Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 04 Mei 2017

Cerita Silat Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo 7 Tiga Naga Sakti

Cerita Silat Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo 7 Tiga Naga Sakti Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo 7 Tiga Naga Sakti
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo 7 Tiga Naga Sakti
Demikian antara lain surat protes dari Han Gi. Dan bukan
semata mata karena bencl maka sasterawan ini memprotes,
melainkan karena dia melihat perbedaan faham dan ajaran
amat besar antara pelajaran Nabi Khong Hu Cu dan keadaan
Sang Buddha sendiri. Menurut pelajaran dari Nabi Khong Hu
Cu, kebijaksanaan terutama bagi manusia adalah berbakti
kepada orang tua dan negara. Akan tetapi ketika dia
mendengar akan riwayat Sang Buddha yang telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meninggalkan istana dan orang tua, tentu saja dia merasa
tidak setuju sama sekali, karena dia menganggap hal ini
bertentangan sekali dengan faham pelajaran Nabi Khong Hu
Cu !
Memang demikianlah kenyataannya sampai kini, faham
selalu mendatangkan perpecahan ketidak cocokan,
menimbulkan bentrokan dan pertentangan. Masing-masing
kukuh dengan pendapat dan pendirian, kukuh dengan faham
dan kepercayaan sendiri-sendiri, dan terdapat sedikit saja
perbedaan dalam faham dan kepercayaan itu, tak dapat
dielakkan lagi pasti timbul perselisihan.
Karena protes inilah, maka para pembesar, termasuk para
thaikam yang telah memeluk agama Buddha, melihat bahaya
dalam diri Han Gi. Jasa-jasanya dilupakan dan para pembesar
ini membujuk kaisar sehingga akhirnya Han Gi dijatuhi
hukuman buang jauh ke Kuang-tung di mana dia hidup
menyepi dan terasing.
Di dalam keadaan kacau inilah cerita ini terjadi, yaitu
kurang lebih sepuluh tahun setelah kota raja geger oleh sepak
terjang Tiga Naga Sakti yang mengamuk dan hampir saja
rnenewaskan Thio-thaikam yang terkenal sebagai thaikam
yang berkuasa dan besar pengaruhnya di istana. Karena
kegagalan tiga orang pendekar muda yang terkenal dengan
julukan Tiga Naga Sakti itu dalam usaha mereka
membunuhnya, maka Thio-thaikam menjadi makin congkak,
dan adalah atas usul thaikam ini maka kaisar mengambil
keputusan untuk mengarak benda suci yang berupa tulang jari
itu!
Hari telah senja dan matahari mulai tenggelam di langit
barat, membentuk kebakaran di langit, warna merah api di
antara warna langit yang biru menimbulkan pemandangan
yang sukar digambarkan keindahannya. Pendeknya, indah dan
megah penuh rahasia!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun
menunggang dua ekor kerbau gemuk dan besar berjalan
perlahan menuju ke kampung di depan. Di belakang mereka
berjalan belasan ekor kerbau lain yang malas-malasan,
dengan mulut yang tiada hentinya bergerak-gerak mengulangi
lagi makanan untuk dilembutkan dengan geraham mereka,
kadang-kadang ada yang berhenti sebentar untuk merenggut
rumput-rumput hijau muda yang merangsang selera. Ekor
binatang-binatang ini yang kecil pendek, tiada hentinya
bergerak ke kanan kiri tanpa sebab, agaknya menjadi tanda
bahwa mereka merasa senang.
Dua orang anak itu berpakaian sederhana bertelanjang
kaki. Yang seorang berkulit putih bersih, mukanya bundar
seperti bulan, sinar matanya tajam, tubuhnya tegap dengan
bahu bidang dan terdapat kegagahan tersembunyi di wajah
dan gerak-geriknya. Dia pendiam dan duduk di atas punggung
kerbau sambil menatap langit barat seperti orang tersihir Anak
yang ke dua, tubuhnya lebih kecil sungguhpun dia tidak kurus,
wajahnya tampan dengan bentuk bulat telur, rambutnya hitam
dan panjang sampai ke bawah pundak, berbeda dengan
rambut anak pertama yang dipotong pendek. Hidungnya
mancung dan matanya bersinar-sinar hidup sekali, selalu
bergerak menandakan bahwa dia lincah gembira dan cerdik.
Kedua orang anak laki-laki itu berpakaian sederhana dan
terkena lumpur di sana-sini ketika mereka memandikan
kerbau-kerbau itu. Kalau anak pertama duduk termenung
memandang ke arah langit barat yang dibakar matahari
tenggelam, anak ke dua itu asyik dengan sebatang suling
bambu yang ditiupnya dengan mahir. Suara tiupan sulingnya
mengalun turun naik, menambah kesunyian senja menjadi
hening dan anak pertama yang terpesona oleh keindahan
langit itu seperti makin tenggelam oleh alunan suara suling.
Akhirnya suara suling itu berhenti dan anak ke dua itu
menegur sambil menyentuh lengan temannya dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sulingnya, "Eh, suheng! Sejak tadi melamun saja, memikirkan
apa sih?" Anak ini terkekeh ketika melihat suhengnya terkejut
oleh sentuhan sulingnya. Memang anak ini sifatnya nakal,
suka menggoda orang dan lincah jenaka, selalu gembira dan
penuh senyum dan tawa.
Anak yang pendiam itu menengok kepadanya sejenak, lalu
kembali memandang ke barat dan berkata seperti kepada diri
sendiri. "Sute, kaulihat awan hitam di ujung kiri itu! Bukankah
bentuknya seperti seekor naga? Seekor naga sakti yang
sedang terbang di atas api yang membara. Sute, lihat pula
awan-awan yang membentuk rumah-rumah beratap runcing di
bawah itu. Agaknya itu adalah istana yang sedang kebakaran
dan naga sakti itu terbang di atas kekalutan istana untuk
menyelamatkan mereka yang terancam bahaya. Betapa ingin
aku menjadi naga sakti itu!"
Memang aneh mendengar seorang anak laki-laki berusia
sepuluh tahun mengeluarkan keinginan hatinya seperti itu.
Akan tetapi, anak ini memang bukan anak sembarangan. Dia
adalah murid pertama, juga merupakan keponakan dari
sepasang suami isteri pendekar yang amat terkenal di daerah
utara Sungai Huang-ho. Suami isteri pendekar itu adalah Gan
Beng Han dan Kui Eng, kakak beradik seperguruan yang
kemudian berjodoh dan menjadi suami isteri yang hidup
berbahagia dengan seorang anak perempuan yang kini telah
berusia delapan tahun.
Anak itu bernama Tan Sian Lun. Ayah dan ibunya telah
meninggal dunia semenjak dia masih kecil sekali. Ayahnya
bernama Tan Bun Hong, sute dari pendekar Gan Beng Han
dan ibunya adalah puieri pangeran yang bernama Song Kim
Bwee. Ayah dan ibunya telah tewas karena diserbu pasukan
kerajaan atas hasutan Thaikam Thio yang amat berkuasa di
istana. Semenjak ayah bundanya tewas, Tan Sian Lun lalu
dipelihara oleh Kui Eng, yaitu sumoi dari Tan Bun Hong, dan
kemudian setelah pendekar Gan Beng Han dan sumoinya itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menikah, Tan Sian Lun tetap dipelihara seperti anak sendiri
dan diakui sebagai keponakan. Ketika dia masih kecil, Sian Lun
yang tidak tahu apa-apa itu menyebut ayah dan ibu kepada
Beng Han dan Kui Eng. Akan tetapi setelah suami isteri itu
mempunyai seorang anak perempuan, dan Sian Lun telah
mengerti, isteri itu tidak menyimpan rahasia dan
memberitahukan dengan terus terang bahwa Sian Lun
sesungguhnya adalah keponakan mereka yang telah dianggap
sebagai anak sendiri karena anak ini sudah tidak mempunyai
ayah bunda lagil
Suami isteri pendekar itu memang menaruh iba kepada
Sian Lun dan amat menyayangnya seperti anak sendiri.
Memang bagi mereka tiada bedanya, karena mereka telah
memelihara Sian Lun sejak kecil. Bahkan merekapun
menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada Sian Lun,
menggembleng anak ini bersama - sama anak mereka sendiri,
anak perempuan yang bernama Gan Ai Ling itu. Setelah
keponakan dan anak sendiri ini, Beng Han dan isierinya masih
mengambil seorang murid lagi yang bernama Coa Gin San.
Anak ini juga seorang anak yatim piatu karena ayah bundanya
telah tewas pula ketika dusun tempat tinggalnya dilanda
perang saudara. Karena kasihan dan melihat bakat yang baik
dalam diri Gin San, maka Beng Hari dan isterinya lalu
mengambilnya sebagai murid dan memberinya pekerjaan
menggembala kerbau dan membantu pekerjaan di sawah milik
suami isteri itu yang cukup luas di luar kota Cin-an.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid XII
GIN SAN adalah seorang anak
yang lincah jenaka, pandai
mengambil hati orang dan pandai
bergaul, juga tahu diri. Dia bekerja
amat rajin di situ, membantu gurunya
sehingga gurunya juga amat
menyayangnya dan dalam hal
memberi pelajaran ilmu silat,
pendekar itu dan isterinya tidak
membeda-bedakan, melainkan
menggembleng Sian Lun, Ai Ling, dan
Gin San sama rata dan tentu saja
disesuaikan dengan bakat mereka
masing - masing.
Hari itu, Sian Lun ikut bersama Gin San menggembala
kerbau. Memang kadang-kadang dia suka ikut dengan sutenya
ini menggembala kerbau atau bekerja di sawah, sungguhpun
lebih sering dia berada di rumah karena pemuda cilik ini suka
sekali akan pelajaran kesusasteraan, suka membaca kitabkitab
dan cerita-cerita tentang para pendekar dan pahlawan di
jaman dahulu, membaca sajak dan filsafat-filsafat.
Mendengar ucapan suhengnya itu. Gin San yang memang
biasa bergaul dengan suhengnya secara akrab, sama sekali
tidak terdapat perasaan berbeda kedudukan sungguhpun Sian
Lun adalah keponakan dari majikan dan juga gurunya,
terkekeh geli. "Heh - heh - heh, engkau sungguh aneh,
suheng! Bagiku, di langit itu tidak kelihatan naga atau istana
terbakar, akan tetapi penuh dengan emas permata!"
"Eh, emas permata? Yang mana, sute?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lihat saja itu, warna kuning emas itu, bukankah itu lautan
emas membentang luas di sana? Dan warna-warna merah dan
biru itu adalah warna-warna permata yang amat mahal
harganya. Dari pada menjadi naga yang terancam bahaya
terbakar pula dan menjadi belut panggang, lebih baik kalau
dapat meraih dan memiliki emas permata itu, menjadi orang
kaya raya, berkedudukan tinggi dan mulia!"
Sian Lun memandang lagi ke atas akan tetapi angin telah
merobah bentuk-bentuk awan itu dan dia tidak tertarik lagi.
"Pakaian kita kotor terkena lumpur, sebaiknya kalau kita
mencuci kotoran ini di telaga kecil itu agar jangan sampai
dimarahi nanti."
"Ah. suhu dan subo tidak akan memarahimu, suheng, akan
tetapi aku tentu akan ditegur!"
Mendengar ucapan ini, Sian Lun memandang sutenya
dengan alis berkerut dan mata penuh teguran. "Sute, sejak
kapankah paman dan bibi membeda-bedakan antara engkau
dan aku? Apakah karena aku keponakan mereka dan engkau
bukan maka ada perbedaan ? Dengan ucapan itu engkau
seakan-akan merasa iri, sute."
Gin San cepat mengangkat tangannya ke atas. "Ah,
tidak........ tidak, suheng. Jangan salah mengerti. Aku hanya
hendak mengatakan bahwa suhu dan subo amat sayang
kepadamu karena suheng selalu baik dan bersih sedangkan
aku........ heh-heh, aku nakal dan sering sekali membikin
mereka marah."
Hal ini memang benar dan Sian Lun tidak mau
memperpanjang persoalan itu. Dia tahu bahwa sutenya ini
memang nakal dan suka menganggu orang sehingga sering
kali menerima teguran dari paman dan bibinya. Biarpun dia
terhitung murid dari mereka bahkan seperti anak mereka
sendiri, akan tetapi karena mendiang ayahnya adalah saudara
seperguruan mereka, maka dia menyebut mereka paman dan
bibi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang anak itu lalu membelokkan kerbau - kerbau itu
ke sebuah telaga kecil dan setelah melepas kerbau-kerbau itu
makan rumput di tepi telaga, mereka lalu mandi dan mencuci
bagian pakaian mereka yang terkena lumpur. Akan tetapi, Gin
San yang sudah selesai mencuci bagian yang berlumpur dan
menggantung pakaiannya itu di dahan pohon agar cepat
kering, sudah terjun dan berenang ke tengah, lalu menepi di
tepi seberang.
Setelah selesai mencuci noda lumpur pada bajunya, Sian
Lun menengok dan mencari-cari sutenya, akan tetapi tidak
kelihatan sutenya di air telaga. Maka mulailah dia berteriak
memanggil manggil karena senja makin larut dan tak lama lagi
tentu cuaca menjadi gelap. "Suteeee.......!! Gin San.......!!"
teriaknya berkali-kali.
Tiba-tiba terdengar jawaban dan anak itu datang berlari-lari
sambil membawa beberapa buah benda putih yang
dipondongnya. Dia tidak kembali melalui air melainkan
berlarian di: sepanjang tepi telaga, menghampiri suhengnya.
"Suheng, lihat apa yang kutemukan di tepi telaga sana
tadi!" Anak itu memperlihatkan benda-benda itu dan Sian Lun
meloncat ke belakang dengan jijik.
"Ihhh.......! Untuk apa kaubawa-bawa tengkorak dan
tulang-tulang ini?" teriaknya dan dia bergidik ngeri.
Gin San tertawa. "Hi-hik, mengapa suheng takut? Ini
adalah tulang-tulang manusia. Lihat tengkorak ini bersih dan
halus. Aku mendapatkannya berserakan di tepi telaga yang
longsor! Agaknya tempat itu dahulu menjadi kuburan dan
karena longsor maka tulang-tulang dan tengkorak ini
berserakan."
"Sute, untuk apa kauambil benda-benda ini? Menjijikkan
dan menyeramkan saja."
"Untuk menakut-nakuti orang, suheng. Anak-anak
perempuan itu tentu akan lari cerai-berai, heh-heh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Lun tidak memperdulikan lagi. "Hayo kita cepat
pulang, sebentar lagi gelap," katanya dan dia menggunakan
ranting menggiring kerbau-kerbau itu meninggalkan tepi
telaga menuju pulang. Gin San juga cepat menggiring Kerbaukerbau
itu sambil membawa tulang-tulang dan tengkorak
manusia yang ditemukan di tepi telaga tadi.
Melihat ini, Sian Lun berkata lagi, "Sute, kenapa tidak
kaubuang saja tengkorak dan tulang-tulang itu ? Sungguh
aneh kau ini, benda macam itu bukan barang mainan !"
Biarpun berkata demikian, namun diam-diam Sian Lun kagum
sekali akan keberanian sutenya. Dia sendiri tidak berani
bermain-main dengan tulang tulang manusia itu.
"Suheng, bukankah malam nanti ada pesta di kota untuk
menyambut lewatnya rombongan pembawa benda suci itu?"
"Benar, kitapun sudah di janji oleh paman untuk
diperbolehkan nonton keramaian bersama sumoi."
"Nah, kabarnya yang disebut benda suci itu adalah
sepotong tulang jari tangan. Nah, apa bedanya dengan ini?"
Dia memegang sepotong jari tangan yang masih melekat di
antara tulang lain yang dibawanya. "Aku akan muncul dengan
ini dan lihat apakah mereka itu, terutama wanita-wanitanya,
mau menyembah-nyembah tulang-tulang ini ataukah mereka
akan menjerit-jerit dan lari berserabutan. Heh-heh, alangkah
akan lucunya!"
"Hemm, sute, jangan main-main. Engkau tentu akan
dimarahi banyak orang......."
"Aku tidak takut, suheng."
"Akan tetapi aku tidak mau ikut mempertanggung
jawabkan perbuatanmu yang usil itu."
"Jangan khawatir, aku akan menanggungnya sendiri,
suheng. Asal engkau mau merahasiakan ini dan jangan
memberitahukan kepada suhu dan subo "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau tahu aku tidak sudi mengadukan orang," jawab Sian
Lun singkat dan mereka tidak bicara lagi. Setelah tiba di
rumah guru mereka yang luas. Gin San menggiring kerbau
kerbau itu ke kandang dan cepat menyembunyikan tengkorak
dan tulang-tulang itu di sudut kandang, menutupinya dengan
rumput rumput kering.
Gan Ai Ling, anak perempuan berusia delapan tahun, puteri
tunggal dari Gan Beng Han dan Kui Eng, menyambut mereka
sambil berlari-larian. "Twa-suheng, ji-suheng........kenapa
kalian terlambat sekali? Lihat, aku sudah siap untuk pergi
menonton keramaian! Dan kalian belum makan, belum
mandi......!"
Melihat Gin San cepat-cepat memasuki kandang, Sian Lun
lalu menghadapi Ai Ling dan menahan anak perempuan ini
agar jangan melihat tengkorak yang dibawa Gin San. "Kami
berdua sudah mandi, sumoi. Mandi di telaga, tinggal berganti
pakaian dan makan saja. Tidak akan lama."
Ketika tadi menggiring kerbau memasuki kota, dua orang
anak laki-laki itu sudah melihat suasana pesta di kota. Di
sepanjang jalan yang akan dilalui oleh rombongan pembawa
benda suci telah dihias dengan kertas-kertas berwarna,
bunga-bunga dan lentera - lentera. Rombongan akan lewat
besok pagi akan tetapi malam itu orang-orang akan
mengadakan keramaian dan pertunjukan yang semarak untuk
menghormati peristiwa itu. Tentu saja semua ini digerakkan
oleh kepala daerah yang ingin menjilat dan menyenangkan
hati kaisar yang sedang berusaha mempropagandakan Agama
Buddha dengan upacara perarakan dan penyambutan benda
suci itu. Ada beberapa ekor mainan liong diperagakan, ada
pula barongsai dan kilin. Anak anak itu kini bergegas, berganti
pakaian dan tak lama kemudian ketiganya sudah berpamit
kepada Gan Beng Han dan isterinya, Kui Eng. Suami isteri
pendekar ini mengangguk dan tersenyum sambil berpesan
agar mereka tidak pulang terlalu malam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Sian Lun, kaujaga baik-baik adikmu," kata Kui Eng kepada
anak itu dan Sian Lun mengangguk. Tentu saja dia akan
menjaga Ling Lin dengan baik, kalau perlu dia bersedia untuk
melindungi dan membela dengan taruhan nyawanya. Dia amat
sayang kepada Ling Ling biarpun anak ini kadang-kadang
bengal dan suka menggoda orang. Di sepanjang jalan, banyak
orang yang kagum dan memuji Ling Ling atau Gan Ai Ling
yang baru berusia delapan tahun, yang mengenakan pakaian
biru muda dengan pita rambut merah itu karena Ling Ling
memang amat manis dan mungil. Sepasang matanya bersinarsinar
penuh kegembiraan ketika mereka mulai mendengar
suara canang dan tambur yang saling sahutan bergemuruh,
tanda bahwa barongsai-barongsai, kilin-kilin, dan liong-liong
itu sudah mulai berlagak. Orang-orang hilir-mudik memenuhi
jalan raya dan setiap rumah di tepi jalan terbuka lebar-lebar
dan diterangi lampu, dan di depan setiap rumah dihias kertas
berwarna untuk menyambut pesta itu.
Ketika mereka bertiga berjejalan dengan orang-orang, tibatiba
Ling Ling menengok ke kanan kiri dan bertanya sambil
memegang lengan Sian Lun, "Twa-suheng, ke mana perginya
ji- suheng ?"
Sian Lun juga memandang ke kanan kiri yang penuh orang.
Karena mereka itu kalah tinggi dengan orang-orang dewasa
tentu saja sukar bagi mereka untuk mencari Gin San yang
tidak kelihatan itu. Pula, Sian Lun sudah menduga bahwa
tentu si bengal itu sudah menyelinap pergi untuk mengambil
tulang-tulang dan tengkoraknya, maka dia menjawab, "Biarlah
dia tidak akan hilang. Biar dia nonton sendiri dan kau nonton
bersamaku. Akan tetapi, engkau tidak boleh berpisah dariku,
sumoi. Aku tentu akan mendapat marah dari paman dan bibi
kalau sampai kita saling terpisah."
Ling Ling memegang tangan suhengnya. "Tidak, akupun
takut kalau sendirian, suheng."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kau? Takut?" Sian Lun tersenyum. Sepanjang ingatannya,
gadis cilik ini tidak pernah mengenal takut! Baik terhadap
manusia maupun terhadap setan!
"Aku ngeri melihat liong itu, seperti hidup dan begitu
menyeramkan!" kata Ling Ling. Mereka maju terus, hanyut
oleh gelombang nanusia yang menuju ke tempat di mana
liong itu sedang dimainkan, di lapangan terbuka dan di situ
ada beberapa orang hartawan yang melempar-lemparkan
mercon sehingga liong itu "menari" makin indah di antara
asap yang membentuk awan, nampak seperti seekor naga
tulen beterbangan di antara awan-awan dan suara mercon
yang gemuruh itu bersaing dengan suara canang dan tambur.
Sian Lun yang menggandeng tangan sumoi-nya,
menyelinap di antara para penonton untuk mencari tempat di
depan. Beberapa orang mengomel, akan tetapi ketika
mengenal mereka sebagai anak dan murid sepasang pendekar
Gan Beng Han, mereka malah cepat memberi jalan sehingga
akhirnya dua orang anak itu dapat berdiri terdepan. Ling Ling
kadang-kadang merapatkan tubuhnya kepada suhengnya
karena ngeri kalau ada mercon yang meledak di dekatnya.
Para hartawan dan para hwesio melempar-lemparkan mercon
itu dari depan kelenteng karena liong itu bermain di halaman
kuil itu yang luas. Di kuil inilah besok benda suci itu disambut,
berhenti sebentar karena para pembawa benda suci yang
merupakan rombongan yang dihormati, akan beristirahat dan
makan siang di kuil itu.
Gin San memang tidak nampak di situ. Tepat seperti
dugaan hati Sian Lun, setelah tadi berjalan dengan orang
banyak, diam-diam Gin San menyelinap meninggalkan
sumoinya dan suhengnya, lalu berlari kembali ke kandang
kerbau gurunya dan diam-diam dia mengambil tulang dan
tengkorak manusia itu dari simpanannya di bawah tumpukan
rumput kering. Sambil tertawa-tawa geli seorang diri, anak ini
lalu memasang-masangkan kaki dan tangan rangka itu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disambungnya dengan tali dan dengan bantuan kayu dia
dapat membuat rangka itu lengkap dengan kepalanya, lengan
dan kakinya. Lalu dimasukkannya rangka itu dalam karung
dan dibawanya lari keluar, terus dia kembali ke tempat ramai
tadi.
Dia tidak menuju ke tempat permainan liong di depan kuil
karena dia maklum bahwa suheng dan sumoinya berada di
situ. Dia tidak ingin terlihat oleh suhengnya, apa lagi
sumoinya, karena takut sumoinya mengadu kepada suhu dan
subonya. Kini dia memanggul karung itu menuju ke pendopo
gedung kepala daerah di mana juga terdapat keramaian
karena selain singgah di kuil itu, juga rombongan pembawa
benda suci akan mampir di pendopo ini Menerima
penghormatan pembesar setempat, sebagai utusan kaisar
yang terhormat. Di pendopo inilah diadakan tarian barongsai
dan kilin yang tidak kalah ramainya, juga dilempari mercon -
mercon.
Gin San memilih tempat yang gelap. Di depan pendopo itu
terdapat sebuah pohon besar dan sinar penerangan terhalang
oleh daun-daun pohon sehingga bawah pohon itu agak gelap.
Akan tetapi ada beberapa orang wanita yang nonton
permainan barongsai dan kilin dari bawah pohon ini karena
tanah di bawah pohon itu lebih tinggi sehingga dari situ dapat
nampak permainan di pendopo itu dengan jelas. Seperti biasa,
di mana ada wanita-wanita muda di situ tentu ada pria-pria
yang merubungnya, seperti juga di mana ada kembangkembang
tentu di situ datang kumbang-kumbang
mengitarinya. Dan seperti juga kumbang-kumbang yang
mencumbu kembang-kembang untuk mencari sari madu,
kaum pria itu sambil tersenyum-senyum mulai pula mencumbu
rayu untuk memikat hati wanita itu, janda-janda muda atau
pelayan pelayan yang dalam kesempatan itu mempersolek diri
dan keluar dari dalam rumah, untuk nonton keramaianyang
hanya menjadi dalih karena sesungguhnya adalah untuk
mempertontonkan diri mereka! Maka terdengarlah gelak tawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di bawah pohon ini, kekeh genit dan ucapan-ucapan yang
penuh arti dan sindiran.
Tiba-tiba, dari bagian yang paling gelap di bawah pohon,
terdengar suara aneh, "Hooohhhh, trak-trak trakk.......!"
Seorang wanita muda menoleh, terbelalak dan menjerit,
lalu roboh pingsan! Beberapa orang wanita terkejut dan
menoleh dan...... terdengar jerit-jerit ketakutan dan para
wanita itu lari berserabutan, ada yang sampai terkencingkencing,
ada yang jatuh bangun dan saking takutnya ada yang
merangkak-rangkak karena tidak mampu bangkit berdiri.
"Ssseeeetaaaannn........"
"Ssii.......sssiii........ sssilumannnn.......!"
Kini bukan hanya para wanita muda yang tadi tertawa-tawa
genit itu yang ketakutan dan lari tunggang-langgang, juga
para pria yang tadi membujuk rayu menjadi panik, apa lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika mereka melihat di tempat gelap itu jelas ada rangka
manusia yang menari-nari, mengeluarkan suara "trak-traktrrrakk......."
ketika tulang-tulang itu saling beradu dan
didahului atau dilanjutkan dengan suara gerengan "hoohh ...."
amat menyeramkan! Ketika para pria itu dan orang-orang lain
mampu menguasai rasa takut mereka karena pengaruh orang
banyak dan mereka berindap-indap kembali ke bawah pohon
dengan kedua tangan terkepal akan tetapi kaki mereka
gemetar dan siap untuk meloncat dan lari, ternyata di tempat
itu sudah kosong tidak ada apa - apanya. Mereka mencari-cari
di sekitar pohon itu, namun setan atau siluman tengkorak itu
tidak nampak lagi! Tentu saja semua orang menjadi terheran -
heran dan makin yakinlah mereka bahwa tadi mereka benarbenar
melihat setan. Para wanita yang masih ketakutan
segera cepat pulang dan kesempatan ini dipergunakan oleh
para pria untuk mengantar mereka pulang, atau mungkin
membawa mereka ke kamar sendiri atau ke tempat-tempat
tertentu untuk "menghibur" mereka dari rasa takut. Dalam
keadaan apapun juga, selalu terbuka saja kesempatan bagi
mereka yang hendak melakukan kemaksiatan. Napsu timbul
dari pikiran, dan pikiran amatlah licin cerdik. Ada saja akal
yang diciptakan pikiran untuk melampiaskan dorongan napsu
dan menyenangkan tubuh.
Sementara itu, seorang anak laki-laki menahan tawanya
menyaksikan kekacauan yang ditimbulkan olehnya sendiri.
Anak ini adalah Gin San, tentu saja. Dan setan atau siluman
tadi juga dia yang melakukan penyamaran untuk menggoda
orang. Setelah menyembunyikan tengkorak dan tulang-tulang
rangka, dia pura-pura ikut mencari setan sambil menahan geli
hatinya. Akan tetapi setelah para wanita itu pergi dan tempat
itu tidak lagi menjadi gelanggang pertemuan, Gin San tertarik
untuk menonton liong yang bermain di depan kuil. Dia
membawa tengkorak yang disembunyikan di bawah bajunya,
sedangkan tulang-tulang itu ditinggalkannya begitu saja di
bawah pohon, tersembunyi di antara semak-semak. Dia suka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bermain-main dengan tengkorak manusia itu, maka tengkorak
itu dibawanya karena dia merasa sayang kalau dibuang. Tidak
mudah mencari tengkorak seperti ini, pikirnya, dan dia
termaksud untuk menakut-nakuti anak-anak dengan
tengkorak itu.
Anak yang cerdik ini menyelinap di antara para penonton
dan kalau ada penonton yang kurang senang karena
didesaknya, dia cepat berkata, "Aku mau melihat ayah, ayahku
ikut main liong." Mendengar ucapan ini, orang itu tidak jadi
marah dan memberi jalan kepadanya. Dengan cara ini, Gin
San dapat mendesak sampai ke depan. Akan tetapi karena
liong sedang berlagak dan beterbangan di antara awan-awan
yang tercipta dari asap mercon, maka dia tidak dapat melihat
Sian Lun dan Ai Ling yang juga berdiri di depan, akan tetapi di
seberang yang lain.
Gin San memandang dengan sepasang mata bersinar-sinar
saking kagumnya. Kagum kepada para pemain liong yang
demikian mahir mempermainkan naga itu sehingga seolaholah
benar - benar seekor naga sakti yang hidup, apa lagi
dengan adanya hujan mercon itu menambah hidupnya
suasana. Demikian cekatan mereka main, dengan langkahlangkah
kaki teratur dan kedua tangan memegang gagang
tubuh naga yang terbagi menjadi belasan dan masing-masing
dipegang gagang penyangganya oleh seorang pemain. Yang
paling mengagumkan adalah si pemain cu (mustika)
yang.bulat dapat berputar dan mengeluaikan suara
berkerincingan. Dengan gerakan - gerakan kaki tangan
bersilat dia mainkan mustika naga itu ke kanan kiri atas bawah
dan pemain atau pemegang gagang yang menyangga kepala
naga terus mengikuti gerakan mustika itu. Pemegang kepala
naga ini haruslah seorang yang memiliki tenaga yang kuat
karena kepala itu merupakan bagian terberat, apa lagi harus
diayun-ayun mengikuti gerakan mustika agar kelihatan
"hidup". Selain pemegang mustika yang harus memiliki
gerakan silat indah dan pemegang kepala yang harus memiliki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga besar, dalam permainan liong ini yang terhitung berat
adalah pemegang bagian leher dan bagian ekor. Bagian ekor
ini juga berat, sungguhpun tidak seberat kepala, akan tetapi
sering kali bagian ekor harus pandai cepat-cepat memutar
ekor itu kalau kepala naga menyusup di bawah bagian
tubuhnya agar tidak sampai membelit. Dan bagian leher harus
waspada karena dia merupakan penunjang bagian kepala. Dia
harus selalu mendekatkan bagian leher itu dengan kepala,
maka dia haruslah seorang yang cekatan. Sekali saja dia
kurang waspada dan menahan leher itu, kepala itu akan
tertarik ke belakang dan ini berbahaya sekali, dapat
merobohkan pemegang kepala sehingga tentu saja permainan
itu akan menjadi rusak dan kacau. Selagi naga yang berwarna
merah ini main, naga-naga lain yang berwarna hijau dan biru
nenanti di pinggiran, menanti giliran mereka dan para
pemegangnya menaruh gagang yang panjang di atas tanah,
diberdirikan dan digoyang-goyang sehingga biarpun naga itu
tidak sedang main, namun kelihatan hidup tanpa para
pemainnya mengeluarkan tenaga karena yang menyangga
adalah tanah.
Gin San adalah seorang anak yang awas. Dia tidak
terpesona oleh permainan itu seperti anak-anak lain dan dia
masih waspada terhadap hal-hal lain yang terjadi di
sekelilingnya. Oleh karena sifatnya inilah maka dia dapat
nelihat apa yang orang orang lain tidak melihatnya. Di dekat
tempat dia berdiri, dia melihat ada dua orang laki laki
setengah tua yang nendengarkan bisikan-bisikan seorang lakilaki
tua berjenggot panjang. Pakaian tiga orang ini seperti
pakaian pendeta tosu (Agama To) dan di punggung dua orang
yang setengah tua itu terselip pedang. Dalam kegaduhan
suara canang dan tambur itu, tentu saja dia tidak dapat
mendengar apa yang mereka bicarakan, akan tetapi dia
melihat mereka bertiga kadang-kadang menoleh ke kanan kiri
dan pandang mata Gin San yang tajam dapat menangkap
betapa mereka seperti saling pandang dan salinn memberi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
isyarat kepada beberapa orang laki-laki setengah tua yang
berdiri di bagian lain dan mereka semua juga berpakaian
seperti pendeta-pendeta tosu! Dari sikap mereka, Gin San
dapat menduga bahwa para pendeta tosu setengah tua itu
agaknya dipimpin oleh kakek berjenggot panjang itu.
Kemudian, dia melihat kakek itu mengangguk dan
melangkah pergi, menyelinap di antara banyak orang dan
mendekati tempat naga biru sedang beristirahat menanti
giliran main, dan Gin San melihat betapa belasan orang tosu
yang lainnya juga bergerak ke tempat itu, yaitu di pinggir
sebelah kiri dari kuil. Dia merasa tertarik sekali karena gerak -
gerik mereka itu aneh. Di manapun mereka itu menyelinap,
para penonton terdorong ke kanan kiri, tanda bahwa mereka
adalah orang orang yang kuat sekali!
Setelah tiba di dekat naga biru itu, Gin San melihat hal
yang amat aneh. Belasan orang tosu itu, dipimpin oleh si
kakek, menghampiri para pemain naga biru yang kini berdiri di
samping naga mereka yang digoyang-goyang dalam istirahat
dan tiba-tiba saja para tosu itu mengambil alih gagang-gagang
penyangga naga dari tangan para pemain yang berpakaian
biru dan bersabuk kuning itu. Yang amat mengherankan,
belasan orang pemain naga biru itu seperti tidak tahu atau
seperti telah berobah menjadi patung, membiarkan saja
gagang-gagang penyangga naga itu diambil orang lain dan
mereka tetap berdiri dengan bengong! Akan tetapi Gin San
adalah murid suami isteri pendekar yang berilmu tinggi.
Biarpun dia masih kecil dan tentu saja belum menerima
pelajaran tentang Tiam-hiat-hoa (Ilmu Menotok Jalan Darah),
namun dia dapat menduga bahwa para pemain naga biru itu
telah tertotok secara hebat sekali sehingga mereka tidak
mampu bergerak sama sekali dan menjadi seperti patung di
tempat mereka! Tentu akan terjadi hal yang hebat, pikirnya.
Dia melihat kakek tua berjenggot panjang itu juga telah
merampas gagang cu, yaitu mustika naga tanpa si pemegang
cu melawan sedikitpun! Juga para penabuh canang dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tambur yang terdiri dari lima orang, telah dirampas alat-alat
tetabuhan mereka oleh lima orang tosu.
Semua ini terjadi dengan amat cepatnya tanpa diketahui
orang lain karena mereka semua sedang asyik menonton
permainan liong merah, seperti terpesona oleh gerakan liong
ini sehingga tidak dapat melihat hal-hal lain yang terjadi di
situ. Dan kalau ada yang kebetulan melihatnya, mereka tentu
akan menyangka bahwa para tosu itu adalah teman enam
para pemain naga biru yang sengaja menggantikan tugas
mereka!
Gin San amat tertarik dan tanpa disadarinya dia mendekati
naga biru itu. Para tosu itu agaknya tidak memperhatikan
seorang anak kecil yang longak - longok di dekat mereka.
Akan tetapi, Gin San menghampiri seorang di antara pemain
naga biru yang berpakaian biru dan bersabuk kuning, diam -
diam dia mendorong tubuh orang ini dari belakang. Orang itu
seperti telah berubah menjadi arca, ketika didorong dia
bergoyang-goyang dan roboh !
Melihat ini, kakek pemegang cu segera berderu, "Mulai !"
Dan terdengarlah suara gaduh dan para penabuh canang dan
tambur dari naga biru mulai beraksi ! Mereka memukul canang
dan tambur dengan keras sekali sehingga suara tetabuhan
mereka jauh lebih nyaring dari pada tabuhan naga merah!
Tentu saja suara-suara itu menjadi kacau balau dan barulah
hal ini menarik perhatian para penonton. Juga para penabuh
iringan musik naga merah terkejut. Lebih kacau lagi adalah
para pemain naga merah karena irama yang mengikuti
mereka kini kacau balau dengan tetabuhan lain sehingga
langkah - langkah mereka menjadi usak !
Sebelum para penonton hilang rasa kaget dan heran
mereka, tiba-tiba naga biru itu bergerak dengan tangkasnya
memasuki medan permainan di depan kuil itu ! Begitu tangkas
gerakan mereka, begitu cepatnya dan naga itu kadang kadang
diangkat tinggi-tinggi, bahkan para pemainnya meloncat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam saat yang berlamaan sehingga naga biru itu seoiah-olah
hidup dan benar-benar hendak terbang ke angkasa!
Para penonton yang terheran-heran kini bersorak gembira.
Tentu saja mereka merasa gembira sekali disuguhi tontonan
istimewa ini, di mana ada dua naga sedang berlagak. Dan
para hwesio serta hartawan yang melempar-lemparkan
mercon, kini agaknya menganggap munculnya naga biru
merupakan suatu selingan yang disengaja untuk menambah
meriah suasana, maka merekapun menjadi makin gembira dan
menghujankan mercon lebih gencar lagi ! Terjadilah
pemandangan yang aneh dan amat indah. Di antara asap
yang bergulung - gulung dan kadang- kadang diseling sinar
api mercon meledak, nampak dua ekor naga, merah dan biru
seperti saling bertempur ! Agaknya para pemain naga merah
juga terbawa gembira dan mengira bahwa rekan-rekan
mereka para pemain naga biru itu memang sengaja hendak
mengajak mereka berlumba kepandaian memainkan liong !
Hanya ada beberapa orang saja diantara mereka yang
terheran- heran mengapa para pemain naga biru tidak
berpakaian biru.
Dalam kegaduhan suara dua perangkat musik itu, teriakanteriakan
para penonton di dekat tempat naga biru tadi
istirahat tidak terdengar orang. Para penonton di bagian ini
memang menjadi panik dan terkejut melihat para pemain
naga biru yang berpakaian serba biru itu, yang tadi berdiri
seperti patung, kini semua roboh dan tidak bergerak lagi
seperti telah mati! Akan tetapi, kegaduhan luar biasa dari
musik yang tidak teratur dan saling bersaing bising itu,
pemandangan yang tertutup asap tebal dan perhatian yang
dicurahkan kepada naga merah dan naga biru yang seolaholah
saling bertanding dan saling menyerang, membuat para
penonton lain tidak tahu akan peristiwa aneh itu.
Barulah para penonton menjadi terheran-heran, akan tetapi
tetap saja makin gembira, ketika mereka melihat pemain
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mustika naga merah dan pemain mustika naga biru yang
ternyata seorang kakek berjenggot panjang, kini sedang
bertanding menggunakan gagang cu (mustika) mereka
sebagai toya! Demikian pula pemegang kepala naga merah
dan naga biru, kini saling serang dan karena kedua tangan
mereka memegang kepala naga, mereka hanya saling serang
dengan kaki mereka yang menendang-nendang! Para
penonton bersorak-sorak gembira. Sungguh merupakan
tontonan yang selama hidup belum pernah mereka saksikan.
Bayangkan saja! Dua ekor naga bertempur seperti sungguhsungguh
di bawah iringan dua perangkat musik yang riuh
rendah suaranya, di antara hujan mercon dan bergulungnya
asap! Dan mereka itu bertempur begitu sungguh-sungguh,
begitu hidup sehingga para penonton tentu akan sukar
melupakan kesan yang amat hebat ini!
Akan tetapi, tiba-tiba muncul seorang anak kecil yang
melompat ke tengah medan bertempuran! Anak itu berteriakteriak
akan tetapi tidak ada orang yang dapat mendengar
suaranya. Semua orang terbelalak karena anak itu membawa
sebuah tenckorak manusia yang diangkat ke atas dan anak itu
membuat gerakan yang ringan dan cekatan, meloncat dan
menghantamkan tengkorak itu ke arah kepala kakek
berjenggot panjang yang memainkan cu naga biru! Kakek itu
terkejut, apa lagi melihat anak itu menggunakan sebuah
tengkorak tulen untuk menghantamnya.
"Uhh......!!" Dia berteriak sambil menangkis toya pemegang
cu naga merah, kemudian kakinya menyambar dan
menendang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dess.....!" Gin San, anak itu, tidak mungkin dapat
menghindarkan tendangan hebat itu. Anak ini tadi melihat
betapa para pemain naga biru semua kena totokan, maka
setelah dia mendorong-dorong mereka roboh semua, dia lalu
berteriak-teriak untuk memberi tahu orang bahwa para
pemain naga biru itu adalah palsu semua. Akan tetapi
suaranya tenggelam dalam kegaduhan canang dan tambur
yang dipukul berbareng tanpa aturan itu. Akhirnya, melihat
pertempuran, anak yang merasa penasaran ini lalu melompat
dan menyerang kakek berjenggot panjang yang dia tahu
merupakan pimpinan para pemain palsu itu. Akan tetapi
betapapun lincahnya, apa daya seorang anak kecil berusia
sepuluh tahun terhadap seorang yang berkepandaian tinggi
seperti kakek itu? Sekali tendang saja. tubuh Gin San mencelat
ke atas dan........ kebetulan sekali dia terlempar ke atas kepala
naga biru!
"Bukk!" Gin San yang terbanting duduk di atas kepala naga
biru, cepat menggunakan tangan kirinya untuk memegangi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanduk naga biru dan mengempitkan kedua kakinya,
sedangkan tangan kanannya masih memegangi tengkorak
manusia.
Para penonton bersorak gegap-gempita! Mereka makin
gembira karena mereka masih nengira bahwa semua itu
adalah permainan yang amat mengasyikkan. Mereka mengira
bahwa bocah itu memang termasuk rombongan pemain, apa
lagi karena bocah itu memegang sebuah tengkorak. Mereka
menuding-nuding ke arah Gin San, tertawa-tawa dan memujimuji
ketabahan anak itu yang kini terbawa oleh gerakan
kepala naga biru. Karena kepala naga itu bergerak-gerak naik
turun dan ke kanan kiri, maka Gin San harus mempergunakan
semua tenaganya untuk mempertahankan dirinya agar jangan
sampai terlempar atau jatuh. Tentu saja dia kelihatan seperti
seorang yang menunggang kuda liar dan pemandangan ini
lucu sekali, memancing gelak tawa para penonton
Akan tetapi, tiba-tiba suara ketawa para penonton terhenti,
semua mata memandang terbelalak dan terdengarlah pekik di
sana-sini, wajah-wajah menjadi pucat ketika mereka melihat
betapa pemain mustika naga merah kini roboh oleh tusukan
toya kakek pemain mustika naga biru! Dan robohnya pemain
mustika naga merah ini seolah-olah menjadi isyarat bagi para
pemain naga biru karena kini mereka menerjang dengan kaki
mereka kepada para pemain naga merah dan dalam waktu
singkat saja para pemain itu roboh dan naga merah itupun
terbanting ke atas tanah bersama para pemainnya. Lebih
hebat lagi, kini para penabuh canang dan tambur pengiring
naga biru sudah melemparkan alat-alat musik mereka dan
langsung mereka menyerang para penabuh musik pengiring
naga merah. Terjadilah perkelahian hebat. Penonton bubar!
Gegerlah para penonton, panik dan mereka lari saling terjang,
ada yang jatuh terinjak-injak, teriakan-teriakan dan jerit-jerit
terdengar seolah-olah tempat itu dilanda perang!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebentar saja, para pemain music pengiring naga merah
sudah dirobohkan oleh lima orang tosu penabuh music
pengiring naga biru, dan kini para pemain naga biru itu
membawa naga mereka menerjang ke dalam kuil ! Para
hartawan melarikan diri sedangkan para hwesio mencoba
untuk menahan, akan tetapi mereka itu dirobohkan oleh
amukan naga biru! Tempat pesta yang tadinya meriah itu kini
menjadi kacau-balau dan geger. Jerit tangis mulai terdengar
dari para wanita yang ketakutan, anak-anak yang terpisah dari
orang tua mereka, dan orang-orang yang terjatuh dan
terinjak-injak. Dan di dalam kuil terdengar suara gaduh ketika
naga biru itu mengamuk merobohkan meja-meja sembahyang
dan merobohkan siapa saja yang berani menghalangi
perbuatan mereka.
Akan tetapi naga biru yang seperti kemasukan setan itu
tidak lama mengamuk ke dalam kuil. Setelah merobohkan
meja sembahyang mereka keluar lagi dan ternyata Gin San
masih mendekam di atas kepala naga biru dan, tengkorak itu
masih didekapnya ! Akan tetapi tentu saja dia merasa tersiksa
dan ngeri matanya terbelalak dan mukanya pucat.
"Sute........!"
"Suheng.......!"
Teriakan ini keluar dari mulut Sian Lun dan Ling Ling. Dua
orang anak ini tadi terkejut setengah mati dan terheran-heran
melihat munculnya Gin San, apa lagi ketika melihat Gin San
menyerang pemain cu naga biru sampai tertendang dan
terlempar ke atas kepala naga biru. Mereka sudah memanggilmanggil,
akan tetapi tentu saja suara mereka tadi lenyap
tertelan kegaduhan luar biasa itu. Ketika terjadi pertempuran
dan para penonton geger melarikan diri, mereka tidak ikut lagi
karena mereka tidak mau meninggalkan Gin San. Ketika naga
biru menyerbu ke dalam kuil, mereka mengikuti sampai di
depan pintu kuil, akan tetapi tidak dapat masuk karena di
dalam kuil juga terjadi pertempuran dan amukan si naga biru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru setelah naga biru keluar dan mereka melihat bahwa Gin
San masih mendekam di atas kepala naga, mereka berteriak
memanggil dan dengan keberanian luar biasa mereka
meloncat dan menyerang kakek berjenggot panjang yang kini
berjalan di depan naga sedangkan tongkat penyangga mustika
tadi sudah tidak berada di tangannya lagi. Tongkat itu
dibuangnya karena patah ketika dia pergunakan untuk
mengamuk di dalam kuil!
"Lepaskan sute !" bentak Sian Lun
"Kakek jahat!" Ling Ling juga membentak.
Dua orang anak itu maju berbareng dan menyerang kakek
berjenggot panjang itu.
"Ehhh......!" Kakek itu terkejut dan terheran. Dia masih
terheran - heran melihat Gin San yang masih mendekam di
atas kepala naga biru, dan kini muncul lagi dua orang bocah,
yang menyerangnya. Hampir dia tertawa bergelak. Kiranya
yang menghalangi perbuatannya dan kawan-kawannya adalah
anak-anak kecil !
"Pergilah setan-setan cilik!" bentaknya dan karena dia
marah oleh gangguan anak anak itu, kini dia mengerahkan
sedikit tenaga dalam tamparannya ke arah kepala Sian Lun
dan Ling Ling.
"Wut-wut........! Ehhh??" Kakek berjenggot panjang itu
terbelalak memandang ketika dia melihat dua orang anak itu
hanya terhuyung saja dan tamparan-tamparannya itu ternyata
luput ! Padahal, jarang ada orang dapat mengelak dari
tamparannya tadi, sungguhpun dia hanya mengerahkan
sedikit tenaga. Dia sudah memperhitungkan masak-masak
bahwa tamparan itu sudah cukup untuk membikin pecah,
kepala dua orang anak pengganggu itu dan menewaskan
mereka. Akan tetapi, siapa kira, dua orang anak itu dapat
mengelak dengan kecepatan luar biasa dan hanya terhuyung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena terdorong oleh hawa pukulannya saja. Hal ini membuat
dia merasa malu dan peasaran !
"Kalian harus mampus" bentaknya pula dan dia menerjang
maju mengirim pukulan. Akan tetapi pada saat itu. sebuah
benda melayang ke arah kepalanya dari belakang.
Kakek itu terkejut, mengira bahwa ada lawan gelap
menyerangnya. Dia menggerakkan tangan memukul ke
belakang tanpa menoleh.
"Prakkk !" Pecahlah kepala itu! Kepala tengkorak yang
dilemparkan oleh Gin San. Bocah ini yang masih nongkrong di
atas kepala naga biru telah menyambitnya dengan tengkorak
ketika melihat suheng dan sumoinya diserang.
Kakek itu makin terkejut ketika melihat bahwa yang
dipukulnya hancur adalah sebuah tengkorak. Teringatlah dia
akan anak yang membawa tengkorak tadi, maka
kemarahannya memuncak. Dia menubruk ke depan, ke arah
Sian Lun dan Ling Ling, lalu tangannya terayun, menghantam
ke arah Sian Lun. Sekali ini hantamannya hebat sekali dan
tidak mungkin Sian Lun akan dapat mengelak lagi.
''Omitohud, manusia kejam !" Terdengar bentakan dan dua
orang hwesio meloncat keluar dari kuil itu dan mereka
langsung menangkis dan menerima hantaman itu.
"Bresss......!!" Dua orang hwesio itu terpental dan
terguling-guling ketika mereka menangkap pukulan kakek
berjenggot panjang dan terkena hantaman dahsyat itu.
Kakek berjenggot panjang terkejut, akan tetapi pada saat
itu datang petugas-petugas keamanan yang datang berlari-lari
ke tempat itu, dipimpin oleh beberapa orang perwira. Melihat
ini, kakek berjenggot panjang lalu meloncat dan menyusul
teman-temannya yang sudah melarikan naga biru itu,
menghilang ke dalam gelap.
"Sute......!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Suheng.......!" .
Sian Lun dan Ling Ling berlari-lari mengejar karena melihat
Gin San terbawa lari oleh naga biru. Juga para petugas
keamanan melakukan pengejaran. Akan tetapi, di luar kota
itu, mereka menemukan liong biru itu menggeletak di tepi
jalan dan tidak nampak seorang pun dari para tosu yang tadi
melakukan kekacauan.
Sian Lun dan Ling Ling mencari-cari dengan jantung
berdebar tegang, namun mereka juga tidak dapat menemukan
Gin San yang lenyap bersama para tosu itu. Dengan bingung
mereka lalu pulang dan di sepanjang jalan Ling Ling menangisi
nasib suhengnya yang terbawa pergi oleh para tosu itu. Sian
Lun menghiburnya mengatakan bahwa Gin San mempunyai
banyak akal maka belum tentu akan celaka di tangan orangorang
jahat itu.
Gan Beng Han dan Kui Eng menyambut kedatangan
mereka dengan hati lega. Suami isteri pendekar ini sudah
cemas sekali karena mereka telah mendengar berita tentang
kerusuhan yang terjadi di depan kuil. Mereka tadi juga keluar
dan mencari-cari anak mereka, Ling Ling, dan keponakan
mereka, Sian Lun juga murid mereka, Gin San. Namun mereka
tidak melihat seorang pun di antara mereka. Lebih cemas lagi
hati mereka ketika mereka mendengar dari beberapa orang
yang melihatnya bahwa murid mereka, Gin San ikut dalam
keributan, bahkan anak itu secara aneh naik ke atas kepala
naga biru yang menimbulkan kekacauan sambil membawa
sebuah tengkorak manusia! Dan ada pula yang melihat betapa
keponakan dan anak mereka tadi dipukul oleh kakek
berjenggot panjang.
"Ah, syukur kalian datang!" seru Kui Eng dan Beng Han
ketika melihat munculnya anak mereka dan Sian Lun.
"Ibu......!" Ling Ling berseru dan lari memeluk ibunya
sambil menangis. "Ibu, ji-suheng dilarikan orang-orang jahat
!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mari kita masuk dan bicara di dalam," kata Gan Beng Han
dan mereka semua lalu masuk ke dalam rumah. Setelah
memberi minum kepada Sian Lun dan Ling Ling yang masih
pucat pucat wajahnya, Beng Han lalu bertanya kepada
keponakannya, "Sekarang ceritakan yang jelas, apakah yang
telah terjadi?"
Dengan sikap tenang karena pemuda cilik yang berhati
tabah ini sudah dapat menguasai hatinya, Sian Lun lalu
bercerita betapa dia dan Ling Ling menonton pertunjukan tari
liong di depan kuil, kemudian betapa naga biru mengamuk
dan tiba-tiba mereka melihat Gin San menyerang rombongan
naga biru dan ditendang terlempar ke atas kepala naga biru.
Betapa naga biru merobohkan para pemain naga merah dan
menyerbu kuil, mengobrak-abrik kuil dan keluar pula dengan
Gin San masih berada di atas kepala naga biru dengan muka
pucat,
"Kami berdua berusaha menolong sute, supek," kata Sian
Lun. Dia memang menyebut supek (uwa guru) kepada Beng
Han karena mendiang ayahnya adalah sute dari pendekar ini,
dan kepada Kui Eng dia menyebut supek bo biarpun pendekar
wanita ini adalah adik seperguruan mendiang ayahnya. "Akan
tetapi teecu dan sumoi tidak dapat melawan kakek berjenggot
yang amat lihai itu. Mereka melarikan diri ketika pasukan
datang dan kami ikut mengejar, akan tetapi teecu tidak
melihat bayangan sute."
Beng Han mengerutkan alisnya, lalu bangkit berdiri. "Biar
aku akan mencarinya," katanya kepada isterinya. "Jaga anak
anak dan jangan biarkan mereka keluar rumah." Isterinya
mengangguk, dalam keadaan seperti itu, di mana bahaya
mengancam dan keadaan kalut, mereka menjadi seperti dulu
lagi, seperti ketika mereka masih menjadi suheng dan sumoi
dan biasa bekerja sama menghadapi bahaya. Beng Han lalu
cepat meninggalkan rumahnya dan menghilang di dalam
kegelapan malam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendekar ini lalu melakukan penyelidikan, mencari jejak
muridnya, Gin San. Dia mendengarkan lagi penuturan dari
mereka yang tadi melihat Gin San. Akan tetapi betapapun dia
mencari, hasilnya sia-sia belaka. Gin San lenyap seperti ditelan
bumi, lenyap bersama para perusuh itu, para tosu-tosu itu.
Maka pendekar ini lalu kembali ke kuil di mana dia lalu
melakukan penyelidikan. Dia mengenal ketua kuil itu, yaitu
Thian Ki Hwesio yang ketika terjadi keributan tidak ada di
tempat karena hwesio ini sibuk menjemput rombongan yang
berada di kota lain. Karena Beng Han sudah kenal baik dengan
hwesio-hwesio lain pengurus kuil, maka dia diperkenankan
masuk. Beberapa orang hwesio terluka parah dan pendekar ini
membantu para hwesio untuk mengobati mereka yang terluka.
Kemudian dia memeriksa keadaan yang rusak itu, meja
sembahyang hancur, arca yang pecah dan roboh.
"Gan - sicu, sungguh pinceng (aku) tidak mengira bahwa
para tosu Im-yang-pai tega dan berani melakukan perbuatan
terkutuk seperti ini," kata seorang hwesio tua yang menjadi
wakil Thian Ki Hwesio dan yang menderita patah tulang
lengannya.
Gan Beng Han terkejut. "Ah, bagaimana losuhu tahu bahwa
mereka adalah para tosu Im - yang - pai ?" Pendekar ini
mengerutkan alisnya. Memang dia mendengar bahwa para
tosu Im-yang-pai amat kuat, banyak di antara mereka yang
memiliki kepandaian mujijat dan kesaktian yang tinggi. Akan
tetapi belum pernah dia mendengar mereka itu melakukan
kejahatan, apa lagi memusuhi Agama Buddha. Kakek yang
berkepala gundul itu menarik napas panjang. "Omitohud
.......pinceng sendiri mengharap tidak demikian dan semoga
Sang Buddha mengampuni mereka. Akan tetapi, ada dua bukti
yang memperkuat dugaan bahwa mereka adalah tosu - tosu
Im-yang-pai, Gan sicu. Pertama, mereka terdiri dari belasan
orang yang berpakaian tosu, dan ilmu silat mereka-pinceng
lihat berdasarkan Ilmu Silat Im-yang kun, juga pukulanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
pukulan mereka mengandung dua hawa sinkang yang
berlawanan."
Gan Beng Han tetap mengerutkan alisnya "Losuhu, saya
kira dua hal itu belum dapat dipakai sebagai bukti. Banyak
orang berpakaian tosu di dunia ini, dan tentang ilmu silat,
bagaimana kita yang bukan anggauta Im-yang-pai dapat
menentukan bahwa yang mereka pergunakan itu betul-betul
Im-yang-kun ?"
"Pendapat sicu memang tepat dan beralasan. Pinceng
hanya menduga saja tentang ilmu silat mereka karena pinceng
pernah melihat gaya permainan Im-yang-kun. Akan tetapi
bukan itu yang merupakan bukti kuat, melainkan ini." Hwesio
tua itu merogoh kantungnya dan mengeluarkan sebuah
benda, menyerahkan benda itu kepada Beng Han.
Benda itu adalah sebuah medali dari baja yang diukir
lukisan bulat dengan garis lengkung Im Yang membagi
bulatan itu menjadi dua, diwarnai hitam dan putih dan di
bawah gambaran itu tertulis tiga huruf IM-YANG-PAI. Itulah
tanda medali yang biasa dipakai oleh para anggauta Im- yangpai
yang sudah mempunyai tingkat, karena para anggauta
biasa hanya ditandai dengan gambar yang sama pada dada
baju mereka.
"Bagaimana losuhu bisa mendapatkan benda itu?" tanyanya
sambil memandang wajah hwesio tua itu.
"Biarpun lengan pinceng patah tulangnya ketika menangkis
toya itu, akan tetapi toya itu juga patah dan tentu pinceng
sudah berhasil melukai lawan tangguh itu kalau saja
cengkeraman pinceng tidak tertahan oleh benda ini yang
tergantung di dadanya Pinceng gagal melukai dadanya akan
tetapi berhasil merampas medali ini, Gan-sicu. Bukankah ini
merupakan bukti bahwa mereka itu, setidaknya orang yang
melawan pinceng, adalah anggota Im-yang-pai?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hemm, agaknya pendapat losuhu benar. Lalu, apa yang
akan losuhu lakukan tentang hal ini?"
"Omitohud, pinceng tidak mau mencari permusuhan, dan
pinceng tidak dapat mengambil keputusan. Tentu saja pinceng
akan menanti kembalinya Thian Ki Hwesio besok siang di kuil
ini."
"Akan tetapi, apakah kejahatan ini harus dibiarkan saja?
Tanpa dihukum dan dibalas sekarang juga? Losuhu, murid
sayapun agaknya telah diculik oleh kawanan Im-yang-pai itu."
"Omitohud........'" hwesio tua berkemak-kemik membaca
mantera, kemudian seperti men terjemahkan mantera yang
ternyata adalah ayat suci dari kitab Buddha Dhammapada,
seperti memberi wejangan kepada Gan Beng Han. "Sicu,
siapapun yang berbuat jahat terhadap orang yang tidak
berdosa, akan tertimpa oleh kejahatan itu sendiri, seperti
orang menebarkan debu melawan arus angin yang akan
berbalik menimpa muka sendiri. Omitohud........!'"
Gan Beng Han mengerutkan alisnya Dia sudah tahu akan
sifat yang lemah dan sabar dari para hwesio ini, yang
membuatnya kadang-kadang merasa heran sendiri. Para
hwesio banyak yang memiliki kepandaian tinggi, banyak yang
pernah menjadi murid-murid Siauw-lim-pai yang tangguh,
akan tetapi pelajaran tentang kesabaran membuat mereka
kadang-kadang bersikap amat lemah Hal ini sungguh
berlawanan dengan sikapnya sebagai seorang pendekar yang
selalu siap menghadapi dan menentang kejahatan, biarpun
kejahatan itu tidak menimpa muridnya sendiri misalnya.
"Losuhu, bolehkah saya meminjam medali ini?"
"Untuk apa, Gan-sicu?"
"Sekarang juga saya akan pergi mendatangi Im-yang-pai
dan selain mencari murid saya juga menegur dan menuntut
perbuatan anak murid mereka pada malam hari ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud, sicu akan menghadapi bahaya ......., apa lagi
hanya seorang diri saja. Gan-sicu, apakah tidak sebaiknya
kalau kita menanti sampai besok, menanti kembalinya suheng
Thian Ki Hwesio? Pinceng kira bahwa urusan penyerbuan dan
pengacauan yang dilakukan oleh orang-orang itu ada
hubungannya dengan upacara penyambutan benda suci
sehingga dapat dianggap sebagai usaha pemberontakan
terhadap perintah kaisar. Ini merupakan urusan gawat dan
pemerintah tentu akan turun tangan mencari dan membasmi
mereka. Sebaiknya sicu bersabar......"
Gan Beng Han adalah seorang pendekar yang tidak mau
terlibat dalam urusan pemerintahan. Dia bukan pemberontak,
bukan pula membela kaisar. Dia seorang pendekar yang hanya
membela kebenaran dan selalu menentang kejahatan.
Siapapun yang merusak kebenaran dan melakukan kejahatan,
baik dia itu seorang pembesar atau siapapun, tentu akan
ditentangnya. Pernah kurang lebih sepuluh tahun yang lalu
ketika dia belum menikah dengan Kui Eng, sumoinya yang kini
menjadi isterinya itu, dia bersama Kui Eng dan bersama
mendiang Tan Bun Hong, sutenya, yaitu ayah kandung Sian
Lun, menyerbu dan memusuhi Thio-thaikam, yang paling
berkuasa dan berpengaruh di kota raja! Mereka bertiga
membikin geger kota raja dan tentu saja mereka dianggap
pemberontak-pemberontak. Padahal, mereka sama sekali
bukan bermaksud memberontak untuk menumbangkan
kekuasaan di atas atau untuk merampasnya, melainkan
semata-mata karena terdorong oleh jiwa pendekar mereka,
yaitu menentang yang jahat dan lalim dan membela yang
lemah tertindas. Kaisar amat lemah seperti boneka, dan
kekuasaan berada di tangan Thio-thaikam yang bertindak
sewenang-wenang, melakukan penindasan dan pemerasan
hanya untuk mengumpulkan harta benda dan memperlihatkan
kekuasaannya saja.
Demikianlah, menghadapi panyerbuan orang-orang yang
diduga adalah orang-orang Im-yang-pai itu, Beng Han juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak mau mempertimbangkan kata-kata yang diucapkan oleh
hwesio tua itu. Dia tidak perduli akan urusan penyambutan
benda suci yang diperintahkan oleh kaisar. Dia tidak mau
mencampurinya, juga tidak akan memperdulikan urusan
permusuhan antara kaisar atau golongan hwesio-hwesio
Buddha dengan golongan lain seperti Im - yang - pai yang
beragama Im-yang-kauw. Akan tetapi, dia akan menentang
siapa saja yang telah melakukan kerusuhan di kuil itu, dan
terutama sekali yang telah menculik muridnya.
"Losuhu, saya tidak bisa bersabar lagi karena hal ini
menyangkut keselamatan murid saya. Saya harus cepat
menyusul ke sana sekarang juga. Kalau losuhu suka
membantu dan meminjamkan benda ini agar saya mempunyai
bukti untuk menegur mereka, itu baik sekali. Akan tetapi kalau
losuhu tidak mau membantu, tanpa bukti inipun saya akan
tetap menyusul ke sana seorang diri."
Hwesio tua itu menarik napas panjang, mengulurkan
tangan menerima dan mengantongi kembali benda itu. "Gansicu,
sicu tentu maklum bahwa pinceng akan suka sekali
membantumu. Akan tetapi sicu juga tentu maklum betapa
pentingnya benda ini untuk bukti bagi kami sendiri dan bagi
pemerintah. Pinceng harus menyerahkan benda ini kepada
suheng Thian Ki Hwesio besok, dan sebaiknya sicu menunggu
sampai suheng datang, barulah sicu meminjam benda bukti ini
dari suheng."
Gan Beng Han menarik napas panjang. Dia tidak
menyalahkan hwesio tua ini yang tentu membela kepentingan
sendiri, yaitu kepentingan kuil itu. Dia sendiri amat
mementingkan urusan muridnya sendiri, jadi tiada bedanya
dengan hwesio itu yang juga mementingkan urusan kuilnya
sendiri. Maka dia lalu mengangguk, menjura dan
mengundurkan diri, pulang ke rumahnya karena dia tidak mau
pergi jauh menyusul ke Im-yang-pai tanpa memberi tahu
kepada isterinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kui Eng yang memangku puterinya duduk di atas kursi,
mendengarkan penuturan suaminya dengan penuh perhatian.
Juga Sian Lun yang duduk di atas bangku dan Ling Ling
mendengarkan penuturan itu dengan mata terbelalak. Setelah
mendengar bahwa menurut bukti yang ada, penyerbuan itu
dilakukan oleh kaum Im-yang-pai, Kui Eng mengerutkan
alisnya dan mengepal tinju. "Im-yang-pai? Ah, sungguh sukar
untuk dipercaya! Im-yang pai adalah partai yang bersih dan
memiliki banyak sekali orang pandai. Bahkan nama suhu amat
dihormat di sana. Bagaimana mereka dapat melakukan
kejahatan itu ?"
Beng Han menarik napas panjang. "Isteriku, harap kauingat
bahwa urusan ini sesungguhnya tidak menyangkut soal
kejahatan. Memang, para penyerbu itu mempergunakan
kekerasan, akan tetapi pendorong perbuatan itu bukanlah
untuk merampok atau untuk melakukan penganiayaan.
melainkan terdapat unsur permusuhan dengan fihak yang
diserbu. Betapapun juga, perbuatan mereka itu merupakan
perbuatan yang curang, menggunakan kesempatan selagi
lawan tidak menduga-duga melakukan penyerbuan dan
pengrusakan, dan terutama sekali, menculik murid kita.
Karena itu, sekarang juga aku akan mengejar ke Im-yangpai."
"Aku ikut pergi!" Kui Eng berkata dengan tegas. Melihat
suaminya hendak membantah, dia lalu menurunkan puterinya,
bangkit berdiri, memegang lengan tangan suaminya dan
memandang tajam dengan matanya yang indah, lalu berkata,
"Im-yang-pai tidak boleh dibuat main-main. Di sana sarang
orang-orang yang lihai. Dan memang benar kata-katamu
bahwa kita harus menolong murid kita, siapapun dan betapa
lihaipun penculik penculiknya. Akan tetapi aku tidak akan
membiarkan engkau pergi ke tempat berbahaya itu seorang
diri saja, suamiku. Aku adalah isterimu, juga sumoimu, dan
kita sudah biasa menghadapi lawan-lawan berbahaya
bersama-sama, bukan ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gan Beng Han membalas sentuhan jari jari tangan isterinya
itu dengan penuh rasa cinta. Dia memandang isterinya dan
sejenak dua pasang mata itu saling berpandangan, melekat
dan seperti saling mencumbu dengan pernyataan kasih.
Kemudian Beng Han berkata halus "Memang sebaiknya kalau
kita maju bersama isteriku. Akan tetapi, mereka ini....... " Dia
memandang kepada Ling Ling dan Sian Lun.
"Ayah, ibu, aku ikut! Aku ikut mencari ji suheng!" Ling Ling
berkata.
"Ah, kaukira kami akan pergi bertamasya," kata ayahnya
menegur. "Bahkan aku masih meragu untuk meninggalkan
engkau dan Sian Lun berdua saja di rumah dalam keadaan
sekacau sekarang ini."
"Supek dan supek-bo mempunyai keperluan penting sekali
dan sute memang harus diselamatkan, oleh karena itu harap
supek dan supek-bo tidak ragu - ragu untuk menolongnya.
Teecu akan menjaga dan melindungi sumoi dengan
mempertaruhkan nyawa teecu!"
Suami isteri itu memandang kepada Sian Lun dan sesaat
mereka tertegun, karena mereka teringat kepada ayah
kandang anak ini yaitu saudara seperguruan mereka, Tan Bun
Hong. Seperti Sian Lun inilah sikap dan kegagahan Bun Hong
dahulu, ketika pendekar itu masihbahu-membahu dengan
mereka menghadapi pembesar - pembesar jahat dan
sekarang, anaknya yang menjadi murid mereka itu
memperlihatkan sikap kegagahan yang sama sekali tidak
memalukan untuk menjadi kebanggaan pendekar muda itu!
Timbul perasaan puas dan lega di hati mereka. Kui Eng
mengejap - ngejapkan matanya terharu karena teringat akan
suhengnya, BunHong. Dia merasa terharu dan dua titik air
mata membasahi matanya, lalu dia memandang suaminya.
"Nah, ada dia di sini, dan Ling Ling juga bukan seorang anak
kecil lagi. Pula, siapa sih yang akan mengganggu rumah kita?
Suamiku, betapapun juga hatiku tidak akan tenang kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melihat engkau pergi sendirian saja mendatangi Im – yang -
pai di kaki Pegunungan Tai-hang-san. Aku harus
menemanimu!"
Melihat sikap Sian Lun dan juga Ling Ling yang kini tidak
rewel lagi dan menyatakan bahwa dia akan tinggal di rumah
bersama suhengnya, akhirnya Beng Han menyetujui pendapat
isterinya dan malam hari itu juga mereka berangkat
meninggalkan rumah mereka, meninggalkan anak-anak
mereka, meninggalkan kota Cin-an dan melakukan perjalanan
menuju ke PegununganTai - hang - san untuk mengunjungi
Im - yang - pai.
(Oo-dewikz~bud~234-oO)
Maaf halaman 48-50 rusak tidak terbaca, yang
menceritakan suasana Kota Cin-An dan penduduknya yang
menyambut kedatangan pawai mengiringkan Joli pembawa
benda suci berupa tulang jari Sang Budha yang diarak menuju
Kuil Ban-hok-tong, yang sudah dibersihkan dari sisa-sisa
pertempuran semalam.
Akhirnya, menjelang tengah hari, saat yang ditunggutunggu
oleh banyak orang itupun tibalah. Mula-mula terdengar
suara tambur dan canang riuh rendah dipukul orang di pintu
gerbang selatan dan nampaklah pawai itu muncul di pintu
gerbang. Pawai yang megah dan panjang dan juga indah
karena suasana meriah yang mengelilinginya. Mula-mula
Nampak pasukan yang berpakaian indah dan berseragam
megah, berjalan dengan tombak di tangan dengan gerakan
kaki yang berirama, diikuti dua pasukan, pasukan tombak dan
pasukan golok besar. Dua pasukan ini diikuti oleh rombongan
hwesio dan nikouw yang berdoa sambil memegang tasbeh,
kepala menunduk dan bersikap khidmat dan bibir berkemak
kemik. Di belakang rombongan hwesio dan nikouw yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jumlahnya belasan orang ini nampak rombongan yang
menjadi pusat perhatian ialah sebuah joli yang dipikul oleh
empat orang hwesio tua yang berjubah kuning. Joli itu kecil
saja dan tertutup tirai kuning, dari luar tidak kelihatan apa
yang berada di dalamnya. Akan tetapi semua orang telah
tahu, tentu benda suci yang berupa tulang dari jari tangan
Sang Buddha itulah yang ada di dalam joli. Di belakang
rombongan hwesio dan joli ini berjalan pengiring terdiri dari
para pembesar dan pejabat pemerintahan yang menghormati
dan menyambut benda suci itu dan mengantar di belakangnya
memasuki kota. Kemudian di belakang mereka berjalan
pasukan pengawal lagi yang jumlahnya sama dengan
pengawal yang tadi berjalan di depan, yaitu sekitar limapuluh
orang dibagi menjadi dua pasukan yaitu pasukan tombak dan
pasukan golok besar.
Para penonton menyambut dengan takjub dan penuh
kegembiraan. Mereka yang beragama Buddha sudah cepat
menjatuhkan diri berlutut ketika pawai itu lewat, merangkap
kedua tangan di depan dada dan menyembah, memberi
hormat kepada benda suci itu. Mereka yang tidak beragama
Buddha dan yang hanya datang menonton, juga bersikap
hormat, sikap yang timbul karena melihat betapa para
pembesar mengiring benda suci itu dan betapa pasukan
pengawal menjaganya dengan demikian ketat sehingga tentu
saja benda di dalam joli itu mendatangkan kesan yang
membuat orang merasa bahwa mereka berhadapan dengan
benda yang harus dihormati.
Di belakang ekor pawai, yaitu pasukan pengawal, kini
berbondong-bondong rakyat berjalan sehingga pawai itu
menjadi makin panjang. Mereka semua menuju ke Kuil Banhok-
tong di mana Thian Ki Hwesio, ketua Kuil Ban-hok-tong,
telah siap mengadakan penyambutan.
Hwesio tua ini tadi pagi telah mendahului rombongan
datang kembali ke kuilnya, bukan hanya untuk mengatur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penyambutan akan tetapi juga karena dia mendengar akan
adanya penyerbuan orang-orang jahat malam hari tadi yang
merusak meja sembahyang di kuilnya.
Ketua Ban-hok-tong, Thian Ki Hwesio ini, bukanlah orang
sembarangan. Selain menjadi seorang pendeta Agama Buddha
yang tekun dan saleh, dan sebagai ketua kuil yang rajin
bekerja demi kemajuan perkembangan agamanya juga Thian
Ki Hwesio terkenal sebagai seorang ahli silat yang pandai. Dia
bersama Thian Lee Hwesio yang menjadi sutenya dan menjadi
wakil kepala di kuil itu, yaitu hwesio tua yang terluka dalam
pertempuran semalam, adalah murid-murid Thai-san pai
tingkat tiga. Hanya karena dua orang hwesio ini bekerja
sebaga pendeta dalam kuil dan selalu menjauhkan diri dari
kekerasan, tentu saja kepanda'an mereka jarang ada yang
mengenalnya.
Sejak kemarin sampai malam tadi, Thian Ki Hwesio
meninggalkan kuilnya untuk melakukan penyambutan kepada
rombongan pembawa benda suci. Dalam rombongan itu dia
bertemu dengan seorang sucinya, yaitu Pek I Nikouw yang
mempunyai tingkat lebih tinggi dari pada dia di Thai-san-pai.
Pek I Nikouw adalah tokoh tingkat dua di Thai san-pai dan
terhitung sucinya yang memiliki kepandaian lebih tinggi.
Karena seperti dia, Pek I Nikouw juga menjadi seorang
pendeta Buddha yang mengepalai Kuil Kwan-im-bio di luar
kota An kian, maka mereka dapat bertemu dalam rombongan
itu.
Ketika mendengar bahwa semalam kuilnya diserbu orang,
Thian Ki Hwesio cepat men-dihului rombongan, kembali ke
Kuil Ban hok-tong. Hwesio tua ini merasa marah ketika melihat
betapa sutenya dan beberapa orang hwe-sio kuilnya luka-luka,
dan alisnya yang bercampur uban itu. berkerut ketika dia
mendengar penuturan Thian Lee Hwesio tentang penyerbuan
itu, melihat medali baja yang menjadi tanda dari Im-yang-pai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Omitohud....., tidak salahkah ini?" Thian Ki Hwesio berkata
seorang diri sambil membolak-balik benda itu di atas telapak
tangannya. "Boleh jadi mereka tidak senang dengan agama
kita, akan tetapi menyerbu dan mengacau? Sukar dipercaya
Im-yang-pai melakukan hal securang ini.......!"
"Suheng, mereka adalah segerombalan tosu dan biarpun
tidak secara terang-terangan mengaku dari Im-yang-pai, akan
tetapi setelah lencana ini menunjukkan kenyataan sebagai
bukti, kiranya kita tidak perlu ragu-ragu lagi. Kita harus tidak
mendiamkan saja kecurangan mereka dan kita harus
mendatangi Im-yang pai dan menuntut! " kata Thian Lee
Hwesio yang masih marah mengingat akan peristiwa
semalam.
Thian Ki Hwesio mengangguk-angguk. "Tentu saja.
Penghinaan terhadap kuil merupakan hal yang harus kita bela
dengan nyawa, sute. Akan tetapi kita menghadapi urusan
besar, yaitu menyambut benda suci. Setelah itu selesai,
barulah kita bicarakan hal ini dengan pembesar setempat,
karena pinceng yakin bahwa penyerbuan itu ada hubungannya
dengan upacara penyambutan benda suci itu."
"Benar, suheng. Memang mereka itu pantas disebut
pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi."
"Ingat, sute. Kita tidak boleh melibatkan diri dengan urusan
pemberontakan. Kita hanya bergerak membela diri karena kuil
kita dihina orang."
"Akan tetapi, kaisar telah memperlihatkan sikap amat baik
terhadap agama kita, suheng maka hal itu amat baik bagi
perkembangan agama kita. Kaisar yang beragama Buddha dan
memperhatikan perkembangan agama kita haruslah kita bela
dan pemberontakan terhadap pemerintah yang mendukung
agama kita harus tetap dipertahankan."
Thian Ki Hwesio menarik napas panjang. "Harap kau tidak
lupa, sute, bahwa apapun keadaan dan kedudukan kita, kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetap merupakan anak murid Thai-san-pai. Tentu sute tidak
lupa akan sumpah dan janji kita sebagai murid Thai-san-pai
dahulu bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan
pemerintahan, hanya berfihak kepada rakyat dan mereka yang
tertindas. Sudahlah, urusan ini kita rundingkan besok setelah
selesai penyambutan benda suci di kuil kita ini."
Pawai telah tiba di depan kuil. Para pengawal berbaris rapi
mengelilingi kuil dan yang memasuki pekarangan kuil
hanyalah rombongan hwesio dan nikouw. mengiringkan empat
orang hwesio tua pemikul joli kuning itu. Di depan kuil, Thian
Ki Hwesio dan sutenya, juga para hwesio lain, telah
menyambut sambil berlutut.
Joli itu ditujukan di atas meja yang telah dipersiapkan di
depan kuil, kemudian Thian Ki Hwesio yang mengepalai
penyambutan lalu memasang dupa dan memberi hormat
sambil mengucapkan mantera-mantera diikuti oleh para
hwesio dan nikouw lainnya. Para pembesar yang mengiringkan
tadipun diperbolehkan masuk dan kini berdiri di satu pinggiran
menyaksikan upacara itu, sedangkan para penonton tetap
berada di luar pagar, berjejalan untuk menyaksikan upacara.
Di antara para penonton itu terdapat dua orang bocah yang
menyelinap ke depan. Mereka ini bukan lain adalah Tan Sian
Lun dan Gan Ai Ling. Tadinya, Sian Lun hendak mencegah niat
Ling Ling untuk menonton, akan tetapi anak itu terus
merengek. Apa lagi karena melihat banyak orang berbondong
lewat di depan rumah mereka dan semua orang bicara
tentang penyambutan benda suci, akhirnya Sian Lun tidak
dapat mencegah lagi karena khawatir kalau kalau sumoinya itu
akan pergi sendiri! Dia meninggalkan pesan kepada para
pelayan bahwa dia akan mengantar sumoinya nonton dan
akhirnya, setelah mendengar bahwa pawai telah memasuki
pintu gerbang kota, Sian Lun dan Ling Ling berangkat dan
bersama banyak orang mereka menanti di depan kui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"He, suheng, bukankah dia itu locianpwe yang menjadi
guru bibi Beng Lian?" tiba-tiba Ling Ling berkata sambil
memegang lengan suhengnya dengan tangan kiri sedangkan
tangan kanannya menuding ke arah rombongan pendeta yang
sedang berlutut melakukan upacara penghormatan. Yang
dituding oleh jari tangan Ling Ling adalah Pek I Nikouw !
Memang anak perempuan ini tidak salah mengenal orang.
Di dalam rombongan itu terdapat seorang nikouw tua yang
berwajah ramah dan bersikap halus dan pendeta ini adalah
Pek I Nikouw, enci dari Thian Ki Hwesio,
Pek I Nikouw, adalah ketua dari Kuil Kwan-im-bio yang
terletak di luar kota An - kian. Dan nikouw yang menjadi tokoh
Thai-san-pai tingkat dua ini menjadi guru dari Gan Beng Lian,
adik perempuan Gan Beng Han yang telah menikah dengan
putera Bupati Yap di kota An kian, yaitu Yap Yu Tek. Tentu
saja kini Gan Beng Lian yang telah menjadi nyonya Yap Yu
Tek tinggal di rumah ayah mertuanya, sedangkan ibunya
masih tinggal di dalam Kuil-Kwan-im-bio karena ibunya telah
masuk menjadi nikouw, menjadi murid agama dari Pek I
Nikouw, Sudah tiga kali Ling Ling diajak oleh ayah dan ibunya
mengunjungi bibinya di gedung Bupati Yap, dan selain
mengunjungi keluarga bibinya, juga dia diajak mengunjungi
neneknya, yaitu Siok Thian Nikouw di dalam Kuil Kwan-im-bio.
Oleh karena itu, pernah dia bertemu dengan Pek I Nikouw dan
kini dia mengenal nikouw tua itu di antara para pendeta yang
berlutut di depan Kuil Ban-hok-tong memberi penghormatan
kepada benda suci.
"Benarkah?" tanya Sian Lun. "Aku belum pernah melihat
guru bibi Beng Lian." Sian Lun memang belum pernah
bertemu dengan Pek I Nikouw sungguhpun dia pernah melihat
adik kandung supeknya itu, yaitu Gan Beng Lian bersama
suaminya ketika mereka datang berkunjung ke Cin - an.
Kini upacara sembahyang penyambutan di luar kuil telah
selesai. Thian Ki Hwesio membuka tirai joli dan mengambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keluar sebuah kotak berwarna hitam dan berukir bunga
teratai, lalu mengangkat kotak itu tinggi di atas kepala. Semua
orang memandang dengan mata terbelalak dan di sana-sini
terdengar bisikan bahwa itulah kotak yang berisikan benda
suci! Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan nyaring
sekali dan dari luar, di antara para penonton, berlompatan dua
orang, tangan mereka bergerak dan beberapa sinar terang
menyambar ke arah Thian Ki Hwesio!
"Omitohud........!!" Terdengar teriakan halus dan Pek I
Nikouw sudah meloncat ke depan, kedua tangannya bergerak
dan nikouw tua yang lihai ini telah dapat menangkap empat
buah hui - to (pisau terbang) yang meluncur seperti kilat itu.
"Tangkap penjahat!"
"Tangkap tosu siluman!"
Thian Ki Hwesio cepat menyerahkan kotak pusaka kepada
sutenya, Thian Lee Hwesio yang cepat membawa kotak itu ke
dalam, sedangkan Thian Ki Hwesio sendiri sudah melompat ke
depan membantu sucinya, Pek I Nikouw yang sudah
bertanding melawan dua orang kakek bermuka singa yang
berambut panjang. Dua orang saikong (kakek muka singa)
yang tadi melemparkan hui-to itu berjubah panjang dan
mereka itu mengamuk dengan senjata mereka yang
menyeramkan. Kakek yang mukanya berwarna kuning
mainkan sepasang senjata kongce (tombak pendek dengan
kaitan) sedangkan kakek kedua yang bermuka brewok
menggunakan senjata siang-kiam ( sepasang pedang ).
Keduanya memiliki gerakan yang amat cepat dan kuat sekali.
Ketika tadi ada empat orang perwira pengawal menubruk
maju dengan golok mereka, dalam segebrakan saja empat
orang perwira ini roboh dan tubuh mereka terlempar sehingga
Pek l Nikouw berseru menyuruh mundur semua pengawal dan
dia sendiri yang maju menyambut dua orang itu. Karena dia
bertugas menyambut dan mengawal benda suci, maka sekali
ini, tidak seperti biasanya, Pek I Nikouw membawa pedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan kini dia mainkan pedangnya melawan dua orang kakek
sai-kong yang amat kosen itu.
Thian Ki Hwesio yang telah bersiap siaga karena semalam
kuilnya dikacau orang itu, kini telah melompat dan membantu
sucinya sambil berseru keras dan mainkan pedangnya. Hwesio
ini mainkan Ilmu Pedang Thai-san Kiam-hoat yang indah dan
juga amat cepat gerakannya, sedangkan sucinya yang sudah
memiliki tingkat lebih tinggi, mainkan Ilmu Pedang Thai-san
Kiam-hoat yang sudah digubah dan ditambahnya sendiri, ilmu
pedang ciptaannya yang diberi nama Ngo-lian Kiam-hoat (Ilmu
Pedang Lima Teratai).
Hebat dan seru sekali pertempuran itu. Dua orang saikong
itu menjadi terkejut bukan main ketika mereka mendapat
kenyataan betapa hwesio dan nikouw tua yang
menyambutmereka itu amat lihai. Sebetulnya, tingkat
kepandaian mereka sendiri sudah amat tinggi dan mereka
berdua tidak takut menghadapi dua orang lawan mereka, akan
tetapi tempat itu penuh dengan musuh dan mereka tentu
akan menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang. Maka
mulailah mereka menjadi gentar dan mereka menggerakkan
senjata-senjata mereka untuk merobohkan dua orang lawan
sehingga Pek I Nikouw yang menghadapi lawan yang
bersenjata sepasang kongce itu mulai terdesak. Apa lagi Thian
Ki Hwesio yang tingkat kepandaiannya lebih rendah
dibandingkan denga Pek I Nikouw. Dia mulai sibuk
menghadap desakan sepasang pedang di tangan saikong
brewok.
Melihat ini, para perwira pengawal dan para pendeta sudah
mulai mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi pada saat
itu terdengar seruan, "Hei, sumoi........ jangan....... !! "
Dan semua orang terkejut sekali ketika melihat seorang
anak perempuan kecil, usianya kurang lebih delapan tahun,
dengan sebatang pedang pendek di tangan kanan, telah
menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran dan langsung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja menggunakan pedang kecil itu untuk menyerang saikong
bermuka kuning yang menjadi lawan dan sedang mendesak
Pek I Nikouw! Anak itu adalah Ling Ling yang tak dapat
menahan hatinya melihat betapa guru bibinya terdesak. Tadi
ketika hendak berangkat, dia memang membawa pedang kecil
yang biasa dipergunakannya untuk berlatih itu. Untuk menjaga
kalau-kalau terjadi keributan sehingga dia dapat menjaga diri,
katanya kepada Sian Lun dan anak laki-laki ini hanya
tersenyum saja tidak melarang. Siapa kira, kini sumoinya itu
menggunakan pedangnya untuk benar-benar melakukan
pertempuran, padahal yang sedang bertempur adalah orang
orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Sian Lun
hendak mencegah sumoinya, namun terlambat karena Ling
Ling sudah meloncat dan menyerang saikong itu.
Saikong bermuka kuning itu sedang mendesak Pek I
Nikouw dengan sepasang tombak kaitannya. Tiba-tiba dia
melihat sinar menyambar ke arah paha kirinya. Dia melirik dan
terbelalak heran ketika melihat bahwa yang menyerangnya
adalah seorang anak perempuan kecil yang menggunakan
pedang kecil pula untuk menusuk pahanya! Hampir dia
tertawa bergelak dan kongce di tangan kirinya menangkis
pedang kecil itu. Sesungguhnya, seorang yang memiliki
tingkat kepandaian seperti saikong ini tentu saja tidak perlu
takut menghadapi tusukan pedang kecil yang dilakukan oleh
anak sekecil itu. Akan tetapi karena saikong itu tertarik juga
menyaksikan keberanian anak ini, dia hendak
mempermainkannya, hendak menangkis dengan keras agar
pedang itu terlempar. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika
dia melihat anak itu merubah gerakan pedangnya sehingga
luput dari tangkisannya dan kini pedang kecil itu meluncur ke
arah pusarnya!
"Ehhh........ cringgg.......! " Dia menangkis tusukan pedang
Pek I Nikouw dengan keras sekali sehingga Pek I Nikouw
merasa tangan kanannya tergetar dan meloncat mundur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedangkan ketika pedang kecil itu mengenai pusarnya,
saikong itu mengerahkan tenaga sinkangnya.
"Krekkk !" Pedang kecil di tangan Ling Ling patah dan anak
itu sendiri terjengkang !
"Anak setan kau!" Saikong itu yang hampir saja celaka oleh
pedang Pek I Nikouw karena anak perempuan itu tadi
mengalihkan perhatiannya, menjadi marah dan kaki kirinya
menendang ke arah Ling Ling.
"Jangan ganggu dia!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring
dan Sian Lun telah menerjang maju dan menggunakan kedua
lengannya untuk menangkis tendangan itu, satu-satunya jalan
untuk menyelamatkan sumoinya.
"Desss......!" Tubuh Sian Lun terlempar dan terbanting
jatuh bergulingan. Akan tetapi anak ini sudah meloncat
bangun lagi dan cepat meloncat, menyerang saikong itu
karena melihat saikong itu kembali telah menggunakan kedua
batang kongce di tangan untuk menangkis pedang Pek I
Nikouw dan membalas dengan tusukan dahsyat, membuat
nikouw itu mundur lagi dan saikong itu kini hendak menyerang
Ling Ling dengan kemarahan meluap.
Dari belakang, Sian Lun menyerang dengan pukulan kedua
tangan, ditujukan ke arah tengkuk dan punggung sambil
mengerahkan seluruh tenaganya.
"Keparat!" Saikong itu membalik dan kong-cenya
menyambar ke arah kepala Sian Lun! Akan tetapi pada saat
itu, nampak sinar hitam menyambar dari atas dan tahu-tahu
tubuh Sian Lun lenyap dan sambaran kongce itu luput.
"Ihhh.......!" Saikong itu terkejut bukan main dan mengira
bahwa anak itu dapat mengelak dari serangan kongcenya. Hal
ini benar-benar amat luar biasa karena tidak mungkin anak itu
mengelak secara itu selagi tubuhnya melayang. Akan tetapi
ketika dia melihat ke atas, kiranya anak laki-laki itu telah
berada di atas genteng, di dekat seorang Kakek tua yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersenyum lebar dan yang menggulung sabuk hitam yang tadi
dipergunakan untuk menolong anak itu !
Sementara itu, Pek I Nikouw yang melihat anak perempuan
dan anak laki-laki itu membantunya, menjadi khawatir akan
keselamatan anak perempuan itu, maka dia cepat meloncat,
menyambar lengan anak perempuan itu, menariknya ke atas,
memondongnya dan pedang di tangan kanannya siap
melindunginya, sedangkan para pendeta lain dan para perwira
kini sudah mulai maju untuk mengeroyok dua orang saikong
lihai itu. Hal ini menolong dan menyelamatkan Thian Ki
Hwesio karena hwesio ini juga sudah terdesak hebat dan
terancam bahaya maut.
Jilid XIII
MELIHAT ini, dua orang
saikong itu lalu mengeluarkan
suara melengking panjang dan
agaknya itu merupakan isyarat
bagi mereka karena tiba-tiba
mereka lalu meloncat keluar,
lenyap di antara para penonton
yang sudah menjadi panik dan
sudah mulai lari ke sana-sini itu.
Para pendeta mengejar,
demikian pula pasukan penjaga
keamanan, namun dua orang
saikong itu berlari cepat sekali
dan sudah lenyap di antara
orang banyak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, terjadi kegaduhan di belakang kuil dan
terdengar suara orang, "Tangkap penjahat!"
"Kepung pencuri!"
"Jangan biarkan lolos ! Mereka tentu teman-teman para
saikong itu !"
Mendengar ini, Pek I Nikouw terkejut sekali dan cepat
mengejar ke belakang, akan tetapi lebih dulu dia memandang
ke atas genteng dan melihat betapa kakek aneh tadi masih
duduk nongkrong di atas genteng memegangi lengan anak
laki-laki tadi. Orang itu juga tentu seorang diantara temanteman
para penyerbu, pikirnya dan tangan kiri Pek I Nikouw
bergerak. Sinar jarum-jarumnya menyambar ke arah kakek
itu.
Akan tetapi kakek itu tertawa dan berkata. "Pendetapendeta
dan bukanpun sama saja !" Dia hanya menggerakkan
tangan melambai dan ...... jarum-jarum itu runtuh ke atas
genteng sebelum mencapai tempat dia duduk! Kemudian,
ketika Pek I Nikouw memandang, kakek itu menggerakkan
tubuhnya dan lenyaplah dia di balik wuwungan bersama anak
laki-laki tadi ! Pek I Nikouw terkejut dan bingung, akan tetapi
karena di belakang kuil makin gaduh, dia khawatir kalau-kalau
ada musuh menyerbu dari belakang, Thian Ki Hwesto sudah
lari ke belakang, maka diapun cepat lari ke belakang sambil
menggandeng tangan Ling Ling.
Setelah tiba di bagian belakang kuil, Pek I Nikouw disambut
oleh Thian Ki Hwesio dan sepasang orang muda yang gagah,
namun mereka itu terluka dan pakaian mereka berdarah.
Melihat wanita muda itu, Ling Ling melepaskan pegangan
tangan Pek I Nikouw dan berseru sambil berlari menghampiri,
"Bibi........!!"
Wanita itu adalah Beng Lian, Gan Beng Lian, pendekar
wanita murid Pek I Nikouw, dan laki-laki muda di sebelahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah Yap Yu Tek, suaminya yang juga merupakan seorang
pendekar yang perkasa.
"Eh, kau di sini, Ling Ling...... " Gan Beng Lian merangkul
keponakannya, akan tetapi dia menyeringai karena pundaknya
yang terluka itu terasa nyeri.
"Bibi, apa yang terjadi? Mengapa bibi terluka pundak bibi?"
Ling Ling bertanya. "Beng Lian, bagaimana engkau dan Yu Tek
dapat berada di sini dan terluka ? Apa yang terjadi?" Pek I
Nikouw juga bertanya.
"Sayang, ketika pinceng datang, mereka telah kabur........"
kata Thian Ki Hwesio.
"Siapakah mereka ? Apa yang terjadi" Pek I Nikouw
bertanya khawatir.
"Begini, subo. Teecu dan suami teecu mendengar berita
bahwa malam tadi terjadi penyerbuan di Kuil Ban-hok-tong itu.
Teecu berdua berpendapat bahwa tentu orang - orang jahat
itu akan mengulangi lagi penyerangan mereka, maka teecu
berdua cepat-cepat menyusul rombongan pengawal benda
suci untuk membantu subo menghadapi orang-orang jahat.
Ketika teecu berdua dapat menyusul di kota ini, rombongan
telah tiba di kuil dan benar saja, teecu melihat pertempuran di
depan kuil. Teecu hendak membantu, akan tetapi teecu lalu
melihat gerakan dua orang nenek yang. mencurigakan di
belakang kuil. Teecu berdua lalu mengejar mereka dan
ternyata mereka itu hendak memasuki kuil dari belakang dan
mereka telah merobohkan beberapa orang perajurit penjaga.
Kami berdua lalu menyerang dan terjadilah pertempuran.
Akan tetapi, dua orang nenek itu benar-benar amat lihai,
subo."
"Hemm, kalian kalah dan terluka oleh mereka?" tanya Pek I
Nikouw dengan hati khawatir. Dia tahu bahwa muridnya ini
telah mencapai tingkat tinggi dan hampir semua ilmunya telah
diturunkan kepada Beng Lian, dan suami muridnya ini, Yap Yu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tek juga bukan seorang lemah dan bahkan sedikit lebih lihai
dari muridnya karena pemuda ini adalah murid terkasih dari
Tiong-san Lo-kai, kakek pengemis sakti yang dikenalnya
dengan baik. Akan tetapi mereka telah dikalahkan dan terluka
oleh dua orang nenek itu.
"Mereka hebat sekali, locianpwe," kata Yap Yu Tek. "Kami
menggunakan pedang dan mereka menghadapi kami dengan
tangan kosong saja! Namun, dalam belasan jurus saja kami
telah terluka oleh tamparan tangan mereka yang mengandung
hawa tajam, seperti serangan senjata tajam saja. Kalau tidak
cepat datang lo-suhu ini, mungkin kami berdua akan celaka."
Thian Ki Hwesio berkata, "Omitohud........Thian masih
melindungi ji-wi enghiong yang membela kebenaran. Agaknya
pinceng sendiri bukan lawan mereka, akan tetapi mereka
merasa gentar ketika datang banyak orang dan mereka
melarikan diri. Suci, mereka sungguh hebat dan melihat
gerakan mereka, agaknya mereka tidak kalah lihai
dibandingkan dengan dua orang saikong tadi."
Pek I Nikouw mengangguk-angguk lalu menghampiri Beng
Lian, merobek sedikit baju di pundak muridnya dan memeriksa
luka itu. Luka itu memang hebat, seperti luka bacokan golok
saja, untung tidak melukai tulang dan juga agaknya tidak
beracun. Demikian pula luka di pangkal lengan kanan yang
diderita Yu Tek tidak berbahaya.
"Bibi, engkau harus menolong suheng” tiba-tiba Ling Ling
yang memandang ke kanan kiri dan ke atas mencari-cari,
berkata sambil menarik tangan bibinya.
"Suhengmu? Siapa? Mengapa dia?"
"Suheng Tan Sian Lun, tadi dia datang bersamaku, akan
tetapi dia........dia ditangkap oleh seorang kakek iblis yang
berada di atas genteng. Tolonglah dia, bibi!"
"Dia telah pergi," kata Pek I Nikouw. "Kakek itu lihai bukan
main, jarum-jarumku tidak mampu mendekatinya dan dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pergi bersama anak itu. Akan tetapi, pinni masih sangsi
apakah dia itu kawan dari gerombolan penjahat. Betapapun,
harus kita cari dia, siapa tahu masih berada di atas
wuwungan" Setelah berkata demikian, Pek I Nikouw lalu
meloncat naik ke atas genteng diikuti oleh Thian Ki Hwesio.
"Kaujaga Ling Ling. Aku akan ikut mencari!" kata Yu Tek
kepada isterinya dan diapun meloncat ke atas genteng.
Beng Lian tinggal di bawah dan mendengarkan penuturan
Ling Ling tentang hilangnya murid ayah ibunya yang bernama
Coa Gin San di waktu terjadi keributan di kelenteng malam
tadi, dan betapa ayah bundanya pergi menyusul ke sarang
Im-yang-pai yang berada di Pegunungan Thai-hang-san.
Kemudian bercerita tentang dia dan Sian Lun yang tadi
melibat Pek I Nikouw terdesak sehingga mereka berdua
mencoba untuk membantu nenek itu yang mengakibatkan
terculiknya Sian Lun. Mendengar penuturan itu, Beng Lian
mengerutkan alisnya. Keparat, pikirnya. Orang-orang Imyang-
pai itu benar-benar jahat dan harus dibasmi, bukan saja
memusuhi pemerintah dan Agama Buddha, akan tetapi juga
menyusahkan keluarga kakaknya dan telah melukai dia dan
suaminya!
Sementara itu, Pek I Nikouw yang dibantu oleh Thian Ki
Hwesio, Yap Yu Tek, juga beberapa orang perwira pengawal
yang berloncatan naik ke atas genteng, tidak berhasil
menemukan kakek aneh yang tadi melarikan Sian Lun. Bahkan
bayangan atau jejaknya saja tidak nampak. Setelah mencaricari
di atas genteng rumah-rumah dan tidak melihat apa-apa
terpaksa mereka turun dengan hati khawatir.
"Peristiwa keributan yang terjadi berbareng dengan usaha
pengacauan terhadap penyambutan benda suci ini jelas
merugikan keluarga kakakku. Jangan-jangan mereka itu
adalah musuh-musuh kakak Beng Han," kara Beng Lian
"Pinni kira tidak demikian," kata Pek I Nikouw menjawab
kata-kata muridnya. "Yang jelas, mereka itu memang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menentang pawai untuk menghormati benda suci, dengan
kata lain, mereka itu menentang dan memusuhi Agama
Buddha. Adapun kedua orang anak murid dan keponakan, Gan
sicu terjadi karena kebetulan saja, karena anak-anak itu berani
melawan mereka dan mencoba menggagalkan usaha mereka."
Luka-luka di pundak Beng Lian dan pangkal lengan Yu Tek
tidak berbahaya. Setelah diobati, Beng Lian lalu mengantarkan
Ling Ling pulang. Anak itu tidak menangis, akan tetapi -
wajahnya pucat dan dia selalu merasa gelisah kalau
mengingat akan dua orang suhengnya yang lenyap.
Karena Ling Ling tidak ada temannya, maka Beng Lian dan
suaminya bermalam di rumah kakaknya yang ditinggal pergi
oleh penghuninya itu. Juga Pek I Nikouw setelah
menyelesaikan urusannya di Kuil Ban-hok-tong, lalu menyusul
ke rumah Gan Beng Han di mana mereka bertiga mengadakan
perundingan sendiri.
"Fihak musuh itu amat lihai," antara lain Pek I Nikouw
berkata. "Dua orang saikong tadi saja sudah memiliki
kepandaian amat tinggi dan pinni sendiri bersama sute Thian
Ki Hhwesio hanya mampu mengimbangi mereka. Dua orang
wanita tua yang menghadapi kalian itu, melihat betapa
dengan tangan kosong saja mereka menghadapi pedang
kalian dan membuat kalian terluka, kiranya memiliki
kepandaian yang tidak kalah lihainya dari dua orang saikong
itu. Menurut sute Thian Ki Hwesio pembesar setempat yang
telah melaporkan hal itu ke kota raja, bermaksud mengirim
pasukan untuk menyerbu Im-yang pai. Pinni dan sute akan
memperkuat pasukan itu, juga mewakili agama untuk minta
pertanggungan jawab fihak Im-yang-pai, kalau memang benar
mereka yang melakukan penyerangan itu. Akan tetapi pinni
masih sangsi apakah kami akan berhasil, apakah cukup
kuat........"
"Locianpwe, bagaimana kalau teecu mohon bantuan suhu
?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Si tua Tiong-san Lo-kai ?" Nikouw itu berseru dengan
wajah terang. "Ah, benar ! Sebaiknya begitu, dan kalau dia
mau membantu pinni, tentu kedudukan kami akan jauh lebih
kuat. Akan tetapi suhumu itu adalah seorang yang wataknya
aneh, pinni meragukan apakah dia akan suka membantu.
Biasanya, dia itu hanya memikirkan kepentingan dirinya
sendiri belaka, biar melihat muridnya terluka dan isteri
muridnya juga terluka, kalau dia sendiri tidak tersangkut
langsung, mana dia mau...... ".
"Ha-ha-ha, nikouw tua ! Engkau sudah tahu aku berada di
sini dan sengaja membakar hatiku! Benar-benar sudah
menjadi nikouw masih saja cerdik !"
"Suhu.......!" Yu Tek berseru kaget dan girang ketika
melihat seorang kakek berpakaian tambal-tambalan tiba tiba
muncul di ruangan rumah itu.
"Locianpwe........!" Beng Lian juga cepat maju berlutut di
samping suaminya.
Pek 1 Nikouw tersenyum memandang kakek Itu. "Pinni
tidak membakar hati siapapnn, akan tetapi tidak benarkah
demikian pendapat pinni? Kalau tidak benar, biarlah pinni
minta maaf kepadamu, Lo-kai, dan sebelumnya pinni
mengucapkan terima kasih atas bantuanmu menjernihkan
persoalan dengan Im-yang-pai ini."
Tiong-san Lo-kai dipersilakan duduk. Kakek ini menarik
napas panjang. Tiong-san Lo- kai adalah seorang kakek sakti
yang suka berkelana, dan akhirnya dia bertapa di Pegunungan
Tiong-san sehingga dia memperoleh julukan Tiong-san Lo-kai
(Pengemis Tua dari Tiong-san). Dia adalah guru dari Yap Yu
Tek dan ketika dia mendengar tentang pawai yang mengawal
benda suci, seperti orang-orang kang-ouw lainnya yang
tertarik akan peristiwa ini, dia lalu turun gunung dan
menonton. Ketika mendengar bahwa arak-arakan itu telah tiba
di kota Cin-an, dia cepat menyusul dan pada hari itu dia
mendengar akan keributan yang baru saja terjadi di Kuil BanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hok-tong. Dia cepat pula mengunjungi kuil itu dan melihat
muridnya, isteri muridnya, dan Pek I Nikouw memasuki
sebuah rumah. Dia cepat membayangi mereka dan
mendengarkan percakapan mereka, lalu muncul setelah
muridnya dan Pek I Nikouw menyinggung-nyinggung dan
menyebut namanya. Tentu saja Pek I Nikouw yang bermata
tajam dan berpendengaran peka itu lebih dulu telah dapat
melihat tempat persembunyiannya maka nikouw itu sengaja
mengeluarkan kata - kata menyindir.
"Pek I Nikouw, yang kauhadapi adalah urusan yang amat
besar dan berbahaya. Siapa yang tidak mengenal Im-yang-pai
di Tai-hang-san? Siapa yang tidak mengenal Kok Beng
Thiancu, tokoh kawakan dari Im-yang-pai? Siapa pula tidak
mendengar nama Kim-sim Nio-cu, puterinya yang kini menjadi
kauwcu (ketua agama) dari Im-yang-kauw? Harap kau jangan
main-main, Pek I Nikouw."
"Lo-kai, siapa yang main-main? Adalah Im-yang-pai yang
telah berani main gila ! Menghina dan mencoba untuk
mengacau upacara suci dari Agama Buddha! Apakah agama
kami kalah besar dibandingkan dengan Im-yang-pai? Engkau
tahu bahwa lm-yang-pai dibandingkan dengan Hud-kauw
hanya sekuku hitamnya saja. Namun mereka berani mainmain
mengganggu kami! Pinni tahu bahwa Im-yang-kauw
mempunyai banyak tokoh pandai akan tetapi demi agama,
pinni siap untuk mempertaruhkan nyawa pinni!"
"Ha-ha-ha, sungguh mengherankan mendengar suara keras
dari seorang seperti engkau yang selalu menjadi abdi dari
Dewi Welas Asih Kwan Im Pouwsat ! Bukankah biasanya,
untuk menolong sesama manusia, engkau bersedia
mempertaruhkan nyawa pula ? Kenapa sekarang berubah
menjadi keras?"
"Lo-kai, kalau ada urusan menyangkut diri pinni sendiri,
pinni akan mengalah dan tidak akan menggunakan kekerasan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi kalau agama yang diganggu, siapapun adanya
mereka yang mengganggu, akan pinni lawan! "
Tiong-san Lo-kai menghela napas panjang.
"Hemm, kalian orang-orang yang mengabdi agama
memang selalu begitu........"
"Dan jangan lupa bahwa perbuatan Im-yang-pai itu bukan
hanya menghina agama kami, akan tetapi juga merupakan
pemberontakan terhadap pemerintah ! Upacara pawai ini
adalah kehendak kaisar, kehendak pemerintah, bukan urusan
agama kami semata, akan. tetapi mereka itu berani datang
mengacau, berarti mereka telah melakukan pemberontakan!
Ini adalah urusan besar, Lo-kai, akan tetapi karena pinni tahu
betapa kuatnya Im-yang-pai dan sebelum pemerintah turun
tangan, sebelum golongan atas dari agama kami turun
tangan, kami sendiri merupakan tenaga yang amat terbatas,
maka pinni mengharapkan bantuanmu, mengingat akan
persahahatan kita dan mengingat pula bahwa engkau selalu
siap untuk menentang kejahatan."
Kakek itu tersenyum lebar. "Menghadapi uraianmu itu,
siapa yang dapat menolak, Pek I Nikouw. Baiklah, aku akan
membantu, akan tetapi jangan mengira bahwa aku membantu
demi pemerintah atau demi agamamu, melainkan karena aku
melihat bahwa Im - yang - pai memang keterlaluan,
mengandalkan kekuatan sendiri mengacaukan fihak lain."
Mereka lalu mengadakan perundingan dan karena Beng
Lian dan Yu Tek terluka, biarpun ringan, sedangkan Ling Ling
juga perlu dilindungi dalam keadaan yang sedang gawat itu,
maka suami isteri muda ini tidak ikut, bahkan lalu mengajak
Ling Ling ke An-kian setelah meninggalkan pesan kepada para
pelayan di rumah kakaknya itu. Dan pada keesokan harinya,
datanglah pasukan besar yang terdiri dari tigaratus orang
langsung datang dari markas di perbatasan propinsi atas
perintah dari kota raja, dipimpin oleh beberapa orang
panglima perang yang kuat dan disertai pula perintah yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diperkuat dengan tanda kekuasaan dari kaisar untuk
menangkap para pimpinan Im - yang - pai di Tai - hang - san !
Tentu saja hati Pek 1 Nikouw menjadi besar dan lega.
Dengan pasukan besar yang kuat ini dia akan dapat menekan
Im - yang - pai. Maka setelah membereskan urusan
pengawalan benda suci ke kota raja, berangkatlah pasukan itu
menuju ke Tai - hang - san, dipimpin oleh panglima dari kota
raja dan diperkuat oleh Pek I Nikouw, Thian Ki Hwesio, dan
kakek jembel sakti Tiong-san Lo
(Oo-dewikz~bud~hanaoki~234-oO)
Ke manakah perginya Sian Lun ? Siapakah kakek aneh yang
tahu-tahu berada di atas genteng itu?
Dia seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuhpuluh
tahun lebih, tubuhnya kurus pakaiannya sederhana dan
tingginya sedang saja Kalau dilihat sepintas lalu, pasti tidak
ada orang yang akan menyangka bahwa dia seorang manusia
luar biasa. Wajahnya seperti kakek-kakek tua renta biasa saja,
rambutnya yang jarang itu sudah banyak putihnya,
demikianpun alisnya, kumisnya dan jenggotnya sudah banyak
ubannya. Wajahnya agak kehitaman terlalu banyak dibakar
panas matahari, seperti wajah kakek-kakek petani yang
banyak bekerja di ladang dan membiarkan dirinya mandi
cahaya matahari sepanjang hari. Hanya bedanya, kalau wajah
kakek kakek biasa selalu penuh dengan keriput-keriput tanda
banyak mengalami ketegangan batin di waktu hidupnya,
wajah kakek ini masih halus dan berseri seperti wajah orang
muda, terutama sekali sinar matanya demikian tajam, hidup
dan bersinar-sinar mengandung kegembiraan dan gairah
hidup, seperti juga mulutnya yang selalu tersenyum penuh
pengertian dan kesabaran di samping ketenangan wajah itu.
Orang akan menyangka bahwa dia adalah seorang kakek
petani atau kakek nelayan yang hidup sederhana. Pakaiannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
biasa saja dan terbuat dari bahan yang kasar dan murah,
hany» bajunya mempunyai kantong-kantong yang besat dan
lebar, seperti juga lengan bajunya yang lebar seperti baju
hwesio. Rambutnya digelung sembarangan ke atas dan diikat
dengan kain kuning, sedangkan warna pakaiannya juga ke
kuning kuningan, entah memang berwarna kuning ataukah
warna putih yang sudah menguning. Sepatunya juga sepatu
tua yang masih kuat.
Ketika Sian Lun terancam bahaya dan diserang oleh
seorang di antara dua saikong itu dan agaknya tidak ada jalan
keluar bagi anak itu yang terancam maut, tiba-tiba saja dia
disambar oleh sinar hitam dan terangkat naik ke atas genteng.
Sinar hitam itu adalah sabuk panjang berwarna biru, sabuk
yang dipakai oleh kakek tua renta itu dan dipergunakan untuk
menyelamatkan Sian Lun.
Biarpun Sian Lun masih kecil dan dia terkejut setengah mati
ketika tahu-tahu pinggangnya disambar oleh sinar hitam dan
tubuhnya tahu-tahu meluncur ke atas genteng, namun dia
adalah keponakan dan murid suami isteri pendekar dan dia
tahu bahwa kakek aneh ini telah menyelamatkannya. Dia
menengok dan melihat kakek yang sederhana itu tersenyum
kepadanya, Karena dia duduk di atas genteng yang miring,
maka dia tidak berani banyak bergerak, hanys membungkuk
dan berkata, "Locianpwe, teecu menghaturkan terima kasih
atas pertolongan locianpwe yang telah menyelamatkan teecu.
dari bahaya."
Kakek itu tertawa, matanya bersinar-sinar, wajahnya
berseri dan dia memandang wajah anak itu dengan penuh
selidik, penuh perhatian dan penuh kagum. "Kau anak baik,
hemm, siapakah namamu? "
"Nama teecu Tan Sian Lun...... dan harap Locianpwe suka
menurunkan teecu lagi karena teecu harus menolong sumoi
dan........"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Anak perempuan itu sumoimu? Ah, jangan khawatir, dia
telah ditolong oleh nikouw lihai itu."
Sian Lun menengok dan melihat bahwa Ling Ling memang
sudah dipondong oleh Pek I Nikouw dan kini para hwesio dan
para perwira telah mulai maju hendak mengepung dan
mengeroyok dua orang saikong yang mengamuk.
"Teecu harus turun tangan untuk membantu!" kembali Sian
Lun berkata, akan tetapi ketika dia hendak bergerak, dia
merasa betapa tubuhnya tidak mampu bergerak, padahal
kakek itu hanya menaruh tangan di pundaknya secara halus.
"Anak yang baik, mengandalkan keberanian tanpa memakai
perhitungan bukanlah perbuatan gagah namanya, melainkan
suatu ketololan belaka! Tenagamu sama sekali tidak
dibutuhkan di bawah itu. Pula, mereka itu adalah manusiamanusia
boneka yang bukan menjadi manusia lagi melainkan
menjadi boneka dan alat dari agama dan kepercayaan masingmasing.
Apakah engkau hendak ikut-ikut, engkau yang masih
bersih dan wajar ini?"
Sian Lun terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa
tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak, dan kini dia
heran mendengar kata-kata itu. Dia tidak mengerti, maka dia
lalu memandang wajah itu. Kagetlah dia melihat dua mata
yang mencorong seperti mata naga dalam dongeng, yang
membuatnya silau sehingga dia cepat mengalihkan pandang
matanya ke bawah, lalu dia bertanya, "Apa maksud
locianpwe?"
"Ha-ha-ha, engkau ingin tahu? Anak yang baik, melihat
sepak terjangmu tadi, aku tahu bahwa engkaulah anak yang
pantas untuk menjadi pewaris semua ilmu yang pernah
kupelajari, maka aku merasa sayang melihat engkau hampir
tewas oleh ancaman saikong itu. Engkau ingin tahu apa yang
kumaksudkan dengan kata-kataku tadi? Marilah kau ikut
bersamaku dan engkau akan tahu lebih banyak lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sian Lun mengerutkan alisnya. "Akan terapi........" Dia
teringat bahwa dia adalah murid dari paman guru dan bibi
gurunya. Akan tetapi peristiwa yang dilihatnya tadi membuat
dia sadar bahwa tingkat kepandaian paman guru dan bibi
gurunya itu sebenarnya belum berapa tinggi. Padahal tadinya
dia menganggap bahwa kepandaian mereka yang juga
menjadi guru-gurunya itu sudah tak dapat diukur lagi
tingginya. Kini, dia melihat sendiri betapa Pek I Nikouw, yang
kabarnya adalah guru dari adik kandung supeknya, yang
menurut supeknya memiliki kepandaian yang tinggi sekali,
ternyata terdesak oleh saikong itu! Dan juga para tosu yang
menyerbu kuil malam tadipun berkepandaian tinggi sehingga
supeknya menyatakan kekhawatirannya dan berkata betapa
lihainya orang-orang Im-yang-pai. Dan kini, dia telah
diselamatkan oleh seorang kakek yang luar biasa pula. Betapa
banyaknya orang pandai di dunia ini dan ternyata jelas
olehnya bahwa tingkat kepandaian suami isteri yang menjadi
guru-gurunya itu belum tergolong tingkat yang tinggi. Tentu
saja dia tidak bisa begitu saja meninggalkan guru-gurunya dan
ikut bersama kakek yang belum dia kenal ini, akan tetapi ada
pula keinginan menyelinap di dalam hatinya untuk menjadi
orang yang pandai, yang kelak akan dapat menghadapi orangorang
jahat seperti para pengacau itu.
Pada saat itu, Pek I Nikouw yang telah gagal merobohkan
atau menangkap dua orang saikong yang melarikan diri,
menyerang kakek di atas genteng itu dengan jarum -
jarumnya yang biasanya amat lihai dan sukar untuk
dihindarkan oleh lawan yang lihai sekalipun. Akan tetapi,
kakek ini dengan amat mudah menggerakkan tangan dan Sian
Lun merasa ada hawa pukulan dahsyat menyambar ke depan
dan meruntuhkan jarum-jarum itu. Kemudian, sebelum dia
tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya sudah meluncur
cepat dari atas genteng itu seolah-olah dia telah diterbangkan
oleh angin yang dahsyat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Locianpwe, harap berhenti........" Sian Lun berkata
terengah-engah karena angin membuat dia sukar bernapas.
Dia berseru demikian ketika melihat betapa dia sudah
meluncur sampai keluar dari kota Cin-an, melalui dinding
tembok kota yang sunyi karena semua orang agaknya pergi
menonton penyambutan benda suci di Kuil Ban-hok-tong itu.
Kakek itu berhenti dan melepaskan Sian Lun setelah dia
meloncat turun ke atas tanah di luar tembok kota. Sian Lun
lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu yang berdiri
sambil tersenyum, sedikitpun tidak kelihatan lelah padahal
kakek itu tadi telah berloncatan seperti terbang saja cepatnya.
"Locianpwe, harap locianpwe maafkan teecu, akan tetapi
tidak mungkin teecu dapat ikut pergi bersama locianpwe."
"Hemm, mengapa tidak dapat? Engkau berbakat dan
engkau penuh semangat, engkau berwatak pemberani dan
tidak suka melihat kejahatan. Apa engkau tidak suka
mempelajar ilmu-ilmu tinggi untuk memperlengkapi dirimu
menjadi seorang pendekar?"
"Bukan demikian, locianpwe. Teecu akan berterima kasih
apabila locianpwe sudi membimbing teecu. Akan tetapi, teecu
tidak mungkin berani meninggalkan rumah supek dan su-pekbo
begitu saja. Mereka adalah guru-guru teecu, juga
pengganti orang tua teecu, dan mereka kini sedang pergi,
teecu diharuskan melindungi sumoi dan......."
"Sumoimu sudah aman di tangan nikow itu Dan siapakah
guru-gurumu itu? Apakah mereka lebih hebat dari pada
nikouw itu?"
"Tidak...... tidak selihai Pek I Nikouw, akan tetapi........
mana berani teecu pergi begitu saja tanpa pamit? Hendaknya
locianpwe ketahui bahwa sejak bayi teecu telah dirawat oleh
mereka sehingga boleh dibilang teecu adalah anak mereka
pula."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek itu mengangguk-angguk. "Bagus! Engkau mengenal
budi dan engkau berbakti. Akan tetapi lepas dari semua itu,
jawablah apakah engkau suka menjadi muridku?"
Sian Lun memang amat kagum kepada kakek ini. Ketika
menolong dia, ketika meruntuhkan jarum-jarum Pek I Nikouw,
ketika membawanya lari keluar kota, semua itu membuktikan
bahwa kakek ini benar-benar memiliki kesaktian hebat, tidak
kalah oleh Pek I Nikouw dan tentu saja jauh lebih lihai dari
paman dan bibi gurunya! Tentu saja dia akan suka sekali
menjadi murid kakek ini, maka dia menjawab sejujurnya.
"Teecu suka sekali, akan tetapi teecu harus bertanya dulu dan
minta perkenan dari supek dan supek-bo."
"Hemm, katakan siapa nama mereka dan di mana mereka
tinggal ?"
"Mereka tinggal di kota Cin-an itu, locianpwe. Nama supek
adalah Can Beng Han Supek-bo adalah sumoinya dan mereka
adalah nurid-murid dari sukong Lui Sian Lojin......."
"Ahhh........?? Ha ha ha, kiranya engkau cucu murid dari Lui
Sian Lojin yang bertapa di puncak Kwi-hoa-san. Ha ha-ha,
sungguh aneh, sungguh kebetulan sekali. Kiranya masih
segolongan sendiri. Kau tahu siapa Lui Sian Lojin? Dia adalah
murid keponakanku.”
Sian Lun terkejut setengah mati mendengar ini, Dia sendiri
belum pernah melihat Lui Sian Lojin kakek gurunya itu yang
oleh supek dan supek-bonya dikabarkan sebagai seorang
manusia setengah dewa yang tinggi sekali ilmunya. Akan
tetapi, ternyata sukongnya itu malah murid keponakan dari
kakek ini. Dengan demikian, kakek ini adalah kakek buyut
gurunya! Maka dia cepat memberi hormat dan menyentuh
tanah di depan kakek itu dengan dahinya.
"Sucouw........!" katanya.
"Ha-ha-ha, mulai sekarang engkau adalah muridku dan
engkau menyebut suhu kepadaku. Ketahuilah, Sian Lun,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahwa selama hidupku baru sekarang ini aku menerima murid.
Suhengkupun hanya mempunyai seorang murid yaitu Lui Sian
Lojin itulah. Jangan khawatir, aku akan memberi tahu kepada
Gan Beng Han dan isterinya bahwa engkau kuajak pergi untuk
belajar ilmu. "
"Bagaimana caranya ? Supek dan supek-bo sedang
pergi......." kata Sian Lun sangsi.
Kakek itu menoleh ke kanan kiri dan melihat sebatang
pohon besar di tepi jalan. "Kau-nantilah aku di bawah pohon
itu sebentar, jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali.
Aku akan meninggalkan pesan di rumah supekmu."
"Baik, suhu........" kata Sian Lun dengan agak kikuk karena
ia harus menyebut guru kepada kakek buyut itu.
Setelah melihat anak itu duduk di bawah pohon, kakek itu
lalu berjalan pergi kembali ke arah kota Cin-an. Dia kelihatan
berjalan, akan tetapi tubuhnya berkelebat dan dalam sekejap
mata saja lenyaplah bayangan kakek itu dari depan Sian Lun,
membuat anak ini menjadi bengong saking heran dan
kagumnya. Makin terkejut dan heranlah hati Sian Lun ketika
tak lama kemudian, bayangan kakek itu sudah berkelebat
datang dan tahu-tahu telah berdiri di depannya sambil
tersenyum. "Ha-ha mereka tidak akan terkejut dan marah
kepadamu kalau pulang dan melihat suratku di atas meja
dalam kamar mereka."
Hampir Sian Lun tidak dapat percaya bahwa waktu yang
amat singkat itu dapat dipergunakan oleh kakek ini untuk
pergi pulang pergi ke rumah supeknya dan meninggalkan
surat dalam kamar supeknya itu. Agaknya kakek itu dapat
melihat keraguan di hati Sian Lun. Dia tersenyum dan berkata,
"Sian Lun, kelak engkau akan tahu bahwa apa yang telah
kulakukan ini bukan apa-apa dan tidak perlu dibuat heran.
Ketahuilah bahwa ada berita baik mengenai sumoimu.
Sumoimu itu telah dibawa pergi oleh bibinya ke kota An-kian
dalam keadaan selamat.'"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bibinya........? Locianpwe........ eh, suhu maksudkan bibi
Gan Beng Lian ?"
"Benar, aku melihat mereka semua di sana, Sumoimu itu,
Pek I Nikouw, bibi sumoimu yang katanya adalah murid Pek I
Nikouw, suaminya, dan aku melihat wajah yang kukenal baik,
searang pendekar jembel yang amat baik, yang berjuluk
Tiong-san Lo-kai. Sumoimu akan dibawa pergi ke An-kian
dalam perlindungan bibi dan pamannya, sedangkan Pek I
Nikouw bersama Tiong-san Lo-kai akan membantu pasukan
yang akan menyerbu Im-yang-pai. Ha-ha- orang-orang gila itu
sungguh hanya akan membikin kacau dunia saja dengan
segala dendam dan permusuhan mereka."
Sian Lun makin terkejut. "Jadi suhu.....bertemu dan bicara
dengan mereka tentang teecu?"
Kakek itu menggeleng kepalanya. "Tidak aku tidak
mengganggu mereka. Melihat mereka sedang asyik berunding,
aku diam-diam memasuki kamar paman gurumu dan
meninggalkan sedikit catatan bahwa engkau ikut pergi
bersamaku."
Sian Lun makin kagum. Bukan hanya kecepatan suhunya ini
luar biasa, akan tetapi juga suhunya telah dapat memasuki
kamar supeknya tanpa diketahui orang, padahal di rumah itu
terdapat demikian banyaknya orang lihai. Hal ini saja sudah
membuktikan betapa kakek ini benar-benar amat luar biasa.
Memang kakek itu bukanlah orang sembarangan. Dia
adalah seorang sakti yang tidak mau menonjolkan namanya di
dunia kang-ouw. Berbeda dengan suhengnya yang berjuluk Bu
eng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Bayangan), yang membuat
nama besar di dunia kang-ouw dan baru setelah tua sekali Bueng
Lo-jin mengundurkan diri bertapa di Kwi-hoa-san dimana
dia mengambil seorang murid yang kemudian mewarisi
kepandaiannya dan rnenjadi pendekar terkenal pula, yang
setelah berusia enampuluh tahun juga menjadi pertapa di
puncak Kwi-hoa- san, yaitu Lui Sian Lojin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek ini selalu menyembunyikan diri hidup di kalangan
rakyat jelata yang miskin, kadang - kadang dia hidup sebagai
seorang petani di pegunungan, hidup tenteram dan tenang
penuh kedamaian, bergulat dengan tanah dan air, bergembira
dengan tanam-tanaman. Ada kalanya dia hidup sebagai
seorang nelayan, bergurau dengan alunan ombak lautan,
mengadu nasib dengan ikan - ikan dan hidup serba sederhana
lahir batin. Kakek ini adalah sute dari Bu - eng Lo-jin dan tetap
memakai namanya sendiri, nama kecil yang diberikan oleh
ayah bundanya kepadanya, yaitu Siangkoan Lee. Hanya
setelah tua, dia dikenal orang sebagai Siangkoan Lojin (Orang
tua she Siangkoan) saja, dan selama hidupnya dia tidak
pernah mau menikah.
Ilmu kepandaian Bu-eng Lo-jin amat hebat sehingga
muridnya, Lui Sian Lojin juga kemudian menjadi tokoh kangouw
yang disegani. Akan tetapi, kepandaian sutenya ini
sebenarnya lebih hebat dari pada suhengnya, terutama sekali
ilmu ginkangnya yang setingkat lebih tinggi dari kepandaian
suhengnya itu. Akan tetapi, karena melihat betapa ilmu silat
hanya menambah kekerasan, permusuhan dan perkelahian,
kakek ini sebegitu jauh belum pernah mengambil murid,
sungguhpun dia tidak pernah lalai melatih dirinya, bahkan dia
telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat. Dia
memperdalam ilmu silatnya sama sekali bukan dengan pikiran
akan mencari permusuhan. Sampai dia menjadi tua, belum
pernah dia bermusuhan dengan siapapun juga, bahkan tidak
ada orang kang-ouw yang mengenal namanya. Dia selalu
menjauhkan diri apabila menghadapi kekerasan, dan selalu
mengalah dan menjauhi fihak yang menggunakan kekerasan.
Dia memperdalam ilmunya karena memang dia suka sekali
akan ilmu ini.
Akan tetapi, setelah pada suatu hari dia tertimpa penyakit
dan nyaris mati oleh penyakitnya itu, mulai dia teringat bahwa
semua ilmu yang dipelajarinya dengan segala ketekunan dan
jerih payah selama puluhan tahun itu akan hilang begitu saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terbawa mati olehnya! Mulailah dia melihat bahwa ilmu silat,
seperti juga ilmu-ilmu apapun di dunia ini, tidaklah buruk dan
tidak pula baik. Ilmu adalah ilmu, dan seperti juga segala apa
di dunia ini, ilmu merupakan pelengkap kehidupan manusia,
diadakan untuk keperluan manusia. Baik atau buruknya ilmu
apapun bukan ditentukan oleh ilmu itu sendiri yang
merupakan barang mati, melainkan ditentukan oleh orangnya
yang menguasainya. Demikian pula dengan ilmu silat. Sebagai
alat menyehatkan tubuh, sebagai olah raga, sebagai kesenian,
sebagai pelindung dari ancaman bahaya terhadap tubuh, ilmu
silat merupakan ilmu yang amat baik untuk dipelajari. Tubuh
yang sehat kuat setidaknya membawa kebaikan dan
keuntungan pula bagi batin, dan demikian pula sebaliknya.
Tentu saja ilmu silat akan kehilangan kebaikannya dan akan
menjadi ilmu yang amat kotor dan jahat kalau dipergunakan
untuk melakukan kekerasan, penindasan, dan penganiayaan
terhadap sesama, dipergunakan sebagai alat untuk mencapai
kekuasaan dan keuntungan bagi diri pribadi. Seperti juga
dengan segala macam benda pelengkap kehidupan manusia di
dunia ini.
Setelah sadar akan hal ini, mulailah Siangkoan Lojin
membuka mata dan mencari - cari calon murid. Tidaklah
mudah memilih calon murid ini karena selain anak atau orang
itu harus berbakat, diapun harus mempunyai rasa suka akan
ilmu silat di samping batin yang bersih dan jiwa yang penuh
semangat, nyali yang besar dan tulang yang baik. Secara
kebetulan, dia menemukan Sian Lun di Kuil Ban-hok-tong yang
sedang dilanda keributan itu. Dia menyelamatkan anak itu dan
setelah dia rnemegang tubuh anak itu, melihat sikap dan
watak Sian Lun, seketika dia merasa bahwa anak inilah yang
patut mewarisi kepandaiannya ! Dan hatinya bertambah
gembira ketika dia mendengar bahwa supek dari anak ini
adalah murid dari Lui Sian Lojin, murid keponakannya sendiri !
Dengan demikian, anak yang telah mulai terdidik ilmu silat itu
adalah "sealiran" dengan dia sendiri !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kalau boleh teecu mengetahui........ siapakah suhu,
siapakah nama suhu selain sebagai susiok (paman guru) dari
sukong Lui Sian Lojin ?"
Kakek itu tersenyum lebar dan Sian Lun yang memandang
wajah suhunya itu melihat betapa semua gigi dalam mulut itu
telah lenyap. Mulut itu tanpa gigi, seperti mulut bayi ! "Ha-ha,
apakah artinya nama ? Nama hanya memisah-misahkan
manusia belaka, dan nama julukan hanya membuat kepala
kemasukan angin dan menjadi menggembung seperti karet,
mudah meledak ! Akan tetapi, engkau perlu juga mengenal
siapa gurumu ini, Sian Lun. Namaku Siangkoan Lee, nama
yang sudah terlupa orang bahkan hampir kulupakan sendiri
karena tak pernah disebut-sebut lagi. Nama usang lapuk yang
sudah tidak ada gunanya lagi. Kalau orang tidak memiliki hak
milik apapun, tidak memiliki keluarga, apa pula arti dan
gunanya sebuah nama? Ada orang-orang dusun, para petani
dan nelayan yang menyebutku Siangkoan Lojin. Heh-heh, kau
kecewa bukan bahwa gurumu tidak berjuluk Seng-jin atau
Sian-jin, atau Sian-su ?"
"Teecu bodoh dan ucapan suhu belum dapat teecu
mengerti, maka teecu mohon petunjuk, suhu. Orang bilang
bahwa harimau mati meninggalkan belulang, manusia mati
meninggalkan nama. Bukankah hal itu menjadi bukti bahwa
nama amatlah penting sehingga kita perlu menjaganya
dengan baik sehingga kalau kita mati kelak, nama kita masih
akan dipuji-puji sebagai nama yang terhormat dan berharga ?"
"Ha-ha-ha-ha!" Kakek itu tertawa bergelak sambil
memegangi perutnya. Kemudian setelah ketawanya mereda,
dia berkata, "Betapa jelasnya nampak keserakahan manusia.
Ucapanmu itu merupakan penyakit umum yang diderita oleh
manusia di seluruh dunia, muridku. Manusia melihat betapa
dirinya itu kosong, betapa hidup ini hampa, sehingga manusia
meraba-raba mencari pegangan, mencari-cari sesuatu yang
dianggapnya kekal abadi karena melihat bahwa sebagai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
manusia hidup mereka tidak abadi. Dan satu di antara obat
yang mereka pergunakan adalah nama itulah, dalam usaha
mereka agar hidup terus, biar hanya nama ! Orangnya boleh
mati, akan tetapi namanya harus hidup terus, hidup dengan
terhormat.Manusia tidak lagi berusaha untuk mengerti hidup,
untuk mengisi hidup, melainkan selalu berusaha untuk
mementingkan diri sendiri, sejak hidup sampai mati. Bahkan
setelah mati pun ingin menjadi yang terhormat! Gila hormat,
mabok kesenangan, serakah, penuh dendam dan benci, penuh
iri hati dan persaingan, itulah manusia! Sampai matipun telah
diaturnya, tanah yang baik, kuburan yang baik untuk
mayatnya, lalu tempat yang baik untuk yang dinamakan
arwahnya, dan tempat terhormat untuk namanya. Wah-wah,
berabe!"
Sian Lun menjadi bingung. Tentu saja anak berusia sepuluh
tahun ini masih belum dapat menangkap apa yang
dimaksudkan oleh kakek itu. Semenjak kecil Sian Lun
mempelajari kebudayaan dan peradaban dari kitab-kitab yang
mengajarkan tata susila, sopan santun, kegagahan dan jiwa
pahlawan, contoh contoh yang dianggap sebagai terhormat
dan mulia dalam pergaulan masyarakat. Kini dia mendengar
hal-hal yang dikemukakan oleh suhunya itu sebagai hal-hal
yang amat berlawanan dengan apa yang selama ini dibacanya,
maka tentu saja dia terkejut dan bingung. Namun, ada
sesuatu di dalam hatinya yang terbuka, yang membuat dia
dapat melihat kenyataan dan tidak dapat membantah
kebenaran apa yang dikemukakan oleh suhunya itu dan dia
terheran-heran! Demikianlah, semenjak saat itu, Sian Lun ikut
gurunya merantau, ke gunung-gunung, ke hutan-hutan, ke
tepi-tepi laut, hidup sebagai petani, sebagai nelayan bahkan
kadang-kadang sebagai pengemis, bebas merdeka seperti
burung di udara, dan setiap waktu terluang dipergunakan
untuk berlatih ilmu silat. Dia diharuskan mulai lagi dari
permulaan, diajarkan dasar-dasar ilmu silat, pasangan kudakuda,
langkah-langkah kaki, melatih otot-tot dan pernapasan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengumpulkan hawa murni dan melatih sinkang Semua
petunjuk suhunya ditaatinya dan memang anak ini amat rajin
sehingga suhunya merasa puas sekali sungguhpun hal itu
tidak pernah diutarakannya, baik melalui ucapan atau melalui
sikapnya yang acuh tak acuh.
(Oo-dewikz~bud~hanaoki~234-oO)
Im-yang-pai merupakan sebuah perkumpulan yang besar
dan pusat mereka yang berada di lereng Pegunungan Taihang-
san juga amat luas. Sebenarnya, perkumpulan itu
didirikan oleh para pemeluk Agama Im-yang-kauw, suatu
agama tua yang tidak berapa banyak pengikutnya. Akan tetapi
karena agama itu erat sekali hubungannya dengan ilmu
kebatinan dan ilmu silat, maka perkumpulan itu menjadi
sebuah perkumpulan yang amat kuat dan di dalamnya
terdapat tokoh - tokoh berilmu tinggi yang sekaligus juga
menjadi tokoh-tokoh Agama Im - yang - kauw.Bangunanbangunan
besar yang dikelilingi dinding yang berwarna putih
dan tinggi sudah nampak dari kaki Gunung Tai-hang-san,
merupakan kompleks kuil yang amat luas, memiliki
perkebunan sayur sendiri, bangunan-bangunan untuk para
anggautanya, pendeknya merupakan semacam perkampungan
besar di mana tinggal tidak kurang dari seratus orang
anggauta Im-yang-pai. Memang banyak pula para penganut
Im - yang - kauw yang tidak masuk menjadi anggauta Im -
yang - pai, yaitu mereka yang tidak suka akan ilmu silat,
karena Im - yang - pai adalah perkumpulan dari ahli-ahli silat
di mana diajarkan Ilmu-ilmu silat yang khas dari Im - yang -
pai.
Im-yang-kauw adalah satu di antara aliran-aliran kebatinan
yang banyak terdapat di Tiongkok, sebadai peninggalan jaman
dahulu, di jaman Kerajaan Han (abad ke dua dan pertama
sebelum Masehi). Sesungguhnya, aliran - aliran itu merupakan
perpecahan-perpecahan dari agama - agama besar seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Agama Hud-kauw (Buddhisme), Kong-hu-cu (Confucianisme),
Taoisme dan agama-agama yang datang dari See-thian
(negara barat, yaitu India). Perpecahan-perpecahan ini
menjadi banyak, sampai belasan macam yang membentuk
aliran-aliran sendiri sesuai dengan selera kepentingan mereka.
Akan tetapi yang terbesar adalah enam macam aliran, yang
merupakan perpecahan dari agama-agama besar Buddhisme,
Confucianisme, dan Taoisme, yaitu;
Aliran kebatinan atau Agama Ju yang sesungguhnya adalah
penerus pelajaran-pelajaran dari Nabi Khong Cu. Aliran ini
mendukung adanya kekuasaan feodal, menganggap kaisar
sebagai Cinbeng Thian-cu (Putera Tuhan) dan segi-segi
kehidupan diatur dengan lee (aturan) yang dijiwai dengan jin
(perikemanusiaan) dan gi (keadilan). Inilah aliran pertama.
Aliran ke dua menamakan dirinya aliran Mo yang
menganggap Mo Ti sebagai nabinya. Aliran ini menganjurkan
cinta kasih antar manusia dan menggantungkan segala
kepada nasib karena mereka percaya bahwa segala sesuatu
telah ditentukan oleh Langit atau Tuhan. Mereka menentang
segala macam pesta dan upacara yang memboroskan,
menentang perang kecuali kalau untuk mempertahankan diri.
Mereka adalah penganjur-penganjur apa yang mereka
namakan cinta semesta.
Aliran ke tiga adalah aliran kebatinan Tao yang
menganggap Lo-cu sebagai nabinya. Aliran ini menganjurkan
penyatuan diri manusia dengan Tao (Jalan) yang sukar
diartikan secara jelas karena memang "tidak dapat diuraikan"
menurut faham mereka. Tao yang menggerakkan segalagalanya,
maka faham Tao ini menentang segala usaha
manusia yang dianggap merusak dan menyelewengkan
pengaruh dan daya kerja Tao! Aliran Tao inilah yang banyak
dimasuki segala macam ilmu kebatinan dari yang klenik
sampai yang dianggap setinggi-tingginya, banyak mempunyai
pertapa-pertapa dan banyak pula menciptakan bermacamTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
macam latihan samadhi, yoga dan pernapasan Banyak ilmu
silat bercampur dengan ilmu kebatinan dari aliran Tao ini
sehingga melahirkan jagoan-jagoan ilmu silat yang memiliki
kepandaian amat hebat dan mentakjubkan.
Aliran ke empat adalah aliran Beng (Ming). Aliran ini pandai
memainkan kata-kata, dan kadang-kadang memiliki pelajaran
yang aneh-aneh, yang menjurus ke arah klenik dan sihir.
Sudah terkenal sejak dahulu betapa dalam aliran Beng ini
terdapit ucapun "kuda hitam bukanlah kuda", "anjing putih
adalah hiram", "kura-kura lebih panjang dari pada ular", dan
sebagainya lagi yang membingungkan pendengarnya. Akan
tetapi, akhir-akhir ini para pengikutnya banyak yang
menyeleweng dan memenuhi golongan sesat di dunia kangouw,
sungguhpun harus diakui bahwa mereka itu banyak yang
lihai sekali.
Aliran ke lima adalah aliran Hoat, aliran yang mendasarkan
kebudayaan dengan mencontoh raja-raja bijaksana di jaman
dahulu. Aliran ini mementingkan Hoat (hukum) yang harus
diterapkan kepada semua manusia tanpa pengecualian. Aliran
ini sangat keras terhadap semua anggautanya yang harus
tunduk kepada hukum-hukum yang telah ditentukan. Lebih
baik kehilangan kaki tangan, atau bahkan nyawa sekalipun
dari pada harus melanggar hukum yang telah ditentukan dan
telah disetujui sendiri! Aliran ini banyak yang menjadi
panglima-panglima perang dan mereka benar-benar amat
menjunjung disiplin, taat, dan keras.
Kemudian aliran ke enam adalah aliran Im Yang! Aliran
inilah yang kemudian menjadi Im yang-kauw. Aliran Im Yang
ini mulai muncul antara abad ke empat dan awal abad ke tiga
sebelum Masehi, dipeluk dan diikuti oleh orang-orang vang
memiliki kecerdasan tinggi karena mengandung filsafat yang
pelik dan rumit. Garis besar pelajaran dari aliran Im-yangkauw
ini adalah bahwa segala isi semesta, baik yang nampak
maupun yang tidak adalah hasil perpaduan dari dua unsur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berlawanan yang disebut Im dan Yang. Tanpa adanya unsur
Im Yang tidak akan ada bentuk apapun di dunia ini. Untuk
memudahkan para pelajarnya, maka Im Yang digambarkan
sebagai lingkaran bundar yang dibagi dua, yang hitam adalah
Im dan yang putih adalah Yang. Seperti inilah gambar itu.
Seluruh semesta ini terjadi karena pengaruh Im Yang.
Luasnya pengaruh Im Yang sampai memenuhi angkasa
dengan semua bintangnya, juga menyusup sampai ke dalam
kehidupan seekor semut atau kutu yang tak nampak oleh
mata. Kekuasaan Im Yang dapat pula dikenal dalam diri
manusia, bahkan menurut kepercayaan mereka, tubuh
manusia adalah jagad kecil yang terkenal dengan sebutan Jim
Sin It Siauw Thian Te (Manusia adalah Gambar dari Bumi
Langit ). Oleh karena yang rnengatur keseimbangan
kehidupan adalah unsur Im Yang, maka apabila Im Yang di
dalam tubuh kita tidak selaras, kita jatuh sakit. Apabila Im
Yang yang menguasai alam tidak selaras, timbullah berbagai
malapetaka dan bencana alam. Segala sesuatu akan binasa
tanpa perputaran Im Yang. Demikian besar kekuasan Im Yang
ini sehingga di dalam kitab Ya Keng yang diciptakan oleh Nabi
Khong Cu terdapat pernyataan, It Im It Yang Wi Ci To (Satu
Im dan satu Yang itulah yang boleh disebut To)
Kaum penganut Im-yang-kauw mempelajari tentang ilmu
alam dan mereka mendapatkan kenyataan tentang Ngo-heng
(Lima Anasir-Elemen) yang mereka bagi-bagi menjadi ke
lompok Swi (air), Ho (Api), Bhok (Kayu), Kim (Logam) dan
Thio (Tanah). Dari penyelidikan mereka tentang Im Yang dan
Ngo-heng miaka terciptalah ilmu-ilmu yang mujijat, ilmu yang
hendak membuka tabir rahasia alam. Jalannya kekuasaan dan
ketertiban alam, peredaran bintang-bintang, bahkan dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengetahuan itu mereka dapat pula menciptakan ilmu
pengobatan yang amat luar biasa karena berdasarkan
keyakinan bahwa kesehatan manusia merupakan ketertiban
yang diantar oleh perimbangan Im Yang dan dihidupkan oleh
Ngo-heng, karena unsur unsur Ngo-heng itu saling
membinasakan (untuk pengobatan) dan saling menghidupkan
(untuk menjaga kesehatan). Akan terlalu panjanglah kalau
mau diuraikan tentang Im Yang dan Ngo-heng, sama
panjangnya kalau kita bicara tentang kekuasaan dan rahasia
yang meliputi seluruh alam dan isinya. Demikianlah sekedar
penjelasan tentang aliran-aliran yang ada pada waktu dahulu.
Im-yang-kauw makin lama makin berkembang dan karena Imyang-
kauw merupakan aliran yang suka mempelajari ilmu
alam dan ilmu pengobatan, maka di situ terdapat banyak
orang pandai dan akhirnya dibentuklah suatu perkumpulan
yang dinamakan Im-yang-pai dan yang berpusat di
Pegunungan Tai-hang-san itu.
Pada waktu itu, Im-yang-pai di Tai-hang-san dipimpin oleh
Kok Beng Thiancu, seorang tokoh yang terkenal sekali karena
kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amal lihai. Akan
tetapi tokoh besar ini tidak pernah memperlihatkan diri, tidak
pernah muncul di dunia kang-ouw sehingga biarpun namanya
besar, namun jarang ada orang yang pernah melihatnya.
Orang ke dua di Im-yang-pai yang amat terkenal, bahkan
lebih terkenal dari pada ketua Im-yang-pai itu sendiri adalah
Kim-sim Niocu, puteri atau anak tunggal dari Kok Beng
Thiancu. Kim-sim Niocu ini, yang kabarnya amat cantik seperti
bidadari, baru-baru ini telah diangkat menjadi kauwcu (ketua
agama) dari Im-yang-kauw! Bahkan ada kabar angin yang
mengatakan bahwa Kim-sim Niocu memiliki kelihaian melebihi
ayahnya, karena selain ilmu-ilmu silat yang amat lihai dari Im
yang-kauw, juga Kim - sim Niocu ini pandai sekali dengan ilmu
pengobatan dan juga ilmu sihir ! Juga kabarnya dia ahli ilmu
perbintangan, ilmu meramal dan segala macam ilmu mujijat
lagi yang memang banyak dianut dan dipelajari oleh orangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
orang Im-yang-kauw. Pada waktu itu, pelajaran Im-yang-kauw
sudah jauh sekali menyeleweng dari pada garis asalnya. Kini
agama itu, seperti juga hampir semua agama di dunia ini,
lebih mengutamakan duniawi, sepentingan diri pribadi dan
kepentingan golongan, dari pada kepentingan pelajaran
tentang hidup dan menghayati pelajaran itu di dalam
kehidupan.
Betapa menyedihkan kenyataan tentang agama ini di dalam
dunia kita, di antara manusia seperti yang dapat kita saksikan
sekarang ini! Betapa manusia saling bertengkar, saling
membenci, saling bermusuhan karena agama! Bahkan betapa
manusia sampai tega untuk saling membunuh demi agama!
Sungguh merupakan suatu kenyataan yang amat pahit.
Agama apapun juga melarang kita untuk membenci, melarang
kita bermusuhan, namun demi agama kita saling benci, saling
bermusuhan dan saling bunuh! Sesungguhnya, semua agama
di dunia ini adalah untuk manusia, akan tetapi kenyataannya
sekarang ini, manusia sudah merosot sedemikian rendahnya
sehingga tidak ada harganya lagi sehingga sekarang
keadaannya menjadi terbalik, bukan agama untuk manusia
melainkan manusia untuk agama! Demi agama, manusia
saling bunuh! Mengapa demikian? Karena manusia tidak mau
mengenal diri sendiri, karena manusia hanya memandang
agama, bukan memandang manusia, karena faktor manusia
dilupakan, karena bukan manusia lagi yang penting melainkan
agama! Demikian pula dengan harta benda, kedudukan, politik
dan sebagainya. Manusianya menjadi tidak penting. Politiklah
yang penting, partailah yang penting kedudukanlah atau
hartalah yang penting. Kalau sudah begitu, manusia saling
bermusuhan saling bunuh untuk memperebutkan kemenangan
politik, partai, kelompok, ras, bangsa, kedudukan dan harta,
atau juga memperebutkan kemenangan dan "kebenaran"
agama masing masing
Kok Beng Thiancu memaklumi bahwa perkumpulannya kini
merupakan perkumpulan yang cukup besar dan berpengaruh,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan untuk faham dan kepercayaan mereka, melainkan
untuk tingkat ilmu kepandaian silat mereka dan juga sikap
para anggautanya yang selalu menjaga diri agar berdiri di
golongan putih kaum pendekar. Oleh karena itu, Kok Beng
Thiancu yang menyadari akan kelemahan manusia, maklum
bahwa kepandaian dapat menyeret manusia ke jurang
kesesatan, apalagi mengingat bahwa Im - yang - pai lebih
merupakan perkumpulan silat dari pada perkumpulan agama,
lalu mengadakan peraturan yang amat keras terhadap para
anggautanya. Setiap orang anggautanya, dari tingkat empat
ke atas harus selalu membawa sebuah lencana Im-yang-pai
sebagai tanda pengenal diri sehingga di manapun anggauta
itu berada, kalau dia melakukan perbuatan yang melanggar
hukum Im-yang-pai, tentu akan dikenal orang dan akan dapat
dihukum oleh perkumpulan.
Hari itu sunyi saja di lereng Tai-hang-san. Perkumpulan Imyang-
pai nampak sunyi biarpun matahari telah naik tinggi. Dan
memang para anggauta Im-yang-pai yang berpakaian seperti
tosu itu suka akan keadaan sunyi dan hening sehingga di
tempat itu jarang terdengar kegaduhan, kecuali kalau mereka
sedang berlatih ilmu silat. Bahkan para anak buah tingkat
rendah yang bertugas jaga di sekitar tembok perkampungan
mereka itu, bukan berdiri memegang tombak atau senjata lain
seperti umumnya penjaga, melainkan mereka duduk bersila
dan bersamadhi untuk melatih pernapasan atau melatih
sinkang! Namun, mereka yang duduk bersamadhi dalam
penjagaan ini sesungguhnya memusatkan perhatian kepada
sekeliling tempat itu sehingga jangan mengira bahwa mereka
itu tidur nyenyak dan jangan coba-coba untuk berani
menyelinap masuk karena pasti akan diketahui oleh mereka.
Memang banyak di antara anak buah dan tokoh-tokoh Imyang-
pai yang tidak berada di situ, pergi keluar daerah untuk
berbagai urusan, baik urusan perkumpulan maupun urusan
pribadi. Kesunyian lereng Gunung Tai-hang-san itu terasa
sekali oleh suami isteri pendekar yang mempergunakan ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berlari cepat mereka mendaki lereng. Mereka adalah Gan
Beng Han dan Kui Eng, suami isteri pendekar dari Cin an yang
mendatangi Im-yang-pai untuk mencari murid mereka yang
hilang terculik, yaitu Coa Gin San. Dilihat dari jauh, suami
isteri ini gagah perkasa dan amat mengagumkan. Gan Beng
Han yang sudah berusia tigapuluh tahun itu masih nampak
muda perkasa dan gagah, tahi lalat kecil di tengah dahinya
menambah kegagahan, pakaiannya sederhana ringkas,
pedangnya tergantung di punggung sebagaimana biasa
pendekar melakukan perjalanan jauh, sepasang matanya yang
bersinar tajam itu kini penuh pengertian dan jelas
mengandung kesabaran dan ketenangan, juga dalam
langkahnya yang panjang-panjang dan cepat itu
membayangkan ketenangan seorang pendekar yang matang.
Kui Eng, isterinya yang dua tahun lebih muda dari suaminya
itu, masih nampak cantik jelila seperti seorang gadis saja,
dengan pakaian yang rapi. Gelang di lengan kiri dan hiasan
rambut merupakan satu-satunya perhiasan yang menempel di
tubuh. Pedangnya juga tergantung di punggung dan pandang
matanya tajam bersinar-sinar membayangkan kelincahan,
langkahnya pendek-pendek namun cepat sekali sehingga
kedua kakinya sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya.
"Isteriku, harap kau berhati-hati dan jangan
memperlihatkan permusuhan sebelum kita tahu betul apakah
benar Gin San mereka culik," Kata Beng Han.
"Baiklah, biar engkau saja yang membuka percakapan
dengan mereka," isterinya menjawab.
Gerakan mereka cepat sekali dan akhirnya mereka tiba di
pintu gerbang tembok perkampungan Im-yang-pai. Di atas
pintu itu tergantung sebuah papan putih yang ditulisi dengan
huruf-huruf berwarna hitam dan di tengah-tengahnya terdapat
gambaran lingkaran bundar simbul Im Yang, dan tiga huruf
besar hitam itu berbunyi; IM YANG PAI. Biarpun sederhana
saja gambar dan tulisan itu, persis seperti gambar yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlukis dan tertulis pada lencana yang pernah dilihat oleh
Beng Han di Kuil Ban-hok-tong, namun papan nama itu
menimbulkan wibawa yang menyeramkan.
Ketika Beng Han dan Kui Eng melihat seorang laki-laki
berusia limapuluh tahun lebih, duduk bersila di tengah-tengah
pintu gerbang, di atas batu datar, bersila sambil meletakkan
kedua tangan di depan dada, yang kanan di atas dan yang kiri
di bawah, dengan sikap seperti kedua tangan itu sedang
membawa sesuatu, yang di atas menelungkup dan yang di
bawah terlentang, suami isteri itu berhenti dan memandang.
Kakek itu sedang Samadhi dan kedudukankedua tangan itu
melambangkan kedudukan Im Yang. Kedua matanya terpejam
dan napasnya teratur rapi, Beng Han memberi isyarat kepada
isterinya lalu dia melangkah maju, menjura dan berkata
dengan sikap hormat, "Saya Gan Beng Han bersama isteri,
datang dari kota Cin-an mohon bertemu dengan pangcu dari
Im-yang-pai !"
Karena penjaga itu bersamadhi hanya untuk melewatkan
waktu sedangkan perhatiannya tidak pernah terlepas dari
penjagaan, dia segera membuka mata. Sebelum tamu itu tadi
membuka suarapun dia sudah tahu akan kedatangan pria dan
wanita gagah ini. Cepat dia merobah kedudukan kedua
tangan. Dengan tubuh masih duduk bersila, kini kedua
tangannya dirangkap di depan dada sebagai tanda
menghormat, lalu dia berkata, "Siancai, harap ji-wi tidak
terlalu sungkan karena saya hanyalah seorang penjaga biasa,
seorang anggauta tingkat enam yang rendah."
"Lo-enghiong adalah seorang tua, sudah sepatutnya
menerima penghormatan kami yang muda. Tentang tingkat,
kami kira itu tidak menjadi ukuran untuk penghormatan
seseorang. Tiba-tiba penjaga itu tertawa bergelak dan suami
isteri itu terkejut. Dari suara ketawa ini saja mereka tahu
bahwa yang bersila di situ bukanlah orang sembarangan,
suara ketawanya nyaring dan mengandung getaran yang amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuat, tanda bahwa orang ini telah memiliki, khikang yang
kuat. Dan orang ini mengaku, tingkat enam? Kalau yang
tingkat enam selihai ini, apa lagi yang tingkat tiga, dua atau
satu !
"Ha-ha-ha, manusia haruslah bersikap sesuai dengan
tingkat masing-masing, kalau tidak demikian, mana mungkin
ada ketertiban? Taihiap dan lihiap, ji-wi adalah orang-orang
gagah sejati, silakan masuk saja, jangan sungkan-sungkan.
Nanti akan ada saudara yang mengantar ji-wi sampai ke
tempat pangcu. Silakan! " Dengan kedua tangan, orang itu
mempersilakan dengan hormat dan sambil membungkuk.
Beng Han dan isterinya lalu memasuki pintu gerbang, agak
membungkuk ketika melewati kakek itu.
Ketika mereka memasaki pintu gerbang, ternyata di
sebelah dalam pintu gerbang itu terdapat sebuah
perkampungan yang luas, dengan jalan-jalan yang lebar dan
bangunan bangunan besar kecil di sana-sini. Banyak terdapat
orang-orang yang hilir mudik, berpakaian sederhana seperti
tosu, akan tetapi mereka semua berjalan dengan tenang dan
agaknya tidak ada seorangpun yang memperhatikan suami
isteri ini. Gan Beng Han dan Kui Eng merasa terasing. Baik
sikap dan pakaian mereka jelas berbeda dengan semua orang
yang hilir mudik dan lalu-lalang di dalam perkampungan itu.
Mereka itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, ada yang tua
dan ada yang muda, akan tetapi pakaian mereka rata- rata
sederhana seperti pakaian tosu, ada yang putih-putih, ada
yang kuning-kuning akan tetapi kesemuanya amat sederhnna.
Benar-benar perkampungan yang merupakan biara besar di
mana orang-orang hidup sebagai pertapa-pertapa. Akan tetapi
jelas bahwa mereka itu juga bekerja, karena ada yang
memikul alat pertanian, alat tukang kayu, bahkan ada yang
memikul rabuk dan hasil-hasil sawah ladang, ada pula yang
menggembala kerbau, agaknya hendak digiring keluar dari
perkampungan. Wajah mereka serius dan pendiam, dan
kalaupun ada yang bercakap-cakap, maka percakapan itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dilakukan dengan lirih. Sebuah perkampungan yang benarbenar
penuh rahasia dan juga menyeramkan bagi suami isteri
itu. Beng Han dan Kui Eng merasa bingung karena tidak
melihat adanya penyambut. Untuk bertanya kepada orang,
mereka juga merasa segan karena mereka itu demikian
pendiam nampaknya, dan tidak perdulian.
Tiba-tiba mereka mendengar suara ketawa merdu seorang
wanita dari sebelah kiri. Mereka cepat menengok dan di
sebelah kiri itu terdapat sebuah rumah besar dan nampak
searang gadis sedang berada di pekarangan rumah itu. Entah
apa yang sedang dikerjakan, oleh gadis itu, akan tetapi gadis
itu berlutut dan memandang ke depannya, di mana terdapat
sebuah kotak. Kelihatannya riang sekali dan kadang-kadang
dia bertepuk tangan dan tertawa. Melihat sikap wajar seorang
manusia biasa, bukan manusia-manusia dengan wajah seperti
arca yang lalu-lalang itu, seketika hati Beng Han dan Kui Eng
tertarik. Gadis itu jelas merupakan orang lumrah, orang awam
biasa saja seperti mereka, dapat tertawa dan dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergembira. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu
melangkah menghampiri dan memasuki pekarangan rumah
itu. Namun, diam-diam hati Ku Eng merasa tidak enak ketika
melihat betapa gadis itu ternyata sudah dewasa, tentu
sedikitnya sudah duapuluh tahun usianya, dengan tubuh yang
padat dan penuh lekuk lengkung menggairahkan, wajah yang
cantik sekali dengan kulit yang halus putih, hanya anehnya,
gadis yang sudah dewasa itu seperti anak kecil saja, bermainmain
seorang diri sambil terkekeh dan kadang-kadang
bergembira, sendirian saja seperti orang yang miring otaknya!
Melihat gadis itu bergembira seperti itu, dengan mata
ditujukan ke dalam kotak hitam, kedua tangan saling remas
seperi orang tegang, mulutnya juga berkata penuh semangat,
"Hayo. gigit kakinya, gigit kepalanya........ ah, tolol....... ,
awas serangan ekornya, bodoh benar ! "'
Saking tertarik oleh sikap penuh semangat ini, Beng Han
dan Kui Eng tidak berani mengganggu, malah mereka lalu
menjenguk ke dalam kotak hitam. Kiranya gadis cantik, itu
sedang mengadu dua binatang yang sedang berkelahi dengan
amat seru dan mati-matian. Dua ekor binatang itu adalah
seekor kalajengking besar dan seekor kadal besar. Mereka
dikurung di dalam kotak hitam, tidak mampu keluar dan
dipaksa untuk saling berhadapan di dalam tempat sempit itu.
Dan di sudut kotak hitam itu terdapat setumpuk tahi kerbau
yang masih basah dan lunak. Perkelahian itu memang menarik
sekali. Kalajengking yang kehitaman itu berdiri dengan gagah,
dengan kaki terpentang di kanan kiri, capit yang dua buah itu
siap untuk mencapit lawan dari depan, akan tetapi yang lebih
gagah lagi, ekornya diangkat ke atas, melengkung ke depan
dengan ujung siap untuk menyengat. Kelihatan ujung
sengatnya yang coklat kemerahan, melengkung ke atas
terhias bulu bulu halus yang menyeramkan. Beng Han
mengenal kala jengking seperti ini, semacam binatang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
amat berbisa dan sengatannya dapat mematikan seorang
manusia!
Akan tetapi kadal itupun agaknya sudah nekat. Kadal
adalah sebangsa binatang yang biasanya penakut dan lebih
condong melarikan diri kalau bertemu lawan dari pada
melawan. Akan tetapi, di tempat sempit itu dia dipaksa antuk
berhadapan dengan lawan, maka dia pun mulai marah dan
nekat. Karena tubuhnya lebih besar dan mulutnya terbuka
lebar penuh gigi kecil-kecil meruncing, kadal ini seperti
memandang rendah lawannya. Dengan gerakannya yang amat
cekatan, seperti seekor ular karena memang dia sebangsa ular
berkaki empat, kadal itu menubruk ke depan dan membuka
mulut menggigit untuk kesekian kalinya, tidak memperdulikan
capitan kalajengking itu yang mengenai pinggir mulutnya.
Akan tetapi, sebelum gigi-giginya menghancurkan kepala
kalajengking itu, seperti yang telah berkali-kali dilakukan dan
diusahakannya, ekor kalajengking yang melengkung dari atas
itu telah menyengat kepalanya.
"Cruttt.......!" Kadal itu melepaskan gigitannya, mundur -
mundur dan menggoyang-goyang kepalanya, seperti setan
arak yang sedang mabok, terus mundur dan tiba - tiba dia
memasukkan kepalanya ke dalam tumpukan tahi kerbau yang
lunak basah dan dingin sejuk itu.
"Nyessss.......!" Sejenak dia membenamkan kepalanya ke
dalam tahi kerbau itu, agaknya nerasakan kenikmatannya,
kemudian dicabutnya kepalanya itu dan dia sudah menjadi
segar kembali! Entah sudah beberapa kali dia tadi menggigit,
disengat dan membenamkan kepala di dalam tahi kerbau
sampai kepalanya menjadi kehijauan berlepotan tahi kerbau,
akan tetapi juga kepala dan perut kalajengking itu sudah mulai
luka-luka. Pertandingan dilanjutkan dan kadal yang tidak
melihat jalan lari itu memberanikan diri maju lagi.
"Capp !" kadal menggigit.
"Cusss !" kalajengking menyengat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nyesss!" kadal membenamkan kepala di dalam tahi kerbau
lagi.
"Wah, kau tolol! Kenapa membiarkan kepalamu menjadi
bulan-bulanan sengatan kala-jengking?" Gadis itu mengomel.
"Lama-lama kepalamu akan meledak karena keracunan ! "
"Dan kau, sungguh menjijikkan, kau curang, menyengat
dengan cara bersembunyi, menyembunyikan ekor di belakang
dan menyengat dari atas. Curang menjijikkan, sungguhpun
jurusmu itu hebat dan boleh ditiru! Tidak adil ini, kau harus
menggunakan capitmu dan tidak boleh menyerang dari
belakang!" Gadis itu lalu mengambil kalajengking itu dengan
tangan kiri. Hampir saja Beng Han berteriak mencegah. Dia
sudah mengenal kalajengking jenis itu yang amat berbahaya.
Sekali menyengat, nyawa gadis ini dapat direnggut Akan
tetapi Kui Eng memberi isyarat agar dia jangan mencampuri.
Suami isteri itu hanya memandang saja.
Akan tetapi, ketika kalajengking itu menggerakkan ekornya
untuk menyengat jari tangan yang memegangnya, dengan
tenang gadis iti lalu menggunakan kuku jarinya, jari telunjuk
dan ibu jari, untuk mematahkan ujung ekor yang mengandung
sengat itu. "Krekk !" ekor itu patah ujungnya dan gadis itu lalu
melemparkan kalajengking kembali ke dalam kotak hitam !
Melihat ini, Kui Eng menjadi marah. Gadis itu kejam bukan
main!
"Curang! Kejam!" tak terasa lagi nyonya muda ini berseru.
Kui Eng adalah seorang pendekar wanita yang semenjak muda
menjadi pembela keadilan. Melihat pertarungan antara
kalajengking dan kadal, dia sebetulnya sudah berfihak kepada
kalajengking yang termasuk binatang yang lebih kecil dan dia
tahu, kalau tidak diserang, tidak mungkin kalajengking itu
menyerang kadal. Binatang kalajengking bukanlah binatang
buas. Sengatnya yang berbahaya itu hanya dipergunakan
kalau keselamatan dirinya terancam. Manusiapun tidak
mungkin disengat kalajengking kalau dia tidak menganggunya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik disengaja maupun tidak. Kalau terinjak atau tertimpa,
barulah kalajengking menggunakan sengatnya Tidak ada
kalajengking yang tanpa sebab menyerang manusia atau
binatang lain. Maka, fihak yang tidak besalah dan lebih kecil
itu kini dipatahkan sengatnya, satu-satunya senjatanya
pelindung diri, tentu saja Kui Eng menjadi marah.
Akan tetapi gadis itu tidak memperdulikan, bahkan
mengangkat mukapun tidak dan dia sudah melihat lagi ke
dalam kotak hitam. Kini kadal itu menyerang lagi dan si
kalajengking juga memapaki dengan capitannya, kemudian
ekornya melengkung dan menyengat. Akan tetapi karena
ujung ekornya sudah patah, sengatnya telah lenyap, maka
ekornya itu hanya menyentuh - nyentuh kepala kadal seperti
membelai saja. Gigitan kadal makin hebat dan akhirnya badan
kalajengking menjadi terkoyak - koyak dan dimakan oleh si
kadal !
"Ihh, keji!" kembali Kui Eng berseru sebelum suaminya
dapat mencegah.
Wanita muda itu kini mengangkat muka memandang, Kui
Eng terkejut. Gadis itu memang cantik bukan main, cantik
manis, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar
aneh dan tajam seperti kilat menyambar, seperti ada sinar
berapi yang panas dan yang langsung menembus dada
menjenguk isi hati! Dan wanita itu kini berdiri, tubuhnya tinggi
semampai, pinggangnya ramping sekali dan tubuhnya
mempunyai lekuk lengkung yang sempurna
danmenggairahkan, padat menonjol penuh sifat kewanitaan
yang menantang dan merangsang. Namun, semua itu ditutup
pakaian yang aneh, seperti pakaian pertapa atau pendeta.
Baru sekarang nampak oleh suami isteri pendekar ini bahwa
gadis itu memakai pakaian serba putih dengan ikat pinggang
hitam, potongannya kebesaran seperti jubah pendeta namun
karena terbuat dari pada sutera halus maka begitu menempel
tubuh lalu mencetak bentuk tubuh itu dengan ketatnya. Di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagian dada dan punggung dari baju putih itu terdapat lukisan
Im Yang terbuat dari benang emas dan rambutnya yang
digelung ke atas itu terhias oleh ratna mutu manikam yang
dibentuk seperti bulatan Im Yang pula. Hidungnya kecil
mancung, agak menjungat ke atas sehingga mendatangkan
kemanisan yang khas dan lucu mulutnya agak lebar dengan
bibir yang penuh dan merah, kedua pipinya juga kemerahan
ketika sepasang mata yanu tajam indah itu menyambar ke
arah Gan Beng Han. Lalu wanita itu tersenyum dan sepasang
bibir yang merah basah itu merekah, nampaklah deretan gigi
putih berkilau, akan tetapi hanya sebentar saja dan mutiaramutiara
putih itu telah lenyap lagi di balik daging berkulit tipis
merah yang menggairahkan itu.
Begitu gadis itu bangkit berdiri, memandang dan
tersenyum, seketika wajah suami isteri itu kelihatan terkejut
bukan main.
"Ah, kiranya engkau.......!" Kui Eng berseru dan wajahnya
berobah agak pucat, lalu menjadi merah sekali "Engkau Imyang-
kauwcu....?"
Gan Beng Han berdiri dengan mata terbelalak, lalu
mukanya menjadi merah sekali, merah sampai ke lehernya.
Teringat dia akan pengalamannya yang menyeramkan kurang
lebih sembilan tahun yang lalu, ketika isterinya akan
melahirkan Ai Ling. Malam yang menyeramkan itu kini
terbayang di depan matanya. Ketika itu sudah tiba waktunya
isterinya melahirkan kandungannya dan seorang bidan sedang
menunggunya. Untuk melenyapkan kegelisahan hatinya
karena dia tidak diperbolehkan mendekati isterinya oleh sang
bidan, dia berlatih silat di lian-bu-thia sambil terus
mendengarkan suara dari dalam kamar itu. Dia mendengar
keluhan dan rintihan Kui Eng dan makin hebat isterinya
merintih, makin hebat pula dia menggerakkan kaki tangan
memukul dan menendang untuk menekan kegelisahan
hatinya. Dan pada saat itulah muncul seorang dara cantik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jelita yang mengagumi latihannya akan tetapi gadis itu
lalumenyatakan cinta kepadanya, dan mengajaknya pergi dari
situ. Tentu saja Beng Han, biarpun amat kagum menyaksikan
kecantikan dara itu, menjadi marah dan mengusirnya. Mereka
bertanding dan ternyata amat sukar baginya untuk
mengalahkan wanita itu! Kemudian, dengan uap merah yang
mengebul dari saputangannya, wanita itu berhasil
merobohkannya. Wanita itu merayunya namun tetap dia tidak
sudi melayani dan akhirnya wanita itu mengancam untuk
menculik anaknya yang baru terlahir!
Dalam keadaan amat gelisah mengkhawatirkan
keselamatan isterinya yang baru melahirkan yang kini
didengarnya suara tangis bayi terlahir, Beng Han tidak dapat
menolak lagi dan dia dibawa pergi ke dalam taman di mana
dia terpaksa melayani hasrat wanita itu demi keselamatan
anak isterinya! Kemudian, wanita itu menghilang setelah lebih
dulu menjenguk ke dalam kamar melihat Kui Eng dan anaknya
seperti bayangan setan atau juga bayangan bidadari sehingga
Kui Eng merasa seolah-olah mimpi dijenguk oleh bidadari!
Setelah keadaan Kui Eng normal kembali, barulah Beng
Han yang berwatak jujur itu menceritakan peristiwa yang
membuatnya merasa amat malu itu. Kui Eng yang berwatak
keras memang mula-mula marah dan penuh cemburu, akan
tetapi dia lalu sadar bahwa suaminya melakukan hal itu tentu
karena terpaksa, karena tidak ingin melihat dia dan anaknya
diganggu oleh iblis betina itu. Dia bergidik kalau
mengenangkan betapa suaminya yang demikian lihai masih
kalah oleh wanita itu yang menurut suaminya mengaku
sebagai Im-yang-kauw-cu (ketua Agama Im Yang)!
Peristiwa itu sudah lampau, sudah bertahun tahun lamanya
dan mereka berdua sudah melupakannya kembali. Kini, dalam
usaha mencari murid mereka yang mereka duga dilarikan oleh
tokoh Im-yang-pai, mereka berdua mendatangi pusat Imyang-
pai dan dengan sendirinyamereka teringat akan wanita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang mengaku sebagai ketua Im-yang-kauw itu. Dan karena
ingat akan itulah maka Kui Eng berkeras hendak menemani
suaminya, karena betapapun juga kecurigaannya dan rasa
cemburunya timbul kembali! Siapa yang tidak akan cemburu
kalau mendengar bahwa suaminya pernah bermain cinta
dengan seorang wanita yang tadinya di anggap sebagai
bidadari itu? Dan biarpun hanya satu kali, dalam keadaan
setengah sadar, dia melihat wajah wanita itu, kini begitu dia
melihat wanita yang berpakaian putih itu berdiri dan
tersenyum, seketika Kui Eng teringat akan wanita sembilan
tahun yang lalu, yang menjenguk kamarnya seperti seorang
bidadari itu. Dan tentu saja Beng Han juga segera
mengenalnya, maka jantungnya berdebar tegang dan
mukanya menjadi merah sekali.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil