepada ayah ibunya.
Mendengar ini, tentu saja sepasang kakek kembar itu terkejut dan juga merasa heran, saling pandang lalu
mereka menghadapi dengan pandang mata penuh selidik.
“Nanti dulu!” kata Souw Hui Lian yang tadi bergerak cepat lebih dahulu menyelamatkan dan melindungi
puteranya. “Ia harus dapat membuktikannya!”
Ia lalu melepaskan Ciang Hun dan sekali meloncat ia sudah berhadapan dengan Suma Lian yang merasa
kagum melihat kecepatan gerakan wanita itu. Ia sudah mendengar bahwa wanita itu dahulu merupakan
murid dari kedua kakek kembar dan ternyata ilmu kepandaiannya sudah lumayan.
“Bibi, apakah engkau tidak percaya kepadaku?” tanyanya sambil tersenyum. “Apakah wajah dan
potonganku ini mirip penjahat dan tidak pantas menjadi keturunan keluarga para Pendekar Pulau Es?”
Suma Lian memang memiliki watak yang jenaka, berani, lucu dan kadang-kadang ugal ugalan, mewarisi
watak ayahnya ketika muda. Ia lalu bergaya memutar-mutar tubuh di depan kakek kembar dan isteri
mereka itu.
Hui Lian mengerutkan alisnya. Seorang gadis muda yang pakaiannya amat aneh, penuh tambal-tambalan,
dengan sikap yang demikian ugal-ugalan, bagaimana ia bisa percaya begitu saja?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau engkau benar she Suma dan keturunan para Pendekar Pulau Es, apa buktinya?” bentak Hui Lian.
Suma Lian tersenyum manis dan menjura dengan hormat dan lucu kepada Hui Lian. “Bibi yang baik,
namaku benar Suma Lian, ayahku Suma Ceng Liong dan ibuku Kam Bi Eng. Dan bukan itu saja, aku pun
menjadi murid dari paman kakek Bu Beng Lokai, ayah mertuamu sendiri.”
“Hemm, gadis muda, jangan engkau bicara sembarangan. Nama Ayah mertuaku bukan Bu Beng Lokai!”
kata pula Hui Lian, semakin curiga walau pun nama ayah ibu gadis itu sempat mengejutkannya.
“Aihhh, maafkan aku, Bibi. Mungkin kalian tidak mengenal nama Bu Beng Lokai, akan tetapi sebelum
mempergunakan nama itu, paman kakekku yang kini menjadi guruku itu bernama Gak Bun Beng...“
“Kongkong...!” Seru Ciang Hun gembira mendengar nama kakeknya disebut. Biar pun dia belum pernah
melihat kakeknya, namun sering kali kedua ayahnya bercerita tentang kakeknya dan dia amat
merindukannya.
“Nanti dulu!” kata pula Hui Lian. “Kalau benar engkau murid ayah mertuaku, engkau tentu dapat melayani
seranganku ini!”
Tiba-tiba saja ia lalu menyerang Suma Lian dengan jurus ampuh dari Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun (Silat Sakti
Pengacau Langit). Suma Lian tentu saja mengenal baik ilmu silat ini dan sambil mengelak dan bergerak
dengan ilmu yang sama, ia pun membalas serangan lawan dengan jurus lain dari Lo-thian Sin-kun.
Hui Lian masih belum merasa puas. Setelah menangkis, ia pun menyerang lagi dan dua orang wanita itu
pun saling serang dengan ilmu yang sama sehingga mereka itu seperti dua orang yang berlatih silat saja.
Setelah lewat belasan jurus dan ternyata gerakan Suma Lian dalam ilmu silat itu amat bagusnya, barulah
Hui Lian merasa puas dan dia pun meloncat ke belakang.
Suma Lian memandang sambil tersenyum manis. “Lo-thian Sin-kun yang Bibi mainkan sungguh bagus!
Apakah Bibi hendak menguji lagi?”
“Cukup, engkau memang benar Suma Lian dan maafkan kecurigaan kami karena dalam beberapa hari ini
kami terancam bahaya dari seorang musuh yang pandai,” kata Hui Lian.
“Ehhhhh?” Suma Lian terkejut mendengar ini.
Baru sekarang ia melihat betapa wajah dua orang pamannya dan juga bibinya nampak muram dan mata
mereka merah seperti orang yang kurang tidur. “Akan tetapi kalau benar demikian, mengapa tadi aku
melihat adik Hun bermain sendirian di luar?”
“Aih, anak itu belum mengenal bahaya. Mari kita masuk dan bicara di dalam,” kata pula Souw Hui Lian
sambil menggandeng tangan Suma Lian, kini sikapnya manis sekali.
Suma Lian tersenyum memandang kepada kedua orang pamannya. “Maaf, Paman, aku datang membikin
ribut saja. Akan tetapi sikap Bibi memang amat mengagumkan, dia cerdik dan pintar!”
Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong hanya tersenyum mendengar pujian itu dan mereka pun lalu masuk ke
dalam rumah yang cukup luas itu. Seorang pelayan wanita setengah tua segera muncul pada saat
dipanggil Hui Lian dan diperintahkan untuk menyediakan minuman untuk tamu yang disebutnya Sumasiocia
(nona Suma) ketika diperkenalkan kepada pelayannya.
“Aih, Bibi ini!” Suma Lian berseru memotong ucapan itu. “Kenapa harus menyebutku nona segala? Ciang
Hun sudah menyebutku enci kepadaku dan sebagai bibiku, tidak sepatutnya Bibi menyebut nona. Namaku
Suma Lian, tanpa nona.”
Hui Lian tersenyum dan kini ia tahu bahwa Suma Lian bukan seorang gadis kasar dan kurang ajar tetapi
seorang gadis yang jujur, terbuka, lincah dan tidak suka berpura-pura. “Baiklah, Suma Lian. Sekarang kami
ingin sekali tahu, apakah maksud kunjunganmu ini? Kami yakin bahwa tentu kunjunganmu ini mempunyai
maksud yang penting sekali.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Lian berpikir sejenak. Dia memang datang membawa keperluan penting, akan tetapi berita yang
dibawanya itu bukan berita menyenangkan, melainkan berita tentang gurunya yang sakit tua dan
menghendaki kedatangan kedua orang putera kembarnya itu. Sebaiknya kalau ia mengetahui lebih dahulu
bahaya apa yang katanya mengancam keluarga paman dan bibinya ini.
“Nanti dulu, Bibi. Sebelum aku menceritakan keperluan kedatanganku, lebih baik kalau Bibi menceritakan
kepadaku tentang bahaya apa yang mengancam kalian. Aku bersedia membantu kalian. Ceritakanlah
mengapa kalian tadi begitu curiga kepadaku sehingga tiba-tiba saja menyerangku.”
Gak Jit Kong kini yang menjawab. “Maafkan kami, Lian-ji (anak Lian). Kami memang sedang panik
sehingga tanpa bertanya lagi menyerangmu, karena kami mengira bahwa engkau merupakan komplotan
orang-orang jahat yang mengancam hendak menculik anak kami.”
“Komplotan jahat menculik adik Ciang Hun?”
“Benar, Suma Lian,” sambung Gak Goat Kong. “Terjadinya sudah kurang lebih sepekan yang lalu. Mulamula
kami mendengar bahwa di sebuah dusun di kaki gunung terjadi kekacauan ketika ada seorang nenek
yang suka menculik anak kecil. Ketika mendengar itu, kami lalu turun tangan dan berhasil mengalahkan
nenek itu dan mengusirnya dari dusun yang dikacaunya. Akan tetapi, iblis itu ternyata tidak mau
menerimanya begitu saja. Agaknya ia memanggil kawan yang lebih lihai lagi dan sepekan yang lalu
mereka datang mengganggu kami.”
“Apa yang mereka lakukan?” Suma Lian bertanya, penasaran.
Sekarang Souw Hui Lian yang melanjutkan. “Sepekan yang lalu, pada malam hari, aku mendengar suara
gerakan orang di belakang rumah. Ketika aku keluar melalui pintu belakang, ia sudah berada di sana,
nenek iblis yang pernah mengacau dusun itu, akan tetapi kini ada seorang temannya, seorang kakek
botak. Mereka lihai bukan main.”
“Kami keluar saat mendengar ribut-ribut di belakang,” sambung Gak Jit Kong, “dan kami bertiga melawan
kakek botak itu. Namun dia sungguh lihai dan kami bertiga terdesak. Tiba-tiba mereka meloncat pergi dan
sambil tertawa kakek itu berkata bahwa sepekan kemudian dia akan datang lagi dan mengancam kami
supaya menyerahkan putera kami dengan baik-baik, kalau tidak seisi rumah akan dibunuhnya!”
Suma Lian mengerutkan alisnya. “Hemmm, sombong sekali iblis itu.”
“Karena itu, setiap malam kami tidak dapat tidur dan berjaga-jaga, dan beristirahat pada siang harinya.
Tadi kami masih tidur karena semalam berjaga, dan Ciang Hun yang sudah kami larang untuk keluar
sendirian, tadi nekat keluar ke taman,” kata Hui Lian.
“Aku ingin nonton kupu-kupu kuning, Ibu!” bantah Ciang Hun. “Dan pula, kata Ibu iblis itu hanya muncul di
waktu malam, bukan?”
“Memang benar,” kata pula Hui Lian kepada Suma Lian. “Iblis itu mengancam akan datang pada malam
hari, karena itulah kami berani tidur di waktu siang.”
“Hemmm, dan kapankah malam yang dijanjikannya itu?” tanya Suma Lian.
“Malam ini tepat sepekan.”
“Harap kedua Paman dan Bibi tidak khawatir. Kalau malam nanti dia berani muncul, biarlah aku yang akan
menghadapinya,” kata Suma Lian.
Walau pun kedua suami itu merasa agak tabah dengan munculnya Suma Lian yang dapat mereka
harapkan untuk membantu mereka, namun tentu saja mereka tidak yakin akan kemampuan Suma Lian.
Bagaimana pun juga, Suma Lian baru beberapa tahun ini menjadi murid ayah mereka, tentu tingkat
kepandaiannya tak akan lebih tinggi dari pada tingkat kedua orang kembar itu.
Kalau mereka maju bertiga saja tidak mampu menandingi kakek botak itu, apa lagi gadis muda ini?
Betapapun juga, mereka mendapatkan tenaga bantuan dan hal ini saja sudah mendatangkan hiburan bagi
mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Lian kelihatan tenang-tenang saja hari itu, bahkan bermain-main dengan Ciang Hun, membiarkan
tiga orang itu beristirahat karena selama beberapa hari mereka itu selalu kurang tidur. Ketika malam tiba,
Beng-san Siang-eng dan isterinya sudah nampak segar dan siap siaga untuk menghadapi ancaman
musuh, Souw Hui Lian tidak pernah mau melepaskan puteranya.
Menjelang tengah malam, mereka yang berkumpul di ruangan dalam itu mendengar suara ketawa di luar
rumah. “Ha-ha-ha, Beng-san Siang-eng, agaknya kalian sudah siap menghadapi kunjungan kami. Apakah
anakmu, itu telah kau persiapkan untuk diberikan kepada kami? Keluarlah, kami tidak ingin bersikap tidak
sopan menyerbu ke dalam!”
Mendengar suara ini, Beng-san Siang-eng dan isterinya nampak amat terkejut dan jelas kelihatan betapa
mereka gentar. Hal ini membuat Suma Lian merasa penasaran dan marah sekali. Ia lalu meloncat berdiri
dan dengan sikap tenang ia melangkah keluar, diikuti oleh dua orang pamannya, sedangkan Hui Lian tetap
tinggal di dalam melindungi puteranya, seperti yang sudah mereka rancangkan. Memang sebaiknya jika
Ciang Hun disembunyikan di dalam, dilindungi ibunya, agar dia tidak terancam bahaya langsung seperti
kalau diajak keluar.
Dengan langkah tegap dan sikap tenang sekali Suma Lian melangkah terus menuju ke serambi luar, di
mana memang sengaja dipasangi empat buah lampu gantung yang cukup terang. Kedua orang kembar itu
sendiri merasa kagum akan ketabahan hati keponakan mereka walau pun mereka masih merasa khawatir
apakah kehadiran gadis itu akan cukup membuat mereka mampu mengusir dan mengalahkan lawan yang
amat tangguh.
Kalau tingkat kepandaian Suma Lian hanya sedikit lebih tinggi dari tingkat Hui Lian, tidak mungkin mereka
akan menang. Bahkan andai kata tingkat ilmu kepandaian gadis itu sama dengan tingkat mereka pun,
masih amat disangsikan apakah mereka akan mampu mengalahkan kakek botak itu, apa lagi kalau si
nenek buruk itu membantunya.
Ketika mereka membuka pintu depan dan tiba di luar, ternyata benar seperti yang dikhawatirkan Beng-san
Sian-eng. Kakek botak pendek dan nenek bongkok buruk itu sudah berada di situ, berdiri dengan sikap
memandang rendah.
Nenek bongkok bermuka buruk itu memegang tongkatnya yang butut dan kakek yang bertubuh pendek
berkepala botak dengan muka seperti seekor ikan itu menyeringai lebar. Dia tidak nampak memegang
senjata, tetapi melihat pakaiannya seperti seorang tosu dengan gambar pat-kwa (segi delapan) di dadanya,
tahulah Suma Lian bahwa ia berhadapan dengan seorang pendeta dari perkumpulan sesat Pat-kwa-pai.
Ketika melihat Beng-san Siang-eng muncul bersama seorang gadis yang muda dan cantik manis,
sepasang mata kakek pendek itu bersinar-sinar dan mulutnya menyeringai semakin lebar.
“Bagus, bagus...! Beng-san Sian-eng, dari mana kalian mendapat seekor domba betina yang begini muda,
montok dan mulus, ha-ha-ha! Apa dia hendak kau tukarkan dengan anak kalian? Gadis muda ini untuk aku,
wah, aku suka sekali!”
“Hok Yang Cu, jangan gila kau! Aku tidak butuh gadis ini dan tidak sudi kalau ditukar dengan bocah laki-laki
putera mereka!” tiba-tiba nenek itu membentak, nadanya marah.
Kakek botak itu tertawa bergelak. “Ha-ha, Beng-san Sian-eng, kalian sudah mendengar sendiri, bukan?
Puteramu itu tetap harus kalian berikan kepada kami, sedang gadis ini untuk aku, sebagai pengganti
kepala kalian! Nah, lekas berikan gadis ini kepadaku dan keluarkan pula bocah laki-laki itu supaya jangan
membikin Kui-bo (Nenek Iblis) marah marah!”
Mendengar kata-kata mereka yang amat memandang rendah, apa lagi juga sangat menghinanya, Suma
Lian menjadi merah mukanya dan sepasang matanya yang indah itu mengeluarkan sinar mencorong. Ia
melangkah maju menghadapi dua orang kakek dan nenek itu sambil menudingkan telunjuknya.
“Dua orang tua bangka tidak tahu diri dan tak mengenal malu! Kalian muncul sebagai iblis-iblis yang
curang, tidak memperkenalkan nama. Siapakah kalian dan mengapa kalian mengganggu kedua orang
pamanku ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek yang sudah menjadi merah matanya melihat Suma Lian yang cantik manis, kini tertawa bergelak
sambil mengelus kepala yang botak dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menggoyanggoyangkan
tangan kanan dengan sikap sombong.
“Ha-ha-ha, anak manis, ketahuilah bahwa pinto (aku) disebut Hok Yang Cu, dan seperti dapat kau lihat
pada gambar di dadaku, aku adalah seorang tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal! Ada pun nenek buruk ini
adalah Hek-sim Kui-bo (Nenek Iblis Berhati Hitam), seorang sahabatku. Dia minta bantuanku untuk
mengambil putera Beng-san Sian-eng. Akan tetapi engkau muncul, anak manis, he-he-heh, dan setelah
melihatmu, mana aku dapat melepaskanmu lagi?”
“Tua bangka iblis! Kedua orang pamanku tidak pernah merasa bermusuhan dengan kalian, mengapa
kalian datang mengganggu mereka? Mengakulah apa sebabnya kalian mengganggu, ataukah kalian hanya
dua orang tua bangka pengecut yang tidak berani mengaku?” Suma Lian sengaja memanaskan hati
mereka untuk mengetahui mengapa mereka itu memusuhi kedua orang pamannya.
“Bocah sombong!” bentak nenek itu yang jelas memperlihatkan sikap membenci wanita muda. “Beng-san
Siang-eng adalah cucu-cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Kenyataan ini saja sudah cukup
bagi kami untuk memusuhi mereka!”
Kini mengertilah Suma Lian, juga Beng-san Siang-eng mengapa nenek dan kakek itu memusuhi mereka.
Kiranya mereka itu, golongan sesat, selalu tak pernah melupakan keluarga Pendekar Pulau Es dan selalu
memusuhi anggota keluarga itu setiap kali ada kesempatan.
Hal ini membuat Suma Lian menjadi semakin marah. Akan tetapi gadis yang pemberani ini tidak
memperlihatkan kemarahannya, sebaliknya ia marah tertawa. Suara ketawanya nyaring dan bebas, tidak
ditahan-tahan atau ditutupi mulutnya sehingga nampak rongga mulutnya yang kemerahan dan kilatan
giginya yang putih.
“He-he-hi-hi-hik! Hek-sim Kui-bo dan Hok Yang Cu, dua orang kakek dan nenek tua bangka yang mau
mampus, orang-orang macam kalian ini berani memusuhi keluarga para Pendekar Pulau Es? Dengar baikbaik,
aku bernama Suma Lian? She Suma, ingat! Aku adalah cucu buyut dalam dari kakek buyut Suma
Han. Hayo cepat kalian berlutut minta ampun, kemudian minggat dari sini dan jangan memperlihatkan ekor
kalian lagi sebelum aku mewakili keluarga para Pendekar Pulau Es untuk menghajarmu!”
Mendengar ucapan yang amat merendahkan itu, si nenek sudah menjadi marah dan mencak-mencak,
akan tetapi kakek itu malah menjadi girang sekali dan dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh baik sekali
nasibku! Jadi engkau she Suma, keturunan langsung Pendekar Pulau Es? Ha-ha-ha-ha, sudah lama sekali
aku ingin mendapatkan seorang wanita she Suma, dan baru sekarang agaknya akan berhasil, ha-ha-ha!”
Tiba-tiba saja dia sudah menubruk ke arah Suma Lian, tangan kirinya mencengkeram ke arah muka gadis
itu, akan tetapi dengan kecepatan kilat tangan kanannya menyusul dengan cengkeraman ke arah dada kiri
Suma Lian. Serangan ini tidak sopan, akan tetapi juga sangat berbahaya karena gerakannya cepat sekali
dan dari kedua telapak tangan yang mencengkeram itu menyambar hawa pukulan yang cukup dahsyat!
Melihat betapa kakek yang lihai itu menyerang Suma Lian, Beng-san Siang-eng tentu saja menjadi
khawatir sekali. Akan tetapi mereka belum merasa perlu turun tangan karena di situ juga masih ada nenek
yang mereka tahu amat lihai pula itu.
Suma Lian adalah murid terakhir dari Bu Beng Lokai di samping Pouw Li Sian yang menjadi sumoi-nya.
Selama delapan tahun, Suma Lian dan Pouw Li Sian menerima gemblengan yang amat tekun dari Bu
Beng Lokai, dan kini boleh dibilang semua inti ilmu kepandaian kakek itu telah diwariskan, tentu saja dipilih
yang ampuh-ampuh saja. Sebelum menjadi murid Bu Beng Lokai, sebagai puteri ayah ibu pendekar sakti,
tentu saja sejak kecil Suma Lian telah menerima gemblengan orang tuanya, maka tentu saja ia kini telah
memiliki ilmu silat yang hebat.
Menghadapi serangan kakek pendek botak, ia tidak menjadi gentar atau gugup, hanya merasa gemas
karena kakek itu ternyata seorang yang benar-benar tidak sopan, begitu menyerang hendak
mencengkeram buah dadanya! Dengan gerakan amat lincah ia pun melangkah mundur mengelak
sehingga dua tangan kakek itu yang tadi mencengkeram dada dan kepala, tidak dapat menjangkaunya dan
sebagai sambutan, kakinya melayang tinggi dari samping mengarah muka lawan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek pendek itu terkejut juga ketika mendadak gadis itu selain dapat menghindarkan cengkeramannya,
juga membalas dengan tendangan yang demikian kuat dan cepatnya. Akan tetapi dia tidak mengelak,
melainkan memutar lengan kanannya ke kanan untuk menangkap kaki kiri gadis itu yang menyambar ke
arah mukanya dari samping.
Suma Lian cepat-cepat menarik kembali kakinya, maklum bahwa lawannya amat lihai sehingga dari
keadaan terserang dapat mengubah kedudukan penyerang! Dan kakek itu pun tertawa bergelak melihat
gadis itu menarik kembali kakinya.
“Ha-ha-ha, kakimu kecil dan indah, harum pula!” Dia memuji dengan nada mengejek.
Tentu saja Suma Lian menjadi marah bukan main, akan tetapi gadis ini memang pandai sekali
menyembunyikan perasaannya, bahkan dia pun tersenyum mengejek. “Hemmm, tua bangka buruk dan
busuk. Mukamu demikian jelek dan kotor sehingga untuk menjadi penjilat kaki pun belum cukup berharga!”
Begitu melihat mata kakek itu terbelalak dan mukanya menjadi merah karena marah mendengar
penghinaan itu, Suma Lian sudah menerjang dengan pukulan tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala kakek
pendek itu sedangkan tangan kanannya menampar ke arah dada. Gerakannya amat cepat dan kuat.
Pukulan ke arah ubun-ubun itu dilakukan dengan kelima jari dibentuk paruh meruncing, seperti paruh
seekor burung garuda mematuk ubun-ubun yang botak itu. Tangan yang berjari mungil ini jangan
dipandang ringan karena pada saat itu dipenuhi tenaga Swat-im Sinkang, yang membuat hawa yang
menyambar dari tangan itu terasa dingin sekali dan kalau sampai ubun-ubun kepala itu terkena hantaman
ini, tentu akan berlubang atau setidaknya tentu isinya akan terguncang hebat dan orangnya tewas.
Juga tamparan yang ke arah dada itu bukan main-main, melainkan mengandung tenaga dahsyat sehingga
sekiranya mengenai sasaran, tulang-tulang iga akan patah-patah dan jantung di dalam dada dapat copot
karena guncangannya!
“Hyaaahhhhhh...” Kakek itu sekarang terkejut dan sambil mengeluarkan seruan ini, dia melempar tubuh ke
belakang dan berjungkir balik.
Akan tetapi, gerakan Suma Lian luar biasa cepatnya, disusulnya tubuh yang berjungkir balik itu dan kini
tangan kanannya menghantam pula dari atas. Kakek itu yang baru saja berjungkir balik, tidak sempat pula
untuk mengelak dan terpaksa dia pun mengangkat lengan kiri menangkis.
“Dukkk...!”
Dua lengan bertemu dan akibatnya, tubuh kakek itu lalu bergulingan sambil menggigil kedinginan!
“Swat-im Sin-jiu...!” serunya kaget.
“Hemmm, baru engkau mengenal kesaktian keluarga Pulau Es, ya? Nah, terimalah ini!” bentak Suma Lian
dan dengan cepatnya ia pun menerjang terus, sekali ini tubuhnya merendah sampai hampir menelungkup
dan tiba-tiba saja tubuh itu mencelat ke atas, kedua tangan mendorong dan sekali ini ia mempergunakan
tenaga sakti yang diwarisi dari gurunya, yaitu Tenaga Inti Bumi!
Serangan yang dilakukan dengan lebih dahulu menjatuhkan diri ke atas tanah ini sama sekali tidak terduga
oleh lawan sehingga kakek itu terkejut dan tidak sempat mengelak. Dia kembali harus menangkis dan kini,
maklum akan kelihaian gadis itu, dia menangkis dengan kedua tangan didorongkan sambil mengerahkan
seluruh tenaga sinkang-nya.
“Desss...!”
Hebat sekali pertemuan tenaga itu dan akibatnya, tubuh yang pendek itu terjengkang dan kembali
bergulingan. Namun Hok Yang Cu sudah meloncat bangun dengan cepat, mukanya agak pucat dan di tepi
mulutnya nampak darah. Ternyata pertemuan tenaga sinkang melalui dua telapak tangan tadi telah
mengguncangkan tubuhnya dan membuat dia terluka di sebelah dalam tubuh sehingga muntahkan darah
segar. Kemarahan dan penasaran membuat kakek itu lupa diri dan dia sudah meloloskan sabuknya, sabuk
kulit yang ujungnya dipasangi pisau beracun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang kakek Gak tadinya merasa kaget, kagum dan gembira bukan main melihat betapa keponakan
mereka itu mampu menandingi, bahkan membuat kakek pendek botak itu dua kali roboh bergulingan!
Tetapi kini mereka merasa khawatir lagi melihat betapa Hok Yang Cu melolos senjata sabuk yang
mengerikan itu karena mereka dapat melihat betapa kedua batang pisau yang ujungnya menghitam itu
tentulah mengandung racun.
Juga mereka melihat betapa nenek Hek-sim Kui-bo kini juga memutar tongkatnya. Maka mereka pun cepat
saling memberi tanda dan keduanya sudah mencabut pedang dan meloncat ke depan, menghadang nenek
buruk itu.
“Lian-ji, apakah engkau memerlukan pedang?” teriak Gak Jit Kong pada keponakannya. Akan tetapi Suma
Lian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Paman, menghadapi tua bangka yang sudah mau mampus ini perlu apa menggunakan pedang?
Sebaiknya kedua Paman mundur dan menonton saja, biarlah aku yang akan menghajar sepasang anjing
tua betina dan jantan ini sampai mereka lari terbirit-birit menyembunyikan ekor di selangkangnya!”
“Bocah sombong lihat senjataku!” bentak Hok Yang Cu yang kembali menyerang penuh semangat walau
pun tadinya dia sudah merasa gentar. Kini dia marah sekali dan masih belum mau melihat kenyataan,
belum mau percaya bahwa dia kalah oleh gadis muda!
Juga nenek Hek-sim Kui-bo menerjang ke depan dengan tongkat hitamnya, akan tetapi dua orang kakek
kembar telah menyambutnya dengan pedang mereka. Maka terjadilah perkelahian mati-matian antara
nenek buruk itu melawan dua orang kakek kembar yang memainkan pedang mereka dengan cepat dan
saling membantu.
Serangan sabuk berujung pisau beracun itu sangat berbahaya, namun dengan tenang Suma Lian
menggerakkan kakinya dan ia sudah mempergunakan langkah-langkah ajaib dari Ilmu Sam-po Cin-keng
yang luar biasa. Jangankan baru diserang oleh satu orang yang bersenjata sabuk berpisau. Dengan ilmu
langkah ajaib ini, yang sudah dikuasainya dengan baik, bahkan Suma Lian akan berani memasuki barisan
senjata dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahannya dan keampuhan ilmu langkah-langkah
ajaib itu! Dengan mudah dia menghindarkan diri dari serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh kakek
pendek botak, bahkan dapat membalas dengan tamparan atau tendangan yang membuat kakek itu
kadang-kadang terdesak hebat.
Pengeroyokan kedua orang kakek kembar Gak terhadap nenek itu membuat Hek-sim Kui-bo repot juga.
Biar pun tingkat kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya dibandingkan masing-masing pendekar Gak itu,
akan tetapi ketika mereka maju berbareng sebagai Beng-san Sian-eng, nenek itu kewalahan juga.
Dua orang kakek kembar ini selain memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan ampuh, juga kalau maju berdua
seperti satu orang yang berbadan dua saja. Mereka dapat bergerak otomatis saling bantu sehingga seperti
seorang lawan yang berkepala dua dan berkaki tangan empat!
Harus diakui bahwa biar pun mereka lebih dahulu mempelajari ilmu silat dibandingkan Suma Lian, namun
pada waktu itu tingkat kepandaian Suma Lian jauh melampaui kedua orang pamannya. Hal ini adalah
karena memang bakat gadis itu jauh lebih besar, juga karena kedua orang saudara kembar ini belum
menguasai inti dari ilmu-ilmu silat tinggi ayah mereka.
Walau pun demikian, karena maju berdua, cukup merupakan lawan yang amat lihai dan kuat. Dengan Ilmu
Pedang Pengacau Langit (Lo-thian Kiam-sut) mereka berdua dapat membendung gelombang serangan
tongkat Hek-sim Kui-bo, bahkan dengan pedang mereka, kini Beng-san Siang-eng mulai mendesak nenek
yang menjadi repot dan harus terus main mundur, gelisah sekali melihat betapa teman yang
diandalkannya, si pendeta pendek itu, juga terdesak hebat oleh gadis yang amat lihai itu!
Perkelahian antara Suma Lian dan Hok Yang Cu memang berat sebelah. Kepandaian gadis itu memang
jauh lebih tinggi dan wataknya yang nakal dan jenaka membuat Suma Lian sengaja mempermainkan
lawan. Kalau dia menghendaki, tentu saja sejak tadi dia sudah mampu merobohkan lawan, bahkan kalau
perlu membunuhnya, akan tetapi dasar gadis yang memiliki watak aneh dan kadang-kadang suka ugalugalan,
maka dia pun lebih senang mempermainkannya!
Tiba-tiba terdengar suara seruan kanak-kanak, “Enci Lian, hajar setan pendek itu, Enci!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Lian menengok. Ternyata Souw Hui Lian menggandeng tangan Gak Ciang Hun telah muncul di
ambang pintu depan. Wanita itu tentu saja merasa khawatir mendengar suara perkelahian di luar dan
sampai lama tiada tanda kemenangan di pihak suaminya. Maka sambil menuntun tangan puteranya ia pun
keluar untuk menonton.
Ketika ia melihat betapa suaminya mengeroyok nenek buruk itu, sedangkan keponakan wanita itu dengan
tangkasnya mampu menandingi kakek bersabuk itu dengan tangan kosong saja, hati Hui Lian menjadi
kagum dan girang bukan main. Jelas bahwa di situ tidak ada musuh lain kecuali dua orang itu. Maka ia pun
cepat mencabut pedangnya dan meninggalkan puteranya di ambang pintu. Ia sendiri cepat meloncat dan
membantu suami-suaminya untuk mengeroyok Hek-sim Kui-bo!
Melihat betapa Suma Lian menandingi kakek pendek sambil berloncat cepat dan aneh dan gadis itu
tersenyum-senyum mengejek, Ciang Hun menjadi gembira dan berseru kepada gadis itu untuk menghajar
lawannya.
Pada waktu Suma Lian menengok, kesempatan ini digunakan oleh Hok Yang Cu untuk menyerangnya
dengan hebat. Sabuknya bergerak cepat bagai kilat dan sebatang pisau beracun meluncur ke arah
tenggorokan gadis itu. Cepat bukan main serangan ini dan tahu-tahu pisau itu telah terbang menyambar ke
arah tenggorokan Suma Lian yang berkulit halus mulus dan putih bersih!
Namun Suma Lian tahu akan hal ini. Dia teringat akan seruan Ciang Hun, maka kini tangannya menangkis,
dan jari-jari tangannya yang kecil mungil itu menjentik ke arah pisau.
“Tringggg...!”
Pisau itu terpental, membalik dan terdengar kakek ini berteriak kesakitan ketika pisau yang membalik itu
tahu-tahu telah melukai pundaknya! Sebuah tendangan membuat tubuhnya yang tersentak kaget ini
terlempar dan jatuh terbanting lalu bergulingan.
“Kui-bo…, lari...!” teriaknya.
Dan tanpa menanti jawaban temannya lagi, dia pun terus menggelinding ke pekarangan depan dan
meloncat bangun lalu melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam.
Sementara itu, Hek-sim Kui-bo yang memang sudah terdesak oleh kedua orang kakek kembar itu, menjadi
semakin repot ketika Hui Lian maju membantu dua orang suaminya. Tingkat kepandaian Hui Lian tidak
banyak selisihnya dengan tingkat suaminya. Apa lagi ketika ia melihat betapa temannya semakin terdesak.
Ketika Hok Yang Cu terkena pisau beracunnya sendiri, hanya beberapa detik kemudian pedang Gak Jit
Kong juga sudah melukai pangkal lengan kanannya, dan tendangan Hui Lian juga telak mengenai
pahanya. Maka ia pun terhuyung ke belakang dan mendengar seruan temannya, dia pun langsung
meloncat ke pekarangan dan menghilang di dalam kegelapan malam.
“Kejar mereka...!” Hui Lian berseru, siap untuk mengejar. Akan tetapi sebuah tangan yang halus
menyentuh tangannya.
“Sebaliknya tidak usah, Bibi. Musuh yang sudah melarikan diri tidak perlu dikejar, apa lagi dalam gelap
begini. Mereka adalah orang-orang yang curang dan berbahaya. Pula, menurut kata ayah, keluarga Pulau
Es tidak pernah memusuhi orang-orang golongan hitam, hanya menentang perbuatan mereka yang jahat.
Kalau mereka tidak menyerang, tidak perlu dilayani.”
“Ia benar. Mari kita masuk saja,” kata Gak Jit Kong dan mereka lalu memasuki rumah dan menutup daun
pintu depan dengan rapat.
“Wah, enci Lian sungguh hebat! Kakek pendek yang lihai itu dijadikan bola olehnya!” kata Ciang Hun
gembira.
“Itulah hasilnya kalau belajar dengan baik dan tekun,” kata Hui Lian kepada puteranya. “Engkau harus
meniru enci-mu. Suma Lian, kami berterima kasih sekali karena kalau tidak ada engkau, entah bagaimana
jadinya dengan kami berempat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh, Bibi, kita adalah orang sekeluarga sendiri, tidak perlu bersikap sungkan. Pula, kurasa dua orang
penjahat tadi tidak akan mudah saja mengalahkan Bibi dan Paman berdua.”
“Sudahlah, Lian-ji, tidak perlu memuji kami. Yang jelas, kami berdua sudah ketinggalan jauh dalam ilmu
silat dibandingkan denganmu dan biarlah kami akan berlatih dengan lebih tekun. Akan tetapi, setelah
urusan yang mengganggu kami ini dapat dihindarkan, sekarang engkau harus menceritakan keperluanmu
datang berkunjung ini.”
Suma Lian menarik napas panjang. Memang sejak tadi selalu ditahannya berita yang tidak menyenangkan
itu karena keluarga ini sedang menghadapi ancaman bahaya. Dan setelah kini bahaya itu lewat, tentu saja
ia harus menceritakannya.
“Aku datang berkunjung karena diutus oleh kongkong, Paman. Beliau meminta supaya Paman berdua dan
sekeluarga suka datang menengok beliau karena pada waktu ini kongkong sedang menderita sakit...“
“Ayah sakit...?” Dua orang kakek kembar itu berseru hampir berbareng.
“Lian-ji, kenapa tidak dari kemarin engkau memberi tahu kami?” Gak Jit Kong menegur dengan muka
sedih.
“Ayah sakit apakah, Suma Lian?” sambung Gak Goat Kong.
“Aku memang menahan berita ini ketika melihat keluarga Paman terancam bahaya agar jangan
menambahi gelisah. Sebetulnya, penyakit kongkong adalah penyakit biasa, yaitu kelemahan setiap orang
yang usianya sudah terlalu tua, demikian menurut keterangan kongkong sendiri. Karena itu, diharap agar
Paman sekalian suka berkunjung ke sana sekarang juga.”
“Ahhh, ayah...“
Kedua orang kembar itu merasa gelisah dan berduka, mengingat betapa selama ini mereka gagal mencari
ayah mereka. Sampai kurang lebih sepuluh tahun semenjak ayah mereka meninggalkan Puncak Telaga
Warna, mereka tidak pernah mendengar tentang ayah mereka lagi, apa lagi melihatnya.
“Di mana dia?” tanya Gak Jit Kong. “Jauhkah dari sini?”
“Tidak jauh, hanya di lereng Cin-ling-san, pegunungan itu nampak dari sini kalau siang hari, Paman.”
Dua orang kembar itu terkejut dan girang. Ternyata ayah mereka berada di gunung sebelah! Malam itu
mereka tidak tidur lagi dan mereka berdua bertanya tentang ayah mereka dan mereka berdua terharu
bukan main mendengar betapa ayah mereka kini berjuluk Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama)
dan bahkan ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Suma Lian, kakek itu seperti seorang jembel tua
yang kotor dan tidak waras!
“Aihhh, akulah yang berdosa terhadap ayah mertuaku...“ Tiba-tiba Hui Lian menangis ketika melihat betapa
dua orang suaminya berlinangan air mata. “Akulah yang membuat kalian berdua menjadi anak-anak yang
tidak berbakti, membuat hati ayah kalian menjadi merana dan kecewa...“
Hui Lian menangis sesenggukan. Dia tidak dapat menahan kesedihannya lagi dan dia pun merangkul
puteranya. Ciang Hun kemudian ikut menangis pada saat melihat betapa ibunya menangis sedih.
Melihat sikap isteri mereka itu, Beng-san Siang-eng menjadi terharu dan wajah mereka diliputi kedukaan,
“Hui Lian, kamilah yang bersalah terhadap ayah!” kata Gak Jit Kong.
“Engkau tidak bersalah, dan biarlah nanti kami yang akan mohon ampun kepada ayah.” sambung Gak
Goat Kong.
Suma Lian adalah seorang gadis yang memiliki perasaan yang peka, mudah tersentuh sehingga ia mudah
riang gembira dan jenaka, akan tetapi mudah pula terharu. Melihat Hui Lian menangis, diikuti puteranya,
dan melihat pula sikap dua orang kakek kembar itu yang gagah perkasa dan masing-masing mengakui
kesalahan dengan isteri mereka, ia pun merasa terharu sekali sampai kedua matanya menjadi basah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia dapat merasakan cinta kasih yang besar antara dua orang kembar itu dengan isteri mereka. Keadaan
mereka itu memang amat ganjil bagi Suma Lian dan ia tidak dapat menyelaminya, namun ia dapat
merasakan kasih sayang yang amat mendalam di dalam keluarga orang kembar ini.
“Paman dan Bibi, harap kalian jangan berduka. Ketahuilah bahwa kongkong sering kali membicarakan
tentang Paman dan Bibi dengan sikap yang amat mencinta dan rindu. Dari kata-katanya aku dapat
memastikan bahwa beliau sama sekali tidak marah kepada kalian, apa lagi membenci.”
Mendengar ini, dua orang saudara kembar itu memandang kepada Suma Lian dengan sinar mata penuh
harapan. “Suma Lian, benarkah kata-katamu barusan ataukah hanya hiburan belaka untuk kami?” tanya
Gak Goat Kong.
“Paman, mana aku berani membohong?”
“Sudahlah, mari kita semua berangkat. Andai kata ayah marah-marah kepada kita sekali pun, hal itu sudah
sepatutnya dan kita hanya bisa minta maaf kepadanya. Yang penting, kita dapat bertemu dan menghadap
ayah. Aihh, Lian-ji, betapa selama bertahun-tahun ini kami bersusah payah mencari ayah, namun selalu
gagal,” kata Gak Jit Kong.
Konflik atau pertentangan yang terjadi antara kita dengan orang lain, sama sekali tidak dapat diatasi
dengan prasangka, dengan sikap ingin benar sendiri dan ingin menang sendiri. Konflik akan makin
memuncak kalau kita saling menilai keadaan orang lain itu, karena penilaian selalu dipengaruhi keadaan
hati seseorang, didasari rasa suka dan tidak suka yang timbul dari si aku yang merasa diuntungkan atau
dirugikan.
Kalau kita sedang bertentangan dengan seseorang, biasanya kita selalu menilai orang itu, segala sikap
dan perbuatannya terhadap kita yang tentu saja menimbulkan nilai buruk karena orang itu kita anggap
merugikan. Penilaian ini akan menambah tebalnya kebencian dan permusuhan.
Akan tetapi, cobalah kita mulai mengarahkan pengamatan kepada diri kita sendiri, sikap dan perbuatan kita
sendiri tanpa penilaian, tetapi dengan pengamatan yang waspada, tanpa memihak, menyalahkan atau
membenarkan diri sendiri. Maka, akan nampak jelas bahwa segala sebab yang mengakibatkan
pertentangan, sebagian besar terletak dalam diri kita sendiri masing-masing.
Pengamatan terhadap diri ini akan dapat mendatangkan perubahan, dan ini menghapus pertentangan,
sebab konflik keluar hanyalah pencerminan dari konflik yang terjadi dalam diri sendiri. Pengamatan kita
terhadap diri sendiri, setiap saat, akan mengubah semua ulah kita terhadap orang lain, tidak mudah mata
kita dibutakan oleh nafsu belaka, tidak mudah kita menjadi ‘mata gelap’ seperti dikatakan orang-orang
bijaksana di jaman dahulu bahwa musuh yang paling kuat, paling berbahaya, paling licik, adalah diri
sendiri, pikiran sendiri! Setan pembujuk dan penipu bukan berada di luar diri kita sendiri! Karena itu,
pengamatan yang waspada terhadap diri sendiri akan melumpuhkan setan ini!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali berangkatlah keluarga Beng-san Siang-eng yang terdiri dari dua
orang suami, satu isteri dan satu anak itu, mengikuti Suma Lian, menuju ke Pegunungan Cin-ling-san yang
luas dan mempunyai banyak bukit-bukit. Di satu di antara lereng bukit inilah kini tinggal Bu Beng Lokai…..
********************
Bukit itu mempunyai sumber air dan tanahnya amat subur, penuh dengan pohon-pohon besar. Di tengah
sebuah di antara hutan-hutan yang memenuhi bukit yang merupakan anak bukit Pegunungan Cin-ling-san
ini terdapat sebuah pondok. Tidak besar, hanya terbuat dari kayu-kayu pohon besar, dan memiliki dua
buah kamar saja. Namun pondok itu terawat bersih, dan di depannya bahkan terdapat sebuah taman
bunga yang indah.
Inilah tempat tinggal Bu Beng Lokai bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian.
Muridnya yang bernama Suma Lian telah kita kenal, dan Suma Lian masih terhitung cucu keponakannya
sendiri, atau lebih tepat, cucu keponakan mendiang isterinya. Ada pun muridnya yang ke dua, juga seorang
gadis yang bernama Pouw Li Sian, usianya sebaya dengan Suma Lian, hanya lebih muda beberapa bulan
saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seperti Suma Lian, Pouw Li Sian ini juga tekun belajar silat dan kini telah memiliki ilmu kepandaian yang
tinggi. Ia juga cantik manis, dengan tahi lalat kecil di dagunya yang meruncing, menambah manis. Tetapi,
wataknya sungguh jauh berbeda dengan Suma Lian.
Jika Suma Lian seorang gadis lincah, jenaka gembira yang kadang-kadang ugal-ugalan, dengan pakaian
yang nyentrik dan seenaknya, sebaliknya Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang cantik dan halus gerakgeriknya,
sopan santun tutur katanya, dan biar pun pakaiannya juga sederhana dan tambal-tambalan
seperti pakaian gurunya dan pakaian Suma Lian, namun potongan pakaian itu rapi dan sopan.
Di dalam kisah SULING NAGA telah diceritakan betapa Pouw Li Sian ini adalah seorang keturunan
bangsawan tinggi. Mendiang ayahnya adalah seorang menteri, seorang bangsawan tinggi yang berjiwa
satria.
Pada waktu Pouw Tong Ki, demikian nama menteri itu, masih duduk sebagai Menteri Pendapatan, ia telah
bentrok dengan pembesar tinggi Hou Seng, thaikam (orang kebiri) yang menjadi kekasih kaisar dan
karenanya mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan kekuasaan yang tak terbatas. Dalam bentrokan
inilah Pouw Tong Ki kena fitnah dan bahkan terbunuh oleh kaki tangan Hou Seng yang bersekutu dengan
datuk-datuk sesat dari golongan hitam.
Seluruh keluarganya lalu terbasmi dan ditangkap sebagai pemberontak karena difitnah, kecuali Pouw Li
Sian, puteri menteri itu yang dapat diselamatkan oleh Bu Beng Lokai. Ketika peristiwa itu terjadi, Pouw Li
Sian baru berusia dua belas tahun dan bersama Suma Lian ia lalu diajak pergi oleh Bu Beng Lokai sebagai
muridnya.
Kini Li Sian telah berusia dua puluh tahun, dan selama delapan tahun itu ia ikut bersama guru dan suci-nya
(kakak seperguruannya) merantau, hidup menempuh kesulitan dan kekerasan serta kekurangan. Dan
akhirnya, dua tahun yang lalu, gurunya menetap di dalam hutan di lereng bukit Pegunungan Cin-ling-San
itu.
Li Sian, seperti juga Suma Lian, sangat sayang kepada gurunya, karena selain sebagai penyelamat dirinya,
juga Bu Beng Lokai adalah satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangnya. Seperti juga Suma
Lian ia tidak menyebut suhu (guru) kepada Bu Beng Lokai, melainkan kongkong (kakek) dan hal ini
diterima dengan senang oleh kakek itu karena dia merasa seolah-olah puteri menteri itu adalah seorang
cucunya sendiri, seperti Suma Lian. Dan hubungan antara Suma Lian dan Pouw Li Sian juga akrab sekali
karena mereka hidup berdua di bawah asuhan kakek sakti itu sehingga mereka seolah-olah dua orang
kakak beradik saja.
Ketika melihat kakek itu makin lemah karena usia yang tua, sudah mendekati seratus tahun, nampak
semakin malas dan lebih sering bersemedhi atau tidur, mulailah kedua orang kakak beradik seperguruan
itu merasa khawatir. Akhirnya kakek yang gagah itu pun harus mengalah dan mengakui keunggulan sang
waktu.
Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, sedikit demi sedikit akan lenyap ditelan sang waktu. Demikian
pula kehidupan manusia. Sang waktu akan menelan manusia sedikit demi sedikit melalui usia. Tanpa
terasa manusia mendapatkan dirinya makin tua, makin dekat dengan saat akhir di mana dia harus
mengakui kelemahan dirinya, mengakui betapa kehidupan ini tidaklah abadi, dan kematian akan
menjemputnya dan mengakhiri segala perjalanan hidupnya.
Ketika kakek itu lebih banyak berbaring dengan lemah, dan sering kali mengigau dalam tidur memanggilmanggil
nama kedua anak kembarnya, Suma Lian lalu memberanikan diri mengajukan usul kepada
kongkong-nya, setelah berunding dengan sumoi-nya, Li Sian.
“Kongkong, bagaimana kalau aku pergi ke Beng-san dan menemui kedua orang paman Gak Jit Kong dan
Gak Goat Kong, memberi tahu mereka bahwa Kongkong berada di sini dan mengajak mereka untuk
datang ke sini?” demikian usulnya sambil duduk di tepi pembaringan kakek itu, sementara itu Li Sian
memijati kaki gurunya.
Kakek itu membuka matanya dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar, akan tetapi menjadi
redup kembali, kemudian dia menghela napas panjang dan terdengar kata-katanya, seperti kepada diri
sendiri, hanya lirih saja. “Ahhh, mereka tidak akan mau datang menengokku, mereka telah melupakan
ayah mereka...“
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat, sikap kongkong-nya ini, Suma Lian lalu berunding dengan sumoi-nya dan Pouw Li Sian juga
merasa setuju untuk mengundang putera kembar guru mereka itu. Akhirnya diputuskan bahwa Suma Lian
akan pergi mengabarkan kepada Beng-san Siang-eng, sedangkan Pouw Li Sian tetap tinggal di rumah itu
untuk menjaga dan melayani semua keperluan gurunya.
Setelah Suma Lian pergi dan pada suatu pagi Bu Beng Lokai menanyakan kepada Li Sian ke mana
perginya suci-nya itu, Li Sian terus terang mengatakan bahwa suci-nya itu pergi ke Beng-san untuk
mengundang Beng-san Siang-eng. Wajah kakek itu nampak berseri dan sinar matanya penuh harap
sehingga diam-diam Li Sian merasa terharu dan bersyukur bahwa suci-nya mempunyai pendapat yang
amat baik untuk mengundang kedua orang pendekar kembar itu.
Beberapa hari kemudian, Li Sian duduk di depan pondok bersama gurunya. Kakek Bu Beng Lokai nampak
agak segar pagi itu, dan begitu merasa tubuhnya sehat, dia pun duduk di depan pondok untuk membiarkan
sinar matahari pagi memandikan dirinya. Li Sian sudah selesai berlatih dan mencuci pakaian dan kini ia
menemani kakek itu duduk di luar pondok. Kakek itu sudah sarapan bubur yang tadi dipersiapkan Li Sian
dan gadis itu duduk di atas sebuah bangku kecil, di sebelah kanan gurunya yang membuka baju atas
membiarkan sinar matahari menghangatkan dadanya.
“Saya gembira sekali, pagi ini Kongkong nampak sehat sekali,” berkata Li Sian sambil memandang kakek
itu dengan sinar mata penuh hormat dan sayang.
Bu Beng Lokai memandang muridnya itu dan tersenyum. “Li Sian, aku sudah lama tidak melihat engkau
berlatih. Sekarang cobalah engkau mainkan Lo-thian Sin-kun, aku ingin sekali melihat sampai di mana
kemajuanmu.”
“Baik, Kongkong,” kata Li Sian.
Gadis ini bangkit berdiri lalu meloncat ke tengah pekarangan depan rumah itu, di dekat taman bunga yang
dirawatnya dengan amat baik bersama suci-nya. Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun dan Lo-thian Kiam-sut
memang merupakan dua buah ilmu silat tinggi yang telah disempurnakan oleh kakek itu dan merupakan
inti dari pada ilmu-ilmu yang diajarkan kepada dua orang muridnya. Setelah memberi hormat dengan
mengepal tangan kanan dilekatkan tangan kiri yang terbuka di depan ulu hati dan menghadap gurunya, Li
Sian lalu bersilat.
Indah bukan main gerakan gadis ini. Orangnya memang cantik, bentuk tubuhnya indah. Tubuh seorang
dara yang sedang masak-masaknya, dengan pinggang ramping dan lekuk lengkung tubuh yang sempurna,
penuh sifat kehalusan dan kelembutan seorang wanita, maka gerakan silat itu sungguh amat indah.
Memang Bu Beng Lokai yang sudah mendalami ilmu silat sampai ke intinya, menekankan segi-segi
terpenting dari ilmu silat.
Di dalam gerakan ilmu silat terkandung seni tari yang indah, gerakan tubuh demikian hidup dan penuh
keindahan, juga mengandung seni olah raga yang menyehatkan tubuh sebab gerakan-gerakan itu
memperlancar jalan darah bahkan mengendalikan hawa dan tenaga sakti dalam tubuh. Selain seni tari dan
olah raga, juga mengandung pengaruh menyehatkan batin di samping ilmu bela diri.
Permainan Li Sian memang indah sekali, juga gerakannya mantap, setiap pukulan atau tangkisan
mengandung tenaga yang nampaknya halus namun sesungguhnya amat kuat karena gadis ini pun sudah
menguasai penggunaan Tenaga Inti Bumi, bahkan sudah mahir pula mempergunakan Hui-yang Sinkang
dan Swat-im Sinkang dari Pulau Es!
Kecepatannya mengagumkan sehingga diam-diam Bu Beng Lokai mengangguk-angguk bangga.
Keindahan, kecepatan, kekuatan, tiga hal ini sudah terwujud dalam ilmu silat yang dimainkan Li Sian.
“Ambil ranting dan pergunakan sebagai pedang, mainkan Lo-thian Kiam-sut,” kata Bu Beng Lokai.
Tubuh gadis itu tiba-tiba berkelebat ke atas, ke arah sebatang pohon di tengah taman bunga dan ketika
berkelebat kembali ke depan gurunya, ia sudah memegang sebatang ranting pohon. Sekali menggerakkan
ranting itu, daun-daun yang melekat di situ rontok dan mulailah ia memainkan ilmu pedang yang diminta
gurunya. Seperti juga ilmu silat tangan kosong yang tadi dimainkan dengan halus namun dengan
kecepatan yang luar biasa, membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar hijau dari ranting itu, sinar
bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat kemajuan muridnya ini, timbul kegembiraan hati Bu Beng Lokai dan tiba-tiba dia sudah bangkit
berdiri. “Li Sian, mari kita latihan bersama!” katanya gembira.
Dan kakek itu sudah meloncat memasuki gulungan sinar pada ranting pohon yang dimainkan sebagai
pedang oleh gadis itu. Dia mainkan kedua tangannya dan kakinya bergerak dalam langkah-langkah ajaib
Sam-po Ci-keng dan melihat ini, Li Sian girang bukan main. Ini menandakan bahwa gurunya itu telah sehat
benar!
Maka, ia pun melayani gurunya dan mereka berlatih bersama. Biar pun sudah tua dan baru saja sembuh
dari keadaan tidak sehat, namun begitu tubuhnya bergerak dalam permainan silat, tubuh itu seperti
mendapatkan kekuatan baru dan gerakannya lincah dan kuat! Li Sian juga bersilat dengan sungguhsungguh,
berusaha untuk mengalahkan gurunya.
Namun, biar gurunya sudah sangat tua, bagaimana pun juga dia kalah jauh dalam hal kematangan ilmu
silat dan pengalaman. Tiba-tiba ujung ranting yang dimainkan sebagai pedang itu dapat tertangkap oleh
tangan kanan kakek itu. Li Sian mengerahkan tenaga untuk merampas kembali senjatanya, kakek itu
mempertahankan.
“Krekkk!” Ranting itu patah-patah dan keduanya melompat ke belakang. Wajah Li Sian berubah merah.
“Wah, Kongkong sudah sehat benar, sudah mampu mengalahkan saya dengan amat mudah!” kata Li Sian.
Bu Beng Lokai berkata setelah menghapus peluhnya yang membasahi tubuh atas itu dengan bajunya.
“Li Sian, pada saat lawan berhasil menangkap senjata, kesempatan itulah yang teramat baik untuk
menyerangnya. Biarkan ia kegirangan karena berhasil menangkap senjatamu sehingga dia lengah. Dan
pada detik itu pula muncul kesempatan yang teramat baik untuk merobohkannya.”
“Maksud Kongkong, saya tidak seharusnya mengerahkan tenaga untuk coba merampas kembali senjata
yang sudah tertangkap, tetapi menggunakan saat itu untuk menyerang lawan dengan tangan kiri?”
Kakek itu mengangguk. “Benar, tertangkapnya senjatamu merupakan pancingan yang tidak disengaja dan
dapat berhasil baik. Lawan akan lengah dan saat itu engkau dapat mempergunakan tangan kiri atau
kakimu untuk menyerangnya. Ini berarti membiarkan kemenangan datang melalui kekalahan. Kelihatannya
saja engkau sudah kalah karena senjatamu tertangkap, akan tetapi kekalahan itu justru membuka
kesempatan bagimu untuk memperoleh kemenangan. Mengertikah engkau?”
“Saya mengerti, Kongkong.”
“Nah, bagus. Bagaimana pun juga, engkau sudah memperoleh kemajuan yang cukup baik. Tentu selama
aku mengaso dan tak mampu mengawasimu, engkau terus berlatih dengan giat.”
“Ahhh, betapa pun kerasnya saya berlatih, masih sukar bagi saya untuk mengimbangi kemajuan suci,
Kongkong.”
Kakek itu tersenyum. “Bukan salahmu. Suma Lian memang berbakat sekali, dan selain itu, ingatlah bahwa
ia keturunan langsung dari ayah mertuaku, Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es! Bahkan ayah
ibunya juga merupakan sepasang pendekar yang sakti. Sejak kecil ia sudah digembleng ayah ibunya dan
ketika ia menjadi muridku, ia telah memiliki dasar yang kuat sekali, berbeda dengan engkau yang ketika itu
belum pernah mempelajari ilmu silat sama sekali. Ilmu kepandaian silat mendiang ayahmu, Menteri Pouw
Tong Ki itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat ayah ibu Suma Lian. Ketahuilah,
Li Sian, bahwa ilmu-ilmu dari Pulau Es amat tinggi dan karenanya tidak mudah dikuasai dengan sempurna.
Misalnya saja Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang yang pernah kau latih itu, kiranya sekarang sukar
mencari orang yang mampu menguasainya sesempurna mendiang ayah mertuaku! Mungkin hanya Suma
Ceng Liong ayah Suma Lian saja yang saat ini memiliki tingkat paling tinggi dalam hal ilmu silat keluarga
Pulau Es. Akan tetapi, bekalmu sudah lebih dari cukup. Kalau engkau giat berlatih dan ditambah
pengalaman-pengalamanmu nanti, kiranya engkau tidak akan tertinggal terlalu jauh. Eh, mengapa Suma
Lian belum juga pulang?”
Li Sian masih duduk bersila di atas batu datar untuk mengatur pernapasan, memulihkan tenaga setelah
latihan tadi. Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia pun menjawab. “Menurut perhitungan Lian-suci,
mestinya kemarin ia sudah pulang. Saya kira hari ini ia akan pulang, Kongkong.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek itu mengangguk-angguk, lalu duduk bersila pula di atas batu datar lain yang banyak terdapat di
pekarangan itu. “Aku harus mengaso, sedikit latihan tadi melelahkan tubuhku, akan tetapi juga amat
menggembirakan dan memberi semangat,” katanya.
Dan tidak lama kemudian, Bu Beng Lokai sudah tenggelam dalam semedhinya…
Belum satu jam mereka berlatih semedhi, baru saja Li Sian bangkit dari duduknya untuk melakukan
pekerjaan rumah seperti biasa, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari jauh.
“Kongkong...! Sumoi...! Aku datang...!”
Suara suci-nya, Suma Lian, siapa lagi! Suara itu demikian nyaring dan bening, seperti kepingan perak atau
emas berdencing, mendatangkan kecerahan dan kegembiraan.
Li Sian cepat memandang dan ia melihat suci-nya datang berjalan bersama dua orang laki-laki yang
usianya mendekati enam puluh tahun, sikap mereka gagah. Selain dua orang kakek yang wajah dan
tubuhnya sangat serupa itu, nampak pula seorang wanita cantik berusia hampir empat puluh tahun dan
seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun. Ia pun segera tahu siapa mereka dan dengan
girang ia lalu berseru kepada gurunya.
“Kongkong, mereka telah datang!”
Bu Beng Lokai membuka matanya, akan tetapi tidak turun dari atas batu datar karena nampaknya masih
lelah. Dia hanya memandang ke arah rombongan yang kini sedang menghampiri tempat itu.
Ketika Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong melihat kakek tua renta yang tidak berbaju duduk di atas batu
datar, nampak tua dan lelah serta lemah, mereka merasa jantung mereka seperti ditusuk-tusuk dan
keduanya lalu berlari menghampiri sambil menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu dan
mereka menangis mengguguk seperti dua orang anak kecil.
“Ayah... bertahun-tahun kami mencari Ayah tanpa hasil,“ kata Gak Jit Kong.
“Ayah, ampunkan semua dosa kami, Ayah...“ kata pula Gak Goat Kong.
Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng mencoba untuk tersenyum dan kedua tangannya menyentuh kepala
dua orang yang berlutut di depannya. Matanya basah dan suaranya lirih gemetar ketika dia berkata, “Anakanakku...
anak-anakku... mana dia, isterimu dan apakah kalian mempunyai keturunan?”
Hui Lian sejak tadi sudah menarik tangan puteranya dan berlutut tidak jauh dari situ. Mendengar ucapan
ini, ia pun bergeser maju sambil menggandeng tangan puteranya. Ia telah menangis semenjak tadi melihat
betapa dua orang suaminya mengguguk dalam tangisnya di depan kaki ayah mertuanya itu.
“Ayah... saya Souw Hui Lian mantumu yang hina dan bodoh dan ini adalah Gak Ciang Hun, anak tunggal
kami...”
Gak Bun Beng memandang mereka. “Anak baik, engkau telah membahagiakan kedua anak-anakku...
terima kasih… dan cucuku... ke sinilah, cucuku...“
Gak Ciang Hun sudah sering mendengar dari kedua ayahnya tentang kakeknya yang dikatakan memlliki
ilmu kepandaian amat tinggi seperti dewa, maka sejak tadi dia sudah memandang dengan kagum, juga
agak jeri. Mendengar kini kakek itu memanggilnya, dia pun cepat maju menghampiri.
“Cucuku... ahh, sudah begini besar, cucuku...!” Dia mencoba untuk bangkit akan tetapi terhuyung.
Suma Lian, juga dua orang puteranya cepat meloncat untuk menolongnya, akan tetapi kakek itu menolak
mereka dan berkata,
“Biarkan aku dengan cucuku sendiri!” Suaranya tegas sehingga Suma Lian dan Li Sian mundur kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Lian dan Li Sian hanya saling pandang dengan alis berkerut dan pandang mata khawatir. Mereka
tahu benar bahwa guru mereka, juga kakek mereka itu berada dalam keadaan yang tidak sehat dan lemah,
bukan hanya karena penyakit, tetapi terutama karena usia tua.
Sementara itu, Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng telah menggandeng tangan cucunya, diajak memasuki
ruangan latihan silat. Kedua orang saudara kembar Gak bersama isteri mereka, juga Suma Lian dan Li
Sian, hanya mengikuti dari belakang.
Setelah tiba di ruangan latihan silat, kakek Gak Bun Beng lalu berkata kepada cucunya, “Ciang Hun,
engkau tentu telah dilatih silat oleh orang tuamu. Nah, perlihatkan kepada kakekmu ini sampai di mana
kemampuanmu.”
Ciang Hun memang sejak kecil digembleng oleh kedua orang ayahnya dan seorang ibunya. Sebetulnya dia
malu dan khawatir ditegur kakeknya karena di depan kakeknya yang kabarnya sakti itu tentu kepandaian
silatnya masih belum ada artinya. Akan tetapi dia pun tidak berani membantah, melangkah ke tengah
ruangan dan setelah memberi hormat, dia pun lalu bersilat, mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat dasar Lothian
Sin-kun. Gerakannya cukup gesit dan penggunaan tenaga yang tepat, sesuai dengan usianya.
Melihat ini, agaknya Bu Beng Lokai cukup puas. Biar pun tidak mempunyai bakat yang terlalu menonjol,
akan tetapi Ciang Hun cukup baik, bahkan kelak tingkatnya dapat lebih tinggi dari pada orang tuanya kalau
rajin berlatih.
“Nah, sekarang duduklah bersila di situ, cucuku,” kata kakek itu. Dia pun menghampiri cucunya yang duduk
bersila itu. “Buka bajumu!”
Ciang Hun merasa heran akan tetapi tak berani membantah dan anak itu pun membuka bajunya. Kakek itu
lalu duduk bersila di belakang cucunya. Melihat ini, Suma Lian dan Li Sian dapat menduga apa yang akan
dilakukan guru mereka dan keduanya merasa amat khawatir.
“Kongkong...!” Mereka berdua berseru lirih.
Kakek itu menoleh kepada mereka, lalu tersenyum. “Lian dan Sian, kalian berdua telah menerima semua
ilmuku dan kurasa sudah cukup bagi kalian untuk mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk berjaga diri dan
menegakkan kebenaran dan keadilan. Aku tak punya apa-apa lagi untuk diwariskan kepada cucuku, maka
semua yang ada padaku akan kutinggalkan kepadanya.”
“Akan tetapi, Kongkong sedang sakit...,“ bantah Suma Lian.
“Dan Kongkong baru saja berlatih dan dalam keadaan lelah...,“ sambung Li Sian, sama khawatirnya
dengan suci-nya.
“Sudahlah, harap kalian jangan khawatir. Jika tidak sekarang saatnya, mau kapan lagi? Hanya inilah yang
dapat kulakukan untuk cucuku, dan tentang mati hidup, hal itu adalah urusan Tuhan!”
Setelah berkata demikian, kakek itu menempelkan kedua tapak tangannya di punggung cucunya dan
matanya terpejam. Melihat ini, barulah kedua orang bersaudara kembar Gak itu dan isteri mereka tahu apa
yang akan dilakukan ayah mereka, dan mereka pun memandang dengan khawatir, akan tetapi tidak berani
menghalangi.
“Kendurkan seluruh urat-urat tubuhmu, cucuku, dan jangan melawan. Terima saja hawa panas yang
memasuki tubuhmu,” kakek itu berbisik dan dia pun segera mengerahkan sinkang-nya untuk disalurkan ke
dalam tubuh cucunya!
Biar pun usianya baru sepuluh tahun, sebagai putera pendekar, Ciang Hun sudah tahu apa yang sedang
dilakukan oleh kakeknya. Tentu kakeknya akan menyalurkan tenaga sinkang, memindahkan tenaga sakti
itu kepadanya. Diam-diam dia merasa girang bukan main walau pun hatinya tegang karena dia belum
pernan merasakan hal ini dan dia pun maklum bahwa pengoperan tenaga sakti itu dapat membahayakan
dirinya sendiri kalau dia tidak mentaati sepenuhnya. Maka dia pun mengendorkan semua urat di tubuhnya
dan menghentikan semua pikiran seperti dalam latihan semedhi.
Tidak lama kemudian anak itu merasakan betapa ada hawa yang mula-mula hangat memasuki tubuhnya.
Hawa itu makin lama makin panas, masuk makin banyak sampai memenuhi tubuhnya dan berputaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepalanya mulai terasa pening, keringatnya keluar di seluruh tubuhnya dan hampir saja dia tidak kuat
menahan.
Namun Ciang Hun mematikan semua rasa dan pasrah. Hawa yang tadinya amat panas itu kemudian
menjadi hangat kembali, makin lama makin berkurang panasnya, bahkan menjadi dingin dan semakin
dingin sampai Ciang Hun menggigil dan giginya berbunyi. Akan tetapi anak itu tetap diam dan dapat
mempertahankan kebekuan yang menyerang dari dalam itu! Dia lapat-lapat mendengar seruan-seruan
khawatir dari dua orang gadis murid kakeknya, akan tetapi tidak dipedulikan.
Rasa dingin luar biasa itu makin lama semakin berkurang dan akhirnya kembali hangat seperti semula.
Akan tetapi dia merasa tengkuknya panas sekali dan ada hembusan panas meniup tengkuknya dari luar
yang membuatnya sadar dari semedhinya. Kini dia mendengar betapa hembusan napas panas itu keluar
dari mulut dan hidung kakeknya yang kini terdengar terengah-engah. Kedua tangan kakeknya yang tadi
tertempel di kulit punggungnya, kini terlepas.
“Kongkong...!” Terdengar Suma Lian dan Li Sian berseru.
“Ayah...!” Kedua ayahnya juga berteriak dan mereka sudah berlutut mendekat.
Ciang Hun mencoba berdiri, akan tetapi kepalanya menjadi pening seketika dan tentu dia sudah terguling
roboh jika saja tidak ada ibunya yang cepat merangkulnya. Ibu dan anak itu berangkulan memandang pada
kakek itu yang ternyata telah roboh terlentang dengan muka pucat dan napas terengah-engah, akan tetapi
mulutnya yang setengah terbuka itu nampak tersenyum!
“Kongkong... ahhh, mengapa engkau melakukan ini?” Suma Lian nampak meraba dada gurunya.
“Kongkong, kenapa engkau memaksa diri...?” Li Sian juga meraba pundak gurunya dan ia pun mulai
menangis.
Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong saling pandang. Mereka pun telah tahu bahwa ayah mereka tadi sudah
memindahkan sinkang ke tubuh putera mereka. Akan tetapi hal ini amat memeras tenaga kakek itu yang
sedang dalam keadaan lemah dan lelah.
“Ayah... kembali kami yang datang hanya menyusahkan Ayah saja,” kata Goat Kong menyesal.
“Ayah, kami tidak pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan hatimu, akan tetapi Ayah telah
mewariskan sinkang kepada Ciang Hun dengan mengorbankan diri...!” kata pula Gak Jit Kong.
Kakek itu dengan lemah membuka kedua matanya. Dengan napas terengah-engah dia tersenyum,
memandang kepada mereka yang merubungnya.
“Aku puas... aku tak dapat meninggalkan apa-apa... latihlah ia dengan Hui-yang Sinkang dan Swat-im
Sinkang... dia... dia akan kuat sekali... ahh, sayang aku harus mati dalam keadaan lemah! Kalau saja ada
datuk sesat datang agar dapat kulawan dia dan aku mati dalam perkelahian! Sayang... tapi... ahhh, lihat
itu... ibu kalian datang... Milana... tungguuu...!” Kakek itu seperti hendak bangkit duduk, akan tetapi terkulai
kembali dan napasnya pun berhenti.
Tiga orang wanita itu menjerit dan menangis. Dua orang saudara kembar Gak saling pandang dan
membiarkan mereka itu menangis sepuasnya, kemudian mereka berkata dengan suara penuh penyesalan.
“Ahhh, semua ini kesalahan kami. Kedatangan kami hanya memperpendek usia ayah kami...“
Mendengar ini, Suma Lian dan Li Sian menghentikan tangis mereka.
Suma Lian memandang mereka dengan mata basah. “Tidak perlu penyesalan itu, kedua Paman.
Kedatangan Paman sekeluarga adalah atas kehendak mendiang kongkong, dan agaknya memang sudah
tiba saatnya bagi kongkong kembali ke alam baka. Juga, pewarisan sinkang tadi hanya merupakan jalan
belaka yang semuanya sudah dipastikan dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.”
Mereka lalu mengurus jenazah kakek Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, menantu pertama dari Pendekar
Super Sakti. Atas pesan kakek itu sendiri kepada dua orang muridnya, maka jenazah itu lalu dibakar
dengan upacara sederhana.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sungguh menyedihkan hati kedua orang puteranya mengingat betapa kakek itu, ayah mereka, yang dahulu
menjadi seorang pendekar besar yang pernah mengguncangkan dunia kang-ouw, kini meninggal dunia
serta diperabukan tanpa ada yang menghadiri, kecuali kedua puteranya, mantunya, cucunya, dan dua
orang muridnya, di tempat yang amat sunyi itu. (riwayat Gak Bun Beng diceritakan dengan lengkap dalam
kisah Sepasang Pedang Iblis).
Setelah jenazah menjadi abu, kedua orang kembar Gak lalu membawa abu jenazah ayah mereka untuk
dikebumikan di Puncak Telaga Warna, bekas tempat tinggal ayah mereka itu. Mereka segera berpamit dari
Suma Lian dan Li Sian, pulang bersama isteri mereka dan Ciang Hun yang masih merasa agak pening dan
kadang-kadang mengeluh akibat tubuhnya merasakan betapa tenaga yang amat besar membuat dia panas
dingin. Kedua orang ayahnya harus sebentar-sebentar berhenti dalam perjalanan mereka untuk
membiarkan anak itu berlatih siu-lian dan memberi petunjuk untuk membiarkan tenaga sakti itu mengeram
di dalam tan-tian (pusar di dalam perut) dan tenang di situ sampai kelak dapat dipergunakan kalau anak itu
sudah mampu mengendalikannya.
Tinggallah dua orang gadis itu yang merasa kesepian. Mereka masih tinggal di pondok bekas tempat
tinggal guru mereka sampai tiga hari tiga malam. Betapa pun juga, dua orang gadis ini telah tinggal
bertahun-tahun di tempat sunyi dan indah itu, dan di antara mereka telah terdapat pertalian kasih sayang
seperti saudara kandung saja, mengalami suka duka bersama di tempat sunyi itu sehingga mereka merasa
berat untuk saling berpisah.
Juga mereka merasa terharu dan sangat berat untuk meninggalkan tempat itu yang tak mungkin kiranya
akan mereka datangi lagi, mengingat bahwa kakek dan juga guru mereka kini telah tiada, bahkan abunya
juga sudah dibawa pergi oleh dua orang kembar Gak yang lebih berhak.
Guru mereka tidak meninggalkan apa-apa kecuali ilmu kepandaian. Sedikit pakaian dan sepatu. Barangbarang
yang dipakai Bu Beng Lokai sehari-hari, telah diikutkan bersama jenazah ketika dibakar. Yang
masih tersisa hanyalah batu datar yang hitam mengkilat bekas tempat orang tua itu duduk bersemedhi.
Saking merasa kehilangan, selama tiga hari tiga malam itu, bergantian Suma Lian dan Li Sian duduk
bersemedhi di bekas tempat duduk guru mereka ini, sambil mengenang segala budi kebaikan orang tua itu
kepada mereka.
Setelah tiga hari tiga malam, dua orang gadis perkasa itu menyadari bahwa tidak ada manfaatnya
membiarkan diri tenggelam dalam buaian perasaan yang penuh keharuan, kehilangan, duka yang timbul
dari iba diri. Mereka lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Suma Lian berkata dengan suara yang berat kerena bagaimana pun juga, ia merasa berat untuk berpisah
dari sumoi-nya yang dianggap seperti adiknya sendiri itu. “Sumoi, hari ini kita harus meninggalkan tempat
ini, tidak ada gunanya tinggal lebih lama di sini.”
“Engkau benar, Suci, aku pun berpikir demikian. Lalu... ke mana kita akan pergi, Suci?” Li Sian mulai
bingung karena ia tak mempunyai tujuan tertentu, tidak tahu harus pergi ke mana karena orang tuanya
sudah tiada.
“Aku sendiri akan pulang ke rumah orang tuaku di dusun Hong-cun. Dan bagaimana dengan engkau,
Sumoi?”
“Aku...? Aku... entah akan pergi ke mana...?” kata Li Sian dan melihat wajah sumoi-nya menjadi sedih,
Suma Lian segera merangkul dan mencium pipinya.
“Ahh, aku lupa bahwa engkau tidak mempunyai keluarga lagi, adikku. Nah, bagaimana kalau engkau pergi
bersamaku, ikut dengan aku ke rumah orang tuaku? Kita tinggal bersama di sana, alangkah akan
senangnya...!”
Akan tetapi Li Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Terima kasih, Suci, Engkau baik sekali dan
tidak ada kesenangan di dunia ini yang melebihi kalau aku dapat tinggal serumah denganmu. Akan tetapi,
aku tidak ingin mengganggu ayah bundamu dengan kehadiranku dan...”
“Ahh, mereka pasti akan senang sekali menerimamu, Sumoi. Bukankah engkau sudah kuanggap seperti
adikku sendiri? Bahkan, aku akan mohon kepada ayah ibuku untuk mengangkatmu sebagai anak mereka,
dan engkau menjadi adik angkatku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kini Li Sian yang merangkul suci-nya dan kedua matanya basah ketika ia memandang kepada suci-nya.
“Suci, terima kasih. Engkau sungguh baik sekali dan percayalah, aku pun sudah menganggap engkau
seperti kakak kandungku sendiri! Akan tetapi, biar pun ayah bundaku sudah tidak ada, akan tetapi engkau
tahu bahwa aku masih mempunyai empat orang kakak laki-laki yang ketika terjadi keributan itu, ditawan
oleh pemerintah. Biarlah aku akan mencari mereka terlebih dahulu, siapa tahu ada di antara mereka yang
dapat kutemukan. Mereka merupakan satu-satunya keluargaku terdekat yang kumiliki. Aku akan mencari
mereka, dan kalau gagal, barulah aku akan menyusulmu ke dusun Hong-cun, Su-ci.”
Suma Lian mengangguk-angguk, mengerti dan menyetujui. Pada hari itu juga mereka turun gunung,
kemudian berpisah di jalan persimpangan. Suma Lian menuju ke selatan, sedangkan Li Sian menuju ke
utara. Dua orang saudara seperguruan yang berangkat dewasa bersama-sama ini baru berpisah setelah
mereka saling rangkul sampai sekian lama tanpa kata-kata. Kemudian keduanya berpisah dan berlari cepat
dengan kedua mata basah…..
********************
Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, tinggal di kota Pao-teng, di sebelah selatan kota raja. Bekas
panglima Kao ini berdagang rempah-rempah, dan terlihat sebagai pedagang biasa saja bagi mereka yang
tidak mengenalnya. Akan tetapi, dunia kang-ouw tahu belaka siapa sesungguhnya pria yang kini usianya
telah lima puluh delapan tahun tetapi masih nampak gagah perkasa itu. Juga siapa kira isterinya sendiri
yang telah mendekati usia lima puluh tahun namun masih nampak lincah dan jauh lebih muda dari usianya,
tubuhnya masih tegap dan ramping, dulu adalah seorang wanita kang-ouw pula.
Tidaklah mengherankan kalau suami isteri ini nampak lebih muda dan sehat, karena mereka adalah suami
isteri pendekar yang sesungguhnya mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali dan jarang dapat
menemukan tandingan di masa itu!
Kao Cin Liong adalah putera tunggal dari penghuni Istana Gurun Pasir, putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan
dia pernah menjadi seorang panglima muda yang amat berjasa memadamkan banyak api pemberontakan
di selatan dan barat. Ada pun isterinya, Suma Hui, juga bukanlah wanita sembarangan. Dari nama
keturunannya juga dapat diduga bahwa dia adalah keturunan keluarga pendekar Pulau Es, dan
sesungguhnya ia masih cucu dalam dari Pendekar Super Sakti, penghuni Istana Pulau Es.
Sebetulnya, dengan tingkat ilmu kepandaian silat mereka yang sangat tinggi dan lihai, mereka menjadi
guru-guru yang cukup baik untuk anak tunggal mereka, yang bukan lain adalah Kao Hong Li. Hanya karena
Kao Hong Li merupakan anak tunggal yang manja, maka ayah ibunya tidak terlalu menekan, meski mereka
tetap memberikan gemblengan ilmu silat tingkat tinggi.
Karena itu, setelah kini berusia dua puluh tahun lebih, Kao Hong Li menjadi seorang gadis dewasa yang
sangat tangguh. Walau pun tingkat kepandaiannya tidak setinggi ayahnya karena kadang-kadang ia malas
berlatih dan orang tuanya tidak menekannya, namun setidaknya ia sudah mampu mengimbangi tingkat
kepandaian ibunya!
Kao Hong Li merupakan seorang gadis yang cantik dan cerdik. Ia manis seperti ibunya, dengan wajah
bulat telur dan sepasang matanya amat menarik, mungkin memiliki daya tarik terbesar di antara semua
kecantikannya. Mata itu lebar dan jeli, dengan bulu mata yang panjang dan lentik, serta dihiasi sepasang
alis yang hitam lebat, kecil dan panjang melengkung seperti dilukis saja. Ia lincah dan galak seperti ibunya,
cerdik dan pandai bicara seperti ibunya pula, dan gagah perkasa tak mengenal takut seperti ayahnya.
Ada satu hal yang membuat suami isteri itu akhir-akhir ini agak murung kalau teringat, yaitu bahwa sampai
kini berusia dua puluh tahun lebih, puteri mereka itu masih belum mau juga dicarikan jodoh! Setiap kali
mereka membicarakan urusan jodoh, gadis itu lalu cemberut dan marah-marah, tidak mau mendengarkan
dan lari ke dalam kamarnya. Jika Suma Hui melakukan pendekatan dan menyusul ke dalam kamarnya,
Kao Hong Li akan mencela ibunya.
“Mengapa Ibu dan Ayah selalu mendorongku untuk menikah? Apa Ayah dan Ibu sudah bosan dan tidak
suka kepadaku, ingin melihat aku pergi dari rumah ini dan mengikuti suami?”
Ibunya segera merangkul dan tersenyum. “Hushhh! Bagaimana engkau dapat berkata demikian, Hong Li?
Ayah dan ibumu sayang kepadamu, mana bisa bosan dan tak suka? Kalau kami membujukmu untuk
menikah, bukankah hal itu sudah wajar? Ingat, usiamu kini sudah mendekati dua puluh satu tahun. Mau
dunia-kangouw.blogspot.com
tunggu apa dan kapan lagi? Biasanya, seorang gadis akan menikah dalam usia antara enam belas sampai
dua puluh tahun, dan engkau sudah hampir dua puluh satu...”
“Ibu sendiri, berapa umur Ibu pada waktu menikah dengan Ayah?” Inilah senjata yang digunakan Hong Li
kalau ibunya mendesak dengan alasan usia.
Suma Hui hanya menarik napas panjang. “Lain lagi dengan aku, anakku. Memang aku menikah dengan
ayahmu ketika sudah berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, akan tetapi...”
“Nah, aku pun tidak tergesa-gesa. Bagaimana pun juga, aku tidak mau menikah dengan seorang laki-laki
yang asing bagiku, yang tidak kusuka!”
“Hemmm, kau maksudkan, engkau hanya akan menikah dengan seorang pemuda yang kau cinta?”
Wajah Hong Li berubah merah, tetapi dia menjawab juga, “Bukankah begitu sebaiknya Ibu?”
Suma Hui menghela napas lagi dan mengangguk. “Yah, memang demikian sebaiknya. Tetapi, kapan
engkau akan bertemu dengan seorang pemuda yang kau cinta? Atau... apakah sudah ada pemuda itu?”
tanyanya penuh harap.
Wajah itu menjadi semakin merah dan cepat Hong Li menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, Ibu! Mana
ada pemuda yang seperti kuidamkan dan yang pantas kucinta di tempat ini? Yang ada hanya pemuda
brengsek, tukang jual lagak, pamer kekayaan dan pangkat ayahnya, menyebalkan!”
“Hemmm, jangan begitu anakku. Habis, pemuda macam apa yang kiranya akan dapat menundukkan
hatimu?”
“Dia harus seperti ayah, memiliki ilmu silat dan ilmu surat yang tinggi, setidaknya dapat mengalahkan atau
mengimbangi kepandaianku. Ia harus pula gagah perkasa, pembela kebenaran, dan harus... harus orang
yang dapat menimbulkan kekaguman dan rasa suka di dalam hatiku!”
Diam-diam Suma Hui terharu. Betapa sama benar keinginan anaknya dengan keinginan hatinya sendiri
ketika ia masih gadis! Dan bukankah setiap gadis juga menginginkan hal seperti itu? Bagaimana ia dapat
menyalahkan puterinya?
“Akan tetapi Hong Li, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini, kiranya di dunia ini tidak ada banyak
pemuda yang akan mampu menandingimu!”
“Tentu ada, Ibu. Kalau memang sudah kutemukan yang cocok dengan hatiku, aku juga dapat mengalah...“
Suma Hui tertawa dan merangkul anaknya. Mengertilah dia. Ketinggian ilmu itu bukan merupakan syarat
mutlak, melainkan kalau ada perasaan cinta di dalam hati puterinya, tentu puterinya itu akan mengalah
terhadap pemuda yang dicintanya!
“Aihhh, Hong Li, aku hanya mendoakan semoga engkau akan segera bertemu dengan jodohmu. Ingatlah,
kini ayah ibumu sudah mulai tua dan kami sungguh mendambakan seorang cucu darimu.”
“Ihhh, Ibu!” kata Hong Li dan dia pun merebahkan dirinya menelungkup dan menutupi telinganya dengan
bantal. Ibunya tertawa dan meninggalkan kamar puterinya untuk menghibur suaminya, menceritakan
percakapannya dengan Hong Li.
Meski demikian, tetap saja suami isteri itu merasa kecewa karena mereka tidak melihat kemungkinan puteri
mereka akan bisa bertemu dengan jodohnya dalam waktu dekat. Kalau puterinya hanya tinggal di rumah
saja, di kota Poa-teng yang tidak berapa besar, bagaimana mungkin dia bertemu dengan seorang pemuda
yang sepadan menjadi calon jodohnya?
“Aihh, kalau aku teringat kepada murid adikmu itu, rasanya aku akan suka kalau dia menjadi calon mantu
kita,” kata Kao Cin Liong kepada isterinya.
“Kau maksudkan Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun itu? Hemmm, dia memang baik, dan tentang ilmu
silat, tentu masih di bawah tingkat anak kita. Akan tetapi, kita tidak tahu dia berada di mana sekarang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciang Bun tidak pernah singgah di sini dan tak pernah memberi kabar sekarang berada di mana.
Sudahlah, jodoh sudah diatur oleh Tuhan, kita tinggal berdoa saja.”
Kao Cin Liong kembali menarik napas panjang. “Sebaiknya kalau aku membawa dia melakukan
perjalanan, berkunjung ke kakek dan neneknya.”
“Di gurun pasir?”
“Ya, ayah dan ibu sudah sangat tua, sayang bahwa mereka tidak mau kita ajak tinggal di sini. Siapa tahu
dari mereka aku akan mendapatkan petunjuk tentang jodoh anak kita, dan aku pun sudah rindu kepada
mereka.”
“Habis toko kita bagaimana? Kalau ditutup terlalu lama, tentu kita akan kehilangan para langganan.”
“Karena itu, biarlah aku seorang saja yang mengajak Hong Li pergi ke utara. Engkau mengurus toko,
isteriku.”
Sebetulnya Suma Hui juga ingin ikut, akan tetapi dia merasa sayang meninggalkan tokonya yang mulai
maju, maka ia pun akhirnya setuju. “Asal kalian pergi jangan terlalu lama.”
Akan tetapi, sebelum mereka memberi tahukan Hong Li tentang maksud Kao Cin Liong, pada sore hari
muncullah seorang pemuda di rumah mereka. Pemuda yang berpakaian serba putih, berusia dua puluh
dua tahun, bersinar mata lembut dan wajah cerah ramah, juga bersikap sopan santun. Begitu Kao Cin
Liong dan isterinya menyambut, pemuda itu segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong.
“Suheng, saya datang menghadap...”
Tentu saja Cin Liong kaget dan heran. Dia lupa lagi kepada Tan Sin Hong yang pernah dilihatnya ketika
pemuda itu masih remaja. Akan tetapi karena satu-satunya orang di dunia ini yang menyebutnya suheng
hanya seorang, yaitu pemuda remaja yang pernah dilihatnya menjadi murid ayah ibunya di gurun pasir itu,
dan kedua yang menyebutnya suheng adalah seorang wanita bernama Can Bi Lan yang pernah menjadi
murid ayah ibunya pula, dia pun segera dapat menduga siapa pemuda itu.
“Engkau Tan Sin Hong?”
“Benar, Suheng.”
“Ah, kau telah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang. Masuklah, dan perkenalkan, ini isteriku.”
Sin Hong segera memberi hormat dengan sikap sopan kepada Suma Hui yang juga telah pernah
diceritakan oleh suaminya bahwa di gurun pasir terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi murid
ayah bundanya. Wanita ini menerima penghormatan sute suaminya itu sambil mengamati dengan sinar
mata tajam penuh selidik.
Ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini seorang yang berjiwa sederhana, tercermin dari keadaan
pakaiannya dan gerak-geriknya, sopan dan rendah hati, tidak menonjolkan diri walau pun dia sebagai
murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tentu telah memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Wajah pemuda itu sedang saja, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan. Mata yang bersinar
lembut dan mulut yang selalu tersenyum ramah itu sangat menarik, juga sepasang mata lembut itu kadangkadang
mengeluarkan sinar yang mencorong, tanda bahwa dalam diri pemuda ini ada suatu kekuatan yang
dahsyat.
Pemuda itu dipersilakan duduk di ruangan dalam. Pada saat itu, muncullah Kao Hong Li. Melihat bahwa
orang tuanya menerima tamu pria yang disangkanya tentulah seorang yang datang untuk urusan dagang
rempah-rempah, dia hanya menjenguk keluar pintu dan hendak masuk ke belakang lagi. Akan tetapi
ayahnya memanggilnya.
“Hong Li, ke sinilah dan bertemu dengan Susiok-mu!”
Mendengar kata-kata ayahnya ini, Hong Li lalu memandang heran. Ia memang pernah mendengar dari
ayahnya, ketika ayahnya itu berkunjung ke gurun pasir, bahwa ayahnya mempunyai seorang adik
dunia-kangouw.blogspot.com
seperguruan yang sedang belajar di gurun pasir. Akan tetapi, tidak disangkanya bahwa susiok-nya (paman
guru) itu adalah seorang laki-laki yang masih demikian mudanya, kiranya tidak banyak selisihnya dengan
usianya sendiri. Akan tetapi ia pun segera memasuki ruangan itu, menghampiri meja di mana Sin Hong
duduk berhadapan dengan Kao Cin Liong dan Suma Hui.
Melihat ada seorang gadis yang cantik dan gagah, Sin Hong cepat bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Hong Li segera memberi hormat dan berkata dengan jujur, “Inikah Susiok dari gurun pasir? Tak kusangka
masih begini muda!”
Sin Hong membalas penghormatan itu, tidak seperti seorang paman, melainkan seperti orang yang seusia,
dan menjawab, “Aku sungguh merasa terlalu tinggi untuk menjadi susiok-mu, Nona.”
Kao Cin Liong tersenyum. “Duduklah, Hong Li. Susiok-mu Tan Sin Hong ini baru saja datang. Kami sedang
bersepakat untuk berangkat berkunjung ke gurun pasir, yaitu aku dan engkau, Hong Li, dan ibumu berjaga
di rumah. Aku telah rindu kepada kakek dan nenekmu, dan akan mengajak engkau berangkat besok pagi,
eh, tiba-tiba saja muncul sute Sin Hong! Tentu dia membawa banyak kabar dari Istana Gurun Pasir.”
Sin Hong menarik napas panjang. Sungguh amat tidak menyenangkan harus membawa berita yang amat
buruk kepada keluarga perkasa ini. Dia melihat betapa kegembiraan telah membayang di wajah gadis itu
ketika mendengar kata-kata ayahnya yang hendak mengajaknya berkunjung ke gurun pasir. Maka cepatcepat
dia bangkit berdiri dan menjura kepada suheng-nya.
“Suheng, sungguh saya merasa sangat menyesal sekali bahwa saya datang berkunjung ini hanya
membawa berita yang amat buruk dan mendatangkan duka.” Dia menahan diri agar tidak memperlihatkan
wajah duka, bahkan mengeraskan hati agar kedua matanya yang sudah terasa panas itu tidak sampai
menjadi basah oleh air mata.
Namun, ayah ibu dan anak yang bermata tajam itu tentu saja melihat perubahan pada wajah Sin Hong dan
ketiganya terkejut bukan main.
“Sute, berita buruk apakah yang kau bawa? Ada apa dengan ayah ibuku?” tanya Kao Cin Liong, hatinya
merasa tidak enak sekali.
“Ketiga orang tua itu, subo dan kedua orang suhu, kini telah... tiada lagi, Suheng.”
“Apa... apa maksudmu!” Kao Cin Liong membentak, terkejut bukan main dan matanya terbelalak, mukanya
pucat.
Dengan kepala ditundukkan, Sin Hong menjelaskan. “Mereka telah meninggal dunia.”
“Ahhh...!” Kao Cin Liong terkulai lemas dan tak dapat berkata-kata lagi, sedangkan Kao Hong Li merangkul
ibunya dan kedua orang wanita ini mulai menangis.
“Tan Sin Hong sute, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi!” berkata Kao Cin Liong. Suaranya parau
akan tetapi tidak ada air mata keluar dari sepasang matanya yang jelas dibayangi duka itu.
Sungguh merupakan tugas yang amat tidak enak bagi Sin Hong untuk menceritakan semua yang telah
terjadi di Istana Gurun Pasir. Namun dia mengeraskan hatinya.
“Maafkan saya, Suheng. Baru sekarang saya dapat datang untuk melapor. Peristiwa itu telah terjadi
setahun yang lalu...”
“Setahun? Mereka telah meninggal dunia selama satu tahun dan baru hari ini engkau datang
mengabarkan? Sute, apa artinya keterlambatan yang amat lama ini?”
“Sekali lagi maafkan saya, Suheng. Saya terpaksa harus menyembunyikan diri selama satu tahun karena
keadaan saya. Untuk jelasnya, baik saya ceritakan semua yang telah terjadi, Suheng.”
Dengan jelas Sin Hong lalu menceritakan apa yang telah terjadi setahun yang lalu itu di gurun pasir.
Betapa Istana Gurun Pasir diserbu oleh tujuh belas orang datuk sesat yang menyerang tiga orang tua itu.
Kao Kok Cu, Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio membela diri mati-matian sehingga di antara tujuh belas
dunia-kangouw.blogspot.com
orang penyerbu itu, empat belas orang tewas dan yang hidup hanya tiga orang saja, itu pun dalam
keadaan terluka. Akan tetapi, tiga orang tua itu tewas semua!
“Lalu untuk apa engkau berada di sana?!” bentak Suma Hui dengan marah sekali, sinar matanya seperti
hendak menyerang Sin Hong.
Pemuda itu memandang wajah Suma Hui. “Maafkan saya. Pada waktu itu, saya sama sekali tidak mampu
bergerak. Tiga orang guru saya telah mengajarkan Pek-ho Sin-kun dan menyalurkan sinkang mereka
kepada saya, dengan syarat bahwa selama setahun, saya tidak boleh bermain silat atau menyalurkan
sinking. Kalau pelanggaran itu saya lakukan, saya tentu seketika akan mati terpukul tenaga sendiri dari
dalam! Saya menjadi seperti seorang yang lemah dan sama sekali tidak mampu melawan.”
Kao Cin Liong dapat memaklumi hal itu dan dengan suara masih serak karena duka, namun halus, dia
berkata, “Lanjutkan ceritamu, Sute. Lalu bagaimana?”
“Ketiga orang yang masih hidup itu adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin tokoh dari Pat-kwa-kauw, dan
Thian Kek Sengjin dari Pek-lian-kauw. Mereka lalu menangkap saya dan memaksa saya menunjukkan
tempat disimpannya kitab-kitab rahasia. Akan tetapi beberapa waktu yang lalu, tiga orang guru saya telah
membakari semua kitab sehingga yang terambil oleh tiga orang itu hanyalah Ban-tok-kiam dan Cui-bengkiam
saja.”
Suma Hui mengepal tinjunya. “Celaka! Sungguh celaka! Dua batang pedang pusaka yang ampuh itu
terjatuh ke tangan orang-orang jahat!”
Kao Cin Liong mengangguk-angguk. “Tidak anehlah kalau yang memimpin penyerbuan itu Sin-kiam Mo-li
dan para tokoh Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Sekarang lanjutkan ceritamu, Sute.”
“Mereka memaksa saya untuk menguburkan jenazah empat belas orang teman mereka, dan kemudian,
memenuhi pula pesan tiga orang guru saya, maka saya lalu membakar Istana Gurun Pasir setelah
mengangkut jenazah mereka ke dalam sehingga jenazah itu ikut terbakar habis. Saya lalu menjadi
tawanan mereka, dan untung bahwa pada malam harinya, saya mendapat kesempatan melarikan diri dan
bersembunyi di sebuah bukit sampai setahun, sampai habis waktu yang ditentukan untuk bersemedhi dan
tidak boleh menggerakkan tenaga sinkang.”
Kembali Suma Hui dan puterinya menangis.
Kao Cin Liong menghela napas panjang berkali-kali. “Aihh, ayah ibuku dan paman Wan Tek Hoat dibunuh
orang-orang jahat tanpa kami sedikit pun dapat membantu, bahkan engkau sendiri tidak dapat membela
mereka, Sute. Betapa menyedihkan!”
“Akan tetapi, Suheng. Sudah sering kali saya mendengar dari mereka bahwa mereka memang
mendambakan kematian dalam keadaan seperti itu, menentang datuk sesat. Mereka tewas, walau pun
dalam usia yang sudah sangat tua, akan tetapi tetap sebagai pendekar-pendekar sakti seperti yang selalu
mereka inginkan. Mereka sama sekali tak menyesal dan wajah jenazah mereka tersenyum penuh
kebanggaan. Andai kata saat itu saya tidak dalam keadaan tak mampu bergerak dan dapat membela
mereka sekali pun, agaknya saya akan tewas pula dan jenazah mereka bahkan akan terlantar. Sekali lagi
maaf, Suheng, bahwa saya datang hanya membawa berita buruk.”
“Sudahlah, Sute. Engkau tak bersalah. Dan bagaimana dengan Istana Gurun Pasir itu?”
“Sudah rata dengan tanah, menjadi gundukan puing dan abu, menjadi kuburan ketiga guru saya.”
Tiba-tiba Hong Li bangkit berdiri, kedua tangannya dikepal, kedua matanya merah dan basah oleh air
mata. Dia berkata, “Di antara para penjahat itu masih ada tiga orang yang hidup! Sin-kiam Mo-li, Thian
Kong Cinjin beserta Thian Kek Sengjin! Aku harus mencari mereka untuk membuat perhitungan atas
kematian kakek dan nenekku!”
“Tenanglah, Hong Li. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan datuk-datuk sesat yang lihai dan
mempunyai banyak sekali kawan. Apa lagi kedua orang kakek itu yang merupakan tokoh-tokoh Pat-kwakauw
dan Pek-liankauw! Memang kita tak boleh tinggal diam, akan tetapi juga tidak boleh sembrono. Sute,
bagaimana selanjutnya ceritamu? Apa yang selama ini kau lakukan sebelum engkau datang ke sini?” tanya
Kao Cin Liong kepada Sin Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sin Hong lalu menceritakan riwayat dirinya, betapa ayahnya terbunuh orang dan ibunya tewas di padang
gurun pasir sampai dia ditolong oleh Tiong Khi Hwesio, kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng,
kemudian menjadi murid mereka. Diceritakannya mengenai penyelidikannya, tentang pembunuhan
terhadap ayahnya dan betapa akhirnya dia bisa memperoleh jejak bahwa di balik semua itu terdapat Tiatliong-
pang.
“Saya hendak melakukan penyelidikan ke pusat Tiat-liong-pang, Suheng. Bagaimana pun juga, mereka
yang telah membunuh ayah saya, menyebabkan kematian ibu saya, kemudian membunuh pula Tangpiauwsu,
kemudian orang she Lay itu, sungguh amat jahat dan perlu diselidiki. Oleh karena itu, setelah
menyampaikah berita duka tentang kematian ketiga guru saya, saya mohon diri, hendak melanjutkan
penyelidikan saya terhadap Tiat-liong-pang.”
Keluarga Kao merasa terharu juga mendengar akan riwayat anak muda yang kini telah menjadi yatim piatu
dan kehilangan tiga orang gurunya pula. “Tiat-liong-pang? Sungguh aneh. Menurut pengetahuanku, Tiatliong-
pang adalah perkumpulan orang gagah yang telah banyak berjasa kepada pemerintah, bahkan jika
tidak salah, ketuanya, Siangkoan Tek telah menikah dengan seorang puteri istana sebagai hadiah atas
jasanya terhadap pemerintah.”
“Saya pun sudah mendengar akan hal itu, Suheng. Akan tetapi ketika hendak mati oleh serangan gelap,
orang she Lay itu mengaku bahwa dia hanyalah anak buah saja dari Tiat-liong-pang. Pasti di sana ada
apa-apanya. Saya akan menyelidiki sampai terbuka rahasia pembunuhan ayah saya itu.”
“Memang sebaiknya demikian, Sute. Akan tetapi, hari telah mulai malam dan sebaiknya malam ini engkau
bermalam di sini. Belum cukup kita bercakap-cakap dan aku ingin mendengar tentang kehidupan ayah
ibuku pada waktu terakhir. Kiranya besok pagi baru engkau dapat melanjutkan perjalanan.”
Sin Hong tidak membantah dan malam itu dia bermalam di rumah keluarga suheng-nya. Mereka bercakapcakap
sampai jauh malam. Sin Hong menceritakan keadaan ketiga orang gurunya itu sebelum mala petaka
itu datang menimpa.
Dalam kesempatan itu, keluarga Kao juga bertanya tentang ilmu yang diwariskan oleh ketiga orang tua
sakti itu. Sin Hong berterus terang mengakui bahwa ilmu-ilmu mereka telah dipelajarinya dengan baik,
bahkan sebelum meninggal, mereka telah menggabung ilmu-ilmu mereka, diambil inti sarinya dan mereka
bertiga bersama-sama menciptakan Pek-ho Sin-kun, lalu mengoperkan sinkang mereka kepada Sin Hong
untuk digunakan dalam permainan ilmu silat tinggi itu.
Kao Cin Liong berhasil pula membujuk sute-nya untuk berdemonstrasi memperlihatkan ilmu silat ciptaan
baru itu. Sin Hong tidak berkeberatan dan ibu ayah dan anak itu amat mengagumi ilmu silat yang sangat
dahsyat dan hebatnya, juga indah karena banyak di antara gerakan meniru gerakan burung bangau yang
anggun, tenang dan gagah.
Setelah pada keesokan harinya Sin Hong pergi meninggalkan rumah suheng-nya, Hong Li menghadap
kedua orang tuanya. Wajahnya keruh dan alisnya berkerut. “Ayah dan Ibu, aku merasa tidak puas sama
sekali melihat sikap susiok Tan Sin Hong itu!”
Ayah bundanya terkejut dan memandang puteri mereka penuh perhatian.
“Ehhh, apa maksudmu, Hong Li?” tanya ibunya.
“Susiok itu telah diselamatkan nyawanya oleh kakek dan nenek dan juga kakek Tiong Khi Hwesio,
kemudian diberi pelajaran ilmu silat bahkan mewarisi penggabungan ilmu mereka. Dia berhutang budi yang
tidak terhitung banyaknya kepada tiga orang tua itu. Akan tetapi, ternyata ia terlalu mementingkan diri
sendiri. Setelah keluar dari gurun pasir dia sibuk mengurusi kematian orang tuanya sendiri dan tidak
mencari para pembunuh ketiga orang gurunya!”
“Aih, jangan berkata demikian, anakku! Bukankah sute Tan Sin Hong juga menceritakan betapa tiga orang
tua itu selalu menekan kepadanya bahwa dia tidak boleh menyimpan dendam atas kematian ayahnya?
Dendam adalah racun yang membakar diri sendiri, anakku. Karena itu, Sin Hong tidak mendendam, biar
pun dia melihat sendiri betapa tiga orang gurunya tewas karena dikeroyok musuh, akan tetapi ternyata
pihak musuh juga ada empat belas orang yang tewas! Kalau dihitung, kematian tiga orang tua itu tidaklah
rugi dan tidak ada yang harus dibuat penasaran.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia boleh saja berpendapat demikian, akan tetapi aku tidak, Ayah! Tanpa dosa, kakek dan nenekku, juga
kakek Tiong Khi Hwesio, tiga orang tua yang selama ini kukagumi meski aku hanya mendengar penuturan
ayah dan ibu saja, telah diserbu orang-orang jahat dan mereka sampai tewas. Bagaimana aku dapat
tinggal diam saja kalau para pembunuhnya ada yang masih berkeliaran? Tidak, aku harus pergi mencari
mereka untuk membalas kematian orang-orang tua yang tidak berdosa itu, Ayah!”
Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya. Setelah Istana Gurun Pasir terbakar dan kedua orang
tuanya tidak ada lagi, memang tidak mungkin lagi mengajak puteri mereka merantau ke sana. Hong Li
sudah terlalu dewasa dan cukup kuat berjaga diri, maka kalau ia hendak mencari para penjahat itu, hal ini
baik sekali untuk mematangkan pengalamannya dan memungkinkannya untuk menemukan jodohnya.
“Dengar baik-baik, anakku! Kami takkan menghalangi niatmu. Kami menggemblengmu selama ini memang
dengan harapan supaya engkau menjadi seorang pendekar wanita yang selalu menentang kejahatan.
Akan tetapi jangan engkau sesalkan kematian kakek dan nenekmu itu. Mereka adalah orang-orang yang
sejak mudanya telah berkecimpung di dunia persilatan, membuat nama besar di dunia kang-ouw, telah
menentang dan membasmi entah berapa banyak orang jahat di dunia ini. Siapa bermain air basah,
bermain api terbakar, dan kalau kini mereka itu tewas menentang para datuk hitam, hal itu sudah wajar.
Setelah pertentangan itu hanya ada dua akibatnya, kalah atau menang, hidup atau mati. Mereka mati
dalam tugas mereka, sama sekali mereka tidak menyesal dan tidak perlu disesalkan. Ingat, nenek
moyangmu, dari ibumu, para pendekar Pulau Es, juga selalu menentang kejahatan. Kakek buyutmu,
Pendekar Super Sakti di Pulau Es, bersama kedua orang nenek buyutmu, juga tewas dengan gagahnya di
Pulau Es, sama dengan kematian kakek dan nenekmu di Istana Gurun Pasir. Kematian seperti itu tidak
perlu disesalkan. Jadi, kalau engkau hendak mencari Sin-kiam Mo-li dan orang-orang Pat-kwa-kauw dan
Pek-lian-kauw, jangan sekali-kali dasarnya membalas dendam kematian kedua orang kakek nenekmu,
melainkan karena sudah menjadi tugasmu menentang mereka yang jahat. Mengertikah engkau?”
Hong Li mengangguk. “Aku mengerti Ayah.”
“Akan tetapi, nanti dulu, Hong Li. Benarkah engkau hendak menentang Sin-kiam Mo-li? Sudah bulat
benarkah tekadmu itu? Engkau harus ingat bahwa bagaimana pun juga, di waktu kecil engkau pernah
mengangkatnya sebagai guru, bahkan menjadi ibu angkat! Nah, yakinkah hatimu bahwa engkau akan
mampu menentangnya?”
Gadis itu tertegun sejenak dan teringatlah ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Ketika masih
berusia tiga belas tahun, pernah dia diculik seorang pendeta Lama yang sebetulnya ialah penyamaran Sinkiam
Mo-li. Kemudian di tengah perjalanan, Sin-kiam Mo-li bersandiwara, seolah iblis betina itu yang
menyelamatkannya dari tangan pendeta Lama itu sehingga dia diambil menjadi anak angkat dan murid!
Akan tetapi kemudian muncul Gu Hong Beng dan Bi-kwi, juga Bi Lan dan Sim Houw, dan mereka itu
berhasil menyelamatkannya, dan dia pun tahu akan tipu muslihat Sin-kiam Mo-li yang berhasil melarikan
diri dari tangan para pendekar itu.
“Ibu, tentu saja aku sanggup untuk menentangnya. Memang benar dahulu aku pernah menganggap ia ibu
angkat dan guru, akan tetapi semua itu terjadi karena ia menipuku, berpura-pura menjadi penolongku.
Tidak, aku sudah tahu betapa jahatnya iblis betina itu, bahkan justru karena ia yang telah membawa orangorang
jahat menyerbu istana kakek dan nenek, maka aku ingin sekali mencari dan menentangnya!”
“Tapi jangan engkau lengah dan memandang ringan lawan, Hong Li. Engkau tentu tahu betapa lihainya
Sin-kiam Mo-li. Selain amat lihai ilmu silatnya, juga ia menguasai sihir. Meski kami telah menggemblengmu
dengan kekuatan sinkang untuk menolak pengaruh sihir, namun dalam hal ilmu silat, kiranya engkau masih
kalah pengalaman. Apa lagi jika dia dibantu oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang rata-rata pandai sihir dan
orang-orang Pat-kwa-pai yang juga amat tangguh. Engkau harus hati-hati, dan sebaiknya bergabung
dengan para pendekar lainnya. Bagaimana kalau engkau mengunjungi dulu pamanmu Suma Ceng Liong di
dusun Hong-cun dekat Cin-an? Siapa tahu puterinya Suma Lian, sekarang sudah pulang dan tentu sudah
sebaya denganmu dan tentu mempunyai ilmu kepandaian tinggi karena selain kedua orang tuanya amat
sakti, juga ia digembleng oleh paman Gak Bun Beng.”
“Akan tetapi aku tidak pernah bertemu dengannya, bahkan jarang berkunjung ke rumah paman Suma
Ceng Liong. Aku merasa malu kalau harus minta bantuan mereka Ayah.”
“Maksud ayahmu bukan minta bantuan, akan tetapi hanya untuk singgah di sana dan menyampaikan
salam kami dan kabar selamat. Juga memberi tahu mengenai kematian kakek dan nenekmu di Istana
dunia-kangouw.blogspot.com
Gurun Pasir. Dan dari percakapan itu, mungkin engkau akan dapat memperoleh petunjuk mereka,” kata
ibunya.
“Kalau begitu lain lagi persoalannya, Ibu. Baiklah, aku akan singgah di Hong-cun untuk mengunjungi
keluarga paman Suma Ceng Liong.”
Tentu saja di balik anjuran itu tersembunyi harapan dalam hati Kao Cin Liong dan Suma Hui agar puteri
mereka itu bertemu dengan keluarga dan siapa tahu dari keluarga itu akan muncul seorang calon jodoh
bagi puteri mereka yang sudah cukup dewasa itu.
Sudah lajim bagi orang-orang tua yang hatinya selalu dipenuhi harapan-harapan bagi anak-anak mereka.
Di waktu berada dalam kandungan, orang tua sudah mengharapkan supaya anaknya lahir laki-laki atau
perempuan, biasanya orang pada jaman dahulu lebih condong menghendaki agar kandungan itu lahir lakilaki.
Kemudian kalau sudah lahir, mereka mengharapkan anak itu tumbuh menjadi seorang muda yang
sehat dan pandai.
Kalau sudah tiba waktunya menikah, mereka juga berharap anak itu segera mendapat jodoh yang baik,
kemudian harapan itu mulur terus. Mengharapkan agar mendapat cucu yang baik, agar keluarga anaknya
itu menjadi keluarga bahagia, serba berkecukupan dan selalu dalam keadaan sehat. Semua ini akan
menyenangkan hati orang tua, dan kalau terjadi sebaliknya, tentu saja mengecewakan dan mendatangkan
duka!
Memang harapanlah yang mendatangkan kekecewaan! Mengharapkan suatu keadaan yang lain dari pada
keadaan yang ada saat ini, suatu keadaan yang dibayangkan akan lebih baik dan lebih menyenangkan.
Kalau harapan itu terlaksana, datanglah kepuasan, akan tetapi sebentar saja karena kepuasan ini akan
pudar lagi, tertutup harapan baru yang mulur dan mengejar harapan itu yang lebih jauh lagi. Kalau harapan
pertama tidak tercapai, timbullah kekecewaan!
Dan ini terjadi sejak manusia mulai mengerti sampai tiba ajalnya! Betapa menyedihkan hidup seperti itu,
selalu dipermainkan harapan-harapan sendiri. Bukan berarti kita harus menjadi orang-orang yang putus
asa, putus harapan dan mandeg, muram dan frustasi. Sama sekali tidak!
Akan tetapi, lakukan saja segala sesuatu dengan sepenuh hati, dengan perasaan cinta kasih terhadap apa
yang kita lakukan dan terima saja hasilnya, apa pun juga, dengan wajar tanpa mengharapkan apa-apa.
Hasil itu adalah kenyataan yang ada, yang nyata dalam hidup, dan itulah keindahan.
Terimalah anak yang lahir sebagai hasil dari pada perbuatan kita sendiri dengan pasrah, tanpa pilihan dan
menikmati apa yang ada, baik laki-laki mau pun perempuan. Dengan demikian, maka tidak akan timbul
kekecewaan apa-apa. Kemudian, dalam pendidikan berilah cinta kasih, karena pendidikan yang terbaik
adalah kasih sayang, cinta kasih yang berarti ingin melihat SI ANAK itu bebas dan berbahagia hidupnya.
Bukan sekedar menjejali otaknya dengan ilmu-ilmu agar kelak menjadi ORANG, yang tentu maksudnya
menjadi orang yang berharta dan berkedudukan!
Kalau demikian harapannya, maka orang tua akan kecewa kelak, karena bukan harta dan kedudukan yang
membahagiakan seseorang! Berilah anak kebebasan sebab dalam kebebasan itu terletak sinar
kebahagiaan. Hal ini bukan pula berarti bebas semau gua. Orang tua hanyalah mengamati, mengawasi,
mengingatkan tanpa terlalu mencampuri, mengarahkan tanpa terlalu mengikat.
Anak kita adalah manusia tersendiri, dengan alam pikiran, selera dan perasaan sendiri. Dia adalah
makhluk yang hidup, bukan tanah liat yang boleh kita bentuk sekehendak hati kita sendiri. Bahkan, dia
dilahirkan bukan atas kehendaknya sendiri, dan lebih condong menjadi korban atau akibat dari pada
perbuatan kita!
Jadi, meski dia kita namakan anak kita, namun itu hanyalah pengakuan saja. Anak kita akan tetapi bukan
milik kita! Sekali batin kita memiliki, maka anak itu akan kita anggap sama dengan semua benda lain yang
mengikat batin kita, yang menjadi milik kita. Ingin kita jadikan begini begitu menurut keinginan kita, kita jaga
dan pelihara dengan pamrih agar menyenangkan kita. Jika begitu, apa bedanya dengan memelihara
seekor binatang peliharaan?
Kita pilihkan agamanya, sekolahnya, bahkan jodohnya, dan kita gariskan bagaimana dia harus hidup! Dan
semua itu dengan dasar bahwa kita melakukannya demi kebahagiaan dia! Kalau dikaji benar, bukankah
dunia-kangouw.blogspot.com
dasarnya sesungguhnya adalah demi kebahagiaan kita, demi kesenangan kita karena tercapai sudah
harapan dan keinginan kita?
Kewajiban kita untuk membimbing anak yang masih belum dewasa, yang masih belum dapat memilih
sendiri, dengan cinta kasih, dengan waspada akan minat dan seleranya. Akan tetapi kalau dia sudah
dewasa, sudah sepatutnya kalau kita membebaskan dia dan hanya mengamati dari jauh, dari belakang
yang bukan berarti acuh. Kalau toh ada pamrih, maka pamrih itu hanya satu, yaitu kita ingin melihat DIA
berbahagia, tanpa memperhitungkan selera dan perasaan hati sendiri yang kemungkinan sekali bertolak
belakang dengan selera dan perasaan hatinya. Bukankah cinta itu hanya memberi dan bukan meminta?
Bukankah cinta itu berarti meniadakan diri yang berarti meniadakan nafsu pribadi?
Setelah mendapat banyak petuah dari ayah ibunya, dan membawa bekal secukupnya, baik pakaian mau
pun uang, berangkatlah Kao Hong Li meninggalkan rumah orang tuanya, diantar oleh ayah ibunya sampai
di pintu pekarangan depan.
Setelah gadis itu tidak nampak lagi, dengan lesu Suma Hui dan suaminya masuk lagi ke dalam rumah.
Melihat betapa isterinya nampak lesu dan bersedih ditinggalkan oleh puterinya, Kao Cin Liong
membimbingnya dan diajaknya duduk di ruangan dalam.
“Mudah-mudah ia akan memperoleh pengalaman dan terutama sekali dapat bertemu jodoh dalam
perjalanannya,” kata Kao Cin Liong.
“Setelah melihat Tan Sin Hong, aku merasa bahwa dia pun merupakan seorang calon mantu yang baik di
samping Gu Hong Beng,” kata Suma Hui melamun.
Kao Cin Liong tersenyum. “Biarkanlah dia memilih sendiri. Kalau memang Tuhan sudah menghendaki,
tentu ia akan bertemu dengan jodohnya. Lahir, jodoh dan mati agaknya sudah ada garisnya.”
Memang, lahir, jodoh dan mati dalam cerita ini sudah digariskan oleh si pengarang…..
********************
Ada lagi pasangan suami isteri pendekar sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Si suami adalah
Suma Ceng Liong, keturunan langsung dari keluarga para pendekar Pulau Es, cucu dari Pendekar Super
Sakti. Usia Suma Ceng Liong telah empat puluh satu tahun dan dia bersama isterinya, Kam Bi Eng tinggal
di dusun Hong-cun, di sebelah luar kota Cin-an di Propinsi Shantung.
Pendekar Suma Ceng Liong ini, berbeda dengan cucu-cucu penghuni istana Pulau Es yang lain, dahulu
adalah seorang yang ugal-ugalan, nakal dan gembira, tetapi memiliki kegagahan yang luar biasa.
Tubuhnya tinggi besar. Dalam usia empat puluh satu tahun, dia kelihatan gagah dan berwibawa sekali,
namun, wajahnya selalu cerah dan banyak senyum. Di antara cucu Pendekar Super Sakti penghuni Pulau
Es, agaknya Suma Ceng Liong inilah yang paling lihai ilmu silatnya. Dia tidak saja mewarisi ilmu-ilmu
keluarga Pulau Es, akan tetapi juga mewarisi ilmu sihir dari mendiang ibunya. Bahkan dia pernah berguru
kepada seorang datuk sesat yang amat lihai, yaitu Hek I Mo-ong.
Isterinya yang bernama Kam Bi Eng juga bukanlah orang sembarangan. Ia adalah puteri dari pendekar
sakti yang terkenal sekali di waktu dahulu sebagai seorang pendekar suling emas dan dalam hal ilmu silat,
kiranya tidak begitu jauh tertinggal dari suaminya.
Kini, dua orang suami isteri itu tinggal di dusun Hong-cun dan hidup sebagai petani yang cukup kaya dan
memiliki tanah pertanian yang luas. Hidup tenteram, bahkan hampir tak pernah lagi mereka berkecimpung
di dunia kangouw.
Memang agak mengherankan bahwa suami isteri yang demikian lihainya, dan hanya memiliki seorang saja
anak perempuan, yaitu Suma Lian, bisa membiarkan puterinya itu digembleng oleh Bu Beng Lokai yang
dahulu bernama Gak Bun Beng, masih terhitung paman sendiri dari Suma Ceng Liong. Hal ini adalah
karena ketika masih kecil, dalam usia kurang dari tiga belas tahun, Suma Lian diculik datuk-datuk sesat
dan kemudian ditolong dan dirampas kembali dari tangan para datuk sesat oleh Bu Beng Lokai.
Suma Lian suka kepada kakek itu dan kedua orang tuanya tidak berkeberatan ketika puterinya menyatakan
hendak ikut kakek itu merantau dan menjadi muridnya. Memang pendirian orang-orang kang-ouw seperti
dunia-kangouw.blogspot.com
sepasang suami isteri ini agak berbeda dengan pasangan-pasangan biasa. Mereka merelakan puteri
mereka di dalam asuhan paman yang mereka tahu memiliki kesaktian itu.
Akan tetapi, delapan tahun kemudian, tetap saja mereka berdua merasa rindu bukan main terhadap puteri
mereka. Suma Lian telah berusia dua puluh tahun lebih, sudah dewasa dan tentu sudah menjadi seorang
gadis cantik yang sudah tiba saatnya untuk menikah!
Maka, dapat dibayangkan betapa gembira rasa hati mereka ketika pada suatu pagi, secara tiba-tiba saja
seorang gadis cantik muncul di depan mereka! Gadis itu, dengan sepasang matanya yang kocak,
pakaiannya yang nyentrik, sikapnya yang lincah jenaka, dan ketika itu memandang kepada mereka dengan
mulut tersenyum yang menciptakan lesung pipit di kanan kiri ujung mulutnya, segera mereka kenal dengan
baik.
“Lian-ji...!” teriak suami isteri itu hampir berbareng.
Suma Lian segera menubruk ibunya.
“Aihh, anakku...!” Kam Bi Eng menjerit dan merangkul gadis itu, menciuminya dengan penuh kerinduan dan
kedua orang wanita itu pun menangis, menangis penuh keharuan dan kebahagiaan.
“Ayah...!” Suma Lian lalu melepaskan ibunya dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki ayahnya.
Akan tetapi Suma Ceng Liong menangkapnya dan menariknya berdiri, lalu memegang kedua pundaknya.
“Biarkan aku melihat wajah anakku...!” katanya dengan suara gemetar karena dia pun gembira dan terharu
bukan main. Ayah dan anak itu saling pandang, kedua mata Suma Lian basah air mata, akan tetapi
mulutnya tersenyum sehingga nampak deretan giginya yang putih dan rapi seperti mutiara berbaris.
“Ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba Suma Ceng Liong tertawa. “Engkau... engkau persis ibumu di waktu masih gadis,
ha-ha-ha! Engkau cantik manis dan gagah!”
“Dan engkau pun masih sama seperti dulu, Ayah. Malah semakin gagah saja!” kata pula Suma Lian yang
juga tertawa.
Ayah yang merasa amat gembira itu segera berangkulan dengan puterinya. Kam Bi Eng juga
merangkulnya dan tiga orang itu saling berangkulan sambil memasuki rumah.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dirasakan dalam hubungan antara manusia yang melebihi
pertemuan dari orang-orang yang saling merindukan dan berpisah dalam waktu yang amat lama. Apa lagi
bagi suami isteri itu, yang seolah-olah kehilangan puteri mereka, tidak tahu di mana adanya puteri mereka
itu selama tujuh delapan tahun!
Dan kini, tanpa kabar berita, puteri mereka itu muncul begitu saja, bukan hanya dalam keadaan sehat
selamat, tetapi lebih dari pada itu, telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis
mengagumkan, dengan ilmu kepandaian yang amat tinggi pula.
Tentu saja Suma Lian ditagih untuk menceritakan segala pengalamannya selama pergi merantau dan
menjadi murid paman mereka Bu Beng Lokai. Suma Lian, si gadis lincah dan pandai bicara, membuat
cerita yang menarik sekali. Ia menceritakan dengan gaya dan gerak lincah semua pengalamannya ketika
merantau mengikuti kakeknya sebagai pengemis-pengemis nyentrik! Pengemis yang hanya sebatas
pakaian tambal-tambalan saja, tetapi tidak pernah meminta-minta, bahkan terlalu sering memberi sedekah
kepada orang lain, baik dengan perbuatan atau pun dengan barang dan uang.
Diceritakannya pula tentang sumoi-nya, Pouw Li Sian, dan tentang mereka berdua saat mempelajari ilmu
silat tinggi, digembleng oleh guru dan kakeknya itu. Akhirnya Suma Lian bercerita pula tentang pamannya,
Gak kembar yang datang menengok orang tua itu bersama isteri mereka yang seorang dan putera mereka.
Betapa ia terpaksa harus membantu keluarga Gak mengusir nenek iblis Hek-sim Kuibo dan Hok Yang Cu,
tokoh Pat-kwa-pai yang ingin menculik putera mereka. Kemudian sekali, dengan wajah amat berduka ia
menceritakan tentang kematian kakek Gak Bun Beng.
Ketika ayah dan ibunya mendengar akan kematian kakek itu, mereka terkejut dan wajah mereka pun
diliputi kedukaan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh, tak kusangka paman Gak Bun Beng sudah meninggal dunia!” kata Kam Bi Eng yang merasa
terharu mendengar akan kematian kakek itu setelah bertemu dengan dua orang anak kembarnya.
Suma Ceng Liong menarik napas panjang, “Bagaimanapun juga, usia paman Gak Bun Beng sudah tua
sekali, sudah lebih dari sembilan puluh tahun. Memang kasihan sekali. Aku mendengar bahwa sejak
ditinggal mati isterinya, bibi Milana, dia hidup menderita kesepian, apa lagi karena merasa kecewa akan
keadaan dua orang putera kembarnya. Karena itulah, dulu ketika anak kita diajak pergi untuk dididiknya,
aku menyetujuinya karena aku merasa kasihan kepadanya.”
“Ayah dan Ibu, kulihat bahwa kehidupan kedua paman Gak kembar itu cukup bahagia dengan seorang
isteri dan seorang putera mereka. Kenapa mendiang kongkong tadinya merasa kecewa melihat kedua
orang putera kembarnya menikah dengan seorang wanita?”
“Aih, Lian-ji, hal itu hanya karena menyimpang dari kebiasaan saja. Biasanya, seorang pria menikah
dengan seorang wanita. Kalau pun ada pria menikah dengan dua orang wanita, hal itu masih dianggap
lumrah. Akan tetapi seorang wanita menikah dengan dua orang pria? Memang tidak lumrah.”
“Tapi mereka itu saling mencinta dan rukun sekali, dan aku melihat kedua orang paman Gak kembar itu
amat serupa, bukan hanya sama wajah, tubuh dan gerak-geriknya, bahkan sikap, dan bicaranya, bahkan
jalan pikirannya, serupa benar, seperti satu orang dengan dua badan saja. Kalau memang mereka sudah
menghendaki, mereka berdua saling mencinta bibi Souw Hui Lian, mau apa lagi? Sebelum meninggal
dunia, kongkong sering bicara akan hal itu dan dia menyatakan kesadarannya bahwa dialah yang keliru
kalau merasa kecewa dalam urusan itu. Yang penting dalam pernikahan adalah mereka yang langsung
terkena dan yang mengalaminya, bukan pandangan orang lain, demikian dia pernah berkata.”
“Sudahlah, kita memang tak berhak untuk membicarakan dan menilai akan hal itu,” kata Suma Ceng Liong.
“Sekarang ceritakan saja tentang ilmu-ilmu apa saja yang pernah kau dapatkan dari mendiang paman Gak
Bun Beng. Kami ingin sekali melihatnya.”
Untuk melegakan dan memuaskan hati ayah ibunya, Suma Lian lalu memperlihatkan ilmu-ilmu silat yang
pernah dipelajarinya dari kakek Bu Beng Lokai. Dari kakek itu, Suma Lian menerima banyak sekali ilmu
silat, terutama sekali ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-pai, juga Ilmu Pukulan Pengacau
Lautan (Lo-thian Sin-kun) beserta ilmu pedangnya, ilmu-ilmu dari Pulau Es, dan di samping tenaga sakti
Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, juga mempelajari ilmu tenaga sakti yang disebut Tenaga Inti
Bumi.
Melihat gerakan lincah puteri mereka, dan menyaksikan kekuatan sinkang yang cukup dahsyat, Suma
Ceng Liong dan isterinya merasa gembira sekali dan puas. Ternyata puteri mereka itu tidak percuma
meninggalkan rumah sampai tujuh delapan tahun.
Akan tetapi, tentu saja mereka tidak merasa puas kalau belum menurunkan ilmu-ilmu simpanan mereka.
Karena itu, Suma Ceng Liong lalu mengajarkan Ilmu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang
dipelajarinya dahulu dari Hek I Mo-ong, juga mengajarkan ilmu sihir dari ibunya. Sementara itu, Kam Bi
Eng juga mengajarkan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling atau dapat juga dengan ranting pohon,
yaitu penggabungan ilmu pedang Koai-liong-kiam dan Kim-sim Kiam-sut…..
********************
Kita tinggalkan dulu Suma Lian yang kini sudah berada di rumah orang tuanya, saling melepas rindu dan
juga gadis ini tekun memperdalam ilmu silatnya dengan tambahan ilmu-ilmu tinggi dari ayah bundanya, dan
mari kita mengikuti perjalanan sumoi-nya, yaitu Pouw Li Sian.
Setelah meninggalkan lereng bukit di mana untuk beberapa tahun dia tinggal bersama gurunya dan sucinya,
kemudian berpisah dari suci-nya, hati Li Sian terasa berat sekali. Baru ia merasa kehilangan sekali.
Selama hampir delapan tahun ia seperti mengalami suatu kehidupan baru.
Sebelum itu dia adalah puteri bangsawan yang hidup dalam gedung yang mewah dan besar, hidup
terhormat dan mulia, berenang di dalam kemewahan. Kemudian secara mendadak sekali, timbul mala
petaka menghantam keluarganya. Dia lalu hidup terlunta lunta, seperti seorang pengemis, bersama kakek
Bu Beng Lokai dan suci-nya, Suma Lian.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun, akhirnya ia menemukan suatu kehidupan yang berbahagia bersama mereka, menganggap mereka
berdua seperti keluarganya sendiri, pengganti keluarganya yang telah binasa. Ia hampir melupakan
keadaannya semula dan sudah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru itu. Akan tetapi
kembali kini terjadi perubahan. Ia harus meninggalkan lagi keadaan itu, memasuki keadaan lain yang
mencemaskan hatinya.
Ia seorang diri! Kehilangan gurunya yang sangat disayangnya, kemudian berpisah dari suci-nya yang
dianggapnya seperti enci sendiri. Ingin rasanya dia menangis ketika Li Sian melakukan perjalanan seorang
diri di antara pohon-pohon di tempat sunyi itu.
Keadaan yang bagaimana pun juga dalam kehidupan ini tidaklah abadi. Sewaktu-waktu sudah pasti akan
terjadi perubahan. Hal seperti inilah yang menimbulkan kesengsaraan. Orang diharuskan terpisah dari apa
yang disayanginya, dan orang dipaksa bertemu dengan keadaan-keadaan baru yang asing dan dianggap
tidak menyenangkan.
Semua ini terjadi karena adanya ikatan-ikatan dengan masa lalu dan harapan-harapan untuk masa depan.
Ikatan dengan benda, dengan orang, atau dengan gagasan. Selalu menimbulkan rasa nyeri kalau ikatan itu
dipaksa lepas dari kita. Dan harapan-harapan di masa depan, hanya mendatangkan kekecewaan saja
kalau tidak terlaksana seperti yang kita harapkan. Hanya orang bijaksana saja, yang hidup dari saat ke
saat, yang tidak terikat oleh masa lalu dan tidak menjangkau masa depan, dia saja yang akan tetap kokoh
kuat dan tak tergoyahkan angin ribut yang terjadi karena suatu perubahan!
Hidup dari saat ke saat bukan berarti penyesuaian diri, karena penyesuaian diri juga hanyalah suatu
pemaksaan belaka. Hidup dari saat ke saat berarti menghadapi apa pun yang terjadi SAAT INI seperti apa
adanya, penuh kewajaran, tanpa menolak, tanpa menentang, tanpa menilai baik buruknya. Kewaspadaan
setiap saat dalam menghadapi segala peristiwa hidup yang menimpa diri ini menimbulkan kebijaksanaan
seketika, tidak lagi dituntun oleh perhitungan pikiran yang selalu ingin merangkul kesenangan dan menolak
kesusahan.
Li Sian menuju ke kota raja, di mana dulu ayahnya, Pouw Tong Ki, Menteri Pendapatan, tinggal dan
menjadi seorang di antara bangsawan tinggi, seorang menteri! Oleh karena permusuhannya dengan
Thaikam (orang kebiri) Hou Seng yang menjadi kekasih kaisar, maka Menteri Pouw sekeluarganya
terbasmi, dan Li Sian tertolong oleh Bu Beng Lokai. Ada pun empat orang kakaknya, semuanya laki-laki,
ditawan dan dimasukkan penjara.
Li Sian memasuki kota raja dan mulai melakukan penyelidikan tentang nasib keluarga orang tuanya. Dia
sudah tahu bahwa keluarga ayahnya sebagian besar tewas dalam penyergapan kaki tangan Hou Seng
seperti ayah dan ibunya, akan tetapi ia mendengar bahwa empat orang kakaknya telah ditawan dan
dijebloskan ke penjara.
Dia lalu menyelidiki tentang empat orang kakaknya itu dan mendapat berita yang amat menyedihkan
hatinya. Tiga di antara mereka dibuang dan kemungkinan besar sudah tewas. Akan tetapi seorang di
antara mereka, kakaknya yang sulung, bernama Pouw Cian Hin, telah diampuni oleh kaisar dan sekarang
telah menjadi seorang perwira yang bertugas di perbatasan utara. Mendengar ini, hati Li Sian menjadi
girang. Segera dia pergi meninggalkan kota raja dan melakukan perjalanan ke utara, ke perbatasan dekat
Tembok Besar.
Akan tetapi, tentu saja sebagai seorang gadis yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan
ke utara, ke daerah yang amat sukar dan berbahaya itu, amatlah sukar bagi Li Sian untuk dapat
menemukan kakaknya itu. Daerah utara ini luas sekali. Tembok Besar itu panjang ribuan li, melalui gunung
dan jurang, dan tak terhitung pula banyaknya pasukan yang berjaga di sepanjang Tembok Besar,
sedangkan ia tidak tahu kakaknya itu bertugas di pasukan yang mana.
Kemudian teringatlah ia kepada Tiat-liong-pang! Ketua Tiat-liong-pang, Siangkoan Tek, dahulu adalah
seorang sahabat baik ayahnya. Pernah ketua Tiat-liong-pang itu datang berkunjung kepada ayahnya dan
sempat berjumpa dengannya. Ia teringat betapa ketua Tiat-liong-pang itu amat baik dengan ayahnya,
seorang yang amat ramah. Teringat ini, ia pun menjadi girang dan timbul harapannya.
Kalau ia berkunjung ke Tiat-liong-pang dan minta bantuan ketuanya, tentu akan lebih mudah baginya untuk
menemukan kakaknya yang menjadi perwira itu. Dengan penuh harapan, mulailah Li Sian menyelidiki di
mana adanya Tiat-liong-pang dan ternyata tidak banyak kesukaran ia memperoleh keterangan bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
perkumpulan itu berada di lereng bukit di luar kota Sang-cia-kou. Maka, dia pun segera melakukan
perjalanan menuju ke sana…..
********************
Gadis hitam manis itu dengan langkah lebar menuju ke lereng bukit yang mendaki. Dia adalah seorang
gadis yang baru tumbuh dewasa, berusia delapan belas tahun, bagai setangkai bunga mulai mekar.
Tubuhnya yang sedikit jangkung dengan sepasang kaki panjang itu nampak segar dan tegap berisi.
Langkahnya lebar dan kuat, pinggangnya ramping dan ketika ia melangkah mendaki bukit, pinggulnya
menari-nari.
Gadis itu manis sekali, terutama sekali mulutnya yang bibirnya selalu basah kemerahan. Bibir yang penuh
dan membuat dirinya kelihatan berwajah cerah, ramah dan bergairah. Namun, sinar matanya lembut,
membayangkan kehalusan dan kesabaran meski sinar matanya yang tajam membayangkan keberanian
dan kegagahan.
Dia adalah Kwee Ci Hwa, puteri tunggal Kwee Tay Seng yang tinggal di Ban-goan. Perjalanan dari Bangoan
ke Sangcia-kou tidaklah begitu jauh, akan tetapi menempuh perjalanan melalui pegunungan dan
tanah tandus, di antara Tembok Besar yang liar. Namun Ci Hwa adalah seorang gadis yang sejak kecil
sudah digembleng oleh ayahnya dengan ilmu silat sehingga dia sudah cukup kuat untuk membela diri
kalau ada bahaya mengancamnya.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa dunia ramai di luar pekarangan rumahnya penuh dengan orang-orang
jahat yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, dan bahwa tingkat kepandaiannya itu, kalau digunakan
untuk berjaga diri terhadap ancaman orang-orang jahat, sungguh masih jauh dari pada mencukupi.
Memang, bila menghadapi gangguan pemuda-pemuda atau pria-pria hidung belang dan mata keranjang
biasa saja yang berani mengganggunya, Ci Hwa sudah cukup mampu membela diri dan menghajar
mereka. Akan tetapi, dia belum pernah bertemu dengan penjahat yang berilmu tinggi.
Dengan langkah lebar dan gagah ia mendaki bukit itu. Tiat-liong-pang berada di lereng bukit itu dan sudah
nampak pagar temboknya yang tinggi dari bawah. Akan tetapi untuk mencapai lereng itu, ia masih harus
melalui beberapa daerah berhutan, dan naik turun beberapa anak bukit. Keadaan di situ sunyi sekali, tak
nampak seorang pun manusia.
Dia harus mendatangi Tiat-liong-pang. Dia akan menemui pengurus Tiat-liong-pang dan bertanya secara
terang-terangan mengenai urusan Tiat-liong-pang dengan perusahaan piauwkiok yang dimiliki oleh Tan
Piauwsu, ingin bertanya apa hubungan Tiat-liong-pang dengan kematian dan pembunuhan-pembunuhan
itu. Dia ingin mencuci nama ayahnya yang tadinya dituduh sebagai pembunuh Tan Piauwsu, dan yang
terakhir sekali orang she Lay si gendut itu. Ia harus membersihkan nama ayahnya dari Sin Hong! Pemuda
itu amat menarik dan mengagumkan hatinya, dan dia merasa kasihan atas nasib pemuda itu, merasa ikut
bertanggung jawab setelah ayahnya dicurigai.
Ketika ia melangkah memasuki hutan pertama yang tidak begitu besar, tiba-tiba saja muncul lima orang
laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Melihat pakaian mereka yang ringkas, dan
mereka semua membawa busur dan anak panah, mudah diduga bahwa mereka adalah lima orang
pemburu binatang.
Lima orang itu memang merupakan pemburu binatang di daerah itu, dan mereka tentu saja bukanlah
orang-orang yang biasa melakukan kejahatan. Akan tetapi, agaknya di dunia ini memang ada suatu
kelemahan pada diri semua pria. Pria yang lajim, kalau berada seorang diri saja, memang tidak mempunyai
keberanian untuk mengganggu seorang wanita, kecuali kalau memang pria itu berwatak mata keranjang
dan memiliki kecondongan sebagai pengganggu wanita yang nekat.
Akan tetapi, biar pun pria yang tak suka mengganggu wanita kalau berada seorang diri, akan timbul
kecondongan itu kalau mereka didampingi teman! Kekurang ajarannya akan menonjol dan akan timbul
keberaniannya untuk melakukan gangguan, mungkin karena hati mereka menjadi besar dengan adanya
teman-teman, mungkin pula karena mereka ingin menonjol dan agar dianggap cukup ‘jantan’.
Demikian pula dengan lima orang itu. Begitu melihat bahwa di tempat sunyi itu muncul seorang gadis yang
amat manis seorang diri saja, mereka segera menyeringai dan siap untuk menggoda. Kesunyian tempat itu
dunia-kangouw.blogspot.com
membuat mereka iseng dan sifat kurang ajar pria terhadap wanita pun menonjol sepenuhnya, tak
terbendung lagi oleh perasaan malu dan segan seperti kalau seorang diri saja.
“He, di sini tidak menemukan harimau, yang muncul malah seekor kijang betina muda yang amat cantik!”
“Wah, seekor domba muda yang indah sekali!”
“Tentu lunak sekali dagingnya!”
“Ha-ha-ha, jangan-jangan ia seorang dewi penunggu hutan bukit!”
“Wahai nona manis, dari mana hendak ke mana dan siapa namamu?”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil