Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Agustus 2017

Cerita Silat Kisah Si Bangau Putih 1 Kho Ping Hoo

Cerita Silat Kisah Si Bangau Putih 1 Kho Ping Hoo Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Kisah Si Bangau Putih 1 Kho Ping Hoo
kumpulan cerita silat cersil online
-
Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok
Besar, pastilah menyangka bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bangsa Mancu tentu
berhenti sampai di Tembok Besar itu saja. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.
Bangsa Mancu sendiri adalah bangsa yang tinggal jauh di utara yang sangat dingin, di daerah yang keras
dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang sangat luas. Di sebelah utara Tembok
Besar masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang
luas, kemudian masih terdapat pula daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih
luas.
Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang merupakan daerah yang liar serta kejam, dengan
tidak terhitung banyaknya bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.
Padang pasir seperti ini memang ganas, dan bahkan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda,
onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudah
banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi
lautan pasir dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau pun digerogoti
anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama
mengering.
Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu memang kejam, juga mengandung kesunyian yang
mendatangkan suasana menyeramkan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa mengerikan tersesat di
lautan pasir seperti itu, di mana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir. Yang ada
hanya pasir di mana-mana, panas dan silau, tidak diketahui lagi mana utara dan mana selatan. Belum lagi
kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan seakan berombak seperti air di lautan,
menelan apa saja yang menghalang di depan.
Para pedagang yang melakukan perjalanan dan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan
terjebak di dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan
ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang anehaneh.
Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka
menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau
melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Akan
tetapi, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena alangkah besarnya keinginan hati
mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.
Di tengah-tengah salah satu di antara padang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah gedung
istana kuno, lengkap dengan kebun yang cukup luas, dengan pohon-pohon buah yang subur, dan sayursayuran,
bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat pula sumber air tidak jauh dari istana kuno itu.
Sungguh merupakan suatu keadaan yang ajaib. Andai kata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu
melihat bangunan istana berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa dia pun
hanya melihat pemandangan khayal belaka.
Akan tetapi tidaklah demikian sesungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan istana yang besar,
pernah di jaman dulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan dari seorang raja-diraja, seorang kaisar
besar yang bukan lain adalah Kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol.
Akan tetapi, puluhan tahun yang lalu, istana itu dihuni oleh seorang sakti yang aneh, yang di dunia
persilatan tingkat tinggi dikenal sebagai tokoh dongeng yang bernama Dewa Bongkok. Nama Dewa
Bongkok yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak kalah terkenalnya dan dianggap sebagai
setengah dongeng saja, seperti halnya Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es! Setelah Dewa Bongkok
dunia-kangouw.blogspot.com
meninggal dunia, kini yang menjadi penghuni istana Gurun Pasir itu adalah muridnya yang bernama Kao
Kok Cu, yang di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!
Nama besar Pendekar Naga Sakti ini pernah menggemparkan dunia persilatan, dan dia tidak kalah
terkenalnya dibandingkan mendiang gurunya. Kini Kao Kok Cu telah menjadi seorang kakek yang tua
renta, tinggal di dalam istana kuno itu berdua saja dengan isterinya.
Isterinya bukanlah wanita sembarangan, melainkan seorang pendekar wanita yang juga pernah
menggemparkan dunia persilatan. Namanya Wan Ceng, dan ketika kecil pernah tinggal di Kerajaan
Bhutan, jauh di barat bahkan menjadi saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga ia
memperoleh nama julukan Candra Dewi.
Wan Ceng juga memiliki kesaktian dan kini ia dalam usia tujuh puluh dua tahun tinggal bersama suaminya
di Istana Gurun Pasir. Mereka berdua hidup di situ tanpa pelayan, hanya berdua saja, mengerjakan ladang
dan kebun sendiri yang hasilnya jauh lebih dari pada cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka seharihari.
Sebagian besar dari waktu luang mereka dipergunakan untuk bersemedhi dan bertapa.
Keadaan sepasang suami isteri ini tidak dapat disamakan dengan keadaan para pertapa yang sengaja
mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi bertapa dengan suatu pamrih tertentu.
Orang pergi meninggalkan dunia ramai untuk bertapa di puncak bukit yang sunyi, di dalam goa yang
sederhana, hanya mengenakan cawat saja, hanya makan seadanya, menyiksa diri menahan haus dan
lapar, tentu mempunyai suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah pamrih, dan semua pamrih, baik yang terbuka
mau pun terselubung, tentu selalu menjangkau suatu keadaan yang menyenangkan.
Walau pun pamrih mendapatkan keadaan yang menyenangkan ini diperhalus dengan sebutan muluk, tetap
saja merupakan pamrih demi kesenangan diri. Mungkin dia akan mengatakan bahwa dia bertapa untuk
mencari kesempurnaan hidup, mencari Tuhan, mencari kebahagiaan, dan sebagainya. Namun
pencariannya itu sendiri membuktikan bahwa dia menginginkan sesuatu yang dianggapnya akan
mendatangkan kesenangan dalam bentuk kedamaian, kebahagiaan, dan lain sebutan lagi.
Sepasang suami isteri itu tidak mencari apa-apa. Istana Gurun Pasir itu memang milik mereka,
peninggalan dari Dewa Bongkok kepada muridnya, yaitu kakek Kao Kok Cu. Mereka berdua memang amat
senang tinggal di tempat sunyi itu, bukan untuk mencari sesuatu atau menjadikan tempat yang sunyi itu
sebagai pelarian dari dunia ramai. Sama sekali tidak. Mereka memang merasa senang tinggal di tempat
yang penuh keheningan itu dan merasa berbahagia.
Akan tetapi, pada hari itu, Istana Gurun Pasir tidaklah setenang biasanya. Dari dalam gedung istana tua itu
kini terdengar suara gelak tawa dan percakapan yang diselingi suara ketawa gembira. Kiranya suami isteri
tua itu kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka.
Tamu itu bukan seorang asing. Dia seorang hwesio yang bernama Tiong Khi Hwesio, usianya juga sudah
tujuh puluh dua tahun dan tentu saja kunjungan hwesio ini disambut gembira oleh kakek dan nenek itu,
terutama sekali nenek itu karena hwesio ini bukan lain adalah saudara tirinya sendiri, seayah berlainan ibu.
Pada waktu mudanya, Tiong Khi Hwesio adalah seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan
dunia kang-ouw dengan julukan yang mengerikan, yaitu Si Jari Maut! Dia menikah dengan Syanti Dewi,
puteri Kerajaan Bhutan dan sampai tua dia tinggal di kerajaan kecil itu. Setelah isterinya meninggal dunia,
dia hampir gila karena duka. Akan tetapi, pertemuannya dengan seorang pendeta tua menyadarkannya
dan mulai saat itu, Wan Tek Hoat, demikian namanya, lalu menggundul rambut kepala dan mengenakan
jubah, menjadi seorang hwesio yang berkelana.
Mereka bertiga bercakap-cakap sambil makan sederhana dengan sayuran segar yang dimasak sendiri oleh
nenek Wan Ceng. Kemudian mereka bertiga keluar dari istana itu dan duduk di serambi depan sambil
bercakap-cakap. Kao Kok Cu yang dahulu berjuluk Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, walau pun
usianya sudah hampir delapan puluh tahun masih nampak gagah penuh semangat.
Lengan kirinya yang buntung itu tak membuatnya terlihat mengerikan, bahkan membuat dirinya nampak
lebih berwibawa. Wajahnya yang tampan membayangkan kelembutan, sinar matanya mencorong seperti
mata naga namun juga membayangkan kelembutan dan kesabaran. Melihat sepintas lalu, takkan ada
orang mengira bahwa kakek tua renta yang lengan kirinya buntung ini memiliki kesaktian yang amat hebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua macam ilmu simpanannya, yaitu Sin-liong Hok-te, jurus pasangan kuda-kuda yang membuat tubuhnya
seperti mendekam di atas tanah bagaikan seekor naga, kemudian dapat menimbulkan tenaga dahsyat
yang mukjijat, dan Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, jarang dapat ditandingi di dunia persilatan.
Isterinya, nenek Wan Ceng, meski pun usianya juga sudah tua sekali, masih nampak sehat. Mukanya tidak
penuh keriput dan kulit muka itu masih halus kemerahan saking sehatnya, walau pun giginya telah ompong
dan rambut di kepala telah putih semua.
Nenek ini pun memiliki ilmu simpanan yang khas, yaitu Ban-tok-ciang. Kalau dia sudah mengerahkan
tenaga memainkan ilmu silat ini, kedua tangannya mengandung selaksa racun (ban-tok) yang amat
dahsyat dan berbahaya bagi lawan. Dan juga pedangnya, Ban-tok-kiam, merupakan pusaka yang
mengerikan.
Ada pun tamu itu, Tiong Khi Hwesio, biar pun sudah setua nenek itu, namun tubuhnya masih tegap,
jalannya masih tegak. Jubahnya kuning bersih, matanya tajam berkilat dan mulutnya selalu tersenyum
sinis. Kakek yang dulunya pernah berjuluk Toat-beng-ci (Si Jari Maut) ini mempunyai berbagai ilmu silat
simpanan seperti Pat-mo Sin-kun, Pat-sian Sin-kun, dan memiliki ilmu sinkang (tenaga sakti) yang diberi
nama Tenaga Inti Bumi. Juga pedangnya, Cui-beng-kiam, adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh
sekali.
Sebetulnya baru beberapa bulan yang lalu, Tiong Khi Hwesio berjumpa dengan kakek dan nenek itu ketika
mereka semua menghadiri pernikahan Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw, dengan Can Bi
Lan, gadis yang pernah mendapat bimbingan ilmu silat dalam waktu singkat dari kakek dan nenek ini
sehingga dapat dibilang gadis itu murid mereka. Pernikahan itu diadakan di rumah Pendekar Kao Cin
Liong, yaitu putera tunggal suami isteri dari Istana Gurun Pasir ini.
Akan tetapi karena pertemuan itu terjadi di dalam sebuah pesta di mana hadir banyak tamu, mereka
merasa kurang leluasa bercakap-cakap. Siapa kira, tahu-tahu kini hwesio tua itu muncul di istana mereka,
tentu saja kakek dan nenek itu menjadi gembira bukan main.
“Tek Hoat, sungguh aku girang bukan main bahwa engkau sudi datang berkunjung pada kami. Pertemuan
dalam usia yang amat tua ini sungguh mendatangkan kenangan ketika masih muda, dan menggembirakan
sekali. Terima kasih, Tek Hoat.”
Nenek itu memang selalu menyebut saudara tirinya dengan nama kecilnya saja, tidak peduli bahwa
sekarang saudara tirinya itu sudah menjadi seorang hwesio tua, seorang pendeta!
Tiong Khi Hwesio tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bertemu dan bercakap-cakap denganmu membuat orang
sama sekali lupa bahwa ia telah menjadi tua bangka, Wan Ceng. Sikap dan kata-katamu seakan tidak
pernah berubah, aku melihatmu seperti melihat engkau ketika masih gadis, ha-ha-ha!”
Kao Kok Cu juga turut tersenyum. Kemudian dia yang biasa bersikap serius, berkata dengan halus namun
meyakinkan, “Memang, waktu berjalan dengan cepatnya dan tahu-tahu kita semua telah menjadi tua,
sudah masak untuk meninggalkan dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kita menyelidiki pada diri sendiri,
kebaikan dan kegunaan apa saja yang pernah kita lakukan untuk mengisi kehidupan kita yang tidak berapa
panjang ini?”
Ucapan ini membuat Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio termenung sampai beberapa lama. Mereka
terbenam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Tiong Khi Hwesio berkata.
“Omitohud Kao-taihap, ucapanmu itu menggugah semua kenangan lama dan pinceng melihat betapa
selama hidup pinceng itu, jauh lebih banyak dukanya dari pada sukanya dan perbuatan pinceng jauh lebih
banyak buruknya dari pada baiknya. Perbuatan buruk itu pinceng lakukan karena ada dorongan nafsu,
sedangkan perbuatan baik pun pinceng lakukan dengan menyembunyikan pamrih demi keuntungan diri
pribadi. Omitohud, kalau dikaji benar, tidak ada baiknya perbuatan pinceng.”
“Aihh, jangan kau berkata demikian, Tek Hoat. Aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, engkau berjiwa
pendekar yang gagah perkasa. Kalau tidak demikian, mana mungkin enci Syanti Dewi sampai tergila-gila
dan jatuh cinta kepadamu? Engkau memang terlalu merendahkan diri sendiri,” kata Wan Ceng. “Banyaklah
sudah kegagahan kau lakukan karena memang watakmu yang gagah perkasa, seperti seorang pendekar
sejati, tanpa pamrih.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tapi... tapi... kalau pinceng ingat sekarang, semua perbuatan itu pinceng lakukan demi cinta pinceng
kepada mendiang isteriku, Syanti Dewi. Andai kata tidak ada Syanti Dewi, tidak ada cintaku terhadapnya...
ahh, tidak tahulah aku, apa yang akan terjadi dengan diriku...“ Tiong Khi Hwesio nampak termangu.
Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Memang demikian keadaannya. Kita tidak pernah bebas. Perbuatan
kita tidak pernah bebas dari pada pamrih. Karena ikatan-ikatan maka kita selalu berbuat dengan adanya
pamrih di belakang perbuatan itu, membuat semua perbuatan kita palsu adanya. Betapa pun baiknya suatu
perbuatan itu menyembunyikan pamrih, maka perbuatan itu adalah suatu kejahatan pula, karena perbuatan
itu hanya menjadi semacam cara untuk mendapatkan hasil yang kita kehendaki.”
Tiong Khi Hwesio juga menarik napas panjang. “Omitohud, bijaksana sekali ucapanmu itu, Kok-taihiap.
Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan kita tidak menyembunyikan pamrih?”
“Bukankah pamrih itu muncul dari ikatan kepada sesuatu? Ikatan inilah yang menjadi pamrih dalam
perbuatan kita. Karena itu, satu-satunya kebenaran adalah kebebasan! Sebelum bebas dari semua ikatan,
tak mungkin perbuatan kita benar, dalam arti yang sedalam-dalamnya. Kita harus berani bebas, harus
berani sendirian, sebab bersendirian ini merupakan kenyataan hidup. Masing-masing dari kita membawa
kehidupan sendiri-sendiri dan akan mengakhiri kehidupan ini sendiri-sendiri pula. Kita takut bersendirian,
melihat kenyataan betapa kita ini masing-masing kosong, lemah tidak berarti, maka timbullah rasa takut
dan kita lalu mencari pegangan, mencari ikatan sebanyaknya agar si aku tidak kehilangan pijakan. Kita
memperbanyak ikatan yang kita anggap mampu mendatangkan kekuatan dan mendatangkan hiburan,
seperti orang takut terhadap setan lalu mencari banyak teman. Padahal, ikatan-ikatan ini pangkal semua
kesengsaraan.”
Wan Ceng yang sejak tadi mendengarkan, mengerutkan alis. Sudah sering ia bercakap-cakap dengan
suaminya tentang hal ini, namun masih juga merasa sukar untuk dapat menangkap maknanya yang tepat.
Sekarang ada Tiong Khi Hwesio di situ, maka dia mengajukan bantahannya lagi agar dapat lebih mudah
menyelidiki dan mengerti.
“Akan tetapi, kalau kita membiarkan diri bebas dari ikatan, lalu mana ada cinta? Apakah kita harus bersikap
tak peduli, apakah kita harus meniadakan kewajiban-kewajiban dan hidup dengan sikap acuh dan masa
bodoh?”
Suaminya tersenyum, senyum penuh kasih yang selalu ditujukan pada isterinya. Sudah sering isterinya
membantah seperti ini, dan dia tahu bahwa isterinya masih juga belum mengerti benar dan kini hendak
minta dukungan Tiong Khi Hwesio terhadap sanggahan atau bantahannya itu.
“Benar sekali, Kao-taihiap, seperti apa yang dikemukakan isterimu. Agaknya kebebasan seperti ini, seperti
yang kau katakan tadi, berlawanan dengan tugas-tugas dalam hidup ini, seperti kewajiban terhadap
keluarga, masyarakat, pemerintah dan lain sebagainya. Bukankah jika sudah bebas dari segalanya seperti
itu, kita lalu menjadi acuh dan hidup seperti boneka saja?”
Kao Kok Cu tersenyum dengan penuh kesabaran. Ia tahu betapa sukarnya mempelajari hidup, betapa
sukarnya membuka mata melihat kenyataan hidup seperti apa adanya. Dia sendiri pun baru-baru ini saja,
dalam usia tua renta, dapat melihat kenyataan ini dengan waspada.
“Marilah kita selidiki bersama. Semua perbuatan kita ini merupakan pencerminan dari keadaan batin,
bukan? Kalau batin tidak bebas, perbuatan pun tidak akan bebas dari pamrih. Karena itu, yang
dimaksudkan dengan kebebasan di sini bukanlah kebebasan lahiriah. Lahiriah, kita tidak mungkin bebas.
Kita adalah bagian dari masyarakat, bagian dari bangsa dan negara dengan segala macam adat istiadat
dan hukumnya. Kita secara lahiriah tidak mungkin bebas dari semua itu, dari kewajiban terhadap keluarga,
terhadap pemerintah, terhadap pekerjaan, terhadap teman, masyarakat dan sebagainya. Akan tetapi,
haruskah batin juga terikat? Tak dapatkah secara lahiriah kita mempunyai, akan tetapi batin tidak ikut
memiliki? Hanya batin yang bebas saja yang akan dapat mengenal cinta kasih, bukan cinta nafsu yang
mengikat.”
Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng mendengarkan, terdiam dan seperti terpesona karena mereka pun dapat
melihat kenyataan melalui petunjuk ini.
“Sekarang aku mulai bisa melihat,” kata Wan Ceng mengangguk-angguk. “Bebas bukan berarti bebas
semau gua, karena semau gua merupakan tindakan lahiriah, tindakan badan yang penuh nafsu, tindakan
dunia-kangouw.blogspot.com
pikiran yang selalu ingin enak sendiri. Bebas batin mendatangkan cinta kasih, dan perbuatan yang didasari
cinta kasih tentu tidak akan menyeleweng dari pada kebenaran.”
“Omitohud...!”Tiong Khi Hwesio memuji sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada. “Betapa
bahagianya hati pinceng, betapa beruntungnya pinceng dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha
Pengasih yang telah menuntun pinceng untuk berkunjung ke sini sehingga sempat berbincang-bincang
dengan kalian berdua. Pinceng mengalami sendiri akan buruknya ikatan. Pinceng terikat lahir batin dengan
Syanti Dewi sehingga ketika isteriku itu meninggal dunia, pinceng seperti orang gila karena kehilangan!”
“Ikatan selalu mendatangkan duka dan kehilangan. Yang bisa kehilangan hanya mereka yang memiliki.
Kalau batin tidak memiliki apa-apa, bagaimana bisa kehilangan? Itulah namanya bebas batiniah, biar pun
lahiriah terikat kaki tangan dan lehernya oleh segala macam kewajiban hidup.”
“Wah-wah, terima kasih!” Tiong Khi Hwesio bangkit dengan wajah cerah dan gembira sekali. “Tetapi,
mengapa kita tenggelam ke dalam hal-hal yang begini serius? Pinceng ingin sekali melihat-lihat lautan
pasir yang maha luas ini. Kabarnya di padang pasir sering terjadi keanehan-keanehan, nampak kekuasaan
alam yang maha hebat. Maukah kalian mengantar pinceng melihat-lihat dan menunjukkan segala
kehebatan itu kepada pinceng?”
Kao Kok Cu dan Wan Ceng juga bangkit sambil tertawa dan mereka bertiga lalu pergi meninggalkan istana
itu, menuju ke selatan karena istana itu menghadap ke timur, ke arah Mongol dari mana Kaisar Jenghis
Khan berasal…..
********************
Tiong Khi Hwesio kagum bukan main ketika suami isteri itu membawanya ke bagian-bagian yang luar biasa
dari padang pasir itu. Ada bagian di mana pasirnya besar-besar dan agak hitam, ada pula bagian di mana
pasirnya lembut sekali dengan warna putih berkilauan seperti bubuk perak. Ada yang permukaannya
demikian halus seperti sutera, ada pula yang membentuk keriput-keriput seperti alun samudera. Juga
terdapat bagian di mana terdapat batu-batu besar berbentuk aneh-aneh karena permainan angin dan
terpukul pasir-pasir yang diterbangkan angin.
Luar biasa sekali melihat betapa ada permukaan pasir yang tak pernah diam, seperti air di lautan, selalu
berubah bentuknya karena pasir-pasir halus di permukaan itu terbawa angin membentuk garis-garis yang
selalu berubah. Seolah-olah ada kehidupan yang tak nampak di tempat yang teramat sunyi itu. Berkali-kali
Tiong Khi Hwesio mengeluarkan suara pujian dengan penuh kagum dan heran.
Melihat kegembiraan saudara tirinya, Wan Ceng menjadi ikut bergembira dan bangga. “Engkau belum
melihat yang paling hebat, Tek Hoat,” katanya bangga.
“Wah?! Masih ada yang lebih hebat dari ini? Bawa pinceng ke sana, pinceng ingin melihat yang paling
hebat!”
“Bagian itu jauh di selatan, makan waktu perjalanan hampir satu hari, disebut sebagai Lautan Maut. Di
sana engkau akan melihat badai lautan pasir, melihat pasir bagaikan air laut menderu-deru, dengan ombak
yang setinggi rumah.”
“Wah, hebat! Hayo kita lekas ke sana!” ajak Tiong Khi Hwesio, tertarik sekali. Sebagai seorang bekas
pendekar, tentu saja keadaan bahaya merupakan tantangan yang amat menggairahkan hatinya.
“Di sana berbahaya sekali,” kata Kao Kok Cu. “Bahkan rombongan onta dengan orang-orang yang paling
berpengalaman sekali pun akan menjauhi bagian itu dan lebih baik melakukan perjalanan memutar yang
lebih jauh dari pada harus menempuh Lautan Maut itu.”
“Akan tetapi kita bukanlah orang-orang yang lemah seperti mereka!” kata Wan Ceng kepada suaminya.
“Bukankah kita pernah beberapa kali ke sana dan mampu menahan serangan badai?”
Kao Kok Cu tersenyum kepada isterinya. “Haa! Agaknya engkau lupa bahwa hal itu terjadi puluhan tahun
yang lalu. Ketika itu usia kita belum lima puluh tahun.”
“Apa bedanya? Kita masih kuat dan bahwa kita bertiga dapat menguji diri apakah masih ada kemampuan
dalam tubuh yang tua ini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Cocok! Ha-ha-ha-ha, Kao-taihiap, apakah engkau tidak ingin menggembirakan seorang sahabat seperti
pinceng ini? Sebelum maut datang menjemput, pinceng ingin sekali melihat dan merasakan betapa
hebatnya badai di Lautan Maut itu.”
Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Baiklah, tentu saja kita bertiga dapat melindungi diri sendiri dari
badai. Di sana terdapat banyak batu besar yang dapat dipergunakan sebagai tempat berlindung. Akan
tetapi perjalanan itu tentu akan makan waktu dua hari pulang pergi dan di sana tidak terdapat makanan
atau minuman apa pun. Kita harus membawa bekal.”
Mereka kembali ke istana tua. Sibuklah mereka membuat perbekalan untuk perjalanan besok. Mereka
bergembira seperti tiga orang pemuda remaja yang membuat persiapan untuk perbekalan perjalanan
tamasya besok.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah berangkat meninggalkan istana gurun
pasir, menuju ke selatan. Lewat tengah hari mereka tiba di bagian lautan pasir yang dimaksud oleh Wan
Ceng. Sebelum berangkat, Kao Kok Cu memperingatkan mereka agar berhati-hati.
“Sekarang musim yang paling ganas di sana, di waktu badai sedang besarnya dengan adanya pemutaran
angin dari utara ke timur.”
Dengan buntalan perbekalan di punggung mereka, ketiga orang ini memasuki daerah Lautan Maut.
Nampaknya memang tidak ada apa-apa dan Tiong Khi Hwesio mulai kecewa. Akan tetapi makin ke
selatan, terasa angin semakin keras dan dibandingkan dengan pasir yang mereka injak, yang panas, angin
itu terasa dingin sekali. Dan ketika mereka tiba di daerah yang berbatu-batu, tiba-tiba saja badai datang
mengamuk.
Mula-mula dari arah barat dan utara, nampak seperti awan hitam dan debu angin tiba-tiba terhenti. Akan
tetapi tidak lama kemudian, awan hitam dan debu yang ternyata gelombang pasir itu datang menerpa,
didorong angin yang amat kuatnya.
Tiga orang gagah itu lalu memasang kuda-kuda sambil mengerahkan tenaga melawan hantaman pasir
halus yang dibawa angin. Mereka seakan-akan masuk ke dalam tirai pasir yang mendorong kuat dari
depan. Makin lama semakin kuat saja hantaman pasir dan angin itu.
Pertama-tama Wan Ceng yang agak terhuyung. Cepat ia berpegangan tangan dengan suaminya yang
membantunya, dan ketika akhirnya Tiong Khi Hwesio juga terhuyung, Kao Kok Cu berteriak nyaring untuk
mengatasi gemuruh suara badai pasir.
“Cepat, kita berlindung di balik batu di sana itu!” Dia menunjuk ke arah sebuah batu karang yang besar dan
kokoh kuat.
Memilih tempat berlindung ini pun ada bahayanya. Karena kalau salah pilih, bisa saja ada batu yang roboh
dilanda badai sehingga menindih dan membunuh orang-orang yang berlindung di bawahnya.
Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio, sejak mudanya memang memiliki hati yang pantang menyerah. Oleh
karena itu, ajakan Kao Kok Cu itu diterima dengan gelengan kepala, bahkan Wan Ceng sudah melepaskan
pegangan tangan suaminya, kembali memasang kuda-kuda lagi dan mengerahkan tenaganya. Demikian
pula Tiong Khi Hwesio, agaknya tidak mau kalah oleh saudara tirinya!
Melihat lagak kedua orang ini, mau tidak mau Kao Kok Cu tertawa geli dan gembira. Dia pun lalu
memasang kuda-kuda untuk melawan badai yang semakin kuat datangnya itu. Akan tetapi beberapa menit
kemudian, Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio terpaksa harus mengakui keunggulan badai karena mereka
terdorong sampai roboh bergulingan!
Terpaksa mereka sekarang membiarkan diri mereka diseret. Wan Ceng berpegangan tangan dengan
Tiong Khi Hwesio sedang Kao Kok Cu dengan satu tangan kanannya memegang tangan hwesio itu dan
menyeretnya di atas pasir menuju ke balik batu besar dan barulah mereka dapat bernapas lega karena
terjangan badai ditangkis oleh batu karang yang kokoh kuat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, kegembiraan mereka semakin menjadi-jadi. Setelah beristirahat dan dapat mengumpulkan
tenaga kembali, melihat betapa badai masih saja membesar, Tiong Khi Hwesio lalu meloncat keluar dari
balik batu karang dan kini dia mulai bersilat menentang badai. Hebat memang kakek hwesio ini.
Ia ternyata telah menggabungkan dua macam ilmu silat yang merupakan ilmu silat yang saling berlawanan,
yaitu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa)! Tidak
saja dia telah mampu menggabungkan dua aliran silat yang bertentangan ini, akan tetapi juga dia
mempergunakan tenaga sakti yang hebat, yaitu Tenaga Inti Bumi.
Biar pun usianya sudah tujuh puluh dua tahun, namun gerakannya demikian gesit dan pukulan-pukulannya
demikian kuat sehingga angin menderu-deru dari kaki tangannya menentang badai sehingga pasir-pasir
yang diterbangkan badai itu membuyar terkena hantaman angin pukulan kaki tangannya!
Tiong Khi Hwesio bersilat terus sampai akhirnya dia melompat kembali ke balik batu karang dengan muka
merah, keringat membasahi tubuh dan napasnya terengah-engah, akan tetapi matanya berseri dan
mulutnya tertawa gembira.
Wan Ceng tidak mau kalah. Nenek yang usianya sebaya dengan saudara tirinya ini juga meloncat keluar
dan bersilat menentang badai. Ia mengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Ban-tok-ciang dan dari kedua
telapak tangannya nampak ada uap yang kadang-kadang berwarna hitam, lalu hijau atau biru, berubah lagi
kemerahan.
Melihat ini, diam-diam Tiong Khi Hwesio bergidik karena dia pun tahu betapa ampuhnya pukulan-pukulan
adik tirinya itu. Nenek ini pun bersilat sampai ia tidak kuat bertahan lagi dan terpaksa harus meloncat ke
belakang batu karang dengan tubuh basah keringat dan napasnya terengah-engah.
Melihat kegembiraan kedua orang itu, Kao Kok Cu lantas ketularan. Dia pun keluar dan menentang badai,
lalu ia mulai bersilat, di tonton dengan penuh rasa kagum oleh Tiong Khi Hwesio. Dia melihat betapa kakek
berlengan sebelah ini bersilat secara aneh sekali, dengan tubuh kadang-kadang meluncur ke depan
bagaikan seekor naga, akan tetapi gerakannya membawa angin pukulan yang bercuitan.
Sekarang dia melihat betapa di bagian depan Kao Kok Cu seolah-olah ada dinding atau perisai yang tidak
nampak, terbuat dari hawa pukulan sehingga pasir yang terbang dari depan itu terhenti dan runtuh dengan
sendirinya, seperti membentur batu karang! Kakek berlengan buntung yang usianya telah tujuh puluh
delapan tahun ini bersilat paling lama dibandingkan Tiong Khi Hwesio atau Wan Ceng, tapi ketika akhirnya
dia menghentikan gerakannya dan kembali ke belakang batu karang, napasnya tidak terengah-engah dan
wajahnya biasa saja walau pun napasnya agak memburu.
“Wahh! Usia tua menggerogoti dari dalam sehingga tenaga dan daya tahanku banyak berkurang,” katanya
sambil mengatur pernapasan.
“Kao-taihiap, engkau amat hebat!” Tiong Khi Hwesio memuji. “Engkau yang paling tua di antara kita,
namun ternyata tenaga dan daya tahanmu paling kuat. Sungguh membuat aku takluk dan kagum sekali!”
Akan tetapi Kao Kok Cu tidak menjawab, melainkan menuding ke arah barat.
“Lihat, bukankah itu suara onta yang datang dari arah sana?”
Dua orang itu menoleh ke arah barat, namun tidak kelihatan sesuatu, hanya memang mereka mendengar
ada suara onta. Suaranya merintih seperti sedang menderita.
“Onta tidak pernah merintih kecuali menghadapi kematiannya dan di mana ada binatang onta terancam
maut, di situ tentu ada pula penunggangnya yang juga terancam mala petaka,” sambung Wan Ceng. “Mari
kita lihat!”
Dua orang kakek itu mengangguk setuju dan mereka bertiga segera berloncatan keluar dari balik batu
karang dan berlari cepat menuju ke barat, ke arah datangnya suara tadi. Tidak terlalu lama mereka
mencari karena segera mereka melihat seekor onta yang dalam keadaan sekarat, tergencet batu yang
roboh menimpa dan menghimpitnya. Dan di dekatnya nampak seorang wanita yang telah tewas pula,
sedangkan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahun berlutut dan mengguncangguncang
tubuh wanita itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ibu... ibu... bangunlah, ibu... kuatkanlah, mari kugendong ibu pergi dari sini...“ kata anak itu dengan suara
pilu dan gemetar.
Dia lalu dengan susah payah menarik tubuh ibunya yang kedua kakinya terhimpit tubuh onta, kemudian
mencoba untuk menggendongnya. Akan tetapi baru beberapa langkah saja anak itu berjalan, dia disambar
hantaman badai dan dia pun terguling bersama mayat ibunya, bergulingan.
“Ibuuuuu...!” Anak itu berteriak.
Pada saat itu, Tiong Khi Hwesio telah menyambar tubuhnya dan dibawa meloncat ke balik sebuah batu
karang untuk berlindung dari serangan badai. Wan Ceng juga sudah menyambar mayat wanita itu dan
membawanya ke tempat yang sama.
“Ibuuu...! Lepaskan ibuku, jangan ganggu ibuku...!”
Tiba-tiba anak itu meronta dan saking marah dan khawatirnya, anak itu memiliki tenaga yang demikian
hebatnya sehingga dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Tiong Khi Hwesio dan kini dia menyerang
Wan Ceng yang masih memondong tubuh wanita yang telah mati itu. Anak laki-laki itu menubruk, tangan
kirinya mendorong ke arah dada Wan Ceng, dan tangan kanannya mencoba untuk merampas tubuh wanita
itu, gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga yang kuat.
Wan Ceng tidak melawan, hanya menarik tubuh atas untuk mengelak dari dorongan anak itu, dan ia
membiarkan anak itu merampas tubuh mayat itu. Anak laki-laki itu kini memandang mayat itu, menghadapi
tiga orang tua itu dengan mata terbelalak. Mata itu liar dan beringas, seperti mata seekor anak harimau
tersudut. Dia siap melawan tiga orang itu mati-matian untuk mempertahankan dan melindungi ibunya.
“Jangan kalian mengganggu ibuku! Akan kulawan sampai mati! Walau pun kalian Dewa Kematian, Dewa
Badai dan Dewa Padang Pasir, aku tidak takut!”
Dia menantang dan sikapnya sungguh berani, sikap seorang yang sudah nekat karena tidak melihat jalan
lain.
Tiga orang tua renta itu sejenak terpesona, juga terharu. Mereka adalah orang-orang sakti yang sudah
banyak makan garam, banyak pengalaman dan tahu saja artinya duka karena mereka pun sudah kenyang
mengalami duka dalam kehidupan mereka.
Oleh karena itu, mereka dapat menduga bahwa anak ini menjadi demikian nekat dan berani karena
terhimpit duka yang bertubi-tubi dan yang terakhir kalinya agaknya karena melihat ibunya yang tercinta
tewas. Atau mungkin juga saking bingung, khawatir dan dukanya, dia sampai tidak sadar bahwa ibunya
telah kehilangan nyawanya dan yang hendak dilindungi dan dipertahankan itu ialah sesosok mayat yang
telah mulai menjadi dingin!
Dengan hati terharu penuh iba, Kao Kok Cu melangkah maju. “Anak yang baik, kami bukan dewa atau iblis,
kami adalah orang-orang biasa yang datang ingin menolongmu. Tidak ada yang akan mengganggu ibumu
lagi, Nak, karena ibumu itu telah meninggal dunia. Lihatlah baik-baik dan jangan keliru menyangka orang.”
Suara itu begitu halus, tenang dan sabar dan suara itu saja sudah cukup membuat anak itu percaya. Kini
anak itu memandangi wajah mayat yang dipeluknya. Wajah seorang wanita yang kurus pucat, dengan
mata setengah terbuka, dengan pandang kosong tanpa cahaya sama sekali, seperti mata sebuah patung
yang pernah dilihatnya. Dia lalu mengangkat mayat itu mendekat dan merendahkan mukanya sampai
mukanya dekat sekali dengan muka mayat itu. Hidung dan mulut ibunya tidak bernapas lagi!
“Ibuuuuu...!”
Untuk kedua kalinya dia pun terjungkal bersama mayat ibunya, dan roboh pingsan di dekat mayat itu.
“Omitohud...!” Tiong Khi Hwesio mengeluh ketika dia melihat peristiwa ini.
Kao Kok Cu menarik napas dan menggeleng-geleng kepalanya sedangkan Wan Ceng lalu mendekati anak
itu, berlutut dan mengurut tengkuk dan dadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Anak itu pun mengeluh, lalu membuka matanya. Dia segera mencari dengan pandang matanya dan ketika
dia melihat tubuh ibunya menggeletak tidak jauh dari situ, dia pun bangkit dan menubruk mayat ibunya
sambil menangis. Akan tetapi, anak itu agaknya memang memiliki kekerasan dan ketabahan hati.
Tidak lama dia menangis dan agaknya dia sudah teringat lagi akan tiga orang tua itu. Maka ia bangkit
berdiri memandang, lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap mereka, agaknya sama sekali tak peduli
akan luka-luka yang diderita tubuhnya, babak belur dan lecet-lecet. Juga kaki kanannya kehilangan
sepatunya, sedangkan pergelangan kaki itu menggembung besar, tanda bahwa kaki itu salah urat.
“Harap Sam-wi Locianpwe (Tiga Orang Tua Perkasa) memberi ampun kepada saya yang tadi bersikap
kurang ajar. Dalam keadaan seperti ini, saya menjadi bingung dan mengira Sam-wi (Kalian Bertiga) bukan
manusia.“
Tiga orang itu saling pandang dan sependapat bahwa anak ini ternyata mempunyai pendidikan yang baik
dan mengenal aturan. Juga, mata mereka yang tajam dapat mengenal bahwa anak ini memiliki nyali yang
besar, sikap gagah dan juga bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang pendekar.
“Anak baik, sekarang belum waktunya banyak bicara. Apakah engkau hanya berdua dengan ibumu ini?”
tanya Kao Kok Cu. Anak itu mengangguk.
“Kalau begitu, yang terpenting sekarang, mari ikut bersama kami dan kami juga akan membawa jenazah
ibumu supaya mendapatkan penguburan yang sepatutnya di tempat kami.”
“Baik, Locianpwe, dan terima kasih atas perhatian Sam-wi,” kata anak itu.
Anak itu segera bangkit. Tanpa diperintah lagi ia menghampiri mayat ibunya, bermaksud untuk
memondongnya. Hal ini saja membuat tiga orang tua itu menjadi kagum. Anak ini tidak cengeng, tahu diri,
cerdik dan tabah sekali.
“Biarkan pinceng yang membawa jenazah ibumu, anak baik,” kata Tiong Khi Hwesio dan sekali kedua
lengannya bergerak, mayat wanita itu telah dipondongnya.
Anak itu terbelalak dan merasa seperti melihat sulapan atau sihir saja. Dia hampir tidak melihat hwesio tua
itu menyentuh mayat ibunya atau mengulurkan tangan, seolah-olah mayat itu yang terbang ke dalam
pondongan hwesio tua itu!
“Dan engkau pun tidak sehat benar, marilah engkau kugendong!” kata pula Kao Kok Cu.
Dan anak itu menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang naik dan tahu-tahu dia telah
berada di atas punggung kakek yang lengan kirinya buntung! Hampir dia menjerit ketakutan dan hampir
kehilangan lagi kepercayaannya bahwa tiga orang itu adalah manusia. Jangan-jangan mereka ini ternyata
benar-benar iblis-iblis yang hendak membawa pergi dia dan mayat ibunya!
Akan tetapi, nenek itu berkata, “Mari kita pergi!”
Kini anak itu mengalami peristiwa yang membuat dia tidak akan dapat melupakannya selama hidupnya.
Dia merasa dibawa terbang oleh kakek berlengan satu dan ketika dia melirik ke kanan, dia melihat hwesio
itu pun seperti terbang membawa mayat ibunya, sedangkan nenek itu terbang paling depan.
Badai masih mengamuk hebat, akan tetapi tiga orang ini dapat berlari secepat terbang, menempuh badai
yang menyerang dari samping. Cepat sekali gerakan mereka dan berkali-kali dia harus memejamkan
matanya saking ngeri. Dan ketika mereka keluar dari daerah badai, anak itu merasa betapa mereka berlari
lebih cepat lagi.
Kadang-kadang mereka melompati jurang-jurang seperti terbang, membuat dia merasa ngeri bukan main.
Akhirnya dia pun hanya memejamkan mata agar tidak melihat betapa tubuhnya meluncur pesat di atas
pundak kakek yang terbang di atas pasir.
Setelah mereka berhenti, barulah anak itu membuka matanya dan dia pun menahan keinginannya untuk
berteriak saking herannya. Dia diturunkan, lalu digandeng masuk ke dalam sebuah istana besar yang indah
dan juga menyeramkan karena istana itu berdiri megah ditengah-tengah gurun pasir, tidak mempunyai
tetangga seorang pun!
dunia-kangouw.blogspot.com
Jenazah ibunya juga dibawa masuk dan nenek itu lalu merawat jenazah ibunya, diberi pakaian yang utuh,
kemudian diadakan upacara sembahyang sekadarnya sehingga dia sebagai putera ibunya dapat memberi
hormat dan berkabung atas kematian ibunya. Dia pun menurut saja ketika tiga orang tua itu mengusulkan
agar ibunya segera dikubur pada hari itu juga. Mereka kemudian menggali lubang di kebun belakang dan
mengubur jenazah itu tanpa peti.
Setelah penguburan selesai dan mereka semua kembali ke dalam istana, barulah anak itu yakin bahwa
semua yang dialaminya bukanlah mimpi. Kemarin sore dia dibawa oleh tiga orang tua ini, bersama jenazah
ibunya, dengan cara yang luar biasa, lari bagaikan terbang, sehingga malam-malam mereka tiba di istana
ini. Hanya semalam ibunya yang telah menjadi jenazah itu dirawat dan pada keesokan harinya,
penguburan ibunya telah dilakukan dengan baik dan selesai.
Kini dia telah menjadi seorang anak yang kehilangan ibu, tidak tahu berada di tempat apa, merasa berada
di tempat yang aneh, bukan bagian dari dunia, bersama tiga orang manusia yang juga luar biasa. Apakah
dia masih hidup, ataukah dia sudah berada di akhirat? Akan tetapi kalau dia sudah mati, tentu dia bertemu
dengan ibunya. Tidak, dia masih hidup! Ibunyalah yang telah mati, dan dia berada di tempat tiga orang
sakti.
Sebagai putera seorang ahli silat, tentu saja dia pernah mendengar tentang orang-orang tua yang sakti,
akan tetapi biasanya mereka itu adalah pertapa-pertapa atau pendeta-pendeta di kuil. Dan kini, tiga orang
tua itu, biar pun yang seorang adalah hwesio, bukan tinggal di dalam goa, melainkan di dalam sebuah
istana!
Demikianlah anak itu membolak-balik pikirannya sendiri ketika dia berlutut di atas lantai, di depan tiga
orang yang duduk di bangku rendah sambil bersila. Kemudian dia teringat betapa tiga orang tua ini sudah
melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya.
Pertama, kalau tidak ada mereka yang datang ketika dia diserang badai digurun pasir itu, tentu dia sudah
tewas pula bersama ibunya dan onta mereka. Kedua, mereka pula yang membawa dia dan jenazah ibunya
ke istana aneh ini, dan ketiga, mereka sudah mengurus penguburan ibunya sampai selesai.
Teringat akan semua ini, dia kemudian memberi hormat kepada mereka sampai dahinya berkali-kali
menyentuh lantai.
“Sam-wi Locianpwe telah menyelamatkan saya dan telah mengurus pemakaman ibu, sungguh budi
kemuliaan ini sampai mati pun saya tidak akan melupakannya,” demikian dia berkata berulang kali dan
baru berhenti setelah kakek yang lengan kirinya buntung itu berkata dengan suara halus.
“Anak baik, duduklah yang benar, dan ceritakan dengan jelas bagaimana asal mulanya maka engkau
bersama mendiang ibumu dapat berada di tempat yang berbahaya itu dan terserang badai.”
“Nanti dulu!” Tiba-tiba Wan Ceng berkata. “Siapa tahu dia menderita luka berat. Mari, majulah ke dekatku
ke sini, Nak, akan kuperiksa keadaanmu.”
Mendengar ini, anak itu tidak berani membantah dan dia pun merangkak dan mendekati nenek itu. Wan
Ceng cepat-cepat memeriksa dan ternyata anak itu hanya menderita lecet-lecet dan babak belur, luka di
kulit saja, sedangkan pergelangan kakinya yang membengkak itu adalah karena salah urat. Dengan cepat
Wan Ceng mengurut kaki itu dan membetulkan kembali urat yang tertarik dan salah duduk, dan mengobati
lecet-lecet dengan obat luka.
“Nah, engkau tidak apa-apa sekarang, ceritakanlah keadaanmu,” kata Wan Ceng.
Anak itu lalu berlutut kembali seperti tadi dan menceritakan riwayatnya. “Nama saya Tan Sin Hong, tinggal
bersama orang tua saya di kota Ban-goan di selatan Tembok Besar. Ayah saya dikenal sebagai Tanpiauwsu
(pengawal Tan) karena ayah saya membuka perusahaan Piauwkiok (perusahaan pengawal
barang kiriman) yang mengawal barang-barang dagangan yang dikirim dari dan keluar Tembok Besar…”
Anak itu, yang bernama Tan Sin Hong, dengan lancar kemudian menceritakan semua peristiwa yang barubaru
ini menimpa keluarganya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada suatu hari, Tan-piauwsu ayah Sin Hong, menerima tugas untuk mengawal barang-barang berharga
untuk diantar ke kota Tuo-lun, sebuah kota yang terletak di daerah Mongol. Barang itu berupa sebuah peti
besar terisi emas permata yang amat berharga. Karena itu, Tan-piauwsu tidak berani menyerahkan
pengawalan kepada anak buahnya saja. Dia berangkat sendiri mengawal barang itu dan menyerahkan
urusan perusahaan kepada Tang-piauwsu, yaitu wakilnya.
Sebulan kemudian, datanglah seorang utusan yang membawa pesan dari Tan-piauwsu agar isterinya dan
puteranya menyusul kekota Tuo-lun untuk diajak nonton keramaian tradisionil yang diadakan oleh suku
bangsa campuran Mancu dan Mongol yang tinggal di sana. Biar pun perjalanan itu jauh dan memakan
waktu lama, namun Nyonya Tan dan puteranya dengan girang memenuhi pesan itu.
Tang-piauwsu merasa khawatir dan dia sendiri yang rnelakukan pengawalan, memimpin dua belas orang
anggota Piauwkiok. Berangkatlah rombongan ini keluar dari Tembok Besar menuju ke utara. Saat mereka
tiba di dekat kota Tuo-lun, di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba muncul gerombolan perampok bertopeng yang
jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Gerombolan perampok ini menyerang dan tentu saja Tang-piauwsu
memimpin anak buahnya melakukan perlawanan.
Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi gerombolan perampok itu lihai dan dua kali lebih besar jumlahnya,
maka pihak pengawal terdesak dan mulai ada yang roboh. Melihat keadaan berbahaya ini, Tang-piauwsu
lalu melarikan kereta yang membawa Nyonya Tan dan Sin Hong, melarikan diri dari tempat itu. Namun,
setelah merobohkan semua pengawal, gerombolan perampok bertopeng itu melakukan pengejaran.
Tang-piauwsu melarikan kereta tanpa tujuan dan akhirnya mereka tiba di padang pasir. Melihat ada
penduduk daerah itu yang membawa garam dengan menunggang seekor onta, Tang-piauwsu lalu membeli
onta itu dan menyuruh Nyonya Tan beserta Sin Hong untuk melanjutkan larinya dengan menunggang onta,
sedangkan dia sendiri menanti di situ dengan pedang di tangan untuk menahan gerombolan perampok
yang tadi sudah mengancam hendak menawan Nyonya Tan yang masih kelihatan muda dan cantik.
Karena ketakutan, Nyonya Tan dan Sin Hong lalu menunggang onta, membawa bekal seadanya saja dan
onta itu pun memasuki gurun pasir! Mereka tidak lagi melihat apa yang telah terjadi selanjutnya dengan
Tang-piauwsu.
“Karena takut ditawan gerombolan perampok yang kasar itu, yang menurut perkiraan Tang-piauwsu
agaknya hendak menangkap ibu beserta saya untuk membalas dendam kepada ayah, ibu lalu melarikan
onta itu tanpa tujuan, terus memasuki gurun pasir yang luas. Akhirnya kami tidak tahu jalan lagi, di manamana
hanya pasir belaka dan kami membiarkan saja onta itu mengambil jalan sendiri. Entah berapa hari
kami melakukan perjalanan seperti itu, kehabisan bekal, bahkan kantung air yang banyak itu pun sudah
hampir habis. Kami menderita sekali dan akhirnya kami diserang badai. Kami berlindung di balik batu
karang, akan tetapi batu karang itu lalu runtuh dan menimpa kami, dan selanjutnya... Sam-wi telah
mengetahui…”
Begitu Sin Hong mengakhiri ceritanya, Tiong Khi Hwesio langsung berseru. “Omitohud... permusuhan yang
tidak ada hentinya antara yang untung dan yang rugi! Para perampok merasa dirugikan oleh para piauwsu,
sehingga banyak bentrokan terjadi antara mereka yang hendak merampok dan mereka yang hendak
melindungi barang kiriman!”
“Ada yang mencurigakan di dalam urusan ini,” kata Kao Kok Cu, “Bagaimana seorang piauwsu yang
berpengalaman begitu sembrono untuk memanggil isteri dan puteranya menyuruh ke tempat yang
demikian jauh, melalui perjalanan yang berbahaya.”
“Memang mencurigakan sekali. Dan Tang-piauwsu itu malah membiarkan ibu dan anak itu melintasi gurun
pasir dengan binatang onta tanpa pengawalan, benar-benar gegabah sekali,” kata pula Wan Ceng.
“Biarlah pinceng (saya) yang akan pergi ke Tuo-lun untuk mencari Tan-piauwsu dan memberi kabar
kepadanya tentang isteri dan puteranya. Sin Hong, engkau tinggal dulu saja di sini sampai pinceng dapat
menemukan ayahmu dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.”
Tan Sin Hong mengangguk, “Baik, Locianpwe, saya di sini akan menanti berita dari hasil penyelidikan
Locianpwe.”
Dia merasa suka sekali di tempat yang indah itu, dan dia merasa berhutang budi. Ingin dia membalas budi
itu, walau pun hanya dengan membersihkan tempat itu, istana tua itu yang nampaknya tidak begitu terawat
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan baik. Apa lagi ketika dia lantas mendapat kenyataan bahwa di istana tua itu tidak terdapat seorang
pun pelayan.
Sambil menanti kembalinya Tiong Khi Hwesio, Sin Hong mendengar lebih banyak dari nenek Wan Ceng
tentang istana tua itu dan kini dia tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir itu adalah kakek dan nenek she
Kao ini, sedangkan Tiong Khi Hwesio yang kini pergi mencari ayahnya adalah seorang sahabat baik dan
tamu kehormatan dari mereka.
Tiga hari kemudian, muncullah Tiong Khi Hwesio. Setelah minum air sejuk jernih yang dihidangkan oleh
Sin Hong, kakek ini menarik napas panjang.
“Omitohud..., Tan Sin Hong. Pinceng kali ini terpaksa membawa berita yang amat tidak menyenangkan
untukmu.” Dan dia pun mengelus kepala anak itu yang sudah berlutut di depannya.
Anak itu memang berhati tabah. Biar mukanya agak pucat dan matanya membayangkan kekhawatiran,
namun suaranya masih tenang ketika dia berkata kepada hwesio tua itu. “Locianpwe, apakah yang telah
terjadi dengan ayah saya?”
Nenek Wan Ceng juga tidak sabar. “Tek Hoat, apa yang telah terjadi di sana?”
Kakek yang masih terlihat lelah karena habis melakukan perjalanan jauh itu mengusap peluh dari leher dan
mukanya menggunakan sehelai sapu tangan lebar, lalu menghela napas dan memandang kepada Sin
Hong dengan sinar mata kasihan.
“Pinceng tiba di kota Tuo-lun dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi ternyata bahwa Tan-piauwsu tidak
pernah sampai di kota itu...“
“Ayah...!” Sin Hong berseru dengan suara tertahan, matanya menatap wajah Tiong Khi Hwesio, penuh
pertanyaan dan kekhawatiran.
“Di kota itu pinceng bertemu dengan beberapa orang sahabat baik Tan-piauwsu karena memang sudah
beberapa kali Tan-piauwsu mengawal barang ke kota itu. Dan bersama mereka pinceng lalu menyelidiki
sepanjang jalan menuju ke kota itu dari selatan yang biasa diambil oleh rombongan Piauwkiok dan di
sebuah hutan pinceng menemukan mereka.” Suara kakek ini menurun dan Sin Hong kembali menatap
dengan muka pucat.
“Locianpwe menemukan ayah...?“ tanyanya, kini suaranya agak gemetar, jelas bahwa dia telah menduga
buruk. Dan kakek itu mengangguk.
“Pinceng menemukan Tan-piauwsu dan sepuluh orang anak buahnya, semuanya telah tewas terbunuh.”
“Ayah...! Ibu...!” Teriakan Sin Hong ini lirih saja, seperti keluhan dan dalam keadaan berlutut dia menutupi
muka dengan kedua tangannya.
Tiga orang tua itu hanya memandang dan membiarkan saja. Sampai beberapa lamanya Sin Hong
menutupi mukanya, tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi air mata mengalir dari celah-celah jari
tangannya. Kemudian dia mengusap air matanya dengan kedua tangan, lalu dengan suara agak parau dia
bertanya kepada Tiong Khi Hwesio.
“Locianpwe, siapa yang membunuh ayah?”
Tiong Khi Hwesio menggeleng kepala. “Tidak ada yang tahu dan tiada tanda-tandanya. Mereka semua
tewas dan agaknya dirampok karena tidak ada barang berharga lagi di sana, kecuali pakaian yang
menempel di tubuh mereka.”
“Ahh, siapa lagi kalau bukan para perampok bertopeng itu? Dan yang mengirim utusan mengundang
nyonya Tan serta Sin Hong tentu juga anggota perampok bertopeng itu yang sengaja menghadang dan
menjebak,” kata kakek Kao Kok Cu. “Agaknya mereka adalah gerombolan perampok yang mendendam
kepada Tan-piauwsu sehingga selain merampok, juga ingin membasmi keluarganya.”
“Aku lebih condong untuk mencurigai Tang-piauwsu itu!” Tiba-tiba Wan Ceng berkata. “Mengawal barang
yang sangat berharga tentunya amat dirahasiakan dan kukira yang mengetahui hanyalah Tan-piauwsu dan
dunia-kangouw.blogspot.com
pembantunya itu. Aku tidak akan heran kalau kelak diketahui bahwa yang mengatur semua perampokan
dan pembunuhan itu adalah Tang-piauwsu. Oleh karena itu dia pulalah yang menyuruh nyonya Tan dan
Sin Hong melarikan diri ke gurun pasir, yang artinya sama dengan mengirim mereka ke lembah maut.”
“Omitohud, kita tidak boleh sembarangan sangka. Urusan ini adalah urusan Sin Hong dan biarlah dia saja
yang kelak melakukan penyelidikan. Engkau tenangkan hatimu Sin Hong. Teman-teman ayahmu sudah
mengurus penguburan jenazah ayahmu dan anak buahnya, dan kalau suami isteri tua penghuni Istana
Gurun Pasir ini tidak berkeberatan, pinceng mengusulkan agar Sin Hong tinggal di sini mempelajari ilmu
dari kita bertiga.”
Suami isteri itu agak terkejut dan memandang wajah hwesio itu penuh perhatian. “Apa alasanmu berkata
demikian, Tek Hoat?” kata nenek Wan Ceng.
“Banyak peristiwa aneh-aneh yang terjadi di dunia, dan biasanya kita anggap sebagai hal yang kebetulan
saja. Akan tetapi, bukankah di balik peristiwa itu sudah ada yang mengaturnya? Bukankah sudah menjadi
kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa maka bisa terjadi hal-hal yang kelihatan kebetulan itu? Contohnya Tan
Sin Hong ini. Keluarganya tertimpa mala petaka, ibunya tewas, ayahnya tewas pula dan ia pun nyaris
tewas. Coba lihatlah segala macam kebetulan yang sudah terjadi! Pertama-tama, kebetulan sekali pinceng
mengunjungi kalian dan kemudian kebetulan sekali kita bertiga bermain-main dengan badai gurun pasir!
Kalau tidak kebetulan pinceng berkunjung tentu kita tidak bermain-main dengan badai dan kalau tidak
kebetulan kita bermain-main dengan badai tentu kita tidak akan melihat Sin Hong! Dan kalau begitu, apa
jadinya? Tentu dia telah tewas pula! Bukankah semua kebetulan itu seperti telah diatur oleh Thian
(Tuhan)? Nah, kita jangan menolak kehendak Thian dan harus menerima sebagai perintah-Nya. Mari kita
menerima anak ini sebagai murid kita yang terakhir, untuk menampung peninggalan terakhir dari kita.
Bagaimana pendapat kalian?”
Suami isteri itu saling pandang. Mereka telah mewariskan semua ilmu mereka kepada putera tunggal
mereka yang bernama Kao Cin Liong dan kini tinggal dikota Pao-teng dekat kota raja. Juga mereka
mengajarkan beberapa macam ilmu kepada Can Bi Lan yang kini menjadi nyonya Sim Houw. Apakah kini
mereka harus mengambil seorang murid lagi ketika usia mereka sudah amat tua?
Tetapi, ada benarnya juga pendapat Tiong Khi Hwesio tadi tentang peristiwa kebetulan yang merupakan
tanda kekuasaan dan kehendak Thian. Mereka mengangguk setuju dan Wan Ceng berkata sambil
tersenyum.
“Tek Hoat, kalau begitu engkau juga harus tinggal di sini untuk mewariskan ilmu-ilmumu kepadanya.”
“Ha-ha-ha, tentu saja! Pinceng memang suka sekali menghabiskan sisa usia pinceng di sini, tentu saja
kalau kalian tidak berkeberatan.”
“Kenapa keberatan? Kami suka sekali!” kata kakek Kao Kok Cu. “Akan tetapi kita tidak boleh melupakan
hal yang terpenting, yaitu apakah Tan Sin Hong suka tinggal di sini sebagai murid kita?”
Sin Hong sejak tadi mendengarkan saja percakapan itu. Dia sedang tenggelam dalam lamunan penuh
duka. Ayah ibunya tewas secara mendadak dan dia tidak memiliki apa-apa lagi. Terutama sekali, dia
terkesan sekali oleh percakapan tiga orang tua itu tentang kematian ayahnya.
Ayahnya dibunuh orang! Agaknya sudah direncanakan. Tang-piauwsu patut dicurigai, walau pun belum
ada buktinya. Dan dialah yang kelak harus menyelidiki dan membuka rahasia itu. Untuk itu dia perlu
memiliki kepandaian yang tinggi. Ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya masih tidak ada artinya.
Ayahnya sendiri pun tewas melawan penjahat, apa lagi dia!
Kini, mendengar percakapan tiga orang tua sakti itu yang ingin mengambilnya sebagai murid, dan
mendengar kakek Kao Kok Cu menyinggung apakah dia suka menjadi murid mereka atau tidak, tanpa
ditanya lagi dia lalu menjatuhkan diri bertiarap di atas lantai, menyentuh lantai dengan dahinya berulang
kali.
“Sam-wi Locianpwe, teecu (murid) Tan Sin Hong bersumpah untuk menjadi murid yang baik kalau Sam-wi
sudi mengambil teecu sebagai murid.” Berulang-ulang dia berkata demikian.
Dengan suaranya yang lantang dan tegas kakek Kao Kok Cu berkata, “Tan Sin Hong, benarkah engkau
bersedia untuk mematuhi semua perintah kami kalau engkau menjadi murid kami?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Teecu bersumpah untuk mentaati dan mematuhi semua petunjuk dan perintah Sam-wi Locianpwe!” kata
Sin Hong dengan setulus hatinya.
“Dan engkau tak akan mengeluh menghadapi latihan yang amat berat?” sambung Tiong Khi Hwesio.
“Biar sampai mati sekali pun dalam mentaati perintah, teecu tidak akan mengeluh.”
Tiga orang tua itu diam-diam menjadi girang dan mulai hari itu, Tan Sin Hong tinggal di sana. Dia bekerja
keras sebagai pelayan, membersihkan istana dan bekerja di kebun, melayani semua kebutuhan tiga orang
tua itu, akan tetapi sebagai imbalannya, dia pun mulai digembleng oleh mereka bertiga! Menjadi murid
seorang saja di antara tiga orang sakti ini sudah merupakan suatu keberuntungan besar, apa lagi sekaligus
menjadi murid mereka bertiga!
Sin Hong tidak menyia-nyiakan kesempatan yang amat baik ini dan dia pun belajar dan berlatih dengan
amat tekunnya, siang malam tak pernah berhenti kecuali kalau sedang bekerja. Bahkan dalam
melaksanakan pekerjaannya sekali pun, ia melatih diri sehingga dia memperoleh kemajuan pesat. Kalau
malam, setelah lelah berlatih, dia mencurahkan pikirannya untuk mengingat semua pelajaran yang
diterimanya dari tiga orang gurunya.
Tiga orang tua renta itu maklum bahwa bagi seorang murid seperti Sin Hong, tidaklah mungkin dapat
mempelajari semua ilmu mereka bertiga, akan memakan waktu terlalu lama. Mereka sudah tua sekali,
selain itu sudah merasa malas untuk banyak bergerak melatih ilmu silat, juga maklum bahwa akan sayang
kalau sampai mereka mati sebelum ilmu mereka dapat diterima dengan baik oleh murid terakhir itu.
Oleh karena itulah mereka masing-masing sengaja memilih ilmu-ilmu simpanan mereka saja untuk
diajarkan kepada Sin Hong, setelah menggembleng pemuda itu untuk dapat menguasai langkah-langkah
dan gerakan-gerakan dasar dari ilmu mereka bertiga.
Kao Kok Cu menurunkan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dan meski muridnya tidak berlengan buntung, dia
mengajarkan juga caranya menghimpun tenaga sakti melalui Ilmu Sin-liong Hok-te. Nenek Wan Ceng juga
mengajarkan Ilmu Ban-tok-ciang dan melatih pemuda itu untuk menghimpun tenaga beracun agar dapat
melakukan Ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) dengan baik. Sementara itu Tiong Khi Hwesio
menurunkan gabungan Ilmu Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun, juga melatih menghimpun tenaga sakti
lewat ilmu sinkang Tenaga Inti Bumi!
Tentu saja untuk bisa menguasai ilmu-ilmu yang sakti itu, Sin Hong harus berlatih mati matian,
menggembleng diri sehingga ia tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang kurus saking bekerja keras
setiap hari dan malam untuk menguasai ilmu-ilmu itu! Dan semenjak tinggal di situ, ia hanya mau memakai
pakaian serba putih untuk mengabungi ayah ibunya yang tewas secara menyedihkan.
Tiga tahun kemudian ketika dia berada di situ mempelajari ilmu, pada suatu hari datang berkunjung
seorang laki-laki gagah perkasa yang berusia lima puluh tiga tahun. Dia ini bukan lain adalah Kao Cin
Liong, putera tunggal dari Kao Kok Cu dan Wan Ceng, yang datang berkunjung dan membujuk ayah
ibunya yang telah tua itu untuk tinggal bersama dia di Pao-teng.
“Kini ayah dan ibu telah berusia lanjut, dan saya sekeluarga tinggal jauh di Pao-teng. Sungguh tidak enak
bagi saya kalau mengingat keadaan ayah dan ibu. Sebaiknya kalau ayah berdua tinggal bersama kami di
Pao-teng supaya kami dapat mengurus semua keperluan ayah berdua,” demikian antara lain Kao Cin
Liong membujuk orang tuanya.
Akan tetapi ayah ibunya tetap tidak mau menuruti permintaan puteranya. “Ketahuilah bahwa aku lebih suka
tinggal di tempat yang sunyi ini bersama ayahmu, Cin Liong. Kami dapat mengurus diri sendiri dan andai
kata kelak kami meninggal dunia, kami dapat saling mengurus atau merawat dan ada satu di antara kami
yang akan mengabarimu di Pao-teng,” demikian nenek Wan Ceng berkata.
Puteranya tidak merasa heran mendengar ibunya sedemikian enaknya bicara tentang kematian. Dia sudah
mengenal watak ibu dan ayahnya yang menganggap kematian sebagai hal yang biasa saja.
“Pula, kami sekarang mempunyai seorang murid yang juga melayani semua keperluan kami. Inilah dia,
namanya Tan Sin Hong.” kata Kao Kok Cu. “Juga di sini tinggal pula Tiong Khi Hwesio yang menambah
dunia-kangouw.blogspot.com
kegembiraan kami. Tak perlu engkau memusingkan kami tiga orang-orang tua dan biarkan kami dalam
kegembiraan kami sendiri.”
Dia lalu menceritakan tentang Sin Hong yang segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong yang
disebutnya ‘suheng’ (kakak seperguruan). Diam-diam Cin Liong merasa heran dan kagum akan baiknya
nasib anak itu yang secara tak terduga telah menjadi murid ayah ibunya dan juga Tiong Khi Hwesio!
Kao Cin Liong tinggal selama satu minggu di Istana Gurun Pasir, dan setelah dia pergi meninggalkan
tempat itu, pulang ke Pao-teng, kehidupan di situ menjadi seperti biasa lagi. Sin Hong tekun berlatih silat,
dan ketiga orang tua renta itu kadang-kadang masih suka berkeliaran di padang pasir, bahkan beberapa
kali masih senang bermain-main dengan badai…..
********************
Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau kita masing-masing menengok ke belakang, kepada
kehidupan kita di masa lalu di masa kanak-kanak, di masa muda dan selanjutnya, akan nampak betapa
cepatnya waktu berjalan.
Bagi seorang dewasa, masa kanak-kanak yang lewat belasan tahun yang lalu, hanya seolah-olah baru
kemarin saja. Semua peristiwa di masa kanak-kanak nampak seperti baru terjadi kemarin dan kenangan
pada masa lalu ini akan membuat setiap orang menyadari bahwa tahu-tahu dia telah menjadi tua!
Demikian pendeknya kehidupan ini, kenapa waktu yang pendek itu tidak kita isi dengan langkah-langkah
yang berguna, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain? Apa yang telah kita lakukan bagi manusia,
bagi dunia, bagi Tuhan? Pertanyaan seperti ini sudah sepatutnya kita pertanyakan kepada diri sendiri
masing-masing, dan bagi mereka yang belum pernah melakukan hal yang berguna atau merasa belum
pernah, marilah mulai dari saat ini juga.
Langkah hidup apakah yang berguna? Tentu bukan langkah hidup atau perbuatan yang mengandung
pamrih bagi kepentingan diri sendiri, karena langkah seperti itu hanya akan menimbulkan konflik atau
pertentangan. Langkah hidup yang benar dan berguna hanyalah langkah atau perbuatan yang didasari
oleh cinta kasih. Karena itu, mengapa tidak membiarkan cinta kasih bersinar menerangi batin?
Bukan dengan cara memupuk cinta kasih, karena hal ini tidak mungkin. Bukan dengan jalan
mempraktekkan cinta kasih atau mengusahakan agar kita bisa menjadi baik dan menjadi seorang
pengasih. Sama sekali tidak mungkin. Kita hanya dapat menyingkirkan hal-hal yang memenuhi batin kita,
hal-hal yang bukan cinta kasih, bahkan yang justru membuat batin tertutup bagi masuknya sinar cinta
kasih.
Kita harus menyingkirkan kebencian, permusuhan, dendam, pementingan diri, ambisi pribadi, iri hati dan
segala macam keinginan yang didorong oleh nafsu. Kalau batin sudah bersih dari semua itu, tanpa kita
panggil, tanpa kita cari, sinar cinta kasih akan menerangi batin. Dalam keadaan demikian, semua
perbuatan kita akan didasari cinta kasih, berarti hidup kita berguna, baik bagi manusia mau pun bagi
Tuhan!
Tanpa terasa lagi, sudah tujuh tahun Tan Sin Hong tinggal di Istana Gurun Pasir! Dan berkat
ketekunannya, kerajinannya yang tak mengenal lelah, dalam usia dua puluh satu tahun, berhasillah dia
menguasai seluruh ilmu yang diajarkan oleh ketiga orang gurunya kepadanya.
Sementara itu, tiga orang tua yang tinggal di Istana Gurun Pasir, kini menjadi semakin tua! Tiong Khi
Hwesio sudah berusia hampir delapan puluh tahun, demikian pula nenek Wan Ceng, sedangkan suaminya
Kao Kok Cu, telah berusia delapan puluh lima tahun! Mereka merasa betapa tenaga mereka digerogoti
usia dari dalam, daya tahan mereka telah berkurang, hanya penggunaan otak mereka yang belum mundur,
bahkan mereka menjadi semakin waspada dan pandai.
Karena merasa bahwa mereka bertiga sudah mendekati akhir usia, setelah melakukan latihan semedhi
bersama, mereka bertiga mendapat kesempatan untuk bersama-sama menciptakan suatu ilmu yang khas
untuk diwariskan kepada murid mereka yang baik itu. Selama tujuh tahun mereka melihat betapa Sin Hong
adalah seorang yang selain tekun, tabah dan juga berkemauan keras, memiliki kesetiaan dan kebaktian
terhadap mereka. Hal ini membuat mereka merasa suka dan sayang kepada Sin Hong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka pun mulai menciptakan suatu ilmu bersama dan setelah berhasil, mereka lalu mengajarkan ilmu ini
kepada Sin Hong. Ilmu ini diilhami oleh gerakan seekor burung bangau, walau pun intinya mengandung
sari dari ilmu ketiga orang tua itu. Dan karena gerakannya, mereka memberi nama ilmu ini Pek-ho Sin-kun
(Silat Sakti Bangau Putih) dan kemudian mengajarkannya kepada Sin Hong.
Akan tetapi, bukan mudah mempelajari ilmu silat yang didasari ilmu batin yang kuat ini. Sin Hong sendiri
tertegun karena kaget mendengar pesan Kao Kok Cu yang mewakili mereka bertiga.
“Sin Hong, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kami berikan kepadamu ini bukanlah ilmu sembarangan,
melainkan ilmu perahan dari seluruh kepandaian kami bertiga. Sinkang yang dikandung ilmu silat ini
merupakan sinkang gabungan dari kami bertiga yang akan kami salurkan kepadamu pula. Untuk itu,
sebelumnya engkau harus tahu bahwa setelah engkau menerima saluran sinkang dari kami, lalu
mempelajari Pek-ho Sin-kun sampai tamat, engkau harus menghindarkan dirimu dari semua gerakan ilmu
silat selama satu tahun penuh. Sanggupkah engkau?”
Sambil berlutut Sin Hong bertanya. “Sebelum teecu menyatakan kesanggupan teecu, ingin teecu mengerti
apa yang Suhu maksudkan dengan menghindarkan diri dari semua gerakan silat itu?”
“Engkau tidak boleh bersilat walau pun menghadapi ancaman apa pun juga, dan sama sekali tidak boleh
mengerahkan sinkang. Dan setiap kali ada kesempatan, engkau harus bersemedhi dengan mengendurkan
seluruh otot dan syaraf, meniadakan segala pikiran dan kemauan, supaya tenaga yang kami salurkan
kepadamu dapat mengendap dan menyesuaikan diri dengan tubuhmu. Kalau engkau melanggarnya,
engkau akan celaka oleh tenagamu itu sendiri. Nah, syaratnya amat berat. Sanggupkah engkau?”
Sin Hong berpikir dengan keras. Sungguh berat sekali syarat itu. Bagaimana dia dapat membiarkan diri
kosong seperti itu selama setahun? Berlatih silat pun tidak boleh! Akan tetapi, makin sukar syaratnya, tentu
semakin hebat pula ilmunya. Maka dia pun segera mengangguk.
“Teecu menerima syarat itu, Suhu. Akan tetapi teecu mohon keterangan lagi untuk dapat teecu mengerti
benar dan agar tidak sampai teecu melakukan pelanggaran kelak. Bagaimana kalau ada orang yang
mengancam dan menyerang teecu?”
“Omitohud… kenapa engkau dihantui rasa khawatir, Sin Hong?” kata Tiong Khi Hwesio. ”Biar pun ada yang
menyerangmu, hendak membunuhmu sekali pun engkau tidak boleh menggerakkan ilmu silat yang akan
menggerakkan pula tenaga sinkang di tubuhmu.”
“Jadi teecu sama sekali tidak boleh membela diri walau pun teecu takkan menentang?”
“Tentu saja kau boleh berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi engkau hanya boleh menggunakan akal
atau kalau terpaksa menggunakan tenaga juga, hanya tenaga otot biasa saja, bukan tenaga sinkang.
Sudah tentu engkau dapat terancam bahaya maut dengan syarat ini, tetapi itu sudah menjadi resikonya
mempelajari ilmu yang dahsyat,” kata Wan Ceng.
“Baik, teecu menerima syarat itu!” berkata Sin Hong dengan suara tegas dan penuh semangat.
Mulailah dia mempelajari Ilmu Pek-ho Sin-kun. Karena dia sudah menguasai ilmu-ilmu simpanan dari tiga
orang gurunya, maka ilmu gabungan ini dapat dikuasainya dalam waktu pendek saja. Kemudian, dia
disuruh duduk bersila. Ketiga orang gurunya duduk bersila pula di belakangnya.
Tiong Khi Hwesio lalu menempelkan telapak tangan kanan ke pundak kanannya, Kao Kok Cu
menempelkan telapak tangan di punggungnya, dan Wan Ceng menempelkan tangan di pundak kirinya.
Perlahan-lahan, setelah dia disuruh membuka dirinya tanpa melakukan perlawanan sedikit pun, Sin Hong
lalu merasa betapa hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui tiga bagian tubuh yang
ditempel telapak tangan itu. Makin lama hawa itu menjadi semakin banyak mengalir dan menjadi semakin
panas, berputar di seluruh tubuhnya, kemudian perlahan-lahan berkumpul di pusarnya.
Dia tahu betapa ada hawa sakti yang luar biasa kuatnya memasuki tubuhnya, maka dia hanya menerima
saja tanpa melawan sedikit pun. Setelah tiga orang itu menghentikan penyaluran hawa sakti itu dan
ketiganya menggeser duduk mereka ke belakang, Sin Hong merasa betapa ada hawa yang kuat sekali
berpusing di dalam pusarnya. Dia membalik dan berlutut menghadap ketiga orang gurunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka itu agak pucat dan terengah, namun mereka tersenyum memandang kepadanya dengan pandang
mata penuh kasih sayang. Hal ini membuat Sin Hong terharu bukan main dan dia pun bertiarap,
menyentuh lantai di depan kaki mereka dengan dahinya berulang kali sambil menghaturkan terima kasih.
“Sekarang, sebaiknya engkau segera melakukan siu-lian (semedhi) di dalam kamarmu, Sin Hong. Boleh
engkau melaksanakan pekerjaanmu, akan tetapi yang penting saja dan selebihnya dari waktumu,
pergunakan untuk semedhi. Dan ingat pesan kami bertiga.”
Sin Hong kembali menghaturkan terima kasih kemudian dia pun keluar dari ruangan itu, memasuki
kamarnya dan cepat duduk bersila dan bersemedhi mengendurkan seluruh tubuhnya luar dalam dan
membiarkan tenaga sakti yang berpusingan di dalam pusarnya itu bergerak-gerak seperti benda hidup di
dalam tubuhnya!
Seperti biasa, dengan amat tekun Sin Hong kini mempergunakan kesempatan untuk bersemedhi. Dengan
girang dia mendapat kenyataan betapa keliaran tenaga sakti yang dia terima dari tiga orang gurunya itu,
semakin teratur dan bergerak mengelilingi semua bagian tubuhnya dengan lembut, tidak lagi liar seperti
pada hari-hari pertama. Semakin lama tenaga itu mengendap di pusarnya dan dia mendapat kenyataan
betapa sedikit ketegangan saja sudah cukup untuk membuat tenaga itu bangkit dan berputaran di seluruh
tubuhnya.
Kini tahulah dia akan maksud guru-gurunya yang melarang dia mengerahkan sinkang selama satu tahun.
Kalau dia mengerahkan tenaga, maka tenaga sakti yang amat besar itu akan bangkit dan mengamuk, dan
tentu tubuhnya bagian dalam tidak akan mampu menahannya karena tenaga sakti itu masih setengah liar
dan belum dapat dikendalikan sepenuhnya.
Keadaan seperti itu berlangsung terus selama sepuluh bulan. Kini, semenjak mereka selesai mengajarkan
ilmu gabungan terakhir kepada Sin Hong, tiga orang tua itu banyak menganggur dan mereka lebih banyak
bersemedhi. Mereka merasa betapa tenaga mereka makin berkurang, bukan karena disalurkan kepada Sin
Hong, melainkan karena dimakan usia tua.
Pada suatu pagi yang cerah, istana itu nampak sunyi sekali. Empat orang penghuninya semua masih
duduk bersila, melakukan semedhi pagi yang amat baik karena pada saat itu, sinar matahari pagi
merupakan sumber yang sangat baik, mengandung kekuatan yang dahsyat. Dengan bersemedhi, mereka
dapat menampung kekuatan ini, kekuatan yang menghidupkan.
Akan tetapi, tidak seperti biasanya, di tempat yang sunyi itu kini didatangi serombongan orang yang anehaneh.
Nampak tak kurang dari tujuh belas orang yang perlahan-lahan menghampiri Istana Gurun Pasir.
Mereka datang dari arah selatan dan sikap mereka amat berhati-hati, bahkan seperti orang-orang yang
takut-takut, agaknya gentar karena mereka sudah mendengar akan kehebatan nama Istana Gurun Pasir
ini. Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan, tentu saja mereka tahu bahwa penghuni Istana
Gurun Pasir ini adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti, bahkan isterinya juga seorang nenek
yang sakti.
Di halaman depan istana itu, mereka berhenti. Enam orang di antara mereka, agaknya yang menjadi
pemimpin, berbisik-bisik seperti merundingkan sesuatu dan sikap mereka jelas membayangkan perasaan
gentar. Bagi orang yang sudah biasa menjelajahi dunia kang-ouw, akan mengenal enam orang ini karena
mereka adalah tokoh-tokoh besar yang terkenal di dunia persilatan.
Orang pertama adalah seorang wanita yang usianya sudah enam puluh tujuh tahun, akan tetapi masih
nampak cantik karena ia pesolek, dan pakaiannya juga serba indah, sikapnya lemah lembut dan gerakgeriknya
yang halus tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan namanya ditakuti banyak orang di dunia persilatan.
Tubuhnya tinggi ramping dengan pinggang yang lemas seperti batang pohon yang-liu. Inilah Sin-kiam Mo-li
(Iblis Betina Pedang Sakti), seorang yang tidak saja memiliki ilmu pedang yang dahsyat, akan tetapi
bahkan pandai pula ilmu sihir! Kini ia berdiri dengan tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri
memegang kebutan bergagang emas.
Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia lima puluh dua tahun, tubuhnya tinggi besar dengan brewok.
Dia juga bukan orang sembarangan karena dia terkenal sebagai seorang pencuri yang amat lihai, berjuluk
Sai-cu Sin-touw (Maling Sakti Muka Singa), memiliki sepasang tangan yang bergerak cepat sekali
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga dengan kedua tangan kosong saja dia berani menghadapi lawan tangguh yang bersenjata. Saicu
Sin-touw ini merupakan seorang tangan kanan dan pembantu yang dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li.
Orang ke tiga seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun, juga bertubuh tinggi besar dengan perut
gendut sekali seperti karung beras, mengenakan jubah kuning yang di bagian dadanya bergambar patkwa.
Dari jubahnya ini mudah dikenal bahwa dia adalah seorang tokoh Pat-kwa-kauw (Agama Segi
Delapan) yang tinggi kedudukannya.
Rambutnya yang telah putih semua itu menutupi sebagian mukanya karena riap-riapan. Mukanya pucat
kekuningan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi Ok Cin Cu, kakek pendeta ini, lihai bukan main
dengan tongkatnya yang berbentuk ular dan berwarna hitam.
Orang ke empat adalah suheng-nya, bernama Thian Kong Cinjin dan dia adalah wakil ketua Pat-kwa-kauw
cabang utara. Usianya sudah tua sekali, tujuh puluh delapan tahun. Rambut dan jenggotnya sudah putih,
tubuhnya tinggi kurus namun berwibawa. Sikapnya halus lemah lembut. Dia membawa sebatang tongkat
setinggi tubuhnya. Dibandingkan para pendeta lainnya, Thian Kong Cinjin ini yang paling lihai dan tingkat
kepandaiannya bahkan seimbang dengan Sin-kiam Mo-li yang dianggap pimpinan rombongan ini.
Orang ke lima juga sudah tua, tujuh puluh lima tahun usianya. Dia adalah Thian Kek Sengjin. Melihat
jubahnya yang bergambar bunga teratai di dadanya, dapat diketahui bahwa dia adalah seorang tokoh
besar perkumpulan Pek-lian-kauw. Biar pun usianya sudah tua namun mukanya merah seperti darah,
tubuhnya kurus kering dan dia memiliki sepasang mata bagai mata kucing. Ia juga membawa sebatang
tongkat yang berbentuk ular berwarna hitam.
Orang ke enam dari kelompok pimpinan ini bernama Coa-ong Sengjin, usianya tujuh puluh dua tahun dan
dia juga tokoh Pek-lian-kauw, sute (adik seperguruan) dari Thian Kek Sengjin. Tubuhnya kecil bongkok,
mukanya buruk mirip muka monyet. Akan tetapi jangan dipandang rendah kakek kecil buruk ini, karena
selain ilmu silat yang cukup lihai dengan tongkat ular hidup sepanjang lima kaki, dia juga ahli atau pawang
ular yang dapat memanggil ular-ular berbisa untuk membantunya menghadapi lawan!
Enam orang ini bersatu dibawah pimpinan Sin-kiam Mo-li yang dianggap paling lihai. Hanya Sin-kiam Mo-li
seorang yang tidak menjadi tokoh dari suatu perkumpulan agama sedangkan lima orang itu, yang seorang
adalah pembantunya, sedangkan empat yang lain adalah para pendeta Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw.
Bahkan sebelas orang yang menjadi anak buah mereka adalah para anggota Pek-lian-kauw yang pilihan
dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Apakah maksud kedatangan tujuh belas orang itu ke Istana Gurun Pasir? Para pendeta itu terkena hasutan
Sin-kiam Mo-li yang menganggap dua keluarga dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sebagai musuhmusuh
besarnya. Dan karena dua perkumpulan itu, Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, juga merupakan dua
perkumpulan pemberontak yang telah banyak melakukan penyelewengan dan kejahatan, maka sudah
sering kali mereka bentrok dengan anggota keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Maka, ketika dihasut dan
diajak oleh Sin-kiam Mo-li untuk menyerbu Istana Gurun Pasir, mereka pun menyambut dengan baik walau
pun mereka masih ragu-ragu dan takut-takut.
Melihat betapa para pendeta itu kelihatan jeri sekali setibanya di pekarangan depan istana, sambil berbisikbisik
Sin-kiam Mo-li mengulangi bujukannya.
“Kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi takut lagi? Sudah kukatakan berkali-kali, menurut perhitunganku,
suami isteri itu telah menjadi kakek dan nenek yang tua sekali, jauh lebih tua dari pada kalian semua.
Tentu mereka telah menjadi kakek dan nenek pikun yang akan mudah saja kita kalahkan. Apa yang perlu
kita takuti? Kita semua berjumlah tujuh belas orang, sedangkan mereka hanya berdua, seorang kakek dan
seorang nenek yang mungkin sudah berpenyakitan. Dan ingat akan harta benda dan pusaka-pusaka yang
tidak ternilai harganya di dalam istana! Semuanya akan menjadi milik kita kalau sudah membunuh
mereka.”
“Tapi... tapi... bagaimana kalau putera mereka dan para pendekar lain berada di dalam istana itu? Kita
semua akan mati konyol!” bantah Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-kauw itu. Keraguannya ini disetujui oleh tiga
orang pendeta lainnya karena mereka mengangguk-angguk membenarkan.
“Ahhh, kalian kira aku sudah begitu bodoh? Sebelum berangkat, aku sudah melakukan penyelidikan ke
Pao-teng dan Kao Cin Liong bersama keluarganya berada di rumah. Percayalah, di dalam istana tua ini
dunia-kangouw.blogspot.com
hanya ada kakek dan nenek itu, dan aku yakin kita akan mampu mengalahkan mereka. Mari...!” Sin-kiam
Mo-li lalu melangkah maju terus menghampiri istana.
Keadaan istana yang amat sunyi itu membuat para pendeta menjadi berani dan mereka mulai percaya
akan keterangan Sin-kiam Mo-li. Istana itu memang nampak sunyi saja, seperti tidak ada penghuninya saja
atau kalau pun ada, tentu tidak banyak.
Rombongan penyerbu ini sama sekali tidak pernah mimpi bahwa barang-barang yang mereka sangat
inginkan itu, terutama kitab-kitab ilmu, tidak akan mereka dapatkan di tempat itu. Tiga orang kakek itu,
terutama Kao Kok Cu dan Wan Ceng sudah sejak lama membakar semua kitab pelajaran. Mereka
berpendapat bahwa ilmu merupakan sesuatu yang amat berbahaya kalau sampai terjatuh ke tangan orang
jahat. Oleh karena itu, setelah merasa bahwa mereka sudah tua dan setelah mereka mewariskan ilmu-ilmu
mereka kepada murid terakhir, mereka lalu membakar semua kitab yang ada!
Juga Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya sama sekali tak tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir walau
pun sudah tua renta namun masih amat lihai dan cerdik sehingga kedatangan mereka itu sudah semenjak
tadi diketahui. Oleh karena itu, ketika mereka menyerbu serambi depan istana tua itu, tiba-tiba saja pintu
depan terbuka dan mereka melihat tiga orang tua sedang duduk bersila di belakang ambang pintu depan,
dengan sikap yang tenang, bahkan tersenyum menghadapi mereka!
Melihat ini, para pendeta itu hampir berteriak kaget dan kembali nyali mereka menjadi kecil, apa lagi
mereka melihat kenyataan bahwa suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir itu ternyata ditemani oleh
seorang hwesio yang mereka kenal sebagai Tiong Khi Hwesio yang juga lihai! Mereka tentu saja mengenal
hwesio ini yang dahulunya adalah seorang pendekar dengan julukan Si Jari Maut!
“Celaka,” pikir mereka. “Kiranya di samping Pendekar Naga Sakti dan isterinya, masih ada lagi Si Jari
Maut!”
Akan tetapi, Sin-kiam Mo-li yang tadinya kaget juga melihat adanya Tiong Khi Hwesio di situ,
membesarkan hati kawan-kawannya dan berkata, “Mari maju, mereka hanyalah tiga orang tua bangka
yang sudah mau mampus!”
“Omitohud...!” Tiong Khi Hwesio berseru sambil tersenyum lebar. “Bukankah yang datang ini sahabatsahabat
lama, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawan dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw? Sin-kiam Mo-li,
sudah bertahun-tahun engkau agaknya belum juga mau bertobat? Mau apakah engkau dan temantemanmu
mengunjungi tempat sunyi ini?”
Sin-kiam Mo-li memandang kepada hwesio itu dengan marah sekali. Tiong Khi Hwesio adalah musuh
besarnya. Adalah hwesio ini yang dahulu memimpin para pendekar untuk menentang ibu angkatnya, yaitu
mendiang Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama sehingga ibu angkatnya itu tewas. Melihat kehadiran kakek ini
di Istana Gurun Pasir, bukan saja mengejutkan hatinya, akan tetapi lebih lagi mendatangkan kemarahan
dan kebencian mendalam. Ia tidak takut karena kini hwesio itu nampak sudah demikian tua! (baca kisah
SULING NAGA)
“Tiong Khi Hwesio, tua bangka yang mau mampus. Kebetulan engkau berada di sini sehingga kami dapat
membasmi dirimu sekalian!” bentaknya.
Selama beberapa tahun ini, Wan Ceng sudah dapat memenangkan diri sendiri. Ia yang dahulunya
merupakan seorang wanita yang gagah perkasa, galak dan keras hati, kini menjadi seorang nenek yang
berhati lembut. Biar pun ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya itu adalah tokoh-tokoh sesat
yang amat jahat, namun tidak timbul kebencian atau kemarahan dalam hatinya.
Melihat kenyataan ini, bukan main girangnya rasa hati Wan Ceng. Inilah ujian terakhir baginya, ujian bagi
keadaan batinnya apakah benar-benar dia sudah bebas dari pada kemarahan dan kebencian. Dan dia
melihat kenyataan yang menggembirakan bahwa kemunculan orang-orang jahat yang berniat buruk ini pun
kini tidak dapat mengusik dan memunculkan kemarahan atau kebencian dalam batinnya.
Ia menoleh kepada suaminya yang nampak tenang saja seolah-olah tidak menghadapi ancaman, dan
kepada Tiong Khi Hwesio yang tertawa-tawa. Hatinya terharu. Sungguh Wan Tek Hoat kini telah berubah
sama sekali. Dahulu pernah dijuluki Si Jari Maut yang bersikap keras tanpa mengenal ampun kepada
orang jahat atau musuhnya, akan tetapi sekarang telah menjadi seorang hwesio yang masih tertawa-tawa
biar pun diancam dan dimaki.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kakek Kao Kok Cu yang bersikap tenang itu bangkit berdiri, diikuti oleh isterinya dan Tiong Khi Hwesio,
dan berkata dengan halus namun berwibawa sekali, “Kami penghuni Istana Gurun Pasir sudah puluhan
tahun tidak pernah mempunyai urusan dengan siapa pun juga, dan kami pun tidak mau bermusuhan
dengan Cu-wi (Kalian). Harap kalian suka tinggalkan kami yang ingin hidup aman dan damai.”
Melihat sikap Pendekar Naga Sakti yang mereka takuti demikian lunak, dan nampaknya sudah tua sekali,
hati Sin-kiam Mo-li menjadi besar.
“Hemmm, ingin kami melihat sampai di mana kebenaran nama besar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!
Biar pun kalian tinggal diam di sini, namun keturunan dan murid-murid kalian bersama murid keluarga
Pulau Es, selalu memusuhi kami. Karena itu hari ini kami sengaja datang untuk membunuh kalian. Kami
berpendapat bahwa membunuh sebatang pohon haruslah membongkar akarnya dahulu, baru seluruh
pohonnya akan rontok.”
“Omitohud...!” seru Tiong Khi Hwesio. “Sin-kiam Mo-li dan para sobat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwakauw.
Kebetulan bahwa musuh kalian yang paling besar adalah diri kalian sendiri! Tidak sadarkah kalian
bahwa kalian banyak mendapat tentangan adalah akibat dari pada tindakan kalian sendiri? Kalau kalian
mengambil jalan yang benar, tak pernah mengganggu orang baik-baik, pasti tidak akan ada yang
menentang kalian. Dari pada membunuh kami bertiga orang tua yang tidak akan ada gunanya, lebih
berguna kalau kalian mawas diri dan mengubah cara hidup kalian...“
“Tutup mulutmu, hwesio busuk!” bentak Sin-kiam Mo-li. “Kami datang bukan untuk mendengarkan khotbah
atau ceramah. Hayo kalian bertiga keluarlah kalau memang berani, kami menunggu di luar!”
Wanita ini menantang dan memberi isyarat pada teman-temannya untuk mundur sampai ke pekarangan
istana yang luas. Dia memang cerdik. Kalau dia dan kawan-kawannya menyerbu ke dalam, selain ruangan
di sana tidak begitu luas sehingga sukar melakukan pengepungan dan pengeroyokan, juga dia khawatir
kalau istana tua itu mengandung jebakan-jebakan dan alat rahasia yang membahayakan. Kalau berkelahi
di pekarangan ini, dia dapat mengerahkan semua temannya yang berjumlah tujuh belas orang untuk
mengepung dan mengeroyok tiga orang tua itu.
Tiong Khi Hwesio melangkah keluar sambil tertawa. Sedangkan Kao Kok Cu saling pandang dengan Wan
Ceng, dan keduanya tersenyum.
“Suamiku, kalau Tuhan menghendaki, biarlah kita berpisah di dunia ini untuk bertemu di alam lain.”
Kao Kok Cu mengangguk, tersenyum dan tangan mereka saling sentuh dengan mesra, penuh perasaan
kasih sayang. “Selamat berpisah, isteriku.”
Mereka pun bergandeng tangan keluar mengikuti Tiong Khi Hwesio. Sejenak mereka berdua seolah-olah
merasa sedang menjadi pengantin, melangkah perlahan di belakang seorang pendeta yang mengawinkan
mereka, menuju ke tempat sembahyangan!
Setelah ketiga orang tua ini tiba di pekarangan, Sin-kiam Mo-li segera memberi isyarat kepada semua
temannya dan tujuh belas orang itu lalu mengepung dua orang kakek dan seorang nenek yang berdiri
saling membelakangi membentuk segi tiga.
“Bagaimana, Kao-taihiap? Apakah kita harus melayani mereka ini?” terdengar Tiong Khi Hwesio bertanya
sambil tersenyum. Pertanyaan itu seolah-olah hendak menguji apakah jalan pikiran sahabatnya itu sama
dengan pikirannya.
“Tentu saja,” jawab Kao Kok Cu tenang.
“Omitohud! Untuk apa?” Tiong Khi Hwesio mendesak.
“Pertama, sudah menjadi kewajiban kita untuk melindungi dan membela diri dari semua ancaman yang
datang dari dalam mau pun luar, dan ke dua, sudah menjadi kewajiban kita pula sebagai orang-orang yang
pernah mempelajari ilmu untuk mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang sesat,”
kini yang menjawab adalah nenek Wan Ceng.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, bagus!” kata Tiong Khi Hwesio. “Tetapi, kita membela diri dan menghadapi mereka ini tanpa
marah dan benci?”
“Tanpa marah dan benci!” kata kakek Kao Kok Cu dengan suara tegas.
Sementara itu, mendengarkan tiga orang tua itu bercakap-cakap seenaknya, dengan sikap acuh seakanakan
mereka sedang bercengkerama, bukan sedang dikepung dan diancam musuh, Sin-kiam Mo-li
menjadi marah sekali. Ia menganggap tiga orang tua itu memandang rendah kepadanya dan temantemannya,
maka ia pun berteriak dengan suara lantang sekali.
“Serbuuuuu! Bunuh mereka...!”
Sin-kiam Mo-li sendiri sudah menggerakkan sepasang senjatanya, yaitu pedang di tangan kanan dan
kebutan di tangan kiri, menyerang kepada kakek Kao Kok Cu karena ia tahu bahwa Pendekar Naga Sakti
Gurun Pasir yang buntung lengan kirinya inilah yang paling tangguh.
Sai-cu Sin-touw si Maling Sakti Muka Singa sudah cepat menyusulkan serangan pula dengan kedua
tangannya, membantu Sin-kiam Mo-li. Namun dengan gerakan ringan dan halus, Kao Kok Cu dapat
menghindarkan serangan mereka itu dengan elakan dan kebutan ujung lengan bajunya yang kiri dan
kosong.
Ok Cin Cu dan Thian Kong Cinjin, dua orang tokoh Pat-kwa-kauw itu, segera menerjang Tiong Khi Hwesio
dengan tongkat mereka. Tiong Khi Hwesio bergelak tertawa dan dia pun mencabut Cui-beng-kiam yang
tadi sudah dipersiapkannya ketika mereka bertiga bersila menyambut datangnya rombongan tamu tak
diundang itu. Terjadilah perkelahian antara dia dan dua orang pengeroyoknya yang lihai.
Wan Ceng juga sudah mencabut Ban-tok-kiam untuk menghadapi terjangan dua orang kakek tokoh Peklian-
kauw, yaitu Thian Kek Sengjin yang bersenjatakan tongkat naga hitam dan Coa-ong Sengjin yang
bersenjatakan seekor ular hidup dan dua orang ini menyerang dengan ganas. Akan tetapi nenek Wan
Ceng menghadapi mereka dengan tenang. Pada wajahnya sedikit pun tidak terbayang kemarahan,
sungguh jauh bedanya dengan wataknya di waktu yang lalu.
Sebelas orang anak buah Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw yang mengepung mereka juga telah
memegang senjata masing-masing. Seorang di antara mereka mengeluarkan sebongkok hio (dupa biting),
membakar ujungnya sampai membara, dan lalu membagi-bagikan hio itu, masing-masing mendapatkan
tiga batang. Kemudian, tiga batang hio itu mereka pasang di kepala, diselipkan pada ikat kepala yang
sudah mereka pakai.
Kemudian, sebelas orang itu memakai dupa di kepalanya ini lalu berlari-lari mengelilingi pertempuran itu
sambil membaca mantera. Kiranya, seperti yang sebelumnya sudah mereka rencanakan, dipimpin oleh
seorang pendeta Pek-lian-kauw, mereka membentuk sebuah barisan siluman yang mempergunakan
kekuatan mantera dan ilmu hitam dari Pek-lian-kauw!
Barisan yang memupuk tenaga ilmu hitam ini berlari-larian, makin lama semakin cepat mengitari
pertempuran itu, kemudian tiba-tiba membalik dan demikian berkali-kali sambil membaca mantera sampai
muka mereka dipenuhi keringat dan kini ada sinar aneh pada pandang mata mereka seperti mata orang
yang tidak sadar lagi, bahkan mulut mereka, yang masih berkemak-kemik itu kini mengeluarkan busa!
Kiranya sebelas orang itu kini seperti dalam keadaan kesurupan. Mulailah mereka melakukan
pengeroyokan kepada tiga orang tua dari Istana Gurun Pasir itu.
Ketika sebelas orang itu tadi berlari-lari sambil membaca mantera, tiga orang tua sakti merasakan getaran
aneh yang mengancam mereka, seolah-olah hendak melumpuhkan semangat mereka. Makin cepat
barisan aneh itu berlari, semakin kacau pula perasaan mereka.
Namun, berkat kekuatan batin yang hebat, mereka dapat menghalau semua pengaruh ilmu hitam itu.
Bahkan saat sebelas orang itu ikut mengeroyok, tiga orang tua ini melihat seakan-akan sebelas orang itu
sudah menjadi ratusan banyaknya! Namun, pengerahan sinkang membuat mata mereka terbuka penuh
kewaspadaan dan lenyaplah bayangan ratusan orang tua itu, dan yang nampak tetap saja sebelas orang
yang seperti gila atau kesurupan!
Akan tetapi, sepak terjang sebelas orang itu ternyata lebih hebat dari pada enam orang pemimpin mereka
yang lihai. Jika enam orang pemimpin mereka hanya mengandalkan kepandaian saja, maka sebelas orang
dunia-kangouw.blogspot.com
itu selain kepandaian pribadi, juga mengandalkan kekuatan yang tidak lumrah manusia, dan kenekatan
yang mengerikan!
Ketiga orang tua yang dikeroyok itu sebentar saja sudah terdesak hebat. Kalau dibuat perbandingan, tentu
saja kakek Kao Kok Cu mempunyai tingkat kepandaian yang paling tinggi di antara isterinya dan hwesio
itu. Juga tingkatnya masih lebih tinggi dari pada Sin-kiam Mo-li sekali pun.
Pada saat tadi dikeroyok dua oleh Sin-kiam Mo-li dan Sai-cu Sin-touw, dia masih dapat mengimbangi
kekuatan mereka, bahkan membuat mereka kewalahan. Akan tetapi kini ditambah lima orang anak buah
yang mengeroyok seperti kesurupan itu, segera kakek ini terdesak hebat dan beberapa kali tubuhnya
sudah terkena tusukan pedang Sin-kiam Mo-li dan bacokan golok di tangan anak buah yang kesetanan itu.
Tapi, dengan sikap yang masih gagah dan tenang, kakek penghuni Istana Gurun Pasir itu terus membela
diri dengan gigih dan sabetan ujung lengan baju kirinya, ketika dia mengerahkan tenaga Sin-liong Hok-te,
merobohkan dua orang anggota pasukan yang kesetanan itu. Mereka tewas seketika dengan kepala retak!
Akan tetapi, yang tiga orang lagi menyerang semakin nekat, juga Sin-kiam Mo-li dan Sai-cu Sin-touw
memperhebat desakan mereka melihat betapa kakek berlengan tunggal itu sudah menderita luka-luka.
Keadaan nenek Wan Ceng lebih parah lagi dari pada suaminya. Tingkat kepandaiannya hanya seimbang
dibandingkan Coa-ong Sengjin, bahkan masih kalah jika dibandingkan tingkat Thian Kek Sengjin, tokoh
besar Pek-lian-kauw itu. Dikeroyok dua saja dia sudah repot, hanya mengandalkan pedang Ban-tok-kiam
yang ampuh itu sajalah dia masih dapat melindungi dirinya.
Akan tetapi, ketika tiga orang yang kesetanan itu maju mengeroyok, dia pun tak dapat menghindarkan lagi
senjata para pengeroyok sehingga menderita luka-luka, bahkan ada hantaman tongkat naga hitam di
tangan Thian Kek Sengjin yang mengenai pundak dekat lehernya, membuat ia menderita luka dalam yang
cukup parah.
Akan tetapi nenek ini memang hebat sekali. Luka-luka di tubuhnya tetap saja tak dapat membangkitkan
kemarahannya. Ia menahan rasa nyeri dan gerakan pedangnya tetap hebat sehingga ia pun berhasil
menusuk roboh Coa-ong Sengjin dengan pedangnya.
Begitu tertusuk lambungnya oleh Ban-tok-kiam, Coa-ong Sengjin menjerit dan roboh tak berkutik lagi,
tubuhnya berubah menjadi kehitaman karena racun yang amat hebat dari pedang Ban-tok-kiam. Melihat
betapa sute-nya tewas, Thian Kek Sengjin menjadi makin marah dan mendesak hebat sehingga
tongkatnya kembali berhasil menghantam betis kanan nenek Wan Ceng sehingga roboh terguling!
Tiga orang yang kesetanan itu menubruk dengan golok mereka. Akan tetapi, Wan Ceng membabat dan
dua orang roboh lagi oleh Ban-tok-kiam dan tewas seketika. Wan Ceng berhasil melompat dan segera
membuat pedangnya menghadapi pengeroyokan Thian Kek Sengjin yang sekarang hanya dibantu oleh
seorang anak buah yang masih nekat kesetanan. Tapi, pengeroyokan dua orang ini cukup membuat Wan
Ceng sempoyongan karena ia sudah menderita luka-luka parah.
Bagaimana dengan Tiong Khi Hwesio? Sama saja! Seperti halnya nenek Wan Ceng, tingkat kepandaian
Tiong Khi Hwesio hanya menang sedikit saja dibanding Ok Cin Cu, seorang di antara pengeroyoknya,
namun dia masih kalah dibandingkan dengan Thian Kong Cinjin. Menghadapi pengeroyokan dua orang ini
saja dia sudah kewalahan, apa lagi dua orang itu dibantu oleh tiga orang anak buah yang seperti orang
kesurupan itu.
Biar pun kadang-kadang masih terdengar suara tertawanya, namun tubuh hwesio tua itu berkali-kali
terkena hantaman tongkat dan serempetan golok sehingga dia menderita luka-luka. Namun, tidak percuma
hwesio tua ini dulu berjuluk Si Jari Maut, dan pedang Cui-beng-kiam di tangannya adalah sebatang pedang
pusaka dari Pulau Neraka yang amat ampuh.
Maka biar pun dia menderita luka-luka, dia berhasil pula membabat roboh tiga orang kesetanan itu dengan
pedangnya walau pun dia pun roboh terguling karena pada saat itu, tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu
menghantam pahanya. Begitu roboh, sebuah tendangan kaki Thian Kong Cinjin membuat tubuh Tiong Khi
Hwesio bergulingan.
Ok Cin Cu mengejar dan menubruk dengan tongkat hitamnya yang berbentuk ular itu. Tongkat itu
menghantam ke arah kepala Tiong Khi Hwesio tanpa dapat dielakkannya lagi. Tiong Khi Hwesio yang
dunia-kangouw.blogspot.com
sudah maklum bahwa dia tidak akan mampu bertahan lagi, menggunakan kesempatan terakhir untuk
menusukkan pedang Cui-beng-kiam ke arah lawan yang menyerangnya.
“Krakkk!”
“Cappp...!”
Tiong Khi Hwesio terkulai dengan kepala retak, tewas seketika, akan tetapi juga tubuh Ok Cin Cu terguling
dan tewas tak lama kemudian karena dadanya ditembus pedang Cui-beng-kiam! Thian Kong Cinjin
memandang dengan mata terbelalak, dia hampir tidak percaya melihat betapa hwesio itu berhasil
membinasakan sute-nya, juga merobohkan tiga orang anak buah pasukan iblis itu.
Pada saat yang hampir bersamaan, Wan Ceng roboh pula oleh hantaman tongkat naga di tangan Thian
Kek Sengjin, namun pada saat dia terguling karena batang lehernya patah terkena ayunan tongkat, Wan
Ceng melontarkan pedang Ban-tok-kiam yang tepat mengenai perut anak buah pasukan iblis yang
mengeroyoknya. Juga nenek ini, dalam pengeroyokan yang berat sebelah itu, sudah berhasil membunuh
Coa-ong Sengjin dan tiga orang anak buah pasukan iblis.
Kakek Kao Kok Cu masih dikeroyok oleh Sin-kiam Mo-li dan dua orang anak buah dari pasukan iblis,
karena dalam perkelahian selanjutnya tadi Kao Kok Cu sudah berhasil merobohkan Sai-cu Sin-touw ketika
Maling Sakti ini berhasil menangkap ujung lengan bajunya yang kosong, yaitu yang kiri. Ketika itu Sin-kiam
Mo-li menusukkan pedangnya yang mengenai pundak Kao Kok Cu, namun kakek sakti ini berhasil
menampar dengan tangan kanannya, mengenai pelipis Saicu Sin-touw yang roboh dan tewas seketika.
Pada saat tiga orang anak buah pasukan iblis menubruk, tendangan kakinya yang keras merobohkan salah
seorang anak buah dan menewaskannya. Sekarang dia menghadapi pengeroyokan Sin-kiam Mo-li dan
dua orang anak buahnya yang tersisa. Ia masih terus menggerakkan kedua kakinya dan sebelah
tangannya untuk membela diri, akan tetapi gerakannya menjadi makin lambat dan lemah karena banyak
darah keluar dari tubuhnya yang sudah amat tua itu.
“Wuuuttttt...!”
Tiba-tiba ujung kebutan di tangan kiri Sin-kiam Mo-li datang menyambar. Kao Kok Cu menggerakkan
tangan kanan menangkap kebutan dan mengerahkan tenaganya.
“Brettttt...!”
Bulu kebutan itu putus seluruhnya dan kini bulu-bulu yang beracun itu berada di tangan Kao Kok Cu,
sedangkan yang tertinggal di tangan Sin-kiam Mo-li hanya tinggal gagang emasnya saja.
“Cappppp...!”
Dalam kemarahannya, Sin-kiam Mo-li membarengi tusukan pedangnya yang mengenai lambung Kao Kok
Cu. Kakek ini sudah kehabisan tenaga, tidak mungkin lagi melindungi tubuhnya dengan sinkang-nya, apa
lagi karena penyerangnya juga mempunyai tenaga sinkang yang amat kuat, maka pedang itu pun
memasuki lambungnya.
Kao Kok Cu terhuyung dan tersenyum melirik ke arah tubuh isterinya dan tubuh Tiong Khi Hwesio yang kini
sudah menggeletak tak bernyawa. Mendadak dia menyambitkan bulu-bulu kebutan itu ke arah dua orang
anak buah yang menyergapnya dari samping. Mereka langsung roboh berkelojotan karena bulu-bulu itu
menancap di muka dan dada mereka, sedangkan bulu kebutan itu mengandung racun yang amat kuat.
Kao Kok Cu terhuyung menghampiri tempat di mana Wan Ceng roboh tadi, dan dia pun terkulai roboh di
samping mayat isterinya, menghembuskan napas terakhir dengan amat tenang tanpa sekarat.
Sin-kiam Mo-li berdiri tertegun seperti dua orang temannya. Mereka termangu kagum dan juga terkejut
melihat kenyataan betapa hebatnya tiga orang tua renta itu. Sudah begitu tua dan tenaganya sudah
banyak berkurang, namun ternyata masih demikian hebatnya sehingga mereka yang datang berjumlah
tujuh belas orang, kini hanya tinggal tiga orang saja yang masih hidup! Empat belas orang teman mereka
telah tewas semua!
dunia-kangouw.blogspot.com
Bahkan mereka bertiga, sisa dari tujuh belas orang itu yang masih hidup, juga tidak keluar dari
pertempuran itu tanpa luka! Punggung Sin-kiam Mo-li masih biru dan nyeri karena tadi sempat tercium
ujung lengan baju kiri kakek Kao Kok Cu, Thian Kong Cinjin agak terpincang karena pahanya tadi tercium
tendangan Tiong Khi Hwesio, sedangkan Thian Kek Sengjin juga robek bajunya dengan luka di pundaknya
terkena cengkeraman tangan kiri nenek Wan Ceng!
Sin-kiam Mo-li bergidik dan menoleh kepada dua orang temannya. Mereka pun berdiri termangu dan
bergidik ngeri. Selama hidup mereka, tiga orang tokoh sesat ini baru kini menemukan tanding yang
demikian lihainya, padahal tiga orang itu sudah amat tua dan mereka tadi sudah mempersiapkan
segalanya, mengeroyok mereka dengan tujuh belas orang, bahkan sebelas orang anak buah mereka tadi
menggunakan pasukan iblis yang mengandung tenaga ilmu hitam!
Seorang pemuda berpakaian serba putih muncul dari ambang pintu depan. Tiga orang itu terkejut dan
sudah memegang senjata masing-masing, siap untuk menyerang dan memandang pada pemuda itu penuh
rasa heran dan juga gelisah. Siapa tahu, pemuda itu adalah calon lawan yang amat tangguh, pikir mereka,
juga merasa heran mengapa kalau memang masih ada penghuni di dalam istana tua itu, mereka tadi tidak
keluar membantu tiga orang tua yang mereka keroyok.
Akan tetapi pemuda itu, yang bukan lain adalah Tan Sin Hong, tidak mempedulikan mereka, melainkan
melangkah maju perlahan-lahan, menghampiri tiga mayat orang tua itu yang rebah berdekatan, apa lagi
Kao Kok Cu dan Wan Ceng yang rebah dekat sekali dan tangan kakek itu memegang tangan si nenek.
Sin Hong lalu menjatuhkan diri berlutut, tanpa menangis tanpa mencucurkan air mata, namun dengan
tubuh lemas, wajah pucat dan mata sayu, dia mencium ujung kaki ketiga orang gurunya yang sudah tidak
bernyawa lagi! Bagaimana pun juga hatinya penuh diliputi penyesalan.
Jika saja dia tidak terikat oleh janji dan sumpahnya, bahwa selama satu tahun dia tidak boleh melakukan
gerakan silat dan tidak boleh mengerahkan tenaga sakti, jika saja dia tadi dapat membantu tiga orang
gurunya melawan pengeroyokan belasan orang jahat itu, belum tentu tiga orang gurunya tewas!
Akan tetapi dia tidak boleh menurutkan perasaannya, bahkan dia dapat dengan segera melenyapkan
segala penyesalan tadi. Ketika belasan orang itu datang, dia pun sudah tahu dan justru dialah yang
memberi tahu mereka akan kedatangan belasan orang yang mencurigakan tadi. Akan tetapi, ketiga orang
gurunya bersikap tenang saja, bahkan lalu duduk bersila di balik pintu dan mereka memesan agar dia
bersembunyi saja di dalam dan jangan memperlihatkan diri.
“Pesanku, Sin Hong, andai kata terjadi sesuatu dengan kami dan kami sampai tewas, hal yang lumrah saja
bagi manusia karena ada kelahiran pasti ada pula kematian, maka jika engkau mendapat kesempatan,
bawalah mayat kami ke dalam istana lalu bakarlah istana ini,” demikian pesan kakek Kao Kok Cu.
Mereka tidak sempat bicara lebih panjang karena belasan orang itu sudah tiba di luar pintu. Sin Hong
kemudian bersembunyi dan ketiga orang tua itu membuka daun pintu menggunakan alat rahasia yang
terdapat di situ.
Setelah pertempuran selesai dan dia melihat betapa tiga orang gurunya tewas, barulah Sin Hong keluar
dengan hati hancur. Tak mungkin dia menyembunyikan diri lagi seperti pesan guru-gurunya, walau pun dia
keluar hanya untuk memberi hormat atas kepergian ketiga orang gurunya, bukan bermaksud melawan
musuh.
Melihat munculnya seorang pemuda berpakaian putih yang berlutut dan mencium kaki tiga mayat kakek
dan nenek penghuni Istana Gurun Pasir itu, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin yang sudah panik itu
segera menggerakkan senjata mereka untuk menyerangnya. Akan tewaslah Sin Hong kalau saja Sin-kiam
Mo-li tidak menggerakkan pedangnya dan meloncat melindunginya, menangkis datangnya tongkat.
“Perlahan dulu, Totiang (Bapak Pendeta)!” kata wanita ini.
Ia merasa tertarik melihat pemuda berpakaian putih ini, yang nampaknya halus dan memiliki daya tarik
besar itu. Sejak tadi ia mengamati dan siap menyerang pula, akan tetapi melihat sikap pemuda itu, dia
melarang dua orang temannya untuk turun tangan menyerangnya.
Seorang pemuda yang usianya baru sekitar dua puluh tahun, mempunyai wajah yang sederhana saja,
tidak dapat disebut tampan sekali, akan tetapi juga tidak buruk sekali. Bentuk wajahnya sederhana, seperti
dunia-kangouw.blogspot.com
dapat ditemui pada pemuda-pemuda biasa. Akan tetapi kulitnya bersih dengan pandang mata yang lembut
dan disertai mulut yang selalu membayangkan senyum ramah itu mempunyai daya tarik yang besar. Dan
bagaimana pun juga, ditemukannya seorang pemuda di istana kuno ini, Istana Gurun Pasir milik Pendekar
Naga Sakti, menunjukkan bahwa pemuda ini bukan pemuda biasa!
Kedua orang pendeta itu menahan tongkat mereka dan memandang kepada Sin-kiam Mo-li dengan alis
berkerut dan rasa heran. Mengapa iblis betina ini mencegah mereka membunuh pemuda itu?
Mereka sudah mengenal watak cabul Sin-kiam Mo-li, akan tetapi menurut penglihatan mereka, tidak ada
apa-apanya pada pemuda ini yang dapat menggerakkan hati wanita cabul yang mata keranjang. Kalau
saja pemuda ini memiliki wajah yang tampan sekali, atau tubuh yang berotot membayangkan kejantanan,
mereka masih dapat mengerti. Tetapi pemuda ini biasa saja, di mana-mana dapat ditemukan pemuda
macam ini!
“Orang muda, siapa engkau?” Sin-kiam Mo-li bertanya dengan pedang masih di tangan karena sekali saja
pemuda itu membuat gerakan menyerang, tentu akan didahuluinya dengan pedangnya.
Tan Sin Hong bangkit berdiri dan membalikkan tubuh menghadapi wanita yang bertanya itu. “Namaku Tan
Sin Hong,” jawabnya singkat, akan tetapi suaranya tetap halus, tidak memperlihatkan isi hatinya.
“Engkau masih ada hubungan apa dengan mereka bertiga itu?” bertanya pula Sin-kiam Mo-li sambil
menuding ke arah tiga mayat itu.
“Aku adalah pelayan mereka,” jawab pula Sin Hong, tenang saja.
Mendengar jawaban ini, Sin-kiam Mo-li bertukar pandang dengan dua orang kawannya. Sekarang dua
orang pendeta itu mengerti bahwa iblis betina itu tadi melarang mereka menyerang karena agaknya
hendak menanyai pemuda ini dan memang hal ini penting sebelum mereka menyerbu masuk untuk
mencari harta pusaka. Pedang Ban-tok-kiam dan pedang Cui-beng-kiam semenjak tadi sudah dipungut
oleh Sin-kiam Mo-li dan kini kedua pedang itu telah diikatkan di pinggangnya, di kanan dan kiri!
“Selain engkau dan mereka bertiga ini, siapa lagi yang tinggal di dalam istana kuno ini sekarang?”
“Tidak ada lagi, hanya kami berempat,” jawab Sin Hong.
“Pada saat tadi tiga orang majikanmu ini bertempur melawan kami, apakah engkau juga mengetahui?”
Tenang, tenanglah, bisik hati Sin Hong, kini tiba saatnya menghadapi kesukaran. “Aku tahu karena aku
mengintai dari balik dinding itu.” Dia menuding ke arah pintu depan dari mana dia tadi keluar.
“Kenapa engkau tidak muncul dan membantu ketiga orang majikanmu?” Sin-kiam Mo-li bertanya lagi,
suaranya agak ketus sedangkan sinar matanya mencorong penuh selidik memandang wajah yang nampak
tidak begitu cerdik itu.
“Aku tidak bisa berkelahi, pula perkelahian itu bukan urusanku, mengapa aku harus membantu?” katanya
perlahan.
“Akan tetapi engkau berduka melihat mereka tewas?”
“Tentu saja, mereka adalah orang-orang yang baik kepadaku.”
“Engkau benar-benar tidak bisa berkelahi? Tidak pandai silat?” bertanya pula Sin-kiam Mo-li dengan suara
mengancam.
Sin Hong menggeleng kepalanya, tanpa menjawab.
“Jawab! Bisa berkelahi atau tidak?”
“Aku tidak bisa berkelahi,” jawaban ini tidak berbohong sebab pada saat itu dia memang tidak boleh dan
tidak dapat berkelahi. Baru setengah tahun lewat, masih setengah tahun lagi dia harus menjadi orang yang
lemah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendadak tangan kiri Sin-kiam Mo-li melayang ke arah mukanya. Tentu saja Sin Hong melihat ini dengan
jelas dan kalau dia menghendaki, dengan sangat mudah dia dapat menangkis atau mengelak. Akan tetapi
dia pura-pura tidak melihatnya.
“Plakkk!”
Tamparan itu keras sekali. Biar pun Sin-kiam Mo-li tidak menggunakan tenaga sinkang, melainkan tenaga
otot lengannya saja, akan tetapi tubuh Sin Hong terpelanting dan pipi kanannya menjadi merah kebiruan
serta membengkak. Dia bangkit berdiri, kemudian memandang kepada Sin-kiam Mo-li dengan mata
terbelalak.
“Kenapa engkau memukul aku?” tanyanya, sikapnya masih tenang.
Sin-kiam Mo-li terheran-heran. Jelas bahwa pemuda ini tidak pandai silat, dan untung tadi dia tidak
menggunakan sinkang karena kalau demikian, tentu tamparan tadi dapat membunuhnya.
Akan tetapi yang amat mengherankan adalah sikap pemuda itu. Kenapa dapat demikian tenang? Padahal
tamparan tadi keras sekali dan pemuda lain yang tidak pandai ilmu silat tentu akan menjadi ketakutan dan
mungkin menangis kesakitan dan minta ampun. Pemuda ini tenang saja, padahal pipi kanannya
membengkak.
“Aku memukulmu karena engkau membohong! Engkau tentu pandai silat!” bentak lagi Sin-kiam Mo-li.
Dan kini kakinya melayang, menendang ke arah bagian tubuh mematikan dari pemuda itu, di bawah pusar!
Tendangan itu amat cepat dan kuat, dan kalau mengenai sasaran, tentu orangnya mati seketika. Sin Hong
juga melihat ini, dan kalau dia mau, tentu dia dapat pula menghindarkan diri. Namun dia sudah nekat dan
pasrah saja.
“Bukkkk!”
Kaki wanita itu diserongkan dan bukan bagian tubuh mematikan yang kena tendangan, melainkan paha kiri
Sin Hong. Untuk kedua kalinya pemuda itu terlempar dan terbanting jatuh dengan kerasnya! Dia
merangkak bangun dengan muka yang agak pucat karena menahan rasa nyeri, kemudian terpincang dia
menghampiri Sin-kiam Mo-li.
“Engkau sungguh kejam! Engkau menyiksaku, mau bunuh pun aku tidak akan dapat melawanmu.
Bunuhlah kalau memang itu yang kau kehendaki!”
Sin-kiam Mo-li mengeluarkan seruan kagum! Pemuda ini benar-benar tidak pandai ilmu silat, akan tetapi
memiliki nyali yang lebih besar dari pada pemuda yang pandai ilmu silat sekali pun! Ia merasa kagum
sekali dan tahulah ia mengapa pemuda ini dipilih oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir untuk menjadi
pelayan di situ.
Memang seorang pemuda pilihan, seorang pemuda aneh yang mempunyai nyali naga! Agaknya ketabahan
dan keuletannya itulah yang menjadi keanehannya karena sudah selayaknya jika orang yang tinggal di
tempat macam ini memiliki keistimewaan masing-masing.
Kembali tangan kiri Sin-kiam Mo-li bergerak dan tahu-tahu dia sudah mencengkeram tengkuk Sin Hong.
Jari-jari tangan wanita itu kecil mungil, tetapi dapat mencengkeram bagaikan jepitan baja dan begitu ia
memperkuat cengkeramannya, Sin Hong merasa kenyerian yang menyusup sampai ke tulang
punggungnya.
“Bawa kami ke dalam istana kuno itu dan tunjukkan di mana kamar-kamarnya. Awas kalau sampai ada
yang menyerang kami dan kalau engkau berbohong, aku akan lebih dulu membunuhmu. Hayo jalan!” Sinkiam
Mo-li mendorong pemuda itu menuju ke pintu depan, dengan tangan kiri masih mencengkeram
tengkuk Sin Hong dan tangan kanan memegang pedang.
Sin Hong mengeluarkan keringat dingin saking nyerinya, dengan terpincang-pincang dia melangkah.
Pahanya yang tertendang tadi pun masih nyeri bukan main.
Kedua orang pendeta sesat itu menyeringai, girang bahwa mereka tadi tidak sampai membunuh pemuda
ini yang ternyata sangat berguna bagi mereka. Diam-diam mereka kagum akan kecerdikan Sin-kiam Mo-li.
dunia-kangouw.blogspot.com
Membayangkan bahwa mereka akan segera menemukan pusaka-pusaka berharga, terutama kitab-kitab
ilmu yang tinggi dari Istana Gurun Pasir, terobatlah rasa kehilangan dan kedukaan mereka atas tewasnya
sute mereka dan anak buah mereka.
Sin Hong membawa mereka memasuki seluruh kamar yang ada. Ketiga orang itu makin lama makin
kecewa karena mereka tidak menemukan sesuatu seperti yang mereka harapkan semula! Yang ada
hanyalah perabot-perabot rumah yang walau pun kuno, namun terlalu besar untuk dibawa menyeberangi
gurun pasir dan juga tidak berharga. Tiada harta benda, tidak ada senjata pusaka kecuali kedua pedang
yang dipergunakan Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio tadi, tidak ada sebuah pun kitab pelajaran ilmu silat
atau sehelai pun catatan yang penting!
“Hayo lekas tunjukkan di mana disimpannya pusaka mereka!” berkali-kali Sin-kiam Mo-li membentak dan
memperkuat cengkeramannya pada tengkuk Sin Hong. Tetapi pemuda itu hanya menggeleng kepalanya.
“Tidak ada apa-apa di sini kecuali semua ini...“
“Desss...!”
Saking marahnya, Sin-kiam Mo-li memukul punggung pemuda itu. Sin Hong terlempar, jatuh bergulingan
dan pingsan!
“Bunuh saja dia! Mungkin dia sengaja menyembunyikan!” kata Thian Kong Cinjin sambil menggerakkan
tongkatnya.
Akan tetapi Thian Kek Sengjin menahannya. “Jangan bunuh, lebih baik siksa dia dan paksa dia mengaku!”
Dengan urutan pada punggungnya, Sin Hong sadar kembali akan tetapi begitu sadar, rambutnya dijambak
dan tubuhnya diseret oleh Thian Kek Sengjin yang bermuka merah menyeramkan dan matanya mencorong
seperti mata kucing!
“Hayo katakan, di mana disimpannya pusaka Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir? Ia dan isterinya adalah
orang-orang sakti, tidak mungkin mereka tidak meninggalkan pusaka!”
“Aku tidak tahu, tidak ada pusaka apa pun di sini,” jawab Sin Hong, tetap tenang dan pasrah.
“Kubunuh engkau kalau tidak mau memberi tahu di mana pusaka itu!” kata Thian Kek Sengjin penuh
ancaman.
Sin Hong menatap muka yang merah dan kurus kering itu tanpa merasa takut, dan dia menggeleng kepala.
“Aku tidak tahu.”
“Tukkk!”
Gagang tongkat naga hitam itu menotok lambung. Sin Hong terkejut lalu meronta-ronta dan menggeliat
kesakitan karena yang ditotok adalah jalan darah yang mendatangkan rasa nyeri luar biasa sekali.
“Hayo katakan, kalau tidak, akan kutambah lagi!” bentak Thian Kek Sengjin, matanya bersinar-sinar
gembira melihat korbannya menggeliat kesakitan.
Akan tetapi terjadi keanehan pada tubuh Sin Hong. Seperti juga tadi, ketika berkali-kali mengalami pukulan,
rasa nyeri itu hanya sebentar saja dan ada hawa hangat di dalam tubuhnya yang berkumpul di tempat yang
sakit, lalu rasa nyeri itu lenyap seketika. Itulah hawa sakti di tubuhnya yang bekerja dengan otomatis,
berkumpul di bagian tubuh yang rusak karena serangan dari luar dan memulihkannya kembali.
“Aku tidak tahu,” katanya lagi.
“Desss!”
Tongkat itu kembali bergerak, menyerampang kedua kaki Sin Hong, sehingga membuat tubuhnya kembali
terpelanting dan bergulingan. Thian Kong Cinjin lantas menambahnya dengan tendangan sehingga
tubuhnya terus menggelinding dan membentur dinding. Dia pun rebah tak bergerak lagi, kembali pingsan!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan bunuh dulu!” Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li berseru ketika melihat betapa dua orang pendeta itu hendak
melanjutkan siksaan mereka dan agaknya ingin membunuh pemuda itu karena kecewa.
“Huh, Mo-li, laki-laki macam ini saja membuatmu tergila-gila? Apanya sih yang menarik? Di setiap dusun
engkau akan dapat menemukan pemuda semacam ini ratusan orang banyaknya!” berkata Thian Kek
Sengjin, pendeta Pek-lian-kauw yang kurus kering dan bermuka merah itu, dengan nada cemburu.
Memang pendeta ini pernah diajak tidur bersama oleh Sin-kiam Mo-li, akan tetapi wanita itu tidak suka
padanya dan tidak pernah lagi mengulang perbuatannya, padahal kakek ini kagum dan suka sekali kepada
Sin-kiam Mo-li. Melihat betapa wanita itu sekarang melindungi seorang pemuda yang biasa saja, timbul
pula rasa cemburu di hatinya!
“Benar, dia harus dibunuh. Jika tidak, kelak hanya akan mendatangkan gangguan saja,” kata pula Thian
Kong Cinjin tokoh Pat-kwa-kauw.
“Hemmm, kalian ini selalu berpikiran kotor dan menuduhku yang tidak-tidak. Pula, andai kata aku memilih
dia untuk melayaniku, apa sangkutannya dengan kalian? Dia memang tidak tampan, tidak pandai ilmu silat,
akan tetapi ketabahannya membuat aku kagum. Kalian lupa bahwa tenaga dia masih dapat kita gunakan.
Ingat saja mayat-mayat yang berserakan di luar itu, apakah kalian akan membiarkan saja mayat sute-sute
kalian dan anak buah kalian membusuk di sana? Dia ini dapat kita pergunakan tenaganya untuk menggali
lubang dan mengubur mayat-mayat itu.”
“Ahhh, benar juga!” kata Thian Kek Sengjin, malu kepada diri sendiri yang tadi hanya mencela karena
cemburu.
“Dan engkau tidak perlu khawatir dia akan mendatangkan gangguan kelak, Thian Kong Cinjin. Pertama, dia
seorang pemuda lemah yang tidak pandai ilmu silat, bahkan kalau dia sekarang mulai belajar sekali pun,
sampai kita mati tua dia masih belum apa-apa. Kedua, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, dia tentu
akan kubunuh.”
Thian Kong Cinjin mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa jika Sin-kiam Mo-li telah bosan dengan seorang
pemuda, maka pemuda itu akan dibunuhnya dan biasanya, dalam waktu beberapa hari saja Sin-kiam Mo-li
sudah akan merasa bosan. Apa lagi pemuda ini seorang laki-laki lemah. Mana dia dapat bertahan melayani
Sin-kiam Mo-li si iblis betina yang haus laki-laki itu?
“Nah, mulai sekarang, harap kalian jangan pedulikan pemuda ini. Ia punyaku, budakku, jangan diganggu
dan akulah yang kelak akan membunuhnya,” dan berkata demikian, Sin-kiam Mo-li menghampiri Sin Hong
yang masih pingsan lalu mengurut-urut beberapa bagian tubuhnya sehingga dia sadar kembali.
Begitu sadar, Sin Hong bangkit duduk. Sedikit pun dia tidak mengeluh karena memang sama sekali tak ada
yang dirasakan nyeri. Hal ini membuat Sin-kiam Mo-li makin kagum saja.
“Engkau tidak menderita sesuatu? Apanya yang nyeri?”
Sin Hong sendiri merasa heran. Dia telah dihujani pukulan, tendangan dan siksaan, tapi sedikit pun tidak
ada bekas-bekasnya lagi.
“Tidak apa-apa,“ katanya sambil menggeleng kepala.
Bukan main, pikir Sin-kiam Mo-li, anak ini memiliki daya tahan yang luar biasa hebatnya! Mungkin akan
dapat mendatangkan kesenangan besar baginya!
“Siapa namamu tadi?”
“Tan Sin Hong.”
Namanya juga sederhana, shenya she Tan dan terdapat banyak sekali orang she Tan, nama keluarganya
amat besar.
“Sin Hong, engkau ini nekat mempertahankan pusaka Istana Gurun Pasir, atau memang benar di sini tidak
ada pusaka?” tanyanya dengan ramah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang, timbul dari kekagumannya, wajah pemuda itu kelihatan menarik sekali dan menimbulkan
gairahnya. Dengan gerakan lembut dan mesra dia mengusap darah yang masih nampak di ujung bibir Sin
Hong, dengan jari-jari tangannya. Tentu saja hal ini membuat Sin Hong merasa risi bukan main, akan tetapi
didiamkannya saja.
“Aku tidak mempertahankan pusaka apa pun, dan memang setahuku di sini tidak ada apa-apa.”
“Tidak ada kitab-kitab pelajaran ilmu silat?”
“Aku tidak tahu, yang kutahu hanya bahwa beberapa bulan yang lalu, mereka bertiga telah membakari
banyak kitab-kitab...“
“Keparat jahanam!” seru Thian Kong Cinjin dengan kecewa sekali.
“Sayang, sungguh sayang sekali!” teriak pula Thian Kek Sengjin, sangat marah kepada tiga orang tua renta
itu yang dianggapnya hanya membuat dia kecele.
“Kenapa kitab-kitab pusaka itu dibakar?” tanya Sin-kiam Mo-li kepada pemuda itu, juga merasa amat
kecewa.
Sin Hong hanya menggeleng kepala, “Aku tidak tahu.”
Dia tidak berbohong karena memang dia tidak tahu mengapa suami isteri tua renta yang menjadi gurunya
itu membakari banyak kitab-kitab yang diketahuinya adalah kitab-kitab pelajaran silat.
“Pantas saja kita tidak menemukan apa-apa. Kiranya tua bangka-tua bangka laknat itu telah memusnahkan
pusaka mereka!” kata pula Sin-kiam Mo-li. “Sin Hong, hayo engkau membantu kami mengubur mayatmayat
itu!”
Ia memegang tangan Sin Hong dan ditariknya pemuda itu keluar dari dalam istana kuno yang dianggap
menyeramkan dan mengecewakan itu. Sin Hong tidak membantah dan dia mengunakan cangkul yang
biasa dipakai bekerja di ladang, lalu mulai mencangkul, membuat lubang-lubang untuk mengubur mayatmayat
itu.
Dia diperintah untuk membuat tiga buah lubang biasa, yaitu masing-masing untuk mayat Sai-cu Sin-touw,
Ok Cin Cu, dan Coa Ong Sengjin, dan kemudian sebuah lubang besar untuk sebelas orang anak buah
mereka yang tewas. Karena ia tak berani menggunakan tenaga sinkang dan hanya menggunakan tenaga
biasa, menggunakan sebuah cangkul, maka tentu saja Sin Hong harus bekerja sehari lamanya dan barulah
empat belas buah mayat itu selesai dikubur.
Dia lalu mengangkati tiga buah mayat gurunya ke dalam istana. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li membentak.
“Apa yang akan kau lakukan itu? Biarkan saja mereka membusuk di sini, kita berangkat pergi sekarang
juga dan engkau harus ikut dengan kami!”
“Terserah aku menurut saja, tetapi bagaimana pun juga aku harus lebih dulu membakar mayat ketiga
orang ini, sebelum itu, biar di bunuh sekali pun, aku tidak akan mau ikut!” Diam-diam Sin Hong berjudi
dengan nyawanya, akan tetapi hal ini dilakukannya dengan sengaja.
Dia seorang pemuda yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa nyawanya diselamatkan oleh wanita tua cantik ini
hanya karena wanita ini tertarik kepadanya, oleh keberanian dan kenekatannya! Maka kini untuk memenuhi
pesan guru-gurunya, dia pun memperlihatkan sikap nekat dengan harapan agar wanita itu memenuhi
permintaannya. Perhitungannya yang tidak ngawur ini memang tepat!
Kembali Sin-kiam Mo-li memandang tajam penuh rasa kagum. Seorang pemuda biasa, mungkin hanyalah
pemuda petani yang bekerja sebagai tukang kebun dan pelayan di istana kuno ini, namun memiliki
keberanian dan nyali yang agaknya hanya patut dimiliki oleh para penghuni istana Gurun Pasir!
Juga ia merasa tertarik sekali mendengar bahwa pelayan ini hendak membakar jenazah tiga orang sakti
itu. Pantasnya keluarga mereka yang melakukan hal ini, bukan seorang pelayan biasa.
“Kenapa engkau berkeras hendak membakar mayat mereka?” tanyanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Karena ketika masih hidup, mereka pernah mengatakan bahwa kalau mereka sudah mati, mereka suka
mayat mereka dibakar.”
“Akan tetapi untuk membakar mayat mereka, kenapa harus mayat mereka kau usung ke dalam istana?”
tanya Thian Kong Cinjin yang juga merasa tertarik.
“Karena aku ingin membakar mereka di dalam istana agar istana itu pun ikut terbakar habis.”
Jawaban ini membuat tiga orang itu melongo dan Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya. Celaka, janganjangan
pemuda yang dikaguminya ini miring otaknya!
“Mengapa istana ini hendak dibakar?” tanyanya, memandang tajam. Akan tetapi wajah pemuda itu biasa
saja.
“Mereka telah meninggal dunia dan aku akan pergi dari sini. Jika tidak ada yang tinggal lagi di sini dan tidak
ada yang mengurusnya, tempat ini hanya akan menjadi buruk sekali dan akhirnya akan ambruk pula. Maka
sebaiknya dibakar saja. Dengan demikian, dapat membuktikan kebenaran pengakuanku bahwa tak ada
pusaka apa pun yang tersimpan di sini. Bukankah begitu?” Ucapan ini cerdik sekali dan tiga orang itu pun
mengangguk-angguk.
“Benar sekali!” kata Thian Kek Sengjin. “Biar dibakarnya habis, biar rata dengan tanah, biarlah terbasmi
lenyap seperti halnya Istana Pulau Es. Ha-ha-ha, dunia kang-ouw akan tahu bahwa Istana Gurun Pasir
terbasmi lenyap dari permukaan bumi oleh kita bertiga. Ha-ha-ha!”
Thian Kong Cinjin juga tertawa, senang bahwa setidaknya mereka dapat melampiaskan kedongkolan hati
karena teman-teman banyak yang mati dan mereka tidak menemukan pusaka, dengan cara melihat istana
itu terbakar habis.
Sementara itu, tanpa mempedulikan apakah tiga orang itu setuju atau tidak, Sin Hong telah mengangkuti
mayat ini ke dalam, meletakkan mereka di atas tiga dipan yang telah dipersiapkannya, kemudian dia pergi
ke bagian belakang untuk mengambil beberapa guci minyak. Semua gerakannya ini diperhatikan oleh Sinkiam
Mo-li, sedangkan dua orang pendeta sudah tidak peduli lagi, masih mencoba mencari ke sana sini
barangkali menemukan sesuatu yang berharga untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Biar pun tubuhnya terasa lelah karena mencangkul tiada hentinya sampai sore, namun Sin Hong
merasakan lagi keanehan, betapa kelelahan itu sebentar saja sudah lenyap dan kesegaran tubuhnya pulih
kembali, seperti ketika tadi dia menderita luka-luka. Maka dengan tenang dia menuangkan minyak ke
sudut-sudut ruangan istana itu, juga pada dipan-dipan di mana tiga sosok mayat itu rebah. Setelah itu, dia
pun menyalakan api dimulai dari serambi depan yang telah dibasahi pula dengan minyak. Dia
menghabiskan semua persediaan minyak di gudang dan sebentar saja api pun berkobar besar sekali,
membakar istana itu dan segala isinya.
Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin serta Thian Kek Sengjin berdiri jauh di pekarangan depan memandang
ke arah api yang berkobar semakin tinggi, sedangkan Sin Hong berdiri pula di situ bagai patung
memandang ke arah api. Diam-diam hatinya menangis. Tidak disangkanya bahwa dalam sehari dia
kehilangan tiga orang gurunya yang amat dicintanya! Guru-gurunya dibantai orang, dibunuh dan istana
diserbu tanpa dia dapat membela sedikit pun.
Kalau dia tadi membela dan melawan, dia tahu bahwa akan terjadi bentrokan hebat di dalam tubuhnya dan
mungkin sekali dia akan tewas. Dia tidak takut menghadapi bahaya kematian itu, namun dia merasa ngeri
untuk melanggar janji dan sumpahnya terhadap tiga orang gurunya.
Setelah istana itu terbakar, baru teringat oleh Sin-kiam Mo-li bahwa sebenarnya mereka masih
membutuhkan istana itu, setidaknya untuk satu malam. Hari sudah mulai gelap dan mereka membakar
satu-satunya tempat untuk melewatkan malam dengan enak!
“Wah, celaka! Kita malam ini harus bermalam di mana?” katanya kepada dua orang temannya.
“Ha-ha-ha, perlu apa bermalam? Kita langsung saja meninggalkan neraka ini!” berkata Thian Kong Cinjin.
“Benar, aku pun merasa tidak suka tinggal lebih lama di tempat ini,” sambung Thian Kek Sengjin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua orang kakek pendeta sesat ini sebenarnya jeri kalau-kalau pembunuhan atas diri tiga orang tua itu
dan pembakaran istana itu akan mendatangkan akibat yang hebat, kalau-kalau kebakaran itu kelihatan
orang dan ada kerabat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang datang.
“Ihhh, mana mungkin melakukan perjalanan melintas gurun pasir pada waktu malam? Sungguh berbahaya
sekali. Biarlah malam ini kita bermalam di sini, setidaknya di kebun sana itu banyak terdapat pohon-pohon.
Mari kita mencari tempat istirahat di sana,” kata Sin-kiam Mo-li.
Dua orang kawannya setuju karena mereka pun mengerti betapa bahayanya melakukan perjalanan
melintasi gurun pasir yang luas di waktu malam gelap.
Sin-kiam Mo-li menarik tangan Sin Hong, diajak ke kebun di mana memang terdapat banyak pohon buahbuahan
dan tumbuh-tumbuhan lain yang berguna. Sin-kiam Mo-li memilih tempat di bawah sebatang pohon
besar, dan ia pun tidak lagi mempedulikan dua orang temannya yang mengambil tempat istirahat di bawah
sebatang pohon lainnya lagi. Rumput-rumput hijau menjadi hamparan tikar hijau yang lembut dan lunak.
Sin-kiam Mo-li memandang Sin Hong yang masih berdiri menghadap ke arah istana yang masih terbakar
itu. “Sin Hong, kumpulkan kayu bakar dan daun kering. Nanti kita membuat api unggun di sini.”
Sin Hong tidak menjawab akan tetapi juga tidak membantah, lalu mengumpulkan kayu bakar. Dia tahu
bahwa akan percuma saja kalau dia melarikan diri sekarang, karena ketika melirik, wanita itu mengikuti
setiap gerakannya dengan pandang mata, juga dua orang pendeta di sana itu memandang kepadanya.
Setelah bahan api unggun terkumpul, dia pun berdiri lagi termenung memandang ke arah istana yang
terbakar, diam-diam mengharapkan agar tiga jenazah gurunya itu akan terbakar sempurna sehingga
semuanya akan menjadi abu. Dia tidak merasa menyesal bahwa guru-gurunya telah meninggal dunia.
Semua orang akhirnya akan mati juga dan kematian tiga orang gurunya adalah kematian orang-orang yang
gagah perkasa.
Pernah dia mendengar mereka bertiga itu berbincang-bincang mengenai kematian dan ketiganya
mempunyai harapan agar mereka dapat mati sebagai pendekar! Dan ternyata harapan mereka itu
terpenuhi! Mereka mati dengan gagah perkasa, dikeroyok belasan orang tokoh sesat yang lihai, dan
sebelum mati mereka berhasil menewaskan empat belas orang lawan!
Kematian mereka tidak perlu disesalkan. Yang terpenting sekarang harus mencari jalan untuk melarikan
diri karena selama dia belum dapat meloloskan diri dari pengawasan tiga orang ini, nyawanya tetap saja
terancam maut yang mengerikan.
“Sin Hong, mengapa engkau melamun? Apakah engkau menyesal akan kematian tiga orang tua bangka
itu?” tiba-tiba Sin-kiam Mo-li bertanya.
Sin Hong menggelengkan kepala dan menjawab lirih namun suaranya tegas, “Tidak!”
Sin-kiam Mo-li duduk di atas rumput hijau. Ia telah menurunkan tiga batang pedang itu dari pinggangnya.
Pedangnya sendiri, Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam dan menaruh di atas rumput tidak jauh dari
jangkauannya. Ia melonggarkan ikat pinggangnya, bahkan melepas sepatunya untuk mengusir kelelahan
akibat perke-lahian mati-matian tadi.
“Sin Hong, engkau duduklah di sini,” katanya sambil memandang penuh gairah kepada pemuda itu.
Sin Hong duduk dengan mengangkat kedua lututnya itu tanpa menoleh. Sin-kiam Mo-li memandang kagum
sekali. Pemuda ini sama sekali tidak pandai ilmu silat, akan tetapi agaknya memiliki tubuh yang sangat kuat
daya tahannya.
Pemuda itu tadi telah ditamparnya, ditendang dan dipukul oleh dua orang pendeta itu, dan biar pun
pukulan-pukulan itu dilakukan tanpa pengerahan sinkang tetap saja sudah tentu akan membuat pemuda itu
menderita nyeri. Dan semua itu masih ditambah lagi dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, dan
hebatnya lagi dia harus mencangkul dan mengubur jenazah empat belas orang tadi. Mencangkul seharian
penuh. Dan kini pemuda itu kelihatannya sama sekali tidak kelelahan!
Sin Hong sedang melamun, mencari akal bagaimana akan dapat meloloskan diri dari tiga orang ini tanpa
menggunakan kekerasan, ketika tiba-tiba ada sebuah tangan yang kecil dengan jari-jari mungil menyentuh
dunia-kangouw.blogspot.com
pundaknya dan rambutnya, lalu membelai dan mengusap rambutnya. Ketika dia menoleh, hidungnya
mencium keharuman pupur dan minyak, dan ternyata wajah wanita cantik kejam seperti iblis itu telah
berada dekat sekali dengan mukanya. Sin-kiam Mo-li sudah duduk dekat sekali dengannya dan sekarang
merangkul lehernya.
Sin Hong adalah seorang pemuda yang sudah dewasa, sudah dua puluh satu tahun usianya. Walau pun
selama hidupnya dia belum pernah berhubungan dengan wanita, bahkan bergaul dekat pun belum pernah,
namun tentu saja dia mengerti apa maksud wanita ini mendekatinya dan bersikap demikian mesra.
Seketika wajahnya menjadi merah dan jantungnya berdegup kencang penuh ketegangan.
Dia melihat betapa dua orang kakek iblis itu duduk tidak jauh dari situ, dapat dengan mudah melihat apa
yang dilakukan wanita ini, tetapi agaknya wanita ini tidak merasa sungkan atau malu lagi. Dia merasa
ngeri. Manusia-manusia macam apakah yang telah menawannya ini?
“Sin Hong, berapakah usiamu sekarang?” Sin-kiam Mo-li berbisik dekat telinga pemuda itu, bahkan bibir itu
lalu mengecup leher di bawah telinga.
Meremang bulu tengkuk Sin Hong ketika merasa betapa bibir basah yang mengeluarkan napas panas itu
menyentuh lehernya. Akan tetapi dia menguatkan perasaannya dan menjawab dengan sikap dan suara
biasa saja.
“Dua puluh satu tahun.”
“Aih, kalau begitu engkau sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Sin Hong, pernahkah engkau mempunyai
seorang pacar?” Kini kedua tangan wanita itu tanpa malu-malu membelai dan jari-jari tangan itu merayaprayap
ke seluruh bagian tubuh Sin Hong.
Pemuda ini merasa ngeri bukan main, ngeri dan jijik. Belaian-belaian itu lebih menyiksa baginya dari pada
tamparan dan tendangan tadi, dan ingin sekali dia menyerang wanita iblis yang tidak tahu malu ini. Tetapi
janjinya terhadap tiga orang gurunya merupakan belenggu yang amat kuat dan dia pun mengerahkan
kekuatan batinnya.
“Belum pernah.” jawabnya pula, sikapnya acuh saja sehingga wanita itu menjadi makin bergairah.
Seorang pemuda yang sudah berusia dua puluh satu, sudah dewasa dan sedang segar-segarnya, belum
pernah berdekatan dengan wanita, seorang perjaka tulen!
“Bagus sekali!” Sin-kiam Mo-li berseru girang. “Kalau begitu malam ini akan kujadikan seorang laki-laki
sejati yang lengkap. Engkau layani aku dan senangkan hatiku, dan aku mungkin akan menyelamatkanmu,
bahkan akan mengambilmu sebagai murid sekaligus kekasihku. Hemmm, engkau mau, bukan?”
Sin-kiam Mo-li merangkul dan kini bagaikan seorang kelaparan melahap sepotong roti, wanita itu
menghujankan ciuman pada muka Sin Hong di bibirnya, matanya, hidungnya, pipinya, sampai pemuda itu
gelagapan dan seluruh tubuhnya menggigil saking ngerinya! Sin Hong merasa seperti dijilati seekor
harimau yang hendak mengganyangnya.
Melihat betapa pemuda itu diam saja, tidak menanggapi dan tak membalas ciumannya, akan tetapi juga
tidak melawan, makin berkobar nafsu birahi dalam diri Sin-kiam Mo-li. Dirangkulnya Sin Hong dan
ditariknya pemuda itu rebah di atas rumput yang lunak, jari-jari tangannya mulai membuka kancing dan
menanggalkan pakaian pemuda ini.
Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Sin Hong. Dia merasa ketakutan, muak, dan juga jijik dan
bagaimana pun juga, dia adalah seorang laki-laki yang normal. Jantungnya berdebar dan api gairah mulai
merayap dan hendak membakar dirinya.
Namun, karena batinnya memang kosong dan bersih dari pada bayangan nafsu, maka nafsu yang muncul
karena keadaan badan yang sehat itu pun tak membuatnya mabuk. Bahkan kini ada hawa hangat yang
aneh, yang memang berkumpul di dalam pusarnya, mengalir ke seluruh tubuhnya dan hawa yang hangat
ini membuyarkan gairah yang mulai timbul. Dia pun mendiamkan saja segala yang diperbuat oleh Sin-kiam
Mo-li atas dirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sin Hong, layanilah aku, senangkan hatiku. Sin Hong, ohhhhh…!” Wanita itu merayu, merintih, mengajak
dan melakukan segala usaha untuk bisa membangkitkan gairah Sin Hong. Namun sia-sia belaka.
Pemuda itu tetap biasa saja, sedikit pun tidak dilanda nafsu birahi. Biar pun wanita tak bermalu itu
mengeluarkan semua kepandaiannya dalam merayu pria, biar pun kedua tangan bahkan seluruh tubuhnya
sibuk untuk merangsang, tetap saja Sin Hong tenang dan tak terpengaruh. Diam-diam dia merasa
bersyukur sekali karena hawa yang hangat itu melindunginya.
“Keparat!” Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li mengeluarkan makian ketika mendapat kenyataan betapa sikap Sin
Hong biasa saja, sedikit pun tidak tersentuh gairah. “Apakah engkau tidak mau melayaniku? Apakah
engkau malu-malu karena engkau masih perjaka?”
Saking mendongkolnya karena nafsu birahi sudah sampai ke ubun-ubunnya akan tetapi pemuda itu sedikit
pun belum tersentuh, Sin-kiam Mo-li tanpa malu-malu lagi marah-marah di depan dua orang kakek yang
menjadi rekannya.
“Ha-ha-ha, Mo-li, dia seperti mayat saja? Ha-ha-ha, mungkin dia yang tolol ataukah engkau yang sudah
terlalu tua!” kata Thian Kong Cinjin.
Kakek ini biasanya pendiam, sikapnya halus dan berwibawa, akan tetapi sekali ini dia mendongkol melihat
sikap rekannya itu. Mereka benar berhasil membasmi Istana Gurun Pasir, akan tetapi juga kehilangan
banyak anak buah. Sute-nya, Ok Cin Cu, juga tewas, dan wanita iblis itu hanya bersenang-senang saja
melampiaskan nafsu birahinya, tanpa malu-malu di depannya lagi! Oleh karena itu, rasa dongkol itu
membuat dia kini mampu mentertawakan Sin-kiam Mo-li.
Sin-kiam Mo-li memandang ke arah kakek itu dengan mata melotot. Dia marah sekali, akan tetapi dia pun
maklum bahwa wakil ketua Pat-kwa-pai itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan, dan dia pun tidak
ingin mencari keributan.
Dengan kasar ia pun mencengkeram tubuh Sin Hong dan dibawanya lari berloncatan ke tempat lain,
menjauhi kedua orang kakek itu dan bersembunyi di balik semak-semak bunga di kebun itu. Dia tidak
peduli mendengar suara ketawa dua orang kakek itu dan melempar tubuh Sin Hong ke atas rumput.
“Jika sekarang engkau tetap tak mau melayaniku, akan kupaksa kau sampai mampus!” desisnya.
Dan kembali dia membelai-belai dan merayu, bahkan kini Sin-kiam Mo-li mengerahkan kekuatan ilmu
sihirnya pula untuk menguasai Sin Hong.
Di bawah sinar api unggun kecil yang dibuatnya, Sin Hong terbelalak melihat bahwa kini Sin-kiam Mo-li
nampak masih muda dan amat cantik! Kembali darah mudanya tersirap dan mulai bangkit kembali gairah
nafsu birahi di dalam dirinya secara wajar dan normal.
Sin-kiam Mo-li dapat mengetahui hal ini maka girangnya bukan main. Ia menciumi dan mengecupi seluruh
tubuh Sin Hong dengan mulutnya, seperti seekor ayam mematuki beras, berusaha sebisa mungkin untuk
mengobarkan gairah yang mulai nampak bangkit dalam diri pemuda itu.
Namun, Sin Hong mengerahkan batinnya, memusatkan perhatiannya kepada bayangan tiga orang gurunya
dan sungguh aneh. Hawa di pusarnya menjadi semakin panas dan kini bergerak mengalir ke luar,
berputaran melindungi seluruh tubuhnya dan perlahan-lahan gairah yang menguasainya tadi menjadi
lemah dan semakin padam. Betapa pun Sin-kiam Mo-li mengerahkan tenaga sihirnya, tetap saja kekuatan
sihir itu membuyar ketika menguasai Sin Hong.
Pemuda ini mengerti bahwa kekuatan yang diterimanya dari tiga orang gurunya itu telah bekerja dan
menyelamatkannya. Dia pun merasa girang sekali. Tenaga dari Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun telah
memperlihatkan kehebatannya, padahal dia belum mengerahkan sinkang-nya, hanya mengerahkan
kekuatan batin untuk menolak pengaruh aneh tadi. Kini, wajah yang nampak muda dan cantik sekali itu
berubah menjadi seperti semula, wajah seorang wanita cantik yang mulai nampak tua.
Melihat betapa api gairah yang tadi telah mulai bernyala di tubuh pemuda itu mendadak menjadi padam
kembali, bukan main marahnya Sin-kiam Mo-li. Ia marah tetapi juga heran, dan merasa terhina! Selama ini,
jarang ada pemuda yang ditawannya mampu menolak hasratnya, baik secara suka rela atau pun
dipengaruhi sihirnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tapi pemuda ini, pemuda lemah yang sama sekali tidak pandai silat, dapat menghadapi sihirnya dengan
tenang saja dan sama sekali tidak terpengaruh! Dia sungguh merasa terhina, bukan saja ia merasa ditolak
seorang laki-laki, akan tetapi juga sihirnya seperti tidak manjur.
Karena kecewa dan marah, sedangkan nafsu birahi telah membakar dirinya dan naik ke ubun-ubunnya,
Sin-kiam Mo-li menjadi seperti gila. Wanita tua ini mulai menampari Sin Hong, mencakar, menggigit, di
samping terus merayu sampai akhirnya tubuh Sin Hong penuh dengan luka cakaran dan tamparan.
Dan akhirnya pemuda ini tidak kuat lagi dan roboh pingsan di atas rumput! Sedangkan Sin-kiam Mo-li
terengah-engah, kelelahan dan ia pun akhirnya tertidur dalam keadaan kehabisan tenaga dan hampir
pingsan dibakar nafsu yang dikobarkannya sendiri.
Ketika Sin Hong siuman, malam sudah amat larut, antara tengah malam dan fajar. Dia merasa betapa
hawa dingin menyusup ke dalam tulang-tulangnya melalui kulit tubuhnya yang tidak tertutup pakaian, juga
ada rasa perih karena luka-lukanya. Ketika membuka mata dan melihat bahwa dia rebah terlentang di atas
rumput, dan tidak jauh dari situ rebah pula tubuh Sin-kiam Mo-li yang mendengkur lirih, tahulah dia bahwa
wanita itu telah tidur nyenyak karena kelelahan.
Inilah kesempatan baik baginya, pikir Sin Hong. Dua orang kakek itu pun tidak nampak, agaknya tidur di
bagian lain dari kebun itu dan malam itu cukup gelap, tidak ada bintang nampak di langit yang tertutup
awan hitam.
Dengan hati-hati sekali Sin Hong mengambil pakaiannya yang tadi direnggut lepas semua dari tubuhnya
oleh Sin-kiam Mo-li, dan melihat dua batang pedang yang berada di dekat Sin-kiam Mo-li, ingin dia
mengambilnya. Akan tetapi, seperti orang yang selalu siap siaga, lengan kanan Sin-kiam Mo-li berada di
atas pedang itu sehingga Sin Hong tidak berani melanjutkan niatnya.
Apa lagi, dia tidak membutuhkan pedang. Tiga orang gurunya telah menggemblengnya sedemikian rupa
sehingga dia tidak membutuhkan senjata pelindung diri lagi. Pula, dari para gurunya dia mendengar bahwa
pedang Ban-tok-kiam dan pedang Cui-beng-kiam merupakan dua batang pedang yang amat jahat,
mengandung racun yang amat ampuh dan telah minum darah dan mencabut nyawa entah berapa ribu
orang! Dia tidak ingin memiliki dua batang pedang itu dan kalau tadi timbul niatnya mengambil, hanya
karena dia teringat bahwa Ban-tok-kiam milik subo-nya (ibu gurunya) sedangkan Cui-beng-kiam milik Tiong
Khi Hwesio, salah seorang di antara dua gurunya yang laki-laki.
Tanpa mengenakan pakaiannya lebih dahulu, hanya membawanya saja, Sin Hong lalu meninggalkan Sinkiam
Mo-li dan keluar dari kebun itu. Dia tahu bahwa dia harus dapat cepat-cepat pergi karena kalau
sampai diketahui ketiga orang iblis itu, tanpa dia dapat mempergunakan ilmu berlari cepat, kalau hanya
berlari biasa saja, tentu akan segera dapat disusul, apa lagi melalui daerah gurun pasir yang kering, tanpa
adanya hutan atau bahkan tumbuh-tumbuhan untuk menyembunyikan diri.
Akan tetapi, dia mengenal benar daerah di sekitar gurun pasir itu dan dia tahu di mana letaknya bukit
terdekat, bukit yang penuh hutan, yaitu di sebelah barat, dari situ tidak nampak karena tertutup oleh bukitbukit
gurun pasir. Orang lain yang tidak mengenal daerah itu dengan baik, seperti tiga orang jahat itu,
sudah mengambil jalan ke selatan, jalan yang teraman karena jalan ke selatan itu menuju ke daerah tanah
keras. Padahal, menuju ke bukit di barat itu lebih dekat dibandingkan jarak menuju ke selatan.
Perhitungan Sin Hong ternyata tepat. Ketika Sin-kiam Mo-li terbangun dan tidak melihat pemuda itu, tentu
saja ia marah sekali. Kemarahannya semakin memuncak ketika dua orang tosu itu mentertawakannya. Dia
pun mengajak mereka untuk segera melakukan pengejaran.
“Akan kusiksa dia dan kurobek kulitnya, kemudian kucabut jantungnya!” Wanita iblis itu mengancam
dengan muka merah sekali.
Pemuda itu tidak saja telah menolak untuk melayaninya, bahkan ilmu sihirnya pun tidak mempan, dan kini
tahu-tahu telah melarikan diri. Dan seperti diperhitungkan oleh Sin Hong, tiga orang lihai itu melakukan
pengejaran secepatnya menuju ke selatan.
Tentu saja mereka tidak berhasil menyusul Sin Hong yang telah tiba di bukit sebelah barat dengan aman.
Dia memasuki hutan yang memenuhi bukit itu, hutan lebat yang jarang didatangi manusia karena selain
hutan ini amat liar, juga letaknya begitu jauh dari kota dan dusun. Ketika Sin Hong berkeliaran di dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
hutan yang memenuhi seluruh perbukitan di daerah itu, dia melihat banyak binatang hutan dan pohonpohon
yang menghasilkan buah-buahan maka dia pun mengambil keputusan untuk bersembunyi terus di
dalam tempat ini sampai pertapaannya selama setahun itu lewat.
Di tempat ini, dia tak akan mengalami gangguan manusia dan dia dapat melaksanakan tapanya dengan
aman. Dia pun memilih sebuah goa untuk dijadikan tempat tinggal, dan beberapa bulan kemudian, dalam
perantauannya menjelajahi perbukitan itu, dia hanya menemukan beberapa orang pertapa saja tinggal di
tempat-tempat tersembunyi.
Ada yang tinggal di dalam goa, ada yang membuat pondok sederhana. Mereka adalah orang-orang yang
mengasingkan diri dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat ramai. Ada yang bertapa untuk
melarikan diri dan pertapaan itu hanya merupakan suatu pelarian dari keadaan hidup yang serba tidak
menyenangkan, ada pula yang bertapa dengan pamrih memperoleh sesuatu dari hasil pertapaannya, yang
pada hakekatnya juga merupakan pelarian dari suatu keadaan yang tidak disukainya untuk mendapatkan
suatu keadaan yang diharapkan dan dibayangkan akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.
Sin Hong tinggal dengan aman di dalam goa yang agak terpencil untuk menyelamatkan dirinya. Sungguh
berat Ilmu Pek-ho Sin-kun yang diterimanya dari tiga orang gurunya itu, karena selama setahun, ia sama
sekali tak boleh mengerahkan sinkang dan karena itu tentu saja dia terancam bahaya.
Untung baginya bahwa ketika menjadi tawanan Sin-kiam Mo-li, dia berhasil meloloskan diri. Jika tidak, ia
tentu akan menjadi korban kekejaman tiga orang iblis itu. Keadaannya serba salah. Untuk melawan,
terpaksa dia mengerahkan sinkang dan dia akan tewas pula, seperti yang dipesankan oleh tiga orang
gurunya. Tidak melawan, akhirnya dia akan mereka bunuh!
Demikianlah, selama setahun Sin Hong bersembunyi di dalam hutan itu, dan memenuhi pesan tiga orang
gurunya. Setiap hari dia bersemedhi, melatih diri untuk menguasai hawa sakti yang bergelora di dalam
tubuhnya sampai akhirnya dia berhasil menguasai dan mengendalikan hawa sakti itu, dapat
mempergunakan sesuai dengan kehendaknya.
Bahkan kemudian ketika dia berlatih Silat Pek-ho Sin-kun setiap gerakannya dapat mengatur tenaga sakti
sesuai dengan takarannya. Kini, bahaya dari hawa sakti itu bagi dirinya sendiri lenyap dan dia pun kini
menjadi seorang yang amat lihai.
Pada hari terakhir dia berada di dalam hutan itu, dia berlatih Silat Pek-ho Sin-kun dan kalau saja tiga orang
gurunya bisa menyaksikannya, tentu mereka akan merasa bangga bukan main. Pemuda itu bersilat
dengan tangan kosong, gerakannya nampak perlahan saja, namun pohon-pohon di sekelilingnya seperti
dilanda angin taufan, dan di lain saat, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menggerakkan daun-daun
pohon, namun ketika jari tangannya yang terbuka menyentuh batang pohon, batang pohon itu seperti
dibabat dengan pedang tajam dan tumbang!
Sin Hong sendiri terkejut melihat hasil ini, juga girang namun berjanji pada diri sendiri untuk berhati-hati
menggunakan Pek-ho Sin-kun karena ternyata merupakan gabungan ilmu-ilmu yang amat ampuh dan
akibatnya dapat mengerikan bagi lawannya.
Akhirnya dia pergi meninggalkan perbukitan itu dengan pakaian compang-camping oleh karena selama
setahun dia tidak dapat berganti pakaian, kecuali kadang-kadang kalau pakaiannya dicuci, dia
mengenakan cawat dari kulit batang pohon…..
********************
Biar pun pakaiannya compang-camping, namun Sin Hong nampak gagah. Rambutnya yang hitam panjang
itu dikuncir tebal dan dikalungkan di lehernya. Bajunya sudah penuh tambalan dan terbuka di bagian dada
atas, memperlihatkan dadanya yang bidang dan kulit dadanya yang kemerahan karena ditimpa sinar
matahari yang terik.
Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun ini tidak tampan akan tetapi juga tidak buruk, namun sinar
matanya lembut dan mulutnya selalu tersenyum ramah dan dua hal inilah yang mendatangkan daya tarik
dan kesejukan pada wajahnya. Bentuk tubuhnya sedang saja, namun di balik kulit itu terdapat kekuatan
dahsyat yang tidak kelihatan, namun yang membuat tubuhnya kokoh seperti batu karang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan mempergunakan ilmunya berlari cepat, pemuda ini melakukan perjalanan ke selatan, melewati
gurun pasir. Gurun itu sepi sekali dan ini menguntungkan Sin Hong yang dapat melakukan perjalanan
secepatnya. Kalau di situ lalu lintasnya ramai, tentu keadaannya akan menarik perhatian orang. Bukan
hanya pakaiannya yang compang-camping seperti jembel, akan tetapi juga larinya yang cepat bagaikan
terbang itu.
Tujuan perjalanannya sudah jelas. Pertama, dia akan pergi ke kota Ban-goan, yaitu kota kelahirannya
untuk menyelidiki mengenai kematian ayahnya setelah terlebih dahulu dia menyelidiki ke Tuo-lun di mana
ayahnya tewas dalam sebuah hutan di luar kota Tuo-lun seperti yang didengarnya dari Tiong Khi Hwesio.
Kemudian, setelah urusannya selesai, dia akan berkunjung ke kota Pao-teng, mencari suheng-nya, yaitu
Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri Kao Kok Cu dan Wan Ceng yang menjadi gurunya, untuk
mengabarkan tentang tewasnya dua orang tua itu dan terbasminya Istana Gurun Pasir.
Karena dia mempergunakan ilmu berlari cepat, maka dalam beberapa hari saja dia pun sudah tiba di Tuolun.
Dia lalu melakukan penyelidikan dan bertanya-tanya kepada para piauwsu yang berada di kota ini.
Akan tetapi, semua orang yang ditanya tidak ada yang dapat memberi keterangan lebih jelas dari pada apa
yang sudah pernah didengarnya dari Tiong Khi Hwesio, yaitu bahwa mendiang ayahnya bersama sepuluh
orang anak buahnya kedapatan tewas semua di dalam hutan di selatan kota Tuo-lun itu.
Dia pun segera mencari hutan itu dan pada suatu pagi, dia menemukan gundukan tanah kuburan yang
cukup tinggi di dalam hutan. Sin Hong berdiri di depan tanah kuburan itu dan membaca tulisan yang diukir
dengan kasar pada sebuah batu yang besar dan yang ditaruh di depan kuburan.
Terbaca nama ayahnya sebagai piauwsu, karena bunyi tulisannya hanya ‘Kuburan Tan Piauwsu bersama
sepuluh orang temannya’.
Sin Hong merasa terharu. Tentu gurunya, Tiong Khi Hwesio itu yang sudah mengubur ayahnya, dikubur
menjadi satu di tempat ini. Ia pun lalu berlutut memberi hormat kepada makam ayahnya.
Sin Hong pergi meninggalkan hutan itu dan melanjutkan perjalanan. Dia tidak berhasil mendapat
keterangan yang berharga di Tuo-lun. Harapannya kini tinggal penyelidikan ke kota kelahirannya di Bangoan.
Ia akan menyelidiki dan mencari Tang-piauwsu yang dulu menjadi wakil dan pembantu utama
ayahnya. Mudah-mudahan saja Tang-piauwsu berhasil lolos dari kejaran para perampok berkedok itu,
pikirnya. Kalau Tang-piauwsu juga tewas, sukarlah baginya untuk menyelidiki siapa gerangan para
perampok itu dan siapa pula yang membunuh ayah ibunya.
Pada suatu hari, tibalah dia di Tembok Besar, tempat penyeberangan para pedagang dan pengawal kalau
hendak ke luar Tembok Besar. Matahari telah naik tinggi dan Sin Hong berhenti sebentar sambil
menghapus keringatnya dengan ujung baju yang sudah compang-camping itu.
Keadaan di situ sunyi sekali. Hanya beberapa hari saja dalam sebulan jalan itu ramai dilalui rombongan
pedagang. Kini, para pedagang hanya berani melakukan perjalanan membawa barang-barang mereka
secara rombongan, dikawal oleh para piauwsu yang kuat karena akhir-akhir ini timbul banyak perampok di
daerah perbatasan itu.
Dari tempat yang agak tinggi itu Sin Hong mengamati ke arah selatan. Kembali dia mengenang
perjalanannya bersama ibunya menyusul ayahnya di Tuo-lun, dikawal oleh Tang-piauwsu. Lalu teringatlah
dia akan pendapat nenek Wan Ceng, subo-nya setelah mendengar akan semua peristiwa yang menimpa
dirinya.
Nenek yang cerdik itu menyatakan kecurigaannya kepada Tang-piauwsu! Dia tak begitu ingat lagi
bagaimana sikap Tang-piauwsu terhadap keluarganya dan dia pun tak begitu yakin akan kebenaran
persangkaan subo-nya itu. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia akan menyelidiki dengan cermat dan hatihati
agar jangan sampai menuduh orang yang tidak bersalah.
Selagi dia termenung, tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya belasan orang dari balik tembok dan batubatu
besar. Mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tampang menyeramkan. Sikap mereka kasar,
serta tangan mereka memegang golok telanjang dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan
penuh ancaman ketika mereka berloncatan menghampirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Sin Hong merasa girang. Mereka ini, dilihat dari sikapnya, tentulah sebangsa perampok dan
agaknya dia menemukan jejak pertama untuk bahan penyelidikannya. Maka dia pun menanti dengan
tenang dan memperhatikan laki-laki yang berada paling depan. Tentu dia kepalanya, pikirnya.
Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan berkumis lebat sekali, sekepal sebelah, dengan
jenggot pendek tebal. Tubuhnya tinggi besar bagaikan raksasa dan mukanya yang sebagian bawah
tertutup jenggot dan kumis itu berkulit hitam. Matanya melotot lebar dan garang.
“Keparat!” Tiba-tiba kepala perampok itu menyumpah-nyumpah setelah dia berhadapan dengan Sin Hong,
matanya yang lebar melotot memandang pemuda itu dari atas ke bawah, melihat pakaiannya yang
compang-camping. “Kukira belut gemuk yang lunak dagingnya, kiranya hanya seekor cacing!”
Para anggota perampok tertawa mendengar makian kepala perampok itu. Mereka tadi melihat munculnya
seorang laki-laki dari jauh, kemudian mereka bersembunyi, dan lalu keluar untuk menyergap calon korban
itu. Sudah sebulan ini mereka tidak memperoleh mangsa dan dalam keadaan haus mereka telah
bergembira melihat munculnya seorang calon mangsa. Siapa kita, orang itu hanyalah seorang jembel
muda yang sama sekali tidak dapat diharapkan memiliki sesuatu yang berharga.
“Ha-ha-ha, cacing juga cacing kurus pula, kulitnya pun tidak ada harganya satu sen!” kata seorang di
antara mereka.
“Toako, kita bunuh dan cincang saja daging dan tulangnya supaya menjadi santapan anjing-anjing hutan!”
kata seorang perampok lainnya.
Dengan sikap buas dan beringas, belasan orang itu sudah maju mengepung Sin Hong dan mereka pun
merasa heran mengapa pemuda itu tidak berlutut dan menangis minta ampun. Sebaliknya, pemuda itu
malah tersenyum menghadapi kepala perampok itu dan kini Sin Hong berkata lembut,
“Kalian ini memang seperti anjing-anjing hutan kelaparan. Akan tetapi kebetulan sekali kalian datang,
karena aku ingin minta keterangan dari kalian. Kuharap kalian suka memberi tahu kepadaku apakah kalian
tahu tentang gerombolan perampok yang suka memakai kedok. Nah, katakanlah dan aku yang berterima
kasih tidak akan mengganggu kalian selanjutnya!”
Para perampok itu saling pandang dan ada di antara mereka yang tertawa bergelak, merasa lucu karena
sikap pemuda itu seakan-akan mengancam mereka! Akan tetapi kepala perampok itu menjadi marah
bukan main. Matanya semakin lebar melotot ketika dia membentak.
“Cacing tanah busuk! Berani kau membuka mulut besar? Engkau tidak tahu berhadapan dengan siapa,
keparat! Aku adalah Hek-san-coa (Ular Gunung Hitam) dan bersama kawan-kawanku, kami terkenal di
seluruh Tembok Besar!”
Sin Hong tersenyum mengejek. “Kebetulan sekali! Engkau adalah ular hitam, dan aku adalah Pek-ho
(Bangau Putih) yang kelaparan. Bolehlah si bangau makan si ular untuk membersihkan daerah ini!”
Tentu saja ucapan pemuda itu mendatangkan kemarahan besar kepada belasan orang itu. Pemuda jembel
begini berani menentang mereka, bahkan barusan menghina kepala perampok! Padahal mereka adalah
gerombolan yang ditakuti semua orang dan amat terkenal bagi para pedagang dan pengawal yang suka
lewat di situ.
“Toako, biarkan aku menyembelih tikus ini!” bentak salah seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi
kurus dengan mata sipit dan muka kuning pucat.
Tanpa menanti jawaban pemimpinnya, si tinggi kurus ini telah menggerakkan goloknya, membacok ke arah
Sin Hong dengan cepat dan kuat sekali. Agaknya orang ini hendak membuktikan ancamannya, sekali tebas
menyembelih leher pemuda yang sudah berani menghina mereka itu.
Namun, tentu saja serangan ini terlampau lamban dan terlampau lemah bagi seorang pemuda gemblengan
seperti Sin Hong, tiada ubahnya permainan kanak-kanak saja. Dia menundukkan kepala untuk
membiarkan golok lewat di atas kepalanya. Dan begitu dia menggerakkan tangan, jari tangannya sudah
menotok ke bawah siku lengan dan begitu golok terlepas, dia sudah menyambar golok itu yang langsung
dia luncurkan ke bawah, tapi sengaja dia balikkan sehingga punggung golok yang tidak tajam menghantam
lutut si tinggi kurus.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Takkk...! Aduuuhhhhh...!”
Si tinggi kurus terjungkal dan meloncat lagi, berloncatan dengan kaki kanan, sedangkan dua tangannya
memegang lutut kirinya yang terasa nyeri bukan main. Saking nyerinya, dia roboh lagi, memijit-mijit tulang
kering di bawah lututnya.
Tulang kering dipukul golok, biar hanya punggung golok, akan tetapi besi yang berat itu tentu saja cukup
membuat tulang keringnya retak dan nyerinya sampai menusuk ke tulang sumsum! Sin Hong melempar
golok itu ke atas tanah sampai ke gagangnya!
Terkejutlah semua perampok, terkejut dan marah. Tak mereka sangka bahwa pemuda jembel itu pandai
ilmu silat, bahkan demikian lihainya sehingga dalam segebrakan saja telah membuat si tinggi kurus itu
roboh tak berdaya. Hanya satu gebrakan saja! Hampir mereka tidak percaya dan menganggap bahwa hal
itu hanya suatu kebetulan saja. Akan tetapi, kemarahan melihat seorang temannya terluka membuat
mereka marah dan ganas seperti ikan-ikan hiu mencium darah.
“Jembel busuk, mampuslah!” teriak seorang yang gemuk pendek dengan perut gendut dan orang ini yang
berdiri di belakang Sin Hong, sudah membacokkan goloknya dari atas ke bawah, mengarah kepala
pemuda itu. Kalau terkena sasaran itu tentu kepala itu terbelah dua dan isi kepala akan berhamburan.
Namun, tanpa menoleh, hanya dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam, Sin Hong miringkan
tubuhnya. Golok yang menjadi sinar terang itu menyambar lewat dan tangannya bergerak ketika tubuhnya
diputar membalik tanpa mengubah kedudukan dua kaki dan di lain saat, golok itu sudah pindah tangan
karena pemegangnya merasa lengannya tiba-tiba menjadi lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang telah
terjadi, golok itu, dengan terbalik, menyambar kakinya.
“Takkk...! Auuuwww... aduhhh... aduhhhh...!”
Dan dia pun berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari, kaki kanannya diangkat dan kaki kiri berloncatan
seperti halnya orang pertama, kemudian dia pun jatuh terjungkal, memijiti lutut kanannya yang terpukul
punggung golok.
Kini para perampok itu mengeroyok Sin Hong dengan serangan golok mereka! Sin Hong kembali sudah
melempar golok rampasannya setelah tadi mengetuk lutut lawan. Golok meluncur dan menancap di batu
sampai ke gagangnya, kemudian dengan kedua tangan kosong dia menghadapi pengeroyokan para
perampok itu.
Hebat sekali sepak terjang Sin Hong. Tubuhnya sudah demikian peka sehingga seolah-olah di mana-mana
tubuhnya memiliki mata dan mampu mengelakkan setiap serangan. Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun tidak
dipergunakannya karena dia tidak ingin memperlihatkan ilmu itu kalau tidak penting sekali.
Akan tetapi ilmu-ilmu silat yang tinggi-tinggi sudah mendarah daging dengan tubuhnya. Maka tiap kali ia
mengelak sambil menyerang, sudah pasti yang menyerangnya berbalik roboh sambil mengaduh-aduh. Ada
yang tulang kakinya retak, tulang pundaknya patah, atau lengannya terkilir.
Satu demi satu mereka roboh. Tak seorang pun tewas, akan tetapi tidak seorang pun mampu bangkit atau
ikut mengeroyok lagi. Sin Hong hanya berdiri di tempat tadi, tidak melangkah jauh, hanya mengubah
kedudukan kuda-kuda kaki sesuai dengan serangan lawan. Dia menanti lawan menyerang, kemudian
menghadapi serangan dan sekaligus merobohkannya.
Melihat dalam sekejap mata saja lebih dari setengah jumlah orangnya roboh, kepala perampok itu marah
bukan main. “Bocah setan, akulah lawanmu!”
Melihat kepala perampok sendiri yang maju, enam orang sisa anak buah perampok yang belum roboh
segera mundur, memberi kesempatan kepada pemimpin mereka. Kepala perampok itu memegang
sebatang golok yang besar dan tebal, nampak amat berat, tanda bahwa dia memiliki tenaga besar.
Dengan mata melotot dia menghadapi Sin Hong. Sekarang dia tak memandang rendah setelah melihat
betapa pemuda itu dengan mudah mampu merobohkan tujuh orang anak buahnya. Dia ingin tahu siapa
adanya pemuda jembel yang lihai ini karena belum pernah dia mendengar, apa lagi melihat tentang
pemuda ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bocah setan, siapakah engkau sesungguhnya?” bentaknya.
Sin Hong tersenyum. Tidak ada gunanya berkenalan dengan segala macam perampok seperti ini, pikirnya.
“Engkau Ular Gunung Hitam, dan aku si Bangau Putih. Nah, lekas katakan saja tentang perampok yang
berkedok itu, dan aku akan pergi dengan aman.”
“Bangsat sombong! Jangan mengira engkau akan dapat terlepas dari hukuman golok keramatku!” Dan
kepala perampok itu pun sudah memutar goloknya.
Golok yang besar dan berat itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang berdesing-desing
mengerikan. Akan tetapi sikap Sin Hong tetap tenang, hanya menanti kepala perampok itu melakukan
serangan. Kepala perampok itu tak segera menyerang karena sesungguhnya dia pun mulai merasa jeri
melihat kelihaian pemuda itu.
Maka sekarang dia pun berseru kepada enam orang anak buahnya yang belum roboh. “Kepung, keroyok
dan kita bunuh dia! Cincang badannya!”
Melihat betapa kini pemimpin mereka sendiri yang maju, enam orang itu pun berbesar hati dan mereka
segera menyerang dari semua jurusan, menghujankan serangan golok mereka ke arah tubuh Sin Hong.
Kepala perampok itu pun ikut pula menyerang!
Kembali Sin Hong dikeroyok, sekali ini lebih hebat dari pada yang tadi. Akan tetapi, Sin Hong tetap tenang
dan bersikap menanti. Setiap kali serangan datang, dia mengelak sambil terus merobohkan penyerangnya,
dengan tangan, kaki atau punggung golok.
Akibatnya sama saja. Yang terkena tamparan tangannya, tentu akan patah tulang iga atau tulang pundak,
yang tertendang patah tulang kaki. Dalam waktu hanya beberapa menit saja, enam orang sisa anak buah
itu pun sudah roboh semua.
Kepala perampok yang licik itu tadi hanya menyerang dengan hati-hati saja untuk turut mengeroyok
sehingga dia belum sampai dirobohkan. Kini, melihat betapa semua anak buahnya roboh, tanpa banyak
cakap lagi dia pun cepat membalikkan tubuh dan hendak melarikan diri! Melihat ini, Sin Hong memungut
sebatang golok yang tercecer, kemudian menyambitkan golok itu.
“Ceppp...!”
Kepala perampok itu mengeluh dan roboh dengan punggung ditembusi golok. Tidak seperti anak buahnya,
dia pun tewas seketika. Sin Hong sengaja membunuhnya, karena dia berpendapat bahwa kalau kepala
perampok itu tidak dibunuh, akan percuma saja menasehati anak buahnya untuk bertobat. Kepala
perampok itu tentu akan memaksa anak buahnya untuk merampok lagi dan dengan adanya kepala
perampok yang ganas dan jahat, maka anaknya pun akan menjadi lebih berani.
Tiga belas anak buah perampok itu masih rebah atau duduk sambil mengaduh-aduh kesakitan. Wajah
mereka semua berubah pucat ketika mereka melihat betapa pemimpin mereka tewas dan kini pemuda
yang amat perkasa itu menghampiri mereka.
“Nah, sekarang kalian katakan padaku, siapakah gerombolan perampok berkedok yang pada beberapa
tahun yang lalu merajalela di sini, bahkan telah membunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan, dan menyerang
pula Tang-piauwsu. Hayo ceritakan yang benar, kalau tidak, terpaksa akan kubunuh kalian semua seperti
yang sudah aku lakukan terhadap pemimpinmu ini!”
Para perampok itu saling pandang dengan bingung dan ketakutan, akan tetapi seorang di antara mereka,
yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, dan menderita patah tulang pundaknya, segera bangkit dan
berkata kepada Sin Hong.
“Harap Taihiap (Pendekar Besar) sudi memaafkan kami orang-orang kasar yang tidak mengenal orang
pandai dan berani kurang ajar. Kiranya di antara kami hanya saya saja yang tahu akan perampokperampok
berkedok yang delapan tahun yang lalu merampok dan membunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan
karena pada waktu itu, saya kebetulan melihatnya dari jauh.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Bukan main girang rasa hati Sin Hong mendengar ini dan dia pun cepat menghampiri orang itu. “Bagus
sekali! Ceritakan bagaimana terjadinya dan siapa mereka itu, siapa pula pemimpin mereka!”
Orang itu menarik napas panjang dan menggelengkan kepala.
“Sungguh menyesal sekali saya sendiri tidak mengenal mereka, Taihiap. Saya melihat rombongan Tanpiauwsu
dihadang dan diserang oleh dua puluh orang lebih orang yang mengenakan kedok, merampas
barang yang dikawalnya dan membunuh Tan-piauwsu dan kawan-kawannya. Kemudian mereka melarikan
diri menunggang kuda. Hanya ada satu hal penting yang dapat saya ceritakan, yaitu sebelum
penghadangan itu terjadi, saya melihat rombongan perampok itu tadinya mengenakan pakaian seperti
rombongan piauwsu. Mereka berhenti di dalam hutan, mengganti pakaian dan mengenakan kedok. Maka,
saya menduga bahwa gerombolan itu agaknya hanya perampok palsu saja, Taihiap, penyamaran dari
rombongan piauwsu.”
Sin Hong mengerutkan alisnya. Agaknya tepat dugaan mendiang subo-nya, pikirnya. Jangan-jangan Tangpiauwsu
yang merencanakan semua itu, untuk merampas barang kawalan yang berharga. Akan tetapi
mengapa Tang-piauwsu sendiri kemudian dihadang perampok berkedok? Apakah itu juga hanya siasatnya
saja, untuk membunuh dia dan ibunya? Benarkah seperti yang diduga oleh subo-nya yang cerdik itu?
“Engkau masih ada penjelasan lain lagi?” tanyanya.
Perampok itu menggeleng kepalanya. Akan tetapi, keterangan itu cukup penting bagi Sin Hong dan sudah
cukup banyak pula. Dia harus menyelidiki ke Ban-goan.
Sin Hong teringat bahwa dia tidak mempunyai bekal, juga bahwa pakaiannya haruslah diganti, maka dia
lalu berkata kepada mereka.
“Kalian sudah biasa merampok orang, sekarang aku membutuhkan uang. Berikan uang yang ada pada
kalian kepadaku!”
Perampok yang memberi keterangan tadi lalu berkata, “Kami tidak mempunyai banyak uang, Taihiap.
Sedikit harta yang kami terima dari ketua kami biasanya cepat habis untuk foya-foya. Akan tetapi saya
yakin pemimpin kami itu memiliki barang berharga.” Dia lalu menghampiri mayat kepala perampok, dan tak
lama kemudian menghampiri Sin Hong sambil membawa sebuah pundi-pundi kecil terisi uang emas dan
perak!
Akan tetapi Sin Hong tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Sebagian dia bagi-bagikan kepada para
anggota perampok sambil berkata, “Kali ini aku masih memaafkan kalian dan hanya membunuh pemimpin
kalian. Akan tetapi lain kali kalau aku melihat kalian masih merampok, terpaksa aku akan membasmi
kalian. Kuharap kalian suka menyadari bahwa pekerjaan merampok itu terkutuk, dan sekali waktu kalian
pasti akan menerima hukuman, baik itu dari pasukan keamanan, dari para pendekar atau setidaknya,
sudah pasti akan datang hukuman dari Tuhan! Bertobatlah dan ubahlah jalan hidup kalian. Jika kalian mau
bekerja, tentu kalian akan dapat mencari makan. Nah, selamat tinggal!”
“Nanti dulu, Taihiap!” teriak orang tua yang tadi memberi keterangan. “Kami ingin sekali bertobat dan
mengubah jalan hidup kami, akan tetapi kami ingin lebih dahulu mengenal siapakah Taihiap?”
Sin Hong tersenyum. “Sebut saja aku si Bangau Putih.”
Begitu dia berkelebat, bayangannya lenyap di antara pohon-pohon dan meninggalkan orang-orang itu yang
menjadi bengong saking heran dan kagum mereka. Mulai peristiwa ini dan seterusnya, dunia kang-ouw
mulai mengenal nama Pek Ho Enghiong (Pendekar Bangau Putih) karena memang Sin Hong jarang
memperkenalkan namanya sendiri dan sepak terjangnya seperti seekor burung bangau putih yang
menyambar dan melayang-layang.
Memang dia suka sekali mengenakan pakaian putih. Setelah dia mempunyai uang dan berkesempatan
membeli pakaian, dia membeli pakaian yang sederhana, berwarna putih dengan garis pinggir berwarna
kuning atau biru. Dan dengan pakaian putih ini, semakin terkenallah julukan Si Bangau Putih…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Kota Ban-goan tidaklah besar. Akan tetapi karena kota ini merupakan kota yang menjadi awal
penyeberangan ke luar Tembok Besar, maka kota ini dikunjungi banyak pedagang yang ingin membawa
barang dagangannya menyeberang lewat Tembok Besar.
Perusahaan piauwkiok (ekspedisi) yang mengawal barang dagangan juga makin subur dan sibuk. Banyak
terdapat perusahaan ekspedisi atau pengawal di kota ini, dan satu di antaranya, yang terkenal dan
dipercaya orang, adalah perusahaan piauwkiok yang dulu dipimpin oleh Tan-piauwsu.
Tidak sukar bagi Sin Hong untuk menemukan Tang-piauwsu, yaitu orang yang sedang dicarinya. Tangpiauwsu
ternyata masih melanjutkan pekerjaan ayahnya, melanjutkan perusahaan ekspedisi yang dahulu
dipegang ayahnya, dan Sin Hong masih belum lupa akan rumah bekas tempat tinggal orang tuanya itu.
Tidak banyak perubahan pada rumah itu yang bagian depannya merupakan kantor, juga papan nama Peng
An Piauwkiok (Kantor Ekspedisi Selamat) masih tergantung di depan kantor. Bahkan rumah itu kini nampak
butut dan seolah-olah tidak terpelihara lagi. Dua orang kuli tua duduk di depan kantor, di atas bangku reyot
dan melihat mereka berdua mengobrol sambil menghisap rokok dapat diketahui bahwa perusahaan itu sepi
saja.
Sin Hong masih ingat kepada dua orang kuli tua ini, walau pun dia tidak tahu lagi siapa nama mereka.
Tulang-tulang menonjol di balik kulit yang menjadi keras karena kerja berat itu menambah bayangan
kemiskinan diderita dua orang ini.
Melihat ada seorang pemuda menghampiri kantor itu, dua orang kuli ini cepat bangkit memberi hormat dan
kegembiraan membayang di wajah mereka, kegembiraan penuh harap untuk mendapatkan pekerjaan yang
mendatangkan hasil bagi mereka.
“Selamat pagi, Tuan Muda. Apakah Tuan Muda hendak mengirim barang yang perlu pengawalan?” tanya
seorang di antara mereka penuh harapan.
Begitu mudahnya membaca kegembiraan penuh harapan membayang di wajah mereka sehingga Sin Hong
merasa terharu. Melihat rumah ini, bertemu dengan dua wajah tua yang tidak asing ini, mendatangkan
kenangan lama dan mengingatkan dia akan ayah ibunya yang sudah tiada.
Pohon cemara itu masih tumbuh di samping rumah dan dia masih mengenal cabang-cabangnya yang kini
semakin besar dan tinggi. Juga batu besar di bawahnya, di mana dahulu dia sering kali bermain di atasnya.
Hatinya terharu, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan perasaan hatinya dan dia masih tersenyum
ramah ketika menjawab,
“Ji-wi Lopek (Paman Tua Berdua), aku ingin bertemu dengan Tang-piauwsu. Apakah dia berada di sini?”
Dahulu, delapan tahun yang lalu, Tang-piauwsu merupakan pembantu utama ayahnya dan pengawal ini
dahulu adalah seorang bujangan berusia tiga puluh tahun lebih, tidak berkeluarga dan tinggalnya mondok
pula di rumah ayahnya. Tentu kini ia sudah berusia empat puluh tahun.
Sin Hong ingin sekali tahu apakah pengawal itu masih tinggal di situ ataukah pindah ke rumah lain dan
hanya berkantor di situ. Diam-diam dia menjadi gelisah, jangan-jangan Tang-piauwsu sudah tiada, tewas
pula ketika mengawal dia dan ibunya dan kemudian dikeroyok oleh para perampok berkedok. Tetapi
jawaban orang itu melegakan hatinya.
“Tang-piauwsu? Tentu saja dia berada di sini, Kongcu. Kongcu hendak bicara tentang pesanan
pengawalan? Biar saya panggilkan dia, tentu sedang berada di bagian dalam rumahnya. Akhir-akhir ini
kesehatannya sering kali terganggu.”
Dua orang itu lalu masuk ke dalam setelah mempersilakan Sin Hong duduk menanti di bangku yang
terdapat di dalam kantor itu. Sin Hong duduk sambil mengamati keadaan kantor itu.
Seingatnya, kantor ini dahulu lebih bersih dan lebih banyak mejanya, dan sedikitnya ada lima orang
piauwsu yang duduk di situ melayani tamu. Juga ada sedikitnya lima orang kuli yang menerima barangbarang
kemudian menyimpannya ke dalam gudang sebelum dikirimkan. Akan tetapi sekarang kantor itu
kosong sama sekali tidak ada orangnya, dan meja yang terdapat di situ hanya dua, kini kosong tanpa
pegawai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suara sepatu dari dalam membuat dia mengangkat muka memandang. Dan muncullah Tang-piauwsu. Dia
masih ingat benar wajah itu, hanya kini nampak jauh lebih tua dari pada delapan tahun yang lalu.
Tubuh yang tinggi besar dari Tang Lun, demikian nama piauwsu itu, sekarang sedikit membungkuk. Kumis
dan jenggotnya tidak terpelihara. Meski usianya baru empat puluh tahun lebih sedikit, rambutnya telah
banyak bercampur uban. Mukanya memperlihatkan garis-garis pengalaman pahit yang dalam.
Dan yang lebih mengherankan hati Sin Hong adalah buntungnya telinga kiri piauwsu itu! Daun telinga
kirinya tidak ada. Sin Hong cepat bangkit berdiri dan Tang-piauwsu yang mengira mendapat langganan
baru, segera memberi hormat.
“Selamat pagi, Kongcu. Apakah Kongcu mencari saya? Sayalah Tang-piauwsu, dan jika Kongcu
membutuhkan pengawalan…”
“Paman Tang, lupakah Paman kepadaku?” kata Sin Hong, suaranya agak menggetar karena keharuan.
Orang ini dahulu pernah membela dia dan ibunya dari serangan gerombolan perampok berkedok. Melihat
wajah orang ini, seketika lenyaplah keraguannya. Dia hampir yakin bahwa dugaan mendiang subo-nya itu
keliru.
Orang tinggi besar dan telinga kirinya buntung itu memandang kepada Sin Hong penuh perhatian dan
keraguan. Betapa pun dia mengingat-ingat, tetap saja dia tidak mampu mengenal pemuda itu.
“Maaf... maafkan saya yang sudah tua dan lemah ingatan, akan tetapi siapakah Kongcu ini...,” katanya
agak bingung.
Sin Hong tersenyum ramah sambil melangkah maju mendekati Tang Lun, kemudian dia berkata lembut,
“Paman Tang Lun, aku adalah Sin Hong, Tan Sin Hong, sudah lupakah engkau?”
Sepasang mata itu terbelalak dan wajah itu menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah. Matanya
memandang penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia menubruk Sin Hong dan menangis!
Orang tua itu, yang dulu terkenal sebagai seorang piauwsu yang gagah perkasa, kini merangkul Sin Hong
sambil menangis terisak-isak seperti anak kecil.
Sin Hong membiarkan saja karena maklum bahwa agaknya baru sekarang orang ini mendapatkan
kesempatan melepaskan semua penanggungan batinnya melalui tangis. Bukan hanya pelepas derita batin,
tetapi juga mungkin karena keharuan, kekagetan dan kegembiraan melihat Sin Hong masih hidup.
Akhirnya dia dapat juga bicara. Sambil tetap memegang kedua pundak Sin Hong, dia mendorong halus
dan mengamati wajah pemuda itu dengan air mata masih bercucuran. Bukan air mata buaya, pikir Sin
Hong dan dia masih tetap percaya akan kejujuran orang tua ini.
“Sin Hong! Tan Sin Hong… ya Tuhan Yang Maha Kuasa! Siapa dapat percaya? Siapa yang dapat
mengenalmu? Sudah bertahun-tahun aku menangisi kalian semua, ayahmu, ibumu, engkau sendiri. Siapa
kira kini engkau muncul dalam keadaan selamat, masih hidup dan sudah dewasa pula? Ya Tuhan, apa
saja yang telah terjadi denganmu, Nak? Bagaimana mungkin engkau masih dapat keluar dengan selamat
dan di mana ibumu?”
“Nanti dulu, Paman. Aku tentu akan menceritakan semua pengalamanku selama ini, tapi lebih dulu aku
ingin mendapatkan keterangan darimu tentang segala yang telah terjadi, segala urusan mengenai keadaan
ayah pada delapan tahun yang lalu.”
Orang itu mengangguk-angguk. “Baik, baik akan tetapi mari kita duduk, Sin Hong.”
Mereka duduk berhadapan. Tang Lun menatap wajah pemuda itu, kemudian berkata, “Sebelum aku
menjawab semua pertanyaanmu dan menceritakan segala hal yang aku ketahui dengan sebenarnya,
terlebih dahulu aku ingin mengetahui satu hal. Jawablah, Sin Hong, katakanlah bagaimana keadaan
ibumu.”
Melihat betapa sepasang mata itu memandang dengan penuh selidik, penuh harap dan penuh kecemasan,
Sin Hong merasa tidak tega untuk membuat orang tua itu berada dalam keadaan bimbang dan gelisah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Paman Tang Lun, ibuku telah meninggal dunia, diserang badai di gurun pasir...“
“Ahhhhh...!”
Tang Lun menutupi mukanya dengan kedua tangannya, kembali dia menangis! Sampai lama baru dia
dapat bicara. “Aku yang berdosa, aku... aku yang menyuruh engkau dan ibumu melarikan diri ke gurun
pasir sehingga ibumu mendapatkan kematiannya di sana dan engkau... ahhh, hanya berkat perlindungan
Tuhan saja engkau masih dapat hidup sampai sekarang... aihhh, Sin Hong, betapa aku selama ini
membayangkan kengerian kalian di gurun pasir... dan semua... itu karena aku yang menyuruhmu...”
Sin Hong mengerutkan alisnya. Hemm, kenapa orang ini berkata demikian? Apa benar juga dugaan
mendiang subo-nya? Dia merasa tegang, akan tetapi berhasil menekan perasaannya. Dia harus
menyelidiki semua ini dengan bebas. Setelah orang tua itu tenang kembali, mulailah dia bertanya.
“Paman Tang Lun, sekarang aku minta dengan hormat supaya engkau suka menjawab dan menceritakan
seluruhnya secara jujur padaku. Aku berhak untuk mengetahui segala yang telah terjadi pada kedua orang
tuaku, bukan? Nah, pertama, ceritakanlah tentang kepergian ayah ke Tuo-lun, barang apa yang dikawalnya
dan siapa yang menyuruhnya. Ceritakanlah dengan jelas dari awal mulanya, Paman.”
Peristiwa yang terjadi delapan tahun yang lalu itu selalu terbayang di dalam benak Tang Lun, maka tanpa
banyak mengingat lagi dia pun bercerita, dengan lancar…..
Pada suatu hari, demikian ia bercerita, datanglah seorang hartawan ke kantor ekspedisi Peng An
Piauwkiok itu. Hartawan itu datang bersama keempat orang pelayannya. Dia seorang laki-laki berumur
sekitar empat puluh tahun, berpakaian mewah sekali bahkan keretanya pun indah.
Ia mengaku sebagai seorang hartawan dari kota raja yang datang ke Ban-goan dengan maksud
mengirimkan sebuah peti besar berisi emas permata yang harganya tak kurang dari seratus kati emas.
Hartawan itu mengaku she Lay dan untuk selanjutnya disebut Lay-wangwe (hartawan Lay) yang katanya
membuka toko rempah-rempah yang sangat besar di kota raja.
Karena peti itu berisi barang berharga, maka Tan-piauwsu menuntut biaya pengawalan yang besar, yaitu
sepuluh kati emas atau sepersepuluh dari harga barang yang akan dikawalnya. Lay-wangwe sambil
tertawa menyetujui dan mengatakan bahwa dia bahkan akan menambah jumlah itu dengan hadiah lain
kalau barangnya itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.
“Demikianlah Sin Hong. Karena barang itu sangat berharga, ayahmu tidak tega untuk menyerahkan
pengawalannya kepada anak buah. Ayahmu berangkat mengawal sendiri bersama sepuluh orang anak
buahnya yang dipilihnya, dan urusan di sini diserahkan kepadaku.”
Tang-piauwsu kemudian melanjutkan keterangannya…
Sebulan kemudian setelah Tan-piauwsu mengawal kiriman berharga itu, datang utusan Tan-piauwsu yang
mengabarkan bahwa dia telah tiba dengan selamat di kota Tuo-lun dan minta agar isteri dan puteranya
menyusul ke Tuo-lun karena di kota itu sedang ada keramaian dan perayaan besar.
“Karena aku khawatir akan keselamatan ibumu dan engkau, maka aku sendirilah yang mengawal kalian.
Akan tetapi ternyata diperjalanan kita diserang gerombolan berkedok itu. Selanjutnya engkau dan ibumu
kusuruh menyelamatkan diri dari kejaran gerombolan dengan menunggang onta memasuki gurun pasir.
Ahhh, peristiwa itu menghantui aku setiap malam selama ini, karena aku merasa seolah-olah aku
menyuruh kalian berdua memasuki jurang kematian!”
“Nanti dulu, Paman. Siapakah orang yang mengirim berita dari ayah itu? Orang yang menyampaikan
pesan ayah dari Tuo-lun?”
“Aku sudah mencari orang itu namun tidak berhasil. Ketika dia datang melapor itu, aku sudah merasa
heran mengapa Tan-toako tidak mengutus seorang di antara para anak buahnya, melainkan seorang yang
asing dan tak kukenal. Orang itu mengatakan bahwa dia adalah anggota rombongan piauwsu yang
mengawal barang dari Tuo-lun ke selatan, dan Tan-toako yang sudah mengenalnya, menitipkan pesan itu
untuk kita.”
“Dan engkau masih ingat orangnya? Wajahnya? Namanya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tang Lun menarih napas panjang dan menggelengkan kepala. “Itulah kesalahan dan kecerobohanku.
Karena tak menduga buruk, aku lupa lagi akan namanya, dan wajahnya juga wajah orang biasa sehingga
aku sudah tidak ingat lagi. Akan tetapi aku merasa yakin bahwa dia adalah seorang anggota gerombolan
orang berkedok itu yang sengaja memancing kita melakukan perjalanan jauh itu.”
Pada saat itu, dari luar muncullah seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Orangnya
bertubuh tinggi kurus dengan muka pucat kekuningan tetapi sepasang matanya berkilat dan dia nampak
cerdik serta gagah. Sebatang pedang tergantung di punggungnya dan pakaiannya juga pakaian seorang
piauwsu.
Melihat orang ini, Sin Hong segera mengenalnya. Orang ini adalah Ciu-piauwsu, nama lengkapnya Ciu Hok
Kwi, salah seorang di antara piauwsu-piauwsu pembantu ayahnya. Sebaliknya, Ciu Hok Kwi tidak
mengenal pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan Tang-piauwsu itu. Disangkanya Sin Hong
seorang tamu biasa yang hendak mengirim barang, maka dia pun acuh saja.
“Paman Ciu!” Sin Hong menegurnya.
Orang itu terkejut, kemudian memandang Sin Hong penuh perhatian. Pandang matanya mengandung
keheranan karena dia tidak mengenal pemuda yang menyebutnya paman itu.
“Ciu-te, apakah engkau sudah lupa kepadanya? Dia ini adalah Tan Sin Hong,” berkata Tang-piauwsu.
Sepasang mata yang bersinar itu terbelalak dan kini dia pun teringat. Kalau tadi dia seperti juga Tangpiauwsu,
tidak ingat kepada Sin Hong, adalah karena mereka sudah mengira bahwa Sin Hong telah tewas.
“Sin Hong...!” Ciu-piauwsu berseru.
Dia cepat menghampiri, lalu memegang lengan pemuda itu. “Syukurlah, engkau masih selamat, masih
hidup! Sungguh merupakan keajaiban! Dan bagaimana dengan ibumu?”
“Ibu telah meninggal dunia diserang badai di gurun pasir.”
“Ahhh...! Kasihan...!”
“Ciu-te, kebetulan engkau pun datang. Sin Hong sudah pulang dan ia minta keterangan tentang semua
peristiwa yang terjadi, dan tadi aku sudah menceritakan tentang sebab keberangkatan ayahnya, kemudian
mengenai perjalanan dia dan ibunya yang kukawal. Kalau aku lupa dalam keteranganku, engkau dapat
menambahkan.”
Ciu Hok Kwi mengangguk dan duduk berhadapan dengan mereka. “Semua itu agaknya sudah
direncanakan orang yang memusuhi keluargamu, Sin Hong,” kata Ciu-piauwsu dengan suara penuh
keyakinan.
“Aku pun sudah mengatakan demikian,” sambung Tang-piauwsu.
“Nanti dulu, Paman berdua. Lebih dahulu aku ingin mendengar cerita Paman Tang Lun tentang
pengalamannya pada waktu aku dan ibu berpisah darimu, Paman. Ceritakanlah selengkapnya, karena
mungkin keterangan Paman ini penting bagiku.”
Tang Lun lalu melanjutkan ceritanya. Saat ia mengawal nyonya Tan Hok dan Sin Hong, mereka dihadang
oleh perampok berkedok dan dia melakukan perlawanan mati-matian bersama dua belas orang anak
buahnya. Namun, pihak perampok ternyata selain lebih banyak jumlahnya, juga lihai sekali sehingga satu
demi satu anak buahnya roboh dalam keadaan binasa.
“Melihat keadaan yang tidak menguntungkan dan berbahaya bagi kalian berdua, aku mengajak kalian
melarikan diri. Karena para perampok berkedok itu terus melakukan pengejaran, ketika mendapatkan
binatang onta, aku menyuruh kalian melarikan diri ke dalam gurun pasir, sedangkan aku kemudian menanti
para pengejar untuk melakukan perlawanan mati-matian dan membiarkan kalian dapat menyelamatkan
diri.” Sampai di sini Tang-piauwsu diam dan meraba-raba telinga kirinya yang sudah tidak berdaun lagi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tang Lun melakukan perlawanan mati-matian, dikeroyok oleh banyak orang berkedok dan biar pun dia
mengamuk dengan golok besarnya, akhirnya dia roboh pingsan karena luka-lukanya dan daun telinga
kirinya putus.
“Ketika aku siuman, mereka sudah tidak ada. Ternyata mereka membiarkan aku hidup dan hanya
membuntungi daun telinga kiriku! Ahhh, inilah yang membuatku menyesal bukan main, Sin Hong. Aku
sudah menyuruh engkau dan ibumu lari ke gurun pasir karena khawatir kalau kita semua akan dibunuh.
Ternyata mereka tidak membunuh aku, dan kalian... kalian sudah kusuruh memasuki gurun pasir dan
ternyata ibumu tewas di gurun pasir!”
Kedua mata kakek tua itu menjadi basah. Tentu ia telah menderita tekanan batin hebat sehingga dalam
umur empat puluh tahun lebih dia sudah kelihatan bagaikan seorang kakek-kakek!
“Paman Tang, harap kau lanjutkan ceritamu. Setelah engkau siuman, lalu bagaimana?” tanya Sin Hong,
sejak tadi pandang matanya tak pernah meninggalkan wajah orang tua itu, memandang penuh selidik.
“Dalam keadaan luka-luka aku berusaha mencari kalian di gurun pasir, akan tetapi aku kehilangan jejak
karena jejak onta itu dihapus oleh pasir yang tertiup angin. Karena aku menderita luka-luka, aku pun
pulang ke Ban-goan dan sesudah luka-lukaku sembuh, bersama Ciu-te ini aku pergi melakukan
penyelidikan ke Tuo-lun. Ternyata ayahmu tidak pernah sampai ke Tuo-lun. Ketika kami menyelidiki, kami
mendengar dari para piauwsu di sana bahwa ayahmu bersama sepuluh orang anak buahnya...” Tang Lun
tidak dapat melanjutkan ceritanya, khawatir jika Sin Hong akan terkejut mendengar nasib ayahnya.
“Paman Tang, aku sudah tahu bahwa ayah dan anak buahnya telah meninggal dunia, tewas dalam sebuah
hutan di luar kota Tuo-lun.”
“Aihhh... engkau sudah tahu pula?” kata Tang Lun, agak lega hatinya karena dia tidak usah menceritakan
lagi peristiwa yang menyedihkan itu.
“Kami bersembahyang di depan makam ayahmu dan anak buahnya yang di jadikan satu dan menurut para
piauwsu, jenazah mereka dikubur oleh seorang hwesio tua dibantu mereka. Kami tidak berani lancang
memindahkan kuburan ayahmu ke sini, karena tidak ada lagi keluargamu di sini...”
“Selanjutnya bagaimana, Paman?” desak Sin Hong.
“Lay-wangwe menuntut barang-barangnya yang berharga seratus kati emas itu! Tentu saja kami di sini
tidak mampu mengembalikan harta sedemikian banyaknya. Hartawan itu lalu menyita semua barang.
Semua barang yang berada di rumah orang tuamu lalu dilelang dan dijual, akan tetapi tetap saja tidak
mampu melunasi atau mengganti harga barang kiriman itu. Akhirnya tinggal rumah dan kantor ini, yang
harus dijual pula. Untung ada Ciu-te ini yang mengusahakan pinjaman uang sebanyak dua ribu tail perak
untuk membeli sendiri rumah dan kantor ini dan uangnya diserahkan kepada Lay-wangwe. Nah, kini Peng
An Piauwkiok tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan rumah kantor ini pun menjadi hak milik salah seorang
paman dari Ciu-te dengan perjanjian bahwa jika dalam waktu sepuluh tahun tidak berhasil mengembalikan
uang itu bersama bunganya yang layak, terpaksa akan diambil alih. Akan tetapi, sejak terjadi peristiwa itu,
perusahaan kita tidak laku lagi. Orang mulai tidak percaya, apa lagi ayahmu tidak ada sehingga kami
benar-benar bangkrut. Paling lama dalam dua tahun lagi rumah dan kantor ini harus diserahkan kepada
yang berhak.” Tang Lun mengakhiri ceritanya dengan suara sedih.
Akan tetapi Sin Hong tidak tertarik tentang rumah itu.
“Paman Tang dan Paman Ciu, kalian tadi mengatakan bahwa semua peristiwa itu pasti direncanakan oleh
orang-orang yang memusuhi ayah. Mengapa kalian dapat menduga demikian dan siapakah orang-orang
yang memusuhi ayah?”
“Sin Hong, peristiwa yang dahulu menewaskan ayahmu, juga dua puluh orang anggota pengawal kita,
bahkan sudah membuat Peng An Piauwkiok bangkrut, tentu saja tidak bisa kami diamkan. Mala petaka itu
masih ditambah lagi dengan lenyapnya engkau dan ibumu. Kami, terutama sekali aku dan Ciu-te ini,
berbulan-bulan lamanya melakukan penyelidikan untuk mengungkap rahasia itu. Kami telah menghubungi
banyak piauwsu, bahkan kami memasuki daerah hitam untuk mencari keterangan dari para gerombolan
perampok tentang gerombolan berkedok itu. Akan tetapi, semua usaha kami gagal. Tak seorang pun tahu
tentang gerombolan itu, bahkan tak ada yang pernah mendengar ada gerombolan berkedok di daerah ini.
Kami kemudian mengambil kesimpulan bahwa tentu gerombolan itu bukan perampok biasa, melainkan
dunia-kangouw.blogspot.com
orang-orang yang menyamar sebagai perampok, oleh karena itu mereka memakai kedok agar muka
mereka tidak dikenal.”
Sin Hong dalam hatinya menyetujui. Memang perampok berkedok itu bukan perampok, pikirnya, melainkan
para piauwsu yang menyamar perampok!
“Lalu siapakah menurut dugaan Paman yang mengatur semua itu?”
“Setelah kami berdua menyelidiki urusan ini, maka kami mengambil kesimpulan bahwa besar sekali
kemungkinan yang mengatur semua ini adalah Kwee-piauwsu pemilik dari Ban-goan Piauwkiok!” kata Tang
Lun dengan nada suara penuh keyakinan.
Sin Hong mengerutkan alisnya. Dia telah berusia empat belas tahun saat meninggalkan Ban-goan.
Sebagai putera kepala piauwkiok, tentu saja dia tahu siapa Kwee-piauwsu itu. Ban-goan Piauwkiok
merupakan saingan Peng An Piauwkiok.
Ia pernah mendengar pula bahwa keluarga Kwee yang memimpin Ban-goan Piauwkiok mempunyai ilmu
silat tinggi. Namun, selama itu dia hanya mendengar persaingan dalam perusahaan itu, maka tentu saja
dia terkejut dan meragu mendengar bahwa keluarga Kwee yang mengatur semua rencana busuk ini untuk
menghancurkan keluarganya dan membikin bangkrut Peng An Piauwkiok.
“Hemmm, dengan alasan apa maka Jiwi (Kalian) lalu mempunyai dugaan seperti itu?” tanyanya mendesak.
Ciu Hok Kwi membantu rekannya. “Kami berdua sudah melakukan penyelidikan secara mendalam dan
kiranya tidak ada golongan lain yang dapat dicurigai kecuali keluarga Kwee dari Ban-goan Piauwkiok.
Memang tidak dapat disangkal bahwa sebagai seorang piauwsu, mendiang ayahmu mempunyai banyak
musuh di antara para perampok. Akan tetapi, tidak ada perampok yang mempergunakan cara seperti itu,
berkedok pula. Biar pun kami belum memperoleh bukti meyakinkan, akan tetapi hanya keluarga Kwee saja
yang mempunyai alasan kuat untuk melakukan semuanya itu. Pertama, anak buahnya menyamar sebagai
perampok dan berkedok karena kalau tidak, tentu ayahmu, juga Tang-toako dan para anak buah piauwkiok
kita akan mengenal mereka. Kedua, mereka tentu sudah mendengar bahwa kami memperoleh biaya
besar, maka mereka merasa iri dan mereka melakukan penghadangan. Dengan demikian, mereka
memperoleh banyak keuntungan. Pertama mendapatkan harta besar itu dan kedua, bisa menghancurkan
kita sebagai saingannya yang terbesar di kota ini. Kemudian yang ketiga, hal ini pun hasil penyelidikan
kami, dahulu, sebelum mendiang ibumu menjadi isteri mendiang ayahmu, pernah mendiang ibumu
dipinang oleh Kwee Tay Seng, yaitu Kwee-piauwsu. Pinangan itu ditolak. Hal ini pun memperkuat alasan
mengapa dia lalu menghancurkan keluarga ayahmu.”
Mendengar semua itu, Sin Hong mengerutkan alisnya. Agaknya cocok keterangan itu dengan apa yang
didengarnya dari anggota perampok bahwa gerombolan berkedok itu tadinya merupakan rombongan
piauwsu yang menyamar!
Benarkah Kwee-piauwsu yang mengatur semua ini? Dia tidak mau sembrono. Harus diselidikinya lebih
dulu sampai terdapat bukti. Tanpa bukti, tidak mungkin dia menuduh keluarga Kwee begitu saja.
“Akan tetapi, andai kata benar dia, setelah berhasil membunuh ayah dan merampas harta kiriman,
mengapa pula dia menyerang engkau, Paman Tang? Dan mengganggu ibu dan aku.”
“Mungkin untuk membasmi keluarga ayahmu, agar jangan menimbulkan balas dendam di kemudian hari,
atau... ahhh, entahlah. Betapa pun juga aku yakin bahwa dialah yang melakukan semua ini.”
“Tetapi, setelah engkau dikeroyok dan dikalahkan, kenapa engkau tidak dibunuhnya?”
“Tadinya aku pun merasa heran, akan tetapi kemudian aku bisa mengerti mengapa dia membiarkan aku
hidup. Tentu saja agar aku dapat mengurus piauwkiok ini, memenuhi pertanggung jawabannya sehingga di
mata masyarakat, piauwkiok ini menjadi bangkrut, dan mungkin agar aku menjadi saksi hidup bahwa yang
menyerang adalah perampok-perampok berkedok, bukan anak buah piauwkiok itu. Ah, dia telah
menyiksaku dengan membiarkan aku tetap hidup, merasa berdosa dan menanggung malu karena
piauwkiok menjadi begini...“
Sin Hong mengerutkan alis. Semua dugaan memang menuding ke arah Kwee-piauwsu dan biar pun belum
ada bukti, namun hati siapa pun memang condong untuk menuduh keluarga Kwee.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Oya, Paman Tang. Lay-wangwe itu membuka toko rempah-rempah yang besar di kota raja? Tahukah
engkau di jalan mana dia tinggal di kota raja dan bagaimana macam wajahnya?”
“Ah, dia sama sekali tidak dapat kita curigai, Sin. Hong,” kata Ciu-piauwsu. “Dia telah menderita rugi yang
amat banyak. Harta kekayaannya yang berharga seratus kati emas itu, setelah dia menyita semua harta
milik keluargamu, belum juga ada sepersepuluh bagian! Jadi, dalam urusan ini dia yang menderita rugi
harta paling banyak dan kami tidak pernah mencurigai dia.”
“Aku pun tidak mencurigai siapa-siapa selama belum ada bukti,” kata Sin Hong, “Akan tetapi aku harus
mengetahui dengan jelas semua orang untuk bahan penyelidikanku. Paman Tang di mana alamatnya dan
bagaimana macamnya orang itu?”
“Aku hanya dua kali bertemu dengan dia, Sin Hong. Pertama kali pada saat dia datang membawa peti
bersama beberapa orang pembantunya dengan naik kereta. Kemudian ketika dia datang lagi untuk
penggantian hartanya yang dirampok, lalu dia menyerahkan pengurusan penggantian itu kepada
pengawalnya. Menurut keterangan pegawainya, Lay-wangwe memiliki toko rempah-rempah besar di Jalan
Singa Batu, dan rumahnya seperti istana. Ada pun wajah dan bentuk badannya tidak sulit untuk dikenal.
Tubuhnya pendek dengan perut gendut sekali, kepalanya bundar dan matanya lebar, memakai gigi emas.
Hidungnya besar dan mulutnya selalu tersenyum-senyum menyeringai, apa lagi kalau berhadapan dengan
wanita seperti yang kulihat ketika dia berkunjung dan melihat wanita lewat di depan pintu. Dia termasuk
laki-laki yang memiliki ciri mata keranjang. Usianya ketika itu tiga puluh tahunan, jadi sekarang, sudah
hampir empat puluh tahun.”
“Terima kasih, Paman. Keterangan itu sudah cukup bagiku,” kata Sin Hong.
“Sin Hong, kupikir apa yang dikatakan Ciu-te tadi benar. Engkau hanya akan membuang waktu sia-sia
belaka jika menyelidiki keadaan Lay-wangwe. Bahkan jika engkau muncul dan dia tahu bahwa engkau
ialah putera Tan-toako, tentu dia akan marah-marah karena diingatkan akan kerugiannya. Mungkin dia
akan menuntut penggantian darimu karena engkau adalah putera Tan-toako. Sebaiknya kalau engkau
menyelidiki Kwee-piauwsu. Dia amat mencurigakan dalam hubungan ini sebab ada satu hal yang perlu kau
ketahui. Akan tetapi biarlah nanti saja kuceritakan kepadamu.”
Sin Hong merasa heran sekali karena dia melihat betapa pandang mata Tang-piauwsu mengerling ke arah
Ciu-piauwsu, seakan-akan hendak memberi tanda bahwa dia tidak ingin apa yang hendak diceritakan
kepada Sin Hong itu dapat terdengar oleh orang lain. Agaknya Ciu-piauwsu tak tersinggung atau tidak
memperhatikan ucapan Tang-piauwsu itu.
Malam itu, setelah makan malam dan berganti pakaian, Sin Hong beristirahat di dalam kamarnya. Di dalam
kamar itu, kamarnya sendiri waktu dia belum meninggalkan tempat ini, akan tetapi kamar yang sudah
kosong dan hanya terdapat sebuah dipan sederhana, dia merebahkan diri sambil termenung. Langit-langit
kamar itu masih sama seperti dulu, dicat biru namun catnya sudah luntur dan terdapat noda-noda bekas air
hujan yang bocor.
Dia merasa terharu karena kamar ini sama sekali tidak asing, bahkan dia merasa akrab rebah di situ.
Karena lelah, juga karena batinnya lelah pula setelah banyak berpikir, dia pun tertidur dan malam pun
mulai makin menghitam dan makin sepi…..
********************
Manusia hidup tak mungkin bebas dari persoalan sebab hidup berarti komunikasi antara manusia, berarti
pergaulan di masyarakat ramai dan dalam setiap persoalan sudah pasti kadang-kadang terjadi
pergesekan-pergesekan atau pertentangan pendapat yang lantas menimbulkan persoalan.
Juga dalam hidup manusia menghadapi pula peristiwa-peristiwa yang menempatkan dirinya harus
berhadapan dengan hal-hal yang tak menyenangkan, dengan hal-hal yang mengancam, dengan
kehilangan-kehilangan dan sebagainya, yang tentu saja akhirnya menimbulkan masalah atau persoalan
yang kita namakan problem.
Hidup ini seolah-olah menjadi ladang di mana problem tumbuh seperti jamur di musim hujan, tiada
hentinya, sejak kecil sampai tua dan mati, sejak pagi bangun tidur sampai menjelang pulas di malam hari!
Benarkah hidup harusnya begini? Tidak dapatkah kita terbebas dari problem, dari persoalan?
dunia-kangouw.blogspot.com
Selama kita masih hidup, tidak mungkin kita terhindar dari persoalan karena persoalan merupakan
peristiwa yang terjadi setiap saat, dalam pekerjaan, dalam hukuman antara keluarga, antara sahabat,
bahkan dalam permainan selalu timbul problem.
Namun, kalau kita mau mengkaji dengan seutuhnya, atau lebih tepat lagi, kalau kita mau membuka mata
dengan waspada, mengamati segala peristiwa yang terjadi tanpa penilaian, tanpa prasangka, tanpa
gambaran bahwa aku diuntungkan atau dirugikan, kalau kita menghadapi segala peristiwa yang terjadi
sebagai suatu fakta, sebagai suatu kenyataan yang sedang terjadi dan tidak dapat diubah oleh apa pun
juga, maka akan nampaklah oleh kita bahwa sesungguhnya problem itu tidak ada.
Problem dalam hal ini diartikan sebagai masalah yang menyusahkan, menyulitkan atau merugikan diri kita.
Peristiwa yang terjadi sama sekali tiada sangkut pautnya dengan problem dan problem itu baru ada kalau
memang kita problemkan, kita adakan! Yang kita anggap sebagai problem biasanya adalah sesuatu yang
menimbulkan rasa khawatir atau takut, sesuatu yang kita anggap amat merugikan, sesuatu yang
mengancam, dan sesuatu yang melenyapkan sumber kesenangan kita.
Segala macam peristiwa, baik yang kita anggap menyenangkan atau menyusahkan, ialah suatu kenyataan,
suatu kewajaran, suatu proses yang terjadi karena suatu sebab, dan karena merupakan fakta yang wajar
dan di situ tidak ada susah atau senang, untung atau rugi. Baru setelah kita menilai, berdasarkan untung
rugi bagi diri sendiri, maka fakta itu kita nilai sebagai baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan, dan
yang merugikan, yang buruk, kita jadikan sebagai suatu problem.
Contohnya demikian. Hujan datang. Ini wajar. Ini kenyataan, fakta yang sedang terjadi dan tak dapat
diubah oleh siapa pun. Ini suatu proses dari sebab-sebab tertentu. Tidak ada untung atau rugi dalam hujan,
tidak ada baik mau pun buruk. Akan tetapi, kita menghadapinya dengan si aku menilai-nilai.
Si penjemur terigu merasa dirugikan dan menyumpah-nyumpah, atau menangis karena terigunya rusak
dan dia menderita rugi banyak. Sebaliknya si petani yang memang membutuhkan air hujan bagi tanahnya,
memuja dan memuji Tuhan, berterima kasih dan tertawa-tawa karena peristiwa itu menguntungkan dirinya!
Jelaslah bahwa hujan itu tetap hujan, suatu peristiwa yang wajar, namun menjadi problem atau tidak
tergantung kepada kita sendiri yang menilainya. Jelas bahwa problem itu tidak ada kalau tidak kita adakan
sendiri!
Demikian pula dengan peristiwa apa pun juga di dunia ini. Jatuh sakit, itu pun suatu kenyataan yang wajar,
suatu proses yang bersebab. Kalau kita menerimanya dengan pengamatan yang waspada, dan
menerimanya sebagai suatu kenyataan hidup, tanpa menilai, maka batin kita tidak menjadi keruh oleh suka
duka, dan kita dapat bertindak berdasarkan kebijaksanaan untuk menanggulangi sakit yang datang itu.
Sampai kepada kematian seseorang. Kita hadapi sebagai suatu kenyataan yang wajar, suatu proses
bersebab, dan kita tidak akan diseret oleh duka melainkan dapat bertindak dengan bijaksana.
Jika sudah begini, akan nampaklah oleh kita bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah pasti
bersebab, dan segala sesuatu yang terjadi adalah suatu kewajaran, dan di dalam setiap peristiwa terdapat
suatu pelajaran, suatu hikmah yang amat berharga! Tinggal kita mau membuka mata dengan waspada
atau membutakan mata dengan tangis dan rintihan.
Sin Hong adalah seorang yang semenjak kecilnya mengalami banyak hal-hal yang amat hebat dan jika
dipandang sepintas lalu, tentu saja semua peristiwa itu amat merugikan dirinya. Ayahnya dibunuh orang,
ibunya juga tewas secara menyedihkan, kemudian tiga orang gurunya sekaligus, terbunuh orang pula.
Semua itu terjadi tanpa dia dapat menolong. Akan tetapi, gemblengan tiga orang sakti membuat dia
menjadi seorang pemuda yang kuat lahir batin, tidak mudah terseret si aku yang selalu ingin menang
sendiri. Hal ini menjauhkan perasaan dendam dari batinnya dan jika dia menyelidiki tentang peristiwa yang
menimpa keluarganya, hal itu dilakukan tanpa perasaan dendam dan benci, tetapi sebagai pemenuhan
tugas seorang pendekar yang harus menentang kejahatan. Orang-orang yang menghancurkan keluarga
ayahnya amatlah jahat, dan dia ingin tahu apa yang menyebabkan mereka melakukan semua
kejahatannya.
Malam itu sunyi sekali dan biar pun Sin Hong tidur pulas karena lelah lahir batin, sedikit suara yang tidak
wajar sudah cukup untuk membuatnya terbangun dengan kaget. Dia mendengar gerakan tidak wajar di
atas genteng rumah itu dan mendengar pula suara orang merintih. Hal ini sudah cukup membuat dia sadar
dunia-kangouw.blogspot.com
sepenuhnya, dan di lain saat tubuhnya sudah meloncat keluar dari dalam kamar, keluar dan langsung dia
meloncat naik ke atas genteng.
Malam itu gelap, hanya diterangi cahaya ribuan bintang, namun cukup terang baginya untuk melihat
berkelebatnya bayangan orang yang berlari di atas wuwungan.
“Heiii, berhenti dulu!” Sin Hong meloncat dan mengejar.
Bayangan hitam itu tiba-tiba membalik dan ternyata dia mengenakan kedok hitam, dan begitu Sin Hong
tiba dekat, dia sudah menyambutnya dengan serangan totokan pada ulu hati Sin Hong. Gerakannya
demikian cepat dan mengandung hawa pukulan dahsyat yang mengejutkan Sin Hong. Pemuda ini cepat
menangkis sambil memutar telapak tangan untuk menangkap lengan orang.
“Plakkk... brettt!”
Bayangan itu tertangkap lengannya, akan tetapi lengan itu dibetot dan lengan bajunya saja yang robek dan
tertinggal di tangan Sin Hong. Orang berkedok itu meloncat dari atas wuwungan, melayang masuk ke
dalam malam gelap di antara pohon dan rumah tetangga dan lenyap.
Sin Hong tidak mengejar karena dia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya malam-malam datang
ke rumahnya. Karena tidak tahu, maka tadi pun dia tidak turun tangan secara keras, hanya berusaha
menangkap saja namun gagal dan hal itu saja sudah membuktikan bahwa bayangan hitam itu memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi. Karena khawatir mendengar suara rintihan tadi, Sin Hong cepat meloncat turun
kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke kamar Tang-piauwsu karena di dalam rumah itu hanya ada
mereka berdua.
Daun pintu kamar itu terbuka lebar. Suara rintihan lemah masih terdengar dari sebelah dalam kamar.
Cepat Sin Hong meloncat masuk. Kamar itu agak remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin di atas
meja di sudut ruangan. Sin Hong melihat sesosok tubuh berlumuran darah menggeletak di atas lantai, dan
ternyata orang itu bukan lain adalah Tang-piauwsu!
“Paman...!” Seru Sin Hong sambil menghampiri dan berlutut, cepat memeriksa keadaan orang itu. Luka di
dadanya amat parah dan tahulah dia bahwa tidak ada harapan lagi bagi Tang Lun.
“Paman, siapa yang melakukan ini?”
Dengan napas terengah Tang Lun menjawab, “...tidak... tahu... amat cepat... berkedok... Sin Hong...“
Sin Hong cepat menotok beberapa jalan darah di dada dan pundak Tang Lun. Totokan ini menolong
mengurangi rasa nyeri, sesak, dan Tang Lun melanjutkan kata-katanya, agak lancar. “Sin Hong dahulu
sebelum dilamar ayahmu, ibumu pernah saling mencinta dengan Kwee Tay Seng...“
“Paman, siapa yang melakukan ini terhadap Paman? Siapakah yang menyerang tadi? Seorang berkedok,
akan tetapi siapa kiranya dia, Paman?”
“Entahlah…. luar biasa lihainya...” Tang Lun tidak kuat lagi, lehernya terkulai kemudian nyawanya
melayang.
Sin Hong mengepal tinju. Tang Lun tak mengenal pembunuh itu! Ia merasa yakin bahwa tentu pembunuh
itu ada hubungannya dengan mereka yang membasmi keluarganya. Dia merasa menyesal sekali mengapa
tadi tidak dikejarnya orang berkedok itu dan menawannya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak
membayangkan bahwa orang berkedok ini telah membunuh Tang Lun.
Dan Tang Lun hanya memberi tahu bahwa ibunya pernah saling cinta dengan Kwee Tay Seng, atau Kweepiauwsu,
orang yang telah dicurigai oleh Tang Lun dan Ciu Hok Kwi sebagai pembasmi keluarganya.
Agaknya itulah yang hendak diceritakan kepadanya namun ditahannya, sore tadi di depan Ciu-piauwsu.
Hemmm, apakah karena cintanya terhadap ibunya gagal oleh karena ibunya menikah dengan ayahnya lalu
orang she Kwee itu menjadi marah dan menaruh dendam kepada ayahnya? Jadi ibunya mencinta laki-laki
itu, akan tetapi kakeknya dahulu menolak pinangan keluarga Kwee!
Pada keesokan harinya, ketika mendengar akan peristiwa itu, Ciu Hok Kwi datang dan dia pun berlutut dan
menangisi jenazah Tang Lun. Ketika jenazah itu dimasukkan peti oleh para piauwsu lainnya yang datang
dunia-kangouw.blogspot.com
berlayat bersama para tetangga, dan setelah diperiksa oleh pembesar yang berwenang untuk itu, Ciu Hok
Kwi lalu bersembahyang dengan suara yang cukup nyaring.
“Tang-toako! Kita yakin bahwa yang melakukan ini tentulah pembunuh Tan-toako pula, yaitu anjing she
Kwee. Tenangkanlah rohmu, Toako, karena sekarang juga aku, Ciu Hok Kwi, akan menuntut balas kepada
anjing she Kwee itu!” Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar Ciu Hok Kwi lalu pergi meninggalkan
rumah itu.
Semua orang memandang dengan gelisah. Sin Hong lalu melangkah keluar pula dari rumah itu, diam-diam
membayangi Ciu Hok Kwi yang pergi dengan muka merah dan sikap marah. Dia ingin sekali melihat apa
yang hendak dilakukan oleh piauwsu itu.
Seperti yang sudah diduga dan dikhawatirkannya, Ciu Hok Kwi langsung saja menuju ke rumah Kwee Tay
Seng, pemimpin dari Ban-goan Piauwkiok. Beberapa orang piauwsu segera keluar dari kantor perusahaan
itu menyambut kedatangan Ciu Hok Kwi dengan sikap heran.
“Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Kwee Tay Seng!” demikian Ciu Hok Kwi berkata lantang, dengan
sikap marah.
Selagi para piauwsu memperlihatkan sikap kurang senang, tiba-tiba dari dalam muncul seorang laki-laki
berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dari belakang batang pohon tak jauh dari situ, Sin Hong
menonton dan kehadirannya tidak menarik perhatian karena di tempat itu sudah berkumpul beberapa
orang yang tertarik melihat ribut-ribut itu.
Sin Hong masih dapat mengenal Kwee-piauwsu. Masih nampak gagah dan tampan, bertubuh tinggi besar
dan berdada bidang. Seorang laki-laki yang jantan dan gagah, dan kini dia memandang dengan penilaian
lain karena teringat bahwa laki-laki ini pernah saling mencinta dengan ibunya di waktu masih muda.
Seorang pria yang ganteng, dan tidak heran kalau ibunya pernah saling mencinta dengannya.
“Kiranya Ciu Piauwsu yang datang berkunjung,” berkata Kwee-piauwsu dengan sikap ramah dan pandang
matanya tajam penuh selidik. “Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam.”
“Tidak perlu masuk, di sini pun cukup!” Ciu Piauwsu berkata dengan suara membentak marah. “Kwee Tay
Seng, kini aku datang untuk menuntut balas atas kematian saudara-saudaraku Tan Hok dan Tang Lun!
Majulah dan mari kita membuat perhitungan dengan senjata!” Tangan kanannya bergerak dan Ciu Piauwsu
telah menghunus pedang yang bergantung di punggungnya.
Sin Hong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak setuju melihat sikap Ciu Hok Kwi biar pun orang itu
menyatakan hendak membalaskan dendam atas kematian ayahnya dan Tang-piauwsu. Ciu Hok Kwi
dianggapnya terlalu kasar dan sembrono, padahal sama sekali belum ada bukti nyata bahwa pembunuhanpembunuhan
itu dilakukan oleh Kwee Piauwsu. Dia pun hanya menonton saja, akan tetapi diam-diam dia
pun bersiap untuk melindungi keselamatan Ciu Hok Kwi kalau sampai terancam bahaya maut.
Akan tetapi Kwee Piauwsu kelihatan heran mendengar tantangan dan melihat sikap Ciu Hok Kwi.
“Hemmm, Ciu Hok Kwi, sungguh sikapmu ini membuat kami merasa bingung dan tak mengerti. Saudara
Tan Hok telah tewas dalam tugasnya, beberapa tahun yang lalu, dan kini yang melanjutkan perusahaan
Peng An Piauwkiok adalah saudara Tang Lun. Bagaimana engkau kini mengatakan hendak membalas
kematian saudara Tang Lun? Dan mengapa pula kepadaku?”
“Orang she Kwee, tidak perlu lagi berpura-pura! Orang lain boleh jadi tidak tahu, akan tetapi aku yakin
bahwa yang membunuh Tang-toako malam tadi adalah engkau! Dan dahulu pun yang melakukan
pencegatan, merampas barang kiriman serta membunuh Tan-toako adalah engkau pula dan para anak
buahmu. Nah, sekarang aku membuat perhitungan, hadapi pedangku kalau memang engkau laki-laki
sejati! Jangan bertindak dalam rahasia, memakai kedok segala!”
Melihat sikap ini, para piauwsu anak buah Kwee Piauwsu menjadi marah dan beberapa orang sudah
mencabut senjata hendak menyerangnya. Melihat ini, Kwee Piauwsu cepat memberi isyarat kepada anak
buahnya untuk mundur.
“Jangan kalian mencampuri urusan ini, biar aku sendiri yang menghadapi Ciu-piauwsu!” Kemudian dia
melangkah maju menghadapi Ciu Hok Kwi dengan sikap tenang, akan tetapi mukanya menjadi merah
karena marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ciu-piauwsu, semua tuduhanmu tadi merupakan fitnah yang amat keji! Aku sama sekali tidak tahu bahwa
Tang-piauwsu semalam dibunuh orang, dan aku pun sama sekali tidak tahu-menahu tentang kematian
Tan-piauwsu beberapa tahun yang lalu. Apa buktinya bahwa aku melakukan pembunuhan-pembunuhan
itu? Jangan engkau melempar fitnah seenak perutmu sendiri tanpa bukti!”
“Buktinya? Engkau adalah saingan paling besar dari perusahaan kami, dan engkau pun saingan mendiang
Tan-toako dalam merebut hati wanita. Engkau mendendam padanya dan karena itu sudah jelas engkau
yang melakukan semua pembunuhan itu!”
“Keparat!” Kwee-piauwsu menjadi marah karena urusan pribadinya mengenai cintanya terhadap mendiang
isteri Tan-piauwsu diungkit-ungkit oleh orang itu. “Aku tidak pernah melakukan pembunuhan itu, tetapi
jangan dikira aku takut menghadapi tantanganmu yang sangat ngawur dan tidak berdasar!” Berkata
demikian, piauwsu yang tinggi besar itu melolos sabuknya.
Sabuk itu ternyata sebuah sabuk rantai baja yang tebal dan panjangnya hampir satu setengah meter.
Melihat lawannya sudah mengeluarkan senjatanya, segera Ciu Hok Kwi menerjang dengan pedangnya
sambil membentak.
“Mampuslah!”
Akan tetapi, Kwee Tay Seng adalah seorang ahli silat Bu-tong-pai yang lihai sekali. Tangannya segera
bergerak dan rantai baja itu membentuk sinar bergulung menangkis serangan pedang yang ditusukkan
oleh lawan.
“Tranggg...!”
Nampak bunga api berhamburan ketika pedang bertemu rantai. Keduanya melangkah ke belakang,
merasakan betapa tangan mereka tergetar hebat oleh pertemuan kedua senjata itu, tanda bahwa masingmasing
memiliki tenaga yang amat kuat.
Ciu Hok Kwi menerjang lagi dan kembali mengirim serangan-serangan dahsyat dengan pedangnya, dan
harus diakui bahwa permainan pedang orang she Ciu ini cukup lihai. Kwee-piauwsu tidak berani
memandang rendah. Dia menangkis, dan membalas dengan serangan rantainya. Segera kedua orang itu
terlibat dalam perkelahian yang seru dan mati-matian.
Dari belakang batang pohon, kini Sin Hong telah maju bercampur dengan orang-orang yang nonton, tak
jauh dari tempat perkelahian. Tadinya dia telah siap untuk melindungi Ciu-piauwsu, akan tetapi segera dia
mendapat kenyataan yang mengagumkan bahwa tingkat kepandaian Ciu-piauwsu tidak kalah
dibandingkan dengan tingkat lawan. Karena itu legalah hatinya dan ia pun mengikuti jalannya perkelahian
itu, siap untuk mencegah apa bila seorang di antara mereka terancam bahaya maut. Biar pun dia berdiri di
bagian terdepan, dia tidak takut dikenal orang karena baru kemarin dia tiba di Ban-goan dan tidak ada
orang mengenal dia.
Perkelahian itu berlangsung semakin seru dan makin banyak orang datang menonton. Para anggota
piauwsu anak buah Kwee-piauwsu membuat pagar untuk menghalangi para penonton mendekat, dan di
antara para penonton banyak yang membicarakan perkelahian itu dengan dugaan-dugaan mereka. Sin
Hong tentu saja memasang telinga mendengarkan dan percakapan dua orang di sebelahnya menarik
perhatiannya.
“Hebat sekali orang itu, dapat menandingi Kwee-piauwsu, siapakah dia itu?”
“Apakah engkau tidak tahu? Dia adalah orang ke dua dari Peng An Piauwkiok setelah Tang-piauwsu.”
“Akan tetapi mengapa dia datang dan menyerang Kwee-piauwsu?”
“Biasa, orang dagang. Tentu karena persaingan.”
Karena Sin Hong menoleh, maka dalam waktu beberapa detik lamanya perhatiannya terpecah dan dia
tidak melihat betapa pada saat itu rantai di tangan Kwee-piauwsu mengenai lengan kanan Ciu-piauwsu.
Pedang itu lepas dari pegangan Ciu-piauwsu dan Kwee-piauwsu sudah cepat menyusulkan sebuah
dunia-kangouw.blogspot.com
tendangan yang mengenai lutut Ciu Hok Kwi dan membuatnya roboh terlentang! Akan tetapi Kwee Tay
Seng tak menyerang lagi, melainkan berdiri saja memandang kepada lawan yang sudah dikalahkannya.
Sin Hong sempat melihat betapa kekalahan Ciu Hok Kwi itu karena kesalahan sendiri. Agaknya orang ini
terlalu percaya kepada diri sendiri sehingga menerima sambaran rantai itu dengan lengannya, agaknya
dengan niat untuk dapat membalas secepatnya. Akan tetapi ternyata pukulan rantai itu membuat
pedangnya terlepas dan tendangan lawan tak dapat dielakkannya lagi.
Akan tetapi Ciu Hok Kwi sudah memungut pedangnya, bangkit berdiri dan memandang kepada bekas
lawannya dengan mata melotot.
“Hari ini aku mengaku kalah, akan tetapi lain hari aku akan datang menebus kekalahan ini!” Setelah
berkata demikian, tanpa pamit dia kemudian pergi dengan langkah agak terpincang.
“Hei, orang she Ciu!” Kwee Tay Seng berseru ke arah lawan yang sudah berjalan pergi itu. “Demi Tuhan
aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan itu!”
Akan tetapi Ciu Hok Kwi tak peduli dan terus saja melangkah pergi. Setelah perkelahian itu selesai, orangorang
bubaran, termasuk Sin Hong yang merasa lega juga melihat kesudahan perkelahian itu. Biar pun
kalah, Ciu-piauwsu tidak terluka parah. Bahkan kekalahan itu perlu sebagai pelajaran kepada Ciu Hok Kwi
untuk kelancangannya.
Akan tetapi, setelah melihat sikap Kwee Tay Seng, di dalam hatinya Sin Hong merasa semakin kurang
yakin bahwa orang she Kwee itulah yang merencanakan pembunuhan terhadap keluarganya. Orang itu
memperlihatkan sikap yang demikian gagah. Orang seperti itu, jika menghadapi urusan kiranya akan
merasa malu menggunakan cara-cara yang curang. Sikapnya terhadap Ciu Hok Kwi tadi saja sudah
menunjukkan wataknya yang gagah.
Setelah Sin Hong tiba di rumah kembali, Ciu-piauwsu telah berada di situ dan nampak murung. “Ehhh,
Paman Ciu, engkau pergi ke mana sajakah?” Sin Hong bertanya, pura-pura tidak tahu akan peristiwa yang
terjadi di depan perusahaan Ban-goan Piauwkiok tadi.
“Aku tadi pergi menemui Kwee Tay Seng dari Ban-goan Piauwkiok hendak membuat perhitungannya
dengan dia. Akan tetapi, dia terlampau lihai dan aku kalah.”
Diam-diam Sin Hong merasa kasihan juga kepada orang yang dengan jujur mengakui kekalahannya itu.
Biar pun lancang dan kasar, namun bagaimana pun juga orang ini ingin menuntut balas atas kematian
ayah ibunya, juga kematian Tang Lun. Sin Hong tidak banyak bertanya dan mereka lalu mengurus
penguburan jenazah Tang-piauwsu.
Setelah upacara pemakaman selesai, Ciu-piauwsu lalu mengajak Sin Hong berbincang-bincang mengenai
Peng An Piauwkiok. Bagaimana kini baiknya setelah Tang-piauwsu meninggal dunia dan apa yang akan
dilakukan pemuda itu selanjutnya.
“Paman Ciu, rumah dan kantor ini sudah digadaikan dan tinggal kurang dari dua tahun lagi masanya akan
habis. Aku tidak suka melanjutkan pekerjaan ayah, dan tak sanggup untuk mengembalikan uang pinjaman.
Karena itu, terserah padamu, akan kau lanjutkan perusahaan ekspedisi ini ataukah akan ditutup saja. Dan
rumah ini boleh kau serahkan saja kepada yang berhak, yaitu si pemilik uang yang telah memberi pinjaman
kepada mendiang Tang-piauwsu untuk mengganti kerugian.”
“Aku akan melanjutkannya, Sin Hong. Piauwkiok ini dengan susah payah dibangun oleh mendiang Tantoako,
masa sekarang harus ditutup begitu saja? Biarlah kelak aku yang akan membayar hutang itu. Akan
tetapi, karena nama Peng An Piauwkiok sudah kurang dipercaya pedagang, nama piauwkiok ini akan
kuganti dan akan kuperbaharui segala-galanya. Pemilik uang itu adalah seorang hartawan yang menjadi
sahabat baikku, tentu aku akan dapat meminjam modal dan kelak aku akan menebus rumah dan kantor ini.
Akan kusaingi Ban-goan Piauwkiok!” katanya penasaran.
Sin Hong mengangguk. “Terserah padamu, Paman. Aku tidak akan mencampuri urusan Piauwkiok.
Bahkan aku akan pergi sekarang juga.”
“Ke mana Sin Hong?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ke mana saja, Paman. Aku ingin merantau,” kata Sin Hong, tidak mau memberi tahukan keinginannya
untuk melanjutkan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu.
Dia masih merasa bingung. Setelah melihat sikap Kwee-piauwsu, dia seperti kehilangan pegangan. Kalau
bukan orang she Kwee itu yang merencanakan semua pembunuhan itu, lalu siapa lagi? Dan siapa pula
orang berkedok yang membunuh Tang Lun?
Orang berkedok itu lihai sekali, hal ini dapat diketahuinya ketika dia gagal menangkap lengannya, hanya
mendapatkan potongan lengan baju. Akan diselidikinya sampai dia dapat membongkar rahasia itu,
pikirnya. Sekarang dia tidak yakin akan keterlibatan Kwee-piauwsu, namun dia tetap akan menemui
piauwsu itu dalam penyelidikannya.
Pada hari itu juga, Sin Hong berpamit dan pergi meninggalkan Ciu Hok Kwi, membawa buntalan pakaian
dan sisa bekal uang yang dirampasnya dari kepala perampok. Ciu Hok Kwi dengan wajah duka,
mengantarnya sampai ke pintu gerbang kantor Piauwkiok yang sudah butut itu. Mereka pun berpisah…..
********************
Kota Sang-cia-kou terletak di sebelah selatan kota Ban-goan, juga Tembok Besar berdiri megah di luar
kota ini yang merupakan perbatasan pula antara Propinsi Ho-pei dan Mongol. Dari kota inilah dulu tentara
Mancu banyak yang menerobos melewati Tembok Besar.
Di sebuah lereng bukit yang berdiri di luar kota Sang-cia-kou terdapat perkampungan dengan bangunanbangunan
besar seperti benteng. Dari tempat ini, kota Sang-cia-kou dapat dilihat dengan jelas dan seluruh
penduduk Sang-cia-kou dan sekitarnya mengenal belaka bangunan besar itu, yang nampak seperti
benteng di lereng bukit.
Perkampungan itu ialah tempat perkumpulan Tiat-liong-pang (Perkumpulan Naga Besi) yang amat terkenal
sebagai perkumpulan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memiliki pula watak yang
keras dan menjagoi di seluruh daerah itu. Bukan hanya karena ketuanya dan anak buahnya berwatak
keras dan berkepandaian tinggi yang membuat orang-orang merasa jeri, tapi karena perkumpulan itu pun
dilindungi oleh pemerintah.
Perkumpulan Tiat-liong-pang sudah berjasa kepada pemerintah Mancu ketika pasukan Mancu menyerbu
ke selatan, banyak memperoleh bantuan dari perkumpulan ini. Oleh karena itu, sesudah pemerintah
Mancu, yaitu Dinasti Ceng berkuasa, perkumpulan ini tentu saja dianggap berjasa dan dilindungi oleh
pemerintah.
Hal ini membuat Tiat-liong-pang menjadi sebagai perkumpulan yang berpengaruh dan kaya. Perkumpulan
ini bergerak di bidang keamanan. Dengan dalih menjaga keamanan, perkumpulan ini minta sumbangansumbangan
besar dari para hartawan dan pedagang yang selalu memenuhi tuntutan mereka demi
keamanan!
Pada waktu itu, setelah dipegang secara turun-temurun, Tiat-liong-pang jatuh ke tangan seorang yang
mempunyai kepandaian sangat tinggi sebagai ketuanya. Seluruh dunia kang-ouw tahu belaka nama
Siangkoan Tek atau yang lebih terkenal dengan panggilan Siangkoan Lohan (orang tua gagah Siangkoan).
Baru mendengar namanya saja, orang-orang sudah menjadi gentar karena entah sudah berapa ratus atau
berapa ribu orang jatuh di tangannya karena berani menentangnya! Kepandaiannya sedemikian hebatnya
sehingga menjadi dongeng di antara orang-orang kang-ouw, seolah-olah Siangkoan Lohan memiliki
kesaktian seperti dewa!
Pada hari itu, jalan pendakian ke bukit itu terlihat ramai oleh orang-orang yang mendaki bukit, tak seperti
biasanya. Sejak pagi, ada saja orang mendaki, ada yang menunggang kuda, ada yang menunggang
kereta, ada pula yang berjalan kaki. Dan mereka yang naik ke bukit itu terdiri dari bermacam-macam orang,
akan tetapi rata-rata kelihatan seperti orang-orang kang-ouw, bahkan banyak yang menyeramkan.
Memang mereka adalah orang-orang kang-ouw yang mendaki bukit untuk memenuhi undangan Siangkoan
Lohan, ketua Tiat-liong-pang karena pada hari itu, di perkumpulan itu diadakan pesta perayaan ulang tahun
Siangkoan Lohan yang ke enam puluh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siangkoan Lohan tidak mengundang terlalu banyak orang. Dia hanya memilih mereka yang kedudukannya
sudah tinggi saja, yaitu tokoh-tokoh dunia kang-ouw kenamaan, ketua-ketua dan tokoh-tokoh perkumpulan
besar. Biar pun demikian, tetap saja melihat mengalirnya para tamu sejak pagi, tidak kurang dari seratus
orang datang bertamu!
Para murid Siangkoan Lohan, yang menerima tugas dari guru mereka, mengadakan pemilihan. Para tamu
yang dianggap sebagai kaum muda yang tingkatnya belum tinggi, dipersilakan duduk di bagian luar
sedangkan mereka yang dianggap sebagai tamu kehormatan dipersilakan duduk di dalam dan yang paling
dihormati duduk di panggung bersama-sama Siangkoan Lohan sendiri!
Hanya kurang lebih tiga puluh orang duduk di ruangan dalam, di antaranya beberapa orang duduk semeja
dengan Siangkoan Lohan, sedangkan selebihnya duduk di ruang luar, di jamu oleh para pembantu dan
murid Siangkoan Lohan. Akan tetapi, mereka yang duduk di luar tidak merasa terhina, karena mereka pun
maklum bahwa mereka masih belum cukup pantas untuk duduk satu ruangan, apa lagi satu meja, dengan
ketua Tiat-liong-pang itu!
Siangkoan Tek atau Siangkoan Lohan yang usianya sudah enam puluh tahun itu masih nampak lebih
muda dari pada usianya. Tubuhnya yang tinggi kurus masih tetap tegap dan nampak kokoh kuat. Mukanya
merah dengan jenggot panjang sampai ke dadanya. Rambutnya yang mulai dihias uban itu digelung dan
ditutupi sebuah topi yang dihias bulu merak dan emas. Pakaiannya gemerlapan, indah dan berwibawa,
membayangkan kehormatan serta kekayaan. Sepasang matanya yang mencorong seperti mata naga itu
membuat kebanyakan orang tidak berani menatap pandang matanya terlalu lama.
Siangkoan Lohan adalah orang yang congkak, mengandalkan kedudukan, kepandaian dan hartanya
sehingga di dalam semua surat undangannya, dia mencantumkan bahwa keluarganya tidak menerima
sumbangan dalam perayaan itu dan diharapkan agar para tamu datang tanpa membawa sumbangan! Hal
ini saja merupakan ketidak lajiman dan sekaligus memperlihatkan kecongkakannya seolah-olah dia hendak
mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan sumbangan-sumbangan karena dia sudah kaya raya!
Dan semua orang juga tahu belaka akan kekayaan kakek ini. Ketika dia berusia tiga puluh tahun lebih,
mengingat akan jasa perkumpulan Tiat-liong-pang, dia telah dihadiahi seorang puteri dari istana. Seorang
gadis yang amat cantik, dan setelah mendapatkan isteri puteri, tentu saja hubungannya dengan istana
menjadi dekat dan mengumpulkan kekayaan bagaikan orang mencari pasir di sungai saja bagi Siangkoan
Lohan.
Isterinya itu sayang sekali meninggal dunia ketika melahirkan seorang putera. Semenjak diboyong dari
istana ke bukit itu, sang puteri memang selalu berduka. Meski Siangkoan Lohan termasuk seorang pria
yang gagah dan tidak buruk, akan tetapi wataknya yang keras, juga kesukaannya mengumpulkan wanita
cantik, sudah merongrong hati puteri itu sehingga ketika melahirkan, kesehatannya demikian lemah dan ia
pun meninggal dunia ketika melahirkan.
Puteranya merupakan anak tunggal karena Siangkoan Lohan tidak pernah lagi memiliki anak dari wanita
lain, sungguh pun sangat banyak wanita yang sudah digaulinya baik secara sah mau pun tidak. Oleh
karena hanya mempunyai seorang anak saja, maka sudah tentu dia amat memanjakan anaknya yang
diberi nama Siangkoan Liong, sesuai dengan nama perkumpulannya.
Dia pun menggembleng puteranya itu sejak kecil dengan ilmu silat, dan mengundang guru-guru
kesusastraan untuk mengajar Siangkoan Liong. Dan anak ini memang cerdik sekali, maka dia dapat
menguasai kedua ilmu itu dengan amat baiknya sehingga kini dia menjadi seorang pemuda yang sangat
lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga amat pandai membawa diri seperti seorang terpelajar tinggi.
Ketika para tamu yang duduk di ruangan dalam melihat siapa yang duduk di kursi kehormatan, banyak di
antara mereka yang terheran-heran dan berbisik-bisik di antara mereka sendiri. Ada beberapa orang duduk
di kursi kehormatan, semeja dengan ketua Tiat-liong-pang itu, mengelilingi sebuah meja bundar yang luas.
Selama ini mereka mengenal Tiat-liong-pang sebagai perkumpulan yang dekat dengan pemerintah
Kerajaan Ceng. Walau pun sepak terjang ketua dan para anggotanya keras dan sering menekan terhadap
rakyat jelata, namun mereka menggolongkan diri mereka sebagai pahlawan, sebagai pendekar dan sama
sekali tidak mau mencampuri atau pun mendekati golongan hitam atau sesat! Dan kini apa yang mereka
lihat?
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Tiat-liong-pang duduk menjamu tokoh-tokoh hitam yang terkenal sebagai datuk-datuk iblis! Di antara
para tamu yang duduk semeja dengan Siangkoan Lohan terdapat seorang wanita berusia kurang lebih
setengah abad akan tetapi masih nampak cantik, tinggi ramping dengan pakaian mewah dan riasan
mukanya tebal menunjukkan bahwa dia seorang pesolek. Wanita ini bukan lain adalah iblis betina Sin-kiam
Mo-li yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang kang-ouw sebagai tokoh besar yang amat kejam dan
lihai.
Selain nenek ini, terdapat pula dua orang kakek tua renta yang membuat para tamu yang duduk di ruangan
dalam itu terkejut bukan main karena mereka melihat tanda gambar pat-kwa (segi delapan) di dada
seorang di antara mereka, dan gambar bunga teratai di dada yang lain. Jelas mereka berdua adalah tokohtokoh
dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, dua perkumpulan pemberontak yang amat terkenal karena
penyelewengan dan kejahatan mereka sebagai perkumpulan iblis.
Dan memang benar. Kakek yang rambut dan jenggotnya telah putih semua, tinggi kurus berwibawa,
membawa tongkat setinggi badan itu adalah Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa-pai. Sedangkan kakek
kedua yang kurus kering bermuka merah darah, yang memegang tongkat naga hitam dan matanya seperti
mata kucing, adalah Thian Kek Sengjin, tokoh besar perkumpulan Pek-lian-pai.
Selain ketiga orang datuk sesat ini, di tempat kehormatan itu hadir pula tiga orang lain yang amat menarik
perhatian. Yang seorang adalah Toat-beng-kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa) Giam San Ek yang
usianya sekitar empat puluh lima tahun.
Dia seorang pendekar selatan, ahli bermain pedang dan kabarnya, setiap kali jagoan ini mencabut
pedangnya, pedang itu tak akan kembali ke sarungnya sebelum minum darah lawan! Dia ditakuti sekali,
dan menjadi sahabat Siangkoan Lohan sejak lama. Tubuhnya sedang dan wajahnya masih tampan, apa
lagi karena dia pesolek, pakaiannya indah dan sikapnya agak ceriwis.
Orang ke dua nampak gagah tinggi besar, mukanya hitam matanya besar mengingatkan orang akan tokoh
cerita Sam-kok yang bernama Thio Hwi, dan hanya beberapa orang saja mengenal tokoh ini. Dia adalah
Ciok Kim Bouw, berusia lima puluh tahun dan dia menjadi pangcu (ketua) dari Cin-sa-pang, sebuah
perkumpulan di Secuan yang terkenal kuat pula. Ciok Kim Bouw tidak begitu akrab dengan Siangkoan
Lohan, tetapi mungkin karena mengingat akan kebesaran nama perkumpulannya, maka Siangkoan Lohan
lalu mengundangnya.
Orang ke tiga jelas merupakan seorang Mongol, nampak berwibawa dengan pakaian sukunya. Ia pun
bukan orang sembarangan karena dia adalah Agakai, kepala suku yang cukup besar dan berpengaruh di
Mongol. Agakai ini berusia lima puluh tahun lebih. Dia adalah putera Tailucin, tokoh Mongol yang amat
terkenal dan pernah menggemparkan, yang terbunuh oleh keluarga Pulau Es.
Agakai ini mengaku bahwa nenek moyangnya masih keturunan Jenghis Khan! Dia pun menjadi tamu
kehormatan, bukan karena kepandaiannya yang tidak seberapa hebat jika dibandingkan dengan tokohtokoh
yang semeja dengannya, tapi karena kedudukannya sebagai kepala suku yang berpengaruh di utara.
Pesta itu meriah karena hidangan yang serba lezat, arak wangi yang berlimpah-limpah dan terutama sekali
karena pesta itu diramaikan oleh serombongan gadis cantik yang memainkan musik, bernyanyi dan
menari. Mereka bukan rombongan penyanyi dari luar, melainkan para selir dari Siangkoan Lohan sendiri
yang memang terlatih memainkan alat musik, bernyanyi, dan menari.
Semua orang menjadi kagum mendengar bahwa gadis-gadis yang masih muda-muda dan cantik-cantik,
pandai bermain musik, menyanyi dan menari itu adalah selir-selir dari tuan rumah! Diam-diam di antara
para tamu muda banyak yang timbul perasaan iri hati! Jika orang sedang berbintang terang, pikir mereka,
semua kesenangan yang diinginkan tercapai! Kepandaian tinggi, kedudukan mulia, harta benda,
kehormatan, berkecukupan lahir batin dan dikelilingi wanita-wanita muda yang cantik-cantik!
Demikianlah kebiasaan kita, suka membayangkan keadaan orang lain yang dianggap serba lebih dari pada
keadaan kita. Kita selalu membayangkan hal-hal yang belum kita miliki, membayangkan hal-hal yang kita
anggap serba lebih indah, lebih menyenangkan, tanpa kita sadari bahwa semua bayangan keinginan ini
sungguh jauh bedanya dengan kenyataannya. Seperti bumi dengan langit bedanya.
Karena kita belum memilikinya, maka yang kita bayangkan itu hanyalah segi indah dan senangnya saja.
Padahal, tidak ada apa pun di dunia ini yang sifatnya hanya sepihak, hanya indah dan menyenangkan saja.
Kalau sesuatu itu menyenangkan, maka sesuatu itu pula pada suatu saat akan berbalik menyusahkan,
dunia-kangouw.blogspot.com
karena senang-susah merupakan dua hal yang kembar dan berpasangan, tidak terpisahkan pada akhirnya,
walau pun nampaknya tidak bersamaan.
Karena itu, orang yang tidak berkedudukan membayangkan betapa senangnya orang yang berkedudukan,
terhormat, mulia dan sebagainya. Sebaliknya, orang yang sudah berkedudukan, di samping
kesenangannya yang makin lama makin terasa menipis, juga mengalami segi-segi buruknya akibat dari
kedudukannya itu, misalnya pertanggungan jawabnya, iri hati dari orang lain, mereka yang ingin merebut
kedudukannya, resiko-resikonya, kebosanannya dan sebagainya lagi.
Demikian pula bagi yang tak memiliki harta, memandang dan membayangkan keadaan orang berharta
tentu saja yang dibayangkan hanya segi senangnya saja. Banyak uang, apa pun yang dikehendaki
tercapai! Padahal, tidak semua hal yang dikehendaki dapat dicapai dengan uang! Ketenteraman hati,
kedamaian, cinta kasih, semua itu tak dapat dicapai dengan uang segunung sekali pun.
Bagi yang sudah banyak uang, maka kenikmatan karena banyak uang sudah tak terasa, atau kalau pun
terasa, makin lama semakin menipis. Sebaliknya, gangguan-gangguan yang timbul karena banyak uang,
terasa setiap hari! Tiada bedanya dengan memiliki banyak selir cantik, dan lain-lain hal yang dianggap
kesenangan luar biasa bagi mereka yang belum mempunyainya.
Karena itu, seorang bijaksana akan waspada, tidak akan silau oleh semua gemerlap itu, sadar bahwa yang
berkilauan itu belum tentu emas, dan kesenangan sama sekali bukanlah kebahagiaan. Kesenangan hanya
sedalam kulit, bagaikan awan tipis berarak di angkasa, bagaikan angin semilir lembut dan semua itu hanya
akan lewat sebentar saja! Bahkan akan nampak betapa di balik kesenangan itu pasti bersembunyi saudara
kembarnya, yaitu kesusahan!
Maka, seorang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan, tidak akan menginginkan hal-hal yang belum
dimilikinya. Akan tetapi bukan berarti menolak kesenangan yang ada! Kesenangan hidup merupakan satu
di antara anugerah yang boleh dinikmati oleh setiap orang karena untuk menikmatinya kita sudah diberi
alat yang amat sempurna.
Dari seluruh tubuh kita tersedia sarana yang sempurna untuk menikmati kesenangan, yaitu kesenangan
yang ada pada kita. Sekali kita mengejar kesenangan, maka kita akan diperbudak oleh nafsu sehingga
terjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyelewengan-penyelewengan.
Di antara mereka yang duduk semeja dengan tuan rumah, terdapat seorang yang tidak kelihatan
segembira yang lain. Dia nampak acuh saja, hanya lebih sering minum arak dari pada makan hidangan
dan nonton pertunjukan hiburan. Bahkan alisnya sering kali berkerut dan sepasang matanya berkilat penuh
penasaran kalau memandang ke arah Siangkoan Lohan.
Orang ini adalah Ciok Kim Bouw, atau Cin-sa-pangcu. Hatinya kesal bukan main pada saat dia melihat Sinkiam
Mo-li berada di antara orang-orang yang duduk di panggung kehormatan bersama dia dan tuan
rumah beserta yang lain-lain. Dia mengenal siapa adanya Sin-kiam Mo-li! Seorang datuk sesat, seorang
iblis betina yang pernah secara kejam membunuhi beberapa orang murid Cin-sa-pang setelah terjadi
bentrokan antara mereka. Hal itu terjadi kurang lebih sembilan tahun yang lalu.
Ketika itu, Cin-sa-pang diketuai oleh suheng-nya yang bernama Louw Pa. Dia sendiri tidak mencampuri
pekerjaan suheng-nya yang memimpin Cin-sa-pang, karena dia tidak suka akan keadaan suheng-nya yang
pernah menjadi bajak laut. Ia lebih suka berkelana seorang diri dan memperdalam ilmu silatnya.
Akan tetapi, terjadilah peristiwa itu. Suheng-nya, Louw Pa, memiliki seorang putera yang bernama Louw
Heng Siok. Pemuda ini menarik perhatian iblis betina Sin-kiam Mo-li yang menangkapnya dan
mempermainkannya, kemudian membunuhnya. Mendengar ini, Louw Pa memimpin anak buahnya, lebih
dari tiga puluh orang banyaknya, menyerbu tempat kediaman Sin-kiam Mo-li, di kaki Pegunungan Hengtuan-
san di tepian Sungai Cin-sa.
Tempat itu berbahaya sekali dan akhirnya, Louw Pa dan seluruh anak buahnya tewas dibantai oleh Sinkiam
Mo-li dan kawan-kawannya. Hanya seorang saja yang sempat lolos karena belum memasuki daerah
itu sampai dalam, dan dialah yang menceritakan keadaan Louw Pa dan anak buahnya itu.
Melihat keadaan Cin-sa-pang sesudah suheng-nya tewas, Ciok Kim Bouw lalu turun tangan, membangun
kembali Cin-sa-pang, memperkuatnya, menerima anggota baru dan mengubah sama sekali cara hidup
dunia-kangouw.blogspot.com
Cin-sa-pang sehingga perkumpulan itu menjadi perkumpulan orang gagah yang cukup terkenal. Bukan lagi
perkumpulan para bajak!
Dan dia pun tidak mendendam kepada Sin-kiam Mo-li karena selain iblis betina itu lihai sekali, juga dia
menganggap bahwa kematian suheng-nya adalah karena kesalahannya sendiri. Akan tetapi, kini dia
didudukkan semeja, makan bersama dengan iblis betina itu! Tentu saja dia merasa tidak enak dan tidak
senang. Tak disangkanya bahwa Siangkoan Lohan yang dianggap sebagai seorang tokoh yang bersih, kini
bergaul dengan orang-orang seperti Sin-kiam Mo-li dan para tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai!
Sementara itu, pada bagian mereka yang duduk di ruangan dalam, di bawah panggung kehormatan,
banyak juga yang merasa penasaran. Apa lagi melihat sikap jagoan yang bernama Giam San Ek, yang
genit, banyak di antara mereka yang merasa muak. Giam San Ek agaknya sudah setengah mabuk.
Tanpa malu-malu setiap kali ada seorang selir habis menari, dia bangkit dari tempat duduknya,
menghampiri penari itu dan memberi hadiah beberapa potong perak dengan gaya yang royal! Siangkoan
Lohan tersenyum saja melihat hal ini. Toat-beng-kiam-ong Giam San Ek adalah seorang sahabatnya, dan
dia tahu benar akan kelihaian pendekar pedang itu, dan dia pun maklum bahwa sahabat ini adalah seorang
laki-laki yang mata keranjang dan paling suka wanita muda yang cantik, suatu kesukaan yang menjadi
kesukaannya pula.
“Ha-ha-ha-ha, Toat-beng-kiam-ong, kalau engkau suka, boleh engkau memilih satu dua orang di antara
mereka untuk menemanimu malam ini, ha-ha-ha!” Ucapan Siangkoan Lohan itu pun dikeluarkan tanpa
sungkan-sungkan, terdengar oleh banyak orang yang merasa semakin muak.
Tentu saja banyak pula di antara para tamu yang menjadi gembira dan menyambut ucapan itu dengan
sorakan. Akan tetapi, orang-orang yang menghargai kegagahan dan kesopanan, tentu saja menjadi merah
mukanya mendengar kelakar yang saru (tabu) itu.
Salah satu yang bermuka tebal adalah Si Raja Pedang Pencabut Nyawa sendiri. Saat mendengar
penawaran tuan rumah, dia tertawa bergelak dan dengan sikap genitnya dia melirik ke arah Sin-kiam Mo-li.
Sejak tadi memang pendekar pedang yang pesolek ini bermain mata dengan Sin-kiam Mo-li.
Meski pun datuk wanita ini sudah berusia lanjut, hampir setengah abad, namun harus diakui bahwa ia
masih nampak cantik jelita dan lemah lembut. Tubuhnya tinggi ramping dan masih padat berisi dan
montok, juga pandang mata dan senyumnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang sudah
matang!
Sifat-sifat ini jauh lebih menarik bagi Giam San Ek dari pada para selir tuan rumah yang masih muda-muda
dan dianggapnya tentu belum berpengalaman seperti Sin-kiam Mo-li. Juga kabar yang pernah didengarnya
tentang kelihaian Sin-kiam Mo-li, terutama dalam permainan pedang sehingga wanita itu dijuluki Pedang
Sakti, amat menarik hatinya dan membuat dia makin bergairah. Maklumlah bahwa dia sendiri juga seorang
jago pedang yang hebat.
“Ha-ha-ha-ha, Lohan, banyak terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi, para selirmu begini muda-muda
dan cantik-cantik, mana aku dapat bertahan melayani mereka? Dan pula, semenjak semula hatiku telah
terpikat oleh kehadiran pendekar wanita yang amat hebat, baik dalam hal ilmu pedang mau pun kecantikan
dan nama besarnya, sehingga mataku tidak dapat melihat lain wanita lagi!” Berkata demikian, dia
memandang kepada Sin-kiam Mo-li dengan senyum memikat.
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap sahabatnya yang dia tahu memang seorang yang mata
keranjang, Siangkoan Lohan juga tertawa lagi. Dia mengenal pula watak sahabatnya itu yang polos, maka
dia pun tidak mau berlaku sungkan lagi.
“Ha-ha-ha-ha, aku tidak heran, Kiam–ong, kalau kalian saling tertarik karena memang keduanya
merupakan ahli pedang yang sukar ditemukan tandingnya. Aihhh, Sin-kiam Mo-li, di antara sahabat sendiri
tidak perlu kita bersungkan-sungkan. Bagaimana kalau engkau dan Kiam-ong saling memperlihatkan ilmu
pedang masing-masing dalam suatu latihan bersama untuk meramaikan suasana pesta sederhana ini?
Kuharap kalian sudi memenuhi permintaanku, hitung-hitung menyumbang untuk menyenangkan hatiku
agar hidupku dapat lebih panjang.”
Semua orang merasa tegang, baik mereka yang ikut bergembira mau pun yang tidak senang mendengar
kelakar mereka berdua yang tidak sopan tadi. Mereka semua sudah mendengar akan nama Sin-kiam Mo-li
dunia-kangouw.blogspot.com
sebagai seorang wanita iblis yang amat lihai, juga ilmu pedangnya amat hebat, demikian pula nama Toatbeng-
kiam-ong Giam San Ek bukan nama yang tidak dikenal orang. Kalau kedua tokoh pedang ini
memperlihatkan ilmu pedang mereka tentu akan merupakan tontonan yang amat menarik.
Sin-kiam Mo-li yang merasa tertarik kepada si Raja Pedang yang memang tampan dan gagah, dan yang
sejak tadi melempar senyum dan kerling mata memikat kepadanya, kini tersenyum manis sekali. “Aihh,
Lohan, mana mungkin aku berani memperlihatkan kebodohanku di depan Raja Pedang? Jangan-jangan
nyawaku akan tercabut dalam beberapa jurus saja!” Tentu saja wanita ini menyindir karena julukan Giam
San Ek adalah Toat-beng Kiam-ong (Raja Pedang Pencabut Nyawa)!
Giam San Ek cepat bangkit berdiri dan menjura ke arah Sin-kiam Mo-li sambil berkata, “Aihh, Sin-kiam
Sian-li harap jangan merendahkan diri sedemikian rupa, membuat aku merasa malu saja. Sudah lama
mendengar nama besar Sian-li, sungguh besar sekali kebahagiaanku hari ini dapat bertemu dan jika Sian-li
sudi, aku akan merasa berterima kasih sekali menerima pelajaran cara memainkan pedang.”
Tentu saja hati wanita itu menjadi girang bukan main. Orang ini sangat pandai merayu dan mengambil hati,
pikirnya. Julukannya adalah Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), akan tetapi pria ini mengubah
sebutan Mo-li menjadi Sian-li yang berarti dari julukan Iblis Betina berubah menjadi Bidadari!
“Kata orang, belajar tak mengenal batas, maka biarlah aku menambah pengetahuanku tentang ilmu
pedang dari Kiam-ong,” katanya.
Dia pun bangkit lalu meninggalkan kursinya, menuju ke tengah panggung yang cukup luas, dan bersiap
menghadapi lawan untuk memperlihatkan kehebatan ilmu pedangnya.
Giam San Ek merasa gembira sekali. Dia pun meninggalkan kursinya, lalu berkata kepada Siangkoan
Lohan. “Lohan, semenjak dulu orang mengetahui bahwa sekali aku mencabut pedangku, maka pedang itu
takkan kembali ke sarungnya sebelum berubah warna menjadi merah. Akan tetapi, tentu saja terhadap Sinkiam
Sian-li aku tidak mau mempergunakan pedangku. Sungguh terlalu sayang kalau sampai ada secuwil
kulit dagingnya terluka pedang, segumpal rambutnya sampai terbabat putus. Sungguh pun aku akan
merasa bangga kalau tewas di ujung pedang seorang wanita perkasa seperti dirinya!” Kembali katakatanya
amat manis terdengar oleh Sin-kiam Mo-li, penuh pujian.
Siangkoan Lohan tertawa dan memberi tanda kepada anak buahnya untuk memberikan sebatang pedang
biasa kepada Raja Pedang itu. “Bagaimana dengan engkau, Mo-li? Apakah engkau pun tidak tega
terhadap Kiam-ong dan ingin mempergunakan pedang pinjaman yang tidak berbahaya?”
Sin-kiam Mo-li tersenyum dan ia pun mencabut pedangnya dengan tangan kanan, dan kebutannya dengan
tangan kiri. “Orang bilang bahwa pedang tidak bermata, akan tetapi aku yakin bahwa pedang dan
kebutanku bermata sehingga tidak ada bahayanya aku akan kesalahan tangan mencelakai Kiam-ong,
kecuali kalau dia menghendaki hal itu terjadi.”
Dalam ucapan Sin-kiam Mo-li ini pun terkandung sindiran bahwa apa yang akan terjadi akibat dari adu
kepandaian itu tentu saja tergantung dari Toat-beng Kiam-ong sendiri. Pendeknya, dia siap siaga untuk
mengimbangi sikap orang itu. Mau bersahabat dan hanya main-main, boleh, jika hendak bersungguhsungguh
dan bertanding mati-matian, ia pun tidak gentar!
Giam San Ek memandang kagum. Bukan main wanita ini, pikirnya. Sudah banyak dia menggauli wanita
sepanjang hidupnya, akan tetapi mereka itu selalu wanita muda yang cantik, dan belum pernah dia
bersahabat akrab dengan seorang wanita gagah perkasa seperti ini, maka gairahnya semakin berkobar.
“Sin-kiam Sian-li, mari kita main-main sebentar!” teriaknya gembira dan dia pun berseru untuk memberi
tanda bahwa dia mulai dengan serangannya.
Dan memang hebat serangannya itu. Agaknya untuk membuktikan bahwa julukannya sebagai Raja
Pedang tidaklah kosong belaka, begitu menyerang, pedangnya berkelebat dan lenyap bentuknya, berubah
menjadi sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan bunyi berdengung ketika menyambar ke arah Sin-kiam
Mo-li.
Semua orang menahan napas dengan kagum. Dari gerakan pertama ini saja sudah bisa dilihat bahwa
Giam San Ek memang seorang ahli pedang yang hebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun, sambil tersenyum manis Sin-kiam Mo-li mengelebatkan pedangnya menangkis dibarengi
kebutannya yang menyambar ke depan, ke arah pelipis kanan Raja Pedang. Gerakannya lembut, akan
tetapi dahsyat mematikan dan serangan balasan itu dilakukan ketika pedangnya menangkis pedang lawan,
sehingga merupakan serangan balasan yang langsung!
“Bagus…!”
Kiam-ong memuji sambil meloncat ke belakang. Dia menghindarkan kebutan lawan dan menarik kembali
pedangnya yang lantas diputar cepat untuk melindungi tubuhnya dari desakan lawan. Perkiraannya benar.
Begitu melihat lawannya mundur, Mo-li mendesak dengan serangan lanjutan, ujung kebutan menotok jalan
darah di pundak kanan lawan sedangkan pedangnya membabat pinggang.
“Tranggg...!”
Bunga api berpijar ketika dua batang pedang saling bertemu dan dengan gerakan indah Kiam-ong
mengelak dari totokan ujung kebutan. Pedangnya yang barusan menangkis, sengaja dipentalkan untuk
membalas dengan tikaman dari bawah menyerong, menuju ke lambung lawan.
Mo-li mengelak cepat dan balas menyerang, namun sekali ini, Kiam-ong mengeluarkan kelihaiannya.
Pedang itu berputar cepat membentuk gulungan sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga
serangan Mo-li kembali tertangkis. Bahkan sebagai balasan, ada sinar pedang mencuat ke arah pangkal
kebutan, dengan maksud untuk membabat putus bulu kebutan itu.
“Hemmm, bagus!” Sin-kiam Mo-li memuji dengan kagum karena sungguh indah gerakan pedang lawan.
Pantas orang ini dijuluki Raja Pedang karena memang gerakan pedangnya amat cepat, kuat dan indah
sekali. Dari gerakan dasarnya, dia dapat menduga bahwa agaknya si Raja Pedang ini memiliki dasar ilmu
silat pedang dari Bu-tong-pai. Tetapi tentu sudah dibaur dengan ilmu-ilmu pedang lain karena gerakangerakannya
mengandung gerakan ilmu pedang yang diperkuat tendangan dari daerah utara, juga
perputaran badan sambil memutar pedang seperti ilmu pedang dari Korea.
Betapa pun juga, dia harus mengakui bahwa lawannya memang lihai sekali bermain pedang. Lihai dan
memiliki tenaga yang dahsyat, juga kecepatan yang mengagumkan. Meski pun mereka hanya main-main
Mo-li harus mengakui bahwa andai kata ia hanya mengandalkan pedangnya, tanpa dibantu senjata
kebutannya yang dalam banyak hal bahkan lebih lihai dari pada pedangnya, agaknya akan sukar sekali
baginya untuk dapat memenangkan suatu pertandingan ilmu pedang melawan Raja Pedang ini.
Makin seru pertandingan itu, makin kagumlah para tamu karena baru sekarang mereka menyaksikan
pertandingan ilmu pedang yang sedemikian hebatnya. Siangkoan Lohan juga diam-diam merasa kagum.
Sebagai seorang ahli silat tinggi yang berpengalaman, dia pun tahu bahwa gulungan sinar pedang kedua
orang ahli itu amatlah berbahaya, baru sinarnya saja sudah cukup untuk dapat membunuh lawan!
Untuk membuktikan dugaannya, juga untuk menambah kegembiraan dan kekaguman mereka yang
menonton, tuan rumah ini mengambil delapan batang sumpit dari atas meja, kemudian satu demi satu dia
melontarkan sumpit-sumpit itu ke arah dua orang yang sedang bertanding ilmu silat pedang. Dan sumpitsumpit
itu begitu tersentuh sinar pedang, tanpa menimbulkan suara, berjatuhan ke atas lantai dalam
keadaan terpotong-potong, ada yang menjadi empat, tiga atau dua, seperti lilin-lilin lunak terpotong pisau
tajam saja!
Melihat ini, para tamu semakin kagum dan terkejut, juga ngeri. Pantas dikabarkan bahwa setiap kali
mencabut pedangnya, pedang itu tentu kembali ke sarungnya dalam keadaan berlepotan darah, kiranya
ilmu pedang dari Kiam-ong memang hebat. Akan tetapi, ternyata Sin-kiam Mo-li tidak kalah hebatnya,
nampak betapa wanita ini mampu menandingi kehebatan ilmu pedang Toat-beng Kiam-ong.
Setelah lewat kurang lebih lima puluh jurus, tiba-tiba dari dua gulungan sinar pedang itu nampak bunga api
berpijar dibarengi suara benturan pedang yang amat nyaring, disusul tubuh Kiam-ong meloncat keluar dari
arena pertempuran. Pedang yang dipegangnya, pedang pinjaman dari murid Tiat-liong-pang tadi, ternyata
telah buntung ujungnya! Dia tersenyum dan memberi hormat kepada Sin-kiam Mo-li.
“Sin-kiam Sian-li sungguh lihai bukan main! Aku mengaku kalah dalam pertandingan adu pedang. Akan
tetapi dalam hal pertandingan mengadu kekuatan di bidang lain, aku yakin akan mampu mengalahkanmu,
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian-li!” Ucapan ini bagi mereka yang sudah biasa bercakap-cakap dengan kata-kata yang tak senonoh
dan kata sandi yang mengandung makna dalam, memancing senyum mereka.
Tentu saja Sin-kiam Mo-li juga maklum apa yang dimaksudkan oleh Raja Pedang itu. Ia pun kagum akan
kelihaian orang itu yang tadi sudah banyak mengalah, maka sambil tersenyum manis dan melempar kerling
tajam penuh tantangan, ia pun menjawab,
“Di dalam bidang apa pun, aku siap menandingimu, Kiam-ong!” Jawaban ini membuat mulut-mulut yang
sudah tersenyum kini menjadi semakin lebar dan Siangkoan Lohan mengeluarkan suara ketawa bergelak.
“Ha-ha-ha, sungguh merupakan pertunjukan ilmu pedang yang sangat hebat! Terima kasih, Sin-kiam Mo-li
dan Toat-beng Kiam-ong, kalian berdua memang serasi sekali untuk menjadi pasangan dalam hal apa pun,
ha-ha-ha!”
Dua orang yang tadi bertanding pedang itu hanya tersenyum mendengar ucapan ini dan kini, seperti sudah
mereka sepakati bersama, keduanya lalu mengatur duduk mereka sehingga saling berdampingan
menghadapi meja makan, saling menuangkan arak dan bercakap-cakap secara mesra dan akrab tanpa
mempedulikan orang lain!
Sementara itu, ketua Cin-sa-pang yang semenjak pertama kali melihat kehadiran datuk-datuk sesat dalam
pesta itu sudah merasa tidak senang dan tidak puas, kini tak dapat lagi menahan kemarahannya. Kini jelas
sudah baginya betapa tuan rumah, Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang telah berbalik muka, mengikat
persahabatan dengan tokoh-tokoh sesat dan kaum pemberontak. Kalau tadi dia masih ragu-ragu dan
mengira bahwa Tiat-liong-pangcu itu hanya menganggap mereka semua sebagai tamu-tamu biasa saja,
kini dia merasa yakin bahwa ada sesuatu di antara mereka, semacam persekutuan dan tentu Siangkoan
Lohan memiliki hubungan yang mendalam sekali dengan orang-orang yang amat mencurigainya itu.
Tiada seorang pun pendekar gagah di mana pun juga yang akan sudi bergaul dengan orang-orang macam
Sim-kiam Mo-li, apa lagi dengan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw! Mereka adalah orangorang
yang berkedok agama dan perkumpulan, berpakaian pejuang, untuk menyembunyikan kejahatan
mereka. Mereka menyebarkan agama sesat, mengumpulkan kekayaan secara kotor, suka
mempermainkan wanita dan bersekongkol dengan para pembesar korup dan penindas rakyat.
Dan sekarang ketua Tiat-liong-pang bergaul dengan orang-orang seperti itu! Apa lagi melihat sikap yang
diperlihatkan Siangkoan Lohan terhadap Sin-kiam Mo-li dan Giam San Ek tadi, sungguh membuat hati Ciok
Kim Bouw ketua Cin-sa-pang menjadi panas sekali. Dia sudah banyak minum arak dan hawa minuman
keras ini pun menambah berkobarnya api kemarahan dalam hatinya.
“Brakkk...!”
Dia menggebrak meja, tentu saja mengejutkan semua orang yang duduk di panggung kehormatan itu dan
semua mata kini ditujukan kepada Ciok Kim Bouw. Laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang matanya
lebar sehingga mirip dengan tokoh Sam-kok yang bernama Thio Hwi itu sekarang bangkit berdiri dan dia
kelihatan gagah sekali. Mukanya berubah menjadi semakin hitam gelap karena warna merah yang
menjalar di mukanya akibat kebanyakan minum arak. Dia sama sekali tidak mabuk walau pun telah banyak
minum arak, namun hawa panas arak itu membuat hatinya yang sudah marah menjadi semakin bernyala
besar.
Sejenak dia memandang kepada semua tamu yang hadir semeja dengannya di tempat kehormatan itu,
kemudian dia menatap tajam kepada Siangkoan Lohan yang juga telah bangkit berdiri mengerutkan alisnya
melihat sikap tamunya ini. Siangkoan Lohan tidak pernah mempunyai hubungan akrab dengan ketua Cinsa-
pang, dan mengundangnya karena nama Cin-sa-pangcu ini memang terkenal sekali.
“Adakah sesuatu yang sudah tidak menyenangkan hatimu, Ciok-pangcu, maka engkau menggebrak
meja?” tanya Siangkoan Lohan sambil memicingkan mata menatap wajah tamunya itu penuh selidik.
“Siangkoan, Pangcu, seorang gagah tidak akan menyimpan penasaran di dalam hatinya dan sebaiknya
kalau penasaran itu dikeluarkan saja dengan terus terang! Karena itulah, kalau pernyataanku ini akan
menyakiti hati dan menyinggung, sebelumnya harap dapat dimaafkan.”
Suara ketua Cin-sa-pang ini lantang sekali sehingga terdengar oleh semua tamu, baik yang berada di
ruangan dalam bahkan terdengar pula oleh mereka yang duduk di luar. Mendengar ucapan yang lantang
dunia-kangouw.blogspot.com
ini, semua tamu menghentikan percakapan mereka sendiri. Suasana menjadi hening karena semua orang
mendengarkan penuh perhatian.
Siangkoan Lohan tertawa, “Ha-ha-ha, memang seharusnya demikian Ciok Pangcu. Nah, keluarkanlah isi
hatimu!”
“Kami semua sudah mendengar akan riwayat Tiat-liong-pang, mengenal perkumpulan besar ini sebagai
perkumpulan orang-orang gagah, dan diakui pula oleh pemerintah, bahkan keluarga pimpinannya juga
masih ada hubungan dekat dengan keluarga kaisar! Karena itu, pada waktu menerima undangan, kami
bergegas datang berkunjung untuk memberi hormat karena memang di dalam hati kami terdapat rasa
hormat kepada pimpinan Tiat-liong-pang yang gagah perkasa dan sudah banyak jasanya terhadap
pemerintah mau pun terhadap rakyat dengan pembersihan yang dilakukan terhadap para penjahat. Akan
tetapi, apa yang kami temukan di sini sungguh jauh dari pada dugaan kami semula! Di sini kami tidak
melihat adanya wakil pemerintah, juga tidak melihat partai-partai persilatan besar yang dipimpin para
pendekar. Sebaliknya kami melihat banyak orang yang tak sepatutnya hadir di sini, seperti orang-orang
Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, dan terutama sekali orang seperti Sin-kiam Mo-li. Siapakah yang tidak tahu
bahwa dia adalah seorang datuk sesat, seorang wanita iblis yang tidak pernah mengharamkan segala
macam perbuatan jahat? Siangkoan Lohan, pertemuan macam apa yang kini kau adakan? Pertemuan di
antara para penjahat dan pemberontak? Kalau begitu, sungguh amat mengherankan sekali!”
“Keparat bermulut lantang!” Tiba-tiba terdengar suara Sin-kiam Mo-li membentak.
Tubuhnya sudah melayang ke arah ketua Cin-sa-pang. Bagaikan seekor burung garuda saja, iblis betina
itu menyerang dengan loncatan melalui atas meja perjamuan mereka karena Ciok Kim Bouw duduk di
seberang. Melihat serangan dengan cengkeraman dua tangan ke arah kepala dan pundaknya itu, ketua
Cin-sa-pang maklum akan datangnya bahaya maut, maka dia pun lalu mengerahkan tenaga untuk
menangkis dengan kedua tangannya.
“Bresss...!”
Dua pasang lengan saling bertemu dan akibatnya, Ciok Kim Bouw hampir terpelanting, akan tetapi tubuh
Sin-kiam Mo-li juga terdorong ke samping di mana wanita itu dapat berjungkir balik dengan indahnya.
Keduanya telah meraba gagang senjata masing-masing saat Siangkoan Lohan berseru keras, “Kalian tidak
boleh membikin ribut di sini!”
Bentakan ini berwibawa sekali dan baik Sin-kiam Mo-li mau pun Ciok Kim Bouw tidak berani bergerak
melakukan serangan. Bahkan sambil tersenyum mengejek Sin-kiam Mo-li melangkah kembali ke kursinya
di dekat Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Akan tetapi Ciok Kim Bouw tetap berdiri dan kini dia saling
pandang dengan tuan rumah.
Wajah Siangkoan Lohan yang biasanya memang merah itu kini menjadi semakin merah dan matanya
mencorong tajam. Ada api kemarahan terpancar di dalamnya. Kemudian dia melirik ke arah para tamu
yang duduk di ruangan dalam. Alisnya berkerut ketika dia melihat kurang lebih dua puluh orang tamu
sudah bangkit berdiri dan sikap mereka seolah-olah mereka itu mendukung pernyataan ketua Cin-sa-pang
dan mereka semua itu kini memandang kepadanya dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan
dan keraguan.
Suaranya terdengar tegas ketika dia bicara, bukan ditujukan kepada Ciok Kim Bouw ketua Cin-sa-pang,
akan tetapi juga kepada semua tamu, terutama mereka yang berdiri dan nampaknya berpihak kepada
pernyataan Ciok Kim Bouw tadi.
“Ciok-pangcu, semua tamu yang kuundang adalah para sahabat dari semua golongan! Mereka yang
menjadi tamuku saat ini maklum belaka bahwa mereka datang untuk turut merayakan hari ulang tahunku
yang ke enam puluh. Pertemuan ini adalah murni pesta perayaan ulang tahun, bukan pertemuan yang
membicarakan urusan politik. Siapa yang kuundang itu merupakan hakku dan agaknya tidak perlu aku
minta nasehat darimu. Kalau engkau merasa tidak suka dengan pesta ini, engkau boleh pergi dan aku tidak
akan menahanmu! Siapa pun di antara para tamu yang tidak suka akan keadaan di sini, boleh saja pergi!”
Kalimat terakhir ini jelas ditujukan kepada para tamu yang masih berdiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar suara ketawa dan ternyata yang tertawa itu adalah Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Jagoan
ini merasa mendongkol bukan main melihat Sin-kiam Mo-li yang dianggapnya sebagai calon kekasih
barunya, tadi sudah dihina oleh orang, maka kini dia hendak melampiaskan rasa dongkolnya.
“Ha-ha-ha, sesudah kekenyangan makan dan minum, sengaja mencari alasan untuk mencela dan pergi.
Ha-ha-ha, sungguh tidak tahu malu!”
Mendengar ucapan ini dan melihat betapa Siangkoan Lohan ikut pula mentertawakan dirinya, Ciok Kim
Bouw membuka mulut dan memasukkan jari telunjuk kanan ke dalam tenggorokannya. Segera Cin-sapangcu
muntah-muntah dan keluarlah semua makanan dan minuman yang tadi memasuki perutnya!
“Siangkoan-pangcu, lihat semua yang kumakan dan kuminum sudah kukembalikan! Kini engkau dengarlah
baik-baik. Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai pernah membunuh tiga
puluh orang lebih murid-murid Cin-sa-pang! Aku tidak mendendam untuk itu karena memang pihak Cin-sapang
ketika itu ada pula yang bersalah. Akan tetapi, melihat betapa kini ia dan kawan-kawannya duduk
bersamaku di sini, sungguh aku merasa terhina sekali. Sekarang aku tantang Sin-kiam Mo-li atau orangorang
Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai!”
“Orang she Ciok!” Siangkoan Lohan membentak. “Engkau ini sungguh tidak tahu diri. Engkau adalah tamu,
mengerti? Dan aku tuan rumah! Aku larang engkau membikin rusuh di sini dan menantang para tamuku!”
“Kalau begitu, aku menantang engkau. Siangkoan Lohan, karena engkau kini telah menyeleweng dan
melindungi datuk-datuk sesat, dan sudah mengusirku berarti sudah pula menghinaku!” Setelah berkata
demikian, Ciok Kim Bouw lalu meloncat ke tengah panggung dan mencabut golok besarnya.
Bagi seorang gagah, nama dan kehormatan lebih penting dari pada nyawa. Dia tadi telah dihina orang,
bahkan diusir, maka satu-satunya jalan untuk mencuci penghinaan ini hanyalah mengadu nyawa di ujung
senjata.
Mendengar tantangan ini, semua tamu di ruangan dalam dan luar menjadi tegang. Tak mereka sangka
akan terjadi pertentangan seperti itu. Siangkoan Lohan sendiri menjadi marah, akan tetapi wajahnya yang
merah itu masih nampak tersenyum walau pun sinar matanya makin mencorong. Dia bangkit dari tempat
duduknya dan menjura kepada para tamunya, “Harap Cu-wi (Anda sekalian) suka memaafkan kami karena
kami terpaksa harus menyingkirkan dulu pengacau ini.”
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara halus. “Harap Ayah duduk saja dan biarkan aku yang mengusir
anjing yang banyak menggonggong ini.”
Semua orang melihat munculnya seorang pemuda. Begitu saja dia muncul dan tahu-tahu berada di atas
panggung. Entah dari mana datangnya. Mungkin karena semua orang tadi mencurahkan perhatian kepada
Ciok Kim Bouw dan Siangkoan Lohan, maka tidak melihat munculnya pemuda ini karena memang
pemunculannya amat luar biasa.
Bagaikan seekor burung walet saja tadi dia melompat dari bawah panggung kemudian hinggap di atas
panggung dengan sikap yang amat tenang. Mendengar ucapan pemuda ini, semua orang yang belum
pernah mengenalnya baru tahu bahwa inilah putera Siangkoan Lohan, putera dan anak tunggal yang
bernama Siangkoan Liong dan semua orang tertegun dan kagum.
Siangkoan Liong memang amat mengagumkan. Seorang pemuda bertubuh sedang dan berusia kurang
lebih dua puluh enam tahun, dengan wajah yang tampan sekali. Begitu tampannya wajah itu sehingga
seperti wajah wanita saja. Kulit mukanya putih halus, dengan hidung mancung dan bibir merah, akan tetapi
sepasang matanya mencorong seperti mata naga, seperti mata ayahnya dan alis yang tebal hitam itu
menghilangkan keraguan orang bahwa dia adalah seorang pria tulen.
Pakaiannya seperti seorang siu-cai (sastrawan) namun mewah, seperti biasa pakaian seorang pemuda
bangsawan terpelajar. Gerak-geriknya halus lembut dan seperti gerak-gerik seorang sastrawan tulen yang
tak mengenal ilmu silat. Padahal, ilmu silat pemuda ini tak kalah hebat dibandingkan dengan kepandaian
ayahnya, setidaknya sudah hampir menyusulnya.
Sekarang dengan sikapnya yang lembut, Siangkoan Liong menghadapi Ciok Kim Bouw. Sejenak mereka
saling pandang seperti dua ekor ayam jago yang saling menilai dan mengukur kekuatan lawan melalui
pandang mata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Paman, apa pun yang telah terjadi, engkau sebagai seorang tamu telah melakukan pelanggaran sopan
santun. Aku tidak tahu apa persoalannya dan tidak ingin pula tahu, akan tetapi aku melihat betapa dengan
sengaja Paman telah menumpahkan makanan dan minuman suguhan Ayah ke atas lantai, menimbulkan
kejijikan dan kotor. Karena itu, kalau Paman mau membersihkan kotoran yang Paman tumpahkan,
kemudian pergi dari sini dengan aman, aku pun menganggap urusan ini selesai dan akan mintakan maaf
kepada ayahku. Nah, bersihkan lantai itu, Paman.”
Biar pun sikap dan omongannya halus, namun Ciok Kim Bouw merasa terhina sekali. Bagaimana dia akan
dapat melihat dunia kang-ouw kalau dia menuruti permintaan ini, membersihkan lantai dari tumpahan
perutnya tadi, di depan sekian banyaknya para tamu?
“Orang muda, sikapmu jauh lebih baik dari pada ayahmu. Akan tetapi engkau tidak tahu kenapa aku
menumpahkan semua makanan itu ke atas lantai. Aku terpaksa melakukan itu, dan siapa pun yang
menyuruhku, aku tidak akan sudi membersihkannya. Terserah kepadamu, akan tetapi aku tidak sudi
membersihkan tumpahan itu!”
Sepasang mata yang jeli itu mengeluarkan sinar berkilat.
“Paman, aku tidak suka bermusuhan dengan siapa pun, akan tetapi aku tadi mendengar tantanganmu
kepada ayahku. Kalau engkau tidak mau membersihkannya, terpaksa aku akan mewakili Ayah untuk
memberi hajaran kepadamu.”
Sikap ini terlampau memandang rendah dan tentu saja Ciok Kim Bouw menjadi marah. Kiranya di balik
kelemah lembutan sikap pemuda ini tersembunyi kesombongan yang luar biasa.
“Orang muda, tidak perlu banyak cakap lagi. Keluarkan senjatamu dan mari kau coba untuk memberi
hajaran kepadaku!”, tantangnya sambil melintangkan golok besarnya di depan dada.
Golok besar dan berat, berkilauan saking tajamnya dan nampak mengerikan. Ciok Kim Bouw adalah
seorang yang lihai, dan dengan golok di tangannya, dia bagaikan seekor harimau tumbuh sayap. Para
tamu ingin sekali melihat bagaimana putera tuan rumah ini akan menghadapi Ciok Kim Bouw atau Cin-sapangcu
yang lihai itu dan senjata apa pula yang akan dipergunakannya.
Akan tetapi, betapa kaget dan heran hati mereka ketika melihat pemuda itu tersenyum berkata lembut,
“Paman, pergunakanlah golokmu, aku akan menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja.”
Ciok Kim Bouw sendiri terbelalak mendengar ini. Betapa sombongnya anak ini, pikirnya. Menghadapi golok
besarnya dengan tangan kosong? Siapa tokoh di dunia persilatan akan berani melakukan hal itu? Akan
tetapi, pemuda itu sendiri yang mencari penyakit. Dia akan menghajar pemuda ini, tentu saja dia tidak
berniat untuk membunuhnya atau melukainya secara hebat.
“Baiklah, agaknya engkau memiliki kepandaian yang setingkat mendiang guruku maka berani menghadapi
golokku dengan tangan kosong. Nah, bersiaplah untuk menerima seranganku, orang muda yang
sombong!”
Ciok Kim Bouw memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk mempersiapkan diri dengan memasang
kuda-kuda. Akan tetapi, pemuda itu tetap berdiri seperti tadi, seperti orang bermalas-malasan, dengan
kedua lengan hanya tergantung di kanan kiri, berdiri seenaknya.
“Aku sudah siap siaga, Paman. Mulailah dengan seranganmu!”
“Bagus! Lihat golokku!” bentak Ciok Kim Bouw sebelum menyerang dan di lain detik, goloknya telah
berubah menjadi sinar menyilaukan mata yang menyambar-nyambar. Golok itu membuat gulungan sinar
putih yang lebar, dan menyerang ke arah pemuda itu dari berbagai jurusan, bertubi-tubi dan susul
menyusul, ganas bagaikan seekor burung garuda menyambari anak-anak ayam.
Kalau tadinya para tamu merasa terkejut dan khawatir, kini mereka memandang dengan mata terbelalak
dan mulut celangap. Mereka melongo melihat betapa tubuh pemuda itu pun lenyap dan kini hanya nampak
bayangannya saja berkelebatan di antara gulungan sinar golok! Hebat bukan main tontonan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kiranya pemuda itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa sekali, yang membuat dia
dapat menyelinap di antara sambaran golok secara cepat.
Diam-diam Ciok Kim Bouw sendiri terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa putera Siangkoan Lohan
yang masih semuda itu telah memiliki ilmu yang demikian hebat. Dia merasa seperti menyerang sesosok
bayangan saja, maka kalau tadinya dia hanya ingin mengalahkan pemuda itu tanpa melukainya, hal itu kini
sama sekali tidak mungkin dan dia pun menyerang dengan sungguh-sungguh.
Ciok Kim Bouw mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu goloknya. Akan
tetapi, tetap saja bayangan pemuda itu tidak dapat tercium ujung goloknya, bahkan kini pemuda itu mulai
membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan yang cepat datangnya, yang beberapa kali hampir
saja mengenai tubuhnya.
Dari serangan balasan ini pun dia sadar bahwa selain ilmu meringankan tubuh yang hebat, pemuda itu
juga mempunyai sinkang (tenaga sakti) yang sangat kuat sehingga tamparannya didahului angin pukulan
yang mantap. Maklumlah dia bahwa dia sedang menghadapi seorang lawan yang sangat lihai. Pantas saja
pemuda ini tadi demikian sombongnya, tidak tahunya memang berkepandaian tinggi sekali.
Para penonton kini banyak yang melongo dan penuh kagum. Bahkan Sin-kiam Mo-li sendiri sampai
terbelalak kagum. Ia dapat menilai ilmu golok ketua Cin-sa-pang itu jauh lebih lihai dibandingkan dengan
mendiang Louw Pa, ketua Cin-sa-pang yang dulu.
Dia sendiri tentu akan sanggup merobohkan Ciok Kim Bouw, akan tetapi jelas tidak dengan kedua tangan
kosong! Dan kini apa yang dilihatnya? Seorang pemuda berusia muda sekali, paling banyak dua puluh
tahun, menghadapi ketua Cin-sa-pang itu dengan tangan kosong, bahkan ia melihat benar betapa pemuda
itu mempermainkan lawannya!
Bukan main! Dan pemuda itu demikian tampan, seperti perempuan! Kagumlah hatinya. Dia sudah
mendengar betapa tuan rumah hanya memiliki seorang anak, yaitu laki-laki yang tidak pernah
diperkenalkan kepada para tamunya. Bahkan ketika diadakan pesta tadi, pemuda ini tidak memperlihatkan
diri. Sekarang, kemunculannya menggegerkan orang.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lengannya. Sin-kiam Mo-li menengok dan ternyata Toat-beng Kiamong
yang menyentuhnya sambil memandangnya dengan alis berkerut. “Engkau kagum melihatnya? Ingat,
ada aku di sini...,“ bisik laki-laki itu, agak cemburu.
Sin-kiam Mo-li tersenyum dan memutar lengannya hingga tangannya dapat menangkap tangan Raja
Pedang itu, lalu digenggamnya sejenak sebelum dilepas lagi. “Ihhh, belum apa-apa sudah cemburu,”
bisiknya kembali. “Akan tetapi, hati siapa yang tidak kagum kepada pemuda itu? Masih begitu muda,
namun kepandaian silatnya sudah demikian lihainya!”
“Tidak perlu diherankan. Memang Siangkoan Liong amat lihai, mungkin sekarang malah sudah lebih lihai
dari ayahnya sendiri,” kata Giam San Ek yang mengenal baik keadaan keluarga sahabatnya itu.
“Ehhh?! Bukankah ayahnya yang menjadi gurunya?”
“Benar, guru pertama. Akan tetapi dua tahun yang lalu dia bertemu dengan seorang manusia dewa yang
menjadi gurunya...“
“Manusia dewa...?”
“Ssttt, lihatlah...!” kata Toat-beng Kiam-ong sambil menunjuk ke arah dua orang yang masih bertanding
dengan seru itu.
Sin-kiam Mo-li cepat menengok dan sekarang terjadi perubahan pada pertempuran itu. Gulungan sinar
golok menjadi lemah dan menyempit, dan ternyata pemuda itu yang kini mendesak dengan tamparantamparan
dan tendangannya yang dilakukan amat cepat dan dengan cara aneh dari segala posisi!
Akhirnya, betapa pun Ciok Kim Bouw hendak bertahan, sebuah tendangan mengenai tangannya yang
memegang golok, disusul totokan pada siku kanannya.
“Tranggg...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Golok itu terpaksa lepas dari tangannya dan jatuh ke atas lantai! Ciok Kim Bouw berdiri tegak, memegang
siku lengan kanan dengan tangan kiri dan memijit-mijitnya karena lengan kanan itu setengah lumpuh.
Kemudian dengan muka berubah agak pucat dia mengangguk ke arah Siangkoan Lohan dan berkata
dengan suara lantang,
“Siangkoan Lohan, aku Ciok Kim Bouw hari ini mengaku kalah terhadap puteramu. Sudahlah, aku memang
tidak berguna dan juga tidak sudi untuk bergaul dengan datuk-datuk sesat!”
Dia lalu memungut goloknya dan melangkah keluar dari tempat pesta. Dua puluh orang lebih yang tadi
mendukungnya, kini juga bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu tanpa banyak cakap. Mereka adalah
orang-orang yang selalu menentang golongan sesat, dan merasa betapa kini Siangkoan Lohan telah
berubah dan mereka tidak mau ikut terlibat dalam urusan persekutuan dengan datuk-datuk sesat.
Ketika mereka yang keluar dari tempat pesta itu tiba di ruang luar, ternyata masih ada lagi belasan orang
yang ikut pula meninggalkan tempat itu! Melihat ini, Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya.
“Siancai..., kalau mereka semua dibiarkan pergi, tentu gerakan kita akan gagal sebelum dimulai!” berkata
Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw itu kepada Siangkoan Lohan.
Ketua Tiat-liong-pang itu mengangguk-angguk sambil mengerutkan alisnya, kemudian memberi tanda
dengan tangan. Lima orang murid kepala cepat datang menghadap.
“Bawalah teman-teman dan saudara-saudara secukupnya, mereka tadi harus dibasmi. Kalian tahu apa
yang harus dilakukan,” katanya dan lima orang murid itu mengangguk, lalu menyelinap pergi.
“Aihh, ini adalah tugas kita bersama,” kata Sin-kiam Mo-li. “Aku akan membantu anak buahmu, Lohan.”
“Aku akan membantumu pula, Sian-li,” berkata Toat-beng Kiam-ong sambil bangkit dan mengikuti wanita
cantik itu.
Thian Kong Cinjin, wakil ketua Pat-kwa-kauw, bersama dengan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-kauw,
juga cepat-cepat bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu, bersama beberapa orang tokoh lain yang
sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.
Sesudah mengalahkan Ciok Kim Bouw, Siangkoan Liong bersikap acuh tak acuh saja melihat kesibukan
teman-teman ayahnya. Dia hanya mendekati ayahnya dan berkata lirih, “Ini akibat kekurang telitian Ayah
sendiri yang mengundang orang-orang itu.”
Setelah berkata demikian, dengan suara mengandung penyesalan, dia pun pergi masuk ke dalam gedung,
membiarkan ayahnya duduk kembali sambil mengerutkan alisnya…..
********************
Dengan hati penuh rasa penasaran dan kemarahan, Ciok Kim Bouw ketua Cin-sa-pang meninggalkan
perkampungan Tiat-liong-pang di lereng bukit itu, menuruni bukit dengan langkah lebar. Hatinya penuh
dengan perasaan marah dan malu, juga penasaran sekali. Jelaslah bahwa Tiat-long-pang mengambil jalan
sesat, bukan hanya bergaul dengan penjahat, datuk sesat, bahkan juga dengan tokoh-tokoh pemberontak.
Akan tetapi, Tiat-liong-pang kuat sekali, dan melihat betapa puteranya saja sedemikian lihainya, sulit diukur
bagaimana tingginya ilmu kepandaian Siangkoan Lohan. Ia bergidik kalau teringat akan kehebatan ilmu
silat lawannya yang masih muda remaja tadi.
Dia merasa menyesal bukan main. Semua waktunya selama puluhan tahun digunakan untuk belajar silat,
dan ternyata sekarang menghadapi seorang pemuda remaja saja dia kalah! Padahal dia menggunakan
golok yang diandalkan, sedangkan pemuda itu hanya bertangan kosong.
Tiba-tiba dia menggaruk siku lengan kanannya yang mendadak terasa gatal-gatal. Saat dia menggaruknya,
dia meringis karena begitu digaruk terasa panas bukan main. Dia berhenti melangkah dan menggulung
lengan baju untuk melihat lengannya. Terkejutlah dia melihat betapa di lengan bawah, di bawah siku,
terdapat tanda berwarna merah kebiruan sebesar jari tangan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Itulah kiranya yang terasa gatal dan panas! Makin terkejutlah dia ketika teringat bahwa saat dia dikalahkan
oleh pemuda tadi, bagian lengan itulah yang tertotok dan membuat lengannya lumpuh dan goloknya
terlepas. Agaknya totokan itulah yang mendatangkan bekas yang gatal dan panas ini.
Selagi dia hendak melanjutkan perjalanan dekat dengan kaki bukit itu, tiba-tiba ada dua sosok bayangan
orang berkelebat, kemudian terdengar suara seorang wanita tertawa mengejek. Dia mengangkat mukanya
dan nampak Sin-kiam Mo-li bersama Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek telah berada di depannya, berdiri
sambil tersenyum dan tertawa mengejek!
Ciok Kim Bouw tentu saja dapat menduga pula bahwa munculnya wanita ini pasti tidak mengandung niat
baik, maka dia pun sudah mencabut golok besarnya dan menghardik. “Iblis betina, mau apa engkau
menghadangku?”
“Hi-hi-hik, Cin-sa-pangcu! Selama ini aku tidak pernah tahu bahwa Cin-sa-pang sudah memiliki seorang
ketua baru seperti engkau. Sekarang, setelah kau berani menghinaku di tempat umum, engkau masih
bertanya lagi mau apa aku menghadangmu? Tentu saja untuk membunuhmu!”
“Bagus! Memang saat inilah yang kutunggu-tunggu, yaitu membunuhmu atau mati di tanganmu. Dan
engkau, Toat-beng Kiam-ong, apakah jagoan seperti engkau hendak membantunya mengeroyok aku?
Majulah, jangan kira aku takut menghadapi kalian!” tantangnya, mendahului lawan karena dia maklum
bahwa tentu orang ini berpihak kepada Sin-kiam Mo-li.
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, engkau sungguh tak tahu diri. Melawan
seorang pemuda remaja bertangan kosong saja engkau keok (kalah), perlu apa membantu Sian-li. Biar
engkau memecah diri menjadi rangkap sepuluh, akan mampus satu demi satu di tangan Sian-li!”
“Iblis betina, bersiaplah untuk mampus!” bentak Ciok Kim Bouw lantang sambil langsung menyerang
dengan goloknya.
Dia merasa betapa lengan di bagian dekat siku terasa nyeri, akan tetapi dia tidak peduli dan terus
menyerang sekuat tenaga dan dengan kemarahan meluap-luap. Dia sudah nekat karena maklum bahwa
sekali ini, akibat perkelahian itu hanya dua, yaitu kalah dan mati, atau menang dan hidup. Meski dia tahu
bahwa untuk menang amatlah sukarnya, apa lagi di situ berdiri si Raja Pedang yang pasti akan membantu
iblis betina itu, namun sedikitnya dia tidak merasa gentar dan menyerang dengan ganas dan dahsyat.
Sambil tersenyum mengejek, Sin-kiam Mo-li menggerakkan pedangnya menangkis dan membalas dengan
serangan kebutannya yang bulu-bulunya mengandung racun jahat. Ciok Kim Bouw mengelak dan
melakukan perlawanan mati-matian. Dia bahkan dengan nekatnya melancarkan gerakan-gerakan untuk
mengadu nyawa.
Akan tetapi, lengannya kini terasa semakin nyeri dan ngilu sehingga jari-jari tangannya kurang kuat
mencengkeram gagang goloknya. Terpaksa ia memindahkan gagang golok itu ke tangan kiri dan kini
melakukan perlawanan mati-matian dengan golok di tangan kiri.
Dia memang sudah melatih diri menggunakan golok dengan tangan kiri karena dia pun ahli bermain
sepasang golok. Akan tetapi bagaimana pun juga, tentu saja gerakannya tidaklah selincah kalau
menggunakan golok itu di tangan kanannya. Maka, tentu saja dia semakin terdesak.
Belum juga lewat dua puluh jurus, sebuah tendangan kaki kiri Sin-kiam Mo-li mengenai pahanya. Ia pun
terpelanting, dan untuk mencegah lawan menyusulkan serangan, ketua Cin-sa-pang itu terus bergulingan
di atas tanah sambil melindungi tubuh dengan putaran goloknya.
Sambil tertawa-tawa mengejek Sin-kiam Mo-li melakukan pengejaran sambil melecut-lecutkan cambuknya,
mengikuti ke mana tubuh lawan itu bergulingan. Sama sekali dia tidak memberi kesempatan kepada lawan
untuk melompat bangun kembali.
Dikejar seperti itu, Ciok Kim Bouw menjadi sibuk sekali. Bukan saja ia harus meiindungi tubuhnya, akan
tetapi juga keadaannya berbahaya sekali karena kalau dia meloncat bangun, tentu dia akan terkena
serangan pedang atau kebutan yang amat berbahaya itu. Kebutan yang dapat dipergunakan sebagai
cambuk, juga menotok atau menusuk bagaikan pedang karena dengan kekuatan sinkang bulu-bulu
kebutan itu dapat menjadi kaku seperti baja, sungguh amat berbahaya. Apa lagi tiap lembar bulunya
mengandung racun berbahaya!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, Pangcu dari Cin-sa-pang, sekarang engkau seperti seekor tikus yang lari ke sana-sini dikejar
kucing! Sian-li kenapa kau harus main-main dengan dia? Bunuh saja dengan cepat dan kita kembali ke
sana!” Laki-laki yang sudah tidak sabar karena ingin segera berduaan dengan kekasihnya itu mendesak.
Mendengar ini, Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara mengejek dan ia pun menggerakkan pedangnya untuk
melakukan serangan kilat yang amat hebat pada tubuh yang sedang bergulingan itu. Sukar agaknya bagi
Ciok Kim Bouw untuk mampu menyelamatkan diri dari serangan itu.
Akan tetapi mendadak Sin-kiam Mo-li mengeluarkan jeritan halus, lalu cepat menarik pedangnya kembali.
Cepat dia membalik ke kanan dan dia melihat seorang pemuda sudah berdiri tak jauh dari situ. Tahulah ia
bahwa yang menyambitkan kerikil kecil dan mengenai pundak kanannya sehingga lengan kanannya
menjadi kesemutan itu adalah pemuda ini! Dan ia pun terkejut ketika mengenal pemuda itu.
Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek merasa sangat heran melihat kekasihnya tidak jadi menyerang, dan ia
pun ikut memandang. Dilihatnya seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba putih berdiri di bawah
pohon, tak jauh dari situ. Juga Ciok Kim Bouw yang baru saja terlepas dari bahaya maut, sudah
bergulingan menjauh kemudian melompat berdiri, ikut pula memandang.
Pemuda itu berpakaian serba putih, sederhana sekali. Sinar matanya lembut dan pada mulutnya terhias
senyum ramah, sama sekali tidak menunjukkan kelebihan dan nampak seperti seorang pemuda petani
biasa saja. Namun, Sin-kiam Mo-li kelihatan amat kaget dan kemudian marah ketika ia melangkah maju.
“Bocah setan, kiranya engkau? Bukankah kau... kau ini... yang dari gurun pasir itu?” tanyanya ragu.
Walau pun ia masih teringat benar akan wajah yang sudah pernah dibelai, dirangkul dan diciuminya itu, ia
masih belum mau percaya. Pemuda yang pernah dirayunya sampai ia hampir gila karena dirangsang birahi
dan pemuda itu selalu dingin saja dan tidak pernah tergairah, adalah seorang pemuda yang lemah dan
sama sekali tidak mengenal ilmu silat. Waktunya baru berjalan setahun lebih sedikit, bagaimana mungkin
kini pemuda itu mampu menyambitkan kerikil yang membuat lengannya hampir lumpuh?
Pemuda itu memang Tan Sin Hong! Seperti telah kita ketahui, Sin Hong meninggalkan kota Ban-goan
untuk pergi ke kota raja. Ia hendak mencari hartawan she Lay, pengirim barang-barang berharga yang
mengakibatkan hancurnya keluarga ayah ibunya. Ingin dia menemukan hartawan itu, untuk menyelidiki
kematian ayahnya yang penuh rahasia, karena siapa tahu hartawan itu menyimpan rahasia dan dari dia
maka rahasia kematian ayahnya akan dapat dibongkarnya.
Dan pada hari itu, dia tiba di kaki bukit di mana terdapat sarang Tiat-liong-pang, tanpa disengaja, melihat
Ciok Kim Bouw yang terancam maut di tangan seorang wanita yang membuat darahnya berdenyut
kencang dan jantungnya berdebar. Dia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li,
seorang di antara datuk sesat yang telah menyerbu Istana Gurun Pasir yang mengakibatkan kematian tiga
orang gurunya.
Sin-kiam Mo-li yang pernah menggelutinya dan berusaha memperkosanya, kini tiba-tiba saja berada di kaki
bukit itu, sedang berusaha keras membunuh seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang dengan
susah payah membela diri. Walau pun dia tidak mengenal siapa pria bermuka hitam itu dan apa urusannya
berkelahi dengan Sin-kiam Mo-li, tanpa ragu-ragu lagi Sin Hong menyelamatkan pria itu dari ancaman
maut dengan menyambitkan sebuah kerikil kecil yang mengenai pundak kanan wanita iblis itu.
Sekarang dia menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan senyum, dan diam-diam dia bersyukur melihat kenyataan
bahwa pertemuan dengan wanita iblis yang sudah menyebabkan kematian ketiga orang gurunya itu sama
sekali tidak membangkitkan kemarahan atau kebencian dalam hatinya. Ini merupakan suatu kemajuan
dalam dirinya, pikir Sin Hong. Dia lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sin-kiam Mo-li tadi,
membuyarkan keraguan wanita iblis itu.
“Benar, Sin-kiam Mo-li, aku adalah pemuda gurun pasir itu, dan engkau ternyata masih saja mengumbar
kejahatan dan menyebarkan perbuatan kejam di mana pun engkau berada. Kini engkau bahkan hendak
membunuh orang yang sudah jelas-jelas tidak lagi mampu melawanmu,” Sin Hong menoleh ke arah Ciok
Kim Bouw yang berdiri agak jauh sambil memijit-mijit lengan kanannya, sedangkan golok tadi sudah
disarungkan kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciok Kim Bouw maklum bahwa baru saja dia terbebas dari maut karena kemunculan pemuda berpakaian
putih itu. Entah dengan cara bagaimana pemuda itu bisa membuat Sin-kiam Mo-li menghentikan
serangannya yang membuat dia kewalahan tadi. Kini dia memandang penuh perhatian, siap untuk
membantu pemuda itu. Bagaimana pun juga, kini muncul seorang yang agaknya dapat diharapkan akan
membantunya menghadapi musuh-musuhnya yang terlalu lihai baginya itu.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil