Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 07 Mei 2017

Cersil 16 Tiga Naga Sakti Kho Ping Hoo Terbaru

Cersil 16 Tiga Naga Sakti Kho Ping Hoo Terbaru Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil 16 Tiga Naga Sakti Kho Ping Hoo Terbaru
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil 16 Tiga Naga Sakti Kho Ping Hoo Terbaru
Ouw Sek mulai mengadakan kontak hubungan dengan
golongan Tibet dan Khitan. Mereka ini menjadi girang
mendengar bahwa Beng-kauw yang sudah hancur berantakan
itu kini bangkit lagi, bahkan memiliki ketua baru yang
kabarnya malah lebih lihai dari pada mendiang tiga orang
ketua Beng-kauw itu, dan ketua baru ini adalah seorang tokoh
Beng-kauw dari selatan, yaitu pusat dari Beng kauw. Maka,
dengan girang Ba Mou Lama lalu mengirim surat undangan
kepada ketua Beng-kauw ini untuk datang mengadakan
pertemuan dengan para tokoh persekutuan mereka karena
ada hal penting yang perlu dibicarakan. Tempat pertemuan
yang ditunjuk ini adalah di sebuah gedung di puncak bukit di
Pegunungan Tai-hang san, dan gedung ini adalah satu di
antara tempat-tempat peristirahatan dari Thio.thaikam di
istana! Karena itu, maka pertemuan ini tentu saja tidak
menimbulkan kecurigaan orang, apa lagi tempat itu memang
amat sunyi.
Menerima undangan ini, Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek menjadi
bangga dan girang sekali, dan tentu saja dia mengajak
pembantunya, yaitu Bu Siauw Kim yang pada waktu itu bukan
hanya menjadi pembantunya yang setia, akan tetapi juga
menjadi "kekasihnya". Ternyata dua orang ini cocok sekali dan
dalam diri masing-masing mereka menemukan seorang kawan
dan lawan yang amat seimbang dan cocok, sehingga
hubungan mereka menjadi makin mesra dan akrab saja ! Baru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekarang Siauw Kim merasa terbuka matanya bahwa pria-pria
yang ditemukannya sebelum ini, sungguhpun banyak di antara
mereka yang amat dicintanya, namun tidak ada yang cocok
dengan dia. Baru Ouw Sek inilah merupakan pria yang benarbenar
cocok segala-galanya, sama pula seleranya, sehingga
dia merasa memperoleh tempat berteduh atau perlindungan
yang boleh dipercaya. Hal ini tidaklah aneh karena baru
sekarang Siauw Kim menemukan seorang kekasih yang
sebaya usianya, maka tentu saja selera mereka juga tidak
banyak berbeda, apa lagi karena keduanya memang menjadi
hamba nafsu berahi, dan juga mempunyai ambisi besar dan
keduanya selalu mengejar kesenangan duniawi. Maka
cocoklah rnereka sebagai pasangan, baik pasangan untuk
menghadapi lawan di luar maupun sebagai pasangan di dalam
kamar.
***
Ouw Sek dan Siauw Kim jalan berdampingan mendaki jalan
naik ke arah puncak bukit itu. Keadaan di situ sunyi sekali,
nampaknya tidak ada seorangpun manusia di situ. Akan tetapi
kedua orang ini dengan kepandaiannya yang tinggi dapat
mengerti bahwa di balik pohon-pohon, batu-batu besar dan
semak-semak, banyak terdapat orang-orang yang siap dengan
anak panah dan senjata-senjata lain, merupakan penjaga
peniaga tersembunyi sehingga tempat itu menjadi
menyeramkan. Ketika mereka tiba di sebuah tikungan jalan
yang kanan kirinya terhalang batu besar, tiba-tiba, muncul
empat orang tinggi besar yang menggotong sebuah batu
besar sekali. Mereka itu bertubuh seperti raksasa, berkepala
gundul tidak berbaju dan kumis mereka panjang melambai ke
kanan kiri dagu. Batu besar yang digotong empat orang itu
tentu berat sekal dan kiranya takkan dapat terangkat oleh
belasan orang laki-laki biasa. Tanpa banyak cakap empat
orang itu lalu melemparkan batu besar itu ke tengah jalan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tikungan itu sehingga terdengar suara keras dan bumi di
sekitar tempat itu tergetar dan kini jalan itu terhalang oleh
batu besar tadi. Empat orang itu tanpa memandang kepada
dua orang itu lalu pergi dari situ,
Di antara debu yang mengepul ke atas, Ouw Sek dan Siauw
Kim saling pandang, mula-mula terkejut dan tidak mengerti
apa artinya ini. Akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang
sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, mereka segera
dapat menduga karena melihat betapa empat orang tadi tidak
mengganggunya, hanya meninggalkan batu besar itu di situ,
menghalang jalan tepat di depan mereka seolah-olah
merupakan tantangan apakah mereka berdua sanggup
menyingkirkan batu itu. Ouw Sek tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, mereka sungguh memandang rendah kepada
kita, Siauw Kim. Apakah cuma sebegini saja mereka menilai
ketua Beng-kauw?"
Dia lalu menghampiri batu besar yang menutup jalan itu,
menggunakan kedua tangannya dan dia mengerahkan tenaga
lalu mendorong. Batu besar itu bergerak dan terus
didorongnya sampai batu itu menggelinding ke dalam jurang
di sebelah kiri jalan dan menimbulkan suara hiruk-pikuk,
menumbangkan banyak pohon ketika menggelinding turun
dan ketika menimpa dasar jurang menimbulkan suara
menggelegar! Mereka lalu berjalan terus melalui jalan kecil
yang naik itu dan kini sudah nampak gedung mungil itu di
puncak sana.
Akan tetapi ketika tiba di pintu gerbang di luar pekarangan
depan, di situ telah menjaga lima orang laki-laki yang usianya
rata-rata sudah limapuluh tahun. Bangsa Khitan yang
tubuhnya tinggi kurus dan mereka semua memegang sebuah
tombak gagang panjang yang dilintangkan di jalan, saling
menyilang dari kanan kiri dan dari sikap mereka jelaslah
bahwa mereka tidak hendak memberi jalan kepada siapapun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemmm, agaknya mereka masih hendak menguji lagi,
Siauw Kim. Agaknya kita harus menyingkirkan pula tombaktombak
ini !"
"Biar aku yang melakukan itu, kauwcu !" kata Bu Siauw Kim
yang sudah melolos sabuk hitamnya. Dia meloncat ke depan,
menerjang hendak menerobos masuk, akan tetapi lima mata
tombak menyambutnya dengan tusukan! Siauw Kim
mengeluarkan suara lengkingan tinggi, tubuhnya mencelat ke
atas dan kedua kakinya menginjak mata tombak-tombak itu
dengan ringannya, kemudian dia menggenjot dan berjungkir
balik ke atas, kemudian dari atas sabuk hitamnya melayang
turun menyambar ke arah kepala orang-orang itu dengan
totokan totokan seperti ular mematuk matuk! Lima orang itu
terkejut dan menggerakkan tombak mereka untuk menangkis.
Setelah Siauw Kim turun lagi mereka lalu menubruk kedepan
dan mengurung wanita itu dari lima jurusan, membentuk
Ngoseng-tin (Barisan Lima Bintang), tombak mereka saling
melintang dan menutup semua jalan keluar, kemudian sambil
menggereng, seorang di antara mereka nenyerang dengan
tusukan, dan serangan ini lalu diikuti oleh serangan ke dua, ke
tiga dan selanjutnya sehingga wanita di dalam kepungan itu
telah dihujani serangan mata tombak secara bertubi tubi! Bu
Siauw Kim bergerak mengelak ke sana-sini dan kadangkadang
dia menangkis tombak dengan lengan tangannya,
akan tetapi karena jaraknya dekat maka dia tidak dapat
mempergunakan senjata sabuk itu. Dia tidak mau
menggunakan saputangan merah dan hanya mengandalkan
tenaga Thian-lui sin-ciang untuk menangkis kalau sudah tidak
keburu mengelak lagi. Tiba-tiba tubuhnya mencelat lagi ke
atas dengan loncatan tinggi sekali, dan sebelum lima batang
tombak menyambutnya, dia sudah berjungkir balik dan
tangannya yang berada di bawah berhasil menangkap leher
tombak dan mendorongnya sehingga tubuhnya meluncur ke
belakang sejauh lima meter. Begitu dia turun, dia sudah
menggerakkan sabuknya sebelum lima orang itu sempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengurungnya lagi. Sabuk itu seperti seekor naga melayang
dan menyambar-nyambar dan tahu - tahu sabuk itu telah
melibat - libat lima batang tombak yang menangkisnya. Lima
orang itu terkejut dan berusaha untuk menarik kembali
tombak mereka, namun sia-sia saja karena lima batang
tombak itu telah terbelit sabuk. Adu tenaga terjadi dan Siauw
Kim menanti saat yang baik, dan pada saat lima orang itu
mengerahkan tenaga membetot, dia lalu membuat gerakan
menyendal ke atas. Terdengar bunyi keras dan lima batang
tombak itu patah semua, pemegangnya terjengkang lalu
bangkit, menjura dan minggir ke kanan kiri memberi jalan
kepada dua orang tamu lihai itu !
Setibanya di ruangan
depan. Ouw Sek dari Bu
Siauw Kim berhenti
memandang kepada
sekumpulan orang yang
menyambut mereka. Siauw
Kim mengenal Ba Mou Lama,
pendeta Lama berjubah
merah dari Tibet yang lihai
itu, akan tetapi dia diam
saja. Kemudian yang maju
menyambut mereka justeru
adalah Ba Mou Lama sendiri.
Kakek ini memandang
kepada Ouw Sek dan Bu
Siauw Kim penuh perhatian,
lalu tersenyum dan menjura, dibalas oleh dua orang tamu itu.
"Selamat datang, Beng-kauwcu dan toanio yang lihai! Kami
senang sekali bahwa jiwi telah memenuhi undangan kami.
Silakan masuk dan berkenalan dengan rekan rekan kita," kata
Ba Mou Lama yang mempersilakan mereka masuk. Ouw Sek
dan Bu Siauw Kim dengan sikap gagah memasuki ruangan
dalam yang luas dan di mana sudah diatur meja yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disambung sambung, dikelilingi kursi-kursi dan ada belasan
orang berdiri mengelilingi meja itu dan memandang kepada
mereka berdua dengan penuh perhatian. Ouw Sek dan Bu
Siauw Kim tidak menjadi jerih atau canggung dipandang
banyak orang itu, malah Siauw Kim tersenyum manis sekali
dan Ouw Sek membusungkan dada dan menegakkan
kepalanya dengan angkuh. Melihat betapa fihak tuan rumah
diam saja hanya memandang kepadanya seolah-olah menanti
dia bicara, Ouw Sek lalu memperkenalkan diri dan berkata
lantang, "Saya adalah Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, Bengkauwcu
yang baru, dan dia ini adalah Bu Siauw Kim,
pembantuku yang setia. Kami memenuhi undangan cu-wi
untuk berkumpul di sini dan kami girang dapat bertemu
dengan cu-wi (anda sekalian). Seperti telah kami nyatakan
dalam surat-surat kami terdahulu, kami ingin melanjutkan
hubungan antara Beng-kauw dengan para orang gagah dari
Khitan dan Tibet. "
"Omitohud........ sungguh menyenangkan sekali sikap Bengkauwcu!"
tiba tiba Ba Mou Lama berseru dengan gembira.
"Perkenalkanlah, kauwcu, pinceng adalah Ba Mou Lama yang
memimpin pasukan Tibet dan yang kini menjadi tuan rumah.
Ini adalah pembantu dan murid pinceng bernama Sin Beng
Lama. Orang gagah di kanan itu adalah Tai-lek Hoat ong atau
nama aselinya Tayatonga, seorang tokoh dari Khitan yang
lihai."
Ouw Sek sudah mendengar nama-nama ini dari para
anggauta Beng-kauw. maka dia memerhatikan Tai lek Hoat
ong yang bertabuh inggi besar seperti raksasa berkepala botak
ini, yang dikabarkan merupakan seorang ahli silat tinggi dan
juga ahli perang. Dia dan Siauw Kim telah menjura kepada Sin
Beng Lama yang tinggi kurus dan Tai-lek Hoat-ong yang
pendiam.
"Dan sicu yang gagah perkasa itu adalah An Hun Kiong,
seorang tokoh Khitan yang terlenal sekali, murid dari Tai-Iek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hoat-ong dan dia masih keponakan dari mendiang An Lu Shan
yang pernah menggemparkan Tiongkok."
Ouw Sek kembali menjura dan memperhatikan pria tampan
gagah yang tinggi besar ini, yang usianya tentu belum ada
empatpuluh tahun, bermata tajam dan bersikap tenang gagah.
Mereka berdua lalu diperkenalkan dengan yang lain-lain, yang
merupakan pembantu-pembantu utama Bangsa Tibet dan
Khitan, akan tetapi yang diperhatikan oleh Ouw Sek dan Siauw
Kim hanya empat orang itulah, yaitu An Hun Kiong, Tai-lek
Hoat-ong, Sin Beng Lama dan Ba Mou Lama sendiri karena
empat orang inilah yang agaknya merupakan orang-orang
terpenting di antara mereka. Dugaan ini memang benar
karena empat orang itu yang merupakan tokoh-tokoh besar
dan pemimpin-pemimpin dari orang-orang Tibet dan Khitan.
Setelah mereka dipersilakan duduk, semua orang yang berada
di situ lalu duduk mengelilingi meja besar itu. Pelayanpun
datang membawa guci dan cawan arak.!
"Eh, hehheh, Ouw-kauwcu dan Bu-toanio perkenankanlah
kami menghaturkan selamat datang dengan secawan arak!"
kata Ba Mou Lama sambil tertawa dan dia bangkit berdiri dari
bangkunya, lalu menghampiri tempat duduk Ouw Sek dan Bu
Siauw Kim yang berdampingan. Dua orang tamu itu tentu saja
segera bangkit berdiri sambil tersenyum karena keduanya
maklum bahwa tentu fihak tuan rumah ini belum akan puas
kalau belum menguji kepandaian mereka sebelum mau
menerima mereka sebagai sekutu-sekutu baru !
Dengan sikap ramah dan tersenyum, kakek Tibet itu lalu
minta guci arak dari pelayan kemudian mengambil cawan arak
di depan meja Ouw Sek dan menuangkan arak itu ke dalan
cawan itu. Terlalu penuh dia menuangkan arak akan tetapi
tiba-tiba arak itu mendidih dan menguap dari dalam cawan,
seolah-olah cawan itu ditaruh di atas api panas! Ba Mou Lama
menyerahkan cawan yang araknya masih mendidih itu kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ouw Sek sambil berkata, "Harap Ouwkauwcu sudi menerima
suguhan arak selamat datang ini !"
Ouw Sek membungkuk dan tersenyum, menerima cawan
itu sambil berkata, terlebih dahulu dia mengerahkan
sinkangnya, "Terima kasih, locianpwe!" Dan ketika dia
menuangkan arak dari cawan itu, ternyata arak itu masuk ke
dalam mulutnya dalam keadaan membeku seperti telah
berobah menjadi sekepal salju ! Padahal tadi arak itu seperti
mendidih karena panas, dan kini berobah menjadi dingin
seperti es! Melihat ini, semua orang tertegun kagum, dan Ba
Mou Lama juga mengangguk-angguk memandang dengan
kagum. Kemudian kakek ini menuangkan arak ke dalam cawan
Bu Siauw Kim sambil berkata, "Kalau pinceng tidak salah lihat,
toanio pernah menjadi Im-yang-kauwcu, bukan ? "
"Benar, itu dahulu, locianpwe, sekarang aku lelah menjadi
pembantu Ouw-kauwcu, bersama-sama membangun kembali
Beng-kauw yang berantakan dan kami berhasil!" jawab Bu
Siauw Kim dengan senyum tenang.
"Bagus, kami girang mendengar itu toanio. Silakan
menerima ucapan selamat datang dengan secawan arak ini !"
Dia menyerahkan arak dalam cawan itu, akan tetapi kakek ini
menuangkan arak terlalu penuh sampai lebih tinggi dari bibir
cawan, akan tetapi anehnya, arak itu tidak sampai luber, tidak
tumpah, melainkan melengkung di atas bibir cawan,
bergoyang-goyang seperti tertahan sesuatu! Inilah akibat
pengerahan sinkang yang amat kuat!
Semua orang memandang dengan tegang, karena kalau
cawan itu diterima oleh tangan yang kurang kuat, tentu
araknya akan tumpah dan menyiram lengan pemegang
cawan!
Orang yang menghadapi penawaran arak macam ini harus
memiliki tenaga sinkang kuat, kalau tidak dia dihadapkan
dengan hal yang amat menyulitkan dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Menolak jelas tidak mungkin karena menolak pemberian
selamat datang berarti tidak bersahabat, dan menerimapun
tentu akan menderita rasa malu kalau arak itu menyiram
lengan dan baju. Akan tetapi wanita cantik itu sambil
tersenyum tenang mengulurkan tangan menerima cawan itu
sambil mengerahkan sinkangnya.
Dengan tenaga Thian lui-sin-ciang tentu saja mudah bagi
Bu Siauw Kim untuk "menahan" arak itu dalam cawan agar
tidak sampai tumpah, kemudian dia membawa cawan itu ke
mulutnya, menuangkan cawan dan...... arak itu tetap tidak
mau tumpah biarpun cawan sudah dimiringkannya!
Wanita ini lalu
menggunakan bibirnya,
menyentuh arak yang
seperti membeku itu, dan
mencucupnya seperti
orang mencium sehingga
semua orang melihat bibir
yang menggairahkan itu
bergerak dan mencucup -
cucup dan akhirnya arak
itupun habis diminumnya!
Melihat ini, semua orang
berbisik-bisik memuji dan
Ba Mou Lama menjura
kepada mereka berdua.
"Ji-wi ternyata memiliki
sinkang yang boleh juga,
membuat pinceng merasa
kagum!"
Mereka duduk kembali dan tiba tiba An Hun Kiong bangkit
berdiri, memberi hormat kepada Ouw Sek dan berkata. "Harap
Ouw-kauwcu suka memaafkan kami semua. Bukan sekali-kali
kami tidak percaya akan kelihaian kauwcu, akan tetapi harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dimengerti bahwa persekutuan kita adalan suatu usaha yang
amat penting dan membutuhkan bantuan orang-orang yang
berilmu tinggi. Oleh karena itu, mengingat bahwa mendiang
ketua-ketua dari Beng-kauw adalah orang-orang berilmu,
maka kami tentu tidak akan merasa tenang sebelum kauwcu
memperlihatkan bahwa kauwcu sedikitnya tidak kalah pandai
kalau dibandingkan dengan mereka."
Ouw Sek mengerutkan alisnya, diam-diam merasa
mendongkol juga. Setelah tiga kali diuji, masih saja mereka ini
tidak percaya kepada dia dan Siauw Kim! Akan tetapi dia
mengangguk dan tersenyum, lalu berkata, ”Kami siap untuk
menghadapi ujian, silakan siapa yang hendak menguji kami."
An Hun Kiong memandang kepada gurunya. Biarpun dia itu
murid, namun dia dianggap sebagai seorang pemimpin Bangsa
Khitan, maka gurunya sendiri menghormati murid ini dan
melihat pandang mata muridnya, Tai-lek Hoat-ong lalu bangkit
berdiri dan berjalan ke tengah ruangan kosong yang memang
telah disediakan untuk menguji kepandaian para tamu itu.
"Yang terpenting adalah kepandaian kauwcu, maka saya
mempersilakan kauwcu untuk bermain-main sebentar
denganku," kata Tai-lek Hoat-ong sambil menjura ke arah
Ouw Sek.
Ouw Sek tersenyum, bangkit berdiri dan menjura kepada
semua orang. "Maafkan saya." kemudian dia meninggalkan
kursinya dan menghampiri Tai-lek Hoat-ong.
"Saya merasa mendapat kehormatan besar kali boleh
berkenalan dengan ilmu yang tinggi dari Hoat-ong!" katanya
sambil menjura.
"Mari kita main-main sebentar dan jangan sungkansungkan,
kauwcu !" kata Tai-lek Hoat-ong sambil memasang
kuda-kuda.
"Silakan, Hoat-ong!" jawab Ouw Sek yang masih berdiri
biasa saja seolah-olah dia tidak memandang sebelah mata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada pengujinya, Dia tahu bahwa menurut julukannya,
tentu kakek raksasa botak ini memiliki tenaga yang besar
sekali, namun dia tidak merasa jerih karena tenaga besar
bukan merupakan hal yang amat menentukan bagi
pertandingan ilmu silat. Mulailah Tai-lek Hoat-ong menyerang
dan benar seperti dugaan Ouw Sek, pukulan kakek ini
mengandung tenaga besar sehingga terdengar anginnya
bersiutan. Namun, dengan lincah dan mudahnya Ouw Sek
mengelak dari bebeiapa pukulan yang datang berantai itu.
Dari gerakan kakek ini saja Ouw Sek sudah dapat mengukur
ketinggian tingkat lawan dan kalau dia menghendaki, dalam
waktu belasan jurus saja dia pasti akan dapat
merobohkannya. Akan tetapi Ouw Sek adalah seorang yang
amat cerdik dani dia tidak mau tergesa-gesa mencapai
kemenangan. Pertama, hal itu tentu akan membuat hati kakek
Khitan ini tidak senang dan merasa terhina sehingga amatlah
merugikan dalam hubungan persekutuan mereka. Ke dua,
kalau dia terlalui memamerkan kepandaian tentu tokoh-tokoh
lain itu akan curiga dan jerih kepadanya, menganggapnya
berbahaya! Maka dia tidak boleh memperlihatkan
kepandaiannya melebihi tingkat Ba Mou Lama yang
merupakan orang terpandai di situ sehingga dia tidak akan
ditakuti dan dicurigai.
Mulailah Ouw Sek balas menyerang, akan tetapi dia hanya
mengeluarkan sebagian saja tenaganya sehingga setiap kali
mereka saling mengadu lengan, keduanya terdorong ke
belakang seolah-olah tenaga mereka berimbang. Juga Ouw
Sek tidak mengeluarkan jurus-jurus yang ampub, hanya
membalas sekedarnya untuk mengimbangi kepandaian kakek
Khitan itu. Namun, hal ini saja sudah membuat semua orang
di situ tertegun dan kagum sekali. Ternyata kauwcu Bengkauw
yang baru itu mampu menandingi Tai-lek Hoat-ong
sampai hampir seratus jurus!
"Cukup........ kauwcu benar-benar lihai sekali....... !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya Tai-lek Hoat-ong meloncat mundur, mukanya
penuh keringat dan napasnya agak terengah sedangkan Ouw
Sek sama sekali tidak kelihatan lelah. Di sinilah Ouw Sek
mencari kemenangan, kemenangan tipis dengan bukti bahwa
kalau lawan yang tak dapat dirobohkannya itu kecapaian, dia
sama sekali tidak !
Ba Mou Lama berdiri dan bertepuk tangan memuji. Girang
hatinya bahwa dia memperoleh sekutu yang begini pandai,
bahkan lebih tangguh dari pada Tai-lek Hoat-ong!
Hidangan dikeluarkan dan mereka lalu makan minum
dengan gembira setelah dengan resmi Ouw Sek dan Bu Siauw
Kim diterima menjadi sekutu mereka. Setelah selesai makan,
sisa hidangan disingkirkan, meja dibersihkan, dan kini tokohtokoh
lain mengundurkan diri, meninggalkan dua orang tamu
itu bersama empat orang tokoh dari Go-bi dan Khitan.
Kini mereka hanya berenam saja, dari tiga golongan dan
masing masing diwakili dua orang. Maka perundingan yang
amat pentingpun dimulailah dan mendengar apa yang
dibicarakan di situ, diam-diam Ouw Sek dan Bu Siauw Kim
terkejut bukan main, akan tetapi juga girang bahwa mereka
memperoleh kesempatan dalam suatu gerakan yang amat
besar dan hebat !
"Pertama-tama kami ingin mengetahui sampai di mana
pengertian Beng-kauwcu tentang persekutuan ini. Kita
bersama, Bangsa Tibet, Khitan dan perkumpulan Beng-kauw,
telah bersekutu sejak lama. Tahukah kauwcu, sebagai kauwcu
yang baru, untuk keperluan apakah persekutuan ini ?" tanya
An Hun Kiong sambil memandang tajam kepada dua orang
tamu itu. Sebelumnya Ouw Sek sudah mencari keterangan
dari para anak buah Beng-kauw, maka menghadapi
pertanyaan ini dia tidak menjadi gugup.
"Perlukah An-sicu bertanya lagi tentang itu? Kita bersama
mempunyai satu tujuan, yaitu menentang pemerintah Kaisar
Tong tiauw !" jawabnya tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Syukurlah kalau kauwcu sudah yakin akan hal itu. Nah,
sekarang hendaknya kauwcu dan toanio ketahui bahwa usaha
kita sudah mencapai kemajuan hebat sehingga saat-saat
penyerbuan ke kota raja telah kita persiapkan !"
Berita ini amat mengejutkan hati Ouw Sek dan Bu Siauw
Kim karena memang sama sekali dak pernah mereka sangka,
akan tetapi keduanya dapat menekan perasaan dan hanya
memandang kepada orang Khitan she An itu dengan heran.
"Tapi........ untuk itu kita membutuhkan bala tentara yang
amat kuat dan bantuan dari dalam, karena penjagaan tentu
kuat sekali!" kata Ouw Sek.
An Hun Kiong mengangguk-angguk.
"Kami sudah memikirkan hal itu dan kami sudah
mempunyai sekutu yang amat baik di dalam istana sendiri.
Tahukah kauwcu siapa pemilik gedung di mana kita sekarang
mengadakan pertemuan ?"
Dengan sejujurnya Ouw Sek menggeleng kepala.
"Gedung ini adalah milik sekutu kita, yaitu Thio-thaikam
yang amat berkuasa di dalam istana dan merupakan orang
kepercayaan kaisar!"
"Ah, sungguh bagus sekali kalau begitu!" seru Ouw Sek
dengan girang sekali.
An Hun Kiong lalu menceritakan panjang lebar tentang
semua siasat yang telah direncanakan kepada Ouw Sek dan
Siauw Kim. Ternyata secara diam-diam fihak Tibet dan Khitan
ini telah mengadakan hubungan dengan Thio-thaikam yang
diam-diam tak pernah menghentikan ambisinya yang
melangit! Pasukan-pasukan yang kuat dari Tibet, dibantu oleh
anak buah An Hun Kiong, yaitu orang-orang Khitan dan bekas
anak buah pemberontak An Lu Shan, telah siap di luar tapal
batas utara dan barat, menanti saat baik untuk melakukan
penyerbuan. Saat baik ini ditentukan oleh Thio-thaikam yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih mengetahui dan menguasai keadaan di dalam kota raja.
Thio thaikam dengan cerdiknya telah menasihati kaisar agar
kekuatan tentara dipusatkan pada sepanjang pantai timur di
mana sering mengalami gangguan bajak-bajak Jepang dan
orang-orang asingi lain, bahkan kekuatan penjagaan di utara
dan - barat yang oleh Thio-thaikam dikatakan membuang
tenaga sia-sia karena dari sana tidak ada ancaman bahaya itu,
kini ditarik ke timur dan selatan sehingga penjagaan di utara
dan barat amat lemahnya. Para panglima perang yang
dipercaya juga diharuskan memimpin opeiasi di pantai itu.
Kemudian, Thio-thaikam masih menganjurkan agar pasukanpasukan
pengawal dan penjaga keamanan di kota raja
sebagian besar dikerahkan untuk membikin "pembersihan"
terhadap pemberontak-pemberontak seperti Im-yang-kauw,
Beng-kauw, Pek-lian-kauuw dan yang lain-lain, menyusup ke
dusun-dusun dan ke gunung- gunung di selatan.
"Nah, sekarang kita tinggal menanti saat baik itu, menanti
tanda dari Thio - thaikam yang kita tunggu malam hari ini.
Kalau sudah tiba saatnya, maka pasukan pasukan kita akan
menyerbu dan langsung menyerang dan menduduki kota
raja!"
"Dan kaisar? Tentu ada penjagaan amat kuat untuk
melindungi kaisar."
"Akan diusahakan oleh Thio-thaikam agar pada saat itu
kaisar juga keluar dari istana, entah bagaimana caranya
terserah Thio thaikam yang lebih mengetahui keadaan di
sana"
"Bagus sekali! Kami akan mengerahkan anak buah kami
untuk membantu penyerbuan itu!" kata Ouw Sek sambil
menggosok gosok kedua tangannya karena dia
membayangkan keuntungan besar yang hebat kalau usaha
besar itu berhasil. Dia tentu akan berjasa dan memperoleh
kedudukan, setidaknya dia akan dapat menguasai Beng-kauw
seluruhnya, dan tentu dia akan dapat memperoleh banyak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hadiah, belum dari hasil penyitaan-penyitaan dan
perampokan-perampokan dalam penyerbuan itu. Di kota raja
merupakan gudang kekayaan yang berlimpahan !
"Kekuatan pasukan kami sudah cukup." tiba tiba Ba Mou
Lama berkata, "yang dipentingkan adalah bala bantuan yang
membobolkan pintu gerbang dari dalam! Dan itulah tugasmu,
kauwcu. Kalau saatnya tiba, engkau dan anak buahmu harus
sudah menyelundup ke dalam kota raja, dan pada saat
penyerbuan, engkau harus memimpin anak buahmu untuk
menyerang para penjaga pintu gerbang dan membuka pintu
gerbang agar memudahkan penyerbuan kami. Jasamu akan
besar sekali kalau berhasil, kauwcu."
Ouw Sek mengangguk-angguk girang dan mereka lalu
bercakap-cakap sampai malam tiba tentang usaha besar yang
direncanakan itu. Setelah hari gelap, muncullah dua orang
yang berpakaian sebagai perwira dan mereka ini adalah
utusan pribadi dari Thio-thaikam! Mereka membawa surat dari
Thio-thaikam dan setelah membaca surat itu, Ba Mou Lama
lalu cepat berunding dengan An Hun Kiong dan orang she An
ini yang secara pribadi mengadakan hubungan dengan Thiothaikam,
lalu menulis surat balasan dan diberikannya kepada
dua orang yang dijamu oleh para pelayan itu. Dua orang itu
lalu meninggalkan tempat itu membawa surat balasan.
"Saudara semua," kata An Hun Kiong dengan wajah berseri
dan mata bersinar-sinar. "Yang telah lama kita tunggu-tunggu
kiui dataglah. Saat untuk menyerbu kota raja sudah tiba dan
mari kita hancurkan kota raja!" Memang orang she An ini
bersemangat sekali untuk melanjutkan perjuangan pamannya,
An Lu Shan, yang hanya berhasil untuk waktu singkat itu, dan
kini dengan penuh kegembiraan dia sudah membayangkan
betapa usahanya akan lebih berhasil dari pada pamannya! Dia
lalu menceritakan semua yang hadir tentang isi surat Thiothaikam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Thio - thaikam telah berhasil membujuk kaisar untuk
berangkat, melakukan pesiar perburuannya di hutan-hutan
sebelah selatan, ditemani oleh para panglima pilihan dan
pengawal-pengawal yang kuat. Dengan demikian, istana
menjadi kosong dan dalam keadaan seperti itu, Thio-taijinlah
yang berkuasa dan dia yang akan mengatur penjagaan dan
sebagainya! Hari telah ditetapkan, dan seminggu lagi
penyerbuan dilakukan! Ouw-kauwcu harap kau siap dan dalam
waktu itu, agar sernua anak buahmu sudah dapat
menyelundup ke dalam kota raja! Apakah engkau perlu biaya?
Atau senjata?"
Ouw Sek tidak mau merendahkan nama perkumpulannya
dan dia menggeleng. "Kami sudah mempunyai cukup senjata
dan biaya, An-sicu, harap jangan khawatir. Kami akan sudah
siap di kota raja jika saatnya tiba. Akan tetapi apa isyaratnya
untuk kami turun tangan menyerbu penjagaan pintu gerbang
? Dan pintu gerbang yang mana ?"
"Pintu gerbang yang di utara dan barat, dan saatnya adalah
apabila sudah terjadi pertempuran di luar tembok kota raja!
Akan ada mata-mata kami yang menghubungi kauwcu di kota
raja !"
Mereka lalu berunding semalam suntuk dan baru pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka semua pergi,
berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing, Ba Mou
Lama sudah mengirim utusan yang malam tadi dengan
berkuda cepat sekali sudah menyampaika berita kepada para
komandan pasukannya di tapal batas sebelah barat.
Langit penuh mendung, seolah-olah ikut prihatin
menyaksikan ancaman yang berada di atas kota raja, dan
terutama malapetaka yang mengancam rakyat yang akan
dilanda oleh peperangan itu! Perang pergi dan datang, di
gerakkan oleh sekelompok manusia yang berambisi untuk
mencapai kemuliaan dan kedudukan melalui kemenangan,
melalui banjir darah lawan, tentu saja dengan dalih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perjuangan demi rakyat dan sebagainya lagi. Perang tetap
perang, bunuh membunuh, perbuatan paling terkutuk dari
manusia, baik perang itu ditujukan dengan nama apapun juga.
***
Sepekan kemudian gegerlah para penduduk di sebelah
barat dan utara kota raja yang dilanda perang ! Pasukanpasukan
liar Bangsa Tibet, dibantu oleh orang-orang Khitan,
menyerbu dan para penjaga tapal batas yang hanya tinggal
sedikit dan lemah itu, dengan sia - sia berusaha melawan
musuh yang terlalu banyak, Bala tentara Tibet bagaikan air
bah yang datang menyerang, tak dapat dibendung lagi.
Dusun-dusun dan kota-kota diduduki, diserbu, dibakar,
dirampok! Seperti biasa dalam setiap perang, terjadilah hal-hal
yang amat keji, seperti manusia-manusia telah berobah
menjadi iblis sendiri, liar dan buas melebihi binatang papun
juga, terjadi pembunuhan semena-mena, anak-anak dan
wanita dan orang-orang tua dibunuh hanya untuk
melampiaskan nafsu membunuh yang keji. Rumah-rumah
dibakar setelah isinya yang berharga dirampok habis habisan,
wanita-wanita muda diperkosa dulu sebelum akhirnya dibunuh
pula. Gelak tawa seperti iblis di antara jerit-jerit tangis dan
jalan yang dilalui bala tentara Tibet ini bergelimangan darah,
tapak – tapak kaki mereka meninggalkan jejak berdarah! Kota
raja geger gegap gempita! Sama sekali tidak pernah ada yang
menyangka bahwa kota raja akan dapat digempur oleh
pasukan-pasukan liar dari Tibet!
Tadinya tidak pernah ada tanda tanda akan datangnya
penyerbuan ini dan tahu tahu pasukan telah berada di luar
kota raja! Penduduk menjadi geger, para penjaga menjadi
panik karena memang penjagaan kota raja sudah banyak
berkurang kekuatannya. Sebagian besar para pasukan ditarik
ke selatan untuk membantu operasi pembersihan
pemberontak, sebagian mengawal kaisar yang sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpesta memburu binatang di hutan, dan komandankomandan
banyak yang diganti selama kaisar pergi, sehingga
keadaan menjad kacau, banyak perwira yang bersembunyi
ketika musuh sudah mengancam kota raja!
Sementara itu, dengan berpakaian menyamar sebagai
pedagang, sebagai pengemis, dan sebagainya, Ouw Sek dan
Bu Siauw Kim memimpin anak buah mereka yang jumlahnya
lebih dari tigaratus orang itu memasuki kota raja. Sejak
kemarin mereka memasuki kota raja dan menanti saat baik
setelah mereka di dihubungi oleh mata-mata Tibet yang
mengabarkan bahwa pasukan Tibet sudah berada di tengah
perjalanan, dan betapa istana kini telah dikuasai oleh orang
orangnya Thio-thaikam sendiri! Mendengar ini, Ouw Sek dan
Siauw Kim menjadi girang sekali. Ketika sudah terjadi
pertempuran di luar kota raja, Ouw Sek dan anak buahnya
bersiap-siap.
Seperti yang sudah diperhitungkan semula, pasukan kota
raja yang lemah dan kalah banyak itu dipaksa mundur dan
kocar-kacir. Akhirnya pasukan Tibet mulai bertempur melawan
penjaga-penjaga tembok kota raja dan mereka berusaha
membobolkan pintu gerbang utara dan barat. Saat inilah yang
dinanti-nanti oleh orang-orang Beng-kauw yang sudah dibagi
dua, yang di barat dipimpin oleh Siauw Kim dan yang di utara
dipimpin oleh Ouw Sek sendiri. Dengan teriakan-teriakan
dahsyat, kurang lebih seratus limapuluh orang di masingmasing
pintu gerbang itu menyerang dengan hebat. Para
perajurit yang sedang sibuk menghadapi penyerbuan dari luar
dan yang berusaha mencegah orang-orang Tibet itu
mendekati tembok, menjadi terkejut dan mereka itu tidak
sempat membela diri ketika diserang dari belakang sehingga
banyaklah di antara mereka yang roboh! Dalam waktu tidak
terlalu lama, Bu Siauw Kim dan Ouw Sek berhasil membuka
pintu gerbang itu dan bagaikan air bah membanjir, perajurit
Tibet memasuki kota raja dan mulailah terjadi hal-hal yang
amat mengerikan. Para perajurit kota raja dan orang-orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gagah yang membela keselamatan keluarga masing-masing
melakukan perlawanan dan banyak pula orang-orang Tibet
yang robob binasa, akan tetapi karena jumlah mereka lebih
banyak, apa lagi karena Thio-thaikam dan anak buahnya telah
menguasai istana, maka mudah saja bagi para perajurit Tibet
itu untuk masuk ke dalam istana dan menguasai istana!
Orang-orang gagah yang mencoba untuk mencegah
berhadapan dengan orang-orang lihai seperti Ba Mou Lama,
An Hun Kiong, Tai-lek Hoat-ong, Bu Siauw Kim, Ouw Sek dan
tokoh-tokoh lainnya yang berkepandaian tinggi sehingga
banyaklah orang kang-ouw yang ikut tewas dalam peristiwa
penyerbuan bala tentara Tibet di kota raja itu.
Gegerlah seluruh negeri ketika tersiar kabar bahwa kota
raja diduduki oleh pasukan Tibet! Kaisar yang sedang berburu
mendengar berita ini sampai jatuh pingsan. Cepat kaisar
diselamatkan ke kora Cin-san dan di sini di jaga oleh pasukan
yang kuat. Kaisar lalu memerintahkan untuk memanggil
semua panglimanya berkumpul.
Para panglima itu menerima perintah kaisar untuk
mengerahkan dan memanggil semua pasukan yang oleh Thiothaikam
dikirim ke pantai timur dan ke selatan untuk
melakukan operasi pembersihan dengan maksud
mengosongkan kota raja itu, dan memerintahkan pasukanpasukan
itu merebut kembali kota raja dari tangan pasukanpasukan
Tibet dan sekutunya! Gegerlah keadaan seluruh
negeri dengan terjadinya peristiwa pendudukan kora raja oleh
pasukan Tibet yang tidak disangka sangka ini, peristiwa yang
terjadi pada tahun 763!
Panglima Ong Gi sendiri sedang tidak berada di kota raja,
dia merupakan seorang di antara para panglima yang
menerima tugas melakukan "pembersihan" di selatan! Dan ke
mana perginya tiga orang pendekar muda yaitu Tan Sian Lun,
Coa Gin San, dan Gan Ai Ling? Setelah tiga orang muda ini
saling jumpa dan mengambil keputusan untuk bekerja sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melanjutkan perjuangan orang-orang tua mereka, yaitu
menentang pembesar-pembesar penindas rakyat dan
menghadapi para pemberontak, mereka pertama tama pergi
ke An kian untuk menemui Yap Yu Tek dan keluarganya.
Gan Beng Lian, isteri Yap Yu Tek, data Yap Wan Cu,
puterinya, merasa terharu bukan main dan keduanya
bertangis - tangisan ketika bertemu kembali dengan Ling Ling.
Dan Wan Cu juga girang sekali berjumpa dengan Sian Lun,
sungguhpun dia merasa malu-malu, apa lagi ketika digoda
oleh Ling Ling yang mendengar dari bibinya akan keinginan
keluarga itu untuk menarik Sian Lun menjadi suami Wan Cu.
Baru sehari mereka berada di rumah keluarga Yap itu
ketika mereka mendengar akan peristiwa hebat yang terjadi di
kota raja. Ketika mereka mendengar berita itu, kota raja
belum jatuh, akan tetapi pasukan pasukan Tibet sudah
menyerbu mendekati kota raja dan keadaan kota raja amat
terancam bahaya. Bukan main kagetnya tiga orang muda ini
dan mereka bergegas pamit dari keluarga Yap untuk pergi ke
kota raja.
"Kami harus membantu pemerintah menghalau para
penjahat Tibet itu !" kata Sian Lun, ketika mereka semua
berkumpul di gedung Yip-taijin, yang masih menjabat bupati
tua di kota An-kian, karena di sinilah mereka bisa memperoleh
berita yang lebih lengkap.
"Akan tetapi, apa yang dapat dilakukan oleh tiga orang
muda seperti kalian ?" kata bupati tua she Yap yang bijaksana
itu. "Bukan kami memandang rendah kepada kepandaian
kalian, kami sudah tahu bahwa kalian bertiga adalah pendekar
pendekar muda yang berilmu tinggi. Akan tetapi, kalian
bukanlah menghadapi kejahatan beberapa orang penjahat
saja melainkan menghadapi ribuan, bahkan laksaan orang
perajurit Tibet! Mereka itu hanya dapat dilawan oleh pasukan
pula, dan kalau kalian bertindak ceroboh, tentu akan celaka "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih atas peringatan taijin," kata Sian Lun, "kami
tentu akan melihat keadaan dan tidak bertindak ceroboh"
Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamit dan tak dapat
ditahan lagi oleh keluarga Yap. Melihat mereka pergi dengan
tergesa-gesa dan dengan penuh semangat itu, Gan Beng Lian
menarik napas kagum.
"Ah, mereka bertiga itu mengingatkan aku akan kakakku
dan dua orang adik seperguruannya. Tiga ekor naga sakti
yang dulu itu kini agaknya telah muncul pula dengan
kepandaian yang lebih hebat. Mudah mudahan mereka tidak
bernasib seburuk tiga ekor naga sakti yang pertama."
Suaminya, Yap Yu Tek, hanya mengangguk-angguk, dan
Yap Wan Cu yang merasa amat khawatir akan keselamatan
Sian Lun, dan juga kecewa karena dia .ingin membantu
mereka bertiga namun dilarang oleh ayah bundanya
mengingat bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh untuk
dapat diandalkan menghadapi urusan penting dan besar itu,
menunduk dengan prihatin.
"Akan tetapi, ibu, apakah kita hanya akan tinggal diam saja
melihat negara diserbu Bangsa Tibet yang biadab itu? Apakah
kita tinggal berpeluk tangan saja menyaksikan tanah air
dijajah ?" Dara itu bertanya penuh semangat dan perasaan
marah.
"Tentu saja tidak, Wan Cu," kata ayahnya. "Kita akan
membantu pasukan pemerintah dan menjadi sukarelawan.
Akan tetapi mengingat akan bahayanya melakukan
penyelidikan sendiri ke kota raja yang sudah diduduki musuh
tentu saja kita hanya dapat membantu serangan balasan dari
pasukan kita, tidak seperti mereka bertiga itu yang dapat dan
berani saja menyelundup ke kota raja mengingat akan tingkat
kepandaian mereka yang tinggi."
Wan Cu merasa girang sekali dan seperti para orang kangouw
yang merasa marah mendengar betapa kota raja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diduduki pasukan Tibet, ayah, ibu dan anak inipun masuk
menjadi sukarelawan dan membantu pasukan yang melakukan
persiapan untuk melakukan serangan balasan menyerbu kota
raja. Tentu saja penawaran tenaga para orang kang-ouw yang
memiliki kepandaian itu diterima dengan girang oleh panglima
panglima perang yang ditugaskan oleh kaisar dalam
pengungsiannya untuk merebut kembali kota raja dan
membasmi pasukan musuh yang berhasil menduduki kota
raja.
Di kota raja sendiri, terjadilah hal-hal mengerikan.
Berbondong-bondong penduduk pergi meninggalkan kota raja,
pergi mengungsi membawa harta benda dan juga anak-anak
mereka terutama anak - anak perempuan yang sudah remaja
puteri. Akan tetapi hanya sedikit yang dapat lolos karena
sebelum sempat meninggalkan kota raja yang sudah
dicengkeram pasukan musuh, mereka ini dihadang, barangbarang
mereka dirampas dan setiap wanita muda tak perduli
perawan atau sudah mempunyai suami tentu ditangkap
dengan tuduhan "mata-mata". Perampokan, perkosaan, dan
pembunuhan terjadi setiap hari. Seperti biasa dalam keadaan
kacau karena perang seperti itu, semua penjahat keluar dari
sarangnya dan mempergunakan kesempatan itu untuk
mencari keuntungan sebanyaknya, dan untuk melampiaskan
nafsu-nafsu mereka dengan lebih leluasa. Dalam keadaan
perang, selalu muncul penjilat penjilat, penjual bangsa,
pengkhianat-pengkhianat, di samping munculnya pula banyak
pahlawan yang berjuang tanpa pamrih untuk keuntungan diri
sendiri. Maka para penghuni kota raja mengalami penderitaan
lahir batin yang hebat sekali, bukan hanya yang datang dari
para pasukan Tibet dan Khitan dan sekutunya, melainkan juga
dari para penjahat yang menunggangi keadaan kacau itu.
Ba Mou Lama dan para pemimpin pasukan Tibet dan Khitan
bukan tidak tahu akan perbuatan para anggauta pasukan
mereka, akan tetapi atas perintah Ba Mou Lama, memang
para komandan pasukan membiarkan saja semua perbuatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, karena Ba Mou Lama tahu bahwa hal ini merupakan
sekedar "hiburan" yang memperbesar semangat dan
kegembiraan anak buahnya! Selain itu, dia sendiripun sibuk
berbincang bincang tentang kedudukan di kota raja, tentang
rencana tindakan selanjutnya karena dia tahu bahwa fihak
Kerajaan Tong-tiauw tidak mungkin akan tinggal diam saja.
Mereka mengadakan perundingan dengan sekutu sekutu
mereka dan pesta perang diadakan di istana untuk merayakan
kemenangan itu. Semua ini diatur oleh Thio-thaikam!
Pembesar inilah, yang sejak muda tidak pernah kehilangan
ambisinya untuk mencari kesenangan yang lebih besar dari
pada yang telah dimilikinya, yang telah memungkinkan
pasukan Tibet dan Khitan menyerbu dan berhasil menduduki
kota raja.
Memang demikianlah keadaan orang yang telah
diperhamba oleh nafsu-nafsunya sendiri, nafsu keinginan
untuk mengejar kesenangan duniawi! Pengejaran inilah yang
menyesatkan kita, pengejaran ini merupakan bayang bayang
indah, jauh lebih indah dari pada segala yang telah ada pada
kita. Bayang-bayang ini tidak pernah lenyap, bahkan makin
membesar terus sehingga setiap kali sesuatu yang dikejar itu
telah terpegang, maka bayang-bayang ini masih terus
menggoda dengan janji-janji yang lebih indah dan lebih
menyenangkan lagi dan dengan demikian, segala sesuatu
yang telah tercapai akan kehilangan artinya, kehilangan
keindahannya, karena mata selalu disilaukan oleh bayang
bayang yang lebih kemilau itu. Sekali kita diperhamba oleh
bayang bayang yang kita kejar yang kita namakan cita cita,
ambisi, dan sebagainya, maka untuk selamanya kita akan
diperbudak olehnya, kita terseret ke dalam arus keinginan
yang tak kunjung habis. Segala sesuatu yang ada tidak
nampak lagi, tidak indah lagi, tidak menyenangkan lagi karena
yang dianggap paling menyenangkan adalah yang belum
dicapai atau didapatkan itulah, si bayang-bayang itulah! Jelas
bahwa pengejaran terhadap bayang-bayang yang dianggap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
paling menyenangkan, dianggap akan mendatangkan bahagia
ini, merupakan awal dari serangkaian penderitaan hidup yang
tiada habisnya. Karena itu, pertanyaan yang amat penting
untuk kita renungkan adalah: Mungkinkah kita hidup bebas
dari bayang-bayang ini, bebas dari segala keinginan untuk
mencapai atau mendapatkan sesuatu yang tidak atau belum
ada? Mungkinkah kita hidup tanpa mengejar sesuatu yang
belum ada? Melainkan hidup sepenuhnya dengan apa yang
ada?
Baru saja terlaksana apa yang dicitakan oleh Thio-thaikam
untuk dapat menguasai istana, mulailah dia melihat keadaankeadaan
yang amat menggelisahkan dan amat
membingungkan hatinya, yang sama sekali tidak indah seperti
yang dibayang - bayangkan semula. Mulailah dia bingung
melihat betapa pasukan pasukan asing itu tidak saja
merampok, membunuh, dan memperkosa penduduk kota raja,
bahkan para pimpinan Tibet, Khitan dan anak buah mereka itu
agaknya mendesak agar puteri-puteri istana diserahkan
kepada mereka!
Biarpun dia telah mengkhianati kaisar, namun semua itu
dilakukan demi untuk memenuhi ambisinya, untuk mencari
dan memperebutkan kedudukan yang tertinugi baginya, akan
tetapi hal ini bukan berarti bahwa dia merasa benci
bangsanya. Sama sekali tidak, dan tetutama sekali dia tidak
ingin melihat puteri-puteri istana menjadi korban para orang
asing yang telah menduduki kota raja ini. Semenjak kanakkanak
dia tinggal di dalam istana, maka dia merasa seperti
telah menjadi keluarga istana, mana mungkin dia
menyerahkan para putri itu kepada para pimpinan bangsa liar.
Dia tidak menghendaki puteri-puteri istana dihina maka dia
telah mengumpulkan para puteri, termasuk keluarga kaisar, ke
dalam harem dan dijaga oleh pasukan pengawal orang-orang
thaikam yang memiliki kepandaian, dia tidak memperkenankan
siapapun juga memasuki daerah ini. Kalau Thio thaikam sudah
bersekutu dengan orang- orang Tibet dan Khitan, hal ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dilakukan bukan karena dia suka kepada bangsa-bangsa yang
dianggapnya liar ini, melainkan karena dia membutuhkan
tenaga bantuan mereka untuk mencapai cita-citanya, yaitu
merebut kekuasaan tertinggi di istana. Dia sama sekali tidak
bermaksud tunduk kepada mereka.
Menghadapi desakan para pimpinan orang liar itu yang
menghendaki agar para puteri diserahkan kepada mereka,
Thio-thaikam lalu menggunakan akal, yaitu dia memaksa para
dayang yang rata rata masih muda dan cantik cantik di istana,
untuk mewakili para puteri itu melayani para pimpinan orang
Tibet dan Khitan! Sungguh patut dikasihani para dayang ini.
Mereka itu sebagian besar adalah perawan-perawan yang
masih muda, cantik dan pandai. Kini mereka seperti
sekumpulan domba-domba yang lemah digiring memasuki
kandang dimana menanti segerombolan serigala yang haus
darah! Mereka tidak berani menolak atau membantah karena
maklum bahwa hal itu percuma saja, bahkan nasib mereka
akan menjadi makin buruk. Ada beberapa orang dayang yang
berani menolak, dan mereka ini malah dipaksa dan diserahkan
kepada para anak buah rendahan dan mereka menderita nasib
yang amat mengerikan, diperkosa oleh banyak sekali orang
yang buas sampai mereka tewas dalam waktu beberapa hari
saja! Jauh lebih baik diberikan kepada para pimpinan pasukan
musuh, karena dengan demikian mereka dikuasai oleh satu
orang saja! Karena inilah maka para dayang itu terpaksa
menyerahkan diri kepada siapa mereka diserahkan oleh Thiothaikam,
dan memaksa senyum di balik air mata mereka.
Kalau menghadapi para pimpinan orang Tibet bagi Thiothaikam
masih mudah dan dia dapat memuaskan hati mereka
dengan penyuguhan dayang-dayang muda cantik sebagai
pengganti para puteri istana, tidak demikian ketika dia
menghadapi tuntutan Ah Hun Kiong! Orang ini yang merasa
sebagai keponakan mendiang pemberontak An Lu Shan yang
juga sudah pernah berhasil merampas tahta kerajaan, dan
merasa bahwa dia berdarah "bangsawan", maka An Hun Kiong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi penasaran dan marah ketika dia hendak disuguhi
seorang dayang pilihan. Dia merasa direndahkan dan dia
menuntut agar seorang puteri istana diserahkan kepadanya!
bingunglah Thio-thaikam! Akan tetapi, pembesar yang cerdik
ini segera teringat akan seorang wanita, Ci Siang Bwee! Ya,
siapa lagi yang dapat menolongnya kecuali gadis itu. Gadis itu
biarpun tidak sepenuhnya berdarah bangsawan, namun tidak
ada bedanya dengan puteri istana, baik mengenai
kecantikannja maupun kepandaian dan tata susila istana.
Maka dia cepat menyuruh panggil wanita ini dari gedung
panglima baru yang kini belum juga kembali ke kota raja
semenjak diberi tugas membasmi perkumpulan Pek-lian kauw
itu.
Dengan wajah agak pucat karena khawatir Ci Siang Bwee
datang memenuhi panggilan thaikam ini. Dia merasa tidak
enak dan gelisah sekali. Semenjak terjadi keributan, dia selalu
bersembunyi di dalam kamar dan merasa khawatir sekali
karena majikannya atau pria yang dikasihinya, Tan Sian Lun,
belum juga pulang. Untung baginya bahwa rumah itu tidak
diganggu oleh. para penyerbu, karena Tan Sian Lun dianggap
sebagai seorang di antara anak buah Thio thaikam dan
gedung ini dijaga oleh anak buah Thio thaikam.
Ketika melihat gadis cantik itu berlutut didepannya dengan
wajah pucat dan tubuh agak gemetar, Thio thaikam cepat
berkata, "Ah, baik sekali engkau datang, Siang Bwee.
Sekaranglah saatnya engkau membalas segala budi yang
selama ini kulimpahkan kepadamu. Aku berada dalam
kesulitan besar dan hanya engkaulah ang akan dapat
menolongku! "
Siang Bwee mengerutkan alisnya. Orang macam pembesar
ini bagaimana bisa berada dalam kesulitan, pikirnya. Begitu
mendengar bahwa Thio-thaikam berkhianat dan bersekutu
dengan orang-orang Tibet yang menyerbu dan menduduki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kota raja, kebencian dalam hati Siang Bwee terhadap
pembesar kebiri ini makin mendalam.
"Taijin, bagaimana mungkin seorang seperti saya ini dapat
menolong taijin ?" tanyanya dengan suara gemetar dan
jantungnya berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan.
"Siang Bwee yang manis, yang baik budi,, sekali ini tanpa
pertolonganmu, aku akan celaka, bahkan seluruh keluarga
kaisar akan celaka!" Hemm, seolah-olah engkau
memperdulikan nasib keluarga kaisar, pikir Siang Bwee.
Justeru pengkhianatanmulah yang mencelakakan kaisar dan
sekeluarganya!
"Taijin, apakah yang dapat saya lakukan ?" tanyanya
karena dia ingin segera mendengar apa yang dikehendaki oleh
manusia yang berhati palsu ini.
"Siang Bwee, An sicu, yaitu An Hun Kiong pemimpin orangorang
Khitan itu, dia menghendaki seorang puteri istana. Aku
tidak dapat menolaknya, dan satu-satunya jalan bagiku hanya
mengharapkan pertolonganmu. Engkau seoranglah yang
pantas untuk mewakili dan menyamar sebagai puteri istana,
dan melayaninya.! "
Seketika pucatlah wajah cantik dari Siang Bwee ketika dia
mendengar ucapan pembesar yang berperut gendut dan
bersikap kewanita-wanitaan itu. Matanya terbelalak
memandang wajah thaikam itu dan sejenak dia tidak mampu
mengeluarkan suara karena rasa takut dan ngeri seperti
mencekik lehernya dari dalam.
"Tapi........ tapi......."
"Tidak ada tapi, Siang Bwee. Ingat, kita harus membela
negara, harus menyelamatkan keluarga istana! Kalau enekau
menolak, berarti keluarga istana terancam bahaya dan engkau
sendiripun akhirnya tidak akan dapat menyelamatkan diri.
Sebaliknya, kalau engkau menerima dengan suka rela, bukan
hanya engkau berjasa terhadap istana, terhadap negara,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terhadap aku, akan tetapi juga engkau akan hidup terhormat
dan mulia karena An sicu adalah seorang yang berpengaruh
dan berkedudukan tinggi "
Ingin Siang Bwee memaki dan mengingatkan bahwa orang
macam Thio-thaikam tidak patut bicara tentang membela
negara! Seorang pengkhianat seperti pembesar ini dapat
membujuk orang lain untuk berkorban demi keselamatan
keluarga kaisar! Sungguh tidak tahu malu sekali dan bermuka
tebal. Akan tetapi dia tahu bahwa di balik kemanisan sikap
dan kata-kata ini, Thio-thaikam mengancam dan pembesar ini
mempunyai kekuasaan mutlak atas dirinya, apa lagi karena
sampai sekarang Tan-ciangkun yang merupakan satu-satunya
orang yang dapat dipercaya dan diharapkan untuk
menolongnya, belum juga pulang.
"Tapi........taijin, saya.......saya tidak mungkin melakukan
itu.......harap taijin ingat bahwa saya..... saya bukan gadis
lagi, saya adalah isteri Tan-ciangkun....." Siang Bwee berkata
dengan suara terputus - putus, mengharapkan Thio-taijin akan
membatalkan niatnya itu mengingat bahwa dia bukan gadis
lagi, dan juga mengharapkan agar pembesar ini akan jerih
mengingat kepada Tan-ciangkun yang lihai. Akan tetapi,
hatinya menjadi semakin kecut dan gelisah ketika dia melihat
pembesar gendut itu tertawa bergelak mendengar ucapannya,
"Ha-ha ha, Siang Bwee, apakah engkau kira aku begitu
bodoh sehingga tidak tahu bahwa sampai saat ini engkau
masih seorang gadis tiada bedanya seperti dahulu sebelum
engkau diserahkan kepada Tan-ciangkun oleh kaisar? Engkau
belum pernah disentuh oleh Tan-ciangkun! Engkau tidur
terpisah dari Tan-ciangkun, semenjak engkau memasuki
gedungnya sampai sekarang. Tidak perlu engkau membohongi
aku!"
Siang Bwee terkejut bukan main. Tahulah dia kini bahwa di
dalam rumah Tan-ciangkun tentu terdapat mata-mata, dan
bukan tidak boleh jadi bahwa seorang di antara para pelayan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu adalah mata-mata pembesar ini. Dia tidak mampu
membantah dan hatinya terasa makin gelisah. Akan tetapi
karena dia didesak dan tidak melihat jalan keluar untuk
melarikan diri lagi, dia lalu menangis dan dengan nekat dia
lalu berkata, "Tidak taijin! Saya tidak mau....... dan kalau saya
dipaksa, saya akan membunuh diri........ ! Saya adalah milik
Tan-ciangkun....... dan sampai mati saya akan setia
kepadanya !"
Marahlah Thio-thaikam. "Hemm, Siang Bwee, lupakah
engkau kepada siapa engkau bicara? Kalau tidak ada aku, apa
kaukira engkau akan bisa menjadi seorang seperti sekarang
ini? Aku telah mengangkat derajatmu, mendidikmu dan
memeliharamu, kemudian mengangkatmu sampai engkau
menjadi dayang kaisar dan bahkan terpilih dan hampir
menjadi selir kaisar, kemudian atas bujukanku pula engkau
diserahkan kepada Tan-ciangkun oleh kaisar, dan sekarang
engkau berani bicara seperti ini kepadaku ?"
Siang Bwee menangis dan menyentuh lantai dengan
dahinya. "Ampun, taijin....... akan tetapi.......... saya mencinta
Tan - ciangkun, dan ya........ saya akan bersetia kepadanya
sampai mati........"
"Perempuan bodoh! Engkau ditampik olehnya dan engkau
masih ingin bersetia sampai mati? Engkau mencintanya
padahal dia tidak cinta kepadamu? Apakah engkau akan
menyia-nyiakan dirimu, kecantikanmu dan kemudaanmu?
Siang Bwee, kini kesempatan baik terbuka bagimu, Kerajaan
Tong-tiauw telah jatuh dan An-sicu adalah seorang yang tinggi
kedudukannya. Siapa tahu engkau akan menjadi seorang yang
paling tinggi kedudukanmu kelak. Buanglah segala sikap
kekanak-kanakanmu itu dan pergunakan kesempatan ini !"
Akan tetapi Siang Bwee yang masih berlutut itu menangis
sampai mengguguk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak.....! uhu- huh........ tidak........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat bahwa bujukan-bujukannya tidak berhasil dan
bahwa mempergunakan paksaan amat tidak baik karena tentu
An Hun Kiong tidak akan merasa senang menerima seorang
wanita yang dipaksa, apa lagi mungkin saja Siang Bwee akan
benar-benar membunuh diri, maka pembesar yang cerdik itu
lalu merobah siasat. Dia tahu bahwa gadis ini jatuh cinta
kepada Tan Sian Lun, biarpun pemuda itu tidak pernah
menjamahnya, maka dia hendak menggunakan kelemahan ini
untuk memaksanya,
"Baiklah! Engkau hendak bersetia sampai mati? Engkau
hendak membunuh diri kalau dipaksa melayani An-sicu?
Hemm, tidak semudah dan seenak itu, Siang Bwee. Sebelum
engkau mati, engkau akan lebih dulu melihat Tan-ciangkun
kusuruh tangkap dan kusuruh siksa di hadapanmu sampai
mati!"
Tiba-tiba suara sesenggukan itu terhenti seketika dan
wajah yang pucat dan basah air mata itu diangkat,
memandang kepada wajah Thio-thaikam dengan mata
terbelalak, kepalanya digoyang-goyang dan bibirnya yang
gemetar itu berkata lirih, "Tidak......, jangan....... jangan
taijin...... ahhh, jangan bunuh dia......."
"Hal itu sepenuhnya berada dalam telapak tanganmu
sendiri. Siang Bwee. Jangan engkau minta kepadaku karena
engkaulah yang menentukan apakah Tan-ciangkun akan mati
atau hidup. Kalau engkau mau menyerahkan diri secara
sukarela kepada An-sicu, berarti Tan-ciangkun selamat,
bahkan aku sendiri yang akan melindunginya kalau dia
kembali ke kota raja Akan tetapi kalau engkau menolak.......!"
"Saya terima....... ah, apapun akan saya lakukan demi
keselamatannya........" dan gadis itu menangis tersedu - sedu,
menutupi mukanya dan hatinya menjeritkan nama Sian Lun.
"Nah, itu baru benar dan baik. Siang Bwee. engkau
mengorbankan diri demi negara dan erajaan. Pula, engkau
akan dihormati, dimuliakan dan dicinta, maka hal itu sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali bukan pengorbanan diri, engkau malah akan hidup
beruntung dan mulia !" Persetan dengan negara dan kerajaan
dan Thio-thaikam! Demikian hati gadis itu memaki. Dia
meogorbankan diri demi kcselamatan Tan Sian Lun, itu saja!
Andaikata tidak untuk pemuda itu, biar dia diangkat menjadi
permaisuri sekalipun, dia tidak akan sudi!
"Nah, engkau berkemaslah dan rias dirimu baik-baik dan
secantik-cantiknya. Ingat, engkau akan kuserahkan kepada An
sicu bukan sebagai seorang dayang istana, bukan pula sebagai
dayang dari Tan-ciangkun, melainkan sebagai seorang puteri
istana Maka engkau harus mengenakan pakaian puteri istana
dani bersikap sebagai puteri istana."
Sambil menangis, Siang Bwee lalu mengundurkan diri dan
terpaksa dia merias dirinya kemudian dia dibawa dalam
sebuah joli, diantar ke istana, ke kamar An Hun Kiong,
dituntun ke kamar itu seperti seekor domba dituntun
memasuki kandang harimau untuk menjadi mangsa harimau
buas!
Dan Siang Bwee hanya bisa menangis ketika dia terpaksa
menyerahkan dirinya kepada An Hun Kiong. Biarpun pria ini
cukup gagah dan tampan, namun dia memejamkan mata dan
membayangkan bahwa dia menyerahkan diri bukan kepada
orang lain, melainkan kepada Sian Lun! Hanya secara
demikianlah maka dia mampu menyerahkan dirinya dalam
pelukan dan rayuan pria itu.
***
Malam yang sunyi dan gelap, Kota raja seperti kota mati
semenjak pasukan Tibet dan Khitan mendudukinya sepekan
yang lalu. Selain banyak penduduk kota raja yang melarikan
diri mengungsi ke selatan, yang masih tinggal di dalam kota
raja tidak berani keluar rumah, apalagi di malam hari. Bahkan
rumah-rumah yang biasanya kalau malam diberi lampu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gantung di depannya, kini gelap sama sekali. Hal ini tentu saja
menambah gelap jalan-jalan raya dan menambah sunyi
menyeramkan malam itu. Di sana-sini terdengar ratap tangis
dari keluarga yang kehilangan anak gadisnya, kehilangan
suami, kehilangan harta. Namun ratap tangis itu ditahantahan,
karena di samping kedukaan yang besar itu terdapat
pula rasa takut kalau-kalau mereka akan tertimpa malapetaka
lebih hebat lagi dari pada sekedar kehilangan itu, yaitu
malapetaka yang berupa maut. Yang nampak di jalan-jalan
hanyalah para perajurit Tibet yang mabok- mabokan, ada pula
beberapa orang penduduk kota raja yang sudah berbaik
dengan mereka ini, bahkan mempergunakan kesempatan itu
untuk mengeruk keuntungan dari persahabatan ini, dengan
jalan menjilat-jilat.
Dalam keadaan kacau, makin banyak bermunculan orangorang
seperti ini. Mereka ini sudah kehilangan rasa malunya,
bahkan mereka itu berjalan di samping perajurit-perajurit
Tibet dengan dada dibusungkan, seolah-olah pengkhianatan
dan penjilatan mereka itu merupakan suatu keberanian yang
patut dibanggakan! Mereka ini bahkan lebih ganas dari pada
para perajurit musuh itu sendiri! Mereka menggunakan
kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan lahir dan
batin, menjadi petunjuk bagi para perajurit yang berpestapora
itu untuk menunjukkan di mana para perajurit itu bisa
mendapatkan gadis-gadis muda dan cantik. Tentu saja mereka
sendiripun mendapatkan bagian Orang orang seperti ini
tinggal mendatangi sebuah keluarga yang sudah setengah
mati ketakutan itu, mengancam akan melaporkan mereka
sebagai mata mata kalau tidak mau menyerahkan anak
gadisnya, atau sejumlah uang atau perhiasan, kepada orang
orang yang mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan
nafsu-nafsu jahat mereka itu.
Peristiwa-peristiwa seperti itu bukanlah dongeng kosong
belaka. Dapat dilihat terjadi di manapun di bagian dunia ini,
dari jaman dahulu sampai sekarang di jaman modern. Manusia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah begitu diperhamba oleh nafsu nafsu keinginan mengejar
kesenangan, dan di dalam pengejaran ini timbullah kekerasan
kekerasan dan kekejian-kekejian, tidak memperdulikan
kesengsaraan orang lain, perasaan cinta kasih antar manusia
lenyap sama sekali. Nafsu-nafsu keinginan menyesak di dalam
dada dan menanti kesempatan. Maka begitu terdapat
kesempatan, pecahlah semua bendungan dan nafsu-nafsu ini
merajalela, menyeret manusia ke dalam segala perbuatan
biadab yang amat keji! Hukum rimba selalu masih
mencengkeram batin manusia, baik di jaman dahulu maupun
di jaman sekarang ini. Siapa kuat dia menang dan siapa
menang dia berkuasa, kemudian siapa berkuasa dia MESTI
BENAR ! Demikianlah maka terjadi penindasan penindasan,
menggunakan hak kekuasaan untuk bersikap dan bertindak
sewenang-wenang, menindas yang lemah dan tidak berdaya.
Kenyataan seperti ini terjadi di mana-mana di seluruh dunia ini
dan siapakah yang dapat menyangkal kebenarannya? Segala
cara yang ditempuh manusia telah mengalami kegagalan
sama sekali! Tidak akan ada cara apapun, tidak akan ada
orang lain yang dapat merobah keadaan ini yang disebabkan
oleh KITA SENDIRI. Kita semua bertanggung jawab akan
terciptanya "peradaban" dan "kebudayaan" yang bejat seperti
ini. Kita semua yang harus menanggulangi, bukan dengan
jalan merobah keadaan yang disebabkan oleh kita sendiri,
bukan dengan cara merobah orang lain, melainkan dengan
satu-satunya cara, yaitu: ADANYA PEROBAHAN PADA DIRI
SENDIRI! Kita ini penyebab semua itu, penyebab kebencian,
persaingan, permusuhan, iri hati, perbedaan suku dan bangsa,
perang. Oleh karena itu, selama kita tidak berobah, maka
keadaan yang menjadi akibat dari pada sikap batin dan
perbuatan kita itu tak mungkin dapat berobah pula! Perebahan
diri sendiri hanya mungkin terjadi kalau kita mengenal diri
sendiri, dan pengenalan diri sendiri, kepalsuan sendiri,
kemunafikan sendiri, kekotoran sendiri, ini baru terlaksana
kalau kita membuka mata, mengamati diri sendiri lahir batin
setiap saat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid XXXI
BERBAGAI macam agama
memenuhi dunia ini, dipeluk oleh
manusia. Semenjak ribuan lahun
yang lalu manusia sudah
mengenal agama, dan di jaman
ini kiranya tidak ada orang yang
tidak memeluk sesuatu agama,
kepercayaan, atau aliran
tertentu. Akan tetapi mengapa
dunia masih begini kalut,
mengapa perang masih selalu
merajalela dan berkobar,
mengapa cinta kasih antar
manusia masih jauh dari
kenyataan hidup sehari-hari,
mengapa kebencian, pertentangan, permusuhan masih selalu
memenuhi kehidupan kita ini? Kalau kita mau membuka mata
melihat keadaan seperti apa adanya, kalau kita mau mengenal
diri sendiri, maka akan nampaklah nyata bahwa semua itu
adalah karena semua agama, kepercayaan dan aliran atau
isme apapun juga hanya menjadi semacam tempat pelarian
saja bagi kita. Kita ini mau enaknya saja, hanya mau
memperoleh hiburan, jaminan, kepuasan kesenangan, dari
agama-agama, kepercayaan, aliran yang kita anut. Kita mau
enaknya saja, tanpa menghayati isinya atau intinya. Kita tidak
memperoleh apinya, hanya mengejar abu dan asapnya saja.
Orang yang betul-betul beragama, bukan hanya mengaku
beragama, tidak akan mengenal kebencian, tidak akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenal permusuhan Sayang, kita ini hanya pandai mengaku
saja bahwa kita beragama, padahal, agama tidak mungkin
terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Agama dalam arti yang
sebenarnya adalah hidup benar, hidup bajik, hidup bersih! Dan
ini baru menjadi kenyataan kalau batin kita penuh dengan
sinar cinta kasih! Tanpa adanya sinar cinta kasih dalam batin,
maka semua yang kita lakukan adalah pura pura dan palsu
belaka. Tidakkah kita dapat melihat kenyataan semua ini kalau
kita membuka mata?
Suasana di kota raja amat menyeramkan. Kesunyian hanya
kadang-kadang dipecahkan oleh suara ketawa perajuritperajurit
Tibet atau Khitan atau antek-anteknya yang mabok
dan berjalan sempoyongan di tengah jalan bergandeng
tangan, bernyanyi dengan suara parau. Ada pula lapat-lapat
terdengar jerit jerit tertahan suara wanita ketakutan.
Perkosaan masih terjadi di mana saja, baik di tepi. tepi jalan,
di dalam rumah-rumah penduduk sampai ke dalam istana! Di
antara wanita yang menangis terisak-isak di waktu malam itu
termasuk pula Siang Bwee! Akan tetapi tangisnya itu telah
terjadi dua hari yang lalu, dan kini dia hanya tinggal rebah
terlentang dengan sepasang mata sayu, seperti tak
bersemangat lagi, rebah di samping tubuh seorang pria yang
tergolek di sampingnya, yang lengan kirinya masih memeluk
pinggangnya, tubuh An Hun Kiong yang telah menjadi
suaminya tanpa pernikahan! Dia menerima nasib, air matanya
telah kering, namun bayangan wajah Sian Lun tak pernah
lenyap dari depan matanya, baik di waktu dia terpaksa harus
melayani An Hun Kiong maupun selagi dia rebah tak dapat
pulas itu, walaupun dia mengalami keletihan lahir batin.
Tiga sosok bayangan hitam berkelebat di atas wuwungan
rumah-rumah di kota raja. Mereka itu berloncatan yang luar
biasa, cepat namun tetap waspada dan hati-hati. Kaki tiga
orang ini sama sekali tidak pernah menimbulkan suara,
mengerahkan ginkarg mereka dan berloncatan dari atap ke
atap. Mereka adalah Tan Sian Lun, Gan Ai Ling, dan Coa Gin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
San, Tan Sian Lun berjalan di depan sebagai penunjuk jalan
karena pemuda yang telah menjadi seorang perwira di kota
raja ini mengenal jalan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, tiga orang muda
ini saling berjumpa dan bersama-sama mereka pergi
mengunjungi keluarga Yap Yu Tek yang tinggal di An-kian. Di
An-kian inilah mereka mendengar tentang penyerbuan
pasukan Tibet yang menduduki kota raja. Mendengar ini tiga
orang muda yang sakti itu lalu pergi ke kota raja dan sebelum
memasuki kota raja, dengan kaget Sian Lun mendengar
bahwa berhasilnya pasukan Tibet itu menduduki kota raja
adalah atas pengkhianatan Thio-thaikam dan para
pembantunya yang kabarnya adalah orang-orang yang
berilmu tinggi. Tentu saja Sian Lun menjadi marah sekali
kepada musuh besar yang telah mengakibatkan tewasnya
ayah bundanya bahkan, seluruh keluarga ibunya itu, dan
makin bencilah dia kepada pembesar itu.
Tentu saja tiga orang muda yang gagah perkasa ini tidak
hanya menuruti hati panas saja tidak secara ceroboh
memasuki kota raja. Mereka lebih dulu menemui Panglima
Ong Gi dan para panglima lain yang sudah meropersiapkan
pasukan besar untuk menyerbu dan merebut kembali kota
raja, bahkan mereka bertiga juga mengumpulkan semua
anggauta Im-yang-pai, Ling Ling minta kepada Kok Beng
Thiancu dan Cin Beng Thiancu untuk membuktikan bahwa
mereka adalah orang-orang yang masih setia kepada negara,
dan juga untuk membersihkan nama mereka agar mereka
membawa anak buah Im-yang-pai menyelundup ke kota raja
dan bersiap-siap membantu penyerbuan pasukan pemerintah
itu.
Setelah semua persiapan dilakukan dan pasukan-pasukan
pemerintah bergerak dari empat penjuru menuju ke kota raja,
barulah tiga orang pendekar muda itu mendahului mereka dan
malam hari itu mereka menyelinap ke dalam kota raja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempergunakan ginkang mereka yang tinggi sehingga
mereka dapat memasuki kota raja dengan mudah tanpa
diketahui para penjaga Tibet dan Khitan. Nampaklah mereka
kini berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah di kota
raja, menuju ke gedung tempat tinggal Sian Lun. Pendekar
muda ini nenuju ke rumahnya, diikuti oleh dua orang
temannya atau adik-adik seperguruannya di waktu kecil,
dengan hati berdebar tegang. Hati pemuda perkasa ini diliputi
penuh kekhawatiran kan keselamatan Siang Bwee. Akan tetapi
dia menaruh harapan bahwa Siang Bwee akan berada dalam
keadaan aman. Bukankah dia dianggap sebagai pembantu
Thio-thaikam dan setelah ini Thio-thaikam menguasai istana,
tentu gedungnya tidak diganggu dan Siang Bwee yang oleh
semua orang dianggap sebagai selirnya itu akan aman pula.
Lega hati Sian Lun ketika dia dan dua orang muda lainnya
itu tiba di atas gedungnya karena dari wuwungan itu dia dapat
melibat bahwa gedungnya masih terpelihara baik dan tidak
nampak bekas bekas kerusakan, tanda bahwa gedungnya
memang tidak pernah mengalami gangguan. Bahkan di sekitar
gedungnya itu dia melihat beberapa orang perajunt pengawal
Thio-thaikam sendiri melakukan penjagaan, betapapun juga,
pemuda ini tidak berani sembarangan mengajak Ling Ling dan
Gin San masuk. Dia memberi isyarat kepada dua orang itu
untuk tetap bersembunyi di atas wuwungan karena dia
hendak turun sendiri lebih dulu untuk memeriksa keadaan.
Kemudian dia melayang turun melalui belakang gedung dan
menyelinap masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang
yang kelihatan sunyi.
Seorang pelayan wanita hampir menjerit kaget ketika
melihat munculnya seorang laki-laki secara tiba-tiba seperti
setan di depannya Akan tetapi begitu dia mengenal wajah Sian
Lun, dia cepat menjatuhkan diri berlutut dan menangis.
Pelayan wanita itu adalah pelayan pribadi dari Siang Bwee dan
amat mencintai gadis itu, juga wanita inilah satu-satunya
pelayan yang tahu akan rahasia mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ciangkun....... celaka....... celaka .....non Siang Bwe........"
Dia sesenggukan.
Sian Lun menangkap lengan pelayan itu dengan lembut
"Ssstt, jangan keras-keras, mari kita bicara di dalam saja!"
bisiknya dan dia menarik pelayan itu memasuki kamar pelayan
itu di bagian belakang. Sian Lun khawatir, kalau-kalau
percakapan mereka terdengar oleh para penjaga, yaitu para
pengawal Thio-thaikam karena bagaimanapun juga dia masih
merasa curiga kepada para pengawal ini, mengingat
pengkhianatan Thio-thaikam. Setelah berada di dalam kamar,
pelayan itu berkata dengan suara bisik-bisik, sambil menahan
banjirnya air mata,
"Siocia....,telah dipaksa oleh Thio taijin ....... dibawa ke
istana dan diberikan kepada ........ seorang pembesar
Khitan....."
Terkejutlah hati Sian Lun mendengar ini, dan jantungnya
berdebar, mukanya terasa panas tanda bahwa dia marah
sekali. "Apa? Diberikan kepada orang Khitan? Kenapa dia
mau........?!"
Pelayan kepercayaan Siang Bwee itu, seorang wanita yang
usianya sudah empatpuluh tihun, telah mendengar penuturan
Siang Bwee sebelum nona itu pergi, maka kini tanpa raguragu
lagi dia berkata. "Ciangkun, siocia pergi karena terpaksa,
karena Thio-taijin mengancam bahwa kalau dia tidak mau,
maka Thio-taijin akan menangkap ciangkun dan akan
menyiksa ciangkun sampai mati di depan siocia! Itulah yang
membuat siocia tidak berdaya dan terpaksa menurut, demi
keselamatan ciangkun! Tadinya siocia sudah mau membunuh
diri saja, akan tetapi mengingat akan ancaman Thio-taijin, dia
terpaksa menurut........" Wanita ini menangis lagi.
Wajah Sian Lun berobah-robah, sebentar pucat sebentar
merah, hatinya seperti ditusuk rasanya. Dia tahu betapa Siang
Bwee amat mencintanya, dan kini dia merasa amat terharu.
Wanita itu telah membuktikan cintanya yang amat mendalam,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan cara yang paling mengerikan, yaitu rela berkorban diri
dan kehormatan demi keselamatannya
"Kapan dia....... dibawa ke istana ?" tanyanya, menahan
marah.
"Sudah dua hari, ciangkun. Aduh, kasihan sekali dia ..........
harap ciangkun suka menolongnya, dengan jalan apapun......"
Pelayan itu berkata lirih sambil terisak.
"Siapa nama orang Khitan itu ?"
"Disebutnya An-sicu, entah siapa namanya yang
lengkap......... akan tetapi kabarnya dia merupakan orang
paling penting di istana sekarang, pemuka orang-orang Khitan
di sana ......... "
"Hemm......, aku akan segera ke sana, tenangkan hatimu
dan jangan menceritakan kepada siapapun juga tentang
kedatanganku ini”. Setelah berkata demikian, Sian Lun
meloncat keluar dan terus melayang naik ke atas genteng. Dia
melihat Gin San dan Ling Ling masih mendekam di atas
wuwungan, maka dia lalu memberi isyarat kepada dua orang
itu untuk mengikutinya. Melihat betapa Sian Lun meloncat
pergi tanpa mengeluarkan kata-kata dan dari sinar bulan
dapat dilihat sepasang matanya bersinar tajam, Gin San dan
Ling Ling merasa heran dan mereka itu hanya dapat cepat
mengejar. Tiga bayangan orang ini kembali tampak
berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah di kota raja,
dan Sian Lun membawa dua orang temannya itu menuju ke
istana! Terkejutlah hati Gin San dan Ling Ling menuju
bangunan istana yang dikelilingi tembok benteng yang kuat
dan terjaga ketat oleh pasukan Tibet dan Khitan itu.
Mereka mendekam di tempat gelap, tak jauh dari pintu
gerbang, mengintai. Kesempatan ini pergunakan oleh Ling
Ling untuk berbisik,
”suheng, mengapa engkau mengajak kami kesini?
Bukankah di depan itu istana?" Sian Lun mengangguk, sukar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjawab, dadanya bergelombang tanda bahwa pemuda tu
amat marah.
"Suheng, apakah kita akan menyerbu istana?" Gin San juga
berbisik dan memandang kepada Sian Lun dengan alis
berkerut karena kalau memang itu yang dikehendaki
suhengnya, maka amatlah berbahaya. Mana mungkin mereka
bertiga saja menghadapi pasukan pengawal istana yang tentu
amat banyak jumlahnya, di samping adanya banyak orang
pandai di situ? Dia tidak percaya bahwa suhengnya akan
demikian ceroboh!
Akan tetapi Sian Lun mengangguk! "Aku....... aku harus
menyelamatkan seorang dari sana ...... !" Jawabannya
demikian pasti dengan suara demikian kering sehingga Ling
Ling dan Gin San saling pandang dan tidak berani bertanya
lagi.
"Mari kalian ikut bersamaku....... " Akhirnya Sian Lun
berbisik dan tanpa menanti jawaban pemuda ini sudah
menyelinap di antara bayangan-bayangan gelap mencari-cari
bagian tembok yang kiranya dapat dilewatinya untul
memasuki daerah istana. Untuk ini, mereka kembah
berlompatan ke atas wuwungan rumah rumah yang berada di
sekitar tembok kokoli kuat yang mengelilingi daerah istana itu.
Tiba tiba Ling Ling menyentuh lengan Sian Lun yang berlari
di depannya. Pemuda ini berhenti, juga Gin San berhenti. Ling
Ling berbisik. "Dengar........!"
Dua orang pemuda itu mencurahkan perhatian dan
terdengar oleh mereka jerit tertahan seorang wanita, agak
jauh di sebelah kanan. Sian Lun mengerutkan alisnya dan
menggeleng kepala, lalu menuding ke arah istana. Jelas
maksudnya untuk mencegah sumoinya itu mencampuri urusan
itu karena mereka ada pekerjaan di dalam istana. Akan tetapi
Ling Ling berkata, " Kalau kalian tidak mau menolong, biarlah
aku sendiri yang pergi menolong !" Setelah berkata demikian,
tanpa banyak cakap lagi dia lalu meloncat ke kanan, terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berloncatan ke arah wuwungan rumah dari mana dia
mendengar suara jerit tertahan seorang wanita tadi. Setelah
dia berada di atas wuwungan, jelas terdengar tangis seorang
wanita yang diseling suara wanita itu mengeluh dan merintih,
minta-minta ampun.
Ling Ling cepat membuka genteng rumah dan apa yang
nampak olehnya membuat dara ini mengatupkan gigi keraskeras
dan mengepal kedua tinju tangannya. Di dalam ruangan
di bawah genteng itu dia melihat pemandangan yang amat
mengerikan. Mayat seorang laki-laki rebah miring di atas lantai
dengan leher hampir putus dan melihat betapa darah masih
mengalir dari leher itu, dapat diketahui bahwa pria itu belum
lama dibunuh. Dan dekat mayat itu, di atas lantai, nampak
seorang wanita muda, berusia kurang lebih tigapuluh tahun,
dengan wajah manis namun pucat dan matanya liar
ketakutan, rambutnya yang hitam panjang itu terurai,
pakaiannya robek-robek sehingga nampaklah sebagian besar
dadanya dan pahanya, berlutut mendekap seorang anak
berusia baru beberapa bulan dan melihat keadaan anak itu
jelas bahwa anak itupun telah menjadi mayat dan agaknya
mati dipukul atau dibanting karena tidak ada lukanya. Lima
orang laki- laki bangsa Iibet yang tinggi besar mengerumuni
wanita itu, agaknya mereka ini gembira sekali melihat wanita
itu meratap sambil mendekap anaknya yang telah mati, di
dekat mayat suaminya. Wanita itu menangis terengah-engah.
Tiba-tiba seorang Tibet yang berkumis panjang melingkar
ke bawah, yang agaknya merupakan pemimpin dari temantemannya,
melangkah maju dan sekali renggut dia telah
merampas mayat anak kecil itu dari dekapan ibunya dan
melemparkannya ke sudut.
Wanita itu menjerit, bangkit berdiri dan hendak mengejar
anaknya, akan tetapi orang Tibet berkumis panjang dan
bertubuh tinggi besar itu kembali menggerakkan tangannya
dan menangkap pundak wanita itu. Terdengar suara berbrebet
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan semua pakaian yang masih bersisa di tubuh itu terobek
dan wanita itu menjadi telanjang sama sekali. Mereka berlima
tertawa dan si kumis itu sudah memondong tubuh wanita ini
dan melemparkannya ke atas dipan yang berdiri di sudut.
Akan tetapi pada saat itu nampak bayangan hijau berkelebat
dan Ling Ling sudah melayang turun ke dalam ruangan itu.
Dara ini sekarang telah berganti pakaian dengan warna
kesukaannya yaitu warna hijau muda, tidak lagi berpakaian
serba putih seperti ketika dia masih membantu lm-yang-pai.
Saking marahnya, begitu dia melayang turun, dengan
ginkangnya yang memang luar biasa, Ling Ling sudah
menyambar ke arah orang Tibet yang hendak memperkosa
wanita itu dan sekali tangannya bergerak, terdengar suara
"prakkk!" dan tubuh pria itu terjengkang dan tewas di saat itu
juga dengan kepala retak !
Empat orang temannya terkejut dan majulah mereka ketika
melihat munculnya seorang dara cantik berpakaian hijau yang
kini berdiri dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan
memandang kepada mereka. Empat orang Tibet ini sudah
mencabut senjata Mereka masing-masing, yaitu sebatang
golok yang besar dan tajam berkilauan. Namun Ling Ling yang
sudah-marah sekali itu tidak memperdulikan hal ini, bahkan
dia sudah melengking nyaring dan tubuhnya menyambar ke
depan. Empat orang itu menyambutnya dengan bacokan golok
masing- masing, akan tetapi tahu tahu bayangan dara itu
lenyap dan sebelum mereka dapat melihat ke mana perginya
dara itu, seorang di antara mereka memekik,dan roboh tewas
pula dengan kepala retak, dipukul dari samping oleh jari-jari
tangan halus yang mengandung kekuatan dahsyat itu !
Pada saat-itu, berkelebat dua bayangan lain dan Sian Lun
bersama Gin San sudah berada di situ pula. Mereka tadi
melihat dari atas dan ikut merasa marah sekali menyaksikan
kekejian yang dilakukan oleh lima orang Tibet itu, maka
mereka kini melayang turun setelah Ling Ling merobohkan
dua orang. Hampir berbareng tiga orang pendekar muda ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergerak dan tiga orang Tibet itu sama sekali tidak
memperoleh kesempatan untuk mengelak atau melawan
karena gerakan tiga orang pendekar itu terlalu cepat bagi
mereka sehingga mereka itu dalam segebrakan saja sudah
roboh dan tewas semua.
"Aihhh.........!" Ling Ling menjerit. Dua orang suhengnya
menengok dan mereka itu menarik napas panjang melihat
betapa wanita yang telanjang bulat dan hampir diperkosa oleh
lima orang Tibet itu kinipun sudah menggeletak di samping
suaminya sambil mendekap anaknya, dan sebatang golok
menancap di dadanya. Kiranya wanita ini sudah putus asa dan
nekat melihat suami dan anaknya tewas, maka dia mengambil
sebatang golok milik seorang Tibet yang tewas, lalu dia
membunuh diri selagi tiga orang pendekar itu menghadapi tiga
orang Tibet tadi. Kini wanita itu rebah dengan darah
bercucuran dan tewas seketika karena goloknya menembus
jantung. Ling Ling yang meloncat dekat dan memeriksanya,
melepaskan lagi wanita itu dan bangkit berdiri sambil
mengepal tinju.
"Manusia-manusia biadab keparat! " Dia menendang kepala
seorang di antara lima mayat orang Tibet itu.
Gin San memeriksa seluruh rumah akan tetapi tidak ada
orang lain di tempat itu kecuali mayat ayah ibu dan anak itu
ditambah mayat lima orang Tibet. "Kita bakar saja rumah ini"
katanya.
"Jangan !" kata Sian Lun. "Hal itu akan menarik perhatian
dan menghalangi kita masuk istana !"
"Akan tetapi, suheng, memasuki istana amat berbahaya,
dan kita sudah berjanji untuk membantu pasukan kerajaan
menyerbu kota raja ........" Gin San membantah.
"Mari......." Sian Lun tidak banyak cakap lagi dan sudah
meloncat keluar rumah itu. Terpaksa Ling Ling dan Gin San,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setelah saling pandang dan pemuda ini mengangkat kedua
pundaknya, cepat pula mengejar.
Dengan menggunakan kepandaian mereka tiga orang muda
perkasa itu akhirnya berhasil meloncati pagar tembok yang
mengelilingi daerah Istana dan mereka menyelinap melalui
bayangan-bayangan gelap. Sian Lun selalu menjadi penunjuk
jalan, biarpun pemuda ini sendiri belum begitu hafal akan
keadaan daerah istana sedikitnya dia pernah memasuki istana
dan dapat mengira-ngira di mana letaknya tempat tinggal
Thio-thaikam. Karena pembesar inilah yang akan
didatanginya. Dia sudah mengatur siasat ketika melakukan
perjalanan tadi. Dia harus lebih dulu menangkap pembesar ini,
menjadikannya sebadai sandera untuk memaksa pembesar ini
membebaskan Siang Bwee! Pada saat itu, Sian Lun sudah
tidak memikirkan hal-hal lain lagi, bahkan sudah melupakan
rencana penyerbuan pasukan kerajaan. Yang teringat olehnya
hanyalah satu hal, yaitu menyelamatkan Siang Bwee !
Kita tidak bisa menyalahkan Sian Lun dalam hal ini.
Memang demikianlah kita manusia pada umumnya, selalu
hanya memikirkan kepentingan diri sendiri belaka. Semua
perbuatan kita dikendalikan oleh pikiran, dan pikiran ini
mencinta si aku yang paling penting! Semua perbuatan seperti
itu bersumber kepada aku atau kepada orang-orang atau
benda benda yang terikat dengan si aku. Maka yang
terpenting adalah keluargaku, suku bangsa negaraku,
agamaku, sahabatku dan selanjutnya lagi, pendeknya milikKu.
Jangan ganggu uangku, keluargaku, agamaku, akan tetapi
kalau mengganggu uang orang lain, keluarga atau agama
orang lain, terserah ! Hal ini sudah begitu mendalam
mempengaruhi kehidupan kita sehingga dianggap sudah layak
dan benar, sudah menjadi kebudayaan kita ! Cinta kita bukan
lagi cinta murni antar manusia, melainkan cinta kepada diri
sendiri karena yang kita cinta itu adalah sumber kesenangan
untuk diri kita sendiri. Maka begitu sumber kesenangan itu
diganggu, berarti mengganggu diri kita sendiri lan marahlah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita! Kesenangan ini menimbulkan ikatan-ikatan, dan ikatan
membuat kita memihak Tentu saja hal ini mendatangkan
permusuhan karena masing-masing mempertahankan sumber
kesenangan sendiri-sendiri. Ikatan terhadap sumber
kesenangan inilah yang kita hias dengan kata "cinta" !
Demikian pula dengan Sian Lun. Karena ia menganggap
Siang Bwee sebagai seorang wanita yang amat baik
kepadanya, yang telah ia berkorban untuknya, maka timbullah
ikatan dalam batinnya terhadap dara itu. Marahlah ia ketika
mendengar bahwa Siang Bwee direbut orang. Dan dalam
keadaan seperti itu, yang diingat hanyalah menolong Siang
Bwee seorang, dan andaikata tidak ada Ling Ling yang
memaksa, kiranya diapun tidak akan perduli mendengar jerit
tangis seorang wanita lain. Seperti juga kita tidak pernah
memperdulikan penderitaan orang lain karena kita menjadi
buta oleh perasaan iba diri terhadap penderitaan sendiri, oleh
rasa ke-aku-an yang selalu mengembang dan meluas itu.
Maka timbul pertanyaan kepada diri sendiri. Mungkinkah kita
hidup bebas, dalam arti kata tanpa adannya ikatan dalam
batin kita terhadap apa dan siapapun juga? Kembali,
pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban lisan, karena
jawaban kata - kata hanya akan merupakan pendapatpendapat
dan teori-teori usang yang hanya berguna untuk
dipergunakan dalam perbantahan dan perdebatan yang
menyesatkan saja. Jawabannya hanya dapat kita cari dalam
penghayatan, dalam kehidupan kita sehari hari.
Dari para pengawal yang menjaga gedung itu tahulah Sian
Lun bahwa Thio-thaikam kini telah tinggal di dalam istana
bagian barat, di mana dahulu menjadi tempat tinggal keluarga
kaisar sendiri ! Maka ke tempat inilah Sian Lun mengajak sute
dan sumoinya pergi, berindap indap dengan hati-hati sekali.
Dia tidak tahu di mana Siang Bwee ditahan, tidak tahu di
mana adanya orang she An, orang Khitan yang kini memiliki
dara itu. Maka dia sudah mengambil keputusan untuk
menangkap Thio-thaikam !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dapat dibayangkan betapa gembira hatinya ketika tiba tiba
dia mendengar suara thaikam itu tertawa-tawa dan bercakapcakap.
Cepat dia memberi isyarat kepada Ling Ling dan Gin
San untuk mengikutinya, berindap-indap menuju ke sebuah
ruangan di dalam, menyelinap melalui pagar rendah dengan
lompatan-lompatan kilat. Akhirnya tibalah mereka di sebuah
ruangan di mana nampak Thio thaikam duduk minum arak,
ditemani oleh dua orang sambil tertawa-tawa dan bercakapcakap.
Seorang di antara mereka dikenal oleh Sian Lun karena
orang ini bukan lain adalah Tiat-liong Liem Kiat, pengawal
pribadi Thio-thaikam yang lihai itu. Dan di sebelahnya duduk
seorang kakek tua yang berpakaian seperti seorang tosu,
sikapnya masih gagah dan tosu ini agaknya tidak memantang
makanan berdarah. Dia makan daging dan minum arak
dengan sikap biasa saja, biarpun dia tidak ikut tertawa-tawa
seperti yang dilakukan oleh Thio thaikam dan Liem Kiat.
Melihat bahwa Thio-thaikam hanya ditemani oleh Liem Kiat
dan tosu yang tidak dikenalnya itu, Sian Lun kehilangan
kewaspadaannya. Dia merasa yakin akan dapat menangkap
pembesar kebiri gendut itu maka tanpa banyak cakap lagi dia
lalu meloncat ke dalam ruangan itu! Melihat ini, tentu saja
Ling Ling dan Gin San juga cepat mengikutinya, berloncatan
ke dalam ruangan.
"Aha, kiranya baru muncul sekarang!" Liem Kiat mengejek
dan perwira ini sudah bangkit berdiri melindungi Thio-thaikam,
sedangkan tosu tua itupun bangkit berdiri dan dengan tenang
memandang Sian Lun.
"Thio-thaikam, engkau manusia keparat, pengkhianat keji
!" Sian Lun sudah membentak dan menerjang ke depan
dengan maksud menangkap pembesar itu, akan tetapi Liem
Kiat menyambutnya dengan pukulan Ang-se-ciang yang sudah
dipersiapkannya semenjak tadi. Melihat pukulan ini, Sian Lun
mengelak dan kakinya menyambar sedemikian cepatnya
sehingga hampir saja lambung Liem Kiat terkena tendangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalau dia tidak cepat melempar tubuhnya ke belakang sambil
berteriak,
"Suhu....... !"
Tosu itu sudah melompat ke depan dan dialah yang
menangkis pukulan lanjutan yang dilakukan Sian Lun terhadap
Liem Kiat.
"Dukkk....... !" Keduanya terkejut dan Sian Lun memandang
tajam kepada tosu itu, jantungnya berdebar mendengar Liem
Kiat menyebut suhu kepada tosu itu. Teringat dia akan
penuturan Siang Bwee tentang kaki tangan Thio thaikam yang
dahulu memusuhi ayahnya.
"Engkaukah Tek Po Tosu ?" bentaknya.
Tek Po Tosu, tosu tua itu, memang sudah mendengar dari
Thio-thaikam bahwa putera keturunan Tan Bun Hong kini
telah menjadi perwira, bahkan menjadi kaki tangan atau
bawahan Thio-thaikam. Ketika Sian Lun tadi muncul, melihat
wajahnya saja dia sudah menduga karena memang wajah
pemuda ini mirip mendiang ayahnya.
"Menyerahlah kepada pinto, orang muda," katanya lembut,
akan tetapi dengan kemarahan meluap Sian Lun sudah
menerjang maju lagi, dengan maksud menangkap Thio
thaikam. Akan tetapi tosu itu menghalangi dan dia lalu
menyerangnya.
Sementara itu, secara tiba-tiba, tempat itu telah penuh
dengan pengawai dan nampak pula beberapa orang yang
membuat Ling Ling dan Gin San terkejut bukan main. Di
antara tokoh-tokoh yang dikenalnya, seperti An Hun Kiong,
Tayatonga atau Tai-lek Hoat-ong, Ba Mou Lama, Sin Beng
Lama dan lain-lain, nampak pula di situ Kim sim Niocu Bu
Siauw Kim dan juga Pek-ciang Cin-jin Oaw Sek ! Tentu saja
melihat dua orang ini, Ling Ling dan Gin San menjadi terkejut
dan juga marah bukan main.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Perempuan iblis, engkau hendak lari ke mana sekarang?"
bentak Ling Ling dan dia segera menerjang Bu Siauw Kim
dengan kemarahan meluap-luap. Bu Siauw Kim tersenyum dan
meloncat mundur. Tempatnya segera digantikan oleh enam
orang pengawal yang serentak maju mengepung Ling Ling.
Dara ini marah dan mengamuk seperti seekor naga sakti.
Demikian pula, ketika melihat Ouw Sek, Gin San
memandangnya dengan muka merah. Dia memang sudah
mendengar berita kejatuhan kota raja ke tangan Tibet itu
memperoleh bantuan dari orang-orang Beng-kauw, bekas
anak buah Beng-kauw utara yang sudah hancur. Tahulah dia
kini setelah dia melihat ke hadiran Ouw Sek di kota raja
bahkan di istana, bahwa tentu orang-orang Beng-kauw itu
dihasut dan diperalat oleh murid Beng-kauw yang murtad ini.
Beng-kauw telah diseret ke dalam lumpur pemberontakan dan
pengkhianatan oleh Ouw Sek.
"Ouw Sek, manusia busuk! Kiranya engkau yang
menggerakkan sisa anggauta Beng-kauw utara !" bentaknya.
Ouw Sek tertawa. "Ha-ha, murid keponakanku yang baik.
Kenapa engkau tidak lekas berlutut kepada paman gurumu?
Aku telah berhasil mengangkat Beng-kauw, kalau engkau mau
membantu, aku akan memberi kedudukan lumayan
kepadamu........"
"Jahanam !" Gin San sudah menerjang dan Ouw Sek yang
amat lihai itu sambil tertawa lalu meloncat ke belakang dan
kembali enam orang pengawal yang menggantikan tempatnya
mengeroyok Gin San.
Tek Po Tosu yang segera dapat melihat bahwa ilmu
kepandaian putera mendiang Tan Bun Hong itu amat tinggi,
jauh lebih tinggi dari pads tingkat kepandaian mendiang ayah
pemuda itu, dan jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya sendiri,
bersama muridnya, Liem Kiat, dia sudah meloncat mundur dan
enam orang pengawalpun sudah menggantikannya. Kini, tiga
orang muda itu dikeroyok oleh belasan orang pengawal yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rata-rata memiliki ilmu silat tinggi dan memang ternyata
bahwa mereka bertiga itu sudah dinanti oleh Thio-thaikam!
Kini, Sian Lun melihat betapa pembesar itu lenyap dari situ,
yang ada hanya jagoan-jagoannya yang berilmu tinggi, yang
kini mengurung tempat itu sambil menonton belasan orang
pengawal mengeroyok mereka bertiga! Tiga orang itu
mengamuk dengan hebat sekali. Sepak-terjang mereka
laksana tiga naga sakti bermain-main di angkasa, beterbangan
dan berkelebatan ke sana ke mari dan dalam waktu beberapa
menit saja mereka masing-masing telah merobohkan enam
orang pengeroyok itu! Akan tetapi, begitu ada yang roboh,
muncul lagi pengawal-pengawal lainnya sehingga mereka
bertiga tetap terkurung terus dengan ketat.
Para pengawal itu sama sekali bukanlah lawan tiga orang
pendekar sakti ini, mereka seperti mentimun melawan durian
saja dan dalam beberapa jurus kemudian, kembali masing
masing pendekar merobohkan enam orang pengeroyoknya.
Akan tetapi tiba-tiba mereka kehilangan semua lawan dan
ruangan itu ternyata telah tertutup dari luar. Selagi mereka
bersiap untuk menerjang keluar dan mendobrak pintu, tibatiba
dari empat penjuru terdengar suara mendesis dan
nampaklah asap kekuningan memasuki ruangan itu, ditiupkan
atau disemprotkan dari luar.
"Sute, sumoi.......awas....... asap beracun .. !"
Sian Lun berseru kaget sekali.
"Tahan napas.......!" Gin San juga berseru kaget. Ketiganya
lalu cepat berusaha mendobrak pintu, akan tetapi pintu itu
terbuat dari baja yang tebal dan kokoh kuat sehingga mereka
tidak sanggup mematahkannya. Sian Lun meloncat ke arah
jendela dan sekali kakinya menendang, jendela itu pecah
terbuka, akan tetapi dari jendela ini menyambar belasan
batang anak panah sehingga dia terpaksa mengelak,
kemudian dari jendela itu disemprotkan pula asap beracun
sehingga tentu saja mereka tidak berani mendekati jendela.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kamar itu makin penuh dengan asap dan betapapun mereka
bertahan, akhirnya mereka tidak dapat menghindarkan asap
memasuki hidung dan mulut karena dari luar berhamburan
senjata-senjata rahasia yang membuat mereka berloncatan ke
sana-sini dan karena pengerahan tenaga ini terpaksa mereka
harus menyedot hawa. Dan robohlah tiga orang pendekar
sakti yang mengamuk seperti tiga ekor naga sakti itu, terbius
oleh asap beracun. Para pengawal yang menutupi muka
dengan saputangan yang sudah diberi obat penawar segera
berlompatan ke dalam, dipimpin oleh An Hun Kiong yang
sudah membawa pedang untuk membunuh mereka.
"Jangan bunuh mereka ! Tangkap dan belenggu agar besok
dapat kita hukum untuk menakut-nakuti teman-teman mereka
yang masih berkeliaran !" Tiba-tiba terdengar Ba Mou Lama
berseru. Karena yang menduduki kota raja dan istana adalah
pasukan besar Tibet, maka tentu saja yang paling berkuasa
pada saat itu adalah Ba Mou Lama. Mendengar seruan ini, An
Hun Kiong tidak jadi menggunakan pedangnya dan dia lalu
memerintahkan orang-orangnya untuk membelenggu ketiga
orang itu dan menyeret mereka ke dalam ruang tahanan di
belakang istana di mana terdapat puluhan orang tahanan lain.
Tiga orang ini dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan
yang kokoh kuat, dan mereka masing-masing dibelenggu
pengan rantai baja pada kaki tangan mereka pada dinding
tembok sehingga tubuh mereka yang pingsan itu bersandar
pada tembok dau tergantung kepada kedua tangan mereka
yang terbelenggu pergelangannya. Selain terbelenggu kaki
tangan mereka dengan gelangan yang ditanam di tembok,
juga belasan orang penjaga dengan anak panah siap di busur
menjaga di luar kamar itu, siap melepaskan anak panah
membunuh mereka andaikata mereka itu berusaha hendak
meloloskan diri. Setelah melihat betapa tiga orang ini tak
berdaya dan terjaga ketat, barulah An Hun Kiong yang
bertugas mengepalai para penjaga ruang tahanan ini,
meninggalkan pesan kepada para penjaga untuk waspada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjaga tiga orang itu, kemudian pergilah dia pulang ke
tempatnya di bagian kiri istana, kembali ke kamarnya untuk
mengaso.
Sementara itu, Ci Siang Bwee yang tadinya duduk di atas
pembaringan dalam kamar mewah itu sambil menangis
mengenangkan nasibnya, mendengar pula akan keributan di
dalam istana. Dari para dayang dan pengawal, dia mendengar
bahwa kekasihnya, Tan-ciangkun bersama dua orang lain
telah menyerbu dan menimbulkan kekacauan dan bahwa
mereka bertiga itu akhirnya dapat ditangkap dan dimasukkan
dalam kamar tahanan untuk menanti hukuman yang akan
dijatuhkan besok pagi. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa
hati Siang Bwee mendengar berita ini, lemas dan lemah
lunglai rasa seluruh tubuhnya! Dia merasa ditipu oleh Thio
thaikam! Dia telah dengan hati hancur lebur menyerahkan
dirinya kepada An Hun Kiong memenuhi permintaan Thiothaikam,
semata mata untuk menyelamatkan nyawa Tan Sian
Lun yang dicintanya. Selama dua malam berturut-turut dia
menangisi nasibnya, dengan amat berduka dia membiarkan
dirinya dikuasai oleh orang Khitan itu, memejamkan mata dan
memperkuat batinnya dengan bayangan bahwa apa yang
dilakukannya itu adalah demi cintanya terhadap Tan Sian Lun.
Dan sekarang, setelah dua hari dua malam dia menyerahkan
dirinya untuk dipermainkan oleh An Hun Kiong, dia mendengar
bahwa Sian Lun telah ditangkap dan akan dihukum mati !
Air matanya sudah diperasnya habis selama dua hari dua
malam ini. Tidak, dia tidak hanya akan menangis saja, dia
harus mencari akal untuk menyelamatkan kekasihnya ! Siang
Bwee timbul semangatnya ketika mengingat bahwa
kekasihnya itu membutuhkan pertolongannya, kalau tidak
akan matilah pria yang dipuja dan dicintanya itu. Dan
waktunya hanya tinggal malam ini ! Siang Bwee mondarmandir
di dalam kamar itu, dengan kedua tangan terkepal,
alisnya berkerut, keadaannya seperti seekor harimau betina
dalam kurungan yang merasa tidak betah di situ dan hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencari jalan keluar. Akhirnya, dia lalu cepat pergi ke kamar
mandi, membersihkan badan dan memakai minyak harum,
berganti pakaian dan merias diri secantik cantiknya !
Dengan tubuh lelah An Hun Kiong memasuki gedungnya.
Begitu menginjakkan kaki di lantai gedungnya, teringatlah dia
kepada Siang Bwee dan alisnya berkerut. Hatinya amat
kecewa. Dia telah mendapatkan seorang wanita yang cantik
dan amat menyenangkan hatinya, seorang gadis yang masih
perawan, yang amat pandai membawa diri, akan tetapi juga
seorang gadis yang patah hati ! Gadis itu hanya menangis
saja, dan biarpun tidak pernah menolak segala tuntutan dan
permintaannya, dan telah menyerahkan diri dengan sukarela
tanpa paksaan, namun dia tahu bahwa dara itu tidak
menyerahkan hatinya dan menyerahkan dirinya secara
terpaksa sekali. Dara itu selalu bermuram durja dan menangis
saja. Kesal juga hatinya. Dia suka kepada wanita itu, dia ingin
wanita itu bahagia dan dapat tersenyum dalam pelukannya,
dapat membalas kasih sayang dan kemesraan yang
dilimpahkannya. Namun gadis itu selalu muram wajahnya dan
tidak pernah mau mengaku mengapa gadis itu berduka.
Sebetulnya, ingin sekali dia memasuki kamar itu, hatinya
sudah penuh kerinduan, akan tetapi bayangan wajah muram
itu membuat hatinya kesal, apa lagi tubuhnya sedang lelah,
maka diapun melewati kamar itu dan hendak pergi ke
kamarnya sendiri untuk mengaso.
"Engkau sudah pulang, taijin..........?"
An Hun Kiong terkejut dan cepat menengok. Pintu kamar
wanita yang diambilnya sebagai selir, karena belum
dinikahinya, itu telah terbuka sedikit dan nampak Siang Bwee
mengintai dari dalam, tersenyum kepadanya dan memandang
dengan wajah berseri namun nampak malu-malu Hampir saja
An Hun Kiong tidak dapat percaya akan pandangan matanya
sendiri dan dia segera menghampiri. Pintu dibuka lebar dan
kembali dia terpesona. Betapa cantiknya Siang Bwee !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pakaiannya serba baru, rambutnya yang dia tahu amat halus
dan hitam panjang itu digelung indah, wajah yang amat
dikenalnya dengan kulit halus kemerahan itu kini dibedaki
halus dan dalam jarak satu meter lebih saja dia sudah
mencium keharuman semerbak dari tubuh dan rambut itu.
Dan wajah itu, sama sekali tidak muram, melainkan berserisenl
Dan mulut yang biasanya cemberut itu dan yang amat
menggairahkan karena bentuknya yang indah, kini tersenyum
dikulum, amat manisnya. Dan mata yang biasanya sayu dan
basah air mata itu kini berkilauan penuh api gairah dan penuh
tantangan !
"Siang Bwee........! " An Hun Kiong berbisik dan masuk ke
dalam kamar.
"Taijin, kenapa sampai begini malam...... "
Siang Bwee berbisik dan setelah An Hun Kiong duduk, dia
cepat berlutut di depannya untuk membuka sepatunya.
"Apakah taijin ingin mandi ? Apakah perlu dipersiapkan
makanan ?" Semua ini ditanyakannya dengan sikap amat
manis, dengan kerling mata tajam memikat dan senyum yang
manisnya melebihi madu An Hun Kiong sampai tak mampu
menjawab, dan akhirnya setelah Siang Bwee selesai membuka
kedua sepatunya, dia meraih, memegang lengan wanita itu
dan menariknya duduk di atas pangkuannya. Siang Bwee
tersenyum dan memandang malu-malu, membuang muka
dengan sikap yang malu-malu kucing namun makin menarik
hati dan membangkitkan gairah,
"Siang Bwee....... sayangku....... mimpikah aku.........?
Benarkah engkau ini yang bersikap begini manis kepadaku
......... ?"
"Taijin aneh....... siapa lagi kalau bukan Siang Bwee....... ?
Apakah taijin mengira aku siluman rase?" Siang Bwee
tersenyum dan tertawa kecil. An Hun Kiong memeluknya dan
dengan lembut memalingkan wajah cantik itu menghadapinya.
Sejenak mereka bertemu pandang dan An Hun Kiong makin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kagum melihat mata itu sama sekali tidak seperi kemarin,
bahkan tidak seperti siang tadi kini berseri penuh gairah.
"Tapi....... tapi mengapa engkau ....... selama dua hari
hanya menangis dan nampak muram ?"
"Ahhh....... taijin......., pantaskah bagi seorang perawan
untuk bersikap gembira pada saat menyerahkan diri untuk
pertama kali kepada, seorang pria ?"
An Hun Kiong mengangguk-angguk. "Dan sekarang ?"
"Sekarang aku adalah milikmu, dan karena taijin amat
mencintaku, maka hidupku penuh kebahagiaan....... "
"Siang Bwee........ !" An Hun Kiong girang bukan main dan
dia lalu mendekap, menciumi wajah itu, mata dan mulut itu,
dengan penuh kemesraan. Makin giranglah dia ketika
merasakan betapa wanita itupun membalas cumbu rayunya,
membalas ciumannya. Sunyi kamar itu, dan keduanya
tenggelam dalam lautan kemesraan yang belum pernah
dialami oleh An Hun Kiong selama ini.
Menjelang tengah malam, An Hun Kiong rebah dengan
wajah berseri dan tubuh lelah, sambil merangkul leher
kekasihnya. Dia mengelus rambut yang halus itu, mengusap
sedikit keringat di dahi kekasihnya, lalu mencium pipinya
dengan lembut.
"Aku sayang padamu, Siang Bwee. Ah. betapa aku cinta
padamu ....... " bisiknya.
"Kenapa engkau begitu lama tadi meninggalkan aku, taijin?
Sampai capai aku menantimu. Ada urusan apakah yang
menahanmu dan ada apakah terjadi ribut-ribut tadi? Aku
hanya mendengar dan para pengawal akan terjadinya
keributan di istana. Ada apakah?" Siang Bwee memancing
sambil merangkul pinggang pembesar atau perwira yang
gagah itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, ada tiga orang pemberontak mengacau. Mereka itu
amat lihai akan tetapi akhirnya tertawan juga."
"Siapakah mereka, taijin?"
"Yang seorang adalah orang yang amat kaukenal. Dia
adalah bekas majikanmu, Tan-ciangkun!"
"Ahh......!" Tiba-tiba Siang Bwee bangkit duduk, tidak
mcmperdulikan rambutnya yang terurai dan selimut yang
menutupi dadanya terbuka sehingga An Hun Kiong melihat
pemandangao yang amat menggairahkan hatinya. Akan tetapi
perwira ini terkejut juga melihat kekasihnya itu bangkit duduk
dan kelihatan marah, mengepal tinju dan matanya
bersinar.sinar.
"Ada apakah, Siang Bwee?" tanyanya dengan khawatir.
"Bagus sekali dia tertangkap! Aku .... aku benci kepada
orang itu, taijin !" kata Siang Bwee.
An Hun Kiong sudah duduk dan merangkul tubuh itu,
memangkunya dan menciumnya. "Heran, bukankah dia bekas
majikanmu?" tanyanya sambil memancang penuh selidik.
"Bukan hanya majikan, akan tetapi aku dihadiahkan oleh sri
baginda kaisar kepada Tan ciangkun, untuk menjadi isterinya!
Akan tetapi, ia manusia kejam itu sama sekali tidak
memperdulikan aku, dia menghinaku, tidak pernah
mendekatiku sehingga aku hanya dianggap sebagai pelayan
saja !"
"Ah, mana mungkin? Wanita secantik engkau ..... "
"Taijin, perlukah engkau ragu-ragu lagi? Bukankah aku
masih perawan ketika untuk pertama kali menyerahkan diri
kepadamu?"
An Hun Kiong merangkul dan menciumnya. Aku percaya
dan memang benar demikian, akan tetapi, mengapa orang she
Tan itu tidak menjamahmu? Apakah dia banci?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Entahlah, dan hal itu amat menyakitkan hatiku, taijin."
Hemm, tenangkan hatimu. Besokpun dia akan dihukum
gantung di depan pintu grrbang!"
Siang Bwee menahan perasaan ngeri yang mengiris
jantungnya. Lalu dia turun dari pembaringan dan berkata
dengan suara marah, "Penasaran! Kalau aku belum membalas
penghinaannya, dan dia sudah keburu mati, sungguh
penasaran! Taijin, kalau memang tatjin mencintaku, tolonglah
agar aku dapat membalas dendam ini, kalau tidak........ ah,
kelak kalau aku melahirkan anak, tentu akan terpengaruh
buruk oleh dendam yang tak terbalas ini !"
An Hun Kiong tersenyum. Disebutnya anak mendatangkan
rasa mesra dan baru dalam hatinya. Dia lalu merangkul
pinggang Siang Bwee dan menariknya sehingga wanita itu
terjatuh ke atas pangkuannya.
"Engkau makin cantik saja kalau marah-marah, Siang
Bwee, engkau begitu membencinya, lantas, apa yang hendak
kaulakukan? Aku dapat menyiksanya dulu sebelum dia
dihukum mati, kalau itu yang kauhendaki!"
"Tidak, hatiku takkan pernah puas kalau bukan aku sendiri
yang menghinanya, yang menyiksanyai Taijin, kalau besok dia
dihukum mati, akan terlambatlah dan selama hidup aku akan
menyesal sekali. Maka, bawalah aku sekarang kepadanya,
taijin, berilah kesempatan kepadaku untuk membalas
penghinaannya, untuk mentertawakannya, sampai puas hatiku
!"
An Hun Kiong mengangguk-angguk. Wanita ini baru saja
memperlihatkan bahwa cintanya telah mendapatkan
sambutan, dan wanita ini tadi baru saja membuktikan bahwa
telah bertunas cinta penuh kemesraan baginya. Tentu saja dia
tidak ingin kehilangan kelembutan dan kemesraan yang
nikmat itu, dan betapapun dia harus dapat memenuhi
permintaannya. Permintaan yang pantas, pikirnya, karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu Siang Bwee merasa dihina dan malu telah ditampik oleh
seorang pria! Dan pula, apa salahnya kalau dia membiarkan
wanita ini melampiaskan dendamnya? Para tawanan itu tidak
berdaya, masih pingsan mungkin dan dalam keadaan
terbelenggu rantai baja, apa lagi di luar banyak terdapat
pengawal dau penjaga. Hanya, kalau sampai terlihat para
tokoh lain bahwa dia memenuhi permintaan yang bukanbukan
dari hati wanita yang mendendam itu, tentu dia merasa
tidak enak dan malu. Maka, permintaan ini harus dilakukan
sekarang menjelang tengah malam sehingga tidak akan ada
yang melihatnya. Kalau besok tentu terlambat, pula, kalau
waktu siang akan nampak oleh banyak orang.
"Baiklah, Siang Bwee Memang aku menjadi kepala bagian
tawanan, maka mudahlah untuk membawamu ke sana." Dia
tidak tabu betapa jantung di dalam dada Siang Bwee berdebar
tegang, dan dia tidak mengira bahwa memang Siang Bwee
telah lebih dulu menyelidiki pangkat dan kekuasaannya di situ
sehingga tentu saja wanita itu telah tahu bahwa dialah yang
menjadi kepala bagian tawanan. Oleh karena itulah maka
wanita ini tadi menggunakan akal untuk merayu dan
melayaninya semanis mungkin, sungguhpun hal itu dilakukan
dengan hati hancur penuh pengorbanan diri demi pelaksanaan
usahanya menyelamatkan kekasihnya.
"Terima kasih, taijin.......terima kasih....."
"Hushh, jangan sebut tajin lagi, lupa lagi engkau........
bisikan tadi........?"
Kedua pipi wanita cantik itu menjadi merah sekali. Bagi An
Hun Kiong tentu dianggap sebagai tanda malu, padahal
merahnya wajah Siang Bwee itu adalah karena marah !
Seujung rambutpun tidak ada perasaan cinta terhadap pria ini,
bahkan yang ada hanya rasa muak dan benci, benci sekali
karena terpaksa dia harus menyerahkan diri kepada orang ini.
Akan tetapi demi keselamatan Sian Lun, ah, segalanya demi
Sian Lun, dia akan mau melakukan, apapun, bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengorbankan nyawa sekalipun. Maka dia lalu berkata dengan
muka merah dan tersenyum malu-malu, "Baiklah....... koko.......
terima kasih atas kebaikanmu........"
An Hun Kiong tersenyum girang dan meraih leher
kekasihnya, menciumnya dengan mesra dan lama sekali dan
baru melepaskannya ketika Siang Bwee meronta perlahan dan
mendorongnya dengan halus. "Ah, koko, bukankah engkau
hendak mengajak aku ke sana sekarang? Nanti kalau aku
sudah puas membalas dendam. Kita masih mempunyai banyak
waktu untuk itu........ "
An Hun Kiong tertawa girang dan mereka lalu berpakaian.
Tentu saja An Hun Kiong mengenakan pakaian panglima
karena dia hendak mengunjungi tempat para tawanan dan tak
lama kemudian keluarlah mereka berdua. Biarpun, hatinya
merasa agak tidak enak terhadap para anak buahnya karena
dia mengunjungi tawanan bersama kekasihnya, akan tetapi
dia menahan perasaan ini demi cintanya kepada wanita ini
yang telah memberi kesenangan dan kepuasan kepadanya
oleh sikap yang tiba-tiba berobah amat mesra dan manis itu.
Tentu saja para pengawal dan penjaga memandang dengan
mata terbelalak, akan tetapi tidak ada seorangpun yang berani
bertanya apa lagi membantah ketika mereka melihat An Hun
Kiong bersama wanita cantik itu memasuki rumah tahanan.
”Nah, itulah dia.......!" An Hun Kiong berkata ketika mereka
tiba di depan kamar tahanan yang kokoh dan terjaga ketat itu.
di mana Sian Lun, Gin San, dan Ling Ling ditahan.
Dapat dibayangkan betapa hancur dan penuh rasa iba hati
Siang Bwee ketika dari luar dia melihat kekasih pujaan hatinya
itu terbelenggu kaki tangannya dan berdiri menggelantung
pada belenggu kedua tangannya dalam keadaan pingsan.
Akan tetapi dia menahan perasaan hatinya itu, kemudian
berkata lirih kepada An Hun Kiong,
"Koko, harap buka pintunya, biarkan aku mendekat."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
An Hun Kiong memberi tanda kepada para penjaga untuk
tetap berjaga di luar dan siap dengan anak panah mereka,
kemudian dia menggunakan kuncinya membuka pintu kamar
tahanan itu dan menggandeng tangan Siang Bwee
memasukinya. Tiga orang tawanan itu memang masih dalam
keadaan pingsan. Biarpun An Hun Kiong maklum betapa
lihainya tiga orang muda itu, namun mereka itu masih
pingsan, juga terbelenggu dengan amat kuatnya, dan dia
yakin benar bahwa tidak mungkin ada manusia dapat
mematahkan belenggu pada kaki tangan mereka itu yang
terbuat dari baja tebal. Selain itu, di situ masih ada belasan
orang penjaga dengan anak panah siap di tangan. Tiga orang
tawanan itu takkan mampu memberontak sama sekali,
pikirnya dengan tenang.
"Ah.......dia........dia sudah mati......!" Siang Bwee berkata,
menahan kehancuran hatinya dan suaranya yang gemetar
lemah disangka oleh An Hun Kiong sebagai suara orang
kecewa.
"Tidak, Siang Bwee, dia belum mampus."
"Akan tetapi........ apa artinya kalau dia tidak mampu
melihatku, mendengarku atau merasakan sesuatu ? Aku ingin
dia dapat mendengar dan melihat, agar dia dapat merasakan
pembalasanku, koko."
An Hun Kiong tersenyum, makin besar wanita ini
memperlihatkan kebenciannya terhadap pemuda itu makin
baik, karena betapapun juga ada rasa cemburu di dalam
hatinya mendengar bahwa wanita yang dicintanya itu dahulu
oleh kaisar dihadiahkan kepada pemuda ini.
"Mudah saja, sayang. Kautunggu sebentar !" An Hun Kiong
lalu minta kepada seorang penjaga di luar kamar tahanan itu
untuk mengambil air dalam ember. Tak lama kemudian
datanglah penjaga itu membawa seember air. Sambil tertawa
An Hun Kiong lalu mengambil ember itu dan menyiramkan
sebagian air ember ke muka Sian Lun ! Dia tahu bahwa satuTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
satunya alat untuk menyadarkan orang yang pingsan karena
asap bius adalah air.
"Koko, biarkan teman temannya itu sadar juga agar
merekapun melihat siksaan yang kulakukan! Aku ingin benar
benar puas membalas dendam!" Siang Bwee berkata Dalam
kegembiraannya, An Hun Kiong tertawa dan diapun
menyiramkan sisa air ke wajah Ling Ling dan Gin San.
Dengan hati berdebar penuh ketegangan. Siang Bwee
memandang kepada Sian Lun. Hatinya terasa nyeri dan ngeri
melihat betapa kaki tangan kekasihnya itu dibelenggu dengan
rantai yang amat kuat sehingga seekor gajah-pun belum tenru
akan dapat mematahkan ranta baja sepeiti itu. Dilihatnya
perlahan-lahan kedua lengan yang tergantung itu menggigil,
jari jari tangannya bergerak gerak tanda bahwa pemuda itu
sudah hampir sadar dari pingsannya. Muka dan lehernya
basah kuyup, rambut kepalanya juga basah dan air menetesnetes
turun dari hidung dan dagunya. Ingin Siang Bwee
menubruk kekasihnya, menangisi dan mengeringkan muka
yang basah itu. Air yang menetes netes itu nampak olehnya
seperti air mata pemuda itu !
Siang Bwee lalu mendekati An Hun Kiong dan berkata,
"Koko, pinjamkan pedangmu kepadaku !"
An Hun Kiong terbelalak dan mulutnyi tersenyum lebar,
"Eh, mau apa engkau ? Dia dan teman temannya itu belum
boleh dibunuh Bwee rnoi ! Kalau engkau membunuhnya tentu
aku akan kesalahan. Mereka harus dibunuh di depan umum
besok, sebagai peringatan agar tidak ada lagi yang berani
memberontak !"
"Jangan khawatir, koko, akupun mengerti dan aku tidak
akan membunuhnya, hanya akan menakut nakutinya dan
menyiksanya," jawab Siang Bwee.
Au Hun Kiong melolos pedangnya dan sambil tersenyum dia
menyerahkan pedang yang mengkilap tajam itu kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekasihnya. Betapapun juga, dia berada di situ dan dia dapat
mencegah kalau kekasihnya meluap kemarahannya sehingga
lupa dan akan membunuh tawanan itu. Kini Siang Bwee berdiri
menghadapi Sian Lun yang sudah mulai menggerak-gerakkan
pelupuk matanya.
An Hun Kiong berdiri di belakang Siang Bwee simbil
bertolak pinggang dan tersenyum lebar, ingin sekali tahu apa
yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu untuk membalas
dendam dan menghina tawanan mu. Siang Bwee melangkah
maju menghampiri Sian Lun dan pedang telanjang itu
ditodongkan ke dada pemuda itu. Sian Lun mengejap -
ngejapkan kedua matanya, mengeluh lirih lalu membuka
matanya. Dia terbelalak, lalu mengejap-ngejapkan matanya
lagi seolah-olah tidak percaya akan apa yang dilihatnya ketika
pertama kali membuka mata dia melihat wajah yang amat
dikenalnya, wajah cantik dari Siang Bwee! Akan tetapi melihat
wanita itu berdiri di depannya sambil menodongkan sebarang
pedang ke dadanya, dia hampir tidak percaya akan apa yang
disaksikannya dan mengira bahwa dia sedang dalam mimpi!
"Mimpikah aku.......?" Dia bertanya dengan suara lirih,
karena sungguh dia merasa seperti dalam mimpi saja,
semenjak bertemu dengan sute dan sumoinya sampai mereka
bertiga menyerbu istana dan tertawan. Dia menarik- narik
kedua tangannya akan tetapi baru dia sadar bahwa kedua
tangan dan kakinya terbelenggu rantai kuat ! Kembali dia
memandang Siang Bwee.
"Hi - hik!" Siang Bwee tertawa aneh! "Tidak. Tan Sian Lun,
engkau tidak sedang mimpi, dan kaudengarkan kata kataku
baik-baik. jangan banyak bergerak kalau tidak ingin pedang ini
menembusi jantungmu!"
Sian Lun terbelalak, bukan mendengar ucapan itu,
melainkan melihat betapa mata kiri Siang Bwee berkedip
kedip, jelas memberi isyarat kepadanya! Dia melihat An Hun
Kiong di belakang wanita itu dan Sian Lun bukanlah seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bodoh! Sebaliknya, dia cerdas sekali dan kini, melihat orang
Khitan yang kabarnya merupakan orang yang diberi hadiah
oleh Thio-thaikam berupa diri Siang Bwee yang dipaksa oleh
orang kebiri itu, melihat pula sikap Siang Bwee, dia tahu
bahwa wanita yang mencintanya ini tentu sedang bermain
sandiwara. Maka diapun lalu berkata dengan suara dingin,
"Nona, setelah aku tertawan, apa kaukira aku takut mati!
Mau bunuh, lakukanlah !" Dengan sedikit kata-kata ini dia
sudah memberi tahu kepada Siang Bwee bahwa diapun ikut
bersandiwara dan Siang Bwee mengertilah. Biasanya, Sian Lun
tidak pernah menyebutnya nona, melainkan menyebut
namanya saja, dan pemuda itu sama sekali tidak
memperlihatkan kekagetan dan tidak bertanya apa-apa, hal ini
menandakan bahwa Sian Lun tentu sudah mengerti atau
mendengar akan keadaannya dan tahu bahwa dia
bersandiwara. Jantungnya berdebar tegang dan dia
mengerling ke arah Gin San dan Ling Ling, dengan kerling
yang diulang dan penuh arti, kemudian berkata, suaranya
terdengar ketus dan galak.
"Tan Sian Lun, engkau laki-laki sombong, engkau laki-laki
yang besar kepala! Sekarang, setelah engkau menjadi
tawanan, engkau bisa apakah? Huh, besok engkau akan
digantung! Hayo, perlihatkan lagakmu sekarang! Huh, kalau
boleh, aku sendiri ingin sekali membunuhmu!"
Sian Lun sama sekali tidak memperhatikan ucapan-ucapan
Siang Bwee karena tabu bahwa semua ucapan itu hanya
kosong belaka dan di balik sikapnya ini. Siang Bwee tentu
menghendaki sesuatu dan diapun mengertilah. Siang Bwee
mengerling ke arah Gin San dan Ling Ling, agaknya hendak
memberi waktu kepada dua orang itu untuk sadar, dan ketika
dia menoleh kepada mereka, hatinya girang sekali melihat
bahwa sutenya dan sumoinya itupun mulai sadar dan melihat
betapa merekapun basah kuyup, dia tahu bahwa merekapun
disiram air. Hal ini mungkin juga merupakan hasil siasat Siang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bwee. Tentu Siang Bwee mengharapkan mereka bertiga dapat
meloloskan diri maka berani bersikap seperti itu. Diam dia dia
lalu mengumpulkan hawa sakti di dalam pusarnya dan
mencoba-coba rantai di kaki dan tangannya. Kuat bukan main
rantai itu, pikirnya dan mematahkannya dengan tenaga
agaknya tidak mungkin. Akan tetapi, rantai rantai itu tertanam
ke dalam tembok! Biarpun mematahkan rantai baja
merupakan hal yang agaknya tidak mungkin, akan tetapi
menjebol rantai itu dari tembok tentu akan dapat
dilakukannya’
"Dahulu engkau berlagak, memandang rendah kepadaku.
Sekarang? Hemm, engkau menjadi tawanan, engkau hampir
mampus, dan aku berdiri di sini menghinamu, sebagai isteri
seorang yang berkua. Hi - hik, betapa akan celaka nasibku
kalau dahulu engkau bersikap ramah dan aku menjadi
isterimu, Sian Lun ! Rasakan engkau sekarang!"
Sian Lun memperhitungkannya dan dia melihat bayangan
para penjaga yang siap dengan anak panah di luar kamar itu.
Jalan satu-satunya hanyalah menangkap An Hun Kiong
sebagai sandera sebagai perisai ! Dan dia mengerling lagi
kepada sute dan sumoinya, melihat bahwa merekapun saling
pandang dan kaki tangan mereka tergetar, tanda bahwa
merekapun sedang memperhitungkan keadaan ! Suasana
amat menegangkan baginya, dan hal ini agaknya terasa pula
oleh An Hun Kiong, Melihat sikap tiga orang itu yang diam saja
akan tetapi mata mereka begitu lincah dan tajamnya
memandang ke kanan kiri dengan kerlingan kerlingan penuh
perhatian dan perhitungan, dia merasa ngeri dan tidak enak
juga.
"Siang Bwee-moi, sudah cukuplah. Mari kita pergi dari
kandang ini. Kau boleh melukainya asal jangan membunuh,
lalu mari kita pergi saja dari sini!" kata An Hun Kiong sambil
melangkah mendekati kekasihnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Siang Bwee sudah merasa gelisah bukan main
dan hampir putus harapan melihat betapa Sian Lun masih saja
mengerling ke sana ke mari dan belum juga dapat meloloskan
diri dari belenggu ! Tadinya dia harapkan pemuda itu yang dia
tahu amat lihai, akan dapat memperoleh akal untuk
membebaskan dirinya. Akan tetapi ternyata bahwa agaknya
pemuda itu benar-benar tidak berdaya sehingga percuma
sajalah semua siasat yang dijalankannya. Kegelisahan karena
putus harapan ini membuat wanita ini menjadi nekat dah tiba
tiba dia meloncat ke depan, merangkul pinggang Sian Lun
dengan lengan kirinya sedangkan tangan kanannya masih
memegar pedang, matanya memandang kepada An Hun Kiong
dengan sinar berapi penuh kebencian mukanya pucat sekali
dan dia berkata denga suara nyaring.
"Manusia busuk An Hun Kiong! Aku tidak berhasil
membebaskan dia, akan tetapi aku akan mati bersamanya !"
Lalu dia menoleh dan berbisik kepada Tan Sian Lun, "Tan
taihiap...besok engkau akan dihukum mati........ biarlah aku
mendahuluimu, dan aku akan menantimu ........" Berkata
demikian, Siang Bwee membalikkan pedang dan hendak
menggorok lehernya sendiri.
"Bwee-moi.......!" An Hun Kiong berseru kaget.
Pada saat itu, Sian Lun menggerakkan pinggulnya dan sisi
pinggul ini menumbuk tangan kanan Siang Bwee. Wanita itu
berseru kaget, tangannya terasa nyeri dan pedang itu terlepas
dari pegangannya, mengeluarkan bunyi nyaring di atas lantai
batu. Dan pada saat itu, Sian Lun telah menggerakkan seluruh
tenaganya menarik belenggu rantai baja pada kaki dan
tangannya. Terdengar suara keras, batu-batu berantakan dan
debu mengebul tebal ketika rantai-rantai itu jebol dari
tanamannya di tembok ! Pemuda itu telah berhasil
membebaskan diri, sungguhpun rantai-rantai itu masih
bergantungan pada kaki dan tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Taihiap.......!" Siang Bwee
berteriak girang dan kaget
bukan main, akan tetapi Sian
Lun telah merangkulnya dan
melindunginya dari runtuhan
batu-batu dari tembok yang
berhamburan.
"Minggirlah engkau, Siang
Bwee.......!" kata Sian Lun dan
mendorong tubuh wanita itu
dengan halus ke belakangnya.
Pada saat itu, berturutturut
terdengar suara hirukpikuk
dan batu batu dari
tembok berhamburan, debu
mengebul makin tebal ketika Ling Ling dan Gin San juga sudih
berhasil menarik belenggu-belenggu kaki tangan mereka
sampai jebol dan terlepas dari tembok.
Melihat ini, Ang Hun Kiong hendak melarikan diri. Akan
tetapi Ling Ling yang memiliki ginkang luar biasa itu sudah
meloncat seperti seekor naga sakti menyambar dan tahu-tahu
dia telah menampar ke arah kepala An Hun Kiong. Orang she
An ini bukan seorang lemah, melainkan murid terkasih dari
Tai-lek Hoat-ong, maka tentu saja dia melihat tamparan ini
dan cepat mengelak. Akan tetapi, gerakan Ling Ling terlampau
cepat baginya dan sebelum dia mampu menyelamatkan diri,
sebuah tendangan kilat dari dara sakti itu mengenai lututnya
dan diapun roboh terpelanting. Gin San sudah meloncat dekat
dan mengayun belenggu di tangan kanannya untuk
menghancurkan kepala orang Khitan itu.
"Tringggg !" Belenggu itu tertangkis oleh belenggu lain,
yaitu rantai belenggu yang digerakkan oleh Sian Lun.
"Sute jangan bunuh dia ! Kita butuh dia untuk sandera !"
teriak Sian Lun dan barulah Gin San sadar bahwa dia tadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melakukan hal yang sangat ceroboh dan terburu nafsu karena
terdorong kemarahan.
"Engkau benar, suhengl" katanya dan sekali jari tangannya
rnenotok, tubuh An Hung Kiong telah menjadi lemas.
Sian Lun cepat menarik berdiri tubuh orang she An itu,
kemudian membentak kepada para penjaga yang menjadi
bingung dan yang sudah mempersiapkan anak panah di busur
masing-masing, "jangan bergerak, atau kami bunuh An Hun
Kiong ini !"
Melihat betapa orang penting dari Khitan yang menjadi
kepala mereka itu telah tertawan musuh, para penjaga
menjadi bingung sekali, tak tahu apa yang harus mereka
lakukan, dan beberapa orang di antara mereka yang berada di
belakang, cepat lalu berlari untuk memberi laporan ke dalam
istana.
"Taihiap........ cepat........ kunci-kunci ada di saku bajunya
!" kata Siang Bwee dengan wajah pucat akan tetapi sepasang
matanya yang indah itu kini berseri dan berkilat penuh
kegembiraan, harapan dan semangat setelah melihat betapa
keadaannya berobah sama sekali. Kalau tadinya dia sudah
putus harapan dan nekat hendak membunuh diri, kini ternyata
semua berjalan seperti yang direncanakan dan diharapkannya
! Sian Lun telah bebas, bahkan dua orang kawannya yang
gagah itupun telah bebas dan lebih dari itu malah, mereka
telah dapat menawan An Hun Kiong sebagai sandera !
"Ah, Siang Bwee......... terima kasih......." kata Sian Lun
ketika dia memeriksa dan menemukan kunci - kunci di dalam
saku baju tawanan itu, termasuk kunci- kunci untuk membuka
belenggu kaki dan tangan mereka bertiga. Kini mereka benarbenar
telah bebas dan mereka bertiga sudah siap menghadapi
musuh. Sian Lun yang melindungi tubuh Siang Bwee dan
memegang tubuh An Hun Kiong sebagai perisai di depannya,
segera berkata kepada sute dan sumoinya, "Mari kita keluar,
jangan berada dalam ruangan.........!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka bertiga sudah tahu akan bahayanya kalau mereka
berada dalam ruangan seperti ketika mereka tertangkap,
maka kini ketiganya cepat keluar dari pintu itu. Para penjaga
mundur mundur dengan ketakutan dan bingung karena
mereka tentu saja tidak berani melepaskan anak panah,
bahkan tidak berani bergerak menyerang karena khawatir
kalau kalau An Hun Kiong dibunuh.
Kini mereka berada di luar kamar kurungan. "Sute, cepat
bebaskan para tawanan lain!" kata Sian Lun sambil
melemparkan seikat kunci kepada sutenya. Dia tahu bahwa
para tawanan itu adalah panglima-panglima dan pembesarpembesar,
juga orang-orang gagah yang telah
mempertahankan dan melawan para penyerbu Tibet itu,
orang-orang penting yang tertangkap kemudian dijebloskan ke
dalam penjara. Jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih dan
kini Gin San membuka semua kamar tahanan membebaskan
mereka tanpa perlawanan dari para penjaga yang kehabisan
akal melihat kepala mereka tertangkap.
Setelah mereka semua bebas, para tawanan itu cepat
merampasi senjata tombak, golok dan dang dari para penjaga,
dan mereka siap untuk melakukan perlawanan mati-matian.
Tiba-tiba datang serombongan pasukan dikepalai oleh Ba Mou
Lama, Tai - lek Hoat-ong, Sin Beng Lama, Pek - ciang Cin - jin
Ouw Sek, dan Kim-sim Niocu Bu Siauw Kim!
Tiba-tiba Pek ciang Cin-jin Ouw Sek meloncat ke depan,
kedua tangannya diangkat ke atas dan terdengar dia
mengeluarkan suara teriakan melengking nyaring yang
membuat beberapa orang perajurit terguling roboh, disusul
suaranya yang penuh wibawa dan terdengar aneh
mengeluarkan getaran hebat,
"Siapa berani menawan An Hun Kiong sicu ! Hayo lepaskan
dia, lepaskan dia, lepaskan dia....... aku memerintahkanmu
untuk melepaskan dia !" Kedua tangannya digerak-gerakkan
dan tiba-tiba Sian Lun merasa kedua kakinya gemetar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
matanya terbelalak seperti orang ketakutan dan dia
melepaskan cekalan pada kedua lengan An Hun Kiong!
Akan tetapi tiba tiba terdengar suara melengking lain dan
sebelum An Hun Kiong sempat bergerak karena tubuhnya
lemas tertotok, Coa Gin San telah menyambar lengannya dan
menarik tawanan ini.
"Suheng, jangan perdulikan dia ! Gertak sambalnya itu
tidak ada artinya !"
Mendengar suara Gin San yang juga mengandung getaran
kuat dan berpengaruh ini, Sian Lun sadar kembali dan dia
segera mengumpulkan kekuatan sinkangnya untuk menjaga
diri dari kekuatan ilmu sihir lawan. Dia merasa ada tangan
halus menyentuh lengannya dart belakang. Dia menoleh dan
melihat Siang Bwee berdiri ketakutan. Dia tersenyum kepada
wanita itu dan berbisik, "Jangan takut......." Siang Bwee juga
tersenyum biarpun wajahnya pucat. Kini dia tidak takut lagi.
Setelah berada di samping pria yang dicintanya, menghadapi
apapun dia tidak takut. Paling hebat dia akan mati akan tetapi
mati di samping kekasihnya merupakan kebahagiaan baginya,
jauh lebih bahagia dari pada hidup namun terpisah!
"Mati hidup aku bersamamu, taihiap....... " bisiknya.
Melihat kini para jagoan fihak lawan telah siap untuk
mengepung dan mengeroyok, hanya mereka itu masih ragu
karena melihat An Hun Kiong menjadi tawanan, Sian Lun lalu
berkata tanpa ragu ragu lagi kepada Siang Bwee. "Cepat, kau
naiklah ke punggungku, biar kugendong dan kulindungi."
Tentu saja Siang Bwee merasa sungkan sekali, sungguhpun
diam-diam dia meraba amat berbahagia akan kesudian orang
yang dicintanya itu untuk menggendong dan melindunginya.
"Akan tetapi, taihiap........" katanya dan tiba-tiba mukanya
berubah merah sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ssttt......cepatlah sebelum
terlambat!" kata pula Sian Lun
yang maklum bahwa satusatunya
jalan bagi mereka
bertiga untuk lolos agaknya
harus mengadu nyawa dan dia
tidak mungkin dapat melindungi
Siang Bwee dengan baik kecuali
kalau menggendongnya.
Meninggalkan Siang Bwee di situ
berarti wanita itu tentu akan
mati tersiksa karena sudah
mengkhianati An Hun Kiong dan
kalau terjadi pertempuran
melawan orang orang pandai
itu, sukar baginya untuk melindungi Siang Bwee jika terpisah
darinya.
Mendengar suara mendesak itu, Siang Bwee lalu merangkul
leher Sian Lun dari belakang dan merasa betapa pinggulnya
didorong oleh telapak tangan Sian lun sehingga dia terangkat
ke atas dan duduklah dia di punggung pria yang dicintanya
itu.
"Rangkul leherku kuat kuat........" bisik lagi Sian Lun. Tidak
perlu disuruh Siang Bwee sudah merangkul leher orang yang
dicinta itu dengan pasrah dan dia sudah mengambil keputusan
untuk mati hidup bersama orang yang di kaaihinya ini.
Ba Mou Lama dan para orang Tibet, juga termasuk Ouw
Sek dan Bu Siauw Kim, sudah siap menerjang akan tetapi tibatiba
Tai-lek Hoat-ong, tokoh Khitan yang sakti itu, berseru
dengan suara penuh kekhawatiran. "Harap jangan
menggunakan kekerasan !" Tentu saja dia merasa khawatir
sekali melihat keadaan muridnya yang sudah dibekuk oleh Gin
San itu dan maklumlah dia bahwa kalau tiga orang muda yang
sakti itu hendak membunuh murid nya, dia tidak akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mungkin dapat menolongnya. Dan tadi ilmu sihir yang
dipergunakan oleh Ouw Sekpun sudah gagal. Menggunakar
kekerasan menyerang mereka berarti membunuh muridnya !
"Jangan serang mereka.... ah, jangan dulu..." Kembali Tailek
Hoat-ong atau Tayatonga itu berseru ketika melihat sikap
para sekutunya dan dia cepat meloncat ke depan, menghadapi
Sian Lun dan memandang pemuda ini dengan sinar mata
tajam.
"Kenapa kalian bertiga begini pengecut, mempergunakan
An-sicu sebagai sandera dan tidak berani menghadapi kami
secara gagah ?" bentaknya.
"Omong kosong !" bentak Gin San mewakili suhengnya.
"Bicara tentang kecurangan dan sifat pengecut, siapakah yang
lebih pengecut ? Kalian menggunakan kekuatan pasukan dan
pengeroyokan untuk mengepung kami! Hayo mundur, atau ....
kuhancurkan kepala dia ini !" Sambil berkata demikian, Gin
San sudah mengangkat tangannya didekatkan kepada kepala
An Hun Kiong yang berwajah pucat dan sinar matanya
membayangkan ketakutan hebat itu. Melihat ini, Tai-lek Hoatong
mundur dan dia mengeluarkan ucapan dalam bahasa
asing kepada Ba Mou Lama dan kawan-kawannya. Dan para
tokoh itu lalu mundur, dan terdengar aba-aba Ba Mou Lama
kepada para penjaga untuk memberi jalan kepada tiga orang
tawanan yang terlepas itu.
"Kami melepaskan kalian, akan tetapi kalianpun harus
membebaskan An-sicu" teriak Tai lek Hoa-ong dari balik
pasukan yang berdiri di kanan kiri jalan memberi jalan kepada
tiga orang muda itu.
"Kita lihat saja nanti!" Gin San berseru pula. Melihat betapa
fihak musuh sudah memberi jalan, Sian Lun lalu menurunkan
Siang Bwee dan wanita ini berjalan sendiri, dengan pedang
pinjaman dari An Hun Kiong tadi masih di tangannya. Ketika
mereka berempat keluar dari kamar tahanan, Siang Bwee
tidak lupa untuk memungut pedang itu, karena dianggapnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang itu berguna bagi kekasihnya. Dia tidak tahu bahwa
orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian seperti mereka
bertiga itu, tidak memerlukan lagi bantuan senjata tajam.
Tiga orang pendekar perkasa itu kini berjalan perlahan
dengan hati-hati penuh kewaspadaan. Mula - mula Gin San
berjalan di depan sambil menelikung An Hun Kiong yang
ditekuk lengannya kebelakang dan diancam kepalanya dengan
tangan kiri. Kemudian di belakangnya berjalan Siang Bwee
dengan pedang di tangan, dilindungi dari belakang oleh Sian
Lun. Dan di belakang sendiri berjalan Ling Ling untuk menjaga
dari belakang sehingga dara ini melangkah setindak demi
setindak sambil mundur, sikapnya waspada dan gagah sekali,
siap menghadapi serangan dari manapun juga datangnya !
Ketika mereka bertiga tiba di tempat terbuka yang lebar,
yaitu di tepi taman bunga, dari istana, tempat itu ternyata
amat terang, dipasangi banyak lampu penerangan dan di situ
telah menanti para tokoh sakti fihak musuh bersama pasukan
besar pengawal yang segera mengurung tempat itu ! Kiranya
fihak musuh menggiring mereka ke tempat terbuka yang luas
sehingga mudah untuk mengepung tiga orang buronan itu !
Melihat keadaan ini, Sian Lun cepat berbisik kepada
sutenya, "Sute, lemparkan dia di tengah-tengah biar dijaga
oleh Siang Bwee dan kita melindungi di sekelilingnya !"
Gin San maklum akan maksud suhengnya, maka dia lalu
menotok lagi tubuh An Hun Kiong yang menjadi lumpuh sama
sekali tanpa mampu menggerakkan tubuhnya dan
melemparkan tubuh orang Khitan ini ke tengah-tengah
"Siang Bwee, jaga dia dengan pedangmu dan jangan kau
pergi menjauhinya, " kata pula Sian Lun. Siang Bwee maklum
bahwa kekasihnya dan dua orang temannya itu akan melawan
musuh, maka diapun mengangguk dan dia lalu mendekati An
Hun Kiong yang rebah miring, berdiri menodongkan pedang di
tangannya itu ke dada orang yang amat dibencinya ini. Tiga
orang pendekar muda itu lalu menjaga di sekelilingnya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membentuk segitiga, membelakangi Siang Bwee menghadap
ke luar dengan sikap gagah. Mereka bertiga maklum bahwa
mereka akan menghadapi pengeroyokan hebat, namun sedikit
juga mereka tidak nerasa gentar. Dengan adanya dua orang
saudara seperguruan yang semenjak kecil saling berpisah
namun yang kini dapat bersatu kembali, mereka masing
masing merasakan adanya suatu semangat yang bernyala
nyala, bahkan ada juga sedikit perasaan untuk berlumba dan
saling memperlihatkan kelihaian dan kegagahan masingmasing.
Biarpun mengepung ketat, jelas nampak pada wajah para
perajurit pengawal itu bahwa mereka merasa gentar sekali
menghadapi tiga orang pendekar ini. Mereka maklum bahwa
tiga orang itu amat berbahaya dan betapa nyawa mereka
sendiri amat terancam, karena mereka sudah melihat sendiri
betapa sebelum tertawan, banyak di antara kawan mereka
yang roboh daa tewas oleh tiga orang yang lihai ini. Maka,
mereka menjadi ragu-ragu bahkan nampak jerih sekali. Hanya
para perajurit dan perwira Tibet yang tadi tidak ikut
mengeroyok, yang nampak berani dan merekalah yang sudah
siap untuk turun tangan begitu aba aba. diberikan.
Tai-lek Hoat-ong memandang dengan alis berkerut. Dia
maklum bahwa dia tidak mungkin lagi mencegah Ba Mou
Lama mengerahkan orang-orangnya untuk mengeroyok, tanpa
memperdulikan keselamatan An Hun Kiong yang berada di
tangan tiga orang itu. Tahulah kini tokoh Khitan itu bahwa
dalam persekutuan ini fihaknya kena diakali oleh para tokoh
Tibet, karena setelah mereka semua berhasil menduduki kota
raja, orang-orang Tibet inilah yang memperlihatkan
kekuasaannya, dan fihak Khitan hanya dianggap sebagai
sekutu dan pembantu saja yang harus mentaati kehendak
para pimpinan Tibet. Kini bahkan nyawa An Hun Kiong tidak
diperdulikan lagi oleh Ba Mou Lama, maka diam-diam dia
merasa khawatir dan marah sekali, memandang dengan wajah
pucat ke arah An Hun Kiong yang rebah miring ditodong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang oleh Siang Bwee. Dari para penjaga dia sudah tahu
akan duduknya peristiwa, tahu bahwa An Hun Kiong dapati
tertipu oleh wanita itu yang ternyata telah berkhianat dan
bersekutu dengan tiga orang buronan itu.
Orang - orang Beng-kauw, yaitu bekas anak buah Bengkauw
utara yang kini menjadi anak buah Ouw Sek dan
diperbantukan di istana, juga nampak jerih karena di situ
terdapat Coa Gin San yang mereka kenal sebagai tokoh Bengkauw
yang amat lihai itu! Maka ketika Ba Mou Lama akhirnya
memberi aba-aba, "Serbu!" yang bergerak maju hanyalah
beberapa belas orang perwira dan perajurit Tibet yang
agaknya ingin berlomba untuk merobohkan atau menangkap
tiga orang muda itu. Dan ternyata bahwa di antara mereka ini
lebih banyak yang menerjang kepada Ling Lmg, mungkin
karena mereka mengira bahwa tentu di antara mereka
bertiga, dara yang cantik manis ini yang paling lemah, atau
mungkin terdorong oleh sifat mata keranjang merekat. Tidak
kurang dari sepuluh orang menerjang Ling Ling, dan hanya
lima enam orang saja menerjang Gin San dan Sian Lun. Akan
tetapi, hasilnya sama saja. Ketika orang-orang itu menyerbu
dengan senjata-senjata tajam mereka, dan dengan tangantangan
terulur rakus ke arah tubuh Ling Ling, segera nampak
senjata beterbangan disusul pekik dan teriakan hiruk-pikuk,
kemudian tubuh orang-orang yang menyerbu ini terpelanting
ke kanan kiri dan belakang dan dalam beberapa gebrakan
saja, semua penyerbu telah roboh dan kalau tidak tewas tentu
terluka parah! Mereka itu benar-benar seperti sekelompok
nyamuk menyerbu api lilin!
Makin jerihlah para perajurit menyaksikar kehebatan tiga
orang pendekar itu, dan Siang Bwee yang tadinya ketakutan
sekali kini memandang dengan wajah berseri dan pandang
mata penuh kagum kepada pria yang dicintanya dan dua
orang temannya itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya. Ba Mou Lama menjadi marah bukan main. lelah
banyak dia kehilangan anak buah dan semua korban itu hanya
untuk menghadapi tiga orang muda yang datang membikin
kacau istana!
"Semua pasukan siap! Kepung mereka jangan sampai ada
yang lolos, Kami sendiri yang akau menghadapi mereka!" Dia
lalu minta kepada para tokoh lihai yang membantunya untuk
maju. .
Jilid XXXII
"BIAR AKU yang
menghadapi bocah ini!" kata
Ouw Sek sambil menghampiri
Gin San dan pendeta berusia
setengah abad yang
berpakaian mewah, tampan
dan gagah ini sudah
menerjang dengan senjatanya
yang istimewa, yaitu tongkat
emas yang mengeluarkan
sinar berkilauan. Karena tokoh
Beng kauw ini pernah
menghadapi Gin San, maka
diapun tidak berani
memandang ringan karena dia
tahu bahwa pemuda ini sungguh memiliki ilmu silat yang
tinggi sekali dan biarpun dia pernah mengalahkan Gin San.
namun kekalahan itu tipis sekali maka dia harus berhati hati
dan tidak memandang rendah, sungguhpun pendeta pesolek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini menyerang sambil tertawa tawa. Di lain fihak Gin San juga
sudah mengenal orang ini, tahu akan kesaktiannya, maka
diapun sudah siap dan menyambut serangan itu dengan
pengerahan tenaga dan dengan hati hati sekali.
Ba Mou Lama dibantu oleh Sin Beng Lama dan beberapa
orang Panglima Tibet yang cukup lihai, segera maju
menerjang Sian Lun. Pemuda ini sudah siap dan diapun tahu
akan kelihaian pendeta Tibet itu, maka dia tidak berani
memandang rendah, apa lagi pendeta ini dibantu oleh Sin
Beng Lama dan tiga orang Panglima Tibet yang cukup
tangguh.
Tai-lek Hoat-ong sendiri, dibantu oleh beberapa orang
Khitan lalu maju menerjang Ling Ling yang menyambutnya
dengan marah. Ketika itu. Bu Siauw Kim juga meloncat dan
membantu kekasihnya, Ouw Sek. Akan tetapi Ouw Sek
mengerutkan alisnya dan berkata.
"Siauw Kim, jangan kau bantu aku. Dia ini musuh besarku.
Lebih baik kau bantu Tai-lek Hoat-ong yang kewalahan
menghadapi naga betina di sana itu !"
Bu Siauw Kim menoleh dan memang benarlah. Ling Ling
terlampau hebat bagi Tai-lek Hoat-ong dan empat orang
Khitan itu. Maka sambil berseru nyaring dia sudah meloncat
dan menerjang Ling Ling yang mendesak Tai-lek Hoat-ong
dengan pukulan-pukulan dahsyat.
"Dukkkl" Ling Ling menangkis sehingga tubuh Bu Siauw
Kim terpental. Kedua orang wanita yang sama cantiknya ini
saling pandang, Siauw Kim tersenyum mengejek sedangkan
Ling Ling memandang penuh kemarahan dan kebencian.
Musuh besar ayah bundanya ini masih hidup dan sekarang dia
memperoleh kesempatan untuk menghadapinya dan
membunuhnya.
"Bagus, engkau datang mengantar nyawa !" bentaknya dan
dia segera menerjang musuh besarnya itu dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lompatannya yang amat cekatan seperti seekor burung walet
menyambar. Memang Ling Ling telah mewarisi ginkang dari Bu
Eng Lojin sehingga dia dapat bergerak luar biasa cepatnya.
Bu Siauw Kim sendiri yang termasuk seorang wanita sakti
dan memiliki ginkang istimewa, Sampai terkejut bukan main
dan cepat diapun mengelak sambil menggerakkan tangan
menangkis karena hanya mengelak saja amat berbahaya
menghadapi kecepatan kilat itu. Kembali lengan mereka
bertemu dan tahu-tahu Ling Ling sudah menyerangnya lagi.
Bu Siauw Kim terdesak dan untung baginya karena saat itu,
Tai-lek Hoat-ong sudah menerjang Ling Ling sehingga dara ini
terpaksa membagi perhatiannya. Dia lalu dikeroyok dua dan
terjadilah perkelahian yang amat seru, tidak kalah serunya
dengan perkelahian yang terjadi antara Gin San melawan Ouw
Sek.
Kalau Ouw Sek yang menandingi Gin San dan Tai-lek Hoatong
dibantu Bu Siauw Kim yang menandingi Ling Ling itu
membuat dua orang pendekar ini memperoleh tandingan yang
amat kuat, di lain fihak Sian Lun sebenarnya terlampau kuat
bagi Ba Mou Lama dibantu Sin Beng Lama. Akan tetapi, di
samping guru dan murid ini terdapat tiga orang Panglima
Tibet yang tangguh, dan setiap kali Sian Lun merobohkan tiga
orang panglima ini, muncul tiga orang lain sehingga dia selalu
tetap dikeroyok oleh lima orang lawan!. Karena itu, maka
keadaannya tidak lebih baik dari pada keadaan dua orang sute
dan sumoinya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaian untuk menghadapi lawan, dan di samping itu juga
selalu waspada agar tidak ada musuh yang dapat menyelinap
ke dalam lingkaran dan menyerang Siang Bwee atau
menolong dan membebaskan An Hun Kiong.
Siang Bwee memandang dengan alis berkerut dan penuh
kekhawatiran. Musuh terlampau banyak dan biarpun tiga
orang pendekar itu amat sakti, namun dikurung oleh demikian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyaknya musuh, keadaannya menjadi berbahaya juga. Dia
tahu akan hal ini akan tetapi sikapnya tetap tenang.
Betapapun juga, Sian Lun berada di situ dan kalau dia
melihat pemuda pujaan hatinya itu roboh dan tewas, diapun
tidak mungkin dapat hidup lagi dan dia tentu akan membunuh
diri dengan pedangnya, akan tetapi tentu saja lebih dulu dia
akan membunuh An Hun Kiong yang amat dibencinya. Kalau
sejak tadi dia belum membunuh An Hun Kong padahal
kesempatan berada di lengannya, adalah karena dia
menganggap bahwa orang Khitan ini masih penting bagi tiga
orang pendekar itu, sebagai sandera. Padahal, tangannya
sudah gatal-gatal untuk segera menusukkan pedang di
tangannya itu ke dalam dada Panglima Khitan itu, sampai
menembus jantungnya !
An Hun Kiong juga maklum bahwa nyawanya berada di
ujung rambut. Semenjak tadi dia memandang Siang Bwee dan
ketika kebetulan wanita itu memandang kepadanya, An Hun
Kiong berkata, suaranya penuh dengan kelembutan dan kasih
sayang, "Bwee moi mengapa ...... mengapa kau lakukan
ini.......?"
Siang Bwee tidak menjawab, hanya memandang dengan
sinar mata penuh kebencian dan ujung pedangnya menempel
di dada orang Khitan itu, sampai menembus baju dan terasa
nyeri pada kulit dada.
"Bwee-mol, aku........ aku cinta kepadamu ....... kau tahu
ini, dan kau........ bukankah engkau telah menjadi isteriku,
bukankah engkaupun suka kepadaku ? Kenapa kau berbalik
sikap dan memusuhiku? Sayangku, aku cinta padamu, aku
adalah suamimu, ingatlah ini...... "
"Crott! " Ujung pedang itu menikam sehingga masuk satu
senti ke dalam daging di dada An Hun Kiong, membuat orang
Khitan itu menyeringai menahan nyeri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Keparat jahanam!" Siang Bwee mendesis penuh kepedihan
hati. "Siapa sudi padamu? Aku menyerahkan diri hanya karena
ingin menyelamatkan Tan-taihiap! Engkau anjing hina! Aku
bersumpah untuk membunuhmu, karena engkau telah
memaksa aku mengorbankan kehormatanku!" Sampai di sini.
Siang Bwee tidak dapat menahan dua titik air mata
penyesalan jatuh.
"Tapi........ tapi aku tidak pernah memaksamu ......... dan
malam tadi, engkau demikian manis........ demikian penuh
penyerahan, kemesraan........ aughhh !"
Kembali pedang itu ditekan dan dari dada An Hun Kiong
mengucur darah karena ujung pedang telah melukai dadanya.
"Bangsat ! Aku berbuat demikian untuk membujukmu
membawaku kepadn Tan-taihiap ! Tunggu saja......aku pasti
akan membunuhmu, keparat !" Siang Bwee berkata lagi penuh
penyesalan dan kedukaan. Dia merasa betapa dirinya menjadi
kotor dan hina, tidak berharga lagi bagi Sian Lun. Akan tetapi
dia harus bertahan sampai pendekar itu benar benar terbebas
dari bahaya.
Akan tetapi, agaknya, harapan Siang Bwee jauh dari pada
kenyataan. Tiga orang pendekar itu menghadapi lawan-lawan
yang amat tangguh karena pengeroyokan yang tiada hentinya
sehingga mereka mulai merasa lelah setelah malam mulai
larut dan pagi menjelang tiba.
Gin San sendiri tadinya masih dapat mengimbangi Ouw
Sek. Kedua orang ini yang mempunyai sumber kepandaian
yang sama, tentu saja saling mengenai ilmu-ilmu masingmasing.
Hanya Ilmu Cap sha Tong thian ciptaan mendiang
Maghi Sing tidak dikenal oleh Ouw Sek, akan tetapi Ouw Sek
juga memiliki pukulan-pukulan simpanan yang tidak dikenal
Gin San, dan betapapun juga dasar dari pada pukulan mujijat
ini masih satu sumber, maka keduanya masih mampu
menghindarkan diri. Untungnya bagi Gin San, biarpun dia
kalah matang dalam latihan, pemuda ini telah mewarisi tenaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mujijat dari mendiang gurunya itu sehingga dalam hal tenaga
sinkang, bukan saja dia dapat mengimbangi Ouw Sek, bahkan
dia lebih kuat sedikit dibandingkan dengan Ouw Sek yang
banyak menghamburkan tenaganya dalam pengejaran
kesenangan dunia dan untuk melampiaskan nafsu nafsu
berahinya. Karena kekalahan latihan namun kemenangan
tenaga sin-kang inilah maka perkelahian antara kedua orang
tokoh Beng-kauw ini benar-benar hebat dan sampai sekian
lamanya tidak ada yang menang atau kalah. Akhirnya,
beberapa orang tokoh Tibet yang merasa tidak sabar terjun ke
dalam gelanggang perkelahian, mengeroyok Gin San karena di
antara tiga orang pendekar muda itu, hanya Gin San yang
sejak tadi tidak dikeroyok. Majunya beberapa orang ini tentu
saja membuat Gin San terdesak, dan seperti halnya Sian Lun
dan Ling Ling, begitu dia merobohkan dua tiga orang
pengeroyok, tubuh atau mayat mereka itu dihalau pergi dan
sebagai gantinya telah ada pengeroyok - pengeroyok lain yang
bertenaga segar maju menggantikan.
Tiga orang pendekar inipun maklum bahwa keadaan amat
gawat dan berbahaya. Mereka telah merobohkan entah
berapa banyak orang pengeroyok yang selalu diganti oleh
yang baru, dan mereka sudah kehilangan banyak tenaga.
Mereka maklum bahwa kalau keadaan seperti ini dilanjutkan,
akhirnya mereka akan roboh, juga karena lelah. Akan tetapi
untuk melarikan diripun tidak mungkin. Tempat itu dikepung
ketat, tidak ada jalan keluar sama sekali! Maka ketiganya,
tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, sudah mengambil
keputusan untuk melawan sampai hembusan napas terakhir!
Sinar matahari pagi telah mulai menyorot dan perkelahian
di taman itu masih berlangsung dengan hebatnya.
"Desak terus, serbu terus !" Ba Mou Lama berteriak ketika
melihat betapa tiga orang muda perkasa itu sudah mulai
lamban gerakannya saking lelahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, seolah-olah sebagai jawaban atas teriakannya
itu, tiba-tiba terdengar suara gegap-gempita di luar istana
yang disusul oleh suara gemuruh dan teriakan-teriakan yang
amat gaduh. Semua orang terkejut dan tak lama kemudian,
suara itu kian gemuruh, dan muncullah beberapa orang
perajurit berlarian ke tempat pertandingan itu. Kemudian
terdengar teriakan-teriakan gugup,
"Musuh datang menyerbu !"
"Pintu gerbang kota raja sudah bobol! "
"Musuh sudah berada di depan istana!"
"Bantu memperkuat pintu gerbang istana!"
"Celaka, musuh membobolkan pintu gerbang!"
Teriakan-teriakan itu menggegerkan mereka yang sedang
mengeroyok tiga orang pendekar itu. Sebaliknya, Sian Lun,
Gin San dan Ling Ling girang bukan main. Saat yang mereka
tunggu-tunggu sudah tiba. Pasukan-pasukan kaisar telah
berhasil menyerbu dan memasuki kota raja, bahkan telah
mengepung istana dan sudah membobolkan benteng dan
pintu gerbang istana! Tentu saja kenyataan ini menambah
semangat bagi mereka, memulihkan tenaga mereka sehingga
dengan gerakan tangkas sekali Ling Ling mampu menendang
lutut Tai-lek Hoat-ong, membuat tokoh Khitan itu terguling
dan sebelum Bu Siauw Kim sempat mencegah, Ling Ling telah
meloncat ke depan dan sekali kakinya bergerak, dia telah
menginjak kepala Tai-lek Hoat-ong. Terdengar lengking
mengerikan dan kepala itupun pecah!
Bu Siauw Kim terkejut bukan main, akan tetapi karena saat
itu Ling Ling sudah menerjangnya dengan pukulan pukulan
maut yang dilakukan bertubi tubi, Bu Siauw Kim mengelak dan
terus mundur. Tiga orang Khitan yang menyerang Ling Ling
membuat dara ini tidak dapat mendesak terus akan tetapi
kemarahannya meluap-luap dan tubuhnya bergerak cepat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga tiga orang itupun terpelanting dan roboh tewas
terkena tamparan tamparan maut dari dara ini !
Sementara itu, Sian Lun juga mendejak Ba Mou Lama yang
nampak gugup. Pendeta ini lalu melompat ke belakang,
mengucapkan kata kata dalam Bahasa Tibet kepada murid
dan para pembantunya, kemudian pendeta Lama berjubah
merah ini sudah berlari meninggalkan gelanggang perkelahian
karena dia harus memimpin pasukan untuk menghadapi
penyerbuan musuh. Sian Lun mengamuk seperti seekor naga
sakti dan dalam beberapa jurus saja, biarpun dia dikeroyok
banyak orang Tibet, dia berhasil menendang roboh Sin Beng
Lama. Pendeta ini masih sempat menusukkan tongkatnya ke
dada Sian Lun, akan tetapi Sian Lun mengibaskan tangannya
dan tongkat itu membalik, langsung menancap dada
pemiliknya. Sin Beng Lama berteriak dan roboh, tewas
seketika !
"Hendak lari ke mana kau ?" Gin San membentak ketika
melihat Ouw Sek meloncat ke belakang dan melarikan diri.
Ouw Sek ini orangnya cerdik sekali. Mendengar akan
datangnya serbuan musuh, tentu saja dia merasa gentar dan
paling perlu adalah menyelamatkan dirinya sendiri, maka
tanpa berkata apa apa dia sudah meloncat dan melarikan diri.
"Sute, jangan kejar! " teriak Sian Lun karena merasa
khawatir kalau-kalau Gin San akan terjebak. Mendengar
seruan ini, terpaksa Gin San menahan diri dan hanya
mengamuk dan merobohkan orang orang Tibet dan Khitan
yang kini menjadi makin panik karena selain para
pemimpinnya roboh dan mundur, juga suara-suara serbuan
pasukan musuh makin dekat dan membuat mereka makin
gentar.
"Siluman betina jangan lari kau !" Ling Ling juga berteriak
ketika melihat tiba - tiba Bu Siauw Kim lari meninggalkan
gelanggang menyelinap di antara kekacauan para perajurit
Tibet.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sumoi, jangan kejar !" kembali Sian Lun berseru dan Ling
Ling terpaksa menghentikan niatnya, apa lagi karena memang
tidak mudah mengejar musuh yang lenyap di antara para
perajurit pengawal Tibet dan Khitan yang mulai berlarian ke
sana sini seperti serombongan semut yang dikacau itu.
Akhirnya tidak ada lagi musuh yang mengeroyok mereka dan
ketiga orang muda sakti itu baru merasa betapa letihnya
kedua tangan dan kaki mereka. Mereka lalu menghampiri
Siang Bwee dan melihat wanita ini menangis.
"Jangan........!!" Tiba-tiba Sian Lun meloncat, namun
terlambat. Pedang di tangan Siang Bwee itu sudah amblas ke
dalam dada An Hun Kiong. Orang Khitan itu terbelalak,
mengeluarkan jerit tertahan dan tubuhnya berkelojotan, darah
menyembur keluar ketika dengan sekuat tenaga Siang Bwee
mencabut kembali pedang itu. Kemudian, sambil menangis,
wanita yang sudah nekat ini menggerakkan pedang
menggorok leher sendiri !
Akan tetapi, semenjak menggagalkan percobaan
membunuh diri dari Siang Bwee di dalam kamar tahanan, Sian
Lun telah waspada, maka begitu melihat wanita itu
menggerakkan pedang, dia sudah meloncat ke depan,
menubruk dan merampas pedang itu, melemparnya! jauhjauh.
"Siang Bwee, apa yang kau lakukan ini?" bentaknya,
dengan nada penuh teguran. Siang Bwee menoleh,
memandang kepada pria itu, kemudian dia menjatuhkan diri
berlutut dan menangis tersedu-sedu.
"Taihiap untuk apa aku hidup lagi....? Hidup sebagai
seorang yang hina, kotor dan tercemar.......? Ahh, mengapa
taihiap mencegah aku mati ? Apakah taihiap begitu tidak
menaruh kasihan kepadaku .... ingin melihat aku hidup
tersiksa.......?"
Ling Ling mengerutkan alisnya, dan juga Gin San maklum
apa yang telah terjadi dan menimpa gadis yang lemah namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berwatak gagah dan berani ini. Seperti juga Ling Ling, dia
dengan mudah dapat menduga bahwa gadis ini amat
mencinta Sian Lun, mengorbankan diri untuk Sian Lun ! Dan
harus mereka akui bahwa tanpa bantuan gadis ini, mereka
bertiga mungkin takkan mampu menyelamatkan diri.
Sian Lun juga mengerti dan hatinya terharu bukan main.
"Siang Bwee, jangan kau membunuh diri, jangan kau mati!
Aku akan berduka dan merana sekali kalau engkau melakukan
hal itu."
Sepasang mata yang basah air mata itu terbelalak, muka
yang pucat itu berdongak memandang. "Be........ benarkah
ucapanmu itu, taihiap? Engkau .... engkau menhendaki aku
hidup.......?"
Sian Lun mengangguk "Aku ingin melihat engkau hidup,
sehat dan bahagia!"
"Tapi........ aku hanya dapat berbahagia kalau hidup di
dekatmu, taihiap! Bolehkah aku terus di sampingmu?"
Kembali Sian Lun mengangguk dengan hati terharu, dan
dia mengangkat bangun gadis itu yang kembali menangis,
akan tetapi kini menangis karena berbahagia. Kalau dia boleh
hidup di dekat Sian Lun, tentu saja dia mau hidup seribu
tahun lagi !
"Terima kasih, taihiap. Aku tidak akan membunuh diri,
sama sekali tidak!"
"Tapi kau harus benar benar memegang janjimu itu," kata
Sian Lun. "Katakan, siapakah yang memaksamu.......
menyerahkan diri kepada An Hun Kiong?"
"Thio-taijin si keparat itu !" kata Siang Bwee sambil
mengepal tinju tungannya yang kecil.
"Hayo kauantar aku mencarinya!" katanya, kemudian
menoleh kepada sute dan sumoinya. ”Sute, dan kau sumoi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentara kerajaan sudah menyerbu, lekas kalian membantu dan
jangan biarkan penghianat keji itu meloloskan diri. Aku akan
menyerbu masuk ke istana mencari Thio-thaikam !" Setelah
berkata demikian, Sian Lun menggandeng tangan Siang Bwee
diajak memasuki istana untuk menjadi petunjuk jalan.
Sementara itu, Ling Ling sejenak tertegun menyaksikan
sikap Sian Lun dan Siang Bwee. Dia dapat melihat betapa
Siang Bwee amat mencinta Sian Lun, dan melihat pula betapa
suhengnya itu amat terharu dan agaknya suhengnya takkan
mampu membiarkan gadis itu melepas budi yang sedemikian
besarnya tanpa membalasnya. Hal ini mendatangkan rasa
tidak enak di dalam hatinya. Dia tidak tahu betapa Gin San
memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kagum dan
mesra. Barulah dia terkejut ketika Gin San menyentuh
tangannya.
"Sumoi, kita baru saja lolos dari lubang maut !" kata
pemuda ini gembira. Ling Ling membiarkan tangannya
dipegang sebentar, kemudian menarik tangannya dengan
halus.
"Berkat pertolongan Siang Bwee, ji-suheng. Mari kita
mengamuk keluar, aku ingin sekali dapat membekuk batang
leher siluman betina Bu Siauw Kim ! Aku ingin dapat
membalas kematian ayah bundaku,"
"Mari kubantu engkau, sumoi. Akupun belum puas kalau
belum dapat merobohkan penjahat Ouw Sek !"
Biarpun tadi mereka amat lelah, namun istirahat sejenak itu
telah memulihkan tenaga mereka dan ketika teringat akan
musuh-musuh mereka, Ling Ling dan Gin San menjadi
bersemangat lagi dan larilah keduanya keluar dari istana di
mana telah terjadi pertempuran karena fihak pasukan sudah
mulai menyerbu. Di antara para penyerbu terdapat beberapa
orang anggauta Im yang-pai yang memberi hormat ketika
mereka melihat dua orang muda perkasa itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Sian Lun bersama Siang Bwee telah
memasuki istana dan dengan wanita itu menjadi petunjuk
jalan, Sian Lun memasuki gedung di mana Thio-thaikam
tinggal semenjak istana diduduki oleh pasukan Tibet. Akan
tetapi kedatangannya terlambat karena pembesar itu telah
melarikan diri dari tempat itu. Dari seorang dayang yang
menggigil ketakutan Sian Lun mendapat keterangan bahwa
Thio thaikam baru saja ikut melarikan diri bersama para
pembesar lain melalui pintu belakang, dikawal oleh para
pengawal pribadinya.
Melihat bahwa pasukan pasukan pemerintah telah
menyerbu, Sian Lun yang juga melihat adanya beberapa orang
Im-yang-pai lalu menyuruh lima orang Im-yang-pai untuk
menjaga dan melindungi Siang Bwee. Tentu saja lima orang
itu merasa bangga dan girang dipercaya oleh pendekar ini.
"Siang Bwee, kautunggu di sini dulu, aku harus mengejar
keparat itu !" kata Sian Lun dan tanpa menanti jawaban,
tubuhnya sudah melesat cepat, lenyap di antara keributan dan
banyak orang dan dia sudah melakukan pengejaran terhadap
Thio-thaikam.
Setelah keluai dari istana, ternyata olehnya bahwa kota raja
telah penuh dengan pasukan kerajaan dan hatinya menjadi
lega. Orang-orang Tibet dan Khitan banyak yang telah roboh,
sebagian besar berusaha untuk melarikau diri dan terjadi
pertempuran di mana-mana, akan tetapi selalu fihak pasukan
kerajaan yang mendesak dan menghimpit karena selain
jumlah mereka lebih banyak, juga semangat mereka lebih
besar dibandingkan dengan fihak musuh ang sudah gentar
menerima pembalasan hebat itu.
Sian Lun mencari jalan sambil merobohkan beberapa orang
musuh. terdekat, dan setelah bertanya sana-sini akhirnya dia
memperoleh jejak Thio-thaikam dan rombongannya yang
melarikan diri lewat pintu gerbang barat. Cepat dia melakukan
pengejaran dan akhirnya dia melihat rombongan Thio-thaikam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini sedang bertempur melawan pasukan kerajaan tepat di luar
pintu gerbang sebelah barat itu. Girang hatinya melihat ini,
apalagi ketika dia mengenal bahwa pasukan itu dipimpin oleh
sahabatnya. Panglima Ong Gi ! Biarpun pasukan Ong-ciangkun
ini jauh lebih banyak jumlahnya, namun karena Thio thiikam
yang berkuda itu dikawal oleh orang-orang pandai, maka
agaknya Ong-ciangkun menghadapi kesukaran dan banyak
perajuritnya sudah roboh sungguhpun bagi rombongan Thiothaikam
sukar pula untuk dapat menyelamatkan diri karena
sudah terkepung rapat.
Ong-ciangkun sendiri yang dibantu oleh beberapa orang
perwira sedang mencoba untuk mengepung dan merobohkan
dua orang yang kelihatan amat lihai, dan segera Sian Lun
mengenal mereka ini sebagal Tiat-liong Liem Kiat dan
gurunya, yaitu Tek Po Tosu. Mengenal Tek Po Tosu, bangkit
kemarahan Sian Lun. Itulah orangnya yang menurut Siang
Bwee adalah tangan kanan Thio-thaikam yang memusuhi
ayahnya dahulu. Maka dia segera menyerbu sambil berseru,
"Ong ciangkun, serahkan tosu siluman ini kepadaku!"
Melihat munculnya pemuda ini, Ong Gi girang bukan main,
"Tan-ciangkun.......!" serunya dan dengan kagum dia
menyaksikan betapa dengan sekali terjang saja. Sian Lun telah
berhasil merobohkan empat orang perajurit pengawal musuh
dan kini pemuda perkasa itu sudah mendesak Tek Po Tosu
dan muridnya. Melihat ini, Ong Gi lalu memerintahkan para
perwira bawahannya untuk memperkuat pengepungan
terhadap Thio-thaikam yang masih dilindungi oleh banyak
pengawal itu.
Tek Po Tosu terkejut dan merasa jerih menyaksikan sepak
terjang Sian Lun yang sekali terjang telah merobohkan empat
orang itu. Dia sudah cepat menggerakkan sepasang pedang di
tangannya, menyilangkan sepasang pedang itu di depan dada,
sikapnya melindungi diri saja karena dari gerakan pemuda itu
maklumlah dia bahwa pemuda ini amat lihai, jauh lebih lihai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari pada mendiang pendekar Tan Bun Hong, ayah kandung
pemuda ini. Liem Kiat yang sudah pernah merasakan kelihaian
pemuda itupun sudah melintangkan pedangnya, dan
membiarkan para pengawal mengepung pemuda itu.
Dengan mata bersinar penuh kemarahan Sian Lun
memanding kepada tosu tua itu dan membentak, "Tek Po
Tosu, ingatkah engkau akan dosa-dosamu kepada mendiang
ayahku, pendekar Tan Bun Hong?"
Tek Po Tosu tidak menjawab, hanya memandang dengan
mata terbelalak dan wajahnya agak pucat, jantungnya
berdebar ngeri karena dalam pandangannya, wajah Sian Lun
pada saat itu serupa benar dengan pendekar Tan Bun Hong
ketika pendekar itu mengamuk di gedungnya belasan atau
duapuluh tahun yang lalu.
Liem Kiat juga gentar terhadap pemuda ini, maka dia cepat
mengeluarkan aba-aba untuk menggerakkan pasukan
pengawalnya yang segera mengeroyok Sian Lun. Pemuda ini
mengamuk seperti seekor naga dan banyaklah perajurit
pengawal yang terpelanting ke kanan kiri.
”Lun-koko..........!" Seruan ini membuat Sian Lun menengok
dan dia melihat bahwa ada pasukan baru yang datang dan di
antara mereka terdapat Yap Wan Cu yang baru saja berteriak
memanggilnya itu, di samping ayah bunda gadis itu yang
menyerbu musuh dengan gagah perkasa ! Tentu saja Sian Lun
menjadi gembira sekali.
"Wan Cu moi-moi” teriaknya dan cepat dia menyambung,
"Kau hadapi tikus-tikus ini agar aku dapat menghadapi tosu
keparat itu"
"Baik. Koko!" Wan Cu mengamuk dan memutar pedangnya
membuat para pengawal itu kocar – kacir. Hati dara ini
gembira dan penuh semangat begitu dia melihat pemuda
perkasa yang dicintanya itu dalam keadaan selamat. Tadinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia sudah khawatir bukan main ketika ada berita bahwa Sian
Lun bersama dua orang temannya tertawan musuh.
Setelah Wan Cu datang membantu, Sian Lun lalu melompat
dan menerjang Tek Po Tosu yang menyambut serangannya
dengan bacokan pedang kiri disusul tusukan pedang kanan.
Serangan ini cukup dahsyat, akan tetapi bagi Sian Lun hanya
merupakan serangan lemah seorang tua yang ketakutan.
Dengan merendahkan tubuh dia membiarkan bacokan pedang
lewat dan ketika pedang ke dua menusuk, dia miringkan
tubuh dan tangannya bergerak ke depan. Tek Po Tosu berseru
keras karena tiba - tiba saja tangan kanannya terasa lumpuh
dan pedang di tangan kanan yang menusuk tadi telah pindah
ke tangan lawan !
Saat itu Liem Kiat yang membantu gurunya menerjang dari
belakang. Tanpa menoleh Sian Lun melontarkan pedang
rampasannya ke belakang. Pedang meluncur bagaikan anak
panah cepatnya menyambut tubuh Liem Kiat.
"Creppp !" Pedang itu menusuk perut dan menembus
punggung Liem Kiat. Pengawal kurus ini terjengkang roboh
dan tewas seketika.
Tek Po Tosu marah dan juga ketakutan. Dia menjadi nekat,
menggunakan pedang di tangan kiri untuk menubruk,
sedangkan tangan kanannya melakukan pukulan yang
mengandung tenaga lweekang
"Plakk ! Krekk !" tosu itu mengeluh, pedangnya terlempar
dan lengan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan
lengan Sian Lun ! Ternyata menghadapi musuh besar ini, Sian
Lun telah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga tentu
saja Tek Po Tosu tidak dapat menahannya. Tahu bahwa
nyawanya terancam, kakek ini lalu melompat dan hendak
melarikan diri. Akan tetapi Sian Lun telah menyambar pedang
musuh itu dan sekali melontarkan pedang itu, pedang telah
meluncur cepat mengejar. Tek Po Tosu mengeluarkan teriakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyaring dan roboh menelungkup, punggungnya tertembus
pedangnya sendiri dan tewaslah dia.
Setelah berhasil membunuh musuh lama ayahnya, Sian Lun
lalu menyerbu ke arah pasukan pasukan pengawal yang
mempertahankan Thio-thaikam. Thaikam gendut itu kelihatan
pucat dan menggigil di atas kudanya melibat betapa pasukan
pengawalnya mulai terhimpit. Dia sendiri memegang sebatang
pedang, namun pedang itu hanya dipegang dengan tangan
gemetar, karena dia tidak berani ikut bertempur. Sian Lun
maklum bahwa pembesar ini mempunyai dosa besar, telah
berkhianat terhadap pemerintah, maka dia lalu melompat,
melampaui kepala para pengawal dan meluncur turun di
tengah-tengah, tak jauh dari pembesar itu. Melihat pemuda ini
tiba-tiba berada di depan kudanya, Thio-thaikam terkejut
bukan main. Akan tetapi dasar orang yang terlalu
mementingkan diri sendiri dan yang diingat hanya
keselamatan dirinya sendiri, dia masih ada muka untuk
berkata,
"Tan-ciangkun, selamatkan saya...... dan selaksa tail emas
akan kuberikan kepadamu......!"
Tentu saja ucapan itu merupakan minyak yang disiramkan
dalam api kebencian Sian Lun. Dia mengeluarkan bentakan
nyaring dan melompat ke depan. Pembesar gendut itu
mencoba untuk membacokkan pedangnya, akan tetapi sekali
sampok saja pedang itu terpental dan di lain saat tubuhnya
sudah diseret turun dari atas kuda oleh Sian Lun yang menarik
lengan tangan pembesar itu.
"Aduhhh......... aduhh......... mati aku......!"
Thio-thaikam berteriak-teriak seperti seekor babi
disembelih. Akan tetapi Sian Lun yang maklum akan
pentingnya orang ini, tidak mau membunuhnya, hanya
menariknya bangun dan berteriak nyaring.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Thio-thaikam telah kutangkap ! Hayo kalian semua
menyerah !"
Semua pasukan pengawal itu hanya melindungi Thiothaikam
karena menerima upah besar. Kesetiaan mereka
hanyalah kesetiaan belian saja. maka kini melibat betapa
pembesar itu telah tertawan, nyali dan semangat mereka
lenyap. Mereka membuang senjata dan menjatuhkan diri
berlutut, menyerah saja ketika mereka digiring oleh para
pasukan di bawah pimpinan Panglima Ong Gi.
Sementara itu, Gin San dan Ling Ling yang tadi mengejar
keluar istana, tidak lagi dapat menemukan bayangan Ouw Sek
dan Bu Siauw Kim. Ketika mereka tiba di luar pintu gerbang
utara, mereka melibat rombongan Ba Mou Lama sedang
mengamuk, dikeroyok oleh pasukan kerajaan yang merasa
kewalahan juga menghadapi pendeta yang sakti ini,
sungguhpun jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada
jumlah para pengikut Ba Mou Lama. Melihat ini, dua orang
muda perkasa itu sudah menerjang masuk. Gin San langsung
menghadapi Ba Mou Lama sedangkan Ling Ling mengamuk
dan menerjang para pengikut Ba Mou Lama, yaitu para
pendeta dan Panglima Tibet yang melarikan diri bersama
pemimpin besar mereka itu.
Ba Mou Lama adalah seorang pendeta Lama Jubah Merah
yang sakti. Kelompok Lama Jubah Merah memang terkenal
sebagai kelompok pendeta di Tibet yang selain berpengaruh
juga memiliki banyak tokoh yang pandai dan Ba Mou Lama
merupakan seorang di antara mereka yang telah berhasil
menjadi seorang di antara pimpinan Kerajaan Tibet. Kini,
karena petualangannya telah gagal, dan ternyata pasukannya
hanya mampu bertahan beberapa hari saja di kota raja, dia
merasa kecewa dan juga menyesal karena Kerajaan Tibet
tidak segera mengirim pasukan besar untuk memperkokoh
kedudukannya di kota raja. Maka dia menjadi nekat dan
begitu melihat Gin San terjun ke dalam medan pertempuran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan dia tahu benar akan kelihaian pemuda ini, dia sudah
menyambut dengan serangan-serangan maut! Namun, Gin
San dapat menghindarkan diri dengan amat mudah, lalu dia
langsung mengeluarkan ilmunya yang hebat, yaitu jurus-jurus
dari Cap-sha long-thian. Dia tidak mau menghamburkan waktu
karena diapun maklum bahwa lawannya adalah seorang
pandai yang perlu dihadapi dengan jurus-jurus ilmu simpanan
ini. Melihat gerakan aneh yang mendatangkan angin dahsyat
berputaran itu, Ba Mou Lama terkejut bukan main. Pukulan
menyamping dari Gin San yang dilakukan dengan tubuh agak
direndahkan itu disambutnya dengan dorongan kedua telapak
tangannya pula, dan pendeta Lama ini berteriak kaget karena
angin berpusing yang keluar dari pukulan pemuda itu
sedemikian kuatnya sehingga dorongan kedua tangannya
yang menyambut itu tidak kuat bertahan dan tubuhnya sudah
terpelanting ke belakang dan terbanting ke atas tanah tanpa
dapat dicegahnya lagi
Melihat betapa pendeta Tibet yang telah merobohkan
banyak sekali perwira dan perajurit ini akhirnya telah
terpelanting roboh, terdengar para perajurit kerajaan bersorak
gembira dan belasan orang perajurit menubruk maju seperti
berebutan untuk membunuh musuh yang ditakuti akan tetapi
juga dibenci ini.
"Jangan........!" Gin San berseru kaget, namun seruannya
terlambat. Pendeta yang sudah terpelanting itu tiba tiba
mengeluarkan teriakan nyaring melengking dan empat orang
di antara belasan orang perajurit yang menerjang itu
terlempar ke belakang menabrak kawan-kawan sendiri dan
mereka itu tewas seketika dengan dada atau kepala pecah
terkena pukulan-pukulan maut Ba Mou Lama! Ternyata
pertemuan tenaga dengan Gin San tadi hanya membuat dia
terpelanting dan tenaganya masih amat kuat sehingga dalam
segebrakan saja dia kembali telah membunuh empat orang
pengeroyok. Terkejutlah para perajurit itu dan mereka mundur
kembali dengan gentar dan marah. Beberapa orang di antara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka melontarkan tombak untuk membalas kematian empat
orang kawan mereka tadi. Akan tetapi setiap kali Ba Mou
Lama ynng kini telah bangkit kembali itu bergerak, tombaktombak
itu tertangkis dan terpental ke samping.
Akan tetapi kini Gin San sudah berada di depannya
kembali. "Ba Mou Lama lihat, para pengikutmu telah kocarkacir,
riwayatmu telah habis, apakah engkau tidak juga mau
menyerah?" bentak Gin San yang ingin menawan kakek ini
karena dia tahu bahwa kakek ini adalah biang keladi atau
pimpinan tertinggi dari fihak musuh yang telah menduduki
kota raja dan merupakan orang penting.
Ba Mou Lama maklum bahwa dengan adanya pemuda
tangguh ini, jalan untuk lari membebaskan diri baginya sudah
terputus, dan diam-diam dia merasa menyesai sekali terhadap
para pembantunya yang ternyata dalam keadaan seperti itu
telah pergi mencari keselamatan masing-masing. Kalau di situ
misih ada Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek, tentu masih ada harapan
baginya untuk membebaskan diri. Maka dia menjadi nekat dan
menudingkan telunjuknya ke arah muka Gin San.
"Orang muda keparatl Dari pada menyerah lebih baik mati!"
"Hemm, engkau sendiri yang cari mati !" kata Gin San dan
diapun cepat menangkis karena kakek yang nekat itu sudah
menyerangnya dengan ganas. Terjadilah perkelahian yang
amat seru dan hebat. Para perajurit membuat lingkaran dan
menonton, karena tidak ada di antara mereka yang berani
memasuki gelanggang perkelahian ini. Baru angin pukulan
kedua orang sakti ini saja yang menyambar-nyambar terasa
seperti angin badai dan membuat mereka gentar bukan main.
Maka mereka membentuk lingkaran lebar dan berdiri agak
jauh.
Memang hebat luar biasa perkelahian itu. Ba Mou Lama
merupakan tokoh paling lihai di antara semua pimpinan
musuh, kecuali Pek-ciang Cin - jin Ouw Sek tentu saja. Apa
lagi kini dalam keadaan tersudut seperti seekor harimau yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terkurung dan tidak lagi melihat jalan keluar untuk
menyelamatkan diri, Ba Mou Lama menjadi nekat. Dia amat
membenci pemuda yang melawannya karena pemuda inilah
yang tidak memungkinkan dia melarikan diri Kalau tidak ada
pemuda ini, agaknya masih ada harapan baginya untuk lari.
Pemuda ini yang menjadi rintangan terbesar, maka dia
menyerang dengan ganas, serangan nekat untuk mengadu
nyawa. Pemuda ini harus mati, baru ada harapan baginya
untuk menyelamatkan diri, atau kalau tidak, biar dia mati dari
pada tertawan dan mengalami hinaan-hinaan.
Kenekatan Ba Mou Lama memperlipat-gandakan
kekuatannya dan membuat Gin San menjadi agak kewalahan.
Pendeta itu tidak lagi memperdulikan pertahanan atau
perlindungan dirinya, melainkan mencurahkan seluruh
perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk
menyerang. Oleh karena itu, serangan-serangannyapun nekat
dan hebat sekali, memaksa Gin San untuk bersikap waspada
karena setiap serangan kakek itu sama sekali tidak boleh
dipandang ringan. Tentu saja dengan kenekatan lawan seperti
itu dia melihat lowongan-lowongan terbuka, akan tetapi
karena serangan-serangan Ba Mou Lama datang bertubi-tubi,
dia belum sempat mengirim serangan balasan dan hanya
sibuk menghindarkan semua serangan lawan dengan cara
mengelak atau kadang kadang menangkis.
Sementara itu, tak jauh dari situ, Ling Ling mengamuk
dengan ganasnya. Dia berloncatan ke sana-sini, berkelebatan
seperti seekor naga sakti beterbangan dan kemanapun
tubuhnya berkelebat, tentu ada seorang dua orang lawan
yang roboh! Sepak terjangnya ini mengagumkan para perajurit
kerajaan dan beberapa kali mereka bersorak penuh kagum
dan girang memperoleh bantuan dua orang seperti Gin San
dan Ling Ling itu. Semangat para pengikut Ba Mou Lama
menjadi makin kecil dan akhirnya mereka mencoba untuk
melarikan diri, dikejar-kejar oleh para perajurit yang tidak
mengenal ampun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hampir seratus jurus lamanya Gin San selalu bertahan.
Kemudian dia melihat betapa gerakan lawan makin
mengendur. Tahulah dia bahwa Ba Mou Lama telah terlalu
banyak mengerahkan tenaganya dan mungkin karena dihimpit
penyesalan, kekecewaan dan juga kegelisahan maka kakek itu
mulai menjadi lemah. Ketika melihat kesempatan baik ini,
begitu melihat kedua tangan kakek itu kembali menyerangnya
dengan dorongan yang mengandung tenaga dahsyat, dia tidak
mengelak atau menangkis melainkan menyambutnya dengan
kedua telapak tangannya pula.
"Plakk!!" Dua pasang tangan yang mengandung tenaga
sinkang amat kuat itu saling temu dan melekat! Ba Mou Lama
cepat menggerakkan kakinya untuk menendang, akan tetapi
Gin San sudah waspada akan hal ini maka begitu lawan
menggerakkan kaki, diapun menggerakkan kaki menangkis.
"Krekkk !" Ba Mou Lama mengeluh dan kaki kirinya menjadi
lumpuh karena tulang betisnya patah ! Akan tetapi dia masih
nekat dan mengerahkan seluruh tenaga pada kedua
tangannya. Gin San merasa betapa ada hawa yang kuat dan
panas menyerangnya melalui telapak tangan, maka diapun
mengerahkan tenaga sekuatnya.
Hebat adu tenaga ini. Tidak nampak, namun terasa oleh
para penonton betapa hebatnya dua orang itu mengadu
tenaga. Akhirnya, setelah mukanya penuh dengan peluh yang
menetes-netes turun dan kepalanya mengeluarkan uap putih.
Ba Mou Lama mengeluh lagi dan kakinya yang tinggal sebelah
yang dapat bertahan itu melangkah mundur, hampir dia roboh
dan pada saat itu, Gin San mengeluarkan bentakan keras
sambil mendorong. Tak dapat di tahan lagi tubuh Ba Mou
Lama terjengkang kemudian terbanting roboh, kedua
tangannya masih kaku dilonjorkan ke depan. Gin San yang
maklum akan kekuatan lawan, sudah menyusulkan serangan
dengan jurus dari Cap-sha Tong-thian. Tangan kanannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyambar dari atas ke bawah. Ba Mou Lama menggerakkan
kedua lengan yang masih kaku itu untuk menangkis.
"Dess!!" Debu mengebul tinggi dan tubuh kakek itu
terguling - guling lalu berhenti dan tak bergerak lagi karena
dia sudah tewas! Terdengar sorak-sorai gegap-gempita dan
hal ini membuat sisa para pengikut Ba Mou Lama makin
cemas sehingga mudah saja mereka itu dirobohkan oleh Ling
Ling dan para perajurit kerajaan. Habislah semua pengikut
Tibet itu dan tempat itu menjadi tempat pembantaian yang
amat mengerikan!
Dalam waktu setengah hari saja, habislah sudah semua
riwayat Ba Mau Lama dengan petualangannya. Dia telah
mengguncangkan sejarah dengan keberhasilannya menduduki
kota raja dan bahkan menduduki istana, dengan bantuan
orang orang Khitan di bawah pimpinan An Hun Kiong dan
dengan bantuan dari dalam istana oleh Thio - thaikam !
Petualangannya ini sama sekali tidak direstui oleh Kerajaan
Tibet, oleh karena itu Kerajaan Tibet tidak mengirim pasukan
bala bantuan sehingga petualangannya itupun hanya dapat
bertahan selama beberapa hari saja. Memang Kerajaan Tibet
tidak merestui petualangan ini, tidak menyetujui kelancangan
Ba Mou Lama yang tidak memperhitungkan kekuatan sendiri.
Kalau Ba Mou Lama sampai dapat berhasil, semua itu adalah
berkat bantuan Thio thaikam y«ng tidak saja telah dapat
mempermainkan kaisar, akan tetapi pembesar kebiri yang lihai
sekali ini bahkan dapat mengelabui pembesar tinggi yang
bijaksana seperti Penasehat Militer Han Gi dan yang lain-lain!
Boleh dibilang hampir semua pengikut Ba Mou Lama dan
An Hun Kiong tewas dalam serbuan balasan dari pasukan
kerajaan, dan sebagian dari mereka yang berhasil melarikan
diri dan bersembunyi di antara rakyat selalu menjadi orangorang
buruan. Dengan segala kegembiraan dan kebesaran
akhirnya kaisar kembali ke istana di mana diadakan pesta
kemenangan yang meriah. Dalam pesta itu, nama tiga orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pendekar Tan Sian Lun, Gan Ai Ling, dan Coa Gin San disebutrebut,
bahkan mereka bertiga dipanggil untuk menghadap
kaisar dan menerima pahala dari kaisar bahkan menaikkan
pangkat Sian Lun menjadi seorang panglima muda. Akan
tetapi karena Ai Ling atau Ling Ling dan Gin San tidak mau
menerima pangkat, mereka ini hanya menerima benda-benda
berharga, dan di antaranya mereka masing-masing menerima
tanda kesetiaan dan orang kepercayaan kaisar, yaitu sebatang
pedang yang sarungnya terbuat dari pada emas ukir ukiran.
Dengan pedang ini, mereka mempunyai kekuasaan untuk
setiap waktu datang dan minta menghadap kaisar, dan
pedang inipun membuat mereka menjadi tamu tamu agung
bagi para pembesar di seluruh negeri !
Thio thaikam dijatuhi hukuman mati, demikian pula ratusan
orang pengikutnya yang tertangkap hidup-hidup. Selebihnya
telah tewas dalam penyerbuan itu. Yang kalah menjalani
hukuman mati sedangkan yang menang mengadakan pesta
pora sampai tiga hari tiga malam !
Tiga orang muda perkasa itu begitu keluar dari istana
disambut oleh keluarganya Yap Yu Tek yang sudah menanti
sejak tadi. Yap Yu Tek, Gan Beng Lian dan puteri mereka, Yap
Wan Cu, semenjak membantu pasukan kerajaan untuk
menyerbu kota raja dan merampasnya dari tangan pasukan
Tibet, tidak pernah meninggalkan kota raja karena mereka
menanti sampai kaisar kembali ke istana dan kemudian
dengan girang mereka mendengar tentang unugerah yang
dilimpahkan kaisar kepada para pendekar muda yang telah
berjasa besar itu.
"Kiong hi (selamat), Lun koko!" Wan Cu menyambut
keluarnya tiga orang muda itu dengan ucapan selamat kepada
Sian Lun dengan wajah berseri dan sinar mata bercahaya
gembira. "Anugerah hebat apakah yang kauterima dari sri
baginda?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan tersipu-sipu Sian Lun menceritakan kenaikan
pangkatnya dan suami isteri Yap juga memberi selamat,
demikian pula kepada Ling Ling dan Gin San mereka memberi
selamat.
"Sian Lun, kiranya sekarang sudah tiba waktunya bagi
keluarga kami untuk membicarakan urusan antara kita." Tiba
tiba Yap Yu Tek berkata ketika mereka berenam memasuk
sebuah restoran besar di mana keluarga Yap hendak menjamu
tiga orang muda ini.
Mendengar itu, tiba-tiba wajah Wan Cu menjadi merah
sekali dan dia membuang muka sambil menahan senyum.
Melihat ini, Sian Lun juga menjadi tersipu-sipu dan dia cepat
memberi hormat kepada Yap Yu Tek sambil berkata, "Harap
paman dan bibi sudi memaafkan saya. Tapi........ tapi........
ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada paman
dan bibi berdua saja......... "
Ling Ling dan Gin San saling bertukar pandang. Dua orang
muda ini sudah tahu akan persoalan Siang Bwee dan biarpun
Sian Lun tidak pernah mengatakan sesuatu, namun mereka
berdua tahu bahwa tidak mungkin Sian Lun dapat melupakan
Siang Bwee, wanita yang amat mencintanya dan sudah
mengorbankan segala-galanya untuk Sian Lun.
Dua orang muda itu bangkit berdiri. "Biarlah kami pergi
dulu........."
"Eh, eh......, jangan, Ling Ling ! Kalian duduk saja di sini,
temani Wan Cu. Mari, Sian Lun, kita bicara di dalam !" kata
Yap Yu Tek yang lalu bangkit bernama isterinya dan mengajak
Sian Lin untuk bicara di ruangan dalam restoran besar itu.
Karena baru saja ada perang, maka restoran itu belum
didatangi tamu dan pemiliknya hanya melayani permintaan
keluarga Yap yang hendak menjamu tiga orang pendekar
muda yang mendapat anugerah dari kaisar itu. Oleh karena
itu, maka Yap Yu Tek dan isterinya dapat bicara dengan
leluasa bersama Sian Lun di sebelah dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah paman dan bibinya itu duduk berhadapan dengan
dia di ruangan dalam, Sian Lun berkata dengan suara tenang,
"Harap bibi dan paman sudi memaafkan saya. Sebetulnya
berat bagi saya untuk membicarakannya dengan paman
berdua, akan tetapi apa boleh buat, karena menyimpannya
sebagai rahasia lebih tidak baik lagi."
Suami isteri itu saling pandang dengan sinar mata khawatir,
akan tetapi Yap Yu Tek segera berkata dengan lembut kepada
pemuda yang menundukkan kepala itu, "Sian Lun, antara kita
terdapat ikatan kekeluargaan, kita bukanlah orang-orang lain,
maka memang tidak semestinya kalau ada hal-hal yang
disembunyikan. Di samping ikatan perjodohan antara engkau
dan Wan Cu, engkau adalah keponakan kami. Nah, katakanlah
apa yang hendak kausampaikan kepada kami?"
Dengan hati-hati dan singkat Sian Lun lalu menceritakan
pengalamannya ketika dia menyelamatkan kaisar dan oleh
kaisar dia diberi hadiah seorang gadis bernama Ci Siang Bwee
yang oleh kaisar dimaksudkan agar menjadi isterinya atau
selirnya.
"Saya tidak mungkin berani menolak pemberian itu," Sian
Lun melanjutkan kepada Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian yang
mendengarkan penuh perhatian. "Akan tetapi sayapun tidak
mempunyai keinginan untuk beristeri atau berselir, oleh
karena itu, berkat bantuan Siang Bwee, biarpun gadis itu
tinggal sebagai pembantu rumah tangga saja, namun di luar
dia saya perkenalkan sebagai selir. Hal ini untuk menjaga agar
jangan sampai sri baginda tersinggung dan merasa saya tolak
anugerah beliau........... "
Sampai di sini, wajah Sian Lun menjadi merah sekali dan
Yap Yu Tek mengangguk-angguk sambil tersenyum. Pemuda
ini benar-benar seorang muda yang hebat, pikirnya.
Mengambil selir, apa lagi setelah memperoleh kedudukan
panglima, apa sih salahnya?. Pada jaman itu, bagi seorang
pria berkedudukan, memiliki selir bukanlah hal yang patut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibuat malu, bahkan pada sebagian besar orang merupakan
kebanggaan. Sungguhpun dia sendiri tidak pernah mempunyai
selir!
"Lanjutkanlah ceritamu, Sian Lun. Aku dapat mengerti
keadaanmu," katanya,
Sian Lun lalu melanjutkan ceritanya. Betapa dia, Ling Ling,
dan Om San menyerbu ke istana dan akhirnya tertawan.
Betapa mereka bertiga sudah berada di ambang maut, dan
agaknya tidak mungkin dapat tertolong lagi kalau saja tidak
muncul Siang Bwee! Dia menceritakan betapa oleh Thiothaikam
Siang Bwee dihadiahkan secara paksa kepada An Hun
Kiong, dengan ancaman bahwa kalau wanita itu menolak,
maka Sian Lun akan dibunuh.
"Dia...........dia terpaksa mentaati karena hendak menolong
saya, kemudian ....... ketika kami bertiga tertawan dan sudah
tidak ada harapan lagi. Siang Bwee muncul bersama An Hun
Kiong dan dengan membiarkan diri terancam maut, dia telah
berhasil menolong kami sehingga dapat bebas........ "
Sian Lun menceritakan bagian ini dengan sejelasnya, dan
dengan suara tergetar karena merasa terharu.
"Setelah kami semua lolos dari bahaya, Siang Bwee
membunuh An Hun Kiong dan akan membunuh diri kalau saja
tidak keburu saya cegah. Dia merasa terhina dan merasa kotor
dan rendah, dia ingin mati saja. Akan tetapi saya telah
berhutang budi kepadanya, maka saya berjanji bahwa dia
boleh hidup selamanya di samping saya. Nah, inilah yang
perlu saya ceritakan kepada paman dan bibi dalam hubungan
ikatan jodoh yang paman berdua usulkan."
Hening sejenak setelah Sian Lun selesai menceritakan
semua itu. Sebagai orang-orang yang menjunjung kegagahan,
suami isteri itu diam-diam merasa kagum akan kejujuran
pemuda ini. Oleh karena iiu, tanpa merasa sungkan lagi, Gan
Beng Lian juga mengajukan pertanyaan yang terbuka dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jujur, sambil memandang tajam kepad wajah pemuda yang
tampan gagah dan tenang itu.
"Sian Lun, jawablah sejujurnya. Apakah engkau cinta
kepada Wan Cu dan apakah engkau suka menjadi suaminya?"
Yap Yu Tek sendiri sampai terkejut mendengar pertanyaan
isterinya yang demikian terbuka dan seolah-olah merupakan
serangan yang amat hebat itu. Dia melihat betapa wajah Sian
Lun tiba-tiba berobah merah dan tahulah dia bahwa pemuda
ini benar-benar tersudut oleh serangan yang demikian tibatiba.
Akan tetapi diapun melihat pentingnya pertanyaan itu
diajukan, karena ikatan jodoh itu menyangkut masa depan
puteri tunggal mereka, maka haruslah dilakukan penjajagan
secara mendalam dan jelas.
Setelah menelan ludah menenteramkan jantungnya yang
agak terguncang menghadapi pertanyaan itu, Sian Lun lalu
memandang kepada bibinya itu sambil berkata, "Bibi, kalau
boleh saya berkata terus terang, saya amat kagum dan suka
kepada Wan Cu moi moi, dan saya tentu saja suka untuk
menjadi suaminya."
Lapang rasa dada Yap Yu Tek mendengar ini dan dia
menghela napas panjang, akan tetapi Gan Beng Lian masih
terus "menyerang" dengan pertanyaan yang lebih
mengguncangkan lagi, "Sian Lun, apakah engkau mencinta
wanita yang bernama Ci Siang Bwee itu ?"
"Lian moi........!" Yap Yu Tek berseru tertahan karena
betapapun dia merasa bahwa isterinya tidak berhak
mengajukan pertanyaan itu. Akan tetapi Sian Lun mengangkat
tangan kirinya ke atas dan suaranya terdengar sungguhsungguh
dan halus.
"Biarlah, paman. Memang sebaiknya kalau-berterus terang
dalam hal ini agar kelak tidak menimbulkan penyesalan apaapa.
Begini, bibi, dan paman, Sesungguhnya saja saya sendiri
tidak atau belum tahu apakah yang dinamakan cinta itu, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saya sendiri tidak tahu apakah saya pernah jatuh cinta. Akan
tetapi, kalau paman berdua ingin mengetahui perasaanku saat
ini, aku kagum dan suka kepada Wan Cu moi-moi. dan
terhadap Siang Bwee, saya merasa kasihan dan hutang budi
yang harus saya bavar dengan membahagiakan dia sebagai
balas budi. Nah, kiranya sudah jelas bagi paman berdua, dan
selanjutnya, tentang ikatan jodoh itu terserah kepada paman
dan bibi."
Kembali hening sampai agak lama setelah Sian Lun
membuka isi hatinya secara amat jujur itu. Kini Beng Lian
memandang suaminya seolah - olah isteri ini minta
pertimbangan dan pendapat suaminya setelah calon mantu itu
menyatakan isi hatinya secara demikian terbuka. Yap Yu Tek
menarik napas panjang.
"Kalau begitu, tidak ada halangannya. Kurasa Wan Cu juga
tidak akan keberatan kalau suaminya mempunyai seorang selir
seperti wanita yang amat setia itu."
Gan Beng Lian mengerutkan alis, lalu menarik napas
panjang pula. "Sebenarnya aku sendiri paling tidak suka
melihat pria mempunyai lebih dari seorang isteri, akan tetapi
dalam keadaan seperti Sian Lun, kurasa juga tidak ada
halangannya kalau dia mengambil Siang Bwee sebagai selir
untuk membalas budi setelah wanita itu melakukan segalanya
itu untuknya. Wan Cu tentu akan dapat mengerti."
Wajah Sian Lun berobah merah, akan tetapi diam-diam dia
merasa lega juga. "Nah, Sian Lun, dengan pernyataan kami ini
maka ikatan jodoh dapat dilanjurkan dan diresmikan," kata
Yap Yu Tek lagi sambil memandang wajah pemuda itu.
"Nanti dulu, paman dan bibi. Ada suatu hal lagi. Saya telah
berjanji kepada sute Coa Gin San dan sumoi Gan Ai Ling
bahwa saya akan membantu mereka mengejar dan membalas
kepada Pek-ciang Cin-jin Ouw Sek dan Kim-sim Niocu Bu
Siauw Kim. Ouw Sek adalah musuh sute karena Oaw Sek
membawa Beng-kauw ke dalam kesesatan maka perlu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dibasmi, sedangkan Bu Siauw Kim adalah pembunuh dari
mendiang paman Gan Beng Han dan isterinya, jadi musuh
besar sumoi. Setelah kami bertiga selesai dengan urusan
mengejar mereka berdua itu, barulah saya akan mentaati
kemauan paman dan bibi."
Yap Yu Tek dan Gan Beng Lian saling pandang, lalu
keduanya mengangguk. "Baiklah,, kami setuju, Sian Lun.
Betapapun juga, mulai sekarang engkau sudah resmi menjadi
tunangan Wan Cu, dan mari kita kembali kepada mereka."
Wan Cu, Gin San dan Ling Ling memandang kepada tiga
orang yang datang itu dengan wajah berseri, dan Wan Cu
cepat menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
"Wan Cu, tunanganmu ini hendak membantu sute dan
sumoinya mengejar musuh-musuh besar, setelah itu baru kita
akan meresmikan ........" kata Gan Beng Lian.
"Ibu, aku sudab mendengar dari enci Ling Ling !" Wan Cu
memotong dengan muka merah dan dia mengerling ke arah
Sian Lun sambil tersenyum.
Yap Yu Tek dan isterinya tidak mau bicara tentang Siang
Bwee di depan banyak orang, dan mereka semua lalu
melanjutkan makan minum sampai malam.
Kemudian mereka berpisah Yap Yu Tek dan isterinya
mengajak puteri mereka untuk kembali ke An-kian, sedangkan
Sian Lun lalu kembali ke gedungnya. Gin San dan Ling Ling
ikut bersama suheng mereka itu karena mereka akan
bermalam di gedungnya dan akan menentukan keberangkatan
mereka melakukan pengejaran terhadap Ouw Sek dan Bu
Siauw Kim,
Baru sekarang Sian Lun mempunyai kesempatan kembali
ke gedungnya. Ternyata gedungnya itu tidak rusak, bahkan
kini para pelayannya telah kembali bekerja dan menyambut
kedatangan majikan mereka dengan penuh kegembiraan, apa
lagi mereka semua telah mendengar akan kenaikan pangkat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
majikan mereka. Sian Lun terkejut, girang dan juga merasa
heran bagaimana para pelayannya itu masih lengkap dan
dapat berada di situ menantinya, padahal bukankah baru saja
mereka ini mengalami keributan dengan munculnya orangorang
Tibet yang menguasai segalanya di istana dan kota.
"Bagaimana kalian dapat berkumpul di sini?" tanyanya.
"Hamba........semua menerima panggilan dari siauw-thui
thai (nyonya muda), ciangkun, " jawab pelayan tertua di
antara mereka. "Hanya ada dua orang pelayan yang ternyata
adalah mata-mata yang dipasang oleh mendiang Thio-thaikam
yang kini entah berada di mana dan tidak datang."
Sian Lun mengangguk angguk dengan girang. Katanya
Siang Bwee yang mengatur semuanya! Bagi para pelayan.
Siang Bwee adalah "nyonya muda" yang berarti selirnya !
Jantungnya berdebar dan pandang matanya mencari-cari,
namun tidak nampak Siang Bwee menyambut di situ. Diamdiam
hatinya merasa gelisah. Dia lalu mengantar sute dan
sumoinya ke kamar masing-masing dan mempersilakan
mereka mandi dan tidur karena dia tahu betapa lelahnya
mereka itu. Di depan sute dan sumoinya, dia merasa sungkan
untuk menanyakan Siang Bwee kepada para pelayannya, akan
tetapi setelah sute dan sumoinya itu memasuki kamar masingmasing,
dia bergegas ke sebelah dalam dan langsung ke
kamarnya.
Perlahan-lahan dia membuka pintu kamar dan.... Siang
Bwee telah berdiri menyambutnya dengan muka menunduk,
muka yang pucat akan tetapi kedua pipinya kemerahan dan
sepasang mata yang lembut itu menunjukkan kekhawatiran
amat besar.
"Siang Bwee.....!" Suara Sian Lun berbisik dan bersama
panggilan ini lenyaplah semua kegelisahan hatinya, terganti
perasaan lega dan girang melihat wanita itu ternyata berada di
situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang Bwee menjura. "Maafkan saya, taihiap .......
saya........saya tidak keluar menyambut ketika mendengar
taihiap datang bersama Coa-taihiap dan Gan-lihiap karena
saya .....saya khawatir akan menangis di depan mereka ....."
Wanita itu lalu menggunakan ujung lengan baju mengusap
dua butir air matanya.
"Tidak apa, Siang Bwee, hanya aku tadi khawatir karena
tidak melihatmu " Sian Lun lalu duduk di atas kursi dengan
hati lega.
Siang Bwee sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat
kakinya dan jari-jari tangan yang halus kecil itu sudah sibuk
membukakan sepatunya.
"Begitu mendengar taihiap datang, saya sudah suruh
pelayan mempersiapkan air hangat sebaiknya taihiap mandi
dulu baru nanti saya suruh persiapkan makanan. "
Sian Lun menunduk dan melihat wanita itu melepas kedua
sepatu dan kaus kakinya. Kedua kaki itu terasa nyaman sekali
setelah terbebas dari bungkusan sepatu yang ketat. Pada saat
itu pelayan datang memberi tahu bahwa air hangat sudah
tersedia. Sian Lun segera bangkit dan pergi ke kamar mandi
tanpa banyak cakap Dia menerima pakaian bersih yang sudah
dipersiapkan pula oleh Siang Bwee. Untung bahwa gedungnya
itu agaknya terlindung dari gerayangan tangan para
pemberontak Tibet sehingga pakaiannya apa masih utuh.
Setelah mandi dan merasa tubuhnya segar, Sian Lun
kembali duduk di atas kursi.
"Akan saya persiapkan makanan, taihiap."
"Tidak usah, Siang Kwee. Aku sudah makan tadi bersama
sute dan sumoi. Jangan kau pergi, duduklah di sini, aku ingin
bicara tentang hal penting denganmu," kata pemuda itu ketika
melihat Siang Bwee hendak meninggalkan kamarnya. Wanita
itu berhenti, memutar tubuh memandang kepada Sian Lun
dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar lembut,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepasang mata yang masih mengandung rasa ngeri dan takut
akibat pengalamannya yang amat menyiksa perasaannya, dan
kini mata itu memandangnya dengan harap-harap cemas.
"Tutupkan pintu kamar itu dan ke sinilah Siang Bwee," kata
pula Sian Lun.
Wanita itu nampak terkejut, sepasang matanya
berkeredepan seperti bintang, sepasang mata yang agak
basah dan kini sinar harap-harap cemas makin membayang di
wajah cantik itu. Betapa dia tidak akan terkejut dan heran.
Sebelum ini, tak pernah Sian Lun mau bicara dengannya di
dalam kamar, apa lagi dengan pintu kamar tertutup !
Sekarang pemuda itu menyuruh dia menutupkan pintu kamar,
bahkan memanggilnya untuk duduk bersama pemuda itu!
Akan tetapi, seperti patung bergerak dia menutupkan pintu
kamar, kemudian dengan langkah langkah lembut dia
menghampiri Sian Lun, berdiri sambil menunduk di depan
pemuda itu.
"Duduklah di kursi itu, Siang Bwee. Aku mau bicara," kata
Sian Lun sambil menunjuk ke arah kursi ke dua di depannya,
terhalang meja kecil.
Sian Bwee tidak menjawab, melainkan menggerakkan
kakinya dan duduk di atas kursi itu, duduk di tepi kursi,
pinggulnya menempel sedikit saja dengan ringannya di bibir
kursi, seolah olah kursi itu ada durinya. Dia merasa canggung,
cemas, karena Sian Lun bersikap lain dari biasanya,
menambah kesan betapa dia sekarang memang sudah
menjadi wanita lain! Dia telah menjadi seorang wanita yang
rendah dan hina!
Melihat sikap Siang Bwee penuh keraguan itu, Sian Lun
tersenyum menenangkan.
"Jangan gelisah, Siang Bwee, aku hendak bicara denganmu
tentang diriku, tentang keadaanku." Sinar kegelisahan itu
lenyap dari pandang mata Siang Bwee, namun dara ini masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menduga duga dan dengan lirih dia bertanya sambil menatap
wajah pria yang dipuja dan dikasihinya, "Silakan, taihiap, saya
sudah siap mendengarkan. Soal apakah yang hendak taihiap
sampaikan kepada saya ?"
"Siang Bwee, aku telah bertemu dengan keluarga paman
Yap Yu Tek yang tinggal di An-kian. Paman Yap adalah putera
bupati di An-kian dan hubunganku dengan dia sesungguhnya
lewat isterinya.Isterinya adalah bibi Gan Beng Lian, yaitu adik
kandung dari pamanku atau juga guruku mendiang Gan Beng
Han" Kemudian dengan singkat Sian Lun bercerita kepada
Siang Bwee tentang keluarga itu dan hubungannya dengm
mendiang ayahnya dan mendiang paman dan gurunya. Semua
itu didengarkan dengan penuh kesabaran dan perhatian,
sungguhpun diam-diam dia merasa makin terheran-heran
mengapa pemuda itu bercerita tentang keluarga Yap yang
asing baginya itu. Ketika cerita Sian Lun tiba pada
penggambaran tentang diri Yap Wan Cu, puteri tunggal dari
keluarga itu, diam-diam jantung Siang Bwee berdebar keras
dan dia mulai dapat menduga dengan hati agak khawatir.
"Ketahuilah, Siang Bwee, paman Yap dan isterinya, kurang
lebih setahun yang lalu telah mengusulkan untuk
menjodohkan aku dengan adik Yip Wan Cu." Sian Lun berhenti
dan memandang tajam wajah yang agak menunduk itu. Akan
tetapi dia tidak melihat sesuatu yang membayangkan
perasaan hati wanita itu, maka dia lalu melanjutkan, "Dan
malam ini, ketika aku bersama sute dan sumoi menerima
jamuan makan dari keluarga Yap, paman dan bibi
mendesakku tentang perjodohan itu." Sian Lun berhenti dan
suasana menjadi sunyi sekali dalam kamar itu. Diam-diam Sian
Lun merasa heran mengapa dia mengajak wanita ini
berbincang tentang perjodohannya itu ? Akan tetapi, ada siapa
lagi di dunia ini selain Siang Bwee yang dapat diajaknya bicara
tentang keadaan hidupnya? Dan Siang Bwee yang merasa
jantungnya berdebar dan agak nyeri, menunduk, dan diapun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diam-diam merasa heran mengapa pendekar yang dipujanya
ini menyampaikan semua itu kepadanya !
Karena sampai lama mereka berdiam saja, Sian Lun lalu
bertanya. "Siang Bwee, mengertikah engkau akan semua yang
telah kuceritakan kepadamu tadi ? "
Siang Bwee mengangkat muka. Dua pasang mata itu
bertemu pandang sampai agak lama dan akhirnya Siang Bwee
mengangguk. Dengan suara agak gemetar dia bertanya, "Apa
maksud taihiap menceritakan semua itu kepada saya?"
"Aku...... aku ingin mendengar pendapatmu. Siang Bwee.
Aku masih bingung dan ragu akan usul dari paman Yap
berdua tentang ikatan jodoh itu "
Siang Bwee tersenyum untuk menutupi keperihan hatinya.
Dia sungguh mencinta pemuda ini, dia hanya ingin melihat
pemuda ini selamat dan bahagia. Dia harus melupakan diri
sendiri dan mencurahkan seluruh pikiran dan perhatiannya
demi kepentingan pemuda ini.
"Taihiap, apakah....... apakah taihiap mencinta Yap-siocia
itu ?"
Sian Lun mengerutkan alisnya. Mengapa pertanyaan ini
yang diajukan oleh ibu Wan Cu kini diulang lagi oleh Siang
Bwee?
"Aku tidak tahu tentang cinta, Siang Bwee. Akan tetapi aku
kagum dan suka kepadanya."
"Dan taihiap suka kalau dia menjadi isteri taihiap ?"
Sian Lun mengangguk, tanpa menjawab.
"Kalau begitu, tidak ada halangannya lagi, taihiap. Seorang
wanita yang disuka oleh taihiap tentulah seorang yang amat
baik. Apa lagi dia adalah cucu seorang pembesar, dan
menurut taihiap, keluarga Yap adalah keluarga gagah perkasa,
jadi sudah sesuai dengan keadaan diri taihiap sendiri. Akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi......... mengapa taihiap menanyakan pendapat saya
dalam urusan yang amat penting ini ?"
"Siang Bwee, aku sudah berjanji kepadamu bahwa engkau
selamanya boleh hidup di sampingku, oleh karena itu, dalam
urusan perjodohan dengan Yap Wan Cu ini, tentu saja aku
harus bertanya kepadamu."
Siang Bwee terkejut bukan main, girang dan juga amat
terharu. Penuda ini gagah perkasa, bahkan memiliki kesaktian
bebat, namun jiwanya demikian sederhana, polos dan bersih
Keharuan membuat dia cepat turun dari kursinya,
menghampiri pemuda itu dan berlutut di depan kakinya.
"Taihiap..... engkau adalah pujaanku, junjunganku...... dan
saya........... ya hanya seorang wanita hina yang akan merasa
bangga dan bahagia kalau dapat menjadi pelayan taihiap
untuk selamanya......." Tak terasa lagi beberapa butir air mata
seperti mutiara berderai turun ke atas sepasang pipinya.
"Siang Bwee....... bukan begitu maksudku........" Sian Lun
memegang kedua bahu wanita itu dan menariknya sehingga
bangkit berdiri, "sampai mati aku takkan dapat melupakan
cintamu yang penuh kesetiaan dan pengorbanan itu, aku
bahkan secara terus terang telah menceritakan keadaanmu
kepada keluarga Yap. dan aku katakan bahwa aku hanya mau
menjadi mantu mereka kalau mereka juga mau menerimamu
sebagai...... selirku......... yaitu kalau ........kalau.......... kau
mau........"
Sepasang mata itu terbelalak memandang, dengan air mata
masih memenuhi pelupuk mata, mulut itu tersenyum karena
bahagia
"Apa katamu taihiap.....? Kalau ..... kalau aku mau.....?
Ahh... tentu saja........ tidak ada kebahagiaan melebihi itu, aku
mau ! Aku mau.......! Ah, aku mau sekali, taihiap.......!"
Entah siapa yang bergerak lebih dulu, akan-tetapi tahutahu
Siang Bwee telah berada di atas pangkuan Sian Lun yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merangkulnya, mereka saling berpelukan dan saling
berciuman seperti dengan sendirinya tanpa disengaja lagi,
lengan hati penuh kemesraan dan cinta yang membara.
Malam itu Siang Bwee tidak kembali lagi ke kamarnya,
melainkan tidur bersima Sian Lun dalam kamar pemuda itu.
Malam itu merupakan malam pengantin bagi mereka. Sian Lun
adalah seorang pemuda yang belum pernah berdekatan
dengan wanita, sedangkan Siang Bwee biarpun pernah
melayani seorang pria, namun pelayanan itu dilakukan dengan
terpaksa, hampir tiada bedanya dengan perkosaan. Oleh
karena itu, dalam hal cinta asmara, mereka berdua masih
hijau dan bodoh. Akan tetapi, rasa cinta mereka membuat
mereka tahu apa yang harus diperbuat, membuat mereka
tahu segala-galanya, karena cinta membuat orang ingin
melakukan segala yang dapat membahagiakan dan
menyenangkan orang yang dicinta. Dalam hubungan wanita
dan pria sebagai suami isteri, kalau sudah ada keinginan
saling menyenangkan dan membahagiakan, tentu terdapat
kemesraan yang mendalam.
Sian Lun memang sengaja hendak memilih Siang Bwee
sebagai wanita pertama yang digaulinya, bukan hanya untuk
membalas budi yang amat besar, melainkan juga karena dia
sudah yakin akan cinta kasih wanita ini kepadanya, dan juga
karena ada dorongan hasrat yang dia sendiri tidak tahu
berada dalam dirinya, tidak tahu bahwa sebenarnya dia juga
mencinta Siang Bwee !
Dan pada jaman itu, di dalam kamus kebudayaan jaman
itu, tidak terdapat pantangan atau sebutan aib atau buruk
bagi seorang pria untuk mempunyai selir! Bahkan kalau pria
itu berkedudukan atau berharta, mempunyai selir sampai
berapapun banyaknya merupakan hal wajar dan tidak ada
seorangpun yang akan menganggapnya buruk atau melanggar
sesuatu. Dan sesungguhnyalah pandangan umum terhadap
hal-hal yang dianggap pantas atau tidak adil, bersusila atau aTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
susila, semua itu hanya tergantung dari. pada kebiasaan dan
tradisi belaka! Apa yang dianggap baik oleh suatu golongan
atau suatu bangsa atau suatu agama, belum tentu dianggap
baik, bahkan mungkin taja dianggap buruk oleh golongan atau
bangsa atau agama lain! Semua tergantung dari tradisi atau
kebiasaan atau kepercayaan masing-masing. Maka jelaslah
bahwa apa yang dinamakan baik atau buruk hanyalah
pandangan sepihak atau pendapat belaka yang berdasar
kepada tradisi atau agama masing-masing, juga berdasar
kepada keinginan untuk menyenangkan diri masing-masing.
Karena itu seringkali timbul kenyataan bahwa pendapat baik
buruk adalah yang menguntungkan atau menyenangkan aku
adalah baik, dan yang merugikan atau menyusahkan aku
adalah buruk! Dengan dasar ini, tentu saja timbul kenyataan
bahwa yang baik untukmu mungkin buruk untukku, dan yang
burukmu belum tentu buruk untukku! Si kenyataan sendiri, si
kejadian atau si keadaan apa adanya itu sendiri tidaklah baik
atau buruk.
***
Tiga hari kemudian, berangkatlah Sian Lun, Ling Ling, dan
Gin San meninggalkan kota raja untuk mulai dengan
perjalanan mereka mencari Ouw Sek dan Bu Siauw Kim ke
selatan, ketika menceritakan maksud kepergiannya kepada
Siang Bwee, wanita ini tidak membantah dan menyimpan rasa
kecewanya dalam hati saja. Tidak mengherankan kalau dia
kecewa. Dia seperti pengantin baru, selama tiga hari hidup
dalam lautan madu asmara yang penuh kemesraan, yang
baginya merupakan obat yang amat manjur untuk menghapus
semua sisa penderitaan yang telah dialaminya ketika dia
terpaksa harus melayani An Hun Kiong. Akan tetapi, Siang
Bwee adalah seorang wanita bijaksana dan cintanya terhadap
Sian Lun sama sekali bukan cinta yang hanya mengejar
kesenangan diri pribadi belaka. Dia maklum akan pentingnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepergian Sian Lun bersama sute dan sumoinya maka dia
menghormati keberangkatan itu Bahkan selama tiga hari ini,
biarpun dia dalam kemesraan yang membara dengan Sian Lun
namun di luar kamar dia selalu bersikap seperti seorang
pelayan, bukan hanya terutama di depan Ling Ling dan Gin
San, bahkan juga di depan para pelayan lainnya sehingga
diam diam Sian Lun makin sayang dan kagum kepada wanita
ini. Sungguh seorang wanita yang rendah hati dan pandai
membawa diri. sama sekali tidak dikotori oleh kesombongan.
Makin giranglah pendekar ini karena dia merasa bahwa
pilihannya tidaklah keliru, yaitu bahwa dia sengaja
menyerahkan diri untuk pertama kali dilam hidupnya kepada
Siang Bwee, wanita yang amat mencintanya.
Sebagai seorang panglima, apa lagi yang baru saja
mendapat anugerah dari kaisar, tentu saja Sian Lun juga
berpamit kepada kaisar. Kaisar memberi persetujuan dengan
girang karena memang penting sekali untuk membasmi orang
orang macam Ouw Sek dan Bu Siauw Kim yang jelas telah
merupakan pengkhianat-pengkhianat yang membantu Bangsa
Tibet untuk menyerbu kota raja dan mendudukinya. Bahkan
kaisar mengusulkan agar Sian Lun membawa pasukan yang
kuat Akan tetapi pemuda ini dengan hati hati menyatakan
bahwa untuk menghadapi penjahat-penjahat itu cukup dengan
dia dan dua orang adik seperguruannya.
Mereka berangkat dan diantar oleh Siang Bwee yang
kelihatan tersenyum cerah sampai di pintu halaman Akan
tetapi ketika tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh tiga orang
pendekar itu menjauh, biatpun mulutnya masih tersenyum,
namun kedua mata Siang Bwee berlinang linang air mata dan
batinnya merasa gelisah sekali. Betapapun juga, pujaan
hatinya atau kekasihnya, juga majikannya itu sedang pergi
menempuh bahaya, mencari penjahat-penjahat yang menurut
Sian Lun memiliki kepandaian yang amat tinggi! Setelah
memasuki rumah kembali, Siang Bwee cepat mengatur meja
sembahyang dan bersembahyanglah wanita ini dengan penuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesungguhan hati untuk minta. kepada Thian agar kekasihnya
itu dilindungi dan dijauhkan dari pada segala mara bahaya.
Gin San tahu ke mana dia harus mencari Siauw Sek. Maka
dia lalu mengajak suheng dan sumoinya itu pergi ke selatan,
di mana terdapat pusat Agama Beng kauw selatan yang
tadinya berpusat di Yun-an akan tetapi kemudian dipindahkan
oleh mendiang Bu Heng Locu ke Kiang-si, di tepi Telaga Poyang.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika Pekciang
Cin-jin Ouw Sek mengacau di Beng kauw pusat sehingga
mengakibatkan kematian Bu Heng Locu ketua Beng-kauw.
Ouw Sek ini dipukul mundur oleh Gin San yang kemudian
mengangkat Kwan Liok menjadi ketua Beng-kauw.
Tiga orang pendekar itu membalapkan kuda mereka dan
hanya berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda
mereka untuk beristirahat. Gin San menyatakan
kekhawatirannya tentang Beng kauw di selatan.
"Aku khawatir kalau kalau Ouw Sek itu mengacau lagi di
Beng kauw. Betapapun jug dia masih memegang sebuah
bendera keramat tanda kekuasaan Beng-kauw."
Ling Ling dan Sian Lun yang telah mendengar cerita Gin
San tentang Ouw Sek justru merata khawatir. "Akan tetapi,
andaikata benar demikian, kalau kita datang ke sana, kita
dapat menggempurnya. Menurut ceritamu, semua anak buah
tidak suka kepadanya dan kalau engkau muncul, tentu semua
anak buah Beng Kauw akan membelamu, ji suheng."
"Kuharap begitu, hanya aku khawatir kalau kalau dia telah
menimbulkan malapetaka dan merampas kedudukan ketua
dengan kekerasan. Dia lihai sekali dan di Beng kauw sana
tidak ada yang mampu menandinginya. "
Sian Lun yang juga sudah banyak mendengar dari sutenya
itu tentang Beng kauw, dan Ouw Sek berkata, "Kurasa dia
tidak akan sebodoh itu, sute. Kalau dia menggunakan
kekerasan merebut kedudukan, tentu dia akan di benci oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
para anggauta Beng-kauw, dan apa artinya bagi dia menjadi
ketua Beng-kauw kalau para anak buahnya membencinya?
Pendapat ini masuk akal dan menenangkan hati Gin San.
Maka bertiga harus berganti kuda sampai tiga kali dan biarpun
Sian Lun memiliki tanda pangkat yang dibawanya, sedangkan
Gin San dan Ling Ling memiliki masing-masing sebatang
pedang dari kaisar sebagai tanda kekuasaan seorang
kepercayaan kaisar, namun mereka bertiga tidak mau minta
bantuan pembesar setempat, bahkan tidak pernah
memperkenalkan diri dan membeli kontan kuda yang mereka
butuhkan untuk mengganti kuda yang sudah lelah dan untuk
keperluan ini .mereka telah membawa bekal uang yang cukup.
Pada suatu hari, ketika mereka bertiga menjalankan kuda
memasuki wilayah Telaga Po-yang, mereka melihat banyak
orang menuju ke arah yang sama Mereka bertiga merasa
heran karena mengenal bahwa orang orang itu tentulah orang
orang dunia kangouw, hal ini selain nampak pada gerak-gerik
mereka, juga dari pakaian mereka yang campur aduk. Ada
orang-orang yang berpakaian seperti ahli-ahli silat, ada pula
yang berpakaian jubah dengan kepala gundul, yaitu hwesio
hwesio yang bersikap alim dan tenang, ada pula tosu - tosu
tua yang sederhana dan bersikap aneh. Mereka semua itu,
agaknya sedang menuju ke Telaga Po-yang pula.
Karena merasa curiga dan tertarik, dan menduga tentu
telah terjadi sesuatu yang luar biasa, Gin San melompat turun
dari atas punggung kudanya, menuntun kuda itu mendekati
seorang tosu yang berjalan sendirian, kemudian dengan sikap
hormat ia bertanya, "Maaf totiang. Apakah totiang juga
hendak pergi mengunjungi Beng kauw?"
Todongannya itu ternyata tepat sekali. Selelah menoleh
dan memandang kepada pemuda itu dan agaknya dapat
melihat kegagahan yang tersembunyi pada diri Gin San, kakek
itu menjawab, "Tentu saja, sicu! Siapa oranguya yang tidak
akan tertarik mendengar bahwa Beng-kauw mengadakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pesta dan mengundang semua orang kang ouw yang suka
hadir? Tentu akan ramai di sana!"
"Ada keramaian apakah maka diadakan pesta di Bengkauw,
totiang ?" tanya Gin San dan melihat tosu itu
memandang heran, dia cepat menyambung, "Maaf, saya baru
saja tiba dari utara sehingga tidik tahu apa yang terjadi di sini.
Sudikah totiang memberi tahu mengapa Beng-kauw
mengadakan pesta ?"


Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil