Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 08 Mei 2017

Cersil 10 Jodoh Si Naga Langit Kho Ping Hoo Indo Jadul

Cersil 10 Jodoh Si Naga Langit Kho Ping Hoo Indo Jadul Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil 10 Jodoh Si Naga Langit Kho Ping Hoo Indo Jadul
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil 10 Jodoh Si Naga Langit Kho Ping Hoo Indo Jadul
“Benar, Paman. Aku akan membantu Siang In dan kami pasti akan dapat merampas kembali barang-barang Paman,” kata Pek Hong dengan suara menyakinkan.
Miyana memandang kepada suaminya dan berkata lirih, “Apakah tidak perlu menceritakan kepada Siang In tentang dugaan piauw-su Bhe Liang?”
“Laporan apakah, Ayah? Ceritakan kepadaku!” kata Siang In kepada Ayahnya.
Thio Ki menghela napas panjang. “Bhe Liang melaporkan kepadaku, mengatakan bahwa yang mendalangi perampokan itu adalah Pangeran Cin Boan.”
“Eh, Pangeran Cin Boan? Apa buktinya, Ayah?”
“Itulah, Siang In. Aku juga bilang kepada Ayahmu agar jangan mudah percaya akan dugaan Bhe Liang itu karena tidak ada buktinya,” kata Miyana.
“Memang tidak ada buktinya. Menurut laporan Bhe Liang, ketika pinangan keluarga Pangeran Cin Boan itu kita tolak, Bhe Liang yang ketika itu masih menjadi pengawal Pangeran Cin, mendengar betapa Pangeran itu marah kepada kita dan mengeluarkan ancaman akan membalas penghinaan itu. Penolakan kita itu dia anggap sebagai penghinaan. Ketika aku membawa barang ke utara, dia menitipkan barang-barang berharga, lalu terjadi perampokan itu. Karena itulah Bhe Liang menduga bahwa yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan.”
“Hemm, masuk akal juga......” kata Siang In. “Aku akan menyelidiki dulu keluarga Pangeran Cin Boan sebelum melacak di tempat terjadinya perampokan. Kalau benar Pangeran Cin Boan yang mendalangi perampokan itu, hemm, akan kuhajar dia! Tidak tahu malu kalau pinangan ditolak lalu merasa terhina dan mendendam.”
“Nanti dulu, Siang In. Aku mengenal Pangeran Cin Boan. Dia masih merupakan Paman luarku dan selama ini aku mengenal dia sebagai seorang yang berwatak baik. Memang sejak dia pindah ke sini, aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia. Sudah kurang lebih enam tahun aku tidak bertemu keluarga Paman Pangeran Cin Boan. Maka, biarlah aku yang pergi berkunjung ke sana. Akan kuselidiki apakah benar dia yang mendalangi perampokan ini. Kalau benar, akulah yang akan menegur, kalau perlu menghukumnya. Kalau engkau yang ke sana, mungkin engkau akan dipengaruhi emosi dan melakukan kesalahan.”
Siang In tersenyum. “Engkau selalu menganggap aku galak, Pek Hong dan engkau khawatir aku membikin keributan? Baiklah, kalau bukan engkau yang mengajukan usul dan menggantikan aku menyelidiki Pangeran itu, pasti kutolak.”
“Nah, aku akan pergi sekarang. Paman dan Bibi Thio, permisi dulu, aku akan berkunjung ke rumah Pangeran Cin Boan. Nanti kalau sudah ada hasilnya, aku akan kembali ke sini.”
“Baik dan terima kasih, puteri...... eh, Pek Hong!” kata Thio Ki gembira.
Setelah kini puterinya pulang, harapannya muncul kembali dan dia merasa yakin bahwa barang-barangnya pasti akan bisa didapatkan kembali. Dia yakin akan kemampuan puterinya, apalagi setelah kini selama setahun ia digembleng oleh Tiong Lee Cin-jin!
Pek Hong Niocu lalu meninggalkan rumah Thio Ki dan setelah ia pergi, Thio Ki dan isterinya minta kepada Siang In agar menceritakan semua pengalamannya selama ia pergi meninggalkan rumah. Terutama sekali Miyana bertanya kepada puterinya tentang Pek Hong dan menduga-duga apakah puterinya sudah tahu akan rahasia dirinya, bahwa ia adalah Puteri Kaisar Kin dan mereka berdua hanya orang tua angkat.
Siang In menceritakan pengalamannya, akan tetapi ia tidak mau menceritakan bahwa ia sudah tahu akan rahasia dirinya, juga sama sekali tidak menceritakan bahwa Tiong Lee Cin-jin adalah Ayah kandungnya. Ia memenuhi pesan Ayah kandungnya itu untuk tetap merahasiakan tentang hubungan antara Tiong Lee Cin-jin, Tan Siang Lin, Puteri Moguhai dan dirinya sendiri. Biarlah Ayah Ibunya, Thio Ki dan Miyana yang baik hati dan menyayangnya sejak kecil sampai sekarang tidak akan merasa sedih kalau ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa mereka bukanlah Ayah dan Ibu kandungnya.
“Siang In, sungguh aneh sekali melihat persamaanmu dengan puteri...... dengan Pek Hong itu. Benar-benar sukar bagiku untuk membedakannya, kecuali pakaian kalian yang jauh berbeda. Kalau kalian berdua pergi bersama, tentu orang-orang akan menyangka bahwa kalian adalah saudara kembar.”
Mendengar ucapan itu, Siang In maklum bahwa ibunya ini sengaja hendak memancing untuk mengetahui apakah ia sudah tahu akan rahasia itu ataukah belum! Tentu saja Ibunya ini, Miyana tahu bahwa ia dan Pek Hong adalah saudara kembar karena Miyanalah yang menolong ibu kandungnya, dengan membawa pergi ia, seorang di antara sepasang bayi kembar, untuk menyelamatkan sepasang bayi kembar dari ancaman dibunuh oleh Kaisar. Kalau ia mengaku sudah tahu, pasti hati wanita yang baik hati ini akan menjadi kecewa dan khawatir kalau-kalau rasa sayang Siang In terhadap Ibunya ini akan berkurang.
“Memang wajah kami mirip sekali, Ibu. Akan tetapi jelas kami berbeda jauh. Ia Puteri Kaisar Kin dan aku hanyalah puteri Ayah dan Ibu di sini. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasa iri atau rendah. Aku amat berbahagia menjadi anak Ayah dan Ibu, dan Pek Hong itu baik sekali, tidak angkuh dan tidak memandang rendah kepadaku sehingga kami akrab seperti saudara saja. Urusan dengan Pangeran Cin Boan ini pun sudah pasti akan beres kalau Pek Hong yang menanganinya. Ibu tahu, ia amat disayang oleh Kaisar Kin. Ayahnya itu bahkan memberi pedang bengkok berukir naga emas, yaitu pedang yang merupakan tanda kekuasaan sehingga apa yang diperintahkan Pek Hong terhadap semua pejabat pemerintah Kerajaan Kin dianggap seperti perintah Kaisar Kin sendiri sehingga semua pejabat, dari yang rendah sampai yang tinggi, semua tunduk dan taat kepadanya kalau ia memperlihatkan pedangnya itu.”
“Hebat......!” kata Thio Ki.
“Pantas saja kalau Kaisar mencintanya, karena ia seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau! Siapa yang tidak akan menyayangnya?”
“Aih, Ibu......!” kata Siang In manja sambil merangkul Ibunya.
Seperti tidak akan ada habisnya tiga orang itu bercakap-cakap melepas kerinduan hati masing-masing dan kepulangan Siang In ini benar-benar selain mendatangkan harapan besar, juga mempengaruhi keadaan tubuh Thio Ki sehingga dia segera sehat kembali! Apalagi setelah dengan tenaga saktinya yang kini menjadi amat dahsyat, Siang In menyalurkan ke dalam tubuh Ayahnya melalui telapak tangan yang ditempelkan di punggung. Wajah Thio Ki kini menjadi kemerahan lagi dan dia merasa tubuhnya kuat!
Rumah tinggal Pangeran Cin Boan merupakan sebuah gedung istana yang biarpun tidak sebesar dan semegah gedung-gedung istana para pangeran yang berada di kota raja, namun untuk ukuran rumah-rumah di kota Kang-cun, sudah termasuk megah dan mewah. Hal ini tidaklah mengherankan karena Pangeran Cin Boan merupakan seorang pangeran yang mendapat kepercayaan dan tugas dari Kaisar Kin untuk menjadi pengawas di perbatasan, menerima pelaporan para pejabat di daerah dan mengeluarkan peraturan-peraturan atas nama Kerajaan Kin.
Dia terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tidak melakukan korupsi dan ketika pindah ke Kang-cun lima atau enam tahun yang lalu memang sudah kaya raya. Dia bersikap jujur dan adil, juga bertindak keras terhadap bawahan yang melakukan penyelewengan uang pemerintah atau penindasan terhadap rakyat jelata. Selain itu, Pangeran Cin Boan terkenal pula sebagai seorang dermawan, suka menolong dusun-dusun di mana rakyatnya hidup serba kekurangan. Memberi banyak pertolongan kepada daerah yang dilanda banjir kalau Sungai Yan-ce meluap. Dia pun tidak sudi disogok dan karena dia sebagai pemimpin para pejabat di daerah perbatasan, maka sikapnya yang adil dan keras itu membuat para pejabat bawahannya merasa gentar untuk melakukan penyelewengan.
Benarlah kalau ada orang bijaksana mengatakan bahwa akar penyelewengan atau korupsi dan sebagainya dalam sebuah pemerintahan bukan berada di bawah seperti akar pohon, melainkan berada di atas! Segala keadaan suatu pemerintahan, menjadi baik ataupun buruk, dimulai dari atas! Kalau atasannya kotor, sudah dapat dipastikan bahwa bawahannya juga semua kotor karena selain atasan menjadi panutan bawahan, juga kalau atasannya kotor tentu saja dia tidak berani menindak bawahan yang kotor. Dalam, keadaan seperti itu semua pejabat akan menjadi kotor dan pemerintah akan menjadi lemah dan miskin karena digerogoti para pembesar. Yang makmur hanyalah para pejabatnya!
Sebaliknya kalau atasannya bersih, bawahannya tidak berani menyeleweng, demikian pula bawahannya lagi dan bawahannya lagi seterusnya, para pembesar itu dari yang besar sampai yang kecil, bekerja dengan setia, jujur dan bersih. Dalam keadaan seperti itu, dapat dipastikan bahwa pemerintahannya menjadi kuat, semua penghasilan dapat masuk dengan sempurna tidak ada yang bocor di jalan sehingga pemerintah menjadi kaya. Kalau pemerintah kaya, sudah pasti ia dapat menyejahterakan rakyat jelata. Keadilan akan terlaksana di mana-mana. Yang jahat akan dihukum berat, yang baik dan berjasa mendapat tempat yang layak. Alangkah akan bahagianya rakyat yang hidup di bawah pemerintahan yang seperti itu! Tidak ada penggerogotan uang pemerintah yang berasal dari rakyat, tidak ada penindasan, tidak ada sogok dan suap yang melahirkan ketidak-adilan. Alangkah indahnya!
Pangeran Cin Boan berusia sekitar limapuluh tahun. Seperti semua bangsawan dan pembesar di jaman itu, Pangeran Cin Boan selain seorang isteri juga mempunyai beberapa orang selir. Akan tetapi dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang lahir dari isterinya. Pangeran itu bertubuh sedang, wajahnya tampan sikapnya halus dan dia ramah terhadap siapa saja, mulutnya selalu tersenyum namun sikap yang lembut itu mengandung wibawa. Isterinya juga cantik dan lembut, seorang wanita bangsawan Kin yang terpelajar, berusia empatpuluh tahun.
Anak tunggal mereka itu bernama Cin Han. Dari nama ini saja sudah tampak betapa Pangeran Cin Boan menyesuaikan diri dengan pribumi yang dijajah Kerajaan Kin. Nama marganya Cin dan puteranya itu diberi nama Cin Han. Pemuda berusia duapuluh dua tahun ini tampan sekali, seperti ibunya. Seorang pemuda yang telah lulus ujian sastra dan mendapat ijazah siu-cai (Sastrawan). Tampan, terpelajar, lemah lembut dan bijaksana seperti Ayahnya sehingga siapa pun yang mengenalnya tentu merasa kagum dan suka. Akan tetapi sudah sejak dua tahun yang lalu Ayah Ibunya mendesak pemuda itu untuk menikah, dia selalu menolak.
Baru setahun yang lalu Ayahnya hendak menjodohkannya dengan Thio Siang In yang juga terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li, Cin Han tidak menolak. Dia pernah melihat gadis itu dan diam-diam mengaguminya. Akan tetapi, sekali ini dia yang ditolak! Pinangan itu tidak diterima oleh Thio Ki dengan alasan bahwa puterinya belum mau dijodohkan! Tentu saja Pangeran Cin Boan dan isterinya kecewa sekali. Akan tetapi Cin Han yang bijaksana dapat memaklumi penolakan Siang In.
Gadis itu sama sekali tidak mengenalnya, bahkan melihatnya pun belum pernah. Bagi seorang gadis pendekar seperti itu, tentu saja tidak mau di jodohkan secara “tabrakan” begitu saja. Pemuda ini memaklumi penolakan Thio Siang In. Akan tetapi sejak penolakan itu, sudah setahun lebih, dia selalu menolak kalau orang tuanya hendak menjodohkannya. Bahkan, tidak seperti pemuda bangsawan lainnya, dia pun menolak ketika hendak dicarikan selir.
Pada pagi hari di waktu matahari telah naik semakin tinggi, Pangeran Cin Boan duduk di ruangan dalam bersama isteri dan puteranya.
“Ayah, aku mendengar bahwa Paman Thio Ki beberapa hari yang lalu dirampok penjahat habis-habisan, bahkan dia terluka dan dua orang pengawalnya tewas. Bukankah Ayah ada menitipkan kiriman barang ke kota raja kepada Paman Thio Ki?”
“Benar, Han-ji (Anak Han), aku pun sudah mendapat laporan dari utusan Thio Ki. Barang-barang kita ikut terampas penjahat,” jawab Pangeran Cin Boan.
“Hemm, padahal barang-barang itu amat berharga dan penting yang dikirim ke kota raja untuk Nenekmu dan para Pamanmu. Sekarang hilang! Thio Ki itu harus bertanggung jawab!” kata Nyonya Cin sewot (marah-marah).
“Jangan begitu, kejadian itu kan merupakan kecelakaan? Thio Ki sendiri sudah habis-habisan, bahkan terluka. Jangan kita menambahkan penderitaannya dengan tergesa-gesa menuntut barang-barang kita yang hilang agar dipertanggung-jawabkan.”
“Salahnya sendiri. Dulu menolak pinangan kita, sekarang barang kita yang berharga mahal dibikin hilang. Enak dia dan rugi kita kalau didiamkan saja!” Agaknya isteri pangeran ini masih merasa kecewa, penasaran dan marah karena pinangannya setahun yang lalu ditolak oleh keluarga Thio Ki.
“Ibu, kiranya tidak perlu lagi membicarakan tentang pinangan itu. Yang penting sekarang, bagaimana caranya untuk membantu Paman Thio mengatasi keadaannya yang terluka dan habis-habisan itu.”
“Hemm, mengapa kita jadi ikut repot? Bukankah puteri mereka yang cantik seperti dewi, bahkan julukannya juga Ang Hwa Sian-li (Dewi Bunga Merah), adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai? Biarlah gadis itu yang merampas kembali harta yang telah dirampok penjahat!” kata Nyonya Cin yang masih marah.
Sebelum suami dan anaknya menjawab, daun pintu ruangan itu diketuk orang.
“Siapa?” Pangeran Cin bertanya sambil mengerutkan alisnya karena tak senang percakapannya dengan isteri dan puteranya ada yang mengganggu.
“Hamba, yang mulia. Hamba hendak melaporkan bahwa di luar datang seorang gadis yang ingin menghadap paduka,” terdengar suara pengawal yang mereka sudah kenal.
“Siapa ia? Siapa namanya?” tanya Pangeran Cin Boan dengan heran. Dia tak pernah ada urusan dengan seorang gadis. Belum pernah ada gadis minta menghadap padanya.
Suara pengawal itu menjawab. “Ia tidak mau mengatakannya, Yang Mulia. Ia hanya berkata bahwa paduka pasti akan mengenalnya kalau ia sudah menghadap Paduka.”
“Ayah, biar aku yang keluar dulu melihat siapa yang hendak menghadap Ayah.”
“Baiklah, Cin Han, keluarlah dan lihat siapa gadis itu.”
Cin Han keluar dan diantar pengawal itu dia melangkah keluar. Setelah di serambi depan, dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih dari sutera halus, kepalanya dihias burung Hong perak, berdiri dan menyongsongnya dengan pandang mata yang mencorong tajam. Gadis yang luar biasa cantiknya. Akan tetapi setelah berhadapan, Cin Han berseru terkejut.
“Eh, engkau...... engkau...... Thio-siocia (Nona Thio)??”
Puteri Moguhai atau Pek Hong Niocu diam-diam kagum sekali kepada pemuda yang tampan sekali dan sikapnya lemah lembut itu. Ia menduga bahwa inilah agaknya putera Pangeran Cin Boan itu. Rasanya dulu ia pernah bertemu dengan pemuda ini, sekitar enam tahun lebih yang lalu. Tentu saja ketika mereka masih remaja dan ia sudah tidak ingat lagi wajah pemuda itu.
“Engkau siapakah, Kongcu?” tanyanya.
“Aku bernama Cin Han, putera Pangeran Cin Boan.” Ucapan pemuda itu seolah mengingatkan dan dia menatap tajam wajah yang jelita itu.
“Ah, Cin-kongcu. Apakah Pangeran Cin Boan berada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Mari, silakan, Thio-siocia. Silakan menunggu di ruangan tamu, aku akan memanggil Ayah ke sini.”
Mereka memasuki ruangan tamu dan Pek Hong lalu duduk di situ menunggu sedangkan Cin Han masuk ke ruangan dalam menemui Ayah Ibunya.
“Ayah, gadis itu adalah Nona Thio Siang In!” kata pemuda itu yang masih merasa tegang hatinya bertemu dengan gadis yang pernah menundukkan hatinya itu.
Pangeran Cin Boan menaikkan alisnya dengan heran dan isterinya mengerutkan alis dan berkata, “Hemm, mari kita temui!”
Suami isteri dan putera mereka itu lalu keluar dari ruangan dalam, memasuki ruangan tamu. Pek Hong segera bangkit berdiri dan ia berhadapan dengan mereka bertiga.
“Nona Thio......!” kata Pangeran Cin Boan dan memandang penuh selidik. Dia merasa kagum akan kecantikan gadis itu. Pantas puteranya tergila-gila, pikirnya.
“Engkau yang bernama Thio Siang In?” tiba-tiba Nyonya Cin bertanya, nada suaranya ketus. “Dulu engkau menolak pinangan kami. Sekarang datang berkunjung ada keperluan apakah?”
Pek Hong tersenyum melihat Pangeran Cin Boan dan Cin Han memandang Nyonya Cin dengan alis berkerut tanda tidak senang mendengar ucapan yang ketus itu. Akan tetapi ia pun tidak merasa marah mendengar teguran nyonya itu karena ia maklum betapa kecewanya seorang ibu mendengar pinangan puteranya ditolak.
“Kalian bertiga keliru. Aku bukan Thio Siang In,” katanya sambil tersenyum.
Tiga orang itu terbelalak. “Harap Siocia (Nona) tidak main-main. Aku mengenalmu dengan baik dan jelas bahwa engkau adalah Nona Thio Siang In!” kata Cin Han sambil tersenyum pula, mengira gadis itu main-main.
“Aku tidak main-main. Memang aku mirip Thio Siang In, akan tetapi aku bukan ia. Paman Pangeran, apakah Paman sudah lupa kepadaku?”
Pangeran Cin Boan memandang penuh perhatian. “Siapakah engkau sesungguhnya, kalau engkau bukan Thio Siang In?”
“Aku sering bertemu Paman di kota raja sekitar enam tahun yang lalu.”
“Enam tahun yang lalu di kota raja? Ah, aku tidak ingat......”
Pek Hong Niocu lalu mengeluarkan pedang bengkok berukir naga emas dari pinggangnya dan memperlihatkannya kepada pangeran itu.
“Paman tentu mengenal ini, bukan?”
Melihat pedang bengkok tanda kekuasaan itu, sepasang mata Pangeran itu terbelalak.
“Dan apakah Paman tidak mengenal hiasan rambutku ini?”
“Ahh...... engkau...... Puteri Moguhai yang dikenal sebagai Pek Hong Niocu??”
Pek Hong tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya. “Nah, Paman mengerti sekarang bahwa aku bukan Thio Siang In.”
“Ah, maafkan kami...... kiranya keponakanku yang amat terkenal yang datang berkunjung! Selamat datang, Ananda Moguhai. Kami merasa girang sekali mendapat kesempatan menerima kunjungan ini.”
Lalu kepada isteri dan puteranya yang masih memandang terheran-heran dia berkata. “Mengapa kalian bengong saja? Ini adalah keponakanku sendiri, puteri Sri Baginda Kaisar yang bernama Puteri Moguhai yang akhir-akhir ini terkenal sebagai Pek Hong Niocu, pemilik pedang pusaka tanda kekuasaan tertinggi mewakili Sri Baginda?”
Nyonya Cin Boan seketika mengubah sikapnya, ia bersikap hormat dan ramah sekali. “Aih, harap memaafkan kami yang tidak mengenalmu.”
Cin Han masih terpesona. Kiranya gadis yang wajahnya persis Thio Siang In ini adalah puteri kaisar! “Ah, Nona Puteri, harap maafkan aku......” katanya gagap.
Pek Hong tersenyum kepada pemuda itu. “Kita adalah saudara misan, mengapa masih memakai sebutan sungkan seperti itu? Engkau bernama Cin Han, bukan? Tentu lebih tua daripada aku maka akan kusebut Kanda Cin Han saja.”
Wajah pemuda yang tampan dan berkulit putih itu menjadi agak kemerahan. “Baiklah, Adinda Moguhai, dan terima kasih atas keramahan sikapmu.”
“Aku akan menyuruh menyiapkan minuman......”
“Tidak usah, Bibi. Aku datang untuk membicarakan suatu hal penting.”
“Ada urusan apakah, Moguhai? Persamaanmu dengan Thio Siang In sungguh membuat kami terkejut dan heran.”
“Memang benar, Paman Pangeran. Thio Siang In adalah saudara seperguruanku yang akrab dengan aku. Kedatanganku ini pun atas namanya untuk membicarakan tentang peristiwa perampokan atas diri Paman Thio Ki, Ayah Siang In.”
“Ya, kami juga sudah mendengar akan peristiwa yang menyedihkan itu. Kabarnya Thio Ki terluka parah. Benarkah itu?”
“Benar, akan tetapi keadaannya sudah tidak berbahaya lagi, Paman Pangeran. Dua orang piauw-su yang membantunya tewas dan banyak yang terluka. Semua harta benda yang dikawal Paman Thio Ki dirampas perampok.”
“Kami sudah mendengar dan mendapat pelaporan karena titipan barang kami juga ikut dilarikan perampok.”
“Banyakkah barang yang Paman titipkan itu?”
“Hemm, cukup banyak dan berharga karena kiriman kami itu kami tujukan kepada Ibu kami dan adik-adik kami di kota raja.”
“Tentu Paman Pangeran akan menuntut kepada Paman Thio Ki agar mengganti semua kehilangan itu, bukan?”
“Ah, sama sekali tidak, Moguhai. Thio Ki mendapatkan kecelakaan yang membuat harta bendanya habis dan dia sendiri terluka. Kehilangan harta yang kami titipkan itu adalah karena kecelakaan.”
“Itu benar, Adinda, Paman Thio Ki sedang menderita, bagaimana kami tega untuk menambahi penderitaannya? Kami malah kasihan sekali mendengar akan peristiwa itu.”
Moguhai atau kita sebut saja Pek Hong, memandang tiga orang itu bergantian. Wajah Pangeran Cin Boan dan wajah Cin Han tampak wajar membayangkan bahwa ucapan mereka tadi sejujurnya. Akan tetapi ia melihat betapa wajah Nyonya Cin yang cantik itu agak muram dan sepasang alisnya berkerut.
“Paman Pangeran, aku mendengar bahwa setahun lebih yang lalu, Paman mengajukan pinangan kepada keluarga Paman Thio Ki, untuk menjodohkan Kan-da Cin Han ini dengan Thio Siang In, benarkah itu?”
“Ya, benar.”
“Dan pinangan itu ditolak?”
Pangeran Cin Boan menghela napas panjang. “Ya, ditolak karena Nona Thio Siang In belum mau terikat perjodohan. Kami dapat menerima alasan itu karena kami tahu bahwa gadis itu adalah seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya dan tentu saja soal perjodohan tidak dapat dipaksakan kepadanya.”
“Hemm, tentu Paman sekeluarga menjadi kecewa dan penasaran, bukan?”
“Tentu saja kami kecewa, akan tetapi penasaran? Tidak! Mengapa mesti penasaran? Pinangan hanya mempunyai dua keputusan, diterima atau ditolak.”
“Apakah keluarga Paman tidak merasa terhina oleh penolakan pinangan itu dan mendendam sakit hati?”
“Puteri Moguhai! Mengapa engkau bertanya seperti itu? Kami bukan orang-orang sepicik itu!” kata Pangeran Cin Boan dengan suara mengandung kemarahan.
“Ayah, Adinda Moguhai mengajukan pertanyaan itu pasti ada sesuatu yang dimaksudkan dan dikehendaki. Dinda Moguhai, harap engkau suka berkata terus terang saja kepada kami. Sebetulnya ada persoalan apakah pada keluarga kami yang sedang kau selidiki?”
Pek Hong memandang kakak misannya yang tampan itu sambil tersenyum. Pemuda ini cerdik juga, pikirnya kagum.
“Begini, Paman, Bibi, dan Kanda. Sesungguhnya, keluarga Paman Thio Ki mendengar berita yang tidak baik, yang membayangkan seolah-olah urusan penolakan pinangan itu ada hubungannya dengan terjadinya perampokan terhadap Paman Thio Ki itu.”
“Dinda Moguhai! Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau menyangka kami yang mendalangi perampokan itu karena kami hendak membalas dendam atas ditolaknya pinangan kami itu?” tanya Cin Han penasaran, walaupun suaranya masih lembut.
Pek Hong tersenyum lebar. “Tenang, Kanda. Itu bukan persangkaanku. Justeru aku datang ini untuk menyelidiki tentang persangkaan itu. Sekarang, harap Paman Pangeran suka menjawab sejujurnya. Apakah Paman mengenal seorang bernama Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar)?”
“Bhe Liang?” Sepasang alis pangeran itu berkerut dan sinar matanya membayangkan kemarahan. “Tentu saja kami mengenalnya. Dahulu, dia menjadi seorang di antara para pengawal kami di sini. Akan tetapi kami telah menghentikan dan mengusirnya!”
“Mengusirnya......? Akan tetapi mengapa, Paman? Mengapa Paman mengusirnya?”
Pangeran itu bertukar pandang dengan isterinya dan dengan alis masih berkerut dia bertanya kepada Pek Hong. “Hemm, apakah pertanyaan itu perlu dijawab?”
“Perlu sekali, Paman! Untuk melengkapi penyelidikanku, harap Paman suka menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Ini demi kebaikan keluarga Paman sendiri.”
Pangeran Cin Boan memandang isterinya. “Bagaimana? Apakah kita akan memberitahu kepada Puteri Moguhai?”
Isterinya termangu sejenak, lalu mengangguk. “Boleh saja kalau itu demi kebaikan keluarga kita.”
“Begini, Moguhai. Sebetulnya penyebabnya hanya urusan kecil saja, namun cukup menjengkelkan kami. Bhe Liang memperlihatkan sikap yang kurang ajar kepada isteriku. Pandang matanya kurang ajar dan dia berani tersenyum-senyum penuh arti......” Pangeran itu memandang kepada isterinya.
“Keparat itu memang kurang ajar sekali. Pandang matanya dan senyumnya itu jelas menjadi tanda bahwa dia mengajak main gila! Dikiranya wanita macam apa aku ini! Maka aku memberitahu suamiku dan dia lalu diusir.”
Mendengar keterangan suami isteri itu, Pek Hong mengangguk-angguk lalu ia bangkit berdiri. “Terima kasih banyak atas semua keterangan Paman, Bibi, dan Kanda Cin Han. Sekarang aku mohon diri, hendak kembali ke rumah Paman Thio Ki.”
Pangeran Cin Boan, isterinya dan puteranya mencoba untuk menahannya, akan tetapi Pek Hong mengucapkan terima kasih.
“Biarlah lain kali saja kita berjumpa lagi. Sekarang aku harus kembali ke sana menemui Siang In.”
Keluarga pangeran itu mengantar Pek Hong sampai ke pintu depan.
Thio Ki, Miyana dan Siang In menyambut kedatangan Pek Hong dan Siang In segera menggandeng tangan Pek Hong, diajak masuk.
“Pek Hong bagaimana hasilnya? Benarkah mereka yang mendalangi semua itu?” Siang In bertanya ketika mereka berempat sudah berada di ruangan dalam.
Pek Hong tersenyum. “Sabar dulu, Siang In. Penyelidikanku belum tuntas. Sekarang, aku harap Paman Thio Ki dun Bibi Miyana suka berterus terang kepadaku karena jawaban yang jujur dari Paman berdua mungkin akan dapat membawa kita kepada dalang perampokan ini.”
“Aih, Pek Hong. Kenapa malah kami yang harus menjawab dengan jujur?” tanya Miyana heran.
“Ya, Pek Hong. Seolah kami yang akan kau selidiki?” kata pula Thio Ki penasaran.
“Tenanglah, Paman dan Bibi. Percayalah padaku dan harap suka jawab sejujurnya pertanyaanku ini. Paman, pengawalmu yang bernama Bhe Liang itu, apakah pekerjaannya di sini baik-baik saja?”
Thio Ki memandang heran dan mengangguk. “Ya, pekerjaannya cukup baik. Beberapa kali dia mengawal kiriman barang dan tidak pernah gagal. Juga dia memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Julukannya sebagai Twa-to agaknya cukup dikenal oleh golongan sesat sehingga pengawalannya tidak pernah diganggu.
“Apakah dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tercela?”
“Kurasa tidak.”
“Dan Paman tidak pernah memarahinya karena suatu tindakan yang tercela?”
Thio Ki menggeleng kepala. “Seingatku tidak. Akan tetapi apa maksudmu dengan semua pertanyaan itu?”
“Nanti kujelaskan, Paman. Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepada Bibi Miyana dan kuharap Bibi akan menjawab sejujurnya dan jangan menyembunyikan sesuatu.”
Miyana mengerutkan alisnya dan wajahnya yang masih cantik itu tampak tegang. “Tanyalah, Pek Hong!”
“Begini, Bibi. Apakah Bhe Liang itu pernah berbuat atau bersikap yang tidak wajar terhadap Bibi?”
Miyana membelalakkan matanya. “Tidak wajar? Apa...... apa maksudmu?”
“Hemm, misalnya dia melakukan sesuatu atau bersikap yang tidak sopan atau kurang ajar terhadap Bibi.”
Miyana menundukkan mukanya yang berubah merah dan sejenak ia diam saja.
“Ibu, jawablah pertanyaan Pek Hong sejujurnya. Percayalah, ia bermaksud baik, Ibu.”
Miyana kembali memandang kepada suaminya dan Thio Ki yang kini menduga tentu ada apa-apa yang hendak dikatakan isterinya, ia berkata, “Benar, Miyana. Ceritakan saja apa yang telah terjadi dengan sejujurnya.”
Setelah Miyana menghela napas panjang beberapa kali, ia berkata.
“Memang pernah beberapa kali dia bersikap kurang ajar kepadaku, merayuku. Mula-mula aku tidak perduli, akan tetapi ketika dia semakin berani, malah pernah memegang tanganku, aku menjadi marah dan memaki-makinya.”
“Keparat!” bentak Siang In. “Kuhajar jahanam itu!”
“Nanti dulu Siang In. Bersabarlah,” kata Pek Hong, lalu ia menoleh kepada Miyana yang kini menundukkan mukanya. “Bibi, mengapa Bibi tidak melaporkan kekurang-ajaran itu kepada Paman Thio Ki?”
Miyana memandang suaminya yang juga memandang kepadanya dengan alis berkerut. “Ketika peristiwa itu terjadi, engkau belum pulang Siang In. Kalau ada engkau, pasti langsung kuberitahukan kepadamu. Akan tetapi engkau tidak ada dan aku takut memberitahukan hal itu kepada Ayahmu. Bhe Liang itu orangnya menyeramkan dan kabarnya dia lihai sekali. Aku takut kalau kuberitahukan Ayahmu, mereka berkelahi dan Ayahmu akan celaka di tangannya......”
“Terima kasih, Bibi. Sekarang jelaslah sudah. Paman dan Bibi, dan Siang In, ketahuilah. Aku telah melakukan penyelidikan kepada Paman Pangeran Cin Boan sekeluarga, akan tetapi tidak ada tanda-tandanya mereka mendalangi perampokan itu. Pangeran Cin Boan terlalu baik hati untuk melakukan kekejaman itu. Bahkan dia tidak ingin menuntut Paman Thio untuk membayar barang-barangnya yang dirampok. Akan tetapi aku mendapatkan keterangan penting. Ketika Bhe Liang menjadi pengawal mereka, jahanam itu pun pernah bersikap kurang ajar kepada isteri Paman Pangeran sehingga dia dipecat dan diusir. Dan sekarang dia pula yang memberi kabar yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan! Jelas bahwa dia hendak membalas dendam kepada Pangeran Cin Boan karena pernah memecat dan mengusirnya, dan juga membalas dendam kepada keluarga ini karena Bibi Miyana pernah memakinya dan menolak rayuannya. Jadi, mudah diduga siapa kira-kira yang mendalangi perampokan ini, bukan?”
Siang In bangkit berdiri. “Jahanam, kuhajar dia!”
Pek Hong juga bangkit dan memegang lengan Siang In. “Siang In, tenanglah, jangan menuruti nafsu amarah. Kalau engkau emosi lalu membunuhnya, akan sukarlah bagi kita untuk menemukan kembali barang-barang yang dirampok itu. Mari kita cari dia dan kita paksa dia mengakui perbuatannya dan memberitahu di mana adanya barang-barang rampokan itu. Paman, di manakah kami dapat menemukan jahanam itu?”
“Rumahnya tak jauh dari sini. Dia tidak mau tinggal di sini dan menyewa rumah sendiri, rumah kecil di sebelah kiri dari rumah ini. Biar pelayan mengantar kalian ke sana.”
Dua orang gadis itu lalu pergi menuju rumah sewaan Bhe Liang, diantarkan seorang pelayan. Setelah tiba di luar rumah itu, Siang In menyuruh pelayan itu pulang. Lalu mereka berdua menghampiri pintu depan rumah itu dan mengetuknya.
Daun pintu dibuka dari dalam dan Bhe Liang yang tinggi besar dan bermata lebar melotot itu muncul di ambang pintu. Dia membelalakkan kedua matanya yang lebar ketika melihat dua orang gadis cantik jelita berdiri di depannya. Karena pada dasarnya dia seorang mata keranjang dan dia mengandalkan ketangguhannya sehingga membuat dia berani, melihat sepasang gadis cantik jelita itu dia menyeringai lebar sehingga tampak giginya yang besar-besar menguning.
“Heh-heh, nona-nona manis, kalian mencari aku?” tiba-tiba dari dalam muncul pula seorang wanita muda yang wajahnya menor, seperti topeng dibedak dan digincu tebal, dengan lagak genit berkata.
“Orang she Bhe, dengan aku pun engkau belum membayar sekarang sudah mendatangkan dua orang pelacur lain?”
“Plak-plakk!” Bhe Liang terhuyung ke dalam dan wanita itu menjerit dan terpelanting roboh. Ia menangis memegangi pipinya yang bengkak, lalu ia berlari keluar dari pintu sambil menangis. Sementara itu, Bhe Liang marah bukan main, memandang Siang In yang tadi menampar dia dan pelacur langganannya. Darah mengalir dari ujung bibirnya dan sepasang matanya yang lebar itu kini melotot. Hampir dia tidak percaya ada seorang gadis berani menamparnya!
“Keparat! Berani engkau memukul aku?” bentaknya dan sambil mengeluarkan gerengan menyeramkan dia mengembangkan kedua lengannya yang panjang, lalu menerjang Siang In dengan terkaman karena dia hendak mendekap gadis cantik yang berani menamparnya itu.
“Wirrrr...... plakk!” Tangan Siang In sudah menyambar dengan cepat sekali, menampar pundak Bhe Liang. Seperti disambar petir tubuh Bhe Liang terpental dan terputar, lalu dia jatuh terpelanting.
Bhe Liang merangkak bangkit. Hampir dia tidak dapat percaya. Dia tadi menyerang akan tetapi tahu-tahu pundaknya seperti dihantam palu godam yang amat kuat. Rasanya nyeri menyusup tulang! Bagaimana mungkin ini? Dia adalah seorang laki-laki perkasa yang sukar dicari tandingannya di kota Kang-cun. Akan tetapi kini menghadapi seorang gadis muda dia seperti menjadi seorang anak kecil yang tidak berdaya!
Tentu saja dia menjadi penasaran dan menganggap kejadian tadi hanya kebetulan saja. Bagaimanapun juga, dia menyadari bahwa gadis cantik ini bukan seorang yang lemah. Maka setelah dapat bangkit berdiri, Bhe Liang lalu mencabut golok besarnya, senjatanya yang amat diandalkan dan yang selama ini mengangkat namanya sebagai jagoan dengan julukan Si Golok Besar. Begitu dicabut, dia memutar-mutar golok yang besar, berat dan mengkilap tajam itu di depan tubuhnya dengan wajah bengis mengancam.
“Perempuan jahanam, kini mampuslah!” Dia membentak dan tiba-tiba dia menerjang maju, goloknya menyambar ke arah leher Siang In dengan cepat dan kuat.
Akan tetapi bagi Siang In yang kini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi setelah selama setahun digembleng ayah kandungnya, gerakan hebat itu tampak lamban dan hanya merupakan serangan ringan saja. Ia miringkan tubuh ke kiri. Ketika golok menyambar lehernya ia merendahkan tubuhnya dan golok itu menyambar lewat atas kepalanya. Pada saat itu kakinya mencuat dan menendang perut Bhe Liang. Tentu saja ia membatasi tenaganya karena ia tidak ingin membunuh orang itu.
“Wuuuttt...... ngekk!!” Tubuh Bhe Liang terjengkang dan sebuah tendangan menyusul, mengenai pergelangan tangan kanan dan goloknya terlepas dan terlempar.
Sekali ini Bhe Liang tidak dapat menahan rasa nyeri dalam perutnya. Agaknya usus buntunya terkena tendangan, rasanya mulas dan nyeri bukan main. Dia pun tidak tahan sehingga mengaduh-aduh sambil memegangi dan menekan-nekan dengan kedua tangan. Dia bangkit berjongkok dan kini dia menjadi ketakutan. Sadar sepenuhnya bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sakti dan amat tangguh!
“Aduh...... aduh...... Nona, mengapa Nona menyerangku? Apa kesalahanku kepadamu?” Dia mengeluh.
“Manusia busuk Bhe Liang! Apa yang kauketahui tentang perampokan terhadap barang-barang Ayahku? Hayo jawab!” Siang In membentak.
Bhe Liang terkejut dan terheran. Ketika dia bekerja pada perusahaan Thio Ki, Siang In tidak berada di rumah. Dia sudah mendengar bahwa Thio Ki mempunyai seorang anak perempuan yang lihai, akan tetapi dia tidak percaya dan menertawakan. Selihai-lihainya, apa sih yang dapat dilakukan seorang gadis? Dan kini gadis yang amat tangguh ini, yang dapat merobohkan dia yang memegang goloknya hanya dalam satu gebrakan, tadi menyebut Thio Ki sebagai Ayah!
“Nona...... Nona...... siapakah?”
Kini Pek Hong Niocu yang menjawab setelah tertawa mengejek. “He-he-he, cacing lumpur! Buka matamu lebar-lebar, juga telingamu! Gadis ini adalah puteri Paman Thio Ki yang bernama Thio Siang In dan berjuluk Ang Hwa Sian-li. Nah, cepat menjawab pertanyaannya tadi. Apa yang kau ketahui tentang perampokan terhadap barang-barang Paman Thio Ki?”
“Saya...... saya tidak tahu apa-apa......” Bhe Liang yang sekarang mati kutu dan kehilangan kegarangannya itu berkata dengan muka masih menyeringai menahan rasa mulas di perutnya.
“Dengar, Cacing!” bentak Pek Hong Niocu. “Engkau mendendam kepada Pangeran Cin Boan karena dipecat dan diusir! Kemudian engkau mendendam kepada Paman Thio Ki karena engkau menggoda isterinya akan tetapi engkau ditolak dan dimaki-maki! Maka, lalu mengatur perampokan itu, bukan?”
“Tidak......! Tidak......!” kata, Bhe Liang, akan tetapi mukanya menjadi pucat dan tubuhnya yang tinggi besar itu menggigil.
“Hayo mengaku, di mana barang-barang rampokan itu?” Pek Hong membentak.
Bhe Liang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Saya...... saya tidak...... tahu...... saya tidak tahu......”
“Pek Hong, bangsat seperti ini sebaiknya dicokel kedua matanya agar jangan berbohong!” Siang In berkata, sengaja untuk mengancam pengawal Ayahnya itu.
Tentu saja Bhe Liang menjadi ketakutan mendengar ancaman ini.
“Ampun, Nona...... ampun, saya tidak bersalah...... saya tidak tahu......!”
Pek Hong Niocu menggerakkan jari tangan kanannya dua kali, cepat sekali.
“Tuk! Tuk!” Jari tangan itu telah menotok kedua pundak Bhe Liang, di kanan kiri leher.
“Aduhh......! Ahhh, ampun...... aduuuhhh……!” Tubuh Bhe Liang bergulingan di atas lantai. Kedua tangannya menekan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri semua, seperti ditusuk-tusuk jarum. Kakinya, lengannya, perutnya, dadanya, bahkan kepalanya. Dia mengaduh-aduh, bergulingan, bangkit dan rebah kembali, mulutnya minta-minta ampun, seluruh tubuh menggigil saking nyerinya, kiut-miut rasanya seluruh tubuh, terutama kepalanya yang rasanya hendak pecah. Keringat dingin sebesar kedele memenuhi muka dan lehernya dan wajahnya menjadi pucat sekali. Dia menggigit bibirnya yang sudah berdarah sambil mendengus-dengus dan merintih-rintih, napasnya terengah-engah.
“Kalau engkau tidak mau mengaku, kami akan membiarkan engkau tersiksa begini sampai mampus!”
“Aduh...... ampun, Nona...... ampun, saya tidak berani lagi......!”
Siang In melihat sebuah arca singa di sudut ruangan itu, arca sebesar kepala orang. Diambilnya arca itu dan dibawanya ke depan Bhe Liang.
“Lihat, engkau masih belum mau mengaku?” Gadis itu lalu menampar arca yang berada di atas telapak tangan kirinya.
“Pyarrr......!” Arca itu pecah dan kedua tangannya mengambil beberapa pecahan arca lalu sekali meremas, pecahlah batu itu hancur menjadi tepung! Bhe Liang terbelalak melihat ini. Wajahnya pucat sekali.
“Jawab, mau tidak engkau mengaku!” bentak Siang In.
“Mau...... mau...... ampunkan saya......”
Pek Hong menepuk kedua pundaknya dan rasa nyeri itu pun tak terasa lagi oleh Bhe Liang. Dia jatuh terduduk dan menggunakan kedua tangannya untuk mengelus pundaknya. Kedua matanya masih basah karena tadi tanpa terasa dia menangis saking nyerinya. Dia menghela napas berulang-ulang.
“Duduk dan ceritakan semua!” bentak Siang In.
Bhe Liang benar-benar mati kutu karena kini dia tahu bahwa dua orang gadis yang wajahnya serupa ini keduanya ternyata memiliki kesaktian hebat. Dia bangkit dan duduk di atas sebuah kursi, dihadapi dua orang gadis yang berdiri dengan sinar mata mencorong.
“Saya...... saya memang merasa sakit hati kepada Pangeran Cin Boan karena saya dipecat dan diusir. Juga saya merasa sakit hati kepada Thio-twako karena...... karena......”
“Hayo bicara terus terang!” Siang In membentak lagi.
“Karena...... isterinya menghina dan memaki saya......”
“Engkau berani menggoda Ibuku? Kamu anjing babi, wajahmu buruk seperti monyet hatimu seperti iblis begini berani menggoda Ibuku? Kau layak mampus!” Siang In yang marah sekali mengayun tangan memukul kepala Bhe Liang, akan tetapi Pek Hong cepat menangkap lengannya.
“Siang In, ingat, kita masih membutuhkan monyet ini.”
Siang In teringat, lalu membentak Bhe Liang yang sudah begitu ketakutan sehingga tubuhnya menggigil lagi seperti kedinginan.
“Hayo lanjutkan keteranganmu. Awas, kalau berani berbohong, kucokel keluar matamu!”
“Baik, Nona. Ampunkan saya. Ketika Thio-twako sendiri mengawal barang-barang berharga, apalagi di situ terdapat titipan barang Pangeran Cin Boan, saya lalu menghubungi teman-teman saya dan...... dan mereka melakukan penghadangan dan perampokan itu......”
“Hemm, siapa pemimpin perampokan itu?”
“Seorang pemuda yang baru saya kenal melalui teman-teman, namanya Kui Tung.”
“Di mana barang-barang itu?” tanya Siang In.
“Sekarang disembunyikan di kuil tua yang kosong, di kaki bukit di luar kota ini. Sengaja dibawa ke dekat kota ini agar jangan ada yang menduga.”
“Kuil tua di kaki bukit sebelah utara kota itu?” tanya Siang In.
“Betul, Nona.”
“Hayo antar kami ke sana! Sekarang juga!” bentak Pek Hong.
Bhe Liang yang sudah ketakutan itu tidak berani membantah. Dia bangkit berdiri dan diikuti oleh dua orang dara perkasa itu, dia berjalan keluar kota melalui pintu gerbang utara. Mereka bertiga berjalan cepat ke arah bukit kecil yang tak jauh dari situ. Bukit ini sunyi karena tidak berada di tepi jalan raya. Setelah dekat, sudah tampak sebuah bangunan kuil yang sudah tua dan tak terpakai lagi.
Setelah mereka tiba di depan kuil, tiba-tiba, pada saat dua orang tadi mencurahkan perhatian pada kuil tua, Bhe Liang melompat ke depan dan berlari ke arah kuil sambil berteriak, “Kawan-kawan, awas! Musuh datang......!”
“Tikus busuk!” Siang In memaki dan sekali tangan kirinya bergerak mendorong ke arah orang yang melarikan diri itu, tubuh Bhe Liang terguling dan dia tidak mampu bergerak lagi. Tewas! Pukulan jarak jauh Siang In itu memang dahsyat bukan main dan ini membuktikan betapa kini Siang In telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
Dua orang gadis itu lalu melompat dengan ringan memasuki kuil yang bagian depannya terbuka itu. Kuil itu sudah tua dan dindingnya sudah banyak yang runtuh. Akan tetapi masih bersih dan pintunya yang menuju ke bagian dalam masih berkosen kokoh walaupun tidak berdaun lagi. Dari bagian depan yang
dulunya menjadi ruangan sembahyang, tampak bagian dalam melalui lubang pintu menganga itu. Bagian dalam itu pun tampak bersih namun sunyi, tidak tam-pak seorang pun manusia!
“Hemm, tidak ada orangnya. Mungkin tikus itu telah membohongi kita dan barang-barangnya tidak disimpan di sini.”
“Hemm, kukira dia tidak akan berani. Pasti di sini bersembunyi teman-temannya maka dia berani membawa kita ke sini dan teriakannya tadi merupakan peringatan bagi teman-temannya agar membantunya dan menyerang kita. Akan tetapi heran, mengapa mereka tidak muncul?”
“Mari kita periksa ke dalam, Pek Hong.”
“Mari, akan tetapi kita harus waspada dan hati-hati terhadap serangan gelap. Tempat ini terpencil, memang pantas untuk dijadikan tempat persembunyian para penjahat.”
Dengan tenang namun waspada, dua orang gadis itu memasuki ruangan dalam melalui lubang pintu tanpa daun itu. Ruangan sebelah dalam itu luas dan bersih dan di sudut sana barulah tampak tumpukan peti yang cukup banyak.
“Hemm, benar juga. Barang-barang itu disembunyikan di sini!” kata Siang In girang.
Mereka cepat menghampiri tumpukan peti itu dan mulai memeriksa dengan membuka tutup peti. Ketika mereka membuka tutup dua buah peti dan melihat bahwa peti itu memang berisi barang-barang dagangan berupa kain-kain, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di belakang mereka. Mereka cepat membalikkan tubuh dan tampak debu mengepul dan suara tadi adalah turunnya sehelai daun pintu baja dari atas, menutup lubang pintu yang menyambung ruangan itu dengan ruangan depan tadi! Mereka terjebak!
Kiranya kuil tua kosong itu kini dijadikan sarang penjahat yang memasang pintu rahasia. Akan tetapi tentu saja dua orang dara perkasa itu tidak merasa gentar dan mereka menutupkan kembali dua peti itu dan bersikap menanti dengan waspada.
Tiba-tiba dua benda melayang masuk ke dalam ruangan itu. Terdengar ledakan dan asap putih tebal mengepul memenuhi ruangan itu! Bau yang keras menyengat memenuhi ruangan yang penuh asap itu. Perlahan-lahan asap membubung dan keluar dari ruangan melalui atap. Saking tebalnya asap, orang tak dapat melihat keadaan ruangan itu dan kalau ada orang di luar kuil melihat asap tebal membubung keluar dari atas kuil, tentu akan mengira bahwa di situ terjadi kebakaran.
Banyak orang berkumpul di ruangan depan dan ruangan belakang, dan mereka itu siap dengan senjata di tangan, menghadang kalau-kalau dua orang gadis itu dapat lolos melalui ruang belakang atau depan. Akan tetapi tidak ada gerakan apa pun di dalam ruangan tengah yang dilempari bahan peledak yang mengandung pembius kuat yang membuat orang pingsan itu. Mereka adalah gerombolan perampok yang diceritakan Bhe Liang sebagai teman-temannya kepada dua orang gadis itu.
Setelah asap meninggalkan ruangan itu melalui atap, mereka mengintai ke dalam dan bersorak melihat betapa dua orang gadis itu telah roboh, menelungkup di atas lantai ruangan itu, pingsan!
“Dua ekor ikan itu sudah terjaring!”
“Mereka sudah roboh pingsan!”
“Aduh, cantik-cantik bukan main!”
Ketika mereka membuka pintu yang menembus ruangan depan dan ruangan belakang lalu memasuki ruangan itu, menghampiri dua orang gadis yang menggeletak pingsan, tiba-tiba terdengar suara nyaring penuh wibawa yang menggetarkan.
“Kalian mundur semua! Siapa berani menyentuh tubuh dua orang gadis itu, akan kusiksa sampai mati. Mereka itu milikku! Hayo kalian keluar semua dan jaga di luar kuil. Jangan ada yang berani masuk kalau tidak kupanggil!”
Suara orang itu sungguh memiliki wibawa yang amat kuat. Gerombolan itu sedikitnya ada tigapuluh orang dan mereka itu rata-rata bertubuh kekar dan berwajah bengis dengan sinar mata kejam. Akan tetapi begitu mendengar suara itu, mereka tiba-tiba berhenti bergerak dan wajah mereka dicekam ketakutan, lalu mereka keluar dari ruangan itu sambil menundukkan muka, seperti gerombolan anak-anak yang takut kepada ayah atau guru yang galak dan yang menegur mereka karena perbuatan mereka yang salah.
Sebentar saja ruangan itu telah ditinggalkan semua anggauta gerombolan yang kini tinggal di luar kuil. Ada yang duduk-duduk di depan kuil, ada pula yang melakukan penjagaan di belakang kuil di mana terdapat sebuah kereta kosong dan beberapa ekor kuda, dan ada pula yang berjaga di kanan kiri kuil. Kuil itu telah dikepung penjagaan mereka. Ruangan di mana dua orang gadis itu rebah menelungkup kini sudah bersih dari asap putih.
Seorang laki-laki memasuki ruangan itu dari pintu yang menembus ruangan belakang. Dia seorang pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun. Tu-buhnya jangkung kurus, langkahnya dibuat gagah dengan dada dibusungkan. Akan tetapi karena tubuhnya memang kerempeng maka lagak gagah itu malah tampak lucu. Wajahnya sebetulnya tampan juga, akan tetapi karena bentuk mukanya agak panjang ke depan seperti muka seekor kuda, maka ketampanannya juga lucu. Sepasang matanya sipit dengan sinar mata mencorong, bola matanya bergerak liar ke kanan kiri. Hidungnya mancung dihias kumis tipis. Mulutnya cemberut seperti orang marah. Yang aneh adalah pakaiannya.
Pakaian itu ringkas dan bentuknya seperti pakaian yang biasa dipakai pendekar silat, akan tetapi pakaian itu terbuat dari kain yang ditambal-tambal, padahal kainnya bersih dan tampak baru! Jelas bahwa tambal-tambal itu bukan dilakukan karena pakaiannya sudah robek, melainkan pakaian baru yang sengaja, ditambal-tambal dengan kain yang kembang dan warnanya berlainan sehingga tampak ramai dan aneh.
Di punggungnya terselip sebatang tongkat hitam. Biarpun pakaiannya bermodel pakaian pengemis, namun orang ini pesolek sekali. Rambutnya mengkilat karena diminyaki, digelung ke atas dan diikat dengan pita sutera merah. Seuntai kalung emas tergantung di lehernya. Sepatu botnya dari kulit hitam mengkilat dan baru. Pendeknya, dia tampak seperti seorang pengemis aneh yang pesolek dan sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan.
Pemuda aneh ini memasuki ruangan lalu berdiri memandang kepada dua orang gadis yang rebah menelungkup. Lalu dia bicara lirih seperti berbisik.
“Bukan main! Tubuh dua orang gadis yang denok, ramping dan padat, seperti dua kuntum bunga yang sedang mekar!” Dia memandang kagum kepada tubuh belakang dua orang gadis itu yang memang denok dan indah. Tubuh dua orang gadis yang sedang dewasa dan karena sejak kecil selalu berlatih olah raga silat, maka tentu saja bentuk tubuh itu indah dan padat.
Akan tetapi agaknya pemuda ini hendak memperlihatkan bahwa dia bukan orang yang mudah terpikat tubuh wanita indah, maka dia menghampiri dan membungkuk lalu mendorong tubuh Pek Hong dan Siang In sehingga kini tubuh mereka telentang dan tampak jelas tubuh bagian depan yang lebih indah lagi, dan wajah mereka yang cantik jelita dan sama. Kini sepasang mata yang sipit itu dibelalakkan, walaupun tetap saja sipit.
“Amboi......! Mimpi apa aku semalam? Belum pernah selama hidupku melihat dua orang gadis yang begini cantik jelita dan sama pula! Kui Tung......, sekali ini engkau memang beruntung bukan main!”
Akan tetapi sebelum dia melakukan sesuatu yang sudah pasti amat keji, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang pemuda! Masuknya pemuda ke dalam ruangan itu sungguh mengejutkan hati pe-muda muka kuda bernama Kui Tung itu dan dia cepat melompat ke belakang. Mereka saling berhadapan, saling pandang dengan sinar mata mencorong dan penuh selidik.
Pemuda yang baru muncul ini berusia duapuluh tiga tahun, bertubuh sedang dan tegap. Wajahnya bulat dengan kulit putih. Alis matanya hitam tebal berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum sinis. Matanya mencorong aneh. Rambutnya dikucir dan pakaiannya mewah.
Kui Tung merasa heran sekali. Dia tahu bahwa kuil itu sudah dikepung dengan ketat dan dijaga anak buahnya yang jumlahnya lebih dari tigapuluh orang. Akan tetapi bagaimana mungkin orang ini masuk ke ruangan itu tanpa diketahui anak buahnya? Akan tetapi kemarahannya lebih besar dari keheranannya. Dia marah karena merasa terganggu sekali. Maka, menurutkan wataknya yang selalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, tanpa bertanya lagi dia lalu menerjang maju dengan pukulan kuat yang mengandung sin-kang (tenaga sakti) yang dahsyat.
Namun dengan tidak kalah cepatnya pemuda tampan itu bergerak, mengelak dan cepat membalas dengan serangan tamparan ke arah kepala Kui Tung. Si Muka Kuda ini terkejut bukan main karena gerakan lawan sungguh aneh dan hebat. Dia dapat merasakan sambaran angin pukulan dahsyat itu, maka cepat dia melompat ke samping sambil mencabut tongkat hitam yang terselip di pungungnya! Kemudian dia mainkan tongkat itu seperti orang bermain pedang dan tongkat itu sudah berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dahsyat!
Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat lawan itu dapat menghindarkan diri dari semua serangannya. Tongkatnya itu sebetulnya merupakan pedang yang disembunyikan dalam tongkat bambu agar lebih tepat dibawa seorang berpakaian pengemis. Dia memainkan ilmu pedang simpanannya, namun hebatnya, pemuda itu seolah mengenal baik semua gerakannya sehingga dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya. Kui Tung mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu silatnya. Ilmu silatnya adalah ciptaan gurunya sendiri, bukan merupakan ilmu dari aliran yang mungkin dipelajari banyak orang. Akan tetapi alangkah herannya ketika lawannya itu mampu menghindarkan diri dan bahkan ketika lawannya itu membalas dengan serangan-serangan yang dahsyat, dia mengenal bahwa lawannya juga menggunakan ilmu yang sama!
“Hei......! Ini...... ini ilmuku......!” Kui Tung berseru. Pada saat itu, sebuah tendangan dari lawannya menyambar. Sebetulnya Kui Tung mengenal jurus tendangan ini karena sama dengan ilmu yang selama puluhan tahun dia pelajari, akan tetapi datangnya tendangan itu demikian cepatnya sehingga perutnya terkena tendangan. Cepat dia melindungi perutnya dengan tenaga saktinya.
“Wuuutt...... bukkk!!” Biarpun perutnya sudah terlindung tenaga sakti dan tidak terluka, namun tenaga tendangan yang kuat itu membuat tubuhnya terlempar menabrak dinding ruangan itu sehingga jebol. Biarpun tidak terluka, namun tetap saja Kui Tung merasa kepalanya agak pening. Cepat dia bangkit dan memandang pemuda tampan itu dengan terheran-heran.
“Siapakah engkau? Mengapa engkau mengenal ilmu silatku?”
Pemuda itu tersenyum lebar dan pandang matanya mengejek. “Hemm, engkau tentu murid Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin, betulkah?”
“Engkau mengenal Suhu? Memang benar, aku murid Suhu Lam-kai Gui Lin, namaku Kui Tung. Engkau siapakah?”
“Namaku Can Kok.”
“Ah, aku pernah mendengar tentang dirimu! Bukankah engkau yang menjadi murid Empat Datuk Besar. Lam-kai Gui Lin adalah seorang di antara Empat Datuk Besar. Pantas engkau menguasai ilmu yang kupelajari darinya! Kalau begitu, di antara kita masih ada hubungan seperguruan! Biarpun ilmu kepandaianmu lebih tinggi daripada aku, namun karena aku lebih dulu menjadi murid Lam-kai, dan usiaku juga lebih tua daripada usiamu, maka aku adalah suhengmu dan engkau adalah Suteku.”
“Huh, engkau bukan Suhengku (Kakak seperguruanku)! Kalau aku tadi tidak mengenal ilmu silatmu, tentu sekarang engkau telah menjadi mayat! Kui Tung, kalau engkau ingin berteman dengan aku, engkau harus menyebut aku Tai-hiap (Pendekar Besar), karena aku adalah Bu-tek Tai-hiap Can Kok (Pendekar Besar Tanpa Tanding Can Kok)! Kalau engkau tidak mau, pergi dari sini sebelum kubunuh!”
Kui Tung merasa penasaran sekali. Pemuda ini begitu sombongnya! Akan tetapi Kui Tung adalah seorang yang cerdik. Dia tahu betul bahwa Can Kok adalah seorang yang Iihai bukan main, bahkan menurut cerita gurunya yang baru-baru ini dia jumpai, murid Empat Datuk Besar ini tingkat kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Empat Datuk Besar! Juga gurunya bercerita bahwa Can Kok kini menjadi orang sakti yang jalan pikirannya aneh karena otaknya guncang akibat penyatuan empat macam aliran tenaga dalam yang digabungkan. Orang begini lihai sebaiknya kalau dijadikan kawan, bukan lawan!
“Ah, baiklah, Can-taihiap (Pendekar Besar Can)! Lihat, aku telah dapat menangkap dua orang bidadari yang cantik molek. Engkau boleh memiliki seorang dari mereka!” Untuk mengambil hati kawan baru ini, Kui Tung menunjuk ke arah tubuh dua orang gadis yang masih menggeletak telentang di atas lantai ruangan itu.
Can Kok menyapu kedua tubuh gadis itu dengan pandang matanya yang aneh. “Mereka ini mengapa?”
“Mereka adalah dua orang gadis yang lihai sekali dan mereka datang untuk merampas kembali barang-barang yang kami rebut dari tangan Pedagang Thio Ki dari kota Kang-cun, dan sebagian adalah barang-
barang berharga milik Pangeran Cin Boan yang menjadi pembesar tinggi di kota itu. Dan selain engkau boleh memilih seorang di antara mereka berdua, engkau juga boleh memilih di antara barang rampasan ini, mana yang kau sukai, ambillah.”
Can Kok tersenyum mengejek. “Kui Tung, engkau memang tolol! Kalau aku menghendaki sesuatu, wanita atau benda apa saja, tidak perlu ditawarkan akan kuambil sendiri. Siapa yang berani melarang aku berbuat sesukaku? Dan ketololanmu yang kedua, Kui Tung, engkau menganggap dua orang gadis ini sudah tidak berdaya. Begitukah? Heh-heh-heh!”
“Apa maksudmu, Can-taihiap? Dua orang gadis ini memang sudah tidak berdaya, sedikitnya selama seperempat hari mereka akan tinggal pingsan karena mereka telah terbius oleh asap pembius kami yang amat manjur,” kata Kui Tung.
“Inilah yang membuktikan ketololanmu! Aku sama sekali tidak melihat mereka berdua itu terbius atau pingsan! Sejak tadipun mereka itu tidak apa-apa. Engkau telah terkena tipu mereka, Kui Tung!”
“Ah, benarkah itu, Taihiap?” Kui Tung membelalakkan kedua matanya.
“Tidak percaya, perhatikan ini!” Can Kok menendang sebuah kursi dan benda itu melayang cepat ke arah tubuh dua orang gadis yang rebah telentang itu.
“Wuuttt...... krekkk!” Kursi itu hancur berkeping-keping ketika Siang In, yang rebah terdekat, tiba-tiba melompat bangkit dan sekali tangan kirinya bergerak menghantam, kursi itu pun hancur berantakan! Pek Hong juga sudah melompat bangkit dan berdiri di samping Siang In. Mereka berdua tersenyum mengejek.
Kedua orang dara perkasa ini memang sama sekali tidak pingsan! Ketika terjadi ledakan dan asap putih tebal memenuhi ruangan, mereka berdua cepat bertiarap. Kedua gadis ini adalah gadis-gadis yang sudah banyak pengalaman menghadapi penjahat-penjahat dan mereka berdua tahu akan bahayanya asap beracun itu. Mereka tahu bagaimana cara mengatasinya. Bisa saja mereka menerjang keluar untuk menghindarkan diri dari serangan asap pembius itu. Akan tetapi mereka ingin melihat kemunculan para penjahat yang telah merampok harta benda Thio Ki dan Pangeran Cin Boan, ingin tahu siapa yang menjadi pemimpin.
Kalau menerjang keluar, besar kemungkinan pimpinan gerombolan akan melarikan diri. Maka mereka cepat merebahkan diri menelungkup. Mereka tahu bahwa asap pasti akan membubung ke atas sehingga tidak akan tersedot oleh mereka karena mereka menelungkup dan hidung mereka berada di bawah menempel pada lantai. Biarpun begitu, mereka menahan napas dan meniup dari mulut mereka untuk mengusir kalau-kalau ada asap mendekat. Sebagai seorang yang sudah mahir olah pernapasan, tentu saja dua orarg gadis ini mampu menahan napas jauh lebih lama daripada orang biasa. Setelah asap menghilang dan ketika gerombolan itu menyerbu masuk, mereka sudah hendak bergerak menyambut. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Kui Tung melarang dan para anak buah gerombolan itu keluar dari ruangan. Mereka menanti, hendak melihat siapa pemimpin mereka.
Ketika Kui Tung masuk dan membalikkan tubuh mereka sehingga telentang, mereka masih pura-pura pingsan, walaupun tangan mereka sudah gatal-gatal untuk turun tangan membekuk pimpinan gerombolan itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul pemuda tampan bernama Can Kok itu. Mereka berdua menonton perkelahian itu dan diam-diam terkejut. Orang yang bernama Kui Tung dengan tongkatnya itu
sudah hebat sekali kepandaiannya, namun yang datang belakangan, yang mengaku bernama Can Kok, ternyata lebih lihai lagi!
Tahulah mereka bahwa mereka menghadapi orang orang yang tangguh. Apalagi ketika mereka melihat kedua orang pemuda itu kini berteman, berarti mereka harus menghadapi dua orang pemuda lihai itu. Mereka juga terkejut ketika mereka menyebut nama Lam-kai dan Empat Datuk Besar. Lebih kaget lagi ketika ternyata Can Kok mengetahui bahwa mereka hanya pura-pura pingsan dan menendang kursi untuk memaksa mereka bangkit!
Kini Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li berdiri tegak berhadapan dengan dua orang pemuda itu. Mereka berempat saling beradu pandang mata, seolah hendak mengukur kekuatan lawan melalui pandang mata mereka. Dua orang dara perkasa itu melihat betapa pandang mata pemuda yang bernama Can Kok itu luar biasa sekali. Mencorong seperti mata kucing dalam kegelapan, namun bergerak-gerak aneh dan menyeramkan, tidak wajar dan seperti mata orang yang miring otaknya.
Sementara itu, Can Kok juga memperhatikan mereka berdua dan dia merasa heran dan kagum. “Bukan main!” katanya sambil tersenyum sehingga wajah yang tampan itu, kalau saja sinar matanya tidak begitu aneh menyeramkan, tampak menarik. “Bagaimana mungkin ada dua orang wanita yang begini sama kecuali kalau mereka kembar! Hei, Nona berdua, kalian tadi sudah mendengar nama kami. Kui Tung ini adalah murid Lam-kai Gui Lin, datuk besar selatan. Dan aku Can Kok adalah seorang yang telah menguasai semua ilmu dari Empat Datuk Besar! Nah, sekarang katakan, siapa nama kalian?”
Biarpun wataknya aneh dan dia pun terpesona oleh kecantikan dua orang gadis itu, namun dia tetap bersikap “sopan” dan lembut, tidak memuji kecantikan secara kasar seperti para pria yang ugal-ugalan.
Pek Hong Niocu yang tahu bahwa dua orang calon lawannya ini memang lihai, ingin pula menggertak mereka yang sudah memamerkan nama guru-guru mereka yang terkenal di dunia kang-ouw. Ia tersenyum mengejek dan pandang matanya berkilat.
“Hemm, kalian murid-murid datuk sesat. Pantas kalian sebagai murid mereka juga menjadi penjahat-penjahat busuk! Kalian ingin tahu nama kami? Terlalu bersih nama kami untuk diperkenalkan kepada manusia-manusia busuk macam kalian. Ketahuilah saja bahwa aku dikenal sebagai Pek Hong Niocu dan ini adalah Ang Hwa Sian-li. Kami berdua adalah murid-murid Yok-sian Tiong Lee Cin-jin!”
Kui Tung yang sudah mendengar julukan dua orang gadis itu yang memang amat terkenal, terkejut bukan main. Apalagi mendengar mereka murid Tiong Lee Cin-jin. Mukanya menjadi pucat dan jantungnya berdebar tegang.
“Tai-hiap, Pek Hong Niocu ini adalah puteri Kaisar Kin!” bisiknya gentar kepada Can Kok.
Akan tetapi ketika Can Kok mendengar bahwa yang berdiri di depannya ini adalah dua orang murid Tiong Lee Cin-jin, tiba-tiba dia tertawa bergelak. Dia digembleng oleh Empat Datuk Besar untuk mewakili mereka membunuh Tiong Lee Cin-jin dan kini, dua orang murid musuh besar itu berada di depannya! Dia tertawa, akan tetapi bukan sembarang tawa karena dia mengerahkan sin-kang dalam tawanya itu dan dia menyerang dengan suara seperti yang diajarkan oleh See-ong Hui Kong Hosiang. Dalam suara tawa itu terkandung hawa sakti bercampur kekuatan sihir yang memaksa orang yang mendengarnya tak dapat bertahan untuk tidak ikut terbawa, terseret pula ke dalam tawa. Getaran yang terkandung dalam tawa Can Kok itu datang bergelombang, atau seperti angin topan yang amat kuat!
Yang segera terpengaruh adalah Kui Tung. Walaupun murid Lam-kai ini juga seorang yang lihai dan dia memiliki sin-kang kuat yang sudah cepat dia kerahkan, namun tetap saja dia tidak mampu bertahan. Pertahanannya seolah bobol dan dia pun segera tertawa-tawa, bahkan lebih terbahak-bahak dibandingkan tawa Can Kok. Dia tertawa sampai terbongkok-bongkok menekan perutnya dan air matanya bercucuran!
Pek Hong dan Siang In, sebagai murid Tiong Lee Cin-jin yang dikenal sebagai manusia setengah dewa, tidak menjadi gentar atau gugup menghadapi serangan suara tawa yang dahsyat kekuatannya itu. Mereka berdua segera menggunakan ilmu yang disebut Tho-hun (Sukma Tanah), yang sifatnya membiarkan diri menerima tanpa melawan seperti tanah, namun yang melarutkan segala yang menerjangnya. Mereka berdua menghadapi angin topan seolah bersikap seperti rumput, lentur, lemas dan rendah sehingga biarpun tergoyang namun sama sekali tidak dapat dirusak. Tubuh mereka bergoyang-goyang perlahan seperti menari, mata terpejam dan getaran dahsyat suara tawa itu lewat begitu saja.
Dalam puncak pertahanannya, Pek Hong bahkan dapat berkelakar dengan Siang In dan berkata, “Lihat, dia tertawa-tawa seperti orang gila!”
Siang In menjawab. “Memang otaknya miring!”
Mendengar ejekan ini, Can Kok menjadi marah sekali. Mukanya berubah merah dan dia menghentikan tawanya. Untung dia menghentikannya karena keadaan Kui Tung sudah payah. Tubuhnya lemas karena tertawa terbahak-bahak tak dapat ditahan, air matanya bercucuran dan napasnya mulai memburu. Kalau dibiarkan terus, tentu dari lubang telinga, hidung, mata dan mulutnya akan keluar darah dan kalau sudah terlalu parah, nyawanya tidak akan tertolong lagi! Dia lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalamnya yang tadi dia kerahkan untuk melawan pengaruh suara dahsyat itu.
“Hei, orang she Can yang berotak miring. Engkau dapat tertawa, mengapa engkau sekarang tidak menangis?” Siang In mengejek.
“Hemm, gadis-gadis sombong. Sebelum mati, berdoalah dulu kepada arwah nenek moyangmu karena kalian akan mati di tanganku!”
Mendadak Kui Tung berkata, “Can-taihiap, sayang kalau dibunuh langsung. Bunga-bunga harum seperti ini, sebaiknya dinikmati dulu baru dibunuh!”
“Hemm, otakmu hanya penuh gairah yang membuat engkau lemah, Kui Tung. Akan tetapi akan kupertimbangkan usulmu itu!”
Siang In sudah marah sekali, akan tetapi Pek Hong menahan kesabarannya dan ia ingin sekali mengetahui mengapa murid-murid Lam-kai dan Empat Datuk Besar memusuhi dan bahkan hendak membunuh ia dan Siang In.
“Heh, monyet babi tikus kecoa cacing busuk!” ia memaki untuk memanaskan hati orang agar merasa terhina dan mau mengaku apa yang menyebabkan Can Kok memusuhinya. “Dalam mimpi pun belum pernah aku dan Saudaraku ini bertemu dengan kamu. Mengapa kamu gila-gilaan ingin membunuh kami?”
Sepasang mata Can Kok seperti memancarkan kilat saking panas hatinya mendengar penghinaan itu. “Mau tahu mengapa? Baik, akan kuberi tahu agar kalian tidak mati penasaran. Aku mewakili Empat Datuk Besar untuk membunuh Tiong Lee Cin-jin. Dia sudah kuanggap sebagai musuh besarku satu-satunya di dunia dan karena kalian adalah murid-muridnya, maka tentu saja kalian juga hendak kubunuh!”
Siang In tertawa, diikuti Pek Hong. Mereka tertawa bebas seperti kebiasaan para wanita dalam dunia persilatan, bebas dan tidak malu-malu, namun mereka masih mengingat akan kesopanan maka mereka menggunakan tangan untuk menutupi mulut mereka yang tertawa. Mereka merasa geli seolah mendengar lawakan badut.
“Heh-he-he-heh! Kunyuk (monyet) kecil macam kau ini hendak membunuh Yok-sian Tiong Lee Cin-jin? He-he-he! Melawan kami pun kamu tidak akan menang, bahkan kami yang akan membasmi dan mengirim kembali ke neraka jahanam dari mana kamu berasal!”
“Perempuan sombong!” Can Kok berteriak, matanya liar dan menyeramkan, seperti mata singa marah. Dia mengerahkan tenaga gabungan Empat Datuk Besar dan menekuk kedua lutut lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah dua orang gadis itu.
“Mampuslah kalian! Hyaaaaattt......!!!”
Pek Hong dan Siang In maklum akan kedahsyatan tenaga lawan. Mereka sudah saling mengerti, seolah ada suatu hubungan batin yang amat erat sehingga secara otomatis tangan kiri Pek Hong bertemu dengan tangan kanan Siang In, lima buah jari tangan mereka saling cengkeram sehingga dua tenaga sakti mereka bertemu dan bergabung, lalu tangan kanan Pek Hong dan tangan kiri Siang In didorongkan dengan telapak tangan terbuka ke depan, menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan dengan marah.
“Syuuuuttt...... blaarr ……!” Pek Hong dan Siang In terpaksa mundur tiga langkah saking hebatnya tenaga serangan Can Kok. Akan tetapi Can Kok juga terhuyung ke belakang. Bukan main dahsyatnya tenaga Can Kok sehingga tenaga dua orang gadis gemblengan Tiong Lee Cin-jin yang digabungkan itu hanya lebih kuat sedikit.
Can Kok mengeluarkan suara tawa menyeramkan yang terdengar seperti suara tangis mengguguk. Ini merupakan tanda bahwa Can Kok sedang dilanda kemarahan hebat! Dia meraba punggungnya dan tampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika pedang Giam-ong-kiam (Pedang Raja Maut) yang sinarnya kemerahan telah tercabut.
“Huh, belum lecet kulitnya sudah mengeluarkan senjata!” Pek Hong mengejek dan ketika dua tangannya bergerak, tangan kirinya sudah melolos sabuk sutera merah dan tangan kanannya memegang sebatang pedang bengkok bersinar emas.
“Siapa bilang dia orang gagah dan bukan pengecut?” kata pula Siang In me-ngejek dan ia pun sudah mencabut sepasang pedangnya yang bersinar kehitaman karena siang-kiam (sepasang pedang) ini beracun dan bernama Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa)!
Melihat dua orang gadis itu sudah mencabut senjata mereka, Can Kok lalu mengeluarkan suara mengaum seperti singa. Itulah ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dia pelajari dari Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong. Auman atau gerengan yang amat kuat itu dapat menggetarkan jantung lawan sehingga kaki tangan lawan akan terasa lumpuh dan ketakutan. Singa juga mempunyai wibawa seperti itu. Kalau dia hendak menyerang calon korbannya, dengan mengaum seekor kelinci ataupun domba calon mangsanya menjadi lumpuh ketakutan sehingga akan mudah diterkamnya. Auman yang dikeluarkan Can Kok ini pun hebat sekali, akan tetapi sama sekali tidak mampu menggoyahkan ketabahan hati Pek Hong dan Siang In. Getaran auman itu lewat begitu saja tanpa mendatangkan akibat apa pun.
Selagi gema auman itu masih terpantul di empat penjuru dinding ruangan, Can Kok sudah menerjang ke depan dan sinar pedangnya menyambar ke arah dua orang gadis itu.
“Cringg......! Trangg……!!”
Bunga api berpijar terang ketika pedang Giam-ong-kiam di tangan Can Kok itu bertemu dengan pedang bengkok naga emas di tangan Pek Hong dan sepasang Toat-beng Siang-kiam di kedua tangan Siang In. Setelah mereka tidak menggabungkan tenaga sin-kang mereka, dua orang gadis itu baru merasakan betapa kuatnya tenaga pemuda itu. Senjata mereka terpental ketika bertemu pedang Can Kok dan tangan mereka tergetar.
Akan tetapi dua orang puteri Tiong Lee Cin-jin itu mendapat gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi selama setahun dari ayah mereka sehingga kini tingkat kepandaian mereka menjadi jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Pek Hong memang masih memainkan Sin-coa Kiamsut (Ilmu Pedang Ular Sakti) dibantu gerakan sabuk merahnya yang melecut-lecut ganas. Juga Siang In masih memainkan ilmu pedang yang dulu, yaitu Toat-beng Siang-kiam-sut (Ilmu Pedang Pasangan Pencabut Nyawa). Namun ilmu-ilmu mereka telah diperdalam dan disempurnakan di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin sehingga menjadi lihai bukan main.
Kedua gadis ini mengamuk, bagaikan sepasang naga terbang menyambar-nyambar. Senjata mereka berubah menjadi gulungan sinar. Dua gulungan sinar kehitaman dari Toat-beng Sin-kiam berpadu dengan gulungan sinar merah sabuk sutera dan gulungan sinar emas pedang bengkok, mengepung dan menyerang Can Kok dari segala jurusan!
Can Kok yang berwatak tinggi hati dan menganggap diri sendiri sebagai seorang yang tanpa tanding itu, diam-diam menjadi terkejut bukan main. Dia memutar pedangnya dan melakukan perlawanan mati-matian, mengeluarkan seluruh kemampuannya. Namun, sinar pedangnya yang bergulung-gulung dan amat kuat itu menjadi terdesak juga oleh pengeroyokan empat sinar senjata lawan, yaitu sepasang pedang, sabuk dan pedang bengkok. Gerakan dua orang gadis itu cepat bukan main sehingga Can Kok harus menjaga diri dengan sepenuh tenaga.
Setelah bertanding dengan seru selama kurang lebih limapuluh jurus, mulailah dia merasa bahwa kalau dilanjutkan, dia tidak akan dapat mengalahkan pengeroyokan dua orang gadis yang dapat bekerja sama amat baiknya. Senjata mereka itu saling menunjang, saling memperkuat serangan, juga saling membantu meng gagalkan serangannya.
“Kui Tung, engkau masih enak-enak saja? Kawan macam apa engkau ini?” Can Kok berseru marah.
Kui Tung sejak tadi hanya berdiri di sudut dan menjadi penonton. Dia telah menghentikan latihan pernapasan dan tenaganya sudah pulih kembali. Kalau dia hanya menonton, karena dia merasa yakin akan kelihaian Can Kok, dan bagaimanapun juga dia tidak jerih melihat kecepatan gerakan empat senjata dua orang gadis itu menyambar-nyambar. Akan tetapi mendengar ucapan Can Kok, Kui Tung menyadari bahwa kalau dia tidak membantu dan Can Kok roboh oleh dua orang gadis itu, dia sendiri pasti tidak akan mendapat ampun karena dialah yang memimpin perampokan. Maka dia lalu memutar tongkatnya dan terjun ke medan pertempuran sambil mengeluarkan suara bentakan nyaring.
Melihat Kui Tung maju, Siang In segera menyambut dengan sepasang pedangnya. Ia membenci laki-laki ini yang dulu memimpin perampokan dan yang melukai ayahnya. Sepasang pedangnya menyambar-nyambar ganas. Akan tetapi Kui Tung bukan seorang lawan yang lemah. Dia adalah murid Lam-kai, seorang di antara Empat Datuk Besar yang sejak dia kecil menggemblengnya sehingga ilmu kepandaiannya juga sudah mencapai tingkat tinggi. Kui Tung cepat memutar tongkat yang berisi pedang menyambut sambaran sepasang pedang Siang In.
“Trang--tranggg......!” Bunga api berpijar dan Kui Tung terhuyung ke belakang. Ternyata dibandingkan Siang In, tenaga saktinya masih kalah kuat! Akan tetapi cepat dia memutar tongkat pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan. Benar saja, Siang In yang melihat lawannya terhuyung, cepat menerjang dengan dahsyatnya. Kembali terdengar suara nyaring dan tampak bunga api berpijar ketika Kui Tung menangkis. Mereka lalu saling serang dengan mati-matian, dan betapapun lihainya Kui Tung, sekali ini dia bertemu lawan yang benar-benar lihai bukan main. Perlahan-lahan dia mulai terdesak dan hanya mampu menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedang. Dia terdesak hebat dan berada dalam bahaya.
Akan tetapi setelah ditinggalkan Siang In, Pek Hong yang harus menghadapi Can Kok seorang diri, merasa berat sekali. Pemuda itu benar-benar amat lihai. Kalau tadi berdua dengan Siang In dia mampu mendesak Can Kok, kini setelah Siang In menghadapi Kui Tung, Pek Hong menjadi kewalahan menghadapi desakan lawan.
Siang In yang menghadapi lawan lebih ringan, mendapat kesempatan untuk memperhatikan keadaan Pek Hong dan melihat Pek Hong terkadang terancam pedang Can Kok, ia pun melompat ke samping dan membantu. Kalau dua orang gadis itu mendesak Can Kok, Kui Tung yang cepat membantu Can Kok. Dengan demikian, terjadilah perkelahian empat orang dan ternyata kekuatan mereka seimbang sehingga terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian.
Anak buah gerombolan perampok yang berjumlah tigapuluh orang lebih itu hanya mendengar suara perkelahian dari luar, akan tetapi mereka tidak berani masuk karena mereka amat takut kepada Kui Tung yang galak. Mereka tidak akan masuk tanpa dipanggil.
Selagi mereka bergerombol di sekeliling kuil, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncullah banyak sekali perajurit yang dipimpin oleh tiga orang perwira dan di antara mereka terdapat Cin Han yang menunggang seekor kuda!
Melihat pasukan ini, yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang, anak buah gerombolan menjadi terkejut dan panik. Tanpa komando, mereka terpaksa mempertahankan diri melawan ketika pasukan itu sambil bersorak menyerbu. Terjadi pertempuran yang berat sebelah di luar kuil.
Mendengar suara pertempuran, teriakan dan sorakan yang hiruk-pikuk itu, empat orang yang sedang berkelahi di ruangan dalam kuil, menjadi terkejut bukan main. Kedua pihak tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apakah kejadian yang riuh di luar itu menguntungkan atau merugikan mereka.
“Kui Tung, kita keluar!” seru Can Kok.
Kui Tung tak dapat menandingi Can Kok dalam kecepatan sehingga Can Kok sudah melompat lebih dulu keluar ruangan. Can Kok cepat menggerakkan tangan kirinya yang berubah merah. Itulah Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) yang mengandung hawa pukulan beracun, menyambar ke arah Siang In. Namun Siang In dapat mengelak ke samping dan kesempatan itu dipergunakan Kui Tung untuk melompat keluar dan menyusul temannya.
Pek Hong dan Siang In yang tidak tahu apa yang terjadi di luar, tidak berani mengejar dan mereka pun cepat keluar dari situ untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika Can Kok dan Kui Tung tiba di luar, mereka terkejut bukan main melihat betapa anak buah Kui Tung yang berjumlah hanya tigapuluh orang lebih itu, dihimpit pasukan pemerintah yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang! Sudah banyak anak buah yang bergelimpangan dan sisanya hanya mati-matian mempertahankan diri.
Melihat keadaan berbahaya dan tidak menguntungkan ini, tanpa banyak cakap lagi Can Kok dan Kui Tung segera berlompatan melarikan diri dari tempat itu. Ketika ada perajurit yang berani menghalangi, mereka berdua merobohkan para penghalang dan terus melarikan diri secepatnya tanpa memperdulikan nasib para anak buah yang sudah terhimpit dan tidak ada kesempatan untuk melarikan diri.
Pek Hong dan Siang In juga tiba di luar dan mereka berdua girang bukan main melihat pasukan pemerintah yang menghajar anak buah gerombolan. Melihat betapa pasukan jauh lebih banyak jumlahnya dan para anggauta gerombolan banyak yang roboh, mereka pun tidak membantu dan hanya berdiri di ruangan depan kuil.
Tak lama kemudian, sembilan orang anak buah gerombolan yang masih belum roboh membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menaluk. Mereka lalu diringkus dan bersama-sama mereka yang terluka, menjadi tawanan.
Cin Han yang tadi hanya ikut menonton karena dia sendiri adalah seorang sasterawan yang tidak pandai dan tidak suka bertempur, kini melangkah dan menghampiri dua orang gadis itu. Setelah berhadapan dia menjadi bingung karena dua orang gadis itu wajahnya serupa. Akan tetapi dia mengenal Pek Hong yang pernah datang ke rumah orang tuanya, mengenalnya dari pakaian puteri itu yang serba putih. Dia lalu memandang kepada Siang In dan hatinya merasa sedih, teringat betapa pinangannya terhadap gadis itu ditolak. Akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan apa pun dan segera mengangkat, kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.
“Dinda Moguhai! Bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan selamat!” Dia memandang kepada Siang In dan meragu, tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada gadis yang wajahnya serupa dengan wajah Puteri Moguhai itu.
Melihat ini, Pek Hong menoleh kepada Siang In dan melihat betapa Siang In juga memandang kepada Cin Han dengan pandang mata kagum dan bimbang. Pek Hong tersenyum.
“Siang In, perkenalkan. Ini adalah Kakak misanku bernama Cin Han, putera tunggal Paman Pangeran Cin Boan!”
Mendengar ini, wajah Siang In seketika berubah merah. Jantungnya berdebar tegang dan ia merasa serba salah. Jadi inikah orangnya yang dulu pernah meminangnya? Sama sekali tidak pernah ia menduga bahwa putera Pangeran Cin Boan yang melamarnya ini merupakan seorang pemuda yang luar biasa tampan! Ia menjadi gagap gugup.
“Eh...... ohh...... senang sekali dapat berkenalan dengan...... Cin-kongcu (Tuan Muda Cin)......”
Cin Han tersenyum. Wajahnya yang berkulit putih kemerahan itu berseri. Sebagai seorang siu-cai (sastrawan) tentu saja dia pandai membawa diri, sikapnya lembut dan sopan dan kata-katanya juga teratur indah.
“Thio-siocia (Nona Thio), sayalah yang merasa berbahagia sekali. Merupakan kehormatan besar sekali bagi saya dapat berkenalan dengan Nona yang namanya sudah lama saya kenal.”
“Eh, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul di tempat ini bersama pasukan? Apakah engkau yang mengerahkan pasukan ini?”
“Nanti akan kuceritakan padamu, Dinda. Yang terpenting sekarang, apakah engkau telah dapat menemukan barang-barang Paman Thio yang dirampok itu?”
“Barang-barang itu lengkap berada di ruangan dalam kuil tua ini, Kanda. Juga barang-barang milik Paman Pangeran Cin Boan berada di dalam.”
“Syukurlah kalau begitu,” kata Cin Han dan dia memandang kepada tiga orang perwira setengah tua yang datang menghampirinya. Seorarig di antara mereka berkata dengan sikap hormat.
“Cin-kongcu, semua anggauta gerombolan telah dilumpuhkan. Sebagian tewas. Kami menangkap yang terluka dan yang menyerah. Kami menanti perintah Kongcu.”
“Bagaimana dengan kerugian di pihak kita?”
“Tidak ada yang tewas, Kongcu hanya ada enam orang yang terluka.”
“Bagus, Lu-ciangkun (Perwira Lu). Obati perajurit kita yang terluka dan angkutlah semua barang milik Paman Thio Ki dan Ayah yang berada di dalam. Bawa semua barang itu bersama semua tawanan ke kota Kang-cun sekarang juga. Jangan lupa tinggalkan perajurit secukupnya untuk mengubur semua mayat, kemudian suruh bakar kuil tua ini!”
Pek Hong tersenyum kagum melihat betapa kakak misannya yang sasterawan lemah itu dapat memberi perintah sedemikian tegasnya, seperti seorang jenderal saja.
“Siap laksanakan perintah, Kongcu!” kata perwira itu dan mereka bertiga lalu memimpin anak buah untuk mengangkat barang-barang, lalu siap untuk berangkat ke kota Kang-cun. Limapuluh orang perajurit ditinggalkan untuk melaksanakan tugas mengubur semua mayat dan membakar kuil tua yang dijadikan sarang perampok itu.
Cin Han, Pek Hong, dan Siang In menunggang kuda berdampingan. Mereka menjalankan kuda perlahan-lahan dan bercakap-cakap. Siang In masih merasa sungkan dan malu, maka ia lebih banyak mendengarkan saja percakapan mereka.
“Nah, sekarang ceritakanlah, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul dengan pasukan untuk membantu kami. “
“Begini, Dinda Moguhai. Setelah engkau pergi, aku pun mulai curiga terhadap diri Bhe Liang. Siapa tahu dia mempunyai hubungan dengan perampokan itu atau setidaknya dia tahu siapa yang melakukan. Maka setelah berunding dengan Ayah, kami menyuruh Lu-ciangkun untuk mengutus seorang perajurit yang pandai untuk cepat pergi melakukan penyelidikan ke rumah Bhe Liang. Perajurit itu ketika tiba di sana melihat engkau dan Thio-siocia keluar dari rumah bersama Bhe Liang yang agaknya kalian paksa menunjukkan tempat perampok. Perajurit itu diam-diam mengikuti dari kejauhan dan setelah tahu bahwa sarang para perampok berada di kuil tua yang tidak jauh dari kota Kang-cun, dia cepat memberi laporan. Maka aku lalu minta bantuan Lu-ciangkun dan dua orang perwira lain, membawa pasukan dan mengejar ke tempat itu.”
“Wah, tidak kusangka engkau ternyata begitu pandai, Kanda!”
“Ah, aku tidak bisa apa-apa. Engkau dan Thio-siocia inilah yang hebat. Bagaimana hasilnya buruanmu? Siapa yang memimpin perampokan itu, Adinda Moguhai?”
“Kanda Cin Han, memang benar dugaanku. Setelah kami melakukan penyelidikan, ternyata memang Bhe Liang itu yang mendalangi perampokan. Kami memaksa dia mengaku dan dialah yang memberitahu kepada segerombolan perampok tentang pengiriman barang-barang berharga itu dipimpin seorang pemuda bernama Kui Tung yang lihai, kemudian muncul temannya seorang pemuda lain bernama Can Kok yang bahkan lebih lihai lagi. Mereka berdua itu pasti bukan orang-orang sembarangan, bukan sebangsa kepala perampok biasa. Kami berdua bertanding melawan mereka. Lalu pasukan datang dan kedua orang muda lihai itu melarikan diri.”
Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai sengaja tidak menceritakan secara rinci mengenai pertandingan seru antara mereka itu karena Cin Han yang tidak pernah belajar ilmu silat itu tentu tidak akan mengerti.
“Aih, sayang sekali kedua orang penjahat itu tidak dapat ditangkap,” kata Cin Han.
“Mereka itu lihai bukan main, Kanda Cin Han.”
“Bagaimana dengan si jahat Bhe Liang?”
“Ah, dia telah tewas di tangan Siang In!”
Cin Han memandang kagum kepada Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. “Bagus, terima kasih, Thio-siocia (Nona Thio), jasamu besar. Orang itu jahat sekali, mengadu domba, melakukan fitnah, bahkan mengundang penjahat-penjahat yang lihai untuk mengacau.”
“Ah, Pek Hong inilah yang lebih berjasa, Cin-kongcu (Tuan Muda Cin), bahkan kalau tidak ada ia, mungkin saya sudah celaka di tangan penjahat yang amat lihai itu.”
Melihat pandang mata penuh kagum dari pemuda itu kepada Siang In, dan melihat pula betapa sepasang pipi Siang In kemerahan dan matanya hanya mengerling. Tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu dengan senyum malu-malu, Puteri Moguhai tertawa senang. Ia akan ikut merasa bahagia kalau saudara kembarnya itu dapat berjodoh dengan Cin Han, pemuda bangsawan yang dia tahu amat bijaksana, ahli sastra, tampan dan berpemandangan luas itu.
Mereka kembali ke kota Kang-cun. Tentu saja kembalinya dua orang gadis bersama Cin Han yang telah berhasil menumpas gerombolan penjahat dan membawa kembali barang-barang yang dirampok, membahagiakan Thio Ki dan Miyana, juga menyenangkan hati Pangeran Cin Boan dan isterinya. Yang lebih membahagiakan hati keluarga pangeran ini adalah bahwa nama baik mereka yang difitnah oleh Bhe Liang telah dapat dibersihkan dan penjahat itu telah terbunuh. Kini tentu keluarga Thio Ki tidak lagi menyangka bahwa dia yang mendalangi perampokan itu.
Setelah tinggal selama tiga hari di rumah keluarga Thio Ki dan melihat Thio Ki sudah sembuh kembali dari lukanya, Puteri Moguhai lalu berpamit meninggalkan kota Kang-cun untuk kembali ke kota raja. Siang In berjanji akan mengunjungi puteri itu dalam waktu dekat. Sebelum meninggalkan Kang-cun, Puteri Moguhai berkunjung ke rumah keluarga Pangeran Cin Boan dan dia disambut dengan gembira oleh Pangeran Cin Boan, isterinya, dan Cin Han.
“Dinda Moguhai, bagaimana kesehatan Paman Thio Ki? Apakah luka-lukanya telah sembuh kembali?” Cin Han menyambut kedatangan puteri itu dengan pertanyaan ini.
Moguhai tersenyum.
“Eh, Kanda Cin Han, yang kautanyakan itu sesungguhnya keadaan Paman Thio ataukah keadaan Siang In?”
Mendengar ini, Cin Han tersipu dan ayah ibunya tertawa.
“Aih, Moguhai, engkau tega sekali menggoda Kakakmu, padahal engkau sudah mengetahui bahwa pinangan kami atas diri Siang In ditolak, Cin Han tidak mempunyai harapan lagi.”
“Eh, mengapa Bibi berkata demikian? Dahulu Siang In menolaknya karena ia belum mengenal Kanda Cin Han, bahkan melihat pun belum. Akan tetapi sekarang......”
“Sekarang bagaimana? Wah, Moguhai, jangan bermain teka-teki. Katakan saja, bagaimana sekarang? Apakah ada harapan?”
“Paman Pangeran, saya belum dapat mengatakan apa-apa. Akan tetapi sebaiknya dekati saja keluarga Thio. Ada baiknya kalau Kanda Cin Han datang menengok keadaan……, eh, Paman Thio Ki, menanyakan
kesehatannya. Nanti Paman, Bibi, dan Kanda dapat melihat sendiri bagaimana sikap Siang In dan orang tuanya, dan akhirnya terserah Paman dan Bibi apakah ada baiknya kalau pinangan itu diulang.”
“Eh, jangan main-main, Adinda! Mana kami berani mengajukan pinangan lagi setelah ditolak satu kali? Kalau untuk kedua kalinya ditolak, akan kutaruh di mana mukaku?”
Puteri Moguhai tertawa, tertawa bebas, tidak seperti para puteri istana yang kalau tertawa diatur agar tampak sopan, tertawa kecil hampir tanpa suara dan menutupi mulut dengan ujung lengan baju dan memiringkan mukanya. Akan tetapi tawa Puteri Moguhai adalah tawa lepas, tanpa ragu membuka mulut memperlihatkan giginya sehingga tampak deretan gigi putih rapi seperti mutiara dan rongga mulut yang merah, ujung lidah yang merah muda.
Sama sekali tidak mendatangkan penglihatan yang tidak sopan atau menjijikan, bahkan sebaliknya, tawa itu membuat wajahnya tampak manis sekali dan tawa itu menyengat dan menular karena orang yang mendengar dan melihatnya, tidak dapat mencegah dorongan dari dalam untuk ikut tertawa! Begitu mendengar mereka tertawa dan melihat isteri Pangeran Cin Boan tertawa sambil menutupi mulut dengan ujung bajunya, Moguhai teringat akan tata susila yang pernah ditanamkan kepadanya ketika kecil dahulu dan cepat ia pun menutupi mulutnya dengan ujung lengan bajunya. Akan tetapi gerakan ini malah tampak lucu dan tiga orang itu tertawa semakin geli.
“Eh, Kanda Cin Han, ke mana lagi engkau akan menaruh mukamu kalau tidak di bagian depan kepalamu? Kalau kau simpan dalam almari, lalu bagaimana kalau engkau hendak mencuci muka?”
Ucapan Moguhai ini membuat mereka semakin geli dan mereka tertawa terpingkal-pingkal. Suasana ini terbawa kegembiraan hati mereka, bukan saja karena barang-barang kembali dan nama mereka tercuci, akan tetapi juga mendengar akan harapan baru bagi keinginan mereka meminang Siang In. Pangeran Cin Boan dan isterinya saling pandang setelah mereka berhenti tertawa dan pangeran itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh.
“Moguhai apakah engkau benar-benar dan tidak main-main mengenai kemungkinan perjodohan antara Cin Han dan Thio Siang In?”
“Kami masih ragu dan khawatir kalau kalau pinangan kami ditolak lagi, Moguhai,” kata pula isteri pangeran itu.
“Harap Paman dan Bibi tidak khawatir. Saya mengenal benar watak sahabatku Siang In itu. Biarpun ia tidak berkata apa-apa, namun sikapnya terhadap Kakanda Cin Han dapat saya lihat dengan jelas bahwa ia juga tertarik. Akan tetapi Siang In adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa, tentu saja ia tidak mau kalau dalam soal perjodohan ia dipaksa. Karena itu, sebaiknya Paman dan Bibi tidak mengajukan pinangan lebih dulu, akan tetapi memberi kesempatan kepada Kanda Cin Han untuk bergaul dengan Siang In. Dekatilah ia, Kanda, dan kalau nanti sudah ada persetujuan kedua pihak, kalau Siang In sudah dapat menerima perasaan cinta Kakanda, barulah diajukan pinangan sehingga tidak mungkin gagal lagi.”
Selagi mereka bercakap-cakap, seorang pengawal memberitahu Pangeran Cin Boan bahwa di luar ada seorang tamu mohon bertemu Pangeran Cin Boan. Ketika mendengar bahwa tamu itu adalah Thio Ki, Pangeran Cin Boan segera menyuruh pengawal untuk membawa tamu itu ke ruangan tamu dan dia mengajak isterinya, Cin Han, dan Moguhai untuk menemaninya menerima kunjungan Thio Ki.
Thio Ki memasuki ruangan tamu dan melihat pangeran menyambut bersama isteri dan puteranya, juga melihat Puteri Moguhai berada di situ, wajah Thio Ki menjadi kemerahan dan dia tampak gugup.
“Ah, maafkan saya, Pangeran. Kalau saya mengganggu Paduka sekeluarga......”
“Tenanglah, Saudara Thio Ki, silakan duduk,” kata Pangeran Cin Boan. Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dia berkata, “Saudara Thio, engkau sama sekali tidak mengganggu kami, sama sekali tidak. Bahkan kami merasa ikut gembira melihat bahwa engkau sekarang telah sembuh dan sehat kembali. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan selamat atas kembalinya semua barang yang dirampok itu.”
Melihat sikap dan mendengar ucapan yang ramah dari pangeran itu, Thio Ki merasa semakin terpukul dan dia berkata dengan suara gemetar.
“Pangeran, saya memberanikan diri menghadap Paduka sekeluarga ini, betul-betul untuk mohon maaf, bukan hanya karena mengganggu Paduka dengan kedatangan ini, melainkan untuk hal lain yang membuat saya merasa tidak enak hati dan malu.”
Puteri Moguhai berkata, “Karena Paman Thio Ki hendak bicara dengan Paman Pangeran sekeluarga, maka lebih baik aku keluar dari ruangan ini.”
“Ah, Moguhai, engkau termasuk keluarga kami, tentu saja engkau boleh ikut mendengarkan. Bukankah begitu, Saudara Thio Ki?”
Thio Ki mengangguk. “Saya akan merasa senang kalau Puteri Moguhai sudi menjadi saksi dan ikut mendengarkan. Pangeran, sesungguhnya ketika Bhe Liang melaporkan kepada saya sekeluarga bahwa Paduka yang mendalangi perampokan itu, saya pernah bimbang dan percaya akan keterangan itu yang ternyata hanya merupakan fitnah belaka. Karena itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya, apalagi setelah mendengar bahwa Cin-kongcu yang membawa pasukan dan menyelamatkan puteri saya dan semua barang dapat direbut kembali. Sungguh kami merasa menyesal sekali pernah meragukan kebijaksanaan dan kebaikan hati Paduka.”
Pangeran Cin Boan tersenyum dan dengan ramah berkata, “Saudara Thio engkau sekeluarga tidak perlu merasa bersalah dan minta maaf. Kalian sama sekali tidak bersalah. Puteri Moguhai telah menceritakan semuanya kepada kami dan keluargamu sama sekali tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kami. Hanya Si Jahat Bhe Liang yang menjatuhkan fitnah kepada kami. Bagaimana mungkin kami akan meragukan ketulusan hatimu, Saudara Thio Ki? Engkau melindungi barang-barang kami dengan taruhan nyawa, sehingga terluka. Juga, dalam usaha penumpasan gerombolan perampok sehingga menghasilkan direbutnya kembali barang-barang, puterimu juga memegang peran penting. Tidak, engkau sekeluarga tidak mempunyai kesalahan apa pun. Bahkan kami yang membuat engkau mengalami kesusahan dengan penitipan barang-barang kiriman itu sehingga memancing munculnya perampok.”
Lega hati Thio Ki mendengar jawaban itu. Keluarga pangeran itu lalu bercakap-cakap dengan Thio Ki dalam suasana yang ramah dan akrab seperti dua orang sahabat lama. Melihat ini Puteri Moguhai menjadi senang sekali. Maka, ketika Thio Ki berpamit hendak pulang, ia berkata kepada Cin Han.
“Kanda Cin Han, sebaiknya Kanda mengantar Paman Thio Ki pulang untuk membuktikan bahwa keluarga Paman Pangeran Cin Boan tidak mempunyai perasaan buruk terhadap keluarga Paman Thio.”
Thio Ki terkejut dan cepat berkata, “Ah, mana saya berani menerima kehormatan seperti itu? Saya tidak berani merepotkan Cin-kongcu......!”
Cin Han yang sudah menangkap apa yang tersirat dalam ucapan Puteri Moguhai tadi, sudah bangkit dan berkata, “Paman Thio Ki, sama sekali Paman tidak merepotkan dan ucapan Dinda Moguhai tadi memang sudah tepat sekali. Sewajarnyalah kalau saya mewakili Ayah mengantar Paman pulang sebagai bukti bahwa tidak ada perasaan buruk sedikit pun di antara keluarga kami dan keluarga Paman.”
Mendengar ucapan itu, tentu saja Thio Ki tidak berani membantah lagi dan pergilah mereka berdua menuju rumah Thio Ki. Setelah mereka pergi, Puteri Moguhai berkata kepada Pangeran Cin Boan dan isterinya sambil tersenyum senang.
“Nah, dugaanku tadi benar, bukan? Percayalah, Paman dan Bibi, kalau Kanda Cin Han sudah berkenalan langsung dengan Siang In, maka perjodohan antara mereka itu bukan merupakan persoalan yang sulit lagi.”
Suami isteri itu tertawa dan isteri Pangeran Cin Boan bertanya. “Eh, Moguhai engkau tampaknya bersungguh-sungguh ingin melihat Kakakmu berjodoh dengan Siang In!”
“Dan betapa sama benar wajahmu dengan Thio Siang In!” kata pula Pangeran Cin Boan.
Moguhai tertawa. “Paman dan Bibi, Siang In adalah seorang sahabatku yang paling baik, juga saudara seperguruanku. Selain itu, juga kami berdua amat mirip satu sama lain. Kami saling menyayangi dan saya ingin melihat Siang In hidup, berbahagia. Saya merasa yakin bahwa kalau ia menjadi isteri Kanda Cin Han, ia pasti akan menjadi seorang isteri yang baik dan berbahagia.”
Pangeran Cin Boan mendesak. “Dan engkau sendiri, Moguhai? Engkau pun sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau engkau juga menjadi seorang ibu rumah tangga.”
Moguhai tertawa. “Wah, kalau saya...... hemm, saya belum menemukan seorang jodoh yang cocok, Paman.” Berkata demikian, wajah Souw Thian Liong terbayang dalam ingatannya. “Kalau tidak ada yang cocok, saya tidak akan menikah.”
Suami isteri itu saling pandang dan isteri pangeran itu berkata, “Hemm, anak sekarang memang aneh-aneh jalan pikirannya. Selain tidak sejalan dengan pikiran orang tua dan suka mencari jalan sendiri, juga terkadang bersikap aneh-aneh.”
Moguhai tersenyum. “Tidak semua, Bibi. Bukankah Kanda Cin Han seorang anak yang penurut, taat, berbakti dan baik?”
“Memang, dia baik sekali,” ibu itu mengangguk-angguk. “Akan tetapi dia juga mempunyai kebiasaan yang aneh. Sering kali dia mengunci diri dalam kamarnya dan tidak mau bertemu dengan siapapun juga. Kalau dia sedang dalam kamarnya, bahkan Ayahnya dan aku pun tidak dapat mengganggunya.”
“Itu tidak aneh, Bibi, bukankah Kanda Cin Han seorang pemuda yang amat tekun belajar sastra sehingga dia lulus ujian dan menjadi siu-cai (satrawan)?”
“Memang dia aneh kalau sudah mengeram diri di dalam kamarnya, Moguhai,” kata Pangeran Cin Boan. “Dari luar kamar, kami sering mendengar dia bicara seorang diri.”
“Ah, tentu dia sedang membuat dan membaca sajak, Paman!”
“Kami juga berpendapat begitu maka kami tidak mau mengganggunya. Akan tetapi hal itu dia lakukan bertahun-tahun dan tentu saja kami beranggapan bahwa dia pun mempunyai keanehan seperti orang muda lainnya!”
“Jangan khawatir, Paman dan Bibi. Kalau dia sudah menikah, maka dia tidak akan seorang diri lagi kalau mengunci kamarnya!” kata Moguhai sambi1 tertawa.
Suami isteri itu saling pandang, keheranan mendengar kelakar seperti itu keluar dari mulut Sang Puteri. Akan, tetapi Moguhai hanya tertawa dan ia lalu berpamit untuk pergi ke kota raja karena sudah setahun lebih ia meninggalkan istana.
Limabelas orang laki-laki berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun itu bergerak menyusup-nyusup di antara semak belukar dan pohon-pohonan dalam hutan di tepi jalan raya itu. Pakaian mereka ringkas dan di punggung mereka tergantung golok telanjang yang mengkilap saking tajamnya. Wajah mereka bengis dan sikap mereka kasar. Mereka adalah segerombolan perampok yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan jahat. Mencuri, merampok, menganiaya, membunuh merupakan pekerjaan mereka sehari-hari.
Di antara limabelas orang itu terdapat seorang yang berusia empatpuluh tahun dan mukanya penuh brewok, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar dan liar. Dialah yang menjadi pemimpin gerombolan berjuluk Hek-kwi (Setan Hitam) yang terkenal kejam, ganas, namun juga tangguh sekali karena memiliki ilmu silat tinggi. Hek-kwi ini yang paling buas di antara mereka. Dia suka memperkosa wanita, menganiaya dan membunuh sambil tertawa-tawa karena semua perbuatan kejam dan jahat itu merupakan kesenangan baginya. Entah sudah berapa banyaknya wanita dia permainkan dan orang-orang dia bunuh.
Untuk sekitar daerah Kam-tin, namanya sudah terkenal dan ditakuti. Bahkan pasukan keamanan Kam-tin juga tidak berdaya karena gerombolan ini pandai menyembunyikan diri. Kalau disergap oleh pasukan yang kuat, mereka sudah menghilang dan kalau pihak penyerbu kurang kuat, tentu akan dibasmi habis oleh gerombolan yang ganas ini.
Para saudagar banyak yang mengalihkan daerah perdagangan mereka ke lain tempat sehingga jalan menuju ke Kam-tin menjadi sunyi. Karena tidak banyak yang dapat dirampok di jalan yang melalui hutan itu, Hek-kwi terkadang membawa anak buahnya untuk merampok dusun-dusun di daerah itu. Gerombolan kejam ini tidak segan untuk mengganggu dan merampok penduduk yang sudah melarat hidupnya.
Pada pagi hari itu, limabelas orang ini menyelinap di antara pohon-pohon, mengikuti dan mengintai seorang pejalan kaki yang mereka anggap aneh. Orang itu bertubuh kecil saja, dari belakang tampak seperti seorang pemuda remaja. Kepalanya tertutup sebuah caping lebar sehingga mukanya tidak dapat
tampak jelas karena, tertutup bayangan capingnya. Dari belakang orang itu tampak kecil tidak mengesankan, pakaiannya serba merah muda dan dari warna pakaiannya ini saja gerombolan itu dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang wanita! Wanita yang melihat bentuk tubuhnya yang kecil langsing tentu masih seorang gadis muda atau mungkin juga seorang nenek yang sudah tua. Akan tetapi kalau ia nenek, tentu tidak memakai pakaian berwarna merah muda seperti itu.
Hek-kwi memberi isyarat kepada anak buahnya dan limabelas orang itu lalu berloncatan sambil mengeluarkan pekikan seperti segerombolan binatang buas, menghadang pejalan kaki itu. Mereka memandang penuh perhatian kepada orang bercaping itu dan terpesona. Hek-kwi sendiri yang berdiri paling depan, terbelalak dan berdecak kagum, lalu menyeringai gembira.
Orang itu ternyata seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tahun. Kepalanya tertutup caping, namun dapat dilihat bahwa rambutnya hitam dan panjang, digelung ke atas dan ditutupi caping. Pakaiannya dari sutera merah muda, bentuknya sederhana saja namun bersih dan rapi. Wajah gadis itu bulat telur, sinom (anak rambut) di dahi dan pelipisnya membuat wajah itu tampak manis, dahinya halus, alis hitam tebal namun kecil panjang, matanya bersinar-sinar seperti bintang, bersinar tajam namun tampak sayu seperti merenung, hidungnya kecil mancung, mulutnya indah dengan bibir merah basah dan lesung pipit di kanan kiri mulutnya menambah kejelitaannya. Dagunya agak runcing. Kulitnya putih mulus dan tubuhnya ranum, padat dengan pinggang ramping. Tubuhnya bagian atas tertutup sebuah jubah yang lebar berwarna biru. Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan!
Seperti kita ketahui, Han Bi Lan yang remuk perasaan hatinya mendapat kenyataan bahwa setelah ditinggal mati ayahnya ia mendapat keterangan bahwa ibunya seorang bekas pelacur, menjadi liar karena malu, marah dan sakit hati. Ia mengamuk di rumah-rumah pelacuran, menghajar dan melukai para laki-laki yang mengunjungi rumah pelesir, terutama para bangsawan dan hartawan, mengobrak-abrik rumah-rumah pelesir sehingga namanya terkenal dan ditakuti, bahkan dijuluki Ang I Moli (Iblis Betina Baju Merah)! Namun semua itu belum dapat menenteramkan hatinya. Ia menjadi gelisah oleh rasa malu dan duka sehingga ia tidak mengurus dirinya lagi.
Akhirnya ia bertemu dengan seorang yang aneh luar biasa, yang mengaku berjuluk Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) dan akhirnya Bi Lan menjadi murid manusia aneh seperti setan ini selama kurang lebih setahun. Biarpun ia sudah berjanji bahwa setelah ia dianggap selesai belajar, ia harus mengubur gurunya itu hidup-hidup, namun setelah saatnya tiba, diam-diam Bi Lan minggat, meninggalkan gurunya itu karena bagaimanapun juga, tidak mungkin ia tega mengubur gurunya hidup-hidup!
Demikianlah, kini Bi Lan merantau lagi dengan hanya ada dua tujuan dalam hatinya. Pertama, ia akan mencari Ouw Kan dan dua orang murid Ouw Kan yang telah membunuh ayahnya. Kedua, ia akan mencari Souw Thian Liong untuk membalas penghinaan yang dilakukan pemuda itu kepadanya. Pemuda itu telah menampar bukit pinggulnya sebanyak sepuluh kali. Ia akan membalas kekalahannya dan membalas penghinaan itu. Ia harus menampar Thian Liong sebanyak dua kali lipat!
Kini setelah mendapatkan gemblengan selama setahun dari Si Mayat Hidup Berjalan, tingkat kepandaian Bi Lan menjadi berlipat ganda tingginya. Padahal, ia hanya digembleng untuk memperkuat tenaga saktinya dan mempelajari ilmu silat aneh sebanyak tigabelas jurus yang disebut Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit).
Pada pagi hari itu, ia berjalan melenggang seenaknya di jalan raya dalam hutan di daerah Kam-tin. Tentu saja pendengarannya yang amat peka itu telah dapat menangkap gerakan limabelas orang yang membayangi dan mengintainya, akan tetapi ia diam saja dan tetap melenggang dengari tenang.
Setelah melihat bahwa orang yang mereka intai itu hanya seorang gadis yang wajahnya tersembunyi di bawah bayangan caping lebar, Hek-kwi lalu memberi isyarat kepada empatbelas orang anak buahnya dan mereka berlompatan keluar dari tempat pengintaian mereka sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa bahkan ada yang menari-nari berjingkrakan di depan Bi Lan karena melihat bahwa yang mereka hadang itu hanya seorang wanita muda!
Bi Lan menahan langkahnya dan mengangkat mukanya menengadah. Gerakan yang disentakan ini membuat capingnya terlepas dari kepalanya dan tergantung di punggungnya dan wajahnya kini tampak seluruhnya.
Mereka yang sedang berteriak-teriak, tertawa dan menari tiba-tiba menghentikan suara dan gerakan mereka. Juga Hek-kwi tertegun dan terpesona memandang gadis yang berada di depannya itu.
“Bidadari......! Dewi dari sorga......!” kata Hek-kwi.
Limabelas orang laki-laki kasar dan buas itu memandang Bi Lan dengan mata yang seolah hendak menelan hidup-hidup gadis yang cantik jelita itu. Pandang mata Hek-kwi seolah menggerayangi dari kepala sampai ke kaki Bi Lan.
Setelah menjadi murid Si Mayat Berjalan selama setahun, watak yang lincah jenaka dari Bi Lan seolah menghilang. Atau lebih tepat lagi, semenjak ia mendapat kenyataan bahwa ibu kandungnya seorang bekas pelacur, gairah dan kegembirahn hidupnya seolah melayang pergi. Kini wajahnya yang cantik itu tampak muram seolah matahari tertutup mendung hitam tebal. Bibir yang bentuknya indah dan merah membasah itu kini terkatup dan tidak pernah tersenyum. Sepasang matanya yang biasanya kocak dan lembut gembira, kini tajam menusuk dan sering kali mencorong menyeramkan.
Akan tetapi sikap keren Bi Lan ini tidak terlihat oleh Hek-kwi dan anak buahnya yang mata keranjang dan selalu memandang rendah orang lain. Hek-kwi tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha-ha! Kawan-kawan, yang ini untuk aku sendiri! Siapa berani mengganggunya akan kuhajar sampai mati!”
Dia memandang ke arah anak buahnya. Semua anak buahnya tertawa dan mengangguk menyetujui. Hek-kwi lalu menghadapi Bi Lan yang masih berdiri tegak dan tenang, lalu bertanya dengan suara nyaring dan sikap dibuat-buat agar tampak gagah menarik.
“Wahai bidadari yang cantik jelita. Siapakah namamu, datang dari mana dan hendak pergi ke mana? Ketahuilah, aku adalah yang terkenal di seluruh dunia dengan julukan Hek-kwi, akan tetapi aku tidak kasar seperti setan, melainkan lembut seperti dewa kalau berhadapan dengan bidadari seperti engkau. Betul tidak, kawan-kawan?”
“Betul……!!” Anak buahnya menjawab sambil tertawa ramai.
Bi Lan diam saja. Tidak bergerak dan tidak menjawab, bahkan pandang matanya tidak acuh seolah-olah belasan orang tidak tampak olehnya.
Melihat gadis itu diam saja, sama sekali tidak memandangnya dan tidak bergerak, apalagi menjawab, Hek-kwi mengerutkan alisnya.
“Hei, Nona manis. Mengapa engkau diam saja? Aih, jangan-jangan engkau tuli dan gagu! Wah, sayang kalau begitu, begini cantik tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara.”
“Ha-ha, Twako, (Kakak), kebetulan kalau begitu. Kelak setelah menjadi isterimu tidak banyak rewel dan tidak dapat mengomel!” Anak buah gerombolan itu berkata dan semua kawannya tertawa riuh rendah.
Hek-kwi tersenyum dan mengangguk-angguk. “Wah, benar juga katamu itu! Kalau sudah menjadi isteriku lalu cerewet dan tukang mengomel, minta ampun! Eh, Nona manis calon biniku, mari ikut bersamaku pulang!” Hek-kwi lalu maju dan hendak merangkul.
Bagaikan baru menyadari bahwa di depannya terdapat banyak orang laki-laki hendak menyentuh dan merangkulnya, Bi Lan menggerakkan tangan kirinya dan mulutnya berkata lantang. “Mampuslah!”
Hek-kwi adalah seorang yang tangguh, maka melihat berkelebatnya tangan Bi Lan, dia cepat mengangkat lengan kanan ke atas untuk menangkis.
“Krekkk......!” Hek-kwi menjerit dan tubuhnya terpental sampai tiga meter ketika lengannya bertemu dengan tangan kiri Bi Lan! Dia cepat melompat bangun sambil menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya telah patah! Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi marah bukan main.
“Perempuan keparat!” Dia memaki dan tangan kirinya mencabut golok yang tergantung di punggungnya. Hek-kwi terkenal dengan permainan goloknya dan walaupun kini lengan kanannya tak dapat dipergunakan karena tulangnya patah, namun dengan tangan kirinya dia dapat memainkan golok itu sama mahirnya dengan tangan kanan. Setelah mencabut golok besarnya, sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka, dia lari menerjang ke arah Bi Lan lalu menyerang dan sabetan goloknya ke arah leher gadis itu. Kini semua gairah berahinya lenyap, terganti gairah untuk membalas dendam dan membunuh!
Sepasang mata indah itu mencorong dan seolah Bi Lan tidak tahu akan bahaya maut yang mengancamnya. Golok itu menyambar cepat sekali dan gadis itu masih diam saja. Akan tetapi ketika golok sudah dekat, ia merendahkan kepalanya dan tangan kanannya bergerak dari bawah ke atas. Tahu-tahu golok itu sudah ditangkap jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut, golok itu terlepas dari pegangan Hek-kwi. Setelah golok terampas, Bi Lan menggerakkan tangan kanan ke depan.
“Cappp......!” Golok itu menancap di dada Hek-kwi.
Mata Hek-kwi terbelalak memandang ke arah dadanya, seolah tidak percaya akan apa yang terjadi, kemudian tubuhnya terpental ke belakang karena ditendang kaki Bi Lan. Dia terbanting roboh dan tewas seketika karena goloknya sendiri menembus jantungnya!
Empatbelas orang anak buah gerombolan terbelalak kaget, akan tetapi mereka juga marah sekali. Orang-orang kasar ini selalu merasa diri sendiri paling kuat, apalagi mereka berjumlah banyak. Mereka
tidak menyadari bahwa dari kenyataan tadi betapa dalam segebrakan saja Hek-kwi tewas telah membuktikan bahwa gadis yang mereka hadapi itu lihai bukan main. Orang-orang bodoh itu lalu mencabut golok mereka dan serentak menyerbu dan mengeroyok Bi Lan!
Orang akan terheran-heran kalau menyaksikan apa yang selanjutnya terjadi di atas jalan dalam hutan itu. Bi Lan sama sekali tidak bergeser dari tempat ia berdiri. Ia menyambut semua serangan yang datang dari depan, belakang, ka-nan, dan kiri itu dengan menggerakkan kaki tangannya dan tubuh-tubuh para pengeroyok berpelantingan, terlempar ke belakang sejauh tiga meter lebih dan begitu jatuh mereka langsung tewas!
Dalam waktu beberapa menit saja, dua belas orang anak buah gerombolan terlempar roboh dan tewas. Dua orang sisanya yang belum sempat menyerang dan belum tewas, menjadi pucat ketakutan dan mereka segera memutar tubuh melarikan diri. Bi Lan menendang dua kali ke arah golok-golok yang berserakan di depan kakinya. Dua batang golok meluncur seperti anak panah dan dua orang yang melarikan diri itu menjerit dan roboh dengan punggung tertembus golok dan tewas seketika. Limabelas orang gerombolan itu dalam waktu singkat tewas semua tanpa Bi Lan bergeser selangkah pun dari tempat ia berdiri!
Bi Lan memandang ke sekelilingnya, ke arah mayat-mayat yang berserakan di sekelilingnya, wajahnya masih muram tanpa membayangkan perasaan apa pun, lalu hidungnya mendengus seperti orang yang mencium bau tidak enak, lalu kakinya melangkah pergi dari tempat itu, melangkahi mayat-mayat sambil meletakkan kembali capingnya di atas kepalanya.
Dalam usahanya mencari Ouw Kan yang ia anggap sebagai musuh besarnya, datuk bangsa Uigur yang dulu pernah menculiknya ketika ia masih kecil, juga datuk yang memusuhi orang tuanya, bahkan dua orang murid datuk itu telah menyebabkan kematian ayahnya, Bi Lan menuju ke kota raja Kin. Gadis yang sakit hati ini juga menganggap bahwa Raja Kin juga bersalah dan harus dibalasnya karena tentu raja itu yang mengutus Ouw Kan untuk membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si yang tewas di tangan ayahnya dalam perang. Apalagi ibunya menceritakan betapa dua orang murid Ouw Kan itu tidak jadi membunuh ibunya, setelah mereka melihat surat yang ditinggalkan Puteri Moguhai kepada orang tuanya. Ini hanya berarti bahwa dua orang murid Ouw Kan itu takut kepada puteri raja dan tentu Raja Kin ada hubungannya dengan pembunuhan terhadap ayahnya. Karena inilah maka Bi Lan menujukan perjalanannya ke kota raja Kin.
Ketika Bi Lan memasuki kota raja Kerajaan Kin di Peking, Bi Lan melihat bahwa biarpun kota raja ini lebih luas daripada Lin-an (Hang-chouw) kota raja Sung di selatan dan memiliki banyak bangunan besar dan kuno, namun kota raja Sung lebih indah. Akan tetapi kehadiran seorang gadis cantik bercaping lebar di kota itu tidak terlalu menarik perhatian orang karena memang banyak macam orang kang-ouw yang berdatangan di Peking. Juga banyak suku-suku bangsa utara dengan beraneka macam pakaian dan model topi atau caping.
Akan tetapi, di luar pengetahuan Bi Lan, semenjak ia memasuki pintu gerbang kota raja bagian selatan, beberapa pasang mata telah membayangi gerak-geriknya. Mereka yang membayanginya itu adalah para penyelidik dari pasukan keamanan kota raja. Mereka itu selalu mencurigai pendatang baru bangsa Han yang pribumi dari selatan karena bagaimanapun juga, masih ada kecurigaan terhadap Kerajaan Sung di selatan dan setiap pendatang baru dari selatan mungkin saja menjadi mata-mata Kerajaan Sung.
Bi Lan memilih sebuah rumah penginapan besar yang merangkap rumah makan di bagian depannya. Rumah makan Lok-koan merupakan sebuah di antara rumah-rumah makan terbesar, dengan banyak kamar penginapan yang bersih, dari kota raja itu. Begitu ia memasuki rumah makan, seorang pelayan tua segera menyambutnya dengan ramah. Pelayan ini tidak merasa heran menyambut seorang gadis cantik jelita berpakaian merah muda yang berwajah dingin. Sudah banyak tokoh aneh dia jumpai dan dia pun dapat menduga bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw (sungai-telaga, persilatan) yang sedang merantau.
“Selamat sore, Nona. Silakan duduk, Nona hendak memesan makanan apakah?”
Bi Lan menjawab dengan suara datar. “Aku ingin menyewa kamar dulu dan mandi, setelah itu baru makan.”
“Ah, baik. Tentu saja, Nona. Mari, silakan bertemu pengurus kami untuk mendapatkan sebuah kamar.” Pelayan itu lalu mengajak Bi Lan pergi ke sudut ruangan dalam di mana terdapat meja panjang dan di belakang meja itu duduk dua orang laki-laki.
“Nona ini ingin menyewa sebuah kamar,” pegawai itu melaporkan.
“Baik, Nona. Kebetulan masih ada beberapa buah kamar yang belum terisi,” kata seorang di antara mereka sambil membuka buku tamu dan siap dengan mouw-pit (pena bulu) untuk mencatat. “Harap Nona menyebutkan nama dan tempat tinggal untuk kami catat, dan berapa hari Nona akan tinggal di rumah penginapan kami.”
Bi Lan adalah seorang gadis yang sudah banyak melakukan perantauan dan ia tahu betul bahwa apabila menyewa kamar di rumah penginapan, tamu harus mencatatkan nama dan alamatnya karena pihak penginapan akan dapat mencari dan menagihnya kalau Si Penyewa pergi diam-diam tanpa membayar sewa kamarnya. Maka ia lalu mengambil kantung uangnya, mengeluarkan dua potong perak dan menaruhnya di atas meja.
“Apakah ini cukup untuk menyewa sebuah kamar selama lima hari?”
Dua orang pengurus itu tersenyum dan penanya tadi cepat berkata. “Wah, biarpun dengan makan minumnya selama lima hari, uang Nona mungkin masih ada kelebihannya.”
“Kalau begitu, terima uang ini untuk membayar lebih dulu sewa kamar dan bayar makanan selama lima hari. Kelebihannya boleh ambil. Tentang namaku, kiranya tidak perlu dicatat lagi karena sewanya sudah kubayar lunas di muka.”
Dua orang itu saling pandang lalu mengangguk. Tidak biasa seorang tamu membayar di muka berikut makanannya. Akan tetapi karena gadis itu sudah membayar selama lima hari, mereka pun tidak merasa perlu lagi untuk mencatat nama dan alamat gadis itu walaupun di dalam hati mereka ingin juga mengetahui siapa nama gadis yang cantik jelita namun yang berwajah dan bersinar mata dingin itu.
“Ah, baiklah kalau Nona menghendaki demikian. Ini kunci kamar Nona.”
“Aku menghendaki sebuah kamar yang tenang di sudut.”
“Baik, Nona. Di sudut bagian belakang ada kamar kosong. Ini kuncinya. A-sam, antarkan Nona ini ke kamarnya,” kata pengurus itu kepada seorang pelayan yang bertugas di rumah penginapan. Pelayan itu mengantarkan Bi Lan ke kamarnya.
Bi Lan cukup senang dengan kamar itu karena cukup bersih terawat baik. Kain alas pembaringan dan sarung bantalnya semua bersih dan habis dicuci. Kamar itu mempunyai sebuah jendela yang menghadap ke taman yang sederhana. Karena letaknya di ujung maka lebih sunyi dan tenang dibandingkan dengan kamar-kamar yang berada di depan dan tengah.
Setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, Bi Lan menyerahkan semua pakaian kotor kepada pelayan untuk dicuci, kemudian ia meninggalkan buntalan pakaiannya, keluar dari kamar, mengunci pintunya dan pergi ke depan, ke rumah makan. Ia merasa segar sehabis mandi air dingin. Hawa udara pada waktu itu tidak dingin, bahkan agak panas karena musim panas sedang kuat-kuatnya. Ia memakai mantelnya, bukan karena dingin, melainkan untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang ia tahu hanya akan menarik pandang mata yang kurang ajar dari para pria, hal yang terkadang membuatnya marah sekali.
Semenjak menjadi murid Si Mayat Hidup Berjalan, Bi Lan merasa tidak perlu lagi membawa senjata tajam walaupun ia memiliki keahlian bermain silat pedang. Sekarang, segala macam benda dapat saja ia pergunakan sebagai senjata yang ampuh. Bahkan dua pasang kaki tangannya juga sudah merupakan senjata yang amat ampuh.
Pelayan rumah makan yang setengah tua tadi menyambut Bi Lan yang datang dari rumah penginapan dengan senyum ramah. Kini Bi Lan tidak memakai ca-pingnya dan wajahnya tampak cantik sekali. Pakaiannya berwarna merah muda dan biarpun potongannya sederhana dan ia tidak mengenakan perhiasan apa pun, namun pakaian itu bersih dan ia dalam kepolosannya bahkan tampak lebih segar dan kecantikannya aseli tanpa bedak atau gincu. Sayang bahwa wajah yang cantik itu muram dan mendatangkan kesan dingin karena sinar mata itu layu dan mulut itu pun tidak membayangkan perasaan apa pun.
“Selamat sore, Nona. Sayang tempatnya agak penuh, akan tetapi masih ada meja kosong di sudut sana. Mari, silakan, Nona,” kata pelayan itu, sambil mendahului menuju ke sebuah meja kosong di sudut kanan bagian depan. Rumah makan itu kini penuh tamu yang hendak makan malam.
Bi Lan memesan nasi dan tiga macam masakan, juga minuman yang tidak begitu kuat seperti arak. Ada tersedia semacam minuman anggur atau sari apel yang tidak sekuat arak biasa.
Bi Lan menanti datangnya pesanannya sambil duduk diam di atas kursinya, menghadapi meja. Pada saat itu, ruangan penuh tamu yang sebagian besar adalah laki-laki. Lima meja yang berada tidak begitu jauh dari meja Bi Lan diduduki rombongan laki-laki dan mereka semua, tidak kurang dari duapuluh orang banyaknya, mengarahkan pandang mata mereka kepada Bi Lan. Bahkan yang duduk di meja yang berada di belakang gadis, itu, masih juga melayangkan pandang mata mereka ke arah Bi Lan walaupun yang mereka lihat hanya bagian belakang tubuh gadis itu. Di sana-sini terdengar suara tawa dan jelas bahwa mereka itu menujukan kelakar mereka kepada Bi Lan yang membuat mereka semua merasa kagum.
Tiba-tiba banyak tamu bangkit berdiri, mulai dari yang duduk di bagian terdepan. Mereka bangkit berdiri untuk menghormati rombongan yang baru masuk. Karena Bi Lan duduk menghadap ke arah pintu depan, maka tanpa disengaja ia pun melihat rombongan itu. Rombongan terdiri dari empat orang, akan tetapi semua orang itu menghormati orang yang berjalan paling depan. Dia seorang pria berusia sekitar
tigapuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan wajahnya cukup tampan walaupun pandang mata dan senyum mengejek di bibirnya memberi kesan angkuh sekali. Melihat orang-orang memberi hormat kepadanya, dia mengangkat tangan kanan ke atas seperti seorang raja yang menerima penghormatan rakyatnya! Dari pakaian orang ini dapat diduga bahwa dia tentu seorang pemuda bangsawan tinggi yang kaya raya. Pakaian serba mewah gemerlapan, dengan mantel bulu indah dan topinya juga dari bulu biruang berwarna putih.
Tiga orang yang berjalan di belakangnya dapat diduga adalah para pengawalnya. Pakaian mereka juga indah, akan tetapi tidak semewah pakaian pemuda yang mereka kawal. Tiga orang laki-laki ini berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, ketiganya bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat. Di punggung masing-masing tergantung sebatang pedang yang besar panjang. Biarpun orang-orang di rumah makan itu menghormati pemuda yang mereka kawal, namun tiga orang ini berjalan dengan dada dibusungkan dan langkah mereka tegap, sambil tersenyum bangga seolah-olah merekalah yang diberi hormat banyak orang itu.
Bi Lan melihat betapa dua orang pengurus rumah makan dan rumah penginapan itu bangkit sendiri untuk menyambut empat orang tamu itu. Sambil membungkuk-bungkuk mereka menyambut dan seorang di antara mereka berkata dengan suara merendah dan ramah.
“Selamat datang, Hiu-kongcu (Tuan Muda Hiu)! Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami untuk menyambut kunjungan Kongcu. Silakan mengambil tempat duduk di sebelah dalam, Kongcu!”
Akan tetapi pemuda yang disebut Hiu-kongcu itu kebetulan memandang kepada Bi Lan. Wajahnya berseri dan senyumnya melebar, pandang matanya seolah melekat pada tubuh Bi Lan yang dijelajahinya dengan penuh perhatian. Dia lalu berkata kepada dua orang pengurus rumah makan itu.
“Aku ingin duduk di meja itu!” Dia menuding ke arah meja tepat di depan Bi Lan yang sudah diduduki empat orang laki-laki.
“Akan tetapi meja itu......”
“Suruh mereka pindah ke meja lain!” bentak seorang di antara tiga pengawal itu, yang berkumis tebal sambil memandang dua orang pengurus itu dengan mata melotot.
Dua orang pengurus itu saling pandang, lalu keduanya bergegas menghampiri meja yang diminta itu dan dengan suara berbisik-bisik mereka berdua membujuk kepada empat orang laki-laki untuk pindah meja. Empat orang laki-laki itu adalah tamu dari luar kota dan mereka tidak mengenal rombongan tamu yang baru masuk, maka mereka tentu saja merasa tidak senang harus pindah meja dan memberikan meja mereka kepada orang lain. Akan tetapi dua orang pengurus itu membujuk akan memberi potongan setengah harga dari harga makanan yang mereka pesan dan ketika mereka memandang ke arah tiga orang tinggi besar yang melotot kepada mereka, akhirnya mereka tidak berani membantah lagi. Mereka terpaksa pindah ke meja lain dan masakan di meja mereka diangkut dan dipindahkan pelayan.
Meja itu lalu dibersihkan dan pemuda bersama tiga orang pengawalnya dipersilakan duduk. Pemuda itu mengambil tempat duduk yang menghadap ke arah Bi Lan sehingga dia dapat saling pandang dengan gadis itu. Dia tersenyum-senyum kepada Bi Lan. Akan tetapi Bi Lan sudah menundukkan pandang matanya dan tidak mengacuhkan mereka lagi. Ia melihat betapa rombongan baru ini dengan semena-
mena memaksa tamu untuk pindah, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, maka ia pun tidak perduli sama sekali.
Semenjak pengalaman pahit menimpa dirinya, apalagi setelah mempelajari ilmu dari Si Mayat Berjalan, Bi Lan tidak perduli apapun juga yang tidak menyangkut dirinya. Kalau dulu, melihat kejadian ini ia tentu akan merasa penasaran sekali dan sudah menghajar rombongan yang sewenang-wenang ini! Akan tetapi sekarang ia sama sekali tidak memperdulikannya. Juga pandang mata yang penuh gairah dari pemuda berpakaian mewah itu dianggapnya seperti angin lalu saja, sama sekali tidak ditanggapinya.
Biarpun ia tidak mengacuhkan mereka, namun tetap saja ia merasa dongkol juga ketika beberapa orang pelayan datang menghidangkan belasan macam masakan di meja rombongan itu, padahal ia yang lebih dulu datang dan memesan belum juga dilayani! Mengertilah ia bahwa tentu pemuda. itu merupakan seorang tokoh yang berpengaruh di kota raja sehingga pengurus rumah makan itu menghormatinya secara berlebihan. Bi Lan mulai mengerutkan alisnya, merasa disepelekan. Ketika ia melihat pelayan tua tadi, ia menggapai dan pelayan itu cepat menghampirinya.
“Bagaimana ini? Aku yang memesan sejak tadi belum dilayani, orang lain baru datang sudah didahulukan pelayanannya!”
“Aih, maafkan kami, Nona. Baiklah, akan saya ambilkan pesanan Nona sekarang juga! Pelayan itu bergegas pergi ke dapur.
Hiu-kongcu berbisik kepada seorang di antara tiga orang pengawalnya dan pengawal yang berkumis tebal itu tersenyum mengangguk-angguk lalu menghampiri Bi Lan.
Sambil menyeringai pengawal tinggi besar berkumis tebal ini lalu mengangguk sebagai penghormatan dan berkata, “Nona, Kongcu kami ingin mengetahui siapakah nama Nona dan di mana Nona tinggal?”
Tanpa memandang kepada siapapun juga Bi Lan berkata, suaranya datar dan dingin. “Tidak ada nama dan rumah. Pergilah!”
Pengawal itu memandang heran, lalu berkata, “Nona, engkau tidak tahu siapa Kongcu kami. Agaknya engkau bukan orang sini. Ketahuilah, Kongcu kami adalah Kongcu Hiu Kan, putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong, keponakan Sri Baginda Kaisar sendiri! Dan kami bertiga adalah Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) yang menjadi pengawal Hiu-kongcu!”
“Aku tidak perduli. Pergilah!”
Jiu To, pengawal pertama berkumis tebal berusia empatpuluh tahun itu, makin terheran akan tetapi juga marah. Hanya dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya sebelum mendapat perintah majikannya, maka sambil menggerakkan kedua pundaknya dia terpaksa memutar tubuh kembali ke meja rombongannya. Dia lalu berbisik-bisik dengan Hiu Kan atau Hiu-kongcu dan dua orang rekannya yang bernama Kai Ek dan Lee Song.
Sementara itu, pelayan tua datang menghidangkan makanan yang dipesan Bi Lan. Hidangan itu hanya nasi dan tiga macam sayur sederhana, amat tiada harganya dibandingkan masakan serba daging yang dihidangkan di atas meja putera pangeran itu.
Bi Lan mulai makan hidangannya tanpa mengacuhkan lagi empat orang yang duduk di meja sebelah depannya itu. Akan tetapi baru sedikit ia makan, Si Kumis Tebal itu sudah menghampirinya lagi.
“Nona, Kongcu kami merasa kasihan melihat Nona makan seorang diri dengan sayuran sederhana itu. Maka Hiu-kongcu mengundang Nona dengan hormat untuk makan bersama beliau. Mari, silakan, Nona, harap jangan malu-malu. Jarang Hiu-kongcu memberi penghormatan kepada seorang gadis yang tidak dikenalnya dan mengundangnya makan bersama.”
“Jangan ganggu aku lagi. Enyahlah!” Bi Lan menghardik dan suaranya mengandung ancaman.
Jiu To Si Kumis Tebal itu merasa malu karena bentakan Bi Lan itu terdengar oleh para tamu lain, maka dia bergegas menghampiri Hiu-kongcu. Mereka bicara bisik-bisik dan tidak terdengar oleh para tamu lainnya, akan tetapi pendengaran Bi Lan yang terlatih dan amat peka itu, dapat menangkap pembicaraan mereka.
“Kongcu, ia menolak dengan tegas. Agaknya ia bukan gadis sembarangan,” kata Jiu To.
“Jiu-ko (Kakak Jiu), kenapa susah-susah amat? Kalau ia membandel, tarik saja ia ke sini, apa sukarnya?” kata Kai Ek, pengawal kedua yang pipinya codet bekas luka bacokan.
“Hushh, jangan bikin ribut di tempat umum begini. Apa engkau mau merusak namaku?” bentak Hiu Kan, putera pangeran itu.
“Barangkali kalau Kongcu sendiri yang mengundang, tentu ia akan menerima dengan senang hati. Gadis mana yang tidak akan suka memenuhi undangan Kongcu? Barangkali sikap Jiu-twako terlalu kasar sehingga ia tersinggung dan menolak.”
“Hemm, aku pun tidak mau merendahkan diri mengundang sendiri. Kalau ia tetap menolak, bukankah aku akan menjadi malu sekali? Akan tetapi, aku menginginkannya, aku harus mendapatkan gadis ini. Aku sudah tergila-gila padanya. Kalau aku tidak bisa mendapatkannya secara halus, aku akan menda-patkannya secara kasar!” kata pemuda bangsawan itu.
“Maksud Kongcu, sekarang juga kami harus menangkapnya?” tanya Jiu To.
“Bodoh kau! Aku tidak ingin membuat keributan yang akan mencemarkan namaku. Kalian harus menangkapnya dan membawanya ke kamarku, akan tetapi hal itu harus terjadi tanpa pengetahuan orang lain. Mengerti?”
“Kami mengerti, Kongcu, dan jangan khawatir, malam nanti pasti Kongcu akan dapat bersenang-senang dengannya.” Mendengar ucapan Jiu To ini, Hiu-kongcu menjadi girang dan dia tertawa. Tiga orang pengawalnya juga ikut tertawa gembira dan mereka lalu makan minum sepuasnya.
Semua pembicaraan tadi terdengar jelas oleh Bi Lan. Kebencian memenuhi hatinya. Kalau menuruti hatinya, ingin ia membunuh empat orang laki-laki itu di situ pada saat itu juga. Akan tetapi ia cerdik dan tahu betul bahwa kalau ia melakukan hal ini, kota raja tentu geger karena pemuda itu adalah putera seorang pangeran. Dan kalau terjadi keributan sehingga ia diburu pasukan ke-amanan, hal ini akan menghalangi niatnya membalas dendam kepada Ouw Kan dan dua orang muridnya, juga kepada Kaisar
Kerajaan Kin! Ia pasti akan membunuh mereka, akan tetapi tidak di sini, di tempat umum begini. Ia akan membunuh mereka tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.
Bi Lan sengaja memperlambat makannya sehingga ia mengakhiri makannya setelah melihat empat orang itu selesai makan. Ia lalu bangkit berdiri dan memberi isyarat kepada pelayan tua untuk menyingkirkan perabot makan. Pada saat itu ia mendengar pemuda bangsawan itu berbisik kepada tiga orang pengawalnya.
“Kita bayangi ia, aku ingin tahu di mana ia tinggal.”
Mendengar ini, Bi Lan lalu berjalan meninggalkan rumah makan itu, tidak kembali ke kamarnya melainkan pergi ke jalan raya depan rumah makan. Biarpun ia tidak pernah menengok, ia tahu benar bahwa empat orang laki-laki itu mengikutinya. Bi Lan lalu berjalan perlahan menuju ke pintu gerbang sebelah selatan. Ketika ia memasuki kota raja tadi, ia melihat bahwa di luar pintu gerbang sebelah selatan itu, di tepi jalan raya, terdapat sebuah hutan, mungkin hutan buatan di mana kaisar suka pergi berburu. Tempat itu sepi, apalagi di waktu malam. Dan malam ini kebetulan bulan telah muncul sejak lewat senja sehingga cuaca tidak terlampau gelap.
Empat orang itu merasa heran sekali ketika melihat gadis yang mereka bayangi itu keluar dari pintu gerbang selatan! Beberapa orang perajurit yang berjaga di situ segera memberi hormat kepada Hiu-kongcu. Pemuda bangsawan itu menanggapinya dengan acuh tak acuh. Ketika mereka keluar dari pintu gerbang selatan dan melihat gadis itu berjalan terus menuju ke hutan yang berada di tepi jalan, Hiu-kongcu terheran-heran. Kalau saja tidak ada tiga orang pengawalnya yang menemaninya, tentu dia akan kembali ke kota raja, tidak berani melanjutkan.
“Ah, Kongcu sungguh beruntung. Ia menuju ke tempat sunyi sehingga kita dapat menangkapnya tanpa ada orang lain melihatnya,” kata Jiu To sambil menyeringai.
Mendengar ini, Hiu Kan tersenyum dan hatinya senang sekali. Dia sudah membayangkan betapa senangnya kalau dia dapat mendekap gadis yang cantik jelita itu.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Bi Lan meninggalkan jalan raya dan memasuki hutan! Melihat ini, empat orang itu menjadi semakin heran, akan tetapi mereka terus mengikuti gadis itu.
Sebelum hilang rasa heran mereka, tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah. Tempat itu agak terbuka dan sinar bulan dapat menerangi mereka sehingga mereka dapat saling memandang dengan jelas. Melihat gadis itu berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi mereka, empat orang itu pun berhenti dan mereka berdiri di depan Bi Lan, dalam jarak hanya tiga meter. Di bawah sinar bulan yang redup dan lembut, gadis itu tampak bagaikan seorang bidadari.
“Mau apa kalian mengikutiku?” tanya Bi Lan dengan suara datar, suara yang tidak memperdengarkan perasaan hatinya, bukan suara marah atau girang atau malu, hanya datar dan dingin saja.
Karena mereka berada di tempat sunyi dan dia sendiri dijaga tiga orang pengawalnya, timbullah keberanian hati Hiu Kan. Dia tersenyum semanis mungkin, lalu melangkah maju mendekati Bi Lan sambil berkata, “Duhai Nona yang cantik jelita seperti bidadari! Aku cinta padamu, Nona. Marilah engkau ikut de-nganku dan hidup berbahagia di istanaku, menjadi selirku yang tercinta. Aku akan memberi pakaian sutera paling halus, perhiasan emas yang lengkap. Manisku, engkau hidup berbahagia. Marilah, manis!”
Dalam pandangan Bi Lan, putera pangeran ini tidak lebih baik daripada para pria bangsawan dan hartawan yang diamuk dan dihajarnya di rumah-rumah pelesir. Apalagi orang ini berani kurang ajar kepadanya.
“Laki-laki jahanam, kotor dan busuk. Engkau tidak layak hidup!” kata Bi Lan dan sekali tangan kirinya bergerak, hawa pukulan yang dahsyat menyambar dari telapak tangannya, menghantam dada Hiu Kan.
“Dess......!” Tubuh Hiu Kan terlempar ke belakang dan dia terjengkang roboh, tidak mampu bangkit atau bergerak lagi karena dia tewas seketika terkena pukulan maut Bi Lan.
Sam-pak-liong, Tiga Naga Utara itu terkejut bukan main. Sama sekali tidak disangkanya gadis itu akan memukul majikan mereka dan cepat Jiu To berjongkok memeriksa keadaan Hiu Kan. Matanya terbelalak dan wajahnya menjadi pucat ketika melihat majikan mudanya itu telah tewas dengan baju dan dadanya menghitam seperti terbakar!
“Keparat! Kongcu telah mati......!” teriaknya.
Kai Ek dan Lee Song terkejut sekali, terkejut dan marah mendengar majikan mereka tewas dipukul gadis itu. Lee Song yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, menerkam gadis itu dengan marah. Kedua tangannya membentuk cakar dan dia hendak menangkap kedua tangan gadis itu. Gadis pembunuh majikannya ini harus ditangkap dan dihadapkan kepada keluarga Hiu Kan lalu diseret ke pengadilan untuk mendapat hukuman berat.
“Plakkk!” Bi Lan menggerakkan kedua tangan menangkis dan ketika kedua tangannya bertemu dengan lengan Lee Song, ia mendapat kenyataan bahwa laki-laki brewok itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat. Benturan tenaga itu hanya membuat Lee Song terpental ke belakang akan tetapi tidak merobohkannya. Di lain pihak Lee Song terkejut setengah mati. Dia dan dua orang suhengnya (kakak seperguruannya) adalah murid-murid Pak-sian Liong Su Kian, datuk utara yang terkenal sakti dan mereka bertiga memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia sendiri memiliki tenaga sinkang yang amat kuat dan tadi dia sudah mengerahkan tenaganya dan sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat meringkus pembunuh majikannya itu. Akan tetapi siapa sangka, tangkisan gadis itu membuat dia terpental!
Kai Ek dan Jiu To juga terkejut melihat sute (adik seperguruan) mereka terpental ketika beradu tangan dengan gadis itu. Mereka berdua tidak memiliki niat yang sama dengan Lee Song. Kalau orang termuda dari Tiga Naga Utara ini ingin menangkap Bi Lan, dua orang kakak seperguruannya ini ingin langsung membunuh gadis yang telah berani membunuh majikan mereka. Maka tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua sudah mencabut pedang mereka. Mereka maklum bahwa gadis yang mampu membuat sute mereka terpental dengan tangkisannya itu tidak boleh dipandang ringan, maka mereka langsung menyerang dengan pedang mereka.
“Singgg...... singgg......!”
“Syuuuttttt......!”
Pedang dua orang ini memang dahsyat sekali. Kedua pedang itu menyambar dengan amat cepat seperti kilat dan mengandung tenaga yang besar.
Diam-diam Bi Lan menjadi waspada. Ia melihat gerakan pedang yang dahsyat dan maklum bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tangguh. Kalau diingat. menurut pengakuan mereka tadi bahwa mereka adalah murid-murid Pak-sian (Dewa Utara), maka tidak aneh kalau ketiganya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Ketika ia baru tamat belajar silat dari guru pertamanya, yaitu Jit Kong Lhama, mungkin tingkat kepandaiannya hanya lebih menang sedikit dibandingkan seorang dari mereka. Akan tetapi semenjak itu, ia telah mendapat tambahan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari kitab milik Kun-lun-pai yang dicurinya dari Souw Thian Liong, kemudian ia malah yang terakhir digembleng Si Mayat Berjalan sehingga tingkat kepandaiannya sudah berlipat ganda.
Kalau Tiga Naga Utara ini maju satu demi satu, dalam beberapa jurus saja ia pasti akan dapat merobohkan mereka. Akan tetapi mereka kini maju bertiga dan semua memegang pedang yang menyambar-nyambar dahsyat dari segala penjuru. Maka, terpaksa Bi Lan harus mengerahkan semua tenaganya dan menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehingga tubuhnya seolah berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar tiga batang pedang itu.
Hebatnya, dengan kedua lengan telanjang gadis itu berani kadang-kadang menangkis pedang lawan! Tentu saja tiga orang jagoan itu menjadi kaget setengah mati. Sama sekali mereka tidak pernah mengira bahwa gadis yang membuat majikan mereka tergila-gila itu adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian seperti iblis betina!
Setelah perkelahian itu berlangsung selama limapuluh jurus lebih dan ia belum mampu merobohkan lawan walaupun tiga orang pengeroyoknya juga tidak dapat melukainya, Bi Lan menjadi marah sekali. Tiba-tiba ia berkelebat menjauhi tiga orang lawannya, lalu mulutnya mengeluarkan pekik melengking dan kedua lengannya dikembangkan, lalu perlahan-lahan kedua tangan itu disatukan dan diangkat seolah ia menyembah langit. Itulah pembukaan dari ilmu silat Sin-ciang Tin-thian yang ia pelajari selama satu tahun dari Si Mayat Berjalan!
Suara lengkingan itu meninggi dan dengan kaget tiga orang pengeroyok itu mengerahkan sin-kang mereka sekuatnya menahan serangan suara yang seolah menyerbu telinga mereka dan langsung menyerang jantung.
“Hyaaaaahhh!!” Tubuh Bi Lan berubah menjadi bayangan yang meluncur ke depan.
Tiga orang jagoan itu berusaha untuk menyambut dengan pedang mereka. Akan tetapi jurus pukulan ilmu Sin-ciang Tin-thian itu dahsyat luar biasa dan amat aneh. Dua buah tangan terbuka Bi Lan menyambar dan mengeluarkan suara bercicit seperti suara kelelawar kesakitan. Tiga orang itu mencoba bertahan, namun tetap saja pukulan-pukulan kedua tangan itu mengenai dada mereka.
Kai Ek dan Lee Song terpental dan terjengkang roboh dengan mata mendelik dan tewas seketika. Akan tetapi Jiu To hanya roboh dan mengeluh, duduk di atas tanah sambil menahan napas dan kedua tangan menekan dadanya. Selain Jiu To memiliki tenaga sin-kang yang lebih kuat daripada kedua orang sutenya, juga Bi Lan memang sengaja tidak membunuhnya, maka dia masih terhindar dari maut. Akan tetapi wajahnya pucat ketika dia melihat gadis itu menghampirinya.
Jiu To adalah murid pertama dari Pak-sian dan dia seorang yang biasanya mengandalkan kekuatan dan kelihaiannya untuk menindas orang lain. Dia dapat bertindak kejam dan semenjak menjadi pengawal
Hiu-kongcu, dia tidak segan melakukan apa saja untuk mentaati perintah majikannya. Akan tetapi, selama hidupnya baru sekarang dia merasa ketakutan. Melihat Hiu-kongcu tewas, juga kedua orang sutenya tewas secara mengerikan, dan dia terluka dan tidak ber-daya, dia memandang kepada gadis cantik itu seperti melihat setan yang hendak mencabut nyawanya! Matanya terbelalak, mukanya pucat dan kumisnya yang tebal itu tergetar.
“Ampun...... ampunkan saya......” katanya lirih karena biarpun dia ketakutan, akan tetapi juga ada perasaan malu dalam hatinya bahwa sekarang dia harus minta ampun kepada seorang gadis muda!
“Hemm, orang macam engkau ini tidak patut diampuni.”
“Ah, ampunkan saya, jangan bunuh saya......” Jiu To meratap dengan lirih seolah jangan sampai terdengar orang lain.
“Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau mau memenuhi permintaanku.”
“Katakan, Li-hiap (Pendekar Wanita), permintaan apa yang Nona inginkan? Saya pasti akan memenuhi permintaan itu,” kata Jiu To penuh harapan. Tadi sedikit sekali harapan bahwa dia akan dapat terbebas dari kematian. Akan tetapi mendengar ucapan gadis aneh ini, muncul harapan baru dalam pikirannya.
“Katakan, di mana aku dapat menemukan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dua orang muridnya.”
“Li-hiap...... kalau saya memberitahu, maukah engkau mengampuni saya dan tidak membunuh saya?”
“Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau memberitahu di mana mereka.”
“Tentu, Li-hiap. Tentu saya akan memberi tahu di mana mereka. Toat-beng Coa-ong kini tinggal di kota Ceng-goan, sebelah selatan kota raja. Dua orang muridnya adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, akan tetapi saya tidak tahu di mana adanya mereka. Mungkin saja mereka berada di Ceng-goan pula, atau kalau mereka tidak berada di sana, tentu Ouw Kan mengetahui di mana dua orang muridnya itu berada.”
“Awas, kalau engkau bohong, aku akan mencarimu dan membunuhmu!”
Tiba-tiba Bi Lan menggerakkan tangannya. Sinar hitam menyambar ketika tangannya meluncur ke arah lengan Jiu To.
“Krekk!” Jiu To terguling dan merintih. Lengan kirinya lumpuh karena tulang lengannya di bawah siku remuk dan terasa amat panas. Ketika dia mengangkat muka, gadis itu telah lenyap dari situ.
Jiu To mencoba untuk menggerakkan lengan kiri dan dia terkejut sekali karena lengan kirinya, dari siku ke bawah, tidak dapat merasakan apa-apa. Rasa nyeri hanya dari siku ke atas, akan tetapi dari siku ke bawah tidak ada perasaan apa-apa seolah setengah lengannya bagian bawah itu telah mati! Dia lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke kota raja untuk minta bantuan untuk mengangkat mayat Hiu-kongcu, Kai Ek dan Lee Song.
Gegerlah para bangsawan di kota raja ketika mendengar akan kematian Hiu Kan `dan dua orang pengawalnya yang terkenal lihai. Akan tetapi, kematian Hiu Kan itu tidak mengguncangkan keluarga
kaisar karena Hiu Kan memang tidak disuka oleh keluarga kaisar. Hal ini karena pertama, Hiu Kan adalah putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang dulu memberontak terhadap kaisar dan kedua karena pemuda itu terkenal sebagai pemuda tidak berguna, hanya berfoya-foya menghabiskan harta peninggalan ayahnya.
Jiu To yang lengan kirinya tidak dapat digerakkan lagi, segera pergi ke Cin-ling-san untuk menghadap gurunya, yaitu Pak-sian Liong Su Kian, dan melaporkan tentang kematian dua orang sutenya.
Kota Ceng-goan adalah sebuah kota yang cukup besar dan ramai. Letak kota ini di sebelah selatan kota raja. Karena kota ini berada di daerah perbukitan yang berhawa sejuk dan berpemandangan indah, maka banyak para bangsawan kota raja mendirikan rumah peristirahatan di situ. Maka, di daerah perbukitan itu ter-dapat banyak rumah-rumah yang mungil dan indah, yang hanya dipergunakan terutama di musim panas ketika hawa udara di kota raja luar biasa panasnya.
Di antara rumah-rumah peristirahatan yang terdapat di dalam dan di luar kota Ceng-goan, terutama di lereng-lereng perbukitan, terdapat sebuah rumah mungil yang berdiri di lereng. Rumah itu agak terpencil, tidak mempunyai tetangga dekat dan letaknya di tepi jurang. Pemandangan alam dari lereng ini memang amat indahnya. Tempatnya sunyi dan tenang, hawanya sejuk. Tempat yang amat baik bagi mereka yang hendak menjauhkan diri dari semua keramaian yang bising, sibuk, dan panas. Tempat yang diidamkan para pertapa yang ingin mengasingkan diri dari keramaian dunia.
Pemilik rumah yang merupakan pondok mungil sederhana ini adalah Ouw Kan. Datuk yang berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) ini sudah berusia sekitar tujuhpuluh lima tahun. Dia adalah seorang suku Uigur yang amat terkenal, bukan hanya di kalangan sukunya sendiri, akan tetapi juga di seluruh wilayah Kerajaan Kin, bahkan namanya sebagai Datuk Sesat terkenal pula sampai jauh di selatan, di wilayah Kerajaan Sung. Dia terkenal sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi, sakti dan ditakuti banyak tokoh persilatan.
Selama puluhan tahun Ouw Kan bertualang di dunia persilatan dan sebagai seorang Datuk Sesat hampir tidak ada kejahatan yang tidak pernah dia lakukan! Akan tetapi tidak ada kesenangan apapun di dunia ini yang tidak berakhir dengan kebosanan. Dalam usianya yang sudah tua itu, Toat-beng Coa-ong Ouw Kan mulai merasa bosan dengan kegiatan dalam hidupnya. Dia merasa jemu dengan segala perbuatan jahatnya. Bahkan dia mulai menyesali semua perbuatan jahat yang pernah dia lakukan. Dia mulai merasa takut akan masa depannya, takut akan bayangan keadaan dirinya setelah dia mati nanti.
Dia menyadari bahwa usianya yang semakin tua itu makin mendekatkan dirinya dengan akhir kehidupannya. Sesudah itu, bagaimana? Dia mulai merasa takut, apalagi kalau teringat akan cerita bahwa dosa-dosa yang dilakukan manusia sewaktu hidupnya akan diadili dan si pelaku kejahatan akan menerima hukuman atas segala perbuatannya yang jahat. Dia mulai merasa ngeri karena setelah mati dia tidak akan mampu lagi mengandalkan kesaktiannya. Selagi hidup, dia tidak takut menghadapi segala akibat dari perbuatannya. Dia dapat menggunakan segala kemampuannya untuk membela diri. Akan tetapi bagaimana sesudah dia mati dan tidak lagi dapat mempergunakan segala macam ilmu yang pernah dia pelajari? Dalam keadaan tidak berdaya dia akan berhadapan dengan Giam-lo-ong (Raja Akhirat). Ouw Kan mulai merasa ngeri dan mulailah dia mengasingkan diri di tempat sunyi itu, merenungkan segala perbuatannya di masa lalu dan mulai merasa menyesal.
Demikianlah keadaan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang kini sudah berusia tujuhpuluh lima tahun. Dia kini lebih banyak duduk bersamadhi, dan tidak mencampuri urusan duniawi. Segala keperluannya
sehari-hari dilayani oleh seorang pembantu wanita setengah tua, penduduk dusun di bawah lereng, seorang janda dusun sederhana. Kakek ini tidak pernah kekurangan karena semua kebutuhannya dicukupi oleh Kaisar Kerajaan Kin. Bahkan rumah itu pun merupakan pemberian kaisar kepada datuk ini.
Pada pagi hari itu, Ouw Kan duduk bersila di atas bangku yang berada di pekarangan depan rumahnya. Setiap pagi, setelah matahari bersinar, dia selalu duduk bersila di atas bangku depan rumah itu untuk membiarkan dirinya bermandi sinar matahari yang menyehatkan. Kehangatan sinar matahari membuat hawa udara yang dingin menjadi sejuk dan nyaman. Di depannya terdapat sebuah meja kecil dan tadi, pelayannya menghidangkan minuman air teh hangat dengan poci dan cangkirnya yang diletakkannya di atas meja.
Ouw Kan sedang tenggelam dalam Siu-lian (samadhi) sehingga dia tidak melihat dan tidak tahu bahwa ada seorang gadis yang berpakaian serba merah muda dan kepalanya tertutup caping lebar memasuki pekarangan, berhenti dan berdiri memandang kepadanya penuh perhatian. Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan. Setelah mendapatkan keterangan Jiu To bahwa Ouw Kan tinggal di Ceng-goan, Bi Lan segera langsung saja menuju ke kota itu. Di Ceng-goan ia mencari keterangan tentang Ouw Kan.
Ternyata tidak sukar mencari keterangan ini karena hampir semua penduduk kota Ceng-goan tahu akan nama datuk besar itu dan dengan mudah Bi Lan mendapatkan keterangan bahwa orang yang dicarinya itu tinggal di lereng bukit itu. Setelah tiba di situ, ia langsung memasuki pekarangan dan melihat seorang laki-laki tua duduk bersila di atas bangku bermandi sinar matahari, ia berhenti melangkah dan berdiri memandang penuh perhatian.
Kakek itu tampak tua sekali. Rambut dan jenggotnya yang panjang sudah putih semua. Badannya masih tegak namun kurus. Biarpun kini Ouw Kan sudah jauh lebih tua daripada belasan tahun yang lalu, namun Bi Lan masih dapat mengenalnya. Kakek inilah yang dulu menculik dan melarikannya. Inilah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan. Keyakinannya bertambah kuat ketika ia melihat sebatang tongkat dari ular kobra kering berada di atas meja depan kakek itu.
“Ouw Kan......!” Bi Lan berseru memanggil.
Kakek yang duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya itu segera membuka matanya. Setelah sepasang mata itu dibuka, wajah Ouw Kan tampak menyeramkan. Mata itu lebar dan bersinar tajam dan liar, biji matanya bergerak berputar-putar. Dia memandang kepada gadis yang berdiri dalam jarak sepuluh meter di depannya itu dan mengerutkan alisnya, meragu apakah benar pendengarannya tadi menangkap suara gadis itu memanggil namanya. Rasanya tidak mungkin ada seorang gadis berani memanggil namanya begitu saja!
“Hemm, engkaukah yang tadi memanggil namaku?”
”Ouw Kan, aku datang untuk mencabut nyawamu!”
Ouw Kan merasa semakin heran dan dia melihat betapa sinar mata gadis itu luar biasa dinginnya sehingga menyeramkan. Akan tetapi dia merasa geli dan aneh. Dia yang berjuluk Raja Ular Pencabut Nyawa, kini malah akan dicabut nyawanya oleh seorang gadis muda!
“Bocah lancang! Siapakah engkau yang begitu kurang ajar kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?”
“Hemm, tua bangka keparat! Lupakah engkau akan anak perempuan yang belasan tahun lalu kau culik dan kau larikan dari Lin-an (kota raja Kerajaan Sung Selatan)?”
Ouw Kan membelalakkan matanya dan memandang penuh perhatian. Tentu saja dia tidak pernah melupakan peristiwa yang memalukan hatinya itu. Dia mendapat tugas dari Kaisar Kin untuk membalaskan kematian Pangeran Cu Si yang tewas dalam perang di tangan suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi. Akan tetapi ketika dia mendatangi rumah Han Si Tiong, suami isteri yang dicarinya itu tidak ada yang ada hanya anak tunggal mereka, seorang anak berusia tujuh tahun. Dia lalu menculik anak itu untuk diserahkan kepada Kaisar Kin, akan tetapi di tengah perjalanan, anak itu dirampas oleh Jit Kong Lhama. Dia terpaksa melarikan diri meninggalkan anak perempuan itu karena dia tidak mampu menandingi kelihaian pendeta Lhama dari Tibet itu.
Dalam penasarannya, dia masih berusaha membunuh suami isteri itu, namun gagal. Akhirnya dia menugaskan dua orang muridnya, Bouw Kiang dan Bong Siu Lan untuk membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi. Hatinya puas mendengar keterangan dua orang muridnya bahwa mereka berhasil merobohkan suami isteri itu yang akhirnya membuat Han Si Tiong tewas. Akan tetapi dua orang muridnya tidak berhasil membunuh Liang Hong Yi karena mereka merasa jerih menemukan surat yang terselip di ikat pinggang wanita itu, surat yang ditulis oleh Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai!
Akan tetapi hati Ouw Kan sudah puas karena Han Si Tiong dikabarkan tewas oleh dua orang muridnya itu. Dan Kini, tiba-tiba saja anak perempuan yang dulu diculiknya lalu dirampas oleh Jit Kong Lhama itu muncul di depannya dan mengancam hendak membunuhnya!
Ouw Kan mengangguk-angguk dan tersenyum. “Ho-ho, aku ingat sekarang! Engkau bocah nakal itu! Hemm, siapa pula namamu? Aku sudah lupa lagi.”
“Namaku Han Bi Lan, ingat itu agar engkau tidak menjadi setan penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu.”
Tiba-tiba Ouw Kan tertawa, suara tawanya bergaung dan mengandung getaran dahsyat yang memiliki wibawa amat kuat. “Ho-ho-ho-ha-ha! Han Bi Lan bocah nakal, hayo tertawa bersamaku, ha-ha-ha!”
Akan tetapi, suara tawa kakek itu makin melemah dan akhirnya berhenti, matanya terbelalak memandang ke arah gadis itu, terheran-heran melihat gadis muda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang terkandung dalam suara tawanya. Tawanya tadi merupakan serangan pertama yang hebat. Biasanya, lawan yang cukup tangguhpun akan terpengaruh oleh kekuatan sihir dalam tawa itu sehingga ikut tertawa sampai terpingkal-pingkal dan kalau tidak dia hentikan, bukan mustahil lawan yang terpengaruh itu akan tertawa sampai rusak isi perutnya dan mati. Akan tetapi gadis muda itu tetap berdiri tegak dan wajahnya tetap dingin tanpa ada bayangan perasaan apa pun, sinar matanya tetap mencorong namun dingin seperti membeku. Serangan sihirnya itu gagal sama sekali, menerpa gadis itu seperti semilirnya angin lalu.
Tentu saja Ouw Kan sebagai seorang datuk besar merasa penasaran sekali. Dia terkenal sebagai seorang datuk besar yang tidak saja tinggi ilmu silatnya, namun juga terkenal sebagai ahli racun dan ahli sihir. Melihat serangan sama sekali tidak terasa oleh Bi Lan, dia merasa terhina.
“Rasakan gigitan ularku!” Dia membentak sambil mengerahkan seluruh tenaga sihirnya, lalu melemparkan tongkat dari ular kobra kering itu ke atas. Tongkat itu melayang ke atas lalu meluncur ke
arah Bi Lan, menjadi seperti seekor ular terbang yang menyerang ke arah leher gadis itu dengan moncong terbuka!
Melihat serangan dahsyat ini, Bi Lan bersikap tenang saja. Tadi ketika diserang gelombang suara tawa, ia hanya mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) yang dilatihnya dari Si Mayat Berjalan dan suara tawa itu lewat begitu saja tanpa dapat menyentuh perasaannya sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh.
Kini ia menghadapi serangan tongkat yang menjadi ular terbang yang ia tahu juga merupakan serangan yang didorong kekuatan sihir. Selain tenaga sihir, juga tongkat ular itu mengandung racun sehingga kalau terkena serangan moncong ular itu, dapat mendatangkan maut. Namun Han Bi Lan sama sekali tidak merasa gentar atau gugup. Begitu tongkat itu menyambar bagaikan anak panah ke arah lehernya, ia menggerakkan tangan kiri yang dimiringkan untuk menangkis dan sekaligus menyerang ular jadi-jadian itu dengan sabetan tangannya yang membuat gerakan membacok.
“Wuuttt...... plakk!”
Tongkat yang berubah menjadi ular itu terpukul dan terbanting ke atas tanah, lalu mental dan melayang kembali ke tangan Ouw Kan yang cepat menyambut dan memegangnya. Dia kini marah sekali. Tubuhnya yang sudah tua renta itu dengan cekatan sekali telah melompat ke depan. Gerakannya ringan dan gesit.
Karena kini menyadari bahwa gadis muda itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, maka Ouw Kan ti-dak berani main-main lagi. Dia maklum bahwa ilmu sihir tidak akan dapat mengalahkan gadis ini, maka kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk menyerang dengan tongkatnya. Karena memang datuk ini memiliki ilmu silat tingkat tinggi, maka serangannya juga dahsyat sekali. Tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan bunyi berdengung ketika menyambar-nyambar ke arah tubuh Bi Lan dengan serangan beruntun dan bertubi-tubi.
Bi Lan juga mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa karena gemblengan Si Mayat Berjalan membuat semua ilmunya maju pesat. Tubuhnya seolah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali, menyelinap di antara sambaran gulungan sinar tongkat.
Akan tetapi serangan-serangan Ouw Kan memang dahsyat sekali, maka beberapa kali hampir saja tubuhnya menjadi sasaran sambaran tongkat maut itu. Bi Lan maklum bahwa ia tidak akan menang jika hanya mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak terus. Untuk menangkis tongkat itu dengan tangan, ia tidak berani melakukannya. Tongkat itu berada di tangan Ouw Kan, maka menjadi berbahaya sekali dan kalau ditangkis, bukan tidak mungkin tangannya akan terluka atau keracunan. Juga kalau hanya mengelak, ia tidak mempunyai kesempatan untuk membalas dan dalam sebuah perkelahian, tidak mungkin mengandalkan pertahanan saja tanpa penyerangan. Karena itu, setelah lewat limapuluh jurus lebih, tiba-tiba Bi Lan menanggalkan mantel dan capingnya dan kini ia melawan Ouw Kan dengan dua macam senjata.
Mantelnya itu berada di tangan kirinya dan caping berada di tangan kanannya. Ketika ia menggerakkan dua buah benda itu, Ouw Kan terkejut bukan main. Mantel itu ketika digerakkan seolah berubah menjadi perisai lebar dan amat kuat, yang mampu menangkis dan membendung hujan serangan tongkatnya. Dan caping itu pun mulai menyambar-nyambar dengan serangan yang dahsyat!
Setelah menjadi murid Si Mayat Berjalan, tingkat kepandaian Bi Lan telah menjadi sedemikian tinggi dan anehnya sehingga ia tidak perlu membawa senjata tajam lagi karena segala benda dapat saja dijadikari senjata yang ampuh!
Kini pertandingan itu menjadi seru bukan main karena Ouw Kan tidak lagi hanya menyerang seperti tadi. Kini mulailah dia harus melindungi dirinya dari caping lebar yang menyambar-nyambar itu. Sebaliknya Bi Lan tidak hanya menghindar terus melainkan kini membalas serangan lawan dengan sama gencarnya. Perkelahian itu menjadi seru dan mati-matian. Setiap serangan kedua pihak merupakan cengkeraman tangan maut.
Bi Lan memang telah mendapatkan ilmu silat yang amat aneh dan hebat. Gurunya yang pertama, Jit Kong Lhama telah mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi, juga mengajarnya tentang racun dan ilmu sihir. Kemudian, ia telah mempelajari sampai sepenuhnya menguasai ilmu silat sakti dari Kun-lun-pai, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Setelah itu, semua ilmunya diperkuat oleh gemblengan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) yang selain memperdalam ilmu-ilmu yang telah ia miliki, ia juga diberi ilmu Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit) yang biarpun hanya tigabelas jurus namun merupakan jurus-jurus aneh dan ampuh sekali. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Bi Lan sekarang.
Akan tetapi lawannya juga bukan orang sembarangan. Kakek Ouw Kan adalah seorang datuk besar, terkenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong. Selama ini dia tidak pernah berhenti berlatih dan memperdalam ilmu-ilmunya sehingga tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat tangguh dan berbahaya sekali bagi Bi Lan.
Bagaimanapun kuat dan tangguhnya seseorang, dia harus tunduk terhadap kodrat alam yang menguasai pula tubuhnya sendiri, yaitu usia tua. Usia tua menggerogoti kekuatan tubuh dari sebelah dalam dan tidak ada ilmu yang dapat menolak kodrat ini. Kenyataan ini berlaku pula atas diri Ouw Kan. Dia memang seorang yang berilmu tinggi, kuat dan tangguh. Akan tetapi menghadapi usianya sendiri, mau tidak mau dia harus tunduk. Tenaganya makin berkurang dan terutama sekali daya tahannya jauh merosot.
Kalau tadi dia masih dapat melakukan perlawanan gigih, bahkan mendesak Bi Lan, kini setelah perkelahian itu lewat seratus jurus, napasnya mulai terengah, tubuhnya basah keringat dan tenaganya semakin melemah. Sebaliknya, gerakan Bi Lan semakin dahsyat sehingga kini setiap tongkat bertemu gulungan kain jubah, Ouw Kan terdorong mundur dan merasa betapa seluruh lengannya yang memegang tongkat tergetar hebat!
Menyadari bahwa tenaganya semakin lemah dan dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, Ouw Kan menjadi nekat. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, menyerang dengan jurusnya yang paling ampuh.
“Hyaaaahhhh!” Dengan memekik nyaring dia menyerang dengan tongkatnya yang menghantam ke arah kepala Bi Lan dengan dahsyat sekali.
Bi Lan menggerakkan kain mantel di tangan kirinya untuk menangkis dan begitu kedua senjata itu bertemu, dengan gerakan pergelangan tangannya Bi Lan dapat membuat ujung gulungan mantelnya itu melibat tongkat di tangan kanan Ouw Kan. Pada saat itu, tangan kanannya yang memegang capingnya menyambar ke arah dada Ouw Kan. Dalam keadaan seperti itu, Ouw Kan tidak dapat menghindarkan diri
lagi. Maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangan kirinya menyambut dan menangkap caping yang meluncur ke arah dadanya itu.
“Wuuttt...... plakk......!” Dia berhasil menangkap caping itu dan kini sepasang tangan kedua orang itu tidak bebas lagi! Mereka mengerahkan tenaga untuk saling mendorong melalui kedua tangan yang memegang senjata. Terjadilah adu tenaga sakti dengan saling mendorong!
Tenaga Ouw Kan memang sudah hampir habis, maka adu tenaga sakti ini tentu saja amat menyiksanya. Tubuhnya mulai basah oleh keringat, wajahnya pucat dan uap mengepul dari ubun-ubun kepalanya, menembus topi bulunya. Melihat keadaan lawan sudah payah dan tenaga itu semakin melemah, Bi Lan berkata dengan suara datar dan pandang mata dingin.
“Jahanam Ouw Kan, bersiaplah untuk menghadap arwah Ayahku agar dia dapat menghukummu!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Bi Lan mengeluarkan suara melengking yang aneh dan menyeramkan. Suara itu terdengar sampai jauh, tiba-tiba kedua tangannya melepaskan caping dan mantel dan secepat kilat kedua tangan itu mendorong ke depan, ke arah dada Ouw Kan.
“Dessss……!!” Tubuh yang kurus itu terlempar ke belakang dan terbanting roboh, tewas seketika dan dari semua lubang di mulut hidung dan telinganya mengalir darah.
Bi Lan berdiri memandang mayat musuh besarnya itu dengan wajah dingin tanpa menunjukkan perasaan apa pun...... Hati gadis yang dahulu gembira, lincah jenaka penuh gairah hidup itu kini seolah membeku dan dingin. Perubahan ini terjadi semenjak ia meninggalkan ibunya. Wajahnya masih cantik jelita, akan tetapi seperti kecantikan sebuah topeng!
Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan ia sudah melompat masuk pondok itu dan memegang lengan wanita setengah tua yang menjadi pembantu Ouw Kan. Wanita itu menjadi ketakutan, tubuhnya menggigil dan ia berkata dengan suara gemetar, “Ampun, Nona. Saya...... saya hanya seorang pelayan......”
Ketika merasa betapa lengan yang dipegangnya itu sama sekali tidak mengandung tenaga, Bi Lan melepaskannya dan wanita itu lalu menjatuhkan dirinya berlutut. Tadi ia hanya mengintai dari balik pintu dan tidak berani keluar melihat majikannya berkelahi. Melihat majikannya yang sudah tua itu roboh, ia menjadi semakin ketakutan dan menahan tangisnya. Suaranya itulah, biarpun lirih, yang membuat Bi Lan melompat dan menangkap lengannya.
Ketika mendapat kenyataan bahwa wanita pelayan itu seorang lemah, Bi Lan segera melepaskannya. Biarpun ia menjadi seorang yang berhati kaku keras dan dingin, namun Bi Lan tidak menjadi orang jahat yang suka mengganggu orang. Hanya mereka yang bersikap kurang ajar kepadanya, yang mengganggunya, akan dibunuhnya tanpa mengenal ampun. Akan tetapi ia tidak akan mengganggu sedikit pun orang yang tidak bersalah kepadanya.
“Aku tidak akan menyakitimu, Bibi. Akan tetapi katakan, di mana adanya Bouw Kiang dan Bong Siu Lan?”
“Maafkan saya, Nona. Saya sungguh tidak tahu di mana adanya mereka.”
“Kenalkah engkau kepada dua orang murid itu?”
“Saya pernah melihat mereka datang menghadap Guru mereka di sini, Nona.”
“Tahukah engkau apa yang mereka bicarakan?”
“Saya tidak tahu dan tidak berani ikut mendengarkan.”
“Seperti apa mereka itu? Coba gambarkan.”
“Murid laki-laki bernama Bouw Kiang itu bertubuh tinggi besar, mukanya tampan dan kulitnya hitam, usianya sekitar duapuluh enam tahun. Adapun murid perempuan itu berusia sekitar duapuluh tahun, wajahnya cantik kulitnya putih, mata dan mulutnya lebar.”
Seperti itu pula penggambaran ibunya tentang dua orang murid Ouw Kan yang menyerang orang tuanya itu. “Apakah dulu mereka itu tidak tinggal di sini bersama guru mereka?”
“Tidak, Nona. Pernah saya mendengar bahwa mereka tinggal di kota raja, akan tetapi tepatnya entah di mana karena saya sendiri orang dusun, belum pernah pergi ke kota raja.”
Bi Lan mengangguk. “Keteranganmu itu sudah cukup, Bibi. Terima kasih. Sekarang beritahukanlah kepada pendudukdusun terdekat agar mereka membantu penguburan mayat itu. Aku pergi.”
“Nona tunggu sebentar.”
“Hemm, apa lagi?”
”Nona, kasihanilah saya. Bagaimana kalau orang-orang bertanya kepada saya tentang kematian majikan saya ini? Kalau saya tidak memberi keterangan yang jelas, saya takut kalau malah dicurigai.”
“Hemm, beritahu saja seperti apa yang kaulihat. Ouw Kan ini adalah musuh besarku. Katakan bahwa dia dibunuh seorang gadis yang mengaku sebagai musuh besarnya.”
“Kalau mereka menanyakan nama Nona?”
“Hemm, katakan saja bahwa aku adalah Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah)!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bi Lan telah lenyap dari depan wanita setengah tua itu. Tentu saja wanita itu terbelalak dan menggigil ketakutan, percaya bahwa gadis cantik pembunuh majikannya itu benar-benar seorang iblis betina!
Beberapa bulan yang lalu Ouw Kan yang sedang berada seorang diri di pon-doknya dan wanita pembantunya sedang pergi berbelanja bumbu dan bahan masakan, Puteri Moguhai muncul di depannya. Ouw Kan terkejut mengenal gadis itu sebagai orang yang pernah bersama seorang pemuda Iihai melawan dan mencegahnya ketika dia hendak membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi. Dia sudah bersiap-siap untuk menyerang gadis itu, akan tetapi Puteri Moguhai mencabut pedang bengkok terukir naga emas pemberian kaisar dan berkata.
“Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, apakah engkau tidak mengenal ini?”
Ouw Kan terbelalak dan menatap wajah jelita itu penuh perhatian.
“Siapakah engkau?”
“Aku Puteri Moguhai dan di luar aku disebut Pek Hong Niocu!”
Ouw Kan terkejut. “Aih, kiranya Paduka Tuan Puteri? Maaf, saya tidak mengenal Paduka karena seingat saya, saya dulu melihat Paduka sebagai seorang puteri yang masih kecil, masih remaja. Jadi......, Padukalah yang dulu melindungi Han Si Tiong dan isterinya di tepi Telaga Barat?”
Puteri Moguhai mengangguk. “Benar, akulah yang ketika itu mencegah engkau membunuhnya!”
“Akan tetapi, Tuan Puteri, mengapa? Sri Baginda Kaisar sendiri yang dulu mengutus saya untuk membunuh suami isteri itu, demi membalas kematian Pangeran Cu Si.”
“Perintah itu diberikan Ayahanda Kaisar dahulu, belasan tahun yang lalu. Aku sudah menanyakan kepada Beliau dan sekarang Beliau tidak lagi bermaksud membalas dendam kematian Pangeran Cu Si. Kematian itu terjadi dalam perang, jadi tidak ada dendam pribadi. Akan tetapi mengapa engkau masih bersikeras dalam usahamu membunuh suami isteri itu?”
“Saya...... saya merasa malu kepada Sri Baginda karena kegagalanku dahulu dan ingin menebus kegagalan itu, Tuan Puteri.”
“Hemm, mulai sekarang harap engkau hentikan usaha pembunuhan itu, karena akulah yang akan menentangmu! Ketahuilah bahwa suami isteri itu kini merupakan sahabat baikku dan aku akan melindungi mereka!”
“Baik, Tuan Puteri. Saya berjanji bahwa mulai hari ini, saya tidak akan pergi mencari dan memusuhi Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.”
Demikanlah, Puteri Moguhai meninggalkan Ouw Kan dan kembali ke istana. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ketika berjanji, dalam hatinya Ouw Kan menertawakannya karena beberapa bulan yang lalu dia sudah memberi perintah kepada Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang muridnya, untuk mewakili dia pergi mencari suami isteri itu dan membunuh mereka!
Seperti kita ketahui, dua orang murid itu berhasil melukai Han Si Tiong sehingga tewas tak lama kemudian, akan tetapi mereka tidak berani membunuh Liang Hong Yi karena menemukan surat yang ditulis oleh Puteri Moguhai dan terselip di ikat pinggang Liang Hong Yi.
Dua orang murid itu sudah memberi tahu akan hal ini kepada Ouw Kan, maka ketika Moguhai datang kepada Ouw Kan dan melarang Ouw Kan memusuhi suami isteri itu, tanpa ragu-ragu Toat-beng Coa-ong menyanggupi! Dia tahu bahwa Han Si Tiong telah tewas oleh dua orang muridnya itu.
Akan tetapi, sama sekali dia tidak pernah bermimpi bahwa dua bulan setelah Puteri Moguhai memperingatkannya, muncul Han Bi Lan, bocah yang dulu diculiknya dan dia tewas di tangan gadis yang kini menjadi luar biasa lihainya itu!
Ketika Moguhai pulang ke istana, ayah ibunya, yaitu Sri Baginda Kaisar Kerajaan Kin dan Tan Siang Lin yang menjadi selir kaisar, menyambutnya dengan gembira. Mereka merasa rindu sekali kepada puteri
mereka yang terkasih ini, yang telah meninggalkan istana selama setahun. Sri Baginda Kaisar dan selirnya itu segera mendesak agar puteri mereka itu menceritakan semua pengalamannya.
Sudah lama Kaisar mendengar akan nama Tiong Lee Cin-jin yang berjuluk Dewa Obat dan dia mengaguminya karena Tiong Lee Cin-jin juga berjasa menyelamatkan kaisar ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh mendiang Pangeran Hiu Kit Bong. Maka, ketika mendengar bahwa puterinya yang dia tahu telah memiliki ilmu silat tinggi itu hendak digembleng oleh Dewa Obat selama setahun, tentu saja dia menyetujuinya. Adapun Tan Siang Lin sendiri, tentu saja merasa girang dan rela membiarkan puterinya meninggalkannya selama setahun untuk berguru kepada Tiong Lee Cin-jin karena itu berarti bahwa Moguhai berguru kepada ayah kandungnya sendiri!
Moguhai bercerita kepada Ayahnya betapa selama setahun ia digembleng ilmu oleh Tiong Lee Cin-jin dan bersama ia ada seorang gadis lain yang menjadi murid Si Dewa Obat.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil