Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 04 Mei 2017

Cersil Cerita Silat Terbaik KPH 10 Tiga Naga Sakti

Cersil Cerita Silat Terbaik KPH 10 Tiga Naga Sakti Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Cerita Silat Terbaik KPH 10 Tiga Naga Sakti
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Cerita Silat Terbaik KPH 10 Tiga Naga Sakti
Tiga orang ketua Beng-kauw itu menjadi marah bukan
main mendengar omongan yang nadanya menantang dan
menyalahkan mereka itu.
"Coa Gin San !" Kwan Cin Cu membentak dengan mata
mendelik. "Kaukira siapakah engkau ini berani bicara seperti
itu ? Engkau hanyalah orang baru di Beng-kauw, dan kami
bertiga adaiah ketua-ketua Beng-kauw, mengerti? Kami yang
berhak menentukan siapa berdosa siapa tidak ! Kau........"
"Nanti dulu, twa-suheng!" Gin San memotong, masih
tersenyum akan tetapi dari sepasang matanya menyambar
sinar yang tajam. "Aku tahu bahwa kalian bertiga adalah
ketua-ketua Beng-Kauw di wilayah utara. Akan tetapi lupakah
kalian bahwa di atas ketua masih ada lagi pengawas? Lupakah
kalian bahwa di atas kalian masih ada suhu yang mengawasi
dan yang memiliki kekuasaan atas diri semua ketua? Suhu
See-thian Sian-su berhak mengawasi dan menuntut jika ketua
Beng-kauw menyeleweng! "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi suhu telah meninggal dunia dan kini kami bertigalah
yang memegang kekuasaan sepenuhnya, baik atas
perkumpulan Beng-kauw maupun atas seluruh anggautanya.
Karena engkau termasuk anggauta Beng-kauw, sute, maka
kami berhak untuk mengadilimu!"
"Twa-suheng, apakah kau sudah lupa bahwa suhu yang
mengangkat kalian menjadi ketua dan bahwa kalian telah
bersumpah di depan Bendera Keramat untuk selalu tunduk
dan taat kepada pemegang bendera? Biarpun suhu telah
meninggal dunia, akan tetapi Bendera Keramat itu masih ada
dan suhu telah mewariskan Bendera Keramat kepadaku!"
Berkata demikian. Gin San lalu menggerakkan tangannya dan
dia telah mencabut sehelai bendera berwarna pulih dan semua
orarg menjadi silau. Bendera itu hanya berupa sehelai kain
berwarna putih, akan tetapi begitu dibuka, kain putih itu
mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Kiranya kain
ini telah direndam dalam cairan yang mengandung bahan
yang mengeluarkan cahaya seperti yang terdapat pada ikan
laut, cumi cumi dan udang. Di dalam terang, cairan itu tidak
nampak sinarnya, akan tetapi di tempat gelap, cairan ini
seperti bernyala dan berkilauan menyilaukan mata.
Terkejutlah tiga orang ketua itu melihat bendera ini.
Mereka memang telah mencari-cari Bendera Keramat itu, akan
tetapi sia-sia belaka dan kiranya bendera itu telah terjatuh ke
tangan Gin San. Adapun para anggauta yang tentu saja
mengenal Bendera Keramat itu, segera menjatuhkan diri
berlutut dan menghadap ke arah bendera itu dengan khidmat.
"Murid murid Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu dan Thian Bhok Cu,
apakah kalian tidak mau cepat berlutut?" bentak Coa Gin San
yang melihat tiga orang ketua itu memandang terbelalak
kepada bendera yang dipegangnya.
Akan tetapi tiga orang kakek itu malah meloncat dengan
marah, berdiri dengan mata terbelalak memandang Coa Gin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
San. Kwan Cin Cu lalu menudingkan telunjuknya. "Sute, dari
mana kau mencuri bendera itu ?"
"Twa-suheng, jangan menuduh sembarangan. Sebelum
meninggal dunia, suhu telah menyerahkan bendera ini
kepadaku dan mengangkat aku sebagai penggantinya. Akulah
pemegang Bendera Keramat dan akulah yang berhak menjadi
pengawas Beng-kauw di sini!"
"Coa Gin San, engkau pembohong dan pencuri ! Apakah
kau tahu apakah syaratnya bagi seorang pemegang Bendera
Keramat Beng-kauw ?" Kwan Cin Cu membentak. Kini semua,
anggauta Beng-kauw tertarik dan sudah mengangkat muka
memandang untuk menyaksikan, perkembangan keadaan.
Mereka bingung karena, tidak tahu harus berfihak siapa.
Gin San tersenyum. "Tentu saja aku tahu, twa-suheng.
Pemegang bendera ini haruslah seorang yang memiliki
kepandaian paling tinggi di antara semua murid Beng kauw."
"Bagus! Dan kau merasa sudah memiliki kepandaian
tertinggi ? Lebih tinggi dari pada kami bertiga ?"
"Tentu saja !"
"Hemm, hal ini harus dibuktikan dulu !" terdengar Thian
Bhok Cu melengking marah.
Gin San menarik napas panjang dan melipat bendera itu
lalu menyimpannya kembali ke dalam saku bajunya. Lenyaplah
cahaya berkilauan tadi setelah bendera itu disimpannya dan
dia menghadapi Thian Bhok Cu "Suhu memang sudah
memesan bahwa tentu kalian tidak percaya dan hendak
mengujiku. Nah, majulah, sam-suheng, kalau kau masih
penasaran setelah kita berdua saling mengukur kepandaian di
dalam kamar tadi."
"Bocah sombong, berikan Bendera Keramat kepadaku !"
Thian Bhok Cu berseru dengan suara tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Yang kepandaiannya terkuat, dialah yang berhak
memegang Bendera Keramat. Kalau aku kalah, tanpa
dimintapun akan kuserahkan bendera ini," jawab Gin San.
"Kalau begitu, mampuslah kau!" Thian Bhok Cu sudah
menerjang dengan marahnya.Kini orang ke tiga dari ketua
Beng-kauw menyerang dengan sungguh-sungguh,
menggunakan tongkat kayunya yang lihai. Bukan sekedar
menyerang untuk melampiaskan kemarahannya seperti di
dalam kamar tadi. Sekali ini dia menyerang untuk
memperebutkan bendera atau memegang bendera itu sebagai
tokoh nomor satu dari Beng-kauw !
"Wuuuttt....... prakk!" Batu yang diduduki oleh Gin San tadi
pecah berhamburan terkena sambaran tongkat itu. Sungguh
hebat bukan main tenaga kakek yang kelihatan lemah lembut
ini, Tongkatnya hanyalah tongkat kayu, akan tetapi dapat
menghancurkan batu yang jauh lebih keras. Hal ini hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membuktikan bahwa kakek ini memiliki tingkat tenaga sinkang
yang sudah amat kuat.
Namun dengan enaknya Gin San mengelak beberapa kali
dari sambaran tongkat yang secara bertubi-tubi melakukan
gerakan menusuk, menghantam dan menotok. Dia telah hafal
akan gerakan-gerakan itu sehingga baru saja pundak Thian
Bhok Cu bergerak, dia sudah tahu arah mana tongkat lawan
akan menyerang, maka tentu saja dia dapat mengelak dengan
mudah, hanya menggerakkan sedikit saja anggauta tubuh
yang menjadi sasaran tongkat.
"Sam-suheng, aku akan merampas tongkatmu dalam waktu
sepuluh jurus!" tiba-tiba Gin San berseru nyaring dan semua
orang menjadi kaget. Benar-benar sombong sekali bocah ini
pikir mereka. Tadi saja nampak betapa memuda itu hanya
mampu mengelak ke sana-ini dan diserang serta didesak
sedemikian rupa sampai hampir limapuluh jurus oleh Thian
Bhok Cu, dan sekarang tiba-tiba pemuda itu berkata hendak
merampas tongkat dalam waktu sepuluh jurus! Seorang yang
sudah mengeluarkan kata-kata seperti itu dalam pertandingan,
kalau sampai selama sepuluh jurus dia tidak mampu
membuktikan omongannya, maka boleh dikata bahwa dia
telah kalah!
"Satu........!" Gin San berseru dan tiba-tiba tubuhnya
menerjang ke depan, jari - jari tangan kirinya mencengkeram
ke arah ubun-ubun kepala Thian-Bhok Cu secepat kilat, Thian
Bhok Cu terkejut dan cepat memutar tongkatnya untuk
memukul tangan kiri pemuda itu, akan tetapi tangan kanan
Gin San sudah lebih cepat lagi menyambar dan hendak
merampas tongkat, Thian Bhok Cu terkejut dan berseru keras,
menarik tongkatnya dan tidak jadi menangkis, melainkan
melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari
cengkeraman ke arah ubun – ubun dan sambaran tangan
yang hendak merampas tongkat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dua........!" Gin San sudah melanjutkan serangannya, kini
kakinya melakukan tendangan kilat, dibarengi dengan tangan
kanan yang terbuka menusuk ke arah lambung, dan tangan
kiri membuat gerakan memutar mengikuti jalannya tongkat
lawan untuk merampas. Kembali Thian Bhok Cu berseru keras
dan cepat memutar tongkatnya dan melompat ke belakang
karena serangan yang amat dahsyat itu membahayakan kalau
dia mengandalkan tangkisan saja.
"Tiga........!" Gin San sudah mendesak tanpa menghentikan
serangan-serangannya, gerakannya cepat sekali dan setiap
serangannya mendatangkan angin yang kuat sehingga dia
telah mendesak Thian Bhok Cu yang terus mundur dan pada
saat Gin San berseru, "Tujuh........!" pemuda itu telah berhasil
merampas tongkat lawan yang terpaksa melepaskan senjata
itu karena pundaknya telah kena ditotok yang membuat
tubuhnya untuk beberapa detik lamanya menjadi lumpuh
kehilangan tenaga!
Ketika Thian Bhok Cu sudah dapat bergerak lagi. Gin San
sudah mengembalikan tongkatnya sambil berkata, "Maaf,
sam-suheng!"
Thian Bhok Cu menerima tongkatnya dan dengan muka
merah dia lalu duduk kembali karena maklumlah kakek ini
bahwa dia tidak akan menang melawan sutenya yang amat
lihai itu. Hal ini membuat Hok Kim Cu dan Kwan Cin Cu marah
bukan main. Keduanya sudah melangkah maju dan biarpun
mereka amat marah, namun mengingat akan kedudukan
mereka sebagai ketua, apa lagi pada saat itu semua anggauta
menjadi saksi, Kwan Cin Cu lalu berkata, "Coa Gin San,
beranikah engkau kalau kami berdua maju bersama
mengujimu untuk melihat apakah engkau memang patut
menjadi pewaris Bendera Keramat?"
"Aku memang tidak patut menjadi pewaris suhu kalau tidak
berani menghadapi kalian maju bersama. Twa-suheng dan jisuheng,
majulah dan kenalilah kelihaian sutemu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja dua orang kakek itu sama sekali tidak
bermaksud untuk hanya menguji kepandaian saja. Mereka
sudah terlampau marah dan mereka tidak ingin melihat
pemuda itu menjadi pengawas mereka, menjadi seorang yang
menggantikan kedudukan suhu mereka dan memiliki
kekuasaan lebih tinggi dari pada mereka! Selelah suhu mereka
meninggal dunia, mereka bertigalah yang merupakan orangorang
paling berkuasa di Beng-kauw. Siapa tahu, kini muncul
sute mereka, bocah yang sepuluh tahun lalu menjadi tawanan
mereka, dan bocah ini sekarang ingin menjadi "atasan"
mereka. Tentu saja mereka tidak rela dan biarpun mulut
mereka mengatakan hendak menguji kepandaian, namun di
dalam hati, mereka ingin membunuh pemuda yang mereka
anggap pengacau ini.
Oleh karena itulah, maka begitu menyerang, Hok Kim Cu
sudah menggerakkan pedang emasnya dengan pengerahan
tenaga sepenuhnya dan menggunakan jurus terlihai.
Segulungan sinar emas menyambar ke arah leher Gin San dan
baru sambaran anginnya saja sudah mendatangkan hawa
dingin mengerikan. Kwan Cin Cu, orang pertama Beng-kauw,
juga tidak kepalang tanggung dalam penyerangannya
pertama. Golok perak di tangannya menyambar, merupakan
gulungan sinar jang lebih lebar dari pada gulungan sinar
emas, dan begitu goloknya menyambar dengan hawa panas
sekali, tangan kirinyapun telah mengirim Pukulan Toat-beng
Tok-ciang dan segumpal uap hitam menyambar kearah muka
Gin San!
Melihat serangan dua orang suhengnya itu, diam - diam Gin
San terkejut dan marah. Dia memang sudah tahu orang-orang
macam apa adanya tiga orang suhengnya itu. Sepuluh tahun
lebih yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dia tiba di situ
sebagai orang tangkapan atau tawanan, dibawa ke situ oleh
Ui-bin Saikong, Hek-bin Saikong, dan dua orang nenek Kui bo
yang telah tewas itu, dia sudah tahu bahwa tiga orang ketua
Beng kauw adalah orang-orang yang amat jahat dan kejam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, setelah dia sendiri digembleng oleh Maghi Sing,
bukan hanya diberi pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dan sihir,
akan tetapi juga dia mendalami pelajaran tentang Agama
Terang, dia mengerti mengapa tiga orang ketua itu berwatak
seperti itu. Tiga orang kakek itu hanya menjadi hamba dari
pada nafsu mereka sendiri, dan dia melihat betapa tanpa
disadari, mereka itu telah menyeleweng dari pada pelajaran
Beng-kauw. Bahkan gurunya sendiri, Maghi Sing, juga
melakukan penyelewengan dan hal ini baru disadari oleh guru
besar itu menjelang kematiannya. Itulah sebabnya mengapa
Maghi Sing mengangkat Gin San sebagai pewaris untuk
menegakkan kembali Beng kauw yang melakukan
penyelewengan dan untuk memenuhi pesan-pesannya yang
terakhir. Kini bagi Gin Sin, tiga orang kakek ketua Beng-kauw
itu tidak dilihatnya sebagai orang-orang jahat atau kejam,
melainkan sebagat orang-orang lemah yang menjadi hamba
nafsu nafsu mereka sendiri.
"Trang-trangpg....... plakk !"
Dua orang kakek itu terhuyung ke belakang dan
memandang dengan mata terbelalak. Terutama sekali Kwan
Cin Cu yang merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat
ketika Toat beng Tok-ciang yang dipergunakan tadi membalik
oleh tangkisan tangan Gin San. Kiranya pemuda itu kini telah
memegang sabuk rantai peraknya, yaitu sabuk rantai yang
berkurang satu mata rantainya karena ujung rantai itu telah
dipatahkan dan mata rantainya berbentuk cincin perak telah
diberikannya kepada Liang Hwi Nio sebagai tanda mata !
Sabuk rantai peraknya ini adalah pemberian dari Maghi Sing,
panjangnya ada dua meter lebih dan selain dapat
dipergunakan sebagai sabuk, juga ternyata dapat menjadi
sebuah senjata istimewa yang ampuh dan yang buktinya
dapat menangkis golok dan pedang dari dua orang ketua
Beng-kauw itu sehingga senjata-senjata itu terpental !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Kwan Cin Cu dan Hok Kim Cu tidak menjadi
gentar. Sebaliknya, mereka malah menjadi penasaran dan
rrarah sekali dan dengan gerengan-gerengan dahsyat kedua
orang kakek ini lalu menerjang maju sambil menggerakkan
senjata mereka dengan cepat Gin San maklum akan kelihaian
dua orang suhengnya ini, maka diapun memutar rantainya
dan lenyaplah tiga orang ini terkurung oleh sinar-sinar senjata
mereka. Di bawah penerangan obor-obor itu, nampak
gulungan sinar yang indah dari sinar golok perak, pedang
emas, dan rantai perak, seolah-olah ada tiga ekor naga sakti
sedang bermain-main di angkasa. Thian Bhok Cu menonton
sambil melongo penuh kekaguman. Dia tidak ikut menyerang
lagi, pertama karena dia merasa bahwa memang dia bukan
tandingan sutenya itu, ke dua karena dia, sebagai seorang
kakek yang amat suka kepada orang-orang muda, diam-diam
menaruh harapannya agar sutenya yang muda dan tampan itu
suka kepadanya dan kelak dia dapat menarik sutenya itu
menjadi "sahabat" yang amat baik !
Tingkat kepandaian kedua orang kakek itu sudah tinggi
sekali. Bahkan Cin Beng Thiancu, ji-pangcu diri Im-yang-pai
sendiri tidak mampu menandingi Kwan Cin Cu. Tingkat
kepandaian masing - masing dari tiga orang ketua Beng-kauw
itu di dalam dunia kang-ouw sudah amat sukar dicari
bandingnya, apa lagi kini mereka berdua maju mengeroyok,
tentu saja kelihaian mereka menjadi berlipat ganda. Akan
tetapi aneh sekali, pemuda yang dikeroyok itu sama sekali
tidak kelihatan repot, apalagi terdesak. Bahkan dengan
seenaknya dia berloncatan ke sana-sini sambil memutar rantai
peraknya, menangkis dan mengelak, membiarkan dua orang
suhengnya itu menyerangnya cara bertubi-tubi dan sampai
duapuluh jurus lebih dia sama sekali tidak ingin membalasnya,
seolah-olah dia memang ingin melihat dengan jelas gerak
serangan dari dua orang suhengnya itu, apakah sudah benar
ataukah ada kesalahan - kesalahannya, seperti sikap seorang
guru yang sedang melatih murid-muridnya! Dan memang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setiap jurus serangan dari dua orang suhengnya itu telah
dikenalnya baik-baik sehingga tidak terlalu sukarlah baginya
untuk mengelak atau menangkis dengan tepat. Bahkan di
antara tangkisan-tangkisan itu, dia masih sempat menasihati
dua orang suhengnya itu !
"Ji-suheng, seranganmu dalam jurus Kim ke to sok (Ayam
Emas Mematuk Gabah) kurang sempurna, pedangmu kurang
menukik kebawah sehingga kau membiarkan bagian bawah
tubuhmu terbuka ketika menyerang!"
"Twa-suheng, dalam jurus Kim so-tui to ( Kunci Emas Jatuh
di Tanah), tenaga bacokan golok seharusnya hanya
merupakan pancingan akan tetapi kau terlalu terdorong oleh
nafsu amarah sehingga tenagamu kaukerahkan semua. Itu
salah besar!"
Mendengar teguran teguran ini, Kwan Ci Cu dan Hok Kim
Cu menjadi makin marah penasaran dan juga malu. Sutenya
itu benar benar dapat mengikuti semua gerakan mereka
dengan baik!
"Coa Gin San, kalau engkau memang berkepandaian, hayo
kaukalahkan kami dengan kepandaian, bukan dengan katakata!"
bentak Kwan Cin Cu.
"Baiklah, ji-wi suheng, kalian jagalah seranganku ini!" kata
Gin San. Pemuda ini maklum bahwa sebelum dia dapat
mengalahkan dua orang ini, amat sukarlah baginya untuk
dapat menguasai Beng-kauw dan diapun tahu bahwa segala
ilmu yang dipelajarinya dari mendiang Maghi Sing tentu
dikenal pula oleh kedua orang suhengnya ini. Dia hanya
memiliki sinkang yang lebih kuat dan dalam hal ilmu-ilmu silat,
tentu saja dia masih kalah mahir dan kalah matang dalam
latihan. Hanya baiknya, suhunya telah menciptakan ilmu silat
mujijat yang hanya diturunkan kepadanya seorang, dan
menurut suhunya, ilmu silat yang hanya mempunyai tigabelas
jurus ini, yang diberi nama Cap-sha Tong-thian (Tigabelas
Jurus Yang Mengacau Langit), merupakan inti sari dari semua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ilmu gurunya, dan karenanya tentu akan dapat mengatasi tiga
orang suhengnya? Maka, begitu dia ditantang untuk
mengeluarkan kepandaian, Gin San tidak bersikap sungkan
lagi, segera dia mainkan jurus pertama dari Ilmu silat Cap-sha
Tong-thian itu.
Tiba-tiba dua orang kakek itu mengeluarkan seruan kaget.
Mereka melihat rantai itu berobah menjadi sinar berkeredepan
dan sinar itu menyambar-nyambar secara aneh, malangmelintang
di depan mereka. Mereka tidak mengenal gerakan
ini, tidak tahu bagaimana awalnya dan bagaimana nanti
akhirnya, maka mereka hanya cepat memutar senjata
melindungi tubuh dengan kaget. Akan tetapi, hawa yang
mendesis-desis dan memutar-mutar seperti angin lesus
menyerang mereka, membuat mereka terkejut dan untuk
beberapa detik mereka menahan senjata. Beberapa detik ini
sudah cukup bagi Gin San dan dua kali tangannya bergerak
setelah kedua tangannya melepaskan rantainya yang masih
berputar sendiri di udara terdengar dua orang kakek itu
mengeluh dan mereka roboh terguling!
Untung bagi mereka bahwa Gin San tadi hanya mendorong
saja dengan telapak tangan sambil mengerahkan sinkang, dan
sekaligus kedua tangan pemuda itu merampas golok dan
pedang! Kalau pemuda itu menggunakan kedua tangannya
untuk mengirim pukulan maut, tentu keduanya telah tewas!
Kiranya ketika golok dan pedang bertemu dengan rantai,
kedua senjata itu seperti terbetot dan ketika Gin San
melepaskan rantainya dan menggunakan kedua tangan untuk
mendorong, keduanya sama sekali tidak pernah menduganya
dan telah kena didorong sampai terguling roboh dan senjata
mereka dapat dirampas oleh Gin San. Sungguh merupakan hal
yang terlalu hebat dan luar biasa sekali bagi kedua orang
kakek itu. Mereka telah dikalahkan oleh sute mereka itu dalam
satu jurus saja !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rasa malu dan penasaran membuat dua orang itu menjadi
makin marah. Mereka bangkit berdiri di samping Thian Bhok
Cu dan ketiga orang kakek itu kini meluruskan kedua lengan
ke depan, ke arah Gin San dan mulut mereka mengeluarkan
lengking nyaring sekali, disusul suara Kwan Cin Cu yang penuh
wibawa, "Coa Gin San, sebagai murid Beng-kauw, berlututlah
kau!"
Suara lengking dan suara Kwan Cin Cu itu mengandung
pengaruh yang amat besar, sehingga semua anggauta Bengkauw
tidak dapat menahan diri dan mereka semua sudah
menjatuhkan diri berlutut! Akan tetapi Gin San yang merasa
betapa tiba tiba kedua lututnya gemetar dan seperti hendak
memaksanya menjatuhkan diri berlutut. cepat melepaskan
rantai, pedang dan golok di tangannya itu ke atas tanah,
kemudian diapun meluruskan kedua lengan ke depan, kedua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya dengan telapakan tangan di depan seperti
mendorong ke arah tiga orang suhengnya, sepasang matanya
mencorong seperti harimau, lalu diapun mengeluarkan suara
melengking nyaring sekali, disambung oleh kata-katanya, lebih
nyaring dari pada suara Kwan Cin Cu tadi,
"Kwan Cin Cu, Hok Kim Cu, dan Thian Bhok Cu, kalian
berhadapan dengan pengawas Beng-kauw di utara, kalian
berlututlah!"
Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa, Tubuh
mereka tidak bergerak, kedua lengan diluruskan ke depan,
akan tetapi dari sepasang mata mereka menyambar pengaruh
yang luar biasa dahsyatnya. Kiranya empat orang murid Maghi
Sing ini sedang mengadu kekuatan sihir dari pandang mata,
lengking suara, dan dari gerakan kedua tangan mereka untuk
saling mengalahkan dan kembali Gin San dikeroyok, sekali ini
dikeroyok tiga malah!
Ketika mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka
tidak mampu merobohkan Gin San yang ternyata amat kuat
itu, tiga orang kakek menggerak gerakkan tangannya dan
aneh sekali, tubuh Gin San mulai terangkat ke atas! Kedua
kaki pemuda itu mulai meninggalkan tanah sampai belasan
sentimeter tingginya! Gin San terkejut akan tetapi dia dapat
menenangkan hatinya, lalu dia mengerahkan kekuatan
batinnya, kedua lengan yang diulur ke depan itu tergetar
hebat, dari matanya menyambar sinar yang mencorong
mengerikan, dan uap putih mengepul dari kepalanya.
Perlahan-lahan tubuhnya turun kembali dan kini tubuh tiga
orang kakek itulah yang perlahan-lahan naik ke atas! Tiga
orang kakek itu terbelalak, mengeluarkan keringat dingin dan
napas mereka agak terengah. Mereka mengerahkan tenaga
dan setelah mereka terengah-engah barulah perlahan-lahan
merekapun turun kembali, akan tetapi seluruh tubuh mereka
menggigil dan muka mereka pucat penuh keringat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gin San menggunakan tangan kanan mengambil bendera
putih, diangkatnya bendera itu ke atas dan kembali dia
berkata, suaranya dalam dan menggetar hebat, 'Berlututlah
kalian menghormati Bendera Keramat!"
Tiga orang kakek itu kehilangan daya tahan mereka.
Mereka maklum bahwa baik dalam hal ilmu silat maupun
kekuatan sihir, mereka tidak dapat menandingi Gin San, maka
mereka cepat menjatuhkan diri berlutut dan Kwan Cin Cu
berkata, "Kami siap mentaati perintah!"
"Bagus! Dengan demikian sam-wi suheng masih
menjunjung tinggi kepada Bendera Keramat dan nama suhu
biarpun suhu telah meninggal dunia. Harap suheng bertiga
suka bangkit dan duduk, marilah kita bicara dengan baik."
Diam-diam tiga orang ketua Beng-kauw itu kagum juga
mendengar ucapan ini. Anak muda ini sikapnya amat baik dan
ternyata bukan seorang yang sombong dan kosong belaka.
Mereka lalu bangkit duduk dan mereka berhadapan
kembali, disaksikan oleh semua anggauta Beng-kauw. Gin San
lalu menyimpan kembali Bendera Keramat itu dan berkata
dengan suara lantang, ditujukan kepada semua yang hadir di
situ.
"Agar semua anggauta Beng-kauw mengetahui bahwa
sebelum meninggal dunia, suhu telah meninggalkan Bendera
Keramat kepadaku dan minta kepadaku untuk menjaga agar
Beng-kauw tidak sampai diselewengkan. Beng-kauw harus
tetap menjadi perkumpulan yang berdasarkan pelajaran Bengkauw,
dan semua anggautanya harus menjaga agar Bengkauw
tetap dihormati dan dikenal sebagai perkumpulan yang
baik dan terhormat. Oleh karena itu, mulai sekarang, semua
peraturan Beng-kauw harus ditaati betul dan setiap bentuk
penyelewengan akan dihukum sesuai dengan peraturan Beng
- kauw yang ada.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiga orang ketua itu menundukkan muka mereka.
Kemudian Kwan Cin Cu berkata: "Kami akan mentaati pesan
suhu itu, sute."
"Memang semestinya demikian," kata Gin San. "Tanggung
jawab akan terlaksananya pesan suhu ini berada di tangan
suheng bertiga, selain itu, suhu juga meninggalkan pesan
bahwa suhu merasa bersalah kepada pusat Beng-kauw yang
berada di selatan. Suhu merasa betapa selama ini Beng-kauw
yang dipimpin oleh suhu telah meninggalkan induknya dan
banyak melakukan penyelewengan. Oleh karena itu. suhu
mengutus aku untuk pergi menghadap susiok couw (kakek
paman guru) di Yunan untuk minta petunjuk, dan untuk minta
kitab kitab aseli Beng-kauw agar menjadi pedoman bagi kita di
utara."
Mendengar ini, tiga orang ketua itu mengangguk dan tidak
berani membantah, namun diam-diam terkejut karena mereka
mendengar bahwa susiok-couw, yaitu paman guru dari Maghi
Sing kabarnya merupakan seorang tokoh Beng-kauw yang
selain sakti, juga amat keras wataknya dan memegang teguh
peraturan Beng-kauw. Akan tetapi, diam - diam mereka
merasa girang juga mendengar bahwa pemuda yang lihai ini
akan pergi ke selatan.
~0-dwkz~bds~234-0~
Pada suatu malam, kota Cin lok bun geger karena pada
malam itu ada tiga rumah hartawan yang dimasuki pencuri.
Pencuri yang luar biasa sekali, yang masuk ke rumah-rumah
itu seperti setan dan tanpa diketahui oleh para penjaga telah
melarikan sekantung uang emas dari setiap rumah. Tiga orang
hartawan itu melapor kepada pembesar, bahkan juga
mengerahkan jagoan-jagoan mereka sendiri untuk menyelidiki,
namun semua usaha itu tanpa hasil dan tidak ada seorangpun
dapat mengetahui siapa pencuri yang amat lihai itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada keesokan harinya, menjelang senja, seorang pemuda
berpakaian putih nampak berlari di luar sebuah dusun tidak
jauh dari Cin-lok-bun. Pemuda itu berdiri termenung seperti
orang terkena pesona, memandangi sawah ladang di luar
dusun, memandangi awan - awan yang terbakar di ujung
barat, langit yang menjadi amat indah oleh sinar matahari
senja, sinar merah kuning dan biru merupakan peraduan yang
amat luar biasa di antara awan-awan putih dan hitam yang
bergumpal-gumpal, menciptakan bentuk-bentuk yang amat
elok, Pemuda itu tampan, masih muda, pakaiannya putih
sederhana, memanggul sebuah kantong dari kain kuning yang
kelihatannya berat. Wajah pemuda itu membayangkan
kecerdikan, dan sepasang matanya yang bersinar tajam itu
juga jelas membayangkan kecerdikan dan kegembiraan,
ditambah dengan senyum yang selalu menghias mulutnya
menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemuda yang
gembira dan jenaka.
Pemuda itu adalah Coa Gin San. Dia tidak hanya terpesona
oleh keindahan pemandangan alam yang diciptakan oleh
matahari senja itu, akan tetapi dia lebih terpesona akan
pemandangan yang amat dikenalnya, yang membuat dia
teringat akan masa kanak-kanaknya. Nampak olehnya betapa
pada saat seperti itu, di bawah sinar kemerahan matahari
senja, belasan tahun yang lalu dia biasanya baru pulang
menggembala kerbau, menunggang punggung kerbau sambil
meniup suling. Kadang kadang-bersama anak anak lain dari
dusun itu, dia berloncatan dan berenang - renang di dalam
sungai kecil yang mengalir di luar dusun itu bersendau-gurau
dengan amat riangnya. Betapa dia hidup dengan penuh
kebahagiaan bersama ayah bundanya yang hidup sebagai
petani yang. cukup mampu. Sampai akhirnya tiba malapetaka
itu, dusun itu dilanda perang, atau lebih tepat lagi, dilewati
pasukan-pasukan pemberontak dan ayah bundanya tewas,
rumahnya terbakar, kerbau-kerbaunya disembelih orang, dan
dia sendiri nyaris mati kalau saja tidak dapat meloloskan diri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lari keluar dari dusun itu! Kemudian dia hidup terlunta-lunta,
mengemis. makanan, sampai akhirnya dia tiba di kota Cin an
dan ditolong oleh pendekar Gan Beng Han dan isterinya,
bahkan lalu diambil sebagai pelayan, juga murid oleh suami
isteri pendekar itu.
Teringat akan semua itu, Gin San menarik napas panjang
dan pada matanya yang biasanya berseri gembira itu kini
terbayang kemuraman. Akan tetapi hanya sebentar dan
sepasang mata itu sudah bersinar-sinar kembali ketika dia
menepuk-nepuk kantung kuning. Terdengar bunyi berdenting
nyaring, menunjukkan bahwa kantung itu penuh dengan emas
! Memang, semalam dia telah mengambil dan mengumpulkan
uang emas dari rumah tiga orang hartawan di kota Cin-lok
bun.
Matahari makin dalam terbenam di kaki langit barat dan
pemandangan di angkasa tidaklah seindah tadi. Namun Gin
San masih berdiri termangu-mangu di tempat yang amat
dikenalnya itu. Seolah-olah dia baru kemarin ia meninggalkan
tempat ini. Masih dikenalnya setiap batang pohon, setiap
rumpun semak-semak, dan bau tanah dan daun-daun
membusuk dan rumput-rumput segar bercampur dengan bau
kotoran kerbau yang berserakan di sepanjang jalan. Masih
seperti dulu !
Agaknya setiap orang manusia tentu dapat merasakan apa
yang dirasakan oleh Gin San di saat itu. Memang terdapat
pertautan batin yang kuat sekali antara kampung halaman,
tanah tumpah darah, dengan seseorang. Tanah tumpah
darah, di mana darah ibu tertumpah ketika dia terlahir,
memiliki daya tarik yang mengikat. Betapapun buruk dan
miskinnya dusun itu, namun bagi Gin San yang terlahir di situ
dan masa kecilnya berada di dusun itu, agaknya tidak ada
tempat yang lebih indah mengesankan dari pada dusun
tempat kelahirannya itu. Ada semacam daya tarik yang kuat,
yang membuat seseorang selalu terkenang dan ingin sekaliTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kali berkunjung ke tempat di mana dia terlahir dan bermainmain
di waktu dia masih kecil.
Hal seperti ini timbul karena di dalam kehidupan kita. lebih
banyak dukanya dari pada senangnya. Makin tua usia kita,
makin banyaklah masalah-masalah yang meruwetkan dan
mengeruhkan batin, dan makin terkenanglah kita dengan
penuh kerinduan hati akan masa kanak-kanak kita, karena
memang masa kanak-kanak merupakan masa terindah dalam
kehidupan manusia. Kanak-kanak hidup dengan polos, jujur,
dan wajar. Kanak-kanak tidak pernah menyimpan dendam,
tidak pernah menyimpan suka duka di dalam pikirannya, tidak
pernah menginginkan yang tidak ada, tidak pernah bercita-cita
dan kanak-kanak selalu menikmati hidupnya, dalam keadaan
bagaimanapun juga! Itulah sebabnya mengapa kanak-kanak
adalah mahluk yang suci murni, bersih, dan hidupnya penuh
bahagia, bahkan dalam tangispun, seperti dalam tawanya,
terkandung kewajaran yang murni. Namun, sungguh sayang
sekali, makin tua kita, makin kotorlah kita, penuh dengan
ambisi, penuh dengan keinginan memperoleh hal-hal yang
tidak kita miliki, penuh dengan cita-cita yang abstrak dan
belum ada, sehingga APA YANG ADA tidak pernah dapat kita
nikmati. Kita gandrung dan mengejar-ngejar kebahagiaan,
sama sekali buta akan kenyataan bahwa sesungguhnya
PENGEJARAN itu sendirilah yang tidak memungkinkan adanya
kebahagiaan ! Lihatlah sekelompok anak-anak yang bermainmain,
begitu riang gembira, begitu wajar. Kita akan terpesona,
akan kagum, dan akan terheran-heran mengapa sekelompok
anak-anak yang bermain-main di dalam lumpur dapat
segembira itu ! Dan kita selalu tenggelam di dalam
kemuraman! Ini salah, itu salah, ini tidak enak, itu tidak
menyenangkan. Mengapa? Karena hati dan pikiran kita PENUH
DENGAN KEINGINAN, itulah! Hari hujan, ingin terang,
mengeluh. Hari terang, ingin hujan, mengeluh juga. Tidak
dapatkah kita mengakhiri kegilaan yang terdorong oleh
keinginan yang tiada habisnya ini dan hidup dalam arti kata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sedalam-dalamnya, hidup menikmati saat ini detik demi
detik yang kesemuanya itu sudah mengandung keindahan
yang luar biasa?
Malampun tibalah. Dan malam itu, sebaliknya dari malam
tadi seperti apa yang terjadi di kota Cin-lok-bun, di dalam
dusun yang miskin itu terjadi hal yang luar biasa pula, akan
tetapi kejadian yang sama sekali tidak menirrbulkan
kemarahan dan kedukaan, sungguhpun juga menimbulkan
kegemparan. Malam itu, dalam setiap rumah di dusun itu,
terjatuh beberapa keping uang emas! Dan pada keesokan
harinya, gegerlah penduduk dusun yang menemukan uang
emas di dalam rumah mereka masing - masing. Mereka
terkejut dan girang, tentu saja tidak banyak cakap, dan diamdiam
mereka melakukan sembahyang untuk menghaturkan
terima kasih kepada Yang Maha Murah.
Tentu saja yang melakukan perbuatan itu adalah Gin San.
Memang dia telah mencuri uang emas dari kota Cin-lok bun
dengan maksud untuk membagi-baginya kepada para
penduduk dusun di mana dia terlahir, kepada para tetangga
ayah bundanya yang telah tewas, para tetangga yang tentu
saja sudah tidak mengenalnya lagi. Sekantung besar uang
emas itu habislah dibagi-bagikan secara diam-diam itu dan
pada keesokan harinya, dia telah memasuki pula kota Cin-lokbun
dengan wajah berseri dan tanpa kantung di pundaknya.
Dipandang secara sepintas lalu, apa yang dilakukan oleh
Gin San itu memang baik, yaitu membagi-bagi uang kepada
penduduk dusun miskin, sungguhpun uang itu didapatnya
dengan cara yang tidak patut pula. Akan tetapi, betapa
bodohnya anggapan kita pada umumnya bahwa HARTA dapat
membuat manusia hidup BAHAGIA. Sungguh melantur sekali
nggapan seperti itu. Bahkan, tidak selamanya harta
mendatangkan kebaikan, kalau tidak dapat dikatakan bahwa
lebih banyak mendatangkan kejahatan! Uang emas yang
disebar oleh Gin San di antara penduduk dusun miskin itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang mendatangkan kegirangan besar, akan tetapi tidak
dapat secara tergesa dikatakan bahwa hal itu mendatangkan
kebaikan. Yang sudah jelas saja, begitu masing-masing
menemukan uang emas di dalam rumah, timbullah
kecurigaan, timbullah kekhawatiran kalau kalau penemuan
yang menguntungkan itu sampai ditahui orang lain! Masingmasing
merahasiakannya, dan dengan kenyataan ini saja
sudah terbukti betapa harta yang ditemukan itu seketika
melenyapkan kejujuran dan kegotongroyongan di antara
mereka yang semula selalu nampak. Selain itu, juga masingmasing
diliputi rasa takut, khawatir kalau-kalau harta yang
mereka temukan itu sampai hilang dicuri orang, sehingga
mereka harus menjaganya, bahkan ada yang tidak dapat tidur
karena khawatir kalau-kalau uang emas itu akan diambil
orang.
Harta benda, kedudukan, nama besar, bukanlah hal yang
buruk. Akan tetapi kalau kita sudah melekatkan diri,
menyamakan diri dengan mereka, kalau kita sudah mengejarngejar
mereka, timbullah kesengsaraan dalam kehidupan.
Pengejarannya itulah yang jahat. Orang yang mengejar harta
benda mungkin saja menjadi mata gelap, melakukan korupsi
penipuan,kecurangan dan sebagainya lagi. Orang yang
mengejar kedudukan dan nama besar, mungkin saja menjadi
kejam, mendorong ke samping atau kalau perlu menjegal dan
merobohkan saingannya, cara busuk apapun akan
ditempuhnya demi untuk memperoleh kedudukan dan nama
besar yang dikejar-kejarnya itu. Dan setelah semua itu
terdapat kita melekat kepadanya dan timbullah kekhawatiran,
rasa takut kalau-kalau yang sudah terdapat itu akan hilang
dari kita ! Semua itu begini jelas, dapat kita lihat setiap hari
dalam kehidupan kita, di sekeliling kita, dalam badan kita
sendiri!
Gin San juga tidak sadar sama sekali bahwa perbuatannya
itu kelak akan mendatangkan kemaksiatan yang cukup banyak
di dusun itu di antara orang - orang dusun yang lemah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
batinnya. Biasanya, orang yang sudah pernah memegang
uang dan mengejar kesenangan dengan uang itu, dia akan
kecanduan dan akan terus mencari-cari untuk melanjutkan
kesenangan itu. Gin San lalu melanjutkan perjalanam menuju
ke kota Cin - an. Begitu memasuki pintu gerbang kota ini,
wajah pemuda ini berseri gembira. Banyak sekali kenangan
yang mengesankan dia alami di kota ini beberapa tahun yang
lalu. Teringat dia betapa dia memasuki kota ini sebagai
seorang bocah jembel, pengemis yang hidup tergantung dari
belas kasihan orang. Kemudian betapa dia menjadi pelayan
dan murid pendekar Gan Beng Han. Dia masih ingat semua
tempat tempat di kota itu, ingat akan setiap lorong yang
sering kali dilaluinya, bahkan toko-toko dan rumah-rumah
disepanjang jalan raya itu masih diingatnya benar.
Tiba - tiba hidungnya mencium bau sedap masakan yang
datang dari sebuah restoran. Gin San memandang ke kiri dan
melihat seorang pelayan gendut sedang membersihkan meja
di dalam restoran. Gin San tersenyum. Dia masih mengenal
pelayan itu. Betapa tidak? Pelayan itu adalah seorang pelayan
yang amat baik dan ramah, suka melucu dan pelayan itu yang
dahulu seringkali memberi makanan-makanan sisa para tamu
kepadanya! Rasa haru menyelinap di dalam hati Gin San
ketika dia ingat betapa sekaleng makanan bekas yang
diberikan oleh pelayan gendut itu dahulu merupakan sesuatu
yang amat berharga, bukan hanya amat lezat baginya, akan
tetapi juga dapat dianggap sebagai penyelamat dan
penyambung nyawanya!
Dengan mukanya yang gemuk itu berseri seri, pelayan
gendut cepat menghampiri ketika Gin San melangkah masuk
ke dalam restoran "Ah, selamat pagi, kongcu, selamat pagi.
Kongcu hendak memesan makanan dan minuman apakah ?
Bubur ayam? Mi bakso? Nasi tim? Dan minum arak hangat?
Teh panas?" Pelayan itu ramah sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sejenak Gin San hanya berdiri memandang pelayan itu
dengan sinar mata penuh selidik. Pelayan itu masih gendut,
masih ramah, akan tetapi jelas kelihatan masih miskin,
pakaiannja sederhana bahkan ada tambalan di pundaknya
biarpun pakaian itu cukup bersih. Melihat pemuda tampan
yang berpakaian putih sederhana itu hanya berdiri bengong
memandangnya, pelayan gendut itu tertawa ramah.
"Eh, kongcu, silakan duduk.......... ! "
Gin San sadar dan dengan suara agak gemetar dia berkata,
"Terima kasih." Dia lalu mengikuti pelayan itu ke meja di sudut
dan duduk di atas kursi menghadap keluar sehingga dia dapat
melihat seluruh ruangan restoran itu. Beberapa orang tamu
mulai memasuki restoran itu untuk sarapan, dan Gin San yang
memesan bubur ayam dan air teh sudah dilayani oleh pelayan
gendut yang kini sibuk melayani para tamu lainnya yang mulai
berdatangan. Gin San terus mengikuti gerak-gerik pelayan
gendut itu dan pelayan ini agaknya juga merasa betapa
pemuda tampan sederhana itu terus memperhatikan dia.
Beberapa kali dia menengok dan memandang kepada Gin San,
lalu tersenyum ramah karena diapun merasa seperti pernah
mengenal pemuda tampan itu, akan tetapi dia lupa lagi di
mana dan bilamana. Dia mengira bahwa Gin San tentu
seorang langganan restoran yang jarang datang maka dia lupa
lagi.
Gin San masih duduk di depan mejanya biarpun dia sudah
selesai makan. Ada beberapa orang tamu sudah selesai makan
dan membayar harga makanan kepada pelayan gendut itu.
Gin San mengerahkan tenaga batinnya memandang kepada
tamu yang membayar itu. Dengan kekuatan sihirnya, dia
membuat si tamu itu menjadi bingung dan membayar jauh
lebih banyak dari pada semestinya, dan memberikan uang itu
kepada si pelayan gendut, kemudian tamu itu pergi. Si
pelayan gendut terbelalak nemandang uang di tangannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena uang itu terlalu banyak. Tiba-tiba dia berteriak dan lari
keluar, memanggil tamu tadi.
"Tuan, pembayaran tuan kelebihan banyak sekali, tuan
salah hitung!" Tamu itu terkejut dan terheran, lalu menerima
kembali yang kelebihan dari tangan pelayan gendut,
tersenyum dan mengangguk-angguk dengan rasa syukur
karena hampir saja dia dirugikan banyak sekali.
Gin San juga mengangguk-angguk dalam hatinya Akan
tetapi dia masih penasaran dan dicobanya lagi sampai empat
lima kali. Setiap kali seorang tamu membayar harga makanan
dia tentu menguasai orang itu dengan sihirnya dan memaksa
orang itu membayar jauh lebih banyak dari pada semestinya.
Akan tetapi, setiap kali si pelayan gendut mengembalikan
uang itu. Si pelayan gendut makin lama menjadi makin heran.
Dia menghampiri meja Gin San yang sudah selesai makan
sambil bertanya. "Apakah kongcu sudah selesai? Ataukah mau
memesan makanan lain ?"
"Tidak, aku sudah cukup kenyang."
Pelayan itu membereskan meja itu.
"Ada apakah ribut-ribut dengan para tamu tadi, lopek ?"
tanya Gin San.
"Ahh, orang-orang itu agaknya hendak mencobaku. Hemm,
biarpun saya hanya seorang pelayan miskin, apakah mereka
mengira bahwa saya suka berlaku curang? Heran, hampir
semua tamu membayar lebih. Apakah sengaja ataukah
kebetulan saja ? "
Gin San kagum bukan main. Kagum dan terharu. Dia tahu
bahwa pelayan itu adalah seorang miskin, tiada bedanya
dengan keadannya ketika dia sendiri masih mergemis dahulu
itu. Akan tetapi, biarpun tetap miskin, ternyata pelayan ini
tetap jujur, ramah, baik hati dan gembira. Hal ini amat
mengharukan hatinya. Inilah yang benar-benar patut
dinamakan orang kaya! Teringatlah Gin San akan keadaannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di waktu kecil, ketika dia menerima sisa-sisa makanan dari
pelayan ini. Dia membayar harga makanan, kemudian tiba-tiba
Gin San menjatuhkan dirinya berlutut di depan pelayan gendut
itu !
"Lopek seorang yang budiman dan bijaksana terimalah
hormatku !" katanya, kemudian Gin San bangkit berdiri dan
meninggalkan restoran itu, meninggalkan si pelayan gendut
yang berdiri bengong dengan mata terbelalak dan mulut
ternganga, tangan kiri memegang mangkok kosong, tangan
kanan memegang uang pembayaran Gin San.
"Hei, A-kiu, mengapa engkau berdiri saja di situ?" tiba-tiba
terdengar majikannya yang duduk di meja kasir menegurnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pelayan gendut yang dipanggil dengan nama A-kiu itu
terkejut, seperti baru sadar dari mimpi dan tergesa-gesa dia
menghampiri majikannya dan menyerahkan uang pembayaran
tadi ke atas meja.
”Loya, tamu tadi....... kongcu tadi...... kiranya dia itu orang
gila ....... ah, sayang, begitu muda dan tampan, kiranya dia
gila......!"
A kiu menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas
panjang berulang-ulang.
"Biar gila, asal dia membayar makanannya !" komentar
majikannya. A-kiu hanya menggeleng kepala dan berkali-kali
menyatakan kasihan dan sayang kepada pemuda yang
dianggapnya gila itu.
~0-dwkz~bds~234-0~
Gin San kembali merasa terharu ketika dia berdiri di depan
rumah besar itu. Betapa dia masih mengenal baik rumah ini !
Dan lebih-lebih bangunan kandang di sebelah kiri rumah agak
ke belakang, amat dikenalnya karena hampir setiap hari dia
bekerja di situ, memelihara kerbau milik majikan atau
gurunya. Tidak ada perobahan pada rumah itu, kecuali
perabot-perabot rumahnya. Jantungnya berdebar kalau ia
teringat betapa dia akan bertemu dengan seisi rumah. Dengan
suhunya, dan subonya dua orang yang amat baik dan ramah
kepadanya itu ! Dan lebih-lebih lagi bertemu dengan Tan Sian
Lun, suhengnya, juga sahabatnya teman bermain-main dan
menggembala kerbau, keponakan dari suhunya. Dan yang
terutama sekali, bertemu dengan Ling Ling ! Ah, lentu Ling
Ling kini telah menjadi seorang dara yang cantik, pikirnya.
Sepuluh tahun lebih tidak saling jumpa dan kini dia sudah
berusia duapuluh tahun. Tentu Ling Ling, sudah berusia
delapanbelas tahun, seorang dara yang suda dewasa!
Jantungnya berdebar tegang penuh kegembiraan ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akhirnya dia melangkah ke halaman rumah yang kelihatan
sunyi itu. Seorang wanita tua sedang membersihkan meja di
ruangan depan dan wanita ini mendengar kedatangannya,
menengok lalu bangkit berdiri dan menyambutnya.
Gin San memandang tajam, akan tetapi tidak mengenal
wanita ini. Tentu seorang pelayan baru, pikirnya.
"Kongcu mencari siapa?" Wanita pelayan itu bertanya.
"Apakah.......apakah tuan rumah berada di rumah ?"
"Ada........ ada........ ah, loya, ini ada seorang tamu........"
kata pelayan itu ketika melihat seorang laki laki setengah tua
keluar dari ruangan dalam. Gin San mengerutkan alisnya.
Tuan rumah itu bukanlah gurunya. Akan tetapi melihat laki -
laki itu memandangnya dengan penuh perhatian, dia lalu
menjura untuk memberi hormat.
"Kongcu siapakah dan hendak mencari siapa ?" tuan rumah
bertanya.
”Saya hendak mencari suhu Gan Beng Han sepuluh tahun
yang lalu beliau tinggal di si ni....... "
Laki-laki tua itu terbelalak memandangnya lalu berkata
gagap, "Tapi........ tapi....... Gan-taihiap telah meninggal
dunia......."
Kini Gin San yang memandang terbelalak dan muka
pemuda ini menjadi agak pucat.
"Meninggal........ ?? Dan....... dan subo ........ "
"Gan-taihiap dan isterinya telah meninggal dunia........."
"Ahh....... !" Gin San makin pucat mendengar ini.
"Bagaimanakah ini? Mengapa mereka meninggal dunia?
Dan........ dan ke mana perginya puterinya, dan keponakannya
??"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki setengah tua itu menggeleng .kepala. "Maafkan
saya, orang muda. Saya adalah, pendatang baru dari lain kota
yang membeli rumah ini dan dari para tetangga saya hanya
mendengar penuturan bahwa rumah ini dahulu dihuni oleh
keluarga pendekar Gan dan bahwa pendekar Gan dan istrinya
telah meninggal dunia. Bagaimana meninggalnya, saya tidak
tahu, dan ke mana perginya keluarganyapun saya tidak tahu."
Pikiran Gin San berputar dan bekerja keras. Ah, kiranya hal
ini ada hubungannya dengan keributan yang terjadi di kota ini
sepuluh tahun yang lalu. Orang yang paling tepat untuk
ditanya adalah hwesio di Kuil Ban-hok-tong, tempat terjadinya
keributan itu.
"Terima kasih ....... !" katanya lesu dan dia lalu
membalikkan tubuh dan berjalan cepat-cepat keluar dari
tempat itu menuju ke Kuil Ban hok-tong. Semua
kegembiraannya lenyap Tadinya dia merasa gembira sekali
karena akan bertemu dengan suhu dan subonya, juga
berjumpa dengan suheng dan sumoinya. Kini hatinya diliputi
rasa penasaran dan kekhawatiran Suhu dan subonya belum
tua benar, tak mungkin mati karena usia tua. Mereka belum
tua dan sehat, maka kematian mereka itu tentu disebabkan
oleh orang lain ! Dan bagaimana dengan nasib Sian Lun dan
Ling Ling?
Dengan wajah masih pucat dia tiba di Kuil Ban hok tong di
mana sepuluh tahun yang laiu terjadi pertempuran antara dua
rombongan pemain liong yang menyerbu ke dalam kuil
sehingga dia terseret dan kemudian terbawa pergi oleh
rombongan pengacau yang terdiri dari orang-orang Bengkauw
itu. Begitu memasuki kuil itu, terbayanglah semua
peristiwa sepuluh tahun yang lalu, seolah-olah baru terjadi
kemarin hari saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid XVIII
"APAKAH kongcu hendak
sembahyang? Dan kongcu
belum membawa alat-alat
sembahyang?" Tiba-tiba
terdengar suara halus seorang
hwesio yang bertanya,
menyambut kedatangannya di
pagi hari yang masih sunyi itu.
Gin San sadar dari
lamunannya dan dia
menggeleng kepala. "Saya
mohon bertemu dengan suhu
yang menjadi ketua dari Ban
hok-tong. "
Hwesio itu memandang
dengan penuh perhatian. Dia adalah murid dari Thian Lee
Hwesio, wakil ketua Ban-hok-tong dan karena para hwesio di
Ban-hok-tong juga merupakan ahli-hli silat yang tidak asing
dengan kehidupan di dunia kang ouw, maka melihat ada
orang muda datang bukan untuk sembahyang melainkan
untuk mencari ketua Ban-hok-tong, tentu saja dia menjadi
curiga.
"Ketua kuil sedang tidak berada di sini, yang ada di sini
adalah wakil ketua kuil, yaitu suhu Thian Lee Hwesio, akan
tetapi beliau sedang bersamadhi pagi di dalam kamarnya,
kalau tidak ada keperluan penting saya tidak berani
mengganggunya. Siapakah sicu, dan ada keperluan apakah
sicu mencari ketua kuil kami?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gin San maklum bahwa hwesio ini menaruh curiga
kepadanya, maka dia lalu berkata cepat, "Saya adalah murid
dari suhu Gan Beng Han...."
"Omitohud....., tapi Gan-taihiap telah..... "
"Saya tahu dan justeru karena kematian suhu dan subo
itulah saya ingin bertemu dengan ketua Ban-hok-tong untuk
bicara. Harap losuhu sudi menyampaikan kepada ketua Banhok-
tong atau wakilnya."
"Baik, silakan menanti di ruang tamu, sicu," kata hwesio itu
dan setelah mempersilakan pemuda itu menunggu di ruangan
yang lebar itu, dia cepat masuk ke dalam.
Ketika Thian Lee Hwesio muncul, segera Gin San mengenal
hwesio tua ini sebagai hwesio lihai yang dulu melawan
penyerbuan di kuil. Akan tetapi hwesio tua ini tentu saja tidak
lagi mengenal Gin San, bocah aneh yang dulu duduk
"menunggang" liong ketika para pemain liong yang palsu itu
menyerang kuilnya. Dia memandang tajam ketika Gin San
cepat bangkit memberi hormat kepadanya.
"Menurut laporan hwesio penyambut tamu, sicu adalah
murid mendiang Gan - taihiap?" Hwesio tua itu bertanya.
Gin San mengangguk. "Benar, losuhu. Ketika saya masih
kecil, saya adalah murid suhu Gan Beng Han. Akan tetapi telah
sepuluh tahun saya pergi, dan baru sekarang kembali ke sini,
saya mendengar bahwa suhu dan subo telah meninggal dunia.
Karena itu, saya mohon kepada losuhu sudilah menceritakan
kepada saya bagaimana tewasnya suhu dan subo."
Thian Lee Hwesio memandang tajam penuh selidik,
"Kenapa sicu datang kepada kami untuk bertanya?"
"Karena saya menduga bahwa kematian mereka tentu ada
hubungannya dengan keributan yang terjadi di sini sepuluh
tahun yang lalu, dan karena saya tahu bahwa suhu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersahabat dengan pimpinan Kuil Ban-hok-torig maka saya
datang untuk bertanya "
"Sepuluh tahun yang lalu? Dan sicu muridnya? Ahh........,
jadi sicu ini kiranya yang dicari-cari oleh mendiang Gan
taihiap? Dan sicu adalah bocah yang dulu menunggang liong
yang kemudian terbawa pergi oleh kaum pengacau?"
Gin San mengangguk.
"Omitohud........! Sicu, ke mana sajakah sicu pergi? Karena
kehilangan sicu maka mendiang taihiap mencari dan mengejar
sehingga jadi malapetaka itu........ "
"Losuhu, tidak penting apa yang saya alami, akan tetapi
apakah yang terjadi dengan suhu dan subo? Harap losuhu
sudi menceritakan kepada saya," Gin San bertanya cepat,
hatinya tidak sabar karena dia merasa berduka sekali
mendengar akan kematian mereka, apalagi hwesio ini
mengatakan bahwa matinya suhu dan subonya adalah
menjadi akibat dari kepergian atau kehilangannya itu.
"Duduklah, sicu duduklah. Panjang ceritanya." Kakek itu
mempersilakan Gin San duduk dan kini mereka duduk saling
berhadapan dan bercakap-cakap.
Dengan panjang lebar Thian Lee Hwesio lalu menceritakan
semua yang telah terjadi sepuluh tahun yang telah lalu,
betapa dia sendiri yang berhasil merampas lambang Im-yang
pai dari seorang pimpinan pengacau dan betapa Gan taihiap
lalu mengejar ke Im yang pai untuk menolong muridnya yang
disangkanya terculik oleh orang-orang Im-yang pai.Betapa
kemudian para tokoh kang-ouw membantu pasukan kerajaan
menyerbu ke Im yang pai dan betapa di situ terjadi
pertempuran hebat yang mengakibatkan terbasminya Imyang-
pai.
"Para pimpinan Im-yang pai menyangka bahwa merekalah
yang mengacau di kuil ini, sicu," kakek pendeta itu mengakhiri
cerita Akan tetapi isteri Gan-taihiap marah marah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerang Im-yang-kauwcu yang lihai. Isteri Gan-taihiap
roboh dan tewas. Gan taihiap membela isterinya, akan tetapi
diapun tewas di tangan Im-yang-kauwcu. Harus pinceng akui
bahwa pertempuran antara mereka itu dimulai oleh fihak Gantaihiap
dan suami isteri itu tewas dalam pertempuran yang
adil, satu lawan satu. Kauwcu itu memang lihai sekali."
Gin San tertegun. Dialah yang tahu benar bahwa fihak Imyang-
pai tidak bersalah. Bawa Beng-kauw yang sengaja
menggunakan nama Im-yang-pai untuk mengadu domba. Dan
akibatnya, suhu dan subonya sampai bertanding dengan Im -
yang - kauwcu dan tewas. Dia tidak mungkin dapat
menyalahkan Im - yang-kauwcu dalam hal itu, akan tetapi
suhu dan subonya tewas, tentu dia tidak akan dapat tinggal
diam saja.
"Di mana dikuburnya suhu dan subo ?" Akhirnya dia
bertanya dengan suara parau.
"Di kuburan sebelah barat kota, akan tetapi setelah sicu
muncul, tentu sekarang dapat terbuka semua rahasia itu. Sicu,
tentu sicu dapat menerangkan siapakah yang melakukan
penyerbuan dahulu itu? Tentu fihak Im-yang-kauw atau Im -
yang- pai, bukan ?"
Gin San bangkit berdiri, menggelengkan kepalanya.
"'Bukan! Im-yang-pai tidak bersalah sama sekali dalam
penyerbuan itu"
"Tapi....... tapi........ pinceng sendiri yang merampas
lambang Im - yang - pai dari orang......."
"Itu lambang curian. Bukan orang - orang Im-yang-pai
yang mengganas di sini, akan tetapi golongan lain yang
hendak mengadu domba antara Im - yang - pai dengan
pemerinah dan para pendeta Buddha."
"Akan tetapi, lalu siapa.......... heee? Sicu tunggu........!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Lee Hwesio cepat meloncat dan mengejar, akan
tetapi bayangan pemuda itu berkelebat cepat sekali sehingga
ketika dia mengejar sampai di depan kuil, bayangan itu telah
lenyap! Thian Lee Hwesio adalah seorang ahli silat yang
berilmu tinggi, maka dia merasa penasaran sekali dan cepat
dia meloncat ke atas genteng. Akan tetapi, dari tempat tinggi
itupun sudah tidak lagi nampak bayangan pemuda aneh itu
Dia melayang turun kembali dan menggeleng kepalanya.
"Hemm, anak itu jelas memiliki kepandaian yang melebihi
gurunya. Heran, mengapa dia tidak mau berterus terang ?"
~0-dwkz~bds~234-0~
Tentu saja Gin San tidak mungkin untuk berterus terang
kepada Thian Lee Hwesio atau kepada siapapun juga tentang
rahasia itu. Para penyerbu yang memalsukan nama Im-yangpai
itu adalah orang-orang Beng-kauw dan dia sendiri
sekarang menjadi tokoh Beng-kauw yang paling tinggi
tingkatnya, bahkan dialah pemegang Bendera Keramat putih
sebagai lambang dari kekuasaan di perkumpulan itu! Mana
mungkin dia mengkhianati anak buahnya sendiri?
Dengan hati penuh duka Gin San mengunjungi kuburan itu
dan akhirnya dia berdiri dengan muka pucat di depan dua
buah makam itu makam suhu dan subonya, dua orang yang
dicintanya dan dua orang yang telah memungutnya dari jalan
ketika dia menjadi seorang jembel yatim piatu ! Dia mengepalngepal
tinjunya. Suhu dan subonya terbunuh dalam
pertempuran yang jujur melawan Im-yang-kauwcu! Akan
tetapi sesungguhnya kematian mereka adalah akibat dari
penyerbuan yang dilakukan oleh orang-orang Beng-kauw.
Tentu saja tidaklah adil kalau dia harus menyalahkan Im yangkauw
apalagi setelah mendengar betapa Im-yang-pai malah
dibasmi oleh pasukan pemerintah, gara-gara perbuatan Bengkauw
yang curang. Betapapun juga, dia akan selalu merasa
penasaran kalau dia belum berhadapan dengan ketua Im
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang-kauw itu untuk ditantang beradu kepandaian satu lawan
satu pula! Bukan untuk membalas dendam karena suhu dan
subonya tewas dalam pertandingan yang adil dan tidak ada
penasaran apa-apa, melainkan untuk memuaskan hatinya
yang merasa penasaran hendak mengukur sampai di mana
kehebatan kepandaian dari Im-yang-kauwcu itu !
Teringat akan suhu dan subonya yang kini telah menjadi
gundukan tanah kuburan, Gin San merasa kecewa bukan
main. Tadinya dia sudah membayangkan betapa gembiranya
dapat bertemu mereka, betapa gembiranya hati suhu dan
subonya dapat melihat dia yang ternyata masih hidup, bahkan
telah mewarisi kepandaian yang amat tinggi dari seorang
sakti. Kini, dia tidak akan dapat menyaksikan kegembiraan
suhu dan subonya, tidak dapat menyaksikan pandang mata
mereka yang berseri dan penuh kekaguman, tidak dapat dia
memamerkan kepandaiannya kepada mereka yang
disayangnya untuk membikin mereka gembira!
Dia mengepal tinjunya saking kecewanya, kemudian
mengeluh, suaranya terdengar agak keras, "Ah, kenapa kalian
telah mati dulu ? Kenapa kalian mengecewakan hatiku ?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita melengking nyaring,
"Biarlah kau menyusul mereka di alam baka !"
"Singggg.......!!" Gin Sin cepat mengelak dengan terkejut
sekali ketika ada sinar berkilauan menyambar ke arah dadanya
dari kiri. Itulah serangan pedang yang dilakukan orang dengan
kecepatan cukup berbahaya, namun bagi Gin San tentu saja
bukan apa-apa dan dia sudah berhasil mengelak dengan amat
mudahnya Ketika dia mengelak dan membalikkan tubuh; dia
melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang wanita
yang berwajah cantik dan bertubuh ramping padat, biarpun
wanita itu tidak boleh dibilang muda, bahkan tentu sudah
tigapuluh tahun lebih usianya, seorang wanita yang masak
dan memperlihatkan bekas kecantikan yang menarik. Gerakan
pedang wanita itu cukup cepat, dan dia telah mengamuk dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerang bertubi-tubi, akan tetapi Gin San hanya mengelak
ke sana-sini
"Eit, eit....... tahan dulu. Mengapa kau menyerangku
membabi buta? Apa salahku?" Gin San berkata sambil
berloncatan dengan ringan sehingga ke manapun sinar
pedang berkelebat, selalu pedang itu hanya mengenai tempat
kosong belaka.
"Mampuslah kau, manusia jahat! Engkau memusuhi
keluarga Gan, maka akulah musuhmu, aku akan membalas
kematian Han-koko?" wanita itu berseru lagi dan menyerang
makin ganas.
"Eh, eh, salah ! Engkau salah sangka, twa-nio. Aku bukan
musuh keluarga Gan, malah murid dari suhu Gan Beng Han ! "
"Ahh........?" Wanita itu terkejut dan menahan pedangnya.
Mereka berdiri saling pandang dan Gin San mendapat
kenyataan bahwa wanita itu benar-benar cantik dan biarpun
tidak muda lagi namun masih menarik. Terutama sepasang
mata wanita itu indah jernih, seperti mata seorang anak-anak.
Dan wanita itupun memandang kepada Gin San, mengagumi
pemuda yang selain amat tampan dan muda, juga luar biasa
lihainya itu sehingga semua penyerangannya tadi sama sekali
tidak ada basilnya. Wanita itu tersenyum, dan memang dia
manis sekali.
"Kau........ kau murid Han-koko.......?"
"Awas........!" Tiba-tiba Gin San menubruk ke depan dan
menyambar tubuh wanita itu sehingga mereka bergulingan ke
atas tanah sambil berangkulan satu sama lain. Hanya itulah
jalan satu-satunya bagi Gin San untuk menyelamatkan wanita
itu ketika asap hitam tadi menyambar. Dia tahu bahwa asap
itu adalah asap beracun, maka satu-satunya jalan hanya
membawa wanita itu bertiarap ke atas tanah. Setelah asap
hitam itu lewat terbawa angin, barulah Gin San melepaskan
pelukannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita itu bangkit duduk dan memandang kepada Gin San
dengan kedua pipi merah dan mata bengong, kemudian dia
tersenyum. Mereka berdua tadi telah saling berangkulan dan
bergulingan dan hal ini membuat wanita itu merasa berdebar
jantungnya.
Akan tetapi, Gin San dan wanita itu tidak sempat banyak
cakap karena pada saat itu muncul lima orang kakek yang
melihat dandanan mereka adalah pendeta-pendeta. Mereka
berpakaian putih dan jenggot panjang-panjang, rambut
mereka dibiarkan riap riapan. Kelimanya memegang tongkat
dan yang berdiri di depan adalah seorang yang matanya satu,
karena mata kirinya tertutup dan buta tidak berbiji lagi.
Gin San mengerutkan alisnya memandang lima orang kakek
itu. Kakek bermata satu itu tentu sudah enampuluh tahun
usianya sedangkan empat orang kakek yang lain juga tidak
muda lagi, sudah lebih dari limapuluh tahun. Melihat sikap
mereka, dia dapat menduga bahwa mereka itu rata-rata
memiliki kepandaian tinggi, bahkan melihat sinar mata dari
kakek bermata tunggal itu dia dapat mengerti bahwa kakek ini
adalah seorang ahli sihir karena kekuatan batinnya terpancar
keluar sinar matanya. Sebetulnya hati Gin San sudah merasa
mendongkol karena dia tahu bahwa pelepas asap beracun tadi
tentulah lima orang kakek ini, akan tetapi karena dia
menghadapi lima orang yang sudah tua dan berkepandaian,
maka dia lalu mengangkat tangan menjura dan bertanya,
"Siapakah adanya ngo-wi totiang dan apa maksudnya melepas
asap beracun?"
Ditegur secara langsung, biarpun dengan suara halus, lima
orang kakek itu memandang dengan heran dan juga terkejut.
Bahkan kakek bermata tunggal itu berseru, "Siancai, masih
begini muda sudah lihai sekali dan dapat dengan cepat
mengenal asap hitam. Sicu, kami berlima tidak berniat buruk,
dan asap tadi kalau berhasil hanya akan membuat kalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdua tidur sebentar. Kami tidak ingin diganggu dan kami
ada keperluan dengan dua makam ini."
Kini wanita cantik itu yang berkata dengan suara penuh
curiga, "Han-koko dan isterinya telah meninggal sepuluh tahun
yang lalu. Kalian lima orang pendeta mau apakah dan siapa
yang menyuruh kalian datang ke makam ini? "
Kakek bermata tunggal itu tertawa. Suara ketawanya halus
dan seketika wanita itu merasa hormat dan suka kepada kakek
ini. Akan tetapi diam-diam Gin San mengerahkan kekuatan
batinnya menolak pengaruh itu dan maklumlah dia bahwa
kakek bermata tunggal im telah mulai mempergunakan
kekuatan sihir melalui suara ketawanya sehingga dia tadi
merasa jantungnya tergetar dan terusap halus sehingga kalau
dia tidak cepat mengerahkan tenaga, tentu dia sudah akan
dapat ditundukkan seperti keadaan wanita itu yang kini
memandang penuh kagum!
"Kalian anak-anak baik minggirlah. Kami berima sengaja
datang hendak melakukan sembahyangan terhadap makam
Gan-taihiap dan isterinya, dan harap kalian tidak mengganggu
kami.”
Mendengar ucapan itu, wanita cantik itu yang telah
terpengaruh oleh suara ketawa tadi, mengangguk-angguk
ramah dan segera melangkah minggir untuk memberi tempat
kepada lima orang pendeta itu di depan makam. Gin San
mengerutkan alisnya karena dia melihat ketidak wajaran
dalam Suara ketawa kakek mata satu itu. Akan tetapi dia tidak
mengenal mereka dan setelah mereka menyatakan hendak
bersembahyang di depan makam suhu dan subonya, tentu
saja tidak berani lancang menghalangi mereka. Dia tahu
bahwa suhu dan subonya adalah pendekar-pendekar, yang
dihormati orang dan bukan hal aneh kalau lima orang pendeta
ini hendak memberi penghormatan dan sembahyangan,
biarpun kematian suhu dan subonya sudah lewat sepuluh
tahun. Oleh karena itu, diapun lalu melangkah kepinggir dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti juga wanita itu, dia kini mengikuti saja semua gerakgerik
lima orang pendeta itu dengan pandang matanya.
Dengan sikap tenang, lima orang pendeta itu dipimpin oleh
pendeta mata tunggal, lalu duduk di depan makam,
mengeluarkan beberapa buah benda-benda aneh, seperti tali,
guci kosong, benda-benda kecil terukir berbentuk naga,
burung hong, kilin, dan sebagainya. Kesemuanya itu mereka
atur di atas tanah depan makam, kemudian pendeta mata
satu membakar ujung puluhan batang hio (dupa biting).
Mulailah mereka berlima membaca mantera atau berdoa,
dan dengan dipimpin oleh pendeta mata tunggal yang
memegang segenggam hio membara, mereka berjalan
mengelilingi dua buah makam itu sambil terus membaca
mantera atau berdoa. Mereka terus berdoa dan berjalan
mengelilingi makam, membuat gerakan - gerakan aneh
dengan tangan mereka sampai hio itu hampir terbakar habis.
Lalu mereka kembali ke depan makam, duduk membentuk
lingkaran. Pendeta mata tunggal menancapkan hio yang masih
mengepulkan asap itu di atas tanah, di tengah tengah
lingkaran mereka, kemudian dia membuat corat-coret aneh di
sekitar benda-benda tadi dengan mulut berkemak kemik. Tiba
tiba mereka berlima menggerakkan kedua tangan ke atas,
dengan jari-jari terbuka dan terdengar wanita tadi
mengeluarkan jerit tertahan, karena dia merasa tubuhnya
menggigil dan merasa serem sekali.
Gin San sudah duduk bersila. Begitu melihat lima orang
pendeta itu duduk membentuk lingkaran dan si pendeta mata
tunggal mencorat-coret tanah, dia terkejut bukan main. Dia
sudah banyak mendengar dari mendiang gurunya tentang
ilmu sihir, dan dia kini mengerti bahwa lima orang pendeta itu
sedang melakukan upacara memanggil roh! Tahulah dia apa
artinya guci arak kosong ilu. Mereka itu hendak memanggil
roh dari suhu dan subonya untuk dipancing masuk ke dalam
guci arak yang sudah ditempeli hu (tulisan jimat) sehingga roh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu tidak akan dapat keluar lagi, seperti keadaan orang dalam
tahanan! Maka marahlah Gin San dan dia cepat duduk bersila
dan mengerahkan kekuatan batinnya.
Wanita itu hanya berdiri bengong dengan mata terbelalak.
Dia merasa ngeri tanpa nengerti apa sebabnya, tanpa
mengerti apa yang sedang dilakukan mereka itu. Dia hanya
merasa betapa ada pengaruh dan hawa aneh yang membuat
dia merasa serem dan menggigil.
Lima orang pendeta itu masih berdoa dengan tekun dan
kedua lengan mereka yang diangkat itu tergetar keras. Tibatiba
terjadi keanehan. Guci arak kosong di depan mereka, di
tengah-tengah antara mereka itu tiba-tiba bergoyang-goyang!
Wanita itu membelalakkan matanya dan wajahnya menjadi
agak pucat. Guci itu bergoyang makin keras dan si pendeta
mata tunggal itu sudah memegang sepotong kayu hitam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai penyumbat mulut guci dan sehelai kain kuning untuk
membungkus guci itu.
Akan tetapi, sebelum dia sempat menutup mulut guci yang
bergoyang-goyang seperti kemasukan sesuatu yang hidup itu,
tiba-tiba guci itu bergerak dengan keras dan cepat, melayang
dan menghantam ke arah muka pendeta mata satu !
"Ahhh........!!" Pendeta itu terkejut bukan main akan tetapi
dia masih dapat mengelak dengan gerakan yang ringan. Guci
arak kosong itu melayang-layang dan kini guci itu mengamuk,
menyerang ke arah lima orang pendeta itu! Tentu saja para
pendeta itu menjadi terkejut sekali, akan tetapi dengan mudah
mereka meloncat dan mengelak, dan dari gerakan mereka itu
dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang
memiliki kepandaian tinggi dan gerakan yang gesit sekali.
Pendeta mata tunggal itu cepat menggerak-gerakkan
tangan dan mulutnya mengeluarkan suara doa yang aneh.
Agaknya dia ingin mempengaruhi guci yang tiba-tiba hidup
dan mengamuk itu, akan tetapi akibat dari doanya ini, guci itu,
malah menyerangnya dengan hebat sehingga dia harus
berloncatan ke sana-sini dengan cepat.
"Ahhh, sudah menjadi rohpun Gan Beng Han dan Kui Eng
masih ganas!" Tiba-tiba pendeta mata tunggal itu berseru
marah. "Kita hancurkan saja mereka di sini! Hayo kalian
bongkar makamnya, biar aku yang menghancurkan guci itu!"
Kakek mata tunggal ini sudah menyambar tongkatnya, akan
tetapi tiba-tiba guci itu melayang ke arah Gin San!
Para pendeta itu memandang heran ketika pemuda itu
mengangkat tangan kanannya menerima guci itu. Kiranya dari
kepala pemuda ini mengepul uap putih dan begitu guci itu
berada di tangannya, pemuda itu mengerahkan tenaga.
"Pyarrr........!" Guci arak kosong itu pecah berantakan dan
Gin San melemparkannya ke atas tanah! Kini pemuda itu
sudah membuka kedua matanya dan dari sepasang matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar sinar berapi yang menyambar ke arah lima orang
pendeta itu.
"Ah, kiranya engkau bocah lancang yang telah berani
mengganggu dan mengacau pekerjaan kami ?" Kakek bermata
tunggal itu berteriak marah dan bersama dengan empat orang
temannya dia kini menghadapi Gin San yang juga sudah
bangkit berdiri sambil tersenyum, akan tetapi matanya tetap
berkilat penuh kemarahan.
"Dan kalian adalah lima orang pendeta busuk yang akan
melakukan perbuatan busuk, mencoba untuk menangkap dan
menyiksa roh dari suhu dan suboku? Aha, kalau tidak keliru
kalian tentulah pendeta-pendeta Pek-lian-kauw, bukan? Dan
kalau benar demikian, mengapa kalian hendak mengganggu
ketenteraman suhu dan subo yang sudah meninggal dunia?"
Mendengar ini, wanita itu yang kini sudah tidak lagi
terpengaruh hawa mujijat, melangkah mendekati Gin San dan
berdiri di sebelah pemuda itu dengan perasaan sepenuhnya
memihak pemuda ini. Dan para pendeta itu kini memandang
heran karena mereka tidak mengira bahwa pemuda itu adalah
murid dari mendiang Gan Beng Han dan isterinya.
"Gan Beng Han dan isterinya adalah musuh-musuh kami,
dan biarpun mereka telah tewas, kami hendak menghukum
mereka......."
"Keparat jahanam!" Gin San berteriak marah "Suhu dan
subo adalah pendekar-pendekar budiman, tak mungkin kalian
akan mampu mempermainkan roh mereka. Di samping itu,
ada aku Coa Gin San, murid mereka yang akan membela
mereka!"
Tiba - tiba kakek bermata tunggal itu berteriak melengking
nyaring, tongkatnya diangkat tinggi-tinggi dan mulutnya
mengeluarkan suara mendesis-desis. Kembali wanita cantik itu
menjerit karena dia melihat betapa tongkat itu telah berobah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi seekor ular besar panjang yang meluncur dan
melayang ke arah Gin San !
Akan tetapi pemuda itu memandang dengan tenang,
bahkan lalu mengejek dengan ucapan nyaring. "Pendeta
siluman, permainanmu ini hanya dapat dipakai untuk menakut
- nakuti anak kecil saja " Dia lalu bertepuk tangan satu kali,
akan tetapi suara tepukan tangannya itu nyaring seperti
ledakan.
"Tarrrr......... !"
Wanita yang terbelalak itu melihat betapa ular yang ganas
tadi seperti disambar ledakan membalik dan lenyap, berubah
menjadi tongkat biasa lagi di tangan pendeta mata satu yang
kelihatan terkejut.
"Panggil ular !" teriak pendeta mata satu itu dan tiba-tiba
dia dan empat orang temannya lalu mengeluarkan masing -
masing sebatang suling ular yang bulat, lalu mereka meniup
lima buah suling itu. Terdengar suara melengking panjang
yang aneh. Kembali wanita itu menjerit ketika nampak ular -
ular berdatangan dari empat penjuru.
Akan tetapi segera terdengar suara lengking yang lebih
tinggi dan lebih tajam, yang seolah-olah menggulung lengking
lima batang suling pertama itu dan ketika wanita itu
menengok, dia melihat betapa pemuda tampan tadi sudah
meniup sebatang suling pula sambil duduk bersila. Sulingnya
adalah suling bambu biasa, tidak berbentuk bulat seperti
suling para pendeta, namun dari suling bambo ini keluar suara
yang luar biasa nyaringnya. Dengan mata terbelalak wanita itu
melihat betapa ular-ular itu bergegas pergi seperti diusir,
seolah - olah tidak kuat mendengar suara lengking aneh yang
menggulung suara suling yang memanggil mereka tadi.
Betapapun lima orang pendeta mengerahkan tenaga
meniup suling mereka, tetap saja mereka tidak mampu lagi
mengatasi suara suling yang ditiup oleh Gin San. Dan kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terjadilah keanehan. Suling itu suaranya makin tinggi
mengalun, makin merdu dan tak lama kemudian, lima orang
pendeta itu mulai menari! Mereka menari secara aneh, seperti
seekor ular berlenggang-lenggok, menggoyang-goyang
pinggul seperti lima orang penari perut yang lucu. Wanita itu
memandang dengan mata terbelalak dan diapun tertawa, akan
tetapi dia juga merasakan daya kuat yang mendorongnya
untuk menggoyang-royang tubuh pula. Perlahan-lahan
bangkitlah dia dan tanpa dapat dicegah lagi, diapun mulai
menggoyang-goyangkan pinggulnya yang besar dan tentu saja
gerakan tubuhnya itu mendatangkan pemandangan yang jauh
lebih sedap dari pada gerakan tubuh lima orang kakek itu.
Pinggang wanita itu kecil ramping, bentuk tubuhnya indah
menggairahkan maka ketika dia mulai menggoyang-goyang
pinggul dan pundak, tentu saja kelihatan lembut menarik.
Melihat betapa wanita itu terpengaruh oleh suara sulingnya
yang mengandung kekuatan sihir, Gin San menghentikan
tiupannya dan lima orang kakek itu menjatuhkan diri
terengah-engah di atas tanah. Mereka lelah sekali karena tadi
mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk mengerahkan
kekuatan melawan pengaruh itu, berbeda dengan si wanita
yang tidak melawan sehingga ketika kini pengaruh itu lenyap
bersama lenyapnya suara suling, wanita itu hanya terduduk
dan menjadi bengong karena herannya.
Setelah pernapasan mereka pulih kembali lima orang kakek
itu menjadi marah bukan main. Tahulah si kakek mata satu
bahwa pemuda itu adalah seorang ahli ilmu sihir dan jelas
bahwa mereka berlima akan kalah kalau mengadu kekuatan
sihir, maka kini mereka berloncatan dan sudah mengeluarkan
senjata masing-masing. Melihat ini, Gin San tersenyum dan
bertanya,, "Kalau kalian berlima benar anggauta-anggauta
Pek-lian-kauw, mengapa kalian hendak mengganggu makam
suhu dan subo? Setahuku, mereka tidak pernah bermusuhan
dengan Pek-lian-kauw!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemimpin dari rombongan pendeta itu, yang bermata satu,
adalah It-gan Thian-cu, seorang tokoh Pek-lian-kauw yang
terkenal sekali. Dalam pertandingan sihir tadi saja tahulah dia
bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang lihai
bukan main, oleh karena itu dia tidak berani memandang
rendah dan menganggapnya sebagai lawan tangguh yang
patut mengenal dia dan teman temannya. Dengan matanya
yang hanya tinggal yang kanan saja, dia memandang tajam
penuh perhatian sambil melintangkan tongkatnya di depan
dada.
"Orang muda, ketahuilah bahwa biarpun mendiang Gan
Beng Han tidak memusuhi Pek-lian kauw secara langsung,
namun dia telah melakukan perbuatan jahat dengan
mengerahkan pasukan pemeiintah membasmi Im yang pai.
Dan karena Im-yang-pai adalah sahabat dan sekutu Pek-lian
pai, maka kami datang untuk menghukum arwah Gan Beng
Han bersama isterinya! Ternyata masih ada engkau yang
menjadi murid mereka, maka biarlah kami menghukum
engkau pula yang dapat mewakili guru-gurumu." Mendengar
ini, Gin San menarik napas panjang. Mengertilah dia kini
duduknya perkara. Dan terbayanglah olehnya betapa sakit
rasa hati para tokoh Im-yang-kauw karena perkumpulan
agama itu telah terbasmi oleh pasukan pemerintah, banyak
anggauta mereka tewas dan sisanya cerai-berai. Semua itu
karena salah duga belaka. Mendiang, gurunya tentu menyerbu
Im-yang-pai bersama pasukan pemerintah karena menyangka
bahwa Im-yang-pai yang telah mengacau di Kuil Ban-hoktong.
Padahal, yang melakukan hal itu dengan menyamar
sebagai orang orang Im-yang-pai adalah Beng kauw
perkumpulannya sendiri di mana dia kini menjadi tokoh
utamanya! Dan dalam penyerbuan itu, suhu dan subonya
tewas, namun Im-yang pai juga terbasmi berantakan. Dan kini
masih saja ada rentetan peristiwa itu sehingga kuburan suhu
dan subonyapun akan diganggu orang. Biang keladinya adalah
Beng-kauw ! Jadi, dialah yang harus bertanggung jawab.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua fihak yang bermusuhan itu, fihak gurunya dan fihak Imyang-
pai yang kini dibantu oleh Pek-lian pai, tidak bersalah
sama sekali.
Gin San menjura kepada kakek bermata satu itu. "Peristiwa
yang terjadi di lm-yang-pai itu adalah kesalah fahaman besar
yang merugikan Im-yang-pai akan tetapi juga yang telah
ditebus dengan nyawa oleh suhu dan subo. Oleh karena itu,
sekarang saya, Coa Gin San mewakili suhu dan subo untuk
menyatakan maaf dan penyesalan, harap totiang berlima suka
menyampaikan kepada Im-yang-pai."
Kakek itu mendengus marah. "Huh, aku It-gan Thian cu
hanya memenuhi tugas untuk menghukum arwah musuhmusuh
besar Im-yang-kauw. Kalau engkau hendak
memintakan maaf, datang saja kepada ketua Im-yang pai
atau ketua Im-yang-kauw dan bukan kepadaku."
Gin San mengerutkan alisnya. "It-gan Thian-cu, aku bicara
baik-baik akan tetapi kenapa engkau masih bersikap seperti
musuh? Engkau boleh melakukan tugasmu, akan tetapi juga
merupakan tugasku untuk melindungi makam suhu dan
suboku, maka kalau engkau berani mengganggunya, engkau
berlima akan berhadapan dengan aku !"
"Bocah sombong!" It-gan Thian-cu berteriak, lalu memberi
isyarat kepada empat orang temannya. "Maju, tangkap hidup
atau mati bocah ini !" Dia sendiri sudah menyerang dengan
tongkatnya, menghantamkan tongkat itu dengan pengerahan
tenaganya ke arah kepala Gin San. Di dalam perkumpulan
Pek-lian-kauw, kakek bermata satu ini merupakan tokoh yang
pandai dalam ilmu sihir, maka dia dan empat orang
temannyalah yang bertugas untuk menghukum arwah suami
isteri yang dianggap musuh besar oleh Irn-yang-kauw itu.
Akan tetapi dalam ilmu silat, It-gan Thian-cu dan temantemannya
hanya merupakan tokoh pertengahan saja
walaupun kalau dibandingkan dengan orang-orang biasa
mereka itu sudah merupakan orang-orang yang lihai sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat datangnya tongkat, Gin San hanya miringkan
kepala dan menerima tongkat itu dengan pundaknya, karena
dia lebih rnemperhatikan empat batang pedang dari empat
orang kakek lainnya yang juga menyerangnya. Pedangpedang
itu dapat merobek pakaiannya! maka dia
menggerakkan kaki tangan menyambut empat batang pedang
itu tanpa menghiraukan tongkat yang memukul ke arah
pundaknya.
"Cring-cring tranggg........ krekkk!" Empat batang pedang
itu beterbangan ke kanan kiri dan tongkat itu patah menjadi
dua ketika menghantam pundak, dan lima orang pendeta itu
tahu-tahu sudah roboh terjengkang dan terpelanting ke kanan
kiri! Mereka terkejut bukan main dan wajah mereka menjadi
pucat ketika mereka merangkak bangun, memandang kepada
Gin San dengan mata terbelalak dan membayangkan perasaan
jerih. Kemudian mereka itu membalikkan tubuh dan pergi dari
situ tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, diikuti pandang mata
Gin San yang membiarkan mereka pergi, karena diapun
maklum batwa para pendeta itu hanya melaksanakan tugas
dan bahwa sebab-sebab dari semua permusuhan ini berada di
dalam tangan Beng-kauw yang bersalah.
Akan tetapi, setelah bayangan lima orang pendeta itu
lenyap, dia merasa pundaknya gatal gatal dan otomatis
tangannya meraba dan menggaruk pundak. Makin digaruk
makin gatal dan dengan heran Gin San lalu menyingkap leher
bajunya untuk memeriksa pundak kiri itu.
"Jangan digaruk !" tiba-tiba terdengar suara wanita dan
baru Gin San teringat bahwa wanita cantik itu masih berada di
situ. "Jangan diraba, engkau telah terluka racun jahat!
Bukankah rasanya gatal-gatal dan seperti digigiti semut dari
dalam dan lehermu terasa kaku? "
Gin San terkejut. Tentu saja dia tidak takut akan serangan
racun, dan dengan sinkangnya, ia akan mampu mengusir
racun itu, membakarnya dengan hawa panas. Akan tetapi dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kagum akan ketajaman mata wanita itu yang tanpa
memeriksa telah tahu benar apa yang dirasakannya, maka
sambil menoleh dan memandang kepada wanita itu, dia
mengangguk dan bertanya, "Bagaimana engkau bisa tahu ? "
Wanita itu tersenyum dan kembali Gin San harus mengakui
babwa biarpun usia wanita ini tak muda lagi, tentu lebih dari
tigapuluh tahun, akan tetapi dia masih memiliki kecantikan
yang menggiurkan. Wajah wanita itu bulat dengan dagu
runcing, matanya jeli dan terutama sekali tahi lalat kecil di
ujung mulut kiri membuatnya nampak manis sekali. Tubuhnya
masih padat dan ramping, dan pakaiannya walaupun bukan
mewah, namun rapi sekali demikian pula rambutnya digelung
rapi dan mengkilap, tanda bahwa rambut itu terpelihara baik
baik
"Aku adalah seorang ahli pengobatan, tentu saja tahu.
Biarkan aku memeriksamu. Dahulu aku pernah menolong dan
mengobati suhu yang terluka parah, sekarang aku hendak
menolong dan mengobatimu."
Wanita itu membuka baju Gin San dan memeriksa pundak
kirinya. "Ahh........!" Dia berseru kaget. "Keji sungguh kakek
Pek-lian kauw itu. Dia menggunakan racun pembusuk tulang!"
"Apa itu?" Gin San bertanya, kaget juga!
"Racun ini amat jahat. Dengan kepandaianmu, tentu
engkau akan mengira dapat mengusir hawa beracun, akan
tetapi engkau tidak tahu bahwa racun ini meninggalkan hawa
yang dapat merusak tulang pundakmu tanpa kaurasakan dan
tahu – tahu tulang itu akan membusuk."
"Ahh.......!" Gin San terkejut juga karena di antara banyak
ilmu yang dipelajarinya dari gurunya, dia tidak pernah diberi
pelajaran ilmu pengobatan.
"Akan tetapi jangan khawatir, aku mempunyai obatnya.
Mari kau ikut bersamaku ke rumahku, di sana aku akan
merawatmu sampai sembuh. Engkau adalah murid GanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
taihiap, jika bagiku bukan orang lain. Siapa namamu tadi? Coa
Gin San?"
Gin San mengangguk. "Dan siapakah bibi? Apakah sahabat
mendiang subo?"
Wanita itu menggeleng kepala. "Mari kita berjalan ke
rumahku, nanti kuceritakan kepadamu tentang diriku."
Karena ingin terbebas dari racun pembusuk tulang itu, Gin
San tidak membantah dan pergilah mereka meninggalkan
kuburan itu setelah sekali lagi Gin San memberi hormat
kepada makam suhu dan subonya.
Di tengah perjalanan, wanita itu bercerita, Namanya adalah
Yo Giok Hong dan di waktu dia masih seorang dara remaja
yang cantik jelita, dia pernah bertemu dengan Gan Beng Han.
Pendekar itu terluka dan ditolong oleh Yo Giok Hong.
dibawanva ke pondok suhunya yang bernama Bin Ho Tojin,
seorang tokoh Go-bi-san yang ahli tentang pengobatan.
Berkat bantuan Yo Giok Hong dan suhunya, maka pendekar
Gan Beng Han dapat disembuhkan dan dalam pertemuan ini
Yo Giok Hong jatuh cinta kepada pendekar itu. Akan tetapi
cintanya hanya bertepuk tangan sebelah! Semua ini telah
diceritakan di bagian depan dari cerita ini.
Biarpun kemudian Yo Giok Hong menikah dengan pria lain,
melahirkan seorang puteri dan suaminya itu meninggal dunia
dalam usia muda sehingga dalam usia kurang dari tigapuluh
tahun Yo Giok Hong telah menjadi janda hidup berdua dengan
puterinya, namun di lubuk hatinya, Yo Giok Hong tidak pernah
dapat melupakan Gan Beng Han yang dicintanya. Setahun
yang lalu, dia bersama puterinya pindah ke dusun tidak jauh
dari Cin-an dan dapat dibayangkan betapa terkejut dan
berduka rasa hatinya ketika dia mendengar bahwa pendekar
pujaan hatinya itu telah tewas bersama isterinya. Dia
mengunjungi makam dan menangis dengan sedih, dan
semenjak itu hampir setiap bulan sekali dia datang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengunjungi makam pria yang dianggapnya orang yana
paling dicintanya.
Demikianlah, pada hari itu, kebetulan dia melihat seorang
pemuda berdiri di depan makam itu, mengepal tinju dan
menyatakan penyesalannya bahwa Gan-taihiap dan istrinya
telah mengecewakan hati pemuda itu. Yo Giok Hong
menyangka bahwa pemuda ini tentulah musuh pria yang
dipujanya maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang
Gin San.
"Gan-taihiap adalah ..... pria satu-satunya di dunia ini yang
kupuja ...., sampai sekarangpun .... " Dia mengakhiri
ceritanya.
Gin San melirik dan melihat betapa wajah yang cantik itu
menjadi agak pucat."Akan tetapi...... suhu........ telah
berkeluarga......."
Wajah itu kini berubah merah dan Giok Hong mengangguk.
"Aku tahu. Dia telah beristeri dengan sumoinya sendiri, dan
akupun telah menikah dengan pria lain. Akan tetapi aku tidak
pernah melupakannya, sampai suamiku meninggal tujuh tahun
yang lalu.......aku tak pernah melupakannya......." Tiba-tiba dia
menoleh kepada Gin San dan wajahnya berubah, agak berseri.
"Cukuplah semua dongeng masa lalu ini. Mari kita jalan cepat,
pundakmu harus segera kurawat!" Dia lalu memegang tangan
Gin San dan mengajaknya berjalan cepat. Merasakan telapak
tangan yang lembut, hangat itu menggenggam tangannya,
jantung di dalam dada pemuda itu berdenyut cepat. Dia
merasa seolah - olah dia menjadi pengganti suhunya dan
memang wanita ini amat cantik, dan sungguh beruntung
suhunya dicinta sampai sedemikian rupa oleh seorang wanita
seperti ini, seorang wanita yang mencinta pria sampai pria itu
tidak ada lagi di dunia, masih saja tetap dicintanya dengan
setia!. Tiba-tiba timbul perasaan mesra di dalam hati pemuda
yang romantis ini.
"Bibi Yo, perlukah aku cepat- cepat mendapat perawatan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu saja."
"Dan rumahmu jauh dari sini ?"
"Tidak, itu di lereng bukit itu, sudah nampak dari sini
bukitnya."
"Kalau begitu, begini lebih cepat !" Tiba tiba Gin San
memondong tubuh itu dan lari cepat sekali menuju ke bukit
itu.
"Eh, eh...... kau........ ! "
"Aku Gin San, anggap saja mewakili suhuku, bibi." kata Gin
San.
"Ahh.......kau.......bocah nakal.......! "
Giok Hong terengah, akan tetapi karena pemuda itu berlari
dengan cepat sekali, dia lalu merangkulkan kedua lengannya
ke leher Gin San. Rambut yang halus dan harum mengusik
muka pemuda itu dan tak lama kemudian dia merasa betapa
pelukan wanita itu makin erat kedua lengan merangkul leher
dan mukanya didekapkan ke leher dan sebagian mukanya.
Diam-diam Gin San tersenyum senang. Memang
menyenangkan sekali memondong tubuh seorang wanita
secantik itu !
~0-dwkz~bds~234-0~
Gin San adalah seorang pemuda yang berusia duapuluh
tahun, seorang pria muda yang sedang menanjak dewasa dan
mulai tersentuh oleh naluri alamiah berupa nafsu berahi. Daya
tarik seorang wanita mulai terasa olehnya, dan api berahi itu
telah mulai dinyalakan ketika untuk pertama kalinya dia
berdekatan dan nencium bibir seorang wanita, yaitu ketika dia
mencium Liang Hwi Nio, dara tokoh Im-yang-pai itu. Oleh
karena itulah, maka begitu dia memondong tubuh Yo Giok
Hong, janda yang belum tua itu, seketika darahnya mengalir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat sekali, napasnya agak terengah dan panas. Dan
memang pada dasarnya Gin San adalah seorang yang sejak
kecil memiliki watak gembira dan jenaka, maka tentu saja
kenikmatan ini tidak dikesampingkannya begitu saja, bahkan
hendak dinikmati sepuas hatinya! Akan tapi, ketika dia
mempelajari ilmu sihir dari Maghi Sing, dia telah mendapatkan
peringatan keras dari gurunya itu bahwa dia tidak boleh
melakukan hubungan jasmani (kelamin) dengan seorang
wanita, karena hal ini akan melenyapkan kekuatan sihir yang
ada padanya, bahkan mungkin akan mendatangkan
malapetaka baginya.
"Engkau baru boleh menikah atau berhubungan dengan
wanita setelah usiamu lewat tigapuluh tahun, muridku,"
demikian antara lain pesan gurunya. Gin San amat takut
kepada gurunya, dan pesan inipun terukir di dalam
ingatannya. Pesan inilah yang membuat Gin San memiliki
keyakinan bahwa dia tidak boleh terlalu menurutkan perasaan
hatinya, membatasi dirinya dengan wanita dan hanya
menikmati sentuhan-sentuhan luar belaka tidak boleh
melanjutkan dengan hubungan yang lebih mendalam, tidak
boleh tunduk terhadap desakan nafsu berahinya sendiri.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yo Giok Hong
adalah seorang wanita yang pernah jatuh cinta kepada
mendiang Gan Beng Han, cinta pertama yang berkesan dalam
sekali di lubuk hatinya sehingga biarpun dia pernah menikah
dengan pria lain, namun hatinya selalu condong kepada
kekasih pertamanya itu. Apa lagi setelah suaminya meninggal
tujuh tahun yang lalu, meninggalkan dia sebagai janda dalam
usia muda, maka rindu dendamnya terhadap Gan Beng Han
makin menjadi-jadi. Ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa
pria yang dicintanya itu telah meninggal dibunuh orang, maka
dia menjadi patah hati dan berduka sekali.
Pertemuannya dengan Gin San menggerakkan sesuatu di
dalam hatinya. Wanita yang masih muda dan haus akan cinta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini, haus akan belaian kasih sayang seorang pria yang
dicintanya secara aneh telah merasa suka sekali kepada Gin
San! Hal ini bukan saja dikarenakan sikap Gin San,
ketampanan dan kegagahannya, akan tetapi kiranya terdorong
oleh kenyataan bahwa Gin San adalah murid dari mendiang
Gan Beng Han. Murid kekasihnya! Dan murid itu demikian
lihainya, demikian sakti mengagumkan sehingga janda ini
seketika jatuh hati! Maka herankah kalau jantungnya berdebar
tegang penuh rasa nikmat, kedua lengannya merangkul leher
pemuda itu dengan mesra, ketika dia dipondong dan dibawa
lari oleh Gin San? Bertahun tahun dia haus akan kasih sayang
pria, apalagi semenjak suaminya meninggal tujuh tahun yang
lalu, dan kini, tanpa disangka-sangkanya, dia berada dalam
pondongan seorang pemuda yang demikian mengagumkan
hatinya.
Gin San juga merasa betapa pelukan kedua lengan di
lehernya itu makin lama makin ketat dan rambut halus itu
membelai pipi dan lehernya, bahkan kadang-kadang dia
merasa hetapa pipi yang halus dan hangat menyentuh dagu
dan lehernya. Ketika dia menunduk dan melihat wanita itu
seperti terlena dalam pondongannya, dengan kedua mata
dipejamkan dan muka merah sekali, dia tersenyum.
Hari telah mulai gelap ketika akhirnya mereka tiba di depan
pondok yang berdiri di lereng bukit itu. Di depan pondok itu
sudah nampak lampu dinyatakan.
"Turunkan aku di sini....." bisik Giok Hong.
"Nanti saja kalau kita sudah masuk, itukah rumahmu, bibi
?"
"Benar. Ah, kau sungguh hebat, Gin San, memondongku
sejauh itu sama sekali tidak nampak lelah. Turunkan aku !
Siapa sih sesungguhnya yang sakit dan perlu dirawat ?"
"Eh. tentu saja aku..........."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Melihat betapa aku yang kaupondong, sepatutnya aku
yang sakit dan kau yang akan merawatku..........."
"Aku senang sekali memondongmu, bibi... "
"Kau memang hebat, kau sungguh baik..., ah, aku suka
sekali kepadimu, Gin San." Dan sebelum pemuda itu dapat
menduga, tahu tahu kedua lengan itu menarik lehernya
sehingga dia tertunduk dan janda muda itu sudah mencium
bibirnya dengan penuh nafsu! Gin San tentu saja menyambut
ciuman ini dengan gembira dan balas mencium sampai
keduanya terengah dan tiba tiba terdengar suara halus
nyaring dari dalam rumah itu. "Ibu, kau sudah pulang ? "
Mendengar suara ini, Gin San cepat melepaskan ciumannya
dan menurunkan tubuh yang dipondongnya. Akan tetapi
pandang matanya yang tajam masih dapat nenangkap bahwa
dara remaja yang keluar dalam pintu pondok itu telah melihat
adegan ciuman tadi! Maka dia memandang dengan hati
tertarik dan agak tersenyum ketika melihat janda itu tersipusipu
membereskan rambutnya yang agak kusut dan berkata
dengan suara gagap,
"Bi Cin ....... ini........ dia ini........ Coa Gin San murid dari
mendiang Gan-taihiap ...... "
Gin San memandang penuh perhatian kepada dara yang
berdiri di depan pintu. Seorang dara remaja. Usianya kurang
lebih enambelas tahun, dengan wajah yang manis, sepasang
mata yang indah bening seperti mata ibunya, tubuhnya
sedang tumbuh bagaikan setangkai bunga sedang mekar.
Pakaiannya tidak menyembunyikan bentuk tubuh yang padat,
dan dara itu memegang sebuah lampu yang menerangi
wajahnya sehingga wajah itu nampak kemerahan dan manis
sekali. Sepasang mata yang bening itu dengan penuh selidik
memandang kepada wajah Giok Hong dan wajah Gin San
berganti - ganti.
Melihat puterinya berdiri tertegun itu, Giok Hong lalu
melangkah maju dan memegang lengan puterinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Minggirlah, Bi Cin, dan biarkan kami masuk. Gin San ini telah
......., menolongku dari serangan pendeta-pendeta siluman,
akan tetapi dia terluka, perlu kita obati. Gin San, masuklah."
Pemuda itu melangkah masuk dan baru terasa olehnya
betapa pundak kirinya pegal- pegal dan gatal - gatal.
"Masuklah ke kamar ini, Gin San. Kau pakai saja kamarku,
biar aku tidur di kamar puteriku. Eh, ini puteriku, namanya Bi
Cin, Tio Bi Cin. Kau harus cepat mengaso, biar kubuatkan obat
untuk memunahkan racun itu. Marilah." Dengan amat mesra
dan juga penuh perhatian, janda itu menggandeng tangan Gin
San dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Alis janda ini
berkerut ketika dia melihat puterinya itu mengikutinya masuk
ke dalam kamar itu. Betapa dia ingin membelai dan memeluk,
menciumi pemuda itu sebelum mengobatinya. Akan tetapi
sekarang tidak mungkin lagi karena puterinya mengikutinya
seperti bayangan!
Setelah Gin San merebahkan diri dan Giok Hong membuka
baju pemuda itu lalu memeriksa pundaknya, dia mengeluarkan
seruan tertahan. "Ah........! Luka di dalam karena racun itu
makin menghebat ! Salahmu, karena kau telah memon.........
eh, mengeluarkan tenaga yang agak banyak tadi." Giok Hong
menahan ucapan kata "memondong" karena di situ terdapat
puterinya. Gin San hanya tersenyum karena dia sama sekali
tidak merasa khawatir. Dia tahu bahwa racun itu makin
menghebat, akan tetapi dia yakin bahwa dengan sinkangnya
dia akan mampu mengusir bersih racun itu.
Melihat keadaan pundak itu, Giok Hong mengusir nafsu
berahinya dan segera dia sibuk memasak obat sambil
menyuruh puterinya untuk memasakkan bubur guna tamu
mereka. Tanpa berkata apapun, hanya dengan lirikan mata
yang menyambar tajam ke arah wajah Gin San, dara remaja
itu lalu membantu ibunya dan mereka sudah sibuk di dapur
sedangkan Gin San rebah di atas pembaringan sambil
tersenyum-senyum, geli dan gembira memikirkan betapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan enak dan senangnya dia terjatuh dalam tangan ibu
dan anak yang cantik-cantik dan manis manis itu.
Tiga hari kemudian, setelah minum obat yang dimasak oleh
ibu dan puterinya itu, sembuhlah pundak kiri Gin San. Pemuda
ini merasa kagum akan kepandaian ibu dan anak itu, juga
akan keramahan mereka selama tiga hari dia tinggal di rumah
mereka. Dia merasa beruntung bahwa selama tiga hari tiga
malam itu, dia tidak lagi didesak oleh janda muda yang haus
cinta itu, karena Bi Cin, dara remaja itu, agaknya telah
menaruh curiga dan selalu membayangi atau menemani
ibunya di waktu janda ini merawat dan memasuki kamar Gin
San. Oleh karena itu, Giok Hong hanya sempat mengutarakan
rasa cintanya melalui sentuhan-sentuhan mesra, kerling mata
dan senyum manis belaka, tidak berani melakukan hal yang
lebih dari pada itu karena puterinya selalu memasang mata
dan telinga.
Ketika pada hari ke empat itu Giok Hong bersama puterinya
memasuki kamar Gin San pemuda ini ternyata sudah duduk di
atas kursi dan sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat
pergi. Melihat nyonya rumah itu datang menbawa obat dan
hidangan pagi, Gin San cepat bangkit dan menjura.
"Bibi Hong dan adik Cin, hendaknya kalian tidak usah repotrepot
lagi. Aku sudah sembuh sama sekali dan pagi ini aku
hendak berpamit untuk meninggalkan kalian dan melanjutkan
perjalananku........"
"Ahh........!" Giok Hong berseru dan wajahnya berubah
agak pucat.
Gin San cepat memberi hormat kepada janda itu. "Bibi dan
adik selama tiga hari ini amat baik kepadaku, tidak hanya
telah merawatku dengan teliti, akan tetapi juga bersikap
ramah dan manis budi, sungguh membuat aku Coa Gin San
berhutang budi kepada kalian. Mudah mudahan saja kelak aku
akan berkesempatan untuk membalas budi kalian. Sekarang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harap kalian suka maafkan aku dan mengijinkan aku pergi dari
sini."
Dengan sikap gugup dan muka masih pucat nyonya janda
itu menoleh kepada puterinya. ”Bi Cin, kau keluarlah dulu dari
kamar ini, aku mau bicara berdua dengan Gin San." Sikapnya
tegas dan suaranya mendesak. Sejenak Bi Cin memandang
ibunya, akan tetapi dia lalu menundukkan muka, memutar
tubuhnya dan melangkah keluar dengan cepat. Setelah dara
itu keluar dan tidak terdengar suaranya di luar kamar, Giok
Hong lalu membalikkan tubuhnya menaruh obat di atas meja
dekat hidangan pagi yang tadi ditaruh di situ oleh puterinya,
dan dia lalu mendekati Gin San.
Pemuda itu melihat betapa sepasang mata yang indah itu
basah dengan air mata dan sebelum dia dapat berkata-kata,
nyonya janda itu sudah menubruk dan merangkulnya sambil
menangis!
"Gin San........jangan kau tinggalkan aku .......!" Giok Hong
berseru lirih.
Gin San tersenyum dan jari-jari tangannya segera mengelus
dan mengusap rambut dan muka yang halus itu, "Ada saatnya
bertemu, ada saatnya berkumpul, dan ada pula saat untuk
berpisah, bibi yang manis," katanya halus.
"Gin San, tidak tahukah engkau betapa aku........ amat suka
kepadamu, betapa aku cinta padamu? Gin San, semenjak aku
bertemu denganmu, terobatilah penderitaan hatiku, seolah
olah engkau menjadi pengganti mendiang Gan taihiap
bagiku......."
'"Engkau memang baik dan manis, bibi," Gin San berkata
terharu dan keduanya sudah saling rangkul dan saling
berciuman mesra. Pemuda itu sampai gelagapan dan terpaksa
menjauhkan mukanya karena rangsangan Giok Hong
sedemikian penuh nafsu yang dapat menyeretnya. "Akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi, aku harus pergi, bibi. Tidak mungkin aku harus tinggal
selamanya bersamamu di sini."
"Mengapa tidak mungkin? Aku cinta padamu dan kau.......
aku merasa bahwa engkaupun cinta padaku......"
"Aku suka kepadamu, bibi. Tentang cinta aku sendiri tidak
tahu......."
"Kau cinta padaku, aku yakin akan hal itu. Dari
sentuhanmu, dari pandang matamu, dari bibirmu......., ah, Gin
San, jangan kautinggakan aku lagi. Kalau engkau memang
harus pergi merantau, biarlan aku ikut. Kaubawalah aku ke
mana kau pergi, aku akan melayanimu, Gin San......."
Gin San menarik napas panjang dan dengan halus dia
melepaskan diri dari rangkulan. Suaranya terdengar tegas dan
juga halus membujuk ketika dia berkata, "Bibi Giok Hong,
engkau bicara dalam keadaan tidak sadar. Ingatlah baik-baik
siapa adanya engkau, dan ingatlah bahwa engkau adalah
seorang ibu yang harus menjaga adik Bi Cin baik-baik. Ingat
bahwa kalau kita menurutkan nafsu hati belaka, kelak
perbuatan kita akan merusak menghancurkan nama baik kita,
terutama nama baikmu dan karena itu engkau akan merusak
pula kehidupan adik Bi Cin."
"Ohhh........!" Giok Hong terpekik lirih dan menjatuhkan diri
duduk di atas pembaringan sambil menangis. Ucapan itu
membuka mata dan menyadarkannya bahwa dia masih
mempunyai kewajiban terhadap puterinya.
"Mengertikah engkau, bibi ? Hidup memang tidak hanya
berarti mengurusi diri sendiri Maka, banyak sekali kaitankaitannya
dengan orang-orang lain, dengan keluarga dan
dengan persoalan-persoalan lain. Dan aku tidak mau merusak
namamu, tidak mau membikin sengsara adik Bi Cin. Nah,
selamat tinggal, bibi Hong, aku akan selalu ingat kepadamu."
"Gin San........!" Wanita itu bangkit dan kembali menubruk,
merangkul dan menciumi pemuda itu sambil menangis. "Aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cinta padamu, Gin San....... bagaimana engkau dapat
meninggalkan aku begitu saja?"
Gin San mengecup bibir yang gemetar itu, tersenyum.
"Mana bisa aku meninggalkan kau begini saja? Aku
meninggalkan engkau dengan membawa kenangan manis,
bibi. Dan kelak, kalau memang berjodoh, kita tentu akan
dapat saling berjumpa kembali. Nah, inilah tanda mata dariku
harap bibi simpan sebagai kenang-kenangan." Pemuda itu
melolos sabuk rantai peraknya, mematahkan sebuah mata
rantai ikat pinggang itu dan memberikannya pada Giok Hong
yang menerimanya dengan tangan gemetar. Lalu diciuminya
mata rantai itu dan dipegangnya.
"Ah, Gin San........" janda itu lalu melepas cincin emas yang
menghias jari manis tangan kanannya, "Kau terimalah ini, dan
jangan, jangan kaulupakan aku, Gin San........"
Gin San menerima dan menyimpan cincin itu, kemudian
terpaksa dia melepaskan karena janda itu merangkulnya dan
seolah-olah tidak rela melepaskannya. Dia meninggalkan Giok
Hong yang menangis tersedu-sedu dalam kamar, melangkah
dengan cepat keluar dari dalam pondok di lereng bukit itu.
Memang patut dikasihani seorang wanita seperti Giok Hong
itu. Dilihat sepintas lalu dengan kaca mata kesusilaan yang
oleh umum sudah ditentukan sebagai alat pengukur bagi
seorang wanita, memang kelihatannya tidak patut dan tidak
tahu malu apa yang di perbuat oleh janda itu. Namun, apa bila
kita memandang keadaannya tanpa prasangka dan tanpa
ketentuan pendapat yang kaku, kita dapat menarik napas
sedih dan merasa kasihan. Giok Hong adalah seorang manusia
biasa, seorang wanita yang sehat jasmaninya. Dan sebagai
seorang wanita sehat yang usianya baru tigapuluh lima tahun,
belum tua benar, maka amatlah wajar kalau dia masih amat
membutuhkan cinta kasih seorang pria. Semenjak muda,
ketika masih gadis, dia telah menderita patah hati karena cinta
kasihnya terhadap Gan Beng Han bertepuk tangan sebelah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian, setelah dia menikah dengan pria lain dan
penderitaannya mulai terobati, suaminya meninggal dunia dan
dia ditinggalkan sendirian bersama puterinya. Umum boleh
menganggap dia seorang janda yang kotor, yang gila pria, dan
sebagainya. Namun, kalau kita wawas secara adil dan jujur,
kotor atau jahatkah kalau seorang wanita mendambakan kasih
sayang dan belaian mesra seorang pria? Bukanlah hal itu
timbul dari naluri yang wajar, dari kebutuhan jasmani yang
sehat? Pilihannya jatuh kepada Gin San, yang sepintas lalu
nampak lucu dan mentertawakan karena pemuda itu jauh
lebih muda dari padanya. Namun, dalam hal ini kesempatan
dan kebetulan memainkan peranan penting sekali. Kebetulan
dia berjumpa dengan Gin San, kebetulan pemudi ini adalah
murid dari pria yang dicintanya, dan terbuka kesempatan nya
untuk berdekatan dan merawat pemuda itu. Maka, anehkah
kalau sampai janda itu jatuh cinta?
Cinta asmara antara pria dan wanita memang merupakan
hal yang penuh rahasia dan aneh. Daya tarik antara pria dan
wanita bukan hanya terletak pada wajah yang cantik dan
tampan, bukan hanya pada usia muda atau tua, bukan psda
harta semata, namun daya tarik itu menyelinap di manamana.
Mungkin saja seorang pria dan seorang wanita saling
tertarik dan saling mencinta karena daya tarik yang terletak
dalam watak masing-masing yang cocok. Mungkin juga karena
kagum, karena iba, dan sebagainya. Cinta asmara antara pria
dan wanita tidak mengenal usia, tidak mengenal agama, tidak
mengenal bangsa atau golongan, tidak mengenal harta,
kepandaian, kedudukan dan sebagainya. Cinta kasih antara
manusia adalah perasaan kemanusiaan yang terindah dan
paling agung.
Ada juga rasa haru di dalam hati Gin San ketika dia
meninggalkan pondok di lereng bukit itu. Bibi Giok Hong
demikian baik kepadaku, pikirnya. Dan dia belum mampu
membalas, bahkan kini mengecewakan hatinya, mendukakan
hatinya dengan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
harus pergi, tak mungkin dia tinggal terus di situ, tenggelam
dalam pelukan janda itu Akan menjadi laki - laki apa
macamnya dia kalau dia terus tinggal di sana?
Cuaca cerah pagi itu dan Gin San melupakan semua
renungannya, melanjutkan perjalanan dengan gembira dan
ketika tangannya tanpa disadarinya memasuki saku bajunya,
jari-jari tangannya bertemu dengan dua buah benda.
Ditariknya dua benda itu keluar dan dipandangnya hiasan
rambut teratai emas yang dihadiahkan Liang Hwi Nio
kepadanya, dan cincin emas hadiah dari Yo Giok Hong tadi.
Dia tersenyum, mengenangkan dua orang wanita itu dan
membanding-bandingkan mereka. Keduanya sama cantik
manis, sama menarik, memiliki keistimewaan sendiri-sendiri.
Liang Hwi Nio masih muda dan bagaikan bunga sedang
semerbak harum, delapanbelas tahun usianya, cantik dan
terutama sekali lesung pipit itu membuat mulutnya amat
manis menggairahkan. Dan janda itu, seorang wanita yang
sudah matang, ciumannya berani dan merangsang panas,
kecantikannya terutama terletak pada hidungnya yang
mancung dan cuping hidungnya dapat bergerak halus
kembang - kempis membayangkan perasaan hatinya.
" Berhenti !"
Gin San tersentak dari lamunannya dan memandang heran
kepada dara yang menghadang di depannya dengan pedang
di tangan itu.
"Cin-moi (adik Cin)........!" Gin San berseru heran melihat
dara itu bersikap mengancam dengan pedangnya, namun
masih nampak olehnya betapa dara ini kelihatan gagah dan
cantik, kedua pipinya kemerahan dan terutama sekali
matanya. Dara ini memiliki mata yang hebat! Lebih indah dari
mata ibunya. Demikian jeli dan bening tajam, agak lebar
denga kedua ujung kanan kiri meruncing ke atas seperti
dilukis saja. Pemuda ini sudah tenggelam kedalam keindahan
mata itu sehingga dia lupa lagi akan sikap aneh dari gadis ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Coa Gin San, aku sengaja menantimu di sini dan
bersiaplah engkau untuk mati! "
Gin San memandang dengan mata terbelalak heran.
Selama tiga hari tiga malam ini Bi Cin juga bersikap ramah dan
manis kepadanya, sungguhpun tidak pernah mesra seperti
ibunya.
"Kenapa?" tanyanya bingung. "Kenapa aku harus mati ? "
''Untuk menebus kekurang ajaranmu! Engkau telah
menghina ibuku!" Bi Cin sudah menerjang dengan pedangnya,
menusuk dengan cepat dan gerakannya memang ringan
sekali. Sejak kecil, dara ini sudah dilatih oleh ibunya bukan
hanya dalam ilmu pengobatan, melainkan juga dalam ilmu
silat sehingga dia tidak asing memegang dan mempermainkan
sebatan pedang. Namun, tentu saja bagi Gin San, serangan itu
sama sekali tidak ada artinya dan berturut- turut sampai lima
kali dia selalu mengelak dari tusukan dan bacokan pedang.
"Eh-eh eh, nanti dulu, adik Bi Cin ! Nanti dulu dan
terangkanlah, dalam hal apa aku kurang ajar dan menghina ?
Engkau dan ibumu selalu baik kepadaku bagaimana mungkin
aku menghina ibumu ?" Gin San berseru sambil berloncatan ke
sana-sini, kemudian meloncat jauh ke belakang.
Dara itu berdiri dengan dada bergelombang saking
marahnya dan juga saking lelahnya telah melakukan serangan
bertubi yang selalu mengenai tempat kosong itu. Matanya
bersinar sinar seperti mengeluarkan titik api, indah sekali.
"Coa Gin San, engkau sungguh seorang manusia yang
rendah budi. Ibuku dengan hati suci dan tulus telah
menolongmu, mengobatimu, akan tetapi engkau telah berani
menghinanya."
"Adik Bi Cin, harap jangan marah-marah dulu dan
jelaskanlah, apa yang telah kulakukan sehingga engkau
menuduh aku menghina ibumu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Engkau..... engkau telah..... merangkul dan menciuminya!
Itulah penghinaan hebat dan engkau harus mampus!" Dara itu
sudah menerjang lagi, kini lebih hebat dan nekat gerakannya.
"Ahhh......!" Gin San berseru heran dan kaget, cepat dia
mengelak lagi ke sana ke mari.
Kiranya dara ini tadi telah mengintai! Dan menganggap
bahwa dia menghina ibunya. Padahal, saling peluk cium itu
dilakukan lebih dulu oleh bibi Giok Hong ! Dan pula, mengapa
peluk cium sukarela itu dianggap menghina? Agaknya dara ini
masih sedemikian murninya sehingga tidak tahu bahwa peluk
cium yang dilakukan oleh kedua fihak dengan sukarela sama
sekali bukan penghinaan namanya, melainkan kemesraan
yang timbul oleh pencurahan rasa sayang di dalam hati.
"Dengarkan dulu penjelasanku.......!" Dia berusaha untuk
menerangkan, akan tetapi dara itu menyerangnya kalangkabut
dan agaknya sukar untuk diajak bicara baik-baik. Maka
Gin San lalu bergerak menyambut pedang itu dan sekali
tangkap saja dia sudah merampas pedang itu, dibuangnya ke
belakang dan sebelum Bi Cin tahu apa yang terjadi, dia telah
dirangkul oleh Gin San.
"Yang begini kaukatakan menghina, Cin moi ?" bisiknya dan
kedua tangannya mendekap tubuh dara itu. Bi Cin meronta
dan kedua tangannya yang berada di belakang tubuh Gi San
itu berusaha memukul dan menghantam akan tetapi tentu
saja tidak terasa oleh Gin San yang memeluknya makin ketat.
"Inikah yang kaukatakan menghina?" bisiknya lagi dan
ketika Bi Cin meronta sekuatnya dia lalu menunduk dan
mencium mulut Bi Cin. Dara itu meronta makin keras, kedua
tangannya kini menjambak-jambak rambut Gin San. Akan
tetapi pemuda itu tidak perduli dan ciumannya makin kuat.
Naiklah sedu-sedan dari dada gadis itu dan tanpa
disadarinya, kedua tangan yang tadinya menjambak rambut
Gin San kini melepaskan rambut itu dan melingkari leher,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merangkul pemuda itu. Ketika Gin San akhirnya melepaskan
ciumannya dan memandang, ternyata dara itu memejamkan
mata dan napasnya terengah-engah. Gin San mencium dua
mata yang terpejam itu dengan lembut. Sepasang mata itu
terbuka, terbelalak memandangnya.
"Bukan main indahnya matamu, Cin-moi....!" Dia berbisik.
Bi Cin tidak menjawab, hanya bibirnya yang masih
menggigil oleh ciuman tadi bergerak-gerak, matanya seperti
mata seekor kelinci kebingungan.
"Apakah engkau menganggap ini penghinaan?" kembali Gin
San bertanya lirih.
Bi Cin lalu mendekapkan mukanya di dada pemuda itu.
Dengan suara bercampur isak gadis itu berbisik, "San-ko.......
beginilah seharusnya....... beginilah yang kuinginkan semenjak
kau datang....... akan tetapi mengapa engkau mencium ibuku?
Hampir meledak rasa hatiku melihatnya tadi......."
Gin San tersenyum, menunduk dan mencium rambut yang
harum itu, lalu dipegangnya dagu itu, diangkatnya wajah
cantik dengan sepasang mata bintang itu, diciumnya mata itu
sehingga terpejam dan diciumnya lagi bibir merekah itu
sampai lama.
"Engkau anak nakal.........!" Gin San berbisik.
"San-ko, kaubawalah aku pergi. Aku tak mau kembali ke
rumah, aku ingin ikut bersamamu, koko........!"
Gin San melepaskan pelukannya dan melangkah mundur.
Diloloskannya ikat pinggang perak dan dipatahkannya sebuah
mata rantai, "Terimalah ini, Cin-moi. Sebagai tanda
persahabatan kita. Kelak kita akan bertemu kembali, akan
tetapi sekarang ini tidak mungkin aku mengajakmu pergi. Aku
hanya minta tanda mata ini darimu untuk kenang-kenangan."
Tangan kirinya bergerak ke arah kepala Bi Cin dan jari-jari
tangannya telah merobek ujung pita rambut merah dari sutera
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu. "Selamat tinggal, Cin-moi, engkau manis sekali !" Sekali
meloncat Gin San sudah lenyap dari situ meninggalkan Bi Cin
yang masih pening dimabok oleh ciuman-ciuman tadi.
"San-koko......!" Akhirnya dia berseru mencari-cari dengan
matanya lalu menangis ketika melihat pemuda itu telah
lenyap. Dia memandang sebuah mata rantai perak di
tangannya, menggenggamnya erat-erat lalu dengan langkah
gontai dia kembali ke lereng bukit, setelah memungut kembali
pedangnya.
Gin San berlari cepat dan kadang kadang tersenyum.
Sungguh aneh watak wanita, pikirnya. Tadinya Bi Cin
menyerangnya mati-matian, dan baru dia tahu bahwa dara itu
sebenarnya cemburu! Mengapa semua wanita yang selama ini
dijumpainya menjadi luluh setelah dirayunya? Apakah semua
wanita selalu ingin dirayu, ingin dicinta. ingin dimanja dan
ingin diperhatikan oleh pria? Kembali Gin San tersenyum dan
jari jari tangannya bermain-main dengan tiga macam benda
yang diterimanya dari tiga orang wanita itu. Hiasan rambut
teratai emas dari Hwi Nio, cincin dari Giok Hong, dan pita
rambut yang diambilnya sendiri dari rambut Bi Cin.
~0-dwkz~bds~234-0~
Perahu kecil itu bergoyang ke kanan kiri oleh keriput air
yang bergelombang kecil digerakkan angin. Sunyi senyap di
permukaan telaga itu, dan pagi masih berkabut, menghalangi
pandang mata. Agaknya segala sesuatu di sekitar telaga itu
masih tidur, kecuali dua orang yang di dalam perahu kecil
sambil mencurahkan seluruh perhatian ke ujung tangkai
pancing yang mereka pegang.
Kakek itu sudah tua sekali, tentu sudah lebih delapanpuluh
tahun usianya. Biarpun tubuhnya kurus, namun wajahnya
masih nampak berseri dan sehat, dengan sepasang mata yang
tenang namun bersinar tajam. Bajunya berwarna kuning dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
potongannya longgar seperti jubah hwesio, rambutnya yang
sudah tiga perempat bagian putih itu digelung ke atas dan
diikat dengan pita kuning. Dengan wajah berseri dan mulut
tersenyum dia memandangi air, dimana tali pancingnya
bersambung dengan bayang tali itu di permukaan air.
Di ujung yang berlawanan dari perahu duduk pula seorang
pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana pula seperti
kakek itu. Pemuda ini usianya kurang lebih duapuluh tahun,
tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sikapnya gagah,
pandang matanya tajam penuh kesungguhan. Pemuda ini
adalah Tan Sian Lun putera mendiang Tan Bun Hong dan
mendiang Song Kim Bwee. Adapun kakek itu adai Siangkoan
Lojin atau yang bernama Siangkoan Lee, kakek sakti yang
suka merantau, yang lalu hidup sebagai petani atau nelayan,
biarpun memiliki kesaktian tinggi namun tidak pernah mau
menonjolkan nama sehingga di dunia kang-ouw, nama
Siangkoan Lee tidak dikenal orang. Seperti telah kita ketahui
dari bagian depan, Sian Lun ditolong dan dibawa pergi oleh
kakek itu ketika terjadi keributan di Kuil Ban-hok-tong, kurang
lebih sepuluh tahun yang lalu. Selama sepuluh tahun itu, dia
digembleng dan dilatih oleh gurunya, bahkan gurunya yang
menyayangnya itu telah mewariskan seluruh kepandaiannya
kepada Sian- Lun.
Melihat kakek dan pemuda itu di dalam perahu di atas
telaga yang sunyi di pagi hari itu , tekun memancing ikan,
orang akan menyangka bahwa mereka itu hanyalah dua orang
nelayan biasa saja, atau dua orang yang mempunyai
kegemaran memancing. Sama sekali tidak akan ada yang
mengira bahwa mereka adalah guru dan murid yang memiliki
ilmu kepandaian tinggi sekali.
Tiba-tiba Sian Lun menarik tangkai pancingnya dan seekor
ikan terangkat dan menggelepar di dalam perahu. Seekor ikan
yang cukup gemuk dan sebesar lengan tangan, dengan sisik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berwarna putih seperti perak dan mata merah seperti
permata.
Sian Lun membebaskan mulut ikan dari pancingnya,
sejenak memegang ikan yang menggelepar-gelepar itu,
kagum akan keindahan warna sisik putih bersih dan mata
merah itu, kemudian tiba-tiba dia melemparkan ikan itu
kembali ke dalam telaga.
"Cluppp........" Ikan itu menyelam dan permukaan telaga
tenang kembali.
"Ha-ha-ha, kemarin engkau membebaskan kembali kelinci
yang kautangkap, sekarang kau membebaskan ikan yang
terkena pancingmu, Sian Lun!" Kakek itu yang sejak tadi
mengikuti gerak-gerik muridnya dengan sudut matanya,
tertawa dan menegur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Lun menundukkan mukanya, alisnya berkerut. "Suhu,
aku kasihan sekali melihat ikan itu. Demikian indahnya,
demikian hidup dan sehat, mengapa harus mati hanya untuk
memenuhi selera mulut dan kebutuhan perutku?"
Kakek itu tertawa bergelak, menancapkan tongkat
pancingnya di perahu dan duduk mem-balikkan tubuhnya,
menghadapi muridnya. "Itulah hidup! Hidup dan mati adalah
dua hal yang saling isi mengisi, yang tidak pernah dapat
dipisahkan. Tidak ada hidup kalau tidak ada mati. Bukan hidup
namanya kalau tidak akan mati. Dan kematian itu datang
dengan cara apa saja. Mengapa hal yang begitu saja
merisaukan hatimu, Sian Lun?"
'Saya sudah kehilangan selera saya untuk makan ikan,
suhu, kalau untuk itu saya harus merusak keindahan dan
kehidupan." Pemuda itu melemparkan tangkai pancingnya ke
dalam perahu.
Kembali kakek itu tertawa. "Aha, mengapa muridku
menjadi begini lemah? Mengapa mengisi kehidupan dengan
keluh dan keprihatinan? Muridku, aku teringat akan ucapan
sang bijaksana Yang Cu di jaman dahulu. Beliau mengatakan
bahwa tidak ada manusia hidup lebih dari seratus tahun, dan
yang mencapai usia seratus tahun, di antara seribu belum
tentu ada satu. Kalaupun ada, dia itu akan hidup sebagai
seorang pikun, seperti kanak-kanak dan sudah tidak berdaya
apa-apa. Setengah kehidupan ini dihamburkan untuk tidur,
atau dihamburkan untuk hal-hal tidak berguna di siang
harinya. Setengahnya lagi, manusia dihimpit oleh penderitaan,
sakit, duka, kekecewaan, kematian, kehilangan, kegelisahan
dan ketakutan. Hampir tidak ada waktu bagi manusia untuk
hidup dalam keadaan damai dan tenteram tanpa digerogoti
oleh kekhawatiran,"
Sian Lun mendengarkan saja dengan penuh perhatian. Dia
maklum betapa bijaksana gurunya ini dan betapa dalam
semua kata-kata gurunya terkandung kebenaran mutlak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Apakah artinya hidup manusia?" Kakek itu melanjutkan
sambil memandang ke langit yang mulai disentuh cahaya
kuning emas dan matahari pagi, seolah olah dia hendak
bertanya kepada gumpalan-gumpalan awan yang berari
lembut. "Kesenangan apakah yang terkandung dalam
kehidupan? Apakah untuk menikmati keindahan dan
kekayaan? Apakah untuk menikmati kemerduan suara dan
keindahan warna-warni? Akan tetapi akan tiba saatnya bagi
semua manusia di mana kecantikan dan kekayaan tidak lagi
memenuhi kebutuhan hati, dan di mana suara hanya meniadi
kebisingan bagi telinga, dan warna menjadi kemuakan bagi
mata." Kembali kakek itu menarik napas panjang, akan tetapi
mulutnya masih tersenyum seolah-olah dia mentertawakan
kehidupannya sendiri.
"Apakah kita hidup ini hanya untuk berjaga-jaga dengan
takut agar tidak melanggar hukum dan menderita
hukumannya, dan kadang kadang bergerak terdorong oleh
keinginan mendapatkan ganjaran atau nama besar? Kita hidup
di dalam dunia gila, memperebutkan pujian hampa,
mengkhayal bahwa nama besar akan abadi. Kita hidup terjepit
dalam lorong sempit, dikuasai oleh hal-hal picik yang kita lihat
dan dengar, tenggelam dalam prasangka-prasangka kita,
melewati segala kebahagiaan hidup tanpa menyadari bahwa
kita telah kehilangan segalanya. Tak pernah kita menikmati
kesegaran anggur dari kebebasan. Kita hidup sebagai orang
orang hukuman dalam penjara, tertimbun belenggu."
Sian Lun maklum bahwa apa yang diucapkan oleh gurunya
itu memang menjadi pegangan hidup gurunya. Gurunya tak
pernah mengejar nama, tak pernah mengejar harta, tak perna
mengejar kesenangan. Namun gurunya selalu gembira!
Betapapun juga, dia sering kali termenung membayangkan
betapa kosongnya kehidupan seperti yang dihayati oleh
gurunya itu Betapa kosong tanpa arti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akan tetapi, suhu. Betapa mungkin kita hidup bebas dari
segalanya di dunia ini, melepaskan diri dari ikatan-ikatan
kemanusiaan ? Betapa mungkin kita berdiam diri saja kalau
menyaksikan ketidakadilan, betapa mungkin kita berpeluk
tangan saja kalau menyaksikan kejahatan? Lalu apa gunanya
saya bersusah payah mempelajari ilmu dari suhu selama ini?
Mohon petunjuk, suhu."
"Siang Lun, kebebasan berarti bebas dari segala cara,
bebas dari segala aturan, bebas dari segala petunjuk. Apapun
yang kaulakukan barulah bebas kalau beidasarkan naluri
hatimu sendiri, tanpa tiru-tiru. tanpa pamrih memperoleh
sesuatu, baik mengejar maupun menghindarkan hukuman."
"Tapi, nama baik........."
"Ha ha ha, persetan dengan nama baik Kalau engkau
melakukan sesuatu dengan pamrih untuk memperoleh nama
baik, maka apa yang kaulakukan itu adalah palsu dan kotor.
Kebaikan kaunamakan kepada perbuatanmu itu, namun
sesungguhnya itu hanyalah suatu cara untuk mendapatkan
nama baik, jadi hanya pura pura dan palsu belaka. Apakah
artinya nama baik? Selagi hidup, semua mahluk memang
berbeda, akan tetapi dalam kematian mereka semua sama
juga. Selagi hidup mereka itu bisa pintar atau bodoh, mulia
atau hina, namun dalam kematian, mereka semua sama sama
berbau, membusuk, hancur dan lenyap. Dalam kelahiran
mereka sama, dalam kematianpun tiada bedanya, jadi kita
semua ini sama sama pintar, sama-sama bodoh, sama-sama
mulia dan sama sama hina. Ada yang usianya hanya sampai
sepuluh tahun, ada yang mencapai seratus tahun, namun
kesemuanya akhirnya mati juga. Orang suci yang agung mati
seperti juga si dungu yang jahat. Di waktu hidup dinamakan
raja-raja agung Yao dan Shun, namun setelah mati mereka itu
hanyalah tulang-tulang membusuk. Di waktu hidup dinamakan
raja-raja lalim Chieh dan Chou, namun setelah mati, mereka
juga hanya tulang-tulang membusuk. Dan tulang-tulang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membusuk dimanapun sama saja, siapa yang dapat mengenal
dan membedakan mereka?"
Bagi pendengaran Sian Lun yang masih berdarah muda,
ucapan suhunya itu dianggapnya lemah tanpa semangat,
seperti suara orang yang putus asa. "Lalu, apakah yang harus
kita lakukan selagi hidup, suhu ? "
"Apa ? Nikmatilah hidup selagi kehidupan ini milik kita !
Mau mengail ! Mengaillah Mau makan ikan? Makanlah ! Kita
tidak mempunyai waktu untuk memusingkan hal-hal sesudah
mati."
"Akan tetapi, kalau kita hanya menurutkan suara hati,
biasanya kita hanya akan mengejar kesenangan belaka, dan
dari situ timbullah penyelewengan dan perbuatan yang jahat,
suhu"
Jilid XIX
GURUNYA menyambar tangkai
pancing dan seekor ikan
menggelepar ke dalam perahu, ikan
bersisik emas yang indah sekali.
"Aha, jahat atau tidak, baik atau
tidak hanyalah anggapan sepihak
saja, muridku. Sedangkan kebencian,
iri hati, ingin menang sendiri, datang
dari si aku, yaitu pikiran yang ingin
mengulang apa yang dianggap
menyenangkan dan menolak apa
yang dianggap tidak menyenangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari pengalaman yang lalu. Sudahlah, Sian Lun engkau akan
mengerti sendiri kelak kalau engkau mau membuka mata dan
telinga melihat kenyataan-kenyataan dalam kehidupan ini.
Sekarang, hayo cepat panggang ikan itu selagi masih segar
untuk sarapan pagi !"
Sian Lun mentaati perintah suhunya. Melihat pemuda itu
membersihkan ikan dengan wajah agak muram, Siangkoan
Lojin berkata, "Hidup kita tiada bedanya dengan ikan ini,
muridku. Selagi kita masih hidup, kematian selalu mengancam
kita dari segala penjuru, dan tanpa kita ketahui, ada pula
Tukang Pancing yang selalu mengincar nyawa kita tanpa pilih
bulu. Siapa makan umpan, dia terkena pancing. Senang dan
susah memang tak dapat dipisahkan, merupakan rangkaian
yang tak terputuskan. Oleh karena itu, mengapa kita
membiarkan diri dikuasai oleh senang dan susah yang
sesungguhnya hanya merupakan permainan dari pikiran kita
sendiri? Bergembiralah selagi hidup, seperti ikan-ikan dalam
air itu karena siapa tahu, sekarang atau besok tiba giliran kita
menjadi korban pancing!"
Tak lama kemudian, guru dan murid itu sudah mulai
dengan sarapan pagi mereka, nasi dengan daging ikan
panggang yang sedap, dan terciumlah bau arak yang
menambah selera. Mereka makan tanpa bicara, mencurahkan
seluruh perhatian kepada apa yang mereka lakukan pada saat
itu.
Tiba-tiba perhatian mereka tertarik oleh suara orang yang
nyaring menembus kesunyian pagi, walaupun bayangan orang
yang bernyanyi itu belum dapat menembus kabut yang makin
tebal oleh munculnya sinar matahari. Guru dan murid itu
mengambil sikap tidak perduli, akan tetapi sesungguhnya
mereka tertarik sekali karena suara orang itu berirama seperti
membaca sajak.
Siapakah yang menguasai dunia laut selatan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapakah yang merajai laut selatan?
Semua telaga, sungai dan lautan
berikut semua isinya
menjadi milik siapa
Pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu tiba-tiba disambut
atau dijawab oleh suara beberapa orang yang berseru nyaring,
"Lam-ong (Raja Selatan)........!!"
Pertanyaan yang diteriakkan seperti nyanyian itu dilakukan
orang berulang kali, dan jawabannya selalu sama. Kini suarasuara
itu makin mendekat dan tiba-tiba terdengar suara itu
membentak, "Hei, kalian para nelayan rendah! Ikan siapakah
yang kalian jala itu ?"
Terdengar jawaban yang lemah dan gemetar. "Lam -
ong....... ! "
"Atas kurnia siapa kalian dapat memperoleh ikan dan dapat
hidup setiap hari?"
"Lam-ong! Hormat dan terima kasih kami kepada Lamongya........
!"
"Ha-ha, tolol! Apa artinya hormat dan terima kasih dengan
kata-kata belaka? Hayo kalian angkut ke perahu kami
sekeranjang ikan yang besar. Cepat !"
"Akan tetapi....... ampun, tuan........ malam ini amat sepi,
semalam suntuk kami baru memperoleh sekeranjang
saja......."
"Cerewet! Kalian berani membantah dan tadi mengatakan
bahwa kalian menghormat dan berterima kasih kepada Lamong?
Apakah kalian ingin menjadi makanan ikan di telaga ini?"
"Ampun....... ampun......... kami tidak berani
membantah........ silakan........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siangkoan Lee dan Siang Lun mengerutkan alis, namun
mereka masih terus makan, tidak mau memperdulikan urusan
itu, sungguhpun diam-diam mereka itu bertanya-tanya siapa
gerangan yang disebut Lam ong itu dan mereka dapat
menduga bahwa orang-orang yang merampas ikan itu
tentulah anak buah dari tokoh yang disebut Raja Selatan itu.
Mereka berdua masih makan juga ketika bayangan perahu
besar itu nampak muncul dari dalam kabut dan tahu-tahu
telah dekat dengan perahu kecil mereka yang bergoyang
makin keras oleh gelombang air yang ditimbulkan oleh perahu
besar itu. Kini nampaklah anak buah perahu besar itu yang
terdiri dai lima orang, dan di geladak berdiri dua orang laki laki
yang usianya tentu sudah limapuluh tahun lebih, keduanya
bertubuh tinggi besar yang seorang memegang sebatang
tongkat dan yang kedua membawa sebatang golok tergantung
di punggungnya. Di dalam perahu itu sudah bertumpuk
beberapa keranjang ikan, agaknya pemberian dari beberapa
orang nelayan yang mencari ikan di telaga itu.
Ketika dua orang kakek itu melihat seorang tua renta dan
seorang pemuda di dalam perahu kecil sedang makan nasi
dan panggang ikan, mereka segera menegur dengan suara
lantang.
"Hai, kalian dua orang nelayan miskin! Ikan siapakah yang
kalian makan itu?"
"Ikan kami sendiri!" Sian Lun menjawab cepat tanpa
memperdulikan mereka dan terus makan, sedang gurunya
hanya terkekeh saja.
"Nelayan tolol! Dari mana engkau memperoleh ikan itu?"
kembali seorang di antara mereka, yang memegang tongkat,
membentak.
"Dari dalam telaga ini!"
"Kiranya engkau mengerti juga ! Nah, milik siapa gerangan
telaga ini?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Milik siapa? Milik semua orang !" jawab lagi Sian Lun
seenaknya.
''Keparat, kalian telah makan ikan milik Lam-ong tanpa ijin,
bahkan tidak mau mengakui, sekarang biar kalian menjadi
makanan ikan!" Tiba-tiba terdengar sambaran angin dahsyat
sekali ke arah perahu kecil. .
"Brakkkk!" Perahu kecil itu pecah berantakan dihantam
tongkat dan tubuh guru dan murid itu lenyap dan tahu tahu
mereka telah ada di atas perahu besar. Bahkan Siang-koan
Lojin masih membawa daging ikan dan masih melanjutkan
makan, kini dia berjongkok di atas geladak perahu besar,
sedangkan Sian Lun sudah bangkit berdiri dengan sikap
marah.
"Orang-orang jahat! Apa kesalahan kami maka kalian
merusak perahu kami?" tanya pemuda itu dengan suara halus
dan sikap tenang namun sepasang matanya mengeluarkan
sinar berkilat.
Melihat betapa kakek dan pemuda itu tahu tahu telah
berada di atas perahu besar tanpa mereka lihat, padahal
perahu kecil mereka itu telah hancur, dua orang tinggi besar
itu memandang dengan mata terbelalak dan mereka mengerti
bahwa dua orang itu bukan orang sembarangan. Kini mereka
maju dan dengan sikap agak halus si pemegang tongkat
bertanya, "Siapakah adanya dua orang gagah yang tidak
memandang mata kepada Lam-ong? kawan ataukah lawan?"
Sian Lun sudah marah sekali menyaksikan sikap mereka
yang sewenang-wenang itu, namun dia masih bersikap tenang
dan halus, "Kami tidak mengenal Lam-ong, maka kami
bukanlah lawan atau kawannya. Kami tidak mempunyai
urusan apapun dengan kalian, mengapa kalian bertindak
sewenang - wenang dan merusak perahu kami?"
Dua orang tinggi besar itu saling pandang dengan heran.
Tentu saja mereka merasa heran mendengar betapa ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang, yang tidak nengenal nama Lam-ong! Padahal, setiap
orang nelayan pasti tahu siapa adanya Lam-ong, apa lagi
kalau orang itu merupakan orang dari dunia liok-lim atau kang
ouw. Akan tetapi karena mereka tahu bahwa banyak orang
dari daerah barat, timur atau utara, tokoh - tokoh, kang-ouw
yang berkepandaian tinggi dan yang tentu saja tidak kenal
dengan mereka dan mungkin juga tidak pernah mendengar
nama Lam ong, maka dua orang itu bersikap hati hati.
"Hemm, agaknya kalian adalah orang orang lancang ysng
tidak mau menyelidiki terlebih dulu daerah yang kalian
datangi. Ketahuilah bahwa seluruh wilayah selatan ini, dari
telaga sungai sampai ke laut selatan, berada di bawah
kekuasaan Lam-ong dan setiap orang kang-ouw atau liok-lim
yang mencari nafkah di daerah ini, harus terlebih dulu
memperoleh persetujuan dari Lam-ong kami. Kalian berdua
telah menikmati ikan telaga ini dan menikmati pemandangan
indah di sini tanpa perkenan Lam-ong, hal itu saja sudah
merupakan dosa yang tak boleh diampuni. Akan tetapi
mengingat bahwa kalian tentulah datang dari tempat jauh dan
tidak mengenal segala sesuatu di daerah ini, maka biarlah
kami akan mengampuni kalian asal kalian cepat minta ampun
dan menceritakan siapa kalian dan datang dari mana. "
Sian Lun telah merasa betapa keterlaluan sikap dua orang
itu, maka dengan tenang dia berkata, menekan
kemarahannya, "Kami tidak perlu memperkenalkan diri, dan
tentang minta ampun, sebenarnya kalianlah yang patut minta
ampun kepada kami. Akan tetapi kamipun tidak membutuhkan
permintaan ampun, kami hanya membutuhkan uang
pengganti perahu untuk kami bayarkan kepada pemilik perahu
yang kami sewa itu. Hayo kaubayar harga perahu itu kepada
kami dan antarkan kami ke darat.! "
Mendengar ucapan itu, dua orang tinggi besar itu menjadi
makin marah. Si pemegang tongkat yang matanya sipit sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti terpejam itu menoleh kepada lima orang anak
buahnya, mengangguk dan berkata, "Lempar mereka ke air!"
Lima orang anak buah perahu besar itu adalah orang-orang
kasar yang bertubuh kuat dan bersikap kasar sekali, maka
mendengar perintah ini mereka sudah tertawa tawa gembira
dan kini dengan ganas mereka menubruk maju seperti hendak
berebut untuk menangkap pemuda yang berani mati itu dan
melemparkannya ke dalam telaga. Namun, Sian Lun sudah
siap siaga dan setiap ada orang datang menubruknya, orang
itu tentu terlempar keluar dari perahu dan terbanting ke air di
luar perahu! Hanya terdengar lima orang itu berteriak dan
beturut - turut tubuh mereka semua terlempar keluar dari
perahu, ketika tubuh mereka menimpa air terdengarsuara
keras dan air muncrat sampai tinggi, menunjukkan bahwa
mereka terbanting cukup keras ke dalam air.
"Ehh........?" Dua orang tinggi besar itu berseru kaget dan
makin marah, juga heran karena hampir mereka tidak dapat
percaya melihat betapa lima orang pembantu mereka itu
dapat dilempar-lemparkan keluar dari perahu semudah itu.
"Sute, orang ini tidak boleh diberi ampun !" bentak si
pemegang tongkat kepada temannya akan tetapi sutenya itu
ternyata sudah mencabut golok yang tergantung di
punggungnya dan dengan kecepatan kilat dia sudah meloncat
dan mengayun goloknya menyerang Sian Lun. Cepat dan kuat
juga gerakan orang inidan goloknya mengeluarkan suara
berdesing dibarengi sinar berkilat ketika menyambar ke arah
leher Sian Lun. Namun, pemuda ini selama sepuluh tahun
telah digembleng secara hebat oleh Siangkoan Lojin, dan
terutama sekali pemuda ini sudah mewarisi kepandaian
ginkang yang amat tinggi tingkatnya dari gurunya itu. Maka, si
penyerang itu terkejut dan terheran setengah mati ketika dia
melihat betapa lawan yang diserangnya itu tiba - tiba saja
lenyap dari depannya dan hanya ada angin bersilir di sebelah
kanannya. Cepat dia menengok dan benar saja, pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah berada dibelakangnya ! Maka diapun memutar tubuh
didahului oleh goloknya yang menyambar lebih ganas lagi ke
arahpinggang Sian Lun. Dengan ringan sekali pemuda itu
meloncat dan sinar golok menyambar lewat di bawah kakinya.
Ketika pemuda itu yang masih meloncat ke atas
menggerakkan kaki kirinya, hampir saja ujung sepatu itu
menotok jalan darah di leher si pemegang golok kalau saja dia
tidak membuang diri ke belakang secepatnya dan pada saat
itu suhengnya yang memegang tongkat sudah membantunya
dengan serangan tongkat yang menotok ke arah lambung Sian
Lun dengan kepatan dan tenaga yang lebih hebat dari pada si
pemegang golok! Totokan itu mengarah jalan darah
berbahaya dan kalau mengenai sasaran yang tepat dapat
mendatangkan maut dan begitu Siang Lun miringkan tubuh
mengelak, ujung tongkat itu sudah menyambar secara
bertubi-tubi, melancarkan totokan-totokan sebanyak tujuh kali
berturut - turut dan setiap totokan ditujukan ke jalan darah
maut.
"Hemm, manusia ganas dan kejam!" Sian Lun berseru
ketika melihat totokan- totokan maut itu. Dia hanya mengelak
terus sampai tujuh kali dan pada saat itu, golok dari
penyerang pertama telah menyambar lagi, menutup jalan
keluar sedangkan ujung tongkat masih terus melanjutkan
serangannya.
"Pergilah!" Sian Lun berseru nyaring dan tubuhnya
berkelebat sedemikian cepatnya sehingga dua orang
pengeroyoknya tidak dapat nengikuti gerakannya itu, akan
tetapi tahu-tahu mereka merasa betapa tubuh mereka
terlempar berikut senjata mereka, keluar dari perahu.
"Byurrr! Byuurr!" Kembali air telaga muncrat dan dua orang
kakek itu gelagapan. Namun, ternyata, seperti juga lima orang
anak buah mereka tadi, dua orang kakek ini selain pandai ilmu
silat juga ternyata merupakan ahli-ahli dalam air karena begitu
mereka terbanting, mereka terus menyelam dan berenang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan cepat sekali menjauhi perahu, menyusul anak buah
mereka yang lebih dulu berenang ke darat. Mereka maklum
bahwa melanjutkan pertempuran menghadapi pemuda itu
merupakan hal yang sia-sia belaka karena ternyata pemuda itu
memiliki kepandaian yang terlampau tinggi bagi mereka.
Sementara itu, setelah melihat semua lawannya pergi, Sian
Lun baru teringat kepada gurunya dan dia membalikkan
tubuh. Dengan heran dia melihat gurunya itu berdiri tegak
memandang kepadanya dengan sinar mata penuh teguran
dan penyesalan. Selama sepuluh tahun hidup bersama
Siangkoan Lojin, tentu saja Sian Lun telah mengenal watak
gurunya, dan telah mengerti apa artinya setiap gerak-gerik
suhunya, setiap pandang mata suhunya. Maka melihat betapa
suhunya kelihatan menyesal dan berduka, dia cepat
menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata,
"Harap suhu suka mengampunkan teccu yang telah lancang
tangan menghajar mereka itu. Mereka itu keterlaluan sekali
sehingga teecu tidak dapat menahan kesabaran lagi."
"Sian Lun, apakah engkau tidak dapat melihat bahwa
kesabaran yang ditahan-tahan itu sama sekali tidak ada
artinya? Belajar sabar adalah omong kosong belaka!"
"Akan tetapi, suhu. Kalau kita tidak belajar sabar, bukankah
kita lalu menjadi pemarah besar ?"
"Hemm, engkau membiarkan diri terperosok ke dalam
perangkap dari kata-kata yang berkebalikan. Marah-sabar,
benci-cinta, dan sebagainya. Baik sabar dan cinta, maupun
marah dan benci, semua itu tidak mungkin dapat dipelajari.
tidak mungkin dapat dilatih, muridku. Apakah engkau tidak
dapat melihat kenyataan ini ? Kalau engkau mempergunakan
kemauan untuk bersabar, memaksa hati bersabar menahan
kemarahan, hal itu hanya merupakan penipuan diri belaka,
kesabaran macam itu hanyalah merupakan penutup
sementara belaka terhadap api kemarahan, seperti api dalam
sekam. Kesabaran macam itu hanya berlaku sementara saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan api kemarahan akan berkobar lagi sewaktu-waktu, bahkan
lebih hebat, karena dengan penutup kesabaran itu engkau
mengumpulkan kekuatan api kemarahan."
"Habis bagaimana, suhu? Bagaimana kalau teecu diserang
nafsu amarah? Tanpa kesabaran, marah itu tentu akan
membuat teecu mata gelap dan melakukan hal-hal yang amat
hebat akibatnya. "
"Itulah biang keladinya! Mata gelap! Mengapa harus mata
gelap? Mengapa kita tidak mau membuka mata batin kita
setiap saat sehingga jika datang kemarahan, kita juga dalam
keadaan sadar dan dapat memandang kemarahan itu,
menyelaminya tanpa menerima atau menolaknya?
Menghadapi kemarahan kita dengan penuh kewaspadaan,
dengan penuh kesadaran, dengan demikian kita dapat
menyelaminya, mempelajarinya, menyelidikinya dengaa teliti
apa yang dinamakan kemarahan itu."
"Akan tetapi, suhu, kalau kita waspada dan sadar selalu
dan setiap saat, mana ada kemarahan ?"
"Itulah! Mengapa kita tidak mau waspada setiap saat
terhadap diri sendiri lahir batin. Kemarahan, kekecewaan,
penderitaan karena benci, penyelewengan-penyelewengan
yang dinamakan kejahatan, semua itu merupakan akibat dari
pada kelalaian, kelengahan, akibat dari keadaan kita yang
tidak sadar, tidak waspada. Kalau kita selalu waspada dan
sadar, apakah ada kemarahan? Dan kalau tidak ada
kemarahan lagi di dalam diri kita, apakah perlu belajar sabar?
Sebaliknya, kalau masih ada kemarahan di dalam hati, apa
gunanya belajar sabar? Muridku, kenyataan ini harus
kausadari dan kaulihat benar - benar. Coba kaulihat
perbuatanmu tadi. Mengapa engkau marah kepada anak buah
Lam - ong itu?"
"Karena mereka kejam, karena mereka melakukan
kekerasan terhadap para nelayan mengandalkan kekuasaan
mereka." Setelah berpikir cepat, dia menambahkan, "Karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka mengancam nyawa teecu dan para nelayan yang tidak
taat kepada mereka, karena mereka sewenang - wenang."
"Bagus! Sekarang lihat tindakanmu tadi. Apakah bedanya
dengan tindakan mereka setelah tindakanmu itu dituntun oleh
kemarahan yang menimbulkan kebencian? Lihat baik-baik.
Apakah engkau juga tidak sama kejamnya dengan mereka
ketika engkau melakukan kekerasan kepada tujuh orang itu?
Seperti juga mereka, engkau tadi dalam keadaan marah teIah
melakukan kekerasan dengan mengandalkan kekuasaanmu,
dalam hal ini, ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari mereka.
Seperti juga mereka yang mengancam nyawa orang lain,
engkau tadi juga mengancam nyawa mereka. Karena marah
dan mata gelap, engkau telah melemparkan mereka ke air,
tanpa kau ingat bahwa andaikata mereka itu tidak pandai
renang, hal itu mungkin akan membunuh mereka. Bukankah
dalam kemarahan tadi engkau juga telah bertindak sewenangwenang
tanpa kausadari sendiri?"
Sian Lun melongo, wajahnya berobah agak pucat dan
kembali dia memberi hormat sambil berlutut. Matanya seperti
dibuka dan dia melihat kenyataan yang mengerikan, bahwa
dalam keadaan marah memang perbuatannya tadi tidak
banyak selisihnya dengan perbuatan orang-orang yang
dicelanya tadi!
"Ampunkan teecu yang bodoh, suhu, teecu mohon
petunjuk."
"Petunjuk apa lagi, Sian Lun? Asal engkau waspada setiap
saat, mengamati dirimu sendiri setiap saat dengan penuh
perhatian, dengan kesadaran yang sempurna, maka tidak ada
lagi yang perlu kauketahui dari orang lain. Di dalam
kewaspadaan itu, dalam kesadaran itu sudah penuh dengan
kenyataan, penuh dengan pelajaran."
"Suhu, kalau tadi teecu tidak menghadapi mereka dengan
kemarahan, melihat kekejaman mereka, melihat serangan
mereka, lalu apa yang akan teecu lakukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Sian Lun, kewaspadaan dan kesadaran akan melahirkan
tindakan langsung dan seketika tindakan yang tepat, bukan
tindakan yang di dorong oleh kemarahan dan kebencian.
Tindakan itu akan berbeda sekali artinya. Mungkin untuk
menjaga diri engkau akan merobohkan mereka, akan tetapi
semua itu tidak kau lakukan dalam keadaan membenci
mereka, dan tanpa adanya kebencian, tidak akan ada pula
tindakan kejam. Walaupun boleh saja kelihatan keras, namun
sesungguhnya bukan kekerasan karena tidak didorong oleh
nafsu kemarahan dan kebencian. Mengertikah engkau Sian
Lun?"
Sian Lun mengangguk. "Mudah-mudahan semua ini dapat
membuka mata teecu untuk selanjutnya selalu waspada
terhadap diri teecu sendiri lahir batin dan bertindak seketika
lahir dari kewaspadaan, bukan menurutkan perhitungan
pikiran yang dikuasai oleh kemarahan dan kebencian."
"Ha ha ha, bagus, muridku. Sekarang, apa yang akan
kaulakukan dengan perahu besar yang kaurampas ini?"
"Teecu akan membawanya ke darat, akan teecu
kembalikan kepada pemiliknya asal mereka suka mengganti
perahu nelayan yang kita sewa. Kalau tidak, perahu ini akan
teecu berikan saja kepada nelayan itu untuk mengganti
perahunya yang hancur."
"Kaukira akan begitu mudah? Mari kita lihat apa yang
diakibatkan oleh peristiwa tadi," Siangkoan Lojin berkata dan
Sian Lun lalu mendayung perahu itu ke tepi telaga.
Matahari telah naik dengan cerahnya ketika perahu besar
yang didayung oleh Sian Lun itu tiba di tepi telaga, di mana
malam tadi Sian Lun dan gurunya meninggalkan nelayan
pemilik perahu kecil yang disewanya. Akan tetapi, dia melihat
bahwa bukan hanya nelayan itu yang menanti di situ,
melainkan juga ada belasan orang yang segera berdiri dengan
sikap menyambut ketika perahu besar itu menepi. Mereka itu
adalah orang-orang yang bersikap galak dan gagah, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
anehnya di antara mereka itu tampak dua orang kakek yang
menanti dengan duduk di atas kursi-kursi indah! Aneh sekali
mengapa orang sengaja membawa kursi ke tepi telaga itu.
Belasan orang itu berdiri di belakang dua orang kakek itu
dengan sikap menghormat, ketika Sian Lun dan gurunya
meloncat turun ke darat, barulah nampak oleh Sian Lun
bahwa tidak jauh dari tempat itu terdapat tujuh orang yang
duduk di atas tanah dalam pakaian basah kuyup dan muka
pucat ketakutan. Dia segera mengenal tujuh orang itu sebagai
orang orang yang tadi telah dilempar keluar perahu! Sian Lun
cepat memandang kepada dua orang kakek yang duduk di
atas kursi itu penuh perhatian karena dia dapat menduga
bahwa mereka itu tentulah pimpinan dari gerombolan orangorang
kasar itu. Dan apa yang dilihatnya membuat dia diamdiam
terkejut karena pandang matanya yang tajam dapat
mengenal orang-orang pandai. Kakek pertama bertubuh tinggi
kurus, lebih tinggi dari orang-orang biasa dan seperti biasa
terdapat pada orang-orang yang bertubuh tinggi, kedua
pundaknya agak condong ke depan sehingga punggungnya
kelihatan agak bongkok. Kakek itu biarpun memandang ke
arah Sian Lun dan Siangkoan Lojin dengan sepasang mata
sipit yang bersinar tajam, namun sikapnya tenang saja dan dia
duduk sambil mengisi huncwe (pipa tembakau), sebatang
huncwe yang panjangnya ada dua kaki dan berwarna hitam
mengkilap. Bau asap tembakau yang harum dan aneh
memenuhi sekitar tempat itu. Di sebelah kirinya duduk kakek
ke dua, yang nampak lebih muda dari pada kakek pertama.
Kalau kakek pertama berusia kurang lebih tujuhpuluh tahun,
kakek ke dua ini paling banyak lima-puluh lima tahun usianya.
Tubuhnya tinggi tegap, nampak masih kuat dan wajahnya
pucat bukan karena sakit, melainkan pucatnya seorang yang
sudah tinggi tenaga sinkangnya yang dilatih secara luar biasa
dan melampaui batas. Sepasang matanya cekung dan dari
dalamnya menyambar sepasang sinar mata yang tajam sekali.
Kakek kedua ini duduk sambil menyilangkan kedua lengan di
depan dada, sikapnya agung penuh wibawa dan terbayang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keangkuhan dan sikap memandang ringan ketika dia
memandang kepada Siangkoan Lojin dan Sian Lun.
Tidak mengherankan kalau kakek ke dua itu memandang
rendah. Dia adalah seorang kawakan dalam dunia kang-ouw
yang telah mengenal hampir semua tokoh di dunia kang-ouw,
bukan hanya di dunia kang-ouw wilayah selatan, bahkan
hampir semua tokoh kang-ouw di seluruh daratan ! Kini,
melihat bahwa kakek dan pemuda yang turun dari perahu
besar itu sama sekali tidak terkenal, tentu saja kakek itu
memandang rendah.

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil