Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 16 Juni 2017

Istana Pulau Es 7

Istana Pulau Es 7
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Istana Pulau Es 7
Tiba-tiba orang yang bertopi bulu domba itu mengelak sambil meloncat ke tempat rombongan Maya.
Seperti tidak disengaja, dia turun dan hendak menginjak pundak Can Ji Kun untuk dipergunakan sebagai
landasan! Tentu saja Ji Kun tidak sudi pundaknya diinjak. Dia miringkan tubuh, tangannya menyambar ke
atas menotok lutut orang dan sambil berteriak kaget orang itu roboh terguling!
Lawannya yang berjenggot pendek menerjang maju, melampaui kepala Yan Hwa, dan gadis itu pun
menampar ke atas, mengenai tulang betis Si Jenggot Pendek yang terjungkal pula menimpa tubuh
lawannya. Mereka berdua sudah cepat meloncat bangun, menahan rasa nyeri pada lutut dan tulang betis,
kemudian keduanya tiba-tiba bersuit keras sambil meloncat ke pintu.
“Tangkap mereka!” Kedua orang itu berseru dan dari luar masuklah puluhan orang tentara yang bersenjata
lengkap, sedangkan di luar pintu masih tampak banyak sekali anggota tentara. Jumlah mereka ada seratus
orang lebih!
“Berpencar! Lari...!” Maya berbisik.
Maklumlah dia bahwa perkelahian antara dua orang tadi hanyalah sandiwara belaka. Agaknya mereka
adalah panglima-panglima yang menyamar dan melakukan penyelidikan. Kota Sian-yang di utara telah
kebobolan karena adanya penyelundupan mata-mata musuh yang lihai, maka kini Koksu Bu Kok Tai tidak
mau membiarkan hal itu terulang di kota Siang-tan. Dia maklum bahwa mata-mata musuh hanya dapat
menyelinap masuk di antara pengungsi, maka dia mengatur rencana itu untuk mengetahui siapa di antara
pengungsi-pengungsi yang berkepandaian tinggi dan mereka itu harus ditangkap untuk diperiksa.
Kalau ternyata mata-mata, tentu akan dihukum mati, sebaliknya kalau bukan mata-mata, akan dapat
dipergunakan untuk membantu mempertahankan kota. Siasat ini dilakukan pada saat yang sama dan
sandiwara perkelahian itu bukan hanya terjadi di tempat Maya dan teman-temannya berkumpul saja, akan
tetapi juga di tempat-tempat lain di mana para pengungsi berkumpul. Pada saat pasukan-pasukan
menyerbu ke ruangan itu, di lain tempat juga terjadi hal yang sama, yaitu penangkapan-penangkapan atas
diri orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, yang terkena pancingan perkelahian palsu tadi!
Maya dan empat orang temannya cepat meloncat dan menyerbu ke luar. Dua orang yang tadi
bersandiwara cepat memerintahkan pasukan mengurung lima orang ini dan terjadilah pertandingan yang
jauh berbeda dengan perkelahian antara dua orang tadi. Pertandingan sekali ini adalah pertempuran
sesungguhnya, bahkan mati-matian karena kalau Maya berlima tidak akan menyerah sampai mati, adalah
para pimpinan pasukan itu ketika menyaksikan kelihaian lima orang itu menjadi makin curiga bahkan
hampir yakin bahwa lima orang itu tentulah mata-mata musuh.
Pengepungan dilakukan ketat sekali, namun Maya, Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa melayang naik, membobol
langit-langit dengan kepandaian mereka dan dari atas mereka melempar-lemparkan genteng ke bawah
untuk membantu Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang menerjang ke luar melalui pintu. Kepandaian
kedua orang panglima pembantu Maya ini hebat sekali, terutama Kwa-huciang yang hanya tinggal sebelah
lengannya. Semenjak lengannya buntung, panglima yang setia ini menerima gemblengan ilmu dari Maya
sehingga dia malah lebih lihai dari pada sebelum lengannya buntung sebelah.
Kacau-balaulah pihak tentara Sung. Dari atas ada hujan genteng yang dilepas dengan sambitan keras
sekali, siapa yang terkena pasti roboh dengan kepala pecah atau tubuh terluka parah, sedangkan dua
orang laki-laki itu mengamuk seperti dua ekor singa. Akhirnya kedua orang itu berhasil membobol ke luar
dari gedung itu.
Ternyata malam hari itu di seluruh kota terjadi geger karena penyergapan di tempat-tempat pengungsi
yang dilakukan serentak. Kepanikan penduduk dan kegelapan malam membuka kesempatan baik bagi
Kwa-huciang dan Theng-ciangkun sehingga dengan berpencar mereka akhirnya dapat melarikan diri dari
dunia-kangouw.blogspot.com
para pengejarnya. Maya, Yan Hwa dan Ji Kun yang berada di atas genteng segera diserbu oleh anak
panah yang dilepas oleh para anggota pasukan panah dari bawah.
“Kita berpencar,” Maya cepat berkata setelah meruntuhkan semua anak panah yang menyambar ke
arahnya seperti yang dilakukan oleh dua orang pembantunya pula, “Jangan lupa, pada hari yang
ditentukan berkumpul di kuil tua itu!” Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya melesat, Maya telah lenyap
dari situ ditelan kegelapan malam.
Ji Kun dan Yan Hwa juga cepat menggunakan ginkang mereka, berloncatan di atas rumah-rumah
penduduk kota dan menghilang. Maka gegerlah keadaan kota, pasukan-pasukan dikerahkan untuk mencari
lima orang mata-mata musuh itu.
Dengan gerakannya yang luar biasa cepatnya, Maya lari seorang diri ke arah timur. Selama dia menjadi
panglima, dara perkasa itu tiada henti-hentinya melatih diri dengan ilmu silatnya, bahkan kecerdasannya
membuat dia mampu mengembangkan dan memperbaiki jurus-jurus simpanannya sehingga dari jurusjurus
ilmu silatnya dia dapat menciptakan banyak sekali jurus silat yang aneh dan juga amat lihai. Dari
banyak pertandingan yang dialaminya ketika berperang melawan musuh, dia dapat menemukan banyak
gerakan-gerakan aneh dari macam-macam lawan dan semua ini ditampungnya, diolah dan karena dia
berbakat mencipta, maka tanpa disadari, Maya telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silatnya.
Apa lagi ketika ia menerima buah sian-tho dari Pangeran Bharigan, semacam buah yang langka, yang
didapat jauh dari utara dekat kutub dan merupakan barang pusaka dari Kerajaan Mancu, maka dara ini
memperoleh tenaga sinkang yang dahsyat. Buah sian-tho ini bagi orang biasa mengandung khasiat daya
pengobatan yang lebih mujarab dari pada jin-som, akan tetapi bagi seorang ahli sinkang seperti Maya,
dapat membangkitkan hawa sakti yang membuat sinkang-nya yang dilatih secara istimewa di Pulau Es itu
menjadi lebih kuat lagi.
Maya tidak berani berhenti dan berputaran mencari tempat yang baik untuk memulai dengan
penyelidikannya. Dia harus dapat menemukan markas di mana tinggal Koksu dan para panglima agar dia
dapat mengintai dan mendengarkan rencana siasat mereka. Hanya inilah jalan yang paling baik, karena
untuk menyelidiki sendiri keadaan pertahanan musuh, selain berbahaya juga akan memakan waktu lama
sekali.
Kota itu amat besar, dan dia tidak tahu di antara gedung-gedung yang banyak sekali itu, yang mana
menjadi tempat tinggal Koksu dan para panglimanya. Dia harus bekerja dengan hati-hati sekali. Koksu Bu
Kok Tai bukanlah orang sembarangan, dan dia maklum akan kelihaian para panglima pengawalnya,
sungguh pun Panglima Dampit telah tewas.
Menjelang pagi, Maya menuju ke pinggir tembok kota sebelah timur ketika ia mendengar suara ribut-ribut di
sana. Disangkanya bahwa seorang di antara anak buahnya menghadapi bahaya, maka dia cepat menuju
ke tempat itu dan siap untuk menolong kalau benar seperti yang dikhawatirkannya. Dia mendekam di atas
sebuah wuwungan dan melihat seorang laki-laki sedang dikeroyok oleh banyak tentara.
Laki-laki itu tidak tampak jelas mukanya di dalam cuaca yang gelap, akan tetapi gerakannya hebat sekali!
Bukan Kwa-huciang, juga bukan Theng-ciangkun, akan tetapi gerakannya malah lebih lihai dari pada
kedua orang pembantunya. Bahkan mungkin tidak di sebelah bawah kelihaian Can Ji Kun sendiri! Diamdiam
Maya menjadi heran sekali. Orang itu lihai, pikirnya, dan kenyataannya bahwa dia dikeroyok tentaratentara
Sung membuktikan bahwa orang itu tentulah seorang penyelundup dari luar pula. Akan tetapi dari
mana?
”Mundur kalian semua! Orang-orang tolol tidak mengenal orang! Aku adalah putera seorang panglima!”
Laki-laki itu mengamuk, merobohkan para pengeroyok sambil membentak-bentak.
“Ha-ha-ha, di kota berkeliaran mata-mata dan biar kau mengaku putera raja sekali pun, siapa mau
percaya? Kami tidak pernah bertemu denganmu!” Pimpinan pasukan yang mengeroyok tertawa dan
pengeroyokan menjadi makin ketat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar bahwa orang lihai itu mengaku sebagai putera Panglima, Maya mendapatkan sebuah akal
yang cerdik dan berani. Kalau dia bisa menolong dan mengikat persahabatan dengan orang itu, tentu amat
berguna bagi penyelidikannya, pikirnya dan dia lalu melompat turun langsung menyerbu para tentara yang
mengurung pria itu.
“Heiii... kau... ehhh... !” Pria itu bukan lain adalah Suma Hoat!
Ketika dia menyusul ayahnya di kota Siang-tan dan menyaksikan kekacauan malam itu, dia sengaja keluar
untuk melihat apa yang terjadi. Dalam penyelidikannya inilah dia dicurigai dan dikepung oleh pasukan yang
memang belum pernah melihat pemuda yang belum lama kembali ke tempat asalnya itu.
Maya tidak mempedulikan seruan pemuda itu. Pada waktu itu banyak panglima berpakaian preman untuk
menjadi penyelidik dan menangkapi mata-mata. Seorang panglima yang berpakaian preman
menyerangnya dari belakang dengan sebatang pedang. Dengan mudah saja Maya membalikkan tubuh,
membiarkan pedang lawan dan sekali tangan kanannya bergerak, pedang itu telah dirampasnya dan
sebuah tamparan tangan kirinya membuat Panglima Sung itu terpelanting dan roboh telentang di depannya.
“Heiiii... kau... Nona... siapa dan mengapa...?” Suma Hoat mengelak dari sebuah tusukan tombak dan
menoleh kepada Maya, tergagap saking herannya ketika melihat seorang dara yang demikian cantik jelita
tahu-tahu datang membantunya!
Melihat wajah Maya ia tepesona dan terbelalak. Dia telah gila! Mengapa sekarang dia pun terpesona,
jantungnya berdebar tidak karuan menyaksikan wajah dara ini? Sungguh mati dia harus mengakui bahwa
getaran jantungnya ketika melihat wajah itu sama sekali berbeda dengan getaran nafsu kalau dia melihat
wanita-wanita cantik! Wajah ini... luar biasa sekali, lebih cantik dari pada mendiang Ciok Kim Hwa, lebih
jelita dari pada wajah Khu Siauw Bwee! Mungkinkah dia begitu mudah jatuh cinta sekarang?
Apakah setelah beberapa bulan ini dia menghentikan petualangannya sebagai Jai-hwa-sian, dia lalu
mudah tergila-gila dan jatuh cinta dalam arti kata yang murni terhadap setiap gadis cantik yang
dijumpainya?
Akan tetapi, kalau tadi dia terpesona oleh wajah itu, oleh kecantikannya, kini dia terpesona menyaksikan
betapa pedang rampasan di tangan dara jelita itu berkelebatan merupakan gulungan sinar yang luar biasa
sekali dan semua senjata para pengurungnya patah disambar sinar yang bergulung-gulung. Hebat bukan
main! Mengapa dia selalu bertemu dengan dara-dara yang seperti bidadari namun memiliki kepandaian
seperti iblis?!
Biar pun Maya mengamuk, namun dia berhati-hati sekali, tidak mau membunuh seorang pun tentara yang
kalau dalam perang tentu akan dibasminya sebanyak mungkin itu. Dia tidak mau menghadapi kesulitan
yang tentu timbul kalau sampai dia melakukan pembunuhan.
“Bunuh mata-mata... !” terdengar teriakan keras.
Seorang panglima lain yang mukanya seperti tengkorak, berpakaian preman, melayang turun dari atas
genteng, terjun ke dalam medan pertempuran itu. Setelah dekat, ternyata muka seperti tengkorak itu lebih
mirip muka kuda. Suma Hoat membalikkan tubuhnya dan orang bermuka kuda itu terbelalak, lalu berseru,
“Kongcu...!”
“Eh, Siangkoan Lee! Engkau di sini...?” Suma Hoat juga berseru.
“Saya mengawal kereta Taijin, itu di sana...” Siangkoan Lee, pelayan dan juga murid Suma Kiat itu cepat
membentak, “Tahan senjata! Apakah kalian sudah buta? Kongcu ini adalah putera Suma-goanswe
(Jenderal Suma)!”
Para komandan pasukan mengenal Siangkoan Lee, maka tentu saja mereka terkejut mendengar ini dan
mengeluarkan aba-aba untuk menghentikan pengeroyokan. Sementara itu, ketika Maya melihat munculnya
Siangkoan Lee, dan mendengar bahwa pemuda tampan yang dibantu itu adalah putera Suma Kiat,
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi kaget setengah mati. Celaka, pikirnya. Dia telah salah pilih! Tanpa berkata sesuatu dia sudah
meloncat ke atas genteng dan menghilang di dalam gelap.
“Heiiii, Nona...” Tunggu...!” Melihat dara perkasa yang telah mengguncang jantungnya itu melompat pergi,
Suma Hoat cepat meloncat pula mengejar.
“Apakah dia mata-mata?” tanya Siangkoan Lee.
“Mata-mata hidungmu!” Suma Hoat memaki. “Dia sahabatku! Katakan kepada Ayah nanti aku datang
menghadap!” Tanpa menoleh Suma Hoat melanjutkan pengejarannya terhadap bayangan hitam yang
meloncat-loncat ke atas genteng rumah-rumah penduduk itu.
“Heii, Nona! Tunggu, aku mau bicara...!”
Maya mengerutkan kening. Kalau dia menggunakan ginkang-nya, biar pemuda itu memiliki kepandaian
tinggi, tak mungkin pemuda itu dapat menyusulnya. Juga kalau dia menghadapi pemuda itu, biar pun dia
tahu bahwa pemuda itu cukup lihai namun dia percaya akan dapat membunuhnya. Akan tetapi, kalau hal
itu terjadi, Si Pemuda tentu akan mengejar dan berteriak-teriak, dan kalau sampai dia kedapatan oleh para
penjaga, padahal malam telah hampir pagi, dia bisa celaka. Maya mengigit bibir menahan kesabaran
hatinya, demi keselamatannya sendiri. Mengingat bahwa pemuda ini adalah putera Suma Kiat yang amat
dibencinya, ingin dia menggerakkan pedang membunuhnya!
Dia terpaksa berhenti dan membalikkan tubuh. “Engkau mau bicara apakah?”
Kebetulan sekali mereka berhenti di atas genteng rumah yang terkena sorotan sinar dari bawah sehingga
wajah dara itu tampak jelas di bawah sinar remang-remang. Sekali lagi jantung di dalam dada Suma Hoat
seperti jungkir-balik. Wajah ini... luar biasa cantiknya. Kecantik-jelitaan yang aneh, asing dan belum pernah
selama hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis berwajah seperti ini.
“Nona, maafkan aku... setelah Nona tadi menolongku, bagaimana aku dapat membiarkan kau pergi begitu
saja sebelum aku menghaturkan terima kasih?”
“Aku tidak mengharapkan terima kasih,” jawab Maya singkat.
“Akan tetapi, setelah Nona menolongku, tidak mungkin aku bersikap begitu tak kenal budi. Setidaknya,
harap Nona sudi berkenalan. Namaku Suma Hoat, dan siapakah Nona yang cantik jelita seperti bidadari
namun berkepandaian setinggi langit?”
Berkerut alis Maya. Laki-laki ceriwis, pikirnya, sungguh pun dia harus mengakui bahwa putera Jenderal
Suma Kiat ini ternyata amat tampan, suaranya halus gerak-geriknya menarik.
“Aku melihat seorang dikeroyok, lalu datang membantu. Hal itu biasa saja. Aku melakukannya bukan untuk
memancing terima kasih, bukan pula mengharapkan perkenalan. Sudahlah...!”
Melihat gadis itu sekali mencelat melayang ke wuwungan di depan, Suma Hoat terkejut dan takut kalaukalau
takkan dapat bertemu lagi, maka dia pun cepat mengejar sambil berseru, “Nona, tunggu...!”
Maya berhenti dan membalikkan tubuh, membentak, “Engkau mau apa lagi?!”
Suma Hoat kini sudah tergila-gila benar menyaksikan sikap yang demikian keras, sifat yang liar dan penuh
kewibawaan, namun juga amat manis. Maka dia mengambil keputusan untuk dapat berkenalan dengan
dara ini. Cinta kasihnya yang pertama terhadap Ciok Kim Hwa putus, kemudian cinta kasihnya yang kedua,
cinta kasih murni terhadap Khu Siauw Bwee juga gagal karena gadis itu telah mencinta orang lain dan dia
tidak berani bermain gila terhadap gadis yang ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es itu. Kini dia
merasa jatuh cinta untuk ke tiga kalinya, bukan cinta birahi seperti terhadap semua wanita yang pernah
dipermainkannya, melainkan cinta sungguh-sungguh! Dia tidak mau gagal lagi sekarang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nona, aku berniat baik, mengapa Nona menolak perkenalan? Kalau aku tidak berniat baik terhadap dirimu,
tentu aku sudah berteriak bahwa Nona adalah seorang mata-mata dan Nona akan dikepung oleh ribuan
orang tentara!”
“Hemm, begitukah? Kalau begitu mampuslah engkau!” Pedang rampasan di tangan Maya menyambar
ganas merupakan sinar kilat menyambar ke arah leher Suma Kiat.
Pemuda ini terkejut bukan main. “Aahhhh...!”
Ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik dengan cepat. Kembali sinar pedang menyambar dan
keringat dingin keluar membasahi dahi Suma Hoat ketika dengan pengerahan ginkang sekuatnya kembali
dia melempar diri ke kiri sambil mengebutkan ujung lengan bajunya ke belakang.
“Brettt!” Ujung lengan baju itu buntung karena benar seperti dugaannya, sinar pedang itu kembali telah
menerjangnya untuk ketiga kalinya dengan gerakan yang bukan main cepatnya.
“Tahan, Nona...!” Ia meloncat ke belakang, loncatan yang indah sekali karena tubuhnya masih menghadap
kepada Maya. “Aku sudah memperlihatkan niat baik dengan tidak membuka rahasiamu, apakah engkau
seorang yang begitu kejam dan tidak mengenal budi, membalas iktikad baik orang dengan serangan maut?”
Maya diam-diam kagum juga. Tiga kali dia menyerang sungguh-sungguh, dengan jurus-jurus maut, namun
pemuda itu masih mampu menyelamatkan diri, hal itu berarti bahwa pemuda itu telah memiliki tingkat
kepandaian yang tinggi, tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Can Ji Kun. Dan ucapan yang halus
penuh teguran itu, betapa pun juga membuat kedua pipinya merah. Ingin dia memperkenalkan diri dan
terus menyerang, membunuh pemuda ini karena bagi dia, seluruh keluarga Suma Kiat harus dibunuh!
Akan tetapi dia teringat akan pekerjaannya sebagai penyelidik, maka dia berkata angkuh, “Aku tidak
membutuhkan iktikad baikmu, dan aku pun tidak takut kalau engkau hendak membuka rahasia!”
Bukan main, pikir Suma Hoat. Gadis ini benar-benar angkuh, seperti seorang puteri kaisar saja! Seorang
dara yang ilmu kepandaiannya amat tinggi, wajahnya amat cantik jelita, dan wataknya amat tinggi pula!
“Dengarlah dulu, Nona. Nona adalah seorang mata-mata, berarti Nona memusuhi Kerajaan Sung, dan aku
pun adalah seorang yang tidak memihak Kerajaan Sung. Dengan demikian, kita berada di satu pihak. Dan
penjagaan di sini amat ketat dan kuat. Nona tidak dapat bergerak leluasa, apa yang akan dapat Nona
selidiki? Bahkan banyak bahayanya Nona akan terkepung dan celaka. Akan tetapi aku dapat bergerak
leluasa dan aku dapat menyelidiki dan memberi tahu kepadamu apa yang kau ingin ketahui. Aku suka
membantumu, Nona. Nah, apakah Nona masih hendak membunuhku?”
Maya memutar otaknya. Pemuda putera musuh besar ini harus dibunuh, akan tetapi apa yang
dikatakannya mengandung kebenaran. Dia harus bersikap cerdik. Sebagai seorang panglima perang yang
sudah biasa menahan perasaan pribadi demi siasat dan keuntungan pihaknya, Maya lalu berkata,
“Begitukah? Ucapanmu harus dibuktikan lebih dulu. Sekarang apa yang hendak kau lakukan dengan aku,
setelah engkau tahu bahwa aku adalah seorang mata-mata?”
Wajah Suma Hoat girang bukan main. “Pertama-tama, Nona harus mempunyai tempat persembunyian
yang baik dan aku mempunyai sebuah rumah kecil yang kosong dan yang takkan ada yang berani
mengganggu atau memasukinya. Nona boleh mempergunakan rumahku itu sebagai tempat bersembunyi.
Hanya di waktu malam saja Nona dapat melakukan penyelidikan dan di waktu siangnya Nona boleh
bersembunyi di situ. Kemudian, aku dapat membantu mencari keterangan yang sekiranya tak dapat Nona
peroleh sendiri. Bagaimana?”
Maya kembali terdiam dan berpikir, kemudian dia berkata sambil menurunkan pedangnya, “Kalau aku tidak
dengar tadi bahwa engkau adalah putera Jenderal Suma Kiat yang kutahu bukanlah seorang pembesar
yang setia terhadap Kerajaan Sung, tentu aku tidak percaya omonganmu. Betapa pun juga, ketahuilah
bahwa di samping aku menerima penawaranmu, aku tetap tidak percaya kepadamu dan sedikit saja
engkau memperlihatkan sikap mencurigakan, aku pasti akan membunuhmu. Jangan engkau kira bahwa
aku tidak dapat melakukannya! Nah, tunjukkan di mana rumah itu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mari, Nona! Aku tak perlu bersumpah, akan tetapi Suma Hoat bukanlah seorang yang biasa mengeluarkan
kata-kata yang berlainan dengan isi hati! Bukan seorang pengecut yang untuk menolong nyawa sendiri
melakukan penipuan-penipuan rendah!” Dia meloncat dan dara perkasa itu pun meloncat di belakangnya.
Untuk menguji nona itu, Suma Hoat mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat, namun betapa pun
cepatnya dia berloncatan dan berlari, bayangan gadis itu tetap berada di belakangnya! Diam-diam dia
makin kagum, dan di lain pihak, Maya juga kagum karena pemuda ini benar-benar lihai sekali.
Rumah kecil itu memang milik Jenderal Suma Kiat yang mempunyai banyak rumah di kota Siang-tan.
Rumah itu kosong dan sebagai rumah pembesar itu, tentu saja tidak akan ada yang berani
mengganggunya.
Setelah mereka memasuki rumah itu dan duduk berhadapan di ruangan dalam, Suma Hoat berkata, “Siang
ini harap Nona bersembunyi di sini. Nona sudah mengenalku, harap Nona suka memperkenalkan diri dan
menceritakan kedudukan Nona agar aku dapat mencarikan keterangan yang Nona kehendaki.”
Maya mengerutkan alisnya. Malam telah berganti pagi dan sinar matahari yang mulai menyinari ruangan itu
membuat ia dapat melihat wajah Suma Hoat dengan jelas. Wajah yang tampan dan sama sekali tidak
kelihatan jahat, bahkan wajah yang akan menarik hati wanita mana pun! Akan tetapi pertanyaan itu tidak
menyenangkan hatinya. Dia tidak mungkin mengakui dirinya sebagai Panglima Pasukan Maut, hal ini
terlalu berbahaya karena kalau Suma Hoat mengetahui, belum tentu dia mau memegang janji. Dia terlalu
penting bagi Kerajaan Sung yang akan mempertaruhkan apa saja untuk menangkap panglima wanita yang
telah banyak merugikan Kerajaan Sung itu.
“Suma Hoat, ingatlah bahwa bukan aku yang menghendaki kerja sama ini, melainkan engkau! Aku hanya
berjanji bahwa kelak aku akan memperkenalkan diri kepadamu, akan tetapi untuk saat ini, cukup untuk kau
ketahui bahwa aku adalah seorang mata-mata dari barisan Mancu, tanpa nama! Masih belum terlambat
bagimu untuk kau menarik diri, aku pun tidak terlalu mengharapkan bantuanmu!”
Suma Hoat terbelalak, bukan hanya oleh kata-kata yang keras dan penuh keangkuhan ini, melainkan juga
karena terpesona oleh wajah yang kini tampak jelas olehnya. Kulit muka itu agak kecoklatan karena
tertimpa sinar matahari, namun wajah itu benar-benar luar biasa cantiknya, terutama sekali matanya yang
bersinar-sinar seperti bintang pagi, mulutnya yang manis dalam gerakan apa pun juga. Dari seluruh
kepribadian gadis ini mengakibatkan getaran di hatinya, getaran yang dirasainya ketika ia bertemu dengan
Khu Siauw Bwee. Tak salah lagi, dia jatuh cinta untuk ketiga kalinya, dan mungkin yang terakhir ini paling
parah! Rasanya dia rela berkorban apa pun juga untuk dapat menjadi suami gadis ini!
“Baiklah, aku tidak boleh terlalu banyak mengharap sebelum memperlihatkan kemauan baikku, Nona.
Hanya aku yakin bahwa Nona bukanlah seorang berbangsa Mancu, dan juga bukan seorang gadis Han...”
“Cukup semua ini. Kalau kau memang hendak membantuku, aku ingin mengetahui kekuatan yang menjaga
benteng Siang-tan ini, berapa besar bala tentaranya, siapa komandan-komandannya, dari mana akan
didatangkan bala tentara kalau benteng terdesak, dan apa macamnya jebakan-jebakan dan barisan
pendam di luar tembok benteng, dari mana datangnya pasukan inti kalau musuh datang, di mana
ditempatkannya barisan panah.”
Suma Hoat melongo. Benar-benar seorang mata-mata yang hebat, pikirnya, dan agaknya menguasai
benar pekerjaan perang!
”Aku akan berusaha mendapatkan keterangan-keterangan itu, Nona. Di kamar belakang sebelah kanan
terdapat bahan-bahan makan dan minum untukmu. Aku akan pergi mencari keterangan untukmu, malam
nanti aku akan datang. Harap Nona jangan meninggalkan tempat ini sebelum gelap.”
Maya mengangguk, akan tetapi sebelum Suma Hoat tiba di pintu dia memanggil. ”Tunggu dulu!”
Suma Hoat membalik dan menatap wajah itu, beberapa kali menelan ludah. Bibir itu! Mata itu! Ingin dia
berlutut dan menyatakan cinta kasihnya di saat itu juga! Akan tetapi, menghadapi seorang wanita seperti ini,
dunia-kangouw.blogspot.com
dia tidak boleh lancang dan sembrono. Dan sekali ini dia tidak boleh gagal, cinta kasihnya harus mendapat
sambutan, kalau tidak, dia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi kalau kembali cintanya berantakan!
“Ada pesan apakah, Nona?”
“Hanya sebuah pertanyaan yang kuminta kau jawab dengan sebenarnya, karena kalau kau membohong
tiada gunanya. Kenapa engkau melakukan ini semua? Kenapa engkau membantu aku, padahal aku tahu
pasti bahwa engkau bukanlah seorang sekutu Kerajaan Mancu?” Setelah bertanya demikian, sambil
menanti jawaban Maya memandang dengan sinar mata tajam yang seolah-olah menembus dan
menjenguk isi hati pemuda itu.
Suma Hoat merasa silau dan karena memang dia tidak menyembunyikan sesuatu, memang perasaannya
terhadap gadis itu sudah jelas dan wajar, maka dia menentang sinar mata tajam itu sambil menjawab
dengan hati terbuka sehingga suaranya tenang dan jujur. “Aku sengaja membantumu bukan karena
engkau mata-mata Mancu, Nona, juga bukan karena dalih dan pamrih apa pun juga, melainkan sematamata
karena aku ingin membantumu karena aku kagum kepadamu, dan karena ada dorongan di hatiku
yang membuat aku ingin berkorban apa juga demi untukmu. Nah, sampai jumpa!”
Suma Hoat membalikkan tubuhnya tanpa menanti reaksi dari pertanyaannya yang hampir membuka
rahasia hatinya itu. Dia sudah nekat dan pasrah andai kata gadis itu menjadi marah dan menyerangnya.
Akan tetapi tidak terjadi sesuatu, sehingga ketika tiba di luar rumah hati Suma Hoat lega bukan main,
bukan lega karena dia tidak diserang atau dibunuh, melainkan lega penuh harapan karena kalau gadis itu
tidak marah, berarti dia sudah menang separuh!
Memang Maya tidak berbuat sesuatu. Gadis itu telalu heran mendengar jawaban yang ia yakin bukan
bohong itu. Terlalu heran dan terlalu kaget sehingga dia hanya duduk melongo sampai pemuda itu lenyap
dari depannya. Barulah ia sadar dan menarik napas panjang. Gila! Putera Suma Kiat menaruh hati cinta
kepadanya! Hemmm, berkali-kali dia digoda cinta kasih pria, dari Can Ji Kun yang masih harus diragukan
cintanya yang mungkin palsu, sampai Pangeran Bharigan yang tak dapat diragukan lagi cinta kasihnya.
Namun mana mungkin dia memperhatikan, apa lagi membalas cinta kasih pria lain kalau hatinya sudah dia
serahkan sebulatnya kepada suheng-nya, Kam Han Ki?
Hampir Maya menitikkan air mata ketika ia teringat akan suheng-nya, teringat betapa pertemuannya
dengan suheng-nya amat menyakitkan hati. Dia sudah mengaku cinta, sudah rela meninggalkan semua ini,
melupakan semua dendamnya, tidak lagi mencampuri urusan dunia, ikut sehidup semati dengan suhengnya
di Pulau Es, memadu cinta sampai hayat meninggalkan raga, asal saja suheng-nya tidak membagi
kehidupan mereka berdua dengan kehadiran Siauw Bwee.
Akan tetapi suheng-nya tidak mau! Sungguh menyakitkan hatinya dan menurut patut, tidak seharusnya dia
mati-matian mencinta orang yang begitu tak tahu dicinta! Sudah sepatutnya kalau dia memperhatikan,
mungkin membalas cinta kasih yang murni dari Pangeran Bharigan, atau memperhatikan sinar mata
mengandung kasih yang begitu mesra dan menggairahkan yang terpancar dari mata Suma Hoat!
“Alhh, Suheng..., Suheng...!” Ia mengeluh, hatinya merintih, namun kekerasan hatinya membuat dia
pantang menitikkan air mata.
Ia melupakan kedukaan hatinya dengan mencurahkan pikiran kepada tugasnya sebagai mata-mata. Apa
pun yang akan terjadi dengan gejolak hatinya, yang terang pekerjaannya akan berhasil baik dengan
bantuan seorang putera jenderal! Bahkan kalau dia bisa mempengaruhi Suma Hoat untuk membujuk
Jenderal Suma Kiat membantu penyerbuan pasukan Mancu dari dalam kota Siang-tan, tentu akan mudah
menalukkan kota benteng yang amat kuat ini!
--- dunia-kanguw.blogspot.com ---
Kedua orang panglima pembantu Maya yaitu Kwa-huciang dan Theng-ciangkun, berhasil menyelamatkan
diri dari kepungan. Dengan menyamar sebagai pengemis mereka dapat menyelinap di antara banyak
pengemis yang berkeliaran di kota itu, yang berkelompok di emper-emper kuil, di bawah jembatan, di
pasar-pasar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Berbeda dengan dua orang ini, Ji Kun dan Yan Hwa tidak sudi untuk menyamar sebagai ngemis dan
bercampur dengan orang-orang yang berbaju kotor, berbadan kotor dan berbau apek itu. Di dalam
keadaan terancam ini, timbul cinta kasih antara Ji Kun dan Yan Hwa sehingga ke mana pun mereka lari
bersama, saling melindungi dan tak mau saling berpisah.
Memang demikianlah sifat dan watak kedua orang ini. Di waktu ada bahaya saling menolong dan saling
melindungi tanpa mengingat akan keselamatan diri sendiri, namun dalam keadaan bebas dan damai,
keduanya selalu bertengkar dan tak mau saling mengalah. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa
Sepasang Pedang Iblis yang berada di tangan mereka itu mengeluarkan pengaruh mukjizat dan jahat
sekali, yang menambah persaingan di antara mereka karena dengan mengandalkan pedang masingmasing,
mereka tidak mau mengalah dan hal inilah yang merupakan penghalang rasa cinta kasih mereka
yang sebetulnya amat mendalam itu.
Ketika kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasil lolos dari kepungan para prajurit, mereka bersembunyi
di wuwungan rumah lalu berunding sebentar. Tak lama kemudian mereka berhasil menyambar dua orang
prajurit yang berada di tempat terpisah, melucuti pakaian mereka dan dengan mengenakan pakaian prajurit
mereka menyelinap di dalam kegelapan malam, kemudian berhasil lolos ke luar dari kota melalui pintu
gerbang sebelah selatan, yaitu pada saat diadakan penggantian penjaga. Barulah para penjaga tahu
bahwa dua orang di antara mereka adalah palsu ketika Ji Kun dan Yan Hwa berlari cepat meninggalkan
pintu gerbang. Pengejaran dilakukan, akan tetapi tak mungkin pasukan itu dapat menandingi ilmu lari cepat
dua orang murid Mutiara Hitam ini. Apa lagi malam yang gelap segera menelan bayangan mereka.
Setelah berlari jauh, dua orang muda itu meninggalkan pakaian prajurit dan duduk mengaso dalam sebuah
hutan, di atas akar pohon menonjol. Yan Hwa agak terengah-engah dan gadis ini membereskan rambutnya
yang tadi awut-awutan karena tadi disembunyikan dalam topi prajurit. Melihat rambut sumoi-nya terurai, Ji
Kun segera memeluknya dan menciumnya. Yan Hwa tertawa dan balas mencium dengan mesra.
Pengalaman berbahaya tadi mendekatkan hati mereka dan ciuman-ciuman mereka menambah mesra
perasaan hati. Akan tetapi ketika Ji Kun hendak berbuat lebih jauh lagi, Yan Hwa mendorong dadanya
dengan halus.
“Ihhh...! Tugas belum selesai ingin yang bukan-bukan!”
Ji Kun tertawa. Buyarlah hasrat hatinya. Sambil mempermainkan rambut kekasihnya yang panjang hitam
dan gemuk, dia berkata, “Kita telah bebas. Sungguh berbahaya sekali!”
“Malu kita melarikan diri terbirit-birit seperti dua ekor tikus. Enci Maya dan yang lain-lain tentu sedang sibuk
melakukan penyelidikan di dalam kota, sedangkan kita berada jauh di luar kota, enak-enakan. Sungguh
harus malu!” Yan Hwa mencela.
”Aihh, bukankah kita sudah bersepakat untuk lari keluar kota? Engkau tidak mau menyamar sebagai
pengemis.”
“Ihh, jijik!”
“Kita terpaksa lari ke luar karena keadaan amat berbahaya. Dengan keributan seperti itu dan penjagaan
amat ketat di dalam kota, biar pun kita berada di sana juga tak mungkin dapat bekerja. Pula, apakah hanya
di dalam kota saja yang perlu diselidiki? Kurasa menyelidiki di luar tembok benteng tidak kalah pentingnya,
menyelidiki barisan pendam mereka, dan pertahanan pertama mereka. Selain itu, kalau keadaan di kota
sudah mereda, masuk lagi ke sana apa sukarnya bagi kita?”
“Habis, sekarang kita mau apa?” Yan Hwa bertanya.
Ji Kun tertawa, “Menanti sampai matahari terbit, baru nanti mencari jalan menyelidiki ke dekat tembok
benteng. Sekarang, sambil menanti, mau apa lagi, Sumoi yang manis?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia memeluk lagi dan sekali ini Yan Hwa juga timbul kasih sayangnya, melayani cumbu rayu suheng-nya.
Keduanya tenggelam dalam gelombang asmara, akan tetapi Yan Hwa yang rebah dengan telinga
menempel tanah tiba-tiba mendorong dada kekasihnya.
“Ada barisan datang...!”
Ji Kun terkejut. Keduanya melompat bangun, lalu dengan cekatan seperti dua ekor burung, mereka
melompat ke atas, menyambar dahan pohon dan dalam beberapa detik saja dua orang yang lihai itu telah
berada di puncak pohon tertinggi, mengintai ke sana-sini. Akhirnya mereka melihat lampu bergerak-gerak
di selatan, dan akhirnya beberapa pasang lampu itu berhenti.
“Apakah itu?” Yan Hwa bertanya.
“Menurut suaranya tentu derap kaki kuda, dan lampu-lampu itu tak salah lagi, tentu lampu kendaraan
kereta. Mereka berhenti di sana, hayo kita menyelidiki!”
Dengan cepat sekali, tanpa mengeluarkan suara, kedua orang muda itu mendekati tempat itu dan melihat
bahwa rombongan yang berhenti itu adalah rombongan terdiri dari empat buah kereta yang dikawal ketat
oleh pasukan pengawal sejumlah lima puluh orang. Ketika tenda-tenda kereta yang berkumpul itu
tersingkap, dengan heran sekali Yan Hwa dan Ji Kun melihat gadis-gadis cantik yang duduk di dalam joli
kereta, setiap kereta terisi enam orang gadis cantik. Mereka itu kelihatan berduka, ada pula yang menangis
terisak.
Ji Kun dan Yan Hwa menyelinap di antara pohon-pohon, mendekati komandan dan para pembantunya
yang duduk mengelilingi api unggun, mendengarkan percakapan mereka.
”Dalam keadaan terancam penyerbuan barisan Mancu, mengumpulkan siuli (gadis cantik calon selir
pangeran atau raja), sungguh mementingkan kesenangan sendiri saja,” seorang perwira mengeluh.
“Hati-hati dengan mulutmu!” Komandan pasukan yang berpakaian panglima membentak bawahannya,
“Bukan tidak ada gunanya kalau Suma-goanswe menyuruh kita mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk
Pangeran Ci Hok Ong di Siang-tan. Kita hanyalah pelaksana, perlu apa memusingkan sebab-sebabnya?”
“Akan tetapi, mengapa kita bermalam di sini, tidak langsung terus ke Siang-tan?” tanya seorang perwira
lain.
“Hemm, orang-orang kang-ouw tentu tidak membiarkan perampasan wanita-wanita cantik ini, dan hutanhutan
di depan amat besar. Lebih aman melewatkan malam di sini, besok pagi baru melanjutkan
perjalanan. Kalau kita disergap di dalam hutan, tentu akan sulit mempertahankan penumpang-penumpang
itu. Jumlah mereka sudah dihitung, dan kita akan celaka kalau sampai hilang seorang saja. Suma-goanswe
tentu akan menghukum kita!”
Ji Kun dan Yan Hwa saling pandang di dalam gelap, kemudian Ji Kun mendekatkan mulutnya di telinga
kekasihnya dan berbisik, “Kesempatan baik untuk kita!”
Ia lalu berbisik-bisik mengatur rencana. Sumoi-nya mengangguk-angguk, sehingga pipinya yang halus itu
menyentuh dan mengusap hidung dan mulutnya, membuat Ji Kun tidak tahan untuk tidak mencium pipi itu.
Sebuah cubitan dari Yan Hwa memperingatkannya dan mereka lalu berpencar, siap melaksanakan
rencana yang dibisikkan Ji Kun tadi.
Tak lama kemudian terdengar pekik kesakitan dan seorang di antara pengawal yang sedang berdiri
menjaga di sebelah kanan roboh. Keadaan menjadi kacau dan semua pengawal lari ke tempat itu di mana
terdapat Ji Kun mengamuk di dalam gelap. Para perwira cepat menghunus golok dan mengepung, akan
tetapi sekali melompat, Ji Kun telah lenyap ke dalam kegelapan hutan kecil itu karena dia melihat
bayangan sumoi-nya yang berkelebat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang seperti direncanakan semula, ternyata sumoi-nya telah berhasil menculik seorang di antara gadis
siuli dari kereta terdepan. Terdengar jerit para siuli lainnya dan ketika para pengawal melihat bahwa yang
terculik adalah gadis yang paling cantik, mereka menjadi bingung, marah dan khawatir bukan main.
Panglima pasukan marah-marah dan terdengar bentakan-bentakannya, “Hayo cari dia! Kalau tidak dapat
terampas kembali, nyawa kita menjadi taruhan!”
Akan tetapi para pengawal sudah dibikin gentar oleh ketangkasan Ji Kun tadi dan mereka menyaksikan
bayangan yang melarikan siuli tadi pun seperti iblis saja. Pula mereka berada di hutan yang gelap, ke
mana harus mencari? Betapa pun juga karena takut kepada komandan mereka, takut pula kalau
kehilangan itu akan dilimpahkan kepada mereka, dengan obor di tangan para pengawal itu mencari di
sekitar tempat itu.
Namun Yan Hwa dan Ji Kun sudah berada jauh di tengah hutan besar dan gadis cantik itu kini tidak takut
lagi. Bahkan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Yan Hwa dan Ji Kun sambil berkata,
“Terima kasih atas pertolongan Ji-wi, entah bagaimana saya dapat membalas budi pertolongan Ji-wi yang
membebaskan saya dari mala-petaka ini.”
Cuaca pagi kemerahan membuat Ji Kun dapat meneliti wajah gadis itu yang sesungguhnya cantik manis.
Dia lalu memegang kedua pundak gadis itu, diangkatnya bangun sambil tersenyum. “Manis, kami tidak
mengharapkan balasan dan aku akan cukup puas kalau engkau membalasnya dengan sebuah ciuman!”
Berkata demikian, dia memeluk dan mengecup bibir gadis itu yang tentu saja menjadi tersipu-sipu, dan
ketika Ji Kun melepaskan pelukannya, gadis itu terhuyung ke belakang dan menangis.
“Suheng! Engkau... engkau...!” Yan Hwa membentak marah tangannya meraba gagang pedang.
“Eiiitt, Sumoi. Engkau cemburu?”
“Tentu saja! Hanya sebegitukah cintamu kepadaku? Engkau pernah tergila-gila kepada Enci Maya dan
sekarang... katakan, siapa yang kau cinta? Gadis ini?”
“Wah-wah, apakah engkau anak kecil? Tentu saja hanya engkau yang kucinta, sedangkan yang lain-lain
termasuk gadis ini, hanya tubuhku saja yang tertarik, bukan hatiku. Apakah engkau tidak mernbolehkan
suheng-mu bersenang-senang sedikit?”
“Hemmm... laki-laki ceriwis mata keranjang! Lihat saja nanti pembalasanku kalau ada kesempatan. Eh,
bocah, kami telah menyelamatkanmu dan sekarang bersembunyilah di sini. Jangan pergi ke mana-mana
sebelum lewat hari ini atau engkau akan tertawan lagi dan mendapat hukuman. Kami pergi!”
Yan Hwa dan Ji Kun meloncat dan berkelebat pergi meninggalkan gadis itu yang menjadi ketakutan sekali
dan menangis di antara semak-semak belukar di mana dia ditinggalkan seorang diri. Dia seorang gadis
yang lemah, dan biar pun dia kini telah dibebaskan, namun ditinggalkan seorang diri di tempat itu, tentu
saja dia ketakutan dan tidak tahu ke mana harus pergi. Untuk kembali ke kampungnya, dia tidak mengenal
jalan.
Ketika beberapa orang anak buah pasukan pengawal mencari-cari sampai pagi dan tiba di pinggir hutan
besar, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita muda yang cantik sedang sibuk mengumpulkan kayu kering.
Wanita ini bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang sengaja memperlihatkan sikap terkejut dan takut melihat
datangnya tujuh orang pengawal berikut seorang perwira pengawal itu. Dia menjerit, melepaskan kayukayu
kering yang dikumpulkannya lalu melarikan diri. Tentu saja dia berlari biasa seperti lari seorang gadis
lemah dan sebentar saja ia telah tertangkap, kedua lengannya dipegang dari kanan kiri oleh dua orang
pengawal.
“Ha-ha-ha-ha, engkau hendak lari ke mana?” Seorang di antara mereka berkata.
”Ehhh..., ini bukan dia!” Perwira pengawal berseru kaget setelah melihat Yan Hwa. “Dia hanya seorang
gadis dusun, akan tetapi... hemmm, aku berani bertaruh dia tidak kalah cantik menarik dari pada siuli yang
lenyap tadi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar, dia jelita sekali!” Para anak buahnya berkata dan semua mata memandang Yan Hwa dengan
kagum.
Kedua pipi Yan Hwa menjadi merah dan dia pura-pura meronta sambil berteriak, “Kalian siapakah?
Mengapa aku ditangkap?”
“Anak baik, engkau tinggal di mana?” Perwira itu bertanya.
“Aku tinggal di sebuah dusun di luar hutan di seberang sana. Aku mencari kayu bakar untuk di jual...” Yan
Hwa menjawab ketakutan, matanya yang indah bening terbelalak.
”Apakah engkau melihat orang-orang di dalam hutan besar ini?”
Yan Hwa menggeleng kepala.
“Hemmm...,” Sang Perwira menggosok-gosok jenggot pendeknya. “Bawa dia kepada Ciangkun, kurasa
jalan satu-satunya hanyalah menggantikan yang hilang dengan dia ini.”
Yan Hwa menjerit-jerit ketika dipaksa ikut bersama mereka menuju ke rombongan kereta dan di situ dia
menjadi tontonan semua pengawal. Panglima yang memimpin pasukan pengawal mendengarkan laporan
perwira dan mengangguk-angguk. “Memang tidak ada jalan lain yang lebih baik lagi. Eh, Nona muda.
Siapa namamu?”
“Nama saya Yan Hwa, she Ok,” jawab Yan Hwa yang tidak khawatir memperkenalkan nama aslinya karena
namanya memang tidak terkenal.
“Dengar, Ok Yan Hwa. Engkau ingin mati atau hidup?” Suara panglima itu terdengar kereng dan penuh
ancaman.
Dengan sinkang-nya yang sudah tinggi tingkatnya, Yan Hwa dapat membuat jalan darahnya terhenti
sehingga mukanya menjadi pucat. “Saya... saya ingin hidup, Tai-ongya...”
“Hushh! Aku bukan kepala perampok!” bentak Si Panglima yang disebut tai-ong (raja besar), sebutan yang
biasa dipergunakan orang terhadap kepala perampok. “Sebut aku Tai-ciangkun, mengerti?”
“Baik, Tai-ciangkun...”
“Kalau engkau ingin hidup, mulai sekarang engkau harus menjadi seorang di antara gadis-gadis cantik di
dalam kereta ini untuk dipersembahkan kepada Pangeran Ciu Hok Ong di Siang-tan. Engkau tidak boleh
menceritakan tentang peristiwa malam ini kepada siapa pun juga. Katakan bahwa engkau adalah seorang
di antara mereka yang kami pilih. Kalau engkau menurut, engkau akan hidup mewah dan mulia di istana
Pangeran, mungkin menjadi selir Pangeran yang terkasih, sedikitnya menjadi pelayan istana. Kalau
menolak, sekarang juga kusembelih lehermu sampai putus!”
“Iihhh... ampun... ampun, Tai-ciangkun... hamba tidak berani menolak, hanya... hamba harus memberi tahu
ayah ibu dulu di dusun...”
“Tidak usah! Tinggal pilih, sekarang juga, ingin mati atau hidup?”
Yan Hwa menangis akan tetapi mengangguk-angguk. “Baik, Tai-ciangkun... hamba... hamba menurut...”
Yan Hwa disuruh memasuki kereta terdepan dan dipaksa berganti pakaian yang indah. Semua siuli
memang diharuskan berpakaian indah dan panglima itu masih mempunyai beberapa potong pakaian untuk
perlengkapan. Setelah itu, komandan pasukan mempersiapkan orang-orangnya untuk memberangkatkan
rombongan kereta itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, kembali terjadi kekacauan ketika rombongan itu baru saja berangkat. Tiba-tiba dua ekor kuda
yang menarik kereta terdepan meringkik keras lalu membedal ke depan seperti dikejar setan. Sia-sia saja
kusirnya berusaha menahan kedua kuda yang kabur itu, bahkan kini panglima itu sendiri bersama
beberapa orang pembantunya membalapkan kuda untuk mengejar dan menyelamatkan kereta itu. Kalau
sampai kereta terguling dan lima orang siuli di dalamnya celaka, benar-benar mereka menghadapi
kesulitan besar!
Melihat panglima itu dan pembantu-pembantunya mengejar, dua ekor kuda penarik kereta yang kabur itu
menjadi makin binal. Kusirnya berteriak-teriak dengan panik, menarik-narik kendali kuda, namun tetap tidak
berhasil menghentikan kaburnya dua ekor kuda itu.
Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Ji Kun. Dia lari dari samping menangkap kendali
kuda, meloncat ke atas punggung kuda. Diam-diam dia mencabut dan membuang dua buah duri yang tadi
menancap di dekat ekor kuda, kemudian dia menarik kendali kuda dan menggunakan kekuatan tangan,
diam-diam mengerahkan sinkang-nya, kakinya menjapit perut kuda.
Semua ini dilakukan oleh Ji Kun dengan mengurangi ketangkasannya sehingga dia tidak kelihatan sebagai
seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, melainkan sebagai seorang ahli mengatasi kuda-kuda kabur.
Setelah dua ekor kuda itu berhenti, dia pura-pura lemas dan ketika melompat turun, dia terhuyung dan
hampir jatuh. Sambil mengusap keringatnya dia berkata, “Wah, bahaya sekali..., dua ekor kuda ini malam
tadi tentu makan rumput merah dan menjadi binal!”
Panglima dan para perwira sudah tiba di situ dan melihat mereka, Ji Kun cepat menjatuhkan diri berlutut.
Dengan pandang mata penuh kecurigaan panglima itu bertanya, “Engkau siapa?”
“Nama hamba Can Ji Kun, pekerjaan hamba sebagai ahli kuda. Dahulu di utara hamba pernah bekerja
kepada seorang peternak kuda yang besar, kemudian karena perang hamba lari ke selatan dengan
maksud mencari pekerjaan yang sesuai dengan kepandaian hamba. Kebetulan hamba melihat kereta
dikaburkan kuda dan mengandalkan keahlian hamba, hamba lupa diri dan menolong. Harap Tai-ciangkun
suka memaafkan kelancangan hamba.”
Hilanglah kecurigaan panglima itu dan dia mengangguk-angguk. “Bagus, kami berterima kasih, Ji Kun.
Kalau engkau mencari pekerjaan, mulai sekarang kau boleh mengurus kuda dan mengusiri kereta ini. He
kau turun!” Bentak Sang Panglima kepada kusir yang masih pucat wajahnya.
Dengan tubuh gemetar kusir itu turun dari atas kereta dan sekali mengulur tangan panglima itu telah
merampas cambuk, kemudian mencambuki kusir itu sambil memaki-maki, “Manusia tolol! Goblok! Hampir
saja engkau mencelakakan kita semua!”
Cambuk itu menari-nari di atas tubuh kusir yang berlutut dan minta-minta ampun. Pakaiannya robek-robek
dan kulit tubuhnya babak-belur dan berdarah. Setelah puas, panglima itu berkata, “Kau harus jalan di
belakang kereta, pengadilan akan menjatuhkan hukuman nanti di kota!”
Rombongan itu berangkat lagi dan kini Can Ji Kun duduk di tempat kusir, memegang cambuk dan
mengendalikan kuda menarik kereta di mana duduk pula Ok Yan Hwa yang menjadi girang sekali melihat
betapa siasat mereka berjalan lancar dan berhasil baik. Tentu saja dua ekor kuda itu tadi kabur ketika
diam-diam Yan Hwa menyerangnya dari belakang dengan dua buah duri yang sudah dipersiapkannya
sebelumnya, menyambitkan duri-duri itu mengenai pantat kuda yang menjadi kaget dan kesakitan lalu
kabur.
Tak lama kemudian rombongan memasuki hutan besar yang ditakuti Sang Komandan. Tiba-tiba komandan
ini berteriak, “Awas, di depan ada orang!”
Ji Kun yang berada di depan kereta pertama sudah melihat orang-orang itu, dan dia mengerutkan alisnya.
Jelas tampak olehnya bahwa yang menghadang di depan itu tentulah orang-orang kang-ouw. Sikap
mereka gagah dan bukanlah kasar seperti sikap perampok. Ada tujuh orang laki-laki yang menghadang di
depan, berjajar memenuhi jalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Komandan dan para perwira memberi aba-aba menghentikan kereta, kemudian memerintahkan pasukan
mengurung kereta-kereta itu, dan dia sendiri bersama sisa pasukan lalu melarikan kuda menghampiri
orang-orang yang menghadang itu. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, dengan sebatang golok
besar di punggung, berjenggot panjang dan bersikap gagah perkasa, memimpin para penghadang itu,
berdiri bertolak pinggang dan sinar matanya tajam menatap Sang Panglima.
Panglima yang duduk dengan angkuhnya di atas kuda itu membentak, “Kalian mau apa menghadang di
sini? Minggirlah! Apa tidak melihat bahwa kami pasukan pengawal dari kerajaan? Apakah kalian ini
pemberontak-pemberontak atau pengkhianat-pengkhianat yang hendak melawan pasukan kerajaan?”
Laki-laki berjenggot panjang itu mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, kemudian menjawab, “Ciangkun,
kami adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak berjiwa pengkhianat atau pemberontak. Bahkan
sebaliknya, kami adalah patriot-patriot negara yang menjadi pelindung rakyat yang tertindas! Negara dalam
keadaan perang. Mengapa para pembesar hanya mementingkan kesenangan diri pribadi dan menambah
beban rakyat dengan menculik dan memaksa gadis-gadis orang untuk dijadikan korban kebuasan nafsu
pembesar? Kami tidak akan melawan pasukan kerajaan, akan tetapi kami menuntut agar para gadis yang
ditawan dalam kereta itu dibebaskan!”
“Hemm, enak saja kau bicara! Para gadis ini adalah calon-calon dayang atau selir pangeran, nasib mereka
sudah pasti akan jauh lebih baik dari pada kalau mereka berada di rumah. Mereka akan menjadi orangorang
terhormat dan hidup mewah, bahkan keluarga mereka akan ikut pula menjadi orang terhormat.
Kalian bilang bukan pemberontak, akan tetapi hendak menentang kehendak pangeran dan hendak
melawan pasukan pemerintah. Pergilah sebelum kami basmi kalian kaum petualang pemberontak!”
“Ciangkun, alasan kuno yang kau kemukakan itu memuakkan! Kau sendiri tahu betapa gadis-gadis itu
pergi dengan paksaan. Dengar mereka terisak-isak, menangis. Kalau mereka pergi dengan sukarela, kami
pun bukan orang-orang yang lancang mencampuri urusan orang. Akan tetapi karena melihat gadis-gadis
itu dipaksa yang berarti penindasan kejam, kami tak mungkin berpeluk tangan saja. Kalau kau tidak mau
membebaskan mereka sekarang juga, terpaksa kami menggunakan kekerasan.”
“Si pemberontak keparat! Serbu!” Panglima itu mengeluarkan aba-aba dan para pengawal yang berjalan
kaki sudah bersorak sambil maju menyerbu tujuh orang itu.
Mereka ini pun sudah mencabut senjata masing-masing dan terjadilah pertandingan yang seru antara tujuh
orang gagah itu melawan tiga puluh orang pasukan pengawal, sedangkan yang lain bertugas menjaga
kereta-kereta dengan mengurungnya.
Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa merasa serba salah. Orang-orang kang-ouw itu ternyata cukup lihai sehingga
banyak anak buah pengawal yang roboh, sedangkan panglima dan para perwira juga terdesak. Terutama
sekali Si Jenggot Panjang amat lihai mainkan goloknya.
Dua orang murid Mutiara Hitam menjadi bingung. Tentu saja di dalam hati mereka, mereka berpihak
kepada tujuh orang itu dan andai kata mereka tidak sedang bertugas, tentu mereka membantu tujuh orang
itu dan membasmi pasukan pengawal. Akan tetapi dalam keadaan sekarang, andai kata turun tangan,
mereka seharusnya membantu pasukan pengawal dan merobohkan penghalang itu agar mereka dapat
cepat masuk kota dan dapat memulai dengan tugas mereka! Karena serba salah, baik Ji Kun mau pun Yan
Hwa hanya duduk menonton saja dan dari permainan golok dan pedang para orang gagah itu, mereka
dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak-anak murid Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai.
Agaknya pihak pasukan pengawal takkan kuat menghadapi tujuh orang gagah itu kalau pertandingan
dilanjutkan seperti itu tanpa campur tangan lain. Selagi Ji Kun dan Yan Hwa saling lirik ketika Ji Kun
menyingkap tenda dan menjenguk ke dalam, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah sebuah
pasukan kecil terdiri dari selosin prajurit berkuda, dikepalai oleh seorang laki-laki bermuka panjang seperti
kuda!
Ketika melihat pertempuran itu, laki-laki bermuka kuda itu yang bukan lain adalah Siangkoan Lee cepat
membawa pasukannya menyerbu dan terkejutlah tujuh orang itu karena orang bermuka kuda ini benardunia-
kangouw.blogspot.com
benar hebat sekali kepandaiannya. Dengan sebuah golok melengkung Siangkoan Lee sudah meloncat
turun dari atas kudanya dan mengamuk.
Orang gagah berjenggot panjang yang menandinginya dirobohkannya dalam waktu belasan jurus saja.
Juga pasukannya ternyata adalah pasukan istimewa yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Orang-orang
gagah itu melakukan perlawanan mati-matian, namun akhirnya mereka semua roboh dan tewas jadi
sasaran hujan senjata para pasukan pengawal! Pertempuran berhenti dan berakhir dengan matinya tujuh
orang gagah itu dan belasan orang prajurit pengawal.
Siangkoan Lee segera berkata kepada panglima pengawal yang terluka pundaknya dalam pertempuran
tadi. “Atas perintah Goanswe, seluruh siuli supaya langsung dibawa ke istana pangeran dan harap
bergerak cepat karena Pangeran sudah tidak sabar menanti. Mengapa sekarang baru tiba di sini?”
“Maaf, Siangkoan-taihiap, kami terpaksa bermalam di luar hutan besar karena kami khawatir akan
penyergapan di tengah malam dalam hutan itu.”
“Hemm, disergap di pagi hari pun kau tak mampu melindungi kereta-kereta itu!” kata Si Muka Kuda dengan
suara menghina. “Kalian sudah terlambat, hayo cepat berangkat!”
Karena takut kalau murid dan orang kepercayaan Jenderal Suma Kiat yang galak dan lihai itu akan menjadi
marah dan menyalahkan mereka, maka para pengawal tidak berani bercerita tentang hilangnya seorang
gadis yang diganti gadis lain dan seorang kusir baru yang mereka terima untuk jasanya menolong mereka
terlepas dari bencana ketika kereta kabur. Hal ini menguntungkan dua orang murid Mutiara Hitam, karena
kalau diketahui Siangkoan Lee, tentu orang yang lihai dan cerdik ini akan menjadi curiga dan menyelidiki
mereka.
Demikianlah, tanpa menimbulkan kecurigaan Yan Hwa ditempatkan di dalam istana pangeran bersama
para gadis lain. Berkat kepandaiannya mengurangi riasan muka dan membuat mukanya pucat seperti
orang berpenyakitan kalau dihadapkan Pangeran, Ok Yan Hwa berhasil membuat Pangeran kehilangan
seleranya. Akan tetapi gadis ini amat rajin dan pandai melayani, sehingga Yan Hwa tidak diambil selir
melainkan diberi pekerjaan sebagai dayang pelayan. Sedangkan Ji Kun menjadi seorang tukang mengurus
kuda. Tentu saja dua orang muda yang lihai ini mendapatkan kesempatan baik untuk melakukan
penyelidikan, dan terutama sekali Yan Hwa yang selalu dekat dengan Pangeran dan mengetahui apa bila
ada tamu-tamu penting yang datang bertemu dengan Pangeran.....
********************
Maya duduk termenung di dalam pondok di mana dia bersembunyi. Hari telah hampir malam dan dia
menanti kedatangan Suma Hoat. Telah empat hari dia berada di tempat persembunyiannya ini dan selama
empat hari itu dia mendengar banyak dari Suma Hoat. Dia sendiri pun setiap malam keluar melakukan
penyelidikan, namun harus dia akui bahwa tanpa bantuan keterangan-keterangan yang amat penting dari
pemuda itu, akan sukarlah baginya menyelidiki keadaan musuh.
Penjagaan amat ketatnya dan kini dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng kota Siang-tan ini benarbenar
amatlah kuatnya, jauh berbeda dengan kota Sian-yang. Bahkan dia mendengar dari Suma Hoat
bahwa benteng itu sedang mendatangkan barisan bantuan dari selatan untuk menghadapi ancaman
pasukan-pasukan Mancu yang telah menduduki Sian-yang. Dengan barisan bantuan itu, jumlah pasukan
Sung menjadi lebih besar dari pada pasukan Mancu dan Maya berpikir bahwa untuk menyerbu ke Siangtan,
pasukan Mancu harus mendatangkan bala bantuan juga.
Suma Hoat banyak membantunya dan diam-diam dia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Pemuda
musuh besarnya karena bukankah pemuda itu putera Suma Kiat? Namun harus dia akui bahwa di dalam
hatinya, dia tidak membenci Suma Hoat. Bahkan sebaliknya, dia merasa kagum dan suka kepada pemuda
itu yang jelas menaruh hati cinta kepadanya. Hal ini mudah saja dia lihat dari pandang matanya, dari sikap
dan gerak-geriknya, dari suara dan dari senyumnya.
Teringat akan hal ini, Maya menarik napas panjang karena terbayanglah wajah satu-satunya orang yang
dicintanya, wajah Kam Han Ki. “Aihhh, Suheng. Banyak pria yang jatuh cinta kepadaku, akan tetapi
dunia-kangouw.blogspot.com
mengapa engkau seorang yang kuharapkan, bahkan mengecewakan hatiku?” Teringat akan suheng-nya,
Maya menundukkan mukanya dan perasaan rindu dendam mencekam hatinya, membuatnya menggigit
bibir menahan tangis.
Gerakan orang memasuki rumah itu menyadarkannya dan ia cepat meloncat bangun. Bukan Suma Hoat,
pikirnya. Pemuda itu memiliki gerakan yang ringan, akan tetapi pendatang ini langkah kakinya berat!
Langkah itu terdengar makin berat dan akhirnya terdengar suara orang roboh. Maya cepat meloncat ke
ruangan depan dan betapa kagetnya melihat Suma Hoat rebah di lantai dalam keadaan pingsan!
Maya cepat berlutut memeriksa dan segera melihat bahwa pernuda ini telah menderita luka oleh pukulan
yang hebat, yang membuat tubuhnya dingin sekali dan dada kanannya membiru. Cepat ia memondong
tubuh pemuda itu, membawanya ke dalam kamar tidur dan merebahkannya di atas pembaringan. Sekali
renggut robeklah baju yang menutup dada Suma Hoat dan setelah memeriksa sebentar, tahulah Maya
bahwa pemuda itu terkena pukulan yang mengandung hawa Im-kang kuat sekali dan tentu nyawanya akan
terancam maut kalau tidak cepat ditolong.
Maka dia lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan telapak kanannya di dada kanan pemuda
itu sambil mengerahkan hawa sinkang dari pusarnya melalui lengan. Untuk melawan luka akibat pukulan
Im-kang itu, dia mengobatinya dengan pengerahan Yang-kang. Mula-mula hawa yang hangat memasuki
tubuh Suma Hoat, kehangatan yang makin lama menjadi makin panas mengusir hawa dingin yang
dideritanya semenjak dia terkena pukulan itu.
Setelah lewat dua jam lebih, barulah wajah Suma Hoat yang pucat menjadi kemerahan dan napasnya
menjadi normal kembali. Ketika dia membuka matanya perlahan dan melihat tangan Maya menempel di
dadanya, merasakan betapa hawa yang panas memasuki dadanya, mendatangkan rasa hangat mengusir
rasa dingin yang hampir merenggut nyawanya tadi, Suma Hoat menjadi terharu sekali. Dia menggerakkan
tangan, meraba lengan Maya, membelai lengan itu dan berbisik, “Aku... aku cinta padamu...”
Maya yang sedang rindu kepada suheng-nya, selama mengobati tadi dia mendapatkan kesempatan untuk
mengamati wajah pemuda ini dan jantungnya berdebar, menggelora. Wajah pemuda itu tampan sekali
membuat hatinya amat tertarik. Di antara pemuda yang pernah menyatakan cinta kasih kepadanya, harus
ia akui bahwa Suma Hoat merupakan pria yang paling tampan.
Gejolak darah masa dewasa membuat muka Maya merah sekali. Apa lagi ketika mendengar bisikan Suma
Hoat mengaku cinta begitu pemuda itu siuman, membuat jantungnya berdebar keras. Dia menarik kembali
tangannya yang tadi dipakai mengobati dada pemuda itu agar belaian pada lengan yang membuat
lengannya gemetar itu tidak sampai diketahui Suma Hoat.
“Suma Hoat, apa yang kau lakukan ini?” Maya membentak, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas
sekali, bukan hanya karena dia tadi lama mengerahkan tenaga untuk mengobati pemuda itu, melainkan
terutama sekali karena debar jantungnya membuat dia merasa aneh dan lemas, seperti dilolosi seluruh
urat dari tubuhnya.
“Nona... engkau telah menolong nyawaku, dan karena aku tidak tahan untuk menyimpan perasaan hatiku
lebih lama, biarlah sekarang aku mengaku dan aku akan rela andai kata engkau marah dan membunuhku.
Nona, semenjak pertama kali aku memandangmu, aku telah jatuh cinta ketpadamu. Aku membantumu
karena cinta...”
Maya seperti terkena pesona. Seluruh tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah ketika pemuda itu
kembali memegang lengannya yang dahaga akan cinta kasih. Rindu dendamnya yang selalu ditahantahannya
terhadap suheng-nya membuat hatinya seolah-olah menjadi sebatang tanaman kering. Kini sikap
dan bisikan Suma Hoat yang penuh getaran cinta kasih, seolah-olah merupakan embun pagi bagi hatinya,
sejuk dan menyenangkan.
“Nona, aku cinta padamu... aku bersumpah, aku mencintamu dengan hati tulus dan murni...”
Maya memejamkan matanya, tubuhnya yang lemas itu menurut saja ketika ditarik dan terdengar rintih
perlahan dari dadanya ketika ia merasa betapa tubuhnya dipeluk erat-erat, kemudian napasnya berhenti
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi sedu-sedan ketika ia merasa betapa mulutnya dicium penuh kemesraan oleh Suma Hoat. Seperti
dalam mimpi, kedua lengannya bergerak, membalas rangkulan pemuda itu dan pada saat itu Maya yang
rindu akan cinta kasih itu seperti tidak ingat bahwa yang memeluk dan menciuminya bukanlah pemuda
yang dicintanya dan dirindukannya, bukanlah Kam Han Ki suheng-nya, melainkan Suma Hoat, putera
Suma Kiat musuh besarnya!
Selama ini, hanya kepada tiga orang wanita saja Suma Hoat benar-benar jatuh cinta. Pertama-tama adalah
cinta kasihnya kepada Ciok Kim Hwa yang juga merupakan cinta pertamanya. Kedua kalinya adalah ketika
dia berjumpa dengan Khu Siauw Bwee, dan ke tiga kalinya adalah kepada Maya inilah. Kecuali tiga orang
wanita itu, tidak ada lagi wanita yang benar-benar dicinta secara mendalam, bukan hanya cinta birahi
belaka seperti yang telah dia jatuhkan kepada banyak sekali wanita sehingga dia dijuluki Jai-hwa-sian.
Dapat dibayangkan betapa bahagia hati Suma Hoat setelah dapat mendekap dan mencium mulut Maya.
Dia merasa bahagia, mendapatkan pengganti Ciok Kim Hwa, pengganti Khu Siauw Bwee.
“Maya... bidadariku, kekasih pujaan hatiku... bumi dan langit menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu,
Maya...”
Maya tersentak kaget. Tadi sebelum mendengar namanya disebut, dia hanyalah seorang gadis dewasa,
seorang wanita yang haus akan cinta, yang menderita karena rindu sehingga dia terlena dalam dekapan
Suma Hoat, pria tampan yang pandai merayu hati wanita itu. Akan tetapi begitu mendengar namanya
disebut, dia sadar! Dia adalah Maya, panglima wanita pemimpin Pasukan Maut. Dia adalah Puteri Maya,
puteri dari Raja dan Ratu Khitan yang sedang berjuang membalaskan kematian ayah bunda dan
keluarganya! Dia adalah Maya, penghuni Istana Pulau Es, sumoi dari Kam Han Ki!
Sekali meronta, Maya telah merenggutkan tubuhnya dari pangkuan dan dekapan Suma Hoat dan dia
sudah meloncat turun dari atas pembaringan. Mukanya berubah pucat, sepasang matanya bersinar-sinar
ketika ia memandang Suma Hoat yang menjadi kaget dan khawatir menyaksikan perubahan sikap ini.
“Maya... kekasihku, kenapa...?”
“Suma Hoat! Bagaimana engkau bisa mengenal namaku?” tiba-tiba Maya bertanya, suaranya penuh
kecurigaan dan pandang matanya tajam menyelidik.
Sejenak Suma Hoat kagum dan bengong, diam-diam ia harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat
gadis secantik Maya sehingga dalam keadaan seperti itu masih saja tampak cantik jelita, kecantikan yang
aneh namun pada saat itu menguasai seluruh hatinya.
“Ahhh, kekasih pujaan hatiku, jadi itukah yang mengejutkan hatimu?” Suma Hoat tersenyum lebar. “Tentu
saja aku dapat menduga. Pertama karena aku melihat bahwa wajahmu yang cantik seperti bidadari itu
bukan wajah seorang gadis Han dan mengingat engkau bekerja untuk orang Mancu, tentulah engkau
seorang gadis Mancu pula. Dan ilmu kepandaianmu demikian hebat. Siapa lagikah gadis secantik dan
terlihai di Mancu kalau bukan Panglima Wanita Maya? Akan tetapi, kenyataan itu bahkan menggirangkan
hatiku, Maya dewiku. Engkau seorang Panglima Mancu, aku seorang putera jenderal. Kita akan menjadi
sepasang suami isteri yang cocok dan...”
“Cukup!” tiba-tiba Maya membentak dan melihat pandang mata gadis itu, Suma Hoat baru merasa terkejut
sekali karena gadis itu benar-benar telah menjadi marah sekali.
“Maya... ada apakah...? Mengapa engkau marah-marah...?” Suma Hoat turun pula dari pembaringan.
Melihat perubahan yang amat menggelisahkan ini, dia yang cerdik cepat menceritakan jasanya untuk
menyenangkan hati Maya. “Tidak cukupkah bukti yang kuperlihatkan dalam membantumu? Bukankah
engkau sendiri yang tadi mengobati aku yang terluka hebat dan hampir tewas? Maya... aku rela berkorban
nyawa untukmu. Untuk memenuhi permintaanmu dan membantumu, aku tadi menyelidiki ke dalam istana
Pangeran Ciu Hok Ong yang sedang mengadakan perundingan dengan Bu-koksu, dan aku mendapatkan
sebuah rahasia rencana mereka yang amat penting bagimu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Hoat memandang wajah Maya dengan hati gelisah karena gadis itu seolah-olah tidak mendengarnya,
bahkan kini tampak penyesalan dan kemarahan membayang di wajah yang cantik itu. Maya merasa
menyesal sekali, menyesalkan diri sendiri yang telah menjadi lemah dan membiarkan pemuda itu memeluk
dan menciuminya. Betapa mungkin hal itu terjadi! Dia masih nanar kalau memikirkan kembali dekapan dan
ciuman yang membuat darahnya menggelora tadi!
“Maya, dengarlah,” Suma Hoat menyambung cepat. “Pangeran Ciu dan Koksu berunding dan mengambil
keputusan untuk memancing pasukan Mancu meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan. Mereka lalu
menggunakan saat itu untuk menyerbu dan merampas kembali Sian-yang dan mengurung pasukan antara
kedua kota itu. Sial bagiku, dalam persembunyianku itu aku ketahuan oleh seorang panglima pengawal
Koksu yang amat lihai dan dalam beberapa gebrakan saja aku telah terpukul. Untung keadaan yang kacau
memungkinkan aku melarikan diri dan ke sini... eh, Maya, bukankah sudah terbukti betapa aku rela
mengorbankan apa saja untukmu?”
Maya menarik napas panjang. “Terima kasih atas bantuanmu, Suma Hoat. Akan tetapi jangan kau mengira
bahwa semua jasamu itu harus kubalas dengan cinta! Engkau telah mengetahui siapa aku. Aku adalah
Puteri Maya, juga Panglima Maya, dan aku adalah penghuni Istana Pulau Es! Tak mungkin aku mencinta
orang seperti engkau yang seharusnya kubunuh, karena engkau adalah putera Suma Kiat musuh besarku!
Untuk bantuanmu itu, aku membalas dengan mengampunimu, tidak membunuhmu. Nah, selamat tinggal!”
“Maya...!” Suma Hoat berteriak, kaget bukan main mendengar bahwa Maya adalah penghuni Istana Pulau
Es! Dia mengejar, akan tetapi sekali berkelebat saja Maya telah lenyap dari situ.
“Ahhhh... tidak... tidak mungkin...!” Suma Hoat menjatuhkan diri ke atas pembaringan setelah dia kembali
ke kamar itu.
Hatinya seperti diremas, semua harapannya membuyar. Mengapa nasibnya seburuk itu dalam cinta kasih?
Setelah gagal memperisteri Ciok Kim Hwa, setelah gagal meraih cinta kasih Khu Siauw Bwee, setelah
semua harapannya tercurah kepada Maya dan melihat Maya berada dalam dekapannya malah diciuminya,
kini Maya terlepas dan terbang pula dari tangannya! Kembali dia gagal! Tidak ada harapan lagi karena
Maya ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es yang tentu saja memiliki kepandaian yang amat luar biasa!
Mengapa nasibnya bagitu buruk sehingga dia dipertemukan dengan dua orang dara penghuni Istana Pulau
Es? Apakah seperti Siauw Bwee, Maya juga telah mencinta laki-laki lain? Ah, nasib!
Ketika Suma Hoat bangkit lagi, rambutnya awut-awutan karena dijambakinya, wajahnya pucat dan
sepasang matanya kembali mengandung sinar yang keji, sinar yang telah lama meninggalkan matanya
semenjak dia melukai Ketua Siauw-lim-pai, semenjak dia sadar akan kesesatannya. Hatinya yang berkalikali
mengalami pukulan, kegagalan cinta, membuat perasaannya menjadi kecut dan kambuh kembalilah
penyakitnya, penyakit yang membuat dia menjadi Jai-hwa-sian, penyakit yang membuat dia membenci
wanita, ingin mempermainkan semua wanita, terutama mempermainkan cinta kasih mereka!
Kalau dia menjadi sakit hati karena cintanya terhadap wanita, dia akan mempermainkan cinta kasih wanita.
Mulai detik itu juga, iblis mulai menguasai hati Suma Hoat lagi, seolah-olah Jai-hwa-sian yang beberapa
bulan lamanya telah mati itu kini bangkit dan hidup kembali. Dan dengan beringas pemuda itu meloncat ke
luar meninggalkan rumah itu, kemudian di malam hari itu, di sebuah rumah besar, terdengarlah rintihan dari
seorang gadis yang dipermainkannya, kemudian menjelang pagi terdengar jerit gadis itu yang mengantar
nyawanya terbang meninggalkan tubuhnya yang setelah diperkosa lalu dibunuh oleh tangan Jai-hwasian.....
********************
Suma Hoat tidak membohong ketika dia bercerita kepada Maya. Memang sore hari itu dia telah menyelidik
ke istana Pangeran Ciu Hok Ong. Sayang bahwa ketika dia sudah mendengar sebagian dari percakapan
antara Pangeran Ciu dan Koksu negara bersama panglima-panglima tinggi, tiba-tiba dia diserang seorang
pengawal berpakaian preman yang amat lihai. Tentu saja Suma Hoat tidak mampu menandingi pengawal
itu dan terpaksa melarikan diri dengan membawa luka karena pengawal itu bukan lain adalah Kam Han Ki!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, pada waktu Pangeran Ciu bersama Bu-koksu mengadakan perundingan di pondok taman
yang didirikan di atas telaga buatan itu, ada seorang manusia lain yang juga diam-diam mengintai dan
mencuri dengar percakapan orang-orang besar ini. Dia bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang bekerja
sebagai dayang dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong.
Bedanya, kalau Suma Hoat mengintai dengan bersembunyi di atas wuwungan pondok sehingga dia terlihat
dan diserang oleh Kam Han Ki, dara perkasa ini lebih cerdik dan dia bersembunyi di bawah pondok,
menyelam ke dalam air, berpegang pada tiang pondok dan hanya menyembulkan kepalanya sambil
bersembunyi di balik tiang, mendengar percakapan orang-orang yang duduk di atas papan pondok. Karena
keadaan di kolong pondok itu gelap, tentu saja tempat persembunyian Yan Hwa ini lebih aman sehingga
Kam Han Ki yang amat lihai itu sendiri pun tidak dapat melihatnya.
Seperti juga Suma Hoat, Yan Hwa dapat menangkap percakapan antara Pangeran Ciu dan Bu-koksu
tentang rencana mereka untuk menjebaknya dan menghancurkan pasukan Mancu. Dia menjadi girang
sekali. Hari itu adalah hari terakhir dan besok pagi-pagi dia sudah harus meninggalkan tempat ini untuk
mengadakan pertemuan dengan kawan-kawannya, maka hasil pengintaiannya itu merupakan rahasia yang
penting sekali bagi pasukan Mancu.
Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika ia melihat bayangan berkelebat dan seorang laki-laki tampan berdiri
di depan Bu-koksu sambil berkata tenang, ”Bu-loheng, aku telah mengusir seorang mata-mata yang tadi
mengintai di sini.”
“Eh, mengapa kau usir dan tidak kau tangkap atau bunuh?” Koksu Bu Kok Tai bertanya, tidak puas.
“Dia lihai sekali, Loheng. Akan tetapi dia sudah terluka oleh sebuah pukulanku.”
“Siapakah dia? Apakah kau mengenal dia?”
“Tempatnya gelap, dia bersembunyi di belakang wuwungan, Loheng. Aku hanya melihat dia dalam cuaca
remang-remang, dia masih muda dan tampan, akan tetapi aku tidak mengenalnya.”
“Kam-siauwte, engkau telah berjasa. Harap kau suka melakukan penyelidikan ke kota, jangan sampai ada
mata-mata musuh dapat menyelundup masuk ke kota Siang-tan ini.”
“Baiklah, Loheng.” Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Ok Yang Hwa masih memeluk tiang di bawah pondok itu, wajahnya pucat dan dia menggigil. Bukan
menggigil karena kedinginan yang dapat dilawannya dengan pengerahan sinkang-nya, melainkan
menggigil karena ketakutan! Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam, menggigil ketakutan? Memang benar
demikian dan hal ini tidaklah aneh karena dara perkasa itu tadi mengenal Si Pemuda yang menghadap Bukoksu
sebagai Kam Han Ki!
Perasaan terheran-heran melihat adik sepupu gurunya itu kini membantu Koksu Negara Sung, bercampur
dengan rasa ngeri dan takut karena kalau sampai Kam Han Ki melihatnya, tentu dia celaka. Paman
gurunya lebih lihai dari pada Maya, pernah menundukkan dia dan suheng-nya di medan pertempuran,
bahkan memperingatkan mereka berdua agar meninggalkan barisan Mancu.
Karena telah mendengar rahasia penting dan hatinya gentar setelah melihat Kam Han Ki, Yan Hwa lalu
menyelam, berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu dan
langsung dia menghubungi suheng-nya, Can Ji Kun yang menyelundup dan bekerja sebagai tukang kuda.
Isyarat suitan yang dikeluarkan Yan Hwa segera mendapat balasan dan tak lama kemudian kedua orang
kakak beradik seperguruan, juga sepasang kekasih ini, sudah saling berhadapan di belakang kandang
kuda yang gelap.
Ji Kun segera merangkul Yan Hwa dan dia berbisik kaget, “Aihhh... kenapa pakaianmu basah semua?”
“Aku baru saja menyelidiki perundingan di pondok telaga dengan hasil baik,” Yan Hwa balas berbisik.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau tentu kedinginan. Hayo masuk ke kamarku, tanggalkan pakaian basah ini dan kuhangatkan...”
“Hushhh, itu saja yang kau pikirkan, Suheng. Dengarlah, kita harus pergi dari sini, sekarang juga!”
“Kenapa? Kau kelihatan ketakutan, Sumoi.”
”Memang aku takut setengah mati. Kau tahu... Kam-susiok berada di sini, dia menjadi pengawal Bu-koksu!”
Can Ji Kun membelalakkan matanya. “Apa? Kam-susiok? Kau maksudkan dia... Kam Han Ki penghuni
Istana Pulau Es?”
Yan Hwa mengangguk dan dengan singkat menceritakan semua pengalamannya ketika dia mengintai tadi.
“Karena itulah, kita harus sekarang juga meninggalkan tempat ini. Besok adalah hari yang menentukan
bagi kita untuk berkumpul di dalam kuil tua di luar kota. Aku telah mendengar rahasia yang amat penting itu,
terutama sekali kehadiran Kam-susiok di sini tentu akan menarik perhatian Maya. Dan kau sendiri tentu
sudah mendapatkan banyak keterangan. Selagi gelap begini, akan berkuranglah bahayanya untuk
melarikan diri. Mudah-mudahan saja jangan sampai bertemu dengan Kam-susiok!” Yan Hwa bergidik ngeri
karena dia takut sekali kepada adik gurunya itu.
“Baiklah kalau begitu, Sumoi. Nih pedangmu, simpanlah!” Yan Hwa menerima pedangnya yang ia titipkan
kepada suheng-nya ketika mereka menjalankan siasat menyelundup kota bersama rombongan siuli, “Akan
tetapi, engkau harus berganti pakaian lebih dulu. Pakaianmu basah kuyup begini.”
“Tidak ada waktu untuk kembali ke istana. Kalau ada yang melihat pakaianku tentu akan menimbulkan
kecurigaan. Sudahlah, basah begini pun tidak apa-apa, Suheng.”
“Bagimu tidak apa-apa, akan tetapi kalau engkau sakit, akulah yang akan kehilangan!” Ji Kun berkata,
“Tidak, engkau harus berganti pakaian kering. Biarlah engkau memakai pakaianku saja.”
Yan Hwa tidak membantah lagi. Dengan belaian-belaian mesra, Ji Kun membantunya menanggalkan
pakaian basah dan mengenakan pakaian kering yang tentu saja terlalu besar bagi Yan Hwa. Dalam
keadaan seperti itu, mereka tiada ubahnya sepasang suami isteri muda yang saling mencinta. Kalau Yan
Hwa yang masih ketakutan mengingat kehadiran Kam Han Ki tidak menolaknya, tentu Ji Kun akan
melepas rindunya terhadap sumoi-nya atau kekasihnya itu.
Mereka lalu menyelundup keluar dari lingkungan istana, melalui tembok belakang yang tidak jauh dari
kandang-kandang kuda di mana Ji Kun bekerja. Dengan kepandaian mereka, kedua orang murid Mutiara
Hitam ini berhasli meloncat ke luar tanpa dilihat para peronda dan penjaga. Mereka meloncat dan berlarian
di atas genteng rumah-rumah penduduk kota dengan hati-hati sekali dan legalah hati mereka melihat
bahwa di atas rumah-rumah itu tidak nampak penjaga-penjaga.
“Kita harus menghubungi Kwa-huciang dan Theng-ciangkun lebih dulu,” kata Ji Kun.
“Kemarin aku telah berhasil menghubungi mereka.”
“Apakah mereka masih menyamar sebagai pengemis?”
“Benar, dan mereka bersembunyi di kolong jembatan Ayam Besi di sebelah utara bersama para pengemis
lainnya. Kita harus membantu mereka keluar dari kota. Marilah!”
Akan tetapi ketika mereka melompat ke atas genteng sebuah rumah besar, tiba-tiba muncul empat
bayangan orang-orang yang tadinya bersembunyi dengan mendekam di balik wuwungan. Mereka adalah
empat orang pengawal yang memegang pedang dan seorang di antaranya membentak, “Berhenti! Siapa
kalian berdua?”
Kedua orang murid Mutiara Hitam itu menjawab dengan gerakan pedang yang telah mereka cabut dari
sarungnya. Gerakan mereka cepat bukah main dan keduanya seperti berlomba. Tampak sinar kilat
dunia-kangouw.blogspot.com
berkelebat dan empat orang pengawal itu telah roboh dan tewas seketika. Kakak beradik seperguruan ini
masing-masing merobohkan dua orang!
“Tangkap penjahat...!”
Kini muncullah belasan orang pengawal yang berloncatan dari empat penjuru, dan kedua orang muda
perkasa itu sudah dikurung. Terjadilah pertempuran seru di atas genteng.
”Cepat, kita harus pergi dari sini!” Ji Kun berkata sambil mengelebatkan pedangnya.
Para pengawal yang datang mengeroyok ini memiliki kepandaian lumayan sehingga terdengarlah bunyi
berdencing nyaring ketika Sepasang Pedang Iblis di tangan Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk, mematahkan
senjata-senjata lawan yang menghujani mereka dengan serangan dahsyat. Dua orang pengawal roboh lagi,
akan tetapi kini tampak banyak sekali pengawal berloncatan.
Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau pasukan pengawal dikerahkan, mereka akan menghadapi
bahaya besar dan akan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri. Apa lagi kalau mereka teringat kepada
Kam Han Ki, mereka merasa ngeri. Maka sambil memutar pedang yang mengeluarkan hawa
menyeramkan dan sinar kilat sehingga para pengeroyok menjadi gentar, keduanya meloncat ke depan,
berdiri di atas genteng dan dikejar oleh para pengawal.
Terdengar bunyi suitan-suitan dari para pengawal yang memberi tanda bahaya sehingga dari mana-mana
muncullah para penjaga yang tadinya melakukan penjagaan sambil bersembunyi. Melihat betapa dari
depan, kanan, kiri muncul pula banyak pengawal, Ji Kun dan Yan Hwa lalu meloncat turun. Seperti juga di
atas, di bawah sudah terdapat banyak pengawal yang segera menyambut dan mengurung mereka. Ji Kun
dan Yan Hwa mengamuk dan seperti biasa, pedang mereka seolah-olah berubah menjadi naga kilat,
sepasang naga yang amat dahsyat dan mereka berlomba membunuhi para musuh yang mengeroyok
mereka.
“Sing-sing... crat-crat...! Delapan orang, Suheng!” Yan Hwa berseru ketika tubuhnya mencelat ke atas dan
pedangnya menyambar ke bawah, merobohkan dua orang pengeroyok yang hampir putus leher mereka
terbabat pedang Li-mo-kiam di tangannya. Ucapannya itu berarti bahwa sudah delapan orang yang
dirobohkannya.
Ji Kun menggulingkan tubuhnya, pedangnya membabat ke sekelilingnya. “Wuuuttt, crok-crok...! Sembilan
orang Sumoi!” katanya gembira karena dia menang satu orang.
Yan Hwa penasaran dan pedangnya diputar makin hebat. Kedua orang itu kini telah lupa akan bahaya,
lupa akan menyelamatkan diri, bahkan lupa bahwa mereka tadi khawatir sekali akan munculnya Kam Han
Ki. Mereka telah berubah menjadi dua orang yang haus darah, ingin berlomba berbanyak-banyaknya
dalam membunuh musuh!
Tiba-tiba terjadi kekacauan di antara para pengeroyok dan ternyata tiga puluh orang lebih yang berpakaian
pengemis mengamuk dan menyerang para pengawal itu. Keadaan menjadi kacau-balau dan tiba-tiba Ji
Kun dan Yan Hwa melihat Kwa-huciang dan Theng-ciangkun muncul dekat mereka.
“Cepat, ikut kami...!” bisik Kwa-huciang memberi isyarat dengan tangannya.
Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau mereka menuruti nafsu hati berlomba membunuhi musuh,
akhirnya mereka akan terjebak dan sukar sekali meloloskan diri. Mereka segera menyelinap dan mengikuti
Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang agaknya memang sudah merencanakan pelarian ini.
Menggunakan kekacauan karena para pengemis menyerbu para pengawal, empat orang mata-mata ini
berlari dan melalui lorong-lorong gelap, akhirnya mereka itu dapat lolos dari kota dengan jalan merobohkan
beberapa orang penjaga tembok kota yang sunyi dan kurang kuat penjagaannya, meloncat ke atas tembok
dan menggunakan tali yang sudah disediakan untuk ke luar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mereka terbebas dari kejaran para pengawal dan penjaga, Ji Kun memuji kawannya dan berkata,
“Eh, Kwa-huciang, untung engkau datang, kalau tidak tentu kami akan repot menghadapi kepungan
pasukan-pasukan musuh. Bagaimana kalian berdua dapat menggerakkan para pengemis itu?”
“Mereka itu sebagian besar adalah pengemis-pengemis anggota Hek-tung Kai-pang yang bergabung
dengan Coa-bengcu. Telah kita ketahui bahwa diam-diam Coa-bengcu menjadi sekutu pemerintah Yucen,
maka kami berdua lalu mengaku sebagai mata-mata dari Yucen. Mendengar ini, tentu saja mereka siap
membantu kami berdua untuk meloloskan diri dari dalam kota.”
“Hemm, bagus sekali siasatmu, Kwa-huciang. Sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat! Para pengemis itu
adalah kaki tangan Yucen, musuh kita juga, dan tentu mereka akan terbasmi oleh para penjaga Sung.
Sungguh bagus, ha-ha-ha!” Ji Kun memuji.
Kwa-huciang mengerutkan alisnya dan dia menarik napas panjang. “Yaaah, begitulah perang! Demi
kemenangan pihak sendiri, orang tidak segan-segan melakukan segala macam hal yang dalam keadaan
biasa akan membuatnya malu sekali karena perbuatan semacam yang kami lakukan adalah keji dan
curang. Sudahlah, mari kita cepat menuju ke kuil tua di mana tentu Li-ciangkun telah menanti kita.”
Benar saja dugaan pembantu utama Maya ini. Ketika mereka berempat memasuki kuil tua yang sudah
tidak digunakan, di luar kota yang sunyi itu, Maya sudah berada di situ. Wajah Maya yang tadinya agak
keruh karena masih teringat akan peristiwa antara dia dengan Suma Hoat, kini menjadi berseri. Girang
hatinya bahwa empat orang pembantunya ternyata dapat lolos pula dan berkumpul kembali di tempat itu
dalam keadaan selamat.
Empat orang itu segera melaporkan hasil penyelidikan mereka kepada Maya. Kwa-huciang dan Thengciangkun,
dengan bantuan para pengemis telah berhasil menyelidiki keadaan di kota Siang-tan, bahkan
telah berhasil membuat gambar peta keadaan kota itu dan sekitarnya.
Hasil penyelidikan mereka ini amat besar artinya bagi Maya, akan memudahkan mengatur siasat
penyerbuan ke kota itu. Setelah memuji hasil mereka, Maya lalu menanyakan hasil penyelidikan kedua
orang murid Mutiara Hitam.
“Kami berdua berhasil menyelundup ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong,” Yan Hwa berkata dan
dengan singkat dia menceritakan pengalamannya bersama Ji Kun ketika mereka berdua menyamar
sebagai pengganti siuli dan tukang kuda. Maya kagum bukan main akan kecerdikan kedua orang muda itu,
juga merasa geli karena dapat membayangkan betapa lucunya pengalaman mereka itu.
“Dan apa saja yang kalian dapatkan dalam penyelidikan kalian?” tanyanya setelah dia memuji.
“Hasil-hasil lainnya tidak begitu penting, akan tetapi ada dua buah berita yang tentu akan kau anggap
hebat sekali,” kata Yan Hwa.
Maya mengerutkan alisnya, hatinya tidak enak. “Lekas katakan, berita apa itu?”
“Pertama, dari perundingan antara Pangeran Ciu, Bu-koksu dan para panglimanya, mereka merencanakan
untuk menjebak kita! Mereka akan membiarkan pasukan-pasukan kita meninggalkan Sian-yang menyerbu
Siang-tan. Diam-diam mereka akan memotong jalan dan mengurung pasukan kita di antara kedua kota itu
dengan pengerahan bala tentara yang jauh lebih besar dari pada pasukan kita.”
Kwa-huciang dan Theng-ciangkun terkejut sekali mendengarkan berita yang amat penting itu. Akan tetapi
Maya mengangguk dan menjawab, “Memang berita itu hebat dan amat penting, perlu segera kita hadapi
dengan siasat lain, akan tetapi aku telah mendengarnya juga, Yan Hwa. Biar pun dari sumber lain, aku pun
telah tahu akan rencana siasat mereka itu. Berita kedua apa lagi?”
“Berita kedua ini lebih hebat lagi. Aku telah melihat... Kam-susiok sebagai pengawal Bu-koksu!”
“Apa...?! Siapa...?” Maya yang tadinya duduk di atas lantai, meloncat bangun dan mukanya berubah pucat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yan Hwa maklum bahwa tentu Maya terkejut mendengar bahwa suheng-nya berada di kota itu, bahkan
menjadi pengawal Koksu musuh. “Aku melihatnya sendiri, dan untung bahwa aku mengintai dari bawah, di
dalam air, karena kalau sampai Kam Han Ki-susiok melihatku, tentu aku akan celaka.”
Maya termenung dan teringat akan keadaan Suma Hoat. Melihat betapa pemuda lihai itu terkena pukulan
yang amat hebat, dia percaya bahwa penglihatan Yan Hwa tentu tidak keliru dan yang melukai Suma Hoat
tentulah suheng-nya sendiri, Kam Han Ki! Yang membuat dia terheran-heran adalah kenyataan bahwa
suheng-nya itu dahulunya jelas membantu pasukan Yucen, sungguh pun bukan sebagai petugas resmi,
mengapa sekarang tahu-tahu menjadi pengawal Bu-koksu dari Kerajaan Sung? Apakah yang telah terjadi
dengan suheng-nya?
“Kita harus kembali ke Sian-yang sekarang juga!” Tiba-tiba ia berkata, suaranya agak tergetar. Betapa
hatinya takkan gelisah kalau mendengar bahwa suheng-nya berada di pihak musuh? Bagaimana kalau
Kam Han Ki maju sebagai Panglima Sung? Dapatkah dia berhadapan dengan suheng-nya yang dicintanya
itu sebagai musuh?
Lima orang itu berjalan menuju ke depan kuil tua. Akan tetapi baru saja mereka melalui ambang pintu
depan yang sudah rusak, tiba-tiba terdengar suara berdesir sambung-menyambung dan belasan batang
anak panah dan senjata piauw menyambar ke arah mereka dari depan, kanan dan kiri.
“Mundur!” Maya berkata setelah mereka berhasil mematahkan semua senjata rahasia itu dengan pukulan
dan kibasan tangan ke kanan kiri. Mereka meloncat mundur lagi dan Maya berkata perlahan, “Hati-hati, kita
terkepung musuh. Jangan bergerak sebelum aku melihat keadaan.”
Biar pun keadaan mereka terkepung dan cuaca di luar masih gelap sehingga mereka terancam bahaya,
namun sikap Maya tetap tenang.
Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar, “Heiiiii! Kalian mata-mata Mancu! Menyerahlah, kalian telah
terkepung dan tidak akan dapat lolos lagi!”
Maya sudah menyelinap dan tanpa mengeluarkan suara dia mengintai dari empat penjuru, kemudian dia
kembali menghampiri empat orang pembantunya dan berkata, “Banyak sekali pasukan mengepung kita.
Kita harus menggunakan cuaca gelap ini untuk menerjang ke luar dan melawan mati-matian. Kalau sudah
terang, harapan kita tipis sekali untuk dapat lolos. Kita akan berhadapan dengan perlawanan yang kuat,
akan tetapi betapa pun juga, seorang di antara kita harus dapat lolos dan menyampaikan berita-berita
penting itu kepada Pangeran. Oleh karena itu, tidak boleh kita gagal semua, maka harus berpencar agar
sedikitnya salah seorang di antara kita dapat lolos dan sampai ke Sian-yang. Ji-wi Ciangkun harap
menyerbu dari pintu belakang dan aku sendiri akan menyerbu dari pintu depan. Ji Kun, kau menerobos dari
jendela kiri, sedangkan Yan Hwa dari jendela kanan. Dengan dipecah menjadi empat bagian, tentu
kepungan mereka tidak begitu rapat lagi dan kalau untung kita baik, mudah-mudahan kita semua akan
dapat lolos dengan selamat. Mengertikah semua?”
Mereka mengangguk. Memang, di antara mereka berlima, yang dapat dikatakan paling rendah
kepandaiannya, sungguh pun sama sekali bukanlah rendah menurut ukuran umum, adalah Thengciangkun
dan Kwa-huciang. Oleh karena itu, kedua orang ini disuruh menyerbu bersama.
“Sekarang, aku akan menyerbu lebih dulu ke depan. Kalau mereka sudah menyambutku, Ji Kun harus
cepat menerjang ke kiri untuk mengacaukan mereka, kemudian Yan Hwa menyusul menyerbu ke kanan,
sedangkan Ji-wi Ciangkun menyerbu paling akhir ke belakang.”
Setelah para pembantunya mengangguk tanda mengerti dan setuju, Maya melangkah ke luar dengan sikap
tenang. Dia tidak membawa senjata. Kalau dia berpakaian sebagai panglima, tentu saja pinggangnya
selalu terhias sebatang pedang panjang. Akan tetapi kalau berpakaian preman, dara ini tidak pernah
memegang senjata dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa seorang yang telah memiliki tingkat
kepandaian seperti dia tidak lagi membutuhkan senjata.
Begitu tubuhnya muncul ke luar, kembali ada belasan anak panah menyambar, namun sekali meraih,
beberapa batang anak panah dapat ditangkisnya dan sebagian lagi runtuh terkena sambaran hawa
dunia-kangouw.blogspot.com
pukulan tangannya yang dikibaskan. Sambil tersenyum mengejek Maya lalu melontarkan anak-anak panah
yang dapat ditangkapnya itu ke arah asalnya. Terdengarlah pekik-pekik kesakitan disusul robohnya tubuh
orang di dalam gelap ketika senjata-senjata itu makan tuannya sendiri!
“Tangkap mata-mata!”
“Bunuh dia!”
Teriakan-teriakan ini disusul serbuan banyak sekali pasukan yang menyerang Maya dengan macammacam
senjata, seperti hujan datangnya. Namun Maya bersikap tenang, tubuhnya berkelebat ke kiri dan
berbareng dengan robohnya dua orang oleh tamparan-tamparannya, tangannya sudah merampas
sebatang pedang lawan. Mulailah pendekar wanita yang sakti ini mengamuk, memutar pedang
rampasannya dan terdengar suara nyaring berdentang ketika pedangnya menangkis banyak senjata,
disusul pukulan-pukulannya dengan tangan kiri dan tendangan-tendangan kedua kakinya yang
merobohkan banyak pengeroyok.
Tiba-tiba terjadi kegaduhan di sebelah kiri kuil tua dan tampak sinar kilat menyambar-nyambar. Itulah Can
Ji Kun yang sudah menerjang ke luar. Seperti juga Maya, pemuda ini telah disambut oleh pengeroyokan
puluhan orang tentara musuh. Keadaan menjadi ramai dan kacau, apa lagi ketika Yan Hwa juga cepat
menyusul ke luar di sebelah kanan kuil dan mengamuk dengan Pedang Iblis di tangannya.
Pasukan yang mengurung mereka itu ternyata juga telah dibagi-bagi sehingga tidaklah terjadi kepanikan di
pihak mereka seperti diharapkan Maya karena yang mengepung mereka berjumlah seratus enam puluh
orang, dan kini dibagi menjadi empat regu, masing-masing dipimpin oleh perwira-perwira pengawal yang
berkepandaian tinggi.
Sambutan pasukan yang besar jumlahnya ini mengejutkan Maya. Diam-diam ia merasa khawatir sekali
kalau-kalau di antara para pengepung itu terdapat suheng-nya. Akan tetapi dia tidak mempedulikan lagi hal
itu dan terus mengamuk sambil berusaha mencari lowongan untuk melarikan diri. Dia maklum dengan
penuh penyesalan bahwa dalam keadaan seperti itu, di mana terdapat rahasia besar yang harus
disampaikan kepada Pangeran Bharigan di Sian-yang agar pasukan Mancu tidak masuk dalam perangkap
yang dipasang oleh pimpinan Sung, dia atau seorang di antara mereka harus dapat lolos dan terpaksa
mereka tidak dapat saling menolong. Kalau saja tidak ada hal yang harus disampaikan ke Sian-yang itu,
tentu dia akan mengamuk dan akan menolong anak buahnya, kalau perlu tewas bersama semua
pembantunya.
Kwa-huciang dan Theng-ciangkun juga mengamuk sekuat mereka. Namun jumlah pengeroyok terlalu
banyak, bahkan di antara para perwira pengawal terdapat orang-orang pandai, di antaranya terdapat
Siangkoan Lee yang lihai. Biar pun kedua orang perwira pembantu Maya itu mengamuk dan berhasli
merobohkan belasan orang pengeroyok, namun akhirnya mereka berdua roboh juga dan tewas di bawah
hujan senjata pasukan Sung yang marah melihat betapa teman-teman mereka banyak yang tewas.
Di lain bagian dari pertempuran sebelah itu, Ji Kun mengamuk dengan pedang iblis di tangannya. Dia
seperti harimau yang haus darah, pedangnya berubah menjadi sinar kilat menyambar-nyambar yang
mematahkan banyak senjata lawan dan merobohkan banyak orang. Sudah ada dua puluh orang roboh dan
tewas oleh pedangnya, namun dia sendiri juga terluka di pahanya, keserempet golok. Betapa pun juga,
pemuda yang perkasa ini tidak menjadi gentar dan dia mengamuk terus, merasa kecewa bahwa dia
terpaksa harus bertanding jauh dari Yan Hwa sehingga dia tidak dapat membuktikan kepada sumoi-nya itu
bahwa dia lebih banyak merobohkan lawan dari pada sumoi-nya!
Tiba-tiba para pengeroyok bertambah dan muncullah Siangkoan Lee bersama beberapa orang perwira
tinggi yang lihai. Murid Jenderal Suma Kiat ini bersenjatakan sebatang golok melengkung dan dia
memimpin pengeroyokan dengan serangan-serangannya yang amat dahsyat. Sekali ini, Ji Kun benarbenar
menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi sukarlah bagi
Siangkoan Lee dan kawan-kawannya untuk merobohkan pemuda ini, terutama sekali karena di tangan Ji
Kun terdapat Pedang Iblis yang amat ampuh itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup dan rampas pedangnya!” Tiba-tiba terdengar seruan dan
muncullah Suma Hoat yang langsung mengirim tusukan dengan pedangnya ke arah punggung Ji Kun.
Ji Kun maklum bahwa lawan ini amat lihai, terbukti dari gerakan pedang yang berubah menjadi gulungan
sinar putih. Dia memutar tubuh, mengelebatkan pedang Lam-mo-kiam untuk merusak pedang lawan.
Namun Suma Hoat yang sudah maklum akan kelihaian pedang itu ketika tadi datang dan menonton, cepat
menarik pedangnya dan dia bersuit nyaring. Suitan ini merupakan tanda rahasia bagi seregu pasukan yang
sudah ia persiapkan lebih dulu dan dua belas orang anggota pasukan ini serentak melemparkan sebuah
jaring ke arah tubuh Ji Kun!
Pemuda ini terkejut sekali. Cuaca pada saat itu masih gelap dan dia tak dapat melihat jelas benda apa
yang menyambarnya dari sekelilingnya itu. Tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap, tertutup oleh bendabenda
yang lebar itu. Karena tidak tahu senjata apa yang dipergunakan lawan untuk menyerangnya, dia
hanya memutar pedangnya.
Teriakan-teriakan mengerikan terdengar ketika pedang Lam-mo-kiam membabat jaring-jaring itu, terus
membabat lengan dan tubuh para pemegangnya. Biar pun jaring-jaring itu terbuat dari kawat-kawat baja
yang kuat, namun sekali terkena babatan Lam-mo-kiam menjadi putus semua, bahkan pedang mukjizat itu
masih terus membabat orang orang yang memegang jaring. Sekali putaran saja lima orang di antara
selosin anggota regu ini roboh. Akan tetapi, Ji Kun terkejut sekali karena pedangnya terlibat jaring. Selagi
dia berusaha melepaskan jaring-jaring yang melibat pedang dan lengannya, tujuh orang pengeroyoknya
melepas pula jaring-jaringnya dengan berbareng!
“Keparat!” Ji Kun berteriak marah. Biar pun tubuhnya sudah tertutup jaring-jaring itu, pedangnya masih
mampu merobek jaring dan sekali bacok, tubuh dua orang lawan terbabat buntung di bagian pinggangnya!
“Hebat...!” Suma Hoat berseru lalu menubruk dari belakang, tangannya bergerak dan tiga buah totokan
kilat membuat Ji Kun mengeluh dan terguling roboh dalam keadaan pingsan! Suma Hoat cepat merampas
pedang yang mukjizat itu, bergidik memandang pedang yang mengeluarkan cahaya kilat, kemudian dia
memimpin sisa pasukan untuk mengeroyok Yan Hwa.
Gadis itu pun mengamuk dengan hebat. Pedangnya membuat para pengeroyok menjadi gentar karena
pedang-pedang pusaka yang terkenal ampuh di tangan beberapa orang perwira menjadi patah semua
ketika bertemu dengan pedang di tangan gadis itu.
Suma Hoat kagum bukan main ketika menyaksikan kehebatan gadis itu, juga menyaksikan kecantikannya
di bawah sinar obor yang dipegangi oleh beberapa orang tentara. Semenjak dia terpukul untuk ke tiga
kalinya, terpukul hatinya karena penolakan Maya, timbul pula penyakit lamanya dan tadi dia melampiaskan
kemarahan dan kekecewaannya dengan mempermainkan seorang gadis kemudian membunuhnya.
Namun ia masih merasa berduka, menyesal dan kecewa. Ternyata perbuatannya yang keji itu tidak
mampu memuaskan hatinya, bahkan menimbulkan penyesalan yang lebih besar lagi. Ketika lewat tengah
hari itu dia meninggalkan kamar gadis yang kini telah tewas di atas pembaringannya, dia melihat pasukan
yang tergesa-gesa lari ke arah utara. Dia cepat bertanya kepada Siangkoan Lee yang memimpin pasukan
itu, dan mendengar bahwa kini di luar kota, di kuil tua, pasukan-pasukan penjaga sedang berusaha
menangkap lima orang mata-mata yang lihai.
Suma Hoat terkejut, lalu dia ikut pula berlari ke luar kota di sebelah utara. Dia menyangka bahwa tentu
Maya dan kawan-kawannya. Sangkaannya ternyata tepat. Akan tetapi, melihat Maya mengamuk dengan
hebat itu, selain dia merasa tidak akan mampu menandingi wanita penghuni Istana Pulau Es itu, juga dia
merasa tidak tega untuk mengeroyok Maya yang dicintanya. Diam-diam dia merasa heran sekali kepada
diri sendiri. Mengapa dia tidak dapat membenci Maya yang terang-terangan telah menolak cintanya?
Mengapa dia tidak pernah pula dapat melupakan Khu Siauw Bwee yang juga tidak dapat membalas cinta
kasihnya? Benar-benar dia telah menjadi gila!
Dia, Jai-hwa-sian yang dapat memperoleh gadis-gadis cantik yang mana saja, baik dengan rayuan mau
pun dengan kekerasan, kini tergila-gila kepada dua orang gadis yang tidak mungkin didapatkannya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengapa hatinya jatuh cinta kepada dua orang gadis yang jelas menolaknya, sedangkan banyak gadisgadis
cantik hanya ingin ia dapatkan untuk memenuhi nafsu birahi dan sebagai balas dendam belaka?
Karena tidak sampai hati menyaksikan Maya dikeroyok, pula dia juga tidak berdaya menolongnya karena
hal ini selain akan membahayakan dia sendiri, juga akan membahayakan kedudukan ayahnya dan
membocorkan rahasia mereka bahwa sesungguhnya mereka itu memusuhi Kerajaan Sung Selatan dan
bersekutu dengan Yucen, maka Suma Hoat tidak mau mendekati Maya, sebaliknya dia membantu
Siangkoan Lee untuk menangkap pemuda yang lihai itu. Kini, menghadapi Yan Hwa, timbul gairah di
hatinya.
Dia tertarik dan ingin mendapatkan gadis ini. Dia sudah bosan dengan gadis-gadis cantik yang lemah, yang
hanya menangis kalau diperkosanya tanpa mampu melawan, yang tersenyum-senyum malu dan penuh
pura-pura kalau gadis itu kebetulan suka kepadanya. Kini, gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat
hebat! Dia sendiri belum tentu akan dapat mengalahkan gadis itu, apa lagi gadis itu memiliki sebatang
pedang yang hebat bukan main, pedang yang bentuk dan sinarnya serupa benar dengan pedang yang
dirampasnya dari tangan pemuda tadi. Aku harus mendapatkan gadis ini pikirnya. Maka dia lalu melompat
maju sambil menghunus pedang Lam-mo-kiam yang telah dirampasnya.
“Tranggg...!” Semua orang yang berdekatan dengan pertemuan sepasang pedang itu, menjadi silau
matanya dan banyak yang terhuyung mundur karena sepasang pedang yang bertemu dengan dahsyatnya
itu mengandung getaran yang mukjizat.
“Aihhhh..., Lam-mo-kiam...!” Yan Hwa menjerit kaget ketika pedangnya bertemu dengan pedang pegangan
suheng-nya itu. Dia memandang wajah pemuda tampan yang memegang pedang itu, kemudian bertanya
dengan suara membentak, “Bagaimana pedang Lam-mo-kiam bisa berada di tanganmu? Siapa engkau
dan di mana suheng-ku?”
Suma Hoat memandang dengan senyum lebar, “Ah, kiranya dia itu suheng-mu, Nona? Dia sudah
tertawan...”
“Bohong! Tak mungkin suheng tertawan oleh kalian!”
“Hemm, kalau belum tertawan, mana mungkin pedangnya dapat kurampas? Dan semua temanmu sudah
kalah, tinggal engkau seorang. Kalau engkau suka menyerah, aku menanggung bahwa engkau tidak akan
diganggu, bahkan soal suheng-mu... hemmm, marilah kita bicarakan. Melawan pun takkan ada gunanya,
Nona.”
Yan Hwa terkejut dan memandang ke sekeliling. Benar saja dia tidak melihat lagi Maya yang tadi
mengamuk, dan tidak melihat lagi yang lain-lain. Bahkan kini semua pasukan sudah mengurungnya
sehingga kalau dia melawan, biar pun akan dapat membunuh banyak lawan, akhirnya dia tidak akan dapat
meloloskan dirinya. Dia memandang tajam. Pemuda ini amat tampan dan gagah, dan tidak memiliki sifat
kejam.
“Aku minta bukti lebih dulu bahwa suheng-ku benar-benar telah kau tawan!” katanya sambil melintangkan
pedangnya.
Suma Hoat tertawa dan memanggil Siangkoan Lee. “Bawalah tawanan itu agar nona ini dapat melihatnya!”
Siangkoan Lee mengerutkan alisnya. Dia tidak setuju dengan sikap putera gurunya, akan tetapi tentu saja
dia tidak berani membantah. Dia mengangguk lalu pergi lagi, tak lama kemudian dia mengawal empat
orang anak buahnya yang menggotong tubuh Ji Kun yang masih pingsan dan yang terbelenggu kuat-kuat.
“Suheng...!” Yang Hwa berseru dan pedangnya bergerak hendak mengamuk.
“Tranggg!” Pedang Suma Hoat menangkis pedangnya dan pemuda ini berkata, “Nona, lebih baik menyerah.
Percayalah, aku akan mengusahakan agar engkau dan suheng-mu dibebaskan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yan Hwa memandang. Jantungnya berdebar melihat sinar mata pemuda tampan itu memandangnya
penuh gairah. Kalau di sana ada jalan ke luar untuk membebaskan diri bersama suheng-nya, agaknya
jalan satu-satunya hanyalah menuruti kehendak pemuda tampan ini.
“Di mana teman-temanku yang lain?” Ia bertanya, masih belum mau tunduk dan menyerah begitu saja.
“Dua orang temanmu yang menyerbu dari belakang kuil telah tewas, sedangkan yang seorang lagi... eh,
wanita sakti itu, telah melarikan diri,” kata Suma Hoat. Di dalam hatinya girang sekali ketika tadi mendapat
kenyataan bahwa Maya telah berhasil melarikan diri.
Tidak ada jalan lain lagi, pikir Yan Hwa. Maya telah berhasil melarikan diri membawa berita rahasia itu
untuk disampaikan ke Sian-yang, sedangkan kedua orang perwira pembantu Maya telah tewas. Sekarang
yang terpenting adalah menyelamatkan diri sendiri dan suheng-nya.
“Engkau siapakah?” tanyanya.
Suma Hoat menjura. “Aku Suma Hoat...”
“Suma Hoat...?” Yan Hwa terkejut karena tentu saja dia telah mendengar akan nama Jenderal Suma Kiat.
Suma Hoat maklum akan isi hati gadis itu, maka dia melanjutkan, “Benar, aku adalah putera Sumagoanswe
yang terkenal. Kau lihat, aku bukan orang sembarangan, Nona, dan kata-kataku boleh engkau
percaya sepenuhnya.” Kemudian dengan berbisik ia menyambung, “Berikan pedangmu dan menyerahlah,
engkau dan suheng-mu akan selamat.”
Mendengar bisikan ini dan melihat sinar mata pemuda itu mengandung kesungguhan, Yan Hwa memutar
pikirannya cepat sekali. Kalau dia melawan dan sampai tertawan seperti suheng-nya, tidak ada harapan
lagi bagi mereka berdua. Sebaliknya kalau dia menyerah, dia masih dapat melihat keadaan dan mungkin
dapat menyelamatkan diri bersama suheng-nya. Semua harapan sudah buntu, kenapa tidak berpegang
kepada satu harapan ini, betapa pun tipisnya? Ia mengangguk dan tanpa berkata sesuatu dia
menyerahkan pedangnya.
Suma Hoat girang sekali, menerima pedang mukjizat itu lalu berkata kepada Siangkoan Lee dan para
perwira, “Aku yang telah menawan pemuda itu, dan gadis ini menyerah kepadaku. Mereka adalah
tawanan-tawananku. Siangkoan Lee, bawa pemuda itu ke rumah dan masukkan ke dalam tahanan di
bawah tanah, jaga yang kuat.”
Siangkoan Lee mengangguk. Kini dia mentaati perintah putera majikan atau gurunya karena dia
menyangka bahwa tentu ‘ada apa-apanya’ dengan kedua orang mata-mata itu sehingga putera gurunya
sengaja menawan mereka. Agaknya ada hubungannya dengan persekutuan antara majikannya dengan
Kerajaan Yucen. Apakah dua orang muda itu mata-mata Yucen? Maka dia lalu menggunakan pengaruhnya
untuk menekan para pengawal dan menyuruh mereka melaporkan bahwa dua orang mata-mata telah
terbunuh, seorang berhasil melarikan diri, sedangkan dua orang lagi yang tertawan oleh putera Jenderal
Suma sedang diselidiki oleh karena keadaan dua orang itu masih disangsikan apakah mereka benar-benar
rnata-mata ataukah hanya terlibat saja dalam keributan yang digerakkan oleh para pengemis pemberontak
itu.....
********************
“Usul yang gila, dan engkau seorang manusia yang mata keranjang! Siapa yang percaya bahwa engkau
akan memegang janji?” Yan Hwa dengan muka berubah merah sekali bangkit dari ternpat duduknya,
memandang Suma Hoat dengan mata bersinar penuh kemarahan dan keheranan setelah mendengar usul
yang diajukan pemuda itu kepadanya. Mereka berada di sebuah kamar yang mewah dan serba indah,
kamar tidur pemuda itu sendiri.
Suma Hoat tersenyum dan tetap duduk di atas pembaringan menghadapi gadis itu. “Tenanglah, Nona dan
duduklah. Mungkin sekali aku sudah gila, dan tidak kusangkal bahwa aku adalah seorang yang mata
keranjang. Hati siapakah yang takkan terpesona oleh kecantikan seperti yang kau miliki? Akan tetapi,
dunia-kangouw.blogspot.com
penukaran yang kuajukan cukup adil, dan engkau harus percaya kepadaku karena banyak hal yang
mengharuskan aku membebaskan engkau dan suheng-mu.”
“Hemm, hal-hal apakah yang menjadi alasanmu?”
“Pertama, engkau dan suheng-mu bukanlah musuh-musuhku, bahkan tidak kukenal. Untuk apa aku
mencelakakan kalian? Kedua, kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi, bermusuhan dengan kalian sungguh
bukan perbuatan yang cerdik. Ketiga, kalian mengganggu Kerajaan Sung yang bukan menjadi negara yang
kami bela. Nah, kalau di antara kita terikat persahabatan baik, bukankah hal itu sangat menguntungkan?
Begitu melihatmu, hatiku tertarik dan timbul gairah di hatiku, Nona. Aku tidak akan memaksamu, akan
tetapi kiranya engkau tidak akan menganggap aku seorang laki-laki biasa apa lagi buruk rupa. Tidak
kurang banyaknya gadis yang suka kepadaku, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang menarik
hatiku. Nah, bagaimana jawabanmu, Nona?”
Muka gadis itu tidak semerah tadi, namun jantungnya masih berdebar keras. Pemuda ini memang tampan
sekali, akan tetapi usul dan permintaan pemuda itu benar-benar merupakan hal yang selama hidupnya
belum pernah ia dengar, maka tentu saja dia merasa tegang dan malu.
“Coba ulangi lagi usulmu, agar aku tidak salah tangkap,” katanya menekan hatinya agar suaranya tidak
gemetar.
Suma Hoat tersenyum, diam-diam merasa geli karena dia sudah tahu betapa hati nona itu berdebar penuh
ketegangan. Hal ini menyenangkan hatinya karena berarti bahwa dara kang-ouw ini tidak biasa melakukan
perbuatan seperti dimintanya. Tidak jarang terdapat wanita-wanita kang-ouw yang mengumbar nafsu
mengandalkan kepandaiannya, bersenang-senang dan memuaskan nafsu birahi dengan pria-pria tampan.
Namun gadis ini agaknya bukan semacam wanita pengejar nafsu.
“Begini, Nona. Aku akan membebaskan engkau dan suheng-mu keluar dari kota ini asal engkau mau
melayani aku sebagai kekasih sampai besok pagi, jadi sehari semalam.”
Kembali wajah Yan Hwa menjadi merah sekali. “Usul gila!” Kembali ia mengulang karena hampir dia tidak
percaya akan ada orang yang berani mengajukan usul segila ini kepadanya. “Kalau sekarang aku
menyerangmu, apakah engkau kira akan dapat hidup lebih lama lagi? Betapa berani engkau!”
Suma Hoat tersenyum. “Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepadamu, Nona. Aku sudah
cukup menyaksikan kelihaianmu dan belum tentu aku akan dapat bertahan kalau engkau menyerangku
sekarang. Akan tetapi, hal itu sudah kuperhitungkan masak-masak. Aku boleh saja kau bunuh, akan tetapi
apakah engkau dan suheng-mu akan dapat meloloskan diri dari sini? Dan sepasang pedang kalian yang
ampuh itu, tidak sayangkah engkau?”
“Sepasang Pedang Iblis milik kami itu kau kembalikan pula kalau kami kau bebaskan?”
”Tentu saja! Aku bukan seorang pencuri pedang yang hina! Aku hanyalah seorang pencuri hati, pencuri
wanita-wanita cantik seperti Nona...”
“Engkau laki-laki cabul!”
“Aku hanyalah seorang laki-laki cabul yang berterus terang, tidak seperti semua laki-laki cabul yang
menyembunyikan kecabulannya di balik kemunafikan mereka. Nona, aku tergila-gila kepadamu, akan
tetapi aku tidak memaksamu. Aku seperti seekor kumbang yang tertarik akan madu manis yang
terkandung dalam setangkai kembang. Engkaulah kembang itu dan aku hanya mengharapkan engkau
membukakan kelopak bungamu kepadaku. Aku mengharapkan sari madu cintamu, kubeli dengan
kebebasan engkau dan suheng-mu. Bukankah ini sudah adil namanya?”
“Kalau engkau melanggar janji?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Suma Hoat mengangkat muka, alisnya berkerut dan matanya bersinar. “Aku adalah seorang laki-laki,
seorang jantan! Melanggar janji, apa lagi terhadap seorang wanita cantik seperti Nona, merupakan
pantangan besar bagiku!”
Yan Hwa merasa terjepit, tidak ada jalan ke luar yang lebih baik. Kalau dia marah-marah dan menyerang
orang ini, bahkan andai kata dia berhasil membunuhnya, hal yang masih harus diragukan karena Suma
Hoat ini memiliki kepandaian yang tinggi pula, apakah untungnya bagi dia dan suheng-nya? Dia tentu akan
dikepung, dan tanpa Li-mo-kiam di tangan, apa lagi suheng-nya masih ditawan, akhirnya mereka berdua
hanya akan membuang nyawa sia-sia. Kalau dia menurut... ah, pemuda itu tampan dan gagah sekali, tidak
kalah oleh Ji Kun.
Teringat akan Ji Kun, dia membayangkan watak Ji Kun yang kadang-kadang juga mata keranjang. Ketika
mereka menawan seorang di antara gadis-gadis cantik dari kereta para siuli, bukanlah Ji Kun juga
memperlihatkan kenakalannya? Apa kata suheng-nya itu? Hanya kulit yang bersentuhan, namun hati dan
cintanya adalah miliknya! Hemm, kalau dia melayani permainan Suma Hoat, bukankah dia pun hanya
mengorbankan kulit dan daging belaka, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hatinya yang
mencinta Ji Kun seorang? Apa lagi kalau diingat bahwa ‘pengorbanannya’ itu untuk menyelamatkan nyawa
Ji Kun pula!
“Bagaimana, Nona?” Suma Hoat mendesak.
“Kalau aku menolak?”
“Tidak ada lain jalan kecuali memanggil para pengawal agar engkau ditawan pula dan bersama suheng-mu
diseret ke depan pengadilan. Engkau tentu tahu bahwa aku tidak menakut-nakutimu kalau kuberi tahu
bahwa hukuman bagi mata-mata adalah penggal kepala.”
“Kalau sekarang aku membunuhmu?”
“Sama saja, engkau dan suheng-mu juga akan mati konyol. Bagiku mati di tanganmu yang halus itu
merupakan mati yang terhormat dan menyenangkan. Silakan pilih, aku siap mendengar pilihanmu.”
Yan Hwa merasa betapa jantungnya makin berdebar. Kamar ini begini indah, perabot-perabotnya serba
mewah dan mahal, tempat tidur itu kelihatan amat menyenangkan dan tentu enak dipakai tidur, dan bau
harum dari pembaringan itu menyentuh hidungnya. Seperti kamar seorang puteri istana saja! Dan pemuda
di depannya yang memandang dengan mata bersinar-sinar, dengan bibir tersenyum, merupakan calon
teman yang menyenangkan.
Dengan jantung berdebar dan suara lirih hampir tidak terdengar, Yan Hwa mengangguk dan berkata,
“Baiklah, aku menerima usulmu. Akan tetapi, kalau sampai engkau melanggar janji, aku bersumpah untuk
menghancurkan kepalamu dan menyayat-nyayat tubuhmu!”
”Terima kasih, engkau sungguh seorang dara yang cerdik dan menyenangkan sekali! Ahh, Nona, betapa
keputusanmu itu mendatangkan rasa gembira yang hebat di hatiku. Terima kasih!” Suma Hoat melompat
turun, merangkul Yan Hwa dan mencium dara itu dengan kemesraan yang membuat Yan Hwa menjadi
nanar. Belum pernah dia dicium orang seperti itu. Ji Kun pun belum pernah menciumnya semesra itu! Dia
tidak tahu bahwa yang mendekap dan menciuminya adalah Jai-hwa-sian, seorang yang tentu saja amat
ahli dalam permainan cinta!
“Kebaikanmu harus dirayakan, Nona!” Suma Hoat menghampiri pintu, membuka daun pintu dan
memanggil pelayan, menyuruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi, dan hidangan yang mewah,
masakan-masakan termahal dan terlezat bersama arak yang paling baik!
Kalau tadinya Yan Hwa masih merasa berat, malu-malu, dan merasa bahwa dia telah melakukan suatu
perbuatan maksiat yang hina dan kotor, lambat laun perasaan itu lenyap sama sekali terganti perasaan
girang dan senang yang luar biasa berkat kepandaian Suma Hoat merayunya. Kalau masih ada awan tipis
menyelubunginya, segera awan itu tertiup pergi oleh hiburan paksaan berupa pendapat bahwa dia
melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawa suheng-nya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Manusia adalah makhluk yang amat lemah terhadap nafsunya sendiri. Kelemahan ini ditambah lagi dengan
bermacam perasaan bersalah karena larangan-larangan yang mereka ciptakan sendiri sehingga setiap
perbuatan mereka adalah tidak wajar dalam usaha mereka menghindarkan diri dari pelanggaran larangan
itu.
Demikian pula dengan Yan Hwa. Kalau memang dia tidak bersikap palsu, maka baginya hanya tinggal
memilih apa yang akan dilakukannya sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa penyesalan tanpa pura-pura
dan tanpa mencari kambing hitam sebagai alasan pendorong perbuatannya. Dia seorang wanita yang
lemah, mudah jatuh di bawah rayuan pria tampan seperti Suma Hoat. Akan tetapi, dia hendak menutupi
kelemahannya ini dengan alasan yang dicari-cari sehingga semua perbuatannya adalah tidak wajar dan
karenanya menjadi kotor.
Sehari semalam kedua orang itu mandi dalam telaga asmara, tiada bosan-bosannya. Pada keesokan
harinya, pagi-pagi sekali sebelum sinar matahari mengusir kegelapan malam, keduanya mengakhiri
permainan cinta mereka karena sudah tiba saatnya dalam perjanjian mereka untuk membebaskan Yan
Hwa dan Ji Kun.
Dengan hati penuh kagum dan puas, Suma Hoat mencium Yan Hwa sambil berkata, ”Ah, engkau dan aku
cocok sekali, Yan Hwa.”
Sejenak Yan Hwa membalas ciuman itu, kemudian didorongnya dada Suma Hoat sambil berkata, “Cukup,
Suma Hoat. Kau tahu bahwa aku melakukan semua itu untuk menebus keselamatan aku dan suheng.”
“Ha-ha-ha, tak usah kau berpura-pura, manis. Beranikah engkau menyangkal bahwa engkau pun seperti
aku, menikmati hubungan kita yang pendek ini?”
“Tak perlu kusangkal. Engkau memang seorang laki-laki yang hebat. Akan tetapi aku tidak cinta kepadamu
seperti juga engkau tidak mencintaku. Aku telah mencinta orang lain.”
“Suheng-mu sendiri?”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Ha-ha, apa sukarnya menduga? Engkau telah rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Aku tidak
menyalahkan engkau. Suheng-mu seorang laki-laki yang tampan dan gagah perkasa. Kalian berdua
memiliki ilmu kepandaian yang amat dahsyat, memiliki Sepasang Pedang Iblis yang mukjizat. Yan Hwa,
sebelum kita berpisah dan mungkin kita tidak akan saling berjumpa kembali, mengingat akan kemesraan
yang sudah sama-sama kita nikmati, maukah engkau sekarang mengaku, sebetulnya engkau dan suhengmu
itu dari perguruan mana?”
“Sudah kukatakan bahwa keadaan kami adalah rahasia kami. Harap kembalikan dulu pedang kami.”
Suma Hoat menarik napas panjang, lalu mengambil Sepasang Pedang Iblis dari balik jubahnya yang
digantung di sudut. “Kau lihat, hanya kutaruh di sini, tidak kusembunyikan, untuk membuktikan betapa aku
telah percaya penuh kepadamu.”
Yan Hwa menerima sepasang pedang itu, mengikat sarung Li-mo-kiam di pinggang sedangkan Lam-mokiam
ia gantungkan di punggung. Ia memandang Suma Hoat dan berkata dengan senyum, “Baiklah, Suma
Hoat. Di antara kita sebetulnya masih ada hubungan, biar pun hubungan di antara kita penuh dendam
permusuhan. Kulihat engkau, biar pun... mata keranjang dan tukang perayu wanita, tidak jahat seperti
ayahmu. Aku dan suheng adalah murid mendiang subo kami, Mutiara Hitam.”
Wajah Suma Kiat menjadi pucat. “Apa...? Murid Bibi... Kam Kwi Lan Si Mutiara Hitam... dan engkau sudah
tahu bahwa aku masih keponakannya?”
Yan Hwa mengangguk. “Ayahmu, Jenderal Suma Kiat amat jahat dan curang. Dia mengakibatkan
kematian Supek Kam Liong dan muridnya. Agaknya semenjak dahulu antara keturunan Suma dan
dunia-kangouw.blogspot.com
keturunan Kam selalu timbul permusuhan karena kejahatan keluarga Suma. Akan tetapi, kulihat engkau
tidak jahat hanya... mata keranjang!”
Suma Hoat tersenyum kecut. “Tidak perlu kau ulangi lagi, Yan Hwa. Aku tidak akan menyangkal akan
sifatku yang suka merayu dan bermain cinta dengan wanita cantik. Untuk itulah maka aku dijuluki Jai-hwasian.”
“Engkau Jai-hwa-sian? Hemm, pantas! Sudahlah, mari antar aku kepada Suheng dan biarkan kami pergi.
Mudah-mudahan saja jalan hidup antara kita akan bersimpangan karena aku tidak ingin merusak kenangan
manis kemarin dan malam tadi dengan bentrokan karena sekali kita saling bentrok, aku takkan suka
mengampunimu, Suma Hoat.”
Suma Hoat mengangguk lalu mengajak Yan Hwa mengambil jalan rahasia menuju ke tempat tahanan di
bawah tanah. “Kau tunggu di sini. Kalau terjadi keributan dan teriakan kebakaran sehingga semua penjaga
lari meninggalkan pintu di sana itu, barulah kau masuk, bebaskan suheng-mu dan lari melalui jalan ini.”
Suma Hoat menerangkan jalan rahasia ke luar dari tempat itu.
Setelah Yan Hwa mengerti betul, dia lalu merangkul Yan Hwa, mencium bibirnya dan berbisik, “Selamat
berpisah, Yan Hwa, aku tidak cinta padamu akan tetapi aku takkan pernah dapat melupakanmu. Kau
bersembunyi di sini dan tunggu sampai ada teriakan kebakaran.”
Yan Hwa mengangguk dan melihat bayangan pemuda itu berkelebat lenyap. Tak lama kemudian, benar
saja seperti yang dipesankan Suma Hoat, tampak sinar api dan asap membubung tinggi dan terdengar
teriakan-teriakan,
“Kebakaran...! Kebakaran...! Tolong... padamkan api...!”
Ributlah keadaan di situ. Setelah Yan Hwa melihat para penjaga yang tadinya berkumpul di pintu berlarilari
membawa ember dan lain-lain alat pemadam kebakaran, dia cepat menyelinap memasuki pintu dan
menuruni anak tangga ke bawah. Dilihatnya Ji Kun meringkuk rebah miring di atas bangku di dalam
sebuah kamar tahanan yang terbuat dari besi. Pintu dan jendelanya kuat sekali, akan tetapi beberapa kali
bacokan dengan pedang Li-mo-kiam, Yan Hwa sudah berhasil membuka pintu.
“Sumoi...” Bagaimana kau bisa bebas...?”
“Sstt, bukan waktunya bicara.” Yan Hwa menggunakan pedangnya mematahkan belenggu kaki tangan Ji
Kun, kemudian ia menyerahkan Lam-mo-kiam kepada suheng-nya dan menarik tangannya, mengajak
keluar dari tempat itu.
“Bagus, agaknya engkau telah memancing mereka dengan kebakaran, Sumoi! Mari kita amuk dan
binasakan mereka sebelum pergi dari sini!” Ji Kun berkata setelah mereka keluar dari tempat tahanan di
bawah tanah dan dia menyaksikan api yang berkobar tinggi dan orang-orang yang sibuk memadamkan api.
“Hushhh, jangan, Suheng. Setelah susah payah aku berhasil membebaskan kita berdua, apakah akan kau
rusak dengan memasuki bahaya tertawan lagi? Hayo kita pergi, ikut dengan aku!”
Dengan mengikuti petunjuk yang diterimanya dari Suma Hoat, akhirnya Yan Hwa berhasil membawa
suheng-nya keluar dari istana dan tembok kota Siang-tan, kemudian melarikan diri secepatnya di dalam
cuaca remang-remang karena pagi telah tiba.
Setelah lewat tengah hari dan mereka sudah jauh sekali di sebelah utara kota Siang-tan, dan napas
mereka mulai memburu, tubuh penuh keringat, barulah kedua orang ini berhenti mengaso di sebuah hutan
kecil. Bahkan Yan Hwa yang amat lelah dan semalam suntuk berenang dalam lautan cinta bersama Suma
Hoat sehingga tubuhnya terasa lemas, segera tertidur pulas di bawah pohon, dihembus angin semilir sejuk.
Ji Kun memandang sumoi-nya yang tidur nyenyak dan diam-diam ia merasa terheran-heran melihat wajah
sumoi-nya mangar-mangar, bibirnya tersenyum dalam tidurnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sumoi-nya kelihatan seperti orang yang bergembira, penuh kepuasan, sama sekali bukan seperti orang
yang habis tertawan. Dan bagaimanakah sumoi-nya dapat menolongnya sedang pihak musuh demikian
banyak dan lihai? Bagaimana pula dapat merampas kembali Lam-mo-kiam? Apa yang terjadi dengan Maya
dan kedua orang perwira pembantunya? Dia tadi tidak sempat bicara karena mereka harus melarikan diri
secepatnya dan begitu mereka berhenti mengaso, Yang Hwa sudah merebahkan diri dan tidur nyenyak!
********************
Kita meninggalkan dulu Yan Hwa yang tidur pulas dan suheng-nya yang memandang dengan heran dan
menduga-duga, karena pada hari itu juga, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu berhasil menyelundup ke kota
Siang-tan. Karena sudah lama kita meninggalkan Siauw Bwee, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, pendekar wanita yang sakti ini berhasil keluar dari kota Sianyang
berkat bantuan Suma Hoat dan kemudian setelah keluar dari kota itu, dia bertemu kembali dengan
pemuda ini yang ternyata adalah sute dari Coa Leng Bu. Diceritakan pula betapa Suma Hoat tergila-gila
kepadanya dan secara terus terang menyatakan cintanya yang tentu saja ditolak oleh Siauw Bwee. Betapa
pun juga Siauw Bwee tidak mengganggu pemuda itu biar pun kenyataan bahwa pemuda itu putera tunggal
musuh besarnya, Suma Kiat, membuat dia semestinya membenci Suma Hoat. Namun sikap pemuda itu
malah menimbulkan perasaan iba di hatinya.
Setelah Suma Hoat pergi yang membuat heran hati Coa Leng Bu karena kakek ini tidak mengetahui
sebab-sebabnya, juga tidak berani bertanya kepada Siauw Bwee, mereka melanjutkan perjalanan menuju
ke kota Siang-tan. Siauw Bwee ingin sekali bertemu dengan suheng-nya, ingin menyelidiki sikap suhengnya
yang aneh, yang menurut dugaan supek-nya itu tentu menjadi korban racun perampas semangat.
Sebagai orang-orang Han, tentu saja lebih mudah bagi mereka memasuki kota Siang-tan yang masih
diduduki oleh pasukan Sung dari pada memasuki kota Sian-yang yang telah dikuasai bala tentara Mancu.
Bersama rombongan pengungsi, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu memasuki pintu gerbang kota.
Akan tetapi, pada pagi hari itu penjagaan di pintu gerbang kota Siang-tan tidaklah seperti biasa. Biar pun
para pengungsi itu adalah suku bangsa sendiri, namun setiap orang pengungsi harus digeledah dan setiap
buah senjata yang ada pada mereka dirampas. Hal ini adalah akibat kekacauan yang terjadi kemarin, di
mana para pengungsi mengamuk dan lima orang mata-mata ketahuan dan dikejar-kejar.
Ketika tiba giliran Siauw Bwee digeledah, hampir saja terjadi keributan. Melihat dua orang penjaga yang
menyeringai dan memandangnya dengan muka kurang ajar, hati Siauw Bwee menjadi panas sekali. Para
pengungsi lain cukup digeledah barang-barang bawaan mereka dan diharuskan menyerahkan senjata
yang menempel di tubuh, akan tetapi melihat Siauw Bwee yang cantik jelita, dua orang petugas itu timbul
gairahnya dan keceriwisannya.
“Aha, Nona harus digeledah. Silakan masuk ke pondok penjaga, harus kami geledah kalau-kalau Nona
menyembunyikan senjata atau surat-surat penting di dalam pakaian Nona. Kami takkan bersikap kasar
terhadap Nona yang cantik jelita.”
Hampir saja Siauw Bwee melayangkan tangannya menampar petugas itu, akan tetapi Coa Leng Bu cepat
menyentuh lengannya. Kakek ini menjura kepada dua orang petugas itu. “Harap Ji-wi suka memaafkan
kami. Keponakanku ini tidak membawa senjata lain kecuali pedangnya. Pedang sudah kami berikan,
mengapa harus digeledah pakaiannya lagi sedangkan para pengungsi lainnya tidak?”
“Hemm, engkau tak tahu, orang tua! Di antara mata-mata yang dikejar semalam, terdapat beberapa orang
gadis muda yang cantik. Dalam keadaan perang seperti ini, gadis-gadis cantik, pengemis-pengemis tua,
orang-orang yang kelihatan lemah dan biasa malah mencurigakan, karena para mata-mata selalu
menyamar sebagai orang-orang lemah.”
“Alasan dicari-cari! Kalau aku mata-mata, masa akan masuk kota begini saja? Katakan saja kalian kurang
ajar agar aku mendapat alasan untuk menghajar kalian!” Siauw Bwee membentak dan telapak tangannya
sudah terasa hendak ‘mencium’ muka dua orang penjaga yang menyebalkan hatinya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ssstt, sabarlah, Lihiap,” kata Coa Leng Bu yang segera berkata kepada dua orang yang kelihatan marah
oleh kata-kata Siauw Bwee tadi. “Harap Ji-wi tidak mengganggu. Ketahuilah bahwa aku adalah suheng dari
Suma Hoat, putera Jenderal Suma Kiat. Kalau sampai terjadi keributan antara kita dan terdengar oleh
Suma-goanswe, akan membuat hati tidak enak saja.”
Mendengar ini, pucatlah wajah kedua orang penjaga itu. Mereka membungkuk-bungkuk, meminta maaf
dan mempersilakan mereka memasuki kota tanpa banyak cakap lagi.
”Huh, menyebalkan sekali anjing-anjing penjilat itu!” Siauw Bwee mengomel.
“Kita harus dapat memaafkan mereka, Lihiap. Mereka hanyalah petugas-petugas yang menjalankan
kewajibannya.”
“Supek, perlu apa membela orang-orang macam itu? Kalau memang para petugas menjalankan
kewajibannya dengan baik dan teliti, siapa yang akan membantah dan mencela? Aku malah akan
menghargainya dan kagum. Ayah pernah bilang bahwa seorang petugas harus memiliki kesetiaan kepada
tugasnya. Akan tetapi mereka itu? Hemm..., mereka hanya melakukan tugas dengan keras penuh tekanan
kepada mereka yang lemah dan miskin. Mereka yang mampu memberi uang sogokan tidak digeledah, dan
wanita-wanita muda yang sudi bersikap manis kepada mereka tentu akan terbebas pula dari
penggeledahan. Engkau tadi baru menggunakan nama besar Jenderal Suma saja sudah membuat mereka
mundur dan melipat buntut seperti anjing-anjing penjilat ketakutan. Menyebalkan.” Siauw Bwee memang
marah sekali karena nama musuh besarnya, Suma Kiat, terpaksa dipergunakan oleh supek-nya untuk
menghindarkan keributan.
“Lihiap, engkau adalah seorang yang biar pun masih amat muda, telah berhasil memiliki ilmu kepandaian
yang amat hebat. Namun, tetap saja engkau masih muda dan perlu mempelajari soal hidup dan lebih
mengenal diri sendiri agar kesadaran menuntunmu dan membuat pandang matamu waspada terhadap
segala yang terjadi di sekelilingmu. Belajarlah untuk berani menghadapi kenyataan yang bagaimana pun
juga, Lihiap. Menghadapi kenyataan tanpa penilaian dan tanpa perbandingan. Tanpa ingatan akan masa
lalu dan renungan akan masa depan, maka engkau akan dapat melihat kenyataan itu seperti apa adanya,
membuat engkau akan tetap tenang biar pun menghadapi apa pun juga. Dalam keadaan tenang
sewajarnya inilah maka segala tindakanmu akan dapat kau pergunakan dengan tepat, dan engkau tidak
akan terseret oleh kemarahan dan penasaran, penyesalan mau pun harapan, karena ketenangan yang
timbul dari kewaspadaan ini akan dapat membuat engkau bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan.”
Siauw Bwee menjadi termenung. Pantas supek-nya ini selalu tenang, kiranya memiliki dasar kesadaran
yang amat mendalam. Dia menjadi malu kepada diri sendiri yang mudah dibangkitkan rasa penasaran dan
kemarahannya yang sesungguhnya hanya berdasarkan untung rugi bagi diri pribadinya saja.
“Maafkan kemarahanku tadi, Supek. Pikiranku sedang gelisah memikirkan Suheng, sehingga aku mudah
tersinggung. Aku akan langsung mencari di mana gedung tempat tinggal Bu-koksu, karena Suheng tentu
berada di sana pula.”
“Berbahaya sekali kalau langsung pergi ke sana, Lihiap.”
“Supek, aku tidak takut. Kurasa, aku akan sanggup menghadapi semua pengawal Bu-koksu...”
“Apakah engkau akan mampu pula menandingi Kam-taihiap, suheng-mu itu?”
”Ahhh... kalau dia... tentu saja aku takkan mampu, dia adalah suheng-ku dan juga guruku, karena dialah
yang membimbingku dahulu.”
“Nah, kalau begitu, harap jangan tergesa-gesa dan sembrono. Bukankah suheng-mu itu telah hilang
ingatan dan tidak mengenalmu lagi? Kalau kau menyerbu ke sana, tentu dia akan membela Bu-koksu dan
mau tidak mau engkau akan berhadapan dengan dia.”
Siauw Bwee terkejut dan menjadi bingung, lalu menghela napas. “Aihhh, benar juga, habis bagaimana
baiknya, Supek?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kita harus bersabar. Sebaiknya kita mencari rumah penginapan lebih dulu, kemudian baru kita menyelidiki
dengan diam-diam. Jalan terbaik adalah mencari kesempatan untuk dapat berjumpa berdua dengan
suheng-mu itu dan membujuknya untuk suka kuobati. Atau, kalau sekiranya sukar mencari kesempatan ini,
aku dapat meminta bantuan Sute. Kurasa Suma-sute juga berada di kota ini.”
Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak enak kalau dia harus minta bantuan Suma Hoat,
pemuda putera musuh besarnya, juga pemuda yang ia tolak cintanya itu.
“Coa-supek, terima kasih atas nasehatmu yang amat berharga. Memang sebaiknya begitulah dan kuminta
bantuan Supek agar Supek mempersiapkan obat-obat untuk menyembuhkan suheng-ku. Sebaiknya Supek
mempersiapkan tempat dan obat lebih dulu, aku akan menyusul setelah aku berhasil membujuk Suheng.”
“Soal tempat, aku sudah memilih untuk keperluan itu. Hutan yang kita lewati kemarin, hutan yang penuh
pohon pek itu merupakan tempat yang amat baik, apa lagi aku melihat banyak tetumbuhan obat di
sekitarnya. Kalau kita berhasil membujuk suheng-mu, sebaiknya kita ajak dia ke sana, kita bersembunyi di
bagian yang sunyi dalam hutan itu dan aku akan berusaha mengobatinya.”
“Bukan kita, Supek, melainkan aku sendiri. Aku sendiri yang akan mencari dan membujuknya. Harap
Supek mempersiapkan tempat dan mencari obat-obatnya. Pekerjaan ini amat berat, dan kalau Supek ikut,
aku khawatir kalau dia akan curiga dan tidak mau memenuhi permintaanku.”
Coa Leng Bu mengangguk-angguk. “Engkau benar, Lihiap. Di sini banyak terdapat orang lihai, dan dengan
kepandaianku yang masih rendah, aku hanya akan menjadi penghalang saja. Baiklah, kita berpisah di sini,
aku akan menuju ke hutan itu dan mempersiapkan obat-obatnya yang harus kucari lebih dulu. Kau berhatihatilah
dan semoga kau berhasil membujuknya pergi ke sana.”
“Aku sama sekali bukan bermaksud merendahkan kepandaianmu, Supek...”
“Tidak, memang kenyataannya demikian. Aku tidak menyesal, dan selamat tinggal, Lihiap, semoga semua
berjalan baik.” Setelah berkata demikian, kakek itu meninggalkan Siauw Bwee kembali ke pintu gerbang
dan keluar dari kota Siang-tan.
Siauw Bwee menarik napas panjang. Ia merasa menyesal terpaksa harus mengeluarkan kata-kata
menyinggung hati supek-nya yang baik itu, sungguh pun ia yakin bahwa supek-nya yang bijaksana tidak
merasa tersinggung dan dapat melihat kenyataan bahwa kalau supek-nya ikut bersama dia mencari
suheng-nya, keadaan tidak akan menguntungkan mereka. Maka dia pun melanjutkan perjalanannya
memasuki kota besar Siang-tan, mencari-cari rumah penginapan.
Rumah penginapan Sin-lok adalah sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan mempunyai
rumah makan sendiri di sampingnya. Melihat rumah penginapan ini, Siauw Bwee menghampiri pintu dan
bermaksud hendak menyewa kamar di situ. Akan tetapi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika ada
suara orang berseru,
“Heii, Nona! Tunggu dulu!”
Ia menoleh dan kiranya yang menegurnya adalah seorang perwira pengawal yang memimpin pasukan
pengawal sebanyak dua belas orang. Agaknya mereka ini bertugas meronda di kota yang sudah bersiapsiap
menghadapi penyerbuan musuh dan yang kini melakukan penjagaan dan perondaan ketat setelah
kemarin terjadi keributan yang ditimbulkan oleh Maya dan para pembantunya, terutama sekali
pemberontakan beberapa orang pengemis yang berhasil dihasut oleh Kwa-huciang.
“Mau apa engkau menahan aku?” Siauw Bwee sudah bangkit lagi kemarahannya melihat perwira itu dan
semua anak buahnya memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum.
Perwira itu meraba gagang pedangnya dan berkata, “Harap Nona tidak melawan. Aku menangkap Nona
dan harap suka ikut ke kantor untuk diperiksa.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa salahku? Mengapa aku ditangkap dan diperiksa, untuk apa?” Siauw Bwee membentak, tidak
mempedulikan wajah beberapa orang yang sudah datang untuk menonton dan kini mereka memandang
kepada Siauw Bwee dengan muka khawatir menyaksikan sikap gadis itu yang galak dan berani melawan
pasukan pengawal.
“Kalau aku tidak salah lihat, aku pernah melihat Nona di Sian-yang. Kalau benar dugaanku, Nona adalah
seorang mata-mata. Kalau aku salah lihat, setelah diperiksa oleh komandan kami, Nona tentu akan
dibebaskan, disertai maaf kami.”
“Gila! Aku tidak mau ditangkap, tidak mau diperiksa. Aku seorang pengungsi, apakah kalian ini bisanya
hanya mengganggu wanita saja, sedangkan kalau musuh datang kalian lari terbirit-birit? Memalukan sekali!”
Muka Si Perwira menjadi merah. “Nona, kalau engkau melawan, hal itu hanya menunjukkan bahwa Nona
adalah seorang musuh. Kami hanya melakukan tugas, mengapa Nona hendak menggunakan kekerasan?”
“Siapa yang menggunakan kekerasan? Siapa yang memulai dengan pertentangan ini? Aku tidak ada
urusan dengan kalian, sudahlah, jangan mengganggu!” Siauw Bwee melangkah hendak pergi, memasuki
pintu rumah penginapan.
Akan tetapi perwira itu sudah menghadang dan kini sudah menghunus pedangnya. “Berhenti! Sikap Nona
makin mencurigakan dan kami terpaksa menangkap Nona. Kalau Nona menyerah dengan baik-baik, kami
akan mengiringkan Nona ke kantor. Kalau Nona melawan, terpaksa kami menggunakan kekerasan!”
Siauw Bwee makin naik darah. Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan di pinggang
dan ia menghardik, “Aku tidak mau ditangkap, hendak kulihat kalian akan bisa berbuat apa?”
“Tangkap dia!” Perwira itu mengeluarkan aba-aba.
Bagaikan kucing-kucing kelaparan memperebutkan seekor tikus, empat orang prajurit pengawal sudah
menubruk maju, penuh gairah untuk meringkus tubuh yang padat menggairahkan itu.
“Plak-plak-plak-plak!” Empat kali tangan Siauw Bwee menampar dan empat tubuh terlempar dan roboh
terjengkang seperti disambar petir!
“Ahh, ternyata dugaanku benar! Engkau bukan perempuan sembarangan, engkau adalah mata-mata yang
mengacau di Sian-yang itu!” Perwira muda itu mencabut pedangnya dan menerjang maju.
Akan tetapi, dengan gerakan kaki yang luar biasa, kaki kiri Siauw Bwee menendang, tepat mengenai
tangan yang memegang pedang sehingga pedang terlempar ke atas, kemudian disusul kaki kanan
menendang lutut, membuat perwira itu roboh terguling. Pedang yang meluncur turun itu disambut oleh
tangan Siauw Bwee yang membentak marah.
“Kau main pedang, ya? Nah, makan pedangmu sendiri!”
Gadis yang marah itu sudah menggerakkan pedang, bukan untuk membunuh hanya untuk sekedar melukai
memberi hajaran. Akan tetapi tiba-tiba sebutir kacang goreng melayang dan tepat menotok pergelangan
tangannya yang memegang pedang. Siauw Bwee terkejut bukan main karena totokan sebutir kacang
goreng itu membuat seluruh lengan kanannya tergetar dan lumpuh sehingga pedang rampasannya
terlepas dari pegangan! Betapa lihainya pelempar ‘senjata rahasia’ itu!
Dia dapat mengerahkan sinkang-nya sehingga lengannya pulih kembali dan cepat memandang ke atas
dari mana serangan tadi datang. Ia melihat seorang laki-laki duduk dengan tenang di atas loteng depan
rumah makan sambil minum arak dan makan kacang goreng, sama sekali tidak memandang ke bawah
seolah-olah tidak mengacuhkannya. Akan tetapi begitu melihat laki-laki itu jantung Siauw Bwee berdebar
keras. Kiranya orang yang melemparnya dengan kacang goreng adalah orang yang dicari-carinya, Kam
Han Ki. Pantas saja lemparannya demikian tepat menotok jalan darah di pergelangan tangannya dan
membuat pedangnya terlepas!
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suheng...!” Ia menjerit penuh kegirangan dan tubuhnya sudah melompat ke atas loteng itu, dipandang
oleh para pengawal dan penduduk yang menonton dengan mata terbelalak kagum.
Gerakan Siauw Bwee memang amat mengejutkan. Lompatannya itu seperti seekor burung terbang ke atas,
demikian indah dan cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata, hanya merupakan bayangan
berkelebat saja.
“Suheng...!” Kembali Siauw Bwee berkata setelah dia berdiri di depan pemuda itu yang memandangnya
dengan mata tak acuh dan masih melanjutkan minum araknya.
Melihat sinar mata suheng-nya ini, Siauw Bwee merasa seolah-olah jantungnya ditusuk ujung pedang.
Sinar mata suheng-nya membayangkan bahwa dia tidak mengenalnya sama sekali, seperti pandang mata
seorang asing, namun pandang mata itu mengandung teguran dan penyesalan.
“Suheng, ini aku, Siauw Bwee sumoi-mu!” Suara Siauw Bwee mengandung isak, hampir saja dia menangis
karena tidak kuat menahan kedukaan hatinya.
Kam Han Ki, pemuda itu, menurunkan guci araknya, memandang Siauw Bwee penuh perhatian dan
sepasang alisnya berkerut, penuh teguran. Suaranya halus namun penuh dengan penyesalan ketika ia
berkata, “Nona, aku sama sekali tidak mengerti akan sikapmu yang aneh, dan mengapa engkau selalu
menyebut suheng kepadaku. Aku tidak dapat menduga apakah sebabnya engkau bersandiwara seperti itu,
ataukah memang engkau salah mengenal orang. Kalau hendak mengatakan engkau gila, tidak mungkin.
Akan tetapi, yang amat kusayangkan adalah bahwa berkali-kali engkau mengacau. Dahulu di Sian-yang,
dan sekarang kembali engkau mengacau di sini. Kepandaianmu amat tinggi, jarang aku bertemu dengan
orang yang setinggi tingkat kepandaianmu. Akan tetapi sungguh sayang andai kata engkau pergunakan
kepandaianmu untuk mengkhianati negara.”
“Kam-suheng! Aku tidak mengkhianati siapa-siapa, aku... aku...” Siauw Bwee tak dapat melanjutkan katakatanya
saking sedih hatinya melihat keadaan suheng-nya yang benar-benar sama sekali tidak
mengenalnya.
“Hemm, engkau selalu membikin kacau dan kalau tadi tidak kucegah, bukankah engkau sudah melukai
seorang perwira pengawal?”
“Kam-suheng, aku sengaja mencarimu! Engkau... engkau telah kehilangan ingatan sehingga engkau tidak
ingat lagi kepadaku, sumoi-mu yang... yang setengah mati mencarimu. Aihh, Suheng... ingatlah, aku Siauw
Bwee... Suheng, benar-benarkah engkau lupa kepadaku?”
Han Ki memandang dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu menghela napas. “Sayang... sungguh
sayang... Engkau seorang dara remaja yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Sayang kalau sampai
pikiranmu tidak normal. Aku belum pernah bertemu denganmu, kecuali ketika engkau mengacau dan
menyerang Koksu di Sian-yang. Sungguh pun suaramu... ahh, tentu hanya dalam mimpi saja aku pernah
mendengar suaramu. Nona, kau pergilah dari kota ini, jangan mengacau lagi.”
Siauw Bwee maklum bahwa akan percuma saja dia mengingatkan suheng-nya ini yang sudah hilang
ingatannya. Dia seorang gadis cerdik, maka dia segera bertanya, “Kalau kau anggap aku sebagai seorang
pengkhianat dan pengacau, mengapa engkau tidak menangkap saja aku agar aku dihukum mati, atau tidak
kau bunuh saja aku? Betapa pun lihaiku, aku tidak akan dapat menang melawanmu. Mengapa?” Bertanya
demikian, sepasang matanya menatap tajam seolah-olah hendak menjenguk isi hati Han Ki.
”Aku tidak akan tega mencelakakan engkau, Nona. Aku tidak suka membikin susah orang lain, apa lagi
engkau!”
“Mengapa aku diistimewakan?”
Han Ki bukanlah seorang yang pandai bicara, maka dia merasa terdesak di sudut. Setelah memandang
gadis itu dengan pandang mata bingung, dia menarik napas panjang dan menjawab, “Entah mengapa...
aku... aku kasihan kepadamu. Engkau seorang gadis yang amat baik, amat lihai, sungguh aku tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
mengerti mengapa engkau pura-pura mengenalku sebagai suheng-mu. Sudahlah, mari kau kuantar keluar
dari kota agar engkau dapat pergi dengan aman.”
Ia menjenguk ke bawah dan melihat pasukan-pasukan pengawal datang mengurung tempat itu, ia
menggerakkan tangan berkata, “Pergilah kalian semua! Biarkan aku sendiri yang mengurus Nona ini!”
Siauw Bwee juga menjenguk ke bawah dan ia melihat betapa para perwira komandan pasukan
memandang Han Ki dengan heran, akan tetapi mereka tidak berani membantah dan pergilah para pasukan
pengawal itu.
Harus membujuknya di tempat sunyi, pikir Siauw Bwee, agar tidak terganggu orang lain. “Baiklah, mari kau
antar aku keluar kota,” akhirnya dia berkata.
“Baik, aku akan mengantarmu ke luar kota dan setelah itu engkau harus pergi dan berjanji padaku tidak
akan mengacau di kota lagi karena aku akan merasa menyesal sekali kalau aku terpaksa harus
melawanmu sebagai musuh.” Pemuda itu lalu memanggil pelayan, membayar makan minumnya lalu
meloncat turun dari loteng diikuti oleh Siauw Bwee yang menjadi girang sekali.
Dengan diantar oleh Kam Han Ki, pengawal kepercayaan Bu-koksu, tidak ada seorang pun berani
mengganggu Siauw Bwee dan dengan tenang Siauw Bwee berjalan di samping suheng-nya keluar dari
pintu gerbang utara. Bukan main girangnya hati Siauw Bwee dapat berjalan bersama suheng-nya yang
diam saja. Melihat betapa para penjaga memberi hormat kepada Han Ki, hatinya terasa perih dan berduka.
Biar pun dia berjalan di samping suheng-nya, namun Kam Han Ki pada saat itu bukanlah suheng-nya,
melainkan pengawal nomor satu dari koksu negara.
Akan tetapi baru saja mereka keluar dari pintu gerbang, terdengar suara kaki kuda berderap dan
sepasukan pengawal melakukan pengejaran dari belakang. Dari jauh terdengar suara yang amat
berpengaruh dan melengking nyaring tanda bahwa yang mengeluarkan suara menggunakan khikang yang
amat kuat.
“Kam-siauwte, berhenti dulu!”
Han Ki menghentikan langkahnya, lalu berkata kepada Siauw Bwee. “Nona, itu Koksu bersama para
pengawalnya datang. Lebih baik kau lekas lari pergi, biarlah aku yang akan membujuknya agar
melepaskan engkau dan tidak melakukan pengejaran sehingga tidak terjadi bentrokan antara engkau dan
pihak kami.”
Siauw Bwee maklum bahwa dalam keadaan kehilangan ingatan ini, Han Ki telah menjadi pengawal yang
setia dari Bu-koksu, dan apa bila dia menggunakan kepandaiannya melawan Koksu, kesetiaan di hati Han
Ki tentu akan memaksa pemuda itu memihak Koksu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa betapa pun
suheng-nya kehilangan ingatan, namun sifatnya sebagai pendekar masih tidak lenyap sehingga suhengnya
itu tentu tidak akan membiarkan dia yang dianggapnya sebagai seorang gadis yang tidak dikenalnya,
celaka di tangan Koksu. Kalau dia lari pergi begitu saja, lenyaplah kesempatan baik untuk mernbujuk
suheng-nya supaya ikut bersamanya.
“Tidak, Suheng. Aku tidak mau pergi. Aku hanya pergi kalau engkau suka ikut pergi bersamaku.”
“Ehhh? Pergi bersamamu?” Han Ki mengerutkan alisnya, memandang heran. “Ke mana?”
”Menemui supek-ku, seorang yang ahli dalam hal pengobatan. Aku akan membawamu ke sana agar
engkau diobati karena engkau menderita sakit hebat, Suheng.”
“Ihhh, gila! Siapa yang sakit? Andai kata aku sakit, mengapa engkau hendak bersusah payah benar
mengobati aku yang belum kau kenal? Mengapa, Nona?”
Pasukan itu sudah makin dekat dan cepat Siauw Bwee memegang lengan Han Ki sambil berkata, “Karena
aku cinta kepadamu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Berubah wajah Han Ki dan mukanya menjadi merah sekali. Sejenak dia memandang wajah Siauw Bwee
seperti orang bingung, akan tetapi sinar matanya berseri seolah-olah dia merasa girang sekali, akan tetapi
kembali wajahnya berubah dan alisnya berkerut. ”Engkau main-main, Nona. Ataukah jalan pikiranmu tidak
beres? Pergilah dan hindarkan keributan.”
Siauw Bwee menggeleng kepala. “Biar sampai mati terbunuh di sini sekali pun, aku tidak akan mau pergi
kalau tidak bersamamu!”
“Engkau gadis yang aneh sekali!”
Pada saat itu pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bu Kok Tai sendiri telah tiba di situ. Pasukan itu terdiri
dari dua puluh empat orang pengawal pilihan, dan di samping Bu Kok Tai terdapat pula perwira-perwira
pembantu Koksu yang berkepandaian tinggi, di antaranya Ang Hok Ci atau Ang-siucai, Pat-jiu Sin-kauw
yang lihai, Thian Ek Cinjin dan beberapa orang perwira tinggi yang lihai lagi.
“Kam-siauwte, apa yang telah terjadi? Aku mendengar bahwa engkau membantu wanita pengacau ini
maka aku cepat menyusul. Apa yang telah kau lakukan ini, Siauwte?”
“Aku hanya tidak ingin melihat dia mengacau lagi, Bu-loheng. Maka aku membujuknya untuk keluar kota
dan jangan menimbulkan keributan lagi. Dia bukan orang jahat, harap kau suka memaafkannya dan
membiarkan dia pergi. Nona, harap kau suka pergi, aku percaya bahwa Koksu cukup bijaksana untuk
memaafkan engkau seorang gadis muda. Pergilah!” Han Ki membujuk.
“Tidak!” Siauw Bwee membantah. “Suheng, tidak tahukah engkau bahwa engkau telah terkena racun
perampas pikiran? Mereka ini adalah musuh-musuhmu, musuh-musuh kita! Suheng, mari kita gempur
mereka!”
Mendengar ini, Bu-koksu tertawa bergelak untuk menutupi kekagetannya mendengar tuduhan yang tepat
itu. “Gadis sombong engkau! Ha-ha-ha, yang kau bela ini adalah seorang gadis gila, atau seorang matamata
musuh yang sengaja hendak main gila dan mempengaruhimu.” Ia lalu memberi isyarat kepada para
pembantunya dan memerintahkan, “Bekuk dia, kalau dia melawan, bunuh saja!”
Thian Ek Cinjin, Pat-jiu Sin-kauw, Ang-siucai dan yang lain-lain telah maklum akan kelihaian Siauw Bwee,
maka serentak mereka turun tangan menerjang gadis yang bertangan kosong itu. Juga dua puluh empat
orang pengawal sudah menerjang dan mengurung dengan senjata di tangan.
Menghadapi serbuan ini, Siauw Bwee cepat menggerakkan kaki tangannya. Dalam beberapa gebrakan
saja ilmu gerak kilat kaki tangannya berhasil membuat empat orang pengawal terjungkal, sedangkan para
perwira yang berkepandaian tinggi cepat melompat mundur memutar senjata. Mereka gentar menghadapi
Siauw Bwee yang amat cepat gerakan kaki tangannya itu sehingga tidak tampak oleh mereka bagaimana
caranya gadis itu merobohkan empat orang tadi.
“Nona, jangan...! Pergilah...!” Han Ki berseru bingung. Dia masih berdebar mendengar pengakuan gadis itu
yang mengaku cinta kepadanya, dan kini dia menjadi serba salah.
“Ha-ha-ha, Kam-siauwte. Dia adalah mata-mata musuh yang mengaku sebagai sumoi-mu. Sengaja dia
mengacau dan coba kau perhatikan, betapa dia telah berhasil mencuri ilmu silatmu!”
Sambil berkata demikian, kini Bu-koksu sendiri meloncat turun dari kudanya dan ikut menerjang Siauw
Bwee dengan senjatanya yang menyeramkan. Senjata Koksu ini sesuai dengan tubuhnya yang tinggi
besar, yaitu sebatang golok besar yang berat sekali dan punggung golok itu dipasangi gelang-gelang perak
yang mengeluarkan bunyi nyaring kalau senjata itu dimainkan.
“Cring-cring... sing...!” Golok itu berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata yang menyambarnyambar
ke arah Siauw Bwee.
Gadis ini terkejut. Lawannya bukanlah orang sembarangan, dan jika dia mengeluarkan ilmu dari Pulau Es,
tentu akan menambah kecurigaan Han Ki. Maka dia menahan diri dan cepat menggeser kaki, mainkan
dunia-kangouw.blogspot.com
gerak kaki kilat yang memungkinkan dia untuk mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali. Untuk
membalas, dia mengerahkan tenaga Jit-goat-sinkang yang setingkat lebih rendah kekuatannya kalau
dibandingkan dengan Im-kang dan Yang-kang yang ia latih di Pulau Es, namun yang mengandung
kemukjizatan karena tenaga itu dikumpul dari sari hawa bulan dan matahari.
Han Ki berdiri bengong dan kagum. Hawa udara di sekitar tempat pertandingan itu tiba-tiba berubah panas
sekali, kemudian menjadi dingin, berganti-ganti. Kembali ada tiga orang pengawal roboh, bahkan Thian Ek
Cinjin yang lihai itu terhuyung ke belakang, terpental oleh dorongan hawa dingin sejuk dari tangan kiri gadis
itu.
“Kam-siauwte, bantu aku menangkap gadis ini!” Bu-koksu berteriak dan dia cepat menerjang makin hebat.
Tingkat kepandaian Bu-koksu sudah amat tinggi, dan kalau saja Siauw Bwee tidak mendapatkan tambahan
pengalaman dan ilmu kepandaian semenjak dia meninggalkan Pulau Es, agaknya Koksu itu merupakan
tandingan yang terlalu berat baginya. Namun Siauw Bwee kini bukanlah seperti Siauw Bwee dahulu
sebelum melakukan perantauan dan mengalami banyak hal yang hebat.
Dengan gerak kaki tangan kilat, dia masih mampu mempertahankan diri, meloncat ke sana ke mari. Ketika
golok besar Bu-koksu menyambar lehernya, tubuhnya merendah dan menyelinap ke kiri, kakinya
menendang ke depan mengenai lutut Ang-siucai sehingga murid dan orang kepercayaan Bu-koksu itu
roboh dengan tulang kaki terlepas dari sambungannya. Dalam detik berikutnya, tangan kiri Siauw Bwee
sudah mendorong ke kiri, membuat Pat-jiu Sin-kauw hampir terguling kalau tidak cepat memasang kudakudanya
yang hebat sambil mengerahkan Thai-lek-kang. Dengan marah Pat-jiu Sin-kauw lalu melancarkan
pukulan Thai-lek-kang dan mainkan Soan-hong Sin-ciang mendesak Siauw Bwee.
Kini Siauw Bwee terkurung oleh Bu-koksu, Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin yang ketiganya berusaha
merobohkannya dengan serangan-serangan maut, sedangkan di belakangnya, para perwira tinggi lainnya
siap untuk menghujankan senjatanya.
“Kalau aku mengamuk, mungkin dapat merobohkan mereka, akan tetapi tentu aku akan kehilangan
Suheng. Sebaiknya aku menggunakan akal untuk menarik bantuannya,” pikir Siauw Bwee yang cerdik.
Ketika itu golok Bu-koksu yang merupakan serangan paling berbahaya bagi Siauw Bwee membabat ke
arah pinggangnya. Siauw Bwee meloncat ke atas, menangkis hantaman Thian Ek Cinjin dengan
tendangan kakinya. Dia sengaja turun dengan tubuh miring di depan Pat-jiu Sin-kauw yang tidak menyianyiakan
kesempatan itu, memukul dengan tenaga Thai-lek-kang sekuatnya. Tubuhnya berjongkok dan
angin keras menyambar dari kedua tangannya yang mendorong ke arah dada Siauw Bwee. Gadis ini
maklum bahwa pukulan itu amat berbahaya, namun kalau dia mengerahkan sinkang, dia masih mampu
menerimanya, maka dia mengerahkan sinkang-nya, sengaja terhuyung sehingga pukulan itu ia terima
dengan bahunya.
“Aduuuhhh...!” Siauw Bwee mengeluh dan jatuh, terus bergulingan sambil memegangi bahu kanannya
yang terkena pukulan Thai-lek-kang.
Pada saat itu Bu-koksu mengejar dengan golok diputar merupakan gulungan yang mengancam jiwa Siauw
Bwee. Gadis ini benar-benar amat tabah. Dia maklum bahwa kalau suheng-nya masih belum mau turun
tangan, nyawanya terancam bahaya maut karena dalam bergulingan seperti itu, akan sukarlah baginya
untuk dapat meloloskan diri dari ancaman golok yang terus mengikutinya. Dia sudah siap. Kalau suhengnya
tidak juga turun tangan, dari pada mati konyol, dia akan mengadu nyawa, berlomba duluan dengan Bukoksu
dan mengirim pukulan maut dengan Im-kang dari Pulau Es!
“Tringgg...!” Golok itu terpental ke samping dan Bu-koksu meloncat mundur dengan kaget. “Heiii, Kamsute...
apa yang kau lakukan ini?!” bentaknya.
Akan tetapi Kam Han Ki telah meloncat dan menyambar tangan Siauw Bwee, ditariknya tubuh gadis itu
berdiri dan dia mengomel, “Kau keras kepala! Masih juga tidak mau pergi?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak! Biar mereka membunuhku, kalau dapat! Engkau pun tidak mempedulikan aku, untuk apa hidup
lebih lama lagi?” Siauw Bwee berkata, kini tidak bersandiwara lagi karena memang dia bicara dari lubuk
hatinya. Kalau sekali ini dia gagal mengajak pergi Han Ki dan tidak berhasil mengobati suheng-nya itu,
berarti dia akan kehilangan Han Ki untuk selamanya dan kalau sudah begitu, apa artinya hidup ini baginya
lagi?
“Kam-siauwte, biarkan aku membunuhnya. Apakah engkau akan mengkhianati aku?”
”Bu-loheng, maafkan aku. Gadis ini tidak waras, biarlah aku membawanya pergi dulu, kelak aku mohon
maaf kepadamu!” Setelah berkata demikian, Han Ki memegang lengan Siauw Bwee dan membawanya
meloncat jauh dari tempat itu.
“Siauwte, tahan...!” Bu-koksu berseru marah dan mengejar bersama pasukannya, namun Han Ki sudah
pergi jauh.
Setelah pemuda ini mengerahkan ginkang-nya, mana ada yang mampu mengejarnya? Apa lagi Siauw
Bwee yang sama sekali tidak terluka itu pun sudah mengerahkan ginkang-nya sehingga dia tidak
menghalangi gerakan suheng-nya.
Setelah mereka pergi jauh, Han Ki berhenti dan menoleh kepada Siauw Bwee, mengomel, “Engkau
sungguh membikin aku kehilangan muka dan menjadi serba salah. Apa sih maksudmu bersikap seperti ini?
Apakah engkau ingin merusak nama baikku? Dan mengapa pula segala sandiwara ini? Aku tahu bahwa
kalau kau hendaki, Bu-koksu sendiri tidak akan mampu membunuhmu!”
Siauw Bwee kagum bukan main. Biar pun ingatannya hilang, suheng-nya ternyata amat lihai dan pandang
matanya masih amat tajam sehingga dapat melihat permainan sandiwaranya tadi. Dia harus berhati-hati,
kalau tidak, suheng-nya tentu tidak akan mau ikut bersama dia.
“Sudah kukatakan kepadamu, aku cinta padamu dan melihat engkau sakit hebat, aku berusaha
mengajakmu kepada supek-ku untuk diobati.”
“Kau gila! Aku tidak sakit, aku sehat!” Han Ki menggerak-gerakkan kaki tangannya memperlihatkan bahwa
dia benar-benar sehat.
“Bukan badanmu yang sakit, melainkan ingatanmu. Tahukah engkau, siapa sebenarnya engkau ini?”
”Tentu saja aku tahu! Aku Kam Han Ki, aku pengawal pertama dari Bu-koksu yang telah melepas budi
besar kepadaku dan mengangkat aku sebagai adiknya.”
“Hemm, Kam-suheng. Dia itu adalah musuh besar yang hendak mencelakakanmu!”
”Gadis muda, jangan kau bicara sembarangan. Bu-loheng adalah Bu Kok Tai, Koksu negara yang berjiwa
pahlawan, seorang gagah perkasa yang amat baik, dan aku berhutang budi kepadanya.”
“Baiklah... baiklah..., akan tetapi ingatkah engkau siapa ayah bundamu? Ingatkah engkau siapa gurumu?
Di mana kau belajar ilmu silat? Ingatkah engkau semua itu?”
Kam Han Ki mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan akhirnya dia menghela napas. ”Aku tidak ingat lagi,
akan tetapi apa hubungannya hal itu dengan Bu-loheng dan engkau? Kenyataannya, dia amat baik
kepadaku sedangkan engkau... aku sama sekali tidak mengenalmu, hanya tahu bahwa engkau seorang
gadis muda yang amat lihai dan yang selalu mendatangkan kekacauan dan...”
“...dan yang amat mencintaimu, Kam-suheng! Cobalah kau ingat-ingat, apakah engkau lupa akan Istana
Pulau Es? Lupakah engkau bahwa engkau bertahun-tahun menggembleng diri di Pulau Es dan
membimbing dua orang sumoi-mu yang bernama Maya dan Khu Siauw Bwee? Lupakah engkau kepada
mendiang Menteri Kam Liong, kepada Mutiara Hitam, kepada Panglima Khu Tek San?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar disebutnya Istana Pulau Es dan nama-nama itu, Kam Han Ki kelihatan terkejut dan bingung.
“Istana Pulau Es...? Serasa sering aku mendengarnya, tidak asing bagiku, dan nama-nama itu... seperti
pernah kukenalnya... ah, tidak mungkin, aku tidak ingat lagi.”
“Nah, itu tandanya engkau telah kehilangan ingatanmu, Suheng. Mana ada orang lupa akan orang tuanya?
Lupa akan gurunya.”
Kam Han Ki menjatuhkan diri duduk di atas batu di hutan itu. Alisnya berkerut, mukanya pucat dan
tubuhnya berpeluh karena ia memeras ingatannya. Namun sia-sia belaka, dia tidak ingat apa-apa lagi.
“Orang tuaku? Guruku? Pulau Es? Aihh, Nona, aku benar-benar menjadi bingung. Seperti pernah kukenal
baik, dan tak mungkin aku lupa akan orang tua dan guruku, akan tetapi sungguh mati, aku tidak ingat lagi...”
“Dan aku adalah seorang di antara kedua sumoi-mu, aku bernama Khu Siauw Bwee. Ah, Suheng...
bertahun-tahun kita tinggal bertiga di Pulau Es. Engkau menjadi guruku, juga sahabatku, tapi benar-benar
engkau tidak ingat kepadaku lagi...” Siauw Bwee tak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan ia
menangis tersedu-sedu.
Han Ki menjadi makin bingung. “Nona... jangan menangis, engkau membikin aku makin bingung. Biarlah
aku tanyakan semua itu kepada Bu-loheng... dia tentu tahu...”
“Jangan...! Dia itu adalah musuh kita, dialah yang membuat kau kehilangan ingatan, Suheng. Kalau engkau
kembali kepadanya, setelah melihat bahwa aku tahu rahasianya, tentu mereka itu akan mencelakaimu!”
“Ha-ha, jangan menyangka yang bukan-bukan, Nona. Dia adalah kakak angkatku, satu-satunya orang
yang amat baik kepadaku. Dia telah menolongku, merawatku, memberiku kedudukan tinggi dan
kepercayaan.”
“Kam-suheng, kau kasihanilah aku. Kau turutlah bersamaku untuk diobati oleh supek-ku. Supek Coa Leng
Bu adalah seorang ahli pengobatan yang lihai, dia tentu akan memulihkan ingatanmu dan engkau akan
dapat mengingat segala hal yang telah lalu, yang telah kau lakukan. Marilah, Suheng, dia menanti di hutan
pohon pek, marilah...” Siauw Bwee memegang tangan Han Ki dan ditarik-tariknya.
Akan tetapi Han Ki mempertahankan diri dan akhirnya berkata, “Bukan aku tidak percaya kepadamu, Nona.
Akan tetapi, amat tidak enak kalau aku meninggalkan Bu-loheng begitu saja. Pula, aku akan menanyakan
riwayatku yang telah kulupakan itu kepadanya. Kalau dia tidak dapat menjawab, baru aku akan datang
mencarimu dan menerima pengobatan supek-mu.”
Tiba-tiba Siauw Bwee melepaskan tangan Han Ki. “Kalau engkau berkeras, baiklah, aku akan pergi pula ke
sana menemui Bu-koksu.”
”Heh? Susah payah kau kularikan, sekarang hendak kembali? Apa kau mencari mati?”
”Biarlah. Aku akan mengamuk dan membunuh Koksu, kalau aku gagal, biar aku mati. Lebih baik mati dari
pada hidup melihat engkau menjadi boneka hidup, lupa akan segala hal yang lalu. Sekarang kau pilih saja
mau ikut bersamaku untuk pengobatan atau aku akan mengamuk dan mengadu nyawa di gedung Bukoksu!”
“Wah, kau mengancam?”
“Benar, soalnya hanya mati atau hidup bagiku!”
“Tsk-tsk-tsk, kau benar-benar seorang gadis luar biasa sekali. Mengapa kau begini nekat hanya untuk
diriku seorang?”
Pandang mata Siauw Bwee menjadi lembut, kekerasaannya luntur dan dengan air mata berlinang dia
memegang tangan Han Ki, berkata lirih, “Karena aku mencintaimu, tak tahukah kau? Keadaanmu yang
lupa ingatan memberanikan hatiku untuk mengaku terus terang, Suheng. Aku cinta padamu dengan
seluruh badan dan nyawaku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Han Ki menggeleng-geleng kepala, bingung. “Engkau seorang dara jelita yang gagah perkasa, mencinta
seorang seperti aku? Bahkan menurut pendapatmu, aku seorang yang hilang ingatan, berarti orang yang
otaknya miring, tidak waras lagi!”
“Apa pun yang terjadi denganmu, aku tetap mencintamu, Suheng.”
“Aihhh..., apa yang dapat kulakukan sekarang? Menghadapi engkau lebih sukar dari pada menghadapi
ribuan orang lawan bersenjata, Nona. Baiklah, mari kita coba apakah benar aku kehilangan ingatan dan
dapat disembuhkan oleh supek-mu. Akan tetapi, ingatlah engkau, jangan main-main denganku. Kalau
engkau menipuku, aku... aku akan...”
Siauw Bwee mendekatkan tubuhnya, mukanya ditengadahkan penuh tantangan, matanya bersinar-sinar.
“Engkau akan apakan aku, Suheng...? Membunuhku?”
Han Ki gelagapan. Biar pun dia tidak ingat siapa adanya gadis ini, namun ada sesuatu yang amat menarik
dari diri gadis ini yang membuat dia diam-diam mengherankan hatinya sendiri. Apakah dia telah menjadi
benar-benar gila dan jatuh cinta kepada gadis yang nekat ini?
“Tidak! Aku hanya akan... akan... membencimu!” akhirnya dia menjawab juga.
Siauw Bwee menggandeng lengan suheng-nya dan merapatkan tubuhnya dengan sikap manja. “Itu
tandanya bahwa engkau cinta kepadaku, Suheng. Marilah, dan kalau aku menipumu, tidak usah engkau
membenciku, aku sendiri akan membenciku bahkan kalau Supek gagal, aku akan membenciku sampai aku
mati dikeroyok orang-orangnya Bu-koksu yang pasti akan kuamuk sampai titik darahku terakhir!”
Han Ki bergidik. Tekad gadis ini luar biasa sekali dan tentu ada apa-apanya di balik sikapnya itu. Andai
kata benar peringatan Bu-koksu bahwa gadis ini hendak menipunya, andai kata dia dibawa ke dalam
perangkap, dia tidak takut dan percaya bahwa dia akan mampu mempertahankan dirinya. Hanya ia
menjadi takut sendiri kalau-kalau gadis ini benar seorang penipu, karena kalau ternyata demikian, dia akan
merasa amat berduka dan kecewa dan... kehilangan.
Seorang kakek yang bertelanjang kaki menyambut mereka di dalam hutan pek. Melihat gadis itu berhasil
membawa Han Ki yang kelihatannya curiga dan ragu-ragu, Coa Leng Bu girang bukan main.
“Ah, sungguh girang hatiku melihat engkau berhasil mengajaknya ke sini, Lihiap. Kam-taihiap, selamat
datang!”
Biar pun ingatannya lenyap, Han Ki masih belum kehilangan kesopanannya. Kalau di tempat Bu-koksu dia
bersikap tidak acuh adalah karena dia tidak suka melihat sikap anak buah Bu-koksu, hanya karena sayang
dan berhutang budi kepada Bu-koksu saja yang mengikat dia di samping pembesar itu. Kini melihat wajah
kakek yang tenang dan penuh pengertian, sikap yang sederhana dengan pakaian sekedarnya, dia cepat
menjura dengan hormat dan berkata, “Tidak tahu, siapakah Locianpwe yang telah mengenal namaku?”
“Ha-ha-ha, Kam-taihiap terlalu menghormat seorang bodoh seperti aku dengan menyebut Locianpwe. Aku
bernama Coa Leng Bu dan karena sumoi-mu, Khu-lihiap ini diangkat anak oleh sute-ku, maka aku menjadi
supek-nya, supek dalam sebutan saja yang membuat aku malu, karena dalam hal kepandaian, aku boleh
berguru kepadanya. Kam-taihiap, aku mengenalmu karena keterangan sumoi-mu dan kulihat bahwa
engkau terkena racun yang membuat ingatanmu hilang. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, maka kalau
engkau percaya, biarlah aku berusaha mengobatimu, Kam-taihiap.”
Han Ki mengerutkan alisnya. “Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi lupa sama sekali akan halhal
yang lalu, akan tetapi aku sungguh tidak mengenal Nona ini yang menganggap aku sebagai suhengnya.
Yang kukenal hanyalah kakak angkatku, Bu-loheng...”
Dengan wajah penuh ketenangan Coa Leng Bu berkata, “Aku mengerti Taihiap. Kau anggap sajalah
bahwa engkau belum mengenal aku dan Khu-lihiap, dan bahwa engkau memang adik angkat Koksu. Akan
tetapi kuharap engkau percaya kepada kami bahwa kami berniat baik, karena aku melihat engkau
dunia-kangouw.blogspot.com
menderita lupa ingatan karena racun perampas ingatan, maka anggap saja bahwa engkau berada di
antara teman-teman yang hendak berusaha mengobatimu.”
“Heran sekali, aku merasa sehat, akan tetapi kalian menganggap aku sakit. Akan tetapi rasanya tidak
mungkin kalau engkau, terutama Nona ini hendak menipuku. Baiklah aku akan menurut dan suka kau obati,
harap lekas memberi obatnya dan hendak kulihat apakah aku akan dapat mengingat riwayatku yang telah
kulupakan sarna sekali.”
Coa Leng Bu menggeleng-geleng kepalanya. “Kam-taihiap, racun itu memasuki kepalamu melalui
makanan atau minuman, sedikit demi sedikit dan untuk mengobatinya pun harus sedikit demi sedikit dan
memakan waktu lama. Engkau pun tentu pernah mendengar bahwa penyakit datang menunggang kuda
akan tetapi pergi menunggang kura-kura, kalau datang cepat sekali akan tetapi perginya memakan waktu
lama!”
“Berapa lama engkau akan dapat menyembuhkan aku, Locianpwe?”
“Pertama-tama, kuharap Taihiap jangan menyebutku Locianpwe. Namaku Coa Leng Bu, cukup kalau kau
sebut lopek saja. Untuk menentukan berapa lama aku akan dapat menyembuhkanmu, bukanlah hal mudah
dan aku tidak berani bilang sebelum memeriksamu. Bolehkah aku memeriksamu, Taihiap?”
“Silakan,” Han Ki menjawab dan biar pun suaranya masih meragu, namun di dalam hatinya ia mulai
khawatir dan percaya bahwa memang dia sedang sakit. Buktinya adalah bahwa, seperti yang dikatakan
gadis jelita itu, dia lupa sama sekali akan riwayat hidupnya, lupa akan ayah bundanya dan lupa akan
gurunya. Hal ini memang tidak mungkin terjadi kalau dia tidak menderita sakit kehilangan ingatan!
Coa Leng Bu mempersilakan Han Ki rebah telentang di atas rumput, kemudian ia mulai memeriksa denyut
nadi, mendengarkan detak jantung, memeriksa mata dengan membuka kelopaknya. “Taihiap, kalau boleh,
aku hendak mengambil sedikit darahmu untuk diperiksa.”
“Silakan!” Han Ki menjawab.
Dengan sebatang jarum emas, kakek itu menusuk ujung jari tangan kiri Han Ki, sehingga ada beberapa
tetes darah keluar dari luka kecil itu. Darah itu ditampungnya di atas sehelai daun yang berwarna putih,
kemudian dibawanya ke tempat terang sehingga dia dapat memeriksa dengan jelas di bawah sinar
matahari. Darah itu diperiksa, diamat-amati, dicium, bahkan dijilat dengan lidahnya.
Semua perbuatannya itu diikuti penuh perhatian oleh Han Ki yang sudah membereskan pakaian dan duduk
kembali di atas rumput, sedangkan Siauw Bwee tak pernah melepaskan pandang matanya dari suhengnya
dengan hati penuh keharuan. Menyaksikan sikap pemuda ini yang berubah sama sekali seolah-olah
dia menghadapi seorang asing, akan tetapi wajah, bentuk badan dan setiap gerak-gerik pemuda itu dari
matanya mengerutkan alis, sinar matanya yang tajam itu, mulut yang membayangkan kedukaan, dia tidak
meragukan lagi bahwa pemuda ini adalah suheng-nya. Di antara sejuta orang pemuda, tak mungkin ada
satu yang menyamai suheng-nya itu.
“Bagaimana, Coa-lopek?” Han Ki bertanya setelah kakek itu kembali menghampiri mereka.
“Tidak berat, bukan?” Siauw Bwee juga bertanya.
Coa Leng Bu menghela napas panjang. “Racun itu mengandung hawa panas luar biasa. Hawanya sudah
naik ke atas sehingga menutup semua ingatan Taihiap. Sayang bahwa satu-satunya akar obat yang
mengandung hawa dingin tidak bisa kudapatkan di daerah ini. Aku hanya dapat memberi obat untuk
melenyapkan racun sedikit demi sedikit dari darah Taihiap, akan tetapi hawa panas yang menutup ingatan...
ahh, aku harus mencari akar itu, dan adanya hanya di daerah kutub utara!”
Siauw Bwee terkejut sekali sedangkan Han Ki hanya mendengarkan dengan tenang, karena dia masih
belum percaya sepenuhnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Supek, kalau hawa itu timbul karena hawa panas, tidakkah dapat dilawan dengan tenaga Im-kang? Aku
bisa menyalurkan tenaga Im-kang ke dalam kepala Suheng untuk melawannya. Bahkan Suheng sendiri
memiliki Im-kang yang jauh lebih kuat dari aku, tidakkah Im-kang itu dapat mengusir hawa panas itu?”
Coa Leng Bu menggeleng kepala. “Kalau yang terserang hawa itu di dalam tubuh, memang mungkin dapat
diusir dengan Im-kang yang amat kuat, akan tetapi tidak boleh digunakan ke dalam kepala karena
berbahaya sekali. Kepala merupakan tempat yang amat penting dan sekali ada bagian yang terguncang,
bahayanya akan lebih dahsyat lagi, mungkin dapat merenggut nyawa. Tidak, Lihiap, usaha itu sama sekali
tidak boleh dilakukan!”
“Habis, bagaimana...?” Siauw Bwee bertanya, bingung. Mencari akar itu ke kutub utara tentu akan
memakan waktu berbulan-bulan! “Eh, Coa-supek, dahulu Suheng pernah bercerita tentang mendiang
ayahnya, Kam Bu Sin. Ayahnya dahulu pernah juga terkena racun dan menurut Suheng, ayahnya ditolong
oleh Bu Kek Siansu, yaitu suhu kami, dengan jalan bertapa di bawah air terjun. Dapatkah Suheng diobati
secara itu?”
“Kam Bu Sin...? Ayahku...? Nona, apa yang kau katakan itu? Aku tidak ingat bahwa ayahku bernama Kam
Bu Sin...?” Han Ki berkata bingung.
Akan tetapi wajah Coa Leng Bu berseri dan alisnya berkerut tanda bahwa dia berpikir keras. Akhirnya ia
bertepuk tangan. “Boleh! Memang pengobatan secara itu mungkin sekali! Air terjun yang merupakan air
hidup, di waktu pagi-pagi sekali mengandung hawa dingin sejuk yang mukjizat dan sungguh pun
kemustajabannya tidak sekuat akar pendingin, namun mengandung hawa yang akan dapat mengusir hawa
beracun itu sedikit demi sedikit. Taihiap, kuharap Taihiap suka untuk menjalani pengobatan dengan
bersemedhi di bawah air terjun setiap pagi sampai hawa panas terusir dari kepala. Kebetulan sekali, di kaki
bukit sebelah utara hutan ini terdapat air terjun, biar pun tidak besar sekali namun cukup untuk kebutuhan
ini, karena yang dipentingkan adalah airnya yang mengalir hidup, masih bersih keluar dari sumber,
suasana yang hening dan hawa yang sejuk.”
Kam Han Ki menghela napas panjang. “Aku tentu akan menerima teguran hebat dari Bu-loheng. Akan
tetapi biarlah, aku pun ingin sekali dapat mengingat segala riwayatku. Asal saja kalian tidak
mempermainkan aku.”
“Kam-taihiap, aku Coa Leng Bu selama hidupku tidak suka mempermainkan orang. Jangankan engkau
sebagai suheng dari Khu-lihiap, bahkan andai kata engkau seorang lain, mana aku berani
mempermainkanmu? Karena pengobatan ini memakan waktu yang amat lama dan tidak boleh terganggu,
maka sebaiknya kita sekarang membangun sebuah pondok kecil untuk tempat tinggal sementara.”
“Suheng, mari kau bantu kami...!” Siauw Bwee menarik tangan Han Ki dengan wajah berseri. Kini hatinya
penuh harapan dan kegirangan,.
“Nona, harap kau hentikan sebutan suheng yang membuat aku merasa tidak enak saja.”
“Aihhh, engkau memang suheng-ku! Habis disuruh menyebut apa?” Siauw Bwee bertanya, tersenyum
menggoda.
Biar pun Siauw Bwee tidak pernah mengatakan rahasia hatinya, namun sebagai seorang pria yang sudah
berusia tua dan banyak pengalaman, Coa Leng Bu dapat mengerti bahwa di antara suheng dan sumoi itu
terdapat hubungan yang lebih mendalam dari pada hubungan kakak beradik seperguruan belaka. Atau
setidaknya, dia maklum bahwa Siauw Bwee mencinta suheng-nya itu, cinta seorang wanita terhadap
seorang pria. Maka dia mengejapkan matanya kepada Siauw Bwee dan berkata,
“Khu-lihiap, Taihiap bicara benar. Sebelum dia sadar dan pulih kembali ingatannya, tidak baik membuat dia
bingung. Sepatutnyalah kalau Lihiap menyebut kakanda kepada Kam-taihiap!” Kakek itu lalu membalikkan
tubuh agar tidak melihat sepasang pipi yang halus itu menjadi kemerahan, dan dia pura-pura
mengumpulkan kayu besar untuk mulai membuat pondok.
“Kata-kata Supek benar, biarlah aku menyebutmu koko, Kam-koko!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau baik sekali, Nona. Sungguh aku girang dapat mempunyai seorang sahabat sepertimu.”
“Ehh, aku sudah mengalah, tidak menyebutmu Suheng melainkan Koko, akan tetapi kenapa kau masih
memakai sebutan Nona segala macam? Kalau aku menyebut kakak bukankah sepatutnya engkau
menyebut adik? Engkau lebih tua dari pada aku!”
”Banyak lebih tua!” kata Han Ki yang kini timbul pula kegembiraannya menghadapi gadis yang lincah dan
halus budi ini. “Sepatutnya engkau menjadi keponakanku!”
”Ihhh! Memangnya engkau sudah kakek? Kam-koko, tidak maukah engkau menyebut aku Siauw-moi?”
Kam Han Ki tersenyum, senyum pertama semenjak pikirannya bingung. “Baiklah Moi-moi. Ah, betapa
untungku mendapatkan seorang adik yang begini manis...”
“Bukan hanya adik, melainkan juga juru rawat. Engkau sedang sakit, ingat? Dan engkau harus manurut
segala petunjuk Coa-supek dan memenuhi semua permintaanku, jangan banyak rewel!”
“Engkau gadis yang manis, dan nakal!” Tiba-tiba Han Ki mengerutkan alisnya. “Akan tetapi... eh, jangan
kau main-main Khu-moi. Di kota tadi... ehh, sebelum berjumpa dengan Coa-lopek, kau...”
“Aku kenapa?” Siauw Bwee berdiri di depan Han Ki, bertolak pinggang, sikapnya manja dan manis,
matanya bersinar karena hatinya girang bukan main bahwa dia dan supek-nya telah berhasil membujuk
Han Ki untuk berobat.
“Kau bicara tentang... cinta... Hal seperti itu sama sekali tidak boleh dibuat bicara main-main!”
”Siapa yang main-main? Memang aku mencintamu, semenjak dahulu mencintamu, sejak aku kecil, sampai
sekarang aku telah dewasa, sampai kelak kalau aku sudah menjadi nenek-nenek. Nah, aku cinta padamu,
habis mengapa?”
Han Ki merasa kepalanya puyeng. Dia jatuh terduduk dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
Gadis ini tidak main-main, biar pun sikapnya seperti orang main-main, namun pernyataan cintanya itu
bukan main-main, melainkan setulusnya. Hal ini dapat ia lihat dari sinar mata gadis itu ketika
memandangnya. Dan jantungnya juga berdebar tidak karuan, tanda bahagia bahwa gadis itu mencintanya,
hal ini hanya membuktikan bahwa hatinya pun tertarik secara luar biasa kepada gadis ini.
Apa artinya semua ini? Bahwa dia mencinta gadis yang baru saja dikenalnya ini? Ah, tidak mungkin.
Banyak dia bertemu puteri-puteri cantik di istana, bahkan beberapa kali Bu-koksu membujuknya menerima
hadiah berupa gadis-gadis cantik, namun selalu ditolaknya karena dia tidak tertarik sama sekali. Akan
tetapi mengapa gadis ini amat menarik hatinya?
“Eh, Suheng... Kam-koko, kau kenapa? Apakah kepalamu terasa sakit?” Siauw Bwee sudah berlutut dekat
suheng-nya dan memegang lengan pemuda itu, meraba-raba pelipisnya.
Han Ki menggeleng kepala dan bangkit berdiri. Alisnya berkerut. Biar pun dia percaya bahwa gadis ini
menyatakan cinta dari dasar hatinya, akan tetapi sebagai seorang kenalan baru, betapa pun jatuh cinta,
sikap gadis ini terlalu karib, terlalu mesra dan dekat seolah-olah mereka sudah menjadi sepasang kekasih
selama bertahun-tahun!
“Tidak apa-apa, Moi-moi, hanya... ahh, aku ngeri melihat betapa cinta bagimu sedemikian ringan dan
mudahnya. Mungkin karena engkau masih muda, Khu-moi. Engkau tidak tahu betapa hidup ini penuh
dengan duka sengsara, penuh dengan perasaan, penuh kekhawatiran dan kegelisahan, penuh
kekecewaan...”
Berdebar jantung Siauw Bwee. Apakah suheng-nya sudah mulai ingat? Hati-hati dia memancing. “Suheng...
eh, maksudku Koko, mengapa engkau begitu muram seolah-olah awan hitam selalu mengambang di atas
dunia-kangouw.blogspot.com
kepalamu dan menyelubungi sinar kegembiraan hidupmu? Apakah engkau berduka? Kalau benar berduka,
mengapa? Apa yang kau dukakan?”
Han Ki menggeleng kepala. “Aku tidak menyusahkan apa-apa.”
“Apakah engkau khawatir?”
“Sedikit, yaitu kalau ternyata bahwa engkau dan Coa-lopek tidak dapat menyembuhkan aku atau ternyata
menipuku.”
“Dan apakah engkau pernah mengalami kecewa?”
Kembali Han Ki menggeleng. “Sepanjang yang teringat olehku... tidak.”
Hati Siauw Bwee-lah yang kecewa karena jawaban-jawaban itu membuktikan bahwa Han Ki belum teringat
apa-apa.
“Ha-ha-ha, memang semua itu hanyalah permainan pikiran manusia belaka, Khu-lihiap. Mengapa manusia
harus membiarkan dirinya terseret oleh pikiran yang melayang-layang mengacaukan hidup kita sendiri?”
Coa Leng Bu datang menyeret dua buah batang pohon besar. Dia melepaskan dua buah batang pohon itu
dan menghapus peluhnya, lalu duduk di dekat mereka.
“Ah, kenapa kau sebut permainan pikiran, Lopek?” Han Ki bertanya.
“Benar, Supek. Memang hidup penuh dengan suka-duka, dengan puas kecewa, dengan cinta dan benci,
dengan kekhawatiran. Mengapa kau katakan sebagai permainan pikiran yang menyeret kita ke dalam
kekacauan hidup?” Siauw Bwee yang membantah.
Setelah menarik napas panjang untuk mengatur napasnya yang agak memburu, kakek itu berkata
sungguh-sungguh, “Pokok pangkalnya segala perasaan adalah dari keinginan mendapat yang timbul dari
sifat sayang diri. Betapa pun juga, segala macam perasaan itu tidak timbul kalau tidak dibakar oleh api
pikiran yang menguasai kita sepenuhnya, melayang-layang dari masa lalu ke masa depan, sehingga setiap
gerak perbuatan kita dicetak oleh pikiran kita. Pikiran membangkitkan penilaian, perbandingan, dan dengan
sendirinya mempertebal rasa sayang diri dan iba diri. Bagaimana timbulnya duka? Dari permainan pikiran
yang mengenang atau mengingat-ingat masa lalu. Dari mana timbulnya kecewa, penasaran, kemarahan
dan kebencian? Juga dari permainan pikiran yang menyeret kita mengenang masa lalu. Buktinya Kamtaihiap
ini. Setelah dia lupa sama sekali akan masa lalu, maka tidaklah ada persoalan baginya yang timbul
dari masa lalu, tidak ada kebencian, tidak ada penasaran, tidak ada kedukaan karena tidak ada lagi yang
harus dibuat penasaran, dibenci atau dibuat duka. Yang ada hanya tinggal masa depan baginya. Dan dari
mana datangnya kekhawatiran dan ketakutan? Bukan lain dari permainan pikiran yang menyeret kita
membayangkan masa depan! Membayangkan hal yang belum terjadilah maka menimbulkan kekhawatiran
dan ketakutan! Bukankah demikian, Taihiap dan Lihiap?”
Dua orang itu mendengarkan penuh perhatian dan seperti dikomando saja, mereka mengangguk-angguk.
Betapa mereka dapat membantah setelah kesadaran mereka membuat mereka melihat kenyataan dalam
ucapan kakek itu? Biar pun Han Ki adalah seorang yang belum tua, namun dia memiliki pengetahuan luas
tentang filsafat dan kebatinan. Memang pada saat itu dia telah melupakan semua pelajaran, bahkan ilmu
silatnya pun hanya dia kuasai karena sudah mendarah daging saja, namun semua teorinya sudah dia
lupakan sama sekali.
Akan tetapi pada dasarnya dia memang seorang yang memiliki perasaan peka terhadap kebatinan. Biar
pun dia telah melupakan hal-hal yang lalu, namun ucapan kakek itu membuat dia mengangguk-angguk dan
diam-diam dia dapat melihat kebenarannya.
Marah timbul karena mengingat perbuatan seseorang, perbuatan yang sudah dilakukan, yang sudah lalu.
Kalau hal itu tidak diingat, tak mungkin akan timbul kemarahan. Demikian pula duka, dan benci, dan
kecewa. Ada pun takut dan khawatir, hanya dirasa oleh orang yang belum tertimpa oleh apa yang
ditakutkan atau dikhawatirkannya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang takut sakit karena dia belum sakit. Khawatir gagal, karena kegagalan belum menimpanya. Jadi
semua itu hanyalah permainan pikiran saja yang tiada gunanya, bahkan menimbulkan persoalan dan
pertentangan yang timbul keluar terhadap orang lain.
Siauw Bwee juga mengangguk-angguk karena dia merasa betapa benar omongan itu, akan tetapi dia
masih belum puas dan mendesak, “Habis, mana mungkin kita menghadapi sesuatu tanpa pemikiran akan
sebab akibat tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan, Supek? Persoalan timbul dari luar
tanpa kita minta. Contohnya, aku menghadapi keadaan Kam-suheng, bukankah ini merupakan persoalan
yang datang tanpa kuminta? Bagaimana hati tidak menjadi khawatir menghadapi keadaan Suheng ini?”
Kakek itu tersenyum maklum. “Aku tidak menyalahkan kalau engkau gelisah, Lihiap, hanya aku minta
pengertian dan kesadaranmu untuk dapat menemukan dirimu sendiri. Segala macam persoalan bersumber
dalam diri sendiri, bukan dari luar. Kam-taihiap sakit. Ini merupakan tantangan dan setiap orang hidup
selalu akan menghadapi kenyataan yang harus ditanggungnya pada saat kenyataan tiba. Tidak ada
persoalan khawatir dan gelisah selama kita dapat membuka mata menghadapi kenyataan tentang sakitnya
suheng-mu dan selama engkau tidak membayangkan hal-hal yang belum datang. Suheng-mu sakit, kita
dihadapkan kenyataan ini dan apa yang tepat kita lakukan? Berusaha menyembuhkannya. Tidak ada
persoalan lain yang mengkhawatirkan, bukan?”
“Aih, Supek. Betapa mungkin bersikap seperti itu? Bagaimana kalau kita gagal menyembuhkan Suheng?
Bagaimana kalau Suheng tidak mendapatkan kembali ingatannya? Bagaimana kalau...”
“Nah, nah! Itulah, Lihiap. Bagaimana kalau... bukankah itu hanya permainan pikiran yang membayangkan
hal-hal yang tidak ada dan belum terjadi? Apa gunanya membayangkan hal-hal yang belum ada? Kita
harus belajar mengenal diri sendiri, mengenal pikiran-pikiran kita, mengenal perasaan-perasaan kita,
mengenal keinginan-keinginan kita, dan sadar bahwa di dalam diri kitalah sesungguhnya terletak segala
sumber, segala sebab akibat, dan segala bahan kesengsaraan. Kita wajib belajar menghadapi kenyataan
seperti apa adanya, tanpa penilaian, tanpa perbandingan, tanpa ingatan waktu lampau atau yang akan
datang, dan dengan itu, dalam keadaan bebas dan kosong, kita akan selalu dalam keadaan sadar,
waspada dan tenang, seperti air telaga yang dalam dan diam, bening sejuk tidak terganggu karena tidak
merasa terganggu, penuh pengertian, kesadaran, dan cinta kasih.”
“Aduh, Coa-lopek. Betapa dalam pengertian itu!” Kam Han Ki membelalakkan matanya, seolah-olah
terbuka mata hatinya mendengar semua ucapan kakek itu. “Kiranya Lopek adalah seorang yang arif
bijaksana!”
Kakek itu tersenyum. “Aku hanyalah seorang sederhana yang suka akan kewajaran, dan aku sama dengan
engkau, sama dengan Lihiap dan dengan orang-orang lain. Kita sama-sama belajar, karena hidup berarti
belajar, dan terutama sekali, di samping pelajaran lahir yang kita butuhkan untuk hidup, jangan lupa
mempelajari diri sendiri, mengenal dan menemukan kembali diri pribadi yang selama ini menyeleweng jauh
terbawa hanyut oleh sayang diri dari iba diri, menjadi manusia-manusia munafik, menjadi pelawak-pelawak
yang bermain di panggung sandiwara, tidak sewajarnya sehingga dalam setiap gerak-gerik kita, setiap
pikiran kita, semua adalah palsu belaka. Kita sudah terlalu lama hidup dalam alam kepalsuan yang
dibentuk oleh manusia sendiri. Sudah terlalu lama kita hidup terbakar oleh bunga-bunga yang mekar dari
pohon sayang diri berupa pertentangan, persoalan, dendam, dengki, iri, benci, khawatir, takut, duka dan
sebagainya. Kenalilah diri kita sendiri, hadapilah kenyataan apa adanya, dan kita akan terbebas dari apa
pun juga.”
“Ahh, Coa-lopek, mendengarkan kata-katamu jauh lebih berharga dari pada mengharapkan kesembuhan
dari pengobatanmu! Kesembuhanku, kalau benar aku sakit, tidak banyak artinya lagi! Lopek yang
bijaksana, berilah petunjuk kepadaku untuk dapat membebaskan diri seperti yang Lopek katakan tadi...”
Han Ki berseru, penuh kagum.
Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, orang muda! Itulah yang menjadi penyakit dan
penghalang umum! Membuang keinginan dengan menghidupkan keinginan baru! Mana mungkin? Mari kita
belajar meneliti diri sendiri, mengenal diri sendiri dan segala gerak-gerik pikiran dan perasaan, mengenal
sifat-sifat sendiri, dan belajar menghadapi kenyataan tanpa wawasan, tanpa ingatan. Akan tetapi kalau ada
dunia-kangouw.blogspot.com
terselip keinginan dalam hatimu bahwa engkau mempelajari itu untuk memperoleh kebebasan, maka
engkau akan gagal, Taihiap. Segala perbuatan yang didasari keinginan, didasari pamrih, perbuatan itu
adalah palsu belaka, karena ingatlah bahwa yang dimaksudkan bebas di sini, bukan hanya bebas dari
segala yang secara lahiriah dirugikan, akan tetapi juga bebas dari segala yang menguntungkan. Bebas dari
segalanya, juga bebas dari segala macam keinginan, betepa pun dianggap suci keinginan itu oleh umum.
Kebebasan ini lebih tinggi dari kesadaran, lebih tinggi dari apa pun juga karena kebebasan ini berarti cinta
kasih. Ahhh, orang seperti aku ini, mana mungkin dapat memberi penjelasan sebaiknya? Marilah kita
sama-sama mempelajari diri sendiri seperti apa adanya, dan mudah-mudahan saja batin kita akan
terbuka... Sudah terlalu banyak aku bicara, yang terpenting sekarang adalah membangun pondok. Aihh,
apa kalian dapat membangun pondok hanya dengan bicara saja? Ha-ha-ha!”
Han Ki dan Siauw Bwee tertawa juga. Mereka lalu melompat bangun dan tiga orang itu lalu membangun
sebuah pondok sederhana. Berkat kepandaian mereka, dengan mudah mereka menumbangkan pohonpohon,
mengumpulkan balok-balok dan membuat sebuah pondok yang sederhana namun cukup kokoh
untuk melindungi mereka dari angin, hujan, panas dan hawa dingin.
Mulai hari ini, Han Ki diobati oleh Coa Leng Bu dan dirawat dengan sabar oleh Siauw Bwee. Setiap pagi,
tak lama setelah lewat tengah malam, dia dibangunkan oleh Siauw Bwee dan setengah dipaksa pergi ke
air terjun. Gadis itu menanti agak jauh ketika Han Ki menanggalkan pakaian dan dengan bertelanjang bulat
duduk bersila di bawah air terjun, membiarkan air jatuh menimpa ubun-ubun kepalanya seperti yang
dianjurkan oleh Coa Leng Bu.
Kalau bukan seorang yang sudah memiliki sinkang amat kuat seperti Han Ki, tentu tidak akan kuat lamalama
di pagi buta ditimpa air terjun yang amat dinginnya seperti itu. Namun Han Ki adalah seorang pemuda
sakti, murid Bu Kek Siansu yang sudah bertahun-tahun berlatih sinkang di Pulau Es, dalam keadaan yang
jauh lebih dingin dari pada bersemedhi di bawah air terjun itu, bahkan telah memiliki tenaga Inti Es yang
disebut Swat-im-sinkang.
Kalau matahari mulai menyinarkan cahayanya di ufuk timur, barulah Han Ki menghentikan semedhinya,
mengenakan pakaian lagi, menghampiri Siauw Bwee yang duduk menunggu agak jauh, lalu bersamasama
kembali ke pondok di mana Coa Leng Bu telah menyediakan masakan obat yang pahit rasanya.
Di samping pengobatan air terjun dan obat, Siauw Bwee membantu pemulihan ingatan Han Ki dengan
mengajaknya bercakap-cakap tentang masa lalu. Dan terjadilah suatu keanehan! Hubungan di antara
mereka makin akrab dan Siauw Bwee merasa seolah-olah jatuh cinta untuk kedua kalinya! Timbullah
keinginan hati yang luar biasa, yaitu dia ingin agar Han Ki tidak berubah lagi! Kini cintanya terhadap
pemuda itu makin mendalam, karena diperhalus oleh rasa iba melihat kekasihnya menderita kehilangan
ingatan!
Selain itu, juga Han Ki yang sekarang ini sama sekali tidak ingat kepada Maya, bahkan mengenal pun
tidak! Berarti dia tidak mempunyai saingan. Apa lagi ketika dia melihat tanda-tanda bahwa pemuda itu pun
mencintanya, tampak dari gerak-geriknya, sikapnya yang ramah, pandang matanya yang penuh
kemesraan. Han Ki yang sekarang ini mencintanya, sedangkan Han Ki yang lama, Han Ki di Pulau Es
dahulu itu masih belum dapat dia pastikan siapa yang dicintanya, dia ataukah Maya!
Setelah minum obat yang disediakan oleh Coa Leng Bu, Han Ki dan Siauw Bwee duduk di atas bangku
balok melintang di depan pondok. Seperti biasa, Siauw Bwee mengajak suheng-nya duduk di situ sambil
berjemur diri di bawah sinar matahari pagi dan mengajaknya bercakap-cakap.
Sudah seminggu lebih Han Ki berobat, namun masih belum ada tanda-tanda bahwa dia mendapatkan
kembali ingatannya. Coa Leng Bu sibuk mencuci daun dan akar obat yang dicarinya kemarin, dikumpulkan
di atas tampah untuk dijemur. Diam-diam dia merasa girang bahwa biar pun pemuda itu belum tampak
pulih kembali ingatannya, namun sinar matanya sudah mulai ada perubahan, dan dia tahu bahwa
pengobatannya sudah mulai ada hasilnya.
Han Ki menggeleng kepala. “Kasihan sekali Coa-lopek yang membuang tenaga sia-sia, Khu-moi. Lebih
baik aku pergi saja menemui Bu-loheng dan bertanya kepadanya. Mungkin kalau mendengarkan
penjelasannya, aku akan dapat mengingat semua.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, jangan Koko! Biarlah aku mencoba mengingatkanmu. Coba kau lihat ini, masih kenalkah engkau akan
gerakan-gerakan ini?” Siauw Bwee lalu bersilat dengan Ilmu Silat Hong-in Bun-hoat, sebuah di antara ilmuilmu
yang ia pelajari di Pulau Es dari suheng-nya.
“Tentu saja! Aihh, gerakanmu indah sekali, Moi-moi!” Han Ki berseru girang.
’’Jadi kau mengenalnya?”
“Tentu saja! Setiap gerakanmu kukenal.”
“Apa nama ilmu silat itu?”
“Ini... ini aku tidak ingat lagi. Akan tetapi aku dapat memainkan semua jurus itu.”
“Hemm... dan kau lihat ini, Koko!” Siauw Bwee mendorongkan tangan kanannya kepada ujung bangku,
terdengar suara keras dan ujung balok yang dijadikan bangku itu pecah dan hangus seperti terbakar!
“Aku tahu...! Pukulan sinkang yang mengandung hawa panas itu aku pun dapat mempergunakannya!” seru
Han Ki.
“Dan ini...!” Kembali Siauw Bwee memukul dengan tangan kirinya ke arah ujung balok yang lain. Ujung itu
patah, akan tetapi tidak pecah, hanya terasa hawa amat dinginnya ketika balok itu disentuh.
“Ini pukulan mengandung hawa dingin, seperti yang kumiliki pula. Heii, Moi-moi, dari mana kau
mempelajari semua ini? Sama benar dengan ilmuku!”
“Dan engkau tidak tahu namanya, Koko?” suara Siauw Bwee agak gemetar.
“Tidak, Moi-moi. Aku bisa menggunakannya, akan tetapi tidak tahu nama ilmu pukulan itu.”
“Dan engkaulah yang memberi nama, Koko. Engkau pula yang melatihnya kepadaku, dan kepada Suci...”
“Suci?”
Siauw Bwee menghela napas dan terbayanglah semua peristiwa yang ia alami bersama suci dan suhengnya
di Istana Pulau Es. “Ya engkau masih mempunyai seorang sumoi lainnya yaitu Suci-ku Maya...”
“Hemmm, aku tidak ingat.”
“Koko, tidak ingatkah engkau akan ayah bundamu yang bernama Kam Bu Sin?”
Han Ki menggeleng kepala.
“Dan lupakah engkau bahwa guru kita adalah Bu Kek Siansu?”
Kembali pemuda itu menggeleng kepala.
“Koko...” Suara Siauw Bwee makin tergetar karena duka. “Apakah engkau lupa bahwa selama bertahuntahun
engkau, Suci Maya, dan aku tinggal di Istana Pulau Es dan hidup bertiga jauh dari dunia ramai?”
Han Ki mengerutkan alisnya, kelihatan makin bingung. Jelas bahwa dia mengerahkan segala kemampuan
otaknya untuk mengingat sehingga dahinya berkeringat. Akan tetapi akhirnya ia menggeleng kepala, dan
berkata kesal, “Aku tidak ingat apa-apa, Moi-moi.”
Siauw Bwee tak bertanya lagi, berdiam sampai lama.
“Moi-moi...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siauw Bwee menoleh. “Hemmm...?”
“Kasihan engkau...!”
“Mengapa kasihan?”
“Dengan susah payah engkau berusaha menyembuhkan aku, akan tetapi agaknya sia-sia belaka. Aku
telah mengecewakan hatimu. Khu-moi, mengapa engkau begini bersusah payah untukku?”
Siauw Bwee menatap wajah orang yang dikasihinya itu, kini tersenyum. Melihat wajah orang yang dicinta
itu, lenyaplah kekecewaannya. Apa pun yang terjadi, asal dia tidak akan berpisah lagi dari samping
kekasihnya ini, tidak ada hal yang akan dapat mengecewakannya.
“Mengapa, Koko? Sudah kukatakan, karena aku cinta kepadamu!”
“Khu-moi-moi, kita baru saja saling jumpa, bagaimana dengan mudah saja engkau menjatuhkan hati,
mencintaku?”
“Apakah untuk mencinta seseorang, harus melalui perkenalan yang lama, Koko? Tidak, aku mencintamu
semenjak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi andai kata aku belum pernah mengenalmu, begitu aku
melihatmu, aku pun akan jatuh cinta.”
“Tidak mungkin!”
“Bagaimana tidak mungkin?”
“Cinta timbul dari daya tarik seseorang, bukan hanya dari wajah dan bentuk tubuh. Daya tarik keluar dari
segala gerak-geriknya, bicaranya, pandang matanya, senyumnya, pendeknya di antara dua orang yang
saling mencinta ada daya tarik yang saling menguasai dan saling menarik, sesuai dengan selera hati
masing-masing. Baru bertemu sudah jatuh cinta? Betapa janggalnya!”
“Koko, apakah kau tidak cinta kepadaku?”
Bukan main, pikir Han Ki. Gadis ini berani luar biasa. Tidak saja serta-merta menyatakan cinta begitu
jumpa, juga berani bertanya apakah dia mencintanya!
“Eh, hal ini... ah, aku tidak tahu, Moi-moi. Aku suka kepadamu dan... dan aku kasihan kepadamu. Aku...
aku senang sekali berkenalan denganmu.”
“Jawablah sejujurnya, Koko. Engkau cinta kepadaku atau tidak?”
“Mengapa tergesa-gesa? Aku suka kepadamu, akan tetapi untuk menyatakan cinta, masih terlalu pagi
bagiku. Aku tidak mau sembrono, tidak mau berlaku lancang sebelum ada ketentuan. Soal cinta bukanlah
soal main-main, Moi-moi, sekali mengaku cinta berarti sumpah untuk hidup bersama selamanya!”
“Kam-koko, memang engkau benar. Tak mungkin jatuh cinta dalam pertemuan pertama, cinta macam itu
adalah cinta yang masih mentah. Orang baru jatuh cinta kalau sudah mengenal betul baik buruk, cacat cela
orang yang dicinta dan tetap mencinta berikut cacat-celanya. Dan aku cinta kepadamu sejak bertahuntahun,
karena kita sudah saling berkumpul lama sekali, hanya engkau yang tidak ingat lagi. Aku bukan
mencintamu secara membuta, Koko. Akan tetapi, kalau benar engkau suka kepadaku... aahhh, biarlah aku
menceritakan riwayatku yang telah kau lupakan.”
“Ceritakanlah, Khu-moi. Aku ingin sekali mendengar riwayatmu.”
Siauw Bwee ingin mencoba ‘rasa suka’ pemuda itu terhadap dirinya. Dari Han Ki yang dulu, dia tidak dapat
memperoleh kepastian karena suheng-nya yang dahulu itu tidak pernah mengaku cinta, baik kepada dia
dunia-kangouw.blogspot.com
mau pun kepada Maya. Akan tetapi suheng-nya yang sekarang ini berbeda lagi, dan dia ingin melihat
sampai di mana rasa suka di hati pemuda itu seperti yang diceritakannya tadi.
“Mendiang ayahku adalah Khu Tek San, seorang panglima Kerajaan Sung yang setia. Dia adalah murid
Menteri Kam Liong, kakak sepupumu yang kau lupakan. Mereka berdua adalah orang-orang yang setia
dan berjasa besar untuk kerajaan....”
Dengan singkat Siauw Bwee kemudian menceritakan tentang Menteri Kam Liong dan ayahnya.
“Akan tetapi sungguh menyedihkan. Ayah dan Menteri Kam Liong tewas karena pengkhianatan dan fitnah
yang dilontarkan oleh seorang Panglima Sung yang bernama Suma Kiat....”
Siauw Bwee menceritakan pula sejelasnya betapa ayahnya dan Menteri Kam Liong tewas oleh
pengeroyokan para panglima dan pengawal Sung, dan tentang kelicikan dan kecurangan Suma Kiat.
Berkerut alis Han Ki mendengar penuturan itu dan tiba-tiba ia bangkit berdiri mengepal tinjunya. “Keparat
orang she Suma itu! Dia harus dihajar!”
Mendengar bentakan ini, Siauw Bwee tersenyum girang dan cepat menarik lengan suheng-nya. “Duduklah
dan tenanglah. Bagaimana kau akan menghajar Panglima Suma Kiat kalau dia itu adalah rekan dari Bukoksu
sendiri?”
Sementara itu, Coa Leng Bu yang sedang menjemur obat, mendengar juga bentakan Han Ki dan dia
mengangguk-angguk. Diam-diam dia kagum akan kecerdikan Siauw Bwee yang berusaha mengingatkan
Han Ki.
“Koko, engkau marah mendengar betapa keluargaku difitnah sehingga aku hidup sebatang-kara. Hal itu
berarti bahwa engkau juga cinta kepadaku, Koko.”
Wajah Han Ki menjadi merah dan dia menoleh kepada gadis yang duduk di dekatnya, melihat muka yang
cantik jelita dari dekat. “Mungkin... mungkin sekali. Engkau cantik jelita, Moi-moi, engkau gagah perkasa
dan engkau berhati lembut, engkau berwatak mulia... Betapa mudahnya jatuh cinta kepada seorang gadis
seperti engkau.”
“Kam-Suheng..., Kam-koko... ternyata engkau hanya mencinta aku seorang...!” dengan hati penuh
keharuan dan kebahagiaan Siauw Bwee merangkul dan merebahkan pipinya di atas dada Han Ki!
Han Ki terkejut, akan tetapi hatinya sudah terusik dan harus diakuinya bahwa sukar diragukan akan rasa
kasih sayang yang timbul di dalam hatinya terhadap gadis ini, maka hatinya menjadi lunak dan tanpa
disadarinya lagi, jari-jari tangannya membelai rambut yang berada di atas dadanya itu.
“Hanya aku yang kau cinta, aku merasa akan hal ini, Suheng. Sejak dulu... engkau hanya mencinta aku,
bukan Suci Maya...”
“Maya...?”
Siauw Bwee cepat mengalihkan percakapan karena dia tidak mau membuat suheng-nya meragu lagi. Kini
setelah jelas bahwa suheng-nya hanya mencinta dia seorang, dia pun tidak ragu-ragu untuk segera
menyembuhkan suheng-nya. Dia sudah menduga bahwa dengan sinkang tenaga Inti Es dia dan suhengnya
akan sanggup mengusir hawa panas yang melenyapkan ingatan suheng-nya. Coa Leng Bu tidak tahu
betapa mereka berdua telah memiliki Im-kang yang tak mungkin dapat diduga betapa tingginya oleh kakek
itu, maka kakek itu khawatir kalau-kalau pengobatan itu akan berbahaya bagi keselamatan Han Ki.
“Suheng, engkau tidak ingat tentunya bahwa kita berdua dahulu telah berlatih Im-kang di Pulau Es. Akan
tetapi, coba raba tanganku dan rasakan ini.” Setelah Han Ki memegang tangannya, Siauw Bwee perlahanlahan
mengerahkan Im-kang sehingga hawa dingin tersalur dari telapak tangannya.
“Ihhh! Bukan main kuatnya sinkang-mu Moi-moi! Mungkin menyamai kekuatanku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Siauw Bwee menghentikan saluran Im-kang-nya dan tersenyum manja. “Kau merendahkan diri, Suheng.
Tenagamu jauh lebih besar dari pada tenagaku. Akan tetapi dengan bantuanku kita berdua akan dapat
menyembuhkanmu dengan cepat. Mari kita temui Coa-supek.”
Dengan wajah berseri Siauw Bwee bangkit dan menarik tangan suheng-nya, kemudian dia menggandeng
tangan suheng-nya. Tanpa malu-malu dia menjumpai supek-nya yang sedang menjemur akar dan daun
obat.
“Supek! Aku telah mendapatkan cara untuk menyembuhkan Suheng dengan cepat!”
“Eh?” Coa Leng Bu tertegun dan pura-pura tidak melihat betapa sepasang pipi dara itu kemerahan dan
tangan dara itu dengan mesranya menggandeng tangan Han Ki.
“Kami berdua akan menggunakan Im-kang untuk mengusir hawa panas dari kepala Suheng.”
“Ahh, berbahaya sekali, Lihiap! Tenaga Im-kang tak dapat dikendalikan, dan dapat membahayakan kalau
tersalur memasuki kepala!”
“Kalau bisa mengendalikan Im-kang, bagaimana?” Siauw Bwee bertanya sambil tersenyum.
“Tentu saja mungkin dapat menyembuhkan, akan tetapi betapa kalian dapat mengendalikan Im-kang? Hal
itu membutuhkan tingkat yang amat tinggi, barang kali hanya Suhu Bu-tek Lo-jin saja yang mampu.”
“Hemm, bagaimana untuk mengukur ketinggian Im-kang?”
“Sukar dibicarakan, akan tetapi kalau sudah dapat membekukan air menjadi salju berarti sudah mencapai
tingkat amat tinggi dan itu pun harus dilakukan dengan hati-hati sekali.”
“Begitukah? Coa-supek, kau lihatlah baik-baik, kemudian nyatakan pendapatmu!”
Siauw Bwee menghampiri sebuah panci yang penuh dengan air, kemudian ia memasukkan tangan
kanannya ke dalam air itu, mengerahkan Im-kang beberapa menit lamanya. Kemudian ia menarik
tangannya dan... Coa Leng Bu memandang dengan mata terbelalak ketika melihat air itu telah membeku
menjadi es dan ikut tertarik ke luar! Siauw Bwee memasukkan lagi air beku itu ke dalam panci, kemudian
perlahan-lahan ia merubah Im-kang menjadi Yang-kang. Air beku itu mencair, terus berubah makin panas
sampai akhirnya mendidih di dalam panci!
“Moi-moi, kau mengagumkan sekali!” Han Ki berseru gembira.
Dia pun menghampiri sebuah tempayan air, menyodok air dengan tangannya dan begitu tangannya
diangkat, air yang berada di telapak tangannya telah membeku, jauh lebih cepat dari yang dilakukan Siauw
Bwee tadi!
Kedua kaki Coa Leng Bu menggigil saking tegang dan kagetnya, dan tak terasa lagi kedua lututnya ditekuk
dan dia telah berlutut sambil berkata, “Ya Tuhan..., selama ini kedua mataku seperti buta, tidak melihat
bahwa Ji-wi adalah orang-orang muda yang memiliki ilmu kepandaian seperti malaikat...!”
Siauw Bwee meloncat dan menarik lengan kakek itu, memaksanya bangkit. “Aihh, Coa-supek, apa-apaan
ini? Aku hanya ingin mendengar pendapatmu, bagaimana? Apakah kami berdua cukup kuat untuk
menggunakan Im-kang mengusir hawa panas yang melenyapkan ingatan Suheng?”
Coa Leng Bu mengangguk-angguk, menelan ludah, masih terpesona, akhirnya ia menghela napas dan
berkata, “Kalau aku tahu bahwa kalian memiliki Im-kang sehebat itu, tentu saja boleh dilakukan. Hanya
kalian harus berhati-hati benar, karena sedikit saja mengalami kekagetan dan gangguan, bisa
menimbulkan bahaya. Syaraf di kepala amatlah halusnya, dan sedikit gangguan saja membahayakan
nyawa.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku ingin Suheng segera sembuh. Biarlah kami melakukannya di dalam pondok dan harap Supek suka
menjaga di luar pondok agar tidak terjadi gangguan.”
“Baiklah, kalian adalah dua orang muda yang amat luar biasa. Sungguh hampir aku tak dapat percaya...”
“Coa-supek, kami adalah murid-murid Bu Kek Siansu, penghuni Istana Pulau Es. Bertahun-tahun kami
melatih Im-kang di Pulau Es, apa anehnya kalau kami memiliki keahlian dalam menyalurkan hawa sakti
yang membekukan air?”
Sepasang mata Coa Leng Bu terbelalak. “Murid-murid... manusia dewa itu...? Dan aku telah membiarkan
diri kau sebut supek? Betapa menggelikan dan memalukan! Aihhhh... setua ini masih tolol...!”
“Sudah, Supek. Harap suka menjaga di luar, kami hendak mulai sekarang juga. Marilah, Koko.”
Han Ki hanya tersenyum dan mengikuti gadis itu memasuki pondok. Sebetulnya dia masih belum percaya
bahwa dia menderita sakit, dan hanya mengira bahwa kehilangan ingatan adalah karena suatu sebab yang
mungkin diketahui oleh kakak angkatnya, Bu Kok Tai, Koksu Negara Sung. Akan tetapi menyaksikan
kegembiraan dan harapan Siauw Bwee, dia tidak tega untuk menolak. Pula, bermain-main dengan tenaga
Im-kang itu, apa sih bahayanya?
Siauw Bwee menutupkan daun pintu pondok, kemudian duduk bersila saling berhadapan dengan Han Ki.
Sejenak mereka saling pandang. Han Ki tersenyum seperti melihat kelakuan seorang anak kecil yang
mengajaknya bermain-main, sebaliknya Siauw Bwee memandang dengan sungguh-sungguh dan berkata,
“Koko, percaya atau tidak bahwa engkau terkena hawa beracun yang melenyapkan atau menutupi
ingatanmu, namun engkau sendiri sudah yakin bahwa ingatanmu hilang dan engkau tidak dapat mengingat
akan keadaanmu sebelum engkau menjadi adik angkat Koksu Bu Kok Tai itu. Apa pun yang menjadi
sebabnya, sudah jelas bahwa ingatanmu hilang dan kita harus berusaha untuk menyembuhkanmu. Coasupek
adalah seorang ahli yang berpengalaman, maka aku percaya bahwa hawa panas beracun telah
membuatmu kehilangan ingatan. Oleh karena itu, harap engkau bersungguh-sungguh bersamaku
menyatukan Im-kang, kau kendalikan baik-baik untuk mengusir hawa panas beracun yang menggelapkan
ingatanmu itu. Maukah engkau?”
Han Ki tersenyum dan melihat bahwa pemuda itu agaknya masih meragu, Siauw Bwee cepat berkata,
“Demi cintaku kepadamu, dan demi cintamu kepadaku! Kam-koko, maukah engkau bersungguh-sungguh
melakukan usaha ini? Kalau kau anggap ringan keadaanmu, biarlah demi untuk membahagiakan hatiku.
Maukah?”
Hati Han Ki menjadi terharu. Dalam sinar matanya, dalam getaran suaranya, gadis ini jelas menunjukkan
hati kasih sayang yang luar biasa terhadap dirinya! Sampai bagaimana pun, dia tidak tega untuk
mengecewakan hati gadis sebaik ini!
“Baiklah, Moi-moi. Nah, mari kita mulai. Bagaimana engkau hendak membantuku?”
“Ulurkan kedua lenganmu kepadaku, Koko.”
Han Ki yang duduk bersila menyodorkan kedua lengannya dan Siauw Bwee juga melakukan hal yang
sama sehingga dua pasang telapak tangan bertemu. Pertama-tama, terasa oleh Han Ki getaran hangat
dan mesra dari telapak tangan gadis itu, getaran yang didorong oleh hati yang mencinta!
Siauw Bwee maklum bahwa biar pun ilmu kepandaiannya masih dikuasainya secara praktek, namun
pemuda itu sudah lupa sama sekali akan teori-teorinya. Karena itu dia kemudian berkata, “Setelah aku
menyalurkan Im-kang, kau sambutlah tenaga saktiku, kerahkan tenagamu sendiri sehingga tenaga Im-kang
kita menjadi kuat dan menjadi satu di dalam tubuhmu. Kau kumpulkan segala panca indera, tujukan
kepada satu, yaitu mengendalikan Im-kang yang kuat itu dan perlahan-lahan, hati-hati sekali kau salurkan
ke atas, memasuki kepalamu untuk menghalau pergi hawa panas beracun. Akan tetapi hati-hatilah, Koko,
dan jangan pedulikan segala gangguan, karena kalau sampai gerakan hawa Im-kang di kepalamu itu
mengalami gangguan, bisa membahayakan dirimu. Boleh jadi kau tidak peduli akan akibat buruk yang
dunia-kangouw.blogspot.com
menimpamu, akan tetapi ketahuilah bahwa kalau sampai engkau celaka, aku pun ikut celaka, kalau engkau
tewas, aku pun tidak mau hidup lagi. Berarti engkau tidak hanya menjaga keselamatanmu akan tetapi juga
keselamatanku! Nah, aku mulai!”
Hati Han Ki menjadi terharu sekali, akan tetapi ketika ia merasa betapa dari kedua telapak tangan yang
berkulit halus itu, yang tadinya hangat dan lembut kini menjadi dingin, mengalir hawa yang dingin sekali, ia
cepat menyatukan semua perasaannya, bersemedhi dan memusatkan perhatian kepada hawa dingin yang
mengalir masuk melalui kedua lengannya. Dia menerima hawa itu, menyatukan dengan hawa Im-kang
yang ia kerahkan dari pusar, kemudian dengan perhatian penuh ia mengendalikan hawa itu, perlahanlahan
seperti uap yang meraba-raba dan mencari-cari, mulai menyalurkannya ke atas.
Mula-mula hawa Im-kang yang tergabung itu terkumpul di pusarnya, kemudian perlahan-lahan naik melalui
dadanya, terus ke leher dan dari situ naik dengan amat perlahan dan hati-hati. Siauw Bwee sendiri berada
dalam keadaan semedhi karena dia tidak menghendaki pengerahan Im-kang-nya tercampur dengan
tenaga lain atau pikiran-pikiran yang akan mengotorkan penyalurannya.
Kedua orang itu duduk besila, saling berhadapan dan saling mengadu telapak tangan, sama sekali tidak
bergerak seperti sepasang arca. Akan tetapi tanpa terlihat oleh mata, terjadilah kemukjizatan karena dua
tenaga Im-kang yang amat dahsyat sedang bekerja dan bahwa benar seperti apa yang dikhawatirkan oleh
Coa Leng Bu, usaha yang dilakukan oleh kedua orang ini amatlah berbahaya. Terguncang atau meleset
sedikit saja akan mendatangkan akibat yang mengerikan bagi diri Han Ki.
Karena maklum bahwa dia sendiri masih jauh berada di tingkat rendah untuk dapat membantu mereka, dan
diam-diam masih kagum dan terheran-heran mendapat kenyataan bahwa kedua orang itu adalah orangorang
sakti, Coa Leng Bu duduk bersila di atas bangku depan pondok. Dia pun prihatin dan mengharapkan
gadis sakti itu berhasil menyembuhkan suheng-nya.
Melihat kekuatan Im-kang mereka yang sudah mencapai tingkat setinggi itu, dia yakin bahwa kalau mereka
tidak terganggu dan mampu mengendalikan kekuatan dahsyat itu, mereka tentu akan mampu mengusir
hawa panas beracun yang telah meracuni Han Ki, yang telah menggelapkan ingatan Si Pemuda Sakti. Dan
dia mengutuk perbuatan orang yang telah meracuni Han Ki, yang ia duga tentulah Bu Kok Tai, koksu
negara yang hendak menggunakan kepandaian Si Pemuda untuk menjadi pembantu dan pengawalnya.
Hanya dia masih heran, bagaimana seorang yang sedemikian saktinya dapat dipedaya dan diminumi racun
perampas ingatan.
Tiba-tiba Coa Leng Bu tersentak kaget. Sudah ada empat jam lebih dia duduk menjaga, matahari sudah
naik tinggi dan kini dia melihat bayangan empat orang datang ke tempat itu. Karena tidak ingin dua orang
muda di dalam pondok terganggu, cepat dia turun dari bangku dan berjalan menyambut empat orang itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia mengenal mereka itu bukan lain adalah Bu-koksu, Patjiu
Sin-kauw, Thian Ek Cinjin, dan Ang Hok Ci!
“Celaka...!” keluhnya dalam hati namun wajah kakek itu tetap tenang ketika ia berhadapan dengan mereka.
Coa Leng Bu menjura dengan hormat kepada mereka lalu berkata, “Selamat datang, Bu-koksu. Apakah
engkau hendak menangkap aku? Silakan, aku menyerah karena aku memang merasa telah membikin
kacau di Sian-yang dahulu.”
Bu-koksu tertawa, “Ha-ha-ha, siapa butuh orang macam engkau? Aku ingin melihat siapa yang berada di
dalam pondok itu!”
“Bu-koksu, di sana terdapat seorang yang sedang sakit, harap engkau tidak mengganggunya!”
“Orang sakit?” Bu-koksu mengerutkan alisnya yang tebal. “Hemm, beranikah engkau membohongiku
bahwa di sana terdapat Kam Han Ki dan Khu Siauw Bwee?”
Coa Leng Bu maklum bahwa membohong pun tiada gunanya. “Benar, akan tetapi Kam-taihiap sedang
sakit, sedangkan Khu-lihiap sedang merawatnya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha, kau maksudkan sedang berusaha memulihkan ingatan Kam Han Ki? Orang she Coa, aku
sudah tahu siapa engkau. Engkau adalah seorang ahli pengobatan yang tentu berusaha menyembuhkan
Kam Han Ki. Kami datang untuk menangkap mereka!”
“Bu-koksu, apakah kesalahan mereka?” Coa Leng Bu sengaja mencari bahan percakapan untuk mengulur
waktu, untuk memberi kesempatan kepada kedua orang itu menyelesaikan pengobatan. Kalau belum
selesai dan terganggu, nyawa Kam Han Ki terancam bahaya maut.
“Engkau mau tahu? Kam Han Ki telah menjadi pengkhianat dan harus ditangkap. Sedangkan gadis itu
adalah puteri mendiang Khu Tek San, seorang panglima yang memberontak. Dia harus ditawan dan
dihukum pula!”
“Bu-koksu, harap kau tunggu sebentar sampai mereka selesai dengan pengobatan mereka. Kalau
terganggu, keadaan Kam-taihiap berbahaya sekali. Bukankah dia itu adalah adik angkatmu sendiri yang
sudah banyak berjasa terhadapmu? Apakah engkau tega untuk mencelakainya?”
“Jangan banyak cakap! Minggirlah!”
“Bu-koksu, harap engkau orang tua yang sudah banyak pengalaman hidup menaruh kasihan kepada dua
orang muda yang tidak berdosa. Biarlah aku yang menanggung semua kesalahan mereka. Biar aku yang
kau tangkap dan kau seret untuk dihukum. Biarkan mereka, karena aku tahu bahwa mereka bukanlah
pengkhianat, apa lagi pemberontak. Kau tahu, mereka adalah murid-murid manusia dewa Bu Kek Siansu!”
Wajah Bu-koksu seketika pucat mendengar ini, karena sesungguhnya berita ini tak pernah disangkasangkanya
dan membuatnya terkejut bukan main. Akan tetapi segera dia dapat mengatasi rasa kagetnya
dan tertawa, “Siapa pun mereka, harus kami tawan!”
Diam-diam dia mengharapkan untuk dapat mewarisi kitab-kitab peninggalan Bu Kek Siansu kalau dia
berhasil menundukkan kedua orang itu. Dia maklum bahwa kalau Kam Han Ki sudah sadar, akan sukar
untuk mengatasi mereka. Akan tetapi melihat bahwa pemuda itu masih dalam pengobatan, dia mempunyai
harapan untuk dapat menguasai pemuda itu yang telah hilang ingatannya dan kalau hal ini benar, dengan
bantuan Kam Han Ki tidak sukar baginya untuk menundukkan gadis yang sakti itu.
“Jangan bergerak!” Coa Leng Bu berseru marah. “Kalian takkan dapat pergi memasuki pondok itu kecuali
melalui mayatku!”
“Manusia sombong, kalau begitu mampuslah engkau!” Bu Kok Tai yang sudah marah sekali itu membentak,
tubuhnya menerjang ke depan, tangan kanannya yang besar mencengkeram.
Mendengar bunyi tulang-tulang jari tangan itu berkerotokan, maklumlah Coa Leng Bu bahwa Koksu ini
memiliki tenaga yang hebat, maka cepat ia mengelak ke samping sambil memukul dari bawah
menghantam dengan pengerahan tenaga Jit-goat-sinkang.
“Desss!” Tubuh Coa Leng Bu terjengkang ketika Bu-koksu menangkis hantaman itu dengan tenaga
sinkang yang jauh lebih lihai dan kuat.
“Engkau bosan hidup!” Tiba-tiba Ang Hok Ci, siucai murid Koksu meloncat dan menggunakan kakinya
menginjak ke arah perut kakek itu dengan pengerahan tenaganya.
Injakan maut ini tentu akan menghancurkan isi perut. Akan tetapi Coa Leng Bu dalam usahanya
menghalangi mereka mengganggu kedua orang muda di dalam pondok tidak mau menyerah begitu saja.
Cepat ia miringkan tubuhnya yang telentang, lalu menggunakan tangan menangkap kaki yang menginjak
sambil mengerahkan tenaga dan sekali dia membentak, tubuh Ang Hok Ci terlempar ke atas dan tentu
akan jatuh terbanting kalau jubahnya tidak disambar oleh Bu-koksu.
Coa Leng Bu sudah meloncat bangun lagi. Dia tidak memegang senjata karena tadi tidak menyangka
sama sekali akan kedatangan musuh. Akan tetapi dia tidak gentar dan cepat meloncat lagi menghadang
mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Terimalah ini!” Pat-jiu Sin-kauw sudah menerjangnya dengan ilmu silatnya yang amat hebat, yaitu Soanhong
Sin-ciang (Tangan Sakti Angin Badai).
Tubuhnya berputaran, jubahnya berkibar dan kedua tangannya seperti kitiran angin menyambar-nyambar.
Coa Leng Bu pernah melawan orang ini di Sian-yang, maklum bahwa lawannya amat lihai, maka dia pun
cepat mainkan ilmu silatnya dan mengerahkan daya tahannya, mengelak dan menangkis.
Dia tahu bahwa betapa pun dia berusaha, takkan mungkin dia akan menang menghadapi empat orang ini,
apa lagi menghadapi Bu-koksu yang amat lihai. Dia pun tidak mengharapkan kemenangan yang tak
mungkin, hanya ingin mempertahankan diri selama mungkin untuk mengulur waktu penyerbuan mereka ke
dalam pondok.
Tiba-tiba Pat-jiu Sin-kauw yang tubuhnya berputaran ini berjongkok, mulutnya mengeluarkan suara dalam,
dan kedua tangannya mendorong ke atas, ke arah lawan. Itulah Thai-lek-kang yang amat dahsyat. Coa
Leng Bu maklum bahwa dia tentu akan roboh kalau terkena hawa dorongan ini, maka dia pun lalu
mengerahkan tenaga sekuatnya.
“Dessss!”
Tenaga Pat-jiu Sin-kauw berimbang dengan tenaga Jit-goat-sinkang yang dimiliki Coa Leng Bu. Akan tetapi
karena pada saat itu Coa Leng Bu sudah nekat dan mati-matian hendak melindungi kedua orang muda itu,
tenaganya bertambah dan tubuh Pat-jiu Sin-kauw terpental ke belakang dan terguling-guling. Akan tetapi
Coa Leng Bu sendiri terhuyung ke belakang.
“Cring-cring... singggg...!” Sinar gemerlapan menyambar ke arah Coa Leng Bu.
Kakek ahli obat ini terkejut sekali, berusaha menghindarkan diri dari sambaran golok besar di tangan Bukoksu,
akan tetapi gerakan Bu-koksu amat dahsyat.
“Crakk!” pundak Coa Leng Bu terbabat putus!
Namun Coa Leng Bu seolah-olah tidak merasakan nyeri pada pundaknya yang sudah buntung itu. Dia
meloncat bangun lagi dan menerjang Thian Ek Cinjin yang sudah lari hendak menghampiri pondok. Thian
Ek Cinjin menjadi ngeri melihat orang yang lengan kanannya buntung sepundak dan dari lukanya muncratmuncrat
darah itu masih menubruknya. Cepat ia meloncat ke samping dan memukul ke arah pusar. Namun,
Coa Leng Bu tidak mempedulikan pukulan itu, bahkan membarengi dengan hantaman ke arah kepala
Thian Ek Cinjin dengan tangan kirinya!
Thian Ek Cinjin terkejut dan kepalanya tentu akan terkena hantaman yang dapat mengakibatkan maut
kalau saja pada saat itu tidak datang sinar gemerlapan golok besar Bu-koksu yang menyambar dari
belakang.
“Crott!” Lengan kiri Coa Leng Bu kembali terbabat buntung sebatas siku! Dan pusarnya masih terkena
hantaman Thian Ek Cinjin yang membuat tubuhnya terjengkang.
Biar pun kedua lengannya telah buntung, tidak pernah terdengar keluhan keluar dari mulut kakek yang
gagah perkasa ini, bahkan kini dia sudah meloncat bangun lagi. Dengan mata terbelalak penuh keberanian
dia sudah menyerbu ke depan Bu-koksu yang menyambutnya dengan sambaran goloknya, sekali ini
mengenai leher Coa Leng Bu. Robohlah tubuh kakek gagah perkasa itu dengan kedua lengan dan kepala
terpisah dari badan, tewas seketika dalam keadaan mengerikan.
Bu-koksu menyarungkan goloknya, memandang ke arah Coa Leng Bu, menghela napas dan berkata,
“Seorang yang gagah perkasa! Sayang orang seperti ini tidak pernah menjadi pembantuku.” Ia lalu
membalikkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada para pembantunya untuk berjaga di luar.
“Biarkan aku sendiri yang menghadapi mereka,” katanya karena dia maklum bahwa kalau Kam Han Ki
masih hilang ingatan, pemuda itu hanya dapat dikuasai olehnya. Sebaliknya kalau keadaan menjadi
dunia-kangouw.blogspot.com
berubah, hanya dia seoranglah yang akan dapat mengimbangi mereka yang amat lihai, sedangkan tiga
orang pembantunya itu takkan ada gunanya.
Dia melangkah ke depan pintu pondok, berhenti dan berseru nyaring, “Kam-siauwte, aku datang!”
Tidak ada jawaban dari dalam pondok. Tentu saja suaranya yang nyaring itu terdengar oleh Siauw Bwee
yang menjadi terkejut bukan main. Akan tetapi gadis ini menekan perasaannya. Dia maklum bahwa mereka
berdua sudah hampir berhasil. Ada hawa panas keluar dari kepala suheng-nya. Akan tetapi kalau sekarang
dihentikan atau terganggu, akan berbahalah bagi suheng-nya. Dia memejamkan matanya, tidak peduli lagi.
Kalau harus mati, dia rela mati bersama suheng-nya yang tercinta!
Pintu pondok terdorong terbuka dari luar. Ketika Bu-koksu melihat dua orang muda itu duduk berhadapan
dengan mengadu telapak tangan dan keadaan dalam pondok terasa amat dingin, dia maklum bahwa
kedua orang itu sedang mengerahkan Im-kang yang amat luar biasa untuk melawan hawa panas beracun
yang menggelapkan ingatan Han Ki sebagai akibat dari obat yang ia minumkan kepada pemuda itu.
Terkejutlah pembesar ini melihat uap panas keluar dari kepala Han Ki, tanda bahwa cara pengobatan yang
radikal itu hampir berhasil. Ia lalu melangkah maju dengan cepat, dan menggerakkan tangannya untuk
menotok tengkuk Han Ki.
“Aihhh...!” Bu-koksu menggigil seluruh tubuhnya dan ia tentu roboh kalau saja pengalamannya yang luas
tidak membuat dia cepat menarik kembali tangannya sebelum terlambat.
Ternyata dari tubuh pemuda itu keluar hawa dingin yang takkan kuat ia lawan, sungguh pun dia sendiri
memiliki sinkang yang kuat. Kalau tadi totokannya ia lanjutkan sampai tangannya bertemu dengan kulit
tengkuk Han Ki, tentu dia akan terkena serangan hebat yang membahayakan isi dadanya!
Sementara itu, Siauw Bwee yang maklum akan kehadiran Koksu, terguncang hatinya penuh kekhawatiran,
maka seluruh Im-kang dari kedua tengannya menjadi kacau sehingga tubuh Han Ki bergoyang-goyang.
Tiba-tiba Han Ki membuka matanya, memandang Siauw Bwee dan matanya terbelalak, mulutnya berteriak
heran dan kaget, “Engkau... Siauw Bwee... Khu-sumoi...!” Dan begitu Siauw Bwee melepaskan kedua
tangannya, pemuda itu roboh terguling dan pingsan!
Mendengar teriakan suheng-nya itu hati Siauw Bwee girang bukan main karena teriakan itu menunjukkan
bahwa suheng-nya telah ingat lagi, akan tetapi dia sendiri sudah kehabisan tenaga, maka ketika dia
merasa ada angin menyambarnya, biar pun dia sudah cepat membuang tubuh, tetap saja pundaknya
terkena totokan jari tangan Bu-koksu dan tubuhnya terguling di samping tubuh Han Ki dalam keadaan
lemas!
Bu-koksu cepat menghampiri Han Ki dan menotok jalan darah di punggung pemuda yang masih pingsan
itu, kemudian sambil tertawa girang dia memanggil para pembantunya. Tiga orang pembantunya yang
tidak melihat apa yang telah terjadi merasa kagum dan mengira bahwa Koksu itu berhasil merobohkan dua
orang muda yang lihai itu.
“Cepat belenggu kaki tangan mereka, kita bawa mereka sebagai tawanan ke Siang-tan,” katanya.
Tiga orang itu bergegas membelenggu Han Ki dan Siauw Bwee. Kemudian mereka mengempit tubuh
kedua orang itu keluar dari pondok. Siauw Bwee yang tertotok lemas namun masih sadar itu mengeluarkan
jerit tertahan ketika melihat mayat supek-nya yang tewas dalam keadaan mengerikan. Ia menggigit bibir,
tidak mengeluarkan kata, hanya sepasang matanya saja yang mengeluarkan sinar berapi.
“Nona Khu,” Bu-koksu berkata dengan suaranya yang besar, “Kam Han Ki adalah seorang buruan, engkau
pun puteri seorang panglima pemberontak. Akan tetapi, mengingat keadaan negara dalam bahaya, aku
yang akan tanggung bahwa kalian tidak akan menerima hukuman asal saja kalian berdua suka
menyumbangkan tenaga untuk negara. Kalian adalah orang-orang gagah perkasa, murid dari Bu Kek
Siansu, Penghuni Istana Pulau Es. Setelah mempelajari ilmu kesaktian, untuk apa kalau tidak untuk
membela negara dan bangsa? Dengan keadaan negara terancam musuh-musuhnya, semua urusan
pribadi harus di kesampingkan lebih dulu, seperti bunyi ujar-ujar kuno yang tentu telah menjadi pegangan
dunia-kangouw.blogspot.com
mendiang ayahmu pula, ialah Wi-bin-wi-kok, Hiap-ci-tai-cia (Demi Rakyat dan Negara Yang Pertama).
Kuharap engkau dapat mengerti dan dapat menyadarkan suheng-mu.”
Dengan mata masih mendelik Siauw Bwee berkata, “Kalian orang-orang kasar memang selalu curang dan
keji. Dalam keadaan kedudukanmu terancam, kalian mempergunakan rakyat untuk membantumu dengan
alasan demi rakyat dan negara. Akan tetapi setelah keadaan aman dan kedudukanmu terjamin, kalian
merupakan penindas-penindas rakyat, penjilat Kaisar lalim dan memusuhi pemimpin-pemimpin jujur!”
Bu Kok Tai menghela napas panjang. “Aku selalu kagum kepada mendiang Menteri Kam dan Panglima
Khu. Aku tidak pernah memusuhi mereka secara pribadi, akan tetapi sebagai seorang petugas, bagaimana
mungkin tidak hendak menaati perintah atasan? Sudahlah! Hayo bawa mereka ke Siang-tan, cepat-cepat
jangan sampai kemalaman di jalan!” katanya kemudian kepada pembantu-pembantunya.
Pat-jiu Sin-kauw mengempit tubuh Han Ki, sedangkan Siauw Bwee dipanggul oleh Thian Ek Cinjin. Mereka
melanjutkan perjalanan menuju ke Siang-tan dengan cepat, karena sesungguhnya hanya terpaksa saja
Koksu melakukan perjalanan menyusul Han Ki sendiri setelah mendengar pelaporan para penyelidik.
Tenaganya amat dibutuhkan di kota itu, dan dalam keadaan terancam oleh pasukan-pasukan Mancu, kalau
tidak terpaksa sekali, tidak nanti dia mau meninggalkan kota.
Betapa pun juga, hatinya gembira karena tanpa banyak kesukaran dia berhasil membawa Han Ki dan
Siauw Bwee yang diharapkannya akan suka membantunya. Kalau dia bisa menarik kedua orang itu
sebagai pembantu-pembantunya, kedudukannya akan makin kuat dan tenaga kedua orang muda yang
memiliki ilmu kepandaian amat tinggi itu amat dibutuhkan untuk menghadapi penyerbuan pasukan-pasukan
Mancu yang dipimpin banyak orang pandai.
Ketika rombongan empat orang yang membawa dua orang tawanan itu tiba di luar hutan pohon pek,
memasuki hutan kecil di mana terdapat jalan yang menuju ke Siang-tan, tiba-tiba terdengar suara ketawa
dan dari balik pohon besar muncullah lima orang laki-laki. Yang tertawa adalah seorang kakek berusia
tujuh puluh tahun lebih, berambut dan berjenggot panjang, sudah putih semua, pakaiannya terbuat dari
sutera mahal akan tetapi bentuknya sederhana seperti pakaian pendeta, tangannya memegang sebatang
tongkat kayu cendana berselaput emas dan sikapnya agung seperti sikap orang yang biasa memerintah.
Ada pun empat orang yang berdiri di belakangnya adalah orang-orang yang berpakaian mewah. Dapat
dibayangkan betapa kaget hati Bu-koksu ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Pek-mau
Seng-jin, Koksu dari Kerajaan Yucen, sedangkan para pengikutnya itu adalah Suma Hoat, Panglima
Dailuba yang brewok bermata lebar dan bertubuh tinggi besar, Thai-lek Siauw-hud yang gendut pendek
dan tertawa-tawa, dan seorang Yucen yang berpakaian indah dan berwajah tampan, yaitu Pangeran
Dhanu yang memiliki kedudukan penting di Kerajaan Yucen!
“Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu dan aneh! Bu-koksu sebagai pimpinan tertinggi pada saat ini dalam benteng
pertahanan di Siang-tan, kiranya masih sempat berkeliaran di dalam hutan!” Pek-mau Seng-jin mengejek
sungguh pun dia mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.
Pada waktu itu Kerajaan Yucen sedang berkembang dan sudah menguasai sebagian besar Tiongkok
Utara, bahkan terpaksa Kerajaan Sung pindah ke selatan dan mengakui Kerajaan Yucen ini. Untuk ikatan
persahabatan, bahkan Puteri Sung Hong Kwi telah diserahkan untuk menjadi isteri Pangeran Dhanu
sebagaimana telah diceritakan di bagian depan cerita ini. Akan tetapi, hanya pada lahirnya saja kedua
kerajaan ini bersahabat, sebetulnya di dalam hatinya saling menganggap musuh besar.
Bu-koksu cepat membalas dengan penghormatan selayaknya, kemudian menjawab dengan suara halus
namun mengandung ejekan balasan pula, “Selamat berjumpa, Pek-mau Seng-jin! Tempat ini termasuk
wilayah kerajaan kami, maka tidaklah mengherankan apa bila sebagai Koksu negara mengadakan
pemeriksaan sendiri di sini. Barulah aneh namanya kalau Koksu Negara Yucen bersama panglima dan
pangeran berada di sini bukan sebagai tamu negara yang resmi. Karena pertemuan ini tidak diduga-duga
lebih dulu, maka biarlah saya mewakili negara untuk mengundang Cu-wi sekalian sebagai tamu terhormat
kami di Siang-tan.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha-ha-ha! Saya mendengar bahwa Bu-koksu amat lihai kepandaiannya kiranya sekarang lihai juga
bicaranya! Terima kasih, Bu-koksu. Akan tetapi, ada sebuah hal yang memaksa pertemuan antara kita ini
menimbulkan rasa tidak enak kepada kedua pihak. Sungguh menyesal sekali.”
Hati Bu-koksu berdebar dan dia sudah menduga bahwa persoalan itu tentu menyangkut kedua orang
tawanannya. Akan tetapi ia tetap bersikap tenang dan bertanya, ”Di pihak kami, tidak ada persoalan dan
sungguh pun jelas bahwa Cu-wi melanggar wilayah kami bukan sebagai tamu, kami masih bersikap ramah
dengan mengundang Cu-wi sebagai tamu kami. Hal ini agaknya juga diketahui dengan jelas oleh Sumakongcu,
yang entah bagaimana bisa menemani Koksu dan Pangeran.”
Mendengar ini dan melihat pandang mata Bu-koksu ditujukan kepadanya dengan sinar tajam menyelidik,
Suma Hoat tersenyum saja dan matanya memandang ke arah Siauw Bwee yang tubuhnya dibelenggu dan
dipanggul di atas pundak Thian Ek Cinjin. Dia tidak mau menjawab dan hanya mengandalkan kepada
jawaban Pek-mau Seng-jin sekutu ayahnya.
“Maafkan, kalau kami melanggar wilayahmu, Bu-koksu. Hanya kami rasa bahwa sebagai sahabat-sahabat,
tiada salahnya kalau kami melihat-lihat keadaan wilayah selatan ini. Kebetulan sekali kita bertemu, akan
tetapi tidak kebetulan bahwa kami melihat kalian memperlakukan sahabat kami sebagai tawanan, sungguh
amat tidak enak bagi kami. Maka, mengingat akan hubungan antara kita, saya harap sukalah Bu-koksu
memandang muka kami dan membebaskan kedua orang tawanan ini.”
Berkerut alis Bu-koksu. Dia sudah menduga bahwa tentu kedua orang tawanan itu yang akan dipersoalkan.
Akan tetapi dia masih penasaran dan cepat berkata, “Maaf, Pek-mau Seng-jin! Kedua orang ini adalah
orang-orang Han, dan urusan kami dengan mereka tidak ada sangkut-pautnya dengan Koksu dan
Kerajaan Yucen. Harap Koksu suka mempertimbangkan dan tidak mencampuri urusan pribadi sendiri.”
“Ha-ha-ha, melihat sahabat-sahabat baik diperlakukan tidak hormat, bagaimana kami dapat tinggal diam
saja? Ingatkah Koksu akan peribahasa yang mengatakan bahwa sahabat lebih berat dari pada tangan kiri?
Mereka adalah sahabat-sahabat kami, tentu saja kami tidak suka melihat mereka mengalami penghinaan
seperti itu.”
“Pek-mau Seng-jin!” Bu-koksu berkata marah. “Saya tidak melihat hubungan antara mereka ini dengan
kalian! Saya rasa kalian tidak mengenal kedua orang ini, apa lagi bersahabat!”
“Bukan sahabat saya pribadi, akan tetapi sahabat baik Pangeran Dhanu. Silakan menjawab Pangeran,”
Pek-mau Seng-jin berkata dan Pangeran Dhanu melangkah ke depan sambil berkata,
”Bu-koksu, ketahuilah bahwa Kam Han Ki itu adalah seorang sahabatku, sahabat pribadi yang amat baik.
Bahkan dia pernah memukul mundur pasukan-pasukan Mancu untuk menolong kami, bagaimana aku
dapat membiarkan dia kau perlakukan seperti itu? Oleh karena itu, aku sebagai mantu dari kaisarmu,
kuminta supaya kau suka memandang mukaku dan membebaskan Kam Han Ki sahabatku.”
“Dan gadis ini?” Bu-koksu yang diam-diam merasa terkejut dan gelisah itu bertanya penasaran.
“Gadis ini adalah Khu Siauw Bwee, sahabat baik sekali dari Suma-kongcu. Karena Suma-kongcu merasa
sungkan mengajukan permintaan dan menentang Koksu sebagai rekan sendiri, maka biarlah saya yang
mewakilinya dan mintakan agar Nona Khu kau beri kebebasan pula.”
Merah muka Bu-koksu mendengar ini. “Kedua orang ini adalah orang-orang tangkapan kami karena
mereka merupakan pemberontak-pemberontak, betapa mungkin kami membebaskannya? Kalau Koksu
dan Pangeran ingin membelanya dan mohon pembebasannya, harap suka mengajukan permintaan resmi
agar diputuskan oleh Kaisar sendiri. Saya tidak berani lancang mengambil keputusan dan menyerahkan
dua orang tawanan penting di tengah jalan begitu saja kepada Cu-wi!”
“Hemm, jawaban itu berarti bahwa Bu-koksu tidak memandang kami sebagai sahabat!” Pek-mau Seng-jin
berkata dengan suara getir.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Saya cukup menghargai persahabatan antara kita, akan tetapi tentu saja saya lebih menghargai tugas dan
kedudukan saya.”
“Kalau kami memaksa?”
“Terserah, kami akan mempertahankan!”
“Ha-ha-ha! Bu-koksu sungguh tak tahu diri. Keadaan kota Siang-tan sedang terancam pasukan Mancu,
siapa lagi yang akan dapat menolong kalau bukan pasukan kami? Akan tetapi Bu-koksu lebih
mementingkan urusan pribadi. Baiklah, urusan pribadi kita selesaikan secara pribadi pula. Sudah lama aku
mendengar bahwa Bu-koksu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, terutama sekali ilmu goloknya
yang belum pernah bertemu tanding. Kesempatan ini hendak kugunakan untuk mengenal ilmu golok Bukoksu!
Kalian berempat, kami pun akan maju berempat dan siapa menang dalam pertandingan ini berhak
atas kedua orang tawanan itu!”
“Bukan kami yang memancing permusuhan, kami hanya mempertahankan diri. Silakan, Pek-mau Seng-jin,
jangan mengira bahwa aku takut kepadamu!” Bu-koksu yang sudah marah sekali lalu mencabut goloknya
sehingga terdengar bunyi berkerincingan nyaring.
Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin juga sudah menurunkan tubuh tawanan yang mereka panggul tadi,
siap menghadapi lawan, sedangkan Ang Hok Cu cepat mendekati kedua orang tawanan untuk menjaga
agar mereka tidak dirampas orang.
Thian Ek Cinjin dan Pat-jiu Sin-kauw sebetulnya adalah dua orang anak buah Pek-mau Seng-jin sendiri!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang yang bergabung dengan Coa-bengcu di pantai Po-hai
ini diam-diam telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Yucen. Atas permintaan Pek-mau Seng-jin,
kedua orang ini berhasil menyelundup dengan membawa Kam Han Ki yang pingsan, menyerahkannya
kepada Bu-koksu sehingga mereka berdua diangkat menjadi pengawal! Karena inilah maka Pek-mau
Seng-jin girang sekali melihat kedua orang sekutunya itu kini mengawal Bu-koksu dan diam-diam ia
memberi tanda dengan kejapan mata kepada mereka.
Thian Ek Cinjin meloncat ke depan, berhadapan dengan Thai-lek Siauw-hud Ngo Kee Si Gendut Pendek
yang tertawa-tawa, yang sebetulnya adalah temannya sendiri. Tanpa banyak cakap lagi mereka sudah
bertanding, Thai-lek Siauw hud menggunakan sebatang golok besar sedangkan Thian Ek Cinjin
menggunakan sebatang pedang.
Juga Pat-jiu Sin-kauw sudah saling berkedip dengan Panglima Dailuba yang menyambutnya. Mereka pun
tanpa banyak cakap sudah saling bertanding, menggunakan tangan kosong karena kedua orang ini
merupakan ahli-ahli silat tangan kosong. Pertempuran terjadi dengan seru dan karena pandainya mereka
berempat bersandiwara, Bu-koksu sendiri tidak pernah menyangka bahwa mereka itu tidaklah bertanding
sungguh-sungguh.
“Ha-ha-ha, dua orangmu telah bertempur melawan dua orang pembantuku. Tinggal kita berdua. Marilah
kita coba-coba, Bu-koksu!” kata Pek-mau Seng-jin sambil menggerakkan tongkatnya menusuk.
“Cring-cring-tranggg!”
Keduanya terpental ke belakang ketika tongkat itu tertangkis oleh golok bergelang. Kemudian keduanya
maju lagi saling serang dengan dahsyat. Gerakan Bu-koksu amat dahsyat dan kuat, goloknya
mengeluarkan bunyi mengerikan dan golok yang berat itu diputar sampai berubah menjadi segulung sinar
menyilaukan mata. Namun gerakan tongkat di tangan Pek-mau Seng-jin lebih cepat lagi, tampak sinar
keemasan bergulung-gulung menyelubungi gulungan sinar golok, bahkan dalam hal tenaga sinkang,
tingkat Pek-mau Seng-jin masih lebih tinggi sehingga lewat empat puluh jurus, Bu-koksu selalu terdesak
dan terhimpit!
Ang Hok Ci yang sedang gelisah menyaksikan betapa Bu-koksu dan dua orang pengawalnya terdesak
mengambil keputusan untuk membunuh saja dua orang tawanan yang berbahaya itu. Dia sudah mencabut
goloknya, langsung dia bacokkan ke arah leher Kam Han Ki.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Trangggg!”
Ang Hok Ci terkejut dan melompat mundur, memandang Suma Hoat yang sudah menangkis goloknya
dengan pedang.
“Suma-kongcu! Apa yang kau lakukan ini? Apakah engkau hendak memberontak dan membela musuh?”
Suma Hoat tecsenyum. “Hemm, orang she Ang, ini bukan urusan negara, melainkan urusan pribadi! Sudah
dijanjikan bahwa siapa yang keluar sebagai pemenang, berhak atas diri kedua orang tawanan ini. Mengapa
engkau hendak bersikap curang dan membunuh tawanan?”
“Bagus! Ayahmu tentu akan senang sekali mendengar akan pengkhianatanmu ini!” Ang Hok Ci memaki
dan menyerang dengan golok menyambar ke arah leher Suma Hoat, sedangkan tangan kirinya
melancarkan pululan dengan tenaga Jit-goat-sinkang ke arah dada Suma Hoat.
“Cringggg... dukkkk!”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Cersil Keren

Pecinta Cersil