Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 18 Oktober 2017

Pendekar Sakti 7 Cersil Dewasa

Pendekar Sakti 7 Cersil Dewasa Pendekar Sakti 7 Cersil Dewasa Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Pendekar Sakti 7 Cersil Dewasa
kumpulan cerita silat cersil online
-
Walau pun amat lihai, sesungguhnya ilmu serangan ini adalah semacam gerak tipu yang hanya dapat
dilakukan oleh orang yang sudah nekat dan hendak mengadu jiwa dengan lawannya. Gerakan Pek-mo Jiobeng
ini tidak dapat ditarik kembali, sekali dikeluarkan, kalau lawannya tangguh tentu akan kena dipeluk
untuk mati bersama, kalau lawannya kurang tangguh pasti takkan dapat mengelakkan diri dari dua
serangan yang merupakan sepasang tangan maut itu!
Kwan Cu mendengar suara angin serangan yang amat dahsyat ini, yang dilakukan oleh Pek-eng Sianjin
dari belakang. Pemuda ini pun tahu bahwa lawan ini telah berlaku nekat dan telah mengeluarkan serangan
dari kepandaian simpanan. Biar pun pemuda ini tidak melihat dengan matanya, namun telinga dan
perasaannya yang amat tajam sudah dapat membedakan bahwa Pek-eng Sianjin melakukan serangan
dengan pedang serta tangan kiri.
Kwan Cu tidak menjadi gugup. Pada saat itu, tombak di tangan Te-eng Sianjin menusuk perutnya dari
depan. Kwan Cu yang lebih memperhatikan serangan dari arah belakang, mengangkat kaki kanan
memapaki tombak ini dari samping. Gerakan semacam ini tidak sembarang ahli silat tinggi berani
melakukannya, karena kalau meleset sedikit saja, tentu kaki akan beradu dengan ujung tombak dan betapa
pun kuatnya, sepatu berikut kulit kaki tentu akan tertembus atau terluka.
Namun tendangan Kwan Cu ini tepat sekali datangnya, mengenai bawah mata tombak sehingga tombak itu
terpental. Dengan meminjam tenaga tusukan tombak, Kwan Cu lalu membanting kaki ke kanan sehingga
tubuhnya juga miring ke kanan, berbareng dia juga memukulkan sulingnya ke belakang punggung hingga
tepat menangkis serangan pedang di tangan Pek-eng Sianjin. Ada pun pukulan tangan kiri Pek-eng Sianjin
hanya lewat di samping tubuhnya sebelah kiri.
Akan tetapi keadaan Kwan Cu yang tubuhnya miring dan kelihatannya berada dalam kedudukan
berbahaya ini tidak mau disia-siakan oleh tiga orang kawan Pek-eng Sianjin. Te-eng Sianjin sudah
menggerakkan tombaknya pula, menusuk dengan sekuat tenaga. Thian-eng Sianjin membacok dengan
pedangnya, demikian pula Loan Kek Hosiang yang melakukan bacokan hebat dengan pedangnya!
Agaknya sudah tidak ada harapan bagi Kwan Cu untuk menghindarkan diri dari tiga serangan hebat ini.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan seruan terkejut dari tiga orang itu yang wajahnya
menjadi pucat sekali. Apa yang terjadi? Kwan Cu yang tubuhnya sudah miring itu, secepat kilat menangkap
tangan kanan Pek-eng Sian-jin, lalu memencet keras hingga pedang lawannya terlepas.
Kemudian, sekaligus Kwan Cu mengerahkan tenaga lweekang sehingga badan Pek-eng Sianjin diangkat
oleh tangan kirinya, langsung dibanting ke depan menjadi perisai yang menangkis semua serangan tiga
orang itu!
Tombak Te-eng Sianjin tepat sekali menancap di perut Pek-eng Sianjin sampai tembus, pedang Thian-te
Sianjin melukai pundaknya dan yang lebih lagi, pedang di tangan Loan Kek Hosiang membabat putus
lengan kanan yang dipegang oleh Kwan Cu! Seketika itu juga tewaslah Pek-eng Sianjin, setelah
mengeluarkan pekik yang menyeramkan tadi!
Sesudah melepaskan lengan yang sudah putus, Kwan Cu tidak mau berbuat kepalang tanggung.
Tubuhnya bergerak cepat, suling di tangannya menyambar-nyambar, lantas robohlah tiga orang kawan
Pek-eng Sianjin tadi dalam keadaan tertotok jalan darahnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Para anak murid Pek-eng Kauw-hwe yang kini sudah datang mendekat berdiri dengan wajah pucat, sama
sekali tak berani bergerak atau bersuara. Tak pernah mereka sangka bahwa pemuda itu ternyata demikian
lihainya!
"Kalian lihat, beginilah nasib orang yang berhati curang dan jahat. Pek-eng Sianjin telah mencari
kematiannya sendiri. Aku masih tidak tega untuk membunuh orang-orang lain dan biarlah kematian Pekeng
Sianjin ini menjadi peringatan bagi kalian semua supaya mengubah watak dan berbuat kebaikan
sesuai dengan jalan kebenaran. Rakyat sedang membutuhkan bantuan orang-orang pandai untuk
mengusir penjajah, kenapa kalian tidak membantu perjuangan suci itu bahkan sebaliknya menimbulkan
kekacauan? Pikirkanlah kata-kataku ini baik-baik!" Sesudah berkata demikian, tubuh pemuda ini berkelebat
dan dalam sekejap mata lenyap dari situ.
Setelah terlongong-longong untuk beberapa waktu dan tidak berani bergerak atau pun membuka suara,
barulah para anggota Pek-eng Kauw-hwe itu beramai-ramai menolong tiga orang tua yang lumpuh tertotok
dan mengurus jenazah Pek-eng Sianjin yang amat mengerikan itu. Lengannya putus, isi perutnya
berantakan keluar dan pundaknya hampir putus pula…..
********************
Kiam Ki Sianjin yang menjadi pembantu utama dari Si Su Beng yang kini menduduki istana kerajaan, dapat
melihat bahwa perjuangan rakyat amat kuatnya dan mengancam kedudukan yang dipertuan. Dia tahu
bahwa kekuatan perjuangan rakyat itu karena rakyat dari segala lapisan serentak bangkit dan dipimpin
serta dibantu pula oleh orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi.
Oleh karena itu, dia mendapatkan sebuah pikiran yang sangat baik. Dia mengirim surat kepada semua
partai persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Thian-san-pai, Bu-tong-pai, Go-bi-pai dan lain-lain. Juga dia
mengundang tokoh-tokoh besar seperti Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Seng Thian Siansu dari
Kun-lun-pai dan fihak-fihak lain yang kelihatannya anti kaisar penjajah.
Undangan itu untuk mengadakan pertemuan atau yang disebutnya musyawarah besar di Bukit Tai-hangsan
pada Gouw-gwe Cap-gouw (Bulan lima tanggal lima belas), di mana akan dirundingkan dan
diperdebatkan pendirian mereka yang bertentangan.
Tentu saja secara diam-diam Kiam Ki Sianjin mengumpulkan tokoh-tokoh yang sekiranya akan berdiri pada
fihaknya, yakni seperti Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Toat-beng Huihouw,
Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang yang disebut Bu-eng Siang-hiap dan yang tadinya
membantu putera An Lu Shan dan sesudah putera mahkota itu dibinasakan oleh Si Su Beng, kemudian
menyerah serta membantu pula kepada Si Su Beng.
Masih banyak tokoh-tokoh berkepandaian tinggi yang berdiri di fihaknya, maka sekali ini Kiam Ki Sianjin
bermaksud mengundang semua tokoh dan apa bila fihak yang anti kaisar masih tak mau mengalah, di
puncak Tai-hang-san itu akan dijadikan tempat pembasmian bagi mereka!
Banyak para ketua partai persilatan dan tokoh-tokoh besar sengaja datang kepada Kiam Ki Sianjin untuk
meminta penjelasan setelah menerima surat itu. Di antara mereka yang datang adalah Bian Ti Hosiang
tokoh ke dua dari Bu-tong-pai dan Bin Hong Siansu tokoh ke dua dari Kim-san-pai.
Sebagaimana sudah dituturkan pada bagian depan, dua orang tokoh ini kebetulan sekali bertemu dengan
Kwan Cu di gedung Kiam Ki Sian-jin dan sudah mencoba kepandaian pemuda itu pula. Kini mereka pergi
dari istana untuk kembali ke tempat masing-masing, menyampaikan hasil penyelidikan mereka setelah
bertemu dengan Kiam Ki Sianjin.
Meski pun mereka keluar dari istana tidak bersama-sama, namun setelah tiba di luar kota raja, mereka
bertemu dan melakukan perjalanan bersama.
"Bin Hong Toyu, bagaimana pendapatmu mengenai bocah yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai
itu?" di tengah perjalanan Bian Ti Hosiang bertanya.
Mereka melakukan perjalanan sambil mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga tubuh mereka bergerak
bagaikan terbang saja, akan tetapi mereka tidak kelihatan lelah, bahkan masih bisa bercakap-cakap. Ini
menunjukkan betapa tingginya ilmu kepandaian mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bin Hong Siansu menghela napas panjang. "Kita harus mengakui bahwa kita sudah tua dan ketinggalan
jaman. Secara jujur harus kuakui bahwa selama hidup aku belum pernah melihat seorang pemuda yang
demikian lihainya."
"Kalau begitu, fihak yang anti kaisar tentu jauh lebih kuat dari pada fihak yang membantu kaisar," kata pula
Bian Ti Hosiang tokoh ke dua dari Bu-tong-pai itu.
"Belum tentu demikian. Biar pun pemuda itu lihai, tak mungkin kepandaiannya akan bisa mengatasi Hek-i
Hui-mo atau Toat-beng Hui-houw, Kiam Ki Sian-jin juga belum tentu kalah, tadi kelihatan kalah karena
mereka bertempur menggunakan meja, hal yang amat aneh!" jawab Bin Hong Siansu. "Bagiku sendiri,
kurasa pendirian Kiam Ki Sianjin lebih benar. Kalau orang kang-ouw tidak mau membantu kaisar, hal itu
berarti bahwa mereka akan mendatangkan bencana yang lebih besar kepada rakyat. Apa bila
pemberontakan-pemberontakan itu dapat ditindas dan keadaan negara aman kembali, tentu rakyat hidup
tenang dan damai. Kaisar adalah pilihan Yang Maha Kuasa, jatuh bangunnya sebuah kerajaan, menang
kalahnya perebutan kedudukan kaisar, semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Mengapa harus
membangkang terhadap keputusan nasib yang telah ditentukan oleh Thian?"
Bian Ti Hosiang mengerutkan kening. "Pinceng masih belum bisa mengambil keputusan, terserah kepada
suheng Bian Kim Hosiang saja."
Memang di dalam hatinya, hwesio Bu-tong-pai ini masih ragu untuk menyetujui pendapat tosu dari Kimsan-
pai itu. Dia pun terpengaruh oleh bujukan Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena dia juga tahu bahwa
suheng-nya sering kali menyatakan tidak sukanya terhadap pemerintah penjajah, maka dia sendiri tidak
berani mengambil keputusan.
Perjalanan dilanjutkan cepat sekali dan tahu-tahu siang telah berganti senja dan angkasa gelap sekali,
agaknya akan turun hujan.
"Kita harus mencapai tempat bermalam," kata Bin Hong Siansu kepada kawannya.
"Benar, agaknya akan turun hujan dan kita masih berada di dalam hutan. Apakah ada goa untuk berlindung
di hutan ini?"
"Jangan khawatir," kata Bin Hong Siansu, "di luar hutan ini terdapat sebuah hutan dan di situ ada seorang
kenalanku. Dia adalah Siok Tek Tojin yang mengepalai sebuah kuil."
Mereka lalu mempercepat larinya dan tak lama kemudian benar saja, setelah keluar dari hutan mereka tiba
di sebuah dusun. Bin Hong Siansu membawa kawannya ke sebuah kuil yang cukup besar, disambut oleh
seorang tosu bertubuh tinggi kurus dan bermata seperti mata burung.
Bian Ti Hosiang yang berpandangan awas dapat menduga bahwa tosu yang menyambut mereka ini
berhati kejam. Akan tetapi karena tuan rumah adalah kawan dari Bin Hong Siansu, apa lagi menyambut
mereka dengan amat ramah, dia pun tidak memperlihatkan kecurigaannya.
Dengan ramah Siok Tek Tojin menyambut dua orang tamunya, mengeluarkan hidangan dan bercakapcakaplah
mereka dengan asyiknya. Dari percakapan dengan tuan rumah, Bian Ti Hosiang segera tahu
bahwa tosu ini adalah seorang yang memuji-muji kaisar dan memuji-muji Kiam Ki Sianjin pula.
Malam hari itu, Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu menginap di kamar yang berlainan. Hal ini adalah
atas kehendak tuan rumah yang ingin menghormati kedua tamunya dan ingin menyediakan tempat yang
enak bagi para tamunya.
"Di sini ada banyak kamar, harap Ji-wi Beng-yu (dua sahabat) jangan sungkan-sungkan," katanya berkalikali
sambil tersenyum.
Menjelang tengah malam, pada waktu Bian Ti Hosiang masih duduk bersemedhi di atas tempat tidurnya,
tiba-tiba dia mendengar suara dari arah jendela dan ketika dia membuka mata dan memandang, terkejutlah
dia melihat asap bergulung-gulung masuk dari jendela itu! Dia cepat melompat turun, akan tetapi segera
terguling karena tercium olehnya bau yang harum dan keras sekali. Ia pun maklum bahwa asap itu adalah
asap beracun yang dapat membius orang, akan tetapi sebentar saja dia telah roboh pingsan.
Ketika dia sadar kembali, dia mendapatkan dirinya masih rebah di atas lantai dengan kedua tangan ke
dunia-kangouw.blogspot.com
belakang dan ketika dia hendak mengerahkan lweekang-nya, ternyata bahwa seluruh tubuhnya sudah
lemas, tanda bahwa jalan darahnya telah ditotok orang secara lihai sekali. Asap telah menghilang, akan
tetapi hwesio ini masih merasa pening. Dengan tubuhnya yang sangat lemah karena jalan darahnya tidak
lancar, dia bergulingan dan dengan susah payah dapat juga dia duduk dan menyandarkan punggungnya
pada tiang pembaringan. Kemudian dia berseru,
"Penjahat manakah yang begitu curang menyerang orang tanpa memberi tahu terlebih dahulu?" Dari luar
jendela terdengar suara orang ketawa mengejek,
"Kiu-bwe Coa-li, apakah kau sudah membereskan Siok Tek Tojin?" suara itu bertanya, kemudian dijawab
oleh suara wanita yang kecil tinggi melengking.
"Sudah, hanya tosu dari Kim-san-pai itu yang masih harus kita bereskan. Bagaimana, Pak-lo-sian, apakah
babi gemuk itu sudah dapat dibikin beres?"
"Ha-ha-ha, sudah heres, dia sudah tidak berdaya. Marilah kita bekuk Bin Hong Siansu," kata suara
pertama yang besar dan parau.
Diam-diam Bian Ti Hosiang tertegun dan terheran. Benarkah pendengarannya? Apakah betul dua orang
yang berada di luar jendela itu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Kalau memang benar,
mengapa dua orang tokoh besar yang luar biasa lihainya itu melakukan perbuatan seperti ini terhadap dia?
Ia teringat akan sahabatnya yang menurut pembicaraan tadi belum tertawan, maka sambil mengerahkan
lweekang-nya dia cepat berseru,
"Bin Hong Toyu! Hati-hatilah, ada dua orang jahat di tempat ini...!"
Belum lama gema suaranya lenyap, pintu kamamya ditendang orang dan masuklah Bin Hong Siansu.
"Bian Ti Hosiang, ada terjadi apakah…?" Tosu dari Kim-san-pai ini bertanya.
Akan tetapi sebagai jawaban pertanyaan ini, mendadak dari jendela menghembus asap tebal, asap hitam
dan putih yang sebentar saja memenuhi kamar itu.
"Bin Hong Siansu, berhati-hatilah terhadap asap beracun itu. Cepatlah kau pergi!" teriak Bian Ti Hosiang.
Mendengar ini Bin Hong Siansu terkejut sekali dan cepat melompat keluar dari kamar itu. Akan tetapi baru
saja dia sampai di pintu yang sudah penuh oleh asap hitam, dia roboh terkena pukulan yang amat dahsyat,
tepat pada dadanya. Pemukul yang tidak kelihatan karena terhalang oleh asap hitam itu tentu mempunyai
kepandaian tinggi sekali karena pukulannya jatuh tanpa dapat ditangkis atau dielakkan lagi.
Bin Hong Siansu terhuyung-huyung dan tanpa disadarinya mengisap asap itu, lalu roboh pingsan.
Demikian pula Bian Ti Hosiang, biar pun sudah berusaha dengan merebahkan tubuhnya di atas lantai
supaya jangan kena mengisap asap itu, akhirnya dia pun pingsan karena tidak tahan pula dengan asap
yang ternyata bisa mengapung rendah itu.
Di dalam kamar yang penuh asap itu lantas berkelebat bayangan yang berbaju hitam. Ia menghampiri Bian
Ti Hosiang, memukul pelipis hwesio ini dengan perlahan kemudian dia melakukan hal yang sama kepada
Bin Hong Siansu. Setelah melakukan hal ini, dia lalu tertawa bergelak dan sekali berkelebat saja, dia telah
menghilang keluar dari kamar itu, masuk di dalam gelap.
Akan tetapi belum lama dan belum jauh dia meninggalkan rumah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan lain di
depannya dan tahu-tahu seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana telah berdiri
menghadangnya. Pemuda itu menegurnya.
"Siapakah Losuhu ini dan mengapa malam-malam berlari-larian seperti dikejar orang?" Pemuda itu bukan
lain adalah Lu Kwan Cu yang kebetulan pada malam hari itu tiba di dusun ini sepulangnya dari Leng-san
dan hendak memulai perjalanannya untuk mencari musuh-musuh besar gurunya.
Dia memandang dengan penuh perhatian dan melihat bahwa orang yang berlari dengan gerakan luar biasa
cepatnya itu ternyata adalah seorang hwesio yang tubuhnya tinggi kecil, bermuka amat menyeramkan dan
berpakaian serba hitam, mengingatkan dia akan pakaian Hek-i Hui-mo!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika hwesio ini menjawab, hati Kwan Cu berdebar. Suara hwesio ini demikian tinggi dan kecil, lebih mirip
seperti suara wanita!
"Bedebah, perlu apa kau bertanya-tanya? Minggirlah!"
Tangan hwesio itu segera mencengkeram ke arah pundaknya. Inilah ilmu silat semacam Eng-jiauw-kang
(Pukulan Kuku Garuda) yang lihai sekali!
Kwan Cu tidak berani berlaku lambat karena ketika angin pukulan ini datang menyambar, ia mencium bau
yang amat amis. Ia menduga dengan hati bergidik bahwa tangan hwesio ini tentulah mengandung racun
berbahaya pula.
Dengan sigapnya Kwan Cu mengelak dan sebelum dia menegur, hwesio itu yang juga tercengang melihat
betapa pemuda yang dikiranya pemuda dusun ini dapat mengelakkan diri dari pukulannya, cepat berlari
pergi. Kwan Cu diam-diam menggunakan kegesitannya dan sekali mengulur tangan dia sudah berhasil
menjambret baju hitam yang panjang itu sehingga sepotong kain hitam tertinggal di dalam tangannya.
Kwan Cu hendak mengejar, akan tetapi malam gelap sekali dan hwesio itu dapat berlari cepat. Dia tidak
mengenal hwesio itu dan tidak tahu urusannya, tidak enaklah kalau dia terus mengejar. Maka dia lalu
melompat ke arah kuil yang berada di dekat situ, dari mana hwesio yang aneh itu tadi melarikan diri.
Robekan kain hitam itu dikantonginya dan dia melakukan ini tanpa disadarinya.
Dengan hati-hati Kwan Cu melakukan penyelidikan dan dia masih mencium bau harum yang menyesakkan
dada ketika dia mendekati kuil itu. Cepat pemuda ini mengatur napas dan mengerahkan tenaga lweekang
yang didapatinya ketika bersemedhi di atas Pulau Pek-hui-to untuk mengusir racun dan ‘menyaring’ napas
yang memasuki paru-parunya, kemudian dia melakukan pengintaian. Dan dia melihat pemandangan yang
amat aneh di dalam sebuah kamar di kuil itu.
Setelah Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu sadar dari pingsannya, mereka merasa betapa kepala
mereka seperti akan pecah. Karena totokan yang membikin tubuh Bian Ti Hosiang lumpuh telah bebas dan
ikatan tangannya juga telah dilepaskan orang, maka dia bisa mengerahkan lweekang dan alangkah
terkejutnya ketika dia merasa kepalanya sakit sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, tahulah dia bahwa
dia telah menderita luka yang luar biasa hebatnya dan bahwa nyawanya tak akan tertolong lagi. Demikian
pula dengan Bin Hong Siansu!
Tiba-tiba masuklah Siok Tek Tojin. Sebelah tangan kirinya lumpuh dan dia masuk sambil terpincangpincang.
"Aduh, Ji-wi Bengyu, celaka..." katanya terengah-engah. "Hampir saja pinto sendiri tewas oleh dua orang
siluman itu! Entah apa sebabnya Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li datang menyerbu dan
menyebar kebinasaan!"
"Kau... juga bertemu dengan mereka…?" Bian Ti Hosiang yang masih merasa ragu-ragu bertanya sambil
menahan sakit.
"Tentu saja! Lihat, pundak kiriku ditotok dan sampai sekarang pinto masih belum dapat membebaskannya
dan separuh tubuhku lumpuh. Pak-lo-sian yang melakukan ini sambil berkata bahwa dosa pinto tak terlalu
besar maka pinto diampuni. Kesalahan pinto hanya karena berani menerima Ji-wi sebagai tamu!"
"Apakah mereka juga bilang mengapa mereka menyerang kami?" tanya Bin Hong Siansu penasaran
sambil memegangi kepalanya yang seperti mau pecah itu. Kemudian tiba-tiba dia muntahkan darah hitam
dan jatuh pingsan pula!
Siok Tek Tojin menjadi bingung. Dengan tangan kanannya dia mencoba menyadarkan tosu dari Kim-sanpai
itu. Akhimya dengan napas terengah-engah Bin Hong Siansu dapat sadar juga, akan tetapi dia sudah
tidak kuat duduk lagi. Ada pun Bian Ti Hosiang sambil meramkan mata bersandar pada tiang pembaringan,
lalu berkata terengah-engah,
"Lekas ceritakan... apa yang mereka katakan..."
Dengan suara hampir menangis Siok Tek Tojin berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kiu-bwe Coa-li yang berkata bahwa Ji-wi harus dibunuh karena Ji-wi telah mengadakan hubungan dengan
Kiam Ki Sianjin di istana."
Akan tetapi keadaan kedua orang pendeta itu sudah payah sekali sehingga sukar untuk mendengarkan
dengan jelas. Hal ini diketahui pula oleh Siok Tek Tojin, maka pendeta ini cepat-cepat pergi mengambil
kertas, pit dan tinta bak lalu berkata,
"Ji-wi, harap sudi menuliskan sedikit kata-kata keterangan tentang peristiwa pembunuhan ini agar pinto
bisa membawanya ke Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tanpa ada penjelasan Ji-wi, pinto khawatir sekali
kalau-kalau ada salah sangka terhadap diri pinto."
Kedua orang pendeta ini segera maklum akan maksud Siok Tek Tojin. Karena luka yang diderita oleh Bin
Hong Siansu jauh lebih hebat dari pada Bian Ti Hosiang, maka hwesio Bu-tong-pai itulah yang
menggerakkan tangan menerima pit itu dan dengan pelayanan Siok Tek Tojin, dia kemudian menuliskan
beberapa huruf di atas kertas dengan tangan gemetar.
TEECU BERDUA DISERANG OLEH KIU-BWE COA-LI DAN PAK-LO-SIAN
Kemudian tulisan itu ditanda tangani oleh Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu. Setelah menanda tangani
surat itu, keduanya lalu mengeluh dan akhirnya roboh pingsan tanpa pernah siuman kembali!
Ada pun Kwan Cu yang mengintai dari luar, melihat dan mendengar semua ini. Dari jauh dia pun tahu
bahwa dua orang pendeta yang terluka itu tidak akan tertolong lagi, karena sinar mukanya sudah suram,
tidak ada cahaya lagi. Ia teringat akan hwesio tinggi kurus yang berpakaian hitam tadi, maka dia tidak
menanti sampai Bian Ti Hosiang menuliskan keterangan, cepat dan tanpa terdengar oleh siapa pun juga
dia lalu meloncat keluar dan mengejar ke arah bayangan hitam yang telah melarikan diri.
Pemuda ini merasa terheran-heran. Dia mengenal dua orang pendeta itu yang pernah dijumpainya di
rumah tinggal Kiam Ki Sianjin. Memang mereka itu mencurigakan dengan kunjungan mereka di rumah
Kiam Ki Sianjin, pembantu utama kaisar penjajah, namun mengapa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian
membunuh mereka?
Ia telah mengenal watak dua orang tokoh besar itu, yang kebesaran namanya berendeng dengan
mendiang suhu-nya, yang termasuk dalam Lima Tokoh Besar di dunia kang-ouw. Kenapa sekarang
mereka melakukan pembunuhan secara curang? Kenapa pula mereka mempergunakan asap beracun?
Bagaikan kilat menyambar masuklah dugaan di dalam hati Kwan Cu bahwa agaknya ada orang yang
hendak merusak nama baik Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Jika dugaannya benar, maka yang hendak
merusak nama mereka itu bukan lain adalah hwesio berjubah hitam tadi! Dia harus dapat mengejar dan
menyusulnya untuk mencari keterangan lebih jelas!
Akan tetapi dia sudah tertinggal jauh. Selain malam gelap sekali, dia juga tidak tahu arah mana yang
kemudian diambil oleh hwesio aneh itu. Sampai fajar menyingsing Kwan Cu mengejar dengan cepat, akan
tetapi sia-sia. Dia tidak melihat bayangan hwesio aneh itu dan dengan putus asa dia lalu menghentikan
pengejarannya.
Ketika dia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi dan dilihatnya di dalam kuil tua itu, dia terkejut.
Tosu yang menjadi tuan rumah itu berkata bahwa dia menjadi saksi dan sudah bertemu dengan Kiu-bwe
Coa-li dan Pak-lo-sian! Bahkan dia sendiri juga ditotok oleh Pak-lo-sian. Inilah aneh sekali!
Benarkah hal itu terjadi? Kalau tidak benar, ini hanya berarti bahwa tosu itu juga menjadi anggota
komplotan hwesio jubah hitam dan dia sengaja berpura-pura untuk memperkuat usaha memburukkan
nama dua orang tokoh besar itu!
Mendapat pikiran ini, Kwan Cu tidak mempedulikan bahwa tubuhnya sudah mulai lelah, bukan karena
setengah malam mengejar-ngejar bayangan yang tak tentu arahnya, akan tetapi karena dia kurang tidur. Ia
berlari-lari lagi, kini lebih cepat, kembali ke kuil di mana dia menyaksikan peristiwa yang aneh itu.
Setelah tiba di kuil dan masuk ke dalam kamar yang pernah dilihatnya, Kwan Cu hanya mendapatkan
jenazah Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu, sudah dingin dan dengan wajah membayangkan
penasaran. Ada pun tosu yang menjadi pengurus kuil sudah tidak kelihatan mata hidungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia memasuki kamar-kamar lain, memanggil-manggil, akan tetapi tidak seorang pun ada yang menjawab.
Saat dia melakukan pemeriksaan, ternyata bahwa semua pakaian tosu itu tidak ada di kamar, tanda bahwa
tosu itu telah pergi membawa semua pakaiannya.
Ini berarti bahwa tosu itu bukan sekedar pergi keluar ke tempat yang dekat, tetapi tentu akan melakukan
perjalanan jauh. Tentunya untuk menyampaikan warta pembunuhan ini ke Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!
Kwan Cu menghadapi urusannya sendiri yang dianggap lebih penting dari pada urusan ini. Urusan ini
hanya merupakan teka-teki yang membingungkannya, akan tetapi tak ada sangkut-pautnya dengan dia.
Maka dia lalu mengurus dua jenazah itu, mengubur mereka dengan baik-baik di halaman kuil, lalu
melanjutkan perjalanannya sambil mengenangkan tugas-tugasnya yang amat berat yang masih harus
dilaksanakannya.
Pertama-tama ia harus mencari musuh besar kongkong-nya yang hanya tinggal seorang lagi saja, yakni An
Kai Seng, keturunan An Lu Shan yang masih belum dia ketahui di mana tempat tinggalnya. Ada pun
musuh besar gurunya adalah Jeng-kin-jiu, Toat-beng Hui-houw, dan Hek-i Hui-mo, tiga orang tokoh besar
yang tidak boleh dipandang ringan dan yang masih selalu meragukan hatinya apakah dia akan sanggup
menghadapi dan mengalahkan mereka.
Di antara tiga orang tokoh besar ini, ia merasa paling benci kepada Toat-beng Hui-houw. Tidak saja kakek
yang seperti siluman ini juga mengeroyok dan ikut membunuh Ang-bin Sin-kai, akan tetapi dia mendengar
pula akan kejahatan kakek ini dan terutama sekali karena dia masih ingat betapa Pek-cilan Thio Loan Eng,
wanita gagah yang dia kasih sayangi seperti kepada ibu sendiri, telah menjadi korban keganasan kakek itu.
Dia harus membalas dendam dan membunuh Toat-beng Hui-houw, tidak saja untuk membalaskan
kematian suhu-nya, akan tetapi juga untuk membalaskan dendam Pek-cilan Thio Loan Eng.
Teringat akan Pek-cilan Thio Loan Eng, terbayanglah wajah Sui Ceng di depan matanya dan Kwan Cu
menghela napas. Otomatis kedua kakinya mogok berjalan dan dia malah menjatuhkan diri di bawah pohon,
beristirahat dan melanjutkan lamunannya tentang Sui Ceng.
Selain mencari musuh-musuh besar gurunya, kongkong-nya serta Pek-cilan Thio Loan Eng, juga dia masih
menghadapi urusan ini yang baginya tidak kalah pentingnya. Dia harus mencegah berlangsungnya
perjodohan antara Kun Beng dan Sui Ceng. Dia harus melakukan ini demi kebaikan Sui-Ceng, demi
kebaikan Kui Lan yang disia-siakan oleh Kun Beng dan demi kebaikan... dirinya sendiri.
"Aku cinta kepadanya... ahhh, gila benar, aku cinta mati-matian kepada Bun Sui Ceng!" Kwan Cu
menggaruk-garuk kepalanya.
Dahulu dia tidak mempunyai perasaan seperti ini, akan tetapi semenjak dia bersumpah di depan gadis
raksasa secara main-main untuk menghindarkan desakan gadis itu, bahwa dia sudah mempunyai seorang
gadis pujaan, yakni yang bernama Bun Sui Ceng, sejak itu entah mengapa dia selalu terkenang kepada
Sui Ceng.
Selalu terbayang gadis cilik yang lincah, jenaka dan manis itu. Sekarang, sesudah dia bertemu muka
dengan Sui Ceng yang sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, hatinya jatuh betul-betul.
Akan tetapi helaan napasnya makin berat ketika dia teringat bahwa gadis itu bagaimana pun juga sudah
bertunangan dengan Kun Beng, pertunangan yang sah karena disahkan oleh mendiang Pek-cilan Thio
Loan Eng ibu dari Sui Ceng dan Pak-lo-sian Siang-koan Hai guru dari Kun Beng! Kalau menghalangi
perjodohan itu berarti dia akan berhadapan dengan Pak-lo-sian Siangkoan Hai, dan mungkin juga dengan
Kiu-bwe Coa-li yang tentu akan melindungi nama baik muridnya!
"Beraaaaat...!" pikir pemuda ini sambil menarik napas panjang dengan wajah berduka, "Kenapa begitu
memasuki dunia ramai aku harus berhadapan dengan tokoh-tokoh besar yang dahulu pun sudah membikin
susah padaku ketika aku masih kecil?"
Lamunannya semakin menjauh. Kenangannya membawanya kepada masa kecilnya dan ketika dia teringat
betapa Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, serta
Kiu-bwe Coa-li mengurungnya, mendesaknya dan memaksanya serta menghinanya, Kwan Cu tersenyum
gembira dan matanya bersinar-sinar.
"Biarlah, biar aku mencoba kepandaian mereka semua itu, hitung-hitung untuk menagih hutang mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
dahulu ketika aku masih kecil. Hitung-hitung aku mengangkat nama suhu Ang-bin Sin-kai yang patut
disebut jago nomor satu di antara Lima Tokoh Besar dunia kang-ouw!"
Dengan adanya pikiran ini, Kwan Cu menjadi gembira kembali dan dia lalu melanjutkan perjalanannya,
mencari keterangan mengenai An Kai Seng, musuh besar kongkong-nya atau keturunan terakhir An Lu
Shan, pemberontak yang sudah banyak menghancurkan kehidupan rakyat jelata itu…..
********************
Kota Jeng-tauw terletak di pesisir laut timur. Kota ini adalah sebuah kota yang besar di Propinsi Shan-tung,
juga sangat ramai karena selain kotanya besar serta penduduknya banyak, letaknya di pinggir laut maka
merupakan pusat perdagangan. Kapal-kapal besar keluar masuk ke dalam pelabuhan dan banyak
pedagang besar mendapat penghasilan baik sekali.
Oleh karena itu, makin lama kota ini menjadi makin ramai dan banyaklah dibuka orang hotel-hotel dan
restoran-restoran besar. Toko-toko penuh dengan barang-barang dari lain daerah dan selalu dikunjungi
banyak orang.
Di antara sekian banyaknya orang hartawan yang tinggal di kota Jeng-tauw, kiranya yang paling terkenal
adalah Tan-wangwe (hartawan Tan) atau yang nama lengkapnya Tan Kai Seng. Ia tidak saja terkenal
karena memang amat kaya, memiliki banyak gedung-gedung besar dan memiliki pula rumah-rumah
penginapan serta perahu-perahu yang disewakan untuk mengangkut barang dari perahu-perahu besar
yang berlabuh jauh dari pelabuhan, juga dia terkenal sekali karena hartawan Tan ini mempunyai
kepandaian ilmu silat yang kabarnya amat tinggi.
Sebagai seorang hartawan, tentu saja dia tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya itu, akan tetapi
semua orang kang-ouw yang datang ke kota itu tentu mendengar dan menyaksikannya sendiri. Selain ini
semua, hartawan Tan yang masih muda itu menjadi lebih terkenal karena dia telah menikah dengan
seorang wanita yang telah lama menjadi sebutan orang sebagai bunga kota Jeng-tauw.
Wi Wi Toanio, demikian nama wanita ini, adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun ketika dikawin
oleh Tan-wangwe, seorang gadis yang mempunyai kecantikan luar biasa sehingga banyak orang
membandingkannya dengan Permaisuri Yang Kui Hui yang tersohor cantik jelita, kekasih dari pada Kaisar
Kerajaan Tang yang sudah roboh oleh An Lu Shan.
Selain memiliki kecantikan luar biasa, juga Wi Wi Toanio tak seperti gadis Han umumnya, yakni malu-malu
dan tidak berani memperlihatkan wajah di depan umum. Sebaliknya, Wi Wi Toanio yang mempelajari ilmu
silat tinggi dan berkepandaian lihai berkat latihan dari seorang nikouw (paderi wanita) dari Thian-san,
sering keluar dari rumah menunggang kuda berbulu merah.
Semenjak belum menikah, dia sudah mempunyai lagak yang sangat genit. Akan tetapi karena yang
berlagak genit ini seorang gadis cantik jelita yang berkepandaian tinggi pula, maka dalam pandangan
orang-orang lelaki dia bahkan terlihat makin cantik dan menarik!
Semua orang tahu belaka bahwa Wi Wi Toanio masih berdarah Tartar, karena ibunya adalah seorang
Tartar bangsawan, akan tetapi tak seorang pun berani membicarakan hal ini. Yang sama sekali tidak
diduga orang adalah Tan-wangwe sendiri. Dia ini sebenamya adalah An Kai Seng, cucu dalam dari An Lu
Shan sendiri, akan tetapi tidak ada orang yang mengetahuinya dan mereka menerimanya sebagai seorang
Han yang kaya raya.
Memang An Kai Seng orangnya cerdik sekali. Meski pun dia keturunan An Lu Shan yang pernah menjadi
kaisar, boleh dibilang dia keturunan bangsawan tinggi, akan tetapi An Kai Seng tahu bahwa kedudukan
keluarga kakeknya itu berbahaya sekali.
Oleh karena itu, sesudah dia berada di istana, diam-diam dia mengumpulkan harta-harta rampasan dari
rakyat dan bekas pemerintah Tang. Kemudian dia keluar dari istana, dan menyatakan kepada semua
keluarganya bahwa dia lebih suka menjadi pedagang!
Padahal bukan begitu keadaannya. Dia keluar dari istana sambil membawa harta benda yang besar sekali
untuk mencari kebebasan, agar supaya dia jangan terlibat oleh urusan pemerintahan yang tidak menarik
hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah hidup di luar keluarga kaisar, An Kai Seng lalu mengumbar hawa nafsunya. Dia seorang pemuda,
tampan, memegang uang banyak sekali, tentu saja dia laksana kuda tanpa kendali. Di samping berfoyafoya,
dia pun memperdalam kepandaiannya di dalam ilmu silat, belajar dari guru-guru silat yang ternama.
Kemudian dia mendengar berita tentang kekacauan di istana, juga tentang pembunuhan terhadap An Lu
Shan oleh puteranya sendiri, kemudian mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Si Su Beng terhadap
putera mahkota. Diam-diam An Kai Seng memuji diri sendiri yang sudah lari dari istana dan mulailah dia
berhati-hati menjaga harta bendanya.
Mulailah dia berdagang dan mendapatkan untung besar sekali karena semenjak kecil dia memang
mempelajari ilmu surat sehingga terhitung seorang bun-bu coan-jai (pandai ilmu silat dan surat).
Alangkah kaget dan takutnya ketika dia mendengar berita tentang terbunuhnya An Lu Kui dan An Kong.
Dan dia mendengar pula bahwa ada seorang musuh besar keluarga An hendak membasmi semua
keturunan dan keluarga An Lu Shan!
An Kai Seng ketakutan hebat. Dia cepat-cepat pindah dari kota yang dekat dengan kota raja, mengangkut
semua barang dan harta bendanya, dan pindah ke Jeng-tauw dengan nama sudah diganti, yakni Tan Kai
Seng. Karena dia memang pandai sekali bicara Han dan mukanya juga tampan seperti muka orang Han
biasa, dia diterima oleh masyarakat di Jeng-tauw sebagai hartawan Tan Kai Seng yang masih muda dan
masih bujang. Maka tenanglah hatinya.
Apa lagi setelah dia bertemu dengan Wi Wi Toanio dan berhasil mengawininya, Kai Seng merasa hidupnya
bahagia dan aman. Siapakah yang tahu bahwa dia adalah keturunan An Lu Shan? Dan andai kata ada
orang yang tahu, apa yang ditakutinya? Dia hartawan, berkuasa dan memiliki banyak kawan ahli-ahli silat,
bahkan boleh dibilang dengan secara diam-diam, semua buaya darat di kota itu adalah kaki tangannya!
Semua pembesar di kota itu menjadi pelindungnya, dan selain dia sendiri sudah memiliki ilmu silat tinggi,
juga isterinya terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat! Siapa dapat mengganggunya? Iblis sendiri pun
akan gentar untuk mengganggunya!
Akan tetapi, kekhawatiran hatinya membuat dia tidak tinggal diam. Ia lalu menyebar kaki tangannya untuk
menyelidiki tentang pembunuh An Lu Kui dan An Kong dan mendapat keterangan bahwa pembunuh
mereka itu adalah seorang pemuda murid Ang-bin Sin-kai yang amat lihai, bernama Lu Kwan Cu.
Juga untuk menjaga keamanannya, selain dia dan isterinya terus memperdalam ilmu silat mereka dari
guru-guru pandai, dia pun membeli dua batang pedang yang bagus dengan harga mahal sekali. Setiap hari
dia dan isterinya tidak pernah berpisah dari pedang ini. Selain itu, dia juga memelihara guru-guru silat yang
berpakaian sebagai pelayan, yang jumlahnya ada tujuh orang dan mereka ini menjadi pengawal
pribadinya!
Berkat kekuasaan uangnya yang mampu membayar setiap mata-mata dan penyelidik, An Kai Seng dapat
mengumpulkan keterangan tentang Lu Kwan Cu sehingga biar pun dia belum pernah bertemu muka
dengan musuh besar ini, tetapi dia dapat menggambarkan keadaan pemuda itu, dari bentuk badan,
pakaiannya dan wajahnya. Sekali saja bertemu, tentu dia akan mengenal pemuda yang mengancam
keluarga An itu.
Dalam hal ilmu silat, Kai Seng memang sudah memiliki tingkat yang cukup tinggi, bahkan sebelum dia
meninggalkan istana, dia sudah menerima warisan ilmu pedang yang cukup lihai dari Coa-tok Lo-ong (Raja
Racun Ular) yang baru saja datang dari Tibet.
Coa-tok Lo-ong adalah sute (adik seperguruan) dari Hek-i Hui-mo, oleh karena itu dapat dibayangkan
betapa hebat kepandaiannya. Ilmu pedang yang dipelajarinya merupakan ilmu Pedang Pat-coa Kiam-hoat
(Ilmu Pedang Delapan Ular). Selain ilmu pedang dari Coa-tok Lo-ong ini, Kai Seng masih mempelajari
banyak ilmu silat dari guru silatnya yang pandai, di antaranya dia mempelajari pula ilmu gulat dari Mongol.
Akan tetapi, sesudah dia bertemu dengan Wi Wi Toanio, dia mendapatkan orang yang melebihi dirinya
dalam segala-galanya, kecuali dalam kekayaan. Tidak saja kecantikan dan kegenitan gadis ini merampas
semangat dan hatinya, juga ilmu silat Wi Wi Toanio temyata masih mengatasi kepandaiannya!
Sebagai murid dari Thian-san-pai, Wi Wi Toanio sudah mempelajari Ilmu Silat Thian-san Kiam-hoat sampai
hampir sempurna sehingga ketika suami isteri ini secara main-main mengadu ilmu pedang, Pat-coa Kiamdunia-
kangouw.blogspot.com
hoat masih tidak sanggup menandingi Thian-san Kiam-hoat! Tentu saja Kai Seng menjadi girang sekali
karena selain sebagai seorang isteri yang amat cantik dan tercinta, juga dalam diri isterinya dia
mendapatkan seorang pembantu dan pelindung yang boleh diandalkan.
Walau pun tujuh orang pengawal pribadinya terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi, namun tingkat
mereka itu masih belum dapat menandingi tingkat kepandaian Kai Seng sendiri, apa lagi kalau
dibandingkan dengan tingkat ilmu pedang Wi Wi Toanio. Karena itu, tujuh orang pengawal ini sangat
tunduk dan menghormati majikannya, tidak hanya karena majikannya lebih pandai, terutama sekali karena
Kai Seng sangat royal terhadap para pengawalnya ini.
Pada suatu hari, ketika Kai Seng sedang bercakap-cakap dengan isterinya di ruangan dalam sambil
menikmati kue-kue yang mereka beli dari seorang pedagang dari selatan, tiba-tiba seorang pelayannya
datang menghadap dan melaporkan dengan muka pucat.
"Siauw-ya (Tuan Muda), menurut para pembantu di rumah penginapan, di kota ini sudah kedatangan
seorang pemuda yang mencari keterangan tentang Siauw-ya!"
An Kai Seng dan isterinya saling pandang dan seketika itu juga kue yang tadinya amat enak itu seakanakan
berubah pahit.
"Selidiki apa kehendaknya dan coba panggil tujuh kauwsu (guru silat) ke sini!"
Pelayan itu lalu keluar kembali dan cepat menjalankan perintah itu. Sebelum keluar untuk melakukan
tugasnya, lebih dulu ia mencari tujuh orang pengawal pribadi dari majikannya dan memanggil mereka.
"Cu-wi Kauwsu dipanggil oleh Siauw-ya."
Tujuh orang pengawal yang berpakaian sebagai pelayan akan tetapi bajunya digulung dan amat ringkas,
lebih mirip pakaian guru silat itu, segera masuk ke dalam, di mana Kai Seng dan Wi Wi Toanio telah
menanti. Segera mereka mengadakan perundingan yang sungguh-sungguh.
Tak lama kemudian, pelayan yang tadi keluar datang lagi dengan wajah bangga, karena dia sudah
mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang pemuda yang mencari-cari majikannya itu.
"Siauw-ya, ternyata dia adalah pemuda biasa saja. Hamba sudah melihatnya sendiri dan dia bukanlah
orang yang perlu dikhawatirkan. Namanya adalah Lu Kwan Cu, demikian yang dia tuliskan di buku hotel."
"Cukup, keluar kau!" bentak Kai Seng.
Pelayan itu keluar sambil mengomel panjang pendek. Dia sangat mengharapkan hadiah, akan tetapi
ternyata majikannya kelihatan terkejut dan bahkan terlihat pucat mendengar omongannya tadi.
Memang, mendengar bahwa nama pemuda yang dicurigainya itu adalah Lu Kwan Cu, pemuda yang telah
membunuh An Lu Kui dan An Kong, yang dikabarkan berkepandaian tinggi sekali, bukan main kagetnya
hati Kai Seng. Akan tetapi dia menjadi lega kembali setelah isterinya menghibumya.
"Mengapa kau gelisah? Belum tentu kalau kabar tentang pemuda itu benar. Betapa pun lihainya, kita takut
apakah? Aku sendiri sanggup memenggal lehernya dengan pedangku. Mustahil dia akan dapat
menangkan kita. Apa lagi, kita sudah mengatur siasat sehingga andai kata dia memang lihai sekali, dia
tidak akan dapat mencari kita."
Malam hari itu Kai Seng tidak dapat tidur dan kelihatan gelisah sekali sehingga Wi Wi Toanio menjebikan
bibirnya yang merah dan mencelanya sebagai seorang penakut.
"Orang macam apakah adanya Lu Kwan Cu sehingga kau begitu takut? Kalau kau tidak berkeras
melarang, aku ingin pergi ke hotel itu dan mengusirnya dengan pedangku," kata isteri yang cantik jelita dan
genit akan tetapi berani itu.
"Jangan, isteriku, jangan berlaku sembrono. Menurut kabar dari istana dan orang-orang yang mengetahui,
kakek luarku An Lu Kui dan pamanku An Kong yang sudah terkenal lihai sebagai murid dari Jeng-kin-jiu
Kak Thong Taisu masih dapat terbunuh olehnya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia lihai sekali."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, aku belum menyaksikan seberapa lihainya kongkong dan pamanmu itu. Akan tetapi aku masih
percaya kepada pedangku dan aku tidak takut andai kata pemuda yang bemama Lu Kwan Cu itu berkepala
tiga dan bertangan delapan!"
Kai Seng tak berani membantah karena dia takut kalau-kalau isterinya marah. Memang, suami ini kalah
oleh isterinya, kalah tinggi kepandaiannya dan juga kalah pengaruh. Akan tetapi sampai hampir pagi
barulah dia dapat tidur. Berbeda dengan isterinya yang sejak sore-sore sudah tidur dengan nyenyaknya.
Akan tetapi pada keesokan harinya, Kai Seng harus bangun lagi ketika pintu kamamya digedor pelayan
dari luar.
“Siauw-ya... lekas bangun...!”
Wi Wi Toanio dan Kai Seng melompat dari tempat tidur dan Kai Seng segera membuka pintu.
"Ada apa?" tanyanya dengan muka pucat, karena memang hatinya selalu merasa tidak enak.
Yang menggedor pintu adalah pelayan yang kemarin memberi laporan padanya. Pelayan itu kelihatan
gugup ketika mewartakan.
"Pemuda Lu Kwan Cu itu benar-benar berani mati datang ke sini, sekarang dia sedang dihadapi oleh tujuh
kauwsu."
Muka hartawan muda itu semakin pucat. "Lekas kau beri tahukan kepada semua pelayan agar supaya apa
bila ditanya menyatakan bahwa aku dan Toanio tidak berada di rumah. Awas, jangan ada yang
membocorkan hal ini. Kemudian kau cepat-cepat mengundang semua sahabatku yang pandai ilmu silat,
minta bantuan mereka dan katakan bahwa di rumahku kedatangan seorang penjahat yang mengacau."
"Baik, Siauwya!" kata pelayan itu yang cepat berlari pergi, dan di dalam hatinya kembali pelayan ini
mengomel panjang pendek. "Baru kedatangan seorang seperti pemuda yang lemah itu saja sudah ribut
bukan main seperti kedatangan setan!"
"Wi Wi, lekas kau bertukar pakaian pelayan, lepaskan semua perhiasanmu itu!" kata Kai Seng.
Dia sendiri juga cepat-cepat menanggalkan pakaian dan memakai pakaian pelayan yang memang sudah
disiapkan sejak kemarin. Saking gugupnya, dia sampai terbalik memakai celana dan baju, sehingga dalam
terburu-buru ingin cepat itu, dia bahkan semakin lambat mengenakan pakaian samarannya itu.
Inilah hasil perundingan dengan tujuh orang pengawalnya kemarin. Dalam perundingan itu diambil
keputusan bahwa bila Lu Kwan Cu benar-benar datang menyerang, Kai Seng dan Wi Wi Toanio akan
menyamar sebagai pelayan, kemudian melihat perkembangan selanjutnya.
Dengan senyum sindir berkembang di bibirnya yang manis, Wi Wi Toanio memandang kelakuan suaminya
itu. Yang dipandang melirik dan merahlah wajahnya karena memang dari kegugupannya ketika
mengenakan pakaian ini saja sudah merupakan pengakuan dirinya bahwa dia benar-benar merasa
bingung, takut, dan gugup.
"Ehh, kau senyum-senyum saja, tidak lekas-lekas mengganti pakaian?" katanya menegur untuk menutupi
rasa malunya.
Wi Wi Toanio mainkan bibirnya. "Mengapa aku harus berganti pakaian sebagai pelayan? Aku bukan
pelawak yang hanya membikin para pelayan pada tertawa geli jika melihatku. Tidak, aku akan menghadapi
musuh besarmu itu dengan pakaian ini."
Kai Seng menggeleng-geleng kepalanya. "Wi Wi, Jangan berlaku sembrono, lebih baik kita berhati-hati,
siapa tahu Lu Kwan Cu itu benar-benar amat lihai!"
"Biar pun dia lihai, akan tetapi bukankah yang dia cari adalah engkau? Padaku dia tidak kenal dan tidak
mempunyai urusan sesuatu, mengapa aku takut-takut menghadapinya? Dia tidak akan mengapa-apakan
aku."
"Bukankah kau isteriku?" Kai Seng berkata jengkel.
dunia-kangouw.blogspot.com
Wi Wi Toanio tersenyum dan berkata menghibur, "Siapa bilang aku bukan isterimu? Akan tetapi mustahil
kalau Lu Kwan Cu mengerti bahwa aku isterimu!"
Kai Seng merasa kalah dan tidak berani mendesak. Lagi pula apa yang diucapkan oleh isterinya itu
memang tidak salah. Yang dicari oleh Lu Kwan Cu hanya dia, keturunan An Lu Shan. Isterinya tentu tidak
akan diganggu oleh musuh besar itu.
"Kalau begitu, marilah kita keluar, lihat apakah para kauwsu sudah dapat mengusimya." Kai Seng tidak
lupa membawa pedangnya, sedangkan Wi Wi Toanio masih tetap berlaku ayal-ayalan.
“Kau keluarlah dulu, aku tidak mau keluar sebelum berhias dan tukar pakaian. Masa baru saja bangun
tidur, belum cuci muka dan belum apa-apa sudah disuruh keluar bertemu orang?”
Kai Seng makin mendongkol. Baginya, sehabis bangun tidur isterinya bahkan semakin cantik saja. Akan
tetapi dia tak berani membantah karena memang bagi seorang wanita, sukarlah untuk disuruh keluar dari
kamar sehabis bangun tidur, sebelum puas berhias dan mengganti pakaian.
“Jangan terlalu lama!” katanya dan dia bergegas keluar.
Pada saat Kai Seng tiba di luar, dia melihat tujuh orang jagonya itu sedang menghadapi seorang pemuda
dan melihat pemuda ini, timbullah ketabahannya. Tidak disangkanya bahwa laporan pelayannya kemarin
itu benar belaka. Pemuda ini berpakaian buruk dan miskin sekali, tubuhnya tidak begitu besar dan
nampaknya lemah saja. Namun dia tidak berani berlaku sembrono dan hanya berdiri dan mendengarkan
dari jauh.
“Sudah kukatakan berkali-kali, orang muda, bahwa majikan kami bukan orang yang kau cari itu. Dia benar
bernama Kai Seng, akan tetapi nama keturunannya adalah Tan, bukan An,” kata kauwsu tertua yang masih
terus mencoba untuk mengusir pemuda itu dengan alasan.
“Siapa pun juga yang kau cari, bagaimana kau berani berlaku kurang ajar dan berani mati mencari
keributan di rumah Tan-wangwe?” bentak seorang kauwsu termuda yang kasar karena dia merasa berani
dan marah melihat pemuda yang dipandangnya ringan ini.
Pemuda itu yang bukan lain adalah Kwan Cu, tertawa mengejek. Dia telah menemukan jejak musuh
besarnya dan dia bukanlah seorang pemuda yang suka bertindak sembrono. Telah dicarinya keterangan
yang jelas tentang An Kai Seng dan biar pun dia mendengar bahwa hartawan bernama Kai Seng di kota ini
seorang ber-she Tan, namun dia masih tetap curiga dan menduga bahwa dia tentulah An Kai Seng yang
mengubah namanya.
Apa lagi dia telah mendapat keterangan tentang wajah dan keadaan musuh besarnya itu, dan ketika dia
menggunakan waktu sehari semalam di kota Jeng-tauw untuk menyelidik, dia mendengar bahwa wajah,
dan bentuk badan hartawan Tan Kai Seng ini sesuai benar dengan keterangan yang dia dapat tentang
musuh besarnya, yakni An Kai Seng. Kwan Cu memang berlaku sangat teliti dan tidak mau buru-buru turun
tangan, hendak mencari kepastian lebih dulu.
“Aku tidak peduli apakah majikanmu itu she Tan, she An atau she Boan, akan tetapi aku hendak bertemu
dengan majikanmu yang bernama Tan Kai Seng itu!” jawab Lu Kwan Cu atas pertanyaan para kauwsu
yang berpakaian sebagai pelayan-pelayan itu.
“Hemm, kau berkeras kepala hendak bertemu dengan majikan kami, padahal kami sudah berkali-kali
memberi tahu padamu bahwa majikan kami sedang pergi ke luar kota!” kata kauwsu tertua.
“Aku tidak percaya! Lekas panggil dia keluar, kalau tidak terpaksa aku akan mencarinya sendiri di dalam
rumah ini.”
Kauwsu termuda marah sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Kwan Cu.
“Kau ini bocah masih ingusan yang tidak tahu diri! Kau hendak mencari majikan kami dan hendak
memasuki rumah secara paksa pula, apakah kehendakmu? Apakah kau hendak merampok?”
Kwan Cu tersenyum sindir dan masih berlaku sabar dan tenang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalian hendak mengetahui apakah kehendakku? Dengarlah baik-baik. Kalau majikanmu itu benar-benar
Kai Seng yang kucari-cari, memang benar aku hendak merampok. Akan tetapi bukan harta benda yang
hendak kurampok, melainkan kepalanya!”
“Bangsat rendah, kau terlalu sombong!” seru kauwsu termuda.
Oleh karena memandang rendah, secepat kilat dia mengirim serangan dengan pukulan tangan kanannya.
“Bagus, seorang pelayan memiliki kepandaian silat yang lumayan juga!” sindir Kwan Cu.
Ia cepat mengelak ke kiri dan sekali dia menggerakkan kaki, dia telah menendang pantat kauwsu termuda
itu sehingga tubuh kauwsu yang tinggi besar itu terlempar dua tombak lebih, lalu jatuh mengeluarkan suara
keras. Debu mengebul dan makin banyak lagi debu mengebul saat sambil meringis kesakitan, kauwsu itu
bangun berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya, bukan hanya untuk menghilangkan debu dari celananya
saja, akan tetapi juga untuk memijit-mijit tulang belakang yang terasa sakit sekali!
Melihat betapa dalam segebrakan saja kauwsu itu bisa dilemparkan dengan mudah oleh pemuda ini,
semua kauwsu segera mengerti bahwa lawan ini benar-benar berkepandaian tinggi. Serentak terdengar
suara senjata dicabut dari sarungnya dan gemerlapanlah sinar golok dan pedang yang berada di tangan
tujuh orang kauwsu itu.
“Hm, hm, hm, bagus sekali. Para pelayan di sini tidak memegang sapu dan kee-mo-cing (kebutan bulu
ayam), melainkan memegang golok dan pedang!” kata Kwan Cu menyindir lagi.
Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk membuka mulut lebih banyak lagi karena dengan gerakan
berbareng, tujuh orang kauwsu itu sudah menubruk dan menghujankan senjata mereka ke tubuh Kwan Cu.
Melihat gerakan mereka, maka semakin curigalah hati Kwan Cu. Sambil mempergunakan ginkang-nya
mengelak, meloncat, dan kadang-kadang menggunakan tangan kaki untuk menangkis serangan, dia
berkata lagi.
“Aha, tidak saja pelayan-pelayan bergolok dan berpedang, bahkan ilmu silat kalian sudah tinggi. Benarbenar
hartawan majikanmu itu aneh sekali, seperti bangsawan-bangsawan di kota raja saja yang
memelihara tukang-tukang pukul untuk melindungi dirinya!”
Para kauwsu itu terkejut melihat betapa pemuda itu berkelebat ke sana ke mari seperti burung saja
gesitnya. Mereka mendesak makin rapat dan mainkan senjata mereka makin gencar. Ada pun Kai Seng
yang melihat dari jauh, menjadi kecil hatinya karena pemuda itu benar-benar gesit sekali. Akan tetapi dia
masih mengharapkan ada salah seorang di antara para kauwsunya akan berhasil melukai pemuda itu.
Akan tetapi sebentar saja harapannya ini lenyap dan diterbangkan oleh angin kenyataan. Pada saat semua
senjata merangseknya, Kwan Cu melompat tinggi melalui kepala para pengeroyoknya ke kiri, kira-kira satu
tombak jauhnya dari mereka.
Para kauwsu itu cepat membalikkan tubuh dan segera mengejarnya. Kauwsu termuda yang berdiri paling
dekat, cepat menubruk dan mempergunakan gerak tipu Sian-jit Tit-lou (Dewa Menunjuk Jalan) menusuk ke
arah dada Kwan Cu. Gerakan ini cepat dan kuat sekali.
Alangkah girangnya hati kauwsu muda ini ketika dia melihat pedangnya amblas ke dalam dada Kwan Cu
sampai dekat gagangnya! Akan tetapi sebentar saja dia membelalakkan matanya penuh keheranan karena
dada itu tidak mengucurkan darah, bahkan pemuda itu tersenyum-senyum mengejek.
Ketika dia melihat dengan jelas, tahulah dia bahwa pedangnya amblas antara dada dan lengan, tegasnya
pedang itu dikempit dengan lengan oleh lawannya. Ia tadi tidak melihat hal ini dan mengira bahwa
tusukannya berhasil karena pemuda itu tidak mengelak sama sekali dan gerakannya ketika mengempit
pedang itu begitu cepat sehingga tidak sempat terlihat olehnya!
Kai Seng yang berdiri dan melihat dari jauh, karena dia memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada kauwsu
muda itu, dapat melihat akan hal ini dan siang-siang dia sudah terkejut sekali. Itulah gerakan yang banyak
persamaannya dengan gerakan Khai-ciang Kiap-kiam (Membuka Tangan Mengempit Pedang), sebuah
gerakan yang tak dapat dilakukan oleh sembarang orang karena selain gerakan ini amat berbahaya
dunia-kangouw.blogspot.com
sehingga salah sedikit saja dada dapat tertembus pedang, juga gerakan ini memerlukan ketajaman mata
dan tenaga lweekang yang sudah sempurna!
Kauwsu muda itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut pedangnya yang kini terjepit oleh
lengan Kwan Cu, akan tetapi usahanya sia-sia belaka. Kwan Cu tersenyum-senyum dan tidak segaris pun
urat mukanya memperlihatkan bahwa dia mengerahkan tenaganya. Pada saat melihat para pengeroyok
lain sudah mengejar dan menggerakkan senjata, Kwan Cu tiba-tiba melepaskan kempitannya dan
membarengi mengayun tangan menjamah dagu kauwsu muda itu.
“Aduuhhh... awaaassss, jangan tusuk aku!” Kauwsu muda itu tubuhnya terlempar ke arah para kawannya
sendiri.
Para kauwsu lainnya terkejut sekali dan cepat mereka menurunkan senjata agar jangan sampai menusuk
kawan sendiri yang melayang ke arah mereka. Dengan cepat mereka melompat ke kanan kiri dan kasihan
sekali, kauwsu muda itu tidak jadi menubruk kawan-kawannya dan...
“Ngekkk!”
Dia terbanting ke atas tanah, untuk kedua kalinya pantatnya beradu dengan tanah. Akan tetapi kali ini amat
kerasnya sehingga pecahlah kulit pantatnya, menimbulkan rasa sakit dan perih.
Akan tetapi kauwsu ini kebingungan karena dia tidak dapat memilih mana yang kurang sakitnya, dagu atau
pantatnya. Dagunya yang tadi dijamah oleh lawannya terasa sakit bukan main sehingga dia merasa
seolah-olah dagunya itu kini menjadi tebal seperti baru saja di sengat oleh dua puluh lima tawon berbisa!
Karena kedua-duanya terasa sangat sakit, tangan kanannya mengaruk-garuk dagu, tangan kirinya
memencet-mencet pantat, lakunya persis seperti seekor kera kepanasan!
Enam orang kauwsu yang lain segera menubruk dan amat marah melihat seorang kawan mereka
dirobohkan. Akan tetapi Kwan Cu sudah siap sedia dan pemuda ini tidak mau membuang banyak waktu
lagi.
Dia memang tidak ingin membunuh secara serampangan saja. Yang dicarinya adalah An Kai Seng
seorang, orang-orang lain tidak masuk hitungan pembalasan dendamnya. Apa lagi para pelayan ini
dianggapnya tak bersalah apa-apa, hanya menurut perintah majikan seperti boneka-boneka yang harus
dikasihani karena tidak memiliki kebebasan.
Melihat datangnya enam orang itu, cepat-cepat Kwan Cu mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na. Kedua
tangan dan kakinya bergerak aneh dan cepat sekali seperti sepak terjang seekor merak sakti sedang
marah.
Dalam beberapa gebrakan saja dia sudah berhasil merampas semua senjata dan tidak lupa pada saat
merampas senjata, dia mengirim totokan, tendangan atau pukulan siku yang membuat enam orang kauwsu
itu terlempar ke kanan kiri, terbanting lantas roboh seperti keadaan kauwsu termuda.
Tujuh orang kauwsu itu hanya dapat mengaduh-aduh. Bahkan ada pula yang tidak dapat mengeluarkan
suara sama sekali, yakni mereka yang terkena totokan siku di bagian ulu hati sehingga sesak napas.
Kwan Cu melemparkan semua senjata yang dirampasnya dan cepat melompat ke arah ruangan depan
untuk melakukan pemeriksaan dan hendak mencari orang yang menjadi majikan para pengeroyok tadi.
Akan tetapi, sebelum dia melewati pintu ruangan depan, tiba-tiba dia mendengar sambaran angin.
Cepat ia mengelak sambil mengerahkan tenaga, mengulur tangan kanan, menggunakan sebuah gerak tipu
dari Kong-ciak Sin-na untuk merampas pedang yang dengan cepat telah ditusukkan kepadanya. Akan
tetapi dia amat terkejut melihat pedang itu cepat sekali ditarik kembali dan tidak dapat dirampasnya,
bahkan pedang itu kini menyerangnya lagi dengan bacokan ke arah paha!
Kwan Cu melompat mundur lantas memandang. Penyerangnya adalah seorang pelayan pula yang masih
muda dan yang memegang sebuah pedang yang berkilauan cahayanya. Ia tercengang dan diam-diam
memuji dalam hatinya bahwa hartawan yang bernama Kai Seng itu benar-benar sangat hati-hati dan
mempunyai banyak jago-jago yang tidak boleh dipandang ringan.
“Ahh... ternyata masih ada lagi kaki tangan jahanam she An yang begini lihai?” Kwan Cu berseru.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Majikan kami she Tan, bukan she An. Kau orang kurang ajar lebih baik lekas minggat kalau tidak ingin
mampus!” bentak pelayan itu yang sebenarnya bukan lain adalah An Kai Seng sendiri!
Sedikit pun Kwan Cu tidak menduga bahwa pelayan muda yang lihai ilmu pedangnya ini adalah An Kai
Seng, orang yang sedang dicari-carinya. Kalau saja sebelumnya dia tidak dikeroyok oleh kauwsu-kauwsu
yang berkepandaian tinggi dan juga berpakaian sebagai pelayan, tentu dia akan bercuriga terhadap
pelayan muda itu.
Tak pantas seorang pelayan berkepandaian setinggi itu. Akan tetapi, melihat kepandaian tujuh orang
kauwsu yang mengeroyoknya, dia tidak merasa aneh lagi akan kepandaian pelayan muda berpedang ini.
Agaknya memang musuh besarnya, An Kai Seng, sudah mendengar tentang usahanya untuk membalas
dendam dan telah bersiap sedia menjaga diri, memelihara jago-jago silat yang pandai.
Ketika pelayan muda itu memutar pedangnya dan menyerangnya dengan hebat sekali, diam-diam Kwan
Cu terkejut. Ia tidak boleh menyamakan pelayan ini dengan tujuh orang pelayan yang tadi mengeroyoknya,
karena ilmu pedang yang dimainkan pelayan muda ini benar-benar lihai sekali dan terang bahwa itu adalah
ilmu pedang yang diajarkan oleh seorang ahli silat tinggi kelas satu.
Diam-diam Kwan Cu merasa bersyukur bahwa dia sudah mempelajari ilmu silat dari kitab Im-yang Bu-tek
Cin-keng, karena kalau saja dia hanya menerima latihan dari Ang-bin Sin-kai, agaknya belum tentu dia
dapat mengalahkan pemuda ini, apa lagi kalau hanya bertangan kosong.
Baru berusaha untuk mencari musuh besar kongkong-nya saja ia telah berjumpa dengan orang-orang yang
demikian lihai, apa lagi kalau dia kelak bertemu dengan musuh-musuh suhu-nya. Sungguh tugasnya tidak
ringan dan mudah, baiknya dia telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng
sehingga dia boleh merasa tenang dalam menghadapi lawan-lawannya.
Karena maklum bahwa kalau dia hanya mempergunakan tangan kosong serta mainkan Kong-ciak Sin-na
dan Pek-in Hoat-sut saja agaknya akan memakan waktu lama sebelum dia mengalahkan pelayan ini, Kwan
Cu segera mencabut sulingnya. Dia tidak mau lagi membuang banyak waktu menghadapi segala macam
pelayan, betapa pun pandainya pelayan ini. Tenaga serta waktunya harus dihemat untuk menghadapi
musuh-musuhnya kelak, karena dia tidak ingin membinasakan orang-orang yang tidak punya permusuhan
dengannya.
"Jangan kau mengorbankan nyawa untuk bangsat An Kai Seng, keturunan orang Tartar yang sudah
banyak membikin sengsara rakyat itu!" Kwan Cu berkata sambil memutar sulingnya.
Setelah kini dia menggunakan senjata, benar saja pelayan muda itu menjadi sibuk sekali. Gerakan
pedangnya kacau-balau karena suling lawannya seperti telah berubah menjadi banyak sekali dan
mengurung serta mendesak dirinya dari segala jurusan.
Setelah Kwan Cu dapat menangkap inti sari ilmu pedang lawannya yang amat ganas itu, tiba-tiba ia
melakukan serangan kilat, menangkis pedang lawan dengan sulingnya sambil dibarengi dengan gerakan
menggaet, ada pun tangan kirinya memukul ke arah pangkal lengan kanan lawan yang memegang
pedang.
"Lepaskan senjata!" serunya nyaring sambil mengerahkan tenaganya.
Pedang dan suling bertemu di udara dan betapa pun pelayan muda itu mengeluarkan seluruh tenaganya,
dia tetap tidak mampu menarik kembali pedangnya yang seolah-olah sudah berakar pada suling itu. Tibatiba
dia merasa pangkal lengannya sakit dan lumpuh sehingga pedangnya terpaksa dia lepaskan!
Akan tetapi pelayan itu adalah An Kai Seng yang tentu saja merasa khawatir kalau-kalau pemuda ini akan
terus menurunkan tangan maut kepadanya. Oleh karena itu, dia cepat mempergunakan tangan kirinya
memukul dada Kwan Cu sambil mengerahkan tenaga lweekang-nya.
Tadinya Kwan Cu hanya akan merasa puas setelah merampas pedang saja. Akan tetapi melihat lawannya
tlba-tiba memukul dengan pukulan maut yang amat berbahaya, dia lalu berseru,
"Pergilah!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Pukulan tangan kiri ke arah dadanya itu sama sekali tidak ditangkisnya, hanya dengan tangan kirinya dia
menyampok sambil mengeluarkan tenaga Pek-in Hoat-sut.
Pelayan muda itu menjerit, lantas tubuhnya terpental dua tombak dan jatuh bergulingan sampai tiga
tombak lebih! Baiknya Kwan Cu memang tidak berniat mencelakakan orang ini, maka dia hanya jatuh dan
terbanting babak belur saja, tidak mengalami luka di dalam tubuhnya. Akan tetapi, pukulan pada pangkal
lengannya tadi sudah membuat lengannya kaku dan tubuhnya yang terbanting terasa sakit-sakit.
"Bangsat kecil, jangan kurang ajar!" tiba-tiba saja terdengar suara merdu dan sinar yang berkeredepan
menyambar ke arah tenggorokan Kwan Cu.
Pemuda ini terkejut sekali karena gerakan pedang yang menyerangnya ini bahkan lebih gesit, cepat, serta
kuat dari pada pedang pelayan muda yang baru saja dikalahkannya tadi. Bukan main, benar-benar musuh
besar kongkong-nya ini sudah memelihara banyak sekali orang pandai, pikirnya sambil mengelak cepat
dan menangkis pedang itu dengan sulingnya. Terdengar suara nyaring dan Kwan Cu merasa betapa
tenaga lweekang dari penyerang ini bahkan lebih besar dari pada tenaga si pelayan muda tadi!
Dia cepat memandang dan seketika itu juga dia melongo. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda
yang berpakaian indah dan ketat, cantik jelita bukan main, seperti seorang bidadari turun dari kahyangan.
Tidak saja wajahnya yang putih halus kemerah-merahan itu memiliki tarikan yang sangat menarik hati dan
memikat. Akan tetapi bentuk potongan tubuhnya sangat menggairahkan pula, juga sepasang mata wanita
ini berkilauan penuh gairah hidup, bibirnya yang manis itu tersenyum simpul dan Kwan Cu mencium bau
harum yang membuatnya berdebar.
Memang wanita ini cantik sekali, lebih cantik dari pada Gouw Kui Lan, malah masih lebih cantik dari pada
Bun Sui Ceng sekali pun! Belum pernah Kwan Cu melihat gadis secantik ini, maka biar pun dia bukan
seorang mata keranjang, namun dia tetap seorang pria dan melihat seorang wanita demikian cantik
manisnya, setidaknya dia menjadi tertegun.
"Ehhh, mengapa kau memandang saja kepadaku begitu kurang ajar? Siapakah kau dan mengapa kau
membikin kacau di sini?" Wanita cantik itu menegur, akan tetapi dengan mata berkedip-kedip bangga dan
mulut tersenyum manis sekali.
Muka Kwan Cu menjadi merah sekali. la menahan napas untuk menenteramkan hatinya yang terguncang,
lalu tanpa berani memandang langsung supaya tidak terpesona oleh wajah itu, dia menjawab,
"Namaku Lu Kwan Cu dan aku datang hendak mencari An Kai Seng. Akan tetapi para pelayan itu
menyerangku sehingga aku terpaksa merobohkan mereka."
Tiba-tiba Kwan Cu mengangkat muka dan memandang pula, kini bukan karena kagum dan untuk
menikmati wajah cantik itu, akan tetapi karena dia teringat akan keterangan orang bahwa musuh besarnya
An Kai Seng itu mempunyai isteri yang amat cantik. Inikah isterinya itu?
"Siapakah kau dan di mana adanya An Kai Seng?"
Wanita itu tertawa kecil sehingga giginya yang bagaikan mutiara berderet itu kelihatan sebentar, lalu
tertutup kembali oleh sepasang bibirnya yang merah dan halus.
"Aku tidak kenal dengan segala An Kai Seng, dan tidak tahu dia berada di mana." Baru bicara sampai di
sini, wanita itu melirik ke arah pelayan muda tadi yang sudah berdiri lagi sambil meringis kesakitan. Aneh
sekali, wanita ini tersenyum geli dan memandang pula kepada Kwan Cu. "Hemm, kau malah sudah
mengalahkan pelayanku itu?"
Sambil berkata demikian, wanita itu menudingkan jari telunjuknya ke arah pelayan tadi. Otomatis Kwan Cu
ikut menengok ke arah pelayan muda tadi yang kini sudah berjalan terhuyung-huyung keluar dari
pekarangan rumah.
Akan tetapi, gerakan lehernya untuk menengok itu mendatangkan kesempatan baik bagi wanita cantik tadi
yang terus saja menusuk dengan pedangnya ke arah lambung Kwan Cu! Pemuda ini terkejut sekali dan
cepat dia menggerakkan lengan, miringkan tubuh dan cepat pula menyampok pedang dengan sulingnya.
Kembali terdengar suara keras dan pedang itu juga terpental kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kau curang!" Kwan Cu menegur dengan hati mendongkol. Jika saja dia kurang hati-hati, serangan
menggelap tadi tentu akan mendatangkan bahaya besar baginya.
"Siapakah kau?"
Wanita itu tersenyum mengejek dan sepasang matanya bergerak genit. Melihat dua mata ini, hati Kwan Cu
berdebar dan dia mengaku bahwa sepasang mata ini lebih tajam dan lebih berbahaya dari pada sepasang
pedang mustika! Maka dia cepat-cepat mengalihkan pandang dan tidak berani lagi menatap secara
langsung!
"Kau datang ini hendak mencari orang atau hendak berkenalan dengan aku? Mengapa tanya-tanya nama
segala macam?"
Celaka, pikir Kwan Cu. Perempuan ini tidak saja memiliki gaya dan kecantikan luar biasa yang dapat
merobohkan hati laki-laki, juga lidahnya amat tajam dan pandai sekali bicara. Kwan Cu yang masih amat
muda dan belum berpengalaman dalam menghadapi wanita, masih belum tahu bahwa seorang wanita
seperti ini mempunyai kecerdikan dan muslihat yang lebih pandai dari pada seorang ahli perang.
Dengan muka merah sekali sampai ke telinga-telinganya, Kwan Cu membentak, "Jangan sembarangan
bicara! Aku datang hendak menghancurkan kepala An Kai Seng dan kau lebih baik lekas menyingkir
karena aku tidak suka menjatuhkan tangan kepada seorang wanita, apa lagi kalau kau tidak mempunyai
hubungan sesuatu dengan An Kai Seng."
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak kenal dengan An Kai Seng, yang ada di sini hanya Tan-wangwe, akan
tetapi kau tidak percaya. Habis apa yang hendak kau lakukan?" tanya wanita itu sambil menatap wajah
Kwan Cu yang tampan dan tenang.
"Aku harus melihat dulu orang yang bernama Kai Seng itu, hendak kulihat apakah dia orang yang kucaricari
ataukah bukan?"
"Jadi kau mau apa?" Wanita itu berkata menantang.
"Aku akan masuk dan memeriksa seluruh isi rumah ini."
Wanita itu tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih mengkilap.
"Kau... kau mengagumkan!"
Kwan Cu melengak dan tidak paham apa yang dimaksudkan oleh wanita ini. Akan tetapi wanita itu segera
menyambung kata-katanya, kini dengan bentakan keras dan dengan pedang dilintangkan di depan
dadanya.
"Dan kau sangat sombong! Kau mau menggeledah rumah orang begitu saja? Baru dapat kau lakukan
kalau kau sudah dapat mengalahkan pedangku!" Ucapan ini ditutup dengan tusukan pedang yang sangat
lihai, dan tusukan ini disusul oleh serangan-serangan lain yang cepat sekali.
Kwan Cu sudah dapat menduga akan kehebatan ilmu pedang wanita ini, maka dia tidak berlaku ayal dan
cepat menggerakkan sulingnya menangkis dan mengelak. Serentetan serangan dari enam jurus dengan
sangat mudahnya sudah dapat dihindarkan oleh Kwan Cu.
"Kau hebat!" Wanita itu memuji. "Coba kau tahan yang ini!"
Dengan gerakan tubuh yang amat indah bagaikan orang menari, dia lalu menggerakkan pedangnya pula,
kini melakukan penyerangan dengan pedangnya. Serangan ini memang istimewa, dalam sejurus serangan
ini terdapat tiga bagian yang dilakukan dengan tenaga berlainan dan dengan tujuan berlainan pula.
Tusukan pertama dilakukan dengan pengerahan tenaga mengikat, babatan ke dua yang menyusul dengan
tenaga mengait, dan serangan ke tiga adalah tusukan ke arah kening di antara mata dengan dibarengi oleh
pukulan tangan kiri dan lanjutan pemutaran pedang di depan mata lawan untuk mengacaukan lawan
sehingga andai kata lawan masih dapat menghindarkan diri dari tiga kali serangan pedang, dia akan
terkena oleh pukulan tangan kirinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemm, inilah In-liong Sam-hian (Naga Awan Muncul Tiga Kali)! Kalau begitu kau murid Thian-san!" seru
Kwan Cu.
Cepat sekali dia mengerahkan ginkang-nya untuk menghindarkan diri dari serangan yang susul-menyusul
dan dia tahu hal ini amat berbahaya. la pernah mendengar dari Ang-bin Sin-kai mengenai ilmu-ilmu silat
yang paling ampuh dan berbahaya dari berbagai cabang persilatan dan justru ilmu pedang inilah yang
pernah dia dengar dari suhu-nya. Jika dulu dia hanya mendengar teorinya saja, setelah dia mempelajari
ilmu kesaktian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, sekarang sekali melihat saja tahulah dia bahwa ini adalah
ilmu silat dari Thian-san-pai.
Wanita itu pun nampak terkejut dan kagum ketika Kwan Cu selain dapat menghindarkan diri dari
serangannya yang dipilihnya paling hebat itu, juga dapat menduga tepat bahwa dia adalah anak murid
Thian-san-pai. Akan tetapi dia hanya tertawa mengejek dan cepat melakukan serangan bertubi-tubi!
Kwan Cu merasa tidak perlu membuang waktu melayani wanita ini, akan tetapi karena ilmu pedang dari
wanita itu memang lihai sekali, maka dia menjadi bingung. Apa bila dia tinggalkan, memang mudah saja
baginya untuk melompat dan terus lari ke dalam rumah. Akan tetapi, lawannya ini tentu akan mengejarnya
sehingga dia tidak leluasa melakukan penggeledahan.
Di samping ini, dia pun harus bertindak hati-hati karena siapa tahu kalau-kalau di dalam rumah dipasangi
perangkap, karena ternyata bahwa pemilik rumah ini adalah orang yang menjaga diri baik-baik sehingga di
situ terdapat banyak ahli silat yang pandai. Lagi pula, salahnya adalah karena dia tidak mau melukai
perempuan ini, bukan hanya karena dia merasa tak enak hati untuk melukai seorang perempuan yang
belum diketahuinya siapa dan dianggapnya tiada dosa, juga dia merasa tidak tega.
Tidak dapat disangkal pula bahwa kecantikan serta gaya wanita ini sedikit banyak sudah menarik hatinya.
Kalau dia mau, memang agaknya dalam sepuluh jurus saja dia mampu merobohkan, akan tetapi tanpa
melukainya adalah hal yang tidak begitu mudah.
Akhirnya dia mendapatkan akal. Dengan sulingnya dia melakukan serangan kilat dan…
"Breeettt!" robeklah baju wanita itu di bagian pinggang!
Wanita itu terkejut sekali karena suling lawannya seakan-akan telah mengenai tubuhnya, akan tetapi
ternyata bahwa lawannya tak mau melukainya, dan suling itu diselewengkan sedikit sehingga bukan
kulitnya yang robek melainkan bajunya. Akan tetapi serangan tadi benar-benar hebat sekali karena amat
dekat dengan kulitnya sehingga bukan hanya baju luarnya, malah baju dalamnya ikut robek dan kulit
pinggangnya yang putih itu kelihatan!
Karena mengalami kekagetan hebat, wanita itu menjadi tertegun dan Kwan Cu tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini. Tangan kirinya bergerak dengan Ilmu Silat Kong-ciang Sin-na, sedangkan tangan kanan
menggerakkan suling menotok ke arah pinggang.
Dalam sekejap mata saja pedang wanita itu sudah dirampasnya dan kedua kaki wanita itu menjadi kaku
tidak dapat digerakkan lagi akibat totokan suling tadi! Sambil tersenyum Kwan Cu melemparkan pedang itu
ke atas sehingga sambil mengeluarkan bunyi nyaring, pedang itu menancap pada langit-langit rumah.
Sampai setengah lebih tergantung di situ sambil bergoyang-goyang saking kerasnya tenaga sambitannya.
Wanita itu menangis! Tangan kirinya menutupi pinggang yang pakaiannya terbuka dan tangan kanan
diremas-remasnya, akan tetapi kedua kakinya tetap tak dapat bergerak.
"Kubunuh kau manusia kurang ajar!" teriaknya berkali-kali.
Akan tetapi Kwan Cu tidak melayaninya dan hanya tersenyum sambil berlari memasuki rumah. Dia merasa
kasihan dan juga geli. Akan tetapi, setelah melakukan pemeriksaan dengan cepat, teliti dan hati-hati, Kwan
Cu menjadi kecewa.
Semua pelayan yang dia temui di dalam gedung itu mengatakan bahwa majikan mereka bernama Tan Kai
Seng dan ketika itu sedang keluar rumah. Kwan Cu tidak suka berlaku kejam kepada para pelayan ini,
akan tetapi untuk memuaskan hatinya yang kecewa dia memilih seorang pelayan laki-laki yang berwajah
bodoh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cepat dia mencabut pedangnya, yakni pedang Liong-coan-kiam yang selama itu hanya disembunyikan di
balik baju. Sekali sabet saja meja besar dan tebal di ruangan dalam itu terbabat dan terbelah menjadi dua.
Kemudian dia memegang leher baju pelayan itu dan menempelkan pedangnya di atas hidung.
"Kalau kau tidak menjawab sejujurnya, pedang ini akan memutuskan hidungmu. Tidak itu saja, aku akan
membikin semua kaki tanganmu buntung supaya selama hidup kau tidak akan dapat bekerja dan akan
menjadi pengemis yang tidak dapat makan sendiri!"
"Ampun... Siauwya...," kata pelayan itu sambil menggigil ketakutan.
"Nah, katakan siapa sebetulnya majikanmu itu!"
"Hamba tidak membohong, Siauwya majikan hamba bernama Tan Kai Seng..."
"Di mana dia?"
"Tadi... tadi dia berada di sini..."
"Jangan bohong! Mana dia?" Kwan Cu membentak.
Dia mengerahkan sedikit tenaga pada tangan kirinya yang menggencet pundak pelayan itu. Pelayan itu
meringis kesakitan, pundaknya serasa ditusuk jarum.
"Am... ampun, Siauwya... hamba tidak membohong. Tadi... tadi majikan hamba berada di sini, bahkan tadi
keluar..."
Kwan Cu berpikir, kemudian membentak lagi, "Yang mana dia? Yang mana? Hayo cepat katakan!"
"Dia... dia yang tadi melawan Siauwya."
"Apa?! Yang muda-muda dan berpakaian pelayan, memegang pedang...?".
Pelayan itu hanya mengangguk dengan tubuh menggigil ketakutan. Sesudah membuka rahasia
majikannya, kini dia menjadi semakin ketakutan karena dia tahu bahwa apa bila majikannya mengetahui
akan pengkhianatannya, dia akan menerima hukuman berat.
Kwan Cu terkejut mendengar ini dan dia merasa menyesal sekali. Tadi dia sudah curiga terhadap pelayan
muda yang lihai ilmu pedangnya itu. Diakah An Kai Seng keturunan An Lu Shan? Mungkin sekali!
"Dan gadis muda yang pandai main pedang itu, siapa dia?"
"Dia adalah Wi Wi Toanio, isteri majikan hamba..."
Baru saja mendengar ini, Kwan Cu cepat melompat keluar lagi. Hemm, yang tahu akan rahasia hartawan
muda bernama Kai Seng ini tentu hanya isterinya. Mungkin sekali An Kai Seng sudah mengubah she-nya
menjadi Tan, dan hal ini tentu saja tidak diketahui oleh semua pelayan. Hanya isterinya yang tentu tahu
akan hal ini!
Pada saat tiba di ruang depan, dia melihat wanita muda yang cantik tadi masih berdiri, sedang mengatur
napas dan ternyata bahwa wanita itu telah berhasil membebaskan diri dari totokannya. Ia kaget dan
memuji karena hanya dengan tenaga lwekang yang sudah tinggi saja orang dapat membebaskan totokan
begitu cepatnya.
Ketika Wi Wi Toanio melihat Kwan Cu keluar lagi, dia cepat hendak melarikan diri. Akan tetapi dengan
sekali lompatan, Kwan Cu sudah berada di depannya.
"Jadi kaukah Wi Wi Toanio isteri dari An Kai Seng?" Kwan Cu bertanya dengan mata bersinar mengancam.
"Suamiku bernama Tan Kai Seng!" Wi Wi Toanio berkata dan mencoba untuk tersenyum, sungguh pun
hatinya berdebar penuh rasa takut. Ia telah merasai sendiri betapa lihainya orang yang mau membunuh
suaminya ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu menengok ke arah pelayan muda yang tadi sudah dikalahkannya, akan tetapi seperti yang sudah
diduganya, pelayan muda itu kini tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Tiba-tiba dia mendengar gerakan
orang dan Wi Wi Toanio mempergunakan kesempatan selagi Kwan Cu menengok, untuk cepat melompat
melarikan diri keluar.
"Kau hendak lari ke mana?" Kwan Cu segera mengejar dan di lain saat pemuda ini telah memegang
pergelangan tangan Wi Wi Toanio.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" la meronta-ronta dan mencoba untuk melepaskan tangannya, akan tetapi siasia,
karena pegangan Kwan Cu amat kuatnya.
"Katakan dulu, siapa sebetulnya suamimu itu? Apakah dia bukan An Kai Seng keturunan An Lu Shan?"
tanya Kwan Cu perlahan sambil mempererat pegangannya hingga wanita muda itu merasa seluruh
lengannya sakit sekali.
Pada saat itu pula, para pelayan yang tadi ketakutan setengah mati, sudah keluar dan memandang dari
pintu dengan muka pucat. Sementara itu, pelayan yang tadi diperintah oleh Kai Seng untuk
memberitahukan kepada kawan-kawannya, sudah datang diiringkan oleh belasan orang laki-laki yang
sudah memegang senjata tajam. Mereka ini menyerbu dari luar dan siap menolong Wi Wi Toanio yang
dipegang tangannya oleh Kwan Cu.
Melihat ini, Wi Wi Toanio segera melakukan siasatnya yang amat cerdik. Dia kemudian merapatkan
tubuhnya, tidak lagi mempedulikan rasa sakit pada tangannya dan sengaja merapatkan tubuhnya pada
tubuh pemuda itu, lalu berteriak-teriak.
"Kau manusia kurang ajar! Kau hendak berlaku kurang sopan terhadapku? Lihat, lihatlah semua orang!
Inilah orang yang mengaku bernama Lu Kwan Cu, seorang yang katanya pendekar muda berilmu tinggi!
Akan tetapi dia hendak membujukku, mengajakku minggat bersama. Alangkah rendahnya!"
Kwan Cu merasa betapa tubuh wanita itu merapat dan dia kembali mencium bau yang amat harum. Ketika
mendengar teriakan ini, dia terkejut sekali, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya dan otomatis dia
melepaskan pegangannya dan segera melangkah mundur.
"Kau bohong! Aku tidak berlaku kurang ajar, hanya mau tahu di mana perginya Kai Seng itu!" katanya
mendongkol.
Sambil memijat-mijat pergelangan lengannya Wi Wi Toanio tersenyum mengejek. Dia lalu berkata pula
perlahan, "Kalau kau memang gagah, carilah sendiri!" Lalu ia berjalan pergi.
Kwan Cu merasa bingung. Tentu saja dia dapat menangkap wanita itu, dibawa ke tempat sunyi untuk
dipaksa mengaku siapa sebetulnya hartawan muda itu dan di mana tempat bersembunyinya. Akan tetapi
kalau teringat akan teriakan nyonya muda tadi, dia menjadi merasa malu dan tidak enak sekali. Kalau
sampai dia menangkapnya, tentu semua orang akan membenarkan kata-kata Wi Wi Toanio dan namanya
akan menjadi busuk di dunia kang-ouw!
Sementara itu, kawan-kawan Kai Seng yang terdiri dari jago-jago silat di kota itu, sudah datang dan
menyerbu Kwan Cu. Terpaksa pemuda ini lalu menggerakkan sulingnya. Dia tidak mau membuang banyak
waktu dan sebentar saja terdengar suara keras, senjata-senjata tajam terlempar jauh dan orang-orang itu
lantas berteriak-teriak kesakitan, roboh seorang demi seorang.
Setelah belasan orang itu semua dibikin tak berdaya, Kwan Cu sudah tidak melihat lagi bayangan Wi Wi
Toanio. Dia mendongkol sekali, merasa dipermainkan oleh wanita itu. Cepat dia mengejar dan mencari,
akan tetapi dia tidak dapat menemukan suami isteri itu di kota dan akhirnya ia mendapat keterangan
bahwa mereka telah melarikan diri dengan perahu mereka ke laut!
Kwan Cu merasa menyesal sekali. Jauh-jauh dan sekian lama dia mencari, tetapi setelah bertemu, dia
kena diakali. Musuh besarnya sudah bertemu dengan dia, bahkan telah dia kalahkan, akan tetapi dia tidak
tahu bahwa dia itulah musuh besarnya sehingga dia tidak membunuhnya, bahkan tidak mau melukainya
karena mengira bahwa dia adalah seorang pelayan biasa.
“Biarlah, aku pasti akan bisa menemukannya kembali," katanya sambil menghela napas.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terbayanglah wajah yang cantik jelita dari Wi Wi Toanio, suaranya yang merdu, bentuk tubuhnya yang
menggairahkan serta keharuman yang menawan hati masih tercium oleh hidungnya. Kembali Kwan Cu
menarik napas panjang. Benar-benar seorang wanita yang cantik, pandai dan... berbahaya sekali…..
********************
Pada suatu hari, Kwan Cu beristirahat di luar sebuah hutan, duduk di bawah pohon dan berlindung dari
panas terik matahari yang menggigiti kulit. Dengan ujung lengan bajunya dia menghapus peluh yang
membasahi mukanya, peluh sehat yang dipaksa keluar oleh hawa panas matahari.
Seperti biasa, pada waktu menganggur ini dia memeriksa seluruh saluran darah di dalam tubuhnya, untuk
membuka saluran yang terhalang jalannya. Dengan perlahan-lahan dia meraba-raba urat nadinya dan
dengan totokan dia lalu menyempurnakan jalan darahnya.
Setelah mendapat kenyataan bahwa peredaran jalan darahnya sudah sempurna, dia lalu mengeluarkan
sulingnya dan menyuling dengan asyiknya. Tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan baginya dari pada
meniup sulingnya. Otaknya telah penat berpikir tentang tugasnya, tentang musuh-musuh besar dari suhunya
dan kongkong-nya.
An Kai Seng telah terlepas dari tangannya dan tidaklah mudah untuk mencarinya, karena tentu saja An Kai
Seng akan menyembunyikan dan menjaga dirinya lebih baik, apa lagi dengan bantuan isterinya yang
demikian cantik dan licin, kiranya akan makan waktu lama untuk dapat menemukannya kembali.
Terlebih dahulu dia akan mencari musuh-musuh besar gurunya dan teringatlah dia akan pemberitahuan
Kiam Ki Sianjin bahwa pada Gouw-gwe Cap-gouw (bulan lima tanggal lima belas) akan diadakan
musyawarah besar di puncak Tai-hang-san dan di sanalah dia akan dapat menjumpai musuh-musuh yang
membunuh gurunya itu.
Pada waktu itu, bulan lima kurang beberapa hari lagi, jadi dia masih mempunyai waktu beberapa pekan.
Oleh karena itu Kwan Cu lalu mulai melakukan perjalanan menuju ke Tai-hang-san. Ia melakukan
perjalanan cepat dan terus menerus, hanya beristirahat bila dia merasa lelah benar seperti siang hari itu.
Tanpa disengaja, Kwan Cu meniup suling mainkan lagu yang sering kali dimainkan oleh Hang-houw-siauw
Yok-ong Si Raja Obat. Dia begitu saja mainkan lagu ini karena ketika tadi menyuling, pikirannya melayang
kepada tabib aneh itu. Sulingnya adalah pemberian dari Yok-ong dan dia tidak tahu di mana adanya orang
pandai itu sekarang.
Memikirkan Yok-ong, Kwan Cu diam-diam menduga apakah kiranya orang pandai itu akan sanggup
menolong Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu bila sekiranya Raja Tabib itu berada di tempat terjadinya
mala petaka yang menimpa diri kedua orang pendeta itu. Sambil menyuling, kini pikirannya melayang
kembali dan terkenanglah dia akan peristiwa pembunuhan dua orang pendeta yang benar-benar
merupakan teka-teki baginya itu.
Tiba-tiba terdengar suara orang laki-laki menyanyikan lagu yang sedang dimainkan oleh Kwan Cu dengan
sulingnya. Suara nyanyian ini merdu sekali sehingga Kwan Cu harus mengakui bahwa suara itu amat
empuk. Dengan gembira Kwan Cu melanjutkan tiupan sulingnya dan sekarang terdengar paduan suara
antara suling dan nyanyian orang itu, menyanyikan lagu yang sering kali dimainkan oleh Hang-houw-siauw
Yok-ong.
Diam-diam Kwan Cu memuji tenaga khikang orang itu, karena orangnya belum kelihatan, namun suara
nyanyiannya demikian keras dan nyaring. Dia tidak merasa heran bahwa orang itu dapat pula mendengar
suara sulingnya karena dia tadi bermain suling dengan memakai tiupan tenaga khikang sehingga suara
sulingnya dapat terdengar dari tempat jauh.
Kalau saja pada saat itu ada orang lain di situ, tentu orang ini akan menjadi amat heran karena suara
suling dan nyanyian itu merupakan paduan suara yang menjadi satu, akan tetapi penyuling dan
penyanyinya terpisah jauh!
Yang sangat menarik hati Kwan Cu adalah kata-kata dalam nyanyian itu, maka dia lalu mencurahkan
perhatiannya untuk mendengarkan nyanyian itu sehingga terdengar jelas olehnya kata demi kata.
Mendengar suara ini, Kwan Cu menjadi makin kagum karena dari kata-kata nyanyian ini dia mendapatkan
dunia-kangouw.blogspot.com
kesan bahwa penyanyinya bukanlah orang sembarangan atau penyanyi biasa saja.
Suara nyanyian itu terdengar penuh mengejek, akan tetapi di dalamnya tersembunyi pula semangat
kegagahan. Kata-katanya sendiri merupakan filsafat sederhana yang sudah sering kali disyairkan oleh para
pujangga.
Hutan sungai tetap murni tak berubah
apa bila tiada tangan kotor orang menjamah,
mengapa tempat tinggal orang kacau belaka!
Mengapa mereka saling bunuh tiada habisnya?
Katakan manusia berakal budi
katakan manusia makhluk tertinggi
aku lebih kagum melihat burung dan kelinci.
Katakan dusun kota indah dan damai,
aku lebih cinta hutan dan sungai!
Baru saja kata-kata nyanyian ini habis dinyanyikan, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan di depan
Kwan Cu berdiri seorang laki-laki muda yang tampan dan aneh pakaiannya. Bajunya lebar panjang
berkembang-kembang, kepalanya ditutup oleh kopyah. Wajahnya tampan dan usianya tidak berselisih
banyak dengan usia Kwan Cu. Tubuhnya tegap dan wajahnya selalu tersenyum-senyum mengejek.
Lagaknya kelihatan angkuh dan tinggi hati. Tapi sepasang matanya yang mengeluarkan cahaya berapi itu
menandakan bahwa dia bersemangat besar serta memiliki kepandaian dan tenaga dalam yang sudah
tinggi.
"Ehhh, bocah!" katanya dengan lagak sombong. "Siapa kau yang dapat meniup suling menyanyikan lagu
itu?"
Kwan Cu tersenyum dan merasa betapa lucunya orang ini. Ia pun bangkit berdiri dengan tenang,
memandang dengan penuh perhatian dan tidak segera memberi jawaban.
Yang membuat Kwan Cu tertarik dan merasa lucu adalah pakaian pemuda itu. Bajunya berkembangkembang
besar seperti yang biasa dipakai oleh kaum wanita dan alangkah lucunya topi itu! Topi bukan
kopyah pun bukan, benar-benar sangat lucu. Memang aneh sekali manusia ini, aneh seperti nyanyiannya
pula.
"Bocah tolol, mengapa kau tersenyum-senyum saja? Apakah kau tuli?"
"Aku tidak tuli dan juga tidak buta. Justru karena aku tidak tuli dan tidak buta maka aku mendengar dan
melihat kau yang amat lucu ini."
"Apa katamu? Aku lucu?" la memandangi pakaiannya sendiri, lalu mengangkat dada dan tersenyum puas.
"Memang, memang aku terkenal amat tampan dan lucu, lagi gagah!"
Kwan Cu menggerakkan hidungnya seperti kalau sedang mencium bau yang tidak enak. "Lucu memang
lucu, tentang tampan boleh jugalah, akan tetapi gagah? Ahh, kau bahkan kelihatan seperti seorang
perempuan!"
Pemuda aneh itu mengangkat alisnya. "Apa?! Kau jangan menghina, ya? Kau ini pemuda masih hijau
berani lancang mulut. Kau kira berhadapan dengan siapa? Akulah seorang pemuda yang gagah dan tidak
hanya gagah, tetapi juga terpelajar. Aku seorang Bun-bu Coan-jai (ahli silat dan surat). Kau lihat ini?" la
menggerakkan kedua tangannya ke arah pinggang dan tahu-tahu kedua tangannya itu telah memegang
sepasang poan-koan-pit (senjata yang berupa sepasang alat menulis atau pensil Tiongkok).
"Hemmm, itu adalah sepasang poan-koan-pit yang sering kali digunakan oleh anak-anak yang sedang
belajar menulis," kata Kwan Cu sengaja mempermainkan. Kwan Cu timbul kejenakaan dan
kegembiraannya bertemu dengan pemuda yang aneh ini.
"Belajar menulis telingamu!" Pemuda itu memaki gemas. "Dengan pit di tangan kanan aku dapat
menuliskan syair-syair gubahan pujangga Tu Fu yang kukagumi! Dengan pit di tangan kiri aku dapat
melukis gambar seperti yang dilakukan oleh ahli silat Siang Koan yang sakti! Itu kalau aku menjadi seorang
ahli kesenian. Kalau aku menjadi ahli silat, pit di tangan kiriku ini dapat mencabut nyawa musuh dan pit
dunia-kangouw.blogspot.com
pada tangan kanan ini dapat mengantarkan lawanku ke neraka!"
Kwan Cu tertawa bergelak. Perutnya sampai terasa kaku karena dia tertawa terpingkal-pingkal. Ia melihat
betapa pemuda ini penar-benar amat lucu, karena dia dapat mengerti bahwa semua lagaknya yang
kelihatan sombong luar biasa itu sesungguhnya hanyalah dibuat-buat belaka.
Di balik kelucuan dan kesombongan ini, dia melihat seorang pemuda berjiwa luhur dan berwatak aneh.
Juga garis-garis pada jidatnya menandakan bahwa pemuda ini semuda itu telah mengalami kepatahan hati
dan pernah mengalami kehancuran batin yang penuh kecewa dan duka.
"Kenapa kau tertawa lagi, Tolol?" bentak pemuda berkopyah itu.
Kwan Cu memperlihatkan sulingnya. "Aku sih tidak terlalu pintar seperti engkau. Namun dengan sulingku
ini agaknya aku tidak usah mengaku kalah padamu, hai orang lucu yang pandai menyanyikan lagu aneh.
Engkau masih pernah apakah dengan Hang-houw-siauw Yok-ong?"
Pemuda itu tidak menjawab, hanya matanya tertuju kepada suling itu dengan melongo. Kemudian dia
menatap wajah Kwan Cu yang menjadi amat kaget ketika melihat betapa. sepasang mata itu kini berubah
tajam menyelidik dan cerdik sekali.
"Hemm, kau tentulah Lu Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai!" katanya tiba-tiba dan lenyaplah untuk sesaat
kelucuan mukanya.
Kwan Cu terkejut. "Ehh, kau siapakah, sahabat? Bagaimana pula kau dapat mengetahui namaku?" Kwan
Cu menjadi curiga dan mengira bahwa pemuda ini jangan-jangan kawan dari An Kai Seng yang sengaja
mencari perkara.
"Sulingmu adalah pemberian suhu."
Berseri-seri wajah Kwan Cu. "Aha, jadi kau adalah murid dari Hang-houw-siauw Yok-ong, locianpwe yang
budiman itu? Pantas saja kau begini aneh. Siapakah namamu, saudara yang gagah perkasa?"
"Panggil saja aku Hok Peng. Sekarang berhati-hatilah, aku akan menyerangmu dengan poan-koan-pit!"
Baru saja kata-kata ini selesai diucapkan, dia sudah menyerang Kwan Cu dengan hebatnya!
Kwan Cu kaget dan cepat melompat ke belakang. "Gilakah kau? Tiada hujan tiada angin menyerangku?"
tanyanya mendongkol sekali.
"Kau berkenan mendapat hadiah suling wasiat dari suhu, kini hendak kulihat apakah kau patut menerima
hadiah itu!" jawab pemuda aneh itu dan kembali dia menyerang dengan hebat. Pada waktu dia menyerang,
gerakannya amat cepat dan tubuhnya ringan sekali, melompat-lompat seperti tidak mengambah bumi saja.
Kwan Cu merasa kagum sekali. Terang bahwa Hok Peng memiliki ginkang yang tinggi dan melihat cara dia
menyerang, sepasang poan-koan-pit itu pun sangat lihai dan tidak boleh dipandang ringan. Cepat Kwan Cu
memasang kuda-kuda dan melayaninya dengan suling di tangannya.
Pada saat dia melihat Hok Peng menusuk ke arah iganya dengan totokan yang lihai, dia cepat-cepat
menggerakkan suling dari atas ke bawah, menindih pit kanan lawannya dan tubuhnya doyong ke belakang
seperti mau jatuh. Akan tetapi sebetulnya bukan demikian, melainkan Kwan Cu siap siaga dengan tangan
kirinya menjaga kalau-kalau pit di tangan kiri lawannya bergerak.
Benar saja, Hok Peng berseru, "Bagus sekali!"
Karena merasa betapa tindihan suling dan pit kanannya itu luar biasa beratnya sehingga lengan kanannya
tergetar, dengan kecepatan kilat selagi kedua kakinya masih terapung seperti terbang, pit kirinya kemudian
menusuk leher Kwan Cu.
Kwan Cu yang sudah menduga lebih dulu karena melihat gerakan pundak kiri Hok Peng, segera
melepaskan tindihan sulingnya dan tangan kirinya cepat memapaki pit itu dengan jari-jemari ditekuk karena
dia melakukan gerakan merampas dari ilmu silatnya Kong-ciak Sin-na yang lihai!
Hok Peng tertawa mengejek dan secepatnya menarik kembali pit kirinya. Pada saat itu kedua kakinya telah
dunia-kangouw.blogspot.com
menginjak tanah lagi dan dengan gerakan saling susul, kedua pitnya kini melakukan serangan bertubi-tubi.
la betul-betul mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menguji pemuda yang pernah dipuji-puji oleh
Hang-houw-siauw Yok-ong dan yang telah menerima hadiah suling dari gurunya itu.
Kwan Cu tidak mau kalah dan menggerakkan sulingnya secara cepat sekali. Diam-diam dia mempelajari
semua gerakan ilmu silat dari Hok Peng dan Kwan Cu harus mengaku bahwa pemuda aneh dan lucu itu
benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali.
Kalau dibandingkan, kepandaian Hok Peng ini bahkan masih mengatasi kepandaian An Kai Seng atau Wi
Wi Toanio. Bahkan kalau dibandingkan pula dengan murid-murid tokoh besar, masih lebih menang sedikit
dari pada Lu Thong. Kiranya hanya Sui Ceng seorang yang akan sanggup menghadapinya dengan
kepandaian seimbang.
Bagi Kwan Cu sendiri, walau pun dia mengakui akan kelihaian sepasang senjata Hok Peng, namun sekali
melihat saja dia sudah dapat menangkap inti sari dari pada ilmu silat lawannya. Ini berkat pengetahuannya
tentang pokok dasar dari pada segala pergerakan tubuh dalam bersilat yang diwarisinya dari kitab Im-yang
Bu-tek Cin-keng.
Kalau tadinya Hok Peng menyerang sambil tersenyum-senyum mengejek, kini berkali-kali dia
mengeluarkan seruan kagum. la benar-benar merasa aneh dan tidak mengerti bagai mana semua jurus
simpanan yang dia pelajari dan yang biasanya berupa jurus ampuh yang tidak sembarangan dapat
dihindari oleh lawan-lawannya, kini dengan mudah dapat dipatahkan oleh Kwan Cu.
"Kau lihai sekali!" serunya sampai tiga kali. "Coba kau terima ini!"
Sekarang dia mengubah caranya bersilat. Sepasang poan-koan-pit di tangannya itu kini bergerak secara
aneh dan luar biasa, datang dari depan bagaikan gelombang samudera dan menerjang bertubi-tubi dari
atas laksana hujan badai. Hok Peng telah mengeluarkan ilmu silat paling hebat dari semua pelajarannya,
ilmu silat yang boleh dimainkan dengan kedua tangan kosong mau pun dengan senjata yang sepasang,
yang oleh gurunya dinamakan Ilmu Silat Badai dan Ombak.
Kwan Cu pun tercengang menghadapi serangan hebat ini. Dari kedua tangan Hok Peng seakan-akan
keluar tenaga mukjijat yang luar biasa sekali, sedangkan sepasang pit itu menyambar-nyambar, sungguh
hebat sekali ilmu silat pemuda aneh ini.
Satu kali ini Kwan Cu benar-benar menemui lawannya, lawan yang sangat tangguh dan lihai. Apa bila tadi
dengan pandangan matanya yang awas serta dengan pengertiannya yang mutlak tentang pokok dasar
segala gerakan silat Kwan Cu dapat menghadapi Ilmu Silat Badai dan Ombak ini, dia menjadi terkejut
sekali. Ilmu silat ini dilakukan dengan kecepatan yang amat luar biasa sehingga dia tidak sempat untuk
mempelajari sarinya.
Terpaksa Kwan Cu melawan dengan ilmu silatnya pula, dan dia tidak sekali-kali berani berlaku ayal, karena
dia pun merasa penasaran kalau sampai kalah oleh pemuda aneh ini. Cepat-cepat Kwan Cu mengerahkan
lweekang-nya dan mainkan ilmu pukulan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan
kanannya masih mainkan sulingnya, kini dengan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat.
Bukan main hebatnya pertempuran ini. Keduanya sama lincah, sama cepat dan sama kuat. Makin kagum
hati Kwan Cu, karena pemuda ini tahu bahwa kalau dia tidak pernah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang
Bu-tek Cin-keng, pasti dia akan kalah. Seratus jurus lewat dan masih saja belum ada yang kalah atau
menang di antara mereka.
Sebaliknya, Hok Peng kini benar-benar terkejut. Dia telah memainkan seratus jurus ilmu silatnya yang
dahsyat, namun tetap saja dia tidak mampu mengalahkan lawannya. Ilmu Silat Badai dan Ombak ada
seratus dua puluh jurus dan kini dia sudah mainkan seratus jurus, masih tinggal dua puluh jurus lagi.
Tiba-tiba dia teringat, betapa semenjak tadi Kwan Cu tidak pernah membalasnya, hanya mengelak dan
menangkis saja, sedangkan dari kedua lengan pemuda itu mengepul uap putih yang memiliki pengaruh
hebat atas hawa pukulannya.
Aduh, celaka, pikirnya.
Tidak salah lagi! Kwan Cu tentu sedang mempelajari ilmu silatnya dan kalau sampai dia terus mainkan
dunia-kangouw.blogspot.com
semua ilmu Silat Badai dan Ombak yang masih dua puluh jurus lagi, sama halnya dengan menghadiahkan
ilmu silat itu kepada Kwan Cu!
Tiba-tiba Hok Peng menghentikan serangannya dan melompat mundur. Wajahnya pucat dan dia
menyimpan kembali poan-koan-pitnya, lalu tersenyum pahit.
"Aku sudah kena kau akali! Kau tentu sudah mewarisi Im-yang Bu-tek Cin-keng!"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Kwan Cu balas bertanya karena dia pun merasa amat suka dan kagum
kepada pemuda lucu ini.
"Siapa pun juga yang tidak memiliki Im-yang Bu-tek Sin-kun (Ilmu Silat sakti dari Im-yang Bu-tek Cin-keng),
tidak akan mungkin mampu menahan serangan-seranganku tadi tanpa membalas sedikit pun. Dan kau
tentu sudah mencatat di dalam hatimu sebanyak seratus jurus ilmu silatku tadi."
Kwan Cu tersenyum. "Hok Peng, sahabat baik. Kau sudah beruntung sekali bisa menjadi murid Hanghouw-
siauw Yok-ong, apa ruginya membagi sedikit kepadaku? Ilmu silatmu tadi benar-benar hebat, aku
takluk padamu."
Merah wajah Hok Peng. "Sudahlah, bertemu dengan orang semacam kau apa gunanya membicarakan
tentang ilmu silat? Suhu sendiri kiranya belum tentu dapat mengalahkan engkau, karena kata suhu, siapa
yang mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, tak akan terlawan oleh siapa pun juga. Baiknya Badai
dan Ombak masih ada dua puluh jurus lagi yang belum kau lihat. Aku akan menggembleng yang dua puluh
jurus itu dan siapa tahu kalau kelak yang dua puluh jurus ini akan dapat mengalahkan engkau."
"Ehh, saudara Hok Peng, apakah kau begitu haus akan kemenangan? Kau benar-benar murka sekali,
kurang apa lagi kepandaianmu? Kau menjadi murid seorang sakti seperti Yok-ong locianpwe, pandai ilmu
silat, pandai ilmu pengobatan, dan pandai meniup suling dan bernyanyi."
Mulut Hok Peng cemberut. "Sayang sekali, dalam ilmu pengobatan otakku terlalu keras sehingga hanya
dapat mempelajari sedikit saja, ada pun mengenai menyuling, kau lebih pandai. Kalau tidak begitu,
bagaimana suhu memberikan sulingnya padamu? Ahh, Kwan Cu, setelah kita saling mengukur
kepandaian, aku tidak kecewa melihatmu. Hanya saja masih ada penasaran dalam hatiku melihat betapa
kau benar-benar tidak kenal budi dan kebaktian terhadap gurumu."
Kwan Cu terkejut dan marah. "Ehh, omongan apa yang kau keluarkan ini? Membuta tuli menuduh orang
lain tanpa alasan. Boleh jadi aku Lu Kwan Cu memang seorang bodoh dan kasar, akan tetapi bagaimana
kau bisa bilang aku tidak kenal budi dan kebaktian?"
"Tentu saja kau tidak kenal budi dan kebaktian. Gurumu tewas dalam penasaran besar, dikeroyok orangorang
yang curang, mengapa kau diam saja dan enak-enak seperti tidak terjadi apa-apa, bukankah ini
menandakan bahwa kau tak kenal..."
"Tahan lidahmu, Hok Peng! Aku sekarang juga sedang mencari-cari mereka yang sudah membunuh suhuku
dan aku pasti akan membalaskan sakit hati suhu sekaligus menagih hutang nyawa mereka!"
Hok Peng tersenyum, dan matanya yang tajam memandang penuh selidik. "Bagus, kau tidak bohong. Aku
tarik kembali tuduhanku bahwa kau tak kenal budi dan kebaktian, akan tetapi kau ternyata tolol."
"Ahh, apakah kau masih belum puas dan ingin mengajak berkelahi lagi?" tanya Kwan Cu gemas.
"Aku bukan sembarangan menuduh saja. Kau memang tolol kalau belum juga tahu siapa adanya orangorang
yang mengeroyok dan membunuh gurumu Ang-bin Sin-kai itu."
"Mereka adalah Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo, dan Toat-beng Hui-houw!" kata Kwan Cu.
Hok Peng melengak. "Eh, ehh, jadi kau sudah tahu pula? Memang tiga orang locianpwe itulah
pembunuhnya, dengan jalan mengeroyok secara tak tahu malu dan curang sekali! Kalau begitu kau
memang tidak tolol, hanya bodoh sekali."
"Hemm, apa lagi yang menyebabkan kebodohanku?" tanya Kwan Cu, kali ini tidak marah lagi karena
memang semua kata-kata yang lucu dari Hok Peng beralasan dan agaknya orang ini boleh sekali dijadikan
dunia-kangouw.blogspot.com
kawan baik.
"Karena kau tentu akan membuang waktu dengan sia-sia kalau kau mencari-cari mereka itu, padahal
mereka berada di..."
"Puncak Tai-hang-san pada Gouw-gwe Cap-gouw!" Kwan Cu menyambung cepat.
Kembali Hok Peng melengak. Sepasang matanya yang bundar seperti kelereng itu lantas bergerak-gerak
memandang, kemudian dia mengangguk-angguk.
"Hemm, jadi kau sudah tahu pula? Baik, baik, bagus! Akan tetapi tetap saja kau masih bodoh. Jalan yang
terdekat ada mengapa mengambil jalan jauh? Bukankah itu bodoh namanya?"
"Hok Peng yang baik, dalam hal ini aku mengaku bodoh. Memang aku belum kenal jalan dan aku hanya
melalui jalan menurut keterangan orang-orang yang kutemui. Aku mohon petunjukmu, jalan manakah yang
terdekat ke Tai-hang-san itu?"
"Kalau dilihat dari jauh, memang agaknya puncak Tai-hang-san berada di sisi utara dan agaknya kalau
mau ke puncak, jalan dari utara adalah jalan terdekat. Akan tetapi kalau kau lanjutkan kepercayaanmu ini,
percayalah bahwa sampai waktu Gouw-gwe Cap-gouw tiba, kau belum dapat sampai ke puncak. Jalan dari
utara ini banyak sekali halangannya, terhalang oleh jurang-jurang berbahaya dan oleh hutan-hutan lebat
yang akan membikin kau tersesat jalan sehingga akhirnya kau akan terlambat. Kalau kau mengambil jalan
dari timur, dari kaki pegunungan terus menanjak ke barat, kau akan sampai di sana dengan cepat dan
kiranya masih belum terlambat jika sekarang juga kau melanjutkan perjalanan. Akan ramai sekali di sana "
Setelah berkata demikian, pemuda aneh ini lalu pergi sambil bernyanyi-nyanyi, tidak mempedulikan lagi
kepada Kwan Cu.
"Hok Peng, terima kasih, kau baik sekali!" Kwan Cu berseru girang ke arah pemuda itu yang sama sekali
tidak mempedulikan seruannya.
Akan tetapi Kwan Cu juga tak mengharapkan jawaban dari pemuda yang aneh itu, sebab dia maklum
bahwa orang-orang seperti Yok-ong dan muridnya ini adalah orang-orang yang wataknya memang aneh
dan lain dari pada orang-orang biasa.
Dengan cepat Kwan Cu lalu melanjutkan perjalanannya. Sekarang dia mengubah arah perjalanannya, tidak
lagi hendak mendaki Bukit Tai-hang-san dari utara, melainkan dari timur seperti yang dinasehatkan oleh
Hok Peng…..
********************
Pada waktu yang bersamaan, banyak orang lain juga mendaki Bukit Tai-hang-san dari jurusan-jurusan
yang berlawanan atau berlainan. Orang-orang tua yang kelihatannya aneh, orang-orang muda yang
bertubuh tegap dan kekar, nenek-nenek yang aneh dan gagah, semua pergi mendaki Bukit Tai-hang-san
dan kesemua orang ini berjalan dengan gerakan cepat seperti terbang.
Di antara sekian banyaknya orang-orang gagah yang naik ke Tai-hang-san, terdapat pula Kiu-bwe Coa-li,
nenek yang menjadi tokoh besar dunia persilatan, yang namanya lebih ditakuti dari pada nama raja iblis
oleh orang-orang dari jalan hitam (penjahat), karena Kiu-bwe Coa-li terkenal bertangan baja dan berjari
maut.
Meski pun tokoh selatan ini sekarang sudah kelihatan amat tua, namun wajahnya masih saja kelihatan
keras dan sepasang matanya benar-benar amat berpengaruh dan jarang ada orang berani menentang
pandang matanya yang bagaikan pedang pusaka tajamnya. Nenek sakti ini naik Pegunungan Tai-hang-san
dengan perlahan saja, namun dua orang muda yang berjalan di kanan kirinya harus mengerahkan ginkang
agar jangan sampai tertinggal oleh Kiu-bwe Coa-li!
Dua orang muda itu adalah Bun Sui Ceng dan The Kun Beng. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sui
Ceng dan Kun Beng melakukan perjalanan bersama menuju tempat tinggal Kiu-bwe Coa-li yang pada saat
itu sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan ingin melanjutkan pelajarannya bertapa.
Akan tetapi, ketika Sui Ceng dan Kun Beng datang dan berlutut di depan wanita sakti ini, Kiu-bwe Coa-li
terlihat sedang marah-marah. Hal ini dapat diketahui oleh Sui Ceng sebab gadis yang sejak kecil ikut
dunia-kangouw.blogspot.com
gurunya ini tentu saja sudah kenal baik akan watak gurunya yang aneh.
"Kau datang padaku ada apakah, Sui Ceng?" tanya Kiu-bwe Coa-li tanpa mempedulikan Kun Beng yang
juga berlutut di depannya.
"Teecu... teecu sudah kangen kepadamu, Suthai dan... dan teecu telah... telah bertemu dengan dia ini."
Kiu-bwe Coa-li memandang ke arah Kun Beng melalui ujung hidungnya, hanya sedetik saja sinar matanya
yang tajam itu menyapu wajah dan tubuh Kun Beng.
"Siapa dia?" tanyanya, suaranya membuat Kun Beng merasa dingin tengkuknya.
Nenek sakti ini benar-benar hebat sekali, hebat serta menakutkan, pikirnya. Lebih aneh dari pada suhu-nya
sendiri, Pak- lo-sian Siangkoan Hai yang sudah amat aneh.
"Maafkan teecu yang berani lancang menghadap tanpa diperintah," kata Kun Beng tanpa berani
mengangkat mukanya, "teecu adalah The Kun Beng."
"Ahh, jadi kau adalah murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai si tua bangka? Coba kau angkat mukamu!"
Kun Beng terpaksa mengangkat mukanya memandang dan dia terkejut sekali melihat sinar mata nenek itu
penuh selidik memandang mukanya. Dia tidak tahan menatap sinar mata itu lebih lama lagi dan kembali
dia menunduk.
"Apa maksudmu datang bersama Sui Ceng ke sini?" tanya Kiu-bwe Coa-li tegas.
"Teecu... teecu bersama Ceng-moi hendak... hendak mohon kepastian tentang... tentang perjodohan..."
Sesudah mengucapkan kata-kata ini, Kun Beng menjadi merah mukanya, demikian pula Sui Ceng
menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Tiba-tiba saja tangan Kiu-bwe Coa-li bergerak dan entah kapan mengambilnya, tahu-tahu cambuknya yang
berekor sembilan itu telah bergerak di tangannya dan meluncur cepat ke arah tubuh Kun Beng.
"Suthai!" Sui Ceng menjerit karena murid ini sudah mengenal betul sifat cambuk ini, yakni sekali digerakkan
tentu mengambil sedikitnya satu nyawa orang!
Sembilan ekor cambuk itu melayang-layang di atas tubuh Kun Beng dan secepat kilat menyambar, lalu
sebuah ekor cambuk menotok jalan darah di pundak pemuda itu tanpa dapat dielakkan lagi!
Kun Beng merasa sambaran angin yang luar biasa keras dan cepatnya. Dia tidak dapat mengelak atau
menangkis lagi, maka cepat dia mengerahkan tenaga lweekang-nya yang dikumpulkan ke arah pundak
sambil menahan napas untuk menerima datangnya totokan ini.
Kekhawatiran Sui Ceng sebetulnya tidak ada artinya. Dalam serangan ini Kiu-bwe Coa-li hanya
mempergunakan sebagian tenaganya dan dia sudah tahu bahwa dengan tenaga sebesar itu, muridnya
sendiri akan dapat menerima totokan tanpa menghadapi bahaya.
Oleh karena itu, kalau pemuda ini sanggup menerimanya, barulah dia terhitung memiliki kepandaian yang
seimbang dengan muridnya sehingga patut menjadi suami muridnya. Pendeknya, serangan ini merupakan
ujian atau percobaan terhadap Kun Beng!
Ketika jalan darah pada pundaknya terkena totokan ujung cambuk itu, Kun Beng merasa seluruh tubuhnya
tergetar. Akan tetapi dia merasa lega karena ternyata dengan tenaga lweekang-nya dia dapat menahan
totokan itu dan tidak sampai terluka. Kiu-bwe Coa-li menarik kembali cambuknya dan menganggukanggukkan
kepalanya.
"Kau cukup berharga menjadi suami Sui Ceng. Akan tetapi pada saat seperti ini jangan bicarakan tentang
perjodohan!"
Sui Ceng mengangkat mukanya memandang kepada gurunya dengan penasaran. Gadis ini biar pun amat
sayang dan taat kepada gurunya, akan tetapi kadang-kadang ia berani membantah. Memang di dunia ini
orang satu-satunya yang berani menentang Kiu-bwe Coa-li, kiranya hanyalah Sui Ceng seorang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelum menghadap gurunya, Sui Ceng telah melakukan perjalanan bersama Kun Beng dan selama ini
hubungan mereka semakin rapat. Sui Ceng tidak melihat sesuatu yang mengecewakan dalam diri
tunangannya.
Kun Beng merupakan seorang pemuda tampan dan gagah berani, pula sopan santun. Timbullah rasa cinta
di dalam hati Sui Ceng terhadap tunangannya ini sebagai jodohnya. Mendapatkan Kun Beng sebagai
suami kiranya tidak mengecewakan, karena jarang ada pemuda seperti Kun Beng.
Oleh karena hatinya sudah bulat-bulat menyetujui perjodohan ini, tentu saja dia menjadi kaget mendengar
omongan gurunya yang seakan-akan tidak menyetujui. Ia mengangkat muka dan memandang muka Kiubwe
Coa-li.
Biar pun bibirnya tidak mengeluarkan sepatah pun kata, nenek tua itu sudah tahu akan isi hati muridnya,
maka sambil tersenyum mengejek ia berkata,
"Sui Ceng, tentang perjodohan boleh diundurkan dulu. Sekarang pinni (aku) menghadapi urusan yang jauh
lebih besar. Si bedebah Kiam Ki Sianjin agaknya terlalu memandang rendah kepadaku sehingga dia
mengirimkan undangan untuk mengadakan pertemuan di puncak Tai-hang-san. Dalam suratnya dia
menyatakan bahwa dia mengundangku karena mengingat bahwa aku pernah menyerang istana, hal ini
berarti bahwa aku mencampuri urusan kerajaan. Ia hendak mengadakan pertemuan dengan orang-orang
yang anti dan pro kaisar. Padahal dengan membongkar-bongkar urusan lama, dia akan mengingatkan aku
bahwa aku pernah kalah ketika menyerbu ke istana! Bangsat tua tidak tahu malu, aku memang kalah pada
waktu itu, akan tetapi aku kalah karena dikeroyok oleh banyak orang." Kiu-bwe Coa-li menghentikan katakatanya,
dan mukanya menunjukkan bahwa dia marah sekali.
"Kalau begitu, apakah kehendak Suthai selanjutnya?" tanya Sui Ceng.
"Aku tidak sudi mencampuri urusan kerajaan. Akan tetapi aku tetap seorang Han dan kalau disuruh
memilih antara Kaisar Han dan kaisar asing, tentu saja aku memilih kaisar bangsa sendiri, betapa pun jahat
dan lalimnya dia! Kiam Ki Sianjin memandang rendah kepadaku dan aku harus membasmi orang-orang itu
yang menjadi penjilat kaisar asing dan mengkhianati bangsa sendiri. Sui Ceng, kau dan aku harus pergi ke
Tai-hang-san. Kun Beng ini boleh ikut juga. Dalam pertemuan besar ini, tua bangka Pak-lo-sian pasti akan
hadir juga sehingga sekalian kita bicarakan urusan perjodohan kalian dengan tua bangka itu."
Ucapan Kiu-bwe Coa-li ini merupakan perintah dan tidak boleh dibantah lagi. Sui Ceng menjadi girang
sekali, akan tetapi Kun Beng menjadi gelisah.
Celaka, pikirnya. Kalau benar suhu-nya pergi ke Tai-hang-san, tentu suheng-nya Gouw Swi Kiat akan
berada di sana pula. Bagaimana jika suheng-nya itu menceritakan semua peristiwa yang terjadi antara
dirinya dan Kui Lan? Tentu suhu-nya akan marah besar dan akan celakalah dia. Tidak saja akan dimusuhi
oleh suheng-nya, bahkan kalau Sui Ceng mengetahui akan hal itu, tentu tunangannya akan berubah benci
kepadanya.
Akan tetapi Kun Beng memang cerdik dan dapat memandang jauh. Ia sudah kenal betul akan watak Swi
Kiat yang keras dan angkuh. Sangat tidak mungkin suheng-nya itu mau membuka rahasia adik sendiri
kepada orang lain, meski pun kepada suhu sendiri tentu tidak.
Urusan ini meski pun menjelekkan nama Kun Beng, namun yang akan lebih rusak nama dan kehormatan
keluarganya adalah Gouw Kui Lan, karena sebagai seorang wanita ialah yang akan mengalami keburukan
nama lebih hebat dari pada seorang pria. Dan Swi Kiat pasti tahu akan hal ini dan takkan membuka mulut.
Siapa lagi kalau bukan Swi Kiat yang tahu akan urusan itu?
Kun Beng merasa lega hatinya. Ia tidak takut kalau hanya Swi Kiat yang memusuhinya, karena selain dia
memiliki kepandaian yang tak kalah oleh Swi Kiat, juga dengan adanya Sui Ceng di sampingnya, Swi Kiat
akan bisa berbuat apakah? Setelah berpikir demikian, hatinya lega dan dia ikut dengan Kiu-bwe Coa-li dan
Sui Ceng ke Tai-hang-san.
Sesudah mulai menanjak ke pegunungan, rombongan Kiu-bwe Coa-li bertemu dengan tokoh-tokoh besar
yang juga hendak mendaki pegunungan itu, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li sudah memesan kepada Kun Beng
dan Sui Ceng agar supaya menutup mulut dan tidak menegur siapa pun juga, biar pun ada yang sudah
mereka kenal.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Menghadapi urusan besar ini, kalian harus membuka mata membuka telinga akan tetapi menutup mulut
rapat-rapat!"
Kiu-bwe Coa-li dan dua orang muda itu mendaki bukit dari selatan maka mereka tidak bertemu dengan
Kwan Cu yang naik dari jurusan timur. Pemuda ini berjalan seorang diri dengan cepatnya.
Puncak Gunung Tai-hang-san menjulang tinggi, bermain dengan mega-mega putih dan memang
kelihatannya berada di sebelah utara. Akan tetapi benar seperti yang dikatakan oleh Hok Peng,
perjalanannya dari timur sangat mudah dan selalu puncak itu kelihatan, tidak tertutup oleh hutan-hutan
yang terlalu lebat sehingga dalam perjalanan ini Kwan Cu tak pernah takut kalau-kalau jalannya tersasar.
Ketika dia tiba di lereng Bukit Tai-hang-san dan sedang berjalan dengan cepat, tiba-tiba dia melompat dan
hampir saja dia menubruk seorang tua yang sedang duduk di bawah pohon, menyandarkan tubuh pada
batang pohon itu dengan kedua kakinya yang panjang dilonjorkan menghalang jalan.
Kwan Cu benar-benar merasa terkejut dan dia menggosok-gosok kedua matanya. Tadi dari jauh dia tidak
melihat ada orang duduk di situ, bagaimana tiba-tiba saja ada kakek yang duduk dengan dua kaki
menghalang jalan? Hampir saja dia menginjak kaki itu kalau dia tidak cepat-cepat melompat.
"Bocah-bocah jaman sekarang amat kurang ajar!" Kakek itu berkata menggerutu sambil menggaruk-garuk
kepalanya. "Ada orang tua duduk sengaja dilompati saja tanpa permisi. Benar-benar tidak sopan!"
Kwan Cu yang sudah berhasil menghindarkan diri sehingga tidak menginjak kaki orang cepat membalikkan
tubuh memandang. la hendak menegur orang ini yang tentu sengaja ingin mempermainkannya karena dia
sudah tahu bahwa orang itu sengaja menunjukkan kepandaiannya yang luar biasa, tahu-tahu duduk di situ
hingga dia tidak tahu bila kakek itu datang. Akan tetapi sekarang kakek itu malah menegurnya!
Ketika melihat muka orang yang menegurnya, Kwan Cu merasa kaget dan heran. Yang duduk itu adalah
seorang kakek yang mukanya hitam seperti pantat kuali, hitam sekali seperti malam gelap. Belum pernah
selama hidupnya dia melihat muka sehitam ini.
Bangsa apakah dia? Apa bila dilihat dari potongan mukanya, terang bahwa dia adalah seorang bangsa
Han biasa saja yang bertubuh jangkung kurus, akan tetapi kenapa kulit mukanya begitu hitam? Kulit tubuh
bagian lain biasa saja, putih serta halus, hanya pada bagian muka yang amat hitam sehingga sulit untuk
mengenal muka ini, kecuali sepasang matanya yang mencorong dan berpengaruh.
Kwan Cu merasa seperti pernah melihat mata seperti ini. Akan tetapi, oleh karena muka yang luar biasa
warnanya itu, dia tidak dapat mengenal lagi.
"Ang-bin Sin-kai meninggalkan warisan ilmu silat, akan tetapi tidak meninggalkan warisan budi pekerti
sehingga muridnya menjadi seorang kasar, tidak dapat menghormati orang yang lebih tua," Kakek itu
bicara lagi, menggerendeng seorang diri.
Kembali Kwan Cu tertegun. Suara ini berbeda sekali dengan tadi, kalau suara tadi parau dan kasar, kini
berubah menjadi halus dan tenang, suara yang telah pernah didengarnya. Agaknya orang ini sengaja
mengeluarkan suara seperti itu agar dia mengenalnya, akan tetapi betapa pun dia memeras otak, tetap
saja dia tidak dapat ingat lagi siapa adanya orang tua ini.
"Hari ini menerima hadiah, besok sudah lupa lagi akan pemberiannya, demikianlah watak manusia," lagilagi
kakek itu berkata dan kali ini Kwan Cu hampir saja menempeleng kepalanya sendiri.
"Bodoh benar, mengapa aku begini pelupa?" pikirnya.
Serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek yang masih duduk bersandar pada batang pohon
itu sambil berkata dengan girang,
"Locianpwe, mohon ampun sebesarnya atas kekurang ajaran teecu yang semenjak tadi tidak mengenali
Yok-ong Locianpwe. Bukan sekali-kali mendiang suhu Ang-bin Sin-kai yang salah, melainkan teecu sendiri
yang kurang ajar dan bodoh."
Tiba-tiba tubuh orang itu melompat tinggi melampaui atas kepala Kwan Cu. Pemuda ini merasa sambaran
dunia-kangouw.blogspot.com
angin ke arah lehernya, akan tetapi dia diam saja karena dia percaya penuh bahwa kakek raja tabib ini
adalah seorang locianpwe yang berbudi mulia, tidak mungkin mau mencelakakan dirinya. Bahkan dia sama
sekali tak mengerahkan lweekang untuk menjaga diri, karena takut kalau-kalau perbuatan ini malah akan
dianggap sebagai pameran. Kwan Cu merasa leher bajunya disambar orang dan di lain saat tubuhnya
telah ditarik dan dibawa pergi cepat sekali.
Ternyata bahwa kakek ini membawanya bersembunyi di belakang semak-semak belukar, mendekam di
sana tanpa mengeluarkan kata-kata. Sebelum Kwan Cu sempat bertanya, dia mendengar tindakan kaki
orang dari jauh.
Tindakan kaki ini berat sekali sehingga pohon-pohon serasa tergetar. Dengan telinganya yang tajam dia
dapat mengetahui bahwa yang datang adalah empat orang, dan agaknya salah seorang sengaja
menjatuhkan kaki dengan pengerahan tenaga luar biasa, ada pun yang tiga lagi sukar untuk ditangkap
suara derap kakinya, demikian ringan tubuh mereka melayang di atas tanah.
Sebentar saja, meluncurlah empat orang di jalan itu. Tiba-tiba tubuh Kwan Cu menggigil dan seluruh
tubuhnya terasa panas ketika dia melihat siapa adanya mereka ini. Orang pertama yang sengaja
menjatuhkan kaki dengan kerasnya tidak lain adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, musuh besar yang
telah mengeroyok dan membunuh suhu-nya! Ini yang membikin Kwan Cu naik darahnya dan membikin
tubuhnya menjadi panas sekali.
Orang ke dua adalah seorang kakek tua yang juga berjubah hitam seluruhnya seperti Hek-i Hui-mo, juga
kepalanya gundul dan tubuhnya tinggi kecil. Kembali dada Kwan Cu tergetar karena dia mengenal hwesio
yang dijumpainya pada malam hari dekat kelenteng di mana Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu
terbunuh. Tanpa terasa lagi Kwan Cu meraba sakunya dan teringat bahwa dia masih menyimpan sepotong
robekan kain dari jubah hitam hwesio ini.
Ada pun orang ke tiga dan ke empat adalah seorang tosu yang sudah amat tua, akan tetapi Kwan Cu tidak
mengenal mereka. Hanya sekejap saja dia dapat melihat mereka karena bagaikan bayang-bayang yang
cepat gerakannya mereka telah lenyap lagi, naik ke atas gunung.
Kakek bermuka hitam itu berdiri dan menghela napas panjang.
"Heran sekali, Bian Kim Hosiang dari Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu dari Kim-san-pai juga datang, akan
tetapi bersama-sama dengan Hek-i Hui-mo! Benar-benar lihai setan berbaju hitam itu, bisa menarik hati
dua orang ketua partai ini. Hemm, bahkan Coa-tok Lo-ong juga datang, bakal ramai sekali ini..." Kakek ini
berjalan perlahan keluar dari tempat persembunyian tanpa mempedulikan Kwan Cu.
Pemuda ini lalu bangkit berdiri dan mengikutinya. Tiba-tiba kakek itu berpaling padanya dan berkata,
"Kwan Cu, bagaimana kau bisa mengenalku?"
"Sesungguhnya teecu takkan mungkin dapat mengenal Locianpwe kalau saja Locianpwe tidak menolong
teecu dengan suara asli itu." Kwan Cu mengaku terus terang.
Hang-hauw-siauw Yok-ong tertawa dan memandang ke atas.
"Memang itulah baiknya orang menyamar. Kita bisa mengenal orang lain tanpa dikenal. Bukankah itu
menyenangkan sekali? Eh, Kwan Cu, bagaimana dengan kepandaianmu?"
"Teecu hanya bisa mainkan satu dua jurus pukulan, tiada harganya untuk diketahui oleh Locianpwe. Teecu
hanya mohon petunjuk dan pimpinan."
"Ha-ha-ha, semenjak dulu kau memang pandai merendah. Sikap yang amat baik sekali, anakku. Kau tadi
menjadi panas melihat mereka lewat, ada apa? Juga apa maksudmu berkeliaran di tempat ini?"
"Locianpwe, terus terang saja teecu hendak ke Tai-hang-san untuk menuntut balas atas kematian suhu.
Teecu hendak membalas dendam terhadap mereka yang mengeroyok suhu secara pengecut, yakni Hek-i
Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan Toat-beng Hui-houw!"
Yok-ong tersenyum lebar, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Memang itu sudah menjadi hak dan
kewajibanmu. Akan tetapi, apakah kepandaianmu sudah begitu tinggi sehingga kau seorang diri berani
dunia-kangouw.blogspot.com
menghadapi mereka bertiga?"
"Teecu datang bukan bermodalkan kepandaian, tapi bermodal semangat, kebenaran dan kebaktian
terhadap suhu."
"Agaknya kau telah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, bukan? Kulihat sinkang (tenaga
sakti) di dalam tubuhmu sudah tinggi sehingga dalam sekejap kau tadi dapat menindas hawa
kemarahanmu ketika kau melihat Hek-i Hui-mo. Bagus, memang kau patut menerima ilmu yang tinggi,
bakatmu amat besar. Akan tetapi harus kau ketahui bahwa tiga orang yang kau sebutkan tadi bukanlah
lawan yang boleh dibuat main-main."
"Teecu mengerti, Locianpwe, akan tetapi dalam memenuhi tugas ini, teecu menyediakan selembar nyawa
untuk taruhan. Tidak lain teecu hanya mohon petunjuk dari Locianpwe, mengingat akan baiknya hubungan
antara Locianpwe dengan mendiang suhu."
Hang-houw-siauw Yok-ong tertawa bergelak. "Kau memang cerdik dan pandai membawa diri. Sudah
kuketahui hal ini sejak kau masih kecil. Coba keluarkan sulingmu!"
Kwan Cu kagum. Kakek ini tanpa melihat sudah tahu bahwa suling pemberiannya dahulu masih dia bawa
terus. Dengan cepat dia mencabut keluar suling hijau itu. Mata Yok-ong bersinar girang.
"Coba kau serang aku sampai sepuluh jurus. Hendak kulihat apakah kau tidak hanya membuang nyawa
sia-sia dengan niatmu membalas dendam ini."
Kwan Cu tak berani membantah, akan tetapi dia ragu-ragu. Ilmu silat apa yang harus dia keluarkan untuk
menyerang Yok-ong? Untuk mengeluarkan ilmu silat ciptaannya sendiri, dia tidak berani karena hal ini akan
menimbulkan sangkaan bahwa dia menyombongkan diri dan memamerkan ilmu ciptaannya.
Kwan Cu maklum sedalam-dalamnya akan isi dari pada kepandaiannya. Dia lihai bukan karena
mempunyai ilmu-ilmu silat yang tinggi-tinggi, akan tetapi lihai karena dia sudah menghirup pengertian
tentang pokok dasar segala gerakan silat dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sehingga menghadapi musuh
dengan ilmu silat betapa tingginya pun dia takkan merasa kaget dan mampu mengenal ilmu silat itu sampai
ke dasarnya, bahkan dengan sekali melihat saja, dia dapat meniru segala macam ilmu silat itu. Jadi kalau
dia disuruh menyerang, sebenarnya ilmu silatnya tidak aneh, lebih-lebih bagi seorang ahli silat kelas tinggi
seperti Hang-houw-siauw Yok-ong.
"Harap maafkan teecu kalau berlaku kurang ajar!" katanya.
Dia lalu menyerang dengan sulingnya, dan memainkan jurus-jurus pilihan dari Hun-khai Kiam-hoat.
Dengan kebutan lengan bajunya, Yok-ong menangkis sampai tiga jurus, lalu berkata,
"Jangan pergunakan Hun-khai Kiam-hoat, kau takkan bisa menang menghadapi mereka. Gunakanlah ilmu
silat lain yang sudah kau pelajari!" celanya.
Kwan Cu mendongkol juga. Ilmu silat tinggalan Ang-bin Sin-kai dicela orang, ini sangat menyakitkan
hatinya. Akan tetapi dia tak berani menyerang seorang locianpwe yang dia hormati dan sayang, maka dia
lalu berkata,
"Teecu baru-baru ini mempelajari ilmu silat ini, harap Locianpwe tidak mencelanya!"
Tiba-tiba gerakan sulingnya diubah. Kini dia memainkan jurus-jurus dari Ilmu Silat Ombak dan Badai yang
pernah dilihatnya ketika dia melawan Hok Peng.
"Ayaaa...!" Yok-ong terkejut bukan main dan untuk beberapa lama dia hanya mengelak saja, membiarkan
Kwan Cu mainkan terus ilmu silat yang sesungguhnya adalah ilmu silat ciptaannya sendiri itu!
Diam-diam hati Kwan Cu menjadi geli dan dia mengerahkan ingatannya untuk mainkan terus ilmu silat itu
sampai tiga puluh jurus! Tiap jurus dia mainkan sebaik-baiknya seperti seorang murid baru yang
memperlihatkan latihan-latihannya kepada gurunya.
"Tahan...!" Yok-ong berteriak sambil berdiri dengan muka berkerut dan mata terbelalak. "Kwan Cu, bocah
nakal. Jangan kau mempermainkan aku. Hayo katakan, dari mana kau bisa mainkan ilmu silat ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu menjura. "Maafkan teecu, Locianpwe. Sesungguhnya beberapa hari yang lalu teecu kebetulan
bertemu dengan Hok Peng Loheng dan mendapatkan ilmu silat ini dari dia."
“Bagaimana? Aku masih belum mengerti. Apakah Hok Peng mengajarkan ilmu silat ini padamu?"
"Tidak sama sekali, Locianpwe. Hok-loheng memaksa teecu untuk main-main dan dia mempergunakan
ilmu silat ini mendesak teecu sehingga saking tertarik, teecu diam-diam mempelajari segala macam ilmu
silat yang dia keluarkan."
"Hemm, kau tentu sudah mengalahkannya."
"Sesungguhnya di antara teecu dan dia tidak ada yang kalah atau menang, kemenangan teecu adalah
berupa pelajaran ilmu silatnya itu Locianpwe." .
Yok-ong menggeleng-geleng kepala seperti orang tidak percaya. "Kau bertempur dengan dia, diserang
dengan ilmu silat ini dan dalam pertempuran itu kau telah bisa mempelajari ilmu silatnya?"
"Teecu sekedar meniru-niru saja, Locianpwe. Teecu hanya mempergunakan mata dan ingatan."
"Sampai berapa jurus dia menyerangmu?"
"Sampai seratus jurus, Locianpwe."
"Dan kau hafal semua?"
Yok-ong terbelalak ketika Kwan Cu mengangguk sambil berkata,
"Maaf, Locianpwe. Teecu bukan hafal, hanya meniru-niru dan tentunya gerakan teecu tak karuan. Tadi
teecu berani memperlihatkan karena Locianpwe minta supaya teecu jangan memainkan Hun-khai Kiamhoat.
Apa lagi yang harus teecu mainkan? Baiknya teecu lalu teringat akan ilmu silat yang teecu tiru-tiru
dari Hok Peng Loheng...… "
"Cukup! Kalau tidak melihat sendiri, aku tak akan percaya! Kau bertempur, melihat dan hafal! Bukan main.
Otakmu bukan otak manusia kiranya. Kau menjalankan tugas yang maha berat, meski pun aku percaya
bahwa kau mempunyai kecerdikan yang tidak dimiliki manusia biasa namun aku akan berdosa kepada
gurumu kalau tidak memberi sedikit petunjuk, sungguh pun mungkin tidak ada artinya bagimu. Nah, kau
lihat baik-baik bagai mana aku mainkan sulingku."
Ia bergerak maju dan di lain detik suling di tangan Kwan Cu sudah dirampasnya. Kalau pemuda ini
menghendaki tentu saja dia bisa menggagalkan perampasan suling ini, akan tetapi dia tak mau menghina
kakek ini dan sengaja berlaku lambat sehingga suling yang dipegangnya dapat dirampas.
Yok-ong lalu memainkan ilmu silat yang terdiri dari tiga puluh enam jurus. Ia mainkan itu perlahan sekali,
sulingnya hanya diubah-ubah kedudukannya, mirip seperti orang menari, bahkan suling itu setiap jurus
dipindahkan dari tangan kanan ke kiri dan sebaliknya. Akan tetapi, setelah mainkan habis tiga puluh enam
jurus, kakek ini melempar suling ke arah Kwan Cu. Pemuda ini menyambuti dan kagetlah dia karena suling
itu seakan-akan terisi api bukan main panasnya!
Ia melihat kakek itu berdiri sambil mengatur napasnya, seakan-akan ilmu silat yang tadi dimainkannya
amatlah sukar dan menghabiskan tenaganya.
"Itulah ilmu silatku yang selalu kusimpan baik-baik, bahkan Hok Peng sendiri tidak kuat mempelajarinya
semua, baru tiga puluh jurus dia pelajari, akan tetapi itu pun takkan dia keluarkan karena aku telah
memesan agar ilmu silat itu jangan sembarangan digunakan. Memang kuciptakan ilmu silat ini bukan untuk
bertempur, melainkan untuk berlatih dan untuk landasan menciptakan ilmu-ilmu silat lain dan kuberi nama
Hu-hiat I-kin-keng. Akan tetapi kalau terpaksa, dapat dipergunakan dan aku yakin dengan ilmu silat ini kau
akan dapat memecahkan semua ilmu silat dari lawan-lawanmu yang amat tangguh itu. Sudah bisakah kau
mainkan tiga puluh enam jurus tadi?"
"Akan teecu coba-coba, mohon Locianpwe memberi petunjuk."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu telah memiliki pengertian yang mendarah daging tentang pokok dasar gerakan ilmu silat. Tiap kali
melihat jurus silat dia menangkap inti sarinya, bukan gerakan-gerakan kembangannya, maka tentu saja
lebih mudah karena inti sari dari pada sejurus gerakan silat hanya sederhana saja. Yang berbelit-belit
sehingga membingungkan orang adalah kembangannya.
Ia mulai bersilat dengan sulingnya dan karena dia memang sudah hafal akan inti sari tiga puluh enam jurus
Ilmu Silat Hui-hiat I-kin-keng, dia dapat mainkan itu dengan kaku akan tetapi inti sarinya tepat sekali.
Yok-ong berdiri melongo sehingga mulutnya terbuka untuk beberapa lamanya. Sepasang matanya tak
pernah berkedip semenjak Kwan Cu bersilat dari jurus pertama sampai jurus terakhir.
"Apakah aku bermimpi?" Akhirnya dia menarik napas, melangkah maju dan memeluk Kwan Cu, "Anak
baik, kau bukan manusia kaulah dewa kalau memang di dunia ini ada dewa! Orang biasa saja kiranya akan
menghabiskan waktu sedikitnya lima tahun untuk dapat menguasai inti dari Hui-hiat I-kin-keng, akan tetapi
kau sekali melihat saja sudah memilikinya! Hebat, hebat...!"
Kwan Cu merasa dadanya sesak dan panas, juga suling yang dipakai bermain tadi amat panas, berkat
daya dari Hun-hiat I-kin-keng. Karena di dalam tubuhnya sudah mengalir hawa sinkang yang luar biasa dari
latihannya menurut petunjuk isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sesungguhnya permainan silat yang
membuat darahnya panas tadi dapat dia padamkan dengan hawa sinkang dalam tubuhnya. Akan tetapi
oleh karena dia tidak mau berpamer di hadapan Yok-ong, dia pun segera meramkan mata dan mengatur
napas. Kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di depan Yok-ong.
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari Locianpwe yang budiman."
"Kau pakailah ini pada mukamu, Kwan Cu. Kita tengah menghadapi urusan besar sekali dan bukan hal
yang bisa dibuat main-main. Kau ulas mukamu agar berubah warnanya."
Kwan Cu menerima bungkusan yang ketika dibuka berisi pupur warna merah. Yok-ong mengeluarkan guci
arak dan mencampur bubukan itu dengan arak, lalu dia membantu Kwan Cu memupuri muka pemuda itu
dengan ‘bedak’ istimewa ini.
Kwan Cu merasa mukanya kaku sekali, akan tetapi sebentar saja pupur itu telah menjadi kering dan ketika
Kwan Cu meraba-raba mukanya, muka itu sudah menjadi kaku dan tebal kulitnya, akan tetapi dia tidak
merasakan apa pun yang tidak enak.
Kalau saja dia dapat melihat mukanya sendiri, tentu dia akan langsung melonjak saking kagetnya sebab
mukanya sekarang telah menjadi lain sekali. Pada sekitar mata dan bibir membengkak, ada pun kulit
mukanya berubah merah sekali seperti udang direbus!
"Kelak kalau semua urusan sudah beres, dengan pekciu (arak putih) dan madu digosok-gosokkan pada
mukamu, maka kedok itu akan lenyap mencair," kata Yok-ong.
"Locianpwe, mengapakah kita harus menyamar? Apakah keadaannya benar-benar amat berbahaya?"
"Kau tidak tahu, Kwan Cu, Kiam Ki Sianjin sengaja mengumpulkan tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw
untuk mengadakan musyawarah tentang perselisihan faham antara para tokoh kang-ouw. Sebagian besar
dapat dia beli dan bujuk sehingga membantu fihaknya karena kena dia tipu. Akan tetapi ada sebagian yang
tetap anti penjajah dan membantu perjuangan rakyat. Pada lahirnya saja Kiam Ki Sianjin mengajak
bermusyawarah, akan tetapi pada hakekatnya dia mengandung maksud yang buruk dan keji sekali. Dia
hendak menumpas semua tokoh yang membantu perjuangan rakyat, dan dengan diam-diam dia sudah
mengurung gunung ini kalau semua tokoh sudah berkumpul di puncak. Sedikitnya sepuluh laksa tentara
akan mengurung bukit ini dan menumpas semua orang yang tjdak mau tunduk."
"Keparat curang!" kata Kwan Cu marah.
"Akan tetapi baiknya aku telah mengetahui akan hal ini dan aku juga sudah mencari jalan keluar yang
sangat baik seandainya Kiam Ki Sianjin benar-benar hendak melaksanakan keinginannya yang keji.
Sekarang mari kita naik ke puncak!"
Maka berangkatlah dua orang ini ke puncak. Di tengah jalan Yok-ong berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku sengaja melarang Hok Peng ikut, karena tidak ada gunanya kalau dia mencampuri urusan besar ini.
Andai kata aku gagal dan gugur, masih ada dia yang akan melanjutkan usahaku. Kalau dia ikut dan kami
berdua tewas, bukankah akan sia-sia semua usahaku mengajarnya selama ini? Kwan Cu, apa bila ada
orang menanyakan namamu, pakailah nama Siauw Bu Beng (Si Kecil Tanpa Nama) dan aku bernama Lo
Bu Beng (Si Tua Tanpa Nama)."
Kwan Cu mengangguk dan diam-diam merasa besar hati mendapat kawan seperti kakek sakti ini, sungguh
pun untuk maju seorang diri pun dia tak merasa gentar. Hanya dengan adanya kakek ini, dia mempunyai
kawan yang jauh lebih luas pengalamannya dan lebih matang pertimbangannya…..
********************
Puncak Tai-hang-san merupakan dataran dari batu karang yang cukup luas. Di sana sini terdapat batu
karang pendek dan lebar sehingga merupakan tempat duduk yang amat enak dan baik. Pohon-pohon
menghias puncak, akan tetapi di bagian dataran itu, semua pohon telah dirobohkan dan dibuang oleh Kiam
Ki Sianjin hingga dataran itu merupakan tempat yang luas, yang sekiranya cukup untuk menampung
ratusan orang yang hendak mengadakan rapat raksasa.
Dari jauh sudah kelihatan bahwa orang-orang yang mendatangi puncak itu terbagi atas dua kelompok. Di
bagian kiri terdapat kelompok mereka yang membantu kaisar. Di situ sudah berkumpul banyak sekali
orang, sedikitnya ada seratus orang.
Di antara para pemimpin yang duduk di bagian depan, di atas batu-batu karang, terlihat Kiam Ki Sianjin,
Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio dari Tibet, Toat-beng Hui-houw kakek yang berkuku panjang dan
berwajah seperti siluman itu. Kelihatan pula Coa-tok Lo-ong, sute dari Hek-i Hui-mo, yakni hwesio yang
tinggi kurus berjubah hitam, seorang tokoh besar yang tak kalah lihainya oleh Hek-i Hui-mo, karena hwesio
ini merupakan ahli racun nomor satu di dunia!
Masih banyak pula tokoh-tokoh besar, di antaranya Mo Beng Hosiang serta Mo Keng Hosiang yang
keduanya lebih terkenal sebagai Bu-eng Siang-hiap, lalu Kam Cun Hong panglima dari Si Su Beng, Bian
Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Di samping tokoh-tokoh besar ini,
terdapat banyak sekali anak-anak murid mereka yang bersikap gagah.
Pada bagian kanan terdapat sekelompok orang yang jauh lebih kecil jumlahnya apa bila dibandingkan
dengan kelompok di sebelah kiri. Pada bagian kanan inilah kelompok dari mereka yang menentang kaisar
atau mereka yang membantu perjuangan rakyat dalam melawan penjajah. Mereka ini hanya terdiri dari
sepuluh orang saja!
Kwan Cu memandang penuh perhatian dan dia mengenal semua orang di golongan ini. Tiba-tiba dadanya
berdebar dan panas penuh cemburu dan iri hati ketika dia melihat Bun Sui Ceng berdiri di sebelah The Kun
Beng di dekat Kiu-bwe Coa-li. Tak jauh dari situ terlihat Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Gouw Swi Kiat. Di
sebelah ujung berdiri pula Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang sudah amat tua usianya, disertai
empat orang tosu, yakni murid-muridnya atau tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai.
Kwan Cu mencari-cari dengan matanya. Ia heran tidak melihat adanya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
Dengan sikap tenang pemuda ini mengikuti Yok-ong naik ke puncak dan berdiri di sebelah timur, tidak jauh
dari kedua kelompok itu. Yok-ong sengaja tidak mau mendekati sefihak karena dia mempunyai siasat lain.
Semua orang yang melihat naiknya seorang kakek bermuka hitam seperti pantat kuali serta seorang
pemuda dengan muka merah tidak karuan seperti udang direbus, menjadi terheran-heran. Tak seorang
pun di antara mereka mengenal dua orang ini, bahkan Sui Ceng yang berwatak jenaka itu tersenyum geli
melihat dua orang ini. Ia berbisik kepada Kun Beng dan menudingkan telunjuknya ke arah Kwan Cu dan
Yok-ong. Dengan hati panas Kwan Cu melihat Kun Beng tersenyum geli pula.
Akan tetapi diam-diam dia merasa sangat kagum juga melihat fihak yang anti penjajahan ini, karena
sesungguhnya fihak mereka hanya ada sepuluh orang sedangkan fihak lawan ada seratus orang.
Semuanya kelihatan tenang-tenang dan gembira saja, sedikit pun tak terlihat gentar. Yang lucu sekali
adalah Siangkoan Hai karena kakek ini mengeluarkan kotak berisi biji catur, kemudian menggurat-gurat
tanah dan mengajak Seng Thian Siansu bermain catur!
Sebagai seorang ketua Kun-lun-pai, Seng Thian Siansu sudah kenal baik dengan Bian Kim Hosiang ketua
Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Karena itu dia mengangguk ke arah dua orang tua itu
dunia-kangouw.blogspot.com
dan berkata dengan suara nyaring.
"Bian Kim dan Bin Kong Ji-wi Beng-cu, sambil menunggu upacara dibuka marilah temani pinto main catur
dengan Pak-lo-sian. Bukankah lebih menggembirakan dari pada harus menunggu-nunggu?"
Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu buru-buru membalas penghormatan itu dengan menjura kepada
ketua Kun-lun-pai yang usianya lebih tua dari pada mereka dan yang biasa mereka hormati itu.
"Seng Thian Lo-siansu, pinceng menghaturkan terima kasih atas ajakan Siansu ini. Akan tetapi pinceng
takut berdekatan dengan pembunuh-pembunuh keji yang tak tahu aturan, yang hanya memiliki nama besar
sebagai tokoh utara, akan tetapi ternyata seorang yang biadab dan curang!"
Makian ini terang-terangan ditujukan kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai, karena tokoh besar utara adalah
Pak-lo-sian. Akan tetapi yang dimaki hanya tertawa bergelak saja dan berkata kepada Seng Thian Siansu,
"Siansu, kenapa mengajak fihak yang terang-terangan menjadi penjilat kaisar? Sudahlah, mari kita bermain
catur, jangan memancing datang anjing kelaparan hingga kegembiraan kita akan lenyap."
Keadaan menjadi tegang. Akan tetapi kedua fihak tak melanjutkan saling maki ini sebab pada saat itu, dari
bawah gunung melayang dua bayangan orang yang gerakannya cepat sekali. Mereka ini ternyata adalah
Kwa Ok Sin, ketua Bun-bu-pai ada pun orang ke dua adalah nenek yang aneh dan menyeramkan, yakni
Liok-te Mo-li, ibu dari Kong Hoat yang pernah bertemu dengan Kwan Cu.
"Ha, saudara Kwa yang baik, marilah kita bermain catur!" kata Pak-lo-sian girang melihat ketua Bun-bu-pai
ini, seorang yang walau pun kepandaiannya tidak seberapa tinggi, akan tetapi disegani oleh semua orang
kang-ouw karena dia menjadi ketua dari perserikatan orang-orang gagah dan sastrawan, yang terkenal adil
dan bijaksana.
"Kwa-enghiong, terima kasih bahwa kau sudi memenuhi undanganku," berkata Kiam Ki Sianjin sebelum
Kwa Ok Sin menjawab ajakan Pak-lo-sian. "Silakan duduk di sini."
Kwan Ok Sin bingung. la lalu menggeleng-geleng kepala dan berkata,
"Tak kusangka bahwa Cu-wi sekalian telah membentuk dua kelompok hingga membuat siauwte menjadi
serba salah. Biarlah siauwte berdiri di tempat yang tidak berfihak."
Tiba-tiba dia melihat kakek muka hitam dan pemuda muka merah yang duduk nongkrong di atas batu, di
tengah-tengah antara dua kelompok itu, agaknya seperti dua orang dusun yang aneh sekali dan yang
sikapnya seperti penonton.
"Ji-wi siapakah dan mengapa di sini?" tanya Kwa Ok Sin dengan heran.
Di antara seluruh tokoh kang-ouw, agaknya Kwa Ok Sin boleh dibilang orang yang paling dikenal dan
mengenal orang. Hampir seluruh tokoh kang-ouw sudah dikenal oleh Kwa Ok Sin, baik tokoh persilatan
mau pun tokoh kesusastraan, maka melihat kakek muka hitam dan pemuda muka merah itu, heranlah hati
Kwa Ok Sin. Selamanya belum pernah dia bertemu muka dengan dua orang ini. Jangankan bertemu muka,
mendengar pun belum pernah adanya orang-orang yang begini aneh mukanya.
Yok-ong tersenyum dan menjawab dengan suara kaku sekali, suara kasar dari orang dusun yang bodoh.
"Aku dan cucuku ini she Koai (Aneh), petani-petani di Gunung Tai-hang-san. Sekarang di atas gunung
orang mengadakan keramaian, tentu saja kami datang untuk menonton." Setelah berkata demikian Yokong
tertawa ha-ha-he-he-he dengan lagak amat lucu.
Kwa Ok Sin adalah seorang yang berpemandangan luas dan bermata tajam. Dia dapat menduga bahwa si
muka hitam ini tentulah seorang kakek yang luar biasa, maka dia tidak berani berlaku lancang, lalu
menoleh kepada Kwan Cu.
Akan tetapi pemuda ini juga sudah siap sedia. Begitu orang menoleh kepadanya, dia lalu meringis dan
menyeringai, kemudian tertawa ha-ha-he-he-he pula seperti sikap Yok-ong.
"Cu-wi sekalian!" kata Kwa Ok Sin kepada orang-orang kedua fihak. "Kebetulan sekali di sini terdapat
dunia-kangouw.blogspot.com
tempat untuk penonton, maka ijinkan siauwte berdiam di sini saja sebagai penonton."
Ia lalu duduk di atas batu hitam, dan mengajak Liok-te Mo-li duduk pula. Nenek ini melirik ke arah Yok-ong
dan Kwan Cu, akan tetapi tidak berkata sesuatu, hanya menghampiri sebuah batu besar yang berada di
ujung lapangan, agak jauh dari tempat itu.
Dengan tumit kakinya, dia mencongkel batu itu yang tiba-tiba saja melayang ke atas dan cepat nenek ini
mengulur tangannya, menepuk batu itu sehingga mencelat ke atas lagi. Demikian sambil berjalan kembali,
Liok-te Mo-li mempermainkan batu besar itu sampai ia tiba di dekat Kwa Ok Sin, lalu menurunkan batu itu
untuk dipakai tempat duduk.
Semua orang, baik di fihak Kiam Ki Sianjin mau pun di fihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai, melihat betapa
nenek buruk rupa ini mempermainkan batu besar yang beratnya paling sedikit ada tiga ratus kati itu dengan
demikian mudahnya, diam-diam memuji.
Nenek ini selamanya menyembunyikan diri sehingga jarang ada yang mengenal dirinya, kecuali beberapa
orang tokoh besar yang berada di situ. Karenanya semua orang lalu menduga-duga, siapakah gerangan
nenek yang datang bersama ketua Bun-bu-pai itu.
Setelah melihat bahwa para undangan telah mulai berkumpul dan terutama sekali semua orang terpenting
sudah hadir, Kiam Ki Sianjin segera berdiri sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada
seluruh yang hadir.
"Cu-wi sekalian, selamat datang di puncak dan banyak terima kasih atas perhatian Cu-wi sekalian yang
sudi memenuhi undangan pinto."
Semua orang yang berada di sana segera mencurahkan perhatiannya kepada Kiam Ki Sianjin, kecuali
Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu yang masih saja asyik bermain catur.
Kiam Ki Sianjin lalu melanjutkan kata-katanya,
"Tanpa diatur terlebih dahulu, Cu-wi sekalian yang datang di sini ternyata telah memilih fihak masingmasing,
dan sudah tentu saja yang berada di fihak kami adalah mereka yang membenci perang dan yang
menghendaki keamanan dan perdamaian. Oleh karena itu, hendaknya dari fihak pembantu pemberontak
yang pada saat ini menjadi tamu, suka mengajukan seorang ketua agar supaya dapat berunding dengan
kami." Kiam Ki Sianjin menujukan kata-katanya ini kepada fihak Kiu-bwe Coa-li dan kawan-kawannya.
Kiu-bwe Coa-li hanya mengangkat cambuknya dan menggerakkannya di atas kepala.
"Tar! Tar! Tar!!"
Kiu-bwe Coa-li tak menjawab sesuatu, bahkan membuang muka tidak mau memandang kepada Kiam Ki
Sianjin. Hanya terdengar bunyi ledakan cambuknya sebagai imbalan dari kata-kata yang dikeluarkan oleh
Kiam Ki Sianjin tadi.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu tertawa-tawa lalu berdiri.
"Pak-lo-sian, kau yang menang, lakukanlah tugasmu sebaiknya," kata Seng Thian Siansu yang sudah amat
tua itu sambil tersenyum.
Pak-lo-sian menghadapi Kiam Ki Sianjin. Jarak antara mereka cukup jauh, ada dua puluh tombak. Sambil
tertawa Pak-lo-sian berkata,
"Kiam Ki Sianjin, fihak kami tidak pandai bicara seperti kau! Kiu-bwe Coa-li hanya bicara melalui
cambuknya, dan terpaksa aku dan Seng Thian Siansu tadi bertanding catur untuk menentukan siapa yang
harus mewakili fihak kami. Memang benar kami telah membantu perjuangan rakyat dan bangsa kami,
sekarang kami sudah datang di sini, ada omongan apa lekas keluarkan, kami mendengar!"
Sesudah berbicara demikian, Pak-lo-sian tertawa-tawa dan duduk lagi. Sikapnya seperti seorang anak kecil
yang lucu.
"Tidak setuju!" tiba-tiba Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai berteriak. "Pinto tidak setuju kalau Pak-lo-sian
dunia-kangouw.blogspot.com
atau Kiu-bwe Coa-li menjadi wakil fihak pembantu pejuang. Dua orang itu adalah manusia-manusia curang
dan pengecut, tidak pantas menjadi wakil, tak boleh dipercaya omongannya!"
"Betul, aku pun sependapat dengan Bin Kong Toheng!" berkata Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai.
Merah wajah Kiu-bwe Coa-li, matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api.
"Kau monyet-monyet tua dari Bu-tong-pai, datang-datang mengeluarkan hawa busuk dari mulut. Majulah
kalau kalian berani!" bentak nenek ini dengan marah sekali.
"Siapa takut padamu, siluman wanita yang keji?" Bin Kong Siansu berteriak, akan tetapi Kiam Ki Sianjin
cepat memegang lengannya dan berkata,
"Harap saja Siansu tidak merusak suasana dan dapat menyabarkan hati. Urusan pribadi dapat diurus
kemudian, sekarang urusan negara yang harus didahulukan."
Di lain fihak, Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga menyabarkan hati Kiu-bwe Coa-li dengan kata-kata,
"Setan perempuan, apa sih sukarnya menghancurkan kepala dua orang kura-kura tua itu nanti kalau
urusan besar ini sudah beres? Sabarlah, nanti kita bagi seorang satu!"
Suasana yang sudah menegang menjadi tenang kembali. Kiam Ki Sianjin lalu berkata kepada Pak-lo-sian
Siangkoan Hai.
"Pak-lo-sian, bagus jika kau menjadi wakil fihakmu. Nah, dengarlah baik-baik. Fihak kami tidak
menghendaki pertempuran yang terus-menerus di antara kita sendiri. Kaisar yang bijaksana sudah
memberi kekuasaan kepadaku untuk memaafkan mereka yang pernah memberontak, asal saja mulai
sekarang pemberontakan itu dihentikan. Bagi kami yang menyadari keadaan dan yang mentaati kehendak
Thian, sangat tidak enak kalau harus membunuhi bangsa sendiri, walau pun mereka itu pemberontakpemberontak
keji. Oleh karena itulah, sengaja kami mengundang kalian datang untuk berdamai dan
menghabisi pemberontakan-pemberontakan yang hanya melemahkan keadaan negara dan bangsa saja."
Ucapan ini disambut oleh tertawa mengejek dari Kiu-bwe Coa-li dan kembali pecutnya mengeluarkan bunyi
bergeletar nyaring sekali. Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa sambil mendongak ke atas.
"Kiam Ki Sianjin, kau memutar balikkan kenyataan, kau bukan mentaati kehendak Thian, bahkan ingin
mengingkari dan hendak memutar jalannya sejarah! Rakyat yang berjuang melawan penindasan
kekuasaan penjajah asing kau sebut sebagai pemberontak! Ada pun pemberontak asing yang hendak
menjajah, bahkan yang kini telah menjadi penjajah kau sebut-sebut sebagai kaisar yang bijaksana! Kiam Ki
Sianjin, di manakah mukamu sebagai orang Han? Hai, saudara-saudara sekalian yang sekarang berada di
fihak Kiam Ki Sianjin, apakah kalian bukan orang-orang Han? Patutkah orang-orang gagah melihat bangsa
sendiri ditindas, tidak membantu perjuangan rakyat yang mulia, sebaliknya membantu kaisar asing
penjajah hina dan suka menjadi anjing penjilatnya?" Pak-lo-sian Siangkoan Hai berkata dengan penuh
nafsu.
"Cukup! Pak-lo-sian, kami mengundang kalian bukan untuk mengumbar nafsumu, bukan pula untuk saling
memaki. Kami mengajak berunding, berdamai dan menghabisi semua pertempuran."
"Mudah saja untuk menghabiskan pertempuran, asalkan tuntutan rakyat dipenuhi," kata Pak-lo-sian.
"Apakah tuntutan rakyat itu? Coba terangkan!"
"Tuntutan rakyat ialah menyeret turun kaisar asing, mengusir semua penjajah dari tanah air dan
mengangkat seorang kaisar bangsa sendiri. Kalau kalian semua yang berada di sini insyaf dan membantu
perjuangan rakyat, hal ini kiranya akan mudah dilakukan dan habislah semua pertempuran!"
"Pak-lo-sian, kau terlalu sekali! Apa kau kira akan dapat memperlihatkan kekuasaanmu di sini? Kau benarbenar
hanya mengeluarkan ucapan tanpa kau pikir baik-baik. Kau berani mencoba untuk menyeret kami
membantu pemberontak?" Kiam Ki Sianjin marah.
"Basmi saja pentolan-pentolan pemberontak itu!" teriak seorang anak murid di fihak yang pro kaisar. Akan
tetapi para tokoh besar yang menghargai kedudukan sendiri, tidak mau sembarangan mengeluarkan katadunia-
kangouw.blogspot.com
kata.
Teriakan murid yang berangasan itu disambut oleh kawan-kawannya dan sebentar saja fihak itu menjadi
ramai, senjata-senjata dihunus, siap menyerbu kalau ada perintah. Akan tetapi Kiam Ki Sianjin mengangkat
tangan mencegah mereka sehingga keadaan menjadi tenang kembali.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai serta kawan-kawannya hanya tersenyum-senyum mengejek, akan tetapi Sui
Ceng, Swi Kiat, Kun Beng, dan empat orang tosu dari Kun-lun-pai telah kelihatan merah mukanya akibat
menahan rasa marah.
"Pak-lo-sian, kau lihat sendiri betapa pernyataanmu yang tanpa dipikir itu membangkitkan rasa marah pada
kawan-kawan kami. Pertentangan faham ini kiranya hanya akan beres menurut ketentuan senjata!" kata
Kiam Ki Sianjin, yang kemudian disambungnya sambil tersenyum. "Kecuali kalau kalian suka mengubah
pendirian."
"Pendirian kami sudah mantap, kami membenarkan perjuangan rakyat. Ada pun tentang penggunaan
senjata di sini, kau yang mengundang kami dan kami datang bukan untuk berkelahi."
"Kau takut?" Kiam Ki Sianjin mengejek.
"Siapa takut kepadamu, tua bangka? Biar ada sepuluh Kiam Ki Sianjin, aku tidak takut!" tiba-tiba Kiu-bwe
Coa-li membentak marah.
"Tidak ada masalah takut atau tidak takut," kata Pak-lo-sian dengan suara seperti orang bernyanyi, "yang
ada hanya dua kenyataan pahit. Pertama, kami diundang ke sini untuk berunding, bukan untuk berkelahi.
Ke dua, apa bila tuan rumah sudah begitu tidak tahu malu untuk mengajak berkelahi, itu pun hanya
memperlihatkan betapa rendah akhlaknya. Kami hanya berkawan sepuluh orang, sedangkan fihakmu ada
seratus orang!"
Merah muka Kiam Ki Sianjin. "Tidak usah banyak mulut, Pak-lo-sian, memang kita sudah menjadi musuh
lama. Pendeknya, kau berani atau tidak untuk memutuskan pertentangan faham ini di ujung senjata?"
"Aku datang bukan untuk berkelahi, kalau sudah tidak ada omongan lain, aku akan pergi dengan kawankawanku!"
Pak-lo-sian biar pun tua dan aneh wataknya, namun dia amat cerdik. la melihat bahwa fihak lawan amat
besar jumlahnya, penuh dengan orang-orang pandai pula, maka kalau sampai terjadi pertempuran,
fihaknya akan menghadapi bahaya. Dia sendiri dan Kiu-bwe Coa-li agaknya akan dapat meloloskan diri,
akan tetapi yang lain-lain bagaimana?
"Ha-ha-ha, Pak-lo-sian, kau hendak melarikan diri?" Kiam Ki Sianjin berteriak mengejek. "Pak-lo-sian, kalau
kau lari, terpaksa kami akan mengejarmu dan mencegah kau turun gunung sebelum persoalan ini
dibereskan!"
Sekarang marahlah Pak-lo-sian. "Kiam Ki Sianjin, majulah kau, biar hanya kita berdua yang memutuskan
hal ini di ujung senjata!"
Keadaan menjadi amat tegang dan mendadak terdengar suara Kwa Ok Sin yang cepat berdiri dan berseru,
"Cu-wi sekalian, harap tenang dulu. Sangat memalukan apa bila kita sebagai orang yang menjunjung
kegagahan, bercekcok mulut seperti anak kecil yang hendak berkelahi! Apa sudah tidak ada jalan lain ke
arah perdamaian antara kedua fihak? Bagaimana pun jalan pikiran dan faham masing-masing, harus
diingat bahwa kita adalah segolongan, yakni orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan."
Semua orang berdiam diri. Tiba-tiba dari bawah puncak terdengar seruan keras,
"Cocok...! Memang pertempuran tak perlu dilanjutkan!"
Dari bawah puncak ‘menggelundung’ naik tubuh seorang hwesio yang gendut dan bulat, dan ternyata dia
ini bukan lain adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!
Tangan Kwan Cu kembali menggigil melihat hwesio bundar ini. Sekarang musuh besar gurunya telah
dunia-kangouw.blogspot.com
lengkap berada di tempat itu. Akan tetapi dia harus menekan dulu semua perasaannya karena persoalan
yang dihadapi adalah persoalan besar, persoalan yang dulu pun diributkan oleh kongkong-nya, oleh
gurunya sehingga mereka berkorban jiwa.
Dengan berbisik, tadi Kwan Cu bertanya kepada Yok-ong mengenai semua orang-orang yang berada di
situ. Sesudah dia tahu siapa adanya hwesio tinggi kurus berjubah hitam yang pernah dilihatnya di malam
hari, yakni Coa-tok Lo-ong sute dari Hek-i Hui-mo, dan melihat pula bahwa ketua Bu-tong-pai dan Kim-sanpai
berada di fihak Kiam Ki Sianjin, terbukalah mata Kwan Cu.
Sekarang tahulah dia akan rahasia peristiwa pembunuhan di kelenteng atas diri Bian Ti Hosiang dan Bin
Hong Siansu dari Kim-san-pai. Kini dia sudah dapat menduga bahwa pembunuh kedua pendeta ini pasti
Coa-tok Lo-ong yang membunuh secara diam-diam, kemudian meninggalkan kesalahan itu pada pundak
Kiu-bwe Coa-li beserta Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Dengan cara ini fihak Kiam Ki Sianjin tentu saja bisa
menarik Bu-tong-pai dan Kim-san-pai untuk membantu mereka menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan Pak-losian!
"Locianpwe, mengapa yang datang hanya mereka sepuluh orang itu? Di mana adanya tokoh-tokoh dan
pemimpin-pemimpin pejuang rakyat yang lainnya?" Kwan Cu bisik-bisik bertanya kepada Yok-ong.
Raja tabib itu tersenyum, "Kiam Ki Siajin memang sangat cerdik. Selain merencanakan untuk membasmi
musuh-musuh besar di sini juga dia hendak memancing keluar semua pemimpin sehingga dengan mudah
dia akan mengetahui siapa-siapa adanya pemimpin pejuang rakyat. Akan tetapi aku mendahuluinya dan
aku memperingatkan mereka yang menjadi pemimpin pejuang sehingga tak seorang pun di antara mereka
mau datang ke sini memperlihatkan diri."
Diam-diam Kwan Cu memuji kecerdikan Hang-houw-siauw Yok-ong. Tetapi raja tabib itu mencegah dia
membuka mulut lagi, karena melihat munculnya Jeng-kin-jiu, keadaan di sana tentu menjadi lebih ramai.
Begitu tiba di puncak, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata
keras,
"Cu-wi sekalian dari kedua fihak. Stop semua pertempuran yang tidak ada artinya! Untuk apa mengotorkan
tangan, bertempur melawan golongan sendiri hanya karena pengaruh urusan pemerintahan yang kotor.
Orang-orang macam kita ini apa perlunya mencampuri urusan kota raja? Lebih baik pulang kembali ke
gunungnya masing-masing, bertapa dan memperdalam ilmu. Pinceng sendiri karena terseret oleh
pengaruh busuk di kota raja, sampai bentrok dan salah tangan menewaskan seorang bekas sahabat baik.
Ahhh, kalau diingat-ingat, sampai sekarang pinceng merasa menyesal setengah mati. Apakah Cu-wi
hendak mengulangi kejadian seperti itu? Kaisar boleh turun dan naik, kerajaan musnah dan timbul, akan
tetapi kesatuan kaum persilatan jangan sekali-kali sampai terseret dan menjadi berantakan dan pecah
belah! Nah, pinceng sudah selesai bicara, harap Cu-wi suka memikirkan dengan kepala dingin."
"Jeng-kin-jiu, omongan busuk apa yang kau keluarkan itu?" tiba-tiba saja Hek-i Hui-mo melompat maju
sambil melototkan matanya kepada Jeng-kin-jiu. "Dahulu kita bersama melindungi kaisar, sekarang kau
akan menjadi orang yang mengkhianati kawan sendiri? Apakah kau tidak lebih baik membantu kami agar
dosamu tidak bertumpuk-tumpuk?"
"Agaknya dia ketakutan melihat Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li!" mengejek Toat-beng Hui-houw sambil
tertawa yang terdengar seperti ringkik kuda.
"Jeng-kin-jiu, sia-sia saja kau mencoba menginsyafkan mereka. Lebih baik jangan turut mencampuri
urusan ini!" seru Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah naik darah melihat sikap fihak lawan.
Jeng-kin-jiu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu duduk di atas batu karang,
kelihatannya berduka sekali. Kwa Ok Sin lalu berkata dengan keras,
"Kalau dua fihak tetap menghendaki kekerasan, siauwte sebagai ketua Bun-bu-pai hanya mengharap agar
kedua fihak memperhatikan peraturan orang-orang gagah. Adu senjata ini harus dilakukan dengan cara
yang adil seperti dalam pibu."
"Tentu saja," kata Kiam Ki Sianjin. "Yang mati tidak boleh dibuat dendam, yang terluka tidak boleh
menyalahkan lawan. Fihak yang kalah selanjutnya harus menurut serta taat kepada fihak yang menang!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus, Kiam Ki Sianjin. Biarlah ini hari kita mengadu kepandaian sampai seribu jurus!" bentak Kiu-bwe
Coa-li sambil melompat maju dan mengayun-ayun cambuknya dengan lagak menantang.
"Nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li. Bukankah tadi sudah diusulkan oleh Kwa-enghiong agar kita menggunakan
peraturan? Nah, akulah yang akan memilih kawan-kawan di fihakku, siapa yang akan maju menghadapi
fihakmu."
Setelah berkata demikian, Kiam Ki Sianjin mempersilakan kawan-kawannya yang hendak turun tangan.
Serentak majulah dari fihaknya para tokoh besar yang memliki kepandaian tinggi seperti Toat-beng Huihouw,
Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang, Kam Cun Hong, Hek-i Hui-mo, Bian Kim Hosiang, Bin
Kong Siansu, Coa-tok Lo-ong dan masih ada beberapa orang anak murid Bu-tong-pai, Kim-san-pai dan
juga murid-murid dari para tokoh itu sendiri.
Ada pun fihak Pak-lo-sian tentu saja hanya ada sepuluh orang itu yang kesemuanya siap membela nama
baik mereka. Bahkan Sui Ceng lalu berkata kepada gurunya.
"Suthai, biarkan teecu yang maju lebih dahulu. Kalau teecu tidak dapat menang, barulah Suthai yang
maju."
Kiu-bwe Coa-li tersenyum pahit. "Sui Ceng, apakah kau tahu bahwa pertandingan kali ini adalah untuk
mempertahankan nyawa? Lawan terlalu banyak. Hanya menang lima kali saja belum ada artinya, dan
kalau sekali kalah harus ditebus dengan nyawa."
"Teecu tidak takut!" kata Sui Ceng gagah. Kiu-bwe Coa-li melirik ke arah Kun Beng dan pemuda ini pun
berkata gagah,
"Teecu juga tidak takut dan akan mendampingi Ceng-moi."
Mendengar ini, Swi Kiat menjadi merah mukanya. Pemuda ini gemas sekali, akan tetapi juga berduka
mengingat akan adiknya, Kui Lan. Namun pada saat yang genting seperti itu, dia tidak mau memikirkan
tentang urusan pribadi dan dia pun bersiap-sedia untuk menghadapi fihak lawan yang amat banyak
jumlahnya itu.
Yok-ong memberi isyarat kepada Kwan Cu, lalu berkata,
"Ah, kalau akan diadakan perang, lebih baik aku pergi. Hayo cucuku, kita pergi dari sini," katanya
ketakutan.
Kwan Cu tidak mengerti akan maksud Yok-ong, akan tetapi dia tidak berkata sesuatu dan mengikuti kakek
itu turun dari puncak. Orang-orang merasa geli melihat mereka, akan tetapi tidak ada yang ambil peduli.
Setelah tiba di belakang batu karang besar, Yok-ong lalu berkata, "Kwan Cu, mari kita periksa jalan keluar
untuk mereka, supaya nanti dapat dipergunakan dengan baik."
Raja tabib ini berlari cepat sekali, diikuti oleh Kwan Cu. Setiba mereka di lereng, Yok-ong menunjuk ke
bawah, "Kau lihat, serdadu kaisar telah mengurung bukit ini."
Benar saja, di kaki bukit itu, barisan besar sedang bergerak-gerak seperti semut. Kwan Cu terkejut dan
gemas sekali.
"Tak usah khawatir, aku sudah mendapatkan jalan keluar. Lihatlah goa itu, kelihatan kecil hanya dapat
dimasuki orang dengan jalan merangkak. Akan tetapi di dalamnya lebar sekali dan goa itu merupakan
terowongan yang menembus bukit dan keluar di sebelah selatan pegunungan ini. Kalau kita semua
mengambil jalan ini, takkan ada orang yang dapat mengejar atau mencegat kita. Kau ingatlah baik-baik,
seorang di antara kita harus dapat menolong mereka keluar dari sini. Mengerti?"
Kwan Cu mengangguk. Memang, melihat keadaan lawan yang demikian banyaknya dan rata-rata terdiri
dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, Yok-ong merasa gelisah dan putus asa. Biar pun di fihaknya
ada Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu, akan tetapi menghadapi sekian banyaknya orang
dan di sana ada pula orang-orang sakti seperti Hek-i Hui-mo, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw dan
lain-lain, sudah dapat diperhitungkan bahwa fihak pembantu pejuang rakyat pasti akan kalah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah memberi petunjuk kepada Kwan Cu, mereka kembali ke puncak akan tetapi kini menonton ke
tempat itu dari balik batu karang.
"Locianpwe, kita tidak dikenal, lebih baik nonton dari dekat," kata Kwan Cu.
"Begitu pun baik. Akhirnya kita harus turun tangan pula," jawab Raja Tabib itu.
Keduanya lalu duduk di tempatnya yang tadi. Semua orang memandang dan tertawa.
"Ehh, kalian berani datang lagi?" Kwa Ok Sin tidak dapat menahan keheranannya.
"Cucuku ini yang terus memaksa, katanya hendak melihat orang bermain senjata untuk menambah
kegembiraan," jawab Yok-ong ketolol-tololan.
"Hemm, jangan terlalu dekat, jangan-jangan ada senjata yang mampir di lehermu," kata Jeng-kin-jiu Kak
Thong Taisu.
Yok-ong dan Kwan Cu memperlihatkan muka ketakutan, akan tetapi tetap saja duduk di tempat yang tadi.
Kalau di fihak Kiam Ki Sianjin semua orang sudah bersiap-siap, adalah orang-orang dari Bu-tong-pai dan
Kim-san-pai saja yang masih kelihatan dingin saja. Bian Kim Hosiang dari Bu-tong-pai dan Bin Kong
Siansu dari Kim-san-pai bukanlah penjilat-penjilat kaisar. Mereka adalah orang-orang gagah yang tidak
mau peduli tentang urusan kerajaan.
Mereka berdua datang hanya karena marah terhadap Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li,
karena dua orang tokoh itu sudah membunuh dua orang sute mereka. Kedatangan mereka untuk
membalas dendam, atau untuk membuat perhitungan dengan Ku-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, bukan untuk
mengurus soal kerajaan.
Maka, melihat bahwa pertandingan yang akan diadakan adalah urusan kerajaan, kedua orang tua ini dan
murid-muridnya tidak mau turun tangan dan diam menonton saja.
Ada pun tokoh-tokoh kawan-kawan Kiam Ki Sianjin, memberi kesempatan kepada para murid mereka
untuk maju lebih dahulu, hitung-hitung mengukur kepandaian lawan. Akan tetapi, murid-murid yang masih
rendah kepandaiannya tentu saja tidak boleh maju.
Kiam Ki Sianjin memberi tanda kepada Bu-eng Siang-hiap, dua hwesio bersaudara yang kini menjadi
pembantu-pembantunya. Dengan bangga Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang melompat maju ke
tengah lapangan, lalu Mo Beng Hosiang berkata,
"Pinceng dua saudara selalu maju berbareng, karena itu harap Siangkoan-lo-enghiong mengeluarkan jagojagonya!"
Sambil berkata demikian, dua saudara ini menjura kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Melihat bahwa yang maju adalah dua orang hwesio setengah tua, maka dua orang murid Kun-lun-pai yang
bernama Tiong Ek Tosu dan Tong Seng Tosu minta ijin dari guru besar mereka, yakni Seng Thian Siansu
yang sesungguhnya datang untuk menuntut balas atas gugurnya tiga orang muridnya, maka ia
mengangguk menyetujui. Begitu pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai menyetujui.
Majulah dua orang murid Kun-lun-pai ini menghadapi Bu-eng Siang-hiap. Sesudah saling memperkenalkan
nama, empat orang pendeta ini mulai saling serang dengan hebatnya.
Ilmu silat dari Kun-lun-pai memang sudah sangat terkenal, maka kepandaian dari dua orang muridnya ini
juga amat lihai. Mereka mempergunakan pedang yang diputar dengan cepat dan tangguh, sesuai dengan
Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat.
Ada pun Mo Beng Hosiang berjuluk San-tian-jiu (Tangan Kilat) maka dalam pertempuran ini dia bertangan
kosong, sedangkan adiknya, Mo Keng Hosiang berjuluk Hun-san-pian (Pian Pemecah Gunung). Sengaja
mereka maju berdua karena dengan maju berdua, mereka merupakan pasangan yang benar-benar amat
tangguh.
Mo Keng Hosiang bertugas menghadapi dan melindungi kakaknya dari serangan senjata lawan. Pian-nya
amat kuat, dan tiap tangkisannya selalu membuat tangan lawan tergetar sehingga serangan kedua
dunia-kangouw.blogspot.com
lawannya itu menjadi lambat. Di lain fihak, Mo Beng Hosiang mulai menjalankan serangan maut dengan
tangan kosong!
"Celaka, dua totiang dari Kun-Iun-pai itu pasti roboh...," kata Kwan Cu perlahan kepada Yok-ong.
Diam-diam raja tabib ini memuji ketajaman mata Kwan Cu dan dia melihat pemuda itu diam-diam meraih
dua butir batu kecil.
"Jangan, Kwan Cu. Di dalam pertandingan yang adil, tidak selayaknya kita turun tangan membantu, biar
pun yang kita bantu adalah orang-orang yang berada di fihak benar. Ini sudah menjadi aturan kang-ouw
yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun yang tidak menghendaki namanya terbenam di dalam lumpur."
Kwan Cu tertegun dan terpaksa melepaskan kembali dua butir batu kecil tadi. Hatinya penasaran dan tak
senang sekali melihat fihak Pak-lo-sian dikalahkan. Dugaannya tepat karena dalam lima puluh jurus saja,
terdengar suara keras disusul pekik dan robohlah Tiong Ek Tosu dengan kepala pecah terpukul oleh
tangan Mo Beng Hosiang!
Murid ke dua dari Kun-lun-pai tidak menjadi gentar. Baginya adalah menang atau mati, maka dia cepat
memutar pedangnya melakukan serangan nekat. Dia berhasil menusuk pangkal lengan Mo Keng Hosiang,
namun hwesio ini dapat miringkan tubuh sehingga kulit lengannya saja yang tergurat pedang dan pada
saat itu, Mo Beng Ho siang sudah turun tangan memukul dada Tiong Seng Tosu. Tosu ini menjerit,
pedangnya terlepas dari pegangan dan dadanya pecah! Ia roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Fihak kaki tangan kaisar berseri wajahnya, bahkan ada orang-orang muda yang bersorak girang. Pak-losian
tersenyum pahit dan Seng Thian Siansu menjadi pucat.
Sebelum Kiu-bwe Coa-li dan yang lain-lain sempat mencegahnya, tahu-tahu bayangan Bun Sui Ceng
sudah berkelebat. Kini nona ini sudah berdiri dengan pedang di tangan, menghadapi sepasang hwesio
yang berdiri dengan lagak sombong dan bangga.
Pak-lo-sian tak dapat berbuat lain kecuali melompat dan menyambar dua jenazah murid Kun-lun-pai itu
untuk diletakkan di atas tanah di dekat batu karang. Mereka tidak dapat ditolong lagi karena sudah tewas.
"Bu-eng Siang-hiap, aku Bun Sui Ceng maju sebagai jago dari fihak kami, kalian berdua boleh maju
bersama!" tantang Sui Ceng sambil melintangkan pedang di depan dadanya.
Melihat bahwa penantangnya hanyalah seorang gadis muda yang cantik sekali, kedua orang hwesio itu
saling pandang dan tertawa lebar.
"Nona, pinceng berdua tak mau berlaku licik. Biarlah kau memilih seorang di antara kami sebagai
lawanmu!" kata Mo Beng Hosiang sambil tertawa menyeringai.
"Gundul sombong, kalian berdua majulah bersama, boleh ditambah lagi satu dua orang agar lebih ramai!"
Mendengar ucapan gadis ini, Bu-eng Siang-hiap menjadi naik darah.
"Semua orang yang berada di sini mendengar bahwa engkaulah yang minta kami maju bersama, kalau
nanti kalah jangan bilang kami licik," kata Mo Beng Hosiang dengan mata merah.
"Tutup mulut dan majulah!" seru Sui Ceng yang sudah mulai menggerakkan pedangnya.
Mo Keng Hosiang masih merasa sayang untuk membunuh atau pun melukai gadis yang begini cantik dan
muda, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras dan pian di tangannya menyambar ke arah pedang Sui
Ceng, dengan maksud membikin pedang itu terlempar dalam segebrakan saja.
Melihat datangnya gempuran pian ini yang memang bertenaga sangat kuat, Sui Ceng tersenyum dan
sengaja tidak mau mengelakkan pedangnya. Alangkah kagetnya hati Mo Keng Hosiang ketika pian-nya
membentur pedang gadis itu, karena dia merasa seakan pian-nya yang berat itu membentur sehelai bulu
saja kemudian tenaganya lenyap dengan sendirinya.
Kekagetannya bertambah saat terdengar suara bergeletar dan pipinya lantas terasa amat pedas dan perih.
Dia hanya melihat bayangan merah berkelebat di depan mukanya, dan itu adalah ujung sehelai ikat
dunia-kangouw.blogspot.com
pinggang sutera berwarna merah! Sui Ceng telah mencabut senjatanya yang istimewa ini, yaitu sabuk
merahnya.
Bukan main marahnya Mo Keng Hosiang ketika dia mendengar suara ketawa gadis itu. Dengan membuta
dia lalu mengayun pian-nya dan menyerang bagai badai mengamuk. Juga Mo Beng Hosiang yang kini
mengerti menghadapi seorang lawan tangguh, cepat maju dan melakukan pukulan-pukulan dengan kedua
tangannya yang lihai.
"Ji-wi Beng-yu, hati-hatilah, kalian menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li!" kata Kiam Ki Sianjin yang
mengenal sabuk merah ini sebagai ilmu cambuk yang biasa dimainkan oleh Kiu-bwe Coa-li.
Bu-eng Siang-hiap terkejut dan kini mereka tak berani memandang ringan. Dengan amat hati-hati mereka
lalu bergerak seperti saat menghadapi dua orang lawan dari Kun-lun-pai tadi, yakni Mo Keng Hosiang
mempergunakan pian untuk mempertahankan diri mereka berdua, sedangkan Mo Beng Hosiang
melakukan serangan dengan tangan kilatnya.
Akan tetapi, ilmu silat yang dimiliki oleh Sui Ceng adalah ilmu silat yang diturunkan oleh seorang ahli.
Bukan main hebatnya pedang yang bergerak bagaikan hidup di tangannya, sedangkan sabuk merah di
tangan kirinya lebih lihai lagi.
Dia pun menggunakan siasat untuk mengimbangi kedua orang itu. Sabuknya yang lemas menghadapi
pian, berusaha menangkap dan merampas senjata itu, ada pun pedangnya menghadapi pukulan-pukulan
Mo Beng Hosiang. Sebentar saja kedua orang hwesio itu terdesak hebat oleh dara perkasa ini.
"Dia hebat... dia hebat sekali...," tak terasa pula mulut Kwan Cu berbisik-bisik dan kedua matanya
memandang kagum.
Melihat lagak pemuda ini, Yok-ong tersenyum. "Bagus, Kiam Ki Sianjin akan mengalami hajaran pertama!"
Belum habis kata-kata ini diucapkan, keadaan pertempuran sudah berubah sama sekali. Dengan ujung
sabuknya, Sui Ceng tiba-tiba mengubah gerakan dan sekarang sabuk itu meninggalkan pian kemudian
menyerang atau lebih tepat menangkis pukulan Mo Beng Hosiang.
Ujung sabuk merah ini membelit pergelangan tangan hwesio ini dan sekali disentakkan, tubuh Mo Beng
Hosiang terpental ke atas. Sebelum hwesio itu sempat mengerahkan ginkang-nya, sabuk disentakkan
kembali ke bawah sehingga tubuhnya terbanting ke atas lantai batu karang.
"Ngekkk!" Tubuh Mo Beng Hosiang tak dapat berkutik lagi!
Sementara itu, pedang di tangan Sui Ceng tidak tinggal diam. Ia melihat pian menyerang ke arah
kepalanya, cepat ia mengerakkan tubuhnya, miring dan dari samping pedangnya menyambar. Mo Keng
Hosiang menjerit kesakitan, pian-nya telah terlepas berikut tangan kanannya sebatas siku terbabat putus
oleh pedang Sui Ceng!
Gadis ini tidak tega melihat penderitaan kedua lawannya. Pedangnya bergerak dua kali lagi dan putuslah
urat besar di dekat leher dua orang hwesio itu yang seketika itu juga menghembuskan napas terakhir tanpa
menderita lagi.
Lima orang-orang muda dari fihak Kiam Ki Sianjin melompat maju dan mengeroyok Sui Ceng. Mereka ini
adalah perwira-perwira yang menjadi kaki tangannya Kam Cun Hong, panglima dari Si Su Beng.
"Curang...!" Dua orang murid Kun-lun-pai yang belum maju mencela dan cepat mereka melompat untuk
membantu Sui Ceng.
Akan tetapi sebetulnya hal ini tidak perlu, karena dengan pedangnya, Sui Ceng menahan serangan lima
orang perwira itu dan dalam beberapa jurus saja kembali dua orang lawan roboh mandi darah!
"Mundur!" teriak Kiam Ki Sianjin.
Tiga orang perwira itu segera melompat mundur dengan muka merah. Kiam Ki Sianjin menggerakkan
tangan memberi tanda kepada orang-orangnya dan empat orang mayat kawannya itu ditarik ke belakang.
Kemudian Kiam Ki Sianjin bertanya,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siapa di antara sahabat-sahabat yang berani menghadapi gadis liar itu?”
Terdengar suara ketawa bagaikan kuda meringkik dan tubuh Toat-beng Hui-houw yang berwajah
menyeramkan itu melompat keluar.
"Kiam Ki Sianjin, biarlah aku menghadapinya. Aku sudah mengenal kuda betina liar ini!"
Melihat majunya Toat-beng Hui-houw, seketika muka Sui Ceng menjadi merah sekali. Sepasang matanya
berapi-api dan bibirnya digigit untuk menahan hawa kemarahan yang naik dari dadanya.
"Toat-beng Hui-houw, siluman jahanam! Andai kata kau tidak muncul, aku pun pasti akan mencarimu untuk
memenggal lehermu agar ibuku di alam baka dapat mengaso dengan tenteram!” Kedua tangan gadis ini
gemetar saking hebatnya kemarahan yang menyerang dirinya.
"Sui Ceng, mundurlah, biarkan pinni menghadapi siluman ini!" seru Kiu-bwe Coa-li.
Akan tetapi mana Sui Ceng mau mendengar kata-kata guru ini? Dengan pura-pura tidak mendengar katakata
gurunya, sambil berseru keras dan nyaring, gadis ini menyerang Toat-beng Hui-houw dengan
pedangnya. Gerakannya laksana burung walet menyambar dan tubuhnya diselimuti oleh berkelebatnya
sinar merah dari sabuknya.
Sesudah dahulu dikalahkan oleh Ang-bin Sin-kai dan berjumpa dengan Kiu-bwe Coa-li, kakek yang seperti
siluman ini merasa gentar, dan dia melatih diri sehingga memperoleh kemajuan pesat. Apa bila
dibandingkan dengan dahulu ketika dia menewaskan Pek-cilan Thio Loan Eng ibu dari Sui Ceng,
kepandaiannya sekarang sudah maju pesat dan jauh sekali.
Namun dia tidak berani memandang rendah kepada gadis ini, karena tahu bahwa gadis ini adalah murid
terkasih dari Kiu-bwe Coa-li. Kalau saja dia tidak berada di fihak Kiam Ki Sianjin dan tidak mengandalkan
bantuan banyak kawan, sampai sekarang pun dia tidak akan berani mengganggu Sui Ceng.
Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi. Dalam pertempuran seperti ini, kalah menang atau kematian
tidak boleh diurus panjang dan andai kata guru gadis ini akan membela, masih banyak kawan-kawannya
yang gagah dan tangguh, oleh karena itu hati Toat-beng Hui-houw menjadi besar.
Serangan pedang dari Sui Ceng dielakkannya, dan ketika pedang itu bagaikan bermata terus mengejar
dan menyerangnya, dia kemudian menggereng bagaikan harimau sambil menggerakkan kedua tangannya.
Tiba-tiba sepuluh jari tangannya mengeluarkan kuku yang panjang-panjang seperti pisau. Tadi kuku-kuku
jari ini tergulung dan hanya dengan gerakan lweekang yang amat dahsyat, kuku ini dapat menjadi kaku
lantas dipergunakan sebagai senjata.
Pedang Sui Ceng menyambar lagi. Toat-beng Hui-houw menangkis dengan kukunya dan Sui Ceng merasa
telapak tangannya tergetar hebat. Ia kaget dan tahu bahwa lawannya ini benar-benar tangguh. Akan tetapi
ia tidak gentar. Nafsunya untuk membunuh musuh besar ini begitu memuncak sehingga ia menjadi nekat.
Ujung sabuk merahnya menyusul pedangnya, menyambar dengan totokan ke arah leher Toat-beng Huihouw.
"Pergilah!" Toat-beng Hui-houw membentak sambil menyambar ujung sabuk merah itu.
"Brettt!" sabuk itu putus menjadi dua!
"Ceng-moi, hati-hatilah...!" Kun Beng berseru dengan hati ngeri melihat betapa senjata sabuk dari
tunangannya yang amat lihai itu telah dapat diputuskan.
Akan tetapi Sui Ceng masih menyerang dengan hebatnya. Sekarang ia mempergunakan pedangnya dan
telah melemparkan sabuknya yang sudah tiada gunanya itu. Pedangnya dimainkan secara hebat,
mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk dapat mengalahkan musuh besarnya ini. Tubuh
gadis itu lenyap terbungkus sinar pedang yang bergulung-gulung.
Diam-diam Toat-beng Hui-houw harus memuji kepandaian gadis muda ini. Jika sekiranya akhir-akhir ini dia
tak memperdalam ilmu kepandaiannya, agaknya akan sulit dan lamalah baginya untuk mengalahkan gadis
ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemarahan dan kenekatan Sui Ceng melihat musuh besar yang telah membunuh ibunya, membuat
tenaganya berlipat ganda besarnya dan membuat gaya ilmu pedangnya amat ganas dan berbahaya.
Karena kurang hati-hati, sebuah kuku jari kelingking dari tangan kiri Toat-beng Hui-houw kena terbabat
putus ujungnya oleh pedang Sui Ceng.
Toat-beng Hui-houw marah sekali. Beberapa kali dia mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan
tanah dan kini tubuhnya bergerak maju dengan serangan dahsyat sekali, menubruk ke sana ke mari tanpa
mempedulikan pedang lawannya.
Memang mudah saja baginya. Hanya dengan sebuah kuku saja dia berhasil menyampok pedang
lawannya, dan dengan cepat kuku-kuku jarinya menyerang tubuh gadis itu. Mau tidak mau Sui Ceng
menjadi ngeri dan mulailah dia main mundur saja.
"Sui Ceng, mundurlah dan mengaku kalah!" kata Kiu-bwe Coa-li karena dia merasa ngeri dan gelisah
melihat nyawa muridnya yang terkasih itu terancam.
"Biarkan teecu maju membantunya!" kata Kun Beng.
Akan tetapi Pak-lo-sian melarangnya.
"Tak boleh berlaku curang, biar pun nyawa kita akan habis semua di sini, kita harus mati sebagai orangorang
gagah!"
Terpaksa Kun Beng hanya memandang dengan hati seperti disayat-sayat melihat betapa tunangannya
didesak terus.
Juga Kwan Cu yang mengerti bahwa tidak lama lagi Sui Ceng pasti akan roboh di bawah tangan Toat-beng
Hui-houw yang lihai itu, berbisik kepada Yok-ong dengan hati gelisah.
"Locianpwe, andai kata nona itu terluka oleh kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw yang mengandung
bisa berbahaya, masih dapatkah dia tertolong?"
Yok-ong mengangguk. "Memang racun di setiap kuku jari Toat-beng Hui-houw itu dapat mematikan dan
sukar diobati. Akan tetapi aku sudah mempunyai semacam obat penolak bisa yang luar biasa dan yang
pasti akan dapat melawan bisa itu. Asal saja lukanya tidak amat berat."
Kwan Cu segera berdiri dari tempat duduknya dan dengan tindakan perlahan-lahan dia mendekati tempat
pertempuran, agaknya tertarik sekali. Yok-ong hendak mencegah akan tetapi tidak keburu.
Orang-orang di kedua fihak juga melihat hal ini. Akan tetapi oleh karena pemuda muka merah yang
mengaku petani Gunung Tai-hang-san itu bukan orang dari salah satu fihak dan dianggap sebagai petani
biasa saja yang menonton, maka tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Apa lagi keadaan sangat
tegang dan semua mata memandang ke arah pertempuran yang hebat luar biasa itu.
Sui Ceng benar-benar terdesak hebat. Dia memang nekat dan biar pun dia mendengar perintah gurunya
supaya mundur, namun mana bisa seorang gadis seperti Sui Ceng sudi mundur dan mengaku kalah? Apa
lagi terhadap musuh besar yang sudah membunuh ibunya.
"Kalau aku tidak berhasil membalaskan dendam ibu, biarlah aku mampus di sini!" pikir gadis ini sambil
memutar pedangnya yang makin kacau gerakannya.
Tiba-tiba Toat-beng Hui-houw tertawa seperti ringkik kuda, disusul oleh gerengan seperti harimau dan
tangan kirinya yang penuh kuku panjang itu berhasil merampas pedang Sui Ceng. Sekali kuku-kukunya
bergerak, terdengarlah suara nyaring.
"Krakkk!" dan pedang itu patah-patah menjadi tiga!
Sui Ceng masih tidak mau melompat atau mengaku kalah, bahkan dia lalu menghantam dengan tangan kiri
ke dada lawan!
Toat-beng Hui-houw tertawa lebar dan sekali dia menangkis dengan tenaga sepenuhnya, Sui Ceng
dunia-kangouw.blogspot.com
terhuyung ke kiri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Toat-beng Hui-houw untuk menggunakan kukukukunya
yang berbisa mencakar kearah dada Sui Ceng!
Nona ini maklum akan datangnya serangan maut. Segera dia miringkan tubuhnya, akan tetapi kalah cepat.
Terdengar baju robek dan pundaknya terkena cengkeraman itu. Sui Ceng mengerahkah lweekang, lantas
meronta sehingga cengkeraman itu dapat terlepas, akan tetapi dia lalu terhuyung-huyung dan roboh.
Pundaknya terasa panas sekali sampai menembus ke jantungnya. Racun-racun berbahaya dari kuku
sudah memasuki luka pada pundaknya.
"Ha-ha-ha, kau boleh menyusul ibumu!" seru Toat-beng Hui-houw sambil menghampiri tubuh nona yang
telentang pingsan itu, siap untuk mengirim pukulan terakhir.
Kiu-bwe Coa-li meramkan mata, dan Kun Beng sudah siap melompat untuk menolong tunangannya.
Tiba-tiba kelihatan pemuda dusun bermuka merah itu berlari-lari dan berteriak-teriak,
"Tidak adil...! Tidak adil...!"
Ia berlari terus dengan kacau, menyeruduk Toat-beng Hui-houw yang hendak membunuh Sui Ceng.
Melihat datangnya pemuda dusun ini, Toat-beng Hui-houw menjadi heran dan juga marah.
"Mau apa kau?!" bentaknya sambil mendorong pundak Kwan Cu.
Pemuda ini tahu bahwa dorongan itu pasti akan melukai dirinya. Akan tetapi karena dia mengandalkan
kepandaian Yok-ong, dan pula dia ingin menolong nyawa Sui Ceng, maka dia pura-pura tidak tahu.
"Reeettt!” Robeklah baju pada pundaknya dan kulit pundaknya tergores oleh kuku tangan Toat-beng Huihouw.
"Toat-beng Hui-houw, kau sungguh terlalu! Pemuda itu adalah orang luar, mengapa kau melukainya?!"
bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Sebenarnya bukan Pak-lo-sian terlalu sayang kepada pemuda yang mukanya aneh itu, akan tetapi oleh
karena pemuda itulah yang sudah menolong nyawa Sui Ceng, maka dia membelanya.
Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan mundur, lalu menudingkan telunjuknya yang berkuku panjang
kepada Kwan Cu sambil membentak,
"Ehh, kepiting rebus! Apa-apaan kau datang mencari kematian?"
Walau pun bertanya begini, di dalam hatinya Toat-beng Hui-houw merasa heran sekali. Bisa di kukunya
amat hebat, sekali gurat saja orang tentu akan roboh dan pingsan atau sekaligus mampus. Akan tetapi
mengapa pemuda yang terang-terangan sudah terluka pundaknya ini tidak lekas-lekas roboh pingsan?
la tidak tahu bahwa Kwan Cu telah mengerahkan tenaga dan seluruh hawa murni yang dia dapat dari
latihan menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sehingga bisa itu untuk sementara dapat tertahan
oleh hawa yang mengepul naik dari pusarnya menuju ke pundak yang tergurat kuku berbisa tadi.
Dengan kedua tangan tuding sana tuding sini, Kwan Cu mengeluarkan suara mengomel panjang pendek
dan berteriak-teriak, "Mana ada pertandingan macam ini? Masa seorang kakek-kakek tua melawan
seorang gadis muda yang lemah? Tidak adil sekali. Harusnya, gadis melawan gadis, kakek melawan
kakek, pemuda melawan pemuda dan bocah juga melawan bocah. Ini baru enak ditonton. Masa kakek
yang kukunya panjang mengerikan ini harus bertanding dengan gadis yang begini halus?"
Kwan Cu menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengangkat tubuh Sui Ceng dan dengan lagak seperti orang
merasa berat menggendong tubuh itu, dia cepat berlari-lari ke arah Yok-ong.
"He, kau mau bawa dia ke mana?" teriak Kun Beng yang segera mengejar.
"Dia mati, harus dikubur baik-baik," jawab Kwan Cu tanpa menoleh.
Yok-ong menyambut Kwan Cu dan tanpa dilihat orang lain, raja tabib ini segera menotok tiga jalan darah di
dunia-kangouw.blogspot.com
tubuh Sui Ceng lalu menyuruh Kwan Cu memberikan tubuh gadis itu kepada Kun Beng yang datang
berlari-lari.
"Berikan dia padaku!" kata Kun Beng.
"Eh, ehh, ehh, kau ini pemuda mau apakah? Kalau dia harus dibawa ke sana biarlah aku menggendongnya
ke sana. Mengapa menggendong tubuhnya saja orang harus berebut? Kau agaknya ingin sekali
menggendongnya!"
Kwan Cu segera membawa gadis itu berlari-larian kembali menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Semua orang memandang kepada pemuda muka merah ini dan merasa lucu juga kasihan. Bahkan Kiubwe
Coa-li sendiri merasa terharu melihat seorang petani bodoh masih memiliki peri kemanusiaan yang
begitu besar.
Kwan Cu tadi ketika membawa Sui Ceng kepada Yok-ong, memang sengaja memberi kesempatan kepada
Yok-ong untuk mengobati gadis itu, kemudian tanpa diketahui oleh siapa pun juga, dia menerima sebuah
pil besar berwarna putih dan mendapat bisikan dari Yok-ong. Kini pil besar itu telah dimasukkan ke dalam
mulutnya. Ia menurunkan gadis itu di atas tanah.
"Kau baik sekali, orang muda," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Sayang dia tak akan dapat tertolong lagi," kata Kiu-bwe Coa-li.
Suaranya tenang-tenang saja, akan tetapi kalau orang melihat matanya ia akan bergidik. Mata itu
membayangkan nafsu amarah dan bayangan-bayangan maut terbayang di situ.
Akan tetapi Kwan Cu tak mempedulikan mereka semua, sekarang dia lalu mendekatkan mukanya pada
leher Sui Ceng.
"Petani busuk, kau mau apa?!" Kun Beng membentak marah dan mengangkat tangan hendak memukul.
"Diamlah kau! Kenapa begitu ribut?" bentak Pak-lo-sian sambil memandang kepada anak muridnya
dengan alis dikerutkan.
Kun Beng menundukkan mukanya yang menjadi sedih luar biasa. Pak-lo-sian maklum akan kedukaan hati
muridnya ini, maka dia menghibur, "Lihat, petani muda ini agaknya hendak berusaha mengobatinya."
Memang benar, Kwan Cu telah menempelkan bibirnya pada luka di pundak Sui Ceng. la membuka
mulutnya lalu menggunakan giginya menggigit kulit di sekitar luka! la menggigit keras-keras, kemudian
mengumpulkan pil putih yang telah dihancurkannya dengan ludah dan dikumpulkan di ujung lidah, lalu
sambil mengerahkan lweekang-nya, dia meniupkan hancuran obat itu ke dalam luka!
Hal ini tentu saja tak terlihat oleh siapa pun juga, bahkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai
saling pandang lalu mengangkat pundak. Dalam pandangan kedua orang ini, pemuda petani yang aneh ini
hanya menggigit pundak itu saja!
"Eh, apa yang kau lakukan itu?" Kembali Kun Beng bertanya sebab pemuda itu tidak kuat melihat si muka
merah seakan-akan mencumbu kekasihnya dan menciumi pundaknya!
Kwan Cu mengangkat mukanya. Dengan muka yang merah ketololan itu dia tersenyum menyeringai.
Orang-orang melihat betapa gigi dan bibir pemuda ini berlepotan darah!
"Aku sudah usir setannya, sudah usir setannya!"
Kun Beng tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengira bahwa pemuda muka merah ini gila dan dalam
gilanya telah menggigit dan bahkan minum darah dari Sui Ceng. Dengan pengerahan tenaga sekuatnya
dia lalu menendang pantat Kwan Cu yang masih duduk berjongkok. Tubuh Kwan Cu bagaikan sebuah bal
karet lalu melayang kembali ke tengah lapangan di mana Toat-beng Hui-houw masih berdiri memandang
semua itu.
Tubuh Kwan Cu yang melayang-layang tadi kini turun dan seperti yang tidak disengaja, tubuh pemuda
muka merah ini melayang turun tepat di atas kepala Toat-beng Hui-houw. Sebetulnya kakek bermuka
dunia-kangouw.blogspot.com
harimau ini mendongkol sekali dan jika menurutkan hatinya, sekali pukul saja dia dapat menghancurkan
tubuh pemuda yang dianggapnya tolol itu.
Akan tetapi tadi dia sudah mendengar celaan dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ketika dia melukai pemuda
muka merah itu, maka kini dia tidak mau melanjutkan perbuatannya. Lagi pula dia memang melihat sendiri
betapa pemuda tani ini terlempar kepadanya bukan karena kehendak sendiri, melainkan karena ditendang
oleh pemuda murid Pak-lo-sian itu.
Maka dia lalu mengulurkan tangan. Sekali sambar dia sudah memegang leher baju Kwan Cu dan
melontarkan tubuh pemuda itu ke tempatnya yang tadi, yakni di dekat Yok-ong, juga dekat Kwa Ok Sin,
Jeng-kin-jiu, dan Liok-te Mo-li.
Sambil berteriak-teriak ketakutan tubuh Kwan Cu terputar-putar di udara dan meluncur ke dekat Liok-te
Mo-li. Nenek ini mengulur tangan dan menangkapnya, lalu melepaskannya di dekat Yok-ong sambil
berkata,
"Orang muda, kau bersemangat besar. Aku kagum sekali!"
Kwan Cu tidak banyak cakap, segera duduk di dekat Yok-ong, diam-diam menerima obat pemunah bisa
dan menelannya menurut petunjuk Yok-ong.
"Kau lancang sekali, hampir-hampir terbuka rahasia kita," kata Yok-ong.
"Teecu tidak bisa membiarkan Sui Ceng tewas," jawab Kwan Cu.
Sementara itu, Pak-lo-sian menegur muridnya.
"Kun Beng kau benar-benar tidak tahu budi. Lihat, nona Bun tertolong nyawanya karena perbuatan
pemuda muka merah tadi, dan kau bahkan menendangnya. Sungguh sangat memalukan aku yang menjadi
gurumu!"
Kun Beng terkejut dan ketika dia melihat, benar saja, Sui Ceng telah siuman kembali dan warna biru hitam
pada pundaknya telah lenyap! Kiu-bwe Coa-li sedang memeriksa jalan darah muridnya dan dia pun
mengangguk puas.
"Aneh sekali, nyawamu tertolong oleh suatu keajaiban, Sui Ceng." kata nenek ini sambil memandang ke
arah Kwan Cu yang masih duduk merengut.
Kun Beng menjadi girang dan juga amat malu. Ia lalu melompat ke tengah lapangan dan menghadapi Toatbeng
Hui-houw.
"Sahabatku kalah olehmu, marilah kau coba mengalahkan aku!"
Pak-lo-sian mengomel, "Kun Beng benar-benar berani mati dan gegabah sekali. Mana dia bisa menangkan
siluman itu? Swi Kiat, suruh dia kembali!"
Gouw Swi Kiat cepat mentaati perintah suhu-nya dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat di
sebelah Kun Beng. Akan tetapi sebelum dia sempat menyampaikan pesan suhu-nya, Toat-beng Hui-houw
yang menyangka bahwa dia hendak dikeroyok dua, telah tertawa bergelak dan siap untuk menyerang. Dia
tidak gentar menghadapi kedua orang pemuda ini dan dia dapat menduga bahwa mereka ini adalah muridmurid
Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Toat-beng Hui-houw, kau mundurlah. Jasamu sudah cukup. Karena sekarang yang maju adalah murid
Pak-lo-sian Siangkoan Hai, biarkan pinceng yang menghadapinya." Yang berkata demikian ini adalah Bian
Kim Hosiang, ketua Bu-tong-pai.
Kata-kata ini sungguh sangat mengherankan oleh karena biasanya, seorang ciangbunjin (ketua partai)
tidak mau turun tangan dengan begitu mudahnya, apa lagi menghadapi seorang anak murid partai lain,
kecuali kalau menghadapi ketua lain partai.
Akan tetapi dalam hal ini, tindakan Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong pai ini dapat pula dimengerti. Ia
merasa sakit hati sekali terhadap Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang disangka
dunia-kangouw.blogspot.com
membunuh sute-nya secara pengecut sekali. Maka kini dia hendak membalas dendam, hendak
mengalahkan murid Pak-lo-sian dan kemudian sesudah itu, kalau Pak-lo-sian merasa sakit hati baru dia
akan melayani Dewa Utara itu.
"Benar, pinto juga ingin merasai kelihaian murid Pak-lo-sian!" kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai.
Seperti halnya Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, juga ketua Kim-san-pai ini berpikiran sama. Melihat
bahwa yang maju adalah dua orang murid Pak-lo-sian, maka dia juga ikut maju untuk memberi hajaran
sebagai pembalasan.
Swi Kiat menjadi bingung ketika tiba-tiba dua orang pendeta dari fihak lawan itu tiba-tiba melayang dan
menghadapi dia serta sute-nya. Dia tidak keburu menyampaikan pesanan suhu-nya, karena kalau fihak
lawan sudah keluar dan dia bersama sute-nya kembali, hal itu akan mendatangkan rasa malu yang luar
biasa. Tentu saja dia dan sute-nya dianggap takut dan melarikan diri dari dua orang pendeta ini.
Swi Kiat yang menjadi bingung itu melirik ke arah suhu-nya dan Pak-lo-sian mengerti akan kebingungan
hati muridnya. Kakek ini belum tahu duduknya perkara. Biar pun tadi beberapa kali dua orang ketua dari
Bu-tong dan Kim-san itu menyindir dan memakinya, namun dia tidak sekali-kali mengira bahwa dia
disangka membunuh murid-murid mereka secara curang. Dia sudah kenal kepada dua orang ketua ini dan
tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang jahat dan kejam. Maka dia lalu berkata sambil tersenyum.
"Anak-anak bodoh! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai hendak memberi pelajaran pada kalian, mengapa
tidak lekas-lekas menerimanya?"
Mendengar ini, Swi Kiat lenyap keraguannya dan dia lalu siap sedia dengan senjatanya yang lihai, yaitu
sepasang kipas yang disebut Im-yang Siang-san. Murid pertama dari Pak-lo-sian ini memang sudah
mewarisi keahlian bersilat kipas dengan Ilmu Silat Im-yang San-hoat yang amat lihai. Ada pun Kun Beng
memang sejak tadi sudah mengeluarkan tombaknya.
Bian Kim Hosiang tertawa mengejek. "Biar pun murid-murid kami terbunuh secara curang mempergunakan
ilmu kotor atau ilmu siluman, akan tetapi kami tidak serendah itu dan kami akan merobohkan kalian secara
jujur."
Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sehelai sapu tangan yang panjang. Ia
menggulung-gulung sapu tangan itu menjadi gulungan kain, kemudian sekali dia menggerakkan tangan,
gulungan kain itu menjadi kaku seperti sebatang toya!
Benar-benar seperti Kauw-ce-thian (raja monyet dalam dongeng kuno yang mempunyai wasiat tongkat
kim-kauw-pang) memainkan tongkat wasiatnya! Dengan senjata buatan sendiri ini, ternyata bahwa Bian
Kim Hosiang tidak saja telah memandang ringan kepada lawannya, juga dia telah memperlihatkan bahwa
tenaga lweekang-nya besar bukan main. Sambil memutar toya kain ini Bian Kim Hosiang menghadapi Kun
Beng yang bersenjata tombak.
Sedangkan Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai, orangnya lebih sabar dari pada ketua Bu-tong-pai, juga
kepandaiannya tidak kalah. Bin Kong Siansu terkenal sebagai tokoh besar yang telah memperkembangkan
dan memperbaiki Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat yang sudah tersohor lihai itu sehingga sekarang Ilmu
Pedang Kim-san Kiam-hoat boleh direndengkan dengan ilmu-ilmu pedang dari partai-partai besar, bahkan
ada pula yang menyatakan bahwa ilmu pedang ini satu sumber dengan ilmu pedang dari Thian-san-pai
yang banyak dikagumi orang. Tosu ini lantas menghadapi Swi Kiat dan mengulur tangan mencabut keluar
sebatang pedang tipis.
"Orang muda, majulah untuk menerima hukuman dari dosa yang diperbuat oleh gurumu," katanya
perlahan.
Swi Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ini, akan tetapi melihat betapa Kun Beng
sudah mulai bertanding melawan Bian Kim Hosiang, dia pun menjura kepada ketua Kim-san-pai itu, lalu
dengan sepasang kipasnya dia melakukan serangan hebat.
Bin Kong Siansu menggerakkan pedangnya dan sekali saja pedangnya itu bergerak, dua sinar berkelebat
ke arah sepasang kipas di tangan Swi Kiat. Tentu saja pemuda ini amat terkejut dan tidak membiarkan
kipasnya rusak dalam segebrakan saja.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebagai seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, dia pun sudah dapat melihat bahwa pedang lawannya
tadi melakukan semacam gerak tipu yang mirip Goat-kan Ji-jit (Bulan Mengejar Dua Matahari) dan hendak
menusuk bolong sepasang kipasnya. Maka cepat dia mengelak dan kini sepasang kipasnya mulai
digerakkan dalam permaianan silat kipas yang amat lihai dari suhu-nya, yakni Im-yang San-hoat.
Sepasang kipas ini dimainkan dengan gerakan yang saling bertentangan, misalnya kalau kipas kanan
menyambar dari kanan, maka kipas kiri menyambar dari kiri, atau kalau yang pertama menyambar dari
atas, yang ke dua menyusul dengan serangan dari bawah dan sebagainya. Yang amat menyulitkan adalah
betapa lawan tidak dapat menduganya, yang kanan ataukah yang kiri yang menjadi penyerang
sesungguhnya dan mana pula yang hanya pancingan belaka.
Namun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Tingkatnya
masih melebihi Swi Kiat, demikian pula ginkang serta lweekang-nya. Oleh karena itu, dengan pedangnya
yang digerakkan secara cepat dan kuat, dia dapat menggagalkan semua serangan balasan dari pemuda
itu, bahkan sebaliknya dia segera menggencet lawannya.
Bagaimana dengan Kun Beng? Sama saja keadaannya dengan suheng-nya. Kepandaian ketua Bu-tongpai
sudah sejajar dengan kepandaian tokoh-tokoh besar lainnya. Biar pun Bian Kim Hosiang hanya
mempergunakan toya terbuat dari pada kain, akan tetapi setiap kali tombak di tangan pemuda itu terpukul
oleh senjata yang aneh ini, Kun Beng merasa telapak tangannya sakit-sakit.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai tahu benar bahwa kedua orang muridnya tidak akan sanggup mencapai
kemenangan. Hal ini pun tidak dianggap memalukan, karena dia sudah tahu bahwa dia sendiri kiranya
tidak akan mudah mengalahkan ketua-ketua dari Kiam-san-pai dan Bu-tong-pai itu, apa lagi kedua
muridnya itu boleh dibilang sudah patut dipuji, karena menghadapi dua orang ciangbunjin itu mereka masih
dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus!
Lagi pula, semenjak tadi sebagai guru, Pak-lo-sian memperhatikan semua gerakan ilmu silat dua muridnya
dan dia tidak melihat adanya kesalahan-kesalahan. Mereka terdesak bukan karena kalah lihai ilmu silat
yang mereka pelajari, hanya karena tingkat mereka masih kalah tinggi, baik dalam hal tenaga dalam mau
pun kecepatan atau pengalaman bertempur.
Ia pun tidak gelisah ketika pada saat hampir yang bersamaan pundak Swi Kiat tersabet pedang sehingga
pemuda ini terhuyung-huyung lalu roboh mandi darah dan Kun Beng mengeluh kesakitan ketika pangkal
pahanya terpukul oleh toya kain yang kadang-kadang keras seperti baja itu sehingga pemuda ini pun
roboh. Pak-lo-sian dapat melihat bahwa luka-luka yang diderita oleh dua orang muridnya itu tidak
berbahaya.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat dua orang pendeta itu memburu maju sambil mengangkat
senjata untuk membinasakan kedua orang muridnya. Pucatlah wajah Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Dia adalah seorang tokoh besar yang tak mau berlaku curang atau menyalahi peraturan. Meski pun kedua
orang muridnya terancam bahaya maut, akan tetapi baginya lebih baik kematian dua orang muridnya atau
walau pun dia sendiri akan mati, dia tidak nanti akan melanggar peraturan yang jujur.
Kwan Cu melihat kedua orang pemuda itu menghadapi bahaya maut, otomatis hendak bergerak. Akan
tetapi dia kalah dulu oleh Liok-te Mo-li, wanita seperti setan yang pernah dijumpainya, yakni ibu dari Kong
Hoat, nelayan muda yang ‘cengeng’ itu.
Nenek ini melompat dan ginkang-nya memang amat hebat sehingga sekali melompat dia telah berada di
tengah lapangan.
"Traaang!"
Pedang di tangan Bin Kong Siansu sampai mengeluarkan bunga api ketika terbentur oleh tongkat hitam
yang dipegang Liok-te Mo-li ketika nenek ini menangkis tusukan pedang ketua Kim-san-pai yang diarahkan
ke tenggorokan Swi Kiat, sedangkan tongkat itu lantas bergerak lagi amat cepatnya menangkis toya kain di
tangan Bian Kim Hosiang!
Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terkejut sekali. Tenaga nenek ini ternyata bukan main hebatnya dan
melihat wajah nenek ini, mereka merasa bulu tengkuk mereka berdiri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang Liok-te Mo-li berwajah menyeramkan, apa lagi pada saat itu ia sedang marah, maka wajahnya
menjadi lebih hebat lagi. Kedua orang tokoh besar dunia kang-ouw itu terheran-heran karena selamanya
mereka belum pernah melihat nenek aneh ini.
"Siapakah kau dan kenapa kau mencampuri urusan pertandingan yang dilakukan secara jujur?"
membentak Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dengan marah.
Liok-te Mo-li tertawa. Suara tawanya juga amat menyeramkan, karena biar pun perlahan saja namun amat
menusuk anak telinga.
"Hi-hi-hi! Aku mendengar bahwa kalian adalah ketua-ketua partai besar Bu-tong-pai dan Kim-san-pai,
mengapa seganas itu hatimu? Aku tidak peduli tentang pertempuran antara kedua fihak dan kedatanganku
ini adalah karena undangan dari Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi, biar pun di dalam undangan disebutkan akan
diadakan musyawarah besar, namun kenyataan apa yang kulihat? Pertandingan-pertandingan yang berat
sebelah! Tadi kulihat kakek seperti siluman yang kukunya panjang itu menghina seorang nona muda, dan
kini kulihat pula dua ekor monyet tua menghina dua orang muda dan hendak membunuhnya! Aku tidak
memihak kepada siapa pun, akan tetapi melihat orang-orang muda dihina oleh orang-orang tua bangka,
aku Liok-te Mo-li tidak nanti tinggal diam saja!"
Dua orang ketua partai ini terkejutlah mendengar nama ini. Nama ini sudah amat terkenal sebagai nama
yang amat menakutkan karena sepak terjang Liok-te Mo-li memang aneh dan kadang-kadang mendirikan
bulu roma saking hebatnya.
Sebelum mereka sempat membuka mulut, mendadak dari rombongan Kiam Ki Sian-jin melompat dua
orang, yakni Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong. Dua orang kakak beradik seperguruan dari Tibet ini
memandang dengan marah. Terdengar suara Kiam Ki Sianjin yang memang menyuruh dua orang
kawannya ini maju.
"Ji-wi Bengcu (dua ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai harap mengundurkan diri dan biarkan Hek-i
Hui-mo dan sute-nya menghadapi nenek yang usil tangan dan gatal mulut ini!"
Karena kedatangan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ke tempat itu memang hanyalah bertujuan
membalaskan sakit hati mereka atas kematian murid mereka dan mereka tidak ingin melibatkan diri dalam
permusuhan dengan golongan atau orang-orang lain, maka keduanya lalu mengangkat pundak dan
mengundurkan diri.
Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempergunakan kesempatan itu untuk melompat ke depan dan
menyambar tubuh dua orang muridnya yang terluka untuk dirawat.
Hek-i Hui-mo sudah pernah bertemu dengan Liok-te Mo-li, bahkan dulu dia juga pernah bertempur dengan
nenek ini pada saat Liok-te Mo-li membasmi gerombolan perampok di daerah Tibet dan karena kepala
perampok itu terhitung ‘anak buah’ dari Hek-i Hui-mo maka terjadi bentrok di antara mereka. Namun
pertempuran itu masih belum diketahui mana yang kalah dan siapa yang menang karena Liok-te Mo-li
sudah keburu melarikan diri setelah melihat fihak Hek-i Hui-mo mengerahkan seluruh anak buahnya untuk
maju mengeroyoknya.
"Hemm, Hek-i Hui-mo, siluman jahat! Dengan adanya kau di sini, mudah sekali diambil kesimpulan fihak
mana yang tidak benar! Manusia macam kau tentu selalu membantu yang jahat," kata Liok-te Mo-li. "Kau
hendak mengeroyokku seperti dulu? Kau sekarang sudah mengekor kepada bala tentara kerajaan? Nah,
terimalah hadiahku ini!"
Sambil berkata demikian, Liok-te Mo-li yang tiba-tiba naik darahnya melihat Hek-i Hui-mo, menggerakkan
kedua tangannya sambil mengempit tongkatnya. Sinar lembut melayang dari kedua tangannya dan
langsung menyerang Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong dan para kawan mereka yang berdiri di rombongan
Kiam Ki Sianjin.
Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong, dan para tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin dan lain-lain cepat
mengebutkan ujung lengan baju dan ada yang mengelak ketika jarum-jarum halus itu menyambar. Akan
tetapi ada beberapa orang yang kurang tinggi kepandaiannya tidak sempat lagi menghindarkan diri.
Tiga orang perwira pengikut Kiam Ki Sianjin menjerit dan roboh dengan muka berubah pucat. Nyawa
mereka sukar ditolong karena jarum-jarum ini sudah memasuki tubuh dan bergerak melalui jalan darah,
dunia-kangouw.blogspot.com
langsung menyerang urat-urat nadi yang berbahaya!
"Aduh celaka, Liok-te Mo-li tidak dapat menahan nafsu dan membuat gara-gara!" kata Kwa Ok Sin sambil
berdiri dan membanting-banting kakinya.
Jeng-kin-jiu juga menggeleng-gelengkan kepala, akan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu
sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.
"Tiga orang itu takkan dapat diselamatkan lagi," kata Yok-ong perlahan kepada Kwan Cu.
Pemuda ini sudah hendak bangun dan membantu Liok-te Mo-li ketika melihat nenek ini dikeroyok oleh
Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya sudah dipegang oleh Yok-ong yang
berbisik,
"Kau jangan bergerak. Mereka itu terlalu lihai, aku sendiri pun tidak berani sembarangan bergerak. Liok-te
Mo-li mencari penyakit sendiri dan memperbesar permusuhan. Kita lihat saja bagaimana
perkembangannya nanti."
Walau pun Kwan Cu tidak takut sedikit pun juga menghadapi tokoh-tokoh besar di fihak Kiam Ki Sianjin,
akan tetapi dia pikir bahwa omongan Yok-ong ini benar juga, maka dia berdiam diri saja. Betapa pun juga,
sepak terjang Liok-te Mo-li tidak dia setujui, biar pun nenek ini membela keadilan, akan tetapi dia terlalu
ganas sehingga sekali turun tangan ia telah menewaskan tiga orang perwira yang sebetulnya tidak tahu
apa-apa.
Sementara itu, Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong telah maju dan ikut mengeroyok Liok-te Mo-li. Tentu saja
nenek ini menjadi sibuk sekali. Memang kepandaiannya sudah tinggi, akan tetapi kepandaian Hek-i Hui-mo
juga tidak boleh dibuat main-main. Apa lagi selama beberapa tahun ini kepandaian Hek-i Hui-mo sudah
meningkat tinggi sekali, setelah dia mempelajari ilmu silat aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang
palsu seperti yang dia dengar dibacakan oleh pujangga Tu Fu.
Selain itu, dia dibantu oleh Coa-tok Lo-ong yang tingkat kepandaiannya juga tidak lebih rendah dari pada
suheng-nya dan Liok-te Mo-li. Kalau hanya menghadapi salah seorang di antara dua tokoh Tibet ini,
agaknya pertandingan akan berjalan lebih seimbang dan ramai, akan tetapi dikeroyok dua seperti itu, Liokte
Mo-li benar-benar amat terjepit dan terdesak.
Sepasang senjata Hek-i Hui-mo amat berbahaya, yakni seuntai tasbih di tangan kiri dan sebatang Liongthouw-
tung (Tongkat Kepala Naga) di tangan kanan. Dia lalu melakukan serangan bertubi-tubi dengan
kedua senjatanya, dan setiap serangan cukup keras untuk menghancurkan batu karang.
Ada pun Coa-tok Lo-ong mainkan senjatanya yang mengerikan, yakni sebatang tongkat yang sebetulnya
adalah seekor ular berbisa yang masih hidup! Ular hidup ini tadinya dia simpan di dalam saku bajunya yang
lebar dan ular itu tak bisa bergerak karena memang pusat tulang belakangnya sudah ditekan sebelum
digulung dan dikantongi.
Sekarang dia buka totokan pada tubuh ular itu dan dengan memegangi ekornya dia lalu memainkan ular itu
dengan hebatnya! Dapat dibayangkan sendiri betapa berbahayanya senjata seperti ini karena selain
dikerahkan dengan penyaluran tenaga lweekang hingga dapat dipakai untuk memukul serta menotok, juga
ular itu sendiri bergerak-gerak sambil mengeluarkan semburan bisa sehingga sukar sekali dihadapi.
Baiknya tenaga Liok-te Mo-li amat besar sehingga ketika dia memutar tongkatnya, angin menderu dan
debu beterbangan, tubuhnya terbungkus oleh sinar tongkat dan debu. Akan tetapi dia sudah amat tua,
keuletan tenaganya terbatas dan sebentar saja setelah dapat mempertahankan diri selama delapan puluh
jurus, ia mulai terengah-engah.
Liok-te Mo-li terkejut menghadapi kenyataan betapa majunya kepandaian Hek-i Hui-mo dan bahwa sute
dari pendeta Tibet ini pun lihai sekali. Ia maklum bahwa akhirnya ia akan kalah dan roboh juga, maka diamdiam
ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.
Tanpa terasa lagi Kwan Cu memegangi tangan Yok-ong yang dekat dengan lengannya. Kwan Cu
memandang ke arah Liok-te Mo-li dengan wajah ngeri, sebaliknya Yok-ong terkejut bukan kepalang ketika
merasa betapa tangannya diremas oleh tangan Kwan Cu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia merasa betapa tulang-tulang tangannya seperti akan remuk. Dari tangan pemuda itu keluar hawa yang
luar biasa sekali sehingga raja tabib ini merasa seluruh lengannya lumpuh, sebentar panas sekali dan
sebentar pula dingin bukan main.
Dia melongo dan memandang kepada Kwan Cu, lalu dia mencoba mengerahkan seluruh hawa murni dan
tenaga lweekang dari tubuhnya untuk melawan tenaga yang keluar dari tangan Kwan Cu. Akan tetapi
alangkah kaget dan herannya ketika lweekang-nya tidak kuat menghadapi tekanan itu!
Akan tetapi perlawanannya menginsyafkan Kwan Cu bahwa tanpa disengaja dia sudah memijit tangan
Yok-ong dengan pengerahan tenaga sakti Im-yang Bu-tek Sinkang yang dia pelajari dari kitab rahasia itu,
maka cepat-cepat dia melepaskan pegangannya. Untuk mengalihkan perhatian Yok-ong, dia segera
berbisik,
"Locianpwe, apakah yang dikeluarkan oleh Liok-te Mo-li itu?"
Sebenarnya dia sudah melihat nyata bahwa nenek itu mengeluarkan daun Liong-cu-hio, daun aneh yang
amat mengerikan itu, daun yang mengandung bisa luar biasa sekali dan boleh disebut raja dari sekalian
bisa!
Benar saja, perhatian Yok-ong tertuju kepada nenek itu dan sekali pandang saja muka Yok-ong menjadi
pucat.
"Ahhh, mungkinkah dia memegang Liong-cu-hio? Celaka sekali...!"
Dia hendak melompat dan mencegah nenek itu mempergunakan daun itu, namun sudah terlambat. Sambil
tertawa-tawa aneh Liok-te Mo-li tiba-tiba melontarkan belasan helai daun itu ke arah lawannya dan orangorang
yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin!
Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo adalah tokoh-tokoh kenamaan yang sudah tidak asing lagi dengan
segala macam bisa, maka mencium bau aneh dari daun-daun itu, mereka cepat melompat tinggi untuk
menghindarkan diri. Kemudian, dengan tongkatnya, Hek-i Hui-mo mengemplang dari atas, tepat mengenai
pergelangan tangan kiri nenek itu.
"Krakk!" remuklah pergelangan lengan itu sedangkan ular di tangan Coa-tok Lo-ong juga berhasil memagut
leher nenek itu.
Liok-te Mo-li menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi jeritnya lalu disusul oleh suara ketawanya yang
mendirikan bulu roma dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyebarkan beberapa helai daun lagi sambil
menggigit tongkatnya! Lalu, dibarengi suara ketawanya yang menyayat hati, sebelum dua orang lawannya
sempat menyerang, secepat kilat dia mengemplang kepalanya sendiri dengan tongkat yang dipegangnya.
Dia roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.
Akan tetapi, akibat dari penyebaran daun-daun itu hebat bukan main. Teriakan-teriakan ngeri terdengar
ramai sekali di rombongan Kiam Ki Sianjin. Belasan orang perwira serta anak murid Bu-tong-pai dan Kimsan-
pai roboh dengan tubuh hangus!
Sekali terkena sambitan daun itu, hanguslah bagian tubuh yang terkena dan sebentar kemudian seluruh
tubuh menjadi hangus bagaikan terbakar! Yang hebat lagi, orang lain yang hendak menolong, baru saja
menjamah tubuh kawan yang hangus itu, menjerit dan tangannya menjadi hangus pula!
Tentu saja para tokoh yang berkepandaian tinggi, dapat menyelamatkan diri dan dapat mengelak dari
sambaran daun-daun itu, akan tetapi kali ini kerugian mereka benar-benar hebat sekali sehingga di fihak
Kiam Ki Sianjin menjadi gempar. Kiam Ki Sianjin sendiri marah bukan main. Ia menantang pihak Pak-losian
Siangkoan Hai.
"Pak-lo-sian jangan enak-enakan mengandalkan campur tangan dari luar! Hayo lekas keluarkan lagi jagojagomu!"
Coa-tok Lo-ong kemudian mempergunakan sebatang pisau kecil untuk menusuk-nusuk daun-daun Liongcu-
hio itu, lalu daun-daun itu dibungkus dengan hati-hati dan disimpan dalam saku baju. Ia kelihatan girang
sekali mendapatkan daun-daun yang berbahaya ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lebih celaka lagi kalau daun-daun itu disimpan oleh manusia seperti itu," kata Yok-ong perlahan. Wajah
orang tua ini kelihatan gelisah sekali melihat akibat pertempuran yang demikian mengerikan.
Pak-lo-sian sudah menanggalkan baju luarnya. Dia melihat betapa dua orang muridnya telah terluka. Sui
Ceng sudah terluka pula. Dua orang murid Kun-lun-pai yang masih ada tidak boleh diandalkan, maka dia
hendak maju sendiri.
"Nanti dulu, Pak-lo-sian. Ingat bahwa kau adalah wakil kami, sebab itu kau harus maju terakhir. Biarkan
pinto maju lebih dulu untuk membalas kematian murid-murid pinto," kata Seng Thian Siansu.
Pak-lo-sian menggeleng kepalanya. "Tidak bisa, Siansu. Kau adalah orang tertua, maka berilah
kesempatan kepadaku yang lebih muda."
"Omongan apa yang kalian keluarkan ini? Akulah yang akan maju lebih dahulu," berkata Kiu-bwe Coa-li.
"Tidak bisa!" bantah Pak-lo-sian.
"Tar! Tar! Tarrr!" Cambuk Kiu-bwe Coa-li berbunyi.
"Aku maju lebih dulu dan habis perkara!" Kata-katanya ini disusul oleh gerakannya yang amat cepat dan
tahu-tahu ia telah berada di tengah lapangan.
Melihat majunya Kiu-bwe Coa-li yang dianggap sebagai pembunuh murid mereka, naik darah Bian Kim
Hosiang dan Bin Kong Siansu dan serentak mereka maju lagi sebelum didahului oleh orang lain. Hal ini
amat menggirangkan hati Kiam Ki Sianjin sehingga dia memberi isyarat mencegah Hek-i Hui-mo yang
hendak maju. Memang inilah maksud dari Kiam Ki Sianjin, yakni hendak mengadukan mereka. Ia tahu
betul akan kelihaian Kiu-bwe Coa-li.
"Bagus, sekarang kami mendapat kesempatan membalas kematian murid-murid kami!" seru Bian Kim
Hosiang yang cepat menyerang.
Kini Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai ini tidak lagi menggunakan toya yang dibuatnya dari kain,
melainkan dia menyambar sebuah toya kuningan yang asli, yakni senjatanya yang sejak tadi dibawa-bawa
oleh seorang muridnya. Serangan toyanya amat hebat dan sambaran senjatanya ini mendatangkan angin
yang berbunyi mengaung.
Namun Kiu-bwe Coa-li tidak menjadi gentar, bahkan sambil mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya,
dia mengelak dan membalas. Sembilan ekor cambuknya menari-nari di udara, masing-masing
mengeluarkan suara yang nyaring dan mengurung tubuh ketua Bu-tong-pai itu dari segala jurusan dengan
totokan-totokan mautnya! Sebentar saja dua orang tokoh besar itu sudah saling menyerang sambil
mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan semua kepandaian mereka yang amat tinggi.
Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai juga amat benci pada Kiu-bwe Coa-li yang dianggap membunuh sutenya
secara curang, karena itu dia pun lantas menggerakkan pedangnya mengeroyok.
Perlu diketahui bahwa dua orang pendeta yang tewas secara aneh, yakni Bin Hong Siansu adalah sute
dari Bin Kong Siansu, sedangkan yang kedua, yakni Bian Ti Hosiang adalah murid kepala dari Bian Kim
Hosiang. Mereka merupakan orang-orang penting dari kedua partai persilatan itu, karena itu kematian
mereka mendatangkan kegemparan dan dendam yang hebat.
Sejak tadi, Pak-lo-sian sudah beberapa kali mendengar ucapan kedua orang ketua partai persilatan itu,
maka diam-diam dia merasa sangat heran dan tidak mengerti mengapa mereka menyebut dia dan Kiu-bwe
Coa-li sebagai pernbunuh-pembunuh curang. Kini dia melihat Kiu-bwe Coa-li dikeroyok dua orang, maka
dia menjadi penasaran dan cepat dia melompat ke dalam gelanggang pertempuran, menggunakan
kipasnya untuk menangkis pedang di tangan Bin Kong Siansu sambil berseru.
"Bin Kong Siansu, tahan dulu!"
Bin Kong Siansu menjadi makin marah melihat majunya Pak-lo-sian. Memang Kiu-bwe Coa-li dan Pak-losian
yang dicari-carinya maka dia bersama ketua Bu-tong-pai datang di situ.
"Kebetulan sekali, kau harus mampus bersama siluman wanita itu!" bentaknya sambil menyerang.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Nanti dulu, Siansu. Kau dan Bian Kim Hosiang agaknya amat membenci kami berdua, ada apakah?"
"Masih berpura-pura? Benar-benar tua bangka jahanam tak tahu malu. Kau dan Kiu-bwe Coa-li secara
curang dan tak bermalu sudah membunuh sute-ku dan murid kepala dari Bu-tong-pai, sekarang masih
pura-pura bertanya lagi?" jawab ketua Kim-san-pai sambil menyerang terus.
"Ehh, ehh, omongan kosong apa yang kau keluarkan ini?" tanya Pak-lo-sian dan lagi-lagi dia menangkis.
"Kami ada bukti dan saksi, tak perlu banyak mulut lagi. Kalau kau berani, terimalah ini!" Bin Kong Siansu
menyerang untuk ketiga kalinya dan kali ini serangannya sangat hebat sehingga terpaksa Pak-lo-sian
melayaninya.
"Kalau kau menyerangku sebagai seorang yang berfihak kepada penjilat kaisar, aku akan mengadu nyawa
denganmu. Akan tetapi kau menyerangku karena salah sangka, aku tak mau melayanimu." Sambil berkata
begitu, Pak-lo-sian hendak meninggalkan lawannya.
"Pengecut tua bangka, kau hendak mempermainkan orang dengan siasatmu! Bin Kong Siansu, jangan
percaya mulut tua bangka yang memang ahli siasat dan akal bulus ini!" tiba-tiba terdengar suara yang amat
tinggi dan tahu-tahu seekor ular melayang langsung menyerang ke arah kepala Pak-lo-sian.
Tokoh utara ini cepat mengebut dengan kipasnya sehingga kepala ular itu terdorong oleh angin kipas dan
dia cepat melanjutkan dengan menotokkan ujung gagang kipas ke arah penyerangnya. Coa-tok Lo-ong,
penyerang itu, cepat mengelak karena dia maklum akan kelihaian lawannya.
Bin Kong Siansu tadinya juga merasa heran mendengar penyangkalan Pak-lo-sian. Akan tetapi ucapan
dari Coa-tok Lo-ong ini membuat dia tidak ragu-ragu lagi dan segera dia membantu Coa-tok Lo-ong,
memutar pedang kemudian menyerang Pak-lo-sian. Dengan demikian, Siangkoan Hai dikeroyok dua!
Bagaimana Bin Kong Siansu bisa ragu-ragu lagi? Surat peninggalan yang ditandatangani oleh sute-nya
dan murid kepala Bu-tong-pai sudah menjadi bukti yang nyata, apa lagi masih ada saksi hidup yang kini
pun berada dan hadir di tempat itu, yakni Siok Tek Tojin. Maka dia percaya penuh akan kata-kata Coa-tok
Lo-ong dan menganggap bahwa orang yang begitu curang membunuh sute-nya, tentu takkan segan-segan
untuk menggunakan siasat guna mencoba menyangkal perbuatannya itu.
Melihat Pak-lo-sian telah dikeroyok dua oleh Bin Kong Siansu dan Coa-tok Lo-ong, Hek-i Hui-mo lalu
melompat pula dan membantu Bian Kim Hosiang ikut mengeroyok Kiu-bwe Coa-li. Pertempuran menjadi
makin ramai dan hebat dengan masuknya Hek-i Hui-mo ini.
"Tidak adil...! Sungguh tak adil...!" bentak Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang cepat-cepat ‘menggelundung’
naik dan menyerbu ke tempat pertempuran. "Adu kepandaian macam apa ini? Sungguh tak tahu malu,
kiranya hanya main keroyokan saja."
"Ehh, Jeng-kin-jiu, kau mau apakah?" tiba-tiba berkelebat bayangan dan di hadapannya sudah
menghadang Kiam Ki Sianjin dan Toat-beng Hui-houw. "Apa kau mau membantu fihak pemberontak yang
mengacaukan negara?"
"Aku tidak membantu mana-mana! Aku hanya menghendaki agar supaya pertempuran-pertempuran yang
berat sebelah ini dihentikan! Aku sudah menyesal sekali dahulu dapat diperkuda oleh An Lu Shan sehingga
aku kesalahan tangan membunuh Ang-bin Sin-kai sahabat baikku. Sekarang ini, kalian tokoh-tokoh besar
di dunia kang-ouw, yang mewakili semua orang gagah di dunia, yang katanya memiliki kedudukan batin
lebih tinggi dari pada orang biasa, apakah hanya untuk seorang raja saja kalian sampai mengadu nyawa
mati-matian?"
"Habis apa kehendakmu?" tanya Kiam Ki Sianjin sambil tersenyum mengejek.
"Kiam Ki Sianjin, pada saat kau masih mengeram di dalam goa di gunungmu, aku sudah berada di istana.
Akan tetapi kau sekarang bersikap seakan-akan engkau sudah menjadi seorang jenderal! Alangkah
sombongmu. Dengarlah baik-baik, jika memang kau seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kalau
saja pibu (adu kepandaian) ini memang akan diteruskan, berlakulah jujur dan tidak secara pengecut.
Biarkan seorang lawan seorang, jangan main keroyokan. Aku sudah ribuan kali bertempur dan ratusan kali
menghadapi pibu, akan tetapi selama hidupku baru kali ini menyaksikan pibu yang demikian tidak tahu
dunia-kangouw.blogspot.com
malu!"
"Jeng-kin-jiu, kau adalah orang luar. Walau pun aku sudah memanggilmu ke sini, akan tetapi ternyata kau
menarik diri sendiri dan menjadi penonton dan orang luar. Kau peduli apa? Kau lihat sendiri, mereka
bertempur atas kehendak mereka, tidak ada orang yang memaksa. Kalau mereka memang suka berdamai,
mengapa mereka memaksa hendak mengadakan adu kepandaian? Sudahlah, kami juga tidak mau
menyeret engkau dalam pertandingan ini, lebih baik kau keluar dan turun dari gunung ini."
"Tak mungkin! Aku bisa membiarkan kalian bertanding kalau memang adil, akan tetapi aku paling benci
kecurangan dan ketidak adilan. Tidak boleh aku berpeluk tangan saja melihat hal ini terjadi di depan
mataku!" Sambil berkata demikian, Jeng-kin-jiu siap untuk menyerang dan membantu Kiu-bwe Coa-li dan
Pak-lo-sian yang dikeroyok dan didesak hebat oleh para pengeroyoknya.
Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar dua kali ledakan dan asap tebal sekali berwarna hitam campur
putih segera memenuhi tempat itu.
Jeng-kin-jiu yang berada agak jauh dari ledakan ini, kaget dan cepat melompat mundur ke dekat Kwa Ok
Sin kembali karena mencium bau yang amat keras. Akan tetapi semua orang yang berada di dekat
gelanggang pertempuran, kecuali Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo, menjadi terhuyung-huyung dan
bernapas terengah-engah lantas roboh terguling! Mereka yang roboh adalah Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian
Siangkoan Hai, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu!
Apakah yang terjadi? Tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan Yok-ong hanya berseru perlahan kepada
Kwan Cu. "Itulah asap berbisa obat pembius yang sering dipergunakan oleh penjahat dari See-than (negeri
barat)! Heran, dari mana datangnya asap itu?"
Akan tetapi meski pun Kwan Cu juga tidak melihat siapa yang mempergunakannya, dia telah tahu dengan
baik bahwa yang mengeluarkan obat bius itu tentulah Coa-tok Lo-ong, sute dari Hek-i Hui-mo sebab dulu di
kuil tempat tinggal Siok Tek Tojin, dia sudah pernah mencium bau asap itu.
Hek-i Hui-mo tertawa bergelak ada pun Coa-tok Lo-ong cepat menciumkan obat penawar di depan hidung
Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dalam beberapa detik saja
mereka ini telah siuman kembali dan menjadi amat terheran-heran.
Akan tetapi, Hek-i Hui-mo cepat menghampiri tubuh Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, lalu menotok mereka
sehingga sebelum orang lain bisa mencegahnya, kedua tulang pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li
sudah terlepas sambungannya! Mereka untuk beberapa lama tidak akan dapat bersilat sebelum tulang itu
disambung kembali!
"Ji-wi Pai-cu dari Bu-tong dan Kim-san, sekarang musuh-musuh besar Ji-wi sudah roboh. Tidak membalas
dendam sekarang, Ji-wi mau tunggu kapan lagi?" kata Kiam Ki Sianjin kepada ketua Bu-tong-pai dan Kimsan-
pai.
Akan tetapi kedua orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam partai mereka ini, tentu saja merasa malu
untuk membinasakan lawan yang sudah roboh karena pengaruh obat bius. Melakukan hal itu dianggap
amat rendah. Akan tetapi jika tidak membunuh mereka sekarang, bukanlah hal yang mudah untuk
merobohkan dua orang tokoh besar itu selagi mereka sadar. Karenanya, dua orang ketua partai ini menjadi
ragu-ragu dan bersangsi.
"Kalau Ji-wi tidak tega, biarlah aku yang membunuh mereka!" Coa-tok Lo-tong berkata sambil melompat
maju ke arah Kiu-bwe Coa-li dan serentak dia menggerakkan ularnya ke arah tenggorokan Kiu-bwe Coa-li!
“Bangsat rendah, pergilah kau!"
Tiba-tiba Coa-tok Lo-ong merasa ada sambaran angin yang dahsyat sekali dari samping. Karena dia tidak
dapat mengelak lagi, dia membatalkan serangannya terhadap Kiu-bwe Coa-li dan mempergunakan tangan
kirinya untuk menangkis.
"Dukkk!"
Dua tangan beradu dan Coa-tok Lo-ong terlempar sampai dua tombak lebih, akan tetapi Jeng-kin-jiu yang
menyerangnya juga terpental ke belakang sampai empat kaki! Ternyata bahwa kehebatan tenaga dua
dunia-kangouw.blogspot.com
orang tokoh ini hampir sama, akan tetapi ternyata bahwa tenaga raksasa dari Jeng-kin-jiu masih lebih
unggul. Berkat tingginya lweekang mereka, adu tenaga tadi tidak mendatangkan luka di dalam tubuh.
"Jeng-kin-jiu, kau bukan orang luar lagi sekarang, akan tetapi pembantu pemberontak!" bentak Hek-i Huimo
yang segera mengayun tongkat kepala naga dan menyerang kepala Jeng-kin-jiu.
"Bangsat Hek-i Hui-mo, apakah kau lupa akan perundingan kita dulu?" seru Jeng-kin-jiu sambil menangkis
ayunan tongkat itu dengan toyanya.
Pertemuan tongkat dan toya yang digerakkan dengan tenaga raksasa ini menimbulkan suara keras hingga
orang-orang yang berada di dekat situ merasai getaran yang hebat.
Seperti diketahui, dulu memang Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu keduanya membantu An Lu Shan. Bahkan
ketika tokoh-tokoh besar yang berjiwa patriot seperti Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian dan yang lain-lain datang
menyerbu istana, mereka inilah yang melindungi An Lu Shan dan menyelamatkan nyawa kepala
pemberontak itu.
Akan tetapi kemudian, melihat betapa rakyat Han berjuang terus, bahkan dipimpin oleh orang-orang
pandai, mata Jeng-kin-jiu baru terbuka bahwa hal yang ia lakukan bukanlah main-main belaka. Ia boleh
disuruh menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw yang bagaimana pandai pun, akan tetapi menghadapi
gelombang perjuangan rakyat bangsanya sendiri, dia bergidik dan merasa ngeri.
Oleh karena ini dia lalu mengadakan perundingan dengan kawan-kawannya, yakni Hek-i Hui-mo, Toatbeng
Hui-houw serta yang lain-lain, menyatakan kekhawatirannya karena ternyata bahwa yang mereka
lindungi adalah musuh rakyat jelata, bukan musuh Kaisar Tang sebagaimana yang tadinya mereka kira.
Jeng-kin-jiu semenjak itu lalu mengasingkan diri di atas gunung, menyesali perbuatannya yang sudah
membikin banyak orang gagah gugur termasuk Ang-bin Sin-kai. Sebaliknya, Hek-i Hui-mo, Toat-beng Huihouw
dan yang lain-lain kembali kena dibujuk oleh Kiam Ki Sianjin sehingga mereka kini kembali
membantu kaisar asing. Hal ini adalah karena Hek-i Hui-mo memang berdarah Tibet, maka dia tidak peduli
akan perjuangan bangsa Han.
Kini dua orang tokoh besar yang sama gemuknya dan sama pula lihainya itu bertanding. Jika tadinya Kwan
Cu sudah mau melompat maju melihat Coa-tok Lo-ong menggunakan asap obat bius, kini dia
mengurungkan niatnya lagi. Kejadian itu semua terjadi demikian cepat dan kini pundak Kiu-bwe Coa-li dan
Pak-lo-sian telah tertotok, menggeletak dalam keadaan masih pingsan.
Melihat betapa fihak Pak-lo-sian kini tinggal Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang amat tua itu, Kwan
Cu sudah ingin sekali membantu mereka, akan tetapi kembali niatnya ini terpaksa dia tunda karena kini dia
asyik menyaksikan pertarungan antara Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo. Hatinya berdebar tegang.
Dua orang ini juga termasuk pengeroyok-pengeroyok dan pembunuh-pembunuh Ang-bin Sin-kai. Apa lagi
dia masih ingat betul bagaimana ketika dia masih kecil, dua orang tokoh besar ini pun pernah menawan
dan ikut menyiksanya saat mereka memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Akan tetapi tiba-tiba terasa olehnya semacam perasaan yang aneh. Walau pun dia akui bahwa dua orang
yang bertempur itu adalah musuh-musuh dan pembunuh gurunya, jadi keduanya juga musuh yang harus
dia balas, namun melihat mereka berdua saling serang itu hati Kwan Cu condong kepada Jeng-kin-jiu dan
dia mengharapkan kemenangan bagi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!
Hal ini sebetulnya tidak mengherankan bagi kita, karena ketika pertama kali muncul di dunia ramai,
memang anak ini ditemukan oleh Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai, sebagai satu-satunya orang yang
selamat dari kapal yang tenggelam oleh badai dan ombak. Lalu, bahkan Jeng-kin-jiu yang memberi nama
Kwan Cu padanya sedangkan Ang-bin Sin-kai yang memberi nama keturunan Lu.
Biar pun tokoh-tokoh aneh itu tidak menyatakan, akan tetapi setidaknya Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai
adalah seperti ‘ayah-ayah angkat’ bagi Kwan Cu. Tentu saja dia lebih sayang kepada Ang-bin Sin-kai
karena pengemis sakti ini selain menjadi gurunya, juga sikapnya lebih baik terhadapnya.
Pada waktu Kwan Cu memperhatikan jalannya pertempuran, ternyata bahwa betapa pun lihainya Jeng-kinjiu
dengan toyanya, akan tetapi tongkat dan tasbih Hek-i Hui-mo masih lebih lihai lagi. Memang, dulu ketika
mereka masih memperebutkan Kwan Cu dan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tingkat atau
dunia-kangouw.blogspot.com
ketangguhan ilmu silat mereka seimbang.
Akan tetapi, semenjak mendengar isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng salinan yang dibaca oleh pujangga Tu
Fu, Hek-I Hui-mo lalu mendapat kemajuan yang hebat dan juga aneh, seperti halnya Kiu-bwe Coa-li yang
juga ikut mendengarkan. Tadi ketika dikeroyok kalau saja tidak keburu Coa-tok Lo-ong melepaskan asap
berbisa yang amat ampuh, agaknya tidak akan ada yang sanggup mengalahkan atau merobohkan Kiu-bwe
Coa-li.
Kwan Cu yang melihat betapa Jeng-kin-jiu ternyata masih kalah setingkat, menjadi ikut penasaran. Dalam
hal tenaga, agaknya Jeng-kin-jiu tidak kalah, akan tetapi ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo benar-benar aneh
dan ditambah pula dengan tasbihnya yang laksana tangan maut menyambar-nyambar, keadaan Jeng-kinjiu
menjadi amat terdesak.
Tiba-tiba Kwan Cu mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang mengandung kemarahan besar. Akan
tetapi dia tidak berbuat sesuatu, karena kesadarannya mengingatkan bahwa yang bertempur adalah
musuh-musuh besar gurunya.
Dia mengeluarkan seruan ketika melihat kecurangan yang terjadi dalam pertempuran itu. Tanpa disangkasangka,
Coa-tok Lo-ong menyerang Jeng-kin-jiu dengan senjata rahasia yang amat halus dan tidak dapat
dilihat oleh mata.
"Itu jarum-jarum Coa-tok-ciam...," Yok-ong juga berseru perlahan.
Jeng-kin-jiu bukanlah seorang yang disebut tokoh nomor satu di selatan kalau dia tidak tahu akan
serangan gelap ini. Biar pun jarum-jarum itu sangat halus dan tidak kelihatan oleh mata, akan tetapi dia
masih dapat mendengar suara angin senjata rahasia ini dan cepat-cepat dia mengebutkan tangan baju
sebelah kiri. Ia tidak dapat berbuat lain karena pada saat itu, Hek-i Hui-mo sedang melakukan serangan
yang hebat dan mendesaknya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyingkirkan diri.
Oleh karena ini, biar pun dia dapat mempergunakan ujung lengan baju menyampok jatuh banyak jarumjarum
Coa-tok-ciam (Jarum Racun Ular) tetapi sama sekali dia tidak dapat membebaskan diri dari ancaman
jarum-jarum yang dilontarkan dalam gelombang ke dua. Tiga batang jarum hitam yang amat halus sudah
mengenai tubuhnya, sebatang di paha, sebatang di pundak dan sebatang lagi merasuki punggungnya.
Kalau orang lain yang terkena jarum-jarum ini, tentu akan roboh pada saat itu juga. Akan tetapi Jeng-kin-jiu
adalah seorang yang tubuhnya sudah dipenuhi oleh hawa murni dan tenaga lweekang-nya sudah dapat dia
salurkan sampai ke ujung-ujung kuku. Karena itu, begitu merasa tiga bagian tubuhnya itu gatal-gatal dan
sakit, dia cepat mempergunakan Ilmu Pi-khi Koan-hiat (Menutup Hawa Menghentikan Jalan Darah)
sehingga racun dari Coa-tok-ciam yang memasuki tubuhnya tidak dapat menjalar, namun hanya
mengeram di sekitar jarum itu saja.
Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa terkurung, Jeng-kin-jiu lalu memutar toyanya dengan
tenaga raksasa, segera maju dan menyerang membabi-buta. Terutama sekali dia mengejar Coa-tok Loong
yang sudah melukainya dengan cara sangat curang itu.
Coa-tok Lo-ong terkejut sekali karena tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu sudah tiba di depannya dan
memukul dengan kerasnya. Dia mengelak dan berbareng dari samping menyabetkan ularnya ke arah dada
Jeng-kin-jiu.
Akan tetapi, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mengulur tangan kiri, menangkap kepala ular itu dan sekali
remas saja, hancurlah kepala ular itu! Berbareng dengan itu, kembali dia mengirim serangan dengan
toyanya.
Coa-tok Lo-ong cepat menyingkir dan sebentar saja Jeng-kin-jiu yang mengamuk seperti singa gila itu telah
dikurung oleh Hek-i Hui-mo dan lain-lain. Bahkan kini para perwira ikut pula mengepungnya. Akan tetapi
ternyata mereka ini mengantar nyawa secara sia-sia saja karena hanya dalam sekejap mata tangan Jengkin-
jiu telah menghancurkan kepala beberapa orang pengeroyok.
"Mundur semua...!" berseru Kiam Ki Sianjin yang kini ikut mengepung pula. "Biarkan para cianpwe yang
membunuh anjing gila ini!"
Akan tetapi semua keributan ini sebetulnya tak ada gunanya. Pada saat dia mengamuk, terpaksa untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
menyalurkan tenaga lweekang pada gerakan-gerakannya, kadang kala Jeng-kin-jiu harus melepaskan Ilmu
Pi-khi Koan-hiat sehingga racun itu mulai menjalar di tubuhnya.
Maka tiba-tiba dia merasa kedua matanya gelap. Sambil meramkan mata, hwesio yang kosen ini masih
saja mengamuk terus, dan dia hanya melindungi tubuh dan melakukan serangan semata-mata menurutkan
pendengaran telinganya saja.
Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Racun telah sampai di jantungnya dan tanpa mengeluarkan
keluhan sedikit pun, Jeng-kin-jiu lalu roboh dan tewas dengan toya masih berada dalam genggaman
tangannya! Melihat hal ini, semua orang tertegun dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi.
"Inilah orang yang benar-benar gagah perkasa, patut ditiru oleh kita semua. Demikianlah hendaknya sikap
seorang gagah dan namanya takkan terlupa oleh keturunan kita!" kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas
panjang berulang-ulang.
Pada saat pertempuran tadi terjadi, Sui Ceng telah menghampiri gurunya dan berlutut di depan tubuh
gurunya dengan muka sedih. Demikian pula Kun Beng dan Swi Kiat telah berlutut di depan Pak-lo-sian
Siangkoan Hai.
Dua tokoh besar ini sudah siuman dari pingsannya dan kini mereka hanya memandang murid-murid
mereka dengan senyum tawar. Mereka tak berdaya, dan meski pun mereka dengan bantuan murid-murid
mereka dapat duduk, akan tetapi kedua pundak mereka tak dapat digerakkan lagi sehingga tak mungkin
mereka sanggup menghadapi lawan dalam pertempuran.
"Sekarang boleh dilakukan hukuman terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang telah membunuh
murid-murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!" Coa-tok Lo-ong berkata nyaring tanpa mengenal malu sambil
memandang pada dua orang ketua partai Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.
"Asal mereka telah mengaku dan memberi tahu kenapa mereka melakukan pembunuhan secara curang
terhadap muridku, pinto sudah puas dan bersedia memaafkan mereka," kata Bin Kong Siansu ketua Kimsan-
pai. Mendengar ucapan ini, Bian Kim Hosiang juga mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang mendengar omongan itu lalu tertawa bergelak. Biar pun kedua pundak
dan lengannya tidak dapat digerakkan lagi, namun tubuhnya masih kuat dan sekali menggerakkan kaki, dia
sudah melompat berdiri, kedua muridnya berdiri di kanan-kirinya. Sikapnya masih gagah, hanya kedua
lengannya saja yang tergantung tak berdaya.
"Kedua orang Ciangbunjin dari Bu-tong serta Kim-san agaknya sudah gila, buta atau memang sudah
kembali menjadi anak-anak kecil. Aku Siangkoan Hai, selama hidup tidak pernah berbuat curang, sungguh
pun sudah berkali-kali aku dicurangi orang seperti yang baru saja kualami ini. Maka dua orang Ciangbunjin
harap membuka mata lebar-lebar dan mempergunakan pula otaknya!"
"Benar, kalian sudah ditipu oleh jahanam-jahanam tak tahu malu seperti Coa-tok Lo-ong, tapi masih
keenakan saja, mana orang-orang macam kalian ini pantas menjadi ketua dari partai-partai besar?" kata
Kiu-bwe Coa-li yang juga sudah berdiri.
Sui Ceng berdiri di sebelahnya dan kini cambuk berekor sembilan itu dipegang oleh Sui Ceng. Biar pun
gadis ini masih agak lemah dan pundaknya masih terasa sakit, ia dengan gagah berdiri di samping
gurunya, siap membelanya mati-matian.
Mendengar kata-kata Kiu-bwe Coa-li yang tanpa disengaja mendakwa kepada Coa-tok Lo-tong, sute dari
Hek-i Hui-mo ini berubah mukanya. Akan tetapi Kiam Ki Sianjin yang mendalangi semua itu, menjadi
khawatir sekali. Tokoh-tokoh besar yang pro rakyat kini sudah tidak berdaya, tidak membasmi mereka
sekarang mau tunggu kapan lagi? Kalau mereka ini sudah tewas, berapa besar kekuatan pemberontak?
"Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, biar pun kalian sekarang sudah dikalahkan, aku masih membuka
kesempatan bagimu. Apa bila kalian suka tunduk dan berjanji akan membantu kami atau akan membujuk
agar supaya para pemimpin pemberontak mengundurkan diri, kami akan memberi ampun kepada kalian
dan murid-murid serta kawan-kawanmu."
"Bangsat tua, siapa sudi mendengar omongan-omonganmu? Mau bunuh lekas bunuh, habis perkara!" kata
Kiu-bwe Coa-li dan biar pun kedua lengannya sudah lumpuh dan tak dapat digerakkan lagi, namun
dunia-kangouw.blogspot.com
sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat, ada pun sepasang kakinya siap pula untuk mengirim
tendangan maut.
"Kiam Ki Sianjin, anjing penjilat belang! Apa sih sayangnya kalau tulang-tulangku yang keropos ini
dihancurkan? Aku akan mati sebagai seorang gagah, bukan seperti kau yang kelak mampus seperti anjing
penjilat kelaparan yang tidak dipakai lagi oleh majikanmu, penjajah asing!" Pak-lo-sian Siangkoan Hai
mencaci.
Mendengar ini, naik darah Kiam Ki Sianjin dan dia lalu mencabut pedangnya. Dia adalah seorang tokoh
besar yang berjulukan Pak-kek Sian-ong, bagaimana dia dapat menelan mentah-mentah hinaan ini?
"Kalau begitu mampuslah kalian!" bentaknya.
Akan tetapi tiba-tiba Seng Thian Siansu melompat dan pedangnya menangkis pedang di tangan Kiam Ki
Sianjin.
"Nanti dulu, Kiam Ki Sianjin. Biar pun kawan-kawanku telah kalah oleh akal busuk, akan tetapi di fihakku
masih ada aku orang tua. Kalau aku sudah kalah, boleh kalian berbuat sesuka hatimu terhadap kami.
Hayo, majulah, aku menyediakan selembar nyawaku yang tidak berharga!"
Walau pun sudah sangat tua dan lemah, ketua Kun-lun-pai ini berdiri dengan gagahnya. Pedangnya sudah
siap di tangan, melakukan gerakan Sian-jin Tit-louw (Dewa Menunjuk Jalan), membuka kuda-kudanya
dengan tenang sekali.
Seng Thian Siansu adalah ketua Kun-lun-pai, yaitu seorang tua yang banyak dikenal dan disegani orang.
Sebagai seorang ciangbunjin dari partai yang amat besar, dia dihormati sekali dan karenanya kali ini
setelah dia yang maju, dari fihak Kiam Ki Sianjin tidak ada yang berani mengeroyok.
Akan tetapi mereka ini tidak menjadi gentar, karena para tokoh ini maklum bahwa Seng Thian Siansu yang
sekarang berbeda dengan Seng Thian Siansu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kakek ini sudah
terlalu tua dan kabarnya sudah beberapa kali menderita sakit tua sehingga amat lemah dan tidak memiliki
tenaga besar lagi.
Toat-beng Hui-houw hendak mencari jasa, maka sambil tertawa-tawa dia melompat maju menghadapi
Seng Thian Siansu.
"Aku mohon pengajaran dari Siansu yang namanya tersohor di kolong langit," katanya sambil menyeringai
dan menggerakkan kedua tangan sehingga sepuluh kukunya terulur panjang.
Kemudian dengan gerakan cepat sekali dia maju menyerang dengan kedua tangannya yang digerakkan
seperti seekor harimau mencakar. Tak ketinggalan pula kedua kakinya mengirim tendangan bertubi-tubi
sehingga dia betul-betul terlihat seperti seekor harimau menyerang.
Seng Thian Siansu adalah seorang ketua dari partai besar, tentu saja kepandaiannya amat tinggi. Dia
adalah ahli waris dari ilmu silat Kun-lun-pai dan tentang kepandaian, dia jauh lebih menang dari pada Toatbeng
Hui-houw. Akan tetapi sayang sekali, sudah ada belasan tahun dia termakan oleh usia tua sehingga
tenaganya sebagian lenyap dan juga kegesitannya berkurang banyak. Bagaikan sebatang pedang pusaka
yang ampuh, apa dayanya kalau sudah dimakan karat?
Maka begitu pedangnya yang menangkis serangan Toat-beng Hui-houw terbentur oleh kuku tangan kakek
seperti siluman ini, dia lantas merasa telapak tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dengan cepat
Seng Thian Siansu terkurung dan terdesak hebat oleh Toat-beng Hui-houw yang menyerang sambil
tertawa-tawa mengejek.
Akan tetapi dia salah kira kalau dapat dengan mudah mengalahkan kakek yang usianya sudah tinggi sekali
itu. Ilmu pedang dari Seng Thian Siansu sudah mencapai tingkat yang mendekati kesempurnaan, maka
daya tahannya juga sangat luar biasa.
Sayang sekali, seperti sudah dituturkan di atas, tenaga kakek ini sudah amat terbatas, demikian pula
kecepatannya. Sebentar saja dia sudah mulai terengah-engah, akan tetapi dengan semangat penuh dia
masih terus mempertahankan diri.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu sudah bergerak hendak melompat, akan tetapi kembali Yok-ong mencegahnya.
"Bagaimana kita bisa membantu kalau mereka bertempur satu lawan satu?" katanya.
Kwan Cu menjadi bingung. Semenjak tadi dia hendak membantu fihak Pak-lo-sian, akan tetapi kesempatan
baik belum ada. Tentu saja dia pun harus tunduk pada Yok-ong yang mengemukakan alasan-alasan kuat.
Sebagai orang gagah dia pun harus bisa memegang aturan.
Sekarang Seng Thian Siansu benar-benar terdesak hebat. Pada suatu saat, Toat-beng Hui-houw yang
merasa penasaran sekali mengapa sebegitu lama belum juga dia mampu mengalahkan kakek tua renta itu,
membentak keras dan tahu-tahu kedua tangannya bisa menangkap tangan ketua Kun-lun-pai itu yang
memegang pedang.
Seng Thian Siansu merasa tangan kanannya sakit sekali bagaikan terjepit oleh jepitan baja. Kuku-kuku
kedua tangan Toat-beng Hui-houw amblas ke dalam tangannya dan menghancurkan tangan itu. Akan
tetapi, sambil menahan sakit, ketua Kun-lun-pai ini lalu menggunakan tangan kirinya untuk memukul sambil
mengerahkan seluruh sisa tenaga terakhir ke arah dada Toat-beng Hui-houw.
"Blekkk!"
Toat-beng Hui-houw mengeluarkan gerengan seperti seekor macan terpukul. Tubuhnya terhuyung dan dia
muntahkan darah segar. Biar pun tenaga kakek Kun-lun-pai itu tidak begitu besar, akan tetapi karena rasa
sakit pada tangan kanannya, tenaganya bertambah dan pukulan itu hebat sekali.
Akan tetapi, dia sendiri terpaksa harus melepaskan pedangnya dan tangan kanannya sudah bukan berupa
tangan lagi. Jari-jemarinya putus dan tangan itu hancur! Seng Thian Siansu maklum bahwa selain tangan
kanannya hancur, juga darahnya telah kemasukan racun yang keluar dari kuku-kuku tangan Toat-beng
Hui-houw, karena itu dia lalu duduk bersila meramkan mata, menanti datangnya maut dengan tenang.
Sebaliknya, Toat-beng Hui-houw akhirnya roboh pingsan. Pada saat semua orang masih bengong melihat
pertempuran yang berakibat hebat itu, mendadak Sui Ceng melompat, menyambar pedang Seng Thian
Siansu yang jatuh di atas tanah dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, gadis ini mengayun
pedang itu dan putuslah leher Toat-beng Hui-houw!
Sesaat semua orang terkesima, akan tetapi segera gegerlah orang-orang yang berada di fihak Kiam Ki
Sianjin. Beberapa orang melompat maju, bahkan Kiam Ki Sianjin sendiri berseru,
"Curang sekali...!"
Setelah memenggal kepala Toat-beng Hui-houw, Bun Sui Ceng lalu tertawa nyaring dan berkata, "Ibu,
terbalaslah sudah dendam hatimu terhadap siluman ini!" Kemudian dengan air mata mengucur gadis ini
berdiri dengan gagahnya menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya.
"Bukan Seng Thian Siansu yang curang, akan tetapi aku sendiri, Bun Sui Ceng, yang sengaja memenggal
kepala siluman ini untuk membalas sakit hati ibuku yang dulu tewas di tangannya. Siapa yang tidak terima,
boleh maju! Untuk perbuatanku tadi, aku sanggup menghadapi segala akibatnya!"
"Tangkap dia!"
"Bunuh dia!"
"Basmi semua pemberontak!"
Teriakan-teriakan ini terdengar saling susul dan semua orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, kecuali
orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, serentak bergerak hendak menggempur Sui Ceng dan yang
lain-lain.
"Tahan dulu...!"
Tiba-tiba ada bayangan yang melayang dan menyambar-nyambar amat cepatnya, diikuti oleh bayangan
lain yang juga amat gesitnya. Bayangan pertama adalah Kwan Cu yang tidak dapat menahan hatinya lagi,
apa lagi ketika melihat betapa Sui Ceng berada dalam bahaya hendak dikeroyok.
dunia-kangouw.blogspot.com
Begitu tiba di tempat itu, Kwan Cu segera menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengeroyok.
Dengan amat cepat, tanpa dapat terlihat oleh lain orang, dia telah memukul mundur semua orang dengan
pukulan-pukulan Pek-in Hoat-sut.
Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya hanya merasa adanya angin yang kuat sekali mendorong
mereka mundur beberapa tindak dan ternyata tahu-tahu pemuda dusun yang tadi dianggap tolol telah
berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang.
Ada pun bayangan kedua adalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Berbeda dengan Kwan Cu, raja tabib ini
dengan cepat luar biasa bagaikan burung menyambar-nyambar, telah dapat menyambar tubuh Thian Seng
Siansu, kemudian berturut-turut ia juga menyambar tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li,
dibawa ke belakang, kemudian tanpa mempedulikan sesuatu dia mengobati tokoh-tokoh yang terluka ini.
Pertama-tama dia mempergunakan obat untuk mengobati luka pada tangan Seng Thian Siansu karena
keadaan kakek ini yang paling hebat. Sesudah menotok beberapa jalan darah, Yok-ong cepat memberi
obat pada tangan yang rusak itu dan memasukkan pil ke dalam mulut kakek ini yang memandangnya
dengan penuh keheranan dan kekaguman.
Setelah itu, barulah Yok-ong memeriksa pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Karena dia sangat lihai
dalam ilmu pengobatan, tulang pundak yang sudah terlepas dan kalau menurut ahli pengobatan lainnya
baru akan sembuh sedikitnya dua pekan, sebentar saja Yok-ong sudah dapat menyambungnya dengan
baik!
"Sayang masih tidak boleh mengerahkan tenaga lweekang di kedua lengan pada hari ini, harus menanti
sampai dua hari," kata Yok-ong kepada dua orang tokoh itu.
"Ehh, muka hitam! siapakah kau yang sudah berpura-pura dungu dan bodoh, menyamar sebagai petani
ini?" tanya Kiu-bwe Coa-li dengan heran sekali.
Pak-lo-sian tertawa. "Ha-ha-ha, di dunia ini yang sanggup mengobati orang dengan cara seperti ini
hanyalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Bukankah kau Yok-ong?"
Akan tetapi Yok-ong tak menjawab, hanya menudingkan telunjuk ke depan dan mukanya berubah
terheran-heran sehingga dia menjadi bengong. Pak-lo-sian serta Kiu-bwe Coa-li juga memandang ke
depan. Mereka melihat betapa Sui Ceng sudah mundur, juga kini Sui Ceng, Kun Beng, Swi Kiat dan dua
orang anak murid Kun-lun-pai, juga memandang dengan bengong ke tengah lapangan adu silat tadi.
Memang apa yang mereka lihat amat mengherankan hati mereka.
Kwan Cu dengan tangan bertolak pinggang sedang menghadapi Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya.
Pemuda ini kelihatan marah sekali, akan tetapi mukanya terlihat amat lucu karena muka yang berwarna
merah seperti udang direbus itu tidak dapat digerakkan sehingga seperti topeng saja.
"Kalian ini para pengkhianat bangsa dan anjing-anjing penjilat selalu memutar balikkan duduknya perkara.
Diri sendiri pengecut dan curang mengatakan orang lain yang curang. Sungguh tak tahu malu!"
Karena Kwan Cu sengaja mengubah suaranya, Kiam Ki Sianjin tidak mengenalnya. Akan tetapi karena
melihat betapa pukulan anak muda ini benar-benar lihai, dia berlaku sangat hati-hati dan menjawab,
"Bocah dusun! Bagaimana kau dapat berkata begitu? Memang fihak Pak-lo-sian curang sekali, jika tidak
curang, kenapa gadis itu membunuh Toat-beng Hui-houw yang sedang tak berdaya?"
"Nona itu membunuh siluman Toat-beng Hui-houw bukan untuk mengeroyok dan bukan untuk berlaku
curang. Kalian sudah mendengar sendiri bahwa ibunya dulu terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw!
Pembalasan dendam tidak boleh dicampur-aduk dengan perbuatan curang. Andai kata kalian
menganggapnya mengeroyok, biarlah hal itu dianggap sebagai pembalasan pula karena bukankah kalian
tadi juga mengeroyok ketika kedua locianpwe Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian maju?"
"Setan kecil! Apa bila kau memang murid seorang pandai dan mengaku sebagai seorang gagah atau
pendamai, ternyata kau berat sebelah! Mungkin sekali Toat-beng Hui-houw membunuh ibu gadis itu,
namun siapa tahu kalau memang ibu gadis itu ternyata adalah penjahat besar?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu tertawa dan dia menjura kepada Kiam Ki Sianjin dengan penghormatan yang sifatnya mengejek.
"Harap Locianpwe suka mendengarkan dongenganku sebentar. Toat-beng Hui-houw itu adalah suheng
dari Tauw-cai-houw, saikong yang berwatak keji dan suka makan daging anak-anak kecil. Maka, pada
suatu hari pendekar wanita Pek-cilan Thio Loan Eng yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru
dunia, menewaskan bangsat keji itu dengan pedangnya. Bukankah hal itu telah cukup adil? Lalu siluman
tua ini, Toat-beng Hui-houw, melakukan pembalasan terhadap Pek-cilan Lihiap. Ini pun boleh-boleh saja
karena dia memang suheng dari Tauw-cai-houw. Akan tetapi tahukah Locianpwe bagaimana cara Toatbeng
Hui-houw membalas dendam? la menawan Pek-cilan Lihiap, kemudian selagi pendekar wanita itu
masih hidup, dia menggigit lehernya dan mengisap darahnya sampai habis!"
Terdengar seruan-seruan kaget. Dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai beserta anak murid mereka
bergidik mendengar perbuatan yang sangat keji dan di luar batas peri kemanusiaan ini! Bun Sui Ceng
menjadi pucat dan dia mengeluarkan pertanyaan tanpa disadarinya.
"Siapa dia yang mengerti semua peristiwa itu?"
Pertanyaan ini terdengar pula oleh Kiam Ki Sianjin yang juga menjadi penasaran, maka tanyanya.
"Orang muda, siapakah namamu dan apa kehendakmu sekarang?"
"Namaku? Namaku ialah Ang-bin Siauw-bu-beng (Si Kecil Tak Bernama Yang Bermuka Merah). Dan
kehendakku? Tak lain kedatanganku ini untuk mendongeng!"
Semua orang, baik dari fihak Kiam Ki Sianjin mau pun dari fihak Pak-lo-sian Siang-koan Hai, tak ada
seorang pun yang pernah mendengar nama julukan Ang-bin Siauw-bu-beng, maka mereka memandang
dengan heran. Apa lagi ketika Kwan Cu menyatakan bahwa kedatangannya untuk mendongeng!
Sui Ceng hampir tak dapat menahan ketawanya karena ia merasa amat lucu. Bagaimana bisa di tengahtengah
medan pertandingan mati-matian yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa orang, pemuda
muka merah yang buruk rupa ini bahkan datang hendak mendongeng? Sungguh menggelikan.
Akan tetapi Kiam Ki Sianjin marah bukan main. Dia adalah seorang ahli silat kelas satu, masa sekarang dia
boleh dipermainkan begitu saja oleh seorang badut muda?
"Jangan kau main-main, lekas pergi kalau kau tidak ingin remuk tulang-tulangmu. Siapa sudi mendengar
ocehan dan dongenganmu?"
Sambil berkata demikian, dia mendorong dengan kedua tangannya dengan sikap seperti orang mau
mengusir. Akan tetapi, sebenarnya dalam dorongannya ini dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang
luar biasa dahsyatnya.
Kwan Cu hanya merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah kedua tangannya lantas diangkat seperti
orang yang mencegah orang lain hendak memukulnya.
Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Tadi dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang dan dia tahu bahwa
jangankan pemuda aneh ini, walau pun batu yang beratnya beribu kati akan terguling bila terkena
dorongannya ini. Baru angin dorongannya saja sudah mengandung tenaga sedikitnya tiga ratus kati.
Akan tetapi, pemuda itu dengan merendahkan tubuh sambil mengangkat kedua tangan, ternyata dari
angkatan tangan ini keluar sebuah tenaga tersembunyi yang dari bawah mendorong tangan Kiam Ki
Sianjin ke atas sehingga dorongan tenaga Jian-mo-kang lewat di atas kepala Kwan Cu mengenai angin
kosong! Daun-daun pohon yang berada di sebelah belakang Kwan Cu seperti tertiup angin pada waktu
terkena sambaran tenaga Jian-mo-kang yang menyeleweng ke atas ini sehingga rontoklah banyak daun
pohon itu!
"Locianpwe, ampunkan selembar nyawaku. Jangan bunuh aku dahulu sebelum boanpwe (aku yang
rendah) selesai mendongeng," kata Kwan Cu sambil tersenyum. "Tadi sudah kuceritakan dongeng
mengenai Toat-beng Hui-houw sehingga kita semua kini tahu akan macam orang itu dan kiranya sudah
sepatutnya kalau nona yang lihai itu membunuhnya. Sebelum mendongeng mengenai para locianpwe yang
kini masih hidup, aku akan mulai dengan yang sudah tewas, yakni Jeng-kin-jiu Locianpwe. Dia itu sekarang
memang telah tewas sebagai seorang gagah, akan tetapi sangat disayangkan bahwa kematiannya itu
dunia-kangouw.blogspot.com
merupakan penebusan dosa dari penyelewengan hidupnya. Sungguh amat disayangkan. Jeng-kin-jiu Kak
Thong Taisu merupakan seorang tokoh besar dari selatan yang biar pun amat aneh akan tetapi belum
pernah berlaku curang dan jahat. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh guru besar Khong Cu, musuh
manusia yang paling berbahaya adalah diri sendiri! Melihat kehidupan mulia dan enak, Jeng-kin-jiu sudah
kena dibujuk dan menjadi kaki tangan An Lu Shan, bahkan mengajar para pangeran, sama sekali tak
peduli bahwa majikannya itu adalah penindas bangsanya. Kemudian, lebih celaka lagi, dengan kawankawannya
yang sama-sama menyeleweng batinnya, dia melakukan pengeroyokan dan membunuh
seorang pendekar besar yang namanya akan tetap wangi selama dunia ini berkembang, yaitu Ang-bin Sinkai
Lu Sin! Ada pun Liok-te Mo-li nenek yang aneh itu, memang dia gagah perkasa dan lihai sekali, juga di
waktu lampau dia selalu membasmi orang-orang jahat. Sayang dia terlalu ganas dan kejam, menyebar
maut seenaknya saja, maka akhirnya ia pun tewas akibat kecurangan orang-orang jahat pula!"
Mendengar ucapan-ucapan Kwan Cu semakin mengacau, apa lagi melihat betapa kedua musuh besarnya,
yakni Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertolong dan telah diobati oleh seorang kakek muka hitam yang
aneh, Bian Kim Ho siang dan Bin Kong Siansu menjadi marah dan keduanya melompat maju.
"Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dua manusia durhaka! Jangan kalian bersembunyi di balik kegilaan badut
kecil ini. Kalian sudah sembuh? Hayo kita bertanding lagi sampai salah seorang di antara kita mampus!"
bentak Bian Kim Hosiang.
"Fihak Pak-lo-sian sudah kalah semua, di sana tidak ada jagonya lagi. Menurut perjanjian mereka harus
mengaku kalah kemudian mentaati perintah dan kehendak kami!" Kiam Ki Sianjin berkata keras, tanpa
mempedulikan lagi kepada pemuda muka merah itu.
Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu saling pandang, lalu tersenyum pahit.
"Kiam Ki Sianjin, kami adalah orang-orang gagah yang sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat lagi!"
Seng Thian Siansu mengangguk-anggukkan kepalanya yang semua rambutnya sudah putih. Mereka
memang sudah tidak berdaya.
Kiu-bwe Coa-li sudah tak dapat menggerakkan dua lengannya, demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Seng Thian Siansu sendiri tangannya sudah remuk, tak mungkin mampu berkelahi lagi. Murid-murid Paklo-
sian juga terluka, demikian pula Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li. Ada pun dua orang murid Kun-lunpai
kepandaiannya masih sangat jauh di bawah tingkat lawan. Mereka terpaksa harus mengaku kalah.
"Jadi kau sudah mengaku bahwa fihakmu kalah, Pak-lo-sian?" Kiam Ki Sianjin bertanya dengan muka
kegirangan.
"Memang... kami..."
Tiba-tiba Kwan Cu melanjutkan kata-kata Pak-lo-sian ini dengan cepat.
"Kami belum lagi kalah! Aku Ang-bin Siauw-bu-beng mewakili fihak Pak-lo-sian Cianpwe menjadi jagonya!"
Mendadak Yok-ong melompat di dekat Kwan Cu. Semua orang lagi-lagi tertegun karena gerakan kakek
muka hitam itu sedemikian cepatnya sehingga sekali melihat saja tahulah semua orang bahwa kakek ini
memiliki kepandaian yang amat tinggi.
"Siauw-bu-beng, tak boleh kau meninggalkan Lohu! Kalau kau yang muda berani maju, mengapa aku
tidak?"
Yok-ong adalah seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah hampir sempurna, maka tentu saja dia pun
dihinggapi penyakit ‘gatal tangan’ seperti ahli-ahli silat lainnya apa bila melihat adu kepandaian, apa lagi
menghadapi begitu banyak jago-jago silat. Maka dia tak dapat menahan hatinya untuk ‘main-main’
sebentar, dan di samping ini dia juga merasa khawatir melihat Kwan Cu menghadapi para tokoh besar itu.
Dia tahu bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi berapa tinggikah kepandaian seorang
bocah yang masih belum matang?
Yok-ong lalu menjura kepada Kiam Ki Sianjin setelah mengejapkan mata kepada Kwan Cu.
"Kiam Ki Sianjin, sudah lama sekali aku mendengar namamu yang menjulang setinggi awan. Sekarang,
dunia-kangouw.blogspot.com
sungguh amat menyenangkan bertemu dengan kau yang hadir sebagai kaki tangan kaisar. Aku tak akan
menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, dan mohon petunjukmu dalam ilmu pukulan."
Kwan Cu maklum akan ‘penyakit’ ahli silat yang menghinggapi diri Yok-ong, maka sambil memainkan mata
kepada dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, dia berkata,
"Ji-wi Locianpwe harap mundur dulu, nanti saja kalau tiba giliran kita, Ji-wi maju lagi!"
Kata-kata ini memanaskan perut Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai. Kalau saja yang mengeluarkan katakata
main-main ini bukan seorang bocah, tentu dia sudah mengirim serangan. Akan tetapi Bin Kong Siansu
sudah menarik tangannya diajak mundur.
Kwan Cu juga mundur. Akan tetapi dia berdiri tidak jauh di belakang Yok-ong, karena dia merasa curiga
dan khawatir kalau-kalau Yok-ong akan dicurangi pula.
Walau pun Kiam Ki Sianjin dapat menduga bahwa kakek muka hitam ini lihai, akan tetapi sebagai seorang
tokoh besar dia tidak sudi bertanding melawan orang yang tak terkenal, maka dia lalu menjura dan berkata,
"Sahabat telah mengetahui namaku yang rendah, tapi sebaliknya aku belum tahu dengan siapa aku
berhadapan. Ini tidak adil sekali."
Yok-ong tertawa, suara ketawanya halus dan merdu seperti ketawa seorang yang amat sopan.
"Kiam Ki Sianjin, yang akan bergerak adalah tangan kaki kita, perlu apa memperkenalkan nama? Akan
tetapi karena kau mendesak, baiklah. Namaku adalah Hek-bin Lo-bu-beng (Si Tua Tak Bernama Yang
Bermuka Hitam)!"
Kwan Cu tertawa geli. Kiranya kakek Raja Tabib ini meniru dia, menambah kata-kata Muka Hitam di depan
nama julukan baru, yakni Lo-bu-beng.
Kiam Ki Sianjin menjadi merah mukanya. "Hemm, kau dan bocah itu sengaja tidak mau memperkenalkan
nama. Akan tetapi tak apalah. Apakah kau maju sebagai jago dari fihak pemberontak?"
"Sesukamu, boleh saja kau menganggap begitu. Akan tetapi sebetulnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa
aku maju sebagai wakil dari mereka yang tertindas. Kiam Ki Sianjin, keluarkanlah pedangmu, aku sudah
lama mendengar bahwa kau adalah seorang ahli pedang yang jempolan!"
Kiam Ki Sianjin diam-diam berpikir dan mencari akal. Kalau orang ini sudah tahu bahwa dia pandai main
pedang, tentulah orang ini sudah bersedia terlebih dahulu menghadapi pedangnya, dan boleh dipastikan
bahwa kakek muka hitam ini tentulah seorang ahli pula dalam penggunaan senjata pula.
"Tak perlu menggunakan senjata," katanya, "mari kita mengadu tenaga lweekang saja. Apakah kau berani
menerima?"
Kiam Ki Sianjin adalah seorang yang semenjak muda meyakinkan ilmu lweekang sampai tingkat tinggi dan
dalam hal kepandaian ini, kiranya dia tidak usah kalah oleh lima tokoh besar, yakni Pak-lo-sian, Jeng-kinjiu,
Ang-bin Sin-kai, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li. Karena itu, mengira bahwa Si Muka Hitam ini ahli
senjata, dia lalu memilih adu tenaga lweekang supaya mendapat kemenangan dengan mudah.
Yok-ong pura-pura terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Ayaaa... mengapa kau mengajak yang aneh-aneh?"
"Berani tidak?" tanya Kiam Ki Sianjin mendesak.
Kiam Ki Sianjin merasa girang karena melihat si muka hitam kelihatannya ragu-ragu dan terkejut. Jika si
muka hitam menolak, berarti orang itu mengaku kalah dan boleh dihukum menurut sesuka hati yang
menang.
"Apa boleh buat, kau tuan rumah dan aku tamu yang harus menghormati kehendak tuan rumah. Dengan
cara bagaimana kau hendak mengajakku mengadu kekuatan itu?" tanya Yok-ong.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak berbahaya, sama sekali tidak berbahaya! Kita mengadu telapak tangan dan saling mendorong,
siapa yang jatuh di atas tanah dia yang kalah!" kata Kiam Ki Sianjin sambil tertawa-tawa.
Semua orang terkejut. Memang ada banyak cara mengadu lweekang, akan tetapi yang paling berbahaya
adalah adu lweekang dengan menempelkan telapak tangan dan saling mendorong. Dalam adu lweekang
semacam ini, sembilan bagian orang yang kalah akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang
hebat sekali.
Akan tetapi anehnya, si muka hitam agaknya tidak mengerti akan bahaya itu dan dengan tertawa-tawa dia
berkata,
"Aha, tidak tahunya kau akan mengajak aku main-main seperti anak kecil saja. Baiklah, memang aku pun
tidak mempunyai niat buruk di dalam hatiku. Kalau menang baik, kalau kalah paling-paling hanya terdorong
jatuh, apa susahnya?"
"Sahabat Lo-bu-beng, hati-hatilah! Dia memiliki tenaga Jian-mo-kang!" kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai
yang juga merasa khawatir kalau-kalau si muka hitam yang amat pandai mengobati itu akan binasa di
bawah tangan Kiam Ki Sianjin yang lihai.
Yok-ong menoleh dan tersenyum kepada jago tua dari utara itu.
"Biarlah, kami hanya bermain-main dan saling dorong saja, bukan saling pukul. Apa sih bahayanya?"
Akan tetapi pada waktu dia menoleh, Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga dan meluruskan kedua
lengan ke depan, lalu membentak,
"Lo-bu-beng, bersiaplah!"
Yok-ong memutar tubuhnya dan bukan hanya dia, juga tokoh-tokoh lain yang hadir di situ maklum bahwa
kembali Kiam Ki Sianjin sudah menggunakan kesempatan untuk mencari kedudukan yang lebih
menguntungkan.
Dalam adu tenaga seperti ini, siapa yang mengerahkan tenaga dan meluruskan lengan terlebih dulu, dia
berada dalam kedudukan menyerang, sedangkan yang menempelkan tangan dan meluruskan lengan
terakhir berada dalam kedudukan menahan.
Akan tetapi agaknya si muka hitam ini tidak tahu akan hal ini, bahkan tanpa menarik napas panjang seperti
orang yang hendak mengumpulkan tenaga lweekang, akan tetapi sambil tertawa-tawa dia lantas
memasang kuda-kuda dengan tumit diangkat, kemudian meluruskan tangan menempelkan telapak tangan
ke telapak tangan Kiam Ki Sianjin.
Begitu kedua telapak tangan menempel, Kiam Ki Sianjin lalu mengempos semangat dan napasnya, segera
mendorong sambil mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang dahsyat. Tadi sudah dituturkan mengenai
kehebatan tenaga Jian-mo-kang ini, yang hanya angin pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan
batu seberat tiga ratus kati dan kalau tangan itu menempel pada batu yang beratnya seribu kati, batu itu
akan terdorong roboh.
Akan tetapi, pada saat tangannya menempel pada telapak tangan Yok-ong, dia merasa betapa telapak
tangan si muka hitam itu lunak dan halus sekali seperti kapas! Ia terkejut dan tahu bahwa lawannya
menggunakan Bian-ciang-kang (Telapak Tangan Kapas) yang menggunakan tenaga ‘lemas’ untuk
menghadapi tenaga ‘keras’.
Menghadapi tenaga ini, Kiam Ki Sianjin kehilangan kekuasaan tenaganya, seakan-akan semua tenaga
Jian-mo-kang yang dikerahkan itu ‘amblas’ dalam telapak tangan lawan, atau seperti sepotong besi yang
berat masuk ke dalam air!
Cepat dia hendak menarik kembali telapak tangannya untuk mengubah gencetan dari arah lain. Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika telapak tangannya itu telah ‘menempel’ pada telapak tangan si muka hitam, tidak
dapat ditarik lepas! Telapak tangan lawannya itu seakan-akan mengeluarkan daya luar biasa yang
menyedot kulit telapak tangannya sendiri.
Sebagai seorang ahli silat dan ahli lweekeh, Kiam Ki Sianjin maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli
dunia-kangouw.blogspot.com
dalam menggunakan tenaga ‘Im-kang’, maka kalau dia melanjutkan usahanya menarik kembali tangannya,
dia malah akan kehilangan keseimbangan tenaga dalamnya.
Dengan nekat dia kemudian mendorong lagi. Kini dia mengimbangi kekuatan lawan, jika lawan
menggunakan tenaga Yang-kang, dia pun mengerahkan tenaga Yang-kang, kalau tenaga Im-kang, dia pun
mengerahkan lweekang mempergunakan tenaga Im-kang.
Sebaliknya, diam-diam Yok-ong juga memuji bahwa tenaga lweekang dari lawannya itu benar-benar hebat
dan sudah tinggi sekali, tidak kalah jauh oleh tenaganya sendiri. Maka dia segera mengerahkan tenaganya
dan menggunakan tenaga yang mendorong lawan.
Kini tenaga Yang dari kedua fihak bertanding hebat, disalurkan melalui lengan tangan, terus ke telapak
tangan sehingga dari keempat telapak tangan yang beradu itu mengepul uap putih, sedangkan masingmasing
merasa betapa telapak tangan mereka menjadi panas sekali!
Keringat dingin memenuhi dahi Kiam Ki Sianjin, sedangkan Yok-ong hanya merah saja wajahnya. Dari sini
saja sudah dapat dilihat bahwa tenaga si muka hitam itu sudah lebih tinggi. Apa lagi kalau orang lain yang
melihatnya, karena wajah Yok-ong yang tertutup warna hitam itu tidak berubah sama sekali!
Memang, Kiam Ki Sianjin sudah merasa betapa telapak tangannya seakan-akan terbakar dan kalau dia
teruskan, tentu kedua telapak tangannya akan hangus. Akan tetapi, untuk menarik mundur sudah tidak ada
waktu lagi, maka dia berlaku nekat dan mengerahkan seluruh tenaga Jian-mo-kang.
Hek-i Hui-mo melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, menjadi gelisah sekali. Ia lalu melangkah maju kemudian
dengan tangan kirinya dia mendorong punggung Kiam Ki Sianjin. Dengan perbuatannya ini, biar pun dia
membantu, namun dia sama sekali tidak menyentuh lawan atau si muka hitam, sehingga dia tidak akan
disebut curang.
Akan tetapi, bantuannya ini bagi orang lain akan kelihatan aneh dan bahkan merugikan Kiam Ki Sianjin,
namun sesungguhnya dari telapak tangannya yang menempel punggung Kiam Ki Sianjin, dia menyalurkan
tenaga lweekang-nya yang setingkat dengan Kiam Ki Sianjin, membantu orang tua ini menghadapi si muka
hitam.
Akibat bantuan ini segera kelihatan. Tubuh Yok-ong terdorong ke belakang seperti sudah terdorong oleh
tenaga raksasa! Juga dia merasa telapak tangannya panas sekali.
Ada pun Kiam Ki Sianjin menjadi lega sekali karena rasa panas di tangannya berkurang banyak. Tentu saja
Yok-ong tidak kuat menahan serangan dua tenaga ahli lweekeh yang dipersatukan atau disambung ini dan
dia tahu bahwa dia akan kalah.
Kwan Cu menjadi mendongkol dan merasa marah sekali. Ia melangkah maju dan hendak mendorong
punggung Yok-ong seperti yang sudah dilakukan oleh Hek-i Hui-mo, namun Yok-ong menggerakkan
kepalanya, digelengkan berkali-kali sehingga Kwan Cu terpaksa mundur kembali.
Tiba-tiba saja terdengar Yok-ong berseru keras dan nyaring sekali. Dengan pengerahan tenaga seadanya,
dalam sedetik ia dapat mendorong tangan Kiam Sianjin.
Memang hebat sekali tenaga lweekang dari raja tabib ini, karena biar pun yang menahan di depannya ada
dua orang, akan tetapi pengerahan seluruh tenaganya ini untuk sesaat dapat membuat Kiam Ki Sianjin dan
Hek-i Hui-mo terdorong ke belakang! Sesungguhnya hal ini adalah berkat obat-obat penguat tubuh yang
diminum oleh raja tabib ini, sehingga dia memang mempunyai kekuatan tubuh luar biasa sekali.
Akan tetapi, pengerahan tenaga tadi hanyalah siasat belaka dari Yok-ong karena dia pun maklum bahwa
kalau terus dilanjutkan, akhirnya dia akan kalah juga. Setelah dia berhasil mendorongkan kedudukan lawan
dan kini kedua lawannya mengerahkan seluruh tenaga, tiba-tiba dia mengarahkan kedua tangan ke bawah
lalu melepaskan tempelan tangannya dan tubuhnya mengelak ke bawah terus ke kanan.
Hebat luar biasa akibat akal ini. Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga sebesarnya, dibantu pula oleh
Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya. Sekarang dilepas secara tiba-tiba, tak dapat dicegah lagi dia
terdorong ke depan. Apa lagi masih ada Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya, maka di lain saat
kedua orang tokoh besar ini terjungkal ke depan, jatuh bangun dan saling tindih!
dunia-kangouw.blogspot.com
Baiknya mereka adalah ahli-ahli yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka dapat menarik kembali
tenaga mereka dan hanya mengalami benjut-benjut saja. Namun semua batu yang tertimpa tangan mereka
pada remuk!
Kwan Cu bertepuk tangan gembira dan sebentar saja Pak-lo-sian juga terkekeh-kekeh, diikuti pujian dari
semua orang di fihaknya.
"Kiam Ki Sianjin sudah kalah...!" Kwan Cu berseru berulang-ulang sambil bertepuk-tepuk tangan.
Dengan muka merah sekali Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo bangun berdiri mengibas-ngibaskan pakaian
mereka yang terkena debu, untuk beberapa lama tak mampu bicara. Kemudian Hek-i Hui-mo melangkah
maju dan dengan alis berdiri dia menudingkan jari telunjuknya kepada Yok-ong.
"Siluman muka hitam! Tidak bisa kau dibilang menang, karena kemenanganmu itu hanya karena siasat
busukmu belaka!"
Yok-ong tidak meladeninya karena raja tabib ini adalah seorang yang sangat berhati-hati menjaga
kesehatannya. Setelah mengalami adu tenaga yang sedemikian hebatnya, dia tidak mau banyak bicara,
hanya berdiri diam dan mengatur pernapasan mengumpulkan kembali tenaganya.
Melihat ini, Kwan Cu maklum bahwa kakek sakti ini perlu diberi waktu untuk beristirahat lebih dulu karena
fihak lawan masih amat kuat. Ia yang segera maju dan mencela Hek-i Hui-mo.
"Locianpwe, kau disebut ahli silat nomor satu dari barat, akan tetapi mengapa kau tadi membantu Kiam Ki
Sianjin dan sekarang bahkan menyalahkan kakekku? Sudahlah, nanti akan datang giliranmu, sekarang
lebih baik kau tiru perbuatan kakekku, mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya. Sekarang
aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan kedua ciangbunjin (ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-sanpai."
Hek-i Hui-mo sudah mengertak gigi dan hendak menyerang Kwan Cu, akan tetapi kedua orang ketua Butong-
pai dan Kim-san-pai sudah melompat maju dan berkata kepada Hek-i Hui-mo,
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Siauw-ang-mo (Setan Kecil Merah) ini. Biarkan kami berdua
mendengarkan kata-katanya lebih lanjut," kata Bin Kong Siansu. Kemudian dia menghadapi Kwan Cu dan
berkata,
"Anak muda, kau tadi bilang mewakili Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian musuh besar kami, sebenarnya
bagaimana maksudmu? Kami jauh-jauh datang sengaja hendak memberi hukuman kepada mereka yang
secara curang dan terlalu telah membunuh dan menghina orang dari partai kami, apakah kau hendak
menghalangi?"
Kwan Cu tersenyum dan menjura dengan hormat. "Mana berani boanpwe menghalangi niat dari Ji-wi
Ciangbun yang lihai? Boanpwe sekali-kali tak akan merintangi apa bila Ji-wi hendak membunuh atau
membalas dendam kepada Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian dua Cianpwe itu. Hanya saja, hukuman itu
hendaknya dilaksanakan setelah boanpwe selesai mendongeng."
"Keparat! Kau berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, tapi masih berani melawak dan
hendak mempermainkan kami?" bentak Bian Kim Hosiang yang adatnya memang keras.
"Sama sekali tidak melawak apa lagi mempermainkan, akan tetapi dengarlah saja, Ji-wi Locianpwe tentu
akan suka mendengar dongeng ini." Sebelum orang membantah pula, Kwan Cu cepat melanjutkan
omongannya,
"Kurang lebih sebulan yang lalu, di sebuah kuil di selatan kota raja terjadi hal yang amat aneh. Kuil itu
dijaga oleh seorang tojin yang bernama Siok Tek Tojin, dan pada hari itu di dalam kuil datanglah seorang
hwesio pendek bundar membawa pedang beserta seorang tosu. Mereka bermalam di kuil itu."
"Dia adalah Bian Ti Hosiang murid kepala Bu-tong-pai!" seru Bian Kim Hosiang.
"Tosu itu tentulah sute-ku Bin Hong Siansu!" Bin Kong Siansu juga berseru.
"Kebetulan sekali terkaan Ji-wi Locianpwe memang sangat tepat," Kwan Cu melanjutkan kata-katanya
dunia-kangouw.blogspot.com
sambil tersenyum. "Pada malam hari, dua orang pendeta itu terbunuh orang di dalam kamarnya."
"Benar! Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang membunuh mereka secara pengecut!" teriak
Bian Kim Hosiang dengan mata merah memandang kepada dua orang tokoh besar itu.
Kwan Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Memang pembunuhnya mengaku bahwa mereka adalah
Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li."
Kiu-bwe Coa-li melompat dengan marah. "Buang kentut busuk! Kalau kedua tanganku dapat digerakkan,
kepala kalian sudah hancur!"
Juga Pak-lo-sian melompat dan berkata marah, "Bohong sama sekali!"
Kwan Cu menengok dan berkata, "Sabar... sabar... boanpwe belum lagi habis bercerita. Memang
pembunuh-pembunuh keji itu telah mengaku bernama Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Mereka membunuh
secara curang sekali, dan menggunakan obat bius sehingga dua orang pendeta itu pingsan lalu mereka
dibunuh. Kebetulan sekali, pembunuh yang aslinya melarikan diri di dalam gelap dan kehilangan sepotong
jubah hitamnya! Ada pun orang kedua adalah Siok Tek Tojin yang bersekongkol dengan penjahat jubah
hitam itu."
Terdengar seruan kaget di antara orang-orang yang berdiri dekat Kiam Ki Sianjin. Siok Tek Tojin melompat
maju dengan golok di tangan.
"Jahanam kau! Kau berani membawa-bawa nama pinto dengan obrolan kosong itu?"
Tanpa menanti apa-apa lagi Siok Tek Tojin menusukkan goloknya ke arah dada Kwan Cu. Tusukan ini
cepat sekali dan kuat. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengelak mau pun menangkis, hanya memandang
dengan mulut tersenyum bodoh.
Semua orang di fihak Pak-lo-sian terkejut, bahkan Sui Ceng mengeluarkan jerit tertahan karena
disangkanya bahwa pemuda muka merah yang membantu fihaknya itu pasti akan terkena tusukan.
Jangankan Sui Ceng, bahkan Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sendiri menyangka bahwa pemuda aneh itu
tentu akan tertusuk golok.
Siok Tek Tojin sudah gembira sekali. Apa lagi melihat pemuda itu menoleh kepada Sui Ceng sambil
berbareng mengeluarkan kata didahului dengan bentakan,
"Aha! Nona, kau baik sekali mengkhawatirkan keselamatanku!"
Kalau dibicarakan memang sungguh aneh sekali dan semua orang yang berada di situ tentu tidak akan
percaya kalau tidak melihat dengan mata mereka sendiri. Pemuda itu tidak mengelak, bahkan kini
kepalanya menengok ke belakang dan dadanya terbentang tanpa perlindungan menerima tusukan golok.
Yok-ong makin membelalakkan matanya dan menahan napas. Akan tetapi, setelah ujung golok dekat
dengan dada Kwan Cu, tiba-tiba berbareng dengan bentakan.
"Aha!" tadi, dan golok itu lalu menyeleweng ke pinggir seolah-olah terdorong oleh tenaga tidak kelihatan
yang menyampoknya dari samping!
Siok Tek Tojin merasa heran bukan main dan dia juga penasaran. Apakah dia diserang penyakit demam
sehingga tangannya lemah dan menggigil? Sekarang dia menyerang lagi, bukan menusuk, bahkan
membacokkan goloknya yang menyeleweng tadi ke arah leher Kwan Cu.
Pemuda ini sekarang sudah memandangnya kembali dan sambil tersenyum, Kwan Cu lagi-lagi tidak
mengelak, hanya mengeluarkan seruan kaget.
"Ayaaa...! Kau galak sekali!"
Dan kembali terjadi keanehan. Mata golok yang sudah menyambar dekat dengan leher, tiba-tiba
menyeleweng dan bahkan membalik hendak menyerang pundaknya sendiri!
"Ilmu siluman...!" beberapa orang berbisik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi hanya Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Kiam Ki Sianjin beserta Hek-i Hui-mo saja yang
setengah dapat menduga akan tetapi mereka masih sangsi mengenai semacam ilmu sinkang (tenaga
dalam yang sakti) yang pernah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan, yakni tentang
lweekang yang dapat disalurkan melalui suara sehingga dengan bentakan-bentakan saja orang yang
mempunyai kepandaian ini dapat merobohkan lawan atau menangkis pukulan!
Benar-benarkah pemuda ini dapat memiliki kepandaian seperti itu? Hanya seorang yang sudah yakin,
yakni Yok-ong. Dia menduga bahwa pemuda yang dia kenal sebagai Kwan Cu adanya itu, tentu telah
mewarisi kepandaian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kalau hal ini betul, maka tidak heran kalau Kwan
Cu memiliki sinkang sehebat itu.
Siok Tek Tojin masih penasaran dan hendak menerjang lagi akan tetapi tiba-tiba saja Bin Kong Siansu
ketua Kim-san-pai melompat maju dan menahannya.
"Siok Tek Toyu biarkan pemuda itu melanjutkan dongengannya agar supaya kita dapat mendengar baikbaik."
Ketua Kim-san-pai ini menahan sambil memegang lengannya.
Siok Tek Tojin langsung merasa lengannya lumpuh dan menggigil ketika terpegang oleh ketua Kim-san-pai
ini, maka tahulah dia bahwa pencegahan itu bukan main-main. Ia lalu menjura dan mengundurkan diri.
Kwan Cu tertawa. "Tentu Cu-wi Locianpwe ingin sekali mendengar siapa orangnya yang berjubah hitam
dan yang sebenarnya merupakan pembunuh tulen dari Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu. Sebelum
boanpwe menyebutkan namanya, baiklah boanpwe lebih dahulu melanjutkan dongeng ini. Siok Tek Tojin
yang sudah bersekongkol, lalu pura-pura menolong dua orang pendeta yang sudah hampir tewas itu,
menceritakan bahwa dia pun diserang oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Karena dua orang pendeta itu
memang mendengar percakapan antara Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian di luar jendela yang tentu sudah
diatur pula oleh si jubah hitam dan Siok Tek Tojin, maka mereka percaya penuh dan tidak ragu-ragu
membuat sehelai surat yang ditujukan kepada fihak Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tentu saja mereka
menulis bahwa mereka terbunuh oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian!"
Kiam Ki Sianjin membentak, "Orang muda, jangan kau sembarangan bicara! Bagaimana kau berani
mengacaukan urusan ini? Sudah ada bukti surat dan saksinya Siok Tek Tosu bahwa Kiu-bwe Coa-li
berdua Pak-lo-sian membunuh Ji-wi Beng-yu dari Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Bagaimana kau dapat
mengarang cerita busuk tanpa bukti-bukti?"
"Bukti? Locianpwe menghendaki bukti? Belum selesai ceritaku! Setelah si jubah hitam itu lari di malam
gelap, dia bertemu dengan seorang yang berhasil mencuri sedikit kain dari jubahnya. Inilah sobekan kain
itu!"
Kwan Cu mengeluarkan kain yang dahulu dia ambil dari jubah Coa-tok Lo-ong, kemudian kembali berkata
lagi sambil tersenyum sindir, "Orang berjubah hitam itu sekarang hadir di sini! Tanyakan padanya apakah
ini bukan kain dari jubahnya! Dan bukti ke dua, ketika dia mengeluarkan asap obat bius di kelenteng itu
sama benar dengan obat bius yang tadi merobohkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, kedua Locianpwe
yang mulia. Nah, dialah orangnya yang telah membunuh dua orang tokoh Kim-san-pai dan Bu-tong-pai
kemudian menggunakan nama kedua orang Locianpwe itu dengan maksud mengadu domba!"
Baru saja ucapan ini habis dikatakan, Coa-tok Lo-ong mengeluarkan seruan keras,
"Jadi kaukah orang muda yang kurang ajar itu?" Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan asap hitam
mengebul di dekat Kwan Cu.
"Para Locianpwe, awas!"
Dengan cepat sekali Kwan Cu mendorong tubuh Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dua orang ketua
itu segera terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Mereka mengalami kekagetan hebat, akan
tetapi mereka selamat, terbebas dari pengaruh asap hitam yang jahat. Ada pun Yok-ong yang melihat ini,
cepat membagi-bagi pil penawar racun di antara Pak-lo-sian sekawanannya sehingga mereka tak usah
takut menghadapi serangan asap itu.
Kwan Cu sendiri segera menahan napas, kemudian meniupkan hawa murni dari tenaga sinkangnya
sehingga dia tidak sampai mengisap asap, dan di samping itu, dia pun lalu menggunakan tenaga dari Ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
Silat Pek-in Hoat-sut sehingga seluruh bagian tubuhnya mengebulkan uap putih yang menolak asap hitam
ini.
Cepat Kwan Cu melompat dan tahu-tahu sudah berada di depan Coa-tok Lo-ong.
"Kau sudah mengaku sendiri? Bagus!" bentak pemuda ini.
Coa-tok Lo-ong marah luar biasa, cepat dia lalu memukul dengan tangannya. Ia merasa menyesal sekali
kenapa ular hidupnya sudah mati diremas oleh Jeng-kin-jiu tadi. Dengan mati-matian dia lalu menyerang
Kwan Cu dengan tangan kosong.
Akan tetapi tentu saja Kwan Cu tak mau memberi kesempatan lagi. Ia mainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut
yang lihai itu dan dalam beberapa jurus saja, sebuah pukulan tangan kiri Kwan Cu tanpa mengenai kulit
dadanya telah membikin Coa-tok Lo-ong terlempar dalam keadaan pingsan! Kwan Cu melompat dan
menangkap lehernya, lalu melontarkan tubuh penjahat itu ke arah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu.
"Ji-wi Locianpwe, inilah pembunuh dari orang-orangmu!"
Bin Kong Siansu dan Bian Kim Hosiang kini tidak ragu-ragu lagi. Cepat sekali keduanya bergerak, dan
dalam sekejap mata saja tubuh Coa-tok Lo-ong menjadi sasaran senjata mereka hingga tewas pada saat
itu juga!
Hek-i Hui-mo menggereng keras melihat sute-nya tewas dan ia lantas menyerang kedua ciangbunjin ini.
Karena marahnya, Hek-i Hui-mo segera menggerakkan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan
kebutannya, yang satu menyerang Bian Kim Hosiang, yang ke dua menyerang Bin Kong Siansu.
Kedua orang ciangbunjin ini adalah tokoh-tokoh besar yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja mereka
cepat menangkis. Akan tetapi tangkisan mereka membuat keduanya terjengkang. Demikian hebat dan luar
biasa tenaga dari Hek-i Hui-mo!
Hek-i Hui-mo membentak, "Kalian membunuh sute-ku, harus membayar kembali dengan nyawa!"
Akan tetapi mendadak ada angin besar yang datang dari pukulan luar biasa, menahan sepasang senjata
yang hendak membunuh kedua ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ini. Pukulan ini datangnya dari Kwan
Cu yang sudah menghadang di depannya.
"Hek-i Hui-mo, kau masih ada perhitungan denganku!" kata Kwan Cu.
Hek-i Hui-mo marah sekali. Ingin dia sekali serang menghancurkan kepala pemuda yang sudah membuka
rahasia sute-nya, bahkan yang sudah merobohkan sute-nya sehingga sute-nya itu tewas di dalam tangan
kedua ciangbunjin dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi dia pun ingin sekali tahu siapa adanya
pemuda muka merah yang aneh ini.
"Kau siapakah? Mengapa memusuhi kami?"
"Dengarlah dulu aku mendongeng!" kata Kwan Cu dengan suara keras hingga terdengar oleh banyak
orang. "Hek-i Hui-mo ini semenjak dahulu terkenal sebagai seorang pendeta Tibet yang selalu
menimbulkan kekacauan. Di Tibet sendiri dia telah mengacau agama di sana, bahkan mendirikan golongan
yang disebut Golongan Jubah Hitam, dibantu oleh sute-nya Coa-tok Lo-ong yang jahat. Dahulu pernah dia
mengancam jiwa seorang anak kecil untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kemudian dia
pernah pula menawan pujangga besar Tu Fu untuk dipaksanya membaca kitab kuno Im-yang Bu-tek Cinkeng.
Baiknya kitab itu palsu, sama palsunya dengan hatinya sendiri. Kemudian, sebagai anjing penjilat
pemberontak she An, bersama-sama Jeng-kin-jiu dan Toat-beng Hui-houw, dia membunuh pendekar besar
Ang-bin Sin-kai secara curang."
"Dia itu murid Ang-bin Sin-kai! Dia Lu Kwan Cu !" tiba-tiba Kiam Ki Sianjin berseru keras dan kaget.
Memang pada saat tadi Kwan Cu memainkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut dan tubuhnya mengebulkan uap
putih, Kiam Ki Sianjin sudah curiga. Kini mendengar omongan Kwan Cu, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa
pemuda ini tentulah Kwan Cu adanya!
Mendengar ini, Kwan Cu tersenyum. Dia merogoh saku dan mengeluarkan seguci kecil arak yang tadi
dunia-kangouw.blogspot.com
memang telah dia terima dari Yok-ong. Dituangnya arak ini di tangan, lalu dibuat mencuci mukanya yang
sebentar saja berubah, tak lagi kemerahan seperti udang direbus, melainkan menjadi muka seorang
pemuda yang tampan dan gagah.
"Memang aku Lu Kwan Cu, datang untuk membalas dendam!" katanya.
"Kwan Cu...!" terdengar teriakan kaget dan ini adalah suara Sui Ceng.
Gadis ini menjadi bengong dan tanpa terasa lagi matanya basah oleh air mata. Hatinya tidak karuan
rasanya. Tidak disangka-sangkanya bahwa Kwan Cu-lah pemuda itu, tidak dinyana-nyana bahwa Kwan Cu
memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dan dia pernah memandang rendah kepada Kwan Cu, dan... dan
Kwan Cu pernah menyatakan cinta kasih hatinya secara terang-terangan!
Teringatlah Sui Ceng akan pengalaman yang sudah-sudah dan tahulah dia bahwa ketika mereka ditawan
oleh bajak sungai, Kwan Cu sengaja berlaku ketolol-tololan. Tak terasa lagi merahlah mukanya dan hatinya
berdebar tidak karuan.
Hek-i Hui-mo menjadi pucat, akan tetapi dia tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Jadi bocah
gundul yang dulu menjadi permainan para tokoh besar itu, sekarang sudah menjadi seorang pemuda yang
demikian lihainya? Dia mengeluarkan seruan keras dan kedua senjatanya cepat menyerang Kwan Cu.
Kali ini Kwan Cu tidak mau main-main lagi. Sekali tangannya bergerak cepat, tercabutlah Liong-coan-kiam,
pedang peninggalan Menteri Lu Pin. Dengan pedang ini dia bersumpah hendak membalas dendam.
Jeng-kin-jiu sudah tewas oleh bekas kawan-kawannya sendiri dan hal ini menggirangkan hatinya, karena
Kwan Cu memang menaruh hati sayang terhadap hwesio itu. Dia girang karena pada akhir hidupnya, Jengkin-
jiu membuktikan bahwa sesungguhnya ia memiliki dasar watak yang gagah perkasa dan baik.
Toat-beng Hui-houw sudah tewas di tangan Sui Ceng, hal ini pun menyenangkan hatinya karena memang
gadis itu lebih berhak membalaskan sakit hati ibunya. Sekarang musuh besar gurunya tinggal Hek-i Huimo.
Maka, sesudah mencabut pedangnya dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat sambil mulutnya
berbisik,
"Suhu, dengan ilmu pedang Suhu, teecu akan membalaskan sakit hati suhu! Saksikanlah dari tempat
istirahatmu, Suhu!"
Tentu saja Hek-i Hui-mo sudah tahu dan kenal akan ilmu pedang peninggalan Ang-bin Sin-kai ini, maka dia
memandang rendah. Betul bahwa tingkat kepandaiannya dahulu setingkat dengan Ang-bin Sin-kai. Akan
tetapi setelah pemuda itu mainkan pedangnya, dia kaget setengah mati. Baru beberapa gebrakan saja,
sinar pedang Liong-coan-kiam sudah berhasil membabat putus sebagian dari rambut kebutannya.
Bukan main! Meski pun ilmu pedang ini tidak ada bedanya dengan yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai,
akan tetapi gerakannya jauh berlainan. Gerakan ilmu pedang di tangan pemuda ini jauh lebih cepat dan
kuat, berlipat ganda kuatnya sehingga biar pun Hek-i Hui-mo sudah mengerahkan tenaganya, namun tetap
saja tangannya tergetar setiap kali tongkatnya terbentur oleh pedang itu yang cepatnya bukan main
sehingga beberapa kali hampir saja Hek-i Hui-mo terlambat mengelak atau menangkis!
"Eh, eh, ehh, kiranya kau benar-benar Hang-houw-siauw Yok-ong!" terdengar Pak-lo-sian berseru dan
tertawa bergelak.
Mendengar ini, Kiam Ki Sianjin cepat menengok dan ternyata bahwa kakek muka hitam yang amat lihai
dan yang tadi mengalahkan Kiam Ki Sianjin dalam mengadu lweekang, sekarang seperti Kwan Cu telah
mencuci bersih mukanya dan dia itu bukan lain adalah Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Tabib!
Gentarlah hati Kiam Ki Sianjin melihat ini. Pemuda itu saja sudah amat lihai dan sukar dikalahkan,
sekarang di fihak musuh ada pula Yok-ong, maka kalau pertempuran tetap dilakukan seorang melawan
seorang, fihaknya tentu akan kalah.
Apa lagi pada saat itu dia melihat Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu tengah berlari menghampiri Paklo-
sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li. Dua orang ciangbunjin ini lalu berkata dengan muka merah,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kami berdua yang bermata buta dan bertelinga tuli telah salah sangka, mendakwa Ji-wi yang putih bersih
sehingga kami patut dihukum mampus."
"Ah, tidak apa, Ji-wi Bengyu. Kalian menjadi korban tipu muslihat dari para penjilat," kata Pak-lo-sian
Siangkoan Hai, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li mengejek,
"Sungguh memualkan perut, dua ciangbunjin yang bernama besar ternyata masih mudah saja diberi
makan tai oleh anjing-anjing itu!"
Mendengar ini, dua orang tua ini menjadi pucat dan kemudian, makin merah wajahnya. Mereka lalu
menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian. Semua anak murid Bu-tong-pai dan
Kim-san-pai melihat ini, beramai-ramai lalu datang dan ikut berlutut pula!
"Kami orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, bersedia menerima binasa untuk dapat menebus dosa!"
kata kedua orang ketua ini.
Melihat ini, Kiu-bwe Coa-li merasa terharu. "Ji-wi jangan seperti anak kecil. Orang-orang yang berdosa
adalah penjilat-penjilat penjajah, mereka berada di depan kita dan secara terang-terangan mereka
memusuhi kita. Mengapa tidak lekas-lekas memukul mereka?"
Serentak orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai bangkit berdiri dan memandang pada Kiam Ki Sianjin
dan kawan-kawannya dengan mata penuh kemarahan. Melihat ini, Kiam Ki Sianjin lalu mengeluarkan
sebuah terompet dari tanduk dan meniupnya keras sekali. Itulah tanda bagi semua tentara yang
memasang baihok (barisan sembunyi) untuk mulai bergerak!
Maka keluarlah barisan yang mengepung bukit itu dari segenap jurusan. Dengan senjata di tangan mereka
berbaris rapi dan mulai menyerbu ke atas. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh kawan-kawannya juga segera
mencabut senjata dan turut menyerbu!
Kwan Cu masih bertempur ramai dengan Hek-i Hui-mo. Melihat hal ini dia lalu berseru,
"Yok-ong Locianpwe, harap jangan melawan dan segera menyelamatkan kawan-kawan berlari lebih dulu.
Biar teecu yang menahan mereka!"
Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, dia lalu menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali dan tangan
kirinya juga mainkan Pek-in Hoat-sut dengan jurus-jurus yang paling berbahaya.
Mana Hek-i Hui-mo kuat menahan serangan dari seorang yang sudah mengisap semua pelajaran tinggi
dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Tenaga yang digunakan oleh Kwan Cu pada saat itu adalah tenaga
sepenuhnya, maka terdengarlah suara keras. Tongkat Kepala Naga putus oleh pedang Liong-coan-kiam
yang terus menyabet hingga pinggang Hek-i Hui-mo terbabat putus menjadi dua!
Kemudian Kwan Cu mengamuk hebat. Pertama-tama yang diserbunya adalah Kiam Ki Sianjin karena di
antara semua lawan, yang terberat adalah kakek ini. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh banyak kawannya lalu
mengurung Kwan Cu dan sebagian pula menyerbu kepada Yok-ong dan kawan-kawannya.
Akan tetapi, Yok-ong cepat memberi tanda kepada Pak-lo-sian dan yang lain-lain untuk mengikuti dia
mundur. Sambil mundur, mereka ini tidak tinggal diam saja.
Yok-ong menggunakan kaki dan tangannya merobohkan setiap orang yang berani dekat. Pak-lo-sian
Siangkoan Hai sambil tertawa terbahak-bahak menggunakan kedua kakinya. Biar pun kedua tangannya tak
dapat digerakkan, namun sepasang kakinya berpesta-pora dan menendang para pengeroyok. Siapa pun
juga yang kena tendangannya pasti lantas terpental jauh untuk bangun di depan Giam-lo-ong (Raja Maut)!
Demikian pula Kiu-bwe Coa-li yang mengamuk dengan sepasang kakinya.
Seng Thian Siansu yang sudah tua dan remuk tangan kanannya, hanya menggunakan tangan kirinya
menangkap-nangkapi para pengeroyok dan melempar-lemparkan mereka. Sedangkan Sui Ceng, Kun
Beng dan Swi Kiat juga mengamuk hebat membabati para tentara yang tentu saja bukan menjadi lawan
mereka yang seimbang. Dua orang murid Kun-lun-pai juga mengamuk, demikian pula Bian Kim Hosiang,
Bin Kong Siansu, beserta para murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi jumlah tentara yang naik banyak sekali sehingga apa bila pertempuran itu diteruskan, tenaga
mereka pasti akan kalah juga.
"Lari, ikut padaku!" kata Yok-ong.
Raja Tabib ini lalu membawa semua kawannya menuju ke jalan rahasia yang tadi pernah dia perlihatkan
kepada Kwan Cu. Karena mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan ilmu lari cepat, apa lagi para
tentara juga gentar menghadapi mereka, sebentar saja Yok-ong sudah dapat membawa mereka memasuki
goa dan melarikan diri melalui jalan terowongan di bawah tanah.
Kwan Cu masih mengamuk hebat. Tidak terbilang banyaknya orang yang roboh di bawah amukan
pedangnya. Lama-lama dia merasa tidak tega melihat banyaknya orang tewas. Entah sudah berapa puluh
musuh yang binasa, mayat mereka bertumpuk-tumpuk dan bergelimpangan. Darah membanjir membuat
hatinya ngeri. Akan tetapi dia tidak sempat merobohkan Kiam Ki Sianjin yang amat kosen.
"Untuk apa membunuhi orang-orang yang hanya menjadi alat?" pikirnya, maka dia mulai mundur. Akan
tetapi, di mana-mana dia terkurung oleh tentara yang banyaknya seperti semut itu.
Di bawah hujan senjata yang luar biasa banyaknya itu, mendadak meluncur anak-anak panah yang cepat
sekali datangnya. Kwan Cu salah hitung.
Dia mengira bahwa semua panah itu datang dari tentara biasa yang memang semenjak tadi kalau ada
kesempatan lalu menghujankan anak panah mereka. Akan tetapi semua anak panah itu dengan hanya
sekali sampok saja dengan tangan kirinya, sudah runtuh berhamburan.
Kali ini, dia pun menggunakan tangan kirinya menyampok. Namun alangkah terkejutnya ketika dia merasa
kulit lengan kirinya sakit dan berdarah, tanda bahwa yang melepaskan adalah orang-orang pandai yang
bertenaga besar.
Lebih kaget lagi ketika anak-anak panah seperti itu makin gencar datangnya. Pada saat Kwan Cu melihat
ke arah pelepas anak-anak panah itu, dia melihat bahwa pelepas anak panah itu adalah Kiam Ki Sianjin
dan Kam Cun Hong, perwira tinggi kepercayaan Si Su Beng. Memang dalam hal ilmu silat, kepandaian
panglima she Kam ini tidak terlalu hebat, akan tetapi dalam ilmu memanah, dia ahli dan lihai sekali.
Kwan Cu sibuk menangkis, akan tetapi tetap saja ada sebatang anak panah meleset dari lengannya dan
menancap di dadanya sebelah kiri dekat pundaknya! Baiknya tubuhnya telah terisi oleh sinkang yang luar
biasa, maka dia masih keburu menolak anak panah itu sehingga menancap tidak sampai menembusi
dagingnya dan tak melukai anggota tubuh sebelah dalam.
Namun, ini sudah cukup mengejutkan Kwan Cu yang cepat melompat dan menggunakan ilmu ginkang-nya.
Dia melompati kepala para pengeroyoknya dan sebentar saja dia telah lenyap!
Kiam Ki Sianjin memimpin teman-teman dan anak-anak buahnya melakukan pengejaran, namun pemuda
itu tidak kelihatan lagi karena dia telah masuk ke dalam jalan terowongan di bawah tanah, mengejar
rombongan Yok-ong yang sudah lari terlebih dulu.
Dengan amat berang dan kecewa, Kiam Ki Sianjin mengobrak-abrik hutan, membakari alang-alang, dan
akhirnya menjelang senja dia menarik mundur pasukannya dan kembali ke kota raja dengan hati
penasaran, kecewa, dan juga gentar…..
********************
Yok-ong berhasil membawa rombongannya keluar dari kurungan tentara kerajaan dan mereka muncul di
dalam sebuah hutan yang besar di sebelah kiri Bukit Tai-hang-san, sebelah selatan kota Tai-goan. Setelah
menghaturkan terima kasih, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu memimpin anak murid masing-masing
untuk pulang ke Bu-tong-san dan Kim-san.
Ada pun Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Bun Sui Ceng, The Kun Beng, dan Gouw Swi Kiat masih
menanti di situ dengan hati gelisah karena Kwan Cu belum juga muncul. Setelah menanti beberapa lama,
Seng Thian Siansu bersama dua orang muridnya juga berangkat, dan menerima obat dari Yok-ong.
Seng Thian Siansu merasa amat terharu dan berterima kasih sekali, lalu pulanglah dia ke Kun-lun-san.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiga orang ketua partai besar ini berjanji akan mendidik anak-anak murid mereka, karena negara
membutuhkan orang-orang gagah untuk menghadapi keganasan penjajah.
Di antara mereka yang menunggu munculnya Kwan Cu, yang kelihatan gelisah sekali adalah Yok-ong
karena kakek ini merasa suka sekali terhadap Kwan Cu. Akan tetapi sebenarnya, hati Sui Ceng lebih
gelisah dari pada Yok-ong, cuma saja gadis ini tentu saja menyembunyikan perasaannya.
Mereka menanti munculnya Kwan Cu sambil tiada hentinya memuji dan membicarakan murid Ang-bin Sinkai
itu. Tahulah mereka semua bahwa pemuda itu tentu telah mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Tak lama kemudian, muncullah Kwan Cu dari goa itu.
"Kwan Cu... kau terluka...?" Sui Ceng berseru lebih dulu tanpa dapat menahan mulutnya ketika melihat
baju pemuda itu penuh darah dan sebatang anak panah menancap pada dada kirinya. Juga Yok-ong
menghampiri dan hendak memeriksa lukanya.
Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya.
"Tidak apa... tidak apa, hanya luka sedikit. Biarlah sementara waktu anak panah ini tidak dicabut dulu."
Ucapan ini cukup memberi tahukan bahwa anak panah itu mengandung racun. Memang, jika dicabut maka
racun yang berada di ujung anak panah akan lebih lekas menjalarnya dan berbahaya sekali, akan tetapi
kalau dibiarkan dulu dan dengan pengerahan tenaga lweekang, racun itu tidak mudah menjalar.
Yok-ong merasa heran mengapa pemuda itu belum mau diobati. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengacuhkan
lukanya, bahkan lalu berkata,
"Aku telah khawatir sekali jika Cu-wi telah pergi dari sini. Aku ingin sekali menyampaikan sesuatu
mengenai diri Sui Ceng."
Semua orang melongo. Sui Ceng menjadi merah mukanya dan Kun Beng memandang dengan rasa
cemburu.
"Apa kehendakmu mengenai diri muridku?" Kiu-bwe Coa-li bertanya dengan marah.
"Suthai, aku pernah ditinggali pesan oleh ibu dari Sui Ceng, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, bahwa aku
harus melindungi Sui Ceng. Sekaranglah waktunya aku harus mentaati pesan itu. Terang-terangan
kukatakan bahwa perjodohan antara Sui Ceng dan Kun Beng harus dibatalkan!"
Sui Ceng menjadi pucat, juga Kun Beng menjadi pucat, sedangkan Swi Kiat memandang dengan mata
bersinar-sinar sambil menduga-duga mengapa Kwan Cu mengemukakan hal yang memang menjadi isi
hatinya.
"Kwan Cu, sepak terjangmu tadi sungguh mengagumkan hatiku, akan tetapi omonganmu sekarang ini
benar-benar membikin aku marah sekali," kata Kiu-bwe Coa-li. "Katakanlah alasan-alasannya mengapa
kau bicara begitu."
Melihat Kwan Cu ragu-ragu, Pak-lo-sian yang juga merasa tersinggung karena Kun Beng adalah anak
muridnya, mendesak, "Kwan Cu, lekas ceritakan kenapa kau menghendaki demikian."
Kwan Cu memandang kepada Kun Beng, lalu kepada Swi Kiat, kemudian dia berbicara dengan suara
lantang, "Bukan hak dan kewajiban teecu untuk menceritakan alasan itu. Lebih baik Kun Beng dan Swi Kiat
yang bercerita tentang diri Kun Beng dan Gouw Kui Lan."
Pucatlah wajah Kun Beng dan tubuhnya gemetar. Melihat hal ini, hati Sui Ceng menjadi berdebar. Ia sudah
jatuh cinta pada tunangannya ini dan sekarang hal apakah yang akan didengarnya?
Swi Kiat menggigit bibirnya, karena hal ini menodakan nama baik adiknya, nama baik keluarganya. Sakit
hatinya mendengar Kwan Cu membongkar rahasia ini. Tadinya dia hendak mengurus hal ini dengan Kun
Beng secara diam-diam, jangan sampai terdengar oleh orang lain.
Pak-lo-sian membanting kakinya di atas tanah. "Kalian muridku berdua! Mengapa diam saja? Hendak
dunia-kangouw.blogspot.com
menyembunyikan rahasia dari gurumu?"
Kun Beng hanya menundukkan kepalanya, tidak berani bergerak. Swi Kiat lalu menelan ludah beberapa
kali, kemudian terpaksa dia menuturkan dengan suara gemetar tentang perbuatan Kun Beng terhadap Kui
Lan, adiknya.
Mendengar ini, semua orang merasa kaget bukan main. Sui Ceng menjadi pucat sekali dan air matanya
mengalir turun membasahi pipinya.
Kiu-bwe Coa-li lalu bangkit dan berkata, "Sui Ceng, tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan.
Perjodohanmu putus sampai di sini! Hayolah kita pergi!" Kiu-bwe Coa-li lalu melompat dan berlari pergi dari
situ.
Sui Ceng ragu-ragu, lalu menghampiri Kwan Cu. Sambil menggigit bibir dia berkata, "Kau iri hati, kau...
kau...!" Tangannya menampar dan…
"Plakk!" pipi Kwan Cu sudah ditamparnya.
Pemuda itu hanya memandangnya dengan tenang. Dengan terisak Sui Ceng lalu berlari mengejar
gurunya.
Pak-lo-sian marah bukan main. "Kun Beng, murid semacam engkau ini harus binasa, sungguh memalukan
nama baik gurumu!"
Kakinya menendang, akan tetapi bukan Kun Beng yang terjungkal, melainkan Swi Kiat! Pemuda ini sudah
menubruk sambil memasang dirinya sehingga dia mewakili sute-nya. Tubuhnya terlempar bergulingan.
Pak-lo-sian terkejut sekali, akan tetapi Swi Kiat yang patah tulang pundaknya terkena tendangan, telah
maju berlutut,
"Suhu, mohon mengampuni nyawa sute. Dia… dia adalah suami adik teecu, dia harus mengawini Kui Lan!"
Melihat ini semua, Kun Beng tiba-tiba berdiri dan sambil tertawa bergelak, dia melompat dan sebentar
kemudian lenyap dari situ. Mendengar suara ketawa ini, semua orang jadi bergidik, dan Yok-ong berkata
seorang diri,
"Kasihan... suara ketawa itu menunjukkan bahwa batinnya terpukul hebat dan mungkin otaknya terkena
getaran."
Ini hanya berarti bahwa ada kemungkinan Kun Beng menjadi gila!
Pak-lo-sian marah dan mengejar Kun Beng, diikuti oleh Swi Kiat. Akan tetapi mereka tak dapat
menemukan jejak Kun Beng lagi.
Yok-ong lalu menghampiri Kwan Cu dan alangkah kagetnya ketika dia melihat pemuda itu menangis
terisak-isak. Ternyata bahwa Kwan Cu merasa menyesal setengah mati melihat akibat dari pada
pembongkaran rahasia itu. Ia dapat merasa betapa Sui Ceng terluka hatinya, Kiu-bwe Coa-li kecewa, Paklo-
sian Siangkoan Hai malu dan marah, Swi Kiat berduka dan Kun Beng mungkin... gila!
"Locianpwe... aku... aku berdosa besar..."
"Sudahlah, hati yang menanggung cinta kasih memang membikin orang menjadi buta dan sembrono. Biar
kuobati lukamu."
Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya dan pergi sambil menundukkan mukanya. Yok-ong tahu akan
kekerasan hati pemuda ini, maka dia lalu memasukkan sebungkus obat di kantong pemuda itu sambil
berkata,
"Pakai obat ini pada lukamu, pasti akan sembuh."
Akan tetapi Kwan Cu tidak menjawab dan terus berjalan dengan kepala tunduk. Mukanya pucat dan
kakinya limbung. Yok-ong menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera pergi karena tahu bahwa dia tidak
dapat menghibur pemuda yang luka hatinya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kwan Cu berjalan terus tanpa tujuan, memasuki hutan yang besar itu. Dadanya yang terluka sakit sekali
rasanya, akan tetapi dia tidak ambil peduli. Kematian bukan apa-apa baginya pada saat itu. Rasa panas di
pipinya lebih menyakitkan hati dari pada rasa panas pada luka di dadanya. Anak panah itu masih
menancap pada dadanya, tapi tidak dipedulikannya pula.
"Kwan Cu...!"
Ia menengok dan melihat Sui Ceng berdiri di depannya.
"Kau... kau kenapa?"
Kwan Cu melihat air mata mengalir di pipi gadis itu. la menarik napas panjang, "Kau tentu tak mau
mengampuni aku...," katanya lemah.
"Lukamu itu...! Mengapa belum diobati?"
Kwan Cu menundukkan mukanya dan tiba-tiba saja timbul pikiran yang sangat aneh di kepalanya. Dengan
tangan dia menekan anak panah itu yang tentu saja masuk semakin dalam ke dadanya! Ia merasa sakit
sekali, akan tetapi dengan senyum aneh dia berkata, "Lebih baik aku mati saja."
Rasa sakit tak tertahankan lagi dan Kwan Cu roboh terguling dalam keadaan pingsan! Tubuhnya
sebetulnya kuat sekali dan biar pun anak panah itu menancap makin dalam, dia takkan apa-apa kalau
batinnya tidak menerima pukulan hebat akibat peristiwa tadi.
Ketika siuman kembali, dia melihat dirinya duduk dan bersandar pada pohon. Bajunya yang atas sudah
tidak ada, entah ke mana. Ia bertelanjang sebatas pinggang ke atas. Akan tetapi dia tidak memperhatikan
semua ini, karena dia melihat Sui Ceng telah duduk di depannya dan sedang merawat luka di dadanya.
Anak panah itu telah dicabut dari dadanya dan kini dengan sapu tangannya, Sui Ceng tengah
membersihkan lukanya.
Darah muda Kwan Cu memanaskan seluruh tubuhnya. Alangkah cantiknya wajah yang berada dekat di
depannya. Alangkah indahnya rambut yang terurai itu, bibir yang merah dan penuh, mata yang masih
membayangkan tangis.
"Sui Ceng... kau baik sekali..."
Gadis itu tidak menjawab, hanya menggigit bibir sambil menahan isak. Akan tetapi kedua tangannya masih
tetap bekerja membersihkan darah dari luka yang membiru itu.
"Sui Ceng... alangkah... alangkah cantiknya engkau..."
Dua tetes air mata mengalir di pipi gadis ini, matanya dikejap-kejapkan sebab pandangan matanya
terganggu dan bibirnya gemetar.
"Sui Ceng, sekali lagi... aku... aku cinta kepadamu...," suara Kwan Cu menjadi bisik-bisik akibat kepalanya
sudah berdenyut-denyut pula, pandangan matanya berkunang-kunang. "Kau... kau ampunkan aku, Sui
Ceng, aku... aku berdosa besar..."
Air mata dari mata gadis itu turun semakin banyak dan kini bukan hanya bibirnya yang gemetar, bahkan
sepuluh jari tangannya yang merawat luka ikut menggigil. Akan tetapi ia tetap membungkam dan matanya
tak pernah melirik wajah Kwan Cu.
"Sui Ceng...," suara Kwan Cu lemah dan lirih sekali, "biarkan... aku mati... aku lebih suka mati dari pada
menyakiti hatimu..."
Dan tiba-tiba kepala Kwan Cu terkulai, dia pingsan lagi untuk kedua kalinya!
Melihat ini, Sui Ceng menjadi kaget setengah mati. Dia memeluk tubuh pemuda itu dan menggoyanggoyangnya.
"Kwan Cu... dengarlah... aku! Jangan mati, Kwan Cu...!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun Kwan Cu tetap tidak bergerak.
Tanpa dia ketahui sendiri, tubuh Kwan Cu sudah memiliki kekuatan yang aneh berkat latihan-latihan
lweekang menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Racun yang dipasang pada ujung anak panah
yang dilepaskan oleh Kiam Ki Sianjin, adalah racun pemberian dari Coa-tok Lo-ong dan sangat ganas.
Kalau saja di dalam tubuh Kwan Cu tidak mengalir hawa murni dari sinkang yang sudah dilatihnya, pasti
racun itu akan cepat menjalar dan menewaskannya.
Berkat kekuatan ini Kwan Cu siuman kembali. Dia mendengar suara orang memanggil-manggil namanya
dari jauh. Suara itu makin lama makin dekat dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Sui Ceng
menangis sambil memanggil-manggil namanya.
Ia tidak tahu bahwa tadi wajahnya sudah pucat seperti mayat dan detak nadinya sudah berhenti, maka
gadis itu mengira bahwa dia sudah mati! Padahal, hentian detak nadi ini adalah akibat dari pengerahan
lweekang yang sudah tak dapat diukur tingginya lagi. Tadi sebelum pingsan Kwan Cu menahan sakit dan
mengerahkan lweekang-nya sehingga dia berhasil menghentikan jalan darahnya, maka pada saat Sui
Ceng meraba urat nadi, tidak merasa ada detaknya lagi.
"Sui Ceng, terima kasih... kau...kau menangis untukku...," katanya.
Sui Ceng memandang muka yang tadinya berada di atas pangkuannya itu. Melihat Kwan Cu ‘hidup
kembali’ dia pun cepat-cepat menurunkan kepala pemuda itu di atas tanah dan berkata, "Kwan Cu, jangan
kau mati..."
Kwan Cu tersenyum. "Tidak, Sui Ceng. Kalau kau menghendaki aku hidup, katakanlah bahwa kau
memaafkan aku."
"Aku... aku maafkan kau, Kwan Cu."
Sinar gembira membayang pada wajah Kwan Cu. Dia mengerahkan tenaga dan berhasil bangkit duduk.
Dirogohnya saku bajunya dan dikeluarkannya bungkusan obat pemberian dari Yok-ong.
"Yok-ong locianpwe memberikan obat ini untukku. Campurlah dengan air dan masukkan ke dalam luka di
dadaku."
Sui Ceng cepat menerima bungkusan itu dan pergi mencari air yang mudah didapat di dalam hutan itu, lalu
tanpa banyak cakap ia mengobati luka di dada Kwan Cu.
Luar biasa manjurnya obat dari Yok-ong ini, karena begitu obat itu dijejalkan ke dalam luka, rasa panas
lenyap dan obat yang tadinya berwarna putih bersih setelah terkena air itu, kini perlahan-lahan berubah
hitam!
Tidak lama kemudian, darah kehitaman keluar dari luka itu. Kwan Cu bersila, meramkan mata sambil
mengempos semangatnya, mempergunakan hawa murni dalam tubuh untuk mendorong keluar semua
racun yang mengotori darahnya sehingga darah hitam yang keluar dari lukanya makin deras. Akhirnya
keluarlah darah merah. Setelah ini baru Kwan Cu menghentikan penggunaan tenaga dalamnya, lalu
membuka matanya dan memakai pakaiannya lagi.
Sejak tadi Sui Ceng memandang kepada pemuda itu dengan air muka sebentar kagum sebentar duka.
"Sui Ceng, kau benar-benar berhati mulia seperti ibumu. Tadi kau sudah pergi dengan gurumu, mengapa
bisa datang di tempat ini?"
Sui Ceng menjawab dengan kepala tunduk. " Aku... aku merasa menyesal sekali sudah berlaku kasar
padamu, telah... telah menampar mukamu. Kau maafkan aku, Kwan Cu."
Kwan Cu tertawa bergelak. "Sepatutnya kau membunuhku, Sui Ceng, tak hanya sekedar menamparku.
Kalau ada orang yang minta maaf, akulah orangnya, bukan kau."
Hening sesaat. Keduanya duduk di bawah pohon dan setelah kini sembuh dari sakitnya, Kwan Cu merasa
sungkan dan kikuk. Merah mukanya kalau dia teringat betapa tadi dia kembali mengeluarkan kata-kata
dunia-kangouw.blogspot.com
menyatakan cinta kasih kepada gadis ini. Keheningan suasana itu membuat Kwan Cu lebih kikuk, maka
agar jangan sampai Sui Ceng merasa kikuk pula, dia mulai membuka percakapan,
"Sui Ceng, bagaimana kau bisa memisahkan diri dari gurumu?"
"Aku sengaja meninggalkan suthai dan sudah mendapat perkenannya. Suthai kembali ke gunung dan
kelak aku akan menyusulnya."
"Jadi kau sengaja pergi dari Kiu-bwe Coa-li suthai untuk menyusulku?"
Sui Ceng mengangguk. Hening lagi sesaat. Beberapa kali Kwan Cu menggerakkan bibir, akan tetapi
sukarlah kata-kata keluar dari mulutnya. Akhirnya dia memberanikan diri dan bertanya,
"Sui Ceng, setelah kini kau menyusulku, apakah yang hendak kau katakan? Kita terlibat dalam urusan
yang amat tidak enak, dan aku... aku..."
"Kwan Cu, bagaimana kau bisa tahu tentang... Kun Beng dan adik Swi Kiat?" tiba-tiba Sui Ceng bertanya
sambil memandang tajam.
“Untuk inikah kau menyusulku, Sui Ceng?"
"Ya, untuk mengajukan pertanyaan ini. Aku penasaran sekali dan ingin mendengar kisah itu sejelasnya."
Untuk beberapa lama Kwan Cu menatap wajah gadis yang kemerah-merahan dan mata yang berkacakaca
itu, maka tertusuklah hatinya. Dengan suara perlahan dia bertanya,
"Sui Ceng, kau... kau amat mencinta Kun Beng...?"
Merah sekali wajah Sui Ceng. Gadis ini tahu bahwa Kwan Cu sangat mencintanya dan tentu saja akan
hancur hati pemuda ini kalau ia mengaku bahwa ia mencinta Kun Beng. Akan tetapi tidak ada lain jalan
bagi Sui Ceng untuk menyangkal dan pula ia tidak suka menyangkal, karena gadis ini berwatak jujur.
Dengan air mata berlinang dan suara terputus-putus Sui Ceng menjawab,
"Bagaimana aku tidak... tidak akan mencintanya? Dia adalah tunanganku, dan dia adalah jodohku yang
dipilih sendiri oleh mendiang ibu, akan tetapi dia... dia..." Sampai di sini Sui Ceng tak dapat melanjutkan
kata-katanya, tubuhnya lemas dan tiba-tiba ia sudah berada dalam pelukan Kwan Cu.
Karena amat berduka dan patah hati, Sui Ceng merasa mendapatkan hiburan dan dia menyandarkan
kepalanya di dada Kwan Cu sambil menangis. Usapan tangan Kwan Cu pada kepalanya mendatangkan
hiburan besar baginya seakan-akan ia sedang berada di pangkuan ibunya sendiri.
Kwan Cu merasa sangat terharu dan kasihan sekali, "Sui Ceng, jangan berduka, adikku, tenangkanlah
hatimu... kau sekarang bukan tunangan Kun Beng lagi, tak perlu lagi kau memikirkan dia. Dia tidak
berharga bagimu dan aku... aku mencintamu dengan segenap jiwaku, Sui Ceng. Jangan engkau khawatir,
marilah kita membangun hidup baru, rumah tangga bahagia, dan menjauhkan diri dari segala hal yang
menjengkelkan hati. Aku akan selalu melindungimu Sui Ceng..."
Tubuh gadis itu tersentak, akan tetapi dia tidak mengangkat kepalanya dari dada Kwan Cu. Untuk sesaat
pikirannya bekerja keras. Harus dia akui bahwa kalau sekiranya tidak ada Kun Beng di dunia ini, dia akan
menerima pernyataan cinta kasih Kwan Cu dengan hati terbuka.
Dia sudah mengetahui bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan mulia, bahkan jauh lebih baik dari pada
Kun Beng. Akan tetapi, hati Sui Ceng sudah tertambat kepada The Kun Beng tunangannya itu. Dia amat
mencinta Kun Beng dan pula, bukankah pemuda itu pilihan ibunya sendiri?
"Sui Ceng, jangan kau takut." Kwan Cu menghibur karena dia mengira bahwa gadis itu berdiam diri dengan
hati takut menghadapi kemurkaan gurunya. "Jangan kau takut pada siapa pun juga. Biar pun Kiu-bwe Coali
suthai akan marah kepadamu, akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah orangnya yang sanggup
membelamu dengan taruhan nyawa. Tak seorang pun di dunia ini akan dapat mengganggumu selama aku
masih hidup!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng melepaskan diri dari pelukan Kwan Cu dan memandang kepada pemuda itu
dengan muka pucat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.
"Tidak! Tidak...! Jangan begitu, Kwan Cu. Janganlah kau menyeretku ke dalam lembah kehinaan!"
Kwan Cu terkejut sekali. Ia mengulur tangan hendak memegang lengan Sui Ceng, akan tetapi gadis itu
menarik tangannya.
baca juga:
Share:

Cersil Keren

Pecinta Cersil