Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 04 Mei 2017

Cerita Silat KPH 6 Tiga Naga Sakti

Cerita Silat KPH 6 Tiga Naga Sakti Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat KPH 6 Tiga Naga Sakti
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat KPH 6 Tiga Naga Sakti
Pada keesokan harinya, ketika Min Tek yang merasa heran
akan kepergian Kui Eng tanpa pamit itu, pergi bersama ibunya
mengunjungi rumah tunangannya, dengan sembunyisembunyi
Kui Eng membayanginya dari jauh. Dengan
menggunakan ilmu kepandaiannya, mudah saja Kui Eng
membayangi anak dan ibu itu tanpa diketahui oleh mereka.
Dia melihat betapa Min Tek dan ibunya disambut oleh
sepasang suami isteri dan mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Kui Eng lalu mengambil jalan memutar dari belakang rumah
dan segera melompat ke atas genteng. Dia membuka genteng
dan mengintai ke dalam. Dia melihat Min Tek dan ibunya
diantar ke ruangan dalam dan dari dalam sebuah kamar
keluarlah seorang dara yang masih amat muda dan wajahnya
cantik jelita. Min Tek segera bangkit berdiri, wajahnya
berubah kemerahan berseri-seri, dan dia menjura kepada dara
itu. Pandang mata pemuda itu membuat hati Kui Eng seperti
tertusuk dan perih, karena tidak salah lagi pandang mata itu
adalah pandang mata penuh dengan cinta kasih dan amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mesra ketika sejenak pemuda dan dara yang saling memberi
hormat itu saling pandang. Bahkan pemuda itu lalu
mengeluarkan sebuah bungkusan dan berkata kepada gadis
itu dengan suara halus.
"Lan moi, aku mernbawa sutera halus warna merah
kesukaanmu."
Dara itu memandang dengan girang dan menyambut
bungkusan itu sambil menjawab, mulutnya tersenyum manis
dan matanya mengerling tajam, "Terima kasih, koko......."
Kui Eng memperhatikan wajah dara itu dan tertegunlah dia
sehingga dia terduduk di atas genteng dengan bengong.
Memandang wajah gadis itu, dia seolah-olah melihat wajahnya
sendiri dalam cermin! Dia menjadi penasaran dan mengintai
lagi melalui lubang itu. Dara itu duduk di dekat ibunya dan
ketika memperhatikan wajah nyonya itu, ibu dari dara itu.
kembali jantung Kui Eng berdebar tegang. Di manakah dia
pernah melihat nyonya ini ? Ayah gadis itu bertubuh gemuk
pendek dan wajahnya riang, akan tetapi dia merasa asing dan
tidak pernah dia melihat wajah laki-laki ini. Akan tetapi nyonya
itu mempunyai wajah yang telah dikenalnya dengan baik,
hanya dia telah lupa lagi di mana dan kapan dia pernah
bertemu dengan wanita itu. Dara muda itu, yang menjadi
tunangan Min Tek, mengapa demikian mirip dengan dia? Dia
teringat betapa pernah Min Tek berkata kepadanya bahwa dia
mengingatkan pemuda itu kepada seorang yang menjadi
kenangannya. Tahulah dia sekarang siapa orang yang
dimaksudkan oleh pemuda itu!
Hatinya makinmenjadi panas mengingat itu semua,
sungguhpun pada saat itu juga Kui Eng merasa malu kepada
diri sendiri mengapa dia mesti merasa panas dan cemburu!
Setelah Min Tek dan ibunya pulang, Kui Eng masih saja duduk
di atas genteng, bersembunyi di belakang wuwungan yang
tinggi, tidak memperdulikan matahari yang membakar kepala
dan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat gadis itu menuju ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
taman bunga di belakang rumah itu sambil membawa
bungkusan pemberian Min Tek. Kui Eng cepat melayang turun
dan mengintai dari balik sebatang pohon.
Dara remaja itu
berlarian kecil
dengan wajah
gembira, memasuki
taman. Kemudian
dia duduk di atas
bangku taman, lalu
dengan tangan
gemetar dara itu
membuka
bungkusan
pemberian
tunangannya tadi.
Setelah bungkusan
terbuka, di
dalamnya terdapat
segulung sutera
merah yang halus.
Dengan girang dara
itu lalu mendekap
gulungan sutera di dadanya sambil tersenyum dan matanya
memandang keatas dengan mesra, lalu dibukanya gulungan
sutera itu dan ditempelkan pada tubuhnya dipandanginya
sambil mematut-matut.
Dengan hati panas Kui Eng lalu mengambil sepotong batu
dan mengayun tangannya "Brettt!!" Batu kecil itu menembus
sutera yang masih dipegang oleh gadis itu menjadi robek dan
berlubang !
Gadis itu terkejut sekali dan melihat kearah kain suteranya
dengan heran, menyesal dan kecewa. Hampir dia menangis
dan memandang ke kanan kiri karena tidak tahu mengapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kain itu tiba-tiba bisa robek dan berlubang. Ketika dia menoleh
ke belakang, dia melihat seorang gadis berdiri dengan bertolak
pinggang memandang kepadanya dengan mata berapi-api.
Kui Eng yang berdiri tegak itu tersenyum pahit, lalu
berkata, "Demikianlah, tanpa kau sadari engkaupun telah
merobek hatiku seperti kain suteramu itu !"
Tentu saja dara itu menjadi heran dan bingung, terutama
sekali ketika dia melihat bahwa gadis baju hijau yang berdiri
dan kelihatan marah itu memiliki wajah yang mirip sekali
dengan wajahnya sendiri. Kalau hal ini terjadi di waktu malam,
tentu dara itu akan menjerit ketakutan dan menyangka
melihat setan. Akan tetapi oleh karena hari itu masih siang
dan terang sekali, maka dia lalu melangkah maju memandang
dengan mata terbelalak, kemudian mukanya berubah dan
napasnya terengah-engah
"Kau....... ? Siapakah engkau, cici ? Bagaimana kau bisa
masuk ke sini dan........ dan apakah artinya kata-katamu
tadi....... ?" Dara itu memandang kepada kain suteranya yang
robek.
"Dengarlah, namaku adalah Kui Eng dan kau boleh
mengatakan kepada tunanganmu itu bahwa aku tidak akan
dapat mengampuni diriku sendiri karena ketololanku!" Setelah
berkata demikian, Kui Eng membalikkan tubuhnya dan dia
hendak pergi dari tempat itu.
Akan tetapi tiba-tiba dara itu menjerit dan berseru, "Enci
Kui Eng..... benarkah.....? Engkaukah ini....?"
Kui Eng membalikkan tubuhnya dan memandang dengan
heran. Dara itu kini memandang kepadanya dengan mata
terbelalak dan muka pucat, kemudian dara itu menjerit
dengan nyaring sekali, "Ibu....... ! Ibu........! Lekas ke sini....
enci Kui Eng telah datang.....!!"
Karena teriakan itu nyaring sekali, maka terdengarlah
sampai ke dalam rumah dan tak lama kemudian, keluarlah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyonya yang menjadi ibu gadis itu bersama suaminya yang
gemuk.
Kui Eng yang terkejut dan heran melihat sikap dara itu,
masih berdiri terheran-heran dan kembali jantungnya
berdebar keras ketika melihat nyonya yang wajahnya amat
dikenalnya itu. Sementara itu, ketika nyonya itu melihat Kui
Eng, dia berhenti berlari dan berdiri seperti patung, menatap
wajah Kui Eng dengan mata dipentang lebar.
"Betul.......tak mungkin salah lagi......... Kui Eng........ Engji,
kau betul-betul Eng ji, anakku........" bibir nyonya tua itu
bergerak-gerak mengeluarkan bisikan, akan tetapi cukup keras
terdengar oleh Kui Eng yang menjadi pucat seketika. Dia
merasa betapa kepalanya seakan - akan disiram air dingin
yang menyadarkan ingatannya bahwa nyonya ini bukan lain
adalah ibunya sendiri yang telah lama dicari - carinya !
"Ibu........ ???" bisiknya ragu-ragu, seakan-akan dia tidak
percaya kepada ingatannya sendiri.
Nyonya itu berlari maju sambil membuka dua tangannya.
"Eng-ji......., Eng-ji anakku........"
"Ibu.......!" Kini Kui Eng tidak ragu-ragu lagi dan dia
menjerit sambil menubruk ibunya, memeluk kedua kaki ibunya
sambil menangis.
Ibunya yang kini telah menjadi nyonya Bu Pok Seng itu lalu
berlutut pula dan ibu ini merangkul dan menciumi anaknya
antara tawa dan tangis.
"Eng-ji....... Eng-ji......., tak kusangka kita akan dapat
bertemu lagi........"
Kui Eng menangis dan sukar untuk dapat mengeluarkan
kata-kata. Akan tetapi dia teringat akan gadis tadi dan dia
menoleh. Dia melihat gadis itu berdiri di dekat ayahnya dan
mendekap kain sutera merah. Keinginan tahu Kui Eng
meredakan keharuannya dan dia lalu bertanya kepada ibunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ibu, siapakah adik ini.........?" tanyanya sambil menunjuk
ke arah gadis yang mirip dengan dia itu.
Ibunya bangun berdiri sambil menarik tangan Kui Eng dan
diajaknya dia menghampiri gadis tadi yang berdiri di samping
ayahnya. "Eng-ji.. dia ini adalah ayah tirimu Bu Pok Seng. dan
anak ini adalah Swi Lan, adik tirimu sendiri ... "
Kui Eng terkejut bukan main, memandang kepada Swi Lan
dengan melongo, kemudian sambil terisak dia merangkul dan
memeluk ibunya. "Ibu....... aku berdosa kepadamu, aku.....aku
adalah anakmu yang jahat......."
Swi Lan yang kini tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis
ini adalah cicinya yang sering disebut-sebut dan diceritakan
oleh ibunya, lalu lari menghampiri dan memeluk Kui Eng.
"Enci Eng....... aku girang sekali dapat bertemu denganmu.
Ketahuilah, sudah sering sekali aku bertemu denganmu, enci
yang manis."
Kui Eng memandang heran, mengusap air matanya dan
melihat bahwa wajah adik tirinya yang manis itu tersenyum,
akan tetapi dari kedua mata yang jeli itu mengalir air mata
pula."Apa.......apa maksudmu.......?" dia bertanya gagap,
teringat akan perbuatannya yang tidak patut tadi.
"Ibu sering menceritakan tentang dirimu dan aku sering
bertemu dengan enci Eng di dalam mimpi."
Kui Eng merasa hatinya tertusuk dan dia segera merangkul
Swi Lan dengan terharu.
"Adikku ....... kaumaafkanlah aku kalau tadi aku berlaku
kurang patut kepadamu ...."
Ibu kedua orang gadis itu bertanya heran. "Eh, apakah tadi
kalian sudah bertemu dan berkenalan ? "
Swi Lan memandang kepada ibunya dan Kui Eng merasa
khawatir kalau-kalau adik tirinya itu akan memberitahukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada ibunya tentang perbuatannya merusak kain sutera
adiknya itu. Akan tetapi Swi Lan hanya berkata, "Tadi enci Eng
tiba-tiba muncul sehingga aku menjadi terkejut sekali. Akan
tetapi, melihat wajahnya, aku sudah dapat menduga bahwa
dia tentulah enciku yang baik."
Bukan main malunya rasa hati Kui Eng mengenangkan
semua peristiwa yang terjadi tadi. Dia telah jatuh hati kepada
tunangan adiknya sendiri. Ini masih tidak mengapa karena dia
tidak tahu bahwa Min Tek adalah pemuda yang sudah
bertunangan dan bahwa tunangannya itu adalah adiknya
sendiri. Yang paling hebat adalah perbuatannya yang
menyakiti hati adiknya tadi, yang melukai perasaan adiknya
dengan merusak kain sutera pemberian Min Tek. Bahkan
tadinya dia mempunyai niat pula untuk melukai atau
membunuh gadis yang merebut pemuda pujaan hatinya itu!
Ketika diperkenalkan kepada ayah tirinya, Kui Eng memberi
hormat dengan perasaan kecewa. Entah bagaimana, dia
merasa tidak suka kepada ayah tirinya ini, sungguhpun dia
merasa suka sekali kepada Swi Lan yang manis dan peramah.
Dia merasa kecewa sekali melihat bahwa ibunya telah
memkah lagi, bahkan melihat kenyataan ini, dia merasa
hatinya sakit. Tadinya dia mengharapkan untuk bertemu
dengan ibunya dan hidup berdua bersama ibunya, akan tetapi
kini, setelah ibunya mempunyai rumah tangga dan keluarga
baru, dia merasa betapa dirinya sendiri menjadi seorang asing,
seorang pendatang yang hanya akan mengganggu dan
mengacaukan kebahagiaan rumah tangga ibunya saja. Dia
merasa dirinya sebagai orang yang tidak berhak tinggal di situ,
yang merusak dan menghalangi ketenteraman kebahagiaan
rumah tangga ibunya.
Perasaan inilah yang membuat dia pada keesokan harinya
segera pergi lagi meninggalkan rumah ibunya. Ketika dia
berpamit, ibunya mencegah sambil menangis, akan tetapi Kui
Eng yang keras hati itu memaksa dan berkata, "Ibu, malam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tadi telah kuceritakan semua pengalamanku kepada ibu. Maka
sekarang, kedua orang suhengku itu tentu sedang mencari
cariku dan aku harus menemui mereka. Pula, aku sudah
berjanji kepada suhu untuk kembali ke Kwi-hoa-san tiga tahun
setelah pergi merantau."
"Kalau begitu akupun tidak dapat mencegahmu, anakku.
Akan tetapi mengapa begitu tergesa-gesa? Baru kemarin kau
datang......."
"Tentu saja kalau sudah tidak ada urusan sesuatu yang
menghalangiku, kita akan dapat saling bertemu kembali, ibu."
"Kui Eng, jangan kaulupakan ibumu dan segera datanglah
kembali ke sini. Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri,
anakku......"
"Benar, anakku, kautinggallah di sini dan anggap aku
sebagai ayahmu sendiri," kata Bui Pok Seng pula dengan sikap
ramah. Kui Eng menghaturkan terima kasih.
'"Enci Eng, aku akan merasa berbahagia sekali kalau
engkau suka tinggal menjadi satu di sini," kata Swi Lan pula
dan Kui Eng lalu memeluk dan mencium dahi adiknya itu.
"Swi Lan, semoga kau hidup berbahagia. Orang seperti
engkau sudah pantas mendapatkan kebahagiaan hidup."
Sebenarnya, hati Kui Eng berkata bahwa orang seperti adiknya
itu sudah pantas menjadi isteri Min Tek !
Kui Eng berjanji untuk datang kembali, padahal dalam
hatinya dia merasa ragu-ragu apakah dia akan mempunyai
muka untuk kembali ke tempat itu, untuk bertemu dengan
adiknya yang hampir saja dibunuhnya, untuk bertemu muka
dengan Ang Min Tek. Ah, dia merasa malu.... malu sekali!
Dengan mengeraskan hatinya, Kui Eng meninggalkan
ibunya yang menangis dan pergilah dia dari kota Ki-cu yang
tadinya merupakan kota harapan baginya, akan tetapi
ternyata merupakan kota yang menghancurkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengharapannya akan tetapi sekaligus juga
mempertemukannya dengan ibunya dan memisahkan dia dari
Min Tek untuk selamanya!
Dia melakukanperjalanan dengan cepat menuju ke kota
raja kembali dan apabila dia ingat kepada Bun Hong, dia
merasa berduka sekali. Betapapun juga, suhengnya itu benar.
Kalau dia tidak melakukan perjalanan bersama dengan Min
Tek, tidak mungkin dia akan mendapatkanmalu, akan
menderita tekanan batin sehebat itu. Akan tetapi sebaliknya,
belum tentu pula dia akan dapat bertemu dengan ibunya.Ah,
dasar nasib, nasibnya yang amat buruk, kembali dara itu
menyalahkan nasibnya! Seperti juga di waktu pergi ke Ki-ciu,
kembalinya ke kota raja dia berjalan cepat sekali hingga dalam
waktu sehari semalam saja dia telah tiba di kota raja kembali.
(Oo-bud_dwkz-234-oO)
Beng Han dan Bun Hong berhasil memasuki kota raja.
Dengan pertolongan seorang petani yang mengangkut
segerobak padi ke kota raja, dua orang muda perkasa ini
dapat bersembunyi di bawah tumpukan padi dan dapat
menyelundup ke dalam kota raja tanpa mempergunakan
kerasan. Ketika gerobak itu tiba di pintu gerbang, tukang
gerobak dihentikan oleh para pennjaga yang memeriksanya,
akan tetapi penjaga itu tidak memeriksa ke dalam tumpukan
padi. Siapakah orangnya yang dapat bersenbunyi di dalam
tumpukan padi? Selain berat, juga tentu orang yang
bersembunyi di dalamnya tidak akan dapat bernapas. Para
penjaga tidak menyangka bahwa dua orang muda yang
bertubuh kuat dan dapat menahan napas karena mereka telah
memiliki sinkang yang amat kuat bersembunyi di dalam
tumpukan padi itu dengan pedang siap di tangan !
Bersamaan dengan gerobak itu, beberapa orang masuk
pula ke dalam pintu gerbang yang hampir tertutup karena hari
telah larut senja itu, dan di antara mereka terdapat seorang
gadis baju hijau yang dapat masuk dengan mudah karena dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak dicurigai. Perintah dari atas hanya mengharuskan para
penjaga berhati-hati terhadap dua orang laki-laki muda yang
menjadi pemberontak yang dicari-cari. Maka gadis itupun tidak
mereka curigai, sungguhpun gadis secantik Kui Eng tentu saja
tidak terlepas dari perhatian para penjaga, perhatian lain lagi
yang tidak terdorong oleh kecurigaan, melainkan terdorong
oleh rasa kagum akan kecantikan dara itu. Kui Eng sudah tiba
di situ, akan tetapi pendekar wanita ini sama sekali tidak tahu
bahwa di dalam tumpukan padi dalam gerobak itu
tersembunyi dua orang suhengnya yang sedang dicari-carinya.
Juga Beng Han dan Bun Hong sama sekali tidak tahu bahwa
pada saat itu sumoi mereka berada di dekat gerobak!
Mereka semua dapat memasuki kota raja dengan selamat
dan Kui Eng lalu mengambil jalan lain. Sementara itu. ketika
gerobak itu tiba di jalan yang agak sunyi, Beng Han dan Bun
Hong lalu melompat turun dari gerobak dan mempergunakan
ilmu kepandaian mereka untuk berlari cepat dan menuju
ketempat tahanan yang telah mereka ketahui letaknya dari
hasil penyelidikan nyonya janda itu. Benar saja seperti yang
diceritakan oleh janda tua itu, tempat tahanan di mana
keluarga pangeran itu ditahan, terjaga dengan ketat sekali dan
boleh dibilang hampir sekeliling tempat atau bangunan itu
terdapat perajurit-perajurit yang menjaga dengan senjata
tombak di tangan.
Beng Han dan Bun Hong tidak mau bertindak ceroboh.
Tentu saja mereka tidak takut menghadapi para penjaga itu
dan kiranya tidaklah sukar bagi mereka untuk menyerbu
masuk secara langsung dengan merobohkan penjaga. Akan
tetapi kalau hal ini mereka lakukan, mereka tentu akan
dikeroyokm dan tentu penjagaan di sebelah dalam terhadap
para tawanan lebih ketat lagi sehingga sukar bagi mereka
untuk dapat menolong Kim Bwee. Mereka berunding sejenak
dan akhirnya mereka memperoleh siasat yang mereka anggap
tepat. Setelah mengatur siasat, dua orang pendekar muda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu berpencar, seorang ke timur dan seorang lagi ke barat.
Senja telah lewat dan cuaca mulai menjadi gelap.
Tiba-tiba para penjaga di sebelah timur mendengar suara
orang merintih kesakitan di tempat gelap yang agak jauh dari
tembok rumah tahanan, di dalam semak-semak yang gelap.
Dua orang penjaga membawa senjata masing-masing
menghampiri tempat itu, akan tetapi ketika tiba di tempat
gelap, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam yang
menggerakkan kedua tangannya dan penjaga-penjaga itu
telah tertotok dan roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi,
Tubuh mereka menjadi lemas dan lumpuh sedangkan mulut
mereka tidak dapat mengeluarkan suara.
Para penjaga lain yang menanti kembalinya dua orang
rekan mereka itu, merasa heran karena tidak melihat mereka
kembali dan juga tidak mendengar suara mereka, sedangkan
suara orang merintih itu masih terdengar saja Dua orang
penjaga lain segera menyusul, akan tetapi mereka inipun
tertotok roboh dan diseret di balik semak - semak.
Di bagian barat juga terjadi hal yang serupa dengan apa
yang terjadi dengan para penjaga di sebelah timur. Kini para
penjaga mulai menjadi curiga dan sekelompok penjaga di
timur dan di barat menghampiri ke tempat gelap untuk
melakukan pemeriksaan. Mereka merasa terkejut dan heran
ketika melihat betapa di antara empat orang penjaga yang
tadi memeriksa tempat itu, hanya ada tiga orang saja
sedangkan yang seorang lagi entah pergi ke mana. Tentu saja
mereka beramai-ramai lalu menolong tiga orang kawan ini,
akan tetapi mereka itu telah lumpuh dan tidak dapat bicara,
hanya mata mereka saja yang bergerak-gerak ketakutan.
Ributlah keadaan di situ dan banyak sekali penjaga-penjaga
yang berpakaian seragam menjadi kacau dan berlari ke sanasini,
membuat penjagaan-penjagaan, mencari-cari dan ada
yang melapor ke dalam. Dan di antara simpang-siur para
penjaga ini, terdapat dua orang "penjaga" yang mengenakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pakaian yang sama, akan tetapi yang selalu berusaha untuk
menyembunyikan muka mereka. Dua orang "penjaga" ini
bukan lain adalah Beng Han dan Bun Hong. Mereka telah
berhasil memancing para penjaga dan menotok mereka di dua
tempat, lalu mereka menyeret seorang di antara tawanan
mereka yang memiliki bentuk tubuh mirip denganmereka
menanggalkan atau melucuti pakaian penjaga ini dan
menyamar sebagai penjaga. Setelah akal ini berhasil, mereka
lalu mempergunakan kepanikan itu untuk menyelinap masuk
ke dalam benteng, menyamar sebagai penjaga. Di dalam
keributan itu, mereka berhasil menyelundup masuk tanpa
mendapat banyak perhatian.
Tanpa banyak mengalami kesukaran, Beng Han dan Bun
Hong terus masuk ke bagian dalam. Mereka bertemu dengan
dua orang penjaga lain yang memandang mereka dengan
agak heran dan khawatir. "Kawan-kawan, ada apakah ributribut
di luar ?" tanya seorang penjaga bagian dalam.
"Ada musuh menyerbu, hayo lekas kita memperkuat
penjagaan para tawanan!" kata Beng Han dengan suara
gagap. Kedua orang penjaga bagian dalam itu menjadi
terkejut dan segera berlari masuk, diikuti oleh Beng Han dan
Bun Hong menuju ke ruang tempat tawanan, sambil memberi
tahu kepada setiap orang penjaga yang mereka jumpai
sehingga para penjaga itu berserabutan keluar dengan senjata
di tangan.
Setelah tiba di ruangan tempat tahanan, kedua orang muda
itu melihat betapa seluruh keluarga Pangeran Song berkumpul
di suatu ruangan dan sedang menangis sedih, merubung
sesuatu dengan penuh duka. Beng Han dan Bun Hong segera
menotok roboh dua orang penjaga yang mengantar mereka
tadi dan Bun Hong menanggalkan jubah pengantar yang
dipakainya tadi lalu dia membuka pintu kerangkeng ruangan
itu dengan paksa dan melompat ke dalam. Ketika dia tiba di
tempat itu, dia melihat pemandangan yang membuatnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi pucat sekali, kedua kakinya menggigil dan jantungnya
terguncang hebat. Di tengah - tengah ruangan itu, di mana
para keluarga menangis dan merubung, nampak tubuh
isterinya dengan muka dan kepala mandi darah, menggeletak
ditangisi semua orang.
"Kim Bwee.......!" Bun
Hong melompat dan
menubruk tubuh isterinya.
Ternyata bahwa karena
putus asa dan tidak tahan
menderita malu dan
penghinaan, isteri Bun
Hong telah membenturkan
kepalanya pada dinding,
akan tetapi karena
tenaganya kurang kuat,
maka dia tidak tewas
seketika sungguhpun
dahinya pecah pecah dan
darah membasahi seluruh
mukanya.
Mendengar suara
suaminya, Kim Bwee
membuka matanya dan memandang dengan sinar mata sayu
yang makin menghancurkan hati Bun Hong. Dia berlutut,
mengangkat dan memangku tubuh isterinya sambil menangis
dan mengeluh, "Kim Bwee, isteriku....... aku datang hendak
membawamu pergi........ Kim Bwee, isteriku yang
tercinta......."
"Suamiku, mengapa kau datang....... ? Larilah, selamatkan
Sian Lun, anak kita........"
"Kim Bwee, apa artinya hidupku tanpa kau? Mengapa kau
mengambil keputusan nekat begini? Ah, Kim Bwee........ Kim
Bwee.......!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Koko......." suara nyonya muda itu menjadi lemah sekali,
"biarlah.......aku sengaja melakukan ini......., biar kau
bebas........ kau boleh kawin lagi........ asal kau jangan
melupakan anak kita........"
Bun Hong mendekap kepala yang berlumuran darah itu ke
dadanya, sambil menangis dengan air mata bercucuran.
"Tidak....., tidak.......! Kim Bwee, aku mencintamu, aku...
aku....." akan tetapi tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya
karena merasa betapa tubuh isterinya meronta dalam
pelukannya! Dia memandang dengan mata terbelalak dan
melihat betapa isterinya telah menggunakan seluruh tenaga
untuk melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.
Nyonya muda itu dengan muka berlumuran darah sehingga
mengerikan sekali nampaknya kini memandangnya dengan
mesra.
"Betulkah........ betulkah bahwa engkau.... kau
mencinta......?"
"Kim Bwee, aku bersumpah, demi kehormatanku sebagai
seorang pendekar, aku cinta padamu, Kim Bwee........"
Kim Bwee menatap wajah suaminya, mengangkat kedua
tangannya yang menggigil dan lemas, membelai wajah Bun
Hong, dan bibirnya tersenyum lalu bergerak, "........ terima
kasih......terima kasih......, aku .... aku puas ......" dan
lemaslah tubuhnya, tak berdaya lagi karena nyawanya telah
melayang.
"Kim Bwee. ..! Kim Bwee... .!!" Bun Hong berteriak-teriak
seperti orang gila, memeluk tubuh isterinya dan menjambakjambak
rambutnya sendiri. Pangeran Song dan semua
keluarga juga menangisi kematian Kim Bwee ini sehingga
ruangan tempat tahanan itu menjadi riuh oleh suara tangis
yang memilukan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sute, mereka datang!" tiba-tiba Beng Han berseru dengan
keras memperingatkan sulenya. Bun Hong melompat berdiri
dengan wajah beringas.
"Mana mereka? Biarkan mereka datang! Hendak kubunuh
seorang demi seorang! Hendak kucabut isi perut mereka di
depan isteriku!" Dengan wajah mengerikan sehingga Beng
Han sendiri menjadi terkejut melihatnya, Bun Hong melompat
dengan pedang di tangan, menyambut datangnya tiga orang
perwira yang diikuti oleh para penjaga.
"Pemberontak!" seru perwira-perwira itu ketika mereka
melihat Beng Han dan Bun Hong.
"Anjing-anjing hina! Kalian harus menjadi pengawal
isteriku!" teriak Bun Hong sambil nenerjang maju. Pedangnya
bergerak secara buas sekali dan seorang perwira roboh
dengan leher hampir putus, berikut goloknya yang tadi
menangkis! Bun Hong yang telah menjadi marah bagaikan gila
itu mengamuk hebat dan tak seorangpun dapat menahan
amukannya, sedangkan Beng Han juga membuka jalan keluar
dengan mainkan pedangnya dengan cepat sekali. Melihat
sepak terjang sutenya, hati Beng Han menjadi ngeri karena
dia maklum bahwa sutenya telah dikuasai oleh nafsu
membunuh yang amat buas. Sebagai ahli-ahli silat tinggi,
mereka berdua dapat mengatur gerakan dan serangan mereka
untuk merobohkan lawan tanpa membunuh, dan apabila tidak
perlu, keduanya sebetulnya menjauhi pembunuhpembunuhan.
Akan tetapi sekali ini Bun Hong menyerang
untuk membunuh! Setiap kali pedangnya berkelebat, maka
senjata itu merupakan cengkeraman maut yang mencari
korban. Beberapa orang penjaga telah bergelimpangan dan
tewas di ujung pedang Bun Hong, sedangkan Beng Han hanya
melukai dan membuat tidak berdaya beberapa orang penjaga.
Pemuda yang masih sadar ini berpantang membunuh secara
sembarangan, sesuai dengan pesan gurunya.
"Sute, hayo kita pergi!" ajaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tidak, akan kubunuh semua anjing ini!" teriak Bun Hong
sambi mengamuk terus dengan hebatnya. Sementara itu para
penjaga kini telah mengurung tempat itu sehingga penuh
sesak. Beng Han menjadi khawatir sekail oleh karena dia
maklum bahwa kerajaan memiliki banyak perwira yang lihai.
"Kita harus cari dulu Thio-thaikam!" katanya
memperingatkan sutenya. Mendengar ucapan suhengnya itu
Bun Hong tersadar. Benar pikirnya, dia tidak boleh tewas
dikeroyok di tempat ini sebelum dia dapat membunuh orang
kebiri yang dianggap musuh besarnya itu.
"Kau benar, suheng, kita bunuh dulu anjing kebiri itu!"
jawabnya dan dengan hebat kedua orang muda itu membuka
jalan dengan memutar pedang mereka. Akhirnya, berkat kerja
sama kedua pedang mereka yang lihai, para pengepung
menjadi buyar, mundur dengan gentar dan kepungan menjadi
pecah. Beng Han dan Bun Hong melompat keluar dari
kepungan terus melarikan diri dikejar oleh para perwira dan
para penjaga. Akan tetapi, sambil berlari kedua orang muda
itu mengayun tangan kiri mempergunakan batu-batu kecil
yang mereka sengaja bawa sehingga beberapa orang
pengejar menjerit dan roboh. Tempat itu penuh dengan
orang-orang terluka atau tewas, dan suara rintihan mereka
yang terluka bercampur dengan suara tangisan keluarga Song
yang meratapi kematian Song Kim Bwee.
Akan tetapi, para perwira dari luar benteng yang telah
menerima laporan dan datang membantu, segera
menghadang jalan keluar kedua orang muda itu sehingga di
pintu gerbang terjadilah pertempuran hebat antara kedua
orang pendekar itu melawan pengeroyokan belasan orang
perwira yang memiliki ilmu silat tinggi. Betapapun gagahnya
Beng Han dan Bun Hong, namun menghadapi pengeroyokan
hebat ini, lambat-laun mereka berdua terdesak juga.
Tiba-tiba seorang perwira menjerit dan roboh, disusul
bentakan nyaring seorang wanita yang merobohkan perwira
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu dari luar kepungan. "Anjing-anjing penjilat, jangan kalian
berani mengganggu kedua orang suhengku!"
"Sumoi........!" Beng Han dan Bun Hong berseru hampir
berbareng dengan suara girang sekali dan semangat mereka
bernyala hebat sehingga kembali dua orang perwira
pengeroyok dapat dirobohkan. Benar saja, yang datang itu
adalah Kui Eng, dara pendekar yang tadi memasuki kota raja
dan segera dia mendengar tentang huru hara yang terjadi di
gedung Pangeran Song. Ketika dia mendengar hahwa Bun
Hong adalah anak mantu pangeran itu, Kui Eng lalu
mengambil keputusan untuk mencari dan menolong isteri Bun
Hong yang juga ikut tertangkap. Dan ketika dia tiba di
benteng tempat tahanan itu, dia melihat betapa kedua orang
suhengnya dikeroyok oleh para perwira di dekat pintu
benteng, maka dia segera membantu.
Kini tiga orang saudara seperguruan itu mengamuk hebat
bagaikan tiga ekor naga sakti turun dari angkasa dan
mengamuk. Banyak perwira tewas di ujung senjata mereka.
"Sute, sumoi, mari kita menyerbu ke istana Thio-thaikam !"
seru Beng Han tiba-tiba.
"Baik, mari aku yang menjadi penunjuk jalan !" kata Bun
Hong dan mendahului ke dua orang saudara seperguruannya,
dia telah melompat meninggalkan tempat itu.
Kui Eng yang tidak tahu akan duduknya perkara, hanya
menurut saja dan mereka bertiga lalu melompat dan
menghilang dalam gelap, dikejar oleh para perwira dan
pasukannya yang menjadi bingung dan ribut karena tiga orang
lihai itu lenyap di dalam kegelapan malam.
Tak lama kemudian, keributan beralih tempat dan kini di
atas genteng istana Thio-thaikam mengalami penyerbuan tiga
orang muda, itu. Akan tetapi, semenjak siang tadi, Tek Po
Tosu yang sudah mengkhawatirkan datangnya serbuan ini,
telah berjaga-jaga, mengumpulkan perwira-perwira yang lihai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk melakukan penjagaan yang ketat dan kuat sehingga
ketika tiga orang pendekar dari Kwi-hoa san itu datang
menyerbu, mereka bertiga menerima sambutan yang hangat!
Kembali tiga orang muda itu mengamuk. Bun Hong
memainkan pedangnya bagaikan gila sehingga mengerikan
sekali, setiap pedangnya berkelebat tentu jatuh korban! Dia
memang lincah dan cepat, dan kali ini rasa dendam dan duka
karena kemalian isterinya membuat dia makin ganas sehingga
jangankan para perwira pengeroyoknya, bahkan Beng Han
dan Kui Eng sendiri merasa ngeri melihatnya. Pakaian Bun
Hong yang tadinya telah bernoda darah isterinya di bagian
dada, kini bertambah dengan darah para lawannya yang
memercik dan menodai seluruh pakaiannya. Wajahnya
beringas dan sepasang matanya merah, seolah-olah
mengeluarkan api.
Kui Eng juga terpengaruh oleh keadaan suhengnya ini dan
gadis inipun mengamuk dengan hebat. Gerakannya yang
disertai ginkang yang luar biasa itu membuat tubuhnya lenyap
berubah menjadi segulung sinar pedang yang menyambar -
nyambar ganas. Tiap kali terdengar seruannya yang
melengking nyaring, pasti senjata lawan terpental jauh atau
tubuh seorang pengeroyok roboh di atas genteng dan terus
menggelundung ke bawah.
Hanya Beng Han yang masih tetap tenang. Akan tetapi
gerakan pedangnya ymg kuat dan rnantep itu tidak kurang
berbahaya dari padi gerakan kedua adik seperguruannya. Tek
Po Tosu yang maklum akan kelihaian pemuda ini segera
membawa beberapa orang perwira mengurungnya, akan
tetapi Beng Han tidak menjadi gentar. Dia maklum bahwa kali
ini pertempuran dilakukan dengan mati matian dan tidak
mengenal ampun, maka diapun tidak mau berlaku sungkan
lagi. Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat, dengan
jurus-jurus yang paling ampuh sehingga sudah banyak fihak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lawan yang roboh karena ujung pedangnya atau tendangan
kakinya.
Bukan main seru dan hebatnya pertempuran yang terjadi di
atas genteng istana Thio thai kam pada malam itu. lebih seru
dan ramai dari pada pertempuran di benteng tempat tahanan
tadi oleh karena kini para perwira yang mengeroyok mereka
adalah jago-jago pilihan yang sengaja didatangkan oleh Thiothaikam
dan Tek Po Tosu untuk menjaga keselamatan
pembesar berpengaruh itu.
"Suheng, aku akan menyerbu ke dalam!" tiba-tiba Bun
Hong berkata dan dengan nekat orang muda ini melayang
turun dan membabat setiap orang penghalang dengan
pedangnva. Berapa orang penjaga menyerbunya dengan golok
di tangan, akan tetapi apakah daya para penjaga yang hanya
memiliki kepandaian biasa itu terhadap pendekar yang diamuk
dendam ini? Dengan mudah saja Bun Hong menggerakkan
pedangnya dan bergelimpanganlah tubuh para penjaga itu
memenuhi lantai. Bun Hong harus berlari ke dalam, menuju ke
ruangan tengah di mana dulu dia pernah melihat Thio-thaikam
mengadakan perundingan dengan para perwira.
Ketika dia tiba di tempat itu, ternyata bahwa Thio-thaikam,
seperti dulu pula, sedang duduk menghadapi dua orang Turki
dan beberapa orang perwira lain, sama sekali tidak
memperdulikan adanya keributan di luar. Memang Thiothaikam
memandang rendah sekali kepada dua orang pemuda
itu agaknya ! Pembesar ini terlalu meremehkan dua orang
muda yang dicap pemberontak itu ! Agaknya Thio-ihaikam
terlalu percaya bahwa penjagaan yang kuat di luar istananya
itu akan mencegah masuknya setiap pengacau, maka dia tidak
mau memusingkan diri mengurus hal yang dianggapnya
remeh itu, karena ada hal yang lebih penting untuk
dibicarakan. Agaknya pembesar ini mengumpulkan orangorangnya
dan merundingkan tentang sikapnya terhadap
Pangeran Song sekeluarga. Dia mengambil keputusan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempergunakan pengaruhnya kepada kaisar agar supaya
seluruh keluarga itu dapat dihukum mati. Bukan main
girangnya hati Bun Hong melihat musuh besarnya itu dan dia
mengeluarkan bentakan nyaring, keadaannya amat
menyeramkan karena seluruh pakaian dan pedang di
tangannja berlepotan darah.
"Anjing kebiri Thio ! Sampailah kini ajalmu !" Bun Hong
segera menyerbu dengan pedangnya. Akan tetapi, empat
orang perwira dan dua orang Turki itu mencabut pedang dan
melawannya. Ternyata bahwa kepandaian para perwira itu
cukup tinggi, bahkan dua orang perwira Turki yang berada di
situ memiliki ilmu pedang yang aneh dan berbahaya. Terpaksa
Bun Hong menghadapi pengeroyokan enam orang itu dengan
nekat dan mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
Biarpun dikeroyok oleh enam orang lihai dan sibuk
melayani mereka, namun mata Bun Hong tidak pernah
melepaskan bayangan Thio-thaikam, maka ketika dia melihat
pembesar itu mencoba untuk melarikan diri melalui sebuah
pintu, Bun Hong meninggalkan lawannya dengan lompatan
cepat ke arah pintu. Karena amat bernafsu untuk mengejar
Thio-thaikam maka dia kurang waspada, ketika melompat tadi,
tusukan pedang dari seorang perwira menyerempet
pundaknya, menembus baju dan melukai kulit pundaknya.
Akan tetapi, Bun Hong seolah-olah tidak merasa sedikitpun
juga dan sambil mengayun tangan kirinya dia membentak,
"Pembesar jahat hendak lari ke mana ?"
Batu karang yang menyambar dari tangannya itu tepat
memukul belakang kepala Thio- thaikam sehingga pembesar
kebiri itu berteriak kesakitan dan terhuyung ke depan. Bun
Hong menyusul dengan serangan dari belakang, dan
menusukkan pedangnya dari belakang sehingga pedang itu
memasuki punggung pembesar itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Crepp........!" Dengan puas sekali Bun Hong mencabut
kembali pedangnya. Tubuh Thio-Thaikam roboh terlentang di
depannya.
"Ha-ha-ha-ha!" Bun Hong tertawa bergelak dan
memandang ke arah muka pembesar yang telah sekarat itu
dengan hati puas, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya
berhenti dan kedua matanya terbelalak memandang ke arah
wajah pembesar itu. Ternyata bahwa orang yang dibunuhnya
itu, biarpun perawakannya sama dan pakaiannya juga pakaian
yang biasa dipakai Thio-thaikam, akan tetapi ternyata dia
bukanlah pembesar kebiri itu! Orang itu bukan Thio- thaikam!!
Dan ketika dia memandang ke sekelilingnya, makin
terkejutlah dia karena tempat itu telah penuh dengan perwiraperwira
yang mengurungnya dari setiap penjuru. Dia telah
terjebak! Dia memandang Thio-thaikam terlampau rendah.
Ternyata bahwa pembesar yang licin dan cerdik itu telah
membuat persiapan terlebih dulu dan menyuruh seorang
pembesar palsu menggantikan tempatnya.
Bun Hong berteriak dengan nyaring. Hatinya makin
kecewa, gemas dan marah, dan dia telah mengamuk lagi,
dikeroyok oleh belasan orang perwira yang berkepandaian
tinggi! Berkat kecepatan gerakannya dan juga karena
kenekatannya, dia masih dapat mempertahankan diri,
sungguhpun dia sudah terdesak hebat sekali. Diputarnya
pedangnya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya
terlindung oleh sinar pedang yang merupakan dinding dari
sinar yang teguh. Akan tetapi, para pengeroyoknya terdiri dari
jagoan-jagoan kota raja yang berkepandaian tinggi, maka
beberapa buah senjata telah berhasil menembus
pertahanannya dan dia telah menderita beberapa luka ringan.
Akan tetapi, biarpun luka-luka itu membuat darahnya banyak
mengucur keluar Bun Hong masih mengamuk terus seperti
seekor naga bermain-main di antara awanl awan gelap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bun Hong mempertahankan diri sedapat mungkin, namun
beberapa kali ada saja senjata lawan yang menerobos masuk
dan melukainya. Keadaannya makin terdesak dan berbahaya
sekali, tubuhnya mulai lemas dan gerakannya lambat. Gerakan
pedangnya sudah mulai kurang kuat dan makin sering ada
senjata lawan menyentuh tubuhnya.
Tiba-tiba nampak dari luar dua sosok bayangan yang
menerjang ke dalam dengan hebat. Mereka ini adalah Beng
Han dan Kui Eng yang berhasil membuka jalan meninggalkan
para pengeroyok di luar untuk membantu Bun Hong.
Beng Han dengan ilmu pedangnya yang luar biasa berhasil
memecahkan kepungan yang mengancam keselamatan
sutenya, kemudian dia menarik tangan sutenya itu sambil
berseru kepada Kui Eng, "Sumoi, ikutlah padaku! Aku
membuka jalan dan kau bersama sute menahan serangan dari
belakang!"
Beng Han lalu maju mendesak ke arah pintu depan sambil
memainkan pedangnya melawan orang-orang yang
menghadang di depan, sedangkan Kui Eng dan Bun
Hongsambil mundur menahan desakan para pengejar dari
belakang. Beng Han bertempur sambil mengayun tangan kiri
membagi-bagi "hadiah" berupa batu batu karang yang
dibawanya sehingga terdengar pekik-pekik kesakitan berkalikali
pada saat sebutir batu mengenai kepala atau bagian lain
dari tubuh seorang pengeroyok. Fihak lawan tidak berani
menggunakan senjata rahasia dalam keroyokan ini, karena
khawatir kalau senjata itu mengenai kawan sendiri,dan hal ini
merupakan suatu keuntungan bagi fihak tiga orang pendekar
itu. Juga Bun Hong menyerang para pengejar dengan pedang
ditangan kanan dan batu yang disambitkan dengan tangan
kiri. Perlahan akan tetapi tentu, ketiga orang pendekar muda
yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga sakti itu dapat keluai
dari istana Thio-thaikam dan menyerbu ke luar pintu gerbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pengeroyokan hebat itu, Beng Han telah menderita
luka pada dada kanannya akan tetapi karena luka itu hanya
merobek baju dan kulit saja, walaupun terasa perih dan
panas, akan tetapi tidak mengurangi tenaganya. Kui Eng yang
memiliki ginkang istimewa tidak terluka, hanya lelah sekali
karena harus bertempur sekian lamanya.
Yang paling parah adalah keadaan Bun Hong. Orang muda
ini telah menerima beberapa tusukan senjata para pengeroyok
dan dari luka lukanya keluar terlalu banyak darah sehingga
gerakannya menjadi lambat, tubuhnya makin lemah dan
kepalanya terasa pening Biarpun orang muda perkasa, ini
sama sekali tidak pernah mengeluh dan mengamuk seperti
seekor naga terluka, namun Beng Han dalam kesibukannya itu
tahu akan keadaannya, keadaan sutenya yang berbahaya itu.
Maka ketika mereka telah berhasil mendesak keluar dari pintu
gerbang dan bertempur menghadapi para perwira itu di luar
pintu, Beng Han lalu memberi aba-aba kepada dua orang adik
seperguruannya.
"Mari kita pergi!" Dia mendahului sute dan sumoinya
melompat ke atas genteng sebuah rumah yang berada di
dekat dinding istana, diikuti oleh Kui Eng. Akan tetapi ketika
Bun Hong hendak ikut melompat pula, gerakannya terlalu
lambat dan hampir saja dia tidak dapat mencapai genteng.
Untung dia masih dapat meraih dan memegang ujung tiang di
bawah genteng sehingga tubuhnya bergantung di situ.
Beng Han dan Kui Eng terkejut sekali dan cepat mereka
membalik dan memburu, akan tetapi pada saat itu Bun Hong
yang sudah tidak dapat menahan lagi mengeluarkan seruan
keras dan pegangannya terlepas sehingga tubuhnya jatuh ke
bawah ! Beng Han dan Kui Eng berteriak cemas dan cepat
mereka melompat turun lagi dari atas genteng. Mereka masih
dapat menyelamatkan Bun Hong yang sudah hampir dihujani
senjata oleh para pengeroyoknya. Mereka berdua mengamuk
hebat seperti dua ekor naga yang marah, melindungi tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bun Hong yang menggeletak di atas tanah tanpa bergerak itu.
Setelah memperoleh kesempatan baik, Beng Han cepat
menyambar tubuh sutenya ini dan memondongnya. Alangkah
kagetnya ketika dia melihat betapa dua batang senjata rahasia
piauw telah menancap di tubuh sutenya, sebuah di dada dan
sebuah lagi di lehernya ! Ternyata bahwa ketika tubuh Bun
Hong tadi menggantung pada tiang, seorang perwira telah
menyerangnya dengan piauw yang berhasil mengenai
sasarannya.
"Sumoi, lari !" Beng Han berseru sambil melemparlemparkan
batu dari kantongnya kepada para pengeroyok. Dia
tidak sanggup melawan lagi karena kini dia harus
mempergunakan tangan kanannya untuk memanggul tubuh
sute-nya yang telah pingsan dan lemas itu.
Kui Eng mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk
menahan para pengejar dan dia sengaja melindungi Beng Han
yang memanggul Bun Hong itu dari belakang. Tentu saja para
perwira tidak mau melepaskan mereka dan mengejar sambil
berteriak-teriak. Jumlah pengejar makin berkurang karena
yang dapat menyusul ilmu berlari cepat dari Kui Eng dan Beng
Han hanya ada tujuh orang perwira saja. Beng Han
mengerahkan sisa tenaganya yang mulai berkurang,
sedangkan Kui Eng juga sudah merasa lelah sekali sehingga
mereka maklum bahwa apa bila sekali ini mereka tersusul dan
terpaksa bertempur lagi, mereka pasti tidak akan dapat kuat
bertahan. Mereka mempercepat lari mereka menuju ke pintu
gerbang kota dan alangkah terkejut hati mereka melihat
bahwa pintu gerbang itu tertutup rapat-rapat dan di bawah
dinding telah berbaris seregu penjaga yang siap menanti
kedatangan mereka!
"Sumoi, terpaksa kita harus mengadu nyawa di sini.
Selamat tinggal, sumoi." Beng Han berkata sambil
memindahkan tubuh Bun Hong di atas pundak kirinya,
merangkulnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memegang pedang, siap untuk bertempur sampai saat
terakhir. Sedikitpun dia tidak nampak gentar, atau menyesal,
bahkan dia sama sekali tidak mau melepaskan tubuh sutenya,
padahal jelas bahwa tubuh itu membuat dia tidak leluasa
bergerak. Agaknya pemuda gagah perkasa ini hendak
melindungi tubuh sutenya dengan taruhan nyawa, sampai titik
darah terakhir!
Mendengar ucapan dan melihat sikap suhengnya itu, tak
terasa pula mata Kui Eng menjadi basah. Alangkah mulia dan
gagahnya suhengnya ini. Membela Bun Hong sampai tenaga
terakhir! Padahal kalau hendak menyelamatkan diri tanpa
memperdulikan keadaan Bun Hong, suhengnya itu tentu masih
mampu dan dapat lolos!
"Suheng, jangan khawatir. Sampai matipun aku tidak akan
berpisah darimu!" kata Kui Eng sambil mengepal tinju tangan
kiri dan melintangkan pedangnya di depan dada.
Rombongan penjaga itu sambil berteriak-teriak maju
mengurung mereka dan segera terjadi pertempuran kembali
dengan hebatnja. Walaupun para penjaga itu merupakan
lawan lawan yang lunak bagi Kui Eng dan Beng Han namun
jumlah mereka lebih dari seratus orang sedangkan dari
belakang telah datang tujuh orang perwira yang mengejar
tadi, dan di antara mereka ini terdapat Tek Po Tosu yang amat
lihai!
Karena sudah hampir kehabisan tenaga dia amat lelah,
kembali Beng Han dan Kui Eng terdesak hebat dan sekali ini
Kui Eng tidaklah selincah tadi. Tusukan tombak yang amat
cepat dan dilakukan ketika dia sedang sibuk menghindarkan
dan menangkis serangan-serangan lain, telah melukai
pahanya. Beng Han juga telah menerima bacokan pedang
pada pinggir bahu kanannya. Hanya karena keteguhan hati
dan besarnya semangat, kenekatan yang amat luar biasa
sajalah Beng Han masih kuat untuk memainkan pedangnya
dan merobohkan beberapa orang penjaga lagi. Kui Eng sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpincang pincang, akan tetapi pedangnya masih lihai dan
banyak penjaga masih belum mampu mendekatinya, bahkan
ada beberapa orang lagi yang roboh sebagai akibat
pembalasan Kui Eng yang marah karena terluka pahanya itu.
Betapapun gagahnya kedua orang pendekar itu, nasib
mereka agaknya sudah dapat ditentukan. Tidak lama lagi
kiranya mereka pasti akan roboh dan tewas di bawah hujan
senjata para pengeroyok mereka. Akan tetapi, pada saat itu,
dari atas dinding kota yang tinggi, tampak sehelai tali yang
panjang diturunkan orang dan seperti monyet-monyet yang
gesit, beberapa orang meluncur turun melalui tali itu, bahkan
sesosok bayangan putih yang amat gesit telah melayang turun
dari atas tembok tanpa bantuan tali itu, padahal tembok kota
itu amatlah tingginya.
Mereka yang datang ini bukan lain adalah Gan Beng Lian,
Yap Yu Tek, dan dua orang guru mereka, yaitu Pek I Nikouw
dan Tiong-san Lo-kai! Mereka berempat ini datang pada saat
yang amat tepat karena terlambat sebentar saja, agaknya
Beng Han dan Kui Eng takkan dapat tertolong lagi Dengan
marah Beng Lian dan Yu Tek menyerbu, dan para pengeroyok
yang telah merubung Kui Eng dan Beng Han seperti
segerombolan semut mengeroyok dua ekor jangkerik yang
sudah lelah dan terluka itu kini menjadi terpecah belah dan
kacau-balau. Tujuh orang perwira pengejar yang tangguh itu
datang pula, akan tetapi mereka segera menghadapi Pek l
Nikouw dan Tiong-san Lo-kai yang sakti ! Sebentar saja,
seorang di antara mereka telah terkena jarum yang dilepas
oleh Pek I Nikouw, sedangkan dua orang perwira lain telah
roboh terkena pukulan tongkat di tangan Tiong-san Lo-kai.
Tek Po Tosu marah sekali dan dia mengeluarkan
saputangannya yang dikebutkannya ke arah Pek I Nikouw.
Belasan batang jarum hitam menyambar ke arah nenek itu.
Namun sambil tersenyum Pek I Nikouw mengebut dengan
ujung lengan bajunya dan runtuhlah semua jarum hitam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tek Po Tosu terkejut bukan main melihat kepandaian ini dan
hatinya menjadi gentar. Dia tidak tahu bahwa dia berhadapan
dengan Pek I Nikouw yang terkenal sebagai ahli pelepas
senjata rahasia segala macam jarum. Selagi Tek Po Tosu
masih tertegun, Pek I Nikouw menggerakkan lengan bajunya
yang kiri dan tujuh batang jarum putih yang mengeluarkan
cahaya menyerbu ke arah Tek Po Tosu ! Pendeta ini terkejut
dan cepat menggunakan siang-kiamnya untuk menangkis.
Jilid XI
" TRING - TRING -
TRINGGG.......! "
Jarum-jarum putih
dilepas dengan tenaga luar
biasa sehingga biarpun
dapat ditangkis, jarumjarum
itu bukannya runtuh
ke bawah, melainkan
melesat ke samping dan
melukai beberapa orang
perwira. Terdengar seruanseruan
kesakitan dan tibatiba
sekali sebatang jarum
yang luar biasa cepatnya
menyambar ke rah leher
Tek Po Tosu. Tosu ini
masih mencoba untuk miringkan tubuh mengelak, akan tetapi
jarum itu tetap saja mengenai pundaknya, Tek Po Tosu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berteriak dan roboh tak sadarkan diri karena jarum itu
menancap pada jalan darah di pundaknya.
Menyaksikan kehebatan nikouw itu dan kehebatan Tiongsan
Lo-kai yang menggerakkan tongkat bambunya secara
berbarengan akan tetapi setiap kali tongkat bergerak, tentu
sebatang senjata lawan terpental, semua pengeroyok menjadi
gentar. Juga sepak terjang Beng Lian dan Yu Tek dahsyat
sekali dan cukup membuat para penjaga kacau balau dan
simpang siur.
Tiong-san Lo kai menangkap dua orang penjaga dan
menyeret mereka ke arah pintu gerbang, memaksa mereka
untuk membukanya. Setelah pintu gerbang terbuka, dia
berseru keras "Lari keluar !''
"Twako, serahkan dia kepadaku !" kata Yu Tek dan dia
menggantikan Beng Han untuk memanggul tubuh Bun Hong,
sedangkan Beng Lin tanpa banyak cakap lagi lalu memondong
tubuh Kui Eng yang telah terluka pahanya dan tidak dapat
berlari cepat itu. Demikianlah, di bawah perlindungan Pek l
Nikouw yang menyebar jarum-jarumnya, mereka keluar dari
pintu gerbang itu dan berlari ke dalam hutan yang gelap.
Para perwira dan penjaga tidak berani mengejar dan
mereka terpaksa kembali untuk merawat kawan-kawan
mereka yang terluka. Hati mereka mendongkol sekali, akan
tetapi apa yang dipat mereka lakukan ? Kakek dan nenek itu
terlampau sakti bagi mereka dan Tek Po Tosu yang mereka
andalkan itu telah pingsan. Sementara itu, Tiong-san Lo-kai
membawa orang-orang muda yang terluka itu ke sebuah
kelenteng tua di dalam hutan dan Pek I Nikou lalu merawat
luka yang diderita oleh Kui Eng dan Beng Han. Adapun
keadaan Bun Hong payah sekali dan ketika orang muda itu
siuman dari pingsannya, dia hanya dapat merintih rintih dan
menangis! Bun Hong merintih dan menangis bukan karena
sakit, sama sekali bukan karena pantang bagi pendekar
seperti dia merintih dan menangis karena nyeri ! Akan tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia menangis karena teringat kepada isterinya. Dalam keadaan
demam dia mengigau, memanggil - manggil nama isterinya.
meminta-minta ampun kepada Kim Bwee, bahkan minta
ampun kepada Kui Eng dan Beng Han !
Pek I Nikouw yang mengerti tentang ilmu pengobatan,
hanya menggeleng kepala saja melihat keadaan Bun Hong
karena dia tahu bahwa luka luka di tubuh orang muda itu
terlalu berat untuk dapat disembuhkan. Beng Han memegang
tangan sutenya dan tak dapat ditahankannya lagi air matanya
menetes turun karena diapun maklum akan keadaan sutenya
itu. Juga Kui Eng menangis sambil menggunakan
saputangannya yang telah dibasahi untuk mengusap dahi Bun
Hong yang panas sekali. Beng Lian dan Yu Tek memandang
dengan penuh keharuan sambil menjaga agar api unggun di
dalam kelenteng yang mereka nyalakan itu tidak menjadi
padam, dan juga mereka berdua dengan waspada menjaga
kalau-kalau datang musuh di tempat sunyi itu.
"Suheng..... , suheng......." Bun Hong menggerak-gerakkan
kepalanya ke kanan kiri dengan gelisah, mencari-cari.
Beng Han menekan pergelangan tangan sutenya. "Aku
berada di sini, sute........" katanya dengan suara parau.
Agaknya saputangan basah yang dingin dan yang digosok
gosokkan pada dahinya oleh Kui Eng itu agak menyadarkan
pikirannya yang kacau karena demam, dan kini Bun Hong
memandang kepada Beng Han dengan mata sayu lalu
tangannya meraba-raba dan mencengkeram tangan
suhengnya.
"Suheng........ suheng........kau ....... kau maafkan
aku.......?"
"Sute, tidak ada sesuatu yang harus dimaafkan antara kita.
Engkau adalah suteku yang baik," jawab Beng Han.
"Suheng....... sampaikan permohonan ampunku kepada
suhu........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beng Han hanya mengangguk dan menahan jatuhnya air
matanya yang sudah mulai memenuhi kelopak matanya lagi.
Bun Hong menoleh dan memandang kepada sumoinya
yang masih mengelus-elus dahinya dengan saputangan.
"Sumoi........kauampunkan aku, ya.......?"
Mendengar bisikan seperti seorang anak kecil minta
dikasihani itu, Kui Eng mengguguk dan air matanya
bercucuran membasahi mukanya. "Ji-suheng ..... kau tidak
bersalah........ kau kuatkanlah badanmu, ji-suheng........
tenangkanlah pikiranmu......"
Bun Hong mencoba tersenyum, senyum pucat yang
mengharukan. "Kau selalu menasihatiku, sumoi...... kau......
kau terlalu mulia....... hanya suheng saja yang pantas.......
kalian berdua harus berjanji kalian rawatlah baik-baik anakku
Sian Lun....... suheng, sumoi......"
Tiba-tiba Kui Eng menjerit nyaring karena dia melihat
betapa tiba-tiba leher Bun Hong menjadi lemas dan napasnya
terhenti. Kui Eng menangis dengan hati hancur, memeluki
tubuh ji - suhengnya. Semenjak kecil, dia menganggap Bun
Hong dan Beng Han berdua sajalah orang-orang yang paling
dekat dengannya, yang selalu membela dan menolongnya.
Mereka menjadi besar di satu tempat, senasib sependeritaan,
dan dia menganggap mereka sebagai orang-orang yang paling
terkasih.
Beng Han juga mencucurkan air mata sambil memeluk
tubuh sutenya sehingga semua orang merasa terharu. Beng
Lian memeluk kakaknya dan menghibur sambil menangis pula.
Pemandangan yang nampak di bawah sinar api unggun
yang suram muram itu sungguh amat menyedihkan dan
mengharukan. Seorang di antara tiga pendekar muda yang
gagah perkasa, seekor di antara tiga naga sakti yang
mengamuk di kota raja dan menggemparkan seluruh
penduduk bahkan membuat kaisar menggigil karena khawatir
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, akhirnya menemui ajalnya dalam keadaan yang amat
menyedihkan.
(Oo-bud_dwkz-234-oO)
Lui Sian Lojin menarik napas panjang. Sejak tadi dia diam
saja mendengarkan penuturan dua orang muridnya, Beng Han
dan Kui Eng tentang keadaan dan kematian Bun Hong.
Setelah menarik napas panjang dia berkata, "Hidup dalam
kekerasan dan mati dalam kekerasan pula. Itulah agaknya
nasib orang-orang yang menamakan dirinya pendekar. Ah,
sudahlah Bun Hong tewas dalam keadaan seperti yang
dikehendakinya, dalam keadaan gagah dan pada akhir
hayatnya dia telah insyaf akan kesesatannya, maka
kematiannya tidaklah terlalu mengecewakan. Kalian telah
cukup menderita sejak kalian masih kecil dan sekarang kalian
telah dapat bertemu kembali dengan orang tua kalian sudah
sepatutnya kalian hidup bersama mereka dan membalas budi
mereka dengan perawatan yang layak sebagaimana mestinya
dilakukan oleh anak-anak yang berbakti. Kalian berdua telah
dewasa dan sudah sepatutnya pula mendirikan rumah tangga.
Tentang perjodohan aku sebagai guru hanya ikut mendoakan
saja, segala keputusannya terserah kepada ibu kalian dan
kepada kalian sendiri."
Demikianlah, setelah menerima banyak petuah dan nasihat
dari suhu mereka yang sudah tua, Beng Han dan Kui Eng lalu
kembali ke rumah ibu masing-masing. Beng Han tinggal di
dekat Kuil Kwan-im-bio sedangkan Kui Eng ikut bersama
ibunya di Ki-ciu.
Beng Han terpaksa harus mengalah dan membiarkan Kui
Eng yang merawat Sian Lun, putera Bun Hong yang sudah
yatim piatu. Akan tetapi, sering sekali Beng Han datang
mengunjungi sumoinya itu dan kasih sayangnya terhadap Sian
Lun membuat anak itu suka sekali kepadanya dan tiap kali dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang, anak itu tentu segera dipondongnya dan diajaknya
bermain-main.
Atas nasihat dari Pek I Nikouw, semenjak peristiwa di kota
raja, Beng Han, Kui Eng, Yu Tek dan Beng Lian dilarang untuk
mencari perkara. dilarang untuk menonjolkan kepandaian
mereka karena tentu hal ini akan menarik perhatian dan wajah
mereka telah dikenal oleh para perwira di kota raja. Mereka
diharuskan menyembunyikan nama dan kepandaian mereka
dan biarpun di dalam hati mereka, empat orang muda itu
merasa penasaran, namun mereka juga maklum bahwa hanya
dengan tenaga mereka saja, tidak akan mungkin mereka
menentang para pejabat tinggi di kota raja itu dengan
kekerasan. Para pejabat tinggi itu mengandalkan kekuatan
pasukan besar, maka apa artinya penentangan beberapa
gelintir orang saja, sungguhpun para penentang memiliki
kepandaian hebat ?
Sang waktu berjalan dengan amat pesatnya dan dua tahun
kemudian, pada suatu hari, serombongan orang menuju ke Kiciu
dan mereka ini adalah Pek I Nikouw, Siok Thian Nikouw
ibu Beng Han, Beng Han sendiri, Beng Lin dan Yu Tek. Mereka
pergi ke Ki-ciu untuk berkunjung kepada Kui Eng dan Sian
Lun.
Ketika rombongan ini tiba di depan rumah Bu Pok Seng,
yaitu ayah tiri Kui Eng, kebetulan sekali Kui Eng dan ibunya
sedang duduk di ruangan depan bersama Sian Lun yang
bermain-main di atas lantai. Ketika anak ini melihat Beng Han
datang, dia segera berdiri dan berlari-lari menyambut dengan
kedua lengan dibuka sambil berseru girang, "Ayah......! Ayah
datang........!"
Semua orang tersenyum melihat betapa "ayah" ini
memeluk dan memondong anak itu. Memang, semenjak dapat
berkata-kata, Sian Lun menyebut ayah kepada Beng Han dan
ibu kepada Kui Eng! Hal ini terjadi dengan sewajarnya, bukan
karena disuruh orang, karena anak ini menganggap mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdua sebagai orang-orang yang paling baik dan bersikap
paling manis terhadap dirinya. Sedangkan Kui Eng dan Beng
Han juga tidak mau membiarkan anak itu mengerti bahwa dia
telah yatim piatu dan bahwa mereka itu bukan ayah
bundanya.
Nyonya Bu dan Kui Eng menyambut para tamu dengan
girang. Swi Lan, adik tiri Kui Eng, dan ayahnya juga segera
muncul dan menyambut dengan penuh keramahan. Bu Pok
Seng, bekas kepala perampok yang kini menjadi suami ibu Kui
Eng, ternyata telah dapat merobah jalan hidupnya dan kini
menjadi seorang pedagang yang hidup terhormat dan baik,
apa lagi karena dia merasa jerih kepada anak tirinya, Kui Eng
yang menjadi seorang pendekar wanita penentang kejahatan
itu!
Siok Thian Nikouw bercakap-cakap dengan Pek I Nikouw
dan Bu Pok Seng bersama isterinya. Orang-orang muda yang
memiliki selera lain telah memisahkan diri, dan bersama Sian
Lun mereka telah pergi ke dalam taman. Memperoleh
kesempatan ini, Siok Thian Nikouw lalu berkata dengan nada
suara duka, "Sungguh sukar sekali mengurus Beng Han. Telah
pinni bujuk-bujuk agar supaya dia suka mencari jodoh, akan
tetapi dia selalu menolaknya. Padahal, adiknya, Beng Lian
tidak mau melangsungkan pernikahannya sebelum melihat
kakaknya menikah lebih dulu. Coba saja pikir, Beng Lian sudah
bertunangan lebih dari tiga tahun, dan masih saja dia harus
menunggu km kaknya yang masih tidak ketentuan itu. Aih
pinni benar-benar menjadi bingung......." Nikouw itu menarik
napas panjang.
"Ah, hal itu sama benar dengan pengalaman kami di sini.
Sayapun merasa bingung karena Kui Eng tidak mau menerima
pinangan yang banyak datang. Dia selalu menolak dengan
keras, bahkan marah-marah kalau kami menyinggung soal
perjodohannya," kata nyonya Bu sambil mengerutkan alisnya
"Seperti juga halnya dengan Beng Lian, anakku Swi Lan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah bertunangan selama hampir tiga tahun itupun tidak
mau melangsungkan pernikahannya sebelum encinya
menikah!"
Mendengar ucapan dua orang ibu yang bingung
menghadapi kekerasan hati anak mereka Pek I Nikouw
tersenyum, kemudian dia berkata dengan suaranya yang halus
dan tenang, "Kalau begitu, mengapa tidak dijodohkan saja
kedua orang muda yang keras kepala itu ? "
Mendengar ucapan ini, Siok Thian Nikouw dan nyonya Bu
Pok Seng saling pandang dengan mata terbelalak, lalu berseri
dan mulut mereka tersenyum, penuh arti.
"Mengapa tidak.......?" kata mereka hampir berbareng
sehingga Pek I Nikouw bertepuk tangan dengan girang.
"Omitohud......! Kwan Im Pouwsat sungguh mulia dan
maha pengasih ! Sudah setua ini pinni masih mendapat
kehormatan untuk menjadi comblang! Serahkan saja hal ini
kepada pinni dan kalau usaha pinni menjadi comblang ini
berhasil, biarlah pinni kelak melanggar pantangan dan
melakukan dosa besar untuk menunjukkan kegirangan pinni
dengan membasahi bibirku ini dengan arak pengantin !"
Semua orang tersenyum gembira melihat kejenakaan
nikouw tua itu, dan semua orang, termasuk juga Bu Pok Seng,
mengharapkan agar niat mereka yang baik itu akan berhasil,
yaitu menjodohkan anak tirinya Kui Eng, dengan Gan Beng
Han.
Sementara itu, di dalam taman. Beng Han dan Kui Eng
bermain-main dengan Sian Lun. Swi Lan telah meninggalkan
mereka, sedangkan Beng Lian dan Yu Tek yang tadinya juga
duduk di situ bercakap-cakap dengan mereka, kini telah
meninggalkan taman itu untuk pergi berjalan-jalan berdua
saja melihat-lihat pemandangan kota Ki-cu, bergembira seperti
layaknya sepasang orang muda yang sedang bertunangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suheng, Sian Lun suka sekali padamu," kata Kui Eng
dengan wajah berseri melihat Beng Han yang memondong
Sian Lun berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang di
atas kembang - kembang.
Beng Han hanya balas memandang sambil tersenyum. Dia
berkata kepada Sian Lun, "Kupu kupunya tidak bisa ditangkap,
terlalu gesit." Padahal dia tidak mau menangkap kupu-kupu itu
karena kasihan.
Sian Lun merengek dan merosot turun dari pondongan
Beng Han. "Tangkaplah, ayah, tangkaplah kupu-kupu itu
untukku !"
"Jangan, Sian Lun, nanti dia mati, kasihan........" kata Beng
Han.
Sian Lun bersungut-sungut dan berlari menghampiri Kui
Eng.
"Ibu, ayah nakal......, ibu harus pukul padanya !" katanya
dengan sikap manja dan menudingkan telunjuknya ke arah
Beng Han.
"Hushhh, jangan nakal, Sian Lun !" kata Kui Eng. Akan
tetapi anak itu menangis dan mendesak agar "ibunya"
memukul "ayahnya” yang nakal itu. Kui Eng dan Beng Han
saling memandang, teringat akan mendiang Tan Bun Hong
yang keras kepala dan nakal. Anak ini wataknya seperti Bun
Hong.
"Baiklah, kupukul dia, akan tetapi kalau kau yang nakal,
kaupun akan kupukul!" Akhirnya Kui Eng mengalah dan
menghampiri Beng Han, mengangkat tangan dan pura-pura
memukul bahu pemuda itu.
Beng Han yang hendak menggoda Sian Lun, pura-pura
mengaduh dan menutupi muka dengan kedua tangannya dan
membuat suara seperti orang sedang menangis. Terbelalak
mata Sian Lun memandang ayahnya dan dia lalu menghampiri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beng Han yang duduk di atas rumput sambil berlari, memeluk
ayahnya dan bertanya, "Ayah...., kau sakit dipukul ibu_____?"
Kemudian, anak itu memandang kepada ibunya dan
berkata, "Ibu, kau nakal, kenapa kaupukul ayah sampai
kesakitan ?"
"Eh, bukankah kau yang menyuruhku tadi ?" kata Kui Eng
sambil tersenyum.
"Ya, akan tetapi jangan keras-keras memukulnya !"
Beng Han tak dapat menahan gelak tawanya dan juga Kui
Eng tertawa geli sehingga Sian Lun memandang heran sekali
kepada mereka. Bukan main senang dan bahagianya rasa hati
Kui Eng dan Beng Han pada saat itu dan ketika mereka saling
memandang, tiba-tiba suara ketawa mereka berhenti dan dua
pasang mata itu bertemu, saling pandang, dan bertaut
melekat seperti terkena pesona. Hati mereka masing-masing
berbisik dalam lagu yang sama dan suara yang sama pula,
"Alangkah akan bahagianya kalau kita bertiga dapat
berkumpul, merupakan satu rumah tangga yang tidak
terpisah-pisah lagi......."
Hati kedua orang muda ini telah terbuka dan keduanya
telah siap sedia mengangguk dan menyatakan setuju, hanya
menanti datangnya sebuah tangan yang akan diulurkan dan
akan mempertemukan kedua hati itu. Dan tangan inipun telah
mendekat tanpa mereka ketahui yaitu tangan Pek I Nikouw
yang hendak rnengangkat diri sendiri menjadi comblang.
Kebahagiaan telah berada di ambang pintu bagi mereka
tanpa mereka ketahui. Ketika terdengar suara tertawa dan
tepuk tangan Pek I Nikouw yang bergirang hati itu dari dalam
rumah, barulah mereka berdua sadar bahwa semenjak tadi
mereka telah saling pandang bagaikan terkena pesona sihir
sehingga kini keduanya cepat menundukkan muka dengan
malu-malu sehingga seluruh muka mereka rnenjadi merah dan
jantung mereka berdebar aneh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sumoi......" Suara Beng Han menggetar dan tanpa
mengangkat mukanya pemuda itu membelai kepala Sian Lun,
"anak ini seperti anakku sendiri........ "
"Demikianpun perasaan hatiku, suheng....”
Keduanya tidak dapat mengeluarkan kata kata lagi sampai
munculnya Pek I Nikouw dengan wajah berseri-seri. Nikouw
itu dengan suara halus dan wajah berseri mengulurkan tali
pengikat hati mereka berdua. Mendengar perkataan Pek I
Nikouw yang menyampaikan pinangan dan usul perjodohan
dari ibu masing masing. Kui Eng lalu berlari masuk kedalam
kamarnya, menbanting tubuhnya di atas pembaringannya
sambil menangis karena......... girang !
Beberapa pekan
kemudian, secara
berturut turut terjadilah
peristiwa yang amat
menggembirakan. Tiga
pasang pengantin
dipertemukan secara
berturut-turut dengan
penuh kebahagiaan,
mereka itu adalah
pasangan antara Gan
Beng Han dengari Kui
Eng, Yap Yu Tek dengan
Gan Beng Lian, dan Ang
Min Tek dengan Bu Swi
Lan.
Ketika mereka
bertemu sebagai
sepasang pengantin, sebagai suami isteri, Kui Eng dan Beng
Han teringat kepada Bun Hong dan mereka menitikkan air
mata. Kalau ada Bun Hong yang menyaksikan mereka menjadi
pengantin tentu mereka akan lebih berbahagia lagi. Ketiga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ekor naga sakti hanya tinggal dua ekor saja, dan yang dua
ekor inipun tidak berdaya menghadapi kekacauan yang terjadi
di mana mana.
Akan tetapi, kedua orang pendekar yang tadinya adalah
suheng dan sumoi, dan kini telah menjadi suami isteri itu,
segera tenggeIam ke dalam ayunan gelombang asmara dan
bulan madu yang membuat mereka lupa bahwa keadaan di
dunia masih jauh dari pada baik, bahwa kehidupan rakyat
masih terus dalam keadaan terhimpit dan tercekik.
(Oo-bud_dwkz-234-oO)
Pejabat-pejabat tinggi dan pembesar-pembesar yang hanya
berusaha membesarkan perut dan kekayaan pribadinya masih
bersimaharaja-lela dan kaisar makin lemah seperti boneka
saja. Kelaliman terjadi di mana-mana dan bahkan kini orangorang
dari dunia sesat melihat kesempatan yang amat baik
sekali yaitu selagi pemerintah berada dalam keadaan lemah
mereka bangkit dan bermuncullah tokoh-tokoh sesat yang
tadinya bersembunyi karena selama pemerintah kuat tentu
saja takut untuk beroperasi. Akan tetapi kini, melihat
pemerintah amat lemah bahkan orang-orang yang
berkedudukan tinggi menentang para pendekar yang membela
rakyat, maka kesempatan baik ini dipergunakan oleh kaum
sesat atau golongan hitam untuk mendekati para pembesar
korup dan untuk bersekutu dengan mereka dalam usaha
mereka mengejar kesenangan sepuas-puasnya selagi masih
ada kesempatan!
Melihat keadaan seperti itu, para pendekar seperti Gan
Beng Han, Kui Eng dan yang lain-lain makin berduka dan tidak
berdaya. Di dalam hati mereka, para pendekar ini tentu saja
merasa penasaran melihat kesengsaraan rakyat. namun
mereka tidak berdaya. Baru saja terjadi pemberontakan An Lu
Shan yang disambung serangkaian pemberontakan lagi. Baru
saja pemberontakan tertindas, padahal pemberontakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendatangkan perang saudara yang amat mengerikan
Mereka, kaum pendekar, tidak sudi memberontak seperti yang
dilakukan oleh An Lu Shan. Mereka hanya menentang
kejahatan secara perorangan, akan tetapi setelah kini yang
paling jahat atau yang menjadi sumber kejahatan adalah
pembesar-pembesar yang berkedudukan tinggi, tentu saja
para pendekar ini menjadi tidak berdaya. Menentang
kejahatan adalah kewajiban pendekar, akan tetapi kalau yang
jahat itu para pembesar, maka kalau mereka menentang,
berarti rnereka itu menentang para pembesar dan hal ini tentu
amat berbahaya karena para pembesar itu bersembunyi di
belakang kedudukan dan kekuasaan mereka sehingga setiap
penentang akan dicap pemberontak! Siapa saja yang
menentang tindakan sewenang-wenang seorang pembesar
menentang kejahatan pribadi pembesar tentu akan dicap
sebagai pemberontak yang menentang pemerintah! Hal
seperti ini telah sedang dan akan selalu terjadi di bagian
manapun di dunia ini dan memang sungguh amat
menyedihkan !
Hukum rimbaselalu berkuasa semenjak jaman batu sampai
jaman sekarang! Siapa kuat dia menang dan siapa menang dia
berkuasa dan siapa berkuasa dia pasti benar, atau dibenarkan!
Dan selama terdapat hukum rimba seperti ini, sudah pasti
akan muncul golongan - golongan yang saling bertentangan.
Golongan putih yang menentang kelaliman dan golongan
hitam yang membonceng kelaliman untuk menyenangkan
dirinya. Dan pertentangan di mana-mana. Dan permusuhan di
mana - mana. Din perang tak mungkin terelakkan lagi.
Setahun telah lewat semenjak Gan Beng Han merayakan
pernikahannya dengan Kui Eng. Bulan-bulan rnadu mereka
nikmati semenjak mereka menikah dan mereka tinggal di Cinan
sebagai suami isteri yang rukun dan kelihatannya
berbahagia Akan tetapi, Beng Han dapat menyelami jiwa
isterinya dan di lubuk hatinya dia maklum bahwa cinta kasih
isterinya kepadanya adalah cinta kasih pulasan belaka,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sungguhpun isterinya selalu bersikap baik kepadanya. Sering
kali isterinya termenung dan memaksa datangnya senyum
kalau dia muncul. Dia tahu bahwa dahulu, isterinya ini sudah
agak condong kepada Bun Hong, kemudian dia telah
mengetahui pula bahwa isterinya pernah tergila-gila dan jatuh
cinta kepada Ang Min Tek yang kini menjadi moi-hu (adik ipar)
mereka. Akan tetapi, Gan Beng Han adalah seorang pendekar
yang bijaksana dan dia tidak menderita karenanya. Tidak,
cinta kasihnya terhadap isterinya adalah murni dan dia hanya
mementingkan kebahagiaan orang yang dicintainya, bukan
kesenangan dirinya sendiri.
Betapapun juga, Beng Han merasa berbahagia sekali
karena dari pernikahan itu, isterinya telah mengandung dan
sekarang, setahun kemudian, isterinya telah mengandung
sembilan bulan Akan tetapi, di samping kebahagiaannya, dia
juga merasa gelisah sekali. Kegelisahan seorang calon ayah
yang menantikan lahirnya anak yang pertama!
Semenjak siang tadi, dia telah seperti tersiksa hatinya
mendengarkan keluhan dan rintihan isterinya dari dalam
kamar. Dia tidak di perkenankan masuk, harus menanti di luar
dan isterinya hanya ditemani oleh seorang bidan dan dua
orang pembantunya. Keluhan dan rintihan yang terdengar dari
jendela kamar itu seperti menyayat hatinya, membuat dia
merasa amat iba kepada wanita vang dicintanya itu.
Setelah senja lewat dia tidak dapat menahan
kegelisahannya lagi dan pergilah dia ke lian-bu-thia di sebelah
belakang rumah. Akan tetapi ke manapun dia pergi, rintihan
isterinya selalu mengikutinya dan betapapun dia menutupi
kedua telinganya, masih saja dia mendengar keluh-kesah itu.
Maka dia lalu berlatih silat di lian-bu thia (ruangan berlatih
silat) itu. Makin hebat isterinya merintih, makin hebat pula dia
menggerakkan kaki tangannya memukul dan menendang
untuk menekan kegelisahan hatinya. Beng Han bersilat
seorang diri seperti orang gila. Dia telah berkeringat, akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetapi dia tidak mau berhenti. Dia hendak mengimbangi
penderitaan isterinya dengan bersilat dan dia tidak akan
berhenti sebelum isterinya melahirkan !
"Aih, pendekar perkasa Gan Beng Han, ilmu silatmu
sungguh hebat, akan tetapi mengapa, engkau menyiksa diri
dengan berlatih mati-matian seperti ini?"
Beng Han terkejut mendengar suara halus itu dan cepat dia
menghentikan gerakan silatnya dan menoleh. Makin heran dan
kaget hatinya ketika dia melihat bahwa yang menegurnya itu
adalah seorang wanita yang amat cantik jelita. Seorang dara
yang usianya tidak akan lebih dari duapuluh tahun, wajahnya
cantik manis dengan kulit yang halus putih, sepasang matanya
lincah jenaka dan bibirnya tersenyum manis penuh daya pikat,
tubuhnya padat dan pinggangnya ramping. Pakaiannya yang
terbuat dari sutera halus berwarna putih itu membayangkan
bentuk tubuhnya yang indah. Beng Han tidak melihat wanita
ini sebagai seorang ahli silat, tidak melihat dia membawa
senjata, akan tetapi kehadirannya yang amat luar biasa, tanpa
didengarnya sama sekali itu, menimbulkan kecurigaannya. Dia
tidak mengenal dara ini. Ataukah dia ini seorang di antara
pembantu bidan ?
"Ba....... bagaimana dengan isteriku........ "
Dia bertanya gagap karena menyangka bahwa pembantu
bidan yang cantik ini tentu datang untuk mengabari tentang
isterinya, sungguhpun ucapannya tadi memang aneh sekali.
Dara itu tersenyum lebar dan nampaklah deretan
gigiyangputih bersihmengkilap "Hi-hi-hik, Can-taihiap, tenang
dan sabarlah isterimu kudengar sedang berjuang melahirkan,
engkau seorang pendekar gagah mengapa begini gugup dan
gelisah ?"
Kini yakinlah Beng Han bahwa wanita iri bukan pembantu
bidan, maka dia memandang tajam dan sikapnya serius.
"Siapakah nona ? "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Namaku ? Namaku Siauw Kim, Bu Siauw Kim," jawab
wanita itu sambil tersenyum dani mengerling tajam.
Beng Han mengerutkan alisnya. Dia tidak pernah mengenal
nama itu, akan tetapi bagaimana wanita ini dapat memasuki
lian-bu-thia begitu saja dan bagaimana dapat mengenal
namanya ?
"Aku......... aku tidak mengenal nona........ "
Kembali wanita cantik itu tersenyum dan wajahnya
kelihatan masih muda remaja sekali kalau dia tersenyum, akan
tetapi pandang matanya yang memiliki kegenitan khas itu
membayangkan bahwa dia telah matang.
"Akan tetapi aku mengenalmu, Gan-taihiap. Siapakah yang
tidak mengenal Gan Beng Han, Kui Eng yang sekarang
menjadi isterimu, yang bersama mendiang Tan Bun Hong
merupakan tiga naga sakti yang pernah menggemparkan kota
raja?"
Bukan main kagetnya rasa hati Beng Han. Celaka, wanita
ini tentu seorang mata-mata pemerintah ! Akan celakalah
sekeluarganya setelah rahasia itu diketahui orang!
"Apa........ apa maksudmu....... apa kehendakmu datang ke
sini.......?" Dia bertanya dan mukanya menjadi pucat.
"Gan-taihiap, jangan terkejut. Aku bukanlah seorang
musuh, sebaliknya malah aku datang sebagai seorang sahabat
baik sekali. Kebetulan tadi aku lewat di atas rumah ini dan aku
mendengar suara angin pukulan-pukulanmu yang dahsyat,
maka aku mengintai. Melihat engkau berlatih silat selagi
isterimu hendak melahirkan, aku kagum dan aku turun.
Kemudian teringatlah aku akan berita yang disampaikan anak
buahku bahwa di kota ini tinggal pendekar Gan Beng Han dan
isterinya pendekar wanita Kui Eng, maka mudahlah bagiku
untuk mengenalmu. Aku amat kagum kepadamu dan aku ingin
mempererat perkenalan ini, taihiap."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beng Han makin terkejut. Wanita cantik ini sungguh aneh,
dapat mengetahui segala galanya, mengetahui sepak
terjangnya beberapa tahun yang lalu di kota raja. "Siapakah
nona? Siapa pula anak buah nona itu?"
"Hi-hik," bibir yang merah itu merekah dan kembali nampak
gigi putih mengkilat "Sudah kukatakan bahwa namaku Bu
Siauw Kim, dan aku adalah kauwcu (guru agama) dari Imyang-
kauw."
Sepasang mata pendekar itu terbelalak! Tentu saja dia
sudah mendengar nama Im yang-kauw yang amat terkenal,
tidak kalah terkenalnya dibandingkan dengan Pek- lian kauw
dan perkumpulan lain. Dan yang berdiri di depannya ini adalah
kauwcunya! Cepat dia menjura kepada wanita itu.
"Ah, kiranya Im-yang-kauwcu. Harap maafkan kalau aku
bersikap kurang hormat karena tidak mengenal kauwcu.
Setelah kauwcu sudi mengunjungi kami, silakan duduk di
ruangan tamu........"
"Hushhhh........ mengapa begini sungkan taihiap? Aku
datang karena tertarik oleh ilmu silatmu, dan ketika melihat
engkau bersilat melihat tubuhmu yang berkeringat, aku makin
tertarik dan aku datang sebagai sahabat baik, baik sekali,
akrab sekali, bukan sebagai tamu yang ingin disambut dengan
segala penghormatan kaku dan palsu. Marilah kita bicara di
dalam taman, kulihat taman bungamu di belakang indah
sekali." Wanita itu mengulurkan lengan hendak menggandeng
tangan BengHan.
Tentu saja Beng Han terkejut bukan main dan cepat dia
menarik tangannya, mengelak seperti melihat ular
mematuknya. Dia mengangkat muka memandang dengan alis
berkerut dan mukanya berobah merah, matanya memandang
tajam.
"Im-yang-kauwcu!" dia berkata, suaranya keren penuh
teguran. "Apakah artinya sikapmu yang tidak semestinya ini?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita itu mengangkat kedua alisnya, menggerakkan biji
matanya dan mulutnya masih tersenyum. "Aihhh, engkau yang
sudah hampir menjadi seorang ayah ini, masih begitu hijau
dan bodohkah sehingga tidak mengerti maksud hatiku,
taihap.? Begitu melihatmu, melihat engkau bersilat, melihat
tubuh dan wajahmu, engkau seperti seekor naga sakti, engkau
seorang laki-laki jantan, seperti seekor singa muda ? Begitu
kokoh kuat, begitu hebat ! Begitu melihatmu, aku telah jatuh
hati, taihiap. Aku suka sekali padamu dan aku ingin menjadi
kekasihmu semalam ini........"
Kalau dia mendengar ada kilat menyambar kepalanya,
belum tentu Beng Han akan menjadi kaget seperti ketika
mendengar ucapan ini. Matanya terbelalak, mukanya menjadi
merah sekali dan dia menjadi marah bukan main, "Im-yangkauwcu
! Kalau benar engkau kauwcu dari Im-yang-kauw, tak
kusangka engkau, si orang wanita yang begini muda, apa lagi
kalau benar engkau menjadi ketua Im-yang-kauw dapat
mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh dan cabul itu !"
"Hi-hik! Tidak senonoh? Cabul? Gan-taihiap, Gan-koko, aku
seorang wanita dan melihat engkau seorang pria, aku tertarik
dan suka, aku ingin menjadi kekasihmu malam ini apakah itu
tidak senonoh dan cabul ?"
"Cukup! Harap kau pergi dan tinggalkan rumah ini, jangan
membuat kacau di sini !” Beng Han membentak.
"Aku tidak akan pergi sebelum engkau memenuhi
permintaanku, Gan-koko. Aku benar benar telah jatuh hati
kepadamu dan engkau harus menjadi kekasihku malam ini !"
"Perempuan tak tahu malu ! Kaukira aku Gan Beng Han
orang macam apa ? Lekas pergi, aku masih sungkan untuk
menggunakan kekerasan dan bersikap kasar terhadap seorang
wanita !"
"Kau ? Bersikap kasar kepadaku ? Menggunakan
kekerasan? Hi-hik, Gan-koko, aku memang paling suka kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
laki-laki yang kasar dan keras, aku muak dengan yang halus
dan yang lemah. Cobalah engkau bersikap kasar, sampai di
mana kekerasanmu !" Ucapan yang mengandung maksud -
maksud cabul itu makin memarahkan hati Beng Han.
"Pergilah, ataukah aku harus menyerangmu dan
menyeretmu keluar ?" bentaknya.
"Hi-hik, tidak akan begitu mudah, Gan Beng Han !!"
Sudah habis kesabaran Beng Han dan cepat dia menerjang
dengan pukulan tangan kanan ke arah muka wanita itu.
"Wuuuutttt.......!!" Pukulan tangan yang dikepal itu keras
bukan main. Batupun akan hancur terkena pukulan itu. Akan
tetapi wanita cantik itu bahkan menjulurkan mukanya yang
cantik, sama sekali tidak menangkis atau mengelak, bibirnya
tersenyum manis.
Gan Beng Han adalah seorang pendekar besar dan
budiman. Mana mungkin dia tega mempergunakan
pukulannya yang amat kuat itu untuk menghantam wajah
yang demikian cantik manis, yang berkulit demikian putih
halus? Tentu akan remuk muka itu terkena pukulannya dan
bukan main terkejutnya melihat wanita itu sama sekali tidak
mengelak atau menangkis! Maka ketika pukulannya sudah
hampir mengenai wajah itu, kurang beberapa senti lagi, dia
cepat menahan dan menarik kembali pukulannya.
Wanita cantik itu tertawa. "Hi - hik, sudah kuduga. Mana
kau tega memukul aku, taihiap? Dari pada kita bermusuhan,
bukanlah lebih baik kita bercintaan?"
"Perempuan cabul tak tahu malu!" Beng Han membentak
dan kini dia benar-benar menyerang. Isterinya sedang matimatian
berjuang untuk melahirkan dan dia digoda oleh wanita
jalang ini!
Akan tetapi, pukulannya yang ditujukan ke arah leher
wanita itu, dengan mudah saja dapat dielakkan oleh Bu Siauw
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kim atau Im-yang-kauwcu itu. Dengan hanya miringkan
tubuhnya sambil terkekeh genit, pukulan itu luput! Beng Han
maklum bahwa wanita ini sesungguhnya memiliki kepandaian,
maka dia lalu menerjang terus dengan hebatnya.
Betapa terkejut hatinya ketika dia melihat bahwa semua
serangannya itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya
oleh wanita itu Dia mulai merasa penasaran dan cepat dia
mainkan ilmu silatnya yang diandalkan, yaitu Kwi hoa-kun.
Ilmu ini adalah ciptaan dari gurunya Lui Sian Lojin, merupakan
ilmu silat yang dapat dimainkan dengan tangan kosong
maupun dengan pedang. Bukan main hebatnya gerakan Beng
Han, dan setiap pukulan kini dilakukannya dengan pengerahan
tenaga sinkang karena dia sudah marah sekali. Akan tetapi
sungguh mengejutkan, semua pukulan itu tetap saja tidak
pernah dapat menyentuh tubuh ketua Im-yang - kauw! Tubuh
wanita itu berkelebatan seolah-olah dapat terbang saja,
demikian ringannya sehingga semua pukulan dan tendangan
Beng Han dapat dihalaunya dengan mudah sambil terkekeh -
kekeh!
"Hi-hik, Gan - taihiap, dalam ilmu silat engkau masih harus
belajar seratus tahun lagi untuk dapat mengalahkan aku. Akan
tetapi, tanpa ilmu silat, dengan sikap kasih sayang, aku akan
menyerah kepadamu!"
Makin marahlah Beng Han. Dia tidak membawa pedangnya,
kalau dia membawa senjata itu, tentu dia akan
mempergunakannya untuk menghadapi lawan yang tangguh
ini. Agaknya pikiran ini dapat diketahui oleh Im-yang-kauwcu
karena tiba-tiba wanita ini meloncat ke belakang dan
menuding ke arah rak senjata di mana teidapat berbagai
senjata yang dipergunakan untuk latihan oleh suami isteri
pendekar itu.
"Kau masih penasaran? Nah, kaupilihlah senjatamu, Gan
Beng Han !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beng Han yang sudah marah itu lalu meloncat ke sudut,
menyambar sebatang pedang dan dia lalu menerjang lagi,
tidak memperdulikan lagi bahwa lawannya adalah seorang
dara yang muda dan cantik jelita, tidak bersenjata pula! Akan
tetapi, Beng Han belum mengenal betul siapa wanita ini!
Im-yang-kauwcu Bu Siauw Kim ini berjuluk Kim-sim Niocu.
Dia adalah puteri tunggal dari Kok Beng Thiancu, tokoh besar
yang menjadi ketua Im-yang-pai di Tai-hang-san. Kalau Kok
Beng Thiancu ini sudah merupakan tokoh besar di dunia
persilatan, ditakuti baik oleh golongan putih maupun hitam,
maka puterinya ini sebagai ketua agama, bahkan memiliki
kepandaian yang lebih hebat lagi! Dan sesuai dengan
kebiasaan dari agama yang dianutnya, ayah dan anak ini tidak
pantang melakukan perjinaan asalkan tidak melakukan
pemaksaan atau perkosaan. Sudah lama sekali Im-yang-pai
dan agamanya yaitu Im-yang-kauw, tidak pernah keluar dari
sarang, akan tetapi semenjak dalam negeri terjadi kekacauan,
kini seperti juga golongan-golongan lain, Im-yang-kauw mulai
memperlihatkan giginya dan ketua dari lm-yang-kauw inipun
mulai berani memperlihatkan pengaruh dan kepandaiannya.
Memang pada hari itu dia kebetulan berada di Cin-an dan
sebagai seorang tokoh kang-ouw terkemuka, Im-yang-kauwcu
mendengar pula tentang pendekar Gan Beng Han yang tinggal
di kota ini. Sudah lama dia kagum mendengar sepak terjang
dari pendekar itu, maka sore hari itu dia sengaja singgah
secara diam-diam. Ketika dia mengintai dan melihat pendekar
itu tengah berlatih silat, seketika dia jatuh hati!
Kini, dengan pedang di tangan, Beng Han mengamuk
seperti seekor naga. Akan tetapi, kalau dia boleh
diumpamakan seekor naga, Im-yang-kauwcu adalah seperti
segumpal awan yang bergerak ke sana-sini, sama sekali tidak
dapat diterkam oleh naga itu ! Kini nampak sinar hitam
bergulung-gulung dengan cepat dan ke manapun sinar pedang
Beng Han menyambar, selalu bertemu dengan gulungan sinar
hitam ini dan membalik! Beng Han terkejut bukan main. Sinar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hitam itu hanya sehelai sabuk hitam yang tadi membelit ikat
pinggang yang ramping itu, dan bagaimana sehelai sabuk
sutera hitam dapat menahan pedangnya? Hal ini membuktikan
bahwa sinkang dari dara cantik ini benar - benar amat
kuatnya!
"Gan-koko, dari pada kita berkelahi, bukankah lebih baik
kita bercinta?"
"Keparat, lebih baik aku mampus !" bentak Beng Han
dengan kemarahan meluap dan kini dia menggerakkan
pedangnya makin hebat lagi. Dia sudah lupa akan keadaan
isterinya dan karena maklum bahwa yang dihadapinya adalah
seorang wanita yang benar-benar lihai, bahkan jauh lebih lihai
dari semua lawan yang pernah dihadapinya, termasuk Tek Po
Tosu, maka dia bersilat dengan hati-hati sekali..
"Hi-hik, biar gurumu sendiri belum tentu akan dapat
mengalahkan aku, Gan-koko. Nah, kalau begitu rebahlah kau!"
Tiba-tiba Nampak sinar merah ketika wanita itu mengebutkan
sehelai saputangan merah yang entah kapan diambilnya. Uap
merah mengebul dari sapu tangan itu. Beng Han mencium bau
yang harum dan kepalanya seketika menjadi pening.
Gerakannya menjadi kacau dan dia terhuyung. Sebelum dia
dapat memulihkan kesadarannya ujung sabuk sutera hitam itu
telah menotok beberapa jalan darahnya dan robohlah
pendekar ini, terguling dan tentu akan terbanting kalau saja
wanita itu tidak cepat merangkulnya! Beng Han rebah dalam
keadaan lumpuh kaki tangannya !
Im-yang-kauwcu melibatkan lagi sabuk hitamnya di
pinggang dan menyimpan kembali saputangan merahnya. Lalu
dia berlutut di dekat tubuh Beng Han, menggunakan jari-jari
tangannya membelai dagu dan pipi pria itu.
"Bagaimana, Gan-koko, tidak benarkah kata kata Bu Siauw
Kim bahwa kau bukan lawanku dalam ilmu silat?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Perempuan siluman, kaubunuhlah aku!", bentak Beng Han
dalam keadaan lemas karena kaki tangannya tak dapat
digerakkannya lagi
"Membunuhmu? Aihh, aku cinta padamu, bagaimana harus
membunuhmu? Tidak, koko, aku tidak akan membunuhmu,
juga tidak akan menggunakan paksaan. Aku hanya minta
belas kasihanmu agar engkau suka menjadi kekasihku malam
ini........ aku sama sekali tidak mengandung niat buruk di
hatiku."
"Perempuan hina ! Siluman jahat! Aku tidak sudi. Kaukira
aku ini laki-laki macam apa? Dari pada menyerah kepadamu,
lebih baik kaubunuh aku !"
"Hebat......! Sungguh sikap jantan ini yang makin menarik
hatiku, Gan-koko ! Kalau kau merengek, minta ampun,
mungkin aku akan muak kepadamu" Wanita ini lalu menunduk
dan menyentuh pipi Beng Han yang berkeringat itu dengan
hidungnya yang kecil mancung, berdiri bulu tengkuk pendekar
itu ketika menerima ciuman ini. Isterinya sendiri, Kui Eng yang
dicintanya belum pernah memperlihatkan perasaan kasihnya
secara demikian terang-terangan !
"Gan-koko, ingat. Aku telahmengetahui bahwa engkau dan
isterimu dan mendiang sutemu adalah tiga naga sakti yang
pernah mengacau di kota raja. Bagaimana kalau sampai hal ini
di ketahui oleh Tek Po Tosu ? Aku bisa saja memberi tahu dia
dan mereka yang bertugas di kota raja, kalau aku mau."
"Silakan! Aku tidak takut mati !" jawab Beng Han makin
marah. "Akan tetapi untuk memaksa aku melayani hasratmu
yang kotor, jangan harap! Lebih baik kau lekas bunuh aku
saja!"
Kembali jari - jari tangan itu membeIai-belai muka, leher
dan dada yang bidang itu, sepasang mata indah itu setengah
terkatup, bibirnya agak terbuka, hidungnya kembang-kempis,
tanda bahwa Im-yang-kauwcu benar-benar telah timbul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gairahnya terhadap Beng Han. Sikap jantan dan gagah dari
pendekar ini seperti membakar isi dadanya dan membuat api
berahinya berkobar.
"Kau laki-laki jantan, kau singa muda....!" Dan kini wanita
itu menundukkan mukanya, mendekati muka Beng Han dan
bibirnya sudah menyentuh mulut Beng Han yang tidak mampu
mengelak lagi. Tiba - tiba terdengar lengking yang
mengejutkan, tangis seorang bayi !
Im-yang-kauwcu terkejut dan mengangkat mukanya
menoleh ke arah kamar di sebelah dalam di mana tangis itu
terdengar. Wajah Beng Han berseri dan matanya bersinarsinar
penuh ketegangan. "Anakku.......! Anakku lahir........!"
bisiknya dan dia berusaha meronta, namun sia-sia.
"Aih, kionghi (selamat), Gan-koko! Sekarang, untuk
peristiwa menggirangkan itu, marilah kita berpesta berdua. "
Dia merangkul dan hendak mencium mulut Beng Han.
"Siluman keji, aku tidak sudi! Tidak sudi! Tak tahu malukah
engkau hendak memaksaku?"
Im-yang-kauwcu mengangkat mukanya dan mengerutkan
alisnya. "Benarkah? Kau tidak mau? Hemm, hendak kulihat
nanti. Sekarang lebih baik aku pergi saja menjenguk anakmu
yang baru lahir." Dia bangkit berdiri dan tiba-tiba wajah Beng
Han menjadi pucat.
"Tunggu! Apa....... apa yang hendak kaulakukan ? Jangan
kauganggu anakku! Isteriku!"
Mulut yang manis itu berjebi penuh ejekan. "Kalau aku
melakukan sesuatu terhadap mereka kau mau apa? Aku hanya
ingin melihat, kalau anak itu menyenangkan, aku akan
membawanya pergi sebagai pengganti ayahnya yang tidak
mengenal cinta kasih orang!"
Melihat wanita itu sudah melangkah pergi, jantung Beng
Han berdebar tidak karuan. Celaka, pikirnya. Wanita seperti itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentu akan memenuhi ancamannya. Dan isterinya yang baru
melahirkan tentu tidak akan mampu melindungi anaknya.
Jangankan sekarang dalam keadaan baru saja melahirkan,
biarpun dalam ke adaan sehat juga isterinya pasti tidak akan
nampu menandingi wanita ini.
"Kauwcu.........!" Dia berseru.
Wanita itu berhenti dan menoleh, tersenyum. "Apa lagi ?"
"Jangan........ jangan kau mengganggu anakku, kumohon
kepadamu, janganlah........kau boleh bunuh saja aku, tapi
jangan mengganggu mereka......."
Im-yang-kauwcu melangkah kembali, mendekati Beng Han.
"Kini engkau yang mohon-mohon kepadaku, tadi aku mohon
kemurahan hatimu, engkau malah memakiku. Bagaimana
sekarang kau boleh mengharapkan aku untuk memenuhi
permohonanmu?"
"Kauwcu, aku mohon kepadamu, kasihanilah anakku,
isteriku. Mereka tidak tahu apa-apa......... "
"Hi-hik, dan kau tidak kasihan kepadaku, koko yang baik?
Padahal aku hanya minta balas kasihanmu, minta kasih
sayangmu hanya untuk semalam ini saja. Dan isterimu tidak
tahu apa-apa, mengapa kau menolak? Kalau kau suka
memenuhi permintaanku, akupun tentu akan dengan senang
hati memenuhi permintaanmu......."
Beng Han menjadi bingung sekali. Dia tahu bahwa dia
berada dalam cengkeraman wanita lihai ini, bahwa jiwa
anaknya berada dalam telapak tangan wanita ini. Dia tidak
takut mati, dia lebih baik mati dari pada harus memenuhi
kehendak dan hasrat kotor wanita ini.
Akan tetapi, demi menolong isterinya, terutama anaknya
yang baru saja terlahir, dia mau melakukan apapun juga!
Apapun juga, termasuk perbuatan hina seperti yang
dikehendaki wanita ini!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau...... kalau aku memenuhi permintaanmu, maukah
kau bersumpah untuk membebaskan anak isteriku?"
"Tentu saja!" Im-yang-kauwcu merangkul dan mencium
bibir pria itu dengan penuh kemesraan.
"Kau....... kau berjanji dulu, kau bersumpah dulul"
Dengan muka berseri dan kedua pipi kemerahan, Im-yangkauwcu
lalu duduk bersila dan berkata dengan suara serius,
"Aku, Kim-sim Niocu, Im-yang-kauwcu Bu Siauw Kim,
bersumpah demi kedudukanku sebagai ketua Im-yang-kauw,
bahwa aku tidak akan mengganggu seujung rambut dari isteri
dan anak Gan Beng Han setelah Gan Beng Han sudi
menerimaku sebagai kekasihnya malam ini...."
"Dan kau juga tidak akan mengganggu aku lagi selamanya,
tidak akan mengikat aku sebagai kekasihmu setelah malam
ini," kata Beng Han.
"Dan aku tidak akan mengganggunya lagi selamanya,
hanya malam ini saja dia menjadi kekasihku. Aku bersumpah!"
Gan Beng Han merasa lega. Isteri dan anaknya selamat.
Akan tetapi dia? Jantungnya berdebar penuh ketegangan dan
mukanya menjadi merah sekali.
"Kau....... kaubebaskan totokan ini........"
"Ett, nanti dulu, Gan - koko. Aku sudah bersumpah, maka
engkaupun harus bersumpah pula."
"Bersumpah apa?" tanya Beng Han terkejut.
"Bersumpah bahwa setelah kau kubebaskan engkau tidak
akan memberontak dan engkau bersumpah akan memenuhi
permintaanku, akan menjadi kekasihku malam ini, akan
mencintaku."
Beng Han tidak berdaya lagi. "Aku bersumpah," katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hi-hik, terima kasih, koko. Aku percaya bahwa seorang
pendekar seperti engkau tidak akan melanggar sumpahnya
dan menjilat kata kata janjinya sendiri." Bu Siauw Kim lalu
membebaskan totokannya dan dia menggandeng tangan Beng
Han keluar dari lian-bu-thia itu menuju ke dalam taman bunga
di belakang rumah.
Malam itu sunyi,
bulan muncul
sepotong. Malam yang
romantis sekali, malam
yang sejuk dan hening.
Dan di dalam taman
itu, terpaksa Beng Han
melayani hasrat hati
Im-yang-kauwcu yang
sudah diamuk berahi.
Mula-mula Beng Han
hanya menerima saja,
membiarkan dirinya
dibelai, dipeluk dan
diciumi oleh Bu Siam
Kim. Mula-mula dia
hendak
mempertahankan diri
secara diam-diam agar
dia tidak terseret oleh gelombang nafsu itu. Yang penting, dia
tidak menolak! Dengan demikian dia tidak melanggar sumpah
dan janjinya.
Akan tetapi, dia salah hitung! Beng Han adalah seorang
laki-laki yang masih hijau dalam hal asmara. Satu-satunya
wanita yang di kenal dan pernah didekatinya hanyalah
isterinya sendiri. Dan semenjak isterinya mengandung tentu
saja dia menjauhkan diri. Dan dia adalah seorang laki laki
muda yang sehat, yang kuat dan di dalam tubuhnya masih
mengalir darah panas. Sedangkan Bu Siauw Kim adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang wanita muda yang amat cantik jelita dan biarpun
masih muda, namun pengalamannya dalam hal permainan
asmara sudah amat banyak karena wanita ini memang
menghambakan diri kepada asmara dan nafsu berahi. Oleh
karena itu, menghadapi rayuan dan belaian Bu Siauw Kim,
akhirnya pertahanan Beng Han runtuh. Dia diamuk oleh
gelombang yang amat dahsyat karena tadinya dia menahannahan
diri, seolah-olah membuat bendungan terhadap air bah
mengamuk dan kini bendungan itu jebol dan air bah
membanjir dengan dahsyatnya. Tentu saja hal ini amat
menggirangkan hati Im-yang-kauwcu karena pendekar iiu
telah berubah menjadi seorang kekasih yang amat ganas,
amat kuat dan penuh kejantanan!
Lewat tengah malam, barulah nampak Im-yang-kauwcu
bangkit dari atas rumput tebal di mana kedua orang muda ini
berenang dalam lautan nafsu berahi. Wajah wanita itu agak
pucat, namun matanya berseri dan mulutnya ternyum. Dia
membungkuk, mencium bibir pria itu dengan sepenuh
perasaannya, kemudian dia bangkit berdiri dan berpakaian
lagi, kadang-kadang mengerling kepada Beng Han dengan
senyum simpul. Beng Han bangkit duduk dan menutupkan
kedua tangannya ke depan muka. Ingin dia menangis, ingin
dia berteriak marah, ingin dia menyerang wanita ini. Setelah
air bah membanjir keluar, setelah kedahsyatan reda, setelah
keadaan tenang kembali, barulah dia sadar dan dia merasa
menyesal bukan main. Akan tetapi, semua itu telah berlalu!
"Gan-koko, kau memang laki-laki jantan, kau memang
hebat........" Im-yang-kauwcu berbisik dan hendak memeluk
lagi.
"Sudahlah, Bu Siauw Kim, sudahlah jangan kausiksa hatiku,
engkau sudah memperoleh apa yang kauinginkan. Dan harap
kau tidak melanggar sumpahmu."
"Hi-hik, engkau menyenangkan sekali, ko-ko. Bagaimana
mungkin aku melanggar sumpahku? Engkau terlalu jujur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga engkau tidak melihat bahwa bagaimanapun juga,
tidak mungkin aku mau mengganggu anak isterimu tanpa
sebab. Nah, selamat tinggal, Gan-koko, Gan-taihiap, aku tidak
akan melupakan kemesraanmu malam ini." Sekali berkelebat,
wanita itu pun menghilang dari taman itu.
Sampai lama Gan Beng Han tidak bergerak masih menutupi
muka dengan kedua tangan nya. Akhirnya dia bangkit juga,
berpakaian akan tetapi dia menggigil ketika melangkah ke
dalam rumah. Dia merasa takut untuk memasuki kamar
isterinya, untuk bertemu denga isterinya. Dia merasa malu
untuk bertemu dengan anaknya! Akan tetapi, dia memaksa
diri dan akhirnya dia mendorong daun pintu kamar isterinya
itu.
Isterinya rebah terlentang di atas pembaringan, wajahnya
agak pucat akan tetapi matanya bersinar-sinar. Seorang anak
bayi rebah di dekat Kui Eng, dan bidan yang membantu
kelahiran itu masih sibuk membereskan tempat itu.
"Kau dari mana? Mengapa sejak tadi kutunggu tunggu
belum juga masuk, suamiku? Lihat, ini anak kita....... anak
perempuan.....!" kata Kui Eng dengan wajah cerah.
Beng Han berdiri dengan pucat, kedua kakinya menggigil.
Dia memandang kepada Kui Eng, lalu kepada wajah orok itu,
kemudian dia mengeluh dan lari menghampiri, menjatuhkan
diri berlutut di dekat pembaringan dan membenamkan
mukanya di dalam selimut di atas tubuh isterinya.
"Aku takut....... aku cemas mendengar rintihanmu tadi.......
ah, betapa khawatir hatiku, Eng- moi......."
Kui Eng tersenyum. Inikah suaminya, suhengnya, yang
gagah perkasa dan selalu tenang dan tak pernah mengenal
takut itu? Dia bangga! Suaminya ketakutan karena dia! Dia
menggerakkan tangan, mengelus rambut kepala suaminya.
Suami yang amat baik! Beng Han mengangkat muka dan
ternyata kedua matanya basah. Dia menangkap tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
isterinya dan membawa tangan itu ke depan hidungnya,
mulutnya, untuk diciumnya dan di dalam hatinya dia menjeritjerit
minta ampun bahwa baru saja beberapa menit yang lalu
dia telah menciumi mata, hidung, pipi dan mulut wanita lain
dengan penuh kemesraan, dia telah........!
"Han-ko, aku tadi bermimpi aneh sekali."
"Bermimpi ?"
"Ya, aku melihat bidadari,"
"Bidadari.......?" Jantungnya Beng Han berdebar tegang.
"Ya, dia tadi menjenguk ke sini, dari jendela itu. Wajahnya
cantik jelita sekali, pakaiannya serba putih. Dia tersenyum,
manis sekali, Han-ko, dan sekali berkelebat dia lenyap lagi."
"Ahh........"
"Kau kenapa, Han-ko ?"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa......."
Tahulah Beng Han bahwa Bu Siauw Kim, atau Im-yangkauwcu,
benar-benar telah memegang janji, dan sebelum
pergi, wanita itu tadi telah menjenguk isterinya. Wanita yang
hebat luar biasa, dan wanita yang telah menjadi kekasihnya
untuk malam itu!
Semenjak peristiwa itu, Beng Han makin tidak mau
menonjolkan diri. Dia tahu bahwa kini banyak muncul orang
orang pandai di dunia kang-ouw. Dia hidup rukun bersama
isterinya, merawat dan mendidik anak mereka, yaitu anak
orok yang terlahir di malam yang mengesankan itu, yang
mereka beri nama Gan Ai Ling.
(Oo-bud_dwkz-234-oO)
Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika Beng Han
menikah dengan Kui Eng, maka secara berturut-turut menikah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pula Yap Yu Tek dengan Gan Beng Lian. Biarpun Yap Yu Tek
adalah putera seorang bupati di An-kian, akan tetapi pemuda
perkasa ini yang melihat betapa bejatnya keadaan
pemerintahan, betapa hampir semua pembesar adalah orang -
orang jahat yang berkedok kedudukan dan mempergunakan
kedudukan bukan untuk melindungi dan membimbing rakyat
melainkan untuk memeras rakyat, dia tidak mau menceburkan
diri ke dalam lapangan itu. Dia bahkan membuka sebuah toko
kain dan bekerja sebagai pedagang kecil kecilan bersama
isterinya dan hidup cukup tenteram di kota An-kian. Baru dua
tahun setelah mereka menikah, Gan Beng Lian melahirkan
seorang anak perempuan yang mereka beri nama Yap Wan
Cu.
Suami isteri Gan Beng Han dan Kui Eng agak sering
berhubungan dengan keluarga di An-kian ini, karena ibu dari
Beng Han masih menjadi nikouw di Kuil Kwan im-bio di luar
kota An - kian, maka sering pula suami isteri dari Cin-an ini
mengunjungi An-kian. Akan tetapi, Kui Eng jarang bertemu
dengan ibu dan adiknya yang tinggal di kota Ki - ciu. Hal ini
adalah karena Kui Eng masih merasa tidak enak kalau
bertemu dengan Ang Min Tek, pria yang pernah dicintanya
dan yang kini menjadi suami dari adik tirinya, Bu Swi Lan itu.
Akibat perang masih terasa oleh seluruh penduduk dari
daerah yang dilanda dan dilewati pasukan yang berperang
Entah berapa ratus ribu orang yang menjadi korban
keganasan perang, janda-janda muda, anak - anak yatim
piatu. Akibat perang terasa sekali di Kabupaten Cin an, tempat
tinggal pendekar Gan Beng Han dan Kui Eng. Banyak sekali
anak-anak berkeliaran sebagai pengemis-pengemis dalam
keadaan yang amat menyedihkan.
Pada suatu hari, Beng Han melihat seorang anak kecil
menggeletak pingsan di emper rumahnya. Anak laki-laki itu
masih kecil, usianya paling banyak lima tahun, sebaya dengan
Sian Lun yang menjadi seperti anak sulung mereka. Dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perasaan kasihan karena dia sendiri pernah mengalami hidup
seperti anak itu, menjadi anak gelandangan, akhirnya dengan
persetujuan Kui Eng yang juga pernah menjadi korban perang,
akhirnya anak itu yang bernama Coa Gin San mereka pungut
sebagai murid. Anak itu diberi pekerjaan membantu para
pelayan, juga menggembala kerbau, membersihkan
pekarangan dan sebagainya. Dan ternyata Gin San amat rajin
dan pandai mengambil hati orang, maka dia amat disayang
oleh Beng Han, Kui Eng, Sian Lun dan juga Ai Ling yang masih
kecil.
Demikianlah, keluarga pendekar Gan Beng Han ini hidup
tenteram. Gan Beng Han sebagal seorang pendekar yang jujur
tidak merahasiakan peristiwa malam kelahiran Ai Ling itu.
Dengan hati-hati akhirnya dia menceritakan juga kepada
isterinya tentang ancaman Im-yang-kauwcu yang amat lihai
itu, dan betapa dia terpaksa untuk menyelamatkan anak
isterinya telah melayani kehendak wanita yang haus dan gila
laki-laki itu. Mendengar penuturan ini, temu saja Kui Eng
menjadi marah dan cemburu menggerogoti hatinya. Akan
tetapi dia lalu sadar bahwa suaminya melakukan hal itu tentu
karena terpaksa sekali, karena tidak ingin melihat dia dan
anak mereka diganggu oleh iblis betina itu.
Selama bertahun-tahun suami isteri ini tidak mau
mencampuri urusan dunia kang-ouw, karena selain mereka
maklum betapa nama mereka telah dicatat oleh fihak atasan
di kota raja, juga mereka tahu pula betapa berbahayanya
untuk ikut-ikut dalam urusan pemberontakan, karena memang
mereka bukanlah pemberontak-pemberontak, melainkan
pendekar-pendekar. Mereka maklum betapa orang-orang
kang-ouw kini banyak yang muncul, bahkan tokoh-tokoh kaum
sesat yang amat sakti banyak yang merajalela di dunia kangouw.
Betapapun juga, jiwa kependekaran mereka tak pernah
dapat mereka kekang dan setiap terjadi hal-hal yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendatangkan rasa penasaran, sudah tentu suami isteri ini
turun tangan membereskan, membela yang lemah dan
menggunakan kepandaian mereka untuk menundukkan
mereka yang sewenang-wenang, sehingga biarpun mereka
berdua sedapat mungkin menyembunyikan diri dan tidak mau
menonjolkan diri, namun hampir semua orang kang-ouw di,
sekitar daerah itu mengenal belaka siapa adanya pendekar
muda sakti Gan Beng Han dan isterinya. Di antara tiga ekor
naga sakti yang pernah mengamuk di kota raja, seekor telah
gugur dan yang dua ekor lagi agaknya kini sedang "bertapa".
Apakah dengan demikian akan berakhir kisah tiga ekor naga
sakti ini? Tidak sama sekali tidak! Biarpun mereka berdua
tidak pernah lagi menonjolkan diri, namun diam-diam Gan
Beng Han dan Kui Eng masih terus melatih diri, bahkan
mereka mulai menggembleng tiga orang anak itu. Pertama
adalah Tan Sian Lun, keponakan mereka yang semenjak
lahirnya Ai Ling tidak lagi menyebut ayah dan ibu kepada
mereka, melainkan paman dan bibi. Anak ini sudah mulai
mengerti, maka rahasia tentang dirinya tidak disembunyikan
lagi. Ke dua adalah Ai Ling yang sehari-hari dipanggi Ling Ling.
Dan ke tiga adalah Coa Gin San yang ternyata memiliki bakat
baik sekali untuk ilmu silat. Tiga ekor naga sakti yang pertama
mungkin sudah hampir menghilang di antara awan, akan
tetapi tiga ekor naga muda yang masih kecil mulai dipupuk
oleh suami isteri pendekar itu !
(Oo-bud_dwkz-234-oO)
Perang memang merupakan peristiwa terkutuk yang
menimbulkan akibat-akibat buruk sekali bagi kehidupan
manusia, menghancurkan ketertiban, melenyapkan
perikemanusiaan, dan api peperangan membuat makin
berkobar api nafsu yang membakar manusia sehingga mereka
tidak segan untuk melakukan segala macam tindakan maksiat.
Apa lagi perang saudara seperti yang ditimbulkan oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemberontakan An Lu Shan yang disusul oleh pemberontakanpemberontakan
lain sehingga terjadilah perang saudara yang
tiada habis-habisnya sampai bertahun-tahun. Biarpun
kemudian pemberontakan yang terakhir, yaitu di bawah
pimpinan Sin Su Ming, dapat dihancurkan dan pasukanpasukan
Kerajaan Tang dapat merampas Kota Raja Tiang-an
kembali, namun keadaan sudah terlanjur rusak! Apa lagi
karena Kaisar Hian Tiong berhasil menumpas pemberontakan
dengan menggunakan bantuan suku-suku bangsa di luar
tembok besar, yaitu Suku Bangsa Uighur dan lain-lain. Hal ini
sama artinya dengan mengusir srigala dengan menggunakan
bantuan harimau. Srigalanya memang dapat dibunuh akan
tetapi sang harimau kini bercokol di dalam rumah dan
merupakan bahaya yang tidak kalah besarnya dari pada ketika
sang srigala masih mengganas!
Selain Suku Bangsa Uighur dan lain-lain yang sekali
memasuki daerah selatan tidak ingin kembali ke utara lagi,
juga perang saudara itu mengakibatkan kelemahan Kerajaan
Tang. Beberapa orang gubernur di Propinsi Shan-si dan Honan
mulai hendak memisahkan diri dari kedaulatan kerajaan,
mulai memperlihatkan sikap memberontak!
Lebih hebat lagi, dalam keadaan kacau ini rakyat jelata
yang tadinya sudah menderita hebat oleh perang yang
menimbulkan berbagai macam kekerasan, perampokan,
pembunuhan, perkosaan, kini makin menderita oleh
munculnya banyak orang-orang jahat yang sengaja
memancing di air keruh. Dan para pembesar juga merupakan
lintah-lintah darat yang mempergunakan kesempatan itu
untuk menumpuk kekayaan sebanyak mungkin, tentu saja
dengan jalan menekan dan memeras rakyat.
Pembesar - pembesar durna macam Thio-thaikam makin
besar saja pengaruh dan kekuasaannya. Kaisar makin menjadi
lemah dan tidak bersemangat, menjadi seperti boneka saja
dan melewatkan hari-hari tuanya dencan hiburan-hiburan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang sengaja diadakan oleh pembesar-pembesar durna untuk
membuat kaisar tetap tidur nyenyak dan berenang dalam
kenikmatan dan kesenangan sehingga seolah-olah keadaan
semua sudah "beres dan baik" saja. Kaisar tidak pernah dapat
mengetahui keadaan rakyat jelata yang amat menderita
sebagai akibat perang. Semua pelaporan para pembesar yang
sampai ke telinga kaisar adalah "baik dan memuaskan".
Keadaan ini tentu saja menggerakkan hati banyak
pahlawan yang benar-benar mencinta negara dan rakyat.
Mereka ini adalah kaum pendekar yang dengan cara masingmasing
berusaha memulihkan ketenteraman dengan
menentang kejahatan-kejahatan di mana saja mereka
menemukannya Selain kaum pendekar, juga kaum sasterawan
menggunakan cara-cara mereka dalam bentuk tulisan-tulisan,
sajak-sajak dan penerangan-penerangan untuk menyadarkan
para pembesar dan secara tidak langsung menyadarkan kaisar
dari kelaliman dan agar para pembesar yang menyebut diri
pemimpin itu benar-benar memimpin rakyat ke arah
kesejahteraan dan ketenangan hidup.
Satu di antara para pahlawan yang mempergunakan tulisan
untuk berjuang menentang kelaliman itu adalah sasterawan
Han Gi (768-824). Han Gi terkenal sebagai seorang
sasterawan yang amat tajam tulisannya, berani dan juga
cerdik pandai. Dia berani membela yang benar siapapun
mereka, berani pula menentang yang jahat, siapapun juga
mereka. Bahkan dia berani menentang kaisar secara terangterangan.
Ketika gubernur dari daerah Ho-pei secara terang-terangan
memberontak dan tidak mau tunduk terhadap istana, bahkan
mulai menyerang daerah tetangganya untuk memperluas
daerahnya sebagai permulaan dari pemberontakannya, para
thaikam membujuk kaisar untuk mengirim pasukan
menghukum gubernur ini. Akan tetapi, pasukan-pasukan
kerajaan tidak berhasil menundukkan pemberontak bahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyak jatuh korban, dan tentu saja, rakyat di sepanjang jalan
yang dilalui pasukan itu menderita pula, seperti biasa.
Para thaikam pula yang membujuk kaisar untuk
mempergunakan pengaruh sasterawan Han Gi yang amat
terkenal di daerah Ho-pei. Han Gi dipanggil dan sasterawan ini
menghadap kaisar. Menerima perintah kaisar agar dia suka
mempergunakan kebijaksanaannya untuk membujuk gubernur
yang memberontak, Han Gi melihat kepentingan dari tugas ini
dan diapun menerima tugas itu. Tanpa membawa pasukan,
hanya diiringkan oleh pasukan kecil pengawal dan membawa
tanda utusan kaisar, sasterawan ini pergi menemui pimpinan
pemberontak dan mulailah dia mengajak mereka untuk
bercakap-cakap dan berdebat tentang pemberontakan itu.
"Saudara sekalian sudah melihat sendiri betapa hebatnya
kesengsaraan yang ditimbulkan oleh perang saudara yang lalu
ketika An Lu Shan mulai dengan pemberontakannya. Apakah
kalian ingin menambah beban rakyat dengan mengorbankan
perang saudara lagi? Kalau kalian melakukan hal itu, tentu
rakyat tidak akan mendukung, bahkan membenci kalian,"
demikian antara lain Han Gi berkata.
"Akan tetapi, kaisar sekarang menjadi boneka yang lemah,
seluruh pemerintahan berada di tangan para thaikam yang
lalim dan tidak adil !" seorang perwira tinggi membantah.
"Di dalam rumah ada tikusnya, hal itu sudah wajar. Marilah
kita berusaha untuk menangkap, membunuh atau
menyingkirkan tikus itu. Akan tetapi tidak perlu kita membakar
rumah kita. Kalau ada pembesar yang tidak benar, marilah
kita melakukan pembersihan dari dalam, mari kita
memperingatkan kaisar agar sadar. Perlukah kita
mengobarkan api peperangan yang akan membakar negara
dan menyengsarakan rakyat sendiri?" Dengan bujukanbujukan
yang penuh kebijaksanaan, akhirnya Han Gi berhasil
melunakkan hati mereka dan perdamaian dapat diadakan !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han Gi telah berhasil mencapai perdamaian yang tidak dapat
dicapai oleh pasukan-pasukan yang kuat dari kerajaan !
Bukan peristiwa ini saja yang membuat Han Gi amat
terkenal, bahkan namanya tercatat dengan tinta emas dalam
sejarah. Diapun berani menudingkan telunjuknya ke hidung
pembesar yang paling rendah sampai paling tinggi, termasuk
kaisar, untuk menunjukkan kesesatan para pembesar secara
terang terangan. Juga dia terkenal sebagai seorang yang ahli
dalam pelajaran-pelajaran Nabi Khong Hu Cu dan dengan
gigihnya dia menekankan pelajaian-pelajaran itu agar
diterapkan dalam kehidupan dari rakyat yang paling kecil
sampai pembesar yang paling tinggi kedudukannya. Karena ini
pula maka sering kali dia bentrok dengan para pembesar yang
memeluk Agama Buddha bahkan sikapnya terhadap perbuatan
kaisar yang juga beragama Buddha itulah yang
mengakibatkan sasterawan ini dihukum buang sampai jauh ke
Kwang-tung.
Dalam tahun 819, Kaisar Hian Tiong„ untuk membangkitkan
semangat para pengikut Agam Buddha, dan untuk
memperkembangkan agama itu, mengirim pasukan besar
yang penuh kemegahan untuk mengawal para pendeta
Buddha dalam upacara mengarak benda suci dari Kuil Fa Men
Su di Hong Siang Hok ke Tiang an. Benda suci itu kabarnya
adalah sepotong tulang jari dari Sang Buddha sendiri. Dengan
upacara pawai besar benda suci itu dari Kuil Fa Men Su
dibawa ke istana dan disimpan di situ selama tiga hari,
kemudian dengan upacara kebesaran diarak dari kuil ke kuil
yang berada di kota raja.
Sasterawan Han Gi tidak pernah menentang penyebaran
Agama Buddha yang dilakukan oleh para pendeta hwesio
karena dia maklum akan pentingnya kebebasan bagi rakyat
untuk memilih agama apa yang disukai mereka masingmasing.
Akan tetapi, melihat tindakan kaisar yang terangterangan
menyokong suatu agama tertentu, dalam hal ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Agama Buddha untuk memperkembangkan agama itu,
membuat dia merasa penasaran. Dengan berani sekali dia
mempergunakan ketajaman penanya untuk menyerang dan
memprotes peristiwa ini dalam surat yang ditujukannya
langsung kepada kaisar! Di dalam surat protes yang panjang
lebar itu, antara lain terdapat kata-kata seperti ini;
"Buddha adalah nabi dari Negara-negara barat dan kalau
sri baginda menghormati dan memujanya, hal itu hanyalah
karena paduka mengharapkan usia panjang dan pemerintahan
yang damai dan bahagia. Betapapun juga, para kaisar besar di
dalam dinasti-dinasti yang lalu, termasuk Kaisar Ui Te, Yu,
Tang, Raja - raja Bun dan Bu semua menikmati usia panjang
dan pemerintahan yang makmur, walaupun pada waktu-waktu
itu belum ada Buddha
Buddha adalah seorang asing,dan andaikata beliau masih
hidup dan sekarang beliau datang berkunjung ke istana, tentu
saja sri baginda boleh menyambutnya dengan segala
kehormatan sebagai tamu agung dan menjamunya di Ruang
Tamu, seperti yang selayaknya diperlakukan terhadap semua
tamu agung yang terhormat. Akan tetapi sekarang sri baginda
hendak menerima sepotong tulang jari kering yang katanya
adalah jari beliau hal ini sungguh merupakan sesuatu yang
berlebihan. Hamba mengusulkan agar tulang itu sebaiknya
dibakar saja."
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil